P. 1
contoh makalah PAI

contoh makalah PAI

|Views: 139|Likes:
Published by Erik Nugroho

More info:

Published by: Erik Nugroho on May 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

contoh makalah PAI

SENIN, 12 MARET 2012

REVOLUSI ILMU PENGETAHUAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM DAN PENDIDIKAN ISLAM
REVOLUSI ILMU PENGETAHUAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM DAN PENDIDIKAN ISLAM Penulis: Muhammad Syarif NIM: 201010290211003 PENDAHULUAN Sains merupakan bidang ilmu yang sangat menarik untuk dikaji, dan tentu saja selalu dibutuhkan oleh semua orang. Mengapa tidak, karena setiap kita lihat dan mengamati dari semua lini kehidupan hamper tidak ada satu noktahpun yang tidak disentuh ataupun dirasakan oleh manusia, terutama sekali implikasi dan aplikasinya dalam bentuk tekhnologi. Munculnya sains/tekhnologi semacam itu tidak terlepas dari dobrakan yang dilakukan oleh para tokoh ilmuwan (kerap disebut sebagai “pemberontakkan terhadap positivisme”)[1] seperti Thomas Samuel Kuhn yang menolak paham masa lalu yang beranggapan bahwa setiap bentuk ilmu pengetahuan berawal dari pengalaman dan ilmu pasti dan menolak adanya ilmu metafisika. Thomas S. Kuhn merupakan ilmuwan yang “berjasa” dalam memberikan kontribusi yang besar untuk mengubah cara pandang lama (The old Story) ke pemikiran yang betulbetul mengubah tradisi tersebut dengan sebuah “Paradigma baru” (The new Story) dengan salah satu teori terkenalnya yaitu teori kuantum. Thomas S. Kuhn mula-mula meniti karirnya sebagai ahli fisika yang mendalami sejarah Ilmu, dan lewat tulisannya The Strukture of Scientific Revolutions (1962), ia dengan gigihnya menganjurkan agar setiap sikap untuk selalu berguru pada sejarah ilmu karena titik pangkal dari segala bentuk penyelidikan berawal dari sejarah masa lalu yang harus dikaji dan dirombak dengan suatu gagasan baru melalui revolusi ilmiah.[2] Dalam “The structure of Science Revolution”, Kuhn menggunakan paradigma dalam dua pengertian. Di satu pihak paradigma berarti keseluruan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma menunjukan sejenis unsur dalam konstelasi itu dan pemecahan teka-teki yang kongkrit yang jika digunakan sebagai model, pola, atau contoh dapat menggantikan kaidahkaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang masih tersisa. Revolusi adalah proses menjebol tatanan lama sampai ke akar-akarnya, kemudian menggantinya dengan tatanan yang baru. Begitu juga yang di maksud dengan revolusi sains atau revolusi sains muncul jika paradigma yang lama mengalami krisis dan akhirnya orang mencampakkannya serta mencita-gunakan paradigma yang baru yang sekiranya lebih rasional dan logis. Dulu misalnya, orang hanya mengetahui hanya ada lima planet di cakrawala kita. Kemudia dengan laju-pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ditemukan kembali tiga planet baru dan ribuan planet kecil, hal ini mengindikasikan bahwasanya kemajuan dari aspek astronomi kian pesat.

menentukan teknik memecahkan masalah. yang lain lagi menerangkan cahaya sebagai interaksi antara medium dan yang dikeluarkan oleh mata[3] di samping itu ada kombinasi dan modifikasi lain yang masing-masing aliran mendukung teorinya sendirisendiri. padahal semula orang beranggapan. Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah. bagi yang lain cahaya adalah modifikasi dari medium yang menghalang di antara benda itu dan mata. Pada stage ini terdapat persetujuan yang kecil bahkan tidak ada persetujuan tentang subjeck matter. faktor Sosiologis Historis serta Phsikologis mendapat perhatian dan ikut berperan. maka ia dapat menerima (mengatasi) ketergantungan observasi pada teori. maka aktivitas-aktivitas ilmiah pada stage ini dilakukan secara terpisah dan tidak terorganisir. dan prosedur-prosedur riset. Inilah yang di sebut revolusi astronomi. Walaupun aktivitas ilmiah masing-masing aliran tersebut dilakukan secara terpisah. hal ini tetap memberikan sumbangan yang penting kepada jumlah konsep. Sehingga sejumlah teori boleh dikatakan ada sebanyak jumlah pelaksanaannya di lapangan dan setiap ahli teori itu merasa wajib memulai dengan yang baru dan membenarkan pendekatannya sendiri. Oleh karena itu ia memandang bahwa ilmu itu berkembang secara open-endend atau sifatnya selalu terbuka untuk direduksi dan dikembangkan. tidak terorganisir sesuai dengan pandangan yang dianut. teknik yang dari padanya suatu paradigma tunggal akan diterima oleh semua aliran-aliran ilmuan tersebut. PEMBAHASAN Anomali dan munculnya penemuan Sains Pandangan Thomas Samuel Kuhn tentang perkembangan Ilmu Kuhn melihat adanya kesalahan-kesalahan fondamental tentang image atau konsep ilmu yang telah dielaborasi oleh kaum filsafat ortodoks. ilmu dapat berkembang maju dalam pengertian tertentu. Menurut Khun. Teori Epicurus. sebuah konsep ilmu yang dengan membabi-buta mempertahankan dogma-dogma yang diwarisi dari Empirisme dan Rasionalisme klasik. Transformasi-transformasi paradigma semacam ini adalah revolusi sains. maka jalan menuju normal science mulai ditemukan. Dengan kemampuan paradigma dalam membanding penyelidikan. teori Aristoteles. atau teori Plato. Para ilmuwan seperti . Semua benda angkasa beredar mengelilingi bumi. bahwa bumilah pusat alam semesta. karena tidak adanya suatu pandangan tersendiri yang diterima oleh semua ilmuan tentang suatu teori (fenomena). dan transisi yang berurutan dari paradigma yang satu ke paradigma yang lainnya melalui revolusi yang mengakibatkan timbulnya suatu dampak yang sangat luar biasa adalah pola perkembangan yang biasa dari sains yang telah matang.Setiap masyarakat yang beradap sekarang percaya bahwa bumi dengan semua anggota tata surya beredar mengelilingi matahari. misalnya tentang sifat cahaya. gejala. problem-problem dan prosedur di antara para ilmuwan yang bersaing. Sejumlah aliran yang bersaing. kebanyakan diantara mereka mendukung satu atau lain varian dalam teori tertentu. Sains dalam perspektif Historis Ilmuwan seperti Issac Newton ataupun Galileo Galilei merupakan salah satu ilmuwan yang membangkitkan “gairah” para ilmuwan yang memiliki keyakinan adanya paradigma yang harus dibangun untuk membuktikan teori-teori sebelumnya. satu kelompok menganggap cahaya sebagai partikel-partikel yang keluar dari benda-benda yang berwujud. Dalam teori Kuhn. jika ia tidak dapat mencapai kesempurnaan absolud dalam konotasi dapat dirumuskan dengan definisi teori. dan ketika paradigma tunggal diterima.

Paradigma yang membimbing eksperimen atau riset ilmiah tersebut memungkiri adanya definisi yang ketat. Kuhn memiliki suatu anggapan bahwa Newton ataupun Galilei memperbaharui ilmu. meskipun demkian. baik teka-teki teoritis maupun teka-teki eksperimental. dan anomalianomali tersebut secara fundamental menyerang paradigma maka dalam keadaan demikian. gejala-gejala baru dan tidak terduga berulangkali muncul dan tersingkap oleh ilmiah tersebut yang diikuti dengan munculnya teori-teori baru. Dan hal inilah merupakan ciri yang membedakan antara normal science dan pra science. pengetahuannya tanpa dukungan dan pengaruh dari factor-faktor lainnya. Normal science melibatkan usaha terperinci dan terorganisir untuk menjabarkan paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangannya dengan alam (fenomena) dengan memecahkan teka-teki science. Teka-teki eksperimental meliputi perbaikan keakuratan observasi dan pengembangan teknik eksperimen sehingga mampu menghasilkan pengukuran yang dapat dipercaya. Dengan demikiann. didalam paradigma tersebut tercakup : Beberapa komponen tipikal yang secara eksplisit akan mengemukakan hukum-hukum dan asumsi-asumsi teoritis. Dalam kegiatan ilmunya. sehingga mendapatkan suatu kesimpulan dan pembuktian terhadap teori-teori klasik (Newton dan Galilei) ternyata banyak melakukan kesalahan dalam praktek ilmiahnya. Paradigma tunggal yang telah diterima tersebut dilindungi dari kritik dan falsifikasi sehingga ia tahan dari berbagai kritik dan falsifikasi. hukum “gerak” Newton membentuk sebagian paradigma Newtonian. itu dimaksudkan untuk mendukung kesimpulan yang telah dibuatnya terlebih dahulu secara a priori. bebrapa keterangan metodologis yang sangat umum yang memberikan cara pemecahan teka-teki science. kepercayaan terhadap paradigma mulai goyah yang kemudian terjadilah keadaan krisis yang berujung pada perubahan paradigma (revolusi). Dan hukum “persamaan” Maxwell merupakan sebagian paradigma yang telah membentuk teori elektromagnetik klasik. Kalaupun mereka melakukan eksperimen-eksperimen. Anomali dipandang sebagai hal serius yang dapat menggoyahkan paradigma jika anomali tersebut : . Beberapa cara yang baku dalam penggunaan hukum-hukum fundamental untuk berbagai tipe situasi. Tekateki teoritis (dalam paradigma Newtonian) meliputi perencanaan teknik matematik untuk menangani gerak suatu planet yang tergantung pada beberapa gaya tarik dan mengembangkan asumsi yang sesuai untuk penterapan hukum Newton pada benda cair. tidak terdapat sengketa pendapat mengenai hal-hal fundamental di antara para ilmuan sehingga paradigma tunggal diterima oleh semuanya.Thomas S.[5] Para stage ini. para ilmuwan mulai mengamati dan mengkaji keadaan tersebut dengan kritis. Apabila hal-hal baru yang terungkap tersebut tidak dapat diterangkan oleh paradigma dan kelainan-kelainan antara teori dan fakta menimbulkan problem yang gawat. beberapa prinsip metafisis yang sangat umum yang membimbing pekerjaan di dalam suatu paradigma. Sehingga terciptalah sebuah keyakinan bahwa mereka seakan bekerja secara individual dan tanpa berbuat kesalahan. Tanggapan Kuhn terhadap Krisis Revolusi Walaupun sasaran normal adalah memecahkan teka-teki science dan bukan mengahsilkan penemuan-penemuan baru yang konseptual. Bahkan Newton membuat hipotesis tanpa dasar empiris apapun. mereka hanya menggunakan cara kerja yang tidak sesuai dengan criteria kerja ilmiah yang ideal. beberapa instrumentasi dan teknik-tekniknya yang diperlukan untuk membuat agar hukum-hukum paradigma itu dapat bertahan dalam dunia nyata dan di dalam paradigma itu sendiri.[4] Dalam hal ini.

Paradigma Aristotelian melihat alam semesta ini terbagi menjadi dua dunia yang berlainan. dalam diskusi dan adu argumen antara pendukung paradigmayang bersaing tersebut adalah untuk mencoba meyakinkan dan bukan memaksakan paradigma. sebagai akibatnya paradigma baru (paradigma rival) muncul.a) Menyerang hal-hal yang paling fundamental dari suatu paradigma dan secara gigih menentang usaha para ilmuan normal science untuk mengabaikannya. Sampai diterimanya suatu paradigma baru yang berbeda dari paradigma semula. Melalui revolusi science inilah menurut Kuhn dalam sebuah tulisannya yang dikutip Tjun Surjaman bahwa revolusi sains dianggap sebagai episode perkembangan nonkomulatif yang di dalamnya paradigma yang lama diganti seluruhnya atau sebagian oleh paradigma baru yang bertentangan. Berdasarkan paradigma baru inilah tradisi ekstra ordinari science dilakukan oleh para komunitas ilmuan yang mendukungnya dan sampai pada tahap tertentu dapat meyakinkan . Juga disamakan dengan “religious conversion” (pertukaran agama). Peristiwa perubahan kesetiaan para ilmuan individual dari satu paradigma ke paradigma lain disamakan oleh Kuhn dengan “Gestalt Switch” (perpindahan secara keseluruhan atau tidak sama sekali). b) Mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan beberapa kebutuhan masyarakat yang mendesak. sebelum krisis berkembang lebih jauh atau telah diakui dengan tegas. dunia super-lunar (yang abadi dan tidak berubah-ubah) dan dunia sub-lunar (yang bisa musnah dan berubah-ubah). dengan paradigma baru para pengikutnya mulai melihat subjek maler dari sudut pandang yang baru dan berbeda dengan yang semula. Paradigma baru tersebut dianggap dan diyakini lebih memberikan janji atas kemampuannya memecahkan masalah untuk masa depan. secara revolusioner. Setiap krisis selalu diawali dengan penngkaburan paradigma serta pengenduran kaidah-kaidah riset yang normal. Kuhn beragumentasi bahwa. mereka tidak meninggalkan paradigma yang telah membawa mereka kedalam krisis begitu saja. Pada stage ini diantara para ilmuan normal science terjadi sengketa filosofis dan metafisis. Oleh karena itu. perkembangan ilmu itu tidak secara komulatif dan evolusioner tetapi. setidak-tidaknya sebagai embrio. Paradigma yang muncul berikutnya melihat alam semesta terbuat dari bahan-bahan material yang sama. Proses peralihan komunitas ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru yang berlawanan inilah yang dimaksud oleh Kuhn sebagai revolusi science. dan teknik metodologinya lebih unggul dibanding paradigma klasik dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu. yakni membuang paradigma lama dan mengambil paradigma baru yang berlawanan dan bertentangan. Sebab tidak ada argumen logis yang murni yang dapat mendemontrasikan superioritas satu paradigma atas lainnya. menurut Kuhn. Mereka membela penemuan baru dengan argumen-argumen filosofis yang dipandang dari sudut paradigma. yang karenanya dapat memaksa seorang ilmuan yang rasional untuk melakukan perpindahan paradigma. para penyususn paradigma baru (paradigma rival) hidup di dalam dunia yang berlainan. Krisis dapat diasumsikan sebagai pra kondisi yang diperlukan dan penting bagi munculnya teori-teori baru. Walaupun kemungkinan mereka kehilangan kepercayaan dan kemudian mempertimbangkan beberapa alternatif. Setiap paradigma yang bersaing akan memandang dunia ini terbuat dari berbagai macam hal yang berlainan dan masing-masing paradigma tersebut akan melibatkan standar yang berlainan dan bertentangan dalam memandang dunia.[6] Dengan kata lain.

Menurut Kuhn. telah mendobrak adanya citra suatu pencapaian ilmiah yang absolut. pengetahuan tidak terlepas dari ruang dan waktu. Dari hal tersebut mencerminkan adanya suatu kemajuan dalam bidang tertentu jika terjadi revolusi-revolusi yang ditandai adanya perpindahan dari paradigma klasik ke paradigma baru. Paradigma lahir menurut zamannya Setiap paradigma yang muncul adalah diperuntukkan mengatasi dan menjawab tekateki atau permasalahan yang dihadapi pada zaman tertentu. Berpijak pada hal tersebut dan pola yang dikembangkan Kuhn maka sudah menjadi keniscayaan untuk menemukan paradigma baru dalam menjawab permasalahan dan . usaha-usaha dalam menemukan paradigma yang lebih mampu menjawab permasalahan yang ada sesuai perkembangan zaman terus dilakukan. Kuhn menyatakan (Teori Kuantum) bahwa. sebagai konsekwensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik. Jika mengikuti pendapat Kuhn. Dengan konsep paradigmanya yang fleksibel dan tidak ketat di satu sisi. Perpaduan antara paradigma fakta sosial. inilah fungsi revolusi tersebut. serta menyanggah adanya pendirian posivitistik dan pendekatan yang dilakukan secara rasionalistik. maka perpindahan dari satu paradigma ke paradigma yang baru yang lebih sesuai adalah suatu keharusan.[7] Konsep dan pandangan Kuhn tentang science progres tersebut memungkinkan terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dengan revolusi besar menuju ke arah yang makin mendekati suatu kesempurnaan dan lebih sesuai dengan kondisi sejarah dan zaman. mampu mendorong terjadinya suatu revolusi science dan mencapai kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat (Ilmu umum dan Ilmu Agama). Sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial yang berparadigma ganda. dan paradigma definisi sosial yang masing-masing mempunyai perbedaan dan berlawanan diformulasikan dalam suatu paradigma yang utuh yang dapat memecahkan permasalahan yang lebih kompleks seiring dengan perkembangan zaman. Di sisi lain. Aplikasi paradigma dalam pemikiran islam Mungkinkah revolusi yang ditandai konversi paradigma tersebut terjadi dalam ilmuilmu agama? Pertanyaan itu paling tidak mengingatkan kita pada sejarah penetapan hukum oleh salah satu imam mazhab empat yang terkenal dengan qaul qadim dan jadidnya. paradigma perilaku sosial. maka sudah jelas bahwa suatu paradigma hanya cocok dan sesuai untuk permasalahan yang ada pada saat tertentusaja. bahwa ilmu pengetahuan itu terikat oleh ruang dan waktu. Adanya perubahan (revolusi) tersebut terjadi karena dihadapkan pada perbedaan varian kondisi ruang dan waktu. mampu mendukung adanya tradisi-tradisi ilmiah dan melepaskan adanya ketergantungan observasi pada teori. Dampak Revolusi terhadap pemikiran Islam dan Pendidikan Islam Konsep Kuhn tentang sains yang normal yang terdapat dalam bukunya “The Structure Of Scientific Revolution yang berpusat pada paradigma. tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainankelainan (anomali).para pendukung paradigma klasik tentang keberadaan paradigma baru yang lebih mendekati kebenaran dan lebih unggul dalam mengatasi science di masa depan. atau suatu yang mempunyai kebenaran seakan-akan suigeneris dan objektif. sifat paradigma yang tidak sempurna dan tidak terbebas dari anomalianomali. Sehingga apabila dihadapkan pada permasalahan berbeda dan pada kondisi yang berlainan.

maka dalam pelaksanaan pendidikan agamapun akan berubah sebagaimana perubahan dalam paradigma pemikiran Islam. irasional. Senada . Dan masih banyak lagi bidang-bidang yang perlu adanya pengembangan paradigma baru. yakni Tauhid.[10] Kedudukan lembaga syuro ini menurut Natsir dianggap sangat penting. Skema ini akan beradaptasi dan berubah seiring perkembangan mental anak. Bahkan menurutnya. Dengan demikian. Skema adalah suatu struktur mental atau kognisi yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. konsep atau pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya. akan memiliki perubahan yang signifikan. Dan manusia sebagai khalifah atau pemimpin yang bertugas menjalankan dan menegakkan perintah dari pemegang kedaulatan.tantangan zaman. Sehingga umat dapat melaksanakan tugas dan fungsinya di dunia dengan baik. Dari segi Materi jelas akan mengikuti perubahan pemikiran Islam tersebut.[8] Kemudian pemikir muslim Indonesia Harun Nasution menawarkan adanya pembaharuan teologi. serta mandiri. dan harus dirubah dan segera kembali kepada teologi islam sejati. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan persepsi. lahir dan batin. penguasa harus harus mendapatkan keridhoan dari orang-orang yang diaturnya dan memusyawarahkan segala sesuatu mengenai kehidupan dan kepentingan rakyat. Harun Nasution pada dasarnya juga menganggap bahwa adanya keterbelakangan dan kemunduran umat islam Indonesia adalah disebabkan “ada yang salah” dalam berteologi. rasional. Panangan ini mengandung arti bahwa umat islam dengan teologi fatalistic. dan hal tersebut harus diubah dengan konseptual baru yang berasal dari kebudayaan modern.[9] Lain lagi dengan konsep Negara yang ditawarkan oleh Mohammad Natsir tentang istilah syuro dalam islam yang sering dikaitkan dengan perkembangan demokrasi masa modern sebagai theistic demokrasi sehingga mengakibatkan kepala Negara berfungsi sebagai eksekutif yang bekerja sama dengan legislative dalam penyelenggaraan suatu Negara. jika hendak mengubah nasib umat islam hendaklah mengubah teologi seperti itu menuju teologi yang berwatak freewill. dunia dan akherat. seringnya umat islam mendapat kekalahan disetiap pertempuran selalu berpatokan pada kerangka konseptual lama yang berasal dari kebudayaan klasik. Perubahan skema ini bisa mengambil bentuk asimilasi atau akomodasi. Paradigma yang telah dibuat pijakan oleh para ulama terdahulu yang muncul sesuai dengan varian kondisi ruang dan waktunya serta kecenderungan profesionalnya perlu dipertanyakan dengan melihat kenyataan-kenyataan yang terjadi pada saat terakhir ini. Aplikasi Paradigma dalam Pendidikan Agama Tidak terlepas dari pengaruh revolusi terhadap pemikiran Islam. pre-determinisme serta penyerahan nasib telah membawa mereka menuju kesengsaraan dan keterbelakangan. Konsep atau ajaran Tauhid yang hanya dipandang dan dilekatkan pada ke-Esaan Tuhan perlu dirubah dan diperluas sebagai suatu konsep ketauhidan makhlukNya sehingga akan terbentuk pola kehidupan umat yang seimbang antara ritual dan sosial. Sejalan dengan pandangan kaum modernis lainnya. Istilah paradigma identik dengan “skema” dalam teori belajar. Maka dari itu menurut Hanafi. sumber kekuasaan dan legitimasi adalah Allah SWT. Dan dari segi teori belajar. telah mencoba menawarkan paradigma baru dalam ajaran pokok Islam. musyawarah merupakan satu perintah agama. disebabkan oleh adanya ketentuan-ketentuan dalam ajaran islam supaya mengatur urusan mengenai orang banyak. Hal ini juga dimanfaatkan oleh pemikir-pemikir islam seperti Hasan Hanafi dengan konsep kiri Islamnya. Padahal menurutnya.

Perubahan paradigma yang dimaksud adalah dengan merubah cara belajar dari model warisan menjadi cara belajar pemecahan masalah.[11] Jadi. sebagaimana ditegaskan Abdul Munir Mulkhan.[13] Pendidikan. karena dengan perkembangan tekhnologi seperti internet misalnya semua orang sudah dengan mudahnya mendapatkan info-info penting dan guru bukan lagi “dianggap” orang yang satu-satunya memiliki sumber pengetahuan. lembaga-lembaga pendidikan Islam mempunyai tugas penting untuk menciptakan suatu situasi yang dimana dalam proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan beban tugas yang diembannya. terutama pendidikan agama islam adalah inovasi pembelajaran ( termasuk kurikulumnya ). Jadi. dalam arti fungsional. Karena di dalamnya terdiri dari banyak orang yang memiliki tujuan yang sama. dari hafalan ke dialog. dari pasif ke heuristic. merupakan model rekayasa sosial yang paling efektif untuk menyiapkan suatu bentuk masyarakat masa depan.[14] Fungsionalisasi pendidikan Islam untuk mengembangkan potensi manusia yang handal tidak bisa terlepas dari peranan lembaga-lembaga yang ada. dasar. sehingga istilah teacher centered sudah dianggap tradisional dan perlu diubah dengan pendekatan baru learner centered. prinsip. dari memandang dan menerima ilmu sebagai hasil final yang mapan menjadi memandang dan menerima ilmu dalam dimensi . Dalam kerangka funsional yang demikian signifan. kebanyakan tidak berhasilnya seorang guru dalam melaksanakan metode-metode pengajaran pendidikan islam hanya dilaksanakan dengan mengikuti apa yang sudah-sudah (taqlid) tanpa ada penyelidikan lebih lanjut. mungkin yang tidak kalah penting istilah yang dipakai dalam rangka menemukan sesuatu yang baru untuk merubah cara pandang lama dalam hal pendidikan.dengan itu. sekolah juga merupakan sebuah unit sosial. bahwa prinsip perkembangan dan perubahan dalam islam merupakan salah satu sumber yang harus dijadikan sumber pengambilan falsafah. Karena. serta membolehkan sifat menyesuaikan diri dengan perkembangan perubahan yang berlaku dalam kehidupan. perubahan yang progresif dan bermanfaat. Dalam konteks pendidikan islam secara benar. untuk mewujudkan fungsionalisasi tersebut harus dibutuhkan usaha stimultan dan komprehensif. dan kurikulum.[12] Disamping itu menurut Ngainun Naim dan Achmad Sauqi dari pernyataan Muhammad Abduh yang dikutip Azyumardi Azra . Selain sebagai nstitusi penddikan. dengan demikian pendidikan akan menjadi suatu pengembangan paradigm intelektual. Maka langkah penting yang dapat dilakukan untuk mewujudkan fungsionalisasi Pendidikan Islam sebagaimana menurut Mastuhu yang dikutip oleh Ngainum Naim dan Achmad Sauqi adalah dengan melakukan perubahan paradigma. Karena menurutnya. pendidikan harus diletakkan dalam posisi yang tepat dan diposisikan dalam kerangka pengembangan akal sehat secara krtis dan kreatif. terhadap problem kemanusiaan dan masyarakatnya akan menjadi sumbangan bagi realisasi manusia sebagai khalifah dalam melaksanakan tugasnya di bawah bimbingan wahyu dan uswah Nabi Muhammad Saw. bahwa pendidikan merupakan alat yang ampuh untuk melakukan suatu perubahan. metode (partisipasi) seorang pendidik dengan peserta didik yang seperti itu harus segera dirubah. dari mekanis ke kreatif. menurut At-Taumi Islam sangat menggalakkan perkembangan yang membangun dan berguna. Seperti yang dalam pandangan At-Taumi seperti yang dikutip oleh Sudiyono . dari strategi menguasai materi sebanyak-banyaknya menjadi menguasai metodologi. serta bisa diharapkan nantinya anak didik akan memiliki kesiapan mental dan kemampuan teoritik dalam menjalani kehidupannya yang senantiasa berubah dalam kompleksitas era modern. Oleh karena itu. yaitu mendidik peserta didik dan mengatarkan menuju fase kedewasaan.

Kalau kita ketiga dimensi tersebut dapat kita lakukan secara berulang dengan niat menjadi tepat dalam menerapkan metode. Dalam dimensi pengetahuan (knowledge).Taufiq Amir tentang pendekatan pembelajaran dan pemberdayaan pemelajar. peserta didik dijadikan sebagai actor utama saat proses pembelajaran berlangsung.[16] Yang ingin dicapai dengan pemberdayaan pembelajaran adalah dari tiga dimensi tersebut adalah . yakni perubahan pada seseorang. Peserta didiklah yang lebih banyak mencari. maka kita sudah menambahkan dimensi berikutnya dari pembelajaran. seperti apa pemikiran pendidiknya atas sebuah konsep. dan fungsi pendidikan bukan hanya mengasah dan mengembangkan akal. Begitu pula untuk dimensi berpikir (thinking).proses. dan mereka mengkonstruk seniri berbagai konsep yang dipelajarinya dari berbagai sumber asli. Mereka bukan hanya sekedar merasa dan melihat dengan jelas. tetapi sekaligus perubahan pada cara berpikir. Bukan saja perubahan terjadi pada aktivitas fisik. peserta didik bukan lagi penerima pasif atas” pemikiran-pemikiran” pendidiknya. namun mengolah dan mengembangkan hati (moral) dan keterampilan.[15] Berikut kelompok tiga dimensi yang dikelompokkan oleh Dennis Sale seperti yang dikutip M. dan tidak menutup kemun gkinan mereka juga bisa menghasilkan berbagai variasi bahkan menemukan gagasan-gagasan yang orisinal. memonitor. menggabungkan berbagai sumber informasi yang akan menjadi pengetahuan mereka . memperoleh. sehingga mereka menjadi kreatif untuk melihat lebih banyak opsi-opsi yang muncul. mengevaluasi. Cara berpikir mereka seperti itu sekaligus juga metakognitif. dan mampu merevisi . namun harus dipastikan bahwa mereka bisa melihat dengan jelas “pemikirannya” sendiri.

Adanya revolusi sains bukan merupakan hal yang berjalan dengan mulus tanpa hambatan. harus menuangkannya dalam tulisan dan selalu merevisinya. maka revolusi sains kian dapat terwujud. maka seorang pendidik harus mendorongnya dengan budaya berpikir dengan cara. Pemberdayaan semacam itu bukanlah „melepas‟ begitu saja peserta didik untuk menjalankan ketiga dimensi yang dimaksud. Merekapun bisa menafsirkan serta membuat kesimpulan dengan lebih baik. para ilmuwan melihat hal-hal yang baru dan berbeda dengan ketika menggunakan instrumen-instrumen yang sangat dikenal untuk melihat tempat-tempat yang pernah dilihatnya. Dengan cara ini juga mereka akan menjadi kritis.pemikirannya sendiri. bisa membandingkan dan melihat perbedaan dari pilihan yang ada. Tentu saja pemberdayaan tersebut menjadi mustahil tanpa peran pendidik. tetapi juga teknik-teknik argumentasi persuasif yang efektif di dalam kelompok-kelompok yang sangat khusus yang membentuk masyarakat sains itu. (misalnya) member pertanyaan yang menyelidik. Bila memang peserta didik perlu akses terhadap pengetahuan tertentu. meminta perbandingan. tahu menganalisis berbagai komponen dan hubungan yang ada dalam sebuah konsep. revolusi sains muncul karena adanya anomali dalam riset ilmiah yang dirasakan semakin parah. Dalam pemilihan paradigma tidak ada standar yang lebih tinggi dari pada persetujuan masyarakat yang bersangkutan. Seorang pendidik tetap memiliki peranan yang penting. Dan ini menimbulkan masalah sendiri yang memerlukan pemilihan dan legitimasi paradigma yang lebih definitif. Selama revolusi. terampil menggunakan “mesin” pencari informasi seperti internet. Oleh karena itu permasalahan paradigma sebagai akibat dari revolusi sains. dan tentunya menciptakan suasana yang interaktif dengan sesame peserta didik. artinya para peserta didik harus tahu bahwa mereka harus melakukan “latihan” terus. Seakan-akan masyarakat profesional itu tiba-tiba dipindahkan ke daerah lain di mana obyek-obyek yang sangat dikenal sebelumnya tampak dalam penerangan yang berbeda dan juga berbaur dengan obyek-obyek yang tidak dikenal. dan munculnya krisis yang tidak dapat diselesaikan oleh paradigma yang dijadikan referensi riset. Sehingga pendidik akan menjadi fasilitator yang sesungguhnya. Untuk menyingkapkan bagaimana revolusi sains itu dipengaruhi. kita tidak hanya harus meneliti dampak sifat dan dampak logika. dan ia tetap bertahan pada paradigma yang telah dibongkar dan sudah tidak . kalau mau kompeten dalam berkomukasi haruslah “tampil” sebagai pembicara. hanyalah sebuah konsensus yang sangat ditentukan oleh retorika di kalangan akademisi dan atau masyarakat sains itu sendiri. Semakin paradigma baru itu diterima oleh mayoritas masyarakat sains. kalau memang harus terampilberpikir. PENUTUP Sebagaimana telah disinggung dalam uraian di atas. menanyakan alas an-alasan. Revolusi sains di sini dianggap sebagai episode perkembangan non-kumulatif yang di dalamnya paradigma yang lama diganti sebagian atau seluruhnya oleh paradigma baru yang bertentangan. dan kalau mau melatih argument. Tentu saja hal ini bukan hanya sekedar latihan fisik akan tetapi juga pikiran. Mereka akan sadar kalau mau mendapatkan informasi lebih banyak harus. seorang pendidik menunjukkan trik dan tipnya. Kalaupun ada ilmuwan yang tidak mau menerima paradigma baru sebagai landasan risetnya. dan kalau sedang mendengarkan “ceramah” harus mencoba “kritis‟ tidak hanya menerima apa yang disampaikan. Sebagian ilmuwan atau masyarakat sains tertentu ada kalanya tidak mau menerima paradigma baru. Sedangkan pada dimensi melakukan (doing).

Ngainun Naim. Untuk itu. Pustaka Setia. jika hendak mengubah nasib umat islam hendaklah mengubah cara pandang yang baru berwatak free-will. Jakarta. Yogyakarta. sistematis. Sejalan dengan pandangan kaum modernis lainnya. rasional.M. krisis.mendapat dukungan lagi dari mayoritas masyarakat sains. M. Drs.Ag. 2010. maka aktivitas-aktivitas risetnya hanya merupakan tautologi. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. makanya harus dirubah dan segera kembali kepada pemahaman atau ajaran islam sejati. Dengan demikian. dan universal tentang pendidikan yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan agama Islam. Pandangan ini mengandung arti bahwa umat islam selama menerapkan konsep-konsep usang serta prinsip „penyerahan nasib‟ hanya membawa kepada kesengsaraan dan keterbelakangan. Wallahu ‘alam bi shawwab. DAFTAR PUSTA Dr. logis.Bandung. Sudiyono. Rineka Cipta. Sains dan problem Ketuhanan. Dkk. Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi. Arr-Ruzz Media. Bandung. 1997.Ag. Abdul Hamid. Greg Soetomo. Pustaka Setia. melainkan kita dituntut untuk mampu mempelajari ilmu-ilmu yang relevan dengan ilmu tersebut. 2010. Melakukan pemikiran filosof pada hakikatnya adalah usaha untuk menggerakkan semua potensi . M. Abdul Rozak. Diposkan oleh AbuzZen di 06:50 0 komentar Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook PENDIDIKAN iSLAM DAN MULTIKULTURALISME ISU-ISU KOTEMPORER PENDIDIKAN ISLAM DAN MULTIKULTURALISME DOSEN PENGAMPU: PROF. K. 2009.Taufiq Amir. dkk. pemikir muslim juga menawarkan adanya pembaharuan dalam segala lini kehidupan (pemikiran Islam ataupun pendidikan Islam). Jogjakarta. Suatu perubahan itu terjadi manakala suatu paradigma yang lama dan mapan kemudian mengalami anomaly. bahwa pada dasarnya juga menganggap bahwa adanya keterbelakangan dan kemunduran umat islam disebabkan “ada yang salah” dalam di dalam menerapkan konsep-konsep yang di‟berikan‟ oleh ajaran Islam. Jakarta. Bandung. Kanisius. The structure of Science Revolution (Peran Paradigma dalam Revolusi Sains). DR. Kuhn. Ilmu Kalam Islam. Thomas S. dan kemudian muncul paradigma baru lagi yang lebih mapan dari paradigma lama. 2002. Drs. 2009. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan. Kencana Prenada Media Group.H. yang tidak berguna sama sekali. Pemikiran Modrn dalam Islam. H.Si OLEH : MUHAMMAD SYARIF NIM : 201010290211003 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG Pendahuluan Mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki wilayah yang membahas suatu bentuk pemikiran yang mendasar. Dkk. revolusi. M. serta mandiri. Remaja Rosda Karya. SYAMSUL ARIFIN. M.

Secara historis. serta mampu melahirkan peserta didik yang betul-betul mempraktikkan nilai-nilai Islam. Maka dalam mempelajari filsafat. Dalam konteks itulah wacana multikulturalisme melalui pendekatan filsafat dijadikan sebagai sarana untuk membangun toleransi atas keragaman yang ada.psikologis manusia. filsafat bukan hanya memberikan sumbangan berupa prinsip-prinsip berpikir filosofis dalam memecahkan berbagai masalah . Karena telah diketahui bersama. asas filsafat adalah membimbing dan memberi arah kesemua asas pendidikan lainnya dan menyelaraskannya. kemauan. Abuddin Nata (2009 : 99). Oleh karena itu. persoalan-persoalan ini akan berimbas kepada peserta didik (yang mengambil contoh) bisa memicu terjadinya konflik-konflik kecil seperti percekcokan sampai pada perkelahian antar pelajar (homogen) yang bisa berimbas kepada masyarakat luas. filasafat pendidikan Islam merupakan pemikiran mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan Islam itu sendiri. Secara harfiah. Hal ini terjadi karena filsafat memiliki karakter . (1) memiliki sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis. (3) filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Dalam hubungannya dengan pendidikan. perasaan. betapa kentalnya prasangka antar kelompok dan betapa rendahnya sikap saling pengertian mengakibatkan bertambahnya kompleksitas persoalan keragaman dan hubungan antar kelompok dan tidak menutup kemungkinan. dan mampu untuk memperkaya khazanah epistemologi keagamaan. Filsafat pendidikan pada umumnya dan filsafat pendidikan Islam pada khususnya. adalah bagian dari ilmu filsafat. ingatan serta pengamatan panca indera tentang gejala kehidupan. Sesuai dengan fungsinya tersebut. perlu memahami terlebih dahulu tentang pengertian filsafat terutama dalam hubungannya dengan masalah pendidikan (pendidikan Islam). filsafat juga memberikan gambaran tentang sampai dimana proses tersebut dapat direncanakan dan dalam ruang lingkup serta dimensi bagaimana proses tersebut bisa dilaksanakan. terutama melalui proses pembelajaran yang berlangsung dalam institusi formal. (2) filsafat merupakan sebuah proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi. apa yang dipandang mutlak dalam agama akan dibakukan atau diobjektivitasikan yang akan mampu mempertahankan keaslian doktrin yang berkaitan dengan kemutlakan. kecerdasan. (5)filsafat berisi sekumpulan problema-problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat. seperti . Dalam era keberagaman (multicultural) seperti sekarang ini. filsafat menjadi induk segala ilmu pengetahuan yang berkembang sejak zaman Yunani kuno sampai zaman modern sekarang. sangat diperlukan sekali adanya kebijakan re-orientasi (konsepsi masyarakat madani) dalam pembelajaran agama (pendidikan Islam). filsafat pendidikan Islam juga bertugas melakukan kritik-kritik tentang medote-metode yang digunakan dalam proses pendidikan Islam serta memberikan pengarahan mendasar tentang bagaimana metode tersebut harus didayagunakan agar tercipta lingkungan sekolah yang kondusif dan sadar akan keberagaman. kekerasan antar kelompok yang terjadi secara sporadis diberbagai kawasan di Indonesia menunjukkan betapa rentannya rasa kebersamaan yang dibangun. pikiran. Karena dengan konsepsi semacam itu. yakni lahirnya ilmu-ilmu keagamaan yang secara sosiologisnya mempermudah dan memperkokoh ikatan primordial komunitas beragama. Huzayyin Arifin (2010 : 3) Bila dilihat dari fungsinya. Akhir-akhir ini. terutama manusia dan alam sekitarnya (lingkungan pendidikan). (4) filsafat ialah analisis logis dari bahasan dan penjelaan tentang arti konsep. filsafat berarti “cinta kepada ilmu” yang berasal dari kataphilo (cinta) dan sophos (ilmu/hikmah).

alam. estetika. bahwa seorang .pendidikan. atau keagamaan (primordialisme) secara kaku. Berdasarkan pada pemahaman tersebut sangat jelas sekali. pemahaman politis.S. politik. melainkan juga terdapat aspek-aspek filsafat lainnya yang dapat digunakan dalam membantu merumuskan masalah pendidikan. dikucilkan atau dikesampingkan dalam aliran utama masyarakat. Dalam konteks keragaman . Kymlicka menekankan pengucilan dan pengesampingan itu sebagai fenomena yang tampak dalam masyarakat modern. dan solidaritas. yakni logika. kritik liberalisme. dengan karakteristiknya sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan (pendidikan Islam). kemajuan diatas kesatuan. sehingga tidak lagi berlandaskan pada sebuah sentiment kesukuan. Tuhan. sesuai dengan apa yang telah disuratkan oleh Allah SWT. pada dasarnya dapat dipahami ke dalam pelbagai pemahaman. Senada dengan hal tersebut.S. Dalam Q. dimana multikulturlisme yang direpresentasikan dengan adanya kelompok budaya minoritas yang menuntut pengakuan atas identitas mereka serta diterima perbedaan budaya mereka. Kedua. Hal ini. melainkan memandang dan memaknai suatu masyarakat sebagai bentuk adanya relativisme budaya. Dan menawarkan paradigma baru yaitu multicultural transformatif. terutama pada aspek yang menjadi pokok bahasan filsafat itu sendiri. pendataan. relasi budaya dan politik. Al-Nisa‟ : 1 dan Q. pertama. Hasil pemikiran filsafat tentang berbagai masalah. bahwa masyarakat multikultural adalah masyarakat yang mampu mengedepankan adanya berbagai keragaman budaya dalam lingkungan masyarakat luas dan meyakini bahwa keragaman tersebut merupakan suatu keniscayaan yang telah menjadi sunatullah yang tidak bisa diingkari dan perlu adanya sebuah konsensus untuk bisa melayani aspirasi dan hak-hak dari masing-masing anggota masyarakat. hak minoritas. etika. Namun istilah tersebut tetap menekankan pada konsep tentang sejumlah kelompok sosial nonetnis. hadir sebagai tantangan bagi masyarakat modern. Karena apapun organisasi keberagamaannya maupun afiliasi organisasi manapun yang menjadi pendiriannya. Selain itu. metafisika. seringkali digunakan dalam arti yang lebih luas. benar atau salah. sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat Kanada pada sektar tahun 1950-an. toleransi. Multikulturalisme menurut Donny Gahral Adian yang dikutip Fahri. manusia. Kalangan politisi memahami multikulturaisme sebagai majemuknya masyarakat secara cultural yang menimbulkan pelbagai persoalan sosial yang menuntut kebijakan-kebijakan tertentu (pengetatan imigrasi. Karena justru dalam keragaman itulah tekandung nilai-nilai yang penting bagi pembangunan eksistensi manusia. Antara lainnya . nilai. karena menurutnya masyarakat yang demikian dapat menjerumuskan kepada sifat balkanisasi kebudayaan. murni atau tidak murni. keberagamaan seorang multikulturalis dalam keragaman menjadi sangat penting. Yasraf Amir Pialang menafikkan adanya masyarakat yang multicultural pluralis. dan sebagainya. Karena menurutnya. (Fahri Hamzah : 2011 : 120). pemahaman akademis. realitas. pengetahuan. cenderung tidak melihat dan mengedepankan masalah keagamaan dan nonkeagamaan secara hitam putih. Kata “multicultural” juga menurut Kymlicka yang dikutip Fahri Hamzah (2011 : 117). memakai istilah Fahri Hamzah. isu-isu multikulturalisme yang menjadi perbincangan akademis antara lain : konsep budaya. yang karena berbagai alasan. Al-Rum : 22. Pemahaman akademis multikulturalisme mendasarkan diri pada filsafat postmodernisme dancultural studies yang menekankan prinsip paralogisme di atas monologisme. kedaerahan. sampai program asimilasi). dengan multikultural transformatif sebuah masyarakat diarahkan untuk menemukan ruang hidupnya lewat pekembangan berbagai subkultur. Multikulturalisme Istilah multikulturalisme diambil dari kata “multicultural” menjadi “multiculturalisme”.

Omar Muhammad Al-Tauny al-Syaebani memberikan definisi. Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia tersebut. Dalam perspektif Islam. bahwa pendidikan Islam diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan… perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islam. Pada tingkat praktis. dengan tujuan yang hendak dicapai yaitu terbentuknya kepribadian peserta didik yang utuh dan mantap sebagai manusia yang taat. serta menyelaraskan fitrah mukhalafah dan fitrah munazzalah dalam semua aspek kehidupannya. potensi diri manusia tersebut diistilahkan dengan fitrah manusia. menumbuhsuburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah. juga berusaha menyelamatkan dan melindungi fitrah manusia. Dengan demikian. Lebih lanjut. Pendidikan Islam Pendidikan Islam adalah studi tentang proses kependidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya. Suatu proses yang diinginkan dalam usaha kependidikan sebagaimana dimaksud adalah proses yang terarah dan bertujuan. masyarakat multikultural juga menunjuk kemungkinan “penyesuaian budaya” atau “dialog budaya” dalam pengalaman individual maupun kelompok. kalau kita bawa ke lingkungan institusi formal seperti sekolah. (Muzayyin Arifin. akhlak mulia. pengendalian diri. Senada dengan hal itu. memberikan definisi pendidikan Islam secara bervariasi. manusia dan alam semesta. bagaimana kiat dan usaha para pendidik itu sendiri bisa memoles peserta . yang pada titik radikalnya (radical status) akan bermakna sebagai paham atas absolutisme budaya. Antara lain: 1. bangsa dan Negara. Pada umumnya. juga harus dilakukan secara langsung dan bertahap. atau paling tidak seorang multikulturalis tidak mengklaim kebenaran yang dianutnya sebagai relatively absolute. Dr. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Bertolak dari pandangan Islam tentang manusia tersebut. Marc Howard Ross yang dikutip Fahri Hamzah menyatakan masyarakat multikulturalime sering kali juga dimaknai sebagai bentuk masyarakat yang meyakini adanya relativisme budaya. Jadi. 2010 : 15). yakni usaha untuk mengarahkan peserta didik kepada arah yang optimal sesuai dengan kemampuannya. dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 ayat (1) dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkanpotensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. dari devinisi tersebut dapat dirumuskan. mengembangkan seluruh potensi manusia baik berbentuk jasmaniyah maupun rohaniyah. kecerdasan. menurut Muhammad Tolchah Hasan yang dikutip Muhaimin. Keanekaan budaya yang masing-masing duduk sama rendah berdiri sama tinggi ini merupakan konsistensi yang disodorkan oleh multikulturalisme. Prof. masyarakat. kepribadian. upaya pendidikan disamping berusaha untuk mengembangkan potensi-potensi fithrah manusia.multikulturalis tidak beragama secara mutlak-mutlakan. pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya. Dari kalangan pemikir Islam sebagai pemerhati pendidkan terutama pendidikan Islam. karena kematangan dan optimalnya perkembangan dan pertumbuhan peserta didik berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan secara bertahap dan terus menerus (kontiunitas).

Karena hal ini merupakan bentuk pemahaman dan pengamalan ajaran Islam itu sendiri. Lebih terperinci. pendidikan Islam harus diletakkan dalam posisi yang tepat. Zarkowi Soejoeti yang dikutip Ngainun Naim & Achmad Sauqi (2010 : 32). pendidikan Islam di sekolah pada dasarnya berusaha untuk bagaimana membina sikap dan perilaku keberagamaan peserta didik itu sendiri. tetapi bagaimana usaha pendidikan agama (Islam) mampu menanamkan perilaku khalq dan khuluqnya. Jadi. (2) filsafat merupakan sebuah proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi. Lebih lanjut.didik agar mampu mengenal siapa dirinya. Imam Barnadib dalam Abuddin Nata (2009) menyatakan bahwa filsafat juga memiliki karakter-karakter sebagai ciri khasnya. dengan mengetahui ajaran agama (knowing). 2. Muhaimin (2009 : 306) Pendidikan Islam dengan pendekatan filsafat Pendidikan merupakan salah satu bentuk ilmu terapan (appliet). jenis pendidikan yang mencakup kedua pengertian di atas. kemudian mempraktekkan tentang apa yang diketahuinya (doing). dapat dipahami bahwa persoalan pendidikan Islam bukan saja mengenai ciri khas suatu lembaga maupun memasukan pelajaran agama sebagai bidang studi “baku” dalam kurikulum. Islam ditempatkan sebagai sumber nilai dan sebagai bidang studi yang ditawarkan melalui program studi yang diselenggarakan. antara lain. jenis pendidikan yang memberikan perhatian dan sekaligus menjadikan ajaran Islam sebagai pengetahuan untuk program studi yang diselenggarakannya. seperti menurut Jalaluddin dan Said dalam Abudin Nata (2009). dalam kerangka fungsional seperti itu. melainkan bagaimana pendidikan Islam yang menyangkut hal fundamental dan urgensi bagi peserta didik bisa mengarah ketujuan yang diinginkan dan diyakini sebagai paling ideal. afektif. Pertama. (3) filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. pendidikan memiliki kaitan erat dengan setiap perubahan peseta didik. maupun psikomotorik. . dan bagaimana dia mampu mengaplikasikan pengetahuan yang didapatnya untuk menyeimbangkan tingkah lakunya dengan lingkungan masyarakat dan alam sekitarnya dengan nilai-nilai yang baik (Islam). Disinilah nantinya diharapkan muncul seperangkat nilai dan norma yang terlembagakan dalam hukum obyektif maupun tradisi yang menjadi control social kearah perkembangan masyarakat yang utuh. jenis pendidikan dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk mengejawantahkan nilai-nilai Islam. Antara lain . Ketiga. tempat bertemunya hasil-hasil berbagai asas filsafat membimbing dan memberi arah kepada semua asas pendidikan lainnya dan menyelaraskannya. Hal ini karena filsafat merupakan bidang garapan ilmu yang memiliki berbagai karakter. baik menyangkut kognitif. Atau dalam pembahasan filsafatnya dapat diistilahkan sebagai peserta didik yang “insan kamil”. Untuk itu. Kedua. baik yang tercermin dalam nama lembaganya maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya. (5) filsafat berisi sekumpulan problema-problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat. Lebih lanjut. Dari ketiga pengertian pada poin dua di atas. Dalam hal ini. (4) filsafat ialah analisis logis dari bahasan dan penjelaan tentang arti konsep. memberikan beberapa pengertian pendidikan Islam. dan mampu beragama atau menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilainilai agama (being). yakni diposisikan dalam kerangka pengembangan akal sehat secara kritis dan kreatif. antara lain . yang tidak hanya difokuskan pada aspek pemahaman (tentang agama) semata. (1) filsafat memiliki sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.

realitas. melainkan juga terdapat aspek-aspek filsafat lainnya yang dapat digunakan dalam membantu merumuskan masalah pendidikan. Tuhan. Imam Barnadib sebagaimana dikutip. berpotensi mengarah pada sikap toleran atau intoleran. logika. dengan hal seperti itu manusia (peserta didik) bukan hanya meyakini wahyu yang diturunkan dengan mendalaminya secara tekstual saja tanpa membarenginya dengan kajian yang kritis dan pantas berdasarkan fakta-fakta yang ada di lingkungan sekelilingnya. Dari karakter-karakter filsafat sebagaimana tersebut di atas. Sebagai pandangan dan sikap hidup. dan logika yang terdapat dalam filsafat amat diperlukan bagi pengembangan ilmu pendidikan (Abuddin Nata.karena penjelasan-penjelasan dan arahan dari para guru agama yang bersifat doktriner. terutama pada aspek yang menjadi pokok bahasan filsafat itu sendiri. (2) filsafat juga mengedepankan berpikir secara sadar. maka bisa jadi akan melahirkan sikap-sikap intoleran dan agama diposisikan sebagai faktor diintegratif atau intoleransi. filsafat bukan hanya sekedar memberikan sumbangan berupa prinsip berpikir filosofis dalam memecahkan berbagai masalah. Pendidikan Multikultural Pendidikan Islam memang merupakan suatu upaya pendidikan dan ajaran nilai-nilai Islam menjadi way of life seseorang. pengetahuan. termasuk guru agama. mengingat apa yang menjadi obyek filsafat juga menjadi obyek pendidikan. Pengetahuan tentang pandangan dunia ini termasuk kajian metafisika dalam filsafat. afektif serta psikomotor. nilai. tekstual dan scriptural. 2009 : 46) Fenomena-fenomena tersebut akan muncul apabila pandangan teologi agama dan ajaran yang dipegangi bersifat ekstrim. Hal yang penting lainnya adalah bahwa dalam menyelenggarakan pendidikan perlu diketahui tentang pandangan dunia (world vieuw) terhadap pendidikan yang diperlukan masyarakat pada masanya. lebih lanjut mengatakan. lingkungan sosio-kultural yang mengelilinginya. hubungan antara filsafat dan pendidikan sangat erat. nilai-nilai tersebut akan bisa berimplikasi positif maupun negatif. Demikian pula dengan keberadaan kajian tentang epistemologi. dan peranan dan pengaruh pemuka agama. bahwa dengan memahami serta menerapkan aspek-aspek tersebut. estetika. Dalam hubungannya dengan pendidikan. bahwa hasil pemikiran filsafat tentang berbagai hal tersebut dapat digunakan dengan baik. . dalam mengarahkan pengikutnya (Muhaimin. teliti. manusia. Sebab.(1) bahwa filsafat memiliki pandangan yang menyeluruh dan sistematis. Dengan demikian. maka pendekatan dengan filsafat sangat tepat kiranya untuk menjawab semua isu-isu keragaman akhir-akhir ini. dan secara sekaligus akan cakap dalam kognitif. Fenomena-fenomena tersebut tidak menutup kemungkinan akan banyak ditentukan setidaknya oleh pandangan teologi agama dan doktrin ajarannya. peserta didik akan mampu mengenal lebih jauh lagi tentang eksistensi dan tujuannya diciptakan. Jadi sangatlah jelas. etika. Kuatnya hubungan tersebut disebabkan karena kedua disiplin ilmu tersebut meghadapi problemaproblema filsafat secara bersama-sama. aksiologi. dan sebagainya. dibarengi dengan model pemahaman dan penghayatan agama yang simbolik. Namun demikian. metafisika. 2009 : 101). Jalaluddin & Abdullah memberikan penjelasan bahwa hasil pemikiran filsafat tentang berbagai masalah dengan karakteristiknya sangat dibutuhkan oleh pendidikan. rigid dan mengembangkan sikap fanatisme buta serta dukungan oleh lingkungan sosio-kultural yang eksklusif. masyarakat. sebab penanaman konsep nilai semacam itu berpotensi mewujudkan pada sikap integrasi atau disintrgrasi. yaitu. dan teratur sesuai dengan hukum-hukum yang ada. politik. sikap dan perilaku pemeluknya dalam memahami dan menghayatai agama tersebut. alam.

ada beberapa aspek yang dapat dikembangkan dari konsep pendidikan Islam pluralis-multikultural tersebut. peserta didik diharapkan memiliki rasa hormat dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap harkat dan martabat manusia tanpa memandang latar belakang kehidupannya. dan kesadaran anak didik terhadap realita pluralis-multikultural yang ada. Untuk mewujudkan upaya-upaya tersebut. Pendidikan merupakan bentuk usaha yang dilakukan untuk membina dan mengembangkan pribadi manusia (peserta didik) secara langsung dan bertahap. akan berimplikasi pada sikap husnudzan serta akan memiliki akhlakul karimah. : 2010 : 50). memperkuat serta memperluas wawasan keislaman peserta didik. Dengan demikian. Secara terperinci. Pada umumnya. selain ketiga aspek tersebut menurut A. 2. Kedua. kedaerahan. (2) mempertegas misi penyempurnaan akhlak (liutammima makarimalakhlak). . Ketiga. Paradigma multikultural transformatif merupakan pandangan atau usaha yang bisa mengarahkan masyarakat untuk menemukan ruang hidupnya lewat pekembangan berbagai subkultur. pemahaman. dan aliran (agama) (Ngainun Naim & Achmad Sauqi. etnis. sehingga tidak lagi berlandaskan pada sebuah sentiment kesukuan. karena kematangan dan optimalnya perkembangan dan pertumbuhan peserta didik berlangsung melalui proses pendidikan. social dan agama. Karena pendidikan multicultural sebagaimana disebutkan Ainurrafik Dawam. 3. ramah menyapa pebedaan budaya. 2009 : 47). suku. termasuk spiritualisasi berbagai aturan hidup untuk membangun bangsa yang beradab (Muhaimin. yakni pendidikan Islam dikemas dalam watak multicultural. pendidikan Islam pluralis-multikultural adalah pendidikan yang menghargai dan merangkul segala bentuk keragaman. masyarakat multikulturalisme merupakan masyarakat yang mampu mengedepankan adanya berbagai keragaman budaya dalam lingkungan masyarakat luas dan meyakini bahwa keragaman tersebut merupakan suatu keniscayaan yang telah menjadi sunatullah yang tidak bisa diingkari. pendidikan Islam pluralis-multikultural akan mampu menumbuhkan kearifan berpikir anak didik dalam melihat segala bentuk perbedaan. karena dengan keluasan wawasan keislaman tentang keberagaman. baik terhadap sesama agama maupun kepada orang lain. maka pengembangan pendidikan sangatlah tepat apabila bisa diterapkan dalam dunia pendidikan (lembaga sekolah). Malik Fadjar pendidikan Islam perlu untuk dikembangkan lagi ke arah : (1) pendidikan Islam Multikulturalis.Dalam rangka merespons tantangan dunia pendidikan tersebut. yakni proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghadapi pluralitas dan heterogenitanya sebagai konsekuensi keragaman budaya. pendidikan pluralis-multikultural merupakan sebuah usaha sistematis untuk membangun pengertian. antara lain : pertama. pendidikan seperti itu. Dengan demikian. pendidikan pluralis-multikultural memberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembangnya sense of self kepada setiap anak didik (Ngainun Naim & Achmad Sauqi. Penutup Kesimpulan 1. Lebih lanjut. atau keagamaan (primordialisme) secara kaku. dan (3) spiritual watak kebangsaan. dan anak didik dengan leluasa memposisikan dirinya untuk mengapresiasikan potensi dan karakter yang dimilikinya. diharapkan kepada guru selaku pendidik untuk mau berusaha meningkatkan. : 2010 : 54).

2009. Filsafat. karena apapun persoalan yang dihadapi ilmu pendidikan yang menyangkut kajian epistemologi. Teknologi. 7. dan sebuah bentuk usaha sistematis untuk membangun pengertian. dan logika terdapat dalam filsafat. Hukum. Informasi. DAFTAR PUSTAKA Arifin. merupakan bentuk pendidikan yang mempertegas adanya misi penyempurnaan akhlak dalam Islam (liutammima makarimalakhlak) yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Ngainun & Achmad Sauqi. 2009. dan kesadaran anak didik terhadap realita pluralis-multikultural yang ada. 2010. Psikologi. Sejarah. Fahri. Cetakan Kelima. Pasar dan Rakyat: Pencarian Makna. Pendidikan Islam Multikulturalis. Relevansi dan Tujuan. 2010. Ilmu Pendidikan Islam Dengan : Pendekatan Multidisipliner Normatif Perenialis. Pendidikan Multikultural : Konsep dan Aplikasi. Filsafat Pendidikan Islam (Edisi Revisi). Cetakan II. Nata. Sosiologi. aksiologi. __ : Yayasan Faham Indonesia. dan anak didik dengan leluasa memposisikan dirinya untuk mengapresiasikan potensi dan karakter yang dimilikinya. 2011. pemahaman. 6. Kebudayaan. 5. Pendidikan Islam pluralis-multikultural merupakan bentuk pendidikan yang bisa menumbuhkan kearifan berpikir anak didik dalam melihat segala bentuk perbedaan. Politik. Jakarta : Rajawali Pers. Abuddin. Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan. Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. Jakarta : Rajawali Pers. Wallahu ‘alam bi shawwab. Manajemen. Pendidikan Islam pluralis-multikultural adalah pendidikan yang menghargai dan merangkul segala bentuk keragaman. antara filsafat dan pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat. Jakarta : Bumi Aksara. Manajemen Kelembagaan. Muzayyin. Muhaimin. . Cetakan Kedua. Naim. Hamzah. Jogjakarta : ArRuzz Media. Negara.4.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->