KELAINAN DEGENERATIF ___________________________________ I.

HERNIASI DISKUS INTERVERTEBRAL Perubahan degeneratif pada diskus intervertebral merupakan penyebab tersering nyeri pinggang. Penyebab lain antara lain kelainan kongenital, perkembangan, inflamasi, serta tumor, yang secara kepentingan klinis adalah sekunder namun mungkin berakibat perubahan yang serupa pada diskus intervertebral. Peningkatan pengetahuan terhadap gangguan penampilan dan fungsi tulang belakang menimbulkan minat yang lebih besar. Ini tidak hanya karena gangguan yang umum terhadap diskus intervertebral, namun juga terhadap akibat yang ditimbulkan pada struktur yang berdekatan. Hubungan langsung antara diskus intervertebral yang mengalami herniasi dengan siatika dianggap mempunyai basis morfologikal. Namun terpakunya pada perubahan patomorfologikal sebagai penyebab gejala mengantarkan pada situasi adanya kelainan fungsional tulang belakang yang ternyata tanpa disertai patomorfologi yang jelas. Terbukti bahwa pengangkatan secara operatif terhadap prolaps tidak memecahkan semua masalah. Juga ditemukan adanya perbedaan yang mengejutkan antara perubahan patomorfologikal dan radiografik pada satu sisi dan gejala disisi lain. Perubahan bentuk dan fungsi tidak selalu berhubungan dengan penampilan klinis segmen bersangkutan. Jadi suatu deformitas tidak perlu menunjukkan perasaan tidak enak. Buktinya adalah skoliosis dan kifosis pada remaja dapat menjadi lengkap tanpa gejala. Juga sering ditemukan pada foto sinar-X untuk keperluan lain, adanya tanda-tanda perubahan degeneratif pada penderita yang menyangkal adanya keluhan. Lamanya waktu yang diperlukan untuk berkembangnya suatu deformitas sering menentukan onset dari gejala. Kompresi mendadak satu atau lebih radik saraf pada fraktura atau herniasi diskus intervertebral akan menimbulkan nyeri segera dan berat. Sebaliknya bila radik saraf mengalami konstriksi secara lambat dalam beberapa tahun, seperti yang sering tampak pada skoliosis, spondilolistesis atau penyakit diskus intervertebral degeneratif pada tulang belakang, radik saraf jelas menyesuaikan diri secara perlahan terhadap restriksi hingga gejala neurologi jarang timbul. Bila terjadi cedera puntir mendadak, berakibat iritasi radik saraf dengan terjadinya edem pada radik saraf tersebut. Pada saat ini sikap fungsional dan dinamik kita berdasarkan kepada informasi baru, baik mengenai pendekatan biokimia maupun bio-mekanik terhadap diskus intervertebral yang tidak perlu merupakan tempat perubahan morfologik, namun lebih merupakan pusat proses metabolik yang menyebabkan perubahan bentuk, konsistensi dan volume, yang semuanya merubah fungsi tulang belakang.

Junghans (1951) telah membuat gambaran tentang "motion segment" ("Bewegungssegment"). Termasuk dua ruas tulang belakang yang berhubungan beserta diskus intervertebralnya, ligamen serta otot yang bersama-sama membentuk kesatuan fungsional. Kegagalan satu komponen merubah fungsi yang lainnya. Akibat berbagai respons metabolik terhadap stimulasi biomekanik, diskus intervertebral lebih sering merupakan asal ketidak-mampuan pada "motion segment". Ini terutama jelas pada tulang belakang leher bawah dan lumbar yang relatif merupakan bagian yang kaku, yaitu hubungan servikal-torasik dan sakrum yang tak dapat bergerak pada daerah lumbar, yang berhubungan dengan tulang belakang lumbar bawah. Sebagai tambahan harus diingat kondisi anatomi yang sempit yang terdapat antara daerah yang secara bertahap tidak dapat bergerak serta munculnya radik saraf . Lebih sering penyakit diskus inter-vertebral terbatas pada daerah segmen leher bawah dan lumbar bawah. Adalah perlu menemukan hal-hal yang utama pada kelainan diskus intervertebral untuk menyederhanakan suatu diagnosa serta tindakan. Misalnya perubahan postur yang berhubungan dengan nyeri. Dalam tindakan, metoda yang mungkin dilakukan diambil yang paling sederhana. Baik dalam diagnosa maupun tindakan , perlu melihat kembali kemajuan yang telah terbukti tidak berbahaya atas penyakit diskus intervertebral. Karena sindroma diskus intervertebral biasanya menyerang orang muda, adalah penting bahwa setelah pengobatan seorang dokter harus menganjurkan latihan harian yang cukup pada pasien. Pada hari-hari pertama didapat perasaan yang negatif terhadap onset yang tidak dapat diterima dan sering dengan perjalanan yang berbahaya dari penyakit diskus intervertebral. Bagaimanapun saat ini ada alasan untuk mengambil pendekatan yang lebih optimistik terhadap sejumlah kemungkinan yang tersedia disertai profilaksi dan rehabilitasi dengan perencanaan yang lebih baik. Frekuensi dan intensitas sindroma servikal dan lumbar mungkin berubah. Penyakit yang berasal dari diskus intervertebral juga disebut diskogenik. Gejala yang berasal dari sendi apofiseal dan/atau ligamen juga dipandang sebagai diskogenik oleh karena kelainan pada diskus intervertebral sering merupakan penyebab yang mempercepat timbulnya gejala. Walaupun tidak ada hubungan filogenetik, diskus intervertebral dan ruas tulang belakang berdekatan membentuk suatu kesatuan biomekanik, dan pada diseksi, diskus intervertebral dapat diangkat intoto dari antara dua dataran akhir (end plate) ruas tulang belakang bersangkutan. Diskus intervertebral sendiri adalah sendi utama tulang belakang dan jenisnya disebut amfi-artrosis. Sendi posterior juga disebut sendi apofiseal. Ini merupakan suatu sendi sejati (diartrosis) yang dapat dikatakan sebagai sendi vertebral. Pengetahuan tentang patologi diskus intervertebral serta tanda dan gejalanya sudah diketahui

lebih dari setengah abad. Namun pendapat tentang penyebab dan pengobatan berbeda sangat luas. Ini tampak dengan adanya berbagai terminologi. Sebelum Mixter dan Barr (1934) menjelaskan bahwa siatika disebabkan oleh kompresi radik saraf pada diskus intervertebral yang mengalami sekuesterisasi, juga dipikirkan bahwa diskus intervertebral yang mengalami herniasi mengandung tumor tulang rawan yang disebut "kordoma ekstradural anterior" (Steinke 1918, Clymer 1921, Adson dan Ott 1922, Ellsberg 1928). Bradford dan Spurling (1950) menggunakan istilah "protrusi" untuk diskus yang menonjol, dan membedakannya dari nukleus pulposus diskus yang ruptur atau mengalami herniasi yang pada saat ini dikenal sebagai "prolaps". Jaringan diskus intervertebral yang mengalami herniasi berisi tidak hanya material dari nukleus pulposus namun juga dari anulus fibrosus. Seperti telah dijelaskan, pernyataan "protrusi" digunakan untuk menunjukkan penonjolan diskus keposterior tanpa rupturnya anulus fibrosus. Sekali lagi, bila anulus fibrosus telah mengalami perforasi dan jaringan diskus mengalami penetrasi kerongga epidural, digunakan pernyataan "prolaps". Suatu ruptur tanpa protrusi eksternal melalui anulus disebut "ruptur intradiskal". Sekali terbentuk fragmen, mereka disebut juga "sekuestrum" dan dapat mengalami dislokasi. Pergerakan dari satu sisi kesisi lainnya sering menimbulkan gejala siatik yang berubah-ubah tergantung pada lokasinya. Melunaknya serta rupturnya diskus intervertebral disebabkan perubahan fisiologis substansi diskus, yang disebut sebagai "khondrosis inter-vertebral" (Schmorl dan Junghanns 1968). Dengan pengertian ini maka semua perubahan yang didapat disimpulkan sebagai "degenerasi diskus intervertebral". Perubahan degenerasi bagaimanapun tidak dibatasi hanya pada tulang rawan yang disebut sebagai "khondrosis", namun juga mengenai seluruh diskus intervertebral. Untuk alasan ini dianjurkan digunakan istilah "diskosis", yaitu artrosis-artritis; diskosis-diskitis (akhiran osis berarti perubahan degeneratif). Jadi perubahan patologis, biokimia dan biomekanik menjadi jelas dengan satu istilah. Diskus intervertebral tidak mengalami regenerasi. Degenerasi diskus intervertebral tidak perlu menimbulkan gejala namun mungkin mempunyai pertanda yang sangat jelas. Hal serupa juga berlaku terhadap perubahan pada dataran akhir ruas tulang belakang. Schmorl (1932) menganjurkan istilah osteo-khondrosis terhadap adanya perlunakan substansi diskus inter-vertebral yang bersamaan dengan perubahan pengapuran pada dataran akhir. Secara radiografi, tanda yang paling jelas dari kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah spondilosis. Ini termasuk spur tulang yang nyata pada tepi ruas tulang belakang dimana melekat ligamen longitudinal posterior. Pada aspek posterior setiap perubahan spondilotik tidak tampak pada beberapa tempat dimana ligamen longitudinal posterior melekat pada

diskus intervertebral. Spondilosis dan osteokhondrosis sering digunakan sebagai diagnosis, walau tanpa kelainan lain yang jelas yang menunjukkan tanda-tanda peningkatan usia, dan dapat dibandingkan terhadap perkembangan tumbuhnya uban dan berkerutnya kulit. Usia secara sederhana adalah proses fisiologik yang terjadi pada semua struktur serupa. Pada diskus intervertebral perubahan usia terjadi lebih awal akibat pengaruh nutrisional dan biomekanik yang menimbulkan perubahan yang tidak dijumpai pada struktur lain. Karenanya nasib alamiah dan biologik dari diskus inter-vertebral adalah penuaan yang lebih awal. Pada orang tua spondilosis dan osteokhondrosis selalu dapat diperlihatkan tanpa perlu menimbulkan gejala. Disamping diskosis, pernyataan "degenerasi diskus intervertebral" harus dipegang karena diterima secara internasional. Penampilan gejala mungkin bisa dimengerti pada istilah ini, yang bagaimanapun tidak perlu menggambarkan latar belakang morfologik. Degenerasi adalah istilah morfologik sejati yang tidak mempunyai arti klinis sebagai perubahan struktural, tidak mempunyai fungsi yang terganggu atau gejala. Sekali gejala bentuk apapun terjadi, tampaknya benar bila dikatakan tentang kelainan diskus intervertebral berdasarkan perubahan degeneratif. Ada deviasi pada aksis tulang belakang baik pada bidang frontal maupun sagital. Ini mungkin berakibat tenaga yang tak-setangkup terhadap diskus intervertebral. Pada bagian yang cekung yang mendapat catu makanan buruk, perubahan degenerasi diskus intervertebral terjadi lebih cepat. Akibatnya ruptur dan perlunakan lebih sering terjadi didaerah ini. Analog dengan deformitas prearthrotik, sudah dipikirkan bahwa deformitas postur, yaitu tekukan pelvis, kifosis, hemivertebra dan skoliosis adalah pertanda adanya suatu diskosis awal, serta karenanya deformitas prediskotik. Sekali lagi struktur morfologik tidak membawa kepentingan klinik. Bagaimanapun daerah dengan perubahan ini lebih cenderung terkena penyakit dengan gejalanya. Sebagaimana diketahui, inflamasi adalah khas dengan akhiran itis. Infeksi diskus intervertebral dikenal sebagai "diskitis". Pada beberapa instansi diskitis bukan dikarenakan infeksi dan ditempat lainnya dikarenakan infeksi. Sebagai contoh, sangat sering setelah penyuntikan khimopapain pada pasien mungkin menimbulkan keadaaan inflamatori diskus intervertebral yang berakhir setelah beberapa minggu tanpa adanya infeksi. Bagaimanapun ada infeksi diskus intervertebral yang disebut "diskitis". Infeksi ruas tulang belakang disebut "spondilitis". Pada keadaan dimana terjadi inflamasi yang bersamaan dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral yang berdekatan karenanya disebut "spondilodiskitis". Walau suatu spondilitis menyangkut infeksi bakterial dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral, infeksi diskus intervertebral biasanya mendominasi gambaran klinis. Secara umum , "spondilo-

diskitis" hanya digunakan bila tulang belakang terserang pada penyakit rematik. . Tabel 1 Istilah yang umum digunakan dan penjelasannya. perlu analisa yang mendalam dari penyakit diskus intervertebral. Untuk pengertian klinis dan praktis terbaik.f. juga disebut sendi tulang belakang. namun tidak selalu diikuti distribusi siatika karena sindroma radik saraf lumbar yang lebih tinggi berasal dari kompresi serabut anterior radik kedua. Nyeri menjalar ke tungkai. tidak akan benar secara terminologi. Sebagai tambahan terhadap gejala lokal yang umum yaitu gejala dari daerah tulang belakang yang terbatas. Apophyseal joint (Sendi apofiseal) Sendi diatelial. sumsum tulang belakang atau serebral. Pada tulang belakang lumbar. -------------------------------------------------------Istilah Penjelasan -------------------------------------------------------Anulus fibrosus Bagian seperti cincin melingkar (Anulus fibrosus) pada diskus intervertebral. alasan lain adalah bahwa penyakit diskus intervertebral terutama terjadi pada daerah servikal dan lumbar dan penyakit dari sumber lain didaerah ini adalah kekecualian. yang terbentuk dari jaringan fibrokartilago dan fibrosa. penentuan dapat dibuat antar gejala lokal yang terbatas pada regio lumbar dan yang bersamaan dengan nyeri yang menjalar keekstremitas bawah. adalah simptomatologi yang menyangkut kelainan radikular. Satu alasan adalah bahwa mereka digunakan dalam bahasa medik sehari-hari dan karenanya sulit untuk diabaikan. (lat): paralisis lumbar] adalah istilah umum yang digunakan untuk nyeri hebat pada daerah lumbar yang bersamaan dengan penurunan mobilitas. -inis. Sindroma lumbar lokal khas dengan gejala yang lebih merata dan tidak terbatas pada satu radik saraf dengan gangguan segmental namun secara luas diterima sebagai barasal dari diskus inter-vertebral. Ini hanya merupakan satu dari sindroma lumbar lokal. Tahap akut pada saatnya diikuti tingkat kronik. Istilah umum untuk nyeri radikular yang berasal dari tulang belakang lumbar adalah sindroma radik saraf lumbar. torak dan lumbar" adalah tidak sempurna dan tidak memungkinkan menilai etiologi dan patogenesis. Karenanya kita mungkin menetapkan secara teguh pernyataan ini. Ini yang umum disebut nyeri pinggang bawah (low back pain). Untuk menyatakan keadaan umum ini sebagai "lumbago". "Lumbago" [lumbago. Istilah ini semata-mata menunjukkan dari bagian tulang belakang yang mana gejala berasal. ketiga dan keempat semata. Istilah "sindroma servikal.

Diskitis (Diskitis) Diskosis (Diskosis) Inflamasi atau infeksi terbatas pada diskus intervertebral.Cartilagineous end. suatu amfiartrosis. (Dataran tepi tulangrawan) Disk deseases (Kelainan diskus) Diskectomy (Diskektomi) Keadaan patologik yang timbul langsung maupun tidak langsung dari diskus intervertebral. Sendi utama antara dua badan tulang belakang. Mengangkat bagian yang lepas maupun yang telah mengalami degenerasi dari diskus intervertebral. Membuang setengah dari arkus ruas tulang belakang. Perubahan degeneratif pada sendi ruas tulang belakang terutama yang bersamaan dengan degenerasi diskus intervertebral. Biasanya terdiri dari hemifasetektomi dengan membuang aspek mesial dari baik faset superior maupun inferior dari sendi tersebut. Memperluas foramen intervertebral yang menyempit. Dataran akhir badan tulang belakang serta . Facet arthrosis (Artrosis faset) Facetectomy (Fasetektomi) Foraminectomy (Foraminektomi) Hemilaminectomy (Hemilaminektomi) Interlaminar space Ruangan yang diselaputi ligamentum (Ruang interlaminar) flavum antara dua arkus ruas tulang belakang. Perubahan biomekanik dan patologik pada diskus intervertebral berhubungan dengan perubahan degeneratif yang serupa. Disk injection Menyuntikkan baik media kontras ma(Penyuntikan diskus) upun obat obatan kedalam diskus intervertebralis. Internal disk dearangement (Kerusakan susunan diskus internal) Intervertebral disk (Diskus intervertebral) Robeknya jaringan didalam diskus intervertebral.Tulang rawan hialin pada dataran plates tepi tulang belakang. Terbentuk oleh tiga bagian. Mengangkat sebagian atau seluruh faset atau sendi.

Tepi posterior dihubungkan oleh faset superior dan inferior dari sendi posterior. tervertebral lumbar) Lumboradiculitis (Lumboradikulitis) Motion segment (Segmen bergerak) Nyeri pada regio lumbar yang menjalar ketungkai. Nyeri yang terbatas hanya pada regio lumbar. biasanya bagian superior dan ligamentum flavum. Nyeri setelah vertebral. Pusat diskus intervertebral terutama terdiri dari substansi ini. Dikelilingi sebelah atas oleh pedikel. Membuang arkus ruas tulang belakang. Kesatuan fungsional kolumna tulang belakang yang terdiri dari dua badan ruas tulang belakang diskus intervertebral diantaranya.anulus fibrosus. Intervertebral foramen (Foramen intervertebral) Kanal antara dua arkus ruas tulang belakang yang ditembus oleh saraf.regio lumbar. Laminectomy (Laminektomi) Laminotomy (Laminotomi) Low back pain (Nyeri punggung bawah) Lumbago (Lumbago) Lumbar disk desease Kelainan diskus intervertebral pada (Kelainan diskus in. Membuang bagian dari arkus ruas tulang belakang. operasi diskus inter- Nucleus pulposus (Nukleus pulposus) Osteochondrosis (Osteokhondrosis) Postlaminectomy syndrome (Sindroma pascalaminektomi) Prediskotic deformity Gangguan bentuk dan fungsi segmen (Deformitas bergerak yang memudahkan perkemprediskotik) bangan sindroma diskus intervertebral kelak. Nyeri akut pada regio lumbar. . Prolapse (Prolaps) Herniasi jaringan diskus intervertebral melalui anulus fibrosus kedalam kanal. Degenerasi diskus intervertebral bersama-sama dengan perubahan dataran akhir ruas tulang belakang. anterior oleh diskus dan inferior oleh pedikel ruas tulang belakang inferior.

Spinal fusion (Fusi spinal) Spinal stenosis (Stenosis spinal) Spondylosis (Spondilosis) Three-joint complex (Kompleks tiga sendi) Tight hamstring (Hamstring yang tegang) Stabilisasi operatif pada segmen bergerak. L3 dan L4. Penyebaran nyeri sepanjang ekstremitas bawah sesuai dengan distribusi saraf siatik. Penetrasi spontan jaringan diskus intervertebral keruas tulang belakang. S1 dan/atau S2. mencakup akar saraf L5.Protrusion (Protrusi) Rheumatoid diskitis (Diskitis rematoid) Schmorl nodes (Nodus Schmorl) Sciatica (Siatika) Penonjolan diskus intervertebral tanpa perforasi anulus fibrosus. Inflamasi rematoid pada tepi diskus intervertebral. Hilangnya stabilitas. Kontraksi yang jelas pada otot hamstring (mungkin karena traksi pada radik L5 dan S1-S2) menyebabkan teregangnya saraf ini. Sciatic list (Postur siatik) Segmental instability (Ketidakstabilan segmental) Sequestered Terlepasnya fragmen nukleus yang disk fragment mengalami degenerasi dari diskus (Fragmen diskus yang intervertebral mengalami sekuesterisasi). Upper lumbar Sindroma lumbar yang mengenai akar radiculitis) saraf L2. Konsep yang terdiri dari dua sendi dan diskus pada masingmasing tingkat. Penyempitan kanal spinal. Degenerasi diskus intervertebral dengan spur tulang reaktif pada tepi ruas tulang belakang. Akar L4 mungkin hanya terserang sebagian. (Radikulitis lumbar sebelah atas) ------------------------------------------------------- . Keadaan khas yang tampak pada posisi berdiri pada penderita prolaps atau protrusi diskus intervertebra.

sedikit orang yang terhindar dari gangguan punggung postural akibat perubahan degeneratif. Secara keseluruhan . Ini terutama jelas pada lesi diskus intervertebral. Penyelidikan epidemiologik sudah dipelopori oleh Braun (1969) dan Wagenhauser (1969) Wagenhauser (1969) melakukan penelitian pada 1. Arti dan Frekuensi Kelainan Diskus Intervertebral Penyakit diskus intervertebral adalah kelainan yang umum didapat. Informasi lain mengenai distribusi kelamin dan usia dari penyakit diskus intervertebral sudah dijelaskan oleh Schmorl dan Junghanns (1968).A. Duthie 1969). Swedia (Dahlberg 1976). Conventry (1968) dan Hirsch (1960). Karena tidak jelasnya terminologi penyakit rematik. Schmorl dan Junghanns (1968).170 penduduk. Gangguan pada pinggang adalah paling umum hingga usia 35 tahun. Finlandia (Rissanen 1969). Penyelidikan Knepel (1977) mendapatkan pada praktek umum bahwa dari tiap 10 penderita didapatkan seorang dengan keluhan pinggang yang disebabkan oleh degenerasi diskus intervertebral. Frekuensi tinggi dari ketidak-mampuan kerja serta pensiun awal diakibatkan oleh penyakit diskus intervertebral. Ini menjadi lebih nyata bila kelainan tulang belakang dipelajari sendiri. Hanraets (1959). Sepanjang hidupnya. Lindemann dan Kuhlendahl (1953). Magora dan Tanstein 1969). Israel (Magora 1970. Penurunan tuberkulosis sendi. Kanada (White 1969). Dari negara lain juga dilaporkan frekuensi penyakit diskus inter-vertebral degeneratif yang berhubungan dengan pekerjaan: Inggeris (Dixon 1973. ini terutama jelas pada penyakit degeneratif sistem lokomotor dimana degenerasi diskus intervertebral berperan penting. Hal ini tampak pada usia setelah 30 tahun atau lebih awal seperti laporan dari penelitian pato-anatomi oleh Schmorl (1932). Untuk lebih baik dalam mengikuti perkembangan dan distribusi suatu penyakit kronis dimasarakat. dan 52 % nyata mempunyai gejala saat pemeriksaan. Gross (1966) dan Hult (1954). Amerika Serikat (Leavitt 1971). sejumlah keadaan secara salah disangka rematik. de Palma dan Rothman (1970). perlu melakukan penelitian prospektif. Jochheim (1961). serta peningkatan angka harapan hidup berakibat pada peninggian penyakit pinggang baik secara relatif maupun nyata. gangguan pinggang lebih sering dari gangguan sendi lainnya.9 % sudah menderita berbagai jenis gangguan sistem lokomotor. 72. Persentase pengobatan pasien rawat jalan dengan sindroma diskus intervertebral mencapai 37. Menurut laporan German Health Office. rickets dan polio.8. penyakit sendi degeneratif adalah kelainan kronik yang utama. Tidak . Armstrong (1965). Beberapa pandangan menarik didapat dari morbiditas penyakit diskus intervertebral.

2 % terjadi pada pria dan 52. Laki-laki lebih sering terserang dibanding wanita. Sindroma diskus intervertebral hampir sama banyaknya pada pria dan wanita.96 %.94 % diikuti servikal dengan 36. Regio tulang belakang yang berbeda terserang dengan persentase berbeda. B. yang memerlukan tindakan yang lebih aktif. dan kelainan jarang lainnya. berbagai tumor. dan maksimum dicapai pada usia 40 dan 50. osteoporosis. Alasan mengapa laki-laki lebih sering dikenai tidak hanya karena lebih sering dan lebih berat dalam mengangkat serta meregang dibanding wanita. juga terjadi sindroma radik-radik saraf lumbar dengan nyeri yang menjalar ketungkai. Gejala umumnya timbul antara usia 30 dan mencapai puncaknya pada usia 40 pada pria dan 10 tahun kemudian pada wanita. Hampir duapertiga kelainan diskus intervertebral menyerang tulang belakang lumbar. penting menghubungkan aspek medik dan sosial karena sering terjadi pada usia menengah dimana mereka sedang berada pada puncak aktifitas kehidupannya. dan lebih dari setengahnya mengenai diskus intervertebral lumbar empat.6%) dan sindroma lumbar lebih utama pada pria (51. tetap lebih utama pada pria.1 dan toraks hanya 1. Selain frekuensi sindroma lumbar yang tinggi. Ini yang ditemukan oleh kalangan medis. Ini adalah usia dimana kebanyakan operasi terhadap prolaps diskus intervertebral dilaksanakan.8 % pada wanita. Diyakini ada faktor spesies spesifik tertentu. penyakit Scheuermann. Frekuensi Sindroma Lumbar Sindroma lumbar secara khas ditandai dengan gejalagejala dan tanda-tanda yang berasal dari perubahan degeneratif pada diskus intervertebral lumbar. 68 % antara 30 dan 60. Sindroma diskus intervertebral terjadi terutama pada kelompok usia menengah. Disamping perasaan tidak enak setempat. Penderita lainnya tidak pernah diperiksa walau dengan onset nyeri lumbar mendadak. Satu dari duabelas pasien pada praktek umum tampak diakibatkan oleh sindroma lumbar.3 %). Karenanya sangat mungkin sindroma lumbar terjadi lebih sering dari yang tercatat. Sindroma servikal lebih sering pada wanita (60. Sisanya terdiri dari skoliosis. Lumbar paling sering terserang dengan 61. mempunyai peranan (Tannich 1976).7 % adalah akibat degenerasi diskus intervertebral. keadaan inflamasi. Dengan kata lain kemungkinannya besar untuk .kurang dari 92. Pada penderita rawat jalan 47. Pada usia ini terjadi perubahan jaringan diskus intervertebral dengan tekanan yang tinggi pada nukleus pulposus dan penurunan tahanan dari anulus fibrosus. yang lebih sempit pada pria. Bukan tidak mungkin bahwa kanal lumbar. atau penderita yang mengalami perasaan tidak enak setelah ia membebani pinggangnya. serta sindroma kauda ekuina. Beratnya sindroma lumbar.

terjadinya dislokasi periferal dari jaringan diskus intervertebral yang terletak sentral. Sindroma lumbar tampaknya tidak mengikuti pola statistik khusus. Menurutnya hanya 35 % dari mereka yang akan menjadi penderita siatika. hanya kedua setelah infeksi saluran nafas atas. Rowe mendapatkan 35 persen pekerja ringan dan 45 persen pekerja berat mengeluhkan nyeri pinggang. Nyeri akut dan siatika dapat timbul spontan tanpa penyebab yang jelas. Setelah serangan pertama nyeri pinggang bawah. Tak ada perbedaan rasial atas nyeri pinggang bawah dan siatika. 90 persen akan mengalami serangan berikutnya. Horal menemukan bahwa nyeri pinggang bawah dalam derajat yang jelas telah dimulai pada usia onset rata-rata 35 tahun. Walau Kelsey menemukan bahwa pria lebih banyak menjalani operasi akibat nyeri pinggang bawah. Penyakit ini berjalan secara khas mengikuti variasi musim. Nachemson menduga bahwa 80 % orang dewasa mengalami nyeri pinggang yang jelas selama kehidupan dewasanya.000 pekerja. menyimpulkan bahwa di Amerika Serikat gangguan pinggang dan tulang belakang merupakan penyebab tersering diantara semua kelainan kronis dalam menyebabkan pembatasan aktifitas masyarakat berusia dibawah 45 tahun. makin besar ia akan kehilangan kemampuannya dan tidak akan pernah kembali kekerja yang produktif. jumlah penderita merata. Menurutnya tiap orang kehilangan 4 jam kerja setahun karena nyeri pinggang bawah.400 per 1. Sindroma lumbar cenderung sedikit menurun selama bagian awal dari tahun (Kramer 1973). dan . Kelsey dan White. hal ini tidak berarti suatu bukti dari contoh penderita nyeri pinggang bawah secara keseluruhan. Ia menduduki peringkat ketiga setelah kelainan jantung dan arthritis serta rematik pada usia 45 hingga 64 tahun. seperti juga peneliti lain. Kehilangan hari kerja pertahun akibat nyeri pinggang bawah di Amerika Serikat adalah 1. namun menemukan pada wanita gejala yang jelas baru timbul satu dekade kemudian. Benn dan Wood menemukan bahwa nyeri pinggang bawah merupakan faktor ketiga yang menyebabkan kehilangan jam kerja setelah kelainan paru akut dan kronik serta kelainan pembuluh koroner arteriosklerotik di Inggris pada tahun 1970. Selama sisa bulan.000 pekerja dan dibeberapa pabrik di Inggeris 2. McGills menemukan bahwa ketidak-hadiran selama satu tahun karena kelainan pinggang bawah mengurangi kemungkinan untuk kembali bekerja hingga hanya 25 persen. Kelsey menemukan usia onset yang sama pada pria dengan nyeri pinggang bawah akibat kelainan diskus. Penampilan gejala sangat berhubungan dengan peristiwa biokimia dan biomekanik yang sinambung pada jaringan diskus intervertebral yang perkembangannya sangat berkaitan dengan involusi usia.600 per 1. Peneliti lain mendapatkan bahwa semakin lama penderita meninggalkan pekerjaannya.

5 persen wanita diluar usia 35 tahun menderita siatika. yakni struktur aksial yang akan menjadi sumbu terbentuknya tulang belakang. Digaris tengah piring embrionik. Cikal bakal tulang belakang adalah aksis selular yang disebut notokhord. Usia onset rata-rata pada serangan siatika pertama sekitar 37 tahun. Perkembangan Diskus Intervertebral Untuk memahami latar belakang perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dewasa. Anatomi dan Fisiologi Diskus Intervertebral 1. Datanya menyatakan bahwa 4. mencakup diskus intervertebral dan ruas tulang belakang. embrio berupa piring berbentuk buah pir. sekitar 76 persen menderita nyeri pinggang bawah satu dekade sebelumnya. 1968. Tekanan karena peningkatan pertumbuhan sel . Bell dan Rothman menyimpulkan bahwa masalah klinis siatika adalah berhubungan dengan degenerasi diskus intervertebral. perlu untuk mengetahui perkembangannya pada tingkat embrionik dan pada saat bayi. baik terhadap perorangan maupun industri. Dari ujung kranial streak. yakni ektoderm. Notokhord berubah sangat dini menjadi kolumna vertebral kartilago atau tulang. 1955. Akhir minggu ketiga pasca ovulasi. Embrio usia beberapa hari dengan panjang kepala-ekor 12 mm menampakkan tanda awal dari kolumna vertebral. Hakelius melaporkan bahwa 75 persen penderita membaik setelah 10 hingga 30 hari sejak onset gejala. Prader (1947) dan Ecklin (1960). streak primitif yang terutama dibentuk oleh sel-sel lapisan ektodermal bermigrasi keventral melalui streak dan menyebar kesetiap sisi membentuk mesoderm embrionik. Dalam seri seksi mikroskopik mereka dapat mendemonstrasikan involusi notokhord dan perkembangan yang berkesinambungan dari tulang belakang dan diskus intervertebral. Notokhord berjalan melalui pusat kolumna vertebral. Ia tetap hanya sebagai aksis skeletal pada khordata.setelah tidak hadir dua tahun biasanya tidak mungkin untuk bekerja kembali. mesoderm dan endoderm yang sudah terbentuk. C. Perkembangan tulang belakang beserta deformitasnya sudah dipelajari terutama oleh Tondury (1947. Siatika adalah penyakit yang yang umum dan berpengaruh ekonomi. menuju ujung kaudal. prosesus notokhordal. dan hanya 19 persen memerlukan tindakan operasi. dengan tiga lapisan germinal primer.8 persen pria dan 2. 1970) dan rekannya Larcher (1947). Di Swedia 53 persen pekerja ringan dan 64 persen pekerja berat mengalami nyeri pinggang bawah. Perlu diingat bahwa prognosis untuk penderita dengan siatika berat unilateral akibat diskus intervertebral yang herniasi tidaklah jelek. Selama periode ini dapat dijumpai awal dari degenerasi. menonjol kedepan diantara ektoderm dan endoderm.

Diskus intervertebral yang sedang tumbuh menerima catu vaskular untuk zona luar selama tahap embrionik dan bayi. Cincin epifiseal osseus adalah penting pada diskus intervertebral karena serabut Sharpey melekat padanya. Berkas lamella padat pada lapisan periferal anulus membentuk jaringan yang berjalan dari satu ruas keruas tulang belakang lainnya. Pembuluh mencapai annulus fibrosus melalui jaringan vaskular disekeliling kolumna tulang belakang dan foramina intervertebra. Diskus intervertebral disekeliling segmen khordal terdiri dari satu zona luar dan satu zona dalam. Ini merupakan zona regenerasi. Ruas tulang belakang dan diskus intervertebral mencapai akhir perkembangannya pada pemuda dewasa. Nukleus pulposus yang tidak berstruktur mengisi daerah ini. Fibril berjalan didalam tulang rawan ruas tulang belakang dan kemudian berkembang membentuk serabut Sharpey pada zona transisional. Zona dalam parakhordal bersama segmen khordal yang terletak eksentris membentuk nukleus pulposus. Zona ini menghilang pada usia sekitar 20 tahun. Bagian sentral diskus intervertebral menerima nutrisi melalui difusi. Ada dua sistem pembuluh. Jumlah dan kekuatan lamella berkurang kearah pusat diskus intervertebral. Pertumbuhan ruas tulang belakang mengambil tempat pada zona proliferatif dari bidang epifiseal. Fibril longitudinal tampak lebih awal pada zona luar yang akhirnya membentuk nukleus pulposus. Catu vaskular semua elemen pada diskus inter-vertebral sempurna . Diskus intervertebral saat lahir terdiri dari semua struktur yang kelak menjadi penting dalam kehidupan dalam hal fungsi mekanik tulang belakang. satu horizontal perifer dan satu longitudinal sentral. Lamella fibrosa ditembus pembuluh ini yang berasal dari jaring kapiler intralameller. berlanjut kezona dalam gelatinosa parakhordal yang betul-betul tanpa struktur. Pembuluh ini tidak mencapai baik interior dari annulus fibrosus maupun nukleus pulposus (Tondury 1958). Karenanya penulangan pada batas terluar membentuk cincin tulang dari bidang akhir. Pada usia 12 tahun. Annulus fibrosus dan nukleus pulposus bertambah ukuran dan isinya secara aposisi interstitial (Hirsch dan Schajowicz 1952). dan absorpsi pada permukaannya membentuk tulang "cancellous". Pusat osifikasi berkembang pada daerah cincin epifiseal kartilaginosa. Pusat penulangan ruas tulang belakang kearah diskus intervertebral membentuk bidang akhir tulang rawan.tulang rawan memeras notokhord menjadi segmen sirkular kecil yang terletak pada diskus intervertebral. Dari tingkat ini penggabungan mulai dari cincin epifiseal kebadan ruas tulang belakang. pusat ini bersatu untuk membentuk cincin epifiseal osseus. Zona luar yang kaya akan fibril namun miskin akan sel. Segmen ini adalah asal dari nukleus pulposus (Tondury 1958). Bidang tulang rawan mempunyai vaskularisasi baik.

sedangkan pada dewasa tidak mungkin.hingga usia dua tahun (Tonduri 1955). diskus intervertebral menunjukkan perubahan penampilan dikarenakan perubahan regresif. perubahan yang tampak pada orang muda menunjukkan "degenerasi bergantung usia" yang dini. Diskus intervertebral karenanya menunjukkan banyak perubahan selama periode pra serta pasca natal. pembuluh darah dapat masuk kediskus intervertebral sebagai bagian dari reaksi jaringan ikat. Saat lahir kedua struktur hampir sama tinggi. Penurunan nutritif pada diskus intervertebral dengan sendirinya berakibat pada baik kualitas maupun kuantitas jaringan ikat pada diskus intervertebral. namun pada akhir periode pertumbuhan tinggi diskus intervertebral hanya 1/3 hingga 1/5 tinggi ruas tulang belakang berdekatan. dan akan dipertahankan selama tahun pertama dan kedua kehidupan. Jaringan semi cair sentral ini dapat dengan mudah dibuang pada anak usia dua tahun. Disini terjadi penurunan yang cepat pada kandungan air. pembuluh pada diskus intervertebral berada pada massa gelatinosa homogen yang secara fisik ekual dengan cairan. permukaan terpotong adalah berkilat dan menyerupai gelatin. pembuluh pada diskus intervertebral menghilang bila posisi berdiri dimulai. setelah itu terjadi regresi yang menyebabkan diskus intervertebral avaskular pada usia empat tahun. karakternya menjadi relatif kering dan fibriler. area sentral nukleus kehilangan penampilan homogen dan gelatinnya. Tahap tertentu pada perkembangan diskus intervertebral . Pembuluh ruas tulang belakang sebagian berada pada sistem trabekular badan ruas tulang belakang dan terhindar dari beban dan kompresi aksial. Perubahan ini jelas pada pemeriksaan visual sederhana terhadap spesimen. Konsekuensinya adalah terjadinya gangguan metabolisme. Goldie (1957) dan Hassler (1969) menemukan invasi jaringan granulasi dengan pembuluh darah pada diskus intervertebral yang berdegenerasi. Hubungan ukuran antara badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral karenanya menjadi disproporsionat. Dalam hal kualitas diskus intervertebral. Mungkin menghilangnya pembuluh berhubungan dengan peningkatan beban yang berkesinambungan. Penambahan oleh aposisi interstitial pada ukuran dan isi nukleus pulposus dan anulus fibrosus tidak berjalan paralel dengan pertumbuhan badan ruas tulang belakang. hingga pembuluh ini mengalami penekanan secara terus menerus oleh tekanan yang berasal dari diskus intervertebral yang mengikuti variasi postur tubuh. Dengan pertambahan usia. Ini memberikan kesan sebagai substansi cairan. Bila segmen bergerak menjadi immobil karena spur spondilotik. Pada manusia. Pada neonatus dan bayi kecil. Setelah akhir pertumbuhan. dan karenanya terjadi perubahan konsistensi dan warna jaringan diskus pada tahun-tahun pertama kehidupan. Kontras dengan ini.

adalah penamaan diskus intervertebral berdasar nama ruas tulang belakang diatasnya. Sebagai aturan. kanal tulang belakang dan prosesus spinosus serta transversus berikut ligamennya. Diskus intervertebral berubah tingginya yaitu semakin tinggi pada arah superior keinferior. Karenanya termasuk ligamen longitudinal anterior dan posterior. Diskus intervertebral dinamai pada saat ini dalam dua cara berbeda. anulus fibrosus dan dataran tulang rawan yang pada berkembangan lebih lanjut menjadi lebih berintegrasi dengan ruas tulang belakang. Misalnya C5-6 adalah diskus intervertebral antara ruas tulang belakang servikal kelima dan enam. Sistem lainnya. Diskus intervertebral pada hubungan servikal-torak dinamakan diskus intervertebral C7-T1 atau diskus intervertebral C7. Bila memikirkan bagian dari sindroma ini. Pada beberapa keadaan dimana ditemukan ruas tulang belakang lumbar tambahan . menjadi lebih umum digunakan. Karenanya ada 23 diskus intervertebral. dan sendi segmen bergerak antara atlas dan aksis tidak mempunyai diskus intervertebral. Diskus inter-vertebral membentuk 1/4 tinggi dari tulang belakang dewasa. Tulang belakang manusia terdiri dari 24 segmen bergerak. Paling atas antara oksiput dan atlas. Paling umum menggunakan sistem yang berhubungan dengan ruas tulang belakang tetangganya. Struktur berdekatan juga dikenai. Anatomi Tulang Belakang Kelainan diskus intervertebral tidak hanya menyerang diskus intervertebral saja. Berlawanan dengan . Unit fungsional dari tulang belakang adalah segmen bergerak (Schmorl dan Junghans 1968). Segmen bergerak dibentuk oleh setengah ruas tulang belakang diatas dan setengah ruas tulang belakang dibawahnya. Pada dataran sagital berbentuk trapezoid dan mengatur kurva fisiologik masing-masing bagian. yang mungkin tampil sebagai sindroma diskus inter-vertebral. Diskus intervertebral pada hubungan torakolumbar dinamakan T12-L1 atau diskus intervertebral torak ke 12. 11 torakal dan empat lumbar. ligamen flavum. jalur yang mungkin berperan pada patogenesanya harus dijelaskan. sendi ruas tulang belakang. 2. ligamen flavum yang kelateral membentuk kapsul untuk sendi ruas tulang belakang. Misalnya diskus intervertebral diantara ruas tulang belakang servikal kelima dan keenam juga dikenal sebagai diskus intervertebral servikal kelima.dari bayi hingga usia tua ditandai dengan kemungkinan yang lebih besar terhadap suatu perubahan degeneratif tidak hanya pada nukleus pulposus tapi juga pada anulus. ada lima buah diskus intervertebral servikal. Sendi utama yang dibentuk oleh diskus intervertebral terdiri dari nukleus pulposus. diskus intervertebral mungkin disebut diskus intervertebral L5-6 atau L6-S1.

yang ditentukan oleh konfigurasi ruas tulang belakang. nukleus pulposus mengandung sel khordal dan untaian yang tersusun berbentuk jaring yang tampak berasal dari sel khordal (retinakulum khordal). ligamen longitudinal posterior tidak menutupi diskus inter-vertebral secara . Disini aspek superiornya lebih lebar dari inferior. Difusi berbagai substansi terjadi melalui lapisan ini. permukaan ruas tulang belakang yang seperti saringan. dataran tulang rawan nyatanya merupakan bagian badan tulang belakang. akan berusaha mendapatkan bentuk bola. Interior ruas tulang belakang mempertahankan hubungannya dengan dataran tulang rawan melalui lamina kribrosa. Sebaliknya. berbeda dengan penjelasan pada beberapa buku anatomi. Lebih kedepan. Menurut Schmorl (1932). yaitu dari anulus fibrosus dan nukleus pulposus.kifosis torak. konveksitas lordosis servikal dan lumbar adalah akibat penambahan tinggi bagian anterior diskus intervertebral. ligamentum longitudinal posterior tak begitu mudah dipisahkan dari diskus intervertebral karena eratnya perlekatannya. Pada usia awal. Ini dapat dengan mudah diangkat dari diskus intervertebral. Lamela fibrosa lebih banyak dan lebih kuat di anterior dan lateral dibanding di posterior dimana mereka lebih jarang dan lebih tipis. biasanya kurang dari satu cm3 yang dapat disuntikkan. dataran tulang rawan bersatu dengan dataran akhir ruas tulang belakang melalui lapisan kalsium melalui mana porus-porus kecil menembus untuk nutrisi diskus intervertebral. Anulus fibrosus mengandung serabut serupa sekrup yang bercampur satu sama lain yang berjalan dari satu ruas tulang belakang ke ruas tulang belakang lainnya. anulus berhubungan secara mulus dengan nukleus pulposus. Sisa dari notokhord terletak lebih kebelakang. Walau sepatutnya bagian dari diskus intervertebral. Bila memotong diskus intervertebral secara transversal maka substansi sentral yang melekat erat pada ruas tulang belakang akan menonjol keluar. dan diregio tulang belakang lumbar menyempit menjadi pita tipis. Ini menunjukkan bahwa diskus intervertebral akibat dari tekanannya sendiri. Jaringan ini berisi substansi dengan dasar gelatin (Schmorl dan Junghanns 1968) yang akan menjadi nukleus pulposus. Ligamentum longitudinal anterior berjalan secara luas sepanjang permukaan anterior badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. Pada diskus intervertebral (Stahl 1977). Ia mengandung tulang rawan hialin. Substansi nukleus pulposus pada usia selanjutnya dipisahkan ruangan yang kedalamnya dapat dimasukkan satu hingga dua cm3 cairan melalui suntikan. Diperifer ada serabut Sharpey yang menembus dan melekat pada cincin ruas tulang belakang. dan saat pertumbuhan berakhir ia mencapai cincin ruas tulang belakang. Pada orang muda dimana jaringan diskus intervertebral lebih homogen.

Bila pita ini mengalami regangan. perut dan tengkorak. Pengisian vena ini tergantung posisi tubuh. Anatomi Tulang Belakang Lumbar . Ini menjelaskan peningkatan rasa tidak enak daerah lumbar saat kegiatan tersebut. vena epidural akan kolaps dan sulit untuk terisi darah. Vena vertebral. bersin dan peninggian tekanan abdominal. Ligamentum flavum menjadi lebih tebal sebelah distal dari kolum servikal. Ligamentum flavum dan ligamentum interspinosum menstabilkan bagian posterior segmen bergerak pada kurva anterior pada kifosis total dan pada posisi berdiri. Pada pengukuran intraoperatif didemonstrasikan bahwa derajat pengisian pada vena epidural lumbar berhubungan dengan tekanan vena sentral (Ghazwinian dan Kramer 1974). dimana prolaps dan protrusi diskus intervertebral terjadi. membentuk sistem anastomotik dari tengkorak mencapai sakrum. Vena vertebral dapat menyebabkan sindroma diskus inter-vertebral dan juga suatu perburukan bila terjadi penyempitan kanal spinal oleh protrusi diskus intervertebral atau tulang. Karenanya hanya sedikit perdarahan saat operasi dan koagulasi elektrik jarang diperlukan. Perhatian besar telah lama dipusatkan pada ketebalan ligamentum flavum. Ligamen ini menutupi aspek posterior kanal spinal dan kelateral membentuk kapsul dari persendian ruas tulang belakang. Pada posisi 'a la vache'. seperti terjadi pada protrusi diskus intervertebral.menyeluruh namun menyisakan aspek dorsolateral terbuka. Pada operasi dengan posisi ini untuk prolaps diskus intervertebral lumbar. Persangkaan hipertrofi dalam berbagai tingkat dianggap bertanggung jawab atas keluhan pinggang bila pada saat operasi didapatkan kondisi lainnya dalam keadaan normal. 3. Pada posisi duduk dan terlentang vena ini terisi penuh. dapat timbul nyeri yang berasal dari periosteum. bila tiada tekanan pada abdomen dan abdomen tergantung bebas. terdapat sirkulasi kolateral lokal yang segera bereaksi pada semua peninggian tekanan pada dada. Menjembatani foramina interarkuata. pengisian vena dan tekanan vena sentral berada pada keadaan paling rendah. Ligamentum flavum merupakan struktur penting pada bedah diskus intervertebral. yang tak mempunyai katup. Vena vertebral juga mempunyai hubungan dengan vena cava superior dan inferior. Bagian lateral ligamen membentuk pita yang berjalan oblik menyilang diskus intervertebral dalam arah kedistal dan akhirnya berakhir pada dasar pedikel. Bersama vena azigos. ia berjalan dari setengah anterior dan distal lamina diatasnya dan melekat pada sisi superior lamina dibawahnya. Clemens (1970) mendemonstrasikan pentingnya sistem vena vertebral lokal yang memiliki hubungan melalui beberapa emissaria dengan vena inferior tengkorak. yaitu melalui batuk.

sedikit perubahan aspek posterior diskus intervertebral dapat menyebabkan rasa tidak enak. radik saraf dengan mudah menjadi tertekan. diskus intervertebral ini mempunyai bentuk trapezoid. Diskus intervertebral bertambah ukurannya dari bagian superior keinferior. Tentu saja variasi tidak hanya dalam ukuran lubang. karena oleh perubahan diskus inter-vertebral atau dislokasi ruas tulang belakang. Foramina intervertebral dapat menjadi sempit karena perubahan posisi dari sendi tulang belakang. Ini paling jelas pada daerah lumbosakral. Susunan anatomi menyebabkan posisi anatomi dan fisiologi radik saraf penuh risiko. b. Diskus intervertebral lebih tinggi dianterior dibanding posterior dimanaberhubungan dengan derajat dari lordosis lumbar. Pada penyempitan kanal lumbar. menampakkan beberapa segi sebagai penyebab nyeri lumbar. Ganglia spinal dan radik anterior terletak lebih keanterior dibanding daerah toraks dan mereka hampir bersentuhan dengan diskus intervertebral. Diskus Intervertebral Lumbar Tulang belakang lumbar mempunyai lima ruas tulang belakang. Diskus intervertebral torakolumbar atau diskus intervertebral T12 dianggap milik tulang belakang lumbar. Kekecualian pada diskus intervertebral lumbosakral yang sekitar sepertiga lebih pendek dari diskus intervertebral didekatnya. Variasi Ruas Tulang Belakang Lumbar Terdapat anggapan yang berlebihan bahwa deformitas dan anomali kongenital adalah penting sebagai penyebab . c. Hubungan diameter dari L1 hingga L5 adalah 1:5 (Tondury 1970). Tepi tulang dari foramina intervertebral. Tampilan cembung diskus intervertebral nyata pada daerah lumbar. Foramina intervertebral daerah lumbosakral sangat kecil.a. Pada daerah lumbosakral serupa dengan tulang belakang toraks dan karenanya berarah pada dataran frontal. namun juga antara kedua sisi. Tampak lateral. yakni pada bagian superior dari tulang belakang lumbar. Foramina intervertebral terletak sama tinggi dengan diskus intervertebral. Foramina intervertebral terbatas kearah posterior oleh faset sendi. Foramina Intervertebral Posisi foramina intervertebral dalam hubungannya dengan diskus intervertebral tulang belakang lumbar adalah paling penting dalam mengamati radik-radik saraf spinal. dibentuk oleh bagian posterolateral ruas-ruas tulang belakang yang kadang-kadang menebal kebawah pada bagian superior foramina intervertebral dimana radik saraf lewat. Ukuran kanal tulang belakang lumbar baik pada dataran frontal maupun sagital serta bentuk dari kanal. Diameter radik saraf bertambah dari bagian superior keinferior dengan maksimum pada L5. Rongga sendi L1-L4 berarah pada dataran sagital.

Sepanjang ruas tulang belakang transisional setangkup dan serasi baik dengan sekitarnya. Kanal berbentuk silinder yang berubah sesuai pergerakan batang tubuh. Dalam keadaan enam ruas tulang belakang bebas. Pada tulang belakang lumbar sering terjadi penyempitan kanal tulang belakang baik oleh protrusi maupun prolaps diskus intervertebral. serta jaringan epidural yang berisi vena-vena dan lemak yang mengelilingi radik-radik saraf hingga pada pergerakan yang ekstrim dari tulang belakang lumbar.nyeri lumbar. Sakralisasi dan lumbarisasi hanya dapat ditentukan dengan penghitungan yang teliti terhadap ruas tulang belakang toraks. dikatakan sebagai sakralisasi. radik-radik saraf. tidak akan menimbulkan gejala. Kearah lateral adalah rongga arkus dan foramina intervertebral. misalnya satu prosesus transversus bebas dan lainnya berhubungan dengan sakrum. diskus intervertebral superior berdekatan akan terserang ketidaksetangkupan (Rettig 1959). dan akibatnya mungkin terjadi skoliosis lumbar. dan sebelumnya dianjurkan untuk menghitung dari bawah keatas. prolaps diskus intervertebral antara L5-L6 menyebabkan sindroma S1. Ruas tulang belakang transisional memiliki keistimewaan dimana ruas tulang belakang lumbosakral mungkin mempunyai prosesus transversus bebas atau mungkin mempunyai kontak yang erat dengan sakrum dengan tampilan serupa sendi. Bila kedua prosesus transversus berasimilasi dengan sakrum. Variasi jumlah ruas tulang belakang mempunyai beberapa kepentingan praktis. Topografi Radik Saraf serta Diskus Intervertebral dalam hubungannya dengan Kanal Spinal Lumbar Kebanyakan sindroma radik saraf lumbar timbul dari segmen terbawah akibat keadaan biomekanik dan kontak erat radik saraf terhadap diskus intervertebral. Bila terdapat empat ruas tulang belakang bebas. Kanal tulang belakang dibatasi sebelah depannya oleh badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. Sekali terdapat ketidaksetangkupan. dan bila terdapat enam ruas tulang belakang dikatakan sebagai lumbarisasi. Diskus inter-vertebral dapat menampakkan semua jenis kemungkinan perubahan transisional. ruas tulang belakang pertama yang tidak mempunyai tulang rusuk. d. tekukan ruas tulang belakang transisional terjadi bila satu prosesus lebih pendek dari lainnya. akan terjadi perubahan biomekanik tulang belakang. Sudah diketahui bahwa secara praktis menghitung ruas tulang belakang dimulai dari L1. Isi kanal tulang belakang lumbar adalah kantung dural. dan keposterior oleh ligamentum flavum dan arkus ruas tulang belakang. Prolaps antara ruas tulang belakang lumbar empat dan sakrum pada keadaan dimana hanya terdapat empat ruas tulang belakang bebas akan menyebabkan sindroma L5. radik-radik saraf tidak . dan berakibat istilah ruas tulang belakang transisional jarang digunakan. Pada keadaan ini.

. atau oleh spurring yang mengikuti pada daerah intraforaminal (Gill 1976). radik lumbar kelima mungkin terganggu oleh protrusi atau ruptur diskus intervertebral intraforaminal. dan pelat tulang rawan oleh tulang rawan hialin. Radik lumbar kelima biasa tertekan pada protrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar keempat dan kelima. sel sel tulang rawan dan kadang kadang sel sel notokhordal pada diskus intervertebral. Secara histologi dan biokimia. D. maka gangguan pada radik saraf lumbar keempat terjadi pada tingkat diskus intervertebral antara L3-L4. nukleus pulposus oleh substansi dasar. Perbedaan ketinggian letak segmen cord tulang belakang dengan segmen tulang belakangnya yang bersangkutan paling jelas pada daerah lumbar. Anulus fibrosus dibentuk oleh serabut.begitu terganggu oleh jaringan keras. Jaringan-jaringan ini berasal dari sel jaringan ikat yang membentuk 20% hingga 30% dari jaringan. dan semakin jauh radik-radik berjalan kedistal semakin menyudut saat keluar dari kantung dural. mielografi. Kauda ekuina adalah saraf-saraf spinal distal yang bersamaan dengan fillum terminale. diskus intervertebral juga berisi komponen jaringan yang terdapat pada jaringan ikat struktur lainnya. Komponen-komponen jaringan antara ruas tulang belakang dengan baik dapat dijelaskan dalam hubungannya atas keperluan mekanik dan sesungguhnya diskus intervertebral mungkin diingat sebagai organ jaringan ikat. Karena hubungan topografik yang khas dari radikradik saraf terhadap diskus intervertebral ini. Saraf-saraf terletak lebih kelateral hingga pada pungsi lumbar medial. dan pungsi diskus intervertebral transdural akan terhindar dari cedera. adalah struktur akhir dari cord tulang belakang yang meluas ke ruas tulang belakang lumbar kedua. Cord tulang belakang kebawah hanya mencapai ruas tulang belakang lumbar pertama atau kedua. dan saraf-saraf spinal berjalan lebih kedistal dan keluar melalui foramina inter-vertebral yang bersangkutan setelah melalui perjalanan yang jauh dalam rongga subarakhnoid. elemen utama jaringan ikat berbeda sesuai lokasinya. Radik sakral pertama terganggu oleh prostrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar kelima dan segmen sakral pertama. Hal serupa. Mereka adalah fibroblas. Radik lumbar keempat mungkin terganggu oleh prolaps lateral dan besar pada daerah intraforaminal atau oleh pertumbuhan berlebihan faset inferior ruas tulang belakang lumbar keempat. Struktur Mikroskopik dan Biokimia Diskus Intervertebral Selain sisa khordal. Arah dari radik-radik saraf setelah meninggalkan kantung dural adalah menuju tingkat segmen yang bersangkutan.

Sel-sel tulang rawan paling bertanggung-jawab atas metabolisme diskus intervertebral. makromolekul mengikat sebagian besar cairan pada diskus intervertebral. Air tidak dalam keadaan bebas. seperti asam amino. Mukopolisakharida bertanggung-jawab untuk pembengkakan. Dengan kata lain terdapat pengaktifan kalsium pada jaringan diskus intervertebral. Dengan kemampuan metabolismenya mereka membentuk matriks organik yang mengandung kolagen dan kompleks mukopolisakharidaprotein. Gluko-protein terdiri dari protein dan hidrat arang. sel-sel menggunakan substrat molekul rendah. Mukopolisakharida asam. Kandungan air antara 80% dan 85% pada diskus intervertebral orang muda. Mukopolisakharida membentuk sistem kisi-kisi tiga dimensi yang akan menentukan viskositas substansi dasar. semua ion lain ditemukan pada cairan interstitial. Mereka bersifat seperti mukoprotein dengan kemampuannya yang jelas dalam mengikat air. terdapat mineral. Mineralisasi berjalan paralel dengan peningkatan fosfor dan dengan pemisahan kristal secara lambat. Mukopolisakharida dan makromolekul disintesa baik intra maupun ekstraseluler. Kandungan air nukleus pulposus lebih besar dibanding pada anulus fibrosus. elastisitas dan viskositas substansi dasar. enzim. Karena memiliki hidro-dinamik yang jelas. Substansi dasar terdiri dari glukoprotein dan polisakharida molekul besar. Penambahan isinya adalah dari arah tepi ke nukleus pulposus. Substansi dasar adalah bagian dari matriks. Ion anorganik. Proteoglikan dan komponen lain mukopolisakharida asam dibentuk intraseluler sebagai produk intermediet metabolisme glukosa. potasium dan kalsium.Sel-sel jaringan ikat membentuk substansi dasar dan serabut-serabut ekstra dan intra selular. serta dapat dipindahkan kecairan interstitial dengan menggantinya dengan kelompok hidrofilik dari substansi tertentu. garam. Selain cairan interstitial. Kristal kalsium fosfat tak tampak hingga usia dewasa. Kandungan potasium yang tinggi pada tulang rawan adalah karena banyaknya sel. Untuk membentuk makromolekul ekstraselular. sulfat keratin dan heparin adalah bagian dari polisakharida molekul besar. sodium. sulfat khondroitin. McCarty (1964) mendapatkan kalsium pirofosfat pada diskus intervertebral manusia. namun merupakan bagian dari makromolekul. Karenanya dapat kembali dari bentuk ikatan kemakromolekul terion yang bebas. seperti halnya asam hialuronik. Kalsium terikat pada asam mukopolisakharida dari matriks dan dapat tertimbun disini 35 kali lebih banyak dari jaringan lain (Dulce 1969). glukosa dan air. Ia mengalami depolimerisasi oleh protease asam . matriks organik dan sedikit lemak pada jaringan diskus intervertebral. Dalam keadaan normal mineral tidak tampak secara bebas pada diskus intervertebral. masing-masing terikat secara struktural atau dalam larutan pada cairan ekstraselular. Sodium dapat terikat pada matriks. serta kekentalannya yang tinggi.

makromolekul kolagen secara sinambung mengalami proses sintetisasi dan depolimerisasi. Sawar permeabilitas yang terbentuk dapat mengontrol transport substansi ekstraseluler. tropokolagen akan mengalami transformasi menjadi kolagen tak larut melalui proses polimerisasi ekstraseluler (Eyring 1969). struktur ekstraselulernya terus diperbaharui. asam hialuronik 2-4 hari (Schiller 1956. Sel pembentuk fibril terletak dalam bentuk bikonveks diantara serabut kolagen yang diikat bersama oleh mukopolisakarida. Karenanya mukopolisakharida menunjukkan tingkat perubahan yang tinggi. namun merupakan proses yang bersinambung. Fibril proteokolagen mengandung asam amino glisin (30 %). Seperti mukopolisakarida. Bostrom 1958. Davidson dan Small 1963). Waktu paruh kolagen adalah 30-60 hari (Buddecke 1970). Metabolisme yang bersinambung diperlukan diskus intervertebral untuk mempertahankan sintesa dan depolimerisasi komponen ekstra-seluler. Diantaranya terdapat pitapita hingga memberikan gambaran seperti jala. pendahulu kolagen (Steven 1969). strukturnya dibangun stabil secara mekanik oleh jaringan serabut kolagen tiga dimensi. Proses ini dapat dihambat oleh kortison (Dingle 1969). Serabutserabut tersusun dalam berkas yang sangat atau kurang paralel. Takeda 1975. Fase awal pembentukan serabut kolagen terjadi intraseluler. Sintesa makromolekul intradiskal bukan kejadian tunggal. Sistem tersebut akan menghalangi difusi molekul.sitoplasmik yang bergantung pada vitamin A. De- . Dari tes difusi dengan zat warna dengan berbagai ukuran molekul diperlihatkan bahwa hanya molekul dengan berat kurang dari 400 saja yang dapat melalui sawar diskus (Kramer 1973). Daerah perbatasan diskus intervertebral manusia mempunyai kumparan serabut yang tersusun padat. Buckwalter 1976). Dengan pemeriksaan mikroskop cahaya dan elektron tampak bahwa struktur fibriler lebih padat pada daerah perifer diskus intervertebral (Dahmen 1966. Nutrisi sel yang tidak sempurna berakibat rendahnya kualitas dan kuantitas makromolekul. Sekali meninggalkan sel. yang dibentuk oleh sel-sel tulang rawan. Zona sebelah pinggir diskus intervertebral memiliki berkas serabut yang tersusun padat. Jaringan diskus intervertebral membentuk tropokolagen. Pada orang tua perubahan berlangsung lebih lambat. Kandungan kolagen matriks merupakan sekitar 44-51 % berat kering diskus intervertebral. Sawar tersebut karenanya merupakan membran permeabel yang selektif. Adalah seimbang antara depolimerisasi dan sintesa makromolekul pada keadaan normal. prolin (12 %) dan hidroksiprolin (12-14 %). Akibat keterbatasan waktu hidupnya. Kaplan dan Meyer 1959. Mereka tersusun padat dan teratur membentuk gambaran seperti bawang. Fibril kolagen tampak pada diskus intervertebral sebagai bentuk kumparan. Mereka memiliki struktur makromolekul yang berdeferensiasi tinggi. Waktu paruh sulfat khondroitin adalah 7-16 hari. Dengan interloking molekul.

diskus intervertebral adalah subjek dari tekanan yang berkaitan dengan postur tubuh dan berat badan. interior dari diskus intervertebral dan jaringan para vetebral termasuk cancellous bone ruas tulang belakang. Diskus Intervertebral sebagai Sistem Osmotik. Mereka tak hanya berperan pada depolimeri-sasi namun juga pada sintetisasi. Pada jaringan para vertebral dan juga pada jaringan trabekular internal ruas tulang belakang. Perubahan dapat terjadi atas pengaruh atas metabolisme oleh faktor mekanik dan biokimia. Artinya tekanan absorptif yang memungkinkan air dan larutan lainnya untuk masuk kejaringan intradiskal melalui membran semipermeabel. Sel jaringan diskus intervertebral mengandung lisosom yang membentuk enzim (Pearson 1972). semua berperan dalam sistem osmotik. Perubahan biokimia dan patofisiologi yang mendasarinya mendahului perubahan morfologik makro. permukaan anulus fibrosus dan end-plates terselaputi jaringan serabut submikroskopik tiga dimensi yang hanya memungkinkan dilalui substansi molekul rendah dan hasil metabolik dapat lewat. E. Biomekanik Tulang Belakang 1. Kompartemen-kompartemen ini berbeda tekanan hidrostatiknya. struktur para vertebral. anulus fibrosus. Cairan harus diangkut melawan tekanan didalam diskus intervertebral. Tekanan osmotik koloid adalah tekanan osmotik yang dipertahankan oleh larutan molekul tinggi. Beban dapat mencapai lebih dari 1. selain itu ia akan mengering dalam waktu singkat. Sebagai . tekanan hanya beberapa mmHg. piring kartilago. Sebaliknya. Osmosis dipertahankan melawan tekanan beban sepanjang ia berada dalam keseimbangan dengan tekanan osmotik. Jaringan pinggir diskus intervertebral berperan sebagai membran semi-permeabel.000 kp.polimerisasi kolagen dipacu oleh kolagenase. Interior dari diskus intervertebral. Absorpsi cairan hanya didapat dengan osmosis. Kerjanya sebagai katalis pada metabolisme jaringan. Ini dipertahankan oleh mukopolisakarida intradiskal yang memiliki absorbabilitas air yang tinggi dan yang tidak hanya dapat menahan cairan namun juga mengabsorpsinya melawan keadaan tekanan pada diskus intervertebral. Dengan interloking molekul. Sebaliknya dari yang dianggap sebelumnya. dan juga cancellous bone ruas tulang belakang. Akibatnya permeabilitas berbeda pada daerah yang berbeda. metabolisme pada diskus-diskus intervertebral secara keseluruhan adalah proses yang cepat dengan adanya aktifitas enzim serta waktu paruh yang pendek. Maroudas (1975) dan Urban (1976) membuktikan bahwa glukosa lebih mungkin menembus end-plates dan sulfat pada anulus fibrosus. Piring kartilago dan anulus fibrosus membentuk sawar permeabilitas yang memisahkan dua kompartemen jaringan.

tambahan, tekanan hidrostatik dari diskus intervertebral sendiri. Dengan kata lain, tekanan ini memungkinkan pembesaran merata dengan pengambilan air dengan cara melawan tekanan balik. Derajat pembesaran diskus intervertebral dapat dinilai secara percobaan. Diskus intervertebral yang ditekan, membesar ketika tekanan dihilangkan. Tingkat dan kekuatan yang memungkinkan terjadinya perluasan, ditentukan oleh elastisitas dan absorbabilitas diskus intervertebral. Pada orang muda diskus intervertebral meluas lebih cepat dan lebih kuat dibanding orang tua. Tekanan osmotik koloid dan tekanan hidro-statik bersama membentuk tekanan onkotik. Berbeda dengan jaringan disekitarnya, diskus intervertebral mempunyai tekanan hidrostatik dan onkotik yang tinggi. Mereka berlawanan satu sama lain dengan mempengaruhi, secara bertolak belakang, absorpsi dan transudasi cairan. Berdasar perbedaan konsentrasi dan tekanan pada daerah tepi diskus, terdapat keadaan berikut: Tekanan hidrostatik ekstradiskal + Tekanan onkotik intradiskal ?-------------? Tek. hidrostatik intradiskal + Tekanan onkotik ekstradiskal

Terdapat efek berlawanan lain pada tekanan jaringan diluar diskus intervertebral, dan tenaga absorptif sepihak adalah berlawanan terhadap tekanan jaringan didalam diskus intervertebral dan tenaga absorptif jaringan sekitar diskus intervertebral. Yang manapun lebih utama, keseimbangan cairan menjadi terganggu. Perubahan yang sinambung pada tekanan hidrostatik dan onkotik adalah paling penting dalam nutrisi jaringan diskus intervertebral dan untuk fungsi segmen bergerak. Tekanan osmotik didalam diskus intervertebral berubah oleh faktor biomekanik dan biokimia. Terdapat perubahan biomekanik temporer pada sistem intradiskal sekunder terhadap peninggian atau penurunan tekanan hidrostatik. Tekanan yang timbul pada pembebanan diskus inter-vertebral disebut tekanan intradiskal. Ia beragam tergantung perubahan postur tubuh. Hubungan ini lebih jelas pada diskus intervertebral dari-pada semua jaringan lain, dan lebih jauh lagi tidak ada jaringan lain yang mempunyai tekanan setinggi diskus intervertebral. Nachemson (1966) mendemonstrasikan hubungan antara postur tubuh dan tekanan intradiskal dengan pencatatan intravital. Tekanan didapat pada pembebanan diskus intervertebral lumbar bawah dimana pada posisi berbaring 15-25 kp, duduk 150 kp, berdiri tegak 100 kp. Peninggian beberapa ratus kp. didapat bila membungkuk

kedepan, mengangkat dan memanggul. Penelitian memakai teknik pewarna dan penggunaan substansi radioaktif, memperlihatkan bahwa pada 80 kp terjadi ekstravasasi cairan, sedang dibawah 80 kp terjadi absorpsi. Transport cairan terbalik terjadi antara 70-80 kp. Arah transport cairan pada dinding diskus intervertebral sebanding dengan perubahan tekanan bila tekanan onkotik konstan. Dengan kata lain, bila beban berat seperti duduk, mengangkat dan memanggul, ekstravasasi dipercepat, sedang pada traksi dengan tekanan diskus intervertebral negatif, absorpsi yang dipercepat. Pada keadaan fisiologik, suatu perubahan transport cairan berhubungan dengan tekanan yang terjadi pada perbatasan yang ditentukan oleh absorpsi cairan dimana dilusi solusi makromolekul terjadi. Absorbabilitas diskus intervertebral akan berkurang. Sebaliknya, pembalikan terjadi dimana diskus intervertebral hanya dapat ditekan sampai derajat tertentu saja setelah pembebanan. Sekunder terhadapnya, pengeluaran air menyebabkan konsentrasi solusi molekul makro bertambah dan akibatnya absorbabilitas bertambah. Beban tak setangkup pada diskus intervertebral menyebabkan gangguan transport cairan intradiskal. Air dan larutan menjadi keluar dari zona dengan beban lebih besar ke yang lebih kecil. Pada pengukuran tekanan intradiskal didapat bahwa semua gerakan menekuk pada tubuh berakibat perubahan beban total. Pergerakan badan menyebabkan transport cairan antara diskus intervertebral dan eksteriornya seperti halnya didalam diskus intervertebral sendiri. Transport cairan yang bergantung beban pada diskus intervertebral manusia dapat dibandingkan dengan pompa, yang fungsinya mengangkut air dan metabolit ke dan dari tepi diskus intervertebral. Jadi nutrisi sel diskus intervertebral lebih baik serta pembuangan metabolit dipermudah. Semua perubahan posisi tulang belakang berkaitan dengan perubahan tekanan intradiskal dan berakibat percepatan maupun perlambatan transport cairan, dengan atau tanpa perubahan arah. Perubahan reguler antara posisi horizontal dan vertikal memperbaiki transport cairan dan larutan. Mempertahankan keadaan pada satu posisi berakibat berhentinya transport cairan yang bergantung beban, dan karenanya merugikan metabolisme diskus intervertebral. Ini terutama jelas pada postur tubuh dengan tekanan intra diskal yang dipertahankan secara terus-menerus pada tingkat tekanan yanyang tinggi.

2. Biomekanik Tulang Belakang Lumbar a. Beban dari Diskus Intervertebral Lumbar

Ada beberapa faktor biomekanik yang khas untuk tulang belakang lumbar yang membuatnya lebih terancam dan karenanya lebih mudah terkena kelainan diskus intervertebral. Posisi tegak berakibat bagian yang lebih rendah pada tulang belakang menerima beban berat. Pada daerah ini berat badan disalurkan pada area kecil sekitar beberapa sentimeter. Beban ini akan meningkat bila badan ditekuk menjauhi garis tengah. Tahun 1964 Nachemson serta Morris melakukan pengukuran tekanan intradiskal pertama dan penelitian ini dilakukan in vivo pada diskus intervertebral lumbar ketiga, pada manusia dengan postur tubuh yang berbeda. Caranya dengan memasukkan jarum kerongga intradiskal. Jarum diselaputi oleh membran poli-etilen sensitif tekanan. Pencatatan dilakukan dengan manometer. Pada posisi terlentang , tekanan pada diskus intervertebral lumbar sebelah bawah adalah 15 kp. Berbaring miring dengan sedikit tertekuk kebelakang menyebabkan peninggian tekanan lebih dari dua kali. Tekanan meninggi hingga lebih dari 100 kp. saat berdiri, serta pada tekukan kedepan meningkat hingga 140 kp. Tekukan kedepan dengan beban 20 kp. pada lengan menyebabkan peninggian tekanan hingga 200 kp. Duduk dengan punggung tegak menyebabkan tekanan lebih tinggi 140 kp. bila dibanding saat berdiri. Peningkatan selanjutnya terjadi bila tubuh ditekuk kedepan dan terutama bila secara bersamaan diberi beban. Tekanan pada permukaan diskus intervertebral adalah 10 hingga 60 kp/cm2. Okushima (1970) memperbaiki pencatatan pengukuran yang telah dilakukan Nachemson dan Morris (1964). Penelitian lebih lanjut atas tekanan diskus intervertebral dilakukan dengan menghubungkannya dengan penelitian miografi-elektro (Nachemson dan Morris 1964, Nachemson 1965, 1966, 1969, 1974, 1976, Anderson 1974, 1976). Batuk, tertawa, dan peninggian tekanan intraabdominal berakibat peninggian tekanan diskus intervertebral lumbar sekitar 50 kp. Tekanan akan menurun dengan mendudukkan pasien bersandar kebelakang. Duduk santai, tekanan menurun hingga 80 kp. (Nachemson 1984). Kerja otot dan beban pada diskus intervertebral bertambah bila mengangkat dan menarik, yang berhubungan dengan jarak antara beban dan aksis badan. Hasil percobaan ini sesuai dengan perhitungan matematik yang sebelumnya diperkenalkan Matthiass (1956). Menurut Schulter (1965), tekanan dan regangan terbesar ditemukan pada pusat diskus inter-vertebral. Karenanya tenaga robek terbesar terpusat didaerah ini. Mengingat tekanan yang besar, yang berlaku pada diskus intervertebral manusia dalam waktu yang lama, tak mengherankan bahwa perubahan degeneratif berkembang pada jaringan dengan nutrisi yang buruk. Sudah dipastikan bahwa tekanan tinggi penting dalam perkembangan dini degenerasi diskus intervertebral. Rosemeyer (1977) mendemonstrasikan terutama bahwa

diskus intervertebral lombosakral adalah penanggung regangan yang besar. Dalam berbagai posisi tubuh, sebagai pusat dari tahanan yang lemah, daerah ini menanggung 70 % dari fleksi-ekstensi lumbar secara keseluruhan. Ketika duduk dengan tubuh sedikit condong kebelakang atau bersandar kedepan, tekanan intradiskal meninggi saat pusat beban tidak pada pusat diskus intervertebral namun bergeser keanterior seperti pada posisi lordotik. Bagian posterior anulus fibrosus serta ligamen posterior antara arkus akan berada dalam tegangan. Segmen sentral diskus intervertebral yang mobil akan bergerak kearah bagian posterior diskus intervertebral yang kurang tertekan. Dengan kontraksi otot abdominal, memungkinkan untuk menyalurkan bagian dari berat tubuh atas ke daerah pelvis. Tekanan intraabdominal dapat mencapai 140 mm Hg. (Bartelink 1957, Eie 1962). Dengan kontraksi diafragma dan otot abdominal, rongga abdominal berubah menjadi silinder yang dapat menanggung beban berat, dan menurut Finneson (1973), beban diskus intervertebral lumbar dapat dikurangi 30 % dengan menggunakan otot abdominal. b. Hubungan Antara Beban dan Tinggi Perubahan tekanan pada diskus intervertebral yang relatif besar akan mempengaruhi perpindahan cairan pada diskus intervertebral. Diperlihatkan pada percobaan bahwa diskus intervertebral lumbar menjadi celah sangat tipis setelah diberi beban 200 kp. selama 12 jam. Bila tekanan dihilangkan, diskus intervertebral kembali pada ketinggian normalnya (Kramer 1973). Pada sendi intervertebral normal secara in vivo, perubahan tinggi diskus intervertebral lumbar sangat kecil, akan tetapi tetap dapat diukur. Sendi intervertebral, yang tidak seluruhnya vertikal, dan kapsul yang kuat mencegah pengurangan tinggi lebih lanjut. Pertambahan tinggi diskus intervertebral dengan mengurangi tekanan intradiskal dapat digunakan untuk perawatan. Pada traksi terjadi pelebaran jarak diskus sekitar 1.1 mm. Perubahan tinggi berkurang dengan bertambahnya usia. Walau dalam peran kecil, ketebalan penting karena ia akan merubah pola gejala dimana ada kaitan yang erat antara tinggi dan protrusi diskus intervertebral yang akan merangsang radik saraf. c. Sendi dan Foramina Intervertebral Permukaan sendi intervertebral terletak pada bidang sagital dan karenanya memungkinkan fleksi dan ekstensi, namun juga sedikit gerak kesamping. Rotasi juga mungkin, namun terbatas. Ada perbedaan perorangan dalam pergerakan tulang belakang lumbar dan segmen-segmennya. Latihan berperan penting, dan fleksi yang dijumpai

Jelas ini penting secara klinis karena sangat dekat dengan saraf yang peka. Posisi yang dicoba adalah sesuai dengan gerak fisiologis. serta karena struktur saraf yang sangat peka. Pada pengurangan tinggi diskus intervertebral dan juga pada hiper-lordosis. Pada percobaan biomekanik oleh Kramer didapatkan walau terjadi pemendekan diskus intervertebral lumbar atau adanya distraksi hebat. dan nyata pada faset sendi yang terletak pada dataran koronal. Karenanya penderita dengan protrusi lateral diskus umumnya bersandar kedepan serta kearah sisi yang sehat dalam usaha menghilangkan tekanan terhadap radik saraf. Jarak jaringan ikat yang sangat dekat. permukaanpermukaan tertekan secara bersamaan pada gerakan yang ekstrem. terutama jelas pada daerah lumbar yang diperkirakan karena tenaga mekanik yang terjadi pada daerah ini. Pada daerah lumbar. rongga akan mengecil serta merugikan radik saraf. Patologi Pendapat secara umum sudah dikemukakan atas perubahan morfologik dan biomekanik yang dapat terjadi pada degenerasi diskus intervertebral. Dengan beban mekanik berat. pada protrusi diskus intervertebral atau adanya reaksi osteofit dari faset sendi. Lebar foramina intervertebral lumbar berubah sesuai dengan gerakan tulang belakang lumbar. Tidak diragukan lagi bahwa pada fase tertentu dari . membuat foramina intervertebral lumbar bawah diperkirakan sebagai pusat penyakit diskus intervertebral. permukaan artikular bergerak secara teleskopik. Akibat inklinasi ringan. F. mengurangi rongga intraforaminal dengan seperlimanya. foramina menjadi sempit pada sisi cekung dan melebar pada sisi cembung. terjadi fraktura ruas tulang belakang lebih dahulu dibanding kerusakan diskus intervertebral atau sendi intervertebral. tidak terjadi dislokasi. Tekukan kesamping. Pada peradangan dengan pembengkakan jaringan perineural. Pada perubahan tinggi intervertebral juga terjadi perubahan pada faset sendi. sedang inklinasi keposterior menyebabkan penyempitan foramina. ini jelas tampak setelah pembebanan lama atau relaksasi. Pembukaan faset sendi terjadi kearah superior pada bagian luar dan kearah inferior pada bagian medial (Kramer 1973). Foramina intervertebral menyempit bila tinggi diskus intervertebral berkurang. yang terjadi selama pembebanan sehari-hari. Pergerakan seperti ekstensi dan tekukan kesatu sisi akan mempersempit rongga intervertebral untuk saraf spinal pada sisi tersebut. Radik-radik berjalan melalui bagian atas foramen intervertebral dan mengisi sekitar 1/4 dari total lumen.terutama pada akrobatis adalah sangat luas. Penurunan jarak intervertebral. yang mengalami perubahan terus menerus. Bersandar kedepan berakibat pelebaran. subluksasi atau interloking.

Umum Kelainan diskus intervertebral adalah 'ongkos' yang harus kita bayar atas postur berdiri tegak yang kita miliki (Reischauer 1949). Dengan posisi berdiri. Setelah usia 30 tahun tak satupun tulang belakang manusia yang tidak mengalami perubahan degenerasi (Schmorl dan Junghanns. 1. Sejak pertama postur berdiri berlaku. 1968). Karenanya degenerasi telah tampak pada masa bayi dan kelainan diskus telah tampak pada semua bagian tulang belakang pada masa pubertas dan bahkan sebelumnya (Tondury.degenerasi diskus intervertebral terdapat hubungan dengan gejala yang mungkin memberat. Pada tulang belakang lumbar sudah dipastikan bahwa kelainan degeneratif berat tidak harus disertai dengan gejala klinis. . Catu nutrisi yang teratur untuk sel diskus intervertebral untuk beberapa dekade tidak dijamin oleh mekanisme transport cairan baik secara aktif maupun pasif. Nutrisi fibroblas dan sel kartilago menjadi berkurang. Tekanan arteriolar dan venular lebih rendah dari tekanan hidrostatik sehingga pembuluh darah akan terbendung dan tidak akan mencapai diskus inter-vertebral. Contohnya antara lain tortikolis akut pada anak-anak adalah primer karena perubahan involusional pada diskus intervertebral. penghilangan beban dan pola gerakan yang normal. Berbeda dengan ruas tulang belakang dengan pembuluh darahnya yang terlindung didalam trabekuli. Pembuluh darah akan kolaps dan menjadi atrofi. Degenerasi diskus intervertebral adalah suatu proses yang sangat kompleks yang hingga saat ini sangat sedikit dimengerti. Metabolisme akan melewati jalur yang panjang melalui jaringan yang pada bagian tepinya masih memiliki vaskularisasi yang normal. Diskus intervertebral merupakan struktur nonvaskular tubuh yang terluas. diskus intervertebral merupakan subjek faktor biomekanik yang tidak menguntungkan yang menentang kebutuhan regenerasi normal yang sinambung yang berdasarkan sirkulasi yang memadai. Pembatasan pergerakan serta fiksasi kaku pada posisi yang tidak baik selanjutnya merubah transport cairan dalam diskus intervertebral. Proses ini dimulai sejak awal kehidupan dan terus berlangsung sepanjang hidup. Kesulitan dalam mengadaptasi hal ini akan berakibat memburuknya kualitas diskus intervertebral yang akan berakhir dengan degenerasi. Faktor lain adalah cedera sederhana. Semula diskus intervertebral tidak memiliki jaringan bradytropic. akan terjadi perubahan yang mendasar pada keadaan biomekanik. Hanya saat awal masa bayi metabolisme terjadi melalui pembuluh diskus disaat belum ada beban yang ditanggung tubuh. 1968). tekanan langsung dari beban tubuh dan tonus otot akan bekerja pada pembuluh darah diskus yang terletak pada substansi seperti gelatin yang homogen.

Harris dan MacNab (1954) menemukan pada nukleus pulposus orang dewasa adanya inti sel dengan granul kasar piknotik. robekan dan juga perlunakan jaringan diskus intervertebral disebut khondrosis oleh Schmorl dan Junghanns (1968). batas fibril lamella yang lebih tajam dan mengaburnya batas anular dan nukleus. Dengan mikroskop elektron Dahmen (1966) menemukan fibril yang tidak normal dan irregular dalam ketebalan dan striasi yang beragam. Akhirnya faktor genetik berpengaruh pada perkembangan degenerasi diskus intervertebral yaitu dalam merancang serabut kolagen anulus fibrosus (Wilson. Pasien lebih muda dapat mengambil sekitar 0. namun juga struktur anatomis. .strain temporer dan posisi istirahat yang tidak benar. dianjurkan pemakaian istilah yang lebih tepat yakni diskosis.5-1. Kuhlendahl dan Richter (1952) menemukan degenerasi lemak pada diskus orang dewasa baik pada substansi dasar maupun pada anulus fibrosus. Idelberger (1977) menemukan bahwa faktor konstitusi berperan penting pada degenerasi diskus intervertebral. Pasien lebih tua dengan diskus yang ruptur dapat menerima 5 cm3 cairan tanpa terjadinya cedera maupun refluks cairan yang disuntikkan. Tidak hanya perubahan komposisi kimia.0 cm3. Alasan terbentuknya tidak diketahui. Degenerasi diskus intervertebral akan mengenai semua jenis manusia berdasar konstitusi kerangka tubuh secara ekual. Lang (1962) dan Dahmen (1966) mendapatkan perubahan degeneratif pada orang pada dekade ketiga berupa atrofi sel. karenanya fibril dan substansi dasar yang dihasilkannya akan bermutu buruk dan pada akhirnya akan mengalami degenerasi lengkap. Pada usia 25 hingga 40 tahun tampak perubahan degeneratif seperti dehidrasi. namun semua komponen diskus intervertebral yang menjadi tempat terjadinya degenerasi. Bendungan. 1968). Diskus intervertebral yang lebih berdegenerasi lebih banyak dapat menerima cairan. Fibroblas tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Kantung udara terbentuk pada sista dan mudah tampak pada radiografi. jaringan diskus intervertebral menunjukkan ruptur konsentrik serta fissura radial akibat beban. Keseluruhan proses terjadi terbatas pada diskus intervertebral. 1958). Pulp menjadi lebih sistik dan terjadi hubungan antara fissura dan anulus fibrosus. Metabolisme diskus memburuk sejak tahun pertama kehidupan. Tanda lain degenerasi diskus intervertebral adalah perubahan warna yaitu karena terjadinya hubungan antara ruptur dan fissura dengan lubang pada dataran akhir tulang rawan yang dipenetrasi pembuluh darah dari cancellous bone hingga terjadi perubahan warna lamella menjadi kuning kecoklatan (GUntz. Karena tidak hanya tulang rawan. Sista dan fissura mudah diperlihatkan dengan diskografi dengan menyuntikkan media kontras. degenerasi serabut anulus dan disintergrasi substansi dasar. Dalam perjalanan berikutnya.

Secara bersamaan terbentuk spur kecil dibagian posterior. Pada daerah ini reaksi osseus timbul dan meluas keligamen. Fissura dan ruptur piring tulang rawan memudahkan penetrasi pembuluh darah dan jaringan ikat dari badan ruas tulang belakang kediskus inter-vertebral. Walau tampilan perubahan osseus hebat.karenanya sulit tampak pada radiografi. Schmorl menganjurkan istilah osteokhondrosis. Robekan memungkinkan pergeseran intradiskal sepanjang tenaga ekspansif nukleus tetap ada. Karenanya istilah prolaps diskus lebih tepat dari pada prolaps nukleus. secara mengherankan gejalanya biasa ringan. Spur spondilotik terjadi mula-mula pada arah horizontal namun kemudian dalam arah longitudinal mengikuti ligamen longitudinal. bagian tersebut akan bergeser dan dapat bermigrasi bebas dan disebut sekuestra. Kadang-kadang terjadi degenerasi sistik pada badan ruas tulang belakang seperti pada osteoarthrosis. Namun pemendekan rongga diskus intervertebral pada radiograf serta deviasi aksial akibat perubahan postur dapat diperlihatkan. Sangat jarang prolaps hanya mengandung material pulp. Berbeda dengan pada spondilitis. Pembuluh darah menyebar pada diskus intervertebral dan sel longgar serta jaringan parut vaskular akan mengisi . Dataran akhir ruas tulang belakang menjadi sklerotik dengan batas yang kabur. usaha untuk melakukan reparasi bergantung pada ruas tulang belakang berdekatan. berakibat tiadanya proses reparasi. Dengan perlunakan dan fragmentasi lebih lanjut. terjadi peninggian beban pada sendi ruas tulang belakang serta penyempitan foramina intervertebral. Pertumbuhan spur oseus dapat meluas dan terjadi spondilosis hiperostotik menyeluruh yang disebut spondilosis hiperostotika. Perlunakan diskus serta hilangnya turgor berakibat bertambahnya kehilangan serta fragmentasi diskus intervertebral. Bila keadaan menjadi kronik. Osteokhondrosis terjadi terutama pada tulang belakang leher sebelah bawah dan lumbar karena pengaruh yang besar dari faktor biomekanik. Bila ruas tulang belakang terserang dan perubahan degeneratif juga tampak pada tulang. Bagian nukleus pulposus dan fragmen diskus intervertebral bermigrasi dibawah beban berat pada jalur yang terkecil tahanannya dan karenanya mengalami penetrasi kejaringan dan menonjol kebelakang sebagai prolaps diskus intervertebral. Akibat kolapsnya diskus intervertebral. Akibat hilangnya sirkulasi pada diskus intervertebral. reaksi pada diskus intervertebral lebih penting. Ini umumnya terjadi pada ligamen longitudinal anterior yang menjembatani diskus dengan diskus dan melekat melalui serabut Sharpey pada badan ruas tulang belakang. Secara klinik. Ini akan menyebabkan terpisahnya jaringan diskus intervertebral dari ligamen intervertebral. sering disertai juga jaringan fibrosa dan tulang rawan. sklerosis pada osteokhondrosis hanya terbatas pada dataran akhir ruas tulang belakang.

terjadi pengurangan kandung air dengan akibat perubahan pada komposisi kimia. dengan kata lain tidak lebih dari proses fisiologik. Magnesium berkurang hingga usia 70 tahun dan selanjutnya bertambah lagi secara perlahan. nutrisi diskus intervertebral memburuk karena air tidak hanya penting untuk lingkungan makromolekul. Peningkatan bendungan dan robekan diskus intervertebral adalah perubahan degeneratif sejati. Pembatasan pergerakan tulang belakang akibat kelainan diskus intervertebral dapat bertambah. Dengan pertambahan usia. Secara klinis. Paralel dengan peningkatan nitrogen. kemudian akan menetap. Selama tahun pertama kehidupan nukleus pulposus mengandung lebih banyak air dibanding anulus fibrosus. Sulfur berkurang dan Nitrogen bertambah. Yang terpenting dalam metabolisme dan biomekanik diskus intervertebral adalah perubahan pada kolagen serta mukopolisakharida. 1958). ruptur yang terjadi cepat. namun lebih sebagai proses biologik dengan kemungkinan terjadinya gangguan sepanjang hidup. matriks organik diskus intervertebral juga berubah. Ini paling jelas pada tulang belakang leher dan lumbar. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi perubahan. Kandung kolagen meningkat hingga usia 20 tahun. Mukopolisakharida berubah baik dalam kualitatif maupun kuantitatifnya dengan .rongga tersebut (Tondury. Kalsium menjadi dua kali lipat selama siklus hidup. Schmorl dan Junghanns (1968) meyakini ketergantungan terhadap usia. Tondury (1973) menjelaskan lingkar hidup diskus intervertebral. menjadi jelas hanya bila terjadi perubahan pada pembuluh darah dan saraf yang berdekatan. Pita fibrosa kuat dan telah mengalami dehidrasi serta lipping osseus menyangga rongga diskus intervertebral hingga pembuluh darah yang menginvasi jaringan tidak tertekan oleh tekanan beban. Dengan berkurangnya cairan. perlunakan jaringan serta pergeserannya. terjadi pula peningkatan protein nonkolagen. namun ajaib tidak banyak orang yang mengajukan keluhan. potasium berkurang karena berkurangnya jumlah sel. pada usia 12 turun menjadi 83% dan 70 % pada usia 72 (Keyes dan Compere 1932). Seperti telah dijelaskan. namun juga sebagai medium transport berbagai substansi pada berbagai proses metabolik. Karenanya biomekanik segmen bergerak juga berubah. GUntz (1958) menjelaskan tentang penyembuhan dengan jaringan parut pada diskus inter-vertebral yang rusak. Pemendekan tinggi dan fiksasi segmen tidak sering bersamaan dengan nyeri walau ada penyempitan foramina. tanda khas perubahan diskus intervertebral adalah pengurangan kandung air. Ini terutama pada keadaan yang telah berlangsung puluhan tahun demana radik saraf dan pembuluh darah telah beradaptasi. Karenanya terjadi ankilosis fibrosa dan bahkan osseus dengan inaktivasi segmen. Bersamaan dengan perubahan morfologik pada diskus intervertebral. Pada neonatus diskus intervertebral mengandung 88% air. Perubahan pada diskus intervertebral tidak dianggap sebagai penyakit.

namun pada tegangan yang tinggi. Ekstenuasi diskus intervertebral dalam tingkatnya yang terbesar. penambahan homogenisasi nukleus pulposus. serabut akan putus. efeknya akan seperti memecahkan gelas. Dalam hubungan dengan peningkatan tekanan intradiskal maka orang dewasa muda memiliki risiko akan perubahan kemampuan biokimia yang akan menyebabkan pergeseran jaringan diskus intervertebral. robekan tampak pada anulus fibrosus diawal usia dewasa. Karenanya tujuan terapi dengan mempercepat depolimerisasi misalnya dengan injeksi substansi sesuai. menyebabkan khemo- . Pengukuran tekanan pada usia berbeda menunjukkan kembalinya diskus intervertebral yang dikompresi keukuran normal lebih nyata pada usia muda. Walau demikian frekuensi protrusi dan prolaps berkurang. Bila volume intradiskal ditingkatkan dan dijadikan subjek strain mendadak. yang telah dibebani sebelumnya. Jadi adalah kerusakan keseimbangan jaringan diskus intervertebral. protrusi dan prolaps. lebih banyak akumulasi cairan pada diskus intervertebral. ditahan oleh tahanan anulus fibrosus yang telah berdegenerasi. Ia juga menganggap bahwa katepsin D mungkin merupakan enzim yang berperan dalam degenerasi diskus intervertebral. Depolimerisasi makromolekul menghasilkan produk sisa yang terkadang meningkatkan tekanan onkotik dengan bertambahnya partikel total. Terjadi pergeseran. Menurut Naylor (1971). oleh pengeringan diskus intervertebral. Penurunan juga akan terjadi pada berat molekulnya. Karenanya tekanan onkotik menurun dengan pertambahan usia. Tanda khas adalah penurunan mukopolisakharida.pertambahan usia. dan terbentuk konsistensi yang padat tak elastik. Tenaga ekspansif nukleus pulposus berkurang dan akibatnya terjadi pengurangan kecenderungan untuk bergeser. mencapai tingkat dimana terjadi ruptura dan fissura. Beban tambahan akan menyebabkan lesi irreversibel (histeresis). Dengan penambahan molekul. Akibatnya anulus fibrosus bertambah isinya dan tetap tenang bila tanpa beban. peninggian hialu-ronidase bertanggung jawab untuk separasi makromolekul. disrupsi nuklir dan fissura lamellar. Tetap tidak diketahui berapa lama depolimerisasi makro-molekular berlanjut dengan tekanan intra-diskal meninggi dan apa yang mengendalikannya. Antara usia 25 dan 30 bagian sentral diskus intervertebral yang menjadi lebih meluas akibat bertambahnya tekanan. Pada tes kompresi (Virgin 1951) dan diagram tekanan (Hartmann 1970) memperlihatkan bahwa over-ekstenuasi serabut anular. Ternyata secara mengejutkan nilai yang tinggi terjadi pada usia 30 hingga 50. Setelah usia ini menurun secara jelas (Kramer 1973). Kebanyakan penelitian pato-anatomi memperlihatkan bahwa fissura dan robekan bertambah dengan bertambahnya usia. antara usia 30 hingga 35 tahun frekuensinya meningkat dimana terjadi pembengkakan substansi dasar. Menurut Kuhlendahl dan Richter (1952).

Terdapat hubungan langsung antara tinggi badan dan volume diskus intervertebral. pergerakan akibat berat tubuh tidak lagi cukup mengatur dan tidak juga terbagi merata sepanjang cincin serabut. Keseimbangan osmotik terganggu. Diskus intervertebral yang menjadi tidak elastik serta robek. Bila tidak disertai pembentukan makromolekul didalam diskus intervertebral. Bila tekanan onkotik berkurang.nukleolisis. Degradasi enzimatik akan menyebabkan terbentuknya molekul bermolekul lebih kecil yaitu menjadi sekitar 400. Diduga bahwa penambahan beban berat badan dengan adanya tenaga kompresif dan shear merupakan satu-satunya penyebab prolaps diskus intervertebral. terjadi perubahan tegangan serabut anulus fibrosus. Penghambatan efek hialuronidase didapat dengan pemakaian inhibitor hialuronidase.2 persen. Ini terutama karena peninggian tekanan intradiskal dan pengaruh tekanan kompresi dan shear. sendi ruas tulang belakang dan ligamen. . faktor biomekanik turut berperan dalam perkembangan prolaps karena perlunakan dan penjarangan struktur diskus intervertebral dengan pembentukan fragmen yang akan bergerak kearah tahanan terendah yaitu menuju konveksitas. tekanan onkotik akan berkurang seperti halnya pada pertambahan usia. Semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral dihilangkan oleh adanya fissura hingga air. penurunan relatif tekanan hidrostatik dapat menyebabkan pengeluaran air. Hal serupa juga terjadi pada lesi diskus intervertebral dan setelah diskotomi. selanjutnya ini merupakan syarat tidak langsung untuk terjadinya rasa tidak enak pinggang. Pada remaja perbedaan tinggi badan antara pagi dan malam adalah dua persen dan pada dewasa 0. Yang pertama terserang adalah serabut kecil yang berjalan antara lamella sehingga tidak terjadi pergeseran. Bila terjadi perubahan volume. zat-zat yang terlarut serta juga makromolekul dapat berpermiasi dibawah tekanan yang rendah. dan tinggi diskus akan semakin berkurang. Pergeseran ini dapat menambah protrusi dan prolaps. kehilangan sifat bumpernya dan tidak lagi bekerja sebagai semijoint pada segmen bergerak. Komponen segmen lain. Absorpsi air akan berkurang dan tinggi diskus inter-vertebral berkurang. Tenaga luar hanya merupakan efek presipitasi yang oleh Schmorl dan Junghanns (1968) disebut impuls tambahan. Namun mustahil untuk membuktikannya secara satu persatu. Ini mengganggu semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral. Ini akan menjadi kendur bila lebih banyak air dikeluarkan. kehilangan fungsi normalnya. Penetralan hasil intermediet depolimerisasi dicapai dengan penurunan tekanan. Bila derajat ekstenuasi berkurang. Alasan lain pada pengeringan diskus intervertebral adalah ruptur pada anulus fibrosus. Serabut melunak. Disamping kombinasi penambahan tekanan dan pengurangan tahanan anulus fibrosus. Keragaman sehari-hari tinggi badan akan relatif berkurang.

Dengan penggunaan yang tak teratur diskus intervertebral. Kelainan juga terjadi setelah pertumbuhan berakhir. yang memberikan tekanan pada bagian konkav diskus intervertebral tulang belakang yang mengalami deformitas. Difusi menjadi berkepanjangan dan sirkulus visiosus terus berlangsung dengan berlanjutnya pengeringan serta perlunakan. Pembebanan tidak setangkup yang bersinambung berakibat perubahan metabolik pada bagian konkav diskus intervertebral. Terjadi segmen tulang belakang fibrosa yang kaku pada puncak kifosis (kifosis remaja) dan pada skoliosis. adalah sangat besar sehingga cairan serta hasil metabolisme tidak dialirkan pada daerah ini. pertumbuhan apposisional interstitial pada bayi akan terganggu dan diskus intervertebral mengalami deformasi serta menjadi konkav. Perubahan prediskotik adalah kelainan postur yang berakibat pembebanan yang tak setangkup pada satu atau lebih diskus intervertebral. Sehubungan dengan perubahan sendi prearthrotik. sering tampak pada remaja dengan pembentukan lengkung pada tulang belakangnya. Gejala jarang timbul dari bagian kaku tulang . Tonus otot batang tubuh yang kendur. Beban total yang dalam keadaan normal didistribusikan pada seluruh diskus menjadi terpusat pada daerah ini. Sebagai patokan. Kompresi yang bersinambung dan gangguan nutrisi pada fibroblas berakibat diskosis prematur. Metabolisme seluler menjadi terganggu. diskus intervertebral akanmenjadi robek dan rapuh. semua diskus menjadi subjek degenerasi progresif ini. Pertanda ini disebut perubahan prediskotik. Analisis objektif menunjukkan penyempitan diskus intervertebral. Percobaan hewan menunjukkan kelainan degeneratif umumnya terjadi pada bagian yang lebih tertekan (Exner 1954). Perubahan prediskotik ini lebih berpotensi untuk menimbulkan penyakit dibanding prearthrotiknya sendiri. dan terjadi pergeseran jaringan diskus intervertebral. Pada skoliosis terjadi perubahan dini anular pada daerah konkav akibat peninggian tekanan.Bila pengeringan berjalan terus. Terjadi perubahan yang khas pada diskus intervertebral yang menjadi subjek beban yang tak setangkup. terjadi kelainan fungsional pada sistem lokomotor yang memacu terjadinya degenerasi diskus intervertebral (diskosis). spondilosis dan sklerosis dataran akhir ruas tulang belakang didaerah yang terkena. penuaan jaringan dan impaksi menunjukkan perjalanan yang cepat bila beban berkelanjutan hingga akhirnya terjadi ankilosis. Deformitas dapat terjadi pada tulang belakang atau sekitarnya. Akhirnya tinggi diskus menjadi lebih pendek. Bagian anulus fibrosus yang tergantung baik dan dataran kartilago tidak dapat meneruskan tekanan ini. Pengeringan. Nukleus pulposus dan bagian bergerak dari anulus fibrosus tergeser kedaerah yang kurang terbebani. namun perubahan utama terjadi terutama pada tulang belakang leher dan lumbar.

belakang. Terjadinya hiperlordosis kompensatori didaerah lumbar bawah berakibat diskus intervertebral lumbosakral menjadi subjek tenaga kompresif dan shear. Ini sangat sering tampak bersamaan dengan kontraktur fleksi pada kelainan sendi panggul. Kelainan kongenital daerah lumbosakral menyebabkan pembebanan tak setangkup pada diskus intervertebral lumbar. Peningkatan atau menetapnya kurva fisiologik setelah pertumbuhan menyebabkan pertambahan beban pada baik bagian diskus intervertebral anterior maupun posterior. postur yang tidak benar dan obesitas menyebabkan tekukan panggul dan penambahan lordosis lumbar dengan peregangan berlebihan dan gangguan nutrisi bagian posterior diskus intervertebral lumbar. lebih sering dari bagian yang bergerak. Perubahan keseimbangan lokomotor menyebabkan deformitas tulang belakang pada dataran frontal. Secara keseluruhan statika dari tulang belakang lumbar menjadi terganggu oleh adanya hiperlordosis dan lesi timbul pada diskus intervertebral lumbosakral dan sendi ruas tulang belakang. Perbedaan tinggi diskus intervertebral pada arah antero-posterior adalah fisiologik pada kurva sagital tulang belakang normal. Spondilosis dan spondilolistesis merupakan dasar perubahan prediskotik. Ini merupakan subjek terhadap strain dan stres yang lebih besar yang menyebabkan penjarangan struktur serta pergeseran jaringan. Kelainan tak setangkup bisa disaksikan baik pada dataran sagital maupun frontal. Dengan penjarangan dan pergeseran tulang belakang. Diskus intervertebral mempunyai kemampuan mengatur dirinya saat pertumbuhan dataran akhir ruas tulang belakang. Brocher (1973) menemukan penyempitan diskus intervertebral lumbosakral pada gangguan pertumbuhan juvenil baik pada toraks maupun lumbar. Max Lange (1965) menduga bahwa lumbalisasi dan sakralisasi menyebabkan prolaps diskus inter-vertebral hingga dua kali lebih sering dibanding tulang belakang normal. timbul skoliosis akibat fiksasi fibrosa diskus intervertebral. Terjadi bendungan dan robekan prematur.70 persen manusia (Taillard 1964). Bagian superior tulang belakang lumbar lebih sering menunjukkan kifosis. Terjadi perubahan prediskotik. Pembebanan batang tubuh anterior yang berkelanjutan seperti pada kehamilan. dan berakibat diskosis prematur. Kelainan kongenital . Sering disertai deformitas statik. Pada penderita kifosis remaja. diskus intervertebral melunak dan menipis. Perbedaan panjang tungkai dengan tekukan panggul ditemukan pada 60 . Gangguan pertumbuhan juvenil tulang belakang lumbar merupakan pertanda perubahan prediskotik. Inklinasi tulang belakang lateral sering dikarenakan tekukan panggul sekunder terhadap pemendekan salah satu anggota bawah. Sendi ruas tulang belakang menunjukkan peningkatan osteoarthrosis. Setelah inklinasi lateral tulang belakang yang lama. lumbago dan siatika akan terjadi pada usia tiga puluhan.

serta pengaruh sekunder terhadap ramus meningeal saraf spinal. Tulang belakang lumbar mungkin menekuk kelateral dan terputar hingga terjadi skoliosis. Sclegel (1975) menemukan bahwa tulang belakang lumbar hipersegmental lebih mobil dan memerlukan muskulatur untuk menstabilkannya.lumbosakral ini karenanya merupakan perubahan prediskotik bila menimbulkan pembebanan lumbar yang tak setangkup. Pada arah posterolateral mungkin terjadi kontak antara protrusi dan radik saraf. Fisura radial dan sirkular berjalan kedalam nukleus pulposus akibat beban tak setangkup terhadap diskus intervertebral. Lapisan paling permukaan dari anulus fibrosus tetap utuh. pergerakan fragmen diskus intervertebral kearah posterior penting karena pada daerah ini terdapat struktur peka nyeri. Transisi menuju protrusi lumbar adalah menyeluruh. Hal ini mungkin menjadi lebih atau kurang intensif . Ini mungkin menyebabkan lumbago dan adalah akibat adanya kerusakan interior diskus intervertebral. Protrusi atau invasi anterior jaringan diskus intervertebral kebadan ruas tulang belakang tidak menyebabkan rasa tidak enak atau pembatasan fungsi. Perpindahan Intradiskal dan Protrusi Posterior Tanda makroskopik pertama yang dapat dikenali pada degenerasi diskus intervertebral lumbar adalah adanya fisura pada bagian pusat anulus fibrosus. Rettig (1959) menjelaskan konsep ini dengan tehnik radiografik dengan kontras yang menampilkan diskus inter-vertebral. mendapatkan beban yang tak setangkup hingga menimbulkan perubahan bendungan. Diskus didekatnya yang tidak harus segera terkena. fragmen diskus intervertebral ditemukan bila anulus fibrosus disayat. namun protrusi tertentu lapisan superior diskus intervertebral dibelakang jaringan yang rusak tetap berlangsung. Ia berkembang dari daerah kecil ditempat yang mengalami perubahan degeneratif. 2. Perubahan prediskotik adalah potensial menjadi penyakit dan harus selalu diketahui serta penyebabnya diatasi dengan cara yang paling baik. selanjutnya berjalan keposterior kebatas yang lebih perifer dan karenanya menyebabkan regangan terhadap ligamen longitudinal posterior. Dianjurkan untuk memperbaiki fraktura ruas tulang belakang dengan memperbaiki alignment untuk mencegah sekuele diskus intervertebral. Sebagai tambahan terhadap nyeri lumbar. Deformitas setelah fraktura ruas tulang belakang serta spondilitis merupakan perbahan prediskotik. Pada anak dan orang muda hal ini sangat sering memperberat regangan pada hamstring. Dari kepentingan klinis. juga timbul nyeri radikuler. Serabut-serabut sensori ramus meningeal saraf spinal menjadi terangsang. Pada operasi.

fragmen diskus intervertebral mungkin bergerak kearah pusat diskus intervertebral. Berlawanan dengan frekuensi yang tinggi dari nyeri lumbar dan nyeri menjalar yang tampak bersama protrusi diskus intervertebral yang sederhana. Pada keadaan stenosis tulang belakang lumbar. tiba-tiba kehilangan nyeri . Gejala protrusi sangat berubah-ubah karena jaringan yang mengalami protrusi tetap merupakan bagian dari sistem osmotik yang utuh dan karenanya bereaksi terhadap semua perubahan patofisiologik yang khas pada degenerasi diskus intervertebral. Bagaimanapun hal ini mungkin akan mengalami ekstrusi sempurna membentuk prolaps. protrusi sangat kecil mungkin berakibat timbulnya rasa tidak enak. Mungkin pula medial atau lateral terhadap radik saraf. Sepanjang lamela kuat anulus fibrosus tetap utuh diluar protrusi. Bila mengenai L5/S1 jarak antara kantung dura dan protrusi lebih jauh dibanding tingkat yang lebih atas. namun sudah diketahui pada jenis pengobatan ini mungkin berakibat bahwa fragmen lebih bergerak kearah tepi anulus fibrosus dan akhirnya terjadi robeknya lamela luar. atau biasa disebut 'protrusi paramedian'. Protrusi didaerah ini mungkin harus sangat besar untuk dapat mengganggu kantung dural. namun juga ruangan dimana dura dan radik-radik saraf yang kelak akan terjepit. Tentu ini tidak terjadi pada keadaan dimana fragmen sudah terjepit antara tepi posterior ruas tulang belakang bersangkutan dimana fragmen tidak akan bergerak. atau menjadi lepas dan terdorong kebagian pusat diskus intervertebral. atau akhirnya mungkin mengalami protrusi kedalam foramen menyebabkan protrusi intraforaminal. terutama bila prolaps meletakkan material diskus inter-vertebral dibawah atau didekat radik saraf dan menyebabkan tekanan dan rangsangan pada radik saraf. Simptomatologi tergantung posisi protrusi. protrusi mungkin sangat kecil. Pengobatan diarahkan pada usaha mengembalikan fragmen kepusat diskus intervertebral. operasi adalah utama. Disisi lain. Mungkin lebih menuju tengah. Prolaps Keadaan sangat berbeda bila degenerasi diskus intervertebral menyebabkan perforasi lamela posterior anulus fibrosus serta yang menyebabkan prolaps jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi. Pada keadaan ini. Protrusi kemudian menjadi prolaps.tergantung lokasi serta ukuran dari protrusi. Tidak mungkin untuk memperkirakan kapan protrusi menjadi prolaps. 3. pada penekanan radik saraf kearah lateral kedalam foramina intervertebral. prolaps posterior dan postero-lateral adalah sangat jarang. Tidak hanya ukuran protrusi yang penting. kecuali penderita setelah mengalami masa nyeri pinggang dengan/atau nyeri tungkai.

Akar saraf karenanya terdorong keposterior dan mungkin tertekan pada bagian posterior kanal spinal (ligamentum flavum dan faset inferior). akhirnya mengkerut dan membentuk perlekatan. prolaps posterolateral akan mengenai radik saraf. Ini mungkin menimbulkan rekurensi yang kronik dari nyeri radik saraf. Setelah perforasi bagian posterior anulus fibrosus. konsistensi juga berperan. Pada daerah lumbar. Disamping ukuran jaringan yang prolaps. Sebagai patokan. prolaps dapat menggerakkan radik saraf baik kemedial maupun kelateral. atau sindroma kauda lengkap atau tak lengkap yang merupakan gejala yang biasa pada prolaps medial. dengan akibat pendataran lordosis lumbar. siatika. Bila arahnya kemedial. Gejala klinik prolaps medial mungkin menampakkan baik lumbago. Fragmen diskus intervertebral menambah volumenya dalam cairan isotonik dan hipotonik. Perubahan diskus intervertebral yang mengalami prolaps dapat berhubungan dengan intensitas nyeri. Jadi dianjurkan untuk sangat berhati-hati saat membuang ligamentum flavum . bagian diskus intervertebral posterior termasuk piring tulang rawan dapat mengalami fragmentasi dan prolaps kedalam kanal spinal. yang karena kemampuan osmotiknya menimbulkan perubahan tingkat gangguan terhadap saraf. Harus dipikirkan bahwa pengobatan manipulatif berperan hingga diskus intervertebral menjadi prolaps. Radik-radik saraf mungkin menjadi gepeng karena tekanan. prolaps berjalan kelateral dan mengikuti radik saraf yang tertekan dianterior. Gejala klinik mungkin beragam. nyata bahwa perubahan volume jaringan yang prolaps mungkin berakibat perubahan gejala.pinggang sama sekali dan hanya merasakan nyeri tungkai yang menjalar. Posisi antara prolaps dan radik saraf dapat juga berubah. Tergantung posisinya. atau melekat pada prolaps. Percobaan terhadap jaringan fragmen diskus intervertebral memperlihatkan pada keadaan yang serupa dengan prolaps diskus intervertebral dimana terjadi penambahan volume pada cairan hipotonik dibanding pada cairan hipertonik. Karena intensitas nyeri pada prolaps lumbar umumnya tergantung lokasi dan ukuran deformitas. dapat berubah volumenya karena kemampuan osmotik. jaringan prolaps dapat menyebar kesemua arah. Radik-radik sangat sering menjadi gepeng. Jaringan yang bergerak kerongga epidural. Prolaps dapat berhubungan dengan jaringan diskus inter-vertebral bersangkutan namun dapat juga tampak sebagai fragmen terpisah. Jaringan diskus intervertebral yang tidak dipengaruhi tekanan intradiskal. Pada kasus tertentu. Ini diperlihatkan dengan mielografi. atau mungkin membengkak dan menimbulkan reaksi radang. kantung dura akan tertekan seperti juga serabut-serabut kauda ekuina. Pada prolaps lumbar jaringan bergerak kerongga epidural kanal spinal dan menyebabkan penyempitan yang sangat serupa dengan tumor.

Karenanya klasifikasi yang sistematik sulit didapatkan. yang terutama dijumpai setelah operasi. Sangat umum dijumpai kasus-kasus yang tidak mengikuti pola yang khas. ini akan berakibat siatika pada sisi lainnya. bila berkembang perubahan degeneratif sekunder. Pada prolaps tertentu. GEJALA DAN TANDA SINDROMA LUMBAR Gejala sindroma lumbar beragam. Ketinggian diskus intervertebral berkurang dan sendi intervertebral terganggu dengan pengurangan rongga interforaminal yang selanjutnya menekan radik saraf. gejala klinik berkurang dengan adanya invasi jaringan fibrosa yang memiliki pengaruh stabilisasi. Jaringan fragmen diskus intervertebral dapat juga bergerak keposterior. Baik pendataran radik saraf maupun reaksi radang dengan pembengkakan radik. Sindroma lumbar paling sering diakibatkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. Dengan miografi-elektro dan mielografi. Bahkan bila patofisiologinya serupa misalnya protrusi lateral. yang dikenal sebagai sindroma pasca diskotomi. Lagipula reaksi masing-masing sistem saraf terhadap perubahan eksternal harus dipikirkan. elemen saraf kanal spinal terkena. biomekanik interior dari diskus intervertebral menjadi berubah. Alasannya adalah karena adanya perubahan biokimia dan biomekanik didalam diskus intervertebral. radik-radik saraf sisi berseberangan juga terkena. menjadi lebih sulit untuk menghubungkan gejala-gejala dengan keadaan patofisiologik utama. seperti kantung dural. sindroma berbeda dari pasien kepasien. Sekali fragmen mengalami prolaps . dengan onset nyeri yang tiba-tiba lebih sering dijumpai. Dengan perjalanan waktu.atau bagian dari lamina. juga menjadi lebih lembut. jadi tekanan terhadap radik saraf terjadi dari arah ini. akan menimbulkan perubahan mekanik jaringan sekitarnya. diferensiasi sindroma lumbar yang lebih baik dapat . yang selanjutnya mengenai radikradik saraf dan menyebabkan gabungan reaksi radang dan mekanik. Ini mungkin pada akhirnya menyebabkan sindroma lumbar kronik dengan nyeri radikular berulang. dan akibat perubahan sistem osmotik. Misalnya jaringan prolaps bergerak kemedial. Dalam perjalanan selanjutnya. Semua gejala dimulai dengan nyeri lumbosakral ringan hingga paralisis lengkap bisa ditemukan. Sindroma lumbar kebanyakan khas dengan nyeri pinggang bawah dan siatika yang dalam perjalanannya memiliki penyebaran serta intensitas yang sangat beragam. Jaringan prolaps dapat juga mengarah kesuperior atau inferior dan karenanya mengenai radik-radik pada tingkat lain. Ini akibat perlekatan yang merupakan tahap akhir reaksi radang sekitar radik saraf. Jaringan diskus inter-vertebral lebih renggang.

dibuat. . Karenanya penderita sering menghubungkan gejalanya dengan beberapa kegiatan. tergantung apakah patologinya berupa protrusi atau prolaps dari diskus intervertebral. Saat ini mielografi dapat dilakukan tanpa bahaya yang besar sejak digunakannya media-kontras yang tidak berbahaya. Sindroma lumbar dapat berkembang dalam waktu sangat singkat. Tekanannya sendiri. Apabila tidak didapatkan tanda-tanda neurologik. Perubahan lain yang semula dianggap sangat penting. Analisa sindroma menjadi sederhana dengan mendengarkan secara hati-hati riwayat penderita termasuk posisi dan gerakan yang mungkin mempengaruhi karakter dan intensitas nyeri. Sudah jelas diketahui bahwa nyeri pinggang sering dianggap dasar untuk menuntut asuransi atas kecelakaan. sekarang memainkan peran sekunder. malposisi pelvis dan sendi ruas tulang belakang. Finkenrath (1977) mendapatkan kenyataan bahwa lebih dari setengah penderita tidak mempunyai alasan yang pasti atas onset dari gejala yang dideritanya. Pasien sering tampak berkonsultasi saat bebas gejala. Bila tak ditemukan tanda objektif sama sekali. Penderita biasanya sangat mengenal lokalisasi nyerinya. hingga diagnosis sindroma lumbar mudah ditegakkan. Paling sering mengenai dua segmen lumbar terbawah. Terbukti bahwa tekanan pada kantung dural dan radik-radik saraf oleh jaringan diskus intervertebral yang prolaps adalah penyebab utama nyeri siatik. Kadang-kadang timbul sangat tiba-tiba. seperti mengangkat benda berat atau menggeliatkan punggungnya secara berlebihan. Siatika atau lumbago akut timbul tanpa sesuatu penyebab yang jelas ("Came out of the blue"). Pengaruh impak yang keras dan berbagai jenis kecelakaan tak dapat dianggap bertanggung jawab atas nyeri pada pasien-pasien yang diperiksa dan yang tidak merencanakan tuntutan asuransi. rencana dan radik mana yang terkena mungkin hanya dibuat berdasarkan riwayat dan daerah dari penyebaran nyeri sepanjang dermatom khas. Tanda objektif mungkin minimal walau nyeri hebat. Sindroma lumbar khas dengan lumbago dan siatika. Namun demikian perlu untuk membedakan jenis pengobatan. seperti halnya deformitas statis. Kehilangan sensori lebih menunjukkan reaksi radang dibanding reaksi tekanan. biasanya menyebabkan kelemahan motor dibandingkan perubahan sensori. A. Keluhan Umumnya gejala pada suatu sindroma lumbar adalah nyeri. mungkin sulit untuk menilai keadaan secara sempurna. karakter serta intensitas nyerinya. Intensitas nyeri tidak selalu sebanding dengan tekanan yang mengenai radik saraf bersangkutan. karena medianya adalah serabut-serabut besar. Ini tidak jarang pada kasus kompensasi asuransi.

Keragaman gejala ini mungkin pula terjadi bila nyeri menjadi berkurang dan bila perbaikan mulai terjadi. Penjelasannya adalah adanya hubungan antara vena epidural tanpa katup pada kanal tulang belakang terhadap perubahan tekanan intraabdominal atau intratoraks. ada pasien yang berkurang nyerinya pada posisi telungkup dan dengan hiperekstensi ringan tulang belakang lumbar. Nyeri mungkin bertambah bila lordosis lumbar diperbesar dengan membaringkan pasien pada posisi telungkup.Karakter nyeri dan penjalarannya secara sinambung beragam pada sindroma lumbar. Sudah menjadi kenyataan bahwa nyeri diskogenik pada daerah lumbar sangat erat bergantung pada posisi tulang belakang. Pada posisi berdiri dengan lordosis lumbar. Ini timbul sebagai bagian sindroma kauda seperti juga kelemahan otot anggota bawah yang juga dapat disertai dengan siatika. Sebagai tambahan mungkin dapat timbul siatika yang mulanya hanya mengenai tungkai atas namun akhirnya juga mengenai kaki. Ini didemonstrasikan Nachemson (1976) bahwa peninggian tekanan intraabdominal menyebabkan tekanan intradiskal lumbar. Namun beberapa pasien merasakan pengurangan nyeri saat duduk dimana foramina intervertebral membesar. buang air besar dan potensi harus diketahui. Secara keseluruhan. Penting untuk menemukan bahwa pasien merasakan perbedaan nyeri bila mengistirahatkan tulang belakang. adanya posisi dimana didapatkan relaksasi mungkin berhubungan dengan posisi protrusi atau prolaps. seperti juga dengan perubahan posisi radik-radik saraf terhadap aspek posterior diskus intervertebral. hubungan antara nyeri. Pasien akan berusaha mencegah peninggian tekanan dan selalu menemukan posisi dimana nyeri akan berkurang walau pada peninggian tekanan. Keadaan serupa terjadi selama istirahat dimana posisi miring berubah keposisi telungkup. Ini terutama jelas pada perbedaan gejala antara siang dan malam. Sekali lagi. Disisi lain. Nyeri diskogenik daerah lumbar dieksaserbasi oleh batuk dan bersin dimana terjadinya peninggian tekanan intra-abdominal. Mulanya nyeri dapat sangat dalam dan terbatas pada daerah lumbosakral dan dijalarkan ke bokong. posisi dan tekanan berubah sepanjang hari dan juga sepanjang perjalanan penyakit. Alasannya tentu saja perubahan tekanan intradiskal yang besar. Disaat lain nyeri lumbosakral dapat hilang sempurna dan hanya siatika yang menetap. bagian diskus intervertebral posterior yang mengalami fragmentasi menjadi tertekan diantara tepi ruas tulang belakang dan akan membengkak menekan dura dan radik-radik saraf (Reischauer 1949). Keluhan beberapa pasien atas kram pada betis . Kebanyakan penderita merasa enak bila berbaring pada sisi tubuh atau pada belakang tubuh dengan pangkal paha dan lutut fleksi. Bersandar kedepan atau duduk pada lengan kursi diperkirakan menambah tekanan intradiskal. Informasi mengenai fungsi kandung kemih.

namun bila terjadi. karenanya diusahakan interogasi dan pemeriksaan yang sangat teliti saat pemeriksaan pertama. Diagnosa yang mendalam dan tepat suatu saat mungkin sulit ditegakkan bila pasien mengemukakan bermacam gejala. Saraf Siatik tidak terganggu. sehingga tes Lasegue dapat dilakukan tanpa ada sesuatu keadaan yang menyebabkan gangguan terhadap sendi panggul. Tanda-tanda klinis Pemeriksaan peregangan terhadap saraf Siatik dilakukan dengan mengangkat tungkai pada posisi terlentang. dari nyeri tumpul yang dapat timbul pada otot tungkai sebelah belakang. Observasi oleh Lasegue. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. terutama sendi panggul. bersin dan tekanan abdominal ------------------------------------------------------B. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan . Tabel 2 Gejala-gejala Khas pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Onset mendadak Perjalanan silih berganti Ketergantungan pada postur Nyeri bertambah pada batuk. Sendi-sendi tungkai bawah diperiksa. pemeriksaan adalah positif dan karenanya dikatakan sebagai Lasegue positif (positive straight leg-raising test). Normal. didapatkan bahwa pada pasien dengan siatika sering dijumpai plantar fleksi dari kaki dan pada dorsifleksi kaki akan menimbulkan nyeri.posterior adalah bagian sindroma S1. Pada pemeriksaan tidak dijumpai tanda-tanda objektif. Tungkai bawah dapat diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. perasaan tidak enak dan peregangan akan bertambah pada otot Iskiokrural. Bila nyeri dapat ditimbulkan. Penderita mencegah semua gerakan yang dicurigainya akan menimbulkan nyeri. Pertama-tama adalah harus menjadi "pengambil riwayat yang teliti yang fanatik" (6). tungkai dapat difleksikan hingga 70-900 pada sendi panggul. Bila melampaui ini. Pasien sering mengeluh perasaan pincang. Gangguan motor dari otot dapat terjadi akibat nyeri dan relaksasi refleks seluruh anggota bawah. timbul nyeri yang menjalar sesuai dengan distribusi radik saraf yang terkena. Mekanisme timbulnya nyeri dijelaskan sebagai peregangan yang berlebihan dari saraf Siatik. Ini perlu untuk membedakan antara nyeri pinggang yang terlokalisir dan nyeri radik saraf.

Membuka sepatu atau kaus . nyeri dapat ditimbulkan dengan mengangkat tungkai yang diseberang tungkai yang terkena. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. Pemeriksaan klinik harus mencakup inspeksi. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. ia berjalan hati-hati dan bila dengan siatika mungkin pincang. Tanda-tanda khusus sindroma lumbar harus merupakan bagian dari pemeriksaan umum yang harus menginformasikan pada pemeriksa asal dari penyakit. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. Otot extensor hallucis longus dipersarafi hanya oleh satu radik saraf yaitu L5. Hiperestesi dapat terjadi pada sindroma radik saraf akibat lesi yang tidak lengkap pada radik saraf spinal yang sangat sering terjadi pada protrusi diskus lumbar. memberikan informasi penting seperti adanya sindroma lumbar. Terdapat tumpang tindih pada persarafan tungkai bawah. Dianjurkan pemeriksaan dilakukan dengan pergerakan penderita sesedikit mungkin karena setiap perubahan posisi mungkin menyebabkan nyeri dan rasa tidak enak pada pasien. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. Pemeriksaan sensasi adalah paling penting. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. Namun dapat dikatakan bahwa bagian belakang kaki pada ibu jari dipersarafi oleh radik L5. Karenanya pada prolaps diskus inter-vertebral L4 dengan penekanan pada radik saraf L5 menyebabkan lemahnya ekstensor ibu jari. Langkah penderita adalah tak setangkup. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. kehilangan sensasi. Ini disebut sebagai Lasegue kontralateral. Inspeksi.disepanjang saraf siatik. termasuk penilaian neurologik secara umum. Pasien banyak berdiri dari pada duduk dan sering menggunakan penumpu kursi atau meja saat bangkit dari kursi. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. tes straight leg . Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. palpasi dan test fungsional. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. Pada prolaps medial. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. abnormalitas refleks dan gangguan motor.raising yang positif. Bila radik L5 terkena.

mungkin disaksikan deformitas. karenanya memungkinkan untuk mengarahkan tekanan pada ligamen flaval dan pada radik saraf yang terletak dibawah ligamen. Tes ini gagal bila protrusi atau prolaps terletak sangat lateral atau arkus ruas tulang belakang sangat lebar.kaki menyebabkan rasa yang sangat tidak enak dan dilakukan dengan sulit dengan penderita berusaha menggerakkan tulang belakang kedepan. Jaringan lunak menjadi tertekan diantara arkus ruas tulang belakang hingga radik saraf akan tertekan bila ada protrusi atau prolaps. Keterbatasan yang tergantung nyeri pada mobilitas lumbar dapat mula-mula dijumpai bila penderita disuruh menekuk kesamping dengan tubuh sedikit condong kedepan. . Prosesus spinosus dipalpasi dengan penderita telungkup dan nyeri dapat ditimbulkan dengan penekanan pada prosesus segmen bersangkutan. Pada posisi terlentang spasme lumbar sering hilang. Bila pasien tanpa pakaian dan dilihat dari belakang. Tes fungsional aktif ini diikuti dengan pemeriksaan pergerakan pasif. Nyeri terbatas pada penekanan dapat dijumpai pada perjalanan saraf siatika dengan titik nyeri maksimal dibokong dan fossa popliteal (Tanda Valleix). Terdapat penonjolan otot yang mengalami kontraksi (Spasme lumbar). Penderita disuruh berdiri pada jari-jarinya dan pada tumitnya. berjalan beberapa langkah pada jari-jari dan tumitnya untuk menampilkan kemungkinan kelemahan ekstensor kaki (L5) atau otot betis (S1). Sering didapat pengurangan mobilitas terbatas satu sisi. penonjolan semakin jelas. Deformitas dan keterbatasan pergerakan yang mungkin sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Posisi ini dengan sedikit fleksi paha dan lutut memberikan posisi paling santai. Setelah memeriksa kemampuan pasien untuk membungkuk kedepan. Nyeri paraspinal sangat indikatif pada pasien kurus yang kehilangan kekuatan ototnya. disuruh untuk menekuk kesamping dan juga merotasi tubuhnya. Nyeri juga dibangkitkan dengan memutar prosesus posterior. sering dijumpai saat bebas gejala atau pada protrusi yang sangat lateral dari diskus intervertebral L5-S1. namun hal ini tidak menggambarkan segmen spesifik karena sendi inter-vertebral lumbar mempunyai posisi sagital yang akan menggerakkan sendi dan ruas tulang belakang berdekatan. Dengan penambahan kifosis mungkin memperlebar arkus ruas tulang belakang yang akan membantu palpasi hingga nyeri khas dapat dibangkitkan. Dengan usaha memperpanjang tulang belakang lumbar dan meluruskan lordosis. Pergerakan kelateral tidak seterbatas fleksi atau ekstensi. Spasme lumbar dan fiksasi terbatas tulang belakang adalah kriteria dignostik penting pada sindroma lumbar. Nyeri lokal dan siatika yang khas karenanya dapat ditimbulkan. Posisi telungkup sering bersama dengan rasa tidak enak. Pemeriksaan dilanjutkan dengan pasien berbaring.

Bila melebihi ini. bagian pemeriksaan neurologik dilakukan. tes adalah positif dan karenanya disebut tes Lasegue positif (positive straight legraising test). Dengan pasien telungkup. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pasien terlentang pada punggungnya. Ini disebut juga tes Lasegue terbalik atau tes regangan saraf femoral. Pengangkatan tungkai bagaimanapun akan dapat menyebabkan nyeri akibat adanya lesi pada sendi panggul dan sakroiliak. Lasegue positif adalah serupa dengan positive straight leg-raising test. timbul nyeri menjalar sepanjang distribusi radik saraf terkena. mungkin menandakan protrusi diskus intervertebral pada tingkat yang lebih tinggi. Dengan suntikan intradiskal nyeri khas ini dapat dirangsang. Kepekaan anggota bawah dites dan dengan menyuruh pasien mengkontraksikan bokongnya. Peregangan saraf femoral dengan pasien telungkup dapat dibandingkan dengan peregangan yang sama terhadap saraf siatik yang terjadi bila tungkai diangkat dengan penderita pada posisi terlentang. tapi sekali terjadi. perbedaan tonus dapat dipalpasi yang menunjukkan sindroma S1. Normalnya tungkai dapat fleksi hingga 70-900 pada sendi panggul. Saraf siatik tidak terganggu. nyeri dapat dibangkitkan dengan mengangkat tungkai berlawanan dengan sisi tungkai yang terkena. Ini disebut Lasegue kontralateral. Sendi anggota bawah diperiksa dan terutama sendi panggul hingga tes Lasegue dilakukan tanpa adanya pengaruh kelainan disendi panggul. Bila nyeri timbul. dan makna tanda ini mula-mula dijelaskan oleh J. Tungkai kemudian diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. Forst. Tungkai ini kemudian direndahkan pada posisi dimana nyeri menghilang dan pada titik ini kaki diekstensikan kedorsal yang biasanya menimbulkan nyeri bila saraf siatik terganggu. rasa tidak enak dan tegangan akan terjadi pada otot iskiokrural. Mekanisme pembangkitan nyeri diterangkan sebagai peregangan berlebihan saraf siatik. dilakukan tes regang siatik: tungkai diangkat hingga dirasakan nyeri. murid Lasegue. Dengan ekstensi kedorsal . Pada prolaps medial. Untuk menyingkirkan kemungkinan ini. nyeri diperberat. Perlu dibedakan nyeri pinggul terbatas dan nyeri radik saraf dari nyeri tumpul yang dapat bangkit pada otot tungkai posterior. Bagaimanapun.Nyeri dapat juga terbatas pada sendi sakroiliak yang dapat juga timbul pada palpasi. hiperekstensi sendi panggul mungkin berakibat nyeri paha anterior dan karenanya gangguan pada saraf femoral dapat diketahui. namun semata-mata suatu nyeri menjalar melalui cabang posterior saraf-saraf spinal. Tahun 1864 Lasegue melakukan pengamatan pada penderita dengan siatika dimana sering dijumpai kaki dalam plantarfleksi dan pada dorsifleksi kaki. Ini bukan gangguan lokal pada sendi sakroiliak. Pada posisi telungkup.

saraf tibial akan teregang 2 cm. mungkin terjadi keadaan dimana pada pengangkatan tungkai lurus hingga 20-300 penderita akan memberikan pertanda nyeri. Refleks patella mungkin sulit dibangkitkan karena nyeri pada tungkai. Pada prolaps L3-L4. Pemeriksaan harus mencakup analisa teliti kekuatan fleksor plantar dan ekstensor dorsal kaki dan terutama ibu jari. namun kelainan motor bisa jadi sangat ringan hingga pasien tidak menyadarinya. Penurunan aktifitas refleks patellar dapat ditemukan bila radik saraf lumbar ketiga dan keempat terkena. mobilitas dan sensasi. L4 dan L5.dari kaki. Ini mungkin membuktikan bahwa pasien bereaksi berlebihan atau bahkan berpura-pura sakit. Pada keadaan dimana perlu membuktikan asal sebenarnya dari penyebaran nyeri yang turun ketungkai. mereka jelas tidak terganggu. Extensor hallucis longus dicatu hanya oleh satu radik. Objektifitas tes ini tak bisa dibantah dan dapat berguna tiap saat. Refleks harus dites dengan sangat teliti dan bila pasien tidak cukup santai untuk memungkinkan pemeriksaan dilakukan. Dengan pasien berbaring pada punggungnya. Kompresi berat hanya akan menyebabkan gangguan motor ringan pada otot besar. ia dapat diperintahkan berlutut dan pada saat yang sama pegang jarinya dan tarik dengan kuat. termasuk kompresi pada radik saraf L4. Sindroma radik saraf hanya akan menyebabkan gangguan pada . Otot kuadrisep dicatu oleh radik-radik saraf L3. Pemeriksaan sensasi adalah terpenting. namun bila pasien diletakkan pada posisi duduk dengan tungkai lurus. Ini dapat ditemukan pada langkah pasien dengan kesulitan dalam menempatkan dan meneruskan pergerakan kaki. pemeriksaan dilanjutkan dengan menilai refleks. Fibrilasi dapat dijumpai pada otot dan gangguannya akan sebanding dengan tekanan yang berlangsung pada radik saraf bersangkutan. perhatian pasien dialihkan dan pemeriksaan diulangi sekali lagi. Peninggian aktifitas refleks tidaklah mempunyai keistimewaan apapun pada kelainan diskus intervertebral. Peregangan saraf siatika dengan duduk tegak dengan tungkai lurus juga menimbulkan nyeri. Pada tindakan ini tidak disertakan baik sendi panggul maupun sendi sakroiliak. hanya didapat sedikit kelemahan kuadriseps dengan akibat kelemahan ekstensi lutut. Pemeriksaan mobilitas dipusatkan pada otot tungkai bawah yang mungkin terkena pada sindroma lumbar. Karenanya pasien ditempatkan pada posisi yang memberikan relaksasi sempurna dan bebas dari nyeri. Bila refleks ankel sulit dibangkitkan bila pasien berbaring dengan punggungnya. tidak ada nyeri. L5. Sebaliknya pada prolaps L4-L5 dengan kompresi radik L5 didapat kelemahan yang nyata dari ekstensor ibu jari. yang mana pasien akan teralih perhatiannya dari pemeriksaan (Jendrassk`s grip).

Penting untuk memeriksa sensasi didaerah perineal dalam upaya menyingkirkan adanya sindroma kauda. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. Dandy (1943). rami dorsal dan meningeal terserang. Ini akibat lesi tak lengkap radik saraf spinal yang sangat umum pada protrusi diskus intervertebral lumbar. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. Tilney dan Riley 1938. penderita harus diperiksa lebih lanjut. miografi-elektro dan pemeriksaan yang lebih canggih lainnya sangat jarang diperlukan dan hanya untuk memperkuat diagnosis selanjutnya serta untuk menyingkirkan kelainan lain. C. pemeriksaan laboratori. Pemeriksaan klinik teliti akan menghasilkan diagnosis dan harus dapat menentukan tingkat yang terganggu. Keegan 1943). Sindroma Radik Saraf Lumbar . Terdapat tumpang tindih inervasi anggota bawah yang terutama jelas pada bagian proksimal.sensasi permukaan yang mudah diperiksa dengan sentuhan. Bradford dan Spurling (1950) telah mengamati ketidak-teraturan distribusi sensasi bagian bawah anggota bawah setelah merusak radik saraf sakral pertama. terkenanya rami anterior akan mengakibatkan gejala. Hiperestesis dapat juga terjadi pada sindroma radik saraf lumbar. tekanan dan tusukan jarum.Siatika Pada sindroma lumbar lokal. Sebelumnya siatika diduga akibat keadaan inflamatori dan karenanya disebut neuritis siatik. . Dengan beberapa ketentuan dapat dikatakan bahwa bagian dorsal kaki didaerah ibu jari dicatu oleh radik L5 dan tumit serta bagian lateral kaki dicatu oleh radik S1. Bila ada petunjuk gangguan temperatur dan sensitifitas dalam atau bila ada tanda kelainan neurologik lain yang tidak bersamaan dengan sindroma lumbar. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan disepanjang saraf siatik. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. mielografi. Penjelasan distribusi dermatomal diperkirakan beragam (Foerster 1933. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis. Mixter dan Barr (1934). Pada sindroma radik saraf lumbar. Radiografi. Keterangan patologik yang jelas dimana prolaps diskus intervertebral lumbar menyebabkan siatika telah diketahui sedikitnya sejak 50 tahun. Bradford dan Spurling (1950) serta Lindblom (1948) menjelaskan asal penyakit sebenarnya serta hubungannya dengan nyeri pinggang bawah dan siatika.

siatika dapat tetap ada bersama dengan daerah nyeri terbatas atau nyeri sakral.raising yang positif. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. tes straight leg . Gejala beragam secara individual dan bila semula nyeri dan deformitas menonjol. mungkin akan berakhir dengan penurunan karena timbulnya parestesi dan gangguan motor. Adanya sindroma siatik tergantung letak dan ukuran dari struktur yang menekan radik saraf. 1. maka . Setelah operasi.Sindroma radik saraf lumbar dapat disebabkan protrusi atau prolaps. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. kehilangan sensasi. akan terjadi paresis ekstensor kaki dan jari. Bila terdapat siatika. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. Ini mungkin disebabkan pelunakan dan perubahan volume diskus intervertebral dan oleh osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang atau oleh perpindahan ruas tulang belakang dan kelainan lain pada kanal spinal. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. Pada keadaan ini operasi dianjurkan sesegera mungkin. dan bila radik L5 terkena. Siatika pada Protrusi dan Prolaps Diskus Intervertebral Dari sudut pandang terapeutik. abnormalitas refleks dan gangguan motor. Nyeri dapat terbatas hanya pada bokong atau kaki dan tidak berubah dengan perubahan postur dan hanya dapat dikenal dengan test traksi atau mielografi dimana asal nyeri dapat ditemukan. Akan terjadi juga kehilangan sensasi. Bila radik saraf tertekan sempurna maka nyeri akan hilang. ini bisa juga pertanda suatu sindroma lumbar lokal. Tatkala radik saraf tertekan oleh benjolan bagian posterior diskus intervertebral. Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. Bila radik L5 terkena. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. penting untuk mengetahui apakah sindroma radik saraf lumbar diakibatkan protrusi ataukah prolaps. namun terdapat beberapa kekecualian dimana hanya terdapat siatika tanpa nyeri sakral. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. namun tidak jarang perubahan patologik pada diskus intervertebral atau sekitarnya dapat menyebabkan nyeri yang menjalar.

Karenanya nyeri. Dari perjalanan klinik akan jelas apakah terjadi suatu prolaps atau protrusi (Tabel II. Pada protrusi jaringan yang bergeser dapat dinormalkan dan dicapai restitutio ad integrum. parestesi dan deformitas berhubungan dengan perubahan yang disebabkan oleh .3). Kebanyakan pasien dengan siatika adalah karena protrusi diskus intervertebral. Pada protrusi ada hubungan antara sistem osmotik diskus intervertebral dengan perubahan volume dan konsistensi. Massa jaringan diskus intervertebral bergeser keposterior dan menonjol dengan ligamen longitudinal posterior sebagai pembungkusnya. Tabel 3 Perbedaan Siatika yang disebabkan Protrusi dan Prolaps ------------------------------------------------------Siatika Karena Protrusi Siatika Karena Prolaps ------------------------------------------------------Onset secara umum tak jelas Onset berat tiba-tiba Deformitas dapat berubah Deformitas menetap Nyeri proksimal Nyeri distal. Fragmen diskus intervertebral akan mengalami pergeseran kerongga epidural dekat radik saraf atau kantung dura dan akan selalu menyebabkan rasa tidak enak dan nyeri. Pada pasien yang lebih muda agak membingungkan untuk menyayat anulus fibrosus yang intak diatas protrusi dalam usaha mencapai fragmen yang sudah mengalami pergeseran. Penekanan radik saraf lebih kuat pada prolaps dibanding protrusi. Tindakan ini mungkin mengawali rasa tidak enak dan nyeri yang terus menerus. Ini tidak terjadi pada prolaps. kecuali diangkat secara operasi. Sering nyeri lebih proksimal pada protrusi. daerah hipestesi dan refleks yang abnormal akan berkembang. Saraf spinal terjepit antara prolaps dan arkus ruas tulang belakang.keadaan biomekanik dan biokimia secara keseluruhan akan berbeda bila penekanan disebabkan oleh prolaps. Nyeri dan deformitas tampak tiba-tiba dan memburuk dalam beberapa jam setelah jaringan diskus intervertebral bergerak kekanal spinal. parestesia dan gangguan motor Hasil baik setelah tindakan Tindakan dengan obat-obatan dengan obat-obatan tidak berguna Instillasi intradiskal Instillasi intradiskal berat ringan Media kontras pada Media kontras pada diskografi tetap pada diskografi keluar kerongga diskus intervertebral epidural ------------------------------------------------------Juga terjadi perubahan pada perjalanan klinis. Gambaran klinik lebih berat pada prolaps. Sebaliknya tindakan konservatif tidak dapat dipilih pada prolaps yang lengkap. Penyembuhan spontan lebih sering pada protrusi dibanding pada prolaps. Gangguan motor.

tes straight leg-raising positif dan deformitas lebih sering dijumpai pada protrusi dan prolaps pada tingkat ini dibanding tingkat L5/S1. Pada kelainan diskogenik akan sulit untuk mendapatkan pola yang tetap untuk perjalanan dan prognosis. Pada prolaps medial yang besar jarang inklinasi kelateral karena tidak akan mengurangi tekanan pada . superior atau inferior. 2. Pada prolaps gambaran klinik menetap dan sulit untuk berubah. Sempitnya ruang epidural L3/L4 dan L4/L5. dan penderita sangat jarang mendapatkan perbaikan. Pada mielografi tak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. Alasannya ialah reaksi refleks postural. Pada lumbago tulang belakang lumbar menjadi mendatar dan tubuh membungkuk kedepan. Seperti terlihat pada tabel diatas. Dengan diskografi mungkin untuk menentukan apakah anulus fibrosus intak atau tidak. Penguatan tanda-tanda ini tergantung letak dan ukuran protrusi diskus intervertebral. protrusi dan prolaps memberikan perjalanan yang secara keseluruhan berbeda. yang akan membedakan penekanan pada radik saraf. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. Pada protrusi tahanan terhadap injeksi jauh lebih besar dibandingkan terhadap prolaps. Deformitas Siatik Ada beberapa tanda tidak khas pada sindroma radik saraf lumbar yang memperjelas siatika. Deformitas tergantung apakah radik saraf tertekan dari anterior. dan sering disertai inklinasi kelateral pada sindroma radik saraf. Disisi lain. Penderita selalu bertahan pada posisi yang menyebabkan paling sedikit penekanan terhadap radik saraf. Pada tabel diatas beberapa pendekatan dikemukakan. Walau deformitas jelas. seperti juga pemilihan tindakan. Nyeri pertama-tama tampak bila dilakukan mobilitas secara aktif maupun pasif dan bila mencoba meluruskan badan. Obat-obat anti inflamatori mungkin berguna. Patsold (1975) melaporkan bahwa 75% deformitas skoliotik pada penderita protrusi atau prolaps diskus intervertebral dibenarkan oleh mielografi. prolaps kecil yang terletak pada "dead area" pada kanal spinal tidak harus memberikan gejala.beban. Penilaian gambaran klinik serta perjalanannya. memerlukan pemahaman klinik yang baik dan pengalaman yang luas atas berbagai aspek dari nyeri pinggang bawah. beberapa pasien hanya menunjukkan sedikit nyeri. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. Sejumlah cairan mungkin dapat disuntikan dan pada prolaps akan keluar kerongga epidural. nyeri pada peregangan saraf femoral. dan deformitas siatik. Pada protrusi didapatkan membran tipis dan fragmen yang mengalami inkarserasi jelas mengingatkan akan prolaps. tes straight legraising positif.

Beban tubuh pada tungkai siatik hanya dapat dilakukan pada waktu singkat. Bila duduk dan berbaring. Bila membungkuk kedepan. skoliosis siatik tak harus timbul. Deformitas siatik menjadi jelas bila tubuh ditekuk kedepan karena kontak antara radik saraf dengan prolaps serta protrusi semakin berat. tidak ada skoliosis siatik pada posisi berdiri. dan berdiri pada jarinya dengan kaki pada posisi dropfoot ringan. Protrusi diskus intervertebral melakukan kontak dengan berbagai bagian radik saraf ketika ia berjalan dari superomedial keinferolateral. Bila pasien membungkuk kedepan. Cara termudah mengenal ini adalah mengamati postur tubuh. deformitas siatik hampir selalu hilang sempurna. Terdapat hubungan topografik langsung antara tepi diskus intervertebral posterior dan radik-radik saraf pada segmen lumbar. Skoliosis lumbar dapat menjadi konveks baik mengarah maupun menjauhi kompresi radik saraf. yangdifleksikannya baik pada sendi panggul maupun lutut. dan bila tubuh condong menjauhi tungkai siatik disebut 'deformitas siatik kontralateral'. diatas bahu atau pada ketiak. Pada inklinasi tulang belakang lumbar kesamping. Bila siatika jelas. dan ini akan menyebabkan deformitas campuran. Pada protrusi medial dengan dasar luas. Jadi pada protrusi lateral pasien akan membungkuk kedepan sisi sehat (deformitas siatik kontralateral) dan pada prolaps medial menuju sisi sakit (deformitas siatik ipsilateral). radik saraf sisi berlawanan akan terkena. dan penyilangan radik saraf diatas diskus intervertebral bervariasi pada setiap tingkat. pasien tidak membawa beban tubuhnya pada tungkai terkena . Protrusi yang terletak superior terhadap radik saraf (pada bahu) akan bergerak menjauhi radik. Ada penderita mendapatkan pengurangan . radik akan meluncur kemedial atau lateral diatas protrusi. Hubungan deformitas siatik dengan posisi protrusi atau prolaps cukup menarik. Tentu ada bentuk peralihan dimana prolaps besar akan mengenai radik-radik dari dua tingkat.radik saraf. dan prolaps karenanya dapat terletak dibawah bahu. Bila pasien condong kearah tungkai siatik. bila protrusi dibawah radik (pada ketiak) akan terdorong mendekati. Beberapa istilah digunakan untuk menyeragamkan penamaan radik-radik saraf yang berpasangan dengan mengingat dua lengan yang meninggalkan setiap segmen. Keluarnya radik saraf dari dura digambarkan sebagai daerah bahu. digunakan istilah 'deformitas siatik ipsilateral'. Pada kasus yang belum lanjut. deformitas hanya menjadi nyata bila pasien membungkuk kedepan. yaitu satu radik dari superior dan lainnya dari inferior. Bila protrusi dibelakang bahu. Konveksitas skoliosis lumbar menentukan arah inklinasi lateral dari tubuh. bagian konveks diskus intervertebral akan bergerak kesuperior.

rasa nyeri dengan menambah lordosis lumbar. Setelah penyebab nyeri siatik dikurangi. Pada penderita sindroma monoradikular lumbar.8%. Terdapat kesulitan mendorsifleksikan kaki dan jari yang menyebabkan kesulitan melangkah dan karenanya dan paling penting adalah secara hati-hati menganalisa gangguan motor. 3. Tidak ada gangguan refleks pada sindroma L5. Finnesson 1973 dan Armstrong 1965). namun juga karena konsekuensi praktik yang terdapat pada kerusakan radik-radik saraf ini. karenanya tes straight leg-raising positif dapat ditampilkan pada setengah penderita dengan sindroma ini. . extensor hallucis longus adalah otot yang paling sering mengalami paretik (Schliac 1973). Sindroma L4 Saraf siatik dicatu sebagian oleh serabut dari radik L4. Atrofi ringan mungkin ditemukan pada otot tungkai bawah. Nyeri dan hipestesi berjalan sepanjang belakang kaki ke ibu jari kaki. kelainan kliniknya campuran. 98% terjadi pada dua segmen yang lebih bawah. mungkin akan tetap meninggalkan deformitas siatik yang tidak menghilang dalam beberapa bulan. Ini terdapat pada 1-2% dari semua kelainan diskogenik. Bradford dan Spurling 1950. Sindroma Lumbar Monoradikular Gejala yang berhubungan hanya dengan satu segmen ditemukan pada hampir setengah dari sindroma radik saraf lumbar . Pada sisanya. Bila gangguan motor ditemukan. Hilangnya fungsi ekstensor pada ibu jari tak boleh terluputkan dan kelainannya mudah diperiksa. Ini terutama ditemukan pada penderita dengan protrusi dan prolaps dari diskus intervertebral lumbar superior. sindroma L5 tersering ditunjukkan oleh postur penderita yang sangat sering membungkuk kedepan. Pada kompresi radik saraf yang lama. Disini dipentingkan fisioterapi.2% dan L5 dengan 43. ia penting bukan saja karena sulitnya diagnostik. Walau diskus intervertebral lumbar superior jarang terkena dibanding segmen L5 dan S1. dan paling sering ini tergantung pada jumlah radik saraf yang tekena. Nyeri menjalar dari daerah lumbosakral diatas bagian posterior paha turun kebagian anterolateral tungkai bawah ke maleolus lateral dimana nyeri menjadi semakin hebat. Akar L4 hanya dikenai 1% dan sisanya radik saraf lumbar superior yang terkena (Lindemann dan Kuhlendahl 1953. kehilangan dorsifleksi kaki akan timbul karena otot tibial anterior menjadi lemah. b. Sindroma L5 Pada inspeksi. De Palma dan Rothman 1970. Akar S1 terkena 54. a.

Bila ada prolaps lateral masif dari diskus . diskus intervertebral L5/S1 mungkin dieksplorasi kelateral dengan membuang setengah medial faset L5/S1. Terserangnya radik L5 pada prolaps lateral lumbosakral lebih sering dari yang diperkirakan. jadi mengurangi kekuatan fleksi plantar. radikradik saraf dan diskus intervertebral berakibat gejala yang tak spesifik dan tak sejelas misalnya sindroma L5. Pada kasus ini.c. jarum mungkin diinsersikan ke diskus intervertebral L4/L5 untuk melihat apakah diskus intervertebral ini normal. Akar L5 berjalan melalui foramina intervertebral L5/S1 pada bagian atasnya dan kemudian mendekati aspek lateral diskus intervertebral lumbosakral. dua atau lebih radik saraf dapat terkena. Sebaliknya prolaps lateral (diatas bahu) dapat menekan radik saraf yang keluar dari tingkat superior bersangkutan. Prosedur sederhana ini mungkin menyebabkan eksplorasi diskus intervertebral L4/L5 menjadi tidak perlu. d. Dengan prolaps lateral L5/S1. Radiasi gejala ketumit dan tepi lateral kaki termasuk jari ketiga hingga kelima. Prolaps lateral dapat mudah terlalaikan bila hanya laminotomi eksplorasi yang dikerjakan. Prolaps lateral L5/S1 karenanya bisa mengenai bagian lateral radik S1 dan bagian medial radik L5. Prolaps dan protrusi dapat mengenai beberapa segmen dan simptomatologi poliradikuler mungkin ditemui. Pada kompresi yang sangat kuat dan setelah kompresi yang lama. Juga paresis otot gluteal. Pengalaman paling sering menunjukkan bahwa bila ada tanda-tanda sindroma L5 dan mielogram negatif pada diskus intervertebral L4/L5. Gangguan motor mengenai otot triceps surae. Pola segmental menjadi terganggu seperti juga gambaran klinik. radik L5 menyilang bagian lateral diskus intervertebral lumbosakral dan tidak pada sulkus saraf spinal. Sindroma Lumbar Poliradikuler Pada kelainan diskus intervertebral lumbar . Ini sangat sering pada kasus tingkat L5/S1. Kebanyakan sindroma siatika tanpa nyeri sakral dapat berasal dari radik S1. Sindroma S1 Jarak yang relatif besar antara kantung dural. refleks tendon Achilles mungkin hilang sempurna dan tidak akan kembali bila tekanan pada radik saraf tidak dihilangkan pada saat tersebut. 18% mengenai radik lumbar kelima dan 6% menunjukkan tandatanda terkena. Tanda khas adalah melemahnya atau hilangnya refleks tendon Akhilles dengan penurunan sensasi diatas aspek lateral tumit yang mungkin meluas kedepan kejari empat dan lima. Prolaps paramedian (pada ketiak) dapat menekan aspek medial dari radik saraf pada tingkat yang sama dan aspek lateral radik saraf timbul dari tingkat yang lebih bawah. Nyeri dan hipestesi diarahkan lebih kepoterior dari sindroma L5 dan berjalan sepanjang posterior paha dan posterior betis.

Terdapat paresis ekstensor kakkaki dan jari dan refleks tendon Akhilles terganggu. Bila seluruh kantung dural terkena pada prolaps besar dari aspek anterior kanal spinal. namun paling menonjol adalah sindroma S1 pada kebanyakan penderita. Paling sering adalah kombinasi sindroma L5 dan S1. prolaps. Hal ini terutama terjadi kearah anterior dan lateral. namun berubah vertikal hingga osteofit ruas tulang belakang berdekatan tumbuh bersama hingga terbentuk jembatan pada ruang inter-vertebral. Osteofit besar dapat tampak dan sering menjembatani ruang antara ruas tulang belakang. Terserangnya beberapa radik saraf secara bersamaan sering terjadi sebagai bagian dari sindroma post diskotomi karena adhesi yang terbentuk. Pemeriksaan lain dengan bantuan media kontras mungkin diperlukan. Siatika bilateral sangat jarang pada kelainan diskus intervertebral dan bila terjadi harus dilakukan pemeriksaan yang lebih luas. Pada penderita tua penyempitan rongga intervertebral dapat ditampilkan seperti halnya perubahan osteosklerotik dari end-plates. Gangguan sensitifitas bervariasi dan juga distribusi nyeri selama perjalanan kliniknya. Kellgren dan Lawrence menemukan degenerasi . Osteofit semula mengarah horizontal. Selama perjalanan klinik mungkin timbul variasi pada tungkai mana penjalaran nyeri terjadi. Protrusi. Foto Polos Foto polos pada sindroma lumbar memberikan sangat sedikit informasi tentang sindroma tersebut namun dapat membantu menyingkirkan kelainan lain. Kadang-kadang prolaps dorsal dapat berubah menjadi osteofit yang menonjol kekanal spinal atau sebagian menyumbat foramina intervertebral. Osteofit adalah tahap akhir proses degeneratif pada diskus intervertebral dan tidak dapat dianggap sebagai sindroma diskus intervertebral akut. Degenerasi diskus intervertebral dikenal dengan tampaknya reaksi tulang ruas tulang belakang dan pemendekan tinggi diskus intervertebral. Kombinasi sindroma L4 dan L5 berakibat gangguan motor pada kuadriseps. instabilitas segmental tidak dapat didemonstrasikan. Prolaps medial mungkin menyebabkan siatika.intervertebral L4/L5. sejumlah radik saraf menjadi terkena yang akan menyebabkan simptomatologi poliradikuler dimana tulang belakang lumbar menjadi kifosis. radik saraf yang berhubungan (L4) dapat terkena walau radik saraf L5 tidak langsung berdekatan dengan prolaps diskus intervertebral berdekatan. Nyeri dan hipestesi didistribusikan sepanjang aspek anterolateral seluruh tungkai dan sindroma L5 menonjol. tibial anterior dan extensor hallucis longus. RADIOGRAFI A.

lebih nyata didapat pada dekade ketujuh dibanding dekade kelima bila tidak memperdulikan gejala. Frekuensi spondilosis dan lordosis lumbar ekual untuk masing-masing kelompok. Deviasi aksial. dibanding dengan 30 % pria dan 27 % wanita dengan arthritis faset secara radiografi. Pada tumor dan kelainan inflamatori ia akan membesar atau menghilang sama sekali. Ini menunjukkan bahwa degenerasi diskus sangat mungkin bila gejala dijumpai. Interpretasi radiograf penting karena sekali kelainan lain disingkirkan. serta penyempitan diskus pada foto polos adalah indikator degenersi diskus yang agak kurang peka. Pemendekan diskus intervertebral dan juga . Gambaran paralel end-plates ruas tulang belakang diamati. sedang pada tulang belakang lumbar 66 % pada pria dan 45 % pada wanita. Jumlah ruas tulang belakang lumbar dapat ditentukan dan setiap bentuk peralihan teramati pada daerah lumbosakral dimana ketidaksetangkupan dapat menyebabkan beban yang tidak ekual dari diskus intervertebral yang mungkin memiliki beberapa kepentingan dalam perkembangan kelainan diskus intervertebral. lebih banyak pada penderita dengan gejala dibanding orang yang tanpa gejala. Walau penyempitan ruang diskus jelas berhubungan dengan usia. anomali ruas tulang belakang dan penyempitan kanal spinal lumbar mempercepat perkembangan selanjutnya kelainan ini. s. Frymoyer menemukan bahwa hanya penyempitan ruang diskus L4 yang jelas berhubungan dengan gejala nyeri pinggang bawah dan nyeri tungkai. Yang terakhir adalah perubahan yang terjadi relatif kemudian pada degenerasi diskus intervertebral. Didapat juga hubungan yang positif antara nyeri pinggang dengan adanya spur traksi dan spondilolisis serta spondilo-listesis. Pada skoliosis ia bergeser kearah kecekungannya. namun ditemukan penyempitan ruang diskus pada kelompuk tanpa gejala sebesar 22 % dan pada kelompok dengan nyeri pinggang sebesar 56 %. Proyeksi anteroposterior.diskus secara radiografik pada 83 % pria dan 72 % wanita antara usia 55 dan 64 tahun tanpa memperdulikan gejala. Togerson dan Dotter (1976) meneliti pasien dengan sindroma diskus intervertebral lumbar dan membandingkannya dengan sejumlah yang sama penderita tanpa nyeri pinggang bawah. Dari data disimpulkan bahwa foto polos kecil nilainya dalam menentukan penyebab nyeri pinggang atau dalam menentukan siapa yang berisiko. Kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah berhubungan dengan usia dan tidak perlu menunjukkan adanya gejala. kesimpulan atas keadaan fisiologiknya dibuat secara tak langsung dengan ada atau tiadanya penyempitan ruang diskus dan adanya osteofit marginal. Diskus sendiri tak langsung dapat dilihat pada radiografi rutin. demikian juga letak arkus. deformitas prediskotik dapat diamati.

Tampilan Rongga subarakhnoid ditampilkan dengan menyuntikkan medium kontras. Pada daerah lumbar rongga subarakhnoid berisi cairan spinal yang . Mielografi 1. Ini dijelaskan Baastrup dan digunakan namanya. Pembengkakkan tepi ruas tulang belakang tidak harus berarti osteofit posterior. Walau nyatanya kebanyakan ahli bedah merasa bahwa spina bifida occulta tidak merupakan masalah. Rongga subarakhnoid dibatasi membran arakhnoid yang berdekatan dengan dura. terutama bila operasi dilakukan pada daerah tersebut. Penyempitan rongga intervertebral pada pemuda penting secara klinis. Proyeksi lateral. perlu untuk mengindentifikasi foramina interarkuata yang bertindak sebagai pengarah untuk tempat pungtur. karena peningkatan kehati-hatian diperlukan dalam mencapai bagian tulang belakang daerah ini untuk mencegah ketidak-sengajaan membuka kantung dural. dan suatu saat mielografi mungkin perlu. namun merupakan pertanda degenerasi diskus intervertebral dini. B. perlu memperluas pemeriksaan radiografik dengan pandangan oblik dan tomografi. Bila ditemukan suatu perubahan. selalu harus dilaporkan. yang disebut pseudospondilolistesis (spondilolistesis degeneratif). Perubahan radiografik menampakkan perubahan yang lanjut dari kompleks tiga sendi. Juga dislokasi ruas tulang belakang arah posteroanterior tanpa tanda-tanda cedera pada proses artikular. menurut Schmorl dan Junghanns (1968). Namun pelurusan dapat terjadi bila pasien dalam posisi panggul dan lutut fleksi. Bila pungtur diperlukan dalam mendiagnosa kelainan diskus intervertebral. Gangguan pertumbuhan juvenile tidak mempunyai arti klinik.hiperlordosis tulang belakang memungkinkan kontak erat antara prosesus spinosus dan suatu sklerosis reaktif dapat diperlihatkan yang mungkin merupakan penyebab perasaan tidak enak. Memberikan lebih banyak informasi dan fenomena Guntzsche dapat diamati dimana tampak pelurusan lordosis lumbar. Kantung dural bersama rongga subarakhnoid turun bersama-sama menuju ruas tulang belakang sakral kedua. Ini mungkin hanya variasi kontur ruas tulang belakang normal dan mudah dikenal melalui tomografi atau mielografi. pandangan oblik memberikan informasi penting. Osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang mungkin juga penting. Dalam meneliti spondilosis dan spondilolistesis lebih lanjut. Pelurusan ini merupakan tanda dari sindroma diskus intervertebral. Tebal diskus intervertebral pada daerah lumbal makin kedistal akan semakin tebal hingga tingkat diskus intervertebral lumbar empat.

Kontras adalah minyak iodium dan sejak itu berbagai media kontras telah digunakan. Diantara media kontras positif antara lain adalah minyak iodium tak larut dan ester iodium serta substansi larut air. Minyak iodium seperti Iodipin. Pembengkakan kecil karenanya mudah dikenal pada mielografi. Bagian anterior kantung dural berhadapan dengan bagian posterior diskus intervertebral berdekatan dengan konsekuensinya semua perubahan pada segmen posterior diskus intervertebral akan menyebabkan indentasi kantung dural. Kantung radik dapat sedikit terindentasi atau sama sekali terputus. Pengenalan kantung radik perlu untuk memperlihatkan posisi dan perjalanan saraf-saraf spinal. Mielografi dengan udara dan minyak sangat berbahaya. Protrusi lateral dapat sulit dikenal dan mungkin perlu melakukan mielografi secara sempurna dengan pengisian yang baik dari kantung dural. Jarak ini sempit pada tingkat L1-L4. 2. Gangguan pada kantung dural tidak hanya tergantung ukuran prolaps namun juga pada jarak antara tepi posterior diskus intervertebral dan dura. Serabut-serabut saraf kauda ekuina tampak sebagai pita radiolusen tipis pada mielografi dan bila kantung dural mengalami penekanan mereka akan melewati daerah obstruksi dengan tampilan seperti lengkungan. dan karena lamanya absorbsi mereka dapat mengakibatkan arakhnoiditis pada kanal spinal. Mielografi pertama dengan media kontras positif dilakukan Sicard dan Forstier (1922). Pada protrusi atau prolaps medial atau para medial pandangan lateral akan memperlihatkan indentasi pembengkakkan pada kantung dural yang terisi kontras pada tingkat diskus intervertebral yang terkena. Untuk alasan ini mielografi juga disebut radikulografi. . Media Kontras Mielografi pertama dilakukan Dandy (1919) dengan media udara. dan antara kedua ekstrem ini berbagai kemungkinan dapat ditampilkan. Demonstrasi kantung-kantung radik tidak mungkin. Pleksus vena yang besar dan lemak epidural mengisi rongga ini. Media kontras larut air tampaknya lebih memadai pada mielografi lumbar karena diresorbsi lengkap dan tidak menyebabkan komplikasi sekunder.mengelilingi serabut-serabut saraf kauda ekuina dan mengikuti radik-radik saraf keforamina intervertebral membentuk kantung radik. namun hanya sedikit informasi yang dapat diterima. Pada tingkat L5-S1 jaraknya lebih lebar dan prolaps medial kecil tidak akan menekan kantung dural dan karenanya tak ditampilkan pada mielografi. Membuang medium kontras dengan pungtur lumbar sekunder tidak selalu berhasil. Pengisian kantung radik saraf dengan medium kontras adalah paling penting dalam mendiagnosa dengan mielografi. Rungga epidural (ekstradural) adalah rongga antara kantung dural dan bagian tulang dari kanal spinal. dan ester iodium seperti Pantopaque diabsorbsi dengan susah payah.

Ia ditolerasi baik dan tidak memerlukan anestesi spinal. Keuntungan agen larut air ini antaranya lebih sensitif terhadap perubahan patologis hingga lengan radik saraf dapat terlihat jelas. dan Iopamidol (Isovue). Sebagai tambahan. namun tidak dijumpai efek samping. Golman 1973. 90 % pasien dengan mielogram positif. Data yang sama dikemukakan Spangfort yang menyatakan lebih dari dua kali temuan . ditemukan herniasi diskus saat operasi yang mana menunjukkan tingginya sensitifitas tes ini. Ia dapat juga digunakan untuk diskografi.Talle 1973. Hindmarsch 1973.Pemakaian luas dan kemungkinan efek samping membuat mielografi sebagai pemeriksaan yang harus dikerjakan dengan pertimbangan. Metrizamide adalah medium kontras triiodized yang larut air namun tidak terurai. Iohexol (Omnipaque). Arti mielografi sebagai penunjang penting sebelum operasi diperlihatkan Hirsch dan Nachemson yang melaporkan hubungan tanda-tanda neurologik dengan mielografi kontras larut air pada penderita yang dioperasi karena diduga herniasi diskus lumbar. yang larut air dan memberikan informasi yang lebih baik. Masih cukup material kontras yang tertinggal ditempatnya untuk menampilkan diskus intervertebral yang mengalami herniasi yang sebelumnya tidak ditampilkan dengan baik pada tomografi aksial terkomputer. risiko aliran kontras ketingkat lebih tinggi dapat dikurangi karena toksisitasnya yang sangat rendah hingga bila mencapai toraks atau leher tidak akan menimbulkan komplikasi. Skalpe dan Amundsen 1975. kurang toksis dan kurang menyebabkan arakhnoiditis. Perkembangan media kontras yang lebih sempurna. Meglumine iocarmate (Dimer X). Substansi padatnya dapat dicampurkan dengan pelarutnya pada konsentrasi yang diinginkan. Ia cepat diabsorbsi dari rongga subarakhnoid dalam waktu sekitar delapan jam. Kadang-kadang media kontras tertimbun diepidural. dan tidak memerlukan pungtur sekunder untuk mengeluarkan media kontras seperti yang sebelumnya berlaku untuk media kontras jenis iodium/minyak. hal mana paling tidak menyenangkan pada mielografi dengan minyak. Neurotoksisitas seperti kemampuan epileptogenik sangat rendah dibanding media kontras larut air yang terurai (Skalpe . Larutan 170 mg J/ml adalah isotonik terhadap cairan spinal. Nachemson 1976). Penggunaan baru dari Metrizamide adalah dalam tomografi aksial terkomputer yang dilakukan 8 jam setelah mielografi. didapat dengan menggunakan Meglumine iothalamate (Conray). Dengan memakai Metrizamide (Amipaque). Medium kontras bercampur cepat dengan cairan spinal serta viskositasnya rendah. Metrizamide (Amipaque). Karenanya tampilan rongga subarakhnoid dan radik-radik saraf bisa didapat dengan cepat dan dengan akurasi yang tinggi. absorpsinya melalui teka lumbar dan villi arakhnoid parasagittal hingga tidak perlu dikeluarkan lagi.

Karena sifatnya invasif. Kelainan diskogenik tidak hanya didiagnosis namun juga ditindak berdasarkan tanda dan gejala klinik. Pada kasus tertentu dimana pasien menolak. Indikasi Baru akhir-akhir ini mielogafi menjadi prosedur diagnostik yang dianjurkan untuk mendiagnosis semua keadaan yang diduga akibat penyempitan kanal spinal. Tentu . kejang dan keluhan psikik. mielografik dan operatif didapatkan bahwa tanda-tanda klinik hanya berkaitan 60% dan tanda-tanda mielografik 95% terhadap pengamatan operatif. Kelainan mielografi semata-mata tidak boleh diperlakukan sebagai satu-satunya penentu operasi. Walau nilai mielografi sangat membantu dalam menyaring pasien. termasuk nyeri kepala. Mielografi juga menunjukkan apakah prolaps berasal dari atas atau bawah dan selanjutnya memberikan informasi arkus mana yang akan dibuka.64 %. pertentangan masih terjadi hingga saat ini dikarenakan risikonya. dan keputusan operasi harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinik. Indikasi utama mielografi pada penderita kelainan diskus intervertebral adalah adanya nyeri radikuler dan gagal terhadap semua tindakan dan pada penderita dimana operasi akan dilaksanakan. Hitselberger dan Witten menemukan 37 % penderita tanpa gejala mempunyai kelainan tulang belakang leher dan lumbarnya. keterbatasannya dan ketidaktepatannya dibandingkan cara pemeriksaan lain. Pada beberapa kasus akan memberikan jawaban apakah operasi harus dilaksanakan atau tidak. dimana dua pertiganya (24 %) adalah pada lumbar. Indikasi lainnya adalah stenosis tulang belakang dan kemungkinan adanya tumor. Walau sudah dengan Metrizamide. risiko masih tinggi yaitu 23 . Menurut Nachemson (1976) akurasi diagnostik diperbaiki dari 60 menjadi 90% bila mielografi ditambahkan pada pemeriksaan. hingga menghindarkan perlunya melakukan laminotomi diagnostik kecil. Mielografi memberikan penegasan dan juga memberikan tingkat yang tepat dari prolaps yang menentukan operasi. Pada pemeriksaan hubungan antara pengamatan klinik. Bila tanda-tanda dan gejala-gejala sangat jelas dan informatif. Pungtur lumbar untuk analisis cairan spinal tidak diperlukan pada keadaan ini. masalah urinari. mual. Akhirnya seperti telah dijelaskan. Mielografi prabedah saat ini tidak harus ditinggalkan. mielografi tidak boleh dilakukan. 3. kepentingan mielografi pada kasus ini tidak diutamakan. mielografi akan memberikan tingkat yang tepat yang mana sangat penting ketika simptomatologi sering berbentuk campuran. muntah. mielografi mempunyai risiko yang kuat.negatif pada operasi bila sebelumnya tidak dilakukan mielografi.

Sindroma diskus intervertebral lumbar lokal sangat jarang memerlukan mielografi. setelah mana medium kontras segera mulai diabsorbsi. Untuk mendapatkan proyeksi yang kaya kontras dianjurkan untuk menyelesaikan seluruh pemeriksaan secara lengkap dalam 10 hingga 20 menit. Harus waspada akan kemungkinan adanya peninggian tekanan intraserebral serta akibatnya yang mungkin memberat pada keadaan ini. Namun bila ada dugaan suatu tumor sangat dianjurkan sebagai prosedur diagnostik. mielografi dianjurkan. Pada kasus asuransi dimana diagnosisnya sulit. Ini termasuk nyeri pinggang akut yang mungkin atau tidak berhubungan dengan tanda-tanda neurologik yang jelas. Bila diduga sindroma kauda. Pastikan kontras berada intratekal. Pada kasus khas sindroma L5 dengan paralisis akut. . 4. projeksi fleksi dan ekstensi diambil dalam posisi berdiri tampilan lateral. Bila lesi diduga lebih atas. Jarum diinsersikan pada inter-space antara L2 dan L3. dan film diambil untuk menampilkan berbagai tingkat. Pada anak-anak harus hati-hati dalam merencanakan dan melakukan mielografi. Bila tindakan konservatif gagal setelah beberapa bulan. Bila diduga suatu prolaps mobil atau fragmen. Tehnik Pasien diletakkan pada meja radiografik dengan punggung datar dengan bantuan kantung udara yang dapat digembungkan dibawah perut. harus diingat bahwa kebocoran cairan spinal ringan mungkin terjadi dan karenanya beberapa tindakan pencegahan harus diambil seperti halnya melakukan pungtur lumbar diagnostik.mielografi tidak boleh dilakukan pada penderita yang peka iodium terutama yang menunjukkan kepekaan terhadap makanan laut. Tampilan posteroanterior diambil dengan meja ditinggikan dengan berbagai derajat. Tampilan oblik diambil dengan pasien dalam posisi telungkup dan miring kesatu sisi dan selanjutnya kesisi lain. kontras dimasukkan dengan kontrol radiografik antara L1 dan L2. Jarum segera ditarik setelah injeksi. Bila pada mielografi tidak ada cairan yang didapat. mielografi tidak selalu perlu dan operasi dapat dilaksanakan segera. Kepala meja ditinggikan. Dalam hal penggunaan Metrizamide perlu mempertahankan posisi pasien setengah duduk 600 selama 6 jam agar kontras tidak naik melebihi tingkat lumbar. perlu dipikirkan mielografi. keadaannya sangat berbeda dan mielografi harus dilakukan dalam usaha menentukan tingkat. Pada kasus dengan masalah asuransi dokumentasi yang dapat dilihat lebih bernilai dari tanda-tanda dan gejala-gejala. Injeksi biasa dilakukan dengan tabung plastik yang bersatu dengan jarum.

Medium kontras diabsorbsi cepat dari daerah ini tanpa menyebabkan kerusakan apapun. Kantung-kantung radik saraf dapat ditampilkan. Indentasi medium kontras pada beberapa segmen biasa didapat pada penderita tua. Tampak Anteroposterior. Setiap benda asing yang dimasukkan kekanal spinal akan menambah iritasi terhadap sistem saraf pusat dengan nyeri kepala. sedikit peninggian suhu dan juga kekakuan otot. maka komplikasi akan diakibatkan terutama oleh pungtur lumbarnya. muntah. lateral dan oblik untuk mendapatkan analisis proses yang menimbulkan penyempitan kanal spinal. Tampak Lateral. Temuan Mielografik Mielografi diambil pada pandangan anteroposterior. Namun dari berbagai laporan. Tepi anterior dan posterior medium kontras tampak dan kantung-kantung radik saraf tercakup. Karena penggunaan medium kontras mempunyai komplikasi yang relatif kecil. tak ada hal-hal istimewa yang diharapkan terjadi. Ujung bawah kantung dural menunjukkan variasi anatomis yang dapat berupa kerucut atau lengkungan. Secara keseluruhan. Komplikasi Komplikasi mungkin timbul baik karena medium kontras atau pungtur lumbar maupun keduanya. serta muntah dapat terjadi. 6. Suatu saat gejala spontan berkurang dan tindakan terbaik adalah analgesik dan istirahat baring. Indentasi pada satu atau dua segmen adalah patognomonik. Ini mungkin berupa penekanan . Kantung dural berakhir pada ruas tulang belakang sakral kedua atau mungkin lebih pendek pada ruas tulang belakang sakral pertama. Bila kesalahan menyuntikkan media kontras (Metrizamid) kerongga epidural. meningismus. Disini terdapat hubungan yang nyaris langsung yang tidak terjadi pada segmen L5-S1 dimana terdapat sedikit rongga. Protrusi dan prolaps lumbar akan menyebabkan indentasi khas pada mielogram. Tampilannya berbeda tergantung proyeksi yang digunakan. Gambaran posterior diskus intervertebral L1-L4 serupa dalam tampilan lateral. tampilan fungsional diambil pada fleksi dan ekstensi maksimum. efek samping dan komplikasi ini tidak akan mengurangi nilai mielografi sebagai alat bantu diagnostik. kejadiannya relatif kecil. Bila diduga suatu prolaps yang mobil atau segmen yang tak stabil. 2-3% penderita dengan nyeri kepala juga menderita meningismus. Komplikasi yang harus dipikirkan adalah infeksi. yang mungkin akan membingungkan dengan prolaps medial pada tingkat L5-S1. Setelah mielografi dengan Metrizamide 20% pasien merasa nyeri kepala untuk beberapa hari. Walau toksisitasnya rendah.5. media kontras yang baru mungkin menyebabkan komplikasi jenis yang sama.

mudah untuk menganalisa ukuran dan lokalisasi protrusi diskus intervertebral. Tindakan menyeluruh tergantung gambaran klinik dan bahkan bila perubahan ditampilkan pada mielografi. sering menyerupai prolaps diskus intervertebral. Sebaliknya operasi dipikirkan pada kasus dimana tindakan konservatif tidak memberikan hasil dan hasil mielografi tidak menampakkan informasi positif. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. Dari tampilan berbeda. Pada degenerasi diskus . Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. Tampak Oblik. Prolaps masif didemonstrasikan oleh berbagai tampilan. Protrusi lateral lebih mudah diamati pada tampilan anteroposterior. Pada mielografi tidak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. Seperti ditunjukkan oleh mielogram. menyempitan oseus kanal spinal lumbar. diagnosis mungkin perlu dipertajam untuk mendapatkan peng-indentifikasian asal. Tumor. Media kontras larut air tak hanya menampilkan kontur permukaan kantung dural dan kantung-kantung radik namun juga struktur interior dapat diperlihatkan.atau obstruksi lengkap ('amputasi'). Serabut saraf akan tampak sebagai pita tipis yang panjang. pemeriksaan objektif dan radiografi dan pada kasus tertentu mielografi. prolaps turun dari medial kelateral keforamina intervertebral (Brussatis dan Steeger 1974). operasi dikontra-indikasikan pada penderita dengan tidak cukup gejala atau temuan. lokalisasi dan tingkat lesi. Pemeriksaan laboratorium mungkin mempunyai beberapa nilai dan pada sindroma lumbar tidak dijumpai perubahan nilai-nilai darah. Menampilkan kantung-kantung radik saraf dan kontur lateral kantung dural. Kepadatan kontras media tidak akan terlalu tinggi bila ia sudah bercampur dengan cairan spinal. PEMERIKSAAN LAIN Setelah pemeriksaan klinik termasuk riwayat lengkap. Pemeriksaan Laboratorium Termasuk Analisis Cairan Spinal Pemeriksaan tambahan dipersiapkan hanya untuk keperluan diagnosis diferensial. Perpindahan fragmen diskus intervertebral seperti juga protrusi medial pada tingkat L5-S1 dan protrusi lateral pada setiap lengan radik tidak selalu tampak pada mielogram. Namun indentasi dapat terjadi tanpa ada hubungannya dengan degenerasi diskus intervertebral. A. laju endap darah atau foresis-elektro. Cairan spinal bisa didapat saat mielografi dan analisis dapat dilakukan. Protrusi medial dan para medial mudah diperlihatkan pada tampilan lateral dan oblik.

Keadaan protein meningkat dan hitung sel normal disertai tekanan cairan normal disebut 'dissociation globolinocyto-logique' (sindroma Guillain-Barre). Tes Queckenstedt dapat dilakukan. terutama pada inflamasi (herpes zoster. Diskografi hanya dapat membedakan antara protrusi dan prolaps yang mungkin sama artinya dalam tindakan selanjutnya. sifilis) atau tumor. . Pada setiap pasien dengan gangguan radik lumbar kelima dan jarum yang dimasukkan ke diskus intervertebral L4/L5 membuktikan keadaan normal. Bahkan dengan Metrizamide hasil negatif palsunya 20% pada interspace L5-S1. Analisis cairan spinal tidak memberi banyak pada kasus degenerasi diskus intervertebral dan hanya dipersiapkan untuk diagnosis diferensial dari keadaan lain. adalah bahwa radik lumbar kelima tertekan pada daerah interforaminal baik oleh diskus intervertebral yang mengalami herniasi atau oleh spurring lateral dari herniasi yang sudah lama. Lagi pula mielografi dengan media kontras larut air lebih mudah dikerjakan dan lebih akurat dalam informasi. Pada prolaps besar atau setelah operasi diskus intervertebral kadang-kadang dijumpai sedikit peningkatan protein cairan spinal. Pada sindroma ini protein total dan koloid nilainya sangat tinggi. pertama harus diduga terutama bila diskus intervertebral lumbosakral menyempit dan kolaps. Operasi diindikasikan pada kasus ini. Hitung sel normal. medium kontras akan mengalir keluar aspek posterior anulus fibrosus. Penting untuk mengingat bahwa diskus intervertebral yang berdegenerasi tidak perlu menimbulkan gejala. Pada perforasi anulus fibrosus. Diskografi Rongga intradiskal dapat didemonstrasikan dengan menyuntikkan media kontras kedalam diskus intervertebral. Diskus intervertebral sulit untuk disuntik dengan medium kontras dan sedikit kontras yang masuk dapat diperlihatkan oleh gambaran seperti lensa pada radiografi. Pada kelainan degenerasi diskus intervertebral tes ini tak diperlukan.intervertebral cairan spinal jernih dan mudah mengalir melalui jarum kecil. Pada keadaan dengan peninggian protein dan hitung sel bersama dengan blok spinal (Queckenstedt positif). Kelainan ini dapat dijumpai pada beberapa keadaan spinal. B. Diskus intervertebral yang berdegenerasi dapat mengabsorbsi 2 hingga 4 cm3 cairan dan akan memperlihatkan sejumlah rongga kecil pada jaringan diskus intervertebral. Nilai dari diskografi lumbar minimal pada diagnosis rutin karena diketahui degenerasi terjadi pada usia tertentu setelah tampilan normal sulit diharapkan. pemeriksaan lanjutan harus dikerjakan.

Pada pencitraan dengan pembebanan T2 pada serabut anular luar memperlihatkan intensitas sinyal yang sangat lemah. serta hilangnya batas anatomik antara nukleus dan serabut anular dalam (Miller. 1988). eksudat inflamatori. PRM memperjelas akibat herniasi terhadap struktur intraspinal. langsung didekat radik saraf yang melintang diskus. dan jenis utama dari kolagen yang dominan (Ghosh. Kriteria diagnostik harus spesifik. seperti halnya ligamen longitudinal posterior didekatnya (Pech dan Haughton. dan ini normal pada pertumbuhan jaringan normal. Pada pencitraan dengan pembebanan T2. Kedua.C. Diatas usia 30. . Dengan penuaan. dengan pembesaran saraf serta pengaburan tepinya karena edema. Nukleus pulposus dan anulus fibrosus terutama mengandung air. sering terletak dorsolateral. Miografi-elektro Gangguan motor dapat dinilai secara objektif dengan miografi-elektro. Intensitas sinyal diskus tergantung keadaan hidrasi dan fisiokimia jaringan diskal (Hickey. sering pembengkakan pasca jejas pada radik saraf terkena. 1985). Pertama. akan terjadi penghancuran bertahap proteoglikan nukleus. intensitas sinyal yang tinggi pada bagian sentral diskus berasal dari nukleus pulposus dan serabut anular dalam (Yu. E. tingkat hidrasi. 1988). Bila temuan ini dijumpai. D. Tomografi Terkomputer Sangat akurat dalam mendiagnosis herniasi diskus intervertebral dengan kompresi radik saraf sebagai penyebab siatika. Gangguan otot neurogenik yang timbul sehubungan dengan adanya prolaps tak dapat diperlihatkan oleh miografi-elektro hingga perjalanan penyakitnya lanjut. Kelemahan otot anggota bawah sering dapat diketahui pada pemeriksaan klinik. celah intranuklir ditemukan pada diskus normal pada pencitraan pembebanan T2. atau pembesaran vena epidural sekitarnya. protrusi harus fokal dan tak setangkup. pengeringan bertahap material inti mukoid. Ketiga. harus tampak kompresi radik saraf dan/atau pergeseran. juga memberikan kemungkinan menduga perubahan patologis yang terjadi dalam diskus sebelum perubahan pada konturnya. Pencitraan Resonansi Magnetik Baik MRI maupun CT resolusi tinggi memberikan tampilan yang sangat baik atas perubahan morfologik serta pengaruh dari herniasi diskus. 1988). kolagen serta proteoglikan. akurasi diagnostik sangat tinggi. 1986). dengan perbedaan utama pada kadar relatif komponen tersebut. Penggunaan miografielektro untuk memperlihatkan gangguan neurologik adalah semata-mata untuk diagnostik diferensial. kaudal dari herniasi.

Tes traksi juga menjelaskan apakah traksi akan bernilai terapeutik bagi pasien. Kadangkadang nyeri bahkan bertambah saat traksi dan menjalar lebih keperifer. Sebagai pegangan. yang dilakukan dengan memakai bebat sekitar pelvis dengan pegangannya tergantung dari tiap sisi (Kramer 1973). Pengaruh postur pada gejala menunjukkan terkenanya diskus intervertebral. Neuralgi femoral paling sering disebabkan degenerasi diskus intervertebral lumbar bagian atas. Pada protrusi kecil.F. Dengan traksi pada tulang belakang lumbar. Selain itu harus dibedakan antara nyeri radik saraf dan nyeri akibat terganggunya saraf perifer. siatika disebabkan oleh degenerasi dua diskus intervertebral lumbar yang terbawah. Sulit penilaian jaringan lunak. Pasien juga dapat membungkuk kedepan saat menarik pegangan. Penderita menarik pegangan kebawah dan dengan tindakan ini intensitas dan penjalaran nyeri yang berasal dari radik-radik saraf lumbar akan berubah. dan akhirnya siatika dapat merubah penjalarannya dari bagian distal keproksimal dari anggota bawah. siatika dan deformitas siatik akan hilang selama traksi. Ini dapat terjadi apabila prolaps menjadi lebih besar atau mengalami fragmentasi menjadi sekuester. Ini terutama ditunjukkan oleh tes traksi terhadap tulang belakang lumbar atau tes regang femoral yang bermakna pada gangguan pada radik saraf. A. Mungkin juga nyeri akan berkurang dan lokalisasi berubah. Tomografi Terkomputer yang diperkuat Diperdebatkan keuntungan dan kerugiannya. Nyeri lateral dapat bergerak lebih kemedial dan nyeri radik saraf tajam berubah menjadi nyeri pinggang tumpul. Nyeri berasal dari sendi panggul atau vaskuler tidak akan terpengaruh oleh tes traksi. mungkin akan mengurangi kontak antara radik saraf dengan diskus intervertebral hingga penjalaran nyeri baik siatika maupun neuralgi femoral dapat berubah. Postur tidak berpengaruh pada siatika atau neuralgi femoral oleh peenyebab lain. Dilakukan melakukan DIAGNOSIS DIFERENSIAL SINDROMA AKAR SARAF LUMBAR Dalam menganalisa nyeri pada anggota bawah. penting untuk membedakan siatika sebenarnya dengan nyeri yang menyerupai siatika. tes traksi dapat positif pada sindroma radik saraf karena berbagai penyebab. Tes traksi berguna dalam mendiagnosis sindroma radik saraf lumbar. Kekecualian. Penyebab Ekstravertebral Tidak jarang nyeri dari panggul dikelirukan dengan . pada hari mielografi dilakukan.

mielografi akan memberikan jawabannya. Juga perlu secara teliti mendengarkan riwayat pasien dimana sindroma radik saraf dijelaskan oleh hubungan terhadap perubahan posisi dan tes traksi. Untuk diagnosis terkenanya sendi panggul. Pada siatika tes siatik sangat berbeda. Bila nyeri bertambah saat berjalan. Nyeri pada daerah sendi panggul mungkin disebabkan peri-arthrosis panggul yang baik sendi panggul maupun tulang belakang lumbar tidak menunjukkan adanya kelainan patologik. Berbeda dengannya. yaitu kepaha dan lutut. Ini semula dijelaskan sebagai terganggunya saraf obturator yang mencatu bagian anterior sendi panggul dengan serabut-serabut sensori. uterus atau prostat hanya timbul bila tumor mencapai ukuran besar. Gangguan neurologik mungkin sangat sedikit atau sama sekali tidak ada. trokhanter maior dapat diinfiltrasi dengan anestetik lokal.sindroma radik saraf lumbar. Dalam usaha menegakkan diagnosis. Radiografi termasuk tomografi digunakan untuk diagnosis menyeluruh. ini akan sangat membingungkan. Tes traksi negatif serta tiadanya hubungan dengan posisi postural menyingkirkan gangguan radik saraf. Bila tes straight leg-raising mengenai sendi panggul. Kadangkadang suatu aneurisma arteri iliak komunis bisa menyebabkan siatika (Elliot 1971). selanjutnya disarankan menyuntikkan anestesi lokal intra-artikular sebagai pengarah. Ada pula kelainan pada saraf siatiknya . pergerakan sendi panggul menyebabkan pergerakan pelvik yang konkomitan dengan kemungkinan nyeri radik saraf. Pada sindroma radik saraf yang disebabkan protrusi diskus intervertebral atau prolaps diskus intervertebral. Pasien osteoarthrosis sering mengeluh nyeri yang menjalar kebawah. Tidak ada gangguan lumbar lokal yang menimbulkan siatika tanpa nyeri sakral. Tes Mennel dan pemeriksaan klinik yaitu radiografi dan sintigrafi akan membantu diagnosis. Perubahan inflamatori atau degeneratif pada sendi sakroiliak dapat menimbulkan nyeri serupa dengan siatika proksimal. ini sangat tidak biasa pada siatika. Sebabnya adalah sangat sering dua keadaan ini terjadi bersamaan dan penjalaran nyerinya sangat serupa. Pada sindroma radik saraf lumbar beberapa tanda mungkin tidak dijumpai hingga menyulitkan penegakan diagnosis. Tidak jarang diterima rujukan hanya karena kebingungan atas nyeri tungkai apakah dari sindroma radik saraf lumbar atau dari kelainan vaskular perifer. Sangat mungkin nyeri ini adalah akibat terganggunya saraf simpatetik (saraf vaskuler) seperti diduga Idelberger (1977). Tanda-tanda pleksus saraf lumbosakral akibat tumor ekstra-vertebral dari rektum. Pertanda terganggunya sendi panggul adalah perbedaan pada rotasi kedalam kedua sisi. Karenanya perlu menyingkirkan kemungkinan osteoarthrosis panggul serta nekrosis kaput femoral.

leprosi. dan terdapat perubahan cairan spinal. Gejala siatik bertambah dan tes straight leg-raising positif pada kedua sisi. diabetes dan periarteritis nodosa. Berlawanan dengan cedera pleksus dan saraf perifer. lesi radik saraf tidak pernah bersamaan dengan tanda-tanda vegetatif. Tindakan lain yang membantu diagnosis adalah infiltrasi lokal anestetik dan tes traksi. Penyebab Vertebral Selain sindroma radik saraf yang disebabkan kelainan diskus inter-vertebral dijumpai kelainan lain yang menyebabkan siatika dan mengenai saraf femoral. kelainan tik. B. Ini karena cedera pada saraf kulit femoral lateral. Tumor primer mungkin timbul pada segmen ruas tulang belakang terutama pada sarafsarafnya. Nyeri malam adalah khas. Ini harus dipikirkan sebagai diagnosis diferensial dalam menganalisa nyeri sakral. Bila nyeri dan gangguan sensasi terbatas pada lipat paha dan bagian anterior paha. tidak ada gangguan pada refleks tendon patellar pada parestetik meralgia. Nyeri menjalar mudah dibangkitkan dengan menekan daerah tersebut. Kadang-kadang siatika yang timbul setelah penyuntikan saraf siatik harus diingat karena mungkin pengobatannya termasuk injeksi pada daerah siatik. Stenosis spinal pada kebanyakan kasus disebabkan oleh kelainan diskus intervertebral dan . Akar-radik saraf terjerat oleh jaringan fibrosa disekelilingnya serta menyebabkan pengangkatan atau traksi keatas sisi posterior ruas tulang belakang berdekatan. Siatika dapat timbul bilateral pada spondilolistesis dan sangat sedikit dipengaruhi perubahan postur. Kadang-kadang kelainan Paget dan fluorosis menyebabkan siatika karena pertumbuhan tulang dengan penyempitan kanal spinal serta foramina intervertebral. dan gejala radik hanya terjadi bila massa tumor mengenai kanal spinal atau bila timbul fraktura patologis. Hal yang serupa terjadi pada tumor tulang belakang yang sebagian besar adalah metastase. Neuropati diabetik harus selalu diingat pada pasien tua. Spondilitis mungkin juga mengenai radik dan tidak terpengaruh oleh postur. parestetik meralgia harus dipikirkan. Pada lesi radik saraf tidak pernah ada kelainan perspirasi bahkan bila sensasi hilang total didalam daerah yang dicatu oleh beberapa radik (Schliack 1975). Sebaliknya dari sindroma L3. Bila spondilitis dimulai dianterior. Gejala neurologik terjadi. siatika adalah gejala lanjut.sendiri yang menyebabkan diagnosis diferensial menjadi sulit. Antaranya herpes zoster. Pada lesi saraf siatik terdapat kelainan fungsi sudorimotor didaerah gangguan sensasi. neuritis alkoholik. Sisi injeksi tampak keras.

Segera setelah paresis timbul. Analisis cairan spinal mungkin penting. Pada prolaps diskus intervertebral lumbar ada hubungan gejala dan perubahan patologik sebagai makin besar prolaps semakin berat gejala neurologik dan nyeri. Semua radik saraf dikauda tertekan baik oleh prolaps diskus intervertebral maupun tumor dan menimbulkan gejala radik lumbar maupun sakral. Mula-mula adalah nyeri hebat lumbar dan radikular. TINDAKAN Mengingat etiologi dan patologi. Sasaran utama adalah menghilangkan nyeri. Kompresi kauda akut akibat prolaps diskus intervertebral memerlukan operasi segera. perlunakan dan protrusi ringan dibanding prolaps sebenarnya. Sindroma Kauda Sindroma kauda menunjukkan sindroma radik saraf lumbar poli-radikuler secara menyeluruh. indentasi medium kontras mungkin sangat besar namun bila tidak ada gejala maka tidak ada alasan untuk operasi. C. Pada tumor kauda tidak ada hubungan dengan beban berat atau tanpa beban berat. Pada mielografi. Sasaran harus ditujukan untuk mengurangi keluhan rasa tidak enak subyektif dan tidak terlalu ditujukan kepada deformitas anatomik. Lesi kauda akut adalah akibat prolaps besar dari tingkat L3/L4 atau L4/L5. Kelainan diskus intervertebral khas dengan onset mendadak dan kaitannya dengan postur. Penting diingat keberagaman dan kepekaan masing-masing radik saraf yang menyebabkan gejala dan . Secara umum terdapat perubahan sekunder dari sendi-sendi dan otot-otot intervertebral. Kurang penting untuk memperbaiki mobilitas tulang belakang lumbar. Cairan spinal normal dan alirannya yang bebas pada tes Queckenstedt tidak menyingkirkan kemungkinan kompresi kauda yang terletak dalam. gejala khas prolaps diskus intervertebral menghilang. Kecil kemungkinan pulih bila operasi dilakukan dua atau tiga hari setelah kompresi kaudal. Dalam beberapa jam dapat timbul cedera yang irreversibel.menyebabkan siatika. Tindakan diagnostik terpenting adalah mielografi namun tidak selalu menjelaskan sumber kelainan. Kebanyakan kelainan diskus intervertebral tampak sebagai fragmentasi. tindakan secara umum serupa. Blok cairan spinal menunjukkan kompresi spinal. Laboratori dan mielografi akan memberi petunjuk diagnosis. namun memerlukan pemeriksaan lain untuk memperjelas kelainan seperti mielografi. Gejala sindroma kauda khas dan dari sudut diagnostik diferensial menarik untuk menganalisa etiologinya. Pemeriksaan radiologiogi dan laboratori normal.

Tindakan Konservatif . postur abnormal. Pasien yang bersifat pasif terbaik ditindak dengan istirahat tempat tidur. Usaha yang gagal pada terapi manual atau pemijatan dalam waktu lama harus diganti dengan istirahat dan pemakaian panas. Tidak perlu merencanakan suatu tindakan dalam dua atau tiga minggu. Harus dipikirkan tekanan material diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi. lainnya justru memburuk. Kemungkinan berhasil pada tindakan konservatif sangat terbatas. packing dan infiltrasi. Karenanya tindakan harus diarahkan terhadap intensitas gejala yang dipacu oleh sensitivitas radikradik saraf dan serabut-serabut saraf. Terdapat gabungan pengaruh tekanan mekanik dan sensitifitas saraf dimana yang terakhir ini dapat dipengaruhi oleh obat-obatan. nyeri yang berasal dari kapsula sendi intervertebral dan spasme otot. Diagnosa yang teliti dan pengalaman yang luas diperlukan dalam merencanakan cara terbaik untuk masing-masing pasien. namun bila tidak memberikan hasil yang baik dan nyeri tetap berat. pemijatan. 'Serangan' terapeutik pada rantai manapun akan memberikan hasil yang baik. Onset nyeri dan adanya suatu keadaan kronik akibat beberapa keadaan patologik membentuk lingkaran setan. Mulamula selalu harus dengan tindakan konservatif. Hal serupa terjadi pada traksi. aberasi psikik serta akhirnya nyeri. Material diskus intervertebral yang telah rusak tidak dapat diperbaiki oleh jaringan. Dengan kata lain terdapat reaksi yang berbeda dari radik-radik saraf terhadap rangsangan mekanik akibat deformitas patologik. Beberapa pasien bereaksi baik terhadap pemijatan. A. Harus dipikirkan semua kemungkinan cara pengobatan sesuai dengan kasus. Perubahan psikik juga penting. kontraktur kapsul sendi. perubahan abnormal volume diskus intervertebral. serta perubahan sirkulasi. karenanya tindakan harus simptomatik dengan satu tujuan saja yaitu mengurangi nyeri. Pikirkan usia pasien. Pemeriksaan teliti akan menunjukkan bagian mana dari segmen yang paling terserang dan rencana tindakan didasarkan kepadanya. Tindakan berdasar penyebab tidak akan berhasil pada kelainan diskus intervertebral. Mula-mula adalah masalah mekanik yang diikuti iritasi radik-radik saraf dengan akibat timbulnya spasme otot reflektori.tidak perlu perubahan patologik identik kasus demi kasus. karenanya dianjurkan mengatasi fokus infeksi lokal pada pengobatan siatika dan nyeri pinggang bawah. iklim dan tindakan fisik. pikirkan operasi. keadaan fisik secara umum serta keadaan mental. Pasien yang aktif lebih baik ditindak lebih aktif dengan traksi. Hal menarik lain adalah remisi spontan gejala pada kasus nyeri dengan onset akut akibat degenerasi diskus intervertebral. Akar saraf yang sudah cedera oleh tekanan akan bereaksi abnormal bila menghadapi keadaan alergi atau infeksi.

Diskus intervertebral menerima beban paling rendah saat berbaring horizontal dengan sendi lutut dan panggul dalam fleksi. Pasien harus mengatur fleksi lutut dan panggul pada posisi yang paling nyaman. Tindakan dikolam dengan gerakan yang kuat mungkin cukup untuk mengobati nyeri sakral dengan onset akut dan nyeri akan hilang dengan cepat. Tempat tidur harus rata dan keras. Tergantung penyebab. Lingkaran setan berupa nyeriregangan-nyeri. Gejala dari degenerasi diskus intervertebral biasanya akibat penambahan beban aksial dan karenanya tindakan terbaik adalah istirahat ditempat tidur. Tidak ada aturan bagaimana meletakkan tubuh hingga bebas dari nyeri dalam pengobatan lumbago. Istirahat Pengurangan rasa tidak enak dan nyeri dapat dicapai dengan istirahat. Pada siatika posisi terlentang lebih disukai. Kontraksi isometrik otot pinggang akan menambah tekanan intradiskal dan akan mengurangi volume diskus intervertebral walau pada posisi horizontal. pemijatan. Kenyataan bahwa pasien telah menemukan posisi tubuh yang meringankan nyeri dan dapat ditemukan oleh pemeriksa.1. dapat dipengaruhi oleh tindakan tersebut. pasien dengan nyeri pinggang bawah lebih menyukai beristirahat pada tempat tidur. Penting untuk mengatur posisi saat istirahat. Pada keadaan ini tekanan intradiskal 35 kp. segala variasi posisi berdiri atau horizontal dapat mengubah perjalanan nyeri. Dalam setiap gangguan fungsional pada interspace. Nyeri yang timbul setelah berada dalam posisi horizontal untuk waktu yang lama menunjukkan penambahan volume diskus intervertebral dan dapat dikurangi dengan memberi beban aksial secara hati-hati. pasien dapat digerakkan dengan arah yang memungkinkan kembalinya nukleus pulposus keposisi normal (Idelberger 1977). Dianjurkan memakai penyangga untuk tungkai berupa blok karet busa. tapi pasien mungkin memilih posisi yang tidak lazim untuk mengurangi rasa tidak enaknya. pasien mengatur posisi tulang belakang yang paling efektif mengurangi nyeri. kepala atau kaki tempat tidur dapat ditinggikan. Pada kasus nyeri pinggang bawah yang kurang begitu berat akibat dislokasi yang lebih ringan dari fragmen diskus inter-vertebral. penggunaan panas. Sebagai pegangan. Traksi dengan bebat ekstensi dapat mempercepat proses ini. Jenis tindakan ini salah satu yang terbaik yang dapat ditawarkan pada pasien dan diakhiri dalam beberapa hari serta dua hingga tiga minggu untuk kasus yang lebih sulit. Hirschberg (1974) melaporkan hasil yang sangat baik pada penderita yang dirawat konservatif dan mendemonstrasikan bagaimana pengurangan tekanan intradiskal menyebabkan hilangnya ketidaknyamanan serta . terapielektro serta analgesik. Bila ada alasan untuk tidak memungkinkan pasien berada dalam posisi berdiri.

Pemanasan Panas menyebabkan hiperemi dengan akibat pengenduran otot-otot yang spastik. Selama istirahat ditempat tidur. baik melalui kontak langsung maupun secara tak langsung melalui radiasi panas. Tak ada alasan untuk percaya. menekuk tubuh dan mengangkat dapat menyebabkan berulangnya keadaan dan musnahnya perbaikan yang telah didapat. terapi-elektro harus dicegah selama tahap akut. ini akan mengubah keadaan biokimia jaringan segmen lumbar. Pasien yang menderita nyeri sakral khronik dan siatika selalu mencegah kedinginan dan karenanya berpakaian hangat. pemijatan dan traksi dapat dianjurkan. mandi air panas atau botol air dapat digunakan. Pemijatan. Udara panas juga berefek baik. Derivat minyak asam salisil. panas tidak pernah digunakan terhadap pasien dalam posisi telungkup karena hiperlordosis paling sering menimbulkan nyeri. bebat dan aplikasi lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan panas dapat digunakan pada pinggang. Seringkali pasien dengan sindroma lumbar menemukan keuntungan dengan panas. Penting untuk melakukan tindakan menurut prinsip yang tegas. Dalam semua keadaan. 2. . dan pasien dapat dijaga fisik dan mental disaat ia menggunakan sesedikit mungkin gerakan dan higiene pasien dapat dirancang untuk keadaan berbaring pada sisi tubuhnya. Juga terjadi perubahan tingkat konduksi saraf motor dan aktifitas motor spinal dari neuron motor alfa dan gamma hingga terjadi relaksasi spasme otot yang diinduksi nyeri. Beberapa obat gosok. packing. reaksi inflamatori berkurang. Berdiri. kompres hangat. Sangat sering kedinginan memperberat ketidaknyamanan. Bila panas menambah nyeri. Dipercaya bahwa kantung panas mempunyai efek jaringan dalam. Alasannya tidak diketahui. Pemanasan suhu badan terbaik dengan menggunakan wool tebal. Mandi air panas. Istirahat harus dilanjutkan dan dilakukan untuk waktu yang lama dalam usaha menghilangkan penekanan terhadap radik saraf dan juga membantu pengerutan fragmen diskus intervertebral. dapat digunakan dan dianjurkan kompres panas dengan meletakkan dibawah pasien tanpa menggerakkan pasien terlalu banyak.nyeri. Untuk pemakaian sederhana dirumah. hiperemi akan menambah dan memperkuat nyeri. selalu digunakan oleh pasien nyeri pinggang bawah. Dengan pemanasan dalam. karena pada tumor dan keadaan inflamatori. Dengan adanya aksi refleks. terjadi perubahan pada segmen yang bersangkutan. diagnosis harus dipertanyakan. Panas bisa didapat dengan berbagai cara. yang meningkatkan panas.

3. rektal atau parenteral. Terapi fisik cukup memadai. obat-obat seperti disebut diatas dapat digunakan. otot yang tegang akan berelaksasi. Komponen antiflogistik diduga mempengaruhi reaksi inflamasi yang diakibatkan iritasi mekanik pada segmen bergerak. Bila nyeri bertambah dan tidak hilang dengan istirahat. Obat-obat kombinasi yang mengandung kortison mempunyai sifat antiflogistik kuat. pyramidon. Penyebab gejala mungkin kompresi mekanik serius terhadap radik-radik saraf lumbar dan memerlukan . Obat-obatan Tidak ada bukti bahwa obat dapat mempengaruhi perubahan volume jaringan diskus intervertebral. Tahap awal. fenilbutazon. Jenis obat diatur sesuai intensitas gejala. Relaksan otot mempunyai efek berbeda dimana ia langsung mempengaruhi otot yang menjadi relaks dengan akibat mengurangi nyeri. Sasaran utama adalah mengurangi nyeri. Bila tidak ditemukan perbaikan dalam waktu yang singkat. terapi obat-obatan harus diakhiri. Terakhir dilaporkan bahwa obat kombinasi memberi hasil memuaskan. Tranquilizer akan menurunkan sensitifitas elemen saraf yang teriritasi secara mekanik pada segmen bergerak. Nyeri kronik dianjurkan diatasi dengan indometasin atau aspirin yang umumnya ditolerasi baik. kombinasi aspirin dan kodein atau acetaminofen dan kodein yang dapat diberikan secara oral. Beberapa berefek analgesik dan anti flogistik dan umum digunakan seperti aspirin. dijumpai beberapa jenis obat. Dapat diberikan pada sindroma radik saraf kronik. Diazepam. Pada pasien dengan psikik tidak seimbang dianjurkan pemberian sedativa. Pemberian intramuskuler lebih disukai karena memudahkan kontrol dan penilaian. Efek samping yang timbul pada pemakaian lama tidak dapat dipertanggungjawabkan. sedatif bebas barbiturat dan relaksan otot dapat digunakan sebagai penambah pada tindakan lain. Karena efek sampingnya dianjurkan untuk pemakaian dalam waktu yang singkat. Pada saat operasi sangat banyak ditemukan radik-radik saraf yang menunjukkan tanda-tanda inflamasi. Bila nyeri hilang. karenanya lingkaran setan nyeri-spasme-nyeri dapat diputus. Pada nyeri pinggang bawah ringan dianjurkan tidak menggunakan obat apapun. Karena perbedaan mekanisme patogenetik. Pada nyeri akut berat. Vitamin B diduga mempunyai efek neurotropik yang membantu regenerasi serabut saraf yang terjepit. indometasin. dianjurkan aminofenazon. dianjurkan analgesik kuat dan antiflogistik. Injeksi intramuskuler dengan kombinasi fenilbutazon dan aminofenazon digunakan pertama kali. Efek merelaksasikan otot secara tidak langsung didapat juga dari sedatif dan tranquilizer yang sering dijumpai pada preparat kombinasi.

Beberapa jenis pemijatan akan memperkuat siatika akut atau lumbago karena pemijatan akan menggerakkan tulang belakang lumbar dan pasien tidak dapat untuk tetap pada posisinya.tindakan yang lebih sesuai. Posisi penderita selama pemijatan penting. Arus frekuensi tinggi menghasilkan panas pada jaringan dalam. Posisi telungkup tak dapat dianjurkan karena lordosis lumbar akan bertambah dengan tekanan pemijatan dan karenanya pasien harus diletakkan telungkup pada penyangga karet busa yang memungkinkan pasien memfleksikan panggul dan tungkainya bersama-sama. Panjang gelombang terlalu pendek tidak akan merangsang sel. Sindroma lumbar yang memerlukan pemijatan jangka panjang lebih baik ditindak dengan terapielektro yang akan menghemat tenaga maupun waktu. otot paravertebral serta iskhiokrural mempunyai efek stabilisasi. Jenis-jenis pemijatan dan pengaruhnya telah dijelaskan dan disamping pemijatan klasik. Bila keadaan ini tercapai. Frekuensi yang dianjurkan adalah 20. pemijatan jet air dapat digunakan. Ia mengatur segmen bergerak dalam istirahat hingga tak ada lagi penekanan lebih lanjut atau tarikan pada radik saraf atau ramus meningeal dari saraf spinal. Dengan cara ini otot pinggang paravertebral yang luas dan berkontraksi digerakkan tanpa perlu penekanan terhadap lordosis lumbar yang biasanya terjadi pada pemijatan tangan. Pada fase akut sindroma lumbar . Dengan miografi-elektro diperlihatkan bahwa pemijatan mempunyai efek merelaksasikan otot yang berkontraksi serupa dengan yang didapat melalui alat elektrik. 4. Terapi-elektro karenanya dilakukan lebih awal. Otot tak dapat mempertahankan kebutuhan yang terus menerus akan kontraktilitasnya untuk mempertahankan stabilitas dan suatu saat akan terjadi insufisiensi otot. Tenaga yang lebih kuat diperlukan untuk merawat otot pinggang bawah. 5. Terapi Elektro Ada beberapa cara dengan tujuan penyembuhan oleh energi listrik. Pada posisi istirahat tonus otot menurun dan efek stabilisasi menghilang. Berbagai arus dapat digunakan. Pemijatan hanya sebagian dapat mempengaruhi otot-otot yang berkontraksi dan keras pada daerah lumbosakral.000 Hz yang disebut arus arsonal dan dipancarkan melalui diatermi dengan 3 . Aliran air diarahkan tangensial terhadap pinggang dengan tekanan 1 hingga 2 atmosfir. perlu melakukan pemijatan dan fisioterapi dalam usaha mengembalikan otot kekeadaan semula. Pemijatan Mungkin berguna pada sindroma lumbar bila keadaan akut sudah berlalu.

Kekuatan gelombang tinggi superfisisal dipancarkan lebih dalam dengan pengurangan pada jaringan menjadi kekuatan gelombang rendah. Namun demikian peningkatan sirkulasi jaringan disekeliling diskus intervertebral jelas memperbaiki metabolismenya. Ini secara keseluruhan berbeda bila dibanding dengan arus frekuensi rendah yang semula digunakan karena kesamaannya dengan frekuensi potensial elektrik yang terdapat pada jaringan. 6. mungkin timbul nyeri. namun pada keadaan biologik dibuktikan bahwa yang mempunyai nilai terapeutik adalah antara 15-250 Hz. Arus frekuensi rendah (15-250 Hz) mempunyai pengaruh pada sel dan arus searah digunakan pada galvanisasi serta arus bolak balik digunakan pada faradisasi. Karenanya arus dapat diarahkan ke jaringan sasaran dalam frekuensi dan kekuatan yang disisi lain tak dapat dimasukkan secara langsung. dengan akibat penambahan sirkulasi jaringan dalam. tanpa menyebabkan kerusakan apapun disini atau merangsang timbulnya nyeri pada kulit. Arus listrik digunakan secara bipoler dengan dua elektroda yang berarti bahwa energi maksimum akan dikonsentrasikan pada elektroda dan akan menurunkan pergerakan arus melalui jaringan. Satu keuntungan dengan arus interferensi adalah bahwa efeknya menjadi terpusat pada lapisan jaringan dalam dengan arus frekuensi rendah antara 0-100 Hz dan arus frekuensi menengah didalam jaringan permukaan.000 Hz. Pada peningkatan penggunaan arus.X 106 Hz hingga gelombang pendek 5 X 107 Hz. Pada degenerasi diskus intervertebral. Pada fisika yang disebut frekuensi rendah adalah antara 1-5. Frekuensi tiap-tiap arus berbeda hingga 100 Hz. arus frekuensi menengah sekitar 4. Masingmasing amplituda dan frekuensi akan dirubah oleh badan menjadi frekuensi yang mempunyai efek biologi. Frekuensi menengah dan rendah digunakan sebagai arus interferensi. lapisan otot yang lebih dalam serta segmen bergerak menjadi sasaran dari arus. Penggunaan arus interferensi dalam pengobatan nyeri pinggang bawah saat ini meningkat melebihi beberapa pengobatan lainnya. Pada sindroma diskus intervertebral. Pada saat ini tindakan elektrik terhadap pasien rawat jalan dapat dilakukan. Pada terapi arus interferensi. Pada arus diadinamik terdapat perubahan antara frekuensi dan amplitudo yang berefek penghilang nyeri (Bernard 1955). Belum ada penelitian tentang efek suatu arus terhadap metabolisme diskus intervertebral. hal tersebut tergantung pada arus dengan efek dalamnya. Sistem saraf vegetatif akan terpengaruh dan secara sekunder pembuluh akan berdilatasi.000 Hz diarahkan pada badan. Terapi Manual .

tonus dan kontraksi otot. Hasil yang baik telah dilaporkan banyak penulis sejak Erlacher (1951) hingga Ulrich (1974). Reaksi refleks otot dapat dikurangi dengan melakukan traksi secara berkala.Pada kebanyakan kelainan diskus intervertebral merupakan kontra-indikasi. Risiko timbulnya protrusi atau prolaps bisa timbul karena manipulasi yang berupa kifosis. Tindakan ini seperti halnya terapi hidra semakin populer. Perubahan tinggi diskus intervertebral akibat degenerasi berakibat perubahan posisi sendi-sendi ruas tulang belakang. Maigne 1970). Pada traksi. mielogram tetap tak berubah. Hanya beberapa milimeter yang diperlukan merubah posisi antara diskus intervertebral yang mengalami perpindahan dan reseptor nyeri. Traksi tulang belakang lumbar termasuk pelebaran area intervertebral termasuk semua elemen fungsional segmen bergerak. tenaga yang diperlukan untuk merobek ligamen longitudinal posterior tidak besar. Kembalinya kekeadaan sendi yang normal adalah sasaran terpenting pada rehabilitasi penderita nyeri pinggang muda usia. Miografi-elektro otot lumbar tidak dapat menjelaskan perubahan selama traksi (Rothenberg dan Sanford 1953). otot tulang belakang lumbar bereaksi refleks dengan berkontraksi dan tahanan otot tergantung pada elastisitas . nyeripun berkurang dikarenakan cukup ruangan untuk radik saraf. merupakan faktor yang paling penting pada traksi. Ini mungkin dapat diperbaiki dengan mobilisasi dikolam atau terapi manual. Karenanya tindakan ini tidak dianjurkan. Setelah traksi yang berhasil. 8. inklinasi lateral atau torsi dari tulang belakang lumbar (Stoddard 1961. Pada protrusi yang besar. terutama bila disebabkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. Traksi Hasil baik sering didapat pada terapi sindroma pinggang bawah dengan traksi. Tindakan ini hanya diizinkan bila tahap akut sudah berlalu dan bila sudah diketahui bahwa mobilisasi sudah harus dilakukan serta adanya perbaikan dari keadaan otot. reduksi tekanan intra diskal hingga menormalkan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi. otot lumbar atau sendi intervertebral. Tidak ada cara yang khas untuk memastikan apakah nyeri sakral berasal dari protrusi diskus intervertebral. Sekali edem berkurang. 7. Dengan terdapatnya penambahan volume diskus intervertebral (Kramer 1973). Injeksi Lokal . Efek terapeutik traksi tergantung jumlah elemen yang terkena. Armstrong (1965) menjelaskan efek isap sekunder karena traksi.

otot pinggang dan ligamen intervertebral. Berbagai anestetik dapat digunakan. dan nyeri akibat perlekatan dan jaringan parut pasca operatif dapat dikurangi. Injeksi Paravertebral Anestetik lokal dapat disuntikkan keforamina intervertebral. karenanya reaksi saraf dalam kanal spinal dapat diobati. . Bagaimanapun rasa tidak enak dan nyeri dapat menetap atau meningkat. Reischauer (1949 dan 1961) menyatakan bahwa merendam radik saraf bersangkutan dengan anestesi lokal akan mengurangi iritabilitas. injeksi lokal dan intradiskal terbukti memberikan hasil baik. Pada desensitisasi radik saraf harus dicegah lingkaran setan iritasi mekanik. namun berguna untuk memakai yang mempunyai efek depot. Akar saraf dapat direndam oleh anestetik atau obat antiinflamatori (Kortison). Injeksi paraspinal lebih diutamakan untuk menginfiltrasi kapsula sendi intervertebral. Digunakan bila bagian bawah pleksus sakral harus disuntik. Akar saraf berdekatan pada yang saat sama menjadi teranestesi akibat difusi suntikan dan tidak jarang terjadi paresis. Kehilangan sensibilitas terbatas pada daerah S3 dan S5 dan menimbulkan anestesia sadel. berbagai cara dapat digunakan. Anestetik. Kemungkinan perubahan pada pembengkakan inflamatori struktur saraf terbatas. antiflogistik dan anti-inflamatori mempengaruhi fungsi segmen lumbar. Sesuai keadaan anatomi. Injeksi dapat pula dilakukan pada diskus intervertebral. Cairan injeksi (kortikosteroid) dapat mencapai daerah lebih tinggi bila pelvis ditinggikan. Anestetik lokal diberikan dekat tulang belakang (para-spinal) atau didaerah foramina intervertebral (paravertebral). Saraf spinal dan ramus meningeal yang kembali kekanal spinal dapat dicapai dengan injeksi paravertebral. Obat dapat disuntikkan kerongga epidural atau sub-arakhnoid. Dengan cara ini spasme otot dapat diobati dan pada saat yang sama seluruh segmen bergerak akan dipengaruhi oleh rami dorsal saraf spinal yang telah diinfiltrasi. Injeksi Epidural Posterior Sumber rasa tidak enak dan gejala lainnya dicapai dengan memasukkan jarum kerongga epidural. pembengkakan inflamatori. Bila mielografi atau operasi tidak akan dilakukan segera.Umumnya terjadi perbaikan spontan pada degenerasi diskus inter-vertebral. Injeksi Epidural Kaudal Rongga paradural lumbosakral dicapai melalui inferior via hiatus sakral dengan jarum panjang. serta konsekuensi yang diakibatkannya berupa iritasi karena penyempitan rongga yang berat. Difusi akan berperan mempengaruhi radik saraf dan reseptor pada ligamen longitudinal posterior.

Setelah injeksi ekstradural. Indikasi utama adalah sindroma radik saraf khronik dan sindroma pasca diskotomi. Keuntungannya obat tidak melalui sawar darah-cairan spinal hingga kadarnya dapat lebih tinggi dibanding pemberian oral atau parenteral. jarum mungkin tidak mencapai sasaran yang benar. Sendi-sendi intervertebral dan foramina inter-vertebral terkena dan menimbulkan gejala. Hasil yang didapat 75% baik. Saat ini kepentingan klinik tertuju pada penyuntikan khimo-papain yang akan mendekomposisi kartilago. disini injeksi dapat langsung beraksi pada jaringan diskus intervertebral. Dengan menyuntikkan suatu substansi khondrolitik atau penurun tekanan. terjadi kolaps dan penurunan tinggi intervertebral. Komplikasi tersering adalah renjatan anafilaktik (Finnesson 1973). Depolimerisasi akibat rangsang kimia dari jaringan diskus intervertebral (khemonukleolisis) menyebabkan percepatan perubahan karena usia pada diskus intervertebral dengan membuang makromolekul diskus intervertebral. Penyuntikan diskus intervertebral lumbar merupakan tindakan terapeutik.Injeksi Intratekal Terutama kortikosteroid.4% hingga sebagian ahli enggan menggunakannya (Smith dan Brown 1967). Karenanya obat yang disuntikkan harus aman . kerusakan pembuluh. Jadi secara keseluruhan berbeda dengan cara penyuntikan lain. Difusi dalam kantung dura. 5% sedang dan 9% buruk. Injeksi Intradiskal Berbeda dengan tindakan injeksi lainnya. perubahan degeneratif dapat terjadi pada cord tulang belakang. Proteoglikan akan terurai menjadi keratan sulfat khondroitin sulfat serta proteo-glikan sendiri. Harus selalu ingat bahwa bila melakukan penyuntikan intradiskal. Bila terjadi kehilangan cairan dan material diskus intervertebral. dapat terjadi perubahan pada volume. Bahkan dosis kecil khimopapain yang mencapai rongga sub-arakhnoid menyebabkan perdarahan terutama terjadi bila dilakukan infus intravena (Sheally 1967. dan akhirnya radik saraf dapat dicapai dan efek antiflogistik serta anti edema juga tercapai. Dideposit pada rongga subarakhnoid lumbar. saraf dan otot. karenanya tekanan berkurang terhadap radik saraf (dibuktikan banyak penulis. Komplikasi menjadi serius pada 3. Sudah dibuktikan bahwa khimopapain pada pemberian lokal menyebabkan nekrosis jaringan. Ini menyebabkan disposisi obat ditempat salah atau obat mungkin bocor melalui perforasi anulus fibrosus kerongga epidural atau subarakhnoid dimana kemampuan melarutkan akan menyebabkan kerusakan. Terjadi pengerutan. Smith 1964 hingga Watts 1975). perlunakan dan perpindahan jaringan diskus intervertebral. Setelah pemberian khimopapain terjadi penurunan jarak intervertebral. Sussman 1972).

Indikasi absolut untuk operasi adalah sindroma kauda ekuina dengan hilangnya fungsi berak dan kencing. Pada paresis akut ekstensor kaki atau jari atau kuadriseps. Absolut 1. sedikit sekali yang dioperasi. Diskotomi Lumbar a. Ada obat lain dengan efek anti-inflamatori dan anti-edem yang dapat digunakan dengan lebih aman. karenanya perlu dipikirkan dengan serius apakah pasien harus dioperasi atau dirawat konservatif. Bila operasi tak dilakukan dalam beberapa jam. diharuskan operasi segera. Jenis operasi yang paling sering dilakukan adalah membuang jaringan diskus intervertebral yang mengalami perpindahan yang menekan radik saraf dan disebut diskotomi. Mukopolisakharida yang bertanggung jawab atas hidrasi jaringan diskus intervertebral dinetralkan oleh Trasylol (Torok 1972). Haberland dan Mitis 1967). Lindner 1975). B. Reaksi alergik rendah (0. Indikasi Hasil operasi diskus intervertebral lumbar beragam. Sindroma kompresi kauda ekuina 2. kehilangan fungsi menetap akan terjadi. terutama bila gejala lainnya sangat ringan. Tabel 4 Indikasi Operasi Diskus Intervertebralis Lumbar ------------------------------------------------------A. Bila ada kelemahan otot gluteal dan betis sebagai tanda sindroma S1. Akhir-akhir ini digunakan Aprotinin (Trasylol) (Kramer 1974. Ia mempunyai daya gabung besar terhadap substansi dasar yang kaya khondroitin sulfat. intramuskuler atau intratekal. Operasi hanya dilakukan bila nyeri hebat tidak berkurang dengan tindakan konservatif.1%. diskotomi tidak perlu. Tindakan Bedah Dibanding jumlah pasien yang ditindak konservatif.mengingat jenis aksinya berhubungan dengan jaringan saraf. Gangguan motor yang telah berlangsung lama tanpa gejala berat lainnya tidak pasti membaik dengan operasi karena dekompresi lambat radik saraf tidak akan mengurangi paresis. Karenanya tekanan onkotik intradiskal berkurang (Kramer dan Laturnus 1975). Relatif . Paresis akut otot-otot penting B. Trasilol adalah polipeptida yang ditolerasi baik dalam dosis tinggi dan dapat digunakan intravena. 1.

Bila gejala menetap setelah 4-6 minggu tanpa tanda-tanda regresi. Serangan berulang nyeri pinggang bawah dan siatika dengan distribusi segmental tanda-tanda neurologik ------------------------------------------------------Indikasi relatif adalah bila disamping tanda-tanda dan gejala-gejala objektif terdapat faktor penting lainnya yaitu durasi gejala. Usia pasien harus dipikirkan dan pada penderita berusia lebih dari 60 tahun operasi hanya dilakukan pada kasus terpilih dan perbaikan spontan sering terjadi. Keputusan operasi pada kasus perbatasan adalah mielogram positif dan keinginan mutlak pasien. kondisi sosial. gejala mungkin timbul lagi. operasi diindikasikan. hasil tindakan sebelumnya. Walau setiap penentuan praoperatif sangat tergantung pada pemeriksaan diagnostik radiografik. Gejala-gejala radik dan nyeri sakral mungkin berkurang selama periode panjang dari tindakan konservatif namun bila tulang belakang menjadi subjek beban. pasien umumnya meminta operasi. Hirsch dan Nachemson melaporkan hubungan antara tanda neurologik objektif dengan herniasi diskus sebesar 55 persen. Syarat tindakan bedah adalah pasien telah menjalani tindakan konservatif termasuk istirahat tempat tidur ketat. Adalah mengherankan bahwa gejala berat akibat kompresi radik saraf dapat menghilang selama tindakan konservatif adekuat dalam waktu singkat. indikasi operasi tidak boleh terlalu luas. Sindroma radik saraf khronik dengan gangguan neurologis ringan atau tanpa sama sekali adalah kasus perbatasan untuk jenis tindakan. Bila . Bila tidak ada perbaikan dengan pasien ditempat tidur dan memakai analgesik terus menerus. Pada keadaan ini perlu dilihat apakah perbaikan mungkin didapat dengan tindakan konservatif termasuk injeksi lokal dan intra-diskal serta karenanya terjadi perbaikan dimana pasien dapat bekerja kembali. atau fragmen diskus yang mengalami inkarserasi ditemukan dibawah selaput tipis dari anulus fibrosus dorsal atau dibelakang ligamen longitudinal posterior. Gejala lain seperti gangguan refleks dan hipestesi jarang mengganggu pasien. Sindroma radik saraf yang berat dan terusmenerus serta intraktabel 2. kondisi mental penderita. Nyeri dan deformitas menyebabkan pasien menghendaki tindakan yang dapat mengubah keadaan. Karena komplikasi setelah operasi.1. Keadaan sosial juga penting dan terutama bila bekerja dengan membebani tulang belakang. Sindroma radik saraf khronik dengan distribusi nyeri dan tanda-tanda neurologik segmental 3. usia. hal ini bukanlah satu-satunya hal yang menentukan. Hakelius melaporkan hubungan antara temuan klinik dan temuan patologik operatif sebesar 63 persen. Saat operasi paling sering dijumpai prolaps. Data klinik adalah sama pentingnya dalam membuat keputusan.

b. Siatika berat dapat disebabkan tumor atau spondilitis. Diskotomi hanya dilakukan bila diagnosis sudah tegak. Tabel 5 Kontraindikasi Diskotomi Lumbar ---------------------------------------------------------------Nyeri pinggang bawah tanpa penjalaran Diagnosis yang belum tegak Pasien tidak berkehendak Hipokhondriak tulang belakang --------------------------------------------------------------- -- .straight leg-raising test digabung dengan temuan neurologik objektif. Nyeri sakral terus menerus tanpa penjalaran bukanlah indikasi operasi diskus intervertebral. tidak dapat dipastikan apakah suatu kelainan radiografik adalah penyebab gejala. Istilah ini tidak seluruhnya benar karena yang betulbetul "false positive" menunjukkan betul-betul tiada kelainan dan harus dibuktikan dengan eksplorasi operatif yang negatif. Temuan radiografik positif pada penderita tanpa gejala disebut "false positive". Pada keadaan ini dilakukan fusi. Atas hal tersebut. ketepatan diagnostik meningkat hingga 86 persen. Pada sindroma radik yang belum jelas. analisis harus hati-hati dilakukan hingga trauma operasi tak harus terjadi pada laminektomi yang tidak perlu. ketepatan diagnostik meningkat hingga 95 persen. kegagalan terutama adalah karena faktor diagnostik dari pada tehnik. Operasi tidak akan memecahkan masalah dan dikatakan :"Jangan sekali-kali melakukan operasi pada penderita yang dalam perawatan psikhiatrik". Tes laboratori seperti laju endap darah serta perubahan radiologi harus benar-benar dianalisa sebelum operasi. Tanpa tiadanya korelasi. Bila mielografi larut air positif digabung dengan straight leg-raising test dan defisit neurologik objektif. Ini berlaku juga pada " hipokhondriak tulang belakang ". Kontra-indikasi Diperoleh sekunder dari indikasi. Harus selalu diingat bahwa hubungan yang erat harus ada antara temuan klinik objektif dengan temuan radiografik positif dimana yang pertama adalah penyebab dari yang terakhir. Penekanan yang berlebihan pada satu dari parameter tersebut dan mengabaikan dua lainnya akan berakibat kegagalan operatif. Mencegah operasi dianjurkan pada diagnosis yang belum betul-betul jelas karena sindroma pascaoperasi yang parah bisa terjadi.

Dengan mengabaikan kenyataan bahwa kumatnya gejala mungkin terjadi setelah tindakan konservatif maupun operatif. Fasia disayat serta otot lumbar disisihkan dan diretraksi. Karena komplikasi mungkin timbul akibat operasi. adakalanya perlu membuang sebagian arkus ruas tulang belakang (laminotomi) atau membuang in toto pada . c. tidak berarti bahwa penolakan harus dilakukan terhadap kedua jenis tindakan tersebut. namun dapat mempertahankan venous return serta juga respirasi abdominal dan dada yang normal. d. Disebut flavektomi atau fenestrasi. harus diberitahukan bahwa cedera operasi mungkin mengenai radik saraf dan dura. Mungkin juga hambatan penyembuhan luka atau akibat dari anestesi. Pasien kelompok B (tabel 4) dan tidak merasa perlu untuk dioperasi jangan dibujuk karena sangat kecil jaminan yang dapat diberikan atas perbaikan yang sempurna dan harus dijelaskan bahwa setelah operasi keadaan mungkin tetap atau malahan memburuk. Kifosis maksimal tulang belakang lumbar dan penurunan kecenderungan atas perdarahan epidural memberikan kondisi operasi yang baik. Kulit disayat diatas prosesus spinosus tulang belakang lumbar bagian bawah. 106 dari 3000 ahli bedah saraf dan bedah tulang pernah mengalaminya (De Saussure 1959). Posisi ini menyebabkan beberapa hambatan bagi anestetis. Operasi dapat dilakukan pada posisi miring atau telungkup. Posisi terbaik antaranya adalah telungkup pada lutut yang ditekuk. Arkus ruas tulang belakang dicapai dan kanal spinal dicapai melalui ligamen flavum yang dibuka. Anestesi umum dengan intubasi. Diskotomi Lumbar Pengangkatan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi adalah operasi standard. Pemberitahuan Kepada Pasien Sebelum operasi diharuskan memberitahukan pada penderita bahwa operasi hanya mengobati siatika dan kelainan diskus intervertebral tetap ada serta akan memberi gejala yang sama seperti sebelumnya. Dalam usaha mendapatkan radik saraf lebih jelas. Juga diberitahu akan rasa tidak nyaman dan nyeri dapat timbul lagi tidak hanya dari segmen berdekatan namun juga dari segmen yang dioperasi.Secara diagnostik kasus ini dapat ditemukan karena perbedaan yang besar antara gejala subyektif dan tanda-tanda obyektif. Analisa gas darah serta tekanan vena sentral tidak menunjukkan perbedaan terhadap nilai normal (Ghazvinian dan Kramer 1974). Kadang-kadang pembuluh besar abdominal mengalami perforasi.

Setelah prolaps dibuang. f. balikkan pasien. maka tidak diizinkan duduk kecuali pada posisi . Mikroskop operasi menyederhanakan dan memperbaiki teknik operasi. Akar saraf diretraksi dan jaringan diskus intervertebral yang prolaps atau membengkak dibuang. kauda dan dura intra-operatif yang kelak dapat menyebabkan meningokel atau sinus cairan spinal. dan fisioterapis mengajar pasien bagaimana melakukan gerakan selama awal masa pasca operasi. dianjurkan mobilisasi dan pembebanan dilakukan bertahap dan menggunakan penyangga ketiak seta bebat traksi. namun perlu betul-betul menentukan lokasi prolaps pra-operatif. Penggantian jaringan yang dibuang dengan implan buatan tidak memberi keuntungan. anulus fibrosus dan tulang rawan. Kemampuan biomekanik segmen tidak boleh terganggu dan pembebanan aksial tulang belakang sangat berbahaya. Bila pengangkatan radikal dari diskus intervertebral dilakukan. Karena kifosis lumbar tak tercegah saat duduk. Menurut Oppel dan Schramm (1976) sekitar 0. e. Finnesson 1973). lakukan laparotomi. Komplikasi Sedikit pada operasi diskus intervertebral. Perawatan Pasca Operatif Profilaksi umum terhadap kemungkinan trombo-embolisme adalah mobilisasi segera yang dimulai hari kedua atau ketiga pasca operasi. Kemampuan biomekanik tulang belakang lumbar tidak terganggu oleh laminektomi sepanjang sendi-sendi intervertebral tetap intak. namun ini tidak penting. Bagian posterior diskus intervertebral mungkin dibuang secara radikal. Tidak ada kasus dari lesi kauda. Bila terjadi. namun tidak ada kontraindikasi mobilisasi segera. Salah satu komplikasi serius adalah perforasi pembuluh besar abdominal seperti arteri dan vena iliak. Pasien harus bergerak seperti tahap awal lumbago akut dengan tulang belakang lumbar yang terfiksasi. Disamping komplikasi anestesi. Inklinasi lateral dan kifosis tulang belakang lumbar harus dicegah karena penyembuhan luka akan terganggu. ada komplikasi khusus diskotomi namun jarang terjadi. Adalah lesi radik saraf. jaringan diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi juga dibuang dalam usaha mengurangi rekurensi. Defek akibat operasi pada saatnya menyembuh dengan jaringan parut. Pembuangan arkus tulang belakang tidak merubah perjalanan kelainan diskus intervertebral degeneratif (Schulitz 1970. Fragmen mengandung baik nukleus pulposus.satu sisi (hemi laminektoni). rawat pembuluh tersebut.29%. masalah penyembuhan luka dan trombo-embolisme pasca operatif yang biasa terjadi pada operasi.

Secara spesifik. Kebanyakan pasien mengalami pengulangan nyeri sakral dan akan memberat pada saat mengangkat beban. Hasil menggembirakan (sangat baik. 3. Hasil buruk pada 10%. Rasa tak enak dan nyeri karena degenerasi diskus intervertebral tak dapat dihilangkan oleh diskotomi. Dari hal tersebut jelas bahwa faktor kunci dalam menduga hasil operasi adalah kompresi neural yang pasti. baik. Hasil Bervariasi. Riwayat penyakit: riwayat gejala singkat memberikan hasil lebih baik dibanding yang sudah berjalan beberapa tahun. menarik dan membungkuk. Gejala radikular menetap diakibatkan: 1. pasien dengan herniasi sangat besar yang pasti menyebabkan penekanan neural. Rasa Tidak Nyaman Pasca Operatif Sindroma Pasca Diskotomi . Siatika yang disebabkan protrusi atau pembengkakkan akan memberikan hasil baik pada 40-65%. Spangfort juga menemukan bahwa derajat herniasi diskus merupakan faktor yang paling penting yang menentukan hasil operasi setelah diskektomi. Tingkat keberhasilan berdasar pengurangan gejala radikular. disaat lain pada penderita dengan eksplorasi negatif hanya mempunyai kesempatan 38. penderita bergerak lebih aktif dan bila luka sudah lebih kuat gerakan ditingkatkan lagi. sedang) dijumpai pada 80%-90%. mempunyai kesempatan atas hilangnya siatika secara lengkap sebesar 90. Temuan operatif: prolaps masif yang dapat dibuang akan memberi hasil lebih baik dibanding protrusi atau pembengkakan kecil dari jaringan diskus intervertebral. Terdapat perbedaan indikasi serta penilaian sangat subjektif.5 persen berkesempatan untuk pulih sebagian.4 persen untuk mendapatkan adanya perbaikan. Bila jahitan sudah diangkat. Pada operasi diskus intervertebral yang sangat luas. Spangfort (1972) membuktikan bahwa hasil berkaitan dengan temuan operasi. Thomalaske (1977) melaporkan bahwa faktor psikis menyebabkan pasien cenderung mengalihkan nyeri yang dideritanya sebagai akibat operasi.bersandar 450. penderita dimobilisasi dengan bantuan pengikat pelvik.3 persen setelah diskektomi dan setidaknya 99. h. Disimpulkan bahwa tindakan konservatif harus diambil selama mungkin sebelum suatu operasi diputuskan. yang akan diuntungkan oleh operasi dekompresif. Pengangkatan prolaps total memberikan hasil terbaik. Usia: penambahan usia memperburuk hasil. g. 2.

radikulitis. Timbulnya prolaps atau protrusi pada segmen yang bukan dioperasi bukanlah karena operasi primer. infeksi dalam dan diskitis yang khas dengan peninggian suhu dan akhirnya dapat diperlihatkan secara radio-grafi. Sebagai pegangan. Disamping nyeri dari luka. arakhnoiditis adhesif tahap 2. refleks dan gangguan motor akan pulih dalam beberapa bulan. Lebih lanjut. Bila dekompresi radik tidak sempurna. -- . 2. arakhnoiditis adhesif tahap 1. Tabel 6 Penyebab Nyeri yang Menetap atau Berulangnya Siatika setelah Operasi Diskus Intervertebral Lumbar --------------------------------------------------------------Dekompresi radik saraf tidak cukup Berulangnya prolaps pada segmen yang sama Prolaps atau protrusi pada segmen lain Sindroma pasca diskotomi Infeksi dalam ---------------------------------------------------------------Gejala lain pada sindroma pasca diskotomi adalah tanda-tanda dari sistem vegetatif seperti kehilangan temperatur (tungkai siatik dingin) dan perubahan sirkulasi dan juga kram betis. Arakhnoiditis lokal pasca operasi mungkin timbul dan menurut Burton (1977) dibagi empat tahap yang tumpang tindih: 1. Satu kelompok yang perlu perhatian khusus adalah menetapnya rasa tidak enak atau nyeri pasca operasi. Alasan lain untuk nyeri pasca operasi adalah gagalnya mengenal tingkat yang tepat. Hipestesi. yang timbul sebagai bagian dari sindroma S1. yang bisa menetap atau hilang setelah diskotomi. arakhnoiditis. 4. Ada beberapa alasan untuk timbulnya nyeri radik saraf dan deformitas.Hanya kadang-kadang pasien terbebas secara sempurna dari gejala setelah operasi diskus intervertebral (tabel 6). Keadaan tersebut didiagnosa dengan mielografi dan pada operasi yang berhasil. nyeri pasca operasi akan timbul. juga tersisa nyeri dari sindroma radik saraf. Disebut sindroma pasca diskotomi. dikarenakan perlengketan serta jaringan parut pada radik-radik saraf dan dura. gejala dapat hilang spontan dan dapat diobati dengan berhasil secara stimulasi elektrik dan blok simpatetik lumbar. Gejala radik menetap yang serupa dengan gejala sebelum operasi menandakan efek penyebab dari tekanan mekanik. 3. berulangnya prolaps mungkin menyebabkan nyeri pasca operasi dan pembentukan perlengketan yang menyebabkan reoperasi menjadi sulit.

Sedikit membungkuk dengan kifosis tulang belakang lumbar akan memperberat nyeri dan deformitas. Kantung radik melekat pada radik saraf dan tidak dapat diperlihatkan. Tujuan pengobatan adalah membuat stabilisasi tulang belakang yang dapat dicapai dengan fusi. menimbulkan masalah sulit karena tindakan konservatif sering gagal dan pasien kesulitan kembali pada pekerjaannya. Ini meninggikan kepekaan terhadap gangguan mekanik. Perlengketan yang terbentuk antara kantung dura. C. Komponen lain kelainan diskus intervertebral tidak dipengaruhi oleh tindakan ini hingga ketidakstabilan intervertebral tetap adanya. Sindroma pasca diskotomi khas dengan penjalaran nyeri bilateral poliradikuler dan hipestesi. Pada pasien muda sehat dengan sindroma pasca diskotomi.Rongga subarakhnoid dan epidural menjadi massa jaringan parut yang besar yang akhirnya menyebabkan iritasi terus menerus terhadap radik-radik saraf. radik-radik saraf dan kanal spinal hanya memungkinkan gerakan bebas nyeri yang terbatas. Indikasi dan tehnik fusi lumbar untuk kelainan diskus inter-vertebral degeneratif berubah dalam tiga dekade terakhir. Teknik operasi karenanya harus teliti dan perdarahan harus ditekan dengan koagulasielektro sebaik mungkin. makin luas reaksi jaringan akan terjadi. Tidak ada indentasi lokal terhadap medium kontras hingga akan merupakan kontra-indikasi diskotomi kedua pada tingkat bersangkutan. Operasi untuk sindroma pasca diskotomi seperti laminektomi luas. Pita jaringan ikat bekerja seperti gergaji terhadap radik saraf. yang mungkin menimbulkan gejala. Mula-mula fusi merupakan prosedur umum namun karena hasilnya tidak terlalu baik karena tingginya tingkat nonunion. Fusi Pada diskotomi penekanan pada radik saraf dibuang. Teknik operasi yang baik akan mengurangi risiko sindroma pasca operasi walau tidak menghilangkannya sama sekali. Spondilodesis adalah tindakan sekunder khusus pada sindroma diskus inter-vertebral. Umumnya rencana tindakan yang paling diterima adalah neurolisis digabung dengan tandur lemak pedikel (Gill 1979). spondilodesis dikombinasikan dengan eksplorasi radik saraf. Makin banyak manipulasi selama operasi. membersihkan radik saraf dari jaringan parut. neurolisis. membawa bahaya akan terbentuknya jaringan parut lebih lanjut dengan berlanjutnya rasa tidak enak dan nyeri. Oppel dan Schramm (1976) menemukan bahwa pada penderita dengan komplikasi pasca operasi ditemukan sejumlah besar kelainan psikik yang tak tampak sebelum operasi namun tampaknya dirangsang oleh penyakitnya serta tindakannya. Pengangkatan jaringan diskus intervertebral yang . Mielografi menunjukkan jaringan ikat yang mempersempit kantung dura.

Beberapa tehnik sudah dikemukakan untuk fusi lumbar. dengan peningkatan ketidak-stabilan segmen objektif. Ini harus digabung dengan eksplorasi radik saraf. Osteo-arthrosis mungkin timbul pada segmen. dan penderita dengan fusi berhasil sempurna mungkin tetap menderita nyeri. dan fusi menjadi prosedur sekunder. namun kemudian hari mungkin menjadi tindakan satu-satunya. sedikit rasa tidak enak yang timbul setelah operasi. Keadaan ini dapat timbul bila pada hemilaminektomi bagian medial sendi intervertebral dibuang.7) adalah nyeri sakral terus menerus dan tak tertanggungkan. Lagipula pada pasien dengan spondilodesis yang gagal. Tehnik ini sering berakibat nonunion. sendi dapat disuntik dengan anestetik lokal dimana nyeri khas akan hilang. Albee (1911) menganjurkan tandur tibial. Hanya pada kasus-kasus tersebut operasi dilakukan. Nyeri dapat dikurangi dengan cast plastik yang baik. Indikasi fusi lumbar (tabel II. Tabel 7 Indikasi Fusi pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Nyeri sakral hebat menetap pasca diskotomi Segmen takstabil serta nyeri yang diakibatkannya Osteokhondrosis serta spondilosis dengan nyeri pinggang bawah berat ------------------------------------------------------Bila siatika diakibatkan prolaps atau prolaps yang berulang setelah diskotomi. Mungkin juga didapat osteo-artrosis yang terbatas pada sendi intervertebral lumbar (spondiloarthrosis) dengan nyeri pinggang bawah dan pada tiap keadaan ini fusi diindikasikan. dimana kanal spinal dapat dibuka. Tidak perlu dikatakan bahwa operasi harus didahului mielografi. Kesimpulannya diduga setelah diskotomi prognosisnya adalah tanda tanya. tanpa bahaya yang terlalu besar. Bosworth (1945) menganjurkan tandur clothes-peg (tandur H). Prosedur yang diterima tampaknya adalah fusi . Spondilodesis anterior intercorporal seperti yang dianjurkan Harmon (1963) tidak memungkinkan eksplorasi kanal spinal secara bersamaan.berpindah atau melunak juga menjadi prosedur yang dianjurkan dalam hubungannya dengan dekompresi radik saraf. Adalah mengherankan bahwa setelah eksisi radikal diskus intervertebral dan dengan segmen yang tak stabil. Sebagai pembantu diagnosis. fusi tidak diindikasikan. kebebasan sempurna dari rasa nyeri dan tidak enak dapat disaksikan. Nyeri sakral menetap setelah diskotomi adalah tanda ketidakstabilan segmen akibat degenerasi diskus intervertebral dan pengangkatan operatif diskus intervertebral.

De Palma dan Rothman 1970. Brace ini harus dipakai hingga fusi terjadi. Namun pasien harus bangkit "en bloc" hingga tulang belakang lumbar tidak kifosis (Mau 1974). Brussatis 1976). Cancellous bone digunakan diatas prosesus transversus dan mencakup artikulasi intervertebral. Nyeri yang dikira akibat mobilitas segmen berkurang dengan stabilisasi dan terutama atas foramina intervertebral. Terdapat kesulitan teknis pada tindakan ini karena daerah yang sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk menarik dura dan radik saraf. diskus intervertebral diinsisi serta tandur corticocancellous dari krista iliaka dapat diinsersikan kedalam ruas tulang belakang . Setelah fusi pasien harus memulai aktifitas secara bertahap perlahan karena pada setiap sisi fusi stres mekanik meninggi. Karena hanya satu segmen yang berfusi. Duduk pada kursi yang dalam dan tidak nyaman tidak diperkenankan. Selama operasi terdapat kesempatan membuka kanal spinal dan bisa melihat radik saraf serta juga untuk membuang jaringan diskus intervertebral. Schmorl dan Junghanns (1968). fusi lateral dengan tandur cancellous bone menjadi populer (Wiltse 1968. 1963). Hohmann (1974) dan Exner (1974). Bila beberapa segmen difusikan. 3. Fusi dapat dilakukan walau pada laminektomi. 2. Tingkat terjadinya pseudo-artrosis sangat kecil bila dibandingkan dengan metoda fusi lain (McNab dan Dall 1971). dan rasa nyeri serta tidak enak mungkin bertambah pada daerah ini. Daerah posterolateral lebih baik sebagai tempat fusi karena berbagai alasan: 1. seperti misalnya lumbosakral. . Setelah hemilaminektomi. Spondilodesis adalah rantai terakhir sepanjang rantai terapeutik dan diharap memenuhi semua harapan yang sangat optimistis. Stabilitas lebih masuk akal dari pada spondilodesis interkorporal.interkorporal posterior menurut Cloward (1953. McNab dan Dall 1971. pasien harus memakai cast plester. Karenanya menjadi blok tulang yang memanjang diatas sendi dan prosesus transversus. biasanya memakan waktu 3-4 bulan. Finneson (1973). Aspek posterior ruas tulang belakang harus diperlebar. Beberapa tahun terakhir. pasien bisa keluar dari tempat tidur pada hari ketiga setelah operasi tanpa fiksasi apapun. Revaskularisasi dan reosifikasi pada daerah ini lebih baik dari aspek medial arkus ruas tulang belakang. Mau 1974. Diperkirakan fusi yang cepat pada operasi skoliosis dengan tandur cancellous bone memberikan kegunaan yang sama pada fusi tulang belakang lumbar. Polster dan Hoefert (1974) memperlihatkan pada percobaan bio-mekanik bahwa spondilodesis posterolateral memberikan stabilitas terbaik.

tulang belakang lumbar menjadi distabilkan dan terpaku pada pelvis oleh otot spinal dan karenanya tidak mudah ditekuk hingga lebih berperan sebagai pilar penyangga. Fleksi kedepan tulang belakang lumbar tidak diperbolehkan. Fisioterapi berperan penting dalam profilaksi dan rehabilitasi sindroma lumbar. Pada tulang belakang yang lurus diskus intervertebral lumbar akan dibebani setangkup sehingga risiko dari lesi yang baru dapat dicegah. Pada kelainan diskus intervertebral degeneratif tak dapat diperkirakan bahwa jaringan akan menjadi stabil sendiri secara cepat serta spontan. Mempertahankan suatu posisi posterior yang tidak menyenangkan mungkin berakibat berulangnya gejala dan karenanya perlu menyarankan agar penderita tetap pada posisi berbaring. Perlu mendapatkan ko-operasi baik dari pasien. Diatas itu semua. Dengan pembatasan pergerakan. dan menurut Schmorl dan Junghanns (1968) stres mekanikal yang memperberat harus disingkirkan. perlu mempertahankan hasil yang didapat dari berbagai prosedur dengan mencegah terjadinya kembali protrusi jaringan diskus intervertebral. Pasien selama fase pertama rehabilitasi harus dicegah mengangkat objek yang berat serta mengangkat saat membungkuk dan juga mencegah gerakan torsi tulang belakang. berdiri dan duduk yang benar. Tulang belakang dipertahankan pada posisi netral hingga pergeseran intradiskal yang baru dapat dicegah. perlu menstabilkan segmen secara aktif dan pasif. Stabilisasi eksternal harus dilakukan. Secara pasif dapat digunakan ortoses. Jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi dipertahankan dalam keadaan setenang mungkin.PROFILAKSI DAN REHABILITASI PADA SINDROMA DISKUS INTERVERTEBRALIS LUMBAR Setelah mendapatkan sejumlah keberhasilan pengobatan gangguan fungsional sistem lokomotif. Dalam mencegah agar segmen tidak mengalami dislokasi lagi serta jaringan intradiskal tidak bergeser lagi. . namun stabilisasi lebih lanjut dapat dengan penguatan otot-otot. berulangnya iritasi mekanik atas radik saraf harus dicegah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful