KELAINAN DEGENERATIF ___________________________________ I.

HERNIASI DISKUS INTERVERTEBRAL Perubahan degeneratif pada diskus intervertebral merupakan penyebab tersering nyeri pinggang. Penyebab lain antara lain kelainan kongenital, perkembangan, inflamasi, serta tumor, yang secara kepentingan klinis adalah sekunder namun mungkin berakibat perubahan yang serupa pada diskus intervertebral. Peningkatan pengetahuan terhadap gangguan penampilan dan fungsi tulang belakang menimbulkan minat yang lebih besar. Ini tidak hanya karena gangguan yang umum terhadap diskus intervertebral, namun juga terhadap akibat yang ditimbulkan pada struktur yang berdekatan. Hubungan langsung antara diskus intervertebral yang mengalami herniasi dengan siatika dianggap mempunyai basis morfologikal. Namun terpakunya pada perubahan patomorfologikal sebagai penyebab gejala mengantarkan pada situasi adanya kelainan fungsional tulang belakang yang ternyata tanpa disertai patomorfologi yang jelas. Terbukti bahwa pengangkatan secara operatif terhadap prolaps tidak memecahkan semua masalah. Juga ditemukan adanya perbedaan yang mengejutkan antara perubahan patomorfologikal dan radiografik pada satu sisi dan gejala disisi lain. Perubahan bentuk dan fungsi tidak selalu berhubungan dengan penampilan klinis segmen bersangkutan. Jadi suatu deformitas tidak perlu menunjukkan perasaan tidak enak. Buktinya adalah skoliosis dan kifosis pada remaja dapat menjadi lengkap tanpa gejala. Juga sering ditemukan pada foto sinar-X untuk keperluan lain, adanya tanda-tanda perubahan degeneratif pada penderita yang menyangkal adanya keluhan. Lamanya waktu yang diperlukan untuk berkembangnya suatu deformitas sering menentukan onset dari gejala. Kompresi mendadak satu atau lebih radik saraf pada fraktura atau herniasi diskus intervertebral akan menimbulkan nyeri segera dan berat. Sebaliknya bila radik saraf mengalami konstriksi secara lambat dalam beberapa tahun, seperti yang sering tampak pada skoliosis, spondilolistesis atau penyakit diskus intervertebral degeneratif pada tulang belakang, radik saraf jelas menyesuaikan diri secara perlahan terhadap restriksi hingga gejala neurologi jarang timbul. Bila terjadi cedera puntir mendadak, berakibat iritasi radik saraf dengan terjadinya edem pada radik saraf tersebut. Pada saat ini sikap fungsional dan dinamik kita berdasarkan kepada informasi baru, baik mengenai pendekatan biokimia maupun bio-mekanik terhadap diskus intervertebral yang tidak perlu merupakan tempat perubahan morfologik, namun lebih merupakan pusat proses metabolik yang menyebabkan perubahan bentuk, konsistensi dan volume, yang semuanya merubah fungsi tulang belakang.

Junghans (1951) telah membuat gambaran tentang "motion segment" ("Bewegungssegment"). Termasuk dua ruas tulang belakang yang berhubungan beserta diskus intervertebralnya, ligamen serta otot yang bersama-sama membentuk kesatuan fungsional. Kegagalan satu komponen merubah fungsi yang lainnya. Akibat berbagai respons metabolik terhadap stimulasi biomekanik, diskus intervertebral lebih sering merupakan asal ketidak-mampuan pada "motion segment". Ini terutama jelas pada tulang belakang leher bawah dan lumbar yang relatif merupakan bagian yang kaku, yaitu hubungan servikal-torasik dan sakrum yang tak dapat bergerak pada daerah lumbar, yang berhubungan dengan tulang belakang lumbar bawah. Sebagai tambahan harus diingat kondisi anatomi yang sempit yang terdapat antara daerah yang secara bertahap tidak dapat bergerak serta munculnya radik saraf . Lebih sering penyakit diskus inter-vertebral terbatas pada daerah segmen leher bawah dan lumbar bawah. Adalah perlu menemukan hal-hal yang utama pada kelainan diskus intervertebral untuk menyederhanakan suatu diagnosa serta tindakan. Misalnya perubahan postur yang berhubungan dengan nyeri. Dalam tindakan, metoda yang mungkin dilakukan diambil yang paling sederhana. Baik dalam diagnosa maupun tindakan , perlu melihat kembali kemajuan yang telah terbukti tidak berbahaya atas penyakit diskus intervertebral. Karena sindroma diskus intervertebral biasanya menyerang orang muda, adalah penting bahwa setelah pengobatan seorang dokter harus menganjurkan latihan harian yang cukup pada pasien. Pada hari-hari pertama didapat perasaan yang negatif terhadap onset yang tidak dapat diterima dan sering dengan perjalanan yang berbahaya dari penyakit diskus intervertebral. Bagaimanapun saat ini ada alasan untuk mengambil pendekatan yang lebih optimistik terhadap sejumlah kemungkinan yang tersedia disertai profilaksi dan rehabilitasi dengan perencanaan yang lebih baik. Frekuensi dan intensitas sindroma servikal dan lumbar mungkin berubah. Penyakit yang berasal dari diskus intervertebral juga disebut diskogenik. Gejala yang berasal dari sendi apofiseal dan/atau ligamen juga dipandang sebagai diskogenik oleh karena kelainan pada diskus intervertebral sering merupakan penyebab yang mempercepat timbulnya gejala. Walaupun tidak ada hubungan filogenetik, diskus intervertebral dan ruas tulang belakang berdekatan membentuk suatu kesatuan biomekanik, dan pada diseksi, diskus intervertebral dapat diangkat intoto dari antara dua dataran akhir (end plate) ruas tulang belakang bersangkutan. Diskus intervertebral sendiri adalah sendi utama tulang belakang dan jenisnya disebut amfi-artrosis. Sendi posterior juga disebut sendi apofiseal. Ini merupakan suatu sendi sejati (diartrosis) yang dapat dikatakan sebagai sendi vertebral. Pengetahuan tentang patologi diskus intervertebral serta tanda dan gejalanya sudah diketahui

lebih dari setengah abad. Namun pendapat tentang penyebab dan pengobatan berbeda sangat luas. Ini tampak dengan adanya berbagai terminologi. Sebelum Mixter dan Barr (1934) menjelaskan bahwa siatika disebabkan oleh kompresi radik saraf pada diskus intervertebral yang mengalami sekuesterisasi, juga dipikirkan bahwa diskus intervertebral yang mengalami herniasi mengandung tumor tulang rawan yang disebut "kordoma ekstradural anterior" (Steinke 1918, Clymer 1921, Adson dan Ott 1922, Ellsberg 1928). Bradford dan Spurling (1950) menggunakan istilah "protrusi" untuk diskus yang menonjol, dan membedakannya dari nukleus pulposus diskus yang ruptur atau mengalami herniasi yang pada saat ini dikenal sebagai "prolaps". Jaringan diskus intervertebral yang mengalami herniasi berisi tidak hanya material dari nukleus pulposus namun juga dari anulus fibrosus. Seperti telah dijelaskan, pernyataan "protrusi" digunakan untuk menunjukkan penonjolan diskus keposterior tanpa rupturnya anulus fibrosus. Sekali lagi, bila anulus fibrosus telah mengalami perforasi dan jaringan diskus mengalami penetrasi kerongga epidural, digunakan pernyataan "prolaps". Suatu ruptur tanpa protrusi eksternal melalui anulus disebut "ruptur intradiskal". Sekali terbentuk fragmen, mereka disebut juga "sekuestrum" dan dapat mengalami dislokasi. Pergerakan dari satu sisi kesisi lainnya sering menimbulkan gejala siatik yang berubah-ubah tergantung pada lokasinya. Melunaknya serta rupturnya diskus intervertebral disebabkan perubahan fisiologis substansi diskus, yang disebut sebagai "khondrosis inter-vertebral" (Schmorl dan Junghanns 1968). Dengan pengertian ini maka semua perubahan yang didapat disimpulkan sebagai "degenerasi diskus intervertebral". Perubahan degenerasi bagaimanapun tidak dibatasi hanya pada tulang rawan yang disebut sebagai "khondrosis", namun juga mengenai seluruh diskus intervertebral. Untuk alasan ini dianjurkan digunakan istilah "diskosis", yaitu artrosis-artritis; diskosis-diskitis (akhiran osis berarti perubahan degeneratif). Jadi perubahan patologis, biokimia dan biomekanik menjadi jelas dengan satu istilah. Diskus intervertebral tidak mengalami regenerasi. Degenerasi diskus intervertebral tidak perlu menimbulkan gejala namun mungkin mempunyai pertanda yang sangat jelas. Hal serupa juga berlaku terhadap perubahan pada dataran akhir ruas tulang belakang. Schmorl (1932) menganjurkan istilah osteo-khondrosis terhadap adanya perlunakan substansi diskus inter-vertebral yang bersamaan dengan perubahan pengapuran pada dataran akhir. Secara radiografi, tanda yang paling jelas dari kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah spondilosis. Ini termasuk spur tulang yang nyata pada tepi ruas tulang belakang dimana melekat ligamen longitudinal posterior. Pada aspek posterior setiap perubahan spondilotik tidak tampak pada beberapa tempat dimana ligamen longitudinal posterior melekat pada

diskus intervertebral. Spondilosis dan osteokhondrosis sering digunakan sebagai diagnosis, walau tanpa kelainan lain yang jelas yang menunjukkan tanda-tanda peningkatan usia, dan dapat dibandingkan terhadap perkembangan tumbuhnya uban dan berkerutnya kulit. Usia secara sederhana adalah proses fisiologik yang terjadi pada semua struktur serupa. Pada diskus intervertebral perubahan usia terjadi lebih awal akibat pengaruh nutrisional dan biomekanik yang menimbulkan perubahan yang tidak dijumpai pada struktur lain. Karenanya nasib alamiah dan biologik dari diskus inter-vertebral adalah penuaan yang lebih awal. Pada orang tua spondilosis dan osteokhondrosis selalu dapat diperlihatkan tanpa perlu menimbulkan gejala. Disamping diskosis, pernyataan "degenerasi diskus intervertebral" harus dipegang karena diterima secara internasional. Penampilan gejala mungkin bisa dimengerti pada istilah ini, yang bagaimanapun tidak perlu menggambarkan latar belakang morfologik. Degenerasi adalah istilah morfologik sejati yang tidak mempunyai arti klinis sebagai perubahan struktural, tidak mempunyai fungsi yang terganggu atau gejala. Sekali gejala bentuk apapun terjadi, tampaknya benar bila dikatakan tentang kelainan diskus intervertebral berdasarkan perubahan degeneratif. Ada deviasi pada aksis tulang belakang baik pada bidang frontal maupun sagital. Ini mungkin berakibat tenaga yang tak-setangkup terhadap diskus intervertebral. Pada bagian yang cekung yang mendapat catu makanan buruk, perubahan degenerasi diskus intervertebral terjadi lebih cepat. Akibatnya ruptur dan perlunakan lebih sering terjadi didaerah ini. Analog dengan deformitas prearthrotik, sudah dipikirkan bahwa deformitas postur, yaitu tekukan pelvis, kifosis, hemivertebra dan skoliosis adalah pertanda adanya suatu diskosis awal, serta karenanya deformitas prediskotik. Sekali lagi struktur morfologik tidak membawa kepentingan klinik. Bagaimanapun daerah dengan perubahan ini lebih cenderung terkena penyakit dengan gejalanya. Sebagaimana diketahui, inflamasi adalah khas dengan akhiran itis. Infeksi diskus intervertebral dikenal sebagai "diskitis". Pada beberapa instansi diskitis bukan dikarenakan infeksi dan ditempat lainnya dikarenakan infeksi. Sebagai contoh, sangat sering setelah penyuntikan khimopapain pada pasien mungkin menimbulkan keadaaan inflamatori diskus intervertebral yang berakhir setelah beberapa minggu tanpa adanya infeksi. Bagaimanapun ada infeksi diskus intervertebral yang disebut "diskitis". Infeksi ruas tulang belakang disebut "spondilitis". Pada keadaan dimana terjadi inflamasi yang bersamaan dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral yang berdekatan karenanya disebut "spondilodiskitis". Walau suatu spondilitis menyangkut infeksi bakterial dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral, infeksi diskus intervertebral biasanya mendominasi gambaran klinis. Secara umum , "spondilo-

"Lumbago" [lumbago. -------------------------------------------------------Istilah Penjelasan -------------------------------------------------------Anulus fibrosus Bagian seperti cincin melingkar (Anulus fibrosus) pada diskus intervertebral. Nyeri menjalar ke tungkai. Untuk pengertian klinis dan praktis terbaik. Apophyseal joint (Sendi apofiseal) Sendi diatelial.f. -inis. adalah simptomatologi yang menyangkut kelainan radikular. Pada tulang belakang lumbar. penentuan dapat dibuat antar gejala lokal yang terbatas pada regio lumbar dan yang bersamaan dengan nyeri yang menjalar keekstremitas bawah. alasan lain adalah bahwa penyakit diskus intervertebral terutama terjadi pada daerah servikal dan lumbar dan penyakit dari sumber lain didaerah ini adalah kekecualian. yang terbentuk dari jaringan fibrokartilago dan fibrosa. Untuk menyatakan keadaan umum ini sebagai "lumbago". Sindroma lumbar lokal khas dengan gejala yang lebih merata dan tidak terbatas pada satu radik saraf dengan gangguan segmental namun secara luas diterima sebagai barasal dari diskus inter-vertebral. Istilah "sindroma servikal. perlu analisa yang mendalam dari penyakit diskus intervertebral. Istilah umum untuk nyeri radikular yang berasal dari tulang belakang lumbar adalah sindroma radik saraf lumbar. namun tidak selalu diikuti distribusi siatika karena sindroma radik saraf lumbar yang lebih tinggi berasal dari kompresi serabut anterior radik kedua. Ini yang umum disebut nyeri pinggang bawah (low back pain).diskitis" hanya digunakan bila tulang belakang terserang pada penyakit rematik. Istilah ini semata-mata menunjukkan dari bagian tulang belakang yang mana gejala berasal. ketiga dan keempat semata. juga disebut sendi tulang belakang. Tahap akut pada saatnya diikuti tingkat kronik. (lat): paralisis lumbar] adalah istilah umum yang digunakan untuk nyeri hebat pada daerah lumbar yang bersamaan dengan penurunan mobilitas. Ini hanya merupakan satu dari sindroma lumbar lokal. Satu alasan adalah bahwa mereka digunakan dalam bahasa medik sehari-hari dan karenanya sulit untuk diabaikan. sumsum tulang belakang atau serebral. Karenanya kita mungkin menetapkan secara teguh pernyataan ini. tidak akan benar secara terminologi. torak dan lumbar" adalah tidak sempurna dan tidak memungkinkan menilai etiologi dan patogenesis. . Tabel 1 Istilah yang umum digunakan dan penjelasannya. Sebagai tambahan terhadap gejala lokal yang umum yaitu gejala dari daerah tulang belakang yang terbatas.

Diskitis (Diskitis) Diskosis (Diskosis) Inflamasi atau infeksi terbatas pada diskus intervertebral. Disk injection Menyuntikkan baik media kontras ma(Penyuntikan diskus) upun obat obatan kedalam diskus intervertebralis. Perubahan degeneratif pada sendi ruas tulang belakang terutama yang bersamaan dengan degenerasi diskus intervertebral. Membuang setengah dari arkus ruas tulang belakang. Terbentuk oleh tiga bagian. Biasanya terdiri dari hemifasetektomi dengan membuang aspek mesial dari baik faset superior maupun inferior dari sendi tersebut. Memperluas foramen intervertebral yang menyempit. suatu amfiartrosis. Perubahan biomekanik dan patologik pada diskus intervertebral berhubungan dengan perubahan degeneratif yang serupa. Sendi utama antara dua badan tulang belakang. Mengangkat bagian yang lepas maupun yang telah mengalami degenerasi dari diskus intervertebral.Tulang rawan hialin pada dataran plates tepi tulang belakang. Internal disk dearangement (Kerusakan susunan diskus internal) Intervertebral disk (Diskus intervertebral) Robeknya jaringan didalam diskus intervertebral. Facet arthrosis (Artrosis faset) Facetectomy (Fasetektomi) Foraminectomy (Foraminektomi) Hemilaminectomy (Hemilaminektomi) Interlaminar space Ruangan yang diselaputi ligamentum (Ruang interlaminar) flavum antara dua arkus ruas tulang belakang. Mengangkat sebagian atau seluruh faset atau sendi.Cartilagineous end. Dataran akhir badan tulang belakang serta . (Dataran tepi tulangrawan) Disk deseases (Kelainan diskus) Diskectomy (Diskektomi) Keadaan patologik yang timbul langsung maupun tidak langsung dari diskus intervertebral.

anulus fibrosus. Degenerasi diskus intervertebral bersama-sama dengan perubahan dataran akhir ruas tulang belakang. anterior oleh diskus dan inferior oleh pedikel ruas tulang belakang inferior. biasanya bagian superior dan ligamentum flavum. tervertebral lumbar) Lumboradiculitis (Lumboradikulitis) Motion segment (Segmen bergerak) Nyeri pada regio lumbar yang menjalar ketungkai. Nyeri setelah vertebral. Pusat diskus intervertebral terutama terdiri dari substansi ini. Intervertebral foramen (Foramen intervertebral) Kanal antara dua arkus ruas tulang belakang yang ditembus oleh saraf. Dikelilingi sebelah atas oleh pedikel.regio lumbar. Kesatuan fungsional kolumna tulang belakang yang terdiri dari dua badan ruas tulang belakang diskus intervertebral diantaranya. Nyeri akut pada regio lumbar. Nyeri yang terbatas hanya pada regio lumbar. Tepi posterior dihubungkan oleh faset superior dan inferior dari sendi posterior. Laminectomy (Laminektomi) Laminotomy (Laminotomi) Low back pain (Nyeri punggung bawah) Lumbago (Lumbago) Lumbar disk desease Kelainan diskus intervertebral pada (Kelainan diskus in. . operasi diskus inter- Nucleus pulposus (Nukleus pulposus) Osteochondrosis (Osteokhondrosis) Postlaminectomy syndrome (Sindroma pascalaminektomi) Prediskotic deformity Gangguan bentuk dan fungsi segmen (Deformitas bergerak yang memudahkan perkemprediskotik) bangan sindroma diskus intervertebral kelak. Membuang bagian dari arkus ruas tulang belakang. Prolapse (Prolaps) Herniasi jaringan diskus intervertebral melalui anulus fibrosus kedalam kanal. Membuang arkus ruas tulang belakang.

Hilangnya stabilitas. Degenerasi diskus intervertebral dengan spur tulang reaktif pada tepi ruas tulang belakang. L3 dan L4. Keadaan khas yang tampak pada posisi berdiri pada penderita prolaps atau protrusi diskus intervertebra. (Radikulitis lumbar sebelah atas) ------------------------------------------------------- . Kontraksi yang jelas pada otot hamstring (mungkin karena traksi pada radik L5 dan S1-S2) menyebabkan teregangnya saraf ini. Penyempitan kanal spinal.Protrusion (Protrusi) Rheumatoid diskitis (Diskitis rematoid) Schmorl nodes (Nodus Schmorl) Sciatica (Siatika) Penonjolan diskus intervertebral tanpa perforasi anulus fibrosus. S1 dan/atau S2. Inflamasi rematoid pada tepi diskus intervertebral. Upper lumbar Sindroma lumbar yang mengenai akar radiculitis) saraf L2. Sciatic list (Postur siatik) Segmental instability (Ketidakstabilan segmental) Sequestered Terlepasnya fragmen nukleus yang disk fragment mengalami degenerasi dari diskus (Fragmen diskus yang intervertebral mengalami sekuesterisasi). Penetrasi spontan jaringan diskus intervertebral keruas tulang belakang. mencakup akar saraf L5. Akar L4 mungkin hanya terserang sebagian. Spinal fusion (Fusi spinal) Spinal stenosis (Stenosis spinal) Spondylosis (Spondilosis) Three-joint complex (Kompleks tiga sendi) Tight hamstring (Hamstring yang tegang) Stabilisasi operatif pada segmen bergerak. Penyebaran nyeri sepanjang ekstremitas bawah sesuai dengan distribusi saraf siatik. Konsep yang terdiri dari dua sendi dan diskus pada masingmasing tingkat.

Hal ini tampak pada usia setelah 30 tahun atau lebih awal seperti laporan dari penelitian pato-anatomi oleh Schmorl (1932). Ini menjadi lebih nyata bila kelainan tulang belakang dipelajari sendiri. Arti dan Frekuensi Kelainan Diskus Intervertebral Penyakit diskus intervertebral adalah kelainan yang umum didapat. Gangguan pada pinggang adalah paling umum hingga usia 35 tahun. Conventry (1968) dan Hirsch (1960). Israel (Magora 1970. Informasi lain mengenai distribusi kelamin dan usia dari penyakit diskus intervertebral sudah dijelaskan oleh Schmorl dan Junghanns (1968). de Palma dan Rothman (1970). Jochheim (1961). perlu melakukan penelitian prospektif. rickets dan polio. Gross (1966) dan Hult (1954). Lindemann dan Kuhlendahl (1953).8. Schmorl dan Junghanns (1968). penyakit sendi degeneratif adalah kelainan kronik yang utama. Finlandia (Rissanen 1969). Kanada (White 1969). Hanraets (1959). Frekuensi tinggi dari ketidak-mampuan kerja serta pensiun awal diakibatkan oleh penyakit diskus intervertebral. Armstrong (1965). Karena tidak jelasnya terminologi penyakit rematik.170 penduduk. Ini terutama jelas pada lesi diskus intervertebral. Untuk lebih baik dalam mengikuti perkembangan dan distribusi suatu penyakit kronis dimasarakat. Penyelidikan Knepel (1977) mendapatkan pada praktek umum bahwa dari tiap 10 penderita didapatkan seorang dengan keluhan pinggang yang disebabkan oleh degenerasi diskus intervertebral. gangguan pinggang lebih sering dari gangguan sendi lainnya. Duthie 1969). sedikit orang yang terhindar dari gangguan punggung postural akibat perubahan degeneratif. serta peningkatan angka harapan hidup berakibat pada peninggian penyakit pinggang baik secara relatif maupun nyata. Menurut laporan German Health Office. Beberapa pandangan menarik didapat dari morbiditas penyakit diskus intervertebral. Magora dan Tanstein 1969).A. Tidak . Dari negara lain juga dilaporkan frekuensi penyakit diskus inter-vertebral degeneratif yang berhubungan dengan pekerjaan: Inggeris (Dixon 1973. Swedia (Dahlberg 1976). Amerika Serikat (Leavitt 1971). Persentase pengobatan pasien rawat jalan dengan sindroma diskus intervertebral mencapai 37. Penurunan tuberkulosis sendi. sejumlah keadaan secara salah disangka rematik.9 % sudah menderita berbagai jenis gangguan sistem lokomotor. ini terutama jelas pada penyakit degeneratif sistem lokomotor dimana degenerasi diskus intervertebral berperan penting. Secara keseluruhan . dan 52 % nyata mempunyai gejala saat pemeriksaan. Sepanjang hidupnya. 72. Penyelidikan epidemiologik sudah dipelopori oleh Braun (1969) dan Wagenhauser (1969) Wagenhauser (1969) melakukan penelitian pada 1.

68 % antara 30 dan 60. Karenanya sangat mungkin sindroma lumbar terjadi lebih sering dari yang tercatat.3 %). B. Regio tulang belakang yang berbeda terserang dengan persentase berbeda. juga terjadi sindroma radik-radik saraf lumbar dengan nyeri yang menjalar ketungkai. Laki-laki lebih sering terserang dibanding wanita.1 dan toraks hanya 1. Sindroma diskus intervertebral terjadi terutama pada kelompok usia menengah. penyakit Scheuermann.2 % terjadi pada pria dan 52. Sindroma servikal lebih sering pada wanita (60. Sindroma diskus intervertebral hampir sama banyaknya pada pria dan wanita. Selain frekuensi sindroma lumbar yang tinggi. dan maksimum dicapai pada usia 40 dan 50. Dengan kata lain kemungkinannya besar untuk . penting menghubungkan aspek medik dan sosial karena sering terjadi pada usia menengah dimana mereka sedang berada pada puncak aktifitas kehidupannya. Penderita lainnya tidak pernah diperiksa walau dengan onset nyeri lumbar mendadak.94 % diikuti servikal dengan 36. Pada penderita rawat jalan 47. Ini adalah usia dimana kebanyakan operasi terhadap prolaps diskus intervertebral dilaksanakan. serta sindroma kauda ekuina. atau penderita yang mengalami perasaan tidak enak setelah ia membebani pinggangnya.kurang dari 92. osteoporosis. Frekuensi Sindroma Lumbar Sindroma lumbar secara khas ditandai dengan gejalagejala dan tanda-tanda yang berasal dari perubahan degeneratif pada diskus intervertebral lumbar.96 %. Pada usia ini terjadi perubahan jaringan diskus intervertebral dengan tekanan yang tinggi pada nukleus pulposus dan penurunan tahanan dari anulus fibrosus. Hampir duapertiga kelainan diskus intervertebral menyerang tulang belakang lumbar. Satu dari duabelas pasien pada praktek umum tampak diakibatkan oleh sindroma lumbar. tetap lebih utama pada pria. Diyakini ada faktor spesies spesifik tertentu. Beratnya sindroma lumbar. mempunyai peranan (Tannich 1976). Lumbar paling sering terserang dengan 61. dan lebih dari setengahnya mengenai diskus intervertebral lumbar empat. Alasan mengapa laki-laki lebih sering dikenai tidak hanya karena lebih sering dan lebih berat dalam mengangkat serta meregang dibanding wanita. berbagai tumor.7 % adalah akibat degenerasi diskus intervertebral.6%) dan sindroma lumbar lebih utama pada pria (51. Sisanya terdiri dari skoliosis. Gejala umumnya timbul antara usia 30 dan mencapai puncaknya pada usia 40 pada pria dan 10 tahun kemudian pada wanita. keadaan inflamasi. yang lebih sempit pada pria. Disamping perasaan tidak enak setempat. Ini yang ditemukan oleh kalangan medis. yang memerlukan tindakan yang lebih aktif.8 % pada wanita. dan kelainan jarang lainnya. Bukan tidak mungkin bahwa kanal lumbar.

Ia menduduki peringkat ketiga setelah kelainan jantung dan arthritis serta rematik pada usia 45 hingga 64 tahun. menyimpulkan bahwa di Amerika Serikat gangguan pinggang dan tulang belakang merupakan penyebab tersering diantara semua kelainan kronis dalam menyebabkan pembatasan aktifitas masyarakat berusia dibawah 45 tahun. Menurutnya tiap orang kehilangan 4 jam kerja setahun karena nyeri pinggang bawah. Sindroma lumbar tampaknya tidak mengikuti pola statistik khusus. hanya kedua setelah infeksi saluran nafas atas. Sindroma lumbar cenderung sedikit menurun selama bagian awal dari tahun (Kramer 1973). makin besar ia akan kehilangan kemampuannya dan tidak akan pernah kembali kekerja yang produktif. Kehilangan hari kerja pertahun akibat nyeri pinggang bawah di Amerika Serikat adalah 1. Kelsey dan White. Peneliti lain mendapatkan bahwa semakin lama penderita meninggalkan pekerjaannya. hal ini tidak berarti suatu bukti dari contoh penderita nyeri pinggang bawah secara keseluruhan.terjadinya dislokasi periferal dari jaringan diskus intervertebral yang terletak sentral. namun menemukan pada wanita gejala yang jelas baru timbul satu dekade kemudian. Kelsey menemukan usia onset yang sama pada pria dengan nyeri pinggang bawah akibat kelainan diskus. Rowe mendapatkan 35 persen pekerja ringan dan 45 persen pekerja berat mengeluhkan nyeri pinggang. Walau Kelsey menemukan bahwa pria lebih banyak menjalani operasi akibat nyeri pinggang bawah. Penampilan gejala sangat berhubungan dengan peristiwa biokimia dan biomekanik yang sinambung pada jaringan diskus intervertebral yang perkembangannya sangat berkaitan dengan involusi usia. Penyakit ini berjalan secara khas mengikuti variasi musim.400 per 1.600 per 1. Tak ada perbedaan rasial atas nyeri pinggang bawah dan siatika. Nyeri akut dan siatika dapat timbul spontan tanpa penyebab yang jelas. Nachemson menduga bahwa 80 % orang dewasa mengalami nyeri pinggang yang jelas selama kehidupan dewasanya. Selama sisa bulan. Benn dan Wood menemukan bahwa nyeri pinggang bawah merupakan faktor ketiga yang menyebabkan kehilangan jam kerja setelah kelainan paru akut dan kronik serta kelainan pembuluh koroner arteriosklerotik di Inggris pada tahun 1970.000 pekerja dan dibeberapa pabrik di Inggeris 2. Horal menemukan bahwa nyeri pinggang bawah dalam derajat yang jelas telah dimulai pada usia onset rata-rata 35 tahun. 90 persen akan mengalami serangan berikutnya. seperti juga peneliti lain. jumlah penderita merata. Menurutnya hanya 35 % dari mereka yang akan menjadi penderita siatika. dan .000 pekerja. McGills menemukan bahwa ketidak-hadiran selama satu tahun karena kelainan pinggang bawah mengurangi kemungkinan untuk kembali bekerja hingga hanya 25 persen. Setelah serangan pertama nyeri pinggang bawah.

sekitar 76 persen menderita nyeri pinggang bawah satu dekade sebelumnya. prosesus notokhordal. Siatika adalah penyakit yang yang umum dan berpengaruh ekonomi. C. menonjol kedepan diantara ektoderm dan endoderm. yakni struktur aksial yang akan menjadi sumbu terbentuknya tulang belakang. Selama periode ini dapat dijumpai awal dari degenerasi. Embrio usia beberapa hari dengan panjang kepala-ekor 12 mm menampakkan tanda awal dari kolumna vertebral. Perkembangan tulang belakang beserta deformitasnya sudah dipelajari terutama oleh Tondury (1947. 1955. menuju ujung kaudal. Dari ujung kranial streak. streak primitif yang terutama dibentuk oleh sel-sel lapisan ektodermal bermigrasi keventral melalui streak dan menyebar kesetiap sisi membentuk mesoderm embrionik. 1968. Perkembangan Diskus Intervertebral Untuk memahami latar belakang perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dewasa. Notokhord berubah sangat dini menjadi kolumna vertebral kartilago atau tulang. Dalam seri seksi mikroskopik mereka dapat mendemonstrasikan involusi notokhord dan perkembangan yang berkesinambungan dari tulang belakang dan diskus intervertebral.8 persen pria dan 2. Di Swedia 53 persen pekerja ringan dan 64 persen pekerja berat mengalami nyeri pinggang bawah. Notokhord berjalan melalui pusat kolumna vertebral. Perlu diingat bahwa prognosis untuk penderita dengan siatika berat unilateral akibat diskus intervertebral yang herniasi tidaklah jelek. baik terhadap perorangan maupun industri. Prader (1947) dan Ecklin (1960). dengan tiga lapisan germinal primer. Usia onset rata-rata pada serangan siatika pertama sekitar 37 tahun. mencakup diskus intervertebral dan ruas tulang belakang. mesoderm dan endoderm yang sudah terbentuk. 1970) dan rekannya Larcher (1947). Digaris tengah piring embrionik. yakni ektoderm. embrio berupa piring berbentuk buah pir. Anatomi dan Fisiologi Diskus Intervertebral 1. perlu untuk mengetahui perkembangannya pada tingkat embrionik dan pada saat bayi.5 persen wanita diluar usia 35 tahun menderita siatika. Cikal bakal tulang belakang adalah aksis selular yang disebut notokhord. Akhir minggu ketiga pasca ovulasi.setelah tidak hadir dua tahun biasanya tidak mungkin untuk bekerja kembali. Ia tetap hanya sebagai aksis skeletal pada khordata. Tekanan karena peningkatan pertumbuhan sel . Datanya menyatakan bahwa 4. Hakelius melaporkan bahwa 75 persen penderita membaik setelah 10 hingga 30 hari sejak onset gejala. dan hanya 19 persen memerlukan tindakan operasi. Bell dan Rothman menyimpulkan bahwa masalah klinis siatika adalah berhubungan dengan degenerasi diskus intervertebral.

Catu vaskular semua elemen pada diskus inter-vertebral sempurna . Dari tingkat ini penggabungan mulai dari cincin epifiseal kebadan ruas tulang belakang. Pembuluh ini tidak mencapai baik interior dari annulus fibrosus maupun nukleus pulposus (Tondury 1958). Diskus intervertebral disekeliling segmen khordal terdiri dari satu zona luar dan satu zona dalam. Ini merupakan zona regenerasi. Nukleus pulposus yang tidak berstruktur mengisi daerah ini. dan absorpsi pada permukaannya membentuk tulang "cancellous". Pembuluh mencapai annulus fibrosus melalui jaringan vaskular disekeliling kolumna tulang belakang dan foramina intervertebra. pusat ini bersatu untuk membentuk cincin epifiseal osseus.tulang rawan memeras notokhord menjadi segmen sirkular kecil yang terletak pada diskus intervertebral. Zona ini menghilang pada usia sekitar 20 tahun. Fibril longitudinal tampak lebih awal pada zona luar yang akhirnya membentuk nukleus pulposus. Ruas tulang belakang dan diskus intervertebral mencapai akhir perkembangannya pada pemuda dewasa. Zona dalam parakhordal bersama segmen khordal yang terletak eksentris membentuk nukleus pulposus. satu horizontal perifer dan satu longitudinal sentral. Segmen ini adalah asal dari nukleus pulposus (Tondury 1958). Bidang tulang rawan mempunyai vaskularisasi baik. berlanjut kezona dalam gelatinosa parakhordal yang betul-betul tanpa struktur. Pertumbuhan ruas tulang belakang mengambil tempat pada zona proliferatif dari bidang epifiseal. Annulus fibrosus dan nukleus pulposus bertambah ukuran dan isinya secara aposisi interstitial (Hirsch dan Schajowicz 1952). Ada dua sistem pembuluh. Karenanya penulangan pada batas terluar membentuk cincin tulang dari bidang akhir. Zona luar yang kaya akan fibril namun miskin akan sel. Diskus intervertebral saat lahir terdiri dari semua struktur yang kelak menjadi penting dalam kehidupan dalam hal fungsi mekanik tulang belakang. Berkas lamella padat pada lapisan periferal anulus membentuk jaringan yang berjalan dari satu ruas keruas tulang belakang lainnya. Lamella fibrosa ditembus pembuluh ini yang berasal dari jaring kapiler intralameller. Fibril berjalan didalam tulang rawan ruas tulang belakang dan kemudian berkembang membentuk serabut Sharpey pada zona transisional. Pada usia 12 tahun. Pusat osifikasi berkembang pada daerah cincin epifiseal kartilaginosa. Jumlah dan kekuatan lamella berkurang kearah pusat diskus intervertebral. Diskus intervertebral yang sedang tumbuh menerima catu vaskular untuk zona luar selama tahap embrionik dan bayi. Pusat penulangan ruas tulang belakang kearah diskus intervertebral membentuk bidang akhir tulang rawan. Cincin epifiseal osseus adalah penting pada diskus intervertebral karena serabut Sharpey melekat padanya. Bagian sentral diskus intervertebral menerima nutrisi melalui difusi.

Diskus intervertebral karenanya menunjukkan banyak perubahan selama periode pra serta pasca natal. setelah itu terjadi regresi yang menyebabkan diskus intervertebral avaskular pada usia empat tahun. Jaringan semi cair sentral ini dapat dengan mudah dibuang pada anak usia dua tahun. pembuluh pada diskus intervertebral menghilang bila posisi berdiri dimulai. Penurunan nutritif pada diskus intervertebral dengan sendirinya berakibat pada baik kualitas maupun kuantitas jaringan ikat pada diskus intervertebral. sedangkan pada dewasa tidak mungkin. Goldie (1957) dan Hassler (1969) menemukan invasi jaringan granulasi dengan pembuluh darah pada diskus intervertebral yang berdegenerasi. permukaan terpotong adalah berkilat dan menyerupai gelatin. Perubahan ini jelas pada pemeriksaan visual sederhana terhadap spesimen. Hubungan ukuran antara badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral karenanya menjadi disproporsionat. Pada neonatus dan bayi kecil. Dengan pertambahan usia. pembuluh pada diskus intervertebral berada pada massa gelatinosa homogen yang secara fisik ekual dengan cairan. Pada manusia. Penambahan oleh aposisi interstitial pada ukuran dan isi nukleus pulposus dan anulus fibrosus tidak berjalan paralel dengan pertumbuhan badan ruas tulang belakang. dan akan dipertahankan selama tahun pertama dan kedua kehidupan. Pembuluh ruas tulang belakang sebagian berada pada sistem trabekular badan ruas tulang belakang dan terhindar dari beban dan kompresi aksial. Mungkin menghilangnya pembuluh berhubungan dengan peningkatan beban yang berkesinambungan. Konsekuensinya adalah terjadinya gangguan metabolisme. Ini memberikan kesan sebagai substansi cairan. diskus intervertebral menunjukkan perubahan penampilan dikarenakan perubahan regresif. Dalam hal kualitas diskus intervertebral.hingga usia dua tahun (Tonduri 1955). Bila segmen bergerak menjadi immobil karena spur spondilotik. hingga pembuluh ini mengalami penekanan secara terus menerus oleh tekanan yang berasal dari diskus intervertebral yang mengikuti variasi postur tubuh. Kontras dengan ini. area sentral nukleus kehilangan penampilan homogen dan gelatinnya. Saat lahir kedua struktur hampir sama tinggi. karakternya menjadi relatif kering dan fibriler. Tahap tertentu pada perkembangan diskus intervertebral . dan karenanya terjadi perubahan konsistensi dan warna jaringan diskus pada tahun-tahun pertama kehidupan. pembuluh darah dapat masuk kediskus intervertebral sebagai bagian dari reaksi jaringan ikat. namun pada akhir periode pertumbuhan tinggi diskus intervertebral hanya 1/3 hingga 1/5 tinggi ruas tulang belakang berdekatan. Setelah akhir pertumbuhan. Disini terjadi penurunan yang cepat pada kandungan air. perubahan yang tampak pada orang muda menunjukkan "degenerasi bergantung usia" yang dini.

Bila memikirkan bagian dari sindroma ini. 11 torakal dan empat lumbar. Pada beberapa keadaan dimana ditemukan ruas tulang belakang lumbar tambahan . Unit fungsional dari tulang belakang adalah segmen bergerak (Schmorl dan Junghans 1968). sendi ruas tulang belakang. Struktur berdekatan juga dikenai. menjadi lebih umum digunakan. Tulang belakang manusia terdiri dari 24 segmen bergerak. ligamen flavum yang kelateral membentuk kapsul untuk sendi ruas tulang belakang. Sistem lainnya. diskus intervertebral mungkin disebut diskus intervertebral L5-6 atau L6-S1. jalur yang mungkin berperan pada patogenesanya harus dijelaskan. 2. Paling atas antara oksiput dan atlas. Misalnya C5-6 adalah diskus intervertebral antara ruas tulang belakang servikal kelima dan enam. adalah penamaan diskus intervertebral berdasar nama ruas tulang belakang diatasnya. ada lima buah diskus intervertebral servikal. Berlawanan dengan . Karenanya ada 23 diskus intervertebral. Sebagai aturan. Sendi utama yang dibentuk oleh diskus intervertebral terdiri dari nukleus pulposus. Diskus inter-vertebral membentuk 1/4 tinggi dari tulang belakang dewasa. Paling umum menggunakan sistem yang berhubungan dengan ruas tulang belakang tetangganya. dan sendi segmen bergerak antara atlas dan aksis tidak mempunyai diskus intervertebral. ligamen flavum. anulus fibrosus dan dataran tulang rawan yang pada berkembangan lebih lanjut menjadi lebih berintegrasi dengan ruas tulang belakang. Anatomi Tulang Belakang Kelainan diskus intervertebral tidak hanya menyerang diskus intervertebral saja. Diskus intervertebral pada hubungan torakolumbar dinamakan T12-L1 atau diskus intervertebral torak ke 12. Pada dataran sagital berbentuk trapezoid dan mengatur kurva fisiologik masing-masing bagian. Diskus intervertebral pada hubungan servikal-torak dinamakan diskus intervertebral C7-T1 atau diskus intervertebral C7.dari bayi hingga usia tua ditandai dengan kemungkinan yang lebih besar terhadap suatu perubahan degeneratif tidak hanya pada nukleus pulposus tapi juga pada anulus. Karenanya termasuk ligamen longitudinal anterior dan posterior. Diskus intervertebral dinamai pada saat ini dalam dua cara berbeda. Segmen bergerak dibentuk oleh setengah ruas tulang belakang diatas dan setengah ruas tulang belakang dibawahnya. Diskus intervertebral berubah tingginya yaitu semakin tinggi pada arah superior keinferior. Misalnya diskus intervertebral diantara ruas tulang belakang servikal kelima dan keenam juga dikenal sebagai diskus intervertebral servikal kelima. kanal tulang belakang dan prosesus spinosus serta transversus berikut ligamennya. yang mungkin tampil sebagai sindroma diskus inter-vertebral.

Pada diskus intervertebral (Stahl 1977). Ini menunjukkan bahwa diskus intervertebral akibat dari tekanannya sendiri. konveksitas lordosis servikal dan lumbar adalah akibat penambahan tinggi bagian anterior diskus intervertebral. Disini aspek superiornya lebih lebar dari inferior. Difusi berbagai substansi terjadi melalui lapisan ini. Anulus fibrosus mengandung serabut serupa sekrup yang bercampur satu sama lain yang berjalan dari satu ruas tulang belakang ke ruas tulang belakang lainnya. ligamen longitudinal posterior tidak menutupi diskus inter-vertebral secara . permukaan ruas tulang belakang yang seperti saringan. dan saat pertumbuhan berakhir ia mencapai cincin ruas tulang belakang. yaitu dari anulus fibrosus dan nukleus pulposus. Lebih kedepan. akan berusaha mendapatkan bentuk bola. ligamentum longitudinal posterior tak begitu mudah dipisahkan dari diskus intervertebral karena eratnya perlekatannya. nukleus pulposus mengandung sel khordal dan untaian yang tersusun berbentuk jaring yang tampak berasal dari sel khordal (retinakulum khordal). Diperifer ada serabut Sharpey yang menembus dan melekat pada cincin ruas tulang belakang. Substansi nukleus pulposus pada usia selanjutnya dipisahkan ruangan yang kedalamnya dapat dimasukkan satu hingga dua cm3 cairan melalui suntikan. Pada orang muda dimana jaringan diskus intervertebral lebih homogen. Ini dapat dengan mudah diangkat dari diskus intervertebral. dataran tulang rawan bersatu dengan dataran akhir ruas tulang belakang melalui lapisan kalsium melalui mana porus-porus kecil menembus untuk nutrisi diskus intervertebral. dataran tulang rawan nyatanya merupakan bagian badan tulang belakang. Ligamentum longitudinal anterior berjalan secara luas sepanjang permukaan anterior badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. Interior ruas tulang belakang mempertahankan hubungannya dengan dataran tulang rawan melalui lamina kribrosa.kifosis torak. Ia mengandung tulang rawan hialin. Pada usia awal. yang ditentukan oleh konfigurasi ruas tulang belakang. Lamela fibrosa lebih banyak dan lebih kuat di anterior dan lateral dibanding di posterior dimana mereka lebih jarang dan lebih tipis. Sisa dari notokhord terletak lebih kebelakang. biasanya kurang dari satu cm3 yang dapat disuntikkan. Sebaliknya. Walau sepatutnya bagian dari diskus intervertebral. dan diregio tulang belakang lumbar menyempit menjadi pita tipis. Jaringan ini berisi substansi dengan dasar gelatin (Schmorl dan Junghanns 1968) yang akan menjadi nukleus pulposus. Menurut Schmorl (1932). Bila memotong diskus intervertebral secara transversal maka substansi sentral yang melekat erat pada ruas tulang belakang akan menonjol keluar. berbeda dengan penjelasan pada beberapa buku anatomi. anulus berhubungan secara mulus dengan nukleus pulposus.

Anatomi Tulang Belakang Lumbar . Pada posisi duduk dan terlentang vena ini terisi penuh. Ini menjelaskan peningkatan rasa tidak enak daerah lumbar saat kegiatan tersebut. Ligamen ini menutupi aspek posterior kanal spinal dan kelateral membentuk kapsul dari persendian ruas tulang belakang. bersin dan peninggian tekanan abdominal. Bagian lateral ligamen membentuk pita yang berjalan oblik menyilang diskus intervertebral dalam arah kedistal dan akhirnya berakhir pada dasar pedikel. perut dan tengkorak. Clemens (1970) mendemonstrasikan pentingnya sistem vena vertebral lokal yang memiliki hubungan melalui beberapa emissaria dengan vena inferior tengkorak. Karenanya hanya sedikit perdarahan saat operasi dan koagulasi elektrik jarang diperlukan. 3. dapat timbul nyeri yang berasal dari periosteum. Vena vertebral. pengisian vena dan tekanan vena sentral berada pada keadaan paling rendah. yaitu melalui batuk. Pada operasi dengan posisi ini untuk prolaps diskus intervertebral lumbar. Pengisian vena ini tergantung posisi tubuh. Pada posisi 'a la vache'. Persangkaan hipertrofi dalam berbagai tingkat dianggap bertanggung jawab atas keluhan pinggang bila pada saat operasi didapatkan kondisi lainnya dalam keadaan normal. dimana prolaps dan protrusi diskus intervertebral terjadi. yang tak mempunyai katup. Bila pita ini mengalami regangan. membentuk sistem anastomotik dari tengkorak mencapai sakrum. Pada pengukuran intraoperatif didemonstrasikan bahwa derajat pengisian pada vena epidural lumbar berhubungan dengan tekanan vena sentral (Ghazwinian dan Kramer 1974). Ligamentum flavum menjadi lebih tebal sebelah distal dari kolum servikal. Ligamentum flavum merupakan struktur penting pada bedah diskus intervertebral. Ligamentum flavum dan ligamentum interspinosum menstabilkan bagian posterior segmen bergerak pada kurva anterior pada kifosis total dan pada posisi berdiri. Menjembatani foramina interarkuata. vena epidural akan kolaps dan sulit untuk terisi darah.menyeluruh namun menyisakan aspek dorsolateral terbuka. terdapat sirkulasi kolateral lokal yang segera bereaksi pada semua peninggian tekanan pada dada. bila tiada tekanan pada abdomen dan abdomen tergantung bebas. Vena vertebral dapat menyebabkan sindroma diskus inter-vertebral dan juga suatu perburukan bila terjadi penyempitan kanal spinal oleh protrusi diskus intervertebral atau tulang. seperti terjadi pada protrusi diskus intervertebral. Perhatian besar telah lama dipusatkan pada ketebalan ligamentum flavum. Bersama vena azigos. ia berjalan dari setengah anterior dan distal lamina diatasnya dan melekat pada sisi superior lamina dibawahnya. Vena vertebral juga mempunyai hubungan dengan vena cava superior dan inferior.

Hubungan diameter dari L1 hingga L5 adalah 1:5 (Tondury 1970). sedikit perubahan aspek posterior diskus intervertebral dapat menyebabkan rasa tidak enak. Diskus intervertebral torakolumbar atau diskus intervertebral T12 dianggap milik tulang belakang lumbar. radik saraf dengan mudah menjadi tertekan. Foramina intervertebral daerah lumbosakral sangat kecil. Foramina intervertebral terbatas kearah posterior oleh faset sendi. Tampilan cembung diskus intervertebral nyata pada daerah lumbar. Tentu saja variasi tidak hanya dalam ukuran lubang. namun juga antara kedua sisi. Tampak lateral. Diskus intervertebral lebih tinggi dianterior dibanding posterior dimanaberhubungan dengan derajat dari lordosis lumbar. Foramina intervertebral terletak sama tinggi dengan diskus intervertebral. Rongga sendi L1-L4 berarah pada dataran sagital.a. Variasi Ruas Tulang Belakang Lumbar Terdapat anggapan yang berlebihan bahwa deformitas dan anomali kongenital adalah penting sebagai penyebab . yakni pada bagian superior dari tulang belakang lumbar. Ukuran kanal tulang belakang lumbar baik pada dataran frontal maupun sagital serta bentuk dari kanal. Pada penyempitan kanal lumbar. Foramina intervertebral dapat menjadi sempit karena perubahan posisi dari sendi tulang belakang. menampakkan beberapa segi sebagai penyebab nyeri lumbar. Susunan anatomi menyebabkan posisi anatomi dan fisiologi radik saraf penuh risiko. Pada daerah lumbosakral serupa dengan tulang belakang toraks dan karenanya berarah pada dataran frontal. Foramina Intervertebral Posisi foramina intervertebral dalam hubungannya dengan diskus intervertebral tulang belakang lumbar adalah paling penting dalam mengamati radik-radik saraf spinal. c. Diameter radik saraf bertambah dari bagian superior keinferior dengan maksimum pada L5. Ini paling jelas pada daerah lumbosakral. Ganglia spinal dan radik anterior terletak lebih keanterior dibanding daerah toraks dan mereka hampir bersentuhan dengan diskus intervertebral. Diskus intervertebral bertambah ukurannya dari bagian superior keinferior. Diskus Intervertebral Lumbar Tulang belakang lumbar mempunyai lima ruas tulang belakang. diskus intervertebral ini mempunyai bentuk trapezoid. Kekecualian pada diskus intervertebral lumbosakral yang sekitar sepertiga lebih pendek dari diskus intervertebral didekatnya. karena oleh perubahan diskus inter-vertebral atau dislokasi ruas tulang belakang. dibentuk oleh bagian posterolateral ruas-ruas tulang belakang yang kadang-kadang menebal kebawah pada bagian superior foramina intervertebral dimana radik saraf lewat. Tepi tulang dari foramina intervertebral. b.

Ruas tulang belakang transisional memiliki keistimewaan dimana ruas tulang belakang lumbosakral mungkin mempunyai prosesus transversus bebas atau mungkin mempunyai kontak yang erat dengan sakrum dengan tampilan serupa sendi. Prolaps antara ruas tulang belakang lumbar empat dan sakrum pada keadaan dimana hanya terdapat empat ruas tulang belakang bebas akan menyebabkan sindroma L5. Sakralisasi dan lumbarisasi hanya dapat ditentukan dengan penghitungan yang teliti terhadap ruas tulang belakang toraks. serta jaringan epidural yang berisi vena-vena dan lemak yang mengelilingi radik-radik saraf hingga pada pergerakan yang ekstrim dari tulang belakang lumbar.nyeri lumbar. Sudah diketahui bahwa secara praktis menghitung ruas tulang belakang dimulai dari L1. Sepanjang ruas tulang belakang transisional setangkup dan serasi baik dengan sekitarnya. radik-radik saraf. tekukan ruas tulang belakang transisional terjadi bila satu prosesus lebih pendek dari lainnya. ruas tulang belakang pertama yang tidak mempunyai tulang rusuk. Kanal tulang belakang dibatasi sebelah depannya oleh badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. Sekali terdapat ketidaksetangkupan. dan bila terdapat enam ruas tulang belakang dikatakan sebagai lumbarisasi. akan terjadi perubahan biomekanik tulang belakang. Bila kedua prosesus transversus berasimilasi dengan sakrum. radik-radik saraf tidak . tidak akan menimbulkan gejala. misalnya satu prosesus transversus bebas dan lainnya berhubungan dengan sakrum. dan berakibat istilah ruas tulang belakang transisional jarang digunakan. dan sebelumnya dianjurkan untuk menghitung dari bawah keatas. dikatakan sebagai sakralisasi. prolaps diskus intervertebral antara L5-L6 menyebabkan sindroma S1. Pada keadaan ini. Variasi jumlah ruas tulang belakang mempunyai beberapa kepentingan praktis. Topografi Radik Saraf serta Diskus Intervertebral dalam hubungannya dengan Kanal Spinal Lumbar Kebanyakan sindroma radik saraf lumbar timbul dari segmen terbawah akibat keadaan biomekanik dan kontak erat radik saraf terhadap diskus intervertebral. diskus intervertebral superior berdekatan akan terserang ketidaksetangkupan (Rettig 1959). Kearah lateral adalah rongga arkus dan foramina intervertebral. Kanal berbentuk silinder yang berubah sesuai pergerakan batang tubuh. Pada tulang belakang lumbar sering terjadi penyempitan kanal tulang belakang baik oleh protrusi maupun prolaps diskus intervertebral. Diskus inter-vertebral dapat menampakkan semua jenis kemungkinan perubahan transisional. Dalam keadaan enam ruas tulang belakang bebas. dan keposterior oleh ligamentum flavum dan arkus ruas tulang belakang. d. Bila terdapat empat ruas tulang belakang bebas. dan akibatnya mungkin terjadi skoliosis lumbar. Isi kanal tulang belakang lumbar adalah kantung dural.

Radik lumbar keempat mungkin terganggu oleh prolaps lateral dan besar pada daerah intraforaminal atau oleh pertumbuhan berlebihan faset inferior ruas tulang belakang lumbar keempat. radik lumbar kelima mungkin terganggu oleh protrusi atau ruptur diskus intervertebral intraforaminal. dan semakin jauh radik-radik berjalan kedistal semakin menyudut saat keluar dari kantung dural. Jaringan-jaringan ini berasal dari sel jaringan ikat yang membentuk 20% hingga 30% dari jaringan. mielografi. Perbedaan ketinggian letak segmen cord tulang belakang dengan segmen tulang belakangnya yang bersangkutan paling jelas pada daerah lumbar. atau oleh spurring yang mengikuti pada daerah intraforaminal (Gill 1976). Saraf-saraf terletak lebih kelateral hingga pada pungsi lumbar medial. diskus intervertebral juga berisi komponen jaringan yang terdapat pada jaringan ikat struktur lainnya. Secara histologi dan biokimia. . Struktur Mikroskopik dan Biokimia Diskus Intervertebral Selain sisa khordal. Arah dari radik-radik saraf setelah meninggalkan kantung dural adalah menuju tingkat segmen yang bersangkutan. Radik sakral pertama terganggu oleh prostrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar kelima dan segmen sakral pertama.begitu terganggu oleh jaringan keras. elemen utama jaringan ikat berbeda sesuai lokasinya. D. dan saraf-saraf spinal berjalan lebih kedistal dan keluar melalui foramina inter-vertebral yang bersangkutan setelah melalui perjalanan yang jauh dalam rongga subarakhnoid. Cord tulang belakang kebawah hanya mencapai ruas tulang belakang lumbar pertama atau kedua. sel sel tulang rawan dan kadang kadang sel sel notokhordal pada diskus intervertebral. Hal serupa. Karena hubungan topografik yang khas dari radikradik saraf terhadap diskus intervertebral ini. Komponen-komponen jaringan antara ruas tulang belakang dengan baik dapat dijelaskan dalam hubungannya atas keperluan mekanik dan sesungguhnya diskus intervertebral mungkin diingat sebagai organ jaringan ikat. dan pelat tulang rawan oleh tulang rawan hialin. Radik lumbar kelima biasa tertekan pada protrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar keempat dan kelima. dan pungsi diskus intervertebral transdural akan terhindar dari cedera. adalah struktur akhir dari cord tulang belakang yang meluas ke ruas tulang belakang lumbar kedua. nukleus pulposus oleh substansi dasar. maka gangguan pada radik saraf lumbar keempat terjadi pada tingkat diskus intervertebral antara L3-L4. Mereka adalah fibroblas. Kauda ekuina adalah saraf-saraf spinal distal yang bersamaan dengan fillum terminale. Anulus fibrosus dibentuk oleh serabut.

namun merupakan bagian dari makromolekul. masing-masing terikat secara struktural atau dalam larutan pada cairan ekstraselular. serta dapat dipindahkan kecairan interstitial dengan menggantinya dengan kelompok hidrofilik dari substansi tertentu. sulfat keratin dan heparin adalah bagian dari polisakharida molekul besar. Selain cairan interstitial. matriks organik dan sedikit lemak pada jaringan diskus intervertebral. Ia mengalami depolimerisasi oleh protease asam . Kristal kalsium fosfat tak tampak hingga usia dewasa. sodium. makromolekul mengikat sebagian besar cairan pada diskus intervertebral. Sodium dapat terikat pada matriks. Air tidak dalam keadaan bebas. Dengan kata lain terdapat pengaktifan kalsium pada jaringan diskus intervertebral. Substansi dasar terdiri dari glukoprotein dan polisakharida molekul besar. sulfat khondroitin. Mereka bersifat seperti mukoprotein dengan kemampuannya yang jelas dalam mengikat air. potasium dan kalsium. Dengan kemampuan metabolismenya mereka membentuk matriks organik yang mengandung kolagen dan kompleks mukopolisakharidaprotein. Untuk membentuk makromolekul ekstraselular. elastisitas dan viskositas substansi dasar.Sel-sel jaringan ikat membentuk substansi dasar dan serabut-serabut ekstra dan intra selular. seperti asam amino. Ion anorganik. sel-sel menggunakan substrat molekul rendah. Kandungan air antara 80% dan 85% pada diskus intervertebral orang muda. Dalam keadaan normal mineral tidak tampak secara bebas pada diskus intervertebral. terdapat mineral. garam. Mukopolisakharida membentuk sistem kisi-kisi tiga dimensi yang akan menentukan viskositas substansi dasar. Kalsium terikat pada asam mukopolisakharida dari matriks dan dapat tertimbun disini 35 kali lebih banyak dari jaringan lain (Dulce 1969). seperti halnya asam hialuronik. Kandungan potasium yang tinggi pada tulang rawan adalah karena banyaknya sel. McCarty (1964) mendapatkan kalsium pirofosfat pada diskus intervertebral manusia. Karenanya dapat kembali dari bentuk ikatan kemakromolekul terion yang bebas. Kandungan air nukleus pulposus lebih besar dibanding pada anulus fibrosus. Sel-sel tulang rawan paling bertanggung-jawab atas metabolisme diskus intervertebral. Mukopolisakharida bertanggung-jawab untuk pembengkakan. Mineralisasi berjalan paralel dengan peningkatan fosfor dan dengan pemisahan kristal secara lambat. Substansi dasar adalah bagian dari matriks. enzim. Proteoglikan dan komponen lain mukopolisakharida asam dibentuk intraseluler sebagai produk intermediet metabolisme glukosa. Mukopolisakharida asam. Penambahan isinya adalah dari arah tepi ke nukleus pulposus. glukosa dan air. Mukopolisakharida dan makromolekul disintesa baik intra maupun ekstraseluler. semua ion lain ditemukan pada cairan interstitial. Karena memiliki hidro-dinamik yang jelas. serta kekentalannya yang tinggi. Gluko-protein terdiri dari protein dan hidrat arang.

Kaplan dan Meyer 1959. Mereka tersusun padat dan teratur membentuk gambaran seperti bawang. Jaringan diskus intervertebral membentuk tropokolagen. Takeda 1975. Seperti mukopolisakarida. Dengan pemeriksaan mikroskop cahaya dan elektron tampak bahwa struktur fibriler lebih padat pada daerah perifer diskus intervertebral (Dahmen 1966. Serabutserabut tersusun dalam berkas yang sangat atau kurang paralel. Kandungan kolagen matriks merupakan sekitar 44-51 % berat kering diskus intervertebral. Nutrisi sel yang tidak sempurna berakibat rendahnya kualitas dan kuantitas makromolekul. Mereka memiliki struktur makromolekul yang berdeferensiasi tinggi. Metabolisme yang bersinambung diperlukan diskus intervertebral untuk mempertahankan sintesa dan depolimerisasi komponen ekstra-seluler. Proses ini dapat dihambat oleh kortison (Dingle 1969). Bostrom 1958. Akibat keterbatasan waktu hidupnya. Fase awal pembentukan serabut kolagen terjadi intraseluler. Zona sebelah pinggir diskus intervertebral memiliki berkas serabut yang tersusun padat. Buckwalter 1976). asam hialuronik 2-4 hari (Schiller 1956. Waktu paruh sulfat khondroitin adalah 7-16 hari. tropokolagen akan mengalami transformasi menjadi kolagen tak larut melalui proses polimerisasi ekstraseluler (Eyring 1969). Pada orang tua perubahan berlangsung lebih lambat. Sel pembentuk fibril terletak dalam bentuk bikonveks diantara serabut kolagen yang diikat bersama oleh mukopolisakarida. Sawar permeabilitas yang terbentuk dapat mengontrol transport substansi ekstraseluler. De- . Dengan interloking molekul. Fibril kolagen tampak pada diskus intervertebral sebagai bentuk kumparan.sitoplasmik yang bergantung pada vitamin A. Karenanya mukopolisakharida menunjukkan tingkat perubahan yang tinggi. Sintesa makromolekul intradiskal bukan kejadian tunggal. struktur ekstraselulernya terus diperbaharui. pendahulu kolagen (Steven 1969). Sekali meninggalkan sel. makromolekul kolagen secara sinambung mengalami proses sintetisasi dan depolimerisasi. namun merupakan proses yang bersinambung. prolin (12 %) dan hidroksiprolin (12-14 %). yang dibentuk oleh sel-sel tulang rawan. Waktu paruh kolagen adalah 30-60 hari (Buddecke 1970). Diantaranya terdapat pitapita hingga memberikan gambaran seperti jala. Sistem tersebut akan menghalangi difusi molekul. Davidson dan Small 1963). Daerah perbatasan diskus intervertebral manusia mempunyai kumparan serabut yang tersusun padat. Adalah seimbang antara depolimerisasi dan sintesa makromolekul pada keadaan normal. Sawar tersebut karenanya merupakan membran permeabel yang selektif. Fibril proteokolagen mengandung asam amino glisin (30 %). strukturnya dibangun stabil secara mekanik oleh jaringan serabut kolagen tiga dimensi. Dari tes difusi dengan zat warna dengan berbagai ukuran molekul diperlihatkan bahwa hanya molekul dengan berat kurang dari 400 saja yang dapat melalui sawar diskus (Kramer 1973).

Akibatnya permeabilitas berbeda pada daerah yang berbeda. interior dari diskus intervertebral dan jaringan para vetebral termasuk cancellous bone ruas tulang belakang. tekanan hanya beberapa mmHg. Diskus Intervertebral sebagai Sistem Osmotik. Maroudas (1975) dan Urban (1976) membuktikan bahwa glukosa lebih mungkin menembus end-plates dan sulfat pada anulus fibrosus. Sebagai . selain itu ia akan mengering dalam waktu singkat. permukaan anulus fibrosus dan end-plates terselaputi jaringan serabut submikroskopik tiga dimensi yang hanya memungkinkan dilalui substansi molekul rendah dan hasil metabolik dapat lewat. Sebaliknya dari yang dianggap sebelumnya. Dengan interloking molekul. Kompartemen-kompartemen ini berbeda tekanan hidrostatiknya. E. Beban dapat mencapai lebih dari 1. Artinya tekanan absorptif yang memungkinkan air dan larutan lainnya untuk masuk kejaringan intradiskal melalui membran semipermeabel. Ini dipertahankan oleh mukopolisakarida intradiskal yang memiliki absorbabilitas air yang tinggi dan yang tidak hanya dapat menahan cairan namun juga mengabsorpsinya melawan keadaan tekanan pada diskus intervertebral. anulus fibrosus. Osmosis dipertahankan melawan tekanan beban sepanjang ia berada dalam keseimbangan dengan tekanan osmotik. Mereka tak hanya berperan pada depolimeri-sasi namun juga pada sintetisasi. Kerjanya sebagai katalis pada metabolisme jaringan. Sel jaringan diskus intervertebral mengandung lisosom yang membentuk enzim (Pearson 1972). dan juga cancellous bone ruas tulang belakang. Perubahan biokimia dan patofisiologi yang mendasarinya mendahului perubahan morfologik makro. Piring kartilago dan anulus fibrosus membentuk sawar permeabilitas yang memisahkan dua kompartemen jaringan. Tekanan osmotik koloid adalah tekanan osmotik yang dipertahankan oleh larutan molekul tinggi. diskus intervertebral adalah subjek dari tekanan yang berkaitan dengan postur tubuh dan berat badan. piring kartilago.000 kp. Interior dari diskus intervertebral. struktur para vertebral. Perubahan dapat terjadi atas pengaruh atas metabolisme oleh faktor mekanik dan biokimia. Pada jaringan para vertebral dan juga pada jaringan trabekular internal ruas tulang belakang. metabolisme pada diskus-diskus intervertebral secara keseluruhan adalah proses yang cepat dengan adanya aktifitas enzim serta waktu paruh yang pendek. Sebaliknya. Biomekanik Tulang Belakang 1. Jaringan pinggir diskus intervertebral berperan sebagai membran semi-permeabel. Absorpsi cairan hanya didapat dengan osmosis. semua berperan dalam sistem osmotik. Cairan harus diangkut melawan tekanan didalam diskus intervertebral.polimerisasi kolagen dipacu oleh kolagenase.

tambahan, tekanan hidrostatik dari diskus intervertebral sendiri. Dengan kata lain, tekanan ini memungkinkan pembesaran merata dengan pengambilan air dengan cara melawan tekanan balik. Derajat pembesaran diskus intervertebral dapat dinilai secara percobaan. Diskus intervertebral yang ditekan, membesar ketika tekanan dihilangkan. Tingkat dan kekuatan yang memungkinkan terjadinya perluasan, ditentukan oleh elastisitas dan absorbabilitas diskus intervertebral. Pada orang muda diskus intervertebral meluas lebih cepat dan lebih kuat dibanding orang tua. Tekanan osmotik koloid dan tekanan hidro-statik bersama membentuk tekanan onkotik. Berbeda dengan jaringan disekitarnya, diskus intervertebral mempunyai tekanan hidrostatik dan onkotik yang tinggi. Mereka berlawanan satu sama lain dengan mempengaruhi, secara bertolak belakang, absorpsi dan transudasi cairan. Berdasar perbedaan konsentrasi dan tekanan pada daerah tepi diskus, terdapat keadaan berikut: Tekanan hidrostatik ekstradiskal + Tekanan onkotik intradiskal ?-------------? Tek. hidrostatik intradiskal + Tekanan onkotik ekstradiskal

Terdapat efek berlawanan lain pada tekanan jaringan diluar diskus intervertebral, dan tenaga absorptif sepihak adalah berlawanan terhadap tekanan jaringan didalam diskus intervertebral dan tenaga absorptif jaringan sekitar diskus intervertebral. Yang manapun lebih utama, keseimbangan cairan menjadi terganggu. Perubahan yang sinambung pada tekanan hidrostatik dan onkotik adalah paling penting dalam nutrisi jaringan diskus intervertebral dan untuk fungsi segmen bergerak. Tekanan osmotik didalam diskus intervertebral berubah oleh faktor biomekanik dan biokimia. Terdapat perubahan biomekanik temporer pada sistem intradiskal sekunder terhadap peninggian atau penurunan tekanan hidrostatik. Tekanan yang timbul pada pembebanan diskus inter-vertebral disebut tekanan intradiskal. Ia beragam tergantung perubahan postur tubuh. Hubungan ini lebih jelas pada diskus intervertebral dari-pada semua jaringan lain, dan lebih jauh lagi tidak ada jaringan lain yang mempunyai tekanan setinggi diskus intervertebral. Nachemson (1966) mendemonstrasikan hubungan antara postur tubuh dan tekanan intradiskal dengan pencatatan intravital. Tekanan didapat pada pembebanan diskus intervertebral lumbar bawah dimana pada posisi berbaring 15-25 kp, duduk 150 kp, berdiri tegak 100 kp. Peninggian beberapa ratus kp. didapat bila membungkuk

kedepan, mengangkat dan memanggul. Penelitian memakai teknik pewarna dan penggunaan substansi radioaktif, memperlihatkan bahwa pada 80 kp terjadi ekstravasasi cairan, sedang dibawah 80 kp terjadi absorpsi. Transport cairan terbalik terjadi antara 70-80 kp. Arah transport cairan pada dinding diskus intervertebral sebanding dengan perubahan tekanan bila tekanan onkotik konstan. Dengan kata lain, bila beban berat seperti duduk, mengangkat dan memanggul, ekstravasasi dipercepat, sedang pada traksi dengan tekanan diskus intervertebral negatif, absorpsi yang dipercepat. Pada keadaan fisiologik, suatu perubahan transport cairan berhubungan dengan tekanan yang terjadi pada perbatasan yang ditentukan oleh absorpsi cairan dimana dilusi solusi makromolekul terjadi. Absorbabilitas diskus intervertebral akan berkurang. Sebaliknya, pembalikan terjadi dimana diskus intervertebral hanya dapat ditekan sampai derajat tertentu saja setelah pembebanan. Sekunder terhadapnya, pengeluaran air menyebabkan konsentrasi solusi molekul makro bertambah dan akibatnya absorbabilitas bertambah. Beban tak setangkup pada diskus intervertebral menyebabkan gangguan transport cairan intradiskal. Air dan larutan menjadi keluar dari zona dengan beban lebih besar ke yang lebih kecil. Pada pengukuran tekanan intradiskal didapat bahwa semua gerakan menekuk pada tubuh berakibat perubahan beban total. Pergerakan badan menyebabkan transport cairan antara diskus intervertebral dan eksteriornya seperti halnya didalam diskus intervertebral sendiri. Transport cairan yang bergantung beban pada diskus intervertebral manusia dapat dibandingkan dengan pompa, yang fungsinya mengangkut air dan metabolit ke dan dari tepi diskus intervertebral. Jadi nutrisi sel diskus intervertebral lebih baik serta pembuangan metabolit dipermudah. Semua perubahan posisi tulang belakang berkaitan dengan perubahan tekanan intradiskal dan berakibat percepatan maupun perlambatan transport cairan, dengan atau tanpa perubahan arah. Perubahan reguler antara posisi horizontal dan vertikal memperbaiki transport cairan dan larutan. Mempertahankan keadaan pada satu posisi berakibat berhentinya transport cairan yang bergantung beban, dan karenanya merugikan metabolisme diskus intervertebral. Ini terutama jelas pada postur tubuh dengan tekanan intra diskal yang dipertahankan secara terus-menerus pada tingkat tekanan yanyang tinggi.

2. Biomekanik Tulang Belakang Lumbar a. Beban dari Diskus Intervertebral Lumbar

Ada beberapa faktor biomekanik yang khas untuk tulang belakang lumbar yang membuatnya lebih terancam dan karenanya lebih mudah terkena kelainan diskus intervertebral. Posisi tegak berakibat bagian yang lebih rendah pada tulang belakang menerima beban berat. Pada daerah ini berat badan disalurkan pada area kecil sekitar beberapa sentimeter. Beban ini akan meningkat bila badan ditekuk menjauhi garis tengah. Tahun 1964 Nachemson serta Morris melakukan pengukuran tekanan intradiskal pertama dan penelitian ini dilakukan in vivo pada diskus intervertebral lumbar ketiga, pada manusia dengan postur tubuh yang berbeda. Caranya dengan memasukkan jarum kerongga intradiskal. Jarum diselaputi oleh membran poli-etilen sensitif tekanan. Pencatatan dilakukan dengan manometer. Pada posisi terlentang , tekanan pada diskus intervertebral lumbar sebelah bawah adalah 15 kp. Berbaring miring dengan sedikit tertekuk kebelakang menyebabkan peninggian tekanan lebih dari dua kali. Tekanan meninggi hingga lebih dari 100 kp. saat berdiri, serta pada tekukan kedepan meningkat hingga 140 kp. Tekukan kedepan dengan beban 20 kp. pada lengan menyebabkan peninggian tekanan hingga 200 kp. Duduk dengan punggung tegak menyebabkan tekanan lebih tinggi 140 kp. bila dibanding saat berdiri. Peningkatan selanjutnya terjadi bila tubuh ditekuk kedepan dan terutama bila secara bersamaan diberi beban. Tekanan pada permukaan diskus intervertebral adalah 10 hingga 60 kp/cm2. Okushima (1970) memperbaiki pencatatan pengukuran yang telah dilakukan Nachemson dan Morris (1964). Penelitian lebih lanjut atas tekanan diskus intervertebral dilakukan dengan menghubungkannya dengan penelitian miografi-elektro (Nachemson dan Morris 1964, Nachemson 1965, 1966, 1969, 1974, 1976, Anderson 1974, 1976). Batuk, tertawa, dan peninggian tekanan intraabdominal berakibat peninggian tekanan diskus intervertebral lumbar sekitar 50 kp. Tekanan akan menurun dengan mendudukkan pasien bersandar kebelakang. Duduk santai, tekanan menurun hingga 80 kp. (Nachemson 1984). Kerja otot dan beban pada diskus intervertebral bertambah bila mengangkat dan menarik, yang berhubungan dengan jarak antara beban dan aksis badan. Hasil percobaan ini sesuai dengan perhitungan matematik yang sebelumnya diperkenalkan Matthiass (1956). Menurut Schulter (1965), tekanan dan regangan terbesar ditemukan pada pusat diskus inter-vertebral. Karenanya tenaga robek terbesar terpusat didaerah ini. Mengingat tekanan yang besar, yang berlaku pada diskus intervertebral manusia dalam waktu yang lama, tak mengherankan bahwa perubahan degeneratif berkembang pada jaringan dengan nutrisi yang buruk. Sudah dipastikan bahwa tekanan tinggi penting dalam perkembangan dini degenerasi diskus intervertebral. Rosemeyer (1977) mendemonstrasikan terutama bahwa

diskus intervertebral lombosakral adalah penanggung regangan yang besar. Dalam berbagai posisi tubuh, sebagai pusat dari tahanan yang lemah, daerah ini menanggung 70 % dari fleksi-ekstensi lumbar secara keseluruhan. Ketika duduk dengan tubuh sedikit condong kebelakang atau bersandar kedepan, tekanan intradiskal meninggi saat pusat beban tidak pada pusat diskus intervertebral namun bergeser keanterior seperti pada posisi lordotik. Bagian posterior anulus fibrosus serta ligamen posterior antara arkus akan berada dalam tegangan. Segmen sentral diskus intervertebral yang mobil akan bergerak kearah bagian posterior diskus intervertebral yang kurang tertekan. Dengan kontraksi otot abdominal, memungkinkan untuk menyalurkan bagian dari berat tubuh atas ke daerah pelvis. Tekanan intraabdominal dapat mencapai 140 mm Hg. (Bartelink 1957, Eie 1962). Dengan kontraksi diafragma dan otot abdominal, rongga abdominal berubah menjadi silinder yang dapat menanggung beban berat, dan menurut Finneson (1973), beban diskus intervertebral lumbar dapat dikurangi 30 % dengan menggunakan otot abdominal. b. Hubungan Antara Beban dan Tinggi Perubahan tekanan pada diskus intervertebral yang relatif besar akan mempengaruhi perpindahan cairan pada diskus intervertebral. Diperlihatkan pada percobaan bahwa diskus intervertebral lumbar menjadi celah sangat tipis setelah diberi beban 200 kp. selama 12 jam. Bila tekanan dihilangkan, diskus intervertebral kembali pada ketinggian normalnya (Kramer 1973). Pada sendi intervertebral normal secara in vivo, perubahan tinggi diskus intervertebral lumbar sangat kecil, akan tetapi tetap dapat diukur. Sendi intervertebral, yang tidak seluruhnya vertikal, dan kapsul yang kuat mencegah pengurangan tinggi lebih lanjut. Pertambahan tinggi diskus intervertebral dengan mengurangi tekanan intradiskal dapat digunakan untuk perawatan. Pada traksi terjadi pelebaran jarak diskus sekitar 1.1 mm. Perubahan tinggi berkurang dengan bertambahnya usia. Walau dalam peran kecil, ketebalan penting karena ia akan merubah pola gejala dimana ada kaitan yang erat antara tinggi dan protrusi diskus intervertebral yang akan merangsang radik saraf. c. Sendi dan Foramina Intervertebral Permukaan sendi intervertebral terletak pada bidang sagital dan karenanya memungkinkan fleksi dan ekstensi, namun juga sedikit gerak kesamping. Rotasi juga mungkin, namun terbatas. Ada perbedaan perorangan dalam pergerakan tulang belakang lumbar dan segmen-segmennya. Latihan berperan penting, dan fleksi yang dijumpai

Foramina intervertebral menyempit bila tinggi diskus intervertebral berkurang. ini jelas tampak setelah pembebanan lama atau relaksasi. Jarak jaringan ikat yang sangat dekat. mengurangi rongga intraforaminal dengan seperlimanya. yang mengalami perubahan terus menerus. Radik-radik berjalan melalui bagian atas foramen intervertebral dan mengisi sekitar 1/4 dari total lumen. Lebar foramina intervertebral lumbar berubah sesuai dengan gerakan tulang belakang lumbar.terutama pada akrobatis adalah sangat luas. F. Posisi yang dicoba adalah sesuai dengan gerak fisiologis. yang terjadi selama pembebanan sehari-hari. pada protrusi diskus intervertebral atau adanya reaksi osteofit dari faset sendi. foramina menjadi sempit pada sisi cekung dan melebar pada sisi cembung. terjadi fraktura ruas tulang belakang lebih dahulu dibanding kerusakan diskus intervertebral atau sendi intervertebral. Pada perubahan tinggi intervertebral juga terjadi perubahan pada faset sendi. Pada percobaan biomekanik oleh Kramer didapatkan walau terjadi pemendekan diskus intervertebral lumbar atau adanya distraksi hebat. Pembukaan faset sendi terjadi kearah superior pada bagian luar dan kearah inferior pada bagian medial (Kramer 1973). Pada peradangan dengan pembengkakan jaringan perineural. permukaan artikular bergerak secara teleskopik. sedang inklinasi keposterior menyebabkan penyempitan foramina. Dengan beban mekanik berat. terutama jelas pada daerah lumbar yang diperkirakan karena tenaga mekanik yang terjadi pada daerah ini. Karenanya penderita dengan protrusi lateral diskus umumnya bersandar kedepan serta kearah sisi yang sehat dalam usaha menghilangkan tekanan terhadap radik saraf. Jelas ini penting secara klinis karena sangat dekat dengan saraf yang peka. dan nyata pada faset sendi yang terletak pada dataran koronal. permukaanpermukaan tertekan secara bersamaan pada gerakan yang ekstrem. Akibat inklinasi ringan. Pada pengurangan tinggi diskus intervertebral dan juga pada hiper-lordosis. rongga akan mengecil serta merugikan radik saraf. Tidak diragukan lagi bahwa pada fase tertentu dari . Penurunan jarak intervertebral. Bersandar kedepan berakibat pelebaran. tidak terjadi dislokasi. membuat foramina intervertebral lumbar bawah diperkirakan sebagai pusat penyakit diskus intervertebral. Tekukan kesamping. subluksasi atau interloking. Pada daerah lumbar. Patologi Pendapat secara umum sudah dikemukakan atas perubahan morfologik dan biomekanik yang dapat terjadi pada degenerasi diskus intervertebral. Pergerakan seperti ekstensi dan tekukan kesatu sisi akan mempersempit rongga intervertebral untuk saraf spinal pada sisi tersebut. serta karena struktur saraf yang sangat peka.

Diskus intervertebral merupakan struktur nonvaskular tubuh yang terluas. 1968). Contohnya antara lain tortikolis akut pada anak-anak adalah primer karena perubahan involusional pada diskus intervertebral.degenerasi diskus intervertebral terdapat hubungan dengan gejala yang mungkin memberat. Sejak pertama postur berdiri berlaku. Semula diskus intervertebral tidak memiliki jaringan bradytropic. Degenerasi diskus intervertebral adalah suatu proses yang sangat kompleks yang hingga saat ini sangat sedikit dimengerti. Proses ini dimulai sejak awal kehidupan dan terus berlangsung sepanjang hidup. Karenanya degenerasi telah tampak pada masa bayi dan kelainan diskus telah tampak pada semua bagian tulang belakang pada masa pubertas dan bahkan sebelumnya (Tondury. Pembuluh darah akan kolaps dan menjadi atrofi. Tekanan arteriolar dan venular lebih rendah dari tekanan hidrostatik sehingga pembuluh darah akan terbendung dan tidak akan mencapai diskus inter-vertebral. tekanan langsung dari beban tubuh dan tonus otot akan bekerja pada pembuluh darah diskus yang terletak pada substansi seperti gelatin yang homogen. Pada tulang belakang lumbar sudah dipastikan bahwa kelainan degeneratif berat tidak harus disertai dengan gejala klinis. 1968). Nutrisi fibroblas dan sel kartilago menjadi berkurang. Faktor lain adalah cedera sederhana. Umum Kelainan diskus intervertebral adalah 'ongkos' yang harus kita bayar atas postur berdiri tegak yang kita miliki (Reischauer 1949). Catu nutrisi yang teratur untuk sel diskus intervertebral untuk beberapa dekade tidak dijamin oleh mekanisme transport cairan baik secara aktif maupun pasif. Dengan posisi berdiri. Hanya saat awal masa bayi metabolisme terjadi melalui pembuluh diskus disaat belum ada beban yang ditanggung tubuh. diskus intervertebral merupakan subjek faktor biomekanik yang tidak menguntungkan yang menentang kebutuhan regenerasi normal yang sinambung yang berdasarkan sirkulasi yang memadai. . Setelah usia 30 tahun tak satupun tulang belakang manusia yang tidak mengalami perubahan degenerasi (Schmorl dan Junghanns. Kesulitan dalam mengadaptasi hal ini akan berakibat memburuknya kualitas diskus intervertebral yang akan berakhir dengan degenerasi. akan terjadi perubahan yang mendasar pada keadaan biomekanik. Metabolisme akan melewati jalur yang panjang melalui jaringan yang pada bagian tepinya masih memiliki vaskularisasi yang normal. Pembatasan pergerakan serta fiksasi kaku pada posisi yang tidak baik selanjutnya merubah transport cairan dalam diskus intervertebral. 1. penghilangan beban dan pola gerakan yang normal. Berbeda dengan ruas tulang belakang dengan pembuluh darahnya yang terlindung didalam trabekuli.

Pasien lebih tua dengan diskus yang ruptur dapat menerima 5 cm3 cairan tanpa terjadinya cedera maupun refluks cairan yang disuntikkan. Akhirnya faktor genetik berpengaruh pada perkembangan degenerasi diskus intervertebral yaitu dalam merancang serabut kolagen anulus fibrosus (Wilson. Idelberger (1977) menemukan bahwa faktor konstitusi berperan penting pada degenerasi diskus intervertebral. Dengan mikroskop elektron Dahmen (1966) menemukan fibril yang tidak normal dan irregular dalam ketebalan dan striasi yang beragam. Alasan terbentuknya tidak diketahui. degenerasi serabut anulus dan disintergrasi substansi dasar. Metabolisme diskus memburuk sejak tahun pertama kehidupan.5-1. Pulp menjadi lebih sistik dan terjadi hubungan antara fissura dan anulus fibrosus. Bendungan. batas fibril lamella yang lebih tajam dan mengaburnya batas anular dan nukleus. Sista dan fissura mudah diperlihatkan dengan diskografi dengan menyuntikkan media kontras. 1958). Degenerasi diskus intervertebral akan mengenai semua jenis manusia berdasar konstitusi kerangka tubuh secara ekual. karenanya fibril dan substansi dasar yang dihasilkannya akan bermutu buruk dan pada akhirnya akan mengalami degenerasi lengkap. Dalam perjalanan berikutnya. namun juga struktur anatomis. Pasien lebih muda dapat mengambil sekitar 0. Fibroblas tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. namun semua komponen diskus intervertebral yang menjadi tempat terjadinya degenerasi. Kuhlendahl dan Richter (1952) menemukan degenerasi lemak pada diskus orang dewasa baik pada substansi dasar maupun pada anulus fibrosus. Pada usia 25 hingga 40 tahun tampak perubahan degeneratif seperti dehidrasi. Diskus intervertebral yang lebih berdegenerasi lebih banyak dapat menerima cairan. Tidak hanya perubahan komposisi kimia. jaringan diskus intervertebral menunjukkan ruptur konsentrik serta fissura radial akibat beban. Tanda lain degenerasi diskus intervertebral adalah perubahan warna yaitu karena terjadinya hubungan antara ruptur dan fissura dengan lubang pada dataran akhir tulang rawan yang dipenetrasi pembuluh darah dari cancellous bone hingga terjadi perubahan warna lamella menjadi kuning kecoklatan (GUntz. robekan dan juga perlunakan jaringan diskus intervertebral disebut khondrosis oleh Schmorl dan Junghanns (1968). Kantung udara terbentuk pada sista dan mudah tampak pada radiografi. Harris dan MacNab (1954) menemukan pada nukleus pulposus orang dewasa adanya inti sel dengan granul kasar piknotik. Keseluruhan proses terjadi terbatas pada diskus intervertebral.0 cm3. Karena tidak hanya tulang rawan. . Lang (1962) dan Dahmen (1966) mendapatkan perubahan degeneratif pada orang pada dekade ketiga berupa atrofi sel.strain temporer dan posisi istirahat yang tidak benar. dianjurkan pemakaian istilah yang lebih tepat yakni diskosis. 1968).

Dataran akhir ruas tulang belakang menjadi sklerotik dengan batas yang kabur. usaha untuk melakukan reparasi bergantung pada ruas tulang belakang berdekatan.karenanya sulit tampak pada radiografi. Robekan memungkinkan pergeseran intradiskal sepanjang tenaga ekspansif nukleus tetap ada. Schmorl menganjurkan istilah osteokhondrosis. Akibat kolapsnya diskus intervertebral. secara mengherankan gejalanya biasa ringan. Osteokhondrosis terjadi terutama pada tulang belakang leher sebelah bawah dan lumbar karena pengaruh yang besar dari faktor biomekanik. Pembuluh darah menyebar pada diskus intervertebral dan sel longgar serta jaringan parut vaskular akan mengisi . Ini akan menyebabkan terpisahnya jaringan diskus intervertebral dari ligamen intervertebral. reaksi pada diskus intervertebral lebih penting. sklerosis pada osteokhondrosis hanya terbatas pada dataran akhir ruas tulang belakang. Namun pemendekan rongga diskus intervertebral pada radiograf serta deviasi aksial akibat perubahan postur dapat diperlihatkan. Dengan perlunakan dan fragmentasi lebih lanjut. Bila ruas tulang belakang terserang dan perubahan degeneratif juga tampak pada tulang. Berbeda dengan pada spondilitis. Sangat jarang prolaps hanya mengandung material pulp. Perlunakan diskus serta hilangnya turgor berakibat bertambahnya kehilangan serta fragmentasi diskus intervertebral. Kadang-kadang terjadi degenerasi sistik pada badan ruas tulang belakang seperti pada osteoarthrosis. Ini umumnya terjadi pada ligamen longitudinal anterior yang menjembatani diskus dengan diskus dan melekat melalui serabut Sharpey pada badan ruas tulang belakang. Akibat hilangnya sirkulasi pada diskus intervertebral. Walau tampilan perubahan osseus hebat. Spur spondilotik terjadi mula-mula pada arah horizontal namun kemudian dalam arah longitudinal mengikuti ligamen longitudinal. Secara klinik. Bagian nukleus pulposus dan fragmen diskus intervertebral bermigrasi dibawah beban berat pada jalur yang terkecil tahanannya dan karenanya mengalami penetrasi kejaringan dan menonjol kebelakang sebagai prolaps diskus intervertebral. Bila keadaan menjadi kronik. berakibat tiadanya proses reparasi. Fissura dan ruptur piring tulang rawan memudahkan penetrasi pembuluh darah dan jaringan ikat dari badan ruas tulang belakang kediskus inter-vertebral. sering disertai juga jaringan fibrosa dan tulang rawan. terjadi peninggian beban pada sendi ruas tulang belakang serta penyempitan foramina intervertebral. Pada daerah ini reaksi osseus timbul dan meluas keligamen. bagian tersebut akan bergeser dan dapat bermigrasi bebas dan disebut sekuestra. Pertumbuhan spur oseus dapat meluas dan terjadi spondilosis hiperostotik menyeluruh yang disebut spondilosis hiperostotika. Karenanya istilah prolaps diskus lebih tepat dari pada prolaps nukleus. Secara bersamaan terbentuk spur kecil dibagian posterior.

potasium berkurang karena berkurangnya jumlah sel. namun ajaib tidak banyak orang yang mengajukan keluhan. namun lebih sebagai proses biologik dengan kemungkinan terjadinya gangguan sepanjang hidup. perlunakan jaringan serta pergeserannya. Pembatasan pergerakan tulang belakang akibat kelainan diskus intervertebral dapat bertambah. namun juga sebagai medium transport berbagai substansi pada berbagai proses metabolik. Tondury (1973) menjelaskan lingkar hidup diskus intervertebral.rongga tersebut (Tondury. menjadi jelas hanya bila terjadi perubahan pada pembuluh darah dan saraf yang berdekatan. Perubahan pada diskus intervertebral tidak dianggap sebagai penyakit. 1958). matriks organik diskus intervertebral juga berubah. terjadi pula peningkatan protein nonkolagen. dengan kata lain tidak lebih dari proses fisiologik. pada usia 12 turun menjadi 83% dan 70 % pada usia 72 (Keyes dan Compere 1932). Dengan pertambahan usia. Peningkatan bendungan dan robekan diskus intervertebral adalah perubahan degeneratif sejati. kemudian akan menetap. Pemendekan tinggi dan fiksasi segmen tidak sering bersamaan dengan nyeri walau ada penyempitan foramina. Dengan berkurangnya cairan. Magnesium berkurang hingga usia 70 tahun dan selanjutnya bertambah lagi secara perlahan. nutrisi diskus intervertebral memburuk karena air tidak hanya penting untuk lingkungan makromolekul. Sulfur berkurang dan Nitrogen bertambah. Bersamaan dengan perubahan morfologik pada diskus intervertebral. Pada neonatus diskus intervertebral mengandung 88% air. Karenanya biomekanik segmen bergerak juga berubah. Ini paling jelas pada tulang belakang leher dan lumbar. tanda khas perubahan diskus intervertebral adalah pengurangan kandung air. ruptur yang terjadi cepat. Pita fibrosa kuat dan telah mengalami dehidrasi serta lipping osseus menyangga rongga diskus intervertebral hingga pembuluh darah yang menginvasi jaringan tidak tertekan oleh tekanan beban. Seperti telah dijelaskan. Ini terutama pada keadaan yang telah berlangsung puluhan tahun demana radik saraf dan pembuluh darah telah beradaptasi. Kandung kolagen meningkat hingga usia 20 tahun. GUntz (1958) menjelaskan tentang penyembuhan dengan jaringan parut pada diskus inter-vertebral yang rusak. Secara klinis. Selama tahun pertama kehidupan nukleus pulposus mengandung lebih banyak air dibanding anulus fibrosus. Schmorl dan Junghanns (1968) meyakini ketergantungan terhadap usia. terjadi pengurangan kandung air dengan akibat perubahan pada komposisi kimia. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi perubahan. Paralel dengan peningkatan nitrogen. Yang terpenting dalam metabolisme dan biomekanik diskus intervertebral adalah perubahan pada kolagen serta mukopolisakharida. Mukopolisakharida berubah baik dalam kualitatif maupun kuantitatifnya dengan . Kalsium menjadi dua kali lipat selama siklus hidup. Karenanya terjadi ankilosis fibrosa dan bahkan osseus dengan inaktivasi segmen.

Depolimerisasi makromolekul menghasilkan produk sisa yang terkadang meningkatkan tekanan onkotik dengan bertambahnya partikel total. menyebabkan khemo- . Setelah usia ini menurun secara jelas (Kramer 1973). Karenanya tekanan onkotik menurun dengan pertambahan usia. Kebanyakan penelitian pato-anatomi memperlihatkan bahwa fissura dan robekan bertambah dengan bertambahnya usia. Pada tes kompresi (Virgin 1951) dan diagram tekanan (Hartmann 1970) memperlihatkan bahwa over-ekstenuasi serabut anular. robekan tampak pada anulus fibrosus diawal usia dewasa. Ekstenuasi diskus intervertebral dalam tingkatnya yang terbesar. Pengukuran tekanan pada usia berbeda menunjukkan kembalinya diskus intervertebral yang dikompresi keukuran normal lebih nyata pada usia muda. peninggian hialu-ronidase bertanggung jawab untuk separasi makromolekul. penambahan homogenisasi nukleus pulposus. Beban tambahan akan menyebabkan lesi irreversibel (histeresis). Walau demikian frekuensi protrusi dan prolaps berkurang. namun pada tegangan yang tinggi. yang telah dibebani sebelumnya. Karenanya tujuan terapi dengan mempercepat depolimerisasi misalnya dengan injeksi substansi sesuai. ditahan oleh tahanan anulus fibrosus yang telah berdegenerasi. Jadi adalah kerusakan keseimbangan jaringan diskus intervertebral. mencapai tingkat dimana terjadi ruptura dan fissura. Bila volume intradiskal ditingkatkan dan dijadikan subjek strain mendadak. lebih banyak akumulasi cairan pada diskus intervertebral. Terjadi pergeseran.pertambahan usia. serabut akan putus. Tanda khas adalah penurunan mukopolisakharida. Tenaga ekspansif nukleus pulposus berkurang dan akibatnya terjadi pengurangan kecenderungan untuk bergeser. Tetap tidak diketahui berapa lama depolimerisasi makro-molekular berlanjut dengan tekanan intra-diskal meninggi dan apa yang mengendalikannya. protrusi dan prolaps. Menurut Naylor (1971). Ternyata secara mengejutkan nilai yang tinggi terjadi pada usia 30 hingga 50. disrupsi nuklir dan fissura lamellar. Antara usia 25 dan 30 bagian sentral diskus intervertebral yang menjadi lebih meluas akibat bertambahnya tekanan. dan terbentuk konsistensi yang padat tak elastik. oleh pengeringan diskus intervertebral. Akibatnya anulus fibrosus bertambah isinya dan tetap tenang bila tanpa beban. Dalam hubungan dengan peningkatan tekanan intradiskal maka orang dewasa muda memiliki risiko akan perubahan kemampuan biokimia yang akan menyebabkan pergeseran jaringan diskus intervertebral. antara usia 30 hingga 35 tahun frekuensinya meningkat dimana terjadi pembengkakan substansi dasar. Dengan penambahan molekul. Penurunan juga akan terjadi pada berat molekulnya. Menurut Kuhlendahl dan Richter (1952). Ia juga menganggap bahwa katepsin D mungkin merupakan enzim yang berperan dalam degenerasi diskus intervertebral. efeknya akan seperti memecahkan gelas.

Hal serupa juga terjadi pada lesi diskus intervertebral dan setelah diskotomi. selanjutnya ini merupakan syarat tidak langsung untuk terjadinya rasa tidak enak pinggang. Bila tekanan onkotik berkurang. Pergeseran ini dapat menambah protrusi dan prolaps.nukleolisis. Disamping kombinasi penambahan tekanan dan pengurangan tahanan anulus fibrosus. Yang pertama terserang adalah serabut kecil yang berjalan antara lamella sehingga tidak terjadi pergeseran. Absorpsi air akan berkurang dan tinggi diskus inter-vertebral berkurang. Ini mengganggu semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral. . kehilangan sifat bumpernya dan tidak lagi bekerja sebagai semijoint pada segmen bergerak. Tenaga luar hanya merupakan efek presipitasi yang oleh Schmorl dan Junghanns (1968) disebut impuls tambahan. Bila tidak disertai pembentukan makromolekul didalam diskus intervertebral. Diduga bahwa penambahan beban berat badan dengan adanya tenaga kompresif dan shear merupakan satu-satunya penyebab prolaps diskus intervertebral. Ini terutama karena peninggian tekanan intradiskal dan pengaruh tekanan kompresi dan shear. Diskus intervertebral yang menjadi tidak elastik serta robek. Ini akan menjadi kendur bila lebih banyak air dikeluarkan. Pada remaja perbedaan tinggi badan antara pagi dan malam adalah dua persen dan pada dewasa 0. zat-zat yang terlarut serta juga makromolekul dapat berpermiasi dibawah tekanan yang rendah. Serabut melunak. faktor biomekanik turut berperan dalam perkembangan prolaps karena perlunakan dan penjarangan struktur diskus intervertebral dengan pembentukan fragmen yang akan bergerak kearah tahanan terendah yaitu menuju konveksitas. Semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral dihilangkan oleh adanya fissura hingga air. Degradasi enzimatik akan menyebabkan terbentuknya molekul bermolekul lebih kecil yaitu menjadi sekitar 400. Alasan lain pada pengeringan diskus intervertebral adalah ruptur pada anulus fibrosus. Terdapat hubungan langsung antara tinggi badan dan volume diskus intervertebral.2 persen. tekanan onkotik akan berkurang seperti halnya pada pertambahan usia. Bila terjadi perubahan volume. Namun mustahil untuk membuktikannya secara satu persatu. kehilangan fungsi normalnya. Penghambatan efek hialuronidase didapat dengan pemakaian inhibitor hialuronidase. terjadi perubahan tegangan serabut anulus fibrosus. penurunan relatif tekanan hidrostatik dapat menyebabkan pengeluaran air. Penetralan hasil intermediet depolimerisasi dicapai dengan penurunan tekanan. Bila derajat ekstenuasi berkurang. Keragaman sehari-hari tinggi badan akan relatif berkurang. Keseimbangan osmotik terganggu. sendi ruas tulang belakang dan ligamen. pergerakan akibat berat tubuh tidak lagi cukup mengatur dan tidak juga terbagi merata sepanjang cincin serabut. Komponen segmen lain. dan tinggi diskus akan semakin berkurang.

yang memberikan tekanan pada bagian konkav diskus intervertebral tulang belakang yang mengalami deformitas. Perubahan prediskotik ini lebih berpotensi untuk menimbulkan penyakit dibanding prearthrotiknya sendiri. Nukleus pulposus dan bagian bergerak dari anulus fibrosus tergeser kedaerah yang kurang terbebani. Percobaan hewan menunjukkan kelainan degeneratif umumnya terjadi pada bagian yang lebih tertekan (Exner 1954). spondilosis dan sklerosis dataran akhir ruas tulang belakang didaerah yang terkena. diskus intervertebral akanmenjadi robek dan rapuh. terjadi kelainan fungsional pada sistem lokomotor yang memacu terjadinya degenerasi diskus intervertebral (diskosis). Kelainan juga terjadi setelah pertumbuhan berakhir. Beban total yang dalam keadaan normal didistribusikan pada seluruh diskus menjadi terpusat pada daerah ini. Kompresi yang bersinambung dan gangguan nutrisi pada fibroblas berakibat diskosis prematur. penuaan jaringan dan impaksi menunjukkan perjalanan yang cepat bila beban berkelanjutan hingga akhirnya terjadi ankilosis. Bagian anulus fibrosus yang tergantung baik dan dataran kartilago tidak dapat meneruskan tekanan ini. namun perubahan utama terjadi terutama pada tulang belakang leher dan lumbar. Pengeringan. Terjadi segmen tulang belakang fibrosa yang kaku pada puncak kifosis (kifosis remaja) dan pada skoliosis. Pembebanan tidak setangkup yang bersinambung berakibat perubahan metabolik pada bagian konkav diskus intervertebral. Gejala jarang timbul dari bagian kaku tulang . Terjadi perubahan yang khas pada diskus intervertebral yang menjadi subjek beban yang tak setangkup. Perubahan prediskotik adalah kelainan postur yang berakibat pembebanan yang tak setangkup pada satu atau lebih diskus intervertebral.Bila pengeringan berjalan terus. Tonus otot batang tubuh yang kendur. Pertanda ini disebut perubahan prediskotik. dan terjadi pergeseran jaringan diskus intervertebral. Pada skoliosis terjadi perubahan dini anular pada daerah konkav akibat peninggian tekanan. Analisis objektif menunjukkan penyempitan diskus intervertebral. Difusi menjadi berkepanjangan dan sirkulus visiosus terus berlangsung dengan berlanjutnya pengeringan serta perlunakan. adalah sangat besar sehingga cairan serta hasil metabolisme tidak dialirkan pada daerah ini. Sebagai patokan. semua diskus menjadi subjek degenerasi progresif ini. Akhirnya tinggi diskus menjadi lebih pendek. Metabolisme seluler menjadi terganggu. Deformitas dapat terjadi pada tulang belakang atau sekitarnya. Sehubungan dengan perubahan sendi prearthrotik. pertumbuhan apposisional interstitial pada bayi akan terganggu dan diskus intervertebral mengalami deformasi serta menjadi konkav. Dengan penggunaan yang tak teratur diskus intervertebral. sering tampak pada remaja dengan pembentukan lengkung pada tulang belakangnya.

Sendi ruas tulang belakang menunjukkan peningkatan osteoarthrosis. Pembebanan batang tubuh anterior yang berkelanjutan seperti pada kehamilan. Pada penderita kifosis remaja. Secara keseluruhan statika dari tulang belakang lumbar menjadi terganggu oleh adanya hiperlordosis dan lesi timbul pada diskus intervertebral lumbosakral dan sendi ruas tulang belakang.70 persen manusia (Taillard 1964). Bagian superior tulang belakang lumbar lebih sering menunjukkan kifosis. Diskus intervertebral mempunyai kemampuan mengatur dirinya saat pertumbuhan dataran akhir ruas tulang belakang. Terjadi bendungan dan robekan prematur. lebih sering dari bagian yang bergerak. diskus intervertebral melunak dan menipis. dan berakibat diskosis prematur. Kelainan tak setangkup bisa disaksikan baik pada dataran sagital maupun frontal. Perbedaan tinggi diskus intervertebral pada arah antero-posterior adalah fisiologik pada kurva sagital tulang belakang normal. Perubahan keseimbangan lokomotor menyebabkan deformitas tulang belakang pada dataran frontal. Terjadinya hiperlordosis kompensatori didaerah lumbar bawah berakibat diskus intervertebral lumbosakral menjadi subjek tenaga kompresif dan shear. Sering disertai deformitas statik. timbul skoliosis akibat fiksasi fibrosa diskus intervertebral. Kelainan kongenital daerah lumbosakral menyebabkan pembebanan tak setangkup pada diskus intervertebral lumbar. Perbedaan panjang tungkai dengan tekukan panggul ditemukan pada 60 . Brocher (1973) menemukan penyempitan diskus intervertebral lumbosakral pada gangguan pertumbuhan juvenil baik pada toraks maupun lumbar. lumbago dan siatika akan terjadi pada usia tiga puluhan. Dengan penjarangan dan pergeseran tulang belakang. Ini sangat sering tampak bersamaan dengan kontraktur fleksi pada kelainan sendi panggul.belakang. Gangguan pertumbuhan juvenil tulang belakang lumbar merupakan pertanda perubahan prediskotik. postur yang tidak benar dan obesitas menyebabkan tekukan panggul dan penambahan lordosis lumbar dengan peregangan berlebihan dan gangguan nutrisi bagian posterior diskus intervertebral lumbar. Peningkatan atau menetapnya kurva fisiologik setelah pertumbuhan menyebabkan pertambahan beban pada baik bagian diskus intervertebral anterior maupun posterior. Spondilosis dan spondilolistesis merupakan dasar perubahan prediskotik. Terjadi perubahan prediskotik. Ini merupakan subjek terhadap strain dan stres yang lebih besar yang menyebabkan penjarangan struktur serta pergeseran jaringan. Kelainan kongenital . Setelah inklinasi lateral tulang belakang yang lama. Max Lange (1965) menduga bahwa lumbalisasi dan sakralisasi menyebabkan prolaps diskus inter-vertebral hingga dua kali lebih sering dibanding tulang belakang normal. Inklinasi tulang belakang lateral sering dikarenakan tekukan panggul sekunder terhadap pemendekan salah satu anggota bawah.

lumbosakral ini karenanya merupakan perubahan prediskotik bila menimbulkan pembebanan lumbar yang tak setangkup. Fisura radial dan sirkular berjalan kedalam nukleus pulposus akibat beban tak setangkup terhadap diskus intervertebral. selanjutnya berjalan keposterior kebatas yang lebih perifer dan karenanya menyebabkan regangan terhadap ligamen longitudinal posterior. Dianjurkan untuk memperbaiki fraktura ruas tulang belakang dengan memperbaiki alignment untuk mencegah sekuele diskus intervertebral. fragmen diskus intervertebral ditemukan bila anulus fibrosus disayat. Deformitas setelah fraktura ruas tulang belakang serta spondilitis merupakan perbahan prediskotik. Perpindahan Intradiskal dan Protrusi Posterior Tanda makroskopik pertama yang dapat dikenali pada degenerasi diskus intervertebral lumbar adalah adanya fisura pada bagian pusat anulus fibrosus. Tulang belakang lumbar mungkin menekuk kelateral dan terputar hingga terjadi skoliosis. Pada arah posterolateral mungkin terjadi kontak antara protrusi dan radik saraf. Sebagai tambahan terhadap nyeri lumbar. Sclegel (1975) menemukan bahwa tulang belakang lumbar hipersegmental lebih mobil dan memerlukan muskulatur untuk menstabilkannya. Lapisan paling permukaan dari anulus fibrosus tetap utuh. Rettig (1959) menjelaskan konsep ini dengan tehnik radiografik dengan kontras yang menampilkan diskus inter-vertebral. Pada anak dan orang muda hal ini sangat sering memperberat regangan pada hamstring. Ia berkembang dari daerah kecil ditempat yang mengalami perubahan degeneratif. Hal ini mungkin menjadi lebih atau kurang intensif . Serabut-serabut sensori ramus meningeal saraf spinal menjadi terangsang. Pada operasi. mendapatkan beban yang tak setangkup hingga menimbulkan perubahan bendungan. Diskus didekatnya yang tidak harus segera terkena. Dari kepentingan klinis. Transisi menuju protrusi lumbar adalah menyeluruh. namun protrusi tertentu lapisan superior diskus intervertebral dibelakang jaringan yang rusak tetap berlangsung. juga timbul nyeri radikuler. pergerakan fragmen diskus intervertebral kearah posterior penting karena pada daerah ini terdapat struktur peka nyeri. Ini mungkin menyebabkan lumbago dan adalah akibat adanya kerusakan interior diskus intervertebral. Perubahan prediskotik adalah potensial menjadi penyakit dan harus selalu diketahui serta penyebabnya diatasi dengan cara yang paling baik. 2. Protrusi atau invasi anterior jaringan diskus intervertebral kebadan ruas tulang belakang tidak menyebabkan rasa tidak enak atau pembatasan fungsi. serta pengaruh sekunder terhadap ramus meningeal saraf spinal.

Sepanjang lamela kuat anulus fibrosus tetap utuh diluar protrusi. Gejala protrusi sangat berubah-ubah karena jaringan yang mengalami protrusi tetap merupakan bagian dari sistem osmotik yang utuh dan karenanya bereaksi terhadap semua perubahan patofisiologik yang khas pada degenerasi diskus intervertebral. Disisi lain.tergantung lokasi serta ukuran dari protrusi. tiba-tiba kehilangan nyeri . Tentu ini tidak terjadi pada keadaan dimana fragmen sudah terjepit antara tepi posterior ruas tulang belakang bersangkutan dimana fragmen tidak akan bergerak. Pengobatan diarahkan pada usaha mengembalikan fragmen kepusat diskus intervertebral. Prolaps Keadaan sangat berbeda bila degenerasi diskus intervertebral menyebabkan perforasi lamela posterior anulus fibrosus serta yang menyebabkan prolaps jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi. 3. kecuali penderita setelah mengalami masa nyeri pinggang dengan/atau nyeri tungkai. atau biasa disebut 'protrusi paramedian'. Pada keadaan stenosis tulang belakang lumbar. terutama bila prolaps meletakkan material diskus inter-vertebral dibawah atau didekat radik saraf dan menyebabkan tekanan dan rangsangan pada radik saraf. Bagaimanapun hal ini mungkin akan mengalami ekstrusi sempurna membentuk prolaps. namun juga ruangan dimana dura dan radik-radik saraf yang kelak akan terjepit. protrusi sangat kecil mungkin berakibat timbulnya rasa tidak enak. Pada keadaan ini. operasi adalah utama. atau akhirnya mungkin mengalami protrusi kedalam foramen menyebabkan protrusi intraforaminal. fragmen diskus intervertebral mungkin bergerak kearah pusat diskus intervertebral. protrusi mungkin sangat kecil. Mungkin pula medial atau lateral terhadap radik saraf. Berlawanan dengan frekuensi yang tinggi dari nyeri lumbar dan nyeri menjalar yang tampak bersama protrusi diskus intervertebral yang sederhana. Bila mengenai L5/S1 jarak antara kantung dura dan protrusi lebih jauh dibanding tingkat yang lebih atas. Protrusi kemudian menjadi prolaps. Tidak mungkin untuk memperkirakan kapan protrusi menjadi prolaps. Simptomatologi tergantung posisi protrusi. atau menjadi lepas dan terdorong kebagian pusat diskus intervertebral. Mungkin lebih menuju tengah. Tidak hanya ukuran protrusi yang penting. prolaps posterior dan postero-lateral adalah sangat jarang. Protrusi didaerah ini mungkin harus sangat besar untuk dapat mengganggu kantung dural. namun sudah diketahui pada jenis pengobatan ini mungkin berakibat bahwa fragmen lebih bergerak kearah tepi anulus fibrosus dan akhirnya terjadi robeknya lamela luar. pada penekanan radik saraf kearah lateral kedalam foramina intervertebral.

Karena intensitas nyeri pada prolaps lumbar umumnya tergantung lokasi dan ukuran deformitas. Fragmen diskus intervertebral menambah volumenya dalam cairan isotonik dan hipotonik. prolaps posterolateral akan mengenai radik saraf. siatika. Radik-radik saraf mungkin menjadi gepeng karena tekanan. Pada prolaps lumbar jaringan bergerak kerongga epidural kanal spinal dan menyebabkan penyempitan yang sangat serupa dengan tumor. bagian diskus intervertebral posterior termasuk piring tulang rawan dapat mengalami fragmentasi dan prolaps kedalam kanal spinal. kantung dura akan tertekan seperti juga serabut-serabut kauda ekuina. Sebagai patokan. Tergantung posisinya. nyata bahwa perubahan volume jaringan yang prolaps mungkin berakibat perubahan gejala. prolaps berjalan kelateral dan mengikuti radik saraf yang tertekan dianterior. Prolaps dapat berhubungan dengan jaringan diskus inter-vertebral bersangkutan namun dapat juga tampak sebagai fragmen terpisah. Disamping ukuran jaringan yang prolaps. Akar saraf karenanya terdorong keposterior dan mungkin tertekan pada bagian posterior kanal spinal (ligamentum flavum dan faset inferior). Radik-radik sangat sering menjadi gepeng. Posisi antara prolaps dan radik saraf dapat juga berubah. Harus dipikirkan bahwa pengobatan manipulatif berperan hingga diskus intervertebral menjadi prolaps. atau sindroma kauda lengkap atau tak lengkap yang merupakan gejala yang biasa pada prolaps medial. prolaps dapat menggerakkan radik saraf baik kemedial maupun kelateral.pinggang sama sekali dan hanya merasakan nyeri tungkai yang menjalar. Setelah perforasi bagian posterior anulus fibrosus. Perubahan diskus intervertebral yang mengalami prolaps dapat berhubungan dengan intensitas nyeri. atau melekat pada prolaps. Jaringan yang bergerak kerongga epidural. atau mungkin membengkak dan menimbulkan reaksi radang. Jaringan diskus intervertebral yang tidak dipengaruhi tekanan intradiskal. Bila arahnya kemedial. dengan akibat pendataran lordosis lumbar. Gejala klinik prolaps medial mungkin menampakkan baik lumbago. Pada daerah lumbar. Percobaan terhadap jaringan fragmen diskus intervertebral memperlihatkan pada keadaan yang serupa dengan prolaps diskus intervertebral dimana terjadi penambahan volume pada cairan hipotonik dibanding pada cairan hipertonik. jaringan prolaps dapat menyebar kesemua arah. Gejala klinik mungkin beragam. akhirnya mengkerut dan membentuk perlekatan. dapat berubah volumenya karena kemampuan osmotik. Ini mungkin menimbulkan rekurensi yang kronik dari nyeri radik saraf. Ini diperlihatkan dengan mielografi. Pada kasus tertentu. Jadi dianjurkan untuk sangat berhati-hati saat membuang ligamentum flavum . konsistensi juga berperan. yang karena kemampuan osmotiknya menimbulkan perubahan tingkat gangguan terhadap saraf.

Bahkan bila patofisiologinya serupa misalnya protrusi lateral. Alasannya adalah karena adanya perubahan biokimia dan biomekanik didalam diskus intervertebral. ini akan berakibat siatika pada sisi lainnya. elemen saraf kanal spinal terkena. dengan onset nyeri yang tiba-tiba lebih sering dijumpai. Dengan perjalanan waktu. biomekanik interior dari diskus intervertebral menjadi berubah. Sindroma lumbar kebanyakan khas dengan nyeri pinggang bawah dan siatika yang dalam perjalanannya memiliki penyebaran serta intensitas yang sangat beragam. diferensiasi sindroma lumbar yang lebih baik dapat . jadi tekanan terhadap radik saraf terjadi dari arah ini. seperti kantung dural. Jaringan prolaps dapat juga mengarah kesuperior atau inferior dan karenanya mengenai radik-radik pada tingkat lain. Karenanya klasifikasi yang sistematik sulit didapatkan. Ketinggian diskus intervertebral berkurang dan sendi intervertebral terganggu dengan pengurangan rongga interforaminal yang selanjutnya menekan radik saraf. yang dikenal sebagai sindroma pasca diskotomi. Semua gejala dimulai dengan nyeri lumbosakral ringan hingga paralisis lengkap bisa ditemukan. Sindroma lumbar paling sering diakibatkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. Sekali fragmen mengalami prolaps . sindroma berbeda dari pasien kepasien. yang selanjutnya mengenai radikradik saraf dan menyebabkan gabungan reaksi radang dan mekanik. Dalam perjalanan selanjutnya. Misalnya jaringan prolaps bergerak kemedial. radik-radik saraf sisi berseberangan juga terkena.atau bagian dari lamina. bila berkembang perubahan degeneratif sekunder. Lagipula reaksi masing-masing sistem saraf terhadap perubahan eksternal harus dipikirkan. dan akibat perubahan sistem osmotik. Jaringan diskus inter-vertebral lebih renggang. menjadi lebih sulit untuk menghubungkan gejala-gejala dengan keadaan patofisiologik utama. Ini mungkin pada akhirnya menyebabkan sindroma lumbar kronik dengan nyeri radikular berulang. gejala klinik berkurang dengan adanya invasi jaringan fibrosa yang memiliki pengaruh stabilisasi. Jaringan fragmen diskus intervertebral dapat juga bergerak keposterior. yang terutama dijumpai setelah operasi. akan menimbulkan perubahan mekanik jaringan sekitarnya. GEJALA DAN TANDA SINDROMA LUMBAR Gejala sindroma lumbar beragam. Pada prolaps tertentu. Ini akibat perlekatan yang merupakan tahap akhir reaksi radang sekitar radik saraf. Sangat umum dijumpai kasus-kasus yang tidak mengikuti pola yang khas. Baik pendataran radik saraf maupun reaksi radang dengan pembengkakan radik. Dengan miografi-elektro dan mielografi. juga menjadi lebih lembut.

Terbukti bahwa tekanan pada kantung dural dan radik-radik saraf oleh jaringan diskus intervertebral yang prolaps adalah penyebab utama nyeri siatik.dibuat. A. Kadang-kadang timbul sangat tiba-tiba. Saat ini mielografi dapat dilakukan tanpa bahaya yang besar sejak digunakannya media-kontras yang tidak berbahaya. rencana dan radik mana yang terkena mungkin hanya dibuat berdasarkan riwayat dan daerah dari penyebaran nyeri sepanjang dermatom khas. biasanya menyebabkan kelemahan motor dibandingkan perubahan sensori. hingga diagnosis sindroma lumbar mudah ditegakkan. Tanda objektif mungkin minimal walau nyeri hebat. malposisi pelvis dan sendi ruas tulang belakang. Keluhan Umumnya gejala pada suatu sindroma lumbar adalah nyeri. Sindroma lumbar khas dengan lumbago dan siatika. Kehilangan sensori lebih menunjukkan reaksi radang dibanding reaksi tekanan. . Finkenrath (1977) mendapatkan kenyataan bahwa lebih dari setengah penderita tidak mempunyai alasan yang pasti atas onset dari gejala yang dideritanya. Tekanannya sendiri. Penderita biasanya sangat mengenal lokalisasi nyerinya. Namun demikian perlu untuk membedakan jenis pengobatan. Apabila tidak didapatkan tanda-tanda neurologik. Bila tak ditemukan tanda objektif sama sekali. Intensitas nyeri tidak selalu sebanding dengan tekanan yang mengenai radik saraf bersangkutan. Paling sering mengenai dua segmen lumbar terbawah. Karenanya penderita sering menghubungkan gejalanya dengan beberapa kegiatan. Pengaruh impak yang keras dan berbagai jenis kecelakaan tak dapat dianggap bertanggung jawab atas nyeri pada pasien-pasien yang diperiksa dan yang tidak merencanakan tuntutan asuransi. mungkin sulit untuk menilai keadaan secara sempurna. sekarang memainkan peran sekunder. Analisa sindroma menjadi sederhana dengan mendengarkan secara hati-hati riwayat penderita termasuk posisi dan gerakan yang mungkin mempengaruhi karakter dan intensitas nyeri. karena medianya adalah serabut-serabut besar. Pasien sering tampak berkonsultasi saat bebas gejala. Ini tidak jarang pada kasus kompensasi asuransi. Perubahan lain yang semula dianggap sangat penting. Siatika atau lumbago akut timbul tanpa sesuatu penyebab yang jelas ("Came out of the blue"). Sudah jelas diketahui bahwa nyeri pinggang sering dianggap dasar untuk menuntut asuransi atas kecelakaan. seperti halnya deformitas statis. seperti mengangkat benda berat atau menggeliatkan punggungnya secara berlebihan. tergantung apakah patologinya berupa protrusi atau prolaps dari diskus intervertebral. karakter serta intensitas nyerinya. Sindroma lumbar dapat berkembang dalam waktu sangat singkat.

Namun beberapa pasien merasakan pengurangan nyeri saat duduk dimana foramina intervertebral membesar. posisi dan tekanan berubah sepanjang hari dan juga sepanjang perjalanan penyakit.Karakter nyeri dan penjalarannya secara sinambung beragam pada sindroma lumbar. buang air besar dan potensi harus diketahui. Ini didemonstrasikan Nachemson (1976) bahwa peninggian tekanan intraabdominal menyebabkan tekanan intradiskal lumbar. Keragaman gejala ini mungkin pula terjadi bila nyeri menjadi berkurang dan bila perbaikan mulai terjadi. Ini terutama jelas pada perbedaan gejala antara siang dan malam. Pada posisi berdiri dengan lordosis lumbar. Informasi mengenai fungsi kandung kemih. seperti juga dengan perubahan posisi radik-radik saraf terhadap aspek posterior diskus intervertebral. Nyeri diskogenik daerah lumbar dieksaserbasi oleh batuk dan bersin dimana terjadinya peninggian tekanan intra-abdominal. Keluhan beberapa pasien atas kram pada betis . bagian diskus intervertebral posterior yang mengalami fragmentasi menjadi tertekan diantara tepi ruas tulang belakang dan akan membengkak menekan dura dan radik-radik saraf (Reischauer 1949). Sudah menjadi kenyataan bahwa nyeri diskogenik pada daerah lumbar sangat erat bergantung pada posisi tulang belakang. Disaat lain nyeri lumbosakral dapat hilang sempurna dan hanya siatika yang menetap. ada pasien yang berkurang nyerinya pada posisi telungkup dan dengan hiperekstensi ringan tulang belakang lumbar. Penting untuk menemukan bahwa pasien merasakan perbedaan nyeri bila mengistirahatkan tulang belakang. Mulanya nyeri dapat sangat dalam dan terbatas pada daerah lumbosakral dan dijalarkan ke bokong. Keadaan serupa terjadi selama istirahat dimana posisi miring berubah keposisi telungkup. Kebanyakan penderita merasa enak bila berbaring pada sisi tubuh atau pada belakang tubuh dengan pangkal paha dan lutut fleksi. Nyeri mungkin bertambah bila lordosis lumbar diperbesar dengan membaringkan pasien pada posisi telungkup. adanya posisi dimana didapatkan relaksasi mungkin berhubungan dengan posisi protrusi atau prolaps. Penjelasannya adalah adanya hubungan antara vena epidural tanpa katup pada kanal tulang belakang terhadap perubahan tekanan intraabdominal atau intratoraks. Disisi lain. Bersandar kedepan atau duduk pada lengan kursi diperkirakan menambah tekanan intradiskal. Secara keseluruhan. Alasannya tentu saja perubahan tekanan intradiskal yang besar. Sekali lagi. Sebagai tambahan mungkin dapat timbul siatika yang mulanya hanya mengenai tungkai atas namun akhirnya juga mengenai kaki. Ini timbul sebagai bagian sindroma kauda seperti juga kelemahan otot anggota bawah yang juga dapat disertai dengan siatika. Pasien akan berusaha mencegah peninggian tekanan dan selalu menemukan posisi dimana nyeri akan berkurang walau pada peninggian tekanan. hubungan antara nyeri.

Diagnosa yang mendalam dan tepat suatu saat mungkin sulit ditegakkan bila pasien mengemukakan bermacam gejala.posterior adalah bagian sindroma S1. karenanya diusahakan interogasi dan pemeriksaan yang sangat teliti saat pemeriksaan pertama. terutama sendi panggul. Penderita mencegah semua gerakan yang dicurigainya akan menimbulkan nyeri. sehingga tes Lasegue dapat dilakukan tanpa ada sesuatu keadaan yang menyebabkan gangguan terhadap sendi panggul. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan . dari nyeri tumpul yang dapat timbul pada otot tungkai sebelah belakang. timbul nyeri yang menjalar sesuai dengan distribusi radik saraf yang terkena. Pada pemeriksaan tidak dijumpai tanda-tanda objektif. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. Bila melampaui ini. Observasi oleh Lasegue. pemeriksaan adalah positif dan karenanya dikatakan sebagai Lasegue positif (positive straight leg-raising test). Gangguan motor dari otot dapat terjadi akibat nyeri dan relaksasi refleks seluruh anggota bawah. Tabel 2 Gejala-gejala Khas pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Onset mendadak Perjalanan silih berganti Ketergantungan pada postur Nyeri bertambah pada batuk. didapatkan bahwa pada pasien dengan siatika sering dijumpai plantar fleksi dari kaki dan pada dorsifleksi kaki akan menimbulkan nyeri. Pasien sering mengeluh perasaan pincang. Pertama-tama adalah harus menjadi "pengambil riwayat yang teliti yang fanatik" (6). Bila nyeri dapat ditimbulkan. Tanda-tanda klinis Pemeriksaan peregangan terhadap saraf Siatik dilakukan dengan mengangkat tungkai pada posisi terlentang. Mekanisme timbulnya nyeri dijelaskan sebagai peregangan yang berlebihan dari saraf Siatik. tungkai dapat difleksikan hingga 70-900 pada sendi panggul. perasaan tidak enak dan peregangan akan bertambah pada otot Iskiokrural. Tungkai bawah dapat diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. bersin dan tekanan abdominal ------------------------------------------------------B. Saraf Siatik tidak terganggu. Sendi-sendi tungkai bawah diperiksa. Normal. Ini perlu untuk membedakan antara nyeri pinggang yang terlokalisir dan nyeri radik saraf. namun bila terjadi.

Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. abnormalitas refleks dan gangguan motor. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. Membuka sepatu atau kaus . Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas.raising yang positif. Inspeksi. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. kehilangan sensasi. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. Pasien banyak berdiri dari pada duduk dan sering menggunakan penumpu kursi atau meja saat bangkit dari kursi. Bila radik L5 terkena. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. Otot extensor hallucis longus dipersarafi hanya oleh satu radik saraf yaitu L5. palpasi dan test fungsional. Dianjurkan pemeriksaan dilakukan dengan pergerakan penderita sesedikit mungkin karena setiap perubahan posisi mungkin menyebabkan nyeri dan rasa tidak enak pada pasien. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas.disepanjang saraf siatik. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. Ini disebut sebagai Lasegue kontralateral. Pada prolaps medial. memberikan informasi penting seperti adanya sindroma lumbar. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. ia berjalan hati-hati dan bila dengan siatika mungkin pincang. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. tes straight leg . Terdapat tumpang tindih pada persarafan tungkai bawah. Tanda-tanda khusus sindroma lumbar harus merupakan bagian dari pemeriksaan umum yang harus menginformasikan pada pemeriksa asal dari penyakit. termasuk penilaian neurologik secara umum. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis. Pemeriksaan sensasi adalah paling penting. Karenanya pada prolaps diskus inter-vertebral L4 dengan penekanan pada radik saraf L5 menyebabkan lemahnya ekstensor ibu jari. nyeri dapat ditimbulkan dengan mengangkat tungkai yang diseberang tungkai yang terkena. Langkah penderita adalah tak setangkup. Pemeriksaan klinik harus mencakup inspeksi. Hiperestesi dapat terjadi pada sindroma radik saraf akibat lesi yang tidak lengkap pada radik saraf spinal yang sangat sering terjadi pada protrusi diskus lumbar. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. Namun dapat dikatakan bahwa bagian belakang kaki pada ibu jari dipersarafi oleh radik L5.

karenanya memungkinkan untuk mengarahkan tekanan pada ligamen flaval dan pada radik saraf yang terletak dibawah ligamen. Dengan penambahan kifosis mungkin memperlebar arkus ruas tulang belakang yang akan membantu palpasi hingga nyeri khas dapat dibangkitkan. Nyeri juga dibangkitkan dengan memutar prosesus posterior. Nyeri lokal dan siatika yang khas karenanya dapat ditimbulkan. Deformitas dan keterbatasan pergerakan yang mungkin sangat sedikit atau tidak ada sama sekali.kaki menyebabkan rasa yang sangat tidak enak dan dilakukan dengan sulit dengan penderita berusaha menggerakkan tulang belakang kedepan. Jaringan lunak menjadi tertekan diantara arkus ruas tulang belakang hingga radik saraf akan tertekan bila ada protrusi atau prolaps. Nyeri paraspinal sangat indikatif pada pasien kurus yang kehilangan kekuatan ototnya. Bila pasien tanpa pakaian dan dilihat dari belakang. Dengan usaha memperpanjang tulang belakang lumbar dan meluruskan lordosis. namun hal ini tidak menggambarkan segmen spesifik karena sendi inter-vertebral lumbar mempunyai posisi sagital yang akan menggerakkan sendi dan ruas tulang belakang berdekatan. Pergerakan kelateral tidak seterbatas fleksi atau ekstensi. Nyeri terbatas pada penekanan dapat dijumpai pada perjalanan saraf siatika dengan titik nyeri maksimal dibokong dan fossa popliteal (Tanda Valleix). Keterbatasan yang tergantung nyeri pada mobilitas lumbar dapat mula-mula dijumpai bila penderita disuruh menekuk kesamping dengan tubuh sedikit condong kedepan. . Pada posisi terlentang spasme lumbar sering hilang. Posisi telungkup sering bersama dengan rasa tidak enak. disuruh untuk menekuk kesamping dan juga merotasi tubuhnya. Setelah memeriksa kemampuan pasien untuk membungkuk kedepan. Terdapat penonjolan otot yang mengalami kontraksi (Spasme lumbar). Sering didapat pengurangan mobilitas terbatas satu sisi. Spasme lumbar dan fiksasi terbatas tulang belakang adalah kriteria dignostik penting pada sindroma lumbar. Tes fungsional aktif ini diikuti dengan pemeriksaan pergerakan pasif. penonjolan semakin jelas. Pemeriksaan dilanjutkan dengan pasien berbaring. Prosesus spinosus dipalpasi dengan penderita telungkup dan nyeri dapat ditimbulkan dengan penekanan pada prosesus segmen bersangkutan. Penderita disuruh berdiri pada jari-jarinya dan pada tumitnya. Tes ini gagal bila protrusi atau prolaps terletak sangat lateral atau arkus ruas tulang belakang sangat lebar. mungkin disaksikan deformitas. Posisi ini dengan sedikit fleksi paha dan lutut memberikan posisi paling santai. sering dijumpai saat bebas gejala atau pada protrusi yang sangat lateral dari diskus intervertebral L5-S1. berjalan beberapa langkah pada jari-jari dan tumitnya untuk menampilkan kemungkinan kelemahan ekstensor kaki (L5) atau otot betis (S1).

Nyeri dapat juga terbatas pada sendi sakroiliak yang dapat juga timbul pada palpasi. Dengan pasien telungkup. tes adalah positif dan karenanya disebut tes Lasegue positif (positive straight legraising test). Bila nyeri timbul. Tahun 1864 Lasegue melakukan pengamatan pada penderita dengan siatika dimana sering dijumpai kaki dalam plantarfleksi dan pada dorsifleksi kaki. Kepekaan anggota bawah dites dan dengan menyuruh pasien mengkontraksikan bokongnya. nyeri diperberat. dan makna tanda ini mula-mula dijelaskan oleh J. Pada posisi telungkup. nyeri dapat dibangkitkan dengan mengangkat tungkai berlawanan dengan sisi tungkai yang terkena. Normalnya tungkai dapat fleksi hingga 70-900 pada sendi panggul. namun semata-mata suatu nyeri menjalar melalui cabang posterior saraf-saraf spinal. Bila melebihi ini. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pasien terlentang pada punggungnya. hiperekstensi sendi panggul mungkin berakibat nyeri paha anterior dan karenanya gangguan pada saraf femoral dapat diketahui. Ini bukan gangguan lokal pada sendi sakroiliak. Pada prolaps medial. murid Lasegue. Perlu dibedakan nyeri pinggul terbatas dan nyeri radik saraf dari nyeri tumpul yang dapat bangkit pada otot tungkai posterior. Mekanisme pembangkitan nyeri diterangkan sebagai peregangan berlebihan saraf siatik. timbul nyeri menjalar sepanjang distribusi radik saraf terkena. Dengan suntikan intradiskal nyeri khas ini dapat dirangsang. Ini disebut juga tes Lasegue terbalik atau tes regangan saraf femoral. Tungkai kemudian diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. Ini disebut Lasegue kontralateral. bagian pemeriksaan neurologik dilakukan. rasa tidak enak dan tegangan akan terjadi pada otot iskiokrural. Tungkai ini kemudian direndahkan pada posisi dimana nyeri menghilang dan pada titik ini kaki diekstensikan kedorsal yang biasanya menimbulkan nyeri bila saraf siatik terganggu. Lasegue positif adalah serupa dengan positive straight leg-raising test. perbedaan tonus dapat dipalpasi yang menunjukkan sindroma S1. Peregangan saraf femoral dengan pasien telungkup dapat dibandingkan dengan peregangan yang sama terhadap saraf siatik yang terjadi bila tungkai diangkat dengan penderita pada posisi terlentang. Dengan ekstensi kedorsal . Sendi anggota bawah diperiksa dan terutama sendi panggul hingga tes Lasegue dilakukan tanpa adanya pengaruh kelainan disendi panggul. tapi sekali terjadi. Untuk menyingkirkan kemungkinan ini. Saraf siatik tidak terganggu. Pengangkatan tungkai bagaimanapun akan dapat menyebabkan nyeri akibat adanya lesi pada sendi panggul dan sakroiliak. dilakukan tes regang siatik: tungkai diangkat hingga dirasakan nyeri. Forst. Bagaimanapun. mungkin menandakan protrusi diskus intervertebral pada tingkat yang lebih tinggi.

Sindroma radik saraf hanya akan menyebabkan gangguan pada . Pemeriksaan harus mencakup analisa teliti kekuatan fleksor plantar dan ekstensor dorsal kaki dan terutama ibu jari. Pemeriksaan mobilitas dipusatkan pada otot tungkai bawah yang mungkin terkena pada sindroma lumbar. yang mana pasien akan teralih perhatiannya dari pemeriksaan (Jendrassk`s grip). Kompresi berat hanya akan menyebabkan gangguan motor ringan pada otot besar. namun bila pasien diletakkan pada posisi duduk dengan tungkai lurus. Pada keadaan dimana perlu membuktikan asal sebenarnya dari penyebaran nyeri yang turun ketungkai. Sebaliknya pada prolaps L4-L5 dengan kompresi radik L5 didapat kelemahan yang nyata dari ekstensor ibu jari. Objektifitas tes ini tak bisa dibantah dan dapat berguna tiap saat. L5. Extensor hallucis longus dicatu hanya oleh satu radik. Penurunan aktifitas refleks patellar dapat ditemukan bila radik saraf lumbar ketiga dan keempat terkena. hanya didapat sedikit kelemahan kuadriseps dengan akibat kelemahan ekstensi lutut. mungkin terjadi keadaan dimana pada pengangkatan tungkai lurus hingga 20-300 penderita akan memberikan pertanda nyeri. Refleks harus dites dengan sangat teliti dan bila pasien tidak cukup santai untuk memungkinkan pemeriksaan dilakukan. saraf tibial akan teregang 2 cm.dari kaki. tidak ada nyeri. Bila refleks ankel sulit dibangkitkan bila pasien berbaring dengan punggungnya. ia dapat diperintahkan berlutut dan pada saat yang sama pegang jarinya dan tarik dengan kuat. Ini dapat ditemukan pada langkah pasien dengan kesulitan dalam menempatkan dan meneruskan pergerakan kaki. Refleks patella mungkin sulit dibangkitkan karena nyeri pada tungkai. namun kelainan motor bisa jadi sangat ringan hingga pasien tidak menyadarinya. termasuk kompresi pada radik saraf L4. Peninggian aktifitas refleks tidaklah mempunyai keistimewaan apapun pada kelainan diskus intervertebral. Karenanya pasien ditempatkan pada posisi yang memberikan relaksasi sempurna dan bebas dari nyeri. Pemeriksaan sensasi adalah terpenting. L4 dan L5. Peregangan saraf siatika dengan duduk tegak dengan tungkai lurus juga menimbulkan nyeri. Pada prolaps L3-L4. Dengan pasien berbaring pada punggungnya. mobilitas dan sensasi. Otot kuadrisep dicatu oleh radik-radik saraf L3. Pada tindakan ini tidak disertakan baik sendi panggul maupun sendi sakroiliak. mereka jelas tidak terganggu. perhatian pasien dialihkan dan pemeriksaan diulangi sekali lagi. pemeriksaan dilanjutkan dengan menilai refleks. Fibrilasi dapat dijumpai pada otot dan gangguannya akan sebanding dengan tekanan yang berlangsung pada radik saraf bersangkutan. Ini mungkin membuktikan bahwa pasien bereaksi berlebihan atau bahkan berpura-pura sakit.

Dandy (1943). Mixter dan Barr (1934). Sebelumnya siatika diduga akibat keadaan inflamatori dan karenanya disebut neuritis siatik.Siatika Pada sindroma lumbar lokal. . Hiperestesis dapat juga terjadi pada sindroma radik saraf lumbar. Bradford dan Spurling (1950) serta Lindblom (1948) menjelaskan asal penyakit sebenarnya serta hubungannya dengan nyeri pinggang bawah dan siatika. Terdapat tumpang tindih inervasi anggota bawah yang terutama jelas pada bagian proksimal. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis.sensasi permukaan yang mudah diperiksa dengan sentuhan. Penting untuk memeriksa sensasi didaerah perineal dalam upaya menyingkirkan adanya sindroma kauda. Dengan beberapa ketentuan dapat dikatakan bahwa bagian dorsal kaki didaerah ibu jari dicatu oleh radik L5 dan tumit serta bagian lateral kaki dicatu oleh radik S1. Sindroma Radik Saraf Lumbar . terkenanya rami anterior akan mengakibatkan gejala. Radiografi. Pemeriksaan klinik teliti akan menghasilkan diagnosis dan harus dapat menentukan tingkat yang terganggu. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan disepanjang saraf siatik. Keegan 1943). Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. Penjelasan distribusi dermatomal diperkirakan beragam (Foerster 1933. Bradford dan Spurling (1950) telah mengamati ketidak-teraturan distribusi sensasi bagian bawah anggota bawah setelah merusak radik saraf sakral pertama. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. Pada sindroma radik saraf lumbar. Tilney dan Riley 1938. Ini akibat lesi tak lengkap radik saraf spinal yang sangat umum pada protrusi diskus intervertebral lumbar. C. pemeriksaan laboratori. Bila ada petunjuk gangguan temperatur dan sensitifitas dalam atau bila ada tanda kelainan neurologik lain yang tidak bersamaan dengan sindroma lumbar. penderita harus diperiksa lebih lanjut. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. Keterangan patologik yang jelas dimana prolaps diskus intervertebral lumbar menyebabkan siatika telah diketahui sedikitnya sejak 50 tahun. tekanan dan tusukan jarum. mielografi. miografi-elektro dan pemeriksaan yang lebih canggih lainnya sangat jarang diperlukan dan hanya untuk memperkuat diagnosis selanjutnya serta untuk menyingkirkan kelainan lain. rami dorsal dan meningeal terserang.

Sindroma radik saraf lumbar dapat disebabkan protrusi atau prolaps. mungkin akan berakhir dengan penurunan karena timbulnya parestesi dan gangguan motor. dan bila radik L5 terkena. kehilangan sensasi. Setelah operasi. Ini mungkin disebabkan pelunakan dan perubahan volume diskus intervertebral dan oleh osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang atau oleh perpindahan ruas tulang belakang dan kelainan lain pada kanal spinal. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. Bila radik saraf tertekan sempurna maka nyeri akan hilang. tes straight leg . Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. Tatkala radik saraf tertekan oleh benjolan bagian posterior diskus intervertebral. Gejala beragam secara individual dan bila semula nyeri dan deformitas menonjol. Bila radik L5 terkena. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. akan terjadi paresis ekstensor kaki dan jari. penting untuk mengetahui apakah sindroma radik saraf lumbar diakibatkan protrusi ataukah prolaps. Akan terjadi juga kehilangan sensasi. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. Pada keadaan ini operasi dianjurkan sesegera mungkin. Adanya sindroma siatik tergantung letak dan ukuran dari struktur yang menekan radik saraf. Nyeri dapat terbatas hanya pada bokong atau kaki dan tidak berubah dengan perubahan postur dan hanya dapat dikenal dengan test traksi atau mielografi dimana asal nyeri dapat ditemukan. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. 1. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. namun tidak jarang perubahan patologik pada diskus intervertebral atau sekitarnya dapat menyebabkan nyeri yang menjalar.raising yang positif. maka . ini bisa juga pertanda suatu sindroma lumbar lokal. siatika dapat tetap ada bersama dengan daerah nyeri terbatas atau nyeri sakral. abnormalitas refleks dan gangguan motor. Siatika pada Protrusi dan Prolaps Diskus Intervertebral Dari sudut pandang terapeutik. Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. namun terdapat beberapa kekecualian dimana hanya terdapat siatika tanpa nyeri sakral. Bila terdapat siatika.

Pada pasien yang lebih muda agak membingungkan untuk menyayat anulus fibrosus yang intak diatas protrusi dalam usaha mencapai fragmen yang sudah mengalami pergeseran. Dari perjalanan klinik akan jelas apakah terjadi suatu prolaps atau protrusi (Tabel II. Fragmen diskus intervertebral akan mengalami pergeseran kerongga epidural dekat radik saraf atau kantung dura dan akan selalu menyebabkan rasa tidak enak dan nyeri. parestesi dan deformitas berhubungan dengan perubahan yang disebabkan oleh .3). daerah hipestesi dan refleks yang abnormal akan berkembang. Tabel 3 Perbedaan Siatika yang disebabkan Protrusi dan Prolaps ------------------------------------------------------Siatika Karena Protrusi Siatika Karena Prolaps ------------------------------------------------------Onset secara umum tak jelas Onset berat tiba-tiba Deformitas dapat berubah Deformitas menetap Nyeri proksimal Nyeri distal. Penekanan radik saraf lebih kuat pada prolaps dibanding protrusi. Sebaliknya tindakan konservatif tidak dapat dipilih pada prolaps yang lengkap. Karenanya nyeri.keadaan biomekanik dan biokimia secara keseluruhan akan berbeda bila penekanan disebabkan oleh prolaps. Saraf spinal terjepit antara prolaps dan arkus ruas tulang belakang. Pada protrusi jaringan yang bergeser dapat dinormalkan dan dicapai restitutio ad integrum. Sering nyeri lebih proksimal pada protrusi. Kebanyakan pasien dengan siatika adalah karena protrusi diskus intervertebral. Gambaran klinik lebih berat pada prolaps. Nyeri dan deformitas tampak tiba-tiba dan memburuk dalam beberapa jam setelah jaringan diskus intervertebral bergerak kekanal spinal. parestesia dan gangguan motor Hasil baik setelah tindakan Tindakan dengan obat-obatan dengan obat-obatan tidak berguna Instillasi intradiskal Instillasi intradiskal berat ringan Media kontras pada Media kontras pada diskografi tetap pada diskografi keluar kerongga diskus intervertebral epidural ------------------------------------------------------Juga terjadi perubahan pada perjalanan klinis. Tindakan ini mungkin mengawali rasa tidak enak dan nyeri yang terus menerus. Gangguan motor. Pada protrusi ada hubungan antara sistem osmotik diskus intervertebral dengan perubahan volume dan konsistensi. kecuali diangkat secara operasi. Ini tidak terjadi pada prolaps. Massa jaringan diskus intervertebral bergeser keposterior dan menonjol dengan ligamen longitudinal posterior sebagai pembungkusnya. Penyembuhan spontan lebih sering pada protrusi dibanding pada prolaps.

Patsold (1975) melaporkan bahwa 75% deformitas skoliotik pada penderita protrusi atau prolaps diskus intervertebral dibenarkan oleh mielografi. beberapa pasien hanya menunjukkan sedikit nyeri. dan penderita sangat jarang mendapatkan perbaikan. Pada protrusi tahanan terhadap injeksi jauh lebih besar dibandingkan terhadap prolaps. Walau deformitas jelas. dan sering disertai inklinasi kelateral pada sindroma radik saraf. yang akan membedakan penekanan pada radik saraf. Dengan diskografi mungkin untuk menentukan apakah anulus fibrosus intak atau tidak. Deformitas Siatik Ada beberapa tanda tidak khas pada sindroma radik saraf lumbar yang memperjelas siatika. Penilaian gambaran klinik serta perjalanannya. Pada lumbago tulang belakang lumbar menjadi mendatar dan tubuh membungkuk kedepan. Penderita selalu bertahan pada posisi yang menyebabkan paling sedikit penekanan terhadap radik saraf. Sejumlah cairan mungkin dapat disuntikan dan pada prolaps akan keluar kerongga epidural. Pada kelainan diskogenik akan sulit untuk mendapatkan pola yang tetap untuk perjalanan dan prognosis. seperti juga pemilihan tindakan.beban. Disisi lain. memerlukan pemahaman klinik yang baik dan pengalaman yang luas atas berbagai aspek dari nyeri pinggang bawah. superior atau inferior. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. Pada tabel diatas beberapa pendekatan dikemukakan. tes straight leg-raising positif dan deformitas lebih sering dijumpai pada protrusi dan prolaps pada tingkat ini dibanding tingkat L5/S1. Seperti terlihat pada tabel diatas. Obat-obat anti inflamatori mungkin berguna. Alasannya ialah reaksi refleks postural. dan deformitas siatik. Pada protrusi didapatkan membran tipis dan fragmen yang mengalami inkarserasi jelas mengingatkan akan prolaps. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. Pada mielografi tak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. Sempitnya ruang epidural L3/L4 dan L4/L5. prolaps kecil yang terletak pada "dead area" pada kanal spinal tidak harus memberikan gejala. Nyeri pertama-tama tampak bila dilakukan mobilitas secara aktif maupun pasif dan bila mencoba meluruskan badan. Pada prolaps gambaran klinik menetap dan sulit untuk berubah. 2. protrusi dan prolaps memberikan perjalanan yang secara keseluruhan berbeda. Penguatan tanda-tanda ini tergantung letak dan ukuran protrusi diskus intervertebral. tes straight legraising positif. Pada prolaps medial yang besar jarang inklinasi kelateral karena tidak akan mengurangi tekanan pada . Deformitas tergantung apakah radik saraf tertekan dari anterior. nyeri pada peregangan saraf femoral.

Pada protrusi medial dengan dasar luas. radik akan meluncur kemedial atau lateral diatas protrusi. Cara termudah mengenal ini adalah mengamati postur tubuh. yaitu satu radik dari superior dan lainnya dari inferior. Bila protrusi dibelakang bahu. Pada inklinasi tulang belakang lumbar kesamping. Bila pasien membungkuk kedepan. deformitas siatik hampir selalu hilang sempurna. Bila membungkuk kedepan. Protrusi yang terletak superior terhadap radik saraf (pada bahu) akan bergerak menjauhi radik. Beberapa istilah digunakan untuk menyeragamkan penamaan radik-radik saraf yang berpasangan dengan mengingat dua lengan yang meninggalkan setiap segmen. Terdapat hubungan topografik langsung antara tepi diskus intervertebral posterior dan radik-radik saraf pada segmen lumbar. Hubungan deformitas siatik dengan posisi protrusi atau prolaps cukup menarik. deformitas hanya menjadi nyata bila pasien membungkuk kedepan. Konveksitas skoliosis lumbar menentukan arah inklinasi lateral dari tubuh. tidak ada skoliosis siatik pada posisi berdiri. Bila siatika jelas. Protrusi diskus intervertebral melakukan kontak dengan berbagai bagian radik saraf ketika ia berjalan dari superomedial keinferolateral. Bila duduk dan berbaring. Jadi pada protrusi lateral pasien akan membungkuk kedepan sisi sehat (deformitas siatik kontralateral) dan pada prolaps medial menuju sisi sakit (deformitas siatik ipsilateral). Bila pasien condong kearah tungkai siatik. dan berdiri pada jarinya dengan kaki pada posisi dropfoot ringan. dan prolaps karenanya dapat terletak dibawah bahu. yangdifleksikannya baik pada sendi panggul maupun lutut. Keluarnya radik saraf dari dura digambarkan sebagai daerah bahu. bagian konveks diskus intervertebral akan bergerak kesuperior. Beban tubuh pada tungkai siatik hanya dapat dilakukan pada waktu singkat. digunakan istilah 'deformitas siatik ipsilateral'. pasien tidak membawa beban tubuhnya pada tungkai terkena . Ada penderita mendapatkan pengurangan . bila protrusi dibawah radik (pada ketiak) akan terdorong mendekati. dan bila tubuh condong menjauhi tungkai siatik disebut 'deformitas siatik kontralateral'. Skoliosis lumbar dapat menjadi konveks baik mengarah maupun menjauhi kompresi radik saraf. Deformitas siatik menjadi jelas bila tubuh ditekuk kedepan karena kontak antara radik saraf dengan prolaps serta protrusi semakin berat. dan ini akan menyebabkan deformitas campuran. diatas bahu atau pada ketiak. Pada kasus yang belum lanjut. dan penyilangan radik saraf diatas diskus intervertebral bervariasi pada setiap tingkat. radik saraf sisi berlawanan akan terkena.radik saraf. skoliosis siatik tak harus timbul. Tentu ada bentuk peralihan dimana prolaps besar akan mengenai radik-radik dari dua tingkat.

Ini terdapat pada 1-2% dari semua kelainan diskogenik. Pada penderita sindroma monoradikular lumbar. Pada sisanya. Disini dipentingkan fisioterapi. dan paling sering ini tergantung pada jumlah radik saraf yang tekena. ia penting bukan saja karena sulitnya diagnostik. sindroma L5 tersering ditunjukkan oleh postur penderita yang sangat sering membungkuk kedepan.rasa nyeri dengan menambah lordosis lumbar. Sindroma L5 Pada inspeksi. a. kelainan kliniknya campuran. Walau diskus intervertebral lumbar superior jarang terkena dibanding segmen L5 dan S1.8%. Sindroma Lumbar Monoradikular Gejala yang berhubungan hanya dengan satu segmen ditemukan pada hampir setengah dari sindroma radik saraf lumbar .2% dan L5 dengan 43. Akar S1 terkena 54. De Palma dan Rothman 1970. namun juga karena konsekuensi praktik yang terdapat pada kerusakan radik-radik saraf ini. Hilangnya fungsi ekstensor pada ibu jari tak boleh terluputkan dan kelainannya mudah diperiksa. Bradford dan Spurling 1950. Nyeri menjalar dari daerah lumbosakral diatas bagian posterior paha turun kebagian anterolateral tungkai bawah ke maleolus lateral dimana nyeri menjadi semakin hebat. karenanya tes straight leg-raising positif dapat ditampilkan pada setengah penderita dengan sindroma ini. 98% terjadi pada dua segmen yang lebih bawah. Sindroma L4 Saraf siatik dicatu sebagian oleh serabut dari radik L4. Bila gangguan motor ditemukan. extensor hallucis longus adalah otot yang paling sering mengalami paretik (Schliac 1973). b. Akar L4 hanya dikenai 1% dan sisanya radik saraf lumbar superior yang terkena (Lindemann dan Kuhlendahl 1953. . Atrofi ringan mungkin ditemukan pada otot tungkai bawah. Terdapat kesulitan mendorsifleksikan kaki dan jari yang menyebabkan kesulitan melangkah dan karenanya dan paling penting adalah secara hati-hati menganalisa gangguan motor. kehilangan dorsifleksi kaki akan timbul karena otot tibial anterior menjadi lemah. Setelah penyebab nyeri siatik dikurangi. Pada kompresi radik saraf yang lama. 3. Finnesson 1973 dan Armstrong 1965). Tidak ada gangguan refleks pada sindroma L5. Ini terutama ditemukan pada penderita dengan protrusi dan prolaps dari diskus intervertebral lumbar superior. mungkin akan tetap meninggalkan deformitas siatik yang tidak menghilang dalam beberapa bulan. Nyeri dan hipestesi berjalan sepanjang belakang kaki ke ibu jari kaki.

jarum mungkin diinsersikan ke diskus intervertebral L4/L5 untuk melihat apakah diskus intervertebral ini normal. Prolaps dan protrusi dapat mengenai beberapa segmen dan simptomatologi poliradikuler mungkin ditemui. Juga paresis otot gluteal. Prolaps lateral dapat mudah terlalaikan bila hanya laminotomi eksplorasi yang dikerjakan. Nyeri dan hipestesi diarahkan lebih kepoterior dari sindroma L5 dan berjalan sepanjang posterior paha dan posterior betis. dua atau lebih radik saraf dapat terkena. Radiasi gejala ketumit dan tepi lateral kaki termasuk jari ketiga hingga kelima. diskus intervertebral L5/S1 mungkin dieksplorasi kelateral dengan membuang setengah medial faset L5/S1. Pola segmental menjadi terganggu seperti juga gambaran klinik. Sindroma S1 Jarak yang relatif besar antara kantung dural. Dengan prolaps lateral L5/S1. Tanda khas adalah melemahnya atau hilangnya refleks tendon Akhilles dengan penurunan sensasi diatas aspek lateral tumit yang mungkin meluas kedepan kejari empat dan lima. Sebaliknya prolaps lateral (diatas bahu) dapat menekan radik saraf yang keluar dari tingkat superior bersangkutan. Terserangnya radik L5 pada prolaps lateral lumbosakral lebih sering dari yang diperkirakan. Kebanyakan sindroma siatika tanpa nyeri sakral dapat berasal dari radik S1. Pengalaman paling sering menunjukkan bahwa bila ada tanda-tanda sindroma L5 dan mielogram negatif pada diskus intervertebral L4/L5. Sindroma Lumbar Poliradikuler Pada kelainan diskus intervertebral lumbar . radikradik saraf dan diskus intervertebral berakibat gejala yang tak spesifik dan tak sejelas misalnya sindroma L5. refleks tendon Achilles mungkin hilang sempurna dan tidak akan kembali bila tekanan pada radik saraf tidak dihilangkan pada saat tersebut. Gangguan motor mengenai otot triceps surae. 18% mengenai radik lumbar kelima dan 6% menunjukkan tandatanda terkena. Ini sangat sering pada kasus tingkat L5/S1. radik L5 menyilang bagian lateral diskus intervertebral lumbosakral dan tidak pada sulkus saraf spinal.c. Akar L5 berjalan melalui foramina intervertebral L5/S1 pada bagian atasnya dan kemudian mendekati aspek lateral diskus intervertebral lumbosakral. jadi mengurangi kekuatan fleksi plantar. d. Pada kompresi yang sangat kuat dan setelah kompresi yang lama. Pada kasus ini. Prolaps paramedian (pada ketiak) dapat menekan aspek medial dari radik saraf pada tingkat yang sama dan aspek lateral radik saraf timbul dari tingkat yang lebih bawah. Prosedur sederhana ini mungkin menyebabkan eksplorasi diskus intervertebral L4/L5 menjadi tidak perlu. Prolaps lateral L5/S1 karenanya bisa mengenai bagian lateral radik S1 dan bagian medial radik L5. Bila ada prolaps lateral masif dari diskus .

Terdapat paresis ekstensor kakkaki dan jari dan refleks tendon Akhilles terganggu. prolaps. Kombinasi sindroma L4 dan L5 berakibat gangguan motor pada kuadriseps. Degenerasi diskus intervertebral dikenal dengan tampaknya reaksi tulang ruas tulang belakang dan pemendekan tinggi diskus intervertebral. instabilitas segmental tidak dapat didemonstrasikan. Osteofit semula mengarah horizontal. Terserangnya beberapa radik saraf secara bersamaan sering terjadi sebagai bagian dari sindroma post diskotomi karena adhesi yang terbentuk. RADIOGRAFI A. Hal ini terutama terjadi kearah anterior dan lateral. radik saraf yang berhubungan (L4) dapat terkena walau radik saraf L5 tidak langsung berdekatan dengan prolaps diskus intervertebral berdekatan. Bila seluruh kantung dural terkena pada prolaps besar dari aspek anterior kanal spinal. Gangguan sensitifitas bervariasi dan juga distribusi nyeri selama perjalanan kliniknya. Pemeriksaan lain dengan bantuan media kontras mungkin diperlukan. Osteofit besar dapat tampak dan sering menjembatani ruang antara ruas tulang belakang. Foto Polos Foto polos pada sindroma lumbar memberikan sangat sedikit informasi tentang sindroma tersebut namun dapat membantu menyingkirkan kelainan lain. Pada penderita tua penyempitan rongga intervertebral dapat ditampilkan seperti halnya perubahan osteosklerotik dari end-plates. sejumlah radik saraf menjadi terkena yang akan menyebabkan simptomatologi poliradikuler dimana tulang belakang lumbar menjadi kifosis. Kellgren dan Lawrence menemukan degenerasi . Kadang-kadang prolaps dorsal dapat berubah menjadi osteofit yang menonjol kekanal spinal atau sebagian menyumbat foramina intervertebral. Nyeri dan hipestesi didistribusikan sepanjang aspek anterolateral seluruh tungkai dan sindroma L5 menonjol. Siatika bilateral sangat jarang pada kelainan diskus intervertebral dan bila terjadi harus dilakukan pemeriksaan yang lebih luas. Prolaps medial mungkin menyebabkan siatika. namun berubah vertikal hingga osteofit ruas tulang belakang berdekatan tumbuh bersama hingga terbentuk jembatan pada ruang inter-vertebral. Selama perjalanan klinik mungkin timbul variasi pada tungkai mana penjalaran nyeri terjadi.intervertebral L4/L5. tibial anterior dan extensor hallucis longus. Paling sering adalah kombinasi sindroma L5 dan S1. namun paling menonjol adalah sindroma S1 pada kebanyakan penderita. Osteofit adalah tahap akhir proses degeneratif pada diskus intervertebral dan tidak dapat dianggap sebagai sindroma diskus intervertebral akut. Protrusi.

Togerson dan Dotter (1976) meneliti pasien dengan sindroma diskus intervertebral lumbar dan membandingkannya dengan sejumlah yang sama penderita tanpa nyeri pinggang bawah. lebih banyak pada penderita dengan gejala dibanding orang yang tanpa gejala. Pada tumor dan kelainan inflamatori ia akan membesar atau menghilang sama sekali. Frymoyer menemukan bahwa hanya penyempitan ruang diskus L4 yang jelas berhubungan dengan gejala nyeri pinggang bawah dan nyeri tungkai. Diskus sendiri tak langsung dapat dilihat pada radiografi rutin. Didapat juga hubungan yang positif antara nyeri pinggang dengan adanya spur traksi dan spondilolisis serta spondilo-listesis. s. Dari data disimpulkan bahwa foto polos kecil nilainya dalam menentukan penyebab nyeri pinggang atau dalam menentukan siapa yang berisiko. sedang pada tulang belakang lumbar 66 % pada pria dan 45 % pada wanita. Frekuensi spondilosis dan lordosis lumbar ekual untuk masing-masing kelompok. serta penyempitan diskus pada foto polos adalah indikator degenersi diskus yang agak kurang peka. Pada skoliosis ia bergeser kearah kecekungannya. deformitas prediskotik dapat diamati. Walau penyempitan ruang diskus jelas berhubungan dengan usia. Jumlah ruas tulang belakang lumbar dapat ditentukan dan setiap bentuk peralihan teramati pada daerah lumbosakral dimana ketidaksetangkupan dapat menyebabkan beban yang tidak ekual dari diskus intervertebral yang mungkin memiliki beberapa kepentingan dalam perkembangan kelainan diskus intervertebral. Proyeksi anteroposterior. kesimpulan atas keadaan fisiologiknya dibuat secara tak langsung dengan ada atau tiadanya penyempitan ruang diskus dan adanya osteofit marginal.diskus secara radiografik pada 83 % pria dan 72 % wanita antara usia 55 dan 64 tahun tanpa memperdulikan gejala. Yang terakhir adalah perubahan yang terjadi relatif kemudian pada degenerasi diskus intervertebral. Deviasi aksial. Gambaran paralel end-plates ruas tulang belakang diamati. Interpretasi radiograf penting karena sekali kelainan lain disingkirkan. Ini menunjukkan bahwa degenerasi diskus sangat mungkin bila gejala dijumpai. demikian juga letak arkus. anomali ruas tulang belakang dan penyempitan kanal spinal lumbar mempercepat perkembangan selanjutnya kelainan ini. namun ditemukan penyempitan ruang diskus pada kelompuk tanpa gejala sebesar 22 % dan pada kelompok dengan nyeri pinggang sebesar 56 %. Pemendekan diskus intervertebral dan juga . lebih nyata didapat pada dekade ketujuh dibanding dekade kelima bila tidak memperdulikan gejala. dibanding dengan 30 % pria dan 27 % wanita dengan arthritis faset secara radiografi. Kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah berhubungan dengan usia dan tidak perlu menunjukkan adanya gejala.

Juga dislokasi ruas tulang belakang arah posteroanterior tanpa tanda-tanda cedera pada proses artikular.hiperlordosis tulang belakang memungkinkan kontak erat antara prosesus spinosus dan suatu sklerosis reaktif dapat diperlihatkan yang mungkin merupakan penyebab perasaan tidak enak. menurut Schmorl dan Junghanns (1968). Ini dijelaskan Baastrup dan digunakan namanya. Pada daerah lumbar rongga subarakhnoid berisi cairan spinal yang . Memberikan lebih banyak informasi dan fenomena Guntzsche dapat diamati dimana tampak pelurusan lordosis lumbar. yang disebut pseudospondilolistesis (spondilolistesis degeneratif). Osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang mungkin juga penting. Pembengkakkan tepi ruas tulang belakang tidak harus berarti osteofit posterior. Gangguan pertumbuhan juvenile tidak mempunyai arti klinik. namun merupakan pertanda degenerasi diskus intervertebral dini. Dalam meneliti spondilosis dan spondilolistesis lebih lanjut. perlu memperluas pemeriksaan radiografik dengan pandangan oblik dan tomografi. terutama bila operasi dilakukan pada daerah tersebut. karena peningkatan kehati-hatian diperlukan dalam mencapai bagian tulang belakang daerah ini untuk mencegah ketidak-sengajaan membuka kantung dural. Penyempitan rongga intervertebral pada pemuda penting secara klinis. Ini mungkin hanya variasi kontur ruas tulang belakang normal dan mudah dikenal melalui tomografi atau mielografi. Bila ditemukan suatu perubahan. pandangan oblik memberikan informasi penting. Pelurusan ini merupakan tanda dari sindroma diskus intervertebral. Tampilan Rongga subarakhnoid ditampilkan dengan menyuntikkan medium kontras. Tebal diskus intervertebral pada daerah lumbal makin kedistal akan semakin tebal hingga tingkat diskus intervertebral lumbar empat. Rongga subarakhnoid dibatasi membran arakhnoid yang berdekatan dengan dura. Proyeksi lateral. Bila pungtur diperlukan dalam mendiagnosa kelainan diskus intervertebral. B. Namun pelurusan dapat terjadi bila pasien dalam posisi panggul dan lutut fleksi. Perubahan radiografik menampakkan perubahan yang lanjut dari kompleks tiga sendi. Kantung dural bersama rongga subarakhnoid turun bersama-sama menuju ruas tulang belakang sakral kedua. Mielografi 1. dan suatu saat mielografi mungkin perlu. perlu untuk mengindentifikasi foramina interarkuata yang bertindak sebagai pengarah untuk tempat pungtur. selalu harus dilaporkan. Walau nyatanya kebanyakan ahli bedah merasa bahwa spina bifida occulta tidak merupakan masalah.

Kantung radik dapat sedikit terindentasi atau sama sekali terputus. 2. dan ester iodium seperti Pantopaque diabsorbsi dengan susah payah. Diantara media kontras positif antara lain adalah minyak iodium tak larut dan ester iodium serta substansi larut air. Media kontras larut air tampaknya lebih memadai pada mielografi lumbar karena diresorbsi lengkap dan tidak menyebabkan komplikasi sekunder. Bagian anterior kantung dural berhadapan dengan bagian posterior diskus intervertebral berdekatan dengan konsekuensinya semua perubahan pada segmen posterior diskus intervertebral akan menyebabkan indentasi kantung dural. Pembengkakan kecil karenanya mudah dikenal pada mielografi. Untuk alasan ini mielografi juga disebut radikulografi. Mielografi dengan udara dan minyak sangat berbahaya. dan karena lamanya absorbsi mereka dapat mengakibatkan arakhnoiditis pada kanal spinal. Pada tingkat L5-S1 jaraknya lebih lebar dan prolaps medial kecil tidak akan menekan kantung dural dan karenanya tak ditampilkan pada mielografi. Media Kontras Mielografi pertama dilakukan Dandy (1919) dengan media udara. . Serabut-serabut saraf kauda ekuina tampak sebagai pita radiolusen tipis pada mielografi dan bila kantung dural mengalami penekanan mereka akan melewati daerah obstruksi dengan tampilan seperti lengkungan. Gangguan pada kantung dural tidak hanya tergantung ukuran prolaps namun juga pada jarak antara tepi posterior diskus intervertebral dan dura. Membuang medium kontras dengan pungtur lumbar sekunder tidak selalu berhasil. Pengisian kantung radik saraf dengan medium kontras adalah paling penting dalam mendiagnosa dengan mielografi. Kontras adalah minyak iodium dan sejak itu berbagai media kontras telah digunakan. namun hanya sedikit informasi yang dapat diterima. dan antara kedua ekstrem ini berbagai kemungkinan dapat ditampilkan.mengelilingi serabut-serabut saraf kauda ekuina dan mengikuti radik-radik saraf keforamina intervertebral membentuk kantung radik. Minyak iodium seperti Iodipin. Mielografi pertama dengan media kontras positif dilakukan Sicard dan Forstier (1922). Rungga epidural (ekstradural) adalah rongga antara kantung dural dan bagian tulang dari kanal spinal. Pada protrusi atau prolaps medial atau para medial pandangan lateral akan memperlihatkan indentasi pembengkakkan pada kantung dural yang terisi kontras pada tingkat diskus intervertebral yang terkena. Pengenalan kantung radik perlu untuk memperlihatkan posisi dan perjalanan saraf-saraf spinal. Protrusi lateral dapat sulit dikenal dan mungkin perlu melakukan mielografi secara sempurna dengan pengisian yang baik dari kantung dural. Jarak ini sempit pada tingkat L1-L4. Pleksus vena yang besar dan lemak epidural mengisi rongga ini. Demonstrasi kantung-kantung radik tidak mungkin.

Meglumine iocarmate (Dimer X). Metrizamide (Amipaque). Metrizamide adalah medium kontras triiodized yang larut air namun tidak terurai. Keuntungan agen larut air ini antaranya lebih sensitif terhadap perubahan patologis hingga lengan radik saraf dapat terlihat jelas. namun tidak dijumpai efek samping. Dengan memakai Metrizamide (Amipaque). Neurotoksisitas seperti kemampuan epileptogenik sangat rendah dibanding media kontras larut air yang terurai (Skalpe . dan Iopamidol (Isovue).Pemakaian luas dan kemungkinan efek samping membuat mielografi sebagai pemeriksaan yang harus dikerjakan dengan pertimbangan. Larutan 170 mg J/ml adalah isotonik terhadap cairan spinal. Penggunaan baru dari Metrizamide adalah dalam tomografi aksial terkomputer yang dilakukan 8 jam setelah mielografi. Golman 1973. Iohexol (Omnipaque).Talle 1973. Kadang-kadang media kontras tertimbun diepidural. dan tidak memerlukan pungtur sekunder untuk mengeluarkan media kontras seperti yang sebelumnya berlaku untuk media kontras jenis iodium/minyak. Ia dapat juga digunakan untuk diskografi. risiko aliran kontras ketingkat lebih tinggi dapat dikurangi karena toksisitasnya yang sangat rendah hingga bila mencapai toraks atau leher tidak akan menimbulkan komplikasi. didapat dengan menggunakan Meglumine iothalamate (Conray). Karenanya tampilan rongga subarakhnoid dan radik-radik saraf bisa didapat dengan cepat dan dengan akurasi yang tinggi. 90 % pasien dengan mielogram positif. Perkembangan media kontras yang lebih sempurna. Skalpe dan Amundsen 1975. hal mana paling tidak menyenangkan pada mielografi dengan minyak. Nachemson 1976). Masih cukup material kontras yang tertinggal ditempatnya untuk menampilkan diskus intervertebral yang mengalami herniasi yang sebelumnya tidak ditampilkan dengan baik pada tomografi aksial terkomputer. kurang toksis dan kurang menyebabkan arakhnoiditis. Arti mielografi sebagai penunjang penting sebelum operasi diperlihatkan Hirsch dan Nachemson yang melaporkan hubungan tanda-tanda neurologik dengan mielografi kontras larut air pada penderita yang dioperasi karena diduga herniasi diskus lumbar. Substansi padatnya dapat dicampurkan dengan pelarutnya pada konsentrasi yang diinginkan. yang larut air dan memberikan informasi yang lebih baik. ditemukan herniasi diskus saat operasi yang mana menunjukkan tingginya sensitifitas tes ini. Data yang sama dikemukakan Spangfort yang menyatakan lebih dari dua kali temuan . Hindmarsch 1973. absorpsinya melalui teka lumbar dan villi arakhnoid parasagittal hingga tidak perlu dikeluarkan lagi. Ia ditolerasi baik dan tidak memerlukan anestesi spinal. Ia cepat diabsorbsi dari rongga subarakhnoid dalam waktu sekitar delapan jam. Medium kontras bercampur cepat dengan cairan spinal serta viskositasnya rendah. Sebagai tambahan.

muntah. Mielografi memberikan penegasan dan juga memberikan tingkat yang tepat dari prolaps yang menentukan operasi. Akhirnya seperti telah dijelaskan. Menurut Nachemson (1976) akurasi diagnostik diperbaiki dari 60 menjadi 90% bila mielografi ditambahkan pada pemeriksaan. masalah urinari. kepentingan mielografi pada kasus ini tidak diutamakan. Pada kasus tertentu dimana pasien menolak. mielografik dan operatif didapatkan bahwa tanda-tanda klinik hanya berkaitan 60% dan tanda-tanda mielografik 95% terhadap pengamatan operatif. Mielografi juga menunjukkan apakah prolaps berasal dari atas atau bawah dan selanjutnya memberikan informasi arkus mana yang akan dibuka. Bila tanda-tanda dan gejala-gejala sangat jelas dan informatif.64 %. pertentangan masih terjadi hingga saat ini dikarenakan risikonya. Karena sifatnya invasif. Walau sudah dengan Metrizamide. Tentu . Pada beberapa kasus akan memberikan jawaban apakah operasi harus dilaksanakan atau tidak. mielografi akan memberikan tingkat yang tepat yang mana sangat penting ketika simptomatologi sering berbentuk campuran. Pada pemeriksaan hubungan antara pengamatan klinik. Indikasi lainnya adalah stenosis tulang belakang dan kemungkinan adanya tumor. keterbatasannya dan ketidaktepatannya dibandingkan cara pemeriksaan lain. risiko masih tinggi yaitu 23 . dan keputusan operasi harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinik. Indikasi utama mielografi pada penderita kelainan diskus intervertebral adalah adanya nyeri radikuler dan gagal terhadap semua tindakan dan pada penderita dimana operasi akan dilaksanakan.negatif pada operasi bila sebelumnya tidak dilakukan mielografi. Pungtur lumbar untuk analisis cairan spinal tidak diperlukan pada keadaan ini. mielografi mempunyai risiko yang kuat. Indikasi Baru akhir-akhir ini mielogafi menjadi prosedur diagnostik yang dianjurkan untuk mendiagnosis semua keadaan yang diduga akibat penyempitan kanal spinal. kejang dan keluhan psikik. mielografi tidak boleh dilakukan. Walau nilai mielografi sangat membantu dalam menyaring pasien. Hitselberger dan Witten menemukan 37 % penderita tanpa gejala mempunyai kelainan tulang belakang leher dan lumbarnya. Mielografi prabedah saat ini tidak harus ditinggalkan. 3. mual. hingga menghindarkan perlunya melakukan laminotomi diagnostik kecil. termasuk nyeri kepala. Kelainan diskogenik tidak hanya didiagnosis namun juga ditindak berdasarkan tanda dan gejala klinik. Kelainan mielografi semata-mata tidak boleh diperlakukan sebagai satu-satunya penentu operasi. dimana dua pertiganya (24 %) adalah pada lumbar.

Tampilan posteroanterior diambil dengan meja ditinggikan dengan berbagai derajat. Ini termasuk nyeri pinggang akut yang mungkin atau tidak berhubungan dengan tanda-tanda neurologik yang jelas. Pada kasus khas sindroma L5 dengan paralisis akut. Bila lesi diduga lebih atas. Pada kasus asuransi dimana diagnosisnya sulit. Untuk mendapatkan proyeksi yang kaya kontras dianjurkan untuk menyelesaikan seluruh pemeriksaan secara lengkap dalam 10 hingga 20 menit. 4. mielografi tidak selalu perlu dan operasi dapat dilaksanakan segera. Bila tindakan konservatif gagal setelah beberapa bulan. Pastikan kontras berada intratekal. Bila pada mielografi tidak ada cairan yang didapat. kontras dimasukkan dengan kontrol radiografik antara L1 dan L2. Jarum segera ditarik setelah injeksi. mielografi dianjurkan. . Dalam hal penggunaan Metrizamide perlu mempertahankan posisi pasien setengah duduk 600 selama 6 jam agar kontras tidak naik melebihi tingkat lumbar. projeksi fleksi dan ekstensi diambil dalam posisi berdiri tampilan lateral. perlu dipikirkan mielografi. Kepala meja ditinggikan. Injeksi biasa dilakukan dengan tabung plastik yang bersatu dengan jarum. harus diingat bahwa kebocoran cairan spinal ringan mungkin terjadi dan karenanya beberapa tindakan pencegahan harus diambil seperti halnya melakukan pungtur lumbar diagnostik. Pada kasus dengan masalah asuransi dokumentasi yang dapat dilihat lebih bernilai dari tanda-tanda dan gejala-gejala. keadaannya sangat berbeda dan mielografi harus dilakukan dalam usaha menentukan tingkat. dan film diambil untuk menampilkan berbagai tingkat. Tehnik Pasien diletakkan pada meja radiografik dengan punggung datar dengan bantuan kantung udara yang dapat digembungkan dibawah perut.mielografi tidak boleh dilakukan pada penderita yang peka iodium terutama yang menunjukkan kepekaan terhadap makanan laut. Bila diduga sindroma kauda. setelah mana medium kontras segera mulai diabsorbsi. Pada anak-anak harus hati-hati dalam merencanakan dan melakukan mielografi. Sindroma diskus intervertebral lumbar lokal sangat jarang memerlukan mielografi. Tampilan oblik diambil dengan pasien dalam posisi telungkup dan miring kesatu sisi dan selanjutnya kesisi lain. Namun bila ada dugaan suatu tumor sangat dianjurkan sebagai prosedur diagnostik. Jarum diinsersikan pada inter-space antara L2 dan L3. Bila diduga suatu prolaps mobil atau fragmen. Harus waspada akan kemungkinan adanya peninggian tekanan intraserebral serta akibatnya yang mungkin memberat pada keadaan ini.

Temuan Mielografik Mielografi diambil pada pandangan anteroposterior. Indentasi medium kontras pada beberapa segmen biasa didapat pada penderita tua.5. Kantung-kantung radik saraf dapat ditampilkan. Kantung dural berakhir pada ruas tulang belakang sakral kedua atau mungkin lebih pendek pada ruas tulang belakang sakral pertama. muntah. serta muntah dapat terjadi. sedikit peninggian suhu dan juga kekakuan otot. Walau toksisitasnya rendah. Ujung bawah kantung dural menunjukkan variasi anatomis yang dapat berupa kerucut atau lengkungan. media kontras yang baru mungkin menyebabkan komplikasi jenis yang sama. Komplikasi Komplikasi mungkin timbul baik karena medium kontras atau pungtur lumbar maupun keduanya. 2-3% penderita dengan nyeri kepala juga menderita meningismus. Tampilannya berbeda tergantung proyeksi yang digunakan. tak ada hal-hal istimewa yang diharapkan terjadi. Disini terdapat hubungan yang nyaris langsung yang tidak terjadi pada segmen L5-S1 dimana terdapat sedikit rongga. kejadiannya relatif kecil. Bila diduga suatu prolaps yang mobil atau segmen yang tak stabil. tampilan fungsional diambil pada fleksi dan ekstensi maksimum. Tepi anterior dan posterior medium kontras tampak dan kantung-kantung radik saraf tercakup. Ini mungkin berupa penekanan . maka komplikasi akan diakibatkan terutama oleh pungtur lumbarnya. Tampak Lateral. Medium kontras diabsorbsi cepat dari daerah ini tanpa menyebabkan kerusakan apapun. lateral dan oblik untuk mendapatkan analisis proses yang menimbulkan penyempitan kanal spinal. Secara keseluruhan. meningismus. Karena penggunaan medium kontras mempunyai komplikasi yang relatif kecil. Setelah mielografi dengan Metrizamide 20% pasien merasa nyeri kepala untuk beberapa hari. efek samping dan komplikasi ini tidak akan mengurangi nilai mielografi sebagai alat bantu diagnostik. Gambaran posterior diskus intervertebral L1-L4 serupa dalam tampilan lateral. Namun dari berbagai laporan. Protrusi dan prolaps lumbar akan menyebabkan indentasi khas pada mielogram. Bila kesalahan menyuntikkan media kontras (Metrizamid) kerongga epidural. Komplikasi yang harus dipikirkan adalah infeksi. Tampak Anteroposterior. Suatu saat gejala spontan berkurang dan tindakan terbaik adalah analgesik dan istirahat baring. Indentasi pada satu atau dua segmen adalah patognomonik. yang mungkin akan membingungkan dengan prolaps medial pada tingkat L5-S1. 6. Setiap benda asing yang dimasukkan kekanal spinal akan menambah iritasi terhadap sistem saraf pusat dengan nyeri kepala.

Kepadatan kontras media tidak akan terlalu tinggi bila ia sudah bercampur dengan cairan spinal. Seperti ditunjukkan oleh mielogram. Pemeriksaan Laboratorium Termasuk Analisis Cairan Spinal Pemeriksaan tambahan dipersiapkan hanya untuk keperluan diagnosis diferensial. Media kontras larut air tak hanya menampilkan kontur permukaan kantung dural dan kantung-kantung radik namun juga struktur interior dapat diperlihatkan. menyempitan oseus kanal spinal lumbar. Tampak Oblik. Pada mielografi tidak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps.atau obstruksi lengkap ('amputasi'). laju endap darah atau foresis-elektro. Dari tampilan berbeda. diagnosis mungkin perlu dipertajam untuk mendapatkan peng-indentifikasian asal. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. operasi dikontra-indikasikan pada penderita dengan tidak cukup gejala atau temuan. Namun indentasi dapat terjadi tanpa ada hubungannya dengan degenerasi diskus intervertebral. Serabut saraf akan tampak sebagai pita tipis yang panjang. Protrusi medial dan para medial mudah diperlihatkan pada tampilan lateral dan oblik. mudah untuk menganalisa ukuran dan lokalisasi protrusi diskus intervertebral. PEMERIKSAAN LAIN Setelah pemeriksaan klinik termasuk riwayat lengkap. Protrusi lateral lebih mudah diamati pada tampilan anteroposterior. Perpindahan fragmen diskus intervertebral seperti juga protrusi medial pada tingkat L5-S1 dan protrusi lateral pada setiap lengan radik tidak selalu tampak pada mielogram. pemeriksaan objektif dan radiografi dan pada kasus tertentu mielografi. Cairan spinal bisa didapat saat mielografi dan analisis dapat dilakukan. Tindakan menyeluruh tergantung gambaran klinik dan bahkan bila perubahan ditampilkan pada mielografi. Pada degenerasi diskus . A. sering menyerupai prolaps diskus intervertebral. Menampilkan kantung-kantung radik saraf dan kontur lateral kantung dural. Pemeriksaan laboratorium mungkin mempunyai beberapa nilai dan pada sindroma lumbar tidak dijumpai perubahan nilai-nilai darah. Prolaps masif didemonstrasikan oleh berbagai tampilan. Tumor. lokalisasi dan tingkat lesi. prolaps turun dari medial kelateral keforamina intervertebral (Brussatis dan Steeger 1974). Sebaliknya operasi dipikirkan pada kasus dimana tindakan konservatif tidak memberikan hasil dan hasil mielografi tidak menampakkan informasi positif.

Diskografi hanya dapat membedakan antara protrusi dan prolaps yang mungkin sama artinya dalam tindakan selanjutnya. Pada perforasi anulus fibrosus. B. Kelainan ini dapat dijumpai pada beberapa keadaan spinal. Pada kelainan degenerasi diskus intervertebral tes ini tak diperlukan. Pada setiap pasien dengan gangguan radik lumbar kelima dan jarum yang dimasukkan ke diskus intervertebral L4/L5 membuktikan keadaan normal. pertama harus diduga terutama bila diskus intervertebral lumbosakral menyempit dan kolaps. Nilai dari diskografi lumbar minimal pada diagnosis rutin karena diketahui degenerasi terjadi pada usia tertentu setelah tampilan normal sulit diharapkan. Bahkan dengan Metrizamide hasil negatif palsunya 20% pada interspace L5-S1. Diskus intervertebral yang berdegenerasi dapat mengabsorbsi 2 hingga 4 cm3 cairan dan akan memperlihatkan sejumlah rongga kecil pada jaringan diskus intervertebral. Lagi pula mielografi dengan media kontras larut air lebih mudah dikerjakan dan lebih akurat dalam informasi. pemeriksaan lanjutan harus dikerjakan. Pada keadaan dengan peninggian protein dan hitung sel bersama dengan blok spinal (Queckenstedt positif). . sifilis) atau tumor. terutama pada inflamasi (herpes zoster. Keadaan protein meningkat dan hitung sel normal disertai tekanan cairan normal disebut 'dissociation globolinocyto-logique' (sindroma Guillain-Barre). Diskografi Rongga intradiskal dapat didemonstrasikan dengan menyuntikkan media kontras kedalam diskus intervertebral. Penting untuk mengingat bahwa diskus intervertebral yang berdegenerasi tidak perlu menimbulkan gejala. Diskus intervertebral sulit untuk disuntik dengan medium kontras dan sedikit kontras yang masuk dapat diperlihatkan oleh gambaran seperti lensa pada radiografi. Tes Queckenstedt dapat dilakukan. Operasi diindikasikan pada kasus ini. Pada sindroma ini protein total dan koloid nilainya sangat tinggi. medium kontras akan mengalir keluar aspek posterior anulus fibrosus.intervertebral cairan spinal jernih dan mudah mengalir melalui jarum kecil. Pada prolaps besar atau setelah operasi diskus intervertebral kadang-kadang dijumpai sedikit peningkatan protein cairan spinal. adalah bahwa radik lumbar kelima tertekan pada daerah interforaminal baik oleh diskus intervertebral yang mengalami herniasi atau oleh spurring lateral dari herniasi yang sudah lama. Hitung sel normal. Analisis cairan spinal tidak memberi banyak pada kasus degenerasi diskus intervertebral dan hanya dipersiapkan untuk diagnosis diferensial dari keadaan lain.

sering pembengkakan pasca jejas pada radik saraf terkena. tingkat hidrasi. Pada pencitraan dengan pembebanan T2. Tomografi Terkomputer Sangat akurat dalam mendiagnosis herniasi diskus intervertebral dengan kompresi radik saraf sebagai penyebab siatika. Pencitraan Resonansi Magnetik Baik MRI maupun CT resolusi tinggi memberikan tampilan yang sangat baik atas perubahan morfologik serta pengaruh dari herniasi diskus. sering terletak dorsolateral. juga memberikan kemungkinan menduga perubahan patologis yang terjadi dalam diskus sebelum perubahan pada konturnya. dengan perbedaan utama pada kadar relatif komponen tersebut. 1988). akurasi diagnostik sangat tinggi. dan ini normal pada pertumbuhan jaringan normal. D. atau pembesaran vena epidural sekitarnya. 1985). dan jenis utama dari kolagen yang dominan (Ghosh. PRM memperjelas akibat herniasi terhadap struktur intraspinal. serta hilangnya batas anatomik antara nukleus dan serabut anular dalam (Miller. E. Pertama. eksudat inflamatori. Intensitas sinyal diskus tergantung keadaan hidrasi dan fisiokimia jaringan diskal (Hickey. 1986). pengeringan bertahap material inti mukoid. Miografi-elektro Gangguan motor dapat dinilai secara objektif dengan miografi-elektro. Bila temuan ini dijumpai. intensitas sinyal yang tinggi pada bagian sentral diskus berasal dari nukleus pulposus dan serabut anular dalam (Yu. Ketiga. Penggunaan miografielektro untuk memperlihatkan gangguan neurologik adalah semata-mata untuk diagnostik diferensial. Dengan penuaan. Kriteria diagnostik harus spesifik. protrusi harus fokal dan tak setangkup. Kelemahan otot anggota bawah sering dapat diketahui pada pemeriksaan klinik. . 1988). harus tampak kompresi radik saraf dan/atau pergeseran. Gangguan otot neurogenik yang timbul sehubungan dengan adanya prolaps tak dapat diperlihatkan oleh miografi-elektro hingga perjalanan penyakitnya lanjut. kaudal dari herniasi.C. dengan pembesaran saraf serta pengaburan tepinya karena edema. Nukleus pulposus dan anulus fibrosus terutama mengandung air. kolagen serta proteoglikan. Diatas usia 30. 1988). Kedua. langsung didekat radik saraf yang melintang diskus. Pada pencitraan dengan pembebanan T2 pada serabut anular luar memperlihatkan intensitas sinyal yang sangat lemah. seperti halnya ligamen longitudinal posterior didekatnya (Pech dan Haughton. celah intranuklir ditemukan pada diskus normal pada pencitraan pembebanan T2. akan terjadi penghancuran bertahap proteoglikan nukleus.

Dengan traksi pada tulang belakang lumbar. Mungkin juga nyeri akan berkurang dan lokalisasi berubah. Selain itu harus dibedakan antara nyeri radik saraf dan nyeri akibat terganggunya saraf perifer. Kadangkadang nyeri bahkan bertambah saat traksi dan menjalar lebih keperifer. Pada protrusi kecil. Tomografi Terkomputer yang diperkuat Diperdebatkan keuntungan dan kerugiannya. Tes traksi berguna dalam mendiagnosis sindroma radik saraf lumbar. Penyebab Ekstravertebral Tidak jarang nyeri dari panggul dikelirukan dengan .F. Ini dapat terjadi apabila prolaps menjadi lebih besar atau mengalami fragmentasi menjadi sekuester. tes traksi dapat positif pada sindroma radik saraf karena berbagai penyebab. siatika dan deformitas siatik akan hilang selama traksi. mungkin akan mengurangi kontak antara radik saraf dengan diskus intervertebral hingga penjalaran nyeri baik siatika maupun neuralgi femoral dapat berubah. dan akhirnya siatika dapat merubah penjalarannya dari bagian distal keproksimal dari anggota bawah. Nyeri lateral dapat bergerak lebih kemedial dan nyeri radik saraf tajam berubah menjadi nyeri pinggang tumpul. A. Dilakukan melakukan DIAGNOSIS DIFERENSIAL SINDROMA AKAR SARAF LUMBAR Dalam menganalisa nyeri pada anggota bawah. Pasien juga dapat membungkuk kedepan saat menarik pegangan. yang dilakukan dengan memakai bebat sekitar pelvis dengan pegangannya tergantung dari tiap sisi (Kramer 1973). Neuralgi femoral paling sering disebabkan degenerasi diskus intervertebral lumbar bagian atas. penting untuk membedakan siatika sebenarnya dengan nyeri yang menyerupai siatika. Pengaruh postur pada gejala menunjukkan terkenanya diskus intervertebral. Postur tidak berpengaruh pada siatika atau neuralgi femoral oleh peenyebab lain. Nyeri berasal dari sendi panggul atau vaskuler tidak akan terpengaruh oleh tes traksi. Ini terutama ditunjukkan oleh tes traksi terhadap tulang belakang lumbar atau tes regang femoral yang bermakna pada gangguan pada radik saraf. Penderita menarik pegangan kebawah dan dengan tindakan ini intensitas dan penjalaran nyeri yang berasal dari radik-radik saraf lumbar akan berubah. Tes traksi juga menjelaskan apakah traksi akan bernilai terapeutik bagi pasien. pada hari mielografi dilakukan. siatika disebabkan oleh degenerasi dua diskus intervertebral lumbar yang terbawah. Kekecualian. Sebagai pegangan. Sulit penilaian jaringan lunak.

Kadangkadang suatu aneurisma arteri iliak komunis bisa menyebabkan siatika (Elliot 1971). Bila tes straight leg-raising mengenai sendi panggul. uterus atau prostat hanya timbul bila tumor mencapai ukuran besar. ini akan sangat membingungkan. Gangguan neurologik mungkin sangat sedikit atau sama sekali tidak ada. Tes traksi negatif serta tiadanya hubungan dengan posisi postural menyingkirkan gangguan radik saraf. Tanda-tanda pleksus saraf lumbosakral akibat tumor ekstra-vertebral dari rektum. Bila nyeri bertambah saat berjalan. Nyeri pada daerah sendi panggul mungkin disebabkan peri-arthrosis panggul yang baik sendi panggul maupun tulang belakang lumbar tidak menunjukkan adanya kelainan patologik. Tes Mennel dan pemeriksaan klinik yaitu radiografi dan sintigrafi akan membantu diagnosis. pergerakan sendi panggul menyebabkan pergerakan pelvik yang konkomitan dengan kemungkinan nyeri radik saraf. Juga perlu secara teliti mendengarkan riwayat pasien dimana sindroma radik saraf dijelaskan oleh hubungan terhadap perubahan posisi dan tes traksi. Pertanda terganggunya sendi panggul adalah perbedaan pada rotasi kedalam kedua sisi. Pada siatika tes siatik sangat berbeda. Berbeda dengannya. Dalam usaha menegakkan diagnosis. Tidak jarang diterima rujukan hanya karena kebingungan atas nyeri tungkai apakah dari sindroma radik saraf lumbar atau dari kelainan vaskular perifer. Untuk diagnosis terkenanya sendi panggul. trokhanter maior dapat diinfiltrasi dengan anestetik lokal. Tidak ada gangguan lumbar lokal yang menimbulkan siatika tanpa nyeri sakral. Pada sindroma radik saraf yang disebabkan protrusi diskus intervertebral atau prolaps diskus intervertebral.sindroma radik saraf lumbar. Ini semula dijelaskan sebagai terganggunya saraf obturator yang mencatu bagian anterior sendi panggul dengan serabut-serabut sensori. mielografi akan memberikan jawabannya. Sebabnya adalah sangat sering dua keadaan ini terjadi bersamaan dan penjalaran nyerinya sangat serupa. Karenanya perlu menyingkirkan kemungkinan osteoarthrosis panggul serta nekrosis kaput femoral. yaitu kepaha dan lutut. Pada sindroma radik saraf lumbar beberapa tanda mungkin tidak dijumpai hingga menyulitkan penegakan diagnosis. selanjutnya disarankan menyuntikkan anestesi lokal intra-artikular sebagai pengarah. Pasien osteoarthrosis sering mengeluh nyeri yang menjalar kebawah. Sangat mungkin nyeri ini adalah akibat terganggunya saraf simpatetik (saraf vaskuler) seperti diduga Idelberger (1977). Ada pula kelainan pada saraf siatiknya . Perubahan inflamatori atau degeneratif pada sendi sakroiliak dapat menimbulkan nyeri serupa dengan siatika proksimal. ini sangat tidak biasa pada siatika. Radiografi termasuk tomografi digunakan untuk diagnosis menyeluruh.

tidak ada gangguan pada refleks tendon patellar pada parestetik meralgia. B. Antaranya herpes zoster. Hal yang serupa terjadi pada tumor tulang belakang yang sebagian besar adalah metastase. siatika adalah gejala lanjut. Gejala neurologik terjadi. Berlawanan dengan cedera pleksus dan saraf perifer. leprosi. Gejala siatik bertambah dan tes straight leg-raising positif pada kedua sisi. Tindakan lain yang membantu diagnosis adalah infiltrasi lokal anestetik dan tes traksi. Ini karena cedera pada saraf kulit femoral lateral. Bila nyeri dan gangguan sensasi terbatas pada lipat paha dan bagian anterior paha. Sisi injeksi tampak keras. dan terdapat perubahan cairan spinal.sendiri yang menyebabkan diagnosis diferensial menjadi sulit. lesi radik saraf tidak pernah bersamaan dengan tanda-tanda vegetatif. Nyeri menjalar mudah dibangkitkan dengan menekan daerah tersebut. Nyeri malam adalah khas. Kadang-kadang kelainan Paget dan fluorosis menyebabkan siatika karena pertumbuhan tulang dengan penyempitan kanal spinal serta foramina intervertebral. Spondilitis mungkin juga mengenai radik dan tidak terpengaruh oleh postur. diabetes dan periarteritis nodosa. Stenosis spinal pada kebanyakan kasus disebabkan oleh kelainan diskus intervertebral dan . Siatika dapat timbul bilateral pada spondilolistesis dan sangat sedikit dipengaruhi perubahan postur. dan gejala radik hanya terjadi bila massa tumor mengenai kanal spinal atau bila timbul fraktura patologis. Neuropati diabetik harus selalu diingat pada pasien tua. Sebaliknya dari sindroma L3. Pada lesi radik saraf tidak pernah ada kelainan perspirasi bahkan bila sensasi hilang total didalam daerah yang dicatu oleh beberapa radik (Schliack 1975). Penyebab Vertebral Selain sindroma radik saraf yang disebabkan kelainan diskus inter-vertebral dijumpai kelainan lain yang menyebabkan siatika dan mengenai saraf femoral. Kadang-kadang siatika yang timbul setelah penyuntikan saraf siatik harus diingat karena mungkin pengobatannya termasuk injeksi pada daerah siatik. Bila spondilitis dimulai dianterior. Tumor primer mungkin timbul pada segmen ruas tulang belakang terutama pada sarafsarafnya. neuritis alkoholik. Ini harus dipikirkan sebagai diagnosis diferensial dalam menganalisa nyeri sakral. kelainan tik. Akar-radik saraf terjerat oleh jaringan fibrosa disekelilingnya serta menyebabkan pengangkatan atau traksi keatas sisi posterior ruas tulang belakang berdekatan. Pada lesi saraf siatik terdapat kelainan fungsi sudorimotor didaerah gangguan sensasi. parestetik meralgia harus dipikirkan.

Kebanyakan kelainan diskus intervertebral tampak sebagai fragmentasi. perlunakan dan protrusi ringan dibanding prolaps sebenarnya. Sasaran utama adalah menghilangkan nyeri. Blok cairan spinal menunjukkan kompresi spinal. tindakan secara umum serupa. Pada tumor kauda tidak ada hubungan dengan beban berat atau tanpa beban berat. Cairan spinal normal dan alirannya yang bebas pada tes Queckenstedt tidak menyingkirkan kemungkinan kompresi kauda yang terletak dalam. Pemeriksaan radiologiogi dan laboratori normal. namun memerlukan pemeriksaan lain untuk memperjelas kelainan seperti mielografi. Kompresi kauda akut akibat prolaps diskus intervertebral memerlukan operasi segera. Kecil kemungkinan pulih bila operasi dilakukan dua atau tiga hari setelah kompresi kaudal. Tindakan diagnostik terpenting adalah mielografi namun tidak selalu menjelaskan sumber kelainan. Secara umum terdapat perubahan sekunder dari sendi-sendi dan otot-otot intervertebral. Lesi kauda akut adalah akibat prolaps besar dari tingkat L3/L4 atau L4/L5. Kelainan diskus intervertebral khas dengan onset mendadak dan kaitannya dengan postur. Sasaran harus ditujukan untuk mengurangi keluhan rasa tidak enak subyektif dan tidak terlalu ditujukan kepada deformitas anatomik. Mula-mula adalah nyeri hebat lumbar dan radikular. TINDAKAN Mengingat etiologi dan patologi. Sindroma Kauda Sindroma kauda menunjukkan sindroma radik saraf lumbar poli-radikuler secara menyeluruh. Dalam beberapa jam dapat timbul cedera yang irreversibel. Semua radik saraf dikauda tertekan baik oleh prolaps diskus intervertebral maupun tumor dan menimbulkan gejala radik lumbar maupun sakral. Penting diingat keberagaman dan kepekaan masing-masing radik saraf yang menyebabkan gejala dan . Pada mielografi. Kurang penting untuk memperbaiki mobilitas tulang belakang lumbar. Gejala sindroma kauda khas dan dari sudut diagnostik diferensial menarik untuk menganalisa etiologinya.menyebabkan siatika. Pada prolaps diskus intervertebral lumbar ada hubungan gejala dan perubahan patologik sebagai makin besar prolaps semakin berat gejala neurologik dan nyeri. Segera setelah paresis timbul. Laboratori dan mielografi akan memberi petunjuk diagnosis. gejala khas prolaps diskus intervertebral menghilang. indentasi medium kontras mungkin sangat besar namun bila tidak ada gejala maka tidak ada alasan untuk operasi. Analisis cairan spinal mungkin penting. C.

pemijatan. Tindakan Konservatif . Onset nyeri dan adanya suatu keadaan kronik akibat beberapa keadaan patologik membentuk lingkaran setan. 'Serangan' terapeutik pada rantai manapun akan memberikan hasil yang baik. perubahan abnormal volume diskus intervertebral. Pasien yang aktif lebih baik ditindak lebih aktif dengan traksi. Harus dipikirkan tekanan material diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi. packing dan infiltrasi. lainnya justru memburuk. namun bila tidak memberikan hasil yang baik dan nyeri tetap berat. pikirkan operasi. Karenanya tindakan harus diarahkan terhadap intensitas gejala yang dipacu oleh sensitivitas radikradik saraf dan serabut-serabut saraf. Dengan kata lain terdapat reaksi yang berbeda dari radik-radik saraf terhadap rangsangan mekanik akibat deformitas patologik. iklim dan tindakan fisik. karenanya tindakan harus simptomatik dengan satu tujuan saja yaitu mengurangi nyeri. Perubahan psikik juga penting. Tindakan berdasar penyebab tidak akan berhasil pada kelainan diskus intervertebral. Pikirkan usia pasien. Mulamula selalu harus dengan tindakan konservatif. Diagnosa yang teliti dan pengalaman yang luas diperlukan dalam merencanakan cara terbaik untuk masing-masing pasien. Hal menarik lain adalah remisi spontan gejala pada kasus nyeri dengan onset akut akibat degenerasi diskus intervertebral. Material diskus intervertebral yang telah rusak tidak dapat diperbaiki oleh jaringan. serta perubahan sirkulasi.tidak perlu perubahan patologik identik kasus demi kasus. Pasien yang bersifat pasif terbaik ditindak dengan istirahat tempat tidur. nyeri yang berasal dari kapsula sendi intervertebral dan spasme otot. Kemungkinan berhasil pada tindakan konservatif sangat terbatas. kontraktur kapsul sendi. karenanya dianjurkan mengatasi fokus infeksi lokal pada pengobatan siatika dan nyeri pinggang bawah. Beberapa pasien bereaksi baik terhadap pemijatan. Mula-mula adalah masalah mekanik yang diikuti iritasi radik-radik saraf dengan akibat timbulnya spasme otot reflektori. Usaha yang gagal pada terapi manual atau pemijatan dalam waktu lama harus diganti dengan istirahat dan pemakaian panas. Terdapat gabungan pengaruh tekanan mekanik dan sensitifitas saraf dimana yang terakhir ini dapat dipengaruhi oleh obat-obatan. postur abnormal. keadaan fisik secara umum serta keadaan mental. Pemeriksaan teliti akan menunjukkan bagian mana dari segmen yang paling terserang dan rencana tindakan didasarkan kepadanya. Akar saraf yang sudah cedera oleh tekanan akan bereaksi abnormal bila menghadapi keadaan alergi atau infeksi. A. Hal serupa terjadi pada traksi. Harus dipikirkan semua kemungkinan cara pengobatan sesuai dengan kasus. aberasi psikik serta akhirnya nyeri. Tidak perlu merencanakan suatu tindakan dalam dua atau tiga minggu.

Tergantung penyebab. segala variasi posisi berdiri atau horizontal dapat mengubah perjalanan nyeri. Tindakan dikolam dengan gerakan yang kuat mungkin cukup untuk mengobati nyeri sakral dengan onset akut dan nyeri akan hilang dengan cepat. Bila ada alasan untuk tidak memungkinkan pasien berada dalam posisi berdiri. Nyeri yang timbul setelah berada dalam posisi horizontal untuk waktu yang lama menunjukkan penambahan volume diskus intervertebral dan dapat dikurangi dengan memberi beban aksial secara hati-hati. Diskus intervertebral menerima beban paling rendah saat berbaring horizontal dengan sendi lutut dan panggul dalam fleksi. pasien mengatur posisi tulang belakang yang paling efektif mengurangi nyeri. Pada siatika posisi terlentang lebih disukai. Tidak ada aturan bagaimana meletakkan tubuh hingga bebas dari nyeri dalam pengobatan lumbago. Gejala dari degenerasi diskus intervertebral biasanya akibat penambahan beban aksial dan karenanya tindakan terbaik adalah istirahat ditempat tidur. Dianjurkan memakai penyangga untuk tungkai berupa blok karet busa. Istirahat Pengurangan rasa tidak enak dan nyeri dapat dicapai dengan istirahat. pemijatan. Kenyataan bahwa pasien telah menemukan posisi tubuh yang meringankan nyeri dan dapat ditemukan oleh pemeriksa. Tempat tidur harus rata dan keras. Kontraksi isometrik otot pinggang akan menambah tekanan intradiskal dan akan mengurangi volume diskus intervertebral walau pada posisi horizontal. Hirschberg (1974) melaporkan hasil yang sangat baik pada penderita yang dirawat konservatif dan mendemonstrasikan bagaimana pengurangan tekanan intradiskal menyebabkan hilangnya ketidaknyamanan serta . Lingkaran setan berupa nyeriregangan-nyeri. Sebagai pegangan. pasien dapat digerakkan dengan arah yang memungkinkan kembalinya nukleus pulposus keposisi normal (Idelberger 1977). dapat dipengaruhi oleh tindakan tersebut. terapielektro serta analgesik. Pada keadaan ini tekanan intradiskal 35 kp. kepala atau kaki tempat tidur dapat ditinggikan. Pada kasus nyeri pinggang bawah yang kurang begitu berat akibat dislokasi yang lebih ringan dari fragmen diskus inter-vertebral. penggunaan panas. Penting untuk mengatur posisi saat istirahat. Traksi dengan bebat ekstensi dapat mempercepat proses ini. pasien dengan nyeri pinggang bawah lebih menyukai beristirahat pada tempat tidur. Dalam setiap gangguan fungsional pada interspace. Jenis tindakan ini salah satu yang terbaik yang dapat ditawarkan pada pasien dan diakhiri dalam beberapa hari serta dua hingga tiga minggu untuk kasus yang lebih sulit. Pasien harus mengatur fleksi lutut dan panggul pada posisi yang paling nyaman.1. tapi pasien mungkin memilih posisi yang tidak lazim untuk mengurangi rasa tidak enaknya.

mandi air panas atau botol air dapat digunakan. Juga terjadi perubahan tingkat konduksi saraf motor dan aktifitas motor spinal dari neuron motor alfa dan gamma hingga terjadi relaksasi spasme otot yang diinduksi nyeri. Seringkali pasien dengan sindroma lumbar menemukan keuntungan dengan panas. Berdiri. bebat dan aplikasi lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan panas dapat digunakan pada pinggang. Bila panas menambah nyeri. Dengan pemanasan dalam. selalu digunakan oleh pasien nyeri pinggang bawah. terapi-elektro harus dicegah selama tahap akut. Sangat sering kedinginan memperberat ketidaknyamanan. Untuk pemakaian sederhana dirumah. Pemanasan suhu badan terbaik dengan menggunakan wool tebal. karena pada tumor dan keadaan inflamatori. dapat digunakan dan dianjurkan kompres panas dengan meletakkan dibawah pasien tanpa menggerakkan pasien terlalu banyak. hiperemi akan menambah dan memperkuat nyeri. panas tidak pernah digunakan terhadap pasien dalam posisi telungkup karena hiperlordosis paling sering menimbulkan nyeri. Beberapa obat gosok. Istirahat harus dilanjutkan dan dilakukan untuk waktu yang lama dalam usaha menghilangkan penekanan terhadap radik saraf dan juga membantu pengerutan fragmen diskus intervertebral.nyeri. 2. Mandi air panas. kompres hangat. Pasien yang menderita nyeri sakral khronik dan siatika selalu mencegah kedinginan dan karenanya berpakaian hangat. yang meningkatkan panas. Dipercaya bahwa kantung panas mempunyai efek jaringan dalam. menekuk tubuh dan mengangkat dapat menyebabkan berulangnya keadaan dan musnahnya perbaikan yang telah didapat. . Alasannya tidak diketahui. Dalam semua keadaan. pemijatan dan traksi dapat dianjurkan. Dengan adanya aksi refleks. Selama istirahat ditempat tidur. Tak ada alasan untuk percaya. reaksi inflamatori berkurang. dan pasien dapat dijaga fisik dan mental disaat ia menggunakan sesedikit mungkin gerakan dan higiene pasien dapat dirancang untuk keadaan berbaring pada sisi tubuhnya. packing. Pemanasan Panas menyebabkan hiperemi dengan akibat pengenduran otot-otot yang spastik. diagnosis harus dipertanyakan. Udara panas juga berefek baik. baik melalui kontak langsung maupun secara tak langsung melalui radiasi panas. Derivat minyak asam salisil. Penting untuk melakukan tindakan menurut prinsip yang tegas. terjadi perubahan pada segmen yang bersangkutan. Pemijatan. Panas bisa didapat dengan berbagai cara. ini akan mengubah keadaan biokimia jaringan segmen lumbar.

dianjurkan aminofenazon. Pemberian intramuskuler lebih disukai karena memudahkan kontrol dan penilaian. Karena efek sampingnya dianjurkan untuk pemakaian dalam waktu yang singkat. Dapat diberikan pada sindroma radik saraf kronik. Jenis obat diatur sesuai intensitas gejala. rektal atau parenteral. kombinasi aspirin dan kodein atau acetaminofen dan kodein yang dapat diberikan secara oral. Pada nyeri pinggang bawah ringan dianjurkan tidak menggunakan obat apapun. Diazepam. pyramidon. otot yang tegang akan berelaksasi. dianjurkan analgesik kuat dan antiflogistik. Sasaran utama adalah mengurangi nyeri. sedatif bebas barbiturat dan relaksan otot dapat digunakan sebagai penambah pada tindakan lain. Pada pasien dengan psikik tidak seimbang dianjurkan pemberian sedativa.3. Tahap awal. Relaksan otot mempunyai efek berbeda dimana ia langsung mempengaruhi otot yang menjadi relaks dengan akibat mengurangi nyeri. Nyeri kronik dianjurkan diatasi dengan indometasin atau aspirin yang umumnya ditolerasi baik. Injeksi intramuskuler dengan kombinasi fenilbutazon dan aminofenazon digunakan pertama kali. Beberapa berefek analgesik dan anti flogistik dan umum digunakan seperti aspirin. Karena perbedaan mekanisme patogenetik. Obat-obatan Tidak ada bukti bahwa obat dapat mempengaruhi perubahan volume jaringan diskus intervertebral. karenanya lingkaran setan nyeri-spasme-nyeri dapat diputus. obat-obat seperti disebut diatas dapat digunakan. dijumpai beberapa jenis obat. Komponen antiflogistik diduga mempengaruhi reaksi inflamasi yang diakibatkan iritasi mekanik pada segmen bergerak. Terakhir dilaporkan bahwa obat kombinasi memberi hasil memuaskan. Vitamin B diduga mempunyai efek neurotropik yang membantu regenerasi serabut saraf yang terjepit. Bila nyeri hilang. Efek samping yang timbul pada pemakaian lama tidak dapat dipertanggungjawabkan. Penyebab gejala mungkin kompresi mekanik serius terhadap radik-radik saraf lumbar dan memerlukan . terapi obat-obatan harus diakhiri. fenilbutazon. Pada saat operasi sangat banyak ditemukan radik-radik saraf yang menunjukkan tanda-tanda inflamasi. Bila tidak ditemukan perbaikan dalam waktu yang singkat. Efek merelaksasikan otot secara tidak langsung didapat juga dari sedatif dan tranquilizer yang sering dijumpai pada preparat kombinasi. indometasin. Terapi fisik cukup memadai. Obat-obat kombinasi yang mengandung kortison mempunyai sifat antiflogistik kuat. Bila nyeri bertambah dan tidak hilang dengan istirahat. Pada nyeri akut berat. Tranquilizer akan menurunkan sensitifitas elemen saraf yang teriritasi secara mekanik pada segmen bergerak.

pemijatan jet air dapat digunakan. Pemijatan Mungkin berguna pada sindroma lumbar bila keadaan akut sudah berlalu. Jenis-jenis pemijatan dan pengaruhnya telah dijelaskan dan disamping pemijatan klasik. Pada posisi istirahat tonus otot menurun dan efek stabilisasi menghilang. 4. Berbagai arus dapat digunakan. Pada fase akut sindroma lumbar . Frekuensi yang dianjurkan adalah 20. Posisi penderita selama pemijatan penting. Dengan miografi-elektro diperlihatkan bahwa pemijatan mempunyai efek merelaksasikan otot yang berkontraksi serupa dengan yang didapat melalui alat elektrik. Beberapa jenis pemijatan akan memperkuat siatika akut atau lumbago karena pemijatan akan menggerakkan tulang belakang lumbar dan pasien tidak dapat untuk tetap pada posisinya. Sindroma lumbar yang memerlukan pemijatan jangka panjang lebih baik ditindak dengan terapielektro yang akan menghemat tenaga maupun waktu. otot paravertebral serta iskhiokrural mempunyai efek stabilisasi. 5.000 Hz yang disebut arus arsonal dan dipancarkan melalui diatermi dengan 3 .tindakan yang lebih sesuai. Otot tak dapat mempertahankan kebutuhan yang terus menerus akan kontraktilitasnya untuk mempertahankan stabilitas dan suatu saat akan terjadi insufisiensi otot. Aliran air diarahkan tangensial terhadap pinggang dengan tekanan 1 hingga 2 atmosfir. Tenaga yang lebih kuat diperlukan untuk merawat otot pinggang bawah. Ia mengatur segmen bergerak dalam istirahat hingga tak ada lagi penekanan lebih lanjut atau tarikan pada radik saraf atau ramus meningeal dari saraf spinal. Terapi-elektro karenanya dilakukan lebih awal. Pemijatan hanya sebagian dapat mempengaruhi otot-otot yang berkontraksi dan keras pada daerah lumbosakral. Arus frekuensi tinggi menghasilkan panas pada jaringan dalam. Terapi Elektro Ada beberapa cara dengan tujuan penyembuhan oleh energi listrik. Dengan cara ini otot pinggang paravertebral yang luas dan berkontraksi digerakkan tanpa perlu penekanan terhadap lordosis lumbar yang biasanya terjadi pada pemijatan tangan. perlu melakukan pemijatan dan fisioterapi dalam usaha mengembalikan otot kekeadaan semula. Posisi telungkup tak dapat dianjurkan karena lordosis lumbar akan bertambah dengan tekanan pemijatan dan karenanya pasien harus diletakkan telungkup pada penyangga karet busa yang memungkinkan pasien memfleksikan panggul dan tungkainya bersama-sama. Bila keadaan ini tercapai. Panjang gelombang terlalu pendek tidak akan merangsang sel.

Sistem saraf vegetatif akan terpengaruh dan secara sekunder pembuluh akan berdilatasi.X 106 Hz hingga gelombang pendek 5 X 107 Hz. Frekuensi menengah dan rendah digunakan sebagai arus interferensi. Kekuatan gelombang tinggi superfisisal dipancarkan lebih dalam dengan pengurangan pada jaringan menjadi kekuatan gelombang rendah. Pada fisika yang disebut frekuensi rendah adalah antara 1-5. dengan akibat penambahan sirkulasi jaringan dalam. hal tersebut tergantung pada arus dengan efek dalamnya. Namun demikian peningkatan sirkulasi jaringan disekeliling diskus intervertebral jelas memperbaiki metabolismenya.000 Hz. tanpa menyebabkan kerusakan apapun disini atau merangsang timbulnya nyeri pada kulit. namun pada keadaan biologik dibuktikan bahwa yang mempunyai nilai terapeutik adalah antara 15-250 Hz. Terapi Manual . Ini secara keseluruhan berbeda bila dibanding dengan arus frekuensi rendah yang semula digunakan karena kesamaannya dengan frekuensi potensial elektrik yang terdapat pada jaringan. Pada peningkatan penggunaan arus. Pada sindroma diskus intervertebral. Penggunaan arus interferensi dalam pengobatan nyeri pinggang bawah saat ini meningkat melebihi beberapa pengobatan lainnya. Pada terapi arus interferensi. 6. lapisan otot yang lebih dalam serta segmen bergerak menjadi sasaran dari arus. Arus frekuensi rendah (15-250 Hz) mempunyai pengaruh pada sel dan arus searah digunakan pada galvanisasi serta arus bolak balik digunakan pada faradisasi. arus frekuensi menengah sekitar 4. Pada saat ini tindakan elektrik terhadap pasien rawat jalan dapat dilakukan. Arus listrik digunakan secara bipoler dengan dua elektroda yang berarti bahwa energi maksimum akan dikonsentrasikan pada elektroda dan akan menurunkan pergerakan arus melalui jaringan. Pada degenerasi diskus intervertebral. Belum ada penelitian tentang efek suatu arus terhadap metabolisme diskus intervertebral. Satu keuntungan dengan arus interferensi adalah bahwa efeknya menjadi terpusat pada lapisan jaringan dalam dengan arus frekuensi rendah antara 0-100 Hz dan arus frekuensi menengah didalam jaringan permukaan. Karenanya arus dapat diarahkan ke jaringan sasaran dalam frekuensi dan kekuatan yang disisi lain tak dapat dimasukkan secara langsung. Pada arus diadinamik terdapat perubahan antara frekuensi dan amplitudo yang berefek penghilang nyeri (Bernard 1955). Masingmasing amplituda dan frekuensi akan dirubah oleh badan menjadi frekuensi yang mempunyai efek biologi. Frekuensi tiap-tiap arus berbeda hingga 100 Hz. mungkin timbul nyeri.000 Hz diarahkan pada badan.

7. Hasil yang baik telah dilaporkan banyak penulis sejak Erlacher (1951) hingga Ulrich (1974). otot lumbar atau sendi intervertebral. Traksi Hasil baik sering didapat pada terapi sindroma pinggang bawah dengan traksi. Hanya beberapa milimeter yang diperlukan merubah posisi antara diskus intervertebral yang mengalami perpindahan dan reseptor nyeri. Tidak ada cara yang khas untuk memastikan apakah nyeri sakral berasal dari protrusi diskus intervertebral. Tindakan ini hanya diizinkan bila tahap akut sudah berlalu dan bila sudah diketahui bahwa mobilisasi sudah harus dilakukan serta adanya perbaikan dari keadaan otot. Risiko timbulnya protrusi atau prolaps bisa timbul karena manipulasi yang berupa kifosis. tenaga yang diperlukan untuk merobek ligamen longitudinal posterior tidak besar. Injeksi Lokal . Sekali edem berkurang.Pada kebanyakan kelainan diskus intervertebral merupakan kontra-indikasi. Kembalinya kekeadaan sendi yang normal adalah sasaran terpenting pada rehabilitasi penderita nyeri pinggang muda usia. Maigne 1970). reduksi tekanan intra diskal hingga menormalkan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi. Ini mungkin dapat diperbaiki dengan mobilisasi dikolam atau terapi manual. inklinasi lateral atau torsi dari tulang belakang lumbar (Stoddard 1961. terutama bila disebabkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. Pada protrusi yang besar. Traksi tulang belakang lumbar termasuk pelebaran area intervertebral termasuk semua elemen fungsional segmen bergerak. Dengan terdapatnya penambahan volume diskus intervertebral (Kramer 1973). nyeripun berkurang dikarenakan cukup ruangan untuk radik saraf. Perubahan tinggi diskus intervertebral akibat degenerasi berakibat perubahan posisi sendi-sendi ruas tulang belakang. tonus dan kontraksi otot. Armstrong (1965) menjelaskan efek isap sekunder karena traksi. Miografi-elektro otot lumbar tidak dapat menjelaskan perubahan selama traksi (Rothenberg dan Sanford 1953). Efek terapeutik traksi tergantung jumlah elemen yang terkena. Setelah traksi yang berhasil. Pada traksi. otot tulang belakang lumbar bereaksi refleks dengan berkontraksi dan tahanan otot tergantung pada elastisitas . 8. Tindakan ini seperti halnya terapi hidra semakin populer. mielogram tetap tak berubah. Karenanya tindakan ini tidak dianjurkan. merupakan faktor yang paling penting pada traksi. Reaksi refleks otot dapat dikurangi dengan melakukan traksi secara berkala.

Kehilangan sensibilitas terbatas pada daerah S3 dan S5 dan menimbulkan anestesia sadel. Cairan injeksi (kortikosteroid) dapat mencapai daerah lebih tinggi bila pelvis ditinggikan. namun berguna untuk memakai yang mempunyai efek depot. Injeksi dapat pula dilakukan pada diskus intervertebral. serta konsekuensi yang diakibatkannya berupa iritasi karena penyempitan rongga yang berat. Bila mielografi atau operasi tidak akan dilakukan segera. dan nyeri akibat perlekatan dan jaringan parut pasca operatif dapat dikurangi. Injeksi Epidural Posterior Sumber rasa tidak enak dan gejala lainnya dicapai dengan memasukkan jarum kerongga epidural. antiflogistik dan anti-inflamatori mempengaruhi fungsi segmen lumbar. Injeksi Paravertebral Anestetik lokal dapat disuntikkan keforamina intervertebral. Pada desensitisasi radik saraf harus dicegah lingkaran setan iritasi mekanik.Umumnya terjadi perbaikan spontan pada degenerasi diskus inter-vertebral. Difusi akan berperan mempengaruhi radik saraf dan reseptor pada ligamen longitudinal posterior. Akar saraf dapat direndam oleh anestetik atau obat antiinflamatori (Kortison). otot pinggang dan ligamen intervertebral. Anestetik lokal diberikan dekat tulang belakang (para-spinal) atau didaerah foramina intervertebral (paravertebral). Sesuai keadaan anatomi. Kemungkinan perubahan pada pembengkakan inflamatori struktur saraf terbatas. Bagaimanapun rasa tidak enak dan nyeri dapat menetap atau meningkat. pembengkakan inflamatori. Reischauer (1949 dan 1961) menyatakan bahwa merendam radik saraf bersangkutan dengan anestesi lokal akan mengurangi iritabilitas. Digunakan bila bagian bawah pleksus sakral harus disuntik. Obat dapat disuntikkan kerongga epidural atau sub-arakhnoid. Saraf spinal dan ramus meningeal yang kembali kekanal spinal dapat dicapai dengan injeksi paravertebral. injeksi lokal dan intradiskal terbukti memberikan hasil baik. Dengan cara ini spasme otot dapat diobati dan pada saat yang sama seluruh segmen bergerak akan dipengaruhi oleh rami dorsal saraf spinal yang telah diinfiltrasi. Anestetik. berbagai cara dapat digunakan. Berbagai anestetik dapat digunakan. karenanya reaksi saraf dalam kanal spinal dapat diobati. Injeksi Epidural Kaudal Rongga paradural lumbosakral dicapai melalui inferior via hiatus sakral dengan jarum panjang. Injeksi paraspinal lebih diutamakan untuk menginfiltrasi kapsula sendi intervertebral. . Akar saraf berdekatan pada yang saat sama menjadi teranestesi akibat difusi suntikan dan tidak jarang terjadi paresis.

Depolimerisasi akibat rangsang kimia dari jaringan diskus intervertebral (khemonukleolisis) menyebabkan percepatan perubahan karena usia pada diskus intervertebral dengan membuang makromolekul diskus intervertebral.4% hingga sebagian ahli enggan menggunakannya (Smith dan Brown 1967). saraf dan otot. Injeksi Intradiskal Berbeda dengan tindakan injeksi lainnya. Setelah injeksi ekstradural. 5% sedang dan 9% buruk. Sudah dibuktikan bahwa khimopapain pada pemberian lokal menyebabkan nekrosis jaringan. Harus selalu ingat bahwa bila melakukan penyuntikan intradiskal. Jadi secara keseluruhan berbeda dengan cara penyuntikan lain. Setelah pemberian khimopapain terjadi penurunan jarak intervertebral. Sussman 1972). karenanya tekanan berkurang terhadap radik saraf (dibuktikan banyak penulis. disini injeksi dapat langsung beraksi pada jaringan diskus intervertebral. Saat ini kepentingan klinik tertuju pada penyuntikan khimo-papain yang akan mendekomposisi kartilago. jarum mungkin tidak mencapai sasaran yang benar. Komplikasi menjadi serius pada 3. Terjadi pengerutan. kerusakan pembuluh. Dideposit pada rongga subarakhnoid lumbar. Hasil yang didapat 75% baik. Smith 1964 hingga Watts 1975). Sendi-sendi intervertebral dan foramina inter-vertebral terkena dan menimbulkan gejala. Indikasi utama adalah sindroma radik saraf khronik dan sindroma pasca diskotomi. Difusi dalam kantung dura. Keuntungannya obat tidak melalui sawar darah-cairan spinal hingga kadarnya dapat lebih tinggi dibanding pemberian oral atau parenteral. Bila terjadi kehilangan cairan dan material diskus intervertebral. terjadi kolaps dan penurunan tinggi intervertebral. perubahan degeneratif dapat terjadi pada cord tulang belakang. Proteoglikan akan terurai menjadi keratan sulfat khondroitin sulfat serta proteo-glikan sendiri. perlunakan dan perpindahan jaringan diskus intervertebral. dapat terjadi perubahan pada volume. Penyuntikan diskus intervertebral lumbar merupakan tindakan terapeutik. Komplikasi tersering adalah renjatan anafilaktik (Finnesson 1973). Bahkan dosis kecil khimopapain yang mencapai rongga sub-arakhnoid menyebabkan perdarahan terutama terjadi bila dilakukan infus intravena (Sheally 1967. Dengan menyuntikkan suatu substansi khondrolitik atau penurun tekanan. dan akhirnya radik saraf dapat dicapai dan efek antiflogistik serta anti edema juga tercapai.Injeksi Intratekal Terutama kortikosteroid. Karenanya obat yang disuntikkan harus aman . Ini menyebabkan disposisi obat ditempat salah atau obat mungkin bocor melalui perforasi anulus fibrosus kerongga epidural atau subarakhnoid dimana kemampuan melarutkan akan menyebabkan kerusakan.

Tindakan Bedah Dibanding jumlah pasien yang ditindak konservatif. Trasilol adalah polipeptida yang ditolerasi baik dalam dosis tinggi dan dapat digunakan intravena. Mukopolisakharida yang bertanggung jawab atas hidrasi jaringan diskus intervertebral dinetralkan oleh Trasylol (Torok 1972). Gangguan motor yang telah berlangsung lama tanpa gejala berat lainnya tidak pasti membaik dengan operasi karena dekompresi lambat radik saraf tidak akan mengurangi paresis. Ia mempunyai daya gabung besar terhadap substansi dasar yang kaya khondroitin sulfat. Sindroma kompresi kauda ekuina 2. Bila ada kelemahan otot gluteal dan betis sebagai tanda sindroma S1. sedikit sekali yang dioperasi. Indikasi Hasil operasi diskus intervertebral lumbar beragam. Bila operasi tak dilakukan dalam beberapa jam. Pada paresis akut ekstensor kaki atau jari atau kuadriseps. Relatif . Haberland dan Mitis 1967). 1. B. Operasi hanya dilakukan bila nyeri hebat tidak berkurang dengan tindakan konservatif. Paresis akut otot-otot penting B.1%. Akhir-akhir ini digunakan Aprotinin (Trasylol) (Kramer 1974. Absolut 1. diharuskan operasi segera. intramuskuler atau intratekal. Lindner 1975). Tabel 4 Indikasi Operasi Diskus Intervertebralis Lumbar ------------------------------------------------------A. Reaksi alergik rendah (0. diskotomi tidak perlu.mengingat jenis aksinya berhubungan dengan jaringan saraf. Jenis operasi yang paling sering dilakukan adalah membuang jaringan diskus intervertebral yang mengalami perpindahan yang menekan radik saraf dan disebut diskotomi. karenanya perlu dipikirkan dengan serius apakah pasien harus dioperasi atau dirawat konservatif. Ada obat lain dengan efek anti-inflamatori dan anti-edem yang dapat digunakan dengan lebih aman. Indikasi absolut untuk operasi adalah sindroma kauda ekuina dengan hilangnya fungsi berak dan kencing. Diskotomi Lumbar a. Karenanya tekanan onkotik intradiskal berkurang (Kramer dan Laturnus 1975). terutama bila gejala lainnya sangat ringan. kehilangan fungsi menetap akan terjadi.

Walau setiap penentuan praoperatif sangat tergantung pada pemeriksaan diagnostik radiografik. pasien umumnya meminta operasi. atau fragmen diskus yang mengalami inkarserasi ditemukan dibawah selaput tipis dari anulus fibrosus dorsal atau dibelakang ligamen longitudinal posterior. indikasi operasi tidak boleh terlalu luas. Keputusan operasi pada kasus perbatasan adalah mielogram positif dan keinginan mutlak pasien. kondisi mental penderita. gejala mungkin timbul lagi. Data klinik adalah sama pentingnya dalam membuat keputusan. Usia pasien harus dipikirkan dan pada penderita berusia lebih dari 60 tahun operasi hanya dilakukan pada kasus terpilih dan perbaikan spontan sering terjadi. Hakelius melaporkan hubungan antara temuan klinik dan temuan patologik operatif sebesar 63 persen. Karena komplikasi setelah operasi. Bila tidak ada perbaikan dengan pasien ditempat tidur dan memakai analgesik terus menerus. Sindroma radik saraf khronik dengan distribusi nyeri dan tanda-tanda neurologik segmental 3. hal ini bukanlah satu-satunya hal yang menentukan. hasil tindakan sebelumnya. Hirsch dan Nachemson melaporkan hubungan antara tanda neurologik objektif dengan herniasi diskus sebesar 55 persen. Pada keadaan ini perlu dilihat apakah perbaikan mungkin didapat dengan tindakan konservatif termasuk injeksi lokal dan intra-diskal serta karenanya terjadi perbaikan dimana pasien dapat bekerja kembali. Keadaan sosial juga penting dan terutama bila bekerja dengan membebani tulang belakang.1. Nyeri dan deformitas menyebabkan pasien menghendaki tindakan yang dapat mengubah keadaan. Saat operasi paling sering dijumpai prolaps. kondisi sosial. Gejala-gejala radik dan nyeri sakral mungkin berkurang selama periode panjang dari tindakan konservatif namun bila tulang belakang menjadi subjek beban. Sindroma radik saraf khronik dengan gangguan neurologis ringan atau tanpa sama sekali adalah kasus perbatasan untuk jenis tindakan. Bila gejala menetap setelah 4-6 minggu tanpa tanda-tanda regresi. operasi diindikasikan. usia. Syarat tindakan bedah adalah pasien telah menjalani tindakan konservatif termasuk istirahat tempat tidur ketat. Adalah mengherankan bahwa gejala berat akibat kompresi radik saraf dapat menghilang selama tindakan konservatif adekuat dalam waktu singkat. Serangan berulang nyeri pinggang bawah dan siatika dengan distribusi segmental tanda-tanda neurologik ------------------------------------------------------Indikasi relatif adalah bila disamping tanda-tanda dan gejala-gejala objektif terdapat faktor penting lainnya yaitu durasi gejala. Bila . Gejala lain seperti gangguan refleks dan hipestesi jarang mengganggu pasien. Sindroma radik saraf yang berat dan terusmenerus serta intraktabel 2.

Pada keadaan ini dilakukan fusi. Temuan radiografik positif pada penderita tanpa gejala disebut "false positive". Tanpa tiadanya korelasi. kegagalan terutama adalah karena faktor diagnostik dari pada tehnik. Kontra-indikasi Diperoleh sekunder dari indikasi. Tes laboratori seperti laju endap darah serta perubahan radiologi harus benar-benar dianalisa sebelum operasi. Siatika berat dapat disebabkan tumor atau spondilitis. Diskotomi hanya dilakukan bila diagnosis sudah tegak. Tabel 5 Kontraindikasi Diskotomi Lumbar ---------------------------------------------------------------Nyeri pinggang bawah tanpa penjalaran Diagnosis yang belum tegak Pasien tidak berkehendak Hipokhondriak tulang belakang --------------------------------------------------------------- -- .straight leg-raising test digabung dengan temuan neurologik objektif. Nyeri sakral terus menerus tanpa penjalaran bukanlah indikasi operasi diskus intervertebral. Pada sindroma radik yang belum jelas. Ini berlaku juga pada " hipokhondriak tulang belakang ". analisis harus hati-hati dilakukan hingga trauma operasi tak harus terjadi pada laminektomi yang tidak perlu. Harus selalu diingat bahwa hubungan yang erat harus ada antara temuan klinik objektif dengan temuan radiografik positif dimana yang pertama adalah penyebab dari yang terakhir. b. Istilah ini tidak seluruhnya benar karena yang betulbetul "false positive" menunjukkan betul-betul tiada kelainan dan harus dibuktikan dengan eksplorasi operatif yang negatif. Operasi tidak akan memecahkan masalah dan dikatakan :"Jangan sekali-kali melakukan operasi pada penderita yang dalam perawatan psikhiatrik". Bila mielografi larut air positif digabung dengan straight leg-raising test dan defisit neurologik objektif. Mencegah operasi dianjurkan pada diagnosis yang belum betul-betul jelas karena sindroma pascaoperasi yang parah bisa terjadi. ketepatan diagnostik meningkat hingga 95 persen. Penekanan yang berlebihan pada satu dari parameter tersebut dan mengabaikan dua lainnya akan berakibat kegagalan operatif. Atas hal tersebut. ketepatan diagnostik meningkat hingga 86 persen. tidak dapat dipastikan apakah suatu kelainan radiografik adalah penyebab gejala.

Operasi dapat dilakukan pada posisi miring atau telungkup. Kifosis maksimal tulang belakang lumbar dan penurunan kecenderungan atas perdarahan epidural memberikan kondisi operasi yang baik. Dengan mengabaikan kenyataan bahwa kumatnya gejala mungkin terjadi setelah tindakan konservatif maupun operatif. tidak berarti bahwa penolakan harus dilakukan terhadap kedua jenis tindakan tersebut. Anestesi umum dengan intubasi. namun dapat mempertahankan venous return serta juga respirasi abdominal dan dada yang normal. Karena komplikasi mungkin timbul akibat operasi. Pemberitahuan Kepada Pasien Sebelum operasi diharuskan memberitahukan pada penderita bahwa operasi hanya mengobati siatika dan kelainan diskus intervertebral tetap ada serta akan memberi gejala yang sama seperti sebelumnya. Disebut flavektomi atau fenestrasi. Juga diberitahu akan rasa tidak nyaman dan nyeri dapat timbul lagi tidak hanya dari segmen berdekatan namun juga dari segmen yang dioperasi. Kadang-kadang pembuluh besar abdominal mengalami perforasi. harus diberitahukan bahwa cedera operasi mungkin mengenai radik saraf dan dura. d. Mungkin juga hambatan penyembuhan luka atau akibat dari anestesi. Arkus ruas tulang belakang dicapai dan kanal spinal dicapai melalui ligamen flavum yang dibuka. Kulit disayat diatas prosesus spinosus tulang belakang lumbar bagian bawah. Dalam usaha mendapatkan radik saraf lebih jelas. 106 dari 3000 ahli bedah saraf dan bedah tulang pernah mengalaminya (De Saussure 1959). Fasia disayat serta otot lumbar disisihkan dan diretraksi. Posisi terbaik antaranya adalah telungkup pada lutut yang ditekuk. Diskotomi Lumbar Pengangkatan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi adalah operasi standard. adakalanya perlu membuang sebagian arkus ruas tulang belakang (laminotomi) atau membuang in toto pada . Analisa gas darah serta tekanan vena sentral tidak menunjukkan perbedaan terhadap nilai normal (Ghazvinian dan Kramer 1974).Secara diagnostik kasus ini dapat ditemukan karena perbedaan yang besar antara gejala subyektif dan tanda-tanda obyektif. Posisi ini menyebabkan beberapa hambatan bagi anestetis. Pasien kelompok B (tabel 4) dan tidak merasa perlu untuk dioperasi jangan dibujuk karena sangat kecil jaminan yang dapat diberikan atas perbaikan yang sempurna dan harus dijelaskan bahwa setelah operasi keadaan mungkin tetap atau malahan memburuk. c.

Pembuangan arkus tulang belakang tidak merubah perjalanan kelainan diskus intervertebral degeneratif (Schulitz 1970. Fragmen mengandung baik nukleus pulposus. Finnesson 1973). maka tidak diizinkan duduk kecuali pada posisi . Kemampuan biomekanik segmen tidak boleh terganggu dan pembebanan aksial tulang belakang sangat berbahaya. dan fisioterapis mengajar pasien bagaimana melakukan gerakan selama awal masa pasca operasi. Salah satu komplikasi serius adalah perforasi pembuluh besar abdominal seperti arteri dan vena iliak. Komplikasi Sedikit pada operasi diskus intervertebral. Pasien harus bergerak seperti tahap awal lumbago akut dengan tulang belakang lumbar yang terfiksasi. dianjurkan mobilisasi dan pembebanan dilakukan bertahap dan menggunakan penyangga ketiak seta bebat traksi. Disamping komplikasi anestesi. Menurut Oppel dan Schramm (1976) sekitar 0. Perawatan Pasca Operatif Profilaksi umum terhadap kemungkinan trombo-embolisme adalah mobilisasi segera yang dimulai hari kedua atau ketiga pasca operasi. Bila terjadi. Bagian posterior diskus intervertebral mungkin dibuang secara radikal. ada komplikasi khusus diskotomi namun jarang terjadi. Kemampuan biomekanik tulang belakang lumbar tidak terganggu oleh laminektomi sepanjang sendi-sendi intervertebral tetap intak. masalah penyembuhan luka dan trombo-embolisme pasca operatif yang biasa terjadi pada operasi. Penggantian jaringan yang dibuang dengan implan buatan tidak memberi keuntungan. balikkan pasien. jaringan diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi juga dibuang dalam usaha mengurangi rekurensi. anulus fibrosus dan tulang rawan. lakukan laparotomi. e. Setelah prolaps dibuang. Inklinasi lateral dan kifosis tulang belakang lumbar harus dicegah karena penyembuhan luka akan terganggu. f. Karena kifosis lumbar tak tercegah saat duduk. Defek akibat operasi pada saatnya menyembuh dengan jaringan parut. kauda dan dura intra-operatif yang kelak dapat menyebabkan meningokel atau sinus cairan spinal. Bila pengangkatan radikal dari diskus intervertebral dilakukan. Akar saraf diretraksi dan jaringan diskus intervertebral yang prolaps atau membengkak dibuang. namun perlu betul-betul menentukan lokasi prolaps pra-operatif. Adalah lesi radik saraf. Tidak ada kasus dari lesi kauda.satu sisi (hemi laminektoni).29%. rawat pembuluh tersebut. namun tidak ada kontraindikasi mobilisasi segera. namun ini tidak penting. Mikroskop operasi menyederhanakan dan memperbaiki teknik operasi.

disaat lain pada penderita dengan eksplorasi negatif hanya mempunyai kesempatan 38. Secara spesifik. sedang) dijumpai pada 80%-90%. Hasil Bervariasi. Terdapat perbedaan indikasi serta penilaian sangat subjektif. penderita dimobilisasi dengan bantuan pengikat pelvik.3 persen setelah diskektomi dan setidaknya 99. Spangfort juga menemukan bahwa derajat herniasi diskus merupakan faktor yang paling penting yang menentukan hasil operasi setelah diskektomi. 2. Hasil menggembirakan (sangat baik. baik. Hasil buruk pada 10%. Bila jahitan sudah diangkat. mempunyai kesempatan atas hilangnya siatika secara lengkap sebesar 90. Dari hal tersebut jelas bahwa faktor kunci dalam menduga hasil operasi adalah kompresi neural yang pasti. Rasa Tidak Nyaman Pasca Operatif Sindroma Pasca Diskotomi . Spangfort (1972) membuktikan bahwa hasil berkaitan dengan temuan operasi. Siatika yang disebabkan protrusi atau pembengkakkan akan memberikan hasil baik pada 40-65%. Pengangkatan prolaps total memberikan hasil terbaik. Kebanyakan pasien mengalami pengulangan nyeri sakral dan akan memberat pada saat mengangkat beban.5 persen berkesempatan untuk pulih sebagian. Usia: penambahan usia memperburuk hasil.bersandar 450. Tingkat keberhasilan berdasar pengurangan gejala radikular. yang akan diuntungkan oleh operasi dekompresif. Temuan operatif: prolaps masif yang dapat dibuang akan memberi hasil lebih baik dibanding protrusi atau pembengkakan kecil dari jaringan diskus intervertebral. Thomalaske (1977) melaporkan bahwa faktor psikis menyebabkan pasien cenderung mengalihkan nyeri yang dideritanya sebagai akibat operasi. Disimpulkan bahwa tindakan konservatif harus diambil selama mungkin sebelum suatu operasi diputuskan. Riwayat penyakit: riwayat gejala singkat memberikan hasil lebih baik dibanding yang sudah berjalan beberapa tahun. penderita bergerak lebih aktif dan bila luka sudah lebih kuat gerakan ditingkatkan lagi. pasien dengan herniasi sangat besar yang pasti menyebabkan penekanan neural. menarik dan membungkuk. h. Pada operasi diskus intervertebral yang sangat luas. 3. Gejala radikular menetap diakibatkan: 1. Rasa tak enak dan nyeri karena degenerasi diskus intervertebral tak dapat dihilangkan oleh diskotomi.4 persen untuk mendapatkan adanya perbaikan. g.

Ada beberapa alasan untuk timbulnya nyeri radik saraf dan deformitas. 4. refleks dan gangguan motor akan pulih dalam beberapa bulan. Timbulnya prolaps atau protrusi pada segmen yang bukan dioperasi bukanlah karena operasi primer. arakhnoiditis adhesif tahap 2. Gejala radik menetap yang serupa dengan gejala sebelum operasi menandakan efek penyebab dari tekanan mekanik. arakhnoiditis adhesif tahap 1. Sebagai pegangan. infeksi dalam dan diskitis yang khas dengan peninggian suhu dan akhirnya dapat diperlihatkan secara radio-grafi. juga tersisa nyeri dari sindroma radik saraf. yang bisa menetap atau hilang setelah diskotomi. nyeri pasca operasi akan timbul. gejala dapat hilang spontan dan dapat diobati dengan berhasil secara stimulasi elektrik dan blok simpatetik lumbar. radikulitis. Lebih lanjut. Arakhnoiditis lokal pasca operasi mungkin timbul dan menurut Burton (1977) dibagi empat tahap yang tumpang tindih: 1.Hanya kadang-kadang pasien terbebas secara sempurna dari gejala setelah operasi diskus intervertebral (tabel 6). yang timbul sebagai bagian dari sindroma S1. Hipestesi. 2. 3. Tabel 6 Penyebab Nyeri yang Menetap atau Berulangnya Siatika setelah Operasi Diskus Intervertebral Lumbar --------------------------------------------------------------Dekompresi radik saraf tidak cukup Berulangnya prolaps pada segmen yang sama Prolaps atau protrusi pada segmen lain Sindroma pasca diskotomi Infeksi dalam ---------------------------------------------------------------Gejala lain pada sindroma pasca diskotomi adalah tanda-tanda dari sistem vegetatif seperti kehilangan temperatur (tungkai siatik dingin) dan perubahan sirkulasi dan juga kram betis. -- . Alasan lain untuk nyeri pasca operasi adalah gagalnya mengenal tingkat yang tepat. Satu kelompok yang perlu perhatian khusus adalah menetapnya rasa tidak enak atau nyeri pasca operasi. Disamping nyeri dari luka. berulangnya prolaps mungkin menyebabkan nyeri pasca operasi dan pembentukan perlengketan yang menyebabkan reoperasi menjadi sulit. dikarenakan perlengketan serta jaringan parut pada radik-radik saraf dan dura. Disebut sindroma pasca diskotomi. Keadaan tersebut didiagnosa dengan mielografi dan pada operasi yang berhasil. Bila dekompresi radik tidak sempurna. arakhnoiditis.

Fusi Pada diskotomi penekanan pada radik saraf dibuang. Spondilodesis adalah tindakan sekunder khusus pada sindroma diskus inter-vertebral. Komponen lain kelainan diskus intervertebral tidak dipengaruhi oleh tindakan ini hingga ketidakstabilan intervertebral tetap adanya. Pita jaringan ikat bekerja seperti gergaji terhadap radik saraf. menimbulkan masalah sulit karena tindakan konservatif sering gagal dan pasien kesulitan kembali pada pekerjaannya. Tujuan pengobatan adalah membuat stabilisasi tulang belakang yang dapat dicapai dengan fusi. makin luas reaksi jaringan akan terjadi. Perlengketan yang terbentuk antara kantung dura. Mielografi menunjukkan jaringan ikat yang mempersempit kantung dura. neurolisis. Pada pasien muda sehat dengan sindroma pasca diskotomi. radik-radik saraf dan kanal spinal hanya memungkinkan gerakan bebas nyeri yang terbatas. Oppel dan Schramm (1976) menemukan bahwa pada penderita dengan komplikasi pasca operasi ditemukan sejumlah besar kelainan psikik yang tak tampak sebelum operasi namun tampaknya dirangsang oleh penyakitnya serta tindakannya. Tidak ada indentasi lokal terhadap medium kontras hingga akan merupakan kontra-indikasi diskotomi kedua pada tingkat bersangkutan. Sedikit membungkuk dengan kifosis tulang belakang lumbar akan memperberat nyeri dan deformitas. membawa bahaya akan terbentuknya jaringan parut lebih lanjut dengan berlanjutnya rasa tidak enak dan nyeri. Sindroma pasca diskotomi khas dengan penjalaran nyeri bilateral poliradikuler dan hipestesi. Ini meninggikan kepekaan terhadap gangguan mekanik. Umumnya rencana tindakan yang paling diterima adalah neurolisis digabung dengan tandur lemak pedikel (Gill 1979). C. spondilodesis dikombinasikan dengan eksplorasi radik saraf.Rongga subarakhnoid dan epidural menjadi massa jaringan parut yang besar yang akhirnya menyebabkan iritasi terus menerus terhadap radik-radik saraf. Indikasi dan tehnik fusi lumbar untuk kelainan diskus inter-vertebral degeneratif berubah dalam tiga dekade terakhir. Kantung radik melekat pada radik saraf dan tidak dapat diperlihatkan. membersihkan radik saraf dari jaringan parut. Makin banyak manipulasi selama operasi. Mula-mula fusi merupakan prosedur umum namun karena hasilnya tidak terlalu baik karena tingginya tingkat nonunion. Teknik operasi karenanya harus teliti dan perdarahan harus ditekan dengan koagulasielektro sebaik mungkin. Pengangkatan jaringan diskus intervertebral yang . Operasi untuk sindroma pasca diskotomi seperti laminektomi luas. yang mungkin menimbulkan gejala. Teknik operasi yang baik akan mengurangi risiko sindroma pasca operasi walau tidak menghilangkannya sama sekali.

dengan peningkatan ketidak-stabilan segmen objektif. Prosedur yang diterima tampaknya adalah fusi . Beberapa tehnik sudah dikemukakan untuk fusi lumbar. Nyeri sakral menetap setelah diskotomi adalah tanda ketidakstabilan segmen akibat degenerasi diskus intervertebral dan pengangkatan operatif diskus intervertebral. dan penderita dengan fusi berhasil sempurna mungkin tetap menderita nyeri. Mungkin juga didapat osteo-artrosis yang terbatas pada sendi intervertebral lumbar (spondiloarthrosis) dengan nyeri pinggang bawah dan pada tiap keadaan ini fusi diindikasikan.7) adalah nyeri sakral terus menerus dan tak tertanggungkan.berpindah atau melunak juga menjadi prosedur yang dianjurkan dalam hubungannya dengan dekompresi radik saraf. Keadaan ini dapat timbul bila pada hemilaminektomi bagian medial sendi intervertebral dibuang. Tidak perlu dikatakan bahwa operasi harus didahului mielografi. Indikasi fusi lumbar (tabel II. Ini harus digabung dengan eksplorasi radik saraf. Bosworth (1945) menganjurkan tandur clothes-peg (tandur H). Spondilodesis anterior intercorporal seperti yang dianjurkan Harmon (1963) tidak memungkinkan eksplorasi kanal spinal secara bersamaan. Hanya pada kasus-kasus tersebut operasi dilakukan. dan fusi menjadi prosedur sekunder. sendi dapat disuntik dengan anestetik lokal dimana nyeri khas akan hilang. tanpa bahaya yang terlalu besar. Tehnik ini sering berakibat nonunion. Adalah mengherankan bahwa setelah eksisi radikal diskus intervertebral dan dengan segmen yang tak stabil. Tabel 7 Indikasi Fusi pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Nyeri sakral hebat menetap pasca diskotomi Segmen takstabil serta nyeri yang diakibatkannya Osteokhondrosis serta spondilosis dengan nyeri pinggang bawah berat ------------------------------------------------------Bila siatika diakibatkan prolaps atau prolaps yang berulang setelah diskotomi. Sebagai pembantu diagnosis. kebebasan sempurna dari rasa nyeri dan tidak enak dapat disaksikan. fusi tidak diindikasikan. sedikit rasa tidak enak yang timbul setelah operasi. Lagipula pada pasien dengan spondilodesis yang gagal. dimana kanal spinal dapat dibuka. Osteo-arthrosis mungkin timbul pada segmen. Albee (1911) menganjurkan tandur tibial. Kesimpulannya diduga setelah diskotomi prognosisnya adalah tanda tanya. Nyeri dapat dikurangi dengan cast plastik yang baik. namun kemudian hari mungkin menjadi tindakan satu-satunya.

Schmorl dan Junghanns (1968). Daerah posterolateral lebih baik sebagai tempat fusi karena berbagai alasan: 1. Karena hanya satu segmen yang berfusi. Selama operasi terdapat kesempatan membuka kanal spinal dan bisa melihat radik saraf serta juga untuk membuang jaringan diskus intervertebral. McNab dan Dall 1971. biasanya memakan waktu 3-4 bulan. Fusi dapat dilakukan walau pada laminektomi. . De Palma dan Rothman 1970. Aspek posterior ruas tulang belakang harus diperlebar. Bila beberapa segmen difusikan. diskus intervertebral diinsisi serta tandur corticocancellous dari krista iliaka dapat diinsersikan kedalam ruas tulang belakang . Brace ini harus dipakai hingga fusi terjadi. pasien harus memakai cast plester. Finneson (1973). pasien bisa keluar dari tempat tidur pada hari ketiga setelah operasi tanpa fiksasi apapun. Nyeri yang dikira akibat mobilitas segmen berkurang dengan stabilisasi dan terutama atas foramina intervertebral. Setelah hemilaminektomi. Beberapa tahun terakhir. 1963). Hohmann (1974) dan Exner (1974). Spondilodesis adalah rantai terakhir sepanjang rantai terapeutik dan diharap memenuhi semua harapan yang sangat optimistis.interkorporal posterior menurut Cloward (1953. 3. 2. Polster dan Hoefert (1974) memperlihatkan pada percobaan bio-mekanik bahwa spondilodesis posterolateral memberikan stabilitas terbaik. Revaskularisasi dan reosifikasi pada daerah ini lebih baik dari aspek medial arkus ruas tulang belakang. Duduk pada kursi yang dalam dan tidak nyaman tidak diperkenankan. Diperkirakan fusi yang cepat pada operasi skoliosis dengan tandur cancellous bone memberikan kegunaan yang sama pada fusi tulang belakang lumbar. Brussatis 1976). Cancellous bone digunakan diatas prosesus transversus dan mencakup artikulasi intervertebral. dan rasa nyeri serta tidak enak mungkin bertambah pada daerah ini. Mau 1974. seperti misalnya lumbosakral. Karenanya menjadi blok tulang yang memanjang diatas sendi dan prosesus transversus. fusi lateral dengan tandur cancellous bone menjadi populer (Wiltse 1968. Setelah fusi pasien harus memulai aktifitas secara bertahap perlahan karena pada setiap sisi fusi stres mekanik meninggi. Terdapat kesulitan teknis pada tindakan ini karena daerah yang sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk menarik dura dan radik saraf. Namun pasien harus bangkit "en bloc" hingga tulang belakang lumbar tidak kifosis (Mau 1974). Tingkat terjadinya pseudo-artrosis sangat kecil bila dibandingkan dengan metoda fusi lain (McNab dan Dall 1971). Stabilitas lebih masuk akal dari pada spondilodesis interkorporal.

perlu menstabilkan segmen secara aktif dan pasif. Pada kelainan diskus intervertebral degeneratif tak dapat diperkirakan bahwa jaringan akan menjadi stabil sendiri secara cepat serta spontan. Tulang belakang dipertahankan pada posisi netral hingga pergeseran intradiskal yang baru dapat dicegah. Mempertahankan suatu posisi posterior yang tidak menyenangkan mungkin berakibat berulangnya gejala dan karenanya perlu menyarankan agar penderita tetap pada posisi berbaring. Secara pasif dapat digunakan ortoses. Stabilisasi eksternal harus dilakukan. berulangnya iritasi mekanik atas radik saraf harus dicegah. perlu mempertahankan hasil yang didapat dari berbagai prosedur dengan mencegah terjadinya kembali protrusi jaringan diskus intervertebral. tulang belakang lumbar menjadi distabilkan dan terpaku pada pelvis oleh otot spinal dan karenanya tidak mudah ditekuk hingga lebih berperan sebagai pilar penyangga. Dalam mencegah agar segmen tidak mengalami dislokasi lagi serta jaringan intradiskal tidak bergeser lagi. Diatas itu semua. Dengan pembatasan pergerakan. Pada tulang belakang yang lurus diskus intervertebral lumbar akan dibebani setangkup sehingga risiko dari lesi yang baru dapat dicegah. Jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi dipertahankan dalam keadaan setenang mungkin. . Pasien selama fase pertama rehabilitasi harus dicegah mengangkat objek yang berat serta mengangkat saat membungkuk dan juga mencegah gerakan torsi tulang belakang. Fisioterapi berperan penting dalam profilaksi dan rehabilitasi sindroma lumbar. Fleksi kedepan tulang belakang lumbar tidak diperbolehkan. Perlu mendapatkan ko-operasi baik dari pasien. namun stabilisasi lebih lanjut dapat dengan penguatan otot-otot. berdiri dan duduk yang benar. dan menurut Schmorl dan Junghanns (1968) stres mekanikal yang memperberat harus disingkirkan.PROFILAKSI DAN REHABILITASI PADA SINDROMA DISKUS INTERVERTEBRALIS LUMBAR Setelah mendapatkan sejumlah keberhasilan pengobatan gangguan fungsional sistem lokomotif.