Kamis, 03 Maret 2011

Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operatif diruang Bedah Pria
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan. Kecemasan biasanya berhubungan dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Pasien yang mengalami kecemasan menunjukkan gejela mudah tersinggung, susah tidur, gelisah, lesu, mudah menangis dan tidur tidak nyenyak. Kecemasan pasien pre operatif disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah faktor pengetahuan dan sikap perawat dalam mengaplikasikan pencegahan kecemasan pada pasien pre operatif.

1 Menurut Carpenito (1999), menyatakan 90% pasien pre operatif berpotensi mengalami kecemasan. Menurut Long (1996), kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. Reaksi fisiologis terhadap kecemasan merupakan reaksi yang pertama timbul pada sistem saraf otonom, meliputi peningkatan frekuensi nadi dan respirasi, pergeseran tekanan darah dan suhu, relaksasi otot polos pada kandung kemih dan usus, kulit dingin dan lembab. Manifestasi yang khas pada pasien pre operatif tergantung pada setiap individu dan dapat meliputi menarik diri, membisu, mengumpat, mengeluh dan menangis. Respon psikologis secara umum berhubungan adanya

kecemasan menghadapi anestesi, diagnosa penyakit yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidaktahuan tentang prosedur operasi dan sebagainya. Hasil survey pendahuluan di ruang D (Bedah Pria) RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya pada tanggal 20-22 Maret 2010 tentang tingkat kecemasan pasien pre operatif menunjukkan bahwa dari 10 orang pasien terdapat 5 orang (50 %) yang memiliki tingkat kecemasan dalam kategori sedang, 2 orang (20 %) dalam kategori ringan, responden dengan tingkat kecemasan berat sebanyak 2 orang (20 %), dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 1 orang (10%). Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun setelah operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan pasien baik secara fisik maupun psikis. Keperawatan pre operatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat bergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini merupakan awal yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapantahapan berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya. Pengakajian secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi. Fase pre operatif dari peran keperawatan dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke ruang operasi. Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Maka seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang dialami. Kecemasan dialami pasien dan keluarga biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun

dokter anestesi dan perawat) disamping peranan pasien yang kooperatif selama proses perioperatif. menganjurkan pasien untuk berdoa kepada Tuhan (Pray and patient). kemampuan penyelesaian masalah. Sumber koping tersebut sebagai modal ekonomik. Individu dapat mengatasi kecemasan dengan menggerakkan sumber koping di lingkungan. Kedua. harapan pasien terhadap hasil. rasa cemas akan jauh berkurang. Tingkat keberhasilan pembedahan sangat tergantung pada setiap tahapan yang dialami dan saling ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait (dokter bedah. menganjurkan pasien meminta bantuan orang lain bila diri sendiri tidak mampu (Others). Nyeri adalah suatu fenomena pascaoperatif yang memperlambat pemulihan. Keempat. Oleh sebab . Apabila pasien mencapai harapan yang realistik terhadap nyeri dan mengetahui cara mengatasinya. Ketiga pasien akan merasa lebih nyaman dengan pembedahan jika pasien mengetahui momen yang dihadapi pada saat hari pembedahan tiba. Dampak yang mungkin muncul bila kecemasan pasien pre operatif stidak segera ditangani. mencoba berbagai rencana pemecahan masalah yang telah disusun (Trial and error). yang pertama pasien dengan tingkat kecemasan tinggi tidak akan mampu berkonsentrasi dan memahami kejadian selama perawatan dan prosedur. Oleh sebab itu perlu peran perawat untuk mengevaluasi pemahaman pasien mengenai prosedur pre operatif.setelah operasi. pasien mungkin memerlukan penjelasan mengenai nyeri yang akan di rasakan setelah operasi. dukungan sosial dan keyakinan budaya dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stres dan mengadopsi strategi koping yang berhasil. Peran perawat sangat penting dalam tindakan pre operatif dapat menggunakan metode STOP yaitu mencari dan mengidentifikasi apa yang menjadi sumber masalah (Source). pasien mungkin sudah memiliki gambaran tersendiri mengenai pemulihan setelah pembedahan. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis.

1.2 Rumusan Masalah Bagaimana Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operatif diruang D (Bedah Pria) RSUD Dr.3 Tujuan Penelitian Mengidentifikasi tingkat kecemasan pasien pre operatif yang dirawat diruang D (Bedah Pria) RSUD Dr. 2) Bagi Perawat Menambah pengetahuan dalam upaya peningkatan kualitas personal perawat dan sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan aplikasi pencegahan . 1.itu.1 Teoritis Memperkuat teori tentang kecemasan pada pasien pre operatif dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan khususnya perawatan pre operatif.2 Praktis 1) Bagi Rumah Sakit Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai umpan balik dalam peningkatan pelayanan keperawatan pada pasien dengan pre operatif. Doris Sylvanus Palangka Raya? 1.3. peneliti tertarik melakukan kajian tentang Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operatif di Ruang D (Bedah Pria) RSUD Dr.3. 1.3 Manfaat Penelitian 1. Doris Sylvanus Palangka Raya. Doris Sylvanus Palangka Raya.

.kecemasan pasien pre operatif serta sebagai masukan agar perawat lebih meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan secara menyeluruh pada pasien.

2004 : 48). 2000 : 9). ketidakpastian.1.1 Pengertian Kecemasan Kecemasan adalah keadaan dimana indvidu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivasi sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas.2 Penyebab Kecemasan 6 . 2. Kecemasan (kecemasan) merupakan suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologis. Kecemasan merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan sesuatu diluar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam mengatasi permasalahan (Asmadi. kesulitan. Ciri-ciri kecemasan adalah keprihatinan. 2009 : 165). atau ketakutan yang terjadi akibat ancaman yang nyata atau dirasakan (Isaacs.1.1 Konsep Teori Kecemasan 2. Kecemasan adalah respon subjektif terhadap stres. 2006 : 371). nonspesifik (Carpenito.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. 2003 : 96). menyaksikan atau menghadapi satu atau beberapa peristiwa yang melibatkan kematian aktual atau ancaman kematian atau cidera serius atau ancaman integritas fisik diri sendiri (Doenges. Kecemasan akibat terpajan pada peristiwa traumatik yang dialami individu yang mengalami. yang dirasakan oleh pasien pre operatif (David.

minuman. 3) Teori Perilaku . yaitu id dan superego. Kecemasan berkaitan dengan hubungan antara manusia. 3) Faktor perkembangan. perlindungan dan keamanan. kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian. perubahan status sosial atau ekonomi. maka ia akan merasa tenang dan tidak cemas. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. 2) Faktor psikososial.3 Faktor Predisposisi Menurut Asmadi (2009 : 165). berupa ancaman akan kekurangan makanan. anak.Menurut Andaners (2009). seperti kehilangan dan perpisahan dengan orang yang dicintai. yaitu : 1) Faktor biologis atau fisiologis. yaitu ancaman pada masa bayi. kehilangan orang atau benda yang dicintai. yaitu ancaman terhadap konsep diri. sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Kecemasan ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa pertumbuhan. Penolakan terhadap eksistensi diri oleh orang lain atau masyarakat akan menyebabkan individu yang bersangkutan menjadi cemas. Namun.1. dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya. Teori tersebut antara lain : 1) Teori Psikoanalisis Menurut pandangan psikoanalisis. 2. penyebab rasa cemas dapat dikelompokan pula menjadi 3 faktor. remaja. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen tersebut. bila keberadaannya diterima oleh orang lain. berbagai faktor predisposisi yang dijelaskan ke dalam beberapa teori mengenai kecemasan. 2) Teori Interpersonal Kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap penolakan saat berhubungan dengan orang lain.

berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. 3) Teori perilaku Kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikembalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma. berbagai faktor predisposisi yang dijelaskan ke dalam beberapa teori mengenai asal kecemasan yaitu : 1) Teori Psikoanalitik Kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian id dan superego. dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya. Pakar tentang pembelajaran menyakini bahwa individu yang terbiasa dalam kehidupan dininya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih sering menunjukkan kecemasan pada kehidupan selanjutnya. yang menimbulkan kelemahan spesifik.Kecemasan merupakan hasil frustasi. 4) Kajian Keluarga . Ego atau Aku. 2) Teori Interpersonal Kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Orang dengan harga diri rendah terutama mudah mengalami perkembangan kecemasan yang berat. Ketidakmampuan atau kegagalan dalam mencapai suatu tujuan yang diinginkan akan menimbulkan frustasi atau keputusasaan. Keputusasaan inilah yang menyebabkan seseorang menjadi cemas. Menurut Stuart (1998 : 179). Pakar perilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu dorongan untuk belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan. seperti perpisahan dan kehilangan.

1.4 Faktor Presipitasi Menurut Stuart (1998 : 181). Selain itu. terhadap kecemasan. Kecemasan mungkin disertai gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stesor. Pengalaman kecemasan seseorang tidak sama pada beberapa situasi dan hubungan interpersonal. kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Namun demikian secara umum ancaman besar yang dapat menimbulkan kecemasan dikategori menjadi 2. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Penghambat asam aminobutirikgamma neroregulator (GABA) juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan kecemasan.Kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang. . mungkin membantu mengatur kecemasan. telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi. yaitu : 1) Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari. 2) Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan indentitas. 5) Kajian Biologis Menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzo diaz epindes. Reseptor ini. Ada tumpang tindih dalam gangguan kecemasan dan antara gangguan kecemasan dengan depresi. 2. sebagaimana halnya endorphin.

16) Peperangan. 6) Kekacauan hubungan sosial dan keluarga. bakteri. gangguan seksual). 4) Tidak terpenuhinya kebutuhan dasar (kelaparan. faktor pencetus kecemasan antara lain:[1]) 1) Perubahan patologi dari penyebab penyakit atau suatu injuri.Menurut Esperanza (1997). Fundamental of Nursing Practice a Nursing Poscess Aproach. 10) Membayangkan ancaman dari injuri (sumber dari stress yang tidak dapat dipastikan). dan pencegahan. Perbedaan kemampuan ini berimplikasi terhadap perbedaan tingkat kecemasan yang dialami. 12) Serangan wabah. wawancara dan diagnostik test).5 Tingkat Kecemasan dan Karakteristik Menurut Asmadi (2009 : 166). luka bakar. 2. kehangatan. 14) Kompetisi dalam olahraga. 17) Kegiatan sehari-hari dari kehidupan (entertaining. menstruasi. 3) Tidak adekuatnya. kemampuan untuk merespons terhadap suatu ancaman yang berbeda satu sama lain. 9) Peristiwa yang menyebabkan stressful (peristiwa yang penting dalam kegiatan sosial. pengemudi). 18) Situasi positif dari peristiwa kehidupan (menikah. elektrik. lulus kuliah). kehamilan dan menopause). terapi fisik. 5) Program terapi (diet. psikoterapi). 11) Bencana alam (gempa bumi. 8) Perubahan fisiologis yang normal (pubertas. 7) Konflik sosial dan budaya. 13) Isolasi sosial. 15) Perpindahan tempat tinggal. makanan. mempunyai bayi.1. serangan. Respons individu terhadap kecemasan beragam dari kecemasan sampai panik. 2) Trauma (injuri. banjir). shock). . virus atau parasit.

1. tiap tingkatan kecemasan mempunyai karakteristik atau manifestasi yang berbeda satu sama lain.sentak. sering berkemih. 3) Respons perilaku dan emosi: gerakan tersentak.1. 2) Respons fisiologis: napas pendek. Tabel 2. pemahaman dalam menghadapi ketegangan. dan perasaan tidak aman. dan mekanisme koping yang digunakannya. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. bicara banyak dan lebih cepat.5. rentang respons sehat sakit dapat dipakai untuk menggambarkan respons adaptif-maladaptif pada kecemasan. mulut kering. dan letih. harga diri. nadi dan tekanan darah naik. Kecemasan sedang 1) Respons fisiologis: sering napas pendek. gejala ringan pada lambung. dan suara kadang-kadang meninggi. sakit kepala. serta bibir bergetar. 6) Respons kognitif: mampu menerima rangsangan yang kompleks. . muka berkerut.1 Rentang Respons Kecemasan. menyelesaikan masalah secara efektif. susah tidur. 2) Respons kognitif: memusatkan perhatiannya pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Asmadi (2009). konsentrasi pada masalah. dan rangsangan dari luar tidak mampu diterima. tremor halus pada tangan. Gambar 2. nadi ekstra sistol dan tekanan darah meningkat. anoreksia diare/ konstipasi. 7) Respons perilaku dan emosi: tidak dapat duduk tenang. Stuart (1998).5.1 Tingkat Kecemasan dan Karakteristik. 2.2 Tingkat Kecemasan Menurut Asmadi (2009 : 167). nadi dan tekanan darah meningkat sedikit. Kecemasan Berat 1) Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain.2. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3.1 Rentang Respons Kecemasan Menurut Stuart (1998 : 176). dan terangsang untuk melakukan tindakan. terlihat lebih tegang. Tingkat Kecemasan Karakteristik Kecemasan ringan 1) Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa sehari-hari 2) Kewaspadaan meningkat 3) Persepsi terhadap lingkungan meningkat 4) Dapat menjadi motivasi positif untuk belajar dan menghasilkan kreativitas 5) Respons fisiologis: sesekali napas pendek. lapang persepsi menyempit. Manifestasi kecemasan yang terjadi bergantung pada kematangan pribadi.

ketakutan. berteriak-teriak. Buku saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. sakit dada. serta lapang persepsi menyempit. Respons perilaku dan emosi: perasaan terancam meningkat dan komunikasi menjadi terganggu (verbalisasi cepat). kehilangan kendali/kontrol diri (aktivitas motorik tidak menentu). Respons fisiologis: napas pendek. perasaan terancam. serta tampak tegang Respons kognitif: tidak mampu berpikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan / tuntutan. tidak dapat berpikir logis. Stuart (1998). persepsi terhadap lingkungan mengalami distorsi.1. Kognitif dan Afektif Terhadap Kecemasan Menurut Stuart (1998 : 177-179).5. Intensitas perilaku akan meningkat sejalan dengan tingkat kecemasan.2 Respons Fisiologis terhadap Kecemasan. pucat.3) 4) Panik 1) 2) 3) berkeringat dan sakit kepala. rasa tercekik dan palpitasi. Tabel 2. penglihatan berkelabut.3 Respon Fisiologis. Respons kognitif: gangguan realitas. kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan perilaku dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan. serta dapat berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan/ atau orang lain. Perilaku. Sistem Tubuh Respons Kardiovaskular Palpitasi Jantung berdebar Tekanan darah meninggi Rasa mau pingsan* Pingsan* Tekanan darah menurun* Denyut nadi menurun* Pernapasan Napas cepat Napas pendek Tekanan pada dada Napas dangkal Pembengakakan pada tenggorok Sensasi tercekik Terengah-engah Refleks meningkat Reaksi kejutan Neuromuskular . 2. mengamuk dan marah. dan ketidakmampuan memahami situasi. hipotensi. Respons perilaku dan emosi: agitasi. serta rendahnya koordinasi motorik.

Stuart (1998). Kehilangan nafsu makan Menolak makanan Rasa tidak nyaman pada abdomen* Mual* Rasa terbakar pada jantung* Diare* Tidak dapat menahan kencing* Sering berkemih Wajah kemerahan Berkeringat setempat (telapak tangan) Gatal Rasa panas dan dingin pada kulit Wajah pucat Berkeringat seluruh tubuh *Respons Parasimpatis. Sistem Respons Perilaku Gelisah Ketegangan fisik Tremor Gugup Bicara cepat Kurang koordinasi Cenderung mendapat cedera Menarik diri dari hubungan interpersonal.Gastrointestinal Traktus urinarius Kulit Mata berkedip-kedip Insomnia Tremor Rigiditas Gelisah Wajah tegang Kelemahan umum Kaki goyah Gerakan yang janggal.3 Respons Perilaku. Tabel 2. Buku saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. Menghalangi Melarikan diri dari masalah Menghindari Hiperventilasi Kognitif Perhatian terganggu Konsentrasi buruk Pelupa Salah dalam memberikan penilaian Preokupasi Hambatan berpikir Bidang persepsi menurun Kreativitas menurun Bingung . Kognitif dan Afektif terhadap Kecemasan.

1.6.1 Strategi Pemecahan Masalah (problem solving strategi) Strategi pemecahan masalah bertujuan untuk mengatasi atau menanggulangi masalah atau ancaman yang ada dengan kemampuan pengamatan secara realitis. baik secara fiosiologis maupun psikologis. Penggunaan mekanisme koping menjadi efektif bila didukung oleh kekuatan lain dan adanya keyakinan pada individu yang besangkutan bahwa mekanisme koping yang digunakan dapat mengatasi kecemasan nya. Kecemasan perlu diatasi untuk mencapai keadaan homeostatis dalam diri individu. mekanisme koping terhadap kecemasan diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu : 2. Setiap ada stressor penyebab individu mengalami kecemasan.Afektif Sangat waspada Kesadaran diri meningkat Kehilangan objektivitas Takut kehilangan kontrol Takut pada gambaran visual Takut cedera atau kematian Mudah terganggu Tidak sabar Gelisah Tegang Nervus Ketakutan Alarm Teror Gugup Gelisah 2. Beberapa contoh strategi pemecahan masalah yang dapat digunakan antara lain : .6 Mekanisme Koping Terhadap Kecemasan Menurut Asmadi (2009 : 168). maka ketidakmampuan tersebut dapat menjadi penyebab utama terjadinya perilaku patologis. Secara umum. Sumber koping merupakan modal kemampuan yang dimiliki individu guna mengatasi kecemasan. Apabila individu tidak mampu mengatasi kecemasan secara konstruktif. maka secara otomatis muncul upaya untuk mengatasinya dengan berbagai mekanisme koping.1.

2) Secara besar hati. Strategi pemecahan masalah ini secara ringkas dapat digunakan dengan metode STOP. 4) Pray and patient Berdoa kepada Tuhan sebab Dia adalah Zat yang Maha mengetahui segala sesuatu yang ada didunia ini.6. 3) Others Minta bantuan orang lain bila diri sendiri tidak mampu. dan pikiran seseorang akan menjadi tentram dan tenang. 2. sehingga masalah tersebut dapat diatasi secara realitis. bila satu metode tidak berhasil. Dia pula yang memberikan jalan yang terbaik buat manusia sebab manusia memilikibanyak keterbatasan. 5) Meluruskan pikiran atau persepsi terhadap masalah.1) Meminta bantuan kepada orang lain. segala sesuatu yang dilakukan individu adalah reaksi langsung dari apa yang ada dalam pikirannya. 2) Trial and error Mencoba berbagai rencana pemecahan masalah yang telah disusun . 4) Menyusun beberapa rencana untuk memecahkan masalah. Juga harus sabar denagn berlapang dada menerima kenyataan yang ada pada dirinya. Sebab.2 Mekanisme Pertahanan Diri (Defence mechanism) . Dengan berdoa. 3) Mencari lebih banyak informasi yang terkait dengan masalah yang dihadapi. yaitu : 1) Source Mencari dan mengidentifikasi apa yang menjadi sumber masalah.1.hal yang perlu dihindari adalah adanya rasa keputusasaan terhadap kegagalan yang dialami. maka mencoba lagi dengan metode lain. maka hati. mampu mengungkapkan perasaan sesuai dengan situasi yang ada. Bayangan pikiran yang dimiliki setiap orang memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan pribadi. jiwa.

individu yang telah terdeteksi secara akurat mengidap AIDS. 3) Sering kali tidak berorientasi pada kenyataan. Misalnya. maka dia mengatakan bahwa dirinya hanya sakit flu biasa. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. seorang mahasiswa yang tidak lulus ujian. Akan tetapi. ia mengatakan bahwa dirinya tidak lulus karena dosennya sentimen terhadap dirinya. Jenis Mekanisme Pertahanan Diri Uraian Denial Menghindar atau menolak untuk melihat kenyataan yang tidak diinginkan dengan cara mengabaikan atau menolak kenyataan tersebut. Beberapa ciri mekanisme pertahanan diri antara lain : 1) Bersifat hanya sementara karena berfungsi hanya untuk melindungi atau bertahan dari halhal yang tidak menyenagkan dansecara tidak langsung mengatasi masalah. Penyangkalan terhadap kenyataan merupakan pembelaan ego yang paling sederhana dan primitif. Individu tidak menyadari bahwa mekanisme pertahanan diri tersebut sedang terjadi. Asmadi (2009). Tabel 2. Proyeksi Menyalahkan orang lain mengenai ketidakmampuan pribadinya atas kesalahan yang ia perbuat. Mekanisme ini digunakan untuk menghindari celaan dan hukuman yang mungkin akan ditimpakan pada dirinya. . Misalnya.4 Jenis-jenis mekanisme pertahanan diri (Defence mechanism). mekanisme pembelaan diri ini tidak realistis.Mekanisme pertahanan diri merupakan mekanisme penyesuaian ego yaitu usaha untuk melindungi diri dari perasaan tidak adekuat. 2) Mekanisme pertahanan diri terjadi diluar kesadaran.

Misalnya. maka ia sengaja melupakan. Rasionalisasi mempunyai dua segi pembelaan yaitu: 1) Membantu kita membenarkan yang kita lakukan 2) Menolong kita mengurangi kekecewaan yang berhubungan dengan cita-cita yang tidak tercapai. Misalnya. Individu yang menggunakan mekanisme represi sebenarnya menipu diri sendiri. Sedangkan fantasi yang nonproduktif bersifat hanya untuk memuaskan khayalan sebagai pengganti kekurangan. Dalam regresi. Namun. bergantung kepada orang lain. Fantasi dapat menjadi produktif ataupun bahkan sebaliknya. dan pengalaman yang menyakitkan. Padahal perbuatan yang dilakukan sebenarnya tidak baik.Represi Menekan ke alam tidak sadar dan sengaja melupakan terhadap pikiran." Regresi Rasionalisasi Kemunduran dalam hal tingkah laku yang dilakukan individu dalam menghadapi stres. seorang remaja yang diputuskan cintanya oleh kekasihnya. mahasiswa yang terlambat datang ujian mengatakan bahwa di jalan macet total. Setiap ada orang yang menanyakan. ia hanya melindungi dirinya dari masalah yang sebenarnya dapat diatasi secara lebih realistis. ia selalu menjawab dengan perkataan: "Sudahlah tidak usah menanyakan itu lagi. Misalnya. ia berusaha agar perbuatan/perilakunya dapat diterima. Misalnya. Fantasi yang produktif dapat menajdi motivasi yang kuat dalam menyelesaikan masalah. Sebab. dan tidak mau berpikir susah. Berusaha memberikan alasan yang masuk akal terhadap perbuatan yang dilakukannya. . perasaan. Fantasi Keinginan yang tidak terkabul dipuaskan dalam imajinasi yang diciptakan sendiri dan merupakan situasi yang berkhayal/berfantasi. lalu berfantasi mendapat nilai cum laude. secara tidak sadar. tetapi tidak menimbulkan motivasi untuk berprestasi. seorang mahasiswa yang kurang pandai. pengantin baru yang lari pulang ke rumah orang tuanya masing-masing karena mengalami masalah dalam rumah tangganya. individu mencoba lagi berperilaku seperti anak kecil.

tidak ada intervensi khusus sebab pada ansietas ringan ini pasien masih mampu mengontrol dirinya dan mampu membuat keputusan yang tepat dalam penyelesaian masalah. Misalnya." Reaction formation Kompensasi Menutupi kekurangan dengan meningkatkan kelebihan yang ada pada dirinya. Undoing Tindakan atau komunikasi tertentu yang bertujuan menghapuskan atau meniadakan tindakan sebelumnya. tetapi berlawanan dengan perasaan dan keinginannya. Misalnya. ia menjawab: "Saya benci dengan gadis itu. seorang lelaki yang mencintai seorang perempuan. Misalnya. Sublimasi 2.1. misalnya seorang pegawai yang melampiaskan emosinya ke istrinya lantaran waktu di kantor dimarahi pimpinannya. intervensi yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan pola mekanisme koping yang positif seperti penjelasan di atas.7 Intervensi Keperawatan Pasien Dengan Kecemasan Menurut Asmadi (2009 : 169). meminta maaf. Displacement tidak menyelesaikan masalah. pada pasien dengan kecemasan ringan. tidak lulus ujian langsung membanting dan membuang bukubukunya. mahasiswa yang kemampuan belajarnya kurang lalu menekuni musik karena musik merupakan kelebihannya. Sedangkan pada ansietas sedang. Misalnya. Mengembangkan pola sikap dan perilaku tertentu yang disadari. Bahkan dapat menciptakan masalah baru. Penyaluran rangsangan/nafsu yang tidak tercapai ke dalam kegiatan lain yang bisa diterima oleh masyarakat. Misalnya.Displacement Memindahkan perasaan yang tidak menyenangkan dari seseorang atau objek ke orang atau objek lain yang biasanya lebih kurang berbahaya daripada semula. . Lalu ditanya oleh temannya. seseorang yang senang berkelahi lalu disalurkan ke dalam bentuk olahraga tinju.

kreatinin. dan analisis gas darah pada pemantauan sistem respirasi. beberapa hal yang perlu dikaji dalam tahap prabedah adalah pengetahuan tentang persiapan pembedahan dan pengalaman masa lalu.2 Konsep Asuhan Keperawatan Pre Operatif 2. Pemeriksaan lain yang dianjurkan sebelum pelaksanaan bedah adalah radiografi thoraks. elektrolit. dan sebagainya. terdapat strategi khusus yang perlu diperhatikan oleh perawat dalam pemberian asuhan keperawatan. kemudian pemeriksaan elektrokardiogram. Intervensi utama yang harus dilakukan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien ansietas adalah menyadari untuk mengenali perasaannya dan juga mampu mengendalikannya. pengobatan yang memengaruhi kerja obat anestesi. darah.2. kesiapan psikologis. pemeriksaan air kencing. blood urea nitrogen (BUN). leukosit. prinsip intervensi keperawatan yang diberikan adalah re-edukatif atau berorientasi pada kognitif. dan lain-lain untuk . Prinsip intervensi keperawatan pada pasien tersebut adalah melindungi klien dari bahaya fisik dan memberikan rasa aman pada pasien karena pasien tidak dapat mengendalikan perilakunya. hematokrit. antikoagulan yang dapat meningkatkan perdarahan. seperti antibiotika yang berpotensi dalam istirahat otot. eritrosit.1 Pengkajian Keperawatan Menurut Hidayat (2008 : 164). antihipertensi yang memengaruhi anestesi yang dapat menyebabkan hipotensi. fungsi paru.Kecemasan berat dan panik. 2. Setelah tingkat kecemasan pasien menurun sampai tingkat sedang atau ringan. Selain itu. ada atau tidaknya alat protesa seperti gigi palsu. dan Iain-lain. kapasitas vital. terdapat juga pengkajian terhadap riwayat alergi obat atau lainnya. albumin. Tujuannya adalah menolong klien dalam mengembangkan kemampuan menoleransi ansietas dengan mekanisme koping dan strategi pemecahan masalah yang konstruktif. status nutrisi. diuretika yang berpengaruh pada ketidakseimbangan potasium.

4) Risiko terjadi cedera berhubungan dengan defisit penginderaan/ motor. penjelasan tentang peristiwa yang mungkin akan terjadi. persiapan latihan kaki. dan seterusnya. dapat dilakukan persiapan psikologis pada pasien melalui pendidikan kesehatan.2.3 Diagnosis Keperawatan Menurut Hidayat (2008 : 164). kulit.2. 3) Risiko infeksi dan cedera tidak terjadi.2.menentukan gangguan sistem renal dan pemeriksaan kadar gula darah atau lainnya untuk mendeteksi gangguan metabolisme. 2) Memperlihatkan tanda-tanda tidak ada ketakutan. ada beberapa tindakan keperawatan yaitu: 1) Pemberian Pendidikan Kesehatan Pre Operatif . hal yang perlu diperhatikan dalam diagnosis keperawatan pre operatif adalah: 1) Cemas berhubungan dengan ancaman terhadap kematian. dan lain-lain.5 Pelaksanaan (Tindakan) Keperawatan Menurut Hidayat (2008 : 165). 2. 2. Rencana Tindakan: Mengatasi adanya rasa cemas dan takut. persiapan perut. persiapan bernapas dan latihan batuk. 3) Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan atau menurunnya nutrisi. latihan mobilitas. 2.4 Perencanaan Keperawatan Menurut Hidayat (2008 : 164). perencanaan keperawatan pada pasien pre operatif memiliki tujuan sebagai berikut: 1) Memperlihatkan tanda-tanda tidak ada kecemasan. 2) Takut berhubungan dengan dampak dari tindakan pembedahan atau anestesi. Mengatasi masalah risiko infeksi atau cedera lainnya dapat dilakukan dengan persiapan prabedah seperti diet.

tetapi 8 jam sebelum bedah tidak diperbolehkan makan. ruang pemulihan. biarkan dada mengembang. dan tenggorokan karena dapat meningkatkan tekanan. (2) Tempatkan tangan di atas perut. 3) Persiapan Kulit Persiapan ini dilakukan dengan cara membebaskan daerahyang akan dibedah dari mikroorganisme dengan cara menyiram kulit menggunakan sabun heksaklorofin (hexachlorophene) atau sejenisnya sesuai dengan jenis pembedahan. dan melepaskan jahitan. merusak jaringan. dengan cara seperti di bawah ini: (1) Atur posisi tidur semi fowler. dan kemungkinan pengobatan setelah bedah. . sebab makanan atau cairan dalam lambung dapat menyebabkan terjadinya aspirasi. 2) Persiapan Diet Pasien yang akan dibedah memerlukan persiapan khusus dalam hal pengaturan diet. hidung. mata. 4) Latihan Bernapas dan Latihan Batuk Cara latihan ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pengembangan paru sedangkan batuk dapat menjadi kotraindikasi pada bedah intrakranial. Pasien boleh menerima makanan biasa sehari sebelum bedah. maka harus dicukur. lutut dilipat untuk mengembangkan thorak. Pernapasan yang dianjurkan adalah pernapasan diafragma. sedangkan cairan tidak diperbolehkan 4 jam sebelum bedah. Bila pada kulit terdapat rambut. (4) Tahan napas selama 3 detik. di antaranya jenis pemeriksaan yang dilakukan sebelum bedah. alat-alat khusus yang diperlukan.Pemberian pendidikan kesehatan yang perlu dijelaskan adalah berbagai informasi mengenai tindakan pembedahan. telinga. (3) Tarik napas perlahan-lahan melalui hidung. pengiriman ke kamar bedah. (5) Keluarkan napas dengan mulut yang dimoncongkan.

gelang. batukkan untuk mengeluarkan lendir. tindakan yang pcrlu dilakukan sebelum pelaksanaan bedah adalah: (1) Cek identitas pasien. 6) Latihan Mobilitas Latihan mobilitas dilakukan untuk mencegah komplikasi sirkulasi. dan ulangi hingga 10 kali. melipat lutut rata pada tempat tidur. setelah napas terakhir. Untuk melakukan latihan mobilitas. seperti menggunakan penghalang agar bisa memutar badan. 7) Pencegahan Cedera Untuk mengatasi risiko terjadinya cedera. pasien harus mampu menggunakan alat di tcmpat tidur. Latihan otot dapat dilakukan dengan mengontraksikan otot betis dan paha. dan ulangi hingga 5 kali. Latihan mengencangkan glutea dapat dilakukan dengan cara menekan otot pantat. misalnya cincin. dan latihan mengencangkan glutea. kemudian meluruskan kaki pada tempat tidur. mclatih duduk di sisi tempat tidur atau dengan cara menggeser pasien ke sisi tcmpat tidur. dan Lainlain. 5) Latihan Kaki Latihan ini dapat dilakukan untuk mencegah dampak tromboplebitis. kemudian istirahatkan otot kaki.(6) Tarik napas dan keluarkan kembali. . lalu istirahat dan ulangi scbanyak 5 kali. latihan quadrisep. kemudian duduk tegak dengan kaki menggantung di sisi tempat tidur. Latihan quadrisep dapat dilakukan dengan cara membengkokkan lutut kaki rata pada tempat tidur. mcncegah dekubitus. lakukan hal yang sama hingga 3 kali. Latihan kaki yang dianjurkan antara lain latihan memompa otot. (7) Istirahat. merangsang peristaltik scrta mengurangi adanya nyeri. (2) Lepaskan perhiasan pada pasien yang dapat mengganggu. kemudian coba gerakkan kaki ke tepi tempat tidur. melatih duduk diawali tidur fowler. mcngangkat tumit.

serta tidak ditemukannya risiko komplikasi pada infeksi atau cedera lainnya.5 Evaluasi Keperawatan Menurut Hidayat (2008 : 165).3 Kerangka Konsep Menurut Hidayat (2008 : 12). evaluasi terhadap masalah prabedah secara umum dapat dinilai dari adanya kemampuan dalarri memahami masalah atau kemungkinan yang terjadi pada intra dan pascabedah. (5) Lepaskan protesa. Tidak ada tanda kecemasan. 2.2. ketakutan. kerangka konsep merupakan justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang dilakukan dan memberi landasan kuat terhadap topik yang dipilih sesuai dengan identifikasi masalah. (4) Lepaskan lensa kontak.(3) Bersihkan cat kuku untuk memudahkan penilaian sirkulasi. (8) Gunakan kaos kaki antiemboli bila pasien berisiko mengalami tromboplebitis. (6) Alat bantu pendengaran dapat digunakan jika pasien tidak dapat mendengar. Gambar 2.2 Kerangka Konsep Berbagai Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan. 2. (7) Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kencing. : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti : Berpengaruh : Berhubungan .

dan mekanisme koping yang digunakannya.2 Bagi penelitian selanjutnya Penelitian selanjutnya hendaknya menggali lebih dalam lagi gambaran atau faktorfaktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operatif.BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5. harga diri. 5.2.1 Bagi Tempat penelitian Hendaknya perawat khususnya ruang D memberikan asuhan keperawatan tidak hanya berfokus pada tindakan terapi fisik tetapi terapi psikis dan penjelasan terhadap semua tindakan keperawatan yang akan diberikan pada pasien.2. Doris Sylvanus Palangka Raya dengan 30 responden diperoleh kesimpulan bahwa sebagian besar responden mengalami kecemasan sedang dan sebagian kecil mengalami kecemasan berat mengenai pre operatif hal ini terjadi karena manifestasi yang terjadi bergantung pada kematangan pribadi.2 Saran 5. .1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan proses pengolahan data pada penelitian yang dilaksanakan pada 04 Mei-07 Juli 2010 di Ruang D (Bedah Pria) RSUD Dr. pemahaman dalam menghadapi ketegangan. 5. Serta masukan kepada perawat ruangan agar dapat membantu pasien mengatasi kecemasannya menjelang operasi dengan menggunakan komunikasi terapeutik.

http://andaners. (2005).wordpress. Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri Edisi 3. . Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Apliklasi Konsep dan Proses Keperawatan Edisi 1. (2008). Jakarta: EGC. Jakarta: EGC. Jakarta: Salemba Medika. Asmadi.pdf diakses 10 Maret 2010. Ating. Metode Penelitian. (1999). Panduan Belajar Keperawatan Kesehatan dan Psikiatrik Edisi 3. (2006). (2005). Paryanto (2009). Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Moh.eprints. Jakarta: Rineka Cipta. Koping dan Adaptasi Teori dan Pohon Masalah Keperawatan Edisi Pertama. Brockopp. Jakarta. Jakarta: Salemba Medika. Azis Alimul. Isaac. A.ac. (2004). Jakarta. Dasar-Dasar Riset Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika. Suharsimi. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Surakarta. Rasmun. http://etd. Jakarta: Sagung Seto. (2002). (2008). Jakarta: Salemba Medika. Universitas Muhammadiyah. (2008). A. Gruedemann. Hidayat. 1 Prinsip. Ann. ___________________. Dorothy Young. Stress dan Adaptasi. Marilynn E. Barbara J. Skripsi Perbedaan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operatif Selama Menunggu Jan Operasi Antara Ruang Rawat Inap Dengan Ruang Persiapan Operasi Rumah Sakit Ortopedi Surakarta. Aplikasi Statistika Dalam Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Andaners (2009). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi. Buku Ajar Keperawatan Peroperatif. (2009). Azis Alimul. EGC. Bandung: (2006). (2004). (2009). Vol.id/4455/1/J210070104. Nazir. Nursalam. Somantri. Konsep Cemas. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Hidayat. Jakarta: EGC. Doengoes. Stress.ums. Com/2009/04/21/konsep-cemas-stress-dan-adaptasi/ Arikunto. Tesis. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah Edisi 2. dan Instrumen Penelitian Keperawatan.: Salemba Medika.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful