KELAINAN DEGENERATIF ___________________________________ I.

HERNIASI DISKUS INTERVERTEBRAL Perubahan degeneratif pada diskus intervertebral merupakan penyebab tersering nyeri pinggang. Penyebab lain antara lain kelainan kongenital, perkembangan, inflamasi, serta tumor, yang secara kepentingan klinis adalah sekunder namun mungkin berakibat perubahan yang serupa pada diskus intervertebral. Peningkatan pengetahuan terhadap gangguan penampilan dan fungsi tulang belakang menimbulkan minat yang lebih besar. Ini tidak hanya karena gangguan yang umum terhadap diskus intervertebral, namun juga terhadap akibat yang ditimbulkan pada struktur yang berdekatan. Hubungan langsung antara diskus intervertebral yang mengalami herniasi dengan siatika dianggap mempunyai basis morfologikal. Namun terpakunya pada perubahan patomorfologikal sebagai penyebab gejala mengantarkan pada situasi adanya kelainan fungsional tulang belakang yang ternyata tanpa disertai patomorfologi yang jelas. Terbukti bahwa pengangkatan secara operatif terhadap prolaps tidak memecahkan semua masalah. Juga ditemukan adanya perbedaan yang mengejutkan antara perubahan patomorfologikal dan radiografik pada satu sisi dan gejala disisi lain. Perubahan bentuk dan fungsi tidak selalu berhubungan dengan penampilan klinis segmen bersangkutan. Jadi suatu deformitas tidak perlu menunjukkan perasaan tidak enak. Buktinya adalah skoliosis dan kifosis pada remaja dapat menjadi lengkap tanpa gejala. Juga sering ditemukan pada foto sinar-X untuk keperluan lain, adanya tanda-tanda perubahan degeneratif pada penderita yang menyangkal adanya keluhan. Lamanya waktu yang diperlukan untuk berkembangnya suatu deformitas sering menentukan onset dari gejala. Kompresi mendadak satu atau lebih radik saraf pada fraktura atau herniasi diskus intervertebral akan menimbulkan nyeri segera dan berat. Sebaliknya bila radik saraf mengalami konstriksi secara lambat dalam beberapa tahun, seperti yang sering tampak pada skoliosis, spondilolistesis atau penyakit diskus intervertebral degeneratif pada tulang belakang, radik saraf jelas menyesuaikan diri secara perlahan terhadap restriksi hingga gejala neurologi jarang timbul. Bila terjadi cedera puntir mendadak, berakibat iritasi radik saraf dengan terjadinya edem pada radik saraf tersebut. Pada saat ini sikap fungsional dan dinamik kita berdasarkan kepada informasi baru, baik mengenai pendekatan biokimia maupun bio-mekanik terhadap diskus intervertebral yang tidak perlu merupakan tempat perubahan morfologik, namun lebih merupakan pusat proses metabolik yang menyebabkan perubahan bentuk, konsistensi dan volume, yang semuanya merubah fungsi tulang belakang.

Junghans (1951) telah membuat gambaran tentang "motion segment" ("Bewegungssegment"). Termasuk dua ruas tulang belakang yang berhubungan beserta diskus intervertebralnya, ligamen serta otot yang bersama-sama membentuk kesatuan fungsional. Kegagalan satu komponen merubah fungsi yang lainnya. Akibat berbagai respons metabolik terhadap stimulasi biomekanik, diskus intervertebral lebih sering merupakan asal ketidak-mampuan pada "motion segment". Ini terutama jelas pada tulang belakang leher bawah dan lumbar yang relatif merupakan bagian yang kaku, yaitu hubungan servikal-torasik dan sakrum yang tak dapat bergerak pada daerah lumbar, yang berhubungan dengan tulang belakang lumbar bawah. Sebagai tambahan harus diingat kondisi anatomi yang sempit yang terdapat antara daerah yang secara bertahap tidak dapat bergerak serta munculnya radik saraf . Lebih sering penyakit diskus inter-vertebral terbatas pada daerah segmen leher bawah dan lumbar bawah. Adalah perlu menemukan hal-hal yang utama pada kelainan diskus intervertebral untuk menyederhanakan suatu diagnosa serta tindakan. Misalnya perubahan postur yang berhubungan dengan nyeri. Dalam tindakan, metoda yang mungkin dilakukan diambil yang paling sederhana. Baik dalam diagnosa maupun tindakan , perlu melihat kembali kemajuan yang telah terbukti tidak berbahaya atas penyakit diskus intervertebral. Karena sindroma diskus intervertebral biasanya menyerang orang muda, adalah penting bahwa setelah pengobatan seorang dokter harus menganjurkan latihan harian yang cukup pada pasien. Pada hari-hari pertama didapat perasaan yang negatif terhadap onset yang tidak dapat diterima dan sering dengan perjalanan yang berbahaya dari penyakit diskus intervertebral. Bagaimanapun saat ini ada alasan untuk mengambil pendekatan yang lebih optimistik terhadap sejumlah kemungkinan yang tersedia disertai profilaksi dan rehabilitasi dengan perencanaan yang lebih baik. Frekuensi dan intensitas sindroma servikal dan lumbar mungkin berubah. Penyakit yang berasal dari diskus intervertebral juga disebut diskogenik. Gejala yang berasal dari sendi apofiseal dan/atau ligamen juga dipandang sebagai diskogenik oleh karena kelainan pada diskus intervertebral sering merupakan penyebab yang mempercepat timbulnya gejala. Walaupun tidak ada hubungan filogenetik, diskus intervertebral dan ruas tulang belakang berdekatan membentuk suatu kesatuan biomekanik, dan pada diseksi, diskus intervertebral dapat diangkat intoto dari antara dua dataran akhir (end plate) ruas tulang belakang bersangkutan. Diskus intervertebral sendiri adalah sendi utama tulang belakang dan jenisnya disebut amfi-artrosis. Sendi posterior juga disebut sendi apofiseal. Ini merupakan suatu sendi sejati (diartrosis) yang dapat dikatakan sebagai sendi vertebral. Pengetahuan tentang patologi diskus intervertebral serta tanda dan gejalanya sudah diketahui

lebih dari setengah abad. Namun pendapat tentang penyebab dan pengobatan berbeda sangat luas. Ini tampak dengan adanya berbagai terminologi. Sebelum Mixter dan Barr (1934) menjelaskan bahwa siatika disebabkan oleh kompresi radik saraf pada diskus intervertebral yang mengalami sekuesterisasi, juga dipikirkan bahwa diskus intervertebral yang mengalami herniasi mengandung tumor tulang rawan yang disebut "kordoma ekstradural anterior" (Steinke 1918, Clymer 1921, Adson dan Ott 1922, Ellsberg 1928). Bradford dan Spurling (1950) menggunakan istilah "protrusi" untuk diskus yang menonjol, dan membedakannya dari nukleus pulposus diskus yang ruptur atau mengalami herniasi yang pada saat ini dikenal sebagai "prolaps". Jaringan diskus intervertebral yang mengalami herniasi berisi tidak hanya material dari nukleus pulposus namun juga dari anulus fibrosus. Seperti telah dijelaskan, pernyataan "protrusi" digunakan untuk menunjukkan penonjolan diskus keposterior tanpa rupturnya anulus fibrosus. Sekali lagi, bila anulus fibrosus telah mengalami perforasi dan jaringan diskus mengalami penetrasi kerongga epidural, digunakan pernyataan "prolaps". Suatu ruptur tanpa protrusi eksternal melalui anulus disebut "ruptur intradiskal". Sekali terbentuk fragmen, mereka disebut juga "sekuestrum" dan dapat mengalami dislokasi. Pergerakan dari satu sisi kesisi lainnya sering menimbulkan gejala siatik yang berubah-ubah tergantung pada lokasinya. Melunaknya serta rupturnya diskus intervertebral disebabkan perubahan fisiologis substansi diskus, yang disebut sebagai "khondrosis inter-vertebral" (Schmorl dan Junghanns 1968). Dengan pengertian ini maka semua perubahan yang didapat disimpulkan sebagai "degenerasi diskus intervertebral". Perubahan degenerasi bagaimanapun tidak dibatasi hanya pada tulang rawan yang disebut sebagai "khondrosis", namun juga mengenai seluruh diskus intervertebral. Untuk alasan ini dianjurkan digunakan istilah "diskosis", yaitu artrosis-artritis; diskosis-diskitis (akhiran osis berarti perubahan degeneratif). Jadi perubahan patologis, biokimia dan biomekanik menjadi jelas dengan satu istilah. Diskus intervertebral tidak mengalami regenerasi. Degenerasi diskus intervertebral tidak perlu menimbulkan gejala namun mungkin mempunyai pertanda yang sangat jelas. Hal serupa juga berlaku terhadap perubahan pada dataran akhir ruas tulang belakang. Schmorl (1932) menganjurkan istilah osteo-khondrosis terhadap adanya perlunakan substansi diskus inter-vertebral yang bersamaan dengan perubahan pengapuran pada dataran akhir. Secara radiografi, tanda yang paling jelas dari kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah spondilosis. Ini termasuk spur tulang yang nyata pada tepi ruas tulang belakang dimana melekat ligamen longitudinal posterior. Pada aspek posterior setiap perubahan spondilotik tidak tampak pada beberapa tempat dimana ligamen longitudinal posterior melekat pada

diskus intervertebral. Spondilosis dan osteokhondrosis sering digunakan sebagai diagnosis, walau tanpa kelainan lain yang jelas yang menunjukkan tanda-tanda peningkatan usia, dan dapat dibandingkan terhadap perkembangan tumbuhnya uban dan berkerutnya kulit. Usia secara sederhana adalah proses fisiologik yang terjadi pada semua struktur serupa. Pada diskus intervertebral perubahan usia terjadi lebih awal akibat pengaruh nutrisional dan biomekanik yang menimbulkan perubahan yang tidak dijumpai pada struktur lain. Karenanya nasib alamiah dan biologik dari diskus inter-vertebral adalah penuaan yang lebih awal. Pada orang tua spondilosis dan osteokhondrosis selalu dapat diperlihatkan tanpa perlu menimbulkan gejala. Disamping diskosis, pernyataan "degenerasi diskus intervertebral" harus dipegang karena diterima secara internasional. Penampilan gejala mungkin bisa dimengerti pada istilah ini, yang bagaimanapun tidak perlu menggambarkan latar belakang morfologik. Degenerasi adalah istilah morfologik sejati yang tidak mempunyai arti klinis sebagai perubahan struktural, tidak mempunyai fungsi yang terganggu atau gejala. Sekali gejala bentuk apapun terjadi, tampaknya benar bila dikatakan tentang kelainan diskus intervertebral berdasarkan perubahan degeneratif. Ada deviasi pada aksis tulang belakang baik pada bidang frontal maupun sagital. Ini mungkin berakibat tenaga yang tak-setangkup terhadap diskus intervertebral. Pada bagian yang cekung yang mendapat catu makanan buruk, perubahan degenerasi diskus intervertebral terjadi lebih cepat. Akibatnya ruptur dan perlunakan lebih sering terjadi didaerah ini. Analog dengan deformitas prearthrotik, sudah dipikirkan bahwa deformitas postur, yaitu tekukan pelvis, kifosis, hemivertebra dan skoliosis adalah pertanda adanya suatu diskosis awal, serta karenanya deformitas prediskotik. Sekali lagi struktur morfologik tidak membawa kepentingan klinik. Bagaimanapun daerah dengan perubahan ini lebih cenderung terkena penyakit dengan gejalanya. Sebagaimana diketahui, inflamasi adalah khas dengan akhiran itis. Infeksi diskus intervertebral dikenal sebagai "diskitis". Pada beberapa instansi diskitis bukan dikarenakan infeksi dan ditempat lainnya dikarenakan infeksi. Sebagai contoh, sangat sering setelah penyuntikan khimopapain pada pasien mungkin menimbulkan keadaaan inflamatori diskus intervertebral yang berakhir setelah beberapa minggu tanpa adanya infeksi. Bagaimanapun ada infeksi diskus intervertebral yang disebut "diskitis". Infeksi ruas tulang belakang disebut "spondilitis". Pada keadaan dimana terjadi inflamasi yang bersamaan dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral yang berdekatan karenanya disebut "spondilodiskitis". Walau suatu spondilitis menyangkut infeksi bakterial dari badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral, infeksi diskus intervertebral biasanya mendominasi gambaran klinis. Secara umum , "spondilo-

Sebagai tambahan terhadap gejala lokal yang umum yaitu gejala dari daerah tulang belakang yang terbatas. -------------------------------------------------------Istilah Penjelasan -------------------------------------------------------Anulus fibrosus Bagian seperti cincin melingkar (Anulus fibrosus) pada diskus intervertebral. Pada tulang belakang lumbar. Istilah umum untuk nyeri radikular yang berasal dari tulang belakang lumbar adalah sindroma radik saraf lumbar. Apophyseal joint (Sendi apofiseal) Sendi diatelial. perlu analisa yang mendalam dari penyakit diskus intervertebral. -inis. sumsum tulang belakang atau serebral. Istilah "sindroma servikal. Sindroma lumbar lokal khas dengan gejala yang lebih merata dan tidak terbatas pada satu radik saraf dengan gangguan segmental namun secara luas diterima sebagai barasal dari diskus inter-vertebral.diskitis" hanya digunakan bila tulang belakang terserang pada penyakit rematik. (lat): paralisis lumbar] adalah istilah umum yang digunakan untuk nyeri hebat pada daerah lumbar yang bersamaan dengan penurunan mobilitas. Istilah ini semata-mata menunjukkan dari bagian tulang belakang yang mana gejala berasal. Satu alasan adalah bahwa mereka digunakan dalam bahasa medik sehari-hari dan karenanya sulit untuk diabaikan. torak dan lumbar" adalah tidak sempurna dan tidak memungkinkan menilai etiologi dan patogenesis. namun tidak selalu diikuti distribusi siatika karena sindroma radik saraf lumbar yang lebih tinggi berasal dari kompresi serabut anterior radik kedua. Untuk pengertian klinis dan praktis terbaik. Ini hanya merupakan satu dari sindroma lumbar lokal. yang terbentuk dari jaringan fibrokartilago dan fibrosa. ketiga dan keempat semata. Untuk menyatakan keadaan umum ini sebagai "lumbago". Ini yang umum disebut nyeri pinggang bawah (low back pain). Tabel 1 Istilah yang umum digunakan dan penjelasannya. Karenanya kita mungkin menetapkan secara teguh pernyataan ini. adalah simptomatologi yang menyangkut kelainan radikular. alasan lain adalah bahwa penyakit diskus intervertebral terutama terjadi pada daerah servikal dan lumbar dan penyakit dari sumber lain didaerah ini adalah kekecualian. "Lumbago" [lumbago. tidak akan benar secara terminologi. juga disebut sendi tulang belakang.f. penentuan dapat dibuat antar gejala lokal yang terbatas pada regio lumbar dan yang bersamaan dengan nyeri yang menjalar keekstremitas bawah. . Tahap akut pada saatnya diikuti tingkat kronik. Nyeri menjalar ke tungkai.

Diskitis (Diskitis) Diskosis (Diskosis) Inflamasi atau infeksi terbatas pada diskus intervertebral. Dataran akhir badan tulang belakang serta . Disk injection Menyuntikkan baik media kontras ma(Penyuntikan diskus) upun obat obatan kedalam diskus intervertebralis. Perubahan biomekanik dan patologik pada diskus intervertebral berhubungan dengan perubahan degeneratif yang serupa. suatu amfiartrosis. Internal disk dearangement (Kerusakan susunan diskus internal) Intervertebral disk (Diskus intervertebral) Robeknya jaringan didalam diskus intervertebral. (Dataran tepi tulangrawan) Disk deseases (Kelainan diskus) Diskectomy (Diskektomi) Keadaan patologik yang timbul langsung maupun tidak langsung dari diskus intervertebral.Tulang rawan hialin pada dataran plates tepi tulang belakang. Membuang setengah dari arkus ruas tulang belakang. Biasanya terdiri dari hemifasetektomi dengan membuang aspek mesial dari baik faset superior maupun inferior dari sendi tersebut. Facet arthrosis (Artrosis faset) Facetectomy (Fasetektomi) Foraminectomy (Foraminektomi) Hemilaminectomy (Hemilaminektomi) Interlaminar space Ruangan yang diselaputi ligamentum (Ruang interlaminar) flavum antara dua arkus ruas tulang belakang. Sendi utama antara dua badan tulang belakang. Perubahan degeneratif pada sendi ruas tulang belakang terutama yang bersamaan dengan degenerasi diskus intervertebral. Mengangkat bagian yang lepas maupun yang telah mengalami degenerasi dari diskus intervertebral. Terbentuk oleh tiga bagian. Memperluas foramen intervertebral yang menyempit. Mengangkat sebagian atau seluruh faset atau sendi.Cartilagineous end.

Pusat diskus intervertebral terutama terdiri dari substansi ini. Dikelilingi sebelah atas oleh pedikel. Kesatuan fungsional kolumna tulang belakang yang terdiri dari dua badan ruas tulang belakang diskus intervertebral diantaranya. . Nyeri akut pada regio lumbar. biasanya bagian superior dan ligamentum flavum. operasi diskus inter- Nucleus pulposus (Nukleus pulposus) Osteochondrosis (Osteokhondrosis) Postlaminectomy syndrome (Sindroma pascalaminektomi) Prediskotic deformity Gangguan bentuk dan fungsi segmen (Deformitas bergerak yang memudahkan perkemprediskotik) bangan sindroma diskus intervertebral kelak. Intervertebral foramen (Foramen intervertebral) Kanal antara dua arkus ruas tulang belakang yang ditembus oleh saraf. tervertebral lumbar) Lumboradiculitis (Lumboradikulitis) Motion segment (Segmen bergerak) Nyeri pada regio lumbar yang menjalar ketungkai. Nyeri setelah vertebral. Tepi posterior dihubungkan oleh faset superior dan inferior dari sendi posterior. Laminectomy (Laminektomi) Laminotomy (Laminotomi) Low back pain (Nyeri punggung bawah) Lumbago (Lumbago) Lumbar disk desease Kelainan diskus intervertebral pada (Kelainan diskus in. Prolapse (Prolaps) Herniasi jaringan diskus intervertebral melalui anulus fibrosus kedalam kanal. Membuang arkus ruas tulang belakang. Degenerasi diskus intervertebral bersama-sama dengan perubahan dataran akhir ruas tulang belakang. Membuang bagian dari arkus ruas tulang belakang. anterior oleh diskus dan inferior oleh pedikel ruas tulang belakang inferior.anulus fibrosus. Nyeri yang terbatas hanya pada regio lumbar.regio lumbar.

Upper lumbar Sindroma lumbar yang mengenai akar radiculitis) saraf L2. Sciatic list (Postur siatik) Segmental instability (Ketidakstabilan segmental) Sequestered Terlepasnya fragmen nukleus yang disk fragment mengalami degenerasi dari diskus (Fragmen diskus yang intervertebral mengalami sekuesterisasi). Penetrasi spontan jaringan diskus intervertebral keruas tulang belakang. Spinal fusion (Fusi spinal) Spinal stenosis (Stenosis spinal) Spondylosis (Spondilosis) Three-joint complex (Kompleks tiga sendi) Tight hamstring (Hamstring yang tegang) Stabilisasi operatif pada segmen bergerak. Konsep yang terdiri dari dua sendi dan diskus pada masingmasing tingkat.Protrusion (Protrusi) Rheumatoid diskitis (Diskitis rematoid) Schmorl nodes (Nodus Schmorl) Sciatica (Siatika) Penonjolan diskus intervertebral tanpa perforasi anulus fibrosus. Penyebaran nyeri sepanjang ekstremitas bawah sesuai dengan distribusi saraf siatik. Keadaan khas yang tampak pada posisi berdiri pada penderita prolaps atau protrusi diskus intervertebra. Penyempitan kanal spinal. L3 dan L4. Inflamasi rematoid pada tepi diskus intervertebral. S1 dan/atau S2. Kontraksi yang jelas pada otot hamstring (mungkin karena traksi pada radik L5 dan S1-S2) menyebabkan teregangnya saraf ini. Akar L4 mungkin hanya terserang sebagian. (Radikulitis lumbar sebelah atas) ------------------------------------------------------- . mencakup akar saraf L5. Degenerasi diskus intervertebral dengan spur tulang reaktif pada tepi ruas tulang belakang. Hilangnya stabilitas.

ini terutama jelas pada penyakit degeneratif sistem lokomotor dimana degenerasi diskus intervertebral berperan penting.A.9 % sudah menderita berbagai jenis gangguan sistem lokomotor. Tidak . sejumlah keadaan secara salah disangka rematik. Karena tidak jelasnya terminologi penyakit rematik.170 penduduk. Jochheim (1961). Swedia (Dahlberg 1976). Beberapa pandangan menarik didapat dari morbiditas penyakit diskus intervertebral. Israel (Magora 1970. Gross (1966) dan Hult (1954). dan 52 % nyata mempunyai gejala saat pemeriksaan. Dari negara lain juga dilaporkan frekuensi penyakit diskus inter-vertebral degeneratif yang berhubungan dengan pekerjaan: Inggeris (Dixon 1973. Magora dan Tanstein 1969). perlu melakukan penelitian prospektif. Ini menjadi lebih nyata bila kelainan tulang belakang dipelajari sendiri. Conventry (1968) dan Hirsch (1960). Untuk lebih baik dalam mengikuti perkembangan dan distribusi suatu penyakit kronis dimasarakat. Menurut laporan German Health Office. Lindemann dan Kuhlendahl (1953). Schmorl dan Junghanns (1968). Arti dan Frekuensi Kelainan Diskus Intervertebral Penyakit diskus intervertebral adalah kelainan yang umum didapat. Kanada (White 1969). Penyelidikan epidemiologik sudah dipelopori oleh Braun (1969) dan Wagenhauser (1969) Wagenhauser (1969) melakukan penelitian pada 1. Gangguan pada pinggang adalah paling umum hingga usia 35 tahun. Penyelidikan Knepel (1977) mendapatkan pada praktek umum bahwa dari tiap 10 penderita didapatkan seorang dengan keluhan pinggang yang disebabkan oleh degenerasi diskus intervertebral. serta peningkatan angka harapan hidup berakibat pada peninggian penyakit pinggang baik secara relatif maupun nyata. Informasi lain mengenai distribusi kelamin dan usia dari penyakit diskus intervertebral sudah dijelaskan oleh Schmorl dan Junghanns (1968). Finlandia (Rissanen 1969). rickets dan polio. Amerika Serikat (Leavitt 1971). Ini terutama jelas pada lesi diskus intervertebral. de Palma dan Rothman (1970).8. Sepanjang hidupnya. Hanraets (1959). 72. Armstrong (1965). Persentase pengobatan pasien rawat jalan dengan sindroma diskus intervertebral mencapai 37. gangguan pinggang lebih sering dari gangguan sendi lainnya. Frekuensi tinggi dari ketidak-mampuan kerja serta pensiun awal diakibatkan oleh penyakit diskus intervertebral. penyakit sendi degeneratif adalah kelainan kronik yang utama. sedikit orang yang terhindar dari gangguan punggung postural akibat perubahan degeneratif. Secara keseluruhan . Duthie 1969). Hal ini tampak pada usia setelah 30 tahun atau lebih awal seperti laporan dari penelitian pato-anatomi oleh Schmorl (1932). Penurunan tuberkulosis sendi.

2 % terjadi pada pria dan 52. dan maksimum dicapai pada usia 40 dan 50.3 %).1 dan toraks hanya 1. Ini adalah usia dimana kebanyakan operasi terhadap prolaps diskus intervertebral dilaksanakan. berbagai tumor. Laki-laki lebih sering terserang dibanding wanita. Karenanya sangat mungkin sindroma lumbar terjadi lebih sering dari yang tercatat.94 % diikuti servikal dengan 36.kurang dari 92. Diyakini ada faktor spesies spesifik tertentu. Dengan kata lain kemungkinannya besar untuk .7 % adalah akibat degenerasi diskus intervertebral. juga terjadi sindroma radik-radik saraf lumbar dengan nyeri yang menjalar ketungkai. Pada usia ini terjadi perubahan jaringan diskus intervertebral dengan tekanan yang tinggi pada nukleus pulposus dan penurunan tahanan dari anulus fibrosus. B. serta sindroma kauda ekuina. Sisanya terdiri dari skoliosis. tetap lebih utama pada pria. mempunyai peranan (Tannich 1976). yang memerlukan tindakan yang lebih aktif. Gejala umumnya timbul antara usia 30 dan mencapai puncaknya pada usia 40 pada pria dan 10 tahun kemudian pada wanita. Penderita lainnya tidak pernah diperiksa walau dengan onset nyeri lumbar mendadak. Alasan mengapa laki-laki lebih sering dikenai tidak hanya karena lebih sering dan lebih berat dalam mengangkat serta meregang dibanding wanita. Pada penderita rawat jalan 47. osteoporosis. dan lebih dari setengahnya mengenai diskus intervertebral lumbar empat.8 % pada wanita. Sindroma diskus intervertebral terjadi terutama pada kelompok usia menengah. Selain frekuensi sindroma lumbar yang tinggi. Lumbar paling sering terserang dengan 61. penyakit Scheuermann.96 %. Beratnya sindroma lumbar. Sindroma diskus intervertebral hampir sama banyaknya pada pria dan wanita. Sindroma servikal lebih sering pada wanita (60. Regio tulang belakang yang berbeda terserang dengan persentase berbeda. atau penderita yang mengalami perasaan tidak enak setelah ia membebani pinggangnya. Ini yang ditemukan oleh kalangan medis. Bukan tidak mungkin bahwa kanal lumbar. 68 % antara 30 dan 60. dan kelainan jarang lainnya.6%) dan sindroma lumbar lebih utama pada pria (51. keadaan inflamasi. Disamping perasaan tidak enak setempat. Satu dari duabelas pasien pada praktek umum tampak diakibatkan oleh sindroma lumbar. penting menghubungkan aspek medik dan sosial karena sering terjadi pada usia menengah dimana mereka sedang berada pada puncak aktifitas kehidupannya. Frekuensi Sindroma Lumbar Sindroma lumbar secara khas ditandai dengan gejalagejala dan tanda-tanda yang berasal dari perubahan degeneratif pada diskus intervertebral lumbar. Hampir duapertiga kelainan diskus intervertebral menyerang tulang belakang lumbar. yang lebih sempit pada pria.

90 persen akan mengalami serangan berikutnya. Benn dan Wood menemukan bahwa nyeri pinggang bawah merupakan faktor ketiga yang menyebabkan kehilangan jam kerja setelah kelainan paru akut dan kronik serta kelainan pembuluh koroner arteriosklerotik di Inggris pada tahun 1970. Menurutnya hanya 35 % dari mereka yang akan menjadi penderita siatika. Ia menduduki peringkat ketiga setelah kelainan jantung dan arthritis serta rematik pada usia 45 hingga 64 tahun. Nachemson menduga bahwa 80 % orang dewasa mengalami nyeri pinggang yang jelas selama kehidupan dewasanya. Sindroma lumbar cenderung sedikit menurun selama bagian awal dari tahun (Kramer 1973). Sindroma lumbar tampaknya tidak mengikuti pola statistik khusus. namun menemukan pada wanita gejala yang jelas baru timbul satu dekade kemudian. Nyeri akut dan siatika dapat timbul spontan tanpa penyebab yang jelas. Rowe mendapatkan 35 persen pekerja ringan dan 45 persen pekerja berat mengeluhkan nyeri pinggang. Menurutnya tiap orang kehilangan 4 jam kerja setahun karena nyeri pinggang bawah. Selama sisa bulan.400 per 1. hal ini tidak berarti suatu bukti dari contoh penderita nyeri pinggang bawah secara keseluruhan. makin besar ia akan kehilangan kemampuannya dan tidak akan pernah kembali kekerja yang produktif. Setelah serangan pertama nyeri pinggang bawah. menyimpulkan bahwa di Amerika Serikat gangguan pinggang dan tulang belakang merupakan penyebab tersering diantara semua kelainan kronis dalam menyebabkan pembatasan aktifitas masyarakat berusia dibawah 45 tahun. Kelsey dan White. Penyakit ini berjalan secara khas mengikuti variasi musim. Walau Kelsey menemukan bahwa pria lebih banyak menjalani operasi akibat nyeri pinggang bawah. Penampilan gejala sangat berhubungan dengan peristiwa biokimia dan biomekanik yang sinambung pada jaringan diskus intervertebral yang perkembangannya sangat berkaitan dengan involusi usia. Tak ada perbedaan rasial atas nyeri pinggang bawah dan siatika.000 pekerja. Kelsey menemukan usia onset yang sama pada pria dengan nyeri pinggang bawah akibat kelainan diskus. Kehilangan hari kerja pertahun akibat nyeri pinggang bawah di Amerika Serikat adalah 1. Horal menemukan bahwa nyeri pinggang bawah dalam derajat yang jelas telah dimulai pada usia onset rata-rata 35 tahun. McGills menemukan bahwa ketidak-hadiran selama satu tahun karena kelainan pinggang bawah mengurangi kemungkinan untuk kembali bekerja hingga hanya 25 persen.000 pekerja dan dibeberapa pabrik di Inggeris 2.600 per 1. Peneliti lain mendapatkan bahwa semakin lama penderita meninggalkan pekerjaannya. dan . seperti juga peneliti lain. hanya kedua setelah infeksi saluran nafas atas.terjadinya dislokasi periferal dari jaringan diskus intervertebral yang terletak sentral. jumlah penderita merata.

dengan tiga lapisan germinal primer. 1955. Prader (1947) dan Ecklin (1960). yakni ektoderm. 1970) dan rekannya Larcher (1947). C.5 persen wanita diluar usia 35 tahun menderita siatika. Notokhord berubah sangat dini menjadi kolumna vertebral kartilago atau tulang. Datanya menyatakan bahwa 4. menuju ujung kaudal. Perkembangan Diskus Intervertebral Untuk memahami latar belakang perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dewasa. Cikal bakal tulang belakang adalah aksis selular yang disebut notokhord. Anatomi dan Fisiologi Diskus Intervertebral 1. Siatika adalah penyakit yang yang umum dan berpengaruh ekonomi. perlu untuk mengetahui perkembangannya pada tingkat embrionik dan pada saat bayi.8 persen pria dan 2. Embrio usia beberapa hari dengan panjang kepala-ekor 12 mm menampakkan tanda awal dari kolumna vertebral. 1968. Dari ujung kranial streak. Dalam seri seksi mikroskopik mereka dapat mendemonstrasikan involusi notokhord dan perkembangan yang berkesinambungan dari tulang belakang dan diskus intervertebral. streak primitif yang terutama dibentuk oleh sel-sel lapisan ektodermal bermigrasi keventral melalui streak dan menyebar kesetiap sisi membentuk mesoderm embrionik. yakni struktur aksial yang akan menjadi sumbu terbentuknya tulang belakang. dan hanya 19 persen memerlukan tindakan operasi. Hakelius melaporkan bahwa 75 persen penderita membaik setelah 10 hingga 30 hari sejak onset gejala.setelah tidak hadir dua tahun biasanya tidak mungkin untuk bekerja kembali. embrio berupa piring berbentuk buah pir. baik terhadap perorangan maupun industri. Bell dan Rothman menyimpulkan bahwa masalah klinis siatika adalah berhubungan dengan degenerasi diskus intervertebral. Akhir minggu ketiga pasca ovulasi. Di Swedia 53 persen pekerja ringan dan 64 persen pekerja berat mengalami nyeri pinggang bawah. mesoderm dan endoderm yang sudah terbentuk. Tekanan karena peningkatan pertumbuhan sel . sekitar 76 persen menderita nyeri pinggang bawah satu dekade sebelumnya. Notokhord berjalan melalui pusat kolumna vertebral. Digaris tengah piring embrionik. Usia onset rata-rata pada serangan siatika pertama sekitar 37 tahun. prosesus notokhordal. Perkembangan tulang belakang beserta deformitasnya sudah dipelajari terutama oleh Tondury (1947. menonjol kedepan diantara ektoderm dan endoderm. mencakup diskus intervertebral dan ruas tulang belakang. Perlu diingat bahwa prognosis untuk penderita dengan siatika berat unilateral akibat diskus intervertebral yang herniasi tidaklah jelek. Selama periode ini dapat dijumpai awal dari degenerasi. Ia tetap hanya sebagai aksis skeletal pada khordata.

Berkas lamella padat pada lapisan periferal anulus membentuk jaringan yang berjalan dari satu ruas keruas tulang belakang lainnya. Pusat penulangan ruas tulang belakang kearah diskus intervertebral membentuk bidang akhir tulang rawan. Annulus fibrosus dan nukleus pulposus bertambah ukuran dan isinya secara aposisi interstitial (Hirsch dan Schajowicz 1952). Lamella fibrosa ditembus pembuluh ini yang berasal dari jaring kapiler intralameller. Fibril berjalan didalam tulang rawan ruas tulang belakang dan kemudian berkembang membentuk serabut Sharpey pada zona transisional. satu horizontal perifer dan satu longitudinal sentral. berlanjut kezona dalam gelatinosa parakhordal yang betul-betul tanpa struktur. Zona luar yang kaya akan fibril namun miskin akan sel. Cincin epifiseal osseus adalah penting pada diskus intervertebral karena serabut Sharpey melekat padanya. Zona ini menghilang pada usia sekitar 20 tahun. Ada dua sistem pembuluh. Pusat osifikasi berkembang pada daerah cincin epifiseal kartilaginosa. Diskus intervertebral saat lahir terdiri dari semua struktur yang kelak menjadi penting dalam kehidupan dalam hal fungsi mekanik tulang belakang. Pertumbuhan ruas tulang belakang mengambil tempat pada zona proliferatif dari bidang epifiseal. Pembuluh mencapai annulus fibrosus melalui jaringan vaskular disekeliling kolumna tulang belakang dan foramina intervertebra. Pada usia 12 tahun. Diskus intervertebral disekeliling segmen khordal terdiri dari satu zona luar dan satu zona dalam. Pembuluh ini tidak mencapai baik interior dari annulus fibrosus maupun nukleus pulposus (Tondury 1958). Catu vaskular semua elemen pada diskus inter-vertebral sempurna . Jumlah dan kekuatan lamella berkurang kearah pusat diskus intervertebral. pusat ini bersatu untuk membentuk cincin epifiseal osseus. Ini merupakan zona regenerasi.tulang rawan memeras notokhord menjadi segmen sirkular kecil yang terletak pada diskus intervertebral. Karenanya penulangan pada batas terluar membentuk cincin tulang dari bidang akhir. Bagian sentral diskus intervertebral menerima nutrisi melalui difusi. Ruas tulang belakang dan diskus intervertebral mencapai akhir perkembangannya pada pemuda dewasa. Zona dalam parakhordal bersama segmen khordal yang terletak eksentris membentuk nukleus pulposus. Diskus intervertebral yang sedang tumbuh menerima catu vaskular untuk zona luar selama tahap embrionik dan bayi. Segmen ini adalah asal dari nukleus pulposus (Tondury 1958). Bidang tulang rawan mempunyai vaskularisasi baik. Nukleus pulposus yang tidak berstruktur mengisi daerah ini. Fibril longitudinal tampak lebih awal pada zona luar yang akhirnya membentuk nukleus pulposus. dan absorpsi pada permukaannya membentuk tulang "cancellous". Dari tingkat ini penggabungan mulai dari cincin epifiseal kebadan ruas tulang belakang.

area sentral nukleus kehilangan penampilan homogen dan gelatinnya. namun pada akhir periode pertumbuhan tinggi diskus intervertebral hanya 1/3 hingga 1/5 tinggi ruas tulang belakang berdekatan. Konsekuensinya adalah terjadinya gangguan metabolisme. permukaan terpotong adalah berkilat dan menyerupai gelatin. hingga pembuluh ini mengalami penekanan secara terus menerus oleh tekanan yang berasal dari diskus intervertebral yang mengikuti variasi postur tubuh. Pembuluh ruas tulang belakang sebagian berada pada sistem trabekular badan ruas tulang belakang dan terhindar dari beban dan kompresi aksial. Penambahan oleh aposisi interstitial pada ukuran dan isi nukleus pulposus dan anulus fibrosus tidak berjalan paralel dengan pertumbuhan badan ruas tulang belakang. Kontras dengan ini. karakternya menjadi relatif kering dan fibriler. Dalam hal kualitas diskus intervertebral. Goldie (1957) dan Hassler (1969) menemukan invasi jaringan granulasi dengan pembuluh darah pada diskus intervertebral yang berdegenerasi. Penurunan nutritif pada diskus intervertebral dengan sendirinya berakibat pada baik kualitas maupun kuantitas jaringan ikat pada diskus intervertebral. Pada manusia. Dengan pertambahan usia. Pada neonatus dan bayi kecil. Bila segmen bergerak menjadi immobil karena spur spondilotik. Saat lahir kedua struktur hampir sama tinggi. Setelah akhir pertumbuhan. diskus intervertebral menunjukkan perubahan penampilan dikarenakan perubahan regresif. sedangkan pada dewasa tidak mungkin. Disini terjadi penurunan yang cepat pada kandungan air. dan karenanya terjadi perubahan konsistensi dan warna jaringan diskus pada tahun-tahun pertama kehidupan. Ini memberikan kesan sebagai substansi cairan. Mungkin menghilangnya pembuluh berhubungan dengan peningkatan beban yang berkesinambungan. dan akan dipertahankan selama tahun pertama dan kedua kehidupan. Hubungan ukuran antara badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral karenanya menjadi disproporsionat. pembuluh darah dapat masuk kediskus intervertebral sebagai bagian dari reaksi jaringan ikat. Jaringan semi cair sentral ini dapat dengan mudah dibuang pada anak usia dua tahun. perubahan yang tampak pada orang muda menunjukkan "degenerasi bergantung usia" yang dini. Perubahan ini jelas pada pemeriksaan visual sederhana terhadap spesimen. setelah itu terjadi regresi yang menyebabkan diskus intervertebral avaskular pada usia empat tahun.hingga usia dua tahun (Tonduri 1955). pembuluh pada diskus intervertebral menghilang bila posisi berdiri dimulai. Diskus intervertebral karenanya menunjukkan banyak perubahan selama periode pra serta pasca natal. Tahap tertentu pada perkembangan diskus intervertebral . pembuluh pada diskus intervertebral berada pada massa gelatinosa homogen yang secara fisik ekual dengan cairan.

Diskus intervertebral pada hubungan servikal-torak dinamakan diskus intervertebral C7-T1 atau diskus intervertebral C7. Unit fungsional dari tulang belakang adalah segmen bergerak (Schmorl dan Junghans 1968). diskus intervertebral mungkin disebut diskus intervertebral L5-6 atau L6-S1. ligamen flavum yang kelateral membentuk kapsul untuk sendi ruas tulang belakang. kanal tulang belakang dan prosesus spinosus serta transversus berikut ligamennya. anulus fibrosus dan dataran tulang rawan yang pada berkembangan lebih lanjut menjadi lebih berintegrasi dengan ruas tulang belakang. yang mungkin tampil sebagai sindroma diskus inter-vertebral. adalah penamaan diskus intervertebral berdasar nama ruas tulang belakang diatasnya. Sebagai aturan. Misalnya diskus intervertebral diantara ruas tulang belakang servikal kelima dan keenam juga dikenal sebagai diskus intervertebral servikal kelima. 11 torakal dan empat lumbar. Berlawanan dengan . Sistem lainnya. Sendi utama yang dibentuk oleh diskus intervertebral terdiri dari nukleus pulposus. Misalnya C5-6 adalah diskus intervertebral antara ruas tulang belakang servikal kelima dan enam. ada lima buah diskus intervertebral servikal. Karenanya ada 23 diskus intervertebral.dari bayi hingga usia tua ditandai dengan kemungkinan yang lebih besar terhadap suatu perubahan degeneratif tidak hanya pada nukleus pulposus tapi juga pada anulus. Diskus intervertebral dinamai pada saat ini dalam dua cara berbeda. Diskus inter-vertebral membentuk 1/4 tinggi dari tulang belakang dewasa. Anatomi Tulang Belakang Kelainan diskus intervertebral tidak hanya menyerang diskus intervertebral saja. Tulang belakang manusia terdiri dari 24 segmen bergerak. Pada beberapa keadaan dimana ditemukan ruas tulang belakang lumbar tambahan . sendi ruas tulang belakang. menjadi lebih umum digunakan. Struktur berdekatan juga dikenai. dan sendi segmen bergerak antara atlas dan aksis tidak mempunyai diskus intervertebral. Bila memikirkan bagian dari sindroma ini. 2. Pada dataran sagital berbentuk trapezoid dan mengatur kurva fisiologik masing-masing bagian. Paling atas antara oksiput dan atlas. Diskus intervertebral berubah tingginya yaitu semakin tinggi pada arah superior keinferior. Segmen bergerak dibentuk oleh setengah ruas tulang belakang diatas dan setengah ruas tulang belakang dibawahnya. jalur yang mungkin berperan pada patogenesanya harus dijelaskan. Diskus intervertebral pada hubungan torakolumbar dinamakan T12-L1 atau diskus intervertebral torak ke 12. ligamen flavum. Paling umum menggunakan sistem yang berhubungan dengan ruas tulang belakang tetangganya. Karenanya termasuk ligamen longitudinal anterior dan posterior.

kifosis torak. permukaan ruas tulang belakang yang seperti saringan. anulus berhubungan secara mulus dengan nukleus pulposus. Interior ruas tulang belakang mempertahankan hubungannya dengan dataran tulang rawan melalui lamina kribrosa. Lebih kedepan. Substansi nukleus pulposus pada usia selanjutnya dipisahkan ruangan yang kedalamnya dapat dimasukkan satu hingga dua cm3 cairan melalui suntikan. Pada usia awal. Disini aspek superiornya lebih lebar dari inferior. Menurut Schmorl (1932). biasanya kurang dari satu cm3 yang dapat disuntikkan. dan saat pertumbuhan berakhir ia mencapai cincin ruas tulang belakang. yang ditentukan oleh konfigurasi ruas tulang belakang. Ini dapat dengan mudah diangkat dari diskus intervertebral. akan berusaha mendapatkan bentuk bola. berbeda dengan penjelasan pada beberapa buku anatomi. konveksitas lordosis servikal dan lumbar adalah akibat penambahan tinggi bagian anterior diskus intervertebral. ligamentum longitudinal posterior tak begitu mudah dipisahkan dari diskus intervertebral karena eratnya perlekatannya. Bila memotong diskus intervertebral secara transversal maka substansi sentral yang melekat erat pada ruas tulang belakang akan menonjol keluar. Anulus fibrosus mengandung serabut serupa sekrup yang bercampur satu sama lain yang berjalan dari satu ruas tulang belakang ke ruas tulang belakang lainnya. dataran tulang rawan bersatu dengan dataran akhir ruas tulang belakang melalui lapisan kalsium melalui mana porus-porus kecil menembus untuk nutrisi diskus intervertebral. Ligamentum longitudinal anterior berjalan secara luas sepanjang permukaan anterior badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. Ini menunjukkan bahwa diskus intervertebral akibat dari tekanannya sendiri. Walau sepatutnya bagian dari diskus intervertebral. dan diregio tulang belakang lumbar menyempit menjadi pita tipis. Sebaliknya. Jaringan ini berisi substansi dengan dasar gelatin (Schmorl dan Junghanns 1968) yang akan menjadi nukleus pulposus. Diperifer ada serabut Sharpey yang menembus dan melekat pada cincin ruas tulang belakang. dataran tulang rawan nyatanya merupakan bagian badan tulang belakang. Sisa dari notokhord terletak lebih kebelakang. Lamela fibrosa lebih banyak dan lebih kuat di anterior dan lateral dibanding di posterior dimana mereka lebih jarang dan lebih tipis. yaitu dari anulus fibrosus dan nukleus pulposus. Difusi berbagai substansi terjadi melalui lapisan ini. nukleus pulposus mengandung sel khordal dan untaian yang tersusun berbentuk jaring yang tampak berasal dari sel khordal (retinakulum khordal). Pada orang muda dimana jaringan diskus intervertebral lebih homogen. Pada diskus intervertebral (Stahl 1977). Ia mengandung tulang rawan hialin. ligamen longitudinal posterior tidak menutupi diskus inter-vertebral secara .

yaitu melalui batuk. Pada operasi dengan posisi ini untuk prolaps diskus intervertebral lumbar. Vena vertebral. Ligamen ini menutupi aspek posterior kanal spinal dan kelateral membentuk kapsul dari persendian ruas tulang belakang. Bersama vena azigos. Anatomi Tulang Belakang Lumbar . dapat timbul nyeri yang berasal dari periosteum. pengisian vena dan tekanan vena sentral berada pada keadaan paling rendah. seperti terjadi pada protrusi diskus intervertebral. Pada posisi duduk dan terlentang vena ini terisi penuh. Persangkaan hipertrofi dalam berbagai tingkat dianggap bertanggung jawab atas keluhan pinggang bila pada saat operasi didapatkan kondisi lainnya dalam keadaan normal. membentuk sistem anastomotik dari tengkorak mencapai sakrum. dimana prolaps dan protrusi diskus intervertebral terjadi. Ligamentum flavum merupakan struktur penting pada bedah diskus intervertebral. Ligamentum flavum dan ligamentum interspinosum menstabilkan bagian posterior segmen bergerak pada kurva anterior pada kifosis total dan pada posisi berdiri. Perhatian besar telah lama dipusatkan pada ketebalan ligamentum flavum. ia berjalan dari setengah anterior dan distal lamina diatasnya dan melekat pada sisi superior lamina dibawahnya. Bila pita ini mengalami regangan. yang tak mempunyai katup. Bagian lateral ligamen membentuk pita yang berjalan oblik menyilang diskus intervertebral dalam arah kedistal dan akhirnya berakhir pada dasar pedikel. Karenanya hanya sedikit perdarahan saat operasi dan koagulasi elektrik jarang diperlukan. vena epidural akan kolaps dan sulit untuk terisi darah. Pada posisi 'a la vache'. 3. Clemens (1970) mendemonstrasikan pentingnya sistem vena vertebral lokal yang memiliki hubungan melalui beberapa emissaria dengan vena inferior tengkorak. terdapat sirkulasi kolateral lokal yang segera bereaksi pada semua peninggian tekanan pada dada. Vena vertebral dapat menyebabkan sindroma diskus inter-vertebral dan juga suatu perburukan bila terjadi penyempitan kanal spinal oleh protrusi diskus intervertebral atau tulang. Pada pengukuran intraoperatif didemonstrasikan bahwa derajat pengisian pada vena epidural lumbar berhubungan dengan tekanan vena sentral (Ghazwinian dan Kramer 1974).menyeluruh namun menyisakan aspek dorsolateral terbuka. Vena vertebral juga mempunyai hubungan dengan vena cava superior dan inferior. perut dan tengkorak. Ligamentum flavum menjadi lebih tebal sebelah distal dari kolum servikal. Ini menjelaskan peningkatan rasa tidak enak daerah lumbar saat kegiatan tersebut. bersin dan peninggian tekanan abdominal. Pengisian vena ini tergantung posisi tubuh. Menjembatani foramina interarkuata. bila tiada tekanan pada abdomen dan abdomen tergantung bebas.

Foramina intervertebral terletak sama tinggi dengan diskus intervertebral. diskus intervertebral ini mempunyai bentuk trapezoid. Pada penyempitan kanal lumbar. Foramina intervertebral daerah lumbosakral sangat kecil. Tepi tulang dari foramina intervertebral. Diskus intervertebral bertambah ukurannya dari bagian superior keinferior. b. namun juga antara kedua sisi. Ganglia spinal dan radik anterior terletak lebih keanterior dibanding daerah toraks dan mereka hampir bersentuhan dengan diskus intervertebral. radik saraf dengan mudah menjadi tertekan. yakni pada bagian superior dari tulang belakang lumbar. Tampak lateral. sedikit perubahan aspek posterior diskus intervertebral dapat menyebabkan rasa tidak enak. Ini paling jelas pada daerah lumbosakral. Diskus intervertebral torakolumbar atau diskus intervertebral T12 dianggap milik tulang belakang lumbar. Diameter radik saraf bertambah dari bagian superior keinferior dengan maksimum pada L5. Tentu saja variasi tidak hanya dalam ukuran lubang. Diskus Intervertebral Lumbar Tulang belakang lumbar mempunyai lima ruas tulang belakang. Pada daerah lumbosakral serupa dengan tulang belakang toraks dan karenanya berarah pada dataran frontal. Tampilan cembung diskus intervertebral nyata pada daerah lumbar. c. Ukuran kanal tulang belakang lumbar baik pada dataran frontal maupun sagital serta bentuk dari kanal. Diskus intervertebral lebih tinggi dianterior dibanding posterior dimanaberhubungan dengan derajat dari lordosis lumbar. dibentuk oleh bagian posterolateral ruas-ruas tulang belakang yang kadang-kadang menebal kebawah pada bagian superior foramina intervertebral dimana radik saraf lewat. menampakkan beberapa segi sebagai penyebab nyeri lumbar. Susunan anatomi menyebabkan posisi anatomi dan fisiologi radik saraf penuh risiko. Rongga sendi L1-L4 berarah pada dataran sagital. Foramina intervertebral terbatas kearah posterior oleh faset sendi. karena oleh perubahan diskus inter-vertebral atau dislokasi ruas tulang belakang.a. Kekecualian pada diskus intervertebral lumbosakral yang sekitar sepertiga lebih pendek dari diskus intervertebral didekatnya. Foramina intervertebral dapat menjadi sempit karena perubahan posisi dari sendi tulang belakang. Hubungan diameter dari L1 hingga L5 adalah 1:5 (Tondury 1970). Foramina Intervertebral Posisi foramina intervertebral dalam hubungannya dengan diskus intervertebral tulang belakang lumbar adalah paling penting dalam mengamati radik-radik saraf spinal. Variasi Ruas Tulang Belakang Lumbar Terdapat anggapan yang berlebihan bahwa deformitas dan anomali kongenital adalah penting sebagai penyebab .

Pada tulang belakang lumbar sering terjadi penyempitan kanal tulang belakang baik oleh protrusi maupun prolaps diskus intervertebral. Bila kedua prosesus transversus berasimilasi dengan sakrum. Kanal tulang belakang dibatasi sebelah depannya oleh badan ruas tulang belakang dan diskus intervertebral. radik-radik saraf tidak . Sepanjang ruas tulang belakang transisional setangkup dan serasi baik dengan sekitarnya. tidak akan menimbulkan gejala. dan bila terdapat enam ruas tulang belakang dikatakan sebagai lumbarisasi. d. radik-radik saraf. prolaps diskus intervertebral antara L5-L6 menyebabkan sindroma S1. serta jaringan epidural yang berisi vena-vena dan lemak yang mengelilingi radik-radik saraf hingga pada pergerakan yang ekstrim dari tulang belakang lumbar. Bila terdapat empat ruas tulang belakang bebas. Prolaps antara ruas tulang belakang lumbar empat dan sakrum pada keadaan dimana hanya terdapat empat ruas tulang belakang bebas akan menyebabkan sindroma L5. misalnya satu prosesus transversus bebas dan lainnya berhubungan dengan sakrum. dikatakan sebagai sakralisasi. Kearah lateral adalah rongga arkus dan foramina intervertebral. dan sebelumnya dianjurkan untuk menghitung dari bawah keatas. Topografi Radik Saraf serta Diskus Intervertebral dalam hubungannya dengan Kanal Spinal Lumbar Kebanyakan sindroma radik saraf lumbar timbul dari segmen terbawah akibat keadaan biomekanik dan kontak erat radik saraf terhadap diskus intervertebral. ruas tulang belakang pertama yang tidak mempunyai tulang rusuk. Sekali terdapat ketidaksetangkupan. Diskus inter-vertebral dapat menampakkan semua jenis kemungkinan perubahan transisional. akan terjadi perubahan biomekanik tulang belakang. Variasi jumlah ruas tulang belakang mempunyai beberapa kepentingan praktis. Pada keadaan ini. diskus intervertebral superior berdekatan akan terserang ketidaksetangkupan (Rettig 1959). dan keposterior oleh ligamentum flavum dan arkus ruas tulang belakang. Sudah diketahui bahwa secara praktis menghitung ruas tulang belakang dimulai dari L1.nyeri lumbar. dan akibatnya mungkin terjadi skoliosis lumbar. Ruas tulang belakang transisional memiliki keistimewaan dimana ruas tulang belakang lumbosakral mungkin mempunyai prosesus transversus bebas atau mungkin mempunyai kontak yang erat dengan sakrum dengan tampilan serupa sendi. dan berakibat istilah ruas tulang belakang transisional jarang digunakan. Dalam keadaan enam ruas tulang belakang bebas. Sakralisasi dan lumbarisasi hanya dapat ditentukan dengan penghitungan yang teliti terhadap ruas tulang belakang toraks. Isi kanal tulang belakang lumbar adalah kantung dural. Kanal berbentuk silinder yang berubah sesuai pergerakan batang tubuh. tekukan ruas tulang belakang transisional terjadi bila satu prosesus lebih pendek dari lainnya.

atau oleh spurring yang mengikuti pada daerah intraforaminal (Gill 1976). Karena hubungan topografik yang khas dari radikradik saraf terhadap diskus intervertebral ini. Anulus fibrosus dibentuk oleh serabut. Hal serupa. dan saraf-saraf spinal berjalan lebih kedistal dan keluar melalui foramina inter-vertebral yang bersangkutan setelah melalui perjalanan yang jauh dalam rongga subarakhnoid. adalah struktur akhir dari cord tulang belakang yang meluas ke ruas tulang belakang lumbar kedua. Kauda ekuina adalah saraf-saraf spinal distal yang bersamaan dengan fillum terminale. Radik sakral pertama terganggu oleh prostrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar kelima dan segmen sakral pertama.begitu terganggu oleh jaringan keras. Perbedaan ketinggian letak segmen cord tulang belakang dengan segmen tulang belakangnya yang bersangkutan paling jelas pada daerah lumbar. Komponen-komponen jaringan antara ruas tulang belakang dengan baik dapat dijelaskan dalam hubungannya atas keperluan mekanik dan sesungguhnya diskus intervertebral mungkin diingat sebagai organ jaringan ikat. maka gangguan pada radik saraf lumbar keempat terjadi pada tingkat diskus intervertebral antara L3-L4. Arah dari radik-radik saraf setelah meninggalkan kantung dural adalah menuju tingkat segmen yang bersangkutan. Struktur Mikroskopik dan Biokimia Diskus Intervertebral Selain sisa khordal. . Secara histologi dan biokimia. dan semakin jauh radik-radik berjalan kedistal semakin menyudut saat keluar dari kantung dural. diskus intervertebral juga berisi komponen jaringan yang terdapat pada jaringan ikat struktur lainnya. nukleus pulposus oleh substansi dasar. sel sel tulang rawan dan kadang kadang sel sel notokhordal pada diskus intervertebral. radik lumbar kelima mungkin terganggu oleh protrusi atau ruptur diskus intervertebral intraforaminal. D. Saraf-saraf terletak lebih kelateral hingga pada pungsi lumbar medial. mielografi. dan pungsi diskus intervertebral transdural akan terhindar dari cedera. Radik lumbar keempat mungkin terganggu oleh prolaps lateral dan besar pada daerah intraforaminal atau oleh pertumbuhan berlebihan faset inferior ruas tulang belakang lumbar keempat. Cord tulang belakang kebawah hanya mencapai ruas tulang belakang lumbar pertama atau kedua. dan pelat tulang rawan oleh tulang rawan hialin. Mereka adalah fibroblas. elemen utama jaringan ikat berbeda sesuai lokasinya. Radik lumbar kelima biasa tertekan pada protrusi diskus intervertebral antara ruas tulang belakang lumbar keempat dan kelima. Jaringan-jaringan ini berasal dari sel jaringan ikat yang membentuk 20% hingga 30% dari jaringan.

serta kekentalannya yang tinggi. garam. Mukopolisakharida membentuk sistem kisi-kisi tiga dimensi yang akan menentukan viskositas substansi dasar. Karena memiliki hidro-dinamik yang jelas. Penambahan isinya adalah dari arah tepi ke nukleus pulposus. terdapat mineral. Sodium dapat terikat pada matriks. Mukopolisakharida dan makromolekul disintesa baik intra maupun ekstraseluler. makromolekul mengikat sebagian besar cairan pada diskus intervertebral. Mereka bersifat seperti mukoprotein dengan kemampuannya yang jelas dalam mengikat air. Air tidak dalam keadaan bebas. glukosa dan air. Selain cairan interstitial. sel-sel menggunakan substrat molekul rendah. Untuk membentuk makromolekul ekstraselular. semua ion lain ditemukan pada cairan interstitial. McCarty (1964) mendapatkan kalsium pirofosfat pada diskus intervertebral manusia. Mukopolisakharida asam. Karenanya dapat kembali dari bentuk ikatan kemakromolekul terion yang bebas. Kandungan potasium yang tinggi pada tulang rawan adalah karena banyaknya sel. Gluko-protein terdiri dari protein dan hidrat arang. elastisitas dan viskositas substansi dasar. Kandungan air nukleus pulposus lebih besar dibanding pada anulus fibrosus. namun merupakan bagian dari makromolekul. seperti asam amino. Kandungan air antara 80% dan 85% pada diskus intervertebral orang muda.Sel-sel jaringan ikat membentuk substansi dasar dan serabut-serabut ekstra dan intra selular. Dengan kata lain terdapat pengaktifan kalsium pada jaringan diskus intervertebral. sulfat khondroitin. Mineralisasi berjalan paralel dengan peningkatan fosfor dan dengan pemisahan kristal secara lambat. Dalam keadaan normal mineral tidak tampak secara bebas pada diskus intervertebral. sodium. Ion anorganik. Kalsium terikat pada asam mukopolisakharida dari matriks dan dapat tertimbun disini 35 kali lebih banyak dari jaringan lain (Dulce 1969). sulfat keratin dan heparin adalah bagian dari polisakharida molekul besar. enzim. Kristal kalsium fosfat tak tampak hingga usia dewasa. Sel-sel tulang rawan paling bertanggung-jawab atas metabolisme diskus intervertebral. matriks organik dan sedikit lemak pada jaringan diskus intervertebral. Mukopolisakharida bertanggung-jawab untuk pembengkakan. masing-masing terikat secara struktural atau dalam larutan pada cairan ekstraselular. Substansi dasar terdiri dari glukoprotein dan polisakharida molekul besar. Substansi dasar adalah bagian dari matriks. Dengan kemampuan metabolismenya mereka membentuk matriks organik yang mengandung kolagen dan kompleks mukopolisakharidaprotein. serta dapat dipindahkan kecairan interstitial dengan menggantinya dengan kelompok hidrofilik dari substansi tertentu. seperti halnya asam hialuronik. Proteoglikan dan komponen lain mukopolisakharida asam dibentuk intraseluler sebagai produk intermediet metabolisme glukosa. Ia mengalami depolimerisasi oleh protease asam . potasium dan kalsium.

Diantaranya terdapat pitapita hingga memberikan gambaran seperti jala. makromolekul kolagen secara sinambung mengalami proses sintetisasi dan depolimerisasi. Akibat keterbatasan waktu hidupnya. struktur ekstraselulernya terus diperbaharui. Sistem tersebut akan menghalangi difusi molekul. Waktu paruh sulfat khondroitin adalah 7-16 hari. Serabutserabut tersusun dalam berkas yang sangat atau kurang paralel. strukturnya dibangun stabil secara mekanik oleh jaringan serabut kolagen tiga dimensi. Karenanya mukopolisakharida menunjukkan tingkat perubahan yang tinggi. Kaplan dan Meyer 1959. Sawar tersebut karenanya merupakan membran permeabel yang selektif. Fase awal pembentukan serabut kolagen terjadi intraseluler. tropokolagen akan mengalami transformasi menjadi kolagen tak larut melalui proses polimerisasi ekstraseluler (Eyring 1969). Buckwalter 1976). Proses ini dapat dihambat oleh kortison (Dingle 1969). Mereka tersusun padat dan teratur membentuk gambaran seperti bawang. Sekali meninggalkan sel. Jaringan diskus intervertebral membentuk tropokolagen.sitoplasmik yang bergantung pada vitamin A. Pada orang tua perubahan berlangsung lebih lambat. prolin (12 %) dan hidroksiprolin (12-14 %). pendahulu kolagen (Steven 1969). Waktu paruh kolagen adalah 30-60 hari (Buddecke 1970). Sel pembentuk fibril terletak dalam bentuk bikonveks diantara serabut kolagen yang diikat bersama oleh mukopolisakarida. De- . Dengan interloking molekul. Sintesa makromolekul intradiskal bukan kejadian tunggal. Nutrisi sel yang tidak sempurna berakibat rendahnya kualitas dan kuantitas makromolekul. Metabolisme yang bersinambung diperlukan diskus intervertebral untuk mempertahankan sintesa dan depolimerisasi komponen ekstra-seluler. Mereka memiliki struktur makromolekul yang berdeferensiasi tinggi. Davidson dan Small 1963). Dengan pemeriksaan mikroskop cahaya dan elektron tampak bahwa struktur fibriler lebih padat pada daerah perifer diskus intervertebral (Dahmen 1966. Kandungan kolagen matriks merupakan sekitar 44-51 % berat kering diskus intervertebral. Zona sebelah pinggir diskus intervertebral memiliki berkas serabut yang tersusun padat. Fibril kolagen tampak pada diskus intervertebral sebagai bentuk kumparan. Daerah perbatasan diskus intervertebral manusia mempunyai kumparan serabut yang tersusun padat. Sawar permeabilitas yang terbentuk dapat mengontrol transport substansi ekstraseluler. yang dibentuk oleh sel-sel tulang rawan. asam hialuronik 2-4 hari (Schiller 1956. Adalah seimbang antara depolimerisasi dan sintesa makromolekul pada keadaan normal. Seperti mukopolisakarida. Fibril proteokolagen mengandung asam amino glisin (30 %). Takeda 1975. Bostrom 1958. namun merupakan proses yang bersinambung. Dari tes difusi dengan zat warna dengan berbagai ukuran molekul diperlihatkan bahwa hanya molekul dengan berat kurang dari 400 saja yang dapat melalui sawar diskus (Kramer 1973).

Sebaliknya dari yang dianggap sebelumnya. Sebaliknya. diskus intervertebral adalah subjek dari tekanan yang berkaitan dengan postur tubuh dan berat badan. Pada jaringan para vertebral dan juga pada jaringan trabekular internal ruas tulang belakang. Sel jaringan diskus intervertebral mengandung lisosom yang membentuk enzim (Pearson 1972). Osmosis dipertahankan melawan tekanan beban sepanjang ia berada dalam keseimbangan dengan tekanan osmotik. Dengan interloking molekul. Piring kartilago dan anulus fibrosus membentuk sawar permeabilitas yang memisahkan dua kompartemen jaringan. Biomekanik Tulang Belakang 1. Akibatnya permeabilitas berbeda pada daerah yang berbeda. Absorpsi cairan hanya didapat dengan osmosis. anulus fibrosus.polimerisasi kolagen dipacu oleh kolagenase. selain itu ia akan mengering dalam waktu singkat. Maroudas (1975) dan Urban (1976) membuktikan bahwa glukosa lebih mungkin menembus end-plates dan sulfat pada anulus fibrosus. struktur para vertebral. tekanan hanya beberapa mmHg. Artinya tekanan absorptif yang memungkinkan air dan larutan lainnya untuk masuk kejaringan intradiskal melalui membran semipermeabel. Cairan harus diangkut melawan tekanan didalam diskus intervertebral. Interior dari diskus intervertebral. Jaringan pinggir diskus intervertebral berperan sebagai membran semi-permeabel. Perubahan biokimia dan patofisiologi yang mendasarinya mendahului perubahan morfologik makro. metabolisme pada diskus-diskus intervertebral secara keseluruhan adalah proses yang cepat dengan adanya aktifitas enzim serta waktu paruh yang pendek. Beban dapat mencapai lebih dari 1. E. Kompartemen-kompartemen ini berbeda tekanan hidrostatiknya. Kerjanya sebagai katalis pada metabolisme jaringan. dan juga cancellous bone ruas tulang belakang. interior dari diskus intervertebral dan jaringan para vetebral termasuk cancellous bone ruas tulang belakang. Diskus Intervertebral sebagai Sistem Osmotik. Perubahan dapat terjadi atas pengaruh atas metabolisme oleh faktor mekanik dan biokimia. piring kartilago. semua berperan dalam sistem osmotik.000 kp. Mereka tak hanya berperan pada depolimeri-sasi namun juga pada sintetisasi. Tekanan osmotik koloid adalah tekanan osmotik yang dipertahankan oleh larutan molekul tinggi. permukaan anulus fibrosus dan end-plates terselaputi jaringan serabut submikroskopik tiga dimensi yang hanya memungkinkan dilalui substansi molekul rendah dan hasil metabolik dapat lewat. Sebagai . Ini dipertahankan oleh mukopolisakarida intradiskal yang memiliki absorbabilitas air yang tinggi dan yang tidak hanya dapat menahan cairan namun juga mengabsorpsinya melawan keadaan tekanan pada diskus intervertebral.

tambahan, tekanan hidrostatik dari diskus intervertebral sendiri. Dengan kata lain, tekanan ini memungkinkan pembesaran merata dengan pengambilan air dengan cara melawan tekanan balik. Derajat pembesaran diskus intervertebral dapat dinilai secara percobaan. Diskus intervertebral yang ditekan, membesar ketika tekanan dihilangkan. Tingkat dan kekuatan yang memungkinkan terjadinya perluasan, ditentukan oleh elastisitas dan absorbabilitas diskus intervertebral. Pada orang muda diskus intervertebral meluas lebih cepat dan lebih kuat dibanding orang tua. Tekanan osmotik koloid dan tekanan hidro-statik bersama membentuk tekanan onkotik. Berbeda dengan jaringan disekitarnya, diskus intervertebral mempunyai tekanan hidrostatik dan onkotik yang tinggi. Mereka berlawanan satu sama lain dengan mempengaruhi, secara bertolak belakang, absorpsi dan transudasi cairan. Berdasar perbedaan konsentrasi dan tekanan pada daerah tepi diskus, terdapat keadaan berikut: Tekanan hidrostatik ekstradiskal + Tekanan onkotik intradiskal ?-------------? Tek. hidrostatik intradiskal + Tekanan onkotik ekstradiskal

Terdapat efek berlawanan lain pada tekanan jaringan diluar diskus intervertebral, dan tenaga absorptif sepihak adalah berlawanan terhadap tekanan jaringan didalam diskus intervertebral dan tenaga absorptif jaringan sekitar diskus intervertebral. Yang manapun lebih utama, keseimbangan cairan menjadi terganggu. Perubahan yang sinambung pada tekanan hidrostatik dan onkotik adalah paling penting dalam nutrisi jaringan diskus intervertebral dan untuk fungsi segmen bergerak. Tekanan osmotik didalam diskus intervertebral berubah oleh faktor biomekanik dan biokimia. Terdapat perubahan biomekanik temporer pada sistem intradiskal sekunder terhadap peninggian atau penurunan tekanan hidrostatik. Tekanan yang timbul pada pembebanan diskus inter-vertebral disebut tekanan intradiskal. Ia beragam tergantung perubahan postur tubuh. Hubungan ini lebih jelas pada diskus intervertebral dari-pada semua jaringan lain, dan lebih jauh lagi tidak ada jaringan lain yang mempunyai tekanan setinggi diskus intervertebral. Nachemson (1966) mendemonstrasikan hubungan antara postur tubuh dan tekanan intradiskal dengan pencatatan intravital. Tekanan didapat pada pembebanan diskus intervertebral lumbar bawah dimana pada posisi berbaring 15-25 kp, duduk 150 kp, berdiri tegak 100 kp. Peninggian beberapa ratus kp. didapat bila membungkuk

kedepan, mengangkat dan memanggul. Penelitian memakai teknik pewarna dan penggunaan substansi radioaktif, memperlihatkan bahwa pada 80 kp terjadi ekstravasasi cairan, sedang dibawah 80 kp terjadi absorpsi. Transport cairan terbalik terjadi antara 70-80 kp. Arah transport cairan pada dinding diskus intervertebral sebanding dengan perubahan tekanan bila tekanan onkotik konstan. Dengan kata lain, bila beban berat seperti duduk, mengangkat dan memanggul, ekstravasasi dipercepat, sedang pada traksi dengan tekanan diskus intervertebral negatif, absorpsi yang dipercepat. Pada keadaan fisiologik, suatu perubahan transport cairan berhubungan dengan tekanan yang terjadi pada perbatasan yang ditentukan oleh absorpsi cairan dimana dilusi solusi makromolekul terjadi. Absorbabilitas diskus intervertebral akan berkurang. Sebaliknya, pembalikan terjadi dimana diskus intervertebral hanya dapat ditekan sampai derajat tertentu saja setelah pembebanan. Sekunder terhadapnya, pengeluaran air menyebabkan konsentrasi solusi molekul makro bertambah dan akibatnya absorbabilitas bertambah. Beban tak setangkup pada diskus intervertebral menyebabkan gangguan transport cairan intradiskal. Air dan larutan menjadi keluar dari zona dengan beban lebih besar ke yang lebih kecil. Pada pengukuran tekanan intradiskal didapat bahwa semua gerakan menekuk pada tubuh berakibat perubahan beban total. Pergerakan badan menyebabkan transport cairan antara diskus intervertebral dan eksteriornya seperti halnya didalam diskus intervertebral sendiri. Transport cairan yang bergantung beban pada diskus intervertebral manusia dapat dibandingkan dengan pompa, yang fungsinya mengangkut air dan metabolit ke dan dari tepi diskus intervertebral. Jadi nutrisi sel diskus intervertebral lebih baik serta pembuangan metabolit dipermudah. Semua perubahan posisi tulang belakang berkaitan dengan perubahan tekanan intradiskal dan berakibat percepatan maupun perlambatan transport cairan, dengan atau tanpa perubahan arah. Perubahan reguler antara posisi horizontal dan vertikal memperbaiki transport cairan dan larutan. Mempertahankan keadaan pada satu posisi berakibat berhentinya transport cairan yang bergantung beban, dan karenanya merugikan metabolisme diskus intervertebral. Ini terutama jelas pada postur tubuh dengan tekanan intra diskal yang dipertahankan secara terus-menerus pada tingkat tekanan yanyang tinggi.

2. Biomekanik Tulang Belakang Lumbar a. Beban dari Diskus Intervertebral Lumbar

Ada beberapa faktor biomekanik yang khas untuk tulang belakang lumbar yang membuatnya lebih terancam dan karenanya lebih mudah terkena kelainan diskus intervertebral. Posisi tegak berakibat bagian yang lebih rendah pada tulang belakang menerima beban berat. Pada daerah ini berat badan disalurkan pada area kecil sekitar beberapa sentimeter. Beban ini akan meningkat bila badan ditekuk menjauhi garis tengah. Tahun 1964 Nachemson serta Morris melakukan pengukuran tekanan intradiskal pertama dan penelitian ini dilakukan in vivo pada diskus intervertebral lumbar ketiga, pada manusia dengan postur tubuh yang berbeda. Caranya dengan memasukkan jarum kerongga intradiskal. Jarum diselaputi oleh membran poli-etilen sensitif tekanan. Pencatatan dilakukan dengan manometer. Pada posisi terlentang , tekanan pada diskus intervertebral lumbar sebelah bawah adalah 15 kp. Berbaring miring dengan sedikit tertekuk kebelakang menyebabkan peninggian tekanan lebih dari dua kali. Tekanan meninggi hingga lebih dari 100 kp. saat berdiri, serta pada tekukan kedepan meningkat hingga 140 kp. Tekukan kedepan dengan beban 20 kp. pada lengan menyebabkan peninggian tekanan hingga 200 kp. Duduk dengan punggung tegak menyebabkan tekanan lebih tinggi 140 kp. bila dibanding saat berdiri. Peningkatan selanjutnya terjadi bila tubuh ditekuk kedepan dan terutama bila secara bersamaan diberi beban. Tekanan pada permukaan diskus intervertebral adalah 10 hingga 60 kp/cm2. Okushima (1970) memperbaiki pencatatan pengukuran yang telah dilakukan Nachemson dan Morris (1964). Penelitian lebih lanjut atas tekanan diskus intervertebral dilakukan dengan menghubungkannya dengan penelitian miografi-elektro (Nachemson dan Morris 1964, Nachemson 1965, 1966, 1969, 1974, 1976, Anderson 1974, 1976). Batuk, tertawa, dan peninggian tekanan intraabdominal berakibat peninggian tekanan diskus intervertebral lumbar sekitar 50 kp. Tekanan akan menurun dengan mendudukkan pasien bersandar kebelakang. Duduk santai, tekanan menurun hingga 80 kp. (Nachemson 1984). Kerja otot dan beban pada diskus intervertebral bertambah bila mengangkat dan menarik, yang berhubungan dengan jarak antara beban dan aksis badan. Hasil percobaan ini sesuai dengan perhitungan matematik yang sebelumnya diperkenalkan Matthiass (1956). Menurut Schulter (1965), tekanan dan regangan terbesar ditemukan pada pusat diskus inter-vertebral. Karenanya tenaga robek terbesar terpusat didaerah ini. Mengingat tekanan yang besar, yang berlaku pada diskus intervertebral manusia dalam waktu yang lama, tak mengherankan bahwa perubahan degeneratif berkembang pada jaringan dengan nutrisi yang buruk. Sudah dipastikan bahwa tekanan tinggi penting dalam perkembangan dini degenerasi diskus intervertebral. Rosemeyer (1977) mendemonstrasikan terutama bahwa

diskus intervertebral lombosakral adalah penanggung regangan yang besar. Dalam berbagai posisi tubuh, sebagai pusat dari tahanan yang lemah, daerah ini menanggung 70 % dari fleksi-ekstensi lumbar secara keseluruhan. Ketika duduk dengan tubuh sedikit condong kebelakang atau bersandar kedepan, tekanan intradiskal meninggi saat pusat beban tidak pada pusat diskus intervertebral namun bergeser keanterior seperti pada posisi lordotik. Bagian posterior anulus fibrosus serta ligamen posterior antara arkus akan berada dalam tegangan. Segmen sentral diskus intervertebral yang mobil akan bergerak kearah bagian posterior diskus intervertebral yang kurang tertekan. Dengan kontraksi otot abdominal, memungkinkan untuk menyalurkan bagian dari berat tubuh atas ke daerah pelvis. Tekanan intraabdominal dapat mencapai 140 mm Hg. (Bartelink 1957, Eie 1962). Dengan kontraksi diafragma dan otot abdominal, rongga abdominal berubah menjadi silinder yang dapat menanggung beban berat, dan menurut Finneson (1973), beban diskus intervertebral lumbar dapat dikurangi 30 % dengan menggunakan otot abdominal. b. Hubungan Antara Beban dan Tinggi Perubahan tekanan pada diskus intervertebral yang relatif besar akan mempengaruhi perpindahan cairan pada diskus intervertebral. Diperlihatkan pada percobaan bahwa diskus intervertebral lumbar menjadi celah sangat tipis setelah diberi beban 200 kp. selama 12 jam. Bila tekanan dihilangkan, diskus intervertebral kembali pada ketinggian normalnya (Kramer 1973). Pada sendi intervertebral normal secara in vivo, perubahan tinggi diskus intervertebral lumbar sangat kecil, akan tetapi tetap dapat diukur. Sendi intervertebral, yang tidak seluruhnya vertikal, dan kapsul yang kuat mencegah pengurangan tinggi lebih lanjut. Pertambahan tinggi diskus intervertebral dengan mengurangi tekanan intradiskal dapat digunakan untuk perawatan. Pada traksi terjadi pelebaran jarak diskus sekitar 1.1 mm. Perubahan tinggi berkurang dengan bertambahnya usia. Walau dalam peran kecil, ketebalan penting karena ia akan merubah pola gejala dimana ada kaitan yang erat antara tinggi dan protrusi diskus intervertebral yang akan merangsang radik saraf. c. Sendi dan Foramina Intervertebral Permukaan sendi intervertebral terletak pada bidang sagital dan karenanya memungkinkan fleksi dan ekstensi, namun juga sedikit gerak kesamping. Rotasi juga mungkin, namun terbatas. Ada perbedaan perorangan dalam pergerakan tulang belakang lumbar dan segmen-segmennya. Latihan berperan penting, dan fleksi yang dijumpai

permukaanpermukaan tertekan secara bersamaan pada gerakan yang ekstrem. sedang inklinasi keposterior menyebabkan penyempitan foramina. Bersandar kedepan berakibat pelebaran. yang mengalami perubahan terus menerus. Karenanya penderita dengan protrusi lateral diskus umumnya bersandar kedepan serta kearah sisi yang sehat dalam usaha menghilangkan tekanan terhadap radik saraf. Jelas ini penting secara klinis karena sangat dekat dengan saraf yang peka. Pada percobaan biomekanik oleh Kramer didapatkan walau terjadi pemendekan diskus intervertebral lumbar atau adanya distraksi hebat. ini jelas tampak setelah pembebanan lama atau relaksasi. Radik-radik berjalan melalui bagian atas foramen intervertebral dan mengisi sekitar 1/4 dari total lumen.terutama pada akrobatis adalah sangat luas. F. subluksasi atau interloking. Posisi yang dicoba adalah sesuai dengan gerak fisiologis. Jarak jaringan ikat yang sangat dekat. serta karena struktur saraf yang sangat peka. terjadi fraktura ruas tulang belakang lebih dahulu dibanding kerusakan diskus intervertebral atau sendi intervertebral. membuat foramina intervertebral lumbar bawah diperkirakan sebagai pusat penyakit diskus intervertebral. Tidak diragukan lagi bahwa pada fase tertentu dari . Pada daerah lumbar. Dengan beban mekanik berat. Tekukan kesamping. tidak terjadi dislokasi. pada protrusi diskus intervertebral atau adanya reaksi osteofit dari faset sendi. rongga akan mengecil serta merugikan radik saraf. dan nyata pada faset sendi yang terletak pada dataran koronal. mengurangi rongga intraforaminal dengan seperlimanya. yang terjadi selama pembebanan sehari-hari. Penurunan jarak intervertebral. Pergerakan seperti ekstensi dan tekukan kesatu sisi akan mempersempit rongga intervertebral untuk saraf spinal pada sisi tersebut. Patologi Pendapat secara umum sudah dikemukakan atas perubahan morfologik dan biomekanik yang dapat terjadi pada degenerasi diskus intervertebral. permukaan artikular bergerak secara teleskopik. Pada peradangan dengan pembengkakan jaringan perineural. Pada pengurangan tinggi diskus intervertebral dan juga pada hiper-lordosis. Pembukaan faset sendi terjadi kearah superior pada bagian luar dan kearah inferior pada bagian medial (Kramer 1973). Foramina intervertebral menyempit bila tinggi diskus intervertebral berkurang. foramina menjadi sempit pada sisi cekung dan melebar pada sisi cembung. Pada perubahan tinggi intervertebral juga terjadi perubahan pada faset sendi. Lebar foramina intervertebral lumbar berubah sesuai dengan gerakan tulang belakang lumbar. Akibat inklinasi ringan. terutama jelas pada daerah lumbar yang diperkirakan karena tenaga mekanik yang terjadi pada daerah ini.

tekanan langsung dari beban tubuh dan tonus otot akan bekerja pada pembuluh darah diskus yang terletak pada substansi seperti gelatin yang homogen. diskus intervertebral merupakan subjek faktor biomekanik yang tidak menguntungkan yang menentang kebutuhan regenerasi normal yang sinambung yang berdasarkan sirkulasi yang memadai. Sejak pertama postur berdiri berlaku. Tekanan arteriolar dan venular lebih rendah dari tekanan hidrostatik sehingga pembuluh darah akan terbendung dan tidak akan mencapai diskus inter-vertebral. Nutrisi fibroblas dan sel kartilago menjadi berkurang. penghilangan beban dan pola gerakan yang normal. Karenanya degenerasi telah tampak pada masa bayi dan kelainan diskus telah tampak pada semua bagian tulang belakang pada masa pubertas dan bahkan sebelumnya (Tondury. Faktor lain adalah cedera sederhana. Contohnya antara lain tortikolis akut pada anak-anak adalah primer karena perubahan involusional pada diskus intervertebral. Metabolisme akan melewati jalur yang panjang melalui jaringan yang pada bagian tepinya masih memiliki vaskularisasi yang normal. 1968). Proses ini dimulai sejak awal kehidupan dan terus berlangsung sepanjang hidup. Umum Kelainan diskus intervertebral adalah 'ongkos' yang harus kita bayar atas postur berdiri tegak yang kita miliki (Reischauer 1949). 1968). Dengan posisi berdiri. akan terjadi perubahan yang mendasar pada keadaan biomekanik. Diskus intervertebral merupakan struktur nonvaskular tubuh yang terluas. Kesulitan dalam mengadaptasi hal ini akan berakibat memburuknya kualitas diskus intervertebral yang akan berakhir dengan degenerasi.degenerasi diskus intervertebral terdapat hubungan dengan gejala yang mungkin memberat. Pembuluh darah akan kolaps dan menjadi atrofi. Catu nutrisi yang teratur untuk sel diskus intervertebral untuk beberapa dekade tidak dijamin oleh mekanisme transport cairan baik secara aktif maupun pasif. 1. . Semula diskus intervertebral tidak memiliki jaringan bradytropic. Pada tulang belakang lumbar sudah dipastikan bahwa kelainan degeneratif berat tidak harus disertai dengan gejala klinis. Pembatasan pergerakan serta fiksasi kaku pada posisi yang tidak baik selanjutnya merubah transport cairan dalam diskus intervertebral. Hanya saat awal masa bayi metabolisme terjadi melalui pembuluh diskus disaat belum ada beban yang ditanggung tubuh. Setelah usia 30 tahun tak satupun tulang belakang manusia yang tidak mengalami perubahan degenerasi (Schmorl dan Junghanns. Berbeda dengan ruas tulang belakang dengan pembuluh darahnya yang terlindung didalam trabekuli. Degenerasi diskus intervertebral adalah suatu proses yang sangat kompleks yang hingga saat ini sangat sedikit dimengerti.

Dalam perjalanan berikutnya. Metabolisme diskus memburuk sejak tahun pertama kehidupan. Bendungan. karenanya fibril dan substansi dasar yang dihasilkannya akan bermutu buruk dan pada akhirnya akan mengalami degenerasi lengkap. Diskus intervertebral yang lebih berdegenerasi lebih banyak dapat menerima cairan. . Kantung udara terbentuk pada sista dan mudah tampak pada radiografi. batas fibril lamella yang lebih tajam dan mengaburnya batas anular dan nukleus.5-1. Pulp menjadi lebih sistik dan terjadi hubungan antara fissura dan anulus fibrosus. Tidak hanya perubahan komposisi kimia. Dengan mikroskop elektron Dahmen (1966) menemukan fibril yang tidak normal dan irregular dalam ketebalan dan striasi yang beragam. Pasien lebih tua dengan diskus yang ruptur dapat menerima 5 cm3 cairan tanpa terjadinya cedera maupun refluks cairan yang disuntikkan. Akhirnya faktor genetik berpengaruh pada perkembangan degenerasi diskus intervertebral yaitu dalam merancang serabut kolagen anulus fibrosus (Wilson. namun juga struktur anatomis. Karena tidak hanya tulang rawan. 1958). Alasan terbentuknya tidak diketahui. Tanda lain degenerasi diskus intervertebral adalah perubahan warna yaitu karena terjadinya hubungan antara ruptur dan fissura dengan lubang pada dataran akhir tulang rawan yang dipenetrasi pembuluh darah dari cancellous bone hingga terjadi perubahan warna lamella menjadi kuning kecoklatan (GUntz. Harris dan MacNab (1954) menemukan pada nukleus pulposus orang dewasa adanya inti sel dengan granul kasar piknotik. Idelberger (1977) menemukan bahwa faktor konstitusi berperan penting pada degenerasi diskus intervertebral. Degenerasi diskus intervertebral akan mengenai semua jenis manusia berdasar konstitusi kerangka tubuh secara ekual. degenerasi serabut anulus dan disintergrasi substansi dasar. dianjurkan pemakaian istilah yang lebih tepat yakni diskosis. Pasien lebih muda dapat mengambil sekitar 0. robekan dan juga perlunakan jaringan diskus intervertebral disebut khondrosis oleh Schmorl dan Junghanns (1968).0 cm3. Lang (1962) dan Dahmen (1966) mendapatkan perubahan degeneratif pada orang pada dekade ketiga berupa atrofi sel. namun semua komponen diskus intervertebral yang menjadi tempat terjadinya degenerasi. 1968). Kuhlendahl dan Richter (1952) menemukan degenerasi lemak pada diskus orang dewasa baik pada substansi dasar maupun pada anulus fibrosus. Fibroblas tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Sista dan fissura mudah diperlihatkan dengan diskografi dengan menyuntikkan media kontras. jaringan diskus intervertebral menunjukkan ruptur konsentrik serta fissura radial akibat beban. Pada usia 25 hingga 40 tahun tampak perubahan degeneratif seperti dehidrasi. Keseluruhan proses terjadi terbatas pada diskus intervertebral.strain temporer dan posisi istirahat yang tidak benar.

Schmorl menganjurkan istilah osteokhondrosis.karenanya sulit tampak pada radiografi. Karenanya istilah prolaps diskus lebih tepat dari pada prolaps nukleus. Pada daerah ini reaksi osseus timbul dan meluas keligamen. usaha untuk melakukan reparasi bergantung pada ruas tulang belakang berdekatan. Pembuluh darah menyebar pada diskus intervertebral dan sel longgar serta jaringan parut vaskular akan mengisi . Bila keadaan menjadi kronik. Fissura dan ruptur piring tulang rawan memudahkan penetrasi pembuluh darah dan jaringan ikat dari badan ruas tulang belakang kediskus inter-vertebral. reaksi pada diskus intervertebral lebih penting. Berbeda dengan pada spondilitis. berakibat tiadanya proses reparasi. Dengan perlunakan dan fragmentasi lebih lanjut. sklerosis pada osteokhondrosis hanya terbatas pada dataran akhir ruas tulang belakang. bagian tersebut akan bergeser dan dapat bermigrasi bebas dan disebut sekuestra. Bila ruas tulang belakang terserang dan perubahan degeneratif juga tampak pada tulang. Akibat kolapsnya diskus intervertebral. Robekan memungkinkan pergeseran intradiskal sepanjang tenaga ekspansif nukleus tetap ada. secara mengherankan gejalanya biasa ringan. Osteokhondrosis terjadi terutama pada tulang belakang leher sebelah bawah dan lumbar karena pengaruh yang besar dari faktor biomekanik. Bagian nukleus pulposus dan fragmen diskus intervertebral bermigrasi dibawah beban berat pada jalur yang terkecil tahanannya dan karenanya mengalami penetrasi kejaringan dan menonjol kebelakang sebagai prolaps diskus intervertebral. Secara klinik. Dataran akhir ruas tulang belakang menjadi sklerotik dengan batas yang kabur. Ini umumnya terjadi pada ligamen longitudinal anterior yang menjembatani diskus dengan diskus dan melekat melalui serabut Sharpey pada badan ruas tulang belakang. sering disertai juga jaringan fibrosa dan tulang rawan. Namun pemendekan rongga diskus intervertebral pada radiograf serta deviasi aksial akibat perubahan postur dapat diperlihatkan. Ini akan menyebabkan terpisahnya jaringan diskus intervertebral dari ligamen intervertebral. Spur spondilotik terjadi mula-mula pada arah horizontal namun kemudian dalam arah longitudinal mengikuti ligamen longitudinal. Kadang-kadang terjadi degenerasi sistik pada badan ruas tulang belakang seperti pada osteoarthrosis. Perlunakan diskus serta hilangnya turgor berakibat bertambahnya kehilangan serta fragmentasi diskus intervertebral. Walau tampilan perubahan osseus hebat. Secara bersamaan terbentuk spur kecil dibagian posterior. Sangat jarang prolaps hanya mengandung material pulp. terjadi peninggian beban pada sendi ruas tulang belakang serta penyempitan foramina intervertebral. Akibat hilangnya sirkulasi pada diskus intervertebral. Pertumbuhan spur oseus dapat meluas dan terjadi spondilosis hiperostotik menyeluruh yang disebut spondilosis hiperostotika.

Karenanya terjadi ankilosis fibrosa dan bahkan osseus dengan inaktivasi segmen. namun juga sebagai medium transport berbagai substansi pada berbagai proses metabolik. Schmorl dan Junghanns (1968) meyakini ketergantungan terhadap usia. nutrisi diskus intervertebral memburuk karena air tidak hanya penting untuk lingkungan makromolekul. 1958). Peningkatan bendungan dan robekan diskus intervertebral adalah perubahan degeneratif sejati. ruptur yang terjadi cepat. Paralel dengan peningkatan nitrogen. Pita fibrosa kuat dan telah mengalami dehidrasi serta lipping osseus menyangga rongga diskus intervertebral hingga pembuluh darah yang menginvasi jaringan tidak tertekan oleh tekanan beban. matriks organik diskus intervertebral juga berubah.rongga tersebut (Tondury. Yang terpenting dalam metabolisme dan biomekanik diskus intervertebral adalah perubahan pada kolagen serta mukopolisakharida. Pembatasan pergerakan tulang belakang akibat kelainan diskus intervertebral dapat bertambah. menjadi jelas hanya bila terjadi perubahan pada pembuluh darah dan saraf yang berdekatan. dengan kata lain tidak lebih dari proses fisiologik. Seperti telah dijelaskan. terjadi pengurangan kandung air dengan akibat perubahan pada komposisi kimia. terjadi pula peningkatan protein nonkolagen. Ini terutama pada keadaan yang telah berlangsung puluhan tahun demana radik saraf dan pembuluh darah telah beradaptasi. Tondury (1973) menjelaskan lingkar hidup diskus intervertebral. Kalsium menjadi dua kali lipat selama siklus hidup. Perubahan pada diskus intervertebral tidak dianggap sebagai penyakit. pada usia 12 turun menjadi 83% dan 70 % pada usia 72 (Keyes dan Compere 1932). Kandung kolagen meningkat hingga usia 20 tahun. Karenanya biomekanik segmen bergerak juga berubah. Ini paling jelas pada tulang belakang leher dan lumbar. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi perubahan. tanda khas perubahan diskus intervertebral adalah pengurangan kandung air. namun ajaib tidak banyak orang yang mengajukan keluhan. Pada neonatus diskus intervertebral mengandung 88% air. Magnesium berkurang hingga usia 70 tahun dan selanjutnya bertambah lagi secara perlahan. kemudian akan menetap. Dengan berkurangnya cairan. Dengan pertambahan usia. Selama tahun pertama kehidupan nukleus pulposus mengandung lebih banyak air dibanding anulus fibrosus. namun lebih sebagai proses biologik dengan kemungkinan terjadinya gangguan sepanjang hidup. GUntz (1958) menjelaskan tentang penyembuhan dengan jaringan parut pada diskus inter-vertebral yang rusak. Pemendekan tinggi dan fiksasi segmen tidak sering bersamaan dengan nyeri walau ada penyempitan foramina. perlunakan jaringan serta pergeserannya. potasium berkurang karena berkurangnya jumlah sel. Bersamaan dengan perubahan morfologik pada diskus intervertebral. Mukopolisakharida berubah baik dalam kualitatif maupun kuantitatifnya dengan . Sulfur berkurang dan Nitrogen bertambah. Secara klinis.

dan terbentuk konsistensi yang padat tak elastik. lebih banyak akumulasi cairan pada diskus intervertebral.pertambahan usia. ditahan oleh tahanan anulus fibrosus yang telah berdegenerasi. Penurunan juga akan terjadi pada berat molekulnya. antara usia 30 hingga 35 tahun frekuensinya meningkat dimana terjadi pembengkakan substansi dasar. oleh pengeringan diskus intervertebral. penambahan homogenisasi nukleus pulposus. Tetap tidak diketahui berapa lama depolimerisasi makro-molekular berlanjut dengan tekanan intra-diskal meninggi dan apa yang mengendalikannya. Dengan penambahan molekul. protrusi dan prolaps. mencapai tingkat dimana terjadi ruptura dan fissura. Ternyata secara mengejutkan nilai yang tinggi terjadi pada usia 30 hingga 50. Kebanyakan penelitian pato-anatomi memperlihatkan bahwa fissura dan robekan bertambah dengan bertambahnya usia. Ekstenuasi diskus intervertebral dalam tingkatnya yang terbesar. Jadi adalah kerusakan keseimbangan jaringan diskus intervertebral. Terjadi pergeseran. Pada tes kompresi (Virgin 1951) dan diagram tekanan (Hartmann 1970) memperlihatkan bahwa over-ekstenuasi serabut anular. Menurut Kuhlendahl dan Richter (1952). Bila volume intradiskal ditingkatkan dan dijadikan subjek strain mendadak. Tenaga ekspansif nukleus pulposus berkurang dan akibatnya terjadi pengurangan kecenderungan untuk bergeser. Menurut Naylor (1971). Beban tambahan akan menyebabkan lesi irreversibel (histeresis). Walau demikian frekuensi protrusi dan prolaps berkurang. Setelah usia ini menurun secara jelas (Kramer 1973). Dalam hubungan dengan peningkatan tekanan intradiskal maka orang dewasa muda memiliki risiko akan perubahan kemampuan biokimia yang akan menyebabkan pergeseran jaringan diskus intervertebral. serabut akan putus. Akibatnya anulus fibrosus bertambah isinya dan tetap tenang bila tanpa beban. disrupsi nuklir dan fissura lamellar. robekan tampak pada anulus fibrosus diawal usia dewasa. menyebabkan khemo- . Pengukuran tekanan pada usia berbeda menunjukkan kembalinya diskus intervertebral yang dikompresi keukuran normal lebih nyata pada usia muda. efeknya akan seperti memecahkan gelas. Karenanya tujuan terapi dengan mempercepat depolimerisasi misalnya dengan injeksi substansi sesuai. Tanda khas adalah penurunan mukopolisakharida. peninggian hialu-ronidase bertanggung jawab untuk separasi makromolekul. Depolimerisasi makromolekul menghasilkan produk sisa yang terkadang meningkatkan tekanan onkotik dengan bertambahnya partikel total. yang telah dibebani sebelumnya. namun pada tegangan yang tinggi. Antara usia 25 dan 30 bagian sentral diskus intervertebral yang menjadi lebih meluas akibat bertambahnya tekanan. Karenanya tekanan onkotik menurun dengan pertambahan usia. Ia juga menganggap bahwa katepsin D mungkin merupakan enzim yang berperan dalam degenerasi diskus intervertebral.

Serabut melunak. Ini akan menjadi kendur bila lebih banyak air dikeluarkan. kehilangan sifat bumpernya dan tidak lagi bekerja sebagai semijoint pada segmen bergerak. sendi ruas tulang belakang dan ligamen. Hal serupa juga terjadi pada lesi diskus intervertebral dan setelah diskotomi. Disamping kombinasi penambahan tekanan dan pengurangan tahanan anulus fibrosus. Terdapat hubungan langsung antara tinggi badan dan volume diskus intervertebral. Diduga bahwa penambahan beban berat badan dengan adanya tenaga kompresif dan shear merupakan satu-satunya penyebab prolaps diskus intervertebral. Absorpsi air akan berkurang dan tinggi diskus inter-vertebral berkurang. Degradasi enzimatik akan menyebabkan terbentuknya molekul bermolekul lebih kecil yaitu menjadi sekitar 400. Penetralan hasil intermediet depolimerisasi dicapai dengan penurunan tekanan. Yang pertama terserang adalah serabut kecil yang berjalan antara lamella sehingga tidak terjadi pergeseran. terjadi perubahan tegangan serabut anulus fibrosus. Pada remaja perbedaan tinggi badan antara pagi dan malam adalah dua persen dan pada dewasa 0. Komponen segmen lain. selanjutnya ini merupakan syarat tidak langsung untuk terjadinya rasa tidak enak pinggang. Keseimbangan osmotik terganggu. Tenaga luar hanya merupakan efek presipitasi yang oleh Schmorl dan Junghanns (1968) disebut impuls tambahan. tekanan onkotik akan berkurang seperti halnya pada pertambahan usia. Pergeseran ini dapat menambah protrusi dan prolaps. faktor biomekanik turut berperan dalam perkembangan prolaps karena perlunakan dan penjarangan struktur diskus intervertebral dengan pembentukan fragmen yang akan bergerak kearah tahanan terendah yaitu menuju konveksitas. Bila derajat ekstenuasi berkurang. Diskus intervertebral yang menjadi tidak elastik serta robek. penurunan relatif tekanan hidrostatik dapat menyebabkan pengeluaran air. . Bila terjadi perubahan volume.nukleolisis. Penghambatan efek hialuronidase didapat dengan pemakaian inhibitor hialuronidase. Bila tidak disertai pembentukan makromolekul didalam diskus intervertebral.2 persen. Namun mustahil untuk membuktikannya secara satu persatu. Ini mengganggu semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral. pergerakan akibat berat tubuh tidak lagi cukup mengatur dan tidak juga terbagi merata sepanjang cincin serabut. zat-zat yang terlarut serta juga makromolekul dapat berpermiasi dibawah tekanan yang rendah. Bila tekanan onkotik berkurang. Keragaman sehari-hari tinggi badan akan relatif berkurang. kehilangan fungsi normalnya. Semipermeabilitas jaringan diskus intervertebral dihilangkan oleh adanya fissura hingga air. Alasan lain pada pengeringan diskus intervertebral adalah ruptur pada anulus fibrosus. dan tinggi diskus akan semakin berkurang. Ini terutama karena peninggian tekanan intradiskal dan pengaruh tekanan kompresi dan shear.

adalah sangat besar sehingga cairan serta hasil metabolisme tidak dialirkan pada daerah ini. Gejala jarang timbul dari bagian kaku tulang . Beban total yang dalam keadaan normal didistribusikan pada seluruh diskus menjadi terpusat pada daerah ini. Perubahan prediskotik ini lebih berpotensi untuk menimbulkan penyakit dibanding prearthrotiknya sendiri. Kelainan juga terjadi setelah pertumbuhan berakhir. Akhirnya tinggi diskus menjadi lebih pendek. Terjadi perubahan yang khas pada diskus intervertebral yang menjadi subjek beban yang tak setangkup. Dengan penggunaan yang tak teratur diskus intervertebral. diskus intervertebral akanmenjadi robek dan rapuh. Deformitas dapat terjadi pada tulang belakang atau sekitarnya. dan terjadi pergeseran jaringan diskus intervertebral. Perubahan prediskotik adalah kelainan postur yang berakibat pembebanan yang tak setangkup pada satu atau lebih diskus intervertebral. sering tampak pada remaja dengan pembentukan lengkung pada tulang belakangnya. Pengeringan. semua diskus menjadi subjek degenerasi progresif ini. Pada skoliosis terjadi perubahan dini anular pada daerah konkav akibat peninggian tekanan. spondilosis dan sklerosis dataran akhir ruas tulang belakang didaerah yang terkena. penuaan jaringan dan impaksi menunjukkan perjalanan yang cepat bila beban berkelanjutan hingga akhirnya terjadi ankilosis. pertumbuhan apposisional interstitial pada bayi akan terganggu dan diskus intervertebral mengalami deformasi serta menjadi konkav. Bagian anulus fibrosus yang tergantung baik dan dataran kartilago tidak dapat meneruskan tekanan ini. Nukleus pulposus dan bagian bergerak dari anulus fibrosus tergeser kedaerah yang kurang terbebani. Terjadi segmen tulang belakang fibrosa yang kaku pada puncak kifosis (kifosis remaja) dan pada skoliosis. namun perubahan utama terjadi terutama pada tulang belakang leher dan lumbar. Kompresi yang bersinambung dan gangguan nutrisi pada fibroblas berakibat diskosis prematur. terjadi kelainan fungsional pada sistem lokomotor yang memacu terjadinya degenerasi diskus intervertebral (diskosis). Metabolisme seluler menjadi terganggu. Pertanda ini disebut perubahan prediskotik. Analisis objektif menunjukkan penyempitan diskus intervertebral. Percobaan hewan menunjukkan kelainan degeneratif umumnya terjadi pada bagian yang lebih tertekan (Exner 1954).Bila pengeringan berjalan terus. Tonus otot batang tubuh yang kendur. yang memberikan tekanan pada bagian konkav diskus intervertebral tulang belakang yang mengalami deformitas. Sebagai patokan. Sehubungan dengan perubahan sendi prearthrotik. Pembebanan tidak setangkup yang bersinambung berakibat perubahan metabolik pada bagian konkav diskus intervertebral. Difusi menjadi berkepanjangan dan sirkulus visiosus terus berlangsung dengan berlanjutnya pengeringan serta perlunakan.

Terjadi bendungan dan robekan prematur. Peningkatan atau menetapnya kurva fisiologik setelah pertumbuhan menyebabkan pertambahan beban pada baik bagian diskus intervertebral anterior maupun posterior. Ini merupakan subjek terhadap strain dan stres yang lebih besar yang menyebabkan penjarangan struktur serta pergeseran jaringan. Perbedaan panjang tungkai dengan tekukan panggul ditemukan pada 60 . Spondilosis dan spondilolistesis merupakan dasar perubahan prediskotik. timbul skoliosis akibat fiksasi fibrosa diskus intervertebral. Kelainan kongenital daerah lumbosakral menyebabkan pembebanan tak setangkup pada diskus intervertebral lumbar. postur yang tidak benar dan obesitas menyebabkan tekukan panggul dan penambahan lordosis lumbar dengan peregangan berlebihan dan gangguan nutrisi bagian posterior diskus intervertebral lumbar. Diskus intervertebral mempunyai kemampuan mengatur dirinya saat pertumbuhan dataran akhir ruas tulang belakang. Kelainan tak setangkup bisa disaksikan baik pada dataran sagital maupun frontal. Kelainan kongenital . Inklinasi tulang belakang lateral sering dikarenakan tekukan panggul sekunder terhadap pemendekan salah satu anggota bawah.belakang. Terjadinya hiperlordosis kompensatori didaerah lumbar bawah berakibat diskus intervertebral lumbosakral menjadi subjek tenaga kompresif dan shear. Secara keseluruhan statika dari tulang belakang lumbar menjadi terganggu oleh adanya hiperlordosis dan lesi timbul pada diskus intervertebral lumbosakral dan sendi ruas tulang belakang. dan berakibat diskosis prematur. diskus intervertebral melunak dan menipis. Dengan penjarangan dan pergeseran tulang belakang. lebih sering dari bagian yang bergerak. Terjadi perubahan prediskotik. Ini sangat sering tampak bersamaan dengan kontraktur fleksi pada kelainan sendi panggul. Setelah inklinasi lateral tulang belakang yang lama. Perbedaan tinggi diskus intervertebral pada arah antero-posterior adalah fisiologik pada kurva sagital tulang belakang normal.70 persen manusia (Taillard 1964). Brocher (1973) menemukan penyempitan diskus intervertebral lumbosakral pada gangguan pertumbuhan juvenil baik pada toraks maupun lumbar. Max Lange (1965) menduga bahwa lumbalisasi dan sakralisasi menyebabkan prolaps diskus inter-vertebral hingga dua kali lebih sering dibanding tulang belakang normal. Perubahan keseimbangan lokomotor menyebabkan deformitas tulang belakang pada dataran frontal. Bagian superior tulang belakang lumbar lebih sering menunjukkan kifosis. Pembebanan batang tubuh anterior yang berkelanjutan seperti pada kehamilan. Sendi ruas tulang belakang menunjukkan peningkatan osteoarthrosis. Sering disertai deformitas statik. Pada penderita kifosis remaja. Gangguan pertumbuhan juvenil tulang belakang lumbar merupakan pertanda perubahan prediskotik. lumbago dan siatika akan terjadi pada usia tiga puluhan.

Dianjurkan untuk memperbaiki fraktura ruas tulang belakang dengan memperbaiki alignment untuk mencegah sekuele diskus intervertebral. Perubahan prediskotik adalah potensial menjadi penyakit dan harus selalu diketahui serta penyebabnya diatasi dengan cara yang paling baik. Sclegel (1975) menemukan bahwa tulang belakang lumbar hipersegmental lebih mobil dan memerlukan muskulatur untuk menstabilkannya. fragmen diskus intervertebral ditemukan bila anulus fibrosus disayat. pergerakan fragmen diskus intervertebral kearah posterior penting karena pada daerah ini terdapat struktur peka nyeri.lumbosakral ini karenanya merupakan perubahan prediskotik bila menimbulkan pembebanan lumbar yang tak setangkup. Pada operasi. Protrusi atau invasi anterior jaringan diskus intervertebral kebadan ruas tulang belakang tidak menyebabkan rasa tidak enak atau pembatasan fungsi. Pada anak dan orang muda hal ini sangat sering memperberat regangan pada hamstring. Ini mungkin menyebabkan lumbago dan adalah akibat adanya kerusakan interior diskus intervertebral. Fisura radial dan sirkular berjalan kedalam nukleus pulposus akibat beban tak setangkup terhadap diskus intervertebral. namun protrusi tertentu lapisan superior diskus intervertebral dibelakang jaringan yang rusak tetap berlangsung. Hal ini mungkin menjadi lebih atau kurang intensif . Diskus didekatnya yang tidak harus segera terkena. Lapisan paling permukaan dari anulus fibrosus tetap utuh. juga timbul nyeri radikuler. Tulang belakang lumbar mungkin menekuk kelateral dan terputar hingga terjadi skoliosis. Dari kepentingan klinis. Rettig (1959) menjelaskan konsep ini dengan tehnik radiografik dengan kontras yang menampilkan diskus inter-vertebral. Perpindahan Intradiskal dan Protrusi Posterior Tanda makroskopik pertama yang dapat dikenali pada degenerasi diskus intervertebral lumbar adalah adanya fisura pada bagian pusat anulus fibrosus. serta pengaruh sekunder terhadap ramus meningeal saraf spinal. selanjutnya berjalan keposterior kebatas yang lebih perifer dan karenanya menyebabkan regangan terhadap ligamen longitudinal posterior. Pada arah posterolateral mungkin terjadi kontak antara protrusi dan radik saraf. Ia berkembang dari daerah kecil ditempat yang mengalami perubahan degeneratif. Deformitas setelah fraktura ruas tulang belakang serta spondilitis merupakan perbahan prediskotik. Sebagai tambahan terhadap nyeri lumbar. mendapatkan beban yang tak setangkup hingga menimbulkan perubahan bendungan. Serabut-serabut sensori ramus meningeal saraf spinal menjadi terangsang. 2. Transisi menuju protrusi lumbar adalah menyeluruh.

Prolaps Keadaan sangat berbeda bila degenerasi diskus intervertebral menyebabkan perforasi lamela posterior anulus fibrosus serta yang menyebabkan prolaps jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi. namun juga ruangan dimana dura dan radik-radik saraf yang kelak akan terjepit. Bila mengenai L5/S1 jarak antara kantung dura dan protrusi lebih jauh dibanding tingkat yang lebih atas. Tidak mungkin untuk memperkirakan kapan protrusi menjadi prolaps. Mungkin lebih menuju tengah. Protrusi didaerah ini mungkin harus sangat besar untuk dapat mengganggu kantung dural. Protrusi kemudian menjadi prolaps. Pada keadaan stenosis tulang belakang lumbar. tiba-tiba kehilangan nyeri . atau menjadi lepas dan terdorong kebagian pusat diskus intervertebral. atau biasa disebut 'protrusi paramedian'. Mungkin pula medial atau lateral terhadap radik saraf. Gejala protrusi sangat berubah-ubah karena jaringan yang mengalami protrusi tetap merupakan bagian dari sistem osmotik yang utuh dan karenanya bereaksi terhadap semua perubahan patofisiologik yang khas pada degenerasi diskus intervertebral. Pada keadaan ini. 3. protrusi sangat kecil mungkin berakibat timbulnya rasa tidak enak. pada penekanan radik saraf kearah lateral kedalam foramina intervertebral. operasi adalah utama. Pengobatan diarahkan pada usaha mengembalikan fragmen kepusat diskus intervertebral. Tentu ini tidak terjadi pada keadaan dimana fragmen sudah terjepit antara tepi posterior ruas tulang belakang bersangkutan dimana fragmen tidak akan bergerak. Tidak hanya ukuran protrusi yang penting. Simptomatologi tergantung posisi protrusi. namun sudah diketahui pada jenis pengobatan ini mungkin berakibat bahwa fragmen lebih bergerak kearah tepi anulus fibrosus dan akhirnya terjadi robeknya lamela luar. atau akhirnya mungkin mengalami protrusi kedalam foramen menyebabkan protrusi intraforaminal. Sepanjang lamela kuat anulus fibrosus tetap utuh diluar protrusi. kecuali penderita setelah mengalami masa nyeri pinggang dengan/atau nyeri tungkai. prolaps posterior dan postero-lateral adalah sangat jarang.tergantung lokasi serta ukuran dari protrusi. protrusi mungkin sangat kecil. Bagaimanapun hal ini mungkin akan mengalami ekstrusi sempurna membentuk prolaps. fragmen diskus intervertebral mungkin bergerak kearah pusat diskus intervertebral. Disisi lain. Berlawanan dengan frekuensi yang tinggi dari nyeri lumbar dan nyeri menjalar yang tampak bersama protrusi diskus intervertebral yang sederhana. terutama bila prolaps meletakkan material diskus inter-vertebral dibawah atau didekat radik saraf dan menyebabkan tekanan dan rangsangan pada radik saraf.

Prolaps dapat berhubungan dengan jaringan diskus inter-vertebral bersangkutan namun dapat juga tampak sebagai fragmen terpisah. Perubahan diskus intervertebral yang mengalami prolaps dapat berhubungan dengan intensitas nyeri. Jaringan yang bergerak kerongga epidural. Fragmen diskus intervertebral menambah volumenya dalam cairan isotonik dan hipotonik. Pada kasus tertentu. akhirnya mengkerut dan membentuk perlekatan. Ini mungkin menimbulkan rekurensi yang kronik dari nyeri radik saraf. Sebagai patokan. Gejala klinik mungkin beragam. Bila arahnya kemedial. Posisi antara prolaps dan radik saraf dapat juga berubah. Karena intensitas nyeri pada prolaps lumbar umumnya tergantung lokasi dan ukuran deformitas. dengan akibat pendataran lordosis lumbar. yang karena kemampuan osmotiknya menimbulkan perubahan tingkat gangguan terhadap saraf. nyata bahwa perubahan volume jaringan yang prolaps mungkin berakibat perubahan gejala.pinggang sama sekali dan hanya merasakan nyeri tungkai yang menjalar. Radik-radik sangat sering menjadi gepeng. prolaps posterolateral akan mengenai radik saraf. Akar saraf karenanya terdorong keposterior dan mungkin tertekan pada bagian posterior kanal spinal (ligamentum flavum dan faset inferior). Pada daerah lumbar. Jadi dianjurkan untuk sangat berhati-hati saat membuang ligamentum flavum . siatika. Harus dipikirkan bahwa pengobatan manipulatif berperan hingga diskus intervertebral menjadi prolaps. Setelah perforasi bagian posterior anulus fibrosus. Disamping ukuran jaringan yang prolaps. Gejala klinik prolaps medial mungkin menampakkan baik lumbago. Radik-radik saraf mungkin menjadi gepeng karena tekanan. Jaringan diskus intervertebral yang tidak dipengaruhi tekanan intradiskal. atau sindroma kauda lengkap atau tak lengkap yang merupakan gejala yang biasa pada prolaps medial. Pada prolaps lumbar jaringan bergerak kerongga epidural kanal spinal dan menyebabkan penyempitan yang sangat serupa dengan tumor. kantung dura akan tertekan seperti juga serabut-serabut kauda ekuina. dapat berubah volumenya karena kemampuan osmotik. atau mungkin membengkak dan menimbulkan reaksi radang. atau melekat pada prolaps. Tergantung posisinya. prolaps berjalan kelateral dan mengikuti radik saraf yang tertekan dianterior. bagian diskus intervertebral posterior termasuk piring tulang rawan dapat mengalami fragmentasi dan prolaps kedalam kanal spinal. jaringan prolaps dapat menyebar kesemua arah. prolaps dapat menggerakkan radik saraf baik kemedial maupun kelateral. konsistensi juga berperan. Percobaan terhadap jaringan fragmen diskus intervertebral memperlihatkan pada keadaan yang serupa dengan prolaps diskus intervertebral dimana terjadi penambahan volume pada cairan hipotonik dibanding pada cairan hipertonik. Ini diperlihatkan dengan mielografi.

Pada prolaps tertentu. diferensiasi sindroma lumbar yang lebih baik dapat . Sangat umum dijumpai kasus-kasus yang tidak mengikuti pola yang khas. Sindroma lumbar paling sering diakibatkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. Misalnya jaringan prolaps bergerak kemedial. sindroma berbeda dari pasien kepasien. Karenanya klasifikasi yang sistematik sulit didapatkan. GEJALA DAN TANDA SINDROMA LUMBAR Gejala sindroma lumbar beragam. Jaringan diskus inter-vertebral lebih renggang. Lagipula reaksi masing-masing sistem saraf terhadap perubahan eksternal harus dipikirkan.atau bagian dari lamina. radik-radik saraf sisi berseberangan juga terkena. juga menjadi lebih lembut. Sindroma lumbar kebanyakan khas dengan nyeri pinggang bawah dan siatika yang dalam perjalanannya memiliki penyebaran serta intensitas yang sangat beragam. yang terutama dijumpai setelah operasi. dengan onset nyeri yang tiba-tiba lebih sering dijumpai. elemen saraf kanal spinal terkena. Dengan perjalanan waktu. Ini mungkin pada akhirnya menyebabkan sindroma lumbar kronik dengan nyeri radikular berulang. Ini akibat perlekatan yang merupakan tahap akhir reaksi radang sekitar radik saraf. ini akan berakibat siatika pada sisi lainnya. jadi tekanan terhadap radik saraf terjadi dari arah ini. Semua gejala dimulai dengan nyeri lumbosakral ringan hingga paralisis lengkap bisa ditemukan. dan akibat perubahan sistem osmotik. Alasannya adalah karena adanya perubahan biokimia dan biomekanik didalam diskus intervertebral. Sekali fragmen mengalami prolaps . Jaringan prolaps dapat juga mengarah kesuperior atau inferior dan karenanya mengenai radik-radik pada tingkat lain. Bahkan bila patofisiologinya serupa misalnya protrusi lateral. Dengan miografi-elektro dan mielografi. biomekanik interior dari diskus intervertebral menjadi berubah. menjadi lebih sulit untuk menghubungkan gejala-gejala dengan keadaan patofisiologik utama. Dalam perjalanan selanjutnya. yang selanjutnya mengenai radikradik saraf dan menyebabkan gabungan reaksi radang dan mekanik. yang dikenal sebagai sindroma pasca diskotomi. Baik pendataran radik saraf maupun reaksi radang dengan pembengkakan radik. seperti kantung dural. akan menimbulkan perubahan mekanik jaringan sekitarnya. bila berkembang perubahan degeneratif sekunder. Ketinggian diskus intervertebral berkurang dan sendi intervertebral terganggu dengan pengurangan rongga interforaminal yang selanjutnya menekan radik saraf. gejala klinik berkurang dengan adanya invasi jaringan fibrosa yang memiliki pengaruh stabilisasi. Jaringan fragmen diskus intervertebral dapat juga bergerak keposterior.

Pasien sering tampak berkonsultasi saat bebas gejala. Finkenrath (1977) mendapatkan kenyataan bahwa lebih dari setengah penderita tidak mempunyai alasan yang pasti atas onset dari gejala yang dideritanya. Siatika atau lumbago akut timbul tanpa sesuatu penyebab yang jelas ("Came out of the blue"). A. karena medianya adalah serabut-serabut besar. mungkin sulit untuk menilai keadaan secara sempurna. Terbukti bahwa tekanan pada kantung dural dan radik-radik saraf oleh jaringan diskus intervertebral yang prolaps adalah penyebab utama nyeri siatik. sekarang memainkan peran sekunder. Sudah jelas diketahui bahwa nyeri pinggang sering dianggap dasar untuk menuntut asuransi atas kecelakaan. seperti halnya deformitas statis. Tanda objektif mungkin minimal walau nyeri hebat. Pengaruh impak yang keras dan berbagai jenis kecelakaan tak dapat dianggap bertanggung jawab atas nyeri pada pasien-pasien yang diperiksa dan yang tidak merencanakan tuntutan asuransi. malposisi pelvis dan sendi ruas tulang belakang. Saat ini mielografi dapat dilakukan tanpa bahaya yang besar sejak digunakannya media-kontras yang tidak berbahaya. Karenanya penderita sering menghubungkan gejalanya dengan beberapa kegiatan. Sindroma lumbar dapat berkembang dalam waktu sangat singkat. karakter serta intensitas nyerinya. Keluhan Umumnya gejala pada suatu sindroma lumbar adalah nyeri. Analisa sindroma menjadi sederhana dengan mendengarkan secara hati-hati riwayat penderita termasuk posisi dan gerakan yang mungkin mempengaruhi karakter dan intensitas nyeri. Bila tak ditemukan tanda objektif sama sekali. Kadang-kadang timbul sangat tiba-tiba. Kehilangan sensori lebih menunjukkan reaksi radang dibanding reaksi tekanan. hingga diagnosis sindroma lumbar mudah ditegakkan. Penderita biasanya sangat mengenal lokalisasi nyerinya. Apabila tidak didapatkan tanda-tanda neurologik. rencana dan radik mana yang terkena mungkin hanya dibuat berdasarkan riwayat dan daerah dari penyebaran nyeri sepanjang dermatom khas. Intensitas nyeri tidak selalu sebanding dengan tekanan yang mengenai radik saraf bersangkutan. Sindroma lumbar khas dengan lumbago dan siatika. tergantung apakah patologinya berupa protrusi atau prolaps dari diskus intervertebral. Paling sering mengenai dua segmen lumbar terbawah. Perubahan lain yang semula dianggap sangat penting. biasanya menyebabkan kelemahan motor dibandingkan perubahan sensori. Namun demikian perlu untuk membedakan jenis pengobatan. . Tekanannya sendiri. Ini tidak jarang pada kasus kompensasi asuransi.dibuat. seperti mengangkat benda berat atau menggeliatkan punggungnya secara berlebihan.

Karakter nyeri dan penjalarannya secara sinambung beragam pada sindroma lumbar. Keadaan serupa terjadi selama istirahat dimana posisi miring berubah keposisi telungkup. adanya posisi dimana didapatkan relaksasi mungkin berhubungan dengan posisi protrusi atau prolaps. Keluhan beberapa pasien atas kram pada betis . Penting untuk menemukan bahwa pasien merasakan perbedaan nyeri bila mengistirahatkan tulang belakang. Ini terutama jelas pada perbedaan gejala antara siang dan malam. hubungan antara nyeri. posisi dan tekanan berubah sepanjang hari dan juga sepanjang perjalanan penyakit. Pada posisi berdiri dengan lordosis lumbar. Nyeri diskogenik daerah lumbar dieksaserbasi oleh batuk dan bersin dimana terjadinya peninggian tekanan intra-abdominal. Namun beberapa pasien merasakan pengurangan nyeri saat duduk dimana foramina intervertebral membesar. Sudah menjadi kenyataan bahwa nyeri diskogenik pada daerah lumbar sangat erat bergantung pada posisi tulang belakang. buang air besar dan potensi harus diketahui. Mulanya nyeri dapat sangat dalam dan terbatas pada daerah lumbosakral dan dijalarkan ke bokong. Ini timbul sebagai bagian sindroma kauda seperti juga kelemahan otot anggota bawah yang juga dapat disertai dengan siatika. Disaat lain nyeri lumbosakral dapat hilang sempurna dan hanya siatika yang menetap. seperti juga dengan perubahan posisi radik-radik saraf terhadap aspek posterior diskus intervertebral. Pasien akan berusaha mencegah peninggian tekanan dan selalu menemukan posisi dimana nyeri akan berkurang walau pada peninggian tekanan. Keragaman gejala ini mungkin pula terjadi bila nyeri menjadi berkurang dan bila perbaikan mulai terjadi. Sebagai tambahan mungkin dapat timbul siatika yang mulanya hanya mengenai tungkai atas namun akhirnya juga mengenai kaki. Kebanyakan penderita merasa enak bila berbaring pada sisi tubuh atau pada belakang tubuh dengan pangkal paha dan lutut fleksi. Disisi lain. Sekali lagi. Nyeri mungkin bertambah bila lordosis lumbar diperbesar dengan membaringkan pasien pada posisi telungkup. Bersandar kedepan atau duduk pada lengan kursi diperkirakan menambah tekanan intradiskal. bagian diskus intervertebral posterior yang mengalami fragmentasi menjadi tertekan diantara tepi ruas tulang belakang dan akan membengkak menekan dura dan radik-radik saraf (Reischauer 1949). Alasannya tentu saja perubahan tekanan intradiskal yang besar. Informasi mengenai fungsi kandung kemih. Ini didemonstrasikan Nachemson (1976) bahwa peninggian tekanan intraabdominal menyebabkan tekanan intradiskal lumbar. ada pasien yang berkurang nyerinya pada posisi telungkup dan dengan hiperekstensi ringan tulang belakang lumbar. Penjelasannya adalah adanya hubungan antara vena epidural tanpa katup pada kanal tulang belakang terhadap perubahan tekanan intraabdominal atau intratoraks. Secara keseluruhan.

Bila nyeri dapat ditimbulkan. Gangguan motor dari otot dapat terjadi akibat nyeri dan relaksasi refleks seluruh anggota bawah. pemeriksaan adalah positif dan karenanya dikatakan sebagai Lasegue positif (positive straight leg-raising test). Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan . Sendi-sendi tungkai bawah diperiksa. bersin dan tekanan abdominal ------------------------------------------------------B. tungkai dapat difleksikan hingga 70-900 pada sendi panggul. terutama sendi panggul. Diagnosa yang mendalam dan tepat suatu saat mungkin sulit ditegakkan bila pasien mengemukakan bermacam gejala. namun bila terjadi. Tabel 2 Gejala-gejala Khas pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Onset mendadak Perjalanan silih berganti Ketergantungan pada postur Nyeri bertambah pada batuk. Saraf Siatik tidak terganggu.posterior adalah bagian sindroma S1. Mekanisme timbulnya nyeri dijelaskan sebagai peregangan yang berlebihan dari saraf Siatik. dari nyeri tumpul yang dapat timbul pada otot tungkai sebelah belakang. Tungkai bawah dapat diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. timbul nyeri yang menjalar sesuai dengan distribusi radik saraf yang terkena. Bila melampaui ini. Normal. perasaan tidak enak dan peregangan akan bertambah pada otot Iskiokrural. karenanya diusahakan interogasi dan pemeriksaan yang sangat teliti saat pemeriksaan pertama. sehingga tes Lasegue dapat dilakukan tanpa ada sesuatu keadaan yang menyebabkan gangguan terhadap sendi panggul. Tanda-tanda klinis Pemeriksaan peregangan terhadap saraf Siatik dilakukan dengan mengangkat tungkai pada posisi terlentang. Penderita mencegah semua gerakan yang dicurigainya akan menimbulkan nyeri. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. Pasien sering mengeluh perasaan pincang. Ini perlu untuk membedakan antara nyeri pinggang yang terlokalisir dan nyeri radik saraf. Pada pemeriksaan tidak dijumpai tanda-tanda objektif. Pertama-tama adalah harus menjadi "pengambil riwayat yang teliti yang fanatik" (6). didapatkan bahwa pada pasien dengan siatika sering dijumpai plantar fleksi dari kaki dan pada dorsifleksi kaki akan menimbulkan nyeri. Observasi oleh Lasegue.

ia berjalan hati-hati dan bila dengan siatika mungkin pincang. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. Membuka sepatu atau kaus . Pada prolaps medial. tes straight leg . Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. Inspeksi. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. Langkah penderita adalah tak setangkup. Otot extensor hallucis longus dipersarafi hanya oleh satu radik saraf yaitu L5. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. abnormalitas refleks dan gangguan motor. memberikan informasi penting seperti adanya sindroma lumbar. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar. palpasi dan test fungsional. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. Hiperestesi dapat terjadi pada sindroma radik saraf akibat lesi yang tidak lengkap pada radik saraf spinal yang sangat sering terjadi pada protrusi diskus lumbar. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. Pemeriksaan sensasi adalah paling penting.disepanjang saraf siatik. kehilangan sensasi. Karenanya pada prolaps diskus inter-vertebral L4 dengan penekanan pada radik saraf L5 menyebabkan lemahnya ekstensor ibu jari. nyeri dapat ditimbulkan dengan mengangkat tungkai yang diseberang tungkai yang terkena. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. Pemeriksaan klinik harus mencakup inspeksi. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. Dianjurkan pemeriksaan dilakukan dengan pergerakan penderita sesedikit mungkin karena setiap perubahan posisi mungkin menyebabkan nyeri dan rasa tidak enak pada pasien. Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang. Ini disebut sebagai Lasegue kontralateral. Terdapat tumpang tindih pada persarafan tungkai bawah. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis. Namun dapat dikatakan bahwa bagian belakang kaki pada ibu jari dipersarafi oleh radik L5. Bila radik L5 terkena. Tanda-tanda khusus sindroma lumbar harus merupakan bagian dari pemeriksaan umum yang harus menginformasikan pada pemeriksa asal dari penyakit. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas.raising yang positif. termasuk penilaian neurologik secara umum. Pasien banyak berdiri dari pada duduk dan sering menggunakan penumpu kursi atau meja saat bangkit dari kursi.

Nyeri paraspinal sangat indikatif pada pasien kurus yang kehilangan kekuatan ototnya. Pergerakan kelateral tidak seterbatas fleksi atau ekstensi. Posisi telungkup sering bersama dengan rasa tidak enak. Setelah memeriksa kemampuan pasien untuk membungkuk kedepan. Pemeriksaan dilanjutkan dengan pasien berbaring. Nyeri juga dibangkitkan dengan memutar prosesus posterior. Tes ini gagal bila protrusi atau prolaps terletak sangat lateral atau arkus ruas tulang belakang sangat lebar. Bila pasien tanpa pakaian dan dilihat dari belakang. Spasme lumbar dan fiksasi terbatas tulang belakang adalah kriteria dignostik penting pada sindroma lumbar. Keterbatasan yang tergantung nyeri pada mobilitas lumbar dapat mula-mula dijumpai bila penderita disuruh menekuk kesamping dengan tubuh sedikit condong kedepan. Prosesus spinosus dipalpasi dengan penderita telungkup dan nyeri dapat ditimbulkan dengan penekanan pada prosesus segmen bersangkutan. Dengan usaha memperpanjang tulang belakang lumbar dan meluruskan lordosis. Deformitas dan keterbatasan pergerakan yang mungkin sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. namun hal ini tidak menggambarkan segmen spesifik karena sendi inter-vertebral lumbar mempunyai posisi sagital yang akan menggerakkan sendi dan ruas tulang belakang berdekatan. Sering didapat pengurangan mobilitas terbatas satu sisi. Penderita disuruh berdiri pada jari-jarinya dan pada tumitnya. Tes fungsional aktif ini diikuti dengan pemeriksaan pergerakan pasif. karenanya memungkinkan untuk mengarahkan tekanan pada ligamen flaval dan pada radik saraf yang terletak dibawah ligamen. Nyeri lokal dan siatika yang khas karenanya dapat ditimbulkan. mungkin disaksikan deformitas. Nyeri terbatas pada penekanan dapat dijumpai pada perjalanan saraf siatika dengan titik nyeri maksimal dibokong dan fossa popliteal (Tanda Valleix). berjalan beberapa langkah pada jari-jari dan tumitnya untuk menampilkan kemungkinan kelemahan ekstensor kaki (L5) atau otot betis (S1). penonjolan semakin jelas. Jaringan lunak menjadi tertekan diantara arkus ruas tulang belakang hingga radik saraf akan tertekan bila ada protrusi atau prolaps. sering dijumpai saat bebas gejala atau pada protrusi yang sangat lateral dari diskus intervertebral L5-S1.kaki menyebabkan rasa yang sangat tidak enak dan dilakukan dengan sulit dengan penderita berusaha menggerakkan tulang belakang kedepan. disuruh untuk menekuk kesamping dan juga merotasi tubuhnya. Dengan penambahan kifosis mungkin memperlebar arkus ruas tulang belakang yang akan membantu palpasi hingga nyeri khas dapat dibangkitkan. Pada posisi terlentang spasme lumbar sering hilang. Posisi ini dengan sedikit fleksi paha dan lutut memberikan posisi paling santai. Terdapat penonjolan otot yang mengalami kontraksi (Spasme lumbar). .

hiperekstensi sendi panggul mungkin berakibat nyeri paha anterior dan karenanya gangguan pada saraf femoral dapat diketahui. Bagaimanapun. dan makna tanda ini mula-mula dijelaskan oleh J. murid Lasegue. Tahun 1864 Lasegue melakukan pengamatan pada penderita dengan siatika dimana sering dijumpai kaki dalam plantarfleksi dan pada dorsifleksi kaki. tapi sekali terjadi. Pengangkatan tungkai bagaimanapun akan dapat menyebabkan nyeri akibat adanya lesi pada sendi panggul dan sakroiliak. namun semata-mata suatu nyeri menjalar melalui cabang posterior saraf-saraf spinal. Pada prolaps medial. Bila melebihi ini. Ini disebut Lasegue kontralateral. dilakukan tes regang siatik: tungkai diangkat hingga dirasakan nyeri. Dengan pasien telungkup. Sendi anggota bawah diperiksa dan terutama sendi panggul hingga tes Lasegue dilakukan tanpa adanya pengaruh kelainan disendi panggul. nyeri diperberat. mungkin menandakan protrusi diskus intervertebral pada tingkat yang lebih tinggi. Bila nyeri timbul. Dengan suntikan intradiskal nyeri khas ini dapat dirangsang. Ini disebut juga tes Lasegue terbalik atau tes regangan saraf femoral. Pada posisi telungkup. Lasegue positif adalah serupa dengan positive straight leg-raising test. Tungkai kemudian diangkat lurus atau sendi panggul difleksikan 900 dan sendi lutut diekstensikan. Normalnya tungkai dapat fleksi hingga 70-900 pada sendi panggul. nyeri dapat dibangkitkan dengan mengangkat tungkai berlawanan dengan sisi tungkai yang terkena. Forst. Peregangan saraf femoral dengan pasien telungkup dapat dibandingkan dengan peregangan yang sama terhadap saraf siatik yang terjadi bila tungkai diangkat dengan penderita pada posisi terlentang. Perlu dibedakan nyeri pinggul terbatas dan nyeri radik saraf dari nyeri tumpul yang dapat bangkit pada otot tungkai posterior. Ini bukan gangguan lokal pada sendi sakroiliak. timbul nyeri menjalar sepanjang distribusi radik saraf terkena. Untuk menyingkirkan kemungkinan ini. rasa tidak enak dan tegangan akan terjadi pada otot iskiokrural.Nyeri dapat juga terbatas pada sendi sakroiliak yang dapat juga timbul pada palpasi. Mekanisme pembangkitan nyeri diterangkan sebagai peregangan berlebihan saraf siatik. perbedaan tonus dapat dipalpasi yang menunjukkan sindroma S1. Kepekaan anggota bawah dites dan dengan menyuruh pasien mengkontraksikan bokongnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pasien terlentang pada punggungnya. Dengan ekstensi kedorsal . bagian pemeriksaan neurologik dilakukan. Saraf siatik tidak terganggu. Tungkai ini kemudian direndahkan pada posisi dimana nyeri menghilang dan pada titik ini kaki diekstensikan kedorsal yang biasanya menimbulkan nyeri bila saraf siatik terganggu. tes adalah positif dan karenanya disebut tes Lasegue positif (positive straight legraising test).

Peregangan saraf siatika dengan duduk tegak dengan tungkai lurus juga menimbulkan nyeri. Bila refleks ankel sulit dibangkitkan bila pasien berbaring dengan punggungnya. Karenanya pasien ditempatkan pada posisi yang memberikan relaksasi sempurna dan bebas dari nyeri. Pada prolaps L3-L4. Fibrilasi dapat dijumpai pada otot dan gangguannya akan sebanding dengan tekanan yang berlangsung pada radik saraf bersangkutan.dari kaki. mungkin terjadi keadaan dimana pada pengangkatan tungkai lurus hingga 20-300 penderita akan memberikan pertanda nyeri. Peninggian aktifitas refleks tidaklah mempunyai keistimewaan apapun pada kelainan diskus intervertebral. tidak ada nyeri. termasuk kompresi pada radik saraf L4. Sindroma radik saraf hanya akan menyebabkan gangguan pada . hanya didapat sedikit kelemahan kuadriseps dengan akibat kelemahan ekstensi lutut. Pemeriksaan sensasi adalah terpenting. perhatian pasien dialihkan dan pemeriksaan diulangi sekali lagi. Pemeriksaan mobilitas dipusatkan pada otot tungkai bawah yang mungkin terkena pada sindroma lumbar. Ini dapat ditemukan pada langkah pasien dengan kesulitan dalam menempatkan dan meneruskan pergerakan kaki. L5. Sebaliknya pada prolaps L4-L5 dengan kompresi radik L5 didapat kelemahan yang nyata dari ekstensor ibu jari. ia dapat diperintahkan berlutut dan pada saat yang sama pegang jarinya dan tarik dengan kuat. Pemeriksaan harus mencakup analisa teliti kekuatan fleksor plantar dan ekstensor dorsal kaki dan terutama ibu jari. mobilitas dan sensasi. pemeriksaan dilanjutkan dengan menilai refleks. L4 dan L5. Extensor hallucis longus dicatu hanya oleh satu radik. mereka jelas tidak terganggu. Pada keadaan dimana perlu membuktikan asal sebenarnya dari penyebaran nyeri yang turun ketungkai. saraf tibial akan teregang 2 cm. namun bila pasien diletakkan pada posisi duduk dengan tungkai lurus. Objektifitas tes ini tak bisa dibantah dan dapat berguna tiap saat. Dengan pasien berbaring pada punggungnya. namun kelainan motor bisa jadi sangat ringan hingga pasien tidak menyadarinya. Refleks patella mungkin sulit dibangkitkan karena nyeri pada tungkai. Otot kuadrisep dicatu oleh radik-radik saraf L3. Refleks harus dites dengan sangat teliti dan bila pasien tidak cukup santai untuk memungkinkan pemeriksaan dilakukan. Ini mungkin membuktikan bahwa pasien bereaksi berlebihan atau bahkan berpura-pura sakit. Pada tindakan ini tidak disertakan baik sendi panggul maupun sendi sakroiliak. yang mana pasien akan teralih perhatiannya dari pemeriksaan (Jendrassk`s grip). Kompresi berat hanya akan menyebabkan gangguan motor ringan pada otot besar. Penurunan aktifitas refleks patellar dapat ditemukan bila radik saraf lumbar ketiga dan keempat terkena.

Bradford dan Spurling (1950) telah mengamati ketidak-teraturan distribusi sensasi bagian bawah anggota bawah setelah merusak radik saraf sakral pertama. C. . pemeriksaan laboratori. Bila ada petunjuk gangguan temperatur dan sensitifitas dalam atau bila ada tanda kelainan neurologik lain yang tidak bersamaan dengan sindroma lumbar. penderita harus diperiksa lebih lanjut. Mixter dan Barr (1934). Penjelasan distribusi dermatomal diperkirakan beragam (Foerster 1933. Sebelumnya siatika diduga akibat keadaan inflamatori dan karenanya disebut neuritis siatik. Dandy (1943). Terdapat tumpang tindih inervasi anggota bawah yang terutama jelas pada bagian proksimal. Iritasi mekanik pada radik-radik saraf lumbar kelima dan sakral pertama serta kedua menyebabkan nyeri yang menjalar ketungkai disertai gangguan neurologik lain yang keseluruhannya disebut siatika. Tilney dan Riley 1938. Bradford dan Spurling (1950) serta Lindblom (1948) menjelaskan asal penyakit sebenarnya serta hubungannya dengan nyeri pinggang bawah dan siatika. Ini akibat lesi tak lengkap radik saraf spinal yang sangat umum pada protrusi diskus intervertebral lumbar. Keterangan patologik yang jelas dimana prolaps diskus intervertebral lumbar menyebabkan siatika telah diketahui sedikitnya sejak 50 tahun.sensasi permukaan yang mudah diperiksa dengan sentuhan. Radiografi. rami dorsal dan meningeal terserang. Dengan siatika maksudnya adalah nyeri yang didistribusikan disepanjang saraf siatik. ketiga dan keempat menimbulkan keadaan yang disebut neuralgia femoralis. Pada sindroma radik saraf lumbar. Penyebab siatika tersering adalah perubahan degeneratif pada diskus intervertebral dua yang terbawah lumbar.Siatika Pada sindroma lumbar lokal. Hiperestesis dapat juga terjadi pada sindroma radik saraf lumbar. Pemeriksaan klinik teliti akan menghasilkan diagnosis dan harus dapat menentukan tingkat yang terganggu. mielografi. Keegan 1943). Sindroma Radik Saraf Lumbar . Penting untuk memeriksa sensasi didaerah perineal dalam upaya menyingkirkan adanya sindroma kauda. Nyeri yang berasal dari diskus superior yaitu yang termasuk radik-radik lumbar kedua. Dengan beberapa ketentuan dapat dikatakan bahwa bagian dorsal kaki didaerah ibu jari dicatu oleh radik L5 dan tumit serta bagian lateral kaki dicatu oleh radik S1. tekanan dan tusukan jarum. miografi-elektro dan pemeriksaan yang lebih canggih lainnya sangat jarang diperlukan dan hanya untuk memperkuat diagnosis selanjutnya serta untuk menyingkirkan kelainan lain. terkenanya rami anterior akan mengakibatkan gejala.

Nyeri dapat tersebar luas didalam dermatom atau terpusat pada daerah terbatas. Ini mungkin disebabkan pelunakan dan perubahan volume diskus intervertebral dan oleh osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang atau oleh perpindahan ruas tulang belakang dan kelainan lain pada kanal spinal. Bila radik saraf tertekan sempurna maka nyeri akan hilang. Tatkala radik saraf tertekan oleh benjolan bagian posterior diskus intervertebral. nyeri akan dijalarkan sepanjang betis posterior dan tepi lateral kaki. namun pasien selalu dapat menerangkannya dengan sangat jelas. Pada keadaan ini operasi dianjurkan sesegera mungkin. nyeri dapat terbatas pada bagian anterolateral tungkai bawah dan bila yang terkena radik S1. Siatika pada Protrusi dan Prolaps Diskus Intervertebral Dari sudut pandang terapeutik. Intensitas dan penjalaran nyeri beragam satu pasien dengan lainnya. mungkin akan berakhir dengan penurunan karena timbulnya parestesi dan gangguan motor. Nyeri umumnya mulai pada bagian proksimal anggota bawah dan akhirnya mencapai bagian perifer. namun tidak jarang perubahan patologik pada diskus intervertebral atau sekitarnya dapat menyebabkan nyeri yang menjalar. Nyeri dapat terbatas hanya pada bokong atau kaki dan tidak berubah dengan perubahan postur dan hanya dapat dikenal dengan test traksi atau mielografi dimana asal nyeri dapat ditemukan. Setelah operasi. akan terjadi paresis ekstensor kaki dan jari. Akan terjadi juga kehilangan sensasi. Adanya sindroma siatik tergantung letak dan ukuran dari struktur yang menekan radik saraf. Bila terdapat siatika. kehilangan sensasi. Jenis nyeri dapat tajam atau tumpul. Bila radik L5 terkena. Gejala beragam secara individual dan bila semula nyeri dan deformitas menonjol. namun terdapat beberapa kekecualian dimana hanya terdapat siatika tanpa nyeri sakral.raising yang positif. Suatu saat nyeri dapat terbatas pada daerah proksimal dan hanya dijalarkan keperifer saat batuk atau bersin. penting untuk mengetahui apakah sindroma radik saraf lumbar diakibatkan protrusi ataukah prolaps. siatika dapat tetap ada bersama dengan daerah nyeri terbatas atau nyeri sakral. maka . 1. dan bila radik L5 terkena. ini bisa juga pertanda suatu sindroma lumbar lokal. Nyeri siatik tampak dalam berbagai frekuensi dan intensitas. dan gerakan tertentu juga akan menimbulkan penjalaran perifer. abnormalitas refleks dan gangguan motor. Sindroma radik saraf tipikal adalah khas dengan nyeri yang dijalarkan umumnya mengikuti segmen dari mana radik saraf berasal. tes straight leg . Khas adalah penjalaran nyeri yang terbatas pada segmen yang dicatu oleh radik yang terserang.Sindroma radik saraf lumbar dapat disebabkan protrusi atau prolaps.

Dari perjalanan klinik akan jelas apakah terjadi suatu prolaps atau protrusi (Tabel II. kecuali diangkat secara operasi. Pada pasien yang lebih muda agak membingungkan untuk menyayat anulus fibrosus yang intak diatas protrusi dalam usaha mencapai fragmen yang sudah mengalami pergeseran. Karenanya nyeri. Tabel 3 Perbedaan Siatika yang disebabkan Protrusi dan Prolaps ------------------------------------------------------Siatika Karena Protrusi Siatika Karena Prolaps ------------------------------------------------------Onset secara umum tak jelas Onset berat tiba-tiba Deformitas dapat berubah Deformitas menetap Nyeri proksimal Nyeri distal. Nyeri dan deformitas tampak tiba-tiba dan memburuk dalam beberapa jam setelah jaringan diskus intervertebral bergerak kekanal spinal. Kebanyakan pasien dengan siatika adalah karena protrusi diskus intervertebral. Penekanan radik saraf lebih kuat pada prolaps dibanding protrusi. Pada protrusi jaringan yang bergeser dapat dinormalkan dan dicapai restitutio ad integrum. Fragmen diskus intervertebral akan mengalami pergeseran kerongga epidural dekat radik saraf atau kantung dura dan akan selalu menyebabkan rasa tidak enak dan nyeri. Gambaran klinik lebih berat pada prolaps. daerah hipestesi dan refleks yang abnormal akan berkembang. Sebaliknya tindakan konservatif tidak dapat dipilih pada prolaps yang lengkap.keadaan biomekanik dan biokimia secara keseluruhan akan berbeda bila penekanan disebabkan oleh prolaps.3). Tindakan ini mungkin mengawali rasa tidak enak dan nyeri yang terus menerus. Ini tidak terjadi pada prolaps. Gangguan motor. Massa jaringan diskus intervertebral bergeser keposterior dan menonjol dengan ligamen longitudinal posterior sebagai pembungkusnya. parestesia dan gangguan motor Hasil baik setelah tindakan Tindakan dengan obat-obatan dengan obat-obatan tidak berguna Instillasi intradiskal Instillasi intradiskal berat ringan Media kontras pada Media kontras pada diskografi tetap pada diskografi keluar kerongga diskus intervertebral epidural ------------------------------------------------------Juga terjadi perubahan pada perjalanan klinis. Sering nyeri lebih proksimal pada protrusi. parestesi dan deformitas berhubungan dengan perubahan yang disebabkan oleh . Penyembuhan spontan lebih sering pada protrusi dibanding pada prolaps. Pada protrusi ada hubungan antara sistem osmotik diskus intervertebral dengan perubahan volume dan konsistensi. Saraf spinal terjepit antara prolaps dan arkus ruas tulang belakang.

Nyeri pertama-tama tampak bila dilakukan mobilitas secara aktif maupun pasif dan bila mencoba meluruskan badan. Pada protrusi didapatkan membran tipis dan fragmen yang mengalami inkarserasi jelas mengingatkan akan prolaps. Sejumlah cairan mungkin dapat disuntikan dan pada prolaps akan keluar kerongga epidural. Pada prolaps medial yang besar jarang inklinasi kelateral karena tidak akan mengurangi tekanan pada . dan penderita sangat jarang mendapatkan perbaikan. Pada mielografi tak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. dan sering disertai inklinasi kelateral pada sindroma radik saraf. Pada protrusi tahanan terhadap injeksi jauh lebih besar dibandingkan terhadap prolaps. Pada lumbago tulang belakang lumbar menjadi mendatar dan tubuh membungkuk kedepan. beberapa pasien hanya menunjukkan sedikit nyeri. memerlukan pemahaman klinik yang baik dan pengalaman yang luas atas berbagai aspek dari nyeri pinggang bawah. Pada tabel diatas beberapa pendekatan dikemukakan. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. Disisi lain. Patsold (1975) melaporkan bahwa 75% deformitas skoliotik pada penderita protrusi atau prolaps diskus intervertebral dibenarkan oleh mielografi.beban. Dengan diskografi mungkin untuk menentukan apakah anulus fibrosus intak atau tidak. Pada kelainan diskogenik akan sulit untuk mendapatkan pola yang tetap untuk perjalanan dan prognosis. tes straight legraising positif. Obat-obat anti inflamatori mungkin berguna. Deformitas tergantung apakah radik saraf tertekan dari anterior. superior atau inferior. Deformitas Siatik Ada beberapa tanda tidak khas pada sindroma radik saraf lumbar yang memperjelas siatika. tes straight leg-raising positif dan deformitas lebih sering dijumpai pada protrusi dan prolaps pada tingkat ini dibanding tingkat L5/S1. protrusi dan prolaps memberikan perjalanan yang secara keseluruhan berbeda. Penguatan tanda-tanda ini tergantung letak dan ukuran protrusi diskus intervertebral. dan deformitas siatik. 2. yang akan membedakan penekanan pada radik saraf. Walau deformitas jelas. Penilaian gambaran klinik serta perjalanannya. Alasannya ialah reaksi refleks postural. prolaps kecil yang terletak pada "dead area" pada kanal spinal tidak harus memberikan gejala. nyeri pada peregangan saraf femoral. Pada prolaps gambaran klinik menetap dan sulit untuk berubah. Sempitnya ruang epidural L3/L4 dan L4/L5. Seperti terlihat pada tabel diatas. seperti juga pemilihan tindakan. Penderita selalu bertahan pada posisi yang menyebabkan paling sedikit penekanan terhadap radik saraf. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras.

Pada kasus yang belum lanjut. diatas bahu atau pada ketiak. Bila siatika jelas. dan prolaps karenanya dapat terletak dibawah bahu. dan berdiri pada jarinya dengan kaki pada posisi dropfoot ringan. Bila pasien membungkuk kedepan. Beban tubuh pada tungkai siatik hanya dapat dilakukan pada waktu singkat. skoliosis siatik tak harus timbul. Tentu ada bentuk peralihan dimana prolaps besar akan mengenai radik-radik dari dua tingkat. radik saraf sisi berlawanan akan terkena. Keluarnya radik saraf dari dura digambarkan sebagai daerah bahu. Pada inklinasi tulang belakang lumbar kesamping. Ada penderita mendapatkan pengurangan . Bila duduk dan berbaring. Bila membungkuk kedepan. deformitas siatik hampir selalu hilang sempurna. Protrusi yang terletak superior terhadap radik saraf (pada bahu) akan bergerak menjauhi radik. Pada protrusi medial dengan dasar luas. Konveksitas skoliosis lumbar menentukan arah inklinasi lateral dari tubuh. yangdifleksikannya baik pada sendi panggul maupun lutut. dan bila tubuh condong menjauhi tungkai siatik disebut 'deformitas siatik kontralateral'. Protrusi diskus intervertebral melakukan kontak dengan berbagai bagian radik saraf ketika ia berjalan dari superomedial keinferolateral. Cara termudah mengenal ini adalah mengamati postur tubuh. Deformitas siatik menjadi jelas bila tubuh ditekuk kedepan karena kontak antara radik saraf dengan prolaps serta protrusi semakin berat. Hubungan deformitas siatik dengan posisi protrusi atau prolaps cukup menarik. deformitas hanya menjadi nyata bila pasien membungkuk kedepan. dan penyilangan radik saraf diatas diskus intervertebral bervariasi pada setiap tingkat. Beberapa istilah digunakan untuk menyeragamkan penamaan radik-radik saraf yang berpasangan dengan mengingat dua lengan yang meninggalkan setiap segmen. Bila pasien condong kearah tungkai siatik. radik akan meluncur kemedial atau lateral diatas protrusi. Terdapat hubungan topografik langsung antara tepi diskus intervertebral posterior dan radik-radik saraf pada segmen lumbar.radik saraf. Bila protrusi dibelakang bahu. Skoliosis lumbar dapat menjadi konveks baik mengarah maupun menjauhi kompresi radik saraf. pasien tidak membawa beban tubuhnya pada tungkai terkena . digunakan istilah 'deformitas siatik ipsilateral'. dan ini akan menyebabkan deformitas campuran. yaitu satu radik dari superior dan lainnya dari inferior. tidak ada skoliosis siatik pada posisi berdiri. bila protrusi dibawah radik (pada ketiak) akan terdorong mendekati. Jadi pada protrusi lateral pasien akan membungkuk kedepan sisi sehat (deformitas siatik kontralateral) dan pada prolaps medial menuju sisi sakit (deformitas siatik ipsilateral). bagian konveks diskus intervertebral akan bergerak kesuperior.

. Walau diskus intervertebral lumbar superior jarang terkena dibanding segmen L5 dan S1.rasa nyeri dengan menambah lordosis lumbar. Finnesson 1973 dan Armstrong 1965). Tidak ada gangguan refleks pada sindroma L5. sindroma L5 tersering ditunjukkan oleh postur penderita yang sangat sering membungkuk kedepan. De Palma dan Rothman 1970. namun juga karena konsekuensi praktik yang terdapat pada kerusakan radik-radik saraf ini. Bila gangguan motor ditemukan. Sindroma Lumbar Monoradikular Gejala yang berhubungan hanya dengan satu segmen ditemukan pada hampir setengah dari sindroma radik saraf lumbar . 98% terjadi pada dua segmen yang lebih bawah. Bradford dan Spurling 1950. 3. b. karenanya tes straight leg-raising positif dapat ditampilkan pada setengah penderita dengan sindroma ini. a. Akar L4 hanya dikenai 1% dan sisanya radik saraf lumbar superior yang terkena (Lindemann dan Kuhlendahl 1953. kelainan kliniknya campuran. mungkin akan tetap meninggalkan deformitas siatik yang tidak menghilang dalam beberapa bulan. Pada penderita sindroma monoradikular lumbar. dan paling sering ini tergantung pada jumlah radik saraf yang tekena. Terdapat kesulitan mendorsifleksikan kaki dan jari yang menyebabkan kesulitan melangkah dan karenanya dan paling penting adalah secara hati-hati menganalisa gangguan motor. Pada kompresi radik saraf yang lama. ia penting bukan saja karena sulitnya diagnostik. kehilangan dorsifleksi kaki akan timbul karena otot tibial anterior menjadi lemah. Sindroma L4 Saraf siatik dicatu sebagian oleh serabut dari radik L4. Ini terdapat pada 1-2% dari semua kelainan diskogenik.8%. Setelah penyebab nyeri siatik dikurangi. Sindroma L5 Pada inspeksi. Nyeri menjalar dari daerah lumbosakral diatas bagian posterior paha turun kebagian anterolateral tungkai bawah ke maleolus lateral dimana nyeri menjadi semakin hebat. Nyeri dan hipestesi berjalan sepanjang belakang kaki ke ibu jari kaki. Disini dipentingkan fisioterapi. Hilangnya fungsi ekstensor pada ibu jari tak boleh terluputkan dan kelainannya mudah diperiksa. extensor hallucis longus adalah otot yang paling sering mengalami paretik (Schliac 1973). Ini terutama ditemukan pada penderita dengan protrusi dan prolaps dari diskus intervertebral lumbar superior. Atrofi ringan mungkin ditemukan pada otot tungkai bawah. Akar S1 terkena 54. Pada sisanya.2% dan L5 dengan 43.

refleks tendon Achilles mungkin hilang sempurna dan tidak akan kembali bila tekanan pada radik saraf tidak dihilangkan pada saat tersebut. Dengan prolaps lateral L5/S1. Sebaliknya prolaps lateral (diatas bahu) dapat menekan radik saraf yang keluar dari tingkat superior bersangkutan. radikradik saraf dan diskus intervertebral berakibat gejala yang tak spesifik dan tak sejelas misalnya sindroma L5. Prolaps lateral L5/S1 karenanya bisa mengenai bagian lateral radik S1 dan bagian medial radik L5. Sindroma Lumbar Poliradikuler Pada kelainan diskus intervertebral lumbar . Ini sangat sering pada kasus tingkat L5/S1. Pada kompresi yang sangat kuat dan setelah kompresi yang lama. radik L5 menyilang bagian lateral diskus intervertebral lumbosakral dan tidak pada sulkus saraf spinal. Prolaps lateral dapat mudah terlalaikan bila hanya laminotomi eksplorasi yang dikerjakan. Sindroma S1 Jarak yang relatif besar antara kantung dural. d. Kebanyakan sindroma siatika tanpa nyeri sakral dapat berasal dari radik S1. Akar L5 berjalan melalui foramina intervertebral L5/S1 pada bagian atasnya dan kemudian mendekati aspek lateral diskus intervertebral lumbosakral. jadi mengurangi kekuatan fleksi plantar. jarum mungkin diinsersikan ke diskus intervertebral L4/L5 untuk melihat apakah diskus intervertebral ini normal. Terserangnya radik L5 pada prolaps lateral lumbosakral lebih sering dari yang diperkirakan. Pada kasus ini. 18% mengenai radik lumbar kelima dan 6% menunjukkan tandatanda terkena. Pengalaman paling sering menunjukkan bahwa bila ada tanda-tanda sindroma L5 dan mielogram negatif pada diskus intervertebral L4/L5. diskus intervertebral L5/S1 mungkin dieksplorasi kelateral dengan membuang setengah medial faset L5/S1. Prolaps paramedian (pada ketiak) dapat menekan aspek medial dari radik saraf pada tingkat yang sama dan aspek lateral radik saraf timbul dari tingkat yang lebih bawah. Bila ada prolaps lateral masif dari diskus . Pola segmental menjadi terganggu seperti juga gambaran klinik. Gangguan motor mengenai otot triceps surae.c. Radiasi gejala ketumit dan tepi lateral kaki termasuk jari ketiga hingga kelima. Juga paresis otot gluteal. Tanda khas adalah melemahnya atau hilangnya refleks tendon Akhilles dengan penurunan sensasi diatas aspek lateral tumit yang mungkin meluas kedepan kejari empat dan lima. Nyeri dan hipestesi diarahkan lebih kepoterior dari sindroma L5 dan berjalan sepanjang posterior paha dan posterior betis. dua atau lebih radik saraf dapat terkena. Prosedur sederhana ini mungkin menyebabkan eksplorasi diskus intervertebral L4/L5 menjadi tidak perlu. Prolaps dan protrusi dapat mengenai beberapa segmen dan simptomatologi poliradikuler mungkin ditemui.

Selama perjalanan klinik mungkin timbul variasi pada tungkai mana penjalaran nyeri terjadi. Nyeri dan hipestesi didistribusikan sepanjang aspek anterolateral seluruh tungkai dan sindroma L5 menonjol. Paling sering adalah kombinasi sindroma L5 dan S1. Kellgren dan Lawrence menemukan degenerasi . Protrusi. Terdapat paresis ekstensor kakkaki dan jari dan refleks tendon Akhilles terganggu. Siatika bilateral sangat jarang pada kelainan diskus intervertebral dan bila terjadi harus dilakukan pemeriksaan yang lebih luas. Degenerasi diskus intervertebral dikenal dengan tampaknya reaksi tulang ruas tulang belakang dan pemendekan tinggi diskus intervertebral. Kombinasi sindroma L4 dan L5 berakibat gangguan motor pada kuadriseps. namun paling menonjol adalah sindroma S1 pada kebanyakan penderita. namun berubah vertikal hingga osteofit ruas tulang belakang berdekatan tumbuh bersama hingga terbentuk jembatan pada ruang inter-vertebral. Foto Polos Foto polos pada sindroma lumbar memberikan sangat sedikit informasi tentang sindroma tersebut namun dapat membantu menyingkirkan kelainan lain. radik saraf yang berhubungan (L4) dapat terkena walau radik saraf L5 tidak langsung berdekatan dengan prolaps diskus intervertebral berdekatan.intervertebral L4/L5. Hal ini terutama terjadi kearah anterior dan lateral. Terserangnya beberapa radik saraf secara bersamaan sering terjadi sebagai bagian dari sindroma post diskotomi karena adhesi yang terbentuk. Gangguan sensitifitas bervariasi dan juga distribusi nyeri selama perjalanan kliniknya. instabilitas segmental tidak dapat didemonstrasikan. Osteofit besar dapat tampak dan sering menjembatani ruang antara ruas tulang belakang. Kadang-kadang prolaps dorsal dapat berubah menjadi osteofit yang menonjol kekanal spinal atau sebagian menyumbat foramina intervertebral. prolaps. Osteofit semula mengarah horizontal. RADIOGRAFI A. Pada penderita tua penyempitan rongga intervertebral dapat ditampilkan seperti halnya perubahan osteosklerotik dari end-plates. sejumlah radik saraf menjadi terkena yang akan menyebabkan simptomatologi poliradikuler dimana tulang belakang lumbar menjadi kifosis. Osteofit adalah tahap akhir proses degeneratif pada diskus intervertebral dan tidak dapat dianggap sebagai sindroma diskus intervertebral akut. tibial anterior dan extensor hallucis longus. Bila seluruh kantung dural terkena pada prolaps besar dari aspek anterior kanal spinal. Prolaps medial mungkin menyebabkan siatika. Pemeriksaan lain dengan bantuan media kontras mungkin diperlukan.

Gambaran paralel end-plates ruas tulang belakang diamati. anomali ruas tulang belakang dan penyempitan kanal spinal lumbar mempercepat perkembangan selanjutnya kelainan ini. Interpretasi radiograf penting karena sekali kelainan lain disingkirkan. Deviasi aksial. namun ditemukan penyempitan ruang diskus pada kelompuk tanpa gejala sebesar 22 % dan pada kelompok dengan nyeri pinggang sebesar 56 %. s. Frekuensi spondilosis dan lordosis lumbar ekual untuk masing-masing kelompok. deformitas prediskotik dapat diamati. lebih banyak pada penderita dengan gejala dibanding orang yang tanpa gejala. Pada skoliosis ia bergeser kearah kecekungannya. dibanding dengan 30 % pria dan 27 % wanita dengan arthritis faset secara radiografi. Jumlah ruas tulang belakang lumbar dapat ditentukan dan setiap bentuk peralihan teramati pada daerah lumbosakral dimana ketidaksetangkupan dapat menyebabkan beban yang tidak ekual dari diskus intervertebral yang mungkin memiliki beberapa kepentingan dalam perkembangan kelainan diskus intervertebral. Yang terakhir adalah perubahan yang terjadi relatif kemudian pada degenerasi diskus intervertebral. Frymoyer menemukan bahwa hanya penyempitan ruang diskus L4 yang jelas berhubungan dengan gejala nyeri pinggang bawah dan nyeri tungkai. serta penyempitan diskus pada foto polos adalah indikator degenersi diskus yang agak kurang peka. Diskus sendiri tak langsung dapat dilihat pada radiografi rutin. Didapat juga hubungan yang positif antara nyeri pinggang dengan adanya spur traksi dan spondilolisis serta spondilo-listesis. demikian juga letak arkus. Pemendekan diskus intervertebral dan juga .diskus secara radiografik pada 83 % pria dan 72 % wanita antara usia 55 dan 64 tahun tanpa memperdulikan gejala. Dari data disimpulkan bahwa foto polos kecil nilainya dalam menentukan penyebab nyeri pinggang atau dalam menentukan siapa yang berisiko. Pada tumor dan kelainan inflamatori ia akan membesar atau menghilang sama sekali. Togerson dan Dotter (1976) meneliti pasien dengan sindroma diskus intervertebral lumbar dan membandingkannya dengan sejumlah yang sama penderita tanpa nyeri pinggang bawah. Kelainan degeneratif diskus intervertebral adalah berhubungan dengan usia dan tidak perlu menunjukkan adanya gejala. lebih nyata didapat pada dekade ketujuh dibanding dekade kelima bila tidak memperdulikan gejala. sedang pada tulang belakang lumbar 66 % pada pria dan 45 % pada wanita. Walau penyempitan ruang diskus jelas berhubungan dengan usia. Proyeksi anteroposterior. Ini menunjukkan bahwa degenerasi diskus sangat mungkin bila gejala dijumpai. kesimpulan atas keadaan fisiologiknya dibuat secara tak langsung dengan ada atau tiadanya penyempitan ruang diskus dan adanya osteofit marginal.

yang disebut pseudospondilolistesis (spondilolistesis degeneratif). Juga dislokasi ruas tulang belakang arah posteroanterior tanpa tanda-tanda cedera pada proses artikular. menurut Schmorl dan Junghanns (1968). dan suatu saat mielografi mungkin perlu. Bila pungtur diperlukan dalam mendiagnosa kelainan diskus intervertebral. Bila ditemukan suatu perubahan. Tebal diskus intervertebral pada daerah lumbal makin kedistal akan semakin tebal hingga tingkat diskus intervertebral lumbar empat. Proyeksi lateral. Ini dijelaskan Baastrup dan digunakan namanya. Penyempitan rongga intervertebral pada pemuda penting secara klinis. Ini mungkin hanya variasi kontur ruas tulang belakang normal dan mudah dikenal melalui tomografi atau mielografi. selalu harus dilaporkan. Pada daerah lumbar rongga subarakhnoid berisi cairan spinal yang . Pembengkakkan tepi ruas tulang belakang tidak harus berarti osteofit posterior.hiperlordosis tulang belakang memungkinkan kontak erat antara prosesus spinosus dan suatu sklerosis reaktif dapat diperlihatkan yang mungkin merupakan penyebab perasaan tidak enak. B. pandangan oblik memberikan informasi penting. Kantung dural bersama rongga subarakhnoid turun bersama-sama menuju ruas tulang belakang sakral kedua. namun merupakan pertanda degenerasi diskus intervertebral dini. karena peningkatan kehati-hatian diperlukan dalam mencapai bagian tulang belakang daerah ini untuk mencegah ketidak-sengajaan membuka kantung dural. Gangguan pertumbuhan juvenile tidak mempunyai arti klinik. Rongga subarakhnoid dibatasi membran arakhnoid yang berdekatan dengan dura. perlu memperluas pemeriksaan radiografik dengan pandangan oblik dan tomografi. Mielografi 1. terutama bila operasi dilakukan pada daerah tersebut. Walau nyatanya kebanyakan ahli bedah merasa bahwa spina bifida occulta tidak merupakan masalah. Namun pelurusan dapat terjadi bila pasien dalam posisi panggul dan lutut fleksi. Dalam meneliti spondilosis dan spondilolistesis lebih lanjut. Tampilan Rongga subarakhnoid ditampilkan dengan menyuntikkan medium kontras. Memberikan lebih banyak informasi dan fenomena Guntzsche dapat diamati dimana tampak pelurusan lordosis lumbar. perlu untuk mengindentifikasi foramina interarkuata yang bertindak sebagai pengarah untuk tempat pungtur. Pelurusan ini merupakan tanda dari sindroma diskus intervertebral. Perubahan radiografik menampakkan perubahan yang lanjut dari kompleks tiga sendi. Osteofit pada tepi posterior ruas tulang belakang mungkin juga penting.

Minyak iodium seperti Iodipin. Kontras adalah minyak iodium dan sejak itu berbagai media kontras telah digunakan. Mielografi pertama dengan media kontras positif dilakukan Sicard dan Forstier (1922). Kantung radik dapat sedikit terindentasi atau sama sekali terputus. 2. Rungga epidural (ekstradural) adalah rongga antara kantung dural dan bagian tulang dari kanal spinal. Pengisian kantung radik saraf dengan medium kontras adalah paling penting dalam mendiagnosa dengan mielografi. Untuk alasan ini mielografi juga disebut radikulografi. Mielografi dengan udara dan minyak sangat berbahaya.mengelilingi serabut-serabut saraf kauda ekuina dan mengikuti radik-radik saraf keforamina intervertebral membentuk kantung radik. Protrusi lateral dapat sulit dikenal dan mungkin perlu melakukan mielografi secara sempurna dengan pengisian yang baik dari kantung dural. Pada tingkat L5-S1 jaraknya lebih lebar dan prolaps medial kecil tidak akan menekan kantung dural dan karenanya tak ditampilkan pada mielografi. . Diantara media kontras positif antara lain adalah minyak iodium tak larut dan ester iodium serta substansi larut air. Media Kontras Mielografi pertama dilakukan Dandy (1919) dengan media udara. Gangguan pada kantung dural tidak hanya tergantung ukuran prolaps namun juga pada jarak antara tepi posterior diskus intervertebral dan dura. dan antara kedua ekstrem ini berbagai kemungkinan dapat ditampilkan. dan ester iodium seperti Pantopaque diabsorbsi dengan susah payah. Media kontras larut air tampaknya lebih memadai pada mielografi lumbar karena diresorbsi lengkap dan tidak menyebabkan komplikasi sekunder. Membuang medium kontras dengan pungtur lumbar sekunder tidak selalu berhasil. Serabut-serabut saraf kauda ekuina tampak sebagai pita radiolusen tipis pada mielografi dan bila kantung dural mengalami penekanan mereka akan melewati daerah obstruksi dengan tampilan seperti lengkungan. Pada protrusi atau prolaps medial atau para medial pandangan lateral akan memperlihatkan indentasi pembengkakkan pada kantung dural yang terisi kontras pada tingkat diskus intervertebral yang terkena. Jarak ini sempit pada tingkat L1-L4. namun hanya sedikit informasi yang dapat diterima. dan karena lamanya absorbsi mereka dapat mengakibatkan arakhnoiditis pada kanal spinal. Bagian anterior kantung dural berhadapan dengan bagian posterior diskus intervertebral berdekatan dengan konsekuensinya semua perubahan pada segmen posterior diskus intervertebral akan menyebabkan indentasi kantung dural. Pembengkakan kecil karenanya mudah dikenal pada mielografi. Demonstrasi kantung-kantung radik tidak mungkin. Pengenalan kantung radik perlu untuk memperlihatkan posisi dan perjalanan saraf-saraf spinal. Pleksus vena yang besar dan lemak epidural mengisi rongga ini.

Kadang-kadang media kontras tertimbun diepidural. Nachemson 1976). Dengan memakai Metrizamide (Amipaque). absorpsinya melalui teka lumbar dan villi arakhnoid parasagittal hingga tidak perlu dikeluarkan lagi.Talle 1973. Meglumine iocarmate (Dimer X). Iohexol (Omnipaque). Hindmarsch 1973. Neurotoksisitas seperti kemampuan epileptogenik sangat rendah dibanding media kontras larut air yang terurai (Skalpe . Ia ditolerasi baik dan tidak memerlukan anestesi spinal. Golman 1973. Data yang sama dikemukakan Spangfort yang menyatakan lebih dari dua kali temuan . Arti mielografi sebagai penunjang penting sebelum operasi diperlihatkan Hirsch dan Nachemson yang melaporkan hubungan tanda-tanda neurologik dengan mielografi kontras larut air pada penderita yang dioperasi karena diduga herniasi diskus lumbar. Perkembangan media kontras yang lebih sempurna. risiko aliran kontras ketingkat lebih tinggi dapat dikurangi karena toksisitasnya yang sangat rendah hingga bila mencapai toraks atau leher tidak akan menimbulkan komplikasi. Ia cepat diabsorbsi dari rongga subarakhnoid dalam waktu sekitar delapan jam. ditemukan herniasi diskus saat operasi yang mana menunjukkan tingginya sensitifitas tes ini. yang larut air dan memberikan informasi yang lebih baik.Pemakaian luas dan kemungkinan efek samping membuat mielografi sebagai pemeriksaan yang harus dikerjakan dengan pertimbangan. namun tidak dijumpai efek samping. kurang toksis dan kurang menyebabkan arakhnoiditis. Metrizamide (Amipaque). Skalpe dan Amundsen 1975. dan Iopamidol (Isovue). 90 % pasien dengan mielogram positif. Metrizamide adalah medium kontras triiodized yang larut air namun tidak terurai. dan tidak memerlukan pungtur sekunder untuk mengeluarkan media kontras seperti yang sebelumnya berlaku untuk media kontras jenis iodium/minyak. Sebagai tambahan. Ia dapat juga digunakan untuk diskografi. Karenanya tampilan rongga subarakhnoid dan radik-radik saraf bisa didapat dengan cepat dan dengan akurasi yang tinggi. Substansi padatnya dapat dicampurkan dengan pelarutnya pada konsentrasi yang diinginkan. Penggunaan baru dari Metrizamide adalah dalam tomografi aksial terkomputer yang dilakukan 8 jam setelah mielografi. didapat dengan menggunakan Meglumine iothalamate (Conray). Masih cukup material kontras yang tertinggal ditempatnya untuk menampilkan diskus intervertebral yang mengalami herniasi yang sebelumnya tidak ditampilkan dengan baik pada tomografi aksial terkomputer. Keuntungan agen larut air ini antaranya lebih sensitif terhadap perubahan patologis hingga lengan radik saraf dapat terlihat jelas. Larutan 170 mg J/ml adalah isotonik terhadap cairan spinal. hal mana paling tidak menyenangkan pada mielografi dengan minyak. Medium kontras bercampur cepat dengan cairan spinal serta viskositasnya rendah.

Tentu . mielografi mempunyai risiko yang kuat. Mielografi juga menunjukkan apakah prolaps berasal dari atas atau bawah dan selanjutnya memberikan informasi arkus mana yang akan dibuka. risiko masih tinggi yaitu 23 . Mielografi prabedah saat ini tidak harus ditinggalkan. mielografi akan memberikan tingkat yang tepat yang mana sangat penting ketika simptomatologi sering berbentuk campuran. mual. Pungtur lumbar untuk analisis cairan spinal tidak diperlukan pada keadaan ini. masalah urinari. muntah. Walau sudah dengan Metrizamide. kejang dan keluhan psikik. Indikasi utama mielografi pada penderita kelainan diskus intervertebral adalah adanya nyeri radikuler dan gagal terhadap semua tindakan dan pada penderita dimana operasi akan dilaksanakan. termasuk nyeri kepala. Karena sifatnya invasif. pertentangan masih terjadi hingga saat ini dikarenakan risikonya. Mielografi memberikan penegasan dan juga memberikan tingkat yang tepat dari prolaps yang menentukan operasi. 3. Kelainan diskogenik tidak hanya didiagnosis namun juga ditindak berdasarkan tanda dan gejala klinik.64 %. Akhirnya seperti telah dijelaskan. Bila tanda-tanda dan gejala-gejala sangat jelas dan informatif. Menurut Nachemson (1976) akurasi diagnostik diperbaiki dari 60 menjadi 90% bila mielografi ditambahkan pada pemeriksaan. Indikasi Baru akhir-akhir ini mielogafi menjadi prosedur diagnostik yang dianjurkan untuk mendiagnosis semua keadaan yang diduga akibat penyempitan kanal spinal. Pada kasus tertentu dimana pasien menolak. Pada pemeriksaan hubungan antara pengamatan klinik. Pada beberapa kasus akan memberikan jawaban apakah operasi harus dilaksanakan atau tidak. Indikasi lainnya adalah stenosis tulang belakang dan kemungkinan adanya tumor. keterbatasannya dan ketidaktepatannya dibandingkan cara pemeriksaan lain. Kelainan mielografi semata-mata tidak boleh diperlakukan sebagai satu-satunya penentu operasi. kepentingan mielografi pada kasus ini tidak diutamakan. Walau nilai mielografi sangat membantu dalam menyaring pasien.negatif pada operasi bila sebelumnya tidak dilakukan mielografi. mielografik dan operatif didapatkan bahwa tanda-tanda klinik hanya berkaitan 60% dan tanda-tanda mielografik 95% terhadap pengamatan operatif. dan keputusan operasi harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinik. mielografi tidak boleh dilakukan. Hitselberger dan Witten menemukan 37 % penderita tanpa gejala mempunyai kelainan tulang belakang leher dan lumbarnya. dimana dua pertiganya (24 %) adalah pada lumbar. hingga menghindarkan perlunya melakukan laminotomi diagnostik kecil.

Pastikan kontras berada intratekal. Kepala meja ditinggikan. Tampilan posteroanterior diambil dengan meja ditinggikan dengan berbagai derajat. Tampilan oblik diambil dengan pasien dalam posisi telungkup dan miring kesatu sisi dan selanjutnya kesisi lain. 4. keadaannya sangat berbeda dan mielografi harus dilakukan dalam usaha menentukan tingkat. Tehnik Pasien diletakkan pada meja radiografik dengan punggung datar dengan bantuan kantung udara yang dapat digembungkan dibawah perut. Untuk mendapatkan proyeksi yang kaya kontras dianjurkan untuk menyelesaikan seluruh pemeriksaan secara lengkap dalam 10 hingga 20 menit. Bila diduga suatu prolaps mobil atau fragmen. perlu dipikirkan mielografi. Harus waspada akan kemungkinan adanya peninggian tekanan intraserebral serta akibatnya yang mungkin memberat pada keadaan ini. Pada anak-anak harus hati-hati dalam merencanakan dan melakukan mielografi. Bila lesi diduga lebih atas. Bila tindakan konservatif gagal setelah beberapa bulan.mielografi tidak boleh dilakukan pada penderita yang peka iodium terutama yang menunjukkan kepekaan terhadap makanan laut. Dalam hal penggunaan Metrizamide perlu mempertahankan posisi pasien setengah duduk 600 selama 6 jam agar kontras tidak naik melebihi tingkat lumbar. setelah mana medium kontras segera mulai diabsorbsi. Pada kasus dengan masalah asuransi dokumentasi yang dapat dilihat lebih bernilai dari tanda-tanda dan gejala-gejala. Pada kasus asuransi dimana diagnosisnya sulit. Jarum diinsersikan pada inter-space antara L2 dan L3. Pada kasus khas sindroma L5 dengan paralisis akut. kontras dimasukkan dengan kontrol radiografik antara L1 dan L2. harus diingat bahwa kebocoran cairan spinal ringan mungkin terjadi dan karenanya beberapa tindakan pencegahan harus diambil seperti halnya melakukan pungtur lumbar diagnostik. Jarum segera ditarik setelah injeksi. Injeksi biasa dilakukan dengan tabung plastik yang bersatu dengan jarum. mielografi dianjurkan. dan film diambil untuk menampilkan berbagai tingkat. projeksi fleksi dan ekstensi diambil dalam posisi berdiri tampilan lateral. . Bila pada mielografi tidak ada cairan yang didapat. Namun bila ada dugaan suatu tumor sangat dianjurkan sebagai prosedur diagnostik. Bila diduga sindroma kauda. Ini termasuk nyeri pinggang akut yang mungkin atau tidak berhubungan dengan tanda-tanda neurologik yang jelas. mielografi tidak selalu perlu dan operasi dapat dilaksanakan segera. Sindroma diskus intervertebral lumbar lokal sangat jarang memerlukan mielografi.

Bila kesalahan menyuntikkan media kontras (Metrizamid) kerongga epidural. Medium kontras diabsorbsi cepat dari daerah ini tanpa menyebabkan kerusakan apapun. tampilan fungsional diambil pada fleksi dan ekstensi maksimum. Tepi anterior dan posterior medium kontras tampak dan kantung-kantung radik saraf tercakup. Secara keseluruhan. Protrusi dan prolaps lumbar akan menyebabkan indentasi khas pada mielogram. yang mungkin akan membingungkan dengan prolaps medial pada tingkat L5-S1. Komplikasi yang harus dipikirkan adalah infeksi. Tampilannya berbeda tergantung proyeksi yang digunakan. Ujung bawah kantung dural menunjukkan variasi anatomis yang dapat berupa kerucut atau lengkungan. Suatu saat gejala spontan berkurang dan tindakan terbaik adalah analgesik dan istirahat baring. sedikit peninggian suhu dan juga kekakuan otot. kejadiannya relatif kecil. Setiap benda asing yang dimasukkan kekanal spinal akan menambah iritasi terhadap sistem saraf pusat dengan nyeri kepala.5. meningismus. Kantung dural berakhir pada ruas tulang belakang sakral kedua atau mungkin lebih pendek pada ruas tulang belakang sakral pertama. Kantung-kantung radik saraf dapat ditampilkan. Bila diduga suatu prolaps yang mobil atau segmen yang tak stabil. lateral dan oblik untuk mendapatkan analisis proses yang menimbulkan penyempitan kanal spinal. Temuan Mielografik Mielografi diambil pada pandangan anteroposterior. Tampak Anteroposterior. media kontras yang baru mungkin menyebabkan komplikasi jenis yang sama. 2-3% penderita dengan nyeri kepala juga menderita meningismus. Indentasi medium kontras pada beberapa segmen biasa didapat pada penderita tua. Komplikasi Komplikasi mungkin timbul baik karena medium kontras atau pungtur lumbar maupun keduanya. muntah. maka komplikasi akan diakibatkan terutama oleh pungtur lumbarnya. Indentasi pada satu atau dua segmen adalah patognomonik. serta muntah dapat terjadi. Karena penggunaan medium kontras mempunyai komplikasi yang relatif kecil. 6. Disini terdapat hubungan yang nyaris langsung yang tidak terjadi pada segmen L5-S1 dimana terdapat sedikit rongga. Ini mungkin berupa penekanan . Gambaran posterior diskus intervertebral L1-L4 serupa dalam tampilan lateral. Walau toksisitasnya rendah. efek samping dan komplikasi ini tidak akan mengurangi nilai mielografi sebagai alat bantu diagnostik. Namun dari berbagai laporan. tak ada hal-hal istimewa yang diharapkan terjadi. Setelah mielografi dengan Metrizamide 20% pasien merasa nyeri kepala untuk beberapa hari. Tampak Lateral.

pemeriksaan objektif dan radiografi dan pada kasus tertentu mielografi. Namun indentasi dapat terjadi tanpa ada hubungannya dengan degenerasi diskus intervertebral. Pada mielografi tidak ada perbedaan besar yang membedakan protrusi dan prolaps. prolaps turun dari medial kelateral keforamina intervertebral (Brussatis dan Steeger 1974). Dari tampilan berbeda. Seperti ditunjukkan oleh mielogram. Media kontras larut air tak hanya menampilkan kontur permukaan kantung dural dan kantung-kantung radik namun juga struktur interior dapat diperlihatkan. Pemeriksaan Laboratorium Termasuk Analisis Cairan Spinal Pemeriksaan tambahan dipersiapkan hanya untuk keperluan diagnosis diferensial. laju endap darah atau foresis-elektro. Sebaliknya operasi dipikirkan pada kasus dimana tindakan konservatif tidak memberikan hasil dan hasil mielografi tidak menampakkan informasi positif. Pada degenerasi diskus . Pemeriksaan laboratorium mungkin mempunyai beberapa nilai dan pada sindroma lumbar tidak dijumpai perubahan nilai-nilai darah. operasi dikontra-indikasikan pada penderita dengan tidak cukup gejala atau temuan. lokalisasi dan tingkat lesi. Bila indentasi besar dan mendorong medium kontras. sering menyerupai prolaps diskus intervertebral. mungkin ini disebabkan oleh prolaps. Serabut saraf akan tampak sebagai pita tipis yang panjang. Tumor. Prolaps masif didemonstrasikan oleh berbagai tampilan.atau obstruksi lengkap ('amputasi'). Tampak Oblik. menyempitan oseus kanal spinal lumbar. Kepadatan kontras media tidak akan terlalu tinggi bila ia sudah bercampur dengan cairan spinal. Protrusi medial dan para medial mudah diperlihatkan pada tampilan lateral dan oblik. Tindakan menyeluruh tergantung gambaran klinik dan bahkan bila perubahan ditampilkan pada mielografi. mudah untuk menganalisa ukuran dan lokalisasi protrusi diskus intervertebral. A. Menampilkan kantung-kantung radik saraf dan kontur lateral kantung dural. Perpindahan fragmen diskus intervertebral seperti juga protrusi medial pada tingkat L5-S1 dan protrusi lateral pada setiap lengan radik tidak selalu tampak pada mielogram. diagnosis mungkin perlu dipertajam untuk mendapatkan peng-indentifikasian asal. Protrusi lateral lebih mudah diamati pada tampilan anteroposterior. Cairan spinal bisa didapat saat mielografi dan analisis dapat dilakukan. PEMERIKSAAN LAIN Setelah pemeriksaan klinik termasuk riwayat lengkap.

. Diskus intervertebral sulit untuk disuntik dengan medium kontras dan sedikit kontras yang masuk dapat diperlihatkan oleh gambaran seperti lensa pada radiografi. Kelainan ini dapat dijumpai pada beberapa keadaan spinal. Pada setiap pasien dengan gangguan radik lumbar kelima dan jarum yang dimasukkan ke diskus intervertebral L4/L5 membuktikan keadaan normal. Lagi pula mielografi dengan media kontras larut air lebih mudah dikerjakan dan lebih akurat dalam informasi. medium kontras akan mengalir keluar aspek posterior anulus fibrosus. Tes Queckenstedt dapat dilakukan. Pada keadaan dengan peninggian protein dan hitung sel bersama dengan blok spinal (Queckenstedt positif). Analisis cairan spinal tidak memberi banyak pada kasus degenerasi diskus intervertebral dan hanya dipersiapkan untuk diagnosis diferensial dari keadaan lain. Diskografi hanya dapat membedakan antara protrusi dan prolaps yang mungkin sama artinya dalam tindakan selanjutnya. sifilis) atau tumor. Diskografi Rongga intradiskal dapat didemonstrasikan dengan menyuntikkan media kontras kedalam diskus intervertebral. B. adalah bahwa radik lumbar kelima tertekan pada daerah interforaminal baik oleh diskus intervertebral yang mengalami herniasi atau oleh spurring lateral dari herniasi yang sudah lama. Nilai dari diskografi lumbar minimal pada diagnosis rutin karena diketahui degenerasi terjadi pada usia tertentu setelah tampilan normal sulit diharapkan. Bahkan dengan Metrizamide hasil negatif palsunya 20% pada interspace L5-S1. Keadaan protein meningkat dan hitung sel normal disertai tekanan cairan normal disebut 'dissociation globolinocyto-logique' (sindroma Guillain-Barre). Diskus intervertebral yang berdegenerasi dapat mengabsorbsi 2 hingga 4 cm3 cairan dan akan memperlihatkan sejumlah rongga kecil pada jaringan diskus intervertebral. pemeriksaan lanjutan harus dikerjakan. pertama harus diduga terutama bila diskus intervertebral lumbosakral menyempit dan kolaps. Pada prolaps besar atau setelah operasi diskus intervertebral kadang-kadang dijumpai sedikit peningkatan protein cairan spinal. Operasi diindikasikan pada kasus ini. Hitung sel normal.intervertebral cairan spinal jernih dan mudah mengalir melalui jarum kecil. Pada kelainan degenerasi diskus intervertebral tes ini tak diperlukan. Pada sindroma ini protein total dan koloid nilainya sangat tinggi. terutama pada inflamasi (herpes zoster. Pada perforasi anulus fibrosus. Penting untuk mengingat bahwa diskus intervertebral yang berdegenerasi tidak perlu menimbulkan gejala.

1988). Miografi-elektro Gangguan motor dapat dinilai secara objektif dengan miografi-elektro. dengan perbedaan utama pada kadar relatif komponen tersebut. 1988). Pertama. akan terjadi penghancuran bertahap proteoglikan nukleus. dan jenis utama dari kolagen yang dominan (Ghosh. tingkat hidrasi. seperti halnya ligamen longitudinal posterior didekatnya (Pech dan Haughton. harus tampak kompresi radik saraf dan/atau pergeseran. Tomografi Terkomputer Sangat akurat dalam mendiagnosis herniasi diskus intervertebral dengan kompresi radik saraf sebagai penyebab siatika. sering terletak dorsolateral. akurasi diagnostik sangat tinggi. 1988). Kedua. kaudal dari herniasi. juga memberikan kemungkinan menduga perubahan patologis yang terjadi dalam diskus sebelum perubahan pada konturnya. Pada pencitraan dengan pembebanan T2. serta hilangnya batas anatomik antara nukleus dan serabut anular dalam (Miller. Kelemahan otot anggota bawah sering dapat diketahui pada pemeriksaan klinik. Intensitas sinyal diskus tergantung keadaan hidrasi dan fisiokimia jaringan diskal (Hickey. PRM memperjelas akibat herniasi terhadap struktur intraspinal. intensitas sinyal yang tinggi pada bagian sentral diskus berasal dari nukleus pulposus dan serabut anular dalam (Yu. eksudat inflamatori. atau pembesaran vena epidural sekitarnya. pengeringan bertahap material inti mukoid. celah intranuklir ditemukan pada diskus normal pada pencitraan pembebanan T2. . D. 1986). dengan pembesaran saraf serta pengaburan tepinya karena edema. Penggunaan miografielektro untuk memperlihatkan gangguan neurologik adalah semata-mata untuk diagnostik diferensial. Pada pencitraan dengan pembebanan T2 pada serabut anular luar memperlihatkan intensitas sinyal yang sangat lemah. dan ini normal pada pertumbuhan jaringan normal. E. protrusi harus fokal dan tak setangkup. Gangguan otot neurogenik yang timbul sehubungan dengan adanya prolaps tak dapat diperlihatkan oleh miografi-elektro hingga perjalanan penyakitnya lanjut. Pencitraan Resonansi Magnetik Baik MRI maupun CT resolusi tinggi memberikan tampilan yang sangat baik atas perubahan morfologik serta pengaruh dari herniasi diskus. kolagen serta proteoglikan. sering pembengkakan pasca jejas pada radik saraf terkena. Kriteria diagnostik harus spesifik. Nukleus pulposus dan anulus fibrosus terutama mengandung air. Diatas usia 30. Bila temuan ini dijumpai.C. 1985). Dengan penuaan. langsung didekat radik saraf yang melintang diskus. Ketiga.

Ini dapat terjadi apabila prolaps menjadi lebih besar atau mengalami fragmentasi menjadi sekuester.F. Tes traksi juga menjelaskan apakah traksi akan bernilai terapeutik bagi pasien. pada hari mielografi dilakukan. Mungkin juga nyeri akan berkurang dan lokalisasi berubah. Sulit penilaian jaringan lunak. dan akhirnya siatika dapat merubah penjalarannya dari bagian distal keproksimal dari anggota bawah. Postur tidak berpengaruh pada siatika atau neuralgi femoral oleh peenyebab lain. mungkin akan mengurangi kontak antara radik saraf dengan diskus intervertebral hingga penjalaran nyeri baik siatika maupun neuralgi femoral dapat berubah. siatika dan deformitas siatik akan hilang selama traksi. Neuralgi femoral paling sering disebabkan degenerasi diskus intervertebral lumbar bagian atas. Dilakukan melakukan DIAGNOSIS DIFERENSIAL SINDROMA AKAR SARAF LUMBAR Dalam menganalisa nyeri pada anggota bawah. Pada protrusi kecil. Ini terutama ditunjukkan oleh tes traksi terhadap tulang belakang lumbar atau tes regang femoral yang bermakna pada gangguan pada radik saraf. tes traksi dapat positif pada sindroma radik saraf karena berbagai penyebab. penting untuk membedakan siatika sebenarnya dengan nyeri yang menyerupai siatika. Pasien juga dapat membungkuk kedepan saat menarik pegangan. Dengan traksi pada tulang belakang lumbar. Penyebab Ekstravertebral Tidak jarang nyeri dari panggul dikelirukan dengan . Kadangkadang nyeri bahkan bertambah saat traksi dan menjalar lebih keperifer. siatika disebabkan oleh degenerasi dua diskus intervertebral lumbar yang terbawah. Penderita menarik pegangan kebawah dan dengan tindakan ini intensitas dan penjalaran nyeri yang berasal dari radik-radik saraf lumbar akan berubah. Selain itu harus dibedakan antara nyeri radik saraf dan nyeri akibat terganggunya saraf perifer. Tomografi Terkomputer yang diperkuat Diperdebatkan keuntungan dan kerugiannya. yang dilakukan dengan memakai bebat sekitar pelvis dengan pegangannya tergantung dari tiap sisi (Kramer 1973). Nyeri lateral dapat bergerak lebih kemedial dan nyeri radik saraf tajam berubah menjadi nyeri pinggang tumpul. Kekecualian. A. Sebagai pegangan. Tes traksi berguna dalam mendiagnosis sindroma radik saraf lumbar. Pengaruh postur pada gejala menunjukkan terkenanya diskus intervertebral. Nyeri berasal dari sendi panggul atau vaskuler tidak akan terpengaruh oleh tes traksi.

Juga perlu secara teliti mendengarkan riwayat pasien dimana sindroma radik saraf dijelaskan oleh hubungan terhadap perubahan posisi dan tes traksi. Ada pula kelainan pada saraf siatiknya . Berbeda dengannya. mielografi akan memberikan jawabannya. Perubahan inflamatori atau degeneratif pada sendi sakroiliak dapat menimbulkan nyeri serupa dengan siatika proksimal. Tanda-tanda pleksus saraf lumbosakral akibat tumor ekstra-vertebral dari rektum. Pasien osteoarthrosis sering mengeluh nyeri yang menjalar kebawah. selanjutnya disarankan menyuntikkan anestesi lokal intra-artikular sebagai pengarah. Pada sindroma radik saraf yang disebabkan protrusi diskus intervertebral atau prolaps diskus intervertebral. Tidak ada gangguan lumbar lokal yang menimbulkan siatika tanpa nyeri sakral. uterus atau prostat hanya timbul bila tumor mencapai ukuran besar. trokhanter maior dapat diinfiltrasi dengan anestetik lokal. Bila nyeri bertambah saat berjalan. Pertanda terganggunya sendi panggul adalah perbedaan pada rotasi kedalam kedua sisi. ini akan sangat membingungkan. ini sangat tidak biasa pada siatika. Kadangkadang suatu aneurisma arteri iliak komunis bisa menyebabkan siatika (Elliot 1971). Dalam usaha menegakkan diagnosis. Bila tes straight leg-raising mengenai sendi panggul. Sebabnya adalah sangat sering dua keadaan ini terjadi bersamaan dan penjalaran nyerinya sangat serupa. Radiografi termasuk tomografi digunakan untuk diagnosis menyeluruh. yaitu kepaha dan lutut. Pada sindroma radik saraf lumbar beberapa tanda mungkin tidak dijumpai hingga menyulitkan penegakan diagnosis. Ini semula dijelaskan sebagai terganggunya saraf obturator yang mencatu bagian anterior sendi panggul dengan serabut-serabut sensori. Pada siatika tes siatik sangat berbeda. Tes traksi negatif serta tiadanya hubungan dengan posisi postural menyingkirkan gangguan radik saraf. Untuk diagnosis terkenanya sendi panggul. pergerakan sendi panggul menyebabkan pergerakan pelvik yang konkomitan dengan kemungkinan nyeri radik saraf. Nyeri pada daerah sendi panggul mungkin disebabkan peri-arthrosis panggul yang baik sendi panggul maupun tulang belakang lumbar tidak menunjukkan adanya kelainan patologik.sindroma radik saraf lumbar. Gangguan neurologik mungkin sangat sedikit atau sama sekali tidak ada. Sangat mungkin nyeri ini adalah akibat terganggunya saraf simpatetik (saraf vaskuler) seperti diduga Idelberger (1977). Tidak jarang diterima rujukan hanya karena kebingungan atas nyeri tungkai apakah dari sindroma radik saraf lumbar atau dari kelainan vaskular perifer. Tes Mennel dan pemeriksaan klinik yaitu radiografi dan sintigrafi akan membantu diagnosis. Karenanya perlu menyingkirkan kemungkinan osteoarthrosis panggul serta nekrosis kaput femoral.

Bila spondilitis dimulai dianterior. Berlawanan dengan cedera pleksus dan saraf perifer. neuritis alkoholik. Hal yang serupa terjadi pada tumor tulang belakang yang sebagian besar adalah metastase. Akar-radik saraf terjerat oleh jaringan fibrosa disekelilingnya serta menyebabkan pengangkatan atau traksi keatas sisi posterior ruas tulang belakang berdekatan.sendiri yang menyebabkan diagnosis diferensial menjadi sulit. Pada lesi radik saraf tidak pernah ada kelainan perspirasi bahkan bila sensasi hilang total didalam daerah yang dicatu oleh beberapa radik (Schliack 1975). Ini karena cedera pada saraf kulit femoral lateral. kelainan tik. Neuropati diabetik harus selalu diingat pada pasien tua. siatika adalah gejala lanjut. Gejala siatik bertambah dan tes straight leg-raising positif pada kedua sisi. Nyeri malam adalah khas. B. Gejala neurologik terjadi. Bila nyeri dan gangguan sensasi terbatas pada lipat paha dan bagian anterior paha. Penyebab Vertebral Selain sindroma radik saraf yang disebabkan kelainan diskus inter-vertebral dijumpai kelainan lain yang menyebabkan siatika dan mengenai saraf femoral. diabetes dan periarteritis nodosa. Sebaliknya dari sindroma L3. Spondilitis mungkin juga mengenai radik dan tidak terpengaruh oleh postur. dan gejala radik hanya terjadi bila massa tumor mengenai kanal spinal atau bila timbul fraktura patologis. Ini harus dipikirkan sebagai diagnosis diferensial dalam menganalisa nyeri sakral. dan terdapat perubahan cairan spinal. Antaranya herpes zoster. lesi radik saraf tidak pernah bersamaan dengan tanda-tanda vegetatif. Kadang-kadang kelainan Paget dan fluorosis menyebabkan siatika karena pertumbuhan tulang dengan penyempitan kanal spinal serta foramina intervertebral. Pada lesi saraf siatik terdapat kelainan fungsi sudorimotor didaerah gangguan sensasi. Kadang-kadang siatika yang timbul setelah penyuntikan saraf siatik harus diingat karena mungkin pengobatannya termasuk injeksi pada daerah siatik. tidak ada gangguan pada refleks tendon patellar pada parestetik meralgia. leprosi. Tumor primer mungkin timbul pada segmen ruas tulang belakang terutama pada sarafsarafnya. Sisi injeksi tampak keras. Nyeri menjalar mudah dibangkitkan dengan menekan daerah tersebut. parestetik meralgia harus dipikirkan. Stenosis spinal pada kebanyakan kasus disebabkan oleh kelainan diskus intervertebral dan . Siatika dapat timbul bilateral pada spondilolistesis dan sangat sedikit dipengaruhi perubahan postur. Tindakan lain yang membantu diagnosis adalah infiltrasi lokal anestetik dan tes traksi.

Sasaran harus ditujukan untuk mengurangi keluhan rasa tidak enak subyektif dan tidak terlalu ditujukan kepada deformitas anatomik. Sindroma Kauda Sindroma kauda menunjukkan sindroma radik saraf lumbar poli-radikuler secara menyeluruh. Tindakan diagnostik terpenting adalah mielografi namun tidak selalu menjelaskan sumber kelainan. Analisis cairan spinal mungkin penting. namun memerlukan pemeriksaan lain untuk memperjelas kelainan seperti mielografi. Lesi kauda akut adalah akibat prolaps besar dari tingkat L3/L4 atau L4/L5. perlunakan dan protrusi ringan dibanding prolaps sebenarnya. Pada mielografi. Dalam beberapa jam dapat timbul cedera yang irreversibel. Pada prolaps diskus intervertebral lumbar ada hubungan gejala dan perubahan patologik sebagai makin besar prolaps semakin berat gejala neurologik dan nyeri. Kebanyakan kelainan diskus intervertebral tampak sebagai fragmentasi. Blok cairan spinal menunjukkan kompresi spinal. Secara umum terdapat perubahan sekunder dari sendi-sendi dan otot-otot intervertebral. Pada tumor kauda tidak ada hubungan dengan beban berat atau tanpa beban berat. indentasi medium kontras mungkin sangat besar namun bila tidak ada gejala maka tidak ada alasan untuk operasi. Sasaran utama adalah menghilangkan nyeri. Kurang penting untuk memperbaiki mobilitas tulang belakang lumbar. Kompresi kauda akut akibat prolaps diskus intervertebral memerlukan operasi segera. Kelainan diskus intervertebral khas dengan onset mendadak dan kaitannya dengan postur. Mula-mula adalah nyeri hebat lumbar dan radikular. Kecil kemungkinan pulih bila operasi dilakukan dua atau tiga hari setelah kompresi kaudal. Laboratori dan mielografi akan memberi petunjuk diagnosis. Penting diingat keberagaman dan kepekaan masing-masing radik saraf yang menyebabkan gejala dan . gejala khas prolaps diskus intervertebral menghilang. TINDAKAN Mengingat etiologi dan patologi. Segera setelah paresis timbul. C. Semua radik saraf dikauda tertekan baik oleh prolaps diskus intervertebral maupun tumor dan menimbulkan gejala radik lumbar maupun sakral. Gejala sindroma kauda khas dan dari sudut diagnostik diferensial menarik untuk menganalisa etiologinya. Pemeriksaan radiologiogi dan laboratori normal. tindakan secara umum serupa.menyebabkan siatika. Cairan spinal normal dan alirannya yang bebas pada tes Queckenstedt tidak menyingkirkan kemungkinan kompresi kauda yang terletak dalam.

postur abnormal. Beberapa pasien bereaksi baik terhadap pemijatan. Pasien yang aktif lebih baik ditindak lebih aktif dengan traksi. Perubahan psikik juga penting. Material diskus intervertebral yang telah rusak tidak dapat diperbaiki oleh jaringan. 'Serangan' terapeutik pada rantai manapun akan memberikan hasil yang baik. lainnya justru memburuk. Onset nyeri dan adanya suatu keadaan kronik akibat beberapa keadaan patologik membentuk lingkaran setan. Kemungkinan berhasil pada tindakan konservatif sangat terbatas. Hal serupa terjadi pada traksi. Karenanya tindakan harus diarahkan terhadap intensitas gejala yang dipacu oleh sensitivitas radikradik saraf dan serabut-serabut saraf. Pasien yang bersifat pasif terbaik ditindak dengan istirahat tempat tidur. iklim dan tindakan fisik. karenanya dianjurkan mengatasi fokus infeksi lokal pada pengobatan siatika dan nyeri pinggang bawah. serta perubahan sirkulasi. aberasi psikik serta akhirnya nyeri. Tindakan Konservatif . keadaan fisik secara umum serta keadaan mental.tidak perlu perubahan patologik identik kasus demi kasus. Mulamula selalu harus dengan tindakan konservatif. pemijatan. nyeri yang berasal dari kapsula sendi intervertebral dan spasme otot. kontraktur kapsul sendi. Mula-mula adalah masalah mekanik yang diikuti iritasi radik-radik saraf dengan akibat timbulnya spasme otot reflektori. Hal menarik lain adalah remisi spontan gejala pada kasus nyeri dengan onset akut akibat degenerasi diskus intervertebral. Harus dipikirkan tekanan material diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi. Diagnosa yang teliti dan pengalaman yang luas diperlukan dalam merencanakan cara terbaik untuk masing-masing pasien. perubahan abnormal volume diskus intervertebral. Akar saraf yang sudah cedera oleh tekanan akan bereaksi abnormal bila menghadapi keadaan alergi atau infeksi. Terdapat gabungan pengaruh tekanan mekanik dan sensitifitas saraf dimana yang terakhir ini dapat dipengaruhi oleh obat-obatan. Harus dipikirkan semua kemungkinan cara pengobatan sesuai dengan kasus. Tindakan berdasar penyebab tidak akan berhasil pada kelainan diskus intervertebral. Tidak perlu merencanakan suatu tindakan dalam dua atau tiga minggu. namun bila tidak memberikan hasil yang baik dan nyeri tetap berat. karenanya tindakan harus simptomatik dengan satu tujuan saja yaitu mengurangi nyeri. Pikirkan usia pasien. Dengan kata lain terdapat reaksi yang berbeda dari radik-radik saraf terhadap rangsangan mekanik akibat deformitas patologik. pikirkan operasi. Usaha yang gagal pada terapi manual atau pemijatan dalam waktu lama harus diganti dengan istirahat dan pemakaian panas. packing dan infiltrasi. A. Pemeriksaan teliti akan menunjukkan bagian mana dari segmen yang paling terserang dan rencana tindakan didasarkan kepadanya.

penggunaan panas. Jenis tindakan ini salah satu yang terbaik yang dapat ditawarkan pada pasien dan diakhiri dalam beberapa hari serta dua hingga tiga minggu untuk kasus yang lebih sulit. tapi pasien mungkin memilih posisi yang tidak lazim untuk mengurangi rasa tidak enaknya. Kontraksi isometrik otot pinggang akan menambah tekanan intradiskal dan akan mengurangi volume diskus intervertebral walau pada posisi horizontal. Hirschberg (1974) melaporkan hasil yang sangat baik pada penderita yang dirawat konservatif dan mendemonstrasikan bagaimana pengurangan tekanan intradiskal menyebabkan hilangnya ketidaknyamanan serta . Penting untuk mengatur posisi saat istirahat. Istirahat Pengurangan rasa tidak enak dan nyeri dapat dicapai dengan istirahat. dapat dipengaruhi oleh tindakan tersebut. terapielektro serta analgesik. Tindakan dikolam dengan gerakan yang kuat mungkin cukup untuk mengobati nyeri sakral dengan onset akut dan nyeri akan hilang dengan cepat. pemijatan. Pada kasus nyeri pinggang bawah yang kurang begitu berat akibat dislokasi yang lebih ringan dari fragmen diskus inter-vertebral. Traksi dengan bebat ekstensi dapat mempercepat proses ini. pasien dengan nyeri pinggang bawah lebih menyukai beristirahat pada tempat tidur. Tidak ada aturan bagaimana meletakkan tubuh hingga bebas dari nyeri dalam pengobatan lumbago. Lingkaran setan berupa nyeriregangan-nyeri. pasien dapat digerakkan dengan arah yang memungkinkan kembalinya nukleus pulposus keposisi normal (Idelberger 1977). Sebagai pegangan. Nyeri yang timbul setelah berada dalam posisi horizontal untuk waktu yang lama menunjukkan penambahan volume diskus intervertebral dan dapat dikurangi dengan memberi beban aksial secara hati-hati. Pada siatika posisi terlentang lebih disukai. segala variasi posisi berdiri atau horizontal dapat mengubah perjalanan nyeri. Pasien harus mengatur fleksi lutut dan panggul pada posisi yang paling nyaman. Gejala dari degenerasi diskus intervertebral biasanya akibat penambahan beban aksial dan karenanya tindakan terbaik adalah istirahat ditempat tidur. Tergantung penyebab.1. Dianjurkan memakai penyangga untuk tungkai berupa blok karet busa. kepala atau kaki tempat tidur dapat ditinggikan. Dalam setiap gangguan fungsional pada interspace. pasien mengatur posisi tulang belakang yang paling efektif mengurangi nyeri. Tempat tidur harus rata dan keras. Bila ada alasan untuk tidak memungkinkan pasien berada dalam posisi berdiri. Kenyataan bahwa pasien telah menemukan posisi tubuh yang meringankan nyeri dan dapat ditemukan oleh pemeriksa. Diskus intervertebral menerima beban paling rendah saat berbaring horizontal dengan sendi lutut dan panggul dalam fleksi. Pada keadaan ini tekanan intradiskal 35 kp.

Udara panas juga berefek baik. Derivat minyak asam salisil. Tak ada alasan untuk percaya. kompres hangat. Juga terjadi perubahan tingkat konduksi saraf motor dan aktifitas motor spinal dari neuron motor alfa dan gamma hingga terjadi relaksasi spasme otot yang diinduksi nyeri. Dalam semua keadaan. Dipercaya bahwa kantung panas mempunyai efek jaringan dalam. Dengan adanya aksi refleks. hiperemi akan menambah dan memperkuat nyeri. Alasannya tidak diketahui. Pemanasan suhu badan terbaik dengan menggunakan wool tebal. reaksi inflamatori berkurang. terjadi perubahan pada segmen yang bersangkutan. Untuk pemakaian sederhana dirumah. Pasien yang menderita nyeri sakral khronik dan siatika selalu mencegah kedinginan dan karenanya berpakaian hangat. yang meningkatkan panas. Mandi air panas. dan pasien dapat dijaga fisik dan mental disaat ia menggunakan sesedikit mungkin gerakan dan higiene pasien dapat dirancang untuk keadaan berbaring pada sisi tubuhnya. Bila panas menambah nyeri. menekuk tubuh dan mengangkat dapat menyebabkan berulangnya keadaan dan musnahnya perbaikan yang telah didapat. terapi-elektro harus dicegah selama tahap akut. Beberapa obat gosok. Selama istirahat ditempat tidur. packing. diagnosis harus dipertanyakan. dapat digunakan dan dianjurkan kompres panas dengan meletakkan dibawah pasien tanpa menggerakkan pasien terlalu banyak. bebat dan aplikasi lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan panas dapat digunakan pada pinggang. Pemijatan. pemijatan dan traksi dapat dianjurkan. karena pada tumor dan keadaan inflamatori. Penting untuk melakukan tindakan menurut prinsip yang tegas. . Istirahat harus dilanjutkan dan dilakukan untuk waktu yang lama dalam usaha menghilangkan penekanan terhadap radik saraf dan juga membantu pengerutan fragmen diskus intervertebral. 2. Dengan pemanasan dalam. Panas bisa didapat dengan berbagai cara. Sangat sering kedinginan memperberat ketidaknyamanan. Seringkali pasien dengan sindroma lumbar menemukan keuntungan dengan panas.nyeri. baik melalui kontak langsung maupun secara tak langsung melalui radiasi panas. ini akan mengubah keadaan biokimia jaringan segmen lumbar. mandi air panas atau botol air dapat digunakan. Pemanasan Panas menyebabkan hiperemi dengan akibat pengenduran otot-otot yang spastik. selalu digunakan oleh pasien nyeri pinggang bawah. Berdiri. panas tidak pernah digunakan terhadap pasien dalam posisi telungkup karena hiperlordosis paling sering menimbulkan nyeri.

Obat-obatan Tidak ada bukti bahwa obat dapat mempengaruhi perubahan volume jaringan diskus intervertebral. Terapi fisik cukup memadai. Bila nyeri bertambah dan tidak hilang dengan istirahat. Komponen antiflogistik diduga mempengaruhi reaksi inflamasi yang diakibatkan iritasi mekanik pada segmen bergerak. Karena perbedaan mekanisme patogenetik. terapi obat-obatan harus diakhiri. Nyeri kronik dianjurkan diatasi dengan indometasin atau aspirin yang umumnya ditolerasi baik. dianjurkan aminofenazon. Pada pasien dengan psikik tidak seimbang dianjurkan pemberian sedativa. Efek samping yang timbul pada pemakaian lama tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pada nyeri akut berat. Jenis obat diatur sesuai intensitas gejala. kombinasi aspirin dan kodein atau acetaminofen dan kodein yang dapat diberikan secara oral. obat-obat seperti disebut diatas dapat digunakan. Pemberian intramuskuler lebih disukai karena memudahkan kontrol dan penilaian. Diazepam.3. Relaksan otot mempunyai efek berbeda dimana ia langsung mempengaruhi otot yang menjadi relaks dengan akibat mengurangi nyeri. rektal atau parenteral. Bila tidak ditemukan perbaikan dalam waktu yang singkat. karenanya lingkaran setan nyeri-spasme-nyeri dapat diputus. Tranquilizer akan menurunkan sensitifitas elemen saraf yang teriritasi secara mekanik pada segmen bergerak. Sasaran utama adalah mengurangi nyeri. Beberapa berefek analgesik dan anti flogistik dan umum digunakan seperti aspirin. Pada saat operasi sangat banyak ditemukan radik-radik saraf yang menunjukkan tanda-tanda inflamasi. Injeksi intramuskuler dengan kombinasi fenilbutazon dan aminofenazon digunakan pertama kali. Pada nyeri pinggang bawah ringan dianjurkan tidak menggunakan obat apapun. Karena efek sampingnya dianjurkan untuk pemakaian dalam waktu yang singkat. pyramidon. Bila nyeri hilang. Efek merelaksasikan otot secara tidak langsung didapat juga dari sedatif dan tranquilizer yang sering dijumpai pada preparat kombinasi. indometasin. Terakhir dilaporkan bahwa obat kombinasi memberi hasil memuaskan. Obat-obat kombinasi yang mengandung kortison mempunyai sifat antiflogistik kuat. otot yang tegang akan berelaksasi. Vitamin B diduga mempunyai efek neurotropik yang membantu regenerasi serabut saraf yang terjepit. fenilbutazon. Dapat diberikan pada sindroma radik saraf kronik. sedatif bebas barbiturat dan relaksan otot dapat digunakan sebagai penambah pada tindakan lain. dijumpai beberapa jenis obat. Penyebab gejala mungkin kompresi mekanik serius terhadap radik-radik saraf lumbar dan memerlukan . dianjurkan analgesik kuat dan antiflogistik. Tahap awal.

pemijatan jet air dapat digunakan. Aliran air diarahkan tangensial terhadap pinggang dengan tekanan 1 hingga 2 atmosfir. Posisi penderita selama pemijatan penting. Beberapa jenis pemijatan akan memperkuat siatika akut atau lumbago karena pemijatan akan menggerakkan tulang belakang lumbar dan pasien tidak dapat untuk tetap pada posisinya.tindakan yang lebih sesuai. Panjang gelombang terlalu pendek tidak akan merangsang sel. Bila keadaan ini tercapai. Arus frekuensi tinggi menghasilkan panas pada jaringan dalam. otot paravertebral serta iskhiokrural mempunyai efek stabilisasi. Tenaga yang lebih kuat diperlukan untuk merawat otot pinggang bawah. 4. Terapi Elektro Ada beberapa cara dengan tujuan penyembuhan oleh energi listrik. 5.000 Hz yang disebut arus arsonal dan dipancarkan melalui diatermi dengan 3 . Pemijatan Mungkin berguna pada sindroma lumbar bila keadaan akut sudah berlalu. Otot tak dapat mempertahankan kebutuhan yang terus menerus akan kontraktilitasnya untuk mempertahankan stabilitas dan suatu saat akan terjadi insufisiensi otot. Dengan miografi-elektro diperlihatkan bahwa pemijatan mempunyai efek merelaksasikan otot yang berkontraksi serupa dengan yang didapat melalui alat elektrik. Terapi-elektro karenanya dilakukan lebih awal. Pemijatan hanya sebagian dapat mempengaruhi otot-otot yang berkontraksi dan keras pada daerah lumbosakral. Ia mengatur segmen bergerak dalam istirahat hingga tak ada lagi penekanan lebih lanjut atau tarikan pada radik saraf atau ramus meningeal dari saraf spinal. perlu melakukan pemijatan dan fisioterapi dalam usaha mengembalikan otot kekeadaan semula. Sindroma lumbar yang memerlukan pemijatan jangka panjang lebih baik ditindak dengan terapielektro yang akan menghemat tenaga maupun waktu. Berbagai arus dapat digunakan. Posisi telungkup tak dapat dianjurkan karena lordosis lumbar akan bertambah dengan tekanan pemijatan dan karenanya pasien harus diletakkan telungkup pada penyangga karet busa yang memungkinkan pasien memfleksikan panggul dan tungkainya bersama-sama. Jenis-jenis pemijatan dan pengaruhnya telah dijelaskan dan disamping pemijatan klasik. Pada fase akut sindroma lumbar . Pada posisi istirahat tonus otot menurun dan efek stabilisasi menghilang. Frekuensi yang dianjurkan adalah 20. Dengan cara ini otot pinggang paravertebral yang luas dan berkontraksi digerakkan tanpa perlu penekanan terhadap lordosis lumbar yang biasanya terjadi pada pemijatan tangan.

6. hal tersebut tergantung pada arus dengan efek dalamnya. Pada arus diadinamik terdapat perubahan antara frekuensi dan amplitudo yang berefek penghilang nyeri (Bernard 1955). Satu keuntungan dengan arus interferensi adalah bahwa efeknya menjadi terpusat pada lapisan jaringan dalam dengan arus frekuensi rendah antara 0-100 Hz dan arus frekuensi menengah didalam jaringan permukaan. lapisan otot yang lebih dalam serta segmen bergerak menjadi sasaran dari arus. arus frekuensi menengah sekitar 4.X 106 Hz hingga gelombang pendek 5 X 107 Hz. Pada saat ini tindakan elektrik terhadap pasien rawat jalan dapat dilakukan. mungkin timbul nyeri. Sistem saraf vegetatif akan terpengaruh dan secara sekunder pembuluh akan berdilatasi. Frekuensi tiap-tiap arus berbeda hingga 100 Hz. Pada terapi arus interferensi. Kekuatan gelombang tinggi superfisisal dipancarkan lebih dalam dengan pengurangan pada jaringan menjadi kekuatan gelombang rendah. Namun demikian peningkatan sirkulasi jaringan disekeliling diskus intervertebral jelas memperbaiki metabolismenya. Masingmasing amplituda dan frekuensi akan dirubah oleh badan menjadi frekuensi yang mempunyai efek biologi. Pada fisika yang disebut frekuensi rendah adalah antara 1-5.000 Hz. Frekuensi menengah dan rendah digunakan sebagai arus interferensi. Arus listrik digunakan secara bipoler dengan dua elektroda yang berarti bahwa energi maksimum akan dikonsentrasikan pada elektroda dan akan menurunkan pergerakan arus melalui jaringan. Terapi Manual . Karenanya arus dapat diarahkan ke jaringan sasaran dalam frekuensi dan kekuatan yang disisi lain tak dapat dimasukkan secara langsung.000 Hz diarahkan pada badan. Arus frekuensi rendah (15-250 Hz) mempunyai pengaruh pada sel dan arus searah digunakan pada galvanisasi serta arus bolak balik digunakan pada faradisasi. tanpa menyebabkan kerusakan apapun disini atau merangsang timbulnya nyeri pada kulit. Penggunaan arus interferensi dalam pengobatan nyeri pinggang bawah saat ini meningkat melebihi beberapa pengobatan lainnya. namun pada keadaan biologik dibuktikan bahwa yang mempunyai nilai terapeutik adalah antara 15-250 Hz. Ini secara keseluruhan berbeda bila dibanding dengan arus frekuensi rendah yang semula digunakan karena kesamaannya dengan frekuensi potensial elektrik yang terdapat pada jaringan. dengan akibat penambahan sirkulasi jaringan dalam. Pada degenerasi diskus intervertebral. Pada peningkatan penggunaan arus. Pada sindroma diskus intervertebral. Belum ada penelitian tentang efek suatu arus terhadap metabolisme diskus intervertebral.

reduksi tekanan intra diskal hingga menormalkan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi. Sekali edem berkurang. Ini mungkin dapat diperbaiki dengan mobilisasi dikolam atau terapi manual. Perubahan tinggi diskus intervertebral akibat degenerasi berakibat perubahan posisi sendi-sendi ruas tulang belakang. Hasil yang baik telah dilaporkan banyak penulis sejak Erlacher (1951) hingga Ulrich (1974). Traksi Hasil baik sering didapat pada terapi sindroma pinggang bawah dengan traksi. Pada protrusi yang besar. Setelah traksi yang berhasil. Miografi-elektro otot lumbar tidak dapat menjelaskan perubahan selama traksi (Rothenberg dan Sanford 1953). mielogram tetap tak berubah. Dengan terdapatnya penambahan volume diskus intervertebral (Kramer 1973). Armstrong (1965) menjelaskan efek isap sekunder karena traksi. otot lumbar atau sendi intervertebral. inklinasi lateral atau torsi dari tulang belakang lumbar (Stoddard 1961. tonus dan kontraksi otot. Kembalinya kekeadaan sendi yang normal adalah sasaran terpenting pada rehabilitasi penderita nyeri pinggang muda usia. Karenanya tindakan ini tidak dianjurkan. Efek terapeutik traksi tergantung jumlah elemen yang terkena. Tindakan ini seperti halnya terapi hidra semakin populer. Maigne 1970). otot tulang belakang lumbar bereaksi refleks dengan berkontraksi dan tahanan otot tergantung pada elastisitas . terutama bila disebabkan oleh perpindahan jaringan diskus intervertebral. Reaksi refleks otot dapat dikurangi dengan melakukan traksi secara berkala. 8. Injeksi Lokal . Pada traksi. merupakan faktor yang paling penting pada traksi. nyeripun berkurang dikarenakan cukup ruangan untuk radik saraf.Pada kebanyakan kelainan diskus intervertebral merupakan kontra-indikasi. Tindakan ini hanya diizinkan bila tahap akut sudah berlalu dan bila sudah diketahui bahwa mobilisasi sudah harus dilakukan serta adanya perbaikan dari keadaan otot. Tidak ada cara yang khas untuk memastikan apakah nyeri sakral berasal dari protrusi diskus intervertebral. tenaga yang diperlukan untuk merobek ligamen longitudinal posterior tidak besar. Traksi tulang belakang lumbar termasuk pelebaran area intervertebral termasuk semua elemen fungsional segmen bergerak. 7. Risiko timbulnya protrusi atau prolaps bisa timbul karena manipulasi yang berupa kifosis. Hanya beberapa milimeter yang diperlukan merubah posisi antara diskus intervertebral yang mengalami perpindahan dan reseptor nyeri.

Kehilangan sensibilitas terbatas pada daerah S3 dan S5 dan menimbulkan anestesia sadel. Cairan injeksi (kortikosteroid) dapat mencapai daerah lebih tinggi bila pelvis ditinggikan. Berbagai anestetik dapat digunakan. Pada desensitisasi radik saraf harus dicegah lingkaran setan iritasi mekanik. injeksi lokal dan intradiskal terbukti memberikan hasil baik. . dan nyeri akibat perlekatan dan jaringan parut pasca operatif dapat dikurangi. Injeksi Epidural Kaudal Rongga paradural lumbosakral dicapai melalui inferior via hiatus sakral dengan jarum panjang. Kemungkinan perubahan pada pembengkakan inflamatori struktur saraf terbatas. Akar saraf dapat direndam oleh anestetik atau obat antiinflamatori (Kortison). Saraf spinal dan ramus meningeal yang kembali kekanal spinal dapat dicapai dengan injeksi paravertebral. Reischauer (1949 dan 1961) menyatakan bahwa merendam radik saraf bersangkutan dengan anestesi lokal akan mengurangi iritabilitas. Anestetik. Bagaimanapun rasa tidak enak dan nyeri dapat menetap atau meningkat. otot pinggang dan ligamen intervertebral. karenanya reaksi saraf dalam kanal spinal dapat diobati. antiflogistik dan anti-inflamatori mempengaruhi fungsi segmen lumbar. Dengan cara ini spasme otot dapat diobati dan pada saat yang sama seluruh segmen bergerak akan dipengaruhi oleh rami dorsal saraf spinal yang telah diinfiltrasi. namun berguna untuk memakai yang mempunyai efek depot. Bila mielografi atau operasi tidak akan dilakukan segera.Umumnya terjadi perbaikan spontan pada degenerasi diskus inter-vertebral. Difusi akan berperan mempengaruhi radik saraf dan reseptor pada ligamen longitudinal posterior. serta konsekuensi yang diakibatkannya berupa iritasi karena penyempitan rongga yang berat. berbagai cara dapat digunakan. Obat dapat disuntikkan kerongga epidural atau sub-arakhnoid. Injeksi Paravertebral Anestetik lokal dapat disuntikkan keforamina intervertebral. Injeksi paraspinal lebih diutamakan untuk menginfiltrasi kapsula sendi intervertebral. Injeksi dapat pula dilakukan pada diskus intervertebral. Akar saraf berdekatan pada yang saat sama menjadi teranestesi akibat difusi suntikan dan tidak jarang terjadi paresis. Anestetik lokal diberikan dekat tulang belakang (para-spinal) atau didaerah foramina intervertebral (paravertebral). pembengkakan inflamatori. Digunakan bila bagian bawah pleksus sakral harus disuntik. Injeksi Epidural Posterior Sumber rasa tidak enak dan gejala lainnya dicapai dengan memasukkan jarum kerongga epidural. Sesuai keadaan anatomi.

Jadi secara keseluruhan berbeda dengan cara penyuntikan lain. Difusi dalam kantung dura. Terjadi pengerutan. Komplikasi menjadi serius pada 3. perubahan degeneratif dapat terjadi pada cord tulang belakang. Sendi-sendi intervertebral dan foramina inter-vertebral terkena dan menimbulkan gejala. Penyuntikan diskus intervertebral lumbar merupakan tindakan terapeutik. Bahkan dosis kecil khimopapain yang mencapai rongga sub-arakhnoid menyebabkan perdarahan terutama terjadi bila dilakukan infus intravena (Sheally 1967.4% hingga sebagian ahli enggan menggunakannya (Smith dan Brown 1967). karenanya tekanan berkurang terhadap radik saraf (dibuktikan banyak penulis. perlunakan dan perpindahan jaringan diskus intervertebral. Setelah pemberian khimopapain terjadi penurunan jarak intervertebral. Hasil yang didapat 75% baik. Indikasi utama adalah sindroma radik saraf khronik dan sindroma pasca diskotomi. saraf dan otot. disini injeksi dapat langsung beraksi pada jaringan diskus intervertebral. Karenanya obat yang disuntikkan harus aman . Saat ini kepentingan klinik tertuju pada penyuntikan khimo-papain yang akan mendekomposisi kartilago. Harus selalu ingat bahwa bila melakukan penyuntikan intradiskal. Dengan menyuntikkan suatu substansi khondrolitik atau penurun tekanan. terjadi kolaps dan penurunan tinggi intervertebral. jarum mungkin tidak mencapai sasaran yang benar. 5% sedang dan 9% buruk. Proteoglikan akan terurai menjadi keratan sulfat khondroitin sulfat serta proteo-glikan sendiri.Injeksi Intratekal Terutama kortikosteroid. Smith 1964 hingga Watts 1975). dapat terjadi perubahan pada volume. Bila terjadi kehilangan cairan dan material diskus intervertebral. kerusakan pembuluh. Dideposit pada rongga subarakhnoid lumbar. Sudah dibuktikan bahwa khimopapain pada pemberian lokal menyebabkan nekrosis jaringan. Sussman 1972). Injeksi Intradiskal Berbeda dengan tindakan injeksi lainnya. Komplikasi tersering adalah renjatan anafilaktik (Finnesson 1973). Depolimerisasi akibat rangsang kimia dari jaringan diskus intervertebral (khemonukleolisis) menyebabkan percepatan perubahan karena usia pada diskus intervertebral dengan membuang makromolekul diskus intervertebral. Ini menyebabkan disposisi obat ditempat salah atau obat mungkin bocor melalui perforasi anulus fibrosus kerongga epidural atau subarakhnoid dimana kemampuan melarutkan akan menyebabkan kerusakan. Keuntungannya obat tidak melalui sawar darah-cairan spinal hingga kadarnya dapat lebih tinggi dibanding pemberian oral atau parenteral. Setelah injeksi ekstradural. dan akhirnya radik saraf dapat dicapai dan efek antiflogistik serta anti edema juga tercapai.

Bila ada kelemahan otot gluteal dan betis sebagai tanda sindroma S1. kehilangan fungsi menetap akan terjadi.mengingat jenis aksinya berhubungan dengan jaringan saraf. Lindner 1975). sedikit sekali yang dioperasi. Pada paresis akut ekstensor kaki atau jari atau kuadriseps. Ada obat lain dengan efek anti-inflamatori dan anti-edem yang dapat digunakan dengan lebih aman.1%. Diskotomi Lumbar a. Gangguan motor yang telah berlangsung lama tanpa gejala berat lainnya tidak pasti membaik dengan operasi karena dekompresi lambat radik saraf tidak akan mengurangi paresis. terutama bila gejala lainnya sangat ringan. 1. Relatif . Karenanya tekanan onkotik intradiskal berkurang (Kramer dan Laturnus 1975). Haberland dan Mitis 1967). Ia mempunyai daya gabung besar terhadap substansi dasar yang kaya khondroitin sulfat. diharuskan operasi segera. Tabel 4 Indikasi Operasi Diskus Intervertebralis Lumbar ------------------------------------------------------A. Mukopolisakharida yang bertanggung jawab atas hidrasi jaringan diskus intervertebral dinetralkan oleh Trasylol (Torok 1972). intramuskuler atau intratekal. Operasi hanya dilakukan bila nyeri hebat tidak berkurang dengan tindakan konservatif. Akhir-akhir ini digunakan Aprotinin (Trasylol) (Kramer 1974. Absolut 1. karenanya perlu dipikirkan dengan serius apakah pasien harus dioperasi atau dirawat konservatif. Trasilol adalah polipeptida yang ditolerasi baik dalam dosis tinggi dan dapat digunakan intravena. Sindroma kompresi kauda ekuina 2. Indikasi Hasil operasi diskus intervertebral lumbar beragam. B. Paresis akut otot-otot penting B. Tindakan Bedah Dibanding jumlah pasien yang ditindak konservatif. Jenis operasi yang paling sering dilakukan adalah membuang jaringan diskus intervertebral yang mengalami perpindahan yang menekan radik saraf dan disebut diskotomi. diskotomi tidak perlu. Indikasi absolut untuk operasi adalah sindroma kauda ekuina dengan hilangnya fungsi berak dan kencing. Reaksi alergik rendah (0. Bila operasi tak dilakukan dalam beberapa jam.

pasien umumnya meminta operasi. Hakelius melaporkan hubungan antara temuan klinik dan temuan patologik operatif sebesar 63 persen. atau fragmen diskus yang mengalami inkarserasi ditemukan dibawah selaput tipis dari anulus fibrosus dorsal atau dibelakang ligamen longitudinal posterior. Usia pasien harus dipikirkan dan pada penderita berusia lebih dari 60 tahun operasi hanya dilakukan pada kasus terpilih dan perbaikan spontan sering terjadi. Gejala-gejala radik dan nyeri sakral mungkin berkurang selama periode panjang dari tindakan konservatif namun bila tulang belakang menjadi subjek beban. Serangan berulang nyeri pinggang bawah dan siatika dengan distribusi segmental tanda-tanda neurologik ------------------------------------------------------Indikasi relatif adalah bila disamping tanda-tanda dan gejala-gejala objektif terdapat faktor penting lainnya yaitu durasi gejala. Sindroma radik saraf khronik dengan distribusi nyeri dan tanda-tanda neurologik segmental 3. hasil tindakan sebelumnya. Bila . hal ini bukanlah satu-satunya hal yang menentukan. Adalah mengherankan bahwa gejala berat akibat kompresi radik saraf dapat menghilang selama tindakan konservatif adekuat dalam waktu singkat. Gejala lain seperti gangguan refleks dan hipestesi jarang mengganggu pasien. Bila tidak ada perbaikan dengan pasien ditempat tidur dan memakai analgesik terus menerus. Bila gejala menetap setelah 4-6 minggu tanpa tanda-tanda regresi. Keadaan sosial juga penting dan terutama bila bekerja dengan membebani tulang belakang. Nyeri dan deformitas menyebabkan pasien menghendaki tindakan yang dapat mengubah keadaan. Pada keadaan ini perlu dilihat apakah perbaikan mungkin didapat dengan tindakan konservatif termasuk injeksi lokal dan intra-diskal serta karenanya terjadi perbaikan dimana pasien dapat bekerja kembali. Keputusan operasi pada kasus perbatasan adalah mielogram positif dan keinginan mutlak pasien. Syarat tindakan bedah adalah pasien telah menjalani tindakan konservatif termasuk istirahat tempat tidur ketat. Walau setiap penentuan praoperatif sangat tergantung pada pemeriksaan diagnostik radiografik. Sindroma radik saraf yang berat dan terusmenerus serta intraktabel 2. Saat operasi paling sering dijumpai prolaps. kondisi mental penderita. Karena komplikasi setelah operasi. operasi diindikasikan. Hirsch dan Nachemson melaporkan hubungan antara tanda neurologik objektif dengan herniasi diskus sebesar 55 persen. indikasi operasi tidak boleh terlalu luas. Sindroma radik saraf khronik dengan gangguan neurologis ringan atau tanpa sama sekali adalah kasus perbatasan untuk jenis tindakan. gejala mungkin timbul lagi. Data klinik adalah sama pentingnya dalam membuat keputusan. kondisi sosial.1. usia.

Ini berlaku juga pada " hipokhondriak tulang belakang ". Atas hal tersebut. Harus selalu diingat bahwa hubungan yang erat harus ada antara temuan klinik objektif dengan temuan radiografik positif dimana yang pertama adalah penyebab dari yang terakhir.straight leg-raising test digabung dengan temuan neurologik objektif. Nyeri sakral terus menerus tanpa penjalaran bukanlah indikasi operasi diskus intervertebral. tidak dapat dipastikan apakah suatu kelainan radiografik adalah penyebab gejala. Diskotomi hanya dilakukan bila diagnosis sudah tegak. analisis harus hati-hati dilakukan hingga trauma operasi tak harus terjadi pada laminektomi yang tidak perlu. Tanpa tiadanya korelasi. Kontra-indikasi Diperoleh sekunder dari indikasi. kegagalan terutama adalah karena faktor diagnostik dari pada tehnik. Istilah ini tidak seluruhnya benar karena yang betulbetul "false positive" menunjukkan betul-betul tiada kelainan dan harus dibuktikan dengan eksplorasi operatif yang negatif. b. Penekanan yang berlebihan pada satu dari parameter tersebut dan mengabaikan dua lainnya akan berakibat kegagalan operatif. Tes laboratori seperti laju endap darah serta perubahan radiologi harus benar-benar dianalisa sebelum operasi. Operasi tidak akan memecahkan masalah dan dikatakan :"Jangan sekali-kali melakukan operasi pada penderita yang dalam perawatan psikhiatrik". ketepatan diagnostik meningkat hingga 95 persen. Mencegah operasi dianjurkan pada diagnosis yang belum betul-betul jelas karena sindroma pascaoperasi yang parah bisa terjadi. ketepatan diagnostik meningkat hingga 86 persen. Tabel 5 Kontraindikasi Diskotomi Lumbar ---------------------------------------------------------------Nyeri pinggang bawah tanpa penjalaran Diagnosis yang belum tegak Pasien tidak berkehendak Hipokhondriak tulang belakang --------------------------------------------------------------- -- . Bila mielografi larut air positif digabung dengan straight leg-raising test dan defisit neurologik objektif. Pada sindroma radik yang belum jelas. Siatika berat dapat disebabkan tumor atau spondilitis. Temuan radiografik positif pada penderita tanpa gejala disebut "false positive". Pada keadaan ini dilakukan fusi.

Pemberitahuan Kepada Pasien Sebelum operasi diharuskan memberitahukan pada penderita bahwa operasi hanya mengobati siatika dan kelainan diskus intervertebral tetap ada serta akan memberi gejala yang sama seperti sebelumnya. d. Dengan mengabaikan kenyataan bahwa kumatnya gejala mungkin terjadi setelah tindakan konservatif maupun operatif. Pasien kelompok B (tabel 4) dan tidak merasa perlu untuk dioperasi jangan dibujuk karena sangat kecil jaminan yang dapat diberikan atas perbaikan yang sempurna dan harus dijelaskan bahwa setelah operasi keadaan mungkin tetap atau malahan memburuk. namun dapat mempertahankan venous return serta juga respirasi abdominal dan dada yang normal. Kulit disayat diatas prosesus spinosus tulang belakang lumbar bagian bawah. Kifosis maksimal tulang belakang lumbar dan penurunan kecenderungan atas perdarahan epidural memberikan kondisi operasi yang baik. Juga diberitahu akan rasa tidak nyaman dan nyeri dapat timbul lagi tidak hanya dari segmen berdekatan namun juga dari segmen yang dioperasi. Arkus ruas tulang belakang dicapai dan kanal spinal dicapai melalui ligamen flavum yang dibuka. Fasia disayat serta otot lumbar disisihkan dan diretraksi. Posisi ini menyebabkan beberapa hambatan bagi anestetis. Analisa gas darah serta tekanan vena sentral tidak menunjukkan perbedaan terhadap nilai normal (Ghazvinian dan Kramer 1974). c. Diskotomi Lumbar Pengangkatan fragmen diskus intervertebral yang mengalami dislokasi adalah operasi standard. 106 dari 3000 ahli bedah saraf dan bedah tulang pernah mengalaminya (De Saussure 1959). tidak berarti bahwa penolakan harus dilakukan terhadap kedua jenis tindakan tersebut. Operasi dapat dilakukan pada posisi miring atau telungkup. Mungkin juga hambatan penyembuhan luka atau akibat dari anestesi. Dalam usaha mendapatkan radik saraf lebih jelas.Secara diagnostik kasus ini dapat ditemukan karena perbedaan yang besar antara gejala subyektif dan tanda-tanda obyektif. Posisi terbaik antaranya adalah telungkup pada lutut yang ditekuk. harus diberitahukan bahwa cedera operasi mungkin mengenai radik saraf dan dura. Anestesi umum dengan intubasi. adakalanya perlu membuang sebagian arkus ruas tulang belakang (laminotomi) atau membuang in toto pada . Disebut flavektomi atau fenestrasi. Kadang-kadang pembuluh besar abdominal mengalami perforasi. Karena komplikasi mungkin timbul akibat operasi.

Inklinasi lateral dan kifosis tulang belakang lumbar harus dicegah karena penyembuhan luka akan terganggu. jaringan diskus intervertebral yang mengalami fragmentasi juga dibuang dalam usaha mengurangi rekurensi. Perawatan Pasca Operatif Profilaksi umum terhadap kemungkinan trombo-embolisme adalah mobilisasi segera yang dimulai hari kedua atau ketiga pasca operasi. namun perlu betul-betul menentukan lokasi prolaps pra-operatif. ada komplikasi khusus diskotomi namun jarang terjadi. Karena kifosis lumbar tak tercegah saat duduk. Disamping komplikasi anestesi. f.29%. anulus fibrosus dan tulang rawan. Bila pengangkatan radikal dari diskus intervertebral dilakukan.satu sisi (hemi laminektoni). Mikroskop operasi menyederhanakan dan memperbaiki teknik operasi. Adalah lesi radik saraf. maka tidak diizinkan duduk kecuali pada posisi . Pembuangan arkus tulang belakang tidak merubah perjalanan kelainan diskus intervertebral degeneratif (Schulitz 1970. e. masalah penyembuhan luka dan trombo-embolisme pasca operatif yang biasa terjadi pada operasi. Bila terjadi. Pasien harus bergerak seperti tahap awal lumbago akut dengan tulang belakang lumbar yang terfiksasi. Kemampuan biomekanik tulang belakang lumbar tidak terganggu oleh laminektomi sepanjang sendi-sendi intervertebral tetap intak. dianjurkan mobilisasi dan pembebanan dilakukan bertahap dan menggunakan penyangga ketiak seta bebat traksi. balikkan pasien. lakukan laparotomi. Penggantian jaringan yang dibuang dengan implan buatan tidak memberi keuntungan. Fragmen mengandung baik nukleus pulposus. rawat pembuluh tersebut. Menurut Oppel dan Schramm (1976) sekitar 0. Defek akibat operasi pada saatnya menyembuh dengan jaringan parut. Tidak ada kasus dari lesi kauda. kauda dan dura intra-operatif yang kelak dapat menyebabkan meningokel atau sinus cairan spinal. Salah satu komplikasi serius adalah perforasi pembuluh besar abdominal seperti arteri dan vena iliak. namun tidak ada kontraindikasi mobilisasi segera. Kemampuan biomekanik segmen tidak boleh terganggu dan pembebanan aksial tulang belakang sangat berbahaya. Komplikasi Sedikit pada operasi diskus intervertebral. dan fisioterapis mengajar pasien bagaimana melakukan gerakan selama awal masa pasca operasi. Setelah prolaps dibuang. Finnesson 1973). namun ini tidak penting. Akar saraf diretraksi dan jaringan diskus intervertebral yang prolaps atau membengkak dibuang. Bagian posterior diskus intervertebral mungkin dibuang secara radikal.

Thomalaske (1977) melaporkan bahwa faktor psikis menyebabkan pasien cenderung mengalihkan nyeri yang dideritanya sebagai akibat operasi. mempunyai kesempatan atas hilangnya siatika secara lengkap sebesar 90. Hasil buruk pada 10%. Temuan operatif: prolaps masif yang dapat dibuang akan memberi hasil lebih baik dibanding protrusi atau pembengkakan kecil dari jaringan diskus intervertebral. Bila jahitan sudah diangkat.4 persen untuk mendapatkan adanya perbaikan. 2. menarik dan membungkuk. Spangfort juga menemukan bahwa derajat herniasi diskus merupakan faktor yang paling penting yang menentukan hasil operasi setelah diskektomi. g. penderita bergerak lebih aktif dan bila luka sudah lebih kuat gerakan ditingkatkan lagi. h. Usia: penambahan usia memperburuk hasil. Secara spesifik. Pengangkatan prolaps total memberikan hasil terbaik. Riwayat penyakit: riwayat gejala singkat memberikan hasil lebih baik dibanding yang sudah berjalan beberapa tahun. sedang) dijumpai pada 80%-90%. yang akan diuntungkan oleh operasi dekompresif. Rasa tak enak dan nyeri karena degenerasi diskus intervertebral tak dapat dihilangkan oleh diskotomi. Rasa Tidak Nyaman Pasca Operatif Sindroma Pasca Diskotomi . baik. Kebanyakan pasien mengalami pengulangan nyeri sakral dan akan memberat pada saat mengangkat beban. Hasil menggembirakan (sangat baik. Pada operasi diskus intervertebral yang sangat luas. Disimpulkan bahwa tindakan konservatif harus diambil selama mungkin sebelum suatu operasi diputuskan. Siatika yang disebabkan protrusi atau pembengkakkan akan memberikan hasil baik pada 40-65%.5 persen berkesempatan untuk pulih sebagian.3 persen setelah diskektomi dan setidaknya 99. penderita dimobilisasi dengan bantuan pengikat pelvik.bersandar 450. Dari hal tersebut jelas bahwa faktor kunci dalam menduga hasil operasi adalah kompresi neural yang pasti. Hasil Bervariasi. Tingkat keberhasilan berdasar pengurangan gejala radikular. Gejala radikular menetap diakibatkan: 1. disaat lain pada penderita dengan eksplorasi negatif hanya mempunyai kesempatan 38. pasien dengan herniasi sangat besar yang pasti menyebabkan penekanan neural. Terdapat perbedaan indikasi serta penilaian sangat subjektif. Spangfort (1972) membuktikan bahwa hasil berkaitan dengan temuan operasi. 3.

gejala dapat hilang spontan dan dapat diobati dengan berhasil secara stimulasi elektrik dan blok simpatetik lumbar. yang timbul sebagai bagian dari sindroma S1. Tabel 6 Penyebab Nyeri yang Menetap atau Berulangnya Siatika setelah Operasi Diskus Intervertebral Lumbar --------------------------------------------------------------Dekompresi radik saraf tidak cukup Berulangnya prolaps pada segmen yang sama Prolaps atau protrusi pada segmen lain Sindroma pasca diskotomi Infeksi dalam ---------------------------------------------------------------Gejala lain pada sindroma pasca diskotomi adalah tanda-tanda dari sistem vegetatif seperti kehilangan temperatur (tungkai siatik dingin) dan perubahan sirkulasi dan juga kram betis. Lebih lanjut. Sebagai pegangan. Disebut sindroma pasca diskotomi. arakhnoiditis adhesif tahap 1. berulangnya prolaps mungkin menyebabkan nyeri pasca operasi dan pembentukan perlengketan yang menyebabkan reoperasi menjadi sulit. yang bisa menetap atau hilang setelah diskotomi. Bila dekompresi radik tidak sempurna. Timbulnya prolaps atau protrusi pada segmen yang bukan dioperasi bukanlah karena operasi primer. dikarenakan perlengketan serta jaringan parut pada radik-radik saraf dan dura. Satu kelompok yang perlu perhatian khusus adalah menetapnya rasa tidak enak atau nyeri pasca operasi. 4. infeksi dalam dan diskitis yang khas dengan peninggian suhu dan akhirnya dapat diperlihatkan secara radio-grafi. Arakhnoiditis lokal pasca operasi mungkin timbul dan menurut Burton (1977) dibagi empat tahap yang tumpang tindih: 1. -- .Hanya kadang-kadang pasien terbebas secara sempurna dari gejala setelah operasi diskus intervertebral (tabel 6). juga tersisa nyeri dari sindroma radik saraf. Hipestesi. Alasan lain untuk nyeri pasca operasi adalah gagalnya mengenal tingkat yang tepat. arakhnoiditis adhesif tahap 2. refleks dan gangguan motor akan pulih dalam beberapa bulan. Gejala radik menetap yang serupa dengan gejala sebelum operasi menandakan efek penyebab dari tekanan mekanik. radikulitis. arakhnoiditis. nyeri pasca operasi akan timbul. Ada beberapa alasan untuk timbulnya nyeri radik saraf dan deformitas. 3. 2. Disamping nyeri dari luka. Keadaan tersebut didiagnosa dengan mielografi dan pada operasi yang berhasil.

Oppel dan Schramm (1976) menemukan bahwa pada penderita dengan komplikasi pasca operasi ditemukan sejumlah besar kelainan psikik yang tak tampak sebelum operasi namun tampaknya dirangsang oleh penyakitnya serta tindakannya. menimbulkan masalah sulit karena tindakan konservatif sering gagal dan pasien kesulitan kembali pada pekerjaannya. Sedikit membungkuk dengan kifosis tulang belakang lumbar akan memperberat nyeri dan deformitas. Spondilodesis adalah tindakan sekunder khusus pada sindroma diskus inter-vertebral. Makin banyak manipulasi selama operasi. radik-radik saraf dan kanal spinal hanya memungkinkan gerakan bebas nyeri yang terbatas. spondilodesis dikombinasikan dengan eksplorasi radik saraf. Pada pasien muda sehat dengan sindroma pasca diskotomi. Ini meninggikan kepekaan terhadap gangguan mekanik. Pita jaringan ikat bekerja seperti gergaji terhadap radik saraf. yang mungkin menimbulkan gejala. membawa bahaya akan terbentuknya jaringan parut lebih lanjut dengan berlanjutnya rasa tidak enak dan nyeri. Sindroma pasca diskotomi khas dengan penjalaran nyeri bilateral poliradikuler dan hipestesi. Indikasi dan tehnik fusi lumbar untuk kelainan diskus inter-vertebral degeneratif berubah dalam tiga dekade terakhir. Perlengketan yang terbentuk antara kantung dura. Teknik operasi yang baik akan mengurangi risiko sindroma pasca operasi walau tidak menghilangkannya sama sekali. Tujuan pengobatan adalah membuat stabilisasi tulang belakang yang dapat dicapai dengan fusi. makin luas reaksi jaringan akan terjadi. Komponen lain kelainan diskus intervertebral tidak dipengaruhi oleh tindakan ini hingga ketidakstabilan intervertebral tetap adanya. Mula-mula fusi merupakan prosedur umum namun karena hasilnya tidak terlalu baik karena tingginya tingkat nonunion. membersihkan radik saraf dari jaringan parut. Operasi untuk sindroma pasca diskotomi seperti laminektomi luas. Tidak ada indentasi lokal terhadap medium kontras hingga akan merupakan kontra-indikasi diskotomi kedua pada tingkat bersangkutan. Pengangkatan jaringan diskus intervertebral yang . Kantung radik melekat pada radik saraf dan tidak dapat diperlihatkan. Fusi Pada diskotomi penekanan pada radik saraf dibuang. Mielografi menunjukkan jaringan ikat yang mempersempit kantung dura. neurolisis. Umumnya rencana tindakan yang paling diterima adalah neurolisis digabung dengan tandur lemak pedikel (Gill 1979). Teknik operasi karenanya harus teliti dan perdarahan harus ditekan dengan koagulasielektro sebaik mungkin.Rongga subarakhnoid dan epidural menjadi massa jaringan parut yang besar yang akhirnya menyebabkan iritasi terus menerus terhadap radik-radik saraf. C.

dan fusi menjadi prosedur sekunder. Adalah mengherankan bahwa setelah eksisi radikal diskus intervertebral dan dengan segmen yang tak stabil. fusi tidak diindikasikan. Sebagai pembantu diagnosis. Prosedur yang diterima tampaknya adalah fusi . Osteo-arthrosis mungkin timbul pada segmen. kebebasan sempurna dari rasa nyeri dan tidak enak dapat disaksikan. Tidak perlu dikatakan bahwa operasi harus didahului mielografi. Mungkin juga didapat osteo-artrosis yang terbatas pada sendi intervertebral lumbar (spondiloarthrosis) dengan nyeri pinggang bawah dan pada tiap keadaan ini fusi diindikasikan. Bosworth (1945) menganjurkan tandur clothes-peg (tandur H). Indikasi fusi lumbar (tabel II. sendi dapat disuntik dengan anestetik lokal dimana nyeri khas akan hilang. sedikit rasa tidak enak yang timbul setelah operasi. Keadaan ini dapat timbul bila pada hemilaminektomi bagian medial sendi intervertebral dibuang. dan penderita dengan fusi berhasil sempurna mungkin tetap menderita nyeri. tanpa bahaya yang terlalu besar. Hanya pada kasus-kasus tersebut operasi dilakukan.berpindah atau melunak juga menjadi prosedur yang dianjurkan dalam hubungannya dengan dekompresi radik saraf. dimana kanal spinal dapat dibuka. namun kemudian hari mungkin menjadi tindakan satu-satunya. Nyeri sakral menetap setelah diskotomi adalah tanda ketidakstabilan segmen akibat degenerasi diskus intervertebral dan pengangkatan operatif diskus intervertebral. Nyeri dapat dikurangi dengan cast plastik yang baik. dengan peningkatan ketidak-stabilan segmen objektif. Spondilodesis anterior intercorporal seperti yang dianjurkan Harmon (1963) tidak memungkinkan eksplorasi kanal spinal secara bersamaan.7) adalah nyeri sakral terus menerus dan tak tertanggungkan. Kesimpulannya diduga setelah diskotomi prognosisnya adalah tanda tanya. Ini harus digabung dengan eksplorasi radik saraf. Albee (1911) menganjurkan tandur tibial. Beberapa tehnik sudah dikemukakan untuk fusi lumbar. Lagipula pada pasien dengan spondilodesis yang gagal. Tabel 7 Indikasi Fusi pada Sindroma Lumbar ------------------------------------------------------Nyeri sakral hebat menetap pasca diskotomi Segmen takstabil serta nyeri yang diakibatkannya Osteokhondrosis serta spondilosis dengan nyeri pinggang bawah berat ------------------------------------------------------Bila siatika diakibatkan prolaps atau prolaps yang berulang setelah diskotomi. Tehnik ini sering berakibat nonunion.

Karena hanya satu segmen yang berfusi. 1963). Setelah fusi pasien harus memulai aktifitas secara bertahap perlahan karena pada setiap sisi fusi stres mekanik meninggi. Fusi dapat dilakukan walau pada laminektomi. Brussatis 1976). Duduk pada kursi yang dalam dan tidak nyaman tidak diperkenankan. Schmorl dan Junghanns (1968). Polster dan Hoefert (1974) memperlihatkan pada percobaan bio-mekanik bahwa spondilodesis posterolateral memberikan stabilitas terbaik. fusi lateral dengan tandur cancellous bone menjadi populer (Wiltse 1968. diskus intervertebral diinsisi serta tandur corticocancellous dari krista iliaka dapat diinsersikan kedalam ruas tulang belakang . pasien harus memakai cast plester. Setelah hemilaminektomi. Hohmann (1974) dan Exner (1974). . pasien bisa keluar dari tempat tidur pada hari ketiga setelah operasi tanpa fiksasi apapun. Stabilitas lebih masuk akal dari pada spondilodesis interkorporal. Daerah posterolateral lebih baik sebagai tempat fusi karena berbagai alasan: 1. Bila beberapa segmen difusikan. Namun pasien harus bangkit "en bloc" hingga tulang belakang lumbar tidak kifosis (Mau 1974). Spondilodesis adalah rantai terakhir sepanjang rantai terapeutik dan diharap memenuhi semua harapan yang sangat optimistis. Nyeri yang dikira akibat mobilitas segmen berkurang dengan stabilisasi dan terutama atas foramina intervertebral. dan rasa nyeri serta tidak enak mungkin bertambah pada daerah ini. biasanya memakan waktu 3-4 bulan. De Palma dan Rothman 1970. Terdapat kesulitan teknis pada tindakan ini karena daerah yang sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk menarik dura dan radik saraf. Revaskularisasi dan reosifikasi pada daerah ini lebih baik dari aspek medial arkus ruas tulang belakang. Tingkat terjadinya pseudo-artrosis sangat kecil bila dibandingkan dengan metoda fusi lain (McNab dan Dall 1971). Diperkirakan fusi yang cepat pada operasi skoliosis dengan tandur cancellous bone memberikan kegunaan yang sama pada fusi tulang belakang lumbar. Beberapa tahun terakhir. seperti misalnya lumbosakral.interkorporal posterior menurut Cloward (1953. McNab dan Dall 1971. Mau 1974. Cancellous bone digunakan diatas prosesus transversus dan mencakup artikulasi intervertebral. Aspek posterior ruas tulang belakang harus diperlebar. Finneson (1973). 3. Brace ini harus dipakai hingga fusi terjadi. Karenanya menjadi blok tulang yang memanjang diatas sendi dan prosesus transversus. 2. Selama operasi terdapat kesempatan membuka kanal spinal dan bisa melihat radik saraf serta juga untuk membuang jaringan diskus intervertebral.

perlu mempertahankan hasil yang didapat dari berbagai prosedur dengan mencegah terjadinya kembali protrusi jaringan diskus intervertebral. Secara pasif dapat digunakan ortoses. Dengan pembatasan pergerakan. Diatas itu semua. Pasien selama fase pertama rehabilitasi harus dicegah mengangkat objek yang berat serta mengangkat saat membungkuk dan juga mencegah gerakan torsi tulang belakang. Perlu mendapatkan ko-operasi baik dari pasien. dan menurut Schmorl dan Junghanns (1968) stres mekanikal yang memperberat harus disingkirkan. tulang belakang lumbar menjadi distabilkan dan terpaku pada pelvis oleh otot spinal dan karenanya tidak mudah ditekuk hingga lebih berperan sebagai pilar penyangga. perlu menstabilkan segmen secara aktif dan pasif. Fisioterapi berperan penting dalam profilaksi dan rehabilitasi sindroma lumbar. Pada kelainan diskus intervertebral degeneratif tak dapat diperkirakan bahwa jaringan akan menjadi stabil sendiri secara cepat serta spontan. Mempertahankan suatu posisi posterior yang tidak menyenangkan mungkin berakibat berulangnya gejala dan karenanya perlu menyarankan agar penderita tetap pada posisi berbaring. Dalam mencegah agar segmen tidak mengalami dislokasi lagi serta jaringan intradiskal tidak bergeser lagi. Tulang belakang dipertahankan pada posisi netral hingga pergeseran intradiskal yang baru dapat dicegah. berdiri dan duduk yang benar.PROFILAKSI DAN REHABILITASI PADA SINDROMA DISKUS INTERVERTEBRALIS LUMBAR Setelah mendapatkan sejumlah keberhasilan pengobatan gangguan fungsional sistem lokomotif. namun stabilisasi lebih lanjut dapat dengan penguatan otot-otot. . Jaringan diskus intervertebral yang mengalami degenerasi dipertahankan dalam keadaan setenang mungkin. berulangnya iritasi mekanik atas radik saraf harus dicegah. Fleksi kedepan tulang belakang lumbar tidak diperbolehkan. Pada tulang belakang yang lurus diskus intervertebral lumbar akan dibebani setangkup sehingga risiko dari lesi yang baru dapat dicegah. Stabilisasi eksternal harus dilakukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful