P. 1
Batas Kedaulatan Wilayah Udara

Batas Kedaulatan Wilayah Udara

|Views: 1,624|Likes:
Published by Permana Newbie

More info:

Published by: Permana Newbie on May 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2013

pdf

text

original

BATAS KEDAULATAN WILAYAH UDARA Apabila mempelajari Konvensi Chicago 1944 maka terlihat bahwa tidak ada satupun

pasal yang mengatur mengenai batas wilayah udara yang dapat dimliki oleh suatu negara bawah baik secara horisontal maupun secara vertikal. Untuk mengisi kekosongan hukum tersebut, hukum internasioal memberikan kepada para sarjana terkemuka untuk menggali dan mencari konsep-konsep hukum yang dapat digunakan sebagai landasan hukum. 1. BATAS KEDAULATAN WILAYAH UDARA SECARA HORISONTAL Seperti telah diketahui bahwa batas wilayah darat suatu negara adalah berdasarkan perjanjian dengan negara-negara tetangga, dan dengan demikian setiap negara memiliki batas kedaulatan di wilayah udara secara horisontal adalah sama dengan seluas wilayah darat negaranya, sedangkan negara yang berpantai batas wilayah negara akan bertambah yaitu dengan adanya ketentuan hukum yang diatur di dalam Article 3 United Nations Convention on the Law Of the Sea (1982) yang menyebutkan setiap negara pantai dapat menetapkan lebar laut wilayahnya sampai maksimum 12 mil laut yang diukur dari garis pangkal (base line). Gambar : Batas wilayah udara secara horisontal : Yaitu dengan cara luas daratan yang berdasarkan perjanjian perbatasan dengan negara tetangga dan ditambah dengan Pasal 3 Konvensi Hukum Laut 1982. Begitu pula dalam hal apabila laut wilayah yang berdampingan atau berhadapan dengan milik negara tetangga yang kurang dari 2 x 12 mil laut, maka penyelesaian masalah batas wilayah udara secara horisontal adalah melalui perjanjian antar negara tetangga seperti halnya dalam hukum laut internasional. Tetapi ada beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Kanada mengajukan secara sepihak untuk menetapkan jalur tambahan (contiguous zone) di ruang udara yang dikenal dengan istilah A.D.I.Z. (Air Defence Identification Zone) yaitu setiap pesawat udara yang terbang menuju negara Amerika Serikat atau Kanada dalam jarak 200 mil harus menyebutkan jati diri pesawat udara. Hal ini dilakukan untuk keamanan negara dari bahaya yang datang melalui ruang udara. 2. BATAS KEDAULATAN WILAYAH UDARA SECARA VERTIKAL Untuk menentukan batas kedaulatan di wilayah udara secara vertikal masih tetap menjadi permasalahan sampai dengan saat ini, karena perjanjian internasional, kebiasaan internasional, prinsipprinsip hukum umum dan yurisprudensi internasional yang mengatur tentang batas kedaulatan wilayah udara secara vertikal belum ada, maka beberapa sarjana terkemuka khususnya ahli hukum udara berusaha untuk membuat beberapa konsep (teori, ajaran atau pendapat) yang mungkin dapat digunakan sebagai landasan pembuatan peraturan tentang batas ketinggian kedaulatan negara di ruang udara, yaitu misalnya konsep dari : a) Beaumont dan Shawcross yang menyebutkan bahwa batas ketinggian kedaulatan negara di ruang udara adalah tidak terbatas. b) Cooper yang menyebutkan bahwa batas ketinggian kedaulatan negara di ruang udara adalah setinggi negara itu dapat menguasainya. c) Holzendorf yang menyebutkan bahwa batas ketinggian kedaulatan negara di ruang udara adalah setinggi 1000 meter yang ditarik dari permukaan bumi yang tertinggi. d) Lee yang menyebutkan bahwa batas ketinggian kedaulatan negara di ruang udara adalah sama

Dengan demikian pada waktu itu negara Indonesia tidak menganut pendapat Priyatna Abdurrasyid tetapi menganut pendapat Beaumont dan Showcross.I. maka banyak negara-negara di dunia melakukan secara sepihak menetapkan batas ketinggian wilayah udara nasionalnya seperti yang dilakukan oleh negara Amerika Serikat melalui Space Command menetapkan batas vertikal udara adalah 100 kilometer. Pendapat Priyatna Abdurrasyid ini pernah ditentang dengan adanya Pasal 30 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia yang menyebutkan bahwa “T.A. Mengenai batas wilayah di darat maupun di laut hampir sebagian besar telah dilakukan oleh negara Indonesia dengan negara-negara tetangga. dstnya”. selaku penegak kedaulatan negara di udara mempertahankan wilayah dirgantara nasional ……….N. (Geo Stationer Orbit). dasar laut dan tanah di bawahnya serta ruang udara di atasnya ditetapkan atas dasar perjanjian bilateral dan atau trilateral mengenai batas darat. Negara Australia di dalam Australian Space Treaty Act 1998 menetapkan batas ketinggian wilayah udaranya adalah 100 kilometer yang diukur dari permukaan laut.O. perairan. Pada Pasal 6 ayat 1 Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Pengelolaan Ruang Udara Nasional menyebutkan sebagai berikut : “Batas vertikal pengelolaan ruang udara nasional sampai ketinggian 110 (seratus sepuluh) kilometer dari konfiguarsi permukaan bumi”. Dengan tidak adanya ketentuan-ketentuan hukum internasional yang mengatur tentang batas ketinggian wilayah udara yang dapat dimiliki oleh negara bawah.dengan jarak tembakan meriam (canon theory). batas laut.U. dan batas udara serta berdasarkan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional”.. Kata dirgantara berarti mencakup ruang udara dan antariksa (ruang angkasa) termasuk G. Negara Korea Selatan mengusulkan dalam sidang UNCOPUOS 2003 bahwa batas ketinggian wilayah udara adalah antara 100 sampai dengan 110 kilometer. Sedangkan negara Indonesia pada Pasal 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan menyebutkan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia berdaulat penuh dan eksklusif atas wilayah udara Republik Indonesia”. . Negara Rusia mengusulkan dalam sidang UNCOPUOS 1992 batas ketinggian wilayah udara adalah antara 100 sampai dengan 120 kilometer. Dengan demikian dapat terlihat adanya ketidak seragaman konsep di antara para sarjana terkemuka ataupun oleh negara-negara dalam menentukan batas ketinggian wilayah udara yang dapat dimiliki oleh suatu negara bawah. f) Priyatna Abdurrasyid yang menyebutkan bahwa batas ketinggian kedaulatan negara di ruang udara adalah setinggi sebuah pesawat udara konvensional sudah tidak dapat lagi melayang. serta pada Pasal 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara disebutkan bahwa “batas wilayah negara di darat. tetapi tentang batas wilayah di udara secara vertikal belum ada baik itu dalam ketentuan hukum nasional maupun dalam perjanjian antar negara tetangga.S. e) Von Bar yang menyebutkan bahwa batas ketinggian kedaulatan negara di ruang udara adalah 60 meter dari permukaan bumi.

Dalam hal ini dimungkinkan kerjasama yang saling menguntungkan antar negara untuk mendelegasikan tanggung jawab ruang udaranya yang diberikan ke negara lain se-perti adanya pelayanan lalu lintas udara. patrol udara dan latihan militer disekitar Batam Tanjung Pinang dan Natuna se-ring terkendala akibat pengaturan ruang udara . Dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009 ketentuan tersebut di atas diadopsi menjadi Pasal 5. Dasar hukum pendelegasian ini adalah Annex 11 dari Konvensi Chicago 1944 tentang Air Traffic Services. sehingga akan menambah air time yang juga akan menambah biaya operasional pesawat. perairan kepulauan dan perairan pedalaman. Namun demikian pendelegasian ini tidak termasuk pendelegasian kedaulatan negara. Keberadaan FIR Singapura saat ini sesuai dengan Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of Singapore on the Realignment of the Boundary between the Singapore Flight Information Region and the Jakarta Flight Information Region tertanggal 21 September 1995. sosial budaya. Praktek atas ketentuan ini dikenal dengan nama Flight Information Regions (FIR). Pemerintah melaksanakan wewenang dan tanggung jawab pengaturan ruang udara untuk kepentingan penerbangan. Contoh lain bagi pesawat militer yang akan melakukan operasi. Dalam bagian umum ketentuan ini menjelaskan bahwa setiap negara anggota ICAO wajib menentukan bagian-bagian dari wilayah udaranya tempat pemberian pelayanan lalu lintas udara untuk kepentingan keselamatan. pertahanan dan keamanan negara. serta lingkungan udara. Sebagai contoh jalur penerbangan dari Tanjung Pinang ke Ranai atau sebaliknya tidak bisa terbang lurus. wilayah laut teritorial.Berdasarkan Hukum Internasional Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai kedaulatan yang penuh dan eksklusif di atas wilayah udara Indonesia. dimana sebagian wilayah udara NKRI masuk kedalam FIR Singapura. wilayah yang dimaksud adalah wilayah udara di atas daratan. Namun demikian tanggung jawab pengaturan ruang udara tersebut kenyataannya tidak semua ruang udara Indonesia diatur sendiri oleh Pemerintah Indonesia sebagai contoh ruang udara sekitar Tanjung Pinang dan Natuna yang dikendalikan oleh Singapura. Selanjutnya didalam Pasal 6 UU penerbangan tersebut dijelaskan bahwa bahwa dalam rangka penyelenggaraan kedaulatan negara atas wilayah udara Negara Kesatuan Republik Indonesia. karena pengendalian ruang udara tersebut ada pada Air Traffic Control Singapura (ATC Singapura). perekonomian nasional. Dengan demikian kewenangan penegakan hukumnya apabila terjadi pelanggaran kedaulatan tetap ada pada negara yang memiliki wilayah tersebut. Dalam pelaksanaannya telah banyak me-nimbulkan kendala baik dari penerbangan sipil Indonesia maupun pelaksanaan operasi dan penegakan hukum di wilayah sekitar Tanjung Pinang dan Natuna yang dilaksanakan baik oleh Komando Pertahanan Udara Nasio-nal maupun oleh TNI AL yang melaksanakan Operasi Maritim.

Hal ini tentu saja melukai rasa nasionalisme kita. dan sesuai dengan isi perjanjian bahwa. Perjanjian tersebut di atas telah diratifikasi berdasarkan Keppres No. 7 tahun 1996 oleh Pemerintah Indonesia tertanggal 2 Februari 1996. Selain itu. 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia belum didaftarkan ke Sekjen PBB. Telah ada upaya pengambil alihan sebagian FIR yang telah didelegasikan kepada Singapura. Namun yang menjadi kendala saat itu adalah Peraturan Pemerintah No. (*) ` . dan kedua perlu ada permintaan dari Indonesia bahwa. penempatan Liasion Officer (LO) dari Kohanudnas di ATS Singapura. sehingga perlu segera diambil langkah untuk menata ulang FIR Singapura yang menguntungkan kepentingan Indonesia. Saat ini. Dalam hal ini memang disayangkan bahwa. Namun dalam jangka pendek perlu diusulkan pertama. ATS Singapura harus memberikan prioritas bagi pesawat sipil dan militer Indonesia yang melaksanakan penerbangan di sekitar wilayah tersebut. Padahal ICAO mewajibkan adanya koordinasi antara militer dan Air Traffic Services (ATS) sesuai dengan amanat Annex 11 Konvensi Chicago 1944.oleh ATC Singapura yang semata-mata hanya mendahulukan kepenti-ngannya sendiri. Peraturan Pemerintah tersebut telah direvisi dan telah didaftarkan ke sekjen PBB. Komando Perta-hanan Udara Nasional (Kohanudnas) sebagai Komando Operasional TNI yang menyelenggarakan upaya pertahanan dan keama-nan terpadu atas wilayah udara nasional tersebut belum memiliki kerjasama antara ATC Singapura. perjanjian tersebut dapat ditinjau ulang setelah 5 (lima) tahun.UU penerbangan kita yang baru memberikan jangka waktu yang sangat lama yaitu paling lambat 15 (lima belas) tahun untuk mengevaluasi dan akhirnya harus sudah dilayani oleh lembaga penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan nasional.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->