P. 1
Psikologi Perdamaian

Psikologi Perdamaian

|Views: 290|Likes:
Published by Melissa Imel
identifikasi konflik,proses pencarian solusi intervensi yang diberikan, dan mediatornya
identifikasi konflik,proses pencarian solusi intervensi yang diberikan, dan mediatornya

More info:

Published by: Melissa Imel on May 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2015

pdf

text

original

Tugas Psiskologi Perdamaian

ANALISA KASUS KONFLIK MASYARAKAT DESA LAMPANAH DAN PT SAMANA CITRA AGUNG KABUPATEN ACEH BESAR

DISUSUN OLEH : MELISSA 0807101150011

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH 2012

A.

Identifikasi Masalah Adapun konflik yang terjadi di desa Lampanah, Kabupaten Aceh Besar adalah ketidaksetujuan masyarakat Lampanah terhadap aktivitas perusahaan tambang pasir besi PT. Samana Citra Agung sejak tahun 90an dan kekecewaan masyarakat atas keputusan pemerintah kabupaten Aceh Besar yang memperpanjang izin perusahaan tersebut, padahal seharusnya izin tersebut berakhir tahun 2012 akan tetapi diperpanjang hingga tahun 2021, tanpa melibatkan dan menanyakan persetujuan masyarakat desa Lampanah. Selanjutnya ada pula perusahaan tambang lain yakni PT Bina Meukuta Alam yang meminta izin untuk beraktivitas akan tetapi masyarakat masih menolak. Masayarakat desa Lampanah mengancam akan terjadi pertumpahan darah jika aktivitas perusahaan tambang tetap berjalan. Masyarakat juga merasa bahwa adanya perusahaan tambang di Lampanah tidak juga membuat masyarakat sejahtera, infrastruktur juga hancur, dan kurangnya perhatian dari perusahaan tambang dan pemerintah terhadap masyarakat setempat. Menurut Panglima Laot Lampanah, Darkasyi Daud, pertambangan di Aceh Besar sudah merusak mata pencaharian nelayan di Lampanah. Kini nelayan harus mencari ikan diatas 10 mil dan sangat jauh. Sementara dulu kawasan Lampanah merupakan kawasan penghasil ikan terbanyak. Akan tetapi sejak adanya tambang pasir besi itu terumbu karang sudah rusak, prasarana jalan lintas kabupaten juga sudah hancur dan kehidupan masyarakat juga tidak sejahtera. Masalah inilah yang menjadi pertimbangan masyarakat untuk menolak tambang.(theglobejournal.com) Merujuk pada kajian sosial, menurut Hidayati, Yogaswara, & Djohan (2005) struktur peranan yang dimainkan dalam suatu wilayah dapat memicu terjadinya konflik. Suatu kegiatan yang tidak memberikan ruang partisapasi bagi masyarakat lokal dan pemimpin lokal, berpotensi besar untuk terjadinya konflik di lapangan. Akibatnya kegiatan maupun keputusan yang diterima masyarakat cenderung ditolak karena dirasa merugikan masayarakat. Hal ini lah yang terjadi di desa lampanah, kurangnya partisipasi atau keikutsertaan pemimpin lokal dalam pengambilan keputusan untuk memperpanjang izin perusahaan tambang tersebut yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Aceh besar membuat kekecewaan masyarakat Lampanah sehingga timbul konflik horizontal dengan pemerintah daerah. Selanjutnya, dampak yang dirasakan masyarakat akibat adanya

perusahaan tambang yang mengakibatkan terbatasnya jumlah pendapatan para nelayan juga menyebabkan konflik antara masyarakat dengan perusahaan tambang tersebut karena dirasa tidak memberikan kontribusi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

B.

Proses Pencarian Solusi Secara umum strategi resolusi konflik harus dimulai dengan pengetahuan yang mencukupi tentang peta atau profil konflik sosial yang terjadi di suatu kawasan. Dengan berbekal peta tersebut, segala kemungkinan dan peluang resolusi konflik diperhitungkan dengan cermat, sehingga setiap manfaat dan kerugiannya dapat dikalkulasikan dengan baik (Darmawan, 2006). Merujuk pada kasus konflik yang terjadi antara masyarakat desa Lampanah dan Perusahaan Tambang Samana Citra Agung, resolusi konflik bisa dilakukan dengan
pendekatan politik melalui lembaga-lembaga politik yang dibuat melalui proses pemilihan yang melibatkan masyarakat melalui lobi dan penggunaan pengaruh orang atau tokoh tertentu. Dalam upaya resolusi konflik ini sendiri, masyarakat desa Lampanah sudah membentuk komite

fasilitator tambang pada 1 Januari 2012, yang berasal dari aparatur gampong yakni Tuhapeut, Pemuda, Geuchik, Mukim sebanyak 34 orang. Adapun pendekatan yang telah dilakukan adalah pendekatan mediasi. Menurut Ashby (dalam Baiquni & Rijanta, 2005) pendekatan mediasi adalah adanya bantuan pihak lain (bukan pembuat keputusan) untuk membantu penyelesaian konflik. Dalam proses mediasi ini, komite fasilitator tambang sudah melakukan pertemuan dengan PT Samana Citra Agung akan tetapi belum menghasilkan keputusan yang jelas. Sementara itu untuk perusahaan PT. Bina Meukuta Alam juga telah dilakukan pertemuan sebanyak lima kali akan tetapi belum ada keputusan apakah perusahaan tersebut di izinkan untuk beraktivitas karena masyarakat masih menolak aktivitas perusahaan tambang karena dianggap akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan mata pencaharian warga setempat.

C.

Intervensi Menurut Prof. Sumardjo (2010), konflik sosial yang terjadi dan tidak terkelola dapat berdampak pada lemahnya produktivitas masyarakat maupun pihak terkait, karena iklim lingkungan sosial yang tidak kondusif. Sebaliknya bila, potensi konflik sosial bila dapat dikelola dengan baik dapat berdampak positif bagi upaya mewujudkan kesejahteraan sosial, namun bila kurang mampu mengelolanya maka dapat berdampak buruk bagi kedamaian, keserasian kehidupan sosial di kawasan tersebut. Pada tingkat yang paling dasar, kesejahteraan manusia yang beradab adalah kemampuan manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu : kecukupan pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan (Sumardjo, 2010). Apabila kebutuhan dasarnya tersebut terpenuhi, kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai kondisi aman pertama dalam kesejahteraan manusia. Pada kasus konflik antara masyarakat desa Lampanah dan PT Samana Citraa Agung dimana masyarakat merasa bahwa terhambatnya usaha mereka dalam pencaharian rezeki akibat batas standart untuk menangkap ikan yang dirasa cukup jauh dan rusaknya terumbu karang di sekitar daerah tambang, maka dapat dilihat merujuk teori kebutuhan manusia bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi. Sehingga adapun intervensi yang dapat dilakukan adalah dengan mengidentifikasi dan

mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, serta menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan itu (Nikson, 2009). Untuk itu, adapun intervensi yang dapat dilakukan dari pertemuan antara komite fasilitator tambang dan PT Samana Citra Agung antara lain : 1. Melibatkan komite fasilitator tambang (sebagai jaringan komunitas masyarakat adat) bersama pemerintah daerah dalam proses pengambilan keputusan untuk

memperpanjang izin beroperasi atau beraktivitas perusahaan tersebut. 2. PT Samana Citra Agung berjanji untuk meningkatkan pengawasan dan penjagaan lingkungan terutama terumbu karang yang berada di kawasan industri. 3. PT Samana Citra Agung ikut serta bersama pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa Lampanah melalui program-program serta bantuan

seperti mesin genset untuk perahu sehingga masyarakat desa Lampanah yag bekerja sebagai nelayan dapat menjangkau wilayah 10 mil dari kawasan tambang untuk menangkap ikan. 4. Melakukan sosialisasi dan menjalin hubungan serta kerjasama dengan warga setempat dengan meningkatkan pendidikan melalui pelatihan-pelatihan industri rumah tangga maupun meningkatkan pembangunan konstruksi desa yang rusak. Sehingga apabila intervensi diatas dilaksanakan maka secara tidak langsung masyarakat desa Lampanah akan mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.

D.

Mediator Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mediasi adalah suatu proses

pengikutsertaan pihak ketiga dalam penyelesaian suatu perselisihan sebagai penasihat. Sedangkan mediator adalah perantara (penghubung, penengah) bagi pihak-pihak yang bersengketa (Nikson, 2009). Pada kasus masyarakat desa Lampanah dan PT Samana Citra Agung, yang menjadi mediator adalah komite fasilitator tambang dan pemerintah. Dimana fasilitator tambang adalah aparatur gampong yang terdiri Tuhapeut, Pemuda, Geuchik, dan Mukim sebanyak 34 orang. Fasilitator tambang ini merupakan orang-orang yang berada pada Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA). Dimana menurut Darmawan (2006), penyelesaian konflik sebaiknya diletakkan kembali dalam bingkai lokalitas dan didekati secara lokalitas pula dan yang terpenting adalah selalu melibatkan semua pihak terkait dalam konflik untuk berpartisipasi aktif dalam mencari solusi konflik. Di Aceh sendiri dalam konteks sosial, budaya, dan sejarah Aceh, keberadaan masyarakat adat sudah diakui sejak tempo dulu. Secara umum mereka sering kali menyebut diri mereka sebagai ureueng Aceh (orang Aceh). Lebih khusus, terdapat beberapa kelompok etnik/ adat dengan identitas dan keberadaan sesuai sejarah keturunan, unit-unit wilayah, dialek atau bahasa ibu, sosial dan budaya, hukum-hukum tradisional, yang setiap kelompok komunitas ini merupakan kelompok otonom dan independen dalam mengatur komunitasnya sebagaimana halnya pengelolaan sumber daya alam (www.jkmaaceh.org).

DAFTAR PUSTAKA

Baiquni, M., Rijanta, R. (2005). Konflik pengelolaan lingkungan dan sumberdaya dalam era otonomi dan transisi masyarakat (pemahaman teoritis dan pemaknaan empiris). Di unduh dari http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/2(1).pdf Darmawan, A.H.(2006).Konflik-Sosial dan Resolusi Konflik: Analisis Sosio-Budaya (Dengan Fokus Perhatian Kalimantan Barat). Diunduh dari http://dosen.narotama.ac.id/wpcontent/uploads/2012/03/Konflik-Sosial-dan-Resolusi-Konflik-Analisis-Sosio-BudayaDengan-Fokus-Perhatian-Kalimantan-Barat.pdf Hidayati, D., Yogaswara, H., Djohan, E.(2005). Manajemen Konflik Delta Mahakam. Piramida Publishing. Nikson, W. (2009). Studi Kasus Penyelesaian Konflik Kewenangan Di Laut Dalam Penegakan Hukum, Keselamatan Dan Keamanan Serta Perlindungan Laut/Maritim. Diunduh dari http://www.bakorkamla.go.id/images/doc/isbn9786028741088.pdf Sumardjo (2010). Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pengelolaan Konflik Sosial pada Perkebunan Kelapa Sawit di Propinsi Riau. Diunduh dari http://care.staff.ipb.ac.id/files/2011/05/MODEL-PEMBERDAYAAN-MASYARAKATDAN-PENGELOLAAN-KONFLIK-SO.pdf

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->