P. 1
HUKUM HOMOSEKSUAL

HUKUM HOMOSEKSUAL

|Views: 20|Likes:
Published by Subur Arfah

More info:

Published by: Subur Arfah on May 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2013

pdf

text

original

HUKUM HOMOSEKSUAL, LESBIAN, DAN ONANI/MASTURBASI

1. Homoseksual dan Lesbian

Homoseksual adalah hubungan seksual antara orang-orang yang sama kelaminnya, baik
sesame pria maupun sesame wanita, namun biasanya istilah homosex itu dipakai untuk sex antar
pria; sedangkan untuk sex antar wanita, disebut lesbian (female homosex). Lawan homosex adalah
heterosex, artinya hubungan seksual antara orang-orang yang berbeda kelaminnya (seorang pria
dengan seorang seorang wanita).

Homoseksual (liwath, bhs. Arab) dilakukan dengan cara memasukan penis (zakar, bhs. Arab)
kedalam anus (dubur, bhs. Arab); sedangkan lesbian dilakukan dengan cara melakukan masturbasi
satu sama lain atau dengan cara lainnya untuk mendapatkan orgasme (puncak kenikmatan atau
climax of the sex act)

Perbuatan kaum homo, baik seks antar sesame pria (homoseksual), maupun seks antar
sesame wanita (lesbian) merupakan kejahatan (jarimah/jinayah, bhs. Arab) yang dapat diancam
dengan pidana penjara paling lama 5 tahun menurut hokum pidana di Indonesia (vide pasal 292
KUHP)
Menurut hokum fiqh jinayah(hokum pidana Islam), homoseksual (liwath) termasuk dosa
besar, karena bertentangan dengan norma agama, norma susila, dan bertentangan pula dengan
sunnatulloh (God’s Law/ Natur Of law) dan fitrah manusia(human Nature) sebab Alloh SWT
menjadikan manusia terdiri dari pria dan wanita adalah untuk berpasang-pasangan sebagai suami
istri untuk mendapatkan keturunan yang sah dan untuk memperoleh ketenangan dan kasih saying,
sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surat Al-Nahl ayat 72 :
+.-4Ò ºE¬E_ ª7¯·¯ ;}g)` ¯7¯´O¬¼^Ò¡
~w}4Ò^eÒ¡ ºE¬E_4Ò ª7¯·¯ ;}g)` ª¬:´_4Ò^eÒ¡
4×-gL4 LEE³E¼EO4Ò ª7¯·~Ee4O4Ò =}g)`
ge4:j´O-C¯- _ ÷gC4:^¯):··Ò¡
4pONLg`u·NC geE©u¬gL)4Ò *.- ¯ª¬-
4pÒNO¬¼'¯4C ^_g÷

Artinya :”Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu
dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik.
Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?"

Dan firman Alloh dalam Surat Ar-Rum ayat 21
;}g`4Ò ¼·gOg-4C-47 upÒ¡ 4-ÞUE· 7¯·¯ ;}g)`
¯ª7¯´O¬¼^Ò¡ ~w}4Ò^eÒ¡ W-EONL7¯¯O4g¢¯
E_^1·¯)³ ºE¬E_4Ò ª¬:4LuO4 LEE14OE`
OE©;O4O4Ò _ Ep)³ O)× Elg¯·O ±e4C±E
±¬¯O·³g¢¯ 4pÒNO-¯E¼4-4C ^g¯÷

Artinya:”dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Menurut Dr. Muhammad Rashfi di dalam kitabnya Al-Islam Wa al-Thib sebagaimana
dikutip oleh Sayid Sabiq, bahwa Islam melarang keras homosex, karena mempunyai dampak yang
negative terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat antara lain adalah sebagai berikut :
a. Tidak tertarik kepada wanita, tetapi justeru tertarik kepada pria sama kelaminnya. Akibatnya
kalau si homo itu kawin,maka istrinya menjadi korban (merana), karena suaminya bias tidak
mampu menjalankan tugas sebagai suami, dan si istri hidup tanpa ketenangan dan kasih
saying, serta ia tidak mendapatkan keturunan, sekalipun ia subur
b. Kelainan jiwanya yang akibatnya mencintai sesame kelamin, tidak stabil jiwanya, dan
timbul tingkah laku yang aneh-aneh pada pria pasangan si homo. Misalnya ia bergaya sesama
seperti wanita dalam berpakaian, berhias, dan bertingkah laku;
c. Gangguan syaraf otak, yang akibatnya bias melemahkan daya pikiran dan semangat/
kemauannya;
d. Penyakit AIDS, yang menyebabkan penderitanya kekurangan/kehilangan daya ketahanan
tubuhnya. Penyakit AIDS ini belum ditemukan obatnya dan telah membawa korban banyak
sekali di Barat, khususnya di Amerika Serikat. Berdasarkan suevei di Amerika Serikat pada
Tahun 1985 terhadap 12.000 penderita AIDS, ternyata 73 % akibat hubungan free sex,
terutama homosex, 17% karena pecandu narkotik atau sejenisnya, dan 2,5% akibat transfuse
darah.

Para Ahlu hokum fiqh sekalipun telah sepakat mengharamkan homosex, tetapi mereka
berbeda pendapat tentang hukumannya.
Pendapat pertama antara lain Imam Syafi’I,pasangan homosex dihukum mati, berdasarkan hadits
Nabi, riwayat Khomsah (lima Ahli Hadits Kecuali Al-Nasai)dari Ibnu Abbas :

َ
لْ ىُ ع
ْ
ف
َ
م
ْ
نا
َ
و
َ
م
ِ
عا
َ
ف
ْ
ناا ْ ى
ُ
ه
ُ
ت
ْ
قا
َ
ف
ٍ
طْ ى
ُ
ن
َ
و ْ ى
َ
ق
َ
م
َ
مَ ع ْ م
َ
مْ ع
َ
ي
ُ
ي ْ ى
ُ
م
ُ
ت
ْ
د
َ
ج
َ
و
ْ
ه
َ
م
Artinya:”Barangsiapa menjumpai orang yang berbuat homosex seperti praktek kaum luth, maka
bunuhlah sipelaku dan yang diperlakukan (pasangannya)

Menurut Al-Mundziri, khalifah Abu Bakar dan Ali pernah menghukum mati terhadap
pasangan homosex.

Pendapat kedua antara lain Al-Auzai, Abu Yusuf dan lain-lain, hukumnya disamakan dengan
hukuiman zina, yakni hukuman dera dan pengasingan untuk yang belum kawin, dan dirajam
(stoning to death) untuk pelaku yang sudah kawin, berdasarkan Hadits Nabi :
رنا ىَت
َ
أ ا
َ
ذ
ِ
ا )ثيدحنا( .
ِ
ناَي
ِ
وا َ ز ا
َ
مُه
َ
ف َ مُ ج رنا ُ مُ ج
Artinya : “apabila seorang pria melakukan hubungan sex dengan pria lain, maka kedua-duanya
adalah berbuat zina”
Pendapat kedua ini sebenarnya memakai qias didalam menetapkan hukumannya.
Pendapat ketiga antara lain Abu Hanifah, pelaku homosex dihukum ta’zir, sejenis hukuman yang
bertujuan edukatif, dan besar ringanya hukuman tazir diserahkan kepada pengadilan (Hakim).
Hukuman Ta’zir dijatuhkan terhadap kejahatan atau pelanggaran yang tidak ditentukan macam dan
kadar hukumannya oleh nas Al-Qur’an dan Hadits.
Menurut Al-Syaukani, pendapat pertama adalah yang kuat, karena berdasarkan nas Shahih
(Hadits) yang jelas maknanya; sedangkan pendapat kedua dianggap lemah, karena memakai dalil
qias, padahal ada nash nya, dan sebab hadits yang dipakainya lemah. Demikianpula pendapat ketiga,
juga dipandang lemah, karena bertentangan dengan nash yang telah menetapkan hukuman mati
(hukuman had), bukan hukuman ta’zir
Mengenai perbuatan lesbian (female homosexual), atau sahaq (bhs. Arab), para ahli fiqh juga
sepakat mengharamkannya, berdasarkan Hadits Nabi riwayat Ahmad, Abu daud, Muslim, dan Al-
Tirmidzi :
رنا ى
َ
ن
َ
إ ُ مُ ج رنا ّ ض
ُ
غ
َ
ي
َ
ل
َ
و
ِ
ة
َ
أ ْ ر
َ
م
ْ
نا
ِ
ة
َ
رْ ىَ ع ى
َ
ن
ِ
إ
ُ
ة
َ
أ ْ ر
َ
م
ْ
نا
َ
ل
َ
و
َ
مُ ج رنا
ِ
ة
َ
رْ ىَ ع ى
َ
ن
ِ
إ ُ مُ ج رنا ُ ر
ُ
ظ
ْ
ى
َ
ي
َ
ل ُ ج ى
ِ
ف
ِ
م

ْ
نا
ِ
بْ ى

ثنا ى
ِ
ف
ِ
ة
َ
أ ْ ر
َ
م
ْ
نا ى
َ
ن
ِ
إ
ُ
ة
َ
أ ْ ر
َ
م
ْ
نا ُ ض
ُ
غ َ ََ ت
َ
ل
َ
و
ِ
د
ِ
حا
َ
ى
ْ
نا
ِ
بْ ى

ثنا د
ِ
حا
َ
ى

Artinya:” janganlah pria melihat aurat pria lain dan janganlah wanita melihat aurat wanita lain dan
janganlah bersentuhan pria dengan pria lain dibawah sehelai selimut/kain, dan janganlah pula
wanita bersentuhan dengan wanita lain dibawah sehelai selimut/kain”

Menurut Sayid Sabiq, lesbian ini dihukum ta’zir, suatu hukuman yang macam dan berat
ringannya diserahkan kepada pengadilan. Jadi, hukumannya lebih ringan daripada homoseksual,
karena bahaya/risikonya lebih ringan dibandingkan dengan bahaya homosexual, karena lesbian itu
bersentuhan langsung tanpa memasukan alat kelaminnya; seperti halnya seorang pria bersentuhan
langsung (pacaran) dengan wanita bukan istrinya tanpa memasukan penisnya kedalam vagina.
Perbuatan semacam ini tetap haram, sekalipun bukan zina, tetapi dapat dikenakan hukuman ta’zir
seperti lesbian diatas.

2. Onani (istimna’bil yadi, bhs. Arab)
Onani (istimna’bil yadi, bhs. Arab), yakni masturbasi dengan tangan sendiri. Islam
memandangnya sebagai perbuatan yang tidak etis dan tidak pantas dilakukan. Namun, para ahli
Hukum Fiqh berbeda pendapat tentang hukumnya.
Pendapat pertama, Ulama Maliki, Syafii dan Zaidi mengharamkan secara Mutlak, berdasarkan Al-
Qur’an Surat Al-Mu’minun ayat 5-7:
4ׯg~-.-4Ò ¯ª¬- ¯ª)_´_ÒNO¬¼g¯ 4pOO¬g¼EO
^)÷ ·º)³ -OÞ>4N ¯ª)_´_4Ò^eÒ¡ uÒÒ¡ 4`
;e·¯ÞU4` ¯ª×g÷+E©uCÒ¡ ¯ª×gE+)¯·· +O¯OEN
¬--g`O¬U4` ^g÷ ^}E©·· _/E¯4-¯- 47.-4O4Ò
Elg¯·O Elj·^·¯Òq·· Nª¬- 4pÒ÷1E¬^¯- ^_÷
5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki(994); Maka
Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu[995] Maka mereka Itulah orang-orang yang
melampaui batas.

[994] Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan
budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu,
wanita-wanita yang ditawan Biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam
peperangan itu, dan kebiasan Ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan
ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[995] Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya.
Ayat ini dengan jelas memerintahkan kepada kita agar menjaga kehormatan alat kelamin
(penis), kecuali terhadap istri dan budak kita. Yang dimaksud budak disini, ialah budak yang
didapat dalam peperangan untuk membela agama.

Pendapat kedua, Ulama Hanafi secara prinsip mengharamkan onani, tetapi dalam keadaan gawat,
yakni orang yang memuncak nafsu seksnya dan khawatir berbuat zina, maka ia boleh, bahkan wajib
berbuat onani demi menyelamatkan dirinya dari perbuatan zina yang jauh lebih besar dosa dan
bahayanya daripada onani. Hal ini sejalan dengan kaidah fiqh
ة
ِ
جا
َ
و
ِ
هْ ي
َ
ر
َ
ر ضنا ّ فَ خ
َ
أ ُ باَ ك
ِ
ت ْ ر
ِ
ا
Artinya:”Wajib menempuh bahaya yang lebih ringan diantara dua bahaya”
Pendapat ketiga, Ulama Hambali mengharamkan onani, kecuali kalau orang takut berbuat zina
(karena terdorong nafsu seksnya yang kuat), atau khawatir terganggu kesehatannya, sedangkan ia
tidak mempunyai istri atau amat (budak wanita), dan ia tidak mampu kawin, maka ia tidak berdosa
berbuat onani.
Menurut pendapat kedua dan ketiga diatas, onani hanya diperbolehkan dalam keadaan
terpaksa. Sudah barang tentu yang diperbolehkan dalam keadaan terpaksa (darurat) itu dibatasi
seminimal mungkin penggunaannya, dalam hal ini perbuatan onani itu
Hal ini sesuai dengan kaidah Fiqh :
اَه
ِ
رَ د
َ
ق
ِ
ت ُ ر د
َ
قُي
ِ
ة
َ
رْ وُ ر ضه
ِ
ن
َ
حْ ي
ِ
ت
ُ
أا
َ
م
Artinya: “ sesuatu yang diperbolehkan karena darurat, hanya boleh sekadarnya saja”
Kaidah fiqh ini berdasarkan firman Alloh dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat173 :



Pendapat keempat, Ibnu Hazm memandang makruh onani, tidak berdosa, tetapi tidak etis.
Pendapat kelima, Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan lain-lain membolehkan onani. Kata Al-Hasan, “ Orang
Islam dahulu melakukannya dalam waktu peperangan (jauh dari keluarga/istri)”. Dan kata Mujahid,
seorang ahli tafsir, murid Ibnu Abbas, “Orang Islam dahulu (sahabat Nabi) mentoleransi para
remaja/pemudanya melakukan onani/masturbasi”. Dan hokum mubah berbuat onaniini berlaku baik
untuk pria maupun wanita.
Menurut hemat penulis, lebih cenderung kepada pendapat yang kedua dan ketiga yaitu
membolehkannya dengan dasar keadaan gawat, artinya ketika hawa nafsu seksual memuncak agama
memberikan jalan alternative dengan menyalurkan kedalam bentuk lain seperti onani, karna belum
menikah ataupun belum mempunyai penyaluran seksual yang sah menurut agama. Apalagi kalau
dalam keadaan di medan perang atau masa remaja. Tetapi tidak boleh dijadikan kebiasaan atau
rutinitas sehari-hari, sebab seperti kaidah usul fiqh tadi hanya sekedarnya saja dalam keadaan
tertentu tidak dijadikan aktivitas rutinitas. Sebab kalaupun dilakukan secara rutinitas akibatnya bias
mengganggu kesehatan jasmani dan kesehatan rohani (mental). Juga bias melemahkan potensi
kelaminnya, serta kemampuan ejakulasinya, sehingga menjadi sebab gagalnya sel sperma pria
menerobos masuk untuk bertemu dengan sel telur wanita (ovum)


REFERENSI
+ Al-Qur’an Al-Karim
+ AlHadits
+ H. Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah,prof. Drs, edisi II Cetakan ke-7, Malang,1994
+ Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Juz. II, Libanon, Darul fiqr, 1981
+ Abdul Qadir ‘Audah, Al-Tasyri’ Al-jinai al-Islami Muqaranan bil Qonun al-Wadhi
+ Moelyanto, KUHP, Jakarta, Bina Aksara, 1985, hlm.127

karena mempunyai dampak yang negative terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat antara lain adalah sebagai berikut : a. dan timbul tingkah laku yang aneh-aneh pada pria pasangan si homo. Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?" Dan firman Alloh dalam Surat Ar-Rum ayat 21                       Artinya:”dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri. c. Muhammad Rashfi di dalam kitabnya Al-Islam Wa al-Thib sebagaimana dikutip oleh Sayid Sabiq. bahwa Islam melarang keras homosex. anak-anak dan cucu-cucu. tidak stabil jiwanya.             Artinya :”Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu. . Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. Misalnya ia bergaya sesama seperti wanita dalam berpakaian. berhias. Kelainan jiwanya yang akibatnya mencintai sesame kelamin. dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Tidak tertarik kepada wanita. tetapi justeru tertarik kepada pria sama kelaminnya. yang akibatnya bias melemahkan daya pikiran dan semangat/ kemauannya. supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.maka istrinya menjadi korban (merana). Menurut Dr. dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. dan si istri hidup tanpa ketenangan dan kasih saying. karena suaminya bias tidak mampu menjalankan tugas sebagai suami. sekalipun ia subur b. Gangguan syaraf otak. serta ia tidak mendapatkan keturunan. dan bertingkah laku. Akibatnya kalau si homo itu kawin.

dan 2. sejenis hukuman yang bertujuan edukatif. dan sebab hadits yang dipakainya lemah. riwayat Khomsah (lima Ahli Hadits Kecuali Al-Nasai)dari Ibnu Abbas : ‫مه وجدتُمىيُ يَعممْ عمم قَىو نُىط فَاقتُهُىاانفَاعم وانمفعُىل‬ َ ْ َْْ َ َ ِ ْ ْ ْ ٍ ْ َ ْ َ ََ َ ْ ُْ َْ َ ْ َ Artinya:”Barangsiapa menjumpai orang yang berbuat homosex seperti praktek kaum luth. juga dipandang lemah. hukumnya disamakan dengan hukuiman zina. maka bunuhlah sipelaku dan yang diperlakukan (pasangannya) Menurut Al-Mundziri. terutama homosex. karena berdasarkan nas Shahih (Hadits) yang jelas maknanya. bukan hukuman ta’zir .000 penderita AIDS. Penyakit AIDS ini belum ditemukan obatnya dan telah membawa korban banyak sekali di Barat. yang menyebabkan penderitanya kekurangan/kehilangan daya ketahanan tubuhnya. (انحديث‬ ُ ُ َ َ ِ َ Artinya : “apabila seorang pria melakukan hubungan sex dengan pria lain.pasangan homosex dihukum mati. pelaku homosex dihukum ta’zir. khususnya di Amerika Serikat.d. Demikianpula pendapat ketiga. Pendapat ketiga antara lain Abu Hanifah. Pendapat kedua antara lain Al-Auzai. Abu Yusuf dan lain-lain. sedangkan pendapat kedua dianggap lemah. pendapat pertama adalah yang kuat. dan dirajam (stoning to death) untuk pelaku yang sudah kawin. Penyakit AIDS. tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukumannya. Para Ahlu hokum fiqh sekalipun telah sepakat mengharamkan homosex. khalifah Abu Bakar dan Ali pernah menghukum mati terhadap pasangan homosex. ternyata 73 % akibat hubungan free sex. 17% karena pecandu narkotik atau sejenisnya. karena bertentangan dengan nash yang telah menetapkan hukuman mati (hukuman had). Pendapat pertama antara lain Imam Syafi’I. Berdasarkan suevei di Amerika Serikat pada Tahun 1985 terhadap 12. Hukuman Ta’zir dijatuhkan terhadap kejahatan atau pelanggaran yang tidak ditentukan macam dan kadar hukumannya oleh nas Al-Qur’an dan Hadits. berdasarkan hadits Nabi. padahal ada nash nya. maka kedua-duanya adalah berbuat zina” Pendapat kedua ini sebenarnya memakai qias didalam menetapkan hukumannya.5% akibat transfuse darah. karena memakai dalil qias. Menurut Al-Syaukani. yakni hukuman dera dan pengasingan untuk yang belum kawin. dan besar ringanya hukuman tazir diserahkan kepada pengadilan (Hakim). berdasarkan Hadits Nabi : َ )‫اِذا أَتَى انرجم انرجُم فَهُما زَاوِيان.

Syafii dan Zaidi mengharamkan secara Mutlak. Namun. karena bahaya/risikonya lebih ringan dibandingkan dengan bahaya homosexual. Ulama Maliki. Abu daud. atau sahaq (bhs. Arab). 6. Muslim. para ahli fiqh juga sepakat mengharamkannya. Arab) Onani (istimna’bil yadi. hukumannya lebih ringan daripada homoseksual. yakni masturbasi dengan tangan sendiri. Onani (istimna’bil yadi. Jadi. 2. tetapi dapat dikenakan hukuman ta’zir seperti lesbian diatas. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki(994). dan AlTirmidzi : ُ ََ ِ َْ َِ َْ ‫َليَىظُر انرجم إِنَى عىرة انرجم وَل انمرْ أَةُ إِنَى عىرة انمرْ أَة وَل يَغضُّ انرجم إَنَى انرجم فِى‬ ُ ُ ُ ُ ُ ْ َ َِ َْ ِ ُ َْ ََ َ ُ ُ َ ََ ِِ َْ ِ ْ ‫انثىب انىاحد وَل تََ غضُ انمرْ أَةُ إِنَى انمرْ أَة فِى انثىب انىاحد‬ ِ َْ ِ ْ ِ َْ َْ Artinya:” janganlah pria melihat aurat pria lain dan janganlah wanita melihat aurat wanita lain dan janganlah bersentuhan pria dengan pria lain dibawah sehelai selimut/kain. bhs. Islam memandangnya sebagai perbuatan yang tidak etis dan tidak pantas dilakukan. dan janganlah pula wanita bersentuhan dengan wanita lain dibawah sehelai selimut/kain” Menurut Sayid Sabiq. berdasarkan Hadits Nabi riwayat Ahmad. Arab).Mengenai perbuatan lesbian (female homosexual). suatu hukuman yang macam dan berat ringannya diserahkan kepada pengadilan. berdasarkan AlQur’an Surat Al-Mu’minun ayat 5-7:                         5. para ahli Hukum Fiqh berbeda pendapat tentang hukumnya. karena lesbian itu bersentuhan langsung tanpa memasukan alat kelaminnya. Pendapat pertama. . bhs. lesbian ini dihukum ta’zir. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa. seperti halnya seorang pria bersentuhan langsung (pacaran) dengan wanita bukan istrinya tanpa memasukan penisnya kedalam vagina. Perbuatan semacam ini tetap haram. sekalipun bukan zina.

kecuali terhadap istri dan budak kita. tetapi dalam keadaan gawat. dan sebagainya. bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. ialah budak yang didapat dalam peperangan untuk membela agama. dalam hal ini perbuatan onani itu Hal ini sesuai dengan kaidah Fiqh : ‫ماأُتِيْح نِهضرُورة يُقَدر تِقَدرهَا‬ َ َ َِ ْ ِ َ ُ Artinya: “ sesuatu yang diperbolehkan karena darurat.7. dan ia tidak mampu kawin. atau khawatir terganggu kesehatannya. Pendapat kedua. Yang dimaksud budak disini. Ayat ini dengan jelas memerintahkan kepada kita agar menjaga kehormatan alat kelamin (penis). maka ia tidak berdosa berbuat onani. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu. [994] Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir. kecuali kalau orang takut berbuat zina (karena terdorong nafsu seksnya yang kuat). Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya. wanita-wanita yang ditawan Biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu. Menurut pendapat kedua dan ketiga diatas. imam boleh melarang kebiasaan ini. Hal ini sejalan dengan kaidah fiqh ُّ َ َ ‫اِرْ تِكابُ أَخف انضرريه واجة‬ ِ َ ِ َْ َ Artinya:”Wajib menempuh bahaya yang lebih ringan diantara dua bahaya” Pendapat ketiga. Ulama Hanafi secara prinsip mengharamkan onani. homoseksual. Ulama Hambali mengharamkan onani. maka ia boleh. Barangsiapa mencari yang di balik itu[995] Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. hanya boleh sekadarnya saja” Kaidah fiqh ini berdasarkan firman Alloh dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat173 : . Sudah barang tentu yang diperbolehkan dalam keadaan terpaksa (darurat) itu dibatasi seminimal mungkin penggunaannya. sedangkan ia tidak mempunyai istri atau amat (budak wanita). yakni orang yang memuncak nafsu seksnya dan khawatir berbuat zina. bahkan wajib berbuat onani demi menyelamatkan dirinya dari perbuatan zina yang jauh lebih besar dosa dan bahayanya daripada onani. dan kebiasan Ini bukanlah suatu yang diwajibkan. [995] Maksudnya: zina. onani hanya diperbolehkan dalam keadaan terpaksa.

127 . II. serta kemampuan ejakulasinya. Pendapat kelima. Ibnu Hazm memandang makruh onani. seorang ahli tafsir. “Orang Islam dahulu (sahabat Nabi) mentoleransi para remaja/pemudanya melakukan onani/masturbasi”. 1985. artinya ketika hawa nafsu seksual memuncak agama memberikan jalan alternative dengan menyalurkan kedalam bentuk lain seperti onani.1994  Sayid Sabiq. Al-Hasan. Masjfuk Zuhdi. 1981  Abdul Qadir ‘Audah. Ibnu Abbas. Kata Al-Hasan. Sebab kalaupun dilakukan secara rutinitas akibatnya bias mengganggu kesehatan jasmani dan kesehatan rohani (mental). sebab seperti kaidah usul fiqh tadi hanya sekedarnya saja dalam keadaan tertentu tidak dijadikan aktivitas rutinitas. karna belum menikah ataupun belum mempunyai penyaluran seksual yang sah menurut agama. Darul fiqr. Tetapi tidak boleh dijadikan kebiasaan atau rutinitas sehari-hari. Masail Fiqhiyah. hlm. Jakarta.prof. Al-Tasyri’ Al-jinai al-Islami Muqaranan bil Qonun al-Wadhi  Moelyanto. lebih cenderung kepada pendapat yang kedua dan ketiga yaitu membolehkannya dengan dasar keadaan gawat. edisi II Cetakan ke-7. KUHP. Fiqh al-Sunnah. Malang. “ Orang Islam dahulu melakukannya dalam waktu peperangan (jauh dari keluarga/istri)”. sehingga menjadi sebab gagalnya sel sperma pria menerobos masuk untuk bertemu dengan sel telur wanita (ovum) REFERENSI  Al-Qur’an Al-Karim  AlHadits  H. Menurut hemat penulis. Juga bias melemahkan potensi kelaminnya.Pendapat keempat. Libanon. tetapi tidak etis. Bina Aksara. Apalagi kalau dalam keadaan di medan perang atau masa remaja. Dan hokum mubah berbuat onaniini berlaku baik untuk pria maupun wanita. Drs. dan lain-lain membolehkan onani. Juz. Dan kata Mujahid. tidak berdosa. murid Ibnu Abbas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->