ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan

janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Jenis – jenis operasi sectio caesarea 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) 2. Sectio caesarea transperitonealis 3. SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : 1. Mengeluarkan janin dengan cepat 2. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik 3. Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan 1. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik 2. Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan 3. SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : 1. Penjahitan luka lebih mudah 2. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik 3. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum 4. Perdarahan tidak begitu banyak 5. Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : 1. Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak 2. Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi 3. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal 2. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. Sayatan huruf T ( T insicion ) Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan

resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) ϖ Fetal distress ϖ His lemah / melemah ϖ Janin dalam posisi sungsang atau melintang ϖ Bayi besar ( BBL ³ 4,2 kg ) ϖ Plasenta previa ϖ Kalainan letak ϖ Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) ϖ Rupture uteri mengancam ϖ Hydrocephalus ϖ Primi muda atau tua ϖ Partus dengan komplikasi ϖ Panggul sempit ϖ Problema plasenta ϖ Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : 1. Infeksi puerperal ( Nifas ) 2. Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari 3. Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung 4. Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik 5. Perdarahan 6. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka 7. Perdarahan pada plasenta bed 8. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi 9. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya 10. Post Partum Definisi Puerperium / Nifas Nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002) Nifas adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983) Periode Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum Minggu pertama post partum. 3. Late post partum

Minggu kedua sampai dengan minggu keenam. Tujuan Asuhan Kepeawatan ϖ Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. ϖ Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. ϖ Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. ϖ Memberikan pelayanan keluarga berencana. Tanda dan Gejala 1. Perubahan Fisik 2. Sistem Reproduksi 3. Uterus 4. Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. o Lochea o Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe.  Tahap  Rubra (merah) : 1-3 hari.  Serosa (pink kecoklatan)  Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. ϖ Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. ϖ Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. ¬ Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. ¬ Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. ¬ Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi. ¬ Perineum ¬ Episiotomi

sesaria : 600 – 800 cc. progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. leukosit meningkat. ϖ Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal. LH. ϖ Pada fungsi ginjal: proteinuria. ϖ Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH. ϖ Jantung Kembali ke posisi normal. diuresis mulai 12 jam. ϖ Kehilangan rata-rata berat badan 5. ϖ Perubahan hematologik Ht meningkat. tidak ditemukan pada minggu I post partum. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari.5 kg. ϖ Sistem Kardiovaskuler ϖ Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin.Penyembuhan dalam 2 minggu. ϖ Sistem Urinaria ϖ Edema pada kandung kemih. ϖ Nafsu makan kembali normal. puting mudah erektil bila dirangsang. RR : 16-24 x/menit. engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari. suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. ϖ Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal ϖ Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). ϖ Sistem Gastrointestinal ϖ Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. ϖ Sistem Endokrin ϖ Hormon Plasenta ϖ HCG (-) pada minggu ke-3 post partum. COP meningkat dan normal 2-3 minggu. keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. Pada payudara yang tidak disusui. ϖ Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 – 500 cc. ϖ Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama. neutrophil meningkat. ϖ Sistem Muskuloskeletal . urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma.

• Insisi SC Balutan dan insisi.Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. usia ibu. memar. • Baby Blues: Mulai terjadinya. ayah dan bayi. respon depresi dan psikosis. urinalisis. Kemerahan menandakan infeksi. kondisi bayi. ϖ Sistem Imun Rhesus incompability. • Uterus Konsistensi dan tonus. • Perubahan Psikologis • Perubahan peran. • Ekstremitas Tanda Homan. hemoroid dan bising usus. tenderness. posisi tinggi dan ukuran. diberikan anti RHO imunoglobin. • Kandung Kemih dan Output Urine Pola berkemih. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM FISIOLOGIS PENGKAJIAN • Pemeriksaan Fisik • Monitor Keadaan Umum Ibu • Jam I : tiap 15 menit. dan nyeri. • Perineum Episiotomi. laserasi dan hemoroid. marah. dan perubahan warna. • Diagnostik Jumlah darah lengkap. • Lochea Tipe. jumlah. • Perubahan Psikologis • Peran Ibu meliputi: Kondisi Ibu. • Bowel Pergerakan usus. discharge dan approximation. sebagai orang tua. periksa redness. bau dan adanya gumpalan. • Attachment yang mempengaruhi dari faktor ibu. adakah anxietas. drainase. faktor sosial-ekonomi. Diastasis rekti 2-4 cm. faktor keluarga. hematoma. edema. konflik peran. warna. jam II tiap 30 menit • 24 jam I : tiap 4 jam • Setelah 24 jam : tiap 8 jam • Monitor Tanda-tanda Vital • Payudara Produksi kolustrum 48 jam pertama. ϖ Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. . edema. kembali normal 6-8 minggu post partum. jumlah distensi.

Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit. • Kesempitan pintu atas panggul Pintu atas panggul dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 9½ cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm.• Baby Blues merupakan gangguan perasaan yang menetap. seluruha panggul sempit picak dan lain-lain • Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang • Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang • kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong • sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah . • Faktor-faktor Risiko • Duerdistensi uterus • Persalinan yang lama • Episiotomi/laserasi • Ruptur membran prematur • Kala II persalinan • Plasenta tertahan • Breast feeding PANGGUL SEMPIT Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut : • Kesempitan pintu atas panggul • kesempitan bidang bawah panggul • kesempitan pintu bawah panggul • kombinasi kesempitan pintu atas pangul. maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10cm dapat menimbulkan kesulitan. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut : • Kelainan karena gangguan pertumbuhan • Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil • Panggul picak : ukuran muka belakang sempit. bidang tengah dan pintu bawah panggul. panggul sempit. biasanya pada hari III dimungkinkan karena turunnya hormon estrogen dan pergeseran yang mempengaruhi emosi ibu.pintu bawah panggul sempit • Panggul belah : symphyse terbuka • kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya • Panggul rachitis : panggul picak. ukuran melintang biasa • Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran muka belakang • Panggul corong :pintu atas panggul biasa.

Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. Disamping itu mungkin pula ada exostase atau fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul. • Dapat terjadi ruptura uteri kalau his menjadi terlalu kuat dalam usaha mengatasi rintangan yang ditimbulkan oleh panggul sempit • Sebaiknya jika otot rahim menjadi lelah karena rintangan oleh panggul sempit dapat terjadi infeksi intra partum.coxitis. • Biasanya anak seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil dari pada ukuran bayi pukul rata. Kadang-kadang karena infeksi dapat terjadi tympania uteri atau physometra. • Pengaruh pada persalinan • Persalinan lebih lama dari biasa. Asynclitismus sering juga terjadi. letak sungsang dan letak lintang. Infeksi ini tidak saja membahayakan ibu tapi juga dapat menyebabkan kematian anak didalam rahim. • Pengaruh panggul sempit pada kehamilan dan persalinan Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan maupun persalinan. • Karena gangguan pembukaan • Karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak Kelainan pembukaan disebabkan karena ketuban pecah sebelum waktunya. karena bagian depan kurang menutup pintu atas panggul selanjutnya setelah ketuban pecah kepala tidak dapat menekan cervix karena tertahan pada pintu atas panggul • Pada panggul sempit sering terjadi kelainan presentasi atau posisi misalnya : • Pada panggul picak sering terjadi letak defleksi supaya diameter bitemporalis yang lebih kecil dari diameter biparietalis dapat melalui conjugata vera yang sempit itu. atrofia. • Terjadi fistel : tekanan yang lama pada jaringan dapat menimbulkan ischaemia yang menyebabkan nekrosa. • Pengaruh pada kehamilan • Dapat menimbulkan retrafexio uteri gravida incarcerata • Karena kepala tidak dapat turun maka terutama pada primi gravida fundus atau gangguan peredaran darah Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung Perut yang menggantung pada seorang primi gravida merupakan tanda panggul sempit • Kepala tidak turun kedalam panggul pada bulan terakhir • Dapat menimbulkan letak muka. luxatio. Nekrosa menimbulkan fistula vesicovaginalis atau fistula recto vaginalis. Fistula vesicovaginalis lebih sering terjadi karena kandung kencing tertekan antara kepala anak dan . yang diterapkan dengan “knopfloch mechanismus” (mekanisme lobang kancing) • Pada oang sempit kepala anak mengadakan hyperflexi supaya ukuran-ukuran kepala belakang yang melalui jalan lahir sekecil-kecilnya • Pada panggul sempit melintang sutura sagitalis dalam jurusan muka belang (positio occypitalis directa) pada pintu atas panggul.

Karena itu kalau CV < 8 ½ cm dilakukan SC primer ( panggul demikuan disebut panggul sempit absolut ) Sebaliknya pada CV antara 8. • Parase kaki dapat menjelma karena tekanan dari kepala pada urat-urat saraf didalam rongga panggul . • Ruptur symphyse dapat terjadi .5-10 cm hasil persalinan tergantung pada banyak faktor : • Riwayat persalinan yang lampau . malahan kadang – kadang ruptur dari articulatio scroilliaca.symphyse sedangkan rectum jarang tertekan dengan hebat keran adanya rongga sacrum. Terutama kalau diameter biparietalis berkurang lebih dari ½ cm. jadi derajat kesempitan • Kemungkinan pergerakan dalam sendi-sendi panggul • Besarnya kepala dan kesanggupan moulage kepala • Presentasi dan posisi kepala • His Diantara faktor faktor tersebut diatas yang dapat diukur secara pasti dan sebelum persalinan berlangsung hanya ukuran-ukuran panggul : karena itu ukuran – ukuran tersebut sering menjadi dasar untuk meramalkan jalannya persalinan. Kalau terjadi symphysiolysis maka pasien mengeluh tentang nyeri didaerah symphyse dan tidak dapat mengangkat tungkainya. Peroneus . scoliose. selain itu mungkin pada tengkorak terdapat tanda-tanda tekanan. Menurut pengalaman tidak ada anak yang cukup bulan yang dapat lahir dengan selamat per vaginam kalau CV kurang dari 8 ½ cm. • Persangkaan Panggul sempit Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau : • Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36 • Pada primipara ada perut menggantung • pada multipara persalinan yang dulu – dulu sulit • kelainan letak pada hamil tua • kelainan bentuk badan (Cebol. Sebaliknya kalau CV 8 ½ cm atau lebih persalinan pervaginam dapat diharapkan berlangsung selamat.pincang dan lain-lain) • osborn positip • Prognosa Prognosa persalinan dengan panggul sempit tergantung pada berbagai faktor • Bentuk panggul • Ukuran panggul. Terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal) malahan dapat terjadi fraktur impresi. yang paling sering adalah kelumpuhan N. • Prolapsus foeniculli dapat menimbulkan kematian pada anak • Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak. • Pengaruh pada anak • Patus lama misalnya: yang lebih dari 20 jam atau kala II yang lebih dari 3 jam sangat menambah kematian perinatal apalagi kalau ketuban pecah sebelum waktunya.

jadi tidak dilakukan pada letak sungsang.kepala dalam 2 jam tidak mau masuk ke dalam rongga panggul walaupun his cukup kuat • Forcepe gagal Dalam keadaan-keadaan tersebut diatas dilakukan SC. Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir setelah kita mendapatkan keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung per vaginam atau setelah anak lahir per vaginam. Persalinan percobaan dikatakan berhasil kalau anak lahir pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forcepe atau vacum) dan anak serta ibu dalam keadaan baik. • Persalinan percobaan Yang disebut persalinan percobaan adalah untuk persalinan per vaginam pada wanita wanita dengan panggul yang relatip sempit. Sekarang test of labor jarang dilakukan lagi karena: • Seringkali pembukaan tidak menjadi lengkap pada persalinan dengan panggul sempit • kematian anak terlalu tinggo dengan percobaan tersebut • kesempitan bidang tengah panggul bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah symphysis dan spinae ossis ischii dan memotong sacrum kira-kira pada pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 .• besarnya presentasi dan posisi anak • pecahnya ketuban sebelum waktunya memburuknya prognosa • his • lancarnya pembukaan • infeksi intra partum • bentuk panggul dan derajat kesempitan karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil persalinan pada panggul dengan CV antara 8 ½ – 10cm (sering disebut panggul sempit relatip) maka pada panggul sedemikian dilakukan persalinan percobaan. letak muka atau kelainan letak lainnya. Kalau SC dilakukan atas indikasi tersebut dalam golongan 2 (dua) maka pada persalinan berikutnya tidak ada gunanya dilakukan persalinan percobaan lagi Dalam istilah inggris ada 2 macam persalinan percobaan : • Trial of labor : serupa dengan persalinan percobaan yang diterngkan diatas • test of labor : sebetulnya merupakan fase terakhir dari trial of labor karena test of labor mulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam sesudahnya. letak dahi. Kita menghentikan presalianan percobaan kalau: • – pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuaannya • Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik • Kalau ada lingkaran retraksi yang patologis • – setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban. Kalau dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap kepala janin tidak turun sampai H III maka test of labor dikatakan berhasil. Persalinan percobaan dilakukan hanya pada letak belakang kepala.

5 cm = 18.5 cm + 5 cm = 15.5 cm ) Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit.kalau diameter antar spinae 9 cm atau kurang kadang-kadang diperlukan SC.5 cm) • diameter antara spina < 9 cm ukuran – ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis. penyakit vaskuler perifer atau stasis . tetapi kita dapat menduga kesempitan bidang tengah panggul kalau : • Spinae ischiadicae sangat menonjol • Kalau diameter antar tuber ischii 8 ½ cm atau kurang • Prognosa Kesempitan bidang tengah panggul dapat menimbulkan gangguan putaran paksi. harus diukur secara rontgenelogis.5 atau kurang ( normal 10. • Terapi Kalau persalinan terhenti karena kesempitan bidang tengah panggul maka baiknya dipergunakan ekstraktor vacum. udema pulmonal. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC bisanya dapat diselesaikan dengan forcepe dan dengan episiotomy yang cukup luas. Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi. karena ekstraksi dengan forceps memperkecil ruangan jalan lahir. Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < 15 cm ( normal 11 cm + 7. • Pengkajian • Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung. • Kesempitan pintu bawah panggul: Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segi tiga dengan jarak antar tuberum sebagai dasar bersamaan Ukuran – ukuran yang penting ialah : • Diameter transversa (diameter antar tuberum ) 11 cm • diameter antara posterior dari pinggir bawah symphyse ke ujung os sacrum 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke ujung os sacrum 7 ½ cm pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul.Ukuran yang terpenting dari bidang ini adalah : • Diameter transversa ( diameter antar spina ) 10 ½ cm • diameter anteroposterior dari pinggir bawah symphyse ke pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan garis antar spina ke pertemuan sacral 4 dan 5 5 cm dikatakan bahwa bidang tengah panggul itu sempit : • Jumlah diameter transversa dan diameter sagitalis posterior 13.

hubungan. takut. muntah ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM A. membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM. stimulasi simpatis • Makanan / cairan Malnutrisi. marah. penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri.vaskuler ( peningkatan resiko pembentukan thrombus ) • integritas ego perasaan cemas.d insisi.d destruksi pertahanan terhadap bakteri • Nyeri akut b. gaya hidup.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan • Resti infeksi b. peningkatan ketegangan. makanan. merokok • Keamanan • Adanya alergi atau sensitive terhadap obat. flatus dan mobilitas • Resti perubahan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka. plester dan larutan • Adanya defisiensi imun • Munculnya kanker/ adanya terapi kanker • Riwayat keluarga. kondisi yang kronik/ batuk. mual. serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial. predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis • Pernafasan Adanya infeksi. Pengertian . apatis. tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi • Riwayat penyakit hepatic • Riwayat tranfusi darah • Tanda munculnya proses infeksi Proritas Keperawatan • Mengurangi ansietas dan trauma emosional • Menyediakan keamanan fisik • Mencegah komplikasi • Meredakan rasa sakit • Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan • Menyediakan informasi mengenai proses penyakit Diagnosa Keperawatan • Ansietas b. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat.

com/). Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan muntahmuntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus-menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas Penyuluhan Gizi Rumah Sakit A. d) Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan. diuresis kurang dan timbul aseton dalam air kencing (http://healthblogheg.blogspot. dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup.wordpress.com/). turgor kulit kurang. terdapat aseton dalam urine. kehilangan pekerjaan. Ilmu Kebidanan. Wahab Sjahranie Samarinda (http://healthblogheg. juga disebut sebagai salah satu faktor organik. hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi. . 1. c) Alergi. bukan karena penyakit seperti Appendisitis. 1999). Etiologi Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti.ibu terhadap anak.blogspot. Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien (http://zerich150105.wordpress. takut terhadap kehamilan dan persalinan.Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk. b) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik.com/). Dalam buku obstetri patologi (1982) Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil memuntahkan segala apa yang di makan dan di minum sehingga berat badannya sangat turun. jantung. Rumah tangga yang retak. Pielitis dan sebagainya (http://zerich150105.com/). berat badan menurun. Sebagai salah satu respon dari jaringan. (Sarwono Prawirohardjo. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan : a) Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida. karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. Perubahan-perubahan anatomik pada otak. dehidrasi. begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari. Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. mola hidatidosa dan kehamilan ganda.

disamping faktor hormonal.1. ibu merasa lemah. oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit. Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. Pengaruh psikologik hormon estrogen ini tidak jelas. dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. 2. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. hemokonsentrasi. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil. oliguri dan konstipasi. tensi rendah. lidah mengering dan mata cekung. . Patofisiologi Ada yang menyatakan bahwa. Tanda Dan Gejala Hiperemesis gravidarum. mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Belum jelas mengapa gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita. meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan. b) Tingkatan II : Penderita tampak lebih lemah dan apatis. bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung. sehmgga cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi. lidah mengering dan nampak kotor.wordpress. bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Kekurangan Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. akan mengalami emesis gravidarum yang berat. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang. tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama. nadi kecil dan cepat. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen.Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi.com/). menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu : a) Tingkatan I : Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna. (http://zerich150105. demikian pula Khlorida air kemih. turgor kulit lebih berkurang. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Natrium dan Khlorida darah turun. nafsu makan tidak ada.

ALT dan kadar LDH. muntah berhenti. (http://zerich150105. termasuk vitamin B kompleks. takikardia.Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan. mendeteksi bakteri. tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. c) Tingkatan III: Keadaan umum lebih parah. c) Pemeriksaan fungsi hepar: AST.com/) 1. mendeteksi abnormalitas janin. ikterik. kesadaran menurun dan somnolen sampai koma. memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati. melokalisasi plasenta. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin.wordpress.blogspot. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke.com/) 1. karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur.Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Komplikasi Dehidrasi berat. Penatalaksanaan Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik.blogspot. Obat-obatan Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Avomin Isolasi . suhu meningkat. alkalosis. menarik diri dan depresi (http://healthblogheg. (http://healthblogheg. Pemeriksaan Diagnostik a) USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel. b) Urinalisis : kultur. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. BUN.com/) 1. suhu badan meningkat dan tensi menurun. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan. kelaparan gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga. nadi kecil dan cepat.

karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat. Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D. Prognosis Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. kecuali vitamin C. yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. Minuman tidak diberikan bersama makanan . 1. Terapi psikologik Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan. Pengkajian Keperawatan . hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan. kebutaan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium. ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Bila ada kekurangan protein. namun demikian pada tingkatan yang berat. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Diet a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Delirium. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil. tachikardi. bahkan mundur. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C.parenteral yang cukup elektrolit. penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. Cairan parenteral Berikan cairan. karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital. kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik. Penghentian kehamilan Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik. ASUHAN KEPERAWATAN A. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri. b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi.

sistem pendukung yang kurang. nyeri epigastrium. 4. 5. badan lemah. Rencana Keperawatan . Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan. 3. apalagi apalahi kalau belangsung sudah lama. nafas berbau aseton. 3. kesulitan ekonomi. Adanya aseton dalam urine (http://zerich150105.com/) C. Interaksi sosial Perubahan status kesehatan/stressor kehamilan. Makanan/cairan Mual dan muntah yang berlebihan (4 – 8 minggu) . respon anggota keluarga yang dapat bervariasi terhadap hospitalisasi dan sakit. defekasi. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. (http://zerich150105.wordpress. Hb dan Ht rendah. pengurangan berat badan (5 – 10 Kg). 2. peningkatan frekuensi berkemih Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine. Integritas ego Konflik interpersonal keluarga. icterus dan dapat jatuh dalam koma 7. lidah kering 4. mata cekung dan lidah kering. perubahan persepsi tentang kondisinya. Eliminasi Pcrubahan pada konsistensi. bila keadaan ibu membahayakan maka dilakukan abortus terapeutik. Keamanan Suhu kadang naik. perubahan peran. denyut nadi meningkat (> 100 kali per menit). turgor kulit berkurang. Segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan. Deflsit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan. Pernafasan Frekuensi pernapasan meningkat. Turgor kulit.com/) B. Pembelajaran dan penyuluhan 1. Diagnosa Keperawatan 1. 6. 9. kehamilan tak direncanakan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. Berat badan turun lebih dari 1/10 dari berast badan normal 3.wordpress. Aktifitas istirahat Tekanan darah sistol menurun. 2. 8. membran mukosa mulut iritasi dan merah. 4. 2. Seksualitas Penghentian menstruasi.1.

Catat intake dan output. Rasional : Koreksi adanya hipovolemia dan keseimbangan elektrolit 4.. 13. Rasional : Untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi. Ukur pembesaran uterus Rasional : Malnutrisi ibu berdampak terhadap pertumbuhan janin dan memperberat penurunan komplemen sel otak pada janin. Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit Rasional : Mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan kapasitas pcmbawa oksigen ibu. Rasional : Menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melului muntah. anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit. Rasional : Mencegah muntah serta memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit 3. Klien dengan kadar Hb < 12 mg/dl atau kadar Ht rendah dipertimbangkan anemi pada trimester I. 10. Pertahankan terapi cairan yang diprogramkan. Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan pembersih mulut sesering mungkin. Berikan obat anti emetik yang diprogramkan dengan dosis rendah. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh 6. Catal intake TPN. Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut. 5. Rasional : Menetapkan data dasar . Test urine terhadap aseton. jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode tertentu. 12. Rasional : Untuk mengetahui integritas inukosa mulut. 9.v. dilakukan secara rutin untuk mendeteksi situasi potensial resiko tinggi seperti ketidakadekuatan asupan karbohidrat. misalnya Phenergan 10-20mg/i. Batasi intake oral hingga muntah berhenti. 2. yang mengakibatkan kemunduran pcrkembangan janin dan kcmungkinan-kemungkinan lebih lanjUT . Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak Rasional : dapat menstimulus mual dan muntah 7. Diabetik kcloasedosis dan Hipertensi karena kehamilan. Rasional : Memelihara keseimbangan cairan elektfolit dan mencegah muntah selanjutnya. Rasional : Untuk mempertahankan integritas mukosa mulut 11. albumin dan glukosa.1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. Intervensi 1. roti dan the (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur Rasional : Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang berlebih 8.

Kontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung Rasional : Untuk mencegah dan mengurangi kecemasan 2. TD. Kaji tingkat fungsi psikologis klien Rasional : Untuk menjaga intergritas psikologis 3. Rasional : Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar Rasional : Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi. Berikan support psikologis Rasional : Untuk menurunkan kecemasan dan membina rasa saling percaya 4. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur. Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat.2) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan Intervensi 1. 2. Kaji suhu badan dan turgor kulit. Berikan penguatan positif Rasional : Untuk meringankan pengaruh psikologis akibat kehamilan 5. Berikan pelayanan kesehatan yang maksimal Rasional : Penting untuk meningkatkan kesehatan mental klien 4) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan Intervensi : . Rasional : Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi. perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas gastrik memperberat mual/muntah pada trimester 1. Peningkatan kadar hormon Korionik gonadotropin (HCG). 1. Rasional : Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. membran mukosa. gastritis. makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. input/output dan berat jenis urine. Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus peptikum. Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah. 3) Cemas berhubungan dengan Koping tidak efektif. perubahan psikologi kehamilan Intervensi : 1.

com/) REFERENSI http://cakmoki.blogsome. Anjurkan klien untuk menghindari mengangkat berat. 1. 3. Evaluasi 1. 2.com/) D. Keluhan subyektif tidak ada.com/ http://zerich150105. Bantu klien beraktifitas secara bertahap Rasional : Aktifitas bertahap meminimalkan terjadinya trauma seita meringankan dalam memenuhi kebutuhannya.wordpress.com/ . 2. Tanda-tanda vital baik.1.blogspot. Anjurkan tirah baring yang dimodifikasi sesuai indikasi Rasional : Tingkat aktifitas mungkin periu dimodifikasi sesuai indikasi.blogsome. Mual dan mutah tidak ada lagi. Rasional : Menghemat energi dan menghindari pengeluaran tenaga yang terusmenerus untuk meminimalkan kelelahan/kepekaan uterus 2. Anjurkan klien membatasi aktifitas dengan isrirahat yang cukup. Rasional : Aktifitas yang ditoleransi sebelumnya mungkin tidak dimodifikasi untuk wanita beresiko.com/ http://healthblogheg. (http://zerich150105. (http://cakmoki.wordpress.

Menurut Joint Committee on Maternal Welfare. kain-kain. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat. alat atau kain yang tidak steril. Droplet infection. Clostridium Welchii. infeksi tenggorokan orang lain). Staphylococcus aerus menyebabkan infeksi terbatas. E. walaupun kadang-kadang menjadi infeksi umum. : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh. Selain itu infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh: • • • • Streptococcus haemolytieus aerobicus merupakan sebab infeksi yang paling berat. . Demam nifas Morbiditas Puerperalis meliputi demam pada masa nifas oleh sebab apa pun. Hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin. alat-alat yang suci hama dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau nifas. Cara terjadinya infeksi: • • • • Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus.ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFEKSI NIFAS TINJAUAN TEORI Definisi. coli berasal dari kandung kemih atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum. Etiologi.alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman. Bermacam-macam • • • Eksasogen Autogen Endogen : kuman datang dari luar. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara ke mana-mana antara lain ke handuk. bersifat anaerob. AS morbiditas puerperalis ialah kenaikan C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama post°suhu sampai 38 partum dengan mengecualikan hari pertama. Jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau yang membantunya. vulva dan endometrium. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain. Dalam RS banyak kuman-kuman patogen yang berasal dari penderita dengan berbagai jenis infeksi. Suhu diukur dari mulut sedikit-dikitnya 4 kali sehari. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis. : dari jalan lahir sendiri. Banyak ditemukan di RS dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. khususnya golongan A.

vulva. selaput ketuban dan bekuan darah. o Tertinggalnya sisa plasenta. o Partus lama terutama dengan ketuban pecah lama. seviks dan endometrium. Infeksi nifas dapat terbagi dalam 2 golongan : • • Infeksi yang terbatas pada perineum. Infeksi pada Perineum. Vulvitis. permukaan tidak rata. daerah bekas insertio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kirakira 4 cm. Patologi. air ketuban menjadi keruh dan berbau. Vulva. Setelah kala III. jalan limfe dan melalui permukaan endometrium. Penyebaran dari tempat-tempat melalui vena. seperti perdarahan banyak. denyut jantung janin meningkat. Gejala: kenaikan suhu disertai leukositosis dan tachikardi. jahitan mudah terlepas. . begitu juga vulva. tepi luka menjadi merah dan bengkak. Infeksi intra partum. Vaginitis. berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi trombus dan merupakan area yang baik untuk tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenisjenis yang patogen dalam tubuh wanita. 1. Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitar membengkak. penyakit jantung dan sebagainya.• • • • Coitus pada akhir kehamilan bukan merupakan sebab yang paling penting kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. vagina. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar di luar luka asalnya. Biasanya terjadi pada partus lama. luka yang terbuka menjadi ulkus dan megeluarkan pus. Vagina. dapat/tidaknya persalinan berlangsung tanpa banyak perlukaan jalan lahir. perineum merupakan tempat masuknya kuman patogen. vagina. pre ekslampsi. Prognosis infeksi intra partum sangat tergantung dari jenis kuman. Serviks dan Endometrium 1. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinanan. o Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita. lamanya infeksi berlangsung. apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan periksa dalam. o Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir. infeksi lain seperti pneumonia. Faktor Predisposisi.

Endometritis • • • • • Tergantung pada jenis virulensi kuman. Septikemia dan Piemia . Lokia bertambah banyak. 1. sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut Lokiometra. Salfingitis dan Ooforitis. daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas. Paling sering terjadi. Endometritis. 3. Sering terjadi tapi tidak menimbulkan banyak gejala. Peritonitis dan Parametritis (Sellulitis Pelvika) Penyebaran melalui permukaan endometrium. 1. Vagina dan Serviks. 4. 5. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. berwarna merah atau coklat dan berbau. Biasanya demam mulai 48 jam pertama post partum bersifat naik turun. Penyebaran melalui pembuluh darah (Septikemia dan Piemia) Merupakan infeksi umum disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. radang terbatas pada endometrium. Gambaran Klinik. Sevicitis. Kuman–kuman memasuki endometrium (biasanya pada luka insertio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. 2. Vulva. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis dan cairan. Pada infeksi setempat. nyeri pada perabaan dan lembek. Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah. Suhu meningkat 38o C kadang mencapai 39o C – 40o C disertai menggigil. Rasa nyeri dan panas pada infeksi setempat. Infeksi pada Perineum. Penyebaran melalui jalan limfe. permukaan mokusa membengkak dan kemerahan. Nyeri bila kencing. 2.Dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum. Uterus agak membesar. Nadi kurang dan 100/menit.

involusi jelek. nadi cepat. Keadaan umum jelek Suhu meningkat antara 39°C – 40°C. Pencegahan Infeksi Nifas a) Selama kehamilan v Perbaikan gizi untuk mencegah anemia. TD turun. Lab: leukositosis. kesadaran turun. • • • • Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalur jalan lahir. sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selamaVT. nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih. perut kembung dan nyeri. Membatasi lamanya persalinan. menggigil. . setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas. Lochea: berbau. Piemia dimulai dengan rasa sakit pada daerah tromboplebitis. Peritonitis umum: suhu meningkat. Salfingitis dan Ooforitis Gejala hampir sama dengan pelvio peritonitis. perut nyeri. Piemia dimulai dengan tromboplebitis vena-vena daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil dibawa keperadaran darah umum dan terjadilah infeksi dan abses pada organ-organ tubuh yang dihinggapinya. Keduanya merupakan infeksi berat. Membatasi perlukaan. terdapat abses pada cavum Douglas Sellulitis Pelvika Pada periksa dalam dirasakan nyeri. v Selama persalinan. v Coitus pada hamil tua hendaknya tidak dilakukan karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi. Peritonitis • • Peritonitis terbatas pada daerah pelvis (pelvia peritonitis): demam. Gejala septikemia lebih akut dan dari awal ibu kelihatan sudah sakit dan lemah. nyeri perut bagian bawah. demam tinggi menetap dari satu minggu. bernanah. KU baik. b) Selama nifas v Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik. Membatasi perdarahan. Sesak nafas.• • • • • • • • • Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toxinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. gelisah. Infiltrat kadang menjadi abses. nadi cepat dan kecil. keadaan umum memburuk.

Cemas/ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan III. dan infeksi nasokomial. Perkiraan pinggir epis dan kemungkinan “perdarahan” / nyeri.v Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama. terutama suhu setiap 4 jam dan selama kondisi klien kritis. catat warna. nyeri. Pengkajian …. Sambil menunggu hasil laboratorium berikan antibiotika spektrum luas. haruskan mencuci tangan pada pasien dan perawat. sumbatan dan cairan yang keluar (dari puting). ASUHAN KEPERAWATAN I. dan infeksi nasokomial. 2. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus. ü Monitor vital sign. ü Kaji payudara: eritema.Infeksi perineum (menggunakan senter yang baik). Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang mungkin muncul adalah 1. II. luka operasi dan darah. transfusi darah. ü Kaji tinggi fundus dan sifat. Bersihkan perineum dan ganti alas tempat tidur secara teratur. serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai. Hubungkan dengan data post partum. ü Lakukan perawatan perineum dan jaga kebersihan. ü Catat jumlah leukosit dan gabungkan dengan data klinik secara lengkap. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi 3. Hubungkan dengan data perubahan post partum masing-masing dan catat apakah klien menyusui dengan ASI. Rencana Keperawatan 1. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. Tujuan 1: Mencegah dan mengurangi infeksi. makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh. jalan lahir. Khusus dalam 24 jam sekurang-kurangnya 4 kali sehari. serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. Catat kecenderungan demam jika lebih dari 38o C pada 2 hari pertama dalam 10 hari post partum. warna dan sifatnya. ü Kaji lochia: jenis. jumlah. jalan lahir. Intervensi: ü Kaji data pasien dalam ruang bersalin. sifat episiotomi dan warnanya. Berikan dosis yang cukup dan adekuat. Pengobatan Infeksi Nifas Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks. v Penderita dengan tanda infeksi nifas jangan digabung dengan wanita dalam nifas yang sehat. .

Oxitoksin seperti ergonovine atau methyler gonovine. bimbingan imajinasi .lokasi. 1.perhatikan intensitas (0-10). Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi Tujuan : Nyeri berkurang/terkontrol Intervensi : ü Selidiki keluhan pasien akan nyeri. Anjurkan mengubah posisi tidur secara sering dan teratur. ü Kaji ekstremitas: warna.perhatikan petunjuk non-verbal. Intervensi : . visualisasi) ü Kolaborasi : • • Pemberian obat analgetika. ü Pertahankan input dan output yang tepat. Tujuan 2 : Identifikasi tanda dini infeksi dan mengatasi penyebabnya. ü Atur obat-obatan berikut yang mengindikasikan setelah perkembangan dan test sensitivitas antibiotik seperti penicillin. Atur pemberian cairan dan elektrolit secara intravena. cefoxitin.ü Pertahankan intake dan output serta anjurkan peningkatan pemasukan cairan. ü Anjurkan istirahat dan tidur secara sempurna. Catatan: hindari produk mengandung aspirin karena mempunyai potensi perdarahan Pemberian Antibiotika 1. ü Berikan tindakan kenyamanan (missal : pijatan / masase punggung) ü Dorong menggunakan tekhnik manajemen nyeri . gentamisin. denyut nadi dan parasthesi/ kelumpuhan. frekwensi nafas dan usaha nafas. ü Kaji bunyi nafas. Anjurkan yang banyak protein. ü Hentikan pemberian ASI jika terjadi mastitis supuratif. vitamin C dan zat besi. Bantu dengan ambulasi dini. jangan berikan makanan dan minuman pada pasien yang muntah ü Pemberian analgetika dan antibiotika. gelisah. contoh : latihan relaksasi / napas dalam .dan faktor pencetus ü Awasi tanda vital. chloramfenicol atau metronidazol. Cemas / ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang. Bantu pasien batuk efektif dan nafas dalam setiap 4 jam untuk melancarkan jalan nafas. ukuran. tetracycline. Intervensi: ü Catat perubahan suhu. nyeri. ü Bantu pasien memilih makanan. ü Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan penuh stress. Monitor untuk infeksi.misal: tegangan otot. suhu.

DEFINISI Post partum risiko: • Perdarahan post partum . empati. takipnea. serta sikap mendukung Rasional : Memberikan dukungan emosi ü Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan Rasional : Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui ü Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya Rasional : Ungkapan perasaan dapat mengurangi cemas ü Kaji mekanisme koping yang digunakan klien Rasional : Cemas yang berkepanjangan dapat dicegah dengan mekanisme koping yang tepat.ü Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan Rasional : Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya ü Kaji respon fisiologis klien ( takikardia. gemetar ) Rasional : Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiologis ü Perlakukan pasien secara kalem. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM RISIKO TINGGI A.

. tersering Retensi plasenta Laserasi jalan lahir Ruptur uteri Gangguan pembekuan darah HPP sekunder: Retensi sisa plasenta Sub involusi Endometritis C.• Infeksi post partum • Tromboembolok • Masalah psikologis post partum Perdarahan post partum/post partum hemorrhage (HPP) adalah kehilangan 500 ml darah pada persalinan normal (per vaginam) atau 1000 ml lebih pada persalinan SC penyebab kematian pada ibu.HPP dini/primer/awal: terjadi dalam batas waktu 24 jam. MANIFESTASI KLINIS HPP Primer Perubahan hemodinamik: hipotensi.HPP lanjut/sekunder: terjadi lebih dari 24 jam tetapi kurang dari 6 minggu. takikardi Oligouria (urin < 300 cc/ 24 jam) Perdarahan > 500 cc/24 jam Distensi kandung kemih HPP Sekunder Perdarahan kadang banyak kadang sedikit Perdarahan dengan bekuan sisa plasenta Terdapat tanda subinvolusi Lochea merah tua dan berbau jika terdapat infeksi . ETIOLOGI HPP primer: Atonia uteri (1 dari 20 persalinan). Perdarahan post partum dibedakan menjadi dua: . FAKTOR RISIKO Kelahiran SC Bayi besar Persalinan dengan tindakan forsep/VE Riwayat HPP Multiparitas Manipulasi intrauterin/manual plasenta Penggunaan MgSO4 atau oksitosin dalam persalinan D. B.

suara jantung (murmur). warna kulit. TFU . . KOMPLIKASI . urin output. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1. membran mukosa. . kapiler refill. takipneu. Pengkajian HPP Primer .Syok .Pengkajian fundus: kontraksi lemah. DIAGNOSA KEPERAWATAN Defisit volume cairan Risiko infeksi Perubahan perfusi jaringan perifer Perubahan proses menjadi orang tua Cemas INTERVENSI Manajemen dan monitor cairan Atasi perdarahan Kontrol infeksi Kontrol kecemasan .Distensi blader 2.Sepsis . hipotensi) . nadi. Pengkajian HPP Sekunder HPP sekunder sering terjadi ketika klien sudah pulang. kelelahan.Kaji perdarahan (warna dan jumlah) .Syok dapat diatasi  anemia dan infeksi .Faktor risiko dan predisposisi . tingkat kesadaran.Vital sign (takikardi.Kenaikan suhu badan E. vena leher. suara nafas.Kaji adanya laserasi atau hematom yang mungkin menjadi sumber perdarahan.Kaji tanda-tanda perdarahan dan syok hipovolemi: TD. kecemasan disorientasi. discharge planning diperlukan sebelum klien pulang.Kegagalan fungsi ginjal F. oleh karena itu.

air kencing 400 ml/kurang dalam 24 jam . MAP sebesar 105 mmHg. Atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan Preeklampsia Kondisi spesifik kehamilan. peningkatan curah jantung. Oligouria. DEFINISI Hipertensi: Kenaikan nilai tekanan sistolik sebesar 30 mmHg/lebih atau kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg diatas tekanan dasar. hipertensi. dan proteinuria. penurunan tekanan osmotik koloid. peningkatan volume plasma darah. Merupakan penyakit vasospastik yang ditandai dengan hemokonsentrasi. Pada preeklampsia: Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih. hipertensi terjadi setelah minggu ke 20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. jarak 4 – 6 jam. Peningkatan darah terjadi minimal dengan 2 kali pemeriksaan. vasodilatasi. Hipertensi kronis hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan/sebelum gestasi 20 minggu. Sindrom HELLP Suatu keadaan multisistem. 3 atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif. Hipertensi sementara perkembangan hipertensi selama masa hamil/24 jam I nifas tanpa ada tanda preeklampsia. PATOFISIOLOGI Adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi. atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih Proteinuria 5 gr/lebih dalam 24 jam. peningkatan enzim hati (EL). dengan teknik dan alat yang standar.ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI KEHAMILAN A. dan trombosit rendah (LP). penurunan resistensi vaskuler sistemik. Peningkatan MAP > 20 mmHg/ jika tekanan darah sebelumnya tidak diketahui. merupakan suatu bentuk preeklampsia – eklampsia berat dimana ibu tersebut mengalami berbagai keluhan dan menunjukkan adanya bukti laboratorium umum untuk sindrom hemolisis (H). Eklampsia Yaitu terjadinya konvulsi atau koma pada klien disertai tanda dan gejala preeclampsia Konvulsi atau koma dapat muncul tanpa didahului gangguan neurologis. B.

4. konseling nutrisi. perdarahan. 3. Edema pitting (lekukan kecil akibat tekanan pada bagian yang edema. Intervensi pencegahan lain adalah: konseling. CST. Perubahan perfusi jaringan/organ b. pengenalan serta pelaporan tanda-tanda bahaya fisik. glukosa Diagnosa Keperawatan 1.d efek pengobatan. Trombosis.Keluhan serebral. derajat & pitting edema Edema dependen (edema bagian bawah/bagian tubuh yang dependen). perawatan prenatal dini. . Curah jantung menurun b. HB. Hilangnya RTPkeracunan magnesium Menentukan status janin: DJJ. edema paru. Risiko injuri b. Koping individu/ keluarga tidak efektif 5. Cemas 6. menetap 10 – 30 menit). Gangguan pertukaran gas b. gangguan penglihatan. 2. o Proteinuria > 5 gr dalam urin 24 jam o Oligouria < 400 ml dalam 24 jam o Gangguan otak dan penglihatan o Nyeri ulu hati o Edema paru/sianosis o Sindrom HELLP ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian: Pengkajian faktor risiko Pemeriksaan tekanan darah Observasi edema: distribusi. prosses penyakit. USG Pemeriksaan laboratorium: HMT. edema serebral. dan informasi tentang adaptasi normal pada kehamilan. terapi Intervensi Intervensi efektif adalah pencegahan. Refleks Tendon Profunda (RTP) Refleks bisep da patela serta klonus pada pergelangan kaki.d terapi antihipertensi yang berlebihan. enzim hati. atau nyeri di daerah epigastrum Edema paru-paru atau sianosis Diagnosis Preeklampsia Berat o TD sistolik > 160 mmHg diastolik >110 mmHg pada 2 kali pemeriksaan. NST.d iritabilitas SSP. identifikasi ibu berisiko selama kehamilan.d hipertensi. vasospasme siklik.

6 mg/dl. pernafasan. Berikan kalsium glukonal/CaCl sesuai program (misal 1 gr melalui IV diberikan selama 3 menit) 4. tonus otot Hindari makanan tinggi garam Kolaboratif: antihipertensi menurunkan risiko gagal ventrikel kiri & perdarahan otak perfusi uteroplasenta terjaga Intervensi di rumah Laporkan bila ada peningkatan TD. Lakukan pemeriksaan TD. . Kolaborasi dengan dokter 3. urin 5. tanda distress (DJJ tiba-tiba menurun). jumlah urin < 30 ml/jam. laporkan jika proteinuria ≥ +2 atau pengeluaran urin berkurang Monitor aktivitas janin setiap hari (3 gerakan atau kurang setiap jam) mengindikasikan gawat janin. penurunan TD dan denyut nadi o Intervensi: 1. Periksa jumlah keluaran urin bila <400 ml/24 jam. Hentikan MgSO4 . Pantau kadar MgSO4 (kadar terapeutik: 4. Lakukan pemeriksaan antenatal secara teratur Managemen MgSO4 o Berfungsi untuk mencegah dan mengendalikan kejang o Dosis awal 4 – 6 g selama 15 – 30 menit diikuti dosis rumatan 2 – 4 g/jam o Observasi tanda keracunan Mg SO4: pernafasan < 12/menit.Berikan informasi pada ibu tentang kondisi dan tanggung jawabnya dalam penatalaksanaan preeklampsia.5 kg/minggu.6 mg/dl). berat badan > 0. ganti dengan larutan rumatan 2. kadar serum toksik>9. hiporefleksia/tidak ada refleks. edema. Bed rest miring kiri  memperbaiki sirkulasi uteroplasenta Latihan fisik ringan  memperbaiki sirkulasi.8 – 9.

Hipotesis androgen Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium. Faktor Risiko Diet tinggi lemak Merokok Alkohol Penggunaan bedak talk perineal Riwayat kanker payudara. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain. diantaranya: Hipotesis incessant ovulation Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi. Pengertian Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. panggul. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium. Etiologi Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti.ASKEP CA OVARIUM A. Dalam percobaan in-vitro. . 5. 1. 2. C. Proses penyembuhan sel-sel epitel yang terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor. Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. kolon. Hal ini didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. 4. 3. 1995) B. atau endometrium 1. 2. dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru. (Wingo.

Menoragia 4. tidak ada asietas yang berisi sel ganas. Menstruasi dini 10. Pada stadium awal berupa : 1. tidak ada pertumbuhan di permukaan luar. Tidak pernah melahirkan D. . Stadium 1b : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium. Sering berkemih 10. adalah : STADIUM I –> pertumbuhan terbatas pada ovarium 1. Stadium 1a : pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium. Stadium 1c : tumor dengan stadium 1a dan 1b tetapi ada tumor dipermukaan luar atau kedua ovarium atau kapsul pecah atau dengan asietas berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif. Stadium 2b : perluasan jaringan pelvis lainnya 3. berisi sel ganas. tidak asietas. kapsul utuh. Menopause dini 6. 2. Flatulenes 11. Stadium 2a : perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba 2. Lingkar abdomen yang terus meningkat E. Haid tidak teratur 2. STADIUM III –> tomor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di luar pelvis dan atau retroperitoneal positif. 3. STADIUM II –> Pertumbuhan pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke panggul 1. kapsul intak. Ketegangan menstrual yang terus meningkat 3. Dispepsia 8. Infertilitas 9. Nyeri tekan pada payudara 5. Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium 7.6. Stadium 2c : tumor stadium 2a dan 2b tetapi pada tumor dengan permukaan satu atau kedua ovarium. Tekanan pada pelvis 9. Rasa tidak nyaman pada abdomen 7. Stadium Stadium kanker ovarium primer menurut FIGO (Federation InternationalofGinecologies and Obstetricians ) 1987. kapsul pecah atau dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan bilasan peritoneum positif. tidak ada tumor di permukaan luar. Tanda & Gejala Gejala umum bervariasi dan tidak spesifik. Rasa begah setelah makan makanan kecil 12. Nulipara 8.

Stadium 3b : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant dipermukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopis. F. STADIUM IV –> pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. Stadium 3a : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara histologi dan dikonfirmasi secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan (seeding) dipermukaan peritoneum abdominal. 2. Kemoterapi diberikan sebanyak 6 seri dengan interval 3 – 4 minggu sekali dengan melakukan pemantauan . Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dalam stadium 4. Ciri2 kista yang bersifat ganas yaitu pada keadaan : Kista cepat membesar Kista pada usia remaja atau pascamenopause Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan Kista dengan bagian padat Tumor pada ovarium Pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat dugaan ke arah kanker ovarium seperti : USG dengan Doppler untuk menentukan arus darah Jika diperlukan. Hanya kanker ovarium stadium awal saja (stadium 1a dan 1b dengan derajat diferensiasi sel yang baik/sedang) yang tidak memerlukan kombinasi pengobatan. Stadium 3c : implant di abdoment dengan diameter > 2 cm dan atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif. Penegakan Diagnosa Medis Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. PENATALAKSANAAN Sebagian besar kanker ovarium memerlukan pengobatan dengan kemoterapi. apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). diameter melebihi 2 cm.Tumor terbatas dalam pelvis kecil tetapi sel histologi terbukti meluas ke usus besar atau omentum. 1. pemeriksaan CT-Scan/ MRI Pemeriksaan tumor marker seperti Ca-125 dan Ca-724. beta – HCG dan alfafetoprotein Semua pemeriksaan diatas belum bisa memastikan diagnosis kanker ovarium. begitu juga metastasis ke permukaan liver. G. akan tetapi hanya sebagai pegangan untuk melakukan tindakan operasi. dan kelenjar getah bening negativ. 3. Oleh karena itu.

nifas. relaksasi. frekuensi Kaji faktor lain yang menunjang nyeri. Perubahan citra tubuh dan harga diri b. hamil Pemeriksaan fisik Data psikologis/sosiologis–> reaksi emosional setelah penyakit diketahui 2.d agen cidera biologi 2.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran 3. perubahan kadar hormone 3. sistem saraf dan sistem kardiovaskuler. marah pasien Kolaborasi dengan tim medis dalam memberi obat analgesic Jelaskan kegunaan analgesic dan cara-cara untuk mengurangi efek samping Ajarkan klien strategi baru untuk meredakan nyeri dan ketidaknyamanan: imajinasi. Pengkajian Data diri klien Data biologis/fisiologis –> keluhan utama. riwayat keluhan utama Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat kesehatan keluarga Riwayat reproduksi –> siklus haid. Penatalaksanaan yang sesuai dengan stadium yaitu : Operasi (stadium awal) Kemoterapi (tambahan terapi pada stadium awal) Radiasi (tambahan terapi untuk stadium lanjut) H. fungsi hati.d agen cidera biologi Tujuan : Klien merasa reda dari nyeri dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan Intervensi : Kaji karakteristik nyeri : lokasi. fungsi ginjal. keletihan. durasi haid Riwayat obstetric –> kehamilan. sistem saluran cerna. Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b.Tujuan dan Intervensi Diagnosa 1 : Nyeri akut b.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran Tujuan : KLien dapat memperbaiki persepsi citra tubuh dan harga dirinya. Diagnosa Keperawatan 1. ASUHAN KEPERWATAN 1. kualitas. persalinan. Nyeri akut b. sistem saluran cerna.terhadap efeh samping kemoterapi secara berkala terhadap sumsum tulang. stimulasi kutan Diagnosa 2 : Perubahan citra tubuh dan harga diri b.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. Intervensi : Kaji perasaan klien tentang citra tubuh dan tingkat harga diri .

Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. protein. ex : menunda koitus seksual saat kelelahan Daftar Pustaka Brunner & Suddarth.Mengidentifikasi kepuasan/ praktik seksual yang diterima dan beberapa alternatif cara mengekspresikan keinginan seksual Intervensi: Mendengarkan pernyataan klien dan pasangan Diskusikan sensasi atau ketidaknyamanan fisik.blogspot.com/2009/03/askep-caovarium. Marilynn E. perubahan pada respons individu Kaji informasi klien dan pasangan tentang anatomi/ fungsi seksual dan pengaruh prosedur pembedahan Identifikasi faktor budaya/nilai budaya Bantu klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk berbagi pikiran/masalah dengan orang terdekatnya Berikan solusi masalah terhadap masalah potensial. Berkurangnya glikogenesis.Berikan dorongan untuk keikutsertaan kontinyu dalam aktifitas dan pembuatan keputusan Berikan dorongan pada klien dan pasangannya untuk saling berbagi kekhawatiran tentang perubahan fungsi seksual dan menggali alternatif untuk ekspresi seksual yang lazim Diagnosa 3 : Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b. 2001. B. EGC: Jakarta Donges. . makrivaskuler komplikasi dan neuropatik ( gangguan struktus dan fungsi ginjal).com/2008/12/21/asuhan-keperawatan-klien-dengan-kankerovarium/ http://akperppnisolojateng. arterisklerosis. perubahan kadar hormon Tujuan : -KLien menyatakan paham tentang perubahan struktur dan fungsi seksual.Rencana Asuhan Keperawatan. Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak kesulitan. EGC: Jakarta http://viethanurse. hiperglikemi dan perkembangan dari mikrovaskuler ( kental kapiler). Etiologi Penyakit gula dapat merupakan kelainan herediter dengan cara insufisiensi atau absennya insulin dalam sirkulasi darah.wordpress. 1999. lemak. penyakit ini akan . Pengertian Adalah penyakit kronik yang komplek yang dikarakterisasikan dengan gangguan metabolisme karbohidrat.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. konsentrasi gula darah tinggi.html ASKEP IBU HAMIL DENGAN DM TINJAUAN TEORI A.

c. Pre-eklamasi d. Pengaruh Diabetes Melitus Terhadap Kehamilan 1. Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi asfiksia sampai dengan lahir mati . Epidemitologi Gangguan Dm terjadi 2 % dari semua wanita hamil. D. Insufisiensi plasenta 3. Sering mengalami lahir mati. Pengobatan tidak memerlukan insulin cukup dengan diit saja. Kesalahan letak jantung e.menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal pada penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan. Hidronion c. muncul > 50 tahun. c) Diabetes Laten : Subklinis atau diabetes hamil. Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi. E. Pengaruh penyakit gula terhadap kehamilan di antaranya adalah : a. Pengaruh penyakit terhadap persalinan a. Gangguan kontraksi otot rahim partus lama / terlantar. Sering mengalami keguguran Glokusuria C. Sebaliknya diabetes akan mempengaruhi kehamilan dan persalinan. kejadian meningkat sejalan dengan umur kehamilan. b. 25% kemungkinan akan berkembang menjadi DM. Factor Predisposisi : Umur sudah mulai tua Multiparitas Penderita gemuk Kelainan anak lebih besar dari 4000 g Bersifat keturunan Pada pemeriksaan terdapat gula dalam urine Riwayat kehamilan : Sering meninggal dalam rahim. tetapi dapat diobati dengan insulin. Klasifikasi Diabetes Melitus a) Type I ( IDDM ) : DM yang berganyung pada insulin b) Type II ( NIDDM ) : Orang tidak bergantung pada insulin. persalinan dan nifas terhadap DM a. tetapi tidak merupakan kecenderungan orang dengan gangguan toleransi glokusa . uji toleransi gula tidak normal. Pengaruh kehamilan. DM akan menjadi lebih berat karena kehamilan 2. Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi manifes ( diabetik ) b. Abortus dan partus prematurus b.

2. d. anto rokok. f. diazoxida. Kemungkinan dibuktikan dengan : peningkatan haluaran urine. 5. gangren dan amputasi. 3. Tersier : Pendidikan tentang perawatan kaki. potensial penyakit saraf dan jiwa F. perawatan. 3. hemodialisa Total Nutrisi Parenteral Tube feeding Hyperosmolar Pembedahan Obat : Glukokortikoid. Abortus. Pencegahan Primer : untuk mengurangi obesitas dan BB. 1. takikardi. Sekunder : deteksi dini. Mudah terjadi infeksi post partum b. Agen Immunosupresive. cegah ulserasi. kacau mental. penurunan berat BB tiba-tiba. 1. e. ASUHAN KEPERWATAN Diagnosa Keperawatan Kekurangan volume cairan berhubungan dengan : Diuresis osmotik ( dari hiperglikemia ) kehilangan gastrik berlebihan : diare. Pemeriksaan optalmologist Albuminuria monitor penyakit ginjal Kontrol hipertensi. pelambatan pengisin . Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah menyebar Pengaruh DM terhadap bayi a. membran mokusa kering. 1. kontrol penyakit hipertensi. kelemahan. Terapi Dialysis : peritoneal. 5. urine encer. diuretic. prematur. Perdarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim. turgor kering. > usia kandungan 36 minggu b. Janin besar ( makrosomia ) c. Post partum mudah terjadi infeksi. dipenilhidonsion. haus. status metabolic dan diet rendah protein Pendidikan pasien tentang penggunaan medikasi untuk mengontrol medikasi G. 2. Dapat terjadi cacat bawaan. masukan dibatasi : mual. hipotensi.4. Bayi mengalami hypoglicemi post partum sehingga dapat menimbulkan kematian Pengaruh DM terhadap kala nifas a. 4. Agmen Beta Adrenergik Bloking. muntah.

Menunjukkan tingkat energi biasanya . turgor kulit baik. kelemahan. Kroteria Hasil : . ketidakmampuan mempertahankan rutinitas biasanya. . kelelahan. diare.Mencerna jumlah kalori / nutrisi yang tepat . Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi.Kurang energi yang berlebihan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan : .Status hipermetabolisme. Ilmu Kebidanan. perubahan kesadaran. lambung penuh.Mendemonstrasikan berat badanstabil atau penambahan ke arah rentang biasanya / yang diinginkan dengan nilai laboratrium yang normal. epenipren. 3. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. tonus otot buruk. Jakarta : EGC Prawiroharjo. Marilynn. 1976. dan hormon GH. Kelelahan berhubungan dengan : . Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. W. Patricia. DR.Melaporkan kemasukan makanan tak adekuat. mula. kurang nafsu makan. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. . Bandung : Elstar Offset.Penurunan masukan oral.kapiler. Doenges E. kecenderungan untuk kecelakaan. haluaran urine tepat secara individu. Jakarta : Widya Medika Ledewig. Geofferey. Rustam. Sarwono. 2005. 1984. Kajarta : EGC Mochtar. 2. Pelepasan hormon stress misal . Edisi I. Jakarta :EGC .Perubahan kimia darah . Kriteria hasil : mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan dengan tanda vital stabil. nyeri abdomen. dan kadar elektrolit dalam batas normal. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Penurunan BB .Ketidakcukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glokusa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein / lamak. Kemungkinan dibuktikan oleh : .Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. Kriteria hasil . nadi ferifer dapat diraba.Peningkatan kebutuhan energi : status hipermatabolik Kemungkinan dibuktikan dengan : .Penurunan produksi energi metabolik . Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Prof. insufisiensi insulin . anoreksia. 1989. penurunan kinerja.Mengungkapkan peningkatan energi . kortisol. 1994. Obstetri Patologi.

Yayasan Esentia Medika Heller.Manumba. Harry. Jakarta : EGC ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN PENYAKIT JANTUNG DAN HIPERTENSI . Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn. Ida Bagus. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Luz 1991. 1990. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . 1993.

A. KONSEP DASAR 1. Penyakit jantung Keperluan jani yang sedang tumbuh akan oksigen san zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan, yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Oleh krena it di dalam kehamilan selalu terjadi perubahan-perubahan pada system kardiovaskular yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologis. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan oleh : a. Hipervolumia : dimulai sejak kehamilan 28 minggu dan mencapai puncak pada 28-32 minggu, lalu menetap. b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran rahim. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung. Saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah : a. Pada kehamilan 32-36 minggu dimana volume darah mencapai puncaknya. b. Pada kala II wanita mengerahkan tenaganya untuk mengedan dan memerlukan tenaga jantung yang erat. c. Pada post partum,dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk dalam sirkulasi darah ibu. d. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi. Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan : a. Dapat terjadi abortus b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan. c. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah. d. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati. e. Kematian jani dalam lahir ( KJDL ) Klasifiksi penyakit jantung dalam kehamilan : - Kelas 1 : a. Tanpa pembatasan gerak fisik. b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa - Kelas II : a. Sedikit dibatasi kegiatan fsiknya b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfisiensi jantung. d. Gejalanya adalah lelah, palpitalis, sesak nafas, dan nyeri dada ( angin pectoris ). - Kelas III : a. Kegiatan fisik sangat dibatasi b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung. - Kelas IV : a. Waktu istirahat dapat menimbulkan keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik. Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat meningkatkan kelas

tersebut menjadi III atau IV, Faktor-faktor yang dapat pula mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya aritmia jantung, dan hipertropi ventrikuler dan erhan sakit jantung. 2. Hipertensi Hipertensi dalam kehamilan berarti bahwa wanita telah menderita hipertensi sebelum hamil, disebut juga sebagai pre eklamasi tidak murni seperti mposed preeklamsia bia diserta pula dengan proteinnuria dan edemia. Penyebab utama hipertensi dalam kehamilan adalah : a. hipertensi esensial b. Penyakit ginjal Menurut Sims ( 1970 ) penyakit hipertensi dan penyakit ginjal yang dengan hipertensi adalah sebagai berikut : 1. Penyakit hipertensi a. Hipertensi esensial : ringan, sedang, berat, ganas( progresif ) b. Hipertensi renovaskuler ( penyakit pembulu darah ginjal ) c. Kartisio aorta d. Aldosteronisme primer e. Feokromositoma 2. Penyakit ginjal dan saluran kencing a. Glomerulonefritis ( mendadak, menahun, sindomaneftrotik ) b. Pielonefritis ( mendadak, menahun, ) c. Lupus eritmatusus, dengan glomerulitis, dengan glomerulonefritis d. Skelodermo dengan kelainan ginjal e. Pariarteritis nodosa dengan kelainan ginjal f. Gagal ginjal mendadak g. Penyakit polikistik h. Nefropatia diabetic a. Hipertensi esensial Adalah penyakit hipertnsi yang mungkin disebabkan faktor heriditer dan dipengaruhi oleh faktor emosi dan lingkungan. Wanita hamil dengan hipertensi tidak menunjukkan gejala-gejala lain kecuali hipertensi. Terbanyak dijupai adalah hipertensi jinak dengan tensi sekitar 140/90 sapai 160/100 mmHg. Jarang berubah menjadi ganas secara mendadak sampai sistolik 200 atau lebih. Gejala-gejala seperti kelainan kantung, arteriskelorosis, perdarahan otak dan penyakit ginjal baru timbul setelah dalam waktu lama dan penyakit terus berlanjut. 1) Kehamilan dengan hipertensi esensial akan berlangsung normal sampai aterme. 2) Pada kehamilan setelah 30 minggu 30 % adakan menunjukkan kenaikan tekanan darah namun tanpa gejala. 3) Kira-kira 20 % akan menunjukkan kenaikan tekanan darh yang mencolok, bisa disertai dengan proteinnuria dan edema ( preeklamsia tidak murni ) dengan keluhan : sakit kepala, nyeri epigastrium, nyeri muntah, dan gangguan penglihatan ( visus ). b. Penyakit ginjal hipertensi Penyakit ginjal dengan gejala hipertensi dan dapat dijumpai pada wanita hamil adalah :

- Glomerulonefritis akut dan kronik - Pielonefritis akut dan kronik Pemeriksaan : - Pemeriksaan urine lengkap dan faal ginjal - Pemeriksaan retina - Pemeriksaan umum tekanan darah dan nadi - Kuantitatif albumin air kencing ( urin ) - Darah lengkap dan ureum berdarah - Dll B. Etiologi 1. Penyakit jantung - Hipervolumia - Pembesaran rahim - Demam rematik 2. Hipertensi - Hipertensi esensial - Hipertensi ginjal C. Tanda dan gejala 1. Penyakit jantung - Aritmia - Pembesaran jantung - Mudah lelah - Dispenea - Nadi tidak teratur - Edema pulmonal - Sianosis 2. Hipertensi - Edema - Nyeri kepala - Nyeri epigastrium - Muntah - Gangguan visus ( superimposed pre exlamsia ) D. Penatalaksanaan 1. Penyakit jantung Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada gerajat fungsionalnya : - Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan. - Kelas II : Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan. Kurangi kerja fisik terutama antara kehamilan28-36 minggu. - Kelas III : Memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya dirawat di RS sejak kehamilan 28 – 30 minggu.

Sirkulasi . 2.Peningkatan tekanan darah .Pengawasan pertumbuhan janin .Perubahan poksisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan uterus.Takikardia.Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal . Hipertensi a.Nadi mungkin menurun . . Aktifasi dan istirahat . dan trobositopenia. Hipertensi esensial .Malnutrisi .Obat penenang ( solusio charcot. Pengkajian data Dasar a. . Makanan dan cairan .Pengakhiran kehamilan ( dilakukan apabila terjadi upper imposed pre axlamsia.Obat hipotensif . disritmia .Obesitas .Diit rendah garam . Penyakit ginjal . hipertensi ganas ) b.Riwayat penyakit jantung congenital dan demam reuna .. perdarahan lama. .Mual dan muntah .Clubbing dan sianosis .kelas IV : Harus dirawat di RS dan dinerikan pengobatan bekerjasama dengan kardiolog. romatozin. Nyeri dan rasa nyaman Dapat mengeluh nyeri dada dengan tanpa paktivitas .Istirahat. .Dapat mengalami memar spontan.Diberikan obat hiptensif ( apabila tekanan darah sangat tinggi ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPERTENSI DAN PENYAKIT JANTUNG 1.Diabetes melitus .Dapat mengalami pembesaran jantungdan murmur diastolic dan pristolik kontinu .Dispenia nocturnal karena pengerahan tenaga b.Istirahat . palpitasi. Eliminasi Menurunnya keluaran urine d. phenobarbital ).Riwayat hipertensi kronis c. diazepam.Dapat mengalami edemia ekstrimitas bawah e.

penurunan aliran balik vena.Urine lengkaptes .Strees kontraksi .Seri ultrasonografi .Amniosentris . Kelebihan volum cairan berhubungan dengan peningkatan volum sirkulasi. peningkatan tahanan aliran darah sistemik.Pencitraan jantung radionukleutida .Tes cairan amniotikultrasonografi 2.Takipnea . Penurunan curak antung berhubungan dengan hipovolumia. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output. penurunan tekanan osmotic koloid pasma. disritmia. Pemeriksaan disgnostic . Pernafasan .Hb dan HT ( hemoglobin dan memoktorit ) .Krekle .Dispnea . Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan primer dan skunder. Kemanan Infeksi streptokokus berulang h.SDP ( sel darah putih ) . Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) berhubungan dengan kurangnnya informasi dan interpretasi yang salah. penyakit/kondisi kronis. 6. . Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan penyakit jantung : 1. perubahan kontratiktilitas miokard.Tes presor supnie .GDA ( gas darah arteri ) . perubahan faal ginjal. 2. 4. Kurangnnya volume cairan ( kegagalan regulasi ) berhubungan dengan kehilangan protein plasma. perpindahan cairan keluar intravaskuler.Ortopnea g. intake cairan yang berlebihan. 5. 2.Kratinin serum .f.Pernafasan mungkin kurang dari 14 x / menit .Hemoptisis .EKG ( Elektrodiograf ) .Echokardiograf . Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi. dan perubahan inotropik pada jantung. ruang pengetahuan tentang proses infeksi. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan hipertensi : 1.LED ( laju endap darah . b. 3. Diagnosa Keperawatan a. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi.

1993. abnormallitas factor pembekuan. 1990.3. Edisi I. Geofferey. DR. Bandung : Elstar Offset. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 1976. W. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn. 1984. Ilmu Kebidanan. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolumia. Kurangnya pengetahuan ( kebutuhan belajar berhubungan dengan kurangnya informasi dan pemahaman tentang proses penyakit. Resiko cedera berhubungan dengan edema / hipoksia jaringan. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Kajarta : EGC Mochtar. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. 2005. Sarwono. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Yayasan Esentia Medika Heller. Patricia. Jakarta :EGC Manumba. Luz 1991. Ida Bagus. Marilynn. Jakarta : EGC Prawiroharjo. Doenges E. Obstetri Patologi. 1989. Jakarta : EGC ASKEP IBU HAMIL DENGAN HYPERTIROID TINAJUAN TEORI . kejang. 1994. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. Harry. Jakarta : Widya Medika Ledewig. Rustam. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Nutrisi. 6. 5. Prof. 4. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat intake nutrisi. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi.

Kadang juga terjadi kehamilan atau timbul penyakit baru.Kenaikan BMR sampai 25 % .Partus prematurus . timbul dalam masa kehamilan.Konstipasi . 2.Kehamikan sering berakhir ( abortus habitualis ) . Penatalaksanaan . Pengaruh kehamilan terhadap penyakit Kehamilan dapat membuat strua tambah besar dan keluhan penderita tambah berat.Eksoftalmus .Pembesarankelenjar tiroid . kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid.Pemberian obbat-obat profiltluarasil dan metiazol dosis rendah .Aneroksia . Etiologi Hipertiroid : . Pengaruh penyakit terhadap kehamilan dan persalinan . Tanda dan gejala Hipertiroid : . 1. karena bahaya kemungkinan timbulnya dekompensasi kordis.A. Pasien dengan penyakit primer ini mungkin mengidap batu ginjal.Mual dan muntah .Hiperkinesis .Hiptonik obat D.Operasi tiroidektomi.Hiperfungsi kelenjar tiroid . Penderita hipertiroid biasanya mengalami gangguan haid ataupun kemandulan. penyakit tulang atau tanpa gejala. Kejadian penyakit ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umunya disebabkan oleh adenoma tunggal. B. lakukan pada trimester III .Peningkatan metabolism basal 15-20 % C.Lekas letih .Takikardia .Kala II hendaknya diperpendek dengan akstraksi vakum / forsial.Tremor . Konsep Dasar Hipertiroid pada kehamilan ( morbus basodowi ) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan naiknya metabolism basal15-20 %.Kesulitan dalam menelan .Pembesaran kelenjar tiroid .

1) Peningkatan tekanan darah 2) Tekanan nadi meningkat 3) Takhikardia 4) Aritmia 5) Berdebar-debar 6) Gagal jantung . 2) Erythema. 7) Tanda Rosenbach : tremor pada kelopak mata pada waktu mata menutup. Pemeriksaan Fisik : a.8o C → indikasi Krisis Tyroid. diet makanan kalsium 4 gelas susu / hari dapat dianjurkan. PENGKAJIAN 1. yang kemudian dioperasi untuk mengangkat adenomanya. ASUHAN KEPERAWATAN A. yaitu perubahan ujung jari → tabuh / clubbing finger disebut PLUMER NAIL. banyak keringat. 8) Tanda stelwag : mata jarang berkedip. Cardio vaskuler. karena jaringan orbita dan otot-otot mata diinfiltrasi oleh limposit. kemerahan.E. 4) Laktrimasi 5) Ortalmoplegia 6) Tanda Jefrey : kulit tidak dapat mengkerut pada waktu kepala sedikit menunduk dan mata melihat objek yang digerakkan ke atas. c. tetapi mungkin timbul hipokalsemia pasca bedah. Dalam kenyataan tetani neonatal sering membantu dalam memerlukan hiperparatiriodisme ibu. F. Kulit 1) Panas. 5) Kalau ada peningkatan suhu → lebih dari 37. b. 4) Ujung kuku/jari → terjadi Aerophacy. Kalau perlu dilakukan pemeriksaan kalsium berkala dan bila nyata harus dilakukan koreksi dengan kalsium glokonat 2-3 x 20 ml cairan 10 %. bila keluhan menjadi ringan. mixedema local. rusak. pigmentasi. halus. lembab. licin. Pembedahan adalah terapi yang dianjurkan. 2) Proptosis ( eksoptalmus ). Komplikasi dan Pengangan Kematian meningkat dan dapat mencapai 50 %. Mata ( Opthalmoptik ) 1) Retraksi kelopak mata atas → mata membelalak / tanda Dalrymple. 11) Tanda Molbius : kelemahan dalam akomodasi / konvergensi mata / gagal konvergensi. 3) Iritasi Conjunction dan Hemosis. 10) Tanda Van Graefe : kelopak mata terlambat turun dibandingkan boa mata. 9) Tanda Dalrymple : retraksi kelopak mata bagian atas sehingga memberi kesan mata membelalak. mengkilat. Pengaruh Kehamilan Terhadap Penyakit Kehamilan dapat membuat struma tambah besar dan keluhan penderita bertambah berat. 3) Kuku → terjadi onycholosi → terlepas.

Penurunan potensi k. menangis tanpa sebab 2) Iritabilitas 3) Perubahan penampilan i. Status reproduksi 1) Pada wanita : a. Leher 1) Teraba adany apembesaran tyroid ( goiter ). Otot 1) Kekuatan menurun 2) Kurus 3) Atrofi 4) Tremor 5) Cepat lelah 6) Hyperaktif refleks tendom g. Respirasi 1) Perubahan pola nafas 2) Dyspnea 3) Pernafasan dalam 4) Respirasi rate meningkat e. 2) Polidipsi ( rasa haus berlebihan → banyak minum ) j. Kehilangan libido b. Hypomenorrhoe b. Status mental dan emosional 1) Emosi labil → lekas marah.d. 2) Diare → bising usus hyperaktif 3) Enek 4) Berat badan turun f. Gastrointestinal 1) Poliphagia → nafsu makan meningkat. . Status ginjal 1) Polyuri ( banyak dan sering kencing ). Amenorrhoe Karena kelenjar tyroid mempengaruhi LH 2) Laki-laki : a. Sistem persyarafan 1) Iritabiltas → gelisah 2) Tidak dapat berkonsentrasi 3) Pelupa 4) Mudah pindah perhatian 5) Insomnia 6) Gematar h.

diaporesis. mual. 2. Berikan lingkungan dengan pengunjung yang cocok bila pasien yang menginginkannya. hypertiroid > 8 g. g. Kaji efektifitas pengobatan untuk mengatasi mual dan nyeri abdomen. Timbang pasien setiap hari. c. Hindari stimulan : kopi. j. Kaji efektifitas selimut hipetermia bila dilakukan : . b. T4 4-11 g ) b. nyeri abdomen dan atau peningkatan BMR ditandai dengan BB turun. 2. i. Pantau masukan diet tinggi kalori. tingkat kesadaran. Hasil yang diharapkan / evaluasi : Berat badan meningkat sampai batas yang normal bagi pasien : makan diet yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen . DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. halyaran urine setiap 2 sampai 4. BMR meningkar e. Hipetermia yang berhubungan dengan status hipermetabolik ditandai dengan panas. Konsulkan pasien untuk makanan yang disukai. hindari jus yang mungkin dapat menyebabkan diare. Tawarkan makanan dalam jumlah kecil tapi sering dan tambahan diantara waktu makan. h. e.5oC – 37. Intervensi : a. the.5oC. Tujuan : suhu normal 36. tinggi vitanin B.2) Briut ( + ). tidak mengalami diare. c. tinggi protein. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan diare. masukan dan haluaran seimbang. hypertiroid < g) B. Tyroid → radio aktif iodine up take ( RAIU ) meningkat ( Normal: 10-35 % ) d. pada waktu yang sama dengan timbangan dan pakaian yang sama. Berikan dorongan untuk memperbanyak minum 2 sampai 3 liter setiap hari .tidak yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen.Lakukan tindakan untuk mencegah kerusakan kulit. d. cola. Tingkatkan masukan cairan sampai 2500 ml / hari. a. e. Pantau masukan dan haluaran setiap 8 jam. Gunakan pakaian dan linen tempat tidur yang tipis. atau makanan yang lain yang mengandung kafein atau teobromin yang meningkatkan perasaan kenyang dan paristaltik. Berikan kompres hangat sesuai kebutuhan. Berikan asetamenofen sesuai pesanan ( aspirin merupakan kontra indikasi ) f. Intervensi . b. f. Pertahankan lingkungan yang sejuk. Pemeriksaan Diagnostik a. Hindari makanan dengan jumlah yang banyak serat atau makanan yang banyak mengandung bumbu. Tujuan : nutrisi adekuat. tinggi karbohidrat. Serum T3 dan T4 meningkat ( Normal : T3 :8 – 16 g. . Pantau tanda vital. g. d. PBI meningkat ( Normal :4 g – 8 g. TSH serum menurun c.

Rencanakan perawatan bersama pasien. Meminta bantuan hanya ketika membutuhkan. Biarkan pasien membuat priorotas dalam perawatan di dalam keterbatasanna. 2) Konsisten dalam waktu dan saat melakukan prosedur atau aktifitas. 3. h. c. d. e. Berikan jarak waktu antara prosedur untuk memungkinkan waktu istitrahat yang cukup. tenang. gugup. Pasien sadar dan responsif b. Batasi akatifitas sampai tingkat toleransi pasien dengan melakukan pangkajian respon ( mis : kaji tanda vital selama melakukan aktifitas dan bandingkan dengan tanda vital dasar ). 1) Atasi lingkunangan yang terlalu berisik. Tujuan : tidak terjadi perubahan proses pikir. Tujuan : Aktifitas dapat dilakukan sesuai toleransi. Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi dan orang : berikan penekanan bahwa hal tersebut tepat adanya. Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa bukti-bukti intoleran. Intoleran aktivitas yang berhubunagan dengan ketiddakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan karena peningkatan kecepatan metabolisme dan intoleransi terhadap panas ditandai dengan kelemahan. peka rangsang. kebutuhan lain untuk mencegah penggunaan energi yang berlebihan oleh pasien sebelum aktivitas. keletihan. Berikan peralatan yang dibutuhkan. tanpa stress. Kolaborasikan dengan dokter dalam menggunakan tindakan pendinginan tambahan bila keadaannya membutuhkan. g. 3) Batasi pengunjung sesuai kebutuhan. b. orientasi. Bantu pasien saat melakukan aktifitas yang tidak mampu dilakukan karena kelemahan atau tremor. Rencanakan aktifitas setiap hari dan pola istirahat yang dapat memudahkan meningkatan toleransi untuk perawatan diri. berikan penjelasan yang jelas dan singkat. Berikan lingkungan yang stabil. f. b. Intervensi : a. Hentikan aktifitas pada awal timbulnya gejala intoleran : dispnea. 4. Kaji tingkat kesadaran. Intervensi : a. c. Kaji tanda vital dasar dan tingkat aktivitas sebelumnya. Perubahan proses fikir yang berhubungan dengan peningkatan rangsangan sistem saraf simpatis oleh tingginya kadar hormon tiroid ditandao dengan labil. afek dan persepsi setiap 4 jam sampai 8 jam : laporkan adanya perubahan negatif. b. 5) Cegah situasi yang menimulkan kemarahan emosional bila memungkinkan d. takikardia. takipnea. Hasil yang diharapkan / evaluasi : a. Hasil yang diharapkan /evaluasi : a.h. Tanda-tanda vital dan haluaran urine normal. dan tidak merangsang. . 4) Hindari pergantian personel yang sering.

Menggunakan teknik reduksi stress ASKEP TOKSEMIA GRAVIDARUM . Berikan aktifitas yang menghibur dan benda-benda yang menurunkan rangsangan . h. Antisipasi kebutuhan akan pencegahan reaksi hiperaktif. kalender. i. Pasien berorientasi b.e. Hasil yang diharapkan : a. hindari hal-hal yang membutuhkan manipulasi motorik halus. Ajarkan teknik menurunkan stress dan kaji penggunaannya oleh pasien. gambar-gambar yang dikenal pasien dan sebagainya ). Informasikan pasien bahwa aktifitasnya mungkin dibatasi. g. Berespon sesuai terhadap situasi dan orang c. Orientasikan kembali pasien pada lingkungan sesuai dengan yang dibutuhkan dan berikan petunjuk yang mengorientasikan ( misalnya : jam. j. f. Panyau terhadap reaksi buruk terhadap pengobatan.

ruptur spontan hati yang mengakibatkan perdarahan intra peritoneal dan syok memerlukan tindakan bedah darurat. dan ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun Ibu hamil yang sebelum kehamilannya memiliki penyakit darah tinggi atau penyakit ginjal Patofisologi Preeklamsia dapat membuat plasenta tidak mendapatkan darah dalam jumlah yang cukup. tapi resiko utama terjadinya pre-eklamsi adalah abrupsio plasenta. . sedangkan tanda-tanda inflamasi tidak ada.TINJAUAN TEORI Pengertian Preeklamsia (toksemia gravidarum) adalah suatu kondisi dimana tekanan darah meningkat selama masa kehamilan. meskipun jarang terjadi. yait karena koagulasi intravaskuler (DIC) dengan hemolisis dan nekrosis hati Gambaran histopatologis menampakkan adanya trombi fibrin dalam sinusoid di periportal disertai tanda-tanda perdarahan serta nekrosis. Umumnya tidak ada pengobatan khusus terhadap kelainan faal hati yang terjadi pada toksemia gravidarum. dan protein bisa ditemukan dalam urin anda. Keadaan ini dapat disertai kelainan faal hati berupa kenaikan kadar fosfatase alkali dan transaminase dalam serum. Tanda dan Gejala 1. 2. 4. Bila tekanan darah anda meningkat. hanya terjadi pada keadaan berat. Bila plasenta tidak mendapatkan cukup darah. ibu hamil usia remaja. Etiologi Penyebab dari Toksemia Gravidarum sampai saat ini tidak diketahui. maka bayi anda tidak akan mendapatkan cukup oksigen dan makanan. Perdarahan intrahepatik dan subkapsuler menimbulkan keluhan nyeri epigastrik atau nyeri perut kuadran kanan atas. tubuh anda menahan air. sedangkan ikterus jarang timbul. Faktor Resiko Resiko tinggi mengalami preeklamsia adalah : Baru pertama kali hamil Ibu hamil yang ibunya atau saudara perempuannya pernah mengalami preeklamsia Ibu hamil dengan kehamilan kembar. terminasi kehamilan akan memperbaiki keadaan klinis dan histopatologisnya. 3. Hal seperti ini juga disebut sebagai toxemia atau pregnancy induced hypertension (PIH). Ini dapat mengakibatkan kelahiran dengan berat badan rendah.

retensi air. Hemolisis (penghancuran sel darah merah) 2. Preeklamsia berat : sakit kepala. napas pendek dan cenderung mudah cedera. juga dikatakan menderita pre-eklamsi. bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklamsi. edema menjadi lebih umum. Tekanan darahpun meningkat lebih tinggi. pandangan kabur. protein dalam urin 2. jika terjadi sindroma hellp. mual/muntah. Sindroma hellp cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklamsi tertunda. Komplikasi Komplikasi utama dari pre-eklamsi adalah sindroma hellp. sedikit buang air kecil (BAK). dan proteinuria bertambah banyak. Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati) 3. Pemeriksaan Penunjang Penlaian Keadaan Ibu Klinis . mual atau muntah-muntah Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklamsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklamsia akan timbul. penglihatan kabur. sakit di perut bagian kanan atas. jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi. diikuti edema. bayi segera dilahirkan melalui operasi sesar. diplopia. yang terdiri dari: 1. skotoma. hipertensi dan akhirnya proteinuria. Klasifikasi 1. Pada preeklamsia ringan tidak ditemukan gejal-gejala subyektif. Gejala-gejala dari pre-eklamsi adalah: tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm hg wajah atau tangan membengkak kadar protein yang tinggi dalam air kemih. Preeklamsia ringan : Tekanan darah yang tinggi.Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm hg. Pada preeklamsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal. nyeri di daerah epigastrium. 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah). Manifetasi Klinis Biasanya tanda-tanda preeklamsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan. kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklamsi. kelelahan. tidak dapat melihat cahaya yang terang. bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur.

hubungan TD dgn CVA. Sering melakukan pemeriksaan sebelum kelahiran 3. ptekie Hepatik: nyeri kw kanan atas & epigastrik. somnolen o Mual & muntah Hematologi: edema. dokter anda mungkin akan mengobatinya dengan memberikan obat-obat untuk menekan tekanan darah sampai perkembangan bayi anda cukup untuk dapat dilahirkan dengan selamat. Antasida. asam urat Penilaian Keadaan Janin Gerakan ( > 10x / 24jam ) DJJ USG untuk perkembangan Profil biofisik Indeks cairan amnion Pemeriksaan doppler arus darah: tali pusat Penatalaksanaan Keperawatan 1. Fibrinogen. o Gg penglihatan-buta.TD: derajat keparahan. APTT. 2. Antihipertensi: a. Min. Minum 8 gelas air per hari Penalataksanaan Medis 1. kabur. Mengurangi makan garam 4. iritabilitas. bukan kejang SSP: Keparahan sakit kepala. berbaring pada sisi kiri tubuh agar janin anda tidak menindih urat darah. mual & muntah Ginjal: output & warna urin Penilaian Keadaan Ibu lab Hematologi: o Hb. hiperaktif. FDP o LDH. AT o PTT. Bila anda mengidap preeklamsia berat. urea. 2. Istirahat. perdarahan. SGPT. asam urat Hepatik: o SGOT. Nyeri subhepatik: Morfin 2-4 mg iv. Mual & muntah: antiemetik 3. o Tremor. Minimalkan palpasi 4. LDH Glukosa Ginjal: o Proteinuria o Kreatinin. risiko CVA pd ibu .

Gunakan sedikit garam atau sama sekali tanpa garam pada makanan anda Minum 6-8 gelas air sehari Jangan banyak makan makanan yang digoreng dan junkfood Olahraga yang cukup Angkat kaki anda beberapa kali dalam sehari Hindari minum alcohol Hindari minuman yang mengandung kafein Dokter anda mungkin akan menyarankan anda untuk minum obat dan makan suplemen tambahan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. terus menerus. berat badan diperiksa tiap hari. . Mendapat waktu u/ penilaian lbh lanjut: memperpanjang kehamilan &persalinan pervaginam jk mungkin Pencegahan Sampai saat ini. Ikuti instruksi dokter anda mengenai diet dan olahraga. Max. Ada faktor-faktor yang dapat penyebab terjadinya tekanan darah tinggi yang dapat dikontrol. kondisi ibu u/ persalinan yg aman c. air kencing. pemeriksaan umum.b. ada juga yang tidak. tidak ada cara pasti untuk mencegah preeklamsia. dan edema dicari terutama pada daerah sacral Balans cairan ditentukan tiap hari Funduskopi dilakukan pada waktu penderita masuk rumah sakit dan kemudian tiap 3 hari Keadaan janin diperiksa tipa hari dan besarnya dinilai Penderita diingatkan untuk segera memberitahukan apaabila sakit kepala. pemeriksaan obstetrik. atau menderita gangguan dalam penglihatan. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. merasa mual. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. merasa nyeri di daerah epigastrium. dan pemeriksaan laboratorium rutin Tekanan darah. saling berkaitan dan dinamis Pengkajian Anamnesis. menentukan cara pemecahannya.

Monitor hasil lab yang meningkat keseimbangan berhubungan dengan volume cairan. retensi cairan dengan kriteria (peningkatan hasil: BUN.5-7 Dapat mengambil gr per hari dan 6-8 tindakan lebih dini gelas air perhari Untuk menurunkan Anjurkan klien untuk tekanan darah istirahat dengan posisi Untuk mencegah lateral rekumben kiri kejang (eklamsi) Ajarkan klien tandatanda bahaya preeklamsi dan segera melaporkan jika hal itu terjadi . output cairan yang retensi cairan pengaturan klien akan akurat sehingga BB memiliki .Edema ekstremitas berkurang 2 Pantau tanda dan Mengurangi edema gejala adanya yang terjadi preeklamsi Meningkatkan Anjurkan klien untuk aliran plasma ginjal diet tinggi protein dan perfusi dengan asupan plasenta natrium sedang 2.Tidak terjadi kejang .Tanda-tanda vital hematokrit) dbn . Kelebihan volume cairan b/d gangguan mekanisme pengaturan 3.Pertahankan balance cairan b/d gangguankeperawatan pencatatan intake dan Pada edema terjadi mekanisme selama x24 jam.penurunan .Monitor tanda-tanda .Kolaborasi pemberian obat anti kejang sesuai indikasi Kelebihan Setelah dilakukan Fluid Manajement: Mempertahankan volume cairantindakan .Diagnosa Keperawatan 1.Kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai indikasi . PK: Preeklamsi 2. perawat dapatmeminimalk an komplikasi preeklamsi yang terjadi dengan kriteria hasil: . Perfusi jaringan perifer tidak efektif b/d peningkatan tekanan darah Rencana Keperawatan N O 1 DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL PK: PreeklamsiSetelah dilakukan tindakan keperawatan.Tanda-tanda vital dbn .

3 .org www.Anjurkan klien untuk pada bony . Walaupun kecil.Lakukan penimbangan .id PREMATUR KEHAMILAN DEFINISI Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba.Pertahankan hidrasiMelancarkan perifer yang yang adekuat peredarah darah efektif dengan .americanpregnancy. bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal. .web.Nadi perifer vital teraba .Intake dan berat badan setiap output 24 jam hari seimbang .Rendahkan peningkatan peningkatan klien memiliki ekstremitas viskositas darah tekanan darah perfusi jaringan .Tidak ada edema perifer Perfusi Setelah dilakukan Circulatory Care Meningkatkan jaringan tindakan .sehatgroup.Evaluasi edema danaliran darah perifer tidakkepaerawatan nadi perifer Mencegah efektif b/dselamax24 jam.Kolaborasi pemberian .Berat badan diuretik sesuai stabil indikasi . Bayi prematur adalah Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran.Tidak ada edema memungkinkan perifer DAFTAR PUSTAKA Pregnancy Induced Hypertension (PIH): Preeclampsia or Toxemia http://www. 1998 : 221).Capillary refilll ≤ output dan penekanan 2 dtk . Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan.Nadi perifer latihan sesuai prominen distal dan kemampuan proksimal kuat .Monitor status cairan Melancarkan kriteria hasil: meliputi intake dan peredaran darah .Warna kulit dbn setiap 2 jam jika . ini berbeda dengan .Ubah posisi pasien .

Kurang gizi 4. Eastman = kausa prematur 61. Infeksi pada vagina aseden (naik) menjadi amnionitis Sedangkan menurut Mochtar (1998 : 220). 3.Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi 10. Anemia. 5. alkohol. BB ibu sebelum hamil. kawin sah 13 %prematur . 3. faktor yang mempengaruhi Prematuritas adalah sebagai berikut: 1. pre-eklampsia. placenta previa. Kelainan kongenital rahim: 7. 8. walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur. toxemia. Bakteriura (infeksi saluran kencing ) 3.Kondisi umum 2. Umur ibu. Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang. dan sewaktu hamil 4. 7. 2. sosial ekonomi 2. janin kembar. Kehamilan dengan perdarahan antepartum pada solusio plasenta. dengan lebih dari 10 batang/ hari.prematur. temperatur tinggi.9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui) 2. Keadaan sosial ekonomi rendah 3. Kehamilan dengan ketuban pecah dini: terjadi gawat janin. Perokok berat. suku bangsa. 6. Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun. 4. merokok dan caffeine Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya persalinan preterm diantaranya: 1. 1998 : 219 ) Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan preterm Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :Menurut Manuaba (1998 : 221) 1. plasenta previa. abruption placenta. Kawin dan tidak kawin: Tak syah 15 % prematur. Kehamilan dengan hidramnion. malnutrisi dan diabetes mellitus. pecahnya sinus marginalis. Penyakit ibu yang menyertai kehamilan seperti hipertensi. amputasi serviks. Kelainan anatomi rahim 5. Penyulit kebidanan 9. ganda. 6. incompetence cervical. Holmer = sebagian besar tidak di ketahui.( Mochtar . Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui). Keadaan rahim yang sering menimbulkan kontraksi dini : Serviks inkompeten karena kondisi serviks. ETIOLOGI Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui : 1.

2. Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. kehamilan ganda. infeksi vagina dan serviks. penyakit jantung 7. kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin : 1. Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil berat 9. Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm . Kelainan Bawaan Uterus Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten. Ketuban Pecah Dini 3. infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah. toksemia gravidarum. solusio plasentae. Keadaan dimana bayi terpaksa dilahirkan prematur. riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya . Anemia. misalnya pada plasenta praevia. Kondisi Yang Menimbulkan Kontraksi Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan. dan lain-lain.5. Hidramnion. Serviks Inkompeten 5. 4. Jarak antara persalinan yang terlalu rapat 8.5 kg) • Kulitnya tipis. Prenatal ( antenantal ) care 6. terang dan berwarna pink (tembus cahaya) • Vena di bawah kulit terlihat (kulitnya transparan) • Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput • Rambut yang jarang • Telinga tipis dan lembek • Tangisannya lemah • Kepala relatif besar • Jaringan payudara belum berkembang • Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan) • Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk • Pernafasan yang tidak teratur • Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit ( anak laki – laki ) • Labia mayora belum menutupi labia minora ( pada anak perempuan). atau kehamilan ganda GEJALA Gambaran fisik bayi prematur: • Ukuran kecil • Berat badan lahir rendah (kurang dari 2.

( Oxorn. Pencegahan Persalinan Preterm Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut : Hal – hal yang dapat dicegah 1. Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek. 1. Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami konisasi. Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum. . Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi. Kehamilan Ganda 7. Kantongϖ ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar. Kelahiran presipitatus dan yangϖ tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur.. Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau. Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu. 2. 2. Prinsip Penanganan. Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial. 2002 : 302 ). Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam. Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan.inkompeten. Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar. al. Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat. 6. 2003 : 588 ). Episiotomi mengurangi tekananϖ pada cranium bayi. Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran. Menurunkan atau mengobati Anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi. Kelahiran Prematur Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat. 2.. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan.( Wiknjosastro et. Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran. ( Saifuddin et. 2002 : 313 ) Penanganan Persalinan Preterm Penanganan Umum 1.al.

Vaktor Ovum. analisis feses dan lain sebagainya. 3.Kardiovaskular . 4.Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ .Kadar kalsium serum.Integumen .Renal .Muskuloskeletal .Pulmonary . analisa gas darah. Suku bangsa. urinalisis. kultur darah. 1. Plasenta previa. Diagnosa keperawatan Dx. 6. Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).Reproduksi 4. 8. Hamil ganda. 2.Neurologik .3.Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa . 9. penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia .X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas . 1998 : 220 ). 1.Riwayat kehamilan 2. ASKEP PREMATUR KEHAMILAN Pengkajian 1. 5.Status bayi baru lahir 3. Insersi tali pusat.Data penunjang . Congenital anomaly. 7. Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan) ( Mochtar. Hal – hal yang tidak dapat dicegah .Pemeriksaan fisik secara head to toe meliputi : .Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia) . Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat. Resiko tinggi disstres pernafasan berhubungan dengan immaturitas paru dengan penurunan produksi surfactan yang menyebabkan hipoksemia dan acidosis . golongan darah.Gastrointestinal . Tempat insersi plasenta.Kadar elektrolit.

Resiko hipotermia atau hipertermia berhubungan dengan prematuritas atau perubahan suhu lingkungan Dx. serta kehilangan kalori. yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir. Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. 2.H. Dx. 8. dan pascamaturitas. dan kalsium dan kehilangan cadangan glikogen karena metabolisme rate yang tinggi. St. harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas. Nelson. 2000. 3. Louis Missouri. Dx. auditory. 1990. L. Edisi 4 EGC. taktil dan olfaktory berhubungan dengan stimulasi yang kurang atau berlebihan pada lingkungan intensive care Dx. Markum. Jakarta. Donna. Defiensi nutrisi berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen. 5. Wong. efek fototherapy atau kehilangan melalui kulit atau paru. kehamilan postterm. Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing. gustatory. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan imaturitas. suatu kondisi antepartum. tidak adekuatnya intake kalori. atau 280 hari setelah ovulasi. antara lain kehamilan memanjang. 4. Jakarta. Gangguan sensori persepsi : visual. kehamilan lewat bulan.A. 7. zat besi. 1991.2007) .Fourth Edition.volume 2 Edisi 15. Pengertian Kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu.Dx. ( Varney Helen. jilid I. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rapuh dan imaturitas kulit Dx. 6. Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant yang sakit di rumah DARTAR PUSTAKA Klaus & Fanaroff. radiasi lingkungan. 1998. Penata Laksanaan Neonatus Resiko Tinggi. kinestehetik.Mosby-Year Book Inc.Jakarta.Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imaturitas imunologik bayi dan kemungkinan infeksi dari ibu atau tenaga medis/perawat Dx. EGC. Ilmu kesehatan Anak. POAT MATUR KEHAMILAN A .FKUI. Kehamilan lewat bulan.

Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. 1999). Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian besar induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu berdasarkan hitungan dengan USG.Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu.Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi.ubah. kemudian menurun setelah 42 minggu. 15% postpartum C. terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar. Namun kurang lebih 18 % kehamilan akan berlanjut melebihi 41 minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu bergantung pada populasi dan kriteria yang digunakan. 55% intrapartum. B . Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah . Prognosis Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan bila lebih dari 41 minggu karena angka mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat setelah usia 40 minggu. Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum diketahui hingga kini. Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih berubah.Jika Tp telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan. Selain itu. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Etiologi Etiologinya msih belum pasti. Faktor yang dikemukakan adalh hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan. Rustam.Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG yang makin banyak digunakan. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Meskipun insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah. kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu. Akibatnya induksi yang menjadi bersifat relatif. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum.

tetap dan ada yang berkurang. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil.Rustam. maka sel – sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. Apabila diambil batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3. Penatalaksanaaan aktif pada bagi AGA dengan lebih bulan kenyataan dapat mengubah hasil positif yang diingunkan. baguan proksimal tibia. D . (Varney. 2007) Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10. Clausson et al Menegaskan bahwa odds ratio untuk kematian perinatal untuk bayi AGA tidak berbeda signifkan pada bayi post term. 5. dan mortalitas. angka penatalaksanaan anestesia epidural. diagnosis tidak sukar. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar.kematian tersebut. Pengaruh terhadap Ibu dan Janin · Terhadap Ibu Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena (a) aksi uterus tidak terkoordinir (b). kulitb ketuban akan bercmapur lemak dari sel sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. · Terhadap janin Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dri kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. kesalahan letak.4 – 12%. . gerkan janin dan jumlah air ketuban.4 -4% ( Mochtar. Janin besar (c) Moulding kepala kurang. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat pusat penulangan pada bagian distal femur. 2. distosia bahu dan perdarahan postpartum. Maka akan sering dijumpai : partus lama. inersia uteri. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas. persalinan sesar. Helen. Namun bagi SGA mempunyai odds ratio 10.8 atau lebih. tulang kuboid diameter biparietal 9. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabiil dengan amniosenteris baik transvaginal maupun transabdominal. 3. sesudah kehamilan 42 minggu. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya.5 pada lahir post term. Hanya dengan pemeriksaan antenatal yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan diagnosis. Pemeriksaan Penunjang 1. USG : ukuran diameter biparietal. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil. 4.1998) Kesepakatan yang ada adalah bahwa resiko mortalitas perinatal lebih tinggi pada IUGR atau bayi SGA daripada AGA lewat bulan.

Sebelum ada metode yang diterima untuk induksi persalinan seksio sesariamerupakan satu-satunya cara yang dapat diterima untuk mengatasi maslaah ini. volume cairan amnion. Penatalaksanaan antisipasi-antisipasi kesejahteraan janin dengan meningkatkan pengkajian dan intervensi jika hanya terdapat indikasi. Secara umum metode induksi yang paling efektif adalah dengan meningkatkan denyut jantung janian dan hiperstimulasi pada uterus. Keputusan untuk mempercepat persalinan harus selalu ditetapkan dengan membandingkan resiko dan manfaat masing masing penatalaksanaan tersebut. Variabel yang sangat memberatkan adalah usia gestasi janin. riwayat kebidanan sebelumnya. 2. kesejahteraan janin. atau keduanya) . karena term yang berkembang cenderung mempertimbangkan usia kehamilan sebagai suatu rangkaian yang kontinu. sonogram. karena insufiensi plase 8. Para klinisi sejak lama menyadari perlunya mempercepat persalinan jika terdapat kondisi obstetri dan medis yang mengancam ibu dan janin.Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu 6. dengan pertimbangan kondisi janin yang cukup baik / optimal. Pemeriksaan sitoloi vagina E . pilihan wanita yang bersanngkutan. antara lain: Pertimbangan kesiapan serviks ( skor bishop). mengawasi dan membaca denyut jantung janin. Ada berbagai variasi kemungkinan penatalaksanaan antisipasi dan penatalaksanaan aktif. 9. perkiraan berat badan janin ( dengan manuver leopot. melihat derajat kekeruhan air ketuban. Penatalaksanaan Medis Dua prinsip pemikiran : 1. Penatalaksanaan aktif versus penatalaksanaan antisipatif tergantung reabilitas kriteria yang digunakan dalam menentukan usia kehamilan. Penatalaksanaan aktif-induksi persalinan pada semua wanita yang usia kandungannnya melebihi 42 minggu.. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin 10. Kardiotografi. 7.Melebihi 10% = kehamilan diatas 36 minggu . hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan. Amnioskopi. Uji oksitosin ( stress test). menurt warnanya karena dikeruhi mekonium. Jika ternyata reaksi janin kurang baik. dan metode induksi sesuai pertimbangan. status medis ibu. Pemeriksaan pH darah kepala janin 11. . yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus.

Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42 minggu 1. Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan. Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume. dokumentasikan rencana yang disepakati ( 40+ minggu) 3. . cairan bercampur. IUGR menjelang usia cukup bulan f. Induksi persalian dikaitkan dengan peningkatan anastesia epidural dalam seksio sesaria untuk wanita primigravida yang usia kehamilanyya lebih dai 41 minggu dan taksiran berat jain 3800 gram atau lebih. c. 6. APV) dua kali dalam seminggu. Preeklamsi yang cukup parah menjelah cukup bulan d. Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test. infeksi dan perdarahan sangat mengejutkan bagi masyarakat awam. 4. praktik induksi telah banyak meningkat selama satu dekade terakhir. Diabetes dependent e. seksio sesaria. NST) dua kali dalam seminggu. Hasil uji janin meragukan ( skor profil biosfik rendah) b. Namun walaupun banyak pihak yang menentang induksi persalinan dan tidak adanya standardisai kriteria. kehamilan lebih bulan akan meningkatkan resiko lahir mati. Riwayat lahir mati pada kehamilan cukup bulan. Indikasi untuk induksi persalinan mencakup hal – hal : a. Pada kenyataannya induksi persalian meningkatkan resiko distress janin.Induksi persalinan juga diperkirakan komplikasinya. Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST yang nonreaktif atau APV yang randah. Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan karena tidak alami dan dapat meningkatkan bahaya. Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat diandalkan mulai penanganan aktif mengacu pada protokol.Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4 minggu ( 40+minggu) 2. yang dimulai saat kehamilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. Penatalaksanaan aktif pada kehamilan leat bulan : Induksi persalinan Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan lewat bulan. Oligohidramnion. yang dimulai saat kemilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. distosia bahu jika janin makrosomia. 5. mekonium sindrom aspirasi mekonium pada neonatus.

keberhasilan induksi persalinnan setelah servik matang dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama oksitosin. peregangan servik secara mekanis). antagonis reseptor progesteron) ( disetujui FDA untuk aborsi trimester pertama.5 mg deng diberika intraservik ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1993) 3. stimulasi payudara. Dengan catatan servik sudah matang.Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist. Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin sejak tahun 1970-an. dan cara pemberian dan waktu pemberian untuk semua metode hingga kini masih dalam penelitian. Mifepriston 9 RU 486. namun peran servik sangat penting yang aktivitasnya tidak sepenuhnya dipengaruhi uterus. • Metode non hormon Induksi persalinan 1. Misprostol 1) Merk dagang cytotec. bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200 mg untuk diberikan per oral. Pemisahan ketuban Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya memisahkan membran amnion dari bagian servik . Oksitosin yang digunakan melalui intravena ( atas persetujuan FDA untuk induksi persalinan ). dan prostaglandin terbukti lebih efektif sebagai agens yang mematangkan seriks dibanding oksitosin. 2. hasil yang diharapkan dari induksi persalinan adalah “ ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah kontraksi distimulasi sebelum persalinan spontan terjadi”. bukan untuk induksi) b. • Metode hormon untuk induksi persalinan : 1. Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan ( misalnya minyak jarak. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan intravagina ( disetujui FDA untuk mencegah ulkus peptikum. Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik dari oksitosin namun kombinasi keduanya menunjukkan hal yang positif. tersedia dalam dosis 10 mg yang dimasukkan ke vagina ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1995) 2) Merk dagang predipil. Pengaturan dosis. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk jel 0. Untuk menghasilkan persalinan yang aman. a. Dinoproston 1) Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2. memiliki kisaran keberhasilan secara beragam dan atau sedikit penelitian untuk menguatkan rekomendasinya. Meski metode induksi sekarang diutamakan pada induksi kontarkasi uterus.

Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun. 4. Penangannya dengan menstimulasi selama 15 menit diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam sebanyak 3 kali perhari. maupun plasenta previa. posisi yang tidak diketahui. dan letak bagian bawah. Beberapa usapan biasanya eektif untuk menstimulasi kontaksi awal reguler dalam 72 jam. Pompa Payudara dan stimulasi puting. 6. Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna. . namun hingga kini masih belum ada studi prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini. Amniotomi Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). 2. melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan membaran. pembukaanm posisi. Minyak jarak Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada kehamilan cukup bulan. Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu. 5. 3. Beberapa uji klinis membuktikan bahwa teknik ini sangat efektif. Kateter forey atau Kateter balon. Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian ballon di isi udara 25 hingg 50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. Aktifitas seksual. pembukaan dan posisi lazimnya.. Pemisahan memban servis tidak dilakukan pada kasus – kasus servisitis.yang mudah diraih dan segmen uterus bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam Dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk menentukan penipisan serviks. atau perdarahan pervaginam yang tidak diketahui. Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin. plasenta letak rendah. Meskipun amniotomi sering dilakukan untuk menginduksi persalinan. Saat dikaukan bidan harus memeriksa dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik. Presentasi selain kepala merupakan kontrainsdikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun. atau bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. Penggunaan cara ini relatif lebih aman kerna menggunakan metode yang sesuai dengan fisiologi kehamilan dan persalinan.

dosis. begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. ASUHAN KEPERWATAN I. 2. stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat. Bidan maupun wanita harus memahami secara benar standar perawatan setempat untuk menangani kehamilan lewat bulan.Nyeri b/d operasi sectio caesarea . stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban. Dx PostMatur Kehamilan . penting dinilai keadaan cairan ketuban. -hipovolemia . Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman.Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant II Dx Bayi Postmatur } Kerusakan integritas kulit b/d maserasi .asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia . wakru. rapuh dan mudah mengelupas (maserasi). dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium : 1. 3. dan langkah kewaspadaan. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea.Pada saat persalinan. stadium I : kulit tampak kering. dan bidan harus tetap merujuk pada literatur terkini seputar penanganan kehamilan lewat bulan. Sementara pada penatalaksanaan antisipasi.Ansietas b/d proses kelahiran lama . bidan dianjurkan mendokumentasikan secara teliti rencana penatalaksanaan yang disepakati bersama oleh wanita.Jika bidan tidak merasa bahwa penatalaksanaan aktif pada persalinan lewat bula diindikasikan. Wanita sebaiknya diberi tahu jika terdapat status yang tidak mencakup pada penggunaan resep. Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan. F. G. verniks kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada. protokol dalam memuat panduan rekomendasi yang mencakup pemberian.

Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta.2006.EGC Manuaba. Ida Bagus Gede. Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.Jakarta. 1999. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Gary. Sinopsis Obstetri. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed. Jakarta. Jakarta. Helen Dkk.2003. Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 : a. DAFTAR PUSTAKA Cunningham. Sarwono.asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal.21. Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : . Etiologi Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh : a. Bersumber dari kelainan plasenta 1. Rustam. Ilmu Kebidanan. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.4 vo1.1998. Obstetri William ed. Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta. Arcan Askep Perdarahan Ante Partum A. dkk. Jakarta.EGC Mochtar.2007. Jakarta. Varney. Plasenta previa Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ).EGC Prawiroharjo.Endometrium yang kurang baik . b. Pengertian Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu.} Sianosis b/d mekonium telah bercampur air ketuban } Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia: -hipovolemia . B. c.

varises yang pecah ). Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan. Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Solusi plasenta Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. 2.Korpus luteum yang berreaksi lambat 2. Tidak bersumber dari kelainan plasenta. dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Solusi plasenta ringan • Tanpa rasa sakit • Pendarahan kurang 500cc • Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian • Fibrinogen diatas 250 mg % b. Kadangkadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus. Biasanya dihitung kehamilan 28 minggu.Chorion leave yang peresisten .. pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. Patofisiologi 1. misalnya kelainan serviks dan vagina ( erosion. sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. biasanya tidak begtu berbahaya. Apabila perdarahan sedikit. polip. Solusi plasenta berat • Abdomen nyeri-palpasi janin sukar • Janin telah meninggal • Plasenta lepas diatas 2/3 bagian • Terjadi gangguan pembekuan darah b. Solusi plasenta sedang • Bagian janin masih teraba • Perdarahan antara 500 – 1000 cc • Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian c. . dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak. peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. C. Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua. hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta. Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain : a.

Couvelair uterus kontraksi tak baik. menyebabkan pendarahan post partum .B. Solusi plasenta a ) Perdarahan disertai rasa sakit b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat d ) Abdomen menjadi tegang e ) Perdarahan berwarna kehitaman f ) Sakit perut terus menerus E. hematom retroplasenter akan bertambah besar. Akibatnya. D. Komplikasi tidak langsung . Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya.Infeksi . Komplikasi 1.Emboli dan obstetrik syok b. Plasenta previa a ) Prolaps tali pusat b ) Prolaps plasenta c ) Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan d ) Robekan-robekan jalan lahir e ) Perdarahan post partum f ) Infeksi karena perdarahan yang banyak g ) Bayi prematuritas atau kelahiran mati a. Plasenta previa a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.R c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala d ) Perdarahan berwarna merah segar e ) Letak janin abnormal 2. sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.Perdarahan . Tanda dan Gejala 1.Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. Langsung .

Penatalaksanaan 1. cardizol. belum inpartus. perdarahan sedikt janin masih hidup. Plasenta previa a. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari premature. Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine. F. Solusio plasenta a. Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. Terapi konsrvatif Prinsip : Tunggu sampai paerdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan. 3.. Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan. Apabila ada penilaian yang baik. Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap. 3. Morphin suntikan subkutan 2. 2. Sambil mengawasi periksa golongan darah. kepala sudah turun . Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama. dan pentazol. Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show ( perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rectal apalagi vaginal) b. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di bawah 2500 gr.Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum . bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa. Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks. d. Sambil menunggu atau mengawasi berikan : 1. Terapi aktif Prinsip : Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan perdarahan segera berhenti. kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse darah ada. dan siapkan donor transfusi darah. Tranfuse darah. b. e. menyebabkan anuria dan uremia. c. 2. Berikan obat-obatan spasmolitika.Nekrosis korteks renalis. progestin atau progesterone observasi teliti. Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta : 1.

C.Pandangan terhadap kehamilan F. 1. Darah segar beberapa botol b. Solusio plasenta dengan anak hidup. Keluhan utama Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu. Pada hipofibrinogenemia berikan : a. Riwayat keluarga . pembukaan kecil b. Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan : a. Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.Riwayat penyakit ringan . 6. Fibrinogen Konsep Asuhan Kep.Penyakit berat Keadaan psikososial .Keluhan . c. Solusio plasenta dengan panggul sempit.Imunisasi E. B. identitas ibu hamil dan suaminya. perdarahan agak banyak. Plasma darah c.Dukungan keluarga . Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps. Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan : a. Pengkajian Data Subjektif A.sampai hodge III-IV : a. b. d. Data umum Biodata. Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan. Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik. Solusio plasenta dengan toksemia berat. Riwayat persalinan G. Riwayat menstruasi . b. 5. pembukaan masih kecil. 7. Riwayat kesehatan yang lalu D. Janin meninggal : lakukan embriotomi 4. Solusio plasenta dengan letak lintang.Haid terakhir . Riwayat kehamilan .

Buah dada / payudara . f. Rambut dan kulit .Menentukan tinggi fundus uteri . .Lama kawin Data Objektif Pemeriksaan fisik 1.Hudung .Menentukan letak janin . Jantung dan paru .Kawin pertama . anemis .Mata : pucat.Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.Bertambahnya ukuran dan noduler e.Peningkatan pigmentasi areola putting susu . .Volume darah meningkat . penurunan resistensi jalan nafas.Gigi dan mulut c. Leher d. .Peningkatan frekuensi nadi . b.Laju pertumbuhan rambut berkurang. putting susu dan linea nigra. Wajah .Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.Peningkatan volume tidal. . a.Diafragma meningga.Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola.Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.Status perkawinan .- Haid pertama Sirkulasi haid Lamanya haid Banyaknya darah haid Nyeri Haid terakhir H. Abdomen Palpasi abdomen : . .Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada. Riwayat perkawinan . Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil. .

.Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah baring dengan cara menggosok punggung. tanpa perdarahan. Vagina . Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini : .Pemeriksaan radio isotopic . Khusus . Intervensi 1. Pemberian cairan IV atau produk darah sesuai pesanan.Tinggi fundus uteri .Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ? . Pemeriksaan penunjang . dan tanda persalinan.Panggul dan janin lahir . 2.Pemeriksaan dalam 2. 3.Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ? . Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya.g.Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ? . Diagnosa Keperawatan 1.Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) .Denyut jantung janin 3.Posisi dan persentasi janin .Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2. 2. mencakup tanda-tanda vital. pelacakan pemantauan elektronik. Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus.Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ? . memposisikan dengan bantal.Pemeriksaan inspekulo . 4.Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ? . Gangguan perpusi jaringan ( plasental ) yang berhubungan dengan kehilangan darah. System musculoskeletal . 3.Gaya berjalan yang canggung . Takut berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan diri dan bayinya. Haluaran perkemihan.Hipertropi epithelium h.Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ? .Persendian tulang pinggul yang mengendur . pengalihan aktivitas.Ultrasonografi .

timbunan nanah dalam kelenjar. Juga dapat disertai demam. seiring pembengkakan pada kelamin yang memerah.4. serta terapi mulai diberikan. pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan. tak akan menimbulkan keluhan D. gonorrhea. Jamur : asinomises. Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina ETIOLOGI INFEKSI a. Bakteri : neiseria gonore. b.coli C. 2. B. Jamur : kandida albikan.terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman. dan sebagainya. ASUHAN KEPERAWATAN BARTOLINITIS TINJAUAN TEORI A. PENGERTIAN Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. “Kuman dalam vagina bisa menginfeksi salah satu kelenjar bartolin hingga tersumbat dan membengkak. Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis. PATOFISIOLOGI Lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi cairan). o Kelenjar bartolin membengkak. TANDA dan GEJALA Tanda dan gejala o Pada vulva : perubahan warna kulit. Mulai dari chlamydia. Jika tak ada infeksi.juga dapat disertai demam . Infeksi alat kelamin wanita bagian atas : Virus : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika. Biasanya. nyeri tekan. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat. Evaluasi 1. Bakteri : neiseria gonore. stafilokokus dan E. ETIOLOGI Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks.membengkak.

Mungkin didapatkan komplikasi seperti : bartolinitis. diminum 3×1 untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan. yang sering diabaikan oleh penderita. PENGOBATAN Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg. F. dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax. . rasa sakit saat buang air kecil. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Vullva In speculo G. 99 kasus GO pada wanita menyerang servik uteri dan 50-75 % kasus pada wanita tidak ada gejala atau keluhan.o Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal. atau ada benjolan di sekitar alat kelamin. kemerahan atau erosif. Laboratorium : Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus gram negatif intraseluler lekosit. abses tubo ovarii bahkan pelvik peritonitis. mukopurulen atau purulen. Sering anamnese hanya didapatkan riwayat kontak dengan penderita. molasic. salpingitis. rasa sakit saat berhubungan dengan suami. hingga kelenjar tersebut mengempis. selama sedikitnya 5-7 hari. o Terdapat abses pada daerah kelamin o Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah. Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). Ketiga komplikasi tersebut terahir disebut Pelvis Inflamatory Disease (PID). dll). GONORE (GO) Anamnese : a. Kalau ada keluhan biasanya disuria dan lekore. c. diminum 3×1 sesudah makan. Tampak vaginal discharge dengan sifat mukoid keruh. 1. b. PENATALAKSANAAN TATALAKSANA INFEKSI ALAT KELAMIN WANITA Berikut ini adalah beberapa infeksi alat kelamin wanita yang sering dijumpai di Puskesmas dan tatalaksana yang disesuaikan dengan sarana diagnosis dan obat-obatan yang tersedia. E. Pemeriksaan : Pemeriksaan dengan spekulum : ostium uteri eksternum bisa tampak normal.

7) Pengamatan dan pemberian ulang dilakukan pada hari ke 3. atau 5) Kotrimoksasol tablet 480 : 1 X 4 tablet selama 5 hari 6) Bila ada komplikasi : Amoksisilin atau Ampisilin : 3. Sering bersifat kumatkumatan (yang membedakan dengan GO) Riwayat kontak sering (+) Pemeriksaan : Mungkin ada discharge uretra. 2 hari berturut turut. atau 4) .5 gram oral dosis tunggal (lebih poten bila ditambahkan Probenesid 1 gram). Catatan : Terapi sebaiknya diberikan juga kepada patner sex penderita (suami) secara bersamaan. atau 2) Kanamisin : 2 gram IM dosis tunggal.500 mg. Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-). Penatalaksanaan : 1) Tetrasiklin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari atau 2) Erytromisin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari. sesudah itu setiap bulan selama 3 bulan. atau dosis awal 1. Urin : berawan atau didapat benang-benang pendek (threads) Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). Kalau ada. URETRITIS NON GONORE Anamnese : Biasanya tidak ada keluhan. Bila disertai sistitis.5 gram oral dosis tunggal diteruskan 4 X 500 mg selama 10 hari.Tetrasiklin cap: 4 X 500 mg selama 5 hari.8 juta IU IM (skin test dulu). 3) Pada kasus persisten lama pengobatan 21 hari. 2) Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-) Urin : berawan atau threads (+). mungkin ada nyeri tekan suprapubis. Sering juga dikeluhkan keluar darah pada akhir dari buang air kecil (terminal dysuria). 2. . atau 3) Amoksisilin atau Ampisilin : 3. 7 dan 14.2) Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus intraseluler lekosit gram negatif. lekosit >10/lapangan pandang. Terapi : 1) Penisilin Prokain : 4. keluhan biasanya adalah disuria dengan atau tanpa discharge. dilanjutkan 4 X 500 mg selama 4 hari. Selama masa terapi sebaiknya kegiatan sex dihentikan.

sedikit. Sakit pada saat berhubungan sex (dyspareunia) juga sering dikeluhkan.000 mg. dan pemakaian antibiotika yang tidak terkontrol serta kegemukan. Faktor predisposisi : diabetes militus. Kriteria Minimal : 1) Fluor albus : cair. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. PENCEGAHAN . Laboratorium : Fluor albus : dengan mikroskup cahaya Trichomonas vaginalis (+). H. warna kuning atau putih kehijauan. selama 7 hari. TRIKOMONIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah adanya keputihan dengan jumlah banyak. 2) Punctatae red spots (+) 3) Laboratorium : Puskesmas ? Penatalaksanaan : 1) Metronidasol : 1 X 2. In speculo : Terasa sakit. udem. KANDIDIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah keputihan dan gatal di vagina. Penatalaksanaan : 1) Topikal : Nistatin vaginal tablet : 1 X 1. Riwayat suami kencing nanah perlu ditanyakan. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. 4. pemakaian Pil KB. selama 14 hari. Kriteria Minimal : 1) Vuvovaginitis. mungkin didapat juga fisura atau erosi (Vulvovaginitis). sedikit. adanya plak putih. dan 2) Nistatin tablet : 4 X 1 tablet. banyak. fluor albus cair dengan jumlah banyak dan berwarna kuning atau putih kehijauan. 2) Discharge kental. Pemeriksaan : Vulva : tampak merah. Laboratorium : Sel ragi (yeast cells) atau tunas (budding body) dan pseudohypha atau spora. berwarna kuning atau putih kehijauan. sebagai dosis tunggal.3. Discharge kental. Mungkin juga dikeluhkan adanya rasa sakit waktu melakukan aktivitas sexual. karena > 50% penderita GO wanita disertai dengan trikomoniasis. khas : didapat bintikbintik merah (punctatae red spots atau strawbery cervix) di dinding vagina. Pemeriksaan : Pemeriksaan in speculo : terasa sakit.

Salah satunya adalah gaya hidup bersih dan sehat : - 1. ASUHAN KEPERWATAN A. karena dapat memicu kelembapan. Kondisi ini dapat menimbulkan luka. Biasakan membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual. Hindari melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. Jika tidak dibutuhkan. Konsumsi makanan sehat dan bergizi. Ingat. Berhati-hatilah saat menggunakan toilet umum. PENGKAJIAN Perubahan warna kulit Udem Cairan pada kelenjar Nyeri Benjolan pada bibir vagina Bau cairan Kebersihan tubuh Jumlah dan warna urin . Produk pembersih dan pengharum vagina yang banyak diperdagangkan sebetulnya tidak diperlukan. 4. 6. 7. jangan menggunakan pantyliner. 8. Karena keputihan dapat dialami semua perempuan. tak gampang mendeteksi sumber penularan bakteri. Alat reproduksi memiliki sistem pembersihan diri untuk melawan kuman yang merugikan kesehatan. Usahakan agar Anda terhindar dari kegemukan yang menyebabkan paha bergesek. ada penderita radang yang menggunakannya sebelum Anda. Jika Anda bergantiganti pasangan. Tak perlu malu berkonsultasi dengan dokter kandungan sekalipun belum menikah. Perempuan seringkali salah kaprah. 2. sehingga keadaan kulit di sekitar selangkangan menjadi panas dan lembap. Sebaliknya jika digunakan berlebihan bisa berbahaya. 9. berbagai cara bisa dilakukan. Padahal penggunaan pantyliner dapat meningkatkan Kelembapan kulit di sekitar vagina. Pilih pakaian dalam dari bahan yang menyerap keringat agar daerah vital selalu kering. kuman juga bisa berasal dari pasangan Anda. 3. setelah buang air besar. Mereka merasa nyaman jika pakaian dalamnya bersih. Periksakan diri ke dokter jika mengalami keputihan cukup lama. 5. Kuman dapat hidup subur di daerah tersebut. Hindari mengenakan celana ketat.Untuk menghadang radang. Peradangan berhubungan erat dengan penyakit menular seksual dan pola seksual bebas. dengan gerakan membasuh dari depan ke belakang. Siapa tahu. Biasakan membersihkan diri.

INTERVENSI Membantu pasien untuk memenuhi higiene pribadi Memantau keadaan luka Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan diri (kebersihan alat genetal) Kaji tingkat nyeri Gunakan cara-cara interaktif yang berfokus pada kebutuhan untuk membuat penyesuaian dalam peraktik seksual atau untuk meningkatkan koping terhadap masalah/gangguan seksual .- B.d proses penyakit C.d keadaan luka cemas Disfungsi seksual b.d kurangnya pemahaman terhadap sumber sumberinformasi nyeri b.d edem pada kulit Defisit pengetahuan b. DIAGNOSA Defisit perawatan diri b.d keterbatasan gerak Kerusakkan integritas kulit b.

belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche. E. dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. . sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause Torsi (putaran tangkai) Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. B. namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen. C. kadangkadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina. 1. Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar. D. Komplikasi Pertumbuhan leimiosarkoma. Etiologi Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti. tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut. 3. Nekrosis dan Infeksi Pada myoma subserosum yang menjadi polip. 2. ujung tumor. 3. Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus. Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus. Pengertian Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid. Lokalisasi Mioma Uteri Mioma intramural . Kalau proses ini terjadi mendadak. 2. Mioma Submukosum . Mioma Subserosum . Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu.Askep Ibu dengan Myoma Uteri A. Pemeriksaan Diagnostik 1. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%).

ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi. 4. teraba massa. kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding. leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker. F. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. gangguan sensorik / motorik.. .1. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot 3. Cara Penanganan Mioma Uteri Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam. yang dapat mempengaruhi tindakan operasi. Diagnosa Keperawatan 1. 5. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan. USG : terlihat massa pada daerah uterus. Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). perubahan dalam masalah kewanitaan. cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. serviks. Eritrosit : turun 2. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang. Lekosit : turun / meningkat. 3. Pengkajian …. konsistensi dan ukurannya. akibat pada hubungan seksual. 4. perut pada malignan neoplasmatic desease. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus. 1998). B. Albumin : turun. Susan Martin. 2. 6.

mengalirkan air keran. Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien 3. Tujuan Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine. Rencana Keperawatan Dx 1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma Tujuan Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri. 3. Ajarkan teknik relaksasi Meningkatkan kenyamanan klien 4. Intervensi dan Rasional 1. Mencegah terjadinya retensi urine Daftar Pustaka . bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine. gangguan sensorik / motorik. observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri.5. Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine Melihat perubahan pola eliminasi klien 2. Kolaborasi pemberian analgesik Mengurangi nyeri Dx 2 Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya. Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien 5. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri. tidak mengenal sumber informasi. mengatur posisi. mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya. Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi. Lakukan palpasi pada kandung kemih. Memudahkan tindakan keperawatan 2. Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya. Intervensi dan Rasional 1.

Oleh karena itu prolaps uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat.Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang ketegangannya. Danielle.Persalinan lama dan sulit. 1993. Rasa sakit di pinggul dan pinggang(Backache). Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Tanda dan Gejala Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Charette. Lynda Juall.Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun. EGC. 2000. b.keluhan menghilang atau menjadi kurang.2 Mei 2001 Saifidin. c. Edisi 8. Definisi Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel. 2000. Ginekologi.sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan.Biasanya jika penderita berbaring. Jakarta Hartono. Mimbar Vol. Unpad. Jakarta Galle. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Abdul Bari.reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah.Bagian Obstetri & Ginekologi FK. Poedjo.penatalaksanaan pengeluaran plasenta. Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai: a. Jakarta ASKEP PROLAPS UTERI TINJAUAN TEORI 1.dkk. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.2000. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Elstar.laserasi dinding vagina bawah pada kala II. Jane. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia eksterna.5 No. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause. 2001. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala: . Bandung Carpenito. EGC. 2.meneran sebelum pembukaan lengkap.

kemudian lebih berat juga pada malam hari 2. e. baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan vagina.Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra.Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap. 2.terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam menopause. 2. 4.Asdites dan tumortumor di daerah pelvis mempermudah terjadinya hal tsb. Etiologi Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering.ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel.Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal hanya dibelakang urethra ada . Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi: 1. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya. Miksi sering dan sedikit-sedikit.Terutama akibat persalinan.Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus.dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar.prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta dsb.Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali. 3.khususnya persalinan pervagina yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan ligament yang tergolong dalam fasia endopelviks dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul.Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetric.Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri.mengejan. d. f. 3. obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel.partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk porolaps yang sudah ada. Patofisiologi Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat .factor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa penuh di vagina.dan lambat laun menimbulkan ulkus yang dinamakan ulkus dekubitus.1.Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas.akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut.dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri totalis.Mula –mula pada siang hari. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk.Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja.atau yang diselesaikan dalam penurunan dan menyebabkan urethrokel. Serviks uteri terletak diluar vagina. pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu berjalan dan bekerja.Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut: 1. lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena infeksi serta luka pada portio uteri.

Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel.bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi.dan selanjutnya dapat diraba dinding retrokel yang menonjol kelumen vagina.atau penderita masih ingin mendapat anak lagi.ada benjolan ke vagina terdapat di atas rectum.sebagai terapi tes.kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetric atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rectum kedepan dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol kelumen vagina yang dinamakan retrokel.Enterokel menonjol kelumen vagina lebih keatas dari retrokel.dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina.ada kemungkinan terjadi prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan. b.penderita menolak untuk dioperasi.jari dimasukkan kedalam rectum.Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan.Maka.atau prolapsus uteri yang tidak ada belum perlu dioperasi. 6.Penonjolan ini berbentuk lonjong.Kantong hernia ini dapat berisi usus atau omentum.untuk menghilangkan simpton yang ada sambil menunggu waktu operasi dapat dilakukan Pengobatan Operatif Prolapsus uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina. Pengobatan dengan pessarium.yaitu menonjolnya rectum kelumen vagina 1/3 bagian bawah.Dinding vagina bagian belakang turun dan menonjol ke depan.kateter itu diarahkan kedalam sitokel.Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan.kistik dan tidak nyeri.atau penderita menolak untuk dioperasi. Menegakkan diagnosis retrokel mudah.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus vagina adalah adanya keluhan.atau kondisinya tidak mengijinkan untuk dioperasi.Pada pemeriksaan rectal. 5.memanjang dari proksimal kedistal. a.dengan indikasi:kehamilan.jika dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri. Penderita pada posisi jongkok disuruh mengejan dan ditemukan dengan pemeriksaan jari. Penatalaksanaan Medis Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu. Untuk memastikan diagnosis. Stimulasi otot –otot dengan alat listrik c.padahal tidak ada prolapsus uteri.apakah portio pada normal atau portio sampai introitus vagina atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina.dinding rectum lurus. c.prolapsus vagina perlu ditangani juga.Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam. Penderita berbaring pada posisi litotomi.Serviks uteri yang lebih panjang dari biasanya dinamakan Elongasio kolli.dekat pada oue. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan. Latihan-latihan otot dasar panggul b.Enterokel adalah hernia dari kavum Douglasi. .ditentukan pula panjangnya serviks uteri.lubang yang membuat kantong antara urethra dan vagina. Pemeriksaan Penunjang Friedman dan Little(1961) menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut: a.

Pucat. Lemas. Bayi menangis terns. Terdengar bising usus pada benjolan. kembung. Nyeri di daerah benjolan. Mual. Puasa. Demam. Selaput mukosa mulut keying. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PROLAPS UTERI 1. Konstipasi. ♦ Sesudah Operasi Nyeri di daerah operasi.seperi umur penderita.tingkat prolapsus dan adanya keluhan. Spasme otot. Diagnosa Keperawatan • Sebelum Operasi Diagnosa Keperawatan 1. kembung. gelisah. Pusing.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari beberapa factor. Pengkajian • Data Subyektif ♦ Sebelum Operasi Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan. Pada saat bayi menangis/mengejan dan batukbatuk kuat timbul benjolan. Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya.keinginanya untuk mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus. . Dehidrasi. 2. Anak / bayi rewel. Tidak nafsu makan. Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap. ♦ Sesudah Operasi Terdapat luka pada selangkangan. muntah. Mual. • Data Obyektif ♦ Sebelum Operasi Nyeri bila benjolan tersentuh.

5. 6. Nyeri berhubungan dengan luka operasi. . Hasil yang diharapkan : Ekspresi wajah tenang. Observasi tanda-tanda vital 2. jam operasi. Timbang berat baclan anak tiap hari. 4. 3. Jelaskan penyebab rasa sakit. Letakkan anak pada tempat tidur dengan teknik yang tepat sesuai dengan pembedahan yang dilakukan. Observasi tanda-tanda vital clan keluhan pasien. Berikan posisi tidur yang menyenangkan clan aman. Kaji intensitas nyeri pasien. 2. 3. lokasi. jenis dan intensitas nyeri 3. Beri kesempatan anak untuk bertanya. Observasi keluhan nyeri. cars menguranginya. 4. Diagnosa Keperawatan 2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan inkontenensia urin Hasil yang diharapkan : Turgor kulit elastis. Diagnosa Keperawatan 3. • Sesudah Operasi Diagnosa Keperawatan 1. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. 2. Jelaskan pada pasien tentang apa yang akan dilakukan di kamar operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan. Hasil yang. waktu puasa. 2. Kalau perlu pasang infus clan NGT sesuai program dokter. diharapkan : Nyeri berkurang. Jelaskan tentang keadaan pasien setelah dioperasi. Ciptakan lingkungan yang tenang. Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah. 5. Dengarkan keluhan pasien 4. Kaji tingkat kecemasan pasien. Rencana tindakan 1. 7. 6. Beri posisi senyaman mungkin bunt pasien. Ajarkan tehnik-tehnik relaksasi = tarik nafas dalam.Rencana tindakan : 1. Bed obat-obat analgetik sesuai pesanan dokter. secara bertahap. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan. Rencana tindakan : 1. 3. Rencana tindakan : 1.

6. Observasi keadaan luka operasi dari tandatanda peradangan : demam. Beri minum & makan secara bertahaP. Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi. Monitor pemberian infus. Resiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pads luka operasi. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan. tidak ada perdarahan. 5. Jaga kebersihan sekitar luka operasi. 6. Timbang berat badan tiap hari. Diagnosa Keperawatan 3. 3. Hasil yang diharapkan Turgor kulit elastis. Beri kompres hangat. . Hasil yang diharapkan Luka operasi bersih. Kalau perlu ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi. 2. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya. 3. Mual clan muntah ticlak ada. 7. 2. Suhu dalam batas normal (36-37°C) Rencana tindakan : 1. Rencana tindakan : 1. 4. kering. bengkak dan keluar cairan. 2. ticlak bengkak. Diagnosa Keperawatan 2. Berikan therapi analgetik sesuai program medis. 5. ticlak ada perdarahan. Monitor pemberian infus. Anjurkan untuk sesegera mungkin anak beraktivitas secara bertahap. 4. tidak kering. 3. Rawat luka dengan teknik steril. 7. tidak ada bengkak. 8. merah. Luka operasi bersih. kering. 5. Hasil yang diharapkan : 1. Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan. Lakukan tindakan keperawatan anak dengan hati-hati. Ajarkan tehnik relaksasi. 6. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi clan lingkungannya. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. 2. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. Rawat luka operasi dengan tehnik steril.5. Monitor tanda-tanda dehidrasi. Diagnosa Keperawatan 4. Rencana tindakan : 1. 4. Beri terapi antibiotik sesuai program medik.

Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain : a. 5. 2. tanpa mamakai matoda pencegahan selama 1 tahun Ada 2 jenis infertilitas : • Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali. Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi. 4. istri 4055%. Orang tua dapat memelihara kebersihan luka operasi clan perawatannya. Orang tua mengerti tentang perawatan luka operasi. keduanya 10%. Hasil yang diharapkan : 1. Diskusikan tentang keinginan keluarga yang ingin diketahuinya. 3. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu pengeluaran mukus serviks. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya. Jaga kebersihan luka operasi. Diagnosa Keperawatan 5. Jelaskan tentang perawatan dirumah. balutan jangan basah & kotor. Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang akan membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang akan menghambat transportasi sperma ke vagina 2. Rencana tindakan : 1. DEFENISI Infertilitas adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-3 x / minggu. 2. Pada wanita • Gangguan organ reproduksi 1. ETIOLOGI Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. bekas operasi pada serviks yang . 7. Selain itu. dan idiopatik 10%. Ajarkan kepada orang tua cara merawat luka operasi & menjaga kebersihannya. ASKEP INFERTILITAS A. • Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah itu tidak pernah hamil lagi B.6. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri. dan kontrol kembali ke dokter. Apabila mukus sedikit di serviks. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/ minum obat secara teratur di rumah. Hasil penelitian membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil.

zat kimia. hipospadia • Abnormalitas ereksi • Abnormalitas cairan semen. maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi hipothalamus dan hipofise. proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. Pada pria Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria yaitu : • Abnormalitas sperma. Akiatnya fetus tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus. perubahan pH dan perubahan komposisi kimiawi • Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut sehingga terjadi penyempitan pada obstruksi pada saluran genital • Lingkungan. dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan. b. • Kegagalan implantasi Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi. stress. Setelah terjadi pembuahan. Radiasi. • Endometriosis • Abrasi genetis • Faktor immunologis Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu. Hambatan ini dapatterjadi karena adanya tumor kranial. misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus. asap rokok. Kelainan pada uterus. obat-obatan anti cancer • Abrasi genetik . maka folicle mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gengguan ovulasi. ejakulasi rerograde. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini. gas ananstesi. morfologi. • Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi. mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang 4. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu • Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi.menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim 3. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil. motilitas • Abnormalitas ejakulasi.

C. rokok. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi. mempengaruhi pembentukan folikel. MANIFESTASI KLINIS 1. Wanita • Terjadi kelainan system endokrin • Hipomenore dan amenore • Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik • Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek. radiasi. Wanita Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. atau tumor • Traktus reproduksi internal yang abnormal 2. bentuk dan motilitas sperma) • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen D. adhesi. diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. PATOFISIOLOGI a. Pria • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi . alkohol. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. Abnormalitas ovarium. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas.dan gonatnya abnormal • Wanita infertil dapat memiliki uterus • Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi. narkotik. memiliki payudara yang tidak berkembang.

• Histerosalpinografi . b. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus. Wanita • Deteksi Ovulasi 1. PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik: Perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat ( spt distribusi lemak tubuh dan rambut yang tidak sesuai ). Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu. Pemeriksaan System Reproduksi 1. penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido. Meliputi pengkajian BBT (basal body temperature ) 2. Uji lendir serviks metoda berdasarkan hubungan antara pertumbuhan anatomi dan fisiologi serviks dengan siklus ovarium untuk mengetahui saat terjadinya keadaan optimal getah serviks dalam menerima sperma • Analisa hormon Mengkaji fungsi endokrin pada aksis ovarium – hipofisis – hipotalamus. Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan. E. • Sitologi vagina Pemeriksaan usap forniks vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina • Uji pasca senggama Mengetahui ada tidaknya spermatozoa yang melewati serviks ( 6 jam pasca coital ). Pria Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. Dengan pengambilan specimen urine dan darah pada berbagai waktu selama siklus menstruasi. Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok.genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik. • Biopsy endometrium terjadwal Mengetahui pengaruh progesterone terhadap endometrium dan sebaiknya dilakukan pada 2-3 hr sebelum haid.

8 Volume 2 – 5 ml Viskositas 1. . • USG Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat struktur kelenjar prostat.6 – 6. gejala lendIr serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital • Pemberian terapi obat. PENATALAKSANAAN A.18-1.tidak ada Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin Pemeriksaan ini berguna untuk menilai kembali fungsi hipothalamus. misalnya untuk identifikasi kelainan. perkembangan dan maturitas folikuler. Dilakukan secara terjadwal. seperti. • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona F. • Biopsi testis Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan testis memakai metoda invasif untuk mengidentifikasi adanya kelainan patologi. Uji yang dilakukan bertujuna untuk menilai kadar hormon tesrosteron.Radiografi kavum uteri dan tuba dengan pemberian materi kontras.2 – 7. jaringan parut dan adesi akibat proses radang. Pria • Analisa Semen Parameter Warna Putih keruh Bau Bunga akasia PH 7.2 detik persentase gerak sperma motil > 60% Aglutasi Tidak ada Sel – sel Sedikit. atau seluran ejakulatori. 2. dan LH. vesikula seminalis. serta informasi kehamilan intra uterin. hipofisis jika kelainan ini diduga sebagai penyebab infertilitas. • Pemeriksaan pelvis ultrasound Untuk memvisualisasi jaringan pelvis. Disini dapat dilihat kelainan uterus. distrosi rongga uterus dan tuba uteri. FSH. Wanita • Pengetahuan tentang siklus menstruasi.6 centipose Jumlah sperma 20 juta / ml Sperma motil > 50% Bentuk normal > 60% Kecepatan gerak sperma 0. • Laparoskopi Standar emas untuk mengetahui kelainan tuba dan peritoneum.

PENGKAJIAN A. Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat • GIFT ( gemete intrafallopian transfer ) • Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas • Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate. perbaikan nutrisi. • Pengangkatan tumor atau fibroid • Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi B. pemberian tsh . Stimulant ovulasi. Terapi penggantian hormon 3. jangan yang mengandung spermatisida Konsep Asuhan Kep. diharapkan kualitas sperma meningkat • Agen antimikroba • Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan • HCG secara i. Riwayat kesehatan 1) Wanita a. Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal 4.1. digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus • Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik • Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma • Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di rumah • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama • Tumor hipofisis atau prolaktinoma • Riwayat penyakit menular seksual • Riwayat kista b. 1. Identitas klien Termasuk data etnis. tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat • Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital. Pria • Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun. 2. baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus.m memperbaiki hipoganadisme • FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis • Bromokriptin. peningkatan kadar prolaktin. Seperti. budaya dan agama B. Riwayat Kesehatan Sekarang .

radiasi. D. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. Pemeriksaan Fisik Terdapat berbagai kelainan pada organ genital. Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik C. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Trauma.• Endometriosis dan endometrits • Vaginismus (kejang pada otot vagina) • Gangguan ovulasi • Abnormalitas tuba falopi. Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik d. ovarium. narkotik. rokok. kecelakan sehinga testis rusak • Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis • Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi contoh : operasi prostat. alkohol. operasi tumor saluran kemih • Riwayat vasektomi b. uterus. Pemeriksaan penunjang . dan servik • Autoimun c. Riwayat Kesehatan Sekarang • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. bentuk dan motilitas sperma) • Saluran sperma yang tersumbat • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen c. Riwayat Obstetri • Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi • Mengalami aborsi berulang • Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi 2) Pria a. pria atupun wanita.

d harapan tidak terpenuhi untuk hamil Berduka dan antisipasi b. DIAGNOSA KEPERAWATAN Ansietas b.8 • Volume 2 – 5 ml • Viskositas 1.tidak ada • Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin • USG • Biopsi testis • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona 2.18-1.2 detik • persentase gerak sperma motil > 60% • Aglutasi Tidak ada • Sel – sel Sedikit.6 – 6.6 centipose • Jumlah sperma 20 juta / ml • Sperma motil > 50% • Bentuk normal > 60% • Kecepatan gerak sperma 0. harga diri rendah b.d prognosis yang buruk .d terapi untuk menangani infertilitas.2 – 7. Wanita • Deteksi Ovulasi • Analisa hormon • Sitologi vagina • Uji pasca senggama • Biopsy endometrium terjadwal • Histerosalpinografi • Laparoskopi • Pemeriksaan pelvis ultrasound b.d perubahan struktur anatomis dan fungsional organ reproduksi Resiko tinggi terhadap kerusakan koping individu / keluarga b. gangguan citra diri b.a. alternatif untuk terapi Perubahan proses keluarga b.d metode yang digunakan dalam investigasi gangguan fertilitas Konflik pengambilan keputusan b.d gangguan fertilitas Gangguan konsep diri.d ketidaktahuan tentang hasil akhir proses diagnostic Gangguan konsep diri. Pria • Analisa Semen • Parameter • Warna Putih keruh • Bau Bunga akasia • PH 7.

S. 2002).000-750. dan penataklaksanaannya Askep Abortus Pengertian Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. sehingga seorang wanita tidak mengetahui kehamilannya. abortus buatan. terlambatnya menarche selama beberapa hari. investigasinya. dengan demikian setiap tahun terdapat 500. Angka kejadian abortus diperkirakan frekuensi dari abortus spontan berkisar 10-15%. d efek tes dfiagnostik Efek tes diagnostic ketedakberdayaan b. Di Indonesia. dalam hal ini adalah perawat setelah membaca pokok bahasan ini. 2002).d kurang control terhadap prognosis Resiko tinggi isolasi social b.Nyeri akut b. Abortus spontan terjadi karena kualitas sel telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah janin. Oleh karena itu. Menariknya pembahasan tentang abortus dikarenakan pemahaman di kalangan masyarakat masih merupakan suatu tindakan yang masih dipandang sebelah mata. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyak wanita mengalami kehamilan dengan usia sangat dini. pandangan yang ada di dalam masyarakat tidak boleh sama dengan pandangan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan.d kerusakan fertilitas. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu. diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun. dan terapeutik. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones. Terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan dalam hal ini adalah abortus yaitu abortus spontan.Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik (Prawirohardjo.000 janin yang mengalami abortus .

Klasifikasi 1. Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandunganapabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu. janin dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. dan tanpa adanya dilatasi serviks. atau berat badanbayi belum 1000 gram. Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan) Yaitu: • • • • Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta (Prawirohardjo. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) Yaitu: • Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. S. Abortus terjadi pada usisa kehamilan kurang dari 8 minggu. plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian abortus. Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat. Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu : . tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. 2002). 2. Pada kehamilan 8–14 minggu villi koriales menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan diatas 14 minggu.spontan. walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup.

Gangguan fisiologis. 4. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah : a. anemia berat 5. Tuberkulosis paru aktif. Infeksi bakteri. misalnya keracunan tembaga. retroversi uteri. keracunan dan toksoplasmosis. dll. penyakit jantung 6. Penyebab dari segi Maternal Penyebab secara umum: • Infeksi akut 1. timah. air raksa. Sifilis. misalnya : 1. toxemia gravidarum 5. 2. dll. biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu.1. mioma uteri dan kelainan bawaan uterus. • Infeksi kronis 1. misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun 3. endometrtis. diabetes 4. 4. misalnya cacar. . 3. misalnya Syok. nephritis 3. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna c. Kelainan traktus genetalia. Trauma fisik. 3. seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua). Kelainan pada plasenta. inkompetensia serviks. Fibroid. misalnya malaria. Kelainan kromosom. 2. misalnya streptokokus. virus. Parasit. Keracunan. 2. Faktor maternal seperti pneumonia. Pengaruh teratogen akibat radiasi. obat-obatan temabakau dan alcohol 2. 6. Penyakit kronis. typus. anemia berat. hipertensi 2. hepatitis. • Penyebab yang bersifat lokal: 1. biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. ketakutan. virus. terutama trimosoma dan monosoma X b. rubella. Radang pelvis kronis.

Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri. Penyakit plasenta dan desidua. sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus Penyebab dari segi Janin • • • Kematian janin akibat kelainan bawaan. didaerah atas simfisis. fetus kompresus. 4. suhu badan normal atau meningkat 3. mola kruenta. maserasi atau fetus papiraseus. tekanan darah normal atau menurun. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil. Mola hidatidosa. Manifestasi Klinis 1.3. diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun. Pemeriksaan ginekologi : a. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu. Rasa mulas atau kram perut. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi 4. misalnya inflamasi dan degenerasi. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu. denyut nadi normal atau cepat dan kecil. besar uterus . c.janin lahir mati. sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus 5. Retroversi kronis. villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum). osteum uteri terbuka atau sudah tertutup. tercium bau busuk dari vulva b. ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu 2. ada atau tidak jaringan keluar dari ostium.Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri. janin masih hidup.

tetapi karena faktor alamiah. nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup 3. perforasi. Tes Kehamilan Positif bila janin masih hidup. kemamilan dengan kelainan serviks. syok dan infeksi 2.sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan. cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. Sonografi vagina.pemeriksaan kuantitatif serial kadar . atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan perdarahan implantasi yang biasanya sedikit. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. Abortus Imminens Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis. Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat dilanjutkan. yaitu : Abortus spontaneus Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis. Perdarahan. berwarna merah. Penatalaksanaan Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan. mola hidatidosa. bahkan 2-3 minggu setelah abortus 2. Komplikasi 1. dan tidak disertai mules-mules. tidak nyeri saat porsio digoyang. tidak nyeri pada perabaan adneksa. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion Diagnosa Banding Kehamilan etopik terganggu. Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Aspek klinis abortus spontaneus meliputi : 1. dan tanpa adanya dilatasi serviks. cepat terhenti. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu.

untuk memastikan apakah terdapat janin hidup intrauterus.gonadotropin korionik (hCG) serum. disusul dengan kerokan. dan kadar progesteron serum. maka dianjurkan dilakukan kuretase. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum. Penanganan Abortus Insipiens meliputi : 1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. 2. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup.2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau . Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam jumlah signifikan. Jika evaluasi tidak dapat. segera lakukan: Berikan ergomefiin 0. uterus harus dikosongkan. Setelah konseptus meninggal. mungkin diperlukan kuretase. Abortus Insipiens Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Semua jaringan yang keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti. Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apaka}r janin masih hidup. yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini. Penanganan abortus imminens meliputi : Istirahat baring.

Pada abortus yang lebih lanjut. Penanganan abortus inkomplit : 1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16 minggu.2 mg intramuskuler (diulang . 2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu : Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. beri ergometrin 0. 2) Jika perdarahanb anyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan kurang 16 minggu. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Jika perlu. Abortus lnkompletus Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkompletus.misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).2 mg intramuskulera taum iso prostol4 00 mcg per oral. perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat. evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0. Jika perdarahan berhenti. lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. 3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3. evaluasi hasil konsepsi dengan : Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih.

6. Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis. ostium uteri telah menutup. kurang lebih bundar. Abortus Servikalis Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka. hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah. dengan dinding menipis. 4. sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap. Padap emeriksaand itemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan. 5. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit. tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Abortus Kompletus Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. 3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg) Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus. 4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. Missed Abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu. Etiologi missed abortion tidak . dan uterus sudah banyak mengecil.

sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia. mengetahui ia mengandung janin yang telah mati. uterus tidak membesar lagi malah mengecil. timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. Tindakan keperawatan tersebut . merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. menentukan cara pemecahannya. tes kehamilan menjadi negatif. mamma agak mengendor lagi. Penanganan Setelah diagnosis missed abortion dibuat. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor. Diagnosis Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai dengan usia kehamilan. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil. Abortus Habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Gejala subyektif kehamilan menghilang. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. tetapi diduga pengaruh hormone progesterone. seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. 7.diketahui. KONSEP ASUHAN KEPERWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan.

dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obatobatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.

1)

2)

3) 4)

1)

Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi 3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri 4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab 5. Cemas s.d kurang pengetahuan Intervensi Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. Intervensi : Kaji kondisi status hemodinamika Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi Ukur pengeluaran harian Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal Berikan sejumlah cairan pengganti harian Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif Evaluasi status hemodinamika Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Intervensi : Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi

2) 3) 4) 5) 1) 2) 3) 1) 2) 3) perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien.d perdarahan. kondisi vulva lembab Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan Intervensi : Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar . warna. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart . Resiko tinggi Infeksi s.d Kerusakan jaringan intrauteri Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami Intervensi : Kaji kondisi nyeri yang dialami klien Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri Kolaborasi pemberian analgetika Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 4. pada abortus imminens. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s. istirahat mutlak sangat diperlukan Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas Rsional : Menilai kondisi umum klien 3. jumlah. dan bau Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar.

4) Lakukan perawatan vulva Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi. untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga. Lynda.d kurang pengetahuan Tujuan : Tidak terjadi kecemasan. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi 6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se. Penerbit Buku Kedokteran EGC.ama masa perdarahan Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu. pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat 1) 2) Intervensi : Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas Kaji derajat kecemasan yang dialami klien Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga. 5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan. Cemas s. (2001). 5. Jakarta 3) 4) 5) .

Pada sebagian besar kasus. Jakarta Askep Ca Serviks TINJAUAN TEORI Pengertian Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI. karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh. 3. EGC. Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Begitu pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia. 2. 2001.Hamilton. Mary. Jilid I. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Kapita Selekta Kedokteran. Wanita merokok. dkk. Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali 6. Arif. 4. Jakarta Mansjoer. FKKP. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Media Aesculapius. . C. Semakin dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. 1997). edisi 6. 1990. Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2 5. Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex). 1995. Etiologi Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun).

membran basalis utuh Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri Karsinoma mikro invasif. uni atau bilateral.1. 5. Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari pangul kecil. 7. parametrium masih bebas dari infitrat tumor Penyebaran ke parametrum. sedang parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul. Penyebaran sudah sampai dinding panggul. 6. Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma. 3. bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm. tetapi tidak sampai dinding panggul Penyebaran hanya ke vagina. 2. Jumlah perkawinan Hygiene dan sirkumsisi Status sosial ekonomi Pola seksual Terpajan virus terutama virus HIV Merokok Klasifikasi Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978 Tingk at 0 I Ia Kriteria Karsinoma In Situ ( KIS). tetapi belum sampai dinding panggul Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina. metastasi jauh belum terjadi Ib II II a II b III a III b IV IV a . tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium. 4. Faktor Resiko Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu: Usia. tidak ditemukan daerah infiltrat antara tumor dengan dinding panggul. dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah.

Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah. keputihan warna putih atau puralen yang berbau dan tidak gatal. Telah terjadi metastasi jauh. 3. dan bau busuk yang khas. Prognosis Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. perdarahan pascakoitus. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi.IV b 1. terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun. Setelah histerektomi radikal. terraba lunak. dan anemia. 2. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. kehilangan berat badan. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi. Pemeriksaan Penunjang Sitologi. dengan cara tes pap Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar. 4. Kolposkopi Servikografi Pemeriksaan visual langsung Gineskopi Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive) Penatalaksaan Medis Tingkat Penatalaksaan . Tanda dan Gejala Perdarahan Keputihan yang berbau dan tidak gatal Cepat lelah Kehilangan berat badan Anemia Manifestasi Klinis Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi. ireguler. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. perdarahan spontan. 5.

5. Perdarahan dan keputihan Riwayat penyakit sekarang Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera. KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN Pengkaijan Identitas klien. Pemeriksaan Fisik 1.0 Ia I b dan II a II b . III dan IV IV a dan IV b Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan) Histerektomi transvaginal Radioterapi Radiasi paliatif Kemoterapi 1. 3. Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga. Riwayat penyakit terdahulu. Riwayat psikososial Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat. Inspeksi • Perdarahan • keputihan . Keluhan utama. 4. 2. 6. Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain. apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi. serta kurangnya pengetahuan keluarga.

2. mual dan muntah. Intervensi : Kolaborasi dalam pemeriksaan hematokrit dan Hb serta jumlah trombosit. Gineskopi 6. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. 6. Tujuan: . palpasi • nyeri abdomen • nyeri punggung bawah Pemeriksaan Dignostik 1. Tujuan: Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. Biopsi 3. Berikan cairan secara cepat. Pantau dan atur kecepatan infus. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. Intervensi Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . Sitologi 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. 7. mual dan muntah. 4. Kolaborasi dalam pemberian infus 1. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. 3. 5. Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif) 1. 8. Kolposkopi 4. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubbungan dengan terbatasnya informasi. 2. Diagnosa Keperawatan Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . 2. Servikografi 5.

Lakukan perawatan mulut sebelum makan sesuai ketentuan. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. Kolaborasi dalam tindakan transfusi TC ( Trombosit Concentrated) 5. Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. 3.Masukan yang adekuat serta kalori yang mencukupi kebutuhan tubuh. Intervensi: Kaji adanya pantangan atau adanya alergi terhadap makanan tertentu. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Tujuan: Potensial infeksi menurun dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Intervensi : Pantau tanda vital setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan. Tujuan: Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan Intervensi : Kolaborasi dengan petugas laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap (Hb dan Trombosit) Lakukan tindakan yang tidak menyebabkan perdarahan. . Kolaborasi dalam pemeriksaan kultur dan pemberian antibiotika. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian menu yang sesuai dengan diet yang ditentukan. 4. Tempatkan pasien pada lokasi yang tersedia. Anjurkan agar membawa makanan dari rumah jika dipelukan dan sesuai dengan diet. Pantau masukan makanan oleh klien. Intervensi: Kaji pola istirahat serta adanya keletihan pasien. Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda perdarahan. Bantu pasien dalam menjaga hygiene perorangan Anjurkan pasien beristirahat sesuai kebutuhan. Tujuan: Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal.

Intervensi : Bantu pasien untuk mengedintifikasi peran yang bisa dilakukan didalam keluarga dan komunitasnya. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perubahan fisik yang spesifik yang dibutuhkan sehubungan dengan penyakitnya. Intervensi: Gunakan pendekatan yang tenang dan cipakan suasana lingkungan yang kondusif. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran. 8. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Tujuan: Ansietas. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai. Bantu pasien merencanakanaktifitas berdasarkan pola istirahat atau keletihan yang dialami. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. 7. Evaluasi kempuan pasien dalam mengambil keputusan Dorong harapan yang realistis. Anjurkan kepada klien untuk melakukan latihan ringan. Observasi kemampuan pasien dalam malakukan aktifitas. Berikan dorongan spiritual. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi. . Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi. Intervensi: Baringkan pasien diatas tempat tidur.Anjurkan kepada pasien untuk mempertahan pola istirahat atau tidur sebanyak mungkin dengan diimbangi aktifitas. Kaji kepatenan kateter abdomen. 6. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan terbatasnya informasi. Diskusikan dengan keluarga untuk berkompensasi terhadap perubahan peran anggota yang sakit.

html . Jakarta:EGC. 1989. 1989:Ginekologi Greenhill edisi 10.com/2009/03/kanker-serviks. EGC : Jakarta Doengoes. Jakarta: Gramedia. Mochtar.medicastore . Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan 5. Marilyn.com/med http://creasoft. Evaluasi Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah : 1. Ansietas. 6. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.com http://khaidirmuhaj. Kapita Selekta Kedokteran . http:// www.1994.wordpress.E 1989.Nursing care and Plans.Synopsis obstetric. Jakarta:EGC. Chandra. Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. Sanusi. Edisi 3 . Rustam.Philadelphia: F. 7. 2.blogspot. Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi DAFTAR PUSTAKA Arif Mansjoer dkk (2000). kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.A Davis Company. Tidak ada tanda-tanda infeksi 4. Sarwono. Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh 3. Prawirohardjo.Observasi tentang reaksi yang dialami pasien selama pengobatan Jelaskan pada pasien efek yang mungkin dapat terjadi.Ilmu Kandungan. Jilid 1. 8.

membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. Arif. dkk. Hanifa.Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Paritas tinggie. (Wiknjosastro. dkk. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik.(Mansjoer. namun faktor penyebabnya adalah 1. (Mochtar. dkk. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. Saleh. Rustam . (Jack A. Pritchard. Imunoselektif dari tropoblast 3. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. C. Mary.1998 : 23) . 1973 : 325). dkk. 2. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Rustam. gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. hidropik.Kekurangan proteinf. vaskularisasi dan edematus. tetapi terlambat dikeluarkan. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. daripada villi choriales. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik.

di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. Silvia. dkk . Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus.e. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. 2003 : 164). jika disertai janin atau bagian janin. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine .Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. Mola hidatidosa komplet (klasik). (Mansjoer. berotot. Darah cenderung berwarna coklat. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. Teori neoplasma dari Park. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. (Silvia. (Verrals. berbentuk buah pear. Arif. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Wilson. Mola hidatidosa inkomplet (parsial). Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. jika tidak ditemukan janin 2. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang.

(Wiknjosastro. membentuk kantong utero-vesikuler. Demikian pula dengan penyakit trofoblast. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. bila tetap tidak ada tahanan. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis . sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. di dalamnya terdapat tuba uterin. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. Di bagian belakang. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan. Berjalan melalui annulus inguinalis. profundus ke kanalis iguinalis. Hanifa.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12. sonde diputar setelah ditarik sedikit. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf.b). Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. terdiri atas jaringan ikat dan otot. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal. Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. 2002 : 339) Tes Diagnostika.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. uterus bertambah besar. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. Bila tidak ada tahanan. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi.5 cm.

Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. selama dan setelah prosedur evakuasi. terus menerus. . pembesaran abnormal uterus. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu.(Arif Mansjoer. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. Selain dari penanganan di atas. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Bila sumber vakum adalah tabung manual. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. untuk anemia berat lakukan transfusi. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. Selama pemantauan. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Kadar hCG diatas 100.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). menentukan cara pemecahannya. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. dkk. saling berkaitan dan dinamis. pelunakan serviks dan korpus uteri. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1.

Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.

Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar.Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear. Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi, menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. (Carpenito, Lynda, 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien, memulihkan, memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Menetapkan prioritas masalah 2. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang Ekspresi wajah tenang TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri

5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil : Kebutuhan personal hygiene terpenuhi Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : Klien dapat tidur 7-8 jam per hari Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien. akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien .

Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien. pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : Ekspresi wajah tenang Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati . perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi.

anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil : Tidak tampak tanda-tanda infeksi Vital sign dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh .Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : Nafsu makan meningkat Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan.

Mary. EGC. UI Patologi Anatomik. DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil : Hb dalam batas normal (12-14 g%) Turgor kulit baik Vital sign dalam batas normal Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. kaji warna kulit/membran mukosa. Jakarta Mansjoer. Media Aesculapius. sehingga proses infeksi tidak terjadi. C. Lynda. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. Kapita Selekta Kedokteran. pucat. Jakarta Soekojo. EGC. Buku Ajar Praktik Kebidanan. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. EGC. 2001. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. garis jahitan). (2001). Jakarta Johnson & Taylor. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. 1995. dkk. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeks. Jilid I. Penerbit Buku Kedokteran EGC. . Jakarta Hamilton. Jilid I. berkeringat. Rustam. Sinopsis Obstetri. 1973. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. 1998. 2005. daerah yang terpasang alat invasif (infus. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. Arif. Patologi. edisi 6. Jakarta Mochtar. Saleh.

Jakarta Askep Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa .

Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. 1973 : 325). Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung.(Mansjoer. Arif.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. tetapi terlambat dikeluarkan. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. 2. daripada villi choriales. (Mochtar. dkk. namun faktor penyebabnya adalah 1. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. hidropik. dkk.Kekurangan proteinf. (Wiknjosastro. Hanifa. Teori neoplasma dari Park. (Jack A. Rustam. Paritas tinggie. jika disertai janin atau bagian janin. Rustam . Mola hidatidosa inkomplet (parsial). Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. C. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. Mola hidatidosa komplet (klasik). Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Saleh.gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Pritchard. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. dkk. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Mary. jika tidak ditemukan janin 2. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus . Imunoselektif dari tropoblast 3. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan.1998 : 23) Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. dkk. vaskularisasi dan edematus. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik.

Wilson. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. (Mansjoer. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. (Silvia. di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. dkk . Arif. 2003 : 164). ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. (Verrals. Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus.5 cm. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. Berjalan melalui annulus inguinalis. di dalamnya terdapat tuba uterin. membentuk kantong utero-vesikuler. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine b). . Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). Di bagian belakang. Darah cenderung berwarna coklat. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium.e.menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. berbentuk buah pear. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. berotot. profundus ke kanalis iguinalis. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). terdiri atas jaringan ikat dan otot.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. Silvia. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks.

Demikian pula dengan penyakit trofoblast. Hanifa. Bila tidak ada tahanan. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. uterus bertambah besar. Selain dari penanganan di atas. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. sonde diputar setelah ditarik sedikit. pembesaran abnormal uterus. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis (Arif Mansjoer. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per . Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali. 2002 : 339) Tes Diagnostika. dkk. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. pelunakan serviks dan korpus uteri. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis.Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna.(Wiknjosastro. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. bila tetap tidak ada tahanan.

perkawinan ke. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). agama. selama dan setelah prosedur evakuasi. Selama pemantauan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu ¬ Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. dan penyakit-penyakit lainnya. pekerjaan. lamanya perkawinan dan alamat ¬ Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang ¬ Riwayat kesehatan . merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Bila sumber vakum adalah tabung manual. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. umur. pendidikan. Kadar hCG diatas 100. suku bangsa. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. hipertensi . masalah ginekologi/urinary . oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. ¬ Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM . Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : ¬ Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi . Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. jantung . saling berkaitan dan dinamis. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam.. siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. menentukan cara pemecahannya. . ¬ Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. nama. pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. untuk anemia berat lakukan transfusi. status perkawinan.menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. penyakit endokrin . jenis pembedahan . terus menerus. kapan .

USG. 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium :  Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen.  Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. Pemeriksaan fisik.  Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan .¬ Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe. biopsi.  Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan. pergerakan dan postur. persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini.  Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah.Data . dan menggunakan KB jenis apa. mencatat suhu. baik sebelum dan saat sakit. ketergantungan. (Johnson & Taylor. bau. eliminasi (BAB dan BAK). penggunaan ekstremitas. apakah klien setuju. adanya keterbatasan fifik. jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. sifat darah. istirahat tidur. Data lain-lain :  Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS. lamanya. warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi. hygiene. banyaknya. perubahan warna. pap smear.  Tekanan : menentukan karakter nadi. mengevaluasi edema. ¬ Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi. dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan. massa atau konsolidasi. bagaimana keadaan kesehatan anaknya. gejala serta keluahan yang menyertainya ¬ Riwayat kehamilan . Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna. laserasi. memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. siklus menstruasi. lesi terhadap drainase. memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar.  Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB. apakah klien menggunakan kontrasepsi. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah. cairan dan elektrolit. derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. ¬ Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien. ¬ Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral. obat digitalis dan jenis obat lainnya. meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. bahasa tubuh.

menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. Menetapkan prioritas masalah 2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri 4. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. memulihkan. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. (Carpenito. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan.psikososial. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil :  Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang . Lynda. hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5.  Kaji orang terdekat dengan klien. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3.  Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien  Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien. bagaimana pola komunikasi dalam keluarga. memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

 Ekspresi wajah tenang  TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri. lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri 5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil :  Kebutuhan personal hygiene terpenuhi  Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : .

perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi. akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil :  Tanda-tanda vital dalam batas normal  Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : . Klien dapat tidur 7-8 jam per hari  Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien. pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan.

 Ekspresi wajah tenang  Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil :  Nafsu makan meningkat  Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan. anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil :  Tidak tampak tanda-tanda infeksi  Vital sign dalam batas normal .

kaji warna kulit/membran mukosa. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta . (2001). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. edisi 6. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. sehingga proses infeksi tidak terjadi. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeksi DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil :  Hb dalam batas normal (12-14 g%)  Turgor kulit baik  Vital sign dalam batas normal  Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital.Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh 3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. garis jahitan). C. 1995. EGC. berkeringat. daerah yang terpasang alat invasif (infus. pucat. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. Mary. Jakarta Hamilton. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. Lynda.

Soekojo. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta Mansjoer. Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Rustam. EGC. UI Patologi Anatomik. Sinopsis Obstetri. Jilid I. 2005. Jilid I. Saleh. EGC. 1973. Jakarta Johnson & Taylor. dkk. 1998. Media Aesculapius. Jakarta Mochtar. 2001. Patologi. Jakarta .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful