P. 1
Makalah Anggaran Berbasis Kinerja

Makalah Anggaran Berbasis Kinerja

|Views: 3,260|Likes:
Published by Inda Afriani

More info:

Published by: Inda Afriani on May 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/22/2013

pdf

text

original

ANGGARAN KINERJA

luas daerah. modal. ketersediaan sumber daya alam dan teknologi yang digunakan. pemerataan dan keadilan serta potensi keanekaragaman daerah. . Dengan demikian terjadi perubahan pola hubungan ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat secara keseluruhan atas periode tahun sebelum otonomi daerah dengan masa diberlakukannya UU No. Otonomi Daerah berdasarkan Undang-Undang No. pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional serta perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Undang-undang tersebut memberikan keleluasaan untuk menyelenggarakan kewenangan yang luas.33 Tahun 2004. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Latar Belakang Hadirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.BAB I PENDAHULUAN A. peran serta masyarakat. Sebagaimana dijelaskan dalam UU No. kemampuan ekonomi. Adapun tujuan dilaksanakannya otonomi daerah adalah memberdayakan masyarakat. Sesuai dengan pendapat aliran klasik bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dipengaruhi oleh jumlah penduduk.32 Tahun 2004 dan UU No. pertahanan nasional. ternyata membawa nuansa baru dalam sistem Pemerintahan Indonesia. 5 Tahun 1974. 33 Tahun 2004. Dengan kata lain bahwa kontribusi penerimaan pemerintah daerah yang berasal dari pemerintah pusat mendominasi konfigurasi APBD. Maka seyogyanya pemerintah daerah lebih aktif dalam mengolah potensi yang ada di daerahnya masing-masing. jumlah penduduk. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. pertanggungjawaban dan Pengawasan keuangan dan belanja daerah. nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan. mendorong daerah otonom (kabupaten/kota) untuk mandiri dan tidak bergantung pada Pusat dalam mengelola dan menggunakan kewenangan yang dilimpahkan kepadanya. 32 Tahun 2004. dan sumber-sumber penerimaan daerah yang relatif besar dikelola oleh pemerintah pusat. Konsekuensi hubungan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang berlaku sejak pemerintahan orde baru hingga diberlakukannya otonomi sejak tahun 2001 lalu menyebabkan relatif kecilnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Undang-Undang No. pelaksanaan Tata usaha keuangan daerah dan penyusunan perhitungan Anggaran pendapatan dan belanja daerah. Dengan demikian mutlak pemerintah daerah harus berupaya menggali potensi Pendapatan Asli Daerah sebagai stimulus rencana pembangunan ekonomi masing-masing daerah. bahwa daerah otonom memperhatikan syarat-syarat mengenai. Tahun 2001 merupakan awal pelaksanaan desentralisasi yang semestinya akan terdapat berbagai perubahan dalam kebijakan pembangunan nasional. dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 Tentang Pedoman pengurusan.

APBD disusun dan ditetapkan berdasarkan pola dasar pembangunan daerah. Tolok ukur keberhasilan hanya ditunjukkan dengan adanya keseimbangan anggaran antara pendapatan dan belanja namun jika anggaran tersebut defisit atau surplus berarti pelaksanaan anggaran tersebut gagal. repelita daerah. namun lebih dititikberatkan pada kebutuhan untuk belanja/pengeluaran dan sistem pertanggung jawabannya tidak diperiksa dan diteliti apakah dana tersebut telah digunakan secara efektif dan efisien atau tidak. B. Sedangkan APBD sendiri merupakan piranti keuangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahan. karena tergantung potensi yang tersedia di daerah tersebut. Keterbatasan dana dan sumber daya menghasilkan adanya pembatasan dan keharusan memilih urgensi yang tercantum dalam skala prioritas. Permasalahan Memperhatikan latar belakang penyusunan makalah ini. untuk dapat lebih meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.Pelaksanaan otonomi daerah memaksa daerah untuk mandiri karena pembiayaan/pengeluaran rutin daerah harus ditopang oleh penerimaan daerah. maka penulis tertarik dengan permasalahan sebagai berikut: “Apakah Pemerintahan Daerah Kabupaten Tana Toraja dalam menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sudah berbasis kinerja?” . Dalam APBD tercermin program kerja yang akan dilaksanakan sepanjang tahun anggaran yang bersangkutan. Pada hekekatnya APBD adalah suatu rencana keuangan yang disatu pihak berisi kebijaksanaan-kebijaksanaan untuk pembangunan daerah dengan dana yang digali dari daerah itu sendiri disamping bantuan dari daerah tingkat atasnya. pelaksanaan otonomi akan terasa berat. Sebelum berlakunya sistem Anggaran Berbasis Kinerja. Dalam hal ini berhasil tidaknya suatu program pembangunan tidak terlepas dari perencanaan yang cermat dan teliti. Untuk mengurangi beban tersebut biasanya daerah mengenakan pajak dan retribusi pada perusahaan-perusahaan daerah dan masyarakat setempat. dan dalam operasionalnya didasarkan pada hasil rapat koordinasi pembangunan (Rakorbang) dan atau musyawarah rencana pembangunan daerah (musrembangda) yang merupakan forum yang mempertemukan keinginan dan perencanaan dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Dengan demikian maka tingkat kemajuan pembangunan suatu daerah dengan daerah lain tidak sama. Pada dasarnya PAD sebagai sumber pendapatan daerah merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial dalam mendukung struktur APBD serta meningkatkan kemampuan daerah dalam membiayai semua kegiatan yang telah direncanakan. muncullah sistematika anggaran kinerja yang diartikan sebagai suatu bentuk anggaran yang sumbersumbernya dihubungkan dengan hasil dari pelayanan. Dalam perkembangannya. metode penganggaran yang digunakan adalah metoda tradisional atau item line budget. Dengan demikian bagi daerah yang sumber dayanya kurang menunjang. Cara penyusunan anggaran ini tidak didasarkan pada analisa rangkaian kegiatan yang harus dihubungkan dengan tujuan yang telah ditentukan.

30 badan/dinas/kantor. Hal ini berarti terdapat 96 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mengelola langsung keuangan daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). ditetapkan sumber-sumber pembiayaan untuk menutup defisit tersebut dalam Peraturan Daerah tentang APBD. dan pembiayaan. yang masing-masing 112.472 jiwa penduduk laki-laki dan 108. Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBD merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap tahun dengan Peraturan Daerah yang terdiri atas anggaran pendapatan. Kepadatan penduduk pada tahun 2010. ditetapkan penggunaan surplus tersebut dalam Peraturan Daerah tentang APBD.609 jiwa penduduk perempuan. Kabupaten Luwu dan Kotamadya Palopo. dana perimbangan. Pendapatan daerah berasal dari pendapatan asli daerah.  Bagian Selatan : Kabupaten Luwu dan Kabupaten Enrekang. Berdasarkan jenis kelamin. dan jenis belanja. dengan tingkat kepadatan mencapai 846 jiwa per Km2.081 jiwa yang tersebar di 19 kecamatan. Gambaran Umum Kabupaten Tana Toraja Kabupaten Tana Toraja merupakan wilayah pegunungan bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan dengan :  Bagian Utara : Provinsi Sulawesi Barat dan Provinsi Sulawesi Tengah. Dalam hal anggaran diperkirakan defisit.BAB II PEMBAHASAN A. Ini berarti bahwa jika dalam satu wilayah terdapat 100 orang perempuan maka terdapat 102 laki-laki. Kabupaten Pinrang dan Provinsi Sulawesi Barat. dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Penyusunan APBD berpedoman pada rencana kerja Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara. secara keseluruhan dengan luas wilayah Kabupaten Tana Toraja 2. sedangkan wilayah yang tingkat kepadatannya paling rendah adalah Kecamatan Bonggakaradeng dan Simbuang yakni 32 jiwa per Km2. Pemerintahan Daerah Kabupaten Tana Toraja menaungi 19 kecamatan. fungsi. Penduduk Kabupaten Tana Toraja berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 secara keseluruhan berjumlah 221. APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah.  Bagian Barat : Kabupaten Enrekang.  Bagian Timur : Kabupaten Toraja Utara. Sedangkan Belanja daerah dirinci menurut organisasi. B. . Dalam hal anggaran diperkirakan surplus. jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dari penduduk berjenis kelamin perempuan.054. 112 lembang/desa dan 47 kelurahan. anggaran belanja.30 Km2 telah mencapai 108 jiwa per Km2. Wilayah terpadat terdapat di Kecamatan Makale yang merupakan ibu kota kabupaten.

kelompok. organisasi. jenis. Menurut urusan pemerintahan terdiri dari: 1) Urusan wajib 2) Urusan pilihan Menurut kelompok belanja terdiri dari: 1) Belanja tidak langsung A) Belanja pegawai B) Belanja bunga C) Belanja subsidi D) Belanja Hibah E) Belanja bantuan sosial F) Belanja bagi hasil G) Belanja bantuan keuangan H) Belanja tidak terduga 2) Belanja langsung A) Belanja pegawai B) Belanja barang dan jasa C) Belanja modal III) Pembiayaan Daerah 1) Penerimaan pembiayaan A) SiLPA tahun anggaran sebelumnya B) Pencairan dana cadangan C) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan . kegiatan. program. menjelaskan struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagai berikut: I) Pendapatan Daerah 1) Pendapatan Asli Daerah A) Pajak daerah B) Retribusi daerah C) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan D) Lain-lain PAD yang sah 2) Dana Perimbangan A) Dana bagi hasil pajak/bukan pajak B) Dana alokasi umum C) Dana alokasi khusus 3) Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah A) Dana Hibah B) Dana darurat dari Pemerintah C) Dana bagi hasil pajak dari Provinsi D) Dana penyesuaian dan Dana Otonomi Khusus E) Bantuan keuangan dari provinsi II) Belanja Daerah Dirinci menurut urusan pemerintahan daerah.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah. objek. dan rincian objek belanja.

Pertama. Sistem penganggaran seperti ini disebut juga dengan Anggaran Berbasis Kinerja (ABK). bahwa siklus anggaran bisa mencakup tahun anggaran atau melebihi tahun anggaran karena pada dasarnya.D) Penerimaan pinjaman daerah E) Penerimaan kembali pemberian pinjaman F) Penerimaan piutang daerah 2) Pengeluaran pembiayaan A) Pembentukan dana cadangan B) Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah C) Pembayaran pokok utang D) Pemberiaan pinjaman daerah C. tolok ukur keberhasilan sistem anggaran ini adalah performance atau prestasi dari tujuan atau hasil anggaran dengan menggunakan dana secara efisien. Jelaslah. seperti yang terjadi pada sistem anggaran tradisional. penganggaran dengan pendekatan kinerja ini disusun dengan orientasi output. Siklus anggaran berbeda dengan tahun anggaran. Jadi. maksud dan tujuan permintaan dana. berarti pemikiran tentang "tujuan" kegiatan harus sudah tercakup di setiap langkah ketika menyusun anggaran. apabila output yang dihasilkan lebih besar dengan input yang sama. tetapi juga didasarkan pada tujuan/rencana tertentu yang pelaksanaannya perlu disusun atau didukung oleh suatu anggaran biaya yang cukup dan penggunaan biaya tersebut harus efisien dan efektif. Suatu aktivitas dikatakan efisien. Kalau fokus ke "output". Sistem ini menitikberatkan pada segi penatalaksanaan sehingga selain efisiensi penggunaan dana juga hasil kerjanya diperiksa. atau output yang dihasilkan adalah sama dengan input yang lebih sedikit. apabila kita menyusun anggaran dengan pendekatan kinerja. Dan yang ketiga. berakhirnya suatu siklus anggaran diakhiri . biaya dari program-program yang diusulkan dalam mencapai tujuan ini. data kuantitatif yang dapat mengukur pencapaian serta pekerjaan yang dilaksanakan untuk tiap-tiap program. Dengan membangun suatu sistem penganggaran yang dapat memadukan perencanaan kinerja dengan anggaran tahunan akan terlihat adanya keterkaitan antara dana yang tersedia dengan hasil yang diharapkan. Tahun anggaran adalah masa satu tahun untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan anggaran atau waktu di mana anggaran tersebut dipertanggungjawabkan. Jadi. Penganggaran dengan pendekatan kinerja ini berfokus pada efisiensi penyelenggaraan suatu aktivitas. Berbeda dengan penganggaran dengan pendekatan tradisional. Anggaran ini tidak hanya didasarkan pada apa yang dibelanjakan saja. Anggaran Berbasis Kinerja Anggaran kinerja mencerminkan beberapa hal. Efisiensi itu sendiri adalah perbandingan antara output dengan input. Kedua. Siklus anggaran adalah masa atau jangka waktu mulai saat anggaran disusun sampai dengan saat perhitungan anggaran disahkan dengan undang-undang. maka mindset kita harus fokus pada "apa yang ingin dicapai".

Oleh karena itu. b. Siklus anggaran terdiri dari beberapa tahap (fase) yaitu : 1. tahap pelaksanaan maupun tahap setelah kegiatan selesai dan bermanfaat (berfungsi). Indikator Kinerja adalah ukuran kuantitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. e. dan target merupakan tahap pertama yang harus ditetapkan suatu organisasi dan menjadi tujuan tertinggi yang hendak dicapai sehingga setiap indikator kinerja harus dikaitkan dengan komponen tersebut. dan target. Tahap pengesahan anggaran 3. Menentukan Visi dan misi (yang mencerminkan strategi organisasi). sarana dan prasarana. tujuan. 2. misi. Hasil (Outcome) adalah suatu keluaran yang dapat langsung digunakan atau hasil nyata dari suatu keluaran. Menentukan Indikator Kinerja. tujuan. . Indikator manfaat menunjukkan hal-hal yang diharapkan dicapai bila keluaran dapat diselesaikan dan berfungsi secara optimal. Tahap penyusunan anggaran 2. Masukan (Input) adalah sumber daya yang digunakan dalam suatu proses untuk menghasilkan keluaran yang telah direncanakan dan ditetapkan sebelumnya. Indikator masukan meliputi dana. Indikator hasil adalah sasaran program yang telah ditetapkan. indikator kinerja harus merupakan suatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja baik dalam tahapan perencanaan. Indikator keluaran dijadikan landasan untuk menilai kemajuan suatu aktivitas atau tolok ukur dikaitkan dengan sasaransasaran yang telah ditetapkan dengan baik dan terukur. Manfaat (Benefit) adalah nilai tambah dari suatu hasil yang manfaatnya akan nampak setelah beberapa waktu kemudian. sasaran.dengan perhitungan anggaran yang disahkan oleh undang-undang. Tahap pengesahan perhitungan anggaran Ruang lingkup Anggaran Berbasis Kinerja 1. sasaran. Indikator kinerja meliputi : a. Keluaran (Output) adalah sesuatu yang terjadi akibat proses tertentu dengan menggunakan masukan yang telah ditetapkan. Tahap pelaksanaan anggaran 4. penentuan komponen-komponen tidak hanya ditentukan oleh pemerintah tetapi juga mengikutsertakan masyarakat sehingga dapat diperoleh informasi mengenai kebutuhan publik. dampaknya baru terlihat setelah beberapa waktu kemudian. Indikator dampak merupakan akumulasi dari beberapa manfaat yang terjadi. c. Tahap pegawasan peaksanaan anggaran 5. Oleh karena itu. Dampak (Impact) pengaruh atau akibat yang ditimbulkan oleh manfaat dari suatu kegiatan. d. data dan informasi lainnya yang diperlukan. Penentuan visi. sumber daya manusia.

26 Tahun 1999 Ketentuan tentang pokok-pokok pengelolaan dan pertanggungjawaban Keuangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam ps 23. Evaluasi dan pengambilan keputusan terhadap pemilihan dan prioritas program. Suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja (output) dari perencanaan alokasi biaya (input) yang ditetapkan 2. waktu. Kinerja ditunjukkan oleh hubungan antara input (masukan) dengan output(keluaran) Gambar 3 LANDASAN HUKUM APBD LANDASAN HUKUM APBD BERBASIS KINERJA BERBASIS KINERJA UU No. 29 Tahun 2002 dan Permendagri No. 13 Tahun 2006 . material. 25 Ps. Pasal 8). 1. dan teknologi yang digunakan untuk melaksanakan program atau kegiatan sesuai dengan masukan (input) yang digunakan 4. Pemerintah dalam usaha mewujudkan akuntabilitas publik dalam mengelola keuangan Negara menyusun APBD sebagai anggaran sektor publik dengan pendekatan kinerja. 105 Tahun 2000. Dilakukannya pemilihan dan prioritas program/kegiatan mengingat sumber daya yang terbatas. Anggaran dengan pendekatan kinerja adalah suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan(Penjelasan PP No. Landasan hukum penerapan anggaran berbasis kinerja pada Pemda seperti terlihat dalam Gambar 3. Anggaran yang disusun dengan pendekatan kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut.24 diatur dengan peraturan pemerintah PP 105 Ps. Output (keluaran) menunjukkan produk (barang atau jasa) yang dihasilkan dari program atau kegiatan sesuai dengan masukan (input) yang digunakan 3. sumber daya manusia.3. Input (masukan) adalah besarnya sumber dana. Kegiatan ini meliputi penyusunan peringkat-peringkat alternatif dan selanjutnya mengambil keputusan atas program/kegiatan yang dianggap menjadi prioritas. 8 Tahun 2000 APBD disusun dengan pendekatan Kinerja Kepmendagri No.

Selanjutnya berdasarkan strategi dan prioritas APBD sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan keuangan daerah. sumber daya manusia dan metode kerja. tolok ukur kinerja dan Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundangundangan. Agar input dapat diinformasikan dengan akurat dalam suatu anggaran. Untuk melakukan suatu pengukuran kinerja perlu ditetapkan indikatorindikator terlebih dahulu antara lain indikator masukan (input) berupa dana. Pengukuran kinerja (tolok ukur) digunakan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan/program/kebijakan sesuai dengan sasaran dan tugas yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi pemerintah daerah. Penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. b. Standar biaya. . Pasal 20 (2) dijelaskan bahwa untuk mengukur kinerja keuangan Pemda harus dikembangkan hal-hal berikut. Syarat lain dalam penerapan anggaran berbasis kinerja sebagaimana diatur PP 105 Tahun 2000. Harga satuan unit biaya yang berlaku bagi tiap-tiap daerah. Standar Analisis Belanja (SAB). a. maka perlu dilakukan penilaian terhadap kewajarannya.  Standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya satuan komponen kegiatan yang bersangkutan  Bagian pendapatan APBD yang membiayai belanja administrasi umum. belanja operasi dan pemeliharaan. Tolok ukur kinerja. Salah satu aspek yang diukur dalam penilaian kinerja pemerintah daerah adalah aspek keuangan berupa Anggaran Berbasis Kinerja. Ukuran keberhasilan yang dicapai pada setiap unit organisasi perangkat daerah. c. PP 105/2000. Untuk dapat menyusun Anggaran Berbasis Kinerja terlebih dahulu harus disusun perencanaan strategik (Renstra). Berdasarkan arah dan kebijakan umum APBD sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pemerintah daerah menyusun strategi dan prioritas APBD. Pasal 21 menjelaskan bahwa dalam rangka menyiapkan rancangan APBD.Sesuai dengan PP 105/2000 Pasal 20 (1) APBD yang disusun dengan pendekatan kinerja harus memuat hal-hal berikut :  Sasaran yang diharapkan menurut fungsi belanja. Agar sistem dapat berjalan dengan baik perlu ditetapkan beberapa hal yang sangat menentukan yaitu standar harga. pemerintah daerah bersama-sama DPRD menyusun arah dan kebijakan umum APBD. Dalam menilai kewajaran input dengan keluaran (output) yang dihasilkan. pemerintah daerah menyiapkan Rancangan APBD. Penyusunan Renstra dilakukan secara obyektif dan melibatkan seluruh komponen yang ada di dalam pemerintahan dan masyarakat. serta belanja modal/pembangunan.

• Menjamin kesesuaian antara kegiatan dan anggaran dengan arah. Penentuan belanja untuk setiap unit kerja. sasaran. b. Prasyarat dan Asumsi Penggunaan Standar Analisis Belanja (SAB) 1. • SAB adalah standar untuk menganalisis anggaran belanja yang digunakan dalam suatu program atau kegiatan untuk menghasilkan tingkat pelayanan tertentu dan kewajaran biaya di unit kerja dalam satu tahun anggaran. kebijakan. mengurangi tumpang tindih belanja dalam kegiatan investasi dan noninvestasi. Tolok Ukur Kinerja • Tolok ukur kinerja adalah ukuran keberhasilan yang dicapai unit kerja. 2. dan prioritas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Dapat menentukan kewajaran biaya untuk melaksanakan suatu kegiatan sesuai dengan Tupoksinya 2.a. 5. Penentuan target kinerja setiap unit kerja. Menghindari tumpang tindih (overlapping) antara pengeluaran rutin dan pembangunan. Manfaat Standar Analisis Belanja (SAB) 1. Tujuan Standar Analisis Belanja (SAB) • Meningkatkan kemampuan unit kerja dalam menyusun anggaran berdasarkan skala prioritas anggaran daerah. Peranan DPRD dalam penyusunan „Anggaran Policy‟. a. Reformasi kelembagaan c. Arah dan kebijakan umum APBD. 4. Standar Analisis Belanja (SAB) • SAB merupakan salah satu komponen yang harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja. tujuan. strategi. serta indikator kinerja pada setiap program dan kegiatan yang direncanakan. strategi dan prioritas b. a. Penentuan anggaran berdasarkan tolok ukur kinerja yang jelas. Unit kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan anggarannya sendiri. Meminimalasi terjadinya pengeluaran yang kurang jelas yang menyebabkan inefisiensi anggaran 3. . • Meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan keuangan daerah. b. Penentuan target kinerja keseluruhan Pemda. Desentralisasi penyusunan anggaran di unit kerja (Unit Umum Pemerintahan dan Unit Pelayanan Publik). • Mencegah terjadinya duplikasi atau tumpang tindih kegiatan dan anggaran belanjanya pada tiap-tiap unit dan antarunit kerja. tugas pokok dan fungsi.

perolehan data dalam membuat keputusan anggaran. Misi. o menjelaskan bagaimana manfaat setiap program bagi rencana strategis. Dilakukannya Analisis Standar Biaya dapat meminimalisir kesepakatan antara eksekutif dan legislatif untuk melonggarkan alokasi anggaran pada tiap-tiap unit kerja sehingga anggaran tersebut tidak efisien. RPJMD yang disusun itu akan menjadi pedoman/acuan bagi Pemerintah Daerah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). . siklus perencanaan anggaran daerah. Dalam menyusun Anggaran Berbasis Kinerja perlu memperhatikan prinsip-prinsip penganggaran. • Komponen lainnya yang harus dikembangkan untuk dasar pengukuran kinerja keuangan dalam sistem anggaran kinerja. Sebelum melakukan penyusunan APBD.• Ditetapkan dalam bentuk standar pelayanan yang ditentukan oleh tiap-tiap daerah. struktur APBD. Berdasarkan data kuantitatif tersebut dilakukan pemilihan dan prioritas program yang melibatkan tiap level dari manajemen pemerintahan. terlebih dahulu menyusun Rencana Strategi Pembangunan Daerah yang memuat Visi. dan Prioritas Program Pembangunan Daerah yang kemudian menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tana Toraja. D. Analisa Permasalahan Pemerintahan daerah Kabupaten Tana Toraja dalam menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sangat memperhatikan pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan dapat menggunakan kriteria berikut: • relevan • mudah dipahami • konsisten • dapat dibandingkan • andal (reliable) c. dan penggunaan Analisis Standar Biaya. Analisa Standar Biaya (ASB) Analisis Standar Biaya merupakan standar biaya suatu program/kegiatan sehingga alokasi anggaran menjadi lebih rasional. Perolehan data kuantitatif bertujuan untuk : o memperoleh informasi dan pemahaman berbagai program yang menghasilkan output dan outcome yang diharapkan. Dalam menyusun Anggaran Berbasis Kinerja yang perlu mendapat perhatian adalah memperoleh data kuantitatif dan membuat keputusan penganggarannya.

tanpa adanya pertimbangan perubahan harga yang akan terjadi. output. dan income sebelum menentukan target pendapatan. 2. bahkan terkadang ada yang tidak ditentukan target kinerja. maka didalam pelaksanaannya akan mengalami kendala. Jika awal dari rencana kerja anggaran yang tidak jelas kinerjanya. Standar Belanja dan Standar Harga yang menyebabkan penentuan rencana anggaran belanja SKPD berdasarkan harga pasar saat itu. Hal ini juga merupakan salah satu fungsi pengawasan dari DPRD dalam mengawasi pembangunan daerah. 3. Kurangnya kontrol dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam penentuan target kinerja. dan standar harga. Masih minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh aparat dalam menyusun dan menentukan target kinerja. Hal ini dapat dilihat dari proses penyusunan yang sesuai dengan pedoman penyusunan APBD yang merujuk pada Anggaran Berbasis Kinerja. Hal ini menyimpang dari teori anggaran berbasis kinerja yang telah dicanangkan untuk mengefisienkan anggaran. dan tidak memiliki asas manfaat. input. dapat disimpulkan bahwa proses penyusunan Anggaran di Kabupaten Tana Toraja sudah berbasis kinerja namun belum sepenuhnya dilaksanakan. . dan outcome setiap kegiatan yang akan direncanakan. input. output. Lambatnya penyusunan buku atau SK tentang Standar Biaya. SKPD dalam menyusun RKA seringkali mengabaikan penentuan target kinerja. input. output dan outcome suatu kegiatan yang akan direncanakan. SKPD cenderung menentukan jumlah belanja berdasarkan harga pasar saat itu tanpa memperhatikan standar biaya. agar jelas asas manfaat dari kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah. input. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) terutama Badan Anggaran seyogianya memperhatikan target kinerja. Dalam menyusun RKA. E. Hal-hal yang belum sesuai dengan mekanisme penyusunan anggaran berbasis kinerja adalah sebagai berikut: 1. output dan outcome dari kegiatan tersebut. output dan outcome dari setiap kegiatan yang diajukan oleh setiap SKPD. Sehingga analisis standar belanja dan analisis standar biaya tidak pernah dilakukan. dan belanja kegiatan.RKPD yang telah disusun akan menjadi acuan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menentukan program kerja dalam menyusun Rencana Kerja Anggaran (RKASKPD) yang diajukan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk diteliti berdasarkan Plafon Prioritas Anggaran (PPA). input. Kesimpulan Memperhatikan dan menyimak pembahasan di atas.

. Direktorat Jenderal Anggaran Departemen Keuangan “Sistem Penganggaran”............. .........asp?ContentId=628.... “Undang-undang No....... “Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah”.... 34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”......................id/web-print-list..................DAFTAR PUSTAKA Republik Indonesia. 2007....... .......... “Undang-undang No... 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah”. 2006............. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Pemerintahan Daerah”..anggaran.. . .................. . “Peratuaran Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah ....depkeu....go... http://www.................. “Undang-undang No.................

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->