ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan

janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Jenis – jenis operasi sectio caesarea 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) 2. Sectio caesarea transperitonealis 3. SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : 1. Mengeluarkan janin dengan cepat 2. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik 3. Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan 1. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik 2. Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan 3. SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : 1. Penjahitan luka lebih mudah 2. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik 3. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum 4. Perdarahan tidak begitu banyak 5. Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : 1. Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak 2. Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi 3. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal 2. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. Sayatan huruf T ( T insicion ) Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan

resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) ϖ Fetal distress ϖ His lemah / melemah ϖ Janin dalam posisi sungsang atau melintang ϖ Bayi besar ( BBL ³ 4,2 kg ) ϖ Plasenta previa ϖ Kalainan letak ϖ Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) ϖ Rupture uteri mengancam ϖ Hydrocephalus ϖ Primi muda atau tua ϖ Partus dengan komplikasi ϖ Panggul sempit ϖ Problema plasenta ϖ Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : 1. Infeksi puerperal ( Nifas ) 2. Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari 3. Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung 4. Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik 5. Perdarahan 6. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka 7. Perdarahan pada plasenta bed 8. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi 9. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya 10. Post Partum Definisi Puerperium / Nifas Nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002) Nifas adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983) Periode Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum Minggu pertama post partum. 3. Late post partum

Minggu kedua sampai dengan minggu keenam. Tujuan Asuhan Kepeawatan ϖ Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. ϖ Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. ϖ Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. ϖ Memberikan pelayanan keluarga berencana. Tanda dan Gejala 1. Perubahan Fisik 2. Sistem Reproduksi 3. Uterus 4. Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. o Lochea o Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe.  Tahap  Rubra (merah) : 1-3 hari.  Serosa (pink kecoklatan)  Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. ϖ Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. ϖ Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. ¬ Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. ¬ Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. ¬ Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi. ¬ Perineum ¬ Episiotomi

keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. ϖ Sistem Muskuloskeletal .Penyembuhan dalam 2 minggu. neutrophil meningkat. RR : 16-24 x/menit. ϖ Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal ϖ Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). ϖ Pada fungsi ginjal: proteinuria. engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari. Pada payudara yang tidak disusui. ϖ Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. leukosit meningkat. ϖ Perubahan hematologik Ht meningkat. puting mudah erektil bila dirangsang. urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. ϖ Jantung Kembali ke posisi normal. ϖ Sistem Endokrin ϖ Hormon Plasenta ϖ HCG (-) pada minggu ke-3 post partum. diuresis mulai 12 jam. ϖ Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama. LH. ϖ Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal. COP meningkat dan normal 2-3 minggu. tidak ditemukan pada minggu I post partum.5 kg. progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. ϖ Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 – 500 cc. ϖ Kehilangan rata-rata berat badan 5. sesaria : 600 – 800 cc. ϖ Sistem Kardiovaskuler ϖ Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin. suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. ϖ Sistem Gastrointestinal ϖ Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. ϖ Nafsu makan kembali normal. ϖ Sistem Urinaria ϖ Edema pada kandung kemih. menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH.

• Bowel Pergerakan usus. hematoma. • Baby Blues: Mulai terjadinya. discharge dan approximation. usia ibu. kondisi bayi. warna. respon depresi dan psikosis. Kemerahan menandakan infeksi. edema. Diastasis rekti 2-4 cm. . sebagai orang tua. • Insisi SC Balutan dan insisi. • Perubahan Psikologis • Peran Ibu meliputi: Kondisi Ibu. • Perineum Episiotomi. ϖ Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. kembali normal 6-8 minggu post partum. bau dan adanya gumpalan. jumlah. adakah anxietas. jumlah distensi. konflik peran. diberikan anti RHO imunoglobin. posisi tinggi dan ukuran. tenderness. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM FISIOLOGIS PENGKAJIAN • Pemeriksaan Fisik • Monitor Keadaan Umum Ibu • Jam I : tiap 15 menit. faktor keluarga. • Diagnostik Jumlah darah lengkap. dan perubahan warna. marah. • Kandung Kemih dan Output Urine Pola berkemih. jam II tiap 30 menit • 24 jam I : tiap 4 jam • Setelah 24 jam : tiap 8 jam • Monitor Tanda-tanda Vital • Payudara Produksi kolustrum 48 jam pertama. • Uterus Konsistensi dan tonus. ayah dan bayi. periksa redness. laserasi dan hemoroid. dan nyeri. • Perubahan Psikologis • Perubahan peran. • Lochea Tipe. hemoroid dan bising usus. urinalisis.Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. ϖ Sistem Imun Rhesus incompability. edema. drainase. • Attachment yang mempengaruhi dari faktor ibu. memar. • Ekstremitas Tanda Homan. faktor sosial-ekonomi.

• Kesempitan pintu atas panggul Pintu atas panggul dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 9½ cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm. panggul sempit.pintu bawah panggul sempit • Panggul belah : symphyse terbuka • kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya • Panggul rachitis : panggul picak. Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit. maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10cm dapat menimbulkan kesulitan. bidang tengah dan pintu bawah panggul. • Faktor-faktor Risiko • Duerdistensi uterus • Persalinan yang lama • Episiotomi/laserasi • Ruptur membran prematur • Kala II persalinan • Plasenta tertahan • Breast feeding PANGGUL SEMPIT Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut : • Kesempitan pintu atas panggul • kesempitan bidang bawah panggul • kesempitan pintu bawah panggul • kombinasi kesempitan pintu atas pangul.• Baby Blues merupakan gangguan perasaan yang menetap. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut : • Kelainan karena gangguan pertumbuhan • Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil • Panggul picak : ukuran muka belakang sempit. ukuran melintang biasa • Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran muka belakang • Panggul corong :pintu atas panggul biasa. seluruha panggul sempit picak dan lain-lain • Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang • Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang • kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong • sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah . biasanya pada hari III dimungkinkan karena turunnya hormon estrogen dan pergeseran yang mempengaruhi emosi ibu.

• Pengaruh panggul sempit pada kehamilan dan persalinan Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan maupun persalinan. luxatio. letak sungsang dan letak lintang. Fistula vesicovaginalis lebih sering terjadi karena kandung kencing tertekan antara kepala anak dan . yang diterapkan dengan “knopfloch mechanismus” (mekanisme lobang kancing) • Pada oang sempit kepala anak mengadakan hyperflexi supaya ukuran-ukuran kepala belakang yang melalui jalan lahir sekecil-kecilnya • Pada panggul sempit melintang sutura sagitalis dalam jurusan muka belang (positio occypitalis directa) pada pintu atas panggul. • Terjadi fistel : tekanan yang lama pada jaringan dapat menimbulkan ischaemia yang menyebabkan nekrosa. atrofia. karena bagian depan kurang menutup pintu atas panggul selanjutnya setelah ketuban pecah kepala tidak dapat menekan cervix karena tertahan pada pintu atas panggul • Pada panggul sempit sering terjadi kelainan presentasi atau posisi misalnya : • Pada panggul picak sering terjadi letak defleksi supaya diameter bitemporalis yang lebih kecil dari diameter biparietalis dapat melalui conjugata vera yang sempit itu. • Karena gangguan pembukaan • Karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak Kelainan pembukaan disebabkan karena ketuban pecah sebelum waktunya. • Pengaruh pada kehamilan • Dapat menimbulkan retrafexio uteri gravida incarcerata • Karena kepala tidak dapat turun maka terutama pada primi gravida fundus atau gangguan peredaran darah Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung Perut yang menggantung pada seorang primi gravida merupakan tanda panggul sempit • Kepala tidak turun kedalam panggul pada bulan terakhir • Dapat menimbulkan letak muka. Infeksi ini tidak saja membahayakan ibu tapi juga dapat menyebabkan kematian anak didalam rahim. Asynclitismus sering juga terjadi. Disamping itu mungkin pula ada exostase atau fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul.coxitis. Nekrosa menimbulkan fistula vesicovaginalis atau fistula recto vaginalis. • Dapat terjadi ruptura uteri kalau his menjadi terlalu kuat dalam usaha mengatasi rintangan yang ditimbulkan oleh panggul sempit • Sebaiknya jika otot rahim menjadi lelah karena rintangan oleh panggul sempit dapat terjadi infeksi intra partum. Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. Kadang-kadang karena infeksi dapat terjadi tympania uteri atau physometra. • Pengaruh pada persalinan • Persalinan lebih lama dari biasa. • Biasanya anak seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil dari pada ukuran bayi pukul rata.

• Persangkaan Panggul sempit Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau : • Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36 • Pada primipara ada perut menggantung • pada multipara persalinan yang dulu – dulu sulit • kelainan letak pada hamil tua • kelainan bentuk badan (Cebol. Menurut pengalaman tidak ada anak yang cukup bulan yang dapat lahir dengan selamat per vaginam kalau CV kurang dari 8 ½ cm. Terutama kalau diameter biparietalis berkurang lebih dari ½ cm. malahan kadang – kadang ruptur dari articulatio scroilliaca. • Prolapsus foeniculli dapat menimbulkan kematian pada anak • Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak. • Ruptur symphyse dapat terjadi . jadi derajat kesempitan • Kemungkinan pergerakan dalam sendi-sendi panggul • Besarnya kepala dan kesanggupan moulage kepala • Presentasi dan posisi kepala • His Diantara faktor faktor tersebut diatas yang dapat diukur secara pasti dan sebelum persalinan berlangsung hanya ukuran-ukuran panggul : karena itu ukuran – ukuran tersebut sering menjadi dasar untuk meramalkan jalannya persalinan. • Pengaruh pada anak • Patus lama misalnya: yang lebih dari 20 jam atau kala II yang lebih dari 3 jam sangat menambah kematian perinatal apalagi kalau ketuban pecah sebelum waktunya. Karena itu kalau CV < 8 ½ cm dilakukan SC primer ( panggul demikuan disebut panggul sempit absolut ) Sebaliknya pada CV antara 8.symphyse sedangkan rectum jarang tertekan dengan hebat keran adanya rongga sacrum.pincang dan lain-lain) • osborn positip • Prognosa Prognosa persalinan dengan panggul sempit tergantung pada berbagai faktor • Bentuk panggul • Ukuran panggul. selain itu mungkin pada tengkorak terdapat tanda-tanda tekanan. Kalau terjadi symphysiolysis maka pasien mengeluh tentang nyeri didaerah symphyse dan tidak dapat mengangkat tungkainya.5-10 cm hasil persalinan tergantung pada banyak faktor : • Riwayat persalinan yang lampau . Sebaliknya kalau CV 8 ½ cm atau lebih persalinan pervaginam dapat diharapkan berlangsung selamat. scoliose. Terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal) malahan dapat terjadi fraktur impresi. yang paling sering adalah kelumpuhan N. Peroneus . • Parase kaki dapat menjelma karena tekanan dari kepala pada urat-urat saraf didalam rongga panggul .

jadi tidak dilakukan pada letak sungsang. Kalau dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap kepala janin tidak turun sampai H III maka test of labor dikatakan berhasil. Persalinan percobaan dilakukan hanya pada letak belakang kepala. • Persalinan percobaan Yang disebut persalinan percobaan adalah untuk persalinan per vaginam pada wanita wanita dengan panggul yang relatip sempit. Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir setelah kita mendapatkan keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung per vaginam atau setelah anak lahir per vaginam.kepala dalam 2 jam tidak mau masuk ke dalam rongga panggul walaupun his cukup kuat • Forcepe gagal Dalam keadaan-keadaan tersebut diatas dilakukan SC.• besarnya presentasi dan posisi anak • pecahnya ketuban sebelum waktunya memburuknya prognosa • his • lancarnya pembukaan • infeksi intra partum • bentuk panggul dan derajat kesempitan karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil persalinan pada panggul dengan CV antara 8 ½ – 10cm (sering disebut panggul sempit relatip) maka pada panggul sedemikian dilakukan persalinan percobaan. Sekarang test of labor jarang dilakukan lagi karena: • Seringkali pembukaan tidak menjadi lengkap pada persalinan dengan panggul sempit • kematian anak terlalu tinggo dengan percobaan tersebut • kesempitan bidang tengah panggul bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah symphysis dan spinae ossis ischii dan memotong sacrum kira-kira pada pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 . Persalinan percobaan dikatakan berhasil kalau anak lahir pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forcepe atau vacum) dan anak serta ibu dalam keadaan baik. Kalau SC dilakukan atas indikasi tersebut dalam golongan 2 (dua) maka pada persalinan berikutnya tidak ada gunanya dilakukan persalinan percobaan lagi Dalam istilah inggris ada 2 macam persalinan percobaan : • Trial of labor : serupa dengan persalinan percobaan yang diterngkan diatas • test of labor : sebetulnya merupakan fase terakhir dari trial of labor karena test of labor mulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam sesudahnya. letak dahi. letak muka atau kelainan letak lainnya. Kita menghentikan presalianan percobaan kalau: • – pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuaannya • Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik • Kalau ada lingkaran retraksi yang patologis • – setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban.

5 cm + 5 cm = 15. udema pulmonal. • Terapi Kalau persalinan terhenti karena kesempitan bidang tengah panggul maka baiknya dipergunakan ekstraktor vacum.kalau diameter antar spinae 9 cm atau kurang kadang-kadang diperlukan SC.5 cm ) Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit.5 cm = 18. tetapi kita dapat menduga kesempitan bidang tengah panggul kalau : • Spinae ischiadicae sangat menonjol • Kalau diameter antar tuber ischii 8 ½ cm atau kurang • Prognosa Kesempitan bidang tengah panggul dapat menimbulkan gangguan putaran paksi. harus diukur secara rontgenelogis.5 atau kurang ( normal 10.5 cm) • diameter antara spina < 9 cm ukuran – ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis. Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi.Ukuran yang terpenting dari bidang ini adalah : • Diameter transversa ( diameter antar spina ) 10 ½ cm • diameter anteroposterior dari pinggir bawah symphyse ke pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan garis antar spina ke pertemuan sacral 4 dan 5 5 cm dikatakan bahwa bidang tengah panggul itu sempit : • Jumlah diameter transversa dan diameter sagitalis posterior 13. • Pengkajian • Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung. karena ekstraksi dengan forceps memperkecil ruangan jalan lahir. penyakit vaskuler perifer atau stasis . • Kesempitan pintu bawah panggul: Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segi tiga dengan jarak antar tuberum sebagai dasar bersamaan Ukuran – ukuran yang penting ialah : • Diameter transversa (diameter antar tuberum ) 11 cm • diameter antara posterior dari pinggir bawah symphyse ke ujung os sacrum 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke ujung os sacrum 7 ½ cm pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC bisanya dapat diselesaikan dengan forcepe dan dengan episiotomy yang cukup luas. Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < 15 cm ( normal 11 cm + 7.

marah. predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis • Pernafasan Adanya infeksi. merokok • Keamanan • Adanya alergi atau sensitive terhadap obat. hubungan.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan • Resti infeksi b. penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri. kondisi yang kronik/ batuk. gaya hidup. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat. mual. peningkatan ketegangan.d destruksi pertahanan terhadap bakteri • Nyeri akut b.vaskuler ( peningkatan resiko pembentukan thrombus ) • integritas ego perasaan cemas. makanan. tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi • Riwayat penyakit hepatic • Riwayat tranfusi darah • Tanda munculnya proses infeksi Proritas Keperawatan • Mengurangi ansietas dan trauma emosional • Menyediakan keamanan fisik • Mencegah komplikasi • Meredakan rasa sakit • Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan • Menyediakan informasi mengenai proses penyakit Diagnosa Keperawatan • Ansietas b. stimulasi simpatis • Makanan / cairan Malnutrisi. flatus dan mobilitas • Resti perubahan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka. muntah ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM A. membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM. plester dan larutan • Adanya defisiensi imun • Munculnya kanker/ adanya terapi kanker • Riwayat keluarga. apatis. takut.d insisi. Pengertian . serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial.

Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan : a) Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida. d) Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti.com/). 1.com/). Wahab Sjahranie Samarinda (http://healthblogheg. Dalam buku obstetri patologi (1982) Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil memuntahkan segala apa yang di makan dan di minum sehingga berat badannya sangat turun. Pielitis dan sebagainya (http://zerich150105. Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien (http://zerich150105. jantung. Etiologi Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti.wordpress. berat badan menurun. . diuresis kurang dan timbul aseton dalam air kencing (http://healthblogheg. hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi. Rumah tangga yang retak. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan. bukan karena penyakit seperti Appendisitis. begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari. kehilangan pekerjaan. Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu.ibu terhadap anak. karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. mola hidatidosa dan kehamilan ganda. 1999). Ilmu Kebidanan. c) Alergi. terdapat aseton dalam urine. turgor kulit kurang. Sebagai salah satu respon dari jaringan. dehidrasi.com/). (Sarwono Prawirohardjo. juga disebut sebagai salah satu faktor organik.blogspot.wordpress. Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan muntahmuntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus-menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas Penyuluhan Gizi Rumah Sakit A.Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk. takut terhadap kehamilan dan persalinan. b) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik.com/). Perubahan-perubahan anatomik pada otak. dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup.blogspot.

nafsu makan tidak ada. tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna. (http://zerich150105. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi. turgor kulit lebih berkurang. Tanda Dan Gejala Hiperemesis gravidarum. sehmgga cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual. ibu merasa lemah. nadi kecil dan cepat. perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen. akan mengalami emesis gravidarum yang berat. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. Pengaruh psikologik hormon estrogen ini tidak jelas.Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan. b) Tingkatan II : Penderita tampak lebih lemah dan apatis. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. disamping faktor hormonal.1. lidah mengering dan nampak kotor.com/). bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. lidah mengering dan mata cekung. bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. tensi rendah. Natrium dan Khlorida darah turun. tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung.wordpress. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu : a) Tingkatan I : Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita. Belum jelas mengapa gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita. . Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit. oliguri dan konstipasi. mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Kekurangan Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. hemokonsentrasi. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. Patofisiologi Ada yang menyatakan bahwa. demikian pula Khlorida air kemih. 2.

melokalisasi plasenta. Avomin Isolasi . Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan.Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan. ikterik. (http://healthblogheg. c) Pemeriksaan fungsi hepar: AST. muntah berhenti. Penatalaksanaan Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik. kelaparan gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga. mendeteksi abnormalitas janin.wordpress. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke. Pemeriksaan Diagnostik a) USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel.blogspot.Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. menarik diri dan depresi (http://healthblogheg. tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing. (http://zerich150105. suhu badan meningkat dan tensi menurun. takikardia. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. termasuk vitamin B kompleks. mendeteksi bakteri. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin.com/) 1. alkalosis. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur. memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan. Komplikasi Dehidrasi berat. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati.com/) 1. c) Tingkatan III: Keadaan umum lebih parah. mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. BUN.com/) 1. nadi kecil dan cepat. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin. suhu meningkat. b) Urinalisis : kultur.blogspot. Obat-obatan Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. ALT dan kadar LDH. kesadaran menurun dan somnolen sampai koma.

kebutaan. Terapi psikologik Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan. hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan. Prognosis Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. tachikardi. Cairan parenteral Berikan cairan. ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium. kecuali vitamin C. tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital. Bila ada kekurangan protein. karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D. 1. ASUHAN KEPERAWATAN A. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil. Minuman tidak diberikan bersama makanan . Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya.parenteral yang cukup elektrolit. oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat. Penghentian kehamilan Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik. Pengkajian Keperawatan . Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin.Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan. khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. namun demikian pada tingkatan yang berat. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri. penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Delirium. Diet a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. bahkan mundur.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. perubahan peran. Adanya aseton dalam urine (http://zerich150105. sistem pendukung yang kurang. perubahan persepsi tentang kondisinya. Berat badan turun lebih dari 1/10 dari berast badan normal 3. turgor kulit berkurang. pengurangan berat badan (5 – 10 Kg). kehamilan tak direncanakan. Segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan. Rencana Keperawatan . mata cekung dan lidah kering. icterus dan dapat jatuh dalam koma 7. bila keadaan ibu membahayakan maka dilakukan abortus terapeutik. badan lemah. 4. lidah kering 4. 3. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan. 2.wordpress. respon anggota keluarga yang dapat bervariasi terhadap hospitalisasi dan sakit. defekasi. denyut nadi meningkat (> 100 kali per menit). Integritas ego Konflik interpersonal keluarga.wordpress. 2. Diagnosa Keperawatan 1. 9. (http://zerich150105. nyeri epigastrium.1.com/) B. Pernafasan Frekuensi pernapasan meningkat. kesulitan ekonomi. 2. Makanan/cairan Mual dan muntah yang berlebihan (4 – 8 minggu) . Eliminasi Pcrubahan pada konsistensi. Seksualitas Penghentian menstruasi. peningkatan frekuensi berkemih Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine. 3. 6. nafas berbau aseton. 8. Keamanan Suhu kadang naik. Pembelajaran dan penyuluhan 1. Hb dan Ht rendah. membran mukosa mulut iritasi dan merah. Turgor kulit. Interaksi sosial Perubahan status kesehatan/stressor kehamilan. apalagi apalahi kalau belangsung sudah lama. Deflsit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan. 5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. 4.com/) C. Aktifitas istirahat Tekanan darah sistol menurun.

dilakukan secara rutin untuk mendeteksi situasi potensial resiko tinggi seperti ketidakadekuatan asupan karbohidrat. roti dan the (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur Rasional : Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang berlebih 8. Catat intake dan output. Diabetik kcloasedosis dan Hipertensi karena kehamilan. Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan pembersih mulut sesering mungkin. Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut. Klien dengan kadar Hb < 12 mg/dl atau kadar Ht rendah dipertimbangkan anemi pada trimester I. Rasional : Koreksi adanya hipovolemia dan keseimbangan elektrolit 4. Catal intake TPN. Pertahankan terapi cairan yang diprogramkan. Test urine terhadap aseton. Rasional : Menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melului muntah. Batasi intake oral hingga muntah berhenti. 10. 12. jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode tertentu. misalnya Phenergan 10-20mg/i. Rasional : Untuk mempertahankan integritas mukosa mulut 11.1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. Rasional : Mencegah muntah serta memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit 3.. Ukur pembesaran uterus Rasional : Malnutrisi ibu berdampak terhadap pertumbuhan janin dan memperberat penurunan komplemen sel otak pada janin. Rasional : Untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi. Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit Rasional : Mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan kapasitas pcmbawa oksigen ibu. 2. yang mengakibatkan kemunduran pcrkembangan janin dan kcmungkinan-kemungkinan lebih lanjUT . 13. Rasional : Memelihara keseimbangan cairan elektfolit dan mencegah muntah selanjutnya. anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit. 5. Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak Rasional : dapat menstimulus mual dan muntah 7. Rasional : Untuk mengetahui integritas inukosa mulut. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh 6. Berikan obat anti emetik yang diprogramkan dengan dosis rendah. Rasional : Menetapkan data dasar . albumin dan glukosa.v. Intervensi 1. 9.

makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Rasional : Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung. Berikan pelayanan kesehatan yang maksimal Rasional : Penting untuk meningkatkan kesehatan mental klien 4) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan Intervensi : . Kontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung Rasional : Untuk mencegah dan mengurangi kecemasan 2. perubahan psikologi kehamilan Intervensi : 1. Kaji suhu badan dan turgor kulit. membran mukosa. Peningkatan kadar hormon Korionik gonadotropin (HCG). Berikan support psikologis Rasional : Untuk menurunkan kecemasan dan membina rasa saling percaya 4.2) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan Intervensi 1. Rasional : Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar Rasional : Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi. Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah. 1. Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus peptikum. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur. Berikan penguatan positif Rasional : Untuk meringankan pengaruh psikologis akibat kehamilan 5. gastritis. TD. Rasional : Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. Kaji tingkat fungsi psikologis klien Rasional : Untuk menjaga intergritas psikologis 3. perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas gastrik memperberat mual/muntah pada trimester 1. 3) Cemas berhubungan dengan Koping tidak efektif. Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat. input/output dan berat jenis urine. 2.

Anjurkan klien membatasi aktifitas dengan isrirahat yang cukup. 3. 2. Mual dan mutah tidak ada lagi. 1.com/ http://zerich150105.blogsome. Anjurkan tirah baring yang dimodifikasi sesuai indikasi Rasional : Tingkat aktifitas mungkin periu dimodifikasi sesuai indikasi. Evaluasi 1.blogsome. (http://zerich150105.wordpress. Bantu klien beraktifitas secara bertahap Rasional : Aktifitas bertahap meminimalkan terjadinya trauma seita meringankan dalam memenuhi kebutuhannya.com/) REFERENSI http://cakmoki. Keluhan subyektif tidak ada. Rasional : Menghemat energi dan menghindari pengeluaran tenaga yang terusmenerus untuk meminimalkan kelelahan/kepekaan uterus 2. Rasional : Aktifitas yang ditoleransi sebelumnya mungkin tidak dimodifikasi untuk wanita beresiko. Anjurkan klien untuk menghindari mengangkat berat. Tanda-tanda vital baik. 2.com/ .blogspot.com/ http://healthblogheg.1. (http://cakmoki.wordpress.com/) D.

Demam nifas Morbiditas Puerperalis meliputi demam pada masa nifas oleh sebab apa pun.ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFEKSI NIFAS TINJAUAN TEORI Definisi. coli berasal dari kandung kemih atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau yang membantunya. Clostridium Welchii. walaupun kadang-kadang menjadi infeksi umum. : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh. Staphylococcus aerus menyebabkan infeksi terbatas. Etiologi. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain. E. alat atau kain yang tidak steril. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare. Selain itu infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh: • • • • Streptococcus haemolytieus aerobicus merupakan sebab infeksi yang paling berat. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara ke mana-mana antara lain ke handuk. . Hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin. Banyak ditemukan di RS dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat. Dalam RS banyak kuman-kuman patogen yang berasal dari penderita dengan berbagai jenis infeksi. Jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. kain-kain. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis.alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman. alat-alat yang suci hama dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau nifas. : dari jalan lahir sendiri. Cara terjadinya infeksi: • • • • Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Suhu diukur dari mulut sedikit-dikitnya 4 kali sehari. khususnya golongan A. Bermacam-macam • • • Eksasogen Autogen Endogen : kuman datang dari luar. AS morbiditas puerperalis ialah kenaikan C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama post°suhu sampai 38 partum dengan mengecualikan hari pertama. infeksi tenggorokan orang lain). Droplet infection. bersifat anaerob. vulva dan endometrium.

o Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita. apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan periksa dalam. tepi luka menjadi merah dan bengkak. begitu juga vulva. Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitar membengkak. vagina. Vulvitis. dapat/tidaknya persalinan berlangsung tanpa banyak perlukaan jalan lahir. lamanya infeksi berlangsung. Faktor Predisposisi. luka yang terbuka menjadi ulkus dan megeluarkan pus. Penyebaran dari tempat-tempat melalui vena. penyakit jantung dan sebagainya. vulva. seviks dan endometrium. perineum merupakan tempat masuknya kuman patogen. o Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir. 1. denyut jantung janin meningkat. permukaan tidak rata. infeksi lain seperti pneumonia. Gejala: kenaikan suhu disertai leukositosis dan tachikardi. Biasanya terjadi pada partus lama.• • • • Coitus pada akhir kehamilan bukan merupakan sebab yang paling penting kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. Vaginitis. . selaput ketuban dan bekuan darah. Prognosis infeksi intra partum sangat tergantung dari jenis kuman. seperti perdarahan banyak. vagina. Vulva. Setelah kala III. Infeksi pada Perineum. jalan limfe dan melalui permukaan endometrium. pre ekslampsi. Infeksi intra partum. o Tertinggalnya sisa plasenta. Infeksi nifas dapat terbagi dalam 2 golongan : • • Infeksi yang terbatas pada perineum. Patologi. daerah bekas insertio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kirakira 4 cm. Vagina. jahitan mudah terlepas. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar di luar luka asalnya. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinanan. Serviks dan Endometrium 1. air ketuban menjadi keruh dan berbau. o Partus lama terutama dengan ketuban pecah lama. berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi trombus dan merupakan area yang baik untuk tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenisjenis yang patogen dalam tubuh wanita.

Biasanya demam mulai 48 jam pertama post partum bersifat naik turun. daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. Penyebaran melalui jalan limfe. berwarna merah atau coklat dan berbau. Vagina dan Serviks. Nyeri bila kencing. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas. Sering terjadi tapi tidak menimbulkan banyak gejala. Salfingitis dan Ooforitis. Penyebaran melalui pembuluh darah (Septikemia dan Piemia) Merupakan infeksi umum disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. Pada infeksi setempat. Gambaran Klinik. Nadi kurang dan 100/menit. 1. Lokia bertambah banyak. 4. Rasa nyeri dan panas pada infeksi setempat. 5. sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut Lokiometra. Sevicitis. Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah. Kuman–kuman memasuki endometrium (biasanya pada luka insertio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. 2.Dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum. permukaan mokusa membengkak dan kemerahan. Vulva. Suhu meningkat 38o C kadang mencapai 39o C – 40o C disertai menggigil. 3. Endometritis. terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. 2. Infeksi pada Perineum. Peritonitis dan Parametritis (Sellulitis Pelvika) Penyebaran melalui permukaan endometrium. Septikemia dan Piemia . 1. Paling sering terjadi. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis dan cairan. Uterus agak membesar. Endometritis • • • • • Tergantung pada jenis virulensi kuman. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium. radang terbatas pada endometrium. nyeri pada perabaan dan lembek.

• • • • • • • • • Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toxinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Membatasi lamanya persalinan. Keduanya merupakan infeksi berat. TD turun. terdapat abses pada cavum Douglas Sellulitis Pelvika Pada periksa dalam dirasakan nyeri. Membatasi perdarahan. Lochea: berbau. v Selama persalinan. menggigil. Lab: leukositosis. Membatasi perlukaan. Keadaan umum jelek Suhu meningkat antara 39°C – 40°C. Infiltrat kadang menjadi abses. Piemia dimulai dengan rasa sakit pada daerah tromboplebitis. setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas. . perut kembung dan nyeri. v Coitus pada hamil tua hendaknya tidak dilakukan karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi. bernanah. Peritonitis • • Peritonitis terbatas pada daerah pelvis (pelvia peritonitis): demam. nadi cepat dan kecil. keadaan umum memburuk. Pencegahan Infeksi Nifas a) Selama kehamilan v Perbaikan gizi untuk mencegah anemia. sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selamaVT. Gejala septikemia lebih akut dan dari awal ibu kelihatan sudah sakit dan lemah. gelisah. Salfingitis dan Ooforitis Gejala hampir sama dengan pelvio peritonitis. nadi cepat. involusi jelek. kesadaran turun. nyeri perut bagian bawah. perut nyeri. KU baik. Piemia dimulai dengan tromboplebitis vena-vena daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil dibawa keperadaran darah umum dan terjadilah infeksi dan abses pada organ-organ tubuh yang dihinggapinya. Peritonitis umum: suhu meningkat. demam tinggi menetap dari satu minggu. nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih. Sesak nafas. • • • • Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalur jalan lahir. b) Selama nifas v Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik.

Bersihkan perineum dan ganti alas tempat tidur secara teratur. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang mungkin muncul adalah 1. ü Kaji tinggi fundus dan sifat. sumbatan dan cairan yang keluar (dari puting). Pengkajian …. jumlah. haruskan mencuci tangan pada pasien dan perawat. sifat episiotomi dan warnanya. transfusi darah. ASUHAN KEPERAWATAN I. v Penderita dengan tanda infeksi nifas jangan digabung dengan wanita dalam nifas yang sehat. Intervensi: ü Kaji data pasien dalam ruang bersalin. . Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus. 2. Rencana Keperawatan 1. ü Catat jumlah leukosit dan gabungkan dengan data klinik secara lengkap. warna dan sifatnya. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. ü Monitor vital sign. Perkiraan pinggir epis dan kemungkinan “perdarahan” / nyeri. Hubungkan dengan data post partum. Tujuan 1: Mencegah dan mengurangi infeksi. Catat kecenderungan demam jika lebih dari 38o C pada 2 hari pertama dalam 10 hari post partum. makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. ü Kaji lochia: jenis. Hubungkan dengan data perubahan post partum masing-masing dan catat apakah klien menyusui dengan ASI.v Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama. Cemas/ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan III. ü Lakukan perawatan perineum dan jaga kebersihan.Infeksi perineum (menggunakan senter yang baik). serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai. ü Kaji payudara: eritema. Khusus dalam 24 jam sekurang-kurangnya 4 kali sehari. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi 3. terutama suhu setiap 4 jam dan selama kondisi klien kritis. serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. Pengobatan Infeksi Nifas Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks. Berikan dosis yang cukup dan adekuat. jalan lahir. dan infeksi nasokomial. luka operasi dan darah. jalan lahir. dan infeksi nasokomial. nyeri. catat warna. Sambil menunggu hasil laboratorium berikan antibiotika spektrum luas. II.

ü Kaji bunyi nafas. frekwensi nafas dan usaha nafas. Intervensi: ü Catat perubahan suhu. chloramfenicol atau metronidazol. denyut nadi dan parasthesi/ kelumpuhan. Intervensi : . ü Bantu pasien memilih makanan. Cemas / ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang. Bantu pasien batuk efektif dan nafas dalam setiap 4 jam untuk melancarkan jalan nafas. visualisasi) ü Kolaborasi : • • Pemberian obat analgetika. vitamin C dan zat besi.lokasi. ü Berikan tindakan kenyamanan (missal : pijatan / masase punggung) ü Dorong menggunakan tekhnik manajemen nyeri . Oxitoksin seperti ergonovine atau methyler gonovine. ü Kaji ekstremitas: warna. ü Pertahankan input dan output yang tepat. nyeri. suhu.perhatikan intensitas (0-10). Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi Tujuan : Nyeri berkurang/terkontrol Intervensi : ü Selidiki keluhan pasien akan nyeri. ü Atur obat-obatan berikut yang mengindikasikan setelah perkembangan dan test sensitivitas antibiotik seperti penicillin. Anjurkan mengubah posisi tidur secara sering dan teratur.perhatikan petunjuk non-verbal. gentamisin. bimbingan imajinasi . Catatan: hindari produk mengandung aspirin karena mempunyai potensi perdarahan Pemberian Antibiotika 1. contoh : latihan relaksasi / napas dalam . ü Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan penuh stress.ü Pertahankan intake dan output serta anjurkan peningkatan pemasukan cairan. Bantu dengan ambulasi dini. ü Anjurkan istirahat dan tidur secara sempurna. tetracycline. 1. Atur pemberian cairan dan elektrolit secara intravena. Monitor untuk infeksi.dan faktor pencetus ü Awasi tanda vital. cefoxitin. ü Hentikan pemberian ASI jika terjadi mastitis supuratif. ukuran. Anjurkan yang banyak protein. Tujuan 2 : Identifikasi tanda dini infeksi dan mengatasi penyebabnya. gelisah. jangan berikan makanan dan minuman pada pasien yang muntah ü Pemberian analgetika dan antibiotika.misal: tegangan otot.

gemetar ) Rasional : Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiologis ü Perlakukan pasien secara kalem. serta sikap mendukung Rasional : Memberikan dukungan emosi ü Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan Rasional : Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui ü Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya Rasional : Ungkapan perasaan dapat mengurangi cemas ü Kaji mekanisme koping yang digunakan klien Rasional : Cemas yang berkepanjangan dapat dicegah dengan mekanisme koping yang tepat. takipnea. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM RISIKO TINGGI A. empati.ü Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan Rasional : Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya ü Kaji respon fisiologis klien ( takikardia. DEFINISI Post partum risiko: • Perdarahan post partum .

takikardi Oligouria (urin < 300 cc/ 24 jam) Perdarahan > 500 cc/24 jam Distensi kandung kemih HPP Sekunder Perdarahan kadang banyak kadang sedikit Perdarahan dengan bekuan sisa plasenta Terdapat tanda subinvolusi Lochea merah tua dan berbau jika terdapat infeksi .• Infeksi post partum • Tromboembolok • Masalah psikologis post partum Perdarahan post partum/post partum hemorrhage (HPP) adalah kehilangan 500 ml darah pada persalinan normal (per vaginam) atau 1000 ml lebih pada persalinan SC penyebab kematian pada ibu. . ETIOLOGI HPP primer: Atonia uteri (1 dari 20 persalinan). FAKTOR RISIKO Kelahiran SC Bayi besar Persalinan dengan tindakan forsep/VE Riwayat HPP Multiparitas Manipulasi intrauterin/manual plasenta Penggunaan MgSO4 atau oksitosin dalam persalinan D.HPP lanjut/sekunder: terjadi lebih dari 24 jam tetapi kurang dari 6 minggu.HPP dini/primer/awal: terjadi dalam batas waktu 24 jam. B. MANIFESTASI KLINIS HPP Primer Perubahan hemodinamik: hipotensi. Perdarahan post partum dibedakan menjadi dua: . tersering Retensi plasenta Laserasi jalan lahir Ruptur uteri Gangguan pembekuan darah HPP sekunder: Retensi sisa plasenta Sub involusi Endometritis C.

Kaji adanya laserasi atau hematom yang mungkin menjadi sumber perdarahan. Pengkajian HPP Sekunder HPP sekunder sering terjadi ketika klien sudah pulang. discharge planning diperlukan sebelum klien pulang. Pengkajian HPP Primer . kapiler refill.Faktor risiko dan predisposisi . DIAGNOSA KEPERAWATAN Defisit volume cairan Risiko infeksi Perubahan perfusi jaringan perifer Perubahan proses menjadi orang tua Cemas INTERVENSI Manajemen dan monitor cairan Atasi perdarahan Kontrol infeksi Kontrol kecemasan .Syok .Kegagalan fungsi ginjal F. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1. KOMPLIKASI . kelelahan. oleh karena itu.Pengkajian fundus: kontraksi lemah. hipotensi) . suara jantung (murmur). TFU .Kenaikan suhu badan E. takipneu.Vital sign (takikardi. urin output. kecemasan disorientasi. suara nafas. tingkat kesadaran.Sepsis .Syok dapat diatasi  anemia dan infeksi . nadi. vena leher. . .Kaji tanda-tanda perdarahan dan syok hipovolemi: TD.Distensi blader 2. warna kulit. membran mukosa.Kaji perdarahan (warna dan jumlah) .

merupakan suatu bentuk preeklampsia – eklampsia berat dimana ibu tersebut mengalami berbagai keluhan dan menunjukkan adanya bukti laboratorium umum untuk sindrom hemolisis (H). dan trombosit rendah (LP). penurunan resistensi vaskuler sistemik.ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI KEHAMILAN A. PATOFISIOLOGI Adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi. peningkatan curah jantung. jarak 4 – 6 jam. hipertensi. vasodilatasi. Peningkatan MAP > 20 mmHg/ jika tekanan darah sebelumnya tidak diketahui. Hipertensi kronis hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan/sebelum gestasi 20 minggu. DEFINISI Hipertensi: Kenaikan nilai tekanan sistolik sebesar 30 mmHg/lebih atau kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg diatas tekanan dasar. hipertensi terjadi setelah minggu ke 20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. peningkatan volume plasma darah. atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih Proteinuria 5 gr/lebih dalam 24 jam. 3 atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif. B. Pada preeklampsia: Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih. dengan teknik dan alat yang standar. Merupakan penyakit vasospastik yang ditandai dengan hemokonsentrasi. Peningkatan darah terjadi minimal dengan 2 kali pemeriksaan. dan proteinuria. air kencing 400 ml/kurang dalam 24 jam . MAP sebesar 105 mmHg. Oligouria. peningkatan enzim hati (EL). penurunan tekanan osmotik koloid. Sindrom HELLP Suatu keadaan multisistem. Eklampsia Yaitu terjadinya konvulsi atau koma pada klien disertai tanda dan gejala preeclampsia Konvulsi atau koma dapat muncul tanpa didahului gangguan neurologis. Atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan Preeklampsia Kondisi spesifik kehamilan. Hipertensi sementara perkembangan hipertensi selama masa hamil/24 jam I nifas tanpa ada tanda preeklampsia.

perawatan prenatal dini. menetap 10 – 30 menit). atau nyeri di daerah epigastrum Edema paru-paru atau sianosis Diagnosis Preeklampsia Berat o TD sistolik > 160 mmHg diastolik >110 mmHg pada 2 kali pemeriksaan. dan informasi tentang adaptasi normal pada kehamilan. terapi Intervensi Intervensi efektif adalah pencegahan.d hipertensi.d iritabilitas SSP. perdarahan. Koping individu/ keluarga tidak efektif 5.Keluhan serebral. edema paru. CST.d efek pengobatan. Perubahan perfusi jaringan/organ b. vasospasme siklik. konseling nutrisi. Intervensi pencegahan lain adalah: konseling. Gangguan pertukaran gas b. identifikasi ibu berisiko selama kehamilan. USG Pemeriksaan laboratorium: HMT. enzim hati. Edema pitting (lekukan kecil akibat tekanan pada bagian yang edema. Cemas 6. o Proteinuria > 5 gr dalam urin 24 jam o Oligouria < 400 ml dalam 24 jam o Gangguan otak dan penglihatan o Nyeri ulu hati o Edema paru/sianosis o Sindrom HELLP ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian: Pengkajian faktor risiko Pemeriksaan tekanan darah Observasi edema: distribusi. Hilangnya RTPkeracunan magnesium Menentukan status janin: DJJ. 3. pengenalan serta pelaporan tanda-tanda bahaya fisik. Trombosis. 2.d terapi antihipertensi yang berlebihan. glukosa Diagnosa Keperawatan 1. Refleks Tendon Profunda (RTP) Refleks bisep da patela serta klonus pada pergelangan kaki. HB. Risiko injuri b. NST. 4. derajat & pitting edema Edema dependen (edema bagian bawah/bagian tubuh yang dependen). . gangguan penglihatan. Curah jantung menurun b. edema serebral. prosses penyakit.

Pantau kadar MgSO4 (kadar terapeutik: 4.6 mg/dl). jumlah urin < 30 ml/jam. berat badan > 0. edema.8 – 9. Lakukan pemeriksaan TD. tanda distress (DJJ tiba-tiba menurun).6 mg/dl. Berikan kalsium glukonal/CaCl sesuai program (misal 1 gr melalui IV diberikan selama 3 menit) 4. Hentikan MgSO4 . Kolaborasi dengan dokter 3. kadar serum toksik>9. urin 5.Berikan informasi pada ibu tentang kondisi dan tanggung jawabnya dalam penatalaksanaan preeklampsia. Bed rest miring kiri  memperbaiki sirkulasi uteroplasenta Latihan fisik ringan  memperbaiki sirkulasi. pernafasan. penurunan TD dan denyut nadi o Intervensi: 1. tonus otot Hindari makanan tinggi garam Kolaboratif: antihipertensi menurunkan risiko gagal ventrikel kiri & perdarahan otak perfusi uteroplasenta terjaga Intervensi di rumah Laporkan bila ada peningkatan TD. laporkan jika proteinuria ≥ +2 atau pengeluaran urin berkurang Monitor aktivitas janin setiap hari (3 gerakan atau kurang setiap jam) mengindikasikan gawat janin. hiporefleksia/tidak ada refleks. Periksa jumlah keluaran urin bila <400 ml/24 jam. Lakukan pemeriksaan antenatal secara teratur Managemen MgSO4 o Berfungsi untuk mencegah dan mengendalikan kejang o Dosis awal 4 – 6 g selama 15 – 30 menit diikuti dosis rumatan 2 – 4 g/jam o Observasi tanda keracunan Mg SO4: pernafasan < 12/menit.5 kg/minggu. . ganti dengan larutan rumatan 2.

Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium. 1995) B. Hipotesis androgen Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. 1. 4. Hal ini didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. kolon. Faktor Risiko Diet tinggi lemak Merokok Alkohol Penggunaan bedak talk perineal Riwayat kanker payudara. Dalam percobaan in-vitro. C. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain. (Wingo. 3. . androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium. panggul. Pengertian Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. 2. Proses penyembuhan sel-sel epitel yang terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor. 2. Etiologi Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. atau endometrium 1. 5.ASKEP CA OVARIUM A. dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru. Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. diantaranya: Hipotesis incessant ovulation Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi.

kapsul pecah atau dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan bilasan peritoneum positif. tidak ada tumor di permukaan luar. Rasa tidak nyaman pada abdomen 7. Tanda & Gejala Gejala umum bervariasi dan tidak spesifik. Sering berkemih 10. Menoragia 4. Lingkar abdomen yang terus meningkat E. Flatulenes 11. tidak ada asietas yang berisi sel ganas.6. 3. Stadium 1b : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium. 2. Stadium 2c : tumor stadium 2a dan 2b tetapi pada tumor dengan permukaan satu atau kedua ovarium. Nulipara 8. Haid tidak teratur 2. adalah : STADIUM I –> pertumbuhan terbatas pada ovarium 1. kapsul intak. Rasa begah setelah makan makanan kecil 12. Stadium 2b : perluasan jaringan pelvis lainnya 3. Tekanan pada pelvis 9. Dispepsia 8. Ketegangan menstrual yang terus meningkat 3. Stadium 2a : perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba 2. STADIUM II –> Pertumbuhan pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke panggul 1. berisi sel ganas. kapsul utuh. tidak ada pertumbuhan di permukaan luar. tidak asietas. . Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium 7. STADIUM III –> tomor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di luar pelvis dan atau retroperitoneal positif. Nyeri tekan pada payudara 5. Infertilitas 9. Pada stadium awal berupa : 1. Stadium 1a : pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium. Tidak pernah melahirkan D. Menstruasi dini 10. Stadium 1c : tumor dengan stadium 1a dan 1b tetapi ada tumor dipermukaan luar atau kedua ovarium atau kapsul pecah atau dengan asietas berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif. Stadium Stadium kanker ovarium primer menurut FIGO (Federation InternationalofGinecologies and Obstetricians ) 1987. Menopause dini 6.

STADIUM IV –> pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. 3. apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). begitu juga metastasis ke permukaan liver. Stadium 3c : implant di abdoment dengan diameter > 2 cm dan atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif. pemeriksaan CT-Scan/ MRI Pemeriksaan tumor marker seperti Ca-125 dan Ca-724. F. dan kelenjar getah bening negativ. G. beta – HCG dan alfafetoprotein Semua pemeriksaan diatas belum bisa memastikan diagnosis kanker ovarium. Penegakan Diagnosa Medis Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. akan tetapi hanya sebagai pegangan untuk melakukan tindakan operasi. 1. Stadium 3b : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant dipermukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopis. Ciri2 kista yang bersifat ganas yaitu pada keadaan : Kista cepat membesar Kista pada usia remaja atau pascamenopause Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan Kista dengan bagian padat Tumor pada ovarium Pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat dugaan ke arah kanker ovarium seperti : USG dengan Doppler untuk menentukan arus darah Jika diperlukan. diameter melebihi 2 cm.Tumor terbatas dalam pelvis kecil tetapi sel histologi terbukti meluas ke usus besar atau omentum. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dalam stadium 4. 2. Hanya kanker ovarium stadium awal saja (stadium 1a dan 1b dengan derajat diferensiasi sel yang baik/sedang) yang tidak memerlukan kombinasi pengobatan. Stadium 3a : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara histologi dan dikonfirmasi secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan (seeding) dipermukaan peritoneum abdominal. Oleh karena itu. Kemoterapi diberikan sebanyak 6 seri dengan interval 3 – 4 minggu sekali dengan melakukan pemantauan . PENATALAKSANAAN Sebagian besar kanker ovarium memerlukan pengobatan dengan kemoterapi.

relaksasi. Perubahan citra tubuh dan harga diri b. Penatalaksanaan yang sesuai dengan stadium yaitu : Operasi (stadium awal) Kemoterapi (tambahan terapi pada stadium awal) Radiasi (tambahan terapi untuk stadium lanjut) H.terhadap efeh samping kemoterapi secara berkala terhadap sumsum tulang.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran Tujuan : KLien dapat memperbaiki persepsi citra tubuh dan harga dirinya. perubahan kadar hormone 3. nifas.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran 3. durasi haid Riwayat obstetric –> kehamilan. fungsi ginjal. sistem saluran cerna. sistem saraf dan sistem kardiovaskuler. kualitas.d agen cidera biologi Tujuan : Klien merasa reda dari nyeri dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan Intervensi : Kaji karakteristik nyeri : lokasi. sistem saluran cerna. ASUHAN KEPERWATAN 1. fungsi hati. riwayat keluhan utama Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat kesehatan keluarga Riwayat reproduksi –> siklus haid. hamil Pemeriksaan fisik Data psikologis/sosiologis–> reaksi emosional setelah penyakit diketahui 2. Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b. marah pasien Kolaborasi dengan tim medis dalam memberi obat analgesic Jelaskan kegunaan analgesic dan cara-cara untuk mengurangi efek samping Ajarkan klien strategi baru untuk meredakan nyeri dan ketidaknyamanan: imajinasi. persalinan. stimulasi kutan Diagnosa 2 : Perubahan citra tubuh dan harga diri b. keletihan. Diagnosa Keperawatan 1. Intervensi : Kaji perasaan klien tentang citra tubuh dan tingkat harga diri .Tujuan dan Intervensi Diagnosa 1 : Nyeri akut b.d agen cidera biologi 2. Nyeri akut b.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. Pengkajian Data diri klien Data biologis/fisiologis –> keluhan utama. frekuensi Kaji faktor lain yang menunjang nyeri.

arterisklerosis. konsentrasi gula darah tinggi.wordpress. hiperglikemi dan perkembangan dari mikrovaskuler ( kental kapiler). Marilynn E.html ASKEP IBU HAMIL DENGAN DM TINJAUAN TEORI A. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. lemak. Berkurangnya glikogenesis. penyakit ini akan .com/2009/03/askep-caovarium.Mengidentifikasi kepuasan/ praktik seksual yang diterima dan beberapa alternatif cara mengekspresikan keinginan seksual Intervensi: Mendengarkan pernyataan klien dan pasangan Diskusikan sensasi atau ketidaknyamanan fisik.blogspot.com/2008/12/21/asuhan-keperawatan-klien-dengan-kankerovarium/ http://akperppnisolojateng. Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak kesulitan. makrivaskuler komplikasi dan neuropatik ( gangguan struktus dan fungsi ginjal). perubahan kadar hormon Tujuan : -KLien menyatakan paham tentang perubahan struktur dan fungsi seksual. Pengertian Adalah penyakit kronik yang komplek yang dikarakterisasikan dengan gangguan metabolisme karbohidrat. EGC: Jakarta http://viethanurse. ex : menunda koitus seksual saat kelelahan Daftar Pustaka Brunner & Suddarth.Rencana Asuhan Keperawatan. Etiologi Penyakit gula dapat merupakan kelainan herediter dengan cara insufisiensi atau absennya insulin dalam sirkulasi darah. EGC: Jakarta Donges. . protein.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. B. 1999. 2001. perubahan pada respons individu Kaji informasi klien dan pasangan tentang anatomi/ fungsi seksual dan pengaruh prosedur pembedahan Identifikasi faktor budaya/nilai budaya Bantu klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk berbagi pikiran/masalah dengan orang terdekatnya Berikan solusi masalah terhadap masalah potensial.Berikan dorongan untuk keikutsertaan kontinyu dalam aktifitas dan pembuatan keputusan Berikan dorongan pada klien dan pasangannya untuk saling berbagi kekhawatiran tentang perubahan fungsi seksual dan menggali alternatif untuk ekspresi seksual yang lazim Diagnosa 3 : Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b.

persalinan dan nifas terhadap DM a. Sebaliknya diabetes akan mempengaruhi kehamilan dan persalinan. muncul > 50 tahun. Hidronion c. Pengaruh penyakit gula terhadap kehamilan di antaranya adalah : a. D. Abortus dan partus prematurus b. Sering mengalami lahir mati. b. Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi manifes ( diabetik ) b. Kesalahan letak jantung e. Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi. 25% kemungkinan akan berkembang menjadi DM. c. uji toleransi gula tidak normal. Pengaruh kehamilan. Pengaruh Diabetes Melitus Terhadap Kehamilan 1. Pengobatan tidak memerlukan insulin cukup dengan diit saja. tetapi dapat diobati dengan insulin. E. Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi asfiksia sampai dengan lahir mati . DM akan menjadi lebih berat karena kehamilan 2. Gangguan kontraksi otot rahim partus lama / terlantar. Sering mengalami keguguran Glokusuria C. c) Diabetes Laten : Subklinis atau diabetes hamil. Epidemitologi Gangguan Dm terjadi 2 % dari semua wanita hamil. Insufisiensi plasenta 3. Pre-eklamasi d.menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal pada penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan. tetapi tidak merupakan kecenderungan orang dengan gangguan toleransi glokusa . Factor Predisposisi : Umur sudah mulai tua Multiparitas Penderita gemuk Kelainan anak lebih besar dari 4000 g Bersifat keturunan Pada pemeriksaan terdapat gula dalam urine Riwayat kehamilan : Sering meninggal dalam rahim. kejadian meningkat sejalan dengan umur kehamilan. Klasifikasi Diabetes Melitus a) Type I ( IDDM ) : DM yang berganyung pada insulin b) Type II ( NIDDM ) : Orang tidak bergantung pada insulin. Pengaruh penyakit terhadap persalinan a.

Pemeriksaan optalmologist Albuminuria monitor penyakit ginjal Kontrol hipertensi. masukan dibatasi : mual. kacau mental. 5. 1. diuretic. Pencegahan Primer : untuk mengurangi obesitas dan BB. Agen Immunosupresive. urine encer. Abortus. anto rokok. pelambatan pengisin . Sekunder : deteksi dini. haus. hemodialisa Total Nutrisi Parenteral Tube feeding Hyperosmolar Pembedahan Obat : Glukokortikoid. Perdarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim. Agmen Beta Adrenergik Bloking. > usia kandungan 36 minggu b. 2. 5. d. muntah. kontrol penyakit hipertensi. takikardi. potensial penyakit saraf dan jiwa F. Bayi mengalami hypoglicemi post partum sehingga dapat menimbulkan kematian Pengaruh DM terhadap kala nifas a. diazoxida. f. gangren dan amputasi. Terapi Dialysis : peritoneal. Kemungkinan dibuktikan dengan : peningkatan haluaran urine. Dapat terjadi cacat bawaan. turgor kering. ASUHAN KEPERWATAN Diagnosa Keperawatan Kekurangan volume cairan berhubungan dengan : Diuresis osmotik ( dari hiperglikemia ) kehilangan gastrik berlebihan : diare. 3. Mudah terjadi infeksi post partum b. hipotensi. Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah menyebar Pengaruh DM terhadap bayi a. penurunan berat BB tiba-tiba. membran mokusa kering. 2. prematur. Janin besar ( makrosomia ) c. Post partum mudah terjadi infeksi. Tersier : Pendidikan tentang perawatan kaki.4. cegah ulserasi. perawatan. status metabolic dan diet rendah protein Pendidikan pasien tentang penggunaan medikasi untuk mengontrol medikasi G. e. 4. dipenilhidonsion. kelemahan. 1. 1. 3.

kurang nafsu makan. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Patricia.Ketidakcukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glokusa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein / lamak. DR. Kriteria hasil . Geofferey. Penurunan BB .Menunjukkan tingkat energi biasanya . mula. haluaran urine tepat secara individu. 3. Kemungkinan dibuktikan oleh : .Perubahan kimia darah . kelemahan. Rustam. penurunan kinerja. ketidakmampuan mempertahankan rutinitas biasanya. turgor kulit baik. 1989. kecenderungan untuk kecelakaan. Jakarta :EGC . Kriteria hasil : mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan dengan tanda vital stabil.Status hipermetabolisme. insufisiensi insulin . kortisol. Bandung : Elstar Offset. Edisi I. 2. Kajarta : EGC Mochtar. epenipren. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. 1984. tonus otot buruk. 1994. nyeri abdomen. dan kadar elektrolit dalam batas normal. . Jakarta : EGC Prawiroharjo. W. Sarwono. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung.Mendemonstrasikan berat badanstabil atau penambahan ke arah rentang biasanya / yang diinginkan dengan nilai laboratrium yang normal. Marilynn.Peningkatan kebutuhan energi : status hipermatabolik Kemungkinan dibuktikan dengan : . Ilmu Kebidanan. Kroteria Hasil : . Doenges E. Pelepasan hormon stress misal . 1976. Kelelahan berhubungan dengan : . lambung penuh. kelelahan. diare. . nadi ferifer dapat diraba. 2005.Melaporkan kemasukan makanan tak adekuat. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir.Kurang energi yang berlebihan.Mengungkapkan peningkatan energi .Mencerna jumlah kalori / nutrisi yang tepat .Penurunan masukan oral. Prof. dan hormon GH.Penurunan produksi energi metabolik .Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. Obstetri Patologi.kapiler. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan : . Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Jakarta : Widya Medika Ledewig. anoreksia. perubahan kesadaran.

Harry. Luz 1991. Ida Bagus. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta : EGC ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN PENYAKIT JANTUNG DAN HIPERTENSI . Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Yayasan Esentia Medika Heller. 1993.Manumba. 1990.

A. KONSEP DASAR 1. Penyakit jantung Keperluan jani yang sedang tumbuh akan oksigen san zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan, yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Oleh krena it di dalam kehamilan selalu terjadi perubahan-perubahan pada system kardiovaskular yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologis. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan oleh : a. Hipervolumia : dimulai sejak kehamilan 28 minggu dan mencapai puncak pada 28-32 minggu, lalu menetap. b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran rahim. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung. Saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah : a. Pada kehamilan 32-36 minggu dimana volume darah mencapai puncaknya. b. Pada kala II wanita mengerahkan tenaganya untuk mengedan dan memerlukan tenaga jantung yang erat. c. Pada post partum,dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk dalam sirkulasi darah ibu. d. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi. Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan : a. Dapat terjadi abortus b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan. c. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah. d. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati. e. Kematian jani dalam lahir ( KJDL ) Klasifiksi penyakit jantung dalam kehamilan : - Kelas 1 : a. Tanpa pembatasan gerak fisik. b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa - Kelas II : a. Sedikit dibatasi kegiatan fsiknya b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfisiensi jantung. d. Gejalanya adalah lelah, palpitalis, sesak nafas, dan nyeri dada ( angin pectoris ). - Kelas III : a. Kegiatan fisik sangat dibatasi b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung. - Kelas IV : a. Waktu istirahat dapat menimbulkan keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik. Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat meningkatkan kelas

tersebut menjadi III atau IV, Faktor-faktor yang dapat pula mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya aritmia jantung, dan hipertropi ventrikuler dan erhan sakit jantung. 2. Hipertensi Hipertensi dalam kehamilan berarti bahwa wanita telah menderita hipertensi sebelum hamil, disebut juga sebagai pre eklamasi tidak murni seperti mposed preeklamsia bia diserta pula dengan proteinnuria dan edemia. Penyebab utama hipertensi dalam kehamilan adalah : a. hipertensi esensial b. Penyakit ginjal Menurut Sims ( 1970 ) penyakit hipertensi dan penyakit ginjal yang dengan hipertensi adalah sebagai berikut : 1. Penyakit hipertensi a. Hipertensi esensial : ringan, sedang, berat, ganas( progresif ) b. Hipertensi renovaskuler ( penyakit pembulu darah ginjal ) c. Kartisio aorta d. Aldosteronisme primer e. Feokromositoma 2. Penyakit ginjal dan saluran kencing a. Glomerulonefritis ( mendadak, menahun, sindomaneftrotik ) b. Pielonefritis ( mendadak, menahun, ) c. Lupus eritmatusus, dengan glomerulitis, dengan glomerulonefritis d. Skelodermo dengan kelainan ginjal e. Pariarteritis nodosa dengan kelainan ginjal f. Gagal ginjal mendadak g. Penyakit polikistik h. Nefropatia diabetic a. Hipertensi esensial Adalah penyakit hipertnsi yang mungkin disebabkan faktor heriditer dan dipengaruhi oleh faktor emosi dan lingkungan. Wanita hamil dengan hipertensi tidak menunjukkan gejala-gejala lain kecuali hipertensi. Terbanyak dijupai adalah hipertensi jinak dengan tensi sekitar 140/90 sapai 160/100 mmHg. Jarang berubah menjadi ganas secara mendadak sampai sistolik 200 atau lebih. Gejala-gejala seperti kelainan kantung, arteriskelorosis, perdarahan otak dan penyakit ginjal baru timbul setelah dalam waktu lama dan penyakit terus berlanjut. 1) Kehamilan dengan hipertensi esensial akan berlangsung normal sampai aterme. 2) Pada kehamilan setelah 30 minggu 30 % adakan menunjukkan kenaikan tekanan darah namun tanpa gejala. 3) Kira-kira 20 % akan menunjukkan kenaikan tekanan darh yang mencolok, bisa disertai dengan proteinnuria dan edema ( preeklamsia tidak murni ) dengan keluhan : sakit kepala, nyeri epigastrium, nyeri muntah, dan gangguan penglihatan ( visus ). b. Penyakit ginjal hipertensi Penyakit ginjal dengan gejala hipertensi dan dapat dijumpai pada wanita hamil adalah :

- Glomerulonefritis akut dan kronik - Pielonefritis akut dan kronik Pemeriksaan : - Pemeriksaan urine lengkap dan faal ginjal - Pemeriksaan retina - Pemeriksaan umum tekanan darah dan nadi - Kuantitatif albumin air kencing ( urin ) - Darah lengkap dan ureum berdarah - Dll B. Etiologi 1. Penyakit jantung - Hipervolumia - Pembesaran rahim - Demam rematik 2. Hipertensi - Hipertensi esensial - Hipertensi ginjal C. Tanda dan gejala 1. Penyakit jantung - Aritmia - Pembesaran jantung - Mudah lelah - Dispenea - Nadi tidak teratur - Edema pulmonal - Sianosis 2. Hipertensi - Edema - Nyeri kepala - Nyeri epigastrium - Muntah - Gangguan visus ( superimposed pre exlamsia ) D. Penatalaksanaan 1. Penyakit jantung Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada gerajat fungsionalnya : - Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan. - Kelas II : Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan. Kurangi kerja fisik terutama antara kehamilan28-36 minggu. - Kelas III : Memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya dirawat di RS sejak kehamilan 28 – 30 minggu.

Sirkulasi . phenobarbital ). . hipertensi ganas ) b.Dapat mengalami memar spontan.Obat penenang ( solusio charcot. .Peningkatan tekanan darah .Malnutrisi . romatozin.Dapat mengalami pembesaran jantungdan murmur diastolic dan pristolik kontinu .Istirahat. Penyakit ginjal . perdarahan lama. palpitasi.Obesitas . 2. Nyeri dan rasa nyaman Dapat mengeluh nyeri dada dengan tanpa paktivitas . Pengkajian data Dasar a.Diberikan obat hiptensif ( apabila tekanan darah sangat tinggi ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPERTENSI DAN PENYAKIT JANTUNG 1.Dispenia nocturnal karena pengerahan tenaga b.Pengawasan pertumbuhan janin .Dapat mengalami edemia ekstrimitas bawah e. Hipertensi a.Clubbing dan sianosis . Hipertensi esensial .Obat hipotensif .Perubahan poksisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan uterus.kelas IV : Harus dirawat di RS dan dinerikan pengobatan bekerjasama dengan kardiolog.Riwayat penyakit jantung congenital dan demam reuna .Nadi mungkin menurun . dan trobositopenia.Pengakhiran kehamilan ( dilakukan apabila terjadi upper imposed pre axlamsia. .Mual dan muntah . Makanan dan cairan .Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal .Diit rendah garam .Diabetes melitus . diazepam. Aktifasi dan istirahat .Takikardia. disritmia . Eliminasi Menurunnya keluaran urine d. .Istirahat ..Riwayat hipertensi kronis c.

Urine lengkaptes .EKG ( Elektrodiograf ) .f.Takipnea .Pencitraan jantung radionukleutida .Seri ultrasonografi . Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan primer dan skunder. Diagnosa Keperawatan a. Kurangnnya volume cairan ( kegagalan regulasi ) berhubungan dengan kehilangan protein plasma. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan hipertensi : 1. dan perubahan inotropik pada jantung. perubahan faal ginjal. perubahan kontratiktilitas miokard.Pernafasan mungkin kurang dari 14 x / menit . Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output. penurunan tekanan osmotic koloid pasma.Echokardiograf .Dispnea . Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi. penyakit/kondisi kronis. Pemeriksaan disgnostic . perpindahan cairan keluar intravaskuler. 5.Tes cairan amniotikultrasonografi 2. 3. 6.Hb dan HT ( hemoglobin dan memoktorit ) . ruang pengetahuan tentang proses infeksi.Amniosentris . Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi. . 4.Ortopnea g.Tes presor supnie . Penurunan curak antung berhubungan dengan hipovolumia. b.GDA ( gas darah arteri ) . Kemanan Infeksi streptokokus berulang h.Kratinin serum . 2. Kelebihan volum cairan berhubungan dengan peningkatan volum sirkulasi. 2. intake cairan yang berlebihan. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) berhubungan dengan kurangnnya informasi dan interpretasi yang salah. peningkatan tahanan aliran darah sistemik.Krekle . Pernafasan .Strees kontraksi .LED ( laju endap darah .SDP ( sel darah putih ) . Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan penyakit jantung : 1. disritmia. penurunan aliran balik vena.Hemoptisis .

Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. 1990. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn. Jakarta : EGC ASKEP IBU HAMIL DENGAN HYPERTIROID TINAJUAN TEORI . Ida Bagus. Prof. 6.3. 1976. Kajarta : EGC Mochtar. Resiko cedera berhubungan dengan edema / hipoksia jaringan. 1994. 4. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat intake nutrisi. Nutrisi. 1989. Bandung : Elstar Offset. abnormallitas factor pembekuan. Jakarta : EGC Prawiroharjo. 1984. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. Obstetri Patologi. Marilynn. Yayasan Esentia Medika Heller. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Rustam. Doenges E. Kurangnya pengetahuan ( kebutuhan belajar berhubungan dengan kurangnya informasi dan pemahaman tentang proses penyakit. Luz 1991. W. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. Jakarta :EGC Manumba. 5. 1993. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Edisi I. Jakarta : Widya Medika Ledewig. Sarwono. Geofferey. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolumia. Patricia. Harry. kejang. DR. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. 2005. Ilmu Kebidanan.

Kesulitan dalam menelan . timbul dalam masa kehamilan.Pemberian obbat-obat profiltluarasil dan metiazol dosis rendah .Hiperkinesis .Konstipasi .Mual dan muntah . Tanda dan gejala Hipertiroid : . 2. Penderita hipertiroid biasanya mengalami gangguan haid ataupun kemandulan. karena bahaya kemungkinan timbulnya dekompensasi kordis.Kehamikan sering berakhir ( abortus habitualis ) . Penatalaksanaan .Takikardia .Partus prematurus .Lekas letih . 1.Kala II hendaknya diperpendek dengan akstraksi vakum / forsial. B. Kejadian penyakit ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umunya disebabkan oleh adenoma tunggal. lakukan pada trimester III .Hiptonik obat D. Etiologi Hipertiroid : .Tremor . Kadang juga terjadi kehamilan atau timbul penyakit baru. Konsep Dasar Hipertiroid pada kehamilan ( morbus basodowi ) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan naiknya metabolism basal15-20 %.Eksoftalmus .Kenaikan BMR sampai 25 % .Pembesarankelenjar tiroid . penyakit tulang atau tanpa gejala.Operasi tiroidektomi.Aneroksia .Pembesaran kelenjar tiroid . Pengaruh penyakit terhadap kehamilan dan persalinan .A. Pasien dengan penyakit primer ini mungkin mengidap batu ginjal.Hiperfungsi kelenjar tiroid .Peningkatan metabolism basal 15-20 % C. kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit Kehamilan dapat membuat strua tambah besar dan keluhan penderita tambah berat.

rusak. 2) Erythema. yaitu perubahan ujung jari → tabuh / clubbing finger disebut PLUMER NAIL. kemerahan. karena jaringan orbita dan otot-otot mata diinfiltrasi oleh limposit. PENGKAJIAN 1. Komplikasi dan Pengangan Kematian meningkat dan dapat mencapai 50 %. licin. mengkilat. Dalam kenyataan tetani neonatal sering membantu dalam memerlukan hiperparatiriodisme ibu. Mata ( Opthalmoptik ) 1) Retraksi kelopak mata atas → mata membelalak / tanda Dalrymple. tetapi mungkin timbul hipokalsemia pasca bedah. bila keluhan menjadi ringan. yang kemudian dioperasi untuk mengangkat adenomanya.8o C → indikasi Krisis Tyroid. Kulit 1) Panas. Cardio vaskuler. 1) Peningkatan tekanan darah 2) Tekanan nadi meningkat 3) Takhikardia 4) Aritmia 5) Berdebar-debar 6) Gagal jantung . 4) Laktrimasi 5) Ortalmoplegia 6) Tanda Jefrey : kulit tidak dapat mengkerut pada waktu kepala sedikit menunduk dan mata melihat objek yang digerakkan ke atas. 4) Ujung kuku/jari → terjadi Aerophacy. Pembedahan adalah terapi yang dianjurkan. 2) Proptosis ( eksoptalmus ). 3) Iritasi Conjunction dan Hemosis. 5) Kalau ada peningkatan suhu → lebih dari 37. ASUHAN KEPERAWATAN A. diet makanan kalsium 4 gelas susu / hari dapat dianjurkan. F. halus. c. 7) Tanda Rosenbach : tremor pada kelopak mata pada waktu mata menutup. 11) Tanda Molbius : kelemahan dalam akomodasi / konvergensi mata / gagal konvergensi. Kalau perlu dilakukan pemeriksaan kalsium berkala dan bila nyata harus dilakukan koreksi dengan kalsium glokonat 2-3 x 20 ml cairan 10 %. 10) Tanda Van Graefe : kelopak mata terlambat turun dibandingkan boa mata. mixedema local. 3) Kuku → terjadi onycholosi → terlepas. Pemeriksaan Fisik : a. banyak keringat. b. 8) Tanda stelwag : mata jarang berkedip. pigmentasi.E. lembab. 9) Tanda Dalrymple : retraksi kelopak mata bagian atas sehingga memberi kesan mata membelalak. Pengaruh Kehamilan Terhadap Penyakit Kehamilan dapat membuat struma tambah besar dan keluhan penderita bertambah berat.

Hypomenorrhoe b. . 2) Polidipsi ( rasa haus berlebihan → banyak minum ) j. Otot 1) Kekuatan menurun 2) Kurus 3) Atrofi 4) Tremor 5) Cepat lelah 6) Hyperaktif refleks tendom g. Sistem persyarafan 1) Iritabiltas → gelisah 2) Tidak dapat berkonsentrasi 3) Pelupa 4) Mudah pindah perhatian 5) Insomnia 6) Gematar h. Leher 1) Teraba adany apembesaran tyroid ( goiter ). Amenorrhoe Karena kelenjar tyroid mempengaruhi LH 2) Laki-laki : a. Status mental dan emosional 1) Emosi labil → lekas marah.d. 2) Diare → bising usus hyperaktif 3) Enek 4) Berat badan turun f. Penurunan potensi k. Respirasi 1) Perubahan pola nafas 2) Dyspnea 3) Pernafasan dalam 4) Respirasi rate meningkat e. Kehilangan libido b. Gastrointestinal 1) Poliphagia → nafsu makan meningkat. menangis tanpa sebab 2) Iritabilitas 3) Perubahan penampilan i. Status reproduksi 1) Pada wanita : a. Status ginjal 1) Polyuri ( banyak dan sering kencing ).

diaporesis. f. Konsulkan pasien untuk makanan yang disukai. 2. Kaji efektifitas selimut hipetermia bila dilakukan : . tidak mengalami diare.2) Briut ( + ). tinggi vitanin B. Intervensi . pada waktu yang sama dengan timbangan dan pakaian yang sama. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Tujuan : nutrisi adekuat.5oC. Pertahankan lingkungan yang sejuk. Berikan kompres hangat sesuai kebutuhan. halyaran urine setiap 2 sampai 4. e. tinggi karbohidrat. mual. Kaji efektifitas pengobatan untuk mengatasi mual dan nyeri abdomen. hypertiroid < g) B. the.tidak yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen. hypertiroid > 8 g. cola. Berikan lingkungan dengan pengunjung yang cocok bila pasien yang menginginkannya. Berikan asetamenofen sesuai pesanan ( aspirin merupakan kontra indikasi ) f. Hindari stimulan : kopi. Pantau tanda vital. masukan dan haluaran seimbang. 2. Hipetermia yang berhubungan dengan status hipermetabolik ditandai dengan panas. Pantau masukan diet tinggi kalori. Serum T3 dan T4 meningkat ( Normal : T3 :8 – 16 g. c. TSH serum menurun c. hindari jus yang mungkin dapat menyebabkan diare. g. b. Pantau masukan dan haluaran setiap 8 jam. Hasil yang diharapkan / evaluasi : Berat badan meningkat sampai batas yang normal bagi pasien : makan diet yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen . Tujuan : suhu normal 36. Berikan dorongan untuk memperbanyak minum 2 sampai 3 liter setiap hari . nyeri abdomen dan atau peningkatan BMR ditandai dengan BB turun. e. a. i. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan diare.Lakukan tindakan untuk mencegah kerusakan kulit. Tingkatkan masukan cairan sampai 2500 ml / hari. Intervensi : a. Gunakan pakaian dan linen tempat tidur yang tipis. g. T4 4-11 g ) b. b. Hindari makanan dengan jumlah yang banyak serat atau makanan yang banyak mengandung bumbu. Tawarkan makanan dalam jumlah kecil tapi sering dan tambahan diantara waktu makan. Pemeriksaan Diagnostik a. BMR meningkar e. Tyroid → radio aktif iodine up take ( RAIU ) meningkat ( Normal: 10-35 % ) d. Timbang pasien setiap hari.5oC – 37. . tingkat kesadaran. atau makanan yang lain yang mengandung kafein atau teobromin yang meningkatkan perasaan kenyang dan paristaltik. j. d. PBI meningkat ( Normal :4 g – 8 g. tinggi protein. h. d. c.

3. Tujuan : Aktifitas dapat dilakukan sesuai toleransi. Berikan lingkungan yang stabil. f. afek dan persepsi setiap 4 jam sampai 8 jam : laporkan adanya perubahan negatif. Kaji tingkat kesadaran. d. berikan penjelasan yang jelas dan singkat. Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa bukti-bukti intoleran. orientasi. Meminta bantuan hanya ketika membutuhkan. 4) Hindari pergantian personel yang sering. Rencanakan perawatan bersama pasien. Hentikan aktifitas pada awal timbulnya gejala intoleran : dispnea. Biarkan pasien membuat priorotas dalam perawatan di dalam keterbatasanna. h. 2) Konsisten dalam waktu dan saat melakukan prosedur atau aktifitas. Berikan peralatan yang dibutuhkan. b. Pasien sadar dan responsif b. Batasi akatifitas sampai tingkat toleransi pasien dengan melakukan pangkajian respon ( mis : kaji tanda vital selama melakukan aktifitas dan bandingkan dengan tanda vital dasar ). Intervensi : a. Berikan jarak waktu antara prosedur untuk memungkinkan waktu istitrahat yang cukup. Rencanakan aktifitas setiap hari dan pola istirahat yang dapat memudahkan meningkatan toleransi untuk perawatan diri. Intervensi : a. . tanpa stress. c. 5) Cegah situasi yang menimulkan kemarahan emosional bila memungkinkan d. e. Kolaborasikan dengan dokter dalam menggunakan tindakan pendinginan tambahan bila keadaannya membutuhkan. Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi dan orang : berikan penekanan bahwa hal tersebut tepat adanya. tenang. 1) Atasi lingkunangan yang terlalu berisik. Bantu pasien saat melakukan aktifitas yang tidak mampu dilakukan karena kelemahan atau tremor. Hasil yang diharapkan / evaluasi : a. Perubahan proses fikir yang berhubungan dengan peningkatan rangsangan sistem saraf simpatis oleh tingginya kadar hormon tiroid ditandao dengan labil. Kaji tanda vital dasar dan tingkat aktivitas sebelumnya. Intoleran aktivitas yang berhubunagan dengan ketiddakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan karena peningkatan kecepatan metabolisme dan intoleransi terhadap panas ditandai dengan kelemahan. keletihan. takipnea. 3) Batasi pengunjung sesuai kebutuhan. Tanda-tanda vital dan haluaran urine normal. takikardia. 4. g. gugup. Hasil yang diharapkan /evaluasi : a. b. Tujuan : tidak terjadi perubahan proses pikir. dan tidak merangsang. c.h. kebutuhan lain untuk mencegah penggunaan energi yang berlebihan oleh pasien sebelum aktivitas. peka rangsang. b.

Menggunakan teknik reduksi stress ASKEP TOKSEMIA GRAVIDARUM . g. Antisipasi kebutuhan akan pencegahan reaksi hiperaktif. j. i. f. h. Hasil yang diharapkan : a. Pasien berorientasi b. hindari hal-hal yang membutuhkan manipulasi motorik halus. Berikan aktifitas yang menghibur dan benda-benda yang menurunkan rangsangan . Berespon sesuai terhadap situasi dan orang c. Informasikan pasien bahwa aktifitasnya mungkin dibatasi. Orientasikan kembali pasien pada lingkungan sesuai dengan yang dibutuhkan dan berikan petunjuk yang mengorientasikan ( misalnya : jam. gambar-gambar yang dikenal pasien dan sebagainya ).e. Ajarkan teknik menurunkan stress dan kaji penggunaannya oleh pasien. kalender. Panyau terhadap reaksi buruk terhadap pengobatan.

Bila plasenta tidak mendapatkan cukup darah. Hal seperti ini juga disebut sebagai toxemia atau pregnancy induced hypertension (PIH). meskipun jarang terjadi. Keadaan ini dapat disertai kelainan faal hati berupa kenaikan kadar fosfatase alkali dan transaminase dalam serum. 2. yait karena koagulasi intravaskuler (DIC) dengan hemolisis dan nekrosis hati Gambaran histopatologis menampakkan adanya trombi fibrin dalam sinusoid di periportal disertai tanda-tanda perdarahan serta nekrosis. Faktor Resiko Resiko tinggi mengalami preeklamsia adalah : Baru pertama kali hamil Ibu hamil yang ibunya atau saudara perempuannya pernah mengalami preeklamsia Ibu hamil dengan kehamilan kembar. tapi resiko utama terjadinya pre-eklamsi adalah abrupsio plasenta. dan ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun Ibu hamil yang sebelum kehamilannya memiliki penyakit darah tinggi atau penyakit ginjal Patofisologi Preeklamsia dapat membuat plasenta tidak mendapatkan darah dalam jumlah yang cukup. Tanda dan Gejala 1. 4. Perdarahan intrahepatik dan subkapsuler menimbulkan keluhan nyeri epigastrik atau nyeri perut kuadran kanan atas. dan protein bisa ditemukan dalam urin anda. Umumnya tidak ada pengobatan khusus terhadap kelainan faal hati yang terjadi pada toksemia gravidarum. 3. sedangkan ikterus jarang timbul. hanya terjadi pada keadaan berat. terminasi kehamilan akan memperbaiki keadaan klinis dan histopatologisnya. ibu hamil usia remaja. . sedangkan tanda-tanda inflamasi tidak ada. maka bayi anda tidak akan mendapatkan cukup oksigen dan makanan. Ini dapat mengakibatkan kelahiran dengan berat badan rendah. Etiologi Penyebab dari Toksemia Gravidarum sampai saat ini tidak diketahui. ruptur spontan hati yang mengakibatkan perdarahan intra peritoneal dan syok memerlukan tindakan bedah darurat.TINJAUAN TEORI Pengertian Preeklamsia (toksemia gravidarum) adalah suatu kondisi dimana tekanan darah meningkat selama masa kehamilan. Bila tekanan darah anda meningkat. tubuh anda menahan air.

Tekanan darahpun meningkat lebih tinggi. nyeri di daerah epigastrium. Gejala-gejala dari pre-eklamsi adalah: tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm hg wajah atau tangan membengkak kadar protein yang tinggi dalam air kemih. Komplikasi Komplikasi utama dari pre-eklamsi adalah sindroma hellp. Sindroma hellp cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklamsi tertunda. bayi segera dilahirkan melalui operasi sesar. bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur. jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi. hipertensi dan akhirnya proteinuria. diplopia. protein dalam urin 2. 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. Pemeriksaan Penunjang Penlaian Keadaan Ibu Klinis . Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati) 3. juga dikatakan menderita pre-eklamsi. pandangan kabur. sedikit buang air kecil (BAK). mual atau muntah-muntah Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklamsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklamsia akan timbul. Preeklamsia berat : sakit kepala. mual/muntah. retensi air. yang terdiri dari: 1. Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah). kelelahan. Manifetasi Klinis Biasanya tanda-tanda preeklamsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan. Klasifikasi 1.Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm hg. Pada preeklamsia ringan tidak ditemukan gejal-gejala subyektif. skotoma. penglihatan kabur. Hemolisis (penghancuran sel darah merah) 2. jika terjadi sindroma hellp. Pada preeklamsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal. diikuti edema. sakit di perut bagian kanan atas. edema menjadi lebih umum. kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklamsi. bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklamsi. Preeklamsia ringan : Tekanan darah yang tinggi. dan proteinuria bertambah banyak. napas pendek dan cenderung mudah cedera. tidak dapat melihat cahaya yang terang.

Mual & muntah: antiemetik 3.TD: derajat keparahan. Antihipertensi: a. o Tremor. Bila anda mengidap preeklamsia berat. ptekie Hepatik: nyeri kw kanan atas & epigastrik. mual & muntah Ginjal: output & warna urin Penilaian Keadaan Ibu lab Hematologi: o Hb. APTT. berbaring pada sisi kiri tubuh agar janin anda tidak menindih urat darah. AT o PTT. dokter anda mungkin akan mengobatinya dengan memberikan obat-obat untuk menekan tekanan darah sampai perkembangan bayi anda cukup untuk dapat dilahirkan dengan selamat. Nyeri subhepatik: Morfin 2-4 mg iv. Antasida. Mengurangi makan garam 4. urea. Fibrinogen. 2. perdarahan. SGPT. somnolen o Mual & muntah Hematologi: edema. o Gg penglihatan-buta. kabur. LDH Glukosa Ginjal: o Proteinuria o Kreatinin. hubungan TD dgn CVA. Istirahat. FDP o LDH. Sering melakukan pemeriksaan sebelum kelahiran 3. hiperaktif. 2. bukan kejang SSP: Keparahan sakit kepala. risiko CVA pd ibu . Min. asam urat Penilaian Keadaan Janin Gerakan ( > 10x / 24jam ) DJJ USG untuk perkembangan Profil biofisik Indeks cairan amnion Pemeriksaan doppler arus darah: tali pusat Penatalaksanaan Keperawatan 1. Minum 8 gelas air per hari Penalataksanaan Medis 1. iritabilitas. Minimalkan palpasi 4. asam urat Hepatik: o SGOT.

kondisi ibu u/ persalinan yg aman c. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. pemeriksaan obstetrik. Gunakan sedikit garam atau sama sekali tanpa garam pada makanan anda Minum 6-8 gelas air sehari Jangan banyak makan makanan yang digoreng dan junkfood Olahraga yang cukup Angkat kaki anda beberapa kali dalam sehari Hindari minum alcohol Hindari minuman yang mengandung kafein Dokter anda mungkin akan menyarankan anda untuk minum obat dan makan suplemen tambahan. atau menderita gangguan dalam penglihatan. Max. berat badan diperiksa tiap hari. Ada faktor-faktor yang dapat penyebab terjadinya tekanan darah tinggi yang dapat dikontrol. pemeriksaan umum. dan edema dicari terutama pada daerah sacral Balans cairan ditentukan tiap hari Funduskopi dilakukan pada waktu penderita masuk rumah sakit dan kemudian tiap 3 hari Keadaan janin diperiksa tipa hari dan besarnya dinilai Penderita diingatkan untuk segera memberitahukan apaabila sakit kepala. Ikuti instruksi dokter anda mengenai diet dan olahraga. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. ada juga yang tidak. merasa mual. merasa nyeri di daerah epigastrium. air kencing. saling berkaitan dan dinamis Pengkajian Anamnesis. dan pemeriksaan laboratorium rutin Tekanan darah.b. menentukan cara pemecahannya. . Mendapat waktu u/ penilaian lbh lanjut: memperpanjang kehamilan &persalinan pervaginam jk mungkin Pencegahan Sampai saat ini. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. terus menerus. tidak ada cara pasti untuk mencegah preeklamsia.

Monitor hasil lab yang meningkat keseimbangan berhubungan dengan volume cairan.Diagnosa Keperawatan 1.Tanda-tanda vital hematokrit) dbn .Edema ekstremitas berkurang 2 Pantau tanda dan Mengurangi edema gejala adanya yang terjadi preeklamsi Meningkatkan Anjurkan klien untuk aliran plasma ginjal diet tinggi protein dan perfusi dengan asupan plasenta natrium sedang 2. Perfusi jaringan perifer tidak efektif b/d peningkatan tekanan darah Rencana Keperawatan N O 1 DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL PK: PreeklamsiSetelah dilakukan tindakan keperawatan. PK: Preeklamsi 2. perawat dapatmeminimalk an komplikasi preeklamsi yang terjadi dengan kriteria hasil: . output cairan yang retensi cairan pengaturan klien akan akurat sehingga BB memiliki .Tanda-tanda vital dbn .Tidak terjadi kejang . Kelebihan volume cairan b/d gangguan mekanisme pengaturan 3.Kolaborasi pemberian obat anti kejang sesuai indikasi Kelebihan Setelah dilakukan Fluid Manajement: Mempertahankan volume cairantindakan . retensi cairan dengan kriteria (peningkatan hasil: BUN.Pertahankan balance cairan b/d gangguankeperawatan pencatatan intake dan Pada edema terjadi mekanisme selama x24 jam.Kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai indikasi .penurunan .Monitor tanda-tanda .5-7 Dapat mengambil gr per hari dan 6-8 tindakan lebih dini gelas air perhari Untuk menurunkan Anjurkan klien untuk tekanan darah istirahat dengan posisi Untuk mencegah lateral rekumben kiri kejang (eklamsi) Ajarkan klien tandatanda bahaya preeklamsi dan segera melaporkan jika hal itu terjadi .

bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal.id PREMATUR KEHAMILAN DEFINISI Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba.org www.Anjurkan klien untuk pada bony .Pertahankan hidrasiMelancarkan perifer yang yang adekuat peredarah darah efektif dengan .Capillary refilll ≤ output dan penekanan 2 dtk . Walaupun kecil.Ubah posisi pasien .Lakukan penimbangan .Nadi perifer latihan sesuai prominen distal dan kemampuan proksimal kuat .Rendahkan peningkatan peningkatan klien memiliki ekstremitas viskositas darah tekanan darah perfusi jaringan .americanpregnancy. Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan.Berat badan diuretik sesuai stabil indikasi .Intake dan berat badan setiap output 24 jam hari seimbang .web.Evaluasi edema danaliran darah perifer tidakkepaerawatan nadi perifer Mencegah efektif b/dselamax24 jam.Warna kulit dbn setiap 2 jam jika .Monitor status cairan Melancarkan kriteria hasil: meliputi intake dan peredaran darah .Nadi perifer vital teraba . 1998 : 221). ini berbeda dengan .3 .Tidak ada edema perifer Perfusi Setelah dilakukan Circulatory Care Meningkatkan jaringan tindakan .Kolaborasi pemberian .Tidak ada edema memungkinkan perifer DAFTAR PUSTAKA Pregnancy Induced Hypertension (PIH): Preeclampsia or Toxemia http://www. . Bayi prematur adalah Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran.sehatgroup.

6. Penyakit ibu yang menyertai kehamilan seperti hipertensi. Keadaan sosial ekonomi rendah 3. faktor yang mempengaruhi Prematuritas adalah sebagai berikut: 1. Penyulit kebidanan 9. ETIOLOGI Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui : 1. 2. Anemia. merokok dan caffeine Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya persalinan preterm diantaranya: 1. 6. 7. Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui). Infeksi pada vagina aseden (naik) menjadi amnionitis Sedangkan menurut Mochtar (1998 : 220). Kawin dan tidak kawin: Tak syah 15 % prematur.Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi 10. Holmer = sebagian besar tidak di ketahui. sosial ekonomi 2. 5. 3. 4. Perokok berat. dengan lebih dari 10 batang/ hari. Kehamilan dengan hidramnion. abruption placenta. alkohol. Kurang gizi 4. plasenta previa. malnutrisi dan diabetes mellitus. Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang. janin kembar.prematur. dan sewaktu hamil 4. suku bangsa. amputasi serviks. Keadaan rahim yang sering menimbulkan kontraksi dini : Serviks inkompeten karena kondisi serviks. toxemia. 1998 : 219 ) Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan preterm Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :Menurut Manuaba (1998 : 221) 1. Eastman = kausa prematur 61. Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun. 8. BB ibu sebelum hamil. Kehamilan dengan perdarahan antepartum pada solusio plasenta.Kondisi umum 2. Kelainan anatomi rahim 5. Kehamilan dengan ketuban pecah dini: terjadi gawat janin. temperatur tinggi.( Mochtar . pre-eklampsia. pecahnya sinus marginalis. Umur ibu. incompetence cervical. walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur. ganda. kawin sah 13 %prematur .9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui) 2. placenta previa. 3. Kelainan kongenital rahim: 7. Bakteriura (infeksi saluran kencing ) 3.

riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya . Kondisi Yang Menimbulkan Kontraksi Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan. Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm . terang dan berwarna pink (tembus cahaya) • Vena di bawah kulit terlihat (kulitnya transparan) • Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput • Rambut yang jarang • Telinga tipis dan lembek • Tangisannya lemah • Kepala relatif besar • Jaringan payudara belum berkembang • Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan) • Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk • Pernafasan yang tidak teratur • Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit ( anak laki – laki ) • Labia mayora belum menutupi labia minora ( pada anak perempuan). Hidramnion. Jarak antara persalinan yang terlalu rapat 8. misalnya pada plasenta praevia. kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin : 1. penyakit jantung 7. Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil berat 9. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten. infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah. 4. solusio plasentae. Keadaan dimana bayi terpaksa dilahirkan prematur. Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Prenatal ( antenantal ) care 6. Kelainan Bawaan Uterus Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.5. infeksi vagina dan serviks. toksemia gravidarum. atau kehamilan ganda GEJALA Gambaran fisik bayi prematur: • Ukuran kecil • Berat badan lahir rendah (kurang dari 2.5 kg) • Kulitnya tipis. 2. Serviks Inkompeten 5. Ketuban Pecah Dini 3. kehamilan ganda. Anemia. dan lain-lain.

Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami konisasi. Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek. Kelahiran Prematur Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan. 6. 2002 : 313 ) Penanganan Persalinan Preterm Penanganan Umum 1.. 2.. 2003 : 588 ). Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau. Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar.inkompeten. Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya. Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.( Wiknjosastro et. Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran. ( Saifuddin et. . Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat. Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial. Pencegahan Persalinan Preterm Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut : Hal – hal yang dapat dicegah 1. Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum.( Oxorn. Kantongϖ ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar. Kehamilan Ganda 7. 2002 : 302 ). 2.al. 2. Kelahiran presipitatus dan yangϖ tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur. Episiotomi mengurangi tekananϖ pada cranium bayi. Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. Menurunkan atau mengobati Anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi. 1. Prinsip Penanganan. al. Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam. Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran.

5.Riwayat kehamilan 2. Vaktor Ovum. 2.X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas . Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui). Plasenta previa.Pulmonary . Hal – hal yang tidak dapat dicegah . analisis feses dan lain sebagainya.Data penunjang . Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat. Diagnosa keperawatan Dx. 1.Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ .Neurologik . 9.Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa .3. ASKEP PREMATUR KEHAMILAN Pengkajian 1. 1. Resiko tinggi disstres pernafasan berhubungan dengan immaturitas paru dengan penurunan produksi surfactan yang menyebabkan hipoksemia dan acidosis . Insersi tali pusat.Gastrointestinal . 6.Status bayi baru lahir 3. Tempat insersi plasenta. 1998 : 220 ). Congenital anomaly. Suku bangsa.Pemeriksaan fisik secara head to toe meliputi : . 7.Renal .Muskuloskeletal . Hamil ganda.Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia) . analisa gas darah. 3. kultur darah. 8.Kadar kalsium serum. golongan darah.Integumen .Reproduksi 4. 4. penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia .Kardiovaskular . Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan) ( Mochtar.Kadar elektrolit. urinalisis.

2007) . efek fototherapy atau kehilangan melalui kulit atau paru. 6. zat besi. Defiensi nutrisi berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen. Louis Missouri. harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. serta kehilangan kalori. Markum.volume 2 Edisi 15. Gangguan sensori persepsi : visual. suatu kondisi antepartum. ( Varney Helen.Fourth Edition. 3. Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing. Pengertian Kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu. Ilmu kesehatan Anak. 1990. Dx. Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant yang sakit di rumah DARTAR PUSTAKA Klaus & Fanaroff. Jakarta. POAT MATUR KEHAMILAN A . gustatory. kehamilan postterm. 1991. kehamilan lewat bulan.H.FKUI. kinestehetik. dan pascamaturitas. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imaturitas imunologik bayi dan kemungkinan infeksi dari ibu atau tenaga medis/perawat Dx. Donna. yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir. EGC. 5. 7. Resiko hipotermia atau hipertermia berhubungan dengan prematuritas atau perubahan suhu lingkungan Dx. L. antara lain kehamilan memanjang. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rapuh dan imaturitas kulit Dx. taktil dan olfaktory berhubungan dengan stimulasi yang kurang atau berlebihan pada lingkungan intensive care Dx. tidak adekuatnya intake kalori. Kehamilan lewat bulan. Penata Laksanaan Neonatus Resiko Tinggi. atau 280 hari setelah ovulasi. 8. Edisi 4 EGC. auditory. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan imaturitas. 4.A. jilid I. Nelson. 2000. St.Dx. Wong. Dx. 2.Bagian Ilmu Kesehatan Anak. radiasi lingkungan.Jakarta. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. dan kalsium dan kehilangan cadangan glikogen karena metabolisme rate yang tinggi.Mosby-Year Book Inc. 1998. Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir.

Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Meskipun insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Akibatnya induksi yang menjadi bersifat relatif. 15% postpartum C. Rustam. 1999). Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum diketahui hingga kini. kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu.Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi.Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. Etiologi Etiologinya msih belum pasti.Jika Tp telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan. Prognosis Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan bila lebih dari 41 minggu karena angka mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat setelah usia 40 minggu. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum. sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. B . Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah . Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Namun kurang lebih 18 % kehamilan akan berlanjut melebihi 41 minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu bergantung pada populasi dan kriteria yang digunakan. Faktor yang dikemukakan adalh hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan. Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu. terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian besar induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu berdasarkan hitungan dengan USG. Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. 55% intrapartum. kemudian menurun setelah 42 minggu. Dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih berubah.ubah.Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG yang makin banyak digunakan. Selain itu.

4. distosia bahu dan perdarahan postpartum.kematian tersebut. 3.5 pada lahir post term.4 -4% ( Mochtar. 5. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabiil dengan amniosenteris baik transvaginal maupun transabdominal. baguan proksimal tibia. Pengaruh terhadap Ibu dan Janin · Terhadap Ibu Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena (a) aksi uterus tidak terkoordinir (b). tulang kuboid diameter biparietal 9. · Terhadap janin Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dri kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan.8 atau lebih. Penatalaksanaaan aktif pada bagi AGA dengan lebih bulan kenyataan dapat mengubah hasil positif yang diingunkan. USG : ukuran diameter biparietal. inersia uteri.4 – 12%. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil. dan mortalitas. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat pusat penulangan pada bagian distal femur. diagnosis tidak sukar.1998) Kesepakatan yang ada adalah bahwa resiko mortalitas perinatal lebih tinggi pada IUGR atau bayi SGA daripada AGA lewat bulan. sesudah kehamilan 42 minggu. Apabila diambil batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3. Clausson et al Menegaskan bahwa odds ratio untuk kematian perinatal untuk bayi AGA tidak berbeda signifkan pada bayi post term. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya. angka penatalaksanaan anestesia epidural. Hanya dengan pemeriksaan antenatal yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan diagnosis. D . Janin besar (c) Moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai : partus lama. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil. kulitb ketuban akan bercmapur lemak dari sel sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. . maka sel – sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. persalinan sesar. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar. Helen. Namun bagi SGA mempunyai odds ratio 10. 2. 2007) Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10. Pemeriksaan Penunjang 1.Rustam. tetap dan ada yang berkurang. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas. kesalahan letak. gerkan janin dan jumlah air ketuban. (Varney.

sonogram. mengawasi dan membaca denyut jantung janin. atau keduanya) . Keputusan untuk mempercepat persalinan harus selalu ditetapkan dengan membandingkan resiko dan manfaat masing masing penatalaksanaan tersebut. pilihan wanita yang bersanngkutan. 2. karena term yang berkembang cenderung mempertimbangkan usia kehamilan sebagai suatu rangkaian yang kontinu.. status medis ibu. Penatalaksanaan aktif-induksi persalinan pada semua wanita yang usia kandungannnya melebihi 42 minggu. kesejahteraan janin. Uji oksitosin ( stress test). Secara umum metode induksi yang paling efektif adalah dengan meningkatkan denyut jantung janian dan hiperstimulasi pada uterus. Kardiotografi. hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan. volume cairan amnion.Melebihi 10% = kehamilan diatas 36 minggu . dengan pertimbangan kondisi janin yang cukup baik / optimal.Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu 6. Penatalaksanaan antisipasi-antisipasi kesejahteraan janin dengan meningkatkan pengkajian dan intervensi jika hanya terdapat indikasi. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin 10. 9. Jika ternyata reaksi janin kurang baik. menurt warnanya karena dikeruhi mekonium. Penatalaksanaan Medis Dua prinsip pemikiran : 1. 7. Para klinisi sejak lama menyadari perlunya mempercepat persalinan jika terdapat kondisi obstetri dan medis yang mengancam ibu dan janin. Ada berbagai variasi kemungkinan penatalaksanaan antisipasi dan penatalaksanaan aktif. Pemeriksaan sitoloi vagina E . Amnioskopi. karena insufiensi plase 8. dan metode induksi sesuai pertimbangan. Penatalaksanaan aktif versus penatalaksanaan antisipatif tergantung reabilitas kriteria yang digunakan dalam menentukan usia kehamilan. riwayat kebidanan sebelumnya. melihat derajat kekeruhan air ketuban. antara lain: Pertimbangan kesiapan serviks ( skor bishop). Sebelum ada metode yang diterima untuk induksi persalinan seksio sesariamerupakan satu-satunya cara yang dapat diterima untuk mengatasi maslaah ini. . perkiraan berat badan janin ( dengan manuver leopot. Pemeriksaan pH darah kepala janin 11. Variabel yang sangat memberatkan adalah usia gestasi janin. yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus.

. mekonium sindrom aspirasi mekonium pada neonatus. praktik induksi telah banyak meningkat selama satu dekade terakhir. Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test. APV) dua kali dalam seminggu. c. dokumentasikan rencana yang disepakati ( 40+ minggu) 3. 5. IUGR menjelang usia cukup bulan f. yang dimulai saat kehamilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. seksio sesaria. Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan karena tidak alami dan dapat meningkatkan bahaya. Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42 minggu 1. infeksi dan perdarahan sangat mengejutkan bagi masyarakat awam. 6. yang dimulai saat kemilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan.Induksi persalinan juga diperkirakan komplikasinya. Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST yang nonreaktif atau APV yang randah. cairan bercampur. kehamilan lebih bulan akan meningkatkan resiko lahir mati. 4. Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume. Namun walaupun banyak pihak yang menentang induksi persalinan dan tidak adanya standardisai kriteria. Diabetes dependent e. Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat diandalkan mulai penanganan aktif mengacu pada protokol. Pada kenyataannya induksi persalian meningkatkan resiko distress janin. Oligohidramnion. Indikasi untuk induksi persalinan mencakup hal – hal : a. NST) dua kali dalam seminggu. Riwayat lahir mati pada kehamilan cukup bulan. Penatalaksanaan aktif pada kehamilan leat bulan : Induksi persalinan Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan lewat bulan. Preeklamsi yang cukup parah menjelah cukup bulan d. Induksi persalian dikaitkan dengan peningkatan anastesia epidural dalam seksio sesaria untuk wanita primigravida yang usia kehamilanyya lebih dai 41 minggu dan taksiran berat jain 3800 gram atau lebih. Hasil uji janin meragukan ( skor profil biosfik rendah) b.Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4 minggu ( 40+minggu) 2. distosia bahu jika janin makrosomia.

namun peran servik sangat penting yang aktivitasnya tidak sepenuhnya dipengaruhi uterus. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan intravagina ( disetujui FDA untuk mencegah ulkus peptikum. peregangan servik secara mekanis). Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin sejak tahun 1970-an. Dengan catatan servik sudah matang. 2. • Metode non hormon Induksi persalinan 1. Dinoproston 1) Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2. memiliki kisaran keberhasilan secara beragam dan atau sedikit penelitian untuk menguatkan rekomendasinya. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk jel 0. stimulasi payudara. Oksitosin yang digunakan melalui intravena ( atas persetujuan FDA untuk induksi persalinan ). Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik dari oksitosin namun kombinasi keduanya menunjukkan hal yang positif. a. Pengaturan dosis. tersedia dalam dosis 10 mg yang dimasukkan ke vagina ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1995) 2) Merk dagang predipil. keberhasilan induksi persalinnan setelah servik matang dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama oksitosin. Meski metode induksi sekarang diutamakan pada induksi kontarkasi uterus. Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan ( misalnya minyak jarak. bukan untuk induksi) b.5 mg deng diberika intraservik ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1993) 3. hasil yang diharapkan dari induksi persalinan adalah “ ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah kontraksi distimulasi sebelum persalinan spontan terjadi”. dan cara pemberian dan waktu pemberian untuk semua metode hingga kini masih dalam penelitian. Mifepriston 9 RU 486. antagonis reseptor progesteron) ( disetujui FDA untuk aborsi trimester pertama. dan prostaglandin terbukti lebih efektif sebagai agens yang mematangkan seriks dibanding oksitosin. Pemisahan ketuban Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya memisahkan membran amnion dari bagian servik . Misprostol 1) Merk dagang cytotec. bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200 mg untuk diberikan per oral. Untuk menghasilkan persalinan yang aman. • Metode hormon untuk induksi persalinan : 1.Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist.

2. Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna. 3. atau perdarahan pervaginam yang tidak diketahui. Beberapa uji klinis membuktikan bahwa teknik ini sangat efektif. Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian ballon di isi udara 25 hingg 50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. dan letak bagian bawah. Amniotomi Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). pembukaan dan posisi lazimnya. . 5.yang mudah diraih dan segmen uterus bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam Dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk menentukan penipisan serviks. Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu. Pompa Payudara dan stimulasi puting. Saat dikaukan bidan harus memeriksa dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik. Penangannya dengan menstimulasi selama 15 menit diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam sebanyak 3 kali perhari. Presentasi selain kepala merupakan kontrainsdikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun. posisi yang tidak diketahui. Meskipun amniotomi sering dilakukan untuk menginduksi persalinan. 4. Penggunaan cara ini relatif lebih aman kerna menggunakan metode yang sesuai dengan fisiologi kehamilan dan persalinan. plasenta letak rendah.. Beberapa usapan biasanya eektif untuk menstimulasi kontaksi awal reguler dalam 72 jam. Aktifitas seksual. Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun. melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan membaran. Kateter forey atau Kateter balon. Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin. Pemisahan memban servis tidak dilakukan pada kasus – kasus servisitis. 6. atau bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. namun hingga kini masih belum ada studi prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini. maupun plasenta previa. pembukaanm posisi. Minyak jarak Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada kehamilan cukup bulan.

Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea. stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat. bidan dianjurkan mendokumentasikan secara teliti rencana penatalaksanaan yang disepakati bersama oleh wanita. G. Sementara pada penatalaksanaan antisipasi. dosis. 2. ASUHAN KEPERWATAN I.Nyeri b/d operasi sectio caesarea . stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban. stadium I : kulit tampak kering.Pada saat persalinan.Jika bidan tidak merasa bahwa penatalaksanaan aktif pada persalinan lewat bula diindikasikan. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman. protokol dalam memuat panduan rekomendasi yang mencakup pemberian. dan langkah kewaspadaan. Bidan maupun wanita harus memahami secara benar standar perawatan setempat untuk menangani kehamilan lewat bulan. penting dinilai keadaan cairan ketuban. verniks kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada.Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant II Dx Bayi Postmatur } Kerusakan integritas kulit b/d maserasi . Dx PostMatur Kehamilan . wakru. F. 3. begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia . Wanita sebaiknya diberi tahu jika terdapat status yang tidak mencakup pada penggunaan resep.asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium : 1. Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan. -hipovolemia .Ansietas b/d proses kelahiran lama . rapuh dan mudah mengelupas (maserasi). dan bidan harus tetap merujuk pada literatur terkini seputar penanganan kehamilan lewat bulan.

Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Ilmu Kebidanan. B.asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta. Bersumber dari kelainan plasenta 1. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Cunningham. Jakarta.2003.2006.EGC Prawiroharjo. Jakarta.} Sianosis b/d mekonium telah bercampur air ketuban } Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia: -hipovolemia . Gary. Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta. Arcan Askep Perdarahan Ante Partum A.2007. Etiologi Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh : a. dkk.Endometrium yang kurang baik . Rustam. 1999.4 vo1. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta. Helen Dkk. Plasenta previa Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ).EGC Mochtar. Ida Bagus Gede. Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : .EGC Manuaba. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.21. Obstetri William ed. Pengertian Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. c. Sinopsis Obstetri. Sarwono. b. Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 : a.Jakarta. Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta. Varney.1998.

Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain : a.Chorion leave yang peresisten . varises yang pecah ). misalnya kelainan serviks dan vagina ( erosion. biasanya tidak begtu berbahaya. dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak. Apabila perdarahan sedikit. Solusi plasenta berat • Abdomen nyeri-palpasi janin sukar • Janin telah meninggal • Plasenta lepas diatas 2/3 bagian • Terjadi gangguan pembekuan darah b. hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta. peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Solusi plasenta Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung kehamilan 28 minggu. 2.. Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua. Solusi plasenta sedang • Bagian janin masih teraba • Perdarahan antara 500 – 1000 cc • Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian c. Solusi plasenta ringan • Tanpa rasa sakit • Pendarahan kurang 500cc • Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian • Fibrinogen diatas 250 mg % b. pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. Kadangkadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus. C. polip. sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Patofisiologi 1. . Tidak bersumber dari kelainan plasenta. dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa.Korpus luteum yang berreaksi lambat 2. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan.

Komplikasi 1. Akibatnya.B.R c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala d ) Perdarahan berwarna merah segar e ) Letak janin abnormal 2. sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.Infeksi . hematom retroplasenter akan bertambah besar. Plasenta previa a ) Prolaps tali pusat b ) Prolaps plasenta c ) Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan d ) Robekan-robekan jalan lahir e ) Perdarahan post partum f ) Infeksi karena perdarahan yang banyak g ) Bayi prematuritas atau kelahiran mati a.Couvelair uterus kontraksi tak baik.Perdarahan . D. menyebabkan pendarahan post partum .Emboli dan obstetrik syok b. Komplikasi tidak langsung . Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya.Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. Solusi plasenta a ) Perdarahan disertai rasa sakit b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat d ) Abdomen menjadi tegang e ) Perdarahan berwarna kehitaman f ) Sakit perut terus menerus E. Plasenta previa a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S. Tanda dan Gejala 1. Langsung .

c. 3. Terapi aktif Prinsip : Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan perdarahan segera berhenti. kepala sudah turun . Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di bawah 2500 gr. Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap. 2. menyebabkan anuria dan uremia. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. cardizol. bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek. kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse darah ada. Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show ( perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rectal apalagi vaginal) b. F. Solusio plasenta a. 3. e. Plasenta previa a. b. Penatalaksanaan 1. Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan. Terapi konsrvatif Prinsip : Tunggu sampai paerdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan. Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan. dan siapkan donor transfusi darah. Morphin suntikan subkutan 2. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa. belum inpartus. Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari premature. 2. Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta : 1. d. dan pentazol. Sambil mengawasi periksa golongan darah.Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum .Nekrosis korteks renalis.. Tranfuse darah. perdarahan sedikt janin masih hidup. Apabila ada penilaian yang baik. progestin atau progesterone observasi teliti. Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks. Berikan obat-obatan spasmolitika. Sambil menunggu atau mengawasi berikan : 1. Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama.

5. Janin meninggal : lakukan embriotomi 4.Penyakit berat Keadaan psikososial . Darah segar beberapa botol b. Keluhan utama Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu.sampai hodge III-IV : a. pembukaan kecil b. d. b. perdarahan agak banyak. Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan : a. Solusio plasenta dengan panggul sempit. b. Data umum Biodata.Dukungan keluarga .Imunisasi E. Riwayat menstruasi . Fibrinogen Konsep Asuhan Kep. Solusio plasenta dengan toksemia berat. Riwayat persalinan G. Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup. Riwayat kehamilan . Riwayat kesehatan yang lalu D. Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik. identitas ibu hamil dan suaminya. Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan. Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps. Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan : a. 7.Haid terakhir . c. Riwayat keluarga . Pada hipofibrinogenemia berikan : a. 1. 6. B. Solusio plasenta dengan anak hidup.Riwayat penyakit ringan . Plasma darah c. C. Solusio plasenta dengan letak lintang. Pengkajian Data Subjektif A. pembukaan masih kecil.Keluhan .Pandangan terhadap kehamilan F.

Laju pertumbuhan rambut berkurang. anemis .- Haid pertama Sirkulasi haid Lamanya haid Banyaknya darah haid Nyeri Haid terakhir H.Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. Buah dada / payudara .Lama kawin Data Objektif Pemeriksaan fisik 1.Gigi dan mulut c.Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola.Mata : pucat. Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil.Volume darah meningkat . f. . Riwayat perkawinan .Status perkawinan . Wajah .Peningkatan volume tidal. Rambut dan kulit . . Abdomen Palpasi abdomen : . penurunan resistensi jalan nafas.Bertambahnya ukuran dan noduler e.Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.Diafragma meningga.Menentukan tinggi fundus uteri .Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.Peningkatan frekuensi nadi . b. . Jantung dan paru . . .Menentukan letak janin .Hudung .Kawin pertama . Leher d. . putting susu dan linea nigra. a.Peningkatan pigmentasi areola putting susu .

Haluaran perkemihan. Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya. dan tanda persalinan. Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini : .Denyut jantung janin 3. mencakup tanda-tanda vital.g.Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2.Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah baring dengan cara menggosok punggung. memposisikan dengan bantal.Tinggi fundus uteri . pelacakan pemantauan elektronik. 3. 2. . Pemberian cairan IV atau produk darah sesuai pesanan.Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ? . Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus.Ultrasonografi .Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ? . Takut berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan diri dan bayinya.Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) . 4.Panggul dan janin lahir .Pemeriksaan dalam 2. Intervensi 1. pengalihan aktivitas.Hipertropi epithelium h.Pemeriksaan inspekulo .Posisi dan persentasi janin .Pemeriksaan radio isotopic . Diagnosa Keperawatan 1. Khusus . Pemeriksaan penunjang .Persendian tulang pinggul yang mengendur . 2.Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ? .Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ? . System musculoskeletal . tanpa perdarahan. 3.Gaya berjalan yang canggung . Gangguan perpusi jaringan ( plasental ) yang berhubungan dengan kehilangan darah.Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ? .Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ? . Vagina .

o Kelenjar bartolin membengkak. nyeri tekan. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat. stafilokokus dan E. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks. Bakteri : neiseria gonore. Mulai dari chlamydia. pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan. gonorrhea. 2. dan sebagainya. Bakteri : neiseria gonore.coli C. Infeksi alat kelamin wanita bagian atas : Virus : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika. Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina ETIOLOGI INFEKSI a. Biasanya. Jamur : asinomises. seiring pembengkakan pada kelamin yang memerah. Juga dapat disertai demam.terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk. B.juga dapat disertai demam . PENGERTIAN Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. b.membengkak. Evaluasi 1. ETIOLOGI Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis. serta terapi mulai diberikan. Jamur : kandida albikan. Jika tak ada infeksi. TANDA dan GEJALA Tanda dan gejala o Pada vulva : perubahan warna kulit. timbunan nanah dalam kelenjar. PATOFISIOLOGI Lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi cairan). tak akan menimbulkan keluhan D. ASUHAN KEPERAWATAN BARTOLINITIS TINJAUAN TEORI A. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman. “Kuman dalam vagina bisa menginfeksi salah satu kelenjar bartolin hingga tersumbat dan membengkak.4.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Vullva In speculo G. selama sedikitnya 5-7 hari. rasa sakit saat buang air kecil. atau ada benjolan di sekitar alat kelamin. salpingitis. Tampak vaginal discharge dengan sifat mukoid keruh. PENATALAKSANAAN TATALAKSANA INFEKSI ALAT KELAMIN WANITA Berikut ini adalah beberapa infeksi alat kelamin wanita yang sering dijumpai di Puskesmas dan tatalaksana yang disesuaikan dengan sarana diagnosis dan obat-obatan yang tersedia. b. Sering anamnese hanya didapatkan riwayat kontak dengan penderita. molasic. kemerahan atau erosif. Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). diminum 3×1 sesudah makan. o Terdapat abses pada daerah kelamin o Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah. hingga kelenjar tersebut mengempis. c. F. 1. PENGOBATAN Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg. Laboratorium : Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus gram negatif intraseluler lekosit. E. 99 kasus GO pada wanita menyerang servik uteri dan 50-75 % kasus pada wanita tidak ada gejala atau keluhan. Mungkin didapatkan komplikasi seperti : bartolinitis. GONORE (GO) Anamnese : a. dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax. yang sering diabaikan oleh penderita. rasa sakit saat berhubungan dengan suami. dll). . Kalau ada keluhan biasanya disuria dan lekore. mukopurulen atau purulen. Pemeriksaan : Pemeriksaan dengan spekulum : ostium uteri eksternum bisa tampak normal.o Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal. Ketiga komplikasi tersebut terahir disebut Pelvis Inflamatory Disease (PID). abses tubo ovarii bahkan pelvik peritonitis. diminum 3×1 untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan.

URETRITIS NON GONORE Anamnese : Biasanya tidak ada keluhan. atau 3) Amoksisilin atau Ampisilin : 3. lekosit >10/lapangan pandang. Urin : berawan atau didapat benang-benang pendek (threads) Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). Sering bersifat kumatkumatan (yang membedakan dengan GO) Riwayat kontak sering (+) Pemeriksaan : Mungkin ada discharge uretra. mungkin ada nyeri tekan suprapubis. 2) Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-) Urin : berawan atau threads (+). Penatalaksanaan : 1) Tetrasiklin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari atau 2) Erytromisin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari. Terapi : 1) Penisilin Prokain : 4. atau dosis awal 1. .2) Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus intraseluler lekosit gram negatif. 2 hari berturut turut. dilanjutkan 4 X 500 mg selama 4 hari. Sering juga dikeluhkan keluar darah pada akhir dari buang air kecil (terminal dysuria).5 gram oral dosis tunggal diteruskan 4 X 500 mg selama 10 hari. Selama masa terapi sebaiknya kegiatan sex dihentikan. Kalau ada. Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-).5 gram oral dosis tunggal (lebih poten bila ditambahkan Probenesid 1 gram). 7) Pengamatan dan pemberian ulang dilakukan pada hari ke 3.8 juta IU IM (skin test dulu).500 mg. 7 dan 14.Tetrasiklin cap: 4 X 500 mg selama 5 hari. keluhan biasanya adalah disuria dengan atau tanpa discharge. 3) Pada kasus persisten lama pengobatan 21 hari. atau 4) . Bila disertai sistitis. 2. sesudah itu setiap bulan selama 3 bulan. Catatan : Terapi sebaiknya diberikan juga kepada patner sex penderita (suami) secara bersamaan. atau 2) Kanamisin : 2 gram IM dosis tunggal. atau 5) Kotrimoksasol tablet 480 : 1 X 4 tablet selama 5 hari 6) Bila ada komplikasi : Amoksisilin atau Ampisilin : 3.

fluor albus cair dengan jumlah banyak dan berwarna kuning atau putih kehijauan. H. dan pemakaian antibiotika yang tidak terkontrol serta kegemukan. 4. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. In speculo : Terasa sakit. selama 7 hari. KANDIDIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah keputihan dan gatal di vagina. Kriteria Minimal : 1) Fluor albus : cair. sedikit. karena > 50% penderita GO wanita disertai dengan trikomoniasis. adanya plak putih. berwarna kuning atau putih kehijauan. warna kuning atau putih kehijauan. sebagai dosis tunggal. Mungkin juga dikeluhkan adanya rasa sakit waktu melakukan aktivitas sexual. Pemeriksaan : Pemeriksaan in speculo : terasa sakit. Riwayat suami kencing nanah perlu ditanyakan. PENCEGAHAN . sedikit. Kriteria Minimal : 1) Vuvovaginitis. pemakaian Pil KB. 2) Punctatae red spots (+) 3) Laboratorium : Puskesmas ? Penatalaksanaan : 1) Metronidasol : 1 X 2. Pemeriksaan : Vulva : tampak merah. banyak. Penatalaksanaan : 1) Topikal : Nistatin vaginal tablet : 1 X 1. Discharge kental. Laboratorium : Fluor albus : dengan mikroskup cahaya Trichomonas vaginalis (+). putih seperti keju dan biasanya menutup portio. TRIKOMONIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah adanya keputihan dengan jumlah banyak. udem.000 mg. dan 2) Nistatin tablet : 4 X 1 tablet. mungkin didapat juga fisura atau erosi (Vulvovaginitis).3. Sakit pada saat berhubungan sex (dyspareunia) juga sering dikeluhkan. Faktor predisposisi : diabetes militus. selama 14 hari. khas : didapat bintikbintik merah (punctatae red spots atau strawbery cervix) di dinding vagina. 2) Discharge kental. Laboratorium : Sel ragi (yeast cells) atau tunas (budding body) dan pseudohypha atau spora.

5. Tak perlu malu berkonsultasi dengan dokter kandungan sekalipun belum menikah. Alat reproduksi memiliki sistem pembersihan diri untuk melawan kuman yang merugikan kesehatan. Jika tidak dibutuhkan. berbagai cara bisa dilakukan. Berhati-hatilah saat menggunakan toilet umum. kuman juga bisa berasal dari pasangan Anda. 4. Kondisi ini dapat menimbulkan luka. setelah buang air besar. Pilih pakaian dalam dari bahan yang menyerap keringat agar daerah vital selalu kering. Periksakan diri ke dokter jika mengalami keputihan cukup lama. Kuman dapat hidup subur di daerah tersebut. jangan menggunakan pantyliner. Konsumsi makanan sehat dan bergizi. Jika Anda bergantiganti pasangan. ASUHAN KEPERWATAN A. karena dapat memicu kelembapan. Perempuan seringkali salah kaprah.Untuk menghadang radang. Salah satunya adalah gaya hidup bersih dan sehat : - 1. Biasakan membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual. 3. 9. Mereka merasa nyaman jika pakaian dalamnya bersih. 8. Hindari mengenakan celana ketat. tak gampang mendeteksi sumber penularan bakteri. Padahal penggunaan pantyliner dapat meningkatkan Kelembapan kulit di sekitar vagina. Peradangan berhubungan erat dengan penyakit menular seksual dan pola seksual bebas. Sebaliknya jika digunakan berlebihan bisa berbahaya. Produk pembersih dan pengharum vagina yang banyak diperdagangkan sebetulnya tidak diperlukan. Usahakan agar Anda terhindar dari kegemukan yang menyebabkan paha bergesek. Ingat. 6. 7. PENGKAJIAN Perubahan warna kulit Udem Cairan pada kelenjar Nyeri Benjolan pada bibir vagina Bau cairan Kebersihan tubuh Jumlah dan warna urin . Hindari melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. Karena keputihan dapat dialami semua perempuan. ada penderita radang yang menggunakannya sebelum Anda. 2. sehingga keadaan kulit di sekitar selangkangan menjadi panas dan lembap. Biasakan membersihkan diri. dengan gerakan membasuh dari depan ke belakang. Siapa tahu.

d kurangnya pemahaman terhadap sumber sumberinformasi nyeri b.d proses penyakit C.d keterbatasan gerak Kerusakkan integritas kulit b. DIAGNOSA Defisit perawatan diri b.d edem pada kulit Defisit pengetahuan b. INTERVENSI Membantu pasien untuk memenuhi higiene pribadi Memantau keadaan luka Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan diri (kebersihan alat genetal) Kaji tingkat nyeri Gunakan cara-cara interaktif yang berfokus pada kebutuhan untuk membuat penyesuaian dalam peraktik seksual atau untuk meningkatkan koping terhadap masalah/gangguan seksual .- B.d keadaan luka cemas Disfungsi seksual b.

2. 2. Lokalisasi Mioma Uteri Mioma intramural . E. dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen. Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus. belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche. Kalau proses ini terjadi mendadak. Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun.Askep Ibu dengan Myoma Uteri A. Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu. Mioma Submukosum . Etiologi Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti. 1. 3. sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause Torsi (putaran tangkai) Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. C. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%). tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut. D. Pengertian Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid. 3. Pemeriksaan Diagnostik 1. . Komplikasi Pertumbuhan leimiosarkoma. B. ujung tumor. Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus. Nekrosis dan Infeksi Pada myoma subserosum yang menjadi polip. Mioma Subserosum . Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar. kadangkadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina.

Lekosit : turun / meningkat. Eritrosit : turun 2. Susan Martin. leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker. 6. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). akibat pada hubungan seksual. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi. F. gangguan sensorik / motorik. 4. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut. 1998)..1. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan. TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus. serviks. Pengkajian …. cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya. . Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam. Albumin : turun. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang. yang dapat mempengaruhi tindakan operasi. 4. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot 3. konsistensi dan ukurannya. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi. 2. USG : terlihat massa pada daerah uterus. perubahan dalam masalah kewanitaan. 3. Diagnosa Keperawatan 1. teraba massa. 5. Cara Penanganan Mioma Uteri Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. B. kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding. perut pada malignan neoplasmatic desease.

Lakukan palpasi pada kandung kemih. Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien 5. Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya. gangguan sensorik / motorik. Ajarkan teknik relaksasi Meningkatkan kenyamanan klien 4. Intervensi dan Rasional 1. mengatur posisi. mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya. Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri. Intervensi dan Rasional 1. Kolaborasi pemberian analgesik Mengurangi nyeri Dx 2 Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya. tidak mengenal sumber informasi. Memudahkan tindakan keperawatan 2. mengalirkan air keran. bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi. Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine Melihat perubahan pola eliminasi klien 2. Mencegah terjadinya retensi urine Daftar Pustaka . Rencana Keperawatan Dx 1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma Tujuan Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri. Tujuan Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine. Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat. Kurang pengetahuan tentang kondisi. observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri. 3.5. Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien 3.

laserasi dinding vagina bawah pada kala II. Jakarta Galle. 2.meneran sebelum pembukaan lengkap. 2001.reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Charette.5 No. c. Definisi Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel. Jakarta ASKEP PROLAPS UTERI TINJAUAN TEORI 1.penatalaksanaan pengeluaran plasenta. Tanda dan Gejala Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun.Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang ketegangannya. Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai: a.dkk. Poedjo. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. 2000. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Mimbar Vol. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Edisi 8. EGC. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause.Biasanya jika penderita berbaring. Bandung Carpenito.2 Mei 2001 Saifidin.keluhan menghilang atau menjadi kurang.sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. Abdul Bari.Bagian Obstetri & Ginekologi FK. 1993. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia eksterna. Jakarta Hartono. Jane. Danielle. Elstar.Persalinan lama dan sulit.Oleh karena itu prolaps uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. EGC.2000. Rasa sakit di pinggul dan pinggang(Backache). Ginekologi. Lynda Juall. 2000. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala: . b. Unpad.

Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali. 4.Mula –mula pada siang hari. obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel.atau yang diselesaikan dalam penurunan dan menyebabkan urethrokel.terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam menopause.mengejan.akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut.Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap. Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi: 1. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa penuh di vagina. 3.Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri.Asdites dan tumortumor di daerah pelvis mempermudah terjadinya hal tsb.factor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus.Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut: 1. pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu berjalan dan bekerja.Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra.dan lambat laun menimbulkan ulkus yang dinamakan ulkus dekubitus. Serviks uteri terletak diluar vagina.1.Terutama akibat persalinan. baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan vagina. 2.prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta dsb. Miksi sering dan sedikit-sedikit. lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena infeksi serta luka pada portio uteri.Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja. 3. d.Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas.kemudian lebih berat juga pada malam hari 2. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya. 2.partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk porolaps yang sudah ada.dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar.ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk. Etiologi Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering.khususnya persalinan pervagina yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan ligament yang tergolong dalam fasia endopelviks dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul.dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri totalis. e.Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetric.Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus.Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal hanya dibelakang urethra ada . Patofisiologi Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat . f.

Penatalaksanaan Medis Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu.padahal tidak ada prolapsus uteri.ada benjolan ke vagina terdapat di atas rectum.sebagai terapi tes.Dinding vagina bagian belakang turun dan menonjol ke depan. 5.yaitu menonjolnya rectum kelumen vagina 1/3 bagian bawah.dekat pada oue. Penderita pada posisi jongkok disuruh mengejan dan ditemukan dengan pemeriksaan jari.kistik dan tidak nyeri. Penderita berbaring pada posisi litotomi. a.untuk menghilangkan simpton yang ada sambil menunggu waktu operasi dapat dilakukan Pengobatan Operatif Prolapsus uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina.Serviks uteri yang lebih panjang dari biasanya dinamakan Elongasio kolli.dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina. Latihan-latihan otot dasar panggul b.Kantong hernia ini dapat berisi usus atau omentum. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan.ada kemungkinan terjadi prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan.jika dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri.Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan.Enterokel adalah hernia dari kavum Douglasi. Stimulasi otot –otot dengan alat listrik c.kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetric atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rectum kedepan dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol kelumen vagina yang dinamakan retrokel. .ditentukan pula panjangnya serviks uteri.Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam. b.atau kondisinya tidak mengijinkan untuk dioperasi.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus vagina adalah adanya keluhan. Untuk memastikan diagnosis. Pengobatan dengan pessarium.atau penderita menolak untuk dioperasi.jari dimasukkan kedalam rectum.Pada pemeriksaan rectal.atau prolapsus uteri yang tidak ada belum perlu dioperasi. Pemeriksaan Penunjang Friedman dan Little(1961) menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut: a.apakah portio pada normal atau portio sampai introitus vagina atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina.bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi.prolapsus vagina perlu ditangani juga.Enterokel menonjol kelumen vagina lebih keatas dari retrokel.dan selanjutnya dapat diraba dinding retrokel yang menonjol kelumen vagina. c.Penonjolan ini berbentuk lonjong.Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan.kateter itu diarahkan kedalam sitokel.dengan indikasi:kehamilan.atau penderita masih ingin mendapat anak lagi.Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel. 6.memanjang dari proksimal kedistal. Menegakkan diagnosis retrokel mudah.dinding rectum lurus.lubang yang membuat kantong antara urethra dan vagina.Maka.penderita menolak untuk dioperasi.

Pucat.seperi umur penderita.tingkat prolapsus dan adanya keluhan. . 2. Bayi menangis terns. kembung. Mual. Pengkajian • Data Subyektif ♦ Sebelum Operasi Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan. Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap.keinginanya untuk mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus. • Data Obyektif ♦ Sebelum Operasi Nyeri bila benjolan tersentuh. Tidak nafsu makan. Dehidrasi. Puasa. Konstipasi. Demam. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PROLAPS UTERI 1. Spasme otot. ♦ Sesudah Operasi Terdapat luka pada selangkangan. Diagnosa Keperawatan • Sebelum Operasi Diagnosa Keperawatan 1. Mual. Anak / bayi rewel. gelisah. Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya. Terdengar bising usus pada benjolan. Lemas. Selaput mukosa mulut keying. Pusing. Nyeri di daerah benjolan. kembung. ♦ Sesudah Operasi Nyeri di daerah operasi. muntah. Pada saat bayi menangis/mengejan dan batukbatuk kuat timbul benjolan.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari beberapa factor.

Jelaskan penyebab rasa sakit. lokasi. Beri posisi senyaman mungkin bunt pasien. • Sesudah Operasi Diagnosa Keperawatan 1. 2. Beri kesempatan anak untuk bertanya. 6. Berikan posisi tidur yang menyenangkan clan aman. Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah. jam operasi. 3. Hasil yang diharapkan : Ekspresi wajah tenang. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. waktu puasa. Rencana tindakan : 1. jenis dan intensitas nyeri 3. Diagnosa Keperawatan 2. Hasil yang. Letakkan anak pada tempat tidur dengan teknik yang tepat sesuai dengan pembedahan yang dilakukan. Kaji tingkat kecemasan pasien. diharapkan : Nyeri berkurang. Rencana tindakan : 1. Kalau perlu pasang infus clan NGT sesuai program dokter. Observasi tanda-tanda vital clan keluhan pasien. 5.Rencana tindakan : 1. Ajarkan tehnik-tehnik relaksasi = tarik nafas dalam. 4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan inkontenensia urin Hasil yang diharapkan : Turgor kulit elastis. 4. cars menguranginya. Dengarkan keluhan pasien 4. Jelaskan tentang keadaan pasien setelah dioperasi. 3. Bed obat-obat analgetik sesuai pesanan dokter. Rencana tindakan 1. Observasi tanda-tanda vital 2. . Timbang berat baclan anak tiap hari. secara bertahap. Ciptakan lingkungan yang tenang. 7. 5. 6. 2. 3. 2. Jelaskan pada pasien tentang apa yang akan dilakukan di kamar operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan. Nyeri berhubungan dengan luka operasi. Kaji intensitas nyeri pasien. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan. Observasi keluhan nyeri. Diagnosa Keperawatan 3.

Diagnosa Keperawatan 2. 4. Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi. Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan. Diagnosa Keperawatan 3. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. 6. Observasi keadaan luka operasi dari tandatanda peradangan : demam. 2. Kalau perlu ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi. Beri kompres hangat. Hasil yang diharapkan Luka operasi bersih. 6. Rawat luka operasi dengan tehnik steril. ticlak ada perdarahan. Suhu dalam batas normal (36-37°C) Rencana tindakan : 1. kering. Monitor pemberian infus. Rencana tindakan : 1. 5. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. 6. Hasil yang diharapkan : 1. Rawat luka dengan teknik steril. tidak ada bengkak. kering. 2. 5. 4. tidak kering. 2. Anjurkan untuk sesegera mungkin anak beraktivitas secara bertahap. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan. merah. 7. Timbang berat badan tiap hari. Hasil yang diharapkan Turgor kulit elastis. . ticlak bengkak. Monitor tanda-tanda dehidrasi. Beri terapi antibiotik sesuai program medik. 3. Mual clan muntah ticlak ada. tidak ada perdarahan. 3. Ajarkan tehnik relaksasi. Rencana tindakan : 1. 4.5. 8. Monitor pemberian infus. Beri minum & makan secara bertahaP. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. 5. Lakukan tindakan keperawatan anak dengan hati-hati. Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya. Berikan therapi analgetik sesuai program medis. 7. 2. Jaga kebersihan sekitar luka operasi. Luka operasi bersih. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi clan lingkungannya. Resiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pads luka operasi. Diagnosa Keperawatan 4. 3. bengkak dan keluar cairan.

Hasil yang diharapkan : 1. keduanya 10%. DEFENISI Infertilitas adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-3 x / minggu. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya. Orang tua dapat memelihara kebersihan luka operasi clan perawatannya. balutan jangan basah & kotor. Orang tua mengerti tentang perawatan luka operasi. 2. Diskusikan tentang keinginan keluarga yang ingin diketahuinya. perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. Jaga kebersihan luka operasi. ETIOLOGI Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. 4. dan kontrol kembali ke dokter. Selain itu. dan idiopatik 10%. Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi. 7. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. istri 4055%. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri. 2. Apabila mukus sedikit di serviks. Jelaskan tentang perawatan dirumah. Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu pengeluaran mukus serviks. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/ minum obat secara teratur di rumah. 5. Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang akan membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang akan menghambat transportasi sperma ke vagina 2. Rencana tindakan : 1. Hasil penelitian membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil. Ajarkan kepada orang tua cara merawat luka operasi & menjaga kebersihannya. 3. Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain : a.6. tanpa mamakai matoda pencegahan selama 1 tahun Ada 2 jenis infertilitas : • Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali. Pada wanita • Gangguan organ reproduksi 1. • Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah itu tidak pernah hamil lagi B. ASKEP INFERTILITAS A. Diagnosa Keperawatan 5. bekas operasi pada serviks yang .

stress. • Kegagalan implantasi Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi. ejakulasi rerograde. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu • Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi. Setelah terjadi pembuahan. mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang 4. dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan. obat-obatan anti cancer • Abrasi genetik . Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil. Pada pria Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria yaitu : • Abnormalitas sperma. misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus. b. Hambatan ini dapatterjadi karena adanya tumor kranial. • Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi. hipospadia • Abnormalitas ereksi • Abnormalitas cairan semen. Akiatnya fetus tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus. proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. Kelainan pada uterus. zat kimia. perubahan pH dan perubahan komposisi kimiawi • Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut sehingga terjadi penyempitan pada obstruksi pada saluran genital • Lingkungan. dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi hipothalamus dan hipofise. motilitas • Abnormalitas ejakulasi. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini.menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim 3. maka folicle mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gengguan ovulasi. gas ananstesi. Radiasi. • Endometriosis • Abrasi genetis • Faktor immunologis Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu. morfologi. asap rokok. maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing.

memiliki payudara yang tidak berkembang.dan gonatnya abnormal • Wanita infertil dapat memiliki uterus • Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi. atau tumor • Traktus reproduksi internal yang abnormal 2. mempengaruhi pembentukan folikel. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma. bentuk dan motilitas sperma) • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen D. Pria • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. PATOFISIOLOGI a. adhesi. narkotik.C. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. alkohol. radiasi. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi. MANIFESTASI KLINIS 1. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi . Wanita • Terjadi kelainan system endokrin • Hipomenore dan amenore • Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik • Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek. rokok. Wanita Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. Abnormalitas ovarium.

PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik: Perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat ( spt distribusi lemak tubuh dan rambut yang tidak sesuai ). penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido. Pria Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Pemeriksaan System Reproduksi 1. Dengan pengambilan specimen urine dan darah pada berbagai waktu selama siklus menstruasi. E. Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan. • Histerosalpinografi . Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. Uji lendir serviks metoda berdasarkan hubungan antara pertumbuhan anatomi dan fisiologi serviks dengan siklus ovarium untuk mengetahui saat terjadinya keadaan optimal getah serviks dalam menerima sperma • Analisa hormon Mengkaji fungsi endokrin pada aksis ovarium – hipofisis – hipotalamus. infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus. Meliputi pengkajian BBT (basal body temperature ) 2. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu. b.genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik. Wanita • Deteksi Ovulasi 1. • Sitologi vagina Pemeriksaan usap forniks vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina • Uji pasca senggama Mengetahui ada tidaknya spermatozoa yang melewati serviks ( 6 jam pasca coital ). • Biopsy endometrium terjadwal Mengetahui pengaruh progesterone terhadap endometrium dan sebaiknya dilakukan pada 2-3 hr sebelum haid.

jaringan parut dan adesi akibat proses radang. • Biopsi testis Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan testis memakai metoda invasif untuk mengidentifikasi adanya kelainan patologi.tidak ada Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin Pemeriksaan ini berguna untuk menilai kembali fungsi hipothalamus. atau seluran ejakulatori. distrosi rongga uterus dan tuba uteri.2 detik persentase gerak sperma motil > 60% Aglutasi Tidak ada Sel – sel Sedikit. dan LH. serta informasi kehamilan intra uterin.Radiografi kavum uteri dan tuba dengan pemberian materi kontras. . • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona F.6 centipose Jumlah sperma 20 juta / ml Sperma motil > 50% Bentuk normal > 60% Kecepatan gerak sperma 0. seperti. perkembangan dan maturitas folikuler. 2. • USG Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat struktur kelenjar prostat. hipofisis jika kelainan ini diduga sebagai penyebab infertilitas. Uji yang dilakukan bertujuna untuk menilai kadar hormon tesrosteron.8 Volume 2 – 5 ml Viskositas 1. PENATALAKSANAAN A.2 – 7.18-1. vesikula seminalis. Disini dapat dilihat kelainan uterus. • Pemeriksaan pelvis ultrasound Untuk memvisualisasi jaringan pelvis. misalnya untuk identifikasi kelainan. Dilakukan secara terjadwal. • Laparoskopi Standar emas untuk mengetahui kelainan tuba dan peritoneum. gejala lendIr serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital • Pemberian terapi obat.6 – 6. Pria • Analisa Semen Parameter Warna Putih keruh Bau Bunga akasia PH 7. FSH. Wanita • Pengetahuan tentang siklus menstruasi.

Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di rumah • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama • Tumor hipofisis atau prolaktinoma • Riwayat penyakit menular seksual • Riwayat kista b. Terapi penggantian hormon 3. budaya dan agama B. tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat • Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital. Identitas klien Termasuk data etnis. 1. PENGKAJIAN A. perbaikan nutrisi.1. Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat • GIFT ( gemete intrafallopian transfer ) • Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas • Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate. 2. Pria • Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun. Stimulant ovulasi. Riwayat kesehatan 1) Wanita a. • Pengangkatan tumor atau fibroid • Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi B.m memperbaiki hipoganadisme • FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis • Bromokriptin. Seperti. jangan yang mengandung spermatisida Konsep Asuhan Kep. Riwayat Kesehatan Sekarang . Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal 4. digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus • Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik • Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma • Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. diharapkan kualitas sperma meningkat • Agen antimikroba • Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan • HCG secara i. baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus. peningkatan kadar prolaktin. pemberian tsh .

Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik d. radiasi. ovarium. Pemeriksaan Fisik Terdapat berbagai kelainan pada organ genital. Pemeriksaan penunjang . dan servik • Autoimun c. rokok. alkohol. operasi tumor saluran kemih • Riwayat vasektomi b. uterus. bentuk dan motilitas sperma) • Saluran sperma yang tersumbat • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen c. narkotik. pria atupun wanita. Riwayat Kesehatan Sekarang • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. Riwayat Obstetri • Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi • Mengalami aborsi berulang • Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi 2) Pria a.• Endometriosis dan endometrits • Vaginismus (kejang pada otot vagina) • Gangguan ovulasi • Abnormalitas tuba falopi. kecelakan sehinga testis rusak • Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis • Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi contoh : operasi prostat. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Trauma. Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik C. D. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas.

Wanita • Deteksi Ovulasi • Analisa hormon • Sitologi vagina • Uji pasca senggama • Biopsy endometrium terjadwal • Histerosalpinografi • Laparoskopi • Pemeriksaan pelvis ultrasound b.d perubahan struktur anatomis dan fungsional organ reproduksi Resiko tinggi terhadap kerusakan koping individu / keluarga b.d ketidaktahuan tentang hasil akhir proses diagnostic Gangguan konsep diri.a. Pria • Analisa Semen • Parameter • Warna Putih keruh • Bau Bunga akasia • PH 7.6 centipose • Jumlah sperma 20 juta / ml • Sperma motil > 50% • Bentuk normal > 60% • Kecepatan gerak sperma 0.6 – 6.d harapan tidak terpenuhi untuk hamil Berduka dan antisipasi b.8 • Volume 2 – 5 ml • Viskositas 1.d gangguan fertilitas Gangguan konsep diri. harga diri rendah b. alternatif untuk terapi Perubahan proses keluarga b.d metode yang digunakan dalam investigasi gangguan fertilitas Konflik pengambilan keputusan b. DIAGNOSA KEPERAWATAN Ansietas b.2 – 7.d prognosis yang buruk . gangguan citra diri b.tidak ada • Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin • USG • Biopsi testis • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona 2.2 detik • persentase gerak sperma motil > 60% • Aglutasi Tidak ada • Sel – sel Sedikit.d terapi untuk menangani infertilitas.18-1.

Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyak wanita mengalami kehamilan dengan usia sangat dini. Di Indonesia.000-750.d kurang control terhadap prognosis Resiko tinggi isolasi social b. dalam hal ini adalah perawat setelah membaca pokok bahasan ini. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones. investigasinya. dan penataklaksanaannya Askep Abortus Pengertian Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. 2002).Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik (Prawirohardjo. Abortus spontan terjadi karena kualitas sel telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah janin. dan terapeutik. pandangan yang ada di dalam masyarakat tidak boleh sama dengan pandangan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan. dengan demikian setiap tahun terdapat 500. S. terlambatnya menarche selama beberapa hari. Oleh karena itu. Angka kejadian abortus diperkirakan frekuensi dari abortus spontan berkisar 10-15%.d kerusakan fertilitas. Terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan dalam hal ini adalah abortus yaitu abortus spontan. 2002).000 janin yang mengalami abortus . abortus buatan.Nyeri akut b. d efek tes dfiagnostik Efek tes diagnostic ketedakberdayaan b. sehingga seorang wanita tidak mengetahui kehamilannya. Menariknya pembahasan tentang abortus dikarenakan pemahaman di kalangan masyarakat masih merupakan suatu tindakan yang masih dipandang sebelah mata. diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun.

Pada kehamilan diatas 14 minggu.spontan. Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu : . Abortus terjadi pada usisa kehamilan kurang dari 8 minggu. janin dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian abortus. 2. 2002). Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) Yaitu: • Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Klasifikasi 1. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. atau berat badanbayi belum 1000 gram. Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat. tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta (Prawirohardjo. S. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandunganapabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu. Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan) Yaitu: • • • • Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. Pada kehamilan 8–14 minggu villi koriales menembus desidua secara mendalam. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup. dan tanpa adanya dilatasi serviks. plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan.

3. inkompetensia serviks. Parasit. Kelainan traktus genetalia. ketakutan. endometrtis. timah. • Penyebab yang bersifat lokal: 1. Trauma fisik. hepatitis. diabetes 4. virus. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna c. 4. Radang pelvis kronis. 4. Sifilis. obat-obatan temabakau dan alcohol 2. • Infeksi kronis 1. anemia berat. 2. misalnya cacar. Infeksi bakteri. misalnya : 1. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah : a. .1. virus. anemia berat 5. biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. nephritis 3. 2. keracunan dan toksoplasmosis. 6. biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. dll. misalnya Syok. Fibroid. seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua). Kelainan kromosom. retroversi uteri. penyakit jantung 6. misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun 3. misalnya streptokokus. Penyakit kronis. 2. toxemia gravidarum 5. rubella. misalnya keracunan tembaga. Tuberkulosis paru aktif. Kelainan pada plasenta. 3. Faktor maternal seperti pneumonia. Keracunan. Pengaruh teratogen akibat radiasi. mioma uteri dan kelainan bawaan uterus. Gangguan fisiologis. air raksa. Penyebab dari segi Maternal Penyebab secara umum: • Infeksi akut 1. hipertensi 2. misalnya malaria. terutama trimosoma dan monosoma X b. typus. dll. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi.

Manifestasi Klinis 1. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis. 4. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu. Mola hidatidosa. Retroversi kronis. ada atau tidak jaringan keluar dari ostium. osteum uteri terbuka atau sudah tertutup.3. diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. denyut nadi normal atau cepat dan kecil. teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. besar uterus . mola kruenta. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum). Pada kehamilan kurang dari 8 minggu. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu 2. janin masih hidup. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi 4. penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan.janin lahir mati. sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus 5. maserasi atau fetus papiraseus. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun. c. Pemeriksaan ginekologi : a. tercium bau busuk dari vulva b. Rasa mulas atau kram perut. didaerah atas simfisis. Penyakit plasenta dan desidua. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup. ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. tekanan darah normal atau menurun. suhu badan normal atau meningkat 3. sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus Penyebab dari segi Janin • • • Kematian janin akibat kelainan bawaan. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil. fetus kompresus. misalnya inflamasi dan degenerasi. villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri.

syok dan infeksi 2. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion Diagnosa Banding Kehamilan etopik terganggu. yaitu : Abortus spontaneus Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis. tidak nyeri saat porsio digoyang. dan tanpa adanya dilatasi serviks. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup 3. Penatalaksanaan Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan. Aspek klinis abortus spontaneus meliputi : 1.pemeriksaan kuantitatif serial kadar . cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. Tes Kehamilan Positif bila janin masih hidup. tetapi karena faktor alamiah. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis. dan tidak disertai mules-mules. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah Pemeriksaan Penunjang 1. tidak nyeri pada perabaan adneksa.sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan. Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat dilanjutkan. Sonografi vagina. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan. mola hidatidosa. dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. cepat terhenti. berwarna merah. perforasi. Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. Komplikasi 1. kemamilan dengan kelainan serviks. Perdarahan. Abortus Imminens Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu. nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan perdarahan implantasi yang biasanya sedikit. bahkan 2-3 minggu setelah abortus 2.

mungkin diperlukan kuretase. Setelah konseptus meninggal. disusul dengan kerokan. uterus harus dikosongkan.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti. lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. segera lakukan: Berikan ergomefiin 0.gonadotropin korionik (hCG) serum. Penanganan abortus imminens meliputi : Istirahat baring. karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. untuk memastikan apakah terdapat janin hidup intrauterus.2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau . Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apaka}r janin masih hidup. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini. maka dianjurkan dilakukan kuretase. 2. Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam jumlah signifikan. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti. Semua jaringan yang keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. dan kadar progesteron serum. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Jika evaluasi tidak dapat. Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular. Penanganan Abortus Insipiens meliputi : 1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu. Abortus Insipiens Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan. yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi.

misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu). Pada abortus yang lebih lanjut. 2) Jika perdarahanb anyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan kurang 16 minggu. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0. beri ergometrin 0. evaluasi hasil konsepsi dengan : Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. 3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3. Jika perlu. Abortus lnkompletus Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.2 mg intramuskuler (diulang . Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. Jika perdarahan berhenti. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus. perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat. 2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu : Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Penanganan abortus inkomplit : 1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16 minggu.2 mg intramuskulera taum iso prostol4 00 mcg per oral.

Padap emeriksaand itemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan. tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar. dengan dinding menipis. Abortus Kompletus Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. 5. ostium uteri telah menutup. Abortus Servikalis Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka. Missed Abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu. Etiologi missed abortion tidak . Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis. dan uterus sudah banyak mengecil. 4. 6. kurang lebih bundar. Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus. 4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. 3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg) Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap.setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit.

Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai dengan usia kehamilan. Gejala subyektif kehamilan menghilang. mengetahui ia mengandung janin yang telah mati. Penanganan Setelah diagnosis missed abortion dibuat. mamma agak mengendor lagi. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah. menentukan cara pemecahannya. Tindakan keperawatan tersebut . sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil. dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan. tes kehamilan menjadi negatif. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. 7. timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. tetapi diduga pengaruh hormone progesterone.diketahui. Diagnosis Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. uterus tidak membesar lagi malah mengecil. seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. KONSEP ASUHAN KEPERWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Abortus Habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut.

dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obatobatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.

1)

2)

3) 4)

1)

Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi 3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri 4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab 5. Cemas s.d kurang pengetahuan Intervensi Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. Intervensi : Kaji kondisi status hemodinamika Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi Ukur pengeluaran harian Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal Berikan sejumlah cairan pengganti harian Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif Evaluasi status hemodinamika Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Intervensi : Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi

2) 3) 4) 5) 1) 2) 3) 1) 2) 3) perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s.d Kerusakan jaringan intrauteri Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami Intervensi : Kaji kondisi nyeri yang dialami klien Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi. jumlah.d perdarahan. kondisi vulva lembab Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan Intervensi : Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar . istirahat mutlak sangat diperlukan Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas Rsional : Menilai kondisi umum klien 3. warna. dan bau Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart . Resiko tinggi Infeksi s. pada abortus imminens. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri Kolaborasi pemberian analgetika Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 4.

untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga. 5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat 1) 2) Intervensi : Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas Kaji derajat kecemasan yang dialami klien Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga. (2001).d kurang pengetahuan Tujuan : Tidak terjadi kecemasan. demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi 6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta 3) 4) 5) . Cemas s. senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.ama masa perdarahan Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.4) Lakukan perawatan vulva Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi. Lynda. 5.

1990. 1997). Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2 5. Arif. FKKP. C. Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Etiologi Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun). Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex). Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali 6. 2001.Hamilton. Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh. 2. Begitu pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia. 4. . Media Aesculapius. Wanita merokok. dkk. Semakin dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). 1995. Jilid I. infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap. Jakarta Askep Ca Serviks TINJAUAN TEORI Pengertian Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI. 3. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta Mansjoer. Mary. EGC. edisi 6. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Pada sebagian besar kasus.

metastasi jauh belum terjadi Ib II II a II b III a III b IV IV a . 7. dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah. 3. 4. parametrium masih bebas dari infitrat tumor Penyebaran ke parametrum. sedang parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul. Faktor Resiko Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu: Usia.1. 5. tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium. bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm. Penyebaran sudah sampai dinding panggul. Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma. Jumlah perkawinan Hygiene dan sirkumsisi Status sosial ekonomi Pola seksual Terpajan virus terutama virus HIV Merokok Klasifikasi Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978 Tingk at 0 I Ia Kriteria Karsinoma In Situ ( KIS). 2. tetapi belum sampai dinding panggul Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina. tidak ditemukan daerah infiltrat antara tumor dengan dinding panggul. Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari pangul kecil. uni atau bilateral. membran basalis utuh Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri Karsinoma mikro invasif. tetapi tidak sampai dinding panggul Penyebaran hanya ke vagina. 6.

Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. 4. Pemeriksaan Penunjang Sitologi. 5. Tanda dan Gejala Perdarahan Keputihan yang berbau dan tidak gatal Cepat lelah Kehilangan berat badan Anemia Manifestasi Klinis Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi. terraba lunak. 2. keputihan warna putih atau puralen yang berbau dan tidak gatal. 3. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar. Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. dan anemia.IV b 1. kehilangan berat badan. perdarahan spontan. Kolposkopi Servikografi Pemeriksaan visual langsung Gineskopi Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive) Penatalaksaan Medis Tingkat Penatalaksaan . dan bau busuk yang khas. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%. Prognosis Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. perdarahan pascakoitus. Setelah histerektomi radikal. terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. ireguler. dengan cara tes pap Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. Telah terjadi metastasi jauh.

Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat. serta kurangnya pengetahuan keluarga. Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga. Keluhan utama. KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN Pengkaijan Identitas klien. 4. 3. 5. Riwayat penyakit terdahulu. apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi.0 Ia I b dan II a II b . III dan IV IV a dan IV b Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan) Histerektomi transvaginal Radioterapi Radiasi paliatif Kemoterapi 1. Perdarahan dan keputihan Riwayat penyakit sekarang Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. Inspeksi • Perdarahan • keputihan . 2. Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain. misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera. Pemeriksaan Fisik 1. Riwayat psikososial Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks. 6.

8. mual dan muntah. Biopsi 3. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. 4. Diagnosa Keperawatan Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . Sitologi 2. 6. Kolposkopi 4. Intervensi : Kolaborasi dalam pemeriksaan hematokrit dan Hb serta jumlah trombosit. Kolaborasi dalam pemberian infus 1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. 2. Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif) 1. Servikografi 5. Berikan cairan secara cepat. Intervensi Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia .2. 3. 7. Gineskopi 6. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Tujuan: Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. 5. mual dan muntah. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubbungan dengan terbatasnya informasi. palpasi • nyeri abdomen • nyeri punggung bawah Pemeriksaan Dignostik 1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. Pantau dan atur kecepatan infus. 2. Tujuan: .

Intervensi : Pantau tanda vital setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan. . Tujuan: Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan Intervensi : Kolaborasi dengan petugas laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap (Hb dan Trombosit) Lakukan tindakan yang tidak menyebabkan perdarahan. Anjurkan agar membawa makanan dari rumah jika dipelukan dan sesuai dengan diet. Intervensi: Kaji pola istirahat serta adanya keletihan pasien. Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. Tujuan: Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. Bantu pasien dalam menjaga hygiene perorangan Anjurkan pasien beristirahat sesuai kebutuhan. Observasi tanda-tanda perdarahan. Tempatkan pasien pada lokasi yang tersedia. Observasi tanda-tanda vital. Kolaborasi dalam tindakan transfusi TC ( Trombosit Concentrated) 5. Kolaborasi dalam pemeriksaan kultur dan pemberian antibiotika. 4. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Tujuan: Potensial infeksi menurun dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian menu yang sesuai dengan diet yang ditentukan. Lakukan perawatan mulut sebelum makan sesuai ketentuan. Pantau masukan makanan oleh klien. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. 3.Masukan yang adekuat serta kalori yang mencukupi kebutuhan tubuh. Intervensi: Kaji adanya pantangan atau adanya alergi terhadap makanan tertentu.

Diskusikan dengan keluarga untuk berkompensasi terhadap perubahan peran anggota yang sakit. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. Intervensi : Bantu pasien untuk mengedintifikasi peran yang bisa dilakukan didalam keluarga dan komunitasnya. Anjurkan kepada klien untuk melakukan latihan ringan. Evaluasi kempuan pasien dalam mengambil keputusan Dorong harapan yang realistis. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan terbatasnya informasi. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Kaji kepatenan kateter abdomen.Anjurkan kepada pasien untuk mempertahan pola istirahat atau tidur sebanyak mungkin dengan diimbangi aktifitas. Tujuan: Ansietas. . 7. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi. Intervensi: Baringkan pasien diatas tempat tidur. Intervensi: Gunakan pendekatan yang tenang dan cipakan suasana lingkungan yang kondusif. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran. 8. Berikan dorongan spiritual. Bantu pasien merencanakanaktifitas berdasarkan pola istirahat atau keletihan yang dialami. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perubahan fisik yang spesifik yang dibutuhkan sehubungan dengan penyakitnya. Observasi kemampuan pasien dalam malakukan aktifitas. 6.

http:// www. 6. Jakarta: Gramedia.com http://khaidirmuhaj. Tidak ada tanda-tanda infeksi 4.Ilmu Kandungan. Jakarta:EGC. Jilid 1. Kapita Selekta Kedokteran .medicastore . Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan 5. Mochtar. Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh 3.com/2009/03/kanker-serviks. 1989:Ginekologi Greenhill edisi 10. 8.blogspot. Rustam. 1989. EGC : Jakarta Doengoes.Philadelphia: F.Synopsis obstetric. Sanusi.Nursing care and Plans.html .A Davis Company. 7.wordpress.E 1989. Jakarta:EGC. Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi DAFTAR PUSTAKA Arif Mansjoer dkk (2000). Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. Marilyn. Ansietas. Chandra. 2. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi. Sarwono.1994. Evaluasi Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah : 1.Observasi tentang reaksi yang dialami pasien selama pengobatan Jelaskan pada pasien efek yang mungkin dapat terjadi. Edisi 3 . Prawirohardjo.com/med http://creasoft. Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.

Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. Rustam . Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. (Wiknjosastro. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. Mary. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. Arif. dkk. gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Paritas tinggie. 1973 : 325). dkk. namun faktor penyebabnya adalah 1. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. tetapi terlambat dikeluarkan. Pritchard. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. Hanifa. hidropik. Imunoselektif dari tropoblast 3. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. daripada villi choriales. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. 2.Kekurangan proteinf. dkk. C.(Mansjoer.1998 : 23) . (Mochtar.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. Rustam. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . Saleh. vaskularisasi dan edematus. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. (Jack A. dkk.

letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. Silvia.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. jika tidak ditemukan janin 2. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). berbentuk buah pear. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. 2003 : 164). (Mansjoer.e. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. Wilson. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. dkk . jika disertai janin atau bagian janin.Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. Mola hidatidosa inkomplet (parsial). Mola hidatidosa komplet (klasik). di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. Teori neoplasma dari Park. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. (Verrals. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna coklat. Arif. berotot. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine . Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. (Silvia.

Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. di dalamnya terdapat tuba uterin.b).Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. sonde diputar setelah ditarik sedikit. terdiri atas jaringan ikat dan otot. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna.(Wiknjosastro. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12. Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. Hanifa. Demikian pula dengan penyakit trofoblast. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis. Di bagian belakang. profundus ke kanalis iguinalis.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis . Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. Berjalan melalui annulus inguinalis. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. Bila tidak ada tahanan. bila tetap tidak ada tahanan. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. membentuk kantong utero-vesikuler.5 cm. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. uterus bertambah besar. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. 2002 : 339) Tes Diagnostika. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna.

Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. Kadar hCG diatas 100. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). selama dan setelah prosedur evakuasi. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. saling berkaitan dan dinamis. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. terus menerus. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4.(Arif Mansjoer. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. pelunakan serviks dan korpus uteri. Selain dari penanganan di atas. Bila sumber vakum adalah tabung manual. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. pembesaran abnormal uterus. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). dkk. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. menentukan cara pemecahannya. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. . untuk anemia berat lakukan transfusi. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. Selama pemantauan.

Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.

Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar.Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear. Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi, menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. (Carpenito, Lynda, 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien, memulihkan, memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Menetapkan prioritas masalah 2. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang Ekspresi wajah tenang TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri

akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien .5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil : Kebutuhan personal hygiene terpenuhi Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : Klien dapat tidur 7-8 jam per hari Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien.

pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan.Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien. perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : Ekspresi wajah tenang Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati .

Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : Nafsu makan meningkat Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan. anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil : Tidak tampak tanda-tanda infeksi Vital sign dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh .

C. EGC. daerah yang terpasang alat invasif (infus. Rustam. Lynda. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. garis jahitan). Buku Ajar Praktik Kebidanan. DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil : Hb dalam batas normal (12-14 g%) Turgor kulit baik Vital sign dalam batas normal Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeks. Saleh.3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. Penerbit Buku Kedokteran EGC. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. Jakarta Mansjoer. 1973. Arif. EGC. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. sehingga proses infeksi tidak terjadi. Jilid I. 1998. Jakarta Soekojo. edisi 6. dkk. pucat. Kapita Selekta Kedokteran. 2005. Jakarta Johnson & Taylor. Jakarta Mochtar. Patologi. Jilid I. (2001). pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. 2001. UI Patologi Anatomik. berkeringat. Sinopsis Obstetri. Media Aesculapius. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. kaji warna kulit/membran mukosa. 1995. . Mary. Jakarta Hamilton. EGC. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran.

Jakarta Askep Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa .

1998 : 23) Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. daripada villi choriales. tetapi terlambat dikeluarkan. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. Pritchard. (Jack A. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. Arif.(Mansjoer. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. Hanifa. Rustam . Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. Teori neoplasma dari Park. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. dkk. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus . Mola hidatidosa komplet (klasik). Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. 1973 : 325). Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat.Kekurangan proteinf. Paritas tinggie. Imunoselektif dari tropoblast 3.gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Saleh. 2. C. jika disertai janin atau bagian janin. Mary. jika tidak ditemukan janin 2. (Wiknjosastro. gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. namun faktor penyebabnya adalah 1. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. Mola hidatidosa inkomplet (parsial). Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. dkk. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . dkk. dkk. vaskularisasi dan edematus. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. hidropik. Rustam.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. (Mochtar.

di dalamnya terdapat tuba uterin. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. berbentuk buah pear. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12. terdiri atas jaringan ikat dan otot. Wilson.menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Berjalan melalui annulus inguinalis.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Silvia. profundus ke kanalis iguinalis. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar.5 cm. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. (Verrals. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine b). Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. membentuk kantong utero-vesikuler. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. Arif. (Mansjoer. . Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. Darah cenderung berwarna coklat. (Silvia.e. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. 2003 : 164). berotot.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. Di bagian belakang. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. dkk .

berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. pembesaran abnormal uterus. 2002 : 339) Tes Diagnostika. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. Demikian pula dengan penyakit trofoblast. Selain dari penanganan di atas. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. sonde diputar setelah ditarik sedikit. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per . pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. pelunakan serviks dan korpus uteri. uterus bertambah besar. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. dkk.Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. Hanifa.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan.(Wiknjosastro. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis (Arif Mansjoer.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Bila tidak ada tahanan. bila tetap tidak ada tahanan. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna.

jantung . merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Kadar hCG diatas 100. siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. lamanya perkawinan dan alamat ¬ Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang ¬ Riwayat kesehatan . 2) Riwayat kesehatan masa lalu ¬ Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. ¬ Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. menentukan cara pemecahannya.menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. ¬ Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM . pendidikan. status perkawinan. hipertensi . jenis pembedahan . berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. untuk anemia berat lakukan transfusi. yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid. masalah ginekologi/urinary . selama dan setelah prosedur evakuasi. dan penyakit-penyakit lainnya. oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. umur. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : ¬ Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi . . perkawinan ke. nama. terus menerus.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). penyakit endokrin . Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. suku bangsa. saling berkaitan dan dinamis. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. Bila sumber vakum adalah tabung manual. kapan . Selama pemantauan. pekerjaan.. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. agama.

persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini. perubahan warna. lesi terhadap drainase. pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan.  Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan. dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.  Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. ¬ Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien. massa atau konsolidasi. cairan dan elektrolit. pergerakan dan postur. memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Data lain-lain :  Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS. apakah klien setuju.Data . jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. obat digitalis dan jenis obat lainnya. bagaimana keadaan kesehatan anaknya. eliminasi (BAB dan BAK). warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna.  Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB. memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. laserasi. istirahat tidur. biopsi. (Johnson & Taylor. meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. pap smear.  Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah. ¬ Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi. ¬ Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral. adanya keterbatasan fifik. derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. mencatat suhu. bau. baik sebelum dan saat sakit. mengevaluasi edema. hygiene.  Tekanan : menentukan karakter nadi.  Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan . banyaknya. lamanya. sifat darah. USG. dan menggunakan KB jenis apa. gejala serta keluahan yang menyertainya ¬ Riwayat kehamilan . penggunaan ekstremitas. bahasa tubuh. Pemeriksaan fisik. 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium :  Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen.¬ Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe. apakah klien menggunakan kontrasepsi. siklus menstruasi. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah. ketergantungan.

memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri 4. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi.  Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien  Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil :  Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang . bagaimana pola komunikasi dalam keluarga. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. memulihkan. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Menetapkan prioritas masalah 2. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5.  Kaji orang terdekat dengan klien. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien.psikososial. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Lynda. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. (Carpenito. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2.

 Ekspresi wajah tenang  TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri. lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri 5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil :  Kebutuhan personal hygiene terpenuhi  Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : .

perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi. akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil :  Tanda-tanda vital dalam batas normal  Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : . Klien dapat tidur 7-8 jam per hari  Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien. pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan.

anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil :  Tidak tampak tanda-tanda infeksi  Vital sign dalam batas normal . Ekspresi wajah tenang  Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil :  Nafsu makan meningkat  Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan.

Buku Saku Diagnosa Keperawatan. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. pucat. edisi 6. C. Jakarta . kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. daerah yang terpasang alat invasif (infus. Penerbit Buku Kedokteran EGC. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin.Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh 3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. EGC. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. berkeringat. 1995. (2001). garis jahitan). kaji warna kulit/membran mukosa. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeksi DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil :  Hb dalam batas normal (12-14 g%)  Turgor kulit baik  Vital sign dalam batas normal  Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. sehingga proses infeksi tidak terjadi. Mary. Jakarta Hamilton. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. Lynda.

Sinopsis Obstetri.Soekojo. Jilid I. Arif. Patologi. Jakarta Mansjoer. Jakarta Mochtar. Jakarta Johnson & Taylor. 1973. 2005. Rustam. 2001. Jakarta . EGC. UI Patologi Anatomik. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. EGC. Media Aesculapius. dkk. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Saleh. 1998.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful