ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan

janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Jenis – jenis operasi sectio caesarea 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) 2. Sectio caesarea transperitonealis 3. SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : 1. Mengeluarkan janin dengan cepat 2. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik 3. Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan 1. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik 2. Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan 3. SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : 1. Penjahitan luka lebih mudah 2. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik 3. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum 4. Perdarahan tidak begitu banyak 5. Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : 1. Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak 2. Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi 3. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal 2. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. Sayatan huruf T ( T insicion ) Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan

resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) ϖ Fetal distress ϖ His lemah / melemah ϖ Janin dalam posisi sungsang atau melintang ϖ Bayi besar ( BBL ³ 4,2 kg ) ϖ Plasenta previa ϖ Kalainan letak ϖ Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) ϖ Rupture uteri mengancam ϖ Hydrocephalus ϖ Primi muda atau tua ϖ Partus dengan komplikasi ϖ Panggul sempit ϖ Problema plasenta ϖ Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : 1. Infeksi puerperal ( Nifas ) 2. Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari 3. Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung 4. Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik 5. Perdarahan 6. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka 7. Perdarahan pada plasenta bed 8. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi 9. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya 10. Post Partum Definisi Puerperium / Nifas Nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002) Nifas adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983) Periode Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum Minggu pertama post partum. 3. Late post partum

Minggu kedua sampai dengan minggu keenam. Tujuan Asuhan Kepeawatan ϖ Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. ϖ Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. ϖ Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. ϖ Memberikan pelayanan keluarga berencana. Tanda dan Gejala 1. Perubahan Fisik 2. Sistem Reproduksi 3. Uterus 4. Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. o Lochea o Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe.  Tahap  Rubra (merah) : 1-3 hari.  Serosa (pink kecoklatan)  Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. ϖ Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. ϖ Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. ¬ Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. ¬ Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. ¬ Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi. ¬ Perineum ¬ Episiotomi

diuresis mulai 12 jam. ϖ Nafsu makan kembali normal. sesaria : 600 – 800 cc. urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. ϖ Kehilangan rata-rata berat badan 5. ϖ Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama. COP meningkat dan normal 2-3 minggu. progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH. keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. neutrophil meningkat. ϖ Sistem Gastrointestinal ϖ Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. leukosit meningkat. tidak ditemukan pada minggu I post partum. ϖ Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 – 500 cc. puting mudah erektil bila dirangsang. ϖ Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. Pada payudara yang tidak disusui. ϖ Sistem Endokrin ϖ Hormon Plasenta ϖ HCG (-) pada minggu ke-3 post partum. ϖ Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal. ϖ Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal ϖ Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). RR : 16-24 x/menit. ϖ Perubahan hematologik Ht meningkat. suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. LH.Penyembuhan dalam 2 minggu. ϖ Sistem Muskuloskeletal .5 kg. ϖ Sistem Kardiovaskuler ϖ Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin. ϖ Jantung Kembali ke posisi normal. ϖ Pada fungsi ginjal: proteinuria. ϖ Sistem Urinaria ϖ Edema pada kandung kemih. engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari.

urinalisis. • Diagnostik Jumlah darah lengkap. faktor keluarga. drainase. • Attachment yang mempengaruhi dari faktor ibu. edema. jumlah distensi. edema. laserasi dan hemoroid. diberikan anti RHO imunoglobin. dan perubahan warna. konflik peran. . bau dan adanya gumpalan. kembali normal 6-8 minggu post partum. • Lochea Tipe. dan nyeri. hemoroid dan bising usus. jam II tiap 30 menit • 24 jam I : tiap 4 jam • Setelah 24 jam : tiap 8 jam • Monitor Tanda-tanda Vital • Payudara Produksi kolustrum 48 jam pertama. • Perubahan Psikologis • Perubahan peran. marah. warna. jumlah. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM FISIOLOGIS PENGKAJIAN • Pemeriksaan Fisik • Monitor Keadaan Umum Ibu • Jam I : tiap 15 menit. respon depresi dan psikosis. hematoma. faktor sosial-ekonomi. Kemerahan menandakan infeksi. sebagai orang tua. posisi tinggi dan ukuran. • Perineum Episiotomi. adakah anxietas. memar. usia ibu. periksa redness. • Uterus Konsistensi dan tonus. tenderness. • Kandung Kemih dan Output Urine Pola berkemih. ϖ Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. Diastasis rekti 2-4 cm. ayah dan bayi. • Bowel Pergerakan usus. • Insisi SC Balutan dan insisi. • Ekstremitas Tanda Homan. • Perubahan Psikologis • Peran Ibu meliputi: Kondisi Ibu. ϖ Sistem Imun Rhesus incompability. discharge dan approximation. kondisi bayi. • Baby Blues: Mulai terjadinya.Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil.

seluruha panggul sempit picak dan lain-lain • Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang • Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang • kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong • sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah .• Baby Blues merupakan gangguan perasaan yang menetap. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut : • Kelainan karena gangguan pertumbuhan • Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil • Panggul picak : ukuran muka belakang sempit. • Kesempitan pintu atas panggul Pintu atas panggul dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 9½ cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm. Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit. • Faktor-faktor Risiko • Duerdistensi uterus • Persalinan yang lama • Episiotomi/laserasi • Ruptur membran prematur • Kala II persalinan • Plasenta tertahan • Breast feeding PANGGUL SEMPIT Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut : • Kesempitan pintu atas panggul • kesempitan bidang bawah panggul • kesempitan pintu bawah panggul • kombinasi kesempitan pintu atas pangul. maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10cm dapat menimbulkan kesulitan. bidang tengah dan pintu bawah panggul. ukuran melintang biasa • Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran muka belakang • Panggul corong :pintu atas panggul biasa.pintu bawah panggul sempit • Panggul belah : symphyse terbuka • kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya • Panggul rachitis : panggul picak. panggul sempit. biasanya pada hari III dimungkinkan karena turunnya hormon estrogen dan pergeseran yang mempengaruhi emosi ibu.

karena bagian depan kurang menutup pintu atas panggul selanjutnya setelah ketuban pecah kepala tidak dapat menekan cervix karena tertahan pada pintu atas panggul • Pada panggul sempit sering terjadi kelainan presentasi atau posisi misalnya : • Pada panggul picak sering terjadi letak defleksi supaya diameter bitemporalis yang lebih kecil dari diameter biparietalis dapat melalui conjugata vera yang sempit itu. • Pengaruh pada persalinan • Persalinan lebih lama dari biasa. • Dapat terjadi ruptura uteri kalau his menjadi terlalu kuat dalam usaha mengatasi rintangan yang ditimbulkan oleh panggul sempit • Sebaiknya jika otot rahim menjadi lelah karena rintangan oleh panggul sempit dapat terjadi infeksi intra partum. • Karena gangguan pembukaan • Karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak Kelainan pembukaan disebabkan karena ketuban pecah sebelum waktunya. Kadang-kadang karena infeksi dapat terjadi tympania uteri atau physometra. Nekrosa menimbulkan fistula vesicovaginalis atau fistula recto vaginalis.coxitis. luxatio. atrofia. Infeksi ini tidak saja membahayakan ibu tapi juga dapat menyebabkan kematian anak didalam rahim. letak sungsang dan letak lintang. Disamping itu mungkin pula ada exostase atau fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul. Fistula vesicovaginalis lebih sering terjadi karena kandung kencing tertekan antara kepala anak dan . • Terjadi fistel : tekanan yang lama pada jaringan dapat menimbulkan ischaemia yang menyebabkan nekrosa. Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. • Pengaruh panggul sempit pada kehamilan dan persalinan Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan maupun persalinan. Asynclitismus sering juga terjadi. • Biasanya anak seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil dari pada ukuran bayi pukul rata. • Pengaruh pada kehamilan • Dapat menimbulkan retrafexio uteri gravida incarcerata • Karena kepala tidak dapat turun maka terutama pada primi gravida fundus atau gangguan peredaran darah Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung Perut yang menggantung pada seorang primi gravida merupakan tanda panggul sempit • Kepala tidak turun kedalam panggul pada bulan terakhir • Dapat menimbulkan letak muka. yang diterapkan dengan “knopfloch mechanismus” (mekanisme lobang kancing) • Pada oang sempit kepala anak mengadakan hyperflexi supaya ukuran-ukuran kepala belakang yang melalui jalan lahir sekecil-kecilnya • Pada panggul sempit melintang sutura sagitalis dalam jurusan muka belang (positio occypitalis directa) pada pintu atas panggul.

scoliose. Karena itu kalau CV < 8 ½ cm dilakukan SC primer ( panggul demikuan disebut panggul sempit absolut ) Sebaliknya pada CV antara 8. yang paling sering adalah kelumpuhan N. • Prolapsus foeniculli dapat menimbulkan kematian pada anak • Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak. Terutama kalau diameter biparietalis berkurang lebih dari ½ cm. • Parase kaki dapat menjelma karena tekanan dari kepala pada urat-urat saraf didalam rongga panggul . • Pengaruh pada anak • Patus lama misalnya: yang lebih dari 20 jam atau kala II yang lebih dari 3 jam sangat menambah kematian perinatal apalagi kalau ketuban pecah sebelum waktunya. jadi derajat kesempitan • Kemungkinan pergerakan dalam sendi-sendi panggul • Besarnya kepala dan kesanggupan moulage kepala • Presentasi dan posisi kepala • His Diantara faktor faktor tersebut diatas yang dapat diukur secara pasti dan sebelum persalinan berlangsung hanya ukuran-ukuran panggul : karena itu ukuran – ukuran tersebut sering menjadi dasar untuk meramalkan jalannya persalinan. Peroneus . • Ruptur symphyse dapat terjadi . selain itu mungkin pada tengkorak terdapat tanda-tanda tekanan. Sebaliknya kalau CV 8 ½ cm atau lebih persalinan pervaginam dapat diharapkan berlangsung selamat. malahan kadang – kadang ruptur dari articulatio scroilliaca. • Persangkaan Panggul sempit Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau : • Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36 • Pada primipara ada perut menggantung • pada multipara persalinan yang dulu – dulu sulit • kelainan letak pada hamil tua • kelainan bentuk badan (Cebol.pincang dan lain-lain) • osborn positip • Prognosa Prognosa persalinan dengan panggul sempit tergantung pada berbagai faktor • Bentuk panggul • Ukuran panggul.symphyse sedangkan rectum jarang tertekan dengan hebat keran adanya rongga sacrum. Kalau terjadi symphysiolysis maka pasien mengeluh tentang nyeri didaerah symphyse dan tidak dapat mengangkat tungkainya. Menurut pengalaman tidak ada anak yang cukup bulan yang dapat lahir dengan selamat per vaginam kalau CV kurang dari 8 ½ cm. Terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal) malahan dapat terjadi fraktur impresi.5-10 cm hasil persalinan tergantung pada banyak faktor : • Riwayat persalinan yang lampau .

jadi tidak dilakukan pada letak sungsang. • Persalinan percobaan Yang disebut persalinan percobaan adalah untuk persalinan per vaginam pada wanita wanita dengan panggul yang relatip sempit. Kita menghentikan presalianan percobaan kalau: • – pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuaannya • Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik • Kalau ada lingkaran retraksi yang patologis • – setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban. Sekarang test of labor jarang dilakukan lagi karena: • Seringkali pembukaan tidak menjadi lengkap pada persalinan dengan panggul sempit • kematian anak terlalu tinggo dengan percobaan tersebut • kesempitan bidang tengah panggul bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah symphysis dan spinae ossis ischii dan memotong sacrum kira-kira pada pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 . Persalinan percobaan dilakukan hanya pada letak belakang kepala. Kalau dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap kepala janin tidak turun sampai H III maka test of labor dikatakan berhasil. letak muka atau kelainan letak lainnya. letak dahi. Kalau SC dilakukan atas indikasi tersebut dalam golongan 2 (dua) maka pada persalinan berikutnya tidak ada gunanya dilakukan persalinan percobaan lagi Dalam istilah inggris ada 2 macam persalinan percobaan : • Trial of labor : serupa dengan persalinan percobaan yang diterngkan diatas • test of labor : sebetulnya merupakan fase terakhir dari trial of labor karena test of labor mulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam sesudahnya. Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir setelah kita mendapatkan keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung per vaginam atau setelah anak lahir per vaginam.• besarnya presentasi dan posisi anak • pecahnya ketuban sebelum waktunya memburuknya prognosa • his • lancarnya pembukaan • infeksi intra partum • bentuk panggul dan derajat kesempitan karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil persalinan pada panggul dengan CV antara 8 ½ – 10cm (sering disebut panggul sempit relatip) maka pada panggul sedemikian dilakukan persalinan percobaan.kepala dalam 2 jam tidak mau masuk ke dalam rongga panggul walaupun his cukup kuat • Forcepe gagal Dalam keadaan-keadaan tersebut diatas dilakukan SC. Persalinan percobaan dikatakan berhasil kalau anak lahir pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forcepe atau vacum) dan anak serta ibu dalam keadaan baik.

Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi.5 cm + 5 cm = 15. • Kesempitan pintu bawah panggul: Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segi tiga dengan jarak antar tuberum sebagai dasar bersamaan Ukuran – ukuran yang penting ialah : • Diameter transversa (diameter antar tuberum ) 11 cm • diameter antara posterior dari pinggir bawah symphyse ke ujung os sacrum 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke ujung os sacrum 7 ½ cm pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul. harus diukur secara rontgenelogis.5 cm ) Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit.5 cm) • diameter antara spina < 9 cm ukuran – ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis. • Pengkajian • Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung. Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < 15 cm ( normal 11 cm + 7. karena ekstraksi dengan forceps memperkecil ruangan jalan lahir. • Terapi Kalau persalinan terhenti karena kesempitan bidang tengah panggul maka baiknya dipergunakan ekstraktor vacum. penyakit vaskuler perifer atau stasis .kalau diameter antar spinae 9 cm atau kurang kadang-kadang diperlukan SC. udema pulmonal.5 cm = 18. tetapi kita dapat menduga kesempitan bidang tengah panggul kalau : • Spinae ischiadicae sangat menonjol • Kalau diameter antar tuber ischii 8 ½ cm atau kurang • Prognosa Kesempitan bidang tengah panggul dapat menimbulkan gangguan putaran paksi.Ukuran yang terpenting dari bidang ini adalah : • Diameter transversa ( diameter antar spina ) 10 ½ cm • diameter anteroposterior dari pinggir bawah symphyse ke pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan garis antar spina ke pertemuan sacral 4 dan 5 5 cm dikatakan bahwa bidang tengah panggul itu sempit : • Jumlah diameter transversa dan diameter sagitalis posterior 13. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC bisanya dapat diselesaikan dengan forcepe dan dengan episiotomy yang cukup luas.5 atau kurang ( normal 10.

d destruksi pertahanan terhadap bakteri • Nyeri akut b. mual. peningkatan ketegangan. hubungan. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat. plester dan larutan • Adanya defisiensi imun • Munculnya kanker/ adanya terapi kanker • Riwayat keluarga. Pengertian . kondisi yang kronik/ batuk. takut.vaskuler ( peningkatan resiko pembentukan thrombus ) • integritas ego perasaan cemas. penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri. apatis. gaya hidup. predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis • Pernafasan Adanya infeksi. tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi • Riwayat penyakit hepatic • Riwayat tranfusi darah • Tanda munculnya proses infeksi Proritas Keperawatan • Mengurangi ansietas dan trauma emosional • Menyediakan keamanan fisik • Mencegah komplikasi • Meredakan rasa sakit • Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan • Menyediakan informasi mengenai proses penyakit Diagnosa Keperawatan • Ansietas b. merokok • Keamanan • Adanya alergi atau sensitive terhadap obat. serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial. stimulasi simpatis • Makanan / cairan Malnutrisi. flatus dan mobilitas • Resti perubahan nutrisi b. muntah ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM A. marah.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan • Resti infeksi b. membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka. makanan.d insisi.

Sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap anak. Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan muntahmuntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus-menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas Penyuluhan Gizi Rumah Sakit A.com/). c) Alergi. juga disebut sebagai salah satu faktor organik. dehidrasi. 1999). bukan karena penyakit seperti Appendisitis. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan : a) Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida. terdapat aseton dalam urine. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan. jantung.wordpress. Rumah tangga yang retak. takut terhadap kehamilan dan persalinan. kehilangan pekerjaan.blogspot. hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi. d) Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti.com/). berat badan menurun. begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari.Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. 1. Dalam buku obstetri patologi (1982) Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil memuntahkan segala apa yang di makan dan di minum sehingga berat badannya sangat turun. dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup. Pielitis dan sebagainya (http://zerich150105. Ilmu Kebidanan. diuresis kurang dan timbul aseton dalam air kencing (http://healthblogheg. (Sarwono Prawirohardjo.com/). Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien (http://zerich150105. Wahab Sjahranie Samarinda (http://healthblogheg. . mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Etiologi Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. turgor kulit kurang. karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. Perubahan-perubahan anatomik pada otak. b) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik.wordpress.blogspot. Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu.com/).

bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak.Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. akan mengalami emesis gravidarum yang berat. nadi kecil dan cepat. tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. Pengaruh psikologik hormon estrogen ini tidak jelas. Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit. dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. 2. Patofisiologi Ada yang menyatakan bahwa. lidah mengering dan mata cekung. mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Natrium dan Khlorida darah turun.wordpress. b) Tingkatan II : Penderita tampak lebih lemah dan apatis. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi. ibu merasa lemah. demikian pula Khlorida air kemih. Kekurangan Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. (http://zerich150105. disamping faktor hormonal. oliguri dan konstipasi. berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung. nafsu makan tidak ada. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. hemokonsentrasi. Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen.com/). bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil. Belum jelas mengapa gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita. tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama. turgor kulit lebih berkurang. tensi rendah. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. sehmgga cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual. lidah mengering dan nampak kotor.1. meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan. . menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu : a) Tingkatan I : Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita. Tanda Dan Gejala Hiperemesis gravidarum.

Avomin Isolasi .com/) 1. menarik diri dan depresi (http://healthblogheg.com/) 1. Obat-obatan Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. mendeteksi bakteri. Penatalaksanaan Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik. ALT dan kadar LDH. suhu badan meningkat dan tensi menurun. mendeteksi abnormalitas janin. termasuk vitamin B kompleks. nadi kecil dan cepat. c) Tingkatan III: Keadaan umum lebih parah. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin.Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. muntah berhenti. kesadaran menurun dan somnolen sampai koma.Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan. memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan. mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. c) Pemeriksaan fungsi hepar: AST. Pemeriksaan Diagnostik a) USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel. kelaparan gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga. (http://healthblogheg. ikterik.wordpress. tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur. melokalisasi plasenta. b) Urinalisis : kultur. BUN. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati.com/) 1. (http://zerich150105.blogspot. alkalosis. dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Komplikasi Dehidrasi berat. suhu meningkat. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.blogspot. karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing. takikardia.

Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. Pengkajian Keperawatan . khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Cairan parenteral Berikan cairan. dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. bahkan mundur. Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D. ASUHAN KEPERAWATAN A.Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Delirium. karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Minuman tidak diberikan bersama makanan . Terapi psikologik Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. tachikardi. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan.parenteral yang cukup elektrolit. penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi. c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. 1. karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. Penghentian kehamilan Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik. ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat. hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium. Bila ada kekurangan protein. Diet a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri. kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik. Prognosis Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. kecuali vitamin C. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. namun demikian pada tingkatan yang berat. kebutaan.

wordpress. Interaksi sosial Perubahan status kesehatan/stressor kehamilan. mata cekung dan lidah kering. turgor kulit berkurang. 3.1. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan. nyeri epigastrium. Pembelajaran dan penyuluhan 1. defekasi. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. 9. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. Aktifitas istirahat Tekanan darah sistol menurun. 5. Turgor kulit. Makanan/cairan Mual dan muntah yang berlebihan (4 – 8 minggu) . Pernafasan Frekuensi pernapasan meningkat. sistem pendukung yang kurang. 6. 2. Seksualitas Penghentian menstruasi. membran mukosa mulut iritasi dan merah. perubahan peran. 3.com/) B.wordpress. badan lemah. 8. Diagnosa Keperawatan 1. nafas berbau aseton. pengurangan berat badan (5 – 10 Kg). kesulitan ekonomi. perubahan persepsi tentang kondisinya. Segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan. lidah kering 4. Keamanan Suhu kadang naik. Adanya aseton dalam urine (http://zerich150105. Berat badan turun lebih dari 1/10 dari berast badan normal 3.com/) C. 4. Integritas ego Konflik interpersonal keluarga. 2. bila keadaan ibu membahayakan maka dilakukan abortus terapeutik. Eliminasi Pcrubahan pada konsistensi. (http://zerich150105. Deflsit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan. kehamilan tak direncanakan. respon anggota keluarga yang dapat bervariasi terhadap hospitalisasi dan sakit. icterus dan dapat jatuh dalam koma 7. Hb dan Ht rendah. apalagi apalahi kalau belangsung sudah lama. 2. Rencana Keperawatan . denyut nadi meningkat (> 100 kali per menit). 4. peningkatan frekuensi berkemih Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine.

Rasional : Koreksi adanya hipovolemia dan keseimbangan elektrolit 4. 9. Rasional : Untuk mempertahankan integritas mukosa mulut 11. Intervensi 1. Berikan obat anti emetik yang diprogramkan dengan dosis rendah. Rasional : Mencegah muntah serta memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit 3. Batasi intake oral hingga muntah berhenti.. 2. Rasional : Untuk mengetahui integritas inukosa mulut. Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit Rasional : Mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan kapasitas pcmbawa oksigen ibu. Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan pembersih mulut sesering mungkin. yang mengakibatkan kemunduran pcrkembangan janin dan kcmungkinan-kemungkinan lebih lanjUT . Ukur pembesaran uterus Rasional : Malnutrisi ibu berdampak terhadap pertumbuhan janin dan memperberat penurunan komplemen sel otak pada janin. Catal intake TPN. Klien dengan kadar Hb < 12 mg/dl atau kadar Ht rendah dipertimbangkan anemi pada trimester I. Rasional : Memelihara keseimbangan cairan elektfolit dan mencegah muntah selanjutnya. 10. Pertahankan terapi cairan yang diprogramkan. Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak Rasional : dapat menstimulus mual dan muntah 7. Test urine terhadap aseton. misalnya Phenergan 10-20mg/i. roti dan the (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur Rasional : Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang berlebih 8. Diabetik kcloasedosis dan Hipertensi karena kehamilan. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh 6. anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit.v. Rasional : Menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melului muntah. dilakukan secara rutin untuk mendeteksi situasi potensial resiko tinggi seperti ketidakadekuatan asupan karbohidrat. Catat intake dan output. albumin dan glukosa. Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut. 12. Rasional : Menetapkan data dasar . 13. Rasional : Untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi. jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode tertentu. 5.1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan.

membran mukosa. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur.2) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan Intervensi 1. perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas gastrik memperberat mual/muntah pada trimester 1. Kaji tingkat fungsi psikologis klien Rasional : Untuk menjaga intergritas psikologis 3. gastritis. Berikan support psikologis Rasional : Untuk menurunkan kecemasan dan membina rasa saling percaya 4. Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat. input/output dan berat jenis urine. 2. 3) Cemas berhubungan dengan Koping tidak efektif. Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus peptikum. TD. Rasional : Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi. Kaji suhu badan dan turgor kulit. Kontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung Rasional : Untuk mencegah dan mengurangi kecemasan 2. 1. perubahan psikologi kehamilan Intervensi : 1. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar Rasional : Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi. Rasional : Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah. Berikan pelayanan kesehatan yang maksimal Rasional : Penting untuk meningkatkan kesehatan mental klien 4) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan Intervensi : . Peningkatan kadar hormon Korionik gonadotropin (HCG). makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Berikan penguatan positif Rasional : Untuk meringankan pengaruh psikologis akibat kehamilan 5. Rasional : Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung.

Mual dan mutah tidak ada lagi.wordpress. Evaluasi 1.blogsome.com/) REFERENSI http://cakmoki. Bantu klien beraktifitas secara bertahap Rasional : Aktifitas bertahap meminimalkan terjadinya trauma seita meringankan dalam memenuhi kebutuhannya. Rasional : Aktifitas yang ditoleransi sebelumnya mungkin tidak dimodifikasi untuk wanita beresiko.blogsome.com/ . 3. 2. Keluhan subyektif tidak ada.com/ http://zerich150105. 1. Anjurkan klien untuk menghindari mengangkat berat. Rasional : Menghemat energi dan menghindari pengeluaran tenaga yang terusmenerus untuk meminimalkan kelelahan/kepekaan uterus 2. 2.1.com/ http://healthblogheg. Anjurkan klien membatasi aktifitas dengan isrirahat yang cukup. (http://cakmoki.com/) D. (http://zerich150105. Anjurkan tirah baring yang dimodifikasi sesuai indikasi Rasional : Tingkat aktifitas mungkin periu dimodifikasi sesuai indikasi.wordpress.blogspot. Tanda-tanda vital baik.

Suhu diukur dari mulut sedikit-dikitnya 4 kali sehari. Hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare. E. AS morbiditas puerperalis ialah kenaikan C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama post°suhu sampai 38 partum dengan mengecualikan hari pertama. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis. Etiologi. Demam nifas Morbiditas Puerperalis meliputi demam pada masa nifas oleh sebab apa pun. . : dari jalan lahir sendiri. Bermacam-macam • • • Eksasogen Autogen Endogen : kuman datang dari luar. : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh. alat atau kain yang tidak steril. alat-alat yang suci hama dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau nifas.alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman. infeksi tenggorokan orang lain). vulva dan endometrium. coli berasal dari kandung kemih atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara ke mana-mana antara lain ke handuk. bersifat anaerob. khususnya golongan A. Banyak ditemukan di RS dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. Staphylococcus aerus menyebabkan infeksi terbatas. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau yang membantunya. Cara terjadinya infeksi: • • • • Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain. Droplet infection. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat. Selain itu infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh: • • • • Streptococcus haemolytieus aerobicus merupakan sebab infeksi yang paling berat. Clostridium Welchii. Jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Dalam RS banyak kuman-kuman patogen yang berasal dari penderita dengan berbagai jenis infeksi.ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFEKSI NIFAS TINJAUAN TEORI Definisi. kain-kain. walaupun kadang-kadang menjadi infeksi umum.

seviks dan endometrium. o Tertinggalnya sisa plasenta. begitu juga vulva. Vaginitis. o Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita. permukaan tidak rata. Vagina. luka yang terbuka menjadi ulkus dan megeluarkan pus. vagina. Serviks dan Endometrium 1. Infeksi intra partum. Vulvitis. selaput ketuban dan bekuan darah. Prognosis infeksi intra partum sangat tergantung dari jenis kuman. daerah bekas insertio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kirakira 4 cm. o Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir. vulva. Vulva. Faktor Predisposisi. Infeksi pada Perineum. lamanya infeksi berlangsung. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar di luar luka asalnya. berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi trombus dan merupakan area yang baik untuk tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenisjenis yang patogen dalam tubuh wanita. o Partus lama terutama dengan ketuban pecah lama. 1. tepi luka menjadi merah dan bengkak. dapat/tidaknya persalinan berlangsung tanpa banyak perlukaan jalan lahir.• • • • Coitus pada akhir kehamilan bukan merupakan sebab yang paling penting kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinanan. pre ekslampsi. Biasanya terjadi pada partus lama. seperti perdarahan banyak. jalan limfe dan melalui permukaan endometrium. . denyut jantung janin meningkat. infeksi lain seperti pneumonia. Gejala: kenaikan suhu disertai leukositosis dan tachikardi. Patologi. penyakit jantung dan sebagainya. Penyebaran dari tempat-tempat melalui vena. apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan periksa dalam. vagina. Infeksi nifas dapat terbagi dalam 2 golongan : • • Infeksi yang terbatas pada perineum. Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitar membengkak. air ketuban menjadi keruh dan berbau. Setelah kala III. jahitan mudah terlepas. perineum merupakan tempat masuknya kuman patogen.

terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Septikemia dan Piemia . Kuman–kuman memasuki endometrium (biasanya pada luka insertio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. Vagina dan Serviks. Infeksi pada Perineum. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium. nyeri pada perabaan dan lembek. Peritonitis dan Parametritis (Sellulitis Pelvika) Penyebaran melalui permukaan endometrium. 4. 5. radang terbatas pada endometrium. 1. sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut Lokiometra. Vulva. Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. Nyeri bila kencing. Nadi kurang dan 100/menit. Penyebaran melalui jalan limfe. Sevicitis. Gambaran Klinik. 2. 3. Pada infeksi setempat. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas. Endometritis. 2. daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. Uterus agak membesar. Salfingitis dan Ooforitis. Biasanya demam mulai 48 jam pertama post partum bersifat naik turun.Dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum. Lokia bertambah banyak. permukaan mokusa membengkak dan kemerahan. Paling sering terjadi. Sering terjadi tapi tidak menimbulkan banyak gejala. berwarna merah atau coklat dan berbau. Penyebaran melalui pembuluh darah (Septikemia dan Piemia) Merupakan infeksi umum disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis dan cairan. Rasa nyeri dan panas pada infeksi setempat. Endometritis • • • • • Tergantung pada jenis virulensi kuman. Suhu meningkat 38o C kadang mencapai 39o C – 40o C disertai menggigil. 1.

Sesak nafas. nadi cepat dan kecil. setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas. Pencegahan Infeksi Nifas a) Selama kehamilan v Perbaikan gizi untuk mencegah anemia. menggigil. terdapat abses pada cavum Douglas Sellulitis Pelvika Pada periksa dalam dirasakan nyeri. kesadaran turun. Keduanya merupakan infeksi berat. nyeri perut bagian bawah. v Selama persalinan. Piemia dimulai dengan tromboplebitis vena-vena daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil dibawa keperadaran darah umum dan terjadilah infeksi dan abses pada organ-organ tubuh yang dihinggapinya. demam tinggi menetap dari satu minggu. Piemia dimulai dengan rasa sakit pada daerah tromboplebitis. perut kembung dan nyeri. v Coitus pada hamil tua hendaknya tidak dilakukan karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi. nadi cepat. gelisah. nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih. Salfingitis dan Ooforitis Gejala hampir sama dengan pelvio peritonitis. Peritonitis umum: suhu meningkat. KU baik. bernanah. Infiltrat kadang menjadi abses. perut nyeri. involusi jelek. Membatasi perdarahan. sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selamaVT. keadaan umum memburuk. Lochea: berbau. b) Selama nifas v Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik. Membatasi perlukaan.• • • • • • • • • Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toxinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Keadaan umum jelek Suhu meningkat antara 39°C – 40°C. Membatasi lamanya persalinan. . TD turun. Gejala septikemia lebih akut dan dari awal ibu kelihatan sudah sakit dan lemah. Lab: leukositosis. Peritonitis • • Peritonitis terbatas pada daerah pelvis (pelvia peritonitis): demam. • • • • Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalur jalan lahir.

ü Kaji lochia: jenis. luka operasi dan darah. Sambil menunggu hasil laboratorium berikan antibiotika spektrum luas. ü Lakukan perawatan perineum dan jaga kebersihan. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus. warna dan sifatnya. catat warna. Pengobatan Infeksi Nifas Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks. jalan lahir. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang mungkin muncul adalah 1. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. v Penderita dengan tanda infeksi nifas jangan digabung dengan wanita dalam nifas yang sehat. Intervensi: ü Kaji data pasien dalam ruang bersalin. terutama suhu setiap 4 jam dan selama kondisi klien kritis. Catat kecenderungan demam jika lebih dari 38o C pada 2 hari pertama dalam 10 hari post partum. ü Kaji tinggi fundus dan sifat. dan infeksi nasokomial. ü Catat jumlah leukosit dan gabungkan dengan data klinik secara lengkap. makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh. haruskan mencuci tangan pada pasien dan perawat. Cemas/ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan III. sumbatan dan cairan yang keluar (dari puting). Berikan dosis yang cukup dan adekuat. Hubungkan dengan data post partum. Perkiraan pinggir epis dan kemungkinan “perdarahan” / nyeri. nyeri. sifat episiotomi dan warnanya. Khusus dalam 24 jam sekurang-kurangnya 4 kali sehari. Pengkajian …. Bersihkan perineum dan ganti alas tempat tidur secara teratur.Infeksi perineum (menggunakan senter yang baik). jalan lahir. Rencana Keperawatan 1. . Tujuan 1: Mencegah dan mengurangi infeksi.v Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. ASUHAN KEPERAWATAN I. 2. dan infeksi nasokomial. Hubungkan dengan data perubahan post partum masing-masing dan catat apakah klien menyusui dengan ASI. serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. transfusi darah. jumlah. ü Kaji payudara: eritema. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi 3. ü Monitor vital sign. II. serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai.

1. ü Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan penuh stress. ü Berikan tindakan kenyamanan (missal : pijatan / masase punggung) ü Dorong menggunakan tekhnik manajemen nyeri . gelisah.dan faktor pencetus ü Awasi tanda vital. ü Hentikan pemberian ASI jika terjadi mastitis supuratif. chloramfenicol atau metronidazol.perhatikan petunjuk non-verbal. Anjurkan yang banyak protein. Atur pemberian cairan dan elektrolit secara intravena. ü Bantu pasien memilih makanan. ü Pertahankan input dan output yang tepat. ü Kaji bunyi nafas. denyut nadi dan parasthesi/ kelumpuhan. ukuran. gentamisin. suhu. bimbingan imajinasi .misal: tegangan otot. Bantu dengan ambulasi dini. vitamin C dan zat besi. frekwensi nafas dan usaha nafas. Oxitoksin seperti ergonovine atau methyler gonovine. Intervensi: ü Catat perubahan suhu.lokasi. Monitor untuk infeksi. Anjurkan mengubah posisi tidur secara sering dan teratur. ü Anjurkan istirahat dan tidur secara sempurna. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi Tujuan : Nyeri berkurang/terkontrol Intervensi : ü Selidiki keluhan pasien akan nyeri. tetracycline. Tujuan 2 : Identifikasi tanda dini infeksi dan mengatasi penyebabnya.ü Pertahankan intake dan output serta anjurkan peningkatan pemasukan cairan. Cemas / ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang. ü Kaji ekstremitas: warna. cefoxitin. jangan berikan makanan dan minuman pada pasien yang muntah ü Pemberian analgetika dan antibiotika.perhatikan intensitas (0-10). contoh : latihan relaksasi / napas dalam . nyeri. visualisasi) ü Kolaborasi : • • Pemberian obat analgetika. Intervensi : . ü Atur obat-obatan berikut yang mengindikasikan setelah perkembangan dan test sensitivitas antibiotik seperti penicillin. Catatan: hindari produk mengandung aspirin karena mempunyai potensi perdarahan Pemberian Antibiotika 1. Bantu pasien batuk efektif dan nafas dalam setiap 4 jam untuk melancarkan jalan nafas.

gemetar ) Rasional : Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiologis ü Perlakukan pasien secara kalem. takipnea.ü Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan Rasional : Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya ü Kaji respon fisiologis klien ( takikardia. empati. serta sikap mendukung Rasional : Memberikan dukungan emosi ü Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan Rasional : Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui ü Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya Rasional : Ungkapan perasaan dapat mengurangi cemas ü Kaji mekanisme koping yang digunakan klien Rasional : Cemas yang berkepanjangan dapat dicegah dengan mekanisme koping yang tepat. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM RISIKO TINGGI A. DEFINISI Post partum risiko: • Perdarahan post partum .

. MANIFESTASI KLINIS HPP Primer Perubahan hemodinamik: hipotensi.HPP lanjut/sekunder: terjadi lebih dari 24 jam tetapi kurang dari 6 minggu.• Infeksi post partum • Tromboembolok • Masalah psikologis post partum Perdarahan post partum/post partum hemorrhage (HPP) adalah kehilangan 500 ml darah pada persalinan normal (per vaginam) atau 1000 ml lebih pada persalinan SC penyebab kematian pada ibu. ETIOLOGI HPP primer: Atonia uteri (1 dari 20 persalinan). tersering Retensi plasenta Laserasi jalan lahir Ruptur uteri Gangguan pembekuan darah HPP sekunder: Retensi sisa plasenta Sub involusi Endometritis C. Perdarahan post partum dibedakan menjadi dua: . FAKTOR RISIKO Kelahiran SC Bayi besar Persalinan dengan tindakan forsep/VE Riwayat HPP Multiparitas Manipulasi intrauterin/manual plasenta Penggunaan MgSO4 atau oksitosin dalam persalinan D.HPP dini/primer/awal: terjadi dalam batas waktu 24 jam. B. takikardi Oligouria (urin < 300 cc/ 24 jam) Perdarahan > 500 cc/24 jam Distensi kandung kemih HPP Sekunder Perdarahan kadang banyak kadang sedikit Perdarahan dengan bekuan sisa plasenta Terdapat tanda subinvolusi Lochea merah tua dan berbau jika terdapat infeksi .

kapiler refill. vena leher.Sepsis . warna kulit. Pengkajian HPP Primer .Syok dapat diatasi  anemia dan infeksi . kelelahan. TFU . tingkat kesadaran. nadi. suara jantung (murmur).Kaji perdarahan (warna dan jumlah) .Vital sign (takikardi. urin output. takipneu. hipotensi) . . . suara nafas.Kaji adanya laserasi atau hematom yang mungkin menjadi sumber perdarahan. Pengkajian HPP Sekunder HPP sekunder sering terjadi ketika klien sudah pulang. KOMPLIKASI .Kenaikan suhu badan E. DIAGNOSA KEPERAWATAN Defisit volume cairan Risiko infeksi Perubahan perfusi jaringan perifer Perubahan proses menjadi orang tua Cemas INTERVENSI Manajemen dan monitor cairan Atasi perdarahan Kontrol infeksi Kontrol kecemasan .Distensi blader 2.Kegagalan fungsi ginjal F.Syok .Pengkajian fundus: kontraksi lemah.Kaji tanda-tanda perdarahan dan syok hipovolemi: TD. membran mukosa. discharge planning diperlukan sebelum klien pulang. oleh karena itu. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1. kecemasan disorientasi.Faktor risiko dan predisposisi .

3 atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif. atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih Proteinuria 5 gr/lebih dalam 24 jam. vasodilatasi. Oligouria. merupakan suatu bentuk preeklampsia – eklampsia berat dimana ibu tersebut mengalami berbagai keluhan dan menunjukkan adanya bukti laboratorium umum untuk sindrom hemolisis (H). Sindrom HELLP Suatu keadaan multisistem. MAP sebesar 105 mmHg. Hipertensi kronis hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan/sebelum gestasi 20 minggu. hipertensi terjadi setelah minggu ke 20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. dengan teknik dan alat yang standar. Peningkatan MAP > 20 mmHg/ jika tekanan darah sebelumnya tidak diketahui. PATOFISIOLOGI Adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi. penurunan tekanan osmotik koloid. DEFINISI Hipertensi: Kenaikan nilai tekanan sistolik sebesar 30 mmHg/lebih atau kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg diatas tekanan dasar. Peningkatan darah terjadi minimal dengan 2 kali pemeriksaan. Hipertensi sementara perkembangan hipertensi selama masa hamil/24 jam I nifas tanpa ada tanda preeklampsia. Pada preeklampsia: Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih. peningkatan volume plasma darah. jarak 4 – 6 jam. air kencing 400 ml/kurang dalam 24 jam . B. penurunan resistensi vaskuler sistemik. Merupakan penyakit vasospastik yang ditandai dengan hemokonsentrasi. Atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan Preeklampsia Kondisi spesifik kehamilan. dan proteinuria.ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI KEHAMILAN A. Eklampsia Yaitu terjadinya konvulsi atau koma pada klien disertai tanda dan gejala preeclampsia Konvulsi atau koma dapat muncul tanpa didahului gangguan neurologis. peningkatan curah jantung. dan trombosit rendah (LP). peningkatan enzim hati (EL). hipertensi.

edema paru. CST. derajat & pitting edema Edema dependen (edema bagian bawah/bagian tubuh yang dependen). Trombosis. Gangguan pertukaran gas b. Curah jantung menurun b. Cemas 6. identifikasi ibu berisiko selama kehamilan. Risiko injuri b.d terapi antihipertensi yang berlebihan. o Proteinuria > 5 gr dalam urin 24 jam o Oligouria < 400 ml dalam 24 jam o Gangguan otak dan penglihatan o Nyeri ulu hati o Edema paru/sianosis o Sindrom HELLP ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian: Pengkajian faktor risiko Pemeriksaan tekanan darah Observasi edema: distribusi. NST.d hipertensi. Koping individu/ keluarga tidak efektif 5.d efek pengobatan. konseling nutrisi. USG Pemeriksaan laboratorium: HMT. perawatan prenatal dini. Hilangnya RTPkeracunan magnesium Menentukan status janin: DJJ. . pengenalan serta pelaporan tanda-tanda bahaya fisik. menetap 10 – 30 menit). 2. perdarahan. glukosa Diagnosa Keperawatan 1. Edema pitting (lekukan kecil akibat tekanan pada bagian yang edema. 4. atau nyeri di daerah epigastrum Edema paru-paru atau sianosis Diagnosis Preeklampsia Berat o TD sistolik > 160 mmHg diastolik >110 mmHg pada 2 kali pemeriksaan. dan informasi tentang adaptasi normal pada kehamilan. gangguan penglihatan. Refleks Tendon Profunda (RTP) Refleks bisep da patela serta klonus pada pergelangan kaki. edema serebral.Keluhan serebral.d iritabilitas SSP. terapi Intervensi Intervensi efektif adalah pencegahan. Intervensi pencegahan lain adalah: konseling. HB. vasospasme siklik. enzim hati. prosses penyakit. 3. Perubahan perfusi jaringan/organ b.

berat badan > 0. Berikan kalsium glukonal/CaCl sesuai program (misal 1 gr melalui IV diberikan selama 3 menit) 4. Kolaborasi dengan dokter 3. kadar serum toksik>9. Lakukan pemeriksaan TD.8 – 9. urin 5. . jumlah urin < 30 ml/jam. Pantau kadar MgSO4 (kadar terapeutik: 4. edema. ganti dengan larutan rumatan 2. tonus otot Hindari makanan tinggi garam Kolaboratif: antihipertensi menurunkan risiko gagal ventrikel kiri & perdarahan otak perfusi uteroplasenta terjaga Intervensi di rumah Laporkan bila ada peningkatan TD. hiporefleksia/tidak ada refleks.6 mg/dl.Berikan informasi pada ibu tentang kondisi dan tanggung jawabnya dalam penatalaksanaan preeklampsia. Lakukan pemeriksaan antenatal secara teratur Managemen MgSO4 o Berfungsi untuk mencegah dan mengendalikan kejang o Dosis awal 4 – 6 g selama 15 – 30 menit diikuti dosis rumatan 2 – 4 g/jam o Observasi tanda keracunan Mg SO4: pernafasan < 12/menit. Bed rest miring kiri  memperbaiki sirkulasi uteroplasenta Latihan fisik ringan  memperbaiki sirkulasi. Hentikan MgSO4 .6 mg/dl). penurunan TD dan denyut nadi o Intervensi: 1. Periksa jumlah keluaran urin bila <400 ml/24 jam.5 kg/minggu. pernafasan. tanda distress (DJJ tiba-tiba menurun). laporkan jika proteinuria ≥ +2 atau pengeluaran urin berkurang Monitor aktivitas janin setiap hari (3 gerakan atau kurang setiap jam) mengindikasikan gawat janin.

dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru. diantaranya: Hipotesis incessant ovulation Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi. 3. (Wingo. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium. 1. 1995) B. . Proses penyembuhan sel-sel epitel yang terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain. Etiologi Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Faktor Risiko Diet tinggi lemak Merokok Alkohol Penggunaan bedak talk perineal Riwayat kanker payudara. Hipotesis androgen Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. atau endometrium 1. Pengertian Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. kolon. 4. Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. 2. androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium. panggul. C. 5.ASKEP CA OVARIUM A. Dalam percobaan in-vitro. Hal ini didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. 2.

Menstruasi dini 10. . Stadium 2b : perluasan jaringan pelvis lainnya 3. Tidak pernah melahirkan D. Dispepsia 8. Lingkar abdomen yang terus meningkat E. Tekanan pada pelvis 9. Tanda & Gejala Gejala umum bervariasi dan tidak spesifik. 3. tidak ada pertumbuhan di permukaan luar. Stadium 2a : perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba 2. tidak ada tumor di permukaan luar. Haid tidak teratur 2. Ketegangan menstrual yang terus meningkat 3. Nyeri tekan pada payudara 5. Stadium 2c : tumor stadium 2a dan 2b tetapi pada tumor dengan permukaan satu atau kedua ovarium. Stadium 1b : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium. berisi sel ganas. Rasa begah setelah makan makanan kecil 12. 2. tidak ada asietas yang berisi sel ganas. Flatulenes 11. Stadium 1c : tumor dengan stadium 1a dan 1b tetapi ada tumor dipermukaan luar atau kedua ovarium atau kapsul pecah atau dengan asietas berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif.6. kapsul utuh. tidak asietas. STADIUM II –> Pertumbuhan pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke panggul 1. Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium 7. Nulipara 8. kapsul pecah atau dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan bilasan peritoneum positif. kapsul intak. Infertilitas 9. Pada stadium awal berupa : 1. STADIUM III –> tomor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di luar pelvis dan atau retroperitoneal positif. adalah : STADIUM I –> pertumbuhan terbatas pada ovarium 1. Rasa tidak nyaman pada abdomen 7. Sering berkemih 10. Menoragia 4. Menopause dini 6. Stadium 1a : pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium. Stadium Stadium kanker ovarium primer menurut FIGO (Federation InternationalofGinecologies and Obstetricians ) 1987.

STADIUM IV –> pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. Stadium 3b : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant dipermukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopis. Hanya kanker ovarium stadium awal saja (stadium 1a dan 1b dengan derajat diferensiasi sel yang baik/sedang) yang tidak memerlukan kombinasi pengobatan. begitu juga metastasis ke permukaan liver. beta – HCG dan alfafetoprotein Semua pemeriksaan diatas belum bisa memastikan diagnosis kanker ovarium. dan kelenjar getah bening negativ. pemeriksaan CT-Scan/ MRI Pemeriksaan tumor marker seperti Ca-125 dan Ca-724. Stadium 3a : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara histologi dan dikonfirmasi secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan (seeding) dipermukaan peritoneum abdominal. F. Stadium 3c : implant di abdoment dengan diameter > 2 cm dan atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif. Kemoterapi diberikan sebanyak 6 seri dengan interval 3 – 4 minggu sekali dengan melakukan pemantauan . 2.Tumor terbatas dalam pelvis kecil tetapi sel histologi terbukti meluas ke usus besar atau omentum. Ciri2 kista yang bersifat ganas yaitu pada keadaan : Kista cepat membesar Kista pada usia remaja atau pascamenopause Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan Kista dengan bagian padat Tumor pada ovarium Pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat dugaan ke arah kanker ovarium seperti : USG dengan Doppler untuk menentukan arus darah Jika diperlukan. PENATALAKSANAAN Sebagian besar kanker ovarium memerlukan pengobatan dengan kemoterapi. Oleh karena itu. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dalam stadium 4. akan tetapi hanya sebagai pegangan untuk melakukan tindakan operasi. apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). 3. Penegakan Diagnosa Medis Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. diameter melebihi 2 cm. 1. G.

relaksasi. sistem saluran cerna. stimulasi kutan Diagnosa 2 : Perubahan citra tubuh dan harga diri b.d agen cidera biologi Tujuan : Klien merasa reda dari nyeri dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan Intervensi : Kaji karakteristik nyeri : lokasi. sistem saluran cerna.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran 3. durasi haid Riwayat obstetric –> kehamilan. frekuensi Kaji faktor lain yang menunjang nyeri. Nyeri akut b. Pengkajian Data diri klien Data biologis/fisiologis –> keluhan utama.d agen cidera biologi 2.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b. Diagnosa Keperawatan 1. marah pasien Kolaborasi dengan tim medis dalam memberi obat analgesic Jelaskan kegunaan analgesic dan cara-cara untuk mengurangi efek samping Ajarkan klien strategi baru untuk meredakan nyeri dan ketidaknyamanan: imajinasi. Intervensi : Kaji perasaan klien tentang citra tubuh dan tingkat harga diri . fungsi ginjal. kualitas. nifas. hamil Pemeriksaan fisik Data psikologis/sosiologis–> reaksi emosional setelah penyakit diketahui 2. perubahan kadar hormone 3.Tujuan dan Intervensi Diagnosa 1 : Nyeri akut b.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran Tujuan : KLien dapat memperbaiki persepsi citra tubuh dan harga dirinya. sistem saraf dan sistem kardiovaskuler. persalinan.terhadap efeh samping kemoterapi secara berkala terhadap sumsum tulang. Perubahan citra tubuh dan harga diri b. ASUHAN KEPERWATAN 1. riwayat keluhan utama Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat kesehatan keluarga Riwayat reproduksi –> siklus haid. keletihan. fungsi hati. Penatalaksanaan yang sesuai dengan stadium yaitu : Operasi (stadium awal) Kemoterapi (tambahan terapi pada stadium awal) Radiasi (tambahan terapi untuk stadium lanjut) H.

makrivaskuler komplikasi dan neuropatik ( gangguan struktus dan fungsi ginjal). lemak.Mengidentifikasi kepuasan/ praktik seksual yang diterima dan beberapa alternatif cara mengekspresikan keinginan seksual Intervensi: Mendengarkan pernyataan klien dan pasangan Diskusikan sensasi atau ketidaknyamanan fisik. Berkurangnya glikogenesis.com/2008/12/21/asuhan-keperawatan-klien-dengan-kankerovarium/ http://akperppnisolojateng. Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak kesulitan. 2001. konsentrasi gula darah tinggi. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.html ASKEP IBU HAMIL DENGAN DM TINJAUAN TEORI A. penyakit ini akan . hiperglikemi dan perkembangan dari mikrovaskuler ( kental kapiler). EGC: Jakarta Donges.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. EGC: Jakarta http://viethanurse. perubahan kadar hormon Tujuan : -KLien menyatakan paham tentang perubahan struktur dan fungsi seksual. . perubahan pada respons individu Kaji informasi klien dan pasangan tentang anatomi/ fungsi seksual dan pengaruh prosedur pembedahan Identifikasi faktor budaya/nilai budaya Bantu klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk berbagi pikiran/masalah dengan orang terdekatnya Berikan solusi masalah terhadap masalah potensial. Pengertian Adalah penyakit kronik yang komplek yang dikarakterisasikan dengan gangguan metabolisme karbohidrat. protein. Marilynn E. arterisklerosis.Berikan dorongan untuk keikutsertaan kontinyu dalam aktifitas dan pembuatan keputusan Berikan dorongan pada klien dan pasangannya untuk saling berbagi kekhawatiran tentang perubahan fungsi seksual dan menggali alternatif untuk ekspresi seksual yang lazim Diagnosa 3 : Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b. Etiologi Penyakit gula dapat merupakan kelainan herediter dengan cara insufisiensi atau absennya insulin dalam sirkulasi darah.wordpress. B.Rencana Asuhan Keperawatan. 1999.blogspot. ex : menunda koitus seksual saat kelelahan Daftar Pustaka Brunner & Suddarth.com/2009/03/askep-caovarium.

Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi asfiksia sampai dengan lahir mati . DM akan menjadi lebih berat karena kehamilan 2. E. D. Sering mengalami keguguran Glokusuria C. Pre-eklamasi d. Pengaruh kehamilan. c) Diabetes Laten : Subklinis atau diabetes hamil. 25% kemungkinan akan berkembang menjadi DM. kejadian meningkat sejalan dengan umur kehamilan. Sering mengalami lahir mati. Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Klasifikasi Diabetes Melitus a) Type I ( IDDM ) : DM yang berganyung pada insulin b) Type II ( NIDDM ) : Orang tidak bergantung pada insulin. muncul > 50 tahun. persalinan dan nifas terhadap DM a. tetapi tidak merupakan kecenderungan orang dengan gangguan toleransi glokusa . Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi manifes ( diabetik ) b. uji toleransi gula tidak normal. Pengobatan tidak memerlukan insulin cukup dengan diit saja. Sebaliknya diabetes akan mempengaruhi kehamilan dan persalinan. Hidronion c. Epidemitologi Gangguan Dm terjadi 2 % dari semua wanita hamil. Kesalahan letak jantung e. Pengaruh penyakit terhadap persalinan a. Pengaruh Diabetes Melitus Terhadap Kehamilan 1. Pengaruh penyakit gula terhadap kehamilan di antaranya adalah : a. b. Factor Predisposisi : Umur sudah mulai tua Multiparitas Penderita gemuk Kelainan anak lebih besar dari 4000 g Bersifat keturunan Pada pemeriksaan terdapat gula dalam urine Riwayat kehamilan : Sering meninggal dalam rahim. tetapi dapat diobati dengan insulin. Gangguan kontraksi otot rahim partus lama / terlantar. c. Insufisiensi plasenta 3. Abortus dan partus prematurus b.menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal pada penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan.

Perdarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim. 4. penurunan berat BB tiba-tiba. turgor kering. 3. cegah ulserasi. Dapat terjadi cacat bawaan. 1. 1. perawatan. haus. hipotensi. e. muntah. Terapi Dialysis : peritoneal. status metabolic dan diet rendah protein Pendidikan pasien tentang penggunaan medikasi untuk mengontrol medikasi G. Agen Immunosupresive. Sekunder : deteksi dini. prematur. urine encer. Pemeriksaan optalmologist Albuminuria monitor penyakit ginjal Kontrol hipertensi. pelambatan pengisin . Mudah terjadi infeksi post partum b. kacau mental. Pencegahan Primer : untuk mengurangi obesitas dan BB. Tersier : Pendidikan tentang perawatan kaki. Bayi mengalami hypoglicemi post partum sehingga dapat menimbulkan kematian Pengaruh DM terhadap kala nifas a. dipenilhidonsion. 2. Post partum mudah terjadi infeksi. 5. > usia kandungan 36 minggu b. diuretic. 1. kelemahan. anto rokok. Janin besar ( makrosomia ) c. gangren dan amputasi. Agmen Beta Adrenergik Bloking. Kemungkinan dibuktikan dengan : peningkatan haluaran urine. kontrol penyakit hipertensi. Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah menyebar Pengaruh DM terhadap bayi a. takikardi. d. 3. membran mokusa kering.4. 5. 2. ASUHAN KEPERWATAN Diagnosa Keperawatan Kekurangan volume cairan berhubungan dengan : Diuresis osmotik ( dari hiperglikemia ) kehilangan gastrik berlebihan : diare. Abortus. hemodialisa Total Nutrisi Parenteral Tube feeding Hyperosmolar Pembedahan Obat : Glukokortikoid. masukan dibatasi : mual. potensial penyakit saraf dan jiwa F. diazoxida. f.

DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 1989. kelelahan. diare. Marilynn. Pelepasan hormon stress misal . Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. 2. kecenderungan untuk kecelakaan. ketidakmampuan mempertahankan rutinitas biasanya. haluaran urine tepat secara individu.Peningkatan kebutuhan energi : status hipermatabolik Kemungkinan dibuktikan dengan : .Status hipermetabolisme. Jakarta : EGC Prawiroharjo. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan : . . nyeri abdomen. Jakarta : Widya Medika Ledewig. Kriteria hasil . Patricia. perubahan kesadaran. Rustam. Jakarta :EGC .Ketidakcukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glokusa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein / lamak. DR. Kemungkinan dibuktikan oleh : . dan kadar elektrolit dalam batas normal. kortisol. tonus otot buruk. Obstetri Patologi. kurang nafsu makan.Kurang energi yang berlebihan.kapiler. Geofferey. kelemahan.Mendemonstrasikan berat badanstabil atau penambahan ke arah rentang biasanya / yang diinginkan dengan nilai laboratrium yang normal. Kelelahan berhubungan dengan : . Bandung : Elstar Offset. dan hormon GH. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Kroteria Hasil : . mula.Mengungkapkan peningkatan energi . Sarwono. anoreksia.Perubahan kimia darah . turgor kulit baik. . 1976. nadi ferifer dapat diraba. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir.Penurunan masukan oral. Kriteria hasil : mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan dengan tanda vital stabil.Mencerna jumlah kalori / nutrisi yang tepat . W. 2005. 3. lambung penuh.Melaporkan kemasukan makanan tak adekuat.Menunjukkan tingkat energi biasanya . 1994. Penurunan BB .Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. Kajarta : EGC Mochtar. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. Doenges E. Ilmu Kebidanan.Penurunan produksi energi metabolik . insufisiensi insulin . 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. 1984. penurunan kinerja. epenipren. Prof. Edisi I.

Harry. Jakarta : EGC ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN PENYAKIT JANTUNG DAN HIPERTENSI . Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Luz 1991. Ida Bagus. 1993. Yayasan Esentia Medika Heller. 1990.Manumba. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan .

A. KONSEP DASAR 1. Penyakit jantung Keperluan jani yang sedang tumbuh akan oksigen san zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan, yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Oleh krena it di dalam kehamilan selalu terjadi perubahan-perubahan pada system kardiovaskular yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologis. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan oleh : a. Hipervolumia : dimulai sejak kehamilan 28 minggu dan mencapai puncak pada 28-32 minggu, lalu menetap. b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran rahim. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung. Saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah : a. Pada kehamilan 32-36 minggu dimana volume darah mencapai puncaknya. b. Pada kala II wanita mengerahkan tenaganya untuk mengedan dan memerlukan tenaga jantung yang erat. c. Pada post partum,dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk dalam sirkulasi darah ibu. d. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi. Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan : a. Dapat terjadi abortus b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan. c. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah. d. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati. e. Kematian jani dalam lahir ( KJDL ) Klasifiksi penyakit jantung dalam kehamilan : - Kelas 1 : a. Tanpa pembatasan gerak fisik. b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa - Kelas II : a. Sedikit dibatasi kegiatan fsiknya b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfisiensi jantung. d. Gejalanya adalah lelah, palpitalis, sesak nafas, dan nyeri dada ( angin pectoris ). - Kelas III : a. Kegiatan fisik sangat dibatasi b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung. - Kelas IV : a. Waktu istirahat dapat menimbulkan keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik. Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat meningkatkan kelas

tersebut menjadi III atau IV, Faktor-faktor yang dapat pula mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya aritmia jantung, dan hipertropi ventrikuler dan erhan sakit jantung. 2. Hipertensi Hipertensi dalam kehamilan berarti bahwa wanita telah menderita hipertensi sebelum hamil, disebut juga sebagai pre eklamasi tidak murni seperti mposed preeklamsia bia diserta pula dengan proteinnuria dan edemia. Penyebab utama hipertensi dalam kehamilan adalah : a. hipertensi esensial b. Penyakit ginjal Menurut Sims ( 1970 ) penyakit hipertensi dan penyakit ginjal yang dengan hipertensi adalah sebagai berikut : 1. Penyakit hipertensi a. Hipertensi esensial : ringan, sedang, berat, ganas( progresif ) b. Hipertensi renovaskuler ( penyakit pembulu darah ginjal ) c. Kartisio aorta d. Aldosteronisme primer e. Feokromositoma 2. Penyakit ginjal dan saluran kencing a. Glomerulonefritis ( mendadak, menahun, sindomaneftrotik ) b. Pielonefritis ( mendadak, menahun, ) c. Lupus eritmatusus, dengan glomerulitis, dengan glomerulonefritis d. Skelodermo dengan kelainan ginjal e. Pariarteritis nodosa dengan kelainan ginjal f. Gagal ginjal mendadak g. Penyakit polikistik h. Nefropatia diabetic a. Hipertensi esensial Adalah penyakit hipertnsi yang mungkin disebabkan faktor heriditer dan dipengaruhi oleh faktor emosi dan lingkungan. Wanita hamil dengan hipertensi tidak menunjukkan gejala-gejala lain kecuali hipertensi. Terbanyak dijupai adalah hipertensi jinak dengan tensi sekitar 140/90 sapai 160/100 mmHg. Jarang berubah menjadi ganas secara mendadak sampai sistolik 200 atau lebih. Gejala-gejala seperti kelainan kantung, arteriskelorosis, perdarahan otak dan penyakit ginjal baru timbul setelah dalam waktu lama dan penyakit terus berlanjut. 1) Kehamilan dengan hipertensi esensial akan berlangsung normal sampai aterme. 2) Pada kehamilan setelah 30 minggu 30 % adakan menunjukkan kenaikan tekanan darah namun tanpa gejala. 3) Kira-kira 20 % akan menunjukkan kenaikan tekanan darh yang mencolok, bisa disertai dengan proteinnuria dan edema ( preeklamsia tidak murni ) dengan keluhan : sakit kepala, nyeri epigastrium, nyeri muntah, dan gangguan penglihatan ( visus ). b. Penyakit ginjal hipertensi Penyakit ginjal dengan gejala hipertensi dan dapat dijumpai pada wanita hamil adalah :

- Glomerulonefritis akut dan kronik - Pielonefritis akut dan kronik Pemeriksaan : - Pemeriksaan urine lengkap dan faal ginjal - Pemeriksaan retina - Pemeriksaan umum tekanan darah dan nadi - Kuantitatif albumin air kencing ( urin ) - Darah lengkap dan ureum berdarah - Dll B. Etiologi 1. Penyakit jantung - Hipervolumia - Pembesaran rahim - Demam rematik 2. Hipertensi - Hipertensi esensial - Hipertensi ginjal C. Tanda dan gejala 1. Penyakit jantung - Aritmia - Pembesaran jantung - Mudah lelah - Dispenea - Nadi tidak teratur - Edema pulmonal - Sianosis 2. Hipertensi - Edema - Nyeri kepala - Nyeri epigastrium - Muntah - Gangguan visus ( superimposed pre exlamsia ) D. Penatalaksanaan 1. Penyakit jantung Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada gerajat fungsionalnya : - Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan. - Kelas II : Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan. Kurangi kerja fisik terutama antara kehamilan28-36 minggu. - Kelas III : Memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya dirawat di RS sejak kehamilan 28 – 30 minggu.

Pengawasan pertumbuhan janin . 2.Diit rendah garam .Riwayat hipertensi kronis c.Peningkatan tekanan darah .Nadi mungkin menurun .Malnutrisi . Sirkulasi .Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal .Obesitas . .Dapat mengalami memar spontan. diazepam. . Hipertensi esensial . Hipertensi a. Pengkajian data Dasar a.Perubahan poksisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan uterus.Pengakhiran kehamilan ( dilakukan apabila terjadi upper imposed pre axlamsia.Mual dan muntah . Eliminasi Menurunnya keluaran urine d. romatozin.Obat penenang ( solusio charcot.Istirahat. Makanan dan cairan .Riwayat penyakit jantung congenital dan demam reuna .kelas IV : Harus dirawat di RS dan dinerikan pengobatan bekerjasama dengan kardiolog. palpitasi. Nyeri dan rasa nyaman Dapat mengeluh nyeri dada dengan tanpa paktivitas .Diabetes melitus .Takikardia. hipertensi ganas ) b.. disritmia .Obat hipotensif .Dapat mengalami edemia ekstrimitas bawah e.Clubbing dan sianosis . . phenobarbital ). Penyakit ginjal .Dispenia nocturnal karena pengerahan tenaga b.Istirahat . Aktifasi dan istirahat . perdarahan lama.Dapat mengalami pembesaran jantungdan murmur diastolic dan pristolik kontinu . dan trobositopenia. .Diberikan obat hiptensif ( apabila tekanan darah sangat tinggi ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPERTENSI DAN PENYAKIT JANTUNG 1.

EKG ( Elektrodiograf ) . disritmia. 4. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi.Seri ultrasonografi . 6. perpindahan cairan keluar intravaskuler.Echokardiograf . 5. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan hipertensi : 1.Hb dan HT ( hemoglobin dan memoktorit ) . perubahan faal ginjal. 2.Pencitraan jantung radionukleutida .Dispnea . penurunan tekanan osmotic koloid pasma.Hemoptisis . b. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output. Pemeriksaan disgnostic .Tes presor supnie . Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi. dan perubahan inotropik pada jantung. perubahan kontratiktilitas miokard.Kratinin serum . . Diagnosa Keperawatan a. Kelebihan volum cairan berhubungan dengan peningkatan volum sirkulasi. Kurangnnya volume cairan ( kegagalan regulasi ) berhubungan dengan kehilangan protein plasma. intake cairan yang berlebihan. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) berhubungan dengan kurangnnya informasi dan interpretasi yang salah. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan primer dan skunder. Kemanan Infeksi streptokokus berulang h. ruang pengetahuan tentang proses infeksi.GDA ( gas darah arteri ) .f.Amniosentris .Strees kontraksi .Pernafasan mungkin kurang dari 14 x / menit . penurunan aliran balik vena. 3. peningkatan tahanan aliran darah sistemik.Ortopnea g.LED ( laju endap darah . Penurunan curak antung berhubungan dengan hipovolumia.Urine lengkaptes .SDP ( sel darah putih ) .Krekle . 2.Tes cairan amniotikultrasonografi 2. penyakit/kondisi kronis.Takipnea . Pernafasan . Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan penyakit jantung : 1.

Resiko cedera berhubungan dengan edema / hipoksia jaringan. Prof. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. Rustam. Kurangnya pengetahuan ( kebutuhan belajar berhubungan dengan kurangnya informasi dan pemahaman tentang proses penyakit. 5. 1976. 1989. Jakarta :EGC Manumba. 1984. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Bandung : Elstar Offset. Geofferey. 6. Kajarta : EGC Mochtar.3. Yayasan Esentia Medika Heller. Edisi I. 2005. Jakarta : EGC Prawiroharjo. Patricia. 1994. Sarwono. Jakarta : Widya Medika Ledewig. Doenges E. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Luz 1991. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. abnormallitas factor pembekuan. kejang. Ilmu Kebidanan. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Marilynn. 1990. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . DR. Harry. Obstetri Patologi. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. Nutrisi. Ida Bagus. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 4. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat intake nutrisi. Jakarta : EGC ASKEP IBU HAMIL DENGAN HYPERTIROID TINAJUAN TEORI . 1993. W. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolumia.

Hiperkinesis .A. Penatalaksanaan .Kesulitan dalam menelan . timbul dalam masa kehamilan.Aneroksia .Operasi tiroidektomi. Tanda dan gejala Hipertiroid : . Pengaruh penyakit terhadap kehamilan dan persalinan .Mual dan muntah .Pembesaran kelenjar tiroid . Penderita hipertiroid biasanya mengalami gangguan haid ataupun kemandulan.Konstipasi . B.Kala II hendaknya diperpendek dengan akstraksi vakum / forsial. 1. lakukan pada trimester III . Etiologi Hipertiroid : . Pengaruh kehamilan terhadap penyakit Kehamilan dapat membuat strua tambah besar dan keluhan penderita tambah berat.Pemberian obbat-obat profiltluarasil dan metiazol dosis rendah . karena bahaya kemungkinan timbulnya dekompensasi kordis.Takikardia . Pasien dengan penyakit primer ini mungkin mengidap batu ginjal.Peningkatan metabolism basal 15-20 % C.Eksoftalmus . penyakit tulang atau tanpa gejala.Lekas letih . Kejadian penyakit ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umunya disebabkan oleh adenoma tunggal.Partus prematurus .Pembesarankelenjar tiroid .Kehamikan sering berakhir ( abortus habitualis ) .Kenaikan BMR sampai 25 % . 2.Tremor . Konsep Dasar Hipertiroid pada kehamilan ( morbus basodowi ) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan naiknya metabolism basal15-20 %.Hiptonik obat D.Hiperfungsi kelenjar tiroid . Kadang juga terjadi kehamilan atau timbul penyakit baru. kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid.

Dalam kenyataan tetani neonatal sering membantu dalam memerlukan hiperparatiriodisme ibu. licin. 3) Iritasi Conjunction dan Hemosis. 1) Peningkatan tekanan darah 2) Tekanan nadi meningkat 3) Takhikardia 4) Aritmia 5) Berdebar-debar 6) Gagal jantung . 2) Erythema. Kulit 1) Panas. Komplikasi dan Pengangan Kematian meningkat dan dapat mencapai 50 %. ASUHAN KEPERAWATAN A. 4) Ujung kuku/jari → terjadi Aerophacy.E. lembab. Pengaruh Kehamilan Terhadap Penyakit Kehamilan dapat membuat struma tambah besar dan keluhan penderita bertambah berat. Pemeriksaan Fisik : a. halus. PENGKAJIAN 1. karena jaringan orbita dan otot-otot mata diinfiltrasi oleh limposit. 8) Tanda stelwag : mata jarang berkedip. yang kemudian dioperasi untuk mengangkat adenomanya. mixedema local. pigmentasi. b. Kalau perlu dilakukan pemeriksaan kalsium berkala dan bila nyata harus dilakukan koreksi dengan kalsium glokonat 2-3 x 20 ml cairan 10 %. 4) Laktrimasi 5) Ortalmoplegia 6) Tanda Jefrey : kulit tidak dapat mengkerut pada waktu kepala sedikit menunduk dan mata melihat objek yang digerakkan ke atas. 7) Tanda Rosenbach : tremor pada kelopak mata pada waktu mata menutup. F. 9) Tanda Dalrymple : retraksi kelopak mata bagian atas sehingga memberi kesan mata membelalak. 11) Tanda Molbius : kelemahan dalam akomodasi / konvergensi mata / gagal konvergensi. banyak keringat. Cardio vaskuler. 10) Tanda Van Graefe : kelopak mata terlambat turun dibandingkan boa mata.8o C → indikasi Krisis Tyroid. 5) Kalau ada peningkatan suhu → lebih dari 37. 3) Kuku → terjadi onycholosi → terlepas. rusak. mengkilat. bila keluhan menjadi ringan. 2) Proptosis ( eksoptalmus ). yaitu perubahan ujung jari → tabuh / clubbing finger disebut PLUMER NAIL. diet makanan kalsium 4 gelas susu / hari dapat dianjurkan. Mata ( Opthalmoptik ) 1) Retraksi kelopak mata atas → mata membelalak / tanda Dalrymple. tetapi mungkin timbul hipokalsemia pasca bedah. Pembedahan adalah terapi yang dianjurkan. c. kemerahan.

Otot 1) Kekuatan menurun 2) Kurus 3) Atrofi 4) Tremor 5) Cepat lelah 6) Hyperaktif refleks tendom g. menangis tanpa sebab 2) Iritabilitas 3) Perubahan penampilan i. Gastrointestinal 1) Poliphagia → nafsu makan meningkat. Status ginjal 1) Polyuri ( banyak dan sering kencing ).d. 2) Diare → bising usus hyperaktif 3) Enek 4) Berat badan turun f. Hypomenorrhoe b. 2) Polidipsi ( rasa haus berlebihan → banyak minum ) j. Amenorrhoe Karena kelenjar tyroid mempengaruhi LH 2) Laki-laki : a. Penurunan potensi k. Status reproduksi 1) Pada wanita : a. Kehilangan libido b. . Respirasi 1) Perubahan pola nafas 2) Dyspnea 3) Pernafasan dalam 4) Respirasi rate meningkat e. Status mental dan emosional 1) Emosi labil → lekas marah. Sistem persyarafan 1) Iritabiltas → gelisah 2) Tidak dapat berkonsentrasi 3) Pelupa 4) Mudah pindah perhatian 5) Insomnia 6) Gematar h. Leher 1) Teraba adany apembesaran tyroid ( goiter ).

Pemeriksaan Diagnostik a. . Kaji efektifitas pengobatan untuk mengatasi mual dan nyeri abdomen. Berikan dorongan untuk memperbanyak minum 2 sampai 3 liter setiap hari . d. h.tidak yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen. tinggi karbohidrat. d. BMR meningkar e. Hindari makanan dengan jumlah yang banyak serat atau makanan yang banyak mengandung bumbu. atau makanan yang lain yang mengandung kafein atau teobromin yang meningkatkan perasaan kenyang dan paristaltik. tingkat kesadaran. masukan dan haluaran seimbang. Pantau tanda vital. hindari jus yang mungkin dapat menyebabkan diare. Berikan kompres hangat sesuai kebutuhan. tidak mengalami diare. the. Gunakan pakaian dan linen tempat tidur yang tipis.5oC – 37. 2. Hasil yang diharapkan / evaluasi : Berat badan meningkat sampai batas yang normal bagi pasien : makan diet yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen . Hipetermia yang berhubungan dengan status hipermetabolik ditandai dengan panas. Intervensi : a. hypertiroid < g) B. tinggi vitanin B. b. c. g. cola. hypertiroid > 8 g. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan diare. i. Tujuan : suhu normal 36. Pantau masukan diet tinggi kalori. e. Tawarkan makanan dalam jumlah kecil tapi sering dan tambahan diantara waktu makan. Tyroid → radio aktif iodine up take ( RAIU ) meningkat ( Normal: 10-35 % ) d. halyaran urine setiap 2 sampai 4. Berikan lingkungan dengan pengunjung yang cocok bila pasien yang menginginkannya. Tujuan : nutrisi adekuat. pada waktu yang sama dengan timbangan dan pakaian yang sama.5oC. Intervensi . 2. mual. Kaji efektifitas selimut hipetermia bila dilakukan : . Tingkatkan masukan cairan sampai 2500 ml / hari. j. Berikan asetamenofen sesuai pesanan ( aspirin merupakan kontra indikasi ) f. Konsulkan pasien untuk makanan yang disukai. e. Hindari stimulan : kopi. nyeri abdomen dan atau peningkatan BMR ditandai dengan BB turun. f. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. c. diaporesis. b. a. Pantau masukan dan haluaran setiap 8 jam. Serum T3 dan T4 meningkat ( Normal : T3 :8 – 16 g. TSH serum menurun c. tinggi protein.Lakukan tindakan untuk mencegah kerusakan kulit. PBI meningkat ( Normal :4 g – 8 g. g.2) Briut ( + ). Pertahankan lingkungan yang sejuk. T4 4-11 g ) b. Timbang pasien setiap hari.

Batasi akatifitas sampai tingkat toleransi pasien dengan melakukan pangkajian respon ( mis : kaji tanda vital selama melakukan aktifitas dan bandingkan dengan tanda vital dasar ). peka rangsang. 3) Batasi pengunjung sesuai kebutuhan. tenang. f. Rencanakan aktifitas setiap hari dan pola istirahat yang dapat memudahkan meningkatan toleransi untuk perawatan diri. tanpa stress. Biarkan pasien membuat priorotas dalam perawatan di dalam keterbatasanna. b. dan tidak merangsang. c. Hentikan aktifitas pada awal timbulnya gejala intoleran : dispnea. Berikan lingkungan yang stabil. takikardia.h. 4. d. Berikan jarak waktu antara prosedur untuk memungkinkan waktu istitrahat yang cukup. Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi dan orang : berikan penekanan bahwa hal tersebut tepat adanya. 1) Atasi lingkunangan yang terlalu berisik. berikan penjelasan yang jelas dan singkat. orientasi. 5) Cegah situasi yang menimulkan kemarahan emosional bila memungkinkan d. Tujuan : Aktifitas dapat dilakukan sesuai toleransi. Kaji tanda vital dasar dan tingkat aktivitas sebelumnya. Berikan peralatan yang dibutuhkan. Pasien sadar dan responsif b. b. gugup. kebutuhan lain untuk mencegah penggunaan energi yang berlebihan oleh pasien sebelum aktivitas. Intervensi : a. b. . Hasil yang diharapkan / evaluasi : a. e. 3. Bantu pasien saat melakukan aktifitas yang tidak mampu dilakukan karena kelemahan atau tremor. c. Meminta bantuan hanya ketika membutuhkan. afek dan persepsi setiap 4 jam sampai 8 jam : laporkan adanya perubahan negatif. g. Intoleran aktivitas yang berhubunagan dengan ketiddakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan karena peningkatan kecepatan metabolisme dan intoleransi terhadap panas ditandai dengan kelemahan. 2) Konsisten dalam waktu dan saat melakukan prosedur atau aktifitas. Intervensi : a. Hasil yang diharapkan /evaluasi : a. Kaji tingkat kesadaran. takipnea. Tanda-tanda vital dan haluaran urine normal. h. 4) Hindari pergantian personel yang sering. Tujuan : tidak terjadi perubahan proses pikir. Kolaborasikan dengan dokter dalam menggunakan tindakan pendinginan tambahan bila keadaannya membutuhkan. Rencanakan perawatan bersama pasien. Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa bukti-bukti intoleran. keletihan. Perubahan proses fikir yang berhubungan dengan peningkatan rangsangan sistem saraf simpatis oleh tingginya kadar hormon tiroid ditandao dengan labil.

Pasien berorientasi b. i.e. kalender. gambar-gambar yang dikenal pasien dan sebagainya ). Orientasikan kembali pasien pada lingkungan sesuai dengan yang dibutuhkan dan berikan petunjuk yang mengorientasikan ( misalnya : jam. h. j. g. hindari hal-hal yang membutuhkan manipulasi motorik halus. Menggunakan teknik reduksi stress ASKEP TOKSEMIA GRAVIDARUM . Berespon sesuai terhadap situasi dan orang c. f. Informasikan pasien bahwa aktifitasnya mungkin dibatasi. Hasil yang diharapkan : a. Ajarkan teknik menurunkan stress dan kaji penggunaannya oleh pasien. Berikan aktifitas yang menghibur dan benda-benda yang menurunkan rangsangan . Panyau terhadap reaksi buruk terhadap pengobatan. Antisipasi kebutuhan akan pencegahan reaksi hiperaktif.

. yait karena koagulasi intravaskuler (DIC) dengan hemolisis dan nekrosis hati Gambaran histopatologis menampakkan adanya trombi fibrin dalam sinusoid di periportal disertai tanda-tanda perdarahan serta nekrosis. dan ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun Ibu hamil yang sebelum kehamilannya memiliki penyakit darah tinggi atau penyakit ginjal Patofisologi Preeklamsia dapat membuat plasenta tidak mendapatkan darah dalam jumlah yang cukup. Keadaan ini dapat disertai kelainan faal hati berupa kenaikan kadar fosfatase alkali dan transaminase dalam serum. Ini dapat mengakibatkan kelahiran dengan berat badan rendah.TINJAUAN TEORI Pengertian Preeklamsia (toksemia gravidarum) adalah suatu kondisi dimana tekanan darah meningkat selama masa kehamilan. ibu hamil usia remaja. sedangkan ikterus jarang timbul. tapi resiko utama terjadinya pre-eklamsi adalah abrupsio plasenta. Faktor Resiko Resiko tinggi mengalami preeklamsia adalah : Baru pertama kali hamil Ibu hamil yang ibunya atau saudara perempuannya pernah mengalami preeklamsia Ibu hamil dengan kehamilan kembar. tubuh anda menahan air. Etiologi Penyebab dari Toksemia Gravidarum sampai saat ini tidak diketahui. maka bayi anda tidak akan mendapatkan cukup oksigen dan makanan. 3. Perdarahan intrahepatik dan subkapsuler menimbulkan keluhan nyeri epigastrik atau nyeri perut kuadran kanan atas. Hal seperti ini juga disebut sebagai toxemia atau pregnancy induced hypertension (PIH). Umumnya tidak ada pengobatan khusus terhadap kelainan faal hati yang terjadi pada toksemia gravidarum. terminasi kehamilan akan memperbaiki keadaan klinis dan histopatologisnya. sedangkan tanda-tanda inflamasi tidak ada. 4. Bila plasenta tidak mendapatkan cukup darah. Bila tekanan darah anda meningkat. 2. meskipun jarang terjadi. hanya terjadi pada keadaan berat. Tanda dan Gejala 1. dan protein bisa ditemukan dalam urin anda. ruptur spontan hati yang mengakibatkan perdarahan intra peritoneal dan syok memerlukan tindakan bedah darurat.

Preeklamsia ringan : Tekanan darah yang tinggi. 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi. nyeri di daerah epigastrium. mual atau muntah-muntah Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklamsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklamsia akan timbul. Tekanan darahpun meningkat lebih tinggi. pandangan kabur. diikuti edema. sedikit buang air kecil (BAK). protein dalam urin 2. bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur. bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklamsi. edema menjadi lebih umum. bayi segera dilahirkan melalui operasi sesar. napas pendek dan cenderung mudah cedera. Pada preeklamsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal. dan proteinuria bertambah banyak. retensi air. Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah).Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm hg. Klasifikasi 1. Sindroma hellp cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklamsi tertunda. kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklamsi. Manifetasi Klinis Biasanya tanda-tanda preeklamsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan. skotoma. Pada preeklamsia ringan tidak ditemukan gejal-gejala subyektif. hipertensi dan akhirnya proteinuria. yang terdiri dari: 1. diplopia. Gejala-gejala dari pre-eklamsi adalah: tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm hg wajah atau tangan membengkak kadar protein yang tinggi dalam air kemih. kelelahan. Preeklamsia berat : sakit kepala. Hemolisis (penghancuran sel darah merah) 2. Pemeriksaan Penunjang Penlaian Keadaan Ibu Klinis . tidak dapat melihat cahaya yang terang. sakit di perut bagian kanan atas. jika terjadi sindroma hellp. juga dikatakan menderita pre-eklamsi. penglihatan kabur. Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati) 3. mual/muntah. Komplikasi Komplikasi utama dari pre-eklamsi adalah sindroma hellp.

somnolen o Mual & muntah Hematologi: edema. Istirahat. berbaring pada sisi kiri tubuh agar janin anda tidak menindih urat darah. hubungan TD dgn CVA. APTT. 2. mual & muntah Ginjal: output & warna urin Penilaian Keadaan Ibu lab Hematologi: o Hb. AT o PTT. Sering melakukan pemeriksaan sebelum kelahiran 3. asam urat Penilaian Keadaan Janin Gerakan ( > 10x / 24jam ) DJJ USG untuk perkembangan Profil biofisik Indeks cairan amnion Pemeriksaan doppler arus darah: tali pusat Penatalaksanaan Keperawatan 1. Bila anda mengidap preeklamsia berat. o Gg penglihatan-buta. Minimalkan palpasi 4. perdarahan. o Tremor. SGPT. Antihipertensi: a. Antasida. Minum 8 gelas air per hari Penalataksanaan Medis 1. hiperaktif. Nyeri subhepatik: Morfin 2-4 mg iv. iritabilitas. 2. Mengurangi makan garam 4.TD: derajat keparahan. dokter anda mungkin akan mengobatinya dengan memberikan obat-obat untuk menekan tekanan darah sampai perkembangan bayi anda cukup untuk dapat dilahirkan dengan selamat. FDP o LDH. Fibrinogen. Mual & muntah: antiemetik 3. LDH Glukosa Ginjal: o Proteinuria o Kreatinin. asam urat Hepatik: o SGOT. urea. Min. bukan kejang SSP: Keparahan sakit kepala. kabur. ptekie Hepatik: nyeri kw kanan atas & epigastrik. risiko CVA pd ibu .

Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Max. pemeriksaan obstetrik. terus menerus. menentukan cara pemecahannya.b. berat badan diperiksa tiap hari. atau menderita gangguan dalam penglihatan. Mendapat waktu u/ penilaian lbh lanjut: memperpanjang kehamilan &persalinan pervaginam jk mungkin Pencegahan Sampai saat ini. pemeriksaan umum. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. dan pemeriksaan laboratorium rutin Tekanan darah. ada juga yang tidak. tidak ada cara pasti untuk mencegah preeklamsia. merasa mual. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. kondisi ibu u/ persalinan yg aman c. saling berkaitan dan dinamis Pengkajian Anamnesis. dan edema dicari terutama pada daerah sacral Balans cairan ditentukan tiap hari Funduskopi dilakukan pada waktu penderita masuk rumah sakit dan kemudian tiap 3 hari Keadaan janin diperiksa tipa hari dan besarnya dinilai Penderita diingatkan untuk segera memberitahukan apaabila sakit kepala. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Gunakan sedikit garam atau sama sekali tanpa garam pada makanan anda Minum 6-8 gelas air sehari Jangan banyak makan makanan yang digoreng dan junkfood Olahraga yang cukup Angkat kaki anda beberapa kali dalam sehari Hindari minum alcohol Hindari minuman yang mengandung kafein Dokter anda mungkin akan menyarankan anda untuk minum obat dan makan suplemen tambahan. Ikuti instruksi dokter anda mengenai diet dan olahraga. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. Ada faktor-faktor yang dapat penyebab terjadinya tekanan darah tinggi yang dapat dikontrol. merasa nyeri di daerah epigastrium. . air kencing.

Monitor tanda-tanda .Edema ekstremitas berkurang 2 Pantau tanda dan Mengurangi edema gejala adanya yang terjadi preeklamsi Meningkatkan Anjurkan klien untuk aliran plasma ginjal diet tinggi protein dan perfusi dengan asupan plasenta natrium sedang 2. perawat dapatmeminimalk an komplikasi preeklamsi yang terjadi dengan kriteria hasil: .Pertahankan balance cairan b/d gangguankeperawatan pencatatan intake dan Pada edema terjadi mekanisme selama x24 jam.5-7 Dapat mengambil gr per hari dan 6-8 tindakan lebih dini gelas air perhari Untuk menurunkan Anjurkan klien untuk tekanan darah istirahat dengan posisi Untuk mencegah lateral rekumben kiri kejang (eklamsi) Ajarkan klien tandatanda bahaya preeklamsi dan segera melaporkan jika hal itu terjadi .Monitor hasil lab yang meningkat keseimbangan berhubungan dengan volume cairan. retensi cairan dengan kriteria (peningkatan hasil: BUN.penurunan .Tidak terjadi kejang .Tanda-tanda vital dbn .Kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai indikasi . Kelebihan volume cairan b/d gangguan mekanisme pengaturan 3. PK: Preeklamsi 2. output cairan yang retensi cairan pengaturan klien akan akurat sehingga BB memiliki .Tanda-tanda vital hematokrit) dbn .Diagnosa Keperawatan 1. Perfusi jaringan perifer tidak efektif b/d peningkatan tekanan darah Rencana Keperawatan N O 1 DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL PK: PreeklamsiSetelah dilakukan tindakan keperawatan.Kolaborasi pemberian obat anti kejang sesuai indikasi Kelebihan Setelah dilakukan Fluid Manajement: Mempertahankan volume cairantindakan .

bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal.Pertahankan hidrasiMelancarkan perifer yang yang adekuat peredarah darah efektif dengan .Nadi perifer vital teraba .id PREMATUR KEHAMILAN DEFINISI Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba.Rendahkan peningkatan peningkatan klien memiliki ekstremitas viskositas darah tekanan darah perfusi jaringan .3 . .Berat badan diuretik sesuai stabil indikasi .Anjurkan klien untuk pada bony .Ubah posisi pasien . Walaupun kecil.Warna kulit dbn setiap 2 jam jika .Tidak ada edema perifer Perfusi Setelah dilakukan Circulatory Care Meningkatkan jaringan tindakan .americanpregnancy. 1998 : 221).Tidak ada edema memungkinkan perifer DAFTAR PUSTAKA Pregnancy Induced Hypertension (PIH): Preeclampsia or Toxemia http://www.Intake dan berat badan setiap output 24 jam hari seimbang .Monitor status cairan Melancarkan kriteria hasil: meliputi intake dan peredaran darah .Nadi perifer latihan sesuai prominen distal dan kemampuan proksimal kuat . Bayi prematur adalah Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran.Lakukan penimbangan .sehatgroup. ini berbeda dengan . Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan.Capillary refilll ≤ output dan penekanan 2 dtk .web.Evaluasi edema danaliran darah perifer tidakkepaerawatan nadi perifer Mencegah efektif b/dselamax24 jam.Kolaborasi pemberian .org www.

5. 6. pre-eklampsia. Infeksi pada vagina aseden (naik) menjadi amnionitis Sedangkan menurut Mochtar (1998 : 220).9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui) 2. Kelainan kongenital rahim: 7. faktor yang mempengaruhi Prematuritas adalah sebagai berikut: 1. Holmer = sebagian besar tidak di ketahui. pecahnya sinus marginalis. dengan lebih dari 10 batang/ hari. Anemia.Kondisi umum 2. 7. 3.( Mochtar . plasenta previa. abruption placenta. BB ibu sebelum hamil. malnutrisi dan diabetes mellitus. walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur.Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi 10. 8. Kawin dan tidak kawin: Tak syah 15 % prematur. 4. Keadaan rahim yang sering menimbulkan kontraksi dini : Serviks inkompeten karena kondisi serviks. amputasi serviks. incompetence cervical. alkohol. Eastman = kausa prematur 61. Keadaan sosial ekonomi rendah 3. dan sewaktu hamil 4. ganda. 3. placenta previa. temperatur tinggi. Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui). janin kembar. Kehamilan dengan perdarahan antepartum pada solusio plasenta. 1998 : 219 ) Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan preterm Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :Menurut Manuaba (1998 : 221) 1. ETIOLOGI Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui : 1. 2. suku bangsa. Kurang gizi 4. Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang. kawin sah 13 %prematur . Kehamilan dengan hidramnion. Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun. Kehamilan dengan ketuban pecah dini: terjadi gawat janin.prematur. Bakteriura (infeksi saluran kencing ) 3. Kelainan anatomi rahim 5. 6. Perokok berat. Umur ibu. Penyulit kebidanan 9. merokok dan caffeine Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya persalinan preterm diantaranya: 1. toxemia. Penyakit ibu yang menyertai kehamilan seperti hipertensi. sosial ekonomi 2.

infeksi vagina dan serviks. Prenatal ( antenantal ) care 6. atau kehamilan ganda GEJALA Gambaran fisik bayi prematur: • Ukuran kecil • Berat badan lahir rendah (kurang dari 2.5. kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin : 1. Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil berat 9. penyakit jantung 7. Anemia. toksemia gravidarum. dan lain-lain. terang dan berwarna pink (tembus cahaya) • Vena di bawah kulit terlihat (kulitnya transparan) • Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput • Rambut yang jarang • Telinga tipis dan lembek • Tangisannya lemah • Kepala relatif besar • Jaringan payudara belum berkembang • Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan) • Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk • Pernafasan yang tidak teratur • Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit ( anak laki – laki ) • Labia mayora belum menutupi labia minora ( pada anak perempuan). kehamilan ganda. 2. Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Ketuban Pecah Dini 3. Serviks Inkompeten 5. Jarak antara persalinan yang terlalu rapat 8. Hidramnion. Kelainan Bawaan Uterus Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada. Kondisi Yang Menimbulkan Kontraksi Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten. 4. Keadaan dimana bayi terpaksa dilahirkan prematur. misalnya pada plasenta praevia. riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya . infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah. solusio plasentae. Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm .5 kg) • Kulitnya tipis.

Pencegahan Persalinan Preterm Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut : Hal – hal yang dapat dicegah 1. Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau. 2. 2003 : 588 ). Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan. ( Saifuddin et. Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat. Menurunkan atau mengobati Anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi.. Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek. Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial.( Oxorn.al. Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi. Kantongϖ ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar. 2002 : 302 ). 1.. al.( Wiknjosastro et. Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam. 2. 2. Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum. Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran. Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran.inkompeten. 6. Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. Episiotomi mengurangi tekananϖ pada cranium bayi. Prinsip Penanganan. Kehamilan Ganda 7. Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami konisasi. Kelahiran Prematur Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat. 2002 : 313 ) Penanganan Persalinan Preterm Penanganan Umum 1. Kelahiran presipitatus dan yangϖ tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur. . Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya.

Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan) ( Mochtar. analisa gas darah.Gastrointestinal . 7. Congenital anomaly. Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).Reproduksi 4. 8. Vaktor Ovum.Kadar kalsium serum. 3.Kardiovaskular .Pemeriksaan fisik secara head to toe meliputi : . 5. Hal – hal yang tidak dapat dicegah . 9. 6. Hamil ganda. Suku bangsa. Plasenta previa. golongan darah.Pulmonary .Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa . 2.Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia) .Status bayi baru lahir 3. Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat. 1. Insersi tali pusat.Muskuloskeletal . Diagnosa keperawatan Dx.Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ . ASKEP PREMATUR KEHAMILAN Pengkajian 1. Resiko tinggi disstres pernafasan berhubungan dengan immaturitas paru dengan penurunan produksi surfactan yang menyebabkan hipoksemia dan acidosis . urinalisis.Riwayat kehamilan 2.3.Integumen .Kadar elektrolit. 1998 : 220 ). analisis feses dan lain sebagainya. penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia .Data penunjang .Neurologik . 4.Renal . Tempat insersi plasenta. 1. kultur darah.X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas .

Bagian Ilmu Kesehatan Anak. efek fototherapy atau kehilangan melalui kulit atau paru. 6. kinestehetik. 2. 4. tidak adekuatnya intake kalori. jilid I. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan imaturitas. zat besi.Fourth Edition. Edisi 4 EGC. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. serta kehilangan kalori.FKUI. radiasi lingkungan. POAT MATUR KEHAMILAN A . Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak.A. Resiko hipotermia atau hipertermia berhubungan dengan prematuritas atau perubahan suhu lingkungan Dx. Jakarta. 1991. kehamilan postterm. Wong. Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant yang sakit di rumah DARTAR PUSTAKA Klaus & Fanaroff.Dx. taktil dan olfaktory berhubungan dengan stimulasi yang kurang atau berlebihan pada lingkungan intensive care Dx. 3. Jakarta. L. Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing. Dx. 8. Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. Defiensi nutrisi berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen. 5. Louis Missouri. Donna. Markum.volume 2 Edisi 15. ( Varney Helen. auditory. Dx. 1990. atau 280 hari setelah ovulasi. dan pascamaturitas. Pengertian Kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu. Ilmu kesehatan Anak. harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rapuh dan imaturitas kulit Dx. antara lain kehamilan memanjang. 1998. gustatory. kehamilan lewat bulan.Mosby-Year Book Inc. St. Gangguan sensori persepsi : visual. 7.2007) . suatu kondisi antepartum. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imaturitas imunologik bayi dan kemungkinan infeksi dari ibu atau tenaga medis/perawat Dx.Jakarta. Nelson. Penata Laksanaan Neonatus Resiko Tinggi. 2000. dan kalsium dan kehilangan cadangan glikogen karena metabolisme rate yang tinggi. Kehamilan lewat bulan.H. EGC. yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.

Dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih berubah. Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah . Akibatnya induksi yang menjadi bersifat relatif. Namun kurang lebih 18 % kehamilan akan berlanjut melebihi 41 minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu bergantung pada populasi dan kriteria yang digunakan. sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar.Jika Tp telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. 55% intrapartum. Selain itu. kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu. terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta.ubah. kemudian menurun setelah 42 minggu. Prognosis Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan bila lebih dari 41 minggu karena angka mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat setelah usia 40 minggu. 15% postpartum C. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin.Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG yang makin banyak digunakan.Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian besar induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu berdasarkan hitungan dengan USG. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum. 1999).Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum diketahui hingga kini. Rustam. Meskipun insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah. Faktor yang dikemukakan adalh hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan. Etiologi Etiologinya msih belum pasti. Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu. B .

4. baguan proksimal tibia. · Terhadap janin Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dri kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. . maka sel – sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. angka penatalaksanaan anestesia epidural. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat pusat penulangan pada bagian distal femur.4 -4% ( Mochtar. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan. Clausson et al Menegaskan bahwa odds ratio untuk kematian perinatal untuk bayi AGA tidak berbeda signifkan pada bayi post term. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil. distosia bahu dan perdarahan postpartum.4 – 12%. D . dan mortalitas. USG : ukuran diameter biparietal. kesalahan letak. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya.1998) Kesepakatan yang ada adalah bahwa resiko mortalitas perinatal lebih tinggi pada IUGR atau bayi SGA daripada AGA lewat bulan.5 pada lahir post term.kematian tersebut. Janin besar (c) Moulding kepala kurang. sesudah kehamilan 42 minggu. (Varney. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabiil dengan amniosenteris baik transvaginal maupun transabdominal. 2. 5. inersia uteri. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar.Rustam. tulang kuboid diameter biparietal 9. Maka akan sering dijumpai : partus lama. 2007) Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10. Apabila diambil batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil. kulitb ketuban akan bercmapur lemak dari sel sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. gerkan janin dan jumlah air ketuban. tetap dan ada yang berkurang. Pemeriksaan Penunjang 1. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas. Namun bagi SGA mempunyai odds ratio 10. Pengaruh terhadap Ibu dan Janin · Terhadap Ibu Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena (a) aksi uterus tidak terkoordinir (b). Penatalaksanaaan aktif pada bagi AGA dengan lebih bulan kenyataan dapat mengubah hasil positif yang diingunkan.8 atau lebih. persalinan sesar. 3. diagnosis tidak sukar. Helen. Hanya dengan pemeriksaan antenatal yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan diagnosis.

kesejahteraan janin. dengan pertimbangan kondisi janin yang cukup baik / optimal. Variabel yang sangat memberatkan adalah usia gestasi janin. pilihan wanita yang bersanngkutan. Secara umum metode induksi yang paling efektif adalah dengan meningkatkan denyut jantung janian dan hiperstimulasi pada uterus. mengawasi dan membaca denyut jantung janin. Pemeriksaan sitoloi vagina E . Penatalaksanaan Medis Dua prinsip pemikiran : 1. dan metode induksi sesuai pertimbangan. 7. melihat derajat kekeruhan air ketuban. Pemeriksaan pH darah kepala janin 11. menurt warnanya karena dikeruhi mekonium. sonogram. atau keduanya) . Kardiotografi. Para klinisi sejak lama menyadari perlunya mempercepat persalinan jika terdapat kondisi obstetri dan medis yang mengancam ibu dan janin. Penatalaksanaan antisipasi-antisipasi kesejahteraan janin dengan meningkatkan pengkajian dan intervensi jika hanya terdapat indikasi. . yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. perkiraan berat badan janin ( dengan manuver leopot. status medis ibu.Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu 6. 9. 2. antara lain: Pertimbangan kesiapan serviks ( skor bishop). volume cairan amnion. hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan. Keputusan untuk mempercepat persalinan harus selalu ditetapkan dengan membandingkan resiko dan manfaat masing masing penatalaksanaan tersebut.Melebihi 10% = kehamilan diatas 36 minggu . karena term yang berkembang cenderung mempertimbangkan usia kehamilan sebagai suatu rangkaian yang kontinu. Sebelum ada metode yang diterima untuk induksi persalinan seksio sesariamerupakan satu-satunya cara yang dapat diterima untuk mengatasi maslaah ini.. Penatalaksanaan aktif-induksi persalinan pada semua wanita yang usia kandungannnya melebihi 42 minggu. Amnioskopi. riwayat kebidanan sebelumnya. karena insufiensi plase 8. Jika ternyata reaksi janin kurang baik. Ada berbagai variasi kemungkinan penatalaksanaan antisipasi dan penatalaksanaan aktif. Penatalaksanaan aktif versus penatalaksanaan antisipatif tergantung reabilitas kriteria yang digunakan dalam menentukan usia kehamilan. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin 10. Uji oksitosin ( stress test).

Penatalaksanaan aktif pada kehamilan leat bulan : Induksi persalinan Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan lewat bulan. IUGR menjelang usia cukup bulan f. Riwayat lahir mati pada kehamilan cukup bulan. praktik induksi telah banyak meningkat selama satu dekade terakhir. Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat diandalkan mulai penanganan aktif mengacu pada protokol. c. Oligohidramnion. 4. Hasil uji janin meragukan ( skor profil biosfik rendah) b. Namun walaupun banyak pihak yang menentang induksi persalinan dan tidak adanya standardisai kriteria. Preeklamsi yang cukup parah menjelah cukup bulan d. Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST yang nonreaktif atau APV yang randah. Indikasi untuk induksi persalinan mencakup hal – hal : a. Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan karena tidak alami dan dapat meningkatkan bahaya. Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42 minggu 1. yang dimulai saat kehamilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. infeksi dan perdarahan sangat mengejutkan bagi masyarakat awam. Pada kenyataannya induksi persalian meningkatkan resiko distress janin. Induksi persalian dikaitkan dengan peningkatan anastesia epidural dalam seksio sesaria untuk wanita primigravida yang usia kehamilanyya lebih dai 41 minggu dan taksiran berat jain 3800 gram atau lebih. Diabetes dependent e. seksio sesaria. APV) dua kali dalam seminggu. . Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume. NST) dua kali dalam seminggu. cairan bercampur. kehamilan lebih bulan akan meningkatkan resiko lahir mati. 5. Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test. Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan. dokumentasikan rencana yang disepakati ( 40+ minggu) 3.Induksi persalinan juga diperkirakan komplikasinya. 6. distosia bahu jika janin makrosomia. yang dimulai saat kemilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan.Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4 minggu ( 40+minggu) 2. mekonium sindrom aspirasi mekonium pada neonatus.

bukan untuk induksi) b. Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik dari oksitosin namun kombinasi keduanya menunjukkan hal yang positif. memiliki kisaran keberhasilan secara beragam dan atau sedikit penelitian untuk menguatkan rekomendasinya. dan cara pemberian dan waktu pemberian untuk semua metode hingga kini masih dalam penelitian. Dinoproston 1) Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2. Dengan catatan servik sudah matang. Pemisahan ketuban Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya memisahkan membran amnion dari bagian servik . Misprostol 1) Merk dagang cytotec.5 mg deng diberika intraservik ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1993) 3. • Metode non hormon Induksi persalinan 1. namun peran servik sangat penting yang aktivitasnya tidak sepenuhnya dipengaruhi uterus.Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist. tersedia dalam dosis 10 mg yang dimasukkan ke vagina ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1995) 2) Merk dagang predipil. Untuk menghasilkan persalinan yang aman. Meski metode induksi sekarang diutamakan pada induksi kontarkasi uterus. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan intravagina ( disetujui FDA untuk mencegah ulkus peptikum. 2. dan prostaglandin terbukti lebih efektif sebagai agens yang mematangkan seriks dibanding oksitosin. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk jel 0. stimulasi payudara. a. peregangan servik secara mekanis). Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin sejak tahun 1970-an. keberhasilan induksi persalinnan setelah servik matang dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama oksitosin. hasil yang diharapkan dari induksi persalinan adalah “ ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah kontraksi distimulasi sebelum persalinan spontan terjadi”. Oksitosin yang digunakan melalui intravena ( atas persetujuan FDA untuk induksi persalinan ). Pengaturan dosis. • Metode hormon untuk induksi persalinan : 1. Mifepriston 9 RU 486. bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200 mg untuk diberikan per oral. antagonis reseptor progesteron) ( disetujui FDA untuk aborsi trimester pertama. Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan ( misalnya minyak jarak.

Kateter forey atau Kateter balon. Pemisahan memban servis tidak dilakukan pada kasus – kasus servisitis. atau perdarahan pervaginam yang tidak diketahui. posisi yang tidak diketahui. Beberapa usapan biasanya eektif untuk menstimulasi kontaksi awal reguler dalam 72 jam. namun hingga kini masih belum ada studi prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini. Penangannya dengan menstimulasi selama 15 menit diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam sebanyak 3 kali perhari. Pompa Payudara dan stimulasi puting. Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun. Beberapa uji klinis membuktikan bahwa teknik ini sangat efektif. Minyak jarak Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada kehamilan cukup bulan. Saat dikaukan bidan harus memeriksa dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik. maupun plasenta previa. Presentasi selain kepala merupakan kontrainsdikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun. 4. 6. 5. 3. plasenta letak rendah.. melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan membaran. Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna. . Aktifitas seksual. pembukaan dan posisi lazimnya. Penggunaan cara ini relatif lebih aman kerna menggunakan metode yang sesuai dengan fisiologi kehamilan dan persalinan. atau bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. dan letak bagian bawah. pembukaanm posisi. Meskipun amniotomi sering dilakukan untuk menginduksi persalinan.yang mudah diraih dan segmen uterus bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam Dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk menentukan penipisan serviks. 2. Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian ballon di isi udara 25 hingg 50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu. Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin. Amniotomi Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM).

verniks kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada. stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban. rapuh dan mudah mengelupas (maserasi). penting dinilai keadaan cairan ketuban. Bidan maupun wanita harus memahami secara benar standar perawatan setempat untuk menangani kehamilan lewat bulan. ASUHAN KEPERWATAN I. dosis. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia .asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal.Ansietas b/d proses kelahiran lama . Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan. protokol dalam memuat panduan rekomendasi yang mencakup pemberian. dan langkah kewaspadaan. 3. 2. F. stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat.Pada saat persalinan. Sementara pada penatalaksanaan antisipasi. wakru. dan bidan harus tetap merujuk pada literatur terkini seputar penanganan kehamilan lewat bulan.Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant II Dx Bayi Postmatur } Kerusakan integritas kulit b/d maserasi . dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium : 1. G. begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. Wanita sebaiknya diberi tahu jika terdapat status yang tidak mencakup pada penggunaan resep. Dx PostMatur Kehamilan . stadium I : kulit tampak kering.Jika bidan tidak merasa bahwa penatalaksanaan aktif pada persalinan lewat bula diindikasikan. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea.Nyeri b/d operasi sectio caesarea . -hipovolemia . bidan dianjurkan mendokumentasikan secara teliti rencana penatalaksanaan yang disepakati bersama oleh wanita.

Sarwono.Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.2006. b. Jakarta. Pengertian Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. c. Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta.1998.EGC Mochtar.asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta. Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : . Ida Bagus Gede.2007.} Sianosis b/d mekonium telah bercampur air ketuban } Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia: -hipovolemia . Rustam.2003.21. Obstetri William ed. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed. Bersumber dari kelainan plasenta 1. Jakarta. Helen Dkk.EGC Prawiroharjo.Endometrium yang kurang baik . DAFTAR PUSTAKA Cunningham. dkk. Jakarta. Sinopsis Obstetri.4 vo1. 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. B. Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 : a. Plasenta previa Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ). Etiologi Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh : a.EGC Manuaba. Arcan Askep Perdarahan Ante Partum A. Jakarta. Varney. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus. Gary. Ilmu Kebidanan. Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.

polip. dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak. pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan. C. Solusi plasenta Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta. biasanya tidak begtu berbahaya. varises yang pecah ). Solusi plasenta sedang • Bagian janin masih teraba • Perdarahan antara 500 – 1000 cc • Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian c.Chorion leave yang peresisten . Kadangkadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus. Patofisiologi 1. Solusi plasenta ringan • Tanpa rasa sakit • Pendarahan kurang 500cc • Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian • Fibrinogen diatas 250 mg % b.Korpus luteum yang berreaksi lambat 2. sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Apabila perdarahan sedikit. Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua. Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain : a. dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. 2. misalnya kelainan serviks dan vagina ( erosion. Solusi plasenta berat • Abdomen nyeri-palpasi janin sukar • Janin telah meninggal • Plasenta lepas diatas 2/3 bagian • Terjadi gangguan pembekuan darah b. Tidak bersumber dari kelainan plasenta. Biasanya dihitung kehamilan 28 minggu. ..

hematom retroplasenter akan bertambah besar.Perdarahan . Solusi plasenta a ) Perdarahan disertai rasa sakit b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat d ) Abdomen menjadi tegang e ) Perdarahan berwarna kehitaman f ) Sakit perut terus menerus E.R c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala d ) Perdarahan berwarna merah segar e ) Letak janin abnormal 2. Plasenta previa a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S. Langsung .Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman.B. Komplikasi 1.Emboli dan obstetrik syok b. Plasenta previa a ) Prolaps tali pusat b ) Prolaps plasenta c ) Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan d ) Robekan-robekan jalan lahir e ) Perdarahan post partum f ) Infeksi karena perdarahan yang banyak g ) Bayi prematuritas atau kelahiran mati a. menyebabkan pendarahan post partum . Tanda dan Gejala 1. Akibatnya. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Komplikasi tidak langsung . sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus. D.Infeksi .Couvelair uterus kontraksi tak baik.

dan siapkan donor transfusi darah. cardizol. dan pentazol. kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse darah ada.Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum . Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa. 2. Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di bawah 2500 gr. Tranfuse darah. Apabila ada penilaian yang baik. progestin atau progesterone observasi teliti. Sambil mengawasi periksa golongan darah. Berikan obat-obatan spasmolitika. kepala sudah turun . Terapi konsrvatif Prinsip : Tunggu sampai paerdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan. Plasenta previa a. Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks. Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan. 3. Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan..Nekrosis korteks renalis. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. F. Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta : 1. Sambil menunggu atau mengawasi berikan : 1. perdarahan sedikt janin masih hidup. Penatalaksanaan 1. bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek. Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine. e. menyebabkan anuria dan uremia. b. d. Solusio plasenta a. c. belum inpartus. 2. Terapi aktif Prinsip : Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan perdarahan segera berhenti. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari premature. Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show ( perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rectal apalagi vaginal) b. 3. Morphin suntikan subkutan 2. Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap.

Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup. B. Pada hipofibrinogenemia berikan : a. pembukaan masih kecil. b. 6. Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps. 5. Keluhan utama Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu. Plasma darah c.Riwayat penyakit ringan . d. Solusio plasenta dengan panggul sempit. pembukaan kecil b. Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan. Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan : a.Keluhan .Haid terakhir . perdarahan agak banyak.sampai hodge III-IV : a. Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik. Riwayat persalinan G. 7. Pengkajian Data Subjektif A.Pandangan terhadap kehamilan F.Imunisasi E. 1.Penyakit berat Keadaan psikososial . b. Riwayat menstruasi . Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan : a. C. Riwayat keluarga . Riwayat kesehatan yang lalu D. Fibrinogen Konsep Asuhan Kep. Janin meninggal : lakukan embriotomi 4. Data umum Biodata. Solusio plasenta dengan letak lintang. Solusio plasenta dengan toksemia berat. Solusio plasenta dengan anak hidup. c. identitas ibu hamil dan suaminya. Riwayat kehamilan .Dukungan keluarga . Darah segar beberapa botol b.

Menentukan tinggi fundus uteri . f.Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.Peningkatan pigmentasi areola putting susu .Volume darah meningkat . . a. .Laju pertumbuhan rambut berkurang.Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.Peningkatan frekuensi nadi . penurunan resistensi jalan nafas. anemis .Terjadi hiperventilasi selama kehamilan. . b.Bertambahnya ukuran dan noduler e.Mata : pucat.Kawin pertama .Status perkawinan .Peningkatan volume tidal.Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola. Riwayat perkawinan .Diafragma meningga. .Hudung . Wajah .Gigi dan mulut c. Rambut dan kulit .Lama kawin Data Objektif Pemeriksaan fisik 1. . Abdomen Palpasi abdomen : . Buah dada / payudara .Menentukan letak janin . . Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil. Leher d. Jantung dan paru . putting susu dan linea nigra.- Haid pertama Sirkulasi haid Lamanya haid Banyaknya darah haid Nyeri Haid terakhir H.

3.Posisi dan persentasi janin . dan tanda persalinan.Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ? . mencakup tanda-tanda vital. tanpa perdarahan. Gangguan perpusi jaringan ( plasental ) yang berhubungan dengan kehilangan darah. Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya. Diagnosa Keperawatan 1.Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ? . pengalihan aktivitas. pelacakan pemantauan elektronik. Pemeriksaan penunjang . System musculoskeletal .Pemeriksaan inspekulo . memposisikan dengan bantal.Persendian tulang pinggul yang mengendur . Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus.Tinggi fundus uteri . Pemberian cairan IV atau produk darah sesuai pesanan.Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2.Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ? . Haluaran perkemihan.Gaya berjalan yang canggung . 3.Ultrasonografi . Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini : .Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah baring dengan cara menggosok punggung. Khusus . 2.Pemeriksaan radio isotopic .Panggul dan janin lahir . 4.Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ? .g.Denyut jantung janin 3.Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ? .Hipertropi epithelium h. 2.Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ? . Intervensi 1.Pemeriksaan dalam 2. Takut berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan diri dan bayinya. Vagina . .Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) .

B. Mulai dari chlamydia. Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina ETIOLOGI INFEKSI a.4. b. timbunan nanah dalam kelenjar.terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk. Infeksi alat kelamin wanita bagian atas : Virus : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika. Juga dapat disertai demam. Jika tak ada infeksi. Evaluasi 1. tak akan menimbulkan keluhan D. Jamur : asinomises. Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis. Bakteri : neiseria gonore. stafilokokus dan E. Jamur : kandida albikan. ETIOLOGI Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. ASUHAN KEPERAWATAN BARTOLINITIS TINJAUAN TEORI A. TANDA dan GEJALA Tanda dan gejala o Pada vulva : perubahan warna kulit. “Kuman dalam vagina bisa menginfeksi salah satu kelenjar bartolin hingga tersumbat dan membengkak. gonorrhea. 2. o Kelenjar bartolin membengkak. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman. pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan. serta terapi mulai diberikan. nyeri tekan. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks. dan sebagainya.membengkak. Bakteri : neiseria gonore.coli C. Biasanya. seiring pembengkakan pada kelamin yang memerah. PENGERTIAN Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita.juga dapat disertai demam . PATOFISIOLOGI Lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi cairan).

diminum 3×1 untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan. b. c. Tampak vaginal discharge dengan sifat mukoid keruh. rasa sakit saat berhubungan dengan suami. salpingitis. abses tubo ovarii bahkan pelvik peritonitis. hingga kelenjar tersebut mengempis. o Terdapat abses pada daerah kelamin o Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah. diminum 3×1 sesudah makan. PENGOBATAN Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg. Ketiga komplikasi tersebut terahir disebut Pelvis Inflamatory Disease (PID). 99 kasus GO pada wanita menyerang servik uteri dan 50-75 % kasus pada wanita tidak ada gejala atau keluhan. selama sedikitnya 5-7 hari. dll). atau ada benjolan di sekitar alat kelamin. molasic. F. Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). . Sering anamnese hanya didapatkan riwayat kontak dengan penderita. mukopurulen atau purulen.o Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal. yang sering diabaikan oleh penderita. rasa sakit saat buang air kecil. dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax. Kalau ada keluhan biasanya disuria dan lekore. Pemeriksaan : Pemeriksaan dengan spekulum : ostium uteri eksternum bisa tampak normal. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Vullva In speculo G. 1. kemerahan atau erosif. E. GONORE (GO) Anamnese : a. Mungkin didapatkan komplikasi seperti : bartolinitis. PENATALAKSANAAN TATALAKSANA INFEKSI ALAT KELAMIN WANITA Berikut ini adalah beberapa infeksi alat kelamin wanita yang sering dijumpai di Puskesmas dan tatalaksana yang disesuaikan dengan sarana diagnosis dan obat-obatan yang tersedia. Laboratorium : Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus gram negatif intraseluler lekosit.

atau 4) . keluhan biasanya adalah disuria dengan atau tanpa discharge. atau dosis awal 1. 7 dan 14.8 juta IU IM (skin test dulu). atau 3) Amoksisilin atau Ampisilin : 3. Selama masa terapi sebaiknya kegiatan sex dihentikan. URETRITIS NON GONORE Anamnese : Biasanya tidak ada keluhan. lekosit >10/lapangan pandang. Sering bersifat kumatkumatan (yang membedakan dengan GO) Riwayat kontak sering (+) Pemeriksaan : Mungkin ada discharge uretra. dilanjutkan 4 X 500 mg selama 4 hari.500 mg. sesudah itu setiap bulan selama 3 bulan. atau 5) Kotrimoksasol tablet 480 : 1 X 4 tablet selama 5 hari 6) Bila ada komplikasi : Amoksisilin atau Ampisilin : 3.2) Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus intraseluler lekosit gram negatif. . mungkin ada nyeri tekan suprapubis. Kalau ada.5 gram oral dosis tunggal diteruskan 4 X 500 mg selama 10 hari. 2 hari berturut turut. Penatalaksanaan : 1) Tetrasiklin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari atau 2) Erytromisin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari. Bila disertai sistitis.5 gram oral dosis tunggal (lebih poten bila ditambahkan Probenesid 1 gram).Tetrasiklin cap: 4 X 500 mg selama 5 hari. Sering juga dikeluhkan keluar darah pada akhir dari buang air kecil (terminal dysuria). Urin : berawan atau didapat benang-benang pendek (threads) Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). 2) Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-) Urin : berawan atau threads (+). Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-). Catatan : Terapi sebaiknya diberikan juga kepada patner sex penderita (suami) secara bersamaan. 2. Terapi : 1) Penisilin Prokain : 4. 3) Pada kasus persisten lama pengobatan 21 hari. 7) Pengamatan dan pemberian ulang dilakukan pada hari ke 3. atau 2) Kanamisin : 2 gram IM dosis tunggal.

sedikit. 2) Punctatae red spots (+) 3) Laboratorium : Puskesmas ? Penatalaksanaan : 1) Metronidasol : 1 X 2. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. Pemeriksaan : Pemeriksaan in speculo : terasa sakit.3. Sakit pada saat berhubungan sex (dyspareunia) juga sering dikeluhkan. 2) Discharge kental. Laboratorium : Sel ragi (yeast cells) atau tunas (budding body) dan pseudohypha atau spora. KANDIDIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah keputihan dan gatal di vagina. mungkin didapat juga fisura atau erosi (Vulvovaginitis). Mungkin juga dikeluhkan adanya rasa sakit waktu melakukan aktivitas sexual. khas : didapat bintikbintik merah (punctatae red spots atau strawbery cervix) di dinding vagina. Laboratorium : Fluor albus : dengan mikroskup cahaya Trichomonas vaginalis (+). banyak. Faktor predisposisi : diabetes militus. Pemeriksaan : Vulva : tampak merah. Kriteria Minimal : 1) Fluor albus : cair. karena > 50% penderita GO wanita disertai dengan trikomoniasis. dan pemakaian antibiotika yang tidak terkontrol serta kegemukan. Discharge kental. sebagai dosis tunggal. pemakaian Pil KB. berwarna kuning atau putih kehijauan. Riwayat suami kencing nanah perlu ditanyakan. Penatalaksanaan : 1) Topikal : Nistatin vaginal tablet : 1 X 1. dan 2) Nistatin tablet : 4 X 1 tablet. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. adanya plak putih. udem. Kriteria Minimal : 1) Vuvovaginitis. warna kuning atau putih kehijauan.000 mg. selama 7 hari. selama 14 hari. PENCEGAHAN . sedikit. 4. H. In speculo : Terasa sakit. TRIKOMONIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah adanya keputihan dengan jumlah banyak. fluor albus cair dengan jumlah banyak dan berwarna kuning atau putih kehijauan.

Salah satunya adalah gaya hidup bersih dan sehat : - 1. Padahal penggunaan pantyliner dapat meningkatkan Kelembapan kulit di sekitar vagina. karena dapat memicu kelembapan. 5. Siapa tahu. Biasakan membersihkan diri. Kondisi ini dapat menimbulkan luka. Usahakan agar Anda terhindar dari kegemukan yang menyebabkan paha bergesek. Periksakan diri ke dokter jika mengalami keputihan cukup lama. Perempuan seringkali salah kaprah. 8. Jika tidak dibutuhkan. Biasakan membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual. 2.Untuk menghadang radang. 4. Hindari melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. ASUHAN KEPERWATAN A. Karena keputihan dapat dialami semua perempuan. Alat reproduksi memiliki sistem pembersihan diri untuk melawan kuman yang merugikan kesehatan. Kuman dapat hidup subur di daerah tersebut. 3. Hindari mengenakan celana ketat. sehingga keadaan kulit di sekitar selangkangan menjadi panas dan lembap. Mereka merasa nyaman jika pakaian dalamnya bersih. PENGKAJIAN Perubahan warna kulit Udem Cairan pada kelenjar Nyeri Benjolan pada bibir vagina Bau cairan Kebersihan tubuh Jumlah dan warna urin . Peradangan berhubungan erat dengan penyakit menular seksual dan pola seksual bebas. berbagai cara bisa dilakukan. tak gampang mendeteksi sumber penularan bakteri. Berhati-hatilah saat menggunakan toilet umum. dengan gerakan membasuh dari depan ke belakang. Tak perlu malu berkonsultasi dengan dokter kandungan sekalipun belum menikah. Produk pembersih dan pengharum vagina yang banyak diperdagangkan sebetulnya tidak diperlukan. jangan menggunakan pantyliner. 6. 7. kuman juga bisa berasal dari pasangan Anda. setelah buang air besar. Pilih pakaian dalam dari bahan yang menyerap keringat agar daerah vital selalu kering. Konsumsi makanan sehat dan bergizi. ada penderita radang yang menggunakannya sebelum Anda. Jika Anda bergantiganti pasangan. 9. Ingat. Sebaliknya jika digunakan berlebihan bisa berbahaya.

d keterbatasan gerak Kerusakkan integritas kulit b.d edem pada kulit Defisit pengetahuan b. INTERVENSI Membantu pasien untuk memenuhi higiene pribadi Memantau keadaan luka Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan diri (kebersihan alat genetal) Kaji tingkat nyeri Gunakan cara-cara interaktif yang berfokus pada kebutuhan untuk membuat penyesuaian dalam peraktik seksual atau untuk meningkatkan koping terhadap masalah/gangguan seksual .d kurangnya pemahaman terhadap sumber sumberinformasi nyeri b.- B. DIAGNOSA Defisit perawatan diri b.d keadaan luka cemas Disfungsi seksual b.d proses penyakit C.

Askep Ibu dengan Myoma Uteri A. Nekrosis dan Infeksi Pada myoma subserosum yang menjadi polip. Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar. . namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen. Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%). B. dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. D. Mioma Submukosum . 1. tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut. 3. Mioma Subserosum . Lokalisasi Mioma Uteri Mioma intramural . Kalau proses ini terjadi mendadak. Etiologi Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti. 2. Komplikasi Pertumbuhan leimiosarkoma. C. kadangkadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina. 2. E. sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause Torsi (putaran tangkai) Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus. belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche. 3. ujung tumor. Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus. Pemeriksaan Diagnostik 1. Pengertian Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid. Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun.

Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang. Lekosit : turun / meningkat. gangguan sensorik / motorik. Pengkajian …. Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya. teraba massa. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot 3. 5. kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. yang dapat mempengaruhi tindakan operasi. F. leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker. TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut. Eritrosit : turun 2. USG : terlihat massa pada daerah uterus.. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun. cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. serviks. . B.1. Cara Penanganan Mioma Uteri Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. perut pada malignan neoplasmatic desease. akibat pada hubungan seksual. 1998). perubahan dalam masalah kewanitaan. 3. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. konsistensi dan ukurannya. Albumin : turun. 2. 6. 4. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi. 4. Susan Martin. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi.

Ajarkan teknik relaksasi Meningkatkan kenyamanan klien 4. Rencana Keperawatan Dx 1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma Tujuan Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri. Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien 5. Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri. Intervensi dan Rasional 1. Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine Melihat perubahan pola eliminasi klien 2. Intervensi dan Rasional 1. Kurang pengetahuan tentang kondisi. tidak mengenal sumber informasi.5. Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien 3. bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine. gangguan sensorik / motorik. Memudahkan tindakan keperawatan 2. Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat. mengalirkan air keran. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi. Tujuan Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine. Mencegah terjadinya retensi urine Daftar Pustaka . mengatur posisi. Kolaborasi pemberian analgesik Mengurangi nyeri Dx 2 Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya. 3. observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri. mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya. Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya. Lakukan palpasi pada kandung kemih.

Poedjo. Jane. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI.penatalaksanaan pengeluaran plasenta. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.dkk. Rasa sakit di pinggul dan pinggang(Backache). Danielle. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause.sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. Unpad. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala: .meneran sebelum pembukaan lengkap.laserasi dinding vagina bawah pada kala II. Tanda dan Gejala Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.2 Mei 2001 Saifidin.Biasanya jika penderita berbaring. EGC. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Abdul Bari.keluhan menghilang atau menjadi kurang. Edisi 8. Jakarta Hartono. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Lynda Juall. 2000. b.Oleh karena itu prolaps uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat. Ginekologi.reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Elstar. 1993.Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun. Mimbar Vol. 2000. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia eksterna. Definisi Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel.5 No.2000.Bagian Obstetri & Ginekologi FK.Persalinan lama dan sulit. c. Jakarta ASKEP PROLAPS UTERI TINJAUAN TEORI 1. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. EGC.Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang ketegangannya. Bandung Carpenito. Charette. 2. Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai: a. Jakarta Galle.

f.Asdites dan tumortumor di daerah pelvis mempermudah terjadinya hal tsb.Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas.Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetric. d.khususnya persalinan pervagina yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan ligament yang tergolong dalam fasia endopelviks dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul.partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk porolaps yang sudah ada.dan lambat laun menimbulkan ulkus yang dinamakan ulkus dekubitus. Serviks uteri terletak diluar vagina.dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar.factor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus.Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal hanya dibelakang urethra ada . Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya.Mula –mula pada siang hari. Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi: 1. Miksi sering dan sedikit-sedikit.prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta dsb. e. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut: 1.ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel.1.Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja.terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam menopause. baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan vagina.mengejan. obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel. 3.kemudian lebih berat juga pada malam hari 2. pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu berjalan dan bekerja.Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara. lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena infeksi serta luka pada portio uteri.dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri totalis. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa penuh di vagina.Terutama akibat persalinan. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk.Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap.akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut. 2. 3.Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri.Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali.Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra. 4. Etiologi Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering. Patofisiologi Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat .atau yang diselesaikan dalam penurunan dan menyebabkan urethrokel. 2.Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus.

Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel.bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi. b. Penderita berbaring pada posisi litotomi.ada kemungkinan terjadi prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan. a. Pemeriksaan Penunjang Friedman dan Little(1961) menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut: a.sebagai terapi tes.Enterokel menonjol kelumen vagina lebih keatas dari retrokel. Untuk memastikan diagnosis.dekat pada oue.memanjang dari proksimal kedistal.dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina. .atau penderita masih ingin mendapat anak lagi.kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetric atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rectum kedepan dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol kelumen vagina yang dinamakan retrokel.dengan indikasi:kehamilan.Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam.dinding rectum lurus.yaitu menonjolnya rectum kelumen vagina 1/3 bagian bawah. Latihan-latihan otot dasar panggul b. 5.Pada pemeriksaan rectal.atau prolapsus uteri yang tidak ada belum perlu dioperasi. Pengobatan dengan pessarium.kistik dan tidak nyeri.padahal tidak ada prolapsus uteri.Maka.atau kondisinya tidak mengijinkan untuk dioperasi. Stimulasi otot –otot dengan alat listrik c. Penderita pada posisi jongkok disuruh mengejan dan ditemukan dengan pemeriksaan jari.prolapsus vagina perlu ditangani juga.penderita menolak untuk dioperasi. Penatalaksanaan Medis Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu.Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan.untuk menghilangkan simpton yang ada sambil menunggu waktu operasi dapat dilakukan Pengobatan Operatif Prolapsus uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina.lubang yang membuat kantong antara urethra dan vagina.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus vagina adalah adanya keluhan.jari dimasukkan kedalam rectum.Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan.atau penderita menolak untuk dioperasi.Penonjolan ini berbentuk lonjong.kateter itu diarahkan kedalam sitokel.Kantong hernia ini dapat berisi usus atau omentum. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan.Dinding vagina bagian belakang turun dan menonjol ke depan.ditentukan pula panjangnya serviks uteri. 6. Menegakkan diagnosis retrokel mudah.Serviks uteri yang lebih panjang dari biasanya dinamakan Elongasio kolli.jika dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri.apakah portio pada normal atau portio sampai introitus vagina atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina.dan selanjutnya dapat diraba dinding retrokel yang menonjol kelumen vagina. c.ada benjolan ke vagina terdapat di atas rectum.Enterokel adalah hernia dari kavum Douglasi.

Pada saat bayi menangis/mengejan dan batukbatuk kuat timbul benjolan. Diagnosa Keperawatan • Sebelum Operasi Diagnosa Keperawatan 1. Pengkajian • Data Subyektif ♦ Sebelum Operasi Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan. Demam. Mual. Lemas. Anak / bayi rewel. kembung. Mual. • Data Obyektif ♦ Sebelum Operasi Nyeri bila benjolan tersentuh.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari beberapa factor. Selaput mukosa mulut keying. Terdengar bising usus pada benjolan.seperi umur penderita. Bayi menangis terns. . Spasme otot. 2. Nyeri di daerah benjolan. gelisah.keinginanya untuk mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus. Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap. Tidak nafsu makan. Pusing. Puasa. kembung. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PROLAPS UTERI 1.tingkat prolapsus dan adanya keluhan. Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya. muntah. ♦ Sesudah Operasi Nyeri di daerah operasi. Pucat. ♦ Sesudah Operasi Terdapat luka pada selangkangan. Konstipasi. Dehidrasi.

jam operasi. • Sesudah Operasi Diagnosa Keperawatan 1. Jelaskan pada pasien tentang apa yang akan dilakukan di kamar operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan. waktu puasa. Hasil yang diharapkan : Ekspresi wajah tenang. Rencana tindakan : 1. Beri kesempatan anak untuk bertanya. Rencana tindakan 1. 6. 6. cars menguranginya. 2. Rencana tindakan : 1. 3. 5. Observasi tanda-tanda vital 2. 4. Diagnosa Keperawatan 2. Beri posisi senyaman mungkin bunt pasien. Kalau perlu pasang infus clan NGT sesuai program dokter. Kaji tingkat kecemasan pasien. Diagnosa Keperawatan 3.Rencana tindakan : 1. Hasil yang. Observasi keluhan nyeri. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan inkontenensia urin Hasil yang diharapkan : Turgor kulit elastis. Observasi tanda-tanda vital clan keluhan pasien. secara bertahap. Kaji intensitas nyeri pasien. Ajarkan tehnik-tehnik relaksasi = tarik nafas dalam. Ciptakan lingkungan yang tenang. Bed obat-obat analgetik sesuai pesanan dokter. Letakkan anak pada tempat tidur dengan teknik yang tepat sesuai dengan pembedahan yang dilakukan. Jelaskan tentang keadaan pasien setelah dioperasi. 7. lokasi. 5. jenis dan intensitas nyeri 3. diharapkan : Nyeri berkurang. 2. Timbang berat baclan anak tiap hari. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. 4. 2. Berikan posisi tidur yang menyenangkan clan aman. Dengarkan keluhan pasien 4. Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah. 3. 3. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan. Nyeri berhubungan dengan luka operasi. Jelaskan penyebab rasa sakit. .

8. Luka operasi bersih. Hasil yang diharapkan : 1. 5. Jaga kebersihan sekitar luka operasi. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi clan lingkungannya. Beri terapi antibiotik sesuai program medik. Monitor tanda-tanda dehidrasi. 6. Ajarkan tehnik relaksasi. tidak kering. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan. Monitor pemberian infus. 5. Rencana tindakan : 1. Mual clan muntah ticlak ada. Rawat luka operasi dengan tehnik steril. Hasil yang diharapkan Luka operasi bersih. 5. kering. Hasil yang diharapkan Turgor kulit elastis. 7. Rawat luka dengan teknik steril. Diagnosa Keperawatan 2. Anjurkan untuk sesegera mungkin anak beraktivitas secara bertahap. tidak ada bengkak. 2. merah. 3. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. Beri kompres hangat. 4. ticlak bengkak. 6. Monitor pemberian infus. 2. Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi. kering. Observasi keadaan luka operasi dari tandatanda peradangan : demam. 3. bengkak dan keluar cairan. Lakukan tindakan keperawatan anak dengan hati-hati. tidak ada perdarahan. Suhu dalam batas normal (36-37°C) Rencana tindakan : 1. Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan. Diagnosa Keperawatan 4. 2. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. Berikan therapi analgetik sesuai program medis. 2. . 7. Timbang berat badan tiap hari. Diagnosa Keperawatan 3. ticlak ada perdarahan. 3. Beri minum & makan secara bertahaP. Rencana tindakan : 1. Resiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pads luka operasi. 6. Kalau perlu ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi. 4.5. Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya. 4. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.

Hasil yang diharapkan : 1.6. Jelaskan tentang perawatan dirumah. 7. Selain itu. Orang tua mengerti tentang perawatan luka operasi. 3. tanpa mamakai matoda pencegahan selama 1 tahun Ada 2 jenis infertilitas : • Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/ minum obat secara teratur di rumah. Diagnosa Keperawatan 5. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri. Jaga kebersihan luka operasi. 5. ETIOLOGI Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi. Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang akan membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang akan menghambat transportasi sperma ke vagina 2. istri 4055%. Ajarkan kepada orang tua cara merawat luka operasi & menjaga kebersihannya. bekas operasi pada serviks yang . Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu pengeluaran mukus serviks. dan idiopatik 10%. Diskusikan tentang keinginan keluarga yang ingin diketahuinya. 4. Pada wanita • Gangguan organ reproduksi 1. Orang tua dapat memelihara kebersihan luka operasi clan perawatannya. Rencana tindakan : 1. balutan jangan basah & kotor. keduanya 10%. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya. 2. DEFENISI Infertilitas adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-3 x / minggu. Apabila mukus sedikit di serviks. perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. ASKEP INFERTILITAS A. Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain : a. Hasil penelitian membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil. • Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah itu tidak pernah hamil lagi B. dan kontrol kembali ke dokter. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. 2.

proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil.menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim 3. mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang 4. asap rokok. maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. ejakulasi rerograde. hipospadia • Abnormalitas ereksi • Abnormalitas cairan semen. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini. stress. Akiatnya fetus tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu • Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi. maka folicle mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gengguan ovulasi. dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan. Kelainan pada uterus. motilitas • Abnormalitas ejakulasi. perubahan pH dan perubahan komposisi kimiawi • Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut sehingga terjadi penyempitan pada obstruksi pada saluran genital • Lingkungan. • Kegagalan implantasi Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi. Pada pria Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria yaitu : • Abnormalitas sperma. Setelah terjadi pembuahan. gas ananstesi. zat kimia. morfologi. Radiasi. obat-obatan anti cancer • Abrasi genetik . b. dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi hipothalamus dan hipofise. Hambatan ini dapatterjadi karena adanya tumor kranial. • Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi. • Endometriosis • Abrasi genetis • Faktor immunologis Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu.

radiasi. mempengaruhi pembentukan folikel.dan gonatnya abnormal • Wanita infertil dapat memiliki uterus • Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi. atau tumor • Traktus reproduksi internal yang abnormal 2. memiliki payudara yang tidak berkembang. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi . diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. Wanita • Terjadi kelainan system endokrin • Hipomenore dan amenore • Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik • Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek. Pria • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. rokok. Abnormalitas ovarium. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas.C. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma. Wanita Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. MANIFESTASI KLINIS 1. adhesi. narkotik. PATOFISIOLOGI a. alkohol. bentuk dan motilitas sperma) • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen D.

• Sitologi vagina Pemeriksaan usap forniks vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina • Uji pasca senggama Mengetahui ada tidaknya spermatozoa yang melewati serviks ( 6 jam pasca coital ). Uji lendir serviks metoda berdasarkan hubungan antara pertumbuhan anatomi dan fisiologi serviks dengan siklus ovarium untuk mengetahui saat terjadinya keadaan optimal getah serviks dalam menerima sperma • Analisa hormon Mengkaji fungsi endokrin pada aksis ovarium – hipofisis – hipotalamus. E. • Biopsy endometrium terjadwal Mengetahui pengaruh progesterone terhadap endometrium dan sebaiknya dilakukan pada 2-3 hr sebelum haid. Meliputi pengkajian BBT (basal body temperature ) 2. infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus. Pria Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Dengan pengambilan specimen urine dan darah pada berbagai waktu selama siklus menstruasi. • Histerosalpinografi . PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik: Perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat ( spt distribusi lemak tubuh dan rambut yang tidak sesuai ). Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok. Wanita • Deteksi Ovulasi 1. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu. penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido.genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik. Pemeriksaan System Reproduksi 1. b. Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan.

perkembangan dan maturitas folikuler. vesikula seminalis. • Laparoskopi Standar emas untuk mengetahui kelainan tuba dan peritoneum. seperti. jaringan parut dan adesi akibat proses radang. 2. hipofisis jika kelainan ini diduga sebagai penyebab infertilitas. distrosi rongga uterus dan tuba uteri. .18-1. • Biopsi testis Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan testis memakai metoda invasif untuk mengidentifikasi adanya kelainan patologi. • Pemeriksaan pelvis ultrasound Untuk memvisualisasi jaringan pelvis.2 – 7. atau seluran ejakulatori.2 detik persentase gerak sperma motil > 60% Aglutasi Tidak ada Sel – sel Sedikit.tidak ada Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin Pemeriksaan ini berguna untuk menilai kembali fungsi hipothalamus. • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona F. Disini dapat dilihat kelainan uterus. misalnya untuk identifikasi kelainan. Wanita • Pengetahuan tentang siklus menstruasi. Pria • Analisa Semen Parameter Warna Putih keruh Bau Bunga akasia PH 7. Uji yang dilakukan bertujuna untuk menilai kadar hormon tesrosteron.Radiografi kavum uteri dan tuba dengan pemberian materi kontras. Dilakukan secara terjadwal. • USG Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat struktur kelenjar prostat. FSH.6 – 6.6 centipose Jumlah sperma 20 juta / ml Sperma motil > 50% Bentuk normal > 60% Kecepatan gerak sperma 0. PENATALAKSANAAN A. dan LH.8 Volume 2 – 5 ml Viskositas 1. serta informasi kehamilan intra uterin. gejala lendIr serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital • Pemberian terapi obat.

Seperti.m memperbaiki hipoganadisme • FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis • Bromokriptin. • Pengangkatan tumor atau fibroid • Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi B. Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat • GIFT ( gemete intrafallopian transfer ) • Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas • Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate. Riwayat Kesehatan Sekarang . PENGKAJIAN A. 2. pemberian tsh . Identitas klien Termasuk data etnis. budaya dan agama B. Stimulant ovulasi. perbaikan nutrisi. jangan yang mengandung spermatisida Konsep Asuhan Kep. Riwayat kesehatan 1) Wanita a. Pria • Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun. tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat • Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital.1. peningkatan kadar prolaktin. digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus • Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik • Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma • Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal 4. Terapi penggantian hormon 3. 1. diharapkan kualitas sperma meningkat • Agen antimikroba • Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan • HCG secara i. baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di rumah • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama • Tumor hipofisis atau prolaktinoma • Riwayat penyakit menular seksual • Riwayat kista b.

infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Trauma. Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik d.• Endometriosis dan endometrits • Vaginismus (kejang pada otot vagina) • Gangguan ovulasi • Abnormalitas tuba falopi. dan servik • Autoimun c. Riwayat Kesehatan Sekarang • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. Pemeriksaan Fisik Terdapat berbagai kelainan pada organ genital. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. uterus. Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik C. ovarium. pria atupun wanita. Pemeriksaan penunjang . radiasi. Riwayat Obstetri • Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi • Mengalami aborsi berulang • Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi 2) Pria a. rokok. kecelakan sehinga testis rusak • Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis • Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi contoh : operasi prostat. D. narkotik. operasi tumor saluran kemih • Riwayat vasektomi b. bentuk dan motilitas sperma) • Saluran sperma yang tersumbat • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen c. alkohol.

18-1.d prognosis yang buruk .d harapan tidak terpenuhi untuk hamil Berduka dan antisipasi b.a. alternatif untuk terapi Perubahan proses keluarga b.2 detik • persentase gerak sperma motil > 60% • Aglutasi Tidak ada • Sel – sel Sedikit. Wanita • Deteksi Ovulasi • Analisa hormon • Sitologi vagina • Uji pasca senggama • Biopsy endometrium terjadwal • Histerosalpinografi • Laparoskopi • Pemeriksaan pelvis ultrasound b.8 • Volume 2 – 5 ml • Viskositas 1. gangguan citra diri b.2 – 7.6 centipose • Jumlah sperma 20 juta / ml • Sperma motil > 50% • Bentuk normal > 60% • Kecepatan gerak sperma 0. harga diri rendah b.d perubahan struktur anatomis dan fungsional organ reproduksi Resiko tinggi terhadap kerusakan koping individu / keluarga b.d metode yang digunakan dalam investigasi gangguan fertilitas Konflik pengambilan keputusan b. Pria • Analisa Semen • Parameter • Warna Putih keruh • Bau Bunga akasia • PH 7.d terapi untuk menangani infertilitas. DIAGNOSA KEPERAWATAN Ansietas b.d ketidaktahuan tentang hasil akhir proses diagnostic Gangguan konsep diri.d gangguan fertilitas Gangguan konsep diri.tidak ada • Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin • USG • Biopsi testis • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona 2.6 – 6.

Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik (Prawirohardjo. abortus buatan. Abortus spontan terjadi karena kualitas sel telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah janin. 2002).d kerusakan fertilitas. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyak wanita mengalami kehamilan dengan usia sangat dini. terlambatnya menarche selama beberapa hari. pandangan yang ada di dalam masyarakat tidak boleh sama dengan pandangan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan. dan terapeutik.000-750. Terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan dalam hal ini adalah abortus yaitu abortus spontan. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones. Oleh karena itu.Nyeri akut b. Di Indonesia.000 janin yang mengalami abortus . dengan demikian setiap tahun terdapat 500.d kurang control terhadap prognosis Resiko tinggi isolasi social b. d efek tes dfiagnostik Efek tes diagnostic ketedakberdayaan b. Angka kejadian abortus diperkirakan frekuensi dari abortus spontan berkisar 10-15%. sehingga seorang wanita tidak mengetahui kehamilannya. Menariknya pembahasan tentang abortus dikarenakan pemahaman di kalangan masyarakat masih merupakan suatu tindakan yang masih dipandang sebelah mata. investigasinya. dalam hal ini adalah perawat setelah membaca pokok bahasan ini. dan penataklaksanaannya Askep Abortus Pengertian Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. 2002). Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu. diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun. S.

setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta (Prawirohardjo. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Pada kehamilan 8–14 minggu villi koriales menembus desidua secara mendalam. atau berat badanbayi belum 1000 gram. 2002). Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat. S.spontan. Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) Yaitu: • Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. dan tanpa adanya dilatasi serviks. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Pada kehamilan diatas 14 minggu. Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu : . Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian abortus. plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan. Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Abortus terjadi pada usisa kehamilan kurang dari 8 minggu. 2. Klasifikasi 1. walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandunganapabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu. Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan) Yaitu: • • • • Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. janin dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam.

4. Keracunan. ketakutan. air raksa. Tuberkulosis paru aktif. endometrtis. Sifilis. toxemia gravidarum 5. • Penyebab yang bersifat lokal: 1. seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua). misalnya malaria. penyakit jantung 6. Faktor maternal seperti pneumonia. misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun 3. dll. Parasit. . rubella. 2. 2. virus. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna c. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. Kelainan traktus genetalia. Infeksi bakteri. misalnya : 1. misalnya cacar. biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. 3. anemia berat 5. terutama trimosoma dan monosoma X b. • Infeksi kronis 1.1. 2. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah : a. hepatitis. misalnya streptokokus. 6. Gangguan fisiologis. misalnya Syok. Radang pelvis kronis. hipertensi 2. diabetes 4. typus. Penyebab dari segi Maternal Penyebab secara umum: • Infeksi akut 1. dll. biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. 4. 3. mioma uteri dan kelainan bawaan uterus. nephritis 3. Kelainan kromosom. obat-obatan temabakau dan alcohol 2. anemia berat. misalnya keracunan tembaga. retroversi uteri. Trauma fisik. Penyakit kronis. inkompetensia serviks. virus. Pengaruh teratogen akibat radiasi. Fibroid. keracunan dan toksoplasmosis. Kelainan pada plasenta. timah.

3. Penyakit plasenta dan desidua. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun. denyut nadi normal atau cepat dan kecil. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup.janin lahir mati. fetus kompresus. tekanan darah normal atau menurun. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi 4. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum). janin masih hidup. sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus Penyebab dari segi Janin • • • Kematian janin akibat kelainan bawaan. teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri. besar uterus .Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi. misalnya inflamasi dan degenerasi. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil. mola kruenta. sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus 5. 4. didaerah atas simfisis. tercium bau busuk dari vulva b. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu. Manifestasi Klinis 1. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu. ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. suhu badan normal atau meningkat 3. ada atau tidak jaringan keluar dari ostium. c. Mola hidatidosa. maserasi atau fetus papiraseus. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu 2. Pemeriksaan ginekologi : a. diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Retroversi kronis. osteum uteri terbuka atau sudah tertutup. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Rasa mulas atau kram perut.

Perdarahan. Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat dilanjutkan. dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul. cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah Pemeriksaan Penunjang 1. Tes Kehamilan Positif bila janin masih hidup. yaitu : Abortus spontaneus Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis. perforasi. Penatalaksanaan Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan. tidak nyeri saat porsio digoyang. dan tidak disertai mules-mules. cepat terhenti. Abortus Imminens Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. mola hidatidosa. Aspek klinis abortus spontaneus meliputi : 1. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan perdarahan implantasi yang biasanya sedikit. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. berwarna merah. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu. dan tanpa adanya dilatasi serviks. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup 3. tetapi karena faktor alamiah. syok dan infeksi 2. kemamilan dengan kelainan serviks. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis. Komplikasi 1. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion Diagnosa Banding Kehamilan etopik terganggu. bahkan 2-3 minggu setelah abortus 2. Sonografi vagina.sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan. tidak nyeri pada perabaan adneksa. atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis.pemeriksaan kuantitatif serial kadar .

untuk memastikan apakah terdapat janin hidup intrauterus. lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. dan kadar progesteron serum. Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular. Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam jumlah signifikan. 2.2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau . Semua jaringan yang keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. Penanganan abortus imminens meliputi : Istirahat baring.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti. Setelah konseptus meninggal. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum. mungkin diperlukan kuretase. Jika evaluasi tidak dapat. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti. segera lakukan: Berikan ergomefiin 0. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apaka}r janin masih hidup. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan. disusul dengan kerokan. karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. Abortus Insipiens Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Penanganan Abortus Insipiens meliputi : 1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu.gonadotropin korionik (hCG) serum. yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi. uterus harus dikosongkan. maka dianjurkan dilakukan kuretase.

misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).2 mg intramuskulera taum iso prostol4 00 mcg per oral. Pada abortus yang lebih lanjut. 2) Jika perdarahanb anyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan kurang 16 minggu. evaluasi hasil konsepsi dengan : Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus. Jika perlu. Penanganan abortus inkomplit : 1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16 minggu. evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. 2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu : Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. 3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3. Jika perdarahan berhenti. beri ergometrin 0. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0. lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat. Abortus lnkompletus Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.2 mg intramuskuler (diulang .

5. 4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. kurang lebih bundar. Missed Abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu. Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus. 4. Abortus Kompletus Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap. Abortus Servikalis Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka. Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis. 6. ostium uteri telah menutup. 3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg) Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. dan uterus sudah banyak mengecil. dengan dinding menipis. Padap emeriksaand itemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit. tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah.setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar. Etiologi missed abortion tidak .

Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. Tindakan keperawatan tersebut . Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil. tes kehamilan menjadi negatif. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai dengan usia kehamilan. Penanganan Setelah diagnosis missed abortion dibuat. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. KONSEP ASUHAN KEPERWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. Diagnosis Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan.diketahui. timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. uterus tidak membesar lagi malah mengecil. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia. mamma agak mengendor lagi. seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. Abortus Habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut. mengetahui ia mengandung janin yang telah mati. dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan. tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. 7. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah. tetapi diduga pengaruh hormone progesterone. menentukan cara pemecahannya. sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. Gejala subyektif kehamilan menghilang.

dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obatobatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.

1)

2)

3) 4)

1)

Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi 3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri 4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab 5. Cemas s.d kurang pengetahuan Intervensi Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. Intervensi : Kaji kondisi status hemodinamika Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi Ukur pengeluaran harian Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal Berikan sejumlah cairan pengganti harian Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif Evaluasi status hemodinamika Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Intervensi : Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi

Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri Kolaborasi pemberian analgetika Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 4.d Kerusakan jaringan intrauteri Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami Intervensi : Kaji kondisi nyeri yang dialami klien Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi. kondisi vulva lembab Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan Intervensi : Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar . warna.d perdarahan. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s. Resiko tinggi Infeksi s. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart . pada abortus imminens. dan bau Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. jumlah. istirahat mutlak sangat diperlukan Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas Rsional : Menilai kondisi umum klien 3.2) 3) 4) 5) 1) 2) 3) 1) 2) 3) perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito. senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan. 5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi. pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat 1) 2) Intervensi : Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas Kaji derajat kecemasan yang dialami klien Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga. untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga. Penerbit Buku Kedokteran EGC. demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi 6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se.ama masa perdarahan Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu. Cemas s. Jakarta 3) 4) 5) .d kurang pengetahuan Tujuan : Tidak terjadi kecemasan. Lynda.4) Lakukan perawatan vulva Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. 5.

FKKP. 3. dkk. Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. 1990. Jakarta Mansjoer. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex).Hamilton. Arif. Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2 5. Wanita merokok. infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap. Pada sebagian besar kasus. 2. Semakin dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. 4. edisi 6. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Etiologi Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun). 2001. . Mary. Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). Media Aesculapius. EGC. karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh. Begitu pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia. Jilid I. Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali 6. 1995. Jakarta Askep Ca Serviks TINJAUAN TEORI Pengertian Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI. C. 1997). Kapita Selekta Kedokteran.

4. Penyebaran sudah sampai dinding panggul. dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah. 3. tetapi belum sampai dinding panggul Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina. tetapi tidak sampai dinding panggul Penyebaran hanya ke vagina.1. 6. tidak ditemukan daerah infiltrat antara tumor dengan dinding panggul. bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm. Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari pangul kecil. tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium. Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma. 2. uni atau bilateral. sedang parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul. Jumlah perkawinan Hygiene dan sirkumsisi Status sosial ekonomi Pola seksual Terpajan virus terutama virus HIV Merokok Klasifikasi Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978 Tingk at 0 I Ia Kriteria Karsinoma In Situ ( KIS). metastasi jauh belum terjadi Ib II II a II b III a III b IV IV a . membran basalis utuh Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri Karsinoma mikro invasif. 7. Faktor Resiko Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu: Usia. 5. parametrium masih bebas dari infitrat tumor Penyebaran ke parametrum.

ireguler. keputihan warna putih atau puralen yang berbau dan tidak gatal. 4. Pemeriksaan Penunjang Sitologi. dengan cara tes pap Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. 2. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. perdarahan spontan. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar. dan bau busuk yang khas. Telah terjadi metastasi jauh. Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah. dan anemia. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi. Prognosis Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. perdarahan pascakoitus. Kolposkopi Servikografi Pemeriksaan visual langsung Gineskopi Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive) Penatalaksaan Medis Tingkat Penatalaksaan . Setelah histerektomi radikal. Tanda dan Gejala Perdarahan Keputihan yang berbau dan tidak gatal Cepat lelah Kehilangan berat badan Anemia Manifestasi Klinis Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi. kehilangan berat badan. terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun.IV b 1. terraba lunak. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%. 3. 5. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi.

Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain. 6. KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN Pengkaijan Identitas klien. Perdarahan dan keputihan Riwayat penyakit sekarang Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. Riwayat penyakit terdahulu. serta kurangnya pengetahuan keluarga.0 Ia I b dan II a II b . 4. Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga. Keluhan utama. 2. Pemeriksaan Fisik 1. apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat. misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera. Riwayat psikososial Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks. Inspeksi • Perdarahan • keputihan . III dan IV IV a dan IV b Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan) Histerektomi transvaginal Radioterapi Radiasi paliatif Kemoterapi 1. 5. 3.

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Diagnosa Keperawatan Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . 4. 7. Kolposkopi 4. 8. Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif) 1. Pantau dan atur kecepatan infus. Berikan cairan secara cepat. Intervensi Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . 2. mual dan muntah. Tujuan: . Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubbungan dengan terbatasnya informasi. Sitologi 2. Intervensi : Kolaborasi dalam pemeriksaan hematokrit dan Hb serta jumlah trombosit. Tujuan: Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. 3. Biopsi 3. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. 6. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Gineskopi 6. palpasi • nyeri abdomen • nyeri punggung bawah Pemeriksaan Dignostik 1.2. Kolaborasi dalam pemberian infus 1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. mual dan muntah. Servikografi 5. 2. 5.

Tujuan: Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan Intervensi : Kolaborasi dengan petugas laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap (Hb dan Trombosit) Lakukan tindakan yang tidak menyebabkan perdarahan. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Tujuan: Potensial infeksi menurun dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Tujuan: Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. Bantu pasien dalam menjaga hygiene perorangan Anjurkan pasien beristirahat sesuai kebutuhan. 4. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. Observasi tanda-tanda perdarahan. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian menu yang sesuai dengan diet yang ditentukan. Intervensi: Kaji pola istirahat serta adanya keletihan pasien. Observasi tanda-tanda vital. . Intervensi : Pantau tanda vital setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan. Lakukan perawatan mulut sebelum makan sesuai ketentuan.Masukan yang adekuat serta kalori yang mencukupi kebutuhan tubuh. Tempatkan pasien pada lokasi yang tersedia. 3. Intervensi: Kaji adanya pantangan atau adanya alergi terhadap makanan tertentu. Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. Anjurkan agar membawa makanan dari rumah jika dipelukan dan sesuai dengan diet. Kolaborasi dalam pemeriksaan kultur dan pemberian antibiotika. Kolaborasi dalam tindakan transfusi TC ( Trombosit Concentrated) 5. Pantau masukan makanan oleh klien.

7. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran. Berikan dorongan spiritual. Intervensi : Bantu pasien untuk mengedintifikasi peran yang bisa dilakukan didalam keluarga dan komunitasnya. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai. Bantu pasien merencanakanaktifitas berdasarkan pola istirahat atau keletihan yang dialami. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perubahan fisik yang spesifik yang dibutuhkan sehubungan dengan penyakitnya. Intervensi: Gunakan pendekatan yang tenang dan cipakan suasana lingkungan yang kondusif. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan terbatasnya informasi. Evaluasi kempuan pasien dalam mengambil keputusan Dorong harapan yang realistis. Kaji kepatenan kateter abdomen. 6. Anjurkan kepada klien untuk melakukan latihan ringan.Anjurkan kepada pasien untuk mempertahan pola istirahat atau tidur sebanyak mungkin dengan diimbangi aktifitas. . 8. Tujuan: Ansietas. Intervensi: Baringkan pasien diatas tempat tidur. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi. Diskusikan dengan keluarga untuk berkompensasi terhadap perubahan peran anggota yang sakit. Observasi kemampuan pasien dalam malakukan aktifitas. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.

Prawirohardjo. Jakarta:EGC. Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh 3.com/med http://creasoft. Edisi 3 . Tidak ada tanda-tanda infeksi 4.1994.wordpress.blogspot. 1989. Ansietas. Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan.com/2009/03/kanker-serviks.Nursing care and Plans.com http://khaidirmuhaj. Sarwono.medicastore . 6. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi. Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan 5. http:// www. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran. Jakarta:EGC. Jilid 1. Kapita Selekta Kedokteran . Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi DAFTAR PUSTAKA Arif Mansjoer dkk (2000).Synopsis obstetric.A Davis Company.Philadelphia: F.Ilmu Kandungan. 2. Sanusi. Marilyn.E 1989. Mochtar.Observasi tentang reaksi yang dialami pasien selama pengobatan Jelaskan pada pasien efek yang mungkin dapat terjadi.html . Evaluasi Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah : 1. 8. EGC : Jakarta Doengoes. Jakarta: Gramedia. 1989:Ginekologi Greenhill edisi 10. Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. Chandra. 7. Rustam.

Mary. daripada villi choriales. Rustam . membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. hidropik. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. Paritas tinggie. Arif. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. dkk. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. dkk. dkk. namun faktor penyebabnya adalah 1.Kekurangan proteinf.1998 : 23) . C. (Wiknjosastro. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. Saleh. tetapi terlambat dikeluarkan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. dkk. 2. (Jack A.Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. vaskularisasi dan edematus. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. Pritchard. (Mochtar. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. Hanifa. 1973 : 325). Imunoselektif dari tropoblast 3.(Mansjoer. Rustam.

2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). (Mansjoer. Mola hidatidosa komplet (klasik). Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. (Verrals. Mola hidatidosa inkomplet (parsial). dkk . (Silvia. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.e. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. Silvia.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. Arif. berotot. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. Teori neoplasma dari Park. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. Darah cenderung berwarna coklat. di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. 2003 : 164). berbentuk buah pear. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine . 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung.Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. jika disertai janin atau bagian janin. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. Wilson. jika tidak ditemukan janin 2. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus.

bila tetap tidak ada tahanan. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis. sonde diputar setelah ditarik sedikit. Di bagian belakang. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. 2002 : 339) Tes Diagnostika. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. terdiri atas jaringan ikat dan otot. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. di dalamnya terdapat tuba uterin. membentuk kantong utero-vesikuler. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar. Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. profundus ke kanalis iguinalis. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali. Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan.5 cm. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. uterus bertambah besar.(Wiknjosastro. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis . ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium.b). Berjalan melalui annulus inguinalis. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. Hanifa. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. Bila tidak ada tahanan. Demikian pula dengan penyakit trofoblast.

Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. menentukan cara pemecahannya. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. saling berkaitan dan dinamis.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. terus menerus. Selama pemantauan. pelunakan serviks dan korpus uteri. . untuk anemia berat lakukan transfusi.(Arif Mansjoer. pembesaran abnormal uterus. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. dkk. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Selain dari penanganan di atas. siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. selama dan setelah prosedur evakuasi. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Bila sumber vakum adalah tabung manual. Kadar hCG diatas 100. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan.

Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.

Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar.Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear. Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi, menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. (Carpenito, Lynda, 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien, memulihkan, memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Menetapkan prioritas masalah 2. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang Ekspresi wajah tenang TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri

akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien .5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil : Kebutuhan personal hygiene terpenuhi Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : Klien dapat tidur 7-8 jam per hari Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien.

pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : Ekspresi wajah tenang Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati . perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi.Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien.

Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : Nafsu makan meningkat Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan. anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil : Tidak tampak tanda-tanda infeksi Vital sign dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh .

3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. Patologi. Jakarta Mochtar. edisi 6. 1973. Saleh. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Lynda. 2005. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. Sinopsis Obstetri. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. EGC. Jilid I. Jakarta Johnson & Taylor. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. daerah yang terpasang alat invasif (infus. Mary. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. berkeringat. Arif. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. Jilid I. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeks. Kapita Selekta Kedokteran. 2001. dkk. 1995. C. garis jahitan). sehingga proses infeksi tidak terjadi. Media Aesculapius. UI Patologi Anatomik. pucat. Jakarta Soekojo. Buku Ajar Praktik Kebidanan. (2001). . Jakarta Hamilton. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. EGC. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. EGC. DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil : Hb dalam batas normal (12-14 g%) Turgor kulit baik Vital sign dalam batas normal Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. kaji warna kulit/membran mukosa. Rustam. Jakarta Mansjoer. 1998. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jakarta Askep Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa .

jika tidak ditemukan janin 2. Mola hidatidosa inkomplet (parsial). dkk.(Mansjoer. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. Paritas tinggie. Arif. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. Hanifa. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. 1973 : 325). dkk. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. Pritchard. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung.gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. vaskularisasi dan edematus. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. (Mochtar. Mary. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. Teori neoplasma dari Park. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. C. Imunoselektif dari tropoblast 3. daripada villi choriales. (Wiknjosastro. jika disertai janin atau bagian janin. tetapi terlambat dikeluarkan. Mola hidatidosa komplet (klasik).1998 : 23) Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. (Jack A. dkk. namun faktor penyebabnya adalah 1. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. Rustam . Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima.Kekurangan proteinf. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus . 2. dkk. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. hidropik. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. Rustam. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. Saleh.

Wilson.5 cm. (Mansjoer. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. Di bagian belakang. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal. profundus ke kanalis iguinalis. . 2003 : 164). di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. membentuk kantong utero-vesikuler. Arif. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. Berjalan melalui annulus inguinalis. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. dkk . Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. terdiri atas jaringan ikat dan otot. (Silvia.menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. berotot. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine b). Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). Darah cenderung berwarna coklat. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang. di dalamnya terdapat tuba uterin. berbentuk buah pear. Silvia. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. (Verrals. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina.e. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a).

Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis (Arif Mansjoer. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis. Selain dari penanganan di atas. Demikian pula dengan penyakit trofoblast.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. sonde diputar setelah ditarik sedikit. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. pelunakan serviks dan korpus uteri. 2002 : 339) Tes Diagnostika. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. dkk. Bila tidak ada tahanan. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per . Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus.Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Hanifa. pembesaran abnormal uterus.(Wiknjosastro. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali. uterus bertambah besar. bila tetap tidak ada tahanan.

agama. pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. jantung . penyakit endokrin . 2) Riwayat kesehatan masa lalu ¬ Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. dan penyakit-penyakit lainnya. Bila sumber vakum adalah tabung manual. ¬ Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM . suku bangsa. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. jenis pembedahan . umur. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. selama dan setelah prosedur evakuasi. menentukan cara pemecahannya. Kadar hCG diatas 100. Selama pemantauan. siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid. perkawinan ke. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : ¬ Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi . kapan . Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). . pekerjaan. untuk anemia berat lakukan transfusi. oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. lamanya perkawinan dan alamat ¬ Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang ¬ Riwayat kesehatan . pendidikan. terus menerus.. ¬ Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). hipertensi . saling berkaitan dan dinamis. nama. status perkawinan. masalah ginekologi/urinary .

hygiene. mengevaluasi edema. baik sebelum dan saat sakit. lesi terhadap drainase. Pemeriksaan fisik. dan menggunakan KB jenis apa. USG. bagaimana keadaan kesehatan anaknya. cairan dan elektrolit.  Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan . Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah. pap smear. meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. siklus menstruasi. perubahan warna. pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan.  Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah. ¬ Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral. pergerakan dan postur. mencatat suhu. dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. (Johnson & Taylor. sifat darah. ¬ Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien. ¬ Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi. adanya keterbatasan fifik. Data lain-lain :  Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS. bahasa tubuh. istirahat tidur. memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. apakah klien setuju.Data . penggunaan ekstremitas.  Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini. bau. eliminasi (BAB dan BAK). derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. massa atau konsolidasi. banyaknya. jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. obat digitalis dan jenis obat lainnya.  Tekanan : menentukan karakter nadi. laserasi. memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. ketergantungan. dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. biopsi. apakah klien menggunakan kontrasepsi. warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi.¬ Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe. 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium :  Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna. gejala serta keluahan yang menyertainya ¬ Riwayat kehamilan . lamanya.  Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB.  Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan.

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi. memelihara dan meningkatkan kesehatannya. dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan.  Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien  Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME.psikososial. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri 4. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil :  Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang . Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5.  Kaji orang terdekat dengan klien. Lynda. hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. (Carpenito. bagaimana pola komunikasi dalam keluarga. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Menetapkan prioritas masalah 2. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. memulihkan. 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3.

 Ekspresi wajah tenang  TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri. lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri 5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil :  Kebutuhan personal hygiene terpenuhi  Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : .

suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : . perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi. Klien dapat tidur 7-8 jam per hari  Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien. pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan. akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil :  Tanda-tanda vital dalam batas normal  Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien.

anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil :  Tidak tampak tanda-tanda infeksi  Vital sign dalam batas normal . Ekspresi wajah tenang  Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil :  Nafsu makan meningkat  Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan.

pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. garis jahitan). Jakarta . produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. Jakarta Hamilton. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC. Penerbit Buku Kedokteran EGC. C. Lynda. berkeringat. daerah yang terpasang alat invasif (infus. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. (2001).Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh 3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. pucat. 1995. kaji warna kulit/membran mukosa. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. Mary. sehingga proses infeksi tidak terjadi. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. edisi 6. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeksi DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil :  Hb dalam batas normal (12-14 g%)  Turgor kulit baik  Vital sign dalam batas normal  Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito.

Kapita Selekta Kedokteran. Arif. 1973. Rustam. Buku Ajar Praktik Kebidanan. 2001. EGC.Soekojo. EGC. Jilid I. Saleh. UI Patologi Anatomik. Jakarta . Media Aesculapius. Sinopsis Obstetri. Jakarta Mansjoer. Jakarta Mochtar. Patologi. 2005. Jakarta Johnson & Taylor. Jilid I. dkk. 1998.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful