P. 1
KELAINAN DEGENERATIF

KELAINAN DEGENERATIF

|Views: 78|Likes:

More info:

Published by: Saputra Tri Nopianto on May 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

KELAINAN DEGENERATIF ___________________________________ I.

HERNIASI DISKUS INTERVERTEBRAL Perubahan degeneratif pada diskus intervertebral merupakan penyebab tersering nyeri pinggang. Penyebab lain antara lain kelainan kongenital, perkembangan, inflamasi, serta tumor, yang secara kepentingan klinis adalah sekunder namun mungkin berakibat perubahan yang serupa pada diskus intervertebral. Peningkatan pengetahuan terhadap gangguan penampilan dan fungsi tulang belakang menimbulkan minat yang lebih besar. Ini tidak hanya karena gangguan yang umum terhadap diskus intervertebral, namun juga terhadap akibat yang ditimbulkan pada struktur yang berdekatan. Hubungan langsung antara diskus intervertebral yang mengalami herniasi dengan siatika dianggap mempunyai basis morfologikal. Namun terpakunya pada perubahan patomorfologikal sebagai penyebab gejala mengantarkan pada situasi adanya kelainan fungsional tulang belakang yang ternyata tanpa disertai patomorfologi yang jelas. Terbukti bahwa pengangkatan secara operatif terhadap prolaps tidak memecahkan semua masalah. Juga ditemukan adanya perbedaan yang mengejutkan antara perubahan patomorfologikal dan radiografik pada satu sisi dan gejala disisi lain. Perubahan bentuk dan fungsi tidak selalu berhubungan dengan penampilan klinis segmen bersangkutan. Jadi suatu deformitas tidak perlu menunjukkan perasaan tidak enak. Buktinya adalah skoliosis dan kifosis pada remaja dapat menjadi lengkap tanpa gejala. Juga sering ditemukan pada foto sinar-X untuk keperluan lain, adanya tanda-tanda perubahan degeneratif pada penderita yang menyangkal adanya keluhan. Lamanya waktu yang diperlukan untuk berkembangnya suatu deformitas sering menentukan onset dari gejala. Kompresi mendadak satu atau lebih radik saraf pada fraktura atau herniasi diskus intervertebral akan menimbulkan nyeri segera dan berat. Sebaliknya bila radik saraf mengalami konstriksi secara lambat dalam beberapa tahun, seperti yang sering tampak pada skoliosis, spondilolistesis atau penyakit diskus intervertebral degeneratif pada tulang belakang, radik saraf jelas menyesuaikan diri secara perlahan terhadap restriksi hingga gejala neurologi jarang timbul. Bila terjadi cedera puntir mendadak, berakibat iritasi radik saraf dengan terjadinya edem pada radik saraf tersebut. Pada saat ini sikap fungsional dan dinamik kita berdasarkan kepada informasi baru, baik mengenai pendekatan biokimia maupun bio-mekanik terhadap diskus intervertebral yang tidak perlu merupakan tempat perubahan morfologik, namun lebih merupakan pusat proses metabolik yang menyebabkan perubahan bentuk, konsistensi dan volume, yang semuanya merubah fungsi tulang belakang.

Junghans (1951) telah membuat gambaran tentang "motion segment" ("Bewegungssegment"). Termasuk dua ruas tulang belakang yang berhubungan beserta diskus intervertebralnya, ligamen serta otot yang bersama-sama membentuk kesatuan fungsional. Kegagalan satu komponen merubah fungsi yang lainnya. Akibat berbagai respons metabolik terhadap stimulasi biomekanik, diskus intervertebral lebih sering merupakan asal ketidak-mampuan pada "motion segment". Ini terutama jelas pada tulang belakang leher bawah dan lumbar yang relatif merupakan bagian yang kaku, yaitu hubungan servikal-torasik dan sakrum yang tak dapat bergerak pada daerah lumbar, yang berhubungan dengan tulang belakang lumbar bawah. Sebagai tambahan harus diingat kondisi anatomi yang sempit yang terdapat antara daerah yang secara bertahap tidak dapat bergerak serta munculnya radik saraf . Lebih sering penyakit diskus inter-vertebral terbatas pada daerah segmen leher bawah dan lumbar bawah. Adalah perlu menemukan hal-hal yang utama pada kelainan diskus intervertebral untuk menyederhanakan suatu diagnosa serta tindakan. Misalnya perubahan postur yang berhubungan dengan nyeri. Dalam tindakan, metoda yang mungkin dilakukan diambil yang paling sederhana. Baik dalam diagnosa maupun tindakan , perlu melihat kembali kemajuan yang telah terbukti tidak berbahaya atas penyakit diskus intervertebral. Karena sindroma diskus intervertebral biasanya menyerang orang muda, adalah penting bahwa setelah pengobatan seorang dokter harus menganjurkan latihan harian yang cukup pada pasien. Pada hari-hari pertama didapat perasaan yang negatif terhadap onset yang tidak dapat diterima dan sering dengan perjalanan yang berbahaya dari penyakit diskus intervertebral. Bagaimanapun saat ini ada alasan untuk mengambil pendekatan yang lebih optimistik terhadap sejumlah kemungkinan yang tersedia disertai profilaksi dan rehabilitasi dengan perencanaan yang lebih baik. Frekuensi dan intensitas sindroma servikal dan lumbar mungkin berubah. Penyakit yang berasal dari diskus intervertebral juga disebut diskogenik. Gejala yang berasal dari sendi apofiseal dan/atau ligamen juga dipandang sebagai diskogenik oleh karena kelainan pada diskus intervertebral sering merupakan penyebab yang mempercepat timbulnya gejala. Walaupun tidak ada hubungan filogenetik, diskus intervertebral dan ruas tulang belakang berdekatan membentuk suatu kesatuan biomekanik, dan pada diseksi, diskus intervertebral dapat diangkat intoto dari antara dua dataran akhir (end plate) ruas tulang belakang bersangkutan. Diskus intervertebral sendiri adalah sendi utama tulang belakang dan jenisnya disebut amfi-artrosis. Sendi posterior juga disebut sendi apofiseal. Ini merupakan suatu sendi sejati (diartrosis) yang dapat dikatakan sebagai sendi vertebral. Pengetahuan tentang patologi diskus intervertebral serta tanda dan gejalanya sudah diketahui

lebih dari setengah abad. Namun pendapat tentang penyebab dan pengobatan berbeda sangat luas. Ini tampak dengan adanya berbagai terminologi. Sebelum Mixter dan Barr (1934) menjelaskan bahwa siatika disebabkan oleh kompresi radik saraf pada diskus intervertebral yang mengalami sekuesterisasi, juga dipikirkan bahwa diskus intervertebral yang mengalami herniasi mengandung tumor tulang rawan yang disebut "kordoma ekstradural anterior" (Steinke 1918, Clymer 1921, Adson dan Ott 1922, Ellsberg 1928). Bradford dan Spurling (1950) menggunakan istilah "protrusi" untuk diskus yang menonjol, dan membedakannya dari nukleus pulposus diskus yang ruptur atau mengalami herniasi yang pada saat ini dikenal sebagai "prolaps". Jaringan diskus intervertebral yang mengalami herniasi berisi tidak hanya material dari nukleus pulposus namun juga dari anulus fibrosus. Seperti telah dijelaskan, pernyataan "protrusi" digunakan untuk menunjukkan penonjolan diskus keposterior tanpa rupturnya anulus fibrosus. Sekali lagi, bila anulus fibrosus telah mengalami perforasi dan jaringan diskus mengalami penetrasi kerongga epidural, digunakan pernyataan "prolaps". Suatu ruptur tanpa protrusi eksternal melalui anulus disebut "ruptur intradiskal". Sekali terbentuk fragmen, mereka disebut juga "sekuestrum" dan dapat mengalami dislokasi. Pergerakan dari satu sisi kesisi lainnya sering menimbulkan gejala siatik yang berubah-ubah tergantung pada lokasinya. Melunaknya serta rupturnya diskus intervertebral disebabkan perubahan fisiologis substansi diskus, yang disebut sebagai "khondrosis inter-vertebral" (Schmorl dan Junghanns 1968). Dengan pengertian ini maka semua perubahan yang didapat disimpulkan sebagai "degenerasi diskus intervertebral". Perubahan degenerasi bagaimanapun tidak dibatasi hanya pada tulang rawan yang disebut sebagai "khondrosis", namun juga mengenai seluruh diskus intervertebral. Untuk alasan ini dianjurkan digunakan istilah "diskosis", yaitu artrosis-artritis; diskosis-diskitis (akhiran osis berarti perubahan degeneratif). Jadi perubahan patologis, biokimia dan biomekanik menjadi jelas dengan satu istilah. Diskus intervertebral tidak mengalami regenerasi. Degenerasi diskus intervertebral tidak perlu menimbulkan gejala namun mungkin mempunyai pertanda yang sangat jelas. Hal serupa juga berlaku terhadap perubahan pada dataran akhir ruas tulang belakang. Schmorl (1932) menganjurkan istilah osteo-khondrosis terhadap adanya perlunakan substansi diskus inter-vertebral yang bersamaan dengan perubahan pengapuran pada dataran akhir. Secara radiografi, tanda yang paling jelas dari kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah spondilosis. Ini termasuk spur tulang yang nyata pada tepi ruas tulang belakang dimana melekat ligamen longitudinal posterior. Pada aspek posterior setiap perubahan spondilotik tidak tampak pada beberapa tempat dimana ligamen longitudinal posterior melekat pada

diskus intervertebral. Spondilosis dan osteokhondrosis sering digunakan sebagai diagnosis, walau tanpa kelainan lain yang jelas yang menunjukkan tanda-tanda peningkatan usia, dan dapat dibandingkan terhadap perkembangan tumbuhnya uban dan berkerutnya kulit. Usia secara sederhana adalah proses fisiologik yang terjadi pada semua struktur serupa. Pada diskus intervertebral perubahan usia terjadi lebih awal akibat pengaruh nutrisional dan biomekanik yang menimbulkan perubahan yang tidak dijumpai pada struktur lain. Karenanya nasib alamiah dan biologik dari diskus inter-vertebral adalah penuaan yang lebih awal. Pada orang tua spondilosis dan osteokhondrosis selalu dapat diperlihatkan tanpa perlu menimbulkan gejala. Disamping diskosis, pernyataan "degenerasi diskus intervertebral" harus dipegang karena diterima secara internasional. Penampilan gejala mungkin bisa dimengerti pada istilah ini, yang bagaimanapun tidak perlu menggambarkan latar belakang morfologik. Degenerasi adalah istilah morfologik sejati yang tidak mempunyai arti klinis sebagai perubahan struktural, tidak mempunyai fungsi yang terganggu atau gejala. Sekali gejala bentuk apapun terjadi, tampaknya benar bila dikatakan tentang kelainan diskus intervertebral berdasarkan perubahan degeneratif. Ada deviasi pada aksis tulang belakang baik pada bidang frontal maupun sagital. Ini mungkin berakibat tenaga yang tak-setangkup terhadap diskus intervertebral. Pada bagian yang cekung yang mendapat catu makanan buruk, perubahan degenerasi diskus intervertebral terjadi lebih cepat. Akibatnya ruptur dan perlunakan lebih sering terjadi didaerah ini. Analog dengan deformitas prearthrotik, sudah dipikirkan bahwa deformitas postur, yaitu tekukan pelvis, kifosis, hemivertebra dan skoliosis adalah pertanda adanya suatu diskosis awal, serta karenanya deformitas prediskotik. Sekali lagi struktur morfologik tidak membawa kepentingan klinik. Bagaimanapun daerah dengan perubahan ini lebih cenderung terkena penyakit dengan gejalanya. Sebagaimana diketahui, inflamasi adalah khas dengan akhiran itis. Infeksi diskus intervertebral dikenal sebagai "diskitis". Pada beberapa instansi diskitis bukan dikarenakan infeksi dan ditempat lainnya dikarenakan infeksi. Sebagai contoh, sangat sering setelah penyuntikan khimopapain pada pasien mungkin menimbulkan keadaaan inflamatori diskus intervertebral yang berakhir setelah beberapa minggu tanpa adanya infeksi. Bagaimanapun ada infeksi diskus intervertebral yang disebut "diskitis". Infeksi ruas tulang belakang disebut "spondilitis". Pada keadaan dimana terjadi inflamasi yang bersamaan dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral yang berdekatan karenanya disebut "spondilodiskitis". Walau suatu spondilitis menyangkut infeksi bakterial dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral, infeksi diskus intervertebral biasanya mendominasi gambaran klinis. Secara umum , "spondilo-

alasan lain adalah bahwa penyakit diskus intervertebral terutama terjadi pada daerah servikal dan lumbar dan penyakit dari sumber lain didaerah ini adalah kekecualian. Istilah umum untuk nyeri radikular yang berasal dari tulang belakang lumbar adalah sindroma radik saraf lumbar. yang terbentuk dari jaringan fibrokartilago dan fibrosa. Istilah "sindroma servikal.f. Untuk pengertian klinis dan praktis terbaik. Istilah ini semata-mata menunjukkan dari bagian tulang belakang yang mana gejala berasal. Ini hanya merupakan satu dari sindroma lumbar lokal. namun tidak selalu diikuti distribusi siatika karena sindroma radik saraf lumbar yang lebih tinggi berasal dari kompresi serabut anterior radik kedua. . Apophyseal joint (Sendi apofiseal) Sendi diatelial. ketiga dan keempat semata. adalah simptomatologi yang menyangkut kelainan radikular. -------------------------------------------------------Istilah Penjelasan -------------------------------------------------------Anulus fibrosus Bagian seperti cincin melingkar (Anulus fibrosus) pada diskus intervertebral. penentuan dapat dibuat antar gejala lokal yang terbatas pada regio lumbar dan yang bersamaan dengan nyeri yang menjalar keekstremitas bawah. -inis. (lat): paralisis lumbar] adalah istilah umum yang digunakan untuk nyeri hebat pada daerah lumbar yang bersamaan dengan penurunan mobilitas. sumsum tulang belakang atau serebral. tidak akan benar secara terminologi. Satu alasan adalah bahwa mereka digunakan dalam bahasa medik sehari-hari dan karenanya sulit untuk diabaikan. Nyeri menjalar ke tungkai. Untuk menyatakan keadaan umum ini sebagai "lumbago". Tahap akut pada saatnya diikuti tingkat kronik. Ini yang umum disebut nyeri pinggang bawah (low back pain). "Lumbago" [lumbago. torak dan lumbar" adalah tidak sempurna dan tidak memungkinkan menilai etiologi dan patogenesis. Pada tulang belakang lumbar. Tabel 1 Istilah yang umum digunakan dan penjelasannya. juga disebut sendi tulang belakang.diskitis" hanya digunakan bila tulang belakang terserang pada penyakit rematik. Karenanya kita mungkin menetapkan secara teguh pernyataan ini. Sindroma lumbar lokal khas dengan gejala yang lebih merata dan tidak terbatas pada satu radik saraf dengan gangguan segmental namun secara luas diterima sebagai barasal dari diskus inter-vertebral. Sebagai tambahan terhadap gejala lokal yang umum yaitu gejala dari daerah tulang belakang yang terbatas. perlu analisa yang mendalam dari penyakit diskus intervertebral.

Perubahan degeneratif pada sendi ruas tulang belakang terutama yang bersamaan dengan degenerasi diskus intervertebral.Cartilagineous end.Tulang rawan hialin pada dataran plates tepi tulang belakang. Biasanya terdiri dari hemifasetektomi dengan membuang aspek mesial dari baik faset superior maupun inferior dari sendi tersebut. Facet arthrosis (Artrosis faset) Facetectomy (Fasetektomi) Foraminectomy (Foraminektomi) Hemilaminectomy (Hemilaminektomi) Interlaminar space Ruangan yang diselaputi ligamentum (Ruang interlaminar) flavum antara dua arkus ruas tulang belakang. Diskitis (Diskitis) Diskosis (Diskosis) Inflamasi atau infeksi terbatas pada diskus intervertebral. Membuang setengah dari arkus ruas tulang belakang. Terbentuk oleh tiga bagian. Disk injection Menyuntikkan baik media kontras ma(Penyuntikan diskus) upun obat obatan kedalam diskus intervertebralis. Memperluas foramen intervertebral yang menyempit. Internal disk dearangement (Kerusakan susunan diskus internal) Intervertebral disk (Diskus intervertebral) Robeknya jaringan didalam diskus intervertebral. Dataran akhir badan tulang belakang serta . suatu amfiartrosis. Sendi utama antara dua badan tulang belakang. Mengangkat sebagian atau seluruh faset atau sendi. Mengangkat bagian yang lepas maupun yang telah mengalami degenerasi dari diskus intervertebral. (Dataran tepi tulangrawan) Disk deseases (Kelainan diskus) Diskectomy (Diskektomi) Keadaan patologik yang timbul langsung maupun tidak langsung dari diskus intervertebral. Perubahan biomekanik dan patologik pada diskus intervertebral berhubungan dengan perubahan degeneratif yang serupa.

tervertebral lumbar) Lumboradiculitis (Lumboradikulitis) Motion segment (Segmen bergerak) Nyeri pada regio lumbar yang menjalar ketungkai. Intervertebral foramen (Foramen intervertebral) Kanal antara dua arkus ruas tulang belakang yang ditembus oleh saraf.anulus fibrosus. Prolapse (Prolaps) Herniasi jaringan diskus intervertebral melalui anulus fibrosus kedalam kanal. operasi diskus inter- Nucleus pulposus (Nukleus pulposus) Osteochondrosis (Osteokhondrosis) Postlaminectomy syndrome (Sindroma pascalaminektomi) Prediskotic deformity Gangguan bentuk dan fungsi segmen (Deformitas bergerak yang memudahkan perkemprediskotik) bangan sindroma diskus intervertebral kelak. Dikelilingi sebelah atas oleh pedikel. Membuang bagian dari arkus ruas tulang belakang. Nyeri akut pada regio lumbar. Nyeri setelah vertebral. Kesatuan fungsional kolumna tulang belakang yang terdiri dari dua badan ruas tulang belakang diskus intervertebral diantaranya. . Degenerasi diskus intervertebral bersama-sama dengan perubahan dataran akhir ruas tulang belakang. biasanya bagian superior dan ligamentum flavum.regio lumbar. Pusat diskus intervertebral terutama terdiri dari substansi ini. Tepi posterior dihubungkan oleh faset superior dan inferior dari sendi posterior. Nyeri yang terbatas hanya pada regio lumbar. anterior oleh diskus dan inferior oleh pedikel ruas tulang belakang inferior. Membuang arkus ruas tulang belakang. Laminectomy (Laminektomi) Laminotomy (Laminotomi) Low back pain (Nyeri punggung bawah) Lumbago (Lumbago) Lumbar disk desease Kelainan diskus intervertebral pada (Kelainan diskus in.

Penetrasi spontan jaringan diskus intervertebral keruas tulang belakang. Keadaan khas yang tampak pada posisi berdiri pada penderita prolaps atau protrusi diskus intervertebra. Inflamasi rematoid pada tepi diskus intervertebral. Kontraksi yang jelas pada otot hamstring (mungkin karena traksi pada radik L5 dan S1-S2) menyebabkan teregangnya saraf ini.Protrusion (Protrusi) Rheumatoid diskitis (Diskitis rematoid) Schmorl nodes (Nodus Schmorl) Sciatica (Siatika) Penonjolan diskus intervertebral tanpa perforasi anulus fibrosus. Sciatic list (Postur siatik) Segmental instability (Ketidakstabilan segmental) Sequestered Terlepasnya fragmen nukleus yang disk fragment mengalami degenerasi dari diskus (Fragmen diskus yang intervertebral mengalami sekuesterisasi). (Radikulitis lumbar sebelah atas) ------------------------------------------------------- . S1 dan/atau S2. Akar L4 mungkin hanya terserang sebagian. Penyebaran nyeri sepanjang ekstremitas bawah sesuai dengan distribusi saraf siatik. L3 dan L4. mencakup akar saraf L5. Penyempitan kanal spinal. Spinal fusion (Fusi spinal) Spinal stenosis (Stenosis spinal) Spondylosis (Spondilosis) Three-joint complex (Kompleks tiga sendi) Tight hamstring (Hamstring yang tegang) Stabilisasi operatif pada segmen bergerak. Upper lumbar Sindroma lumbar yang mengenai akar radiculitis) saraf L2. Hilangnya stabilitas. Konsep yang terdiri dari dua sendi dan diskus pada masingmasing tingkat. Degenerasi diskus intervertebral dengan spur tulang reaktif pada tepi ruas tulang belakang.

8. Hanraets (1959).9 % sudah menderita berbagai jenis gangguan sistem lokomotor. Sepanjang hidupnya. Penyelidikan epidemiologik sudah dipelopori oleh Braun (1969) dan Wagenhauser (1969) Wagenhauser (1969) melakukan penelitian pada 1. Informasi lain mengenai distribusi kelamin dan usia dari penyakit diskus intervertebral sudah dijelaskan oleh Schmorl dan Junghanns (1968). Dari negara lain juga dilaporkan frekuensi penyakit diskus inter-vertebral degeneratif yang berhubungan dengan pekerjaan: Inggeris (Dixon 1973. Jochheim (1961). serta peningkatan angka harapan hidup berakibat pada peninggian penyakit pinggang baik secara relatif maupun nyata. Gross (1966) dan Hult (1954). Penyelidikan Knepel (1977) mendapatkan pada praktek umum bahwa dari tiap 10 penderita didapatkan seorang dengan keluhan pinggang yang disebabkan oleh degenerasi diskus intervertebral. Ini terutama jelas pada lesi diskus intervertebral. rickets dan polio. Armstrong (1965). Duthie 1969). penyakit sendi degeneratif adalah kelainan kronik yang utama. ini terutama jelas pada penyakit degeneratif sistem lokomotor dimana degenerasi diskus intervertebral berperan penting. Tidak . Conventry (1968) dan Hirsch (1960). Karena tidak jelasnya terminologi penyakit rematik. Secara keseluruhan . Untuk lebih baik dalam mengikuti perkembangan dan distribusi suatu penyakit kronis dimasarakat. de Palma dan Rothman (1970). sejumlah keadaan secara salah disangka rematik. Beberapa pandangan menarik didapat dari morbiditas penyakit diskus intervertebral. Hal ini tampak pada usia setelah 30 tahun atau lebih awal seperti laporan dari penelitian pato-anatomi oleh Schmorl (1932). sedikit orang yang terhindar dari gangguan punggung postural akibat perubahan degeneratif. perlu melakukan penelitian prospektif. Amerika Serikat (Leavitt 1971). Finlandia (Rissanen 1969). Gangguan pada pinggang adalah paling umum hingga usia 35 tahun.170 penduduk.A. Schmorl dan Junghanns (1968). Magora dan Tanstein 1969). gangguan pinggang lebih sering dari gangguan sendi lainnya. Menurut laporan German Health Office. Israel (Magora 1970. dan 52 % nyata mempunyai gejala saat pemeriksaan. Persentase pengobatan pasien rawat jalan dengan sindroma diskus intervertebral mencapai 37. Penurunan tuberkulosis sendi. Lindemann dan Kuhlendahl (1953). 72. Arti dan Frekuensi Kelainan Diskus Intervertebral Penyakit diskus intervertebral adalah kelainan yang umum didapat. Ini menjadi lebih nyata bila kelainan tulang belakang dipelajari sendiri. Swedia (Dahlberg 1976). Kanada (White 1969). Frekuensi tinggi dari ketidak-mampuan kerja serta pensiun awal diakibatkan oleh penyakit diskus intervertebral.

atau penderita yang mengalami perasaan tidak enak setelah ia membebani pinggangnya. Sisanya terdiri dari skoliosis. Sindroma servikal lebih sering pada wanita (60.3 %). dan lebih dari setengahnya mengenai diskus intervertebral lumbar empat. keadaan inflamasi. Penderita lainnya tidak pernah diperiksa walau dengan onset nyeri lumbar mendadak. Alasan mengapa laki-laki lebih sering dikenai tidak hanya karena lebih sering dan lebih berat dalam mengangkat serta meregang dibanding wanita.8 % pada wanita.1 dan toraks hanya 1.96 %.7 % adalah akibat degenerasi diskus intervertebral. yang memerlukan tindakan yang lebih aktif. Hampir duapertiga kelainan diskus intervertebral menyerang tulang belakang lumbar. yang lebih sempit pada pria.kurang dari 92. Beratnya sindroma lumbar. Frekuensi Sindroma Lumbar Sindroma lumbar secara khas ditandai dengan gejalagejala dan tanda-tanda yang berasal dari perubahan degeneratif pada diskus intervertebral lumbar. Karenanya sangat mungkin sindroma lumbar terjadi lebih sering dari yang tercatat. Pada usia ini terjadi perubahan jaringan diskus intervertebral dengan tekanan yang tinggi pada nukleus pulposus dan penurunan tahanan dari anulus fibrosus. berbagai tumor. dan kelainan jarang lainnya.6%) dan sindroma lumbar lebih utama pada pria (51. penyakit Scheuermann. Ini yang ditemukan oleh kalangan medis. Regio tulang belakang yang berbeda terserang dengan persentase berbeda. Satu dari duabelas pasien pada praktek umum tampak diakibatkan oleh sindroma lumbar. tetap lebih utama pada pria. juga terjadi sindroma radik-radik saraf lumbar dengan nyeri yang menjalar ketungkai. Dengan kata lain kemungkinannya besar untuk . penting menghubungkan aspek medik dan sosial karena sering terjadi pada usia menengah dimana mereka sedang berada pada puncak aktifitas kehidupannya. Disamping perasaan tidak enak setempat. Bukan tidak mungkin bahwa kanal lumbar.94 % diikuti servikal dengan 36. osteoporosis. Sindroma diskus intervertebral terjadi terutama pada kelompok usia menengah. Lumbar paling sering terserang dengan 61. mempunyai peranan (Tannich 1976). Pada penderita rawat jalan 47. 68 % antara 30 dan 60.2 % terjadi pada pria dan 52. dan maksimum dicapai pada usia 40 dan 50. Gejala umumnya timbul antara usia 30 dan mencapai puncaknya pada usia 40 pada pria dan 10 tahun kemudian pada wanita. Ini adalah usia dimana kebanyakan operasi terhadap prolaps diskus intervertebral dilaksanakan. Diyakini ada faktor spesies spesifik tertentu. Laki-laki lebih sering terserang dibanding wanita. serta sindroma kauda ekuina. Sindroma diskus intervertebral hampir sama banyaknya pada pria dan wanita. B. Selain frekuensi sindroma lumbar yang tinggi.

Kelsey dan White. Rowe mendapatkan 35 persen pekerja ringan dan 45 persen pekerja berat mengeluhkan nyeri pinggang. Setelah serangan pertama nyeri pinggang bawah. makin besar ia akan kehilangan kemampuannya dan tidak akan pernah kembali kekerja yang produktif. Benn dan Wood menemukan bahwa nyeri pinggang bawah merupakan faktor ketiga yang menyebabkan kehilangan jam kerja setelah kelainan paru akut dan kronik serta kelainan pembuluh koroner arteriosklerotik di Inggris pada tahun 1970. namun menemukan pada wanita gejala yang jelas baru timbul satu dekade kemudian. menyimpulkan bahwa di Amerika Serikat gangguan pinggang dan tulang belakang merupakan penyebab tersering diantara semua kelainan kronis dalam menyebabkan pembatasan aktifitas masyarakat berusia dibawah 45 tahun. Walau Kelsey menemukan bahwa pria lebih banyak menjalani operasi akibat nyeri pinggang bawah. Penampilan gejala sangat berhubungan dengan peristiwa biokimia dan biomekanik yang sinambung pada jaringan diskus intervertebral yang perkembangannya sangat berkaitan dengan involusi usia. hanya kedua setelah infeksi saluran nafas atas. Menurutnya tiap orang kehilangan 4 jam kerja setahun karena nyeri pinggang bawah. Nyeri akut dan siatika dapat timbul spontan tanpa penyebab yang jelas. Tak ada perbedaan rasial atas nyeri pinggang bawah dan siatika.400 per 1. McGills menemukan bahwa ketidak-hadiran selama satu tahun karena kelainan pinggang bawah mengurangi kemungkinan untuk kembali bekerja hingga hanya 25 persen.000 pekerja dan dibeberapa pabrik di Inggeris 2. jumlah penderita merata. Horal menemukan bahwa nyeri pinggang bawah dalam derajat yang jelas telah dimulai pada usia onset rata-rata 35 tahun.000 pekerja. seperti juga peneliti lain. Penyakit ini berjalan secara khas mengikuti variasi musim. Nachemson menduga bahwa 80 % orang dewasa mengalami nyeri pinggang yang jelas selama kehidupan dewasanya. Peneliti lain mendapatkan bahwa semakin lama penderita meninggalkan pekerjaannya.terjadinya dislokasi periferal dari jaringan diskus intervertebral yang terletak sentral. Selama sisa bulan. Sindroma lumbar cenderung sedikit menurun selama bagian awal dari tahun (Kramer 1973). Sindroma lumbar tampaknya tidak mengikuti pola statistik khusus. Kehilangan hari kerja pertahun akibat nyeri pinggang bawah di Amerika Serikat adalah 1. Kelsey menemukan usia onset yang sama pada pria dengan nyeri pinggang bawah akibat kelainan diskus. hal ini tidak berarti suatu bukti dari contoh penderita nyeri pinggang bawah secara keseluruhan. Menurutnya hanya 35 % dari mereka yang akan menjadi penderita siatika. Ia menduduki peringkat ketiga setelah kelainan jantung dan arthritis serta rematik pada usia 45 hingga 64 tahun. dan . 90 persen akan mengalami serangan berikutnya.600 per 1.

dan hanya 19 persen memerlukan tindakan operasi. Perkembangan Diskus Intervertebral Untuk memahami latar belakang perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dewasa. mencakup diskus intervertebral dan ruas tulang belakang. 1970) dan rekannya Larcher (1947). 1955.8 persen pria dan 2. prosesus notokhordal. Ia tetap hanya sebagai aksis skeletal pada khordata. Usia onset rata-rata pada serangan siatika pertama sekitar 37 tahun. mesoderm dan endoderm yang sudah terbentuk. Siatika adalah penyakit yang yang umum dan berpengaruh ekonomi. Di Swedia 53 persen pekerja ringan dan 64 persen pekerja berat mengalami nyeri pinggang bawah.setelah tidak hadir dua tahun biasanya tidak mungkin untuk bekerja kembali. Datanya menyatakan bahwa 4. dengan tiga lapisan germinal primer. Dalam seri seksi mikroskopik mereka dapat mendemonstrasikan involusi notokhord dan perkembangan yang berkesinambungan dari tulang belakang dan diskus intervertebral. Embrio usia beberapa hari dengan panjang kepala-ekor 12 mm menampakkan tanda awal dari kolumna vertebral. Dari ujung kranial streak. baik terhadap perorangan maupun industri. yakni ektoderm. embrio berupa piring berbentuk buah pir. Perlu diingat bahwa prognosis untuk penderita dengan siatika berat unilateral akibat diskus intervertebral yang herniasi tidaklah jelek. Prader (1947) dan Ecklin (1960). Selama periode ini dapat dijumpai awal dari degenerasi. menuju ujung kaudal. Akhir minggu ketiga pasca ovulasi. Cikal bakal tulang belakang adalah aksis selular yang disebut notokhord. Anatomi dan Fisiologi Diskus Intervertebral 1. yakni struktur aksial yang akan menjadi sumbu terbentuknya tulang belakang. Notokhord berubah sangat dini menjadi kolumna vertebral kartilago atau tulang. C. Tekanan karena peningkatan pertumbuhan sel . streak primitif yang terutama dibentuk oleh sel-sel lapisan ektodermal bermigrasi keventral melalui streak dan menyebar kesetiap sisi membentuk mesoderm embrionik. sekitar 76 persen menderita nyeri pinggang bawah satu dekade sebelumnya. Notokhord berjalan melalui pusat kolumna vertebral. menonjol kedepan diantara ektoderm dan endoderm. Digaris tengah piring embrionik. perlu untuk mengetahui perkembangannya pada tingkat embrionik dan pada saat bayi. 1968. Hakelius melaporkan bahwa 75 persen penderita membaik setelah 10 hingga 30 hari sejak onset gejala. Bell dan Rothman menyimpulkan bahwa masalah klinis siatika adalah berhubungan dengan degenerasi diskus intervertebral.5 persen wanita diluar usia 35 tahun menderita siatika. Perkembangan tulang belakang beserta deformitasnya sudah dipelajari terutama oleh Tondury (1947.

dan absorpsi pada permukaannya membentuk tulang "cancellous". Fibril longitudinal tampak lebih awal pada zona luar yang akhirnya membentuk nukleus pulposus. Ruas tulang belakang dan diskus intervertebral mencapai akhir perkembangannya pada pemuda dewasa. satu horizontal perifer dan satu longitudinal sentral. Bidang tulang rawan mempunyai vaskularisasi baik. Annulus fibrosus dan nukleus pulposus bertambah ukuran dan isinya secara aposisi interstitial (Hirsch dan Schajowicz 1952). Ada dua sistem pembuluh. Zona luar yang kaya akan fibril namun miskin akan sel.tulang rawan memeras notokhord menjadi segmen sirkular kecil yang terletak pada diskus intervertebral. Karenanya penulangan pada batas terluar membentuk cincin tulang dari bidang akhir. Segmen ini adalah asal dari nukleus pulposus (Tondury 1958). Zona ini menghilang pada usia sekitar 20 tahun. Dari tingkat ini penggabungan mulai dari cincin epifiseal kebadan ruas tulang belakang. Pertumbuhan ruas tulang belakang mengambil tempat pada zona proliferatif dari bidang epifiseal. Berkas lamella padat pada lapisan periferal anulus membentuk jaringan yang berjalan dari satu ruas keruas tulang belakang lainnya. pusat ini bersatu untuk membentuk cincin epifiseal osseus. Catu vaskular semua elemen pada diskus inter-vertebral sempurna . Pembuluh ini tidak mencapai baik interior dari annulus fibrosus maupun nukleus pulposus (Tondury 1958). Diskus intervertebral disekeliling segmen khordal terdiri dari satu zona luar dan satu zona dalam. Pusat penulangan ruas tulang belakang kearah diskus intervertebral membentuk bidang akhir tulang rawan. Pembuluh mencapai annulus fibrosus melalui jaringan vaskular disekeliling kolumna tulang belakang dan foramina intervertebra. Zona dalam parakhordal bersama segmen khordal yang terletak eksentris membentuk nukleus pulposus. Lamella fibrosa ditembus pembuluh ini yang berasal dari jaring kapiler intralameller. Ini merupakan zona regenerasi. Cincin epifiseal osseus adalah penting pada diskus intervertebral karena serabut Sharpey melekat padanya. Fibril berjalan didalam tulang rawan ruas tulang belakang dan kemudian berkembang membentuk serabut Sharpey pada zona transisional. berlanjut kezona dalam gelatinosa parakhordal yang betul-betul tanpa struktur. Diskus intervertebral yang sedang tumbuh menerima catu vaskular untuk zona luar selama tahap embrionik dan bayi. Jumlah dan kekuatan lamella berkurang kearah pusat diskus intervertebral. Diskus intervertebral saat lahir terdiri dari semua struktur yang kelak menjadi penting dalam kehidupan dalam hal fungsi mekanik tulang belakang. Bagian sentral diskus intervertebral menerima nutrisi melalui difusi. Pada usia 12 tahun. Pusat osifikasi berkembang pada daerah cincin epifiseal kartilaginosa. Nukleus pulposus yang tidak berstruktur mengisi daerah ini.

pembuluh pada diskus intervertebral menghilang bila posisi berdiri dimulai. Dalam hal kualitas diskus intervertebral. Penurunan nutritif pada diskus intervertebral dengan sendirinya berakibat pada baik kualitas maupun kuantitas jaringan ikat pada diskus intervertebral. Bila segmen bergerak menjadi immobil karena spur spondilotik. Dengan pertambahan usia. Goldie (1957) dan Hassler (1969) menemukan invasi jaringan granulasi dengan pembuluh darah pada diskus intervertebral yang berdegenerasi. Konsekuensinya adalah terjadinya gangguan metabolisme. Saat lahir kedua struktur hampir sama tinggi. pembuluh darah dapat masuk kediskus intervertebral sebagai bagian dari reaksi jaringan ikat. Setelah akhir pertumbuhan. dan karenanya terjadi perubahan konsistensi dan warna jaringan diskus pada tahun-tahun pertama kehidupan. Mungkin menghilangnya pembuluh berhubungan dengan peningkatan beban yang berkesinambungan. permukaan terpotong adalah berkilat dan menyerupai gelatin. Penambahan oleh aposisi interstitial pada ukuran dan isi nukleus pulposus dan anulus fibrosus tidak berjalan paralel dengan pertumbuhan badan ruas tulang belakang.hingga usia dua tahun (Tonduri 1955). Disini terjadi penurunan yang cepat pada kandungan air. setelah itu terjadi regresi yang menyebabkan diskus intervertebral avaskular pada usia empat tahun. Hubungan ukuran antara badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral karenanya menjadi disproporsionat. Perubahan ini jelas pada pemeriksaan visual sederhana terhadap spesimen. Diskus intervertebral karenanya menunjukkan banyak perubahan selama periode pra serta pasca natal. Tahap tertentu pada perkembangan diskus intervertebral . Kontras dengan ini. pembuluh pada diskus intervertebral berada pada massa gelatinosa homogen yang secara fisik ekual dengan cairan. perubahan yang tampak pada orang muda menunjukkan "degenerasi bergantung usia" yang dini. Pada manusia. karakternya menjadi relatif kering dan fibriler. hingga pembuluh ini mengalami penekanan secara terus menerus oleh tekanan yang berasal dari diskus intervertebral yang mengikuti variasi postur tubuh. Pada neonatus dan bayi kecil. sedangkan pada dewasa tidak mungkin. diskus intervertebral menunjukkan perubahan penampilan dikarenakan perubahan regresif. Pembuluh ruas tulang belakang sebagian berada pada sistem trabekular badan ruas tulang belakang dan terhindar dari beban dan kompresi aksial. Ini memberikan kesan sebagai substansi cairan. dan akan dipertahankan selama tahun pertama dan kedua kehidupan. Jaringan semi cair sentral ini dapat dengan mudah dibuang pada anak usia dua tahun. area sentral nukleus kehilangan penampilan homogen dan gelatinnya. namun pada akhir periode pertumbuhan tinggi diskus intervertebral hanya 1/3 hingga 1/5 tinggi ruas tulang belakang berdekatan.

Diskus intervertebral pada hubungan servikal-torak dinamakan diskus intervertebral C7-T1 atau diskus intervertebral C7. Berlawanan dengan . Misalnya C5-6 adalah diskus intervertebral antara ruas tulang belakang servikal kelima dan enam. Diskus intervertebral dinamai pada saat ini dalam dua cara berbeda. Paling umum menggunakan sistem yang berhubungan dengan ruas tulang belakang tetangganya. Pada dataran sagital berbentuk trapezoid dan mengatur kurva fisiologik masing-masing bagian. Tulang belakang manusia terdiri dari 24 segmen bergerak. adalah penamaan diskus intervertebral berdasar nama ruas tulang belakang diatasnya. ligamen flavum. dan sendi segmen bergerak antara atlas dan aksis tidak mempunyai diskus intervertebral. jalur yang mungkin berperan pada patogenesanya harus dijelaskan. Misalnya diskus intervertebral diantara ruas tulang belakang servikal kelima dan keenam juga dikenal sebagai diskus intervertebral servikal kelima. kanal tulang belakang dan prosesus spinosus serta transversus berikut ligamennya. Paling atas antara oksiput dan atlas. Unit fungsional dari tulang belakang adalah segmen bergerak (Schmorl dan Junghans 1968). Anatomi Tulang Belakang Kelainan diskus intervertebral tidak hanya menyerang diskus intervertebral saja. Diskus intervertebral pada hubungan torakolumbar dinamakan T12-L1 atau diskus intervertebral torak ke 12. sendi ruas tulang belakang. anulus fibrosus dan dataran tulang rawan yang pada berkembangan lebih lanjut menjadi lebih berintegrasi dengan ruas tulang belakang. Karenanya ada 23 diskus intervertebral. Diskus intervertebral berubah tingginya yaitu semakin tinggi pada arah superior keinferior. Sistem lainnya. ada lima buah diskus intervertebral servikal. yang mungkin tampil sebagai sindroma diskus inter-vertebral. 2. Struktur berdekatan juga dikenai. Karenanya termasuk ligamen longitudinal anterior dan posterior. Segmen bergerak dibentuk oleh setengah ruas tulang belakang diatas dan setengah ruas tulang belakang dibawahnya. 11 torakal dan empat lumbar. ligamen flavum yang kelateral membentuk kapsul untuk sendi ruas tulang belakang. Diskus inter-vertebral membentuk 1/4 tinggi dari tulang belakang dewasa. Sendi utama yang dibentuk oleh diskus intervertebral terdiri dari nukleus pulposus. Bila memikirkan bagian dari sindroma ini. diskus intervertebral mungkin disebut diskus intervertebral L5-6 atau L6-S1. Pada beberapa keadaan dimana ditemukan ruas tulang belakang lumbar tambahan .dari bayi hingga usia tua ditandai dengan kemungkinan yang lebih besar terhadap suatu perubahan degeneratif tidak hanya pada nukleus pulposus tapi juga pada anulus. menjadi lebih umum digunakan. Sebagai aturan.

Sisa dari notokhord terletak lebih kebelakang. akan berusaha mendapatkan bentuk bola. dataran tulang rawan bersatu dengan dataran akhir ruas tulang belakang melalui lapisan kalsium melalui mana porus-porus kecil menembus untuk nutrisi diskus intervertebral. Pada orang muda dimana jaringan diskus intervertebral lebih homogen. dan diregio tulang belakang lumbar menyempit menjadi pita tipis. yaitu dari anulus fibrosus dan nukleus pulposus. Interior ruas tulang belakang mempertahankan hubungannya dengan dataran tulang rawan melalui lamina kribrosa. Jaringan ini berisi substansi dengan dasar gelatin (Schmorl dan Junghanns 1968) yang akan menjadi nukleus pulposus. Disini aspek superiornya lebih lebar dari inferior. konveksitas lordosis servikal dan lumbar adalah akibat penambahan tinggi bagian anterior diskus intervertebral. Ini dapat dengan mudah diangkat dari diskus intervertebral. ligamen longitudinal posterior tidak menutupi diskus inter-vertebral secara . Pada usia awal. anulus berhubungan secara mulus dengan nukleus pulposus. dataran tulang rawan nyatanya merupakan bagian badan tulang belakang. biasanya kurang dari satu cm3 yang dapat disuntikkan. yang ditentukan oleh konfigurasi ruas tulang belakang. Lamela fibrosa lebih banyak dan lebih kuat di anterior dan lateral dibanding di posterior dimana mereka lebih jarang dan lebih tipis. Sebaliknya.kifosis torak. Pada diskus intervertebral (Stahl 1977). Lebih kedepan. Ligamentum longitudinal anterior berjalan secara luas sepanjang permukaan anterior badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. Bila memotong diskus intervertebral secara transversal maka substansi sentral yang melekat erat pada ruas tulang belakang akan menonjol keluar. dan saat pertumbuhan berakhir ia mencapai cincin ruas tulang belakang. permukaan ruas tulang belakang yang seperti saringan. Difusi berbagai substansi terjadi melalui lapisan ini. Diperifer ada serabut Sharpey yang menembus dan melekat pada cincin ruas tulang belakang. nukleus pulposus mengandung sel khordal dan untaian yang tersusun berbentuk jaring yang tampak berasal dari sel khordal (retinakulum khordal). Ia mengandung tulang rawan hialin. Substansi nukleus pulposus pada usia selanjutnya dipisahkan ruangan yang kedalamnya dapat dimasukkan satu hingga dua cm3 cairan melalui suntikan. Anulus fibrosus mengandung serabut serupa sekrup yang bercampur satu sama lain yang berjalan dari satu ruas tulang belakang ke ruas tulang belakang lainnya. ligamentum longitudinal posterior tak begitu mudah dipisahkan dari diskus intervertebral karena eratnya perlekatannya. Walau sepatutnya bagian dari diskus intervertebral. berbeda dengan penjelasan pada beberapa buku anatomi. Menurut Schmorl (1932). Ini menunjukkan bahwa diskus intervertebral akibat dari tekanannya sendiri.

Pada operasi dengan posisi ini untuk prolaps diskus intervertebral lumbar. Persangkaan hipertrofi dalam berbagai tingkat dianggap bertanggung jawab atas keluhan pinggang bila pada saat operasi didapatkan kondisi lainnya dalam keadaan normal. Vena vertebral juga mempunyai hubungan dengan vena cava superior dan inferior. Menjembatani foramina interarkuata. dapat timbul nyeri yang berasal dari periosteum. Anatomi Tulang Belakang Lumbar . Bila pita ini mengalami regangan. vena epidural akan kolaps dan sulit untuk terisi darah. bila tiada tekanan pada abdomen dan abdomen tergantung bebas. 3. Pada posisi 'a la vache'. Karenanya hanya sedikit perdarahan saat operasi dan koagulasi elektrik jarang diperlukan. Vena vertebral dapat menyebabkan sindroma diskus inter-vertebral dan juga suatu perburukan bila terjadi penyempitan kanal spinal oleh protrusi diskus intervertebral atau tulang. yang tak mempunyai katup. perut dan tengkorak. Pada posisi duduk dan terlentang vena ini terisi penuh. yaitu melalui batuk. Pengisian vena ini tergantung posisi tubuh. Bagian lateral ligamen membentuk pita yang berjalan oblik menyilang diskus intervertebral dalam arah kedistal dan akhirnya berakhir pada dasar pedikel. Clemens (1970) mendemonstrasikan pentingnya sistem vena vertebral lokal yang memiliki hubungan melalui beberapa emissaria dengan vena inferior tengkorak. Ligamentum flavum menjadi lebih tebal sebelah distal dari kolum servikal. terdapat sirkulasi kolateral lokal yang segera bereaksi pada semua peninggian tekanan pada dada. bersin dan peninggian tekanan abdominal. Bersama vena azigos. pengisian vena dan tekanan vena sentral berada pada keadaan paling rendah. Ligamentum flavum merupakan struktur penting pada bedah diskus intervertebral. Vena vertebral. dimana prolaps dan protrusi diskus intervertebral terjadi. Pada pengukuran intraoperatif didemonstrasikan bahwa derajat pengisian pada vena epidural lumbar berhubungan dengan tekanan vena sentral (Ghazwinian dan Kramer 1974). Ligamen ini menutupi aspek posterior kanal spinal dan kelateral membentuk kapsul dari persendian ruas tulang belakang. ia berjalan dari setengah anterior dan distal lamina diatasnya dan melekat pada sisi superior lamina dibawahnya. seperti terjadi pada protrusi diskus intervertebral. Ini menjelaskan peningkatan rasa tidak enak daerah lumbar saat kegiatan tersebut. Perhatian besar telah lama dipusatkan pada ketebalan ligamentum flavum.menyeluruh namun menyisakan aspek dorsolateral terbuka. Ligamentum flavum dan ligamentum interspinosum menstabilkan bagian posterior segmen bergerak pada kurva anterior pada kifosis total dan pada posisi berdiri. membentuk sistem anastomotik dari tengkorak mencapai sakrum.

Hubungan diameter dari L1 hingga L5 adalah 1:5 (Tondury 1970). karena oleh perubahan diskus inter-vertebral atau dislokasi ruas tulang belakang. Foramina intervertebral terletak sama tinggi dengan diskus intervertebral. yakni pada bagian superior dari tulang belakang lumbar. Foramina Intervertebral Posisi foramina intervertebral dalam hubungannya dengan diskus intervertebral tulang belakang lumbar adalah paling penting dalam mengamati radik-radik saraf spinal. Diskus intervertebral torakolumbar atau diskus intervertebral T12 dianggap milik tulang belakang lumbar.a. Ukuran kanal tulang belakang lumbar baik pada dataran frontal maupun sagital serta bentuk dari kanal. Foramina intervertebral daerah lumbosakral sangat kecil. Diskus Intervertebral Lumbar Tulang belakang lumbar mempunyai lima ruas tulang belakang. Foramina intervertebral terbatas kearah posterior oleh faset sendi. Variasi Ruas Tulang Belakang Lumbar Terdapat anggapan yang berlebihan bahwa deformitas dan anomali kongenital adalah penting sebagai penyebab . namun juga antara kedua sisi. Kekecualian pada diskus intervertebral lumbosakral yang sekitar sepertiga lebih pendek dari diskus intervertebral didekatnya. dibentuk oleh bagian posterolateral ruas-ruas tulang belakang yang kadang-kadang menebal kebawah pada bagian superior foramina intervertebral dimana radik saraf lewat. Ganglia spinal dan radik anterior terletak lebih keanterior dibanding daerah toraks dan mereka hampir bersentuhan dengan diskus intervertebral. b. diskus intervertebral ini mempunyai bentuk trapezoid. Ini paling jelas pada daerah lumbosakral. Pada daerah lumbosakral serupa dengan tulang belakang toraks dan karenanya berarah pada dataran frontal. Susunan anatomi menyebabkan posisi anatomi dan fisiologi radik saraf penuh risiko. radik saraf dengan mudah menjadi tertekan. Tentu saja variasi tidak hanya dalam ukuran lubang. Foramina intervertebral dapat menjadi sempit karena perubahan posisi dari sendi tulang belakang. Diskus intervertebral lebih tinggi dianterior dibanding posterior dimanaberhubungan dengan derajat dari lordosis lumbar. c. Rongga sendi L1-L4 berarah pada dataran sagital. Diskus intervertebral bertambah ukurannya dari bagian superior keinferior. Tampak lateral. Tepi tulang dari foramina intervertebral. Tampilan cembung diskus intervertebral nyata pada daerah lumbar. Pada penyempitan kanal lumbar. Diameter radik saraf bertambah dari bagian superior keinferior dengan maksimum pada L5. menampakkan beberapa segi sebagai penyebab nyeri lumbar. sedikit perubahan aspek posterior diskus intervertebral dapat menyebabkan rasa tidak enak.

Diskus inter-vertebral dapat menampakkan semua jenis kemungkinan perubahan transisional. dan bila terdapat enam ruas tulang belakang dikatakan sebagai lumbarisasi. misalnya satu prosesus transversus bebas dan lainnya berhubungan dengan sakrum. d. dan akibatnya mungkin terjadi skoliosis lumbar. Variasi jumlah ruas tulang belakang mempunyai beberapa kepentingan praktis. dan berakibat istilah ruas tulang belakang transisional jarang digunakan. Pada tulang belakang lumbar sering terjadi penyempitan kanal tulang belakang baik oleh protrusi maupun prolaps diskus intervertebral. radik-radik saraf. Bila kedua prosesus transversus berasimilasi dengan sakrum. Sepanjang ruas tulang belakang transisional setangkup dan serasi baik dengan sekitarnya. prolaps diskus intervertebral antara L5-L6 menyebabkan sindroma S1. Bila terdapat empat ruas tulang belakang bebas. dikatakan sebagai sakralisasi. Sakralisasi dan lumbarisasi hanya dapat ditentukan dengan penghitungan yang teliti terhadap ruas tulang belakang toraks. dan sebelumnya dianjurkan untuk menghitung dari bawah keatas. tekukan ruas tulang belakang transisional terjadi bila satu prosesus lebih pendek dari lainnya. serta jaringan epidural yang berisi vena-vena dan lemak yang mengelilingi radik-radik saraf hingga pada pergerakan yang ekstrim dari tulang belakang lumbar. Sekali terdapat ketidaksetangkupan. dan keposterior oleh ligamentum flavum dan arkus ruas tulang belakang. Dalam keadaan enam ruas tulang belakang bebas. radik-radik saraf tidak . Kanal berbentuk silinder yang berubah sesuai pergerakan batang tubuh. akan terjadi perubahan biomekanik tulang belakang. Kearah lateral adalah rongga arkus dan foramina intervertebral. diskus intervertebral superior berdekatan akan terserang ketidaksetangkupan (Rettig 1959). Sudah diketahui bahwa secara praktis menghitung ruas tulang belakang dimulai dari L1. ruas tulang belakang pertama yang tidak mempunyai tulang rusuk. Kanal tulang belakang dibatasi sebelah depannya oleh badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. tidak akan menimbulkan gejala. Pada keadaan ini. Topografi Radik Saraf serta Diskus Intervertebral dalam hubungannya dengan Kanal Spinal Lumbar Kebanyakan sindroma radik saraf lumbar timbul dari segmen terbawah akibat keadaan biomekanik dan kontak erat radik saraf terhadap diskus intervertebral. Ruas tulang belakang transisional memiliki keistimewaan dimana ruas tulang belakang lumbosakral mungkin mempunyai prosesus transversus bebas atau mungkin mempunyai kontak yang erat dengan sakrum dengan tampilan serupa sendi.nyeri lumbar. Isi kanal tulang belakang lumbar adalah kantung dural. Prolaps antara ruas tulang belakang lumbar empat dan sakrum pada keadaan dimana hanya terdapat empat ruas tulang belakang bebas akan menyebabkan sindroma L5.

Karena hubungan topografik yang khas dari radikradik saraf terhadap diskus intervertebral ini. Cord tulang belakang kebawah hanya mencapai ruas tulang belakang lumbar pertama atau kedua. Radik lumbar keempat mungkin terganggu oleh prolaps lateral dan besar pada daerah intraforaminal atau oleh pertumbuhan berlebihan faset inferior ruas tulang belakang lumbar keempat. Perbedaan ketinggian letak segmen cord tulang belakang dengan segmen tulang belakangnya yang bersangkutan paling jelas pada daerah lumbar. nukleus pulposus oleh substansi dasar. elemen utama jaringan ikat berbeda sesuai lokasinya. mielografi. Kauda ekuina adalah saraf-saraf spinal distal yang bersamaan dengan fillum terminale. dan semakin jauh radik-radik berjalan kedistal semakin menyudut saat keluar dari kantung dural. adalah struktur akhir dari cord tulang belakang yang meluas ke ruas tulang belakang lumbar kedua. dan pelat tulang rawan oleh tulang rawan hialin. atau oleh spurring yang mengikuti pada daerah intraforaminal (Gill 1976). Struktur Mikroskopik dan Biokimia Diskus Intervertebral Selain sisa khordal. Komponen-komponen jaringan antara ruas tulang belakang dengan baik dapat dijelaskan dalam hubungannya atas keperluan mekanik dan sesungguhnya diskus intervertebral mungkin diingat sebagai organ jaringan ikat. Secara histologi dan biokimia. Mereka adalah fibroblas. . radik lumbar kelima mungkin terganggu oleh protrusi atau ruptur diskus intervertebral intraforaminal. dan pungsi diskus intervertebral transdural akan terhindar dari cedera. sel sel tulang rawan dan kadang kadang sel sel notokhordal pada diskus intervertebral. D.begitu terganggu oleh jaringan keras. Jaringan-jaringan ini berasal dari sel jaringan ikat yang membentuk 20% hingga 30% dari jaringan. Radik lumbar kelima biasa tertekan pada protrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar keempat dan kelima. diskus intervertebral juga berisi komponen jaringan yang terdapat pada jaringan ikat struktur lainnya. dan saraf-saraf spinal berjalan lebih kedistal dan keluar melalui foramina inter-vertebral yang bersangkutan setelah melalui perjalanan yang jauh dalam rongga subarakhnoid. Radik sakral pertama terganggu oleh prostrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar kelima dan segmen sakral pertama. Hal serupa. Anulus fibrosus dibentuk oleh serabut. maka gangguan pada radik saraf lumbar keempat terjadi pada tingkat diskus intervertebral antara L3-L4. Saraf-saraf terletak lebih kelateral hingga pada pungsi lumbar medial. Arah dari radik-radik saraf setelah meninggalkan kantung dural adalah menuju tingkat segmen yang bersangkutan.

Dengan kata lain terdapat pengaktifan kalsium pada jaringan diskus intervertebral. Kandungan air antara 80% dan 85% pada diskus intervertebral orang muda. Mukopolisakharida asam. seperti halnya asam hialuronik. Mukopolisakharida dan makromolekul disintesa baik intra maupun ekstraseluler. Dengan kemampuan metabolismenya mereka membentuk matriks organik yang mengandung kolagen dan kompleks mukopolisakharidaprotein. Gluko-protein terdiri dari protein dan hidrat arang. Karena memiliki hidro-dinamik yang jelas. Mineralisasi berjalan paralel dengan peningkatan fosfor dan dengan pemisahan kristal secara lambat. Kandungan potasium yang tinggi pada tulang rawan adalah karena banyaknya sel. enzim. sodium. Untuk membentuk makromolekul ekstraselular. Mukopolisakharida membentuk sistem kisi-kisi tiga dimensi yang akan menentukan viskositas substansi dasar. Karenanya dapat kembali dari bentuk ikatan kemakromolekul terion yang bebas. Kandungan air nukleus pulposus lebih besar dibanding pada anulus fibrosus. Air tidak dalam keadaan bebas. Sel-sel tulang rawan paling bertanggung-jawab atas metabolisme diskus intervertebral. garam. serta kekentalannya yang tinggi. Sodium dapat terikat pada matriks. Mereka bersifat seperti mukoprotein dengan kemampuannya yang jelas dalam mengikat air. Substansi dasar terdiri dari glukoprotein dan polisakharida molekul besar. Selain cairan interstitial. makromolekul mengikat sebagian besar cairan pada diskus intervertebral. glukosa dan air. masing-masing terikat secara struktural atau dalam larutan pada cairan ekstraselular. Kristal kalsium fosfat tak tampak hingga usia dewasa. namun merupakan bagian dari makromolekul. terdapat mineral. semua ion lain ditemukan pada cairan interstitial. sel-sel menggunakan substrat molekul rendah. Kalsium terikat pada asam mukopolisakharida dari matriks dan dapat tertimbun disini 35 kali lebih banyak dari jaringan lain (Dulce 1969). Proteoglikan dan komponen lain mukopolisakharida asam dibentuk intraseluler sebagai produk intermediet metabolisme glukosa. Dalam keadaan normal mineral tidak tampak secara bebas pada diskus intervertebral. elastisitas dan viskositas substansi dasar. Mukopolisakharida bertanggung-jawab untuk pembengkakan. matriks organik dan sedikit lemak pada jaringan diskus intervertebral. seperti asam amino. McCarty (1964) mendapatkan kalsium pirofosfat pada diskus intervertebral manusia. serta dapat dipindahkan kecairan interstitial dengan menggantinya dengan kelompok hidrofilik dari substansi tertentu. Penambahan isinya adalah dari arah tepi ke nukleus pulposus. Ia mengalami depolimerisasi oleh protease asam . sulfat keratin dan heparin adalah bagian dari polisakharida molekul besar. Ion anorganik.Sel-sel jaringan ikat membentuk substansi dasar dan serabut-serabut ekstra dan intra selular. sulfat khondroitin. potasium dan kalsium. Substansi dasar adalah bagian dari matriks.

Seperti mukopolisakarida. Mereka tersusun padat dan teratur membentuk gambaran seperti bawang. Sekali meninggalkan sel. Diantaranya terdapat pitapita hingga memberikan gambaran seperti jala. Pada orang tua perubahan berlangsung lebih lambat. De- . Dengan pemeriksaan mikroskop cahaya dan elektron tampak bahwa struktur fibriler lebih padat pada daerah perifer diskus intervertebral (Dahmen 1966. pendahulu kolagen (Steven 1969). Kaplan dan Meyer 1959. Nutrisi sel yang tidak sempurna berakibat rendahnya kualitas dan kuantitas makromolekul. Dengan interloking molekul. prolin (12 %) dan hidroksiprolin (12-14 %).sitoplasmik yang bergantung pada vitamin A. Takeda 1975. Bostrom 1958. Fibril proteokolagen mengandung asam amino glisin (30 %). Proses ini dapat dihambat oleh kortison (Dingle 1969). Sistem tersebut akan menghalangi difusi molekul. Daerah perbatasan diskus intervertebral manusia mempunyai kumparan serabut yang tersusun padat. Adalah seimbang antara depolimerisasi dan sintesa makromolekul pada keadaan normal. Sintesa makromolekul intradiskal bukan kejadian tunggal. Sawar tersebut karenanya merupakan membran permeabel yang selektif. Kandungan kolagen matriks merupakan sekitar 44-51 % berat kering diskus intervertebral. Zona sebelah pinggir diskus intervertebral memiliki berkas serabut yang tersusun padat. Jaringan diskus intervertebral membentuk tropokolagen. Akibat keterbatasan waktu hidupnya. asam hialuronik 2-4 hari (Schiller 1956. Metabolisme yang bersinambung diperlukan diskus intervertebral untuk mempertahankan sintesa dan depolimerisasi komponen ekstra-seluler. Sawar permeabilitas yang terbentuk dapat mengontrol transport substansi ekstraseluler. Buckwalter 1976). Serabutserabut tersusun dalam berkas yang sangat atau kurang paralel. Waktu paruh kolagen adalah 30-60 hari (Buddecke 1970). strukturnya dibangun stabil secara mekanik oleh jaringan serabut kolagen tiga dimensi. Sel pembentuk fibril terletak dalam bentuk bikonveks diantara serabut kolagen yang diikat bersama oleh mukopolisakarida. makromolekul kolagen secara sinambung mengalami proses sintetisasi dan depolimerisasi. struktur ekstraselulernya terus diperbaharui. Fase awal pembentukan serabut kolagen terjadi intraseluler. tropokolagen akan mengalami transformasi menjadi kolagen tak larut melalui proses polimerisasi ekstraseluler (Eyring 1969). Waktu paruh sulfat khondroitin adalah 7-16 hari. Dari tes difusi dengan zat warna dengan berbagai ukuran molekul diperlihatkan bahwa hanya molekul dengan berat kurang dari 400 saja yang dapat melalui sawar diskus (Kramer 1973). Mereka memiliki struktur makromolekul yang berdeferensiasi tinggi. yang dibentuk oleh sel-sel tulang rawan. Fibril kolagen tampak pada diskus intervertebral sebagai bentuk kumparan. Karenanya mukopolisakharida menunjukkan tingkat perubahan yang tinggi. Davidson dan Small 1963). namun merupakan proses yang bersinambung.

Interior dari diskus intervertebral. Artinya tekanan absorptif yang memungkinkan air dan larutan lainnya untuk masuk kejaringan intradiskal melalui membran semipermeabel. Akibatnya permeabilitas berbeda pada daerah yang berbeda. Jaringan pinggir diskus intervertebral berperan sebagai membran semi-permeabel. Diskus Intervertebral sebagai Sistem Osmotik. Cairan harus diangkut melawan tekanan didalam diskus intervertebral. selain itu ia akan mengering dalam waktu singkat. Perubahan dapat terjadi atas pengaruh atas metabolisme oleh faktor mekanik dan biokimia. tekanan hanya beberapa mmHg. interior dari diskus intervertebral dan jaringan para vetebral termasuk cancellous bone ruas tulang belakang. Absorpsi cairan hanya didapat dengan osmosis. Kompartemen-kompartemen ini berbeda tekanan hidrostatiknya. Kerjanya sebagai katalis pada metabolisme jaringan.000 kp.polimerisasi kolagen dipacu oleh kolagenase. piring kartilago. Maroudas (1975) dan Urban (1976) membuktikan bahwa glukosa lebih mungkin menembus end-plates dan sulfat pada anulus fibrosus. diskus intervertebral adalah subjek dari tekanan yang berkaitan dengan postur tubuh dan berat badan. Sebaliknya dari yang dianggap sebelumnya. Piring kartilago dan anulus fibrosus membentuk sawar permeabilitas yang memisahkan dua kompartemen jaringan. semua berperan dalam sistem osmotik. Biomekanik Tulang Belakang 1. E. metabolisme pada diskus-diskus intervertebral secara keseluruhan adalah proses yang cepat dengan adanya aktifitas enzim serta waktu paruh yang pendek. struktur para vertebral. anulus fibrosus. permukaan anulus fibrosus dan end-plates terselaputi jaringan serabut submikroskopik tiga dimensi yang hanya memungkinkan dilalui substansi molekul rendah dan hasil metabolik dapat lewat. Tekanan osmotik koloid adalah tekanan osmotik yang dipertahankan oleh larutan molekul tinggi. Sebaliknya. Osmosis dipertahankan melawan tekanan beban sepanjang ia berada dalam keseimbangan dengan tekanan osmotik. dan juga cancellous bone ruas tulang belakang. Mereka tak hanya berperan pada depolimeri-sasi namun juga pada sintetisasi. Dengan interloking molekul. Perubahan biokimia dan patofisiologi yang mendasarinya mendahului perubahan morfologik makro. Beban dapat mencapai lebih dari 1. Sel jaringan diskus intervertebral mengandung lisosom yang membentuk enzim (Pearson 1972). Pada jaringan para vertebral dan juga pada jaringan trabekular internal ruas tulang belakang. Ini dipertahankan oleh mukopolisakarida intradiskal yang memiliki absorbabilitas air yang tinggi dan yang tidak hanya dapat menahan cairan namun juga mengabsorpsinya melawan keadaan tekanan pada diskus intervertebral. Sebagai .

tambahan, tekanan hidrostatik dari diskus intervertebral sendiri. Dengan kata lain, tekanan ini memungkinkan pembesaran merata dengan pengambilan air dengan cara melawan tekanan balik. Derajat pembesaran diskus intervertebral dapat dinilai secara percobaan. Diskus intervertebral yang ditekan, membesar ketika tekanan dihilangkan. Tingkat dan kekuatan yang memungkinkan terjadinya perluasan, ditentukan oleh elastisitas dan absorbabilitas diskus intervertebral. Pada orang muda diskus intervertebral meluas lebih cepat dan lebih kuat dibanding orang tua. Tekanan osmotik koloid dan tekanan hidro-statik bersama membentuk tekanan onkotik. Berbeda dengan jaringan disekitarnya, diskus intervertebral mempunyai tekanan hidrostatik dan onkotik yang tinggi. Mereka berlawanan satu sama lain dengan mempengaruhi, secara bertolak belakang, absorpsi dan transudasi cairan. Berdasar perbedaan konsentrasi dan tekanan pada daerah tepi diskus, terdapat keadaan berikut: Tekanan hidrostatik ekstradiskal + Tekanan onkotik intradiskal ?-------------? Tek. hidrostatik intradiskal + Tekanan onkotik ekstradiskal

Terdapat efek berlawanan lain pada tekanan jaringan diluar diskus intervertebral, dan tenaga absorptif sepihak adalah berlawanan terhadap tekanan jaringan didalam diskus intervertebral dan tenaga absorptif jaringan sekitar diskus intervertebral. Yang manapun lebih utama, keseimbangan cairan menjadi terganggu. Perubahan yang sinambung pada tekanan hidrostatik dan onkotik adalah paling penting dalam nutrisi jaringan diskus intervertebral dan untuk fungsi segmen bergerak. Tekanan osmotik didalam diskus intervertebral berubah oleh faktor biomekanik dan biokimia. Terdapat perubahan biomekanik temporer pada sistem intradiskal sekunder terhadap peninggian atau penurunan tekanan hidrostatik. Tekanan yang timbul pada pembebanan diskus inter-vertebral disebut tekanan intradiskal. Ia beragam tergantung perubahan postur tubuh. Hubungan ini lebih jelas pada diskus intervertebral dari-pada semua jaringan lain, dan lebih jauh lagi tidak ada jaringan lain yang mempunyai tekanan setinggi diskus intervertebral. Nachemson (1966) mendemonstrasikan hubungan antara postur tubuh dan tekanan intradiskal dengan pencatatan intravital. Tekanan didapat pada pembebanan diskus intervertebral lumbar bawah dimana pada posisi berbaring 15-25 kp, duduk 150 kp, berdiri tegak 100 kp. Peninggian beberapa ratus kp. didapat bila membungkuk

kedepan, mengangkat dan memanggul. Penelitian memakai teknik pewarna dan penggunaan substansi radioaktif, memperlihatkan bahwa pada 80 kp terjadi ekstravasasi cairan, sedang dibawah 80 kp terjadi absorpsi. Transport cairan terbalik terjadi antara 70-80 kp. Arah transport cairan pada dinding diskus intervertebral sebanding dengan perubahan tekanan bila tekanan onkotik konstan. Dengan kata lain, bila beban berat seperti duduk, mengangkat dan memanggul, ekstravasasi dipercepat, sedang pada traksi dengan tekanan diskus intervertebral negatif, absorpsi yang dipercepat. Pada keadaan fisiologik, suatu perubahan transport cairan berhubungan dengan tekanan yang terjadi pada perbatasan yang ditentukan oleh absorpsi cairan dimana dilusi solusi makromolekul terjadi. Absorbabilitas diskus intervertebral akan berkurang. Sebaliknya, pembalikan terjadi dimana diskus intervertebral hanya dapat ditekan sampai derajat tertentu saja setelah pembebanan. Sekunder terhadapnya, pengeluaran air menyebabkan konsentrasi solusi molekul makro bertambah dan akibatnya absorbabilitas bertambah. Beban tak setangkup pada diskus intervertebral menyebabkan gangguan transport cairan intradiskal. Air dan larutan menjadi keluar dari zona dengan beban lebih besar ke yang lebih kecil. Pada pengukuran tekanan intradiskal didapat bahwa semua gerakan menekuk pada tubuh berakibat perubahan beban total. Pergerakan badan menyebabkan transport cairan antara diskus intervertebral dan eksteriornya seperti halnya didalam diskus intervertebral sendiri. Transport cairan yang bergantung beban pada diskus intervertebral manusia dapat dibandingkan dengan pompa, yang fungsinya mengangkut air dan metabolit ke dan dari tepi diskus intervertebral. Jadi nutrisi sel diskus intervertebral lebih baik serta pembuangan metabolit dipermudah. Semua perubahan posisi tulang belakang berkaitan dengan perubahan tekanan intradiskal dan berakibat percepatan maupun perlambatan transport cairan, dengan atau tanpa perubahan arah. Perubahan reguler antara posisi horizontal dan vertikal memperbaiki transport cairan dan larutan. Mempertahankan keadaan pada satu posisi berakibat berhentinya transport cairan yang bergantung beban, dan karenanya merugikan metabolisme diskus intervertebral. Ini terutama jelas pada postur tubuh dengan tekanan intra diskal yang dipertahankan secara terus-menerus pada tingkat tekanan yanyang tinggi.

2. Biomekanik Tulang Belakang Lumbar a. Beban dari Diskus Intervertebral Lumbar

Ada beberapa faktor biomekanik yang khas untuk tulang belakang lumbar yang membuatnya lebih terancam dan karenanya lebih mudah terkena kelainan diskus intervertebral. Posisi tegak berakibat bagian yang lebih rendah pada tulang belakang menerima beban berat. Pada daerah ini berat badan disalurkan pada area kecil sekitar beberapa sentimeter. Beban ini akan meningkat bila badan ditekuk menjauhi garis tengah. Tahun 1964 Nachemson serta Morris melakukan pengukuran tekanan intradiskal pertama dan penelitian ini dilakukan in vivo pada diskus intervertebral lumbar ketiga, pada manusia dengan postur tubuh yang berbeda. Caranya dengan memasukkan jarum kerongga intradiskal. Jarum diselaputi oleh membran poli-etilen sensitif tekanan. Pencatatan dilakukan dengan manometer. Pada posisi terlentang , tekanan pada diskus intervertebral lumbar sebelah bawah adalah 15 kp. Berbaring miring dengan sedikit tertekuk kebelakang menyebabkan peninggian tekanan lebih dari dua kali. Tekanan meninggi hingga lebih dari 100 kp. saat berdiri, serta pada tekukan kedepan meningkat hingga 140 kp. Tekukan kedepan dengan beban 20 kp. pada lengan menyebabkan peninggian tekanan hingga 200 kp. Duduk dengan punggung tegak menyebabkan tekanan lebih tinggi 140 kp. bila dibanding saat berdiri. Peningkatan selanjutnya terjadi bila tubuh ditekuk kedepan dan terutama bila secara bersamaan diberi beban. Tekanan pada permukaan diskus intervertebral adalah 10 hingga 60 kp/cm2. Okushima (1970) memperbaiki pencatatan pengukuran yang telah dilakukan Nachemson dan Morris (1964). Penelitian lebih lanjut atas tekanan diskus intervertebral dilakukan dengan menghubungkannya dengan penelitian miografi-elektro (Nachemson dan Morris 1964, Nachemson 1965, 1966, 1969, 1974, 1976, Anderson 1974, 1976). Batuk, tertawa, dan peninggian tekanan intraabdominal berakibat peninggian tekanan diskus intervertebral lumbar sekitar 50 kp. Tekanan akan menurun dengan mendudukkan pasien bersandar kebelakang. Duduk santai, tekanan menurun hingga 80 kp. (Nachemson 1984). Kerja otot dan beban pada diskus intervertebral bertambah bila mengangkat dan menarik, yang berhubungan dengan jarak antara beban dan aksis badan. Hasil percobaan ini sesuai dengan perhitungan matematik yang sebelumnya diperkenalkan Matthiass (1956). Menurut Schulter (1965), tekanan dan regangan terbesar ditemukan pada pusat diskus inter-vertebral. Karenanya tenaga robek terbesar terpusat didaerah ini. Mengingat tekanan yang besar, yang berlaku pada diskus intervertebral manusia dalam waktu yang lama, tak mengherankan bahwa perubahan degeneratif berkembang pada jaringan dengan nutrisi yang buruk. Sudah dipastikan bahwa tekanan tinggi penting dalam perkembangan dini degenerasi diskus intervertebral. Rosemeyer (1977) mendemonstrasikan terutama bahwa

diskus intervertebral lombosakral adalah penanggung regangan yang besar. Dalam berbagai posisi tubuh, sebagai pusat dari tahanan yang lemah, daerah ini menanggung 70 % dari fleksi-ekstensi lumbar secara keseluruhan. Ketika duduk dengan tubuh sedikit condong kebelakang atau bersandar kedepan, tekanan intradiskal meninggi saat pusat beban tidak pada pusat diskus intervertebral namun bergeser keanterior seperti pada posisi lordotik. Bagian posterior anulus fibrosus serta ligamen posterior antara arkus akan berada dalam tegangan. Segmen sentral diskus intervertebral yang mobil akan bergerak kearah bagian posterior diskus intervertebral yang kurang tertekan. Dengan kontraksi otot abdominal, memungkinkan untuk menyalurkan bagian dari berat tubuh atas ke daerah pelvis. Tekanan intraabdominal dapat mencapai 140 mm Hg. (Bartelink 1957, Eie 1962). Dengan kontraksi diafragma dan otot abdominal, rongga abdominal berubah menjadi silinder yang dapat menanggung beban berat, dan menurut Finneson (1973), beban diskus intervertebral lumbar dapat dikurangi 30 % dengan menggunakan otot abdominal. b. Hubungan Antara Beban dan Tinggi Perubahan tekanan pada diskus intervertebral yang relatif besar akan mempengaruhi perpindahan cairan pada diskus intervertebral. Diperlihatkan pada percobaan bahwa diskus intervertebral lumbar menjadi celah sangat tipis setelah diberi beban 200 kp. selama 12 jam. Bila tekanan dihilangkan, diskus intervertebral kembali pada ketinggian normalnya (Kramer 1973). Pada sendi intervertebral normal secara in vivo, perubahan tinggi diskus intervertebral lumbar sangat kecil, akan tetapi tetap dapat diukur. Sendi intervertebral, yang tidak seluruhnya vertikal, dan kapsul yang kuat mencegah pengurangan tinggi lebih lanjut. Pertambahan tinggi diskus intervertebral dengan mengurangi tekanan intradiskal dapat digunakan untuk perawatan. Pada traksi terjadi pelebaran jarak diskus sekitar 1.1 mm. Perubahan tinggi berkurang dengan bertambahnya usia. Walau dalam peran kecil, ketebalan penting karena ia akan merubah pola gejala dimana ada kaitan yang erat antara tinggi dan protrusi diskus intervertebral yang akan merangsang radik saraf. c. Sendi dan Foramina Intervertebral Permukaan sendi intervertebral terletak pada bidang sagital dan karenanya memungkinkan fleksi dan ekstensi, namun juga sedikit gerak kesamping. Rotasi juga mungkin, namun terbatas. Ada perbedaan perorangan dalam pergerakan tulang belakang lumbar dan segmen-segmennya. Latihan berperan penting, dan fleksi yang dijumpai

Patologi Pendapat secara umum sudah dikemukakan atas perubahan morfologik dan biomekanik yang dapat terjadi pada degenerasi diskus intervertebral. tidak terjadi dislokasi. Jarak jaringan ikat yang sangat dekat. dan nyata pada faset sendi yang terletak pada dataran koronal.terutama pada akrobatis adalah sangat luas. permukaan artikular bergerak secara teleskopik. Pada daerah lumbar. Tidak diragukan lagi bahwa pada fase tertentu dari . mengurangi rongga intraforaminal dengan seperlimanya. Pada peradangan dengan pembengkakan jaringan perineural. ini jelas tampak setelah pembebanan lama atau relaksasi. F. Lebar foramina intervertebral lumbar berubah sesuai dengan gerakan tulang belakang lumbar. permukaanpermukaan tertekan secara bersamaan pada gerakan yang ekstrem. Posisi yang dicoba adalah sesuai dengan gerak fisiologis. Dengan beban mekanik berat. Pembukaan faset sendi terjadi kearah superior pada bagian luar dan kearah inferior pada bagian medial (Kramer 1973). terjadi fraktura ruas tulang belakang lebih dahulu dibanding kerusakan diskus intervertebral atau sendi intervertebral. subluksasi atau interloking. Foramina intervertebral menyempit bila tinggi diskus intervertebral berkurang. yang mengalami perubahan terus menerus. Bersandar kedepan berakibat pelebaran. sedang inklinasi keposterior menyebabkan penyempitan foramina. Pada pengurangan tinggi diskus intervertebral dan juga pada hiper-lordosis. Penurunan jarak intervertebral. Tekukan kesamping. Pada perubahan tinggi intervertebral juga terjadi perubahan pada faset sendi. yang terjadi selama pembebanan sehari-hari. pada protrusi diskus intervertebral atau adanya reaksi osteofit dari faset sendi. foramina menjadi sempit pada sisi cekung dan melebar pada sisi cembung. Akibat inklinasi ringan. Pergerakan seperti ekstensi dan tekukan kesatu sisi akan mempersempit rongga intervertebral untuk saraf spinal pada sisi tersebut. Pada percobaan biomekanik oleh Kramer didapatkan walau terjadi pemendekan diskus intervertebral lumbar atau adanya distraksi hebat. serta karena struktur saraf yang sangat peka. Radik-radik berjalan melalui bagian atas foramen intervertebral dan mengisi sekitar 1/4 dari total lumen. membuat foramina intervertebral lumbar bawah diperkirakan sebagai pusat penyakit diskus intervertebral. Karenanya penderita dengan protrusi lateral diskus umumnya bersandar kedepan serta kearah sisi yang sehat dalam usaha menghilangkan tekanan terhadap radik saraf. rongga akan mengecil serta merugikan radik saraf. terutama jelas pada daerah lumbar yang diperkirakan karena tenaga mekanik yang terjadi pada daerah ini. Jelas ini penting secara klinis karena sangat dekat dengan saraf yang peka.

Faktor lain adalah cedera sederhana. Tekanan arteriolar dan venular lebih rendah dari tekanan hidrostatik sehingga pembuluh darah akan terbendung dan tidak akan mencapai diskus inter-vertebral. Setelah usia 30 tahun tak satupun tulang belakang manusia yang tidak mengalami perubahan degenerasi (Schmorl dan Junghanns. Dengan posisi berdiri. Diskus intervertebral merupakan struktur nonvaskular tubuh yang terluas. Pembatasan pergerakan serta fiksasi kaku pada posisi yang tidak baik selanjutnya merubah transport cairan dalam diskus intervertebral. Catu nutrisi yang teratur untuk sel diskus intervertebral untuk beberapa dekade tidak dijamin oleh mekanisme transport cairan baik secara aktif maupun pasif. tekanan langsung dari beban tubuh dan tonus otot akan bekerja pada pembuluh darah diskus yang terletak pada substansi seperti gelatin yang homogen. akan terjadi perubahan yang mendasar pada keadaan biomekanik. Pada tulang belakang lumbar sudah dipastikan bahwa kelainan degeneratif berat tidak harus disertai dengan gejala klinis. 1. Hanya saat awal masa bayi metabolisme terjadi melalui pembuluh diskus disaat belum ada beban yang ditanggung tubuh. Nutrisi fibroblas dan sel kartilago menjadi berkurang. 1968). penghilangan beban dan pola gerakan yang normal. Pembuluh darah akan kolaps dan menjadi atrofi. diskus intervertebral merupakan subjek faktor biomekanik yang tidak menguntungkan yang menentang kebutuhan regenerasi normal yang sinambung yang berdasarkan sirkulasi yang memadai. Degenerasi diskus intervertebral adalah suatu proses yang sangat kompleks yang hingga saat ini sangat sedikit dimengerti. Kesulitan dalam mengadaptasi hal ini akan berakibat memburuknya kualitas diskus intervertebral yang akan berakhir dengan degenerasi. 1968). Proses ini dimulai sejak awal kehidupan dan terus berlangsung sepanjang hidup. Metabolisme akan melewati jalur yang panjang melalui jaringan yang pada bagian tepinya masih memiliki vaskularisasi yang normal. Umum Kelainan diskus intervertebral adalah 'ongkos' yang harus kita bayar atas postur berdiri tegak yang kita miliki (Reischauer 1949). . Berbeda dengan ruas tulang belakang dengan pembuluh darahnya yang terlindung didalam trabekuli.degenerasi diskus intervertebral terdapat hubungan dengan gejala yang mungkin memberat. Karenanya degenerasi telah tampak pada masa bayi dan kelainan diskus telah tampak pada semua bagian tulang belakang pada masa pubertas dan bahkan sebelumnya (Tondury. Contohnya antara lain tortikolis akut pada anak-anak adalah primer karena perubahan involusional pada diskus intervertebral. Semula diskus intervertebral tidak memiliki jaringan bradytropic. Sejak pertama postur berdiri berlaku.

karenanya fibril dan substansi dasar yang dihasilkannya akan bermutu buruk dan pada akhirnya akan mengalami degenerasi lengkap.5-1. Lang (1962) dan Dahmen (1966) mendapatkan perubahan degeneratif pada orang pada dekade ketiga berupa atrofi sel. batas fibril lamella yang lebih tajam dan mengaburnya batas anular dan nukleus.0 cm3. Metabolisme diskus memburuk sejak tahun pertama kehidupan. Diskus intervertebral yang lebih berdegenerasi lebih banyak dapat menerima cairan. Tidak hanya perubahan komposisi kimia. Bendungan. Akhirnya faktor genetik berpengaruh pada perkembangan degenerasi diskus intervertebral yaitu dalam merancang serabut kolagen anulus fibrosus (Wilson. Keseluruhan proses terjadi terbatas pada diskus intervertebral. Karena tidak hanya tulang rawan. jaringan diskus intervertebral menunjukkan ruptur konsentrik serta fissura radial akibat beban. Tanda lain degenerasi diskus intervertebral adalah perubahan warna yaitu karena terjadinya hubungan antara ruptur dan fissura dengan lubang pada dataran akhir tulang rawan yang dipenetrasi pembuluh darah dari cancellous bone hingga terjadi perubahan warna lamella menjadi kuning kecoklatan (GUntz. Dalam perjalanan berikutnya. degenerasi serabut anulus dan disintergrasi substansi dasar. Pada usia 25 hingga 40 tahun tampak perubahan degeneratif seperti dehidrasi. Sista dan fissura mudah diperlihatkan dengan diskografi dengan menyuntikkan media kontras. dianjurkan pemakaian istilah yang lebih tepat yakni diskosis. . Degenerasi diskus intervertebral akan mengenai semua jenis manusia berdasar konstitusi kerangka tubuh secara ekual. Fibroblas tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Kuhlendahl dan Richter (1952) menemukan degenerasi lemak pada diskus orang dewasa baik pada substansi dasar maupun pada anulus fibrosus.strain temporer dan posisi istirahat yang tidak benar. Harris dan MacNab (1954) menemukan pada nukleus pulposus orang dewasa adanya inti sel dengan granul kasar piknotik. namun juga struktur anatomis. Idelberger (1977) menemukan bahwa faktor konstitusi berperan penting pada degenerasi diskus intervertebral. Dengan mikroskop elektron Dahmen (1966) menemukan fibril yang tidak normal dan irregular dalam ketebalan dan striasi yang beragam. Kantung udara terbentuk pada sista dan mudah tampak pada radiografi. namun semua komponen diskus intervertebral yang menjadi tempat terjadinya degenerasi. Pasien lebih muda dapat mengambil sekitar 0. Pasien lebih tua dengan diskus yang ruptur dapat menerima 5 cm3 cairan tanpa terjadinya cedera maupun refluks cairan yang disuntikkan. Alasan terbentuknya tidak diketahui. Pulp menjadi lebih sistik dan terjadi hubungan antara fissura dan anulus fibrosus. 1968). 1958). robekan dan juga perlunakan jaringan diskus intervertebral disebut khondrosis oleh Schmorl dan Junghanns (1968).

Bagian nukleus pulposus dan fragmen diskus intervertebral bermigrasi dibawah beban berat pada jalur yang terkecil tahanannya dan karenanya mengalami penetrasi kejaringan dan menonjol kebelakang sebagai prolaps diskus intervertebral. bagian tersebut akan bergeser dan dapat bermigrasi bebas dan disebut sekuestra. berakibat tiadanya proses reparasi. usaha untuk melakukan reparasi bergantung pada ruas tulang belakang berdekatan. Pertumbuhan spur oseus dapat meluas dan terjadi spondilosis hiperostotik menyeluruh yang disebut spondilosis hiperostotika. sering disertai juga jaringan fibrosa dan tulang rawan. reaksi pada diskus intervertebral lebih penting. Pada daerah ini reaksi osseus timbul dan meluas keligamen. Akibat kolapsnya diskus intervertebral. Secara klinik. Spur spondilotik terjadi mula-mula pada arah horizontal namun kemudian dalam arah longitudinal mengikuti ligamen longitudinal. Pembuluh darah menyebar pada diskus intervertebral dan sel longgar serta jaringan parut vaskular akan mengisi . Sangat jarang prolaps hanya mengandung material pulp.karenanya sulit tampak pada radiografi. Berbeda dengan pada spondilitis. Karenanya istilah prolaps diskus lebih tepat dari pada prolaps nukleus. secara mengherankan gejalanya biasa ringan. terjadi peninggian beban pada sendi ruas tulang belakang serta penyempitan foramina intervertebral. Ini umumnya terjadi pada ligamen longitudinal anterior yang menjembatani diskus dengan diskus dan melekat melalui serabut Sharpey pada badan ruas tulang belakang. Schmorl menganjurkan istilah osteokhondrosis. Dataran akhir ruas tulang belakang menjadi sklerotik dengan batas yang kabur. Fissura dan ruptur piring tulang rawan memudahkan penetrasi pembuluh darah dan jaringan ikat dari badan ruas tulang belakang kediskus inter-vertebral. Akibat hilangnya sirkulasi pada diskus intervertebral. Kadang-kadang terjadi degenerasi sistik pada badan ruas tulang belakang seperti pada osteoarthrosis. sklerosis pada osteokhondrosis hanya terbatas pada dataran akhir ruas tulang belakang. Secara bersamaan terbentuk spur kecil dibagian posterior. Robekan memungkinkan pergeseran intradiskal sepanjang tenaga ekspansif nukleus tetap ada. Bila keadaan menjadi kronik. Dengan perlunakan dan fragmentasi lebih lanjut. Bila ruas tulang belakang terserang dan perubahan degeneratif juga tampak pada tulang. Ini akan menyebabkan terpisahnya jaringan diskus intervertebral dari ligamen intervertebral. Osteokhondrosis terjadi terutama pada tulang belakang leher sebelah bawah dan lumbar karena pengaruh yang besar dari faktor biomekanik. Namun pemendekan rongga diskus intervertebral pada radiograf serta deviasi aksial akibat perubahan postur dapat diperlihatkan. Perlunakan diskus serta hilangnya turgor berakibat bertambahnya kehilangan serta fragmentasi diskus intervertebral. Walau tampilan perubahan osseus hebat.

Ini terutama pada keadaan yang telah berlangsung puluhan tahun demana radik saraf dan pembuluh darah telah beradaptasi. namun juga sebagai medium transport berbagai substansi pada berbagai proses metabolik. Karenanya biomekanik segmen bergerak juga berubah. Magnesium berkurang hingga usia 70 tahun dan selanjutnya bertambah lagi secara perlahan. Karenanya terjadi ankilosis fibrosa dan bahkan osseus dengan inaktivasi segmen. nutrisi diskus intervertebral memburuk karena air tidak hanya penting untuk lingkungan makromolekul. terjadi pengurangan kandung air dengan akibat perubahan pada komposisi kimia. Tondury (1973) menjelaskan lingkar hidup diskus intervertebral. Schmorl dan Junghanns (1968) meyakini ketergantungan terhadap usia. tanda khas perubahan diskus intervertebral adalah pengurangan kandung air. pada usia 12 turun menjadi 83% dan 70 % pada usia 72 (Keyes dan Compere 1932). GUntz (1958) menjelaskan tentang penyembuhan dengan jaringan parut pada diskus inter-vertebral yang rusak. potasium berkurang karena berkurangnya jumlah sel. Perubahan pada diskus intervertebral tidak dianggap sebagai penyakit. terjadi pula peningkatan protein nonkolagen. Bersamaan dengan perubahan morfologik pada diskus intervertebral. dengan kata lain tidak lebih dari proses fisiologik. Pada neonatus diskus intervertebral mengandung 88% air. Pita fibrosa kuat dan telah mengalami dehidrasi serta lipping osseus menyangga rongga diskus intervertebral hingga pembuluh darah yang menginvasi jaringan tidak tertekan oleh tekanan beban. Seperti telah dijelaskan. kemudian akan menetap. menjadi jelas hanya bila terjadi perubahan pada pembuluh darah dan saraf yang berdekatan. Dengan berkurangnya cairan. Paralel dengan peningkatan nitrogen. 1958). Dengan pertambahan usia. Secara klinis.rongga tersebut (Tondury. namun lebih sebagai proses biologik dengan kemungkinan terjadinya gangguan sepanjang hidup. Kalsium menjadi dua kali lipat selama siklus hidup. Selama tahun pertama kehidupan nukleus pulposus mengandung lebih banyak air dibanding anulus fibrosus. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi perubahan. Peningkatan bendungan dan robekan diskus intervertebral adalah perubahan degeneratif sejati. namun ajaib tidak banyak orang yang mengajukan keluhan. perlunakan jaringan serta pergeserannya. Mukopolisakharida berubah baik dalam kualitatif maupun kuantitatifnya dengan . Ini paling jelas pada tulang belakang leher dan lumbar. Pembatasan pergerakan tulang belakang akibat kelainan diskus intervertebral dapat bertambah. Sulfur berkurang dan Nitrogen bertambah. matriks organik diskus intervertebral juga berubah. ruptur yang terjadi cepat. Yang terpenting dalam metabolisme dan biomekanik diskus intervertebral adalah perubahan pada kolagen serta mukopolisakharida. Kandung kolagen meningkat hingga usia 20 tahun. Pemendekan tinggi dan fiksasi segmen tidak sering bersamaan dengan nyeri walau ada penyempitan foramina.

Menurut Naylor (1971). Tenaga ekspansif nukleus pulposus berkurang dan akibatnya terjadi pengurangan kecenderungan untuk bergeser. Jadi adalah kerusakan keseimbangan jaringan diskus intervertebral. robekan tampak pada anulus fibrosus diawal usia dewasa. Ia juga menganggap bahwa katepsin D mungkin merupakan enzim yang berperan dalam degenerasi diskus intervertebral. Karenanya tekanan onkotik menurun dengan pertambahan usia. Depolimerisasi makromolekul menghasilkan produk sisa yang terkadang meningkatkan tekanan onkotik dengan bertambahnya partikel total. serabut akan putus. Pada tes kompresi (Virgin 1951) dan diagram tekanan (Hartmann 1970) memperlihatkan bahwa over-ekstenuasi serabut anular. lebih banyak akumulasi cairan pada diskus intervertebral. Akibatnya anulus fibrosus bertambah isinya dan tetap tenang bila tanpa beban. penambahan homogenisasi nukleus pulposus. Bila volume intradiskal ditingkatkan dan dijadikan subjek strain mendadak. Beban tambahan akan menyebabkan lesi irreversibel (histeresis). dan terbentuk konsistensi yang padat tak elastik. protrusi dan prolaps. Tetap tidak diketahui berapa lama depolimerisasi makro-molekular berlanjut dengan tekanan intra-diskal meninggi dan apa yang mengendalikannya. Kebanyakan penelitian pato-anatomi memperlihatkan bahwa fissura dan robekan bertambah dengan bertambahnya usia. oleh pengeringan diskus intervertebral. disrupsi nuklir dan fissura lamellar. Penurunan juga akan terjadi pada berat molekulnya. namun pada tegangan yang tinggi. Menurut Kuhlendahl dan Richter (1952). Walau demikian frekuensi protrusi dan prolaps berkurang. Pengukuran tekanan pada usia berbeda menunjukkan kembalinya diskus intervertebral yang dikompresi keukuran normal lebih nyata pada usia muda. Dalam hubungan dengan peningkatan tekanan intradiskal maka orang dewasa muda memiliki risiko akan perubahan kemampuan biokimia yang akan menyebabkan pergeseran jaringan diskus intervertebral. Terjadi pergeseran. mencapai tingkat dimana terjadi ruptura dan fissura. efeknya akan seperti memecahkan gelas. Karenanya tujuan terapi dengan mempercepat depolimerisasi misalnya dengan injeksi substansi sesuai. Ekstenuasi diskus intervertebral dalam tingkatnya yang terbesar. ditahan oleh tahanan anulus fibrosus yang telah berdegenerasi. Setelah usia ini menurun secara jelas (Kramer 1973). antara usia 30 hingga 35 tahun frekuensinya meningkat dimana terjadi pembengkakan substansi dasar. Antara usia 25 dan 30 bagian sentral diskus intervertebral yang menjadi lebih meluas akibat bertambahnya tekanan. peninggian hialu-ronidase bertanggung jawab untuk separasi makromolekul. menyebabkan khemo- .pertambahan usia. Tanda khas adalah penurunan mukopolisakharida. yang telah dibebani sebelumnya. Ternyata secara mengejutkan nilai yang tinggi terjadi pada usia 30 hingga 50. Dengan penambahan molekul.

Namun mustahil untuk membuktikannya secara satu persatu. kehilangan sifat bumpernya dan tidak lagi bekerja sebagai semijoint pada segmen bergerak. . Keragaman sehari-hari tinggi badan akan relatif berkurang. pergerakan akibat berat tubuh tidak lagi cukup mengatur dan tidak juga terbagi merata sepanjang cincin serabut.2 persen. Yang pertama terserang adalah serabut kecil yang berjalan antara lamella sehingga tidak terjadi pergeseran. Serabut melunak. penurunan relatif tekanan hidrostatik dapat menyebabkan pengeluaran air. Semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral dihilangkan oleh adanya fissura hingga air. Diskus intervertebral yang menjadi tidak elastik serta robek. Komponen segmen lain. sendi ruas tulang belakang dan ligamen. Penghambatan efek hialuronidase didapat dengan pemakaian inhibitor hialuronidase. Tenaga luar hanya merupakan efek presipitasi yang oleh Schmorl dan Junghanns (1968) disebut impuls tambahan. Alasan lain pada pengeringan diskus intervertebral adalah ruptur pada anulus fibrosus. Pergeseran ini dapat menambah protrusi dan prolaps. kehilangan fungsi normalnya. faktor biomekanik turut berperan dalam perkembangan prolaps karena perlunakan dan penjarangan struktur diskus intervertebral dengan pembentukan fragmen yang akan bergerak kearah tahanan terendah yaitu menuju konveksitas. Hal serupa juga terjadi pada lesi diskus intervertebral dan setelah diskotomi. Terdapat hubungan langsung antara tinggi badan dan volume diskus intervertebral. Bila tidak disertai pembentukan makromolekul didalam diskus intervertebral. tekanan onkotik akan berkurang seperti halnya pada pertambahan usia. Bila tekanan onkotik berkurang. Ini mengganggu semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral. Disamping kombinasi penambahan tekanan dan pengurangan tahanan anulus fibrosus. Bila derajat ekstenuasi berkurang. dan tinggi diskus akan semakin berkurang. Ini akan menjadi kendur bila lebih banyak air dikeluarkan. Penetralan hasil intermediet depolimerisasi dicapai dengan penurunan tekanan. zat-zat yang terlarut serta juga makromolekul dapat berpermiasi dibawah tekanan yang rendah. Degradasi enzimatik akan menyebabkan terbentuknya molekul bermolekul lebih kecil yaitu menjadi sekitar 400. Keseimbangan osmotik terganggu. terjadi perubahan tegangan serabut anulus fibrosus. Pada remaja perbedaan tinggi badan antara pagi dan malam adalah dua persen dan pada dewasa 0. Bila terjadi perubahan volume.nukleolisis. selanjutnya ini merupakan syarat tidak langsung untuk terjadinya rasa tidak enak pinggang. Ini terutama karena peninggian tekanan intradiskal dan pengaruh tekanan kompresi dan shear. Absorpsi air akan berkurang dan tinggi diskus inter-vertebral berkurang. Diduga bahwa penambahan beban berat badan dengan adanya tenaga kompresif dan shear merupakan satu-satunya penyebab prolaps diskus intervertebral.

Perubahan prediskotik adalah kelainan postur yang berakibat pembebanan yang tak setangkup pada satu atau lebih diskus intervertebral. adalah sangat besar sehingga cairan serta hasil metabolisme tidak dialirkan pada daerah ini. Difusi menjadi berkepanjangan dan sirkulus visiosus terus berlangsung dengan berlanjutnya pengeringan serta perlunakan. Beban total yang dalam keadaan normal didistribusikan pada seluruh diskus menjadi terpusat pada daerah ini. Pada skoliosis terjadi perubahan dini anular pada daerah konkav akibat peninggian tekanan. Terjadi segmen tulang belakang fibrosa yang kaku pada puncak kifosis (kifosis remaja) dan pada skoliosis. pertumbuhan apposisional interstitial pada bayi akan terganggu dan diskus intervertebral mengalami deformasi serta menjadi konkav. Deformitas dapat terjadi pada tulang belakang atau sekitarnya. Metabolisme seluler menjadi terganggu. Sebagai patokan. penuaan jaringan dan impaksi menunjukkan perjalanan yang cepat bila beban berkelanjutan hingga akhirnya terjadi ankilosis. Pertanda ini disebut perubahan prediskotik. namun perubahan utama terjadi terutama pada tulang belakang leher dan lumbar. Akhirnya tinggi diskus menjadi lebih pendek. Bagian anulus fibrosus yang tergantung baik dan dataran kartilago tidak dapat meneruskan tekanan ini. Gejala jarang timbul dari bagian kaku tulang . Pembebanan tidak setangkup yang bersinambung berakibat perubahan metabolik pada bagian konkav diskus intervertebral. diskus intervertebral akanmenjadi robek dan rapuh. yang memberikan tekanan pada bagian konkav diskus intervertebral tulang belakang yang mengalami deformitas. Kompresi yang bersinambung dan gangguan nutrisi pada fibroblas berakibat diskosis prematur. sering tampak pada remaja dengan pembentukan lengkung pada tulang belakangnya. Percobaan hewan menunjukkan kelainan degeneratif umumnya terjadi pada bagian yang lebih tertekan (Exner 1954). Nukleus pulposus dan bagian bergerak dari anulus fibrosus tergeser kedaerah yang kurang terbebani. semua diskus menjadi subjek degenerasi progresif ini. Pengeringan. Kelainan juga terjadi setelah pertumbuhan berakhir. Terjadi perubahan yang khas pada diskus intervertebral yang menjadi subjek beban yang tak setangkup.Bila pengeringan berjalan terus. Analisis objektif menunjukkan penyempitan diskus intervertebral. Dengan penggunaan yang tak teratur diskus intervertebral. spondilosis dan sklerosis dataran akhir ruas tulang belakang didaerah yang terkena. Perubahan prediskotik ini lebih berpotensi untuk menimbulkan penyakit dibanding prearthrotiknya sendiri. dan terjadi pergeseran jaringan diskus intervertebral. terjadi kelainan fungsional pada sistem lokomotor yang memacu terjadinya degenerasi diskus intervertebral (diskosis). Tonus otot batang tubuh yang kendur. Sehubungan dengan perubahan sendi prearthrotik.

Kelainan kongenital daerah lumbosakral menyebabkan pembebanan tak setangkup pada diskus intervertebral lumbar. Peningkatan atau menetapnya kurva fisiologik setelah pertumbuhan menyebabkan pertambahan beban pada baik bagian diskus intervertebral anterior maupun posterior. Dengan penjarangan dan pergeseran tulang belakang. Ini sangat sering tampak bersamaan dengan kontraktur fleksi pada kelainan sendi panggul. Terjadinya hiperlordosis kompensatori didaerah lumbar bawah berakibat diskus intervertebral lumbosakral menjadi subjek tenaga kompresif dan shear. Terjadi perubahan prediskotik. Perubahan keseimbangan lokomotor menyebabkan deformitas tulang belakang pada dataran frontal. Inklinasi tulang belakang lateral sering dikarenakan tekukan panggul sekunder terhadap pemendekan salah satu anggota bawah. dan berakibat diskosis prematur. Setelah inklinasi lateral tulang belakang yang lama. Brocher (1973) menemukan penyempitan diskus intervertebral lumbosakral pada gangguan pertumbuhan juvenil baik pada toraks maupun lumbar. lebih sering dari bagian yang bergerak. Spondilosis dan spondilolistesis merupakan dasar perubahan prediskotik. Perbedaan tinggi diskus intervertebral pada arah antero-posterior adalah fisiologik pada kurva sagital tulang belakang normal.belakang. Gangguan pertumbuhan juvenil tulang belakang lumbar merupakan pertanda perubahan prediskotik. Bagian superior tulang belakang lumbar lebih sering menunjukkan kifosis. Secara keseluruhan statika dari tulang belakang lumbar menjadi terganggu oleh adanya hiperlordosis dan lesi timbul pada diskus intervertebral lumbosakral dan sendi ruas tulang belakang. Pada penderita kifosis remaja. Max Lange (1965) menduga bahwa lumbalisasi dan sakralisasi menyebabkan prolaps diskus inter-vertebral hingga dua kali lebih sering dibanding tulang belakang normal. Kelainan tak setangkup bisa disaksikan baik pada dataran sagital maupun frontal. timbul skoliosis akibat fiksasi fibrosa diskus intervertebral. Kelainan kongenital . diskus intervertebral melunak dan menipis. Sendi ruas tulang belakang menunjukkan peningkatan osteoarthrosis. lumbago dan siatika akan terjadi pada usia tiga puluhan. Diskus intervertebral mempunyai kemampuan mengatur dirinya saat pertumbuhan dataran akhir ruas tulang belakang. Pembebanan batang tubuh anterior yang berkelanjutan seperti pada kehamilan. Perbedaan panjang tungkai dengan tekukan panggul ditemukan pada 60 . Terjadi bendungan dan robekan prematur. postur yang tidak benar dan obesitas menyebabkan tekukan panggul dan penambahan lordosis lumbar dengan peregangan berlebihan dan gangguan nutrisi bagian posterior diskus intervertebral lumbar. Sering disertai deformitas statik. Ini merupakan subjek terhadap strain dan stres yang lebih besar yang menyebabkan penjarangan struktur serta pergeseran jaringan.70 persen manusia (Taillard 1964).

Fisura radial dan sirkular berjalan kedalam nukleus pulposus akibat beban tak setangkup terhadap diskus intervertebral. Pada arah posterolateral mungkin terjadi kontak antara protrusi dan radik saraf. Perpindahan Intradiskal dan Protrusi Posterior Tanda makroskopik pertama yang dapat dikenali pada degenerasi diskus intervertebral lumbar adalah adanya fisura pada bagian pusat anulus fibrosus. Protrusi atau invasi anterior jaringan diskus intervertebral kebadan ruas tulang belakang tidak menyebabkan rasa tidak enak atau pembatasan fungsi. selanjutnya berjalan keposterior kebatas yang lebih perifer dan karenanya menyebabkan regangan terhadap ligamen longitudinal posterior. juga timbul nyeri radikuler. Perubahan prediskotik adalah potensial menjadi penyakit dan harus selalu diketahui serta penyebabnya diatasi dengan cara yang paling baik. Transisi menuju protrusi lumbar adalah menyeluruh. Hal ini mungkin menjadi lebih atau kurang intensif . Pada operasi. Ia berkembang dari daerah kecil ditempat yang mengalami perubahan degeneratif. Sebagai tambahan terhadap nyeri lumbar. Deformitas setelah fraktura ruas tulang belakang serta spondilitis merupakan perbahan prediskotik. Ini mungkin menyebabkan lumbago dan adalah akibat adanya kerusakan interior diskus intervertebral. Lapisan paling permukaan dari anulus fibrosus tetap utuh. Rettig (1959) menjelaskan konsep ini dengan tehnik radiografik dengan kontras yang menampilkan diskus inter-vertebral. pergerakan fragmen diskus intervertebral kearah posterior penting karena pada daerah ini terdapat struktur peka nyeri. Tulang belakang lumbar mungkin menekuk kelateral dan terputar hingga terjadi skoliosis. Pada anak dan orang muda hal ini sangat sering memperberat regangan pada hamstring. Diskus didekatnya yang tidak harus segera terkena. serta pengaruh sekunder terhadap ramus meningeal saraf spinal. Serabut-serabut sensori ramus meningeal saraf spinal menjadi terangsang. Dianjurkan untuk memperbaiki fraktura ruas tulang belakang dengan memperbaiki alignment untuk mencegah sekuele diskus intervertebral. Dari kepentingan klinis. mendapatkan beban yang tak setangkup hingga menimbulkan perubahan bendungan. namun protrusi tertentu lapisan superior diskus intervertebral dibelakang jaringan yang rusak tetap berlangsung. fragmen diskus intervertebral ditemukan bila anulus fibrosus disayat. 2. Sclegel (1975) menemukan bahwa tulang belakang lumbar hipersegmental lebih mobil dan memerlukan muskulatur untuk menstabilkannya.lumbosakral ini karenanya merupakan perubahan prediskotik bila menimbulkan pembebanan lumbar yang tak setangkup.

Tidak hanya ukuran protrusi yang penting. Simptomatologi tergantung posisi protrusi. operasi adalah utama. fragmen diskus intervertebral mungkin bergerak kearah pusat diskus intervertebral. Tentu ini tidak terjadi pada keadaan dimana fragmen sudah terjepit antara tepi posterior ruas tulang belakang bersangkutan dimana fragmen tidak akan bergerak. prolaps posterior dan postero-lateral adalah sangat jarang. Protrusi didaerah ini mungkin harus sangat besar untuk dapat mengganggu kantung dural. kecuali penderita setelah mengalami masa nyeri pinggang dengan/atau nyeri tungkai. Bagaimanapun hal ini mungkin akan mengalami ekstrusi sempurna membentuk prolaps. atau biasa disebut 'protrusi paramedian'. Protrusi kemudian menjadi prolaps. namun juga ruangan dimana dura dan radik-radik saraf yang kelak akan terjepit. Bila mengenai L5/S1 jarak antara kantung dura dan protrusi lebih jauh dibanding tingkat yang lebih atas. Mungkin pula medial atau lateral terhadap radik saraf. 3. tiba-tiba kehilangan nyeri . atau akhirnya mungkin mengalami protrusi kedalam foramen menyebabkan protrusi intraforaminal. Pengobatan diarahkan pada usaha mengembalikan fragmen kepusat diskus intervertebral. Tidak mungkin untuk memperkirakan kapan protrusi menjadi prolaps. Pada keadaan ini. pada penekanan radik saraf kearah lateral kedalam foramina intervertebral. namun sudah diketahui pada jenis pengobatan ini mungkin berakibat bahwa fragmen lebih bergerak kearah tepi anulus fibrosus dan akhirnya terjadi robeknya lamela luar. Pada keadaan stenosis tulang belakang lumbar. Mungkin lebih menuju tengah. Disisi lain. Gejala protrusi sangat berubah-ubah karena jaringan yang mengalami protrusi tetap merupakan bagian dari sistem osmotik yang utuh dan karenanya bereaksi terhadap semua perubahan patofisiologik yang khas pada degenerasi diskus intervertebral. protrusi sangat kecil mungkin berakibat timbulnya rasa tidak enak. Prolaps Keadaan sangat berbeda bila degenerasi diskus intervertebral menyebabkan perforasi lamela posterior anulus fibrosus serta yang menyebabkan prolaps jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi.tergantung lokasi serta ukuran dari protrusi. terutama bila prolaps meletakkan material diskus inter-vertebral dibawah atau didekat radik saraf dan menyebabkan tekanan dan rangsangan pada radik saraf. atau menjadi lepas dan terdorong kebagian pusat diskus intervertebral. Sepanjang lamela kuat anulus fibrosus tetap utuh diluar protrusi. protrusi mungkin sangat kecil. Berlawanan dengan frekuensi yang tinggi dari nyeri lumbar dan nyeri menjalar yang tampak bersama protrusi diskus intervertebral yang sederhana.

nyata bahwa perubahan volume jaringan yang prolaps mungkin berakibat perubahan gejala. Karena intensitas nyeri pada prolaps lumbar umumnya tergantung lokasi dan ukuran deformitas. atau mungkin membengkak dan menimbulkan reaksi radang. atau sindroma kauda lengkap atau tak lengkap yang merupakan gejala yang biasa pada prolaps medial. Radik-radik sangat sering menjadi gepeng. Perubahan diskus intervertebral yang mengalami prolaps dapat berhubungan dengan intensitas nyeri. Jaringan yang bergerak kerongga epidural. Gejala klinik mungkin beragam. konsistensi juga berperan. prolaps posterolateral akan mengenai radik saraf. prolaps dapat menggerakkan radik saraf baik kemedial maupun kelateral. jaringan prolaps dapat menyebar kesemua arah. Tergantung posisinya. atau melekat pada prolaps.pinggang sama sekali dan hanya merasakan nyeri tungkai yang menjalar. Percobaan terhadap jaringan fragmen diskus intervertebral memperlihatkan pada keadaan yang serupa dengan prolaps diskus intervertebral dimana terjadi penambahan volume pada cairan hipotonik dibanding pada cairan hipertonik. Ini diperlihatkan dengan mielografi. Pada daerah lumbar. Jadi dianjurkan untuk sangat berhati-hati saat membuang ligamentum flavum . Disamping ukuran jaringan yang prolaps. akhirnya mengkerut dan membentuk perlekatan. Gejala klinik prolaps medial mungkin menampakkan baik lumbago. dengan akibat pendataran lordosis lumbar. siatika. prolaps berjalan kelateral dan mengikuti radik saraf yang tertekan dianterior. Setelah perforasi bagian posterior anulus fibrosus. Pada kasus tertentu. Fragmen diskus intervertebral menambah volumenya dalam cairan isotonik dan hipotonik. bagian diskus intervertebral posterior termasuk piring tulang rawan dapat mengalami fragmentasi dan prolaps kedalam kanal spinal. dapat berubah volumenya karena kemampuan osmotik. Bila arahnya kemedial. Posisi antara prolaps dan radik saraf dapat juga berubah. kantung dura akan tertekan seperti juga serabut-serabut kauda ekuina. Akar saraf karenanya terdorong keposterior dan mungkin tertekan pada bagian posterior kanal spinal (ligamentum flavum dan faset inferior). Radik-radik saraf mungkin menjadi gepeng karena tekanan. Jaringan diskus intervertebral yang tidak dipengaruhi tekanan intradiskal. Ini mungkin menimbulkan rekurensi yang kronik dari nyeri radik saraf. Prolaps dapat berhubungan dengan jaringan diskus inter-vertebral bersangkutan namun dapat juga tampak sebagai fragmen terpisah. Sebagai patokan. yang karena kemampuan osmotiknya menimbulkan perubahan tingkat gangguan terhadap saraf. Pada prolaps lumbar jaringan bergerak kerongga epidural kanal spinal dan menyebabkan penyempitan yang sangat serupa dengan tumor. Harus dipikirkan bahwa pengobatan manipulatif berperan hingga diskus intervertebral menjadi prolaps.

atau bagian dari lamina. Sindroma lumbar paling sering diakibatkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. radik-radik saraf sisi berseberangan juga terkena. juga menjadi lebih lembut. Karenanya klasifikasi yang sistematik sulit didapatkan. ini akan berakibat siatika pada sisi lainnya. yang selanjutnya mengenai radikradik saraf dan menyebabkan gabungan reaksi radang dan mekanik. seperti kantung dural. gejala klinik berkurang dengan adanya invasi jaringan fibrosa yang memiliki pengaruh stabilisasi. Baik pendataran radik saraf maupun reaksi radang dengan pembengkakan radik. Ketinggian diskus intervertebral berkurang dan sendi intervertebral terganggu dengan pengurangan rongga interforaminal yang selanjutnya menekan radik saraf. sindroma berbeda dari pasien kepasien. Jaringan prolaps dapat juga mengarah kesuperior atau inferior dan karenanya mengenai radik-radik pada tingkat lain. Alasannya adalah karena adanya perubahan biokimia dan biomekanik didalam diskus intervertebral. GEJALA DAN TANDA SINDROMA LUMBAR Gejala sindroma lumbar beragam. Semua gejala dimulai dengan nyeri lumbosakral ringan hingga paralisis lengkap bisa ditemukan. yang terutama dijumpai setelah operasi. dengan onset nyeri yang tiba-tiba lebih sering dijumpai. Pada prolaps tertentu. yang dikenal sebagai sindroma pasca diskotomi. akan menimbulkan perubahan mekanik jaringan sekitarnya. Dengan miografi-elektro dan mielografi. Sindroma lumbar kebanyakan khas dengan nyeri pinggang bawah dan siatika yang dalam perjalanannya memiliki penyebaran serta intensitas yang sangat beragam. Lagipula reaksi masing-masing sistem saraf terhadap perubahan eksternal harus dipikirkan. Sekali fragmen mengalami prolaps . Jaringan diskus inter-vertebral lebih renggang. Dalam perjalanan selanjutnya. Misalnya jaringan prolaps bergerak kemedial. Sangat umum dijumpai kasus-kasus yang tidak mengikuti pola yang khas. diferensiasi sindroma lumbar yang lebih baik dapat . jadi tekanan terhadap radik saraf terjadi dari arah ini. Ini mungkin pada akhirnya menyebabkan sindroma lumbar kronik dengan nyeri radikular berulang. Bahkan bila patofisiologinya serupa misalnya protrusi lateral. menjadi lebih sulit untuk menghubungkan gejala-gejala dengan keadaan patofisiologik utama. biomekanik interior dari diskus intervertebral menjadi berubah. Dengan perjalanan waktu. Ini akibat perlekatan yang merupakan tahap akhir reaksi radang sekitar radik saraf. Jaringan fragmen diskus intervertebral dapat juga bergerak keposterior. bila berkembang perubahan degeneratif sekunder. elemen saraf kanal spinal terkena. dan akibat perubahan sistem osmotik.

Perubahan lain yang semula dianggap sangat penting. karakter serta intensitas nyerinya. . malposisi pelvis dan sendi ruas tulang belakang. Bila tak ditemukan tanda objektif sama sekali. rencana dan radik mana yang terkena mungkin hanya dibuat berdasarkan riwayat dan daerah dari penyebaran nyeri sepanjang dermatom khas. karena medianya adalah serabut-serabut besar. mungkin sulit untuk menilai keadaan secara sempurna. Keluhan Umumnya gejala pada suatu sindroma lumbar adalah nyeri. Pengaruh impak yang keras dan berbagai jenis kecelakaan tak dapat dianggap bertanggung jawab atas nyeri pada pasien-pasien yang diperiksa dan yang tidak merencanakan tuntutan asuransi. Sudah jelas diketahui bahwa nyeri pinggang sering dianggap dasar untuk menuntut asuransi atas kecelakaan. Karenanya penderita sering menghubungkan gejalanya dengan beberapa kegiatan. seperti mengangkat benda berat atau menggeliatkan punggungnya secara berlebihan. Sindroma lumbar khas dengan lumbago dan siatika. Intensitas nyeri tidak selalu sebanding dengan tekanan yang mengenai radik saraf bersangkutan. Penderita biasanya sangat mengenal lokalisasi nyerinya. Ini tidak jarang pada kasus kompensasi asuransi. A. Saat ini mielografi dapat dilakukan tanpa bahaya yang besar sejak digunakannya media-kontras yang tidak berbahaya. tergantung apakah patologinya berupa protrusi atau prolaps dari diskus intervertebral. Tanda objektif mungkin minimal walau nyeri hebat. Paling sering mengenai dua segmen lumbar terbawah. Analisa sindroma menjadi sederhana dengan mendengarkan secara hati-hati riwayat penderita termasuk posisi dan gerakan yang mungkin mempengaruhi karakter dan intensitas nyeri. Kehilangan sensori lebih menunjukkan reaksi radang dibanding reaksi tekanan. seperti halnya deformitas statis. Namun demikian perlu untuk membedakan jenis pengobatan. hingga diagnosis sindroma lumbar mudah ditegakkan. Terbukti bahwa tekanan pada kantung dural dan radik-radik saraf oleh jaringan diskus intervertebral yang prolaps adalah penyebab utama nyeri siatik. Siatika atau lumbago akut timbul tanpa sesuatu penyebab yang jelas ("Came out of the blue"). Pasien sering tampak berkonsultasi saat bebas gejala. Sindroma lumbar dapat berkembang dalam waktu sangat singkat. sekarang memainkan peran sekunder.dibuat. Finkenrath (1977) mendapatkan kenyataan bahwa lebih dari setengah penderita tidak mempunyai alasan yang pasti atas onset dari gejala yang dideritanya. biasanya menyebabkan kelemahan motor dibandingkan perubahan sensori. Tekanannya sendiri. Apabila tidak didapatkan tanda-tanda neurologik. Kadang-kadang timbul sangat tiba-tiba.

Keadaan serupa terjadi selama istirahat dimana posisi miring berubah keposisi telungkup. Informasi mengenai fungsi kandung kemih. posisi dan tekanan berubah sepanjang hari dan juga sepanjang perjalanan penyakit. Namun beberapa pasien merasakan pengurangan nyeri saat duduk dimana foramina intervertebral membesar. Disaat lain nyeri lumbosakral dapat hilang sempurna dan hanya siatika yang menetap. Pasien akan berusaha mencegah peninggian tekanan dan selalu menemukan posisi dimana nyeri akan berkurang walau pada peninggian tekanan. Mulanya nyeri dapat sangat dalam dan terbatas pada daerah lumbosakral dan dijalarkan ke bokong. Alasannya tentu saja perubahan tekanan intradiskal yang besar. Pada posisi berdiri dengan lordosis lumbar. Nyeri mungkin bertambah bila lordosis lumbar diperbesar dengan membaringkan pasien pada posisi telungkup. Ini didemonstrasikan Nachemson (1976) bahwa peninggian tekanan intraabdominal menyebabkan tekanan intradiskal lumbar. bagian diskus intervertebral posterior yang mengalami fragmentasi menjadi tertekan diantara tepi ruas tulang belakang dan akan membengkak menekan dura dan radik-radik saraf (Reischauer 1949). ada pasien yang berkurang nyerinya pada posisi telungkup dan dengan hiperekstensi ringan tulang belakang lumbar. Ini timbul sebagai bagian sindroma kauda seperti juga kelemahan otot anggota bawah yang juga dapat disertai dengan siatika. Secara keseluruhan. buang air besar dan potensi harus diketahui. Kebanyakan penderita merasa enak bila berbaring pada sisi tubuh atau pada belakang tubuh dengan pangkal paha dan lutut fleksi. Sudah menjadi kenyataan bahwa nyeri diskogenik pada daerah lumbar sangat erat bergantung pada posisi tulang belakang. Bersandar kedepan atau duduk pada lengan kursi diperkirakan menambah tekanan intradiskal. Ini terutama jelas pada perbedaan gejala antara siang dan malam. Keragaman gejala ini mungkin pula terjadi bila nyeri menjadi berkurang dan bila perbaikan mulai terjadi.Karakter nyeri dan penjalarannya secara sinambung beragam pada sindroma lumbar. Penting untuk menemukan bahwa pasien merasakan perbedaan nyeri bila mengistirahatkan tulang belakang. Nyeri diskogenik daerah lumbar dieksaserbasi oleh batuk dan bersin dimana terjadinya peninggian tekanan intra-abdominal. Sekali lagi. hubungan antara nyeri. adanya posisi dimana didapatkan relaksasi mungkin berhubungan dengan posisi protrusi atau prolaps. Penjelasannya adalah adanya hubungan antara vena epidural tanpa katup pada kanal tulang belakang terhadap perubahan tekanan intraabdominal atau intratoraks. seperti juga dengan perubahan posisi radik-radik saraf terhadap aspek posterior diskus intervertebral. Keluhan beberapa pasien atas kram pada betis . Sebagai tambahan mungkin dapat timbul siatika yang mulanya hanya mengenai tungkai atas namun akhirnya juga mengenai kaki. Disisi lain.

Observasi oleh Lasegue. pemeriksaan adalah positif dan karenanya dikatakan sebagai Lasegue positif (positive straight leg-raising test). bersin dan tekanan abdominal ------------------------------------------------------B. Pada pemeriksaan tidak dijumpai tanda-tanda objektif. Diagnosa yang mendalam dan tepat suatu saat mungkin sulit ditegakkan bila pasien mengemukakan bermacam gejala. Penderita mencegah semua gerakan yang dicurigainya akan menimbulkan nyeri. Sendi-sendi tungkai bawah diperiksa. namun bila terjadi. karenanya diusahakan interogasi dan pemeriksaan yang sangat teliti saat pemeriksaan pertama. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan . Saraf Siatik tidak terganggu. didapatkan bahwa pada pasien dengan siatika sering dijumpai plantar fleksi dari kaki dan pada dorsifleksi kaki akan menimbulkan nyeri. sehingga tes Lasegue dapat dilakukan tanpa ada sesuatu keadaan yang menyebabkan gangguan terhadap sendi panggul. perasaan tidak enak dan peregangan akan bertambah pada otot Iskiokrural. Pasien sering mengeluh perasaan pincang. Pertama-tama adalah harus menjadi "pengambil riwayat yang teliti yang fanatik" (6). Bila nyeri dapat ditimbulkan. Bila melampaui ini. Ini perlu untuk membedakan antara nyeri pinggang yang terlokalisir dan nyeri radik saraf. Tungkai bawah dapat diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. Tabel 2 Gejala-gejala Khas pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Onset mendadak Perjalanan silih berganti Ketergantungan pada postur Nyeri bertambah pada batuk. Gangguan motor dari otot dapat terjadi akibat nyeri dan relaksasi refleks seluruh anggota bawah. terutama sendi panggul.posterior adalah bagian sindroma S1. timbul nyeri yang menjalar sesuai dengan distribusi radik saraf yang terkena. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. Tanda-tanda klinis Pemeriksaan peregangan terhadap saraf Siatik dilakukan dengan mengangkat tungkai pada posisi terlentang. tungkai dapat difleksikan hingga 70-900 pada sendi panggul. Mekanisme timbulnya nyeri dijelaskan sebagai peregangan yang berlebihan dari saraf Siatik. dari nyeri tumpul yang dapat timbul pada otot tungkai sebelah belakang. Normal.

Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. Tanda-tanda khusus sindroma lumbar harus merupakan bagian dari pemeriksaan umum yang harus menginformasikan pada pemeriksa asal dari penyakit. Karenanya pada prolaps diskus inter-vertebral L4 dengan penekanan pada radik saraf L5 menyebabkan lemahnya ekstensor ibu jari. termasuk penilaian neurologik secara umum.disepanjang saraf siatik. Ini disebut sebagai Lasegue kontralateral. tes straight leg . Membuka sepatu atau kaus . memberikan informasi penting seperti adanya sindroma lumbar. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. Pemeriksaan klinik harus mencakup inspeksi. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. kehilangan sensasi. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. nyeri dapat ditimbulkan dengan mengangkat tungkai yang diseberang tungkai yang terkena. Pasien banyak berdiri dari pada duduk dan sering menggunakan penumpu kursi atau meja saat bangkit dari kursi. Hiperestesi dapat terjadi pada sindroma radik saraf akibat lesi yang tidak lengkap pada radik saraf spinal yang sangat sering terjadi pada protrusi diskus lumbar. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. Langkah penderita adalah tak setangkup. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. Terdapat tumpang tindih pada persarafan tungkai bawah. Inspeksi. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. Bila radik L5 terkena. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. Pemeriksaan sensasi adalah paling penting. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis. ia berjalan hati-hati dan bila dengan siatika mungkin pincang. palpasi dan test fungsional. Dianjurkan pemeriksaan dilakukan dengan pergerakan penderita sesedikit mungkin karena setiap perubahan posisi mungkin menyebabkan nyeri dan rasa tidak enak pada pasien. Otot extensor hallucis longus dipersarafi hanya oleh satu radik saraf yaitu L5. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. Namun dapat dikatakan bahwa bagian belakang kaki pada ibu jari dipersarafi oleh radik L5. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1.raising yang positif. Pada prolaps medial. abnormalitas refleks dan gangguan motor.

Terdapat penonjolan otot yang mengalami kontraksi (Spasme lumbar). Posisi ini dengan sedikit fleksi paha dan lutut memberikan posisi paling santai. Tes fungsional aktif ini diikuti dengan pemeriksaan pergerakan pasif. Prosesus spinosus dipalpasi dengan penderita telungkup dan nyeri dapat ditimbulkan dengan penekanan pada prosesus segmen bersangkutan. berjalan beberapa langkah pada jari-jari dan tumitnya untuk menampilkan kemungkinan kelemahan ekstensor kaki (L5) atau otot betis (S1). Jaringan lunak menjadi tertekan diantara arkus ruas tulang belakang hingga radik saraf akan tertekan bila ada protrusi atau prolaps. Pemeriksaan dilanjutkan dengan pasien berbaring. penonjolan semakin jelas. disuruh untuk menekuk kesamping dan juga merotasi tubuhnya. sering dijumpai saat bebas gejala atau pada protrusi yang sangat lateral dari diskus intervertebral L5-S1. Bila pasien tanpa pakaian dan dilihat dari belakang. . karenanya memungkinkan untuk mengarahkan tekanan pada ligamen flaval dan pada radik saraf yang terletak dibawah ligamen. Posisi telungkup sering bersama dengan rasa tidak enak. Pada posisi terlentang spasme lumbar sering hilang. namun hal ini tidak menggambarkan segmen spesifik karena sendi inter-vertebral lumbar mempunyai posisi sagital yang akan menggerakkan sendi dan ruas tulang belakang berdekatan. Penderita disuruh berdiri pada jari-jarinya dan pada tumitnya. Deformitas dan keterbatasan pergerakan yang mungkin sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Setelah memeriksa kemampuan pasien untuk membungkuk kedepan. Dengan penambahan kifosis mungkin memperlebar arkus ruas tulang belakang yang akan membantu palpasi hingga nyeri khas dapat dibangkitkan. Nyeri juga dibangkitkan dengan memutar prosesus posterior. Tes ini gagal bila protrusi atau prolaps terletak sangat lateral atau arkus ruas tulang belakang sangat lebar. Nyeri paraspinal sangat indikatif pada pasien kurus yang kehilangan kekuatan ototnya. Nyeri lokal dan siatika yang khas karenanya dapat ditimbulkan. Pergerakan kelateral tidak seterbatas fleksi atau ekstensi. Spasme lumbar dan fiksasi terbatas tulang belakang adalah kriteria dignostik penting pada sindroma lumbar. Nyeri terbatas pada penekanan dapat dijumpai pada perjalanan saraf siatika dengan titik nyeri maksimal dibokong dan fossa popliteal (Tanda Valleix). Dengan usaha memperpanjang tulang belakang lumbar dan meluruskan lordosis. mungkin disaksikan deformitas.kaki menyebabkan rasa yang sangat tidak enak dan dilakukan dengan sulit dengan penderita berusaha menggerakkan tulang belakang kedepan. Sering didapat pengurangan mobilitas terbatas satu sisi. Keterbatasan yang tergantung nyeri pada mobilitas lumbar dapat mula-mula dijumpai bila penderita disuruh menekuk kesamping dengan tubuh sedikit condong kedepan.

nyeri diperberat. Kepekaan anggota bawah dites dan dengan menyuruh pasien mengkontraksikan bokongnya. Pada posisi telungkup. Mekanisme pembangkitan nyeri diterangkan sebagai peregangan berlebihan saraf siatik. Sendi anggota bawah diperiksa dan terutama sendi panggul hingga tes Lasegue dilakukan tanpa adanya pengaruh kelainan disendi panggul. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pasien terlentang pada punggungnya. Bagaimanapun. dan makna tanda ini mula-mula dijelaskan oleh J. bagian pemeriksaan neurologik dilakukan. Ini disebut Lasegue kontralateral. Tungkai kemudian diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. perbedaan tonus dapat dipalpasi yang menunjukkan sindroma S1. Normalnya tungkai dapat fleksi hingga 70-900 pada sendi panggul. Peregangan saraf femoral dengan pasien telungkup dapat dibandingkan dengan peregangan yang sama terhadap saraf siatik yang terjadi bila tungkai diangkat dengan penderita pada posisi terlentang. Untuk menyingkirkan kemungkinan ini. Dengan suntikan intradiskal nyeri khas ini dapat dirangsang.Nyeri dapat juga terbatas pada sendi sakroiliak yang dapat juga timbul pada palpasi. Perlu dibedakan nyeri pinggul terbatas dan nyeri radik saraf dari nyeri tumpul yang dapat bangkit pada otot tungkai posterior. dilakukan tes regang siatik: tungkai diangkat hingga dirasakan nyeri. Ini bukan gangguan lokal pada sendi sakroiliak. Pada prolaps medial. tapi sekali terjadi. namun semata-mata suatu nyeri menjalar melalui cabang posterior saraf-saraf spinal. Tahun 1864 Lasegue melakukan pengamatan pada penderita dengan siatika dimana sering dijumpai kaki dalam plantarfleksi dan pada dorsifleksi kaki. hiperekstensi sendi panggul mungkin berakibat nyeri paha anterior dan karenanya gangguan pada saraf femoral dapat diketahui. murid Lasegue. mungkin menandakan protrusi diskus intervertebral pada tingkat yang lebih tinggi. Lasegue positif adalah serupa dengan positive straight leg-raising test. tes adalah positif dan karenanya disebut tes Lasegue positif (positive straight legraising test). Forst. Pengangkatan tungkai bagaimanapun akan dapat menyebabkan nyeri akibat adanya lesi pada sendi panggul dan sakroiliak. nyeri dapat dibangkitkan dengan mengangkat tungkai berlawanan dengan sisi tungkai yang terkena. Saraf siatik tidak terganggu. rasa tidak enak dan tegangan akan terjadi pada otot iskiokrural. Bila melebihi ini. Tungkai ini kemudian direndahkan pada posisi dimana nyeri menghilang dan pada titik ini kaki diekstensikan kedorsal yang biasanya menimbulkan nyeri bila saraf siatik terganggu. Dengan pasien telungkup. timbul nyeri menjalar sepanjang distribusi radik saraf terkena. Ini disebut juga tes Lasegue terbalik atau tes regangan saraf femoral. Bila nyeri timbul. Dengan ekstensi kedorsal .

Peninggian aktifitas refleks tidaklah mempunyai keistimewaan apapun pada kelainan diskus intervertebral. namun bila pasien diletakkan pada posisi duduk dengan tungkai lurus. Pada tindakan ini tidak disertakan baik sendi panggul maupun sendi sakroiliak. Objektifitas tes ini tak bisa dibantah dan dapat berguna tiap saat. Pada keadaan dimana perlu membuktikan asal sebenarnya dari penyebaran nyeri yang turun ketungkai. L4 dan L5. L5. hanya didapat sedikit kelemahan kuadriseps dengan akibat kelemahan ekstensi lutut. Peregangan saraf siatika dengan duduk tegak dengan tungkai lurus juga menimbulkan nyeri. pemeriksaan dilanjutkan dengan menilai refleks. mungkin terjadi keadaan dimana pada pengangkatan tungkai lurus hingga 20-300 penderita akan memberikan pertanda nyeri. Kompresi berat hanya akan menyebabkan gangguan motor ringan pada otot besar. mereka jelas tidak terganggu. perhatian pasien dialihkan dan pemeriksaan diulangi sekali lagi. Pada prolaps L3-L4. Dengan pasien berbaring pada punggungnya. Bila refleks ankel sulit dibangkitkan bila pasien berbaring dengan punggungnya. Pemeriksaan mobilitas dipusatkan pada otot tungkai bawah yang mungkin terkena pada sindroma lumbar. Pemeriksaan sensasi adalah terpenting. tidak ada nyeri. Ini mungkin membuktikan bahwa pasien bereaksi berlebihan atau bahkan berpura-pura sakit. Penurunan aktifitas refleks patellar dapat ditemukan bila radik saraf lumbar ketiga dan keempat terkena. Refleks patella mungkin sulit dibangkitkan karena nyeri pada tungkai. Sindroma radik saraf hanya akan menyebabkan gangguan pada . termasuk kompresi pada radik saraf L4. yang mana pasien akan teralih perhatiannya dari pemeriksaan (Jendrassk`s grip). Fibrilasi dapat dijumpai pada otot dan gangguannya akan sebanding dengan tekanan yang berlangsung pada radik saraf bersangkutan. Extensor hallucis longus dicatu hanya oleh satu radik. Otot kuadrisep dicatu oleh radik-radik saraf L3. mobilitas dan sensasi. saraf tibial akan teregang 2 cm. Refleks harus dites dengan sangat teliti dan bila pasien tidak cukup santai untuk memungkinkan pemeriksaan dilakukan. ia dapat diperintahkan berlutut dan pada saat yang sama pegang jarinya dan tarik dengan kuat. Ini dapat ditemukan pada langkah pasien dengan kesulitan dalam menempatkan dan meneruskan pergerakan kaki. namun kelainan motor bisa jadi sangat ringan hingga pasien tidak menyadarinya. Sebaliknya pada prolaps L4-L5 dengan kompresi radik L5 didapat kelemahan yang nyata dari ekstensor ibu jari. Karenanya pasien ditempatkan pada posisi yang memberikan relaksasi sempurna dan bebas dari nyeri. Pemeriksaan harus mencakup analisa teliti kekuatan fleksor plantar dan ekstensor dorsal kaki dan terutama ibu jari.dari kaki.

Hiperestesis dapat juga terjadi pada sindroma radik saraf lumbar. Tilney dan Riley 1938. penderita harus diperiksa lebih lanjut. . Bradford dan Spurling (1950) serta Lindblom (1948) menjelaskan asal penyakit sebenarnya serta hubungannya dengan nyeri pinggang bawah dan siatika. mielografi. Dandy (1943). Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan disepanjang saraf siatik. Sindroma Radik Saraf Lumbar . terkenanya rami anterior akan mengakibatkan gejala. Penjelasan distribusi dermatomal diperkirakan beragam (Foerster 1933. Dengan beberapa ketentuan dapat dikatakan bahwa bagian dorsal kaki didaerah ibu jari dicatu oleh radik L5 dan tumit serta bagian lateral kaki dicatu oleh radik S1. rami dorsal dan meningeal terserang. Ini akibat lesi tak lengkap radik saraf spinal yang sangat umum pada protrusi diskus intervertebral lumbar. C. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis.Siatika Pada sindroma lumbar lokal. Bradford dan Spurling (1950) telah mengamati ketidak-teraturan distribusi sensasi bagian bawah anggota bawah setelah merusak radik saraf sakral pertama. Keterangan patologik yang jelas dimana prolaps diskus intervertebral lumbar menyebabkan siatika telah diketahui sedikitnya sejak 50 tahun. miografi-elektro dan pemeriksaan yang lebih canggih lainnya sangat jarang diperlukan dan hanya untuk memperkuat diagnosis selanjutnya serta untuk menyingkirkan kelainan lain. Terdapat tumpang tindih inervasi anggota bawah yang terutama jelas pada bagian proksimal. Penting untuk memeriksa sensasi didaerah perineal dalam upaya menyingkirkan adanya sindroma kauda. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. Keegan 1943). Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. Pemeriksaan klinik teliti akan menghasilkan diagnosis dan harus dapat menentukan tingkat yang terganggu. Radiografi. Mixter dan Barr (1934).sensasi permukaan yang mudah diperiksa dengan sentuhan. tekanan dan tusukan jarum. Bila ada petunjuk gangguan temperatur dan sensitifitas dalam atau bila ada tanda kelainan neurologik lain yang tidak bersamaan dengan sindroma lumbar. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. Sebelumnya siatika diduga akibat keadaan inflamatori dan karenanya disebut neuritis siatik. pemeriksaan laboratori. Pada sindroma radik saraf lumbar.

Pada keadaan ini operasi dianjurkan sesegera mungkin. Bila radik L5 terkena. Ini mungkin disebabkan pelunakan dan perubahan volume diskus intervertebral dan oleh osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang atau oleh perpindahan ruas tulang belakang dan kelainan lain pada kanal spinal. abnormalitas refleks dan gangguan motor. tes straight leg . akan terjadi paresis ekstensor kaki dan jari. kehilangan sensasi. dan bila radik L5 terkena. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. siatika dapat tetap ada bersama dengan daerah nyeri terbatas atau nyeri sakral. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. 1. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. penting untuk mengetahui apakah sindroma radik saraf lumbar diakibatkan protrusi ataukah prolaps. Setelah operasi. Nyeri dapat terbatas hanya pada bokong atau kaki dan tidak berubah dengan perubahan postur dan hanya dapat dikenal dengan test traksi atau mielografi dimana asal nyeri dapat ditemukan. mungkin akan berakhir dengan penurunan karena timbulnya parestesi dan gangguan motor. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer.Sindroma radik saraf lumbar dapat disebabkan protrusi atau prolaps.raising yang positif. namun tidak jarang perubahan patologik pada diskus intervertebral atau sekitarnya dapat menyebabkan nyeri yang menjalar. Bila terdapat siatika. Gejala beragam secara individual dan bila semula nyeri dan deformitas menonjol. Siatika pada Protrusi dan Prolaps Diskus Intervertebral Dari sudut pandang terapeutik. Akan terjadi juga kehilangan sensasi. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. maka . Tatkala radik saraf tertekan oleh benjolan bagian posterior diskus intervertebral. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. ini bisa juga pertanda suatu sindroma lumbar lokal. Adanya sindroma siatik tergantung letak dan ukuran dari struktur yang menekan radik saraf. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. namun terdapat beberapa kekecualian dimana hanya terdapat siatika tanpa nyeri sakral. Bila radik saraf tertekan sempurna maka nyeri akan hilang.

Nyeri dan deformitas tampak tiba-tiba dan memburuk dalam beberapa jam setelah jaringan diskus intervertebral bergerak kekanal spinal. daerah hipestesi dan refleks yang abnormal akan berkembang. Gambaran klinik lebih berat pada prolaps. Pada protrusi ada hubungan antara sistem osmotik diskus intervertebral dengan perubahan volume dan konsistensi. Pada pasien yang lebih muda agak membingungkan untuk menyayat anulus fibrosus yang intak diatas protrusi dalam usaha mencapai fragmen yang sudah mengalami pergeseran. parestesia dan gangguan motor Hasil baik setelah tindakan Tindakan dengan obat-obatan dengan obat-obatan tidak berguna Instillasi intradiskal Instillasi intradiskal berat ringan Media kontras pada Media kontras pada diskografi tetap pada diskografi keluar kerongga diskus intervertebral epidural ------------------------------------------------------Juga terjadi perubahan pada perjalanan klinis. Pada protrusi jaringan yang bergeser dapat dinormalkan dan dicapai restitutio ad integrum. Karenanya nyeri. Tabel 3 Perbedaan Siatika yang disebabkan Protrusi dan Prolaps ------------------------------------------------------Siatika Karena Protrusi Siatika Karena Prolaps ------------------------------------------------------Onset secara umum tak jelas Onset berat tiba-tiba Deformitas dapat berubah Deformitas menetap Nyeri proksimal Nyeri distal. Dari perjalanan klinik akan jelas apakah terjadi suatu prolaps atau protrusi (Tabel II. Penyembuhan spontan lebih sering pada protrusi dibanding pada prolaps. Gangguan motor.keadaan biomekanik dan biokimia secara keseluruhan akan berbeda bila penekanan disebabkan oleh prolaps. kecuali diangkat secara operasi. Saraf spinal terjepit antara prolaps dan arkus ruas tulang belakang. parestesi dan deformitas berhubungan dengan perubahan yang disebabkan oleh . Penekanan radik saraf lebih kuat pada prolaps dibanding protrusi. Tindakan ini mungkin mengawali rasa tidak enak dan nyeri yang terus menerus. Kebanyakan pasien dengan siatika adalah karena protrusi diskus intervertebral.3). Sebaliknya tindakan konservatif tidak dapat dipilih pada prolaps yang lengkap. Sering nyeri lebih proksimal pada protrusi. Ini tidak terjadi pada prolaps. Fragmen diskus intervertebral akan mengalami pergeseran kerongga epidural dekat radik saraf atau kantung dura dan akan selalu menyebabkan rasa tidak enak dan nyeri. Massa jaringan diskus intervertebral bergeser keposterior dan menonjol dengan ligamen longitudinal posterior sebagai pembungkusnya.

Penilaian gambaran klinik serta perjalanannya. Pada protrusi didapatkan membran tipis dan fragmen yang mengalami inkarserasi jelas mengingatkan akan prolaps. Patsold (1975) melaporkan bahwa 75% deformitas skoliotik pada penderita protrusi atau prolaps diskus intervertebral dibenarkan oleh mielografi. Deformitas tergantung apakah radik saraf tertekan dari anterior. Deformitas Siatik Ada beberapa tanda tidak khas pada sindroma radik saraf lumbar yang memperjelas siatika. Sejumlah cairan mungkin dapat disuntikan dan pada prolaps akan keluar kerongga epidural. yang akan membedakan penekanan pada radik saraf. Nyeri pertama-tama tampak bila dilakukan mobilitas secara aktif maupun pasif dan bila mencoba meluruskan badan. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. seperti juga pemilihan tindakan. Obat-obat anti inflamatori mungkin berguna. dan sering disertai inklinasi kelateral pada sindroma radik saraf. Pada mielografi tak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. Pada prolaps gambaran klinik menetap dan sulit untuk berubah. memerlukan pemahaman klinik yang baik dan pengalaman yang luas atas berbagai aspek dari nyeri pinggang bawah. nyeri pada peregangan saraf femoral. tes straight legraising positif. Penderita selalu bertahan pada posisi yang menyebabkan paling sedikit penekanan terhadap radik saraf. Seperti terlihat pada tabel diatas. Pada lumbago tulang belakang lumbar menjadi mendatar dan tubuh membungkuk kedepan.beban. tes straight leg-raising positif dan deformitas lebih sering dijumpai pada protrusi dan prolaps pada tingkat ini dibanding tingkat L5/S1. Sempitnya ruang epidural L3/L4 dan L4/L5. beberapa pasien hanya menunjukkan sedikit nyeri. Penguatan tanda-tanda ini tergantung letak dan ukuran protrusi diskus intervertebral. Alasannya ialah reaksi refleks postural. 2. Disisi lain. Walau deformitas jelas. Pada prolaps medial yang besar jarang inklinasi kelateral karena tidak akan mengurangi tekanan pada . Dengan diskografi mungkin untuk menentukan apakah anulus fibrosus intak atau tidak. dan deformitas siatik. Pada protrusi tahanan terhadap injeksi jauh lebih besar dibandingkan terhadap prolaps. protrusi dan prolaps memberikan perjalanan yang secara keseluruhan berbeda. prolaps kecil yang terletak pada "dead area" pada kanal spinal tidak harus memberikan gejala. Pada tabel diatas beberapa pendekatan dikemukakan. Pada kelainan diskogenik akan sulit untuk mendapatkan pola yang tetap untuk perjalanan dan prognosis. superior atau inferior. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. dan penderita sangat jarang mendapatkan perbaikan.

Cara termudah mengenal ini adalah mengamati postur tubuh. dan berdiri pada jarinya dengan kaki pada posisi dropfoot ringan. Terdapat hubungan topografik langsung antara tepi diskus intervertebral posterior dan radik-radik saraf pada segmen lumbar. bagian konveks diskus intervertebral akan bergerak kesuperior. digunakan istilah 'deformitas siatik ipsilateral'. Bila protrusi dibelakang bahu. pasien tidak membawa beban tubuhnya pada tungkai terkena . Protrusi diskus intervertebral melakukan kontak dengan berbagai bagian radik saraf ketika ia berjalan dari superomedial keinferolateral. yangdifleksikannya baik pada sendi panggul maupun lutut. Skoliosis lumbar dapat menjadi konveks baik mengarah maupun menjauhi kompresi radik saraf. yaitu satu radik dari superior dan lainnya dari inferior. Pada inklinasi tulang belakang lumbar kesamping. Hubungan deformitas siatik dengan posisi protrusi atau prolaps cukup menarik. Deformitas siatik menjadi jelas bila tubuh ditekuk kedepan karena kontak antara radik saraf dengan prolaps serta protrusi semakin berat. deformitas hanya menjadi nyata bila pasien membungkuk kedepan. Keluarnya radik saraf dari dura digambarkan sebagai daerah bahu. dan bila tubuh condong menjauhi tungkai siatik disebut 'deformitas siatik kontralateral'. radik saraf sisi berlawanan akan terkena. Jadi pada protrusi lateral pasien akan membungkuk kedepan sisi sehat (deformitas siatik kontralateral) dan pada prolaps medial menuju sisi sakit (deformitas siatik ipsilateral). Bila pasien membungkuk kedepan. Ada penderita mendapatkan pengurangan . Bila pasien condong kearah tungkai siatik. dan prolaps karenanya dapat terletak dibawah bahu. Beberapa istilah digunakan untuk menyeragamkan penamaan radik-radik saraf yang berpasangan dengan mengingat dua lengan yang meninggalkan setiap segmen. deformitas siatik hampir selalu hilang sempurna. tidak ada skoliosis siatik pada posisi berdiri. Pada protrusi medial dengan dasar luas. dan penyilangan radik saraf diatas diskus intervertebral bervariasi pada setiap tingkat.radik saraf. Protrusi yang terletak superior terhadap radik saraf (pada bahu) akan bergerak menjauhi radik. Bila membungkuk kedepan. Pada kasus yang belum lanjut. diatas bahu atau pada ketiak. Bila duduk dan berbaring. Beban tubuh pada tungkai siatik hanya dapat dilakukan pada waktu singkat. skoliosis siatik tak harus timbul. radik akan meluncur kemedial atau lateral diatas protrusi. Tentu ada bentuk peralihan dimana prolaps besar akan mengenai radik-radik dari dua tingkat. Konveksitas skoliosis lumbar menentukan arah inklinasi lateral dari tubuh. bila protrusi dibawah radik (pada ketiak) akan terdorong mendekati. Bila siatika jelas. dan ini akan menyebabkan deformitas campuran.

ia penting bukan saja karena sulitnya diagnostik.rasa nyeri dengan menambah lordosis lumbar. a. Terdapat kesulitan mendorsifleksikan kaki dan jari yang menyebabkan kesulitan melangkah dan karenanya dan paling penting adalah secara hati-hati menganalisa gangguan motor. sindroma L5 tersering ditunjukkan oleh postur penderita yang sangat sering membungkuk kedepan. b. dan paling sering ini tergantung pada jumlah radik saraf yang tekena. Sindroma Lumbar Monoradikular Gejala yang berhubungan hanya dengan satu segmen ditemukan pada hampir setengah dari sindroma radik saraf lumbar . 3. Disini dipentingkan fisioterapi. Hilangnya fungsi ekstensor pada ibu jari tak boleh terluputkan dan kelainannya mudah diperiksa. karenanya tes straight leg-raising positif dapat ditampilkan pada setengah penderita dengan sindroma ini. Sindroma L5 Pada inspeksi. Akar L4 hanya dikenai 1% dan sisanya radik saraf lumbar superior yang terkena (Lindemann dan Kuhlendahl 1953.2% dan L5 dengan 43. Setelah penyebab nyeri siatik dikurangi. Nyeri dan hipestesi berjalan sepanjang belakang kaki ke ibu jari kaki. kehilangan dorsifleksi kaki akan timbul karena otot tibial anterior menjadi lemah. Ini terdapat pada 1-2% dari semua kelainan diskogenik. Tidak ada gangguan refleks pada sindroma L5. namun juga karena konsekuensi praktik yang terdapat pada kerusakan radik-radik saraf ini. Walau diskus intervertebral lumbar superior jarang terkena dibanding segmen L5 dan S1. extensor hallucis longus adalah otot yang paling sering mengalami paretik (Schliac 1973).8%. Pada sisanya. Bradford dan Spurling 1950. De Palma dan Rothman 1970. Finnesson 1973 dan Armstrong 1965). Pada kompresi radik saraf yang lama. Bila gangguan motor ditemukan. Ini terutama ditemukan pada penderita dengan protrusi dan prolaps dari diskus intervertebral lumbar superior. Atrofi ringan mungkin ditemukan pada otot tungkai bawah. 98% terjadi pada dua segmen yang lebih bawah. Akar S1 terkena 54. mungkin akan tetap meninggalkan deformitas siatik yang tidak menghilang dalam beberapa bulan. kelainan kliniknya campuran. Sindroma L4 Saraf siatik dicatu sebagian oleh serabut dari radik L4. . Nyeri menjalar dari daerah lumbosakral diatas bagian posterior paha turun kebagian anterolateral tungkai bawah ke maleolus lateral dimana nyeri menjadi semakin hebat. Pada penderita sindroma monoradikular lumbar.

Tanda khas adalah melemahnya atau hilangnya refleks tendon Akhilles dengan penurunan sensasi diatas aspek lateral tumit yang mungkin meluas kedepan kejari empat dan lima. diskus intervertebral L5/S1 mungkin dieksplorasi kelateral dengan membuang setengah medial faset L5/S1. Pada kasus ini. Pada kompresi yang sangat kuat dan setelah kompresi yang lama. Akar L5 berjalan melalui foramina intervertebral L5/S1 pada bagian atasnya dan kemudian mendekati aspek lateral diskus intervertebral lumbosakral. radik L5 menyilang bagian lateral diskus intervertebral lumbosakral dan tidak pada sulkus saraf spinal. Bila ada prolaps lateral masif dari diskus . dua atau lebih radik saraf dapat terkena. Prolaps lateral dapat mudah terlalaikan bila hanya laminotomi eksplorasi yang dikerjakan. Juga paresis otot gluteal. Nyeri dan hipestesi diarahkan lebih kepoterior dari sindroma L5 dan berjalan sepanjang posterior paha dan posterior betis. jadi mengurangi kekuatan fleksi plantar. Radiasi gejala ketumit dan tepi lateral kaki termasuk jari ketiga hingga kelima. d.c. Terserangnya radik L5 pada prolaps lateral lumbosakral lebih sering dari yang diperkirakan. Prolaps paramedian (pada ketiak) dapat menekan aspek medial dari radik saraf pada tingkat yang sama dan aspek lateral radik saraf timbul dari tingkat yang lebih bawah. Sindroma Lumbar Poliradikuler Pada kelainan diskus intervertebral lumbar . Sindroma S1 Jarak yang relatif besar antara kantung dural. radikradik saraf dan diskus intervertebral berakibat gejala yang tak spesifik dan tak sejelas misalnya sindroma L5. Sebaliknya prolaps lateral (diatas bahu) dapat menekan radik saraf yang keluar dari tingkat superior bersangkutan. Dengan prolaps lateral L5/S1. Pengalaman paling sering menunjukkan bahwa bila ada tanda-tanda sindroma L5 dan mielogram negatif pada diskus intervertebral L4/L5. Prosedur sederhana ini mungkin menyebabkan eksplorasi diskus intervertebral L4/L5 menjadi tidak perlu. Gangguan motor mengenai otot triceps surae. Pola segmental menjadi terganggu seperti juga gambaran klinik. Prolaps lateral L5/S1 karenanya bisa mengenai bagian lateral radik S1 dan bagian medial radik L5. Ini sangat sering pada kasus tingkat L5/S1. 18% mengenai radik lumbar kelima dan 6% menunjukkan tandatanda terkena. jarum mungkin diinsersikan ke diskus intervertebral L4/L5 untuk melihat apakah diskus intervertebral ini normal. Kebanyakan sindroma siatika tanpa nyeri sakral dapat berasal dari radik S1. Prolaps dan protrusi dapat mengenai beberapa segmen dan simptomatologi poliradikuler mungkin ditemui. refleks tendon Achilles mungkin hilang sempurna dan tidak akan kembali bila tekanan pada radik saraf tidak dihilangkan pada saat tersebut.

Hal ini terutama terjadi kearah anterior dan lateral. Pada penderita tua penyempitan rongga intervertebral dapat ditampilkan seperti halnya perubahan osteosklerotik dari end-plates.intervertebral L4/L5. namun berubah vertikal hingga osteofit ruas tulang belakang berdekatan tumbuh bersama hingga terbentuk jembatan pada ruang inter-vertebral. Bila seluruh kantung dural terkena pada prolaps besar dari aspek anterior kanal spinal. Degenerasi diskus intervertebral dikenal dengan tampaknya reaksi tulang ruas tulang belakang dan pemendekan tinggi diskus intervertebral. Nyeri dan hipestesi didistribusikan sepanjang aspek anterolateral seluruh tungkai dan sindroma L5 menonjol. instabilitas segmental tidak dapat didemonstrasikan. Osteofit adalah tahap akhir proses degeneratif pada diskus intervertebral dan tidak dapat dianggap sebagai sindroma diskus intervertebral akut. Protrusi. Foto Polos Foto polos pada sindroma lumbar memberikan sangat sedikit informasi tentang sindroma tersebut namun dapat membantu menyingkirkan kelainan lain. Osteofit semula mengarah horizontal. prolaps. Kadang-kadang prolaps dorsal dapat berubah menjadi osteofit yang menonjol kekanal spinal atau sebagian menyumbat foramina intervertebral. Terserangnya beberapa radik saraf secara bersamaan sering terjadi sebagai bagian dari sindroma post diskotomi karena adhesi yang terbentuk. Paling sering adalah kombinasi sindroma L5 dan S1. Terdapat paresis ekstensor kakkaki dan jari dan refleks tendon Akhilles terganggu. Gangguan sensitifitas bervariasi dan juga distribusi nyeri selama perjalanan kliniknya. RADIOGRAFI A. Kombinasi sindroma L4 dan L5 berakibat gangguan motor pada kuadriseps. Selama perjalanan klinik mungkin timbul variasi pada tungkai mana penjalaran nyeri terjadi. Siatika bilateral sangat jarang pada kelainan diskus intervertebral dan bila terjadi harus dilakukan pemeriksaan yang lebih luas. radik saraf yang berhubungan (L4) dapat terkena walau radik saraf L5 tidak langsung berdekatan dengan prolaps diskus intervertebral berdekatan. tibial anterior dan extensor hallucis longus. Prolaps medial mungkin menyebabkan siatika. Osteofit besar dapat tampak dan sering menjembatani ruang antara ruas tulang belakang. Kellgren dan Lawrence menemukan degenerasi . Pemeriksaan lain dengan bantuan media kontras mungkin diperlukan. sejumlah radik saraf menjadi terkena yang akan menyebabkan simptomatologi poliradikuler dimana tulang belakang lumbar menjadi kifosis. namun paling menonjol adalah sindroma S1 pada kebanyakan penderita.

Pemendekan diskus intervertebral dan juga . Dari data disimpulkan bahwa foto polos kecil nilainya dalam menentukan penyebab nyeri pinggang atau dalam menentukan siapa yang berisiko. anomali ruas tulang belakang dan penyempitan kanal spinal lumbar mempercepat perkembangan selanjutnya kelainan ini. Pada tumor dan kelainan inflamatori ia akan membesar atau menghilang sama sekali. deformitas prediskotik dapat diamati. Didapat juga hubungan yang positif antara nyeri pinggang dengan adanya spur traksi dan spondilolisis serta spondilo-listesis. Walau penyempitan ruang diskus jelas berhubungan dengan usia. kesimpulan atas keadaan fisiologiknya dibuat secara tak langsung dengan ada atau tiadanya penyempitan ruang diskus dan adanya osteofit marginal. Kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah berhubungan dengan usia dan tidak perlu menunjukkan adanya gejala. Interpretasi radiograf penting karena sekali kelainan lain disingkirkan. Pada skoliosis ia bergeser kearah kecekungannya. lebih nyata didapat pada dekade ketujuh dibanding dekade kelima bila tidak memperdulikan gejala. Diskus sendiri tak langsung dapat dilihat pada radiografi rutin. serta penyempitan diskus pada foto polos adalah indikator degenersi diskus yang agak kurang peka. s. Jumlah ruas tulang belakang lumbar dapat ditentukan dan setiap bentuk peralihan teramati pada daerah lumbosakral dimana ketidaksetangkupan dapat menyebabkan beban yang tidak ekual dari diskus intervertebral yang mungkin memiliki beberapa kepentingan dalam perkembangan kelainan diskus intervertebral. sedang pada tulang belakang lumbar 66 % pada pria dan 45 % pada wanita. Ini menunjukkan bahwa degenerasi diskus sangat mungkin bila gejala dijumpai. Gambaran paralel end-plates ruas tulang belakang diamati. dibanding dengan 30 % pria dan 27 % wanita dengan arthritis faset secara radiografi. demikian juga letak arkus. lebih banyak pada penderita dengan gejala dibanding orang yang tanpa gejala. Proyeksi anteroposterior. Frekuensi spondilosis dan lordosis lumbar ekual untuk masing-masing kelompok.diskus secara radiografik pada 83 % pria dan 72 % wanita antara usia 55 dan 64 tahun tanpa memperdulikan gejala. Togerson dan Dotter (1976) meneliti pasien dengan sindroma diskus intervertebral lumbar dan membandingkannya dengan sejumlah yang sama penderita tanpa nyeri pinggang bawah. Yang terakhir adalah perubahan yang terjadi relatif kemudian pada degenerasi diskus intervertebral. Frymoyer menemukan bahwa hanya penyempitan ruang diskus L4 yang jelas berhubungan dengan gejala nyeri pinggang bawah dan nyeri tungkai. Deviasi aksial. namun ditemukan penyempitan ruang diskus pada kelompuk tanpa gejala sebesar 22 % dan pada kelompok dengan nyeri pinggang sebesar 56 %.

Penyempitan rongga intervertebral pada pemuda penting secara klinis. Gangguan pertumbuhan juvenile tidak mempunyai arti klinik. dan suatu saat mielografi mungkin perlu. B. terutama bila operasi dilakukan pada daerah tersebut. Tampilan Rongga subarakhnoid ditampilkan dengan menyuntikkan medium kontras. Bila pungtur diperlukan dalam mendiagnosa kelainan diskus intervertebral. Perubahan radiografik menampakkan perubahan yang lanjut dari kompleks tiga sendi. Pembengkakkan tepi ruas tulang belakang tidak harus berarti osteofit posterior. selalu harus dilaporkan. Osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang mungkin juga penting. Bila ditemukan suatu perubahan. Rongga subarakhnoid dibatasi membran arakhnoid yang berdekatan dengan dura. perlu untuk mengindentifikasi foramina interarkuata yang bertindak sebagai pengarah untuk tempat pungtur. Mielografi 1. Proyeksi lateral. Ini dijelaskan Baastrup dan digunakan namanya. yang disebut pseudospondilolistesis (spondilolistesis degeneratif). Walau nyatanya kebanyakan ahli bedah merasa bahwa spina bifida occulta tidak merupakan masalah.hiperlordosis tulang belakang memungkinkan kontak erat antara prosesus spinosus dan suatu sklerosis reaktif dapat diperlihatkan yang mungkin merupakan penyebab perasaan tidak enak. Tebal diskus intervertebral pada daerah lumbal makin kedistal akan semakin tebal hingga tingkat diskus intervertebral lumbar empat. Memberikan lebih banyak informasi dan fenomena Guntzsche dapat diamati dimana tampak pelurusan lordosis lumbar. pandangan oblik memberikan informasi penting. Namun pelurusan dapat terjadi bila pasien dalam posisi panggul dan lutut fleksi. Juga dislokasi ruas tulang belakang arah posteroanterior tanpa tanda-tanda cedera pada proses artikular. menurut Schmorl dan Junghanns (1968). namun merupakan pertanda degenerasi diskus intervertebral dini. Kantung dural bersama rongga subarakhnoid turun bersama-sama menuju ruas tulang belakang sakral kedua. karena peningkatan kehati-hatian diperlukan dalam mencapai bagian tulang belakang daerah ini untuk mencegah ketidak-sengajaan membuka kantung dural. Pelurusan ini merupakan tanda dari sindroma diskus intervertebral. perlu memperluas pemeriksaan radiografik dengan pandangan oblik dan tomografi. Pada daerah lumbar rongga subarakhnoid berisi cairan spinal yang . Dalam meneliti spondilosis dan spondilolistesis lebih lanjut. Ini mungkin hanya variasi kontur ruas tulang belakang normal dan mudah dikenal melalui tomografi atau mielografi.

Pleksus vena yang besar dan lemak epidural mengisi rongga ini. Serabut-serabut saraf kauda ekuina tampak sebagai pita radiolusen tipis pada mielografi dan bila kantung dural mengalami penekanan mereka akan melewati daerah obstruksi dengan tampilan seperti lengkungan. namun hanya sedikit informasi yang dapat diterima. Untuk alasan ini mielografi juga disebut radikulografi. Minyak iodium seperti Iodipin. Kantung radik dapat sedikit terindentasi atau sama sekali terputus. Demonstrasi kantung-kantung radik tidak mungkin. Pada tingkat L5-S1 jaraknya lebih lebar dan prolaps medial kecil tidak akan menekan kantung dural dan karenanya tak ditampilkan pada mielografi. Protrusi lateral dapat sulit dikenal dan mungkin perlu melakukan mielografi secara sempurna dengan pengisian yang baik dari kantung dural. dan karena lamanya absorbsi mereka dapat mengakibatkan arakhnoiditis pada kanal spinal. Pengenalan kantung radik perlu untuk memperlihatkan posisi dan perjalanan saraf-saraf spinal.mengelilingi serabut-serabut saraf kauda ekuina dan mengikuti radik-radik saraf keforamina intervertebral membentuk kantung radik. Bagian anterior kantung dural berhadapan dengan bagian posterior diskus intervertebral berdekatan dengan konsekuensinya semua perubahan pada segmen posterior diskus intervertebral akan menyebabkan indentasi kantung dural. Pengisian kantung radik saraf dengan medium kontras adalah paling penting dalam mendiagnosa dengan mielografi. Membuang medium kontras dengan pungtur lumbar sekunder tidak selalu berhasil. Kontras adalah minyak iodium dan sejak itu berbagai media kontras telah digunakan. dan ester iodium seperti Pantopaque diabsorbsi dengan susah payah. Pembengkakan kecil karenanya mudah dikenal pada mielografi. Jarak ini sempit pada tingkat L1-L4. Media Kontras Mielografi pertama dilakukan Dandy (1919) dengan media udara. Rungga epidural (ekstradural) adalah rongga antara kantung dural dan bagian tulang dari kanal spinal. 2. Gangguan pada kantung dural tidak hanya tergantung ukuran prolaps namun juga pada jarak antara tepi posterior diskus intervertebral dan dura. Media kontras larut air tampaknya lebih memadai pada mielografi lumbar karena diresorbsi lengkap dan tidak menyebabkan komplikasi sekunder. Pada protrusi atau prolaps medial atau para medial pandangan lateral akan memperlihatkan indentasi pembengkakkan pada kantung dural yang terisi kontras pada tingkat diskus intervertebral yang terkena. Mielografi dengan udara dan minyak sangat berbahaya. Mielografi pertama dengan media kontras positif dilakukan Sicard dan Forstier (1922). dan antara kedua ekstrem ini berbagai kemungkinan dapat ditampilkan. Diantara media kontras positif antara lain adalah minyak iodium tak larut dan ester iodium serta substansi larut air. .

Ia ditolerasi baik dan tidak memerlukan anestesi spinal. absorpsinya melalui teka lumbar dan villi arakhnoid parasagittal hingga tidak perlu dikeluarkan lagi. yang larut air dan memberikan informasi yang lebih baik. hal mana paling tidak menyenangkan pada mielografi dengan minyak. Kadang-kadang media kontras tertimbun diepidural.Talle 1973. Medium kontras bercampur cepat dengan cairan spinal serta viskositasnya rendah. Ia dapat juga digunakan untuk diskografi. Ia cepat diabsorbsi dari rongga subarakhnoid dalam waktu sekitar delapan jam. kurang toksis dan kurang menyebabkan arakhnoiditis. Metrizamide adalah medium kontras triiodized yang larut air namun tidak terurai. Metrizamide (Amipaque). Nachemson 1976). Golman 1973. namun tidak dijumpai efek samping. Perkembangan media kontras yang lebih sempurna. dan tidak memerlukan pungtur sekunder untuk mengeluarkan media kontras seperti yang sebelumnya berlaku untuk media kontras jenis iodium/minyak. Neurotoksisitas seperti kemampuan epileptogenik sangat rendah dibanding media kontras larut air yang terurai (Skalpe . 90 % pasien dengan mielogram positif. Skalpe dan Amundsen 1975. Penggunaan baru dari Metrizamide adalah dalam tomografi aksial terkomputer yang dilakukan 8 jam setelah mielografi. dan Iopamidol (Isovue). Substansi padatnya dapat dicampurkan dengan pelarutnya pada konsentrasi yang diinginkan. Larutan 170 mg J/ml adalah isotonik terhadap cairan spinal. Arti mielografi sebagai penunjang penting sebelum operasi diperlihatkan Hirsch dan Nachemson yang melaporkan hubungan tanda-tanda neurologik dengan mielografi kontras larut air pada penderita yang dioperasi karena diduga herniasi diskus lumbar. Masih cukup material kontras yang tertinggal ditempatnya untuk menampilkan diskus intervertebral yang mengalami herniasi yang sebelumnya tidak ditampilkan dengan baik pada tomografi aksial terkomputer. ditemukan herniasi diskus saat operasi yang mana menunjukkan tingginya sensitifitas tes ini. Keuntungan agen larut air ini antaranya lebih sensitif terhadap perubahan patologis hingga lengan radik saraf dapat terlihat jelas. Karenanya tampilan rongga subarakhnoid dan radik-radik saraf bisa didapat dengan cepat dan dengan akurasi yang tinggi. Hindmarsch 1973. Iohexol (Omnipaque). risiko aliran kontras ketingkat lebih tinggi dapat dikurangi karena toksisitasnya yang sangat rendah hingga bila mencapai toraks atau leher tidak akan menimbulkan komplikasi. Sebagai tambahan.Pemakaian luas dan kemungkinan efek samping membuat mielografi sebagai pemeriksaan yang harus dikerjakan dengan pertimbangan. didapat dengan menggunakan Meglumine iothalamate (Conray). Data yang sama dikemukakan Spangfort yang menyatakan lebih dari dua kali temuan . Dengan memakai Metrizamide (Amipaque). Meglumine iocarmate (Dimer X).

keterbatasannya dan ketidaktepatannya dibandingkan cara pemeriksaan lain. Pungtur lumbar untuk analisis cairan spinal tidak diperlukan pada keadaan ini. Walau nilai mielografi sangat membantu dalam menyaring pasien. mual. Kelainan mielografi semata-mata tidak boleh diperlakukan sebagai satu-satunya penentu operasi. hingga menghindarkan perlunya melakukan laminotomi diagnostik kecil. Karena sifatnya invasif. kejang dan keluhan psikik. dimana dua pertiganya (24 %) adalah pada lumbar. mielografi mempunyai risiko yang kuat. mielografi tidak boleh dilakukan. Pada beberapa kasus akan memberikan jawaban apakah operasi harus dilaksanakan atau tidak. dan keputusan operasi harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinik. Indikasi Baru akhir-akhir ini mielogafi menjadi prosedur diagnostik yang dianjurkan untuk mendiagnosis semua keadaan yang diduga akibat penyempitan kanal spinal. Bila tanda-tanda dan gejala-gejala sangat jelas dan informatif. Akhirnya seperti telah dijelaskan. termasuk nyeri kepala.64 %. mielografi akan memberikan tingkat yang tepat yang mana sangat penting ketika simptomatologi sering berbentuk campuran. risiko masih tinggi yaitu 23 . Mielografi memberikan penegasan dan juga memberikan tingkat yang tepat dari prolaps yang menentukan operasi. kepentingan mielografi pada kasus ini tidak diutamakan. Mielografi juga menunjukkan apakah prolaps berasal dari atas atau bawah dan selanjutnya memberikan informasi arkus mana yang akan dibuka. Hitselberger dan Witten menemukan 37 % penderita tanpa gejala mempunyai kelainan tulang belakang leher dan lumbarnya. Tentu . Indikasi lainnya adalah stenosis tulang belakang dan kemungkinan adanya tumor. Kelainan diskogenik tidak hanya didiagnosis namun juga ditindak berdasarkan tanda dan gejala klinik. Walau sudah dengan Metrizamide. Menurut Nachemson (1976) akurasi diagnostik diperbaiki dari 60 menjadi 90% bila mielografi ditambahkan pada pemeriksaan. masalah urinari. Mielografi prabedah saat ini tidak harus ditinggalkan. 3. muntah. Pada kasus tertentu dimana pasien menolak. Indikasi utama mielografi pada penderita kelainan diskus intervertebral adalah adanya nyeri radikuler dan gagal terhadap semua tindakan dan pada penderita dimana operasi akan dilaksanakan. Pada pemeriksaan hubungan antara pengamatan klinik.negatif pada operasi bila sebelumnya tidak dilakukan mielografi. pertentangan masih terjadi hingga saat ini dikarenakan risikonya. mielografik dan operatif didapatkan bahwa tanda-tanda klinik hanya berkaitan 60% dan tanda-tanda mielografik 95% terhadap pengamatan operatif.

projeksi fleksi dan ekstensi diambil dalam posisi berdiri tampilan lateral. 4. harus diingat bahwa kebocoran cairan spinal ringan mungkin terjadi dan karenanya beberapa tindakan pencegahan harus diambil seperti halnya melakukan pungtur lumbar diagnostik. mielografi tidak selalu perlu dan operasi dapat dilaksanakan segera. Bila pada mielografi tidak ada cairan yang didapat. Dalam hal penggunaan Metrizamide perlu mempertahankan posisi pasien setengah duduk 600 selama 6 jam agar kontras tidak naik melebihi tingkat lumbar. mielografi dianjurkan. dan film diambil untuk menampilkan berbagai tingkat. keadaannya sangat berbeda dan mielografi harus dilakukan dalam usaha menentukan tingkat. Untuk mendapatkan proyeksi yang kaya kontras dianjurkan untuk menyelesaikan seluruh pemeriksaan secara lengkap dalam 10 hingga 20 menit. Pada anak-anak harus hati-hati dalam merencanakan dan melakukan mielografi. Bila tindakan konservatif gagal setelah beberapa bulan. Pada kasus asuransi dimana diagnosisnya sulit. Harus waspada akan kemungkinan adanya peninggian tekanan intraserebral serta akibatnya yang mungkin memberat pada keadaan ini. Tehnik Pasien diletakkan pada meja radiografik dengan punggung datar dengan bantuan kantung udara yang dapat digembungkan dibawah perut. Pada kasus dengan masalah asuransi dokumentasi yang dapat dilihat lebih bernilai dari tanda-tanda dan gejala-gejala. Namun bila ada dugaan suatu tumor sangat dianjurkan sebagai prosedur diagnostik. Jarum diinsersikan pada inter-space antara L2 dan L3. . Bila lesi diduga lebih atas. Pastikan kontras berada intratekal. Tampilan posteroanterior diambil dengan meja ditinggikan dengan berbagai derajat. perlu dipikirkan mielografi. Ini termasuk nyeri pinggang akut yang mungkin atau tidak berhubungan dengan tanda-tanda neurologik yang jelas. Jarum segera ditarik setelah injeksi. Bila diduga suatu prolaps mobil atau fragmen. Tampilan oblik diambil dengan pasien dalam posisi telungkup dan miring kesatu sisi dan selanjutnya kesisi lain. setelah mana medium kontras segera mulai diabsorbsi.mielografi tidak boleh dilakukan pada penderita yang peka iodium terutama yang menunjukkan kepekaan terhadap makanan laut. Sindroma diskus intervertebral lumbar lokal sangat jarang memerlukan mielografi. Pada kasus khas sindroma L5 dengan paralisis akut. kontras dimasukkan dengan kontrol radiografik antara L1 dan L2. Kepala meja ditinggikan. Injeksi biasa dilakukan dengan tabung plastik yang bersatu dengan jarum. Bila diduga sindroma kauda.

Protrusi dan prolaps lumbar akan menyebabkan indentasi khas pada mielogram. Komplikasi Komplikasi mungkin timbul baik karena medium kontras atau pungtur lumbar maupun keduanya. meningismus. Tampilannya berbeda tergantung proyeksi yang digunakan. Medium kontras diabsorbsi cepat dari daerah ini tanpa menyebabkan kerusakan apapun. Karena penggunaan medium kontras mempunyai komplikasi yang relatif kecil. tak ada hal-hal istimewa yang diharapkan terjadi. Bila kesalahan menyuntikkan media kontras (Metrizamid) kerongga epidural. efek samping dan komplikasi ini tidak akan mengurangi nilai mielografi sebagai alat bantu diagnostik. media kontras yang baru mungkin menyebabkan komplikasi jenis yang sama. 2-3% penderita dengan nyeri kepala juga menderita meningismus. Setelah mielografi dengan Metrizamide 20% pasien merasa nyeri kepala untuk beberapa hari. maka komplikasi akan diakibatkan terutama oleh pungtur lumbarnya. Suatu saat gejala spontan berkurang dan tindakan terbaik adalah analgesik dan istirahat baring. yang mungkin akan membingungkan dengan prolaps medial pada tingkat L5-S1. Komplikasi yang harus dipikirkan adalah infeksi. Indentasi medium kontras pada beberapa segmen biasa didapat pada penderita tua. kejadiannya relatif kecil. Kantung dural berakhir pada ruas tulang belakang sakral kedua atau mungkin lebih pendek pada ruas tulang belakang sakral pertama. Gambaran posterior diskus intervertebral L1-L4 serupa dalam tampilan lateral. Temuan Mielografik Mielografi diambil pada pandangan anteroposterior. Namun dari berbagai laporan. muntah. Indentasi pada satu atau dua segmen adalah patognomonik. 6. Setiap benda asing yang dimasukkan kekanal spinal akan menambah iritasi terhadap sistem saraf pusat dengan nyeri kepala. Tepi anterior dan posterior medium kontras tampak dan kantung-kantung radik saraf tercakup. sedikit peninggian suhu dan juga kekakuan otot. tampilan fungsional diambil pada fleksi dan ekstensi maksimum. Tampak Lateral. lateral dan oblik untuk mendapatkan analisis proses yang menimbulkan penyempitan kanal spinal. Disini terdapat hubungan yang nyaris langsung yang tidak terjadi pada segmen L5-S1 dimana terdapat sedikit rongga. Bila diduga suatu prolaps yang mobil atau segmen yang tak stabil.5. Ini mungkin berupa penekanan . Secara keseluruhan. Kantung-kantung radik saraf dapat ditampilkan. Walau toksisitasnya rendah. serta muntah dapat terjadi. Tampak Anteroposterior. Ujung bawah kantung dural menunjukkan variasi anatomis yang dapat berupa kerucut atau lengkungan.

Pemeriksaan Laboratorium Termasuk Analisis Cairan Spinal Pemeriksaan tambahan dipersiapkan hanya untuk keperluan diagnosis diferensial. menyempitan oseus kanal spinal lumbar. Pemeriksaan laboratorium mungkin mempunyai beberapa nilai dan pada sindroma lumbar tidak dijumpai perubahan nilai-nilai darah. Pada degenerasi diskus . operasi dikontra-indikasikan pada penderita dengan tidak cukup gejala atau temuan. Media kontras larut air tak hanya menampilkan kontur permukaan kantung dural dan kantung-kantung radik namun juga struktur interior dapat diperlihatkan. Kepadatan kontras media tidak akan terlalu tinggi bila ia sudah bercampur dengan cairan spinal. laju endap darah atau foresis-elektro. pemeriksaan objektif dan radiografi dan pada kasus tertentu mielografi. A. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. Tumor. Protrusi medial dan para medial mudah diperlihatkan pada tampilan lateral dan oblik. sering menyerupai prolaps diskus intervertebral. Namun indentasi dapat terjadi tanpa ada hubungannya dengan degenerasi diskus intervertebral. PEMERIKSAAN LAIN Setelah pemeriksaan klinik termasuk riwayat lengkap. Prolaps masif didemonstrasikan oleh berbagai tampilan. mudah untuk menganalisa ukuran dan lokalisasi protrusi diskus intervertebral. Sebaliknya operasi dipikirkan pada kasus dimana tindakan konservatif tidak memberikan hasil dan hasil mielografi tidak menampakkan informasi positif. Tindakan menyeluruh tergantung gambaran klinik dan bahkan bila perubahan ditampilkan pada mielografi. Dari tampilan berbeda. Perpindahan fragmen diskus intervertebral seperti juga protrusi medial pada tingkat L5-S1 dan protrusi lateral pada setiap lengan radik tidak selalu tampak pada mielogram. Protrusi lateral lebih mudah diamati pada tampilan anteroposterior. lokalisasi dan tingkat lesi. Serabut saraf akan tampak sebagai pita tipis yang panjang. Cairan spinal bisa didapat saat mielografi dan analisis dapat dilakukan. Menampilkan kantung-kantung radik saraf dan kontur lateral kantung dural. diagnosis mungkin perlu dipertajam untuk mendapatkan peng-indentifikasian asal. Tampak Oblik. Pada mielografi tidak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. prolaps turun dari medial kelateral keforamina intervertebral (Brussatis dan Steeger 1974). mungkin ini disebabkan oleh prolaps. Seperti ditunjukkan oleh mielogram.atau obstruksi lengkap ('amputasi').

Analisis cairan spinal tidak memberi banyak pada kasus degenerasi diskus intervertebral dan hanya dipersiapkan untuk diagnosis diferensial dari keadaan lain. pertama harus diduga terutama bila diskus intervertebral lumbosakral menyempit dan kolaps. Hitung sel normal. Tes Queckenstedt dapat dilakukan. Diskus intervertebral sulit untuk disuntik dengan medium kontras dan sedikit kontras yang masuk dapat diperlihatkan oleh gambaran seperti lensa pada radiografi. Diskus intervertebral yang berdegenerasi dapat mengabsorbsi 2 hingga 4 cm3 cairan dan akan memperlihatkan sejumlah rongga kecil pada jaringan diskus intervertebral. B. Nilai dari diskografi lumbar minimal pada diagnosis rutin karena diketahui degenerasi terjadi pada usia tertentu setelah tampilan normal sulit diharapkan. Kelainan ini dapat dijumpai pada beberapa keadaan spinal. Pada setiap pasien dengan gangguan radik lumbar kelima dan jarum yang dimasukkan ke diskus intervertebral L4/L5 membuktikan keadaan normal. Diskografi hanya dapat membedakan antara protrusi dan prolaps yang mungkin sama artinya dalam tindakan selanjutnya. Operasi diindikasikan pada kasus ini. Pada perforasi anulus fibrosus. Pada sindroma ini protein total dan koloid nilainya sangat tinggi. Pada kelainan degenerasi diskus intervertebral tes ini tak diperlukan.intervertebral cairan spinal jernih dan mudah mengalir melalui jarum kecil. Lagi pula mielografi dengan media kontras larut air lebih mudah dikerjakan dan lebih akurat dalam informasi. sifilis) atau tumor. . Bahkan dengan Metrizamide hasil negatif palsunya 20% pada interspace L5-S1. terutama pada inflamasi (herpes zoster. pemeriksaan lanjutan harus dikerjakan. Pada keadaan dengan peninggian protein dan hitung sel bersama dengan blok spinal (Queckenstedt positif). Penting untuk mengingat bahwa diskus intervertebral yang berdegenerasi tidak perlu menimbulkan gejala. medium kontras akan mengalir keluar aspek posterior anulus fibrosus. adalah bahwa radik lumbar kelima tertekan pada daerah interforaminal baik oleh diskus intervertebral yang mengalami herniasi atau oleh spurring lateral dari herniasi yang sudah lama. Diskografi Rongga intradiskal dapat didemonstrasikan dengan menyuntikkan media kontras kedalam diskus intervertebral. Pada prolaps besar atau setelah operasi diskus intervertebral kadang-kadang dijumpai sedikit peningkatan protein cairan spinal. Keadaan protein meningkat dan hitung sel normal disertai tekanan cairan normal disebut 'dissociation globolinocyto-logique' (sindroma Guillain-Barre).

1985). Pencitraan Resonansi Magnetik Baik MRI maupun CT resolusi tinggi memberikan tampilan yang sangat baik atas perubahan morfologik serta pengaruh dari herniasi diskus. serta hilangnya batas anatomik antara nukleus dan serabut anular dalam (Miller. 1988). 1988). sering terletak dorsolateral. pengeringan bertahap material inti mukoid. Diatas usia 30. Pada pencitraan dengan pembebanan T2 pada serabut anular luar memperlihatkan intensitas sinyal yang sangat lemah. akurasi diagnostik sangat tinggi. Kelemahan otot anggota bawah sering dapat diketahui pada pemeriksaan klinik. Penggunaan miografielektro untuk memperlihatkan gangguan neurologik adalah semata-mata untuk diagnostik diferensial. harus tampak kompresi radik saraf dan/atau pergeseran. PRM memperjelas akibat herniasi terhadap struktur intraspinal. atau pembesaran vena epidural sekitarnya. Tomografi Terkomputer Sangat akurat dalam mendiagnosis herniasi diskus intervertebral dengan kompresi radik saraf sebagai penyebab siatika. Kedua. dan ini normal pada pertumbuhan jaringan normal. tingkat hidrasi.C. dengan pembesaran saraf serta pengaburan tepinya karena edema. celah intranuklir ditemukan pada diskus normal pada pencitraan pembebanan T2. sering pembengkakan pasca jejas pada radik saraf terkena. dan jenis utama dari kolagen yang dominan (Ghosh. juga memberikan kemungkinan menduga perubahan patologis yang terjadi dalam diskus sebelum perubahan pada konturnya. Dengan penuaan. eksudat inflamatori. Gangguan otot neurogenik yang timbul sehubungan dengan adanya prolaps tak dapat diperlihatkan oleh miografi-elektro hingga perjalanan penyakitnya lanjut. D. langsung didekat radik saraf yang melintang diskus. Ketiga. Miografi-elektro Gangguan motor dapat dinilai secara objektif dengan miografi-elektro. akan terjadi penghancuran bertahap proteoglikan nukleus. Intensitas sinyal diskus tergantung keadaan hidrasi dan fisiokimia jaringan diskal (Hickey. intensitas sinyal yang tinggi pada bagian sentral diskus berasal dari nukleus pulposus dan serabut anular dalam (Yu. E. Pada pencitraan dengan pembebanan T2. . Nukleus pulposus dan anulus fibrosus terutama mengandung air. seperti halnya ligamen longitudinal posterior didekatnya (Pech dan Haughton. 1986). kolagen serta proteoglikan. 1988). protrusi harus fokal dan tak setangkup. kaudal dari herniasi. dengan perbedaan utama pada kadar relatif komponen tersebut. Kriteria diagnostik harus spesifik. Pertama. Bila temuan ini dijumpai.

yang dilakukan dengan memakai bebat sekitar pelvis dengan pegangannya tergantung dari tiap sisi (Kramer 1973). mungkin akan mengurangi kontak antara radik saraf dengan diskus intervertebral hingga penjalaran nyeri baik siatika maupun neuralgi femoral dapat berubah. Nyeri berasal dari sendi panggul atau vaskuler tidak akan terpengaruh oleh tes traksi. siatika disebabkan oleh degenerasi dua diskus intervertebral lumbar yang terbawah. Sebagai pegangan. Ini dapat terjadi apabila prolaps menjadi lebih besar atau mengalami fragmentasi menjadi sekuester. Dilakukan melakukan DIAGNOSIS DIFERENSIAL SINDROMA AKAR SARAF LUMBAR Dalam menganalisa nyeri pada anggota bawah. Penyebab Ekstravertebral Tidak jarang nyeri dari panggul dikelirukan dengan . Sulit penilaian jaringan lunak. siatika dan deformitas siatik akan hilang selama traksi. dan akhirnya siatika dapat merubah penjalarannya dari bagian distal keproksimal dari anggota bawah. tes traksi dapat positif pada sindroma radik saraf karena berbagai penyebab. Penderita menarik pegangan kebawah dan dengan tindakan ini intensitas dan penjalaran nyeri yang berasal dari radik-radik saraf lumbar akan berubah. Postur tidak berpengaruh pada siatika atau neuralgi femoral oleh peenyebab lain. Pada protrusi kecil. Nyeri lateral dapat bergerak lebih kemedial dan nyeri radik saraf tajam berubah menjadi nyeri pinggang tumpul. Dengan traksi pada tulang belakang lumbar. Kekecualian. Kadangkadang nyeri bahkan bertambah saat traksi dan menjalar lebih keperifer. Tomografi Terkomputer yang diperkuat Diperdebatkan keuntungan dan kerugiannya. A.F. Mungkin juga nyeri akan berkurang dan lokalisasi berubah. pada hari mielografi dilakukan. Pengaruh postur pada gejala menunjukkan terkenanya diskus intervertebral. Pasien juga dapat membungkuk kedepan saat menarik pegangan. penting untuk membedakan siatika sebenarnya dengan nyeri yang menyerupai siatika. Ini terutama ditunjukkan oleh tes traksi terhadap tulang belakang lumbar atau tes regang femoral yang bermakna pada gangguan pada radik saraf. Neuralgi femoral paling sering disebabkan degenerasi diskus intervertebral lumbar bagian atas. Tes traksi juga menjelaskan apakah traksi akan bernilai terapeutik bagi pasien. Selain itu harus dibedakan antara nyeri radik saraf dan nyeri akibat terganggunya saraf perifer. Tes traksi berguna dalam mendiagnosis sindroma radik saraf lumbar.

Pada siatika tes siatik sangat berbeda. ini akan sangat membingungkan. Bila tes straight leg-raising mengenai sendi panggul. trokhanter maior dapat diinfiltrasi dengan anestetik lokal. mielografi akan memberikan jawabannya. Karenanya perlu menyingkirkan kemungkinan osteoarthrosis panggul serta nekrosis kaput femoral.sindroma radik saraf lumbar. Sebabnya adalah sangat sering dua keadaan ini terjadi bersamaan dan penjalaran nyerinya sangat serupa. pergerakan sendi panggul menyebabkan pergerakan pelvik yang konkomitan dengan kemungkinan nyeri radik saraf. Pada sindroma radik saraf lumbar beberapa tanda mungkin tidak dijumpai hingga menyulitkan penegakan diagnosis. Untuk diagnosis terkenanya sendi panggul. Tanda-tanda pleksus saraf lumbosakral akibat tumor ekstra-vertebral dari rektum. Pada sindroma radik saraf yang disebabkan protrusi diskus intervertebral atau prolaps diskus intervertebral. Pasien osteoarthrosis sering mengeluh nyeri yang menjalar kebawah. yaitu kepaha dan lutut. uterus atau prostat hanya timbul bila tumor mencapai ukuran besar. Tes traksi negatif serta tiadanya hubungan dengan posisi postural menyingkirkan gangguan radik saraf. Nyeri pada daerah sendi panggul mungkin disebabkan peri-arthrosis panggul yang baik sendi panggul maupun tulang belakang lumbar tidak menunjukkan adanya kelainan patologik. Tes Mennel dan pemeriksaan klinik yaitu radiografi dan sintigrafi akan membantu diagnosis. selanjutnya disarankan menyuntikkan anestesi lokal intra-artikular sebagai pengarah. Gangguan neurologik mungkin sangat sedikit atau sama sekali tidak ada. Tidak ada gangguan lumbar lokal yang menimbulkan siatika tanpa nyeri sakral. Bila nyeri bertambah saat berjalan. Berbeda dengannya. Dalam usaha menegakkan diagnosis. Ada pula kelainan pada saraf siatiknya . Pertanda terganggunya sendi panggul adalah perbedaan pada rotasi kedalam kedua sisi. Radiografi termasuk tomografi digunakan untuk diagnosis menyeluruh. Juga perlu secara teliti mendengarkan riwayat pasien dimana sindroma radik saraf dijelaskan oleh hubungan terhadap perubahan posisi dan tes traksi. Perubahan inflamatori atau degeneratif pada sendi sakroiliak dapat menimbulkan nyeri serupa dengan siatika proksimal. Ini semula dijelaskan sebagai terganggunya saraf obturator yang mencatu bagian anterior sendi panggul dengan serabut-serabut sensori. Sangat mungkin nyeri ini adalah akibat terganggunya saraf simpatetik (saraf vaskuler) seperti diduga Idelberger (1977). Kadangkadang suatu aneurisma arteri iliak komunis bisa menyebabkan siatika (Elliot 1971). Tidak jarang diterima rujukan hanya karena kebingungan atas nyeri tungkai apakah dari sindroma radik saraf lumbar atau dari kelainan vaskular perifer. ini sangat tidak biasa pada siatika.

kelainan tik. B. Gejala neurologik terjadi. diabetes dan periarteritis nodosa. Pada lesi radik saraf tidak pernah ada kelainan perspirasi bahkan bila sensasi hilang total didalam daerah yang dicatu oleh beberapa radik (Schliack 1975). Sisi injeksi tampak keras. Tindakan lain yang membantu diagnosis adalah infiltrasi lokal anestetik dan tes traksi. Antaranya herpes zoster. Berlawanan dengan cedera pleksus dan saraf perifer. Penyebab Vertebral Selain sindroma radik saraf yang disebabkan kelainan diskus inter-vertebral dijumpai kelainan lain yang menyebabkan siatika dan mengenai saraf femoral. Hal yang serupa terjadi pada tumor tulang belakang yang sebagian besar adalah metastase. Nyeri malam adalah khas. Ini harus dipikirkan sebagai diagnosis diferensial dalam menganalisa nyeri sakral. Stenosis spinal pada kebanyakan kasus disebabkan oleh kelainan diskus intervertebral dan . neuritis alkoholik. Kadang-kadang kelainan Paget dan fluorosis menyebabkan siatika karena pertumbuhan tulang dengan penyempitan kanal spinal serta foramina intervertebral. Ini karena cedera pada saraf kulit femoral lateral. Bila spondilitis dimulai dianterior. Gejala siatik bertambah dan tes straight leg-raising positif pada kedua sisi.sendiri yang menyebabkan diagnosis diferensial menjadi sulit. Bila nyeri dan gangguan sensasi terbatas pada lipat paha dan bagian anterior paha. Siatika dapat timbul bilateral pada spondilolistesis dan sangat sedikit dipengaruhi perubahan postur. Kadang-kadang siatika yang timbul setelah penyuntikan saraf siatik harus diingat karena mungkin pengobatannya termasuk injeksi pada daerah siatik. Tumor primer mungkin timbul pada segmen ruas tulang belakang terutama pada sarafsarafnya. Nyeri menjalar mudah dibangkitkan dengan menekan daerah tersebut. Sebaliknya dari sindroma L3. Pada lesi saraf siatik terdapat kelainan fungsi sudorimotor didaerah gangguan sensasi. Spondilitis mungkin juga mengenai radik dan tidak terpengaruh oleh postur. Akar-radik saraf terjerat oleh jaringan fibrosa disekelilingnya serta menyebabkan pengangkatan atau traksi keatas sisi posterior ruas tulang belakang berdekatan. Neuropati diabetik harus selalu diingat pada pasien tua. siatika adalah gejala lanjut. parestetik meralgia harus dipikirkan. dan terdapat perubahan cairan spinal. tidak ada gangguan pada refleks tendon patellar pada parestetik meralgia. dan gejala radik hanya terjadi bila massa tumor mengenai kanal spinal atau bila timbul fraktura patologis. leprosi. lesi radik saraf tidak pernah bersamaan dengan tanda-tanda vegetatif.

Mula-mula adalah nyeri hebat lumbar dan radikular. Lesi kauda akut adalah akibat prolaps besar dari tingkat L3/L4 atau L4/L5. Kompresi kauda akut akibat prolaps diskus intervertebral memerlukan operasi segera. Secara umum terdapat perubahan sekunder dari sendi-sendi dan otot-otot intervertebral. Pemeriksaan radiologiogi dan laboratori normal. Dalam beberapa jam dapat timbul cedera yang irreversibel. namun memerlukan pemeriksaan lain untuk memperjelas kelainan seperti mielografi. Kelainan diskus intervertebral khas dengan onset mendadak dan kaitannya dengan postur. Pada prolaps diskus intervertebral lumbar ada hubungan gejala dan perubahan patologik sebagai makin besar prolaps semakin berat gejala neurologik dan nyeri. Laboratori dan mielografi akan memberi petunjuk diagnosis. Analisis cairan spinal mungkin penting. Segera setelah paresis timbul. Penting diingat keberagaman dan kepekaan masing-masing radik saraf yang menyebabkan gejala dan . gejala khas prolaps diskus intervertebral menghilang. Sasaran utama adalah menghilangkan nyeri. Sindroma Kauda Sindroma kauda menunjukkan sindroma radik saraf lumbar poli-radikuler secara menyeluruh. Cairan spinal normal dan alirannya yang bebas pada tes Queckenstedt tidak menyingkirkan kemungkinan kompresi kauda yang terletak dalam. Gejala sindroma kauda khas dan dari sudut diagnostik diferensial menarik untuk menganalisa etiologinya. Tindakan diagnostik terpenting adalah mielografi namun tidak selalu menjelaskan sumber kelainan. Semua radik saraf dikauda tertekan baik oleh prolaps diskus intervertebral maupun tumor dan menimbulkan gejala radik lumbar maupun sakral.menyebabkan siatika. indentasi medium kontras mungkin sangat besar namun bila tidak ada gejala maka tidak ada alasan untuk operasi. perlunakan dan protrusi ringan dibanding prolaps sebenarnya. tindakan secara umum serupa. Pada mielografi. Sasaran harus ditujukan untuk mengurangi keluhan rasa tidak enak subyektif dan tidak terlalu ditujukan kepada deformitas anatomik. Kurang penting untuk memperbaiki mobilitas tulang belakang lumbar. TINDAKAN Mengingat etiologi dan patologi. Blok cairan spinal menunjukkan kompresi spinal. Kecil kemungkinan pulih bila operasi dilakukan dua atau tiga hari setelah kompresi kaudal. Pada tumor kauda tidak ada hubungan dengan beban berat atau tanpa beban berat. Kebanyakan kelainan diskus intervertebral tampak sebagai fragmentasi. C.

Pemeriksaan teliti akan menunjukkan bagian mana dari segmen yang paling terserang dan rencana tindakan didasarkan kepadanya. serta perubahan sirkulasi. Karenanya tindakan harus diarahkan terhadap intensitas gejala yang dipacu oleh sensitivitas radikradik saraf dan serabut-serabut saraf. Mula-mula adalah masalah mekanik yang diikuti iritasi radik-radik saraf dengan akibat timbulnya spasme otot reflektori. lainnya justru memburuk. Perubahan psikik juga penting. pikirkan operasi. perubahan abnormal volume diskus intervertebral. A. nyeri yang berasal dari kapsula sendi intervertebral dan spasme otot. packing dan infiltrasi. Harus dipikirkan tekanan material diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi. Material diskus intervertebral yang telah rusak tidak dapat diperbaiki oleh jaringan. karenanya dianjurkan mengatasi fokus infeksi lokal pada pengobatan siatika dan nyeri pinggang bawah. Usaha yang gagal pada terapi manual atau pemijatan dalam waktu lama harus diganti dengan istirahat dan pemakaian panas. Onset nyeri dan adanya suatu keadaan kronik akibat beberapa keadaan patologik membentuk lingkaran setan. keadaan fisik secara umum serta keadaan mental. Diagnosa yang teliti dan pengalaman yang luas diperlukan dalam merencanakan cara terbaik untuk masing-masing pasien. Akar saraf yang sudah cedera oleh tekanan akan bereaksi abnormal bila menghadapi keadaan alergi atau infeksi. 'Serangan' terapeutik pada rantai manapun akan memberikan hasil yang baik. Kemungkinan berhasil pada tindakan konservatif sangat terbatas. postur abnormal. Terdapat gabungan pengaruh tekanan mekanik dan sensitifitas saraf dimana yang terakhir ini dapat dipengaruhi oleh obat-obatan. Dengan kata lain terdapat reaksi yang berbeda dari radik-radik saraf terhadap rangsangan mekanik akibat deformitas patologik. Tindakan berdasar penyebab tidak akan berhasil pada kelainan diskus intervertebral. Pasien yang bersifat pasif terbaik ditindak dengan istirahat tempat tidur. Hal serupa terjadi pada traksi. Mulamula selalu harus dengan tindakan konservatif. pemijatan.tidak perlu perubahan patologik identik kasus demi kasus. Pasien yang aktif lebih baik ditindak lebih aktif dengan traksi. Harus dipikirkan semua kemungkinan cara pengobatan sesuai dengan kasus. iklim dan tindakan fisik. Tidak perlu merencanakan suatu tindakan dalam dua atau tiga minggu. Beberapa pasien bereaksi baik terhadap pemijatan. Tindakan Konservatif . aberasi psikik serta akhirnya nyeri. Pikirkan usia pasien. namun bila tidak memberikan hasil yang baik dan nyeri tetap berat. Hal menarik lain adalah remisi spontan gejala pada kasus nyeri dengan onset akut akibat degenerasi diskus intervertebral. karenanya tindakan harus simptomatik dengan satu tujuan saja yaitu mengurangi nyeri. kontraktur kapsul sendi.

segala variasi posisi berdiri atau horizontal dapat mengubah perjalanan nyeri. Bila ada alasan untuk tidak memungkinkan pasien berada dalam posisi berdiri. dapat dipengaruhi oleh tindakan tersebut. Istirahat Pengurangan rasa tidak enak dan nyeri dapat dicapai dengan istirahat.1. pasien dengan nyeri pinggang bawah lebih menyukai beristirahat pada tempat tidur. Nyeri yang timbul setelah berada dalam posisi horizontal untuk waktu yang lama menunjukkan penambahan volume diskus intervertebral dan dapat dikurangi dengan memberi beban aksial secara hati-hati. pasien dapat digerakkan dengan arah yang memungkinkan kembalinya nukleus pulposus keposisi normal (Idelberger 1977). Traksi dengan bebat ekstensi dapat mempercepat proses ini. Dalam setiap gangguan fungsional pada interspace. Tidak ada aturan bagaimana meletakkan tubuh hingga bebas dari nyeri dalam pengobatan lumbago. pasien mengatur posisi tulang belakang yang paling efektif mengurangi nyeri. Gejala dari degenerasi diskus intervertebral biasanya akibat penambahan beban aksial dan karenanya tindakan terbaik adalah istirahat ditempat tidur. Penting untuk mengatur posisi saat istirahat. Pada keadaan ini tekanan intradiskal 35 kp. Jenis tindakan ini salah satu yang terbaik yang dapat ditawarkan pada pasien dan diakhiri dalam beberapa hari serta dua hingga tiga minggu untuk kasus yang lebih sulit. Kontraksi isometrik otot pinggang akan menambah tekanan intradiskal dan akan mengurangi volume diskus intervertebral walau pada posisi horizontal. tapi pasien mungkin memilih posisi yang tidak lazim untuk mengurangi rasa tidak enaknya. penggunaan panas. Sebagai pegangan. Diskus intervertebral menerima beban paling rendah saat berbaring horizontal dengan sendi lutut dan panggul dalam fleksi. Pada siatika posisi terlentang lebih disukai. pemijatan. Pasien harus mengatur fleksi lutut dan panggul pada posisi yang paling nyaman. Dianjurkan memakai penyangga untuk tungkai berupa blok karet busa. Tempat tidur harus rata dan keras. Tergantung penyebab. Tindakan dikolam dengan gerakan yang kuat mungkin cukup untuk mengobati nyeri sakral dengan onset akut dan nyeri akan hilang dengan cepat. Kenyataan bahwa pasien telah menemukan posisi tubuh yang meringankan nyeri dan dapat ditemukan oleh pemeriksa. terapielektro serta analgesik. kepala atau kaki tempat tidur dapat ditinggikan. Lingkaran setan berupa nyeriregangan-nyeri. Hirschberg (1974) melaporkan hasil yang sangat baik pada penderita yang dirawat konservatif dan mendemonstrasikan bagaimana pengurangan tekanan intradiskal menyebabkan hilangnya ketidaknyamanan serta . Pada kasus nyeri pinggang bawah yang kurang begitu berat akibat dislokasi yang lebih ringan dari fragmen diskus inter-vertebral.

nyeri. Istirahat harus dilanjutkan dan dilakukan untuk waktu yang lama dalam usaha menghilangkan penekanan terhadap radik saraf dan juga membantu pengerutan fragmen diskus intervertebral. diagnosis harus dipertanyakan. terapi-elektro harus dicegah selama tahap akut. Derivat minyak asam salisil. terjadi perubahan pada segmen yang bersangkutan. dapat digunakan dan dianjurkan kompres panas dengan meletakkan dibawah pasien tanpa menggerakkan pasien terlalu banyak. pemijatan dan traksi dapat dianjurkan. Bila panas menambah nyeri. Dengan pemanasan dalam. Pemanasan suhu badan terbaik dengan menggunakan wool tebal. . Selama istirahat ditempat tidur. Sangat sering kedinginan memperberat ketidaknyamanan. Beberapa obat gosok. Panas bisa didapat dengan berbagai cara. Dipercaya bahwa kantung panas mempunyai efek jaringan dalam. Juga terjadi perubahan tingkat konduksi saraf motor dan aktifitas motor spinal dari neuron motor alfa dan gamma hingga terjadi relaksasi spasme otot yang diinduksi nyeri. Dalam semua keadaan. bebat dan aplikasi lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan panas dapat digunakan pada pinggang. baik melalui kontak langsung maupun secara tak langsung melalui radiasi panas. ini akan mengubah keadaan biokimia jaringan segmen lumbar. Pemanasan Panas menyebabkan hiperemi dengan akibat pengenduran otot-otot yang spastik. reaksi inflamatori berkurang. Mandi air panas. menekuk tubuh dan mengangkat dapat menyebabkan berulangnya keadaan dan musnahnya perbaikan yang telah didapat. Berdiri. kompres hangat. Seringkali pasien dengan sindroma lumbar menemukan keuntungan dengan panas. hiperemi akan menambah dan memperkuat nyeri. Tak ada alasan untuk percaya. Udara panas juga berefek baik. Alasannya tidak diketahui. yang meningkatkan panas. selalu digunakan oleh pasien nyeri pinggang bawah. Penting untuk melakukan tindakan menurut prinsip yang tegas. panas tidak pernah digunakan terhadap pasien dalam posisi telungkup karena hiperlordosis paling sering menimbulkan nyeri. karena pada tumor dan keadaan inflamatori. dan pasien dapat dijaga fisik dan mental disaat ia menggunakan sesedikit mungkin gerakan dan higiene pasien dapat dirancang untuk keadaan berbaring pada sisi tubuhnya. 2. packing. Untuk pemakaian sederhana dirumah. Dengan adanya aksi refleks. Pasien yang menderita nyeri sakral khronik dan siatika selalu mencegah kedinginan dan karenanya berpakaian hangat. Pemijatan. mandi air panas atau botol air dapat digunakan.

Jenis obat diatur sesuai intensitas gejala. Obat-obatan Tidak ada bukti bahwa obat dapat mempengaruhi perubahan volume jaringan diskus intervertebral. Karena perbedaan mekanisme patogenetik. Bila nyeri hilang. Efek samping yang timbul pada pemakaian lama tidak dapat dipertanggungjawabkan. terapi obat-obatan harus diakhiri. obat-obat seperti disebut diatas dapat digunakan. karenanya lingkaran setan nyeri-spasme-nyeri dapat diputus. Komponen antiflogistik diduga mempengaruhi reaksi inflamasi yang diakibatkan iritasi mekanik pada segmen bergerak. Pada nyeri akut berat. Dapat diberikan pada sindroma radik saraf kronik. dianjurkan aminofenazon. Bila tidak ditemukan perbaikan dalam waktu yang singkat. Pada saat operasi sangat banyak ditemukan radik-radik saraf yang menunjukkan tanda-tanda inflamasi. Terakhir dilaporkan bahwa obat kombinasi memberi hasil memuaskan. sedatif bebas barbiturat dan relaksan otot dapat digunakan sebagai penambah pada tindakan lain. fenilbutazon. Terapi fisik cukup memadai. Penyebab gejala mungkin kompresi mekanik serius terhadap radik-radik saraf lumbar dan memerlukan . Diazepam. Beberapa berefek analgesik dan anti flogistik dan umum digunakan seperti aspirin. Nyeri kronik dianjurkan diatasi dengan indometasin atau aspirin yang umumnya ditolerasi baik. dijumpai beberapa jenis obat. Efek merelaksasikan otot secara tidak langsung didapat juga dari sedatif dan tranquilizer yang sering dijumpai pada preparat kombinasi. pyramidon. Sasaran utama adalah mengurangi nyeri. Bila nyeri bertambah dan tidak hilang dengan istirahat. dianjurkan analgesik kuat dan antiflogistik. kombinasi aspirin dan kodein atau acetaminofen dan kodein yang dapat diberikan secara oral. Obat-obat kombinasi yang mengandung kortison mempunyai sifat antiflogistik kuat. Karena efek sampingnya dianjurkan untuk pemakaian dalam waktu yang singkat. rektal atau parenteral. Tranquilizer akan menurunkan sensitifitas elemen saraf yang teriritasi secara mekanik pada segmen bergerak. Relaksan otot mempunyai efek berbeda dimana ia langsung mempengaruhi otot yang menjadi relaks dengan akibat mengurangi nyeri. Vitamin B diduga mempunyai efek neurotropik yang membantu regenerasi serabut saraf yang terjepit. Pada nyeri pinggang bawah ringan dianjurkan tidak menggunakan obat apapun. Injeksi intramuskuler dengan kombinasi fenilbutazon dan aminofenazon digunakan pertama kali. Pada pasien dengan psikik tidak seimbang dianjurkan pemberian sedativa. otot yang tegang akan berelaksasi.3. Pemberian intramuskuler lebih disukai karena memudahkan kontrol dan penilaian. indometasin. Tahap awal.

otot paravertebral serta iskhiokrural mempunyai efek stabilisasi. Pada posisi istirahat tonus otot menurun dan efek stabilisasi menghilang. Bila keadaan ini tercapai. Dengan cara ini otot pinggang paravertebral yang luas dan berkontraksi digerakkan tanpa perlu penekanan terhadap lordosis lumbar yang biasanya terjadi pada pemijatan tangan. Dengan miografi-elektro diperlihatkan bahwa pemijatan mempunyai efek merelaksasikan otot yang berkontraksi serupa dengan yang didapat melalui alat elektrik. Arus frekuensi tinggi menghasilkan panas pada jaringan dalam. Sindroma lumbar yang memerlukan pemijatan jangka panjang lebih baik ditindak dengan terapielektro yang akan menghemat tenaga maupun waktu.tindakan yang lebih sesuai. Pemijatan Mungkin berguna pada sindroma lumbar bila keadaan akut sudah berlalu. 5. Jenis-jenis pemijatan dan pengaruhnya telah dijelaskan dan disamping pemijatan klasik. pemijatan jet air dapat digunakan. Panjang gelombang terlalu pendek tidak akan merangsang sel. Ia mengatur segmen bergerak dalam istirahat hingga tak ada lagi penekanan lebih lanjut atau tarikan pada radik saraf atau ramus meningeal dari saraf spinal. Tenaga yang lebih kuat diperlukan untuk merawat otot pinggang bawah. Otot tak dapat mempertahankan kebutuhan yang terus menerus akan kontraktilitasnya untuk mempertahankan stabilitas dan suatu saat akan terjadi insufisiensi otot. Posisi telungkup tak dapat dianjurkan karena lordosis lumbar akan bertambah dengan tekanan pemijatan dan karenanya pasien harus diletakkan telungkup pada penyangga karet busa yang memungkinkan pasien memfleksikan panggul dan tungkainya bersama-sama. Terapi Elektro Ada beberapa cara dengan tujuan penyembuhan oleh energi listrik. Pemijatan hanya sebagian dapat mempengaruhi otot-otot yang berkontraksi dan keras pada daerah lumbosakral. perlu melakukan pemijatan dan fisioterapi dalam usaha mengembalikan otot kekeadaan semula. 4. Posisi penderita selama pemijatan penting. Terapi-elektro karenanya dilakukan lebih awal. Frekuensi yang dianjurkan adalah 20. Berbagai arus dapat digunakan. Aliran air diarahkan tangensial terhadap pinggang dengan tekanan 1 hingga 2 atmosfir. Pada fase akut sindroma lumbar .000 Hz yang disebut arus arsonal dan dipancarkan melalui diatermi dengan 3 . Beberapa jenis pemijatan akan memperkuat siatika akut atau lumbago karena pemijatan akan menggerakkan tulang belakang lumbar dan pasien tidak dapat untuk tetap pada posisinya.

Pada sindroma diskus intervertebral. 6. Pada fisika yang disebut frekuensi rendah adalah antara 1-5. Satu keuntungan dengan arus interferensi adalah bahwa efeknya menjadi terpusat pada lapisan jaringan dalam dengan arus frekuensi rendah antara 0-100 Hz dan arus frekuensi menengah didalam jaringan permukaan. Pada terapi arus interferensi. Pada arus diadinamik terdapat perubahan antara frekuensi dan amplitudo yang berefek penghilang nyeri (Bernard 1955). Frekuensi menengah dan rendah digunakan sebagai arus interferensi. Ini secara keseluruhan berbeda bila dibanding dengan arus frekuensi rendah yang semula digunakan karena kesamaannya dengan frekuensi potensial elektrik yang terdapat pada jaringan. lapisan otot yang lebih dalam serta segmen bergerak menjadi sasaran dari arus. Arus listrik digunakan secara bipoler dengan dua elektroda yang berarti bahwa energi maksimum akan dikonsentrasikan pada elektroda dan akan menurunkan pergerakan arus melalui jaringan. Kekuatan gelombang tinggi superfisisal dipancarkan lebih dalam dengan pengurangan pada jaringan menjadi kekuatan gelombang rendah.X 106 Hz hingga gelombang pendek 5 X 107 Hz. Karenanya arus dapat diarahkan ke jaringan sasaran dalam frekuensi dan kekuatan yang disisi lain tak dapat dimasukkan secara langsung. Belum ada penelitian tentang efek suatu arus terhadap metabolisme diskus intervertebral. hal tersebut tergantung pada arus dengan efek dalamnya. Masingmasing amplituda dan frekuensi akan dirubah oleh badan menjadi frekuensi yang mempunyai efek biologi. namun pada keadaan biologik dibuktikan bahwa yang mempunyai nilai terapeutik adalah antara 15-250 Hz. arus frekuensi menengah sekitar 4. Pada degenerasi diskus intervertebral. Arus frekuensi rendah (15-250 Hz) mempunyai pengaruh pada sel dan arus searah digunakan pada galvanisasi serta arus bolak balik digunakan pada faradisasi. Sistem saraf vegetatif akan terpengaruh dan secara sekunder pembuluh akan berdilatasi. Terapi Manual . Pada saat ini tindakan elektrik terhadap pasien rawat jalan dapat dilakukan. Frekuensi tiap-tiap arus berbeda hingga 100 Hz. dengan akibat penambahan sirkulasi jaringan dalam. mungkin timbul nyeri. Namun demikian peningkatan sirkulasi jaringan disekeliling diskus intervertebral jelas memperbaiki metabolismenya. tanpa menyebabkan kerusakan apapun disini atau merangsang timbulnya nyeri pada kulit.000 Hz.000 Hz diarahkan pada badan. Penggunaan arus interferensi dalam pengobatan nyeri pinggang bawah saat ini meningkat melebihi beberapa pengobatan lainnya. Pada peningkatan penggunaan arus.

Tidak ada cara yang khas untuk memastikan apakah nyeri sakral berasal dari protrusi diskus intervertebral. Miografi-elektro otot lumbar tidak dapat menjelaskan perubahan selama traksi (Rothenberg dan Sanford 1953). terutama bila disebabkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. Risiko timbulnya protrusi atau prolaps bisa timbul karena manipulasi yang berupa kifosis. Traksi Hasil baik sering didapat pada terapi sindroma pinggang bawah dengan traksi. Traksi tulang belakang lumbar termasuk pelebaran area intervertebral termasuk semua elemen fungsional segmen bergerak. Sekali edem berkurang. Tindakan ini seperti halnya terapi hidra semakin populer. Ini mungkin dapat diperbaiki dengan mobilisasi dikolam atau terapi manual. Maigne 1970). Tindakan ini hanya diizinkan bila tahap akut sudah berlalu dan bila sudah diketahui bahwa mobilisasi sudah harus dilakukan serta adanya perbaikan dari keadaan otot. Reaksi refleks otot dapat dikurangi dengan melakukan traksi secara berkala. 7.Pada kebanyakan kelainan diskus intervertebral merupakan kontra-indikasi. Dengan terdapatnya penambahan volume diskus intervertebral (Kramer 1973). Armstrong (1965) menjelaskan efek isap sekunder karena traksi. Efek terapeutik traksi tergantung jumlah elemen yang terkena. otot lumbar atau sendi intervertebral. Kembalinya kekeadaan sendi yang normal adalah sasaran terpenting pada rehabilitasi penderita nyeri pinggang muda usia. Setelah traksi yang berhasil. otot tulang belakang lumbar bereaksi refleks dengan berkontraksi dan tahanan otot tergantung pada elastisitas . merupakan faktor yang paling penting pada traksi. mielogram tetap tak berubah. Pada protrusi yang besar. 8. Injeksi Lokal . Perubahan tinggi diskus intervertebral akibat degenerasi berakibat perubahan posisi sendi-sendi ruas tulang belakang. Pada traksi. Hanya beberapa milimeter yang diperlukan merubah posisi antara diskus intervertebral yang mengalami perpindahan dan reseptor nyeri. reduksi tekanan intra diskal hingga menormalkan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi. inklinasi lateral atau torsi dari tulang belakang lumbar (Stoddard 1961. nyeripun berkurang dikarenakan cukup ruangan untuk radik saraf. tonus dan kontraksi otot. tenaga yang diperlukan untuk merobek ligamen longitudinal posterior tidak besar. Karenanya tindakan ini tidak dianjurkan. Hasil yang baik telah dilaporkan banyak penulis sejak Erlacher (1951) hingga Ulrich (1974).

Reischauer (1949 dan 1961) menyatakan bahwa merendam radik saraf bersangkutan dengan anestesi lokal akan mengurangi iritabilitas. Saraf spinal dan ramus meningeal yang kembali kekanal spinal dapat dicapai dengan injeksi paravertebral. Difusi akan berperan mempengaruhi radik saraf dan reseptor pada ligamen longitudinal posterior. Injeksi Epidural Posterior Sumber rasa tidak enak dan gejala lainnya dicapai dengan memasukkan jarum kerongga epidural. Injeksi Epidural Kaudal Rongga paradural lumbosakral dicapai melalui inferior via hiatus sakral dengan jarum panjang.Umumnya terjadi perbaikan spontan pada degenerasi diskus inter-vertebral. Cairan injeksi (kortikosteroid) dapat mencapai daerah lebih tinggi bila pelvis ditinggikan. Bagaimanapun rasa tidak enak dan nyeri dapat menetap atau meningkat. Akar saraf berdekatan pada yang saat sama menjadi teranestesi akibat difusi suntikan dan tidak jarang terjadi paresis. Injeksi Paravertebral Anestetik lokal dapat disuntikkan keforamina intervertebral. dan nyeri akibat perlekatan dan jaringan parut pasca operatif dapat dikurangi. Obat dapat disuntikkan kerongga epidural atau sub-arakhnoid. Injeksi dapat pula dilakukan pada diskus intervertebral. karenanya reaksi saraf dalam kanal spinal dapat diobati. pembengkakan inflamatori. Berbagai anestetik dapat digunakan. Anestetik lokal diberikan dekat tulang belakang (para-spinal) atau didaerah foramina intervertebral (paravertebral). serta konsekuensi yang diakibatkannya berupa iritasi karena penyempitan rongga yang berat. Sesuai keadaan anatomi. injeksi lokal dan intradiskal terbukti memberikan hasil baik. Akar saraf dapat direndam oleh anestetik atau obat antiinflamatori (Kortison). Digunakan bila bagian bawah pleksus sakral harus disuntik. . Pada desensitisasi radik saraf harus dicegah lingkaran setan iritasi mekanik. Dengan cara ini spasme otot dapat diobati dan pada saat yang sama seluruh segmen bergerak akan dipengaruhi oleh rami dorsal saraf spinal yang telah diinfiltrasi. Kehilangan sensibilitas terbatas pada daerah S3 dan S5 dan menimbulkan anestesia sadel. antiflogistik dan anti-inflamatori mempengaruhi fungsi segmen lumbar. berbagai cara dapat digunakan. otot pinggang dan ligamen intervertebral. Injeksi paraspinal lebih diutamakan untuk menginfiltrasi kapsula sendi intervertebral. namun berguna untuk memakai yang mempunyai efek depot. Anestetik. Bila mielografi atau operasi tidak akan dilakukan segera. Kemungkinan perubahan pada pembengkakan inflamatori struktur saraf terbatas.

Setelah pemberian khimopapain terjadi penurunan jarak intervertebral. Smith 1964 hingga Watts 1975). Komplikasi menjadi serius pada 3. Terjadi pengerutan. Keuntungannya obat tidak melalui sawar darah-cairan spinal hingga kadarnya dapat lebih tinggi dibanding pemberian oral atau parenteral. Hasil yang didapat 75% baik. perlunakan dan perpindahan jaringan diskus intervertebral.4% hingga sebagian ahli enggan menggunakannya (Smith dan Brown 1967). kerusakan pembuluh. disini injeksi dapat langsung beraksi pada jaringan diskus intervertebral. dan akhirnya radik saraf dapat dicapai dan efek antiflogistik serta anti edema juga tercapai. terjadi kolaps dan penurunan tinggi intervertebral. Karenanya obat yang disuntikkan harus aman . Sendi-sendi intervertebral dan foramina inter-vertebral terkena dan menimbulkan gejala. Proteoglikan akan terurai menjadi keratan sulfat khondroitin sulfat serta proteo-glikan sendiri. Saat ini kepentingan klinik tertuju pada penyuntikan khimo-papain yang akan mendekomposisi kartilago. Dengan menyuntikkan suatu substansi khondrolitik atau penurun tekanan. dapat terjadi perubahan pada volume. jarum mungkin tidak mencapai sasaran yang benar. Penyuntikan diskus intervertebral lumbar merupakan tindakan terapeutik. karenanya tekanan berkurang terhadap radik saraf (dibuktikan banyak penulis. Sudah dibuktikan bahwa khimopapain pada pemberian lokal menyebabkan nekrosis jaringan. Dideposit pada rongga subarakhnoid lumbar. perubahan degeneratif dapat terjadi pada cord tulang belakang. saraf dan otot.Injeksi Intratekal Terutama kortikosteroid. 5% sedang dan 9% buruk. Setelah injeksi ekstradural. Harus selalu ingat bahwa bila melakukan penyuntikan intradiskal. Indikasi utama adalah sindroma radik saraf khronik dan sindroma pasca diskotomi. Bahkan dosis kecil khimopapain yang mencapai rongga sub-arakhnoid menyebabkan perdarahan terutama terjadi bila dilakukan infus intravena (Sheally 1967. Difusi dalam kantung dura. Sussman 1972). Jadi secara keseluruhan berbeda dengan cara penyuntikan lain. Ini menyebabkan disposisi obat ditempat salah atau obat mungkin bocor melalui perforasi anulus fibrosus kerongga epidural atau subarakhnoid dimana kemampuan melarutkan akan menyebabkan kerusakan. Depolimerisasi akibat rangsang kimia dari jaringan diskus intervertebral (khemonukleolisis) menyebabkan percepatan perubahan karena usia pada diskus intervertebral dengan membuang makromolekul diskus intervertebral. Komplikasi tersering adalah renjatan anafilaktik (Finnesson 1973). Injeksi Intradiskal Berbeda dengan tindakan injeksi lainnya. Bila terjadi kehilangan cairan dan material diskus intervertebral.

Trasilol adalah polipeptida yang ditolerasi baik dalam dosis tinggi dan dapat digunakan intravena. Jenis operasi yang paling sering dilakukan adalah membuang jaringan diskus intervertebral yang mengalami perpindahan yang menekan radik saraf dan disebut diskotomi. Pada paresis akut ekstensor kaki atau jari atau kuadriseps. B. Relatif . Sindroma kompresi kauda ekuina 2. terutama bila gejala lainnya sangat ringan. Mukopolisakharida yang bertanggung jawab atas hidrasi jaringan diskus intervertebral dinetralkan oleh Trasylol (Torok 1972). Paresis akut otot-otot penting B. diharuskan operasi segera. Tabel 4 Indikasi Operasi Diskus Intervertebralis Lumbar ------------------------------------------------------A. Gangguan motor yang telah berlangsung lama tanpa gejala berat lainnya tidak pasti membaik dengan operasi karena dekompresi lambat radik saraf tidak akan mengurangi paresis. Diskotomi Lumbar a. intramuskuler atau intratekal. Indikasi Hasil operasi diskus intervertebral lumbar beragam. sedikit sekali yang dioperasi. Lindner 1975). Ia mempunyai daya gabung besar terhadap substansi dasar yang kaya khondroitin sulfat. 1. Bila operasi tak dilakukan dalam beberapa jam. Karenanya tekanan onkotik intradiskal berkurang (Kramer dan Laturnus 1975). Absolut 1. Reaksi alergik rendah (0. karenanya perlu dipikirkan dengan serius apakah pasien harus dioperasi atau dirawat konservatif. Ada obat lain dengan efek anti-inflamatori dan anti-edem yang dapat digunakan dengan lebih aman.1%. Akhir-akhir ini digunakan Aprotinin (Trasylol) (Kramer 1974. kehilangan fungsi menetap akan terjadi. diskotomi tidak perlu. Operasi hanya dilakukan bila nyeri hebat tidak berkurang dengan tindakan konservatif. Indikasi absolut untuk operasi adalah sindroma kauda ekuina dengan hilangnya fungsi berak dan kencing. Bila ada kelemahan otot gluteal dan betis sebagai tanda sindroma S1.mengingat jenis aksinya berhubungan dengan jaringan saraf. Tindakan Bedah Dibanding jumlah pasien yang ditindak konservatif. Haberland dan Mitis 1967).

Serangan berulang nyeri pinggang bawah dan siatika dengan distribusi segmental tanda-tanda neurologik ------------------------------------------------------Indikasi relatif adalah bila disamping tanda-tanda dan gejala-gejala objektif terdapat faktor penting lainnya yaitu durasi gejala. Sindroma radik saraf khronik dengan distribusi nyeri dan tanda-tanda neurologik segmental 3. gejala mungkin timbul lagi. Pada keadaan ini perlu dilihat apakah perbaikan mungkin didapat dengan tindakan konservatif termasuk injeksi lokal dan intra-diskal serta karenanya terjadi perbaikan dimana pasien dapat bekerja kembali. indikasi operasi tidak boleh terlalu luas. operasi diindikasikan. usia. Keadaan sosial juga penting dan terutama bila bekerja dengan membebani tulang belakang. Karena komplikasi setelah operasi. hasil tindakan sebelumnya. Keputusan operasi pada kasus perbatasan adalah mielogram positif dan keinginan mutlak pasien. kondisi sosial. Sindroma radik saraf khronik dengan gangguan neurologis ringan atau tanpa sama sekali adalah kasus perbatasan untuk jenis tindakan. Saat operasi paling sering dijumpai prolaps. Bila gejala menetap setelah 4-6 minggu tanpa tanda-tanda regresi. pasien umumnya meminta operasi. Bila . kondisi mental penderita. hal ini bukanlah satu-satunya hal yang menentukan. atau fragmen diskus yang mengalami inkarserasi ditemukan dibawah selaput tipis dari anulus fibrosus dorsal atau dibelakang ligamen longitudinal posterior. Data klinik adalah sama pentingnya dalam membuat keputusan. Bila tidak ada perbaikan dengan pasien ditempat tidur dan memakai analgesik terus menerus. Hakelius melaporkan hubungan antara temuan klinik dan temuan patologik operatif sebesar 63 persen. Gejala lain seperti gangguan refleks dan hipestesi jarang mengganggu pasien. Usia pasien harus dipikirkan dan pada penderita berusia lebih dari 60 tahun operasi hanya dilakukan pada kasus terpilih dan perbaikan spontan sering terjadi. Adalah mengherankan bahwa gejala berat akibat kompresi radik saraf dapat menghilang selama tindakan konservatif adekuat dalam waktu singkat. Walau setiap penentuan praoperatif sangat tergantung pada pemeriksaan diagnostik radiografik. Hirsch dan Nachemson melaporkan hubungan antara tanda neurologik objektif dengan herniasi diskus sebesar 55 persen. Nyeri dan deformitas menyebabkan pasien menghendaki tindakan yang dapat mengubah keadaan.1. Syarat tindakan bedah adalah pasien telah menjalani tindakan konservatif termasuk istirahat tempat tidur ketat. Sindroma radik saraf yang berat dan terusmenerus serta intraktabel 2. Gejala-gejala radik dan nyeri sakral mungkin berkurang selama periode panjang dari tindakan konservatif namun bila tulang belakang menjadi subjek beban.

Atas hal tersebut. Penekanan yang berlebihan pada satu dari parameter tersebut dan mengabaikan dua lainnya akan berakibat kegagalan operatif. Kontra-indikasi Diperoleh sekunder dari indikasi. kegagalan terutama adalah karena faktor diagnostik dari pada tehnik. Pada keadaan ini dilakukan fusi. Tabel 5 Kontraindikasi Diskotomi Lumbar ---------------------------------------------------------------Nyeri pinggang bawah tanpa penjalaran Diagnosis yang belum tegak Pasien tidak berkehendak Hipokhondriak tulang belakang --------------------------------------------------------------- -- . Nyeri sakral terus menerus tanpa penjalaran bukanlah indikasi operasi diskus intervertebral. Tanpa tiadanya korelasi. ketepatan diagnostik meningkat hingga 95 persen. Istilah ini tidak seluruhnya benar karena yang betulbetul "false positive" menunjukkan betul-betul tiada kelainan dan harus dibuktikan dengan eksplorasi operatif yang negatif. Siatika berat dapat disebabkan tumor atau spondilitis.straight leg-raising test digabung dengan temuan neurologik objektif. Operasi tidak akan memecahkan masalah dan dikatakan :"Jangan sekali-kali melakukan operasi pada penderita yang dalam perawatan psikhiatrik". tidak dapat dipastikan apakah suatu kelainan radiografik adalah penyebab gejala. ketepatan diagnostik meningkat hingga 86 persen. Temuan radiografik positif pada penderita tanpa gejala disebut "false positive". Bila mielografi larut air positif digabung dengan straight leg-raising test dan defisit neurologik objektif. Harus selalu diingat bahwa hubungan yang erat harus ada antara temuan klinik objektif dengan temuan radiografik positif dimana yang pertama adalah penyebab dari yang terakhir. Mencegah operasi dianjurkan pada diagnosis yang belum betul-betul jelas karena sindroma pascaoperasi yang parah bisa terjadi. b. Ini berlaku juga pada " hipokhondriak tulang belakang ". analisis harus hati-hati dilakukan hingga trauma operasi tak harus terjadi pada laminektomi yang tidak perlu. Diskotomi hanya dilakukan bila diagnosis sudah tegak. Tes laboratori seperti laju endap darah serta perubahan radiologi harus benar-benar dianalisa sebelum operasi. Pada sindroma radik yang belum jelas.

c. Juga diberitahu akan rasa tidak nyaman dan nyeri dapat timbul lagi tidak hanya dari segmen berdekatan namun juga dari segmen yang dioperasi.Secara diagnostik kasus ini dapat ditemukan karena perbedaan yang besar antara gejala subyektif dan tanda-tanda obyektif. Disebut flavektomi atau fenestrasi. adakalanya perlu membuang sebagian arkus ruas tulang belakang (laminotomi) atau membuang in toto pada . Operasi dapat dilakukan pada posisi miring atau telungkup. Anestesi umum dengan intubasi. Pemberitahuan Kepada Pasien Sebelum operasi diharuskan memberitahukan pada penderita bahwa operasi hanya mengobati siatika dan kelainan diskus intervertebral tetap ada serta akan memberi gejala yang sama seperti sebelumnya. Kadang-kadang pembuluh besar abdominal mengalami perforasi. d. Posisi ini menyebabkan beberapa hambatan bagi anestetis. Kifosis maksimal tulang belakang lumbar dan penurunan kecenderungan atas perdarahan epidural memberikan kondisi operasi yang baik. namun dapat mempertahankan venous return serta juga respirasi abdominal dan dada yang normal. Arkus ruas tulang belakang dicapai dan kanal spinal dicapai melalui ligamen flavum yang dibuka. Kulit disayat diatas prosesus spinosus tulang belakang lumbar bagian bawah. Posisi terbaik antaranya adalah telungkup pada lutut yang ditekuk. 106 dari 3000 ahli bedah saraf dan bedah tulang pernah mengalaminya (De Saussure 1959). Pasien kelompok B (tabel 4) dan tidak merasa perlu untuk dioperasi jangan dibujuk karena sangat kecil jaminan yang dapat diberikan atas perbaikan yang sempurna dan harus dijelaskan bahwa setelah operasi keadaan mungkin tetap atau malahan memburuk. Mungkin juga hambatan penyembuhan luka atau akibat dari anestesi. tidak berarti bahwa penolakan harus dilakukan terhadap kedua jenis tindakan tersebut. Dalam usaha mendapatkan radik saraf lebih jelas. Diskotomi Lumbar Pengangkatan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi adalah operasi standard. Fasia disayat serta otot lumbar disisihkan dan diretraksi. Dengan mengabaikan kenyataan bahwa kumatnya gejala mungkin terjadi setelah tindakan konservatif maupun operatif. Karena komplikasi mungkin timbul akibat operasi. harus diberitahukan bahwa cedera operasi mungkin mengenai radik saraf dan dura. Analisa gas darah serta tekanan vena sentral tidak menunjukkan perbedaan terhadap nilai normal (Ghazvinian dan Kramer 1974).

ada komplikasi khusus diskotomi namun jarang terjadi. Adalah lesi radik saraf. Bila pengangkatan radikal dari diskus intervertebral dilakukan. Salah satu komplikasi serius adalah perforasi pembuluh besar abdominal seperti arteri dan vena iliak. Karena kifosis lumbar tak tercegah saat duduk. Pembuangan arkus tulang belakang tidak merubah perjalanan kelainan diskus intervertebral degeneratif (Schulitz 1970. Fragmen mengandung baik nukleus pulposus. Akar saraf diretraksi dan jaringan diskus intervertebral yang prolaps atau membengkak dibuang. Penggantian jaringan yang dibuang dengan implan buatan tidak memberi keuntungan. Kemampuan biomekanik segmen tidak boleh terganggu dan pembebanan aksial tulang belakang sangat berbahaya. Kemampuan biomekanik tulang belakang lumbar tidak terganggu oleh laminektomi sepanjang sendi-sendi intervertebral tetap intak. Mikroskop operasi menyederhanakan dan memperbaiki teknik operasi. balikkan pasien. jaringan diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi juga dibuang dalam usaha mengurangi rekurensi. maka tidak diizinkan duduk kecuali pada posisi . Finnesson 1973). dianjurkan mobilisasi dan pembebanan dilakukan bertahap dan menggunakan penyangga ketiak seta bebat traksi. Setelah prolaps dibuang. lakukan laparotomi. Disamping komplikasi anestesi. e. Perawatan Pasca Operatif Profilaksi umum terhadap kemungkinan trombo-embolisme adalah mobilisasi segera yang dimulai hari kedua atau ketiga pasca operasi. namun ini tidak penting. masalah penyembuhan luka dan trombo-embolisme pasca operatif yang biasa terjadi pada operasi. Inklinasi lateral dan kifosis tulang belakang lumbar harus dicegah karena penyembuhan luka akan terganggu. kauda dan dura intra-operatif yang kelak dapat menyebabkan meningokel atau sinus cairan spinal. Komplikasi Sedikit pada operasi diskus intervertebral. namun perlu betul-betul menentukan lokasi prolaps pra-operatif. rawat pembuluh tersebut. Defek akibat operasi pada saatnya menyembuh dengan jaringan parut. anulus fibrosus dan tulang rawan. Tidak ada kasus dari lesi kauda.satu sisi (hemi laminektoni).29%. f. Pasien harus bergerak seperti tahap awal lumbago akut dengan tulang belakang lumbar yang terfiksasi. Bila terjadi. dan fisioterapis mengajar pasien bagaimana melakukan gerakan selama awal masa pasca operasi. namun tidak ada kontraindikasi mobilisasi segera. Menurut Oppel dan Schramm (1976) sekitar 0. Bagian posterior diskus intervertebral mungkin dibuang secara radikal.

h. Pada operasi diskus intervertebral yang sangat luas. 3. menarik dan membungkuk.5 persen berkesempatan untuk pulih sebagian.3 persen setelah diskektomi dan setidaknya 99. Gejala radikular menetap diakibatkan: 1. Dari hal tersebut jelas bahwa faktor kunci dalam menduga hasil operasi adalah kompresi neural yang pasti. Bila jahitan sudah diangkat. Tingkat keberhasilan berdasar pengurangan gejala radikular. Siatika yang disebabkan protrusi atau pembengkakkan akan memberikan hasil baik pada 40-65%. Disimpulkan bahwa tindakan konservatif harus diambil selama mungkin sebelum suatu operasi diputuskan. Pengangkatan prolaps total memberikan hasil terbaik. Rasa tak enak dan nyeri karena degenerasi diskus intervertebral tak dapat dihilangkan oleh diskotomi. Secara spesifik. disaat lain pada penderita dengan eksplorasi negatif hanya mempunyai kesempatan 38. mempunyai kesempatan atas hilangnya siatika secara lengkap sebesar 90. yang akan diuntungkan oleh operasi dekompresif. penderita bergerak lebih aktif dan bila luka sudah lebih kuat gerakan ditingkatkan lagi. Spangfort juga menemukan bahwa derajat herniasi diskus merupakan faktor yang paling penting yang menentukan hasil operasi setelah diskektomi. baik. Spangfort (1972) membuktikan bahwa hasil berkaitan dengan temuan operasi. Thomalaske (1977) melaporkan bahwa faktor psikis menyebabkan pasien cenderung mengalihkan nyeri yang dideritanya sebagai akibat operasi. 2. Usia: penambahan usia memperburuk hasil. Kebanyakan pasien mengalami pengulangan nyeri sakral dan akan memberat pada saat mengangkat beban.4 persen untuk mendapatkan adanya perbaikan. sedang) dijumpai pada 80%-90%. g. Hasil buruk pada 10%. Terdapat perbedaan indikasi serta penilaian sangat subjektif.bersandar 450. Temuan operatif: prolaps masif yang dapat dibuang akan memberi hasil lebih baik dibanding protrusi atau pembengkakan kecil dari jaringan diskus intervertebral. Rasa Tidak Nyaman Pasca Operatif Sindroma Pasca Diskotomi . Hasil Bervariasi. Riwayat penyakit: riwayat gejala singkat memberikan hasil lebih baik dibanding yang sudah berjalan beberapa tahun. Hasil menggembirakan (sangat baik. pasien dengan herniasi sangat besar yang pasti menyebabkan penekanan neural. penderita dimobilisasi dengan bantuan pengikat pelvik.

infeksi dalam dan diskitis yang khas dengan peninggian suhu dan akhirnya dapat diperlihatkan secara radio-grafi. 3. Ada beberapa alasan untuk timbulnya nyeri radik saraf dan deformitas. Gejala radik menetap yang serupa dengan gejala sebelum operasi menandakan efek penyebab dari tekanan mekanik. arakhnoiditis adhesif tahap 1. refleks dan gangguan motor akan pulih dalam beberapa bulan. 4. dikarenakan perlengketan serta jaringan parut pada radik-radik saraf dan dura. Timbulnya prolaps atau protrusi pada segmen yang bukan dioperasi bukanlah karena operasi primer. Keadaan tersebut didiagnosa dengan mielografi dan pada operasi yang berhasil. gejala dapat hilang spontan dan dapat diobati dengan berhasil secara stimulasi elektrik dan blok simpatetik lumbar. Alasan lain untuk nyeri pasca operasi adalah gagalnya mengenal tingkat yang tepat. yang bisa menetap atau hilang setelah diskotomi. radikulitis. yang timbul sebagai bagian dari sindroma S1. 2.Hanya kadang-kadang pasien terbebas secara sempurna dari gejala setelah operasi diskus intervertebral (tabel 6). Disamping nyeri dari luka. arakhnoiditis adhesif tahap 2. Satu kelompok yang perlu perhatian khusus adalah menetapnya rasa tidak enak atau nyeri pasca operasi. Tabel 6 Penyebab Nyeri yang Menetap atau Berulangnya Siatika setelah Operasi Diskus Intervertebral Lumbar --------------------------------------------------------------Dekompresi radik saraf tidak cukup Berulangnya prolaps pada segmen yang sama Prolaps atau protrusi pada segmen lain Sindroma pasca diskotomi Infeksi dalam ---------------------------------------------------------------Gejala lain pada sindroma pasca diskotomi adalah tanda-tanda dari sistem vegetatif seperti kehilangan temperatur (tungkai siatik dingin) dan perubahan sirkulasi dan juga kram betis. Lebih lanjut. juga tersisa nyeri dari sindroma radik saraf. Sebagai pegangan. berulangnya prolaps mungkin menyebabkan nyeri pasca operasi dan pembentukan perlengketan yang menyebabkan reoperasi menjadi sulit. Bila dekompresi radik tidak sempurna. -- . Hipestesi. Arakhnoiditis lokal pasca operasi mungkin timbul dan menurut Burton (1977) dibagi empat tahap yang tumpang tindih: 1. arakhnoiditis. nyeri pasca operasi akan timbul. Disebut sindroma pasca diskotomi.

spondilodesis dikombinasikan dengan eksplorasi radik saraf. Pita jaringan ikat bekerja seperti gergaji terhadap radik saraf. menimbulkan masalah sulit karena tindakan konservatif sering gagal dan pasien kesulitan kembali pada pekerjaannya. Oppel dan Schramm (1976) menemukan bahwa pada penderita dengan komplikasi pasca operasi ditemukan sejumlah besar kelainan psikik yang tak tampak sebelum operasi namun tampaknya dirangsang oleh penyakitnya serta tindakannya. neurolisis. Tidak ada indentasi lokal terhadap medium kontras hingga akan merupakan kontra-indikasi diskotomi kedua pada tingkat bersangkutan. makin luas reaksi jaringan akan terjadi. Indikasi dan tehnik fusi lumbar untuk kelainan diskus inter-vertebral degeneratif berubah dalam tiga dekade terakhir. Pada pasien muda sehat dengan sindroma pasca diskotomi. radik-radik saraf dan kanal spinal hanya memungkinkan gerakan bebas nyeri yang terbatas. Kantung radik melekat pada radik saraf dan tidak dapat diperlihatkan. membersihkan radik saraf dari jaringan parut. Fusi Pada diskotomi penekanan pada radik saraf dibuang. yang mungkin menimbulkan gejala. Ini meninggikan kepekaan terhadap gangguan mekanik. Komponen lain kelainan diskus intervertebral tidak dipengaruhi oleh tindakan ini hingga ketidakstabilan intervertebral tetap adanya. Umumnya rencana tindakan yang paling diterima adalah neurolisis digabung dengan tandur lemak pedikel (Gill 1979). Perlengketan yang terbentuk antara kantung dura. Spondilodesis adalah tindakan sekunder khusus pada sindroma diskus inter-vertebral. membawa bahaya akan terbentuknya jaringan parut lebih lanjut dengan berlanjutnya rasa tidak enak dan nyeri. Tujuan pengobatan adalah membuat stabilisasi tulang belakang yang dapat dicapai dengan fusi. Sindroma pasca diskotomi khas dengan penjalaran nyeri bilateral poliradikuler dan hipestesi. C. Pengangkatan jaringan diskus intervertebral yang . Mielografi menunjukkan jaringan ikat yang mempersempit kantung dura. Teknik operasi karenanya harus teliti dan perdarahan harus ditekan dengan koagulasielektro sebaik mungkin. Operasi untuk sindroma pasca diskotomi seperti laminektomi luas. Makin banyak manipulasi selama operasi. Sedikit membungkuk dengan kifosis tulang belakang lumbar akan memperberat nyeri dan deformitas. Mula-mula fusi merupakan prosedur umum namun karena hasilnya tidak terlalu baik karena tingginya tingkat nonunion. Teknik operasi yang baik akan mengurangi risiko sindroma pasca operasi walau tidak menghilangkannya sama sekali.Rongga subarakhnoid dan epidural menjadi massa jaringan parut yang besar yang akhirnya menyebabkan iritasi terus menerus terhadap radik-radik saraf.

Albee (1911) menganjurkan tandur tibial. Mungkin juga didapat osteo-artrosis yang terbatas pada sendi intervertebral lumbar (spondiloarthrosis) dengan nyeri pinggang bawah dan pada tiap keadaan ini fusi diindikasikan. Nyeri sakral menetap setelah diskotomi adalah tanda ketidakstabilan segmen akibat degenerasi diskus intervertebral dan pengangkatan operatif diskus intervertebral. Ini harus digabung dengan eksplorasi radik saraf. Nyeri dapat dikurangi dengan cast plastik yang baik. Osteo-arthrosis mungkin timbul pada segmen. Prosedur yang diterima tampaknya adalah fusi . dan penderita dengan fusi berhasil sempurna mungkin tetap menderita nyeri. Indikasi fusi lumbar (tabel II. Tidak perlu dikatakan bahwa operasi harus didahului mielografi. fusi tidak diindikasikan. Kesimpulannya diduga setelah diskotomi prognosisnya adalah tanda tanya. Tabel 7 Indikasi Fusi pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Nyeri sakral hebat menetap pasca diskotomi Segmen takstabil serta nyeri yang diakibatkannya Osteokhondrosis serta spondilosis dengan nyeri pinggang bawah berat ------------------------------------------------------Bila siatika diakibatkan prolaps atau prolaps yang berulang setelah diskotomi. dimana kanal spinal dapat dibuka.berpindah atau melunak juga menjadi prosedur yang dianjurkan dalam hubungannya dengan dekompresi radik saraf. Hanya pada kasus-kasus tersebut operasi dilakukan.7) adalah nyeri sakral terus menerus dan tak tertanggungkan. tanpa bahaya yang terlalu besar. Keadaan ini dapat timbul bila pada hemilaminektomi bagian medial sendi intervertebral dibuang. dan fusi menjadi prosedur sekunder. Beberapa tehnik sudah dikemukakan untuk fusi lumbar. Spondilodesis anterior intercorporal seperti yang dianjurkan Harmon (1963) tidak memungkinkan eksplorasi kanal spinal secara bersamaan. Lagipula pada pasien dengan spondilodesis yang gagal. sendi dapat disuntik dengan anestetik lokal dimana nyeri khas akan hilang. Tehnik ini sering berakibat nonunion. Sebagai pembantu diagnosis. sedikit rasa tidak enak yang timbul setelah operasi. dengan peningkatan ketidak-stabilan segmen objektif. namun kemudian hari mungkin menjadi tindakan satu-satunya. Adalah mengherankan bahwa setelah eksisi radikal diskus intervertebral dan dengan segmen yang tak stabil. Bosworth (1945) menganjurkan tandur clothes-peg (tandur H). kebebasan sempurna dari rasa nyeri dan tidak enak dapat disaksikan.

Nyeri yang dikira akibat mobilitas segmen berkurang dengan stabilisasi dan terutama atas foramina intervertebral. Stabilitas lebih masuk akal dari pada spondilodesis interkorporal. Mau 1974. diskus intervertebral diinsisi serta tandur corticocancellous dari krista iliaka dapat diinsersikan kedalam ruas tulang belakang . Daerah posterolateral lebih baik sebagai tempat fusi karena berbagai alasan: 1. 3. Schmorl dan Junghanns (1968). Setelah hemilaminektomi. 2. Duduk pada kursi yang dalam dan tidak nyaman tidak diperkenankan. Karena hanya satu segmen yang berfusi. Polster dan Hoefert (1974) memperlihatkan pada percobaan bio-mekanik bahwa spondilodesis posterolateral memberikan stabilitas terbaik. Hohmann (1974) dan Exner (1974). Namun pasien harus bangkit "en bloc" hingga tulang belakang lumbar tidak kifosis (Mau 1974). Spondilodesis adalah rantai terakhir sepanjang rantai terapeutik dan diharap memenuhi semua harapan yang sangat optimistis. 1963). Setelah fusi pasien harus memulai aktifitas secara bertahap perlahan karena pada setiap sisi fusi stres mekanik meninggi. Brace ini harus dipakai hingga fusi terjadi.interkorporal posterior menurut Cloward (1953. . Brussatis 1976). Cancellous bone digunakan diatas prosesus transversus dan mencakup artikulasi intervertebral. Karenanya menjadi blok tulang yang memanjang diatas sendi dan prosesus transversus. Diperkirakan fusi yang cepat pada operasi skoliosis dengan tandur cancellous bone memberikan kegunaan yang sama pada fusi tulang belakang lumbar. Fusi dapat dilakukan walau pada laminektomi. De Palma dan Rothman 1970. Terdapat kesulitan teknis pada tindakan ini karena daerah yang sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk menarik dura dan radik saraf. pasien bisa keluar dari tempat tidur pada hari ketiga setelah operasi tanpa fiksasi apapun. Revaskularisasi dan reosifikasi pada daerah ini lebih baik dari aspek medial arkus ruas tulang belakang. McNab dan Dall 1971. pasien harus memakai cast plester. Selama operasi terdapat kesempatan membuka kanal spinal dan bisa melihat radik saraf serta juga untuk membuang jaringan diskus intervertebral. fusi lateral dengan tandur cancellous bone menjadi populer (Wiltse 1968. Aspek posterior ruas tulang belakang harus diperlebar. biasanya memakan waktu 3-4 bulan. Bila beberapa segmen difusikan. Tingkat terjadinya pseudo-artrosis sangat kecil bila dibandingkan dengan metoda fusi lain (McNab dan Dall 1971). Finneson (1973). dan rasa nyeri serta tidak enak mungkin bertambah pada daerah ini. seperti misalnya lumbosakral. Beberapa tahun terakhir.

berdiri dan duduk yang benar. tulang belakang lumbar menjadi distabilkan dan terpaku pada pelvis oleh otot spinal dan karenanya tidak mudah ditekuk hingga lebih berperan sebagai pilar penyangga. perlu mempertahankan hasil yang didapat dari berbagai prosedur dengan mencegah terjadinya kembali protrusi jaringan diskus intervertebral. Pasien selama fase pertama rehabilitasi harus dicegah mengangkat objek yang berat serta mengangkat saat membungkuk dan juga mencegah gerakan torsi tulang belakang. berulangnya iritasi mekanik atas radik saraf harus dicegah. perlu menstabilkan segmen secara aktif dan pasif. Secara pasif dapat digunakan ortoses. Dalam mencegah agar segmen tidak mengalami dislokasi lagi serta jaringan intradiskal tidak bergeser lagi. Jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi dipertahankan dalam keadaan setenang mungkin. dan menurut Schmorl dan Junghanns (1968) stres mekanikal yang memperberat harus disingkirkan. Tulang belakang dipertahankan pada posisi netral hingga pergeseran intradiskal yang baru dapat dicegah. Fleksi kedepan tulang belakang lumbar tidak diperbolehkan. Diatas itu semua. Fisioterapi berperan penting dalam profilaksi dan rehabilitasi sindroma lumbar. Stabilisasi eksternal harus dilakukan. Mempertahankan suatu posisi posterior yang tidak menyenangkan mungkin berakibat berulangnya gejala dan karenanya perlu menyarankan agar penderita tetap pada posisi berbaring. Dengan pembatasan pergerakan.PROFILAKSI DAN REHABILITASI PADA SINDROMA DISKUS INTERVERTEBRALIS LUMBAR Setelah mendapatkan sejumlah keberhasilan pengobatan gangguan fungsional sistem lokomotif. . Pada kelainan diskus intervertebral degeneratif tak dapat diperkirakan bahwa jaringan akan menjadi stabil sendiri secara cepat serta spontan. Pada tulang belakang yang lurus diskus intervertebral lumbar akan dibebani setangkup sehingga risiko dari lesi yang baru dapat dicegah. namun stabilisasi lebih lanjut dapat dengan penguatan otot-otot. Perlu mendapatkan ko-operasi baik dari pasien.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->