ANALISIS PENGGUNAAN GAYA BAHASA DALAM CERPEN “TERIMA KASIH, BU TUTI!

” KARYA DARWIS KHUDORI Oleh : SUGENG RIANTO
ABSTRAK ——————. Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Cerpen “Terima Kasih, Bu Tuti!” Karya Darwis Khudori. Skripsi, —————————– Kata-kata Kunci : analisis, majas, cerpen Gaya Bahasa atau disebut juga majas sebagai unsur pembangun wacana pada karya sastra mempunyai peranan sangat penting karena di situlah letak salah satu daya tarik karya sastra agar tidak menjemukan. Menganalisis majas merupakan salah satu kegiatan apresiasi sastra yang dapat memberikan gambaran secara rinci tentang teknik penggunaan majas yang terdapat dalam suatu cerpen atau cerita pendek. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang penggunaan (1) majas perbandingan, (2) majas pertentangan, (3) majas sindiran, dan (4) majas penegasan. Sumber data penelitian ini adalah Cerpen “Terima Kasih, Bu Tuti!” Dalam Kumpulan Cerpen Orang-Orang Kotagede karya Darwis Khudori, 2000. Dan wujud datanya terdapat di dalam cerpen tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi dokumentasi, yaitu penelitian yang mendeskripsikan hasil analisis majas yang terdapat dalam Cerpen Terima Kasih, Bu Tuti! Karya Darwis Khudori. Berdasarkan analisis data penggunaan majas diketahui sebagai berikut : (1) Penggunaan majas perbandingan dalam Cerpen Terima Kasih, Bu Tuti! Karya Darwis Khudori sebanyak 22 kali, yaitu (a) majas metafora sebanyak 8 kali, (b) majas personifikasi sebanyak 2 kali, (c) majas hiperbola sebanyak 3 kali, (d) majas eufemisme sebanyak 5 kali, majas antonomasia sebanyak 1 kali, (e) majas tropen sebanyak 1 kali, dan (f) majas alusio sebanyak 1 kali. (2) Penggunaan majas pertentangan dalam Cerpen Terima Kasih, Bu Tuti! Karya Darwis Khudori sebanyak 2 kali yaitu majas paradoks. (3) Penggunaan majas sindiran dalam Cerpen Terima Kasih, Bu Tuti! Karya Darwis Khudori sebanyak 9 kali yaitu (a) majas ironi sebanyak

2 kali, (b) majas sinisme sebanyak 6 kali, dan (c) majas sarkasme sebanyak 1 kali. (4) Penggunaan majas penegasan dalam Cerpen Terima Kasih, Bu Tuti! Karya Darwis Khudori sebanyak 51 kali yaitu (a) majas pleonasme sebanyak 2 kali, (b) majas eksklamasi sebanyak 33 kali, (c) majas tautologi sebanyak 1 kali, (d) majas repetisi sebanyak 7 kali, (e) majas retoris sebanyak 5 kali, (f) majas klimaks sebanyak 2 kali, dan (g) majas antiklimaks sebanyak 1 kali. Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam Cerpen “Terima Kasih, Bu Tuti!” Karya Darwis Khudori menggunakan majas atau sebanyak 4 jenis yaitu (1) majas perbandingan, (2) majas pertentangan, (3) majas sindiran, dan (4) majas penegasan. Saran yang dianjurkan berkaitan hasil penelitian ini adalah agar pembelajaran sastra terhadap unsur majas atau gaya bahasa dapat diajarkan dengan sebaik-baiknya kepada siswa dalam menggairahkan kegiatan apresiasi sastra Indonesia, di samping unsur-unsur karya sastra yang lain. Penulis

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Hasil karya sastra sebagai bagian dari budaya pada dasarnya merupakan ciptaan manusia dengan menggunakan media bahasa. Menilik asal-usul kata kesusastraan, yakni su dan sastra; su berarti baik dan sastra berarti tulisan atau karangan; sehingga batasan kesustraan sebagai karangan yang menyiratkan hal-hal yang baik atau hal-hal yang indah, dalam hal ini mencakup segala aspek kehidupan seperti masalah kebenaran, keharmonisan, nilai-nilai kemanusiaan, kearifan, dan lain sebagainya. Kebenaran dan keindahan yang terkandung dalam sastra sesuai dengan nilai-nilai yang disampaikan pengarangnya, sehingga hasil karya sastra mampu mengajarkan kearifan menghadapi realitas kehidupan dan mendewasakan pembacanya. Dalam batasan pengertian bahwa sastra sebagai karangan atau susunan bahasa, maka bahasa sastra diolah sedemikian menarik dan mampu mewujudkan daya pikat terhadap pembacanya meskipun kadang-kadang untuk mengkaji kandungan karya sastra membutuhkan waktu pemahaman relatif lama. Boulton dalam (Aminuddin, 2004:37) mengungkapkan bahwa cipta sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberi kepuasan batin pembacanya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin, baik berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik maupun berbagai problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini.

(2) majas pertentangan.3 Batasan Masalah Penelitian ini membatasi pada salah satu unsur intrinsik yakni penggunaan gaya bahasa/majas dalam cerpen Terima Kasih. latar. (3) majas sindiran. Mengapresiasi hasil karya sastra diperlukan suatu kepekaan. Bertolak dari tujuan yang akan diapresiasi. gaya bahasa/majas. (3) pendekatan analisis. mengajuk perasaan dan menimbulkan daya pikat tersendiri bagi pembacanya. kiranya akan mampu memperluas wawasan apresiatif bagi guru pengajar bahasa dan sastra Indonesia. Majas atau figurative language merupakan bahasa kias atau gaya bahasa sebagai cara pengarang untuk menuangkan ide-ide gagasan kreatif yang mampu membangkitkan imajinasi. guru pengajar bahasa dan sastra Indonesia sebagai praktisi dalam dunia pendidikan. 2004: 46). Pemilihan judul ini didasarkan atas pertimbangan bahwa analisis penggunaan gaya bahasa merupakan salah satu kegiatan mengapresiasi karya sastra dan diharapkan penelitian ini dapat memberi gambaran secara lebih rinci tentang teknik mengapresiasi penggunaan gaya bahasa yang terdapat pada cerpen. mengembangkan pikiran. 1. Hal ini bila dikaitkan dengan kompetensi guru sesuai kapasitasnya dalam pembelajaran apresiasi sastra. pemahaman. alur. Melalui berbagai aktivitas sastra termasuk kajian pustaka.2 Jangkauan Masalah Karya sastra yang sarat muatan nilai-nilai yang amat bermanfaat bagi peningkatan harkat dan martabat kehidupan. Bu Tuti!. dan (4) majas penegasan. dan unsur ekstrinsik adalah faktor-faktor yang mempengaruhi proses terlahirnya suatu karya sastra. Bertolak dari pemikiran inilah yang mendorong peneliti melakukan riset yang sengaja dikhususkan menganalisis penggunaan gaya bahasa/majas dalam cerpen Terima Kasih. kegiatan mengapresiasi karya sastra bisa dilakukan melalui sejumlah pendekatan meliputi (1) pendekatan parafrastis. Permasalahannya. dan penafsiran yang luas. untuk mendalami kandungan baik secara intrinsik dan secara ekstrinsik diperlukan suatu kajian apresiasi dengan cara menganalisisnya. termasuk cerita pendek atau cerpen adalah gaya bahasa atau majas. .Salah satu unsur yang menarik dalam karya sastra. dan (6) pendekatan didaktis (Aminuddin. Unsur intrinsik terdiri atas tema. tokoh. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. 1. (4) pendekatan historis. Hasil yang diharapkan setelah penelitian ini adalah adanya peningkatan kegairahan dalam kegiatan mengapresiasi suatu karya sastra khususnya mengenai analisis penggunaan gaya bahasa/majas. karya Darwis Khudori. Karena bahasa sastra sebagai karya prosa fiksi selalu mengundang berbagai interpretasi. (5) pendekatan sosiopsikologis. dewasa ini belum seluruhnya memiliki kemampuan yang memadai untuk mengantarkan peserta didik sesuai tuntutan kebutuhan kompetensi siswa. (2) pendekatan emotif. Gaya bahasa/majas yang dianalisis meliputi (1) majas perbandingan.

Bagaimanakah ragam majas perbandingan yang terdapat dalam cerpen Terima Kasih. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. Bagaimanakah ragam majas pertentangan yang terdapat dalam cerpen Terima Kasih.1.2 Tujuan Khusus Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang obyektif tentang : 1. 2. masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Ragam majas sindiran yang terdapat dalam cerpen Terima Kasih. Bu Tuti! karya Darwis Khudori.3. Ragam majas pertentangan yang terdapat dalam cerpen Terima Kasih. Ragam majas penegasan yang terdapat dalam cerpen Terima Kasih.3. 4. 1. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. Bu Tuti! karya Darwis Khudori? 2. Bagaimanakah ragam majas penegasan yang terdapat dalam cerpen Terima Kasih. Bu Tuti! karya Darwis Khudori.3 1. Bu Tuti! karya Darwis Khudori? 1. Bu Tuti! karya Darwis Khudori? 4. Ragam majas perbandingan yang terdapat dalam cerpen Terima Kasih. Bu Tuti! karya Darwis Khudori? 3.4 Asumsi Dalam penelitian ini dipakai dua asumsi sebagai berikut : . 1.1 Rumusan Masalah Berdasarkan pembatasan di atas. Bu Tuti! karya Darwis Khudori.1 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh deskriptif yang obyektif tentang penggunaan majas dalam cerpen Terima Kasih. Bagaimanakah ragam majas sindiran yang terdapat dalam cerpen Terima Kasih. 3.2.

4. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. 1. a) Bagi Penelitian Selanjutnya Sebagai dasar penelitian lebih lanjut. 2) Kajian telaah yang terdapat dalam cerpen Terima Kasih.5 Manfaat Penelitian 1. 3. 1. b) Sebagai bahan yang perlu dikaji kebenarannya tentang teori yang disusun oleh peneliti agar sesuai dengan hasil penelitian yang diharapkan. Bagi Pengajaran Bahasa Indonesia Dengan hasil penelitian ini agar dapat meningkatkan kemampuan apresiasi siswa dalam menganalisis suatu cerpen atau hasil karya sastra yang lain. 2. c) Mengetahui penggunaan gaya bahasa/majas dalam cerpen Terima Kasih. Analisis adalah istilah yang berasal dari bahasa Inggris analysis yang berarti menguraikan sesuatu. . 1. Bagi Peneliti a) Sebagai bekal pengalaman di bidang penelitian yang berhubungan dengan penggunaan majas/gaya bahasa dalam suatu karya sastra berupa cerpen. Bagi Institut Dengan adanya penelitian ini berarti pihak lembaga dapat menambah koleksi kepustakaan ilmiah yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. b) Sebagai dasar penelitian yang serupa di masa mendatang. Bu Tuti! karya Darwis Khudori dapat dilakukan dengan pendekatan struktural/formal.1) Majas merupakan salah satu penanda formal dalam cerpen yang dapat ditelaah secara ilmiah. termasuk menguraikan unsur-unsur dalam struktur karya sastra.6 Penegasan Istilah Penegasan istilah dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman terhadap penggunaan istilah yang dipakai dalam penelitian yang berjudul Analisis Penggunaan Gaya Bahasa/Majas Dalam Cerpen Terima Kasih.

(3) media penyampai isi berupa bahasa. sudut pandang. (3) tinjauan unsur gaya bahasa/majas sebagai salah satu unsur intrinsik pembangun karya fiksi. Pengarang dalam memaparkan isi karya fiksi bisa lewat (1) penjelasan atau komentar. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. dan (3) lakuan atau action (Aminuddin. setting/latar. Karya fiksi mengandung unsur-unsur meliputi (1) pengarang atau narator. novel. suasana. meliputi (1) tinjauan pengertian prosa fiksi. keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra. yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Gaya bahasa atau majas adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis. mempunyai dua unsur yang membangun. tokoh dan penokohan.2. alur. pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu. Beberapa kajian sebagai tinjuan pustaka yang relevan. 2004:66). Adapun unsur yang membangun di luar karya sastra yaitu unsur ekstrinsik meliputi : biografi pengarang. Unsur intrinsik meliputi tema. 2. Disebutkan juga bahwa bentuk-bentuk karya fiksi meliputi roman.1 Kajian Pustaka Pada prinsipnya. latar proses kreatif penciptaan maupun latar sosial-budaya yang menunjang kehadiran teks sastra (Aminuddin.2. . pembaca.1 Pengertian Prosa Fiksi Prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan. dan (4) tinjauan terhadap apresiasi sastra. yang penuh pertikaian. latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. penelitian tentang Analisis Penggunaan Gaya Bahasa/Majas Dalam Cerpen Terima Kasih. Cerpen (cerita pendek) adalah karangan pendek yang berbentuk prosa yang mengisahkan sepenggal kehidupan tokoh. peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan.2 Pengertian dan Macam Prosa Fiksi 2. (2) tinjauan pengertian cerpen. novelet. (2) dialog maupun monolog. memanfaatkan kajian interdisipliner. gaya. maupun cerpen. 3. dan amanat. cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan. dan (4) elemen-elemen fiksional sehingga menjadi suatu wacana. Bu Tuti! karya Darwis Khudori ini. Semua karya sastra termasuk novel. serta mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan pembaca. artinya penelitian ini dalam upaya menginterpretasi karya sastra memerlukan ilmu terapan dengan mengkaji kepustakaan yang relevan. 2004:34). (2) isi penciptaan.

7) Cerpen mengandung detil-detil dan insiden-insiden yang dipilih dengan sengaja. novel. dan cerpen. 3) Bahasa cerpen tajam.3. 1995: 186). 4) Cerpen mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan. alur cerita. .1 Ciri-ciri Cerpen Ciri-ciri cerpen didentifikasikan sebagai berikut : 1) Cerita pendek adalah cerita singkat. 2. penokohan/perwatakan. sugestif. dan menarik perhatian.2. 8) 9) Dalam cerpen sebuah insiden/peristiwa yang terutama menguasai jalan cerita. 11) Cerpen memberikan suatu kebulatan efek. 10) Cerpen memberi inspirasi tunggal. menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.2 Macam Prosa Fiksi Aminuddin (2004:66) menyebutkan bahwa karya prosa fiksi dapat berbentuk roman. baik secara langsung maupun tidak langsung.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan. 5) Sebuah cerpen dapat menimbulkan satu efek dalam pikiran pembaca. gaya. novelet. serta bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca. 2) Unsur-unsur utama cerpen adalah unsur tema. dan memusatkan diri pada satu tokoh di satu situasi (pada suatu ketika) (Depdikbud. 12) Cerpen menyajikan satu emosi. dan latar/setting. padat. adalah kisahan pendek (kurang dari 10. 2. Cerpen bergantung pada satu situasi.2.3 Pengertian Cerpen Cerpen atau cerita pendek. dan intensif. 6) Cerpen harus dapat menimbulkaan perasaan pada diri pembaca bahwa jalan ceritalah yang pertama-tama menarik menarik perasaan dan kemudian baru menarik pikiran.

(2) isi penciptaan. Pola pengembangan cerita tidak selalu sama dalam setiap karya fiksi. pembaca harus mencermati seluruh rangkaian cerita. Unsur-unsur tersebut. Baik menyangkut kemanusiaan. 2004:66). dan amanat (Abdul Rani.2 Struktur Cerpen Sebagai salah satu genre sastra. latar/setting. (3) media penyampai isi yang berupa bahasa. yang merupakan unsur intrinsik terpenting dalam novel/cerpen. kekuasaan. Untuk mengetahui tema novel/cerpen. 2001:37). dan sebagainya.13) Jumlah kata-kata yang terdapat dalam cerpen biasanya di bawah 10. alur atau plot. Aminuddin (dalam Susmiati. gaya. Salamah.000 kata atau kirakira 33 halaman kwarto spasi ganda. (a) Pengenalan situasi cerita (exposition) (b) Pengungkapan peristiwa (complication) (c) Menuju pada adanya konflik (rising action) (d) Puncak konflik (turning point) (e) Penyelesaian (ending) (3) Latar (setting) . 2. Pada umumnya suatu alur (plot) cerita terbagi dalam bagian-bagian berikut. (2) Alur Alur (plot) sebagai unsur intrinsik karya sastra merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat. Unsur-unsur prosa fiksi meliputi tokoh dan penokohan. lebih jauh ditegaskan oleh Abdul Rani (2004:86-69) berikut. tema. 2003:11-12). Tema dalam sastra bisa diangkat dari berbagai masalah kehidupan sesuai zamannya. (1) Tema Tema merupakan inti atau pokok yang menjadi dasar pengembangan cerita. kasih sayang. 2004:86.3. dan (4) elemen-elemen fiksional atau unsurunsur intrinsik yang membangun karya fiksi sehingga menjadi suatu wacana (Aminuddin. novel atau cerpen serta karya fiksi lainnya seperti novelet dan roman mengandung unsur-unsur meliputi (1) pengarang atau narator. sudut penceritaan/sudut pandang. kecembutruan.

cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan (Depdikbud. (7) Gaya Bahasa Gaya bahasa dalam karya sastra merupakan daya tarik dan sebagai cara pengarang mengajuk pikiran dan emosi pembaca. suasana. yakni dengan menceritakan perwatakan tokoh secara langsung. jalan pikirannya. Latar bisa faktual maupun imajiner. Latar meliputi tempat. (6) Amanat Amanat merupakan suatu pesan pengarang yang dituangkan melalui karyanya. . waktu. (b) pengarang berperan sebagai pengamat atau bertindak sebagai orang ketiga. dan budaya yang melingkupi cerita. Untuk menggambarkan karakter tokoh. dan sebagainya. keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra. 1995: 297). Untuk mengetahui amanat. dan (b) teknik dramatik dengan mengemukakan karakter tokoh melalui penggambaran fisik dan perilakunya. Sehingga setiap peristiwa maupun para pelaku yang ditampilkan dalam cerita seakan-akan ada dan benar-benar terjadi.Fungsi latar adalah untuk meyakinkan pembaca terhadap jalannya suatu cerita. lingkungan kehidupannya. yang terdiri dari: (a) pengarang berperan langsung sebagai orang pertama /”aku”tokoh yang terlibat dalam cerita. 2. bisa menyangkut pesan moral. pengarang bisa menempuh: (a) teknik analitik. pembaca harus secara cermat mengikuti seluruh cerita sampai tuntas. pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu. tata kebahasaannya. didaktis.4 Pengertian Gaya bahasa atau Majas Gaya bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis. serta perannya dengan tokoh lain. (4) Penokohan Penokohan adalah suatu cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter/perwatakan para pelaku dalam cerita. (5) Sudut Pandang (Point of view) Adalah posisi pengarang dalam menampilkan cerita.

Scharbach dalam (Aminuddin. tidak kering. Penggunaan bahasa “bersayap’ disebut juga dengan majas (Depdiknas. 9. 11. 8. majas pertentangan. sebagai sesuatu yang suci. 2004:118-127) rincian jenis-jenis majas/gaya bahasa. Bahasa dalam cerpen sebagai karya sastra sering menggunakan bahasa yang “bersayap. Bahasa ambigu membuat cerpen menjadi hidup. dan majas penegasan (Depdiknas. secara konsepsional gaya berarti cara. Gaya dari istilah bahasa Inggris style yang berasal dari bahasa Latin stilus yang memiliki arti dasar “alat untuk menulis”. 12. 2005:11). teknik. Tabel 1 : Jenis-jenis Majas atau Gaya Bahasa No MAJAS PERBANDINGAN Asosiasi Metafora Personifikasi Alegori Parabel Simbolik Tropen Metonimia Litosis Sinekdokhe Eufemisme Hiperbola Alusio Antonomasia MAJAS PERTENTANGAN Paradoks Antitesis Anakroisme Oksimoron MAJAS SINDIRAN Ironi Sinisme Sarkasme MAJAS PENEGASAN Pleonasme Repetisi Paralelisme Aliterasi Antanaklasis Kiasmus Tautologi Klimaks Antiklimaks Elipsis Inversi Retoris Koreksio Asidenton 1. 14. 4. baik efek semantik maupun efek estetik (Depdiknas. 7.” cenderung konotatif dan ambigu (bermakna lebih dari satu). 2005:89).5 Jenis-jenis Gaya Bahasa (Majas) Secara umum terdapat majas perbandingan. maupun bentuk yang digunakan pengarang untuk menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis yang dapat menyentuh pikiran dan perasaan pembaca ( Tengsoe Tjahjono. Berikut ini (Rani. 3.Majas dapat diartikan sebagai kekayaan bahasa seseorang (awam maupun sastrawan) yang dimanfaatkan dalam berkomunikasi (lisan maupun tulisan) untuk mencapai efek-efek tertentu. sebagai sesuatu yang indah dan lemah gemulai serta sebagai perwujudan manusia itu sendiri”. . majas sindiran. dan berseni. 13. 2. 2. 2005:89). 2004: 72) menyebut gaya “sebagai hiasan. 5. 1988:151). 10. 6.

hiperbola. 1) Prafrasis Majas Perbandingan - - Polisedenton Interupsi Eksklamaso Enumerasia Praterito Majas perbandingan adalah gaya bahasa yang mempunyai karakteristik untuk membedakan atau menyamakan dalam melukiskan sesuatu hal dengan jalan membandingkan dengan suatu hal yang lain. metonimia. antiklimaks. kontradiksio in terminis. Gaya bahasa Paradoks. eufemisme. Gaya bahasa pleonsame. Contoh: 1. 2) Majas Pertentangan Majas Pertentangan adalah majas yang mempunyai karakteristik hal yang berlawanan atau perselisihan dalam melukiskan sesuatu hal. 4) Majas Penegasan Majas Penegasan adalah majas yang dipergunakan untuk memperjelas sesuatu yang telah diutarakan. (raja siang = matahari) 3. sinekdot. 17. 2005:89).1 Majas Metafora adalah majas yang memperbandingkan secara langsung sesuatu benda dengan benda yang lain. repetisi. inversi. 3) Majas Sindiran Majas Sindiran adalah majas yang mempunyai maksud yang mengarah pada sesuatu hal atau orang secara tidak terang-terangan melainkan dengan maksud menyindir. Pemuda adalah tulang punggung negara. dan eksklasio termasuk majas penegasan. metafora. 18. Sang ratu malam telah muncul di ufuk timur. Berarti perumpamaan bertukar nama dengan benda yang lain. sinisme. alusio. Majas sindiran meliputi gaya bahasa ironi. litotes. karena sesuai dengan maksudnya. Raja siang bersinar dengan teriknya. tropen. (Depdiknas. (Depdiknas.15. 2005:89). dan antitesis merupakan majas pertentangan. (tulang punggung = kekuatan) . 2005:89). paralelisme. retoris. Gaya bahasa Personifikasi. simetri. 19. (ratu malam = bulan) 2. 2005:89). 1. asosiasi. dan sarkasme (Depdiknas. dan perifrasis adalah tergolong majas perbandingan (Depdiknas. klimaks. 16. Majas Perbandingan terdiri dari : 1. tautologi. simbolik.

menyakitkan) 1. Kata-katanya dapat menusuk perasaan.11 1. Ombak berkejaran menuju pantai. hewan atau tumbuhtumbuhan yang dapat bertindak sebagai manusia. Suaranya melengking hingga memecahkan anak telinga. Nyiur melambai di tepi pantai sejauh mata memandang.3 Majas Eufemisme adalah majas yang mempergunakan kata-kata lain untuk menggantikan suatu kata demi sopan santun dan perasaan yang halus (ungkapan pelembut). Saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Semua kebutuhan hidup harganya naik setingg langit. 2. Akalnya sudah berubah. (bodoh) 2.13 1.14 1.6 Majas Tropen 1.8 Majas Simbolik 1. Badai menderu-deru.12 1. 1.7 Majas Antonomasia 1. 3. lautan mengamuk.4 Majas Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu dengan melebihlebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan. 1. (kasar.10 1. Contoh: 1. Ia memang lemah dalam pelajaran ini. 3. tajam. Contoh : 1.9 Majas Metonimia 1.5 Majas Alusio 1.2 Majas Personifikasi adalah memperbandingkan benda mati. 2.15 Majas Sinekdot Majas Litotes Majas Perifrasis Majas Asosiasi Majas paralelisme Majas Alegori . Contoh : 1. (gila) 3.1.

11 Majas Koreksio 1.4 Majas Anakronisme 3.3 1.12 Majas Interupsi 1.2 Majas Sinisme 3.2. Majas Penegasan terdiri dari : 1.7 1.3 Majas Sarkasme 4. Majas Pertentangan meliputi : 2.8 1.4 1.6 1.3 Majas Kontradiksio 2.10 Majas Elipsis 1.2 Majas Antitesis 2.1 Majas Ironi 3. Majas Sindiran terdiri dari : 3.13 Majas Asidenton .2 1.5 1.1 Majas Paradoks 2.9 Majas Pleonasme Majas Repetisi Majas Retoris Majas Eksklamasi Majas tautologi Majas Klimaks Majas Antiklimaks Majas Inversi 1.

juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin. kepekaan pikiran kritis. S. penghayatan. Kegiatan seorang apresiator dalam bedah sastra adalah seperti dikemukakan Brooks (dalam Aminuddin. filsafat. Sementara Aminuddin (2004:38) mengungkapkan bahwa bekal awal yang harus dimiliki seorang calon apresiator adalah (1) kepekaan emosi sehingga mampu memahami unsur-unsur keindahan di dalam cipta sastra. filsafat. Aminuddin (2004:38) lebih menegaskan bahwa cipta sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks.1.15 Majas Enumerasi 1. 2004:35) mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian. dan pengalaman atas kehidupan dan kemanusiaan. Bertolak dari pendapat Boulton. politik maupun berbagai macam problema kehidupan ini. penghargaan. yakni level objektif yang berhubungan dengan respon intelektual. yaitu (1) unsur keindahan. Sehingga tidak berkelebihan jika Boulton (dalam Aminuddin. selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberi kepuasan batin pembacanya.6 Apresiasi Karya Sastra Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. dan (4) kepekaan terhadap unsur-unsur intrinsik cipta sastra yang berhubungan dengan telaah teori sastra. (2) wawasan pengetahuan. baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana. dan berbagai macam kompleksitas kehidupan. 2004:37) beranggapan bahwa cipta sastra. (2) unsur kontemplatif hasil perenungan terhadap nilai-nilai keagamaan.1 Metodologi Penelitian . (3) media pemaparan. serta (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan karakteristik cipta sastra sebagai suatu teks.16 Majas Praterito 2. Untuk mengapresiasi karya sastra diawali dari sikap ketertarikan terhadap sastra sebagai suatu karya ciptaan pengarang yang di dalamnya terkandung beragam nilai-nilai kehidupan. Effendi dalam (Aminuddin.14 Majas Polisendento 1. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. politik. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. (3) pemahaman aspek kebahasaan. 2004:39) yang membedakan dua level. dan level subjektif yang berhubungan dengan respon emosional. baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan.

3 Sumber Data Sumber data penelitian ini diambil dari cerpen Terima Kasih. Yang dimaksudkan dengan metodologi di sini adalah kerangka teoritis yang dipergunakan oleh penulis untuk menganalisa.1 Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik dokumentasi dengan cara pencatatan. sebagaimana setiap pelajar tentunya memiliki romantika kehidupan masa sekolah. seakan riil dan benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. mengerjakan. Bu Tuti!.5. mengidentifikasi. karena si pengarang melukiskan sendiri perilaku kehidupan masa remajanya yaitu masa sekolah. 3.Dalam suatu penelitian ilmiah. 3. metodologi menempati peranan yang sangat penting sesuai dengan obyek penelitian.5.2 Instrumen Penelitian . 3. melaksanakan. 3. yang diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta tahun 2000. mengklasifikasi paparan data.5 Teknik Penelitian 3. Wujud data berupa paparan bahasa tentang penggunaan majas dalam cerpen Terima Kasih. mengolah data dan menarik kesimpulan berkenaan dengan masalah penelitian tertentu (Sukmadinata. Metode ini dipilih untuk memberi gambaran secara obyektif dan secermat mungkin mengenai penerapan latar cerita (setting) sehingga suatu karya fiksi memiliki kesan konkret. 2006:317). karya Darwis Khudori.4 Data Data dalam penelitian ini berupa fakta yang dijadikan bahan untuk mencapai tujuan penelitian. atau mengatasi masalah yang dihadapi itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif.2 Metode Penelitian Metode penelitian (research methods) adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam merancang. 3. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. 2001:310). Kerangka teoritis atau kerangka ilmiah merupakan metode-metode ilmiah yang akan diterapkan dalam pelaksanaan tugas itu (Keraf. Alasan pemilihan cerpen ini. Sehingga nilai fiksi pada karya cerpen ini lebih mengarah pada fakta realitas mengangkat perjalanan riwayat hidup si pengarang sendiri.

D = Personifikasi E = Simbolik. 2) Majas. Bu Tuti! karya Darwis Khudori No Kode URAIAN DATA TEKSTUAL Data MAJAS A B C D .Data yang sudah terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam format data yang disusun dengan menggunakan instrumen data penelitian yang berupa tabel-tabel yang digunakan untuk menjaring data yang diperlukan. G = Tropen. Tabel 2 : Instrumen Data Analisis Penggunaan Majas Dalam Cerpen Terima Kasih. Bu Tuti! karya Darwis Khudori No Kode URAIAN DATA Data MAJAS A B C D E F G H TEKSTUAL JUMLAH Keterangan: A = Metafora. Tabel 2 : Instrumen Data Analisis Penggunaan Majas Perbandingan Dalam Cerpen Terima Kasih. B = Eufemisme. C = Hiperbola. menunjukkan alternatif kategori penggunaan majas oleh pengarang. Bu Tuti! karya Darwis Khudori No Kode URAIAN DATA Data B1/H93 TEKSTUAL MAJAS A B C D E F G H JUMLAH Keterangan: 1) Kluster Kode Data menandakan nomor urutan tata letak “Baris” kalimat data tekstual. F = Alusio. dan “Halaman” posisi penempatan sebagaimana data yang dimaksud. H = Antonomasia Tabel 3 : Instrumen Data Analisis Penggunaan Majas Pertentangan Dalam Cerpen Terima Kasih.

C = Tautologi. E = Antiklimaks. F = Eksklamaso. D = Klimaks. Data yang terkumpul dianalisis melalui langkah-langkah pengidentifikasian dan pengklasifikasian sampai menemukan verifikasi data yang berupa kesimpulan data. B = Sinisme.JUMLAH Keterangan: A = Paradoks.6 Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan berikut.3 Teknik Analisis Data Teknik analisis data ditempuh melalui penggunaan instrumen data penelitian yang berupa tabel-tabel yang digunakan untuk menjaring data yang diperlukan. . 3.5. G = Retoris 3. C = Sarkasme Tabel 5 : Instrumen Data Analisis Penggunaan Majas Penegasan Dalam Cerpen Terima Kasih. D = Oksimoron Tabel 4 : Instrumen Data Analisis Penggunaan Majas Sindiran Dalam Cerpen Terima Kasih. C = Anakroisme. Bu Tuti! karya Darwis Khudori No Kode Data URAIAN DATA TEKSTUAL MAJAS A B C D E F G JUMLAH Keterangan: A = Pleonasme. B = Repetisi. B = Antitesis. Bu Tuti! karya Darwis Khudori No Kode URAIAN DATA TEKSTUAL Data MAJAS A B C JUMLAH Keterangan: A = Ironi.

Deskripsi majas sindiran dalam cerpen “Terima Kasih. sampai penyimpulan yang kesemuanya masih dalam bentuk draft/naskah kasar. .6. Deskripsi majas pertentangan dalam cerpen “Terima Kasih.3. (2) alasan cerpenis memilih majas-majas tersebut. pengumpulan data. peneliti hanya membatasi pada masalah jenis-jenis majas yang terdapat dalam cerpen Terima kasih. penggandaan laporan hasil penelitian hingga pengujian laporan hasil penelitian (skripsi). meliputi rincian berikut ini. Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Perbandingan Penggunaan majas perbandingan terdapat sejumlah 23 majas. 3. kemudian pengetikan setelah melalui revisi. penyusunan dan pengajuan proposal penelitian. pemaparan hasil analisis majas dalam cerpen Terima Kasih. Bu Tuti!”. Bu Tuti!”. Sebagaimana yang telah dikemukakan pada tujuan penelitian ini. membuat desain dengan membuat pedoman kerja hingga menemukan kemantapan desain penelitian. 3.3 Tahap Penyelesaian Dari draf hasil penelitian dilanjutkan langkah-langkah penulisan draf menjadi naskah final.1 Pengantar Menganalisis majas dalam suatu karya sastra berupa cerpen berarti mempertanyakan: (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam cerpen. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. 4. yang diterbitkan tahun 2000. 4. merumuskan gambaran kerja. 3. Bu Tuti!”. Deskripsi majas penegasan dalam cerpen “Terima Kasih. dan (3) efek semantik dan estetik yang ditimbulkan dari pemilihan majas tersebut (Depdiknas.6. 2005:11).1 Tahap Persiapan Dimulai dari merumuskan tujuan penelitian. BAB IV HASIL PENELITIAN 4.2 Deskripsi majas perbandingan dalam cerpen “Terima Kasih. Bu Tuti! karya Darwis Khudori meliputi sebagai berikut : 1. analisis data. Bu Tuti!”.2 Tahap Pelaksanaan Berupa telaah pustaka. Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dilakukan. 2.6.

(halaman 93 baris 8) 2. (halaman 96 baris 4. “TAP MPR nomor berapa yang mengatur jalannya Pemilu?” tanyanya tiba-tiba ketika aku sudah di hadapannya.1 Gaya Bahasa Metafora Penggunaan majas metafora dalam cerpen Terima kasih. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. halaman 102 = 1 majas. 6. seluruhnya berjumlah 8. (halaman 101 baris 24) 8. 2. Dengan debaran jantung yang tak dapat kukekang. 1) Sempat kulihat mata Ida menatapku penuh kecemasan.3 Gaya Bahasa Eufimisme . (halaman 103 baris 13) 4. halaman 98=1 majas. aku mengambil tali itu. terdapat di halaman 93. Mata kami bertatapan.” kata Bu Tuti menutup pembicaraan. (halaman 95 baris 16) Tiba-tiba aku merasa ditantang dan jiwa pemberontakanku berkobar. dan halaman 103 = 1 majas. Bu Tuti! karya Darwis Khudori sebagai berikut : 1.2 Gaya Bahasa Personifikasi Penggunaan majas personifikasi dalam cerpen Terima kasih. Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas personifikasi pada cerpen Terima Kasih. (halaman 98 baris 19) 5. 3. halaman 101 = 1 majas. seluruhnya berjumlah 2.2. 7.2. Bu Tuti! karya Darwis Khudori.4. “Pasal berapa UUD 1945 yang mengatur Hankam?” tanyanya lagi. “Saya hanya akan menahan jangan sampai menjurus ke arah negatif. Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas metafora pada cerpen Terima Kasih. halaman 96=1 majas. Terdapat pada : halaman 95 = 2 majas. (halaman 95 baris 14) Dadaku berdesir.2. halaman 99 = 1 majas. (halaman 99 baris 21) Airmataku akan berlinang. (halaman 101 baris 12) Aku duduk tepekur. Bu Tuti! karya Darwis Khudori sebagai berikut : 1. (halaman 93 baris 12) 4.

bapak bukanlah orang yang bisa diharapkan. “Persisnya. dan halaman 101 = 1 majas. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. Aku merasa mendapatkan permainan baru yang jauh lebih mengasyikkan dari yang sudah-sudah.2. saya yakin Bapak ini dedengkotnya. Bu Tuti karya Darwis Khudori. Tentang resiko. (halaman 101 baris 16) 4. soal berpikir. Apalagi kalimat-kalimatnya. bahwa ini merupakan kesalahan kebudayaan. Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas hiperbola pada cerpen Terima Kasih. pak …!” kata-kata ini sudah melompat begitu saja dari mulutku.Penggunaan majas eufimisme dalam cerpen Terima kasih. Dia tahu bahwa ibuku keluar-masuk sanatorium. bahwa aku selalu ingin diperhatikan dan diberi peranan dalam memecahkan persoalan-persoalan penting. Tapi. “Tidak bisa! Tidak bisa!” jawab Bu Tuti berirama sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan jenaka. halaman 95 = 1 majas. Terbukti dengan pertanyaan-pertanyaan yang bapak lontarkan tadi…!” (halaman 95 baris 1) 2. Bu Tuti! karya Darwis Khudori sebagai berikut : 1. Perkara menghafal kalimat itu.4 Gaya Bahasa Hiperbola Penggunaan majas hiperbola dalam cerpen Terima kasih. Dan aku tak berdaya. (halaman 104 baris 5) 4. halaman 98 = 1 majas. Meliputi : halaman 94 = 1 majas. “Stop! Keluar kamu! Dan jangan ikuti lagi pelajaran saya!” matanya menyala dan telunjuknya menuding pintu. Bu Tuti! karya Darwis Khudori sebagai berikut : 1. aku pasrah kepada Tuhan! (halaman 98 baris 12) 3. saya yakin. halaman 103 = 1 majas. (halaman 94 baris 10) 2. Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas eufemisme pada cerpen Terima Kasih. Dengan singkat dapat dikatakan. Namun. dan halaman 104 = 1 majas. (halaman 101 baris 2) 4. saya tak tahu. (halaman 103 baris 4) 5. (halaman 95 baris 5) 3. halaman 101 = 1 majas. “Tapi. Terdapat pada : halaman 95 = 1 majas.5 Gaya Bahasa Antonomasia . seluruhnya berjumlah 5. Bu Tuti beukanlah Bu Tuti kalau tidak menutup pertemuan ini dengan sebuah renungan. seluruhnya berjumlah 3.2. Dia tahu semua itu. Pak.

Kalau sudah begitu.6 Gaya Bahasa Alusio Penggunaan majas alusio dalam cerpen Terima kasih. bagaimana seorang sarjana muda fakultas hukum berbicara dengan seorang pelajar Indonesia macam saya!” (halaman 100 baris 22) . Bu Tuti! karya Darwis Khudori sebagai berikut : 1. seluruhnya berjumlah 1 terdapat di halaman 103. (halaman 103 baris 20) 4. mau ngaco lagi.Penggunaan majas antonomasia dalam cerpen Terima kasih. Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas antonomasia pada cerpen Terima Kasih. “Hayo.8 Gaya Bahasa Simbolik Penggunaan majas simbolik dalam cerpen Terima kasih. Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas simbolik pada cerpen Terima Kasih. ya? Ayolah Darwis. ceritakan. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. seluruhnya berjumlah 1 berada di halaman 102. “Ayolah. (halaman 101 baris 7) 4. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. Darwis. Bu Tuti! karya Darwis Khudori sebagai berikut : 1. “…Saya ingin mendengar.2. Bu Tuti! karya Darwis Khudori.2.7 Gaya Bahasa Tropen Penggunaan majas tropen dalam cerpen Terima kasih. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. Bu Tuti! karya Darwis Khudori sebagai berikut : 1. (halaman 94 baris 5) 2.2. hatiku pasti luluh. seluruhnya berjumlah 2 majas ada di halaman 94 dan 100. Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas tropen pada cerpen Terima Kasih. Begitu bersahabat dan menjabat tanganku dengan erat. dong!” katanya genit. “Inilah wajah pelajar Indonesia!” komentarnya dengan muka sinis. seluruhnya berjumlah 1 terdapat di halaman 101. (halaman 102 baris 16) 4. Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas alusio pada cerpen Terima Kasih. anakku yang hilang! Ibu ingin sekali membicarakan sesuatu yang amat penting bagi kelangsungan sekolah kita! Ayolah…!” katanya sambil merangkulku. Bu Tuti! karya Darwis Khudori sebagai berikut : 1.

4. bagaimana seorang sarjana muda fakultas hukum berbicara dengan seorang pelajar Indonesia macam saya!” (halaman 100 baris 22) 4.3 “Pertanyaan Bapak ini pertanyaan brengsek!” (halaman 94 baris 13) Gaya Bahasa Ironi . (halaman 94 baris akhir) 3. (halaman 93 baris ke 1) 2. soal berpikir. 1. 4. Bu Tuti! karya darwis Khudori. halaman 94 = 1 majas. dan di halaman 100 = 1 majas. meliputi berikut ini. Suka bikin gara-gara pula. Aku diam saja. hanyalah lembaga keisengan. saya yakin. 4. halaman 96 = 1 majas.2 Gaya Bahasa Sarkasme Majas sarkasme hanya 1 majas terdapat di halaman 94. Perkara menghafal kalimat itu.3. (halaman 93 baris 11) 2. 4. Bu Tuti! karya Darwis Khudori sebagai berikut : 1.4. Aku tersenyum kecut. bapak bukanlah orang yang bisa diharapkan…” (halaman 95 baris 1) 4. terdapat pada : halaman 93 = 1 majas. Tersenyum kecut. 1.4 Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Sindiran Terdapat sejumlah 8 majas sindiran dalam cerpen Terima Kasih.3 4.4. Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas paradoks pada cerpen Terima Kasih.1 Gaya Bahasa Sinisme Majas sinisme berjumlah 5. “…Saya ingin mendengar. lalu keluar.1 Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Pertentangan Gaya Bahasa Paradoks Pengarang rupanya hanya menampilkan 2 majas paradoks yang terdapat di halaman 93 dan halaman 95. bagiku.4. (halaman 96 baris 19) 5. “…Tapi. halaman 95 = majas. saya yakin Bapak dedengkotnya. (halaman 95 baris 16) Sekolah. Gurunya sungguh membosankan.

(halaman 105 baris 8) 4. 1. (halaman 104 baris 1) 4. setiap anak dipanggil ke depan. (halaman 104 baris 13) ‘Tak tahulah. terdapat di halaman 94 dan halaman 104. (halaman 104 baris 20) . Aku tak pernah mengira bahwa suatu saat aku akan menangis penuh haru menghadapi orang yang begitu memuakkan. ketika aku diusir dari kelas oleh Pak Hadi. “Ah. 3. Satu demi satu. (halaman 93 baris 4) 2. di halaman 100 = 5 majas.5 Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Penegasan Penggunaan gaya bahasa penegasan seluruhnya berjumlah 51 majas yang perinciannya berikut ini. halaman 104 ada 7 majas. tapi jangan ngaco!” (halaman 104 baris 19) 4. halaman 102 terdapat 4 majas. seluruhnya berjumlah 33 majas. belum. tanpa urutan daftar absen. dan di halaman 105 ada 4 majas. Edan! Bu Tuti benar-benar edan! Tapi tepat sekali! Bu Tuti tiba-tiba telah membuka satu dimensi baru dalam diriku. Bu!” halaman 104 baris 15) “…Nah. 2. halaman 103 = 1. halaman 98 = 1 majas. Terdapat pada : halaman 94 = 4 majas. terdapat di halaman 93 dan halaman 105.5. Bu Tuti! karya Darwis Khudori.5. 1. Bu!” jawabku agak malu. carilah pacar.1 Gaya Bahasa Pleonasme Majas pleonasme dalam cerpen tersebut berjumlah 2 majas.Penggunaan majas ironi berjumlah 2 majas. 4. 1. yang sebelumnya tak pernah kukenal. “Inilah wajah pelajar Indonesia!” (halaman 94 baris 5) 2. halaman 96 = 1 majas. halaman 99 = 1. halaman 101 = 1 majas.2 Gaya Bahasa Eksklamasi Majas eksklamasi ini yang paling banyak digunakan. halaman 95 = 4 majas. Berikut ini dikutip beberapa contoh penggunaan majas eksklamasi yang terdapat dalam cerpen Terima kasih. Seketika itu aku teringat kepada sepasang mata yang menatapku penuh kecemasan.

terima kasih atas bimbinganmu! Bu Tuti.5. (halaman 105 baris 7) Gaya Bahasa Tautologi Penggunaan majas tautologi hanya 1 di halaman 94. halaman 98 = 1. dan di halaman 104 = 1 majas retoris. Dia tahu aku merindukan kasih sayang.4 Gaya Bahasa Repetisi Majas repetisi berjumlah 7 terdapat pada : halaman 94 = 1. Dia tahu semua itu. Dia tahu bahwa bapakku pergi dengan seorang perempuan. Ya. 1. terdapat di : halaman 95 = 1. Bu Tuti. (halaman 98 baris 10) . Kenapa aku mesti takut dikeluarkan dari sekolah? Pikiran ini membuatku tenteram. 3. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. bahwa aku selalu ingin diperhatikan dan diberi peranan dalam memecahkan persoalan-persoalan penting. halaman 95 = 1.5 Gaya Bahasa Retoris Majas retoris seluruhnya berjumlah 5. Aku tak mencoba mengingat-ingat atau menjawab.5. halaman 96 = 1. apakah tak mungkin. Bu Tuti! karya Darwis Khudori.5. halaman 97 = 1. halaman 96 = 1. Dia tahu latar belakang kehidupanku yang berantakan. 4. halaman 101 = 2 majas. 1. terimalah salamku! Bu Tuti. betapa piciknya aku. Aku tetap diam. termasuk aku? (halaman 96 baris 7) 2. (halaman 94 baris 1) 4. (halaman 101 baris 14). Ya. bahwa aku merindukan seorang kekasih? (halaman 104 baris akhir dan atau halaman 105 baris awal) 6.5. Berikut dikutip sebagian yang terdapat pada cerpen Terima Kasih.3 Ya. Aku benci dengan pertanyaan semacam ini. “Tidak bisa! Tidak bisa!” jawab Bu Tuti berirama sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan jenaka. aku tak akan melupakanmu! (halaman 105 baris 12 samapai dengan baris akhir cerpen ini) 4. (halaman 101 baris 2) 2. 1. Bahkan tersenyum pun tidak. halaman 97 = 1. dikeluarkan dari sekolah merupakan malapetaka yang paling menyiksa bagi seorang murid. dan halaman 105 = 1 majas.ibuku keluar-masuk sanatorium. Berikut dikutip sebagian yang terdapat pada cerpen Terima Kasih.

Tanpa sekolah pun. hiperbola. baik bagi siswa maupun guru yang bermuara akhir dengan terciptanya iklim apresiatif yang produktif. bergaul. dapat disimpulkan berikut ini. 5. terdiri dari: (a) majas perbandingan berjumlah 23. Kepada Sekolah.6 Gaya Bahasa Klimaks Majas klimaks berjumlah 2 terdapat di halaman 96 dan halaman 105. personifikasi. seorang cerpenis kenamaan berasal dari Yogyakarta.5. meliputi penggunaan majas pleonasme. (c) majas sindiran berjumlah 9. sedang berbicara serius. tropen. merupakan salah satu hal yang mendorongku dengan kuat untuk sekolah. Aku tak pernah merenungkan bahwa melihat. Bu Tuti! karya Darwis Khudori. klimaks. dan simbolik .5. agar senantiasa menambah khasanah bahan bacaan sastra melalui perpustakaan sekolah untuk merangsang peningkatan kegemaran membaca karya sastra. berjumpa. 1. membuat hal-hal yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. aku bisa mengisi hidup ini. memberikan arti pada kehidupan. dan ironi. (halaman 99 baris 15) BAB V PENUTUP 5. 1. meliputi penggunaan majas metafora. retoris. . (halaman 96 baris 12) 2. eksklamasi. bercanda. dan (d) majas penegasan berjumlah 51. alusio. bercakap-cakap. bersahabat dengan lawan jenisku. tautologi. (halaman 105 baris 2) 4. Bapak Kepala Sekolah. Ibu Kepala Rumah tangga Sekolah dan beberapa guru lain. hanya majas paradoks saja. sarkasme. eufimisme.2 Saran Sehubungan dengan hasil penelitian ini.7 Gaya Bahasa Antiklimaks Majas antiklimaks ada 1.1 Kesimpulan Berdasarkan temuan data penelitian dalam menganalisis penggunaan majas dalam cerpen Terima Kasih. Bapak Guru Kewarganegaraan. antonomasia. sejumlah saran penulis kemukakan sebagai berikut : 1.4. (b) majas pertentangan berjumlah 2. dan antiklimaks. meliputi penggunaan majas sinisme. Jumlah seluruh penggunaan gaya bahasa adalah 85 majas. repetisi. yaitu pada halaman 99.

Bandung: Pustaka Setia. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi. Keraf. Gorys. Nurhadi. Supratman. Sekitar Masalah Sastra. 1996. Beberapa Prinsip dan Model Pengembangannya. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kepada Guru. Malang: Satgas OPP Bagian Proyek OPF. Susmiati. Aminuddin. 4. Umi. Bandung: Sinar Baru Algensindo. dkk. Metode Penelitian Pendidikan. agar hasil penelitian ini bisa menjadi acuan penelitian lebih lanjut serta dengan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan terhadap unsur-unsur intrinsik yang lainnya. Depdikbud. IKIP Malang.. semakin ditingkatkan dan menjadi skala prioritas. 2004. 2005. hendaknya semakin menggemari bacaan karya sastra khususnya cerpen. Skripsi FPBS IKIP Budi Utomo. Bahasa dan Sastra Indonesia.2004. Sebagai Panduan Perkuliahan Matakuliah Sejarah & Teori Sastra di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Budi Utomo Malang. 2001.Pengembangan Kemampuan Menulis Sastra. —————-2004. karena wawasan dan kematangan hidup bisa ditempuh melalui kegemaran membaca dan mengapresiasi karya bernilai sastra. Materi Pelatihan Terintegrasi. Tesis. Diktat Sejarah dan Teori Sastra. Sukmadinata. Laporan Penelitian. . Malang: IKIP Budi Utomo. Kepada Siswa. Buku 3. Jakarta: Direktorat PLP Dirjendikdasmen Depdiknas IKIP Malang. Kajian Tekstual dalam Psikologi Sastra. Malang: IKIP Budi Utomo.2. DAFTAR RUJUKAN Abdul Rani. Flores: Nusa Indah. Depdiknas. 1995. 1990. Nana Syaodih. Artikel. 2003. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh Malang. Makalah. Intisari Sastra Indonesia untuk SLTP. Jakarta: Balai Pustaka. agar pembinaan keterampilan mengapresiasi karya sastra khususnya cerpen. 2006. Jakarta: Erlangga Salamah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Disertasi. Analisis Penggunaan Majas Dalam Cerpen Perawan Di Garis Depan Dalam Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian Karya Nugroho Notosusanto. 3. Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas IX. 2001. Kepada Peneliti Selanjutnya. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa.

Henry Guntur. Ende Flores: Nusa Indah. Tengsoe Tjahjono. Indonesia. 20 Mei 2011 s—-kudedikasikan untuk bangsa tercinta—-r . 1985. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Sastra Indonesia Pengantar Teori dan Apresiasi. Liberatus. Bandung: Angkasa. 1988.Tarigan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful