P. 1
Perda IMB

Perda IMB

|Views: 373|Likes:

More info:

Published by: Irfianto Wahyu Nugroho on May 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2014

pdf

text

original

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN

NOMOR ……. TAHUN 2008 SERI …. NOMOR …… PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR ….. TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SRAGEN, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya Undang Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ; dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah, maka Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sragen Nomor 9 Tahun 1996 tentang Bangunan Perlu disesuaikan ; b. bahwa untuk melaksanakan penyesuaian sebagaimana di maksud huruf a perlu mengatur kembali Izin Mendirikan Bangunan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Mengingat : 1. Undang – undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah – daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah (Berita Negara Tahun 1950) 2. Undang – undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok – pokok Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 3. Undang – undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3186); 4. Undang – undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan – Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3715) ; 5. Undang – undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501) ; 6. Undang – undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685) ;

1

7.

Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan

Dasar Pokok – Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3046) ; 8. Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469) ; 9. Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 3470) ; 10. Undang – Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 3699) ; 11. 12. Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377) ; Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377) ; 13. Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang – undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389) ; 14. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) ; 15. Undang – Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4444) ; 16. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3293) ; 17. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di bidang Pekerjaan

2

Umum kepada Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1987 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3353) ; 18. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3692) ; 19. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3445); 20. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3529); 21. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696); 22. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3293); 23. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3777); 24. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 25. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139); 26. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2001 tentang Irigasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4156); 27. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

3

30. Kepala Daerah adalah Bupati Sragen . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4532). 4 . 32. tentang Bentuk Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Perubahan . 35. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Tentang Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 1993 Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 174 Tahun 1997 Peraturan daerah Propinsi Jawa tengah Nomor 11 Tahun Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sragen Nomor 7 Tahun 1987 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Sragen (Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sragen Tahun 1988 Nomor 4). Daerah adalah Kabupaten Sragen .2004 Nomor 45. b. 29. Dengan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sragen MEM UTUSKAN Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN TENTANG IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 83. 31. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 1993 tentang Ijin Mendirikan Bangunan dan Ijin Undang – undang Gangguan Bagi Perusahaan Industri . 2004 tentang garis Sempadan (Lembaran Daerah Propinsi Jawa Tengah tahun 2004 Nomor 46 Seri E Nomor 7). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah . 33. tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah . BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud : a.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4385). 28. 34.

perseroan lainnya. h. Bangunan adalah Setiap Bangunan dengan nama. lembaga. g. i. f. Izin Mendirikan Bangunan atau disingkat dengan IMB adalah izin yang dikeluarkan oleh Bupati dengan memberikan hak kepada pemiliknya untuk mendirikan. perseroan komanditer. atau organisasi yang sejenis. mengubah atau menambah bangunan sesuai dengan ketentuan yang berlaku . Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu dibidang retribusi daerah sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku . beserta bangunan – bangunan yang lain berhubungan dengan bangunan itu di wilayah Kabupaten Sragen. j. m. persekutuan. perkumpulan. Pengawas Bangunan adalah Pegawai yang ditunjuk oleh Kepala DTK untuk mengawasi bangunan – bangunan yang dimohonkan izin kepada Bupati . bentuk dan dari bahan apapun yang membentuk ruang seluruhnya atau sebagian. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang disingkat dengan STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda . Dinas Tata Kota dan Kebersihan adalah Dinas Tata Kota dan Kebersihan Kabupaten Sragen yang selanjutnya disingkat dengan DTK . l. koperasi. Surat Pemberitahuan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SPTRD adalah surat yang digunakan oleh wajib retribusi untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran retribusi yang terutang menurut peraturan retribusi . badan usaha milik negara atau daerah dengan nama bentuk apapun. Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan hukum . Garis Sempadan adalah garis yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan. k. p. o. tepi sungai atau as pagar yang merupakan batas antara bagian kapling / pekarangan yang boleh dan yang tidak boleh dibangun bangunan – bangunan . bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya . d. Badan adalah bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas. n. e. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan hukum yang menurut peraturan perundang – undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu . yayasan. 5 . Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah . Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang .c. dan pensiun. firma. kongsi. Izin Penggunaan Bangunan atau disingkat dengan IPB adalah izin yang dikeluarkan oleh Bupati dengan memberikan hak kepada pemiliknya untuk menggunakan bangunan yang dimilikinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku .

t. IMB sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini. Tidak diperlakukan IMB untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut . Dengan nama retribusi Izin Mendirikan Bangunan dipungut retribusi kepada orang Obyek retribusi adalah kegiatan Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin pribadi atau Badan Hukum atas setiap pendirian suatu bangunan. diberikan oleh Bupati. mengubah dan atau merobohkan bangunan harus memiliki IMB. BAB IV PERIZINAN Bagian Pertama Permohonan IMB Pasal 4 (1) (2) (3) (4) Setiap mendirikan. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan disingkat dengan SKRDKBT adalah Surat Keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi daerah yang telah ditetapkan . Subyek retribusi izin Mendirikan Bangunan adalah orang pribadi atau badan hukum yang diberikan izin mendirikan bangunan. 6 . s. BAB III GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 3 a. Permohonan Izin dilakukan oleh Badan Hukum. Nomor Pokok Wajib Retribusi Daerah (NPWRD) adalah nomor wajib retribusi yang didaftar dan menjadi identitas bagi setiap wajib retribusi . kepada orang pribadi atau badan hukum meliputi pembinaan. pemanfaatan ruang untuk melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. c. pengaturan. BAB II NAMA. Penagihan Retribusi Daerah adalah serangkaian kegiatan retribusi daerah yang diawali dengan penyampaian surat peringatan. pengendalian dan pengawasan atas kegiatan.a Retribusi Izin Mendirikan Bangunan merupakan salah satu jenis Retribusi perizinnan tertentu. r. surat teguran yang bersangkutan melaksanakan kewajiban untuk membayar retribusi sesuai dengan jumlah retribusi yang terutang . b. atau perorangan. OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI Pasal 2 a. Pembayaran Retribusi Daerah adalah besarnya sama dengan SKRD dan STRD ke Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk dengan batas waktu yang telah ditentukan .q.

f. memperbaiki pintu dan jendela . kecuali untuk bangunan 2 lantai dengan bentang 6 meter atau kurang dan atau bangunan yang menurut pertimbangan pemeriksa IMB dipandang layak dari segi konstruksi . adalah sebagai berikut : a. mengecat. Bagian Kedua Persyaratan IMB Pasal 5 (1) untuk mendapatkan IMB sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) Peraturan Daerah ini. 7 . Membuat lantai. Memplester. c. Memperbaiki bangunan yang rusak karena bencana alam atau musibah limbah dengan memperhatikan kesehatan lingkungan . Desa/ Kelurahan dan Camat setempat .a. talang air. b. d. Mengadakan perbaikan ringan tanpa mengubah konstruksi . c. e. bagi bangunan untuk tempat ibadah pernyataan dari tokoh masyarakat. 1) Pemohon mengajukan permohonan secara tertulis yang diketahui oleh Kepala Permohonan ditujukan kepada Bupati lewat Kepala DTK dengan cara mengisi Permohonan tersebut dilampiri : Gambar rencana rangkap 3 sesuai dengan ketentuan gambar rencana yang dapat memberikan gambaran yang lengkap tentang konstruksi yang akan digunakan untuk gambar bangunan yang lebih dari 2 (dua) lantai atau ketinggian lebih dari 6 (enam) meter harus dilengkapi perhitungan konstruksi dan hasil pemeriksaan tanah. Membongkar bangunan yang terbuat dari kayu dan bahan lain yang sejenis . b. jamban dan saluran pembuangan air Memindahkan. Membongkar bangunan atas perintah Bupati karena alasan tertentu . ventilasi. 2) 3) Foto copy sertifikat hak atas tanah atau surat keterangan status tanah dari Surat pernyataan tidak keberatan dari tetangga bagi bangunan bertingkat pejabat yang berwenang . formulir yang telah disediakan . dan bangunan untuk usaha. pendirian bagi perusahaan yang berbadan hukum . agama dan alim ulama serta rekomendasi dari Departemen Agama Kabupaten Sragen . g. sepanjang tidak menyimpang dari IMB yang telah dimiliki. h. 4) 5) Foto copy izin peruntukan penggunaan tanah bagi pemohon yang Foto copy Kartu Tanda Penduduk untuk pemohon perorangan atau berbadan hukum . Mendirikan pagar halaman dengan bahan yang tidak permanen . mengapur dan pekerjaan mengawetkan bahan .

khususnya persyaratan bangunan serta pertimbangan lingkungan yang direncanakan . e. Pasal 7 (1) (2) Permohonan IMB ditolak oleh Bupati apabila bertentangan peraturan perundangundangan yang berlaku atau bertentangan dengan kepentingan umum. Pemerintah Daerah masih memerlukan waktu tambahan untuk penelitian. gambar tampang bangunan dari pandangan samping dan muka .6) 7) (2) a. detail konstruksi yang dianggap penting . Membayar biaya IMB. d. c. b. Penolakan atas permohonan IMB diberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan dengan menyatakan alasan penolakan. Bupati harus sudah mengambil Keputusan atas permohonan tersebut dan menyampaikan pemberitahuan kepada pemohon. Bagian Ketiga Pemberian IMB Pasal 6 (1) Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan terhitung mulai tanggal pemohon mengajukan IMB beserta lampiran-lampiran yang ditentukan dalam pasal 5 Peraturan Daerah ini diterima. (3) (4) bahan. Bukti tanda pelunasan Pajak Bumi Bangunan (PBB) tahun terakhir . gambar situasi . Pasal 8 Pemberian IMB atau penolakan IMB dapat ditunda berdasarkan : a.00. gambar denah .000 dan untuk gambar dalam permohonan izin mendirikan bangunan dijelaskan tentang penggunaan denah dibuat dengan ukuran minimal 1 : 1. (2) Permohonan IMB dapat dikabulkan untuk seluruh bangunan atau sebagian bangunan yang direncanakan yang secara struktural merupakan bagian yang terpisah. gambar penampang lintang dan penampang membujur . 8 . Gambar sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf c angka 1 pasal ini terdiri dari : gambar situasi dibuat dengan ukuran minimal skala 1 : 1.

c. g. Jenis bangunan yang diizinkan . e. c. Rencana Detail Tata Ruang Kota dan Teknik Tata Ruang Kota . Jalan lokal sekunder tidak kurang dari 4 (empat) meter . e. Rencana Umum Tata Ruang Kota. Pasal 9 (1) (2) Tidak diperlukan IMB terlebih dahulu seperti tersebut pasal 4 ayat (1) Peraturan Daerah ini bagi bangunan apabila ditunda akan menimbulkan bahaya. mengevaluasi dan atau merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. Jalan kolektor sekunder tidak kurang dari 7 (tujuh) meter . Penundaan keputusan berdasarkan alasan tersebut pada huruf a dan b pasal ini hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu tidak lebih dari 3 (tiga) bulan terhitung saat diterimanya permohonan IMB. Peruntukan bangunan yang diizinkan . c. Gambar ikhtisar bangunan yang diizinkan . 9 . Garis sempadan.b. b. f. Pasal 11 (1) IMB berisi keterangan tentang : a. d. Besarnya biaya IMB yang ditetapkan . Pembetulan atau penggantian tersebut dalam ayat 91) pasal ini dalam waktu 2 (dua) x 24 jam setelah peninjauan dimulai wajib memberitahukan secara tertulis kepada Bupati dan mengajukan permohonan IMB sesuai pasal 4 Peraturan Daerah ini. Nama dan alamat pemegang . Alamat bangunan yang diizinkan . Pemerintah Daerah sedang menyusun. (2) Garis sempadan bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf g Pasal ini. Jalan arteri primer tidak kurang dari 20 (dua puluh) meter . Pasal 10 IMB untuk bangunan sementara diberikan dengan mencantumkan syarat bahwa bangunan yang bersangkutan akan dibongkar sesuai jangka waktu yang telah ditetapkan. Jalan lokal primer tidak kurang dari 10 (sepuluh) meter . f. b. d. diukur dari as jalan dengan jarak berdasarkan ketentuan sebagai berikut : a. Jalan kolektor primer tidak kurang dari 15 (lima belas) meter . Jalan arteri sekunder tidak kurang dari 20 (dua puluh) meter .

g. Bagian Keempat Berlakunya IMB Pasal 12 (1) IMB hanya berlaku bagi badan hukum atau perorangan yang namanya tercantum dalam IMB. untuk mendirikan atau meneruskan bangunan yang bersangkutan pemohon harus mengajukan permohonan kembali untuk mendapatkan IMB yang baru. sejak diterimanya pemberitahuan. maka pada IMB yang dimohonkan perubahan ditambahkan catatan-catatan perubahan. (2) Atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini. maka yang bersangkutan harus memberitahukan maksudnya kepada Bupati secara tertulis lewat Kepala DTK. (3) Akibat tidak berlakunya lagi IMB karena hal tersebut dalam ayat (1) Pasal ini. c. (2) Bila pemohon berbentuk badan hukum dan badan hukum tersebut bubar sebelum permohonan IMB yang diajukan diputuskan maka terhadap permohonan IMB itu tidak diambil Keputusan. dan apabila bubar setelah IMB ditetapkan maka IMB menjadi batal Pasal 13 (1) IMB dinyatakan tidak berlaku lagi apabila a. Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun terhitung sejak diterimanya keputusan Setelah dimulai. kemudian berhenti dan tidak ditempati serta tertunda lebih dari IMB tidak diambil oleh pemohon dalam jangka waktu 6 (enam) bulan terhitung pemegang IMB belum mulai mendirikan bangunan . b. (3) Apabila permohonan dimaksud dikabulkan. Pasal 14 (1) Apabila pemegang IMB menghendaki perubahan ketentuan yang telah ditetapkan pada gambar rencana yang telah disyahkan. 10 . Kepala DTK meneliti permohonan dimaksud dan selanjutnya diteruskan kepada Bupati untuk diputuskan. (2) Apabila terjadi hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini . 3 (tiga) tahun dengan didahului peringatan secara tertulis sebanyak 3 (tiga) kali . Jembatan tidak kurang dari 100 (seratus) meter ke arah hilir atau hulu. maka biaya yang telah dibayar oleh pemohon tidak dapat diminta kembali.

(2) Sebelum IMB dicabut kepada pemegang IMB yang bersangkutan diberikan peringatan baik lisan maupun tertulis dengan disertai alasan yang jelas. Pasal 16 (1) (2) Merobohkan bangunan dilaksanakan berdasarkan IMB dan atau perintah merobohkan bangunan. BAB V PENCABUTAN IMB Pasal 18 (1) Bupati dapat mencabut IMB yang telah diberikan apabila : a. Pasal 19 11 . Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. untuk mencegah timbulnya bahaya. Rapuh.Pasal 15 IMB yang rusak atau hilang dapat dimintakan salinan/ kutipan dengan dipungut biaya administrasi sebesar 5% dari Retribusi IMB lama. b. (3) Apabila yang berkepentingan akan melanjutkan pembuatan atau pembongkaran bangunan tersebut harus memperbaharui IMB. b. Tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Kota. Pasal 17 Dalam keadaan yang sangat mendesak. Bupati berwenang memerintahkan kepada pemilik bangunan untuk merobohkan sebagian atau seluruh bangunan yang dinyatakan : a. maka Bupati dapat mengambil tindakan pengamanan atas biaya pemilik IMB. Pelaksanaan pekerjaan ternyata menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan. Permohonan IMB didasarkan pada keterangan yang tidak benar .

Setelah pekerjaan selesai.Apabila pemegang IMB melakukan pelanggaran akan tetapi IMB tidak dicabut karena yang bersangkutan bersedia untuk mematuhi peringatan Bupati.Segera melaporkan kecelakaan yang terjadi ditempat mendirikan bangunan atau bangunan yang roboh atau runtuh kepada pemeriksa IMB . c.Mengusahakan agar urat-urat besi beserta cetakan seluruhnya telah disiapkan sebelum melakukan pengecoran apabila mendirikan bangunan menggunakan konstruksi kolom beton bertulang . e. mengubah dan memperbaharui segala sesuatunya yang tidak sesuai dengan ketentuan dan atau petunjuk dalam IMB. pengukuran.Memperhatikan dan melaksanakan syarat-syarat teknis kebersihan. 12 .Mentaati semua ketentuan dan petunjuk-petunjuk teknis yang telah ditentukan dalam IMB yang diperoleh dan petunjuk-petunjuk yang diberikan secara lisan oleh pemeriksa IMB .Sewaktu-waktu apabila diperiksa oleh pemeriksa IMB dapat memperlihatkan/ menunjukkan IMB dari bangunan yang bersangkutan . b. (2) Pemberitahuan tersebut ayat (1) huruf b Pasal ini . b.Saat penyelesaian bagian pekerjaan mendirikan/ merubah/ merobohkan bangunan. f. begitu pula penempatan bahan bangunan harus pada tempat yang tidak mengganggu ketertiban umum . pagar-pagar yang didirikan/ dipasang sementara sebagai penunjang bangunan yang diizinkan segera dibongkar . keindahan serta syarat-syarat lainnya dalam kaitannya dengan penggunaan bahan dan alat yang diatur dalam peraturan yang berlaku saat bangunan sedang didirikan. diajukan pemegang IMB sekurangkurangnya 2 (dua) hari kerja sebelum kegiatan-kegiatan dimulai atau diakhiri. membongkar.Saat akan dimulainya pekerjaan mendirikan / merubah/ merobohkan bangunan . maka kepada pemegang IMB dimaksud harus secepatnya melengkapi.Mengusahakan agar pemeriksaan atas tanah. bangunan-bangunan. d. g. BAB VI KEWAJIBAN DAN LARANGAN PEMEGANG IMB Pasal 20 (1) Pemegang IMB wajib memberitahukan secara tertulis kepada Bupati meliputi kegiatankegiatan : a. penggalian dan pembongkaran tanah yang telah ditetapkan dalam IMB dikerjakan dengan cepat . Pasal 21 Selama mendirikan bangunan pemegang IMB berkewajiban : a.

g. Bupati dapat a. (2) Bila selambat-lambatnya 14 hari sesudah perintah pembongkaran tersebut ayat (1) Pasal ini disampaikan dan pemilik bangunan tidak mematuhi perintah tersebut. peruntukan bangunan . (3) Bangunan yang didirikan atau diubah yang tidak berdasarkan IMB sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini. Bupati dapat memerintahkan untuk dikosongkan. lokasi/ alamat bangunan . Bupati atas biaya pemilik bangunan dapat membongkar paksa bangunan tersebut. b. c.Memberikan izin kepada pemeriksa IMB untuk memasuki ruang bangunan sewaktuwaktu guna pemeriksaan . jenis bangunan . nama pemilik IMB . e. Pasal 22 (1) selama pekerjaan mendirikan/ merubah merobohkan bangunan dilaksanakan. jangka waktu pelaksanaan pembangunan . (2) setiap pemegang IMB wajib memasang papan petunjuk yang memuat keterangan tentang : nomor dan tanggal IMB . i. pelaksanaan bangunan. . maka pelaksanaan pemindahan/ pengamanan sarana kota tersebut tidak boleh dilakukan sendiri tetapi harus dikerjakan pihak berwenang atas biaya pemegang IMB atau dikerjakan oleh pemegang IMB atas izin dari pihak yang berwenang. Pasal 23 (1) Setiap bangunan yang didirikan atau diubah tidak berdasarkan IMB. Apabila pelaksanaan pembangunan mengganggu sarana kota. 13 . memerintahkan kepada pemiliknya untuk membongkar bangunan tersebut sebagian atau seluruhnya. pemegang IMB diwajibkan mengamankan lokasi bangunan sehingga tidak mengganggu lingkungan . dikecualikan apabila pemilik IMB mengajukan permohonan perubahan IMB sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. d. Pasal 24 (1) Setiap penggunaan bangunan yang tidak berdasarkan ketentuan dalam IMB.h.

(2) Bila selambat-lambatnya 14 hari sesudah perintah pengosongan tersebut ayat (1) Pasal ini disampaikan dan pemilik bangunan tidak melaksanakan. menyingkirkan bahan bangunan yang ditolak setelah pemeriksaan. BAB VII PEMERIKSA IMB Pasal 25 Setelah diserahkannya IMB kepada pemohon. c. 14 . maka Bupati atas biaya pemilik bangunan dapat mengosongkan secara paksa bangunan tersebut. dikecualikan apabila yang bersangkutan mengajukan penggunaan bangunan tersebut. tim pemeriksa bangunan manandai letak garis sempadan dan ketinggian permukaan tanah tempat bangunan yang akan didirikan sesuai dengan rencana yang ditetapkan dalam IMB. (3) Penggunaan bangunan yang tidak berdasarkan ketentuan dalam IMB sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini. BAB VIII PENGAWAS BANGUNAN Pasal 27 (1) Pengawas bangunan mempunyai tugas : a. sebagian atau seluruhnya untuk sementara waktu apabila : 1) 2) Pelaksanaan mendirikan/ merubah/ merobohkan bangunan menyimpang dari Peringatan tertulis Bupati tidak dipenuhi dalam jangka waktu yang telah IMB yang telah ditentukan atau syarat-syarat yang telah ditetapkan . Mengadakan pengawasan terhadap setiap bangunan-bangunan yang sedang dikerjakan oleh pemegang IMB . b. demikian pula alat-alat yang dianggap berbahaya serta merugikan kesehatan/ keselamatan kerja . Memerintahkan. ditetapkan. Pasal 26 Pemeriksa IMB berwenang : a. Menghentikan segera pekerjaan. Melarang menggunakan pekerja yang dianggap tidak ahli untuk pekerjaan tersebut dan atau pekerja yang masih dibawah umur .

f. (3) Tata cara dan persyaratan permohanan IPB diatur lebih lanjut oleh Bupati dengan persetujuan DPRD Kabupaten Sragen. b.. Melaporkan kepada Bupati lewat Kepala DTK apabila mengetahui ada pelanggaran terhadap ketentuan yang telah ditetapkan. Bentuk kapling/ pekarangan yang sesuai dengan peta Badan Pertanahan Nasional .000. (2) Untuk menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini pengwas bangunan diberi surat tugas dan tanda pengenal. BAB X PERSYARATAN BANGUNAN Bagian Pertama Persyaratan Umum Arsitektur Paragraf 1 Situasi Pasal 29 Gambar situasi perletakan bangunan harus memuat penjelasan tentang : a. c. 15 . e. g. d. Skala gambar . 5. Letak bangunan didalam kapling .b.(lima ribu rupiah). Nama jalan menuju kapling dan disekeliling kapling . Arah mata angin . (4) Pemberian IPB tersebut ayat (2) Pasal ini dipungut biaya administrasi sebesar Rp. BAB IX IZIN PENGGUNAAN BANGUNAN Pasal 20 (1) Penggunaan bangunan harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam IMB. Peruntukan bangunan disekeliling kapling . (2) Apabila terjadi perubahan penggunaan bangunan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam IMB diwajibkan mengajukan permohonan IPB yang baru kepada Bupati lewat Kepala DTK. Garis sempadan .

(2) Setiap kapling/ pekarangan bilamana memerlukan jembatan atau titian untuk masuk kedalamnya harus dibuat berdasarkan peraturan yang berlaku. jendela . b. 16 . Direncanakan sesuai keadaan permukaan . e. Ventilasi. pemohon harus menyediakan jalan ke kapling menurut peraturan yang berlaku. (3) Bilamana kapling / pekarangan berada dilingkungan yang belum mempunyai rencana jaringan jalan. f. Penerangan alam dan buatan yang cukup . d. Paragraf 3 Tata Ruang Luar Pasal 32 (1) Setiap kapling/ pekarangan yang akan didirikan bangunan harus : a.Paragraf 2 Tata Ruang Dalam Pasal 30 Bentuk . Kamar mandi . sampah dan lain-lain . Perlengkapan untuk pembuangan air kotor. Syarat-syarat sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini ditetapkan oleh Bupati. ukuran dan perlengkapan ruang harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dan keselamatan umum. Mempunyai tempat parkir dengan kapasitas yang memadai sesuai standar dan tidak memenuhi jalan disekelilingnya. c. b. Pasal 31 (1) (2) Setiap bangunan atau komplek bangunan harus memiliki jamban atau pembuangan air kotor sendiri dengan jumlah dan besarnya menurut persyaratan teknis yang berlaku. Paragraf 4 Tata Bangunan Pasal 33 (1) Setiap bangunan tidak diperbolehkan menghalangi pandanganlalu lintas jalan. pintu. Yang dimaksud perlengkapan ruang adalah pelengkap bangunan yang disyaratkan untuk rumah sehat antara lain : a. Penyediaan air bersih . Partisi-partisi/ penyekat. kecuali kapling yang tidak terjangkau roda empat.

(3) Ketinggian bangunan diatas 4 (empat) lantai dan selebihnya harus berjarak dengan persil tetangga. kerapian dan keindahan. sehingga menimbulkan gangguan keleluasaan pribadi. gas. 17 . b. keseimbangan dan pelestarian lingkungan serta kesehatan lingkungan. api dan sejenisnya sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. (8) Setiap jaringan utilitas pada bangunan dipasang tertanam atau sekurang-kurangnya terlindungi dan diatur menurut ketentuan yang berlaku. (2) Setiap bangunan yang rawan kebakaran dilengkapi petunjuk secara jelas tentang : a. keselamatan umum. kesehatan.kecuali untuk kepentungan umum. sarana dan alat perlengkapan pencegahan/ penanggulangan bahaya kebakaran yang dapat menimbulkan ancaman jiwa maupun harta yang bersumber dari listrik. Cara menyelamatkan diri dari bahaya kebakaran . (5) Setiap bangunan langsung atau tidak langsung tidak diperbolehkan menyediakan lubang dalam bentuk jendela atau pintu atau angin-angin/ ventilasi. (2) Untuk masing-masing lokasi yang belum dibuat tata ruangnya ketinggian maksimum bangunan ditetapkan oleh Bupati dengan mempertimbangkan lebar jalan dan penggunaan bangunan. Paragraf 6 Kebakaran Pasal 35 (1) Setiap bangunan yang rawan kebakaran harus memiliki cara. sehingga secara estitika dapat mencerminkan perwujudan corak budaya setempat. (6) Setiap bangunan harus mengelola system kebersihan. (4) Setiap bangunan diusahakan mempertimbangkan segi-segi pengembangan konsepsi arsitektur bangunan tradisional.(2) Setiap bangunan langsung maupun tidak langsung tidak diperbolehkan mengganggu atau menimbulkan gangguan keamanan. setiap bangunan diusahakan mempunyai tempat parkir kendaraan yang memenuhi ketentuan yang berlaku. (3) Setiap bangunan langsung atau tidak langsung tidak diperkenankan dibangun/ berada diatas sungai/ saluran/ selokan/ parit pengairan . (7) Selain bangunan tempat tinggal. Cara menghindari bahaya kebakaran . tetangga atau lingkungan sekitarnya. Paragraf 5 Ketinggian Bangunan Pasal 34 (1) Tinggi bangunan ditentukan sesuai dengan rencana tata ruang.

Paragraf 8 Perlengkapan Bangunan Pasal 37 (1) Setiap bangunan hendaknya dilengkapi dengan penerangan luar bangunan secukupnya. Cara mengetahui sumber bahaya kebakaran . (3) Setiap bangunan dapat dilengkapi bangunan pengaman terhadap usaha kekerasan atau pengrusakan antara lain terali. olah raga dan sejenisnya . (5) Pemberian nomor. 18 . (2) Setiap bangunan atau komplek bangunan dilengkapi tiang bendera dengan bentuk ukuran dan tempat menurut petunjuk ketentuan yang berlaku.c. Pasal 39 (1) Setiap bangunan umum harus memiliki pintu yang lebar sedemikian rupa sehingga mampu mengosongkan ruang atau bangunan dalam keadaan penuh. d. pintu. pagar. b. ukuran dan penempatannya diatur dengan keputusan Bupati. (4) Setiap bangunan atau komplek bangunan dilengkapi nomor IMB. c. Perpindahan jasa transportasi/ jasa angkutan umum. Cara mencegah bahaya kebakaran. Bagian Kedua Persyaratan Khusus Arsitektur Paragraf 1 Bangunan Umum Pasal 30 Yang termasuk golongan ini adalah bangunan yang dikunjungi oleh umum yaitu : a. gardu jaga/ menara jaga. Paragraf 7 Pencegahan Pencemaran Pasal 36 (1) Setiap bangunan yang dapat mengancam pencemaran lingkungan harus telah memiliki cara untuk mengendalikan sumber pencemaran agar tidak merusak keseimbangan lingkungan. Kesenian. (2) Setiap bangunan diusahakan untuk menghindari akibat pencemaran dari lingkungan sekitarnya. Rekreasi umum .

(2) (3) Setiap bangunan perniagaanharus memiliki pintu dengan lebar sedemikian Pemasangan ornamen atau hiasan atau papan nama atau papan iklan tidak rupa sehingga mampu mengosongkan ruang atau bangunan. agama. (2) Setiap bangunan pendidikan harus memperhitungkan lebar pintu keluar sedemikian rupa sehingga mampu mengosongkan ruang atau bangunan baik untuk ruang kelas maupun laboratorium. Pengelolaan sumber informasi atau data yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan . dibenarkan mengganggu ketertiban umum dan bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. kejujuran. perencanaan. c. Kegiatan pengamatan. Pasal 43 (1) Setiap bangunan pendidikan harus mempunyai jarak bangunan dengan bangunan sekitarnya sekurang-kurangnya 6 (enam) meter dan 3 (tiga) meterdengan bangunan kapling/ pekarangan. Bangunan tempat transaksi barang dan atau jasa . Paragraf 3 Bangunan Pendidikan Pasal 42 Yang termasuk golongan ini adalah bangunan yang digunakan untuk : a. b. non formal. b. Bangunan tempat penyimpanan barang dalam jumlah banyak atau terbatas.(2) Setiap bangunan umum harus mempunyai jarak bangunan dengan bangunan disekitarnya sekurang-kurangnya 6 (enam) dan 3 (tiga) meter dengan batas kapling. Paragraf 2 Bangunan Perniagaan/ Jasa Pasal 40 Yang termasuk golongan ini adalah : a. penelitian. 19 . ketrampilan . perancangan yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan. dengan ketentuan harus memperhatikan pencegahan menjalarnya kebakaran dari dan ke bangunan lain. Pasal 41 (1) Setiap bangunan perniagaan dapat diletakkan berderet dan bersambung. Kegiatan pendidikan formal.

penyalur atau pembagi tenaga listrik. (5) Setiap bangunan industri harus memiliki sistim pembuangan bahan sisa yang tidak mengakibatkan pencemaran lingkungan dan atau tidak merusak keseimbangan lingkungan. Menyimpan barang dalam jumlah banyak atau terbatas . Paragraf 6 Bangunan Rumah Tinggal 20 . Bidang kesehatan atau perawatan social . Telekomunikasi . Pasal 47 Setiap bangunan kelembagaan harus mempunyai jarak bangunan dengan bangunan lain disekitarnya sekurang-kurangnya 4 (empat) meter dengan batas kapling/ pekarangan. c. Pasal 45 (1) Setiap bangunan atau komplek bangunan industri harus mempunyai jarak bangunan dengan bangunan lain disekitarnya sekurang-kurangnya 8 (delapan) meter dari batas kapling/ pekarangan. Paragraf 5 Bangunan Kelembagaan Pasal 46 Yang termasuk golongan ini adalah semua bangunan yang digunakan untuk kegiatan yang berhubungan : a. b. Disetiap bangunan industri yang dibangun diatas kawasan yang belum memiliki rencana tata ruang wajib merencanakan dan melaksanakan prasarana lingkungan sesuai peraturan yang berlaku. Pembangkit. c.Paragraf 4 Bangunan Industri Pasal 44 Yang termasuk golongan ini adalah bangunan yanmg dipergunakan untuk kegiatan : a. bahan setengah jadi menjadi bahan jadi dalam jumlah yang banyak atau terbatas . b. Setiap bangunan industri harus dilengkapi sarana untuk memberi petunjuk tentang besarnya tindak bahaya terhadap ancaman jiwa secara langsung maupun tidak langsung. (2) (3) (4) Bangunan industri harus memiliki lebar pintu keluar sedemikian rupa sehingga mampu mengosongkan bangunan. Urusan perkantoran . Mengolah bahan mentah.

Bangunan umum ditambah dengan : Perdagangan dan jasa. wajib merencanakan dan melaksanakan prasarana lingkungan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. a. 2. Pasal 49 Bangunan tempat tinggal yang pelaksanaannya dikelola oleh badan hukum dan jumlahnya cukup banyak. Pasal 52 21 . Bangunan industri ditambah dengan : Perdagangan dan jasa. Rumah susun . harus menyediakan fasilitas lingkungan secara layak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. 1. Paragraf 7 Bangunan Campuran Pasal 51 Yang termasuk golongan ini adalah bangunan dengan status induk . atau Kelembagaan. d. atau Kelembagaan. d. c. Bangunan pendidikan ditambah bangunan umum perniagaan atau kelembagaan dan rumah tempat tinggal. 1. 1. e. e. Rumah deret . atau Industri kerajinan. Rumah kopel . Bangunan kelembagaan ditambah dengan perdagangan. jasa dan rumah tempat tinggal .Pasal 48 Yang termasuk golongan ini adalah semua bangunan yang digunakan untuk tempat tinggal yang berupa : a. atau Kelembagaan. Bangunan rumah tinggal ditambah dengan : Perdagangan dan jasa. Pasal 50 Bangunan tempat tinggal yang dibangun diatas kawasan yang belum memiliki rencana tata ruang. 2. c. Rumah tinggal . Komplek perumahan (realestate). b. 2.

c. harus mendapatkan IMB. (2) Dalam hal mendirikan/ membuat bangunan-bangunan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini. Paragraf 8 Bangunan Sosial Pasal 53 Yang termasuk golongan ini adalah semua bangunan yang digunakan untuk kegiatan : a. cacat mental atau fisik . Yang termasuk bangunan lainnya adalah sebagai berikut : Jembatan penyeberangan . Pagar tembok/ besi . d. Peribadatan dan keagamaan . Tempat jemuran hasil bumi. (2) (3) Semua bangunan campuran diatur menurut status induknya ditambah status tambahannya yang kemudian menyesuaikan dengan status induknya Bangunan tambahan yang dimaksud ayat (1) Pasal ini. pembinaan dan perawatan orang lanjut usia. 22 . Rehabilitasi social kemasyarakatan.(1) bukan sebaliknya. Menara telekomunikasi . luasnya tidak Status tambahan tidak boleh diubah tanpa izin Bupati. boleh lebih besar dari bangunan induknya. Paragraf 9 Bangunan Lainnya Pasal 54 (1) a. b. Penampungan. Monumen . b. c. f. e. Menara air . Bangunan diatas makam (cungkup) yang menggunakan konstruksi khusus . Bagian Ketiga Perencanaan Konstruksi Paragraf 1 Bangunan Satu Lantai Pasal 55 (1) (2) Bangunan satu lantai semi permanen tidak diperkenankan dibangun dipinggir jalan utama/ arteri kota. Diatas pondasi bangunan satu lantai harus diberi konstruksi pengikat yang dapat menerima beban horizontal tarik ataupun tekan. g.

(3) (4) (5) Pondasi bangunan dengan bentang lebih dari 10 (sepuluh) meter harus dibuat dengan konstruksi yang diperhitungkan. Paragraf 3 Perhitungan Konstruksi Pasal 60 23 . harus memenuhi ketentuanketentuan sebagai berikut : a. Paragraf 2 Bangunan Bertingkat Pasal 56 Perencanaan konstruksi pondasi pada bangunan bertingkat apabila tidak ditentukan lain mulai 2 (dua) lapis harus didasarkan atas perhitungan-perhitungan yang dapat dipertanggung jawabkan menurut ketentuan yang berlaku. dimana hubungan balok-balok dan kolom-kolom yang disambung secara kokoh dapat menerima tegangan-tegangan yang ditimbulkan oleh bebanbeban yang bekerja pada bangunan. Pondasi dan atau dinding-dinding yang ada masih dapat memikul beban-beban tambahan yang disebabkan oleh penambahan tingkat lantai itu . Pasal 58 Dalam hal penambahan tingkat lantai bangunan. konstruksi bangunan harus sudah dipersiapkan sebagai pondasi bertingkat sesuai dengan yang direncanakan. b. Pasal 57 Dalam hal bangunan bertingkat yang dibangun secara bertahap dan bersambungan. Pasal 59 Stabilitas bangunan bertingkat harus dapat diwujudkan sebagai konstruksi kerangka kokoh yang merupakan suatu kesatuan. Tiang-tiang penguat dinding harus dibuat memenuhi syarat teknis yang berlaku. yang dapat dipertanggung jawabkan dengan perhitungan-perhitungan konstruksi. Apabila ketentuan huruf a Pasal ini tidak dimungkinkan. maka harus ada usaha-usaha perbaikan/ perkuatan konstruksi yang disesuaikan dengan penambahan tingkat lantai itu. Tiang-tiang bangunan dengan lebih dari 10 (sepuluh) meter harus diberi konstruksi pengikat satu sama lain. baik berupa balok beton atau pengikat angin sehingga menambah kekakuan konstruksi bangunan.

Analisa perhitungan konstruksi beton apabila tidak dihitung dengan cara lain harus berdasarkan Peraturan Beton Indonesia (PBI). (2) Penyimpangan dari ketentuan ayat (1) Pasal ini dapat dilakukan apabila hal-hal tersebut dapat dibuktikan dengan jalan lain. (2) Bentuk. ukuran dan toleransi alat penyambung baja harus memenuhi syarat-syarat dalam Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia dan dipilih atas dasar perhitunganperhitungan keilmuan. atau bilamana ditentukan lain harus memenuhi standar bahan yang berlaku. dimana pelaksanaannya memerlukan keahlian yang cukup dan pengawasan terhadap kekuatan tekanan Beton disyaratkan pemeriksaan sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia (PBI).(1) Perhitungan konstruksi harus didasarkan atas keadaan yang menguntungkan konstruksi. Paragraf 3 Bahan Beton Pasal 64 (1) Campuran Beton Bahan Konstruksi adalah Campuran Beton untuk pekerjaan-pekerjaan structural secara umum. Bagian Kelima Bagian-Bagian Konstruksi Paragraf 1 Atap Pasal 65 24 . (2) (3) Penggunaan campuran kimia sebagai bahan campuran beton harus sesuai dengan syarat yang ditentukan. baik mengenai pembebanan. gaya-gaya pemindahan maupun tegangantegangan. Paragraf 2 Bahan Baja Pasal 63 (1) pemakaian baja sebagai bahan kontruksi harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia.

(2) Kemiringan atap harus disesuaikan dengan bahan penutup yang akan digunakan. (3) Dinding kamar mandi dan jamban dengan tinggi sekurang-kurangnya 1. (5) Dinding-dinding harus dibuat tegak lurus. kecuali dengan alasan yang dapat diterima. dan dalam hal ini merupakan dinding pemikul harus dapat memikul beban diatasnya. (4) Dinding-dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan kedap air (tasram) sekurang-kurangnya 15 (lima belas) cm dibawah permukaan tanah sampai 20 (dua puluh) cm diatas permukaan lantai tersebut. Paragraf 2 Dinding Pasal 66 (1) Dinding harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat memikul beban sendiri. Pargraf 3 Lantai Pasal 67 (1) Lantai-lantai harus cukup kuat untuk menahan beban-beban yang akan timbul dan harus diperhatikan pula pelenturannya. tekanan angin. seperti parabola. harus diberi balok lantai dari beton bertulang baja atau kayu awet atau dengan konstruksi lain yang bisa dipertanggung jawabkan. 25 . hiperbola dan lain-lain. (8) Konstruksi dinding dengan bentuk tradisional harus dikerjakan oleh pihak yang telah berpengalaman menguasai kaidah-kaidahnya.(1) Konstruksi atap harus didasarkan atas perhitungan-perhitungan yang dilakukan secara keilmuan/ keahlian dan dikerjakan dengan teliti dan atau percobaan-percobaan yang dapat dipertanggung jawabkan.5 (satu koma lima) meter diatas permukaan lantai dibuat kedap air. (3) Bidang atap harus merupakan bidang yang rata kecuali dikehendaki bentuk-bentuk khusus. (4) Untuk konstruksi atap yang sederhana dengan bentang lebih dari 12 (dua belas) meter disyaratkan adanya perhitungan-perhitungan. sehingga tidak mengakibatkan kebocoran. (2) Dinding dibawah permukaan tanah harus dibuat sedemikian rupa sehingga kedap air dan dapat menahan beban akibat tekanan tanah. (6) Adukan perekat yang digunakan harus mempunyai syarat-syarat kekuatan. (5) Konstruksi atap dengan bentuk tradisional harus direncanakan dan dikerjakan oleh pihak yang telah berpengalaman dan menguasai kaidah-kaidahnya. (7) Diatas lubang dengan panjang horizontal lebih dari 1 (satu) meter pada dinding.

gempa bumi dan lain-lain. (4) Macam-macam pondasi ditentukan oleh beratnya bangunan dan keadaan bangunan (5) Dalam hal miringnya tanah bangunan lebih dari 10 (sepuluh) persen. Paragraf 5 Pondasi Pasal 69 (1) Pondasi bangunan harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin kestabilan terhadap berat sendiri. percobaan pemasangan dapat dilakukan setelah memberitahukan terlebih dahulu kepada Bupati tentang kegiatan tersebut beserta penggunaan peralatannya. (2) Pondasi bangunan harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi penurunan setempat. percobaan beban. 26 . Paragraf 4 Kolom/ Tiang Pasal 68 (1) Kolom-kolom harus cukup kuat untuk menahan berat sendiri. (3) Pondasi bangunan harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi penurunan merata lebih dari yang ditentukan masing-masing jenis bangunan. Bagian Keenam Ketahanan Konstruksi Paragraf 1 Tahan Gempa Pasal 70 Tiap bangunan dan bagian konstruksi harus mempunyai konstruksiyang tahan gaya gempa bumi sebagai tambahan beban vertical.(2) Konstruksi lantai tradisional harus direncanakan dan dikerjakan oleh pihak yang telah berpengalaman menguasai kaidah-kaidahnya. (2) Konstruksi kolom/ tiang dalam bentuk tradisional harus direncanakan dan dikerjakan oleh pihak yang telah berpengalaman dan menguasai kaidah-kaidahnya. maka pondasi bangunan harus dibuat rata atau merupakan tangga dengan bagian atas dan bawah pondasi yang datar. (6) Pekerjaan untuk tujuan penyelidikan tanah. gaya-gaya dan momenmomen yang diakibatkan konstruksi-konstruksi yang dipikul. rencana kegiatan penyelidikan yang akan dilakukan dan telah memdapat persetujuan tertulis. beban-beban dan gaya-gaya luar seperti tekanan angin.

n. Jaringan elektronik dan telekomunikasi. e. h. Jaringan telepon. Jaringan bahaya kebakaran. 27 . i.Paragraf 2 Tahan Api Pasal 71 Tiap bangunan bagian konstruksi bangunan yang dinyatakan mempunyai tingkat bahaya api cukup besar harus mempunyai konstruksi tahan api sesuai peraturan yang berlaku. Bagian Ketujuh Perencanaan Utilitas Pasal 73 Jenis perencanaan utilitas meliputi : a. Pembuangan kotoran sampah. Instalasi akustik. Jaringan listrik. Instalasi elevator/lift dan escalator. Penangkal petir. j. k. Paragraf 3 Tahan Angin Pasal 72 Tiap bangunan dan bagian bangunan yang berada ditempat yang mempunyai kecepatan angin tinggi harus mempunyai konstruksi yang tahan tekanan atau hisapan angin termasuk kemungkinan timbulnya putaran angin. l. Jaringan air kotor. d. Jaringan air hujan. Instalasi alat-alat listrik/mesin dan sanitasi. m. g. f. b. Instalasi penerangan. Jaringan gas. Jaringan air bersih. c.

Pasal 71 (1) Semua jenis pekerjaan perencanaan tersebut pada pasal 73 Peraturan Daerah ini. BAB XII PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN TARIF Pasal 76 Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau sama dengan biaya penyelenggaraan yang meliputi biaya pengecekan. (2) Jenis perencanaan utilitas sebagaimana dimaksud pasal 73 Peraturan Daerah ini. Koefiisien kota/daerah : 28 . yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati. pemetaan. adalah sebagai berikut : a. BAB XI CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 75 Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan atas factor. luasan tanah bangunan. jumlah tingkat bangunan dan rencana penggunaan bangunan. harus memenuhi standart dan ketentuan yang berlaku. (2) Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini. transportasi dalam rangka pengawasan dan pengendalian serta biaya pengadaan tanda pengawasan. pada dasarnya bukan untuk semua klasifikasi penggunaan dan jenis bangunan. diperoleh dengan perkalian nilai koefisien bangunan dan harga standart bangunan. BAB XIII CARA MENGHITUNG DAN TARIF RETRIBUSI Pasal 77 (1) Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan tingkat penggunaan jasa dan tariff retribusi. pengukuran. (3) Koefisien – koefisien bangunan tersebut pada ayat (2) Pasal ini.

3.75 0. c.50 Arteri primer luar kota Sragen Arteri Sekunder 1. 4. A. 5. Lokal primer dalam kota Lokal primer luar kota Lokal sekunder dalam kota Lokal sekunder luar kota 0. Daerah tertentu/kota yang lain Bangunan pada Daerah Pedesaan Koefisien 1. c.00 0. Koefisien Kelas Jalan Kelas Jalan Bangunan dipinggir jalan : Arteri : a. Sukowati b. Koefisien Guna Bangunan. 2. Hirarki Kota/Daerah Bangunan pada Kota Kabupaten Bangunan pada Kota Pembantu Bupati Bangunan pada Kota Kecamatan Bangunan pada Kota.75 0. c. Kolektor Primer Kolektor Sekunder 1.000 29 . No. 3.00 Arteri primer dalam kota/Jalan 1. Kolektor : a.40 Koefisien B. 1. 1.70 0. Guna Bangunan Bangunan perdagangan dan jasa Bangunan perindustrian Bangunan perumahan Koefisien 1.400 1.00 0. Lokal : a.50 b.90 0. 3.200 1. 2.25 1. 1. No.75 1.50 1.75 0.No. b. b. 2.40 Bangunan tidak dipinggir jalan. d.

1. 2. lantai Bangunan 1 lantai Bangunan 2 lantai Bangunan 3 lantai Bangunan 4 lantai Koefisien Luas Bangunan : Kelas Bangunan Bangunan dengan luas sampai dengan 100m² Bangunan dengan luas 101m² s. e. Permanen dengan dindiong batubata biasa Semi permanen dengan dinding papan/kotangan Koefisien Tingkat Bangunan Tingkat Bangunan dengan Jml. 3. No. 6. Bangunan kelembagaan Bangunan Umum Bangunan Pendidikan Bangunan campuran = 1. 7.400 0.75 Koefisien 1. 3.800 d. No. 5. 4.4.75 0.25 1.00 0. 2. 1.50 1.80 1.600 0.80 0. 2.600 0.00 1.d 250 m² Bangunan dengan luas 251m² s.5 x koefisien bangunan induk Bangunan Sosial Bangunan lain-lain (Pagar dsb) 0.d 500 m² Bangunan dengan luas 501m² s.. 1. f. Koefiisien Kelas Bangunan Kelas Bangunan Permanen dengan dinding batubata dengan Koefisien 1. 3.50 konstruksi beton baja. No. 9. 5.90 0.00 0.d 1000 m² Bangunan dengan luas 1000m² keatas Koefisien 0. 8.70 30 . 4.800 0.

BAB XV SANKSI ADMINISTRASI Pasal 80 Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar. Pasal 78 Besarnya tarip retribusi IMB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (1) Peraturan daerah ini. BAB XVII TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 82 (1) Pembayaran Retribusi Daerah dilakukan di Kas Daerah atau ditempat lain yang ditunjuk sesuai waktu yang ditentukan dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD. BAB XVI TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 81 (1) (2) Retribusi IMB dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. (5) Retribusi IMB untuk pemugaran / pembaharuan. ditetapkan oleh Bupati dengan persetujuan DPRD Kabupaten Sragen.(4) Besarnya harga standart bangunan sebagaimana dimaksud ayat (2) Pasal ini. Pasal ini. perubahan bangunan lama dan bangunan baru bagi bangunan yang terkena pelebaran / perluasan jalan ditetapkan sebesar 25 % dari retribusi IMB sebagaimana tersebut ayat (1). ditetapkan oleh Bupati. 31 . BAB XIV SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 79 Retribusi terutang terjadi pada saat ditetapkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. ditetapkan 1 % dari tingkat penggunaan jasa. perbaikan. Bentuk dan isi SKRD sebagaimana dimaksud ayat (2) pasal ini. bagi yang sudah memiliki IMB.

Surat Teguran / Peringatan / Surat Lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Peraturan Daerah ini. Wajib Retribusi harus melunasi retribusinya yang terutang. Setiap pembayaran dicatat dalam buku penerimaan. (3) (4) Tata cara pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini ditetapkan oleh Bupati.(2) Dalam hal pembayaran dilakukan ditempat lain yang ditunjuk sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini. Pasal 84 (1) (2) (3) Pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dan Pasal 83 Peraturan Daerah ini diberikan tanda bukti pembayaran. Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dapat mengijinkan wajib retribusi untuk menunda pembayaran retribusi sampai batas waktu yang ditentukan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pasal 86 Bentuk – bentuk formulir yang dipergunakan untuk pelaksanaan Penagihan Retribusi Daerah sebagaimana dimaksud dengan Pasal 87 ayat (1) Peraturan Daerah ini. Pasal 83 (1) Pembayaran Retribusi harus dilakukan secara tunai / lunas. kualitas. ditetapkan oleh Bupati. ditetapkan oleh Bupati. (2) (3) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat Teguran / Peringatan / Surat Lain yang sejenis. Bentuk. ukuran buku dan tanda bukti pembayaran Retribusi ditetapkan oleh Bupati. BAB XVIII TATA CARA PENAGIHAN RETRIBUSI Pasal 85 (1) Pengeluaran Surat Teguran / Peringatan / Surat Lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran. 32 . maka hasil penerimaan Retribusi Daerah harus disetor ke Kas Daerah selambat – lambatnya 1 x 24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh Bupati. (2) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dapat memberi ijin kepada wajib retribusi untuk mengangsur retribusi terutang dalam jangka waktu tertentu dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. isi.

BAB XXII PENYIDIKAN Pasal 90 Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah. BAB XXI KETENTUAN PIDANA Pasal 89 Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajiban sehingga merugikan keuangan daerah diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah retribusi terutang. Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : 33 . keringanan dan pembebasan Retribusi. (2) Kepada aparat pelaksanaan dan aparat pengawas sebagimana tersebut ayat (1) Pasal ini diberikan biaya operasional sebesar 5% dari penerimaan retribusi IMB dan pembagiannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati dan ditampung dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Sragen. Tata cara pemberian pengurangan. keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini ditetapkan oleh Bupati. Bagian Hukum dan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sragen. sedang pengawasan atas pelaksanaannya diserahkan kepada Badan Pengawas dan Pemeriksa Kabupaten Sragen. BAB XX PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN Pasal 88 (1) Pelaksanaan Teknis atas berlakunya Peraturan Daerah ini diserahkan kepada Dinas Tata Kota dan Kebersihan Kabupaten Sragen bersama-sama dengan Kantor Pelayanan Terpadu. KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 87 (1) (2) Bupati dapat memberikan pengurangan.BAB XIX TATA CARA PENGURANGAN. Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.

Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah. e. Memeriksa buku-buku. Menghentikan penyidikan. b. Meneliti. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. mencari. 34 . Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan. k. Menerima. c. sebesar 10% dari besarnya retribusi IMB lama. b. Bangunan berubah konstruksinya. h. c. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. d. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi daerah.a. mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak Pidana Retribusi Daerah. mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas. BAB XXIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 91 (1) IMB yang telah dikeluarkan sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini tetap berlaku sepanjang tidak ada perubahan karena : a. melarang seseorang meningggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e. Peralihan hak atas bangunan. Besarnya retribusi perubahan nama pemilikan banguna tersebut ayat (2) Pasal ini. pencatatan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut. f. Bangunan telah dirobohkan/dibongkar. dapat diberlakukan apabila pemohon mengajukan perubahan nama pemilikan bangunan. j. catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah. i. g. (2) (3) IMB sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a Pasal ini. Menyuruh berhenti.

Ditetapkan di Sragen Pada tanggal DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SRAGEN KETUA BUPATI SRAGEN (……………………………. Pasal 94 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 93 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sragen Nomor 11 Tahun 1998 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan.) (………………………) 35 .33-459 dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sragen tanggal 31 Mei 1999 Nomor 06 tahun 1999 Seri B Nomor 02 dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi.BAB XXIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 92 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya diautr oleh Bupati. yang disyahkan dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 17 Mei 1999 Nomor 974. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Sragen.

Tahun ………. menimbun atau meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan itu. keamanan. kabel telepon. Namun karena perkembangan keadaan.. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1 dan 3 Pasal 4 ayat Ayat (1) . b. PENJELASAN UMUM Di Wilayah Kabupaten Sragen pengaturan tentang Bangunan telah dituangkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sragen Nomor 11 tahun 1998 tentang retribusi Ijin Mendirikan Bangunan. Mendirikan bangunan adalah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian termasuk pekerjaan menggali. diantaranya mengenai syarat-syarat lain dan besarnya retribusi. keindahan dan kelestarian lingkungan. keselamatan.Disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal …… …Nomor ………… Diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Sragen tanggal ……………. kabel listrik dan pembuatan sumur serta pembuatan bangunan / papan reklame. Termasuk dalam pengertian mendirikan bangunan adalah kegiatan penggalian tanah untuk pipa air minum. . II. Parturan Daerah tersebut dipandang sudah tidak sesuai lagi untuk diterapkan saat ini. dipandang perlu meninjau kembali Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sragen nomor 11 tahun 1998 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan dan mengaturnya kembali dalam Peraturan Daerah.Nomor ……. Mengubah bangunan adalah pekerjaan mengganti dan atau menambah bangunan yang ada termasuk pekerjaan membongkar 36 . Cukup Jelas : Yang dimaksud dengan : a. Dalam rangka menciptakan kondisi bangunan yang menjamin ketertiban. Nomor ………… SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SRAGEN (……………………………) PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR ……… TAHUN ………… TENTANG RETRIBUSI IJIN MENDIRIKAN BANGUNAN I.

lingkungan sekitar bangunan dalam keadaan aman. Merobohkan bangunan adalah meniadakan sebagian bangunan ditinjau dari segi fungsi bangunan dan atau konstruksi. : Cukup Jelas : Cukup Jelas : Cukup Jelas Huruf c angka (7) a. c. Penggantian Papan Nama . Pasal 5 ayat (2) s. Pasal 26 huruf c s. Pasal 16 ayat (2) huruf c : Cukup Jelas s.yang berhubungan dengan pekerjaan mengganti bagian bangunan tersebut.d.d. d. Pasal 26 huruf a Pasal 26 huruf b : Yang dimaksud dengan tenaga ahli adalah seseorang yang mempunyai dasar pendidikan formal dan berpengalaman professional dibidangnya. Biaya administrasi . Pemeriksaan bangunan .d. Pasal 5 ayat (1) huruf c (angka 6) Pasal 5 ayat (1) : Biaya IMB meliputi : b. 37 . Pasal 21 Pasal 22 ayat (1) : Yang dimaksud dengan mengamankan lokasi bangunan adalah menutup lokasi sedemikian rupa sehingga para pekerja. c.d. Pasal 39 Pasal 10 huruf a Pasal 10 huruf b s. Pasal 4 ayat Ayat (2) s. Pasal 44 : Yang termasuk golongan bangunan jasa adalah termasuk pula bangunan Pendidikan Perguruan Tinggi. penghuninya atau pihak ketiga ataupun mengganggu keindahan lingkungan.d: Cukup Jelas Pasal 16 ayat (1) Pasal 16 ayat (2) Huruf a : yang dimaksud dengan rapuhadalah bangunan yang sebagian atau seluruhnya dalam keadaan rusak sehingga membahayakan umum. bahan – bahan bangunan. Pasal 16 ayat (2) Huruf b : yang dimaksud dengan rencana tata ruang kota yaitu rencana umum tata ruang kota Ibu Kota Kabupaten dan Ibu Kota Kecamatan. : Cukup Jelas. Pasal 22 ayat (2) s.

Pasal 85 ayat (2) Pasal 85 ayat (3) Pasal 86 Pasal 87 ayat (1) : Cukup Jelas : Pejabat yang ditunjuk adalah Kepala DTK.d. : Cukup Jelas. Pasal 94 : Cukup Jelas 38 .d.d. Pasal 55 ayat (2) s. : Disamping memperhatikan kemampuan wajib retribusi pengurangan dan keringanan retribusi tersebut maksimal diberikan 20 % dari besarnya retribusi yang harus dibayar oleh wajib retribusi dan untuk bangunan yang dibebaskan apabila terkena bencana alam.Pasal 45 ayat (1) : Yang tidak termasuk dalam golongan industri sebagaimana dimaksud Pasal 45 ayat ini adalah industri kecil / rumah tangga. Pasal 87 ayat (2) s. Pasal 45 ayat (2) Pasal 55 ayat (1) : Cukup Jelas : Bangunan satu lantai semi permanen yang dimaksud adalah bangunan yang mengganggu keindahan dan ketertiban lingkungan. Pasal 77 ayat (4) Pasal 77 ayat (5) : Cukup Jelas : Pembayaran retribusi sebesar 25 % sebagaimana dimaksud Pasal 77 ayat ini diberikan untuk bangunan yang direhab / keseluruhan. Pasal 78 s.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->