P. 1
Makalah Sumber-Sumber Hukum Islam

Makalah Sumber-Sumber Hukum Islam

|Views: 1,494|Likes:
Published by irwananwar.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: irwananwar. on May 06, 2012
Copyright:Attribution

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

10/06/2013

Makalah

Sumber-Sumber Hukum Islam
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Agama Islam.

Disusun Oleh: NAMA : IRWAN ANWAR NPM : 5520111125 KELAS : 11 IF C

TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJUR 2012

dimana samapai kepada kita dengan jalur mutawakir. Isi pokok kandungan Al-Qur‟an dikelompokkan menjadi 5 perkara. Hasil dari akal inilah yaitu ra‟yu yang pelaksanaannya adalah melalui ijtihad. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan lisan Arab. Sumber hokum Islam yang utama adalah Al-Qur‟an dan Al Hadits sebagai mana hadits Rosulullah saw : “Aku timggikan dua perkara yag jika kamu berpegang teguh kepada keduanya tidak akan tersesat selamanya yaitu Al-Qur‟an dan Al Hadits atau As Sunnah” (H. Rasul-rasul-Nya. 2) Kandungan Al-Qur‟an. Secara bahasa Al-Qur‟an berarti bacaan (qira‟ah). Hari Kiamat serta beriman kepada Qada dan Qadar. Apabila kami Telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Membacanya merupakan sebuah ibadah diawalai dengan Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas. Al Hadits atau As Sunnah dan Ijtihat serta bentuk-bentuknya. Dalam Al-Qur‟an mengandung tuntunan yang mengajarkan keimanan kepada Allah swt. (QS. Merupakan mukjijat dan telah ditulis dalam beberapa musaf. PEMBAHASAN 1. II. Dalam hal ini Allah swt berfirman : Artinya : “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.I. Kitab-kitab-Nya. PEDAHULUAN Sumber Islam adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan dasar aturan atau pedoman agam Islam.R. b) Ibadah 1 . Al-Qiyamah (75) : 17-18) Adapun pengertian Al-Qur‟an menurut istilah. yaitu Firman Allah swt. Untuk memahami sumber-sumber hukum Islam di atas akan dijabarkan secara terinci mulai dari Al-Qur‟an. Al-Qur’an (sumber hukum Al-Qur’an) 1) Pengertian Al-Qur‟an. malaikat-malaikat-Nya. Baihaqi). Dalam Al-Qur‟an banyak yang menyebutkan tentang akal. maka para ulama menjadikan akal sebagai sumber hukum yang ketiga di dalam ajaran Islam. yaitu : a) Tauhid Tauhid merupakan hukum tentang keyakinan.

3) Kedudukan Al-Qur‟an. e) Sejarah Umat Terdahulu Al-Qur‟an banyak mengisahkan sejarah kehidupan Nabi dan Rasul dalam berdakwah. Kandungan Al-Qur‟an mencakup semua aspek kebutuhan manusia yang ada di bumi ini. sahabat-sahabat Rasulullah dan sebagainya. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Al-An‟am (6) : 38) 2 . Semua tuntutan dan larangan dalam Al-Qur‟an harus ditatati oleh semua muslim dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. zakat dan haji. Lukman Hakim. Melalui Al-Qur‟an Allah telah berjanji kepada manusia yang beriman kepada-Nya dan mengikuti semua petunjuk Al-Qur‟an akan memberikan pahala kebahagiaan di dunia dan akhirat. Al-Qur‟an merupakan sumber hukum utama dalam Islam. Ibadah merupakan hubungan manusia dengan Tuhan.Hukum ibadah yang terkandung dalam Al-Qur‟an antara lain ibadah shalat. Ibadah adalah bukti bahwa manusia bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah kepadanya. puasa. Firman Allah swt : Artinya : “Maka berpegang teguhlah kamu kepada (agama) yang telah diwahyukan kepadamu. d) Petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan Dalam Al-Qur‟an mengandung petunujuk-petunjuk yang dibutuhkan manusia dalam interaksinya untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Az-Zukhruf (43) : 43). c) Al Wadu‟ Wal Wa‟id Artinya adalah jani dan ancaman. Dengan ibadah akan memupuk rasa iman kepada Allah swt. Al-Qur‟an telah memberikn dasar-dasar hukum. maka tidak satupun yang tertinggal. (QS. menegakkan agama Islam di tengah umatnya yang masih jahiliyah. Selain itu Al-Qur‟an juga mengisahkan sejarah orang-orang saleh seperti Ashabul Kahfi. Hal ini terdapat dalam firman Allah swt : Artinya : “Tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan di dalam kitab. (QS. Dan sebaliknya Allah swt mengancam manusia yang mengingkari dan melanggar ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Al-Qur‟an dengan azab dan siksa yang pedih.

sebelum Nabi hijrah ke Madinah. yaitu ayatul Makkiyah dan ayatul Madaniyah.4) Ayat Al-Qur‟an Ayat menurut bahasa berarti tanda kekuasaan Allah. Adapun menurut istilah adalah kegiatan/ perbuatan. ayat-ayat panjang 2.” (QS. setelah Nabi hijrah. Macam-macam ayat Al-Qur‟an ditinjau dari masa turunnya ada 2 macam. Ayat menurut istilah merupakan bagian dari Al-Qur‟an yang terdiri dari beberapa kata dan masingmasing ayat dipisahkan dengan ayat lain menggunakan tanda pisah. Ayatul Makiyah memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Ayat-ayat pendek 2. ucapan atau ketetapan dari Nabi Muhammad saw. Firman Allah swt : Artinya :”Seandainya ia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) kami. Diawali dengan kalimat ( ) 4. Ayat Al-Qur‟an ada yang panjang dan ada yang pendek. Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Sebagian ulama berpendapata bahwa antara hadits dan sunnah mempunyai pengertian yang sama. a) Ayatul Makkiyah Yaitu ayat Al-Qur‟an yang diturunkan di kota Mekah. Al-Haqqah (69) 44-46) 1) Kedudukan dan Fungsi Hadits Beberapa kedudukan dan fungsi hadits antara lain : 3 . Semua perbuatan Nabi saw adalah atas bimbingan Allah swt. Hadits dan Sunnah Rasul Hadits menurut bahasa artinya kabar atau baru. Ayatul Madaniyah memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Berisi tentang aqidah akhlak 3. diawali dengan kalimat ( ) Contoh : surat Al-Baqarah 2. berisi tentang hukum kemasyarakatan+ 3. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Berisi janji dan ancaman Contoh : surat dalam juz 30 (juz Amma) b) Ayatul Madaniyah Yaitu ayat Al-Qur‟an yang diturunkan di Madinah. Namun sebagian mempunyai pendapat bahwa sunnah hanya perilaku Nabi sedangkan hadits yaitu perkataan Nabi yang diriwayatkan oleh seorang sahabat atau lebih dan hanya merekalah yang mengetahuinya serta tidak menjadi sandaran atau malan umum.

puasa. Penulisan hadits mulai dilakukan pada masa Bani Ummayyah tepatnya pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. hadits belum dibukukan. maka tinggalkanlah.” (QS. hadits mulai dibukukan. Dalam Al-Qur‟an tidak ditegaskan mengenai perbedan agam antara anak dan orang tua yang sama-sama muslim. dan zakat secara detail dan sebagainya yang di dalam Al-Qur‟an keterangan hukumnya masih bersifat umum. kemudian disempurnakan pada masa Khalifah Al Mansur. maka terimalah dia. (3) Pengkhususan hal-hal yang masih bersifat umum hukumnya di dalam Al-Qur‟an (takshisulaim). Malik dan Hakim) Pada masa Rasulullah saw masih hidup. Setelah rasul wafat. Firman Allah swt : Artinya: “apa yang diberikan Rasulullah kepadamu. (2) Pembatas hal-hal yang masih global dalam Al-Qur‟an (Taqyidul mutlaq). Al-Hasyr (59): 7) Dalam hadits Rasulullah disebutkan bahwa untuk menyelesaikan perkara harus berpegang pada Allah dan sunnah Rasul. hadits memiliki fungsi mencakup hal-hal sebagai berikut : (1) Penjelasan terhadap hal-hal yang masih bersifat umum (bayanu/mujmal). Misalnya hadits Nabi saw yang menerapkan secara detail hukum tentang warisan (harta pusaka). Hukum-hukum yang terdapat dalam hadits juga wajib ditaati oleh orang muslim. Sabda Rasullulah itu adalah : Artinya : Telah aku tinggalkan kepaadamu dua perkara yang kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang kepada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnah rasul-Nya. 4 . Hukum potong tangan dalam Al-Qur‟an hanya menerangkan perintah potong tangan saja tanpa menyebutkan batasan secara rinci. Dan apa yang dilarangnya bagimu.a) Haditst berkedudukan sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur‟an. Misalnya hadist Nabi yang menjelaskan batasan hukum potong tangan bagi pencuri yaitu sampai batas pergelangan tangan. b) Hadits sebagai penjelas hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur‟an Dalam hal ini. Pada masa rasul hadits tidak ditulis karena untuk menjaga agar tidak bercampur dengan Al-Qur‟an. (HR. Misalnya hadits Nabi saw yang menjelaskan pelaksanaan shalat.

” c) Bentuk-bentuk hadits Hadits terbagi menjadi 3 bentuk. Hadits yang sahih para perawinya bersambung sampai kepada Nabi saw. (HR. Misalnya diharamkannya memakai cincin. taqririyah. Baihaqi) Hadits diatas menguatkan firman Allah swt. (5) Hadits sebagai penguat hukum-hukum yang termaktul dalam Al-Qur‟an. Misalnya hadits Nabi saw berikut ini : Artinya : “Shalat itu tiang agam. maka barang siapa yang mendirikan shalat berarti ia telah menegakkan agama dan barang siapa yang meninggalkan berarti ia telah menghancurkan agama”. (b) Hadits Hasan (baik) 5 . kuat hafalannya dan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur‟an. perawinya orang yang taat beragama. Dilihat dari segi kualitasnya. yaitu : Artinya : “Dirikanlah shalat. dan qauliyah. yaitu : (a) Hadits Sahih (hadits yang sah) Yaitu hadits yang dapat dipakai sebagai landasan hukum. yaitu hadits fikliyah. (2) Hadits qauliyah adalah hadits yang didasarkan pada ucapan dan perkataan Nabi saw. Sedangkan ketetapan yang dimaksud adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat dan Nabi saw juga melihatnya akan tetapi Nabi diam saja atau menyetujuinya. sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar. maka hadits dibagi menjadi 3 bagian. (3) Hadits taqririyah adalah hadits yang didasarkan pada ketetapanketetapan Nabi saw.(4) Hadits menetapkan hukum-hukum yang tidak terdapat dalam Al-Qur‟an. yang menerangkan kewajiban shalat bagi umat Islam. emas dan pakaian sutera bagi kaum laki-laki. (1) Hadits fikliyah adalah hadits yang berdasarkan atas perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw.

Hadits Rasulullah saw 6 . hai orangorang yang mempunyai pandangan. tidak bertentangan dengan Al-Qur‟an dan tidak cacat di dalamnya. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari c. agak kuat hafalannya. Hadits yang diriwayatkan oleh ulama besar hadits dengan syarat-syarat Bukhari Muslim f. b. Menurut syara‟ ijtihat adalah berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk memecahkan suatu masalah yang tidak ada ketetapannya. menempati tingkatan yang paling tinggi. antara lain sebagai berikut : a. serta berpedoman kepada cara-cara menetapkan hukum yang telah ditentukan. Ijtihad Ijtihad adalah berasal dari kata ijtihad-ijtihadan yang berarti bersungguhsungguh. Hadits yang diriwayatkan oleh ulama ahli hadits selain Bukhari Muslim atas dasar syarat Bukhari Muslim e. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim d. Beberapa dasar hukum melakukan ijtihad adalah : 1) Al-Qur‟an dengan firman Allah swt Artinya : “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran. baik dalam AlQur‟an maupun Al Hadits dengan menggunakan akal pikiran yang sehat dan jernih.” (QS. Hadits daif tidak boleh dijadikan sebagai landasan hukum. Hadits yang disahihkan oleh ulama hadits selain Bukhari Muslim 3. hadits yang disepakati oleh Bukhori Muslim. Mutafaq‟alaih ( ). Tingkatan hadits sahih. Al-Hasyr (59) : 2) 2). perawinya taat beragama. (c) Hadits Daif (lemah) Yaitu hadits yang tidak memenuhi kriteria persyaratan hadits hasan apalagi shahih.Yaitu hadits yang memenuhi persyaratan seperti perawinya semuanya bersambungan.

Bukhari Muslim). ijma‟ dilakukan dengan cara musyawarah dengan besdasarkan Al-Qur‟an dan Hadits. itulah yang harus kamu ikuti. (b) Qiyas 7 . 3) Asar sahabat Artinya perilaku atau perkataan sahabat contoh sahabat yang ada yaitu pertanyaan Umar bi Abi Khatab r. Ijtihad dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk. yaitu : (a) Ijma Yaitu kesepakatan para ulama dalam menetapkan masalah hukum yang tidak diterangkan dalam Al-Qur‟an maupun hadits setelah setelah Rasulullah wafat. (HR. 4) Beberapa fatwa Imam Mujtahidin  Imam Malik berkata “Aku hanyalah manusia biasa yang mungkin salah dan benar maka periksalah pendapat-pendapatku.a. Hukum ijtihad mengikat seorang mujtahid yang bersangkutan artinya harus mengamalkan secara konsisten terhadap hasil pendapatnya selama ia belum mengubah pendapat itu.  Imam Hambali berkata “Janganlah kamu bertauhid (menerima pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber dasarnya) kepadaku atau kepada Imam Malik atau kepada Imam Syafi‟I dan As Sauri tapi ambillah hukumhukum dari tempat mereka mengambilnya.  Imam Syafi‟I berkata “Jika segala sesuatu telah kukatakan ternyata tidak bertentangan dengan sabda Nabi saw. beliau mengatakan sesungguhnya umat telah bersungguh-sungguh mencari kebenaran namun ia tidak mengetahui akan kebenaran itu sudah tercapai atau tidak.Artinya : “Apabila seorang hakim memutuskan hukum dengan berijtihad dan kemudian mencapai kebenaran maka ia mendapat dua ganjaran. Jika terdapat kesesuaian antara pendapatmu dengan Al-Qur’an dan sunnah maka ambillah dan jika sebaliknya maka tinggalkanlah” . Dan bila ada hadits sahih telah menyalahi mazhabku maka ikutilah hadits tersebut karena sebenarnya hadits itu adalah mazhabku. 5) Kedudukan dan Bentuk-bentuk Ijtihad Hukum ijtihad yang dihasilkan oleh beberapa mujtahid dapat berlainan disebabkan tingkat penalaran. Dan apabila seorang hakim memutuskan hukum dengan berijtihad dan kemudian tidak mencapai kebenaran maka ia mendapatkan satu ganjaran”. penngkajian dan situasi serta kondisi yang dihadapi oleh seseorang mujtahid tersebut.

Adapun hukum-hukum dalam islam terbagi menjadi dua bagian yaitu:  Hukum Taklifi Hukum taklifi adalah kitab Allah swt atau sabda Nabi saw. Contoh: seseorang wajib membayar kerugian kepada pemilik barang karena kerusakan yang terjadi diluar kesepakatan. Fardu dibagi menjadi : a) Fardu ain.Yaitu menyamakan permasalahan yang tejadi dengan masalah lain yang sudah ada hukumnya. 8 . yaitu wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap orang. b) Sebagai sarana untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat dengan berpedoman pada Al-Qur‟an dan Hadits. Fungsi ijtihad dalam hukum Islam antara lain : a) Sebagai sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur‟an dan Hadits. c) Sebagai suatu cara yang disyariatkan untuk menyelesaikan permasalahan sosial dengan ajaran-ajaran Islam. d) Sebagai wadah pencurahan pikiran bagi kaum muslim. (d) Ijtihad Yaitu meneruskan keduanya berlakunya suatu hukum pada suatu masalah yang telah ditetapkan karena adanya suatu dalil sampai adanya dalil lain yang mengubah kedudukan hukum tersebut. (c) Ihtisan Yaitu menetapkan suatu hukum masalah yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur‟an dan Hadits yang didasrkan atas kepentingan atau kemaslahatan umat. Hukum taklifi dibagi menjadi 5 bagian : 1) Fardu (wajib) yaitu kitab Allah swt yang berhubungan dengan tuntunan perintah melakukan sesuatu secara pasti. yang di dalamnya mengandung tuntunan berupa perintah dan larangan. Contoh hukum minuman keras dapat diqiyaskan dengan khamar karena keduanya ada kesamaan sifat yaitu sama-sama memabukkan. (e) Maslahah mursalah yaitu memutuskan hukum suatu permasalahan dengan pertimbangan kemaslahatan bersama sesuai dengan maksud syarak yang hukumnya tidak diperoleh dari dalil secara langsung dan jelas. karena ada kesamaan sifat atau alasan.

d) Makruh. Al-Isra‟ (17) : 32) 3) Yang mengandung kebolehan. b) Memupuk rasa keikhlasan dan tawakal kepada sang pencipta. 1) Yang mengandung tuntutan. e) Mubah (boleh) yaitu kitab Allah swt yang mengandung pilihan antara melaksanakan sesuatu perbuatan atau meninggalkannya. e) Menyadari akan adanya kekuasaan Allah swt. Al-Baqarah (2) : 43) 2) Yang mengandung larangan. ibadah  Hukum Syari’ dalam Islam Dalam ilmu usul fiqih hkum secara bahasa bermakna : Artinya : “menetapkan sesuatu atas sesuatu” Sedangkan makna hukum secara istilah : Artinya : Firman (kitab) Allah swt yang berhubungan dengan segala amal perbuatan mukalaf kitab tersebut mengandung tuntutan perintah. c) Memupuk rasa persaudaraan dan persatuan bila itu habluminannas. 2) Hikmah Ibadah Beberapa hikmah yang dapat diambil ketika menjalankan ibadah antara lain : a) Hidup tentram dan tenang telah menjalankan kewajiban. Namun apabila tidak ada seorangpun yang mengerjakan maka semua orang menjadi berdosa. yaitu kitab Allah swt yang berhubungan dengan larangan melakukan sesuatu apabila dikerjakan tidak berdosa. d) Memupuk keimanan dalam hubungan habluminallah. c) Haram/ larangan. Allah swt berfirman : 9 . (QS. yaitu wajib yang harus dilakukan akan tetapi apabila salah seorang telah mengerjakannya maka gugurlah dosa serta kewajiban atas semua. tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orangorang yang ruku'”.b) Fardu kifayah. misalnya Allah swt berfirman : Artinya : “Dan Dirikanlah shalat. Allah swt berfirman : Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina. dan suatu jalan yang buruk. yaitu kitab Allah swt yang berhubungan dengan larangan melakukan sesuatu secara pasti apabila dikerjakan mendapat siksa. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Tuntutan memilih atau wad’I (menjadikan sesuatu sebab syarat atau penghalang mani’) bagi sesuatu hukum.” (QS.

4) Menjadikan sesuatu menjadi sebab. 10 .Artinya : “Dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Allah swt berfirman : Artinya : “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir “ (QS. Al-Isra‟ (17) : 78) Matahari tergelincir terjadi sebab masuknya waktu shalat (zhuhur). (HR.” (QS. Nasai) Perbuatan membunuh menghalangi pelaku pembunuhan untuk tidak bisa mewaris walaupun ia adalah anak kandung orang yang meninggal. Contoh lain yang menjadi penghalang yaitu sabda Nabi saw : Artinya : “Tidak ada hak bagi pembunuh sedikitpun”. Muhammad (47) : 4) Ayat ini berbicara tentang tawanan perang kita boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->