BAB I PENDAHULUAN Salah satu masalah yang sering dijumpai dalam dunia kedokteran gigi adalah hipersensitivitas dentin

dengan keluhan sakit pada giginya pada saat-saat tertentu. Rasa sakit biasanya dialami oleh pasien pada waktu makan/minum panas atau dingin atau karena hembusan udara Hipersensitivitas dentin terjadi karena terbukanya dentin yang pada umumnya disebabkan karena resesi gingiva akibat kesalahan menyikat gigi sehingga terjadi abrasi dan erosi. Pada umumnya terjadi di bagian servikal gigi dengan gejala sakit atau ngilu apabila terjadi kontak dengan rangsangan dan luar seperti panas dingin dehidrasi (hembusan udara) asam maupun alat alat kedokteran gigi misalnya sonde pinset dan lain-lain. Bagi penderita rasa ngilu itu merupakan suatu gangguan dan secara tidak langsung akan menimbulkan masalah lain seperti terganggunya pembersihan gigi dan mulut sehingga kebersihan mulut kurang sempurna yang akhirnya akan menyebabkan kelainan periodontal Untuk mencegah terjadinya kelainan lebih lanjut maka hipersensitivitas dentin perlu dirawat (Prijantijo, 1996).

restorasi gigi yang mengalami kebocoran atau lepas dan kelainan lain pada ginggiva (Orchardson and Gillam. Pada keadaan normal. Beberapa alternatif yang mungkin sebagai diagnosa rasa nyeri pada gigi sebelum diagnosa jatuh kepada dentin hypersensitivity antara lain gigi patah. Kesulitan dalam perawatan dentin hypersensitivity dapat dilihat dari banyaknya pilihan teknik dan alternatif terapi yang ada (Porto. misalnya penelitian yang menggunakan kuisioner dengan penelitian yang menggunakan pemeriksaan klinis sebagai skrining tentu menghasilkan angka yang berbeda. 2009). Dentin hypersensitivity seringkali didiagnosis setelah semua diferensial diagnosa lain yang mungkin untuk rasa nyeri disingkirkan. Variasi ini disebabkan perbedaan pada populasi studi dan perbedaan metode yang digunakan dalam penelitian. Definisi dentin Dentin hypersensitivity diartikan sebagai rasa nyeri yang tajam. Biasanya dentin hypersensitivity muncul atas adanya stimulasi seperti rangsang suhu. singkat dan beronset cepat akibat dentin yang terekspos. Penelitian mengenai dentin hypersensitivity sudah banyak dilakukan sehingga jumlahnya dalam populasi sudah dapat tergambar dalam data berbentuk prevalensi. Ini yang membedakan dengan dengan rasa nyeri yang diakibatkan bahan berbahaya yang sering muncul secara akut seperti rangsang toksin bakteri yang pada orang nomal sekalipun dapat menimbulkan nyeri (Tillis et Keating. Dentin hypersensitivity juga dapat terjadi sebagai respon kronis terhadap bahan non-noxius yang dapat muncul secara akut episodik seperti misalnya rangsang taktil dan suhu. rangsang non noxius ini tidak diharapkan untuk menimbulkan nyeri. Namun prevalensi tersebut sangat bervariasi antara 4-57%.BAB II DENTIN HIPERSENSITIVITY A. kimia dan lainnya dan tidak selalu dikaitkan dengan defek atau patologi gigi. sentuhan. karies. definisi inilah yang trcantum dalam berbagai literatur dan disetujui oleh banyak partisipan pada pertemuanpertemuan ilmiah internasional. 2002). Dentine hypersensitivity adalah suatu nyeri yang secara klinik menimpa 8-57% orang dewasa pada populasi dan dihubungkan dengan paparan lingkungan. Dengan sedikit variasi. sekitar 60% dan 98 % diantaranya . Dari jumlah jumlah yang terdata mengalami dentin hypersensitivity. 2006).

Etiologi Mechanism of sensitivity: pada dasarnya dentin bersifat sensitif karena secara struktural mengandung serabut saraf yang berdalan dalam tubulus dari arah pulpa. Lesion initiation: tidak semua dentin yang terekspos menjadi sensitif. Abrasi dan erosi gigi juga merupakan faktor resiko tetapi faktor resiko paling predominan adalah erosi gigi yang disebabkan asam. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa tubulus dentin pada pesien dengan dentin hypersensitivity ditemukan lebih banyak dan berkembang dibandingkan dengan orang normal. karena mereka tidak menganggap dentin hypersensitivity sebagai masalah kesehatan yang memerlukan perawatan (Orchardson and Gillam. Pertama. pada dasarnya masalah gigi ini dapat menyerang siapa saja pada usia berapapun. 2006). lokasi yang lesi disebabkan oleh dentin yang terekspos baik oleh terkikisnya enamel atau kerusakan ginggiva. Penderita lebih banyak perempuan daripada lakilaki walaupun secara statistik tidak memberikan perbedaan angka yang signifikan. Lesion localization: lebih dari 90% dentin hypersensitivity terjadi pada margin cervical pada permukaan bucal atau pada permukaan labial gigi.juga mengalami periodontitis. 2006). Namun kesensitifan ini tidak menimbulkan masalah karena adanya jaringan lain yang melindungi dentin yaitu tubulus. Kelainan terjadi ketika lapisan pelindung dentin atau tubular plug terlepas yang memungkinkan tubulus dentin berbuhungan langsung dengan lingkungan eksternal. Predileksi gigi yang lebih sering terkena bervariasi dalam setiap penelitian dan populasi (Orchardson and Gillam. 2006). tetapi lebh sering terjadi pada caninus dan premolar. Lokasi dentin hypersensitivity telah dapat ditentukan. Hasil ini selaras dengan hipotesis bahwa rasa nyeri dimediasi oleh mekanisme hidrodinamik (Orchardson and Gillam. Namun. sebagian besar tidak berusaha datang kepada ahli gigi untuk desensitisasi gigi mereka. Sudah disepakati bahwa dentin hypersensitivity berkembang melalui 2 fase. 2006). enamel dan ginggiva. Sebaliknya . Dentin hypersensitivity dapat mengenai gigi yang mana saja. tetapi dapat menyebabkan ginggival recession (Orchardson and Gillam. Penyikatan gigi yang benar tidak menyebabkan enamel terkikis. Walaupun dentin hypersensitivity sebagian besar mengenai pasien antara 30 sampai 40 tahun. B.

2006). asam/manis atau bahkan tersentuh bulu sikat gigi pun akan terasa ngilu. penderita memberikan tekanan besar/berlebih pada saat menggosok gigi. leher gigi berlubang. Bleaching/pemutihan gigi 4. menekan saku gusi semakin dalam dari keadaan normal. Penyikatan gigi yang terlalu keras . Sisa makanan ini menyusup masuk melalui leher gigi dan sulit terjangkau sikat gigi sehingga akan sulit dibersihkan. Food impaksi/penumpukan sisa-sisa makanan di daerah pertemuan gigi dengan gigi/kontak gigi. lapisan email pun akan berkurang ketebalannya sehingga bila minum air dingin. Keadaan ini pun akan menjadikan gigi menjadi sensitif. timbul pula bau mulut yang tidak "segar". C. Pembentukan lapisan email gigi yang kurang sempurna (ename hypoplasia) dapat pula terjadi pada individu-individu tertentu. Terkikisnya email 5. Kebiasaan menggosok gigi dengan tekanan berlebih dapat membuat gusi mengalami iritasi atau gusi menurun dari leher gigi. Buruknya oral hygiene 3. yang merupakan "rumah" tinggalnya berjutajuta kuman dalam rongga mulut. lama kelamaan penumpukannya akan semakin banyak. Hipersensitivitas juga dapat muncul setelah prosedur pemutihan dan restorasi gigi (Orchardson and Gillam. Dentin hypersensitivity sering muncul pada pasien dengan periodontitis dan hipersensitivitas tersebut terjadi setelah dilakukan terapi terhadap periodontitinya seperti PSA atau bedah gusi. Faktor predisposisi Dari hasil penelitian para ahli di USA. 2006). sebanyak 50-90%. lama kelamaan akar gigi akan terbuka (resesi gingiva). Oral hygiene/keadaan rongga mulut yang buruk.plak bukanlah faktor predominan terhadap terjadinya dentin hypersensitivity (Orchardson and Gillam. Penurunan gusi 2. Secara garis besar penyebab dentin hypersensitivity antara lain: 1. Lambat laun karang gigi pun dapat mengiritasi gusi sehingga gusi akan mudah berdarah. penumpukan plak/karang gigi.

Saraf tidak dijumpai di sepertiga-luar. Akan tetapi. Lebih jauh lagi. Ada beberapa teori yang telah diajukan dan setiap teori memiliki kekurangan sehingga mendukung anggapan bahwa keadaan itu ditimbulkan oleh lebih dari satu mekanisme. stimulasi langsung dari saraf-saraf ini tidak merupakan mekanisme utama dalam menimbulkan sensitivitas dentin. 1. Teori Hidrodinamik Teori hidrodinamik. Walaupun demikian. 2. penelitian yang kemudian dilakukan menunjukkan bahwa prosesus odontoblas tidak mengisi seluruh dentin dan bahwa potensial membran odontoblas masih terlalu rendah bagi berlangsungnya transduksi. tidak seperti pada jaringan yang mengandung saraf lainnya. membuat mekanisme sensili vitas tersebut belum diketahui. konsensusnya adalah bahwa walaupun saraf yang berasal dari trigeminus memang terdapat di dentin. Ketiga mekanisme yang telah diajukan tersebut adalah: (1) persarafan langsung dari dentin. Patogenesis Menurut Warton. 2008. Persarafan Langsung Saraf memang ada di dentin. teori ini memperoleh kredibilitasnya kembali ketika ditemukan bahwa pada beberapa gigi prosesus odontoblas benar-benar berada sepanjang ketebalan dentin dan bahwa gap junction benar-benar ada di antara odontoblas dan mungkin antara odontoblas dengan saraf. 3. dan (3) teori hidrodinamik. Namun.D. zat penimbul nyeri atau zat pereda nyeri yang diaplikasikan ke dentin tidak menimbulkan potensial aksi (respons saraf). yang merupakan daerah yang sangat sensitif. Bukti ilmiah E. Teori ini mempostulasikan bahwa pergerakan cairan yang cepat di dalam tubulus dentin (ke luar dan ke dalam) akan mengakibatkan distorsi ujung saraf di . bervariasinya respons dentin terhadap stimulus sensoris normal. di PED atau PSD. saraf-saraf ini hanya terdapat di predentin dan sepertiga-dalam dari dentin termineralisasi. (2) odontoblas sebagai restptor. Saat ini dukungan terhadap teori transduksi tidak begitu banyak. Odontoblas sebagai Reseptor Teori ini awalnya timbul ketika diketahui bahwa secara embriologi odontoblas berasal dari batang saraf dan bahwa pewarnaan odontoblas untuk asetilkolin adalah positif. Oleh karena itu. diusulkan oleh Brannstrem dan Astrom. memuaskan sebagian besar data morfologik dan eksperimental yang berkaitan dengan sensitivitas dentin.

akan menginterupsi aliran cairan dan mengurangi sensitivitas. Akhirnya. Ketika dentin dipotong. Prosedur yang menyumbat tubulus. “Cilium” dalam tubulus dentin utuh dapat berupa hidrogel yang relatif padat dengan konduktivitas hidraulik yang kecil dan bukan berupa cairan jaringan sederhana seperti dikatakan pertama kali oleh Brannström. Rangsangan yang ditimbulkan berbeda bergantung dan kepekaannya namun reaksi yang ditimbulkan adalah sama yaitu rasa sakit Penjelasan yang hainpir sama tentang teori hidrodinamika juga dikemukakan oleh Markowitz dan Syngcuk. Dikemukakan bahwa melalui dentin yang terbuka tekanan hidrodinamika akan menyebabkan kerusakan dan odontoblas. tetapi toh hipersensit ivitas dentin tetap terjadi pada gigi yang pulpanya rusak parah. seperti mengaplikasikan resin di permukaan dentin atau membuat kristal di dalam lumen tubulus. atau ketika larutan hipertonik diletakkan di atas permukaan dentin yang terpotong. dingin sertalarutan hiperosmotik. Gerakan cairan ini akan mengubah bentuk odontoblas atau prosesusnya sehingga menimbulkan rasa sakit Berbagai keadaan dapat merangsang terjadinya hipersensitivitas dentin misalnya dehidrasi dentin. Pada gigi yang utuh. Adanya hembusan udara atau karena perbedaan tekanan maka sel-sel odontoblas yang rusak atau mediator lain . ternyata teori hidrodinamika lebih dapat diterima untuk menjelaskan transmisi rangsangan terhadap hipersensitivitas dentin. panas. Menurut teori ini diperlukan keberadaan pleksus Raschkow. sensitivitas yang ditimbulkan oleh aplikasi dingin dan panas dapat diterangkan melalui keberadaan reseptor termis pada pulpa dan melalui teori hidrodinamik.daerah pleksus saraf subodontoblas (pleksus Raschkow) yang akan menimbulkan impuls saraf dan sensasi nyeri. cairan akan bergerak ke luar dan mengawali nyeri. hipersensitivitas dentin. Respons ini akan menghebat jika dentinnya terbuka. Dari beberapa teori yang telah dikemukakan untuk menjelaskan mekanisme transmisi rangsangan. aplikasi dingin dan panas pada permukaan gigi menimbulkan kecepatan kontraksi yang berbeda dalam dentin dan cairan dentin. Berdasarkan teori hidrodinamika dikemukakan bahwa rangsangan yang menyebabkan rasa sakit diteruskan ke pulpa dalam suatu mekanisme hidrodinamik yaitu pergerakan cairan secara cepat pada tubulus dentin. Teori hidrodinamik telah diterima walaupun tidak lepas dari kritik. hal ini mengakibatkan pergerakan cairan dan diawalinya rasa nyeri.

mendiagnosis hypersensitivity. 5. Sedangkan asam endogen berasal dari rufluks gastrointestinal yang mengenai gigi (Orchardson and Gillam. Pencegahan DH dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain diet dan cara menggosok gigi. Sel-sel ini akan merangsang ujung saraf yang terletak dekat dengan pulpa dan akan menimbulkan rasa sakit atau ngilu. 2006). Riwayat penyakit dan diagnosis Seperti Dalam sudah diterangkan Dentin sebelumnya bahwa ahli dentin kesehatan hypersensitivity gigi harus didefinisikan sebagai rasa nyeri tajam pada gigi yang muncul akibat adanya stimulasi. b. mempertimbangkan diferensial diagnosa yang lain untuk rasa nyeri yang tajam seperti misalnya kemungkinan gigi patah. 4. pasien dapat merekam pola makannya dan memberi kesempatan dokter gigi untuk .seperti prostaglandin masuk ke dalam tubulus dentin bersama-sama dengan cairan tubulus dentin yang berasal dan cairan pulpa. Pengaturan diet: makanan seperti buah-buahan dan wine berperan dalam perkembangan DH karena mengandung asam yang dapat merusak lapisan pelindung dan tubulus dentin. 2006). 2006). a. Dengan menggunakan catatan diet. Menggunakan catatan harian diet karena banyak pasien yang lupa tentang detail kandungan zat paa makanan yang mereka makan. 2006). Setelah berhasil mengeliminasi semua diferensial diagnosa tersebut barulah mulai menegakkan diagnosa dentin hypersensitivity (Orchardson and Gillam. Menggosok gigi menggunakan pasta gigi yang tidak mengandung agen erosif bagi gigi. penyakit periodontium dan sebagainya. karies. e. d. Pasien harus menghindari menggosok gigi paling tidak 2 atau 3 jam setelah mengkonsumsi buah-buahan atau sumber asam eksogen lainnya untuk menghindari efek bertumpuk dari eksposur asam dengan abrasi karena menggosok gigi (Orchardson and Gillam. Menghindari trauma gigi dengan mengurangi tekanan berlebih saat menggosok gigi. Pencegahan. c. memakai sikat gigi dengan jenis bulu sikat yang tidak keras dan menggosok gigi dengan cara yang benar (Orchardson and Gillam. Desensitisasi gigi juga dapat dilakukan menggunakan terapi laser tetapi pada satu penelitian ditemukan bahwa efikasinya meningkt lebih baik jika faktor predisposisinya seperti paparan asam endogen dan eksogen dieliminasi.

mengadakan evaluasi serta menentukan oral hyene pasien (Orchardson and Gillam. Mouthwash dan permen karet: penelitian melaporkan bahwa mouthwash yang mengandung potasium nitrat dan sodium flouride. 2001). Sedangkan perawatan di pusat kesehatan sifatnya lebih kompleks dan terbatas untuk satu atau dua gigi saja (Orchardson and Gillam. Sekarang. Perawatan di rumah lebih murah dan sederhana dengan target perawatan banyak gigi. yaitu perawatan di rumah dan perawatan di pusat perawatan kesehatan gigi. yang lebih sering digunakan adalah pasta gigi yang mengandung garam potasium seperti potasium nitrat. 2006). potasium klorid atau potasium sitrat (Orchardson and Gillam. 2006). Penatalaksanaan Perawatan terhadap dentin hypersensitivity dapat dibedakan menjadi 2. potasium sitrat atau sodium flouride atau campuran senyawa flourides dapat mengurangi terjadinya dentin hypersensitivity (Orchardson and Gillam. 2006). a) Perawatan dentin hypersensitivity di rumah Desensitisizer: pasta gigi adalah media yang paling banyak digunakan untuk desensitisasi gigi.. 6. Dulu pasta gigi yang pertama beredar di pasaran untuk perawatan dentin hypersensitivity adalah yang mengandung garam strontiumdan flouride untuk menutup tubulus dentin dan yang mengandung formaldehid untuk mematikan vital elemen pada tubulus. Garam potasium: penggunaan garam potasium pada pasta gigi sebagai desensitisasi didasarkan karena ion potasium berjalan sepanjang tubulus dentin dan menurunkan eksitabilitas saraf intra dental melalui efek pada membran potensialnya (Orchardson and Gillam. Walaupun pada satu penelitian melaporkan bahwa pasta gigi yang mengandung sodium flourid dan kalsium fosfat berguna untuk mengurangi kejadian dentin hypersensitivity melalui efek remineralisasinya (kaufman et al. . Penelitian lain melaporkan permen karet yang mengandung potasium klorida dapat mengurangi terjadinya dentin hipersensitivitas gigi (Theiss et al. 2006). 2006).. 1999).

Desensitizer topikal: sebelum ditemukannya anestesi lokal. Perekat dan resin: banyak bahan desensitizer topikal yang tidak melekat kuat pada permukan dentin sehingga efeknya hanya sementara. secara topikal dalam aqua solution atau dalam bentuk gel. Oksalat: penelitian yang dilakukan Greenhill dan Pashley pada tahun 1981 melaporkan bahwa oksalat mengurangi permeabilitas dentin secara invitro. b) Perawatan dentin hypersensitivity di pusat kesehatan gigi Desensitizer yang digunakan untuk perawatan di rumah pada dasarnya lebih mudah digunakan daripada desensitizer yang digunakan oleh ahli kesehatan gigi di pusat-pusat kesehatan yang lebih komplek dan poten. ii. i. zinc klorida dan semacamnya. Potasium nitrat: biasanya diaplikasikan dalam bentuk pasta gigi. Flouride: mengurangi permeabilitas dentin secara invitro sehingga mengurangi sensitivitas dentin. iv. Misalnya: sodium flouride dan stannous flouride. . iii. dokter gigi menggunakan bahan-bahan kimia toksik seperti silver nitrat. Namun sekarang bahan yang kurang toksik lebih digunakan secara luas. Sekarang telah digunakan bahan yang merekat lebih kuat yang memungkinkan efek desensitisasinya berlangsung lebih lama. Perawatan di pusat kesehatan atau di ahli gigi mulai dilakukan apabila perawatan di rumah tidak memberikan hasil dalam mengurangi keluhan pasien (Orchardson and Gillam. Kalsium forfat: kalsium fosfat mengurangi sensitivitas dentin secara efektif dengan menutup menutup tubulus dentin dan menurunkan permeabilitasnya. 2006).Tingkat keparahan dentin hypersensitivity harus dievaluasi dalam 2 atau 4 minggu setelah perawatan dirumah dilakukan dan menghindari faktor-faktor resikonya.

ionoforesis biasanya digunakan bersama-sama dengan terapi pasta gigi yang mengandung flouride atau solusio. .Iontoforesis: prosedur ini menggunakan energi listrik untuk meningkatkan difusi ionion ke dalam jaringan. Laser: efektivitas laser sebpenelitian melaporkanagai perawatan dentin hypersensitivity bervariasi dari 5 sampai 100% tergantung jenis laser dan parameter perawatan yang digunakan. kombinasi keduany dilaporkan mengurangi kejadian dentin hypersensitivity. erbium dan galium dapat mengurangi sensitivitas gigi. Namun perawatan menggunakan laser ini harganya lebih mahal dan memerlukan modalitas perawatan yang lebih kompleks. Penelitian melaporkan bahwa neodymium.

Terapi lainnya: Pada keadaan akar gigi yang terbuka/sudah timbul lubang pada leher gigi seyogianya dilakukan penambalan. Pada kasus mahkota gigi/email gigi tipis (hipoplasia enamel) biasa dibuatkan mahkota jaket .

BAB III PENUTUP .

I. Tillis. Walton. Orchardson. pp: 990-998. 3. No 7. Et al. Journal of Dental Hygiene. Jakarta:EGC Kaufman. Krahwinkel T. Arthur C. vol. J Clin Dent. Managing Dentin Hypersensitivity.. Isabel C. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 51. 1999. 10. 1996.DAFTAR PUSTAKA Dorland. dan Hall. Clinical effectiveness of a potassium chloride containing chewing gum in the treatment of hypersensitive teeth. et al. David G. et al. Clinical evaluation of the effect of a remineralizing toothpaste on dentinal sensitivity. et al. Janis G. 109. 2002. vol. vol. Cermin Dunia Kedokteran No. Eur J Med Res. No. C. Diagnosis and Treatment of Dentinal Hypersensitivity. 29th ed. Prinsip & Praktik: Ilmu Endodonsia edisi III. pp : 323-332. Prijantijo. Vol 137.. John E. Jakarta: EGC . Understanding and managing dentin hypersensitivity. Jakarta: EGC Guyton. Richard E. HW. Porto. 2006. Kamus Kedokteran Dorland. 6. Robin and Gillam. 2008. Theiss. Evaluasi Klinis Perawatan Hipersensitivitas Dentin dengan Potasium Nitrat. 2008. 2001. and keating. M. pp 57-61. Terri S. 2006. 2009. W. J Am Dent Assoc. Journal of Oral Science.A Newman.

Ort KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011 . Vita Nirmala Sp.REFERAT DENTIN HYPERSENSITIVITY Oleh: Fatmi Andari G0006078 Pembimbing: drg.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful