Akibat/Dampak Langsung Dan Tidak Langsung Penyalahgunaan Narkoba Pada Kehidupan & Kesehatan Manusia

Fri, 14/03/2008 - 5:03pm — godam64 Narkotika dan obat terlarang serta zat adiktif / psikotropika dapat menyebabkan efek dan dampak negatif bagi pemakainya. Danmpak yang negatif itu sudah pasti merugikan dan sangat buruk efeknya bagi kesehatan mental dan fisik. Meskipun demikian terkadang beberapa jenis obat masih dipakai dalam dunia kedokteran, namun hanya diberikan bagi pasien-pasien tertentu, bukan untuk dikonsumsi secara umum dan bebas oleh masyarakat. Oleh karena itu obat dan narkotik yang disalahgunakan dapat menimbulkan berbagai akibat yang beraneka ragam. A. Dampak Tidak Langsung Narkoba Yang Disalahgunakan 1. Akan banyak uang yang dibutuhkan untuk penyembuhan dan perawatan kesehatan pecandu jika tubuhnya rusak digerogoti zat beracun. 2. Dikucilkan dalam masyarakat dan pergaulan orang baik-baik. Selain itu biasanya tukang candu narkoba akan bersikap anti sosial. 3. Keluarga akan malu besar karena punya anggota keluarga yang memakai zat terlarang. 4. Kesempatan belajar hilang dan mungkin dapat dikeluarkan dari sekolah atau perguruan tinggi alias DO / drop out. 5. Tidak dipercaya lagi oleh orang lain karena umumnya pecandu narkoba akan gemar berbohong dan melakukan tindak kriminal. 6. Dosa akan terus bertambah karena lupa akan kewajiban Tuhan serta menjalani kehidupan yang dilarang oleh ajaran agamanya. 7. Bisa dijebloskan ke dalam tembok derita / penjara yang sangat menyiksa lahir batin. Biasanya setelah seorang pecandu sembuh dan sudah sadar dari mimpi-mimpinya maka ia baru akan menyesali semua perbuatannya yang bodoh dan banyak waktu serta kesempatan yang hilang tanpa disadarinya. Terlebih jika sadarnya ketika berada di penjara. Segala caci-maki dan kutukan akan dilontarkan kepada benda haram tersebut, namun semua telah terlambat dan berakhir tanpa bisa berbuat apa-apa. B. Dampak Langsung Narkoba Bagi Jasmani / Tubuh Manusia 1. Gangguan pada jantung 2. Gangguan pada hemoprosik 3. Gangguan pada traktur urinarius 4. Gangguan pada otak 5. Gangguan pada tulang 6. Gangguan pada pembuluh darah 7. Gangguan pada endorin

Hepatitis. kekerasan dan pengrusakan. Dalam hal hukum. Menyebabkan melakukan tindak kejehatan. Gangguan pada paru-paru 11. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Efek depresi bisa ditimbulkan akibat kecaman keluarga. Gangguan pada sistem pencernaan 12. tentunya kita semua ingin mewujudkan tujuan nasional sebagaimana yang telah dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum. Herpes. dll. akan tetapi semua itu tidak benar. Namun orang normal yang depresi dapat menjadi pemakai narkoba karena mereka berpikir bahwa narkoba dapat mengatasi dan melupakan masalah dirinya. Menyebabkan gangguan jiwa berat / psikotik. Dan banyak dampak lainnya yang merugikan badan manusia. 13.8. A. baik hukum adat di daerahnya maupun hukum yang telah diciptakan pemerintah. C. Tapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang berusaha melanggar hukum. Menyebabkan depresi mental. TBC. Dampak Langsung Narkoba Bagi Kejiwaan / Mental Manusia 1. Menyebabkan bunuh diri 4. teman dan masyarakat atau kegagalan dalam mencoba berhenti memakai narkoba. Gangguan pada kulit 9. perdamaian abadi dan keadilan sosial maka mutlak diperlukan penegak . Latar Belakang Setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat segala tingkah lakunya diatur oleh hukum. Dapat terinfeksi penyakit menular berbahaya seperti HIV AIDS. 3. 2. Gangguan pada sistem syaraf 10. Sebagai patokan hukum dapat menciptakan ketertiban dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

dan c. Norma dan kaedah yang berlaku di masyarakat saat ini sudah tidak lagi dipatuhi dan dihormati sehingga banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan.dalam menjalankan fungsi hukum itu pemerintah dapat menggunakan menggunakan alat paksa yang lebih keras yaitu berupa sanksi. Narkotika Golongan II. Narkotika Golongan III. Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika membagi narkotika menjadi tiga golongan. oleh karena itu. Narkotika adalah sejenis zat kimia atau obat yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan medis dan ilmu pengetahuan. contohnya sanksi pidana yang dapat juga diberikan terhadap pelaku penyalahgunaan narkotika yang saat ini merupakan hal yang perlu sekali mendapat perhatian khusus mengingat dampak-dampak yang dapat ditimbulkan dari penyalahgunaan narkotika tersebut. Sanksi merupakan suatu akibat yang timbul diberikan dari reaksi atas suatu perbuatan. b. (3) Ketentuan mengenai perubahan penggolongan Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Penggolongan Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat(1) untuk pertama kali ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan merupakan bagian yang tterpisahkan dari Undang-Undang ini.hukum dan ketertiban secara konsisten dan berkesinambungan. Narkotika Golongan I. Untuk itu masyarakat memerlukan hukum yang berfungsi sebagai pengatur segala tindak tanduk manusia dalam masyarakat. sesuai dengan pasal 6: (1) Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 digolongkan ke dalam: a. .

yaitu dengan diundang-undangkannya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika. karena tidak sedikit yang melakukannya adalah dari kalangan anak-anak dan remaja yang merupakan generasi penerus bangsa. baik ditinjau dari segi ekonomi.Namun di sisi lain narkotika sering digunakan di luar kepentingan medis dan ilmu pengetahuan. yang berarti penyalahguna . Masalah penyalahgunaan narkotika di Indonesia sekarang ini dirasakan gawat. memproduksi. memproduksi. Pengganti undang-undang yang lama itu dirasa perlu karena seiring dengan bertambahnya waktu dirasakan tidak sesuai lagi dengan kemajuan teknologi dan perkembangan penyalahgunaan narkotika yang semakin meningkat dan bervariasi motiv penyalahgunaan dan pelakunya. memasok dan mengkonsumsinya serta dari kalangan mana pelaku penyalahgunaan narkotika tersebut. Hampir setiap negara di dunia menyatakan perang terhadap penyalahgunaan narkotika. meracik secara ilegal. yang pada akhirnya juga dapat menjadi pengaruh pada tatanan kehidupan sosial masyarakat. dan menganggapnya sebagai suatu kejahatan berat. setiap pelaku penyalahgunaan narkotika dapat dikenakan sanksi pidana. menjual. dan para pengedar gelap. dilihat dari cara menanam. terutama bagi penanaman bibit. Indonesia telah ikut berpatisipasi menanggulangi kejahatan penyalahgunaan narkotika. sosial. yang pada akhirnya akan menjadi suatu bahaya bagi si pemakai. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009. Undang-undang ini merupakan undang-undang yang baru menggantikan undangundang yang lama yaitu Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 dan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Sebagai negara kepulauan yang mempunyai letak strategis. bangsa dan negara. dan politik dalam dunia internasional.

Permasalahan narkotika dipandang sebagai hal yang gawat. mengekspor. semuanya sangat tergantung pada partisipasi semua pihak baik pemerintah. aparat keamanan. menyimpan. bangsa dan negara serta Keutuhan Nasional Indonesia. Hal ini merupakan tindakan subversi yang merupakan rongrongan yang dilakukan oleh pelaku perbuatan pidana narkotika terhadap bangsa dan negaranya sendiri tanpa disadari. Mengimpor. Harus disadari bahwa masalah penyalahgunaan narkotika adalah suatu problema yang sangat komplek. karena pelaksanaan undang-undang tersebut. lingkungan maupun guru di sekolah.narkotika dapat disebut sebagai pelaku perbuatan pidana narkotika. mengedarkan dan menggunakan narkotika tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat. memproduksi. dan bersifat internasional yang dilakukan dengan modus operandi dan teknologi yang canggih. oleh karena itu diperlukan upaya dan dukungan dari semua pihak agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. menanam. terutama generasi . keluarga. Oleh karena itu agar penggunaan narkotika tidak disalahgunakan haruslah dilakukan pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama menurut undang-undang yang berlaku. serta bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah kejahatan dan merupakan bahaya yang sangat besar bagi kehidupan manusia dan masyarakat. Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan sumber daya manusia Indonesia perlu dilakukan upaya peningkatan di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan. termasuk dengan mengusahakan ketersediaan narkotika jenis tertentu yang sangat dibutuhkan sebagai obat dan ilmu pengetahuan. sebab hal tersebut tidak dapat hilang dengan sendirinya meskipun telah dikeluarkan undang-undang yang disertai dengan sanksi yang keras.

yang menyuruh lakukan dan yang turut serta melakukan perbuatan . tidak hanya pemakai saja yang dapat dikenakan pidana. Untuk itu dalam hukum Nasional Indonesia telah mengatur segala yang berhubungan dengan narkotika dalam suatu Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.muda. akibatnya menjadi bangsa yang lemah baik fisik maupun psikisnya. Masyarakat awam banyak yang mengira bahwa hukuman yang dijatuhkan pada pelaku perbuatan pidana narkotika itu sama. baik pelaku yang menyuruh lakukan. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika telah mengatur tentang ketentuan pidana bagi siapa saja yang dapat dikenakan pidana beserta denda yang harus ditanggung oleh penyalahguna narkotika atau dapat disebut sebagai pelaku perbuatan pidana narkotika. Dalam penyalahgunaan narkotika. Adapun pasal dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yang menyebutkan mengenai hal tersebut adalah pasal 55 dan 56 yaitu sebagai berikut : Pasal 55 : (1) Dipidana sebagai pembuat (dader) sesuatu perbuatan pidana : Ke-1 Mereka yang melakukan. yang turut serta melakukan dan penganjur maupun pembantu dapat disebut sebagai pelaku perbuatan pidana. berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penyertaan dalam melakukan perbuatan pidana. Padahal dalam undang-undang narkotika sendiri tidak membedakan pelaku perbuatan pidana narkotika beserta sanksi yang berbeda pula.

dan undang-undang yang bersifat umum mengatur mengenai ketentuan tersebut. di dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika tidak mengaturnya. Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun berdasarkan asas lex specialis derogat lex generalis (undang-undang khusus lebih diutamakan daripada undang-undang yang bersifat umum) namun tidak semua undang-undang yang bersifat umum tersebut tidak digunakan setelah ada undang-undang khusus yang mengaturnya.Ke-2 Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu. Pasal 56 : Dipidana sebagai pembantu (medeplichtige) sesuatu kejahatan : Ke-1 Ke-2 Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan. Mereka yang sengaja memberi kesempatan. karena masih ada ketentuan-ketentuan yang belum diatur dalam undang-undang khusus. ancaman atau penyesatan. namun di . dengan kekerasan. dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat. sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan. sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan. seperti mengenai penyertaan dalam melakukan perbuatan pidana. sarana atau keterangan. atau dengan memberi kesempatan. (2) Terhadap penganjur hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan beserta akibat-akibatnya.

pemuda bahkan sudah meluas melibatkan siswa SMU dan SLTP dan kondisi ini sangat memperihatinkan karena kalau tidak bisa diatasi jelas akan merusak genarasi muda dan merupakan bahaya yang sangat besar bagi kehidupan manusia.dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah mengaturnya. dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Oleh karena itu. maka Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dapat digunakan sebagai dasar ketentuan pidana dalam hal penyertaan dalam melakukan perbuatan pidana apapun juga termasuk masalah narkotika. . Setiap penelitian dalam penulisan karya ilmiah pasti mempunyai beberapa alasan dalam pemilihan judul. bangsa dan negara. penulis merasa tertarik untuk meneliti secara yuridis normatif mengenai pengaturan hukum terhadap pelaku perbuatan pidana narkotika. Dengan berdasarkan semakin maraknya penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja. Dalam penulisan ini penulis berusaha untuk meneliti mengenai pengaturan hukum terhadap pelaku perbuatan pidana narkotika berdasarkan UndangUndang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.