KELAINAN DEGENERATIF ___________________________________ I.

HERNIASI DISKUS INTERVERTEBRAL Perubahan degeneratif pada diskus intervertebral merupakan penyebab tersering nyeri pinggang. Penyebab lain antara lain kelainan kongenital, perkembangan, inflamasi, serta tumor, yang secara kepentingan klinis adalah sekunder namun mungkin berakibat perubahan yang serupa pada diskus intervertebral. Peningkatan pengetahuan terhadap gangguan penampilan dan fungsi tulang belakang menimbulkan minat yang lebih besar. Ini tidak hanya karena gangguan yang umum terhadap diskus intervertebral, namun juga terhadap akibat yang ditimbulkan pada struktur yang berdekatan. Hubungan langsung antara diskus intervertebral yang mengalami herniasi dengan siatika dianggap mempunyai basis morfologikal. Namun terpakunya pada perubahan patomorfologikal sebagai penyebab gejala mengantarkan pada situasi adanya kelainan fungsional tulang belakang yang ternyata tanpa disertai patomorfologi yang jelas. Terbukti bahwa pengangkatan secara operatif terhadap prolaps tidak memecahkan semua masalah. Juga ditemukan adanya perbedaan yang mengejutkan antara perubahan patomorfologikal dan radiografik pada satu sisi dan gejala disisi lain. Perubahan bentuk dan fungsi tidak selalu berhubungan dengan penampilan klinis segmen bersangkutan. Jadi suatu deformitas tidak perlu menunjukkan perasaan tidak enak. Buktinya adalah skoliosis dan kifosis pada remaja dapat menjadi lengkap tanpa gejala. Juga sering ditemukan pada foto sinar-X untuk keperluan lain, adanya tanda-tanda perubahan degeneratif pada penderita yang menyangkal adanya keluhan. Lamanya waktu yang diperlukan untuk berkembangnya suatu deformitas sering menentukan onset dari gejala. Kompresi mendadak satu atau lebih radik saraf pada fraktura atau herniasi diskus intervertebral akan menimbulkan nyeri segera dan berat. Sebaliknya bila radik saraf mengalami konstriksi secara lambat dalam beberapa tahun, seperti yang sering tampak pada skoliosis, spondilolistesis atau penyakit diskus intervertebral degeneratif pada tulang belakang, radik saraf jelas menyesuaikan diri secara perlahan terhadap restriksi hingga gejala neurologi jarang timbul. Bila terjadi cedera puntir mendadak, berakibat iritasi radik saraf dengan terjadinya edem pada radik saraf tersebut. Pada saat ini sikap fungsional dan dinamik kita berdasarkan kepada informasi baru, baik mengenai pendekatan biokimia maupun bio-mekanik terhadap diskus intervertebral yang tidak perlu merupakan tempat perubahan morfologik, namun lebih merupakan pusat proses metabolik yang menyebabkan perubahan bentuk, konsistensi dan volume, yang semuanya merubah fungsi tulang belakang.

Junghans (1951) telah membuat gambaran tentang "motion segment" ("Bewegungssegment"). Termasuk dua ruas tulang belakang yang berhubungan beserta diskus intervertebralnya, ligamen serta otot yang bersama-sama membentuk kesatuan fungsional. Kegagalan satu komponen merubah fungsi yang lainnya. Akibat berbagai respons metabolik terhadap stimulasi biomekanik, diskus intervertebral lebih sering merupakan asal ketidak-mampuan pada "motion segment". Ini terutama jelas pada tulang belakang leher bawah dan lumbar yang relatif merupakan bagian yang kaku, yaitu hubungan servikal-torasik dan sakrum yang tak dapat bergerak pada daerah lumbar, yang berhubungan dengan tulang belakang lumbar bawah. Sebagai tambahan harus diingat kondisi anatomi yang sempit yang terdapat antara daerah yang secara bertahap tidak dapat bergerak serta munculnya radik saraf . Lebih sering penyakit diskus inter-vertebral terbatas pada daerah segmen leher bawah dan lumbar bawah. Adalah perlu menemukan hal-hal yang utama pada kelainan diskus intervertebral untuk menyederhanakan suatu diagnosa serta tindakan. Misalnya perubahan postur yang berhubungan dengan nyeri. Dalam tindakan, metoda yang mungkin dilakukan diambil yang paling sederhana. Baik dalam diagnosa maupun tindakan , perlu melihat kembali kemajuan yang telah terbukti tidak berbahaya atas penyakit diskus intervertebral. Karena sindroma diskus intervertebral biasanya menyerang orang muda, adalah penting bahwa setelah pengobatan seorang dokter harus menganjurkan latihan harian yang cukup pada pasien. Pada hari-hari pertama didapat perasaan yang negatif terhadap onset yang tidak dapat diterima dan sering dengan perjalanan yang berbahaya dari penyakit diskus intervertebral. Bagaimanapun saat ini ada alasan untuk mengambil pendekatan yang lebih optimistik terhadap sejumlah kemungkinan yang tersedia disertai profilaksi dan rehabilitasi dengan perencanaan yang lebih baik. Frekuensi dan intensitas sindroma servikal dan lumbar mungkin berubah. Penyakit yang berasal dari diskus intervertebral juga disebut diskogenik. Gejala yang berasal dari sendi apofiseal dan/atau ligamen juga dipandang sebagai diskogenik oleh karena kelainan pada diskus intervertebral sering merupakan penyebab yang mempercepat timbulnya gejala. Walaupun tidak ada hubungan filogenetik, diskus intervertebral dan ruas tulang belakang berdekatan membentuk suatu kesatuan biomekanik, dan pada diseksi, diskus intervertebral dapat diangkat intoto dari antara dua dataran akhir (end plate) ruas tulang belakang bersangkutan. Diskus intervertebral sendiri adalah sendi utama tulang belakang dan jenisnya disebut amfi-artrosis. Sendi posterior juga disebut sendi apofiseal. Ini merupakan suatu sendi sejati (diartrosis) yang dapat dikatakan sebagai sendi vertebral. Pengetahuan tentang patologi diskus intervertebral serta tanda dan gejalanya sudah diketahui

lebih dari setengah abad. Namun pendapat tentang penyebab dan pengobatan berbeda sangat luas. Ini tampak dengan adanya berbagai terminologi. Sebelum Mixter dan Barr (1934) menjelaskan bahwa siatika disebabkan oleh kompresi radik saraf pada diskus intervertebral yang mengalami sekuesterisasi, juga dipikirkan bahwa diskus intervertebral yang mengalami herniasi mengandung tumor tulang rawan yang disebut "kordoma ekstradural anterior" (Steinke 1918, Clymer 1921, Adson dan Ott 1922, Ellsberg 1928). Bradford dan Spurling (1950) menggunakan istilah "protrusi" untuk diskus yang menonjol, dan membedakannya dari nukleus pulposus diskus yang ruptur atau mengalami herniasi yang pada saat ini dikenal sebagai "prolaps". Jaringan diskus intervertebral yang mengalami herniasi berisi tidak hanya material dari nukleus pulposus namun juga dari anulus fibrosus. Seperti telah dijelaskan, pernyataan "protrusi" digunakan untuk menunjukkan penonjolan diskus keposterior tanpa rupturnya anulus fibrosus. Sekali lagi, bila anulus fibrosus telah mengalami perforasi dan jaringan diskus mengalami penetrasi kerongga epidural, digunakan pernyataan "prolaps". Suatu ruptur tanpa protrusi eksternal melalui anulus disebut "ruptur intradiskal". Sekali terbentuk fragmen, mereka disebut juga "sekuestrum" dan dapat mengalami dislokasi. Pergerakan dari satu sisi kesisi lainnya sering menimbulkan gejala siatik yang berubah-ubah tergantung pada lokasinya. Melunaknya serta rupturnya diskus intervertebral disebabkan perubahan fisiologis substansi diskus, yang disebut sebagai "khondrosis inter-vertebral" (Schmorl dan Junghanns 1968). Dengan pengertian ini maka semua perubahan yang didapat disimpulkan sebagai "degenerasi diskus intervertebral". Perubahan degenerasi bagaimanapun tidak dibatasi hanya pada tulang rawan yang disebut sebagai "khondrosis", namun juga mengenai seluruh diskus intervertebral. Untuk alasan ini dianjurkan digunakan istilah "diskosis", yaitu artrosis-artritis; diskosis-diskitis (akhiran osis berarti perubahan degeneratif). Jadi perubahan patologis, biokimia dan biomekanik menjadi jelas dengan satu istilah. Diskus intervertebral tidak mengalami regenerasi. Degenerasi diskus intervertebral tidak perlu menimbulkan gejala namun mungkin mempunyai pertanda yang sangat jelas. Hal serupa juga berlaku terhadap perubahan pada dataran akhir ruas tulang belakang. Schmorl (1932) menganjurkan istilah osteo-khondrosis terhadap adanya perlunakan substansi diskus inter-vertebral yang bersamaan dengan perubahan pengapuran pada dataran akhir. Secara radiografi, tanda yang paling jelas dari kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah spondilosis. Ini termasuk spur tulang yang nyata pada tepi ruas tulang belakang dimana melekat ligamen longitudinal posterior. Pada aspek posterior setiap perubahan spondilotik tidak tampak pada beberapa tempat dimana ligamen longitudinal posterior melekat pada

diskus intervertebral. Spondilosis dan osteokhondrosis sering digunakan sebagai diagnosis, walau tanpa kelainan lain yang jelas yang menunjukkan tanda-tanda peningkatan usia, dan dapat dibandingkan terhadap perkembangan tumbuhnya uban dan berkerutnya kulit. Usia secara sederhana adalah proses fisiologik yang terjadi pada semua struktur serupa. Pada diskus intervertebral perubahan usia terjadi lebih awal akibat pengaruh nutrisional dan biomekanik yang menimbulkan perubahan yang tidak dijumpai pada struktur lain. Karenanya nasib alamiah dan biologik dari diskus inter-vertebral adalah penuaan yang lebih awal. Pada orang tua spondilosis dan osteokhondrosis selalu dapat diperlihatkan tanpa perlu menimbulkan gejala. Disamping diskosis, pernyataan "degenerasi diskus intervertebral" harus dipegang karena diterima secara internasional. Penampilan gejala mungkin bisa dimengerti pada istilah ini, yang bagaimanapun tidak perlu menggambarkan latar belakang morfologik. Degenerasi adalah istilah morfologik sejati yang tidak mempunyai arti klinis sebagai perubahan struktural, tidak mempunyai fungsi yang terganggu atau gejala. Sekali gejala bentuk apapun terjadi, tampaknya benar bila dikatakan tentang kelainan diskus intervertebral berdasarkan perubahan degeneratif. Ada deviasi pada aksis tulang belakang baik pada bidang frontal maupun sagital. Ini mungkin berakibat tenaga yang tak-setangkup terhadap diskus intervertebral. Pada bagian yang cekung yang mendapat catu makanan buruk, perubahan degenerasi diskus intervertebral terjadi lebih cepat. Akibatnya ruptur dan perlunakan lebih sering terjadi didaerah ini. Analog dengan deformitas prearthrotik, sudah dipikirkan bahwa deformitas postur, yaitu tekukan pelvis, kifosis, hemivertebra dan skoliosis adalah pertanda adanya suatu diskosis awal, serta karenanya deformitas prediskotik. Sekali lagi struktur morfologik tidak membawa kepentingan klinik. Bagaimanapun daerah dengan perubahan ini lebih cenderung terkena penyakit dengan gejalanya. Sebagaimana diketahui, inflamasi adalah khas dengan akhiran itis. Infeksi diskus intervertebral dikenal sebagai "diskitis". Pada beberapa instansi diskitis bukan dikarenakan infeksi dan ditempat lainnya dikarenakan infeksi. Sebagai contoh, sangat sering setelah penyuntikan khimopapain pada pasien mungkin menimbulkan keadaaan inflamatori diskus intervertebral yang berakhir setelah beberapa minggu tanpa adanya infeksi. Bagaimanapun ada infeksi diskus intervertebral yang disebut "diskitis". Infeksi ruas tulang belakang disebut "spondilitis". Pada keadaan dimana terjadi inflamasi yang bersamaan dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral yang berdekatan karenanya disebut "spondilodiskitis". Walau suatu spondilitis menyangkut infeksi bakterial dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral, infeksi diskus intervertebral biasanya mendominasi gambaran klinis. Secara umum , "spondilo-

Ini hanya merupakan satu dari sindroma lumbar lokal. -inis. -------------------------------------------------------Istilah Penjelasan -------------------------------------------------------Anulus fibrosus Bagian seperti cincin melingkar (Anulus fibrosus) pada diskus intervertebral. Satu alasan adalah bahwa mereka digunakan dalam bahasa medik sehari-hari dan karenanya sulit untuk diabaikan. (lat): paralisis lumbar] adalah istilah umum yang digunakan untuk nyeri hebat pada daerah lumbar yang bersamaan dengan penurunan mobilitas. alasan lain adalah bahwa penyakit diskus intervertebral terutama terjadi pada daerah servikal dan lumbar dan penyakit dari sumber lain didaerah ini adalah kekecualian. torak dan lumbar" adalah tidak sempurna dan tidak memungkinkan menilai etiologi dan patogenesis. Istilah "sindroma servikal. Tabel 1 Istilah yang umum digunakan dan penjelasannya. ketiga dan keempat semata. Sindroma lumbar lokal khas dengan gejala yang lebih merata dan tidak terbatas pada satu radik saraf dengan gangguan segmental namun secara luas diterima sebagai barasal dari diskus inter-vertebral. adalah simptomatologi yang menyangkut kelainan radikular. "Lumbago" [lumbago. Untuk pengertian klinis dan praktis terbaik. Apophyseal joint (Sendi apofiseal) Sendi diatelial. tidak akan benar secara terminologi. perlu analisa yang mendalam dari penyakit diskus intervertebral. penentuan dapat dibuat antar gejala lokal yang terbatas pada regio lumbar dan yang bersamaan dengan nyeri yang menjalar keekstremitas bawah. .f. sumsum tulang belakang atau serebral. juga disebut sendi tulang belakang. namun tidak selalu diikuti distribusi siatika karena sindroma radik saraf lumbar yang lebih tinggi berasal dari kompresi serabut anterior radik kedua. Sebagai tambahan terhadap gejala lokal yang umum yaitu gejala dari daerah tulang belakang yang terbatas. Istilah umum untuk nyeri radikular yang berasal dari tulang belakang lumbar adalah sindroma radik saraf lumbar. Karenanya kita mungkin menetapkan secara teguh pernyataan ini. Tahap akut pada saatnya diikuti tingkat kronik. Istilah ini semata-mata menunjukkan dari bagian tulang belakang yang mana gejala berasal. Nyeri menjalar ke tungkai. Untuk menyatakan keadaan umum ini sebagai "lumbago". Pada tulang belakang lumbar.diskitis" hanya digunakan bila tulang belakang terserang pada penyakit rematik. Ini yang umum disebut nyeri pinggang bawah (low back pain). yang terbentuk dari jaringan fibrokartilago dan fibrosa.

Internal disk dearangement (Kerusakan susunan diskus internal) Intervertebral disk (Diskus intervertebral) Robeknya jaringan didalam diskus intervertebral.Tulang rawan hialin pada dataran plates tepi tulang belakang.Cartilagineous end. Sendi utama antara dua badan tulang belakang. Mengangkat bagian yang lepas maupun yang telah mengalami degenerasi dari diskus intervertebral. Perubahan degeneratif pada sendi ruas tulang belakang terutama yang bersamaan dengan degenerasi diskus intervertebral. Memperluas foramen intervertebral yang menyempit. suatu amfiartrosis. (Dataran tepi tulangrawan) Disk deseases (Kelainan diskus) Diskectomy (Diskektomi) Keadaan patologik yang timbul langsung maupun tidak langsung dari diskus intervertebral. Biasanya terdiri dari hemifasetektomi dengan membuang aspek mesial dari baik faset superior maupun inferior dari sendi tersebut. Perubahan biomekanik dan patologik pada diskus intervertebral berhubungan dengan perubahan degeneratif yang serupa. Facet arthrosis (Artrosis faset) Facetectomy (Fasetektomi) Foraminectomy (Foraminektomi) Hemilaminectomy (Hemilaminektomi) Interlaminar space Ruangan yang diselaputi ligamentum (Ruang interlaminar) flavum antara dua arkus ruas tulang belakang. Dataran akhir badan tulang belakang serta . Terbentuk oleh tiga bagian. Disk injection Menyuntikkan baik media kontras ma(Penyuntikan diskus) upun obat obatan kedalam diskus intervertebralis. Mengangkat sebagian atau seluruh faset atau sendi. Diskitis (Diskitis) Diskosis (Diskosis) Inflamasi atau infeksi terbatas pada diskus intervertebral. Membuang setengah dari arkus ruas tulang belakang.

Membuang bagian dari arkus ruas tulang belakang. Intervertebral foramen (Foramen intervertebral) Kanal antara dua arkus ruas tulang belakang yang ditembus oleh saraf. Laminectomy (Laminektomi) Laminotomy (Laminotomi) Low back pain (Nyeri punggung bawah) Lumbago (Lumbago) Lumbar disk desease Kelainan diskus intervertebral pada (Kelainan diskus in. biasanya bagian superior dan ligamentum flavum. Nyeri akut pada regio lumbar.anulus fibrosus.regio lumbar. Prolapse (Prolaps) Herniasi jaringan diskus intervertebral melalui anulus fibrosus kedalam kanal. Tepi posterior dihubungkan oleh faset superior dan inferior dari sendi posterior. operasi diskus inter- Nucleus pulposus (Nukleus pulposus) Osteochondrosis (Osteokhondrosis) Postlaminectomy syndrome (Sindroma pascalaminektomi) Prediskotic deformity Gangguan bentuk dan fungsi segmen (Deformitas bergerak yang memudahkan perkemprediskotik) bangan sindroma diskus intervertebral kelak. Pusat diskus intervertebral terutama terdiri dari substansi ini. Kesatuan fungsional kolumna tulang belakang yang terdiri dari dua badan ruas tulang belakang diskus intervertebral diantaranya. Dikelilingi sebelah atas oleh pedikel. Membuang arkus ruas tulang belakang. Nyeri yang terbatas hanya pada regio lumbar. anterior oleh diskus dan inferior oleh pedikel ruas tulang belakang inferior. tervertebral lumbar) Lumboradiculitis (Lumboradikulitis) Motion segment (Segmen bergerak) Nyeri pada regio lumbar yang menjalar ketungkai. Nyeri setelah vertebral. . Degenerasi diskus intervertebral bersama-sama dengan perubahan dataran akhir ruas tulang belakang.

Hilangnya stabilitas. Upper lumbar Sindroma lumbar yang mengenai akar radiculitis) saraf L2. Spinal fusion (Fusi spinal) Spinal stenosis (Stenosis spinal) Spondylosis (Spondilosis) Three-joint complex (Kompleks tiga sendi) Tight hamstring (Hamstring yang tegang) Stabilisasi operatif pada segmen bergerak. Degenerasi diskus intervertebral dengan spur tulang reaktif pada tepi ruas tulang belakang. Kontraksi yang jelas pada otot hamstring (mungkin karena traksi pada radik L5 dan S1-S2) menyebabkan teregangnya saraf ini. L3 dan L4.Protrusion (Protrusi) Rheumatoid diskitis (Diskitis rematoid) Schmorl nodes (Nodus Schmorl) Sciatica (Siatika) Penonjolan diskus intervertebral tanpa perforasi anulus fibrosus. Akar L4 mungkin hanya terserang sebagian. Penyebaran nyeri sepanjang ekstremitas bawah sesuai dengan distribusi saraf siatik. Penetrasi spontan jaringan diskus intervertebral keruas tulang belakang. Penyempitan kanal spinal. Inflamasi rematoid pada tepi diskus intervertebral. Konsep yang terdiri dari dua sendi dan diskus pada masingmasing tingkat. Sciatic list (Postur siatik) Segmental instability (Ketidakstabilan segmental) Sequestered Terlepasnya fragmen nukleus yang disk fragment mengalami degenerasi dari diskus (Fragmen diskus yang intervertebral mengalami sekuesterisasi). Keadaan khas yang tampak pada posisi berdiri pada penderita prolaps atau protrusi diskus intervertebra. S1 dan/atau S2. mencakup akar saraf L5. (Radikulitis lumbar sebelah atas) ------------------------------------------------------- .

Gangguan pada pinggang adalah paling umum hingga usia 35 tahun. Penyelidikan Knepel (1977) mendapatkan pada praktek umum bahwa dari tiap 10 penderita didapatkan seorang dengan keluhan pinggang yang disebabkan oleh degenerasi diskus intervertebral. dan 52 % nyata mempunyai gejala saat pemeriksaan. gangguan pinggang lebih sering dari gangguan sendi lainnya. Magora dan Tanstein 1969). Hanraets (1959). Karena tidak jelasnya terminologi penyakit rematik. Dari negara lain juga dilaporkan frekuensi penyakit diskus inter-vertebral degeneratif yang berhubungan dengan pekerjaan: Inggeris (Dixon 1973. Armstrong (1965).8. Persentase pengobatan pasien rawat jalan dengan sindroma diskus intervertebral mencapai 37. Conventry (1968) dan Hirsch (1960). sejumlah keadaan secara salah disangka rematik. Amerika Serikat (Leavitt 1971). Ini menjadi lebih nyata bila kelainan tulang belakang dipelajari sendiri.170 penduduk. sedikit orang yang terhindar dari gangguan punggung postural akibat perubahan degeneratif. Gross (1966) dan Hult (1954). Secara keseluruhan . Sepanjang hidupnya. Arti dan Frekuensi Kelainan Diskus Intervertebral Penyakit diskus intervertebral adalah kelainan yang umum didapat. 72. Israel (Magora 1970.A. Informasi lain mengenai distribusi kelamin dan usia dari penyakit diskus intervertebral sudah dijelaskan oleh Schmorl dan Junghanns (1968). Kanada (White 1969). perlu melakukan penelitian prospektif. rickets dan polio. Finlandia (Rissanen 1969). Penyelidikan epidemiologik sudah dipelopori oleh Braun (1969) dan Wagenhauser (1969) Wagenhauser (1969) melakukan penelitian pada 1. serta peningkatan angka harapan hidup berakibat pada peninggian penyakit pinggang baik secara relatif maupun nyata. de Palma dan Rothman (1970). ini terutama jelas pada penyakit degeneratif sistem lokomotor dimana degenerasi diskus intervertebral berperan penting. Menurut laporan German Health Office.9 % sudah menderita berbagai jenis gangguan sistem lokomotor. Tidak . Ini terutama jelas pada lesi diskus intervertebral. Frekuensi tinggi dari ketidak-mampuan kerja serta pensiun awal diakibatkan oleh penyakit diskus intervertebral. Hal ini tampak pada usia setelah 30 tahun atau lebih awal seperti laporan dari penelitian pato-anatomi oleh Schmorl (1932). Beberapa pandangan menarik didapat dari morbiditas penyakit diskus intervertebral. Duthie 1969). Swedia (Dahlberg 1976). Penurunan tuberkulosis sendi. Jochheim (1961). Untuk lebih baik dalam mengikuti perkembangan dan distribusi suatu penyakit kronis dimasarakat. Lindemann dan Kuhlendahl (1953). Schmorl dan Junghanns (1968). penyakit sendi degeneratif adalah kelainan kronik yang utama.

penting menghubungkan aspek medik dan sosial karena sering terjadi pada usia menengah dimana mereka sedang berada pada puncak aktifitas kehidupannya. Frekuensi Sindroma Lumbar Sindroma lumbar secara khas ditandai dengan gejalagejala dan tanda-tanda yang berasal dari perubahan degeneratif pada diskus intervertebral lumbar.8 % pada wanita. Ini adalah usia dimana kebanyakan operasi terhadap prolaps diskus intervertebral dilaksanakan. Ini yang ditemukan oleh kalangan medis.6%) dan sindroma lumbar lebih utama pada pria (51. yang memerlukan tindakan yang lebih aktif.7 % adalah akibat degenerasi diskus intervertebral. Alasan mengapa laki-laki lebih sering dikenai tidak hanya karena lebih sering dan lebih berat dalam mengangkat serta meregang dibanding wanita. tetap lebih utama pada pria. dan kelainan jarang lainnya. Sindroma diskus intervertebral terjadi terutama pada kelompok usia menengah. mempunyai peranan (Tannich 1976).3 %). Pada usia ini terjadi perubahan jaringan diskus intervertebral dengan tekanan yang tinggi pada nukleus pulposus dan penurunan tahanan dari anulus fibrosus. Disamping perasaan tidak enak setempat. Lumbar paling sering terserang dengan 61. Satu dari duabelas pasien pada praktek umum tampak diakibatkan oleh sindroma lumbar. Penderita lainnya tidak pernah diperiksa walau dengan onset nyeri lumbar mendadak. Hampir duapertiga kelainan diskus intervertebral menyerang tulang belakang lumbar. Beratnya sindroma lumbar. Selain frekuensi sindroma lumbar yang tinggi.kurang dari 92. Sindroma servikal lebih sering pada wanita (60. penyakit Scheuermann. Bukan tidak mungkin bahwa kanal lumbar.96 %. Dengan kata lain kemungkinannya besar untuk . atau penderita yang mengalami perasaan tidak enak setelah ia membebani pinggangnya. serta sindroma kauda ekuina. Karenanya sangat mungkin sindroma lumbar terjadi lebih sering dari yang tercatat. Gejala umumnya timbul antara usia 30 dan mencapai puncaknya pada usia 40 pada pria dan 10 tahun kemudian pada wanita.94 % diikuti servikal dengan 36. Laki-laki lebih sering terserang dibanding wanita. Regio tulang belakang yang berbeda terserang dengan persentase berbeda. berbagai tumor.2 % terjadi pada pria dan 52. Diyakini ada faktor spesies spesifik tertentu. B. Sisanya terdiri dari skoliosis. yang lebih sempit pada pria.1 dan toraks hanya 1. dan maksimum dicapai pada usia 40 dan 50. keadaan inflamasi. Pada penderita rawat jalan 47. juga terjadi sindroma radik-radik saraf lumbar dengan nyeri yang menjalar ketungkai. Sindroma diskus intervertebral hampir sama banyaknya pada pria dan wanita. 68 % antara 30 dan 60. dan lebih dari setengahnya mengenai diskus intervertebral lumbar empat. osteoporosis.

Menurutnya hanya 35 % dari mereka yang akan menjadi penderita siatika. Nyeri akut dan siatika dapat timbul spontan tanpa penyebab yang jelas. Ia menduduki peringkat ketiga setelah kelainan jantung dan arthritis serta rematik pada usia 45 hingga 64 tahun. Kelsey dan White. Sindroma lumbar tampaknya tidak mengikuti pola statistik khusus. Penyakit ini berjalan secara khas mengikuti variasi musim. Nachemson menduga bahwa 80 % orang dewasa mengalami nyeri pinggang yang jelas selama kehidupan dewasanya. Kehilangan hari kerja pertahun akibat nyeri pinggang bawah di Amerika Serikat adalah 1. McGills menemukan bahwa ketidak-hadiran selama satu tahun karena kelainan pinggang bawah mengurangi kemungkinan untuk kembali bekerja hingga hanya 25 persen. Menurutnya tiap orang kehilangan 4 jam kerja setahun karena nyeri pinggang bawah. Benn dan Wood menemukan bahwa nyeri pinggang bawah merupakan faktor ketiga yang menyebabkan kehilangan jam kerja setelah kelainan paru akut dan kronik serta kelainan pembuluh koroner arteriosklerotik di Inggris pada tahun 1970. Peneliti lain mendapatkan bahwa semakin lama penderita meninggalkan pekerjaannya. Setelah serangan pertama nyeri pinggang bawah.000 pekerja. jumlah penderita merata. Horal menemukan bahwa nyeri pinggang bawah dalam derajat yang jelas telah dimulai pada usia onset rata-rata 35 tahun. Selama sisa bulan. menyimpulkan bahwa di Amerika Serikat gangguan pinggang dan tulang belakang merupakan penyebab tersering diantara semua kelainan kronis dalam menyebabkan pembatasan aktifitas masyarakat berusia dibawah 45 tahun. seperti juga peneliti lain. hanya kedua setelah infeksi saluran nafas atas. Sindroma lumbar cenderung sedikit menurun selama bagian awal dari tahun (Kramer 1973).400 per 1. makin besar ia akan kehilangan kemampuannya dan tidak akan pernah kembali kekerja yang produktif.600 per 1. hal ini tidak berarti suatu bukti dari contoh penderita nyeri pinggang bawah secara keseluruhan. Walau Kelsey menemukan bahwa pria lebih banyak menjalani operasi akibat nyeri pinggang bawah.terjadinya dislokasi periferal dari jaringan diskus intervertebral yang terletak sentral.000 pekerja dan dibeberapa pabrik di Inggeris 2. Rowe mendapatkan 35 persen pekerja ringan dan 45 persen pekerja berat mengeluhkan nyeri pinggang. Kelsey menemukan usia onset yang sama pada pria dengan nyeri pinggang bawah akibat kelainan diskus. Tak ada perbedaan rasial atas nyeri pinggang bawah dan siatika. namun menemukan pada wanita gejala yang jelas baru timbul satu dekade kemudian. dan . 90 persen akan mengalami serangan berikutnya. Penampilan gejala sangat berhubungan dengan peristiwa biokimia dan biomekanik yang sinambung pada jaringan diskus intervertebral yang perkembangannya sangat berkaitan dengan involusi usia.

Dalam seri seksi mikroskopik mereka dapat mendemonstrasikan involusi notokhord dan perkembangan yang berkesinambungan dari tulang belakang dan diskus intervertebral. C. yakni ektoderm. Ia tetap hanya sebagai aksis skeletal pada khordata. mesoderm dan endoderm yang sudah terbentuk. Selama periode ini dapat dijumpai awal dari degenerasi. mencakup diskus intervertebral dan ruas tulang belakang. Akhir minggu ketiga pasca ovulasi. Prader (1947) dan Ecklin (1960). Perlu diingat bahwa prognosis untuk penderita dengan siatika berat unilateral akibat diskus intervertebral yang herniasi tidaklah jelek. menuju ujung kaudal. yakni struktur aksial yang akan menjadi sumbu terbentuknya tulang belakang. Notokhord berubah sangat dini menjadi kolumna vertebral kartilago atau tulang. Anatomi dan Fisiologi Diskus Intervertebral 1.8 persen pria dan 2. baik terhadap perorangan maupun industri. Di Swedia 53 persen pekerja ringan dan 64 persen pekerja berat mengalami nyeri pinggang bawah. Usia onset rata-rata pada serangan siatika pertama sekitar 37 tahun. sekitar 76 persen menderita nyeri pinggang bawah satu dekade sebelumnya. dan hanya 19 persen memerlukan tindakan operasi. Siatika adalah penyakit yang yang umum dan berpengaruh ekonomi. streak primitif yang terutama dibentuk oleh sel-sel lapisan ektodermal bermigrasi keventral melalui streak dan menyebar kesetiap sisi membentuk mesoderm embrionik.setelah tidak hadir dua tahun biasanya tidak mungkin untuk bekerja kembali. prosesus notokhordal. embrio berupa piring berbentuk buah pir. Bell dan Rothman menyimpulkan bahwa masalah klinis siatika adalah berhubungan dengan degenerasi diskus intervertebral. dengan tiga lapisan germinal primer. menonjol kedepan diantara ektoderm dan endoderm. Cikal bakal tulang belakang adalah aksis selular yang disebut notokhord. Datanya menyatakan bahwa 4. Notokhord berjalan melalui pusat kolumna vertebral. Perkembangan tulang belakang beserta deformitasnya sudah dipelajari terutama oleh Tondury (1947. Perkembangan Diskus Intervertebral Untuk memahami latar belakang perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dewasa. Embrio usia beberapa hari dengan panjang kepala-ekor 12 mm menampakkan tanda awal dari kolumna vertebral. Hakelius melaporkan bahwa 75 persen penderita membaik setelah 10 hingga 30 hari sejak onset gejala. 1970) dan rekannya Larcher (1947). 1955. Digaris tengah piring embrionik. 1968. Dari ujung kranial streak. Tekanan karena peningkatan pertumbuhan sel . perlu untuk mengetahui perkembangannya pada tingkat embrionik dan pada saat bayi.5 persen wanita diluar usia 35 tahun menderita siatika.

Zona ini menghilang pada usia sekitar 20 tahun.tulang rawan memeras notokhord menjadi segmen sirkular kecil yang terletak pada diskus intervertebral. Pada usia 12 tahun. Catu vaskular semua elemen pada diskus inter-vertebral sempurna . Ini merupakan zona regenerasi. Fibril longitudinal tampak lebih awal pada zona luar yang akhirnya membentuk nukleus pulposus. Karenanya penulangan pada batas terluar membentuk cincin tulang dari bidang akhir. satu horizontal perifer dan satu longitudinal sentral. Jumlah dan kekuatan lamella berkurang kearah pusat diskus intervertebral. Fibril berjalan didalam tulang rawan ruas tulang belakang dan kemudian berkembang membentuk serabut Sharpey pada zona transisional. Zona dalam parakhordal bersama segmen khordal yang terletak eksentris membentuk nukleus pulposus. Lamella fibrosa ditembus pembuluh ini yang berasal dari jaring kapiler intralameller. Pembuluh mencapai annulus fibrosus melalui jaringan vaskular disekeliling kolumna tulang belakang dan foramina intervertebra. Diskus intervertebral yang sedang tumbuh menerima catu vaskular untuk zona luar selama tahap embrionik dan bayi. Diskus intervertebral disekeliling segmen khordal terdiri dari satu zona luar dan satu zona dalam. Ruas tulang belakang dan diskus intervertebral mencapai akhir perkembangannya pada pemuda dewasa. pusat ini bersatu untuk membentuk cincin epifiseal osseus. Berkas lamella padat pada lapisan periferal anulus membentuk jaringan yang berjalan dari satu ruas keruas tulang belakang lainnya. Zona luar yang kaya akan fibril namun miskin akan sel. Pusat penulangan ruas tulang belakang kearah diskus intervertebral membentuk bidang akhir tulang rawan. Bagian sentral diskus intervertebral menerima nutrisi melalui difusi. Pertumbuhan ruas tulang belakang mengambil tempat pada zona proliferatif dari bidang epifiseal. Pembuluh ini tidak mencapai baik interior dari annulus fibrosus maupun nukleus pulposus (Tondury 1958). Dari tingkat ini penggabungan mulai dari cincin epifiseal kebadan ruas tulang belakang. Annulus fibrosus dan nukleus pulposus bertambah ukuran dan isinya secara aposisi interstitial (Hirsch dan Schajowicz 1952). Segmen ini adalah asal dari nukleus pulposus (Tondury 1958). berlanjut kezona dalam gelatinosa parakhordal yang betul-betul tanpa struktur. Ada dua sistem pembuluh. Nukleus pulposus yang tidak berstruktur mengisi daerah ini. dan absorpsi pada permukaannya membentuk tulang "cancellous". Pusat osifikasi berkembang pada daerah cincin epifiseal kartilaginosa. Cincin epifiseal osseus adalah penting pada diskus intervertebral karena serabut Sharpey melekat padanya. Bidang tulang rawan mempunyai vaskularisasi baik. Diskus intervertebral saat lahir terdiri dari semua struktur yang kelak menjadi penting dalam kehidupan dalam hal fungsi mekanik tulang belakang.

area sentral nukleus kehilangan penampilan homogen dan gelatinnya.hingga usia dua tahun (Tonduri 1955). dan akan dipertahankan selama tahun pertama dan kedua kehidupan. Pada neonatus dan bayi kecil. permukaan terpotong adalah berkilat dan menyerupai gelatin. Mungkin menghilangnya pembuluh berhubungan dengan peningkatan beban yang berkesinambungan. namun pada akhir periode pertumbuhan tinggi diskus intervertebral hanya 1/3 hingga 1/5 tinggi ruas tulang belakang berdekatan. Disini terjadi penurunan yang cepat pada kandungan air. Dalam hal kualitas diskus intervertebral. sedangkan pada dewasa tidak mungkin. dan karenanya terjadi perubahan konsistensi dan warna jaringan diskus pada tahun-tahun pertama kehidupan. Penambahan oleh aposisi interstitial pada ukuran dan isi nukleus pulposus dan anulus fibrosus tidak berjalan paralel dengan pertumbuhan badan ruas tulang belakang. Diskus intervertebral karenanya menunjukkan banyak perubahan selama periode pra serta pasca natal. Perubahan ini jelas pada pemeriksaan visual sederhana terhadap spesimen. Penurunan nutritif pada diskus intervertebral dengan sendirinya berakibat pada baik kualitas maupun kuantitas jaringan ikat pada diskus intervertebral. Konsekuensinya adalah terjadinya gangguan metabolisme. setelah itu terjadi regresi yang menyebabkan diskus intervertebral avaskular pada usia empat tahun. Pembuluh ruas tulang belakang sebagian berada pada sistem trabekular badan ruas tulang belakang dan terhindar dari beban dan kompresi aksial. Jaringan semi cair sentral ini dapat dengan mudah dibuang pada anak usia dua tahun. diskus intervertebral menunjukkan perubahan penampilan dikarenakan perubahan regresif. pembuluh pada diskus intervertebral menghilang bila posisi berdiri dimulai. pembuluh darah dapat masuk kediskus intervertebral sebagai bagian dari reaksi jaringan ikat. Bila segmen bergerak menjadi immobil karena spur spondilotik. Saat lahir kedua struktur hampir sama tinggi. hingga pembuluh ini mengalami penekanan secara terus menerus oleh tekanan yang berasal dari diskus intervertebral yang mengikuti variasi postur tubuh. Ini memberikan kesan sebagai substansi cairan. Pada manusia. Kontras dengan ini. perubahan yang tampak pada orang muda menunjukkan "degenerasi bergantung usia" yang dini. pembuluh pada diskus intervertebral berada pada massa gelatinosa homogen yang secara fisik ekual dengan cairan. karakternya menjadi relatif kering dan fibriler. Dengan pertambahan usia. Goldie (1957) dan Hassler (1969) menemukan invasi jaringan granulasi dengan pembuluh darah pada diskus intervertebral yang berdegenerasi. Setelah akhir pertumbuhan. Hubungan ukuran antara badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral karenanya menjadi disproporsionat. Tahap tertentu pada perkembangan diskus intervertebral .

Misalnya C5-6 adalah diskus intervertebral antara ruas tulang belakang servikal kelima dan enam. ligamen flavum. yang mungkin tampil sebagai sindroma diskus inter-vertebral. diskus intervertebral mungkin disebut diskus intervertebral L5-6 atau L6-S1. Misalnya diskus intervertebral diantara ruas tulang belakang servikal kelima dan keenam juga dikenal sebagai diskus intervertebral servikal kelima. 2. Karenanya ada 23 diskus intervertebral. Berlawanan dengan . Diskus intervertebral pada hubungan torakolumbar dinamakan T12-L1 atau diskus intervertebral torak ke 12. adalah penamaan diskus intervertebral berdasar nama ruas tulang belakang diatasnya. Karenanya termasuk ligamen longitudinal anterior dan posterior. kanal tulang belakang dan prosesus spinosus serta transversus berikut ligamennya. Sebagai aturan. Paling umum menggunakan sistem yang berhubungan dengan ruas tulang belakang tetangganya. Sistem lainnya. anulus fibrosus dan dataran tulang rawan yang pada berkembangan lebih lanjut menjadi lebih berintegrasi dengan ruas tulang belakang. dan sendi segmen bergerak antara atlas dan aksis tidak mempunyai diskus intervertebral.dari bayi hingga usia tua ditandai dengan kemungkinan yang lebih besar terhadap suatu perubahan degeneratif tidak hanya pada nukleus pulposus tapi juga pada anulus. Segmen bergerak dibentuk oleh setengah ruas tulang belakang diatas dan setengah ruas tulang belakang dibawahnya. Diskus intervertebral pada hubungan servikal-torak dinamakan diskus intervertebral C7-T1 atau diskus intervertebral C7. menjadi lebih umum digunakan. Struktur berdekatan juga dikenai. Paling atas antara oksiput dan atlas. Tulang belakang manusia terdiri dari 24 segmen bergerak. Diskus intervertebral berubah tingginya yaitu semakin tinggi pada arah superior keinferior. Sendi utama yang dibentuk oleh diskus intervertebral terdiri dari nukleus pulposus. 11 torakal dan empat lumbar. Bila memikirkan bagian dari sindroma ini. sendi ruas tulang belakang. ada lima buah diskus intervertebral servikal. Pada dataran sagital berbentuk trapezoid dan mengatur kurva fisiologik masing-masing bagian. Unit fungsional dari tulang belakang adalah segmen bergerak (Schmorl dan Junghans 1968). Anatomi Tulang Belakang Kelainan diskus intervertebral tidak hanya menyerang diskus intervertebral saja. Diskus inter-vertebral membentuk 1/4 tinggi dari tulang belakang dewasa. Pada beberapa keadaan dimana ditemukan ruas tulang belakang lumbar tambahan . Diskus intervertebral dinamai pada saat ini dalam dua cara berbeda. ligamen flavum yang kelateral membentuk kapsul untuk sendi ruas tulang belakang. jalur yang mungkin berperan pada patogenesanya harus dijelaskan.

Interior ruas tulang belakang mempertahankan hubungannya dengan dataran tulang rawan melalui lamina kribrosa. Pada orang muda dimana jaringan diskus intervertebral lebih homogen. yaitu dari anulus fibrosus dan nukleus pulposus. Lamela fibrosa lebih banyak dan lebih kuat di anterior dan lateral dibanding di posterior dimana mereka lebih jarang dan lebih tipis. Ia mengandung tulang rawan hialin. yang ditentukan oleh konfigurasi ruas tulang belakang. anulus berhubungan secara mulus dengan nukleus pulposus. biasanya kurang dari satu cm3 yang dapat disuntikkan. Ini menunjukkan bahwa diskus intervertebral akibat dari tekanannya sendiri. Pada diskus intervertebral (Stahl 1977). Menurut Schmorl (1932). Ligamentum longitudinal anterior berjalan secara luas sepanjang permukaan anterior badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. Jaringan ini berisi substansi dengan dasar gelatin (Schmorl dan Junghanns 1968) yang akan menjadi nukleus pulposus. Difusi berbagai substansi terjadi melalui lapisan ini. dan saat pertumbuhan berakhir ia mencapai cincin ruas tulang belakang. Bila memotong diskus intervertebral secara transversal maka substansi sentral yang melekat erat pada ruas tulang belakang akan menonjol keluar. Pada usia awal. Diperifer ada serabut Sharpey yang menembus dan melekat pada cincin ruas tulang belakang. Sebaliknya.kifosis torak. dan diregio tulang belakang lumbar menyempit menjadi pita tipis. Lebih kedepan. ligamen longitudinal posterior tidak menutupi diskus inter-vertebral secara . Disini aspek superiornya lebih lebar dari inferior. ligamentum longitudinal posterior tak begitu mudah dipisahkan dari diskus intervertebral karena eratnya perlekatannya. Sisa dari notokhord terletak lebih kebelakang. dataran tulang rawan nyatanya merupakan bagian badan tulang belakang. Ini dapat dengan mudah diangkat dari diskus intervertebral. dataran tulang rawan bersatu dengan dataran akhir ruas tulang belakang melalui lapisan kalsium melalui mana porus-porus kecil menembus untuk nutrisi diskus intervertebral. permukaan ruas tulang belakang yang seperti saringan. konveksitas lordosis servikal dan lumbar adalah akibat penambahan tinggi bagian anterior diskus intervertebral. Anulus fibrosus mengandung serabut serupa sekrup yang bercampur satu sama lain yang berjalan dari satu ruas tulang belakang ke ruas tulang belakang lainnya. Walau sepatutnya bagian dari diskus intervertebral. berbeda dengan penjelasan pada beberapa buku anatomi. nukleus pulposus mengandung sel khordal dan untaian yang tersusun berbentuk jaring yang tampak berasal dari sel khordal (retinakulum khordal). Substansi nukleus pulposus pada usia selanjutnya dipisahkan ruangan yang kedalamnya dapat dimasukkan satu hingga dua cm3 cairan melalui suntikan. akan berusaha mendapatkan bentuk bola.

Clemens (1970) mendemonstrasikan pentingnya sistem vena vertebral lokal yang memiliki hubungan melalui beberapa emissaria dengan vena inferior tengkorak. Karenanya hanya sedikit perdarahan saat operasi dan koagulasi elektrik jarang diperlukan. Vena vertebral dapat menyebabkan sindroma diskus inter-vertebral dan juga suatu perburukan bila terjadi penyempitan kanal spinal oleh protrusi diskus intervertebral atau tulang. Persangkaan hipertrofi dalam berbagai tingkat dianggap bertanggung jawab atas keluhan pinggang bila pada saat operasi didapatkan kondisi lainnya dalam keadaan normal. Anatomi Tulang Belakang Lumbar . Ligamentum flavum dan ligamentum interspinosum menstabilkan bagian posterior segmen bergerak pada kurva anterior pada kifosis total dan pada posisi berdiri. Bagian lateral ligamen membentuk pita yang berjalan oblik menyilang diskus intervertebral dalam arah kedistal dan akhirnya berakhir pada dasar pedikel. seperti terjadi pada protrusi diskus intervertebral. Perhatian besar telah lama dipusatkan pada ketebalan ligamentum flavum. dapat timbul nyeri yang berasal dari periosteum. yang tak mempunyai katup. Vena vertebral juga mempunyai hubungan dengan vena cava superior dan inferior.menyeluruh namun menyisakan aspek dorsolateral terbuka. pengisian vena dan tekanan vena sentral berada pada keadaan paling rendah. Menjembatani foramina interarkuata. 3. membentuk sistem anastomotik dari tengkorak mencapai sakrum. Ligamentum flavum merupakan struktur penting pada bedah diskus intervertebral. terdapat sirkulasi kolateral lokal yang segera bereaksi pada semua peninggian tekanan pada dada. Bersama vena azigos. yaitu melalui batuk. Pada operasi dengan posisi ini untuk prolaps diskus intervertebral lumbar. vena epidural akan kolaps dan sulit untuk terisi darah. bersin dan peninggian tekanan abdominal. Vena vertebral. ia berjalan dari setengah anterior dan distal lamina diatasnya dan melekat pada sisi superior lamina dibawahnya. Ligamentum flavum menjadi lebih tebal sebelah distal dari kolum servikal. Pengisian vena ini tergantung posisi tubuh. Bila pita ini mengalami regangan. bila tiada tekanan pada abdomen dan abdomen tergantung bebas. Ini menjelaskan peningkatan rasa tidak enak daerah lumbar saat kegiatan tersebut. Ligamen ini menutupi aspek posterior kanal spinal dan kelateral membentuk kapsul dari persendian ruas tulang belakang. dimana prolaps dan protrusi diskus intervertebral terjadi. perut dan tengkorak. Pada posisi duduk dan terlentang vena ini terisi penuh. Pada pengukuran intraoperatif didemonstrasikan bahwa derajat pengisian pada vena epidural lumbar berhubungan dengan tekanan vena sentral (Ghazwinian dan Kramer 1974). Pada posisi 'a la vache'.

b. karena oleh perubahan diskus inter-vertebral atau dislokasi ruas tulang belakang. Foramina intervertebral terbatas kearah posterior oleh faset sendi. Variasi Ruas Tulang Belakang Lumbar Terdapat anggapan yang berlebihan bahwa deformitas dan anomali kongenital adalah penting sebagai penyebab . Tampak lateral. radik saraf dengan mudah menjadi tertekan. Diameter radik saraf bertambah dari bagian superior keinferior dengan maksimum pada L5. namun juga antara kedua sisi. Foramina intervertebral terletak sama tinggi dengan diskus intervertebral. yakni pada bagian superior dari tulang belakang lumbar. Pada daerah lumbosakral serupa dengan tulang belakang toraks dan karenanya berarah pada dataran frontal. Tampilan cembung diskus intervertebral nyata pada daerah lumbar.a. Ini paling jelas pada daerah lumbosakral. Diskus Intervertebral Lumbar Tulang belakang lumbar mempunyai lima ruas tulang belakang. dibentuk oleh bagian posterolateral ruas-ruas tulang belakang yang kadang-kadang menebal kebawah pada bagian superior foramina intervertebral dimana radik saraf lewat. Diskus intervertebral lebih tinggi dianterior dibanding posterior dimanaberhubungan dengan derajat dari lordosis lumbar. Foramina intervertebral daerah lumbosakral sangat kecil. menampakkan beberapa segi sebagai penyebab nyeri lumbar. Diskus intervertebral torakolumbar atau diskus intervertebral T12 dianggap milik tulang belakang lumbar. Kekecualian pada diskus intervertebral lumbosakral yang sekitar sepertiga lebih pendek dari diskus intervertebral didekatnya. c. diskus intervertebral ini mempunyai bentuk trapezoid. Hubungan diameter dari L1 hingga L5 adalah 1:5 (Tondury 1970). Ganglia spinal dan radik anterior terletak lebih keanterior dibanding daerah toraks dan mereka hampir bersentuhan dengan diskus intervertebral. Susunan anatomi menyebabkan posisi anatomi dan fisiologi radik saraf penuh risiko. Tentu saja variasi tidak hanya dalam ukuran lubang. Pada penyempitan kanal lumbar. Diskus intervertebral bertambah ukurannya dari bagian superior keinferior. Foramina Intervertebral Posisi foramina intervertebral dalam hubungannya dengan diskus intervertebral tulang belakang lumbar adalah paling penting dalam mengamati radik-radik saraf spinal. Ukuran kanal tulang belakang lumbar baik pada dataran frontal maupun sagital serta bentuk dari kanal. sedikit perubahan aspek posterior diskus intervertebral dapat menyebabkan rasa tidak enak. Tepi tulang dari foramina intervertebral. Foramina intervertebral dapat menjadi sempit karena perubahan posisi dari sendi tulang belakang. Rongga sendi L1-L4 berarah pada dataran sagital.

Dalam keadaan enam ruas tulang belakang bebas. dan berakibat istilah ruas tulang belakang transisional jarang digunakan. ruas tulang belakang pertama yang tidak mempunyai tulang rusuk. tekukan ruas tulang belakang transisional terjadi bila satu prosesus lebih pendek dari lainnya. Kanal berbentuk silinder yang berubah sesuai pergerakan batang tubuh. Isi kanal tulang belakang lumbar adalah kantung dural. radik-radik saraf tidak . Sepanjang ruas tulang belakang transisional setangkup dan serasi baik dengan sekitarnya. Bila kedua prosesus transversus berasimilasi dengan sakrum. Bila terdapat empat ruas tulang belakang bebas. Kearah lateral adalah rongga arkus dan foramina intervertebral. Sekali terdapat ketidaksetangkupan. Prolaps antara ruas tulang belakang lumbar empat dan sakrum pada keadaan dimana hanya terdapat empat ruas tulang belakang bebas akan menyebabkan sindroma L5. Sakralisasi dan lumbarisasi hanya dapat ditentukan dengan penghitungan yang teliti terhadap ruas tulang belakang toraks. radik-radik saraf. dikatakan sebagai sakralisasi. Pada keadaan ini. Diskus inter-vertebral dapat menampakkan semua jenis kemungkinan perubahan transisional. Sudah diketahui bahwa secara praktis menghitung ruas tulang belakang dimulai dari L1. Variasi jumlah ruas tulang belakang mempunyai beberapa kepentingan praktis. tidak akan menimbulkan gejala. misalnya satu prosesus transversus bebas dan lainnya berhubungan dengan sakrum. serta jaringan epidural yang berisi vena-vena dan lemak yang mengelilingi radik-radik saraf hingga pada pergerakan yang ekstrim dari tulang belakang lumbar. Topografi Radik Saraf serta Diskus Intervertebral dalam hubungannya dengan Kanal Spinal Lumbar Kebanyakan sindroma radik saraf lumbar timbul dari segmen terbawah akibat keadaan biomekanik dan kontak erat radik saraf terhadap diskus intervertebral. prolaps diskus intervertebral antara L5-L6 menyebabkan sindroma S1. dan bila terdapat enam ruas tulang belakang dikatakan sebagai lumbarisasi. Ruas tulang belakang transisional memiliki keistimewaan dimana ruas tulang belakang lumbosakral mungkin mempunyai prosesus transversus bebas atau mungkin mempunyai kontak yang erat dengan sakrum dengan tampilan serupa sendi.nyeri lumbar. diskus intervertebral superior berdekatan akan terserang ketidaksetangkupan (Rettig 1959). dan keposterior oleh ligamentum flavum dan arkus ruas tulang belakang. akan terjadi perubahan biomekanik tulang belakang. Pada tulang belakang lumbar sering terjadi penyempitan kanal tulang belakang baik oleh protrusi maupun prolaps diskus intervertebral. Kanal tulang belakang dibatasi sebelah depannya oleh badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. dan sebelumnya dianjurkan untuk menghitung dari bawah keatas. dan akibatnya mungkin terjadi skoliosis lumbar. d.

begitu terganggu oleh jaringan keras. Komponen-komponen jaringan antara ruas tulang belakang dengan baik dapat dijelaskan dalam hubungannya atas keperluan mekanik dan sesungguhnya diskus intervertebral mungkin diingat sebagai organ jaringan ikat. Arah dari radik-radik saraf setelah meninggalkan kantung dural adalah menuju tingkat segmen yang bersangkutan. Perbedaan ketinggian letak segmen cord tulang belakang dengan segmen tulang belakangnya yang bersangkutan paling jelas pada daerah lumbar. adalah struktur akhir dari cord tulang belakang yang meluas ke ruas tulang belakang lumbar kedua. Radik lumbar keempat mungkin terganggu oleh prolaps lateral dan besar pada daerah intraforaminal atau oleh pertumbuhan berlebihan faset inferior ruas tulang belakang lumbar keempat. Radik sakral pertama terganggu oleh prostrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar kelima dan segmen sakral pertama. Jaringan-jaringan ini berasal dari sel jaringan ikat yang membentuk 20% hingga 30% dari jaringan. sel sel tulang rawan dan kadang kadang sel sel notokhordal pada diskus intervertebral. Radik lumbar kelima biasa tertekan pada protrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar keempat dan kelima. atau oleh spurring yang mengikuti pada daerah intraforaminal (Gill 1976). elemen utama jaringan ikat berbeda sesuai lokasinya. Struktur Mikroskopik dan Biokimia Diskus Intervertebral Selain sisa khordal. dan semakin jauh radik-radik berjalan kedistal semakin menyudut saat keluar dari kantung dural. dan pelat tulang rawan oleh tulang rawan hialin. Karena hubungan topografik yang khas dari radikradik saraf terhadap diskus intervertebral ini. dan saraf-saraf spinal berjalan lebih kedistal dan keluar melalui foramina inter-vertebral yang bersangkutan setelah melalui perjalanan yang jauh dalam rongga subarakhnoid. Kauda ekuina adalah saraf-saraf spinal distal yang bersamaan dengan fillum terminale. maka gangguan pada radik saraf lumbar keempat terjadi pada tingkat diskus intervertebral antara L3-L4. radik lumbar kelima mungkin terganggu oleh protrusi atau ruptur diskus intervertebral intraforaminal. . Cord tulang belakang kebawah hanya mencapai ruas tulang belakang lumbar pertama atau kedua. mielografi. nukleus pulposus oleh substansi dasar. Mereka adalah fibroblas. diskus intervertebral juga berisi komponen jaringan yang terdapat pada jaringan ikat struktur lainnya. dan pungsi diskus intervertebral transdural akan terhindar dari cedera. Saraf-saraf terletak lebih kelateral hingga pada pungsi lumbar medial. Anulus fibrosus dibentuk oleh serabut. Hal serupa. Secara histologi dan biokimia. D.

serta dapat dipindahkan kecairan interstitial dengan menggantinya dengan kelompok hidrofilik dari substansi tertentu.Sel-sel jaringan ikat membentuk substansi dasar dan serabut-serabut ekstra dan intra selular. glukosa dan air. Mukopolisakharida dan makromolekul disintesa baik intra maupun ekstraseluler. Kandungan potasium yang tinggi pada tulang rawan adalah karena banyaknya sel. Sodium dapat terikat pada matriks. Mukopolisakharida bertanggung-jawab untuk pembengkakan. Mereka bersifat seperti mukoprotein dengan kemampuannya yang jelas dalam mengikat air. Dengan kemampuan metabolismenya mereka membentuk matriks organik yang mengandung kolagen dan kompleks mukopolisakharidaprotein. McCarty (1964) mendapatkan kalsium pirofosfat pada diskus intervertebral manusia. Mukopolisakharida membentuk sistem kisi-kisi tiga dimensi yang akan menentukan viskositas substansi dasar. Penambahan isinya adalah dari arah tepi ke nukleus pulposus. sel-sel menggunakan substrat molekul rendah. Gluko-protein terdiri dari protein dan hidrat arang. namun merupakan bagian dari makromolekul. Karena memiliki hidro-dinamik yang jelas. Kristal kalsium fosfat tak tampak hingga usia dewasa. Mukopolisakharida asam. enzim. seperti asam amino. Dalam keadaan normal mineral tidak tampak secara bebas pada diskus intervertebral. potasium dan kalsium. sodium. masing-masing terikat secara struktural atau dalam larutan pada cairan ekstraselular. sulfat khondroitin. seperti halnya asam hialuronik. Dengan kata lain terdapat pengaktifan kalsium pada jaringan diskus intervertebral. semua ion lain ditemukan pada cairan interstitial. Kandungan air nukleus pulposus lebih besar dibanding pada anulus fibrosus. serta kekentalannya yang tinggi. Untuk membentuk makromolekul ekstraselular. Proteoglikan dan komponen lain mukopolisakharida asam dibentuk intraseluler sebagai produk intermediet metabolisme glukosa. terdapat mineral. elastisitas dan viskositas substansi dasar. Air tidak dalam keadaan bebas. Selain cairan interstitial. Substansi dasar adalah bagian dari matriks. Mineralisasi berjalan paralel dengan peningkatan fosfor dan dengan pemisahan kristal secara lambat. Substansi dasar terdiri dari glukoprotein dan polisakharida molekul besar. sulfat keratin dan heparin adalah bagian dari polisakharida molekul besar. Kalsium terikat pada asam mukopolisakharida dari matriks dan dapat tertimbun disini 35 kali lebih banyak dari jaringan lain (Dulce 1969). Sel-sel tulang rawan paling bertanggung-jawab atas metabolisme diskus intervertebral. makromolekul mengikat sebagian besar cairan pada diskus intervertebral. matriks organik dan sedikit lemak pada jaringan diskus intervertebral. Ia mengalami depolimerisasi oleh protease asam . Karenanya dapat kembali dari bentuk ikatan kemakromolekul terion yang bebas. Kandungan air antara 80% dan 85% pada diskus intervertebral orang muda. Ion anorganik. garam.

strukturnya dibangun stabil secara mekanik oleh jaringan serabut kolagen tiga dimensi. Serabutserabut tersusun dalam berkas yang sangat atau kurang paralel. namun merupakan proses yang bersinambung. Metabolisme yang bersinambung diperlukan diskus intervertebral untuk mempertahankan sintesa dan depolimerisasi komponen ekstra-seluler. Adalah seimbang antara depolimerisasi dan sintesa makromolekul pada keadaan normal. Bostrom 1958. Sintesa makromolekul intradiskal bukan kejadian tunggal. Sistem tersebut akan menghalangi difusi molekul. Waktu paruh kolagen adalah 30-60 hari (Buddecke 1970). struktur ekstraselulernya terus diperbaharui. asam hialuronik 2-4 hari (Schiller 1956.sitoplasmik yang bergantung pada vitamin A. makromolekul kolagen secara sinambung mengalami proses sintetisasi dan depolimerisasi. Waktu paruh sulfat khondroitin adalah 7-16 hari. Daerah perbatasan diskus intervertebral manusia mempunyai kumparan serabut yang tersusun padat. Fibril proteokolagen mengandung asam amino glisin (30 %). De- . Kandungan kolagen matriks merupakan sekitar 44-51 % berat kering diskus intervertebral. Kaplan dan Meyer 1959. Diantaranya terdapat pitapita hingga memberikan gambaran seperti jala. Karenanya mukopolisakharida menunjukkan tingkat perubahan yang tinggi. Akibat keterbatasan waktu hidupnya. Pada orang tua perubahan berlangsung lebih lambat. Fase awal pembentukan serabut kolagen terjadi intraseluler. Proses ini dapat dihambat oleh kortison (Dingle 1969). Mereka memiliki struktur makromolekul yang berdeferensiasi tinggi. Sekali meninggalkan sel. yang dibentuk oleh sel-sel tulang rawan. Dari tes difusi dengan zat warna dengan berbagai ukuran molekul diperlihatkan bahwa hanya molekul dengan berat kurang dari 400 saja yang dapat melalui sawar diskus (Kramer 1973). Zona sebelah pinggir diskus intervertebral memiliki berkas serabut yang tersusun padat. Buckwalter 1976). Fibril kolagen tampak pada diskus intervertebral sebagai bentuk kumparan. Seperti mukopolisakarida. Takeda 1975. Sawar permeabilitas yang terbentuk dapat mengontrol transport substansi ekstraseluler. Jaringan diskus intervertebral membentuk tropokolagen. Mereka tersusun padat dan teratur membentuk gambaran seperti bawang. Dengan pemeriksaan mikroskop cahaya dan elektron tampak bahwa struktur fibriler lebih padat pada daerah perifer diskus intervertebral (Dahmen 1966. Dengan interloking molekul. pendahulu kolagen (Steven 1969). Sel pembentuk fibril terletak dalam bentuk bikonveks diantara serabut kolagen yang diikat bersama oleh mukopolisakarida. prolin (12 %) dan hidroksiprolin (12-14 %). Sawar tersebut karenanya merupakan membran permeabel yang selektif. Davidson dan Small 1963). tropokolagen akan mengalami transformasi menjadi kolagen tak larut melalui proses polimerisasi ekstraseluler (Eyring 1969). Nutrisi sel yang tidak sempurna berakibat rendahnya kualitas dan kuantitas makromolekul.

tekanan hanya beberapa mmHg. Dengan interloking molekul. permukaan anulus fibrosus dan end-plates terselaputi jaringan serabut submikroskopik tiga dimensi yang hanya memungkinkan dilalui substansi molekul rendah dan hasil metabolik dapat lewat. Perubahan dapat terjadi atas pengaruh atas metabolisme oleh faktor mekanik dan biokimia. Kerjanya sebagai katalis pada metabolisme jaringan. Kompartemen-kompartemen ini berbeda tekanan hidrostatiknya. metabolisme pada diskus-diskus intervertebral secara keseluruhan adalah proses yang cepat dengan adanya aktifitas enzim serta waktu paruh yang pendek. Maroudas (1975) dan Urban (1976) membuktikan bahwa glukosa lebih mungkin menembus end-plates dan sulfat pada anulus fibrosus. dan juga cancellous bone ruas tulang belakang. diskus intervertebral adalah subjek dari tekanan yang berkaitan dengan postur tubuh dan berat badan. Pada jaringan para vertebral dan juga pada jaringan trabekular internal ruas tulang belakang. Sel jaringan diskus intervertebral mengandung lisosom yang membentuk enzim (Pearson 1972). Diskus Intervertebral sebagai Sistem Osmotik. Tekanan osmotik koloid adalah tekanan osmotik yang dipertahankan oleh larutan molekul tinggi. Mereka tak hanya berperan pada depolimeri-sasi namun juga pada sintetisasi. E. interior dari diskus intervertebral dan jaringan para vetebral termasuk cancellous bone ruas tulang belakang. Sebagai . Jaringan pinggir diskus intervertebral berperan sebagai membran semi-permeabel. Sebaliknya dari yang dianggap sebelumnya. Biomekanik Tulang Belakang 1. struktur para vertebral. Akibatnya permeabilitas berbeda pada daerah yang berbeda. selain itu ia akan mengering dalam waktu singkat. Perubahan biokimia dan patofisiologi yang mendasarinya mendahului perubahan morfologik makro.000 kp. Ini dipertahankan oleh mukopolisakarida intradiskal yang memiliki absorbabilitas air yang tinggi dan yang tidak hanya dapat menahan cairan namun juga mengabsorpsinya melawan keadaan tekanan pada diskus intervertebral. Cairan harus diangkut melawan tekanan didalam diskus intervertebral. piring kartilago. anulus fibrosus.polimerisasi kolagen dipacu oleh kolagenase. semua berperan dalam sistem osmotik. Piring kartilago dan anulus fibrosus membentuk sawar permeabilitas yang memisahkan dua kompartemen jaringan. Interior dari diskus intervertebral. Osmosis dipertahankan melawan tekanan beban sepanjang ia berada dalam keseimbangan dengan tekanan osmotik. Artinya tekanan absorptif yang memungkinkan air dan larutan lainnya untuk masuk kejaringan intradiskal melalui membran semipermeabel. Beban dapat mencapai lebih dari 1. Sebaliknya. Absorpsi cairan hanya didapat dengan osmosis.

tambahan, tekanan hidrostatik dari diskus intervertebral sendiri. Dengan kata lain, tekanan ini memungkinkan pembesaran merata dengan pengambilan air dengan cara melawan tekanan balik. Derajat pembesaran diskus intervertebral dapat dinilai secara percobaan. Diskus intervertebral yang ditekan, membesar ketika tekanan dihilangkan. Tingkat dan kekuatan yang memungkinkan terjadinya perluasan, ditentukan oleh elastisitas dan absorbabilitas diskus intervertebral. Pada orang muda diskus intervertebral meluas lebih cepat dan lebih kuat dibanding orang tua. Tekanan osmotik koloid dan tekanan hidro-statik bersama membentuk tekanan onkotik. Berbeda dengan jaringan disekitarnya, diskus intervertebral mempunyai tekanan hidrostatik dan onkotik yang tinggi. Mereka berlawanan satu sama lain dengan mempengaruhi, secara bertolak belakang, absorpsi dan transudasi cairan. Berdasar perbedaan konsentrasi dan tekanan pada daerah tepi diskus, terdapat keadaan berikut: Tekanan hidrostatik ekstradiskal + Tekanan onkotik intradiskal ?-------------? Tek. hidrostatik intradiskal + Tekanan onkotik ekstradiskal

Terdapat efek berlawanan lain pada tekanan jaringan diluar diskus intervertebral, dan tenaga absorptif sepihak adalah berlawanan terhadap tekanan jaringan didalam diskus intervertebral dan tenaga absorptif jaringan sekitar diskus intervertebral. Yang manapun lebih utama, keseimbangan cairan menjadi terganggu. Perubahan yang sinambung pada tekanan hidrostatik dan onkotik adalah paling penting dalam nutrisi jaringan diskus intervertebral dan untuk fungsi segmen bergerak. Tekanan osmotik didalam diskus intervertebral berubah oleh faktor biomekanik dan biokimia. Terdapat perubahan biomekanik temporer pada sistem intradiskal sekunder terhadap peninggian atau penurunan tekanan hidrostatik. Tekanan yang timbul pada pembebanan diskus inter-vertebral disebut tekanan intradiskal. Ia beragam tergantung perubahan postur tubuh. Hubungan ini lebih jelas pada diskus intervertebral dari-pada semua jaringan lain, dan lebih jauh lagi tidak ada jaringan lain yang mempunyai tekanan setinggi diskus intervertebral. Nachemson (1966) mendemonstrasikan hubungan antara postur tubuh dan tekanan intradiskal dengan pencatatan intravital. Tekanan didapat pada pembebanan diskus intervertebral lumbar bawah dimana pada posisi berbaring 15-25 kp, duduk 150 kp, berdiri tegak 100 kp. Peninggian beberapa ratus kp. didapat bila membungkuk

kedepan, mengangkat dan memanggul. Penelitian memakai teknik pewarna dan penggunaan substansi radioaktif, memperlihatkan bahwa pada 80 kp terjadi ekstravasasi cairan, sedang dibawah 80 kp terjadi absorpsi. Transport cairan terbalik terjadi antara 70-80 kp. Arah transport cairan pada dinding diskus intervertebral sebanding dengan perubahan tekanan bila tekanan onkotik konstan. Dengan kata lain, bila beban berat seperti duduk, mengangkat dan memanggul, ekstravasasi dipercepat, sedang pada traksi dengan tekanan diskus intervertebral negatif, absorpsi yang dipercepat. Pada keadaan fisiologik, suatu perubahan transport cairan berhubungan dengan tekanan yang terjadi pada perbatasan yang ditentukan oleh absorpsi cairan dimana dilusi solusi makromolekul terjadi. Absorbabilitas diskus intervertebral akan berkurang. Sebaliknya, pembalikan terjadi dimana diskus intervertebral hanya dapat ditekan sampai derajat tertentu saja setelah pembebanan. Sekunder terhadapnya, pengeluaran air menyebabkan konsentrasi solusi molekul makro bertambah dan akibatnya absorbabilitas bertambah. Beban tak setangkup pada diskus intervertebral menyebabkan gangguan transport cairan intradiskal. Air dan larutan menjadi keluar dari zona dengan beban lebih besar ke yang lebih kecil. Pada pengukuran tekanan intradiskal didapat bahwa semua gerakan menekuk pada tubuh berakibat perubahan beban total. Pergerakan badan menyebabkan transport cairan antara diskus intervertebral dan eksteriornya seperti halnya didalam diskus intervertebral sendiri. Transport cairan yang bergantung beban pada diskus intervertebral manusia dapat dibandingkan dengan pompa, yang fungsinya mengangkut air dan metabolit ke dan dari tepi diskus intervertebral. Jadi nutrisi sel diskus intervertebral lebih baik serta pembuangan metabolit dipermudah. Semua perubahan posisi tulang belakang berkaitan dengan perubahan tekanan intradiskal dan berakibat percepatan maupun perlambatan transport cairan, dengan atau tanpa perubahan arah. Perubahan reguler antara posisi horizontal dan vertikal memperbaiki transport cairan dan larutan. Mempertahankan keadaan pada satu posisi berakibat berhentinya transport cairan yang bergantung beban, dan karenanya merugikan metabolisme diskus intervertebral. Ini terutama jelas pada postur tubuh dengan tekanan intra diskal yang dipertahankan secara terus-menerus pada tingkat tekanan yanyang tinggi.

2. Biomekanik Tulang Belakang Lumbar a. Beban dari Diskus Intervertebral Lumbar

Ada beberapa faktor biomekanik yang khas untuk tulang belakang lumbar yang membuatnya lebih terancam dan karenanya lebih mudah terkena kelainan diskus intervertebral. Posisi tegak berakibat bagian yang lebih rendah pada tulang belakang menerima beban berat. Pada daerah ini berat badan disalurkan pada area kecil sekitar beberapa sentimeter. Beban ini akan meningkat bila badan ditekuk menjauhi garis tengah. Tahun 1964 Nachemson serta Morris melakukan pengukuran tekanan intradiskal pertama dan penelitian ini dilakukan in vivo pada diskus intervertebral lumbar ketiga, pada manusia dengan postur tubuh yang berbeda. Caranya dengan memasukkan jarum kerongga intradiskal. Jarum diselaputi oleh membran poli-etilen sensitif tekanan. Pencatatan dilakukan dengan manometer. Pada posisi terlentang , tekanan pada diskus intervertebral lumbar sebelah bawah adalah 15 kp. Berbaring miring dengan sedikit tertekuk kebelakang menyebabkan peninggian tekanan lebih dari dua kali. Tekanan meninggi hingga lebih dari 100 kp. saat berdiri, serta pada tekukan kedepan meningkat hingga 140 kp. Tekukan kedepan dengan beban 20 kp. pada lengan menyebabkan peninggian tekanan hingga 200 kp. Duduk dengan punggung tegak menyebabkan tekanan lebih tinggi 140 kp. bila dibanding saat berdiri. Peningkatan selanjutnya terjadi bila tubuh ditekuk kedepan dan terutama bila secara bersamaan diberi beban. Tekanan pada permukaan diskus intervertebral adalah 10 hingga 60 kp/cm2. Okushima (1970) memperbaiki pencatatan pengukuran yang telah dilakukan Nachemson dan Morris (1964). Penelitian lebih lanjut atas tekanan diskus intervertebral dilakukan dengan menghubungkannya dengan penelitian miografi-elektro (Nachemson dan Morris 1964, Nachemson 1965, 1966, 1969, 1974, 1976, Anderson 1974, 1976). Batuk, tertawa, dan peninggian tekanan intraabdominal berakibat peninggian tekanan diskus intervertebral lumbar sekitar 50 kp. Tekanan akan menurun dengan mendudukkan pasien bersandar kebelakang. Duduk santai, tekanan menurun hingga 80 kp. (Nachemson 1984). Kerja otot dan beban pada diskus intervertebral bertambah bila mengangkat dan menarik, yang berhubungan dengan jarak antara beban dan aksis badan. Hasil percobaan ini sesuai dengan perhitungan matematik yang sebelumnya diperkenalkan Matthiass (1956). Menurut Schulter (1965), tekanan dan regangan terbesar ditemukan pada pusat diskus inter-vertebral. Karenanya tenaga robek terbesar terpusat didaerah ini. Mengingat tekanan yang besar, yang berlaku pada diskus intervertebral manusia dalam waktu yang lama, tak mengherankan bahwa perubahan degeneratif berkembang pada jaringan dengan nutrisi yang buruk. Sudah dipastikan bahwa tekanan tinggi penting dalam perkembangan dini degenerasi diskus intervertebral. Rosemeyer (1977) mendemonstrasikan terutama bahwa

diskus intervertebral lombosakral adalah penanggung regangan yang besar. Dalam berbagai posisi tubuh, sebagai pusat dari tahanan yang lemah, daerah ini menanggung 70 % dari fleksi-ekstensi lumbar secara keseluruhan. Ketika duduk dengan tubuh sedikit condong kebelakang atau bersandar kedepan, tekanan intradiskal meninggi saat pusat beban tidak pada pusat diskus intervertebral namun bergeser keanterior seperti pada posisi lordotik. Bagian posterior anulus fibrosus serta ligamen posterior antara arkus akan berada dalam tegangan. Segmen sentral diskus intervertebral yang mobil akan bergerak kearah bagian posterior diskus intervertebral yang kurang tertekan. Dengan kontraksi otot abdominal, memungkinkan untuk menyalurkan bagian dari berat tubuh atas ke daerah pelvis. Tekanan intraabdominal dapat mencapai 140 mm Hg. (Bartelink 1957, Eie 1962). Dengan kontraksi diafragma dan otot abdominal, rongga abdominal berubah menjadi silinder yang dapat menanggung beban berat, dan menurut Finneson (1973), beban diskus intervertebral lumbar dapat dikurangi 30 % dengan menggunakan otot abdominal. b. Hubungan Antara Beban dan Tinggi Perubahan tekanan pada diskus intervertebral yang relatif besar akan mempengaruhi perpindahan cairan pada diskus intervertebral. Diperlihatkan pada percobaan bahwa diskus intervertebral lumbar menjadi celah sangat tipis setelah diberi beban 200 kp. selama 12 jam. Bila tekanan dihilangkan, diskus intervertebral kembali pada ketinggian normalnya (Kramer 1973). Pada sendi intervertebral normal secara in vivo, perubahan tinggi diskus intervertebral lumbar sangat kecil, akan tetapi tetap dapat diukur. Sendi intervertebral, yang tidak seluruhnya vertikal, dan kapsul yang kuat mencegah pengurangan tinggi lebih lanjut. Pertambahan tinggi diskus intervertebral dengan mengurangi tekanan intradiskal dapat digunakan untuk perawatan. Pada traksi terjadi pelebaran jarak diskus sekitar 1.1 mm. Perubahan tinggi berkurang dengan bertambahnya usia. Walau dalam peran kecil, ketebalan penting karena ia akan merubah pola gejala dimana ada kaitan yang erat antara tinggi dan protrusi diskus intervertebral yang akan merangsang radik saraf. c. Sendi dan Foramina Intervertebral Permukaan sendi intervertebral terletak pada bidang sagital dan karenanya memungkinkan fleksi dan ekstensi, namun juga sedikit gerak kesamping. Rotasi juga mungkin, namun terbatas. Ada perbedaan perorangan dalam pergerakan tulang belakang lumbar dan segmen-segmennya. Latihan berperan penting, dan fleksi yang dijumpai

yang mengalami perubahan terus menerus. Jelas ini penting secara klinis karena sangat dekat dengan saraf yang peka. Lebar foramina intervertebral lumbar berubah sesuai dengan gerakan tulang belakang lumbar. tidak terjadi dislokasi. mengurangi rongga intraforaminal dengan seperlimanya. Pada peradangan dengan pembengkakan jaringan perineural. Pada daerah lumbar. Karenanya penderita dengan protrusi lateral diskus umumnya bersandar kedepan serta kearah sisi yang sehat dalam usaha menghilangkan tekanan terhadap radik saraf. foramina menjadi sempit pada sisi cekung dan melebar pada sisi cembung. dan nyata pada faset sendi yang terletak pada dataran koronal. ini jelas tampak setelah pembebanan lama atau relaksasi. Pembukaan faset sendi terjadi kearah superior pada bagian luar dan kearah inferior pada bagian medial (Kramer 1973). Pada pengurangan tinggi diskus intervertebral dan juga pada hiper-lordosis.terutama pada akrobatis adalah sangat luas. Pada perubahan tinggi intervertebral juga terjadi perubahan pada faset sendi. subluksasi atau interloking. Foramina intervertebral menyempit bila tinggi diskus intervertebral berkurang. terjadi fraktura ruas tulang belakang lebih dahulu dibanding kerusakan diskus intervertebral atau sendi intervertebral. Posisi yang dicoba adalah sesuai dengan gerak fisiologis. Pada percobaan biomekanik oleh Kramer didapatkan walau terjadi pemendekan diskus intervertebral lumbar atau adanya distraksi hebat. Akibat inklinasi ringan. Dengan beban mekanik berat. terutama jelas pada daerah lumbar yang diperkirakan karena tenaga mekanik yang terjadi pada daerah ini. Bersandar kedepan berakibat pelebaran. permukaan artikular bergerak secara teleskopik. Jarak jaringan ikat yang sangat dekat. Radik-radik berjalan melalui bagian atas foramen intervertebral dan mengisi sekitar 1/4 dari total lumen. yang terjadi selama pembebanan sehari-hari. Pergerakan seperti ekstensi dan tekukan kesatu sisi akan mempersempit rongga intervertebral untuk saraf spinal pada sisi tersebut. pada protrusi diskus intervertebral atau adanya reaksi osteofit dari faset sendi. permukaanpermukaan tertekan secara bersamaan pada gerakan yang ekstrem. Penurunan jarak intervertebral. Patologi Pendapat secara umum sudah dikemukakan atas perubahan morfologik dan biomekanik yang dapat terjadi pada degenerasi diskus intervertebral. rongga akan mengecil serta merugikan radik saraf. sedang inklinasi keposterior menyebabkan penyempitan foramina. F. membuat foramina intervertebral lumbar bawah diperkirakan sebagai pusat penyakit diskus intervertebral. Tekukan kesamping. serta karena struktur saraf yang sangat peka. Tidak diragukan lagi bahwa pada fase tertentu dari .

Catu nutrisi yang teratur untuk sel diskus intervertebral untuk beberapa dekade tidak dijamin oleh mekanisme transport cairan baik secara aktif maupun pasif. Berbeda dengan ruas tulang belakang dengan pembuluh darahnya yang terlindung didalam trabekuli. Karenanya degenerasi telah tampak pada masa bayi dan kelainan diskus telah tampak pada semua bagian tulang belakang pada masa pubertas dan bahkan sebelumnya (Tondury. tekanan langsung dari beban tubuh dan tonus otot akan bekerja pada pembuluh darah diskus yang terletak pada substansi seperti gelatin yang homogen. Umum Kelainan diskus intervertebral adalah 'ongkos' yang harus kita bayar atas postur berdiri tegak yang kita miliki (Reischauer 1949). Nutrisi fibroblas dan sel kartilago menjadi berkurang. . Hanya saat awal masa bayi metabolisme terjadi melalui pembuluh diskus disaat belum ada beban yang ditanggung tubuh. Contohnya antara lain tortikolis akut pada anak-anak adalah primer karena perubahan involusional pada diskus intervertebral. Faktor lain adalah cedera sederhana. Diskus intervertebral merupakan struktur nonvaskular tubuh yang terluas. Setelah usia 30 tahun tak satupun tulang belakang manusia yang tidak mengalami perubahan degenerasi (Schmorl dan Junghanns. Semula diskus intervertebral tidak memiliki jaringan bradytropic. Dengan posisi berdiri. Sejak pertama postur berdiri berlaku. Degenerasi diskus intervertebral adalah suatu proses yang sangat kompleks yang hingga saat ini sangat sedikit dimengerti. 1. Pembuluh darah akan kolaps dan menjadi atrofi. Tekanan arteriolar dan venular lebih rendah dari tekanan hidrostatik sehingga pembuluh darah akan terbendung dan tidak akan mencapai diskus inter-vertebral. Kesulitan dalam mengadaptasi hal ini akan berakibat memburuknya kualitas diskus intervertebral yang akan berakhir dengan degenerasi. akan terjadi perubahan yang mendasar pada keadaan biomekanik. Metabolisme akan melewati jalur yang panjang melalui jaringan yang pada bagian tepinya masih memiliki vaskularisasi yang normal. Proses ini dimulai sejak awal kehidupan dan terus berlangsung sepanjang hidup. 1968). diskus intervertebral merupakan subjek faktor biomekanik yang tidak menguntungkan yang menentang kebutuhan regenerasi normal yang sinambung yang berdasarkan sirkulasi yang memadai.degenerasi diskus intervertebral terdapat hubungan dengan gejala yang mungkin memberat. 1968). Pada tulang belakang lumbar sudah dipastikan bahwa kelainan degeneratif berat tidak harus disertai dengan gejala klinis. Pembatasan pergerakan serta fiksasi kaku pada posisi yang tidak baik selanjutnya merubah transport cairan dalam diskus intervertebral. penghilangan beban dan pola gerakan yang normal.

1958). jaringan diskus intervertebral menunjukkan ruptur konsentrik serta fissura radial akibat beban. dianjurkan pemakaian istilah yang lebih tepat yakni diskosis.strain temporer dan posisi istirahat yang tidak benar. Pada usia 25 hingga 40 tahun tampak perubahan degeneratif seperti dehidrasi. karenanya fibril dan substansi dasar yang dihasilkannya akan bermutu buruk dan pada akhirnya akan mengalami degenerasi lengkap. Sista dan fissura mudah diperlihatkan dengan diskografi dengan menyuntikkan media kontras. namun semua komponen diskus intervertebral yang menjadi tempat terjadinya degenerasi. Kuhlendahl dan Richter (1952) menemukan degenerasi lemak pada diskus orang dewasa baik pada substansi dasar maupun pada anulus fibrosus. 1968). Degenerasi diskus intervertebral akan mengenai semua jenis manusia berdasar konstitusi kerangka tubuh secara ekual. . Alasan terbentuknya tidak diketahui. Metabolisme diskus memburuk sejak tahun pertama kehidupan.5-1.0 cm3. Tidak hanya perubahan komposisi kimia. Akhirnya faktor genetik berpengaruh pada perkembangan degenerasi diskus intervertebral yaitu dalam merancang serabut kolagen anulus fibrosus (Wilson. Pasien lebih muda dapat mengambil sekitar 0. robekan dan juga perlunakan jaringan diskus intervertebral disebut khondrosis oleh Schmorl dan Junghanns (1968). Bendungan. namun juga struktur anatomis. Karena tidak hanya tulang rawan. Idelberger (1977) menemukan bahwa faktor konstitusi berperan penting pada degenerasi diskus intervertebral. degenerasi serabut anulus dan disintergrasi substansi dasar. Keseluruhan proses terjadi terbatas pada diskus intervertebral. Harris dan MacNab (1954) menemukan pada nukleus pulposus orang dewasa adanya inti sel dengan granul kasar piknotik. Pasien lebih tua dengan diskus yang ruptur dapat menerima 5 cm3 cairan tanpa terjadinya cedera maupun refluks cairan yang disuntikkan. batas fibril lamella yang lebih tajam dan mengaburnya batas anular dan nukleus. Kantung udara terbentuk pada sista dan mudah tampak pada radiografi. Dengan mikroskop elektron Dahmen (1966) menemukan fibril yang tidak normal dan irregular dalam ketebalan dan striasi yang beragam. Fibroblas tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Pulp menjadi lebih sistik dan terjadi hubungan antara fissura dan anulus fibrosus. Lang (1962) dan Dahmen (1966) mendapatkan perubahan degeneratif pada orang pada dekade ketiga berupa atrofi sel. Tanda lain degenerasi diskus intervertebral adalah perubahan warna yaitu karena terjadinya hubungan antara ruptur dan fissura dengan lubang pada dataran akhir tulang rawan yang dipenetrasi pembuluh darah dari cancellous bone hingga terjadi perubahan warna lamella menjadi kuning kecoklatan (GUntz. Diskus intervertebral yang lebih berdegenerasi lebih banyak dapat menerima cairan. Dalam perjalanan berikutnya.

Pertumbuhan spur oseus dapat meluas dan terjadi spondilosis hiperostotik menyeluruh yang disebut spondilosis hiperostotika. Bila ruas tulang belakang terserang dan perubahan degeneratif juga tampak pada tulang. Akibat kolapsnya diskus intervertebral. Robekan memungkinkan pergeseran intradiskal sepanjang tenaga ekspansif nukleus tetap ada. Berbeda dengan pada spondilitis. sering disertai juga jaringan fibrosa dan tulang rawan. Sangat jarang prolaps hanya mengandung material pulp. Walau tampilan perubahan osseus hebat. bagian tersebut akan bergeser dan dapat bermigrasi bebas dan disebut sekuestra. Fissura dan ruptur piring tulang rawan memudahkan penetrasi pembuluh darah dan jaringan ikat dari badan ruas tulang belakang kediskus inter-vertebral. Ini umumnya terjadi pada ligamen longitudinal anterior yang menjembatani diskus dengan diskus dan melekat melalui serabut Sharpey pada badan ruas tulang belakang.karenanya sulit tampak pada radiografi. Ini akan menyebabkan terpisahnya jaringan diskus intervertebral dari ligamen intervertebral. Perlunakan diskus serta hilangnya turgor berakibat bertambahnya kehilangan serta fragmentasi diskus intervertebral. Dataran akhir ruas tulang belakang menjadi sklerotik dengan batas yang kabur. sklerosis pada osteokhondrosis hanya terbatas pada dataran akhir ruas tulang belakang. Secara bersamaan terbentuk spur kecil dibagian posterior. Spur spondilotik terjadi mula-mula pada arah horizontal namun kemudian dalam arah longitudinal mengikuti ligamen longitudinal. Schmorl menganjurkan istilah osteokhondrosis. Osteokhondrosis terjadi terutama pada tulang belakang leher sebelah bawah dan lumbar karena pengaruh yang besar dari faktor biomekanik. Akibat hilangnya sirkulasi pada diskus intervertebral. Karenanya istilah prolaps diskus lebih tepat dari pada prolaps nukleus. Pada daerah ini reaksi osseus timbul dan meluas keligamen. Bila keadaan menjadi kronik. secara mengherankan gejalanya biasa ringan. Dengan perlunakan dan fragmentasi lebih lanjut. berakibat tiadanya proses reparasi. Secara klinik. Bagian nukleus pulposus dan fragmen diskus intervertebral bermigrasi dibawah beban berat pada jalur yang terkecil tahanannya dan karenanya mengalami penetrasi kejaringan dan menonjol kebelakang sebagai prolaps diskus intervertebral. Namun pemendekan rongga diskus intervertebral pada radiograf serta deviasi aksial akibat perubahan postur dapat diperlihatkan. usaha untuk melakukan reparasi bergantung pada ruas tulang belakang berdekatan. terjadi peninggian beban pada sendi ruas tulang belakang serta penyempitan foramina intervertebral. reaksi pada diskus intervertebral lebih penting. Pembuluh darah menyebar pada diskus intervertebral dan sel longgar serta jaringan parut vaskular akan mengisi . Kadang-kadang terjadi degenerasi sistik pada badan ruas tulang belakang seperti pada osteoarthrosis.

terjadi pula peningkatan protein nonkolagen. Paralel dengan peningkatan nitrogen. potasium berkurang karena berkurangnya jumlah sel. Seperti telah dijelaskan. Dengan pertambahan usia. menjadi jelas hanya bila terjadi perubahan pada pembuluh darah dan saraf yang berdekatan. Kandung kolagen meningkat hingga usia 20 tahun. Pembatasan pergerakan tulang belakang akibat kelainan diskus intervertebral dapat bertambah. Bersamaan dengan perubahan morfologik pada diskus intervertebral. Dengan berkurangnya cairan. Yang terpenting dalam metabolisme dan biomekanik diskus intervertebral adalah perubahan pada kolagen serta mukopolisakharida. nutrisi diskus intervertebral memburuk karena air tidak hanya penting untuk lingkungan makromolekul. Kalsium menjadi dua kali lipat selama siklus hidup. namun juga sebagai medium transport berbagai substansi pada berbagai proses metabolik. tanda khas perubahan diskus intervertebral adalah pengurangan kandung air. Ini terutama pada keadaan yang telah berlangsung puluhan tahun demana radik saraf dan pembuluh darah telah beradaptasi. Mukopolisakharida berubah baik dalam kualitatif maupun kuantitatifnya dengan . Selama tahun pertama kehidupan nukleus pulposus mengandung lebih banyak air dibanding anulus fibrosus.rongga tersebut (Tondury. Perubahan pada diskus intervertebral tidak dianggap sebagai penyakit. Ini paling jelas pada tulang belakang leher dan lumbar. namun ajaib tidak banyak orang yang mengajukan keluhan. 1958). Pada neonatus diskus intervertebral mengandung 88% air. namun lebih sebagai proses biologik dengan kemungkinan terjadinya gangguan sepanjang hidup. kemudian akan menetap. pada usia 12 turun menjadi 83% dan 70 % pada usia 72 (Keyes dan Compere 1932). terjadi pengurangan kandung air dengan akibat perubahan pada komposisi kimia. dengan kata lain tidak lebih dari proses fisiologik. Karenanya biomekanik segmen bergerak juga berubah. Karenanya terjadi ankilosis fibrosa dan bahkan osseus dengan inaktivasi segmen. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi perubahan. Secara klinis. matriks organik diskus intervertebral juga berubah. Peningkatan bendungan dan robekan diskus intervertebral adalah perubahan degeneratif sejati. ruptur yang terjadi cepat. Pemendekan tinggi dan fiksasi segmen tidak sering bersamaan dengan nyeri walau ada penyempitan foramina. Sulfur berkurang dan Nitrogen bertambah. Magnesium berkurang hingga usia 70 tahun dan selanjutnya bertambah lagi secara perlahan. Tondury (1973) menjelaskan lingkar hidup diskus intervertebral. GUntz (1958) menjelaskan tentang penyembuhan dengan jaringan parut pada diskus inter-vertebral yang rusak. Pita fibrosa kuat dan telah mengalami dehidrasi serta lipping osseus menyangga rongga diskus intervertebral hingga pembuluh darah yang menginvasi jaringan tidak tertekan oleh tekanan beban. perlunakan jaringan serta pergeserannya. Schmorl dan Junghanns (1968) meyakini ketergantungan terhadap usia.

Dalam hubungan dengan peningkatan tekanan intradiskal maka orang dewasa muda memiliki risiko akan perubahan kemampuan biokimia yang akan menyebabkan pergeseran jaringan diskus intervertebral. Setelah usia ini menurun secara jelas (Kramer 1973). protrusi dan prolaps. Jadi adalah kerusakan keseimbangan jaringan diskus intervertebral. Dengan penambahan molekul. Menurut Naylor (1971). antara usia 30 hingga 35 tahun frekuensinya meningkat dimana terjadi pembengkakan substansi dasar. Ia juga menganggap bahwa katepsin D mungkin merupakan enzim yang berperan dalam degenerasi diskus intervertebral. Tenaga ekspansif nukleus pulposus berkurang dan akibatnya terjadi pengurangan kecenderungan untuk bergeser. Beban tambahan akan menyebabkan lesi irreversibel (histeresis). Walau demikian frekuensi protrusi dan prolaps berkurang. efeknya akan seperti memecahkan gelas. lebih banyak akumulasi cairan pada diskus intervertebral. penambahan homogenisasi nukleus pulposus. Akibatnya anulus fibrosus bertambah isinya dan tetap tenang bila tanpa beban. Karenanya tujuan terapi dengan mempercepat depolimerisasi misalnya dengan injeksi substansi sesuai. namun pada tegangan yang tinggi. robekan tampak pada anulus fibrosus diawal usia dewasa. Ekstenuasi diskus intervertebral dalam tingkatnya yang terbesar. Penurunan juga akan terjadi pada berat molekulnya. serabut akan putus. oleh pengeringan diskus intervertebral. Tetap tidak diketahui berapa lama depolimerisasi makro-molekular berlanjut dengan tekanan intra-diskal meninggi dan apa yang mengendalikannya.pertambahan usia. mencapai tingkat dimana terjadi ruptura dan fissura. Terjadi pergeseran. peninggian hialu-ronidase bertanggung jawab untuk separasi makromolekul. Bila volume intradiskal ditingkatkan dan dijadikan subjek strain mendadak. ditahan oleh tahanan anulus fibrosus yang telah berdegenerasi. Antara usia 25 dan 30 bagian sentral diskus intervertebral yang menjadi lebih meluas akibat bertambahnya tekanan. yang telah dibebani sebelumnya. menyebabkan khemo- . Menurut Kuhlendahl dan Richter (1952). Kebanyakan penelitian pato-anatomi memperlihatkan bahwa fissura dan robekan bertambah dengan bertambahnya usia. Pengukuran tekanan pada usia berbeda menunjukkan kembalinya diskus intervertebral yang dikompresi keukuran normal lebih nyata pada usia muda. Pada tes kompresi (Virgin 1951) dan diagram tekanan (Hartmann 1970) memperlihatkan bahwa over-ekstenuasi serabut anular. Depolimerisasi makromolekul menghasilkan produk sisa yang terkadang meningkatkan tekanan onkotik dengan bertambahnya partikel total. dan terbentuk konsistensi yang padat tak elastik. Ternyata secara mengejutkan nilai yang tinggi terjadi pada usia 30 hingga 50. Tanda khas adalah penurunan mukopolisakharida. disrupsi nuklir dan fissura lamellar. Karenanya tekanan onkotik menurun dengan pertambahan usia.

Absorpsi air akan berkurang dan tinggi diskus inter-vertebral berkurang. Pergeseran ini dapat menambah protrusi dan prolaps. Ini mengganggu semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral. Bila derajat ekstenuasi berkurang. Yang pertama terserang adalah serabut kecil yang berjalan antara lamella sehingga tidak terjadi pergeseran. Bila tekanan onkotik berkurang. Disamping kombinasi penambahan tekanan dan pengurangan tahanan anulus fibrosus.nukleolisis. Alasan lain pada pengeringan diskus intervertebral adalah ruptur pada anulus fibrosus. Ini akan menjadi kendur bila lebih banyak air dikeluarkan. Keseimbangan osmotik terganggu.2 persen. sendi ruas tulang belakang dan ligamen. kehilangan fungsi normalnya. Hal serupa juga terjadi pada lesi diskus intervertebral dan setelah diskotomi. Semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral dihilangkan oleh adanya fissura hingga air. zat-zat yang terlarut serta juga makromolekul dapat berpermiasi dibawah tekanan yang rendah. Tenaga luar hanya merupakan efek presipitasi yang oleh Schmorl dan Junghanns (1968) disebut impuls tambahan. Diduga bahwa penambahan beban berat badan dengan adanya tenaga kompresif dan shear merupakan satu-satunya penyebab prolaps diskus intervertebral. penurunan relatif tekanan hidrostatik dapat menyebabkan pengeluaran air. Bila terjadi perubahan volume. . Penetralan hasil intermediet depolimerisasi dicapai dengan penurunan tekanan. faktor biomekanik turut berperan dalam perkembangan prolaps karena perlunakan dan penjarangan struktur diskus intervertebral dengan pembentukan fragmen yang akan bergerak kearah tahanan terendah yaitu menuju konveksitas. kehilangan sifat bumpernya dan tidak lagi bekerja sebagai semijoint pada segmen bergerak. Pada remaja perbedaan tinggi badan antara pagi dan malam adalah dua persen dan pada dewasa 0. Penghambatan efek hialuronidase didapat dengan pemakaian inhibitor hialuronidase. Keragaman sehari-hari tinggi badan akan relatif berkurang. selanjutnya ini merupakan syarat tidak langsung untuk terjadinya rasa tidak enak pinggang. Ini terutama karena peninggian tekanan intradiskal dan pengaruh tekanan kompresi dan shear. Komponen segmen lain. Degradasi enzimatik akan menyebabkan terbentuknya molekul bermolekul lebih kecil yaitu menjadi sekitar 400. pergerakan akibat berat tubuh tidak lagi cukup mengatur dan tidak juga terbagi merata sepanjang cincin serabut. Diskus intervertebral yang menjadi tidak elastik serta robek. Namun mustahil untuk membuktikannya secara satu persatu. terjadi perubahan tegangan serabut anulus fibrosus. Terdapat hubungan langsung antara tinggi badan dan volume diskus intervertebral. Serabut melunak. dan tinggi diskus akan semakin berkurang. Bila tidak disertai pembentukan makromolekul didalam diskus intervertebral. tekanan onkotik akan berkurang seperti halnya pada pertambahan usia.

terjadi kelainan fungsional pada sistem lokomotor yang memacu terjadinya degenerasi diskus intervertebral (diskosis). dan terjadi pergeseran jaringan diskus intervertebral. adalah sangat besar sehingga cairan serta hasil metabolisme tidak dialirkan pada daerah ini. namun perubahan utama terjadi terutama pada tulang belakang leher dan lumbar. Terjadi perubahan yang khas pada diskus intervertebral yang menjadi subjek beban yang tak setangkup. Akhirnya tinggi diskus menjadi lebih pendek. Bagian anulus fibrosus yang tergantung baik dan dataran kartilago tidak dapat meneruskan tekanan ini. semua diskus menjadi subjek degenerasi progresif ini. penuaan jaringan dan impaksi menunjukkan perjalanan yang cepat bila beban berkelanjutan hingga akhirnya terjadi ankilosis. sering tampak pada remaja dengan pembentukan lengkung pada tulang belakangnya. Beban total yang dalam keadaan normal didistribusikan pada seluruh diskus menjadi terpusat pada daerah ini. Pertanda ini disebut perubahan prediskotik. Percobaan hewan menunjukkan kelainan degeneratif umumnya terjadi pada bagian yang lebih tertekan (Exner 1954). Tonus otot batang tubuh yang kendur. Sebagai patokan. Kompresi yang bersinambung dan gangguan nutrisi pada fibroblas berakibat diskosis prematur. Dengan penggunaan yang tak teratur diskus intervertebral. Sehubungan dengan perubahan sendi prearthrotik.Bila pengeringan berjalan terus. Terjadi segmen tulang belakang fibrosa yang kaku pada puncak kifosis (kifosis remaja) dan pada skoliosis. pertumbuhan apposisional interstitial pada bayi akan terganggu dan diskus intervertebral mengalami deformasi serta menjadi konkav. Pengeringan. Analisis objektif menunjukkan penyempitan diskus intervertebral. Metabolisme seluler menjadi terganggu. Difusi menjadi berkepanjangan dan sirkulus visiosus terus berlangsung dengan berlanjutnya pengeringan serta perlunakan. Gejala jarang timbul dari bagian kaku tulang . Deformitas dapat terjadi pada tulang belakang atau sekitarnya. Perubahan prediskotik adalah kelainan postur yang berakibat pembebanan yang tak setangkup pada satu atau lebih diskus intervertebral. diskus intervertebral akanmenjadi robek dan rapuh. Nukleus pulposus dan bagian bergerak dari anulus fibrosus tergeser kedaerah yang kurang terbebani. Kelainan juga terjadi setelah pertumbuhan berakhir. Pembebanan tidak setangkup yang bersinambung berakibat perubahan metabolik pada bagian konkav diskus intervertebral. yang memberikan tekanan pada bagian konkav diskus intervertebral tulang belakang yang mengalami deformitas. Perubahan prediskotik ini lebih berpotensi untuk menimbulkan penyakit dibanding prearthrotiknya sendiri. Pada skoliosis terjadi perubahan dini anular pada daerah konkav akibat peninggian tekanan. spondilosis dan sklerosis dataran akhir ruas tulang belakang didaerah yang terkena.

Kelainan kongenital daerah lumbosakral menyebabkan pembebanan tak setangkup pada diskus intervertebral lumbar. Perubahan keseimbangan lokomotor menyebabkan deformitas tulang belakang pada dataran frontal. Kelainan kongenital . Ini merupakan subjek terhadap strain dan stres yang lebih besar yang menyebabkan penjarangan struktur serta pergeseran jaringan. Terjadi bendungan dan robekan prematur. Sering disertai deformitas statik. Peningkatan atau menetapnya kurva fisiologik setelah pertumbuhan menyebabkan pertambahan beban pada baik bagian diskus intervertebral anterior maupun posterior. Pada penderita kifosis remaja.belakang. Dengan penjarangan dan pergeseran tulang belakang. Perbedaan tinggi diskus intervertebral pada arah antero-posterior adalah fisiologik pada kurva sagital tulang belakang normal. diskus intervertebral melunak dan menipis. Gangguan pertumbuhan juvenil tulang belakang lumbar merupakan pertanda perubahan prediskotik. Diskus intervertebral mempunyai kemampuan mengatur dirinya saat pertumbuhan dataran akhir ruas tulang belakang. Perbedaan panjang tungkai dengan tekukan panggul ditemukan pada 60 . lebih sering dari bagian yang bergerak. dan berakibat diskosis prematur. Kelainan tak setangkup bisa disaksikan baik pada dataran sagital maupun frontal. Pembebanan batang tubuh anterior yang berkelanjutan seperti pada kehamilan.70 persen manusia (Taillard 1964). postur yang tidak benar dan obesitas menyebabkan tekukan panggul dan penambahan lordosis lumbar dengan peregangan berlebihan dan gangguan nutrisi bagian posterior diskus intervertebral lumbar. Terjadi perubahan prediskotik. Brocher (1973) menemukan penyempitan diskus intervertebral lumbosakral pada gangguan pertumbuhan juvenil baik pada toraks maupun lumbar. Terjadinya hiperlordosis kompensatori didaerah lumbar bawah berakibat diskus intervertebral lumbosakral menjadi subjek tenaga kompresif dan shear. lumbago dan siatika akan terjadi pada usia tiga puluhan. Max Lange (1965) menduga bahwa lumbalisasi dan sakralisasi menyebabkan prolaps diskus inter-vertebral hingga dua kali lebih sering dibanding tulang belakang normal. Secara keseluruhan statika dari tulang belakang lumbar menjadi terganggu oleh adanya hiperlordosis dan lesi timbul pada diskus intervertebral lumbosakral dan sendi ruas tulang belakang. Ini sangat sering tampak bersamaan dengan kontraktur fleksi pada kelainan sendi panggul. timbul skoliosis akibat fiksasi fibrosa diskus intervertebral. Sendi ruas tulang belakang menunjukkan peningkatan osteoarthrosis. Setelah inklinasi lateral tulang belakang yang lama. Bagian superior tulang belakang lumbar lebih sering menunjukkan kifosis. Spondilosis dan spondilolistesis merupakan dasar perubahan prediskotik. Inklinasi tulang belakang lateral sering dikarenakan tekukan panggul sekunder terhadap pemendekan salah satu anggota bawah.

Diskus didekatnya yang tidak harus segera terkena. Hal ini mungkin menjadi lebih atau kurang intensif . Dianjurkan untuk memperbaiki fraktura ruas tulang belakang dengan memperbaiki alignment untuk mencegah sekuele diskus intervertebral. Pada anak dan orang muda hal ini sangat sering memperberat regangan pada hamstring. juga timbul nyeri radikuler. fragmen diskus intervertebral ditemukan bila anulus fibrosus disayat. selanjutnya berjalan keposterior kebatas yang lebih perifer dan karenanya menyebabkan regangan terhadap ligamen longitudinal posterior. Lapisan paling permukaan dari anulus fibrosus tetap utuh. Rettig (1959) menjelaskan konsep ini dengan tehnik radiografik dengan kontras yang menampilkan diskus inter-vertebral. pergerakan fragmen diskus intervertebral kearah posterior penting karena pada daerah ini terdapat struktur peka nyeri. Protrusi atau invasi anterior jaringan diskus intervertebral kebadan ruas tulang belakang tidak menyebabkan rasa tidak enak atau pembatasan fungsi. Perubahan prediskotik adalah potensial menjadi penyakit dan harus selalu diketahui serta penyebabnya diatasi dengan cara yang paling baik. serta pengaruh sekunder terhadap ramus meningeal saraf spinal.lumbosakral ini karenanya merupakan perubahan prediskotik bila menimbulkan pembebanan lumbar yang tak setangkup. mendapatkan beban yang tak setangkup hingga menimbulkan perubahan bendungan. Transisi menuju protrusi lumbar adalah menyeluruh. Ia berkembang dari daerah kecil ditempat yang mengalami perubahan degeneratif. Dari kepentingan klinis. namun protrusi tertentu lapisan superior diskus intervertebral dibelakang jaringan yang rusak tetap berlangsung. Pada arah posterolateral mungkin terjadi kontak antara protrusi dan radik saraf. Sclegel (1975) menemukan bahwa tulang belakang lumbar hipersegmental lebih mobil dan memerlukan muskulatur untuk menstabilkannya. Deformitas setelah fraktura ruas tulang belakang serta spondilitis merupakan perbahan prediskotik. Tulang belakang lumbar mungkin menekuk kelateral dan terputar hingga terjadi skoliosis. Fisura radial dan sirkular berjalan kedalam nukleus pulposus akibat beban tak setangkup terhadap diskus intervertebral. 2. Serabut-serabut sensori ramus meningeal saraf spinal menjadi terangsang. Sebagai tambahan terhadap nyeri lumbar. Pada operasi. Ini mungkin menyebabkan lumbago dan adalah akibat adanya kerusakan interior diskus intervertebral. Perpindahan Intradiskal dan Protrusi Posterior Tanda makroskopik pertama yang dapat dikenali pada degenerasi diskus intervertebral lumbar adalah adanya fisura pada bagian pusat anulus fibrosus.

Protrusi didaerah ini mungkin harus sangat besar untuk dapat mengganggu kantung dural. pada penekanan radik saraf kearah lateral kedalam foramina intervertebral. namun juga ruangan dimana dura dan radik-radik saraf yang kelak akan terjepit.tergantung lokasi serta ukuran dari protrusi. atau biasa disebut 'protrusi paramedian'. atau akhirnya mungkin mengalami protrusi kedalam foramen menyebabkan protrusi intraforaminal. fragmen diskus intervertebral mungkin bergerak kearah pusat diskus intervertebral. Pengobatan diarahkan pada usaha mengembalikan fragmen kepusat diskus intervertebral. Pada keadaan ini. Gejala protrusi sangat berubah-ubah karena jaringan yang mengalami protrusi tetap merupakan bagian dari sistem osmotik yang utuh dan karenanya bereaksi terhadap semua perubahan patofisiologik yang khas pada degenerasi diskus intervertebral. operasi adalah utama. atau menjadi lepas dan terdorong kebagian pusat diskus intervertebral. namun sudah diketahui pada jenis pengobatan ini mungkin berakibat bahwa fragmen lebih bergerak kearah tepi anulus fibrosus dan akhirnya terjadi robeknya lamela luar. Berlawanan dengan frekuensi yang tinggi dari nyeri lumbar dan nyeri menjalar yang tampak bersama protrusi diskus intervertebral yang sederhana. prolaps posterior dan postero-lateral adalah sangat jarang. Prolaps Keadaan sangat berbeda bila degenerasi diskus intervertebral menyebabkan perforasi lamela posterior anulus fibrosus serta yang menyebabkan prolaps jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi. Sepanjang lamela kuat anulus fibrosus tetap utuh diluar protrusi. Bila mengenai L5/S1 jarak antara kantung dura dan protrusi lebih jauh dibanding tingkat yang lebih atas. Protrusi kemudian menjadi prolaps. Pada keadaan stenosis tulang belakang lumbar. Tidak mungkin untuk memperkirakan kapan protrusi menjadi prolaps. kecuali penderita setelah mengalami masa nyeri pinggang dengan/atau nyeri tungkai. protrusi sangat kecil mungkin berakibat timbulnya rasa tidak enak. protrusi mungkin sangat kecil. Tentu ini tidak terjadi pada keadaan dimana fragmen sudah terjepit antara tepi posterior ruas tulang belakang bersangkutan dimana fragmen tidak akan bergerak. terutama bila prolaps meletakkan material diskus inter-vertebral dibawah atau didekat radik saraf dan menyebabkan tekanan dan rangsangan pada radik saraf. Mungkin pula medial atau lateral terhadap radik saraf. 3. Simptomatologi tergantung posisi protrusi. tiba-tiba kehilangan nyeri . Mungkin lebih menuju tengah. Bagaimanapun hal ini mungkin akan mengalami ekstrusi sempurna membentuk prolaps. Tidak hanya ukuran protrusi yang penting. Disisi lain.

Karena intensitas nyeri pada prolaps lumbar umumnya tergantung lokasi dan ukuran deformitas. dapat berubah volumenya karena kemampuan osmotik. prolaps berjalan kelateral dan mengikuti radik saraf yang tertekan dianterior. akhirnya mengkerut dan membentuk perlekatan. prolaps dapat menggerakkan radik saraf baik kemedial maupun kelateral. Setelah perforasi bagian posterior anulus fibrosus. Tergantung posisinya. Posisi antara prolaps dan radik saraf dapat juga berubah. Harus dipikirkan bahwa pengobatan manipulatif berperan hingga diskus intervertebral menjadi prolaps. Jaringan diskus intervertebral yang tidak dipengaruhi tekanan intradiskal. Perubahan diskus intervertebral yang mengalami prolaps dapat berhubungan dengan intensitas nyeri. bagian diskus intervertebral posterior termasuk piring tulang rawan dapat mengalami fragmentasi dan prolaps kedalam kanal spinal. Fragmen diskus intervertebral menambah volumenya dalam cairan isotonik dan hipotonik. siatika. prolaps posterolateral akan mengenai radik saraf. Akar saraf karenanya terdorong keposterior dan mungkin tertekan pada bagian posterior kanal spinal (ligamentum flavum dan faset inferior). kantung dura akan tertekan seperti juga serabut-serabut kauda ekuina.pinggang sama sekali dan hanya merasakan nyeri tungkai yang menjalar. Jadi dianjurkan untuk sangat berhati-hati saat membuang ligamentum flavum . Jaringan yang bergerak kerongga epidural. atau melekat pada prolaps. Pada daerah lumbar. Pada kasus tertentu. atau mungkin membengkak dan menimbulkan reaksi radang. Sebagai patokan. Percobaan terhadap jaringan fragmen diskus intervertebral memperlihatkan pada keadaan yang serupa dengan prolaps diskus intervertebral dimana terjadi penambahan volume pada cairan hipotonik dibanding pada cairan hipertonik. Radik-radik saraf mungkin menjadi gepeng karena tekanan. dengan akibat pendataran lordosis lumbar. Prolaps dapat berhubungan dengan jaringan diskus inter-vertebral bersangkutan namun dapat juga tampak sebagai fragmen terpisah. Ini diperlihatkan dengan mielografi. atau sindroma kauda lengkap atau tak lengkap yang merupakan gejala yang biasa pada prolaps medial. Gejala klinik mungkin beragam. konsistensi juga berperan. Bila arahnya kemedial. Gejala klinik prolaps medial mungkin menampakkan baik lumbago. Pada prolaps lumbar jaringan bergerak kerongga epidural kanal spinal dan menyebabkan penyempitan yang sangat serupa dengan tumor. yang karena kemampuan osmotiknya menimbulkan perubahan tingkat gangguan terhadap saraf. Radik-radik sangat sering menjadi gepeng. nyata bahwa perubahan volume jaringan yang prolaps mungkin berakibat perubahan gejala. Disamping ukuran jaringan yang prolaps. Ini mungkin menimbulkan rekurensi yang kronik dari nyeri radik saraf. jaringan prolaps dapat menyebar kesemua arah.

ini akan berakibat siatika pada sisi lainnya. radik-radik saraf sisi berseberangan juga terkena. Jaringan prolaps dapat juga mengarah kesuperior atau inferior dan karenanya mengenai radik-radik pada tingkat lain. jadi tekanan terhadap radik saraf terjadi dari arah ini. diferensiasi sindroma lumbar yang lebih baik dapat .atau bagian dari lamina. Ketinggian diskus intervertebral berkurang dan sendi intervertebral terganggu dengan pengurangan rongga interforaminal yang selanjutnya menekan radik saraf. sindroma berbeda dari pasien kepasien. Bahkan bila patofisiologinya serupa misalnya protrusi lateral. Dalam perjalanan selanjutnya. Alasannya adalah karena adanya perubahan biokimia dan biomekanik didalam diskus intervertebral. bila berkembang perubahan degeneratif sekunder. Baik pendataran radik saraf maupun reaksi radang dengan pembengkakan radik. elemen saraf kanal spinal terkena. akan menimbulkan perubahan mekanik jaringan sekitarnya. Jaringan diskus inter-vertebral lebih renggang. dengan onset nyeri yang tiba-tiba lebih sering dijumpai. dan akibat perubahan sistem osmotik. Jaringan fragmen diskus intervertebral dapat juga bergerak keposterior. biomekanik interior dari diskus intervertebral menjadi berubah. Pada prolaps tertentu. yang dikenal sebagai sindroma pasca diskotomi. GEJALA DAN TANDA SINDROMA LUMBAR Gejala sindroma lumbar beragam. Sindroma lumbar paling sering diakibatkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. Lagipula reaksi masing-masing sistem saraf terhadap perubahan eksternal harus dipikirkan. Dengan miografi-elektro dan mielografi. Semua gejala dimulai dengan nyeri lumbosakral ringan hingga paralisis lengkap bisa ditemukan. seperti kantung dural. Sindroma lumbar kebanyakan khas dengan nyeri pinggang bawah dan siatika yang dalam perjalanannya memiliki penyebaran serta intensitas yang sangat beragam. juga menjadi lebih lembut. gejala klinik berkurang dengan adanya invasi jaringan fibrosa yang memiliki pengaruh stabilisasi. yang terutama dijumpai setelah operasi. Ini akibat perlekatan yang merupakan tahap akhir reaksi radang sekitar radik saraf. menjadi lebih sulit untuk menghubungkan gejala-gejala dengan keadaan patofisiologik utama. yang selanjutnya mengenai radikradik saraf dan menyebabkan gabungan reaksi radang dan mekanik. Sangat umum dijumpai kasus-kasus yang tidak mengikuti pola yang khas. Dengan perjalanan waktu. Misalnya jaringan prolaps bergerak kemedial. Karenanya klasifikasi yang sistematik sulit didapatkan. Ini mungkin pada akhirnya menyebabkan sindroma lumbar kronik dengan nyeri radikular berulang. Sekali fragmen mengalami prolaps .

Keluhan Umumnya gejala pada suatu sindroma lumbar adalah nyeri. Saat ini mielografi dapat dilakukan tanpa bahaya yang besar sejak digunakannya media-kontras yang tidak berbahaya. hingga diagnosis sindroma lumbar mudah ditegakkan. Terbukti bahwa tekanan pada kantung dural dan radik-radik saraf oleh jaringan diskus intervertebral yang prolaps adalah penyebab utama nyeri siatik. karena medianya adalah serabut-serabut besar. Finkenrath (1977) mendapatkan kenyataan bahwa lebih dari setengah penderita tidak mempunyai alasan yang pasti atas onset dari gejala yang dideritanya. Tanda objektif mungkin minimal walau nyeri hebat. karakter serta intensitas nyerinya. Kadang-kadang timbul sangat tiba-tiba. . Bila tak ditemukan tanda objektif sama sekali. Pasien sering tampak berkonsultasi saat bebas gejala. Siatika atau lumbago akut timbul tanpa sesuatu penyebab yang jelas ("Came out of the blue"). Sindroma lumbar khas dengan lumbago dan siatika. tergantung apakah patologinya berupa protrusi atau prolaps dari diskus intervertebral. Paling sering mengenai dua segmen lumbar terbawah. Pengaruh impak yang keras dan berbagai jenis kecelakaan tak dapat dianggap bertanggung jawab atas nyeri pada pasien-pasien yang diperiksa dan yang tidak merencanakan tuntutan asuransi. Analisa sindroma menjadi sederhana dengan mendengarkan secara hati-hati riwayat penderita termasuk posisi dan gerakan yang mungkin mempengaruhi karakter dan intensitas nyeri. Namun demikian perlu untuk membedakan jenis pengobatan. mungkin sulit untuk menilai keadaan secara sempurna. Perubahan lain yang semula dianggap sangat penting. Intensitas nyeri tidak selalu sebanding dengan tekanan yang mengenai radik saraf bersangkutan. Penderita biasanya sangat mengenal lokalisasi nyerinya. Karenanya penderita sering menghubungkan gejalanya dengan beberapa kegiatan. Kehilangan sensori lebih menunjukkan reaksi radang dibanding reaksi tekanan. Sudah jelas diketahui bahwa nyeri pinggang sering dianggap dasar untuk menuntut asuransi atas kecelakaan. Apabila tidak didapatkan tanda-tanda neurologik.dibuat. Sindroma lumbar dapat berkembang dalam waktu sangat singkat. rencana dan radik mana yang terkena mungkin hanya dibuat berdasarkan riwayat dan daerah dari penyebaran nyeri sepanjang dermatom khas. sekarang memainkan peran sekunder. malposisi pelvis dan sendi ruas tulang belakang. Ini tidak jarang pada kasus kompensasi asuransi. seperti mengangkat benda berat atau menggeliatkan punggungnya secara berlebihan. A. biasanya menyebabkan kelemahan motor dibandingkan perubahan sensori. Tekanannya sendiri. seperti halnya deformitas statis.

buang air besar dan potensi harus diketahui. posisi dan tekanan berubah sepanjang hari dan juga sepanjang perjalanan penyakit. Ini didemonstrasikan Nachemson (1976) bahwa peninggian tekanan intraabdominal menyebabkan tekanan intradiskal lumbar. Disisi lain. Informasi mengenai fungsi kandung kemih. Sudah menjadi kenyataan bahwa nyeri diskogenik pada daerah lumbar sangat erat bergantung pada posisi tulang belakang.Karakter nyeri dan penjalarannya secara sinambung beragam pada sindroma lumbar. Ini timbul sebagai bagian sindroma kauda seperti juga kelemahan otot anggota bawah yang juga dapat disertai dengan siatika. Penting untuk menemukan bahwa pasien merasakan perbedaan nyeri bila mengistirahatkan tulang belakang. Kebanyakan penderita merasa enak bila berbaring pada sisi tubuh atau pada belakang tubuh dengan pangkal paha dan lutut fleksi. hubungan antara nyeri. Ini terutama jelas pada perbedaan gejala antara siang dan malam. Nyeri mungkin bertambah bila lordosis lumbar diperbesar dengan membaringkan pasien pada posisi telungkup. ada pasien yang berkurang nyerinya pada posisi telungkup dan dengan hiperekstensi ringan tulang belakang lumbar. Penjelasannya adalah adanya hubungan antara vena epidural tanpa katup pada kanal tulang belakang terhadap perubahan tekanan intraabdominal atau intratoraks. Sekali lagi. Secara keseluruhan. Keadaan serupa terjadi selama istirahat dimana posisi miring berubah keposisi telungkup. Pada posisi berdiri dengan lordosis lumbar. Alasannya tentu saja perubahan tekanan intradiskal yang besar. Nyeri diskogenik daerah lumbar dieksaserbasi oleh batuk dan bersin dimana terjadinya peninggian tekanan intra-abdominal. Keluhan beberapa pasien atas kram pada betis . Namun beberapa pasien merasakan pengurangan nyeri saat duduk dimana foramina intervertebral membesar. Disaat lain nyeri lumbosakral dapat hilang sempurna dan hanya siatika yang menetap. seperti juga dengan perubahan posisi radik-radik saraf terhadap aspek posterior diskus intervertebral. bagian diskus intervertebral posterior yang mengalami fragmentasi menjadi tertekan diantara tepi ruas tulang belakang dan akan membengkak menekan dura dan radik-radik saraf (Reischauer 1949). Mulanya nyeri dapat sangat dalam dan terbatas pada daerah lumbosakral dan dijalarkan ke bokong. Keragaman gejala ini mungkin pula terjadi bila nyeri menjadi berkurang dan bila perbaikan mulai terjadi. adanya posisi dimana didapatkan relaksasi mungkin berhubungan dengan posisi protrusi atau prolaps. Sebagai tambahan mungkin dapat timbul siatika yang mulanya hanya mengenai tungkai atas namun akhirnya juga mengenai kaki. Pasien akan berusaha mencegah peninggian tekanan dan selalu menemukan posisi dimana nyeri akan berkurang walau pada peninggian tekanan. Bersandar kedepan atau duduk pada lengan kursi diperkirakan menambah tekanan intradiskal.

bersin dan tekanan abdominal ------------------------------------------------------B. timbul nyeri yang menjalar sesuai dengan distribusi radik saraf yang terkena. tungkai dapat difleksikan hingga 70-900 pada sendi panggul. Pasien sering mengeluh perasaan pincang. karenanya diusahakan interogasi dan pemeriksaan yang sangat teliti saat pemeriksaan pertama. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. Sendi-sendi tungkai bawah diperiksa. Diagnosa yang mendalam dan tepat suatu saat mungkin sulit ditegakkan bila pasien mengemukakan bermacam gejala. Normal. Ini perlu untuk membedakan antara nyeri pinggang yang terlokalisir dan nyeri radik saraf. Tungkai bawah dapat diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. didapatkan bahwa pada pasien dengan siatika sering dijumpai plantar fleksi dari kaki dan pada dorsifleksi kaki akan menimbulkan nyeri. pemeriksaan adalah positif dan karenanya dikatakan sebagai Lasegue positif (positive straight leg-raising test). namun bila terjadi. Bila melampaui ini. dari nyeri tumpul yang dapat timbul pada otot tungkai sebelah belakang. Mekanisme timbulnya nyeri dijelaskan sebagai peregangan yang berlebihan dari saraf Siatik. Observasi oleh Lasegue. Tabel 2 Gejala-gejala Khas pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Onset mendadak Perjalanan silih berganti Ketergantungan pada postur Nyeri bertambah pada batuk. perasaan tidak enak dan peregangan akan bertambah pada otot Iskiokrural. Bila nyeri dapat ditimbulkan.posterior adalah bagian sindroma S1. Saraf Siatik tidak terganggu. Gangguan motor dari otot dapat terjadi akibat nyeri dan relaksasi refleks seluruh anggota bawah. Pada pemeriksaan tidak dijumpai tanda-tanda objektif. Tanda-tanda klinis Pemeriksaan peregangan terhadap saraf Siatik dilakukan dengan mengangkat tungkai pada posisi terlentang. sehingga tes Lasegue dapat dilakukan tanpa ada sesuatu keadaan yang menyebabkan gangguan terhadap sendi panggul. Pertama-tama adalah harus menjadi "pengambil riwayat yang teliti yang fanatik" (6). terutama sendi panggul. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan . Penderita mencegah semua gerakan yang dicurigainya akan menimbulkan nyeri.

Langkah penderita adalah tak setangkup. Pada prolaps medial. memberikan informasi penting seperti adanya sindroma lumbar. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. nyeri dapat ditimbulkan dengan mengangkat tungkai yang diseberang tungkai yang terkena. kehilangan sensasi. palpasi dan test fungsional. Karenanya pada prolaps diskus inter-vertebral L4 dengan penekanan pada radik saraf L5 menyebabkan lemahnya ekstensor ibu jari. Ini disebut sebagai Lasegue kontralateral. Membuka sepatu atau kaus . Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. Terdapat tumpang tindih pada persarafan tungkai bawah.disepanjang saraf siatik. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. Bila radik L5 terkena. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. Inspeksi. abnormalitas refleks dan gangguan motor. Dianjurkan pemeriksaan dilakukan dengan pergerakan penderita sesedikit mungkin karena setiap perubahan posisi mungkin menyebabkan nyeri dan rasa tidak enak pada pasien. Pemeriksaan klinik harus mencakup inspeksi. Pemeriksaan sensasi adalah paling penting. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. Otot extensor hallucis longus dipersarafi hanya oleh satu radik saraf yaitu L5. tes straight leg . ia berjalan hati-hati dan bila dengan siatika mungkin pincang. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. Tanda-tanda khusus sindroma lumbar harus merupakan bagian dari pemeriksaan umum yang harus menginformasikan pada pemeriksa asal dari penyakit. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis. Hiperestesi dapat terjadi pada sindroma radik saraf akibat lesi yang tidak lengkap pada radik saraf spinal yang sangat sering terjadi pada protrusi diskus lumbar. Pasien banyak berdiri dari pada duduk dan sering menggunakan penumpu kursi atau meja saat bangkit dari kursi. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki.raising yang positif. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. termasuk penilaian neurologik secara umum. Namun dapat dikatakan bahwa bagian belakang kaki pada ibu jari dipersarafi oleh radik L5.

berjalan beberapa langkah pada jari-jari dan tumitnya untuk menampilkan kemungkinan kelemahan ekstensor kaki (L5) atau otot betis (S1). Setelah memeriksa kemampuan pasien untuk membungkuk kedepan. . Nyeri juga dibangkitkan dengan memutar prosesus posterior. Tes ini gagal bila protrusi atau prolaps terletak sangat lateral atau arkus ruas tulang belakang sangat lebar. namun hal ini tidak menggambarkan segmen spesifik karena sendi inter-vertebral lumbar mempunyai posisi sagital yang akan menggerakkan sendi dan ruas tulang belakang berdekatan. Sering didapat pengurangan mobilitas terbatas satu sisi. Bila pasien tanpa pakaian dan dilihat dari belakang. penonjolan semakin jelas. Pemeriksaan dilanjutkan dengan pasien berbaring. Keterbatasan yang tergantung nyeri pada mobilitas lumbar dapat mula-mula dijumpai bila penderita disuruh menekuk kesamping dengan tubuh sedikit condong kedepan. disuruh untuk menekuk kesamping dan juga merotasi tubuhnya. mungkin disaksikan deformitas. Nyeri paraspinal sangat indikatif pada pasien kurus yang kehilangan kekuatan ototnya. karenanya memungkinkan untuk mengarahkan tekanan pada ligamen flaval dan pada radik saraf yang terletak dibawah ligamen. Posisi ini dengan sedikit fleksi paha dan lutut memberikan posisi paling santai. Dengan usaha memperpanjang tulang belakang lumbar dan meluruskan lordosis. Deformitas dan keterbatasan pergerakan yang mungkin sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Nyeri terbatas pada penekanan dapat dijumpai pada perjalanan saraf siatika dengan titik nyeri maksimal dibokong dan fossa popliteal (Tanda Valleix). Tes fungsional aktif ini diikuti dengan pemeriksaan pergerakan pasif. Nyeri lokal dan siatika yang khas karenanya dapat ditimbulkan. sering dijumpai saat bebas gejala atau pada protrusi yang sangat lateral dari diskus intervertebral L5-S1. Terdapat penonjolan otot yang mengalami kontraksi (Spasme lumbar). Posisi telungkup sering bersama dengan rasa tidak enak. Penderita disuruh berdiri pada jari-jarinya dan pada tumitnya. Spasme lumbar dan fiksasi terbatas tulang belakang adalah kriteria dignostik penting pada sindroma lumbar. Dengan penambahan kifosis mungkin memperlebar arkus ruas tulang belakang yang akan membantu palpasi hingga nyeri khas dapat dibangkitkan. Pergerakan kelateral tidak seterbatas fleksi atau ekstensi. Jaringan lunak menjadi tertekan diantara arkus ruas tulang belakang hingga radik saraf akan tertekan bila ada protrusi atau prolaps. Prosesus spinosus dipalpasi dengan penderita telungkup dan nyeri dapat ditimbulkan dengan penekanan pada prosesus segmen bersangkutan.kaki menyebabkan rasa yang sangat tidak enak dan dilakukan dengan sulit dengan penderita berusaha menggerakkan tulang belakang kedepan. Pada posisi terlentang spasme lumbar sering hilang.

rasa tidak enak dan tegangan akan terjadi pada otot iskiokrural. tapi sekali terjadi. Bila melebihi ini. Pada posisi telungkup. Mekanisme pembangkitan nyeri diterangkan sebagai peregangan berlebihan saraf siatik. Untuk menyingkirkan kemungkinan ini. Lasegue positif adalah serupa dengan positive straight leg-raising test. Dengan pasien telungkup. Ini bukan gangguan lokal pada sendi sakroiliak. tes adalah positif dan karenanya disebut tes Lasegue positif (positive straight legraising test). Forst. Peregangan saraf femoral dengan pasien telungkup dapat dibandingkan dengan peregangan yang sama terhadap saraf siatik yang terjadi bila tungkai diangkat dengan penderita pada posisi terlentang. murid Lasegue. Pengangkatan tungkai bagaimanapun akan dapat menyebabkan nyeri akibat adanya lesi pada sendi panggul dan sakroiliak. Kepekaan anggota bawah dites dan dengan menyuruh pasien mengkontraksikan bokongnya. Sendi anggota bawah diperiksa dan terutama sendi panggul hingga tes Lasegue dilakukan tanpa adanya pengaruh kelainan disendi panggul. dilakukan tes regang siatik: tungkai diangkat hingga dirasakan nyeri. Ini disebut Lasegue kontralateral. Normalnya tungkai dapat fleksi hingga 70-900 pada sendi panggul. Ini disebut juga tes Lasegue terbalik atau tes regangan saraf femoral. Bila nyeri timbul. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pasien terlentang pada punggungnya. perbedaan tonus dapat dipalpasi yang menunjukkan sindroma S1. nyeri diperberat. mungkin menandakan protrusi diskus intervertebral pada tingkat yang lebih tinggi. Saraf siatik tidak terganggu. hiperekstensi sendi panggul mungkin berakibat nyeri paha anterior dan karenanya gangguan pada saraf femoral dapat diketahui. Dengan suntikan intradiskal nyeri khas ini dapat dirangsang. nyeri dapat dibangkitkan dengan mengangkat tungkai berlawanan dengan sisi tungkai yang terkena. dan makna tanda ini mula-mula dijelaskan oleh J. Bagaimanapun. timbul nyeri menjalar sepanjang distribusi radik saraf terkena. bagian pemeriksaan neurologik dilakukan. Dengan ekstensi kedorsal . Tungkai kemudian diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. Perlu dibedakan nyeri pinggul terbatas dan nyeri radik saraf dari nyeri tumpul yang dapat bangkit pada otot tungkai posterior. Tahun 1864 Lasegue melakukan pengamatan pada penderita dengan siatika dimana sering dijumpai kaki dalam plantarfleksi dan pada dorsifleksi kaki. Tungkai ini kemudian direndahkan pada posisi dimana nyeri menghilang dan pada titik ini kaki diekstensikan kedorsal yang biasanya menimbulkan nyeri bila saraf siatik terganggu. Pada prolaps medial.Nyeri dapat juga terbatas pada sendi sakroiliak yang dapat juga timbul pada palpasi. namun semata-mata suatu nyeri menjalar melalui cabang posterior saraf-saraf spinal.

perhatian pasien dialihkan dan pemeriksaan diulangi sekali lagi. namun kelainan motor bisa jadi sangat ringan hingga pasien tidak menyadarinya. Karenanya pasien ditempatkan pada posisi yang memberikan relaksasi sempurna dan bebas dari nyeri. Refleks harus dites dengan sangat teliti dan bila pasien tidak cukup santai untuk memungkinkan pemeriksaan dilakukan. Pada tindakan ini tidak disertakan baik sendi panggul maupun sendi sakroiliak. mobilitas dan sensasi. L5. Pemeriksaan harus mencakup analisa teliti kekuatan fleksor plantar dan ekstensor dorsal kaki dan terutama ibu jari. Kompresi berat hanya akan menyebabkan gangguan motor ringan pada otot besar. Otot kuadrisep dicatu oleh radik-radik saraf L3. ia dapat diperintahkan berlutut dan pada saat yang sama pegang jarinya dan tarik dengan kuat. Pada prolaps L3-L4. mungkin terjadi keadaan dimana pada pengangkatan tungkai lurus hingga 20-300 penderita akan memberikan pertanda nyeri. Extensor hallucis longus dicatu hanya oleh satu radik. Bila refleks ankel sulit dibangkitkan bila pasien berbaring dengan punggungnya. mereka jelas tidak terganggu. Dengan pasien berbaring pada punggungnya. pemeriksaan dilanjutkan dengan menilai refleks. Objektifitas tes ini tak bisa dibantah dan dapat berguna tiap saat. Penurunan aktifitas refleks patellar dapat ditemukan bila radik saraf lumbar ketiga dan keempat terkena. Sebaliknya pada prolaps L4-L5 dengan kompresi radik L5 didapat kelemahan yang nyata dari ekstensor ibu jari. tidak ada nyeri. L4 dan L5. saraf tibial akan teregang 2 cm. Peninggian aktifitas refleks tidaklah mempunyai keistimewaan apapun pada kelainan diskus intervertebral. Pada keadaan dimana perlu membuktikan asal sebenarnya dari penyebaran nyeri yang turun ketungkai. Pemeriksaan sensasi adalah terpenting. yang mana pasien akan teralih perhatiannya dari pemeriksaan (Jendrassk`s grip). Refleks patella mungkin sulit dibangkitkan karena nyeri pada tungkai. Fibrilasi dapat dijumpai pada otot dan gangguannya akan sebanding dengan tekanan yang berlangsung pada radik saraf bersangkutan. hanya didapat sedikit kelemahan kuadriseps dengan akibat kelemahan ekstensi lutut. Ini mungkin membuktikan bahwa pasien bereaksi berlebihan atau bahkan berpura-pura sakit. Pemeriksaan mobilitas dipusatkan pada otot tungkai bawah yang mungkin terkena pada sindroma lumbar. namun bila pasien diletakkan pada posisi duduk dengan tungkai lurus. termasuk kompresi pada radik saraf L4. Peregangan saraf siatika dengan duduk tegak dengan tungkai lurus juga menimbulkan nyeri. Sindroma radik saraf hanya akan menyebabkan gangguan pada . Ini dapat ditemukan pada langkah pasien dengan kesulitan dalam menempatkan dan meneruskan pergerakan kaki.dari kaki.

Keterangan patologik yang jelas dimana prolaps diskus intervertebral lumbar menyebabkan siatika telah diketahui sedikitnya sejak 50 tahun. terkenanya rami anterior akan mengakibatkan gejala.sensasi permukaan yang mudah diperiksa dengan sentuhan. Bradford dan Spurling (1950) serta Lindblom (1948) menjelaskan asal penyakit sebenarnya serta hubungannya dengan nyeri pinggang bawah dan siatika. Pemeriksaan klinik teliti akan menghasilkan diagnosis dan harus dapat menentukan tingkat yang terganggu. rami dorsal dan meningeal terserang. Dengan beberapa ketentuan dapat dikatakan bahwa bagian dorsal kaki didaerah ibu jari dicatu oleh radik L5 dan tumit serta bagian lateral kaki dicatu oleh radik S1. Hiperestesis dapat juga terjadi pada sindroma radik saraf lumbar. mielografi. . Tilney dan Riley 1938. tekanan dan tusukan jarum. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. pemeriksaan laboratori. Bila ada petunjuk gangguan temperatur dan sensitifitas dalam atau bila ada tanda kelainan neurologik lain yang tidak bersamaan dengan sindroma lumbar. Bradford dan Spurling (1950) telah mengamati ketidak-teraturan distribusi sensasi bagian bawah anggota bawah setelah merusak radik saraf sakral pertama. Terdapat tumpang tindih inervasi anggota bawah yang terutama jelas pada bagian proksimal. Keegan 1943). Penjelasan distribusi dermatomal diperkirakan beragam (Foerster 1933. Sebelumnya siatika diduga akibat keadaan inflamatori dan karenanya disebut neuritis siatik. miografi-elektro dan pemeriksaan yang lebih canggih lainnya sangat jarang diperlukan dan hanya untuk memperkuat diagnosis selanjutnya serta untuk menyingkirkan kelainan lain. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. Pada sindroma radik saraf lumbar.Siatika Pada sindroma lumbar lokal. penderita harus diperiksa lebih lanjut. Dandy (1943). C. Sindroma Radik Saraf Lumbar . Radiografi. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan disepanjang saraf siatik. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. Mixter dan Barr (1934). Ini akibat lesi tak lengkap radik saraf spinal yang sangat umum pada protrusi diskus intervertebral lumbar. Penting untuk memeriksa sensasi didaerah perineal dalam upaya menyingkirkan adanya sindroma kauda.

maka . ini bisa juga pertanda suatu sindroma lumbar lokal. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. Akan terjadi juga kehilangan sensasi. Adanya sindroma siatik tergantung letak dan ukuran dari struktur yang menekan radik saraf. 1. Gejala beragam secara individual dan bila semula nyeri dan deformitas menonjol. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. siatika dapat tetap ada bersama dengan daerah nyeri terbatas atau nyeri sakral. penting untuk mengetahui apakah sindroma radik saraf lumbar diakibatkan protrusi ataukah prolaps. Bila radik L5 terkena. namun tidak jarang perubahan patologik pada diskus intervertebral atau sekitarnya dapat menyebabkan nyeri yang menjalar. Pada keadaan ini operasi dianjurkan sesegera mungkin. Ini mungkin disebabkan pelunakan dan perubahan volume diskus intervertebral dan oleh osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang atau oleh perpindahan ruas tulang belakang dan kelainan lain pada kanal spinal. Bila radik saraf tertekan sempurna maka nyeri akan hilang. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. Bila terdapat siatika.Sindroma radik saraf lumbar dapat disebabkan protrusi atau prolaps. Siatika pada Protrusi dan Prolaps Diskus Intervertebral Dari sudut pandang terapeutik. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. mungkin akan berakhir dengan penurunan karena timbulnya parestesi dan gangguan motor. abnormalitas refleks dan gangguan motor. Tatkala radik saraf tertekan oleh benjolan bagian posterior diskus intervertebral. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. dan bila radik L5 terkena. Setelah operasi.raising yang positif. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. Nyeri dapat terbatas hanya pada bokong atau kaki dan tidak berubah dengan perubahan postur dan hanya dapat dikenal dengan test traksi atau mielografi dimana asal nyeri dapat ditemukan. tes straight leg . nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. kehilangan sensasi. namun terdapat beberapa kekecualian dimana hanya terdapat siatika tanpa nyeri sakral. akan terjadi paresis ekstensor kaki dan jari. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul.

keadaan biomekanik dan biokimia secara keseluruhan akan berbeda bila penekanan disebabkan oleh prolaps. parestesia dan gangguan motor Hasil baik setelah tindakan Tindakan dengan obat-obatan dengan obat-obatan tidak berguna Instillasi intradiskal Instillasi intradiskal berat ringan Media kontras pada Media kontras pada diskografi tetap pada diskografi keluar kerongga diskus intervertebral epidural ------------------------------------------------------Juga terjadi perubahan pada perjalanan klinis. parestesi dan deformitas berhubungan dengan perubahan yang disebabkan oleh . Tindakan ini mungkin mengawali rasa tidak enak dan nyeri yang terus menerus. Massa jaringan diskus intervertebral bergeser keposterior dan menonjol dengan ligamen longitudinal posterior sebagai pembungkusnya. Tabel 3 Perbedaan Siatika yang disebabkan Protrusi dan Prolaps ------------------------------------------------------Siatika Karena Protrusi Siatika Karena Prolaps ------------------------------------------------------Onset secara umum tak jelas Onset berat tiba-tiba Deformitas dapat berubah Deformitas menetap Nyeri proksimal Nyeri distal. Saraf spinal terjepit antara prolaps dan arkus ruas tulang belakang. Penekanan radik saraf lebih kuat pada prolaps dibanding protrusi. Sering nyeri lebih proksimal pada protrusi. Pada pasien yang lebih muda agak membingungkan untuk menyayat anulus fibrosus yang intak diatas protrusi dalam usaha mencapai fragmen yang sudah mengalami pergeseran. Pada protrusi ada hubungan antara sistem osmotik diskus intervertebral dengan perubahan volume dan konsistensi. Dari perjalanan klinik akan jelas apakah terjadi suatu prolaps atau protrusi (Tabel II.3). Pada protrusi jaringan yang bergeser dapat dinormalkan dan dicapai restitutio ad integrum. Fragmen diskus intervertebral akan mengalami pergeseran kerongga epidural dekat radik saraf atau kantung dura dan akan selalu menyebabkan rasa tidak enak dan nyeri. Karenanya nyeri. Sebaliknya tindakan konservatif tidak dapat dipilih pada prolaps yang lengkap. Ini tidak terjadi pada prolaps. daerah hipestesi dan refleks yang abnormal akan berkembang. Penyembuhan spontan lebih sering pada protrusi dibanding pada prolaps. Nyeri dan deformitas tampak tiba-tiba dan memburuk dalam beberapa jam setelah jaringan diskus intervertebral bergerak kekanal spinal. Gambaran klinik lebih berat pada prolaps. Gangguan motor. kecuali diangkat secara operasi. Kebanyakan pasien dengan siatika adalah karena protrusi diskus intervertebral.

Penderita selalu bertahan pada posisi yang menyebabkan paling sedikit penekanan terhadap radik saraf. seperti juga pemilihan tindakan. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. beberapa pasien hanya menunjukkan sedikit nyeri. Deformitas Siatik Ada beberapa tanda tidak khas pada sindroma radik saraf lumbar yang memperjelas siatika. Sejumlah cairan mungkin dapat disuntikan dan pada prolaps akan keluar kerongga epidural. Dengan diskografi mungkin untuk menentukan apakah anulus fibrosus intak atau tidak. Nyeri pertama-tama tampak bila dilakukan mobilitas secara aktif maupun pasif dan bila mencoba meluruskan badan. Pada lumbago tulang belakang lumbar menjadi mendatar dan tubuh membungkuk kedepan. Pada tabel diatas beberapa pendekatan dikemukakan. Pada prolaps medial yang besar jarang inklinasi kelateral karena tidak akan mengurangi tekanan pada . Disisi lain. Pada kelainan diskogenik akan sulit untuk mendapatkan pola yang tetap untuk perjalanan dan prognosis. Pada protrusi didapatkan membran tipis dan fragmen yang mengalami inkarserasi jelas mengingatkan akan prolaps. Pada prolaps gambaran klinik menetap dan sulit untuk berubah. Obat-obat anti inflamatori mungkin berguna. superior atau inferior. Patsold (1975) melaporkan bahwa 75% deformitas skoliotik pada penderita protrusi atau prolaps diskus intervertebral dibenarkan oleh mielografi. tes straight leg-raising positif dan deformitas lebih sering dijumpai pada protrusi dan prolaps pada tingkat ini dibanding tingkat L5/S1.beban. protrusi dan prolaps memberikan perjalanan yang secara keseluruhan berbeda. dan sering disertai inklinasi kelateral pada sindroma radik saraf. Sempitnya ruang epidural L3/L4 dan L4/L5. Seperti terlihat pada tabel diatas. Deformitas tergantung apakah radik saraf tertekan dari anterior. Pada protrusi tahanan terhadap injeksi jauh lebih besar dibandingkan terhadap prolaps. Penilaian gambaran klinik serta perjalanannya. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. yang akan membedakan penekanan pada radik saraf. prolaps kecil yang terletak pada "dead area" pada kanal spinal tidak harus memberikan gejala. Penguatan tanda-tanda ini tergantung letak dan ukuran protrusi diskus intervertebral. tes straight legraising positif. memerlukan pemahaman klinik yang baik dan pengalaman yang luas atas berbagai aspek dari nyeri pinggang bawah. Alasannya ialah reaksi refleks postural. dan deformitas siatik. nyeri pada peregangan saraf femoral. Pada mielografi tak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. 2. dan penderita sangat jarang mendapatkan perbaikan. Walau deformitas jelas.

deformitas siatik hampir selalu hilang sempurna. radik akan meluncur kemedial atau lateral diatas protrusi. dan ini akan menyebabkan deformitas campuran. Terdapat hubungan topografik langsung antara tepi diskus intervertebral posterior dan radik-radik saraf pada segmen lumbar. Pada kasus yang belum lanjut. Konveksitas skoliosis lumbar menentukan arah inklinasi lateral dari tubuh. digunakan istilah 'deformitas siatik ipsilateral'. dan bila tubuh condong menjauhi tungkai siatik disebut 'deformitas siatik kontralateral'. tidak ada skoliosis siatik pada posisi berdiri. Cara termudah mengenal ini adalah mengamati postur tubuh. diatas bahu atau pada ketiak. Beberapa istilah digunakan untuk menyeragamkan penamaan radik-radik saraf yang berpasangan dengan mengingat dua lengan yang meninggalkan setiap segmen. dan penyilangan radik saraf diatas diskus intervertebral bervariasi pada setiap tingkat. yaitu satu radik dari superior dan lainnya dari inferior. dan berdiri pada jarinya dengan kaki pada posisi dropfoot ringan. Beban tubuh pada tungkai siatik hanya dapat dilakukan pada waktu singkat. Tentu ada bentuk peralihan dimana prolaps besar akan mengenai radik-radik dari dua tingkat. Protrusi yang terletak superior terhadap radik saraf (pada bahu) akan bergerak menjauhi radik. Pada inklinasi tulang belakang lumbar kesamping. skoliosis siatik tak harus timbul. Bila pasien condong kearah tungkai siatik. Bila duduk dan berbaring. Bila membungkuk kedepan. Deformitas siatik menjadi jelas bila tubuh ditekuk kedepan karena kontak antara radik saraf dengan prolaps serta protrusi semakin berat. radik saraf sisi berlawanan akan terkena. Pada protrusi medial dengan dasar luas. yangdifleksikannya baik pada sendi panggul maupun lutut. Protrusi diskus intervertebral melakukan kontak dengan berbagai bagian radik saraf ketika ia berjalan dari superomedial keinferolateral. dan prolaps karenanya dapat terletak dibawah bahu. deformitas hanya menjadi nyata bila pasien membungkuk kedepan. Hubungan deformitas siatik dengan posisi protrusi atau prolaps cukup menarik. Bila protrusi dibelakang bahu. Ada penderita mendapatkan pengurangan . Bila siatika jelas. Jadi pada protrusi lateral pasien akan membungkuk kedepan sisi sehat (deformitas siatik kontralateral) dan pada prolaps medial menuju sisi sakit (deformitas siatik ipsilateral).radik saraf. bagian konveks diskus intervertebral akan bergerak kesuperior. pasien tidak membawa beban tubuhnya pada tungkai terkena . bila protrusi dibawah radik (pada ketiak) akan terdorong mendekati. Skoliosis lumbar dapat menjadi konveks baik mengarah maupun menjauhi kompresi radik saraf. Keluarnya radik saraf dari dura digambarkan sebagai daerah bahu. Bila pasien membungkuk kedepan.

Bila gangguan motor ditemukan. namun juga karena konsekuensi praktik yang terdapat pada kerusakan radik-radik saraf ini. Akar L4 hanya dikenai 1% dan sisanya radik saraf lumbar superior yang terkena (Lindemann dan Kuhlendahl 1953. Walau diskus intervertebral lumbar superior jarang terkena dibanding segmen L5 dan S1. mungkin akan tetap meninggalkan deformitas siatik yang tidak menghilang dalam beberapa bulan. Tidak ada gangguan refleks pada sindroma L5. dan paling sering ini tergantung pada jumlah radik saraf yang tekena. 98% terjadi pada dua segmen yang lebih bawah. Sindroma L4 Saraf siatik dicatu sebagian oleh serabut dari radik L4. kehilangan dorsifleksi kaki akan timbul karena otot tibial anterior menjadi lemah. kelainan kliniknya campuran. a. Setelah penyebab nyeri siatik dikurangi. Pada penderita sindroma monoradikular lumbar. Sindroma L5 Pada inspeksi.2% dan L5 dengan 43. . Bradford dan Spurling 1950. Ini terdapat pada 1-2% dari semua kelainan diskogenik. Ini terutama ditemukan pada penderita dengan protrusi dan prolaps dari diskus intervertebral lumbar superior. Pada kompresi radik saraf yang lama. Nyeri dan hipestesi berjalan sepanjang belakang kaki ke ibu jari kaki. 3.8%. karenanya tes straight leg-raising positif dapat ditampilkan pada setengah penderita dengan sindroma ini. De Palma dan Rothman 1970. Atrofi ringan mungkin ditemukan pada otot tungkai bawah. extensor hallucis longus adalah otot yang paling sering mengalami paretik (Schliac 1973). Hilangnya fungsi ekstensor pada ibu jari tak boleh terluputkan dan kelainannya mudah diperiksa.rasa nyeri dengan menambah lordosis lumbar. Disini dipentingkan fisioterapi. Finnesson 1973 dan Armstrong 1965). b. sindroma L5 tersering ditunjukkan oleh postur penderita yang sangat sering membungkuk kedepan. Pada sisanya. Sindroma Lumbar Monoradikular Gejala yang berhubungan hanya dengan satu segmen ditemukan pada hampir setengah dari sindroma radik saraf lumbar . Terdapat kesulitan mendorsifleksikan kaki dan jari yang menyebabkan kesulitan melangkah dan karenanya dan paling penting adalah secara hati-hati menganalisa gangguan motor. ia penting bukan saja karena sulitnya diagnostik. Akar S1 terkena 54. Nyeri menjalar dari daerah lumbosakral diatas bagian posterior paha turun kebagian anterolateral tungkai bawah ke maleolus lateral dimana nyeri menjadi semakin hebat.

Pola segmental menjadi terganggu seperti juga gambaran klinik. Pengalaman paling sering menunjukkan bahwa bila ada tanda-tanda sindroma L5 dan mielogram negatif pada diskus intervertebral L4/L5. Nyeri dan hipestesi diarahkan lebih kepoterior dari sindroma L5 dan berjalan sepanjang posterior paha dan posterior betis. Prolaps lateral dapat mudah terlalaikan bila hanya laminotomi eksplorasi yang dikerjakan. Dengan prolaps lateral L5/S1. Tanda khas adalah melemahnya atau hilangnya refleks tendon Akhilles dengan penurunan sensasi diatas aspek lateral tumit yang mungkin meluas kedepan kejari empat dan lima. Kebanyakan sindroma siatika tanpa nyeri sakral dapat berasal dari radik S1. jadi mengurangi kekuatan fleksi plantar. Juga paresis otot gluteal. Sebaliknya prolaps lateral (diatas bahu) dapat menekan radik saraf yang keluar dari tingkat superior bersangkutan. Sindroma Lumbar Poliradikuler Pada kelainan diskus intervertebral lumbar . d. Gangguan motor mengenai otot triceps surae. Terserangnya radik L5 pada prolaps lateral lumbosakral lebih sering dari yang diperkirakan. dua atau lebih radik saraf dapat terkena. 18% mengenai radik lumbar kelima dan 6% menunjukkan tandatanda terkena. Pada kasus ini. Prosedur sederhana ini mungkin menyebabkan eksplorasi diskus intervertebral L4/L5 menjadi tidak perlu. jarum mungkin diinsersikan ke diskus intervertebral L4/L5 untuk melihat apakah diskus intervertebral ini normal. radikradik saraf dan diskus intervertebral berakibat gejala yang tak spesifik dan tak sejelas misalnya sindroma L5. Bila ada prolaps lateral masif dari diskus . Prolaps paramedian (pada ketiak) dapat menekan aspek medial dari radik saraf pada tingkat yang sama dan aspek lateral radik saraf timbul dari tingkat yang lebih bawah. radik L5 menyilang bagian lateral diskus intervertebral lumbosakral dan tidak pada sulkus saraf spinal. Prolaps lateral L5/S1 karenanya bisa mengenai bagian lateral radik S1 dan bagian medial radik L5. Pada kompresi yang sangat kuat dan setelah kompresi yang lama. Ini sangat sering pada kasus tingkat L5/S1. refleks tendon Achilles mungkin hilang sempurna dan tidak akan kembali bila tekanan pada radik saraf tidak dihilangkan pada saat tersebut. Akar L5 berjalan melalui foramina intervertebral L5/S1 pada bagian atasnya dan kemudian mendekati aspek lateral diskus intervertebral lumbosakral.c. diskus intervertebral L5/S1 mungkin dieksplorasi kelateral dengan membuang setengah medial faset L5/S1. Radiasi gejala ketumit dan tepi lateral kaki termasuk jari ketiga hingga kelima. Sindroma S1 Jarak yang relatif besar antara kantung dural. Prolaps dan protrusi dapat mengenai beberapa segmen dan simptomatologi poliradikuler mungkin ditemui.

Foto Polos Foto polos pada sindroma lumbar memberikan sangat sedikit informasi tentang sindroma tersebut namun dapat membantu menyingkirkan kelainan lain. Osteofit adalah tahap akhir proses degeneratif pada diskus intervertebral dan tidak dapat dianggap sebagai sindroma diskus intervertebral akut. Siatika bilateral sangat jarang pada kelainan diskus intervertebral dan bila terjadi harus dilakukan pemeriksaan yang lebih luas. RADIOGRAFI A. Osteofit besar dapat tampak dan sering menjembatani ruang antara ruas tulang belakang. Nyeri dan hipestesi didistribusikan sepanjang aspek anterolateral seluruh tungkai dan sindroma L5 menonjol. Terserangnya beberapa radik saraf secara bersamaan sering terjadi sebagai bagian dari sindroma post diskotomi karena adhesi yang terbentuk. sejumlah radik saraf menjadi terkena yang akan menyebabkan simptomatologi poliradikuler dimana tulang belakang lumbar menjadi kifosis. instabilitas segmental tidak dapat didemonstrasikan. Kombinasi sindroma L4 dan L5 berakibat gangguan motor pada kuadriseps. Kadang-kadang prolaps dorsal dapat berubah menjadi osteofit yang menonjol kekanal spinal atau sebagian menyumbat foramina intervertebral. Bila seluruh kantung dural terkena pada prolaps besar dari aspek anterior kanal spinal. Degenerasi diskus intervertebral dikenal dengan tampaknya reaksi tulang ruas tulang belakang dan pemendekan tinggi diskus intervertebral. Terdapat paresis ekstensor kakkaki dan jari dan refleks tendon Akhilles terganggu. Hal ini terutama terjadi kearah anterior dan lateral. namun berubah vertikal hingga osteofit ruas tulang belakang berdekatan tumbuh bersama hingga terbentuk jembatan pada ruang inter-vertebral. Gangguan sensitifitas bervariasi dan juga distribusi nyeri selama perjalanan kliniknya. Pemeriksaan lain dengan bantuan media kontras mungkin diperlukan. Prolaps medial mungkin menyebabkan siatika. Paling sering adalah kombinasi sindroma L5 dan S1. Kellgren dan Lawrence menemukan degenerasi . Osteofit semula mengarah horizontal. tibial anterior dan extensor hallucis longus. Protrusi. prolaps.intervertebral L4/L5. Selama perjalanan klinik mungkin timbul variasi pada tungkai mana penjalaran nyeri terjadi. namun paling menonjol adalah sindroma S1 pada kebanyakan penderita. Pada penderita tua penyempitan rongga intervertebral dapat ditampilkan seperti halnya perubahan osteosklerotik dari end-plates. radik saraf yang berhubungan (L4) dapat terkena walau radik saraf L5 tidak langsung berdekatan dengan prolaps diskus intervertebral berdekatan.

demikian juga letak arkus. Gambaran paralel end-plates ruas tulang belakang diamati. Pada tumor dan kelainan inflamatori ia akan membesar atau menghilang sama sekali. Dari data disimpulkan bahwa foto polos kecil nilainya dalam menentukan penyebab nyeri pinggang atau dalam menentukan siapa yang berisiko. Walau penyempitan ruang diskus jelas berhubungan dengan usia. Interpretasi radiograf penting karena sekali kelainan lain disingkirkan. Frymoyer menemukan bahwa hanya penyempitan ruang diskus L4 yang jelas berhubungan dengan gejala nyeri pinggang bawah dan nyeri tungkai. Kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah berhubungan dengan usia dan tidak perlu menunjukkan adanya gejala. Togerson dan Dotter (1976) meneliti pasien dengan sindroma diskus intervertebral lumbar dan membandingkannya dengan sejumlah yang sama penderita tanpa nyeri pinggang bawah. s. serta penyempitan diskus pada foto polos adalah indikator degenersi diskus yang agak kurang peka. Ini menunjukkan bahwa degenerasi diskus sangat mungkin bila gejala dijumpai. Jumlah ruas tulang belakang lumbar dapat ditentukan dan setiap bentuk peralihan teramati pada daerah lumbosakral dimana ketidaksetangkupan dapat menyebabkan beban yang tidak ekual dari diskus intervertebral yang mungkin memiliki beberapa kepentingan dalam perkembangan kelainan diskus intervertebral. Proyeksi anteroposterior. Didapat juga hubungan yang positif antara nyeri pinggang dengan adanya spur traksi dan spondilolisis serta spondilo-listesis. namun ditemukan penyempitan ruang diskus pada kelompuk tanpa gejala sebesar 22 % dan pada kelompok dengan nyeri pinggang sebesar 56 %. Deviasi aksial. kesimpulan atas keadaan fisiologiknya dibuat secara tak langsung dengan ada atau tiadanya penyempitan ruang diskus dan adanya osteofit marginal. lebih banyak pada penderita dengan gejala dibanding orang yang tanpa gejala. lebih nyata didapat pada dekade ketujuh dibanding dekade kelima bila tidak memperdulikan gejala. Yang terakhir adalah perubahan yang terjadi relatif kemudian pada degenerasi diskus intervertebral. dibanding dengan 30 % pria dan 27 % wanita dengan arthritis faset secara radiografi. Pada skoliosis ia bergeser kearah kecekungannya. deformitas prediskotik dapat diamati. anomali ruas tulang belakang dan penyempitan kanal spinal lumbar mempercepat perkembangan selanjutnya kelainan ini. sedang pada tulang belakang lumbar 66 % pada pria dan 45 % pada wanita. Diskus sendiri tak langsung dapat dilihat pada radiografi rutin.diskus secara radiografik pada 83 % pria dan 72 % wanita antara usia 55 dan 64 tahun tanpa memperdulikan gejala. Pemendekan diskus intervertebral dan juga . Frekuensi spondilosis dan lordosis lumbar ekual untuk masing-masing kelompok.

Namun pelurusan dapat terjadi bila pasien dalam posisi panggul dan lutut fleksi. Juga dislokasi ruas tulang belakang arah posteroanterior tanpa tanda-tanda cedera pada proses artikular. yang disebut pseudospondilolistesis (spondilolistesis degeneratif). Bila pungtur diperlukan dalam mendiagnosa kelainan diskus intervertebral. menurut Schmorl dan Junghanns (1968). Mielografi 1. Dalam meneliti spondilosis dan spondilolistesis lebih lanjut. Pembengkakkan tepi ruas tulang belakang tidak harus berarti osteofit posterior. Ini dijelaskan Baastrup dan digunakan namanya. Tampilan Rongga subarakhnoid ditampilkan dengan menyuntikkan medium kontras. Kantung dural bersama rongga subarakhnoid turun bersama-sama menuju ruas tulang belakang sakral kedua. namun merupakan pertanda degenerasi diskus intervertebral dini. dan suatu saat mielografi mungkin perlu. selalu harus dilaporkan. perlu untuk mengindentifikasi foramina interarkuata yang bertindak sebagai pengarah untuk tempat pungtur. Gangguan pertumbuhan juvenile tidak mempunyai arti klinik. Bila ditemukan suatu perubahan. Ini mungkin hanya variasi kontur ruas tulang belakang normal dan mudah dikenal melalui tomografi atau mielografi. Walau nyatanya kebanyakan ahli bedah merasa bahwa spina bifida occulta tidak merupakan masalah. Memberikan lebih banyak informasi dan fenomena Guntzsche dapat diamati dimana tampak pelurusan lordosis lumbar. Tebal diskus intervertebral pada daerah lumbal makin kedistal akan semakin tebal hingga tingkat diskus intervertebral lumbar empat. Proyeksi lateral. Pelurusan ini merupakan tanda dari sindroma diskus intervertebral. Penyempitan rongga intervertebral pada pemuda penting secara klinis.hiperlordosis tulang belakang memungkinkan kontak erat antara prosesus spinosus dan suatu sklerosis reaktif dapat diperlihatkan yang mungkin merupakan penyebab perasaan tidak enak. Osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang mungkin juga penting. B. Rongga subarakhnoid dibatasi membran arakhnoid yang berdekatan dengan dura. karena peningkatan kehati-hatian diperlukan dalam mencapai bagian tulang belakang daerah ini untuk mencegah ketidak-sengajaan membuka kantung dural. Pada daerah lumbar rongga subarakhnoid berisi cairan spinal yang . perlu memperluas pemeriksaan radiografik dengan pandangan oblik dan tomografi. Perubahan radiografik menampakkan perubahan yang lanjut dari kompleks tiga sendi. terutama bila operasi dilakukan pada daerah tersebut. pandangan oblik memberikan informasi penting.

Kontras adalah minyak iodium dan sejak itu berbagai media kontras telah digunakan. . Demonstrasi kantung-kantung radik tidak mungkin. dan ester iodium seperti Pantopaque diabsorbsi dengan susah payah. Minyak iodium seperti Iodipin. Pengisian kantung radik saraf dengan medium kontras adalah paling penting dalam mendiagnosa dengan mielografi. namun hanya sedikit informasi yang dapat diterima. Pembengkakan kecil karenanya mudah dikenal pada mielografi. Diantara media kontras positif antara lain adalah minyak iodium tak larut dan ester iodium serta substansi larut air.mengelilingi serabut-serabut saraf kauda ekuina dan mengikuti radik-radik saraf keforamina intervertebral membentuk kantung radik. Bagian anterior kantung dural berhadapan dengan bagian posterior diskus intervertebral berdekatan dengan konsekuensinya semua perubahan pada segmen posterior diskus intervertebral akan menyebabkan indentasi kantung dural. 2. Media kontras larut air tampaknya lebih memadai pada mielografi lumbar karena diresorbsi lengkap dan tidak menyebabkan komplikasi sekunder. Gangguan pada kantung dural tidak hanya tergantung ukuran prolaps namun juga pada jarak antara tepi posterior diskus intervertebral dan dura. Serabut-serabut saraf kauda ekuina tampak sebagai pita radiolusen tipis pada mielografi dan bila kantung dural mengalami penekanan mereka akan melewati daerah obstruksi dengan tampilan seperti lengkungan. Pengenalan kantung radik perlu untuk memperlihatkan posisi dan perjalanan saraf-saraf spinal. Mielografi pertama dengan media kontras positif dilakukan Sicard dan Forstier (1922). Media Kontras Mielografi pertama dilakukan Dandy (1919) dengan media udara. Kantung radik dapat sedikit terindentasi atau sama sekali terputus. Pada protrusi atau prolaps medial atau para medial pandangan lateral akan memperlihatkan indentasi pembengkakkan pada kantung dural yang terisi kontras pada tingkat diskus intervertebral yang terkena. Protrusi lateral dapat sulit dikenal dan mungkin perlu melakukan mielografi secara sempurna dengan pengisian yang baik dari kantung dural. Untuk alasan ini mielografi juga disebut radikulografi. Membuang medium kontras dengan pungtur lumbar sekunder tidak selalu berhasil. dan antara kedua ekstrem ini berbagai kemungkinan dapat ditampilkan. dan karena lamanya absorbsi mereka dapat mengakibatkan arakhnoiditis pada kanal spinal. Jarak ini sempit pada tingkat L1-L4. Pleksus vena yang besar dan lemak epidural mengisi rongga ini. Rungga epidural (ekstradural) adalah rongga antara kantung dural dan bagian tulang dari kanal spinal. Mielografi dengan udara dan minyak sangat berbahaya. Pada tingkat L5-S1 jaraknya lebih lebar dan prolaps medial kecil tidak akan menekan kantung dural dan karenanya tak ditampilkan pada mielografi.

Pemakaian luas dan kemungkinan efek samping membuat mielografi sebagai pemeriksaan yang harus dikerjakan dengan pertimbangan. 90 % pasien dengan mielogram positif. absorpsinya melalui teka lumbar dan villi arakhnoid parasagittal hingga tidak perlu dikeluarkan lagi. Ia dapat juga digunakan untuk diskografi. Ia cepat diabsorbsi dari rongga subarakhnoid dalam waktu sekitar delapan jam.Talle 1973. Golman 1973. dan tidak memerlukan pungtur sekunder untuk mengeluarkan media kontras seperti yang sebelumnya berlaku untuk media kontras jenis iodium/minyak. Metrizamide adalah medium kontras triiodized yang larut air namun tidak terurai. hal mana paling tidak menyenangkan pada mielografi dengan minyak. yang larut air dan memberikan informasi yang lebih baik. Hindmarsch 1973. Ia ditolerasi baik dan tidak memerlukan anestesi spinal. Perkembangan media kontras yang lebih sempurna. Dengan memakai Metrizamide (Amipaque). Masih cukup material kontras yang tertinggal ditempatnya untuk menampilkan diskus intervertebral yang mengalami herniasi yang sebelumnya tidak ditampilkan dengan baik pada tomografi aksial terkomputer. Keuntungan agen larut air ini antaranya lebih sensitif terhadap perubahan patologis hingga lengan radik saraf dapat terlihat jelas. Iohexol (Omnipaque). Kadang-kadang media kontras tertimbun diepidural. Neurotoksisitas seperti kemampuan epileptogenik sangat rendah dibanding media kontras larut air yang terurai (Skalpe . namun tidak dijumpai efek samping. Data yang sama dikemukakan Spangfort yang menyatakan lebih dari dua kali temuan . risiko aliran kontras ketingkat lebih tinggi dapat dikurangi karena toksisitasnya yang sangat rendah hingga bila mencapai toraks atau leher tidak akan menimbulkan komplikasi. Metrizamide (Amipaque). Karenanya tampilan rongga subarakhnoid dan radik-radik saraf bisa didapat dengan cepat dan dengan akurasi yang tinggi. Larutan 170 mg J/ml adalah isotonik terhadap cairan spinal. Medium kontras bercampur cepat dengan cairan spinal serta viskositasnya rendah. Substansi padatnya dapat dicampurkan dengan pelarutnya pada konsentrasi yang diinginkan. Arti mielografi sebagai penunjang penting sebelum operasi diperlihatkan Hirsch dan Nachemson yang melaporkan hubungan tanda-tanda neurologik dengan mielografi kontras larut air pada penderita yang dioperasi karena diduga herniasi diskus lumbar. ditemukan herniasi diskus saat operasi yang mana menunjukkan tingginya sensitifitas tes ini. kurang toksis dan kurang menyebabkan arakhnoiditis. didapat dengan menggunakan Meglumine iothalamate (Conray). Sebagai tambahan. Nachemson 1976). Meglumine iocarmate (Dimer X). Skalpe dan Amundsen 1975. Penggunaan baru dari Metrizamide adalah dalam tomografi aksial terkomputer yang dilakukan 8 jam setelah mielografi. dan Iopamidol (Isovue).

mielografi mempunyai risiko yang kuat. mielografi tidak boleh dilakukan. Mielografi memberikan penegasan dan juga memberikan tingkat yang tepat dari prolaps yang menentukan operasi. Pada kasus tertentu dimana pasien menolak. Akhirnya seperti telah dijelaskan. dan keputusan operasi harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinik. pertentangan masih terjadi hingga saat ini dikarenakan risikonya. Mielografi juga menunjukkan apakah prolaps berasal dari atas atau bawah dan selanjutnya memberikan informasi arkus mana yang akan dibuka. keterbatasannya dan ketidaktepatannya dibandingkan cara pemeriksaan lain. Pada pemeriksaan hubungan antara pengamatan klinik. Tentu . muntah. Indikasi Baru akhir-akhir ini mielogafi menjadi prosedur diagnostik yang dianjurkan untuk mendiagnosis semua keadaan yang diduga akibat penyempitan kanal spinal. termasuk nyeri kepala. kepentingan mielografi pada kasus ini tidak diutamakan.64 %. 3. kejang dan keluhan psikik. Kelainan diskogenik tidak hanya didiagnosis namun juga ditindak berdasarkan tanda dan gejala klinik. Menurut Nachemson (1976) akurasi diagnostik diperbaiki dari 60 menjadi 90% bila mielografi ditambahkan pada pemeriksaan. risiko masih tinggi yaitu 23 . Indikasi lainnya adalah stenosis tulang belakang dan kemungkinan adanya tumor. Mielografi prabedah saat ini tidak harus ditinggalkan. hingga menghindarkan perlunya melakukan laminotomi diagnostik kecil. Walau nilai mielografi sangat membantu dalam menyaring pasien. mual. Hitselberger dan Witten menemukan 37 % penderita tanpa gejala mempunyai kelainan tulang belakang leher dan lumbarnya. Karena sifatnya invasif. dimana dua pertiganya (24 %) adalah pada lumbar. Kelainan mielografi semata-mata tidak boleh diperlakukan sebagai satu-satunya penentu operasi. Indikasi utama mielografi pada penderita kelainan diskus intervertebral adalah adanya nyeri radikuler dan gagal terhadap semua tindakan dan pada penderita dimana operasi akan dilaksanakan. mielografik dan operatif didapatkan bahwa tanda-tanda klinik hanya berkaitan 60% dan tanda-tanda mielografik 95% terhadap pengamatan operatif. Pada beberapa kasus akan memberikan jawaban apakah operasi harus dilaksanakan atau tidak. Pungtur lumbar untuk analisis cairan spinal tidak diperlukan pada keadaan ini.negatif pada operasi bila sebelumnya tidak dilakukan mielografi. masalah urinari. Bila tanda-tanda dan gejala-gejala sangat jelas dan informatif. Walau sudah dengan Metrizamide. mielografi akan memberikan tingkat yang tepat yang mana sangat penting ketika simptomatologi sering berbentuk campuran.

Bila tindakan konservatif gagal setelah beberapa bulan. 4. mielografi dianjurkan. Pada anak-anak harus hati-hati dalam merencanakan dan melakukan mielografi.mielografi tidak boleh dilakukan pada penderita yang peka iodium terutama yang menunjukkan kepekaan terhadap makanan laut. Pastikan kontras berada intratekal. Bila diduga suatu prolaps mobil atau fragmen. dan film diambil untuk menampilkan berbagai tingkat. perlu dipikirkan mielografi. Kepala meja ditinggikan. Pada kasus khas sindroma L5 dengan paralisis akut. Jarum segera ditarik setelah injeksi. Jarum diinsersikan pada inter-space antara L2 dan L3. kontras dimasukkan dengan kontrol radiografik antara L1 dan L2. Injeksi biasa dilakukan dengan tabung plastik yang bersatu dengan jarum. Namun bila ada dugaan suatu tumor sangat dianjurkan sebagai prosedur diagnostik. Untuk mendapatkan proyeksi yang kaya kontras dianjurkan untuk menyelesaikan seluruh pemeriksaan secara lengkap dalam 10 hingga 20 menit. keadaannya sangat berbeda dan mielografi harus dilakukan dalam usaha menentukan tingkat. harus diingat bahwa kebocoran cairan spinal ringan mungkin terjadi dan karenanya beberapa tindakan pencegahan harus diambil seperti halnya melakukan pungtur lumbar diagnostik. Bila diduga sindroma kauda. mielografi tidak selalu perlu dan operasi dapat dilaksanakan segera. Bila lesi diduga lebih atas. Pada kasus asuransi dimana diagnosisnya sulit. setelah mana medium kontras segera mulai diabsorbsi. Pada kasus dengan masalah asuransi dokumentasi yang dapat dilihat lebih bernilai dari tanda-tanda dan gejala-gejala. . Tampilan oblik diambil dengan pasien dalam posisi telungkup dan miring kesatu sisi dan selanjutnya kesisi lain. Sindroma diskus intervertebral lumbar lokal sangat jarang memerlukan mielografi. Harus waspada akan kemungkinan adanya peninggian tekanan intraserebral serta akibatnya yang mungkin memberat pada keadaan ini. Tehnik Pasien diletakkan pada meja radiografik dengan punggung datar dengan bantuan kantung udara yang dapat digembungkan dibawah perut. Dalam hal penggunaan Metrizamide perlu mempertahankan posisi pasien setengah duduk 600 selama 6 jam agar kontras tidak naik melebihi tingkat lumbar. Bila pada mielografi tidak ada cairan yang didapat. Ini termasuk nyeri pinggang akut yang mungkin atau tidak berhubungan dengan tanda-tanda neurologik yang jelas. Tampilan posteroanterior diambil dengan meja ditinggikan dengan berbagai derajat. projeksi fleksi dan ekstensi diambil dalam posisi berdiri tampilan lateral.

Suatu saat gejala spontan berkurang dan tindakan terbaik adalah analgesik dan istirahat baring. yang mungkin akan membingungkan dengan prolaps medial pada tingkat L5-S1. Indentasi medium kontras pada beberapa segmen biasa didapat pada penderita tua. Temuan Mielografik Mielografi diambil pada pandangan anteroposterior. Komplikasi Komplikasi mungkin timbul baik karena medium kontras atau pungtur lumbar maupun keduanya. Tampak Anteroposterior. Bila kesalahan menyuntikkan media kontras (Metrizamid) kerongga epidural. Kantung-kantung radik saraf dapat ditampilkan. sedikit peninggian suhu dan juga kekakuan otot. Tampilannya berbeda tergantung proyeksi yang digunakan. 2-3% penderita dengan nyeri kepala juga menderita meningismus. Protrusi dan prolaps lumbar akan menyebabkan indentasi khas pada mielogram. serta muntah dapat terjadi. Secara keseluruhan. Kantung dural berakhir pada ruas tulang belakang sakral kedua atau mungkin lebih pendek pada ruas tulang belakang sakral pertama. Ini mungkin berupa penekanan .5. Walau toksisitasnya rendah. Disini terdapat hubungan yang nyaris langsung yang tidak terjadi pada segmen L5-S1 dimana terdapat sedikit rongga. Medium kontras diabsorbsi cepat dari daerah ini tanpa menyebabkan kerusakan apapun. maka komplikasi akan diakibatkan terutama oleh pungtur lumbarnya. Setelah mielografi dengan Metrizamide 20% pasien merasa nyeri kepala untuk beberapa hari. Indentasi pada satu atau dua segmen adalah patognomonik. tak ada hal-hal istimewa yang diharapkan terjadi. Ujung bawah kantung dural menunjukkan variasi anatomis yang dapat berupa kerucut atau lengkungan. Setiap benda asing yang dimasukkan kekanal spinal akan menambah iritasi terhadap sistem saraf pusat dengan nyeri kepala. Bila diduga suatu prolaps yang mobil atau segmen yang tak stabil. Gambaran posterior diskus intervertebral L1-L4 serupa dalam tampilan lateral. Tepi anterior dan posterior medium kontras tampak dan kantung-kantung radik saraf tercakup. meningismus. kejadiannya relatif kecil. Karena penggunaan medium kontras mempunyai komplikasi yang relatif kecil. Tampak Lateral. 6. efek samping dan komplikasi ini tidak akan mengurangi nilai mielografi sebagai alat bantu diagnostik. tampilan fungsional diambil pada fleksi dan ekstensi maksimum. lateral dan oblik untuk mendapatkan analisis proses yang menimbulkan penyempitan kanal spinal. media kontras yang baru mungkin menyebabkan komplikasi jenis yang sama. Komplikasi yang harus dipikirkan adalah infeksi. muntah. Namun dari berbagai laporan.

Perpindahan fragmen diskus intervertebral seperti juga protrusi medial pada tingkat L5-S1 dan protrusi lateral pada setiap lengan radik tidak selalu tampak pada mielogram. pemeriksaan objektif dan radiografi dan pada kasus tertentu mielografi. Pemeriksaan laboratorium mungkin mempunyai beberapa nilai dan pada sindroma lumbar tidak dijumpai perubahan nilai-nilai darah. Serabut saraf akan tampak sebagai pita tipis yang panjang. Media kontras larut air tak hanya menampilkan kontur permukaan kantung dural dan kantung-kantung radik namun juga struktur interior dapat diperlihatkan. menyempitan oseus kanal spinal lumbar. Pemeriksaan Laboratorium Termasuk Analisis Cairan Spinal Pemeriksaan tambahan dipersiapkan hanya untuk keperluan diagnosis diferensial. PEMERIKSAAN LAIN Setelah pemeriksaan klinik termasuk riwayat lengkap. sering menyerupai prolaps diskus intervertebral. Prolaps masif didemonstrasikan oleh berbagai tampilan. Protrusi medial dan para medial mudah diperlihatkan pada tampilan lateral dan oblik. Pada mielografi tidak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. mudah untuk menganalisa ukuran dan lokalisasi protrusi diskus intervertebral. Namun indentasi dapat terjadi tanpa ada hubungannya dengan degenerasi diskus intervertebral. prolaps turun dari medial kelateral keforamina intervertebral (Brussatis dan Steeger 1974). Sebaliknya operasi dipikirkan pada kasus dimana tindakan konservatif tidak memberikan hasil dan hasil mielografi tidak menampakkan informasi positif. Seperti ditunjukkan oleh mielogram. operasi dikontra-indikasikan pada penderita dengan tidak cukup gejala atau temuan. Menampilkan kantung-kantung radik saraf dan kontur lateral kantung dural. Tindakan menyeluruh tergantung gambaran klinik dan bahkan bila perubahan ditampilkan pada mielografi. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. Protrusi lateral lebih mudah diamati pada tampilan anteroposterior. laju endap darah atau foresis-elektro. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. diagnosis mungkin perlu dipertajam untuk mendapatkan peng-indentifikasian asal.atau obstruksi lengkap ('amputasi'). Dari tampilan berbeda. Cairan spinal bisa didapat saat mielografi dan analisis dapat dilakukan. Tampak Oblik. Kepadatan kontras media tidak akan terlalu tinggi bila ia sudah bercampur dengan cairan spinal. Tumor. Pada degenerasi diskus . A. lokalisasi dan tingkat lesi.

Lagi pula mielografi dengan media kontras larut air lebih mudah dikerjakan dan lebih akurat dalam informasi. terutama pada inflamasi (herpes zoster. Operasi diindikasikan pada kasus ini. Kelainan ini dapat dijumpai pada beberapa keadaan spinal. Pada kelainan degenerasi diskus intervertebral tes ini tak diperlukan. Pada sindroma ini protein total dan koloid nilainya sangat tinggi. Analisis cairan spinal tidak memberi banyak pada kasus degenerasi diskus intervertebral dan hanya dipersiapkan untuk diagnosis diferensial dari keadaan lain. pertama harus diduga terutama bila diskus intervertebral lumbosakral menyempit dan kolaps. Penting untuk mengingat bahwa diskus intervertebral yang berdegenerasi tidak perlu menimbulkan gejala. B. Nilai dari diskografi lumbar minimal pada diagnosis rutin karena diketahui degenerasi terjadi pada usia tertentu setelah tampilan normal sulit diharapkan. Tes Queckenstedt dapat dilakukan.intervertebral cairan spinal jernih dan mudah mengalir melalui jarum kecil. Diskografi Rongga intradiskal dapat didemonstrasikan dengan menyuntikkan media kontras kedalam diskus intervertebral. adalah bahwa radik lumbar kelima tertekan pada daerah interforaminal baik oleh diskus intervertebral yang mengalami herniasi atau oleh spurring lateral dari herniasi yang sudah lama. Diskus intervertebral sulit untuk disuntik dengan medium kontras dan sedikit kontras yang masuk dapat diperlihatkan oleh gambaran seperti lensa pada radiografi. pemeriksaan lanjutan harus dikerjakan. Pada setiap pasien dengan gangguan radik lumbar kelima dan jarum yang dimasukkan ke diskus intervertebral L4/L5 membuktikan keadaan normal. medium kontras akan mengalir keluar aspek posterior anulus fibrosus. . Diskografi hanya dapat membedakan antara protrusi dan prolaps yang mungkin sama artinya dalam tindakan selanjutnya. sifilis) atau tumor. Diskus intervertebral yang berdegenerasi dapat mengabsorbsi 2 hingga 4 cm3 cairan dan akan memperlihatkan sejumlah rongga kecil pada jaringan diskus intervertebral. Keadaan protein meningkat dan hitung sel normal disertai tekanan cairan normal disebut 'dissociation globolinocyto-logique' (sindroma Guillain-Barre). Pada perforasi anulus fibrosus. Pada keadaan dengan peninggian protein dan hitung sel bersama dengan blok spinal (Queckenstedt positif). Bahkan dengan Metrizamide hasil negatif palsunya 20% pada interspace L5-S1. Pada prolaps besar atau setelah operasi diskus intervertebral kadang-kadang dijumpai sedikit peningkatan protein cairan spinal. Hitung sel normal.

dengan pembesaran saraf serta pengaburan tepinya karena edema. Gangguan otot neurogenik yang timbul sehubungan dengan adanya prolaps tak dapat diperlihatkan oleh miografi-elektro hingga perjalanan penyakitnya lanjut.C. langsung didekat radik saraf yang melintang diskus. . Kelemahan otot anggota bawah sering dapat diketahui pada pemeriksaan klinik. Penggunaan miografielektro untuk memperlihatkan gangguan neurologik adalah semata-mata untuk diagnostik diferensial. Ketiga. protrusi harus fokal dan tak setangkup. seperti halnya ligamen longitudinal posterior didekatnya (Pech dan Haughton. 1985). Miografi-elektro Gangguan motor dapat dinilai secara objektif dengan miografi-elektro. Pada pencitraan dengan pembebanan T2. serta hilangnya batas anatomik antara nukleus dan serabut anular dalam (Miller. Tomografi Terkomputer Sangat akurat dalam mendiagnosis herniasi diskus intervertebral dengan kompresi radik saraf sebagai penyebab siatika. sering pembengkakan pasca jejas pada radik saraf terkena. Pencitraan Resonansi Magnetik Baik MRI maupun CT resolusi tinggi memberikan tampilan yang sangat baik atas perubahan morfologik serta pengaruh dari herniasi diskus. 1988). tingkat hidrasi. Dengan penuaan. Bila temuan ini dijumpai. Kriteria diagnostik harus spesifik. Kedua. 1988). atau pembesaran vena epidural sekitarnya. E. eksudat inflamatori. dan jenis utama dari kolagen yang dominan (Ghosh. PRM memperjelas akibat herniasi terhadap struktur intraspinal. 1988). sering terletak dorsolateral. celah intranuklir ditemukan pada diskus normal pada pencitraan pembebanan T2. Intensitas sinyal diskus tergantung keadaan hidrasi dan fisiokimia jaringan diskal (Hickey. Nukleus pulposus dan anulus fibrosus terutama mengandung air. pengeringan bertahap material inti mukoid. dengan perbedaan utama pada kadar relatif komponen tersebut. Pada pencitraan dengan pembebanan T2 pada serabut anular luar memperlihatkan intensitas sinyal yang sangat lemah. dan ini normal pada pertumbuhan jaringan normal. akurasi diagnostik sangat tinggi. D. juga memberikan kemungkinan menduga perubahan patologis yang terjadi dalam diskus sebelum perubahan pada konturnya. akan terjadi penghancuran bertahap proteoglikan nukleus. Pertama. intensitas sinyal yang tinggi pada bagian sentral diskus berasal dari nukleus pulposus dan serabut anular dalam (Yu. harus tampak kompresi radik saraf dan/atau pergeseran. kolagen serta proteoglikan. Diatas usia 30. 1986). kaudal dari herniasi.

Nyeri lateral dapat bergerak lebih kemedial dan nyeri radik saraf tajam berubah menjadi nyeri pinggang tumpul. Mungkin juga nyeri akan berkurang dan lokalisasi berubah. Dengan traksi pada tulang belakang lumbar. siatika dan deformitas siatik akan hilang selama traksi.F. Pengaruh postur pada gejala menunjukkan terkenanya diskus intervertebral. Penyebab Ekstravertebral Tidak jarang nyeri dari panggul dikelirukan dengan . dan akhirnya siatika dapat merubah penjalarannya dari bagian distal keproksimal dari anggota bawah. yang dilakukan dengan memakai bebat sekitar pelvis dengan pegangannya tergantung dari tiap sisi (Kramer 1973). Dilakukan melakukan DIAGNOSIS DIFERENSIAL SINDROMA AKAR SARAF LUMBAR Dalam menganalisa nyeri pada anggota bawah. Tes traksi berguna dalam mendiagnosis sindroma radik saraf lumbar. Penderita menarik pegangan kebawah dan dengan tindakan ini intensitas dan penjalaran nyeri yang berasal dari radik-radik saraf lumbar akan berubah. pada hari mielografi dilakukan. Kadangkadang nyeri bahkan bertambah saat traksi dan menjalar lebih keperifer. Pasien juga dapat membungkuk kedepan saat menarik pegangan. Sebagai pegangan. Postur tidak berpengaruh pada siatika atau neuralgi femoral oleh peenyebab lain. penting untuk membedakan siatika sebenarnya dengan nyeri yang menyerupai siatika. Sulit penilaian jaringan lunak. Ini dapat terjadi apabila prolaps menjadi lebih besar atau mengalami fragmentasi menjadi sekuester. Ini terutama ditunjukkan oleh tes traksi terhadap tulang belakang lumbar atau tes regang femoral yang bermakna pada gangguan pada radik saraf. Tomografi Terkomputer yang diperkuat Diperdebatkan keuntungan dan kerugiannya. A. tes traksi dapat positif pada sindroma radik saraf karena berbagai penyebab. mungkin akan mengurangi kontak antara radik saraf dengan diskus intervertebral hingga penjalaran nyeri baik siatika maupun neuralgi femoral dapat berubah. Tes traksi juga menjelaskan apakah traksi akan bernilai terapeutik bagi pasien. Nyeri berasal dari sendi panggul atau vaskuler tidak akan terpengaruh oleh tes traksi. siatika disebabkan oleh degenerasi dua diskus intervertebral lumbar yang terbawah. Pada protrusi kecil. Selain itu harus dibedakan antara nyeri radik saraf dan nyeri akibat terganggunya saraf perifer. Kekecualian. Neuralgi femoral paling sering disebabkan degenerasi diskus intervertebral lumbar bagian atas.

Bila tes straight leg-raising mengenai sendi panggul. Berbeda dengannya. uterus atau prostat hanya timbul bila tumor mencapai ukuran besar. Nyeri pada daerah sendi panggul mungkin disebabkan peri-arthrosis panggul yang baik sendi panggul maupun tulang belakang lumbar tidak menunjukkan adanya kelainan patologik. pergerakan sendi panggul menyebabkan pergerakan pelvik yang konkomitan dengan kemungkinan nyeri radik saraf. Sangat mungkin nyeri ini adalah akibat terganggunya saraf simpatetik (saraf vaskuler) seperti diduga Idelberger (1977). Pada sindroma radik saraf lumbar beberapa tanda mungkin tidak dijumpai hingga menyulitkan penegakan diagnosis. Tes Mennel dan pemeriksaan klinik yaitu radiografi dan sintigrafi akan membantu diagnosis. Pada sindroma radik saraf yang disebabkan protrusi diskus intervertebral atau prolaps diskus intervertebral. Tes traksi negatif serta tiadanya hubungan dengan posisi postural menyingkirkan gangguan radik saraf. Kadangkadang suatu aneurisma arteri iliak komunis bisa menyebabkan siatika (Elliot 1971). Tidak ada gangguan lumbar lokal yang menimbulkan siatika tanpa nyeri sakral. ini akan sangat membingungkan. selanjutnya disarankan menyuntikkan anestesi lokal intra-artikular sebagai pengarah. Bila nyeri bertambah saat berjalan. Pada siatika tes siatik sangat berbeda.sindroma radik saraf lumbar. Radiografi termasuk tomografi digunakan untuk diagnosis menyeluruh. Untuk diagnosis terkenanya sendi panggul. Karenanya perlu menyingkirkan kemungkinan osteoarthrosis panggul serta nekrosis kaput femoral. yaitu kepaha dan lutut. Ini semula dijelaskan sebagai terganggunya saraf obturator yang mencatu bagian anterior sendi panggul dengan serabut-serabut sensori. trokhanter maior dapat diinfiltrasi dengan anestetik lokal. Dalam usaha menegakkan diagnosis. Gangguan neurologik mungkin sangat sedikit atau sama sekali tidak ada. Tidak jarang diterima rujukan hanya karena kebingungan atas nyeri tungkai apakah dari sindroma radik saraf lumbar atau dari kelainan vaskular perifer. Juga perlu secara teliti mendengarkan riwayat pasien dimana sindroma radik saraf dijelaskan oleh hubungan terhadap perubahan posisi dan tes traksi. Ada pula kelainan pada saraf siatiknya . Perubahan inflamatori atau degeneratif pada sendi sakroiliak dapat menimbulkan nyeri serupa dengan siatika proksimal. Tanda-tanda pleksus saraf lumbosakral akibat tumor ekstra-vertebral dari rektum. Pertanda terganggunya sendi panggul adalah perbedaan pada rotasi kedalam kedua sisi. Sebabnya adalah sangat sering dua keadaan ini terjadi bersamaan dan penjalaran nyerinya sangat serupa. ini sangat tidak biasa pada siatika. Pasien osteoarthrosis sering mengeluh nyeri yang menjalar kebawah. mielografi akan memberikan jawabannya.

Berlawanan dengan cedera pleksus dan saraf perifer. dan terdapat perubahan cairan spinal. Sebaliknya dari sindroma L3. Kadang-kadang siatika yang timbul setelah penyuntikan saraf siatik harus diingat karena mungkin pengobatannya termasuk injeksi pada daerah siatik. kelainan tik. Penyebab Vertebral Selain sindroma radik saraf yang disebabkan kelainan diskus inter-vertebral dijumpai kelainan lain yang menyebabkan siatika dan mengenai saraf femoral. Siatika dapat timbul bilateral pada spondilolistesis dan sangat sedikit dipengaruhi perubahan postur. dan gejala radik hanya terjadi bila massa tumor mengenai kanal spinal atau bila timbul fraktura patologis. Nyeri menjalar mudah dibangkitkan dengan menekan daerah tersebut. Tumor primer mungkin timbul pada segmen ruas tulang belakang terutama pada sarafsarafnya. Antaranya herpes zoster. Hal yang serupa terjadi pada tumor tulang belakang yang sebagian besar adalah metastase. Ini karena cedera pada saraf kulit femoral lateral. Gejala neurologik terjadi. siatika adalah gejala lanjut. Ini harus dipikirkan sebagai diagnosis diferensial dalam menganalisa nyeri sakral. diabetes dan periarteritis nodosa. Sisi injeksi tampak keras.sendiri yang menyebabkan diagnosis diferensial menjadi sulit. Spondilitis mungkin juga mengenai radik dan tidak terpengaruh oleh postur. Nyeri malam adalah khas. leprosi. neuritis alkoholik. Tindakan lain yang membantu diagnosis adalah infiltrasi lokal anestetik dan tes traksi. B. Bila nyeri dan gangguan sensasi terbatas pada lipat paha dan bagian anterior paha. Kadang-kadang kelainan Paget dan fluorosis menyebabkan siatika karena pertumbuhan tulang dengan penyempitan kanal spinal serta foramina intervertebral. lesi radik saraf tidak pernah bersamaan dengan tanda-tanda vegetatif. parestetik meralgia harus dipikirkan. Akar-radik saraf terjerat oleh jaringan fibrosa disekelilingnya serta menyebabkan pengangkatan atau traksi keatas sisi posterior ruas tulang belakang berdekatan. Pada lesi radik saraf tidak pernah ada kelainan perspirasi bahkan bila sensasi hilang total didalam daerah yang dicatu oleh beberapa radik (Schliack 1975). Gejala siatik bertambah dan tes straight leg-raising positif pada kedua sisi. Bila spondilitis dimulai dianterior. Pada lesi saraf siatik terdapat kelainan fungsi sudorimotor didaerah gangguan sensasi. Neuropati diabetik harus selalu diingat pada pasien tua. Stenosis spinal pada kebanyakan kasus disebabkan oleh kelainan diskus intervertebral dan . tidak ada gangguan pada refleks tendon patellar pada parestetik meralgia.

Kecil kemungkinan pulih bila operasi dilakukan dua atau tiga hari setelah kompresi kaudal. Pemeriksaan radiologiogi dan laboratori normal. Sindroma Kauda Sindroma kauda menunjukkan sindroma radik saraf lumbar poli-radikuler secara menyeluruh. Kompresi kauda akut akibat prolaps diskus intervertebral memerlukan operasi segera. Semua radik saraf dikauda tertekan baik oleh prolaps diskus intervertebral maupun tumor dan menimbulkan gejala radik lumbar maupun sakral. Blok cairan spinal menunjukkan kompresi spinal. Penting diingat keberagaman dan kepekaan masing-masing radik saraf yang menyebabkan gejala dan . Tindakan diagnostik terpenting adalah mielografi namun tidak selalu menjelaskan sumber kelainan. Cairan spinal normal dan alirannya yang bebas pada tes Queckenstedt tidak menyingkirkan kemungkinan kompresi kauda yang terletak dalam. Segera setelah paresis timbul. namun memerlukan pemeriksaan lain untuk memperjelas kelainan seperti mielografi. Lesi kauda akut adalah akibat prolaps besar dari tingkat L3/L4 atau L4/L5. indentasi medium kontras mungkin sangat besar namun bila tidak ada gejala maka tidak ada alasan untuk operasi. tindakan secara umum serupa. Mula-mula adalah nyeri hebat lumbar dan radikular. Sasaran harus ditujukan untuk mengurangi keluhan rasa tidak enak subyektif dan tidak terlalu ditujukan kepada deformitas anatomik. Laboratori dan mielografi akan memberi petunjuk diagnosis. perlunakan dan protrusi ringan dibanding prolaps sebenarnya. Sasaran utama adalah menghilangkan nyeri. Pada tumor kauda tidak ada hubungan dengan beban berat atau tanpa beban berat. Dalam beberapa jam dapat timbul cedera yang irreversibel. Secara umum terdapat perubahan sekunder dari sendi-sendi dan otot-otot intervertebral. C. TINDAKAN Mengingat etiologi dan patologi. Kebanyakan kelainan diskus intervertebral tampak sebagai fragmentasi. Analisis cairan spinal mungkin penting. Kurang penting untuk memperbaiki mobilitas tulang belakang lumbar. Pada mielografi.menyebabkan siatika. gejala khas prolaps diskus intervertebral menghilang. Kelainan diskus intervertebral khas dengan onset mendadak dan kaitannya dengan postur. Pada prolaps diskus intervertebral lumbar ada hubungan gejala dan perubahan patologik sebagai makin besar prolaps semakin berat gejala neurologik dan nyeri. Gejala sindroma kauda khas dan dari sudut diagnostik diferensial menarik untuk menganalisa etiologinya.

Beberapa pasien bereaksi baik terhadap pemijatan. pikirkan operasi. pemijatan. kontraktur kapsul sendi. Mula-mula adalah masalah mekanik yang diikuti iritasi radik-radik saraf dengan akibat timbulnya spasme otot reflektori. karenanya tindakan harus simptomatik dengan satu tujuan saja yaitu mengurangi nyeri. serta perubahan sirkulasi. Kemungkinan berhasil pada tindakan konservatif sangat terbatas. packing dan infiltrasi. A. perubahan abnormal volume diskus intervertebral. Dengan kata lain terdapat reaksi yang berbeda dari radik-radik saraf terhadap rangsangan mekanik akibat deformitas patologik. namun bila tidak memberikan hasil yang baik dan nyeri tetap berat. Terdapat gabungan pengaruh tekanan mekanik dan sensitifitas saraf dimana yang terakhir ini dapat dipengaruhi oleh obat-obatan.tidak perlu perubahan patologik identik kasus demi kasus. Karenanya tindakan harus diarahkan terhadap intensitas gejala yang dipacu oleh sensitivitas radikradik saraf dan serabut-serabut saraf. Material diskus intervertebral yang telah rusak tidak dapat diperbaiki oleh jaringan. karenanya dianjurkan mengatasi fokus infeksi lokal pada pengobatan siatika dan nyeri pinggang bawah. Akar saraf yang sudah cedera oleh tekanan akan bereaksi abnormal bila menghadapi keadaan alergi atau infeksi. Perubahan psikik juga penting. Harus dipikirkan tekanan material diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi. Pasien yang bersifat pasif terbaik ditindak dengan istirahat tempat tidur. Hal menarik lain adalah remisi spontan gejala pada kasus nyeri dengan onset akut akibat degenerasi diskus intervertebral. Tindakan berdasar penyebab tidak akan berhasil pada kelainan diskus intervertebral. 'Serangan' terapeutik pada rantai manapun akan memberikan hasil yang baik. Pasien yang aktif lebih baik ditindak lebih aktif dengan traksi. Diagnosa yang teliti dan pengalaman yang luas diperlukan dalam merencanakan cara terbaik untuk masing-masing pasien. iklim dan tindakan fisik. Mulamula selalu harus dengan tindakan konservatif. lainnya justru memburuk. aberasi psikik serta akhirnya nyeri. Tindakan Konservatif . Pikirkan usia pasien. Harus dipikirkan semua kemungkinan cara pengobatan sesuai dengan kasus. Pemeriksaan teliti akan menunjukkan bagian mana dari segmen yang paling terserang dan rencana tindakan didasarkan kepadanya. Onset nyeri dan adanya suatu keadaan kronik akibat beberapa keadaan patologik membentuk lingkaran setan. keadaan fisik secara umum serta keadaan mental. Hal serupa terjadi pada traksi. postur abnormal. Tidak perlu merencanakan suatu tindakan dalam dua atau tiga minggu. Usaha yang gagal pada terapi manual atau pemijatan dalam waktu lama harus diganti dengan istirahat dan pemakaian panas. nyeri yang berasal dari kapsula sendi intervertebral dan spasme otot.

Pada kasus nyeri pinggang bawah yang kurang begitu berat akibat dislokasi yang lebih ringan dari fragmen diskus inter-vertebral. Kenyataan bahwa pasien telah menemukan posisi tubuh yang meringankan nyeri dan dapat ditemukan oleh pemeriksa. Gejala dari degenerasi diskus intervertebral biasanya akibat penambahan beban aksial dan karenanya tindakan terbaik adalah istirahat ditempat tidur. segala variasi posisi berdiri atau horizontal dapat mengubah perjalanan nyeri. penggunaan panas. Nyeri yang timbul setelah berada dalam posisi horizontal untuk waktu yang lama menunjukkan penambahan volume diskus intervertebral dan dapat dikurangi dengan memberi beban aksial secara hati-hati. Traksi dengan bebat ekstensi dapat mempercepat proses ini. Tidak ada aturan bagaimana meletakkan tubuh hingga bebas dari nyeri dalam pengobatan lumbago. pasien dapat digerakkan dengan arah yang memungkinkan kembalinya nukleus pulposus keposisi normal (Idelberger 1977). Tindakan dikolam dengan gerakan yang kuat mungkin cukup untuk mengobati nyeri sakral dengan onset akut dan nyeri akan hilang dengan cepat. Tergantung penyebab. Pada keadaan ini tekanan intradiskal 35 kp. pasien dengan nyeri pinggang bawah lebih menyukai beristirahat pada tempat tidur. Pada siatika posisi terlentang lebih disukai. Tempat tidur harus rata dan keras. Jenis tindakan ini salah satu yang terbaik yang dapat ditawarkan pada pasien dan diakhiri dalam beberapa hari serta dua hingga tiga minggu untuk kasus yang lebih sulit. Dianjurkan memakai penyangga untuk tungkai berupa blok karet busa. pemijatan. Dalam setiap gangguan fungsional pada interspace. terapielektro serta analgesik. Bila ada alasan untuk tidak memungkinkan pasien berada dalam posisi berdiri. Hirschberg (1974) melaporkan hasil yang sangat baik pada penderita yang dirawat konservatif dan mendemonstrasikan bagaimana pengurangan tekanan intradiskal menyebabkan hilangnya ketidaknyamanan serta . Sebagai pegangan. pasien mengatur posisi tulang belakang yang paling efektif mengurangi nyeri. tapi pasien mungkin memilih posisi yang tidak lazim untuk mengurangi rasa tidak enaknya. Lingkaran setan berupa nyeriregangan-nyeri. Diskus intervertebral menerima beban paling rendah saat berbaring horizontal dengan sendi lutut dan panggul dalam fleksi. Istirahat Pengurangan rasa tidak enak dan nyeri dapat dicapai dengan istirahat. kepala atau kaki tempat tidur dapat ditinggikan.1. Penting untuk mengatur posisi saat istirahat. Kontraksi isometrik otot pinggang akan menambah tekanan intradiskal dan akan mengurangi volume diskus intervertebral walau pada posisi horizontal. dapat dipengaruhi oleh tindakan tersebut. Pasien harus mengatur fleksi lutut dan panggul pada posisi yang paling nyaman.

Udara panas juga berefek baik. Pemanasan suhu badan terbaik dengan menggunakan wool tebal. Alasannya tidak diketahui. selalu digunakan oleh pasien nyeri pinggang bawah. Beberapa obat gosok. Dengan adanya aksi refleks. baik melalui kontak langsung maupun secara tak langsung melalui radiasi panas. menekuk tubuh dan mengangkat dapat menyebabkan berulangnya keadaan dan musnahnya perbaikan yang telah didapat. yang meningkatkan panas. Istirahat harus dilanjutkan dan dilakukan untuk waktu yang lama dalam usaha menghilangkan penekanan terhadap radik saraf dan juga membantu pengerutan fragmen diskus intervertebral. Tak ada alasan untuk percaya. packing. 2. Seringkali pasien dengan sindroma lumbar menemukan keuntungan dengan panas. Selama istirahat ditempat tidur.nyeri. Berdiri. mandi air panas atau botol air dapat digunakan. pemijatan dan traksi dapat dianjurkan. Pemanasan Panas menyebabkan hiperemi dengan akibat pengenduran otot-otot yang spastik. bebat dan aplikasi lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan panas dapat digunakan pada pinggang. Panas bisa didapat dengan berbagai cara. Dipercaya bahwa kantung panas mempunyai efek jaringan dalam. kompres hangat. Penting untuk melakukan tindakan menurut prinsip yang tegas. Dalam semua keadaan. dan pasien dapat dijaga fisik dan mental disaat ia menggunakan sesedikit mungkin gerakan dan higiene pasien dapat dirancang untuk keadaan berbaring pada sisi tubuhnya. panas tidak pernah digunakan terhadap pasien dalam posisi telungkup karena hiperlordosis paling sering menimbulkan nyeri. . Bila panas menambah nyeri. hiperemi akan menambah dan memperkuat nyeri. Untuk pemakaian sederhana dirumah. ini akan mengubah keadaan biokimia jaringan segmen lumbar. Dengan pemanasan dalam. diagnosis harus dipertanyakan. terjadi perubahan pada segmen yang bersangkutan. terapi-elektro harus dicegah selama tahap akut. Mandi air panas. Pemijatan. Pasien yang menderita nyeri sakral khronik dan siatika selalu mencegah kedinginan dan karenanya berpakaian hangat. Sangat sering kedinginan memperberat ketidaknyamanan. karena pada tumor dan keadaan inflamatori. Juga terjadi perubahan tingkat konduksi saraf motor dan aktifitas motor spinal dari neuron motor alfa dan gamma hingga terjadi relaksasi spasme otot yang diinduksi nyeri. reaksi inflamatori berkurang. dapat digunakan dan dianjurkan kompres panas dengan meletakkan dibawah pasien tanpa menggerakkan pasien terlalu banyak. Derivat minyak asam salisil.

kombinasi aspirin dan kodein atau acetaminofen dan kodein yang dapat diberikan secara oral. Bila tidak ditemukan perbaikan dalam waktu yang singkat. Obat-obatan Tidak ada bukti bahwa obat dapat mempengaruhi perubahan volume jaringan diskus intervertebral. Diazepam. Sasaran utama adalah mengurangi nyeri. indometasin. rektal atau parenteral. Komponen antiflogistik diduga mempengaruhi reaksi inflamasi yang diakibatkan iritasi mekanik pada segmen bergerak. Penyebab gejala mungkin kompresi mekanik serius terhadap radik-radik saraf lumbar dan memerlukan . Beberapa berefek analgesik dan anti flogistik dan umum digunakan seperti aspirin. dianjurkan analgesik kuat dan antiflogistik. Karena perbedaan mekanisme patogenetik. Pemberian intramuskuler lebih disukai karena memudahkan kontrol dan penilaian. Jenis obat diatur sesuai intensitas gejala. Efek samping yang timbul pada pemakaian lama tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pada nyeri akut berat. Vitamin B diduga mempunyai efek neurotropik yang membantu regenerasi serabut saraf yang terjepit. Nyeri kronik dianjurkan diatasi dengan indometasin atau aspirin yang umumnya ditolerasi baik. Pada saat operasi sangat banyak ditemukan radik-radik saraf yang menunjukkan tanda-tanda inflamasi. karenanya lingkaran setan nyeri-spasme-nyeri dapat diputus. Dapat diberikan pada sindroma radik saraf kronik.3. Bila nyeri hilang. Terapi fisik cukup memadai. obat-obat seperti disebut diatas dapat digunakan. Pada nyeri pinggang bawah ringan dianjurkan tidak menggunakan obat apapun. Tranquilizer akan menurunkan sensitifitas elemen saraf yang teriritasi secara mekanik pada segmen bergerak. Bila nyeri bertambah dan tidak hilang dengan istirahat. Pada pasien dengan psikik tidak seimbang dianjurkan pemberian sedativa. Obat-obat kombinasi yang mengandung kortison mempunyai sifat antiflogistik kuat. pyramidon. Tahap awal. sedatif bebas barbiturat dan relaksan otot dapat digunakan sebagai penambah pada tindakan lain. Efek merelaksasikan otot secara tidak langsung didapat juga dari sedatif dan tranquilizer yang sering dijumpai pada preparat kombinasi. terapi obat-obatan harus diakhiri. dijumpai beberapa jenis obat. dianjurkan aminofenazon. Karena efek sampingnya dianjurkan untuk pemakaian dalam waktu yang singkat. Relaksan otot mempunyai efek berbeda dimana ia langsung mempengaruhi otot yang menjadi relaks dengan akibat mengurangi nyeri. otot yang tegang akan berelaksasi. Terakhir dilaporkan bahwa obat kombinasi memberi hasil memuaskan. Injeksi intramuskuler dengan kombinasi fenilbutazon dan aminofenazon digunakan pertama kali. fenilbutazon.

tindakan yang lebih sesuai. Sindroma lumbar yang memerlukan pemijatan jangka panjang lebih baik ditindak dengan terapielektro yang akan menghemat tenaga maupun waktu. Pemijatan hanya sebagian dapat mempengaruhi otot-otot yang berkontraksi dan keras pada daerah lumbosakral. Tenaga yang lebih kuat diperlukan untuk merawat otot pinggang bawah. Bila keadaan ini tercapai. Posisi penderita selama pemijatan penting. Pada posisi istirahat tonus otot menurun dan efek stabilisasi menghilang. Ia mengatur segmen bergerak dalam istirahat hingga tak ada lagi penekanan lebih lanjut atau tarikan pada radik saraf atau ramus meningeal dari saraf spinal. Arus frekuensi tinggi menghasilkan panas pada jaringan dalam. Frekuensi yang dianjurkan adalah 20. Terapi Elektro Ada beberapa cara dengan tujuan penyembuhan oleh energi listrik. Pada fase akut sindroma lumbar . Beberapa jenis pemijatan akan memperkuat siatika akut atau lumbago karena pemijatan akan menggerakkan tulang belakang lumbar dan pasien tidak dapat untuk tetap pada posisinya. Aliran air diarahkan tangensial terhadap pinggang dengan tekanan 1 hingga 2 atmosfir. otot paravertebral serta iskhiokrural mempunyai efek stabilisasi. Pemijatan Mungkin berguna pada sindroma lumbar bila keadaan akut sudah berlalu. Posisi telungkup tak dapat dianjurkan karena lordosis lumbar akan bertambah dengan tekanan pemijatan dan karenanya pasien harus diletakkan telungkup pada penyangga karet busa yang memungkinkan pasien memfleksikan panggul dan tungkainya bersama-sama. pemijatan jet air dapat digunakan. 5. Panjang gelombang terlalu pendek tidak akan merangsang sel. perlu melakukan pemijatan dan fisioterapi dalam usaha mengembalikan otot kekeadaan semula. Dengan cara ini otot pinggang paravertebral yang luas dan berkontraksi digerakkan tanpa perlu penekanan terhadap lordosis lumbar yang biasanya terjadi pada pemijatan tangan. Berbagai arus dapat digunakan. 4. Terapi-elektro karenanya dilakukan lebih awal. Dengan miografi-elektro diperlihatkan bahwa pemijatan mempunyai efek merelaksasikan otot yang berkontraksi serupa dengan yang didapat melalui alat elektrik. Jenis-jenis pemijatan dan pengaruhnya telah dijelaskan dan disamping pemijatan klasik.000 Hz yang disebut arus arsonal dan dipancarkan melalui diatermi dengan 3 . Otot tak dapat mempertahankan kebutuhan yang terus menerus akan kontraktilitasnya untuk mempertahankan stabilitas dan suatu saat akan terjadi insufisiensi otot.

000 Hz diarahkan pada badan. hal tersebut tergantung pada arus dengan efek dalamnya. Pada peningkatan penggunaan arus. Frekuensi tiap-tiap arus berbeda hingga 100 Hz. Pada terapi arus interferensi. tanpa menyebabkan kerusakan apapun disini atau merangsang timbulnya nyeri pada kulit. Penggunaan arus interferensi dalam pengobatan nyeri pinggang bawah saat ini meningkat melebihi beberapa pengobatan lainnya. arus frekuensi menengah sekitar 4. Pada saat ini tindakan elektrik terhadap pasien rawat jalan dapat dilakukan. mungkin timbul nyeri. Pada fisika yang disebut frekuensi rendah adalah antara 1-5. Pada sindroma diskus intervertebral. Ini secara keseluruhan berbeda bila dibanding dengan arus frekuensi rendah yang semula digunakan karena kesamaannya dengan frekuensi potensial elektrik yang terdapat pada jaringan. Frekuensi menengah dan rendah digunakan sebagai arus interferensi. Terapi Manual . 6. Belum ada penelitian tentang efek suatu arus terhadap metabolisme diskus intervertebral. Arus listrik digunakan secara bipoler dengan dua elektroda yang berarti bahwa energi maksimum akan dikonsentrasikan pada elektroda dan akan menurunkan pergerakan arus melalui jaringan. Masingmasing amplituda dan frekuensi akan dirubah oleh badan menjadi frekuensi yang mempunyai efek biologi. lapisan otot yang lebih dalam serta segmen bergerak menjadi sasaran dari arus. Namun demikian peningkatan sirkulasi jaringan disekeliling diskus intervertebral jelas memperbaiki metabolismenya. Pada degenerasi diskus intervertebral. Kekuatan gelombang tinggi superfisisal dipancarkan lebih dalam dengan pengurangan pada jaringan menjadi kekuatan gelombang rendah. dengan akibat penambahan sirkulasi jaringan dalam. namun pada keadaan biologik dibuktikan bahwa yang mempunyai nilai terapeutik adalah antara 15-250 Hz. Pada arus diadinamik terdapat perubahan antara frekuensi dan amplitudo yang berefek penghilang nyeri (Bernard 1955).X 106 Hz hingga gelombang pendek 5 X 107 Hz. Sistem saraf vegetatif akan terpengaruh dan secara sekunder pembuluh akan berdilatasi. Karenanya arus dapat diarahkan ke jaringan sasaran dalam frekuensi dan kekuatan yang disisi lain tak dapat dimasukkan secara langsung. Arus frekuensi rendah (15-250 Hz) mempunyai pengaruh pada sel dan arus searah digunakan pada galvanisasi serta arus bolak balik digunakan pada faradisasi.000 Hz. Satu keuntungan dengan arus interferensi adalah bahwa efeknya menjadi terpusat pada lapisan jaringan dalam dengan arus frekuensi rendah antara 0-100 Hz dan arus frekuensi menengah didalam jaringan permukaan.

Traksi Hasil baik sering didapat pada terapi sindroma pinggang bawah dengan traksi. Dengan terdapatnya penambahan volume diskus intervertebral (Kramer 1973). Pada traksi. Injeksi Lokal . Reaksi refleks otot dapat dikurangi dengan melakukan traksi secara berkala. tenaga yang diperlukan untuk merobek ligamen longitudinal posterior tidak besar. Maigne 1970). inklinasi lateral atau torsi dari tulang belakang lumbar (Stoddard 1961. Efek terapeutik traksi tergantung jumlah elemen yang terkena. Setelah traksi yang berhasil. terutama bila disebabkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. mielogram tetap tak berubah. Traksi tulang belakang lumbar termasuk pelebaran area intervertebral termasuk semua elemen fungsional segmen bergerak. Karenanya tindakan ini tidak dianjurkan. Miografi-elektro otot lumbar tidak dapat menjelaskan perubahan selama traksi (Rothenberg dan Sanford 1953). reduksi tekanan intra diskal hingga menormalkan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi. 7. Armstrong (1965) menjelaskan efek isap sekunder karena traksi. 8. Kembalinya kekeadaan sendi yang normal adalah sasaran terpenting pada rehabilitasi penderita nyeri pinggang muda usia. merupakan faktor yang paling penting pada traksi. Risiko timbulnya protrusi atau prolaps bisa timbul karena manipulasi yang berupa kifosis. tonus dan kontraksi otot. Hasil yang baik telah dilaporkan banyak penulis sejak Erlacher (1951) hingga Ulrich (1974). otot tulang belakang lumbar bereaksi refleks dengan berkontraksi dan tahanan otot tergantung pada elastisitas . Hanya beberapa milimeter yang diperlukan merubah posisi antara diskus intervertebral yang mengalami perpindahan dan reseptor nyeri. Ini mungkin dapat diperbaiki dengan mobilisasi dikolam atau terapi manual. Tindakan ini hanya diizinkan bila tahap akut sudah berlalu dan bila sudah diketahui bahwa mobilisasi sudah harus dilakukan serta adanya perbaikan dari keadaan otot. nyeripun berkurang dikarenakan cukup ruangan untuk radik saraf. otot lumbar atau sendi intervertebral. Sekali edem berkurang. Perubahan tinggi diskus intervertebral akibat degenerasi berakibat perubahan posisi sendi-sendi ruas tulang belakang. Tindakan ini seperti halnya terapi hidra semakin populer. Pada protrusi yang besar.Pada kebanyakan kelainan diskus intervertebral merupakan kontra-indikasi. Tidak ada cara yang khas untuk memastikan apakah nyeri sakral berasal dari protrusi diskus intervertebral.

Injeksi dapat pula dilakukan pada diskus intervertebral. antiflogistik dan anti-inflamatori mempengaruhi fungsi segmen lumbar. Pada desensitisasi radik saraf harus dicegah lingkaran setan iritasi mekanik. Cairan injeksi (kortikosteroid) dapat mencapai daerah lebih tinggi bila pelvis ditinggikan. Bila mielografi atau operasi tidak akan dilakukan segera. Kehilangan sensibilitas terbatas pada daerah S3 dan S5 dan menimbulkan anestesia sadel. injeksi lokal dan intradiskal terbukti memberikan hasil baik. Digunakan bila bagian bawah pleksus sakral harus disuntik. Injeksi paraspinal lebih diutamakan untuk menginfiltrasi kapsula sendi intervertebral. Anestetik lokal diberikan dekat tulang belakang (para-spinal) atau didaerah foramina intervertebral (paravertebral). pembengkakan inflamatori. Saraf spinal dan ramus meningeal yang kembali kekanal spinal dapat dicapai dengan injeksi paravertebral. Berbagai anestetik dapat digunakan. Obat dapat disuntikkan kerongga epidural atau sub-arakhnoid. Akar saraf dapat direndam oleh anestetik atau obat antiinflamatori (Kortison). Akar saraf berdekatan pada yang saat sama menjadi teranestesi akibat difusi suntikan dan tidak jarang terjadi paresis. . Injeksi Epidural Posterior Sumber rasa tidak enak dan gejala lainnya dicapai dengan memasukkan jarum kerongga epidural. serta konsekuensi yang diakibatkannya berupa iritasi karena penyempitan rongga yang berat. Anestetik. otot pinggang dan ligamen intervertebral. karenanya reaksi saraf dalam kanal spinal dapat diobati. berbagai cara dapat digunakan.Umumnya terjadi perbaikan spontan pada degenerasi diskus inter-vertebral. Injeksi Paravertebral Anestetik lokal dapat disuntikkan keforamina intervertebral. Dengan cara ini spasme otot dapat diobati dan pada saat yang sama seluruh segmen bergerak akan dipengaruhi oleh rami dorsal saraf spinal yang telah diinfiltrasi. Kemungkinan perubahan pada pembengkakan inflamatori struktur saraf terbatas. Difusi akan berperan mempengaruhi radik saraf dan reseptor pada ligamen longitudinal posterior. Bagaimanapun rasa tidak enak dan nyeri dapat menetap atau meningkat. Sesuai keadaan anatomi. Reischauer (1949 dan 1961) menyatakan bahwa merendam radik saraf bersangkutan dengan anestesi lokal akan mengurangi iritabilitas. namun berguna untuk memakai yang mempunyai efek depot. dan nyeri akibat perlekatan dan jaringan parut pasca operatif dapat dikurangi. Injeksi Epidural Kaudal Rongga paradural lumbosakral dicapai melalui inferior via hiatus sakral dengan jarum panjang.

Sendi-sendi intervertebral dan foramina inter-vertebral terkena dan menimbulkan gejala. perlunakan dan perpindahan jaringan diskus intervertebral. Injeksi Intradiskal Berbeda dengan tindakan injeksi lainnya. Saat ini kepentingan klinik tertuju pada penyuntikan khimo-papain yang akan mendekomposisi kartilago. dapat terjadi perubahan pada volume. Terjadi pengerutan. Komplikasi menjadi serius pada 3. Difusi dalam kantung dura. jarum mungkin tidak mencapai sasaran yang benar. Sussman 1972). dan akhirnya radik saraf dapat dicapai dan efek antiflogistik serta anti edema juga tercapai. Keuntungannya obat tidak melalui sawar darah-cairan spinal hingga kadarnya dapat lebih tinggi dibanding pemberian oral atau parenteral. Dideposit pada rongga subarakhnoid lumbar. Hasil yang didapat 75% baik. terjadi kolaps dan penurunan tinggi intervertebral.4% hingga sebagian ahli enggan menggunakannya (Smith dan Brown 1967).Injeksi Intratekal Terutama kortikosteroid. Setelah pemberian khimopapain terjadi penurunan jarak intervertebral. Harus selalu ingat bahwa bila melakukan penyuntikan intradiskal. Ini menyebabkan disposisi obat ditempat salah atau obat mungkin bocor melalui perforasi anulus fibrosus kerongga epidural atau subarakhnoid dimana kemampuan melarutkan akan menyebabkan kerusakan. Dengan menyuntikkan suatu substansi khondrolitik atau penurun tekanan. karenanya tekanan berkurang terhadap radik saraf (dibuktikan banyak penulis. Indikasi utama adalah sindroma radik saraf khronik dan sindroma pasca diskotomi. Jadi secara keseluruhan berbeda dengan cara penyuntikan lain. perubahan degeneratif dapat terjadi pada cord tulang belakang. Bila terjadi kehilangan cairan dan material diskus intervertebral. disini injeksi dapat langsung beraksi pada jaringan diskus intervertebral. Karenanya obat yang disuntikkan harus aman . Depolimerisasi akibat rangsang kimia dari jaringan diskus intervertebral (khemonukleolisis) menyebabkan percepatan perubahan karena usia pada diskus intervertebral dengan membuang makromolekul diskus intervertebral. kerusakan pembuluh. Bahkan dosis kecil khimopapain yang mencapai rongga sub-arakhnoid menyebabkan perdarahan terutama terjadi bila dilakukan infus intravena (Sheally 1967. Proteoglikan akan terurai menjadi keratan sulfat khondroitin sulfat serta proteo-glikan sendiri. Sudah dibuktikan bahwa khimopapain pada pemberian lokal menyebabkan nekrosis jaringan. 5% sedang dan 9% buruk. Smith 1964 hingga Watts 1975). Setelah injeksi ekstradural. Komplikasi tersering adalah renjatan anafilaktik (Finnesson 1973). Penyuntikan diskus intervertebral lumbar merupakan tindakan terapeutik. saraf dan otot.

Indikasi Hasil operasi diskus intervertebral lumbar beragam. Gangguan motor yang telah berlangsung lama tanpa gejala berat lainnya tidak pasti membaik dengan operasi karena dekompresi lambat radik saraf tidak akan mengurangi paresis. Bila ada kelemahan otot gluteal dan betis sebagai tanda sindroma S1. Trasilol adalah polipeptida yang ditolerasi baik dalam dosis tinggi dan dapat digunakan intravena.1%. Tindakan Bedah Dibanding jumlah pasien yang ditindak konservatif.mengingat jenis aksinya berhubungan dengan jaringan saraf. Ada obat lain dengan efek anti-inflamatori dan anti-edem yang dapat digunakan dengan lebih aman. Absolut 1. karenanya perlu dipikirkan dengan serius apakah pasien harus dioperasi atau dirawat konservatif. Mukopolisakharida yang bertanggung jawab atas hidrasi jaringan diskus intervertebral dinetralkan oleh Trasylol (Torok 1972). diharuskan operasi segera. Diskotomi Lumbar a. B. Lindner 1975). Reaksi alergik rendah (0. Sindroma kompresi kauda ekuina 2. terutama bila gejala lainnya sangat ringan. Jenis operasi yang paling sering dilakukan adalah membuang jaringan diskus intervertebral yang mengalami perpindahan yang menekan radik saraf dan disebut diskotomi. Operasi hanya dilakukan bila nyeri hebat tidak berkurang dengan tindakan konservatif. Bila operasi tak dilakukan dalam beberapa jam. Tabel 4 Indikasi Operasi Diskus Intervertebralis Lumbar ------------------------------------------------------A. Relatif . 1. Karenanya tekanan onkotik intradiskal berkurang (Kramer dan Laturnus 1975). Paresis akut otot-otot penting B. intramuskuler atau intratekal. Indikasi absolut untuk operasi adalah sindroma kauda ekuina dengan hilangnya fungsi berak dan kencing. Pada paresis akut ekstensor kaki atau jari atau kuadriseps. Haberland dan Mitis 1967). Akhir-akhir ini digunakan Aprotinin (Trasylol) (Kramer 1974. kehilangan fungsi menetap akan terjadi. sedikit sekali yang dioperasi. Ia mempunyai daya gabung besar terhadap substansi dasar yang kaya khondroitin sulfat. diskotomi tidak perlu.

pasien umumnya meminta operasi. Adalah mengherankan bahwa gejala berat akibat kompresi radik saraf dapat menghilang selama tindakan konservatif adekuat dalam waktu singkat. Pada keadaan ini perlu dilihat apakah perbaikan mungkin didapat dengan tindakan konservatif termasuk injeksi lokal dan intra-diskal serta karenanya terjadi perbaikan dimana pasien dapat bekerja kembali. Gejala-gejala radik dan nyeri sakral mungkin berkurang selama periode panjang dari tindakan konservatif namun bila tulang belakang menjadi subjek beban. Sindroma radik saraf yang berat dan terusmenerus serta intraktabel 2. usia. Saat operasi paling sering dijumpai prolaps. Bila .1. Sindroma radik saraf khronik dengan gangguan neurologis ringan atau tanpa sama sekali adalah kasus perbatasan untuk jenis tindakan. Karena komplikasi setelah operasi. Sindroma radik saraf khronik dengan distribusi nyeri dan tanda-tanda neurologik segmental 3. Usia pasien harus dipikirkan dan pada penderita berusia lebih dari 60 tahun operasi hanya dilakukan pada kasus terpilih dan perbaikan spontan sering terjadi. gejala mungkin timbul lagi. operasi diindikasikan. Walau setiap penentuan praoperatif sangat tergantung pada pemeriksaan diagnostik radiografik. Gejala lain seperti gangguan refleks dan hipestesi jarang mengganggu pasien. indikasi operasi tidak boleh terlalu luas. Nyeri dan deformitas menyebabkan pasien menghendaki tindakan yang dapat mengubah keadaan. Serangan berulang nyeri pinggang bawah dan siatika dengan distribusi segmental tanda-tanda neurologik ------------------------------------------------------Indikasi relatif adalah bila disamping tanda-tanda dan gejala-gejala objektif terdapat faktor penting lainnya yaitu durasi gejala. hasil tindakan sebelumnya. Keputusan operasi pada kasus perbatasan adalah mielogram positif dan keinginan mutlak pasien. atau fragmen diskus yang mengalami inkarserasi ditemukan dibawah selaput tipis dari anulus fibrosus dorsal atau dibelakang ligamen longitudinal posterior. Hakelius melaporkan hubungan antara temuan klinik dan temuan patologik operatif sebesar 63 persen. Syarat tindakan bedah adalah pasien telah menjalani tindakan konservatif termasuk istirahat tempat tidur ketat. kondisi mental penderita. Keadaan sosial juga penting dan terutama bila bekerja dengan membebani tulang belakang. Hirsch dan Nachemson melaporkan hubungan antara tanda neurologik objektif dengan herniasi diskus sebesar 55 persen. Data klinik adalah sama pentingnya dalam membuat keputusan. Bila gejala menetap setelah 4-6 minggu tanpa tanda-tanda regresi. hal ini bukanlah satu-satunya hal yang menentukan. kondisi sosial. Bila tidak ada perbaikan dengan pasien ditempat tidur dan memakai analgesik terus menerus.

Pada keadaan ini dilakukan fusi. Kontra-indikasi Diperoleh sekunder dari indikasi. Mencegah operasi dianjurkan pada diagnosis yang belum betul-betul jelas karena sindroma pascaoperasi yang parah bisa terjadi. Tes laboratori seperti laju endap darah serta perubahan radiologi harus benar-benar dianalisa sebelum operasi. ketepatan diagnostik meningkat hingga 95 persen. Tabel 5 Kontraindikasi Diskotomi Lumbar ---------------------------------------------------------------Nyeri pinggang bawah tanpa penjalaran Diagnosis yang belum tegak Pasien tidak berkehendak Hipokhondriak tulang belakang --------------------------------------------------------------- -- . Operasi tidak akan memecahkan masalah dan dikatakan :"Jangan sekali-kali melakukan operasi pada penderita yang dalam perawatan psikhiatrik". Istilah ini tidak seluruhnya benar karena yang betulbetul "false positive" menunjukkan betul-betul tiada kelainan dan harus dibuktikan dengan eksplorasi operatif yang negatif. Bila mielografi larut air positif digabung dengan straight leg-raising test dan defisit neurologik objektif. Nyeri sakral terus menerus tanpa penjalaran bukanlah indikasi operasi diskus intervertebral. Atas hal tersebut. b. Diskotomi hanya dilakukan bila diagnosis sudah tegak.straight leg-raising test digabung dengan temuan neurologik objektif. Siatika berat dapat disebabkan tumor atau spondilitis. ketepatan diagnostik meningkat hingga 86 persen. Tanpa tiadanya korelasi. analisis harus hati-hati dilakukan hingga trauma operasi tak harus terjadi pada laminektomi yang tidak perlu. tidak dapat dipastikan apakah suatu kelainan radiografik adalah penyebab gejala. Ini berlaku juga pada " hipokhondriak tulang belakang ". Penekanan yang berlebihan pada satu dari parameter tersebut dan mengabaikan dua lainnya akan berakibat kegagalan operatif. Pada sindroma radik yang belum jelas. Harus selalu diingat bahwa hubungan yang erat harus ada antara temuan klinik objektif dengan temuan radiografik positif dimana yang pertama adalah penyebab dari yang terakhir. kegagalan terutama adalah karena faktor diagnostik dari pada tehnik. Temuan radiografik positif pada penderita tanpa gejala disebut "false positive".

Anestesi umum dengan intubasi. adakalanya perlu membuang sebagian arkus ruas tulang belakang (laminotomi) atau membuang in toto pada . Disebut flavektomi atau fenestrasi. Kifosis maksimal tulang belakang lumbar dan penurunan kecenderungan atas perdarahan epidural memberikan kondisi operasi yang baik. tidak berarti bahwa penolakan harus dilakukan terhadap kedua jenis tindakan tersebut. Pemberitahuan Kepada Pasien Sebelum operasi diharuskan memberitahukan pada penderita bahwa operasi hanya mengobati siatika dan kelainan diskus intervertebral tetap ada serta akan memberi gejala yang sama seperti sebelumnya. d. Kulit disayat diatas prosesus spinosus tulang belakang lumbar bagian bawah. Fasia disayat serta otot lumbar disisihkan dan diretraksi. Dalam usaha mendapatkan radik saraf lebih jelas. Kadang-kadang pembuluh besar abdominal mengalami perforasi. Arkus ruas tulang belakang dicapai dan kanal spinal dicapai melalui ligamen flavum yang dibuka. c. Juga diberitahu akan rasa tidak nyaman dan nyeri dapat timbul lagi tidak hanya dari segmen berdekatan namun juga dari segmen yang dioperasi. Diskotomi Lumbar Pengangkatan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi adalah operasi standard. Posisi terbaik antaranya adalah telungkup pada lutut yang ditekuk. namun dapat mempertahankan venous return serta juga respirasi abdominal dan dada yang normal. Pasien kelompok B (tabel 4) dan tidak merasa perlu untuk dioperasi jangan dibujuk karena sangat kecil jaminan yang dapat diberikan atas perbaikan yang sempurna dan harus dijelaskan bahwa setelah operasi keadaan mungkin tetap atau malahan memburuk. harus diberitahukan bahwa cedera operasi mungkin mengenai radik saraf dan dura. Dengan mengabaikan kenyataan bahwa kumatnya gejala mungkin terjadi setelah tindakan konservatif maupun operatif. Operasi dapat dilakukan pada posisi miring atau telungkup.Secara diagnostik kasus ini dapat ditemukan karena perbedaan yang besar antara gejala subyektif dan tanda-tanda obyektif. Analisa gas darah serta tekanan vena sentral tidak menunjukkan perbedaan terhadap nilai normal (Ghazvinian dan Kramer 1974). Karena komplikasi mungkin timbul akibat operasi. Mungkin juga hambatan penyembuhan luka atau akibat dari anestesi. Posisi ini menyebabkan beberapa hambatan bagi anestetis. 106 dari 3000 ahli bedah saraf dan bedah tulang pernah mengalaminya (De Saussure 1959).

Akar saraf diretraksi dan jaringan diskus intervertebral yang prolaps atau membengkak dibuang. anulus fibrosus dan tulang rawan. jaringan diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi juga dibuang dalam usaha mengurangi rekurensi.29%. Disamping komplikasi anestesi. Tidak ada kasus dari lesi kauda. dan fisioterapis mengajar pasien bagaimana melakukan gerakan selama awal masa pasca operasi. kauda dan dura intra-operatif yang kelak dapat menyebabkan meningokel atau sinus cairan spinal. namun tidak ada kontraindikasi mobilisasi segera. Kemampuan biomekanik tulang belakang lumbar tidak terganggu oleh laminektomi sepanjang sendi-sendi intervertebral tetap intak. Pembuangan arkus tulang belakang tidak merubah perjalanan kelainan diskus intervertebral degeneratif (Schulitz 1970. Defek akibat operasi pada saatnya menyembuh dengan jaringan parut. Karena kifosis lumbar tak tercegah saat duduk. Penggantian jaringan yang dibuang dengan implan buatan tidak memberi keuntungan. ada komplikasi khusus diskotomi namun jarang terjadi. lakukan laparotomi. Adalah lesi radik saraf. Bagian posterior diskus intervertebral mungkin dibuang secara radikal. Bila pengangkatan radikal dari diskus intervertebral dilakukan. balikkan pasien. Setelah prolaps dibuang. Inklinasi lateral dan kifosis tulang belakang lumbar harus dicegah karena penyembuhan luka akan terganggu. namun perlu betul-betul menentukan lokasi prolaps pra-operatif. Finnesson 1973). Pasien harus bergerak seperti tahap awal lumbago akut dengan tulang belakang lumbar yang terfiksasi. Salah satu komplikasi serius adalah perforasi pembuluh besar abdominal seperti arteri dan vena iliak. Perawatan Pasca Operatif Profilaksi umum terhadap kemungkinan trombo-embolisme adalah mobilisasi segera yang dimulai hari kedua atau ketiga pasca operasi. Komplikasi Sedikit pada operasi diskus intervertebral. rawat pembuluh tersebut. namun ini tidak penting. Mikroskop operasi menyederhanakan dan memperbaiki teknik operasi. masalah penyembuhan luka dan trombo-embolisme pasca operatif yang biasa terjadi pada operasi. f. e.satu sisi (hemi laminektoni). Bila terjadi. Fragmen mengandung baik nukleus pulposus. Kemampuan biomekanik segmen tidak boleh terganggu dan pembebanan aksial tulang belakang sangat berbahaya. Menurut Oppel dan Schramm (1976) sekitar 0. dianjurkan mobilisasi dan pembebanan dilakukan bertahap dan menggunakan penyangga ketiak seta bebat traksi. maka tidak diizinkan duduk kecuali pada posisi .

Pada operasi diskus intervertebral yang sangat luas. Spangfort juga menemukan bahwa derajat herniasi diskus merupakan faktor yang paling penting yang menentukan hasil operasi setelah diskektomi. Gejala radikular menetap diakibatkan: 1. Thomalaske (1977) melaporkan bahwa faktor psikis menyebabkan pasien cenderung mengalihkan nyeri yang dideritanya sebagai akibat operasi. Kebanyakan pasien mengalami pengulangan nyeri sakral dan akan memberat pada saat mengangkat beban. Rasa Tidak Nyaman Pasca Operatif Sindroma Pasca Diskotomi . 2. g. penderita dimobilisasi dengan bantuan pengikat pelvik. Temuan operatif: prolaps masif yang dapat dibuang akan memberi hasil lebih baik dibanding protrusi atau pembengkakan kecil dari jaringan diskus intervertebral. Secara spesifik. Dari hal tersebut jelas bahwa faktor kunci dalam menduga hasil operasi adalah kompresi neural yang pasti. Tingkat keberhasilan berdasar pengurangan gejala radikular. Bila jahitan sudah diangkat. Riwayat penyakit: riwayat gejala singkat memberikan hasil lebih baik dibanding yang sudah berjalan beberapa tahun. Rasa tak enak dan nyeri karena degenerasi diskus intervertebral tak dapat dihilangkan oleh diskotomi.bersandar 450. Disimpulkan bahwa tindakan konservatif harus diambil selama mungkin sebelum suatu operasi diputuskan. Hasil buruk pada 10%. mempunyai kesempatan atas hilangnya siatika secara lengkap sebesar 90. Terdapat perbedaan indikasi serta penilaian sangat subjektif. Hasil Bervariasi. h. yang akan diuntungkan oleh operasi dekompresif. baik. Siatika yang disebabkan protrusi atau pembengkakkan akan memberikan hasil baik pada 40-65%. disaat lain pada penderita dengan eksplorasi negatif hanya mempunyai kesempatan 38. menarik dan membungkuk. pasien dengan herniasi sangat besar yang pasti menyebabkan penekanan neural. sedang) dijumpai pada 80%-90%. Usia: penambahan usia memperburuk hasil. Pengangkatan prolaps total memberikan hasil terbaik.3 persen setelah diskektomi dan setidaknya 99. penderita bergerak lebih aktif dan bila luka sudah lebih kuat gerakan ditingkatkan lagi. 3.5 persen berkesempatan untuk pulih sebagian. Spangfort (1972) membuktikan bahwa hasil berkaitan dengan temuan operasi. Hasil menggembirakan (sangat baik.4 persen untuk mendapatkan adanya perbaikan.

Ada beberapa alasan untuk timbulnya nyeri radik saraf dan deformitas. dikarenakan perlengketan serta jaringan parut pada radik-radik saraf dan dura. Disebut sindroma pasca diskotomi. infeksi dalam dan diskitis yang khas dengan peninggian suhu dan akhirnya dapat diperlihatkan secara radio-grafi. Sebagai pegangan. arakhnoiditis. nyeri pasca operasi akan timbul. 2. yang bisa menetap atau hilang setelah diskotomi. Timbulnya prolaps atau protrusi pada segmen yang bukan dioperasi bukanlah karena operasi primer. Alasan lain untuk nyeri pasca operasi adalah gagalnya mengenal tingkat yang tepat. Hipestesi. Gejala radik menetap yang serupa dengan gejala sebelum operasi menandakan efek penyebab dari tekanan mekanik. Satu kelompok yang perlu perhatian khusus adalah menetapnya rasa tidak enak atau nyeri pasca operasi. refleks dan gangguan motor akan pulih dalam beberapa bulan. gejala dapat hilang spontan dan dapat diobati dengan berhasil secara stimulasi elektrik dan blok simpatetik lumbar. radikulitis. arakhnoiditis adhesif tahap 1.Hanya kadang-kadang pasien terbebas secara sempurna dari gejala setelah operasi diskus intervertebral (tabel 6). Arakhnoiditis lokal pasca operasi mungkin timbul dan menurut Burton (1977) dibagi empat tahap yang tumpang tindih: 1. -- . juga tersisa nyeri dari sindroma radik saraf. arakhnoiditis adhesif tahap 2. Lebih lanjut. 4. 3. Tabel 6 Penyebab Nyeri yang Menetap atau Berulangnya Siatika setelah Operasi Diskus Intervertebral Lumbar --------------------------------------------------------------Dekompresi radik saraf tidak cukup Berulangnya prolaps pada segmen yang sama Prolaps atau protrusi pada segmen lain Sindroma pasca diskotomi Infeksi dalam ---------------------------------------------------------------Gejala lain pada sindroma pasca diskotomi adalah tanda-tanda dari sistem vegetatif seperti kehilangan temperatur (tungkai siatik dingin) dan perubahan sirkulasi dan juga kram betis. yang timbul sebagai bagian dari sindroma S1. Bila dekompresi radik tidak sempurna. berulangnya prolaps mungkin menyebabkan nyeri pasca operasi dan pembentukan perlengketan yang menyebabkan reoperasi menjadi sulit. Disamping nyeri dari luka. Keadaan tersebut didiagnosa dengan mielografi dan pada operasi yang berhasil.

menimbulkan masalah sulit karena tindakan konservatif sering gagal dan pasien kesulitan kembali pada pekerjaannya. membersihkan radik saraf dari jaringan parut. Tujuan pengobatan adalah membuat stabilisasi tulang belakang yang dapat dicapai dengan fusi. Indikasi dan tehnik fusi lumbar untuk kelainan diskus inter-vertebral degeneratif berubah dalam tiga dekade terakhir. C. Sedikit membungkuk dengan kifosis tulang belakang lumbar akan memperberat nyeri dan deformitas. Pada pasien muda sehat dengan sindroma pasca diskotomi. Spondilodesis adalah tindakan sekunder khusus pada sindroma diskus inter-vertebral. Perlengketan yang terbentuk antara kantung dura. Fusi Pada diskotomi penekanan pada radik saraf dibuang. makin luas reaksi jaringan akan terjadi. Operasi untuk sindroma pasca diskotomi seperti laminektomi luas. Kantung radik melekat pada radik saraf dan tidak dapat diperlihatkan. Makin banyak manipulasi selama operasi. Teknik operasi karenanya harus teliti dan perdarahan harus ditekan dengan koagulasielektro sebaik mungkin. Pengangkatan jaringan diskus intervertebral yang . spondilodesis dikombinasikan dengan eksplorasi radik saraf. Oppel dan Schramm (1976) menemukan bahwa pada penderita dengan komplikasi pasca operasi ditemukan sejumlah besar kelainan psikik yang tak tampak sebelum operasi namun tampaknya dirangsang oleh penyakitnya serta tindakannya. Ini meninggikan kepekaan terhadap gangguan mekanik.Rongga subarakhnoid dan epidural menjadi massa jaringan parut yang besar yang akhirnya menyebabkan iritasi terus menerus terhadap radik-radik saraf. Sindroma pasca diskotomi khas dengan penjalaran nyeri bilateral poliradikuler dan hipestesi. Teknik operasi yang baik akan mengurangi risiko sindroma pasca operasi walau tidak menghilangkannya sama sekali. Mielografi menunjukkan jaringan ikat yang mempersempit kantung dura. Umumnya rencana tindakan yang paling diterima adalah neurolisis digabung dengan tandur lemak pedikel (Gill 1979). neurolisis. membawa bahaya akan terbentuknya jaringan parut lebih lanjut dengan berlanjutnya rasa tidak enak dan nyeri. yang mungkin menimbulkan gejala. Pita jaringan ikat bekerja seperti gergaji terhadap radik saraf. Komponen lain kelainan diskus intervertebral tidak dipengaruhi oleh tindakan ini hingga ketidakstabilan intervertebral tetap adanya. Tidak ada indentasi lokal terhadap medium kontras hingga akan merupakan kontra-indikasi diskotomi kedua pada tingkat bersangkutan. Mula-mula fusi merupakan prosedur umum namun karena hasilnya tidak terlalu baik karena tingginya tingkat nonunion. radik-radik saraf dan kanal spinal hanya memungkinkan gerakan bebas nyeri yang terbatas.

7) adalah nyeri sakral terus menerus dan tak tertanggungkan. Bosworth (1945) menganjurkan tandur clothes-peg (tandur H). Lagipula pada pasien dengan spondilodesis yang gagal. sedikit rasa tidak enak yang timbul setelah operasi. Nyeri dapat dikurangi dengan cast plastik yang baik.berpindah atau melunak juga menjadi prosedur yang dianjurkan dalam hubungannya dengan dekompresi radik saraf. fusi tidak diindikasikan. dan fusi menjadi prosedur sekunder. Tehnik ini sering berakibat nonunion. Adalah mengherankan bahwa setelah eksisi radikal diskus intervertebral dan dengan segmen yang tak stabil. Nyeri sakral menetap setelah diskotomi adalah tanda ketidakstabilan segmen akibat degenerasi diskus intervertebral dan pengangkatan operatif diskus intervertebral. Keadaan ini dapat timbul bila pada hemilaminektomi bagian medial sendi intervertebral dibuang. dimana kanal spinal dapat dibuka. Sebagai pembantu diagnosis. Indikasi fusi lumbar (tabel II. namun kemudian hari mungkin menjadi tindakan satu-satunya. Prosedur yang diterima tampaknya adalah fusi . Kesimpulannya diduga setelah diskotomi prognosisnya adalah tanda tanya. dengan peningkatan ketidak-stabilan segmen objektif. tanpa bahaya yang terlalu besar. Spondilodesis anterior intercorporal seperti yang dianjurkan Harmon (1963) tidak memungkinkan eksplorasi kanal spinal secara bersamaan. Beberapa tehnik sudah dikemukakan untuk fusi lumbar. dan penderita dengan fusi berhasil sempurna mungkin tetap menderita nyeri. Tidak perlu dikatakan bahwa operasi harus didahului mielografi. Mungkin juga didapat osteo-artrosis yang terbatas pada sendi intervertebral lumbar (spondiloarthrosis) dengan nyeri pinggang bawah dan pada tiap keadaan ini fusi diindikasikan. Hanya pada kasus-kasus tersebut operasi dilakukan. Ini harus digabung dengan eksplorasi radik saraf. kebebasan sempurna dari rasa nyeri dan tidak enak dapat disaksikan. Albee (1911) menganjurkan tandur tibial. sendi dapat disuntik dengan anestetik lokal dimana nyeri khas akan hilang. Tabel 7 Indikasi Fusi pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Nyeri sakral hebat menetap pasca diskotomi Segmen takstabil serta nyeri yang diakibatkannya Osteokhondrosis serta spondilosis dengan nyeri pinggang bawah berat ------------------------------------------------------Bila siatika diakibatkan prolaps atau prolaps yang berulang setelah diskotomi. Osteo-arthrosis mungkin timbul pada segmen.

Karenanya menjadi blok tulang yang memanjang diatas sendi dan prosesus transversus. De Palma dan Rothman 1970. Bila beberapa segmen difusikan. fusi lateral dengan tandur cancellous bone menjadi populer (Wiltse 1968. Finneson (1973).interkorporal posterior menurut Cloward (1953. Daerah posterolateral lebih baik sebagai tempat fusi karena berbagai alasan: 1. Stabilitas lebih masuk akal dari pada spondilodesis interkorporal. pasien harus memakai cast plester. 2. Polster dan Hoefert (1974) memperlihatkan pada percobaan bio-mekanik bahwa spondilodesis posterolateral memberikan stabilitas terbaik. dan rasa nyeri serta tidak enak mungkin bertambah pada daerah ini. Fusi dapat dilakukan walau pada laminektomi. Brussatis 1976). Setelah hemilaminektomi. Schmorl dan Junghanns (1968). biasanya memakan waktu 3-4 bulan. pasien bisa keluar dari tempat tidur pada hari ketiga setelah operasi tanpa fiksasi apapun. Tingkat terjadinya pseudo-artrosis sangat kecil bila dibandingkan dengan metoda fusi lain (McNab dan Dall 1971). Cancellous bone digunakan diatas prosesus transversus dan mencakup artikulasi intervertebral. Selama operasi terdapat kesempatan membuka kanal spinal dan bisa melihat radik saraf serta juga untuk membuang jaringan diskus intervertebral. Spondilodesis adalah rantai terakhir sepanjang rantai terapeutik dan diharap memenuhi semua harapan yang sangat optimistis. Beberapa tahun terakhir. Mau 1974. Namun pasien harus bangkit "en bloc" hingga tulang belakang lumbar tidak kifosis (Mau 1974). Aspek posterior ruas tulang belakang harus diperlebar. 3. Hohmann (1974) dan Exner (1974). Duduk pada kursi yang dalam dan tidak nyaman tidak diperkenankan. diskus intervertebral diinsisi serta tandur corticocancellous dari krista iliaka dapat diinsersikan kedalam ruas tulang belakang . 1963). McNab dan Dall 1971. Karena hanya satu segmen yang berfusi. Revaskularisasi dan reosifikasi pada daerah ini lebih baik dari aspek medial arkus ruas tulang belakang. Setelah fusi pasien harus memulai aktifitas secara bertahap perlahan karena pada setiap sisi fusi stres mekanik meninggi. Brace ini harus dipakai hingga fusi terjadi. Terdapat kesulitan teknis pada tindakan ini karena daerah yang sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk menarik dura dan radik saraf. Nyeri yang dikira akibat mobilitas segmen berkurang dengan stabilisasi dan terutama atas foramina intervertebral. . seperti misalnya lumbosakral. Diperkirakan fusi yang cepat pada operasi skoliosis dengan tandur cancellous bone memberikan kegunaan yang sama pada fusi tulang belakang lumbar.

Tulang belakang dipertahankan pada posisi netral hingga pergeseran intradiskal yang baru dapat dicegah. Fleksi kedepan tulang belakang lumbar tidak diperbolehkan. Secara pasif dapat digunakan ortoses. Fisioterapi berperan penting dalam profilaksi dan rehabilitasi sindroma lumbar. Stabilisasi eksternal harus dilakukan. perlu mempertahankan hasil yang didapat dari berbagai prosedur dengan mencegah terjadinya kembali protrusi jaringan diskus intervertebral. Mempertahankan suatu posisi posterior yang tidak menyenangkan mungkin berakibat berulangnya gejala dan karenanya perlu menyarankan agar penderita tetap pada posisi berbaring. perlu menstabilkan segmen secara aktif dan pasif. Pada tulang belakang yang lurus diskus intervertebral lumbar akan dibebani setangkup sehingga risiko dari lesi yang baru dapat dicegah. Perlu mendapatkan ko-operasi baik dari pasien. namun stabilisasi lebih lanjut dapat dengan penguatan otot-otot. Jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi dipertahankan dalam keadaan setenang mungkin. berdiri dan duduk yang benar. Dengan pembatasan pergerakan. Diatas itu semua. berulangnya iritasi mekanik atas radik saraf harus dicegah.PROFILAKSI DAN REHABILITASI PADA SINDROMA DISKUS INTERVERTEBRALIS LUMBAR Setelah mendapatkan sejumlah keberhasilan pengobatan gangguan fungsional sistem lokomotif. . dan menurut Schmorl dan Junghanns (1968) stres mekanikal yang memperberat harus disingkirkan. tulang belakang lumbar menjadi distabilkan dan terpaku pada pelvis oleh otot spinal dan karenanya tidak mudah ditekuk hingga lebih berperan sebagai pilar penyangga. Dalam mencegah agar segmen tidak mengalami dislokasi lagi serta jaringan intradiskal tidak bergeser lagi. Pada kelainan diskus intervertebral degeneratif tak dapat diperkirakan bahwa jaringan akan menjadi stabil sendiri secara cepat serta spontan. Pasien selama fase pertama rehabilitasi harus dicegah mengangkat objek yang berat serta mengangkat saat membungkuk dan juga mencegah gerakan torsi tulang belakang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful