PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA/MA Ditulis oleh Aning Wulandari PENDAHULUAN Pengembangan kualitas sumber daya

manusia untuk menghadapi persaingan global ditandai oleh semakin pentingnya peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam segenap aspek kehidupan manusia. Akibatnya, peningkatan kualitas bidang pendidikan, khususnya yang berorientasi pada penguasaan dan pemanfaatan IPTEK menjadi sangat penting. Akan tetapi, kualitas pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan (http://mii.fmipa.ugm.ac.id). Hal ini dibuktikan dengan data dari UNESCO (2000) tentang peringat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Lebih lanjut dikatakan bahwa, data Balitbang (2003) menunjukkan bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Programs (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Programs (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Rendahnya prestasi belajar matematika merupakan salah satu permasalahan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Mutu pendidikan matematika dari tahun ke tahun sejak 1975 sampai sekarang terkesan tidak meningkat, apalagi kalau dibandingkan dengan perkembangan negara-negara lain (Marpaung, 2008). Dari beberapa kali Ujian Nasional, matematika disebut sebagai penyebab utama kegagalan siswa. Pembelajaran matematika pada umumnya masih didominasi oleh paradigma pembelajaran terpusat pada guru, yang sering disebut sebagai pembelajaran langsung (direct teaching). Guru aktif mentransfer pengetahuan kepada siswa, sedangkan siswa menerima pelajaran dengan pasif. Matematika diajarkan sebagai bentuk yang sudah jadi, bukan sebagai proses. Akibatnya, ide-ide kreatif siswa tidak dapat berkembang, kurang melatih daya nalar dan tidak terbiasa melihat alternatif lain yang mungkin dapat dipakai dalam menyelesaikan suatu masalah. Siswa hanya mampu mengingat dan menghafal rumus atau konsep matematika tanpa memahami maknanya. Sementara itu, tidak sedikit siswa yang memandang matematika sebagai suatu mata pelajaran yang membosankan, menyeramkan bahkan menakutkan, sehingga motivasi belajar matematika siswa rendah dan banyak siswa berusaha menghindari pelajaran matematika. Banyak siswa merasa kesulitan dalam memahami matematika karena matematika bersifat abstrak, sementara alam pikiran kita terbiasa berpikir tentang obyek-obyek yang konkret. Guru tidak terbiasa menggunakan metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan membuat siswa dapat mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata, metode pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, pendekatan konstruktivisme, pembelajaran berbasis masalah, dan sebagainya. Guru terbiasa menggunakan model pembelajaran mekanistik dan strukturalistik, yaitu guru Kamis, 18 Maret 2010 09:58

bertanya. mengajukan. sistem tersebut meliputi delapan komponen berikut: (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna. (5) berpikir kritis dan kreatif. (2) memberi kesempatan pada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri. (8) menggunaan penilaian autentik (Johnson. mengumpulkan data. memberi rumus dan contoh. sosial dan budaya mereka. 2009: 67). 2008: 87). Untuk mencapai tujuan itu. (6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang. Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka. pemodelan (modeling). Dalam pandangan ini strategi yang diperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. sedikit demi sedikit. kemudian siswa diberi soal untuk dikerjakan. (3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri. yaitu: observasi. . prinsip ini mempunyai seperangkat siklus.menerangkan. Akibatnya banyak siswa yang masih mengalami kesulitan belajar matematika. bertanya (questioning). menemukan (inquiry). B. refleksi (reflecting). (7) mencapai standar yang tinggi. yaitu dengan konteks keadaan pribadi. Merrilyn (2004): by inquiry mathematics. melalui suatu proses. Menurut Nurhadi (2003) dalam Syaiful Sagala (2008: 88). Karena itu. masyarakat belajar (learning community). Pendekatan Konstekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran. Dalam pengertian menemukan sebagai inquiri. siswa dalam kelas dapat belajar untuk berbicara dan bersikap secara matematika. Dengan inquiri. menceritakan) kejadian pada dunia nyata kemudian diangkat ke dalam konsep matematika yang dibahas. PENDEKATAN KONTEKSTUAL Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) disingkat menjadi CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka (Syaiful Sagala. dan menyimpulkan. E. Konstruktivisme merupakan landasan filosofis dari CTL.. (4) bekerja sama. tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara: (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa. dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. yaitu konstruktivisme (constructivism). student learn to speak and act mathematically by participating in mathematical discussion and solving new or unfamiliar problem. yaitu bahwa ilmu pengetahuan itu pada hakekatnya dibangun tahap demi tahap. (2) melakukan pekerjaan yang berarti. sebagaimana yang ditulis Richard (1991) dalam Goos. dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Menemukan adalah proses penting dalam pembelajaran agar retensinya kuat dan muncul kepuasan tersendiri bagi siswa dibandingkan dengan melalui diwariskan. dugaan. CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Wina Sanjaya. 2008: 255) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa CTL adalah pembelajaran yang dimulai dengan mengambil (mensimulasikan.

Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari dan dilakukan setiap peserta belajar. bukan melulu hasil. akan berpengaruh terhadap pola perilaku manusia. Pengetahuan pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah. J.kepada guru. Bertanya adalah cerminan dalam kondisi berpikir. siswa membuat keterkaitan antara materi yang dipelajari untuk menyelesaikan permasalahan matematika. yaitu guru terhadap siswa dan sebaliknya. Konsep masyarakat belajar (learning community) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. b) Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. selama ini format tes matematika cenderung menekankan pada pengujian produk bukan proses. Guru mengkoreksi dirinya. siswa dengan siswa. Pengertian belajar dalam konteks CTL meliputi beberapa hal (Wina Sanjaya.Bertanya merupakan jiwa dalam pembelajaran. (5) bekerja sama. akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. guru bukan satu-satunya model. sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki. the more successful students provided evidence that they translate and organized the given information by rewriting it on paper and they used the context to support their solutions. Nilai hakiki dari prinsip ini adalah semangat introspeksi untuk perbaikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya. (6) mengembangkan sikap individu. Berbagai penelitian memang telah banyak menguji keberhasilan bentuk sharing pengetahuan ini. Memang. Dengan bertanya. Seperti yang ditulis Pape. (3) melakukan pekerjaan yang berarti. (7) mengenali dan mencapai standar tinggi. khususnya pembelajaran teman sebaya. c) Belajar adalah proses pemecahan masalah. dan dengan berbagai cara. dan menyimpulkan sebuah konsep. Hal ini terjadi karena sistem dan aturan yang dikembangkan menuntut untuk melakukan tes hanya produk saja. Tes hanyalah salah satunya. siswa dikoreksi oleh gurunya. Dalam bentuk formalnya sebagai salah satu kegiatan dalam mengawali. melainkan harus memfasilitasi suatu model tentang “bagaimana cara belajar” baik dilakukan oleh siswa maupun oleh guru sendiri. sebab dengan memecahkan masalah anak akan . (4) menggunakan pemikiran tingkat tinggi yang kreatif dan kritis. Bentuknya bisa dilakukan guru langsung kepada siswa atau justru memancing siswa untuk bertanya. 2008 : 260): a) Belajar bukanlah menghafal. kepada siswa lain atau kepada orang lain secara khusus. Stephen (2004). (2) membangun keterkaitan antara sekolah dengan konteks kehidupan nyata. menguatkan. Penilaian sebenarnya memandang bahwa kemajuan belajar dinilai dari proses. Itulah hakekat penilaian autentik. Pembelajaran dengan sistem CTL akan membuat siswa : (1) menjadi siswa yang dapat mengatur diri sendiri dan aktif. Pemodelan menurut versi CTL.

Dalam menyelesaikan masalah. Conney (1975) dalam Herman Hudoyo (1988: 113) menyatakan bahwa mengajarkan penyelesaian masalah kepada peserta didik memungkinkan peserta didik itu menjadi lebih analitik di dalam mengambil keputusan di dalam hidupnya. salah satu indikator tercapainya tujuan pembelajaran di sekolah adalah jika siswa dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya. Penyelesaian soal cerita dimaksudkan agar siswa tidak hanya mampu mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong munculnya sikap positif siswa akan kebermaknaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. e) Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari diperoleh melalui kemampuan menyelesaikan soal cerita. Berikut ini adalah contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika SMA/MA: . maka memecahkan masalah merupakan aktivitas sehari-hari bagi manusia. baik intelektual. mencari generalisasi. Dalam pembelajaran SPLK. Selain itu.berkembang secara utuh. PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA Dalam kehidupan sehari-hari manusia sering berhadapan dengan masalah. d) Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju ke kompleks. mental maupun emosi. siswa perlu memahami proses penyelesaian masalah dan trampil dalam memilih dan mengidentifikasi kondisi dan konsep yang relevan. guru dapat menerapkan pendekatan kontekstual dengan cara mengawali pembelajaran dengan memberikan soal cerita yang berkaitan dengan SPLK. Materi SPLK ini diberikan pada siswa kelas X (sepuluh) SMA/MA. Pemecahan masalah merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran di sekolah. Dengan membuat keterkaitan antara materi SPLK dengan masalah kehidupan sehari-hari. siswa harus dilatih menyelesaikan masalah. Oleh karena itu. Pendekatan kontekstual pada pembelajaran matematika SMA/MA dapat diterapkan pada materi Sistem Persamaan Linear dan Kuadrat (SPLK). penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika diawali dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (real world learning). merumuskan rencana penyelesaian dan mengorganisasikan ketrampilan yang telah dimiliki sebelumnya (Herman Hudoyo. 1988: 113). seseorang harus menguasai hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya dan kemudian menggunakannya dalam situasi baru. Oleh karenanya. langkah-langkah dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat membantu siswa membangun sendiri pemahamannya. Oleh karena itu. sehingga materi yang dipelajari tidak mudah hilang (tidak cepat lupa). maka siswa akan merasakan kebermanfaatan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menyelesaikan masalah.

Metode grafik 2. Metode gabungan substitusi dan eleminasi II. Metode gabungan substitusi dan eleminasi. Tujuan Pembelajaran  Siswa dapat menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan : 1. Metode grafik 2. Metode eleminasi 4. Metode substitusi 3.1 Menyelesaikan sistem persamaan linear dan sistem persamaan campuran linear dan kuadrat dalam dua variabel : Kelas / Semester : Pertemuan Ke Alokasi Waktu : : Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator  Menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan : 1.RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Mata Pelajaran : MATEMATIKA X/1 1 2 x 45 Menit : Memecahkan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dan pertidaksamaan satu variabel : 3. Metode substitusi 3. Metode Pembelajaran  Ceramah dengan pendekatan kontekstual . Metode eleminasi 4. Bahan / Materi Ajar  Sistem Persamaan Linear Dua Variabel III. I.

dan persamaan garis lurus. Kegiatan awal : 1. Guru menjelaskan kepada siswa bahwa untuk menyelesaikan SPLDV tersebut di atas dapat dilakukan dengan tiga cara. 2. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya. yaitu: dengan metode substitusi.IV. Guru membiarkan siswa membangun (mengkonstruksi) pengetahuannya sendiri berdasarkan konsep materi yang . menentukan ukuran panjang atau lebar suatu bidang berbentuk persegi atau persegi panjang. Siswa menyelesaikan permasalahan tersebut secara berdiskusi dengan kelompoknya.00. yaitu: Misal : buku tulis = x dan bolpoin = y. Kegiatan Inti : 4. Jika jumlah 2 kali umur ayah dan 3 kali umur anaknya sekarang 160 tahun.800. 9. b. Selanjutnya guru menerangkan cara penggunaan masing-masing metode. Guru membimbing siswa membuat kalimat matematika dari soal cerita tersebut.800 Kedua persamaan tersebut disebut sistem persamaan linear dengan dua variable (SPLDV) 7. Tentukan harga sebuah buku tulis dan harga sebuah bolpoin!” 6. 8. eleminasi dan gabungan substitusi eleminasi. Guru memberikan sebuah permasalahan matematika: ”Diketahui harga 2 buku tulis dan 3 bolpoin adalah Rp 5. 3. Guru membimbing kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan.2004x+2y=6. tentukan umur ayah dan umur anaknya sekarang!” 10. sedangkan harga 4 buku tulis dan dua bolpoin adalah Rp 6.00. persamaan kuadrat. maka diperoleh dua persamaan sebagai berikut: 2x+3y=5. Motivasi : Guru menjelaskan arti penting SPLDV dalam penyelesaian permasalahan kehidupan sehari-hari. Apersepsi : Guru mengingatkan kembali tentang materi persamaan linear dua variabel.200. Menjelaskan tujuan pembelajaran yaitu menentukan penyelesaian soal-soal cerita yang berkaitan dengan SPLDV. Langkah-langkah Pembelajaran : a. misalnya dalam menentukan harga barang. Guru memberikan permasalahan yang kedua: ”Sepuluh tahun yang lalu. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok (tiap kelompok terdiri dari 5-6 anak) 5. umur soerang ayah sama dengan 4 kali umur anaknya.

Mengetahui. tentukan umur ayah dan umur anaknya sekarang! PENUTUP Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya..00 dan Rp 20... tentukan panjang dan lebarnya! 2... guru memberi kesempatan kepada salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya...... Kepala .. Jika dani dan Budi masing-masing harus membayar Rp 31... Dani membeli 15 buku tulis dan 3 pensil. 11......... Diketahui keliling suatu persegi panjang adalah 50 cm............. Jika selisih umur ayah dan anaknya sekarang sama dengan 45 tahun.... Kemampuan mengabstraksi dan mendeduksi hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah dalam tahap operasional formal.. Oleh karena itu.. c..... Jika 5 kali panjangnya dikurangi 3 kali lebarnya sama dengan 45 cm........... Kegiatan akhir 12. Matematika merupakan ilmu yang bersifat abstrak dan penalarannya deduktif... Penilaian : Penilaian afektif pada saat diskusi kerja kelompok maupun presentasi. Lima tahun yang lalu umur seorang ayah sama dengan 4 kali umur anaknya...... Guru Mata Pelajaran : : : Buku Paket dan LKS yang dipakai siswa di sekolah _____________________ Lampiran : __________________ 1.500. bukan mengetahuinya.. ... Alat / Bahan / Sumber belajar : Alat Bahan Sumber Belajar VI.. sedangkan Budi membeli 10 buku tulis dan 1 pensil.500... Suatu hari....00. Membuat kesimpulan dan memberi pekerjaan rumah (PR) secara individu (soal PR terlampir) V. dalam mengajarkan matematika diperlukan kreatifitas ......... tentukan harga satu buku tulis dan satu pensil! 3.. Setelah selesai berdiskusi..... Dani dan Budi membeli buku tulis dan pensil bersama-sama..telah diterimanya.

Kreatifitas peserta didik akan terbentuk bila cara penyampaian topik kepada peserta didik sesuai dengan kemampuan dan kesiapan intelektual peserta didik. Program pembelajaran kontekstual lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. 2001). sehingga materi dapat diserap siswa dan siswa tidak mudah lupa. tetapi dangkal". melainkan "sedikit. Marsinu No 05 Subang NPM : 0851210057 ABSTRAK Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika Pendekatan kontelstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. bukan menjadi prioritas dalam penyusunan rencana pembelajran berbasis CTL. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education. yang berisi skenario tahap-demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya.guru. TUGAS ARTIKEL PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA EVI NUR‟AFIYAH JAMIL SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) SUBANG Jl. . tetapi mendalam". Dengan pendekatan kontekstual. pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna. Salah satu strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Strategi pemecahan masalah dipergunakan dalam proses pembelajaran untuk melatih peserta didik menghadapi permasalahan yang menuntut kreatifitas. Ada banyak strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika. mengingat yang akan dicapai bukan "hasil". Perumusan tujuan yang berkecil-kecil. Yang diinginkankan bukan "banyak . tetapi lebih dari pada "strategi belajar". Pembelajaran matematika di SMA/MA dengan pendekatan kontekstual dapat diterapkan pada materi Sistem Persamaan Linear dan Kuadrat.

Dengan konsep itu. Pembelajaran yang berorieritasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi 'mengingat' jangka pendek. bukan dari 'apa kata guru'. Kajian Pustaka . Latar Belakang Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Seperti halnya strategi pembelajaran yang lain. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dalam upaya itu. Dalam kelas kontekstual. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. B. inkuiri. Belajar akan lebih bermakna jika „anak mengalami' apa yang dipelajarinya. berusaha untuk mengubah kondisi di atas. Kata Kunci : pendekatan kontekstual. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.jangka panjang. Dan. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dengan demikian siswa belajar melalui Penerapan pendekatan kontekstual sejalan dengan tumbuh-kembangnya matematika itu sendiri dan ilmu pengetahuan secara umum. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. dengan melalui tanya-jawab. konsep belajar matematika. Proses penibelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. tetapi gagal dalam membekali anak memecahkm persoalan dalam kehidupm. itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. yaitu dengan membuat skenario pembelajaran yang dimulai dari konteks kehidupan nyata siswa (daily life). akan tetapi melalui inkuiri. Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari 'menemukan sendiri'. tanyajawab. tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. diskusi. dan bagaimana mencapainya.Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika. bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam konteks itu siswa perlu mengerti apa makna belajar. Dalam buku ringkas ini dibahas persoalan yang berkenaan dengan pendekatan kontekstual dan implikasi penerapannya. Matematika tumbuh dan berkembang bukan melalui pemberitahuan. bukan 'mengetahui'-nya. sehingga siswa dapat mengkontruksi konsep tersebut dalam pikirannya. Selanjutnya guru memfasilitasi siswa untuk mengangkat objek dalam kehidupan nyata itu ke dalam konsep matematika. kontruksivisme. apa manfaatnya. dalam status apa mereka. guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. dan semacamnya yang dimulai dari pengamatan pada kehidupan sehari-hari yang dialami secara nyata. Maksudnya. pembelajaran matematika A. hasil pembelajaran dihadapkan lebih bermakna bagi siswa.

Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. guru tidak lagi berorientasi pada hasil tetapi lebih pada proses anak belajar untuk menguasai kemampuan. • Hadirkan 'model' sebagai contoh pembelajaran. 3. strategi belajar yang salah dan terus-menerus dipajangkan akan mempengaruhi struktur otak. dan "bagaimana" ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu. • Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit). yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku. • Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah. dan bukan diberi begitu saja oleh guru. yaitu langkah pembelajaran semakin sistematik. dan peran siswa mulai diaktifkan. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. kegiatan pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. dan seorang anak menpunyai kecendrungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru. Langkah Penerapan Pendekatan Kontekstual • Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. sedikit-demi sedikit. • Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru. menemukan sendiri. • Lakukan refleksi di akhir pertemuan. Pada siklus pertama. menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya.Pendekatan kontekstual dilaksanakan dalam tiga siklus. siswa dapat dipilih sebagai model bagi siswa lain. . • Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. Untuk itu perlu dipahami. Akan tetapi. Pada siklus ketiga dapat diambil kesimpulan. dan bergelut dengan ide-ide. Transfer Belajar • Sisawa belajar dari mengalami sendiri bukan dari pemberian orang lain. tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. • Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. yaitu hasil tulisan siswa terlihat lebih rapi dan dapat dibaca orang lain dan penerapan pendekatan kontekstual memberikan dampak positif terhadap kinerja dan prestasi siswa. • Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. 2. Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut : 1. • Ciptakan 'masyarakat belajar' (belajar dalam kelompok-kelompok). siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. • Penting bagi siswa tahu "untuk apa" ia belajar. dan mengkostruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. • Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Proses Belajar • Belajar tidak hanya sekedar menghafal. • Siswa perlu dibiasakan memmecahkan masalah. • Pra ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter). Siswa Sebagai Pembelajar • Manusia mempunyai kecendrungan untuk belajar dalam bidang tertentu. • Strategi belajar itu penting. • Strategi belajar itu penting. • Anak belajar dari mengalami. Pada siklus kedua dapat diambil kesimpulan. yaitu langkah mengajar guru lebih sistematik sesuai dengan rencana pembelajaran yang disusun. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru.

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta. yaitu dengan menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa. memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri. dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan. bahwa papan tulis ini berbentuk persegi panjang. maka setiap sisi papan tulis yang persegi panjang harus ditambahkan. • Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. tetapi hasil dari menemukan sendiri. yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit. • Peran orang dewasa (guru) mebantu menghubungkan antara "yang baru" dan yang sudah diketahui. apapun materi yang diajarkannya. Guru menjelaskannya kembali. guru mengarahkan". Misalnya : Guru menanyakan alat yang biasanya ditulis oleh kapur. • Tugas guru "memfasilitasi" agar informasi baru bermakna memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri. siswa menonton" ke "siswa bekerja dan berkarya. C. Jika kita akan menhitung keliling persegi panjang.untuk hal-hal yang sulit. • Umpan balik amat penting bagi siswa. Menemukan (Inquiry) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar. Metodologi Metode yang digunakan untuk pendekatan kontekstual yaitu sebagai berikut : 1. Pentingnya Lingkungan Belajar • Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Sedangakan untuk menghitung luas persegi panjang adalah panjang papan tulis tersebut dikali lebar papan tulis. 2. 4. Konstruktivisme (Construktivism) Konstruktivisme (constructivisvism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL. papan tulis. strategi belajar amat penting. Strategi belajar lebih dipentingkan dibanding hasilnya. Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun) • Bagaimanakah silsilah raja-raja Majapahit (dalam mata pelajaran sejarah) • Bagaimanakah cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar di tepi pantai Kendari (bahasa Indonesia)? . Dari "guru akting didepan kelas. yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Siklus Inquiry: Observasi Bertanya Mengajukan dugaan (hipotesis) Mengumpulkan data Menyimpulkan Langkah-langkah kegiatan inquiry: 1. dan menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. Dimana siswa tersebut mengetahui sesuatu atas dasar pengembangan dirinya sendiri. Persegi panjang itu memiliki panjang dan lebar. kemudian siswa menjawab. • Pengajaran harus berpusat pada "bagaimana cara" siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Tugas guru adalah memfasilitasi agar siswa belajar lebih nyaman dan bisa mengembangkan hasi pemikirannya sendiri.

teman sekelas. dsb. tidak ada yang mengerjakan seuatu kecuali memperhatikan guru tersebut. kemudian siswa bertanaya “ 25 cm itu dari mana pak? “ guru menjawab “ 25 cm adalah dari sisi dikali sisi. antarkelompok. karena siswa tersebut keluar dari pembahasan yang diterangkan oleh guru. Misalnya : Dalam suatu kelas terdiri dari satu pengajar dan 30 pembelajar (siswa). Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca. • Siswa membuat paragraf deskripsi sendiri. Bertanya (Questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang. Misalnya : Guru menjelaskan bahwa persegi mempunyai sisi yang sama panjangnya dengan masing-masing sisi mempunyai panjang 5 cm. dan antarmereka yang tahu ke mereka yang sebelum tahu. dst. 3. 4. • Siswa membuat bagan silsilah raja-raja majapahit sendiri. Ketika guru mengjarkan siswa harus memperhatikan guru tersebut. dan sejenisnya di majalah dinding. dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. • Memunculkan ide-ide baru • Melakukan refleksi • Menempelkan gambar. Karena untuk mencari luas persegi yaitu dengan cara panjang sisi persegi kali panajng sisi persegi. anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan masyarakat memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan juga meminta informasi yang diperlukan dari teman bicaranya. Questioning merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. 4. maka luas persegi adalah 25 cm. bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong membimbing. dan menilai kemampuan berfikir siswa. laporan. • Siswa membuat peta kota-kota besar sendiri. maka siswa tersebut tidak terlibat dalam kelompok masyarakat belajar. maka luas persegi tersebut adalah 5 x 5 = 25 cm. Apabila ada salah satu siswa yang tidak memperhatikan guru yang menerangkan didepan. ada model yang bisa ditiru. Hasil belajar diperoleh dari sharing antarteman. majalah sekolah. Dalam masyarakat belajar. 5. karya tulis.• Ada berapa jenis tumbuham menurut bentuk bijinya (biologi) • Kota mana saja yang termasuk kota besar di Indonesia? (geografi) 2. peta. guru. atau kepada orang banyak untuk mendapatkan masukan • Bertanya jawab dengan teman. gambar. Pemodelan (Modelling) Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. . Maksudnya. guru. • Mengamati dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati. • Siswa membuat penggolongan tumbuh-tumbuhan sendiri • Siswa membuat essai atau usulan kepada Pemerintah tentang berbagai masalah di daerahnya sendiri. 3. Mengamati atau observasi • Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung. selalu bermula dari "bertanya". Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan. table dan karya lainnya . bagan. Berhubung panjang sisi tersebut adalah 5 cm. atau audien yang lain • Karya siswa disampaikan teman sekelas.

 Prinsip Pendekatan Kontekstual a) Konstruktifisme adalah landasan berfikir yang dibangun sedikit demi sedikit oleh siswa. Penilaian Yang Sebenarnya (Authentic Assessment) Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. . melainkan hasil karya siswa. d) Masyarakat Belajar adalah Siswa belajar secara bersama-sama di dalam suatu ruangan yang di bimbing oleh seorang guru (pengajar). Refleksi (Reflection) Refleksi juga bagian penting dalam pembelejaran dengan pendekatan CTL. b) Menemukan (inquiry) adalah Pengetahuan yang dimiliki siswa dari hasil menemukan sendiri.Misalnya : Dalam pembelajaran matematika biasanya indentik dengan pemodelan. f) Refleksi adalah Pengulangan pelajaran yang telah lalu yang dilakukan oleh siswa dan di bimbing oleh guru. e) Pemodelan adalah Pembelajaran yang dilakukan guru atau siswa. agar siswa lebih mudah memeahami maksud dari konsep tersebut. g) Penilaian yang Sebenarnya adalah Proses pengmpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran perkembangan belajar siswa. dan agar siswa dapat menghubungkan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. yang bisa dibentuk modelmodel pembelajarannya. dan sebagainya. Apabila terdapat hasil siswa yang kurang baik. Tujuannya agar siswa mengerti bentukbentuk apa saja yang ada pada pembelajaran matematika itu. kubus. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Hasil dan Diskusi Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematka adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata yang dialami oleh siswa. agar guru dapat mengetahui mana siswa yang sudah paham dan mana yang belum paham dan siswa juga dapat mengingat kembali tentang apa yang telah dipelajarinya. tetapi guru tersebut sebaiknya memberi arahan yang bisa memotivasikan siswa agar siswa dapat belajar degan lebih baik.  Karakteristik Pendekatan Kontekstual a) Adanya kerjasama b) Siswa aktif dan kritis c) Pembelajaran terintegrasi d) Dinding kelas penuh dengan hasil karya siswa e) Lapiran kepada orang tua bukan sekedar rapot. limas dan lain sebagainya itu membutuhkan pemodelan. tugas guru bukan mematikan semangat siswa tersebut dengan kata-kata yang kurang baik. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Baik secara abstrak ataupun ril. c) Bertanya (question) Pengetahun yang siswa dapatan dari hasil bertanya. Misalnya : Melaksanakan tes untuk menilai tingkat peguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan. E.  Langkah Penerapan Pendekatan Kontekstual a) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. persegi. Misalnya : Setelah belajar hendaknya guru melakukan pengulangan kembali. 7. Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. baik secara abstrak. guru mengajarkan tentang lingkaran. ril. 6.

Disamping itu. E. Pada siklus pertama dapat diambil kesimpulan. Disamping itu pendekatan kontekstual juga suatu pendekatan dapat membantu guru dalam mengajar untuk membawa siswa ke dunia nyata. 1. Pendekatan kontekstual ini sangat signifikan baik terhadap kemampuan analisis. kegiatan pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. yaitu langkah mengajar guru lebih sistematik sesuai dengan rencana pembelajaran yang disusun. Dengan demikian. program lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang oleh guru. Dalam pembelajaran Kontekstual.menemukan sendiri. Karena pendekatan ini sangat cocok sekali digunakan dalam pembelajaran matemaika. Sehingga akan berdampak pada tidak tercapainya alokasi waktu yang telah ditetapkan dalam kurikulum. yang berisi sekenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. d) Ciptakan 'masyarakat belajar' (belajar dalam kelompok-kelompok). sintesis maupun keterampilan berkomunikasi. Oleh karena itu pendekatan ini banyak diterapkan pada pelaksanaan pengajaran. pendekatan kontekstual tentunya sangat membantu siswa untuk memahami materi yang dipelajarinya. yaitu hasil tulisan siswa terlihat lebih rapi dan dapat dibaca orang lain dan penerapan pendekatan kontekstual memberikan dampak positif terhadap kinerja dan prestasi siswa. yaitu langkah pembelajaran semakin sistematik. Oleh karena itu banyak siswa yang mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri untuk mengetahui sesuatu yang belum . f) Lakukan refleksi di akhir pertemuan. siswa dapat dipilih sebagai model bagi siswa lain. Untuk menerapkan pendekatan kontekstual pada suatu pembelajaran. Kesimpulan Pendekatan Kontekstual ini sangat baik diterapkan untuk metode pembelajaran SD. guru tidak lagi berorientasi pada hasil tetapi lebih pada proses anak belajar untuk menguasai kemampuan. Materi Volum Tabung dan Kerucut a. b) Kelemahan dari pendekatan kontekstual yang sangat menonjol adalah dari segi waktu. c) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Bagaimana Pendekatan Kontekstual diterapakan Pada Siswa ? Penerapan pendekatan kontekstual dilaksanakan dalam tiga siklus. Pada siklus ketiga dapat diambil kesimpulan. SMP. e) Hadirkan 'model' sebagai contoh pembelajaran. Karena banyak guru yang berhasil menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran yang dilakukannya. Pada siklus kedua dapat diambil kesimpulan. yang tidak dimiliki oleh pendekatan konvensional. 1. H.2.1. Apa Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual ? a) Kelebihan dari pendekatan kontekstual dapat dilihat dari tujuh komponen utama dari pendekatan kontekstual. dan peran siswa mulai diaktifkan. sehingga siswa lebih mudah memahaminya. kelemahan yang dimiliki oleh pendekatan kontekstual tidak dapat diterapkan untuk semua materi matematika. SMA. g) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. sederajat bahkan perguruan tinggi sekalipun. waktu yang dibutuhkan sangat banyak. Di samping itu pendekatan ini juga bisa membantu siswa untuk mengembangkan pengetehuan yang didapatkannya. b) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. sesuai dengan konteks dan lingkungan kehidupan siswa seharihari.

http://educare.com/2009/02/01/kajian-kesetarapan-antara-pendekatankontekstual-dengan-realistic-mathematic-education http://p4tkmatematika. 2010. Jakarta : Depdiknas. berani dan mampu mengerjakan suatu masalah untuk menemukan jawaban dari permasalahan tersebut.net Pembelajaran dan Pengejaran Kontekstual.mulyo. 04:58Page 2 http://educare.com/2007/07/31/ http://karso. (2002) Author: makalah | Posted at: 00:25 | Filed Under: Pendidikan . kreatif.pdf. F. Sehingga menjadikan siswa aktif. Daftar Pustaka http://rbaryans.plasa.wordpress.blog.e-fkipunla..dipahaminya. Pendekatan kontekstual ini sangat signifikan baik terhadap kemampuan analisis. K.e-fkipunla.org/fasilitasi/11-Pembelajaran-matematika kontekstual.net http://lowongan.net/search/Pendekatan+Kontekstual+dalam+Pembelajaran+Matemati ka Erman Suherman Generated: 3 June. sintesis maupun keterampilan berkomunikasi. Kasihani. dkk.promosale.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful