BAB I PENDAHULUAN 1. 1.

Latar Belakang

Belajar dapat kita katakan sebagai suatu proses seseorang memeroleh kecakapan serta keterampilan. Dimulai dari masa kecil hingga masa dewasa, kita telah dihadapkan pada proses pembelajaran dengan tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan usia kita. Kemampuan seseorang untuk dapat mengikuti suatu prose pembelajaran ialah merupakan anugerah yang membedakan dengan makhluk hidup lain di muka bumi ini. Kemampuan belajar ini amatlah sangat bermanfaat, baik bagi individu yang mempelajarinya maupun bagi masyarakat pada umumnya, kemampuan belajar tersebut merupakan suatu sumbangan bagi pengembangan berbagai ragam gaya hidup. Belajar merupakan sarana penggalian penemuan-penemuan ilmu pengetahuan baru yang di sesuaikan oleh pencapaian peradaban manusia pada tiap generasi berbeda. Seorang individu ataupun masyarakat memiliki kepentingan agar berhasil untuk mengelola teknik belajar. Seseorang yang menguasai berbagai kecakapan serta keterampilan akan terampil melakukan pekerjaan serta memiliki kemampaun berkehidupan yang kreatif sepanjang hidupnya. Pentingnya belajar tersebut telah dikemukakan oleh Edward Thorndike (1933). Ia mengatakan bahwa sebagian besar pencapaian peradaban manusia akan tidak bermanfaat lagi dalam satu generasi dan peradaban itu sendiriakan segera sirna dari muka bumi. Usaha untuk mencari pemahaman yang lengkap mengenai belajar seseorang, telah menarik perhatian para ahli filsafat, psikologi, dan pendidikan selama berabad-abad. Dewasa ini, sebagian karena hasil usaha-usaha pembaharuan kurikulum pada tahun 1960-an, permasalahan mengenai belajar di lingkungan sekolah digarap secara lebih mendalam dengan menggunakan berbagai macam teori yang dianut saat ini. Setiap teori pembealjaran saat ini sangat memberikan informasi penting mengenai beberapa segi proses belajar yang di berlakukan di kelas. Karena itu, penyusunan makalah ini adalah tadak lain bertujuan untuk mengetahui dan memahami implikasi salah satu teori

1

pembelajaran dari sekian banyak teori yang telah di kemukakan oleh para ahli yaitu teori pembelajaran Robert Gagne.

1. 2. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Siapakah tokoh dari Robert Gagne? 2. Apakah teori pembelajaran yang Robert gagne kemukakan?

1. 3. Tujuan Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Mengenal siapakah Robert Gagne?

2. Mengetahui teori pembelajaran Robert Gagne?

1. 4. Manfaat Penyusun mengharapkan agar makalah ini dapat berguna oleh3 seluruh mahasiswa/i program studi Biologi II A khususnya dan umumnya kepada seluruh mahasiswa/i Universitas Islam Negeri Syarif Hidayattullah Jakartansecara teoritis sebagai berikut : 1. Mengenal siapakah Robert Gagne. 2. Mengetahui teori pembelajaran Robert Gagne.

2

smantiara.D. Mengajar pada ConnecticutCollege for Women dari 1940-1949 dan kemudian pada Penn State University dari 1945-1946. Gagne menjadi direktur “perceptual and motor skills laborartory” dari U.id/artikel/57-teori-belajar-gagne 3 . Beliau mendapatkan gelar A.in the brain" Robert Gagne lahir tahun 1916 di North Andover. Robert Gagne "Learning is something that takes place inside a person's head.sch. Pada saat itu dia mulai mengembangkan beberapa idenya yaitu teori belajar yang disebut dengan "The Conditions of Learning".BAB II PEMBAHASAN 2 . 1 www. Air force. Pada 25 tahun terakhir beliau adalah professor pada Department of Education Research at Florida State University di Tallahassee1. Antara 1949-1958. MA. 1.S. Riwayat Hidup Robert Gagne ROBERT GAGNE 1916-2002 Gambar 1. dalam Psychology dari Universitas Brown.B. pada Yale tahun 1937 dan pada tahun 1940 mendapat gelar Ph.

2. 2. 2. serta hubungan kejadiankejadian tersebut2. dan mendapatkan kembali informasi pada penyimpanannya.2. 3. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar. Gagne dan Teori Pembelajaran “Conditioning Learning” Gagne melihat proses belajar mengajar dibagi menjadi beberapa komponen penting yaitu : 1. kondisi atau tipe pembelajaran (the eight conditions learning) dan kejadian-kejadian belajar (nine intructional events). seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi. (3) storage (4) retrieval. (2) stage of acquisition. 4. Fase-fase dalam belajar Gagne membagi proses belajar berlangsung dalam empat fase utama. 2. memperoleh stimulus dalam central processing unit. Fase – fase pembelajaran Kategori utama kapabilitas/kemampuan manusia/outcomes Kondisi atau tipe pembelajaran Kejadian-kejadian instruksional Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya pada “The Condition of Learning”.htm 4 . jika siswa mempelajari prosedur menentukan nilai pendekatan 2 www. kapabilitas manusia yang dihasilkan setelah belajar (outcomes).nova.edu/~cozart/learningtheories. pada bukunya “The Condition of Learning” Gagne membahas tentang fase-fase dalam belajar. meskipun sedikit lebih kompleks daripada yang ada pada manusia. menyimpan informasi dalam stimulus pada salah satu bagian memori. 1. yaitu: (1) receiving the stimulus situation (apprehending). Keempat fase belajar manusia ini telah disatukan menyerupai model sistem komputer. komputer menangkap rangsangan listrik dari pengguna komputer.

Fase receiving the stimulus situation (apprehending phase) Fase receiving the stimulus situation (apprehending phase) merupakan fase pengenalan atau fase dimana seseorang memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara.edu/depts.sru.htm 5 . 3 www. yaitu fase motivasi sebelum pelajaran dimulai guru memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar. 1. guru menimbulkan pemahaman dengan mengerjakan suatu contoh pada papan tulis. Stimulus itu dapat spontan diterima atau seorang Guru dapat memberikan stimulus agar siswa memperhatikan apa yang akan diucapkan. Misalnya “golden eye” bisa ditafsirkan sebagai jembatan di amerika atau sebuah judul film. Untuk membantu siswa melangkah maju melalui empat tahap dalam mempelajari algoritma akar kuadrat. membantu penyimpanan dengan memberikan soal-soal untuk pekerjaan rumah. menyimpan di dalam memori. siswa dapat diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi baru tersebut. dan sebagai akibatnya setiap siswa bertanggung jawab terhadap belajarnya karena cara yang unik yang dia terima pada situasi belajar. daftar petunjuk. pada situasi-situasi baru. agar lebih meningkatkan daya ingat. mereka harus memahami metode. ini berarti bahwa belajar adalah suatu proses yang unik pada tiap siswa. memperoleh metode. fase generalisasi adalah fase transer informasi.akar kuadrat dari bilangan yang bukan kuadrat sempurna. Kemudian ada fase-fase lain yang dianggap tidak utama. dan memunculkan pemanggilan kembali dengan memberikan kuis pada hari berikutnya. memudahkan akusisi setelah setiap siswa mengerjakan contoh dengan mengikutinya. langkah demi langkah./education/psycholo/panaud/gagne. dan memanggil kembali ketika dibutuhkan. Fase penampilan adalah fase dimana siswa harus memperlihatkan sesuatu penampilan yang nampak setelah mempelajari sesuatu3.

Dengan kata lain pada fase ini siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama. terdapat informasi yang disimpan dalam jangka pendek dan terdapat pula informasi yang disimpan dalam jangka panjang. pada fase ini seseorang akan dapat memperoleh suatu kesanggupan yang belum diperoleh sebelumnya dengan menghubung-hubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumnya. 4. diatur dengan baik atas pengelompokan-pengelompokan menjadi katagori. Kemudian terdapat pula fase-fase lain yang dianggap tidak utama.2. Fase storage phase /retensi Fase storage phase /retensi merupakan fase penyimpanan informasi. Fase stage of acquition Fase stage of acquition merupakan fase perolehan. 6. fase motivasi fase motivasi merupakan fase dimana ketika kegiatan belajar-mengajar dimulai. konsep sehingga lebih mudah dipanggil. guru memberikan motivasi terlebih dahulu kepada siswa untuk belajar. Fase retrieval/recall Fase retrieval/recall adalah merupakan fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori. fase generalisasi 6 . Kadang-kadang dapat saja informasi itu hilang dalam memori atau kehilangan hubungan dengan memori jangka panjang. Untuk lebih daya ingat maka perlu informasi yang baru dan yang lama disusun secara terorganisasi. yaitu : 5. 3. melalui pengulangan informasi dalam memori jangka pendek dapat dipindahkan ke memori jangka panjang. Atau boleh dikatakan pada fase ini siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.

Ada lima kemampuan (kapabilitas) sebagai hasil belajar yang diberikan Gagne yaitu : 1. ini dapat dicontohkan kemampuan siswa mengetahui benda-benda. Verbal Information (informasi verbal) Informasi verbal adalah kemampuan siswa untuk memiliki keterampilan mengingat informasi verbal. Kemampuan-kemampuan tersebut dibedakan berdasarkan atas kondisi mencapai kemampuan tersebut berbeda-beda.fase generalisasi adalah fase transfer informasi. Kategori utama kapabilitas/kemampuan manusia/outcomes/hasil-hasil belajar Setelah selesai belajar. 2. 2. Fase penampilan Fase penampilan adalah fase dimana siswa harus memperlihatkan sesuatu penampilan yang nampak setelah mempelajari sesuatu. siswa dapat diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi baru tersebut. Informasi Verbal. fase umpan balik fase umpan balik adalah fase dimana siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan (reinforcement). penampilan yang dapat diamati sebagai hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan (capabilities). 2. 2. pada situasi-situasi baru. huruf alphabet dan yang lainnya yang bersifat verbal. seperti mempelajari struktur kalimat dalam bahasa mereka dapat membuat kalimat yang benar. 7. Keterampilan intelektual memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya 7 . agar lebih meningkatkan daya ingat. 8. Intellectual skills (keterampilan intelektual) Keterampilan intelektual merupakan penampilan yang ditunjukkan siswa tentang operasi-operasi intelektual yang dapat dilakukannya.

Sekelompok sikap yang penting ialah sikap-sikap kita terhadap orang lain. Bagaimana sikap-sikap sosial itu diperoleh setelah mendapat pembelajaran itu yang menjadi hal penting dalam menerapkan metode dan materi pembelajaran. Motor skills (keterampilan motorik) Keterampilan motorik merupakan keterampilan kegiatan fisik dan penggabungan kegiatan motorik dengan intelektual sebagai hasil belajar. mengingat dan berpikir. 5. untuk memperloleh aturan – aturan ini siswa sudah harus belajar beberapa konsep konkret. Cognitive strategies (strategi kognitif) Strategi kognitif merupakan suatu macam keterampilan intelektual khusus yang mempunyai kepentingan tertentu bagi belajar dan berpikir. belajar. kejadian atau mahluk hidup lainnya. dan untuk belajar konsep konkret ini siswa harus menguasai diskriminasi-diskriminasi. Untuk memecahkan masalah siswa memerlukan aturanaturan tingkat tinggi yaitu aturan-aturan yang kompleks yang berisi aturanaturan dan konsep terdefinisi. 3.melalui pengunaan simbol-simbol atau gagasan-gagasan. Proses kontrol yang digunakan siswa untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan perhatian. Beberapa strategi kognitif adalah: (1) strategi menghafal (2) strategi elaborasi (3) strategi pengaturan (4) strategi metakognitif (5) strategi afektif 4. 8 . Yang membedakan keterampilan intelektual pada bidang tertentu adalah terletak pada tingkat kompleksitasnya. Attitudes (sikap-sikap) Sikap-sikap merupakan pembawaan yang dapat dipelajari dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap benda.

Signal learning juga dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya. menulis.Keterampilan motorik bukan hanya mencakup kegiatan fisik saja tapi juga kegiatan motorik dengan intelektual seperti membaca. Beberapa ucapan kasar untuk mempermalukan. Apabila perlakuan yang disenangi membangkitkan hal-hal positif. Misalnya ada “Abaaba siap” merupakan isyarat untuk mengambil sikap tertentu. siswa yang gelisah pada saat pelajaran matematika mungkin karena kondisi tidak suka matematika pada orang itu. Kondisi yang diperlukan buat berlangsungnya tipe belajar ini adalah diberikannya stimulus (signal) secara serempak. 2. Signal learning (belajar isyarat) Belajar isyarat merupakan proses belajar melalui pengalaman-pengalaman menerima suatu isyarat tertentu untuk melakukan tindakan tertentu. Dalam tipe ini terlibat aspek reaksi emosional di dalamnya. stimulus-stimulus tertentu secara berulang kali. kecerobohan menimbulkan stimulus negatif. Respon yang timbul bersifat umum dan emosional. selainnya timbulnya dengan tak sengaja dan tidak dapat dikuasai. 9 . seorang guru matematika. konsekuensinya. seharusnya mencoba membangkitkan stimulus yang tidak dikondisikan yang akan menimbulkan perasaan senang pada siswa dan berharap mereka akan mengasosiasikan beberapa perasaan senang dengan isyarat netral pada pelajaran matematika. 3. pada satu waktu akan merusak keinginan siswa untuk mempelajari pelajaran yang diajarkan. Kondisi atau tipe pembelajaran 1. tersenyum merupakan isyarat perasaan senang. stimulus yang tidak diharapkan mungkin gagal menimbulkan asosiasi keinginan positif dengan isyarat netral. Belajar isyarat sukar dikontrol oleh siswa dan dapat mempunyai pengalaman yang pantas dipertimbangkan pada tindakannya. dllnya 2.

jadi berdasarkan ”contiguity”. ganti baju. pengulangan. istirahat. jangka. tidak umum. Waktu antara stimulus pertama dan berikutnya amat penting. dan model geometri membutuhkan chaining. Makin singkat jarak S-R dengan S-R berikutnya. Chaining ini terjadi bila terbentuk hubungan antara beberapa S-R. Melalui pengalaman yang berulang-ulang dengan stimulus tertentu sesorang akan memberikan respon yang cepat sebagai akibat stimulus tersebut. terbentuk dari hubungan beberapa S-R. Tipe belajar ini masih mengandung asosiasi yang kebanyakan berkaitan dengan keterampilan motorik. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe balajar ini antara lain. 3. Gerakan motoris merupakan komponen penting dalam respon tersebut. Respon bersifat spesifik. secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan satuan pola S-R. baik psikomotorik maupun verbal. Respon diperkuat dengan adanya imbalan atau reward. dan reinforcement tetap penting bagi berlangsungnya proses chaining. Selain itu prinsip kesinambungan. dan kabur. makan. Kemampuan tidak diperoleh dengan tiba-tiba. merupakan belajar atau respon tertentu yang diakibatkan oleh suatu stimulus tertentu. Chaining (rantai atau rangkaian) Chaining atau rangkaian. oleh sebab yang satu terjadi segera setelah yang satu lagi. oleh sebab yang satu terjadi segera setelah yang satu lagi.2. akan tetapi melalui latihan-latihan. Diantaranya 10 . Misalnya : Pulang kantor. Respon dapat diatur dan dikuasai. Stimulus-response learning (belajar melalui stimulus-respon) Belajar stimulus-respon (S-R). Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktor penguatan (reinforcement). Belajar membuat garis bagi suatu sudut dengan menggunakan jangka membutuhkan penerapan keterampilan tipe stimulus respn yang telah dipelajari sebelumnya. Kebanyakan aktivitas dalam matematika memerlukan manipulasi dari peralatan fisik seperti mistar. semakin kuat penguatannya.

jajaran genjang. Asosiasi verbal yang memerlukan penggunaan rangkaian mental intervening yang berupa kode dalam bentuk verbal. Ada dua karakteristik dari belajar stimulus respon dan belajar rangkaian dalam pengajaran Matematika yaitu siswa tidak dapat menyempurnakan rangkaian stimulus respon apabila tidak menguasai salah satu keterampilan dari rangkaian tersebut. Kode ini biasanya terdapat dalam pikiran siswa dan bervariasi pada tiap siswa dan mengacu kepada penyimpanan kode-kode mental yang unik. kotak yang bujur sangkar Asosiasi verbal adalah rangkaian dari stimulus verbal yang merupakan hubungan dari dua atau lebih tindakan stimulus respon verbal yang telah dipelajari sebelumnya. sikap. orang lain mungkin memberi kode 11 . 4. sehingga seseorang dapat mengenal bola yang bulat.kemampuan menggunakan jangka untuk menarik busur dan membuat garis lurus antara dua titik. tetapi hal tersebut dapat berakibat negatif terhadap emosi. Misalnya seseorang mengenal bentuk geometris. auditory atau gambar visual. Asosiasi verbal melibatkan proses mental yang sangat kompleks. dan belajar stimulus respon dan rangkaian diafasilitasi dengan cara memberikan penguatan bagi tingkah laku yang diinginkan. Tipe paling sederhana dari belajar rangkaian verbal adalah asosiasi antara suatu objek dengan namanya yang melibatkan belajar rangkaian stimulus respon dari tampilan objek dengan karakteristiknya dan stimulus respon dari pengamatan terhadap suatu objek dan memberikan tanggapan dengan menyebutkan namanya. Verbal association (asosiasi verbal) Mengenal suatu bentuk-bentuk tertentu dan menghubungkan bentuk-bentuk rangkaian verbal tertentu. Meskipun memberi hukuman dapat digunakan untuk meningkatkan belajar stimulus respon. Lalu merangkai itu menajdi suatu pengetahuan geometris. bujur sangkar. bola dlsbnya. dan motivasi belajar. Contoh seseorang mungkin menggunakan kode mental verbal ”y ditentukan oleh x” sebagai petunjuk kata fungsi.

Discrimination learning atau belajar menmbedakan sejumlah rangkaian. dapat membedakan merk sepedamotor satu dengan yang lainnya walaupun bentuknya sama. Kemampuan diskriminasi ini tidak terlepas dari jaringan. Kondisi utama bagi berlangsungnya proses belajar ini adalah anak didik sudah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta pengalaman (pola S-R). kemudian memilih pola-pola respon yang dianggap sesuai. 7. Terdapat dua macam diskriminasi yaitu diskriminasi tunggal dan diskriminasi ganda. Contohnya: anak dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lain. 5. dan lain-lain. 3. mengenal objek secara konseptual dan secara fisik. Discrimination learning (belajar diskriminasi) Belajar diskriminasi adalah dapat membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya. 5. dapat membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya walaupun bentuk manusia hampir sama. 4. Concept learning (belajar konsep) Belajar konsep mungkin karena kesanggupan manusia untuk mengadakan representasi internal tentang dunia sekitarnya dengan menggunakan bahasa. Contoh mengenalkan angka 2 pada anak dengan memperlihatkan 50 angka 2 pada kertas dan menggambar angka 2. Guru mengenal anak didik serta nama masing-masing karena mampu mengadakan diskriminasi di antara anak-anak. 6. binatang. Sedangkan untuk diskriminasi ganda anak belajar mengenal angka 0.fungsi dengan menggunakan simbol ”y=f(x)” dan orang yang lain lagi mungkin menggunakan visualisasi diagram panah dari dua himpunan. kadang-kadang jika jaringan yang terlalu besar dapat mengakibatkan interferensi atau tidak mampu membedakan. Melalui stimulus respon sederhana anak belajar mengenal (nama ”dua” untuk konsep dua). 6.. 9 dan membedakan angka-angka tersebut. Dalam tipe ini anak didik mengadakan seleksi dan pengujian di antara dua peransang atau sejumlah stimulus yang diterimanya. 8. Mungkin 12 . juga tanaman. 1.

tahap pertama belajar konsep lingkaran mungkin belajar mengucapkan kata lingkaran sebagai suatu membangkitkan sendiri hubungan stimulus respon. manusia dapat melakukan tanpa terbatas berkat bahasa dan kemampuan mengabstraksi. sebagai akibatnya cara untuk menunjukkan bahwa suatu konsep telah dipelajari adalah siswa dapat membuat generalisasi konsep kedalam situasi yang lain. Ketika siswa secara spontan mengidentifikasi lingkaran dalam konteks yang lain. Dengan menguasai konsep ia dapat menggolongkan dunia sekitarnya menurut konsep itu misalnya : warna. Situasi representatif sehingga mereka belajar untuk mengenal lingkaran. Kemampuan membuat generalisasi konsep kedalam situasi yang baru merupakan Kemampuan yang membedakan belajar konsep dengan bentuk belajar lain. bentuk.juga binatang bisa melakukan tetapi sangat terbatas. Hal tersebut penting bagi siswa untuk menyatakan lingkaran dalam variasi yang luas. Penambahan beberapa konsep yang spesifik harus diikutkan dengan prasyarat rangkaian stimulus respon. Belajar diskriminasi menuntut siswa untuk membedakan objek-objek karena dalam karakteristik yang berbeda sedangkan belajar konsep mengelompokkan objek-objek karena dalam karakteristik umum dan pembahasan kepada sifat-sifat umum. Sebagai contoh. Ketika siswa telah mempelajari suatu konsep. mereka telah memahami konsep lingkaran. 13 . dan diskriminasi dari karakteristik yang berbeda . Selanjutnya siswa mungkin belajar membedakan antara lingkaran dan objek lingkaran lain seperti dan lingkaran. tipe-tipe sederhana belajar dari prasyarat harus dilibatkan. siswa tidak membutuhkan waktu lama untuk mengidentifikasi dan memberikan respon terhadap hal baru dari suatu konsep. Kemudian siswa belajar untuk mengenali beberapa objek berbeda sebagai lingkaran melalui belajar asosiasi verbal individu. sehingga siswa dapat mengulangi kata. asosiasi verbal yag cocok. Dalam hal ini belajar konsep adalah lawan dari belajar dari diskriminasi. jumlah dllnya Belajar konsep adalah mengetahui sifat-sifat umum benda konkrit atau kejadian dan mengelompokan objek-objek atau kejadian-kejadian dalam satu kelompok. Dalam belajar konsep.

Kebanyakan belajar matematika adalah belajar aturan. dan biasanya tidak menyadari bahwa mereka tahu dan menerapkan aturan tersebut. Menghindari pemberian konsep yang mempunyai karakteristik umum 7. Misalnya : angin berembus dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Rule learning (belajar aturan) Belajar model ini banyak diterapkan di sekolah. Aturan terdiri dari sekumpulan konsep. 3). a x b = b x a. Belajar aturan (Rule learning) adalah kemampuan untuk merespon sejumlah situasi (stimulus) dengan beberapa tindakan (Respon). Memberikan variasi hal-hal yang berbeda konsep untuk menfasilitasi generalisasi. Beberapa aturan adalah definisi dan mungkin 14 . Kebanyakan orang pertama belajar dan menggunakan aturan bahwa perkalian komutatif adalah tanpa dapat menyatakan itu. 4). 1 + 1 = 2 dan lainnya. Memberikan contoh-contoh perbedaan dikaitkan dengan konsep untuk membantu diskriminasi. Suatu aturan dapat diberikan contoh-contoh yang konkrit. kita ketahui bahwa 5 x 6 = 6 x 5 dan bahwa 2 x 8 = 8 x 2. 2). banyak aturan yang perlu diketahui oleh setiap orang yang telah mengenyam pendidikan. akan tetapi tanpa mengetahui bahwa aturannya dapat dinyatakan dengan a x b = b x a. sebagai contoh. Untuk membahas aturan ini. Memberikan yang bukan contoh dari konsep untuk meningkatkan pemahaman diskriminasi dan generalisasi. harus diberikan verbal(dengan kata-kata) atau rumus seperti “ urutan dalam perkalian tidak memberikan jawaban yang berbeda” atau “untuk setiap bilangan a dan b.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengajarkan suatu konsep baru kepada siswa: 1). Aturan mungkin mempunyai tipe berbeda dan tingkat kesulitan yang berbeda.

– . 8. :. Kondisi-kondisi belajar aturan mulai dengan merinci perilaku yang diinginkan pada siswa. Jika siswa sedang belajar aturan mereka harus mempelajari sebelumnya rangkaian konsep yang menyusun aturan tersebut. melalui pengetahuan aturan-aturan inilah dia dapat melakukan keputusan untuk memecahkan suatu persoalan. meminta siswa untuk membuat pernyataan verbal dari aturan. +. aturan-aturan dan memiliki 15 . (memecahkan masalah) Memecahkan masalah merupakan suatu pekerjaan yang biasa yang dilakukan manusia.dianggap sebagai konsep terdeinisi. seorang siswa telah belajar aturan apabila dapat menerapkan aturan itu dengan tepat pada beberapa situasi yang berbeda. (2)(1) adalah aturan yang menjelaskan bagaimana mengerjakan n! Aturan-aturan lain adalah rangkaian antar kosep yang terhubung. meminta siswa untuk “mendemonstrasikan” satu contoh nyata dari aturan Tahap 5 (bersifat pilihan. tetapi berguna untuk pengajaran selanjutnya): dengan pertanyaan yang cocok. Untuk memecahkan masalah dia harus memiliki aturan-aturan atau pengetahuan dan pengalaman. Setiap hari dia melakukan problem solving bayak sekali. seperti aturan bahwa keberadaan sejumlah operasi aritmetika seharusnya dikerjakan dengan urutan x. . Tahap 4: dengan bantuan pertanyaan. Seseorang harus memiliki konsep-konsep. konsep terdefinisi n! = n (n – 1) (n -2). Problem solving. Robert Gagne memberikan 5 tahap dalam mengajarkan aturan: Tahap 1: menginformasikan pada siswa tentang bentuk perilaku yang diharapkan ketika belajar Tahap 2: bertanya ke siswa dengan cara yang memerlukan pemanggilan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya yang menyusun konsep Tahap 3: menggunakan pernyataan verbal (petunjuk) yang akan mengarahkan siswa menyatakan aturan sebagai rangkaian konsep dalam urutan yang tepat. .

Menentukan solusi yang tepat.“sets” untuk memecahkannya dan suatu strategi untuk memberikan arah kepada pemikirannya agar ia produktif. 16 . Menyatakan masalah dalam bentuk umum 2. Dengan demikian poses belajar yang tertinggi ini hanya mungkin dapat berlangsung apabila proses belajar fundamental lainnya telah dimiliki dan dikuasai. Pada tingkat ini siswa belajar merumuskan memecahkan masalah. dengan melaksanakan petunjuk dari guru. siswa yang belum pernah sebelumnya belajar rumus kuadrat. tetapi dengan tipe belajar ini kemampuan penalaran siswa dapat berkembang. Siswa akan memilih keterampilan melengkapkan kuadrat tiga suku dan menerapkan keterampilan dalam cara yang tepat untuk menurunkan rumus kuadrat. Pemecahan masalah biasanya melibatkan lima tahap : 1. Kriteria suatu pemecahan masalah adalah siswa belum pernah sebelumnya menyelesaikan masalah khusus tersebut. Merumuskan hipotesis alternatif dan prosedur yang mungkin tepat untuk memecahkan masalah 4. terutama penggunaan aturan-aturan yang disertai proses analisis dan penarikan kesimpulan. memberikan respon terhadap ransangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik. Menyatakan kembali masalah dalam suatu defenisi operasional 3. menurunkan rumusnya untuk menentukan penyelesaian umum persamaan ax2 + bx + c = 0. Menguji hipotesis dan melaksanakan prosedur untuk memperoleh solusi 5. Tipe belajar ini memerlukan proses penalaran yang kadang-kadang memerlukan waktu yang lama. Tipe belajar ini menurut Gagne merupakan tipe belajar yang paling kompleks.walaupun mungkin telah dipecahkan sebelumnya oleh banyak orang. sebagai contoh pemecahan masalah. karena di dalamnya terkait tipe-tipe belajar yang lain.

2. namun termasuk tugas guru yang utama dalam mengajar. aturan dan keterampilan yang terkait dengan pelajaran sebelumnya yang merupakan prasyarat agar memahami pelajaran yang akan dipelajari berikutnya. 4. Mengajar terdiri dari sejumlah kejadian-kejadian tertentu yang menurut Gagne terkenal dengan “Nine instructional events” yang dapat diuraikan sebagai berikut : 1.2. 17 . Provide "learning guidance" (memberikan bimbingan) Memberikan bimbingan kepada murid dalam proses belajar. Kejadian-kejadian instruksional Apakah yang terjadi dalam mengajar? Mengajar dapat kita pandang sebagai usaha mengontrol kondisi ekstern. Present the content (menyajikan stimuli) Menyajikan stimuli yang berkenaan dengan bahan pelajaran sehingga murid menjadi lebih siap menerima pelajaran. 4. Inform learners of objectives (penjelasan tujuan pembelajaran) Menjelaskan atau memberitahukan kepada murid tujuan dan hasil apa yang diharapkan setelah belajar. Stimulate recall of prior learning (merangsang murid) Para pendidik biasa menyebutnya dengan appersepsi. 3. Kondisi ekstern merupakan satu bagian dari proses belajar. Hal ini dilakukan dengan menggunakan komunikasi verbal. yaitu merangsang murid untuk mengingat kembali konsep. 2. 5. Gain attention (memelihara perhatian) Dengan stimulus ekster kita berusaha membangkitkan serta meraih perhatian dan motivasi siswa untuk belajar.

9. Belajar dan Membelajarkan. Peristiwa-peristiwa itu digerakkan dan diatur dengan perantaraan komunikasi verbal yakni guru mengatakan kepada murid apa yang harus dilakukannya. Margaret E. 1994 18 . 8. Assess performance (menilai hasil belajar) Menilai dan mengukur hasil-belajar dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengetahui apakah ia telah benar menguasai bahan pelajaran itu dengan memberikan beberapa soal. PT. 4 Gredler. Raja Grafindo Persada. Bell. Proses belajar sendiri terjadi antara peristiwa nomor 5 dan 6 yakni Provide "learning guidance" yang merupakan pemberian bimbingan kepada murid dalam proses belajar dan Elicit performance /practice yang merupakan pemantapan serta peningkatan kinerja apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari tersebut4. Provide feedback (memberikan feedback) Memberikan feedback atau balikan dengan memberitahukan kepada murid apakah hasil belajarnya benar atau tidak. Jakarta.6. Dalam mengajar hal di atas dapat terjadi sebagian atau semuanya. 7. Enhance retention and transfer to the job (mengusahakan transfer) Mengusahakan transfer dengan memberikan contoh-contoh tambahan untuk menggeneralisasi apa yang telah dipelajari itu sehingga ia dapat menggunakannya dalam situasi-situasi lain serta menngkatkan pencapaian hasil belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan untuk dicapai. Elicit performance /practice (pemantapan apa yang dipelajari) Memantapkan dan meningkatkan kinerja apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari tersebut.

bersikap positif terhadap matematika.5 Keterampilan(Skill) adalah suatu prosedur atau aturan untuk mendapatkan atau memperoleh suatu hasil tertentu. siswa dikatakan telah mempelajari suatu konsep jika ia telah dapat membedakan contoh dan bukan contoh. Konsep adalah ide abstrak yang memunkinkan seseorang untuk mengelompokkan suatu objek dan menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak tersebut. kubus. untuk sampai ke tingkat tersebut.html 19 . objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki. lingkaran. menjumlahkan pecahan dan perkalian pecahan desimal. ketekunan. Sedangkan objek tak langsung berupa fakta. drill. siswa harus dapat menunjukkan atribut atau sifat-sifat khusus dari objek yang termasuk contoh dan yang bukan contoh. keterampilan. contohnya. Contoh konsep himpunan.com/2010/10/teori-belajar-gagne.keterampilan menunjukkan kemampuan memberikan jawaban dengan cepat dan tepat.2.2. konsep. Fakta bahwa 2 adalah simbol untuk kata ”dua”. ketelitian. segitiga. simbol untuk operasi penjumlahan adalah ”+” dan sinus suatu nama yang diberikan untuk suatu fungsi trigonometri. dan prinsip. disiplin diri. Fakta adalah konvensi (kesepakatan) dalam matematika seperti simbolsimbol matematika. 5. Fakta dipelajari dengan cara menghafal. keterampilan melakukan pembagian bilangan yang cukup besar. Para siswa dinyatakan telah memperoleh keterampilan jika ia telah dapat menggunakan prosedur atau aturan yang ada dengan cepat dan tepat. dan permainan. 5 http://www.vilila. latiahan. Objek Belajar Matematika Menurut Gagne belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung. kemampuan memecahkan masalah.

2.net/2009/02/10/contoh-penerapan-teori-pembelajaran-gagne/ 20 . Meninjau kembali definisi segitiga. meminta siswa untuk membuat 5 contoh yang berbeda. Memeriksa semua contoh. dapat mengenal dan memahami konsepkonsep yang ada pada prinsip tersebut. ketika mengajarkan segitiga sama sisi. Mengajukan pertanyaan : Apa yang dimaksud dengan segitiga sama sisi? 3. yaitu : 1.Prinsip adalah pernyataan yang memuat hubungan antara dua konsep atau lebih. 4. rumus. Seorang siswa dinyatakan telah memahami prinsip jika ia dapat mengingat aturan. 8. 9. serta dapat menggunakannya pada situasi yang tepat6.teknologipendidikan. Contohnya. menujukkan di komputer bentuk bangun datar segitiga yang bervariasi. teorema Pytagoras yaitu kuadrat hipotenusa pada segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat dari dua sisi yang lain. 6 www. Untuk mengerti teorema Pytagoras harus mengetahui konsep segitiga siku-siku. sudut dan sisi. Prinsip merupakan yang paling abstrak dari objek matematika yang berupa sifat atau teorema. memberikan contoh segitiga sama sisi. menujukkan gambar suatu benda dan meminta siswa untuk mengidentifikasi segitiga sama sisi. Berikut ini adalah salah satu contoh yang menggambarkan pengajaran yang mengacu pada sembilan kejadian-kejadian belajar. 5. Memberikan nilai dan pengulangan. memberikan deenisi segitiga sama sisi. 6. 7. atau teorema yang ada.

3. intellectual skills (keterampilan intelektual). discrimination learning (belajar diskriminasi). dan motor skills (keterampilan motorik). verbal association (asosiasi verbal). attitudes (sikap-sikap). Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. stimulus-response learning (belajar melalui stimulus-respon). Ada lima kemampuan (kapabilitas) sebagai hasil belajar yang diberikan Gagne yaitu verbal Information (informasi verbal). concept learning (belajar konsep). (memecahkan masalah) 21 . 1. Gagne membagi proses belajar berlangsung dalam empat fase utama. antara lain yaitu signal learning (belajar isyarat). storage (fase penyimpanan informasi). kondisi atau tipe pembelajaran (the eight conditions learning) dan kejadian-kejadian belajar (nine intructional events). 2. chaining (rantai atau rangkaian). Kondisi atau tipe pembelajaran menurut Gagne dibagi menjadi delapan. rule learning (belajar aturan). Robert Gagne merupakan seorang ahli psikologi pendidikan yang mengembangkan teori belajar yang dikenal dengan teori Learning.dan problem solving. fase generalisasi. stage of acquisition (fase perolehan). kapabilitas manusia yang dihasilkan setelah belajar (outcomes). Conditioning Gagne membahas tentang fase-fase dalam belajar. 5. yaitu receiving the stimulus situation/apprehending phase (fase pengenalan). fase penampilan dan fase umpan balik 4.BAB III PENUTUP 3. cognitive strategies (strategi kognitif). dan retrieval (fase mengingat kembali) serta empat fase yang tidak utama yaitu fase motivasi. serta hubungan kejadian-kejadian tersebut.

provide "learning guidance" (memberikan bimbingan). elicit performance /practice (pemantapan apa yang dipelajari). inform learners of objectives (penjelasan tujuan pembelajaran). Pola pembelajaran menurut Gagne terkenal dengan “Nine instructional events” antara lain yaitu gain attention (memelihara perhatian). provide feedback (memberikan feedback).6. assess performance (menilai hasil belajar) dan enhance retention and transfer to the job (mengusahakan transfer). stimulate recall of prior learning (merangsang murid)Present the content (menyajikan stimuli). 22 .

2009 Gredler. Raja Grafindo Persada.DAFTAR PUSTAKA Dimyati. Jakarta. 1994 http: //www. Belajar dan Membelajarkan.sch. Belajar dan Pembelajaran.net/2009/02/10/contoh-penerapan-teori-pembelajaran-gagne/ http://www. Rineka Cipta.smantiara./education/psycholo/panaud/gagne.com/2010/10/teori-belajar-gagne. Mudjiono.htm http://www. PT.edu/~cozart/learningtheories.edu/depts.htm http://www. Margaret E.nova.vilila.sru.teknologipendidikan.htm http://www. Bell. Jakarta.id/artikel/57-teori-belajar-gagne 23 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful