KELAINAN DEGENERATIF ___________________________________ I.

HERNIASI DISKUS INTERVERTEBRAL Perubahan degeneratif pada diskus intervertebral merupakan penyebab tersering nyeri pinggang. Penyebab lain antara lain kelainan kongenital, perkembangan, inflamasi, serta tumor, yang secara kepentingan klinis adalah sekunder namun mungkin berakibat perubahan yang serupa pada diskus intervertebral. Peningkatan pengetahuan terhadap gangguan penampilan dan fungsi tulang belakang menimbulkan minat yang lebih besar. Ini tidak hanya karena gangguan yang umum terhadap diskus intervertebral, namun juga terhadap akibat yang ditimbulkan pada struktur yang berdekatan. Hubungan langsung antara diskus intervertebral yang mengalami herniasi dengan siatika dianggap mempunyai basis morfologikal. Namun terpakunya pada perubahan patomorfologikal sebagai penyebab gejala mengantarkan pada situasi adanya kelainan fungsional tulang belakang yang ternyata tanpa disertai patomorfologi yang jelas. Terbukti bahwa pengangkatan secara operatif terhadap prolaps tidak memecahkan semua masalah. Juga ditemukan adanya perbedaan yang mengejutkan antara perubahan patomorfologikal dan radiografik pada satu sisi dan gejala disisi lain. Perubahan bentuk dan fungsi tidak selalu berhubungan dengan penampilan klinis segmen bersangkutan. Jadi suatu deformitas tidak perlu menunjukkan perasaan tidak enak. Buktinya adalah skoliosis dan kifosis pada remaja dapat menjadi lengkap tanpa gejala. Juga sering ditemukan pada foto sinar-X untuk keperluan lain, adanya tanda-tanda perubahan degeneratif pada penderita yang menyangkal adanya keluhan. Lamanya waktu yang diperlukan untuk berkembangnya suatu deformitas sering menentukan onset dari gejala. Kompresi mendadak satu atau lebih radik saraf pada fraktura atau herniasi diskus intervertebral akan menimbulkan nyeri segera dan berat. Sebaliknya bila radik saraf mengalami konstriksi secara lambat dalam beberapa tahun, seperti yang sering tampak pada skoliosis, spondilolistesis atau penyakit diskus intervertebral degeneratif pada tulang belakang, radik saraf jelas menyesuaikan diri secara perlahan terhadap restriksi hingga gejala neurologi jarang timbul. Bila terjadi cedera puntir mendadak, berakibat iritasi radik saraf dengan terjadinya edem pada radik saraf tersebut. Pada saat ini sikap fungsional dan dinamik kita berdasarkan kepada informasi baru, baik mengenai pendekatan biokimia maupun bio-mekanik terhadap diskus intervertebral yang tidak perlu merupakan tempat perubahan morfologik, namun lebih merupakan pusat proses metabolik yang menyebabkan perubahan bentuk, konsistensi dan volume, yang semuanya merubah fungsi tulang belakang.

Junghans (1951) telah membuat gambaran tentang "motion segment" ("Bewegungssegment"). Termasuk dua ruas tulang belakang yang berhubungan beserta diskus intervertebralnya, ligamen serta otot yang bersama-sama membentuk kesatuan fungsional. Kegagalan satu komponen merubah fungsi yang lainnya. Akibat berbagai respons metabolik terhadap stimulasi biomekanik, diskus intervertebral lebih sering merupakan asal ketidak-mampuan pada "motion segment". Ini terutama jelas pada tulang belakang leher bawah dan lumbar yang relatif merupakan bagian yang kaku, yaitu hubungan servikal-torasik dan sakrum yang tak dapat bergerak pada daerah lumbar, yang berhubungan dengan tulang belakang lumbar bawah. Sebagai tambahan harus diingat kondisi anatomi yang sempit yang terdapat antara daerah yang secara bertahap tidak dapat bergerak serta munculnya radik saraf . Lebih sering penyakit diskus inter-vertebral terbatas pada daerah segmen leher bawah dan lumbar bawah. Adalah perlu menemukan hal-hal yang utama pada kelainan diskus intervertebral untuk menyederhanakan suatu diagnosa serta tindakan. Misalnya perubahan postur yang berhubungan dengan nyeri. Dalam tindakan, metoda yang mungkin dilakukan diambil yang paling sederhana. Baik dalam diagnosa maupun tindakan , perlu melihat kembali kemajuan yang telah terbukti tidak berbahaya atas penyakit diskus intervertebral. Karena sindroma diskus intervertebral biasanya menyerang orang muda, adalah penting bahwa setelah pengobatan seorang dokter harus menganjurkan latihan harian yang cukup pada pasien. Pada hari-hari pertama didapat perasaan yang negatif terhadap onset yang tidak dapat diterima dan sering dengan perjalanan yang berbahaya dari penyakit diskus intervertebral. Bagaimanapun saat ini ada alasan untuk mengambil pendekatan yang lebih optimistik terhadap sejumlah kemungkinan yang tersedia disertai profilaksi dan rehabilitasi dengan perencanaan yang lebih baik. Frekuensi dan intensitas sindroma servikal dan lumbar mungkin berubah. Penyakit yang berasal dari diskus intervertebral juga disebut diskogenik. Gejala yang berasal dari sendi apofiseal dan/atau ligamen juga dipandang sebagai diskogenik oleh karena kelainan pada diskus intervertebral sering merupakan penyebab yang mempercepat timbulnya gejala. Walaupun tidak ada hubungan filogenetik, diskus intervertebral dan ruas tulang belakang berdekatan membentuk suatu kesatuan biomekanik, dan pada diseksi, diskus intervertebral dapat diangkat intoto dari antara dua dataran akhir (end plate) ruas tulang belakang bersangkutan. Diskus intervertebral sendiri adalah sendi utama tulang belakang dan jenisnya disebut amfi-artrosis. Sendi posterior juga disebut sendi apofiseal. Ini merupakan suatu sendi sejati (diartrosis) yang dapat dikatakan sebagai sendi vertebral. Pengetahuan tentang patologi diskus intervertebral serta tanda dan gejalanya sudah diketahui

lebih dari setengah abad. Namun pendapat tentang penyebab dan pengobatan berbeda sangat luas. Ini tampak dengan adanya berbagai terminologi. Sebelum Mixter dan Barr (1934) menjelaskan bahwa siatika disebabkan oleh kompresi radik saraf pada diskus intervertebral yang mengalami sekuesterisasi, juga dipikirkan bahwa diskus intervertebral yang mengalami herniasi mengandung tumor tulang rawan yang disebut "kordoma ekstradural anterior" (Steinke 1918, Clymer 1921, Adson dan Ott 1922, Ellsberg 1928). Bradford dan Spurling (1950) menggunakan istilah "protrusi" untuk diskus yang menonjol, dan membedakannya dari nukleus pulposus diskus yang ruptur atau mengalami herniasi yang pada saat ini dikenal sebagai "prolaps". Jaringan diskus intervertebral yang mengalami herniasi berisi tidak hanya material dari nukleus pulposus namun juga dari anulus fibrosus. Seperti telah dijelaskan, pernyataan "protrusi" digunakan untuk menunjukkan penonjolan diskus keposterior tanpa rupturnya anulus fibrosus. Sekali lagi, bila anulus fibrosus telah mengalami perforasi dan jaringan diskus mengalami penetrasi kerongga epidural, digunakan pernyataan "prolaps". Suatu ruptur tanpa protrusi eksternal melalui anulus disebut "ruptur intradiskal". Sekali terbentuk fragmen, mereka disebut juga "sekuestrum" dan dapat mengalami dislokasi. Pergerakan dari satu sisi kesisi lainnya sering menimbulkan gejala siatik yang berubah-ubah tergantung pada lokasinya. Melunaknya serta rupturnya diskus intervertebral disebabkan perubahan fisiologis substansi diskus, yang disebut sebagai "khondrosis inter-vertebral" (Schmorl dan Junghanns 1968). Dengan pengertian ini maka semua perubahan yang didapat disimpulkan sebagai "degenerasi diskus intervertebral". Perubahan degenerasi bagaimanapun tidak dibatasi hanya pada tulang rawan yang disebut sebagai "khondrosis", namun juga mengenai seluruh diskus intervertebral. Untuk alasan ini dianjurkan digunakan istilah "diskosis", yaitu artrosis-artritis; diskosis-diskitis (akhiran osis berarti perubahan degeneratif). Jadi perubahan patologis, biokimia dan biomekanik menjadi jelas dengan satu istilah. Diskus intervertebral tidak mengalami regenerasi. Degenerasi diskus intervertebral tidak perlu menimbulkan gejala namun mungkin mempunyai pertanda yang sangat jelas. Hal serupa juga berlaku terhadap perubahan pada dataran akhir ruas tulang belakang. Schmorl (1932) menganjurkan istilah osteo-khondrosis terhadap adanya perlunakan substansi diskus inter-vertebral yang bersamaan dengan perubahan pengapuran pada dataran akhir. Secara radiografi, tanda yang paling jelas dari kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah spondilosis. Ini termasuk spur tulang yang nyata pada tepi ruas tulang belakang dimana melekat ligamen longitudinal posterior. Pada aspek posterior setiap perubahan spondilotik tidak tampak pada beberapa tempat dimana ligamen longitudinal posterior melekat pada

diskus intervertebral. Spondilosis dan osteokhondrosis sering digunakan sebagai diagnosis, walau tanpa kelainan lain yang jelas yang menunjukkan tanda-tanda peningkatan usia, dan dapat dibandingkan terhadap perkembangan tumbuhnya uban dan berkerutnya kulit. Usia secara sederhana adalah proses fisiologik yang terjadi pada semua struktur serupa. Pada diskus intervertebral perubahan usia terjadi lebih awal akibat pengaruh nutrisional dan biomekanik yang menimbulkan perubahan yang tidak dijumpai pada struktur lain. Karenanya nasib alamiah dan biologik dari diskus inter-vertebral adalah penuaan yang lebih awal. Pada orang tua spondilosis dan osteokhondrosis selalu dapat diperlihatkan tanpa perlu menimbulkan gejala. Disamping diskosis, pernyataan "degenerasi diskus intervertebral" harus dipegang karena diterima secara internasional. Penampilan gejala mungkin bisa dimengerti pada istilah ini, yang bagaimanapun tidak perlu menggambarkan latar belakang morfologik. Degenerasi adalah istilah morfologik sejati yang tidak mempunyai arti klinis sebagai perubahan struktural, tidak mempunyai fungsi yang terganggu atau gejala. Sekali gejala bentuk apapun terjadi, tampaknya benar bila dikatakan tentang kelainan diskus intervertebral berdasarkan perubahan degeneratif. Ada deviasi pada aksis tulang belakang baik pada bidang frontal maupun sagital. Ini mungkin berakibat tenaga yang tak-setangkup terhadap diskus intervertebral. Pada bagian yang cekung yang mendapat catu makanan buruk, perubahan degenerasi diskus intervertebral terjadi lebih cepat. Akibatnya ruptur dan perlunakan lebih sering terjadi didaerah ini. Analog dengan deformitas prearthrotik, sudah dipikirkan bahwa deformitas postur, yaitu tekukan pelvis, kifosis, hemivertebra dan skoliosis adalah pertanda adanya suatu diskosis awal, serta karenanya deformitas prediskotik. Sekali lagi struktur morfologik tidak membawa kepentingan klinik. Bagaimanapun daerah dengan perubahan ini lebih cenderung terkena penyakit dengan gejalanya. Sebagaimana diketahui, inflamasi adalah khas dengan akhiran itis. Infeksi diskus intervertebral dikenal sebagai "diskitis". Pada beberapa instansi diskitis bukan dikarenakan infeksi dan ditempat lainnya dikarenakan infeksi. Sebagai contoh, sangat sering setelah penyuntikan khimopapain pada pasien mungkin menimbulkan keadaaan inflamatori diskus intervertebral yang berakhir setelah beberapa minggu tanpa adanya infeksi. Bagaimanapun ada infeksi diskus intervertebral yang disebut "diskitis". Infeksi ruas tulang belakang disebut "spondilitis". Pada keadaan dimana terjadi inflamasi yang bersamaan dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral yang berdekatan karenanya disebut "spondilodiskitis". Walau suatu spondilitis menyangkut infeksi bakterial dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral, infeksi diskus intervertebral biasanya mendominasi gambaran klinis. Secara umum , "spondilo-

namun tidak selalu diikuti distribusi siatika karena sindroma radik saraf lumbar yang lebih tinggi berasal dari kompresi serabut anterior radik kedua. Sindroma lumbar lokal khas dengan gejala yang lebih merata dan tidak terbatas pada satu radik saraf dengan gangguan segmental namun secara luas diterima sebagai barasal dari diskus inter-vertebral. "Lumbago" [lumbago. Ini yang umum disebut nyeri pinggang bawah (low back pain). (lat): paralisis lumbar] adalah istilah umum yang digunakan untuk nyeri hebat pada daerah lumbar yang bersamaan dengan penurunan mobilitas. Apophyseal joint (Sendi apofiseal) Sendi diatelial. yang terbentuk dari jaringan fibrokartilago dan fibrosa. alasan lain adalah bahwa penyakit diskus intervertebral terutama terjadi pada daerah servikal dan lumbar dan penyakit dari sumber lain didaerah ini adalah kekecualian. Tabel 1 Istilah yang umum digunakan dan penjelasannya. Nyeri menjalar ke tungkai. penentuan dapat dibuat antar gejala lokal yang terbatas pada regio lumbar dan yang bersamaan dengan nyeri yang menjalar keekstremitas bawah. Istilah ini semata-mata menunjukkan dari bagian tulang belakang yang mana gejala berasal. Istilah "sindroma servikal. adalah simptomatologi yang menyangkut kelainan radikular. torak dan lumbar" adalah tidak sempurna dan tidak memungkinkan menilai etiologi dan patogenesis. Untuk pengertian klinis dan praktis terbaik. Karenanya kita mungkin menetapkan secara teguh pernyataan ini.diskitis" hanya digunakan bila tulang belakang terserang pada penyakit rematik. Tahap akut pada saatnya diikuti tingkat kronik. Pada tulang belakang lumbar.f. juga disebut sendi tulang belakang. sumsum tulang belakang atau serebral. -inis. Satu alasan adalah bahwa mereka digunakan dalam bahasa medik sehari-hari dan karenanya sulit untuk diabaikan. . Sebagai tambahan terhadap gejala lokal yang umum yaitu gejala dari daerah tulang belakang yang terbatas. perlu analisa yang mendalam dari penyakit diskus intervertebral. tidak akan benar secara terminologi. Istilah umum untuk nyeri radikular yang berasal dari tulang belakang lumbar adalah sindroma radik saraf lumbar. -------------------------------------------------------Istilah Penjelasan -------------------------------------------------------Anulus fibrosus Bagian seperti cincin melingkar (Anulus fibrosus) pada diskus intervertebral. ketiga dan keempat semata. Untuk menyatakan keadaan umum ini sebagai "lumbago". Ini hanya merupakan satu dari sindroma lumbar lokal.

Perubahan biomekanik dan patologik pada diskus intervertebral berhubungan dengan perubahan degeneratif yang serupa. Internal disk dearangement (Kerusakan susunan diskus internal) Intervertebral disk (Diskus intervertebral) Robeknya jaringan didalam diskus intervertebral. Memperluas foramen intervertebral yang menyempit.Cartilagineous end. Sendi utama antara dua badan tulang belakang. Terbentuk oleh tiga bagian.Tulang rawan hialin pada dataran plates tepi tulang belakang. Facet arthrosis (Artrosis faset) Facetectomy (Fasetektomi) Foraminectomy (Foraminektomi) Hemilaminectomy (Hemilaminektomi) Interlaminar space Ruangan yang diselaputi ligamentum (Ruang interlaminar) flavum antara dua arkus ruas tulang belakang. Dataran akhir badan tulang belakang serta . Mengangkat sebagian atau seluruh faset atau sendi. Mengangkat bagian yang lepas maupun yang telah mengalami degenerasi dari diskus intervertebral. (Dataran tepi tulangrawan) Disk deseases (Kelainan diskus) Diskectomy (Diskektomi) Keadaan patologik yang timbul langsung maupun tidak langsung dari diskus intervertebral. Biasanya terdiri dari hemifasetektomi dengan membuang aspek mesial dari baik faset superior maupun inferior dari sendi tersebut. Disk injection Menyuntikkan baik media kontras ma(Penyuntikan diskus) upun obat obatan kedalam diskus intervertebralis. Perubahan degeneratif pada sendi ruas tulang belakang terutama yang bersamaan dengan degenerasi diskus intervertebral. Membuang setengah dari arkus ruas tulang belakang. Diskitis (Diskitis) Diskosis (Diskosis) Inflamasi atau infeksi terbatas pada diskus intervertebral. suatu amfiartrosis.

anulus fibrosus. Nyeri akut pada regio lumbar. biasanya bagian superior dan ligamentum flavum. operasi diskus inter- Nucleus pulposus (Nukleus pulposus) Osteochondrosis (Osteokhondrosis) Postlaminectomy syndrome (Sindroma pascalaminektomi) Prediskotic deformity Gangguan bentuk dan fungsi segmen (Deformitas bergerak yang memudahkan perkemprediskotik) bangan sindroma diskus intervertebral kelak. . Laminectomy (Laminektomi) Laminotomy (Laminotomi) Low back pain (Nyeri punggung bawah) Lumbago (Lumbago) Lumbar disk desease Kelainan diskus intervertebral pada (Kelainan diskus in. Pusat diskus intervertebral terutama terdiri dari substansi ini. Prolapse (Prolaps) Herniasi jaringan diskus intervertebral melalui anulus fibrosus kedalam kanal. Tepi posterior dihubungkan oleh faset superior dan inferior dari sendi posterior. Nyeri yang terbatas hanya pada regio lumbar. Membuang bagian dari arkus ruas tulang belakang. Kesatuan fungsional kolumna tulang belakang yang terdiri dari dua badan ruas tulang belakang diskus intervertebral diantaranya. tervertebral lumbar) Lumboradiculitis (Lumboradikulitis) Motion segment (Segmen bergerak) Nyeri pada regio lumbar yang menjalar ketungkai. Degenerasi diskus intervertebral bersama-sama dengan perubahan dataran akhir ruas tulang belakang. anterior oleh diskus dan inferior oleh pedikel ruas tulang belakang inferior. Membuang arkus ruas tulang belakang. Dikelilingi sebelah atas oleh pedikel. Nyeri setelah vertebral. Intervertebral foramen (Foramen intervertebral) Kanal antara dua arkus ruas tulang belakang yang ditembus oleh saraf.regio lumbar.

Penyempitan kanal spinal. (Radikulitis lumbar sebelah atas) ------------------------------------------------------- . Akar L4 mungkin hanya terserang sebagian.Protrusion (Protrusi) Rheumatoid diskitis (Diskitis rematoid) Schmorl nodes (Nodus Schmorl) Sciatica (Siatika) Penonjolan diskus intervertebral tanpa perforasi anulus fibrosus. Hilangnya stabilitas. mencakup akar saraf L5. Spinal fusion (Fusi spinal) Spinal stenosis (Stenosis spinal) Spondylosis (Spondilosis) Three-joint complex (Kompleks tiga sendi) Tight hamstring (Hamstring yang tegang) Stabilisasi operatif pada segmen bergerak. Inflamasi rematoid pada tepi diskus intervertebral. L3 dan L4. Degenerasi diskus intervertebral dengan spur tulang reaktif pada tepi ruas tulang belakang. Konsep yang terdiri dari dua sendi dan diskus pada masingmasing tingkat. Penyebaran nyeri sepanjang ekstremitas bawah sesuai dengan distribusi saraf siatik. S1 dan/atau S2. Penetrasi spontan jaringan diskus intervertebral keruas tulang belakang. Sciatic list (Postur siatik) Segmental instability (Ketidakstabilan segmental) Sequestered Terlepasnya fragmen nukleus yang disk fragment mengalami degenerasi dari diskus (Fragmen diskus yang intervertebral mengalami sekuesterisasi). Upper lumbar Sindroma lumbar yang mengenai akar radiculitis) saraf L2. Keadaan khas yang tampak pada posisi berdiri pada penderita prolaps atau protrusi diskus intervertebra. Kontraksi yang jelas pada otot hamstring (mungkin karena traksi pada radik L5 dan S1-S2) menyebabkan teregangnya saraf ini.

Secara keseluruhan . Conventry (1968) dan Hirsch (1960). Penurunan tuberkulosis sendi. Tidak . Finlandia (Rissanen 1969). Duthie 1969). serta peningkatan angka harapan hidup berakibat pada peninggian penyakit pinggang baik secara relatif maupun nyata. Hal ini tampak pada usia setelah 30 tahun atau lebih awal seperti laporan dari penelitian pato-anatomi oleh Schmorl (1932). rickets dan polio. Sepanjang hidupnya. gangguan pinggang lebih sering dari gangguan sendi lainnya. sejumlah keadaan secara salah disangka rematik. Hanraets (1959). Swedia (Dahlberg 1976). Persentase pengobatan pasien rawat jalan dengan sindroma diskus intervertebral mencapai 37. sedikit orang yang terhindar dari gangguan punggung postural akibat perubahan degeneratif. Lindemann dan Kuhlendahl (1953). perlu melakukan penelitian prospektif. Gangguan pada pinggang adalah paling umum hingga usia 35 tahun. Untuk lebih baik dalam mengikuti perkembangan dan distribusi suatu penyakit kronis dimasarakat. Dari negara lain juga dilaporkan frekuensi penyakit diskus inter-vertebral degeneratif yang berhubungan dengan pekerjaan: Inggeris (Dixon 1973. Ini terutama jelas pada lesi diskus intervertebral. Armstrong (1965). Amerika Serikat (Leavitt 1971). Beberapa pandangan menarik didapat dari morbiditas penyakit diskus intervertebral. Menurut laporan German Health Office. Kanada (White 1969). Frekuensi tinggi dari ketidak-mampuan kerja serta pensiun awal diakibatkan oleh penyakit diskus intervertebral.9 % sudah menderita berbagai jenis gangguan sistem lokomotor. Israel (Magora 1970.8. Schmorl dan Junghanns (1968). Ini menjadi lebih nyata bila kelainan tulang belakang dipelajari sendiri. de Palma dan Rothman (1970). 72. Penyelidikan epidemiologik sudah dipelopori oleh Braun (1969) dan Wagenhauser (1969) Wagenhauser (1969) melakukan penelitian pada 1. dan 52 % nyata mempunyai gejala saat pemeriksaan. Penyelidikan Knepel (1977) mendapatkan pada praktek umum bahwa dari tiap 10 penderita didapatkan seorang dengan keluhan pinggang yang disebabkan oleh degenerasi diskus intervertebral. penyakit sendi degeneratif adalah kelainan kronik yang utama. Karena tidak jelasnya terminologi penyakit rematik. ini terutama jelas pada penyakit degeneratif sistem lokomotor dimana degenerasi diskus intervertebral berperan penting. Jochheim (1961).170 penduduk. Informasi lain mengenai distribusi kelamin dan usia dari penyakit diskus intervertebral sudah dijelaskan oleh Schmorl dan Junghanns (1968). Gross (1966) dan Hult (1954).A. Arti dan Frekuensi Kelainan Diskus Intervertebral Penyakit diskus intervertebral adalah kelainan yang umum didapat. Magora dan Tanstein 1969).

yang memerlukan tindakan yang lebih aktif. osteoporosis. Selain frekuensi sindroma lumbar yang tinggi. Sindroma servikal lebih sering pada wanita (60. Lumbar paling sering terserang dengan 61. dan kelainan jarang lainnya.3 %). Alasan mengapa laki-laki lebih sering dikenai tidak hanya karena lebih sering dan lebih berat dalam mengangkat serta meregang dibanding wanita. Sindroma diskus intervertebral hampir sama banyaknya pada pria dan wanita. Laki-laki lebih sering terserang dibanding wanita. B.8 % pada wanita. penting menghubungkan aspek medik dan sosial karena sering terjadi pada usia menengah dimana mereka sedang berada pada puncak aktifitas kehidupannya. penyakit Scheuermann. Sindroma diskus intervertebral terjadi terutama pada kelompok usia menengah.1 dan toraks hanya 1.7 % adalah akibat degenerasi diskus intervertebral. Pada penderita rawat jalan 47. Ini adalah usia dimana kebanyakan operasi terhadap prolaps diskus intervertebral dilaksanakan.2 % terjadi pada pria dan 52. Regio tulang belakang yang berbeda terserang dengan persentase berbeda. Frekuensi Sindroma Lumbar Sindroma lumbar secara khas ditandai dengan gejalagejala dan tanda-tanda yang berasal dari perubahan degeneratif pada diskus intervertebral lumbar. juga terjadi sindroma radik-radik saraf lumbar dengan nyeri yang menjalar ketungkai. serta sindroma kauda ekuina. Gejala umumnya timbul antara usia 30 dan mencapai puncaknya pada usia 40 pada pria dan 10 tahun kemudian pada wanita. Hampir duapertiga kelainan diskus intervertebral menyerang tulang belakang lumbar. dan maksimum dicapai pada usia 40 dan 50. Pada usia ini terjadi perubahan jaringan diskus intervertebral dengan tekanan yang tinggi pada nukleus pulposus dan penurunan tahanan dari anulus fibrosus.6%) dan sindroma lumbar lebih utama pada pria (51. dan lebih dari setengahnya mengenai diskus intervertebral lumbar empat. yang lebih sempit pada pria. Sisanya terdiri dari skoliosis. Penderita lainnya tidak pernah diperiksa walau dengan onset nyeri lumbar mendadak. Bukan tidak mungkin bahwa kanal lumbar. berbagai tumor. Beratnya sindroma lumbar. Disamping perasaan tidak enak setempat. Satu dari duabelas pasien pada praktek umum tampak diakibatkan oleh sindroma lumbar.96 %. mempunyai peranan (Tannich 1976). Dengan kata lain kemungkinannya besar untuk . Karenanya sangat mungkin sindroma lumbar terjadi lebih sering dari yang tercatat. keadaan inflamasi. atau penderita yang mengalami perasaan tidak enak setelah ia membebani pinggangnya. Ini yang ditemukan oleh kalangan medis. tetap lebih utama pada pria. Diyakini ada faktor spesies spesifik tertentu. 68 % antara 30 dan 60.94 % diikuti servikal dengan 36.kurang dari 92.

menyimpulkan bahwa di Amerika Serikat gangguan pinggang dan tulang belakang merupakan penyebab tersering diantara semua kelainan kronis dalam menyebabkan pembatasan aktifitas masyarakat berusia dibawah 45 tahun. Sindroma lumbar tampaknya tidak mengikuti pola statistik khusus. Penampilan gejala sangat berhubungan dengan peristiwa biokimia dan biomekanik yang sinambung pada jaringan diskus intervertebral yang perkembangannya sangat berkaitan dengan involusi usia. Benn dan Wood menemukan bahwa nyeri pinggang bawah merupakan faktor ketiga yang menyebabkan kehilangan jam kerja setelah kelainan paru akut dan kronik serta kelainan pembuluh koroner arteriosklerotik di Inggris pada tahun 1970. makin besar ia akan kehilangan kemampuannya dan tidak akan pernah kembali kekerja yang produktif. Ia menduduki peringkat ketiga setelah kelainan jantung dan arthritis serta rematik pada usia 45 hingga 64 tahun. Menurutnya hanya 35 % dari mereka yang akan menjadi penderita siatika. Kelsey dan White. Rowe mendapatkan 35 persen pekerja ringan dan 45 persen pekerja berat mengeluhkan nyeri pinggang. hal ini tidak berarti suatu bukti dari contoh penderita nyeri pinggang bawah secara keseluruhan. Kelsey menemukan usia onset yang sama pada pria dengan nyeri pinggang bawah akibat kelainan diskus. jumlah penderita merata.000 pekerja dan dibeberapa pabrik di Inggeris 2. Nyeri akut dan siatika dapat timbul spontan tanpa penyebab yang jelas. Kehilangan hari kerja pertahun akibat nyeri pinggang bawah di Amerika Serikat adalah 1. seperti juga peneliti lain.000 pekerja. Nachemson menduga bahwa 80 % orang dewasa mengalami nyeri pinggang yang jelas selama kehidupan dewasanya. Peneliti lain mendapatkan bahwa semakin lama penderita meninggalkan pekerjaannya. hanya kedua setelah infeksi saluran nafas atas.600 per 1. Tak ada perbedaan rasial atas nyeri pinggang bawah dan siatika. Horal menemukan bahwa nyeri pinggang bawah dalam derajat yang jelas telah dimulai pada usia onset rata-rata 35 tahun. 90 persen akan mengalami serangan berikutnya. namun menemukan pada wanita gejala yang jelas baru timbul satu dekade kemudian.400 per 1. dan . Walau Kelsey menemukan bahwa pria lebih banyak menjalani operasi akibat nyeri pinggang bawah. Menurutnya tiap orang kehilangan 4 jam kerja setahun karena nyeri pinggang bawah.terjadinya dislokasi periferal dari jaringan diskus intervertebral yang terletak sentral. Penyakit ini berjalan secara khas mengikuti variasi musim. McGills menemukan bahwa ketidak-hadiran selama satu tahun karena kelainan pinggang bawah mengurangi kemungkinan untuk kembali bekerja hingga hanya 25 persen. Setelah serangan pertama nyeri pinggang bawah. Selama sisa bulan. Sindroma lumbar cenderung sedikit menurun selama bagian awal dari tahun (Kramer 1973).

Cikal bakal tulang belakang adalah aksis selular yang disebut notokhord. Selama periode ini dapat dijumpai awal dari degenerasi. Siatika adalah penyakit yang yang umum dan berpengaruh ekonomi. Ia tetap hanya sebagai aksis skeletal pada khordata. 1968. Anatomi dan Fisiologi Diskus Intervertebral 1.setelah tidak hadir dua tahun biasanya tidak mungkin untuk bekerja kembali. Notokhord berjalan melalui pusat kolumna vertebral. Dari ujung kranial streak. perlu untuk mengetahui perkembangannya pada tingkat embrionik dan pada saat bayi.8 persen pria dan 2. Hakelius melaporkan bahwa 75 persen penderita membaik setelah 10 hingga 30 hari sejak onset gejala. streak primitif yang terutama dibentuk oleh sel-sel lapisan ektodermal bermigrasi keventral melalui streak dan menyebar kesetiap sisi membentuk mesoderm embrionik.5 persen wanita diluar usia 35 tahun menderita siatika. yakni struktur aksial yang akan menjadi sumbu terbentuknya tulang belakang. 1970) dan rekannya Larcher (1947). 1955. Perkembangan tulang belakang beserta deformitasnya sudah dipelajari terutama oleh Tondury (1947. embrio berupa piring berbentuk buah pir. Embrio usia beberapa hari dengan panjang kepala-ekor 12 mm menampakkan tanda awal dari kolumna vertebral. dengan tiga lapisan germinal primer. baik terhadap perorangan maupun industri. mesoderm dan endoderm yang sudah terbentuk. Tekanan karena peningkatan pertumbuhan sel . Di Swedia 53 persen pekerja ringan dan 64 persen pekerja berat mengalami nyeri pinggang bawah. yakni ektoderm. C. menonjol kedepan diantara ektoderm dan endoderm. mencakup diskus intervertebral dan ruas tulang belakang. dan hanya 19 persen memerlukan tindakan operasi. menuju ujung kaudal. Notokhord berubah sangat dini menjadi kolumna vertebral kartilago atau tulang. Prader (1947) dan Ecklin (1960). prosesus notokhordal. Perlu diingat bahwa prognosis untuk penderita dengan siatika berat unilateral akibat diskus intervertebral yang herniasi tidaklah jelek. Dalam seri seksi mikroskopik mereka dapat mendemonstrasikan involusi notokhord dan perkembangan yang berkesinambungan dari tulang belakang dan diskus intervertebral. sekitar 76 persen menderita nyeri pinggang bawah satu dekade sebelumnya. Bell dan Rothman menyimpulkan bahwa masalah klinis siatika adalah berhubungan dengan degenerasi diskus intervertebral. Digaris tengah piring embrionik. Usia onset rata-rata pada serangan siatika pertama sekitar 37 tahun. Akhir minggu ketiga pasca ovulasi. Perkembangan Diskus Intervertebral Untuk memahami latar belakang perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dewasa. Datanya menyatakan bahwa 4.

Karenanya penulangan pada batas terluar membentuk cincin tulang dari bidang akhir. Annulus fibrosus dan nukleus pulposus bertambah ukuran dan isinya secara aposisi interstitial (Hirsch dan Schajowicz 1952). berlanjut kezona dalam gelatinosa parakhordal yang betul-betul tanpa struktur. Diskus intervertebral saat lahir terdiri dari semua struktur yang kelak menjadi penting dalam kehidupan dalam hal fungsi mekanik tulang belakang. Cincin epifiseal osseus adalah penting pada diskus intervertebral karena serabut Sharpey melekat padanya. Segmen ini adalah asal dari nukleus pulposus (Tondury 1958). Berkas lamella padat pada lapisan periferal anulus membentuk jaringan yang berjalan dari satu ruas keruas tulang belakang lainnya. Nukleus pulposus yang tidak berstruktur mengisi daerah ini. Ada dua sistem pembuluh. Lamella fibrosa ditembus pembuluh ini yang berasal dari jaring kapiler intralameller. Ruas tulang belakang dan diskus intervertebral mencapai akhir perkembangannya pada pemuda dewasa. Diskus intervertebral disekeliling segmen khordal terdiri dari satu zona luar dan satu zona dalam. Zona dalam parakhordal bersama segmen khordal yang terletak eksentris membentuk nukleus pulposus. Pusat penulangan ruas tulang belakang kearah diskus intervertebral membentuk bidang akhir tulang rawan. Pertumbuhan ruas tulang belakang mengambil tempat pada zona proliferatif dari bidang epifiseal. Zona ini menghilang pada usia sekitar 20 tahun. Diskus intervertebral yang sedang tumbuh menerima catu vaskular untuk zona luar selama tahap embrionik dan bayi. Dari tingkat ini penggabungan mulai dari cincin epifiseal kebadan ruas tulang belakang. satu horizontal perifer dan satu longitudinal sentral. Ini merupakan zona regenerasi. Bagian sentral diskus intervertebral menerima nutrisi melalui difusi. Catu vaskular semua elemen pada diskus inter-vertebral sempurna .tulang rawan memeras notokhord menjadi segmen sirkular kecil yang terletak pada diskus intervertebral. Zona luar yang kaya akan fibril namun miskin akan sel. Pembuluh mencapai annulus fibrosus melalui jaringan vaskular disekeliling kolumna tulang belakang dan foramina intervertebra. Pada usia 12 tahun. Fibril berjalan didalam tulang rawan ruas tulang belakang dan kemudian berkembang membentuk serabut Sharpey pada zona transisional. Jumlah dan kekuatan lamella berkurang kearah pusat diskus intervertebral. Pembuluh ini tidak mencapai baik interior dari annulus fibrosus maupun nukleus pulposus (Tondury 1958). Pusat osifikasi berkembang pada daerah cincin epifiseal kartilaginosa. Fibril longitudinal tampak lebih awal pada zona luar yang akhirnya membentuk nukleus pulposus. dan absorpsi pada permukaannya membentuk tulang "cancellous". pusat ini bersatu untuk membentuk cincin epifiseal osseus. Bidang tulang rawan mempunyai vaskularisasi baik.

hingga pembuluh ini mengalami penekanan secara terus menerus oleh tekanan yang berasal dari diskus intervertebral yang mengikuti variasi postur tubuh. Perubahan ini jelas pada pemeriksaan visual sederhana terhadap spesimen. karakternya menjadi relatif kering dan fibriler. Pada manusia. Hubungan ukuran antara badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral karenanya menjadi disproporsionat. namun pada akhir periode pertumbuhan tinggi diskus intervertebral hanya 1/3 hingga 1/5 tinggi ruas tulang belakang berdekatan. Konsekuensinya adalah terjadinya gangguan metabolisme. Mungkin menghilangnya pembuluh berhubungan dengan peningkatan beban yang berkesinambungan. Jaringan semi cair sentral ini dapat dengan mudah dibuang pada anak usia dua tahun. Diskus intervertebral karenanya menunjukkan banyak perubahan selama periode pra serta pasca natal. Tahap tertentu pada perkembangan diskus intervertebral . Setelah akhir pertumbuhan. setelah itu terjadi regresi yang menyebabkan diskus intervertebral avaskular pada usia empat tahun. pembuluh pada diskus intervertebral berada pada massa gelatinosa homogen yang secara fisik ekual dengan cairan. Kontras dengan ini. pembuluh darah dapat masuk kediskus intervertebral sebagai bagian dari reaksi jaringan ikat. Ini memberikan kesan sebagai substansi cairan. Pada neonatus dan bayi kecil. diskus intervertebral menunjukkan perubahan penampilan dikarenakan perubahan regresif.hingga usia dua tahun (Tonduri 1955). Goldie (1957) dan Hassler (1969) menemukan invasi jaringan granulasi dengan pembuluh darah pada diskus intervertebral yang berdegenerasi. area sentral nukleus kehilangan penampilan homogen dan gelatinnya. permukaan terpotong adalah berkilat dan menyerupai gelatin. Penurunan nutritif pada diskus intervertebral dengan sendirinya berakibat pada baik kualitas maupun kuantitas jaringan ikat pada diskus intervertebral. pembuluh pada diskus intervertebral menghilang bila posisi berdiri dimulai. Penambahan oleh aposisi interstitial pada ukuran dan isi nukleus pulposus dan anulus fibrosus tidak berjalan paralel dengan pertumbuhan badan ruas tulang belakang. sedangkan pada dewasa tidak mungkin. Saat lahir kedua struktur hampir sama tinggi. Bila segmen bergerak menjadi immobil karena spur spondilotik. Dengan pertambahan usia. Pembuluh ruas tulang belakang sebagian berada pada sistem trabekular badan ruas tulang belakang dan terhindar dari beban dan kompresi aksial. dan akan dipertahankan selama tahun pertama dan kedua kehidupan. Disini terjadi penurunan yang cepat pada kandungan air. perubahan yang tampak pada orang muda menunjukkan "degenerasi bergantung usia" yang dini. Dalam hal kualitas diskus intervertebral. dan karenanya terjadi perubahan konsistensi dan warna jaringan diskus pada tahun-tahun pertama kehidupan.

Sendi utama yang dibentuk oleh diskus intervertebral terdiri dari nukleus pulposus. kanal tulang belakang dan prosesus spinosus serta transversus berikut ligamennya. Struktur berdekatan juga dikenai. Karenanya termasuk ligamen longitudinal anterior dan posterior. Paling umum menggunakan sistem yang berhubungan dengan ruas tulang belakang tetangganya. jalur yang mungkin berperan pada patogenesanya harus dijelaskan. Segmen bergerak dibentuk oleh setengah ruas tulang belakang diatas dan setengah ruas tulang belakang dibawahnya. adalah penamaan diskus intervertebral berdasar nama ruas tulang belakang diatasnya. ada lima buah diskus intervertebral servikal. menjadi lebih umum digunakan. Berlawanan dengan . Misalnya diskus intervertebral diantara ruas tulang belakang servikal kelima dan keenam juga dikenal sebagai diskus intervertebral servikal kelima. anulus fibrosus dan dataran tulang rawan yang pada berkembangan lebih lanjut menjadi lebih berintegrasi dengan ruas tulang belakang. 11 torakal dan empat lumbar. sendi ruas tulang belakang. yang mungkin tampil sebagai sindroma diskus inter-vertebral. Diskus intervertebral pada hubungan servikal-torak dinamakan diskus intervertebral C7-T1 atau diskus intervertebral C7. dan sendi segmen bergerak antara atlas dan aksis tidak mempunyai diskus intervertebral. Diskus intervertebral dinamai pada saat ini dalam dua cara berbeda. Unit fungsional dari tulang belakang adalah segmen bergerak (Schmorl dan Junghans 1968). Pada dataran sagital berbentuk trapezoid dan mengatur kurva fisiologik masing-masing bagian. Sebagai aturan. diskus intervertebral mungkin disebut diskus intervertebral L5-6 atau L6-S1. Diskus inter-vertebral membentuk 1/4 tinggi dari tulang belakang dewasa. Tulang belakang manusia terdiri dari 24 segmen bergerak. ligamen flavum yang kelateral membentuk kapsul untuk sendi ruas tulang belakang. Bila memikirkan bagian dari sindroma ini. Sistem lainnya. 2. Diskus intervertebral berubah tingginya yaitu semakin tinggi pada arah superior keinferior. Misalnya C5-6 adalah diskus intervertebral antara ruas tulang belakang servikal kelima dan enam. Diskus intervertebral pada hubungan torakolumbar dinamakan T12-L1 atau diskus intervertebral torak ke 12.dari bayi hingga usia tua ditandai dengan kemungkinan yang lebih besar terhadap suatu perubahan degeneratif tidak hanya pada nukleus pulposus tapi juga pada anulus. ligamen flavum. Anatomi Tulang Belakang Kelainan diskus intervertebral tidak hanya menyerang diskus intervertebral saja. Pada beberapa keadaan dimana ditemukan ruas tulang belakang lumbar tambahan . Paling atas antara oksiput dan atlas. Karenanya ada 23 diskus intervertebral.

yaitu dari anulus fibrosus dan nukleus pulposus. Sisa dari notokhord terletak lebih kebelakang. Pada diskus intervertebral (Stahl 1977). Jaringan ini berisi substansi dengan dasar gelatin (Schmorl dan Junghanns 1968) yang akan menjadi nukleus pulposus. berbeda dengan penjelasan pada beberapa buku anatomi. Disini aspek superiornya lebih lebar dari inferior. Pada orang muda dimana jaringan diskus intervertebral lebih homogen. Anulus fibrosus mengandung serabut serupa sekrup yang bercampur satu sama lain yang berjalan dari satu ruas tulang belakang ke ruas tulang belakang lainnya. dan diregio tulang belakang lumbar menyempit menjadi pita tipis. Walau sepatutnya bagian dari diskus intervertebral. permukaan ruas tulang belakang yang seperti saringan. dataran tulang rawan bersatu dengan dataran akhir ruas tulang belakang melalui lapisan kalsium melalui mana porus-porus kecil menembus untuk nutrisi diskus intervertebral. Bila memotong diskus intervertebral secara transversal maka substansi sentral yang melekat erat pada ruas tulang belakang akan menonjol keluar. Pada usia awal. nukleus pulposus mengandung sel khordal dan untaian yang tersusun berbentuk jaring yang tampak berasal dari sel khordal (retinakulum khordal). akan berusaha mendapatkan bentuk bola. anulus berhubungan secara mulus dengan nukleus pulposus. dan saat pertumbuhan berakhir ia mencapai cincin ruas tulang belakang. ligamen longitudinal posterior tidak menutupi diskus inter-vertebral secara . Interior ruas tulang belakang mempertahankan hubungannya dengan dataran tulang rawan melalui lamina kribrosa. Lamela fibrosa lebih banyak dan lebih kuat di anterior dan lateral dibanding di posterior dimana mereka lebih jarang dan lebih tipis. Sebaliknya. yang ditentukan oleh konfigurasi ruas tulang belakang. ligamentum longitudinal posterior tak begitu mudah dipisahkan dari diskus intervertebral karena eratnya perlekatannya. dataran tulang rawan nyatanya merupakan bagian badan tulang belakang. Menurut Schmorl (1932). Ini menunjukkan bahwa diskus intervertebral akibat dari tekanannya sendiri. Ini dapat dengan mudah diangkat dari diskus intervertebral. Diperifer ada serabut Sharpey yang menembus dan melekat pada cincin ruas tulang belakang. Lebih kedepan. konveksitas lordosis servikal dan lumbar adalah akibat penambahan tinggi bagian anterior diskus intervertebral. Ligamentum longitudinal anterior berjalan secara luas sepanjang permukaan anterior badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. Difusi berbagai substansi terjadi melalui lapisan ini. Substansi nukleus pulposus pada usia selanjutnya dipisahkan ruangan yang kedalamnya dapat dimasukkan satu hingga dua cm3 cairan melalui suntikan.kifosis torak. Ia mengandung tulang rawan hialin. biasanya kurang dari satu cm3 yang dapat disuntikkan.

Bila pita ini mengalami regangan. seperti terjadi pada protrusi diskus intervertebral. perut dan tengkorak. membentuk sistem anastomotik dari tengkorak mencapai sakrum. Ligamen ini menutupi aspek posterior kanal spinal dan kelateral membentuk kapsul dari persendian ruas tulang belakang. dimana prolaps dan protrusi diskus intervertebral terjadi. Ini menjelaskan peningkatan rasa tidak enak daerah lumbar saat kegiatan tersebut. pengisian vena dan tekanan vena sentral berada pada keadaan paling rendah. Perhatian besar telah lama dipusatkan pada ketebalan ligamentum flavum. Pada posisi 'a la vache'. Menjembatani foramina interarkuata. Pengisian vena ini tergantung posisi tubuh. Vena vertebral juga mempunyai hubungan dengan vena cava superior dan inferior. Anatomi Tulang Belakang Lumbar . Persangkaan hipertrofi dalam berbagai tingkat dianggap bertanggung jawab atas keluhan pinggang bila pada saat operasi didapatkan kondisi lainnya dalam keadaan normal. Pada pengukuran intraoperatif didemonstrasikan bahwa derajat pengisian pada vena epidural lumbar berhubungan dengan tekanan vena sentral (Ghazwinian dan Kramer 1974). vena epidural akan kolaps dan sulit untuk terisi darah. Clemens (1970) mendemonstrasikan pentingnya sistem vena vertebral lokal yang memiliki hubungan melalui beberapa emissaria dengan vena inferior tengkorak. Vena vertebral dapat menyebabkan sindroma diskus inter-vertebral dan juga suatu perburukan bila terjadi penyempitan kanal spinal oleh protrusi diskus intervertebral atau tulang. Ligamentum flavum menjadi lebih tebal sebelah distal dari kolum servikal. ia berjalan dari setengah anterior dan distal lamina diatasnya dan melekat pada sisi superior lamina dibawahnya. Vena vertebral. Bersama vena azigos. Ligamentum flavum merupakan struktur penting pada bedah diskus intervertebral. yaitu melalui batuk. dapat timbul nyeri yang berasal dari periosteum. terdapat sirkulasi kolateral lokal yang segera bereaksi pada semua peninggian tekanan pada dada. 3.menyeluruh namun menyisakan aspek dorsolateral terbuka. yang tak mempunyai katup. Ligamentum flavum dan ligamentum interspinosum menstabilkan bagian posterior segmen bergerak pada kurva anterior pada kifosis total dan pada posisi berdiri. Karenanya hanya sedikit perdarahan saat operasi dan koagulasi elektrik jarang diperlukan. Pada posisi duduk dan terlentang vena ini terisi penuh. Bagian lateral ligamen membentuk pita yang berjalan oblik menyilang diskus intervertebral dalam arah kedistal dan akhirnya berakhir pada dasar pedikel. Pada operasi dengan posisi ini untuk prolaps diskus intervertebral lumbar. bila tiada tekanan pada abdomen dan abdomen tergantung bebas. bersin dan peninggian tekanan abdominal.

Rongga sendi L1-L4 berarah pada dataran sagital. Tentu saja variasi tidak hanya dalam ukuran lubang. Diskus intervertebral bertambah ukurannya dari bagian superior keinferior. Ukuran kanal tulang belakang lumbar baik pada dataran frontal maupun sagital serta bentuk dari kanal. b. Tepi tulang dari foramina intervertebral. diskus intervertebral ini mempunyai bentuk trapezoid. namun juga antara kedua sisi. Pada daerah lumbosakral serupa dengan tulang belakang toraks dan karenanya berarah pada dataran frontal. karena oleh perubahan diskus inter-vertebral atau dislokasi ruas tulang belakang. radik saraf dengan mudah menjadi tertekan. Foramina intervertebral terbatas kearah posterior oleh faset sendi. Diskus intervertebral lebih tinggi dianterior dibanding posterior dimanaberhubungan dengan derajat dari lordosis lumbar. Diskus Intervertebral Lumbar Tulang belakang lumbar mempunyai lima ruas tulang belakang. Tampilan cembung diskus intervertebral nyata pada daerah lumbar. Diameter radik saraf bertambah dari bagian superior keinferior dengan maksimum pada L5. dibentuk oleh bagian posterolateral ruas-ruas tulang belakang yang kadang-kadang menebal kebawah pada bagian superior foramina intervertebral dimana radik saraf lewat. Tampak lateral. Diskus intervertebral torakolumbar atau diskus intervertebral T12 dianggap milik tulang belakang lumbar. menampakkan beberapa segi sebagai penyebab nyeri lumbar. Foramina intervertebral dapat menjadi sempit karena perubahan posisi dari sendi tulang belakang. sedikit perubahan aspek posterior diskus intervertebral dapat menyebabkan rasa tidak enak. Foramina intervertebral daerah lumbosakral sangat kecil. Ini paling jelas pada daerah lumbosakral. Foramina Intervertebral Posisi foramina intervertebral dalam hubungannya dengan diskus intervertebral tulang belakang lumbar adalah paling penting dalam mengamati radik-radik saraf spinal. Hubungan diameter dari L1 hingga L5 adalah 1:5 (Tondury 1970). Kekecualian pada diskus intervertebral lumbosakral yang sekitar sepertiga lebih pendek dari diskus intervertebral didekatnya. Foramina intervertebral terletak sama tinggi dengan diskus intervertebral. Ganglia spinal dan radik anterior terletak lebih keanterior dibanding daerah toraks dan mereka hampir bersentuhan dengan diskus intervertebral. Susunan anatomi menyebabkan posisi anatomi dan fisiologi radik saraf penuh risiko. c. Variasi Ruas Tulang Belakang Lumbar Terdapat anggapan yang berlebihan bahwa deformitas dan anomali kongenital adalah penting sebagai penyebab . yakni pada bagian superior dari tulang belakang lumbar.a. Pada penyempitan kanal lumbar.

Sudah diketahui bahwa secara praktis menghitung ruas tulang belakang dimulai dari L1. Variasi jumlah ruas tulang belakang mempunyai beberapa kepentingan praktis. tekukan ruas tulang belakang transisional terjadi bila satu prosesus lebih pendek dari lainnya.nyeri lumbar. dan keposterior oleh ligamentum flavum dan arkus ruas tulang belakang. dan bila terdapat enam ruas tulang belakang dikatakan sebagai lumbarisasi. Sekali terdapat ketidaksetangkupan. Diskus inter-vertebral dapat menampakkan semua jenis kemungkinan perubahan transisional. misalnya satu prosesus transversus bebas dan lainnya berhubungan dengan sakrum. d. Sepanjang ruas tulang belakang transisional setangkup dan serasi baik dengan sekitarnya. prolaps diskus intervertebral antara L5-L6 menyebabkan sindroma S1. Sakralisasi dan lumbarisasi hanya dapat ditentukan dengan penghitungan yang teliti terhadap ruas tulang belakang toraks. Dalam keadaan enam ruas tulang belakang bebas. Bila terdapat empat ruas tulang belakang bebas. serta jaringan epidural yang berisi vena-vena dan lemak yang mengelilingi radik-radik saraf hingga pada pergerakan yang ekstrim dari tulang belakang lumbar. Pada keadaan ini. Kearah lateral adalah rongga arkus dan foramina intervertebral. dikatakan sebagai sakralisasi. radik-radik saraf. Bila kedua prosesus transversus berasimilasi dengan sakrum. radik-radik saraf tidak . Kanal tulang belakang dibatasi sebelah depannya oleh badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. ruas tulang belakang pertama yang tidak mempunyai tulang rusuk. Prolaps antara ruas tulang belakang lumbar empat dan sakrum pada keadaan dimana hanya terdapat empat ruas tulang belakang bebas akan menyebabkan sindroma L5. Topografi Radik Saraf serta Diskus Intervertebral dalam hubungannya dengan Kanal Spinal Lumbar Kebanyakan sindroma radik saraf lumbar timbul dari segmen terbawah akibat keadaan biomekanik dan kontak erat radik saraf terhadap diskus intervertebral. Isi kanal tulang belakang lumbar adalah kantung dural. dan akibatnya mungkin terjadi skoliosis lumbar. diskus intervertebral superior berdekatan akan terserang ketidaksetangkupan (Rettig 1959). Ruas tulang belakang transisional memiliki keistimewaan dimana ruas tulang belakang lumbosakral mungkin mempunyai prosesus transversus bebas atau mungkin mempunyai kontak yang erat dengan sakrum dengan tampilan serupa sendi. dan berakibat istilah ruas tulang belakang transisional jarang digunakan. tidak akan menimbulkan gejala. akan terjadi perubahan biomekanik tulang belakang. Pada tulang belakang lumbar sering terjadi penyempitan kanal tulang belakang baik oleh protrusi maupun prolaps diskus intervertebral. Kanal berbentuk silinder yang berubah sesuai pergerakan batang tubuh. dan sebelumnya dianjurkan untuk menghitung dari bawah keatas.

Saraf-saraf terletak lebih kelateral hingga pada pungsi lumbar medial. Arah dari radik-radik saraf setelah meninggalkan kantung dural adalah menuju tingkat segmen yang bersangkutan. dan semakin jauh radik-radik berjalan kedistal semakin menyudut saat keluar dari kantung dural. adalah struktur akhir dari cord tulang belakang yang meluas ke ruas tulang belakang lumbar kedua. . dan saraf-saraf spinal berjalan lebih kedistal dan keluar melalui foramina inter-vertebral yang bersangkutan setelah melalui perjalanan yang jauh dalam rongga subarakhnoid. maka gangguan pada radik saraf lumbar keempat terjadi pada tingkat diskus intervertebral antara L3-L4. diskus intervertebral juga berisi komponen jaringan yang terdapat pada jaringan ikat struktur lainnya. Radik sakral pertama terganggu oleh prostrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar kelima dan segmen sakral pertama. Komponen-komponen jaringan antara ruas tulang belakang dengan baik dapat dijelaskan dalam hubungannya atas keperluan mekanik dan sesungguhnya diskus intervertebral mungkin diingat sebagai organ jaringan ikat.begitu terganggu oleh jaringan keras. Secara histologi dan biokimia. elemen utama jaringan ikat berbeda sesuai lokasinya. sel sel tulang rawan dan kadang kadang sel sel notokhordal pada diskus intervertebral. Jaringan-jaringan ini berasal dari sel jaringan ikat yang membentuk 20% hingga 30% dari jaringan. dan pungsi diskus intervertebral transdural akan terhindar dari cedera. atau oleh spurring yang mengikuti pada daerah intraforaminal (Gill 1976). Cord tulang belakang kebawah hanya mencapai ruas tulang belakang lumbar pertama atau kedua. Karena hubungan topografik yang khas dari radikradik saraf terhadap diskus intervertebral ini. mielografi. nukleus pulposus oleh substansi dasar. Mereka adalah fibroblas. Kauda ekuina adalah saraf-saraf spinal distal yang bersamaan dengan fillum terminale. Radik lumbar kelima biasa tertekan pada protrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar keempat dan kelima. Anulus fibrosus dibentuk oleh serabut. radik lumbar kelima mungkin terganggu oleh protrusi atau ruptur diskus intervertebral intraforaminal. Radik lumbar keempat mungkin terganggu oleh prolaps lateral dan besar pada daerah intraforaminal atau oleh pertumbuhan berlebihan faset inferior ruas tulang belakang lumbar keempat. Perbedaan ketinggian letak segmen cord tulang belakang dengan segmen tulang belakangnya yang bersangkutan paling jelas pada daerah lumbar. Struktur Mikroskopik dan Biokimia Diskus Intervertebral Selain sisa khordal. Hal serupa. D. dan pelat tulang rawan oleh tulang rawan hialin.

Mukopolisakharida asam. Selain cairan interstitial. Air tidak dalam keadaan bebas. McCarty (1964) mendapatkan kalsium pirofosfat pada diskus intervertebral manusia. Gluko-protein terdiri dari protein dan hidrat arang. glukosa dan air. Sel-sel tulang rawan paling bertanggung-jawab atas metabolisme diskus intervertebral. Mukopolisakharida membentuk sistem kisi-kisi tiga dimensi yang akan menentukan viskositas substansi dasar. garam. Mereka bersifat seperti mukoprotein dengan kemampuannya yang jelas dalam mengikat air. matriks organik dan sedikit lemak pada jaringan diskus intervertebral. Substansi dasar terdiri dari glukoprotein dan polisakharida molekul besar. sulfat khondroitin. Substansi dasar adalah bagian dari matriks. seperti halnya asam hialuronik. Untuk membentuk makromolekul ekstraselular. Kalsium terikat pada asam mukopolisakharida dari matriks dan dapat tertimbun disini 35 kali lebih banyak dari jaringan lain (Dulce 1969). potasium dan kalsium. Dengan kemampuan metabolismenya mereka membentuk matriks organik yang mengandung kolagen dan kompleks mukopolisakharidaprotein. Kandungan air antara 80% dan 85% pada diskus intervertebral orang muda. Mukopolisakharida bertanggung-jawab untuk pembengkakan. namun merupakan bagian dari makromolekul. semua ion lain ditemukan pada cairan interstitial. Mukopolisakharida dan makromolekul disintesa baik intra maupun ekstraseluler.Sel-sel jaringan ikat membentuk substansi dasar dan serabut-serabut ekstra dan intra selular. sodium. Dengan kata lain terdapat pengaktifan kalsium pada jaringan diskus intervertebral. elastisitas dan viskositas substansi dasar. terdapat mineral. Mineralisasi berjalan paralel dengan peningkatan fosfor dan dengan pemisahan kristal secara lambat. makromolekul mengikat sebagian besar cairan pada diskus intervertebral. Ia mengalami depolimerisasi oleh protease asam . Karenanya dapat kembali dari bentuk ikatan kemakromolekul terion yang bebas. Kandungan potasium yang tinggi pada tulang rawan adalah karena banyaknya sel. seperti asam amino. sulfat keratin dan heparin adalah bagian dari polisakharida molekul besar. serta dapat dipindahkan kecairan interstitial dengan menggantinya dengan kelompok hidrofilik dari substansi tertentu. Kandungan air nukleus pulposus lebih besar dibanding pada anulus fibrosus. Kristal kalsium fosfat tak tampak hingga usia dewasa. Karena memiliki hidro-dinamik yang jelas. Dalam keadaan normal mineral tidak tampak secara bebas pada diskus intervertebral. masing-masing terikat secara struktural atau dalam larutan pada cairan ekstraselular. Ion anorganik. sel-sel menggunakan substrat molekul rendah. Penambahan isinya adalah dari arah tepi ke nukleus pulposus. serta kekentalannya yang tinggi. Proteoglikan dan komponen lain mukopolisakharida asam dibentuk intraseluler sebagai produk intermediet metabolisme glukosa. enzim. Sodium dapat terikat pada matriks.

Takeda 1975. Dengan interloking molekul. Adalah seimbang antara depolimerisasi dan sintesa makromolekul pada keadaan normal. asam hialuronik 2-4 hari (Schiller 1956. Sel pembentuk fibril terletak dalam bentuk bikonveks diantara serabut kolagen yang diikat bersama oleh mukopolisakarida. Akibat keterbatasan waktu hidupnya. Karenanya mukopolisakharida menunjukkan tingkat perubahan yang tinggi.sitoplasmik yang bergantung pada vitamin A. Pada orang tua perubahan berlangsung lebih lambat. strukturnya dibangun stabil secara mekanik oleh jaringan serabut kolagen tiga dimensi. Jaringan diskus intervertebral membentuk tropokolagen. Fibril proteokolagen mengandung asam amino glisin (30 %). Zona sebelah pinggir diskus intervertebral memiliki berkas serabut yang tersusun padat. struktur ekstraselulernya terus diperbaharui. Sistem tersebut akan menghalangi difusi molekul. Sawar permeabilitas yang terbentuk dapat mengontrol transport substansi ekstraseluler. Sintesa makromolekul intradiskal bukan kejadian tunggal. Metabolisme yang bersinambung diperlukan diskus intervertebral untuk mempertahankan sintesa dan depolimerisasi komponen ekstra-seluler. makromolekul kolagen secara sinambung mengalami proses sintetisasi dan depolimerisasi. De- . Kaplan dan Meyer 1959. pendahulu kolagen (Steven 1969). Seperti mukopolisakarida. Waktu paruh kolagen adalah 30-60 hari (Buddecke 1970). tropokolagen akan mengalami transformasi menjadi kolagen tak larut melalui proses polimerisasi ekstraseluler (Eyring 1969). namun merupakan proses yang bersinambung. Nutrisi sel yang tidak sempurna berakibat rendahnya kualitas dan kuantitas makromolekul. Fase awal pembentukan serabut kolagen terjadi intraseluler. Fibril kolagen tampak pada diskus intervertebral sebagai bentuk kumparan. Davidson dan Small 1963). Dengan pemeriksaan mikroskop cahaya dan elektron tampak bahwa struktur fibriler lebih padat pada daerah perifer diskus intervertebral (Dahmen 1966. Diantaranya terdapat pitapita hingga memberikan gambaran seperti jala. Proses ini dapat dihambat oleh kortison (Dingle 1969). Buckwalter 1976). Dari tes difusi dengan zat warna dengan berbagai ukuran molekul diperlihatkan bahwa hanya molekul dengan berat kurang dari 400 saja yang dapat melalui sawar diskus (Kramer 1973). prolin (12 %) dan hidroksiprolin (12-14 %). Sawar tersebut karenanya merupakan membran permeabel yang selektif. Kandungan kolagen matriks merupakan sekitar 44-51 % berat kering diskus intervertebral. Serabutserabut tersusun dalam berkas yang sangat atau kurang paralel. Mereka memiliki struktur makromolekul yang berdeferensiasi tinggi. Sekali meninggalkan sel. Waktu paruh sulfat khondroitin adalah 7-16 hari. Mereka tersusun padat dan teratur membentuk gambaran seperti bawang. yang dibentuk oleh sel-sel tulang rawan. Bostrom 1958. Daerah perbatasan diskus intervertebral manusia mempunyai kumparan serabut yang tersusun padat.

permukaan anulus fibrosus dan end-plates terselaputi jaringan serabut submikroskopik tiga dimensi yang hanya memungkinkan dilalui substansi molekul rendah dan hasil metabolik dapat lewat. struktur para vertebral. E. semua berperan dalam sistem osmotik. Jaringan pinggir diskus intervertebral berperan sebagai membran semi-permeabel. tekanan hanya beberapa mmHg. Ini dipertahankan oleh mukopolisakarida intradiskal yang memiliki absorbabilitas air yang tinggi dan yang tidak hanya dapat menahan cairan namun juga mengabsorpsinya melawan keadaan tekanan pada diskus intervertebral. diskus intervertebral adalah subjek dari tekanan yang berkaitan dengan postur tubuh dan berat badan. interior dari diskus intervertebral dan jaringan para vetebral termasuk cancellous bone ruas tulang belakang. Artinya tekanan absorptif yang memungkinkan air dan larutan lainnya untuk masuk kejaringan intradiskal melalui membran semipermeabel. Mereka tak hanya berperan pada depolimeri-sasi namun juga pada sintetisasi. dan juga cancellous bone ruas tulang belakang. Dengan interloking molekul. Perubahan biokimia dan patofisiologi yang mendasarinya mendahului perubahan morfologik makro.polimerisasi kolagen dipacu oleh kolagenase. Interior dari diskus intervertebral. Biomekanik Tulang Belakang 1. Kerjanya sebagai katalis pada metabolisme jaringan. Tekanan osmotik koloid adalah tekanan osmotik yang dipertahankan oleh larutan molekul tinggi. Sebaliknya dari yang dianggap sebelumnya. Akibatnya permeabilitas berbeda pada daerah yang berbeda. Perubahan dapat terjadi atas pengaruh atas metabolisme oleh faktor mekanik dan biokimia. Sebagai . selain itu ia akan mengering dalam waktu singkat. Sebaliknya. piring kartilago. Beban dapat mencapai lebih dari 1. Kompartemen-kompartemen ini berbeda tekanan hidrostatiknya.000 kp. Osmosis dipertahankan melawan tekanan beban sepanjang ia berada dalam keseimbangan dengan tekanan osmotik. Sel jaringan diskus intervertebral mengandung lisosom yang membentuk enzim (Pearson 1972). Piring kartilago dan anulus fibrosus membentuk sawar permeabilitas yang memisahkan dua kompartemen jaringan. metabolisme pada diskus-diskus intervertebral secara keseluruhan adalah proses yang cepat dengan adanya aktifitas enzim serta waktu paruh yang pendek. Maroudas (1975) dan Urban (1976) membuktikan bahwa glukosa lebih mungkin menembus end-plates dan sulfat pada anulus fibrosus. Diskus Intervertebral sebagai Sistem Osmotik. Cairan harus diangkut melawan tekanan didalam diskus intervertebral. Pada jaringan para vertebral dan juga pada jaringan trabekular internal ruas tulang belakang. anulus fibrosus. Absorpsi cairan hanya didapat dengan osmosis.

tambahan, tekanan hidrostatik dari diskus intervertebral sendiri. Dengan kata lain, tekanan ini memungkinkan pembesaran merata dengan pengambilan air dengan cara melawan tekanan balik. Derajat pembesaran diskus intervertebral dapat dinilai secara percobaan. Diskus intervertebral yang ditekan, membesar ketika tekanan dihilangkan. Tingkat dan kekuatan yang memungkinkan terjadinya perluasan, ditentukan oleh elastisitas dan absorbabilitas diskus intervertebral. Pada orang muda diskus intervertebral meluas lebih cepat dan lebih kuat dibanding orang tua. Tekanan osmotik koloid dan tekanan hidro-statik bersama membentuk tekanan onkotik. Berbeda dengan jaringan disekitarnya, diskus intervertebral mempunyai tekanan hidrostatik dan onkotik yang tinggi. Mereka berlawanan satu sama lain dengan mempengaruhi, secara bertolak belakang, absorpsi dan transudasi cairan. Berdasar perbedaan konsentrasi dan tekanan pada daerah tepi diskus, terdapat keadaan berikut: Tekanan hidrostatik ekstradiskal + Tekanan onkotik intradiskal ?-------------? Tek. hidrostatik intradiskal + Tekanan onkotik ekstradiskal

Terdapat efek berlawanan lain pada tekanan jaringan diluar diskus intervertebral, dan tenaga absorptif sepihak adalah berlawanan terhadap tekanan jaringan didalam diskus intervertebral dan tenaga absorptif jaringan sekitar diskus intervertebral. Yang manapun lebih utama, keseimbangan cairan menjadi terganggu. Perubahan yang sinambung pada tekanan hidrostatik dan onkotik adalah paling penting dalam nutrisi jaringan diskus intervertebral dan untuk fungsi segmen bergerak. Tekanan osmotik didalam diskus intervertebral berubah oleh faktor biomekanik dan biokimia. Terdapat perubahan biomekanik temporer pada sistem intradiskal sekunder terhadap peninggian atau penurunan tekanan hidrostatik. Tekanan yang timbul pada pembebanan diskus inter-vertebral disebut tekanan intradiskal. Ia beragam tergantung perubahan postur tubuh. Hubungan ini lebih jelas pada diskus intervertebral dari-pada semua jaringan lain, dan lebih jauh lagi tidak ada jaringan lain yang mempunyai tekanan setinggi diskus intervertebral. Nachemson (1966) mendemonstrasikan hubungan antara postur tubuh dan tekanan intradiskal dengan pencatatan intravital. Tekanan didapat pada pembebanan diskus intervertebral lumbar bawah dimana pada posisi berbaring 15-25 kp, duduk 150 kp, berdiri tegak 100 kp. Peninggian beberapa ratus kp. didapat bila membungkuk

kedepan, mengangkat dan memanggul. Penelitian memakai teknik pewarna dan penggunaan substansi radioaktif, memperlihatkan bahwa pada 80 kp terjadi ekstravasasi cairan, sedang dibawah 80 kp terjadi absorpsi. Transport cairan terbalik terjadi antara 70-80 kp. Arah transport cairan pada dinding diskus intervertebral sebanding dengan perubahan tekanan bila tekanan onkotik konstan. Dengan kata lain, bila beban berat seperti duduk, mengangkat dan memanggul, ekstravasasi dipercepat, sedang pada traksi dengan tekanan diskus intervertebral negatif, absorpsi yang dipercepat. Pada keadaan fisiologik, suatu perubahan transport cairan berhubungan dengan tekanan yang terjadi pada perbatasan yang ditentukan oleh absorpsi cairan dimana dilusi solusi makromolekul terjadi. Absorbabilitas diskus intervertebral akan berkurang. Sebaliknya, pembalikan terjadi dimana diskus intervertebral hanya dapat ditekan sampai derajat tertentu saja setelah pembebanan. Sekunder terhadapnya, pengeluaran air menyebabkan konsentrasi solusi molekul makro bertambah dan akibatnya absorbabilitas bertambah. Beban tak setangkup pada diskus intervertebral menyebabkan gangguan transport cairan intradiskal. Air dan larutan menjadi keluar dari zona dengan beban lebih besar ke yang lebih kecil. Pada pengukuran tekanan intradiskal didapat bahwa semua gerakan menekuk pada tubuh berakibat perubahan beban total. Pergerakan badan menyebabkan transport cairan antara diskus intervertebral dan eksteriornya seperti halnya didalam diskus intervertebral sendiri. Transport cairan yang bergantung beban pada diskus intervertebral manusia dapat dibandingkan dengan pompa, yang fungsinya mengangkut air dan metabolit ke dan dari tepi diskus intervertebral. Jadi nutrisi sel diskus intervertebral lebih baik serta pembuangan metabolit dipermudah. Semua perubahan posisi tulang belakang berkaitan dengan perubahan tekanan intradiskal dan berakibat percepatan maupun perlambatan transport cairan, dengan atau tanpa perubahan arah. Perubahan reguler antara posisi horizontal dan vertikal memperbaiki transport cairan dan larutan. Mempertahankan keadaan pada satu posisi berakibat berhentinya transport cairan yang bergantung beban, dan karenanya merugikan metabolisme diskus intervertebral. Ini terutama jelas pada postur tubuh dengan tekanan intra diskal yang dipertahankan secara terus-menerus pada tingkat tekanan yanyang tinggi.

2. Biomekanik Tulang Belakang Lumbar a. Beban dari Diskus Intervertebral Lumbar

Ada beberapa faktor biomekanik yang khas untuk tulang belakang lumbar yang membuatnya lebih terancam dan karenanya lebih mudah terkena kelainan diskus intervertebral. Posisi tegak berakibat bagian yang lebih rendah pada tulang belakang menerima beban berat. Pada daerah ini berat badan disalurkan pada area kecil sekitar beberapa sentimeter. Beban ini akan meningkat bila badan ditekuk menjauhi garis tengah. Tahun 1964 Nachemson serta Morris melakukan pengukuran tekanan intradiskal pertama dan penelitian ini dilakukan in vivo pada diskus intervertebral lumbar ketiga, pada manusia dengan postur tubuh yang berbeda. Caranya dengan memasukkan jarum kerongga intradiskal. Jarum diselaputi oleh membran poli-etilen sensitif tekanan. Pencatatan dilakukan dengan manometer. Pada posisi terlentang , tekanan pada diskus intervertebral lumbar sebelah bawah adalah 15 kp. Berbaring miring dengan sedikit tertekuk kebelakang menyebabkan peninggian tekanan lebih dari dua kali. Tekanan meninggi hingga lebih dari 100 kp. saat berdiri, serta pada tekukan kedepan meningkat hingga 140 kp. Tekukan kedepan dengan beban 20 kp. pada lengan menyebabkan peninggian tekanan hingga 200 kp. Duduk dengan punggung tegak menyebabkan tekanan lebih tinggi 140 kp. bila dibanding saat berdiri. Peningkatan selanjutnya terjadi bila tubuh ditekuk kedepan dan terutama bila secara bersamaan diberi beban. Tekanan pada permukaan diskus intervertebral adalah 10 hingga 60 kp/cm2. Okushima (1970) memperbaiki pencatatan pengukuran yang telah dilakukan Nachemson dan Morris (1964). Penelitian lebih lanjut atas tekanan diskus intervertebral dilakukan dengan menghubungkannya dengan penelitian miografi-elektro (Nachemson dan Morris 1964, Nachemson 1965, 1966, 1969, 1974, 1976, Anderson 1974, 1976). Batuk, tertawa, dan peninggian tekanan intraabdominal berakibat peninggian tekanan diskus intervertebral lumbar sekitar 50 kp. Tekanan akan menurun dengan mendudukkan pasien bersandar kebelakang. Duduk santai, tekanan menurun hingga 80 kp. (Nachemson 1984). Kerja otot dan beban pada diskus intervertebral bertambah bila mengangkat dan menarik, yang berhubungan dengan jarak antara beban dan aksis badan. Hasil percobaan ini sesuai dengan perhitungan matematik yang sebelumnya diperkenalkan Matthiass (1956). Menurut Schulter (1965), tekanan dan regangan terbesar ditemukan pada pusat diskus inter-vertebral. Karenanya tenaga robek terbesar terpusat didaerah ini. Mengingat tekanan yang besar, yang berlaku pada diskus intervertebral manusia dalam waktu yang lama, tak mengherankan bahwa perubahan degeneratif berkembang pada jaringan dengan nutrisi yang buruk. Sudah dipastikan bahwa tekanan tinggi penting dalam perkembangan dini degenerasi diskus intervertebral. Rosemeyer (1977) mendemonstrasikan terutama bahwa

diskus intervertebral lombosakral adalah penanggung regangan yang besar. Dalam berbagai posisi tubuh, sebagai pusat dari tahanan yang lemah, daerah ini menanggung 70 % dari fleksi-ekstensi lumbar secara keseluruhan. Ketika duduk dengan tubuh sedikit condong kebelakang atau bersandar kedepan, tekanan intradiskal meninggi saat pusat beban tidak pada pusat diskus intervertebral namun bergeser keanterior seperti pada posisi lordotik. Bagian posterior anulus fibrosus serta ligamen posterior antara arkus akan berada dalam tegangan. Segmen sentral diskus intervertebral yang mobil akan bergerak kearah bagian posterior diskus intervertebral yang kurang tertekan. Dengan kontraksi otot abdominal, memungkinkan untuk menyalurkan bagian dari berat tubuh atas ke daerah pelvis. Tekanan intraabdominal dapat mencapai 140 mm Hg. (Bartelink 1957, Eie 1962). Dengan kontraksi diafragma dan otot abdominal, rongga abdominal berubah menjadi silinder yang dapat menanggung beban berat, dan menurut Finneson (1973), beban diskus intervertebral lumbar dapat dikurangi 30 % dengan menggunakan otot abdominal. b. Hubungan Antara Beban dan Tinggi Perubahan tekanan pada diskus intervertebral yang relatif besar akan mempengaruhi perpindahan cairan pada diskus intervertebral. Diperlihatkan pada percobaan bahwa diskus intervertebral lumbar menjadi celah sangat tipis setelah diberi beban 200 kp. selama 12 jam. Bila tekanan dihilangkan, diskus intervertebral kembali pada ketinggian normalnya (Kramer 1973). Pada sendi intervertebral normal secara in vivo, perubahan tinggi diskus intervertebral lumbar sangat kecil, akan tetapi tetap dapat diukur. Sendi intervertebral, yang tidak seluruhnya vertikal, dan kapsul yang kuat mencegah pengurangan tinggi lebih lanjut. Pertambahan tinggi diskus intervertebral dengan mengurangi tekanan intradiskal dapat digunakan untuk perawatan. Pada traksi terjadi pelebaran jarak diskus sekitar 1.1 mm. Perubahan tinggi berkurang dengan bertambahnya usia. Walau dalam peran kecil, ketebalan penting karena ia akan merubah pola gejala dimana ada kaitan yang erat antara tinggi dan protrusi diskus intervertebral yang akan merangsang radik saraf. c. Sendi dan Foramina Intervertebral Permukaan sendi intervertebral terletak pada bidang sagital dan karenanya memungkinkan fleksi dan ekstensi, namun juga sedikit gerak kesamping. Rotasi juga mungkin, namun terbatas. Ada perbedaan perorangan dalam pergerakan tulang belakang lumbar dan segmen-segmennya. Latihan berperan penting, dan fleksi yang dijumpai

terjadi fraktura ruas tulang belakang lebih dahulu dibanding kerusakan diskus intervertebral atau sendi intervertebral. Radik-radik berjalan melalui bagian atas foramen intervertebral dan mengisi sekitar 1/4 dari total lumen. pada protrusi diskus intervertebral atau adanya reaksi osteofit dari faset sendi. tidak terjadi dislokasi. mengurangi rongga intraforaminal dengan seperlimanya. sedang inklinasi keposterior menyebabkan penyempitan foramina. ini jelas tampak setelah pembebanan lama atau relaksasi. Lebar foramina intervertebral lumbar berubah sesuai dengan gerakan tulang belakang lumbar. Bersandar kedepan berakibat pelebaran. Jarak jaringan ikat yang sangat dekat. subluksasi atau interloking. Pembukaan faset sendi terjadi kearah superior pada bagian luar dan kearah inferior pada bagian medial (Kramer 1973). Pergerakan seperti ekstensi dan tekukan kesatu sisi akan mempersempit rongga intervertebral untuk saraf spinal pada sisi tersebut. foramina menjadi sempit pada sisi cekung dan melebar pada sisi cembung. dan nyata pada faset sendi yang terletak pada dataran koronal. permukaan artikular bergerak secara teleskopik. yang mengalami perubahan terus menerus. serta karena struktur saraf yang sangat peka. Tidak diragukan lagi bahwa pada fase tertentu dari . terutama jelas pada daerah lumbar yang diperkirakan karena tenaga mekanik yang terjadi pada daerah ini. Pada perubahan tinggi intervertebral juga terjadi perubahan pada faset sendi. Posisi yang dicoba adalah sesuai dengan gerak fisiologis. membuat foramina intervertebral lumbar bawah diperkirakan sebagai pusat penyakit diskus intervertebral.terutama pada akrobatis adalah sangat luas. Karenanya penderita dengan protrusi lateral diskus umumnya bersandar kedepan serta kearah sisi yang sehat dalam usaha menghilangkan tekanan terhadap radik saraf. F. Dengan beban mekanik berat. Patologi Pendapat secara umum sudah dikemukakan atas perubahan morfologik dan biomekanik yang dapat terjadi pada degenerasi diskus intervertebral. Pada peradangan dengan pembengkakan jaringan perineural. yang terjadi selama pembebanan sehari-hari. Tekukan kesamping. Jelas ini penting secara klinis karena sangat dekat dengan saraf yang peka. Penurunan jarak intervertebral. Pada pengurangan tinggi diskus intervertebral dan juga pada hiper-lordosis. Akibat inklinasi ringan. permukaanpermukaan tertekan secara bersamaan pada gerakan yang ekstrem. Pada percobaan biomekanik oleh Kramer didapatkan walau terjadi pemendekan diskus intervertebral lumbar atau adanya distraksi hebat. rongga akan mengecil serta merugikan radik saraf. Foramina intervertebral menyempit bila tinggi diskus intervertebral berkurang. Pada daerah lumbar.

degenerasi diskus intervertebral terdapat hubungan dengan gejala yang mungkin memberat. Nutrisi fibroblas dan sel kartilago menjadi berkurang. penghilangan beban dan pola gerakan yang normal. Catu nutrisi yang teratur untuk sel diskus intervertebral untuk beberapa dekade tidak dijamin oleh mekanisme transport cairan baik secara aktif maupun pasif. 1. Berbeda dengan ruas tulang belakang dengan pembuluh darahnya yang terlindung didalam trabekuli. Pembatasan pergerakan serta fiksasi kaku pada posisi yang tidak baik selanjutnya merubah transport cairan dalam diskus intervertebral. 1968). Dengan posisi berdiri. 1968). . Karenanya degenerasi telah tampak pada masa bayi dan kelainan diskus telah tampak pada semua bagian tulang belakang pada masa pubertas dan bahkan sebelumnya (Tondury. Degenerasi diskus intervertebral adalah suatu proses yang sangat kompleks yang hingga saat ini sangat sedikit dimengerti. Proses ini dimulai sejak awal kehidupan dan terus berlangsung sepanjang hidup. diskus intervertebral merupakan subjek faktor biomekanik yang tidak menguntungkan yang menentang kebutuhan regenerasi normal yang sinambung yang berdasarkan sirkulasi yang memadai. Faktor lain adalah cedera sederhana. Sejak pertama postur berdiri berlaku. Pembuluh darah akan kolaps dan menjadi atrofi. Semula diskus intervertebral tidak memiliki jaringan bradytropic. Setelah usia 30 tahun tak satupun tulang belakang manusia yang tidak mengalami perubahan degenerasi (Schmorl dan Junghanns. Pada tulang belakang lumbar sudah dipastikan bahwa kelainan degeneratif berat tidak harus disertai dengan gejala klinis. Hanya saat awal masa bayi metabolisme terjadi melalui pembuluh diskus disaat belum ada beban yang ditanggung tubuh. Contohnya antara lain tortikolis akut pada anak-anak adalah primer karena perubahan involusional pada diskus intervertebral. Kesulitan dalam mengadaptasi hal ini akan berakibat memburuknya kualitas diskus intervertebral yang akan berakhir dengan degenerasi. Metabolisme akan melewati jalur yang panjang melalui jaringan yang pada bagian tepinya masih memiliki vaskularisasi yang normal. Diskus intervertebral merupakan struktur nonvaskular tubuh yang terluas. Tekanan arteriolar dan venular lebih rendah dari tekanan hidrostatik sehingga pembuluh darah akan terbendung dan tidak akan mencapai diskus inter-vertebral. akan terjadi perubahan yang mendasar pada keadaan biomekanik. tekanan langsung dari beban tubuh dan tonus otot akan bekerja pada pembuluh darah diskus yang terletak pada substansi seperti gelatin yang homogen. Umum Kelainan diskus intervertebral adalah 'ongkos' yang harus kita bayar atas postur berdiri tegak yang kita miliki (Reischauer 1949).

Bendungan. dianjurkan pemakaian istilah yang lebih tepat yakni diskosis. Pulp menjadi lebih sistik dan terjadi hubungan antara fissura dan anulus fibrosus. Karena tidak hanya tulang rawan. namun juga struktur anatomis. Kantung udara terbentuk pada sista dan mudah tampak pada radiografi. batas fibril lamella yang lebih tajam dan mengaburnya batas anular dan nukleus. Alasan terbentuknya tidak diketahui. Fibroblas tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. karenanya fibril dan substansi dasar yang dihasilkannya akan bermutu buruk dan pada akhirnya akan mengalami degenerasi lengkap. Dengan mikroskop elektron Dahmen (1966) menemukan fibril yang tidak normal dan irregular dalam ketebalan dan striasi yang beragam. Tidak hanya perubahan komposisi kimia. jaringan diskus intervertebral menunjukkan ruptur konsentrik serta fissura radial akibat beban.0 cm3. robekan dan juga perlunakan jaringan diskus intervertebral disebut khondrosis oleh Schmorl dan Junghanns (1968). Tanda lain degenerasi diskus intervertebral adalah perubahan warna yaitu karena terjadinya hubungan antara ruptur dan fissura dengan lubang pada dataran akhir tulang rawan yang dipenetrasi pembuluh darah dari cancellous bone hingga terjadi perubahan warna lamella menjadi kuning kecoklatan (GUntz.strain temporer dan posisi istirahat yang tidak benar. . Kuhlendahl dan Richter (1952) menemukan degenerasi lemak pada diskus orang dewasa baik pada substansi dasar maupun pada anulus fibrosus. Pada usia 25 hingga 40 tahun tampak perubahan degeneratif seperti dehidrasi. Pasien lebih tua dengan diskus yang ruptur dapat menerima 5 cm3 cairan tanpa terjadinya cedera maupun refluks cairan yang disuntikkan. Sista dan fissura mudah diperlihatkan dengan diskografi dengan menyuntikkan media kontras. 1958). Metabolisme diskus memburuk sejak tahun pertama kehidupan. Pasien lebih muda dapat mengambil sekitar 0. degenerasi serabut anulus dan disintergrasi substansi dasar. Degenerasi diskus intervertebral akan mengenai semua jenis manusia berdasar konstitusi kerangka tubuh secara ekual. Idelberger (1977) menemukan bahwa faktor konstitusi berperan penting pada degenerasi diskus intervertebral. Diskus intervertebral yang lebih berdegenerasi lebih banyak dapat menerima cairan. Dalam perjalanan berikutnya. Keseluruhan proses terjadi terbatas pada diskus intervertebral. Harris dan MacNab (1954) menemukan pada nukleus pulposus orang dewasa adanya inti sel dengan granul kasar piknotik. namun semua komponen diskus intervertebral yang menjadi tempat terjadinya degenerasi. Akhirnya faktor genetik berpengaruh pada perkembangan degenerasi diskus intervertebral yaitu dalam merancang serabut kolagen anulus fibrosus (Wilson. 1968).5-1. Lang (1962) dan Dahmen (1966) mendapatkan perubahan degeneratif pada orang pada dekade ketiga berupa atrofi sel.

secara mengherankan gejalanya biasa ringan. usaha untuk melakukan reparasi bergantung pada ruas tulang belakang berdekatan. Sangat jarang prolaps hanya mengandung material pulp. Schmorl menganjurkan istilah osteokhondrosis. Perlunakan diskus serta hilangnya turgor berakibat bertambahnya kehilangan serta fragmentasi diskus intervertebral. Pembuluh darah menyebar pada diskus intervertebral dan sel longgar serta jaringan parut vaskular akan mengisi . Kadang-kadang terjadi degenerasi sistik pada badan ruas tulang belakang seperti pada osteoarthrosis. terjadi peninggian beban pada sendi ruas tulang belakang serta penyempitan foramina intervertebral. Berbeda dengan pada spondilitis. Akibat kolapsnya diskus intervertebral. sklerosis pada osteokhondrosis hanya terbatas pada dataran akhir ruas tulang belakang. Bagian nukleus pulposus dan fragmen diskus intervertebral bermigrasi dibawah beban berat pada jalur yang terkecil tahanannya dan karenanya mengalami penetrasi kejaringan dan menonjol kebelakang sebagai prolaps diskus intervertebral. reaksi pada diskus intervertebral lebih penting. Robekan memungkinkan pergeseran intradiskal sepanjang tenaga ekspansif nukleus tetap ada. Secara bersamaan terbentuk spur kecil dibagian posterior.karenanya sulit tampak pada radiografi. Dengan perlunakan dan fragmentasi lebih lanjut. Ini akan menyebabkan terpisahnya jaringan diskus intervertebral dari ligamen intervertebral. Walau tampilan perubahan osseus hebat. sering disertai juga jaringan fibrosa dan tulang rawan. bagian tersebut akan bergeser dan dapat bermigrasi bebas dan disebut sekuestra. Pertumbuhan spur oseus dapat meluas dan terjadi spondilosis hiperostotik menyeluruh yang disebut spondilosis hiperostotika. Secara klinik. Akibat hilangnya sirkulasi pada diskus intervertebral. Dataran akhir ruas tulang belakang menjadi sklerotik dengan batas yang kabur. Karenanya istilah prolaps diskus lebih tepat dari pada prolaps nukleus. Namun pemendekan rongga diskus intervertebral pada radiograf serta deviasi aksial akibat perubahan postur dapat diperlihatkan. berakibat tiadanya proses reparasi. Fissura dan ruptur piring tulang rawan memudahkan penetrasi pembuluh darah dan jaringan ikat dari badan ruas tulang belakang kediskus inter-vertebral. Osteokhondrosis terjadi terutama pada tulang belakang leher sebelah bawah dan lumbar karena pengaruh yang besar dari faktor biomekanik. Bila ruas tulang belakang terserang dan perubahan degeneratif juga tampak pada tulang. Bila keadaan menjadi kronik. Ini umumnya terjadi pada ligamen longitudinal anterior yang menjembatani diskus dengan diskus dan melekat melalui serabut Sharpey pada badan ruas tulang belakang. Spur spondilotik terjadi mula-mula pada arah horizontal namun kemudian dalam arah longitudinal mengikuti ligamen longitudinal. Pada daerah ini reaksi osseus timbul dan meluas keligamen.

Kalsium menjadi dua kali lipat selama siklus hidup. terjadi pula peningkatan protein nonkolagen. nutrisi diskus intervertebral memburuk karena air tidak hanya penting untuk lingkungan makromolekul. Karenanya biomekanik segmen bergerak juga berubah. Peningkatan bendungan dan robekan diskus intervertebral adalah perubahan degeneratif sejati. GUntz (1958) menjelaskan tentang penyembuhan dengan jaringan parut pada diskus inter-vertebral yang rusak. dengan kata lain tidak lebih dari proses fisiologik. Bersamaan dengan perubahan morfologik pada diskus intervertebral. pada usia 12 turun menjadi 83% dan 70 % pada usia 72 (Keyes dan Compere 1932). Mukopolisakharida berubah baik dalam kualitatif maupun kuantitatifnya dengan . Karenanya terjadi ankilosis fibrosa dan bahkan osseus dengan inaktivasi segmen. Dengan berkurangnya cairan. tanda khas perubahan diskus intervertebral adalah pengurangan kandung air. kemudian akan menetap. Pita fibrosa kuat dan telah mengalami dehidrasi serta lipping osseus menyangga rongga diskus intervertebral hingga pembuluh darah yang menginvasi jaringan tidak tertekan oleh tekanan beban. ruptur yang terjadi cepat. Tondury (1973) menjelaskan lingkar hidup diskus intervertebral.rongga tersebut (Tondury. Ini terutama pada keadaan yang telah berlangsung puluhan tahun demana radik saraf dan pembuluh darah telah beradaptasi. potasium berkurang karena berkurangnya jumlah sel. Kandung kolagen meningkat hingga usia 20 tahun. Sulfur berkurang dan Nitrogen bertambah. terjadi pengurangan kandung air dengan akibat perubahan pada komposisi kimia. Secara klinis. Seperti telah dijelaskan. namun lebih sebagai proses biologik dengan kemungkinan terjadinya gangguan sepanjang hidup. Paralel dengan peningkatan nitrogen. Pemendekan tinggi dan fiksasi segmen tidak sering bersamaan dengan nyeri walau ada penyempitan foramina. menjadi jelas hanya bila terjadi perubahan pada pembuluh darah dan saraf yang berdekatan. matriks organik diskus intervertebral juga berubah. Dengan pertambahan usia. Perubahan pada diskus intervertebral tidak dianggap sebagai penyakit. Selama tahun pertama kehidupan nukleus pulposus mengandung lebih banyak air dibanding anulus fibrosus. Pembatasan pergerakan tulang belakang akibat kelainan diskus intervertebral dapat bertambah. namun juga sebagai medium transport berbagai substansi pada berbagai proses metabolik. Ini paling jelas pada tulang belakang leher dan lumbar. Magnesium berkurang hingga usia 70 tahun dan selanjutnya bertambah lagi secara perlahan. Yang terpenting dalam metabolisme dan biomekanik diskus intervertebral adalah perubahan pada kolagen serta mukopolisakharida. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi perubahan. perlunakan jaringan serta pergeserannya. namun ajaib tidak banyak orang yang mengajukan keluhan. 1958). Schmorl dan Junghanns (1968) meyakini ketergantungan terhadap usia. Pada neonatus diskus intervertebral mengandung 88% air.

Ekstenuasi diskus intervertebral dalam tingkatnya yang terbesar. Penurunan juga akan terjadi pada berat molekulnya. Terjadi pergeseran. mencapai tingkat dimana terjadi ruptura dan fissura. antara usia 30 hingga 35 tahun frekuensinya meningkat dimana terjadi pembengkakan substansi dasar. dan terbentuk konsistensi yang padat tak elastik. Dalam hubungan dengan peningkatan tekanan intradiskal maka orang dewasa muda memiliki risiko akan perubahan kemampuan biokimia yang akan menyebabkan pergeseran jaringan diskus intervertebral. penambahan homogenisasi nukleus pulposus. menyebabkan khemo- . Ternyata secara mengejutkan nilai yang tinggi terjadi pada usia 30 hingga 50. Setelah usia ini menurun secara jelas (Kramer 1973).pertambahan usia. serabut akan putus. Ia juga menganggap bahwa katepsin D mungkin merupakan enzim yang berperan dalam degenerasi diskus intervertebral. Walau demikian frekuensi protrusi dan prolaps berkurang. Menurut Naylor (1971). Dengan penambahan molekul. robekan tampak pada anulus fibrosus diawal usia dewasa. disrupsi nuklir dan fissura lamellar. efeknya akan seperti memecahkan gelas. Karenanya tekanan onkotik menurun dengan pertambahan usia. Bila volume intradiskal ditingkatkan dan dijadikan subjek strain mendadak. Depolimerisasi makromolekul menghasilkan produk sisa yang terkadang meningkatkan tekanan onkotik dengan bertambahnya partikel total. Tetap tidak diketahui berapa lama depolimerisasi makro-molekular berlanjut dengan tekanan intra-diskal meninggi dan apa yang mengendalikannya. protrusi dan prolaps. namun pada tegangan yang tinggi. ditahan oleh tahanan anulus fibrosus yang telah berdegenerasi. Beban tambahan akan menyebabkan lesi irreversibel (histeresis). Pada tes kompresi (Virgin 1951) dan diagram tekanan (Hartmann 1970) memperlihatkan bahwa over-ekstenuasi serabut anular. Antara usia 25 dan 30 bagian sentral diskus intervertebral yang menjadi lebih meluas akibat bertambahnya tekanan. Kebanyakan penelitian pato-anatomi memperlihatkan bahwa fissura dan robekan bertambah dengan bertambahnya usia. oleh pengeringan diskus intervertebral. Tanda khas adalah penurunan mukopolisakharida. Jadi adalah kerusakan keseimbangan jaringan diskus intervertebral. peninggian hialu-ronidase bertanggung jawab untuk separasi makromolekul. Akibatnya anulus fibrosus bertambah isinya dan tetap tenang bila tanpa beban. yang telah dibebani sebelumnya. Tenaga ekspansif nukleus pulposus berkurang dan akibatnya terjadi pengurangan kecenderungan untuk bergeser. Karenanya tujuan terapi dengan mempercepat depolimerisasi misalnya dengan injeksi substansi sesuai. lebih banyak akumulasi cairan pada diskus intervertebral. Menurut Kuhlendahl dan Richter (1952). Pengukuran tekanan pada usia berbeda menunjukkan kembalinya diskus intervertebral yang dikompresi keukuran normal lebih nyata pada usia muda.

Bila derajat ekstenuasi berkurang. zat-zat yang terlarut serta juga makromolekul dapat berpermiasi dibawah tekanan yang rendah. Degradasi enzimatik akan menyebabkan terbentuknya molekul bermolekul lebih kecil yaitu menjadi sekitar 400. penurunan relatif tekanan hidrostatik dapat menyebabkan pengeluaran air. Alasan lain pada pengeringan diskus intervertebral adalah ruptur pada anulus fibrosus. Disamping kombinasi penambahan tekanan dan pengurangan tahanan anulus fibrosus. Ini terutama karena peninggian tekanan intradiskal dan pengaruh tekanan kompresi dan shear. faktor biomekanik turut berperan dalam perkembangan prolaps karena perlunakan dan penjarangan struktur diskus intervertebral dengan pembentukan fragmen yang akan bergerak kearah tahanan terendah yaitu menuju konveksitas. Pergeseran ini dapat menambah protrusi dan prolaps.2 persen. Diduga bahwa penambahan beban berat badan dengan adanya tenaga kompresif dan shear merupakan satu-satunya penyebab prolaps diskus intervertebral. kehilangan sifat bumpernya dan tidak lagi bekerja sebagai semijoint pada segmen bergerak. . Yang pertama terserang adalah serabut kecil yang berjalan antara lamella sehingga tidak terjadi pergeseran. Bila tekanan onkotik berkurang. Keseimbangan osmotik terganggu. Bila tidak disertai pembentukan makromolekul didalam diskus intervertebral. sendi ruas tulang belakang dan ligamen. kehilangan fungsi normalnya. Ini akan menjadi kendur bila lebih banyak air dikeluarkan. dan tinggi diskus akan semakin berkurang. Hal serupa juga terjadi pada lesi diskus intervertebral dan setelah diskotomi. Keragaman sehari-hari tinggi badan akan relatif berkurang. tekanan onkotik akan berkurang seperti halnya pada pertambahan usia. Penetralan hasil intermediet depolimerisasi dicapai dengan penurunan tekanan. Ini mengganggu semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral. Absorpsi air akan berkurang dan tinggi diskus inter-vertebral berkurang. selanjutnya ini merupakan syarat tidak langsung untuk terjadinya rasa tidak enak pinggang. Pada remaja perbedaan tinggi badan antara pagi dan malam adalah dua persen dan pada dewasa 0.nukleolisis. pergerakan akibat berat tubuh tidak lagi cukup mengatur dan tidak juga terbagi merata sepanjang cincin serabut. terjadi perubahan tegangan serabut anulus fibrosus. Terdapat hubungan langsung antara tinggi badan dan volume diskus intervertebral. Serabut melunak. Semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral dihilangkan oleh adanya fissura hingga air. Diskus intervertebral yang menjadi tidak elastik serta robek. Namun mustahil untuk membuktikannya secara satu persatu. Tenaga luar hanya merupakan efek presipitasi yang oleh Schmorl dan Junghanns (1968) disebut impuls tambahan. Bila terjadi perubahan volume. Komponen segmen lain. Penghambatan efek hialuronidase didapat dengan pemakaian inhibitor hialuronidase.

Gejala jarang timbul dari bagian kaku tulang . Pembebanan tidak setangkup yang bersinambung berakibat perubahan metabolik pada bagian konkav diskus intervertebral. Sehubungan dengan perubahan sendi prearthrotik. Dengan penggunaan yang tak teratur diskus intervertebral. Tonus otot batang tubuh yang kendur. Bagian anulus fibrosus yang tergantung baik dan dataran kartilago tidak dapat meneruskan tekanan ini. Deformitas dapat terjadi pada tulang belakang atau sekitarnya. Percobaan hewan menunjukkan kelainan degeneratif umumnya terjadi pada bagian yang lebih tertekan (Exner 1954). Analisis objektif menunjukkan penyempitan diskus intervertebral. Perubahan prediskotik adalah kelainan postur yang berakibat pembebanan yang tak setangkup pada satu atau lebih diskus intervertebral. terjadi kelainan fungsional pada sistem lokomotor yang memacu terjadinya degenerasi diskus intervertebral (diskosis). namun perubahan utama terjadi terutama pada tulang belakang leher dan lumbar. Nukleus pulposus dan bagian bergerak dari anulus fibrosus tergeser kedaerah yang kurang terbebani. adalah sangat besar sehingga cairan serta hasil metabolisme tidak dialirkan pada daerah ini. spondilosis dan sklerosis dataran akhir ruas tulang belakang didaerah yang terkena. Sebagai patokan. Beban total yang dalam keadaan normal didistribusikan pada seluruh diskus menjadi terpusat pada daerah ini. Terjadi segmen tulang belakang fibrosa yang kaku pada puncak kifosis (kifosis remaja) dan pada skoliosis. Pertanda ini disebut perubahan prediskotik.Bila pengeringan berjalan terus. diskus intervertebral akanmenjadi robek dan rapuh. Terjadi perubahan yang khas pada diskus intervertebral yang menjadi subjek beban yang tak setangkup. pertumbuhan apposisional interstitial pada bayi akan terganggu dan diskus intervertebral mengalami deformasi serta menjadi konkav. semua diskus menjadi subjek degenerasi progresif ini. penuaan jaringan dan impaksi menunjukkan perjalanan yang cepat bila beban berkelanjutan hingga akhirnya terjadi ankilosis. Pengeringan. Perubahan prediskotik ini lebih berpotensi untuk menimbulkan penyakit dibanding prearthrotiknya sendiri. Akhirnya tinggi diskus menjadi lebih pendek. Difusi menjadi berkepanjangan dan sirkulus visiosus terus berlangsung dengan berlanjutnya pengeringan serta perlunakan. Kompresi yang bersinambung dan gangguan nutrisi pada fibroblas berakibat diskosis prematur. Metabolisme seluler menjadi terganggu. Kelainan juga terjadi setelah pertumbuhan berakhir. Pada skoliosis terjadi perubahan dini anular pada daerah konkav akibat peninggian tekanan. dan terjadi pergeseran jaringan diskus intervertebral. sering tampak pada remaja dengan pembentukan lengkung pada tulang belakangnya. yang memberikan tekanan pada bagian konkav diskus intervertebral tulang belakang yang mengalami deformitas.

Terjadi perubahan prediskotik. Secara keseluruhan statika dari tulang belakang lumbar menjadi terganggu oleh adanya hiperlordosis dan lesi timbul pada diskus intervertebral lumbosakral dan sendi ruas tulang belakang. Setelah inklinasi lateral tulang belakang yang lama. Sendi ruas tulang belakang menunjukkan peningkatan osteoarthrosis. timbul skoliosis akibat fiksasi fibrosa diskus intervertebral. diskus intervertebral melunak dan menipis. Ini sangat sering tampak bersamaan dengan kontraktur fleksi pada kelainan sendi panggul. Diskus intervertebral mempunyai kemampuan mengatur dirinya saat pertumbuhan dataran akhir ruas tulang belakang. Terjadinya hiperlordosis kompensatori didaerah lumbar bawah berakibat diskus intervertebral lumbosakral menjadi subjek tenaga kompresif dan shear. Sering disertai deformitas statik.belakang. lumbago dan siatika akan terjadi pada usia tiga puluhan. Perbedaan tinggi diskus intervertebral pada arah antero-posterior adalah fisiologik pada kurva sagital tulang belakang normal.70 persen manusia (Taillard 1964). Kelainan tak setangkup bisa disaksikan baik pada dataran sagital maupun frontal. Inklinasi tulang belakang lateral sering dikarenakan tekukan panggul sekunder terhadap pemendekan salah satu anggota bawah. lebih sering dari bagian yang bergerak. Spondilosis dan spondilolistesis merupakan dasar perubahan prediskotik. dan berakibat diskosis prematur. Perbedaan panjang tungkai dengan tekukan panggul ditemukan pada 60 . Dengan penjarangan dan pergeseran tulang belakang. Pada penderita kifosis remaja. Brocher (1973) menemukan penyempitan diskus intervertebral lumbosakral pada gangguan pertumbuhan juvenil baik pada toraks maupun lumbar. Kelainan kongenital . Max Lange (1965) menduga bahwa lumbalisasi dan sakralisasi menyebabkan prolaps diskus inter-vertebral hingga dua kali lebih sering dibanding tulang belakang normal. Gangguan pertumbuhan juvenil tulang belakang lumbar merupakan pertanda perubahan prediskotik. Peningkatan atau menetapnya kurva fisiologik setelah pertumbuhan menyebabkan pertambahan beban pada baik bagian diskus intervertebral anterior maupun posterior. postur yang tidak benar dan obesitas menyebabkan tekukan panggul dan penambahan lordosis lumbar dengan peregangan berlebihan dan gangguan nutrisi bagian posterior diskus intervertebral lumbar. Ini merupakan subjek terhadap strain dan stres yang lebih besar yang menyebabkan penjarangan struktur serta pergeseran jaringan. Perubahan keseimbangan lokomotor menyebabkan deformitas tulang belakang pada dataran frontal. Terjadi bendungan dan robekan prematur. Kelainan kongenital daerah lumbosakral menyebabkan pembebanan tak setangkup pada diskus intervertebral lumbar. Pembebanan batang tubuh anterior yang berkelanjutan seperti pada kehamilan. Bagian superior tulang belakang lumbar lebih sering menunjukkan kifosis.

serta pengaruh sekunder terhadap ramus meningeal saraf spinal. selanjutnya berjalan keposterior kebatas yang lebih perifer dan karenanya menyebabkan regangan terhadap ligamen longitudinal posterior. Tulang belakang lumbar mungkin menekuk kelateral dan terputar hingga terjadi skoliosis. Rettig (1959) menjelaskan konsep ini dengan tehnik radiografik dengan kontras yang menampilkan diskus inter-vertebral. Pada anak dan orang muda hal ini sangat sering memperberat regangan pada hamstring.lumbosakral ini karenanya merupakan perubahan prediskotik bila menimbulkan pembebanan lumbar yang tak setangkup. Serabut-serabut sensori ramus meningeal saraf spinal menjadi terangsang. Protrusi atau invasi anterior jaringan diskus intervertebral kebadan ruas tulang belakang tidak menyebabkan rasa tidak enak atau pembatasan fungsi. Ini mungkin menyebabkan lumbago dan adalah akibat adanya kerusakan interior diskus intervertebral. Transisi menuju protrusi lumbar adalah menyeluruh. pergerakan fragmen diskus intervertebral kearah posterior penting karena pada daerah ini terdapat struktur peka nyeri. 2. Perpindahan Intradiskal dan Protrusi Posterior Tanda makroskopik pertama yang dapat dikenali pada degenerasi diskus intervertebral lumbar adalah adanya fisura pada bagian pusat anulus fibrosus. Ia berkembang dari daerah kecil ditempat yang mengalami perubahan degeneratif. Diskus didekatnya yang tidak harus segera terkena. mendapatkan beban yang tak setangkup hingga menimbulkan perubahan bendungan. Deformitas setelah fraktura ruas tulang belakang serta spondilitis merupakan perbahan prediskotik. Lapisan paling permukaan dari anulus fibrosus tetap utuh. Dari kepentingan klinis. namun protrusi tertentu lapisan superior diskus intervertebral dibelakang jaringan yang rusak tetap berlangsung. Sclegel (1975) menemukan bahwa tulang belakang lumbar hipersegmental lebih mobil dan memerlukan muskulatur untuk menstabilkannya. Hal ini mungkin menjadi lebih atau kurang intensif . Perubahan prediskotik adalah potensial menjadi penyakit dan harus selalu diketahui serta penyebabnya diatasi dengan cara yang paling baik. juga timbul nyeri radikuler. Pada arah posterolateral mungkin terjadi kontak antara protrusi dan radik saraf. Dianjurkan untuk memperbaiki fraktura ruas tulang belakang dengan memperbaiki alignment untuk mencegah sekuele diskus intervertebral. fragmen diskus intervertebral ditemukan bila anulus fibrosus disayat. Fisura radial dan sirkular berjalan kedalam nukleus pulposus akibat beban tak setangkup terhadap diskus intervertebral. Sebagai tambahan terhadap nyeri lumbar. Pada operasi.

Tentu ini tidak terjadi pada keadaan dimana fragmen sudah terjepit antara tepi posterior ruas tulang belakang bersangkutan dimana fragmen tidak akan bergerak. atau menjadi lepas dan terdorong kebagian pusat diskus intervertebral. Gejala protrusi sangat berubah-ubah karena jaringan yang mengalami protrusi tetap merupakan bagian dari sistem osmotik yang utuh dan karenanya bereaksi terhadap semua perubahan patofisiologik yang khas pada degenerasi diskus intervertebral. namun juga ruangan dimana dura dan radik-radik saraf yang kelak akan terjepit. namun sudah diketahui pada jenis pengobatan ini mungkin berakibat bahwa fragmen lebih bergerak kearah tepi anulus fibrosus dan akhirnya terjadi robeknya lamela luar. Prolaps Keadaan sangat berbeda bila degenerasi diskus intervertebral menyebabkan perforasi lamela posterior anulus fibrosus serta yang menyebabkan prolaps jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi. Berlawanan dengan frekuensi yang tinggi dari nyeri lumbar dan nyeri menjalar yang tampak bersama protrusi diskus intervertebral yang sederhana. Disisi lain. Bila mengenai L5/S1 jarak antara kantung dura dan protrusi lebih jauh dibanding tingkat yang lebih atas. Mungkin pula medial atau lateral terhadap radik saraf. pada penekanan radik saraf kearah lateral kedalam foramina intervertebral. prolaps posterior dan postero-lateral adalah sangat jarang. atau biasa disebut 'protrusi paramedian'. Protrusi kemudian menjadi prolaps. Pada keadaan stenosis tulang belakang lumbar. protrusi mungkin sangat kecil. Tidak mungkin untuk memperkirakan kapan protrusi menjadi prolaps. Pengobatan diarahkan pada usaha mengembalikan fragmen kepusat diskus intervertebral. Pada keadaan ini.tergantung lokasi serta ukuran dari protrusi. terutama bila prolaps meletakkan material diskus inter-vertebral dibawah atau didekat radik saraf dan menyebabkan tekanan dan rangsangan pada radik saraf. kecuali penderita setelah mengalami masa nyeri pinggang dengan/atau nyeri tungkai. Bagaimanapun hal ini mungkin akan mengalami ekstrusi sempurna membentuk prolaps. Mungkin lebih menuju tengah. atau akhirnya mungkin mengalami protrusi kedalam foramen menyebabkan protrusi intraforaminal. Tidak hanya ukuran protrusi yang penting. 3. Simptomatologi tergantung posisi protrusi. Sepanjang lamela kuat anulus fibrosus tetap utuh diluar protrusi. tiba-tiba kehilangan nyeri . protrusi sangat kecil mungkin berakibat timbulnya rasa tidak enak. operasi adalah utama. fragmen diskus intervertebral mungkin bergerak kearah pusat diskus intervertebral. Protrusi didaerah ini mungkin harus sangat besar untuk dapat mengganggu kantung dural.

Ini diperlihatkan dengan mielografi. Karena intensitas nyeri pada prolaps lumbar umumnya tergantung lokasi dan ukuran deformitas. konsistensi juga berperan. siatika. nyata bahwa perubahan volume jaringan yang prolaps mungkin berakibat perubahan gejala. Harus dipikirkan bahwa pengobatan manipulatif berperan hingga diskus intervertebral menjadi prolaps. Posisi antara prolaps dan radik saraf dapat juga berubah. Tergantung posisinya. Fragmen diskus intervertebral menambah volumenya dalam cairan isotonik dan hipotonik. Jaringan yang bergerak kerongga epidural. Radik-radik sangat sering menjadi gepeng. Akar saraf karenanya terdorong keposterior dan mungkin tertekan pada bagian posterior kanal spinal (ligamentum flavum dan faset inferior). Jaringan diskus intervertebral yang tidak dipengaruhi tekanan intradiskal. Radik-radik saraf mungkin menjadi gepeng karena tekanan. yang karena kemampuan osmotiknya menimbulkan perubahan tingkat gangguan terhadap saraf. Jadi dianjurkan untuk sangat berhati-hati saat membuang ligamentum flavum . dapat berubah volumenya karena kemampuan osmotik. dengan akibat pendataran lordosis lumbar. Disamping ukuran jaringan yang prolaps. Prolaps dapat berhubungan dengan jaringan diskus inter-vertebral bersangkutan namun dapat juga tampak sebagai fragmen terpisah. prolaps posterolateral akan mengenai radik saraf. akhirnya mengkerut dan membentuk perlekatan. jaringan prolaps dapat menyebar kesemua arah. Setelah perforasi bagian posterior anulus fibrosus. Gejala klinik mungkin beragam. Gejala klinik prolaps medial mungkin menampakkan baik lumbago. Percobaan terhadap jaringan fragmen diskus intervertebral memperlihatkan pada keadaan yang serupa dengan prolaps diskus intervertebral dimana terjadi penambahan volume pada cairan hipotonik dibanding pada cairan hipertonik. prolaps berjalan kelateral dan mengikuti radik saraf yang tertekan dianterior.pinggang sama sekali dan hanya merasakan nyeri tungkai yang menjalar. Pada kasus tertentu. Bila arahnya kemedial. Sebagai patokan. atau mungkin membengkak dan menimbulkan reaksi radang. Perubahan diskus intervertebral yang mengalami prolaps dapat berhubungan dengan intensitas nyeri. Pada daerah lumbar. kantung dura akan tertekan seperti juga serabut-serabut kauda ekuina. prolaps dapat menggerakkan radik saraf baik kemedial maupun kelateral. atau melekat pada prolaps. bagian diskus intervertebral posterior termasuk piring tulang rawan dapat mengalami fragmentasi dan prolaps kedalam kanal spinal. Ini mungkin menimbulkan rekurensi yang kronik dari nyeri radik saraf. atau sindroma kauda lengkap atau tak lengkap yang merupakan gejala yang biasa pada prolaps medial. Pada prolaps lumbar jaringan bergerak kerongga epidural kanal spinal dan menyebabkan penyempitan yang sangat serupa dengan tumor.

Sindroma lumbar kebanyakan khas dengan nyeri pinggang bawah dan siatika yang dalam perjalanannya memiliki penyebaran serta intensitas yang sangat beragam. seperti kantung dural. gejala klinik berkurang dengan adanya invasi jaringan fibrosa yang memiliki pengaruh stabilisasi. yang dikenal sebagai sindroma pasca diskotomi. menjadi lebih sulit untuk menghubungkan gejala-gejala dengan keadaan patofisiologik utama. Misalnya jaringan prolaps bergerak kemedial. yang selanjutnya mengenai radikradik saraf dan menyebabkan gabungan reaksi radang dan mekanik. diferensiasi sindroma lumbar yang lebih baik dapat . Ketinggian diskus intervertebral berkurang dan sendi intervertebral terganggu dengan pengurangan rongga interforaminal yang selanjutnya menekan radik saraf. Pada prolaps tertentu. Semua gejala dimulai dengan nyeri lumbosakral ringan hingga paralisis lengkap bisa ditemukan. biomekanik interior dari diskus intervertebral menjadi berubah.atau bagian dari lamina. Ini akibat perlekatan yang merupakan tahap akhir reaksi radang sekitar radik saraf. sindroma berbeda dari pasien kepasien. akan menimbulkan perubahan mekanik jaringan sekitarnya. Karenanya klasifikasi yang sistematik sulit didapatkan. Dengan perjalanan waktu. Jaringan fragmen diskus intervertebral dapat juga bergerak keposterior. jadi tekanan terhadap radik saraf terjadi dari arah ini. Sangat umum dijumpai kasus-kasus yang tidak mengikuti pola yang khas. Alasannya adalah karena adanya perubahan biokimia dan biomekanik didalam diskus intervertebral. Dalam perjalanan selanjutnya. radik-radik saraf sisi berseberangan juga terkena. dengan onset nyeri yang tiba-tiba lebih sering dijumpai. juga menjadi lebih lembut. bila berkembang perubahan degeneratif sekunder. Lagipula reaksi masing-masing sistem saraf terhadap perubahan eksternal harus dipikirkan. Baik pendataran radik saraf maupun reaksi radang dengan pembengkakan radik. Sekali fragmen mengalami prolaps . ini akan berakibat siatika pada sisi lainnya. Dengan miografi-elektro dan mielografi. Ini mungkin pada akhirnya menyebabkan sindroma lumbar kronik dengan nyeri radikular berulang. Jaringan diskus inter-vertebral lebih renggang. Jaringan prolaps dapat juga mengarah kesuperior atau inferior dan karenanya mengenai radik-radik pada tingkat lain. Bahkan bila patofisiologinya serupa misalnya protrusi lateral. GEJALA DAN TANDA SINDROMA LUMBAR Gejala sindroma lumbar beragam. Sindroma lumbar paling sering diakibatkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. dan akibat perubahan sistem osmotik. yang terutama dijumpai setelah operasi. elemen saraf kanal spinal terkena.

Finkenrath (1977) mendapatkan kenyataan bahwa lebih dari setengah penderita tidak mempunyai alasan yang pasti atas onset dari gejala yang dideritanya. Karenanya penderita sering menghubungkan gejalanya dengan beberapa kegiatan. Keluhan Umumnya gejala pada suatu sindroma lumbar adalah nyeri. Paling sering mengenai dua segmen lumbar terbawah. Siatika atau lumbago akut timbul tanpa sesuatu penyebab yang jelas ("Came out of the blue"). karakter serta intensitas nyerinya. karena medianya adalah serabut-serabut besar. Sindroma lumbar khas dengan lumbago dan siatika. Sindroma lumbar dapat berkembang dalam waktu sangat singkat. A. Saat ini mielografi dapat dilakukan tanpa bahaya yang besar sejak digunakannya media-kontras yang tidak berbahaya. seperti halnya deformitas statis.dibuat. Intensitas nyeri tidak selalu sebanding dengan tekanan yang mengenai radik saraf bersangkutan. Analisa sindroma menjadi sederhana dengan mendengarkan secara hati-hati riwayat penderita termasuk posisi dan gerakan yang mungkin mempengaruhi karakter dan intensitas nyeri. Penderita biasanya sangat mengenal lokalisasi nyerinya. seperti mengangkat benda berat atau menggeliatkan punggungnya secara berlebihan. Pengaruh impak yang keras dan berbagai jenis kecelakaan tak dapat dianggap bertanggung jawab atas nyeri pada pasien-pasien yang diperiksa dan yang tidak merencanakan tuntutan asuransi. Perubahan lain yang semula dianggap sangat penting. Kehilangan sensori lebih menunjukkan reaksi radang dibanding reaksi tekanan. Apabila tidak didapatkan tanda-tanda neurologik. Kadang-kadang timbul sangat tiba-tiba. Ini tidak jarang pada kasus kompensasi asuransi. hingga diagnosis sindroma lumbar mudah ditegakkan. tergantung apakah patologinya berupa protrusi atau prolaps dari diskus intervertebral. Pasien sering tampak berkonsultasi saat bebas gejala. Tekanannya sendiri. Terbukti bahwa tekanan pada kantung dural dan radik-radik saraf oleh jaringan diskus intervertebral yang prolaps adalah penyebab utama nyeri siatik. Sudah jelas diketahui bahwa nyeri pinggang sering dianggap dasar untuk menuntut asuransi atas kecelakaan. biasanya menyebabkan kelemahan motor dibandingkan perubahan sensori. mungkin sulit untuk menilai keadaan secara sempurna. Bila tak ditemukan tanda objektif sama sekali. rencana dan radik mana yang terkena mungkin hanya dibuat berdasarkan riwayat dan daerah dari penyebaran nyeri sepanjang dermatom khas. Namun demikian perlu untuk membedakan jenis pengobatan. . Tanda objektif mungkin minimal walau nyeri hebat. malposisi pelvis dan sendi ruas tulang belakang. sekarang memainkan peran sekunder.

Disisi lain. seperti juga dengan perubahan posisi radik-radik saraf terhadap aspek posterior diskus intervertebral. Penting untuk menemukan bahwa pasien merasakan perbedaan nyeri bila mengistirahatkan tulang belakang. Namun beberapa pasien merasakan pengurangan nyeri saat duduk dimana foramina intervertebral membesar. Keragaman gejala ini mungkin pula terjadi bila nyeri menjadi berkurang dan bila perbaikan mulai terjadi. Nyeri mungkin bertambah bila lordosis lumbar diperbesar dengan membaringkan pasien pada posisi telungkup. Nyeri diskogenik daerah lumbar dieksaserbasi oleh batuk dan bersin dimana terjadinya peninggian tekanan intra-abdominal. Disaat lain nyeri lumbosakral dapat hilang sempurna dan hanya siatika yang menetap. ada pasien yang berkurang nyerinya pada posisi telungkup dan dengan hiperekstensi ringan tulang belakang lumbar. buang air besar dan potensi harus diketahui. Mulanya nyeri dapat sangat dalam dan terbatas pada daerah lumbosakral dan dijalarkan ke bokong. Bersandar kedepan atau duduk pada lengan kursi diperkirakan menambah tekanan intradiskal. Ini terutama jelas pada perbedaan gejala antara siang dan malam. Keluhan beberapa pasien atas kram pada betis . Keadaan serupa terjadi selama istirahat dimana posisi miring berubah keposisi telungkup. Sebagai tambahan mungkin dapat timbul siatika yang mulanya hanya mengenai tungkai atas namun akhirnya juga mengenai kaki. Alasannya tentu saja perubahan tekanan intradiskal yang besar. Kebanyakan penderita merasa enak bila berbaring pada sisi tubuh atau pada belakang tubuh dengan pangkal paha dan lutut fleksi. adanya posisi dimana didapatkan relaksasi mungkin berhubungan dengan posisi protrusi atau prolaps. Ini timbul sebagai bagian sindroma kauda seperti juga kelemahan otot anggota bawah yang juga dapat disertai dengan siatika. Pada posisi berdiri dengan lordosis lumbar. hubungan antara nyeri. posisi dan tekanan berubah sepanjang hari dan juga sepanjang perjalanan penyakit. Penjelasannya adalah adanya hubungan antara vena epidural tanpa katup pada kanal tulang belakang terhadap perubahan tekanan intraabdominal atau intratoraks. Informasi mengenai fungsi kandung kemih. Secara keseluruhan. bagian diskus intervertebral posterior yang mengalami fragmentasi menjadi tertekan diantara tepi ruas tulang belakang dan akan membengkak menekan dura dan radik-radik saraf (Reischauer 1949).Karakter nyeri dan penjalarannya secara sinambung beragam pada sindroma lumbar. Sudah menjadi kenyataan bahwa nyeri diskogenik pada daerah lumbar sangat erat bergantung pada posisi tulang belakang. Ini didemonstrasikan Nachemson (1976) bahwa peninggian tekanan intraabdominal menyebabkan tekanan intradiskal lumbar. Sekali lagi. Pasien akan berusaha mencegah peninggian tekanan dan selalu menemukan posisi dimana nyeri akan berkurang walau pada peninggian tekanan.

Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. Bila nyeri dapat ditimbulkan. Pertama-tama adalah harus menjadi "pengambil riwayat yang teliti yang fanatik" (6). Pada pemeriksaan tidak dijumpai tanda-tanda objektif. Tabel 2 Gejala-gejala Khas pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Onset mendadak Perjalanan silih berganti Ketergantungan pada postur Nyeri bertambah pada batuk. Sendi-sendi tungkai bawah diperiksa. perasaan tidak enak dan peregangan akan bertambah pada otot Iskiokrural. bersin dan tekanan abdominal ------------------------------------------------------B. pemeriksaan adalah positif dan karenanya dikatakan sebagai Lasegue positif (positive straight leg-raising test). karenanya diusahakan interogasi dan pemeriksaan yang sangat teliti saat pemeriksaan pertama. Tanda-tanda klinis Pemeriksaan peregangan terhadap saraf Siatik dilakukan dengan mengangkat tungkai pada posisi terlentang. tungkai dapat difleksikan hingga 70-900 pada sendi panggul. Observasi oleh Lasegue. Diagnosa yang mendalam dan tepat suatu saat mungkin sulit ditegakkan bila pasien mengemukakan bermacam gejala. namun bila terjadi. didapatkan bahwa pada pasien dengan siatika sering dijumpai plantar fleksi dari kaki dan pada dorsifleksi kaki akan menimbulkan nyeri.posterior adalah bagian sindroma S1. Bila melampaui ini. Ini perlu untuk membedakan antara nyeri pinggang yang terlokalisir dan nyeri radik saraf. Mekanisme timbulnya nyeri dijelaskan sebagai peregangan yang berlebihan dari saraf Siatik. Pasien sering mengeluh perasaan pincang. Tungkai bawah dapat diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. Penderita mencegah semua gerakan yang dicurigainya akan menimbulkan nyeri. Normal. Saraf Siatik tidak terganggu. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan . sehingga tes Lasegue dapat dilakukan tanpa ada sesuatu keadaan yang menyebabkan gangguan terhadap sendi panggul. dari nyeri tumpul yang dapat timbul pada otot tungkai sebelah belakang. terutama sendi panggul. Gangguan motor dari otot dapat terjadi akibat nyeri dan relaksasi refleks seluruh anggota bawah. timbul nyeri yang menjalar sesuai dengan distribusi radik saraf yang terkena.

ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis.raising yang positif. Pasien banyak berdiri dari pada duduk dan sering menggunakan penumpu kursi atau meja saat bangkit dari kursi. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. kehilangan sensasi. Otot extensor hallucis longus dipersarafi hanya oleh satu radik saraf yaitu L5. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. termasuk penilaian neurologik secara umum. Langkah penderita adalah tak setangkup. Namun dapat dikatakan bahwa bagian belakang kaki pada ibu jari dipersarafi oleh radik L5. Karenanya pada prolaps diskus inter-vertebral L4 dengan penekanan pada radik saraf L5 menyebabkan lemahnya ekstensor ibu jari. Pemeriksaan klinik harus mencakup inspeksi.disepanjang saraf siatik. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. Hiperestesi dapat terjadi pada sindroma radik saraf akibat lesi yang tidak lengkap pada radik saraf spinal yang sangat sering terjadi pada protrusi diskus lumbar. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. Ini disebut sebagai Lasegue kontralateral. Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. abnormalitas refleks dan gangguan motor. ia berjalan hati-hati dan bila dengan siatika mungkin pincang. Terdapat tumpang tindih pada persarafan tungkai bawah. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. Bila radik L5 terkena. nyeri dapat ditimbulkan dengan mengangkat tungkai yang diseberang tungkai yang terkena. Tanda-tanda khusus sindroma lumbar harus merupakan bagian dari pemeriksaan umum yang harus menginformasikan pada pemeriksa asal dari penyakit. Pada prolaps medial. tes straight leg . Pemeriksaan sensasi adalah paling penting. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. palpasi dan test fungsional. Dianjurkan pemeriksaan dilakukan dengan pergerakan penderita sesedikit mungkin karena setiap perubahan posisi mungkin menyebabkan nyeri dan rasa tidak enak pada pasien. Inspeksi. memberikan informasi penting seperti adanya sindroma lumbar. Membuka sepatu atau kaus .

mungkin disaksikan deformitas. Setelah memeriksa kemampuan pasien untuk membungkuk kedepan. Nyeri terbatas pada penekanan dapat dijumpai pada perjalanan saraf siatika dengan titik nyeri maksimal dibokong dan fossa popliteal (Tanda Valleix). Bila pasien tanpa pakaian dan dilihat dari belakang. Tes ini gagal bila protrusi atau prolaps terletak sangat lateral atau arkus ruas tulang belakang sangat lebar. Pada posisi terlentang spasme lumbar sering hilang. penonjolan semakin jelas. karenanya memungkinkan untuk mengarahkan tekanan pada ligamen flaval dan pada radik saraf yang terletak dibawah ligamen. Tes fungsional aktif ini diikuti dengan pemeriksaan pergerakan pasif.kaki menyebabkan rasa yang sangat tidak enak dan dilakukan dengan sulit dengan penderita berusaha menggerakkan tulang belakang kedepan. Nyeri paraspinal sangat indikatif pada pasien kurus yang kehilangan kekuatan ototnya. berjalan beberapa langkah pada jari-jari dan tumitnya untuk menampilkan kemungkinan kelemahan ekstensor kaki (L5) atau otot betis (S1). Deformitas dan keterbatasan pergerakan yang mungkin sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Keterbatasan yang tergantung nyeri pada mobilitas lumbar dapat mula-mula dijumpai bila penderita disuruh menekuk kesamping dengan tubuh sedikit condong kedepan. Terdapat penonjolan otot yang mengalami kontraksi (Spasme lumbar). Dengan usaha memperpanjang tulang belakang lumbar dan meluruskan lordosis. Pemeriksaan dilanjutkan dengan pasien berbaring. Posisi telungkup sering bersama dengan rasa tidak enak. Posisi ini dengan sedikit fleksi paha dan lutut memberikan posisi paling santai. Spasme lumbar dan fiksasi terbatas tulang belakang adalah kriteria dignostik penting pada sindroma lumbar. Jaringan lunak menjadi tertekan diantara arkus ruas tulang belakang hingga radik saraf akan tertekan bila ada protrusi atau prolaps. sering dijumpai saat bebas gejala atau pada protrusi yang sangat lateral dari diskus intervertebral L5-S1. namun hal ini tidak menggambarkan segmen spesifik karena sendi inter-vertebral lumbar mempunyai posisi sagital yang akan menggerakkan sendi dan ruas tulang belakang berdekatan. Dengan penambahan kifosis mungkin memperlebar arkus ruas tulang belakang yang akan membantu palpasi hingga nyeri khas dapat dibangkitkan. disuruh untuk menekuk kesamping dan juga merotasi tubuhnya. . Nyeri lokal dan siatika yang khas karenanya dapat ditimbulkan. Pergerakan kelateral tidak seterbatas fleksi atau ekstensi. Prosesus spinosus dipalpasi dengan penderita telungkup dan nyeri dapat ditimbulkan dengan penekanan pada prosesus segmen bersangkutan. Sering didapat pengurangan mobilitas terbatas satu sisi. Penderita disuruh berdiri pada jari-jarinya dan pada tumitnya. Nyeri juga dibangkitkan dengan memutar prosesus posterior.

perbedaan tonus dapat dipalpasi yang menunjukkan sindroma S1. Saraf siatik tidak terganggu. tes adalah positif dan karenanya disebut tes Lasegue positif (positive straight legraising test). dilakukan tes regang siatik: tungkai diangkat hingga dirasakan nyeri. Forst. Untuk menyingkirkan kemungkinan ini. nyeri dapat dibangkitkan dengan mengangkat tungkai berlawanan dengan sisi tungkai yang terkena. Dengan pasien telungkup. Kepekaan anggota bawah dites dan dengan menyuruh pasien mengkontraksikan bokongnya. Peregangan saraf femoral dengan pasien telungkup dapat dibandingkan dengan peregangan yang sama terhadap saraf siatik yang terjadi bila tungkai diangkat dengan penderita pada posisi terlentang. nyeri diperberat. Dengan suntikan intradiskal nyeri khas ini dapat dirangsang. bagian pemeriksaan neurologik dilakukan. Pada prolaps medial. rasa tidak enak dan tegangan akan terjadi pada otot iskiokrural. Sendi anggota bawah diperiksa dan terutama sendi panggul hingga tes Lasegue dilakukan tanpa adanya pengaruh kelainan disendi panggul. murid Lasegue. Lasegue positif adalah serupa dengan positive straight leg-raising test. Tungkai ini kemudian direndahkan pada posisi dimana nyeri menghilang dan pada titik ini kaki diekstensikan kedorsal yang biasanya menimbulkan nyeri bila saraf siatik terganggu. Normalnya tungkai dapat fleksi hingga 70-900 pada sendi panggul. Ini disebut Lasegue kontralateral. Dengan ekstensi kedorsal . Bila nyeri timbul. dan makna tanda ini mula-mula dijelaskan oleh J. Pada posisi telungkup. Perlu dibedakan nyeri pinggul terbatas dan nyeri radik saraf dari nyeri tumpul yang dapat bangkit pada otot tungkai posterior. timbul nyeri menjalar sepanjang distribusi radik saraf terkena. Bagaimanapun. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pasien terlentang pada punggungnya. Ini bukan gangguan lokal pada sendi sakroiliak. Tungkai kemudian diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. hiperekstensi sendi panggul mungkin berakibat nyeri paha anterior dan karenanya gangguan pada saraf femoral dapat diketahui. mungkin menandakan protrusi diskus intervertebral pada tingkat yang lebih tinggi. Bila melebihi ini. Pengangkatan tungkai bagaimanapun akan dapat menyebabkan nyeri akibat adanya lesi pada sendi panggul dan sakroiliak. Mekanisme pembangkitan nyeri diterangkan sebagai peregangan berlebihan saraf siatik. namun semata-mata suatu nyeri menjalar melalui cabang posterior saraf-saraf spinal.Nyeri dapat juga terbatas pada sendi sakroiliak yang dapat juga timbul pada palpasi. tapi sekali terjadi. Ini disebut juga tes Lasegue terbalik atau tes regangan saraf femoral. Tahun 1864 Lasegue melakukan pengamatan pada penderita dengan siatika dimana sering dijumpai kaki dalam plantarfleksi dan pada dorsifleksi kaki.

namun kelainan motor bisa jadi sangat ringan hingga pasien tidak menyadarinya. namun bila pasien diletakkan pada posisi duduk dengan tungkai lurus. Refleks harus dites dengan sangat teliti dan bila pasien tidak cukup santai untuk memungkinkan pemeriksaan dilakukan. Otot kuadrisep dicatu oleh radik-radik saraf L3. Karenanya pasien ditempatkan pada posisi yang memberikan relaksasi sempurna dan bebas dari nyeri.dari kaki. mungkin terjadi keadaan dimana pada pengangkatan tungkai lurus hingga 20-300 penderita akan memberikan pertanda nyeri. Peregangan saraf siatika dengan duduk tegak dengan tungkai lurus juga menimbulkan nyeri. L5. Fibrilasi dapat dijumpai pada otot dan gangguannya akan sebanding dengan tekanan yang berlangsung pada radik saraf bersangkutan. pemeriksaan dilanjutkan dengan menilai refleks. Ini dapat ditemukan pada langkah pasien dengan kesulitan dalam menempatkan dan meneruskan pergerakan kaki. mereka jelas tidak terganggu. Pemeriksaan sensasi adalah terpenting. mobilitas dan sensasi. Objektifitas tes ini tak bisa dibantah dan dapat berguna tiap saat. Sebaliknya pada prolaps L4-L5 dengan kompresi radik L5 didapat kelemahan yang nyata dari ekstensor ibu jari. Sindroma radik saraf hanya akan menyebabkan gangguan pada . ia dapat diperintahkan berlutut dan pada saat yang sama pegang jarinya dan tarik dengan kuat. hanya didapat sedikit kelemahan kuadriseps dengan akibat kelemahan ekstensi lutut. tidak ada nyeri. yang mana pasien akan teralih perhatiannya dari pemeriksaan (Jendrassk`s grip). Dengan pasien berbaring pada punggungnya. Pada keadaan dimana perlu membuktikan asal sebenarnya dari penyebaran nyeri yang turun ketungkai. Peninggian aktifitas refleks tidaklah mempunyai keistimewaan apapun pada kelainan diskus intervertebral. Pemeriksaan harus mencakup analisa teliti kekuatan fleksor plantar dan ekstensor dorsal kaki dan terutama ibu jari. perhatian pasien dialihkan dan pemeriksaan diulangi sekali lagi. saraf tibial akan teregang 2 cm. Refleks patella mungkin sulit dibangkitkan karena nyeri pada tungkai. Pada tindakan ini tidak disertakan baik sendi panggul maupun sendi sakroiliak. Bila refleks ankel sulit dibangkitkan bila pasien berbaring dengan punggungnya. Extensor hallucis longus dicatu hanya oleh satu radik. Ini mungkin membuktikan bahwa pasien bereaksi berlebihan atau bahkan berpura-pura sakit. Pemeriksaan mobilitas dipusatkan pada otot tungkai bawah yang mungkin terkena pada sindroma lumbar. Kompresi berat hanya akan menyebabkan gangguan motor ringan pada otot besar. termasuk kompresi pada radik saraf L4. L4 dan L5. Pada prolaps L3-L4. Penurunan aktifitas refleks patellar dapat ditemukan bila radik saraf lumbar ketiga dan keempat terkena.

Penting untuk memeriksa sensasi didaerah perineal dalam upaya menyingkirkan adanya sindroma kauda. Sindroma Radik Saraf Lumbar . Terdapat tumpang tindih inervasi anggota bawah yang terutama jelas pada bagian proksimal. Dengan beberapa ketentuan dapat dikatakan bahwa bagian dorsal kaki didaerah ibu jari dicatu oleh radik L5 dan tumit serta bagian lateral kaki dicatu oleh radik S1. Pemeriksaan klinik teliti akan menghasilkan diagnosis dan harus dapat menentukan tingkat yang terganggu. Bila ada petunjuk gangguan temperatur dan sensitifitas dalam atau bila ada tanda kelainan neurologik lain yang tidak bersamaan dengan sindroma lumbar. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. Keterangan patologik yang jelas dimana prolaps diskus intervertebral lumbar menyebabkan siatika telah diketahui sedikitnya sejak 50 tahun. Bradford dan Spurling (1950) serta Lindblom (1948) menjelaskan asal penyakit sebenarnya serta hubungannya dengan nyeri pinggang bawah dan siatika. terkenanya rami anterior akan mengakibatkan gejala. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. Sebelumnya siatika diduga akibat keadaan inflamatori dan karenanya disebut neuritis siatik. miografi-elektro dan pemeriksaan yang lebih canggih lainnya sangat jarang diperlukan dan hanya untuk memperkuat diagnosis selanjutnya serta untuk menyingkirkan kelainan lain. penderita harus diperiksa lebih lanjut. Ini akibat lesi tak lengkap radik saraf spinal yang sangat umum pada protrusi diskus intervertebral lumbar. Penjelasan distribusi dermatomal diperkirakan beragam (Foerster 1933. Keegan 1943). rami dorsal dan meningeal terserang. Radiografi. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan disepanjang saraf siatik. Mixter dan Barr (1934). pemeriksaan laboratori. mielografi. Pada sindroma radik saraf lumbar. Hiperestesis dapat juga terjadi pada sindroma radik saraf lumbar. Tilney dan Riley 1938. Dandy (1943).sensasi permukaan yang mudah diperiksa dengan sentuhan. tekanan dan tusukan jarum. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika.Siatika Pada sindroma lumbar lokal. Bradford dan Spurling (1950) telah mengamati ketidak-teraturan distribusi sensasi bagian bawah anggota bawah setelah merusak radik saraf sakral pertama. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis. C. .

Akan terjadi juga kehilangan sensasi. akan terjadi paresis ekstensor kaki dan jari. tes straight leg . Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. Bila radik L5 terkena. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. Bila radik saraf tertekan sempurna maka nyeri akan hilang.raising yang positif. Setelah operasi. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. mungkin akan berakhir dengan penurunan karena timbulnya parestesi dan gangguan motor.Sindroma radik saraf lumbar dapat disebabkan protrusi atau prolaps. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. Ini mungkin disebabkan pelunakan dan perubahan volume diskus intervertebral dan oleh osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang atau oleh perpindahan ruas tulang belakang dan kelainan lain pada kanal spinal. namun tidak jarang perubahan patologik pada diskus intervertebral atau sekitarnya dapat menyebabkan nyeri yang menjalar. Bila terdapat siatika. dan bila radik L5 terkena. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. Adanya sindroma siatik tergantung letak dan ukuran dari struktur yang menekan radik saraf. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. Tatkala radik saraf tertekan oleh benjolan bagian posterior diskus intervertebral. Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. Nyeri dapat terbatas hanya pada bokong atau kaki dan tidak berubah dengan perubahan postur dan hanya dapat dikenal dengan test traksi atau mielografi dimana asal nyeri dapat ditemukan. Pada keadaan ini operasi dianjurkan sesegera mungkin. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. Gejala beragam secara individual dan bila semula nyeri dan deformitas menonjol. penting untuk mengetahui apakah sindroma radik saraf lumbar diakibatkan protrusi ataukah prolaps. abnormalitas refleks dan gangguan motor. siatika dapat tetap ada bersama dengan daerah nyeri terbatas atau nyeri sakral. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. maka . dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. ini bisa juga pertanda suatu sindroma lumbar lokal. 1. namun terdapat beberapa kekecualian dimana hanya terdapat siatika tanpa nyeri sakral. Siatika pada Protrusi dan Prolaps Diskus Intervertebral Dari sudut pandang terapeutik. kehilangan sensasi.

Pada protrusi ada hubungan antara sistem osmotik diskus intervertebral dengan perubahan volume dan konsistensi. kecuali diangkat secara operasi. Nyeri dan deformitas tampak tiba-tiba dan memburuk dalam beberapa jam setelah jaringan diskus intervertebral bergerak kekanal spinal. Dari perjalanan klinik akan jelas apakah terjadi suatu prolaps atau protrusi (Tabel II. Fragmen diskus intervertebral akan mengalami pergeseran kerongga epidural dekat radik saraf atau kantung dura dan akan selalu menyebabkan rasa tidak enak dan nyeri. Pada protrusi jaringan yang bergeser dapat dinormalkan dan dicapai restitutio ad integrum. Gambaran klinik lebih berat pada prolaps. Sering nyeri lebih proksimal pada protrusi. Massa jaringan diskus intervertebral bergeser keposterior dan menonjol dengan ligamen longitudinal posterior sebagai pembungkusnya. Penyembuhan spontan lebih sering pada protrusi dibanding pada prolaps. Sebaliknya tindakan konservatif tidak dapat dipilih pada prolaps yang lengkap. parestesia dan gangguan motor Hasil baik setelah tindakan Tindakan dengan obat-obatan dengan obat-obatan tidak berguna Instillasi intradiskal Instillasi intradiskal berat ringan Media kontras pada Media kontras pada diskografi tetap pada diskografi keluar kerongga diskus intervertebral epidural ------------------------------------------------------Juga terjadi perubahan pada perjalanan klinis.keadaan biomekanik dan biokimia secara keseluruhan akan berbeda bila penekanan disebabkan oleh prolaps.3). Tindakan ini mungkin mengawali rasa tidak enak dan nyeri yang terus menerus. Gangguan motor. Saraf spinal terjepit antara prolaps dan arkus ruas tulang belakang. parestesi dan deformitas berhubungan dengan perubahan yang disebabkan oleh . Karenanya nyeri. Kebanyakan pasien dengan siatika adalah karena protrusi diskus intervertebral. Penekanan radik saraf lebih kuat pada prolaps dibanding protrusi. Tabel 3 Perbedaan Siatika yang disebabkan Protrusi dan Prolaps ------------------------------------------------------Siatika Karena Protrusi Siatika Karena Prolaps ------------------------------------------------------Onset secara umum tak jelas Onset berat tiba-tiba Deformitas dapat berubah Deformitas menetap Nyeri proksimal Nyeri distal. daerah hipestesi dan refleks yang abnormal akan berkembang. Ini tidak terjadi pada prolaps. Pada pasien yang lebih muda agak membingungkan untuk menyayat anulus fibrosus yang intak diatas protrusi dalam usaha mencapai fragmen yang sudah mengalami pergeseran.

Dengan diskografi mungkin untuk menentukan apakah anulus fibrosus intak atau tidak. Pada mielografi tak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. dan deformitas siatik. beberapa pasien hanya menunjukkan sedikit nyeri. nyeri pada peregangan saraf femoral. protrusi dan prolaps memberikan perjalanan yang secara keseluruhan berbeda. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. Obat-obat anti inflamatori mungkin berguna. seperti juga pemilihan tindakan. tes straight legraising positif. Penderita selalu bertahan pada posisi yang menyebabkan paling sedikit penekanan terhadap radik saraf. Disisi lain. dan sering disertai inklinasi kelateral pada sindroma radik saraf. tes straight leg-raising positif dan deformitas lebih sering dijumpai pada protrusi dan prolaps pada tingkat ini dibanding tingkat L5/S1. Pada lumbago tulang belakang lumbar menjadi mendatar dan tubuh membungkuk kedepan. Sempitnya ruang epidural L3/L4 dan L4/L5. Sejumlah cairan mungkin dapat disuntikan dan pada prolaps akan keluar kerongga epidural. Walau deformitas jelas. memerlukan pemahaman klinik yang baik dan pengalaman yang luas atas berbagai aspek dari nyeri pinggang bawah. superior atau inferior. Pada kelainan diskogenik akan sulit untuk mendapatkan pola yang tetap untuk perjalanan dan prognosis. Seperti terlihat pada tabel diatas. Nyeri pertama-tama tampak bila dilakukan mobilitas secara aktif maupun pasif dan bila mencoba meluruskan badan. Patsold (1975) melaporkan bahwa 75% deformitas skoliotik pada penderita protrusi atau prolaps diskus intervertebral dibenarkan oleh mielografi. Penilaian gambaran klinik serta perjalanannya. Deformitas Siatik Ada beberapa tanda tidak khas pada sindroma radik saraf lumbar yang memperjelas siatika. Pada protrusi tahanan terhadap injeksi jauh lebih besar dibandingkan terhadap prolaps. Alasannya ialah reaksi refleks postural. dan penderita sangat jarang mendapatkan perbaikan. 2. Pada prolaps gambaran klinik menetap dan sulit untuk berubah. Pada tabel diatas beberapa pendekatan dikemukakan. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. Pada prolaps medial yang besar jarang inklinasi kelateral karena tidak akan mengurangi tekanan pada . Penguatan tanda-tanda ini tergantung letak dan ukuran protrusi diskus intervertebral. yang akan membedakan penekanan pada radik saraf. Deformitas tergantung apakah radik saraf tertekan dari anterior. prolaps kecil yang terletak pada "dead area" pada kanal spinal tidak harus memberikan gejala.beban. Pada protrusi didapatkan membran tipis dan fragmen yang mengalami inkarserasi jelas mengingatkan akan prolaps.

Pada inklinasi tulang belakang lumbar kesamping. Pada protrusi medial dengan dasar luas. Bila duduk dan berbaring. Bila pasien condong kearah tungkai siatik. dan ini akan menyebabkan deformitas campuran. Keluarnya radik saraf dari dura digambarkan sebagai daerah bahu. Beban tubuh pada tungkai siatik hanya dapat dilakukan pada waktu singkat. Protrusi diskus intervertebral melakukan kontak dengan berbagai bagian radik saraf ketika ia berjalan dari superomedial keinferolateral. bagian konveks diskus intervertebral akan bergerak kesuperior. dan berdiri pada jarinya dengan kaki pada posisi dropfoot ringan. yaitu satu radik dari superior dan lainnya dari inferior. Skoliosis lumbar dapat menjadi konveks baik mengarah maupun menjauhi kompresi radik saraf. Ada penderita mendapatkan pengurangan .radik saraf. Bila siatika jelas. Hubungan deformitas siatik dengan posisi protrusi atau prolaps cukup menarik. dan penyilangan radik saraf diatas diskus intervertebral bervariasi pada setiap tingkat. Jadi pada protrusi lateral pasien akan membungkuk kedepan sisi sehat (deformitas siatik kontralateral) dan pada prolaps medial menuju sisi sakit (deformitas siatik ipsilateral). dan prolaps karenanya dapat terletak dibawah bahu. Deformitas siatik menjadi jelas bila tubuh ditekuk kedepan karena kontak antara radik saraf dengan prolaps serta protrusi semakin berat. radik saraf sisi berlawanan akan terkena. Bila protrusi dibelakang bahu. Bila pasien membungkuk kedepan. dan bila tubuh condong menjauhi tungkai siatik disebut 'deformitas siatik kontralateral'. digunakan istilah 'deformitas siatik ipsilateral'. yangdifleksikannya baik pada sendi panggul maupun lutut. Terdapat hubungan topografik langsung antara tepi diskus intervertebral posterior dan radik-radik saraf pada segmen lumbar. deformitas hanya menjadi nyata bila pasien membungkuk kedepan. bila protrusi dibawah radik (pada ketiak) akan terdorong mendekati. deformitas siatik hampir selalu hilang sempurna. radik akan meluncur kemedial atau lateral diatas protrusi. Bila membungkuk kedepan. skoliosis siatik tak harus timbul. Cara termudah mengenal ini adalah mengamati postur tubuh. Pada kasus yang belum lanjut. Protrusi yang terletak superior terhadap radik saraf (pada bahu) akan bergerak menjauhi radik. pasien tidak membawa beban tubuhnya pada tungkai terkena . Tentu ada bentuk peralihan dimana prolaps besar akan mengenai radik-radik dari dua tingkat. Beberapa istilah digunakan untuk menyeragamkan penamaan radik-radik saraf yang berpasangan dengan mengingat dua lengan yang meninggalkan setiap segmen. Konveksitas skoliosis lumbar menentukan arah inklinasi lateral dari tubuh. diatas bahu atau pada ketiak. tidak ada skoliosis siatik pada posisi berdiri.

Pada sisanya. 3. Bradford dan Spurling 1950. Ini terdapat pada 1-2% dari semua kelainan diskogenik.rasa nyeri dengan menambah lordosis lumbar. sindroma L5 tersering ditunjukkan oleh postur penderita yang sangat sering membungkuk kedepan. kehilangan dorsifleksi kaki akan timbul karena otot tibial anterior menjadi lemah. Nyeri dan hipestesi berjalan sepanjang belakang kaki ke ibu jari kaki. mungkin akan tetap meninggalkan deformitas siatik yang tidak menghilang dalam beberapa bulan. Setelah penyebab nyeri siatik dikurangi. 98% terjadi pada dua segmen yang lebih bawah. Nyeri menjalar dari daerah lumbosakral diatas bagian posterior paha turun kebagian anterolateral tungkai bawah ke maleolus lateral dimana nyeri menjadi semakin hebat. a. extensor hallucis longus adalah otot yang paling sering mengalami paretik (Schliac 1973). Disini dipentingkan fisioterapi. Ini terutama ditemukan pada penderita dengan protrusi dan prolaps dari diskus intervertebral lumbar superior. Atrofi ringan mungkin ditemukan pada otot tungkai bawah. Sindroma L4 Saraf siatik dicatu sebagian oleh serabut dari radik L4. Hilangnya fungsi ekstensor pada ibu jari tak boleh terluputkan dan kelainannya mudah diperiksa. Bila gangguan motor ditemukan. Terdapat kesulitan mendorsifleksikan kaki dan jari yang menyebabkan kesulitan melangkah dan karenanya dan paling penting adalah secara hati-hati menganalisa gangguan motor. Tidak ada gangguan refleks pada sindroma L5.8%. b. Pada kompresi radik saraf yang lama. Sindroma L5 Pada inspeksi. Akar S1 terkena 54. . namun juga karena konsekuensi praktik yang terdapat pada kerusakan radik-radik saraf ini. karenanya tes straight leg-raising positif dapat ditampilkan pada setengah penderita dengan sindroma ini. Finnesson 1973 dan Armstrong 1965). Sindroma Lumbar Monoradikular Gejala yang berhubungan hanya dengan satu segmen ditemukan pada hampir setengah dari sindroma radik saraf lumbar . kelainan kliniknya campuran. De Palma dan Rothman 1970. Pada penderita sindroma monoradikular lumbar. dan paling sering ini tergantung pada jumlah radik saraf yang tekena.2% dan L5 dengan 43. ia penting bukan saja karena sulitnya diagnostik. Akar L4 hanya dikenai 1% dan sisanya radik saraf lumbar superior yang terkena (Lindemann dan Kuhlendahl 1953. Walau diskus intervertebral lumbar superior jarang terkena dibanding segmen L5 dan S1.

Radiasi gejala ketumit dan tepi lateral kaki termasuk jari ketiga hingga kelima. Juga paresis otot gluteal. Pada kasus ini. jadi mengurangi kekuatan fleksi plantar. Nyeri dan hipestesi diarahkan lebih kepoterior dari sindroma L5 dan berjalan sepanjang posterior paha dan posterior betis. Prolaps lateral L5/S1 karenanya bisa mengenai bagian lateral radik S1 dan bagian medial radik L5. radik L5 menyilang bagian lateral diskus intervertebral lumbosakral dan tidak pada sulkus saraf spinal. Prosedur sederhana ini mungkin menyebabkan eksplorasi diskus intervertebral L4/L5 menjadi tidak perlu. Dengan prolaps lateral L5/S1. radikradik saraf dan diskus intervertebral berakibat gejala yang tak spesifik dan tak sejelas misalnya sindroma L5. jarum mungkin diinsersikan ke diskus intervertebral L4/L5 untuk melihat apakah diskus intervertebral ini normal. Akar L5 berjalan melalui foramina intervertebral L5/S1 pada bagian atasnya dan kemudian mendekati aspek lateral diskus intervertebral lumbosakral. dua atau lebih radik saraf dapat terkena. Prolaps lateral dapat mudah terlalaikan bila hanya laminotomi eksplorasi yang dikerjakan. Ini sangat sering pada kasus tingkat L5/S1. Sindroma S1 Jarak yang relatif besar antara kantung dural. Prolaps dan protrusi dapat mengenai beberapa segmen dan simptomatologi poliradikuler mungkin ditemui. Tanda khas adalah melemahnya atau hilangnya refleks tendon Akhilles dengan penurunan sensasi diatas aspek lateral tumit yang mungkin meluas kedepan kejari empat dan lima. Pada kompresi yang sangat kuat dan setelah kompresi yang lama. d. diskus intervertebral L5/S1 mungkin dieksplorasi kelateral dengan membuang setengah medial faset L5/S1. Terserangnya radik L5 pada prolaps lateral lumbosakral lebih sering dari yang diperkirakan. 18% mengenai radik lumbar kelima dan 6% menunjukkan tandatanda terkena. Sindroma Lumbar Poliradikuler Pada kelainan diskus intervertebral lumbar . Prolaps paramedian (pada ketiak) dapat menekan aspek medial dari radik saraf pada tingkat yang sama dan aspek lateral radik saraf timbul dari tingkat yang lebih bawah. Gangguan motor mengenai otot triceps surae. Sebaliknya prolaps lateral (diatas bahu) dapat menekan radik saraf yang keluar dari tingkat superior bersangkutan. Bila ada prolaps lateral masif dari diskus . Kebanyakan sindroma siatika tanpa nyeri sakral dapat berasal dari radik S1. refleks tendon Achilles mungkin hilang sempurna dan tidak akan kembali bila tekanan pada radik saraf tidak dihilangkan pada saat tersebut.c. Pola segmental menjadi terganggu seperti juga gambaran klinik. Pengalaman paling sering menunjukkan bahwa bila ada tanda-tanda sindroma L5 dan mielogram negatif pada diskus intervertebral L4/L5.

Kellgren dan Lawrence menemukan degenerasi . Terdapat paresis ekstensor kakkaki dan jari dan refleks tendon Akhilles terganggu. Siatika bilateral sangat jarang pada kelainan diskus intervertebral dan bila terjadi harus dilakukan pemeriksaan yang lebih luas. Osteofit adalah tahap akhir proses degeneratif pada diskus intervertebral dan tidak dapat dianggap sebagai sindroma diskus intervertebral akut. prolaps. Selama perjalanan klinik mungkin timbul variasi pada tungkai mana penjalaran nyeri terjadi. sejumlah radik saraf menjadi terkena yang akan menyebabkan simptomatologi poliradikuler dimana tulang belakang lumbar menjadi kifosis. Hal ini terutama terjadi kearah anterior dan lateral. namun berubah vertikal hingga osteofit ruas tulang belakang berdekatan tumbuh bersama hingga terbentuk jembatan pada ruang inter-vertebral. Nyeri dan hipestesi didistribusikan sepanjang aspek anterolateral seluruh tungkai dan sindroma L5 menonjol. namun paling menonjol adalah sindroma S1 pada kebanyakan penderita. RADIOGRAFI A. Kadang-kadang prolaps dorsal dapat berubah menjadi osteofit yang menonjol kekanal spinal atau sebagian menyumbat foramina intervertebral. Osteofit semula mengarah horizontal. Paling sering adalah kombinasi sindroma L5 dan S1. Kombinasi sindroma L4 dan L5 berakibat gangguan motor pada kuadriseps. Osteofit besar dapat tampak dan sering menjembatani ruang antara ruas tulang belakang. Gangguan sensitifitas bervariasi dan juga distribusi nyeri selama perjalanan kliniknya. Protrusi. Bila seluruh kantung dural terkena pada prolaps besar dari aspek anterior kanal spinal. Terserangnya beberapa radik saraf secara bersamaan sering terjadi sebagai bagian dari sindroma post diskotomi karena adhesi yang terbentuk. Degenerasi diskus intervertebral dikenal dengan tampaknya reaksi tulang ruas tulang belakang dan pemendekan tinggi diskus intervertebral. Pemeriksaan lain dengan bantuan media kontras mungkin diperlukan.intervertebral L4/L5. Foto Polos Foto polos pada sindroma lumbar memberikan sangat sedikit informasi tentang sindroma tersebut namun dapat membantu menyingkirkan kelainan lain. Prolaps medial mungkin menyebabkan siatika. Pada penderita tua penyempitan rongga intervertebral dapat ditampilkan seperti halnya perubahan osteosklerotik dari end-plates. radik saraf yang berhubungan (L4) dapat terkena walau radik saraf L5 tidak langsung berdekatan dengan prolaps diskus intervertebral berdekatan. instabilitas segmental tidak dapat didemonstrasikan. tibial anterior dan extensor hallucis longus.

Togerson dan Dotter (1976) meneliti pasien dengan sindroma diskus intervertebral lumbar dan membandingkannya dengan sejumlah yang sama penderita tanpa nyeri pinggang bawah. Pada tumor dan kelainan inflamatori ia akan membesar atau menghilang sama sekali. Proyeksi anteroposterior. Ini menunjukkan bahwa degenerasi diskus sangat mungkin bila gejala dijumpai. Pemendekan diskus intervertebral dan juga .diskus secara radiografik pada 83 % pria dan 72 % wanita antara usia 55 dan 64 tahun tanpa memperdulikan gejala. serta penyempitan diskus pada foto polos adalah indikator degenersi diskus yang agak kurang peka. Frekuensi spondilosis dan lordosis lumbar ekual untuk masing-masing kelompok. sedang pada tulang belakang lumbar 66 % pada pria dan 45 % pada wanita. Dari data disimpulkan bahwa foto polos kecil nilainya dalam menentukan penyebab nyeri pinggang atau dalam menentukan siapa yang berisiko. namun ditemukan penyempitan ruang diskus pada kelompuk tanpa gejala sebesar 22 % dan pada kelompok dengan nyeri pinggang sebesar 56 %. demikian juga letak arkus. Diskus sendiri tak langsung dapat dilihat pada radiografi rutin. Gambaran paralel end-plates ruas tulang belakang diamati. Didapat juga hubungan yang positif antara nyeri pinggang dengan adanya spur traksi dan spondilolisis serta spondilo-listesis. kesimpulan atas keadaan fisiologiknya dibuat secara tak langsung dengan ada atau tiadanya penyempitan ruang diskus dan adanya osteofit marginal. s. Deviasi aksial. anomali ruas tulang belakang dan penyempitan kanal spinal lumbar mempercepat perkembangan selanjutnya kelainan ini. deformitas prediskotik dapat diamati. lebih banyak pada penderita dengan gejala dibanding orang yang tanpa gejala. Interpretasi radiograf penting karena sekali kelainan lain disingkirkan. dibanding dengan 30 % pria dan 27 % wanita dengan arthritis faset secara radiografi. Walau penyempitan ruang diskus jelas berhubungan dengan usia. Pada skoliosis ia bergeser kearah kecekungannya. Yang terakhir adalah perubahan yang terjadi relatif kemudian pada degenerasi diskus intervertebral. Frymoyer menemukan bahwa hanya penyempitan ruang diskus L4 yang jelas berhubungan dengan gejala nyeri pinggang bawah dan nyeri tungkai. Jumlah ruas tulang belakang lumbar dapat ditentukan dan setiap bentuk peralihan teramati pada daerah lumbosakral dimana ketidaksetangkupan dapat menyebabkan beban yang tidak ekual dari diskus intervertebral yang mungkin memiliki beberapa kepentingan dalam perkembangan kelainan diskus intervertebral. Kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah berhubungan dengan usia dan tidak perlu menunjukkan adanya gejala. lebih nyata didapat pada dekade ketujuh dibanding dekade kelima bila tidak memperdulikan gejala.

terutama bila operasi dilakukan pada daerah tersebut. Memberikan lebih banyak informasi dan fenomena Guntzsche dapat diamati dimana tampak pelurusan lordosis lumbar. selalu harus dilaporkan. perlu memperluas pemeriksaan radiografik dengan pandangan oblik dan tomografi. Proyeksi lateral. Osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang mungkin juga penting. Mielografi 1. menurut Schmorl dan Junghanns (1968). yang disebut pseudospondilolistesis (spondilolistesis degeneratif). Ini mungkin hanya variasi kontur ruas tulang belakang normal dan mudah dikenal melalui tomografi atau mielografi. karena peningkatan kehati-hatian diperlukan dalam mencapai bagian tulang belakang daerah ini untuk mencegah ketidak-sengajaan membuka kantung dural. Bila pungtur diperlukan dalam mendiagnosa kelainan diskus intervertebral. Pembengkakkan tepi ruas tulang belakang tidak harus berarti osteofit posterior. B. Pelurusan ini merupakan tanda dari sindroma diskus intervertebral. pandangan oblik memberikan informasi penting. Tebal diskus intervertebral pada daerah lumbal makin kedistal akan semakin tebal hingga tingkat diskus intervertebral lumbar empat. Walau nyatanya kebanyakan ahli bedah merasa bahwa spina bifida occulta tidak merupakan masalah. dan suatu saat mielografi mungkin perlu.hiperlordosis tulang belakang memungkinkan kontak erat antara prosesus spinosus dan suatu sklerosis reaktif dapat diperlihatkan yang mungkin merupakan penyebab perasaan tidak enak. namun merupakan pertanda degenerasi diskus intervertebral dini. Kantung dural bersama rongga subarakhnoid turun bersama-sama menuju ruas tulang belakang sakral kedua. Ini dijelaskan Baastrup dan digunakan namanya. Penyempitan rongga intervertebral pada pemuda penting secara klinis. Rongga subarakhnoid dibatasi membran arakhnoid yang berdekatan dengan dura. Namun pelurusan dapat terjadi bila pasien dalam posisi panggul dan lutut fleksi. perlu untuk mengindentifikasi foramina interarkuata yang bertindak sebagai pengarah untuk tempat pungtur. Bila ditemukan suatu perubahan. Tampilan Rongga subarakhnoid ditampilkan dengan menyuntikkan medium kontras. Gangguan pertumbuhan juvenile tidak mempunyai arti klinik. Dalam meneliti spondilosis dan spondilolistesis lebih lanjut. Perubahan radiografik menampakkan perubahan yang lanjut dari kompleks tiga sendi. Juga dislokasi ruas tulang belakang arah posteroanterior tanpa tanda-tanda cedera pada proses artikular. Pada daerah lumbar rongga subarakhnoid berisi cairan spinal yang .

Kontras adalah minyak iodium dan sejak itu berbagai media kontras telah digunakan. Mielografi pertama dengan media kontras positif dilakukan Sicard dan Forstier (1922). namun hanya sedikit informasi yang dapat diterima. Membuang medium kontras dengan pungtur lumbar sekunder tidak selalu berhasil. Mielografi dengan udara dan minyak sangat berbahaya. Gangguan pada kantung dural tidak hanya tergantung ukuran prolaps namun juga pada jarak antara tepi posterior diskus intervertebral dan dura. Media kontras larut air tampaknya lebih memadai pada mielografi lumbar karena diresorbsi lengkap dan tidak menyebabkan komplikasi sekunder. Bagian anterior kantung dural berhadapan dengan bagian posterior diskus intervertebral berdekatan dengan konsekuensinya semua perubahan pada segmen posterior diskus intervertebral akan menyebabkan indentasi kantung dural. Pada protrusi atau prolaps medial atau para medial pandangan lateral akan memperlihatkan indentasi pembengkakkan pada kantung dural yang terisi kontras pada tingkat diskus intervertebral yang terkena. Pengisian kantung radik saraf dengan medium kontras adalah paling penting dalam mendiagnosa dengan mielografi. Diantara media kontras positif antara lain adalah minyak iodium tak larut dan ester iodium serta substansi larut air. Pada tingkat L5-S1 jaraknya lebih lebar dan prolaps medial kecil tidak akan menekan kantung dural dan karenanya tak ditampilkan pada mielografi. dan ester iodium seperti Pantopaque diabsorbsi dengan susah payah. . Untuk alasan ini mielografi juga disebut radikulografi. 2. Pembengkakan kecil karenanya mudah dikenal pada mielografi. Jarak ini sempit pada tingkat L1-L4. dan karena lamanya absorbsi mereka dapat mengakibatkan arakhnoiditis pada kanal spinal.mengelilingi serabut-serabut saraf kauda ekuina dan mengikuti radik-radik saraf keforamina intervertebral membentuk kantung radik. Rungga epidural (ekstradural) adalah rongga antara kantung dural dan bagian tulang dari kanal spinal. Serabut-serabut saraf kauda ekuina tampak sebagai pita radiolusen tipis pada mielografi dan bila kantung dural mengalami penekanan mereka akan melewati daerah obstruksi dengan tampilan seperti lengkungan. Media Kontras Mielografi pertama dilakukan Dandy (1919) dengan media udara. Pleksus vena yang besar dan lemak epidural mengisi rongga ini. Demonstrasi kantung-kantung radik tidak mungkin. Minyak iodium seperti Iodipin. Protrusi lateral dapat sulit dikenal dan mungkin perlu melakukan mielografi secara sempurna dengan pengisian yang baik dari kantung dural. Kantung radik dapat sedikit terindentasi atau sama sekali terputus. dan antara kedua ekstrem ini berbagai kemungkinan dapat ditampilkan. Pengenalan kantung radik perlu untuk memperlihatkan posisi dan perjalanan saraf-saraf spinal.

namun tidak dijumpai efek samping. dan tidak memerlukan pungtur sekunder untuk mengeluarkan media kontras seperti yang sebelumnya berlaku untuk media kontras jenis iodium/minyak. Substansi padatnya dapat dicampurkan dengan pelarutnya pada konsentrasi yang diinginkan. Golman 1973. Metrizamide (Amipaque). risiko aliran kontras ketingkat lebih tinggi dapat dikurangi karena toksisitasnya yang sangat rendah hingga bila mencapai toraks atau leher tidak akan menimbulkan komplikasi. Meglumine iocarmate (Dimer X). kurang toksis dan kurang menyebabkan arakhnoiditis. Dengan memakai Metrizamide (Amipaque). Hindmarsch 1973. Ia dapat juga digunakan untuk diskografi.Talle 1973. Larutan 170 mg J/ml adalah isotonik terhadap cairan spinal. Karenanya tampilan rongga subarakhnoid dan radik-radik saraf bisa didapat dengan cepat dan dengan akurasi yang tinggi. Iohexol (Omnipaque). Ia ditolerasi baik dan tidak memerlukan anestesi spinal. Perkembangan media kontras yang lebih sempurna. Keuntungan agen larut air ini antaranya lebih sensitif terhadap perubahan patologis hingga lengan radik saraf dapat terlihat jelas. Masih cukup material kontras yang tertinggal ditempatnya untuk menampilkan diskus intervertebral yang mengalami herniasi yang sebelumnya tidak ditampilkan dengan baik pada tomografi aksial terkomputer. dan Iopamidol (Isovue). Sebagai tambahan.Pemakaian luas dan kemungkinan efek samping membuat mielografi sebagai pemeriksaan yang harus dikerjakan dengan pertimbangan. Arti mielografi sebagai penunjang penting sebelum operasi diperlihatkan Hirsch dan Nachemson yang melaporkan hubungan tanda-tanda neurologik dengan mielografi kontras larut air pada penderita yang dioperasi karena diduga herniasi diskus lumbar. 90 % pasien dengan mielogram positif. Medium kontras bercampur cepat dengan cairan spinal serta viskositasnya rendah. Metrizamide adalah medium kontras triiodized yang larut air namun tidak terurai. absorpsinya melalui teka lumbar dan villi arakhnoid parasagittal hingga tidak perlu dikeluarkan lagi. yang larut air dan memberikan informasi yang lebih baik. Kadang-kadang media kontras tertimbun diepidural. Ia cepat diabsorbsi dari rongga subarakhnoid dalam waktu sekitar delapan jam. Nachemson 1976). Penggunaan baru dari Metrizamide adalah dalam tomografi aksial terkomputer yang dilakukan 8 jam setelah mielografi. didapat dengan menggunakan Meglumine iothalamate (Conray). Neurotoksisitas seperti kemampuan epileptogenik sangat rendah dibanding media kontras larut air yang terurai (Skalpe . hal mana paling tidak menyenangkan pada mielografi dengan minyak. ditemukan herniasi diskus saat operasi yang mana menunjukkan tingginya sensitifitas tes ini. Data yang sama dikemukakan Spangfort yang menyatakan lebih dari dua kali temuan . Skalpe dan Amundsen 1975.

mual.64 %. Pada beberapa kasus akan memberikan jawaban apakah operasi harus dilaksanakan atau tidak. masalah urinari. Indikasi utama mielografi pada penderita kelainan diskus intervertebral adalah adanya nyeri radikuler dan gagal terhadap semua tindakan dan pada penderita dimana operasi akan dilaksanakan. termasuk nyeri kepala. kepentingan mielografi pada kasus ini tidak diutamakan. Hitselberger dan Witten menemukan 37 % penderita tanpa gejala mempunyai kelainan tulang belakang leher dan lumbarnya. pertentangan masih terjadi hingga saat ini dikarenakan risikonya. dan keputusan operasi harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinik. Akhirnya seperti telah dijelaskan. Bila tanda-tanda dan gejala-gejala sangat jelas dan informatif. risiko masih tinggi yaitu 23 . hingga menghindarkan perlunya melakukan laminotomi diagnostik kecil. muntah. kejang dan keluhan psikik. Walau sudah dengan Metrizamide. Pada pemeriksaan hubungan antara pengamatan klinik. Mielografi juga menunjukkan apakah prolaps berasal dari atas atau bawah dan selanjutnya memberikan informasi arkus mana yang akan dibuka. Tentu . Mielografi memberikan penegasan dan juga memberikan tingkat yang tepat dari prolaps yang menentukan operasi. Walau nilai mielografi sangat membantu dalam menyaring pasien. mielografi akan memberikan tingkat yang tepat yang mana sangat penting ketika simptomatologi sering berbentuk campuran. Mielografi prabedah saat ini tidak harus ditinggalkan. mielografi mempunyai risiko yang kuat. mielografi tidak boleh dilakukan. mielografik dan operatif didapatkan bahwa tanda-tanda klinik hanya berkaitan 60% dan tanda-tanda mielografik 95% terhadap pengamatan operatif.negatif pada operasi bila sebelumnya tidak dilakukan mielografi. keterbatasannya dan ketidaktepatannya dibandingkan cara pemeriksaan lain. Menurut Nachemson (1976) akurasi diagnostik diperbaiki dari 60 menjadi 90% bila mielografi ditambahkan pada pemeriksaan. Kelainan diskogenik tidak hanya didiagnosis namun juga ditindak berdasarkan tanda dan gejala klinik. Pungtur lumbar untuk analisis cairan spinal tidak diperlukan pada keadaan ini. dimana dua pertiganya (24 %) adalah pada lumbar. Karena sifatnya invasif. Pada kasus tertentu dimana pasien menolak. Indikasi Baru akhir-akhir ini mielogafi menjadi prosedur diagnostik yang dianjurkan untuk mendiagnosis semua keadaan yang diduga akibat penyempitan kanal spinal. Indikasi lainnya adalah stenosis tulang belakang dan kemungkinan adanya tumor. Kelainan mielografi semata-mata tidak boleh diperlakukan sebagai satu-satunya penentu operasi. 3.

dan film diambil untuk menampilkan berbagai tingkat. setelah mana medium kontras segera mulai diabsorbsi. mielografi dianjurkan. Bila diduga suatu prolaps mobil atau fragmen. projeksi fleksi dan ekstensi diambil dalam posisi berdiri tampilan lateral. 4. harus diingat bahwa kebocoran cairan spinal ringan mungkin terjadi dan karenanya beberapa tindakan pencegahan harus diambil seperti halnya melakukan pungtur lumbar diagnostik. Tehnik Pasien diletakkan pada meja radiografik dengan punggung datar dengan bantuan kantung udara yang dapat digembungkan dibawah perut. Pastikan kontras berada intratekal. Pada kasus asuransi dimana diagnosisnya sulit. keadaannya sangat berbeda dan mielografi harus dilakukan dalam usaha menentukan tingkat. Kepala meja ditinggikan. Bila pada mielografi tidak ada cairan yang didapat. Dalam hal penggunaan Metrizamide perlu mempertahankan posisi pasien setengah duduk 600 selama 6 jam agar kontras tidak naik melebihi tingkat lumbar. Untuk mendapatkan proyeksi yang kaya kontras dianjurkan untuk menyelesaikan seluruh pemeriksaan secara lengkap dalam 10 hingga 20 menit. kontras dimasukkan dengan kontrol radiografik antara L1 dan L2. Jarum diinsersikan pada inter-space antara L2 dan L3. Tampilan oblik diambil dengan pasien dalam posisi telungkup dan miring kesatu sisi dan selanjutnya kesisi lain. Namun bila ada dugaan suatu tumor sangat dianjurkan sebagai prosedur diagnostik. perlu dipikirkan mielografi.mielografi tidak boleh dilakukan pada penderita yang peka iodium terutama yang menunjukkan kepekaan terhadap makanan laut. Pada anak-anak harus hati-hati dalam merencanakan dan melakukan mielografi. Harus waspada akan kemungkinan adanya peninggian tekanan intraserebral serta akibatnya yang mungkin memberat pada keadaan ini. Bila diduga sindroma kauda. Pada kasus dengan masalah asuransi dokumentasi yang dapat dilihat lebih bernilai dari tanda-tanda dan gejala-gejala. Sindroma diskus intervertebral lumbar lokal sangat jarang memerlukan mielografi. Tampilan posteroanterior diambil dengan meja ditinggikan dengan berbagai derajat. Jarum segera ditarik setelah injeksi. Ini termasuk nyeri pinggang akut yang mungkin atau tidak berhubungan dengan tanda-tanda neurologik yang jelas. . Bila lesi diduga lebih atas. Pada kasus khas sindroma L5 dengan paralisis akut. Bila tindakan konservatif gagal setelah beberapa bulan. Injeksi biasa dilakukan dengan tabung plastik yang bersatu dengan jarum. mielografi tidak selalu perlu dan operasi dapat dilaksanakan segera.

Ini mungkin berupa penekanan . Setelah mielografi dengan Metrizamide 20% pasien merasa nyeri kepala untuk beberapa hari. Bila diduga suatu prolaps yang mobil atau segmen yang tak stabil. Tampilannya berbeda tergantung proyeksi yang digunakan. sedikit peninggian suhu dan juga kekakuan otot. Indentasi pada satu atau dua segmen adalah patognomonik. 6. meningismus. Tampak Lateral. kejadiannya relatif kecil. Gambaran posterior diskus intervertebral L1-L4 serupa dalam tampilan lateral. tak ada hal-hal istimewa yang diharapkan terjadi. Tepi anterior dan posterior medium kontras tampak dan kantung-kantung radik saraf tercakup. Setiap benda asing yang dimasukkan kekanal spinal akan menambah iritasi terhadap sistem saraf pusat dengan nyeri kepala. 2-3% penderita dengan nyeri kepala juga menderita meningismus. Disini terdapat hubungan yang nyaris langsung yang tidak terjadi pada segmen L5-S1 dimana terdapat sedikit rongga. Temuan Mielografik Mielografi diambil pada pandangan anteroposterior. maka komplikasi akan diakibatkan terutama oleh pungtur lumbarnya. Kantung dural berakhir pada ruas tulang belakang sakral kedua atau mungkin lebih pendek pada ruas tulang belakang sakral pertama. Secara keseluruhan. Indentasi medium kontras pada beberapa segmen biasa didapat pada penderita tua.5. media kontras yang baru mungkin menyebabkan komplikasi jenis yang sama. tampilan fungsional diambil pada fleksi dan ekstensi maksimum. Komplikasi yang harus dipikirkan adalah infeksi. Karena penggunaan medium kontras mempunyai komplikasi yang relatif kecil. Protrusi dan prolaps lumbar akan menyebabkan indentasi khas pada mielogram. Bila kesalahan menyuntikkan media kontras (Metrizamid) kerongga epidural. Walau toksisitasnya rendah. Ujung bawah kantung dural menunjukkan variasi anatomis yang dapat berupa kerucut atau lengkungan. Komplikasi Komplikasi mungkin timbul baik karena medium kontras atau pungtur lumbar maupun keduanya. Medium kontras diabsorbsi cepat dari daerah ini tanpa menyebabkan kerusakan apapun. Tampak Anteroposterior. Namun dari berbagai laporan. efek samping dan komplikasi ini tidak akan mengurangi nilai mielografi sebagai alat bantu diagnostik. Suatu saat gejala spontan berkurang dan tindakan terbaik adalah analgesik dan istirahat baring. yang mungkin akan membingungkan dengan prolaps medial pada tingkat L5-S1. Kantung-kantung radik saraf dapat ditampilkan. serta muntah dapat terjadi. lateral dan oblik untuk mendapatkan analisis proses yang menimbulkan penyempitan kanal spinal. muntah.

operasi dikontra-indikasikan pada penderita dengan tidak cukup gejala atau temuan. Sebaliknya operasi dipikirkan pada kasus dimana tindakan konservatif tidak memberikan hasil dan hasil mielografi tidak menampakkan informasi positif. Menampilkan kantung-kantung radik saraf dan kontur lateral kantung dural. Protrusi medial dan para medial mudah diperlihatkan pada tampilan lateral dan oblik. A. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. sering menyerupai prolaps diskus intervertebral. Protrusi lateral lebih mudah diamati pada tampilan anteroposterior. Pemeriksaan laboratorium mungkin mempunyai beberapa nilai dan pada sindroma lumbar tidak dijumpai perubahan nilai-nilai darah. Tindakan menyeluruh tergantung gambaran klinik dan bahkan bila perubahan ditampilkan pada mielografi. Pada degenerasi diskus . laju endap darah atau foresis-elektro. Tumor. prolaps turun dari medial kelateral keforamina intervertebral (Brussatis dan Steeger 1974). Pada mielografi tidak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. Dari tampilan berbeda. Perpindahan fragmen diskus intervertebral seperti juga protrusi medial pada tingkat L5-S1 dan protrusi lateral pada setiap lengan radik tidak selalu tampak pada mielogram. pemeriksaan objektif dan radiografi dan pada kasus tertentu mielografi. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. Pemeriksaan Laboratorium Termasuk Analisis Cairan Spinal Pemeriksaan tambahan dipersiapkan hanya untuk keperluan diagnosis diferensial. diagnosis mungkin perlu dipertajam untuk mendapatkan peng-indentifikasian asal. Kepadatan kontras media tidak akan terlalu tinggi bila ia sudah bercampur dengan cairan spinal. Namun indentasi dapat terjadi tanpa ada hubungannya dengan degenerasi diskus intervertebral.atau obstruksi lengkap ('amputasi'). Serabut saraf akan tampak sebagai pita tipis yang panjang. menyempitan oseus kanal spinal lumbar. PEMERIKSAAN LAIN Setelah pemeriksaan klinik termasuk riwayat lengkap. Prolaps masif didemonstrasikan oleh berbagai tampilan. mudah untuk menganalisa ukuran dan lokalisasi protrusi diskus intervertebral. Tampak Oblik. lokalisasi dan tingkat lesi. Seperti ditunjukkan oleh mielogram. Cairan spinal bisa didapat saat mielografi dan analisis dapat dilakukan. Media kontras larut air tak hanya menampilkan kontur permukaan kantung dural dan kantung-kantung radik namun juga struktur interior dapat diperlihatkan.

Lagi pula mielografi dengan media kontras larut air lebih mudah dikerjakan dan lebih akurat dalam informasi. Pada kelainan degenerasi diskus intervertebral tes ini tak diperlukan. Diskus intervertebral yang berdegenerasi dapat mengabsorbsi 2 hingga 4 cm3 cairan dan akan memperlihatkan sejumlah rongga kecil pada jaringan diskus intervertebral. Diskografi hanya dapat membedakan antara protrusi dan prolaps yang mungkin sama artinya dalam tindakan selanjutnya. B. . Bahkan dengan Metrizamide hasil negatif palsunya 20% pada interspace L5-S1. pemeriksaan lanjutan harus dikerjakan. Diskus intervertebral sulit untuk disuntik dengan medium kontras dan sedikit kontras yang masuk dapat diperlihatkan oleh gambaran seperti lensa pada radiografi. Pada prolaps besar atau setelah operasi diskus intervertebral kadang-kadang dijumpai sedikit peningkatan protein cairan spinal. Diskografi Rongga intradiskal dapat didemonstrasikan dengan menyuntikkan media kontras kedalam diskus intervertebral. Hitung sel normal. Nilai dari diskografi lumbar minimal pada diagnosis rutin karena diketahui degenerasi terjadi pada usia tertentu setelah tampilan normal sulit diharapkan. Tes Queckenstedt dapat dilakukan. terutama pada inflamasi (herpes zoster. Penting untuk mengingat bahwa diskus intervertebral yang berdegenerasi tidak perlu menimbulkan gejala. sifilis) atau tumor. Pada keadaan dengan peninggian protein dan hitung sel bersama dengan blok spinal (Queckenstedt positif). Analisis cairan spinal tidak memberi banyak pada kasus degenerasi diskus intervertebral dan hanya dipersiapkan untuk diagnosis diferensial dari keadaan lain. Keadaan protein meningkat dan hitung sel normal disertai tekanan cairan normal disebut 'dissociation globolinocyto-logique' (sindroma Guillain-Barre). Pada setiap pasien dengan gangguan radik lumbar kelima dan jarum yang dimasukkan ke diskus intervertebral L4/L5 membuktikan keadaan normal.intervertebral cairan spinal jernih dan mudah mengalir melalui jarum kecil. Operasi diindikasikan pada kasus ini. Pada sindroma ini protein total dan koloid nilainya sangat tinggi. Pada perforasi anulus fibrosus. pertama harus diduga terutama bila diskus intervertebral lumbosakral menyempit dan kolaps. adalah bahwa radik lumbar kelima tertekan pada daerah interforaminal baik oleh diskus intervertebral yang mengalami herniasi atau oleh spurring lateral dari herniasi yang sudah lama. medium kontras akan mengalir keluar aspek posterior anulus fibrosus. Kelainan ini dapat dijumpai pada beberapa keadaan spinal.

Miografi-elektro Gangguan motor dapat dinilai secara objektif dengan miografi-elektro. Pertama. juga memberikan kemungkinan menduga perubahan patologis yang terjadi dalam diskus sebelum perubahan pada konturnya. dengan perbedaan utama pada kadar relatif komponen tersebut. Kedua. Ketiga. pengeringan bertahap material inti mukoid. harus tampak kompresi radik saraf dan/atau pergeseran. D. seperti halnya ligamen longitudinal posterior didekatnya (Pech dan Haughton.C. Pada pencitraan dengan pembebanan T2 pada serabut anular luar memperlihatkan intensitas sinyal yang sangat lemah. Gangguan otot neurogenik yang timbul sehubungan dengan adanya prolaps tak dapat diperlihatkan oleh miografi-elektro hingga perjalanan penyakitnya lanjut. 1988). Pada pencitraan dengan pembebanan T2. tingkat hidrasi. eksudat inflamatori. dengan pembesaran saraf serta pengaburan tepinya karena edema. atau pembesaran vena epidural sekitarnya. . dan ini normal pada pertumbuhan jaringan normal. Dengan penuaan. akan terjadi penghancuran bertahap proteoglikan nukleus. sering terletak dorsolateral. 1986). kolagen serta proteoglikan. Penggunaan miografielektro untuk memperlihatkan gangguan neurologik adalah semata-mata untuk diagnostik diferensial. 1988). kaudal dari herniasi. Intensitas sinyal diskus tergantung keadaan hidrasi dan fisiokimia jaringan diskal (Hickey. PRM memperjelas akibat herniasi terhadap struktur intraspinal. serta hilangnya batas anatomik antara nukleus dan serabut anular dalam (Miller. sering pembengkakan pasca jejas pada radik saraf terkena. Kelemahan otot anggota bawah sering dapat diketahui pada pemeriksaan klinik. Diatas usia 30. 1985). akurasi diagnostik sangat tinggi. intensitas sinyal yang tinggi pada bagian sentral diskus berasal dari nukleus pulposus dan serabut anular dalam (Yu. langsung didekat radik saraf yang melintang diskus. Kriteria diagnostik harus spesifik. celah intranuklir ditemukan pada diskus normal pada pencitraan pembebanan T2. E. protrusi harus fokal dan tak setangkup. Nukleus pulposus dan anulus fibrosus terutama mengandung air. Pencitraan Resonansi Magnetik Baik MRI maupun CT resolusi tinggi memberikan tampilan yang sangat baik atas perubahan morfologik serta pengaruh dari herniasi diskus. Bila temuan ini dijumpai. dan jenis utama dari kolagen yang dominan (Ghosh. 1988). Tomografi Terkomputer Sangat akurat dalam mendiagnosis herniasi diskus intervertebral dengan kompresi radik saraf sebagai penyebab siatika.

Ini dapat terjadi apabila prolaps menjadi lebih besar atau mengalami fragmentasi menjadi sekuester. Kadangkadang nyeri bahkan bertambah saat traksi dan menjalar lebih keperifer. Sulit penilaian jaringan lunak. yang dilakukan dengan memakai bebat sekitar pelvis dengan pegangannya tergantung dari tiap sisi (Kramer 1973). siatika dan deformitas siatik akan hilang selama traksi. Pasien juga dapat membungkuk kedepan saat menarik pegangan. Penderita menarik pegangan kebawah dan dengan tindakan ini intensitas dan penjalaran nyeri yang berasal dari radik-radik saraf lumbar akan berubah. Tes traksi juga menjelaskan apakah traksi akan bernilai terapeutik bagi pasien. penting untuk membedakan siatika sebenarnya dengan nyeri yang menyerupai siatika. Tomografi Terkomputer yang diperkuat Diperdebatkan keuntungan dan kerugiannya. Nyeri lateral dapat bergerak lebih kemedial dan nyeri radik saraf tajam berubah menjadi nyeri pinggang tumpul. Pengaruh postur pada gejala menunjukkan terkenanya diskus intervertebral. siatika disebabkan oleh degenerasi dua diskus intervertebral lumbar yang terbawah. tes traksi dapat positif pada sindroma radik saraf karena berbagai penyebab. Tes traksi berguna dalam mendiagnosis sindroma radik saraf lumbar. pada hari mielografi dilakukan. Sebagai pegangan. Dengan traksi pada tulang belakang lumbar. A. Kekecualian. Neuralgi femoral paling sering disebabkan degenerasi diskus intervertebral lumbar bagian atas. Ini terutama ditunjukkan oleh tes traksi terhadap tulang belakang lumbar atau tes regang femoral yang bermakna pada gangguan pada radik saraf. Mungkin juga nyeri akan berkurang dan lokalisasi berubah.F. Postur tidak berpengaruh pada siatika atau neuralgi femoral oleh peenyebab lain. Selain itu harus dibedakan antara nyeri radik saraf dan nyeri akibat terganggunya saraf perifer. Pada protrusi kecil. Penyebab Ekstravertebral Tidak jarang nyeri dari panggul dikelirukan dengan . dan akhirnya siatika dapat merubah penjalarannya dari bagian distal keproksimal dari anggota bawah. mungkin akan mengurangi kontak antara radik saraf dengan diskus intervertebral hingga penjalaran nyeri baik siatika maupun neuralgi femoral dapat berubah. Nyeri berasal dari sendi panggul atau vaskuler tidak akan terpengaruh oleh tes traksi. Dilakukan melakukan DIAGNOSIS DIFERENSIAL SINDROMA AKAR SARAF LUMBAR Dalam menganalisa nyeri pada anggota bawah.

Perubahan inflamatori atau degeneratif pada sendi sakroiliak dapat menimbulkan nyeri serupa dengan siatika proksimal. trokhanter maior dapat diinfiltrasi dengan anestetik lokal. Radiografi termasuk tomografi digunakan untuk diagnosis menyeluruh. ini sangat tidak biasa pada siatika. Tes traksi negatif serta tiadanya hubungan dengan posisi postural menyingkirkan gangguan radik saraf. Kadangkadang suatu aneurisma arteri iliak komunis bisa menyebabkan siatika (Elliot 1971).sindroma radik saraf lumbar. Karenanya perlu menyingkirkan kemungkinan osteoarthrosis panggul serta nekrosis kaput femoral. Sebabnya adalah sangat sering dua keadaan ini terjadi bersamaan dan penjalaran nyerinya sangat serupa. selanjutnya disarankan menyuntikkan anestesi lokal intra-artikular sebagai pengarah. Tes Mennel dan pemeriksaan klinik yaitu radiografi dan sintigrafi akan membantu diagnosis. Pertanda terganggunya sendi panggul adalah perbedaan pada rotasi kedalam kedua sisi. pergerakan sendi panggul menyebabkan pergerakan pelvik yang konkomitan dengan kemungkinan nyeri radik saraf. ini akan sangat membingungkan. Untuk diagnosis terkenanya sendi panggul. Sangat mungkin nyeri ini adalah akibat terganggunya saraf simpatetik (saraf vaskuler) seperti diduga Idelberger (1977). Berbeda dengannya. Juga perlu secara teliti mendengarkan riwayat pasien dimana sindroma radik saraf dijelaskan oleh hubungan terhadap perubahan posisi dan tes traksi. Bila tes straight leg-raising mengenai sendi panggul. mielografi akan memberikan jawabannya. uterus atau prostat hanya timbul bila tumor mencapai ukuran besar. Pada siatika tes siatik sangat berbeda. Nyeri pada daerah sendi panggul mungkin disebabkan peri-arthrosis panggul yang baik sendi panggul maupun tulang belakang lumbar tidak menunjukkan adanya kelainan patologik. Tanda-tanda pleksus saraf lumbosakral akibat tumor ekstra-vertebral dari rektum. Gangguan neurologik mungkin sangat sedikit atau sama sekali tidak ada. Tidak jarang diterima rujukan hanya karena kebingungan atas nyeri tungkai apakah dari sindroma radik saraf lumbar atau dari kelainan vaskular perifer. Pasien osteoarthrosis sering mengeluh nyeri yang menjalar kebawah. Pada sindroma radik saraf yang disebabkan protrusi diskus intervertebral atau prolaps diskus intervertebral. Pada sindroma radik saraf lumbar beberapa tanda mungkin tidak dijumpai hingga menyulitkan penegakan diagnosis. Dalam usaha menegakkan diagnosis. Ada pula kelainan pada saraf siatiknya . Ini semula dijelaskan sebagai terganggunya saraf obturator yang mencatu bagian anterior sendi panggul dengan serabut-serabut sensori. yaitu kepaha dan lutut. Tidak ada gangguan lumbar lokal yang menimbulkan siatika tanpa nyeri sakral. Bila nyeri bertambah saat berjalan.

Hal yang serupa terjadi pada tumor tulang belakang yang sebagian besar adalah metastase. kelainan tik. Pada lesi saraf siatik terdapat kelainan fungsi sudorimotor didaerah gangguan sensasi. Tindakan lain yang membantu diagnosis adalah infiltrasi lokal anestetik dan tes traksi. neuritis alkoholik. Berlawanan dengan cedera pleksus dan saraf perifer. Ini karena cedera pada saraf kulit femoral lateral. Gejala neurologik terjadi. dan terdapat perubahan cairan spinal. Neuropati diabetik harus selalu diingat pada pasien tua. Nyeri menjalar mudah dibangkitkan dengan menekan daerah tersebut. Antaranya herpes zoster. diabetes dan periarteritis nodosa. Ini harus dipikirkan sebagai diagnosis diferensial dalam menganalisa nyeri sakral. B. Gejala siatik bertambah dan tes straight leg-raising positif pada kedua sisi. Sisi injeksi tampak keras. Bila nyeri dan gangguan sensasi terbatas pada lipat paha dan bagian anterior paha. Spondilitis mungkin juga mengenai radik dan tidak terpengaruh oleh postur. Kadang-kadang kelainan Paget dan fluorosis menyebabkan siatika karena pertumbuhan tulang dengan penyempitan kanal spinal serta foramina intervertebral. Pada lesi radik saraf tidak pernah ada kelainan perspirasi bahkan bila sensasi hilang total didalam daerah yang dicatu oleh beberapa radik (Schliack 1975). Sebaliknya dari sindroma L3.sendiri yang menyebabkan diagnosis diferensial menjadi sulit. Stenosis spinal pada kebanyakan kasus disebabkan oleh kelainan diskus intervertebral dan . dan gejala radik hanya terjadi bila massa tumor mengenai kanal spinal atau bila timbul fraktura patologis. tidak ada gangguan pada refleks tendon patellar pada parestetik meralgia. leprosi. Siatika dapat timbul bilateral pada spondilolistesis dan sangat sedikit dipengaruhi perubahan postur. Tumor primer mungkin timbul pada segmen ruas tulang belakang terutama pada sarafsarafnya. Nyeri malam adalah khas. parestetik meralgia harus dipikirkan. Penyebab Vertebral Selain sindroma radik saraf yang disebabkan kelainan diskus inter-vertebral dijumpai kelainan lain yang menyebabkan siatika dan mengenai saraf femoral. Kadang-kadang siatika yang timbul setelah penyuntikan saraf siatik harus diingat karena mungkin pengobatannya termasuk injeksi pada daerah siatik. lesi radik saraf tidak pernah bersamaan dengan tanda-tanda vegetatif. Akar-radik saraf terjerat oleh jaringan fibrosa disekelilingnya serta menyebabkan pengangkatan atau traksi keatas sisi posterior ruas tulang belakang berdekatan. siatika adalah gejala lanjut. Bila spondilitis dimulai dianterior.

Blok cairan spinal menunjukkan kompresi spinal. namun memerlukan pemeriksaan lain untuk memperjelas kelainan seperti mielografi. perlunakan dan protrusi ringan dibanding prolaps sebenarnya. Kurang penting untuk memperbaiki mobilitas tulang belakang lumbar. C. Segera setelah paresis timbul. Mula-mula adalah nyeri hebat lumbar dan radikular. Gejala sindroma kauda khas dan dari sudut diagnostik diferensial menarik untuk menganalisa etiologinya. Kebanyakan kelainan diskus intervertebral tampak sebagai fragmentasi. Analisis cairan spinal mungkin penting. Secara umum terdapat perubahan sekunder dari sendi-sendi dan otot-otot intervertebral. Sindroma Kauda Sindroma kauda menunjukkan sindroma radik saraf lumbar poli-radikuler secara menyeluruh. Laboratori dan mielografi akan memberi petunjuk diagnosis. Dalam beberapa jam dapat timbul cedera yang irreversibel. indentasi medium kontras mungkin sangat besar namun bila tidak ada gejala maka tidak ada alasan untuk operasi. Tindakan diagnostik terpenting adalah mielografi namun tidak selalu menjelaskan sumber kelainan. Sasaran harus ditujukan untuk mengurangi keluhan rasa tidak enak subyektif dan tidak terlalu ditujukan kepada deformitas anatomik. gejala khas prolaps diskus intervertebral menghilang. Pada mielografi. TINDAKAN Mengingat etiologi dan patologi. Pemeriksaan radiologiogi dan laboratori normal. Pada tumor kauda tidak ada hubungan dengan beban berat atau tanpa beban berat.menyebabkan siatika. Pada prolaps diskus intervertebral lumbar ada hubungan gejala dan perubahan patologik sebagai makin besar prolaps semakin berat gejala neurologik dan nyeri. Lesi kauda akut adalah akibat prolaps besar dari tingkat L3/L4 atau L4/L5. Semua radik saraf dikauda tertekan baik oleh prolaps diskus intervertebral maupun tumor dan menimbulkan gejala radik lumbar maupun sakral. Kecil kemungkinan pulih bila operasi dilakukan dua atau tiga hari setelah kompresi kaudal. Kelainan diskus intervertebral khas dengan onset mendadak dan kaitannya dengan postur. tindakan secara umum serupa. Penting diingat keberagaman dan kepekaan masing-masing radik saraf yang menyebabkan gejala dan . Kompresi kauda akut akibat prolaps diskus intervertebral memerlukan operasi segera. Sasaran utama adalah menghilangkan nyeri. Cairan spinal normal dan alirannya yang bebas pada tes Queckenstedt tidak menyingkirkan kemungkinan kompresi kauda yang terletak dalam.

Tindakan berdasar penyebab tidak akan berhasil pada kelainan diskus intervertebral. Onset nyeri dan adanya suatu keadaan kronik akibat beberapa keadaan patologik membentuk lingkaran setan. Tindakan Konservatif . A. karenanya tindakan harus simptomatik dengan satu tujuan saja yaitu mengurangi nyeri. Perubahan psikik juga penting. keadaan fisik secara umum serta keadaan mental. Akar saraf yang sudah cedera oleh tekanan akan bereaksi abnormal bila menghadapi keadaan alergi atau infeksi. Harus dipikirkan tekanan material diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi. Hal menarik lain adalah remisi spontan gejala pada kasus nyeri dengan onset akut akibat degenerasi diskus intervertebral. Mulamula selalu harus dengan tindakan konservatif.tidak perlu perubahan patologik identik kasus demi kasus. 'Serangan' terapeutik pada rantai manapun akan memberikan hasil yang baik. aberasi psikik serta akhirnya nyeri. Kemungkinan berhasil pada tindakan konservatif sangat terbatas. Pasien yang aktif lebih baik ditindak lebih aktif dengan traksi. kontraktur kapsul sendi. packing dan infiltrasi. Karenanya tindakan harus diarahkan terhadap intensitas gejala yang dipacu oleh sensitivitas radikradik saraf dan serabut-serabut saraf. karenanya dianjurkan mengatasi fokus infeksi lokal pada pengobatan siatika dan nyeri pinggang bawah. Pemeriksaan teliti akan menunjukkan bagian mana dari segmen yang paling terserang dan rencana tindakan didasarkan kepadanya. pikirkan operasi. namun bila tidak memberikan hasil yang baik dan nyeri tetap berat. Usaha yang gagal pada terapi manual atau pemijatan dalam waktu lama harus diganti dengan istirahat dan pemakaian panas. serta perubahan sirkulasi. Terdapat gabungan pengaruh tekanan mekanik dan sensitifitas saraf dimana yang terakhir ini dapat dipengaruhi oleh obat-obatan. Beberapa pasien bereaksi baik terhadap pemijatan. Pikirkan usia pasien. pemijatan. postur abnormal. perubahan abnormal volume diskus intervertebral. Pasien yang bersifat pasif terbaik ditindak dengan istirahat tempat tidur. Tidak perlu merencanakan suatu tindakan dalam dua atau tiga minggu. Dengan kata lain terdapat reaksi yang berbeda dari radik-radik saraf terhadap rangsangan mekanik akibat deformitas patologik. iklim dan tindakan fisik. nyeri yang berasal dari kapsula sendi intervertebral dan spasme otot. Mula-mula adalah masalah mekanik yang diikuti iritasi radik-radik saraf dengan akibat timbulnya spasme otot reflektori. Diagnosa yang teliti dan pengalaman yang luas diperlukan dalam merencanakan cara terbaik untuk masing-masing pasien. lainnya justru memburuk. Harus dipikirkan semua kemungkinan cara pengobatan sesuai dengan kasus. Hal serupa terjadi pada traksi. Material diskus intervertebral yang telah rusak tidak dapat diperbaiki oleh jaringan.

Tidak ada aturan bagaimana meletakkan tubuh hingga bebas dari nyeri dalam pengobatan lumbago. Pada kasus nyeri pinggang bawah yang kurang begitu berat akibat dislokasi yang lebih ringan dari fragmen diskus inter-vertebral. Sebagai pegangan. Pada siatika posisi terlentang lebih disukai. Tempat tidur harus rata dan keras. Penting untuk mengatur posisi saat istirahat. Kenyataan bahwa pasien telah menemukan posisi tubuh yang meringankan nyeri dan dapat ditemukan oleh pemeriksa. Dianjurkan memakai penyangga untuk tungkai berupa blok karet busa. segala variasi posisi berdiri atau horizontal dapat mengubah perjalanan nyeri. dapat dipengaruhi oleh tindakan tersebut. Nyeri yang timbul setelah berada dalam posisi horizontal untuk waktu yang lama menunjukkan penambahan volume diskus intervertebral dan dapat dikurangi dengan memberi beban aksial secara hati-hati. pasien dapat digerakkan dengan arah yang memungkinkan kembalinya nukleus pulposus keposisi normal (Idelberger 1977). tapi pasien mungkin memilih posisi yang tidak lazim untuk mengurangi rasa tidak enaknya. penggunaan panas. Traksi dengan bebat ekstensi dapat mempercepat proses ini. Hirschberg (1974) melaporkan hasil yang sangat baik pada penderita yang dirawat konservatif dan mendemonstrasikan bagaimana pengurangan tekanan intradiskal menyebabkan hilangnya ketidaknyamanan serta . pasien mengatur posisi tulang belakang yang paling efektif mengurangi nyeri. Pada keadaan ini tekanan intradiskal 35 kp. Tindakan dikolam dengan gerakan yang kuat mungkin cukup untuk mengobati nyeri sakral dengan onset akut dan nyeri akan hilang dengan cepat. Tergantung penyebab. Gejala dari degenerasi diskus intervertebral biasanya akibat penambahan beban aksial dan karenanya tindakan terbaik adalah istirahat ditempat tidur. Lingkaran setan berupa nyeriregangan-nyeri. Jenis tindakan ini salah satu yang terbaik yang dapat ditawarkan pada pasien dan diakhiri dalam beberapa hari serta dua hingga tiga minggu untuk kasus yang lebih sulit. terapielektro serta analgesik. Dalam setiap gangguan fungsional pada interspace. Pasien harus mengatur fleksi lutut dan panggul pada posisi yang paling nyaman. Diskus intervertebral menerima beban paling rendah saat berbaring horizontal dengan sendi lutut dan panggul dalam fleksi. pasien dengan nyeri pinggang bawah lebih menyukai beristirahat pada tempat tidur. Kontraksi isometrik otot pinggang akan menambah tekanan intradiskal dan akan mengurangi volume diskus intervertebral walau pada posisi horizontal.1. pemijatan. Istirahat Pengurangan rasa tidak enak dan nyeri dapat dicapai dengan istirahat. Bila ada alasan untuk tidak memungkinkan pasien berada dalam posisi berdiri. kepala atau kaki tempat tidur dapat ditinggikan.

selalu digunakan oleh pasien nyeri pinggang bawah. Mandi air panas. . yang meningkatkan panas. karena pada tumor dan keadaan inflamatori. mandi air panas atau botol air dapat digunakan. Seringkali pasien dengan sindroma lumbar menemukan keuntungan dengan panas. baik melalui kontak langsung maupun secara tak langsung melalui radiasi panas. Udara panas juga berefek baik. Dengan pemanasan dalam. Panas bisa didapat dengan berbagai cara. Juga terjadi perubahan tingkat konduksi saraf motor dan aktifitas motor spinal dari neuron motor alfa dan gamma hingga terjadi relaksasi spasme otot yang diinduksi nyeri. Sangat sering kedinginan memperberat ketidaknyamanan. terjadi perubahan pada segmen yang bersangkutan. ini akan mengubah keadaan biokimia jaringan segmen lumbar. Dipercaya bahwa kantung panas mempunyai efek jaringan dalam. kompres hangat. terapi-elektro harus dicegah selama tahap akut. dan pasien dapat dijaga fisik dan mental disaat ia menggunakan sesedikit mungkin gerakan dan higiene pasien dapat dirancang untuk keadaan berbaring pada sisi tubuhnya. menekuk tubuh dan mengangkat dapat menyebabkan berulangnya keadaan dan musnahnya perbaikan yang telah didapat. Derivat minyak asam salisil. Dengan adanya aksi refleks. 2. Pemijatan. packing. Beberapa obat gosok. Alasannya tidak diketahui. Selama istirahat ditempat tidur. pemijatan dan traksi dapat dianjurkan. Bila panas menambah nyeri.nyeri. diagnosis harus dipertanyakan. panas tidak pernah digunakan terhadap pasien dalam posisi telungkup karena hiperlordosis paling sering menimbulkan nyeri. bebat dan aplikasi lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan panas dapat digunakan pada pinggang. Istirahat harus dilanjutkan dan dilakukan untuk waktu yang lama dalam usaha menghilangkan penekanan terhadap radik saraf dan juga membantu pengerutan fragmen diskus intervertebral. reaksi inflamatori berkurang. hiperemi akan menambah dan memperkuat nyeri. Pasien yang menderita nyeri sakral khronik dan siatika selalu mencegah kedinginan dan karenanya berpakaian hangat. dapat digunakan dan dianjurkan kompres panas dengan meletakkan dibawah pasien tanpa menggerakkan pasien terlalu banyak. Tak ada alasan untuk percaya. Berdiri. Untuk pemakaian sederhana dirumah. Dalam semua keadaan. Pemanasan Panas menyebabkan hiperemi dengan akibat pengenduran otot-otot yang spastik. Pemanasan suhu badan terbaik dengan menggunakan wool tebal. Penting untuk melakukan tindakan menurut prinsip yang tegas.

Komponen antiflogistik diduga mempengaruhi reaksi inflamasi yang diakibatkan iritasi mekanik pada segmen bergerak. Bila tidak ditemukan perbaikan dalam waktu yang singkat. Bila nyeri hilang. Vitamin B diduga mempunyai efek neurotropik yang membantu regenerasi serabut saraf yang terjepit. Pemberian intramuskuler lebih disukai karena memudahkan kontrol dan penilaian. Diazepam. Karena efek sampingnya dianjurkan untuk pemakaian dalam waktu yang singkat. Dapat diberikan pada sindroma radik saraf kronik. Tranquilizer akan menurunkan sensitifitas elemen saraf yang teriritasi secara mekanik pada segmen bergerak. terapi obat-obatan harus diakhiri. dijumpai beberapa jenis obat. Penyebab gejala mungkin kompresi mekanik serius terhadap radik-radik saraf lumbar dan memerlukan . Nyeri kronik dianjurkan diatasi dengan indometasin atau aspirin yang umumnya ditolerasi baik. Relaksan otot mempunyai efek berbeda dimana ia langsung mempengaruhi otot yang menjadi relaks dengan akibat mengurangi nyeri. indometasin. Pada pasien dengan psikik tidak seimbang dianjurkan pemberian sedativa. otot yang tegang akan berelaksasi. karenanya lingkaran setan nyeri-spasme-nyeri dapat diputus. Pada nyeri pinggang bawah ringan dianjurkan tidak menggunakan obat apapun. pyramidon. Terapi fisik cukup memadai. Tahap awal. Bila nyeri bertambah dan tidak hilang dengan istirahat. kombinasi aspirin dan kodein atau acetaminofen dan kodein yang dapat diberikan secara oral. Terakhir dilaporkan bahwa obat kombinasi memberi hasil memuaskan. dianjurkan analgesik kuat dan antiflogistik. sedatif bebas barbiturat dan relaksan otot dapat digunakan sebagai penambah pada tindakan lain. Obat-obatan Tidak ada bukti bahwa obat dapat mempengaruhi perubahan volume jaringan diskus intervertebral. fenilbutazon. Sasaran utama adalah mengurangi nyeri. dianjurkan aminofenazon. Efek merelaksasikan otot secara tidak langsung didapat juga dari sedatif dan tranquilizer yang sering dijumpai pada preparat kombinasi. Efek samping yang timbul pada pemakaian lama tidak dapat dipertanggungjawabkan. Injeksi intramuskuler dengan kombinasi fenilbutazon dan aminofenazon digunakan pertama kali. Beberapa berefek analgesik dan anti flogistik dan umum digunakan seperti aspirin. Obat-obat kombinasi yang mengandung kortison mempunyai sifat antiflogistik kuat. rektal atau parenteral.3. Pada saat operasi sangat banyak ditemukan radik-radik saraf yang menunjukkan tanda-tanda inflamasi. Karena perbedaan mekanisme patogenetik. Jenis obat diatur sesuai intensitas gejala. obat-obat seperti disebut diatas dapat digunakan. Pada nyeri akut berat.

perlu melakukan pemijatan dan fisioterapi dalam usaha mengembalikan otot kekeadaan semula. Dengan miografi-elektro diperlihatkan bahwa pemijatan mempunyai efek merelaksasikan otot yang berkontraksi serupa dengan yang didapat melalui alat elektrik.000 Hz yang disebut arus arsonal dan dipancarkan melalui diatermi dengan 3 . Tenaga yang lebih kuat diperlukan untuk merawat otot pinggang bawah. Frekuensi yang dianjurkan adalah 20. Bila keadaan ini tercapai. Terapi Elektro Ada beberapa cara dengan tujuan penyembuhan oleh energi listrik. Dengan cara ini otot pinggang paravertebral yang luas dan berkontraksi digerakkan tanpa perlu penekanan terhadap lordosis lumbar yang biasanya terjadi pada pemijatan tangan. Pada fase akut sindroma lumbar . Beberapa jenis pemijatan akan memperkuat siatika akut atau lumbago karena pemijatan akan menggerakkan tulang belakang lumbar dan pasien tidak dapat untuk tetap pada posisinya.tindakan yang lebih sesuai. 5. Arus frekuensi tinggi menghasilkan panas pada jaringan dalam. Pemijatan Mungkin berguna pada sindroma lumbar bila keadaan akut sudah berlalu. Ia mengatur segmen bergerak dalam istirahat hingga tak ada lagi penekanan lebih lanjut atau tarikan pada radik saraf atau ramus meningeal dari saraf spinal. Terapi-elektro karenanya dilakukan lebih awal. Panjang gelombang terlalu pendek tidak akan merangsang sel. otot paravertebral serta iskhiokrural mempunyai efek stabilisasi. Jenis-jenis pemijatan dan pengaruhnya telah dijelaskan dan disamping pemijatan klasik. Pada posisi istirahat tonus otot menurun dan efek stabilisasi menghilang. 4. Sindroma lumbar yang memerlukan pemijatan jangka panjang lebih baik ditindak dengan terapielektro yang akan menghemat tenaga maupun waktu. Otot tak dapat mempertahankan kebutuhan yang terus menerus akan kontraktilitasnya untuk mempertahankan stabilitas dan suatu saat akan terjadi insufisiensi otot. Posisi penderita selama pemijatan penting. pemijatan jet air dapat digunakan. Pemijatan hanya sebagian dapat mempengaruhi otot-otot yang berkontraksi dan keras pada daerah lumbosakral. Posisi telungkup tak dapat dianjurkan karena lordosis lumbar akan bertambah dengan tekanan pemijatan dan karenanya pasien harus diletakkan telungkup pada penyangga karet busa yang memungkinkan pasien memfleksikan panggul dan tungkainya bersama-sama. Berbagai arus dapat digunakan. Aliran air diarahkan tangensial terhadap pinggang dengan tekanan 1 hingga 2 atmosfir.

dengan akibat penambahan sirkulasi jaringan dalam. Arus frekuensi rendah (15-250 Hz) mempunyai pengaruh pada sel dan arus searah digunakan pada galvanisasi serta arus bolak balik digunakan pada faradisasi. arus frekuensi menengah sekitar 4. Pada arus diadinamik terdapat perubahan antara frekuensi dan amplitudo yang berefek penghilang nyeri (Bernard 1955). Satu keuntungan dengan arus interferensi adalah bahwa efeknya menjadi terpusat pada lapisan jaringan dalam dengan arus frekuensi rendah antara 0-100 Hz dan arus frekuensi menengah didalam jaringan permukaan. Terapi Manual .000 Hz. Pada peningkatan penggunaan arus. Pada degenerasi diskus intervertebral. Sistem saraf vegetatif akan terpengaruh dan secara sekunder pembuluh akan berdilatasi. Pada saat ini tindakan elektrik terhadap pasien rawat jalan dapat dilakukan. Pada fisika yang disebut frekuensi rendah adalah antara 1-5. Belum ada penelitian tentang efek suatu arus terhadap metabolisme diskus intervertebral. namun pada keadaan biologik dibuktikan bahwa yang mempunyai nilai terapeutik adalah antara 15-250 Hz.000 Hz diarahkan pada badan. Penggunaan arus interferensi dalam pengobatan nyeri pinggang bawah saat ini meningkat melebihi beberapa pengobatan lainnya. Pada sindroma diskus intervertebral. tanpa menyebabkan kerusakan apapun disini atau merangsang timbulnya nyeri pada kulit. 6. Frekuensi tiap-tiap arus berbeda hingga 100 Hz. Arus listrik digunakan secara bipoler dengan dua elektroda yang berarti bahwa energi maksimum akan dikonsentrasikan pada elektroda dan akan menurunkan pergerakan arus melalui jaringan. mungkin timbul nyeri. Frekuensi menengah dan rendah digunakan sebagai arus interferensi. Pada terapi arus interferensi. Masingmasing amplituda dan frekuensi akan dirubah oleh badan menjadi frekuensi yang mempunyai efek biologi. Karenanya arus dapat diarahkan ke jaringan sasaran dalam frekuensi dan kekuatan yang disisi lain tak dapat dimasukkan secara langsung. Kekuatan gelombang tinggi superfisisal dipancarkan lebih dalam dengan pengurangan pada jaringan menjadi kekuatan gelombang rendah. hal tersebut tergantung pada arus dengan efek dalamnya. lapisan otot yang lebih dalam serta segmen bergerak menjadi sasaran dari arus. Ini secara keseluruhan berbeda bila dibanding dengan arus frekuensi rendah yang semula digunakan karena kesamaannya dengan frekuensi potensial elektrik yang terdapat pada jaringan.X 106 Hz hingga gelombang pendek 5 X 107 Hz. Namun demikian peningkatan sirkulasi jaringan disekeliling diskus intervertebral jelas memperbaiki metabolismenya.

terutama bila disebabkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. Pada traksi. Risiko timbulnya protrusi atau prolaps bisa timbul karena manipulasi yang berupa kifosis. tonus dan kontraksi otot. Pada protrusi yang besar. merupakan faktor yang paling penting pada traksi. Traksi tulang belakang lumbar termasuk pelebaran area intervertebral termasuk semua elemen fungsional segmen bergerak. Kembalinya kekeadaan sendi yang normal adalah sasaran terpenting pada rehabilitasi penderita nyeri pinggang muda usia. otot tulang belakang lumbar bereaksi refleks dengan berkontraksi dan tahanan otot tergantung pada elastisitas . Hasil yang baik telah dilaporkan banyak penulis sejak Erlacher (1951) hingga Ulrich (1974).Pada kebanyakan kelainan diskus intervertebral merupakan kontra-indikasi. Reaksi refleks otot dapat dikurangi dengan melakukan traksi secara berkala. Setelah traksi yang berhasil. Miografi-elektro otot lumbar tidak dapat menjelaskan perubahan selama traksi (Rothenberg dan Sanford 1953). reduksi tekanan intra diskal hingga menormalkan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi. Hanya beberapa milimeter yang diperlukan merubah posisi antara diskus intervertebral yang mengalami perpindahan dan reseptor nyeri. Karenanya tindakan ini tidak dianjurkan. Perubahan tinggi diskus intervertebral akibat degenerasi berakibat perubahan posisi sendi-sendi ruas tulang belakang. Efek terapeutik traksi tergantung jumlah elemen yang terkena. Ini mungkin dapat diperbaiki dengan mobilisasi dikolam atau terapi manual. inklinasi lateral atau torsi dari tulang belakang lumbar (Stoddard 1961. Injeksi Lokal . Armstrong (1965) menjelaskan efek isap sekunder karena traksi. 7. tenaga yang diperlukan untuk merobek ligamen longitudinal posterior tidak besar. 8. Tindakan ini seperti halnya terapi hidra semakin populer. Dengan terdapatnya penambahan volume diskus intervertebral (Kramer 1973). mielogram tetap tak berubah. otot lumbar atau sendi intervertebral. nyeripun berkurang dikarenakan cukup ruangan untuk radik saraf. Tidak ada cara yang khas untuk memastikan apakah nyeri sakral berasal dari protrusi diskus intervertebral. Traksi Hasil baik sering didapat pada terapi sindroma pinggang bawah dengan traksi. Tindakan ini hanya diizinkan bila tahap akut sudah berlalu dan bila sudah diketahui bahwa mobilisasi sudah harus dilakukan serta adanya perbaikan dari keadaan otot. Maigne 1970). Sekali edem berkurang.

Injeksi Epidural Kaudal Rongga paradural lumbosakral dicapai melalui inferior via hiatus sakral dengan jarum panjang. Berbagai anestetik dapat digunakan. Kehilangan sensibilitas terbatas pada daerah S3 dan S5 dan menimbulkan anestesia sadel. namun berguna untuk memakai yang mempunyai efek depot. . pembengkakan inflamatori. Injeksi paraspinal lebih diutamakan untuk menginfiltrasi kapsula sendi intervertebral. karenanya reaksi saraf dalam kanal spinal dapat diobati. Sesuai keadaan anatomi. Injeksi Epidural Posterior Sumber rasa tidak enak dan gejala lainnya dicapai dengan memasukkan jarum kerongga epidural. Reischauer (1949 dan 1961) menyatakan bahwa merendam radik saraf bersangkutan dengan anestesi lokal akan mengurangi iritabilitas. Bagaimanapun rasa tidak enak dan nyeri dapat menetap atau meningkat. Akar saraf dapat direndam oleh anestetik atau obat antiinflamatori (Kortison). serta konsekuensi yang diakibatkannya berupa iritasi karena penyempitan rongga yang berat. Anestetik.Umumnya terjadi perbaikan spontan pada degenerasi diskus inter-vertebral. antiflogistik dan anti-inflamatori mempengaruhi fungsi segmen lumbar. Saraf spinal dan ramus meningeal yang kembali kekanal spinal dapat dicapai dengan injeksi paravertebral. Cairan injeksi (kortikosteroid) dapat mencapai daerah lebih tinggi bila pelvis ditinggikan. Bila mielografi atau operasi tidak akan dilakukan segera. dan nyeri akibat perlekatan dan jaringan parut pasca operatif dapat dikurangi. Anestetik lokal diberikan dekat tulang belakang (para-spinal) atau didaerah foramina intervertebral (paravertebral). otot pinggang dan ligamen intervertebral. Difusi akan berperan mempengaruhi radik saraf dan reseptor pada ligamen longitudinal posterior. Pada desensitisasi radik saraf harus dicegah lingkaran setan iritasi mekanik. Kemungkinan perubahan pada pembengkakan inflamatori struktur saraf terbatas. Obat dapat disuntikkan kerongga epidural atau sub-arakhnoid. Akar saraf berdekatan pada yang saat sama menjadi teranestesi akibat difusi suntikan dan tidak jarang terjadi paresis. Digunakan bila bagian bawah pleksus sakral harus disuntik. Injeksi Paravertebral Anestetik lokal dapat disuntikkan keforamina intervertebral. Dengan cara ini spasme otot dapat diobati dan pada saat yang sama seluruh segmen bergerak akan dipengaruhi oleh rami dorsal saraf spinal yang telah diinfiltrasi. berbagai cara dapat digunakan. Injeksi dapat pula dilakukan pada diskus intervertebral. injeksi lokal dan intradiskal terbukti memberikan hasil baik.

Sussman 1972). Saat ini kepentingan klinik tertuju pada penyuntikan khimo-papain yang akan mendekomposisi kartilago.4% hingga sebagian ahli enggan menggunakannya (Smith dan Brown 1967). Penyuntikan diskus intervertebral lumbar merupakan tindakan terapeutik. Injeksi Intradiskal Berbeda dengan tindakan injeksi lainnya. Indikasi utama adalah sindroma radik saraf khronik dan sindroma pasca diskotomi. terjadi kolaps dan penurunan tinggi intervertebral. dan akhirnya radik saraf dapat dicapai dan efek antiflogistik serta anti edema juga tercapai. Jadi secara keseluruhan berbeda dengan cara penyuntikan lain. kerusakan pembuluh. Komplikasi menjadi serius pada 3. Ini menyebabkan disposisi obat ditempat salah atau obat mungkin bocor melalui perforasi anulus fibrosus kerongga epidural atau subarakhnoid dimana kemampuan melarutkan akan menyebabkan kerusakan. Sudah dibuktikan bahwa khimopapain pada pemberian lokal menyebabkan nekrosis jaringan. Harus selalu ingat bahwa bila melakukan penyuntikan intradiskal. jarum mungkin tidak mencapai sasaran yang benar. Proteoglikan akan terurai menjadi keratan sulfat khondroitin sulfat serta proteo-glikan sendiri. Smith 1964 hingga Watts 1975). karenanya tekanan berkurang terhadap radik saraf (dibuktikan banyak penulis. Hasil yang didapat 75% baik. Setelah injeksi ekstradural.Injeksi Intratekal Terutama kortikosteroid. Difusi dalam kantung dura. Karenanya obat yang disuntikkan harus aman . Dideposit pada rongga subarakhnoid lumbar. Keuntungannya obat tidak melalui sawar darah-cairan spinal hingga kadarnya dapat lebih tinggi dibanding pemberian oral atau parenteral. Sendi-sendi intervertebral dan foramina inter-vertebral terkena dan menimbulkan gejala. disini injeksi dapat langsung beraksi pada jaringan diskus intervertebral. perubahan degeneratif dapat terjadi pada cord tulang belakang. 5% sedang dan 9% buruk. Bila terjadi kehilangan cairan dan material diskus intervertebral. Depolimerisasi akibat rangsang kimia dari jaringan diskus intervertebral (khemonukleolisis) menyebabkan percepatan perubahan karena usia pada diskus intervertebral dengan membuang makromolekul diskus intervertebral. dapat terjadi perubahan pada volume. perlunakan dan perpindahan jaringan diskus intervertebral. Bahkan dosis kecil khimopapain yang mencapai rongga sub-arakhnoid menyebabkan perdarahan terutama terjadi bila dilakukan infus intravena (Sheally 1967. Komplikasi tersering adalah renjatan anafilaktik (Finnesson 1973). Setelah pemberian khimopapain terjadi penurunan jarak intervertebral. Terjadi pengerutan. Dengan menyuntikkan suatu substansi khondrolitik atau penurun tekanan. saraf dan otot.

intramuskuler atau intratekal. Haberland dan Mitis 1967).1%. Lindner 1975). Operasi hanya dilakukan bila nyeri hebat tidak berkurang dengan tindakan konservatif. Tindakan Bedah Dibanding jumlah pasien yang ditindak konservatif. Paresis akut otot-otot penting B.mengingat jenis aksinya berhubungan dengan jaringan saraf. Tabel 4 Indikasi Operasi Diskus Intervertebralis Lumbar ------------------------------------------------------A. Indikasi absolut untuk operasi adalah sindroma kauda ekuina dengan hilangnya fungsi berak dan kencing. 1. Mukopolisakharida yang bertanggung jawab atas hidrasi jaringan diskus intervertebral dinetralkan oleh Trasylol (Torok 1972). diskotomi tidak perlu. Reaksi alergik rendah (0. Ada obat lain dengan efek anti-inflamatori dan anti-edem yang dapat digunakan dengan lebih aman. Indikasi Hasil operasi diskus intervertebral lumbar beragam. Trasilol adalah polipeptida yang ditolerasi baik dalam dosis tinggi dan dapat digunakan intravena. kehilangan fungsi menetap akan terjadi. Relatif . Ia mempunyai daya gabung besar terhadap substansi dasar yang kaya khondroitin sulfat. Akhir-akhir ini digunakan Aprotinin (Trasylol) (Kramer 1974. Absolut 1. Pada paresis akut ekstensor kaki atau jari atau kuadriseps. Bila operasi tak dilakukan dalam beberapa jam. diharuskan operasi segera. sedikit sekali yang dioperasi. Jenis operasi yang paling sering dilakukan adalah membuang jaringan diskus intervertebral yang mengalami perpindahan yang menekan radik saraf dan disebut diskotomi. Sindroma kompresi kauda ekuina 2. Karenanya tekanan onkotik intradiskal berkurang (Kramer dan Laturnus 1975). karenanya perlu dipikirkan dengan serius apakah pasien harus dioperasi atau dirawat konservatif. Gangguan motor yang telah berlangsung lama tanpa gejala berat lainnya tidak pasti membaik dengan operasi karena dekompresi lambat radik saraf tidak akan mengurangi paresis. Bila ada kelemahan otot gluteal dan betis sebagai tanda sindroma S1. B. Diskotomi Lumbar a. terutama bila gejala lainnya sangat ringan.

Keadaan sosial juga penting dan terutama bila bekerja dengan membebani tulang belakang. Pada keadaan ini perlu dilihat apakah perbaikan mungkin didapat dengan tindakan konservatif termasuk injeksi lokal dan intra-diskal serta karenanya terjadi perbaikan dimana pasien dapat bekerja kembali. Gejala-gejala radik dan nyeri sakral mungkin berkurang selama periode panjang dari tindakan konservatif namun bila tulang belakang menjadi subjek beban.1. Bila tidak ada perbaikan dengan pasien ditempat tidur dan memakai analgesik terus menerus. indikasi operasi tidak boleh terlalu luas. Bila . Saat operasi paling sering dijumpai prolaps. Sindroma radik saraf khronik dengan distribusi nyeri dan tanda-tanda neurologik segmental 3. hasil tindakan sebelumnya. Syarat tindakan bedah adalah pasien telah menjalani tindakan konservatif termasuk istirahat tempat tidur ketat. Karena komplikasi setelah operasi. Usia pasien harus dipikirkan dan pada penderita berusia lebih dari 60 tahun operasi hanya dilakukan pada kasus terpilih dan perbaikan spontan sering terjadi. pasien umumnya meminta operasi. Walau setiap penentuan praoperatif sangat tergantung pada pemeriksaan diagnostik radiografik. Bila gejala menetap setelah 4-6 minggu tanpa tanda-tanda regresi. Sindroma radik saraf yang berat dan terusmenerus serta intraktabel 2. Sindroma radik saraf khronik dengan gangguan neurologis ringan atau tanpa sama sekali adalah kasus perbatasan untuk jenis tindakan. atau fragmen diskus yang mengalami inkarserasi ditemukan dibawah selaput tipis dari anulus fibrosus dorsal atau dibelakang ligamen longitudinal posterior. gejala mungkin timbul lagi. Data klinik adalah sama pentingnya dalam membuat keputusan. Adalah mengherankan bahwa gejala berat akibat kompresi radik saraf dapat menghilang selama tindakan konservatif adekuat dalam waktu singkat. Gejala lain seperti gangguan refleks dan hipestesi jarang mengganggu pasien. Hirsch dan Nachemson melaporkan hubungan antara tanda neurologik objektif dengan herniasi diskus sebesar 55 persen. hal ini bukanlah satu-satunya hal yang menentukan. kondisi sosial. usia. Hakelius melaporkan hubungan antara temuan klinik dan temuan patologik operatif sebesar 63 persen. Keputusan operasi pada kasus perbatasan adalah mielogram positif dan keinginan mutlak pasien. Serangan berulang nyeri pinggang bawah dan siatika dengan distribusi segmental tanda-tanda neurologik ------------------------------------------------------Indikasi relatif adalah bila disamping tanda-tanda dan gejala-gejala objektif terdapat faktor penting lainnya yaitu durasi gejala. kondisi mental penderita. operasi diindikasikan. Nyeri dan deformitas menyebabkan pasien menghendaki tindakan yang dapat mengubah keadaan.

Harus selalu diingat bahwa hubungan yang erat harus ada antara temuan klinik objektif dengan temuan radiografik positif dimana yang pertama adalah penyebab dari yang terakhir. Temuan radiografik positif pada penderita tanpa gejala disebut "false positive". Ini berlaku juga pada " hipokhondriak tulang belakang ". Diskotomi hanya dilakukan bila diagnosis sudah tegak. Atas hal tersebut. Penekanan yang berlebihan pada satu dari parameter tersebut dan mengabaikan dua lainnya akan berakibat kegagalan operatif.straight leg-raising test digabung dengan temuan neurologik objektif. Mencegah operasi dianjurkan pada diagnosis yang belum betul-betul jelas karena sindroma pascaoperasi yang parah bisa terjadi. Tes laboratori seperti laju endap darah serta perubahan radiologi harus benar-benar dianalisa sebelum operasi. Bila mielografi larut air positif digabung dengan straight leg-raising test dan defisit neurologik objektif. Kontra-indikasi Diperoleh sekunder dari indikasi. ketepatan diagnostik meningkat hingga 95 persen. Nyeri sakral terus menerus tanpa penjalaran bukanlah indikasi operasi diskus intervertebral. Istilah ini tidak seluruhnya benar karena yang betulbetul "false positive" menunjukkan betul-betul tiada kelainan dan harus dibuktikan dengan eksplorasi operatif yang negatif. ketepatan diagnostik meningkat hingga 86 persen. b. analisis harus hati-hati dilakukan hingga trauma operasi tak harus terjadi pada laminektomi yang tidak perlu. tidak dapat dipastikan apakah suatu kelainan radiografik adalah penyebab gejala. Pada sindroma radik yang belum jelas. Operasi tidak akan memecahkan masalah dan dikatakan :"Jangan sekali-kali melakukan operasi pada penderita yang dalam perawatan psikhiatrik". Tanpa tiadanya korelasi. kegagalan terutama adalah karena faktor diagnostik dari pada tehnik. Tabel 5 Kontraindikasi Diskotomi Lumbar ---------------------------------------------------------------Nyeri pinggang bawah tanpa penjalaran Diagnosis yang belum tegak Pasien tidak berkehendak Hipokhondriak tulang belakang --------------------------------------------------------------- -- . Pada keadaan ini dilakukan fusi. Siatika berat dapat disebabkan tumor atau spondilitis.

Posisi terbaik antaranya adalah telungkup pada lutut yang ditekuk. adakalanya perlu membuang sebagian arkus ruas tulang belakang (laminotomi) atau membuang in toto pada . Arkus ruas tulang belakang dicapai dan kanal spinal dicapai melalui ligamen flavum yang dibuka. d. Kifosis maksimal tulang belakang lumbar dan penurunan kecenderungan atas perdarahan epidural memberikan kondisi operasi yang baik. Juga diberitahu akan rasa tidak nyaman dan nyeri dapat timbul lagi tidak hanya dari segmen berdekatan namun juga dari segmen yang dioperasi. Analisa gas darah serta tekanan vena sentral tidak menunjukkan perbedaan terhadap nilai normal (Ghazvinian dan Kramer 1974). Fasia disayat serta otot lumbar disisihkan dan diretraksi. Mungkin juga hambatan penyembuhan luka atau akibat dari anestesi. Disebut flavektomi atau fenestrasi. Dalam usaha mendapatkan radik saraf lebih jelas. namun dapat mempertahankan venous return serta juga respirasi abdominal dan dada yang normal. tidak berarti bahwa penolakan harus dilakukan terhadap kedua jenis tindakan tersebut. Pemberitahuan Kepada Pasien Sebelum operasi diharuskan memberitahukan pada penderita bahwa operasi hanya mengobati siatika dan kelainan diskus intervertebral tetap ada serta akan memberi gejala yang sama seperti sebelumnya. Diskotomi Lumbar Pengangkatan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi adalah operasi standard. Kadang-kadang pembuluh besar abdominal mengalami perforasi. c. Pasien kelompok B (tabel 4) dan tidak merasa perlu untuk dioperasi jangan dibujuk karena sangat kecil jaminan yang dapat diberikan atas perbaikan yang sempurna dan harus dijelaskan bahwa setelah operasi keadaan mungkin tetap atau malahan memburuk. Dengan mengabaikan kenyataan bahwa kumatnya gejala mungkin terjadi setelah tindakan konservatif maupun operatif. Operasi dapat dilakukan pada posisi miring atau telungkup.Secara diagnostik kasus ini dapat ditemukan karena perbedaan yang besar antara gejala subyektif dan tanda-tanda obyektif. Karena komplikasi mungkin timbul akibat operasi. 106 dari 3000 ahli bedah saraf dan bedah tulang pernah mengalaminya (De Saussure 1959). Anestesi umum dengan intubasi. Kulit disayat diatas prosesus spinosus tulang belakang lumbar bagian bawah. harus diberitahukan bahwa cedera operasi mungkin mengenai radik saraf dan dura. Posisi ini menyebabkan beberapa hambatan bagi anestetis.

29%. dianjurkan mobilisasi dan pembebanan dilakukan bertahap dan menggunakan penyangga ketiak seta bebat traksi. jaringan diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi juga dibuang dalam usaha mengurangi rekurensi. Mikroskop operasi menyederhanakan dan memperbaiki teknik operasi. Karena kifosis lumbar tak tercegah saat duduk. namun tidak ada kontraindikasi mobilisasi segera. Penggantian jaringan yang dibuang dengan implan buatan tidak memberi keuntungan. Menurut Oppel dan Schramm (1976) sekitar 0. rawat pembuluh tersebut. anulus fibrosus dan tulang rawan. f. Pasien harus bergerak seperti tahap awal lumbago akut dengan tulang belakang lumbar yang terfiksasi. lakukan laparotomi. masalah penyembuhan luka dan trombo-embolisme pasca operatif yang biasa terjadi pada operasi. Bila pengangkatan radikal dari diskus intervertebral dilakukan. Kemampuan biomekanik segmen tidak boleh terganggu dan pembebanan aksial tulang belakang sangat berbahaya. Akar saraf diretraksi dan jaringan diskus intervertebral yang prolaps atau membengkak dibuang. balikkan pasien. Defek akibat operasi pada saatnya menyembuh dengan jaringan parut. Bagian posterior diskus intervertebral mungkin dibuang secara radikal. e. kauda dan dura intra-operatif yang kelak dapat menyebabkan meningokel atau sinus cairan spinal. Finnesson 1973). namun ini tidak penting. Bila terjadi.satu sisi (hemi laminektoni). Salah satu komplikasi serius adalah perforasi pembuluh besar abdominal seperti arteri dan vena iliak. Adalah lesi radik saraf. Komplikasi Sedikit pada operasi diskus intervertebral. Tidak ada kasus dari lesi kauda. Setelah prolaps dibuang. ada komplikasi khusus diskotomi namun jarang terjadi. Kemampuan biomekanik tulang belakang lumbar tidak terganggu oleh laminektomi sepanjang sendi-sendi intervertebral tetap intak. Pembuangan arkus tulang belakang tidak merubah perjalanan kelainan diskus intervertebral degeneratif (Schulitz 1970. Perawatan Pasca Operatif Profilaksi umum terhadap kemungkinan trombo-embolisme adalah mobilisasi segera yang dimulai hari kedua atau ketiga pasca operasi. namun perlu betul-betul menentukan lokasi prolaps pra-operatif. Inklinasi lateral dan kifosis tulang belakang lumbar harus dicegah karena penyembuhan luka akan terganggu. Disamping komplikasi anestesi. Fragmen mengandung baik nukleus pulposus. maka tidak diizinkan duduk kecuali pada posisi . dan fisioterapis mengajar pasien bagaimana melakukan gerakan selama awal masa pasca operasi.

Pengangkatan prolaps total memberikan hasil terbaik.3 persen setelah diskektomi dan setidaknya 99. Rasa tak enak dan nyeri karena degenerasi diskus intervertebral tak dapat dihilangkan oleh diskotomi. Rasa Tidak Nyaman Pasca Operatif Sindroma Pasca Diskotomi . pasien dengan herniasi sangat besar yang pasti menyebabkan penekanan neural. Usia: penambahan usia memperburuk hasil. Terdapat perbedaan indikasi serta penilaian sangat subjektif. Thomalaske (1977) melaporkan bahwa faktor psikis menyebabkan pasien cenderung mengalihkan nyeri yang dideritanya sebagai akibat operasi. yang akan diuntungkan oleh operasi dekompresif. Pada operasi diskus intervertebral yang sangat luas.5 persen berkesempatan untuk pulih sebagian. sedang) dijumpai pada 80%-90%. mempunyai kesempatan atas hilangnya siatika secara lengkap sebesar 90. penderita bergerak lebih aktif dan bila luka sudah lebih kuat gerakan ditingkatkan lagi. 2. h. Riwayat penyakit: riwayat gejala singkat memberikan hasil lebih baik dibanding yang sudah berjalan beberapa tahun. g. Disimpulkan bahwa tindakan konservatif harus diambil selama mungkin sebelum suatu operasi diputuskan. Siatika yang disebabkan protrusi atau pembengkakkan akan memberikan hasil baik pada 40-65%. Bila jahitan sudah diangkat. menarik dan membungkuk. Spangfort (1972) membuktikan bahwa hasil berkaitan dengan temuan operasi.bersandar 450. Hasil buruk pada 10%. Tingkat keberhasilan berdasar pengurangan gejala radikular. Secara spesifik. Gejala radikular menetap diakibatkan: 1. penderita dimobilisasi dengan bantuan pengikat pelvik. disaat lain pada penderita dengan eksplorasi negatif hanya mempunyai kesempatan 38.4 persen untuk mendapatkan adanya perbaikan. baik. Hasil menggembirakan (sangat baik. Temuan operatif: prolaps masif yang dapat dibuang akan memberi hasil lebih baik dibanding protrusi atau pembengkakan kecil dari jaringan diskus intervertebral. Kebanyakan pasien mengalami pengulangan nyeri sakral dan akan memberat pada saat mengangkat beban. Spangfort juga menemukan bahwa derajat herniasi diskus merupakan faktor yang paling penting yang menentukan hasil operasi setelah diskektomi. Dari hal tersebut jelas bahwa faktor kunci dalam menduga hasil operasi adalah kompresi neural yang pasti. Hasil Bervariasi. 3.

arakhnoiditis. juga tersisa nyeri dari sindroma radik saraf. dikarenakan perlengketan serta jaringan parut pada radik-radik saraf dan dura. berulangnya prolaps mungkin menyebabkan nyeri pasca operasi dan pembentukan perlengketan yang menyebabkan reoperasi menjadi sulit. Arakhnoiditis lokal pasca operasi mungkin timbul dan menurut Burton (1977) dibagi empat tahap yang tumpang tindih: 1. -- . Ada beberapa alasan untuk timbulnya nyeri radik saraf dan deformitas. Alasan lain untuk nyeri pasca operasi adalah gagalnya mengenal tingkat yang tepat. Keadaan tersebut didiagnosa dengan mielografi dan pada operasi yang berhasil. Disebut sindroma pasca diskotomi. Timbulnya prolaps atau protrusi pada segmen yang bukan dioperasi bukanlah karena operasi primer. Bila dekompresi radik tidak sempurna. infeksi dalam dan diskitis yang khas dengan peninggian suhu dan akhirnya dapat diperlihatkan secara radio-grafi. Gejala radik menetap yang serupa dengan gejala sebelum operasi menandakan efek penyebab dari tekanan mekanik. nyeri pasca operasi akan timbul. yang timbul sebagai bagian dari sindroma S1. arakhnoiditis adhesif tahap 2. Satu kelompok yang perlu perhatian khusus adalah menetapnya rasa tidak enak atau nyeri pasca operasi. gejala dapat hilang spontan dan dapat diobati dengan berhasil secara stimulasi elektrik dan blok simpatetik lumbar. radikulitis. Lebih lanjut. yang bisa menetap atau hilang setelah diskotomi. Hipestesi. Tabel 6 Penyebab Nyeri yang Menetap atau Berulangnya Siatika setelah Operasi Diskus Intervertebral Lumbar --------------------------------------------------------------Dekompresi radik saraf tidak cukup Berulangnya prolaps pada segmen yang sama Prolaps atau protrusi pada segmen lain Sindroma pasca diskotomi Infeksi dalam ---------------------------------------------------------------Gejala lain pada sindroma pasca diskotomi adalah tanda-tanda dari sistem vegetatif seperti kehilangan temperatur (tungkai siatik dingin) dan perubahan sirkulasi dan juga kram betis. 4. refleks dan gangguan motor akan pulih dalam beberapa bulan. Sebagai pegangan. 3.Hanya kadang-kadang pasien terbebas secara sempurna dari gejala setelah operasi diskus intervertebral (tabel 6). arakhnoiditis adhesif tahap 1. Disamping nyeri dari luka. 2.

Teknik operasi karenanya harus teliti dan perdarahan harus ditekan dengan koagulasielektro sebaik mungkin. Indikasi dan tehnik fusi lumbar untuk kelainan diskus inter-vertebral degeneratif berubah dalam tiga dekade terakhir. Tujuan pengobatan adalah membuat stabilisasi tulang belakang yang dapat dicapai dengan fusi. Tidak ada indentasi lokal terhadap medium kontras hingga akan merupakan kontra-indikasi diskotomi kedua pada tingkat bersangkutan. radik-radik saraf dan kanal spinal hanya memungkinkan gerakan bebas nyeri yang terbatas. makin luas reaksi jaringan akan terjadi. Pita jaringan ikat bekerja seperti gergaji terhadap radik saraf. Makin banyak manipulasi selama operasi. Umumnya rencana tindakan yang paling diterima adalah neurolisis digabung dengan tandur lemak pedikel (Gill 1979). neurolisis. Operasi untuk sindroma pasca diskotomi seperti laminektomi luas. Kantung radik melekat pada radik saraf dan tidak dapat diperlihatkan. yang mungkin menimbulkan gejala. Komponen lain kelainan diskus intervertebral tidak dipengaruhi oleh tindakan ini hingga ketidakstabilan intervertebral tetap adanya. Teknik operasi yang baik akan mengurangi risiko sindroma pasca operasi walau tidak menghilangkannya sama sekali. spondilodesis dikombinasikan dengan eksplorasi radik saraf. Pada pasien muda sehat dengan sindroma pasca diskotomi. Oppel dan Schramm (1976) menemukan bahwa pada penderita dengan komplikasi pasca operasi ditemukan sejumlah besar kelainan psikik yang tak tampak sebelum operasi namun tampaknya dirangsang oleh penyakitnya serta tindakannya. Perlengketan yang terbentuk antara kantung dura. membersihkan radik saraf dari jaringan parut. Mielografi menunjukkan jaringan ikat yang mempersempit kantung dura. Sedikit membungkuk dengan kifosis tulang belakang lumbar akan memperberat nyeri dan deformitas.Rongga subarakhnoid dan epidural menjadi massa jaringan parut yang besar yang akhirnya menyebabkan iritasi terus menerus terhadap radik-radik saraf. Fusi Pada diskotomi penekanan pada radik saraf dibuang. Spondilodesis adalah tindakan sekunder khusus pada sindroma diskus inter-vertebral. C. menimbulkan masalah sulit karena tindakan konservatif sering gagal dan pasien kesulitan kembali pada pekerjaannya. Ini meninggikan kepekaan terhadap gangguan mekanik. Mula-mula fusi merupakan prosedur umum namun karena hasilnya tidak terlalu baik karena tingginya tingkat nonunion. Pengangkatan jaringan diskus intervertebral yang . Sindroma pasca diskotomi khas dengan penjalaran nyeri bilateral poliradikuler dan hipestesi. membawa bahaya akan terbentuknya jaringan parut lebih lanjut dengan berlanjutnya rasa tidak enak dan nyeri.

namun kemudian hari mungkin menjadi tindakan satu-satunya. Sebagai pembantu diagnosis.7) adalah nyeri sakral terus menerus dan tak tertanggungkan. Keadaan ini dapat timbul bila pada hemilaminektomi bagian medial sendi intervertebral dibuang. Hanya pada kasus-kasus tersebut operasi dilakukan. Beberapa tehnik sudah dikemukakan untuk fusi lumbar. Ini harus digabung dengan eksplorasi radik saraf. Adalah mengherankan bahwa setelah eksisi radikal diskus intervertebral dan dengan segmen yang tak stabil. Nyeri sakral menetap setelah diskotomi adalah tanda ketidakstabilan segmen akibat degenerasi diskus intervertebral dan pengangkatan operatif diskus intervertebral. dengan peningkatan ketidak-stabilan segmen objektif. Tabel 7 Indikasi Fusi pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Nyeri sakral hebat menetap pasca diskotomi Segmen takstabil serta nyeri yang diakibatkannya Osteokhondrosis serta spondilosis dengan nyeri pinggang bawah berat ------------------------------------------------------Bila siatika diakibatkan prolaps atau prolaps yang berulang setelah diskotomi. Albee (1911) menganjurkan tandur tibial. Lagipula pada pasien dengan spondilodesis yang gagal. Tehnik ini sering berakibat nonunion. Indikasi fusi lumbar (tabel II. sedikit rasa tidak enak yang timbul setelah operasi. kebebasan sempurna dari rasa nyeri dan tidak enak dapat disaksikan. dan penderita dengan fusi berhasil sempurna mungkin tetap menderita nyeri. fusi tidak diindikasikan. Kesimpulannya diduga setelah diskotomi prognosisnya adalah tanda tanya. tanpa bahaya yang terlalu besar. Prosedur yang diterima tampaknya adalah fusi . sendi dapat disuntik dengan anestetik lokal dimana nyeri khas akan hilang.berpindah atau melunak juga menjadi prosedur yang dianjurkan dalam hubungannya dengan dekompresi radik saraf. dan fusi menjadi prosedur sekunder. dimana kanal spinal dapat dibuka. Nyeri dapat dikurangi dengan cast plastik yang baik. Tidak perlu dikatakan bahwa operasi harus didahului mielografi. Osteo-arthrosis mungkin timbul pada segmen. Bosworth (1945) menganjurkan tandur clothes-peg (tandur H). Spondilodesis anterior intercorporal seperti yang dianjurkan Harmon (1963) tidak memungkinkan eksplorasi kanal spinal secara bersamaan. Mungkin juga didapat osteo-artrosis yang terbatas pada sendi intervertebral lumbar (spondiloarthrosis) dengan nyeri pinggang bawah dan pada tiap keadaan ini fusi diindikasikan.

fusi lateral dengan tandur cancellous bone menjadi populer (Wiltse 1968. Diperkirakan fusi yang cepat pada operasi skoliosis dengan tandur cancellous bone memberikan kegunaan yang sama pada fusi tulang belakang lumbar. Fusi dapat dilakukan walau pada laminektomi. biasanya memakan waktu 3-4 bulan. Selama operasi terdapat kesempatan membuka kanal spinal dan bisa melihat radik saraf serta juga untuk membuang jaringan diskus intervertebral. Finneson (1973). seperti misalnya lumbosakral. Duduk pada kursi yang dalam dan tidak nyaman tidak diperkenankan. dan rasa nyeri serta tidak enak mungkin bertambah pada daerah ini. Setelah fusi pasien harus memulai aktifitas secara bertahap perlahan karena pada setiap sisi fusi stres mekanik meninggi. Karenanya menjadi blok tulang yang memanjang diatas sendi dan prosesus transversus. 1963). Revaskularisasi dan reosifikasi pada daerah ini lebih baik dari aspek medial arkus ruas tulang belakang. Karena hanya satu segmen yang berfusi. Polster dan Hoefert (1974) memperlihatkan pada percobaan bio-mekanik bahwa spondilodesis posterolateral memberikan stabilitas terbaik. Schmorl dan Junghanns (1968). Stabilitas lebih masuk akal dari pada spondilodesis interkorporal. Hohmann (1974) dan Exner (1974). Terdapat kesulitan teknis pada tindakan ini karena daerah yang sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk menarik dura dan radik saraf.interkorporal posterior menurut Cloward (1953. De Palma dan Rothman 1970. Bila beberapa segmen difusikan. Nyeri yang dikira akibat mobilitas segmen berkurang dengan stabilisasi dan terutama atas foramina intervertebral. diskus intervertebral diinsisi serta tandur corticocancellous dari krista iliaka dapat diinsersikan kedalam ruas tulang belakang . Spondilodesis adalah rantai terakhir sepanjang rantai terapeutik dan diharap memenuhi semua harapan yang sangat optimistis. Namun pasien harus bangkit "en bloc" hingga tulang belakang lumbar tidak kifosis (Mau 1974). Tingkat terjadinya pseudo-artrosis sangat kecil bila dibandingkan dengan metoda fusi lain (McNab dan Dall 1971). pasien harus memakai cast plester. McNab dan Dall 1971. Brace ini harus dipakai hingga fusi terjadi. Mau 1974. Cancellous bone digunakan diatas prosesus transversus dan mencakup artikulasi intervertebral. Aspek posterior ruas tulang belakang harus diperlebar. Setelah hemilaminektomi. 2. Brussatis 1976). pasien bisa keluar dari tempat tidur pada hari ketiga setelah operasi tanpa fiksasi apapun. Daerah posterolateral lebih baik sebagai tempat fusi karena berbagai alasan: 1. . Beberapa tahun terakhir. 3.

namun stabilisasi lebih lanjut dapat dengan penguatan otot-otot. Dengan pembatasan pergerakan. tulang belakang lumbar menjadi distabilkan dan terpaku pada pelvis oleh otot spinal dan karenanya tidak mudah ditekuk hingga lebih berperan sebagai pilar penyangga. Perlu mendapatkan ko-operasi baik dari pasien. Dalam mencegah agar segmen tidak mengalami dislokasi lagi serta jaringan intradiskal tidak bergeser lagi. Jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi dipertahankan dalam keadaan setenang mungkin. perlu menstabilkan segmen secara aktif dan pasif.PROFILAKSI DAN REHABILITASI PADA SINDROMA DISKUS INTERVERTEBRALIS LUMBAR Setelah mendapatkan sejumlah keberhasilan pengobatan gangguan fungsional sistem lokomotif. Diatas itu semua. Fleksi kedepan tulang belakang lumbar tidak diperbolehkan. Secara pasif dapat digunakan ortoses. Pada tulang belakang yang lurus diskus intervertebral lumbar akan dibebani setangkup sehingga risiko dari lesi yang baru dapat dicegah. berdiri dan duduk yang benar. perlu mempertahankan hasil yang didapat dari berbagai prosedur dengan mencegah terjadinya kembali protrusi jaringan diskus intervertebral. Stabilisasi eksternal harus dilakukan. dan menurut Schmorl dan Junghanns (1968) stres mekanikal yang memperberat harus disingkirkan. Pada kelainan diskus intervertebral degeneratif tak dapat diperkirakan bahwa jaringan akan menjadi stabil sendiri secara cepat serta spontan. Pasien selama fase pertama rehabilitasi harus dicegah mengangkat objek yang berat serta mengangkat saat membungkuk dan juga mencegah gerakan torsi tulang belakang. Mempertahankan suatu posisi posterior yang tidak menyenangkan mungkin berakibat berulangnya gejala dan karenanya perlu menyarankan agar penderita tetap pada posisi berbaring. berulangnya iritasi mekanik atas radik saraf harus dicegah. Fisioterapi berperan penting dalam profilaksi dan rehabilitasi sindroma lumbar. . Tulang belakang dipertahankan pada posisi netral hingga pergeseran intradiskal yang baru dapat dicegah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful