BAB I PENDAHULUAN

Dewasa ini, bangsa Indonesia dan juga bangsa-bangsa lainnya tengah memasuki era globalisasi dimana akan terjadi integrasi ekonomi dunia dan faktor-faktor produksi akan sangat dibutuhkan. Faktor-faktor produksi tersebut akan mengalir dan didistribusikan dari satu negara ke negara lainnya. Hal itu akan menyebabkan semakin menyatunya perekonomian dunia sehingga akan terjadi perkembangan transaksi internasional. Semakin berkembangnya transaksi internasional dapat membawa dampak positif dan negatif pada suatu bangsa. Dampak positifnya adalah dapat meningkatnya penerimaan suatu negara, yang antara lain bersumber dari sektor pajak. Transaksi internasional akan mengakibatkan

meningkatnya penerimaan pajak sehingga akan memberikan kontribusi yang besar untuk menggerakkan perekonomian di dalam negeri. Dampak negatifnya adalah dapat terjadinya permasalahan di antara negara-negara yang melakukan transaksi internasional karena adanya perbedaan tarif pajak, perbedaan pemberian fasilitas perpajakan, dan juga perbedaan perencanaan pajak. Permasalah tersebut antara lain dapat menimbulkan terjadinya pengenaan pajak berganda atas objek pajak yang sama yang timbul dari transaksi internasional atau pengenaan pajak berganda terhadap subjek pajak yang sama. Oleh karena itu, pihak-pihak yang sering melakukan transaksi internasional berupaya untuk melakukan penghindaran pajak berganda karena apabila tidak segera ditangani, akan mengakibatkan masalah terhadap perkembangan transaksi internasional atau berkurangnya serta hilangnya potensi penerimaan negara dari sektor pajak. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan dibuatnya kesepakatan tax treaty. Tax treaty adalah perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka meminimalisir pemajakan berganda dan berbagai usaha penghindaran pajak. Perjanjian ini digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan aspek perpajakan yang timbul dari suatu transaksi di antara mereka. Penentuan aspek perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan ayat-ayat yang terdapat dalam tax treaty yang bersangkutan sesuai jenis transaksi yang sedang dihadapi. Setiap tax treaty mempunyai prinsip-prinsip dasar yang kurang lebih sama, sebagai bagian dari konvensi internasional di mana setiap negara yang terlibat dalam suatu tax treaty menyusun treaty-nya masing-masing berdasarkan model-model perjanjian yang diakui secara internasional. Di dunia ini, ada dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun suatu treaty yaitu model OECD dan model PBB (UN Model).

modal dan investasi antar negara sehingga pada akhirnya dapat dicapai kesejahteraan suatu negara karena sumber daya dialokasikan secara efisien. Selain itu. Oleh sebab itu. Selain untuk mencegah pengenaan pajak berganda. Pasal-pasal atau ayat-ayat yang terdapat dalam sebuah tax treaty pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang mengungkapkan cakupan tax treaty. Pasal 15 mengenai layananpersonal yang dependen) dengan pasal yang . adanya P3B dimaksudkan terutama untuk menghilangkan pajak berganda (double tax). istilah dan pengertian inilah yang menjadi lebih penting untuk dipahami setiap pihak khususnya berkaitan dengan kepentingan dalam praktek bisnis sehari-hari. Sebagaimana telah disinggung di atas. sebagai suatu perjanjian. Jika tujuan-tujuan tersebut tercapai tentu saja pada akhirnya P3B dapat menghilangkan hambatan dalam lalu lintas perdagangan. bagian tentang pencegahan penghindaran pajak dan bagian yang mencakup hal-hal lainnya.Tax treaty juga memiliki makna suatu persetujuan internasional yang disepakati antar negara dan dibuat sesuai hukum internasional atau merupakan suatu persetujuan antara dua negara atau lebih dengan membagi hak untuk mengenakan pajak atas suatu penghasilan yang berasal dari suatu negara. istilah dan pengertian yang sering disebutkan dalam suatu tax treaty. bagian yang mengatur minimalisasi pengenaan pajak berganda. di dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai Perpajakan Internasional dan mengenai perbedaan antara beberapa pasal dalam UN Model (Pasal 4 mengenai kependudukan. Melihat definisi tersebut maka inti dari suatu persetujuan penghindaran pajak berganda (P3B) adalah pembagian hak pemajakan antar negara. Pasal 14 mengenai layanan personal yang independen. Pajak berganda ini timbul karena dua negara mengenakan pajak atas penghasilan yang sama. Berbagai definisi. P3B tidak menimbulkan jenis pajak baru dan tidak mengatur tarif pajak. Oleh karena itu. tax treaty adalah kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Semua bagian itu cenderung lebih mudah dipahami dari pada berbagai definisi. di dalamnya selalu berisi pasal-pasal dan ayat-ayat yang berkaitan dengan suatu aspek transaksi dan pihak tertentu. hak pemajakan suatu negara akan dibatasi oleh P3B. P3B hanya akan mengatur pembagian hak pemajakan sehingga nantinya atas beberapa jenis penghasilan. untuk dapat mempelajarinya lebih lanjut. P3B juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penghindaran pajak (tax avoidance) dan pengelakan pajak (tax evasion).

Hal ini disebabkan karena Pajak Penghasilan . Di samping itu. Pada umumnya hampir semua orang atau badan di Indonesia akan memenihi syarat subjektif dan jika orang atau badan ini memperoleh penghasilan maka syarat objektif juga terpenuhi. Aspek pajak internasional juga akan terjadi bila seorang WNI atau badan Indonesia menerima atau memperoleh penghasilan dari luar negeri. Namun demikian. Australia. Jika subjek pajak yang dikenakan pph adalah WNI yang penghasilannya berasal dari Indonesia juga. Belanda. Jepang dan Singapura. maka tidak ada aspek pajak internasional dalam kasus ini. Fungsi dari pajak yang ditarik oleh pemerintah ini utamanya adalah untuk membiayai kegiatan pemerintahan dalam rangka menyediakan barang dan jasa publik yang diperlukan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pajak Penghasilan adalah pajak subjektif di mana jenis pajak ini bisa dikenakan apabila syarat subjektif dan objektif terpenuhi bagi orang atau badan. Dalam kasus seperti ini. Aspek Perpajakan Internasional Dalam Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia sebagai Negara berdaulat memiliki hak untuk membuat ketentuan tentang perpajakan. karena definisi subjek pajak tidak dikaitkan dengan kewarganegaraan maka terdapat kemungkinan ada warga Negara asing atau badan asing yang dikenakan kewajiban Pajak Penghasilan di Indonesia. yaitu Amerika. pajak juga berfungsi untuk mengatur perilaku warga Negara untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.sama didalam Tax Treaty Indonesia dengan lima negara. Pajak Penghasilan sudah menyentuh aspek pajak internasional. Salah satu jenis pajak yang berlaku di Indonesia dan memiliki peranan penting dalam penerimaan negara adalah Pajak Penghasilan (pph) yang pertama kali diberlakukan pada tahun 1984 berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983.

Dalam paragra-paragraf berikut saya coba untuk menjelaskan ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang Pajak Penghasilan (UU Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU Nomor 36 Tahun 2008). dan suatu tahun pajak tidak berada di Indonesia dan tidak mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. SPLN yang mendapatkan penghasilan dari Indonesia tidak melalui BUT di Indonesia. orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. SPLN adalah kebalikan dari SPDN dalam arti orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. SPLN yang berbentuk badan adalah badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. SPDN Orang Pribadi adalah orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia. Bentuk Usaha Tetap . SPLN ini terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah SPLN yang mendapatkan penghasilan dengan memiliki tempat usaha tetap di Indonesia. Tempat usaha tetap ini biasa disebut Bentuk Usaha Tetap (BUT). SPDN terdiri dari SPDN Orang Pribadi dan SPDN Badan. tidak berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. Kedua. dikenal dua jenis subjek pajak yaitu subjek pajak dalam negeri (disingkat SPDN) dan subjek pajak luar negeri (SPLN). Sementara itu SPDN Badan adalah badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. Nah. Kedua kelompok di atas (SPLN Orang Pribadi dan SPLN Badan) baru bias disebut SPLN jika memdapatkan penghasilan yang bersumber dari Indonesia. Kedua bentuk SPLN ini selanjutnya disebut SPLN BUT dan SPLN Non BUT. dilihat dari cara mendapatkan penghasilannya dari Indonesia. Subjek Pajak Luar Negeri Dalam pengenaan Pajak Penghasilan.Indonesia menerapkan prinsip worldwide income sehingga penghasilan dari luar negeri di atas juga merupakan objek Pajak Penghasilan Indonesia.

penjualan barang. perikanan. atau proyek perakitan. peternakan. disewa. atau peralatan otomatis yang dimiliki.Bentuk usaha tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh SPLN (baik orang pribdai atau badan) untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. 1. sebagaimana di dalam Pasal 5 ayat (1) UU pph. atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia . pertambangan dan penggalian sumber alam. dan komputer. gudang dan komputer atau agen elektronik atau peralatan otomatis (automated equipment) yang dimiliki. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas. proyek konstruksi. agen elektronik. bengkel. pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain. atau kehutanan. terdiri dari tiga jenis yaitu . Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin. Penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai. gedung kantor. agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia. 2. kantor perwakilan. perkebunan. Penghasilan BUT Penghasilan yang menjadi objek pajak bagi BUT. instalasi. peralatan. Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet. gudang. pertanian. Perwujudan BUT dapat berupa tempat kedudukan manajemen. sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. disewa. wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan. ruang untuk promosi dan penjualan. atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha melalui internet. pabrik. cabang.

Tidak ada definisi kelas tentang hubungan efektif ini namun demikian. Penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat. Penghasilan yang ketiga merupakan penerapan atribusi karena hubungan efektif di mana jika kantor pusat BUT menerima atau memperoleh penghasilan berupa bunga. dividend dan royalty dari suatu perusahaan di Indonesia dan perusahaan ini mempunya hubungan efektif dengan BUT. tetapi karena berasal dari penjualan atau pemberian jasa yang sejenis dengan yang dilakukan BUT. hubungan yang efektif ini bisa digambarkan sebagai hubungan ketergantungan atau hubungan yang saling menguntungkan antara BUT dan perusahaan yang memberikan dividen. bunga atau royalty kepada kantor pusat BUT. maka penghasilan ini akan diatribusi juga kepada BUT di Inonesia. Sementara itu berdasarkan Pasal 5 ayat (3) biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap. maka penghasilan ini ditarik sebagai penghasilan BUT nya di Indonesia. sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud Penghasilan BUT yang pertama adalah penghasilan sebenarnya BUT dari harta yang dimiliki atau dikuasainya di Inonesia. Berdasarkan Pasal 5 ayat (2) UU pph.3. biaya bagi BUT juga diatur dalam Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 5 ayat (3) UU pph. Witholding Tax pph Pasal 26 . yang besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. biaya-biaya yang terkait dengan penerapan force of attraction rule dan atribusi hubungan efektif dapat dibiayakan oleh BUT. Penghasilan yang kedua merupakan penerapan force of attraction rule di mana walaupun penghasilan ini adalah penghasilan kantor pusat BUT di luar negeri. Biaya BUT Selain tunduk kepada ketentuan umum tentang pengurang sebagaimana diatur dalam Pasal 6 dan Pasal 9 UU pph.

jenis penghasilan yang menjadi objek withholding tax pph Pasal 26 ini adalah : 1. Penghasilan Branch Profit Tax dari BUT. Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia dikenai pajak sebesar 20%. Penghasilan Dengan Tarif 20% dari Perkiraan Penghasilan Neto. Pasal ini mengatur bahwa atas pajak yang terutang . Kata-kata “dari luar Indonesia” inilah yang menjadikan prinsip pengenaan pph kepada SPDN menjadi berdimensi internasional. royalty. sewa. besar kemungkinan akan terjadi pengenaan pajak berganda di mana dua yurisdiksi perpajakan yang berbeda mengenakan pajak kepada penghasilan yang sama yang diperoleh subjek pajak yang sama. Negara tempat sumber penghasilan di atas juga kemungkinan besar akan mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negaranya. uang pension. imbalan sehubungan dengan pekerjaan. Penghasilan Dengan Tarif 20% dari bruto. premi swap dan keuntungan pembebasan hutang. Dengan demikian. UU pph secara unilateral memberikan solusi dengan adanya Pasal 24 UU pph. jasa dan kegiatan.Penghasilan yang diterima atau diperoleh SPLN yang tanpa melalui BUT di Indonesia merupakan objek pemotongan pph Pasal 26. Dilihat dari cara pemotongannya. hadiah dan penghargaan. Penghasilan yang termasuk kelompok ini adalah dividen. kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia Prinsip Worlwide Income Prinsip worldwide income pada UU pph biss kita temui pada Pasal 4 ayat (1) UU pph di mana ditegaskan bahwa penghasilan yang menjadi objek pph ini bisa berasal dari Indonesia maupun berasal dari luar Indonesia. 2. SPDN yang memperoleh penghasilan dari luar negeri akan dikenakan pph di Indonesia. Kredit Pajak Luar Negeri pph Pasal 24 Terkait dengan prinsip worldwide income di atas. Untuk menghindari pengenaan pajak berganda ini. 3. Termasuk dalam kelompok ini adalah penghasilan dari penjualan atau pengalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3c) UU pph. bunga. Termasuk dalam kelompok ini adalah capital gain atas penjualan atau pengalihan harta di Indonesia dan premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri.

Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak 4. dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga. Dalam menghitung besarnya maksmum kredit pajak pph Pasal 24 ini. Keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap berada 8. Penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan 6. Penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan pertambangan adalah negara tempat lokasi penambangan berada 7. Keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Dengan tujuan untuk menghilangkan pengenaan pajak berganda internasional dan juga untuk mencegah terjadinya penghindaran pajak (tax avoidance). Masalah ini diatur dalam Pasal 24 ayat (3) UU pph di mana penentuan Negara sumber penghasilan ditentukan sebagai berikut : 1.atau dibayar di luar negeri dapat dikreditkan oleh Wajib Pajak dalam negeri. dan kegiatan adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada 5. royalti. atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada 3. UU pph menerapkan metode pembatasan tiap negara (per country limitation). Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan 2. . royalti. diperlukan suatu perjanjian perpajakan dengan Negara lain. besarnya pajak yang bisa dikreditkan dibatasi tidak boleh melebihi penghitungan pajak terutang berdasarkan UU pph. Penghasilan berupa bunga. pekerjaan.Namun demikian. Untuk itu maka penentuan Negara sumber penghasilan menjadi penting. Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa.

Salah satu upaya untuk meminimalkan beban tersebut adalah dengan melakukan penghindaraan pajak berganda internasional. telah memberikan mandat kepada pemerintah untuk melakukan perjanjian dengan Negara lain. dikenakan pajak yang sama. Tujuan Kebijakan Perpajakan Internasional Untuk memajukan perdagangan antar negara. pemerintah berusaha untuk meminimalkan pajak yang menghambat perdagangan dan investasi tersebut. Sehingga baik investor dari dalam negeri atau luar negeri akan dikenakan tarif pajak yang sama bila berinvestasi di suatu negara. Hal ini melandasi hak pemajakan yang sama denagn Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN) terhadap permanent establishment (PE) atau Badan Uasah Tetap (BUT) yang dapat berupa cabang perusahaan ataupun kegiatan jasa yang melewati time-test dari peraturan yang berlaku. Capital Import Neutrality (Netralitas Pasar Internasional): Darimanapun investasi berasal. Dengan demikian. Sehingga tidak ada bedanya bila kita berinvestasi di dalam atau luar negeri. Dalam penjelasan Pasal 32A UU pph yang mengatur hal ini dijelaskan bahwa perjanjian perpajakan berlaku sebagai perangkat hukum yang berlaku khusus (lex-spesialis). beban pajaknya lebih besar karena menanggung pajak dari dua negara. beban pajak yang dibayar haruslah sama. mendorong laju investasi di masing-masing negara. 2. Maka jangan sampai bila berinvestasi di luar negeri. Teori Apakah prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam perpajakan internasional? Doernberg (1989) menyebut 3 unsur netralitas yang harus dipenuhi dalam kebijakan perpajakan internasional: 1. Hal ini akan melandasi UU pph Psl 24 yang mengatur kredit pajak luar negeri.Undang-undang pph. ketentuan dalam UU Pajak Penghasilan tidak berlaku jika di dalam perjanjian perpajakan diatur lain. Capital Export Neutrality (Netralitas Pasar Domestik): Kemanapun kita berinvestasi. .

Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda/P3B): yaitu perjanjian antara 2 negara untuk menghindari pajak berganda untuk memajukan investasi antara 2 negara tersebut. mempunyai bagian pajak atas penghasilan yang sama. Hasil atau Isi Mengapa terjadi perpajakan berganda internasional? Perpajakan berganda terjadi karena benturan antar klaim perpajakan. Penghasilan cabang di jepang dikenakan pajak oleh fiskus Jepang. Bentokran klaim lebih diperparah bila terjadi dual residen. Hal ini membuat suatu penghasilan dikenakan pajak dua kali. Biasanya negara sumber hanya berhak memajaki penghasilan dari . Lalu di Indonesia penghasilan itu digabung dengan penghasilan dalam negeri lalu dikalikan tarif pajak UU domestik Indonesia. A dianggap WPDN oleh Indonesia dan juga Singapura sehingga untuk wajib melapor dan membayar pajak untuk penghasilan globalnya pada Indonesia maupun Singapura.3. Selain itu. National Neutrality: Setiap negara. dimana terdapat dua negara samasama mengklaim seorang subjek pajak sebagi wajib pajak dalam negerinya yang menyebabkan ia terkena pemajakan global dua kali. Hal ini karena adanya prinsip perpajakan global untuk wajib pajak dalam negeri (global principle) dimana penghasilan dari dalam luar negeri dan dalam negeri dikenakan pajak oleh negara residen (negara domisili wajib pajak). Misalnya: Mr. Apa saja upaya untuk menghindari perpajakan berganda internasional? 1. Mr. Sehingga bila ada pajak luar negeri yang tidak bisa dikreditkan boleh dikurangkan sebagai biaya pengurang laba. Untuk active income. A bekerja di Indonesia lebih dari 183 hari namun setiap sabtu dan minggu ia pulang ke rumahnya di Singapura. pertama oleh negara residen lalu oleh negara sumber Misalnya: PT A punya cabang di Jepang. terdapat pemajakan teritorial (source principle) bagi wajib pajak luar negeri (WPLN) oleh negara sumber penghasilan dimana penghasilan yang bersumber dari negara tersebut dikenakan pajak oleh negara sumber.

di Singapura 25%. bunga dan royalti. . pengawasan pajak longgar telah membuat penerimaan pajak dari negara-negara berkembang merosot tajam. Treaty Shopping: Fasilitas di tax treaty justru bukannya menghindarkan pajak berganda namun malah memberi kesempatan bagi subjek pajak untuk tidak dikenakan pajak dimanamana.650/KMK04/1994 antara lain Argentina. Di Indonesia. membiayakan biaya-biaya lebih besar daripada harga yang wajar. Mauritius. sehingga laba PT A berkurang.cabang (BUT) dan penghasilan dari aset tak bergerak yang berhasil dari negara sumber tersebut. Misalnya: tarif pajak di Indonesia 28%. Misalnya: Investasi SBI di bursa singapura dibebaskan pajak. Untuk passive income seperti deviden. PT A punya anak perusahaan B Ltd di Singapura. Transfer Pricing: Kegiatan ini adalah mentransfer laba dari dalam negeri ke perusahaan dengan hubungan istimewa di negara lain yang tarif pajaknya lebih rendah. Saudi Arabia. Tax Heaven Countries: Negara-negara yang memberikan keringanan pajak secara agresif seperti tarif pajak rendah. Hal bisa juga dilakukan dengan PT A menjual rugi (mark down) barang dan jasa (harga jual di bawah ongkos produksinya) ke B Ltd. Hal ini dapat dilakukan dengan membayar harga penjualan yang lebih rendah dari harga pasar. maka laba di PT A dapat digeser ke B Ltd yang tarifnya lbh kecil dengan cara B ltd meminjamkan uang dengan bunga yang besar. penghitungan utang sebagai modal dan DER (Debt Equity Ratio). Treaty Shopping diredam dengan ketentuan beneficial owner (penerima manfaat) dalam tax treaty (P3B) baik yang memakai model OECD maupun PBB sehingga tax treaty hanya berlaku bila penerima manfaat yang sebenarnya adalah residen di negara yang menandatangani tax treaty. memang pendapatan B Ltd bertambah namun tarif pajaknya lebih kecil. 3. 2. Kredit Pajak Luar Negeri: Yaitu jumlah pajak yang dibayarkan di luar negeri dapat dijadikan pengurang pajak penghasilan secara keseluruhan. thin capitalization (memperbesar utang dengan beban bunga untuk mengurangi laba). kedua negara berhak memajaki namun terdapat pengurangan tarif. Bahrain. Hongkong. Bila ekspor-impor biasa tanpa BUT maka negara sumber tidak bisa memajaki. Di Indonesia diatur dalam UU pph pasal 24. Penghasilan pegawai hanya boleh dipajaki bila melewati time-test atau dibayar oleh WPDN ataupun BUT. 2. Dimana kredit pajak luar negeri hanya sebatas: Penghasilan LN/(Semua penghasilan LN dan DN) x pph terutang untuk semua penghasilan Apa saja masalah-masalah dalam perpajakan internasional? 1. transfer pricing dicegah dalam UU pph pasal 18 dimana pihak fiskus berhak mengkoreksi harga transaksi. Negara tax heaven yang termasuk dalam KMK No.

Caymand Island. Saat ini negara tax heaven sedang dimusuhi dunia internasional.wordpress. Analisis Hasil Jurnal Perpajakan Internasional merupakan alat untuk mengetahui perbedaan pajak dalam negeri dan memajukan perdagangan antar negara. Sumber Prof. Gunadi. dll. Berinvestasi di negara tax heaven beresiko besar terkena koreksi UU pph Pasal 18. Lebih baik berinvestasi pada negara dengan tax treaty. LPFEUI Http://natanedan.com/2009/12/08/sekilas-tentang-pemajakan-internasional-olehnany-ariany/ . mendorong laju investasi di masing-masing negara. Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam Perpajakan Internasional menurut Doernberg (1989) menyebut 3 unsur netralitas yang harus dipenuhi dalam kebijakan perpajakan internasional yaitu Capital Export Neutrality (Netralitas Pasar Domestik). 2007. Capital Import Neutrality (Netralitas Pasar Internasional) dan National Neutrality. pengawasan tax avoidance (penghindaran pajak) di negara-negara tersebut sedang gencargencarnya. Pajak Internasional. pemerintah berusaha untuk meminimalkan pajak yang menghambat perdagangan dan investasi tersebut.