P. 1
Berbusana Menurut Islam

Berbusana Menurut Islam

|Views: 814|Likes:
Published by Arbhy Indera I

More info:

Published by: Arbhy Indera I on May 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

“Berbusana Menurut Islam”

oleh
Arbhy Indera Ikhwansyah 1007113576 Kalas A

JURUSAN SARJANA TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan segala rahmat dan hidayah-Nya serta kesehatan kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan tugas makalah Pendidikan Agama Islam tentang “Berbusana Menurut Islam” ini tepat pada waktunya. Penulis Mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam serta semua pihak yang telah memberikan saran dan arahan kepada penulis dalam penyusunan makalah ini. Makalah ini jauh dari kesempurnaan, mengingat refrensi yang didapat tidak terlalu banyak. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini dimasa mendatamg.

Pekanbaru, Januari 2012

Arbhy Indera I

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1.1 Latar Belakang................................................................................ 1.2 Tujuan ............................................................................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... BAB III PEMBAHASAN ................................................................................ 3.1 Adab Berpakaian Menurut Islam .................................................... 3.2 Panduan Berpakaian Laki-laki dan Perempuan Menurut Islam ..... 3.3 Cara Berpakaian Rasulullah SAW.................................................. 3.4 Pakaian Wanita dan Laki-laki Menurut Islam ................................ 3.5 Adab Memakai Sendal .................................................................... BAB III KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 4.1 Kesimpulan ..................................................................................... 4.2 Saran ............................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

i ii 1 1 2 3 6 6 8 16 16 17 21 21 21 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pakaian merupakan penutup tubuh untuk memberikan proteksi dari bahaya asusila, memberikan perlindungan dari sengatan matahari dan terpaan hujan, sebagai identitas seseorang, sebagai harga diri seseorang, dan sebuah kebutuhan untuk mengungkapkan rasa malu seseorang. Dahulu, pakaian yang sopan adalah pakaian yang menutup aurat, dan juga longgar sehingga tidak memberikan gambaran atau relief bentuk tubuh seseorang terutama untuk kaum wanita. Sekarang orang-orang sudah menyebut pakaian seperti itu sudah dibilang kuno dan tidak mengikuti mode zaman sekarang atau tidak modis. Timbul pakaian you can see atau sejenis tanktop, dll. Yang uniknya, semakin sedikit bahan yang digunakan dan semakin ketat pakaian tersebut maka semakin mahal pakaian tersebut. Ada seseorang yang berkata sedikit mengena, “Anak jaman sekarang bajunya kayak baju anak kecil, pantesan saya nyari baju anak rada susah, berebut ama orang dewasa”. Memang tidak salah jika ada ungkapan seperti itu karna itu memang kenyataan. Anehnya, sekarang banyak kaum wanita terutama muslimah yang belombalomba untuk memakai pakaian yang katanya modis tersebut. Pakaian tersebut sebenarnya digunakan oleh para PSK dan WTS untuk memikat pelanggan, akan tetapi seiring perkembangan waktu, fungsi pakaian tersebut sudah berubah untuk memikat lawan jenis, sehingga semakin terpikat lawan jenis, semakin banyak pula kasus tindakan asusila yang sering kita baca di media cetak, elektronik, dll. Pelecehan seksual ada di mana-mana. Tidakkah para mukminin dan mukminat telah diperintahkan oleh Allah di dalam kitabsuci, al-Qur‟an, surat Al-A‟raf ayat 26 yang artinya: “Hai, anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagaian dari tanda-tanda Kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”. Atau Q.S. Al-Ahzab ayat 59 yang artinya : “Hai para Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang

demikian itu supaya mereka mudah dikenali karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

1.2 Tujuan Makalah ini dususun dengan tujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam mengenai Adab Berpakain Dalam Islam. Dan juga mengingat masa sekarang cara berpakaian kaum muslimin sudah jauh menyimpangh dari ketentuan yang diberikan oleh Allah, maka dengan dibuatnya makalah ini penulis bermaksud mengingatkan kembali tentang bagaimana cara berpakaian yang benar menurut ajaran Islam.

BAB II TINJAUAN PISTAKA

Bismillahirrahmanirrahim. Firman Allah s.w.t. dalam Surah al-A`araf, ayat 26 yang bermaksud; “Wahai anak-anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu (bahan-bahan untuk) pakaian menutup aurat kamu, dan pakaian perhiasan; dan pakaian yang berupa taqwa itulah yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah dari tanda-tanda (limpah kurnia) Allah (dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya) supaya mereka mengenangnya (dan bersyukur).” Islam yang diturunkan oleh Allah s.w.t. kepada seluruh umat manusia melalui Nabi Muhammad s.a.w. adalah penyelamat dan pembawa rahmat kepada mereka dan seluruh kehidupan mereka. Ia penyelamat manusia dalam setiap kegiatan dan kehidupan mereka di dunia dan memberi rahmat kepada manusia di saat bertemu kembali dengan Tuhan mereka di akhirat kelak. Dalam hal ini, Islam telah memperincikan secara jelas tentang adab dan peraturan dalam mengurus kehidupan manusia termasuklah dalam hal yang berkaitan dengan pakaian dan perhiasan untuk mereka. Islam sebenarnya adalah agama yang mudah dan memudahkan umatnya bila garis dasar yang ditetapkan dalam berpakaian ialah menutup aurat dan bersih. Aurat mengikut jumhur ulama bagi lelaki ialah dari bawah lutut hingga ke atas pusat mereka. Walau bagaimanapun, adab dan kesopanan dalam berpakaian menurut Islam menambahkan sehingga ke atas bahu apabila kita diminta meletakkan kain atau pakaian lain menutupi hingga ke atas dua bahu ketika hendak sembahyang. Manakala aurat bagi wanita ialah seluruh tubuh mereka kecuali muka dan dua tangan bermula dari pergelangan tangan mereka. Ada juga pendapat yang menyatakan bahawa seluruh tubuh wanita itu adalah aurat termasuk muka mereka dengan alasan muka juga boleh menarik perhatian lelaki yang “hatinya berpenyakit” dan akan menimbulkan fitnah dalam masyarakat.

Firman Allah s.w.t. dalam Surah An-Nur, ayat 31 bermaksud; “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya.” Selain itu, Islam yang diterima oleh seluruh manusia di seluruh pelusuk dunia adalah berpunca dari pembawa yang sama iaitu Nabi Muhammad s.a.w. dan baginda adalah dari bangsa Arab yang berpakaian mengikut budaya bangsa baginda. Oleh sebab puncanya bermula dari bangsa Arab yang mana cara pemakaian mereka ialah jubah, serban atau kopiah (sesuatu yang menutup kepala) bagi lelaki dan berjubah labuh menutup seluruh tubuh bagi wanita, maka ia juga turut dikira sebagai budaya pemakaian Islam bahkan lebih jauh lagi ia sudah dicap sebagai imej Islam itu sendiri.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud; “Sesungguhnya bagi kamu pada Rasulullah itu contoh ikutan yang baik.” Rasulullah s.a.w. sendiri dalam segala segi manjadi rujukan dan ikutan setiap umat Islam yang komited dan istiqamah dengan suruhan agama, maka mereka turut meniru dan membudayakan setiap amalan dan tindakan termasuklah cara Rasulullah s.a.w. berpakaian dalam hidup mereka. Itulah yang melambangkan imej dan syiar Islam sehinggakan keperibadian seseorang hamba itu turut dinilai melalui cara mereka berpakaian.

Firman Allah s.w.t. dalam surah Al-Ahzab, ayat 59 yang bermaksud; “Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuanperempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” Inilah antara lambang kesempurnaan dan ajaran bagaimana Islam mendidik umatnya dalam berpakaian dan memilih pakaian yang melambangkan ketaqwaan kepada Allah. Oleh itu, kita sebagai umat Islam dan selagi kita meyakini bahawa setiap ajaran Islam itu benar dan meyakini bahawa Allah itu benar, maka kita akan dengan rela hati memilih dan berpakaian menurut Islam dan menjulang tinggi pakaian yang manjadi syiar dan lambang keislaman dan ketaqwaan kita walaupun ada mereka yang membenci, marah atau menyerang kita. Ketahuilah, hakikatnya mereka mahu menyerang Islam itu sendiri tetapi mereka memperalatkan seorang dua golongan yang berperangai syaitan tetapi meniru pakaian Islam. Yakinlah Allah tetap bersama kebenaran dan Allah pasti bersama kita selagi kita bersama kebenaran.

Firman Allah s.w.t. dalam Surah an-Nisa`, ayat 85 yang bermaksud; “Sesiapa yang memberikan syafaat (tauladan) yang baik nescaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya; dan sesiapa yang memberikan tauladan yang buruk, nescaya ia akan mendapat bahagian (dosa) daripadanya. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas semua perkara.”

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Adab Berpakaian Menurut Islam Islam melarang umatnya berpakaian terlalu tipis atau ketat (sempit sehingga membentuk tubuhnya yang asli). Kendati pun fungsi utama (sebagai penutup aurat) telah dipenuhi, namun apabila pakaian tersebut dibuat secara ketat (sempit) maka hal itu dilarang oleh Islam. Demikian juga halnya pakaian yang terlalu tipis. Pakaian yang ketat akan menampilkan bentuk tubuh pemakainya, sedangkan pakaian yang terlalu tipis akan menampakkan warna kulit pemakainya. Kedua cara tersebut dilarang oleh Islam karena hanya akan menarik perhatian dan menggugah nafsu syahwat bagi lawan jenisnya. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda yang Artinya: “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya, yaitu 1) kaum yang membawa cambuk seperti seekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam, 2) perempuan-perempuan yang berpakaian, tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka itu tidak bisa masuk surga dan tidak akan mencium bau surga padahal bau surga itu dapat tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian”. (HR Muslim) Ada dua maksud yang menjadi kesimpulan pada hadits ini, yaitu sebagai berikut: 1. Maksud kaum yang membawa cambuk seperti seekor sapi ialah perempuanperempuan yang suka menggunakan rambut sambungan (cemara dalam bahasa jawa), dengan maksud agar rambutnya tampak banyak dan panjang sebagaimana wanita lainnya. Selanjutnya, yang dimaksud rambutnya seperti atau sebesar punuk unta adalah sebutan bagi wanita yang suka menyanggul rambutnya. Kedua macam cara tersebut (memakai cemara dan menyanggul) termasuk perkara yang tecela dalam Islam 2. Mereka dikatakan berpakaian karena memang mereka menempelkan pakaian pada tubuhnya, tetapi pakaian tersebut tidak berfungsi sebagai penutup aurat. Oleh karena itu, mereka dikatakan telanjang. Pada zaman modern seperti sekarang ini, amat banyak manusia (perempuan) mengenakan pakaian yang amat tipis sehingga warna kulitnya tampak jelas dari luar. Sementara itu banyak pula perempuan yang memakai pakaian relatif tebal, namun karena sangat ketat

sehinga bentuk lekuk tubuhnya terlihat jelas. Kedua cara berpakaian seperti itu (terlampau tipis dan ketat) termasuk perkara yang dilarang dalam Islam. Aurat perempuan yang merdeka (demikian juga khunsa) dalam sholat adalah seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan yang lahir dan batin hingga pergelangan tangannya. Oleh karena itu jika nampak rambut yang keluar ketika sholat atau nampak batin telapak kaki ketika rukuk dan sujud, maka batallah sholatnya. Aurat perempuan merdeka di luar sholat Di hadapan laki-laki ajnabi atau bukan muhram yaitu seluruh badan. Artinya, termasuklah muka, rambut, kedua telapak tangan (lahir dan batin) dan kedua telapak kaki (lahir dan batin). Maka wajiblah ditutup atau dilindungi seluruh badan dari pandangan laki-laki yang ajnabi untuk mengelakkan dari fitnah. Demikian menurut mahzab Syafei. Di hadapan perempuan yang kafir Auratnya adalah seperti aurat bekerja yaitu seluruh badan kecuali kepala, muka, leher, dua telapak tangan sampai kedua siku dan kedua telapak kakinya. Demikianlah juga aurat ketika di hadapan perempuan yang tidak jelas pribadi atau wataknya atau perempuan yang rosak akhlaknya. Ketika sendirian, sesama perempuan dan laki-laki yang menjadi muhramnya Auratnya adalah di antara pusat dan lutut Walau bagaimanapun, untuk menjaga adab dan untuk memelihara dan berlakunya hal yang tidak diingini, maka perlulah ditutup lebih dari itu agar tidak menggiurkan nafsu. Ini adalah penting untuk menghindarkan fitnah. Salah satu permasalahan yang kerap kali dialami oleh kebanyakan manusia dalam kesehariannya adalah melepas dan memakai pakaian baik untuk tujuan pencucian pakaian, tidur, atau yang selainnya. Sunnah-sunnah yang berkaitan dengan melepas dan memakai pakaian adalah sebagai berikut : Mengucapkan Bismillah. Hal itu diucapkan baik ketika melepas maupun memakai pakaian. Imam An-Nawawy berkata : “Mengucapkan bismillah adalah sangat dianjurkan dalam seluruh perbuatan”. Memulai Dengan Yang Sebelah Kanan Ketika Akan Memakai Pakaian. Berdasarkan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam. “Apabila kalian memakai pakaian maka mulailah dengan yang sebelah kanan”.

3.2 Panduan Berpakaian Laki-laki dan Perempuan Menurut Islam Pakaian merupakan salah satu nikmat sangat besar yang Allah berikan kepada para hambanya, Islam mengajarkan agar seorang muslim berpakain dengan pakaian islami dengan tuntunan yang telah Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Berikut ini adalah panduan berkenaan dengan berpakaian yang sepantasnya diketahui oleh seorang muslim. 1. Menutup aurat Aurat lelaki menurut ahli hukum ialah daripada pusat hingga ke lutut. Aurat wanita pula ialah seluruh anggota badannya, kecuali wajah, tapak tangan dan tapak kakinya. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Paha itu adalah aurat." (Bukhari) 2. Tidak menampakkan tubuh Pakaian yang jarang sehingga menampakkan aurat tidak memenuhi syarat menutup aurat. Pakaian jarang bukan saja menampak warna kulit, malah boleh merangsang nafsu orang yang melihatnya.Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat ialah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liukkan badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh." (Muslim) 3. Pakaian tidak ketat Tujuannya adalah supaya tidak kelihatan bentuk tubuh badan 4. Tidak menimbulkan riak Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesiapa yang melabuhkan pakaiannya kerana perasaan sombong, Allah SWT tidak akan memandangnya pada hari kiamat." Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesiapa yang memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan pada hari akhirat nanti." (Ahmad, Abu Daud, an-Nasa'iy dan Ibnu Majah)

5. Lelaki, wanita berbeda Maksudnya pakaian yang khusus untuk lelaki tidak boleh dipakai oleh wanita, begitu juga sebaliknya. Rasulullah SAW mengingatkan hal ini dengan tegas menerusi sabdanya yang bermaksud: "Allah mengutuk wanita yang meniru pakaian dan sikap lelaki, dan lelaki yang meniru pakaian dan sikap perempuan." (Bukhari dan Muslim). Baginda juga bersabda bermaksud: "Allah melaknat lelaki berpakaian wanita dan wanita berpakaian lelaki." ?(Abu Daud dan AlHakim). 6. Larangan pakai sutera Islam mengharamkan kaum lelaki memakai sutera. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Janganlah kamu memakai sutera, sesungguhnya orang yang memakainya di dunia tidak dapat memakainya di akhirat." (Muttafaq 'alaih) 7. Melabuhkan pakaian Contohnya seperti tudung yang seharusnya dipakai sesuai kehendak syarak iaitu bagi menutupi kepala dan rambut, tengkuk atau leher dan juga dada. Allah berfirman bermaksud: "Wahai Nabi, katakanlah (suruhlah) isteri-isteri dan anakanak perempuanmu serta perempuan-perempuan beriman, supaya mereka melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." ?(alAhzab:59) 8. Memilih warna yang sesuai Contohnya warna-warna lembut termasuk putih kerana ia nampak bersih dan warna ini sangat disenangi dan sering menjadi pilihan Rasulullah SAW. Baginda bersabda bermaksud: "Pakailah pakaian putih kerana ia lebih baik, dan kafankan mayat kamu dengannya (kain putih)" (an-Nasa'ie dan al-Hakim). Warna pakaian yang dianjurkan untuk laki-laki adalah warna putih. Tentang hal ini terdapat hadits dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kenakanlah pakaian yang berwarna putih, karena itu adalah sebaikbaik pakaian kalian dan jadikanlah kain berwarna putih sebagai kain kafan

kalian." (HR. Ahmad, Abu Daud dll, shahih). Dari Samurah bin Jundab, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kenakanlah pakaian berwarna putih karena itu lebih bersih dan lebih baik dan gunakanlah sebagai kain kafan kalian." (HR. Ahmad, Nasa'i dan Ibnu Majah, shahih) Tentang hadits di atas Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkomentar,

"Benarlah apa yang Nabi katakan karena pakaian yang berwarna putih lebih baik dari warna selainnya dari dua aspek. Yang pertama warna putih lebih terang dan nampak bercahaya. Sedangkan aspek yang kedua jika kain tersebut terkena sedikit kotoran saja maka orang yang mengenakannya akan segera mencucinya. Sedangkan pakaian yang berwarna selain putih maka boleh jadi menjadi sarang berbagai kotoran dan orang yang

memakainya tidak menyadarinya sehingga tidak segera mencucinya. Andai jika sudah dicuci orang tersebut belum tahu secara pasti apakah kain tersebut telah benar-benar bersih ataukah tidak. Denganpertimbangan ini Nabi

memerintahkan kita, kaum laki-laki untuk memakai kain berwarna putih. Kain putih disini dianjurkan mencakup kemeja, sarung ataupun celana. Seluruhnya

berwarna putih

karena

itulah yang lebih utama. Meskipun

mengenakan warna yang lainnya juga tidak dilarang. Asalkan warna tersebut bukan warna khas pakaian perempuan. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan. Demikian pula dengan syarat bukan berwarna merah polos karena nabi melarang warna merah

polos sebagai warna pakaian laki-laki.Namun jika warana merah tersebut bercampur warna putih maka tidaklah mengapa." (Syarah Riyadus Shalihin, 7/287, Darul Wathon) 9. Larangan memakai emas Termasuk dalam etika berpakaian di dalam Islam ialah barang-barang perhiasan emas seperti rantai, cincin dan sebagainya. Bentuk perhiasan seperti ini umumnya dikaitkan dengan wanita namun pada hari ini ramai antara para lelaki cenderung untuk berhias seperti wanita sehingga ada yang sanggup bersubang dan berantai. Semua ini amat bertentangan dengan hukum Islam. Rasulullah s.a.w. bersabda bermaksud: "Haram kaum lelaki memakai sutera dan emas, dan dihalalkan (memakainya) kepada wanita."

10. Mendahulukan sebelah kanan Apabila memakai baju, seluar atau seumpamanya, mulakan sebelah kanan. Imam Muslim meriwayatkan daripada Saidatina Aisyah bermaksud: "Rasulullah suka sebelah kanan dalam segala keadaan, seperti memakai kasut, berjalan kaki dan bersuci."Apabila memakai kasut atau seumpamanya, mulakan dengan sebelah kanan dan apabila menanggalkannya, mulakan dengan sebelah kiri. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Apabila seseorang memakai kasut, mulakan dengan sebelah kanan, dan apabila menanggalkannya, mulakan dengan sebelah kiri supaya yang kanan menjadi yang pertama memakai kasut dan yang terakhir menanggalkannya." (Riwayat Muslim). Di antara sunnah Nabi

shallallahu 'alaihi wa sallam adalah mendahulukan yang kanan ketika memakai pakaian dan semacamnya. Dalil pokok dalam masalah ini, dari Aisyah Ummul Mukminin beliau mengatakan, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam suka mendahulukan yang kanan ketika bersuci, bersisir dan memakai sandal" (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim (HR. Muslim -ed) dikatakan, "Rasulullah menyukai mendahulukan yang kanan dalam segala urusan, ketika memakai sandal, bersisir dan bersuci". Mengomentari di atas, Imam hadits

Nawawi mengatakan, "Hadits ini mengandung kaidah

baku dalam syariat, yaitu segala sesuatu yang mulia dan bernilai maka dianjurkan untuk mendahulukan yang kanan pada saat itu semisal memakai baju, celana panjang, sepatu, masuk ke dalam masjid, bersiwak, bercelak, memotong kuku, menggunting kumis, menyisir rambut, mencabut bulu

ketiak, menggundul kepala, mengucapkan salam sebagai tanda selesai shalat, membasuh anggota wudhu, keluar dari WC, makan dan minum, berjabat tangan, menyentuh hajar aswad dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang

berkebalikan dari hal yang diatas dianjurkan untuk menggunakan sisi kiri semisal masuk WC, keluar dari masjid, membuang ingus, istinjak, mencopot baju, celana panjang dan sepatu. Ini semua dikarenakan sisi kanan itu memiliki kelebihan dan kemuliaan." (Syarah Muslim, 3/131) 11. Selepas beli pakaian Apabila memakai pakaian baru dibeli, ucapkanlah seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tarmizi yang bermaksud: "Ya Allah, segala puji bagi-

Mu, Engkau yang memakainya kepadaku, aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa-apa yang dibuat baginya, aku mohon perlindungan kepada-Mu daripada kejahatannya dan kejahatan apa-apa yang diperbuat untuknya. Demikian itu telah datang daripada Rasulullah". 12. Berdoa Ketika menanggalkan pakaian, lafaz- kanlah: "Pujian kepada Allah yang mengurniakan pakaian ini untuk menutupi auratku dan dapat mengindahkan diri dalam kehidupanku, dengan nama Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia. "Sebagai seorang Islam, sewajarnya seseorang itu memakai pakaian yang sesuai menurut tuntutan agamanya kerana sesungguhnya pakaian yang sopan dan menutup aurat adalah cermin seorang Muslim yang sebenar. 13. Tidak Meniru Kaum Kafir Di antara kaedah penting dalam agama kita adalah kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan tidak diperbolehkan untuk menyerupai orang kafir baik dalam masalah ibadah, hari raya maupun pakaian yang

menjadi ciri khas mereka. Ini merupakan kaidah penting dalam agama kita yang sudah tidak diindahkan diketahui bahwa dalil-dalil oleh yang banyak kaum muslimin. Patut

menunjukkan benarnya kaidah di atas

adalah banyak sekali baik dari ayat al-Qur'an maupun hadits-hadits Nabi. Berikut ini adalah di antara ayat al-Qur'an yang menunjukkan adanya kaidah di atas. Allah berfirman yang artinya, "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak

mengetahui." (QS. Al-Jatsiah [45]: 18) Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Dalam ayat di atas Allah menceritakan bahwa Dia telah memberikan

kenikmatan dunia dan agama untuk Bani Israil, mereka berselisih setelah kebenaran datang kepada mereka karena rasa dengki yang ada di antara

mereka. Kemudian Allah jadikan Muhammad berada di atas syariat dan Dia perintahkan agar diikuti. Selanjutnya Allah melarangnya untuk mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak tahu. Termasuk 'orang-orang yang tidak tahu' adalah semua orang yang menyelisihi syariat beliau. Sedangkan yang

dimaksud hawa nafsu mereka adalah semua hal yang mereka inginkan

termasuk di antaranya adalah perilaku lahiriah dari orang-orang musyrik yang merupakan konsekuensi dan turunan dari agama mereka yang batil. Itu semua merupakan bagian dari apa yang mereka inginkan. Mencocoki mereka dalam perilaku lahiriah berarti mengikuti keinginan mereka. Oleh karenanya orang-orang kafir gembira dan bersuka cita ketika kaum muslimin mengikuti sebagian perilaku mereka. Bahkan mereka rela

mengeluarkan harta dalam jumlah besar agar peniruan itu terjadi. Andai meniru perilaku lahiriah orang kafir tidak termasuk mengikuti hawa nafsu orang kafir maka tidak disangsikan lagi bahwa menyelisihi orang kafir dalam perilaku lahiriah itu lebih memupus kemungkinan terjerumus dalam sikap mengikuti hawa nafsu mereka dan lebih membantu agar mendapatkan ridho Allah dengan tidak mengikuti hawa nafsu orang kafir. Sesungguhnya meniru orang kafir dalam perilaku lahiriah itu bisa jadi sarana untuk mengikuti orang kafir dalam hal-hal yang lain. Karena siapa yang berani dekat-dekat dengan daerah larangan maka dia akan terjerumus di dalamnya. Dua penjelasan di atas bermuara pada satu titik yang sama yaitu mengikuti perilaku lahiriah orang kafir itu terlarang. Meski penjelasan yang pertama itu lebih tepat." (al Iqtidha', hal. 8). Allah berfirman yang artinya, "Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu,

maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah." (QS. ar-Ra'du [13]: 37) Yang dimaksud dengan hawa nafsu mereka dalam ayat di atas adalah ahzab (kelompok orang kafir) yang mengingkari sebagian dari al-Qur'an. Sehingga termasuk dalam hal ini

semua orang yang mengingkari sebagian dari al-Qur'an meskipun sedikit baik Yahudi, Nasrani ataupun yang lainnya. Mengikuti orang kafir dalam hal yang merupakan ciri khas mereka baik terkait dengan agama mereka atau konsekuensi agama mereka adalah termasuk mengikuti hawa nafsu orang kafir. Bahkan

karena hal yang lebih remeh lagi seorang bisa dinilai telah mengikuti hawa nafsu orang kafir. Allah berfirman yang artinya, "Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. al-

Hadid [57]: 16) "Janganlah kalian seperti orang-orang yang " dalam ayat di atas merupakan larangan mutlak untuk menyerupai orang-orang kafir ahli kitab. Larangan tersebut secara khusus merupakan larangan untuk

menyerupai ahli kitab dalam masalah memiliki hati yang keras. Sedangkan hati yang keras merupakan buah dari berbagai bentuk maksiat. Tentang ayat ini Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 4/310 mengatakan, "Oleh karena itu Allah melarang orangorang yang beriman untuk tasyabbuh/menyerupai ahli kitab

dalam hal-hal pokok ataupun hal-hal yang bersifat rincian meski hanya sedikit." Allah beriman,janganlah berfirman kamu yang katakan artinya, "Hai orang-orang yang

(kepada Muhammad): "Raa'ina",

tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih." (QS al Baqarah [2]: 148). Dalam kitab tafsirnya 1/148, Ibnu Katsir mengatakan, "Allah larang hamba-hambaNya yang

beriman untuk tasyabbuh/menyerupai orang-orang kafir baik dalam perilaku ataupun dalam kata-kata. yang Orang-orang Yahudi memiliki perhatian untuk bermakna ganda namun yang mereka

menggunakan kata-kata

maksudkan adalah makna jelek yang terkandung dalam kata-kata tersebut. Moga Allah melaknat mereka. Jika mereka ingin mengatakan kepada Nabi,

"Dengarkanlah kami" mereka menggunakan kalimat 'Ro'inaa' yang bisa bermakna 'perhatikan kami' dan bisa bermakna 'dasar tolol'. Sedangkan sebenarnya makna kedualah yang mereka maksudkan, sebagaimana

firman Allah QS an Nisa'[4]:46. Demikian pula terdapat beberapa hadits yang menceritakan ulah mereka. Jika orang-orang Yahudi mengucapkan salam maka yang mereka ucapkan adalah 'assamu 'alaikum' sedangkan makna assamu

adalah kematian. Oleh karena itu kita diperintahkan untuk menjawab salam mereka dengan mengatakan 'wa 'alaikum'. Doa kitalah yang akan terkabul sedangkan doa mereka untuk kita tidak akan terkabul. Ringkasnya Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai (tasyabbuh) dengan orang-orang yang kafir baik dalam kata-kata maupun dalam tingkah laku." Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Qotadah dan yang lainnya

menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi suka mengatakan 'ro'inaa' kepada Nabi dengan maksud mengejek. Oleh karenanya Allah tidak suka jika orang-

orang yang beriman berkata-kata semisal kata-kata orang Yahudi. Qotadah juga mengatakan bahwa orang-orang Yahudi sering berkata kepada Nabi, 'Ro'inaa sam'aka' dengan tujuan mengejek Nabi karena kata-kata tersebut dalam bahasa Yahudi memiliki makna yang buruk. Uraian di atas menjelaskan bahwa kaum muslimin dilarang mengucapkan kata-kata tersebut orang Yahudi sumengatakannya meski maksud orang karenaorangYahudi jelek

sedangkan maksud kaum muslimin dengan kata-kata tersebut tidaklah demikian. Karena menyerupai orangorang Yahudi dalam kata-kata tersebut berarti menyerupai orang-orang kafir dan melapangkan jalan bagi mereka untuk

mewujudkan tujuan mereka." (al Iqtidha', hal. 22). Jelaslah dari ayat-ayat di atas bahwa meninggalkan perilaku orang-orang kafir dan menyerupai mereka dalam perbuatan, perkataan dan hawa nafsu mereka termasuk tujuan dan target yang dicanangkan dan diajarkan oleh al-Qur'an. Nabi pun sudah menjelaskan dan merinci hal tersebut kepada umatnya bahkan

mempraktekkannya dalam berbagai rincian syariat. Demikian seriusnya Nabi dalam hal ini sampai-sampai orang-orang Yahudi yang tinggal bersama beliau di kota Madinah merasakan dan mengetahui bahwa Nabi ingin

menyelisihi mereka dalam semua ciri khas mereka. "Dari Anas bin Malik, Di antara kebiasaan orang-orang Yahudi jika terdapat seorang perempuan yang dalam kondisi haid maka mereka tidak mau makan bareng bahkan tidak

mau satu atap rumah dengan perempuan tersebut. Hal tersebut ditanyakan kepada Nabi lalu turunlah firman Allah yang artinya, "Mereka bertanya kepadamu tentang haidh " (QS. al Baqarah [2]: 222). Nabi lantas bersabda, "Lakukanlah segala sesuatu asal bukan hubungan biologis." Setelah sabda Nabi ini sampai ke telinga orang-orang Yahudi maka mereka berkomentar,

"Orang ini hanya punya keinginan untuk menyelisihi semua perilaku kita." (HR Muslim)." [Jilbab Mar'ah Muslimah, hal. 161-165].

3.3 Cara Berpakaian Rasulullah SAW Dalam tata cara berpakaian secara umum, ada beberapa hal yang dicontohkan Rasulullah SAW: 1. Berdo‟alah ketika akan berpakaian. Salah satu contohnya adalah: “Alhamdulillahil ladzii kasaanii hadzat tauba warozaqqoniihi min ghoiri haulin minna walaa quwwah“, yang artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rizki daripada-Nya tanta daya dan kekuatan dari-ku”; 2. Berdo‟alah ketika akan mengenakan pakaian baru. Doa yang dianjurkan adalah: “Allahumma laka al hamdu anta kasautani hi. As‟aluka khairahu wa khaira ma suni‟a lahu, wa a‟u dzu bika min syarrihi wa syarri ma suni‟a lahu“, yang artinya: “Ya Allah bagi Mu segala puji, Engkau telah me¬makaikan pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepada Mu kebaikannya dan kebaikan akibatnya. Aku berlindung pula kepada Mu dari kejahatannya dan kejahatan akibatnya”; 3. Disunahkan memakai pakaian dari sebelah kanan terlebih dahulu; 4. Berpakaianlah dengan rapi dan indah disesuaikan dengan tempat, tanpa berlebihan dan tidak dipaksakan 5. Disunahkan melepaskan pakaian dari sebelah kiri terlebih dahulu.

3.4 Pakaian Wanita dan Laki-laki Menurut Islam 1. Ciri-ciri pakaian wanita Islam di luar rumah ialah:  Pakaian itu haruslah menutup aurat sebagaimana yang dikehendaki syariat.  Pakaian itu tidak terlalu tipis sehingga kelihatan bayang-bayang tubuh badan dari luar.  Pakaian itu tidak ketat atau sempit tapi longgar dan enak dipakai. la haruslah menutup bagian-bagian bentuk badan yang menggiurkan nafsu laki-laki.  Warna pakaian tsb suram atau gelap seperti hitam, kelabu asap atau perang. Pakaian itu tidak sekali-kali dipakai dengan bau-bauan yang harum  Pakaian itu tdak „bertasyabbuh‟ (bersamaan atau menyerupai)dengan pakaian laki-laki yaitu tidak meniru-niru atau menyerupai pakaian laki-laki.  Pakaian itu tidak menyerupai pakaian perempuan-perempuan kafir dan musyrik.

Pakaian itu bukanlah pakaian untuk bermegah-megah atau untuk menunjuknunjuk atau berhias-hias. 2. Ciri-ciri pakaian laki-laki di luar rumah ialah:  Pakaian yang digunakan menutup aurat dari pusat sampai lutut.  Pakailah pakaian yang terbaik dan indah mata memandang.  Dilarang sama sekali memakai pakaian yang melambangkan nama Yahudi, Salib dan Barat. Hukumnya Haram.  Memakai jeans yang ketat adalah makruh bagi lelaki.  Dilarang menyerupai pakaian perempuan. Hukumnya Haram.

3.5 Adab Memakai Sendal Yang sesuai sunnah berkaitan dengan memakai sandal adalah memasukkan kaki kanan terlebih dahulu baru kaki kiri. Ketika melepas kaki kiri dulu baru kaki kanan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika kalian memakai sandal, maka hendaklah dimulai yang kanan dan bila dicopot maka hendaklah mulai yang kiri. Sehingga kaki kanan merupakan kaki yang pertama kali diberi sandal dan kaki terakhir yang sandal dilepas darinya." (HR. Bukhari dan Muslim) 1. Larangan Hanya Memakai Satu Sendal Demikian pula seorang muslim dimakruhkan hanya menggunakan satu buah sandal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika tali sandal kalian copot maka janganlah berjalan dengan satu sandal sehingga memperbaiki sandal yang rusak." (HR. Muslim) Demikian sallam pula bersabda, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa

"janganlah kalian berjalan menggunakan satu sandal.

Hendaknya kedua sandal tersebut dilepas ataukah keduanya dipakai." (HR. Bukhari dan Muslim) Perlu diketahui bahwa dua hal di atas hukumnya adalah dianjurkan dan tidak wajib. Oleh karena itu, orang yang

mendapatkan masalah dengan alas kakinya karena tali sandal copot maka hendaknya berhenti sejenak untuk memperbaiki sandal tersebut untuk melepas semua sandal lalu melanjutkan perjalanan. Tidak sepantasnya bagi seorang mukmin menyelisihi larangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

meskipun hukumnya makruh dan tidak sampai derajat haram. Hendaknya kita berlatih dan membiasakan diri untuk mengikuti petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lahir dan bathin sehingga mendapatkan kemuliaan karena ittiba‟ dengan sunnah Nabi secara hakiki. Sebenarnya, makna eksplisit dari larangan memakai satu sandal adalah menunjukkan hukum haram andai tidak pernyataan Imam Nawawi terdapat

yang mengklaim bahwa memakai dua sandal

sekaligus itu disepakati sebagai perkara yang dianjurkan dan tidak wajib. Dalam Riyadhus Shalihin beliau memberi judul untuk hadits-hadits di atas dengan hukum makruh saja. Maka keabsahan nukilan ini perlu dikaji dengan lebih seksama jika ternyata tidak benar maka makna eksplisit larangan dan berbagai penjelasan ulama tentang motif larangan ini menunjukkan bahwasanya

menggunakan satu alas kaki saja itu hukumnya haram. 2. Perkataan Para Ulama Tentang Sebab Pelarangan Tersebut Mengenai larangan berjalan dengan satu sandal, para ulama memberikan beragam keterangan tentang motif Nabi Nawawi menyatakan tersebut adalah bahwa karena para dengan ulama larangan tersebut. Imam

mengatakan

sebab larangan

menyebabkan pemandangan yang tidak pantas

dilihat. Nampak cacat dan menyelisihi sikap wibawa. Di samping itu, kaki yang bersandal jelas lebih tinggi daripada kaki yang lain. Hal ini tentu menimbulkan kesulitan saat berjalan. Bahkan boleh jadi menyebabkan

terpeselet. (Syarah Muslim, 14/62) Sedangkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 10/309-310 mengatakan, "Al-Khithabi menyatakan bahwa itu berfungsi

hikmah larangan menggunakan satu sandal adalah

karena

menjaga kaki dari gangguan duri atau semisalnya yang ada di tanah. Jika yang bersandal hanya salah satu kaki maka orang tersebut harus ekstra hati-hati untuk menjaga kaki yang lain, satu hal yang tidak perlu dilakukan untuk kaki yang bersandal. Kondisi ini menyebabkan gaya berjalan orang ini tidak lagi lumrah dan tidak menutup kemungkinan Ada dia bisa terpeleset.

yang berpendapat hal itu dilarang karena tidak bersikap adil terhadap

anggota badan dan boleh jadi orang yang berjalan dengan satu sandal dinilai oleh sebagian orang sebagai orang yang akalnya bermasalah. Sedangkan Ibnul Arabi mengatakan, "Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut

terlarang karena itu merupakan

gaya

setan

berjalan.

Ada

pula

yang

berpendapat karena sikap tersebut merupakan sikap yang tidak wajar dan lumrah. Di sisi lain, Al-Baihaqi berkomentar bahwa hukum makruh karena memakai satu sandal adalah disebabkan hal tersebut merupakan

pemicu popularitas. Banyak mata akan tertarik memandangi orang yang berperilaku aneh seperti itu dan terdapat hadits yang melarang pakaian yang menyebabkan popularitas. Karenanya segala sesuatu yang menyebabkan

popularitas sangat berhak untuk dijauhi." Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya setan berjalan menggunakan satu sandal." (HR Thahawi dalam Musykil Al-atsar) Al-Albani mengatakan setelah menyebutkan sanadnya ini adalah sanad yang shahih, seluruh perawinya adalah orang-orang yang tsiqah, perawi yang dipakai dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim selain ar-Rabi bin

Sulaiman al-Muradi namun beliau juga seorang yang kredibel. (Silsilah shahihah no. 348). Dengan hadits ini jelaslah bagi kita motif dari larangan Nabi untuk berjalan dengan satu sandal karena itulah gaya berjalannya setan. Jika demikian, maka kita tidak perlu memaksa-maksakan diri dan mencari-cari motif pelarangan. 3. Termasuk Sunnah Adalah Kadang-kadang Berjalan Tanpa Alas Kaki. Namun perlu diketahui bahwa termasuk sunnah Nabi adalah berjalan tanpa alas kaki kadang-kadang, dari Buraidah radhiyallahu 'anhu, ada seorang shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang pergi menemui Fudhalah bin Ubaid yang tinggal di Mesir. Setelah tiba dia berkata kepada Fudhalah, "Kedatanganku ini bukanlah dengan maksud berkunjung akan tetapi aku mendengar demikian pula engkau sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku berharap engkau memiliki ilmu tentangnya." Fudhalah bertanya, "Hadits apa yang engkau maksudkan?" Orang tadi mengatakan, "Demikian dan

demikian," orang tersebut lalu bertanya, "Kenapa aku lihat rambutmu tidak tersisir rapi padahal engkau adalah seorang penguasa." Fudhalah mengatakan, "Sesungguhnya Rasulullah melarang kami untuk terlalu sering bersisir." tersebut.

"Lalu mengapa aku tidak melihatmu memakai sandal?" Tanya orang Fudhalah mengatakan,

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan

kami untuk kadang-kadang berjalan tanpa alas kaki." (HR Ahmad dan Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al-Albani)

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan Melihat perkembangan zaman telah membawa pengaruh negatif yang besar bagi adab berpakaian umat Islam masa kini terutama bagi wanita. Maka umat Islam perlu mempelajari ulang ayat-ayat yang telah diturunkan Allah SWT dalam Al-Quran mengenai adab berpakaian yang benar serta perlu mempelajari kembali hadist-hadist yang Rasulullah SAW tntang berpakaian. Hal itu sangat diperlukan agar senantiasa mendapatkan ridho Allah SWT, karena kita sebagai umat-Nya haruslah patuh kepada aturan-aturan-Nya.

4.2 Saran Penulis menyarankan agar dapat mengikuti anjuran-anjuran dalam makalah ini tentang cara berpakaian dalam Islam agar senantiasa mendapat ridho Allah AWT.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Cara Berpakaian Muslimah. http://rumahmadina.com/blog-artikelislam/cara-berpakaian-muslimah/. Diakses pada 01 Januari 2012 Anonim. 2010. Cara Berpakaian Rasulullah SAW. http://cara-

muhammad.com/perilaku/cara-berpakaian-rasulullah-saw/. Diakses pada 16 Januari 2012 Anonim. 2011. Cara Berpakaian Rapih dan Baik Menurut Islam.

http://muda.kompasiana.com/2011/11/30/cara-berpakaian-rapih-dan-baikmenurut-islam/. Diakses pada 16 Januari 2012 Anonim. 2011. Etika Berpakaian Menurut Pandangan Islam.

http://abuislam.multiply.com/journal/item/26?&show_interstitial=1&u=%2Fjour nal%2Fitem. Diakses pada 16 Januari 2012 Anonim. 2011. Adab Berpakaian Menurut Islam. http://www.scribd.com/doc/4185294 /adab-berpakaian-menurut-Islam. Diakses pada 16 Januari 2012 Munandar, Arif. 2008. Adab Berpakaian. http://muslim.or.id (Ebook Maktabah Abu Salma al-Atsiri)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->