P. 1
Program Kespro

Program Kespro

|Views: 270|Likes:
Published by Melda_edaa_San_5938

More info:

Published by: Melda_edaa_San_5938 on May 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2015

pdf

text

original

PERANAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA DALAM KESEHATAN REPRODUKSI, KHUSUSNYA KESEHATAN IBU DAN ANAK

Pendahuluan

Sesuai dengan kebijakan pemerintah, masalah kesehatan reproduksi dibagi dalam 5 program, berdasarkan “Life Cycle Approach”, yaitu : Kesehatan Ibu dan Anak Keluarga Berencana Kesehatan Reproduksi Remaja Penyakit Menular Seksual/HIV/AIDS Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut, yang terdiri dari Menopause dan Onkologi Ginekologi.

Keempat program pertama disebut sebagai Program Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE), sedangkan bila ditambah dengan program yang kelima, disebut Program Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK)

Walaupun kelima program tersebut di atas sama pentingnya, dan perlu ditanggulangi, tetapi dalam penyelesaiannya, harus ada perbedaan dalam skala prioritasnya. Yang pertama harus mendapat prioritas adalah masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Mengapa demikian? Karena masalah ini, yang dalam kesehari-hariannya dikenal dengan proses Kehamilan, Persalinan dan Nifas, atau proses reproduksi, akan melahirkan manusia baru yang akan menjadi generasi penerus. Jadi kita harus mengamankan proses ini sedemikian rupa, sehingga pada akhir proses, si anak lahir cukup bulan, sehat, tanpa cacat, dan si ibu tetap sehat, untuk kemudian bersama sama dengan disiplin yang lain, mempersiapkan tumbuh kembang anak tersebut menjadi Sumber Daya Manusia yang tangguh.

Keadaan tersebut. dan sangat erat kaitannya dengan program KIA. Ketidaktahuan dan ketidakmampuan menyebabkan mereka memilih tenaga tidak terampil. persalinan dan nifas yang berlangsung secara tidak aman. perawatan yang lebih lama dengan biaya yang lebih tinggi. yaitu pertama. . serta mengganggu perkembangan janin dalam rahim. sering tidak tercapai. kondisi KIA kita saat ini masih memprihatinkan. serta dedikasi dan kinerja petugas yang kurang. berarti ada 62. terutama kalau dilihat dari proses dan hasil akhirnya. lebih kurang 250 juta. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang besar.Dalam kenyataannya. Semuanya dapat menimbulkan kerugian bagi ibu/anak. seringkali sudah terlambat. baik dilihat dari segi jumlah.5 juta perempuan yang potensial hamil. dan andaikata setengahnya merupakan Pasangan Usia Subur (PUS). bahkan tidak jarang dalam keadaan darurat. sarana pelayanan kesehatan reproduksi masih kurang. Ketiga. Di samping itu. sehingga tujuan rujukan untuk menyelematkan ibu dan anak. mortalitas. baik dalam bentuk morbiditas. Hal ini diperburuk dengan cara pendekatan yang terlalu bersifat klinik. Bila perbandingan laki dan perempuan sama banyak. dengan segala macam akibatnya. Keempat. Plasenta Previa maupun Perdarahan Pasca Salin. seperti Kehamilan Remaja yang sering disertai penyulit PreEklamsi/Eklamsi atau Grandemulti yang dapat menyebabkan Kelainan Letak. seperti anemi. karena masih banyak bumil yang tidak mempunyai kesempatan dan akses untuk mendapat pelayanan kesehatan reproduksi yang baik pada saat mereka membutuhkannya. masih banyak bumil yang termasuk Golongan Resiko Tinggi (GRT). pendidikan rendah dan ekonomis tidak mampu. Hal ini akan berpengaruh terhadap kesehatan dan daya tahan ibu. mutu dan penyebarannya. karakteristik ibu hamil (bumil) yang tidak mendukung. Kedua. Keluarga Berencana. antara lain. dengan segala akibatnya. gizi buruk. berarti ada 125 juta perempuan. masalah demografi. Andaikata suatu saat mereka dirujuk. disebabkan oleh tiga hal. masih banyak proses kehamilan. termasuk salah satu program kesehatan reproduksi.

Jadi istilah KB di sini identik dengan jenis alat kontrasepsi. akan memasuki proses reproduksi dalam keadaan fisik dan mental yang optimal. yang terdiri dari Terlalu Muda. Program Keluarga Berencana Kita sering salah kaprah dalam mengartikan dan menggunakan istilah KB. serta didukung oleh keadaan gizi yang cukup. Situasi inilah yang menimbulkan banyak GRT dan Kehamilan yang tidak dinginkan. masih banyak dokter atau bidan yang bertanya kepada pasiennya sebagai berikut : “Ibu KBnya apa ?”. Bila pemerintah. Di samping kita juga dapat menghindarkan kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan Usia Lanjut. dapat membantu mereka untuk mendapat akses kepada pelayanan kesehatan reproduksi yang baik secara tepat waktu. serta memperbaiki karakteristiknya dengan menghilangkan atau mengurangi GRT. yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan reproduksi. maka kita akan mempunyai masalah demografi. Terlalu Sering dan Terlalu Banyak. mereka yang hamil. yaitu “EMPAT TERLALU”. Dengan demikian. yang berarti pula bahwa kehamilannya itu direncanakan dan dikehendaki. Dikaitkan dengan empat masalah besar di atas. Menghadapi kelompok bumil semacam ini. upaya revitalisasi program KB akan berdampak lebih nyata dibandingkan dengan upaya perbaikan sarana dan prasarana pelayanan KIA lainnya. Jika isu benar. . Total Fertilty Rate (TFR) meningkat. Program KB yang tidak terkendali. Sampai sekarang. Terlalu Tua. proses pengamanannya tidak terlalu sulit. melalui Dinas Kesehatan. kita akan dapat mengurangi jumlah bumil. akan menyebabkan kita terjebak dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan.Tetapi. hasilnya akan sangat memuaskan. akhir akhir ini kita dikejutkan dengan berita bahwa program KB kita menurun. seperti Kehamilan Remaja. Grandemulti dan Kehamilan yang Terlalu Sering. dalam bentuk laju pertambahan penduduk yang tidak terkendali. Bila kita dapat memperbaiki program KB. dengan segala akibat buruknya. dalam arti angka kematian ibu dan akan turun.

Keadaan ini bertambah buruk setelah berlakukanya Otonomi Daerah. termasuk KB. Himpunan Obstetri Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI). akan menyelenggarakan PIT pertamanya pada bulan Februari di Malang dengan Tema : Revitalisasi Program Keluarga Berencana dalam rangka Akselerasi Penurunan Kematian Ibu dan Anak. POGI. dalam upaya untuk mengatasi masalah ini. IBI dan Mass Media. Krisis Ekonomi pada saat itu. sudah banyak dibahas. dimulai pada tahun 1967. IDI. Berbagai pendekatan sudah dilakukan oleh pihak-pihak terkait seperti BKKBN. agar dapat memperbaiki kesejahteraan warganya. Program ini dianggap berhasil. maupun penyediaan alat dan pelayanan kontrasepsi. Program ini mulai terganggu. perkembangannya dapat kita bagi dalam tiga periode. Ada yang dibubarkan atau digabung dengan Dianas Kesehatan. pada tahun 1997. sebagai negara yang masih berkembang. Isuisu tentang kegagalan KB ini. yaitu : Periode BKKBN yang kemudian berkembang menjadi Kementerian Negara Kependudukan dan BKKBN.Kalau kita bicara tentang program KB. masih harus menghadapi kesulitan ekonomi yang berkepanjangan. dengan tujuan mengatur masalah kependudukan (demografi). diangggap sebagai penyebab utama menurunnya daya beli Pasangan Usia Subur. Desentralisasi kekuasaan ini. di beberapa daerah menyebabkan berubahnya struktur organisasi BKKBN. Jadi wajar sekali. padahal jumlah penduduk sangat besar dan terus bertambah. Perbedaan kebijakan Pemerintah Daerah dalam masalah kesehatan. Antara lain. DepKes. juga memperburuk keadaan. Target yang ingin dicapai adalah Zero Growth Population atau Laju Penduduk yang Seimbang. kalau pada saat itu pemerintah mengambil kebijakan untuk mengurangi/mengatur laju pertumbuhan penduduk. sehingga bayak dicontoh oleh negara-negara lain. . melalui falsafah Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS). di samping masalah politik. Indonesia. yang sering disebut sebagai Population Control.

serta fungsi dan prosesnya. Hak asasi reproduksi. Salah satu keputusan penting dari ICPD adalah : Perubahan paradigma dalam masalah kependudukan dan pembangunan. umur. yaitu semua orang. Cairo. jarak antar anak.Pasca International Conference on Population Develepment (ICPD). mepunyai hak yang sama untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak. dari pengedalian populasi dan penurunan angka fertilitas/keluarga berencana. baik laki-laki maupun perempuan (tanpa memandang kelas sosial. agama). persalinan. serta menentukan kelahiran anak dan di mana akan melahirkan. Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan fisik. suku. tidak sematamata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yng berkaitan dengan sistem reproduksi. Dalam definisi tersebut sudah termasuk : Hak untuk mendapat pelayanan kesehatan reproduksi seperti pelayanan antenatal. . mental dan sosial secara utuh. 1994. nifas dan kesehatan remaja. menjadi pendekatan yang terfokus kepada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi.

sedangkan mereka yang tidak atau kurang subur diberi pelayanan kemandulan. yang terdiri dari PNC. sasarannya tidak hanya sekedar bumil. dalam bentuk Maternity Care.2% (SDKI 1997) 3/ Keikutsertaan pria dalam KB masih minim. Perubahan paradigma dari NKKBS menjadi Keluarga Berkualitas tahun 2015. bila jumlah anak dianggap cukup. Mereka yang hamil . IPC dan PPC. 2/ Peserta KB hanya 57. karena Obstetri hanya memberikan pelayanan kepada bumil. kelompok unmet need 9. Tetapi setelah adanya perkembangan Obstetri Sosial. orang tidak memasukkan KB dalam pelayanan Obstetri. akan lebih menjamin kesehatan dan keselematan ibu dan bayi yang dikandungnya. Dahulu. Permasalahan KB adalah : 1/ Tidak ada alat kontrasepsi yang 100% efektif. Perhatian dan prioritas diberikan kepada pelayanan kontrasepsi. 4/ Masih banyak PUS yang memerlukan informasi tentang KB.Periode Kebijakan Pemerintah mengenai kesehatan reproduksi (2000) Hal-hal yang perlu kita perhatian. bahawa : Kebijakan kita mengacu pada kesepakatan ICPD KB dimasukan dalam pelayanan kesehatan reproduksi karena KB bertujuan untuk menunda.. Kepada mereka yang terlalu subur. antara lain. yaitu PUS. karena ini sejalan dengan program pengaturan kependudukan. Tetapi. diberi pelayanan kontrasepsi. tetapi semua perempuan yang potensial hamil. Kehamilan yang diinginkan pada keadaan dan saat yang tepat. menjarangkan atau membatasi kehamilan. program itu adalah bagian dari pelayanan Obstetri dalam bentuk Pengaturan Kesuburan.4%. Peranan KB dalam Kesehatan Reproduksi Dilihat dari segi kesehatan reproduksi. pelayanan kemandulan tidak pernah menjadi program nasional.

di antara dua kehamilan.anak O = oral rehydration —.diberikan PNC. Pengertian dan Tujuannya adalah sebagai berikut : “IC adalah pelayanan yang diberikan kepada PUS. untuk kemudian ditumbuh kembangkan menjadi generasi penerus yang tangguh.anak I = immunization —. seandainya masih ingin mempunyai anak lagi. walaupun anaknya sudah di luar rahim. sedangkan mereka yang tidak hamil diberikan Inteval Care (IC). dengan cacat yang seminimal mungkin. Karena itu. melalui masa kehamilan. dengan tujuan untuk melestarikan hasil kehamilan yang lalu (anak).” Ini berarti. yaitu GOBIC-FF : G = growth development —. Sedangkan ibunya. setiap anak yang lahir harus bisa survive. . anak yang terlalu banyak atau hamil terlalu tua. Tujuan dari Maternity Care yang tiga jenis itu. adalah untuk mengawasi dan mengamankan ibu dan anak. di samping tentunya keadaan fisik yang optimal. Waktu antara dua kehamilan yang tepat. seperti spacing yang terlalu dekat.anak B = breast feeding —. tidak dibebani dengan faktor risiko. persalinan dan nifas.anak C = contraception —. Demikian juga dengan IC.ibu dan anak. serta waktu yang cukup untuk mengasuh anak. pelayanan ini ditujukan kepada ibu dan anak. IPC dan PPC. akan memberikan kesempatan kepada si ibu untuk memulihkan dirinya. dan mempersiapkan kehamilan yang akan datang (ibu).ibu FF= Food Fortification —. pelayanan yang diberikan pada saat IC harus mendukung kedua tujuan tadi. harus dipersiapkan agar pada kehamilan berikutnya.

seperti yang masih sering terjadi di negara kita. ternyata kebijakan pemerintah tentang kesehatan reproduksi. termasuk MKET. Budaya ini berkaitan erat dengan masih adanya ketidaksetaraan jender. dalam upaya menghindarkan Kehamilan Remaja. . anak hidup sudah 5 tahun. Sosialisasi upaya ini harus terus menerus dilakukan. maka PUS yang tidak hamil. Kalau kita kaji ulang uraian di atas. untuk tetap menggunakan kontrasepsi. sedangkan mereka kurang menyadari bahaya dari Kehamilan Remaja. paritas maupun spacing. tidak termasuk GRT. yaitu pada perempuan yang dikawinkan pada umur muda. suatu keadaan yang sama bahayanya dengan GRT. dibagi dalam dua kelompok. karena sebagian akan diikuti dengan upaya pengguguran. mengingat masih banyak daerah yang mengawinkan anak perempuannya tidak lama setelah mendapat haid pertama. selama mereka belum mau hamil. Dalam pengertian ini.Pemberian kontrasepsi pada IC bertujuan agar pada kehamilan berikutnya. Misalnya P1. Perempuan ini tidak mempunyai faktor risiko. Pada dasarnya kita tidak boleh terjebak dalam situasi “UNMET NEED” Tetapi kita juga harus memberi kemudahan dan kesempatan kepada mereka tidak mempunyai faktor risiko. termasuk “unsafe abortion”. termasuk KB. MKJP dan Kontap. sudah sejalan dan mengacu pada ICPD dan sesuai dengan pola pikir ObSos. mereka yang tidak boleh hamil lagi (limitation). dengan tujuan menangguhkan kehamilan. mereka yang belum/tidak boleh hamil dahulu (spacing). Untuk kepentingan ini. Dalam hal ini. segala jenis kontrasepsi harus tersedia (available) dengan biaya yang terjangkau (affordable). umur 24 tahun. Penggunaan kontrasepsi dalam upaya untuk menangguhkan kehamilan. baik dilihat dari umur. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana implementasi hak asasi reproduksi dalam pelayanan obstetri kita. dengan menghilangkan faktor “Empat Terlalu” tadi. dapat dilakukan di luar IC. dan kedua. Pertama. yang dihindarkan bukan GRT tetapi kehamilan yang tidak dikehendaki.

seperti Pemerintah Pusat/Daerah dan DPR(D) Pelaksana Kebijakan Operasional. mungkin ada perbedaan bila hal ini diterapkan di negara Barat yang sekuler. Pelaksana Operasional Program. baik Provinsi maupun Kotamadia/Kabupaten. yaitu para SpOG. bisa diterima. dibantu oleh PLKB dan Kader Kesehatan. Dokter Umum dan Bidan. yaitu : Pengambil Kebijakan Normatif. berapa anak dan kontrasepsi apa yang diinginkannya. sebagai tenaga lapangan. yaitu PUS dan masyarakat umum. selama perempuan itu belum hamil. Bagaimana cara melalukan revitalisasi program KB ? Berhasil atau tidaknya suatu program.Adalah wajar kalau tiap perempuan berhak untuk menentukan kapan dia ingin hamil. masih dianggap tidak wajar kalau suami tidak tahu bahwa istrinya memakai kontrasepsi.25) mengatakan bahwa Tidak ada yang mempromosikan aborsi sebagai suatu metoda KB. maka masalahnya jadi lain. Tetapi dalam implementasinya. hak itu bisa berarti tidak perlu minta pendapat lain. termasuk jenis yang dipakainya. kemudian menuntut haknya untuk tidak hamil dulu. Target Program. bekerja sama dengan BKKBN Pusat dan Daerah. . Pengertian bahwa perempuan itu berhak untuk menentukan kapan dia ingin hamil. sedangkan di Indonesia. dengan titik berat pada fungsi manajerial. untuk Indonesia. Untuk negara Barat tidak jadi masalah karena mereka membebaskan tindakan abortus atas permintaan. dengan di Indonesia yang masih berlatar belakang budaya agamis. sedangkan di kita tidak. Sikap negara seperti Indonesia tidak bisa disalahkan. Di negara Barat. Tetapi bila mereka datang dalam keadaan sudah hamil. karena salah satu kesepakatan ICPD (paragraf 8. pada umumnya tergantung kepada empat unsur. yaitu Departemen Kesehatan dengan jajaran Dinas Kesehatannya.

harus kita tanggapai secara serius. berkepanjangan dan proses pemulihannya akan mengambil waktu yang lama. untuk mencari kebenaran data dan faktor faktor penyebabnya. sehingga mereka yang mengalami efek samping merasa tidak nyaman. atau rendahnya kemampuan klinik dan etik. walaupun belum didukung oleh data aktual. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah penelitian epidemiologi klinik atau operasional yang dilakukan bersama oleh pakar pusat pendidikan kesehatan sebagai ilmuwan. Kemudian. tidak adanya pengayoman pasca pelayanan. serta akses masyarakat terhadap sarana tersebut. adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dibantah. baik di tingkat Desa.Bahwa AKI dan AKA masih tinggi di negara kita. Analisis yang mengatakan bahwa tinggi rendahnya AKI/AKA sangat dipengaruhi oleh keberhasilan program KB. kita juga harus berani meneliti kemampuan manajerial di tingkat yang lebih tinggi. Puskesmas maupun RS Daerah. Dari penelitian semacam ini kita mengharapkan data tentang cukup atau kurangnya sarana dan prasarana KB. Hasil . Apakah buruknya situasi itu disebabkan oleh faktor teknis dilapangan. karena itu sukar dibantah. baik di dalam jajarannya sendiri. seperti konseling dan penyuluhan yang tidak adekuat. karena akibatnya buruk. maupun dalam hubungan kerja dengan RS Daerah. Kalau bicara soal etika. Dengan demikian kita bisa mengukur besaran dari UNMET NEED. dan akhirnya jadi drop out. maksimal tiga bulan. Waktu penelitian jangan terlalu lama. dengan pakar lapangan (Dinas Kesehatan) yang mengetahui dan mempunyai kewenangan lapangan. Penelitian semacam ini sebaiknya dilakukan secara multisenter. Di samping data teknik klinik kita juga harus mendapat data manajerial untuk melihat efektifitas dan efesiensi kerja petugas. yaitu Dinas Kesehatan. Puskesmas dll. dengan menggunakan Kotamadia atau Kabupaten sebagai lokasi penelitian. maksudnya adalah apakah para calon akseptor dan akseptor itu ditangani secara manusiawi atau tidak. Tetapi isu-isu mengenai kegagalan program KB. karena tiap daerah mempunyai spesifikasi masing-masing. sangat masuk akal. seperti indikasi kontrasepsi yang tidak tepat.

SPR tidak digunakan untuk mencari bumil yang beresiko. Bapeda dan DPRD. yang harus bisa dan mudah diakses pada saat mereka memerlukannya. yaitu Puskesmas. di mana berbagai kegiatan klinik. Sistem Rujukan Agar proses rujukan dapat berjalan lancar. Walikota. yang berarti. Dari merekalah diharapkan adanya “political will” dan “commitment” yang berkesinambungan dalam bentuk PerDa kesehatan serta alokasi dana yang tercantum dalam APBD. diselenggarakan di tempat yang paling dekat dengan masyarakat. PUS itu terdiri dari 3 kelompok : 1/ Tidak boleh hamil lagi. tetapi cukup dengan mengaktifkan kembali. terjangkau dan bermutu. Pencarian kelompok ini harus dilakukan di tingkat desa oleh para kader.peneltian inilah yang dipresentasikan di depan pengambil kebijakan. selalu ada kontak antara perujuk dengan pusat rujukan. Mereka itu tidak lain adalah kelompok yang berpotensi untuk masuk “EMPAT TERLALU”. revitalisasi program KB itu tidak perlu membuat sistem pelayanan baru. Safemotherhood Initiative (SMI) Model ini disusun berdasarkan pola pikir ObSos. Upaya KB kita harus ditujukan kepada dua kelompok pertama. 2/ Belum boleh hamil dulu. model-2 lama yang sudah kita kenal. sehingga mereka benar-benar dapat menghayati permasalahan kesehatan daerahnya. 3/ Boleh hamil. seperti Bupati. maka jalur rujukan harus diamankan. seperti pelayanan KB dan Maternity Care. Model pelayanan semacam ini akan memberikan hasil yang efektif dan . tetapi justru PUS yang tidak hamil yang mempunyai faktor resiko. kemudian dirujuk ke tempat pelayanan KB terdekat. Dalam pelaksanaan sehari harinya. seperti : Strategi Pendekatan Resiko (SPR) Dalam hal ini.

serta meneruskan kehamilannya tanpa permasalahan. Keempat kegiatan pelayanan klinik tersebut disebut sebagai “The Four Pillars of Safemotherhood”. KB adalah bagian dari kesehatan reproduksi. khususnya KIA. kehamilan semacam ini tidak dikehendaki. Seperti kita ketahui. . Kehamilan yang terjadi ini merupakan kehamilan yang tidak direncanakan (unplanned pregnancy).efisien. Kegagalan ini bisa karena “methode failure” atau “patient failure”.. Karena itu. dan diakhiri dengan pengguguran yang mungkin tidak aman. tidak ada metoda kontrasepsi yang sempurna. karena ada ibu-2 yang dapat menerima kenyataan ini. bukan hanya dari segi teknik klinik saja. Kehamilan semacam ini tidak selalu berarti kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy). dan diberikan dalam bentuk Interval Care (IC). walaupun belum didukung dengan data yang autentik. karena dampaknya terhadap kondisi keseharan reroduksi sangat besar. yaitu Asuhan Pasca Keguguran dan Asuhan Pasca Persalinan. kita selalu akan menemukan sekelompok ibu-2 yang gagal dalam upaya program KB-nya. kebijakan dan program. termasuk AKI/AKA. sebaiknya ditanggapi secara serius. Tetapi yang paling sering terjadi. tetapi juga dari segi wawasan. Kesimpulan Para petugas kesehatan reproduksi harus benar2 menghayati program KB. Ada yang menyarankan agar pilar yang empat itu ditambah dengan dua lagi. Isu tentang adanya kegagalan dalam program KB. Upaya revitalisasi program KB harus segera dilakukan. Oleh karena itu. Yang perlu diwaspadai adalah bahwa sebagian dari bumil ini mungkin termasuk GRT. penting sekali adannya Asuhan Pasca Keguguran.

Cairo Pertemuan antara BKKBN Pusat dengan Pimpinan Pikiran Rakyat (Juni 2007).Rujukan Lokakarya Peranan OBGINSOS dalam MPS : PIT Mataram (DepKes) Simposium Keluarga Berencana : PIT Mataram (BKKBN) ICPD.com/2012/03/peranan-program-keluarga-berencana- dalam-kesehatan-reproduksi-khususnya-kesehatan-ibu-dan-anak/ . Sumber : http://www. 1994. 03 Mei 2012.obginsosrshs. . 15:45 WIB. Bandung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->