PPh Ps.

22
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh yang dipungut oleh : 1. Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembagalembaga negara lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang; 2. Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.
pemungut PPh Pasal 22

1. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang; 2. Direktorat Jenderal Anggaran, Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang; 3. BUMN/D, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang dari belanja negara dan/atau belanja daerah; 4. Badan usaha yang bergerak di bidang industri semen, industri rokok, industri kertas, industri baja dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri; 5. Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas, atas penjualan hasil produksinya; 6. Badan Urusan Logistik (Bulog), atas penyerahan gula pasir dan tepung terigu. Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas impor : Atas impor : 1. yang menggunakan Angka Pengenal Importir (API), sebesar 2,5 % dari nilai impor; 2. yang tidak menggunakan API, sebesar 7,5 % dari nilai impor; 3. yang tidak dikuasai, sebesar 7,5 % dari harga jual lelang. Catatan : Nilai impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk yaitu Cost Insurance and Freight (CIF) ditambah dengan bea masuk dan pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan pabean di bidang impor. Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas pembelian barang yang dilakukan oleh DJA dan Bendaharawan Pemerintah serta BUMN/ BUMD : Atas pembelian barang yang dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara / Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN/APBD) sebesar 1,5 % dari harga pembelian;

6.3% dari DPP PPN.00/KL. pelumas sebesar 0. . solar untuk SPBU Swastanisasi sebesar 0.3 % dari penjualan dan untuk SPBU Pertamina sebesar 0. 5.3 % dari penjualan atau Rp 2. o Grosir sebesar Rp 270. industri otomotif sebesar 0.25 % dari penjualan atau Rp 950. dan untuk SPBU Pertamina sebesar 0. industri kertas sebesar 0.3 % dari penjualan atau Rp 912. gas LPG sebesar 0.45 % dari DPP PPN. premium untuk SPBU Swastanisasi sebesar 0.3 % dari penjualan atau Rp 1. 3.25 % dari penjualan. 4. Gula pasir kepada : o Penyalur sebesar Rp 380. bersifat final.140. Catatan : PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi Pertamina dan badan lain yang bergerak dibidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas. yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak.750. rokok kretek/ putih. 4.00/KL dan untuk SPBU Pertamina sebesar 0. industri baja sebesar 0.25 % dari penjualan atau Rp 1.00/KL. premix untuk SPBU Swastanisasi sebesar 0.25 % dari dasar pengenaan pajak (DPP) Pajak Pertambahan Nilai (PPN). atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri. 5. dan bersifat final.3 % dari penjualan. industri rokok kretek/putih sebesar 0. ] Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penyerahan barang yang dilakukan oleh Bulog? Atas penyerahan barang yang dilakukan oleh Bulog berupa : a.1 % dari harga bandrol. baja otomotif Atas penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di bidang : 1.250.00/KL.00/kuintal.00/kuintal. 3. 2.1 % dari DPP PPN. Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas: Atas penjualan hasil produksi Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas kepada penyalur dan/atau agennya : 1. minyak tanah sebesar 0.Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi yang dilakukan badan usaha yang bergerak di bidang industri semen.00/KL. 2. industri semen sebesar 0.00/KL.100. kertas.3 % dari penjualan atau Rp 2.

Pembayaran atas penyerahan barang yang dibebankan kepada belanja negara/daerah yang meliputi jumlah kurang dari Rp 500.000. 3. o untuk tujuan keilmuan. listrik. terutang dan dipungut pada setiap dilakukan pembayaran. 4. 2. bendabenda pos. PPh Pasal 22 atas pembelian barang oleh Direktorat Jenderal Anggaran. Impor barang-barang dan/atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan tidak terutang PPh.00/zak. o sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 PP Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebanan atas Impor sebagaimana diubah dan ditambah terakhir dengan PP Nomor 26 tahun 1988 Jo.o Pembeli lainnya sebesar Rp 650.00 (bukan merupakan jumlah yang dipecahpecah). Kapan saat terutang dan pelunasan/ pemungutan PPh Pasal 22? 1. industri baja dan . PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi di dalam negeri oleh badan usaha yang bergerak di bidang industri semen. PPh Pasal 22 atas impor terutang dan dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak. air minum/PDAM. harus dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas PPh Pasal 22 yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Dalam hal pembayaran Bea Masuk ditunda atau dibebaskan. yang dibayar dari belanja negara dan/atau belanja daerah. gas.00/zak. 2. industri kertas. o berupa kiriman hadiah. BUMN/D. Tepung terigu kepada : o Penyalur sebesar Rp 53. industri rokok. maka PPh Pasal 22 terutang dan dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Pemberitahuan Impor Untuk Dipakai (PIUD). dan telepon. 3. o Grosir sebesar Rp 38. Impor barang-barang yang dibebaskan dari bea masuk : o yang dilakukan ke dalam Kawasan Berikat dan Entrepot Produksi Untuk Tujuan Ekspor (EPTE). Bendaharawan Pemerintah Pusat/ Daerah.00/zak Catatan : PPh Pasal 22 atas penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh Bulog bersifat final.00/kuintal b. yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 : Dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 : 1. Pengecualian tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 1973. o Pembeli lainnya sebesar Rp 91.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai harus menyetorkan pemungutan PPh Pasal 22 atas impor dalam jangka waktu sehari setelah pemungutan pajak dilakukan ke Kantor Pos dan Giro atau bank-bank persepsi. yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak. 5. dan harus melaporkan hasil pemungutannya tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak secara mingguan selambat-lambatnya tujuh hari setelah batas waktu penyetoran pajak berakhir. Impor dilengkapi dengan LKP PPh Pasal 22 disetor oleh importir ke Bank Devisa dengan menggunakan formulir Surat Setoran Pajak yang berlaku sebagai bukti pungutan pajak. o Lembar kedua untuk disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pajak sebagai lampiran laporan bulanan. BUMN/D. Direktorat Jenderal Anggaran. tata cara pemungutan. Lembar kedua untuk disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pajak sebagai lampiran laporan bulanan. baja dan otomotif yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus memungut PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri dan wajib menerbitkan Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 dalam rangkap tiga. grosir. atau pembeli lainnya sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (Delivery Order) ditebus. kertas.industri otomotif. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib menerbitkan Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 dalam rangkap 3 yaitu : o o o Lembar pertama untuk pembeli. Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah. PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi oleh Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas harus dilunasi sendiri oleh penyalur. 4. 3. pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran. . penyetoran. PPh Pasal 22 atas penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh Bulog harus dilunasi sendiri oleh penyalur. Impor tidak dilengkapi dengan LKP PPh Pasal 22 dipungut dan disetor oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 2. b. dan pelaporan PPh Pasal 22 : 1. dipungut pada saat penjualan. rokok. Badan usaha yang bergerak di bidang industri semen. harus memungut dan menyetorkan pemungutan PPh Pasal 22 ke Kantor Pos dan Giro atau bank-bank persepsi. Atas Impor a. dengan menggunakan formulir Surat Setoran Pajak (SSP) yang telah diisi oleh dan atas nama rekanan serta ditandatangani oleh Bendaharawan. SSP berlaku sebagai bukti pungutan pajak. agen. Lembar ketiga untuk arsip Pemungut Pajak yang bersangkutan. Pelaporan harus disampaikan selambat-lambatnya empat belas hari setelah Masa Pajak berakhir.sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (Delivery Order) ditebus. yaitu : o Lembar pertama untuk pembeli.

Badan Pemerintah Subyek Pajak Badan dalam negeri Penyelenggara kegiatan Bentuk Usaha Tetap (BUT) atau perwakilan perusahaan luar negeri Orang pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak. 3. Subjek Pajak atau penerima penghasilan yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23 adalah Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap. pengacara. penyerahan jasa. 4. arsitek.o Lembar ketiga untuk arsip Pemungut Pajak yang bersangkutan. PPh Pasal 22 dari penyerahan oleh Pertamina atas hasil produksinya. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan atas pembayaran berupa sewa. 1. PPAT (kecuali Camat). Pelaporan dilakukan dengan cara menyampaikan SPT Masa selambatlambatnya dua puluh hari setelah Masa Pajak berakhir. Bentuk Usaha Tetap atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya. 4. dari penyerahan bahan bakar minyak dan gas oleh badan usaha selain Pertamina. dipungut dengan cara dilunasi sendiri oleh Wajib Pajak ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (Delivery Order) ditebus. dokter. .23 A. yang melakukan pekerjaan bebas. notaris. Pelaporan dilakukan dengan cara menyampaikan SPT Masa selambat-lambatnya dua puluh hari setelah Masa Pajak berakhir. yang dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah atau subjek pajak dalam negeri. 5. penyelenggara kegiatan. dengan menggunakan SSP yang juga merupakan bukti pungutan pajak. Akuntan. konsultan. atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21. Badan usaha tersebut harus menyetorkan secara kolektif pemungutan PPh Pasal 22 selambat-lambatnya tanggal lima belas bulan takwim berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. Pemotong PPh Pasal 23 : Pajak Penghasilan Pasal 23 merupakan Pajak Penghasilan yang dipotong atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap yang berasal dari modal. dan dari penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh Bulog. b. yaitu : a. PPh Ps. 2.

Undang Nomor 17 TAHUN 2000) : 1. Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 23 (Pasal 23 Undang. dan kegiatan lainnya. Dividen yang dibayarkan atau terutang kepada Perseroan Terbatas (PT). misalkan kegiatan olah raga. 2. jasa manajemen. 5. Dalam hal penerima dividen adalah perseroan terbatas.htm) BUKAN OBYEK PEMOTONGAN PPH PASAL 23 A. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat (1) huruf "f". dividen. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat (1) huruf "g" Undang-undang PPh. Hadiah dan penghargaan yang dipotong Pajak Penghasilan 21 adalah hadiah dan penghargaan dalam bentuk apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan yang diselenggarakan. imbalan sehubungan dengan jasa teknik. b.net/info/PPh23. sepanjang : a. Sewa yang dibayar atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease). BUMN. hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 Ayat (1) huruf "e" Undang-undang PPh. Yayasan atau sejenisnya. kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan persewaan tanah dan atau bangunan yang dikenakan PPh yang bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996. (http://www. yang dilakukan oleh Wajib Pajak Dalam Negeri atau Bentuk Usaha Tetap selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21. c. Dividen tersebut berasal dari cadangan laba yang ditahan b. BUMN/BUMD. jasa konsultan hukum. keagamaan. 3. yang merupakan wajib pajak dalam negeri dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia.Tarif Dan Objek Pajak 1. kesenian. Koperasi. Bunga obligasi yang dibayar atau terutang kepada reksa dana selama 5 tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian ijin usaha. bunga. dan jasa lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 Ayat (1) huruf "c" Undang-undang Pajak Penghasilan. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. dan BUMD.pajak. jasa konsultan pajak. Sebesar 15% dari perkiraan penghasilan neto atas : a. . d. Sebesar 15% dari jumlah bruto atas : a. Adapun hadiah dan penghargaan yang dipotong Pajak Penghasilan 23 adalah hadiah dan penghargaan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak badan dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan yang diselenggarakan. b. 3. Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh Koperasi kepada angotanya. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank 2. Sebesar 15% dari jumlah bruto dan bersifat final atas bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi. kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor dan harus memiliki usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut 4. royalti.

PPh Pasal 26 ayat (1) adalah PPh Pasal 26 pada umumnya yaitu pemotongan PPh terhadap Wajib Pajak luar negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia. Bedanya. berdasarkan azas sumber. Contoh : Besarnya perkiraan penghasilan neto untuk penghasilan sehubungan dengan jasa komputer ditetapkan sebesar 40% dari penghasilan bruto. ayat (2a) dan ayat (4) sudah saya buat di tautan berikut ini :   PPh Pasal 26 Premi Asuransi (berdasarkan Pasal 26 ayat (2)) PPh Pasal 26 Penghasilan Penjualan Saham (berdasarkan Pasal 26 ayat (2)) .(Rp 350. Bentuk penghasilan yang dipotong pada umumnya sama dengan objek pemotongan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 23. Perkiraan penghasilan neto Persentase tertentu yang besarnya telah tercantum di dalam peraturan perpajakan.26 Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26 adalah penerapan dari azas sumber yang dianut dalam ketentuan Pajak Penghasilan di Indonesia. Pasal 26 ayat (2a) dan Pasal 26 ayat (4). Masing-masing jenis PPh Pasal 26 ini memiliki ruang lingkupnya sendiri.. terdapat empat jenis PPh Pasal 26 yaitu PPh Pasal 26 ayat (1). PPh Ps.000.maka PPh Pasal 23 terhutang adalah Rp 21.6. penerima penghasilan PPh Pasal 26 adalah Wajib Pajak luar negeri.000. Tulisan ini dibuat untuk menjelaskan PPh Pasal 26 ayat (1) ini sedangkan tulisan tentang PPh Pasal 26 ayat (2). Apabila penghasilan bruto sebesar Rp 350. Dalam ketentuan Pasal 26 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. PPh Pasal 23 yang dihitung berdasarkan perkiraan penghasilan neto diperoleh melalui perkalian antara persentase tertentu dengan penghasilan bruto. Ya. Dasar Pengenaan PPh Pasal 23 Dasar Pengenaan Pajak yang digunakan dalam penghitungan PPh Pasal 23 ada 2 macam. yaitu : 1. Jumlah penghasilan bruto Penghasilan yang diterima Wajib Pajak dalam menjalankan kegiatannya tanpa ada pengurangan biaya-biaya..00) yang dibayar oleh Koperasi kepada anggotanya.x 40% x 15%). Bentuk pemajakannya adalah dengan sistem witholding tax yang bersifat final yang diatur dalam Pasal 26 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. 2. bisa dikenakan pajak di Indonesia. Bunga simpanan Koperasi yang tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan (Rp 240.000. Pasal 26 ayat (2)..000. penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang dinikmati oleh orang atau badan di luar Indonesia.

kongsi. yaitu jenis PPh Pasal 26 yang pertama selain yang sudah saya tuliskan dalam tautan di atas. d. dana pensiun. Sementara itu istilah bertempat kedudukan menunjukkan bahwa badan tersebut memiliki efektif manajemen di Indonesia di mana pengambilan keputusan-keputusan penting tentang badan tersebut dilakukan di Indonesia. perseroan komanditer. yayasan. Pemotong PPh Pasal 26 Berdasarkan ketentuan Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 (Undang-undang Pajak Penghasilan 1984). Bentuk Usaha Tetap (BUT) . dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap c.   PPh Pasal 26 Penghasilan Penjualan Harta (berdasarkan Pasal 26 ayat (2)) PPh Pasal 26 Penghasilan Penjualan Saham Antara (berdasarkan Pasal 26 ayat (2a)). firma. seminar dan lain-lain. tidak sulit untuk mengartikan bahwa yang dimaksud dengan Badan Pemerintah adalah Pemerintah negara Republik Indonesia dan Pemerintah Daerah di Indonesia beserta instansi-instansi di bawahnya. organisasi sosial politik. koperasi. organisasi massa. atau organisasi lainnya. Istlah didirikan mengandung arti bahwa badan tersebut didirikan berdasarkan ketentuan hukum di Indonesia. dan PPh Pasal 26 Penghasilan Kena Pajak BUT (berdasarkan Pasal 26 ayat (4)) Istilah PPh Pasal 26 dalam tulisan ini dimaksudkan sebenarnya pada ketentuan Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan. perlombaan. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun. Namun demikian. Penyelenggara kegiatan Penyelenggara kegiatan bisa berbentuk badan. Pengertian badan sendiri berdasarkan Pasal 2 ayat (1) huruf b Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas. Contoh penyelenggara kegiatan adalah orang pribadi atau badan yang mengorganisir suatu acara seperti pertunjukkan. orang pribadi atau kepanitiaan yang melakukan suatu event atau kegiatan. Badan Pemerintah Tidak ada penjelasan dalam Undang-undang Pajak Penghasilan tentang arti Badan Pemerintah ini. perkumpulan. Subjek Pajak Badan dalam negeri Berdasarkan Pasal 2 ayat (3) huruf b Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. pemotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26 ayat (1) adalah : a. subjek pajak badan dalam negeri adalah badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. lembaga. persekutuan. perseroan lainnya. b.

e. dividen. pengenaan Pajak Penghasilan terhadap Wajib Pajak BUT adalah hampir sama dengan Wajib Pajak dalam negeri melalui sistem self assesment pelaporan SPT Tahunan. dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. bengkel dan lain-lain. Di sisi lain. yaitu bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. Walaupun termasuk Wajib Pajak luar negeri. Pengertian Wajib Pajak luar negeri bisa kita temukan dalam Pasal 2 ayat (4) huruf b Undangundang Pajak Penghasilan 1984. yang dapat berupa tempat kedudukan manajemen. pemenuhan hak dan kewajiban BUT disamakan dengan pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak dalam negeri. Pada ketentuan ini Subjek Pajak (juga Wajib Pajak) luar negeri selain BUT adalah orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. cabang perusahaan. Fihak Yang Dipotong PPh Pasal 26 Beda dengan pemotongan jenis pajak lain. kantor perwakilan. Wajib Pajak luar negeri seperti ini mendapatkan penghasilan dari Indonesia tanpa perlu melakukan kegiatan usaha di Indonesia melalui BUT.BUT adalah bagian dari Subjek Pajak luar negeri yang melakukan kegiatan di Indonesia sehingga menerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari Indonesia. Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 26 Jenis-jenis penghasilan yang dipotong PPh Pasal 26 sebagaimana diatur dalam Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan adalah : 1. . pabrik. yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. pemotongan PPh Pasal 26 dikenakan terhadap Wajib Pajak luar negeri selain Bentuk Usaha Tetap. Jadi. Perwakilan Perusahaan Luar Negeri Lainnya Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya selain BUT yang ada di Indonesia juga merupakan pemotong PPh Pasal 23. Contohnya adalah Representative Office (RO) dari perusahaanperusahaan asing. dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. gedung kantor. Pengertian BUT bisa kita temukan dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-undang Pajak Penghasilan. Misalnya warga negara Singapura yang memiliki saham PT Indosat yang menerima penghasilan berupa dividen dari PT Indosat. orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.

diskonto. sewa. 3. Pengenaan PPh Pasal 26 juga tergantung kepada perjanjian perpajakan (P3B) dengan negara lain. imbalan sehubungan dengan jasa. dan/atau 8. maka ketentuan yang berlaku adalah ketentuan P3B bukan ketentuan domestik berdasarkan Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia. pekerjaan. Biasanya dalam P3B ditentukan tarif yang lebih rendah untuk pemotongan PPh Pasal 26 atas dividen. royalti dan/atau penghasilan lainnya.Bunga. termasuk premium. diskonto.Dividen . dan kegiatan. A. bunga.2. sedangkan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 23 adalah Wajib Pajak dalam negeri. hadiah dan penghargaan. Apabila ada P3B. dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang. maka PPh Pasal 26 yang harus dipotong adalah 20% x Rp100 Juta = Rp20 Juta. keuntungan karena pembebasan utang Perhatikan bahwa objek PPh Pasal 26 ayat (1) ini adalah mirip dengan objek pemotongan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 23. Pemotong PPh Pasal 26 Badan Pemerintah Subyek pajak dalam negeri Penyelenggara kegiatan Bentuk Usaha Tetap OBYEK PEMOTONGAN PPH PASAL 26 DAN BESARNYA PPH YANG TERUTANG Obyek dan Tarif PPh Pasal 26 : 1. bunga. 5. 7. Yang membedakannya dengan PPh Pasal 26 adalah bahwa penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 26 adalah Wajib Pajak luar negeri. Dikenakan PPh Pasal 26 = 20% dari jumlah bruto penghasilan wajib pajak luar negeri berupa: . 6. termasuk premium. Tarif dan Dasar Pengenaan Tarif PPh Pasal 26 adalah tarif tunggal 20% dengan dasar pengenaan pajak nya adalah jumlah bruto yang dibayarkan kepada Wajib Pajak luar negeri. royalti. dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan hartai. dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian . 4. Misalkan PT ABC di Indonesia membayarkan dividen kepada Tuan X di negara Y sebesar Rp100 Juta. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya. pensiun dan pembayaran berkala lainnya.

sewa.43/1995 3. Dikenakan PPh Pasal 26 sebesar 20% dari Laba Neto setelah pajak dari suatu BUT di Indonesia (Branch Profit Tax). penghitungan besarnya PPh Pasal 26 didasarkan pada Tax Treaty tersebut (dibebaskan dari pengenaan PPh Pasal 26 atau dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif yang lebih rendah). kecuali jika ditanamkan kembali di Indonesia.20% x 10% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi LN oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia.- utang Royalti. .Penghasilan berupa premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi di luar negeri.20% x 50% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi di Luar Negeri. dan imbalan lain sehubungan dengan penggunaan harta Imbalan sehubungan dengan jasa.Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia . . .20% x 5% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan reasuransi LN oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia.04/1994 Jo SE . 4. pekerjaan. dan kegiatan Hadiah dan penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun Pensiun dan pembayaran berkala lainnya.Lihat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 624/KMK. 2. yaitu : .23/PJ. . Dalam hal telah dilakukan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda antara Pemerintah RI dengan negara lain (treaty partner) . Dikenakan PPh Pasal 26 = 20% dari Perkiraan Penghasilan Netto atas penghasilan wajib pajak luar negeri berupa : .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful