P. 1
Askep Maternitas

Askep Maternitas

|Views: 2,254|Likes:

More info:

Published by: Ofan Sofyan Chiie'pencariekebahagiaan on May 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

Sections

  • ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM RISIKO TINGGI A. DEFINISI
  • B. ETIOLOGI
  • C. FAKTOR RISIKO
  • D. MANIFESTASI KLINIS
  • E. KOMPLIKASI
  • F. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN
  • DIAGNOSA KEPERAWATAN
  • INTERVENSI
  • ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI KEHAMILAN A. DEFINISI
  • B. PATOFISIOLOGI
  • Diagnosa Keperawatan
  • Intervensi
  • A. Pengertian
  • B. Etiologi
  • C. Faktor Risiko
  • D. Tanda & Gejala
  • E. Stadium
  • G. PENATALAKSANAAN
  • 2. Diagnosa Keperawatan
  • 3.Tujuan dan Intervensi
  • Daftar Pustaka
  • ASKEP IBU HAMIL DENGAN DM TINJAUAN TEORI A. Pengertian
  • C. Klasifikasi Diabetes Melitus
  • D. Epidemitologi
  • E. Pengaruh Diabetes Melitus Terhadap Kehamilan
  • F. Pencegahan
  • G. Terapi
  • ASUHAN KEPERWATAN Diagnosa Keperawatan
  • ASKEP IBU HAMIL DENGAN HYPERTIROID TINAJUAN TEORI
  • Pengertian
  • Etiologi
  • Faktor Resiko
  • Patofisologi
  • Manifetasi Klinis
  • Klasifikasi
  • Komplikasi
  • Pemeriksaan Penunjang
  • Pencegahan
  • KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
  • Circulatory Care
  • PREMATUR KEHAMILAN DEFINISI
  • GEJALA
  • ASKEP PREMATUR KEHAMILAN
  • DARTAR PUSTAKA
  • POAT MATUR KEHAMILAN
  • ASUHAN KEPERWATAN I. Dx PostMatur Kehamilan
  • Askep Perdarahan Ante Partum A. Pengertian
  • C. Patofisiologi
  • E. Komplikasi
  • F. Penatalaksanaan
  • Konsep Asuhan Kep 1. Pengkajian
  • 4. Evaluasi
  • F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
  • H. PENCEGAHAN
  • ASUHAN KEPERWATAN A. PENGKAJIAN
  • B. DIAGNOSA
  • C. INTERVENSI
  • C. Lokalisasi Mioma Uteri
  • D. Komplikasi
  • E. Pemeriksaan Diagnostik
  • F. Cara Penanganan Mioma Uteri
  • KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian … B. Diagnosa Keperawatan
  • Rencana Keperawatan Dx 1
  • Dx 2
  • • Sebelum Operasi
  • Patofisiologi
  • Manifestasi Klinis
  • Diagnosa Banding
  • Penatalaksanaan
  • Diagnosis
  • Penanganan
  • KONSEP ASUHAN KEPERWATAN
  • Diagnosa Keperwatan
  • Intervensi Keperwatan
  • TINJAUAN TEORI Pengertian
  • Tingk
  • at Kriteria
  • Tanda dan Gejala
  • Prognosis
  • Penatalaksaan Medis
  • KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN Pengkaijan
  • Evaluasi

ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan

janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Jenis – jenis operasi sectio caesarea 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) 2. Sectio caesarea transperitonealis 3. SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : 1. Mengeluarkan janin dengan cepat 2. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik 3. Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan 1. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik 2. Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan 3. SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : 1. Penjahitan luka lebih mudah 2. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik 3. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum 4. Perdarahan tidak begitu banyak 5. Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : 1. Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak 2. Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi 3. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal 2. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. Sayatan huruf T ( T insicion ) Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan

resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) ϖ Fetal distress ϖ His lemah / melemah ϖ Janin dalam posisi sungsang atau melintang ϖ Bayi besar ( BBL ³ 4,2 kg ) ϖ Plasenta previa ϖ Kalainan letak ϖ Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) ϖ Rupture uteri mengancam ϖ Hydrocephalus ϖ Primi muda atau tua ϖ Partus dengan komplikasi ϖ Panggul sempit ϖ Problema plasenta ϖ Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : 1. Infeksi puerperal ( Nifas ) 2. Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari 3. Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung 4. Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik 5. Perdarahan 6. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka 7. Perdarahan pada plasenta bed 8. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi 9. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya 10. Post Partum Definisi Puerperium / Nifas Nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002) Nifas adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983) Periode Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum Minggu pertama post partum. 3. Late post partum

Minggu kedua sampai dengan minggu keenam. Tujuan Asuhan Kepeawatan ϖ Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. ϖ Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. ϖ Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. ϖ Memberikan pelayanan keluarga berencana. Tanda dan Gejala 1. Perubahan Fisik 2. Sistem Reproduksi 3. Uterus 4. Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. o Lochea o Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe.  Tahap  Rubra (merah) : 1-3 hari.  Serosa (pink kecoklatan)  Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. ϖ Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. ϖ Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. ¬ Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. ¬ Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. ¬ Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi. ¬ Perineum ¬ Episiotomi

urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. ϖ Sistem Muskuloskeletal . ϖ Jantung Kembali ke posisi normal. ϖ Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 – 500 cc. sesaria : 600 – 800 cc. RR : 16-24 x/menit. ϖ Nafsu makan kembali normal.Penyembuhan dalam 2 minggu. LH. leukosit meningkat. ϖ Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama. ϖ Sistem Gastrointestinal ϖ Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. ϖ Sistem Endokrin ϖ Hormon Plasenta ϖ HCG (-) pada minggu ke-3 post partum. tidak ditemukan pada minggu I post partum. diuresis mulai 12 jam. ϖ Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal. ϖ Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal ϖ Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). ϖ Sistem Urinaria ϖ Edema pada kandung kemih. puting mudah erektil bila dirangsang. menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH. ϖ Perubahan hematologik Ht meningkat. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari.5 kg. ϖ Sistem Kardiovaskuler ϖ Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin. ϖ Pada fungsi ginjal: proteinuria. neutrophil meningkat. engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari. Pada payudara yang tidak disusui. keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. ϖ Kehilangan rata-rata berat badan 5. ϖ Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. COP meningkat dan normal 2-3 minggu. progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi.

periksa redness. dan perubahan warna. warna. urinalisis. • Uterus Konsistensi dan tonus. Diastasis rekti 2-4 cm. tenderness. jam II tiap 30 menit • 24 jam I : tiap 4 jam • Setelah 24 jam : tiap 8 jam • Monitor Tanda-tanda Vital • Payudara Produksi kolustrum 48 jam pertama. posisi tinggi dan ukuran. bau dan adanya gumpalan. • Attachment yang mempengaruhi dari faktor ibu. ϖ Sistem Imun Rhesus incompability. hematoma. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM FISIOLOGIS PENGKAJIAN • Pemeriksaan Fisik • Monitor Keadaan Umum Ibu • Jam I : tiap 15 menit. . • Baby Blues: Mulai terjadinya. • Perineum Episiotomi. • Perubahan Psikologis • Peran Ibu meliputi: Kondisi Ibu. drainase. discharge dan approximation. hemoroid dan bising usus. respon depresi dan psikosis. • Ekstremitas Tanda Homan. memar. • Insisi SC Balutan dan insisi.Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. • Kandung Kemih dan Output Urine Pola berkemih. konflik peran. • Diagnostik Jumlah darah lengkap. ϖ Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. faktor keluarga. sebagai orang tua. Kemerahan menandakan infeksi. usia ibu. jumlah. kembali normal 6-8 minggu post partum. ayah dan bayi. • Lochea Tipe. diberikan anti RHO imunoglobin. dan nyeri. kondisi bayi. faktor sosial-ekonomi. jumlah distensi. • Bowel Pergerakan usus. adakah anxietas. edema. • Perubahan Psikologis • Perubahan peran. laserasi dan hemoroid. marah. edema.

• Baby Blues merupakan gangguan perasaan yang menetap. • Faktor-faktor Risiko • Duerdistensi uterus • Persalinan yang lama • Episiotomi/laserasi • Ruptur membran prematur • Kala II persalinan • Plasenta tertahan • Breast feeding PANGGUL SEMPIT Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut : • Kesempitan pintu atas panggul • kesempitan bidang bawah panggul • kesempitan pintu bawah panggul • kombinasi kesempitan pintu atas pangul. seluruha panggul sempit picak dan lain-lain • Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang • Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang • kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong • sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah . panggul sempit. • Kesempitan pintu atas panggul Pintu atas panggul dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 9½ cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm. Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit. bidang tengah dan pintu bawah panggul. maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10cm dapat menimbulkan kesulitan. ukuran melintang biasa • Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran muka belakang • Panggul corong :pintu atas panggul biasa.pintu bawah panggul sempit • Panggul belah : symphyse terbuka • kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya • Panggul rachitis : panggul picak. biasanya pada hari III dimungkinkan karena turunnya hormon estrogen dan pergeseran yang mempengaruhi emosi ibu. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut : • Kelainan karena gangguan pertumbuhan • Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil • Panggul picak : ukuran muka belakang sempit.

• Pengaruh panggul sempit pada kehamilan dan persalinan Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan maupun persalinan. Nekrosa menimbulkan fistula vesicovaginalis atau fistula recto vaginalis. • Pengaruh pada kehamilan • Dapat menimbulkan retrafexio uteri gravida incarcerata • Karena kepala tidak dapat turun maka terutama pada primi gravida fundus atau gangguan peredaran darah Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung Perut yang menggantung pada seorang primi gravida merupakan tanda panggul sempit • Kepala tidak turun kedalam panggul pada bulan terakhir • Dapat menimbulkan letak muka. karena bagian depan kurang menutup pintu atas panggul selanjutnya setelah ketuban pecah kepala tidak dapat menekan cervix karena tertahan pada pintu atas panggul • Pada panggul sempit sering terjadi kelainan presentasi atau posisi misalnya : • Pada panggul picak sering terjadi letak defleksi supaya diameter bitemporalis yang lebih kecil dari diameter biparietalis dapat melalui conjugata vera yang sempit itu. Fistula vesicovaginalis lebih sering terjadi karena kandung kencing tertekan antara kepala anak dan . • Biasanya anak seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil dari pada ukuran bayi pukul rata. Asynclitismus sering juga terjadi. Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. Infeksi ini tidak saja membahayakan ibu tapi juga dapat menyebabkan kematian anak didalam rahim. • Karena gangguan pembukaan • Karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak Kelainan pembukaan disebabkan karena ketuban pecah sebelum waktunya. luxatio. • Pengaruh pada persalinan • Persalinan lebih lama dari biasa. yang diterapkan dengan “knopfloch mechanismus” (mekanisme lobang kancing) • Pada oang sempit kepala anak mengadakan hyperflexi supaya ukuran-ukuran kepala belakang yang melalui jalan lahir sekecil-kecilnya • Pada panggul sempit melintang sutura sagitalis dalam jurusan muka belang (positio occypitalis directa) pada pintu atas panggul. letak sungsang dan letak lintang. Disamping itu mungkin pula ada exostase atau fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul. Kadang-kadang karena infeksi dapat terjadi tympania uteri atau physometra. atrofia.coxitis. • Dapat terjadi ruptura uteri kalau his menjadi terlalu kuat dalam usaha mengatasi rintangan yang ditimbulkan oleh panggul sempit • Sebaiknya jika otot rahim menjadi lelah karena rintangan oleh panggul sempit dapat terjadi infeksi intra partum. • Terjadi fistel : tekanan yang lama pada jaringan dapat menimbulkan ischaemia yang menyebabkan nekrosa.

Terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal) malahan dapat terjadi fraktur impresi. scoliose. Terutama kalau diameter biparietalis berkurang lebih dari ½ cm.symphyse sedangkan rectum jarang tertekan dengan hebat keran adanya rongga sacrum. • Pengaruh pada anak • Patus lama misalnya: yang lebih dari 20 jam atau kala II yang lebih dari 3 jam sangat menambah kematian perinatal apalagi kalau ketuban pecah sebelum waktunya.5-10 cm hasil persalinan tergantung pada banyak faktor : • Riwayat persalinan yang lampau . • Prolapsus foeniculli dapat menimbulkan kematian pada anak • Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak. Kalau terjadi symphysiolysis maka pasien mengeluh tentang nyeri didaerah symphyse dan tidak dapat mengangkat tungkainya. Karena itu kalau CV < 8 ½ cm dilakukan SC primer ( panggul demikuan disebut panggul sempit absolut ) Sebaliknya pada CV antara 8. malahan kadang – kadang ruptur dari articulatio scroilliaca. yang paling sering adalah kelumpuhan N. • Parase kaki dapat menjelma karena tekanan dari kepala pada urat-urat saraf didalam rongga panggul . • Ruptur symphyse dapat terjadi . • Persangkaan Panggul sempit Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau : • Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36 • Pada primipara ada perut menggantung • pada multipara persalinan yang dulu – dulu sulit • kelainan letak pada hamil tua • kelainan bentuk badan (Cebol. jadi derajat kesempitan • Kemungkinan pergerakan dalam sendi-sendi panggul • Besarnya kepala dan kesanggupan moulage kepala • Presentasi dan posisi kepala • His Diantara faktor faktor tersebut diatas yang dapat diukur secara pasti dan sebelum persalinan berlangsung hanya ukuran-ukuran panggul : karena itu ukuran – ukuran tersebut sering menjadi dasar untuk meramalkan jalannya persalinan. Sebaliknya kalau CV 8 ½ cm atau lebih persalinan pervaginam dapat diharapkan berlangsung selamat.pincang dan lain-lain) • osborn positip • Prognosa Prognosa persalinan dengan panggul sempit tergantung pada berbagai faktor • Bentuk panggul • Ukuran panggul. Menurut pengalaman tidak ada anak yang cukup bulan yang dapat lahir dengan selamat per vaginam kalau CV kurang dari 8 ½ cm. Peroneus . selain itu mungkin pada tengkorak terdapat tanda-tanda tekanan.

Persalinan percobaan dikatakan berhasil kalau anak lahir pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forcepe atau vacum) dan anak serta ibu dalam keadaan baik. Persalinan percobaan dilakukan hanya pada letak belakang kepala. Kalau dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap kepala janin tidak turun sampai H III maka test of labor dikatakan berhasil. Kalau SC dilakukan atas indikasi tersebut dalam golongan 2 (dua) maka pada persalinan berikutnya tidak ada gunanya dilakukan persalinan percobaan lagi Dalam istilah inggris ada 2 macam persalinan percobaan : • Trial of labor : serupa dengan persalinan percobaan yang diterngkan diatas • test of labor : sebetulnya merupakan fase terakhir dari trial of labor karena test of labor mulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam sesudahnya. Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir setelah kita mendapatkan keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung per vaginam atau setelah anak lahir per vaginam.kepala dalam 2 jam tidak mau masuk ke dalam rongga panggul walaupun his cukup kuat • Forcepe gagal Dalam keadaan-keadaan tersebut diatas dilakukan SC. jadi tidak dilakukan pada letak sungsang.• besarnya presentasi dan posisi anak • pecahnya ketuban sebelum waktunya memburuknya prognosa • his • lancarnya pembukaan • infeksi intra partum • bentuk panggul dan derajat kesempitan karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil persalinan pada panggul dengan CV antara 8 ½ – 10cm (sering disebut panggul sempit relatip) maka pada panggul sedemikian dilakukan persalinan percobaan. Kita menghentikan presalianan percobaan kalau: • – pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuaannya • Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik • Kalau ada lingkaran retraksi yang patologis • – setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban. • Persalinan percobaan Yang disebut persalinan percobaan adalah untuk persalinan per vaginam pada wanita wanita dengan panggul yang relatip sempit. letak muka atau kelainan letak lainnya. Sekarang test of labor jarang dilakukan lagi karena: • Seringkali pembukaan tidak menjadi lengkap pada persalinan dengan panggul sempit • kematian anak terlalu tinggo dengan percobaan tersebut • kesempitan bidang tengah panggul bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah symphysis dan spinae ossis ischii dan memotong sacrum kira-kira pada pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 . letak dahi.

karena ekstraksi dengan forceps memperkecil ruangan jalan lahir. harus diukur secara rontgenelogis.5 atau kurang ( normal 10. Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi.5 cm = 18. • Terapi Kalau persalinan terhenti karena kesempitan bidang tengah panggul maka baiknya dipergunakan ekstraktor vacum. penyakit vaskuler perifer atau stasis . • Kesempitan pintu bawah panggul: Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segi tiga dengan jarak antar tuberum sebagai dasar bersamaan Ukuran – ukuran yang penting ialah : • Diameter transversa (diameter antar tuberum ) 11 cm • diameter antara posterior dari pinggir bawah symphyse ke ujung os sacrum 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke ujung os sacrum 7 ½ cm pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul. • Pengkajian • Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung.5 cm ) Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit.Ukuran yang terpenting dari bidang ini adalah : • Diameter transversa ( diameter antar spina ) 10 ½ cm • diameter anteroposterior dari pinggir bawah symphyse ke pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan garis antar spina ke pertemuan sacral 4 dan 5 5 cm dikatakan bahwa bidang tengah panggul itu sempit : • Jumlah diameter transversa dan diameter sagitalis posterior 13. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC bisanya dapat diselesaikan dengan forcepe dan dengan episiotomy yang cukup luas. Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < 15 cm ( normal 11 cm + 7.5 cm) • diameter antara spina < 9 cm ukuran – ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis.kalau diameter antar spinae 9 cm atau kurang kadang-kadang diperlukan SC.5 cm + 5 cm = 15. tetapi kita dapat menduga kesempitan bidang tengah panggul kalau : • Spinae ischiadicae sangat menonjol • Kalau diameter antar tuber ischii 8 ½ cm atau kurang • Prognosa Kesempitan bidang tengah panggul dapat menimbulkan gangguan putaran paksi. udema pulmonal.

serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial. plester dan larutan • Adanya defisiensi imun • Munculnya kanker/ adanya terapi kanker • Riwayat keluarga. stimulasi simpatis • Makanan / cairan Malnutrisi. flatus dan mobilitas • Resti perubahan nutrisi b. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat. gaya hidup.vaskuler ( peningkatan resiko pembentukan thrombus ) • integritas ego perasaan cemas. Pengertian . marah. peningkatan ketegangan. predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis • Pernafasan Adanya infeksi. makanan.d destruksi pertahanan terhadap bakteri • Nyeri akut b. penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka. kondisi yang kronik/ batuk. mual. muntah ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM A.d insisi. merokok • Keamanan • Adanya alergi atau sensitive terhadap obat. takut.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan • Resti infeksi b. hubungan. tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi • Riwayat penyakit hepatic • Riwayat tranfusi darah • Tanda munculnya proses infeksi Proritas Keperawatan • Mengurangi ansietas dan trauma emosional • Menyediakan keamanan fisik • Mencegah komplikasi • Meredakan rasa sakit • Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan • Menyediakan informasi mengenai proses penyakit Diagnosa Keperawatan • Ansietas b. apatis. membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM.

Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien (http://zerich150105. Rumah tangga yang retak. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan. Wahab Sjahranie Samarinda (http://healthblogheg.com/). takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. takut terhadap kehamilan dan persalinan.ibu terhadap anak. hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi.blogspot. . berat badan menurun. d) Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Dalam buku obstetri patologi (1982) Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil memuntahkan segala apa yang di makan dan di minum sehingga berat badannya sangat turun. Perubahan-perubahan anatomik pada otak. jantung. Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu.com/). 1. b) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik. mola hidatidosa dan kehamilan ganda. kehilangan pekerjaan. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan : a) Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida.wordpress. Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan muntahmuntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus-menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas Penyuluhan Gizi Rumah Sakit A.com/). Pielitis dan sebagainya (http://zerich150105. (Sarwono Prawirohardjo. karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. c) Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan. Ilmu Kebidanan. turgor kulit kurang.blogspot. Etiologi Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. dehidrasi. 1999). juga disebut sebagai salah satu faktor organik.Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk.com/). begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari. bukan karena penyakit seperti Appendisitis.wordpress. diuresis kurang dan timbul aseton dalam air kencing (http://healthblogheg. terdapat aseton dalam urine. dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup.

Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. (http://zerich150105. Belum jelas mengapa gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual. meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan. bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. oliguri dan konstipasi. menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu : a) Tingkatan I : Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita. . Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil. dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. nafsu makan tidak ada. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. Tanda Dan Gejala Hiperemesis gravidarum. oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen. lidah mengering dan mata cekung. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Patofisiologi Ada yang menyatakan bahwa. tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama. disamping faktor hormonal. b) Tingkatan II : Penderita tampak lebih lemah dan apatis.Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. tensi rendah. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. sehmgga cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Kekurangan Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna. lidah mengering dan nampak kotor. akan mengalami emesis gravidarum yang berat. hemokonsentrasi.com/). Berat badan menurun dan mata menjadi cekung. nadi kecil dan cepat. turgor kulit lebih berkurang. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang.wordpress. demikian pula Khlorida air kemih. 2. Pengaruh psikologik hormon estrogen ini tidak jelas.1. suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi. bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit. ibu merasa lemah. Natrium dan Khlorida darah turun. berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik.

Pemeriksaan Diagnostik a) USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel.blogspot. suhu badan meningkat dan tensi menurun. menarik diri dan depresi (http://healthblogheg. kelaparan gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga. muntah berhenti. b) Urinalisis : kultur. melokalisasi plasenta. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin.wordpress. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. suhu meningkat. termasuk vitamin B kompleks.com/) 1. dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan. c) Tingkatan III: Keadaan umum lebih parah. takikardia. kesadaran menurun dan somnolen sampai koma. BUN. memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan. (http://zerich150105. tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Penatalaksanaan Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik.com/) 1. ikterik.Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati. mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering.Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan.blogspot. (http://healthblogheg. c) Pemeriksaan fungsi hepar: AST. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur.com/) 1. alkalosis. nadi kecil dan cepat. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke. Obat-obatan Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Komplikasi Dehidrasi berat. mendeteksi bakteri. Avomin Isolasi . ALT dan kadar LDH. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing. mendeteksi abnormalitas janin.

ASUHAN KEPERAWATAN A. Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D. kebutaan. kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin. kecuali vitamin C. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil. penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. Terapi psikologik Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan. dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. Diet a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Cairan parenteral Berikan cairan. karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. Prognosis Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Bila ada kekurangan protein.Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Delirium. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan. Penghentian kehamilan Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik.parenteral yang cukup elektrolit. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. 1. Pengkajian Keperawatan . Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri. yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. namun demikian pada tingkatan yang berat. b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium. khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat. ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi. Minuman tidak diberikan bersama makanan . c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. tachikardi. bahkan mundur. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital. hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan.

membran mukosa mulut iritasi dan merah. kesulitan ekonomi. 6. 3. Diagnosa Keperawatan 1. nafas berbau aseton. Deflsit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan. nyeri epigastrium. 2. 4. turgor kulit berkurang. Interaksi sosial Perubahan status kesehatan/stressor kehamilan. Segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan.1. Pembelajaran dan penyuluhan 1. icterus dan dapat jatuh dalam koma 7. 3. Aktifitas istirahat Tekanan darah sistol menurun. (http://zerich150105.wordpress. 8. apalagi apalahi kalau belangsung sudah lama. defekasi. 5. Hb dan Ht rendah. 9. Adanya aseton dalam urine (http://zerich150105. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. pengurangan berat badan (5 – 10 Kg). kehamilan tak direncanakan. Seksualitas Penghentian menstruasi. Integritas ego Konflik interpersonal keluarga. peningkatan frekuensi berkemih Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine. respon anggota keluarga yang dapat bervariasi terhadap hospitalisasi dan sakit. Turgor kulit. lidah kering 4.com/) C.com/) B. perubahan persepsi tentang kondisinya. Berat badan turun lebih dari 1/10 dari berast badan normal 3. Pernafasan Frekuensi pernapasan meningkat. Makanan/cairan Mual dan muntah yang berlebihan (4 – 8 minggu) . sistem pendukung yang kurang. Eliminasi Pcrubahan pada konsistensi. 2. denyut nadi meningkat (> 100 kali per menit). Rencana Keperawatan . perubahan peran. 4. mata cekung dan lidah kering. bila keadaan ibu membahayakan maka dilakukan abortus terapeutik. Keamanan Suhu kadang naik. badan lemah. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan.wordpress. 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

13. Catat intake dan output. 12. dilakukan secara rutin untuk mendeteksi situasi potensial resiko tinggi seperti ketidakadekuatan asupan karbohidrat. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh 6. Test urine terhadap aseton. 5.v. Rasional : Untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi. Rasional : Memelihara keseimbangan cairan elektfolit dan mencegah muntah selanjutnya. 2. anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit. roti dan the (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur Rasional : Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang berlebih 8. misalnya Phenergan 10-20mg/i. Rasional : Menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melului muntah. Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit Rasional : Mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan kapasitas pcmbawa oksigen ibu. Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak Rasional : dapat menstimulus mual dan muntah 7. Rasional : Menetapkan data dasar . Klien dengan kadar Hb < 12 mg/dl atau kadar Ht rendah dipertimbangkan anemi pada trimester I. yang mengakibatkan kemunduran pcrkembangan janin dan kcmungkinan-kemungkinan lebih lanjUT . Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan pembersih mulut sesering mungkin. Berikan obat anti emetik yang diprogramkan dengan dosis rendah.1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan.. Catal intake TPN. Ukur pembesaran uterus Rasional : Malnutrisi ibu berdampak terhadap pertumbuhan janin dan memperberat penurunan komplemen sel otak pada janin. Rasional : Koreksi adanya hipovolemia dan keseimbangan elektrolit 4. jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode tertentu. 10. Batasi intake oral hingga muntah berhenti. Intervensi 1. Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut. Pertahankan terapi cairan yang diprogramkan. Rasional : Untuk mengetahui integritas inukosa mulut. Diabetik kcloasedosis dan Hipertensi karena kehamilan. albumin dan glukosa. Rasional : Mencegah muntah serta memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit 3. Rasional : Untuk mempertahankan integritas mukosa mulut 11. 9.

input/output dan berat jenis urine. 3) Cemas berhubungan dengan Koping tidak efektif. 1. Peningkatan kadar hormon Korionik gonadotropin (HCG). makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Rasional : Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar Rasional : Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi. Kaji suhu badan dan turgor kulit. Berikan penguatan positif Rasional : Untuk meringankan pengaruh psikologis akibat kehamilan 5. Berikan pelayanan kesehatan yang maksimal Rasional : Penting untuk meningkatkan kesehatan mental klien 4) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan Intervensi : . Rasional : Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi. Berikan support psikologis Rasional : Untuk menurunkan kecemasan dan membina rasa saling percaya 4.2) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan Intervensi 1. TD. perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas gastrik memperberat mual/muntah pada trimester 1. Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat. Kaji tingkat fungsi psikologis klien Rasional : Untuk menjaga intergritas psikologis 3. Rasional : Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah. Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus peptikum. membran mukosa. Kontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung Rasional : Untuk mencegah dan mengurangi kecemasan 2. perubahan psikologi kehamilan Intervensi : 1. gastritis. 2.

Anjurkan klien membatasi aktifitas dengan isrirahat yang cukup.wordpress.com/ . 2. Bantu klien beraktifitas secara bertahap Rasional : Aktifitas bertahap meminimalkan terjadinya trauma seita meringankan dalam memenuhi kebutuhannya. 1.blogsome.com/) REFERENSI http://cakmoki. Keluhan subyektif tidak ada.com/ http://healthblogheg. Rasional : Aktifitas yang ditoleransi sebelumnya mungkin tidak dimodifikasi untuk wanita beresiko. 3.blogspot. Anjurkan klien untuk menghindari mengangkat berat. (http://cakmoki. Tanda-tanda vital baik. Evaluasi 1. (http://zerich150105. Rasional : Menghemat energi dan menghindari pengeluaran tenaga yang terusmenerus untuk meminimalkan kelelahan/kepekaan uterus 2.com/ http://zerich150105.blogsome.com/) D.wordpress. Mual dan mutah tidak ada lagi.1. Anjurkan tirah baring yang dimodifikasi sesuai indikasi Rasional : Tingkat aktifitas mungkin periu dimodifikasi sesuai indikasi. 2.

Suhu diukur dari mulut sedikit-dikitnya 4 kali sehari. AS morbiditas puerperalis ialah kenaikan C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama post°suhu sampai 38 partum dengan mengecualikan hari pertama. Banyak ditemukan di RS dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. khususnya golongan A. alat-alat yang suci hama dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau nifas. Selain itu infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh: • • • • Streptococcus haemolytieus aerobicus merupakan sebab infeksi yang paling berat. : dari jalan lahir sendiri. Demam nifas Morbiditas Puerperalis meliputi demam pada masa nifas oleh sebab apa pun. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain. Droplet infection. . E. Cara terjadinya infeksi: • • • • Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Staphylococcus aerus menyebabkan infeksi terbatas. Dalam RS banyak kuman-kuman patogen yang berasal dari penderita dengan berbagai jenis infeksi. kain-kain. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare. Jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara ke mana-mana antara lain ke handuk.alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman. coli berasal dari kandung kemih atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum. vulva dan endometrium. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat.ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFEKSI NIFAS TINJAUAN TEORI Definisi. : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh. Hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin. walaupun kadang-kadang menjadi infeksi umum. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau yang membantunya. Bermacam-macam • • • Eksasogen Autogen Endogen : kuman datang dari luar. alat atau kain yang tidak steril. Etiologi. Clostridium Welchii. infeksi tenggorokan orang lain). Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis. bersifat anaerob.

seviks dan endometrium. penyakit jantung dan sebagainya. dapat/tidaknya persalinan berlangsung tanpa banyak perlukaan jalan lahir. Prognosis infeksi intra partum sangat tergantung dari jenis kuman. perineum merupakan tempat masuknya kuman patogen. Serviks dan Endometrium 1. infeksi lain seperti pneumonia. apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan periksa dalam. Vulva. Penyebaran dari tempat-tempat melalui vena. tepi luka menjadi merah dan bengkak. vagina. o Partus lama terutama dengan ketuban pecah lama. vulva. Vulvitis. permukaan tidak rata. vagina. jahitan mudah terlepas. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar di luar luka asalnya. . begitu juga vulva. Infeksi nifas dapat terbagi dalam 2 golongan : • • Infeksi yang terbatas pada perineum. pre ekslampsi. denyut jantung janin meningkat. air ketuban menjadi keruh dan berbau. luka yang terbuka menjadi ulkus dan megeluarkan pus. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinanan. berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi trombus dan merupakan area yang baik untuk tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenisjenis yang patogen dalam tubuh wanita. lamanya infeksi berlangsung. o Tertinggalnya sisa plasenta. Setelah kala III. Gejala: kenaikan suhu disertai leukositosis dan tachikardi. Infeksi intra partum.• • • • Coitus pada akhir kehamilan bukan merupakan sebab yang paling penting kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. jalan limfe dan melalui permukaan endometrium. Patologi. Infeksi pada Perineum. Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitar membengkak. o Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir. Biasanya terjadi pada partus lama. Vaginitis. o Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita. daerah bekas insertio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kirakira 4 cm. 1. Faktor Predisposisi. selaput ketuban dan bekuan darah. seperti perdarahan banyak. Vagina.

5. Endometritis. Infeksi pada Perineum. Sering terjadi tapi tidak menimbulkan banyak gejala. berwarna merah atau coklat dan berbau. Suhu meningkat 38o C kadang mencapai 39o C – 40o C disertai menggigil. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas. Nyeri bila kencing. sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut Lokiometra. 1. 4. nyeri pada perabaan dan lembek. radang terbatas pada endometrium. Peritonitis dan Parametritis (Sellulitis Pelvika) Penyebaran melalui permukaan endometrium. daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. 2.Dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum. Lokia bertambah banyak. Nadi kurang dan 100/menit. Vulva. Pada infeksi setempat. 1. Septikemia dan Piemia . Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium. Gambaran Klinik. Penyebaran melalui pembuluh darah (Septikemia dan Piemia) Merupakan infeksi umum disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. Kuman–kuman memasuki endometrium (biasanya pada luka insertio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. Uterus agak membesar. Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis dan cairan. 3. permukaan mokusa membengkak dan kemerahan. Sevicitis. Paling sering terjadi. Vagina dan Serviks. Rasa nyeri dan panas pada infeksi setempat. Salfingitis dan Ooforitis. Biasanya demam mulai 48 jam pertama post partum bersifat naik turun. Penyebaran melalui jalan limfe. Endometritis • • • • • Tergantung pada jenis virulensi kuman. 2.

TD turun. • • • • Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalur jalan lahir. Keadaan umum jelek Suhu meningkat antara 39°C – 40°C. Lochea: berbau. nadi cepat dan kecil. v Coitus pada hamil tua hendaknya tidak dilakukan karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi. b) Selama nifas v Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik. sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selamaVT. nadi cepat. kesadaran turun. bernanah. Infiltrat kadang menjadi abses. Gejala septikemia lebih akut dan dari awal ibu kelihatan sudah sakit dan lemah. Sesak nafas. nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih. gelisah. Piemia dimulai dengan rasa sakit pada daerah tromboplebitis. nyeri perut bagian bawah. Pencegahan Infeksi Nifas a) Selama kehamilan v Perbaikan gizi untuk mencegah anemia. menggigil. Keduanya merupakan infeksi berat. demam tinggi menetap dari satu minggu. Lab: leukositosis. v Selama persalinan. . KU baik. perut nyeri. Peritonitis umum: suhu meningkat. setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas. terdapat abses pada cavum Douglas Sellulitis Pelvika Pada periksa dalam dirasakan nyeri.• • • • • • • • • Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toxinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Membatasi lamanya persalinan. involusi jelek. Membatasi perdarahan. Peritonitis • • Peritonitis terbatas pada daerah pelvis (pelvia peritonitis): demam. keadaan umum memburuk. Piemia dimulai dengan tromboplebitis vena-vena daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil dibawa keperadaran darah umum dan terjadilah infeksi dan abses pada organ-organ tubuh yang dihinggapinya. perut kembung dan nyeri. Membatasi perlukaan. Salfingitis dan Ooforitis Gejala hampir sama dengan pelvio peritonitis.

Hubungkan dengan data perubahan post partum masing-masing dan catat apakah klien menyusui dengan ASI. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang mungkin muncul adalah 1. jumlah. ü Kaji tinggi fundus dan sifat. Pengkajian …. ASUHAN KEPERAWATAN I. ü Catat jumlah leukosit dan gabungkan dengan data klinik secara lengkap. ü Monitor vital sign. terutama suhu setiap 4 jam dan selama kondisi klien kritis. jalan lahir. . ü Kaji lochia: jenis. Cemas/ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan III.v Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama. ü Lakukan perawatan perineum dan jaga kebersihan. warna dan sifatnya. Bersihkan perineum dan ganti alas tempat tidur secara teratur. Sambil menunggu hasil laboratorium berikan antibiotika spektrum luas. serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. haruskan mencuci tangan pada pasien dan perawat. Rencana Keperawatan 1. jalan lahir. Pengobatan Infeksi Nifas Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks. luka operasi dan darah. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai. Catat kecenderungan demam jika lebih dari 38o C pada 2 hari pertama dalam 10 hari post partum. makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh. Tujuan 1: Mencegah dan mengurangi infeksi. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus. dan infeksi nasokomial.Infeksi perineum (menggunakan senter yang baik). Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi 3. II. dan infeksi nasokomial. Intervensi: ü Kaji data pasien dalam ruang bersalin. Perkiraan pinggir epis dan kemungkinan “perdarahan” / nyeri. Hubungkan dengan data post partum. nyeri. sifat episiotomi dan warnanya. ü Kaji payudara: eritema. v Penderita dengan tanda infeksi nifas jangan digabung dengan wanita dalam nifas yang sehat. Khusus dalam 24 jam sekurang-kurangnya 4 kali sehari. transfusi darah. Berikan dosis yang cukup dan adekuat. 2. sumbatan dan cairan yang keluar (dari puting). catat warna.

bimbingan imajinasi . ü Kaji bunyi nafas. ü Anjurkan istirahat dan tidur secara sempurna. nyeri. gelisah. Anjurkan mengubah posisi tidur secara sering dan teratur. ü Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan penuh stress. chloramfenicol atau metronidazol. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi Tujuan : Nyeri berkurang/terkontrol Intervensi : ü Selidiki keluhan pasien akan nyeri. ü Pertahankan input dan output yang tepat. Oxitoksin seperti ergonovine atau methyler gonovine. tetracycline.lokasi.ü Pertahankan intake dan output serta anjurkan peningkatan pemasukan cairan. denyut nadi dan parasthesi/ kelumpuhan. ü Hentikan pemberian ASI jika terjadi mastitis supuratif. Intervensi: ü Catat perubahan suhu. Cemas / ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang. Atur pemberian cairan dan elektrolit secara intravena. cefoxitin. Intervensi : . Anjurkan yang banyak protein. Bantu dengan ambulasi dini.perhatikan intensitas (0-10). ukuran. Bantu pasien batuk efektif dan nafas dalam setiap 4 jam untuk melancarkan jalan nafas. ü Kaji ekstremitas: warna.misal: tegangan otot. suhu. gentamisin. ü Berikan tindakan kenyamanan (missal : pijatan / masase punggung) ü Dorong menggunakan tekhnik manajemen nyeri . ü Bantu pasien memilih makanan. Catatan: hindari produk mengandung aspirin karena mempunyai potensi perdarahan Pemberian Antibiotika 1. frekwensi nafas dan usaha nafas. ü Atur obat-obatan berikut yang mengindikasikan setelah perkembangan dan test sensitivitas antibiotik seperti penicillin.perhatikan petunjuk non-verbal.dan faktor pencetus ü Awasi tanda vital. visualisasi) ü Kolaborasi : • • Pemberian obat analgetika. jangan berikan makanan dan minuman pada pasien yang muntah ü Pemberian analgetika dan antibiotika. contoh : latihan relaksasi / napas dalam . Tujuan 2 : Identifikasi tanda dini infeksi dan mengatasi penyebabnya. 1. Monitor untuk infeksi. vitamin C dan zat besi.

serta sikap mendukung Rasional : Memberikan dukungan emosi ü Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan Rasional : Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui ü Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya Rasional : Ungkapan perasaan dapat mengurangi cemas ü Kaji mekanisme koping yang digunakan klien Rasional : Cemas yang berkepanjangan dapat dicegah dengan mekanisme koping yang tepat.ü Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan Rasional : Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya ü Kaji respon fisiologis klien ( takikardia. takipnea. DEFINISI Post partum risiko: • Perdarahan post partum . ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM RISIKO TINGGI A. empati. gemetar ) Rasional : Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiologis ü Perlakukan pasien secara kalem.

HPP dini/primer/awal: terjadi dalam batas waktu 24 jam. Perdarahan post partum dibedakan menjadi dua: . takikardi Oligouria (urin < 300 cc/ 24 jam) Perdarahan > 500 cc/24 jam Distensi kandung kemih HPP Sekunder Perdarahan kadang banyak kadang sedikit Perdarahan dengan bekuan sisa plasenta Terdapat tanda subinvolusi Lochea merah tua dan berbau jika terdapat infeksi . MANIFESTASI KLINIS HPP Primer Perubahan hemodinamik: hipotensi. FAKTOR RISIKO Kelahiran SC Bayi besar Persalinan dengan tindakan forsep/VE Riwayat HPP Multiparitas Manipulasi intrauterin/manual plasenta Penggunaan MgSO4 atau oksitosin dalam persalinan D. tersering Retensi plasenta Laserasi jalan lahir Ruptur uteri Gangguan pembekuan darah HPP sekunder: Retensi sisa plasenta Sub involusi Endometritis C. B.HPP lanjut/sekunder: terjadi lebih dari 24 jam tetapi kurang dari 6 minggu. .• Infeksi post partum • Tromboembolok • Masalah psikologis post partum Perdarahan post partum/post partum hemorrhage (HPP) adalah kehilangan 500 ml darah pada persalinan normal (per vaginam) atau 1000 ml lebih pada persalinan SC penyebab kematian pada ibu. ETIOLOGI HPP primer: Atonia uteri (1 dari 20 persalinan).

Syok .Vital sign (takikardi. TFU .Sepsis . discharge planning diperlukan sebelum klien pulang. . tingkat kesadaran. Pengkajian HPP Primer .Pengkajian fundus: kontraksi lemah.Kaji adanya laserasi atau hematom yang mungkin menjadi sumber perdarahan. vena leher. kecemasan disorientasi. urin output. suara jantung (murmur). warna kulit.Distensi blader 2. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1. KOMPLIKASI .Kaji tanda-tanda perdarahan dan syok hipovolemi: TD. takipneu.Faktor risiko dan predisposisi .Kegagalan fungsi ginjal F. kapiler refill. suara nafas. membran mukosa.Kenaikan suhu badan E. DIAGNOSA KEPERAWATAN Defisit volume cairan Risiko infeksi Perubahan perfusi jaringan perifer Perubahan proses menjadi orang tua Cemas INTERVENSI Manajemen dan monitor cairan Atasi perdarahan Kontrol infeksi Kontrol kecemasan . . nadi. Pengkajian HPP Sekunder HPP sekunder sering terjadi ketika klien sudah pulang.Kaji perdarahan (warna dan jumlah) . kelelahan. oleh karena itu. hipotensi) .Syok dapat diatasi  anemia dan infeksi .

MAP sebesar 105 mmHg. vasodilatasi. Atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan Preeklampsia Kondisi spesifik kehamilan. dan trombosit rendah (LP). dan proteinuria. Pada preeklampsia: Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih.ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI KEHAMILAN A. Sindrom HELLP Suatu keadaan multisistem. Hipertensi sementara perkembangan hipertensi selama masa hamil/24 jam I nifas tanpa ada tanda preeklampsia. penurunan tekanan osmotik koloid. Oligouria. jarak 4 – 6 jam. DEFINISI Hipertensi: Kenaikan nilai tekanan sistolik sebesar 30 mmHg/lebih atau kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg diatas tekanan dasar. hipertensi terjadi setelah minggu ke 20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. dengan teknik dan alat yang standar. Merupakan penyakit vasospastik yang ditandai dengan hemokonsentrasi. 3 atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif. Eklampsia Yaitu terjadinya konvulsi atau koma pada klien disertai tanda dan gejala preeclampsia Konvulsi atau koma dapat muncul tanpa didahului gangguan neurologis. Peningkatan MAP > 20 mmHg/ jika tekanan darah sebelumnya tidak diketahui. PATOFISIOLOGI Adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi. atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih Proteinuria 5 gr/lebih dalam 24 jam. Peningkatan darah terjadi minimal dengan 2 kali pemeriksaan. hipertensi. air kencing 400 ml/kurang dalam 24 jam . peningkatan volume plasma darah. Hipertensi kronis hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan/sebelum gestasi 20 minggu. merupakan suatu bentuk preeklampsia – eklampsia berat dimana ibu tersebut mengalami berbagai keluhan dan menunjukkan adanya bukti laboratorium umum untuk sindrom hemolisis (H). penurunan resistensi vaskuler sistemik. peningkatan enzim hati (EL). peningkatan curah jantung. B.

gangguan penglihatan. Intervensi pencegahan lain adalah: konseling. o Proteinuria > 5 gr dalam urin 24 jam o Oligouria < 400 ml dalam 24 jam o Gangguan otak dan penglihatan o Nyeri ulu hati o Edema paru/sianosis o Sindrom HELLP ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian: Pengkajian faktor risiko Pemeriksaan tekanan darah Observasi edema: distribusi. Gangguan pertukaran gas b. identifikasi ibu berisiko selama kehamilan. dan informasi tentang adaptasi normal pada kehamilan. perawatan prenatal dini. Perubahan perfusi jaringan/organ b. Cemas 6. pengenalan serta pelaporan tanda-tanda bahaya fisik. 2. Refleks Tendon Profunda (RTP) Refleks bisep da patela serta klonus pada pergelangan kaki. vasospasme siklik.d efek pengobatan. edema paru. Hilangnya RTPkeracunan magnesium Menentukan status janin: DJJ. 3. edema serebral.Keluhan serebral. enzim hati. 4. konseling nutrisi. Trombosis.d iritabilitas SSP. Risiko injuri b. NST. menetap 10 – 30 menit). atau nyeri di daerah epigastrum Edema paru-paru atau sianosis Diagnosis Preeklampsia Berat o TD sistolik > 160 mmHg diastolik >110 mmHg pada 2 kali pemeriksaan. prosses penyakit. . perdarahan.d hipertensi. CST. derajat & pitting edema Edema dependen (edema bagian bawah/bagian tubuh yang dependen).d terapi antihipertensi yang berlebihan. Curah jantung menurun b. HB. USG Pemeriksaan laboratorium: HMT. Edema pitting (lekukan kecil akibat tekanan pada bagian yang edema. Koping individu/ keluarga tidak efektif 5. terapi Intervensi Intervensi efektif adalah pencegahan. glukosa Diagnosa Keperawatan 1.

Pantau kadar MgSO4 (kadar terapeutik: 4. jumlah urin < 30 ml/jam. berat badan > 0. Hentikan MgSO4 . urin 5.6 mg/dl.6 mg/dl).5 kg/minggu. hiporefleksia/tidak ada refleks. tanda distress (DJJ tiba-tiba menurun). pernafasan. kadar serum toksik>9. laporkan jika proteinuria ≥ +2 atau pengeluaran urin berkurang Monitor aktivitas janin setiap hari (3 gerakan atau kurang setiap jam) mengindikasikan gawat janin. tonus otot Hindari makanan tinggi garam Kolaboratif: antihipertensi menurunkan risiko gagal ventrikel kiri & perdarahan otak perfusi uteroplasenta terjaga Intervensi di rumah Laporkan bila ada peningkatan TD. Kolaborasi dengan dokter 3.Berikan informasi pada ibu tentang kondisi dan tanggung jawabnya dalam penatalaksanaan preeklampsia. . Periksa jumlah keluaran urin bila <400 ml/24 jam. edema. Lakukan pemeriksaan antenatal secara teratur Managemen MgSO4 o Berfungsi untuk mencegah dan mengendalikan kejang o Dosis awal 4 – 6 g selama 15 – 30 menit diikuti dosis rumatan 2 – 4 g/jam o Observasi tanda keracunan Mg SO4: pernafasan < 12/menit. Berikan kalsium glukonal/CaCl sesuai program (misal 1 gr melalui IV diberikan selama 3 menit) 4. Lakukan pemeriksaan TD. Bed rest miring kiri  memperbaiki sirkulasi uteroplasenta Latihan fisik ringan  memperbaiki sirkulasi. ganti dengan larutan rumatan 2.8 – 9. penurunan TD dan denyut nadi o Intervensi: 1.

Proses penyembuhan sel-sel epitel yang terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor. androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium. 5. Faktor Risiko Diet tinggi lemak Merokok Alkohol Penggunaan bedak talk perineal Riwayat kanker payudara. Hal ini didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. 1995) B. 2.ASKEP CA OVARIUM A. diantaranya: Hipotesis incessant ovulation Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi. Pengertian Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. Dalam percobaan in-vitro. (Wingo. 4. 2. atau endometrium 1. 1. Hipotesis androgen Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain. dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru. . Etiologi Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. 3. panggul. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium. kolon. C.

Stadium 1a : pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium. kapsul pecah atau dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan bilasan peritoneum positif. Infertilitas 9. Nulipara 8. Stadium 2a : perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba 2. . STADIUM II –> Pertumbuhan pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke panggul 1. Tidak pernah melahirkan D. Stadium Stadium kanker ovarium primer menurut FIGO (Federation InternationalofGinecologies and Obstetricians ) 1987. Menopause dini 6. Stadium 2b : perluasan jaringan pelvis lainnya 3. Lingkar abdomen yang terus meningkat E. Rasa tidak nyaman pada abdomen 7. Dispepsia 8. Haid tidak teratur 2. 2. Tekanan pada pelvis 9. tidak asietas. Sering berkemih 10. tidak ada asietas yang berisi sel ganas. Stadium 1c : tumor dengan stadium 1a dan 1b tetapi ada tumor dipermukaan luar atau kedua ovarium atau kapsul pecah atau dengan asietas berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif. Stadium 2c : tumor stadium 2a dan 2b tetapi pada tumor dengan permukaan satu atau kedua ovarium. tidak ada pertumbuhan di permukaan luar.6. Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium 7. berisi sel ganas. Flatulenes 11. adalah : STADIUM I –> pertumbuhan terbatas pada ovarium 1. 3. Rasa begah setelah makan makanan kecil 12. kapsul intak. Menoragia 4. Pada stadium awal berupa : 1. Stadium 1b : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium. kapsul utuh. STADIUM III –> tomor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di luar pelvis dan atau retroperitoneal positif. tidak ada tumor di permukaan luar. Ketegangan menstrual yang terus meningkat 3. Nyeri tekan pada payudara 5. Tanda & Gejala Gejala umum bervariasi dan tidak spesifik. Menstruasi dini 10.

Penegakan Diagnosa Medis Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. Hanya kanker ovarium stadium awal saja (stadium 1a dan 1b dengan derajat diferensiasi sel yang baik/sedang) yang tidak memerlukan kombinasi pengobatan. 1. STADIUM IV –> pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh.Tumor terbatas dalam pelvis kecil tetapi sel histologi terbukti meluas ke usus besar atau omentum. G. akan tetapi hanya sebagai pegangan untuk melakukan tindakan operasi. begitu juga metastasis ke permukaan liver. Ciri2 kista yang bersifat ganas yaitu pada keadaan : Kista cepat membesar Kista pada usia remaja atau pascamenopause Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan Kista dengan bagian padat Tumor pada ovarium Pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat dugaan ke arah kanker ovarium seperti : USG dengan Doppler untuk menentukan arus darah Jika diperlukan. apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). 3. diameter melebihi 2 cm. Stadium 3b : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant dipermukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopis. 2. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dalam stadium 4. dan kelenjar getah bening negativ. F. pemeriksaan CT-Scan/ MRI Pemeriksaan tumor marker seperti Ca-125 dan Ca-724. Stadium 3c : implant di abdoment dengan diameter > 2 cm dan atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif. PENATALAKSANAAN Sebagian besar kanker ovarium memerlukan pengobatan dengan kemoterapi. Kemoterapi diberikan sebanyak 6 seri dengan interval 3 – 4 minggu sekali dengan melakukan pemantauan . Stadium 3a : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara histologi dan dikonfirmasi secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan (seeding) dipermukaan peritoneum abdominal. beta – HCG dan alfafetoprotein Semua pemeriksaan diatas belum bisa memastikan diagnosis kanker ovarium. Oleh karena itu.

Tujuan dan Intervensi Diagnosa 1 : Nyeri akut b. kualitas.d agen cidera biologi 2. Pengkajian Data diri klien Data biologis/fisiologis –> keluhan utama. keletihan. perubahan kadar hormone 3. relaksasi. Nyeri akut b. Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b. marah pasien Kolaborasi dengan tim medis dalam memberi obat analgesic Jelaskan kegunaan analgesic dan cara-cara untuk mengurangi efek samping Ajarkan klien strategi baru untuk meredakan nyeri dan ketidaknyamanan: imajinasi. Intervensi : Kaji perasaan klien tentang citra tubuh dan tingkat harga diri . sistem saraf dan sistem kardiovaskuler.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran Tujuan : KLien dapat memperbaiki persepsi citra tubuh dan harga dirinya. fungsi hati. sistem saluran cerna.terhadap efeh samping kemoterapi secara berkala terhadap sumsum tulang. persalinan.d agen cidera biologi Tujuan : Klien merasa reda dari nyeri dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan Intervensi : Kaji karakteristik nyeri : lokasi. sistem saluran cerna. hamil Pemeriksaan fisik Data psikologis/sosiologis–> reaksi emosional setelah penyakit diketahui 2. Penatalaksanaan yang sesuai dengan stadium yaitu : Operasi (stadium awal) Kemoterapi (tambahan terapi pada stadium awal) Radiasi (tambahan terapi untuk stadium lanjut) H. riwayat keluhan utama Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat kesehatan keluarga Riwayat reproduksi –> siklus haid. stimulasi kutan Diagnosa 2 : Perubahan citra tubuh dan harga diri b. durasi haid Riwayat obstetric –> kehamilan. Perubahan citra tubuh dan harga diri b. fungsi ginjal.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran 3.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. Diagnosa Keperawatan 1. nifas. frekuensi Kaji faktor lain yang menunjang nyeri. ASUHAN KEPERWATAN 1.

1999. EGC: Jakarta http://viethanurse.Rencana Asuhan Keperawatan. B.com/2009/03/askep-caovarium.Berikan dorongan untuk keikutsertaan kontinyu dalam aktifitas dan pembuatan keputusan Berikan dorongan pada klien dan pasangannya untuk saling berbagi kekhawatiran tentang perubahan fungsi seksual dan menggali alternatif untuk ekspresi seksual yang lazim Diagnosa 3 : Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b. 2001.Mengidentifikasi kepuasan/ praktik seksual yang diterima dan beberapa alternatif cara mengekspresikan keinginan seksual Intervensi: Mendengarkan pernyataan klien dan pasangan Diskusikan sensasi atau ketidaknyamanan fisik. penyakit ini akan . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. perubahan kadar hormon Tujuan : -KLien menyatakan paham tentang perubahan struktur dan fungsi seksual. Berkurangnya glikogenesis.blogspot. konsentrasi gula darah tinggi. Pengertian Adalah penyakit kronik yang komplek yang dikarakterisasikan dengan gangguan metabolisme karbohidrat. arterisklerosis. Marilynn E.wordpress.com/2008/12/21/asuhan-keperawatan-klien-dengan-kankerovarium/ http://akperppnisolojateng. Etiologi Penyakit gula dapat merupakan kelainan herediter dengan cara insufisiensi atau absennya insulin dalam sirkulasi darah. protein. perubahan pada respons individu Kaji informasi klien dan pasangan tentang anatomi/ fungsi seksual dan pengaruh prosedur pembedahan Identifikasi faktor budaya/nilai budaya Bantu klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk berbagi pikiran/masalah dengan orang terdekatnya Berikan solusi masalah terhadap masalah potensial. EGC: Jakarta Donges.html ASKEP IBU HAMIL DENGAN DM TINJAUAN TEORI A. Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak kesulitan. makrivaskuler komplikasi dan neuropatik ( gangguan struktus dan fungsi ginjal). lemak. ex : menunda koitus seksual saat kelelahan Daftar Pustaka Brunner & Suddarth. . hiperglikemi dan perkembangan dari mikrovaskuler ( kental kapiler).

Hidronion c. Sering mengalami lahir mati. Pengobatan tidak memerlukan insulin cukup dengan diit saja. 25% kemungkinan akan berkembang menjadi DM. Klasifikasi Diabetes Melitus a) Type I ( IDDM ) : DM yang berganyung pada insulin b) Type II ( NIDDM ) : Orang tidak bergantung pada insulin. Kesalahan letak jantung e. Factor Predisposisi : Umur sudah mulai tua Multiparitas Penderita gemuk Kelainan anak lebih besar dari 4000 g Bersifat keturunan Pada pemeriksaan terdapat gula dalam urine Riwayat kehamilan : Sering meninggal dalam rahim. Pengaruh penyakit terhadap persalinan a.menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal pada penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan. Insufisiensi plasenta 3. tetapi dapat diobati dengan insulin. muncul > 50 tahun. Gangguan kontraksi otot rahim partus lama / terlantar. Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi asfiksia sampai dengan lahir mati . Pengaruh Diabetes Melitus Terhadap Kehamilan 1. tetapi tidak merupakan kecenderungan orang dengan gangguan toleransi glokusa . Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi manifes ( diabetik ) b. Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Sebaliknya diabetes akan mempengaruhi kehamilan dan persalinan. Epidemitologi Gangguan Dm terjadi 2 % dari semua wanita hamil. c) Diabetes Laten : Subklinis atau diabetes hamil. c. Pengaruh penyakit gula terhadap kehamilan di antaranya adalah : a. DM akan menjadi lebih berat karena kehamilan 2. b. Abortus dan partus prematurus b. D. Sering mengalami keguguran Glokusuria C. uji toleransi gula tidak normal. persalinan dan nifas terhadap DM a. Pre-eklamasi d. Pengaruh kehamilan. kejadian meningkat sejalan dengan umur kehamilan. E.

Bayi mengalami hypoglicemi post partum sehingga dapat menimbulkan kematian Pengaruh DM terhadap kala nifas a. 5. 2. Agmen Beta Adrenergik Bloking. Post partum mudah terjadi infeksi. Janin besar ( makrosomia ) c. takikardi. kontrol penyakit hipertensi. urine encer. cegah ulserasi. masukan dibatasi : mual. 3. Dapat terjadi cacat bawaan. perawatan. kacau mental. Agen Immunosupresive. 3. hipotensi. hemodialisa Total Nutrisi Parenteral Tube feeding Hyperosmolar Pembedahan Obat : Glukokortikoid. Kemungkinan dibuktikan dengan : peningkatan haluaran urine. Sekunder : deteksi dini. membran mokusa kering. Abortus. diuretic. prematur. Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah menyebar Pengaruh DM terhadap bayi a.4. Tersier : Pendidikan tentang perawatan kaki. pelambatan pengisin . e. diazoxida. f. d. 2. turgor kering. Pemeriksaan optalmologist Albuminuria monitor penyakit ginjal Kontrol hipertensi. 4. status metabolic dan diet rendah protein Pendidikan pasien tentang penggunaan medikasi untuk mengontrol medikasi G. kelemahan. > usia kandungan 36 minggu b. potensial penyakit saraf dan jiwa F. 1. Terapi Dialysis : peritoneal. ASUHAN KEPERWATAN Diagnosa Keperawatan Kekurangan volume cairan berhubungan dengan : Diuresis osmotik ( dari hiperglikemia ) kehilangan gastrik berlebihan : diare. gangren dan amputasi. haus. muntah. 1. anto rokok. 1. dipenilhidonsion. Perdarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim. penurunan berat BB tiba-tiba. Pencegahan Primer : untuk mengurangi obesitas dan BB. 5. Mudah terjadi infeksi post partum b.

W. Kemungkinan dibuktikan oleh : .Perubahan kimia darah . Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. dan hormon GH. .Peningkatan kebutuhan energi : status hipermatabolik Kemungkinan dibuktikan dengan : . Bandung : Elstar Offset.Penurunan masukan oral. Geofferey.Kurang energi yang berlebihan. . 1984. Prof. penurunan kinerja. Patricia. tonus otot buruk. Obstetri Patologi. Kelelahan berhubungan dengan : . kelelahan. lambung penuh. diare. Jakarta : Widya Medika Ledewig. haluaran urine tepat secara individu. ketidakmampuan mempertahankan rutinitas biasanya. Kajarta : EGC Mochtar. nyeri abdomen.Menunjukkan tingkat energi biasanya . Doenges E. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. DR. Marilynn.Ketidakcukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glokusa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein / lamak. perubahan kesadaran.Mencerna jumlah kalori / nutrisi yang tepat . Ilmu Kebidanan. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. nadi ferifer dapat diraba. 1989. kelemahan.Mengungkapkan peningkatan energi . epenipren. Jakarta : EGC Prawiroharjo.Mendemonstrasikan berat badanstabil atau penambahan ke arah rentang biasanya / yang diinginkan dengan nilai laboratrium yang normal. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan : . 1994. anoreksia. insufisiensi insulin . kortisol. kurang nafsu makan. Edisi I.Melaporkan kemasukan makanan tak adekuat. Kriteria hasil . Pelepasan hormon stress misal . Sarwono. Penurunan BB . Jakarta :EGC . turgor kulit baik. dan kadar elektrolit dalam batas normal. kecenderungan untuk kecelakaan. mula.Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. 3.kapiler. Rustam. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi.Penurunan produksi energi metabolik . Kroteria Hasil : . 2005. 1976.Status hipermetabolisme. Kriteria hasil : mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan dengan tanda vital stabil.

1990. Luz 1991. Harry. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Yayasan Esentia Medika Heller. Ida Bagus. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn.Manumba. Jakarta : EGC ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN PENYAKIT JANTUNG DAN HIPERTENSI . 1993. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan .

A. KONSEP DASAR 1. Penyakit jantung Keperluan jani yang sedang tumbuh akan oksigen san zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan, yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Oleh krena it di dalam kehamilan selalu terjadi perubahan-perubahan pada system kardiovaskular yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologis. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan oleh : a. Hipervolumia : dimulai sejak kehamilan 28 minggu dan mencapai puncak pada 28-32 minggu, lalu menetap. b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran rahim. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung. Saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah : a. Pada kehamilan 32-36 minggu dimana volume darah mencapai puncaknya. b. Pada kala II wanita mengerahkan tenaganya untuk mengedan dan memerlukan tenaga jantung yang erat. c. Pada post partum,dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk dalam sirkulasi darah ibu. d. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi. Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan : a. Dapat terjadi abortus b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan. c. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah. d. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati. e. Kematian jani dalam lahir ( KJDL ) Klasifiksi penyakit jantung dalam kehamilan : - Kelas 1 : a. Tanpa pembatasan gerak fisik. b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa - Kelas II : a. Sedikit dibatasi kegiatan fsiknya b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfisiensi jantung. d. Gejalanya adalah lelah, palpitalis, sesak nafas, dan nyeri dada ( angin pectoris ). - Kelas III : a. Kegiatan fisik sangat dibatasi b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung. - Kelas IV : a. Waktu istirahat dapat menimbulkan keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik. Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat meningkatkan kelas

tersebut menjadi III atau IV, Faktor-faktor yang dapat pula mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya aritmia jantung, dan hipertropi ventrikuler dan erhan sakit jantung. 2. Hipertensi Hipertensi dalam kehamilan berarti bahwa wanita telah menderita hipertensi sebelum hamil, disebut juga sebagai pre eklamasi tidak murni seperti mposed preeklamsia bia diserta pula dengan proteinnuria dan edemia. Penyebab utama hipertensi dalam kehamilan adalah : a. hipertensi esensial b. Penyakit ginjal Menurut Sims ( 1970 ) penyakit hipertensi dan penyakit ginjal yang dengan hipertensi adalah sebagai berikut : 1. Penyakit hipertensi a. Hipertensi esensial : ringan, sedang, berat, ganas( progresif ) b. Hipertensi renovaskuler ( penyakit pembulu darah ginjal ) c. Kartisio aorta d. Aldosteronisme primer e. Feokromositoma 2. Penyakit ginjal dan saluran kencing a. Glomerulonefritis ( mendadak, menahun, sindomaneftrotik ) b. Pielonefritis ( mendadak, menahun, ) c. Lupus eritmatusus, dengan glomerulitis, dengan glomerulonefritis d. Skelodermo dengan kelainan ginjal e. Pariarteritis nodosa dengan kelainan ginjal f. Gagal ginjal mendadak g. Penyakit polikistik h. Nefropatia diabetic a. Hipertensi esensial Adalah penyakit hipertnsi yang mungkin disebabkan faktor heriditer dan dipengaruhi oleh faktor emosi dan lingkungan. Wanita hamil dengan hipertensi tidak menunjukkan gejala-gejala lain kecuali hipertensi. Terbanyak dijupai adalah hipertensi jinak dengan tensi sekitar 140/90 sapai 160/100 mmHg. Jarang berubah menjadi ganas secara mendadak sampai sistolik 200 atau lebih. Gejala-gejala seperti kelainan kantung, arteriskelorosis, perdarahan otak dan penyakit ginjal baru timbul setelah dalam waktu lama dan penyakit terus berlanjut. 1) Kehamilan dengan hipertensi esensial akan berlangsung normal sampai aterme. 2) Pada kehamilan setelah 30 minggu 30 % adakan menunjukkan kenaikan tekanan darah namun tanpa gejala. 3) Kira-kira 20 % akan menunjukkan kenaikan tekanan darh yang mencolok, bisa disertai dengan proteinnuria dan edema ( preeklamsia tidak murni ) dengan keluhan : sakit kepala, nyeri epigastrium, nyeri muntah, dan gangguan penglihatan ( visus ). b. Penyakit ginjal hipertensi Penyakit ginjal dengan gejala hipertensi dan dapat dijumpai pada wanita hamil adalah :

- Glomerulonefritis akut dan kronik - Pielonefritis akut dan kronik Pemeriksaan : - Pemeriksaan urine lengkap dan faal ginjal - Pemeriksaan retina - Pemeriksaan umum tekanan darah dan nadi - Kuantitatif albumin air kencing ( urin ) - Darah lengkap dan ureum berdarah - Dll B. Etiologi 1. Penyakit jantung - Hipervolumia - Pembesaran rahim - Demam rematik 2. Hipertensi - Hipertensi esensial - Hipertensi ginjal C. Tanda dan gejala 1. Penyakit jantung - Aritmia - Pembesaran jantung - Mudah lelah - Dispenea - Nadi tidak teratur - Edema pulmonal - Sianosis 2. Hipertensi - Edema - Nyeri kepala - Nyeri epigastrium - Muntah - Gangguan visus ( superimposed pre exlamsia ) D. Penatalaksanaan 1. Penyakit jantung Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada gerajat fungsionalnya : - Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan. - Kelas II : Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan. Kurangi kerja fisik terutama antara kehamilan28-36 minggu. - Kelas III : Memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya dirawat di RS sejak kehamilan 28 – 30 minggu.

Riwayat penyakit jantung congenital dan demam reuna .Istirahat . palpitasi.Istirahat.Obat penenang ( solusio charcot. phenobarbital ). Penyakit ginjal . Makanan dan cairan . Pengkajian data Dasar a.Diabetes melitus . dan trobositopenia.Peningkatan tekanan darah .kelas IV : Harus dirawat di RS dan dinerikan pengobatan bekerjasama dengan kardiolog. Sirkulasi . disritmia .Dapat mengalami memar spontan.Malnutrisi .Dapat mengalami pembesaran jantungdan murmur diastolic dan pristolik kontinu . perdarahan lama. .Diit rendah garam .Nadi mungkin menurun .. .Pengakhiran kehamilan ( dilakukan apabila terjadi upper imposed pre axlamsia.Dispenia nocturnal karena pengerahan tenaga b.Pengawasan pertumbuhan janin .Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal . Eliminasi Menurunnya keluaran urine d.Dapat mengalami edemia ekstrimitas bawah e. hipertensi ganas ) b. 2.Obat hipotensif .Takikardia.Diberikan obat hiptensif ( apabila tekanan darah sangat tinggi ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPERTENSI DAN PENYAKIT JANTUNG 1. romatozin. Aktifasi dan istirahat .Perubahan poksisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan uterus. Hipertensi esensial . Hipertensi a. . Nyeri dan rasa nyaman Dapat mengeluh nyeri dada dengan tanpa paktivitas .Clubbing dan sianosis . diazepam.Riwayat hipertensi kronis c. .Mual dan muntah .Obesitas .

Tes cairan amniotikultrasonografi 2.Amniosentris . . perubahan kontratiktilitas miokard. intake cairan yang berlebihan.LED ( laju endap darah .f.Ortopnea g. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan primer dan skunder.Dispnea . b.EKG ( Elektrodiograf ) .Pencitraan jantung radionukleutida .SDP ( sel darah putih ) .Seri ultrasonografi .Krekle . Kemanan Infeksi streptokokus berulang h. perpindahan cairan keluar intravaskuler.Echokardiograf . penyakit/kondisi kronis. penurunan tekanan osmotic koloid pasma. 4. 2. Pernafasan .Hemoptisis .Strees kontraksi . Penurunan curak antung berhubungan dengan hipovolumia. 6. Pemeriksaan disgnostic . Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output.Tes presor supnie . Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi. 2.Pernafasan mungkin kurang dari 14 x / menit . 3.Hb dan HT ( hemoglobin dan memoktorit ) . ruang pengetahuan tentang proses infeksi. 5. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan penyakit jantung : 1.Urine lengkaptes . peningkatan tahanan aliran darah sistemik. dan perubahan inotropik pada jantung.Takipnea . perubahan faal ginjal. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan hipertensi : 1.GDA ( gas darah arteri ) . penurunan aliran balik vena. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) berhubungan dengan kurangnnya informasi dan interpretasi yang salah. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi. Diagnosa Keperawatan a.Kratinin serum . Kelebihan volum cairan berhubungan dengan peningkatan volum sirkulasi. Kurangnnya volume cairan ( kegagalan regulasi ) berhubungan dengan kehilangan protein plasma. disritmia.

4. Resiko cedera berhubungan dengan edema / hipoksia jaringan. Doenges E. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Jakarta : Widya Medika Ledewig. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Jakarta : EGC ASKEP IBU HAMIL DENGAN HYPERTIROID TINAJUAN TEORI . Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Nutrisi. Prof. Marilynn. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 2005. Patricia. Obstetri Patologi. Jakarta :EGC Manumba. 6. Edisi I. Geofferey. Bandung : Elstar Offset. abnormallitas factor pembekuan. Ida Bagus. Kajarta : EGC Mochtar. Jakarta : EGC Prawiroharjo. Kurangnya pengetahuan ( kebutuhan belajar berhubungan dengan kurangnya informasi dan pemahaman tentang proses penyakit. kejang. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. 1984. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. 5. Luz 1991. 1976. W. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn. 1994. Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. DR. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat intake nutrisi. Sarwono. Rustam. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. 1990. 1989. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolumia. Yayasan Esentia Medika Heller. 1993. Harry.3.

Kala II hendaknya diperpendek dengan akstraksi vakum / forsial.Hiptonik obat D.Tremor . 2. Penatalaksanaan . Pengaruh penyakit terhadap kehamilan dan persalinan .Eksoftalmus .Lekas letih .Operasi tiroidektomi.Kenaikan BMR sampai 25 % .Pembesaran kelenjar tiroid .Kesulitan dalam menelan .Hiperfungsi kelenjar tiroid .Hiperkinesis . karena bahaya kemungkinan timbulnya dekompensasi kordis.Konstipasi .Peningkatan metabolism basal 15-20 % C.A.Kehamikan sering berakhir ( abortus habitualis ) . Etiologi Hipertiroid : . kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid. Pasien dengan penyakit primer ini mungkin mengidap batu ginjal.Mual dan muntah .Takikardia .Partus prematurus . Pengaruh kehamilan terhadap penyakit Kehamilan dapat membuat strua tambah besar dan keluhan penderita tambah berat. Kadang juga terjadi kehamilan atau timbul penyakit baru.Pemberian obbat-obat profiltluarasil dan metiazol dosis rendah .Aneroksia . Penderita hipertiroid biasanya mengalami gangguan haid ataupun kemandulan. penyakit tulang atau tanpa gejala. Tanda dan gejala Hipertiroid : . lakukan pada trimester III .Pembesarankelenjar tiroid . B. 1. timbul dalam masa kehamilan. Kejadian penyakit ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umunya disebabkan oleh adenoma tunggal. Konsep Dasar Hipertiroid pada kehamilan ( morbus basodowi ) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan naiknya metabolism basal15-20 %.

Kulit 1) Panas.E. halus. lembab.8o C → indikasi Krisis Tyroid. ASUHAN KEPERAWATAN A. 10) Tanda Van Graefe : kelopak mata terlambat turun dibandingkan boa mata. yang kemudian dioperasi untuk mengangkat adenomanya. 8) Tanda stelwag : mata jarang berkedip. 7) Tanda Rosenbach : tremor pada kelopak mata pada waktu mata menutup. 4) Ujung kuku/jari → terjadi Aerophacy. Kalau perlu dilakukan pemeriksaan kalsium berkala dan bila nyata harus dilakukan koreksi dengan kalsium glokonat 2-3 x 20 ml cairan 10 %. banyak keringat. diet makanan kalsium 4 gelas susu / hari dapat dianjurkan. rusak. 1) Peningkatan tekanan darah 2) Tekanan nadi meningkat 3) Takhikardia 4) Aritmia 5) Berdebar-debar 6) Gagal jantung . kemerahan. yaitu perubahan ujung jari → tabuh / clubbing finger disebut PLUMER NAIL. c. tetapi mungkin timbul hipokalsemia pasca bedah. 3) Kuku → terjadi onycholosi → terlepas. Pembedahan adalah terapi yang dianjurkan. F. Cardio vaskuler. b. mixedema local. pigmentasi. 2) Erythema. 3) Iritasi Conjunction dan Hemosis. PENGKAJIAN 1. 4) Laktrimasi 5) Ortalmoplegia 6) Tanda Jefrey : kulit tidak dapat mengkerut pada waktu kepala sedikit menunduk dan mata melihat objek yang digerakkan ke atas. 9) Tanda Dalrymple : retraksi kelopak mata bagian atas sehingga memberi kesan mata membelalak. Dalam kenyataan tetani neonatal sering membantu dalam memerlukan hiperparatiriodisme ibu. Pemeriksaan Fisik : a. bila keluhan menjadi ringan. 11) Tanda Molbius : kelemahan dalam akomodasi / konvergensi mata / gagal konvergensi. Mata ( Opthalmoptik ) 1) Retraksi kelopak mata atas → mata membelalak / tanda Dalrymple. Komplikasi dan Pengangan Kematian meningkat dan dapat mencapai 50 %. Pengaruh Kehamilan Terhadap Penyakit Kehamilan dapat membuat struma tambah besar dan keluhan penderita bertambah berat. licin. karena jaringan orbita dan otot-otot mata diinfiltrasi oleh limposit. mengkilat. 2) Proptosis ( eksoptalmus ). 5) Kalau ada peningkatan suhu → lebih dari 37.

. Gastrointestinal 1) Poliphagia → nafsu makan meningkat. 2) Diare → bising usus hyperaktif 3) Enek 4) Berat badan turun f. Hypomenorrhoe b. 2) Polidipsi ( rasa haus berlebihan → banyak minum ) j. Respirasi 1) Perubahan pola nafas 2) Dyspnea 3) Pernafasan dalam 4) Respirasi rate meningkat e. Status mental dan emosional 1) Emosi labil → lekas marah. menangis tanpa sebab 2) Iritabilitas 3) Perubahan penampilan i. Status ginjal 1) Polyuri ( banyak dan sering kencing ). Leher 1) Teraba adany apembesaran tyroid ( goiter ). Penurunan potensi k. Amenorrhoe Karena kelenjar tyroid mempengaruhi LH 2) Laki-laki : a.d. Otot 1) Kekuatan menurun 2) Kurus 3) Atrofi 4) Tremor 5) Cepat lelah 6) Hyperaktif refleks tendom g. Kehilangan libido b. Sistem persyarafan 1) Iritabiltas → gelisah 2) Tidak dapat berkonsentrasi 3) Pelupa 4) Mudah pindah perhatian 5) Insomnia 6) Gematar h. Status reproduksi 1) Pada wanita : a.

tinggi karbohidrat. Tyroid → radio aktif iodine up take ( RAIU ) meningkat ( Normal: 10-35 % ) d. c. diaporesis. d. e. g. nyeri abdomen dan atau peningkatan BMR ditandai dengan BB turun. pada waktu yang sama dengan timbangan dan pakaian yang sama. h. Intervensi : a. Hindari stimulan : kopi. Berikan kompres hangat sesuai kebutuhan.5oC – 37. cola. Pertahankan lingkungan yang sejuk. Berikan asetamenofen sesuai pesanan ( aspirin merupakan kontra indikasi ) f. j. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan diare. e. 2. BMR meningkar e. tingkat kesadaran. Tingkatkan masukan cairan sampai 2500 ml / hari. Kaji efektifitas selimut hipetermia bila dilakukan : .Lakukan tindakan untuk mencegah kerusakan kulit. g. T4 4-11 g ) b.tidak yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen. Hasil yang diharapkan / evaluasi : Berat badan meningkat sampai batas yang normal bagi pasien : makan diet yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen . Hipetermia yang berhubungan dengan status hipermetabolik ditandai dengan panas. masukan dan haluaran seimbang. Timbang pasien setiap hari. Tujuan : suhu normal 36. b. 2. Pemeriksaan Diagnostik a. Hindari makanan dengan jumlah yang banyak serat atau makanan yang banyak mengandung bumbu. atau makanan yang lain yang mengandung kafein atau teobromin yang meningkatkan perasaan kenyang dan paristaltik. Berikan lingkungan dengan pengunjung yang cocok bila pasien yang menginginkannya. hypertiroid < g) B. Serum T3 dan T4 meningkat ( Normal : T3 :8 – 16 g. c. Intervensi . the. Kaji efektifitas pengobatan untuk mengatasi mual dan nyeri abdomen. Tawarkan makanan dalam jumlah kecil tapi sering dan tambahan diantara waktu makan. f. TSH serum menurun c.5oC. Pantau masukan diet tinggi kalori. mual. Pantau masukan dan haluaran setiap 8 jam. i. hypertiroid > 8 g. PBI meningkat ( Normal :4 g – 8 g. b. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Pantau tanda vital. tinggi vitanin B.2) Briut ( + ). halyaran urine setiap 2 sampai 4. a. tidak mengalami diare. tinggi protein. Gunakan pakaian dan linen tempat tidur yang tipis. Konsulkan pasien untuk makanan yang disukai. Tujuan : nutrisi adekuat. . Berikan dorongan untuk memperbanyak minum 2 sampai 3 liter setiap hari . d. hindari jus yang mungkin dapat menyebabkan diare.

peka rangsang. Hasil yang diharapkan /evaluasi : a. e. keletihan. Rencanakan perawatan bersama pasien. gugup. b. b. Rencanakan aktifitas setiap hari dan pola istirahat yang dapat memudahkan meningkatan toleransi untuk perawatan diri. h. g. dan tidak merangsang. 3. Berikan lingkungan yang stabil. Pasien sadar dan responsif b. Bantu pasien saat melakukan aktifitas yang tidak mampu dilakukan karena kelemahan atau tremor. Kaji tanda vital dasar dan tingkat aktivitas sebelumnya. Biarkan pasien membuat priorotas dalam perawatan di dalam keterbatasanna. Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi dan orang : berikan penekanan bahwa hal tersebut tepat adanya. Kolaborasikan dengan dokter dalam menggunakan tindakan pendinginan tambahan bila keadaannya membutuhkan. Berikan jarak waktu antara prosedur untuk memungkinkan waktu istitrahat yang cukup. c. Tujuan : tidak terjadi perubahan proses pikir. takikardia. Tanda-tanda vital dan haluaran urine normal. 4) Hindari pergantian personel yang sering. Intervensi : a. 1) Atasi lingkunangan yang terlalu berisik. Kaji tingkat kesadaran. . berikan penjelasan yang jelas dan singkat. 5) Cegah situasi yang menimulkan kemarahan emosional bila memungkinkan d.h. Tujuan : Aktifitas dapat dilakukan sesuai toleransi. 2) Konsisten dalam waktu dan saat melakukan prosedur atau aktifitas. 3) Batasi pengunjung sesuai kebutuhan. Berikan peralatan yang dibutuhkan. afek dan persepsi setiap 4 jam sampai 8 jam : laporkan adanya perubahan negatif. Intoleran aktivitas yang berhubunagan dengan ketiddakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan karena peningkatan kecepatan metabolisme dan intoleransi terhadap panas ditandai dengan kelemahan. 4. Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa bukti-bukti intoleran. Perubahan proses fikir yang berhubungan dengan peningkatan rangsangan sistem saraf simpatis oleh tingginya kadar hormon tiroid ditandao dengan labil. Batasi akatifitas sampai tingkat toleransi pasien dengan melakukan pangkajian respon ( mis : kaji tanda vital selama melakukan aktifitas dan bandingkan dengan tanda vital dasar ). takipnea. b. Intervensi : a. Hasil yang diharapkan / evaluasi : a. orientasi. Hentikan aktifitas pada awal timbulnya gejala intoleran : dispnea. kebutuhan lain untuk mencegah penggunaan energi yang berlebihan oleh pasien sebelum aktivitas. tanpa stress. d. c. f. Meminta bantuan hanya ketika membutuhkan. tenang.

Informasikan pasien bahwa aktifitasnya mungkin dibatasi. h. g. j. Ajarkan teknik menurunkan stress dan kaji penggunaannya oleh pasien. Panyau terhadap reaksi buruk terhadap pengobatan. Antisipasi kebutuhan akan pencegahan reaksi hiperaktif. Berespon sesuai terhadap situasi dan orang c. Berikan aktifitas yang menghibur dan benda-benda yang menurunkan rangsangan . i. Pasien berorientasi b. Orientasikan kembali pasien pada lingkungan sesuai dengan yang dibutuhkan dan berikan petunjuk yang mengorientasikan ( misalnya : jam. gambar-gambar yang dikenal pasien dan sebagainya ). f.e. Menggunakan teknik reduksi stress ASKEP TOKSEMIA GRAVIDARUM . Hasil yang diharapkan : a. kalender. hindari hal-hal yang membutuhkan manipulasi motorik halus.

ruptur spontan hati yang mengakibatkan perdarahan intra peritoneal dan syok memerlukan tindakan bedah darurat. Hal seperti ini juga disebut sebagai toxemia atau pregnancy induced hypertension (PIH). ibu hamil usia remaja. Umumnya tidak ada pengobatan khusus terhadap kelainan faal hati yang terjadi pada toksemia gravidarum. terminasi kehamilan akan memperbaiki keadaan klinis dan histopatologisnya.TINJAUAN TEORI Pengertian Preeklamsia (toksemia gravidarum) adalah suatu kondisi dimana tekanan darah meningkat selama masa kehamilan. sedangkan tanda-tanda inflamasi tidak ada. Keadaan ini dapat disertai kelainan faal hati berupa kenaikan kadar fosfatase alkali dan transaminase dalam serum. Faktor Resiko Resiko tinggi mengalami preeklamsia adalah : Baru pertama kali hamil Ibu hamil yang ibunya atau saudara perempuannya pernah mengalami preeklamsia Ibu hamil dengan kehamilan kembar. Bila plasenta tidak mendapatkan cukup darah. Ini dapat mengakibatkan kelahiran dengan berat badan rendah. maka bayi anda tidak akan mendapatkan cukup oksigen dan makanan. Perdarahan intrahepatik dan subkapsuler menimbulkan keluhan nyeri epigastrik atau nyeri perut kuadran kanan atas. meskipun jarang terjadi. tapi resiko utama terjadinya pre-eklamsi adalah abrupsio plasenta. . sedangkan ikterus jarang timbul. tubuh anda menahan air. 2. dan ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun Ibu hamil yang sebelum kehamilannya memiliki penyakit darah tinggi atau penyakit ginjal Patofisologi Preeklamsia dapat membuat plasenta tidak mendapatkan darah dalam jumlah yang cukup. 4. 3. hanya terjadi pada keadaan berat. Etiologi Penyebab dari Toksemia Gravidarum sampai saat ini tidak diketahui. Bila tekanan darah anda meningkat. dan protein bisa ditemukan dalam urin anda. yait karena koagulasi intravaskuler (DIC) dengan hemolisis dan nekrosis hati Gambaran histopatologis menampakkan adanya trombi fibrin dalam sinusoid di periportal disertai tanda-tanda perdarahan serta nekrosis. Tanda dan Gejala 1.

Hemolisis (penghancuran sel darah merah) 2. Preeklamsia berat : sakit kepala. sakit di perut bagian kanan atas. mual/muntah. kelelahan. Gejala-gejala dari pre-eklamsi adalah: tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm hg wajah atau tangan membengkak kadar protein yang tinggi dalam air kemih. diplopia. edema menjadi lebih umum.Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm hg. Klasifikasi 1. Preeklamsia ringan : Tekanan darah yang tinggi. Komplikasi Komplikasi utama dari pre-eklamsi adalah sindroma hellp. nyeri di daerah epigastrium. Pemeriksaan Penunjang Penlaian Keadaan Ibu Klinis . jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi. skotoma. jika terjadi sindroma hellp. Manifetasi Klinis Biasanya tanda-tanda preeklamsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan. yang terdiri dari: 1. kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklamsi. Pada preeklamsia ringan tidak ditemukan gejal-gejala subyektif. pandangan kabur. diikuti edema. sedikit buang air kecil (BAK). bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklamsi. dan proteinuria bertambah banyak. 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. Sindroma hellp cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklamsi tertunda. Tekanan darahpun meningkat lebih tinggi. protein dalam urin 2. juga dikatakan menderita pre-eklamsi. penglihatan kabur. mual atau muntah-muntah Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklamsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklamsia akan timbul. Pada preeklamsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal. tidak dapat melihat cahaya yang terang. hipertensi dan akhirnya proteinuria. retensi air. bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur. Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah). bayi segera dilahirkan melalui operasi sesar. Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati) 3. napas pendek dan cenderung mudah cedera.

mual & muntah Ginjal: output & warna urin Penilaian Keadaan Ibu lab Hematologi: o Hb. perdarahan. SGPT. Min. kabur. dokter anda mungkin akan mengobatinya dengan memberikan obat-obat untuk menekan tekanan darah sampai perkembangan bayi anda cukup untuk dapat dilahirkan dengan selamat. somnolen o Mual & muntah Hematologi: edema. o Tremor. ptekie Hepatik: nyeri kw kanan atas & epigastrik. asam urat Hepatik: o SGOT. Nyeri subhepatik: Morfin 2-4 mg iv. hubungan TD dgn CVA. o Gg penglihatan-buta. Fibrinogen. Antihipertensi: a. Bila anda mengidap preeklamsia berat. bukan kejang SSP: Keparahan sakit kepala. hiperaktif. Mual & muntah: antiemetik 3. Antasida. risiko CVA pd ibu . AT o PTT. Istirahat.TD: derajat keparahan. Sering melakukan pemeriksaan sebelum kelahiran 3. LDH Glukosa Ginjal: o Proteinuria o Kreatinin. 2. Minum 8 gelas air per hari Penalataksanaan Medis 1. 2. urea. FDP o LDH. Mengurangi makan garam 4. iritabilitas. Minimalkan palpasi 4. berbaring pada sisi kiri tubuh agar janin anda tidak menindih urat darah. APTT. asam urat Penilaian Keadaan Janin Gerakan ( > 10x / 24jam ) DJJ USG untuk perkembangan Profil biofisik Indeks cairan amnion Pemeriksaan doppler arus darah: tali pusat Penatalaksanaan Keperawatan 1.

dan pemeriksaan laboratorium rutin Tekanan darah. dan edema dicari terutama pada daerah sacral Balans cairan ditentukan tiap hari Funduskopi dilakukan pada waktu penderita masuk rumah sakit dan kemudian tiap 3 hari Keadaan janin diperiksa tipa hari dan besarnya dinilai Penderita diingatkan untuk segera memberitahukan apaabila sakit kepala. air kencing. menentukan cara pemecahannya. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. saling berkaitan dan dinamis Pengkajian Anamnesis. merasa mual. . merasa nyeri di daerah epigastrium. terus menerus. atau menderita gangguan dalam penglihatan. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. berat badan diperiksa tiap hari. pemeriksaan umum. kondisi ibu u/ persalinan yg aman c. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. Max. tidak ada cara pasti untuk mencegah preeklamsia. Ada faktor-faktor yang dapat penyebab terjadinya tekanan darah tinggi yang dapat dikontrol. Mendapat waktu u/ penilaian lbh lanjut: memperpanjang kehamilan &persalinan pervaginam jk mungkin Pencegahan Sampai saat ini.b. Gunakan sedikit garam atau sama sekali tanpa garam pada makanan anda Minum 6-8 gelas air sehari Jangan banyak makan makanan yang digoreng dan junkfood Olahraga yang cukup Angkat kaki anda beberapa kali dalam sehari Hindari minum alcohol Hindari minuman yang mengandung kafein Dokter anda mungkin akan menyarankan anda untuk minum obat dan makan suplemen tambahan. Ikuti instruksi dokter anda mengenai diet dan olahraga. ada juga yang tidak. pemeriksaan obstetrik.

Kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai indikasi . perawat dapatmeminimalk an komplikasi preeklamsi yang terjadi dengan kriteria hasil: .Monitor tanda-tanda . Perfusi jaringan perifer tidak efektif b/d peningkatan tekanan darah Rencana Keperawatan N O 1 DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL PK: PreeklamsiSetelah dilakukan tindakan keperawatan.Tanda-tanda vital dbn . Kelebihan volume cairan b/d gangguan mekanisme pengaturan 3.5-7 Dapat mengambil gr per hari dan 6-8 tindakan lebih dini gelas air perhari Untuk menurunkan Anjurkan klien untuk tekanan darah istirahat dengan posisi Untuk mencegah lateral rekumben kiri kejang (eklamsi) Ajarkan klien tandatanda bahaya preeklamsi dan segera melaporkan jika hal itu terjadi .Kolaborasi pemberian obat anti kejang sesuai indikasi Kelebihan Setelah dilakukan Fluid Manajement: Mempertahankan volume cairantindakan . PK: Preeklamsi 2.Edema ekstremitas berkurang 2 Pantau tanda dan Mengurangi edema gejala adanya yang terjadi preeklamsi Meningkatkan Anjurkan klien untuk aliran plasma ginjal diet tinggi protein dan perfusi dengan asupan plasenta natrium sedang 2. output cairan yang retensi cairan pengaturan klien akan akurat sehingga BB memiliki .Tanda-tanda vital hematokrit) dbn .penurunan . retensi cairan dengan kriteria (peningkatan hasil: BUN.Tidak terjadi kejang .Diagnosa Keperawatan 1.Monitor hasil lab yang meningkat keseimbangan berhubungan dengan volume cairan.Pertahankan balance cairan b/d gangguankeperawatan pencatatan intake dan Pada edema terjadi mekanisme selama x24 jam.

Evaluasi edema danaliran darah perifer tidakkepaerawatan nadi perifer Mencegah efektif b/dselamax24 jam.Nadi perifer latihan sesuai prominen distal dan kemampuan proksimal kuat .Capillary refilll ≤ output dan penekanan 2 dtk .Intake dan berat badan setiap output 24 jam hari seimbang . Bayi prematur adalah Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran. 1998 : 221).Ubah posisi pasien .Kolaborasi pemberian .Tidak ada edema perifer Perfusi Setelah dilakukan Circulatory Care Meningkatkan jaringan tindakan .sehatgroup.americanpregnancy.id PREMATUR KEHAMILAN DEFINISI Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba.Lakukan penimbangan . Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan.3 .Rendahkan peningkatan peningkatan klien memiliki ekstremitas viskositas darah tekanan darah perfusi jaringan .Monitor status cairan Melancarkan kriteria hasil: meliputi intake dan peredaran darah . Walaupun kecil.Tidak ada edema memungkinkan perifer DAFTAR PUSTAKA Pregnancy Induced Hypertension (PIH): Preeclampsia or Toxemia http://www.Pertahankan hidrasiMelancarkan perifer yang yang adekuat peredarah darah efektif dengan .web. ini berbeda dengan .org www.Berat badan diuretik sesuai stabil indikasi . bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal.Anjurkan klien untuk pada bony .Warna kulit dbn setiap 2 jam jika .Nadi perifer vital teraba . .

Eastman = kausa prematur 61. 1998 : 219 ) Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan preterm Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :Menurut Manuaba (1998 : 221) 1. 3. Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui). ganda. temperatur tinggi.Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi 10. plasenta previa. BB ibu sebelum hamil. Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang. janin kembar. abruption placenta. malnutrisi dan diabetes mellitus. Keadaan rahim yang sering menimbulkan kontraksi dini : Serviks inkompeten karena kondisi serviks. Holmer = sebagian besar tidak di ketahui. amputasi serviks. walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur. sosial ekonomi 2. 3. pre-eklampsia. Kehamilan dengan ketuban pecah dini: terjadi gawat janin. Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun. Penyakit ibu yang menyertai kehamilan seperti hipertensi. toxemia.prematur. 6. Kelainan anatomi rahim 5. 4. dengan lebih dari 10 batang/ hari. 5. 8. dan sewaktu hamil 4. 2.( Mochtar .Kondisi umum 2. Perokok berat. 7. 6. Kurang gizi 4. alkohol. Kawin dan tidak kawin: Tak syah 15 % prematur. placenta previa. kawin sah 13 %prematur . merokok dan caffeine Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya persalinan preterm diantaranya: 1.9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui) 2. ETIOLOGI Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui : 1. faktor yang mempengaruhi Prematuritas adalah sebagai berikut: 1. Keadaan sosial ekonomi rendah 3. Bakteriura (infeksi saluran kencing ) 3. incompetence cervical. suku bangsa. Kelainan kongenital rahim: 7. Kehamilan dengan perdarahan antepartum pada solusio plasenta. pecahnya sinus marginalis. Umur ibu. Kehamilan dengan hidramnion. Anemia. Infeksi pada vagina aseden (naik) menjadi amnionitis Sedangkan menurut Mochtar (1998 : 220). Penyulit kebidanan 9.

Ketuban Pecah Dini 3. Hidramnion. Anemia. infeksi vagina dan serviks. 4. Kelainan Bawaan Uterus Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.5. Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil berat 9. penyakit jantung 7. Prenatal ( antenantal ) care 6.5 kg) • Kulitnya tipis. Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm . Jarak antara persalinan yang terlalu rapat 8. misalnya pada plasenta praevia. riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya . toksemia gravidarum. Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. kehamilan ganda. infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah. dan lain-lain. terang dan berwarna pink (tembus cahaya) • Vena di bawah kulit terlihat (kulitnya transparan) • Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput • Rambut yang jarang • Telinga tipis dan lembek • Tangisannya lemah • Kepala relatif besar • Jaringan payudara belum berkembang • Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan) • Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk • Pernafasan yang tidak teratur • Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit ( anak laki – laki ) • Labia mayora belum menutupi labia minora ( pada anak perempuan). kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin : 1. Serviks Inkompeten 5. 2. Kondisi Yang Menimbulkan Kontraksi Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan. atau kehamilan ganda GEJALA Gambaran fisik bayi prematur: • Ukuran kecil • Berat badan lahir rendah (kurang dari 2. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten. Keadaan dimana bayi terpaksa dilahirkan prematur. solusio plasentae.

2002 : 302 ). Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam. Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu. 2002 : 313 ) Penanganan Persalinan Preterm Penanganan Umum 1. Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran. 2. Episiotomi mengurangi tekananϖ pada cranium bayi. 6. 2. Kelahiran Prematur Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat. Kantongϖ ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar. Kelahiran presipitatus dan yangϖ tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur. al. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami konisasi. Prinsip Penanganan. Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau. Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan.. 2003 : 588 ). Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial. 2. Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat. Kehamilan Ganda 7. Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi. Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum.( Oxorn.al. 1. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan. ( Saifuddin et. Menurunkan atau mengobati Anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi. Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar. Pencegahan Persalinan Preterm Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut : Hal – hal yang dapat dicegah 1. Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya.inkompeten.( Wiknjosastro et. Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek. Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran.. .

Diagnosa keperawatan Dx.Kadar elektrolit. Congenital anomaly. Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas .Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa . 4.Riwayat kehamilan 2. 3.Muskuloskeletal . 1. 5. Hal – hal yang tidak dapat dicegah . 1998 : 220 ).Status bayi baru lahir 3.Kardiovaskular . penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia .Renal .Reproduksi 4. Tempat insersi plasenta. Hamil ganda.Pemeriksaan fisik secara head to toe meliputi : . Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat.Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia) . kultur darah. ASKEP PREMATUR KEHAMILAN Pengkajian 1.Neurologik .Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ .Pulmonary . urinalisis. 2. Vaktor Ovum. Insersi tali pusat. 7. Suku bangsa.3.Integumen .Gastrointestinal .Data penunjang . Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan) ( Mochtar. 8. 6. 1. Plasenta previa. golongan darah. Resiko tinggi disstres pernafasan berhubungan dengan immaturitas paru dengan penurunan produksi surfactan yang menyebabkan hipoksemia dan acidosis . analisa gas darah. 9.Kadar kalsium serum. analisis feses dan lain sebagainya.

2007) . Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imaturitas imunologik bayi dan kemungkinan infeksi dari ibu atau tenaga medis/perawat Dx. Markum. dan kalsium dan kehilangan cadangan glikogen karena metabolisme rate yang tinggi. Penata Laksanaan Neonatus Resiko Tinggi. auditory. 5. Edisi 4 EGC.H. antara lain kehamilan memanjang. Jakarta. Resiko hipotermia atau hipertermia berhubungan dengan prematuritas atau perubahan suhu lingkungan Dx.Bagian Ilmu Kesehatan Anak. atau 280 hari setelah ovulasi. kehamilan postterm. Louis Missouri. Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing.Fourth Edition. taktil dan olfaktory berhubungan dengan stimulasi yang kurang atau berlebihan pada lingkungan intensive care Dx. 1990.A. 8. 7. Donna. EGC. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin.Jakarta. suatu kondisi antepartum. jilid I. serta kehilangan kalori. POAT MATUR KEHAMILAN A . 2. Wong. 1998.Mosby-Year Book Inc. Jakarta. 2000. Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. dan pascamaturitas.Dx. Pengertian Kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu. Dx.FKUI. L. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rapuh dan imaturitas kulit Dx. yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan imaturitas. gustatory. 1991. 6. kehamilan lewat bulan. 3. Nelson. Kehamilan lewat bulan. 4. Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant yang sakit di rumah DARTAR PUSTAKA Klaus & Fanaroff. tidak adekuatnya intake kalori. St. Ilmu kesehatan Anak. harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas. Gangguan sensori persepsi : visual. radiasi lingkungan. ( Varney Helen. kinestehetik.volume 2 Edisi 15. zat besi. Dx. efek fototherapy atau kehilangan melalui kulit atau paru. Defiensi nutrisi berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen.

55% intrapartum. Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah . terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. 1999). Etiologi Etiologinya msih belum pasti. Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum diketahui hingga kini.Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG yang makin banyak digunakan. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum. kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu. Akibatnya induksi yang menjadi bersifat relatif.Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. Rustam. Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Faktor yang dikemukakan adalh hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan. Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih berubah. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan.Jika Tp telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan. beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian besar induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu berdasarkan hitungan dengan USG. kemudian menurun setelah 42 minggu.Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar. Prognosis Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan bila lebih dari 41 minggu karena angka mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat setelah usia 40 minggu. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Namun kurang lebih 18 % kehamilan akan berlanjut melebihi 41 minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu bergantung pada populasi dan kriteria yang digunakan.ubah. 15% postpartum C. Meskipun insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah. Selain itu. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. B .

persalinan sesar. maka sel – sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. 2007) Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar.Rustam.1998) Kesepakatan yang ada adalah bahwa resiko mortalitas perinatal lebih tinggi pada IUGR atau bayi SGA daripada AGA lewat bulan. dan mortalitas. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan. distosia bahu dan perdarahan postpartum. Hanya dengan pemeriksaan antenatal yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan diagnosis. D . Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya. (Varney. sesudah kehamilan 42 minggu. 3. Apabila diambil batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3. kesalahan letak. angka penatalaksanaan anestesia epidural. 5. Pemeriksaan Penunjang 1. baguan proksimal tibia. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil. 2. inersia uteri. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat pusat penulangan pada bagian distal femur. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas.8 atau lebih. diagnosis tidak sukar. Janin besar (c) Moulding kepala kurang. .kematian tersebut. gerkan janin dan jumlah air ketuban. tetap dan ada yang berkurang.4 -4% ( Mochtar. Clausson et al Menegaskan bahwa odds ratio untuk kematian perinatal untuk bayi AGA tidak berbeda signifkan pada bayi post term. 4. Namun bagi SGA mempunyai odds ratio 10.5 pada lahir post term.4 – 12%. Pengaruh terhadap Ibu dan Janin · Terhadap Ibu Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena (a) aksi uterus tidak terkoordinir (b). Helen. Maka akan sering dijumpai : partus lama. · Terhadap janin Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dri kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabiil dengan amniosenteris baik transvaginal maupun transabdominal. Penatalaksanaaan aktif pada bagi AGA dengan lebih bulan kenyataan dapat mengubah hasil positif yang diingunkan. kulitb ketuban akan bercmapur lemak dari sel sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. USG : ukuran diameter biparietal. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil. tulang kuboid diameter biparietal 9.

7. dengan pertimbangan kondisi janin yang cukup baik / optimal.. Variabel yang sangat memberatkan adalah usia gestasi janin. Para klinisi sejak lama menyadari perlunya mempercepat persalinan jika terdapat kondisi obstetri dan medis yang mengancam ibu dan janin. riwayat kebidanan sebelumnya. 9. status medis ibu. Pemeriksaan pH darah kepala janin 11. Amnioskopi. Uji oksitosin ( stress test). mengawasi dan membaca denyut jantung janin. perkiraan berat badan janin ( dengan manuver leopot. kesejahteraan janin. melihat derajat kekeruhan air ketuban. hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan.Melebihi 10% = kehamilan diatas 36 minggu . Penatalaksanaan aktif versus penatalaksanaan antisipatif tergantung reabilitas kriteria yang digunakan dalam menentukan usia kehamilan. karena term yang berkembang cenderung mempertimbangkan usia kehamilan sebagai suatu rangkaian yang kontinu. Kardiotografi. Penatalaksanaan aktif-induksi persalinan pada semua wanita yang usia kandungannnya melebihi 42 minggu. Ada berbagai variasi kemungkinan penatalaksanaan antisipasi dan penatalaksanaan aktif. Penatalaksanaan Medis Dua prinsip pemikiran : 1. Jika ternyata reaksi janin kurang baik. Keputusan untuk mempercepat persalinan harus selalu ditetapkan dengan membandingkan resiko dan manfaat masing masing penatalaksanaan tersebut.Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu 6. pilihan wanita yang bersanngkutan. atau keduanya) . Secara umum metode induksi yang paling efektif adalah dengan meningkatkan denyut jantung janian dan hiperstimulasi pada uterus. karena insufiensi plase 8. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin 10. Pemeriksaan sitoloi vagina E . Penatalaksanaan antisipasi-antisipasi kesejahteraan janin dengan meningkatkan pengkajian dan intervensi jika hanya terdapat indikasi. sonogram. Sebelum ada metode yang diterima untuk induksi persalinan seksio sesariamerupakan satu-satunya cara yang dapat diterima untuk mengatasi maslaah ini. 2. yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. . menurt warnanya karena dikeruhi mekonium. volume cairan amnion. antara lain: Pertimbangan kesiapan serviks ( skor bishop). dan metode induksi sesuai pertimbangan.

yang dimulai saat kemilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. 4. Riwayat lahir mati pada kehamilan cukup bulan. kehamilan lebih bulan akan meningkatkan resiko lahir mati. distosia bahu jika janin makrosomia. Hasil uji janin meragukan ( skor profil biosfik rendah) b. Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST yang nonreaktif atau APV yang randah. Induksi persalian dikaitkan dengan peningkatan anastesia epidural dalam seksio sesaria untuk wanita primigravida yang usia kehamilanyya lebih dai 41 minggu dan taksiran berat jain 3800 gram atau lebih. Diabetes dependent e. infeksi dan perdarahan sangat mengejutkan bagi masyarakat awam. Pada kenyataannya induksi persalian meningkatkan resiko distress janin. Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test. praktik induksi telah banyak meningkat selama satu dekade terakhir. c. Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42 minggu 1. yang dimulai saat kehamilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. 5. mekonium sindrom aspirasi mekonium pada neonatus. Indikasi untuk induksi persalinan mencakup hal – hal : a. seksio sesaria. . NST) dua kali dalam seminggu. Namun walaupun banyak pihak yang menentang induksi persalinan dan tidak adanya standardisai kriteria. Penatalaksanaan aktif pada kehamilan leat bulan : Induksi persalinan Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan lewat bulan. Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat diandalkan mulai penanganan aktif mengacu pada protokol. Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan karena tidak alami dan dapat meningkatkan bahaya. dokumentasikan rencana yang disepakati ( 40+ minggu) 3. cairan bercampur.Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4 minggu ( 40+minggu) 2. Oligohidramnion. APV) dua kali dalam seminggu. Preeklamsi yang cukup parah menjelah cukup bulan d.Induksi persalinan juga diperkirakan komplikasinya. 6. Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan. IUGR menjelang usia cukup bulan f. Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume.

Dengan catatan servik sudah matang. namun peran servik sangat penting yang aktivitasnya tidak sepenuhnya dipengaruhi uterus. Mifepriston 9 RU 486. Oksitosin yang digunakan melalui intravena ( atas persetujuan FDA untuk induksi persalinan ). bukan untuk induksi) b. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan intravagina ( disetujui FDA untuk mencegah ulkus peptikum. Untuk menghasilkan persalinan yang aman. 2. memiliki kisaran keberhasilan secara beragam dan atau sedikit penelitian untuk menguatkan rekomendasinya. Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik dari oksitosin namun kombinasi keduanya menunjukkan hal yang positif. keberhasilan induksi persalinnan setelah servik matang dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama oksitosin. Pemisahan ketuban Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya memisahkan membran amnion dari bagian servik . hasil yang diharapkan dari induksi persalinan adalah “ ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah kontraksi distimulasi sebelum persalinan spontan terjadi”. dan cara pemberian dan waktu pemberian untuk semua metode hingga kini masih dalam penelitian. Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin sejak tahun 1970-an. Pengaturan dosis.Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist. antagonis reseptor progesteron) ( disetujui FDA untuk aborsi trimester pertama. Meski metode induksi sekarang diutamakan pada induksi kontarkasi uterus. • Metode hormon untuk induksi persalinan : 1. Misprostol 1) Merk dagang cytotec. a. Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan ( misalnya minyak jarak. stimulasi payudara. tersedia dalam dosis 10 mg yang dimasukkan ke vagina ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1995) 2) Merk dagang predipil. dan prostaglandin terbukti lebih efektif sebagai agens yang mematangkan seriks dibanding oksitosin. • Metode non hormon Induksi persalinan 1. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk jel 0. peregangan servik secara mekanis). Dinoproston 1) Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2.5 mg deng diberika intraservik ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1993) 3. bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200 mg untuk diberikan per oral.

melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan membaran. Aktifitas seksual. atau perdarahan pervaginam yang tidak diketahui. Penangannya dengan menstimulasi selama 15 menit diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam sebanyak 3 kali perhari. Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin. pembukaan dan posisi lazimnya. 6. Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian ballon di isi udara 25 hingg 50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. atau bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. pembukaanm posisi. Kateter forey atau Kateter balon. Meskipun amniotomi sering dilakukan untuk menginduksi persalinan.. posisi yang tidak diketahui. Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu.yang mudah diraih dan segmen uterus bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam Dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk menentukan penipisan serviks. Presentasi selain kepala merupakan kontrainsdikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun. 5. Penggunaan cara ini relatif lebih aman kerna menggunakan metode yang sesuai dengan fisiologi kehamilan dan persalinan. Amniotomi Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). 4. Beberapa uji klinis membuktikan bahwa teknik ini sangat efektif. Pompa Payudara dan stimulasi puting. 2. Saat dikaukan bidan harus memeriksa dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik. Minyak jarak Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada kehamilan cukup bulan. Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna. 3. namun hingga kini masih belum ada studi prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini. Beberapa usapan biasanya eektif untuk menstimulasi kontaksi awal reguler dalam 72 jam. plasenta letak rendah. dan letak bagian bawah. Pemisahan memban servis tidak dilakukan pada kasus – kasus servisitis. Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun. maupun plasenta previa. .

bidan dianjurkan mendokumentasikan secara teliti rencana penatalaksanaan yang disepakati bersama oleh wanita. stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat. wakru. dan bidan harus tetap merujuk pada literatur terkini seputar penanganan kehamilan lewat bulan. dan langkah kewaspadaan. -hipovolemia . 2. dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium : 1. Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman.Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant II Dx Bayi Postmatur } Kerusakan integritas kulit b/d maserasi . Dx PostMatur Kehamilan . Sementara pada penatalaksanaan antisipasi. F. begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. protokol dalam memuat panduan rekomendasi yang mencakup pemberian. rapuh dan mudah mengelupas (maserasi). Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea. dosis. stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban. Bidan maupun wanita harus memahami secara benar standar perawatan setempat untuk menangani kehamilan lewat bulan. G.Nyeri b/d operasi sectio caesarea . verniks kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada.Ansietas b/d proses kelahiran lama . Wanita sebaiknya diberi tahu jika terdapat status yang tidak mencakup pada penggunaan resep. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia .Jika bidan tidak merasa bahwa penatalaksanaan aktif pada persalinan lewat bula diindikasikan. penting dinilai keadaan cairan ketuban. 3. ASUHAN KEPERWATAN I.Pada saat persalinan.asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. stadium I : kulit tampak kering.

c.} Sianosis b/d mekonium telah bercampur air ketuban } Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia: -hipovolemia . Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. B. Ilmu Kebidanan.asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. b. Jakarta. Varney. Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : . Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 : a. Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta.EGC Prawiroharjo.21. Gary. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed. Pengertian Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu.2006. Rustam. Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta. dkk.4 vo1. DAFTAR PUSTAKA Cunningham. Jakarta. Jakarta. Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta. Obstetri William ed. Etiologi Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh : a. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Ida Bagus Gede. Sarwono.2007.EGC Mochtar. Arcan Askep Perdarahan Ante Partum A. Plasenta previa Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ).1998. Bersumber dari kelainan plasenta 1. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.Jakarta. Jakarta.EGC Manuaba.2003. 1999. Helen Dkk. Sinopsis Obstetri.Endometrium yang kurang baik .

Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. 2. polip. C. Biasanya dihitung kehamilan 28 minggu. Solusi plasenta sedang • Bagian janin masih teraba • Perdarahan antara 500 – 1000 cc • Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian c. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan. dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas.Korpus luteum yang berreaksi lambat 2. Solusi plasenta ringan • Tanpa rasa sakit • Pendarahan kurang 500cc • Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian • Fibrinogen diatas 250 mg % b. dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak. Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain : a. Tidak bersumber dari kelainan plasenta. varises yang pecah ). Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua. misalnya kelainan serviks dan vagina ( erosion. Solusi plasenta Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Apabila perdarahan sedikit. . pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. Solusi plasenta berat • Abdomen nyeri-palpasi janin sukar • Janin telah meninggal • Plasenta lepas diatas 2/3 bagian • Terjadi gangguan pembekuan darah b. Kadangkadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus.. hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta. Patofisiologi 1. peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. biasanya tidak begtu berbahaya.Chorion leave yang peresisten .

Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. Solusi plasenta a ) Perdarahan disertai rasa sakit b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat d ) Abdomen menjadi tegang e ) Perdarahan berwarna kehitaman f ) Sakit perut terus menerus E. Langsung . menyebabkan pendarahan post partum . hematom retroplasenter akan bertambah besar. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. D.R c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala d ) Perdarahan berwarna merah segar e ) Letak janin abnormal 2.Couvelair uterus kontraksi tak baik. Plasenta previa a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.Perdarahan .Emboli dan obstetrik syok b. sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.B. Komplikasi tidak langsung . Tanda dan Gejala 1. Komplikasi 1. Akibatnya. Plasenta previa a ) Prolaps tali pusat b ) Prolaps plasenta c ) Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan d ) Robekan-robekan jalan lahir e ) Perdarahan post partum f ) Infeksi karena perdarahan yang banyak g ) Bayi prematuritas atau kelahiran mati a.Infeksi .

perdarahan sedikt janin masih hidup. menyebabkan anuria dan uremia. Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks. Apabila ada penilaian yang baik.Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum . Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show ( perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rectal apalagi vaginal) b. e. Sambil menunggu atau mengawasi berikan : 1. progestin atau progesterone observasi teliti. Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan. Sambil mengawasi periksa golongan darah. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari premature. c. Terapi konsrvatif Prinsip : Tunggu sampai paerdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan. Tranfuse darah.. Terapi aktif Prinsip : Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan perdarahan segera berhenti. 2. kepala sudah turun . b. dan siapkan donor transfusi darah. 2. Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa. dan pentazol. Berikan obat-obatan spasmolitika. Solusio plasenta a. 3. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta : 1. 3. Morphin suntikan subkutan 2. kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse darah ada. d. belum inpartus. Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan. Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama. Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di bawah 2500 gr.Nekrosis korteks renalis. cardizol. Plasenta previa a. bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek. Penatalaksanaan 1. F.

Imunisasi E. pembukaan masih kecil. C.Haid terakhir . Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik. Fibrinogen Konsep Asuhan Kep. Solusio plasenta dengan panggul sempit. Plasma darah c. Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps. Riwayat kesehatan yang lalu D. B.Dukungan keluarga . Riwayat menstruasi . Riwayat keluarga . perdarahan agak banyak. Solusio plasenta dengan anak hidup.sampai hodge III-IV : a. 6. Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan. d. Solusio plasenta dengan toksemia berat. Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan : a. Janin meninggal : lakukan embriotomi 4. identitas ibu hamil dan suaminya. Data umum Biodata. b. pembukaan kecil b. Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.Penyakit berat Keadaan psikososial .Pandangan terhadap kehamilan F. Keluhan utama Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu. c. b. 1. Solusio plasenta dengan letak lintang. Pengkajian Data Subjektif A. 7. Riwayat kehamilan . Pada hipofibrinogenemia berikan : a. Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan : a. 5.Keluhan . Riwayat persalinan G. Darah segar beberapa botol b.Riwayat penyakit ringan .

Buah dada / payudara . . b. .Bertambahnya ukuran dan noduler e. Abdomen Palpasi abdomen : . f.Lama kawin Data Objektif Pemeriksaan fisik 1. Rambut dan kulit .Menentukan letak janin . Riwayat perkawinan .Peningkatan frekuensi nadi . anemis .Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal. a.Gigi dan mulut c.Laju pertumbuhan rambut berkurang. .Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.Status perkawinan .Kawin pertama . penurunan resistensi jalan nafas.Diafragma meningga.Volume darah meningkat .Mata : pucat. Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil. Leher d. Wajah .Peningkatan pigmentasi areola putting susu . .Menentukan tinggi fundus uteri .Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola. .Hudung .Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. putting susu dan linea nigra. Jantung dan paru .Peningkatan volume tidal. .- Haid pertama Sirkulasi haid Lamanya haid Banyaknya darah haid Nyeri Haid terakhir H.Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.

3. 3.Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ? . 4. Takut berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan diri dan bayinya.Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2. Diagnosa Keperawatan 1.Pemeriksaan radio isotopic . System musculoskeletal . 2.Pemeriksaan inspekulo .Posisi dan persentasi janin .Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ? . pengalihan aktivitas.Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) . 2. Gangguan perpusi jaringan ( plasental ) yang berhubungan dengan kehilangan darah.Ultrasonografi .Persendian tulang pinggul yang mengendur . tanpa perdarahan.Pemeriksaan dalam 2. Khusus . Pemeriksaan penunjang . Pemberian cairan IV atau produk darah sesuai pesanan.Tinggi fundus uteri .Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ? .Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ? .Denyut jantung janin 3. Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus.Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ? . Intervensi 1. memposisikan dengan bantal.Hipertropi epithelium h. .Panggul dan janin lahir . Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya. Haluaran perkemihan.g.Gaya berjalan yang canggung . Vagina . pelacakan pemantauan elektronik. mencakup tanda-tanda vital. dan tanda persalinan. Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini : .Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ? .Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah baring dengan cara menggosok punggung.

seiring pembengkakan pada kelamin yang memerah. dan sebagainya.terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk. stafilokokus dan E.juga dapat disertai demam . TANDA dan GEJALA Tanda dan gejala o Pada vulva : perubahan warna kulit. Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis. Infeksi alat kelamin wanita bagian atas : Virus : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika. Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina ETIOLOGI INFEKSI a. Jamur : kandida albikan. timbunan nanah dalam kelenjar. ETIOLOGI Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. “Kuman dalam vagina bisa menginfeksi salah satu kelenjar bartolin hingga tersumbat dan membengkak. o Kelenjar bartolin membengkak. tak akan menimbulkan keluhan D. PATOFISIOLOGI Lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi cairan). pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan. Evaluasi 1. nyeri tekan.coli C. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman.membengkak. Jika tak ada infeksi. ASUHAN KEPERAWATAN BARTOLINITIS TINJAUAN TEORI A. Jamur : asinomises. Mulai dari chlamydia. 2. Biasanya. b. B. Juga dapat disertai demam. Bakteri : neiseria gonore. PENGERTIAN Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita.4. Bakteri : neiseria gonore. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks. gonorrhea. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat. serta terapi mulai diberikan.

rasa sakit saat buang air kecil. Sering anamnese hanya didapatkan riwayat kontak dengan penderita. abses tubo ovarii bahkan pelvik peritonitis. salpingitis. Laboratorium : Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus gram negatif intraseluler lekosit. F. E. Pemeriksaan : Pemeriksaan dengan spekulum : ostium uteri eksternum bisa tampak normal. Kalau ada keluhan biasanya disuria dan lekore. dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Vullva In speculo G. c. dll). . Ketiga komplikasi tersebut terahir disebut Pelvis Inflamatory Disease (PID). GONORE (GO) Anamnese : a. yang sering diabaikan oleh penderita. Tampak vaginal discharge dengan sifat mukoid keruh. hingga kelenjar tersebut mengempis. mukopurulen atau purulen. b. molasic.o Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal. rasa sakit saat berhubungan dengan suami. 1. selama sedikitnya 5-7 hari. Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). diminum 3×1 untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan. PENGOBATAN Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg. kemerahan atau erosif. atau ada benjolan di sekitar alat kelamin. PENATALAKSANAAN TATALAKSANA INFEKSI ALAT KELAMIN WANITA Berikut ini adalah beberapa infeksi alat kelamin wanita yang sering dijumpai di Puskesmas dan tatalaksana yang disesuaikan dengan sarana diagnosis dan obat-obatan yang tersedia. 99 kasus GO pada wanita menyerang servik uteri dan 50-75 % kasus pada wanita tidak ada gejala atau keluhan. o Terdapat abses pada daerah kelamin o Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah. Mungkin didapatkan komplikasi seperti : bartolinitis. diminum 3×1 sesudah makan.

500 mg. Urin : berawan atau didapat benang-benang pendek (threads) Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). Sering juga dikeluhkan keluar darah pada akhir dari buang air kecil (terminal dysuria). 7 dan 14.2) Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus intraseluler lekosit gram negatif. Catatan : Terapi sebaiknya diberikan juga kepada patner sex penderita (suami) secara bersamaan. Bila disertai sistitis. atau 4) .5 gram oral dosis tunggal (lebih poten bila ditambahkan Probenesid 1 gram). sesudah itu setiap bulan selama 3 bulan. . 2 hari berturut turut. 3) Pada kasus persisten lama pengobatan 21 hari. atau 5) Kotrimoksasol tablet 480 : 1 X 4 tablet selama 5 hari 6) Bila ada komplikasi : Amoksisilin atau Ampisilin : 3. Selama masa terapi sebaiknya kegiatan sex dihentikan. 7) Pengamatan dan pemberian ulang dilakukan pada hari ke 3. keluhan biasanya adalah disuria dengan atau tanpa discharge. atau 2) Kanamisin : 2 gram IM dosis tunggal.8 juta IU IM (skin test dulu).Tetrasiklin cap: 4 X 500 mg selama 5 hari. dilanjutkan 4 X 500 mg selama 4 hari. atau dosis awal 1. lekosit >10/lapangan pandang. mungkin ada nyeri tekan suprapubis. Sering bersifat kumatkumatan (yang membedakan dengan GO) Riwayat kontak sering (+) Pemeriksaan : Mungkin ada discharge uretra. URETRITIS NON GONORE Anamnese : Biasanya tidak ada keluhan.5 gram oral dosis tunggal diteruskan 4 X 500 mg selama 10 hari. Kalau ada. 2) Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-) Urin : berawan atau threads (+). atau 3) Amoksisilin atau Ampisilin : 3. Terapi : 1) Penisilin Prokain : 4. Penatalaksanaan : 1) Tetrasiklin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari atau 2) Erytromisin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari. Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-). 2.

3. selama 14 hari. 4. KANDIDIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah keputihan dan gatal di vagina. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. karena > 50% penderita GO wanita disertai dengan trikomoniasis. H. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. Riwayat suami kencing nanah perlu ditanyakan. Pemeriksaan : Pemeriksaan in speculo : terasa sakit. Pemeriksaan : Vulva : tampak merah. dan pemakaian antibiotika yang tidak terkontrol serta kegemukan. sedikit. Laboratorium : Fluor albus : dengan mikroskup cahaya Trichomonas vaginalis (+). mungkin didapat juga fisura atau erosi (Vulvovaginitis). Kriteria Minimal : 1) Fluor albus : cair. Kriteria Minimal : 1) Vuvovaginitis. Discharge kental. khas : didapat bintikbintik merah (punctatae red spots atau strawbery cervix) di dinding vagina.000 mg. sebagai dosis tunggal. 2) Discharge kental. sedikit. Penatalaksanaan : 1) Topikal : Nistatin vaginal tablet : 1 X 1. PENCEGAHAN . selama 7 hari. TRIKOMONIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah adanya keputihan dengan jumlah banyak. Laboratorium : Sel ragi (yeast cells) atau tunas (budding body) dan pseudohypha atau spora. adanya plak putih. Sakit pada saat berhubungan sex (dyspareunia) juga sering dikeluhkan. In speculo : Terasa sakit. Faktor predisposisi : diabetes militus. 2) Punctatae red spots (+) 3) Laboratorium : Puskesmas ? Penatalaksanaan : 1) Metronidasol : 1 X 2. udem. fluor albus cair dengan jumlah banyak dan berwarna kuning atau putih kehijauan. warna kuning atau putih kehijauan. pemakaian Pil KB. banyak. Mungkin juga dikeluhkan adanya rasa sakit waktu melakukan aktivitas sexual. dan 2) Nistatin tablet : 4 X 1 tablet. berwarna kuning atau putih kehijauan.

Untuk menghadang radang. Usahakan agar Anda terhindar dari kegemukan yang menyebabkan paha bergesek. Peradangan berhubungan erat dengan penyakit menular seksual dan pola seksual bebas. 7. 9. Tak perlu malu berkonsultasi dengan dokter kandungan sekalipun belum menikah. Jika tidak dibutuhkan. Hindari melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. tak gampang mendeteksi sumber penularan bakteri. 4. Salah satunya adalah gaya hidup bersih dan sehat : - 1. ada penderita radang yang menggunakannya sebelum Anda. 3. 2. Padahal penggunaan pantyliner dapat meningkatkan Kelembapan kulit di sekitar vagina. berbagai cara bisa dilakukan. jangan menggunakan pantyliner. Biasakan membersihkan diri. ASUHAN KEPERWATAN A. 5. Konsumsi makanan sehat dan bergizi. Kuman dapat hidup subur di daerah tersebut. Biasakan membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual. Produk pembersih dan pengharum vagina yang banyak diperdagangkan sebetulnya tidak diperlukan. Alat reproduksi memiliki sistem pembersihan diri untuk melawan kuman yang merugikan kesehatan. Ingat. 8. Karena keputihan dapat dialami semua perempuan. Hindari mengenakan celana ketat. Kondisi ini dapat menimbulkan luka. Jika Anda bergantiganti pasangan. kuman juga bisa berasal dari pasangan Anda. Siapa tahu. Perempuan seringkali salah kaprah. Periksakan diri ke dokter jika mengalami keputihan cukup lama. Sebaliknya jika digunakan berlebihan bisa berbahaya. Mereka merasa nyaman jika pakaian dalamnya bersih. Berhati-hatilah saat menggunakan toilet umum. karena dapat memicu kelembapan. PENGKAJIAN Perubahan warna kulit Udem Cairan pada kelenjar Nyeri Benjolan pada bibir vagina Bau cairan Kebersihan tubuh Jumlah dan warna urin . setelah buang air besar. 6. dengan gerakan membasuh dari depan ke belakang. Pilih pakaian dalam dari bahan yang menyerap keringat agar daerah vital selalu kering. sehingga keadaan kulit di sekitar selangkangan menjadi panas dan lembap.

DIAGNOSA Defisit perawatan diri b.d kurangnya pemahaman terhadap sumber sumberinformasi nyeri b.d proses penyakit C.- B.d keterbatasan gerak Kerusakkan integritas kulit b. INTERVENSI Membantu pasien untuk memenuhi higiene pribadi Memantau keadaan luka Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan diri (kebersihan alat genetal) Kaji tingkat nyeri Gunakan cara-cara interaktif yang berfokus pada kebutuhan untuk membuat penyesuaian dalam peraktik seksual atau untuk meningkatkan koping terhadap masalah/gangguan seksual .d keadaan luka cemas Disfungsi seksual b.d edem pada kulit Defisit pengetahuan b.

3. Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar. Mioma Submukosum . Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%). Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus. namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen. E. Pengertian Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid.Askep Ibu dengan Myoma Uteri A. Komplikasi Pertumbuhan leimiosarkoma. Kalau proses ini terjadi mendadak. D. Mioma Subserosum . Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus. . 1. Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu. 2. Lokalisasi Mioma Uteri Mioma intramural . dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. kadangkadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina. Pemeriksaan Diagnostik 1. ujung tumor. C. Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. 2. 3. Etiologi Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti. tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut. B. sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause Torsi (putaran tangkai) Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche. Nekrosis dan Infeksi Pada myoma subserosum yang menjadi polip.

perubahan dalam masalah kewanitaan. akibat pada hubungan seksual. Diagnosa Keperawatan 1. 4. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi. serviks. 5. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun. cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya. 2. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi. 3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot 3. Pengkajian …. perut pada malignan neoplasmatic desease. teraba massa. Albumin : turun. Cara Penanganan Mioma Uteri Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan.1. Lekosit : turun / meningkat. Eritrosit : turun 2. Susan Martin. konsistensi dan ukurannya. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. 4. leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). B. . 6. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang. 1998). F. gangguan sensorik / motorik. kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam. USG : terlihat massa pada daerah uterus.. yang dapat mempengaruhi tindakan operasi. TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus.

mengatur posisi. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi. 3.5. gangguan sensorik / motorik. Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri. Lakukan palpasi pada kandung kemih. Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien 5. Memudahkan tindakan keperawatan 2. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Ajarkan teknik relaksasi Meningkatkan kenyamanan klien 4. mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya. Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien 3. mengalirkan air keran. Mencegah terjadinya retensi urine Daftar Pustaka . Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine Melihat perubahan pola eliminasi klien 2. Intervensi dan Rasional 1. observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri. Rencana Keperawatan Dx 1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma Tujuan Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri. tidak mengenal sumber informasi. Kolaborasi pemberian analgesik Mengurangi nyeri Dx 2 Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya. Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat. bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine. Intervensi dan Rasional 1. Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya. Tujuan Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine.

Biasanya jika penderita berbaring. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Elstar. Rasa sakit di pinggul dan pinggang(Backache). Definisi Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Persalinan lama dan sulit. Jane. Bandung Carpenito. Charette.Bagian Obstetri & Ginekologi FK.Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang ketegangannya. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause.2000.sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan.penatalaksanaan pengeluaran plasenta.Oleh karena itu prolaps uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat. 2. EGC. Edisi 8. Lynda Juall. 2000. Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai: a. Poedjo. Mimbar Vol. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia eksterna. c.5 No. Danielle. Jakarta ASKEP PROLAPS UTERI TINJAUAN TEORI 1.2 Mei 2001 Saifidin. Tanda dan Gejala Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual. 2001.Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun. Jakarta Hartono. Jakarta Galle.laserasi dinding vagina bawah pada kala II. 2000.meneran sebelum pembukaan lengkap. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Abdul Bari. 1993. EGC.reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Ginekologi.keluhan menghilang atau menjadi kurang.dkk. b. Unpad. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala: .

Terutama akibat persalinan.Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali. Patofisiologi Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat . baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan vagina.mengejan. pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu berjalan dan bekerja.1. Miksi sering dan sedikit-sedikit. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk.Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri. 3. lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena infeksi serta luka pada portio uteri.akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya. 3.dan lambat laun menimbulkan ulkus yang dinamakan ulkus dekubitus.prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta dsb.khususnya persalinan pervagina yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan ligament yang tergolong dalam fasia endopelviks dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul.factor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus.terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam menopause. e.Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara. d.Mula –mula pada siang hari. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut: 1.Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra. Etiologi Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering.Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja. Serviks uteri terletak diluar vagina.Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap.partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk porolaps yang sudah ada. 4.dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri totalis.Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetric.kemudian lebih berat juga pada malam hari 2. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa penuh di vagina. f.dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar.atau yang diselesaikan dalam penurunan dan menyebabkan urethrokel.Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus. obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel. 2.Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal hanya dibelakang urethra ada .ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel.Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas. Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi: 1. 2.Asdites dan tumortumor di daerah pelvis mempermudah terjadinya hal tsb.

atau penderita masih ingin mendapat anak lagi.dekat pada oue.sebagai terapi tes.kistik dan tidak nyeri. Untuk memastikan diagnosis. 6.Kantong hernia ini dapat berisi usus atau omentum.Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel.dan selanjutnya dapat diraba dinding retrokel yang menonjol kelumen vagina.untuk menghilangkan simpton yang ada sambil menunggu waktu operasi dapat dilakukan Pengobatan Operatif Prolapsus uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina.atau kondisinya tidak mengijinkan untuk dioperasi.padahal tidak ada prolapsus uteri. Latihan-latihan otot dasar panggul b. c.Serviks uteri yang lebih panjang dari biasanya dinamakan Elongasio kolli. Penderita berbaring pada posisi litotomi.lubang yang membuat kantong antara urethra dan vagina.Enterokel menonjol kelumen vagina lebih keatas dari retrokel. Pemeriksaan Penunjang Friedman dan Little(1961) menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut: a.bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi.Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan. a.jari dimasukkan kedalam rectum. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan.yaitu menonjolnya rectum kelumen vagina 1/3 bagian bawah. Pengobatan dengan pessarium.kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetric atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rectum kedepan dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol kelumen vagina yang dinamakan retrokel.Pada pemeriksaan rectal.atau penderita menolak untuk dioperasi.ditentukan pula panjangnya serviks uteri.ada benjolan ke vagina terdapat di atas rectum.kateter itu diarahkan kedalam sitokel.apakah portio pada normal atau portio sampai introitus vagina atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina. .atau prolapsus uteri yang tidak ada belum perlu dioperasi.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus vagina adalah adanya keluhan.Dinding vagina bagian belakang turun dan menonjol ke depan. b. Menegakkan diagnosis retrokel mudah.Penonjolan ini berbentuk lonjong.Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan.dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina. Stimulasi otot –otot dengan alat listrik c. Penatalaksanaan Medis Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu.Maka.dengan indikasi:kehamilan. Penderita pada posisi jongkok disuruh mengejan dan ditemukan dengan pemeriksaan jari.Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam.Enterokel adalah hernia dari kavum Douglasi.prolapsus vagina perlu ditangani juga.memanjang dari proksimal kedistal. 5.jika dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri.dinding rectum lurus.penderita menolak untuk dioperasi.ada kemungkinan terjadi prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan.

tingkat prolapsus dan adanya keluhan. Mual. Tidak nafsu makan. Bayi menangis terns. Pusing. Pucat. kembung.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari beberapa factor. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PROLAPS UTERI 1. Konstipasi. Dehidrasi. Nyeri di daerah benjolan. Demam. Anak / bayi rewel. muntah. Diagnosa Keperawatan • Sebelum Operasi Diagnosa Keperawatan 1.seperi umur penderita. kembung. Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya. Lemas. Selaput mukosa mulut keying.keinginanya untuk mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus. ♦ Sesudah Operasi Nyeri di daerah operasi. ♦ Sesudah Operasi Terdapat luka pada selangkangan. . Spasme otot. Mual. Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap. 2. Terdengar bising usus pada benjolan. Puasa. • Data Obyektif ♦ Sebelum Operasi Nyeri bila benjolan tersentuh. Pada saat bayi menangis/mengejan dan batukbatuk kuat timbul benjolan. gelisah. Pengkajian • Data Subyektif ♦ Sebelum Operasi Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan.

Rencana tindakan : 1. 4. Diagnosa Keperawatan 2. 3. Berikan posisi tidur yang menyenangkan clan aman. Observasi tanda-tanda vital clan keluhan pasien. lokasi. 5. Beri kesempatan anak untuk bertanya. Kaji tingkat kecemasan pasien. 6. . Kaji intensitas nyeri pasien. Letakkan anak pada tempat tidur dengan teknik yang tepat sesuai dengan pembedahan yang dilakukan. Bed obat-obat analgetik sesuai pesanan dokter. 3. 3. Jelaskan tentang keadaan pasien setelah dioperasi. jam operasi. 4. Observasi tanda-tanda vital 2. Ajarkan tehnik-tehnik relaksasi = tarik nafas dalam. Nyeri berhubungan dengan luka operasi. 5. diharapkan : Nyeri berkurang. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. Rencana tindakan : 1. secara bertahap. jenis dan intensitas nyeri 3. Jelaskan pada pasien tentang apa yang akan dilakukan di kamar operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan. 2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan inkontenensia urin Hasil yang diharapkan : Turgor kulit elastis. Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah. Rencana tindakan 1. Observasi keluhan nyeri. Ciptakan lingkungan yang tenang. Kalau perlu pasang infus clan NGT sesuai program dokter. 6. 7. Hasil yang. • Sesudah Operasi Diagnosa Keperawatan 1. Jelaskan penyebab rasa sakit. waktu puasa. Hasil yang diharapkan : Ekspresi wajah tenang. cars menguranginya. Rencana tindakan : 1. Timbang berat baclan anak tiap hari. Dengarkan keluhan pasien 4. 2. Beri posisi senyaman mungkin bunt pasien. 2. Diagnosa Keperawatan 3. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan.

Suhu dalam batas normal (36-37°C) Rencana tindakan : 1. Monitor pemberian infus. 7. Timbang berat badan tiap hari. Rawat luka operasi dengan tehnik steril. Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan. 4. 7. 6. Hasil yang diharapkan Luka operasi bersih. 8. Lakukan tindakan keperawatan anak dengan hati-hati. Luka operasi bersih.5. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. tidak ada perdarahan. 4. Monitor pemberian infus. ticlak bengkak. bengkak dan keluar cairan. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. Mual clan muntah ticlak ada. Beri kompres hangat. Rawat luka dengan teknik steril. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan. Hasil yang diharapkan Turgor kulit elastis. 5. 3. ticlak ada perdarahan. Diagnosa Keperawatan 4. Observasi keadaan luka operasi dari tandatanda peradangan : demam. kering. tidak ada bengkak. Diagnosa Keperawatan 3. Berikan therapi analgetik sesuai program medis. Anjurkan untuk sesegera mungkin anak beraktivitas secara bertahap. 2. 6. Hasil yang diharapkan : 1. 2. Resiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pads luka operasi. 5. Beri minum & makan secara bertahaP. Ajarkan tehnik relaksasi. merah. Kalau perlu ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi. Diagnosa Keperawatan 2. Jaga kebersihan sekitar luka operasi. 4. 2. 2. Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya. 3. 6. Beri terapi antibiotik sesuai program medik. Monitor tanda-tanda dehidrasi. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi clan lingkungannya. Rencana tindakan : 1. 3. Rencana tindakan : 1. Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi. . tidak kering. 5. kering.

Diskusikan tentang keinginan keluarga yang ingin diketahuinya. ETIOLOGI Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Apabila mukus sedikit di serviks. Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang akan membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang akan menghambat transportasi sperma ke vagina 2. 3. Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain : a. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. Diagnosa Keperawatan 5.6. dan idiopatik 10%. Orang tua mengerti tentang perawatan luka operasi. Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu pengeluaran mukus serviks. bekas operasi pada serviks yang . 2. DEFENISI Infertilitas adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-3 x / minggu. 2. istri 4055%. keduanya 10%. • Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah itu tidak pernah hamil lagi B. Pada wanita • Gangguan organ reproduksi 1. Hasil penelitian membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil. Hasil yang diharapkan : 1. 4. perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya. Rencana tindakan : 1. Ajarkan kepada orang tua cara merawat luka operasi & menjaga kebersihannya. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri. 7. ASKEP INFERTILITAS A. Orang tua dapat memelihara kebersihan luka operasi clan perawatannya. Jelaskan tentang perawatan dirumah. dan kontrol kembali ke dokter. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/ minum obat secara teratur di rumah. Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi. Selain itu. Jaga kebersihan luka operasi. 5. balutan jangan basah & kotor. tanpa mamakai matoda pencegahan selama 1 tahun Ada 2 jenis infertilitas : • Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali.

• Kegagalan implantasi Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi. dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi hipothalamus dan hipofise. maka folicle mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gengguan ovulasi. zat kimia. dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan. Setelah terjadi pembuahan. Radiasi. hipospadia • Abnormalitas ereksi • Abnormalitas cairan semen. morfologi. Akiatnya fetus tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus. motilitas • Abnormalitas ejakulasi. misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus. asap rokok. stress. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini. ejakulasi rerograde. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil. b. obat-obatan anti cancer • Abrasi genetik . • Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi. Hambatan ini dapatterjadi karena adanya tumor kranial. proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. • Endometriosis • Abrasi genetis • Faktor immunologis Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu.menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim 3. mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang 4. perubahan pH dan perubahan komposisi kimiawi • Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut sehingga terjadi penyempitan pada obstruksi pada saluran genital • Lingkungan. gas ananstesi. Pada pria Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria yaitu : • Abnormalitas sperma. Kelainan pada uterus. maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu • Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi.

PATOFISIOLOGI a. radiasi. Wanita Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. MANIFESTASI KLINIS 1. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi. alkohol. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi .C. adhesi. Abnormalitas ovarium. bentuk dan motilitas sperma) • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen D. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma. Pria • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. atau tumor • Traktus reproduksi internal yang abnormal 2. diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. memiliki payudara yang tidak berkembang. Wanita • Terjadi kelainan system endokrin • Hipomenore dan amenore • Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik • Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek. narkotik. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas. mempengaruhi pembentukan folikel.dan gonatnya abnormal • Wanita infertil dapat memiliki uterus • Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. rokok. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla.

Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan. • Sitologi vagina Pemeriksaan usap forniks vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina • Uji pasca senggama Mengetahui ada tidaknya spermatozoa yang melewati serviks ( 6 jam pasca coital ). Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu. • Histerosalpinografi . E. Pemeriksaan System Reproduksi 1.genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik. • Biopsy endometrium terjadwal Mengetahui pengaruh progesterone terhadap endometrium dan sebaiknya dilakukan pada 2-3 hr sebelum haid. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido. Uji lendir serviks metoda berdasarkan hubungan antara pertumbuhan anatomi dan fisiologi serviks dengan siklus ovarium untuk mengetahui saat terjadinya keadaan optimal getah serviks dalam menerima sperma • Analisa hormon Mengkaji fungsi endokrin pada aksis ovarium – hipofisis – hipotalamus. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. Meliputi pengkajian BBT (basal body temperature ) 2. PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik: Perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat ( spt distribusi lemak tubuh dan rambut yang tidak sesuai ). Wanita • Deteksi Ovulasi 1. Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok. infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus. Pria Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Dengan pengambilan specimen urine dan darah pada berbagai waktu selama siklus menstruasi. b.

. Disini dapat dilihat kelainan uterus. seperti. FSH. PENATALAKSANAAN A.2 detik persentase gerak sperma motil > 60% Aglutasi Tidak ada Sel – sel Sedikit.8 Volume 2 – 5 ml Viskositas 1.18-1. hipofisis jika kelainan ini diduga sebagai penyebab infertilitas. vesikula seminalis. Pria • Analisa Semen Parameter Warna Putih keruh Bau Bunga akasia PH 7.6 – 6.6 centipose Jumlah sperma 20 juta / ml Sperma motil > 50% Bentuk normal > 60% Kecepatan gerak sperma 0. jaringan parut dan adesi akibat proses radang. atau seluran ejakulatori. misalnya untuk identifikasi kelainan. • Biopsi testis Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan testis memakai metoda invasif untuk mengidentifikasi adanya kelainan patologi. • Pemeriksaan pelvis ultrasound Untuk memvisualisasi jaringan pelvis. • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona F.tidak ada Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin Pemeriksaan ini berguna untuk menilai kembali fungsi hipothalamus. gejala lendIr serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital • Pemberian terapi obat.2 – 7. • Laparoskopi Standar emas untuk mengetahui kelainan tuba dan peritoneum. Dilakukan secara terjadwal. dan LH. distrosi rongga uterus dan tuba uteri.Radiografi kavum uteri dan tuba dengan pemberian materi kontras. • USG Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat struktur kelenjar prostat. perkembangan dan maturitas folikuler. serta informasi kehamilan intra uterin. Wanita • Pengetahuan tentang siklus menstruasi. 2. Uji yang dilakukan bertujuna untuk menilai kadar hormon tesrosteron.

Terapi penggantian hormon 3. Riwayat Kesehatan Sekarang . 2.1. Stimulant ovulasi. diharapkan kualitas sperma meningkat • Agen antimikroba • Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan • HCG secara i. budaya dan agama B. baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus. Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat • GIFT ( gemete intrafallopian transfer ) • Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas • Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate. Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal 4. pemberian tsh . Identitas klien Termasuk data etnis. perbaikan nutrisi. Pria • Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun. Seperti. • Pengangkatan tumor atau fibroid • Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi B. PENGKAJIAN A. Riwayat kesehatan 1) Wanita a. digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus • Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik • Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma • Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. peningkatan kadar prolaktin.m memperbaiki hipoganadisme • FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis • Bromokriptin. 1. jangan yang mengandung spermatisida Konsep Asuhan Kep. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di rumah • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama • Tumor hipofisis atau prolaktinoma • Riwayat penyakit menular seksual • Riwayat kista b. tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat • Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital.

Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik d. pria atupun wanita. radiasi. bentuk dan motilitas sperma) • Saluran sperma yang tersumbat • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen c. Pemeriksaan Fisik Terdapat berbagai kelainan pada organ genital. uterus. narkotik. rokok. Pemeriksaan penunjang . D. kecelakan sehinga testis rusak • Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis • Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi contoh : operasi prostat. dan servik • Autoimun c. ovarium. Riwayat Kesehatan Sekarang • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Trauma. Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik C.• Endometriosis dan endometrits • Vaginismus (kejang pada otot vagina) • Gangguan ovulasi • Abnormalitas tuba falopi. Riwayat Obstetri • Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi • Mengalami aborsi berulang • Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi 2) Pria a. operasi tumor saluran kemih • Riwayat vasektomi b. alkohol. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Ansietas b. Wanita • Deteksi Ovulasi • Analisa hormon • Sitologi vagina • Uji pasca senggama • Biopsy endometrium terjadwal • Histerosalpinografi • Laparoskopi • Pemeriksaan pelvis ultrasound b. alternatif untuk terapi Perubahan proses keluarga b.d terapi untuk menangani infertilitas. Pria • Analisa Semen • Parameter • Warna Putih keruh • Bau Bunga akasia • PH 7.tidak ada • Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin • USG • Biopsi testis • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona 2.18-1.6 centipose • Jumlah sperma 20 juta / ml • Sperma motil > 50% • Bentuk normal > 60% • Kecepatan gerak sperma 0. harga diri rendah b.2 – 7.d prognosis yang buruk . gangguan citra diri b.d ketidaktahuan tentang hasil akhir proses diagnostic Gangguan konsep diri.8 • Volume 2 – 5 ml • Viskositas 1.d harapan tidak terpenuhi untuk hamil Berduka dan antisipasi b.d gangguan fertilitas Gangguan konsep diri.d metode yang digunakan dalam investigasi gangguan fertilitas Konflik pengambilan keputusan b.2 detik • persentase gerak sperma motil > 60% • Aglutasi Tidak ada • Sel – sel Sedikit.a.6 – 6.d perubahan struktur anatomis dan fungsional organ reproduksi Resiko tinggi terhadap kerusakan koping individu / keluarga b.

Angka kejadian abortus diperkirakan frekuensi dari abortus spontan berkisar 10-15%.d kurang control terhadap prognosis Resiko tinggi isolasi social b.000 janin yang mengalami abortus . diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu. dan penataklaksanaannya Askep Abortus Pengertian Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. abortus buatan. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyak wanita mengalami kehamilan dengan usia sangat dini.Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik (Prawirohardjo. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones.000-750. d efek tes dfiagnostik Efek tes diagnostic ketedakberdayaan b. Terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan dalam hal ini adalah abortus yaitu abortus spontan. dalam hal ini adalah perawat setelah membaca pokok bahasan ini. sehingga seorang wanita tidak mengetahui kehamilannya.d kerusakan fertilitas. dengan demikian setiap tahun terdapat 500. Oleh karena itu. 2002). S. Abortus spontan terjadi karena kualitas sel telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah janin. pandangan yang ada di dalam masyarakat tidak boleh sama dengan pandangan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan. dan terapeutik. Menariknya pembahasan tentang abortus dikarenakan pemahaman di kalangan masyarakat masih merupakan suatu tindakan yang masih dipandang sebelah mata.Nyeri akut b. 2002). Di Indonesia. terlambatnya menarche selama beberapa hari. investigasinya.

Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan) Yaitu: • • • • Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. Pada kehamilan 8–14 minggu villi koriales menembus desidua secara mendalam. Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu : . Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. dan tanpa adanya dilatasi serviks. Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandunganapabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu. Pada kehamilan diatas 14 minggu. setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta (Prawirohardjo. janin dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) Yaitu: • Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan. atau berat badanbayi belum 1000 gram. S. walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian abortus. 2. Abortus terjadi pada usisa kehamilan kurang dari 8 minggu.spontan. Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Klasifikasi 1. 2002).

toxemia gravidarum 5. 3. Sifilis. 4. hipertensi 2. Faktor maternal seperti pneumonia. seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua). 3. obat-obatan temabakau dan alcohol 2. Infeksi bakteri. inkompetensia serviks. hepatitis. misalnya malaria. Pengaruh teratogen akibat radiasi. 4. dll. Keracunan. mioma uteri dan kelainan bawaan uterus. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah : a. Fibroid. • Penyebab yang bersifat lokal: 1. Kelainan kromosom. . misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun 3. biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. nephritis 3. Kelainan pada plasenta. misalnya keracunan tembaga. 2. retroversi uteri. • Infeksi kronis 1. anemia berat. rubella. Radang pelvis kronis. Penyebab dari segi Maternal Penyebab secara umum: • Infeksi akut 1. 2. endometrtis. Parasit. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. air raksa. misalnya : 1. 6. ketakutan. timah. terutama trimosoma dan monosoma X b. Gangguan fisiologis. virus. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna c. virus. misalnya cacar. diabetes 4. misalnya streptokokus. Penyakit kronis. biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. Kelainan traktus genetalia. penyakit jantung 6. misalnya Syok. 2. anemia berat 5. keracunan dan toksoplasmosis. Trauma fisik.1. dll. Tuberkulosis paru aktif. typus.

tekanan darah normal atau menurun. Mola hidatidosa. misalnya inflamasi dan degenerasi. maserasi atau fetus papiraseus. Rasa mulas atau kram perut. sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus 5. denyut nadi normal atau cepat dan kecil. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. ada atau tidak jaringan keluar dari ostium. osteum uteri terbuka atau sudah tertutup. besar uterus . villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Penyakit plasenta dan desidua. Pemeriksaan ginekologi : a. suhu badan normal atau meningkat 3. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup. janin masih hidup. Manifestasi Klinis 1. teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi 4. sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus Penyebab dari segi Janin • • • Kematian janin akibat kelainan bawaan. mola kruenta. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum). Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu 2. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu. Retroversi kronis.3.Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri. penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil. tercium bau busuk dari vulva b. 4.janin lahir mati. c. diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun. didaerah atas simfisis. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis. ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi. fetus kompresus. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu.

Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. yaitu : Abortus spontaneus Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis. tetapi karena faktor alamiah. berwarna merah. dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Perdarahan. mola hidatidosa. cepat terhenti. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion Diagnosa Banding Kehamilan etopik terganggu. Penatalaksanaan Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan. tidak nyeri saat porsio digoyang.pemeriksaan kuantitatif serial kadar . Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup 3. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan perdarahan implantasi yang biasanya sedikit.sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan. tidak nyeri pada perabaan adneksa. syok dan infeksi 2. Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat dilanjutkan. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan. kemamilan dengan kelainan serviks. dan tanpa adanya dilatasi serviks. dan tidak disertai mules-mules. Sonografi vagina. cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu. Aspek klinis abortus spontaneus meliputi : 1. Tes Kehamilan Positif bila janin masih hidup. nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah Pemeriksaan Penunjang 1. bahkan 2-3 minggu setelah abortus 2. Komplikasi 1. Abortus Imminens Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. perforasi. atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis.

untuk memastikan apakah terdapat janin hidup intrauterus. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apaka}r janin masih hidup. maka dianjurkan dilakukan kuretase. mungkin diperlukan kuretase. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum. Setelah konseptus meninggal. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti. Semua jaringan yang keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam jumlah signifikan. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini.2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau . yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi.gonadotropin korionik (hCG) serum. lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular. Abortus Insipiens Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan. disusul dengan kerokan. uterus harus dikosongkan. dan kadar progesteron serum. Jika evaluasi tidak dapat. Penanganan Abortus Insipiens meliputi : 1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu. karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. Penanganan abortus imminens meliputi : Istirahat baring.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti. segera lakukan: Berikan ergomefiin 0. 2.

misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).2 mg intramuskulera taum iso prostol4 00 mcg per oral. Abortus lnkompletus Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus. evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. Jika perdarahan berhenti. 2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu : Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0. 2) Jika perdarahanb anyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan kurang 16 minggu. lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. 3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3. cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. Jika perlu. Pada abortus yang lebih lanjut. Penanganan abortus inkomplit : 1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16 minggu. evaluasi hasil konsepsi dengan : Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. beri ergometrin 0.2 mg intramuskuler (diulang .

Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit. ostium uteri telah menutup. Missed Abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu. dan uterus sudah banyak mengecil. 4. Abortus Kompletus Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. 3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg) Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Etiologi missed abortion tidak . Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis.setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap. kurang lebih bundar. Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus. 6. dengan dinding menipis. tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Abortus Servikalis Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka. 4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah. 5. Padap emeriksaand itemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan.

Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah. uterus tidak membesar lagi malah mengecil. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. KONSEP ASUHAN KEPERWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. Diagnosis Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. mengetahui ia mengandung janin yang telah mati.diketahui. Gejala subyektif kehamilan menghilang. menentukan cara pemecahannya. Abortus Habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut. sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. tetapi diduga pengaruh hormone progesterone. Tindakan keperawatan tersebut . Penanganan Setelah diagnosis missed abortion dibuat. dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil. tes kehamilan menjadi negatif. mamma agak mengendor lagi. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai dengan usia kehamilan. 7. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin.

dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obatobatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.

1)

2)

3) 4)

1)

Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi 3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri 4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab 5. Cemas s.d kurang pengetahuan Intervensi Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. Intervensi : Kaji kondisi status hemodinamika Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi Ukur pengeluaran harian Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal Berikan sejumlah cairan pengganti harian Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif Evaluasi status hemodinamika Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Intervensi : Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi

dan bau Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar.d perdarahan. pada abortus imminens.2) 3) 4) 5) 1) 2) 3) 1) 2) 3) perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien. Resiko tinggi Infeksi s. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri Kolaborasi pemberian analgetika Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 4. warna. jumlah. kondisi vulva lembab Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan Intervensi : Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar . Gangguan rasa nyaman : Nyeri s. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart . istirahat mutlak sangat diperlukan Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas Rsional : Menilai kondisi umum klien 3.d Kerusakan jaringan intrauteri Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami Intervensi : Kaji kondisi nyeri yang dialami klien Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi.

(2001). senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan. Lynda.4) Lakukan perawatan vulva Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. 5. demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi 6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se. 5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi. Cemas s.d kurang pengetahuan Tujuan : Tidak terjadi kecemasan. untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga. Jakarta 3) 4) 5) . Buku Saku Diagnosa Keperawatan. pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat 1) 2) Intervensi : Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas Kaji derajat kecemasan yang dialami klien Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga.ama masa perdarahan Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu.

Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Semakin dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. Begitu pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia. 1997). dkk. Jakarta Askep Ca Serviks TINJAUAN TEORI Pengertian Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI. Jilid I. karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh. Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali 6. 2. FKKP. Etiologi Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun). 3. 4. 1990. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex). Media Aesculapius. Kapita Selekta Kedokteran. Wanita merokok. C. Mary. edisi 6. . Arif. Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2 5. infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap. Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Pada sebagian besar kasus. Jakarta Mansjoer. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. 1995. Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). 2001. EGC.Hamilton.

tetapi belum sampai dinding panggul Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina. 4. 5. tidak ditemukan daerah infiltrat antara tumor dengan dinding panggul. 2. 7. Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari pangul kecil. 3. 6. Faktor Resiko Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu: Usia. tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium. Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma. parametrium masih bebas dari infitrat tumor Penyebaran ke parametrum. bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm. membran basalis utuh Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri Karsinoma mikro invasif. Jumlah perkawinan Hygiene dan sirkumsisi Status sosial ekonomi Pola seksual Terpajan virus terutama virus HIV Merokok Klasifikasi Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978 Tingk at 0 I Ia Kriteria Karsinoma In Situ ( KIS). dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah. sedang parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.1. uni atau bilateral. metastasi jauh belum terjadi Ib II II a II b III a III b IV IV a . tetapi tidak sampai dinding panggul Penyebaran hanya ke vagina. Penyebaran sudah sampai dinding panggul.

Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi.IV b 1. Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah. dengan cara tes pap Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. Tanda dan Gejala Perdarahan Keputihan yang berbau dan tidak gatal Cepat lelah Kehilangan berat badan Anemia Manifestasi Klinis Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi. Pemeriksaan Penunjang Sitologi. perdarahan spontan. 2. keputihan warna putih atau puralen yang berbau dan tidak gatal. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. 5. 3. terraba lunak. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar. dan bau busuk yang khas. Telah terjadi metastasi jauh. dan anemia. perdarahan pascakoitus. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Setelah histerektomi radikal. kehilangan berat badan. 4. Kolposkopi Servikografi Pemeriksaan visual langsung Gineskopi Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive) Penatalaksaan Medis Tingkat Penatalaksaan . ireguler. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun. Prognosis Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala.

Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga. KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN Pengkaijan Identitas klien. 2. misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera.0 Ia I b dan II a II b . Riwayat penyakit terdahulu. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat. Riwayat psikososial Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks. Inspeksi • Perdarahan • keputihan . 4. apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi. Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain. 5. III dan IV IV a dan IV b Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan) Histerektomi transvaginal Radioterapi Radiasi paliatif Kemoterapi 1. 6. Pemeriksaan Fisik 1. Perdarahan dan keputihan Riwayat penyakit sekarang Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. 3. serta kurangnya pengetahuan keluarga. Keluhan utama.

Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif) 1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubbungan dengan terbatasnya informasi. 8. Kolposkopi 4. 2. Intervensi : Kolaborasi dalam pemeriksaan hematokrit dan Hb serta jumlah trombosit. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.2. mual dan muntah. Gineskopi 6. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. Pantau dan atur kecepatan infus. 7. palpasi • nyeri abdomen • nyeri punggung bawah Pemeriksaan Dignostik 1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. 2. Tujuan: . 4. 6. mual dan muntah. Tujuan: Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. Servikografi 5. Diagnosa Keperawatan Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . Kolaborasi dalam pemberian infus 1. Berikan cairan secara cepat. 5. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. Biopsi 3. 3. Intervensi Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . Sitologi 2.

Tujuan: Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan Intervensi : Kolaborasi dengan petugas laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap (Hb dan Trombosit) Lakukan tindakan yang tidak menyebabkan perdarahan. Intervensi: Kaji pola istirahat serta adanya keletihan pasien. Pantau masukan makanan oleh klien. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian menu yang sesuai dengan diet yang ditentukan. Kolaborasi dalam pemeriksaan kultur dan pemberian antibiotika. Kolaborasi dalam tindakan transfusi TC ( Trombosit Concentrated) 5. Tempatkan pasien pada lokasi yang tersedia. Bantu pasien dalam menjaga hygiene perorangan Anjurkan pasien beristirahat sesuai kebutuhan. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Tujuan: Potensial infeksi menurun dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Observasi tanda-tanda perdarahan. 3. . Intervensi: Kaji adanya pantangan atau adanya alergi terhadap makanan tertentu. Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. 4.Masukan yang adekuat serta kalori yang mencukupi kebutuhan tubuh. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. Observasi tanda-tanda vital. Tujuan: Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. Lakukan perawatan mulut sebelum makan sesuai ketentuan. Anjurkan agar membawa makanan dari rumah jika dipelukan dan sesuai dengan diet. Intervensi : Pantau tanda vital setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan.

Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. Anjurkan kepada klien untuk melakukan latihan ringan. Intervensi : Bantu pasien untuk mengedintifikasi peran yang bisa dilakukan didalam keluarga dan komunitasnya. Berikan dorongan spiritual. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran. Evaluasi kempuan pasien dalam mengambil keputusan Dorong harapan yang realistis.Anjurkan kepada pasien untuk mempertahan pola istirahat atau tidur sebanyak mungkin dengan diimbangi aktifitas. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai. 6. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan terbatasnya informasi. 7. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Kaji kepatenan kateter abdomen. 8. Diskusikan dengan keluarga untuk berkompensasi terhadap perubahan peran anggota yang sakit. Intervensi: Baringkan pasien diatas tempat tidur. Observasi kemampuan pasien dalam malakukan aktifitas. Bantu pasien merencanakanaktifitas berdasarkan pola istirahat atau keletihan yang dialami. Tujuan: Ansietas. Intervensi: Gunakan pendekatan yang tenang dan cipakan suasana lingkungan yang kondusif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perubahan fisik yang spesifik yang dibutuhkan sehubungan dengan penyakitnya. .

Marilyn. Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi DAFTAR PUSTAKA Arif Mansjoer dkk (2000).Observasi tentang reaksi yang dialami pasien selama pengobatan Jelaskan pada pasien efek yang mungkin dapat terjadi. Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. Chandra. Ansietas. Jakarta:EGC.com/med http://creasoft.wordpress. Evaluasi Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah : 1.A Davis Company. http:// www. 6.com http://khaidirmuhaj.com/2009/03/kanker-serviks. 2. Jakarta:EGC. Sarwono. Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh 3.Nursing care and Plans.medicastore . Jilid 1. 1989. 8. 1989:Ginekologi Greenhill edisi 10.E 1989.Ilmu Kandungan. Edisi 3 . Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan 5. Tidak ada tanda-tanda infeksi 4. 7.blogspot. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi. Rustam.html .1994. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.Synopsis obstetric. Mochtar.Philadelphia: F. Jakarta: Gramedia. Kapita Selekta Kedokteran . EGC : Jakarta Doengoes. Sanusi. Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. Prawirohardjo.

Saleh. vaskularisasi dan edematus. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. hidropik. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Imunoselektif dari tropoblast 3. (Jack A. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. (Mochtar. Rustam. dkk. (Wiknjosastro. Pritchard.Kekurangan proteinf. Hanifa. dkk. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. Arif. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion.Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan.1998 : 23) . 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. Rustam . 2. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . Mary. 1973 : 325). C. dkk. dkk. namun faktor penyebabnya adalah 1.(Mansjoer. tetapi terlambat dikeluarkan. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. daripada villi choriales. Paritas tinggie. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo.

Silvia. Teori neoplasma dari Park. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih.e. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. Mola hidatidosa komplet (klasik). terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. jika disertai janin atau bagian janin. Mola hidatidosa inkomplet (parsial). dkk .Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine . 2003 : 164). Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. berotot. (Mansjoer. di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. Wilson. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. Darah cenderung berwarna coklat. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. (Verrals. Arif. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. (Silvia. berbentuk buah pear. jika tidak ditemukan janin 2.

Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis . Berjalan melalui annulus inguinalis. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Demikian pula dengan penyakit trofoblast. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar.b). sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. terdiri atas jaringan ikat dan otot. di dalamnya terdapat tuba uterin. Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. Bila tidak ada tahanan. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. membentuk kantong utero-vesikuler.(Wiknjosastro. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. Di bagian belakang. profundus ke kanalis iguinalis.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. uterus bertambah besar. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis.5 cm. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c).Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion. Hanifa. Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. sonde diputar setelah ditarik sedikit. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. bila tetap tidak ada tahanan. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. 2002 : 339) Tes Diagnostika. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan.

Bila sumber vakum adalah tabung manual. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. terus menerus. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. Selama pemantauan. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. dkk. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. menentukan cara pemecahannya. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif).(Arif Mansjoer. Selain dari penanganan di atas. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Kadar hCG diatas 100. untuk anemia berat lakukan transfusi. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. selama dan setelah prosedur evakuasi. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. . yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. pelunakan serviks dan korpus uteri. siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. pembesaran abnormal uterus. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. saling berkaitan dan dinamis.

Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.

Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar.Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear. Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi, menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. (Carpenito, Lynda, 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien, memulihkan, memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Menetapkan prioritas masalah 2. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang Ekspresi wajah tenang TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri

5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil : Kebutuhan personal hygiene terpenuhi Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : Klien dapat tidur 7-8 jam per hari Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien. akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien .

suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : Ekspresi wajah tenang Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati .Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien. perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi. pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan.

anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil : Tidak tampak tanda-tanda infeksi Vital sign dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh .Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : Nafsu makan meningkat Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan.

Arif. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeks. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jilid I. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Jakarta Soekojo. Jakarta Johnson & Taylor. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. berkeringat. .3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. garis jahitan). keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. Mary. Media Aesculapius. dkk. 2001. Jakarta Mansjoer. (2001). daerah yang terpasang alat invasif (infus. 1995. Rustam. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. EGC. edisi 6. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Lynda. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Kapita Selekta Kedokteran. pucat. Saleh. 2005. kaji warna kulit/membran mukosa. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. Jilid I. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. 1998. EGC. C. DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil : Hb dalam batas normal (12-14 g%) Turgor kulit baik Vital sign dalam batas normal Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. 1973. EGC. Jakarta Mochtar. Sinopsis Obstetri. sehingga proses infeksi tidak terjadi. UI Patologi Anatomik. Jakarta Hamilton. Patologi.

Jakarta Askep Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa .

Mola hidatidosa inkomplet (parsial). dkk.gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. (Wiknjosastro. Arif. namun faktor penyebabnya adalah 1. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati .Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. Rustam . dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. daripada villi choriales. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. 2. jika tidak ditemukan janin 2. Rustam. 1973 : 325). Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4.(Mansjoer. dkk. hidropik. (Mochtar. Hanifa. Pritchard. dkk. gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.Kekurangan proteinf. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion.1998 : 23) Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Mary. Imunoselektif dari tropoblast 3. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. C. (Jack A. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. Teori neoplasma dari Park. jika disertai janin atau bagian janin. tetapi terlambat dikeluarkan. dkk. vaskularisasi dan edematus. Paritas tinggie. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus . Saleh. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. Mola hidatidosa komplet (klasik). sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat.

Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. (Verrals. (Silvia. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. dkk . Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. Berjalan melalui annulus inguinalis. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. terdiri atas jaringan ikat dan otot. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar. Darah cenderung berwarna coklat. berotot. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. 2003 : 164). (Mansjoer.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. . Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine b). Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. Arif. membentuk kantong utero-vesikuler. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. Wilson. Silvia. di dalamnya terdapat tuba uterin. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a).menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. berbentuk buah pear. profundus ke kanalis iguinalis.5 cm. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan.e. Di bagian belakang.

1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. uterus bertambah besar. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali. Hanifa. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. Bila tidak ada tahanan. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per . tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. bila tetap tidak ada tahanan. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis (Arif Mansjoer. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. Demikian pula dengan penyakit trofoblast. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. sonde diputar setelah ditarik sedikit.Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum.(Wiknjosastro. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. dkk. Selain dari penanganan di atas. 2002 : 339) Tes Diagnostika. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. pembesaran abnormal uterus.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. pelunakan serviks dan korpus uteri. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan.

merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). status perkawinan. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. dan penyakit-penyakit lainnya. jenis pembedahan . siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. kapan . pendidikan. oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Bila sumber vakum adalah tabung manual. perkawinan ke. terus menerus. umur. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : ¬ Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi . selama dan setelah prosedur evakuasi. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu.menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. penyakit endokrin . yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid. agama.. pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. lamanya perkawinan dan alamat ¬ Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang ¬ Riwayat kesehatan . Selama pemantauan. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. ¬ Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. masalah ginekologi/urinary . pekerjaan. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. suku bangsa. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. hipertensi . Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. untuk anemia berat lakukan transfusi. . ¬ Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM . Kadar hCG diatas 100. jantung . 2) Riwayat kesehatan masa lalu ¬ Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. nama. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. saling berkaitan dan dinamis. menentukan cara pemecahannya. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari.

dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. siklus menstruasi. apakah klien setuju. USG. mengevaluasi edema. memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna. eliminasi (BAB dan BAK). Pemeriksaan fisik. (Johnson & Taylor. persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini. 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium :  Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen. dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. obat digitalis dan jenis obat lainnya. sifat darah. pap smear. lamanya. mencatat suhu.  Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan. adanya keterbatasan fifik. pergerakan dan postur. massa atau konsolidasi.¬ Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe.Data .  Tekanan : menentukan karakter nadi. banyaknya. gejala serta keluahan yang menyertainya ¬ Riwayat kehamilan . ¬ Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi. apakah klien menggunakan kontrasepsi. bau. meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. biopsi. penggunaan ekstremitas. perubahan warna. hygiene.  Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.  Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan . baik sebelum dan saat sakit. pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan.  Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah. jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. ¬ Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien. Data lain-lain :  Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS. istirahat tidur. bagaimana keadaan kesehatan anaknya. cairan dan elektrolit. bahasa tubuh. laserasi. dan menggunakan KB jenis apa. derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. ketergantungan. lesi terhadap drainase. ¬ Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral.  Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB. warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi.

Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6.psikososial. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5. Menetapkan prioritas masalah 2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri 4. bagaimana pola komunikasi dalam keluarga. Lynda. memelihara dan meningkatkan kesehatannya.  Kaji orang terdekat dengan klien.  Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien  Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME. memulihkan. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. (Carpenito. hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil :  Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang .

 Ekspresi wajah tenang  TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri. lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri 5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil :  Kebutuhan personal hygiene terpenuhi  Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : .

pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan. Klien dapat tidur 7-8 jam per hari  Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien. perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : . akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil :  Tanda-tanda vital dalam batas normal  Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien.

anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil :  Tidak tampak tanda-tanda infeksi  Vital sign dalam batas normal . Ekspresi wajah tenang  Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil :  Nafsu makan meningkat  Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan.

Jakarta Hamilton. (2001). 1995. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. EGC.Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh 3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. berkeringat. C. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeksi DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil :  Hb dalam batas normal (12-14 g%)  Turgor kulit baik  Vital sign dalam batas normal  Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. edisi 6. sehingga proses infeksi tidak terjadi. kaji warna kulit/membran mukosa. Mary. garis jahitan). kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. daerah yang terpasang alat invasif (infus. Penerbit Buku Kedokteran EGC. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. Jakarta . mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Lynda. pucat.

Media Aesculapius.Soekojo. EGC. Jakarta Johnson & Taylor. 1998. Kapita Selekta Kedokteran. Arif. Patologi. dkk. Jakarta . 1973. Saleh. UI Patologi Anatomik. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Sinopsis Obstetri. 2001. Jilid I. EGC. Jakarta Mansjoer. Jilid I. Rustam. Jakarta Mochtar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->