PERBANTUAN TNI KEPADA POLRI

Sejalan dengan komitmen reformasi nasional, reformasi di bidang pertahanan negara dilaksanakan secara konsepsional dengan berlandaskan pada kostitusi UUD 1945 dan falsafah Pancasila. Reformasi pertahanan negara merupakan komitmen bangsa yang dilaksanakan secara bertahap dan berlanjut, mencakup penataan struktur, kultur dan tata nilai sebagai satu kesatuan perubahan yang utuh dan menyeluruh. Agenda penataan struktur sejauh ini telah mencakup penataan Upaya organisasi pertahanan negara yang menyentuh segi-segi substansial.

penataan dimaksudkan agar penyelenggaraan pertahanan negara dapat lebih efektif sesuai dengan perkembangan konteks stratregis serta dalam bingkai masyarakat demokratis. Pada aspek kultur dan tata nilai, perubahan diarahkan pada sikap dan perilaku penyelenggara pertahanan negara untuk mampu memposisikan diri sesuai peran dan tugasnya. Reformasi di bidang pertahanan negara bertitik tolak dari Ketetapan (TAP)

MPR nomor VI tahun 2000, tentang Pemisahan TNI dan Polri dan TAP MPR nomor VII tahun 2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri.
Salah satu wujudnya adalah Undang Undang (UU) Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara menggantikan UU RI Nomor 20 tahun 1982. UU RI Nomor 20 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan reformasi. UU Pertahanan Nomor 3 tahun 2002, di samping mengatur penataan negara ke depan untuk mendukung kepentingan nasional sesuai cita-cita reformasi serta untuk tujuan nasional. Masalah kedudukan, fungsi dan tugas Polri sebagai salah satu “kekuatan

pertahanan dan keamanan negara”, hal ini dapat dicakup dalam UU Keamanan
Nasional atau UU Kekuatan Cadangan, namun kedudukan Polri justru mencegahnya untuk menjadi combatant. Padahal Polri dan TNI disatukan dalam

rumpun “kekuatan utama pertahanan dan keamanan negara” (Pasal 30 ayat (2)

. . dan penyelundupan. maka perlu dipahami tentang operasional penggunaan bantuan kekuatan TNI kepada Polri agar dapat mencapai tujuan dan tepat guna. Sedangkan Polri dalam melakukan kegiatannya bersumber pada nilai dan azas Kepolisian Universal. yang terpisah secara kelembagaan. tidak hanya sekedar berpedoman pada doktrin belaka. TERBATAS / Untuk . dimana penggunaan tindakan kekerasan oleh kepolisian hanya boleh dilakukan untuk menghentikan suatu tindakan perlawanan atau pembangkangan terhadap hukum sambil tetap mengakui dan menghargai hak-hak hukum pelakunya. yang memerlukan bantuan TNI kepada fungsi pemerintahan di bidang kepolisian (yang terpusat maupun terdesentralisasi). dan (c) merinci OMSP seperti: mengatasi aksi terorisme. Ketentuan ini mengatur: (a) bahwa TNI dapat melakukan peran di luar tugas pokoknya. TNI dengan sistem persenjataannya dilatih dan dipersiapkan untuk menghancurkan musuh melalui operasi militer. Dalam hal ini tugas perbantuan TNI ditentukan secara rinci oleh UU TNI 2004 (Pasal 7 ayat (2) huruf b). diatur dengan UU (Pasal 30 ayat (5) UUD 1945). fungsi dan tugas Polri dalam konteks kebijakan kamnas untuk menghadapi eskalasi ancaman kamtibmas maupun kamdagri. mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis.2 UUD 1945) dan hubungan kewenangan antara TNI dan Polri harus. Seperti yang diketahui bahwa dalam menjalankan Sistem Pertahanan Negara. Penggunaan kekuatan TNI untuk membantu Polri dalam Operasi Bantuan Kamtibmas harus berdasarkan ketentuan hukum dan kebijakan politik pemerintah. Disinilah kemudian menimbulkan adanya kendala di lapangan dihadapkan pada perbedaan persepsi tentang tataran kewenangan antara fungsi pertahanan dan fungsi keamanan negara. membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia. Kedudukan. . (b) dengan keputusan politik. Bertitik tolak dari pemahaman yang berbeda tersebut. membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan. perompakan.

Sebelum penulis lebih jauh membahas tentang pertanyaan yang ada maka penulis mencoba untuk menguraikan beberapa hal yang berkaitan dengan pokok bahasan essay ini. 2) Bagaimana prosedur permintaan perbantuan TNI kepada Polri ?.3 Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan. dipersiapkan. yaitu operasi yang direncanakan. antara lain : Operasi Bantuan Kamtibmas yaitu bentuk operasi militer selain perang. TERBATAS . Operasi Kepolisian Terpusat. yaitu operasi yang direncanakan. Maka untuk dapat menjawab persoalan yang ada penulis mencoba menggunakan pendekatan operasional sebagai salah satu fungsi dan peran TNI dalam menyelenggarakan Pertahanan Negara yang digunakan penulis sebagai peso analisis. antara lain : “ 1) Bagaimana bentuk perbantuan TNI kepada Polri ?. dan 3) Bagaimana ketentuan Hukum atau perundang-undangan yang berlaku dalam perbantuan TNI kepada Polri ? “ Adapun manfaat dari tulisan essay ini yaitu memberikan gambaran dan pemahaman secara mendalam tentang kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Operasi Kepolisian dan Perbantuan TNI di dalam Operasi Kepolisian tersebut. TNI AL dan TNI AU untuk membantu keadaan rutin biasa/tertib sipil. pembinaan dan operasional Polri yang tergelar diseluruh satuan kewilayahan dan satuan fungsi operasional Polri. dirumuskan Pemda / Polri dalam rangka mengatasi peningkatan eskalasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat dalam Dimana dalam penyelenggaraan pemeliharaan dalam rencana kerja tahunan Polri yang kamtibmas Polri melaksanakan kegiatan Kepolisian yang diarahkan pada sasaran yang telah diselenggarakan sepanjang tahun oleh seluruh kekuatan pelayanan. dilaksanakan dan dikendalikan oleh Mabes Polri yang pelaksanaannya oleh Satgas dari Mabes Polri dan Satgas kewilayahan yang diarahkan untuk menghadapi ancaman yang berskala nasional dan internasional sedangkan Operasi Kepolisian Kewilayahan. dilaksanakan dan dikendalikan oleh kewilayahan yang pelaksanaannya oleh Satgas Kewilayahan dari tingkat Polda sampai dengan Polres. yang dilaksanakan oleh satuan TNI AD. dipersiapkan.

VII/MPR/2000 tentang Peran TNI dan Polri. Sebelum dilaksanakan operasi bantuan TNI kepada Polri. maka dengan kutipan pasal 30 ayat (4) UUD 1945 tersebut Polri dituntut harus memiliki kepekaan dibarengi dengan upaya antisipasi secara proaktif serta berpihak kepada masyarakat yang berorientasi pada pemecahan masalah – masalah yang terjadi di masyarakat baik yang berupa ancaman maupun gangguan keamanan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri. Namun gangguan keamanan yang terjadi saat ini dapat berkembang menjadi ancaman bagi kepentingan nasional. maka pemerintah terlebih dahulu harus membuat Peraturan Pemerintah / Ketentuan sebagai landasan operasional yang dapat digunakan sebagai pedoman atau dasar hukum bagi Satuan TNI untuk melaksanakan tugas kamtibmas sehingga prajurit TNI yang bertugas dilapangan tidak ragu-ragu lagi dalam melaksanakan tugasnya. kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI serta kelangsungan pembangunan nasional dimana pihak Polri sudah tidak mampu lagi mengatasi gejolak keamanan yang timbul. TERBATAS . serta menegakkan hukum.4 yang diarahkan untuk menghadapi ancaman tertentu yang bersifat kedaerahan / regional. Dengan mengacu kepada TAP MPR RI No. yang diatur pada pasal (4) tentang bantuan TNI kepada Polri dalam rangka tugas keamanan atas permintaan yang diatur dalam undang-undang.”. sehingga diperlukan perbantuan TNI kepada Polri untuk membantu mengatasi gejolak keamanan tersebut. dan didalam pengertian tersebut termasuk didalamnya adalah peran sebagai penindak kejahatan. melayani masyarakat. Secara umum peran dan tugas Polisi di rumuskan sebagai penegak hukum dan pemeliharaan ketertiban. dan apabila ternyata dilapangan terjadi permasalahan maka satuan TNI tidak menjadi bidikan masyarakat. mengayomi. Didalam Pasal 30 ayat (4) UUD 1945: “Kepolisian Negara RI sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi.

dalam bentuk operasi pencegahan Bentuk Perbantuan TNI kepada Polri berupa Operasi Bantuan Kamtibmas yang dilaksanakan atas dasar permintaan Polri dalam menghadapi situasi kontijensi dimana diperkirakan Polri tidak dapat mengatasi konflik horizontal. melaksanakan penindakan huru-hara dan melaksanakan tindakan keras dalam keadaan terpaksa untuk membela diri. pengamanan perekonomian. Anarkhis Intensitas Tinggi . Dalam mengatasi Konflik Horizontal . Operasi Intelijen. TNI melaksanakan Operasi Teritorial. Pengamanan Obyek Vital dan tindakan tegas untuk memisahkan dan melokalisir kelompok-kelompok yang bertikai dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Penindakan Huru Hara. Dalam hal ini maka bantuan TNI dilaksanakan dalam bentuk operasi militer selain perang. Pada Konflik Vertikal Operasi Bantuan Kamtibmas dilaksanakan dalam bentuk Operasi Teritorial yang didukung Operasi Yustisi dan Penerangan. Dalam hal ini maka bantuan TNI dilaksanakan dalam bentuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP). baik maupun dalam bentuk operasi penindakan. TNI melaksanakan terhadap obyek vital kenegaraan dan sentra-sentra penindakan melaksanakan pengamanan simbol-simbol nasional/ daerah. konflik vertikal maupun tindakan anarkhis intensitas tinggi. sehingga diperkirakan gangguan keamanan akan semakin meluas dan eskalasi ancaman semakin meningkat baik pada konflik horizontal. mengatasi Sedangkan dalam Tindakan huru-hara.5 Bantuan unsur TNI diberikan dan digunakan untuk mendukung pelaksanaan tugas-tugas Polri dalam rangka mencegah dan menanggulangi gangguan atau ancaman Kamtibmas. Operasi Bantuan Kamtibmas dilaksanakan atas dasar permintaan apabila pihak Polri dinilai tidak dapat atau diperkirakan tidak akan dapat mengatasi kontinjensinya. Operasi Intelijen. Operasi Penyekatan Laut dan Operasi Pengamatan Udara serta melaksanakan tindakan tegas untuk mengatasi aksi bersenjata yang mengganggu keselamatan rakyat. konflik vertikal maupun brutalitas massa (tindakan anarkhis intensitas tinggi). Operasi Sandi Yudha. kegiatan pemerintahan dan penegakan hukum. baik dalam bentuk operasi pencegahan maupun dalam bentuk operasi penindakan. melindungi keselamatan orang TERBATAS .

Maka Pemberian bantuan aturan yang berlaku perkuatan unsur TNI kepada Polri menurut setempat meliputi : 1) Permintaan bantuan perkuatan diajukan oleh Kepala Kepolisian (minimal Kapolres) kepada Komandan Militer setingkat dengan memperhatikan hierarkhi rantai komando sampai ke Komando Militer Daerah. 3) Permintaan lisan harus ditindaklanjuti secara tertulis ditujukan kepada Kepala / Komandan Militer yang setingkat pada kesempatan pertama selambat-lambatnya dalam waktu 1 X 24 jam. dan 3) Komandan Militer ( Komandan Satuan TNI AL dan TNI AU) apabila dapat memberikan bantuan perkuatan unsurnya agar menginformasikan / Hal lain yang harus menjadi perhatian. (d) Daerah / lokasi yang memerlukan bantuan perkuatan. 2) Permintaan dapat diajukan secara lisan atau tertulis. TNI harus memuat antara lain bahwa : (a) mengkoordinasikan ke Komandan Militer Daerah (TNI AD) sebagai penanggung jawab teritorial di darat. Dan bagaimana prosedur permintaan perbantuan TNI kepada Polri. dan (g) Bantuan perkuatan unsur TNI yang dilibatkan dengan status BKO kepada Polri. permintaan bantuan unsur Perkembangan situasi terakhir. (b) Alasan diperlukan bantuan perkuatan. (e) Waktu dimulainya penggunaan bantuan perkuatan. maka dalam pelaksanaan Pemberian bantuan perkuatan unsur TNI kepada Polri dilaksanakan dengan mempedomani ketentuan dan memenuhi salah satu kriteria ancaman. prosedur dan ketentuan penggunaan menurut berlaku aturan yang agar Perbantuan TNI kepada Polisi sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku serta kebijakan politik pemerintah serta menghindari kesalahan prosedur yang dapat berdampak pada pelanggaran tindak pidana maupun pelanggaran Hak Asasi Manusia. Adapun Prosedur Pemberian Bantuan. (c) Jumlah kekuatan yang diperlukan. kehormatan atau kesusilaan dan harta benda karena adanya serangan atau ancaman serangan pada jarak dekat dan bersifat melawan hukum. meliputi : (1) Komandan Militer Daerah segera memerintahkan unsur-unsur TNI di wilayahnya secara lisan TERBATAS .6 lain. (f) Kodal dan tataran kewenangan.

73 tahun Komandan Satuan Dan (3) TNI dapat Pemberian perkuatan dilaksanakan atas perintah atau persetujuan Komando Atas. pasal 413 dan pasal 414. kemudian ditindaklanjuti dengan laporan lisan dan 1958 tentang KUHP yang meliputi pasal 48. Berdasarkan Ketentuan Hukum/Perundang-undangan maka setiap anggota satuan TNI yang diperbantukan kepada Polri harus tunduk kepada hukum dan peradilan sesuai perundang-undangan yang berlaku. pasal 49. 26 tahun 2000 tentang HAM pasal 7. pasal 52. dalam rangka menghindari terjadinya suatu “vacum of power” dalam menghadapi tingkat/eskalasi ancaman. pasal 50. Dan hal yang paling penting dalam pelaksanaan tugas Perbantuan TNI kepada Polri adalah harus sesuai ketentuan hukum / perundang-undangan. maka perlu dimasukkan dalam peraturan perundang-undangan yang menentukan batasan/kapan Satuan TNI diminta ataupun tidak diminta dapat melakukan suatu tindakan pengamanan di wilayahnya.7 dan ditindaklanjuti dengan perintah tertulis untuk menyiagakan unsur-unsurnya. sehingga akan diperoleh kesamaan visi dan cara bertindak dalam TERBATAS . Karena hal tersebut yang akan dijadikan pedoman bagi komandan satuan TNI di lapangan melaksanakan tugas agar terhindar dari kesalahan prosedur yang dapat berdampak pada pelanggaran tindak pidana maupun pelanggaran Hak Asasi Manusia. memebrikan perkuatan segera. Semua ketentuan-ketentuan tersebut secara jelas diatur dalam UU No.1 tahun 1946 yang diperbaharui dengan UU No. Ketentuan Hukum lain yang dapat dijadikan pedoman adalah UU No. diikuti laporan tertulis. pasal 8 dan Namun dikarenakan petunjuk pelaksanaannya belum diatur dalam Peraturan Pemerintah. pasal 51. pasal 9. Dalam hal keadaan yang sangat mendesak. (2) Komandan Satuan Kewilayahan pada kesempatan pertama secara lisan melaporkan kepada Komandan Satuan atasannya tentang informasi/laporan dari Komandan Militer ( Komandan Satuasn TNI AL dan TNI AU) adanya permintaan bantuan perkuatan dan ditindaklanjuti dengan laporan tertulis. dimana Panglima atau Dansat TNI yang tidak memenuhi atau sengaja mengabaikan permintaan bantuan dari Kepala Kepolisian dapat diancam dengan sanksi sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku.

73 tahun 1958 tentang KUHP yang meliputi pasal 48. tugas dan fungsi TNI dan Polri yang sebelumnya menjadi satu wadah yaitu ABRI telah mengalami perubahan sehingga TNI dan Polri memiliki peran. pasal 49. Karena hal tersebut yang akan dijadikan pedoman bagi komandan satuan TNI di lapangan melaksanakan tugas agar terhindar dari kesalahan Semua ketentuan-ketentuan tersebut secara prosedur yang dapat berdampak pada pelanggaran tindak pidana maupun pelanggaran Hak Asasi Manusia. Referensi : Operasi Kepolisian “ Polri dan Keamanan Nasional” oleh Mohammad Fajrul Falaakh [Anggota KHN]. Dan hal yang paling penting dalam pelaksanaan tugas Perbantuan TNI kepada Polri adalah harus sesuai ketentuan hukum / perundangundangan. pasal 52. Demikian tulisan esai tentang Operasi Bantuan TNI kepada Polri ini dibuat penulis berharap tulisan esai singkat ini dapat digunakan sebagai sarana untuk lebih memahami secara mendalam tentang kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Operasi Kepolisian dan Perbantuan TNI di dalam tersebut. tugas dan fungsi yang berbeda. pasal 413 dan pasal 414. dimana TNI berperan sebagai alat pertahanan negara sedangkan Polri berperan sebagai alat keamanan negara. pasal 51. TERBATAS .8 mengantisipasi dan menanggulangi meluasnya konflik.1 tahun 1946 yang diperbaharui dengan UU No. jelas diatur dalam UU No. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya salah prosedur yang pada akhirnya justru akan merugikan Satuan TNI sendiri. pasal 50. Dari hasil analisa yang telah diuraikan di atas maka penulis mencoba untuk mengambil suatu kesimpulan bahwa peran.

Agustus 2005 oleh Tim Pokja RUU Hankamneg Dephan RI. TERBATAS .9 - “ RUU Pertahanan dan Keamanan Negara akan menyatukan tugas TNI dan Polri” Jakarta.