1. A. KAJIAN TEORI 1. Membaca a.

Pengertian Membaca Anderson dalam tarigan (1980:8) menyangkut linguistik menjelaskan bahwa membaca merupakan suatu proses penyandian kembali (rekonding process) dan proses pembacaan sandi (dekonding process). Aspek ini menghubungkan kata-kata tulis (written words) dengan makna bahasa lisan (oral languange meaning). Hal ini mencakup pengubahan tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Hudgson (1960:43) mengatakan membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui kata-kata dalam bahasa tulis.. Suatu proses yang menuntut pembaca agar dapat memahami kelompok katayang tertulis merupakan suatu kesatuan dan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan makna kata-kata itu dapat diketahui secara tepat. Apabila hal ini dapat terpenuhi maka pesan yang tersurat dan yang tersirat dapat dipahami, sehingga proses membaca sudah terlaksana dengan baik. Seseorang yang sedang membaca berarti ia sedang melakukan suatu kegiatan dalam bentuk berkomunikasi dengan diri sendiri melalui lambang tertulis. Makna bacaan tidak tidak terletak pada bahan tertulis saja, tetapi juga terletak pada pikiran pembaca itu sendiri. Dengan demikian makna bacaan bisa berubah-ubah tergantung pembaca dan pengalaman berbeda yang dimilikinya pada waktu membaca dan dipergunakannya untuk menafsirkan kata-kata tulis tersebut. Seorang pembaca yang baik adalah seorang yang dapat mengambil tanggapan mengenai bahasa (ide, stye, dan kematangan pengarang) dan pengertian dengan kecepatan yang lumayan (Gusnetti, 1997:13).

Soedarso (1991:4) menjelaskan kemampuan membaca yang baik merupakan hal yang sangat penting dalam suatu bacaan. Dalam hal ini guru mempunyai peranan yang sangat besar untuk mengembangkan serta meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan dalam membaca. Usaha yang dapat dilakkan guru diantaranya (1) Dapat menolong para siswa untuk memperkaya kosakata mereka dengan jalan memperkenalkan sinonim kata-kata, antonim, imbuhan, dan menjelaskan arti suat kata abstrak dengan mempergunakan bahasa daerah atau bahasa ibu mereka, (2) dapat membantu para siswa untuk memahami makna struktur-struktur kata, kalimat dan disertai latihan seperlunya, (3) dapat meningkatkan kecepatan membaca para siswa dengan menyuruh mereka membaca dalam hati, menghindari gerakan bibir, dan menjelaskan tujuan membaca. Seseorang yang dapat memahami suatu bacaan atau wacana, akan menemukan wujud skemata yang memberikan usulan yang memadai tentang suatu bacaan. Proses pemahaman suatu bacaan adalah menemukan konfigurasi skemata yang menawarkan uraian yang memadai tentang suatu bacaan. Sampai sekarang konsep skema merupakan jalan yang paling memberikan harapan dari sudut wacana pada umumnya. Karena skemata merupakan bagian dari penyajian pengetahuan latar, luasnya pengetahuan dan pengalaman pembaca merupakan salah satu dasar bagi kokohnya rancangan yang menggunakan konsep skema. Tarigan (1980:18) mengatakan guru yang mau mengetahui kemampuan siswa tentang suatu bacaan dapat melakukannya dengan cara (1)Mengemukakan berbagai jenis pertanyaan, (2) mengemukakan pertanyaan yang jawabannnya dapat ditemukan oleh siswa secara kata demi kata (verbalim), (3) menyuruh siswa membuat rangkuman atau ikhtisar, (4) menanyakan ide pokok apa yang dibaca.

Be (1980:40) menjelaskan, kemampuan pemahaman yang diperlukan dalam membaca meliputi (1) memahami kosakata yang dipakai dalam bahasa umum dan dapat menyimpulkan artinya dalam konteksnya, (2)memahami bentuk-bentuk sintaksis dan ciriciri morfologi tertulis yang didapatkan dalam bacaan, (3) dapat mengambil kesimpulan dan tanggapan yang valid dari bahan yang dibaca. Berdasarkan pernyataan di atas maka kemampuan membaca adalah bagaimana seseorang dapat memahami dengan baik apa pesan yang disampaikan dalam bacaan itu, sehingga informasi yang diserap dapat diungkapkan kembali dengan tepat, baik secara lisan maupun secara tulisan. Abdullah (1990:2) mengungkapkan bahwa membaca adalah salah satu kegiatan aktif mencari informasi yang kita dapat dalam bacaan. Dengan sendirinya, kebiasaankebiasaan membaca akan membuka cakrawala berfikir dalam menghadapi suatu masalah. Dalam membaca, diharapkan pembaca memahami apa yang dibaca, sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai dengan baik.

b. Unsur-unsur yang Terkandung dalam Membaca Abdullah (1990:2) mengatakan: Unsur-unsur kemampuan membaca dapat ditelusuri dari pengertian membaca yang telah dikemukakan. Pertama, karena membaca itu merupakan interaksi dengan bahasa yang telah diubah menjadi cetakan, maka kemampuan memahami lambang-lambang bunyi merupakan penentu utama keberhasilan membaca. Kedua, karena hasil interaksi dengan bahasa cetak itu merupakan pemahaman, maka kemampuan memaknai susunan lambanglambang bunyi juga merupakan unsur penentu keberhasilan membaca. Ketiga, karena kemampuan membaca itu berhubungan erat dengan kemampuan berbahasa lisan, maka

misalnya kemampuan mata dan kemampuan mengendalikan gerak bibir juga mempengaruhi keberhasilan membaca. 1) Membaca Berdasarkan Tingkatannya Agustina (1990:10) membagi membaca menjadi 4 jenis. maka keberhasilan membaca juga dipengaruhi oleh unsur kecerdasan serta pengalaman membaca yang dimiliki. dan membaca sintopikal. Ini lebih mengutamakan kegiatan jasmani atau fisik. membaca inspeksional. karena membaca itu merupakan proses aktif dan berlanjut yang dipengaruhi langsung oleh interaksi seseorang dengan lingkungannya.) Membaca Permulaan Membaca permulaan dianggap sebagai membaca tingkat dasar. b. . c. Dalam hal ini ada 2 jenis membaca yang didasarkan kepada tingkat dan kemauan berdasarkan kepada tujuan dan kecepatan. Lebih lanjut jenis membaca tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: a. membaca analitis. Pembaca hanya mempunyai waktu yang relatif singkat.unsur-unsur kemampuan fisik. Kesanggupan menyuarakan lambang-lambang bahasa tulis serta menangkap makna yang berada dibalik lambang-lambang tersebut adalah sebahagian kegiatan yang dilakukannya. Jenis-jenis Membaca Bermacam-macam kelakuan dan tujuan manusia dalam membaca. Keempat. yaitu membaca permulaan.) Membaca Inspeksional Membaca inspeksional berkaitan dengan masalah waktu yang tersedia untuk membaca. sedangkan pembaca harus menyelesaikan. semua tergantung kepada niat dan sikap dari si pembaca.

membaca kilat (skimming). membaca studi (careful reading). dan membaca reflektiv (reflektive reading). a. kegiatan mental setelah kegiatan jasmani pada pembaca jenis ini sangat diperlukan.) Membaca Analitis Membaca analitis bukan hanya sekedar menyuarakan lambang bahasa dan menangkap makna yang berada dibalik lambang itu saja. Untuk membaca kilat diperlukan keterampilan yang dapat menentukan bagian-bagian bacaan yang mengandung ide atau pikiran pokok. membaca sintopikal-lah yang paling berat dan melelahkan.) Membaca Sintopikal Membaca sintopikal ini menuntut pembaca untuk mempunyai waktu lebih banyak lagi. Tujuan membaca kilat adalah menangkap seperangkat ide pokok. 2) Membaca Berdasarkan Kecepatan dan Tujuannya Gani dan Semi (1976:4) membagi membaca ke dalam 4 jenis. Dari keempat jenis tingkatan membaca di atas. mendapatkan informasi . Namun membaca sintopikal atau membaca perbandingan ini memungkinkan pembaca memperoleh kepuasan. d. karena dalam membaca sintopikal pembaca harus menganalisis lebih dari 1 buku. karena banyak informasi yang dapat diperoleh dengan membaca pada tingkatan ini. baik dan sempurna yang dilakukan dalam waktu yang tidak terbatas dengan tujuan menganalisa tentang bacaan yang dibaca.) Membaca Kilat (skimming) Membaca kilat (skimming) merupaka salah satu cara membaca yang lebih mengutamakan penangkapan esensi materi bacaan. yaitu. tetapi lebih dari itu.c. Karena membaca analitis merupakan membaca lengkap. tanpa membaca keseluruhan dari materi bacaan tersebut. membaca cepat (speed reading).

1985:25). mempelajari. Untuk keperluan ini. dan meneliti suatu persoalan. membaca harus dilaksanakan dengan kecepatan yang agak rendah.) Membaca Cepat (speed reading) Membaca cepat adalah membaca yang dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi. petunjuk yang memerlukan tindakan pembaca. Ciri-ciri pembaca yang baik dan efesien yaitu mempunyai kebiasaan yang baik dalam membaca.) Membaca Reflektiv (reflektive reading) Membaca reflektiv adalah membaca untuk menangkap informasi dengan terperinci dan kemudian melahirkannya kembali atau melaksanakannya dengan tepat sesuai dengan keterangan yang diperoleh.) Membaca Studi (careful reading) Membaca studi dilakukan untuk memahami. c. dan menemukan suatu pandangan atau sikap penulis.yang penting dalam waktu singkat atau terbatas. b. dan penjelasan dari suatu bacaan dalam waktu yang singkat. Biasanya dengan membaca kalimat demi kalimat dan paragaraf tetapi tidak membaca kata demi kata. sehabis membaca dapat mengingat sebahagian besar pokok-pokok bacaan. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi. gagasan utama. Biasanya membaca reflektiv dilakukan dengan tuntutan petunjuk tentang percobaan di labor. betul-betul mengerti tentang apa yang dibaca. dan dapat membaca dengan kecepatan yang terkontrol (Al-Falasay dan Naif. kadang-kadang dituntut pula untuk menghadapkannya dalam ingatan. Disamping itu juga dilaksanakan . d.

Pengertian Membaca Cepat Nurhadi ( 1987:31-32) menyatakan “membaca cepat dan efektif ialah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan. Muchlisoh (1992:149) mengatakan bahwa: Membaca cepat bukan berarti jenis membaca yang ingin memperoleh jumlah bacaan atau halaman yang banyak dalam waktu yang singkat. Saleh Abbas (2006:108) menyatakan “membaca cepat adalah membaca sekejap mata. 2. Membaca Cepat a. selayang pandang. dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya”. membaca untuk kesenangan dan membaca estetis. Jenis membaca ini dilaksanakan tanpa suara. Berbeda dengan pendapat-pendapat sebelumnya. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan dengan menggunakan gerakan mata dan . Tujuannya adalah dalam waktu yang singkat pembaca memperoleh informasi secara cepat dan tepat”. Supriyadi (1995:128) mengatakan bahwa “membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan mata dalam membaca”. Pelajaran ini diberikan dengan tujuan agar siswa sekolah dasar dalam waktu yang singkat dapat membaca secara lancar dan dapat memahami isinya secara tepat dan cermat.atau ditujukan untuk merefleksikan suatu bacaan.

serta sejauh mana keakraban dengan bahan bacaan. Bahkan pemahaman inilah yang menjadi pangkal tolak pembahasan.dilakukan tanpa suara yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara tepat dan cermat dalam waktu singkat. bukannya kecepatan. Bahkan orang orang yang biasa membaca lambat untuk mengerti suatu bacaan akan dapat mengambil manfaat yang besar dengan membaca cepat. Artinya. kecepatan tidak harus selalu sama. Supriyadi (1995:127) menyatakan “keterampilan membaca yang sesungguhnya bukan hanya sekedar kemampuan menyuarakan lambang tertulis dengan sebaik-baiknya namun lebih jauh itu adalah kemampuan memahami dari apa yang tertulis dengan tepat dan cepat”. Adakalanya kecepatan itu diperlambat. bukan berarti membaca lambat akan meningkatkan pemahaman. Supriyadi (1995:142) menyatakan “bahan bacaan untuk pelajaran membaca cepat hendaknya bahan bacaan yang pernah dibaca atau bahan bacaan yang diperkirakan dekat dan akrab dengan kehidupan pembaca”. dan jenis bacaan yang dihadapinya”(Nurhadi. . Kecepatan membaca harus seiring dengan kecepatan memahami bahan bacaan. Akan tetapi. 1987:32). suasana. Soedarso (1988:18) mengatakan “kecepatan membacapun harus fleksibel. Kecepatan membaca sangat tergantung pada bahan dan tujuan membaca. b. Hal itu tergantung pada bahan dan tujuan kita membaca”. Pemahaman dalam Membaca Cepat Dalam membaca cepat terkandung pemahaman yang cepat pula. Seorang pembaca yang baik akan mengatur kecepatan dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. “Seorang pembaca cepat tidak berarti menerapkan kecepatan membaca itu pada setiap keadaan.

hal itu antara lain (1) meneliti materi bacaan secara berlebihan dan melakukan subvokalisasi. (3) semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk melakukan hal-hal rutin. tingkat kesulitan bahan bacaan. serta keperluan membacanya saat itu. Sadar akan berbagai tujuan. dan (3) membiarkan stress mengganggu disaan pembaca dihadapkan pada . (8) membaca cepat meningkatkan pemahaman. d. dan (10) membaca cepat dapat dikatakan sebagai tonikum mental. (2) membaca cepat menciptakan efesiensi. diantaranya adalah (1) membaca cepat menghemat waktu. Penghambat Kecepatan Membaca Depdikbud (2005:26) mengemukan: Beberapa kebiasaan umum negatif yang lumrah terdapat pada pembaca yang biasa ataupun pembaca yang lambat. maka semakin banyak waktu yang tersediauntuk mengerjakan hal penting lainnya.Pembaca yang efektif dan efesien mempunyai kecepatan bermacam-macam. Kegunaan Membaca Cepat Depdikbud (2005:7) mengatakan: Ada berbagai kegunaan yang terkandung dari kemampuan membaca cepat. (5) membaca cepat memperluas cakrawala mental. Karena kesadaran itu akan sangat berpengaruh terhadap tingkat pemahaman terhadap isi bacaan. (6) membaca cepat membantu berbicara secara efektif. (9) membaca cepat menjamin untuk selalu mutakhir. (2) tidak berusaha mengurangi gangguan waktu dan interupsi. (7) membaca cepat membantu dalam menghadapi ujian. c. (4) membaca cepat memiliki nilai yang menyenangkan/ menghibur.

1) berkeinginan untuk memperbaiki. seperti dyslexia. Seirama dengan itu Depdikbud (2005:5) menyatakan bahwa: Membaca cepat adalah sebuah keterampilan. (5) .materi bacaan yang terlampau banyak ataupun membiarkan adanya kesulitan fisik lainnya yang berkaitan dengan membaca. (3) mengurangi stres. (2) meningkatkan konsentrasi. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat Kemampuan membaca cepat bukanlah kemampuan yang diperoleh karena bakat. e. Kebiasaan Positif yang Dapat Menunjang Peningkatan Membaca Cepat Depdikbud (2005:26) mengemukakan bahwa “kebiasaan positif yang harus dikembangkan atau perkuat dalam membaca antara lain (1) meningkatkan motivasi. (2) mengurangi kebiasaan menunda dan interupsi. (4) meningkatkan pemahaman. karena “membaca cepat adalah sebuah keterampilan” (Nurhadi. Untuk itu anda harus. tingkat keseriusan anda.” f. 2) merasa yakin bahwa anda akan dapat melakukan hal itu. Berdasarkan pernyataan di atas maka usaha peningkatan kemampuan kemampuan membaca cepat membutuhkan seragkaian latihan secara bertahap yang dirancang unuk menghilangkan kebiasaan negatif dalam membaca dan sekaligus menonjolkan positifnya. Keberhasilan anda dalam menguasai teknik ini sangat bergantung pada sikap anda sendiri. Depdikbud (2005:26) mengungkapkan: Ada beberapa upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat seseorang. (4) meningkatkan konsentrasi. Beberapa upaya tersebut adalah (1) mengurangi subvokalisasi. dan kesiapan untuk mencoba melatihkan teknik tersebut. (3) meningkatkan daya ingat dan daya panggil ulang. 2004:26).

3. Metode Speed Reading a. Seseorang akan dituntut untuk membedakan informasi yang diperlukan atau tidak. Informasi itu kemudian disimpan dalam otak. Bersamaan dengan hal tersebut di atas Supriyadi (1995:127) menyatakan “keterampilan membaca yang sesungguhnya bukan hanya sekedar kemampuan menyuarakan lambang tertulis dengan sebaik-baiknya namun lebih jauh adalah kemampuan memahami dari apa yang tertulis dengan tepat dan cepat”. 11. seseorang memerlukan latihan dengan menerapkan berbagai metode pendukung. Tidak ada orang yang dapat membaca cepat karena bakat.meningkatkan daya ingat dan daya panggil ulang. Salah satu metode yang dapat mendukung upaya kearah peningkatan kemampuan membaca cepat adalah dengan menerapkan metode speed reading.2004) mengatakan “metode speed reading merupakan semacam latihan untuk mengelola secara cepat proses penerimaan informasi”. Oleh karena itu. (6) menggunakan pola pemanggilan ulang. Membaca cepat adalah bagaimana kita dapat membaca dengan pemahaman yang lebih baik dalam waktu lebih cepat serta mengingatnya dengan baik pula. . cet. Speed reading juga merupakan keterampilan yang harus dipelajari agar mampu membaca lebih cepat sekaligus memahami semua yang terkandung di dalam bacaan yang bersangkutan. untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat. Pengertian Speed Reading Soedarso. Maka itu harus dipahami bahwa membaca cepat bukanlah melulu cepat memecah kode dan segera menyelesaikan sebuah buku. Speed Reading (Gramedia.

03 Edisi Oktober-Desember 1995:42 menyatakan langkah-langkah latihan kecepatan membaca adalah: 1. Data survey menunjukkan bahwa lima dari empat puluh siswa yang telah mampu menggunakan pola speed reading dapat memahami suatu bacaan dengan sama baiknya dengan siswa yang belum menguasai speed reading.. 2. Format Daftar Kecepatan Membaca Waktu mulai : …menit…detik Waktu berakhir : …menit…detik Lama/Waktu Kecepatan 1 menit 00 detik … 600 kata/menit … Nurhadi (2004: 19-21) Widodo Santoso dalam MUTU Vol. kemudian.…detik) lihatlah kedalam tabel kecepatan membaca”.) Bagi siswa kelas I dan II tugas membaca bergantian tiap siswa. Dengan pola pelatihan yang kontiniu diharapkan para siswa dapat membaca dengan kecepatan hingga 800 kata per menit tanpa menghilangkan makna bacaan. (2) hitung berapa lama (menit) anda menyelesaikan teks tersebut.Dengan menggunakan teknik speed reading para siswa diharapkan dapat lebih efesien dalam menggunakan waktu dalam belajar. perhatikan pada saat anda mulai membaca. b. IV No. (3) dengan jumlah lama waktu itu (…menit. Langkah-langkah Speed Reading Nurhadi (2004:26) menyatakan “membaca cepat dapat dilakukan dengan cara (1) persiapkan pencatat waktu (arloji). dan bagi siswa kelas .) Siswa secara klasikal diberi bacaan (wacana) yang sama.

) Masing-masing siswa menghitung jumlah kata yang telah dibaca selama batas waktu yang telah ditetapkan. 4. Semakin baik perencanaan yang dibuat. Tabel Kecepatan Membaca No. Jika dikhawatirkan siswa tidak jujur.) Guru membuat tabel kecepatan membaca dan siswa menuliskan banyaknya kata setiap latihan. dapat diadakan tanya jawab tentang isi wacana atau kalimat terakhir yang dibacanya. 1995:159). IV No. 4. Nama Murid Banyak kata yang dibaca selama 1 menit Rata-rata tiap menit 1 2 3 Widodo Santoso dalam MUTU Vol. semakin mudah pelaksanaan pengajarannya sehingga semakin tinggi hasil belajar mengajar yang dicapai. 3. Perencanaan Pengajaran Membaca Cepat dengan Menggunakan Metode Speed Reading Sebelum melaksanakan proses belajar mengajar suatu pokok bahasan tertentu. Pengajaran Membaca Cepat dengan Menggunakan Metode Speed Reading a. 03 Edisi Oktober-Desember 1995:42.III sampai dengan VI membaca dalam hati/pemahaman secara bersama. 5.) Menghitung rata-rata jumlah kata yang telah dibaca masing-masing siswa dalam setiap menit. Perencanaan pengajaran yang dipersiapkan guru dituangkan dalam wujud satuan . guru dituntut untuk membuat perencanaan pengajaran (Supriyadi.

Melihat wujud kurikulum yang demikian. 5. 4. terdapat pokok-pokok masalah yang perlu diperhatikan guru dalam merencanakan persiapan mengajarnya.) bagaimana menetapkan teknik atau metode kegiatan belajar mengajar yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut?. jelas dan sederhana (indikator)?. semester).pelajaran (satpel) yang sepenuhnya berpedoman kepada GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) (Supriyadi. 2. 3. maka perencaan pengajaran yang dipersiakan guru dituangkan dalam wujud rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) yang sepenuhnya berpedoman kepada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang telah ditetapkan oleh badan standar nasional pendidikan (BSNP). 1995:162). program (kelas. Dalam KTSP sudah dicantumkan kolom-kolom yang memuat informasi: standar kompetensi dan kompetensi dasar.) bagaimana menjabarkan tujuan yang masih bersifat umum tersebut (standar kompetensi dan kompetensi dasar) ke dalam rumusan yang lebih operasional. b. Apabila pernyataan tersebut kita sesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang.) bagaimana bentuk evaluasi yang akan dikembangkan untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan di atas?.) bagaimana menetapkan sumber dan bahan pengajaran (pokok bahasan) beserta uraiannya?. yaitu: 1.) bagaimana menetapkan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut?. Pelaksanaan Perencanaan Pengajaran Membaca Cepat dengan Menggunakan Metode Speed Reading .

proses belajar mengajar dijadikan sarana bagi penggalian. Cara seperti ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Instruksi-instruksi.) sifat pokok bahasan membaca cepat itu sendiri. 2. tentu saja perlu diperhatikan hal-hal berikut: 1. 4. Dan yang tidak kalah penting dari hal-hal di atas ialah bahwa hasil dari proses belajar mengajar membaca cepat ini hendaknya dapat dinilai. Melalui pendekatan keterampilan proses dengan menerapkan metode speed reading.) pemanfaatan berbagai sumber dan sarana yang terdapat di lingkungan sekolah atau lingkungan sekitarnya. maupun hasil belajar yang diperoleh siswa. saran. selanjutnya memasuki tahap pelaksanaan rencana tersebut di dalam kegiatan nyata dalam kelas. Dan pada akhirnya diharapkan siswa kita dapat menunjukkan hasil belajar membaca cepat dalam wujud yang lebih konkret. Untuk melaksanakan program pengajaran tersebut. 3. 1995:166) Langkah-langkah proses belajar mengajar (PBM) yang dikelola guru hendaknya dapat mengarahkan siswa terhadap pencapaian tujuan pengajaran membaca cepat seperti yang telah dirumuskan dalam indikator. .Setelah selesai menyelesaikan pembuatan persiapan/perencanaan mengajar.) mempertimbangkan alokasi waktu yang tersedia. perintah. baik dalam prosesnya. penjelasan guru. dan pengembangan kemampuan dasar masing-masing siswa.) Kurikulum yang bersangkutan dengan membaca cepat. Misalnya grafik kemajuan membaca cepat siswa dan sebagainya yang dapat dipajangkan. (Supriyadi. tugas. pembinaan. Oleh karena itu itu titik berat proses belajar mengajar ditekankan pada aktivitas siswa yang menunjang peningkatan kemampuan membaca cepatnya. dan sejenisnya hendaklah jelas sehinga dapat dipahami siswa.

Kegiatan ini diiringi dengan pemberian umpan balik oleh guru. dan sarana).c. baik secara individual maupun kelompok. petunjuk. pelaksanaan. . Bentuknya dapat berupa bantuan. metode.) siswa menjadi tutor sebaya dalam menjelaskan kosakata sulit bagi kawan-kawannya. apakah hal tersebut tampak dalam aktivitas siswa?. dan penilaian. Penilaian terhadap pelaksanaan pengajaran membaca ditujukan terhadap tingkat kesesuaian kegiatan yang dilakukan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dan bagaimana proses kegiatan itu berlangsung.” Penilaian terhadap perencanaan dapat diarahkan terhadap komponen-komponen rencana pelaksanaan pengajaran seperti indikator. Penilaian terhadap proses dapat dilacak dari segi perencanaan. serta penegmbangan keterampilan siswa. yaitu penilaian terhadap proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Apakah komponenkomponen tersebut relevan dengan pokok bahasan membaca dan tuntutan pengajaran membaca?. sumber. proses belajar mengajar (yang terintegrasi di dalamnya bahan.) siswa membaca mandiri. 3. Penilaian-penilaian Pengajaran Membaca Cepat dengan Menggunakan Metode speed reading Supriyadi (1995:167) menyatakan “penilaian ini dapat dilakukan terhadap dua hal. 2. Bagaimana dengan pengembangan konsep dan nilai. dan lain-lain sehingga hal ini dapat tercermin dari kegiatan siswa seperti berikut: 1.) siswa membuat laporan kemampuan membaca cepatnya. Adakah kegiatan tersebut mengembangkan keterampilan proses dan membaca cepat ?. dan evaluasi. penghargaan. media.

Penumbuhan sikap dan nilai tercermin dari sikap berani mengeluarkan pendapat. Kemampuan membaca cepat dapat ditingkatkan melalui latihan yang dilaksanakan secara bertahap dan kontiniu. serta melahirkan gagasannya sendiri mengenai sub pokok bahasan tersebut dengan bahasa dan imajinasinya sendiri. kecepatan membaca hendaklah diajarkan dan dilatihkan secara terus menerus semenjak dini sampai waktu yang tak terbatas seiring dengan perkembangan teknologi. B. Banyak ahli yang menawarkan berbagai teknik/metode agar seseorang mampu dan . dan (3) penguasaan keterampilan. 1995:168) Siswa dianggap telah menguasai konsep apabila mereka telah dapat menafsirkan dan membuat ringkasan isi wacana. Penilaian terhadap hasil belajar siswa terutama diarahkan kepada (1) penguasaan konsep. dan lain-lain. jujur. (2) pengembangan sikap dan nilai. dan sebagainya.4. KERANGKA TEORITIS Membaca cepat merupakan salah satu keterampilan membaca yang perlu ditumbuhkembangkan dalam diri siswa semenjak dini. berdisiplin. karena membaca cepat bukanlah bakat ataupun kemampuan warisan. Penguasaan keterampilan dapat terlihat pada kemampuan mencari dan menemukan ide paragraf. kemampuan membaca dengan kecepatan yang memadai. kemampuan melahirkan kembali (berbicara). (Supriyadi. Oleh karena itu.) siswa mengulang bahan bacaan yang telah diberikan untuk lebih meningkatkan kemampuannya dalam membaca cepat. Karena membaca cepat sangat penting dimiliki oleh siswa guna menghadapi perkembangan teknologi informasi yang semakin hari semakin canggih.

dan terbaru yang akan mengantarkan seseorang kepada kemampuan membaca cepat yang maksimal. Menjawab pertanyaan c. 2. Menyampaikan teknik dan mekanisme membaca d. catat waktunya. h. Hitung berapa lama (menit) anda menyelesaikan teks tersebut. Tahap Pra Baca a.Speed reading merupakan metode praktis. Pasca Baca a. Menyampaikan tujuan membaca c. Menyiapkan stopwatch atau jam b. Siswa secara klasikal diberi bacaan (wacana) yang sama. Perhatikan pada saat anda mulai membaca. Peningkatan kemampuan membaca cepat dengan speed reading ditempuh dengan tahap-tahap sebagai berikut: 1. Menginventarisasi interpretasi siswa g. Salah satu diantaranya adalah metode yang dikenal dengan speed reading. Tahap Saat Baca a. Memfokuskan perhatian siswa pada judul untuk diinterpretasikan f. konversikan waktu . Mengenalkan topik/ judul bacaan e.memiliki kemampuan membaca cepat. Membaca teks 3. Mencek jawaban pertanyaan d. sederhana. Mencatat waktu selesai membaca b.

B.…detik) lihatlah kedalam tabel kecepatan membaca. atau .membaca (…menit. Waktu Penelitian ini dilakukan pada semester Juli-Desember 2007 dan menganalisis data pada Desember 2007. e. Pendekatan Penelitian Ada dua macam pendekatan dalam penelitian yaitu pendekatan kuantitatif dimana peneliti akan bekerja dengan angka-angka sebagai perwujudan gejala yang diamati dan pendekatan kualitatif dimana peneliti akan bekerja dengan informasi-informasi data dan di dalam menganalisanya tidak menggunakan analisa data statistik. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 31 Malalo Kecamatan Batipuh Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Mengkonversikan tingkat pemahaman BAB III METODE PENELITIAN A. C. Pendekatan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif action research. 2. dengan mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil pre-test dan post-test . Variabel Penelitian Menurut Suharsimi Arikunto (1998:99) variabel penelitian adalah objek penelitian. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh penggunaan metode speed reading dalam terhadap peningkatan kemampuan membaca cepat siswa.

apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Desain dan Paradigma Penelitian 1. Variabel terikat : Peningkatan kemampuan membaca siswa Sedangkan variabel non-eksperimetal dalam penelitian ini meliputi usia.Hal ini senada dengan pendapat Ibnu Hajar (1999:156) yang mengartikan variabel adalah objek pengamatan atau fenomena yang diteliti. faktor. variabel terikat. atau independent variabel (X). Variabel bebas : Penggunaan metode speed reading 2. atau dependent variabel (Y). Sutrisno Hadi (1982:437) membedakan variabel menjadi dua yaitu (1) variabel eksperimen atau treatment variable yaitu kondisi yang hendak diselidiki bagaimana pengaruhnya terhadap gejala atau behaviour variable. dan variabel akibat yang disebut variabel tak bebas. D. dalam penelitian ini terdiri dari variabel eksperimental yang meliputi: 1. atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Berdasarkan pendapat diatas. (2) variabel non eksperimental yaitu variabel yang dikontrol dalam arti baik untuk kelompok eksperimental Sedangkan Suharsimi Arikunto (1998:101) membedakan variabel menjadi dua yaitu variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab. kondisi. Dalam suatu penelitian eksperimen. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1982:437) variabel adalah semua keadaan. Desain Penelitian Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar (1999:102) adalah rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam . variabel bebas. perlakuan. variabel tergantung. dan prestasi belajar. jenis kelamin.

Desain ini . random replications desaigns. Desain ini cocok untuk digunakan bila pre test tidak mungkin dilaksanakan atau pre test mempunyai kemungkinan untuk berpengaruh pada perlakuan eksperimen. desain penelitian yang populer digunakan adalah sebagai berikut: a.menjawab pertanyaan penelitian. desain penelitian disebut desain eksperimental. treatment by levels desaigns. factorial designs. treatments by subjects desaigns. Nilai-nilai post test kemudian dibandingkan untuk menentukan keefektifan tretment. dan desain waktu. Dalam penelitian eksperimental. tiga kelompok eksperimen dan kontrol. Dalam penelitian eksperimen murni. Control Group Post test only design atau post tes kelompok kontrol Desain ini subjek ditempatkan secara random ke dalam kelompok-kelompok dan diekspose sebagai variabel independen diberi post test. Sutrisno Hadi (1982:441) mengkategorikan desain eksperimen menjadi enam yaitu simple randomaized. pasangan terhadap subjek. empat kelompok dengan 3 kelompok kontrol. random pre test post test. Desain eksperimen dirancang sedemikian rupa guna meningkatkan validitas internal maupun eksternal. Suharsimi Arikunto (1998:85-88) mengkategorikan desain eksperimen murni menjadi 8 yaitu control group pre-test post test. random terhadap subjek dengan pre test kelompok kontrol post test kelompok eksperimen. random terhadap subjek. Sedangkan Ibnu Hadjar (1999:327) membedakan desain penelitian eksperimen murni menjadi dua yaitu pre test post test kelompok kontrol dan post tes kelompok kontrol. dan groups within treatment designs.

satu diberi perlakuan eksperimental (kelompok eksperimen) dan yang lain tidak diberi apa-apa (kelompok kontrol).K – 2 Keterangan : KE : Kelompok Eksperimen KK : Kelompok Kontrol . b. Pada kelompok 1 dan 2 diberi pre test dan post test dan hanya kelompok 1 dan 3 yang dikenai perlakuan eksperimen. Pre test post test control group design atau pre tes post tes kelompok kontrol Desain ini melibatkan dua kelompok subjek. Kelemahannya adalah memerlukan subjek dua kali lipat jumlah subjek untuk desain eksperimen. c.akan lebih cocok dalam eksperimen yang berkaitan dengan pembentukan sikap karena dalam eksperimen demikian akan berpengaruh pada perlakuan. Desain penelitian eksperimen yang digunakan adalah sebagai berikut: Kelompok Pre-test Perlakuan Poast-test KE K – 1 metode speed reading K –2 KK K – 1 . Solomon four group design Desain ini menuntut penempatan subjek secara random kedalam empat kelompok. Dalam penelitian ini digunakan desain Pre Tes Post Test Control Group. Dari desain ini efek dari suatu perlakuan terhadap variabel dependen akan diuji dengan cara membandingkan keadaan variabel dependen pada kelompok eksperimen setelah dikenai perlakuan dengan kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.

Paradigma Kelompok Kontrol E. Paradigma Penelitian Kelinger (1993:484) mengartikan paradigma penelitian sebagai model relasi antara variabel-variabel dalam suatu kajian penelitian. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan menggunakan sampel random dengan sistem undian dengan maksud agar setiap kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1984:70) populasi penelitian adalah seluruh individu yang akan dikenai sasaran generalisasi dan sampel-sampel yang akan diambil dalam suatu penelitian. Paradigma Kelompok Eksperimen b. Paradigma dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut: a. Adapun tekniknya dengan mengundi . Populasi Penelitian Populasi penelitian menurut Suharsimi (1998:115) adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 31 Malalo kecamatan Batipuh kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. 3. Sampel Penelitian Sampel penelitian menurut Suharsimi (1998:117) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Populasi dan Sampel 1.K-1 : Pre Test K-2 : Post Test 2.

atau hal-hal yang ia ketahui. Dipandang dari bentuknya dibedakan menjadi empat yaitu angket pilihan ganda. dan bentuk rangking. Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. sehingga didapatkan satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Instrumen dan Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan cara atau jalan yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian. dan rating scale. daftar cek. Menurut Ibnu Hadjar (1999:184-88) menggolongkan angket menjadi empat yaitu angket terbuka dan tertutup. isian.gulungan kertas sejumlah kelas yang didalamnya tertulis nomor kelas. Tujuan digunakan angket dalam penelitian ini adalah untuk mengungkap minat belajar siswa baik sebelum dikenai treatmen maupun sesudah dikenai tretmen. 2. Berdasarkan cara menjawab dibedakan menjadi dua yaitu angket terbuka dan angket tertutup. . skala. F. Metode pengumpulan data dalam penelitian menurut Suharsimi (1998:138) secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non test. Sedangkan Suharsimi (1998:140-141) menggolongkan angket sebagai berikut: 1. Berdasarkan dari jawaban yang diberikan dibedakan menjadi dua yaitu angket langsung dan angket tidak langsung. check list. 3. Dalam penelitian ini menggunakan angket dalam pengumpulan data.

kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur. dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden 3. dapat dijawab oleh responden menurut kecepatan masing-masing. 4. walaupun dibuat anonim. 4. Adapun tujuan penggunaan angket dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui minat belajar siswa baik sebelum dikenai perlakuan ataupun sesudah dikenai perlakuan. dan menurut waktu senggang responden. Suharsimi (1998:142) juga mengemukakan kelemahan angket sebagai berikut: 1. Menurut Suharsimi (1998:141). Tidak memerlukan hadirnya peneliti 2. dapat dibuat terstandar sehingga semua responden dapat diberi pertanyaan yang benarbenar sama. dalam penelitian ini menggunakan angket tertutup dengan jawaban pilihan ganda. Selain memiliki kelebihan. seringkali tidak kembali 5. seringkali sukar dicari validitanya 3.Berdasarkan macam-macam angket diatas. Kisi- . responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak dijawab. bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat. kelebihan angket adalah sebagai berikut: 1. adahal sukar diulang kembali kepadanya 2. waktu pengembaliannya tidak bersama-sama. dapat dibuat anonim sehingga responden bebas jujur dan tidak malu-malu menjawab 5.

Mempunyai perhatian untuk menyelasaikan soal-soal pelajaran. Ketertarikan a. Mengetahui bahan belajar dengan rasa senang b. Ada ketertarikan untuk tahu terhadap bahan pelajaran b. yaitu wawancara. c. Ada ketertarikan untuk menyelesaikan soal-soal pelajaran. dan studi dokumentasi dengan instrumen pengumpulan data adalah peneliti sendiri. observasi. Ada ketertarikan untuk memahami bahan pelajaran 5 5 5 c. Menurut Sudjana dan Ibrahim (1989:201) bahwa “teknik observasi partisipan dan wawancara spontan merupakan teknik yang paling utama dalam . Mampu menyelesaikan soal-soal dengan rasa senang. 5 5 5 Dalam penelitian ini peneliti juga menggunakan tiga teknik pengumpulan data lainnya. Perhatian a. Mempunyai perhatian untuk memahami materi pelajaran c. Mempunyai perhatian untuk tahu terhadap bahan pelajaran b.Rasa Senang a.kisi angket minat belajar adalah sebagai berikut: Variable Indikator Jumlah Item a. 5 5 5 b. Memahami bahan belajar dengan rasa senang c.

1. peneliti berusaha memperhatikan dan merekamsebanyak mungkin aspek/elemen situasi sosial yang diobservasi sehingga mendapat gambaran umum masih berkisar pada apa yang tengah berlangsung pada suatu situasi sosial. penyaksian terhadap peristiwa dengan melihat. akan tetapi lebih dicermati secara mendetail atau terinci. guna memperoleh data terinci pada domain-domain tertentu yang telah dipilih untuk analasis taksonomis. Menurut W. observasi ini yaitu suatu kegiatan observasi yang telah disempitkan fokusnya. yaitu. (a) observasi deskriptif. Observasi Untuk mengumpulkan data di lapangan peneliti melakukan observasi langsung. Gulo (2003:115) “observasi adalah metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi yang mereka saksikan selama penelitian. observasi ini dilakukan atau dikembangkan untuk mendapatkan data informasi yang diperlukan untuk analisis komponsial: suatu analisis dalam penelitian kualitatif yang arahnya menegenai kontras-kontras antar set kategori (warga suatu domain) dalam berbagai dimensi yang mungkin saling berbeda antar set kategori yang satu dengan set kategori yang lainnya. ini dilakukan terutama untuk kebutuhan analisis taksonomi. (b) observasi terfokus yaitu observasi yang dilakukan sebagai kelanjutan dari ibservasi deskriptif. (c) observasi terseleksi. Wawancara dapat dilakukan secara spontan dengan observasi partisipan dan dapat pula secara sendiri”. pada tingkat observasi ini . . pada tahap ini observasi lebih terfokus pada tahap-tahap detil atau rincian-rincian suatu domain. observasi ini dilakukan pada tahap ekspolarasi umum. Pelaksanaan observasi peneliti dilakukan dengan tiga tahapan sebagaimana dikatakan Sanapiah faisal (1990:80).penelitian kualitatif. mendengar dan merasakan yang kemudian dicatat secara seobjektif mungkin”.

Selain wawancara terbuka dalam penelitian ini peneliti menetapkan bentuk wawancara terstruktur dimana peneliti menetapkan sendiri masalah dan aspek pertanyaan yang diajukan. Wawancara Wawancara digunakan dalam rangka memperoleh informasi verbal secara langsung dari informan. serta jenis observasi apapun yang dipergunakan. . Penetapan bentuk wawancara ini dipertegas oleh Moleong (2002:137) yang menyatakan bahwa “dalam penelitian kualitatif sebaiknya digunakan wawancara terbuka yang para subyeknya tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu”. 3. Pada pelaksanaan observasi peneliti mengumpulkan informasi dengan menggunakan alat tulis seperti buku. Studi Dokumentasi Pengumpulan data selain dengan observasi dan wawancara juga dapat dilakukan studi dokumentasi untuk mendapatkan informasi yang berkaitan administrasi. pena dan alat audio (tape recorder) serta alat visual (camera photo). dengan tujuan agar responden yang diwawancarai dapat mengetahui tujuan dari wawancara tersebut. Kegiatan bertanya pada diri sendiri akan dapat mengarahkan kegiatan observasi. Diwaktu yang bersamaan peneliti perlu menempatkan dirinya sebagai informan bagi dirinya.Pelaksanaan observasi tahap manapun dilakukan. 2. Berdasarkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian maka peneliti menetapkan bentuk wawancara yang digunakan adalah wawancara terbuka. dan inilah slah satu makna posisi peneliti sebagai instrumen penelitian. kondisi fisik. penelitian kualitatif dituntut untuk banyak bertanya pada diri sendiri.

Menurut Suharsimi (1998:160) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. pelaksanaan. Dalam penelitian ini untuk mengetahui validitas instrumen dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment Pearson sebagai berikut: dengan pengertian x : X. Data yang dikumpulkan dengan cara-cara ini adalah tentang guru. Validitas dan Reliabilitas Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliable. kondisi sosial pembelajaran pada kelas yang diajarkan. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi sedangkan instrumen yang kurang valid berarti memilili validitas rendah.X y:Y–Y X : skor rata-rata dari X Y : skor rata-rata dari Y Sedangkan di bagian lain Suharsimi (1998:170-171) menerangkan reliabilitas adalah instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen itu sudah baik.dan keadaan sosial dalam bentuk visual (data gambar). Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas instrumen digunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut: . Instrumen yang reliable berarti instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu mengungkap data yang bias dipercaya. G.

. Analisis Data Analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan analisis statistuk parametik yaitu suatu metode yang dibutuhkan asumsi tentang distribusi populasi.dengan keterangan: r11 : reliabilitas instrumen r1/21/2 : rxy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan instrumen H. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful