P. 1
Literasi Sains

Literasi Sains

|Views: 790|Likes:
Published by Nurul Huda

More info:

Published by: Nurul Huda on May 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2013

pdf

text

original

Secara harfiah literasi berasal dari “Literacy” (dari bahasa inggris) yang berarti melek huruf atau gerakan

pemberantasan buta huruf. Kata sains berasal dari “Science” (dari bahasa inggris) yang berarti ilmu pengetahuan. Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai berpikir logis, berpikir kreatif, dan teknologi dapat dilihat dari penguasaan Literasi Sains siswa dari Program PISA. PISA (Programme for International Student Assesment) mendefinisikan literasi sains sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka mengerti serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang terjadi pada alam sebagai akibat manusia (Witte, 2003). Literasi sains atau scientific literacy didefinisikan PISA sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alam. Literasi sains dianggap suatu hasil belajar kunci dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan mempelajari sains atau tidak setelah itu. Berpikir ilmiah merupakan tuntutan warganegara, bukan hanya ilmuwan. Keinklusifan literasi sains sebagai suatu kompetensi umum bagi kehidupan merefleksikan kecenderungan yang berkembang pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan teknologis. Definisi yang digunakan dalam PISA tidak termasuk bahwa orang-orang dewasa masa yang akan datang akan memerlukan cadangan pengetahuan ilmiah yang banyak. Yang penting adalah siswa dapat berpikir secara ilmiah tentang bukti yang akan mereka hadapi. Komponen dan Aspek-aspek dalam Literasi Sains Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan (Rustaman et al., 2004). PISA (2000) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu: a. Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains. b. Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk memperoleh bukti itu. c. Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari kesimpulan itu. d. Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia. e. Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan menggunakan konsepkonsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah dipelajarinya. Pengukuran Literacy Science PISA menetapkan tiga dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya, yakni proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengi-denifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang ada. Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui akitivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya pada pengetahuan yang menjadi materi kurikulum sains sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang dapat diperoleh melalui sumber-sumber lain. Konsep-konsep tersebut diambil dari bidang-bidang studi biologi, fisika, kimia, serta ilmu pengetahuan bumi dan antariksa, yang terkait pada tema-tema utama berikut: struktur dan sifat materi, perubahan atmosfer, perubahan fisis dan perubahan kimia, transformasi energi, gerak dan gaya, bentuk dan fungsi, biologi manusia, perubahan fisiologis, keragaman mahluk hidup, pengendalian genetik, ekosistem, bumi dan kedudukannya di alam semesta serta perubahan geologis. Literasi sains atau scientific literacy didefinisikan PISA sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alam. Literasi sains dianggap suatu hasil belajar kunci dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan mengajarkan sains atau tidak setelah itu. Berpikir ilmiah merupakan tuntutan warganegara, bukan hanya ilmuwan. Keinklusifan literasi sains sebagai suatu kompetensi umum bagi kehidupan merefleksikan kecenderungan yang berkembang pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan teknologis. Definisi yang digunakan dalam PISA tidak termasuk bahwa orang-orang dewasa masa yang akan
1

datang akan memerlukan cadangan pengetahuan ilmiah yang banyak. Yang penting adalah siswa dapat berpikir secara ilmiah tentang bukti yang akan mereka hadapi. Dimensi Literasi Sains Dimensi Literasi Sains (i) “Content” Literasi Sains Dalam dimensi konsep ilmiah (scientific concepts) siswa perlu menangkap sejumlah konsep kunci/esensial untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan perubahanperubahan yang terjadi akibat kegiatan manusia. Hal ini merupakan gagasan besar pemersatu yang membantu menjelaskan aspek-aspek lingkungan fisik. PISA mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mempersatukan konsep-konsep fisika, kimia, biologi, serta ilmu pengetahuan bumi dan antariksa (IPBA). (ii) “Process” Literasi Sains PISA (Programme for International Student Assessment) mengases kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pemahaman ilmiah, seperti kemampuan siswa untuk mencari, menafsirkan dan memperlakukan bukti-bukti. PISA menguji lima proses semacam itu, yakni: mengenali pertanyaan ilmiah (i), mengidentifikasi bukti (ii), menarik kesimpulan (iii), mengkomu-nikasikan kesimpulan (iv), dan menunjukkan pemahaman konsep ilmiah (v). (iii) “Context” Literasi sains Konteks literasi sains dalam PISA (Programme for International Student Assessment) lebih pada kehidupan sehari-hari daripada kelas atau laboratorium. Sebagaimana dengan bentuk-bentuk literasi lainnya, konteks melibatkan isu-isu yang penting dalam kehidupan secara umum seperti juga terhadap kepedulian pribadi. Pertanyaan-pertanyaan dalam PISA 2000 dikelompokkan menjadi tiga area tempat sains diterapkan, yaitu: kehidupan dan kesehatan (i), bumi dan lingkungan (ii), serta teknologi (iii).

2

Apa yang menjadikan bangsa-bangsa Barat lebih unggul ketimbang bangsa-bangsa Timur? Pasar bebas, kata Kishore Mahbubani, dan sesudah itu penguasaan sains serta teknologi. Itulah yang dituturkan penulis buku Dapatkah Orang Asia Berpikir? Dia juga baru-baru ini meluncurkan buku Asia Hemisfer Baru Dunia. Dalam buku ini, dia menyebutkan ada beberapa elemen lain di luar dua hal yang telah mengguncang dunia itu, tapi pasar bebas serta sains dan teknologi menjadi warisan yang tampaknya mulai direbut oleh dua kekuatan yang tengah menanjak: Cina dan India. Kekuatan sumber daya insani Cina terus meningkat--jumlah doktornya naik berkali lipat dalam beberapa tahun saja. Produknya menembus berbagai pasar dunia. Cap "diproduksi di Cina" sudah tertera pada produk bermerek Jepang. India sangat dikenal dengan Bangalore-nya--semacam Lembah Silikon. Nama-nama India bertengger di jajaran profesor di universitas terkemuka Eropa dan Amerika Serikat. Sebuah pergerakan kejayaan sains dan teknologi dari Eropa dan Amerika menuju Asia disebut-sebut tengah berlangsung. Di luar ikhtiar yang tampak jamak, mendongkrak jumlah ilmuwan yang pintar di banyak bidang, Cina menerapkan strategi yang tak kalah penting: menjadikan "literasi (melek) sains" (science literacy, scientific literacy) sebagai program negara. Cina telah memulainya lima tahun silam dengan mencanangkan Rencana 15 Tahun untuk meningkatkan jumlah penduduk yang melek sains. Setidaknya ada dua tujuan utama yang hendak dicapai dengan program itu. Pertama, mendongkrak kekuatan Cina dalam sains ataupun peran yang dimainkan sains dalam pembangunan di Cina. Kedua, memberi warga Cina keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan pemahaman mengenai sains dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Targetnya jelas. Pada 2010, pemahaman penduduknya terhadap sains diharapkan sudah setara dengan yang dicapai oleh bangsa-bangsa industri pada 1980-an. Dan pada 2020, negara ini menginginkan tingkat literasi sains penduduk mereka naik hingga menyamai Barat pada 2006. Rencana jangka panjang ini dalam pertimbangan pemerintah Cina akan mampu mentransformasikan Cina menjadi bangsa yang kuat, kaya akan sumber daya manusia. Empat kelompok kunci yang ditargetkan adalah anak-anak, pekerja kota, pejabat pemerintahan, dan pegawai sipil. Bagaimana negara industri yang dikejar Cina? Pada 1988, di Inggris dilangsungkan survei untuk mengukur pengetahuan dan sikap ilmiah di kalangan orang awam. Di samping isu, yang terkait dengan proses-proses saintifik, ada pertanyaan seperti, "Apakah matahari mengelilingi bumi" atau "Bumi yang mengelilingi Matahari"? Hasil survei yang dipublikasikan di majalah sains Nature sungguh mengejutkan pemerintah Inggris. Meski kebanyakan mereka mengatakan sangat berminat pada sains, ternyata lebih dari 30 persen responden meyakini bahwa matahari mengelilingi bumi. Tiga tahun sebelum di Inggris, di Amerika diadakan survei sejenis dengan responden orang dewasa. Survei ini hendak mengetahui bagaimana pemahaman publik tentang istilah-istilah ilmiah yang sudah jamak, seperti molekul dan radiasi. Hasilnya, hanya 5 persen responden yang dapat dianggap sebagai melek secara saintifik. Angka ini turun 2 persen dibanding survei serupa yang dilakukan pada 1979. Padahal, pada 1975-1985, ilmuwan Amerika memenangi lebih dari separuh Hadiah Nobel untuk kategori sains. Data itu mengkonfirmasi dugaan para ilmuwan Inggris waktu itu bahwa kebanyakan orang memiliki pengetahuan yang sangat sedikit mengenai sains--sebuah defisit pengetahuan. Kesenjangan yang tajam antara pengetahuan yang dimiliki ilmuwan dan yang dipunyai publik menjadi isu yang menarik perhatian pengambil kebijakan publik. Di Inggris, pemahaman publik mengenai sains menjadi isu pemerintahan yang kritis. Sebuah White Paper, berjudul Releasing Our Potential, dikeluarkan lima tahun setelah survei di Inggris. Tujuannya untuk mencapai perubahan kultural: komunikasi, interaksi, serta pemahaman yang lebih baik antara komunitas saintifik, industri, dan departemen pemerintahan. Salah satu caranya: memperbaiki keterampilan ilmuwan dalam berkomunikasi dengan publik. Tahun berikutnya, 1994,
3

aktivitas "sains, rekayasa, dan teknologi" yang disponsori pemerintah berlangsung setiap minggu, dan sains pun perlahan menjadi perhatian publik. Perdebatan antar-ilmuwan mengenai isu tertentu bisa menjadi sejenis talk show yang menarik bayaran bagi peminatnya dan dipadati pengunjung. Di Amerika, kalangan yang prihatin berusaha memacu ketertinggalan anak-anak muda Amerika dalam sains dan matematika. Bagaimana menjadikan sains dan matematika tidak berhenti sebagai mata pelajaran yang wajib dikuasai, tapi menjadi bagian dari hidup keseharian yang menyenangkan. Dan Cina kini tengah berusaha keras mendongkrak tingkat literasi sains warganya agar mampu mengimbangi pertumbuhan cepat jumlah doktor mereka. Mengapa Inggris dan Amerika berusaha keras memacu kembali tingkat "literasi sains" masyarakatnya? Mengapa pemerintah Cina bekerja keras mengatasi ketertinggalannya? Ada keyakinan, seperti disebutkan dalam Royal Society Report yang terbit pada 1985 tentang "The Public Understanding of Science", bahwa pemahaman publik tentang sains memiliki kaitan erat dengan kesejahteraan bangsa. Ekonomi yang kuat hampir sepenuhnya bergantung pada industri yang berbasis sains dan teknologi. Sains dan teknologi, karena itu, menjadi pertimbangan utama dalam pembuatan kebijakan publik. Seberapa bagus kebijakan publik ini dibuat bergantung pada seberapa bagus pemahaman pembuat kebijakan publik memahami sains dan teknologi. Tapi sebuah kebijakan publik tak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah. Di sebuah negeri demokrasi, suara publik semestinya didengarkan. Menjadi krusial bahwa warga individu, seperti halnya pengambil keputusan, mengakui dan memahami aspek-aspek saintifik dari isu-isu publik. Di tengah pertarungan kelompok-kelompok kepentingan dalam isu-isu kontroversial, seperti kekuatan nuklir dan hujan asam, bahkan di Indonesia soal tembakau dan rokok, warga perlu mengetahui latar belakangnya dengan tepat dan menyuarakan pendapatnya. Indonesia dalam posisi yang kritis dalam isu literasi sains. Ketika penguasaan sains dan teknologi menjadi faktor dominan dalam kompetisi antarbangsa, literasi baca tidaklah memadai untuk membuat kita cukup mampu ikut berbicara. Untuk mencapai tingkat literasi sains, sehingga orang menyadari, berminat, dan terlibat dalam membentuk opini mengenai isu-isu sains, kita mesti melewati tahapan pemahaman lebih dulu tentang kontennya, prosesnya, serta faktor sosial yang mengkonstruksi sains dan teknologi. Memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai sains dan teknologi membuka kemungkinan bersikap lebih tepat dalam menanggapi isu-isu kontroversial dan menekan kemungkinan terombang-ambing oleh kebisingan suara berbagai kelompok kepentingan (ingat kasus "pasal tembakau" beberapa waktu lalu). Betapapun, isuisu sains dan teknologi sulit dilepaskan dari kepentingan serta permainan politik dan ekonomi. Bagi publik non-ilmuwan, memahami sains dan teknologi dengan lebih baik membuka kemungkinan partisipasi yang lebih besar dalam pengambilan keputusan dan menghindari untuk menjadi korban benturan kepentingan.

4

Pengantar Mengamati kilas balik perkembangan sains dan teknologi dari tahun 2005-2010, dalam UNESCO Science Report 2010 di Paris 10 November 2010, Kunci kejayaan suatu bangsa atau negara dalam era globalisasi terletak pada kualitas sumber daya manusia yang menguasai saintek. Menurut Prof de Solla Prince (disitir oleh Baiquni, 1997), ada hubungan kesebandingan antara jumlah pakar (saintis dan insinyur) yang melakukan riset dan pengembangan atau R &D di suatu negara dengan besar GNP (Produk Nasional Bruto) perkapita. Banyak negara-negara maju yang telah lama menginsafi perlunya sains dan teknologi dalam pengembangan industrinya dan bagi dukungan ekonominya, karena hubungan itu tampak amat jelas. Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang masih mendominasi penelitian dan pengembangan (R&D) di bidang sians dan teknologi (saintek). Makin banyak negara-negara berpartissainssi dalam perkembangan saintek, sehingga terjadi pergeseran pengaruh global. China melebarkan jangkauan dengan penambahan jumlah penelitinya, dan sekarang menerbitkan artikel ilmiah yang lebih banyak dari Jepang. Kemajuan saintek memungkinkan negara-negara tersebut menghasilkan lebih banyak pengetahuan dan berpartissainssi secara lebih aktif dari pada sebelumnya dalam jaringan internasional dan kemitraan penelitian dengan negara-negara di Utara dan Selatan. Tren ini membina demokratisasi sains di seluruh dunia. Pada gilirannya, diplomasi sains menjadi instrumen kunci pembangunan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan dalam hubungan internasional. Indonesia tidak termasuk negara yang diperhitungkan dalam perkembangan saintek tersebut. Ada apa dengan pendidikan saintek kita? Karena pendidikanlah yang sangat berperan untuk menciptakan SDM yang mengusai saintek tersebut. Sukro Muhab, Direktur Pusat Peragaan SAINTEK (PP SAINTEK dalam Workshop Science Club Development di TMII Jakarta Kamis 14 Oktober 2010) (dalam La tansa, 2010), menyatakan tantangan dunia pendidikan sains di Indonesia di era globalisasi dalam upaya pengembangan saintek adalah kesenjangan kemajuan saintek dengan dunia pendidikan, prestasi pendidikan kita tertinggal dan isu global pendidikan. Apa saja tantangan dalam pendidikan sains secara global? Dalam Unesco Science Report 2008, Peter J. Fensham (2008) menyatakan ada sebelas isu penting dalam kebijakan pendidikan saintek di seluruh dunia, yaitu: 1. Issue a: science in schooling and its educational purposes (tujuan pendidikan sains di sekolah). Tujuan yang jelas memberikan gambaran konten, strategi pembelajaran, sistem evaluasi yang akan dilaksanakan. 2. Issue b: access and equity in science education (Akses untuk pendidikan sains). Masih banyak negara di dunia yang belum memberikan kesempatan yang luas untuk warganya dalam mendapatkan pendidikan termasuk pendidikan sains 3. Issue c: interest in, and about science (Ketertarikan terhadap sains rendah). Banyak siswa dan orang tua khawatir dengan karir yang bisa dijalani melalui pendidikan sains 4. Issue d: how technology relates to science in education (Bagaimana mengaitkan teknologi dengan pendidikan sains). Pendidikan sains harus lebih progresif dan menjadikan sains dekat dengan kehidupan nyata (kontekstual) dan bisa diaplikasikan 5. Issue e: the nature of science and inquiry (Hakikat Sains dan inkuiri). Pembelajaran sains di sekolah banyak mengajarkan ilmu sains, tetapi proses sains tidak pernah atau jarang diperlihatkan sehingga terputus antara sains dengan kehidupan sehari-hari siswa 6. Issue f: scientific literacy (Melek Sains). Tujuan utama pendidikan sains adalah menciptakan generasi muda yang melek sains 7. Issue g: quality of learning in science (Kualitas pembelajaran sains). Perlu peningkatan kualitas pembelajaran sains terutama sistem asesmen 8. Issue h: the use of ict in science and technology education (Penggunaan ICT dalam Pembelajaran sains). ICT salah satu upaya agar pendidikan sains bersifat kontektual tidak lagi bersifat abstrak. 9. Issue i: development of relevant and effective assessment in science education (Mengembangkan asesmen yang tepat dan efektif untuk pendidikan sains). Perlu pengembangan instrumen asesmen yang bersifat autentik, dan bervariasi sehingga tidak hanya menilai kemampuan kognitif 10. Issue j: science education in the primary or elementary years (Pendidikan sains mulai dari sekolah dasar ). Pendidikan sains dimulai dari tahun tahun awal pendidikan di SD diyakini akan membangun ketertarikan siswa terhadap sains 11. Issue k: professional development of science teachers (Meningkatkan profesionalisme guru). Profesionalisme guru dalam pembelajaran sains berpengaruh besar terhadap minat siswa pada sains.
5

Banyak isu yang harus diperhatikan dalam pendidikan sains. Dari sebelas isu yang dipaparkan, yang menjadi pembahasan pada tulisan ini adalah isu tentang literasi sains. Apa itu literasi sains? Bagaimana pelaksanaannya dalam pendidikan, dan apa perannya dalam pembangunan ekonomi suatu bangsa? Berikut penjelasan singkatnya. Literasi sains Literasi sains terbentuk dari 2 kata, yaitu literasi dan sains. Secara harfiah literasi berasal dari kata Literacy yang berarti melek huruf/gerakan pemberantasan buta huruf (Echols & Shadily, 1990). Sedangkan istilah sains berasal dari bahasa inggris Science yang berarti ilmu pengetahuan. Puskur (2006) mengatakan bahwa: “sains merupakan sekelompok pengetahuan tentang obyek dan fenomena alam yang diperoleh dari pemikiran dan penelitian para ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen menggunakan metode ilmiah”. Menurut Programme for International Student Assessment (PISA, 2006), Literasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Literasi sains menurut National Science Education Standards (1998) adalah: Scientific literacy is knowledge and understanding of scientific concepts and processesrequired for personal decision making, particsainstion in civic and cultural affairs, and economic productivity. It also includes specific types of abilities. Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD, 2003) literasi sains (scientific literacy) didefinisikan sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta untuk memahami alam semesta dan membuat keputusan dari perubahan yang terjadi karena aktivitas manusia. Literasi sains penting untuk dikuasai oleh siswa dalam kaitannya dengan bagaimana siswa dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat bergantung pada teknologi dan kemajuan serta perkembangan ilmu pengetahuan (Yusuf, 2003). Literasi sains didefinisikan oleh AAAS (American Association for the Advancement of Science) dengan “Project 2061” sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaanpertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alam. Literasi sains dianggap suatu hasil belajar kunci dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan mempelajari sains atau tidak setelah itu. Berpikir ilmiah merupakan tuntutan warganegara, bukan hanya ilmuwan karena siswa dapat berpikir secara ilmiah tentang bukti yang akan mereka hadapi. Literasi sains suatu pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan proses sains yang akan memungkinkan seseorang untuk membuat suatu keputusan dengan pengetahuan yang dimilikinya, serta turut terlibat dalam hal kenegaraan, budaya dan pertumbuhan ekonomi, termasuk di dalamnya kemampuan spesifik yang dimilikinya. Literasi sains dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. Jadi Literasi sains merupakan kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka mengerti serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang terjadi pada alam sebagai akibat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Literasi Sains dalam pendidikan Negara-negara maju sudah membangun literasi sains sejak lama, yang pelaksanaannya terintegrasi dalam pembelajaran. AAAS dengan “Project 2061” membangun literasi sains di Amerika Serikat melalui riset yang hasilnya digunakan untuk menetapkan “standar pendidikan sains Amerika”. Dibuatnya standar ini untuk mewujudkan literasi sains secara kongkrit dalam pendidikan Amerika, yang tujuan jangka panjangnya adalah kejayaan sains dan teknologi di masa depan. Hasil penelitian sains di Australia menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan sains di Australia adalah meningkatkan literasi (melek) sains (Anonime. 2006). Cina menerapkan strategi yang tak kalah penting: menjadikan “literasi (melek) sains” (science literacy) sebagai program negara. Cina telah memulainya lima tahun silam dengan mencanangkan Rencana 15 Tahun untuk meningkatkan jumlah penduduk yang melek sains. Orang literasi sains akan dapat berkonstribusi terhadap kesejahteraan baik dari aspek social maupun ekonomi. Jadi di negara maju, literasi sains merupakan prioritas utama dalam pendidikan sains (Anonime, 2011).
6

Pengembangan evaluasi untuk mengetahui pencapaian literasi sains merujuk pada proses sains, yaitu proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. PISA (2006) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu: a) Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains. b) Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk memperoleh bukti itu. c) Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari kesimpulan itu. d) Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia. e) Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah dipelajarinya. Pengukuran terhadap pencapaian literasi sains berdasarkan standar PISA yakni proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidenifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang ada. Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui akitivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya pada pengetahuan yang menjadi materi kurikulum sains sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang dapat diperoleh melalui sumber-sumber lain. Penilaian PISA diadakan setiap 3 tahun sekali terhitung sejak tahun 2000. PISA ini mengikutkan siswa yang berusia 15 tahun, sekarang terdiri dari 65 negara, negara maju dan negara berkembang. Kriteria penilaian PISA ini mencakup kemampuan kognitif (knowledge) dan juga keahlian siswa di bidang Reading, Matematika dan Scientific Literacy (Kemampuan Sains/Literasi sains/melek sains). Literasi sains itu sendiri yang ditandai dengan kerja ilmiah, dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh PISA, yaitu konten sains, proses sainns, dan konteks sains. Bagaimana kemampuan siswa Indonesia berdasarkan penilaian PISA? Dapat dilihat pada Tabel 1. Berikut ini.

Tabel 1. Prestasi Indonesia berdasarkan kriteria yang ditetapkan PISA Peringkat Indonesia dari berbagai penilaian ini bisa mencerminkan bagaimana sistem pendidikan Indonesia yang sedang berjalan saat ini. Skill membaca, dari data terlihat bahwa budaya baca kita begitu rendah. Budaya baca terkait dengan kemauan „memaksa diri‟ untuk membeli buku dan kemauan meluangkan waktu untuk membacanya. Kemampuan matematika sangat penting karena kemampuan berhitung sangat menunjang disiplin ilmu manapun. Kemampuan matematika juga akan berpengaruh terhadap logika dan sistematika berpikir seseorang. Begitupun literasi sains, kemampuan problem solving dalam sains, hal ini terkait juga dengan kemampuan riset , karena riset di dalamnya mencakup kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Kemampuan riset yang dimiliki oleh siswa akan sangat berpengaruh pada upaya melahirkan penemuanpenemuan baru yang datang dari dunia pendidikan. Siswa-siswa Indonesia baru mampu mengingat pengetahuan ilmiah berdasarkan fakta sederhana. Mungkin guru-guru Indonesia masih belum bisa menerapkan metode problem solving dan keahlian menganalisis terhadap suatu pelajaran pada siswa serta budaya membaca dan menulis yang masih kurang ditanamkan pada siswa.

7

Apabila kita melihat fakta di lapangan; para siswa kita sangat pandai menghafal, tetapi kurang terampil dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini mungkin terkait dengan kecenderungan menggunakan hafalan sebagai wahana untuk menguasai ilmu pengetahuan, bukan kemampuan berpikir. Tampaknya pendidikan sains di Indonesia lebih menekankan pada abstract conceptualization dan kurang mengembangkan active experimentation, padahal seharusnya keduanya seimbang secara proporsional (Pusbuk, 2003). Menurut Nur (1995) keterampilan proses merupakan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi atau bekerja sebagai ilmuwan (scientist). Antara penguasaan pengetahuan dengan keterampilan proses ada kaitan yang erat, konsep dikuasai melalui pengembangan keterampilan proses. Penekanan belajar konsep dengan pendekatan keterampilan proses dimaksudkan untuk tetap menekankan penguasaan konsep melalui pengembangan jenis keterampilan proses. Dengan demikian hakikat sains sebagai produk dan proses dapat dikembangkan dalam belajar sains menurut Kurikulum. Selanjutnya Nur (1995) menekankan bahwa cara penyajian produk saja dalam buku pelajaran sains tidak cukup. Penyajian materi subyek dengan PKP (Pendekatan Keterampilan Proses) tidak langsung memberikan jawaban atau kesimpulan di dalam buku pelajaran. Siswa harus membangun sendiri kemampuan berpikir, siswa harus menemukan sendiri dan metransformasikan sendiri informasi kompleks, mengecek sendiri informasi baru dengan aturan-aturannya. Carin dan Sund (dalam Puskur-Depdiknas, 2006) mendefinisikan sains sebagai pengetahuan yang sistematis atau tersusun secara teratur, berlaku umum, dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen. Aktivitas dalam sains selalu berhubungan dengan percobaan-percobaan yang membutuhkan keterampilan dan kerajinan. Secara sederhana, sains dapat juga didefinisikan sebagai apa yang dilakukan oleh para ahli sains. Dengan demikian, sains bukan hanya kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi menyangkut cara kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah. Ilmuwan sains selalu tertarik dan memperhatikan peristiwa alam, selalu ingin mengetahui apa, bagaimana, dan mengapa tentang suatu gejala alam dan hubungan kausalnya. Keterampilan proses perlu dikembangkan melalui pengalaman langsung sebagai pengalaman belajar dan disadari ketika kegiatannya sedang berlangsung. Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual dan sosial sehingga pembelajaran sains (Biologi) akan lebih bermakna. Dengan demikian belajar dengan pendekatan keterampilan proses memungkinkan siswa mempelajari bahkan menemukan konsep yang menjadi tujuan belajar sains dan sekaligus mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar sains, sikap ilmiah dan sikap kritis. Peran literasi sains dalam pembangunan ekonomi Pendidikan adalah kunci penting dalam pembinaan SDM. Dalam era globalisasi dengan aliran SDM yang makin bebas, profesionalitas akan makin dihargai. Negara yang menguasai sainstek akan mempunyai daya tawar yang tinggi di banding negara lain. Seharusnya kita belajar dari India dan Jepang. Helianti (2005) menjelaskan India secara selintas mirip dengan Indonesia. Negeri ini masuk lima besar negeri berpenduduk terpadat di dunia, satu peringkat di atas Indonesia. Mempunyai beragam etnis, agama, dan bahasa. Juga ada konflik antar etnis dan agama yang sekarang pun Indonesia miliki. Tapi, persamaan yang paling mudah terlihat adalah, keduanya adalah negara berkembang, di mana jumlah penduduk prasejahtera masih mendominasi statistik penduduk. Namun, jika kita mau cermati, India ternyata jauh lebih unggul dalam bidang sains dan teknologi. Percobaan kecil bisa kita lakukan. Jika kita browsing ke site data base journaljournal untuk life science, maka akan kita jumpai nama-nama dan afiliasi India sangat jauh lebih banyak dari pada nama-nama Indonesia atau mereka yang berafiliasi Indonesia. Ini jika kita menjadikan jumlah terbitan paper ilmiah sebagai salah satu indikator kemajuan saintek, khususnya life science dan bioteknologi. Kesadaran akan pentingnya saintek bagi daya saing negara di masa depan telah tumbuh sejak dini. Nampaknya, usaha India untuk menjadikan biotek sebagai salah satu sumber income negara mulai membuahkan hasil. Menurut data dari Biotech Consortium India Limited (BCIL, 2001), sedikitnya ada 176 perusahaan swasta domestik yang mulai diperhitungkan dalam skala bisnis besar yang berbasis bioteknologi. Empat puluh persen di antaranya bergerak dalam bidang agrikultur khususnya sebagai penghasil biopestisida, benih, dan kultur jaringan, 25% bergerak dalam bidang kesehatan dan obat-obatan, sisanya bergerak dalam bidang bioteknologi lingkungan. Pasaran industri juga meningkat dari 1,5 milyar rupee (sekitar 300 milyar rupiah) menjadi 2,5 milyar rupee (sekitar 500 milyar rupiah) antara tahun 1999 sampai 2002.
8

Di Jepang, (Helianti, 2001) menjelaskan, implementasi konsep sosiolisasi saintek tampaknya telah begitu lekat dalam infra struktur masyarakat Jepang. Saintek telah menjadi budaya yang telah menginternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Media massa, industri, lembaga pendidikan (dari SD sampai universitas), dan lembaga penelitian pemerintah membuat kerja sama sinergis tanpa gembar-gembor dalam sosialisasi saintek. Pendidikan saintek sejak dini lewat pendidikan formal dari SD, SMP, SMA sampai universitas. Semangat untuk meneliti telah mulai ditanamkan sejak SD. Karena masyarakat yang mengerti dan sadar akan pentingnya saintek tidak dapat dihasilkan dalam waktu instant, tetapi membutuhkan waktu bertahap serta usaha para peneliti untuk memasyarakatkan sendiri sainstek. Budaya iptek Jepang adalah cerminan dari perkembangan iptek Jepang sendiri yang maju begitu pesat sejak kekalahannya dalam perang dunia kedua.

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->