POTENSI Trichoderma harzianum (T38) DAN Trichoderma pseudokoningii (T39) SEBAGAI ANTAGONIS TERHADAP Ganoderma sp.

PENYEBAB PENYAKIT AKAR PADA POHON SENGON (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen.)

RATNA JAMILAH E44060043

DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

RINGKASAN
Ratna Jamilah. E44060043. Potensi Trichoderma harzianum (T38) dan Trichoderma pseudokoningii (T39) sebagai Agen Antagonis terhadap Ganoderma sp. Penyebab Penyakit Akar pada Tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen.). Di bawah Bimbingan Dr. Ir. Elis Nina Herliyana, M.Si dan Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, M.Sc Sengon merupakan salah satu tanaman kehutanan yang banyak dikembangkan dalam program pembangunan hutan. Dalam pengelolaannya, tanaman sengon kerap kali diserang fungi busuk akar (Ganoderma sp.). Isolat Trichoderma harzianum (T38) dan isolat Trichoderma pseudokoningii (T39) merupakan pilihan alernatif dalam mengendalikan Ganoderma sp. secara hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isolat T38 dan T39 sebagai agen antagonis dalam pengendalian Ganoderma sp.. Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah isolat Ganoderma sengon L6, L12, L3, K2, dan K1, isolat T38 dan T39, cawan Petri, dan PDA steril. Uji antagonisme dalam penelitian ini dilakukan dengan cara metode biakan ganda dengan perbandingan 1 : 1 secara in-vitro dalam satu cawan konfrontasi. Kemudian setelah hari kelima dilakukan pengamatan zona penghambatan dan persen penghambatan. Analisis statistik menggunakan model RAL 2 faktor. Variabel yang digunakan adalah persen penghambatan. Pertumbuhan isolat Ganoderma sp. dari yang paling cepat berturut-turut kemudian semakin lambat adalah Ganoderma K2, L12, K1, L3 dan L6. Sedangkan pada isolat Trichoderma sp. jenis yang paling cepat tumbuh adalah jenis isolat T39 dibandingkan dengan isolat T38. Kedua jenis fungi antagonis yang diuji isolat T39 memiliki potensi antagonistik yang lebih kuat dibanding isolat T38 dengan kemampuan menghambat pertumbuhan fungi patogen dengan persentase penghambatan lebih tinggi berturut-turut pada isolat Ganoderma L12, L6, dan L3. Hasil pengamatan secara visual menunjukan bahwa, isolat T38 dan T39 mampu menghambat pertumbuhan koloni patogen berdasarkan hasil uji in-vitro pada PDA. Zona penghambatan tidak muncul pada cawan konfrontasi. Isolat T39 memiliki potensi antagonistik (rata-rata persen penghambatan) yang lebih kuat (32.6%) dibanding isolat T38 (27.4%). Isolat Ganoderma sp. yang pertumbuhannya sangat terhambat adalah isolat Ganoderma L12, dengan rata-rata persen penghambatan 38.1% dan isolat Ganoderma L6 dengan rata-rata persen penghambatan 39.6%. Kata kunci: Antagonis, Trichoderma harzianum, Trichoderma pseudokoningii, Ganoderma sp., Paraserianthes falcataria.

SUMMARY
Ratna Jamilah. E44060043. Potential of Trichoderma harzianum (T38) and Trichoderma pseudokoningii (T39) as Agent Antagonists against Ganoderma sp. Root Cause of Plant Disease Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen.). Under the guidance of Dr. Ir. Elis Nina Herliyana, M.Si and Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, M.Sc. Sengon is one of many forest plants that developed in the forest development program. In its management, sengon often attacked by root rot fungi (Ganoderma sp.). Isolates of Trichoderma harzianum (T38) and Trichoderma pseudokoningii (T39) are alternative options in controlling Ganoderma sp . biologically. This research aims to determine the potential of T38 and T39 isolates as antagonist agents in Ganoderma sp. controling. Materials and tools those used in this research are isolates of sengon’s Ganoderma (L6, L12, L3, K2, and K1) and isolates of Trichoderma (T38 and T39), Petri dishes, and sterile PDA. Antagonism test in this research carried out by dual culture method with a ratio of 1: 1 by in vitro in one cup of confrontation. Five days later, made the observation about zone and percent of inhibition. Statistical analysis that used in this research was RAL 2 factors model. Variable that used is the percent of inhibition. Growth rank of Ganoderma sp. isolates from most rapid until the slower are K2, L12, K1, L3 and L6 Ganoderma. While the isolates of Trichoderma sp. the fastest growing type is the type of T38 isolates compared with T39 isolates. Both types of antagonists fungal were tested by T39 isolates have stronger antagonistic potency than T38 isolates with the ability to inhibit the growth of fungal pathogens. Percentage of inhibition in a row on Ganoderma isolates are L12, L6, and L3. The visual observation showed that, T38 and T39 isolates can inhibit the growth of colonies of pathogens based on in vitro test results on the PDA. Zone of inhibition does not appear on the confrontation cup. Isolate of T39 has the antagonistic potential (average of inhibitation percent) a stronger (32.6%) than T38 isolates (27.4%). Isolates of Ganoderma sp. whose growth is stunted is L12 Ganoderma isolates, with 38.1% average of inhibition percent and L6 Ganoderma isolates with 39.6% average of inhibitation percent. Key words: Antagonists, Trichoderma harzianum, Trichoderma pseudokoningii, Ganoderma sp., Paraserianthes falcataria.

POTENSI Trichoderma harzianum (T38) DAN Trichoderma pseudokoningii (T39) SEBAGAI ANTAGONIS TERHADAP Ganoderma sp. PENYEBAB PENYAKIT AKAR PADA POHON SENGON (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen.)

RATNA JAMILAH E44060043

Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan Pada Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

Si NIP. 19670421 199103 2 001 Dr. Ir. 110 400 12 Mengetahui : Plh. 19660921 199003 2 001 Tanggal: . Ketua Departemen Silvikultur Dr.Sc NIK.Si NIP. Ir. Penyebab Penyakit Akar pada Tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen.) Nama NIM : Ratna Jamilah : E44060043 Menyetujui : Dosen Pembimbing. M. Ir. Noor Farikhah Haneda. Elis Nina Herliyana. Dr. M. M.Judul Skripsi : Potensi Trichoderma harzianum (T38) dan Trichoderma pseudokoningii (T39) sebagai Agen Antagonis terhadap Ganoderma sp. Darmono Taniwiryono.

Penyebab Penyakit Akar pada Tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen.)” adalah benar-benar hasil karya ilmiah saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Bogor.PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul ”Potensi Trichoderma harzianum (T38) dan Trichoderma pseudokoningii (T39) sebagai Agen Antagonis terhadap Ganoderma sp. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. April 2011 Ratna Jamilah NRP E44060043 .

oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan.)”. Penyebab Penyakit Akar pada Tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen. Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis memperoleh begitu banyak bantuan dan dukungan. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam kegiatan pelaksanaan hingga penyusunan karya ilmiah ini. Bogor. April 2010 Penulis . Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan skipsi ini. Semoga skripsi ini dapat digunakan sebagai referensi untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan bermanfaat dalam pelaksanaan penelitian berikutnya.v v KATA PENGANTAR Syukur yang tidak terhingga penulis panjatkan ke khadirat Allah SWT atas berkah dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Tema yang dipilih dalam penelitian ini berjudul “Potensi Trichoderma harzianum (T38) dan Trichoderma pseudokoningii (T39) sebagai Agen Antagonis terhadap Ganoderma sp.

vi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 07 Februari 1989 dari pasangan suami istri Rachmat Djiono dan Sugiati. Erna Djuliawati Kalimantan-Tengah dan kemudian dilanjutkan dengan penelitian di Laboratorium Patologi Hutan IPB dan di Laboratorium Bioteknologi LRPI Bogor. penulis menyelesaikan skripsi dengan judul “Potensi Trichoderma harzianum dan Trichoderma pseudokoningii sebagai Agen Antagonis terhadap Ganoderma sp.Si dan Dr. Penulis juga pernah mengikuti Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Kamojang dan Sancang serta Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Penulis juga melaksanakan Praktik Kerja Profesi (PKP) di PT.Penulis melanjutkan pendidikan di SLTPN 182 Kalibata. Jakarta Timur dan lulus pada tahun 2006. . Penulis memulai jenjang pendidikan formal pada tahun 1994-2000 di SDN 01 Duren Tiga. Ir. Pada tahun 2006 penulis diterima sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Penulis aktif di organisasi mahasiswa. Jakarta Selatan dari tahun 2000-2003. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMU Muhammadiyah 04 Cawang. M. panitia pelatihan fungi tiram pada tahun 2008 dan panitia Go Green Bekasi Planting Project pada tahun 2008 serta seminar yang lain. M.)” di bawah bimbingan Dr. Fakultas Kehutanan. penulis juga aktif mengikuti seminar seperti. Untuk memperoleh gelar sarjana Kehutanan IPB. Elis Nina Herliyana. Departemen Silvikultur. Darmono Taniwiryono. Penyebab Penyakit Akar pada Tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen. Jakarta Selatan.Sc. yakni sebagai Koordinator Seksi bidang PDD TGC (Tree Grower Community) Fakultas Kehutanan dari tahun 2008-2009. Penulis kemudian diterima sebagai mahasiswa Program Studi Silvikultur. Ir.

vii UCAPAN TERIMA KASIH Segala puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini sebagai salah satu syrarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Kehutanan. Ir. 2. Institut Pertanian Bogor. semangat. 4. semangat. arahan. . Elis Nina Herliyana. memberikan semangat serta motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Ir. serta doa dan motivasinya. ibu Sugiati dan mama Rosida tersayang serta adik-adikku tercinta (Lukman Muharom dan Fatma Syafira) atas segala kasih sayang. 7.Si dan Dr. Keluarga tercinta bapak Rachmat Djiono. serta seluruh staff Lab Patologi Hutan yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.Si selaku dosen penguji serta bapak Ir. Penyebab Penyakit Akar pada Tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen. motivasi dan doanya. Ir. 5. Bapak Dr. 6. Atas selesainya penyusunan karya ilmiah ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarya kepada: 1. Keluarga bapak BJ Basuki dan ibu Nadia Damayanti serta beserta adik Ahadiah Nur Maisaroh yang telah membantu baik dari segi moril dan materil. M. Kasno.)”. Bapak Ir. Permana Zainal yang selalu menemani. Ibu Tutin. 3.Sc selaku dosen pembimbing untuk kesempatan yang diberikan serta bimbingan. Basuki Wasis sebagai dosen moderator pada seminar hasil penelitian. Darmono Taniwiryono.Sc sebagai dosen moderator pada sidang penelitian. membantu. M. Ibu Dr. Tema yang dipilih dalam penelitian ini berjudul “Potensi Trichoderma harzianum (T38) dan Trichoderma pseudokoningii (T39) sebagai Agen Antagonis terhadap Ganoderma sp. Siswoyo. M. dan kesabarannya selama penelitian mulai dari perencanaan hingga penyusunan tugas akhir ini sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan baik. M. bantuan baik dari segi moril maupun materil.

Dina. Uan Subhan. Teman-temanku Enike Ratna Sari. Niechi Valentino. dan yang lainnya atas penghiburan. atas bantuan semangat. Penulis berharap semoga karya kecil ini bermanfaat bagi semua pihak dan dunia ilmu pengetahuan. Gina. Kiswantara. Dewi. 9. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaaan. Helga Sugiarti. doa. 10. . dan Suke. Teman-teman penghuni kontrakan Pongah Wulan. adik angkatan Nur Syamsi. Linda. Dedi Mulyana. Hania Purwitasari. dukungan dan penghiburannya. Umar Atik. Serta civitas Fakultas Kehutanan IPB angkatan 2006 dan seluruh keluarga besar Fakultas Kehutanan atas dukungan serta kehadiran dalam seminar hasil penelitian.viii 8. Randhi F. Noviandri Asmar. Renando Mieko maupun kakak angkatan Irvan Kemal Putra dan yang lainnya serta teman satu angkatan yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. deskripsi masa depan dan harapan yang telah kalian tanamkan.

.. 7  2............................................ harzianum dan T pseudokoningii..............3 Metode Penelitian .....................................3 Peralatan ... 3  1.......................................1.......... T............................. 12  3................................ 4  2......xiii BAB I PENDAHULUAN ............... pseudokoningii................ .................xi DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………….................................................... v v UCAPAN TERIMAKASIH……………………………………………………...................ix DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR...............vi DAFTAR ISI……………………………………………………………………...........3 Hipotesa Penelitian ........................................................2 Sumber Inokulum ...........................................................................................4 Manfaat Penelitian ............... 1  1. 12  3..........2 Bahan dan Alat Penelitian ............................... 12  3...................... 9 BAB III METODE PENELITIAN ................. 12  3............................................................................................................................................... ...................1 Media Tumbuh ...... 7  2...............................................................................xii DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………...........................2 Mekanisme Antagonisme ........ 3  BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................1 Pengertian.......................3 Ganoderma sp............................................1 Potensi Agen Antagonis dalam Pengendalian Hayati ............ix DAFTAR TABEL……………………………………………………………….......2..................2.................. 3  1......... 5  2.............. 6  2.... 1  1....................................................................... harzianum dan T.............................2............1 Latar Belakang ........................................ 4  2................ .......3............................................................................................1 Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................................................2 Sengon (P..................1.................... falcataria) .........................3........2 T............2 Tujuan Penelitian ................ 12  3........ 4  2................................................. 13  3..........................................1 Metode Uji Antagonis ....................................................3.................................................................. 13  3..........................1 Ganoderma sp.. 13  ....

Kesimpulan ...............................................................................................................................1.. 17  4.............................................2 Pembahasan .....3..............................................................................................x .............................. 25  5................... 25  5......................................................................................... 15 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................1 Hasil ........................................2.......... 22  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.. 25  DAFTAR PUSTAKA ....................... 17  4.......................... Halaman 3............................................. Saran............................................................................ 29 .....................................................................................2 Analisis Statistik .................................................................... 26 LAMPIRAN..............................................................................

7. Persen Penghambatan Uji Antagonis Trichoderma sp dan Ganoderma sp..……………....xi DAFTAR TABEL No.. 6.. dengan Trichoderma sp. Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam terhadap Variabel yang Diamati……..... pada Cawan Petri (kontrol)……………. pada Cawan Petri (kontrol)... 5.. Uraian Halaman 15 20 Jenis Perlakuan Ganoderma sp. Hasil Uji Duncan Pengaruh Jenis Isolat Ganoderma sp.. terhadap Persen Penghambatan………………………………………………….. 22 Pertumbuhan Ganoderma sp. terhadap Persen Penghambatan…………………………………………………. 1.……………………………………………………………………… 30 . 3...... 2. 21 Hasil Uji Duncan Pengaruh Jenis Isolat Trichoderma sp. Pertumbuhan Trichoderma sp.. 30 30 4..

........................... oleh Trichoderma sp....di Cawan Petri pada Hari Ke-5.... 5...... 9........... 4..... 11 Metode biakan ganda Ganoderma sp.... 18 Pertumbuhan Isolat Trichoderma sp. pada Cawan konfrontasi berdiameter 9 cm...................... 17 Pertumbuhan Koloni Trichoderma sp…………………………………................... 10C Isolat Ganoderma L6*T38............. 10D Isolat Ganoderma L6*T39. … … … 20 8........... 10........……………………….................... pada Cawan Konfrontasi 10A Isolat Ganoderma L12*T38................... 10G Isolat Ganoderma K2*T38...……………………………………………………. 7D Isolat Ganoderma K2.....xii DAFTAR GAMBAR No....... 7...... 3......... pseudokoningii secara mikroskopis......... 19 Penghambatan Pertumbuhan In-Vitro Ganoderma sp................ 14 Pertumbuhan Koloni Ganoderma sp…………………………………........................................ T....... 10B Isolat Ganoderma L12*T39.................... 10I Isolat Ganoderma K1*T38......... 10H Isolat Ganoderma K2*T39......... 10 T..... Uraian Halaman 9 Ganoderma sp.......................... 8B Isolat T39...... … 7A Isolat Ganoderma L12... harzianum secara miskropkopis...................... 8A Isolat T38........ dan Trichoderma sp.............. 7C Isolat … Ganoderma L3. 1. 10E Isolat Ganoderma L3*T38..... 7B Isolat Ganoderma L6.......................... 19 Pertumbuhan Isolat Ganoderma sp............. 10J Isolat Ganoderma K1*T39 .. secara mikroskopis...... 6........... ..... 7E Isolat Ganoderma K1. 10F Isolat Ganoderma L3*T39.. 18 Pertumbuhan Isolat Ganoderma sp...... dan Trichoderma sp.di Cawan Petri pada Hari Ke-10..... 2..........

. 2.....………………………………………… Persen Penghambatan Uji Antagonis Trichoderma sp dan Ganoderma sp………………………………………………………………………........................ 30 Hasil Uji Sidik Ragam terhadap Variabel yang Diamati dengan Menggunakan Sofware SAS 9………………………………………..... 3................. 5..... 1................................ Pertumbuhan Trichoderma sp...... terhadap Persen Penghambatan dengan Menggunakan Sofware SAS 43 9…………. 31 Hasil Uji Lanjut Duncan Pengaruh Jenis Isolat Ganoderma sp.............. 4.....xiii DAFTAR LAMPIRAN No............…………………………………………........... 32 Hasil Uji Lanjut Duncan Pengaruh Jenis Isolat Trichoderma sp......... 33 6. terhadap Persen Penghambatan dengan Menggunakan Sofware SAS … 9…………...... Uraian Halaman 30 30 Pertumbuhan Ganoderma sp................................ .....................

Eucalyptus pellita. merupakan fungi tingkat tinggi yang tergolong dalam kelas Basidiomycetes ordo Polyporanceae family Ganodermataceae.1 Latar Belakang Peran Hutan Tanaman Industri (HTI) sebagai penyediaan bahan baku kayu di Indonesia kini semakin meningkat. 2003. 1993. peti kemas. Serangan Ganoderma sp. Meskipun tanaman sudah menunjukkan gejala sakit. Ganoderma sp. Serangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh fungi Ganoderma sp. pembuatan pulp. Widyastuti. Bagian terbesar kayu dari HTI luar Jawa adalah untuk kayu pulp. HTI tersebut umumnya dilakukan secara monokultur dan seringkali dihubungkan dengan peningkatan resiko serangan hama penyakit. telah lama mencanangkan program ‘sengonisasi’ (Atmosuseno 1998). namun terkadang tubuh buah Ganoderma sp. Masyarakat pedesaan di pulau Jawa banyak menggunakan kayu sengon untuk bahan konstruksi di bawah atap. HTI kayu pulp didominasi oleh Acacia mangium.1 BAB I PENDAHULUAN 1. . 2003).     Fungi pelapuk kayu dan penyebab penyakit pada pohon hutan sebagian besar berasal dari beberapa spesies Ganoderma sp. terutama bila benihnya berasal dari induk pohon yang secara genetik keragamannya rendah atau berkerabat (Rimbawanto 2008). di lapangan sulit dideteksi karena gejalanya mirip dengan gejala kekeringan. Solomon et al. Tectona grandis dan Paraserianthes falcataria (L) Nielsen (sengon). HTI di Indonesia saat ini salah satunya adalah sengon. Eucalyptus urophylla. Acacia crassicarpa. di pangkal batangnya (Basset dan peters. 2007). pada tanaman sengon telah banyak dilaporkan (Basset dan Peters. Salah satu kelebihan dari pohon sengon adalah pertumbuhannya yang cepat dan kegunaan kayunya yang beragam. belum terbentuk.. kertas dan papan sambung. Beberapa tanaman yang tampak sehat ditemukan tubuh buah Ganoderma sp. mebel sederhana.. Tanaman yang banyak dikembangkan pada program pembangunan hutan. Sengon juga mempunyai manfaat yang cukup besar dalam upaya rehabilitasi lahan kritis. maka pemerintah melalui Departemen Kehutanan.

secara hayati dengan menggunakan agen antagonis T. 2008). dan juga dapat menyebabkan pembusukan kayu yang sudah mati. Pengendalian hayati menggunakan agen antagonis dengan satu kali pemakaian dapat menekan pertumbuhan dan perkembangan patogen untuk jangka waktu yang relatif panjang tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan (Cook dan Baker. 2001). Infeksi atau penularan penyakit ini terjadi melalui kontak akar tanaman sehat dengan sumber infeksi didalam tanah seperti potongan akar padat dan batang yang mengandung koloni patogen (Haryono dan Widyastuti. 2000). Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui . 1989 dalam Muthahanas dan Listiana. Pada HTI dan perkebunan fungi ini telah dilaporkan menjadi patogen akar yang potensial dan telah banyak menyerang beberapa jenis tanaman (Semangun. Serangan akan lebih tinggi akan ditemukan pada tanaman okulasi dibandingkan dengan tanaman biji. dan ini merupakan tempat yang baik bagi infeksi fungi. untuk mengadakan infeksi (Sinulingga. Pengalaman menunjukkan bahwa pengendalian penyakit yang bersifat tidak membahayakan kehidupan makhluk hidup dan lingkungan adalah pengendalian yang ramah lingkungan. Pengendalian Ganoderma sp. Infeksi patogen lebih mudah terjadi melalui luka dan lentisel.2 Ganoderma sp. sehingga memudahkan Ganoderma sp. pada tanaman sering ditemukan bagian leher akar pecah. pseudokoningii (T39) merupakan pilihan alernatif yang dapat mengurangi resiko pencemaran dengan meminimalkan gangguan terhadap keseimbangan biologis disamping menurunkan biaya pengendalian. Pengendalian Ganoderma sp. harzianum (T38) dan T. Di hutan alam fungi ini cenderung menyerang pohon-pohon tua atau yang telah mengalami penurunan pertumbuhan. adalah fungi polyporus yang mempunyai daerah penyebaran tempat tumbuh yang cukup luas dan dikenal sebagai penyebab penyakit akar pada banyak jenis tanaman berkayu. Hal ini disebabkan pada tanaman okulasi ada bagian-bagian luka. Patogen kemudian kebagian yang lebih dalam dari akar. secara hayati dapat dilakukan dengan cara pemanfaatan mikroorganisme. 1989).

pada tanaman sengon dan memberikan informasi yang berkaitan dengan kemampuan isolat tersebut sebagai agen antagonis terhadap Ganoderma sp. pseudokoningii (T39) sebagai agen pengendalian Ganoderma sp. harzianum (T38) dan T.. Fungi agen antagonis dapat berinteraksi dengan patogen penyakit tanaman secara in vitro. 1. pseudokoningii (T39) dalam menghambat pertumbuhan Ganoderma sp.3 Hipotesa Penelitian 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi fungi antagonis T.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat diaplikasikan dalam budidaya sengon. yang menyerang tanaman sengon.3 potensi T. pseudokoningii (T39) terhadap Ganoderma sp. 1. Pengendalian dengan menggunakan agen antagonis diharapkan dapat meningkatkan kualitas dari tanaman sengon. secara hayati. 1. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektifitas isolat T. . harzianum (T38) dan T. harzianum (T38) dan T. 2. Fungi agen antagonis memiliki kemampuan yang berbeda dalam menekan perkembangan fungi.

Belakangan ini pengendalian hayati mendapat perhatian yang serius dari para ahli entomologi dan penyakit tanaman. dari genus yang sama atau dari genus yang berbeda bahkan mungkin berasal dari famili yang berbeda. manipulasi lingkungan dan tanaman inang atau penggunaan mikroorganisme antagonis. 1989 dalam Purwantisari dan Hastuti. Cook dan Baker (1989) dalam Muthahanas dan Listiana (2008) mendefinisikan pengendalian hayati penyakit tanaman sebagai upaya pengurangan kepadatan inokulum patogen penyebab penyakit atau aktifitas patogen yang dapat menyebabkan penyakit tanaman. Salah satu komponen dalam pengendalian penyakit secara terpadu adalah pengendalian hayati. Patogen menyebabkan penyakit pada inang dengan : (1) melemahkan inang dengan cara menyerap makanan secara terus menerus dari sel inang untuk kebutuhannya. Antagonisme merupakan asosiasi antara organisme dari spesies yang sama. Beberapa teknik pengendalian penyakit telah dikembangkan seperti fisik. yang saling mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung (Baker dan Cook. Pengendalian hayati patogen tanaman dapat dilakukan dengan pemanfaatan mikroorganisme antagonis yang dapat menekan atau menghambat perkembangan patogen tanaman. hayati.1. kultur. dengan menggunakan satu atau beberapa mikroorganisme lainnya.1 Pengertian Pengurangan dampak negatif penggunaan pestisida kimia sintetik dapat dilakukan dengan berbagai cara. 2009). Garret (1956) mengemukakan definisi pengendalian hayati pada penyakit tumbuhan sebagai cara pengendalian dimana ketahanan hidup dan aktivitas patogen dikurangi dengan menggunakan agen-agen atau organisme yang hidup di sekitar tanaman tersebut. salah satunya yaitu dengan mengenalkan kepada masyarakat tentang pengendalian penyakit secara terpadu dalam penanganan patogen tanaman. karantina. 1996).4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. eradikasi dan imunisasi (Agrios.1 Potensi Agen Antagonis dalam Pengendalian Hayati 2. sanitasi. (2) menghentikan atau mengganggu metabolism sel . kimia.

tetrasiklin. Untuk tipe biotropik. 1996). atau sedikit. Menurut Yudoamidjojo et al. (3) menghambat transportasi makanan. (1989). 1996). yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme lain (Agrios. 1997). dan sikloheksimida. Keuntungan menggunakan agen antagonis sebagai pengendali hayati antara lain : organisme yang digunakan lebih aman daripada berbagai bahan kimia proteksi. hara mineral. 2. zat antibiotik ideal hendaknya memiliki sifat-sifat sebagai berikut : (1) harus mempunyai kemampuan untuk merusak atau menghambat mikroorganisme patogen spesifik. terjadi proses reproduksi sehingga dapat mengurangi pemakaian berulang-ulang. Interaksi mikroparasitik secara umum dibedakan ke dalam dua tipe. (4) mengkonsumsi kandungan sel inang setelah terjadi kontak (Agrios. dan mikroparasitisme. 1996). dan air.2 Mekanisme Antagonisme Mekanisme antagonisme antara fungi antagonis dengan fungi patogen dalam pengendalian hayati terjadi dalam bentuk antibiosis. mengakibatkan efek negatif terhadap inang. patogen jarang menjadi resisten terhadap agen pengendalian hayati dibandingkan dengan resistensinya terhadap bahan kimia dan dapat dipakai untuk pengendalian bersama-sama dengan cara proteksi yang telah ada (Suwanto et al. parasit mendapatkan nutrisi dan sel hidup tanpa. . yaitu : tipe biotropik dan nekrotropik. tidak terakumulasi dalam rantai makanan. Kompetisi biasanya terjadi terhadap nutrisi dan ruang atau faktor-faktor pertumbuhan penting lainnya (Achmad. kompetisi. (3) tidak menimbulkan efek sampingan pada inang dan (4) konsentrasi antibiotik di dalam jaringan harus dapat mencapai taraf cukup tinggi sehingga mampu menghambat atau mematikan penyebab infeksi.5 inang dengan cara menghasilkan toksin atau enzim. setidaknya pada awal interaksi. Di antara antibiotik yang sangat penting dalam pengendalian patogen adalah panisilin streptomisin.1. (2) tidak mengakibatkan patogen menjadi parasit.. Antibiotik adalah senyawa kimia bersifat racun.

sika. seka. bai. Daun sengon. baik daun. selawoku. sehingga disukai hewan ternak. Nama daerah : Jeunjing. sebagaimana daun-daun dari famili Mimosaceae lainnya merupakan pakan ternak yang sangat baik mengandung protein yang tinggi. wai. 1997). bae. Selain sebagai pakan ternak. Kayu olahan banyak diminati oleh negara-negara importir seperti Jepang.6 sedangkan pada nekrotrofik parasit merusak sel inang sebelum atau segera setelah terjadi interaksi (Achmad. daun sengon yang berguguran akan bertindak sebagai pupuk hujau yang baik bagi tanah dan tanaman di sekitarnya. sengon laut (Jawa). wahogon. serta negara-negara Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Amerika Serikat.2 Sengon (P. batang. Korea. Bagian yang memberikan manfaat ekonomi paling besar pada pohon sengon adalah batang kayunya. sika bot. Sengon merupakan pohon multiguna. falcataria) Adapun spesies P. Kayu sengon juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan kotak peti. tawasela (Maluku). maupun sistem perakarannya dapat dipergunakan untuk beragam keperluan. tedehu pute (Sulawesi). Tajuk pohon yang bebentuk perisai dan pohonnya yang besar dimanfaatkan sebagai pohon peneduh. falcataria memiliki sistem klasifikasi sebagai berikut : Divisio Subdivisio Famili Subfamili Klas Ordo Genus Species : Spermatophyta : Angiospermae : Leguminosae : Mimosaceae : Dicotyledonae : Rosales : Paraserianthes : Paraserianthes falcataria (L) Nielsen rawe. wikkie (Irian Jaya) (Marta. sikas. . dijadikan kayu lapis. serta dimanfaatkan sebagai kayu pertukangan (Atmosuseno 1998). selaku merah. 2. 2005). Kayu sengon olahan diekspor dalam bentuk potonganpotongan kayu dengan ketebalan yang bervariasi antara 6-13 mm dan ukuran standar 3 m x 56 mm (panjang x lebar).

Phylum Eumycophyta terbagi atas 4 klas. pseudokoningii Fungi adalah organisme eukariotik. berupa sel atau benang–benang halus yang disebut dengan hifa. Fungi ini dideskripsikan pertama kali oleh Karsten (1881). Klas Ascomycetes. Bagian bawah tubuh berpori dan kadang-kadang . sehingga jumlah sebenarnya kurang dari 250 (Susanto. maka fungi mendapatkan makanannya untuk energi dan pembangunan tubuh dengan cara hidup sebagai parasit (pada organisme lain atau) atau sebagai saprofit (dengan menguraikan bahan organik yang mati) (Tjitrosoepomo. Phylum Schizomycophyta (Bakteri). Phylum Eumycophyta (Fungi benar). Tubuh buah fungi mula-mula tampak sebagai suatu bongkol kecil berwarna putih.. Kumpulan hifa disebut dengan miselium. Untuk mendapatkan gambaran dari golongan fungi seluruhnya dapat diberikan ihtisar sebagai berikut (Alexopoulos et al. Dari jumlah tersebut masih ada yang tumpang tindih (hanya sinonimnya).1 Ganoderma sp. T. 3. Turner (1981) melaporkan bahwa paling sedikit terdapat 15 species Ganoderma di berbagai tempat di dunia.3 Ganoderma sp. berspora. Sampai saat ini telah ditemukan lebih dari 250 jenis dan marga Ganoderma di seluruh dunia.3. Klas Phycomycetes (Fungi ganggang). yaitu. Thallophyta yang tidak berklorofil dibagi atas. kemudian berkembang menjadi berbentuk kipas tebal dengan bentuk yang sangat bervariasi. 2. harzianum dan T. 1994). harzianum. tidak berklorofil. Pada umumnya fungi berkembangbiak secara seksual dan aseksual (Tjitrosoepomo. 1998). 2. 1994). Ganoderma adalah fungi poliporus yang banyak dijumpai tumbuh di dalam vegetasi berkayu. yaitu pada tonggak-tonggak berbagai jenis kayu dan sebagian pada batang-batang kayu pohon hidup. 2. 1996). 1.yang menyebabkan penyakit busuk pangkal batang. pseudokoningii masuk dalam kategori Phylum Eumycophyta (fungi benar). 4. 1. Karena fungi tidak mempunyai zat warna untuk melakukan fotosintesis dan kemosintesis. Phylum Myxomycophyta (Fungi lendir). Klas Deuteromycetes atau Fungi imperfecti (Fungi tak sempurna). Fungi Ganoderma sp.. dan fungi T. dan fungi T.7 2. Klas Basidiomycetes. 3.

(http://en. berkas hifa ini disebut rizomorf (Mudawarman. 2009). kariogami dan meiosis. Ganoderma sp. Disamping hidup sebagai parasit. sebuah sel cendawan yang terdapat di ujung.org/wiki/Ganoderma_lucidum) Basidiomycetes dipandang sebagai cendawan yang perkembangannya paling tinggi di antara kelompok cendawan. sehingga menjadi suatu susunan yang besar (Sumardi dan Widiastuti. Ganoderma sp. 2000). Basidiospora ini merupakan hasil plasmogami. saling menutupi atau sa1ing bersambungan. Misel basidiomiset terdiri dari hifa-hifa berseptum. Seringkali banyak tubuh buah terbentuk berdekatan. seperti sisa-sisa akar dalam tanah. kedua proses yang disebut terakhir terjadi dalam askus atau dalam basidium. ranting-ranting. . Tambah putih yang dapat dilihat dengan mata telanjang di dalam tumpukan daun mati di hutan. Basidiospora ini berinti tunggal dan haploid (Gambar 1).wikipedia.8 tubuh buah seperti mempunyai tangkai. terdiri dari bekas hifa. Organ yang khas pada basidiomiset yaitu basidium. 2001). yang sesuai dengan askus. Dari basidium ini lazimnya dipisahkan ke luar empat buah basidiospora. memiliki klasifikasi sebagai berikut : Kingdom Phylum Kelas Ordo Keluarga/Family Genus Spesies : Fungi : Basidiomycota : Basidiomycetes : Polyporales : Ganodermataceae : Ganoderma : Ganoderma sp. yang diselubungi kulit. mampu hidup sebagai saprofit dengan memanfaatkan sisa-sisa tanaman. dan batang pohon di hutan (Semangun.

3. Koloni Trichoderma pada media biakan PDA tumbuh dengan cepat pada suhu 25- . 2009 Gambar 1 Ganoderma sp. Pada umumnya koloni dalam biakan tumbuh dengan cepat. 2. agak berbentuk kerucut. Hal ini dimungkinkan karena terdapat banyak perbedaan bentuk seksual dari Trichoderma (Chet. berwarna putih sampai hijau (Cook and Baker. 1987). Spesies dalam satu kelompok yang sama dari Trichoderma dapat menunjukkan spesies yang berbeda pada Hypocrea sebagai anamorf. harzianum dan T. Bentuk sempurna dari fungi ini secara umum dikenal sebagai Hipocreales atau kadang-kadang Eurotiales. 1989). menurut Semangun (2000) adalah sebagai berikut: Kingdom Phylum Class Subclass Ordo Family Genus Species : Fungi : Ascomycota : Ascomycetes : Hypocreomycetidae : Hypocreales : Hypcreaceae : Trichoderma : T. Clacipitales dan Spheriales. pseudokoningii Trichoderma merupakan fungi Deuteromycetes dengan konidiofor tegak. pseudokoningii Klasifikasi Trichoderma sp.9 5 μm Basidiospora Stigma Basidia Sumber: Mudarwan.2 T. bercabang banyak. dapat membentuk klamidospora. harzianum dan T. secara mikroskopis.

bercabang dan mempunyai dinding licin. 2008 Gambar 2 T.10 30º C. Secara mikroskopis. Koloni ini akan berubah warna menjadi hijau tua sedangkan bagian bawahnya tidak berwarna (Samuel et al. berbentuk pendek. Konidiofor bercabang menyerupai piramida. bercabang di sudut kanan sebelum ujung cabang . Beberapa ciri morfologi fungi T.5 µm. Koloni T. diujing konidiofor terdapat konidia berbentuk bulat. pseudokoningii berkembang pesat. secara bertahap dengan berubah menjadi kehijauan. Pada ujung konidiofor terbentuk konidiospora berjumlah 1-3. kemudian seluruh koloni. 1998). 2005). diameter 1. harzianum secara mikroskopis. dengan miselium udara sedikit. dengan kedua ujungnya meruncing dibandingkan dengan bagian tengah. Fungi T. Percabangan hifa membentuk sudut siku-siku pada cabang utama. 1999). Cabang-cabang utama konidiofor berdiameter 4-5 µm dan menghasilkan banyak cabang-cabang sisi yang dapat tumbuh satusatu tetapi sebagian besar berbentuk dalam kelompok yang agak longgar dan kemudian berkembang menjadi daerah-daerah seperti cincin. hijau keputihan. berukuran 5-7 x 3-3. 10 μm Konidia Fialid Konidiofor Sumber: Gultom. Hifa hialin memiliki lebar sampai dengan 10 μm. harzianum mempunyai hifa bersepta.5-12 µm. berdinding rata dengan warna hijau suram. pertama di sebagian koloni. harzianum yang menonjol antara lain koloninya berwarna hijau muda sampai hijau tua yang memproduksi konidia aseksual berbentuk globus dengan konidia tersusun seperti buah anggur dan pertumbuhannya cepat (fast grower) (Harman. tidak berwarna. pada awalnya berwarna krem. hijau terang atau agak kehijauan (Gambar 2) (Gandjar et al.

pseudokoningii Rifai : Umum ditemukan pada tanah. berwarna hijau. 1987). berukuran antara 2.11 dan pada cabang di bagian bawah (Gambar 3) (Hook. pseudokoningii secara mikroskopis. 2000 dalam Mycobank. harzianum Rifai : Umum ditemukan pada tanah. 2000).2 X 2. dan sisa tanaman. fialospora halus. Konidia elliptik. Morfologi beberapa spesies Trichoderma menurut Cook and Baker (1989). • T. berdaptasi pada kondisi kelembaban tanah yang sangat tinggi.2-2. .4-3. 2000 dalam Mycobank 2000 Gambar 3 T. 3.5 μm koloni cepat tumbuh.5-4. Genus dari Trichoderma terdiri atas beberapa fungi saprofit yang umum ditemukan dalam tanah.0-2. sebagai berikut: • T.8 mm. kayu lapuk. fialid ramping dan berbentuk labu. konidiofor berakhir pada fialid. halus berdinding kebiruan dan hijau.5 x 2. pendek dan silindris. yang mana dapat mudah dikenali terutama karena sporanya yang berwarna hijau (Chet. koloni cepat tumbuh. 10 μm Konidiofor Konidia Sumber: Hook.

Penuangan PDA dilakukan di dalam tempat atau kondisi steril (lamine air flow). harzianum . lamine air flow dan autoclave. larutan didinginkan dan ditambahkan antibiotik. K2. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Pathologi Hutan IPB dan Laboratorium bioteknologi LRPI Bogor. L6. tabung Erlenmeyer. 3. Setelah mendidih dan tercampur rata. dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 sampai dengan November 2009. sedangkan bahan yang digunakan antara lain kentang 200 gram. Isolat tersebut merupakan koleksi Lab. agar-agar 17 gram. L3. Cara kerja dalam pembuatan media PDA adalah kentang dikupas kemudian dicuci bersih dengan air dan dipotong-potong kecil dibentuk segiempat. Dan sebagai fungi antagonisnya adalah jenis isolat T. antibiotik dan aquades 1 liter. lalu ditempatkan ke dalam tabung Erlenmeyer yang ditutup dengan kapas dan aluminium foil. dan K1. kemudian dimasukan kedalam autoklaf selama 15 menit dengan suhu 121ºC. pisau.2 Sumber Inokulum Inokulum fungi patogen yang digunakan dalam penelitian ini ada 5 isolat Ganoderma sp. terhadap Trichoderma sp. dekstrosa dan agar-agar dimasukkan dan dicampur rata. lalu ditambahkan lagi aquades hingga mencapai volume akhir 1 liter. dekstrosa 20 gram. Isolat yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah isolat Ganoderma L12. 3.1 Media Tumbuh Alat yang digunakan dalam pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA) adalah cawan Petri.2 Bahan dan Alat Penelitian 3. Patologi Hutan Fakultas Kehutanan IPB. kain kasa.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Kegiatan uji antagonis Ganoderma sp. panci. kemudian rebusan kentang tadi disaring menggunakan kain kasa dan diambil sarinya (aquades bekas rebusan). pada tanaman sengon dari beberapa tempat di Indonesia.12 BAB III METODE PENELITIAN 3.2.2. kentang direbus dengan 1 liter aquades sampai mendidih. pengaduk.

harus disterilisasikan terlebih dahulu dengan menggunakan oven pada suhu 50 ºC selama 1x24jam. sedangkan untuk jarum ose. 3. . korek api. Kemudian isolat T38 dan T39 ditumbuhkan pada cawan konfrontasi pada sisi yang berlawanan dengan jarak 5cm dari koloni fungi antagonis (Gambar 4). lamine air flow. gelas piala. lampu Bunsen. cawan Petri. oven. jarum ose. Pertumbuhan jari-jari koloni dari kedua isolat diukur panjangnya setiap 24 jam sampai hari kelima semenjak kedua isolat disatukan. berukuran cukup besar. tabung reaksi. tally sheet dan alat tulis. 3. kamera.13 (T38) dan T.3 Metode Penelitian 3. M. Erlenmeyer.Sc di Lab. pseudokoningii (T39) dari koleksi Dr. cork borrer disterilisasikan dengan cara pembakaran. neraca analitik. autoclave. Bioteknologi LRPI. persen penghambatan.2.3 Peralatan Alat yang digunakan yaitu berupa gelas piala. Koloni patogen Ganoderma sp. kapas. cork borrer. Kemudian setelah hari kelima dilakukan pengamatan zona penghambatan. Darmono Taniwiryono. Bogor. kompor. Erlenmeyer. Ir.1 Metode Uji Antagonis Uji antagonisme dalam penelitian ini dilakukan dengan cara metode biakan ganda dengan perbandingan 1 : 1 secara in-vitro dalam satu cawan konfrontasi.3. Masing-masing isolat diperbanyak untuk memperoleh persediaan dalam jumlah yang cukup pada saat melakukan uji antagonis. diinokulasikan dalam cawan konfrontasi terlebih dahulu sebelum memasukan koloni fungi antagonis dengan masa inkubasi selama 5 hari sehingga isolat Ganoderma sp. Beberapa peralatan seperti cawan Petri. pengaduk kaca.

r2 PP = --------------. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini dijelaskan pada Tabel 1. Persentase Penghambatan dihitung dengan rumus yang dipakai Rohana (1998) : Keterangan : r1 .14 Keterangan : P = Inokulum patogen A = Inokulum antagonis P r1 r2 A t = Titik tengah cawan petri t r1 = Pertumbuhan jari-jari 1 dari isolat r2 = Pertumbuhan jari-jari 2 dari isolat Gambar 4 Metode biakan ganda Ganoderma sp. L6. dan Trichoderma sp.x 100% r1 PP = Persentase Penghambatan R1 = Jari-jari 1 isolat R2 = Jari-jari 2 isolat Kelima isolat Ganoderma sp. (L12. dan K1) ditanamkan dalam cawan konfrontasi bersama dengan isolat T38 dan T39. pada Cawan konfrontasi berdiameter 9 cm. K2. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur panjang dari zona kosong tersebut. Zona penghambatan adalah panjang wilayah dalam cawan konfrontasi yang tidak ditumbuhi oleh kedua isolat yang saling antagonis. Masing-masing perlakuan memiliki tiga ulangan. . L3.

dengan Trichoderma sp. Faktor yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktor jenis isolat Ganoderma sp. apabila blok atau faktor berbeda nyata.).) dan faktor antagonis (Trichoderma sp. Sehingga faktor pengendalian hayati yang diukur hanya faktor patogen (Ganoderma sp. Perlakuan L12 x T38 L12 x T39 L6 x T38 L6 x T39 L3 x T38 L3 x T39 K1 x T38 K1 x T39 K2 x T38 K2 x T39 Keterangan Isolat Ganoderma L12 ditanamkan bersama Isolat T38 Isolat Ganoderma L12 ditanamkan bersama Isolat T39 Isolat Ganoderma L6 ditanamkan bersama Isolat T38 Isolat Ganoderma L6 ditanamkan bersama Isolat T39 Isolat Ganoderma L3 ditanamkan bersama Isolat T38 Isolat Ganoderma L3 ditanamkan bersama Isolat T39 Isolat Ganoderma K1 ditanamkan bersama Isolat T38 Isolat Ganoderma K1 ditanamkan bersama Isolat T39 Isolat Ganoderma K2 ditanamkan bersama Isolat T38 Isolat Ganoderma K2 ditanamkan bersama Isolat T39 3. terdiri dari isolat T38 dan T39. Jenis perlakuan Ganoderma sp. Faktor jenis isolat Trichoderma sp.. lingkungan fisik. pengolahan data . Pengolahan data menggunakan software SAS 9. Penelitian ini menggunakan analisis statistik dengan model RAL (Rancangan Acak Lengkap) dua faktor. dan faktor jenis isolat Trichoderma sp. Model RAL digunakan karena penelitian ini dilakukan dengan merekayasa lingkungan fisik dan tidak menyertakan tanaman inang.2 Analisis Statistik Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah persen penghambatan. patogen atau parasit. L3. dan antagonis (Purwantisari dan Hastuti 2009). Faktor jenis isolat Ganoderma sp.3. K2 dan K1. L6. Pengolahan data dimulai dengan analisis sidik ragam dengan tingkat kepercayaan 95%. terdiri dari isolat L12. Sebagaimana diketahui bahwa faktor yang berpengaruh pada pengendalian secara hayati suatu patogen adalah tanaman inang.15 Tabel 1.

Uji lanjut digunakan untuk membandingkan perlakuan mana yang paling baik dalam percobaan. Analisis Statistik bertujuan untuk melihat pengaruh dari masing masing isolat Ganoderma sp. dan Trichoderma sp.16 dilanjutkan dengan uji lanjut. terhadap variabel persen penghambatan. Pengujian lanjut ini menggunakan uji Duncan karena uji inilah yang paling sering digunakan dalam pengujian lanjut analisis sidik ragam. .

17 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. mampu berkembang secara pesat dan memenuhi cawan petri pada hari ke-5. dan pertumbuhan Trichoderma sp. berkembang secara bertahap dan mampu memenuhi cawan petri rata-rata pada hari ke-10. Sedangkan koloni Trichoderma sp. Gambar 5 Pertumbuhan Koloni Ganoderma sp. .1 Hasil Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan. diperoleh bahwa pertumbuhan diameter koloni Ganoderma sp. Berikut pertumbuhan Ganoderma sp.

7E Isolat Ganoderma K1 . A A B C C D E E Gambar 7 Pertumbuhan Isolat Ganoderma di Cawan Petri pada Hari Ke-10. 7C Isolat Ganoderma L3. 7B Isolat Ganoderma L6.18 Gambar 6 Pertumbuhan Koloni Trichoderma sp. 7D Isolat Ganoderma K2. 7A Isolat Ganoderma L12.

34. Hasil pengamatan terhadap uji antagonisme isolat T38 dan T39 dengan Ganoderma sp. L6. isolat T39 dan T38 mampu menghambat pertumbuhan koloni Ganoderma L12. 25. 8B Isolat T39.7% pada media PDA (Gambar 2).1% pada media PDA (Gambar 2). K2 dan K1 berturut-turut sebesar rata-rata 27. Isolat T39 menghambat pertumbuhan isolat Ganoderma L12.9.3 dan 11. L6.5 dan 13. K2 dan K1 berturut-turut sebesar rata-rata 48.3. 37.di Cawan Petri pada Hari Ke-5. L3.2. 8A Isolat T38.19 A A BB Gambar 8 Pertumbuhan Isolat Trichoderma sp. L3. adalah sebagai berikut : Gambar 9 Penghambatan Pertumbuhan in-vitro Ganoderma sp.8. L3. 25. Berdasarkan hasil pengamatan.8.3. 33. K2 dan K1 tidak menimbulkan . 42. L6. Hasil pengamatan menunjukan bahwa isolat T38 dan T39 yang diantagoniskan dengan Ganoderma L12. oleh Trichoderma sp.

10E Isolat Ganoderma L3*T38. A A B C D E F G H I J Gambar 10 Pertumbuhan Isolat Ganoderma sp. Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam terhadap Variabel yang Diamati Variabel Isolat Ganoderma sp.20 zona penghambatan terhadap kedua patogen tersebut pada media PDA.4%. 10G Isolat Ganoderma K2*T38. dan Trichoderma sp. 10F Isolat Ganoderma L3*T39. 10J Isolat Ganoderma K1*T39. Tabel 2. 10C Isolat Ganoderma L6*T38.01 **= Berbeda nyata pada taraf uji 0. 10H Isolat Ganoderma K2*T39.6% dan isolat T38 sebesar 27. 10I Isolat Ganoderma K1*T38. pada Cawan Konfrontasi. 10A Isolat Ganoderma L12*T38. Dengan nilai rata-rata penghambatan uji antagonis isolat T39 sebesar 32. 10B Isolat Ganoderma L12*T39.05 *= Berbeda nyata pada taraf uji 0.1 tn= Tidak berbeda nyata . (T) tn G*T Persen penghambatan tn Keterangan : ***= Berbeda nyata pada taraf uji 0. (G) * Isolat Trichoderma sp. 10D Isolat Ganoderma L6*T39.

4%). Berdasarkan hasil uji Duncan diatas.21 Pada hasil data sidik ragam. Faktor isolat Ganoderma sp. Isolat L6 tidak berbeda nyata dengan isolat L12. Faktor isolat Trichoderma sp. tidak terlihat perbedaan yang signifikan pada tingkat kepercayaan 95% dari kedua faktor yang diuji. terhadap Persen Penghambatan Jenis isolat Ganoderma sp. Tabel 3.4 ab 29.4 ab 12. . dan interaksi dari kedua faktor tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 90%. L6 L12 L3 K2 K1 Rata-rata persen penghambatan (%) 39.6 a 38. namun tidak berbeda nyata dengan isolat L3 dan K2. L3 dan K2.6%) dibandingkan dengan isolat T38 (27. hanya berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 90%. Isolat T39 memiliki rata-rata persen penghambatan yang lebih tinggi (32. Hasil Uji Duncan Pengaruh Jenis Isolat Ganoderma sp. isolat L6 adalah isolat yang memiliki rata-rata persen penghambatan yang paling tinggi (39.4%). Isolat K1 berbeda nyata terhadap isolat L6 dan L12.1 a 30.2%.4 b Keterangan: Huruf yang sama dibelakang angka menunjukkan pengaruh yang tidakberbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%. namun kedua isolat tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%. Meskipun rata-rata persen penghambatan antara isolat T38 dan isolat T39 terpaut 5.6%) dan isolat K1 adalah isolat yang memiliki persen penghambatan yang paling rendah (12.

Setelah dilakukan pengujian pada satu cawan konfrontasi. isolat T39 memiliki potensi antagonistik yang kuat dibandingkan dengan isolat T38. merupakan jenis yang potensial untuk pengendalian penyakit secara hayati. T38 dan T39 mampu menghambat pertumbuhan koloni patogen berdasarkan hasil uji in-vitro pada PDA. 2009).4 a Keterangan: Huruf yang sama dibelakang angka menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%.. 4. Hasil Uji Duncan Pengaruh Jenis Isolat Trichoderma sp.2 Pembahasan Hasil pengamatan visual uji antagonisme Trichoderma sp. Perbedaan daya hambat menggambarkan perbedaan kemampuan dari masing- . dengan Ganoderma sp. Dari kedua jenis fungi antagonis yang diuji. Purwantisari dan Hastuti (2009) menyatakan bahwa Trichoderma sp. Perlakuan kontrol koloni Ganoderma sp. menunjukan pertumbuhan diameter koloni patogen yang lebih lambat dibandingkan pertumbuhan koloni Trichoderma sp. memperlihatkan bahwa pertumbuhan jari-jari koloni Ganoderma sp. Fungi yang tumbuh cepat mampu mengungguli dalam penguasaan ruang dan pada akhirnya bisa menekan pertumbuhan fungi lawannya (Suharna dan Widhiastuti.. Trichoderma sp. dimana Trichoderma sp. terhadap Persen Penghambatan Jenis isolat Trichoderma sp. mampu menghambat pertumbuhan Ganoderma sp. T39 T38 Rata-rata persen penghambatan (%) 32. Hasil penelitian yang dilakukan mendukung pendapat tersebut.22 Tabel 4..6 a 27. ke arah titik tengah cawan konfrontasi lebih lambat terjadi dari pertumbuhan Trichoderma sp. faktor yang lebih mempengaruhi daya penghambatan adalah faktor jenis isolat Ganoderma sp. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan. Isolat Ganoderma L12 dan L6 merupakan isolat yang pertumbuhannya paling terhambat dibanding isolat yang lain. 1966 dalam Purwantisari dan Hastuti.

Toksin ini dihasilkan oleh cendawan. Adanya penghambatan terhadap pertumbuhan diameter koloni patogen Ganoderma sp. mudah diisolasi dan dibiakkan. bahan yang mengurai. Trichoderma sp. diduga tidak menghambat pertumbuhan koloni Ganoderma sp. yang dapat menghambat pertumbuhan Ganoderma sp. adanya aktifitas metabolik hifa yang tinggi pada bahan organik dapat juga menyerang dan menghancurkan propagul patogen yang ada disekitarnya (Lewis dan Papavizas 1984). bersaing dengan baik dalam hal makanan.. Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh jenis. hal ini dapat disebabkan karena media yang digunakan adalah PDA. diduga karena telah terjadi reaksi antara senyawa toksik dari fungi antagonis Trichoderma sp. mempengaruhi patogen tanaman. setelah terjadi kontak hifa.23 masing isolat untuk menghambat pertumbuhan mikrooganisme pesaing. terhadap patogen Ganoderma sp. bila berada atau hidup pada tanaman hidup. yang mampu merusak dinding sel patogen Ganoderma sp. dan produk-produk yang disimpan di gudang. menghasilkan toksin (mycotoxin) yaitu trichodermin. Ternetralisir pengaruh metabolit penghambat pertumbuhan patogen pada PDA (Achmad 1991). Bekerjanya mekanisme antibiosis dikuatkan oleh tertekannya pertumbuhan fungi patogen pada media padat. Lambatnya pertumbuhan diameter koloni patogen Ganoderma sp. Tetapi dapat juga disebabkan tidak terjadinya mekanisme antibiosis dan Trichoderma sp. jarang bersifat patogenik pada tanaman tingkat tinggi. adalah suatu jenis yang baik sebagai pengendali hayati karena terdapat di mana-mana. bereaksi sebagai mikroparasit. sehingga menyebabkan pertumbuhan diameter koloni patogen menjadi lambat. Pada penelitian ini tidak ditemukannya zona penghambatan. Selain itu. dan kualitas dari antibiotik atau zat lain yang dihasilkan Trichoderma sp. tempat dan menghasilkan . Terbentuknya zona penghambatan antar organisme pada media padat merupakan indikasi bekerjanya mekanisme antibiosis. tumbuh dengan cepat pada beberapa macam substrat. jumlah. diduga karena adanya enzim dan senyawa metabolit yang terdapat pada fungi antagonis Trichoderma sp. beberapa anggota genus Trichoderma sp. pada perlakuan pemberian fungi antagonis Trichoderma sp. Menurut Smith dan Moss (1985)..

3) glukonase. Selama Trichoderma sp. dapat digunakan sebagai agen biokontrol melawan beberapa cendawan petogenik tular tanah. yang dapat melarutkan dinding sel patogen (Lewis dan Papavizas 1984). Anggraeni (2004) menyatakan bahwa Trichoderma sp. dan kitinase.24 antibiotik (Wells 1988). . tumbuh aktif menghasilkan sejumlah besar enzim ekstra selular ß (1.

Pertumbuhan isolat Ganoderma sp. seperti MEA. . Dari kedua jenis fungi antagonis yang diuji isolat T39 memiliki potensi antagonistik yang lebih kuat dibanding isolat T38 dengan kemampuan menghambat pertumbuhan fungi patogen dengan persentase penghambatan lebih tinggi berturut-turut pada isolat Ganoderma L12. Serta dapat dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan media yang berbeda. Kemampuan tersebut menunjukan bahwa kedua jenis fungi antagonis diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai agensia dalam pengendalian penyakit akar Ganoderma sp. L3 dan L6. dari yang paling cepat berturut-turut kemudian semakin lambat adalah Ganoderma K2. Kemampuan antagonistik kedua isolat fungi antagonis juga ditunjang oleh pertumbuhan diameter koloni yang lebih pesat dibanding kelima isolat patogen Ganoderma sp. Isolat T38 dan T39 mampu menghambat pertumbuhan koloni kelima jenis fungi patogen. L6 dan L3. berdasarkan hasil percobaan in vitro pada PDA. Saran Pada kegiatan selanjutnya sebaiknya dilakukan uji mikroskopis untuk melihat gambaran struktur hifa dari kedua fungi yang diuji.25 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.2. L12. Kesimpulan Hasil pengujian menunjukan antagonisme antara isolat T38 dan T39 dengan kelima isolat fungi patogen tersebut tidak menimbulkan terbentuknya zona penghambatan pada media PDA. 5.1.. K1. pada PDA.

Innovative Approaches to Plant Diseases Control.edu/end/biocontrol/pahogens/trichoderma. Cook RJ. Acad. http://www. 2003. Ganoderma Lucidum. 1997. Besset K Peters. Anonim. 1998. Alexopoulos CJ. Tweel-Vermeulen K. Terjemahan dari: Plant Pathology.. Proc. 1189p.html [22 Mei 2006] .org/wiki/Ganoderma_lucidum [02 Mei 2011] Agrios GN. Am. John Wiley and Sons. Jakarta. Penerjemah. 803p. 1987. 11-210. Ed. Arborilogical Services Inc. Identifikasi dan Patogenitas Penyakit Akar pada Acacia mangium Willd. 868p. Atmosuseno BS. ke-3 . Bogor: Program Pascasarjana. Depok. untuk Perlindungan Hayati terhadap Penyebab Penyakit Lodoh pada Pinus merkusii [Tesis]. 1991. Anggraeni I. Baker KF. 1989. Paul. 1999.htm. Introductory Mycology. 1956. Mims CW. [6 Februari 2010] Chet I (Ed. 133-134.nyaseas.com/articles/ganoderma. IPB. Blackwel M. Oetari A. Jakarta : Penebar Swadaya. Achmad S. England. Santoso I. Buletin Penelitian Hutan. Kegunaan. New York: John Willey and Sons inc. Harman GE. Minesota 539 p. Samson RA.arborilogical. 645: 61-73. ABS press. Gandjar I. 2004.26 DAFTAR PUSTAKA Achmad S. editor. USA. Budidaya. The Nature on Practice of Biological Control of Plant Pathogens.cornel. Ganoderma: A Significant Root Pathogen. Mekanisme Serangan Patogen dan Pertahanan Inang serta Pengendalian Hayati Penyakit Lodoh pada Pinus merkusii. 1998. St. Biology of Root Infecting Fungi. dan Prospek Sengon. Publication. Trichoderma spp.). Yogyakarta: Gajah Mada Univ. University Press Cambridge. http://www. 1996. Garret SD. USA. 2011. Press. Universitas Indonesia.wikipedia. Kemampuan Rhizopogon sp. Sci. IPB. 1996. Pengenalan Kapang Tropik Umum. Busnia M. Ilmu Penyakit Tumbuhan. A Wiley-Interscience Publication. http://en. Hlm. Martoredjo T. pp. 293 p. [Disertasi] Bogor: Program Pascasarjana.. The American Phytopathological Society.

htm [15 Mei 2011] Murrill WA. [28 Mei 2011]. J. Pengaruh Berbagai Jenis Serbuk Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria) pada Makanan Buatan (Artificial Diet) terhadap Pertumbuhan Larva Boktor (Xystrocera festiva Pascoe) [Skripsi]. Rev. of Advances in Applied Microbiology. BIOMA 11(1): 2432. Karsten P. Widyastuti SM. Polyporaceae (Agaricales). Papavizas GC. England. Systemate novo dispositarum". Listiana E. 37: 101-134. Bogor. Fungi. 2001.mycobank. http://www. Lewis JA. Yogyakarta. 1964. "Enumeratio Boletinearum et Polyporearum Fennicarum. 1992.org/BioloMICSServer. J. . Birmingham JM. Production of Clamidospores and Conidia by Trichoderma sp. Kehutanan UGM. (Toulouse) 3: 16-19. Mudawarman. Potensi Antagonistik Tiga Trichoderma spp terhadap 8 Penyakit Akar Tanaman Kehutanan. 2000. Skrining Streptomyces sp. 2008. 1998. Mycol. North America Flora 9 (2): 73131. A Revision of Genus Trichoderma. Muthahanas I. Medicinal Benefits of the Mushroom Ganoderma. Pemuliaan Tanaman dan Ketahanan Penyakit pada Sengon. Crop Argo 1(2): 130-136. Trichoderma Pseudokoningii Rifai 1969. 1908. Isolat Lokal. 2009. page 56. 1881. University of Sheffield. 2009. Mycobank. In Liquid and Solid Growth Media. Buletin Kehutanan (41). Rohana I. J. Uji Antagonisme Fungi Patogen Phytophthora infestans Penyebab Penyakit Busuk Daun dan Umbi Tanaman Kentang dengan Menggunakan Trichoderma sp. Hastuti RB. 2005. Tidak dipublikasikan. Isolat Lombok sebagai Pengendali Hayati Beberapa Fungi Patogen Tanaman. Fakultas Kehutanan IPB. Efektifitas Penggunaan Trichoderma harzianum dan Fungisida Mankozeb untuk Pengendalian Rhizoctonia solani Penyebab Penyakit Lodoh pada Acacia mangium [Skripsi].27 Haryono. J. Jong SC. Rimbawanto A. J. file:///D:/SKRIPSI/perbaikan%20sidang/FUNGI%20%C2%AB%20Mudarw an%E2%80%99s%20Blog. Institut Pertanian Bogor. Rifai MA. Marta AK. 2008. Soil Biology and Biochemistry. 1983.aspx?Link=T&Rec=340304. 15 (4): 351-357. Purwantisari S. Bogor : Fakultas Kehutanan. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.

Wilson AD. 1-7. J. Sinulingga W. inc. Florida.cfm [14 Mei 2011] Semangun H. Gen. Fungi Patogen Pohonan" Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. Widyastuti SM. New Orleans. Putih. 1981. LA: U. Forest Service . "Sifat-sifat Biokimiawi dan Fabrikasi Ganoderma. Pusat Penelitian Perkebunan Sei. Boca Raton. CRC Press. Garg KL (ed. Karakteristik Pseudomonas fluorescens B29 dan B39: Profil DNA Genom. A. 1998. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Anderson RL. IPB.gov/taxadesciptions/keys/TrichodermaIndex. Tjitrosoepomo. J. Smith JE. Suwanto A. Turner PD. 1985. Department of Agriculture. Oxford University Press. Bogor: Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Vol. Yudoamidjojo RM. 1989. Ash Pests: A Guide to Major Insect. Hal. 2005. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan Indonesia. Thompson LC. 148p. Widiastuti SM. Vol 1.). 2007. John Willey and Sons. Inc. ASPI 2(5): 12-52. 808p. Hartoto L. Yogyakarta: Gajah Mada Univ Press. dalam Revitalisasi Kehutanan di Indonesia. dalam Biocontrol of Plant Disease . 1996. 72-79. 1993. Southern Forest Experiment Station. Sa’id EG. 255p. Hayati 3(1): 15-20. Moss MO. 1998. Formation Analysis and Significance. Galang. Friska AH. Leininger TD. USDA. 1989. Wells HD. 2001. . Mycotoxin.28 Samuel GJ. Gadjah Mada University Press. Uji Hipersensitif dan Asai senyawa Biotik. Sumardi. ARS. Rep. McCracken FI. Air Pollution Injury and Chemical Injury. EB Mc Cray.. Solomon JD. Morfologi Tumbuhan. Pengendalian Biologi Penyakit Cendawan Akar Putih pada Tanaman Karet. Tech. Systematic Botany and Microbiology Laboratory.arsgrin. Diseases and Disorders of the Oil Palm in Malaysia. Peran Trichoderma spp. http://nt. 4 (2): 8391.Yogyakarta. P Chaverri. DF Farr. Gembong. New York. Trichoderma Online. Susanto. 1994. Diseases. Pemanfaatan Sabut Kelapa untuk Pengembangan Budidaya Fungi Ganoderma sebagai Bahan Obat Tradisional di Daerah Sekitar Hutan. Mukerji KG. 315p. Sudirman LMI. 45p. SO-96. Biokonversi. 2000. Trichoderma as A Biocontrol Agent.S.

29 LAMPIRAN .

25 2 1.75 2.6 6 5.25 2 3 1.7 8 6.3 L6 42.1 Rata-rata (%) 32.25 7 6.5 6.25 7. pada Cawan Petri (Kontrol) Pertumbuhan Hari Ke-i (cm) Fungi 1 L12 L6 L3 K2 K1 0.25 3.74 4.2 L3 34.8 1.8 27.5 K1 11.25 1 0.8 25.75 9 Lampiran 3. Persen Penghambatan Uji Antagonis Trichoderma sp dan Ganoderma sp.4 6 8.15 5 4.30 Lampiran 1. Pertumbuhan Ganoderma sp. Pertumbuhan Trichoderma sp.25 2 1. Tabel 6.45 1. Tabel 7.5 5.5 5.75 3.55 2 3.5 5 6. Persen Penghambatan (%) Fungi L12 T39 T38 48.75 4.75 1.5 5 8.75 8.4 .7 13.25 4.35 7.25 1 3 4.5 1.9 K2 25.85 2.75 1. Tabel 5.25 8 9 9 8. pada Cawan Petri (Kontrol) Pertumbuhan Hari Ke-i (cm) Fungi 1 T39 T38 0.25 9 10 8. Persen Penghambatan Uji Antagonis Trichoderma sp dan Ganoderma sp. Pertumbuhan Trichoderma sp.3 37.8 8.5 0. Pertumbuhan Ganoderma sp.1 4.3 33.75 9 Lampiran 2.1 5.25 4 6.75 8.25 4 3 6.25 4.5 4 2 3.6 27.45 2 1.

456187 2.684963 188.4086 0.90694 29.46 0.6282 .893133 9472.945103 203.844657 Pr > F 1.2293 R-Square Coeff Var Root MSE Persen Penghambatan Mean 0.0796 0.324618 285.780413 1 4 203.41979 16.396495 56.71 0.45 0. Hasil Uji Sidik Ragam terhadap Variabel yang Diamati dengan Menggunakan Sofware SAS 9 The GLM Procedure Dependent Variable: Persen Penghambatan Source Model Error Corrected Total DF Sum of Squares Mean Square F Value 9 20 29 3755.31 Lampiran 4.66 0.96633 Source DF F1 F2 F1*F2 Type I SS Mean Square F Value 699.114047 Pr > F 4 2799.684963 752.814697 417.921563 5716.

not the experimentwise error rate.32 Lampiran 5.397 6 K2 30. Alpha Error Degrees of Freedom Error Mean Square 0.36 21.8447 Number of Means Critical Range 2 3 4 5 20.37 22.367 6 L3 38. terhadap Persen Penghambatan dengan Menggunakan Sofware SAS 9 The GLM Procedure Duncan's Multiple Range Test for Persen Penghambatan Note: This test controls the Type I comparisonwise error rate.46 Means with the same letter are not significantly different.060 6 L12 Mean 39. Hasil Uji Lanjut Duncan Pengaruh Jenis Isolat Ganoderma sp.02 22.05 20 285.417 6 K1 A A A 29.592 N 6 F1 L6 . Duncan Grouping A A A A B B B B B 12.

88 Means with the same letter are not significantly different. Alpha Error Degrees of Freedom Error Mean Square 0.8447 Number of Means Critical Range 2 12.05 20 285.572 15 T39 .33 Lampiran 6.361 15 T38 Mean N F2 32. not the experimentwise error rate. Hasil Uji Lanjut Duncan Pengaruh Jenis Isolat Trichoderma sp. terhadap Persen Penghambatan dengan Menggunakan Sofware SAS 9 The GLM Procedure Duncan's Multiple Range Test for RESPON Note: This test controls the Type I comparisonwise error rate. Duncan Grouping A A A 27.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful