ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan

janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Jenis – jenis operasi sectio caesarea 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) 2. Sectio caesarea transperitonealis 3. SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : 1. Mengeluarkan janin dengan cepat 2. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik 3. Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan 1. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik 2. Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan 3. SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : 1. Penjahitan luka lebih mudah 2. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik 3. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum 4. Perdarahan tidak begitu banyak 5. Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : 1. Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak 2. Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi 3. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal 2. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. Sayatan huruf T ( T insicion ) Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan

resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) ϖ Fetal distress ϖ His lemah / melemah ϖ Janin dalam posisi sungsang atau melintang ϖ Bayi besar ( BBL ³ 4,2 kg ) ϖ Plasenta previa ϖ Kalainan letak ϖ Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) ϖ Rupture uteri mengancam ϖ Hydrocephalus ϖ Primi muda atau tua ϖ Partus dengan komplikasi ϖ Panggul sempit ϖ Problema plasenta ϖ Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : 1. Infeksi puerperal ( Nifas ) 2. Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari 3. Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung 4. Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik 5. Perdarahan 6. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka 7. Perdarahan pada plasenta bed 8. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi 9. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya 10. Post Partum Definisi Puerperium / Nifas Nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002) Nifas adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983) Periode Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum Minggu pertama post partum. 3. Late post partum

Minggu kedua sampai dengan minggu keenam. Tujuan Asuhan Kepeawatan ϖ Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. ϖ Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. ϖ Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. ϖ Memberikan pelayanan keluarga berencana. Tanda dan Gejala 1. Perubahan Fisik 2. Sistem Reproduksi 3. Uterus 4. Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. o Lochea o Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe.  Tahap  Rubra (merah) : 1-3 hari.  Serosa (pink kecoklatan)  Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. ϖ Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. ϖ Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. ¬ Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. ¬ Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. ¬ Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi. ¬ Perineum ¬ Episiotomi

ϖ Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. ϖ Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal ϖ Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). COP meningkat dan normal 2-3 minggu. puting mudah erektil bila dirangsang. ϖ Nafsu makan kembali normal. ϖ Sistem Urinaria ϖ Edema pada kandung kemih. ϖ Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama. diuresis mulai 12 jam. ϖ Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal. RR : 16-24 x/menit. tidak ditemukan pada minggu I post partum. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH. ϖ Kehilangan rata-rata berat badan 5.Penyembuhan dalam 2 minggu. ϖ Pada fungsi ginjal: proteinuria. progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. ϖ Sistem Kardiovaskuler ϖ Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin. ϖ Sistem Gastrointestinal ϖ Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. ϖ Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 – 500 cc. Pada payudara yang tidak disusui. keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. ϖ Perubahan hematologik Ht meningkat. suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. ϖ Sistem Endokrin ϖ Hormon Plasenta ϖ HCG (-) pada minggu ke-3 post partum. sesaria : 600 – 800 cc. ϖ Jantung Kembali ke posisi normal. urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. neutrophil meningkat. engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari. ϖ Sistem Muskuloskeletal . LH.5 kg. leukosit meningkat.

posisi tinggi dan ukuran. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM FISIOLOGIS PENGKAJIAN • Pemeriksaan Fisik • Monitor Keadaan Umum Ibu • Jam I : tiap 15 menit. • Bowel Pergerakan usus. • Perubahan Psikologis • Peran Ibu meliputi: Kondisi Ibu. jam II tiap 30 menit • 24 jam I : tiap 4 jam • Setelah 24 jam : tiap 8 jam • Monitor Tanda-tanda Vital • Payudara Produksi kolustrum 48 jam pertama. • Baby Blues: Mulai terjadinya. edema. • Lochea Tipe. • Insisi SC Balutan dan insisi. laserasi dan hemoroid. edema. • Perubahan Psikologis • Perubahan peran. adakah anxietas. faktor keluarga. • Diagnostik Jumlah darah lengkap. • Uterus Konsistensi dan tonus. Kemerahan menandakan infeksi. jumlah. marah. sebagai orang tua. konflik peran. hemoroid dan bising usus. Diastasis rekti 2-4 cm. jumlah distensi. usia ibu. urinalisis. kondisi bayi. • Ekstremitas Tanda Homan. periksa redness. drainase. hematoma. kembali normal 6-8 minggu post partum. • Kandung Kemih dan Output Urine Pola berkemih. ayah dan bayi. • Attachment yang mempengaruhi dari faktor ibu. . ϖ Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang.Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. memar. tenderness. faktor sosial-ekonomi. bau dan adanya gumpalan. respon depresi dan psikosis. dan perubahan warna. • Perineum Episiotomi. ϖ Sistem Imun Rhesus incompability. diberikan anti RHO imunoglobin. dan nyeri. discharge dan approximation. warna.

maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10cm dapat menimbulkan kesulitan. seluruha panggul sempit picak dan lain-lain • Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang • Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang • kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong • sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah . bidang tengah dan pintu bawah panggul. ukuran melintang biasa • Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran muka belakang • Panggul corong :pintu atas panggul biasa. • Kesempitan pintu atas panggul Pintu atas panggul dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 9½ cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm. panggul sempit. Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit.• Baby Blues merupakan gangguan perasaan yang menetap. • Faktor-faktor Risiko • Duerdistensi uterus • Persalinan yang lama • Episiotomi/laserasi • Ruptur membran prematur • Kala II persalinan • Plasenta tertahan • Breast feeding PANGGUL SEMPIT Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut : • Kesempitan pintu atas panggul • kesempitan bidang bawah panggul • kesempitan pintu bawah panggul • kombinasi kesempitan pintu atas pangul.pintu bawah panggul sempit • Panggul belah : symphyse terbuka • kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya • Panggul rachitis : panggul picak. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut : • Kelainan karena gangguan pertumbuhan • Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil • Panggul picak : ukuran muka belakang sempit. biasanya pada hari III dimungkinkan karena turunnya hormon estrogen dan pergeseran yang mempengaruhi emosi ibu.

coxitis. • Pengaruh pada persalinan • Persalinan lebih lama dari biasa. Fistula vesicovaginalis lebih sering terjadi karena kandung kencing tertekan antara kepala anak dan . • Pengaruh panggul sempit pada kehamilan dan persalinan Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan maupun persalinan. Nekrosa menimbulkan fistula vesicovaginalis atau fistula recto vaginalis. Kadang-kadang karena infeksi dapat terjadi tympania uteri atau physometra. • Dapat terjadi ruptura uteri kalau his menjadi terlalu kuat dalam usaha mengatasi rintangan yang ditimbulkan oleh panggul sempit • Sebaiknya jika otot rahim menjadi lelah karena rintangan oleh panggul sempit dapat terjadi infeksi intra partum. yang diterapkan dengan “knopfloch mechanismus” (mekanisme lobang kancing) • Pada oang sempit kepala anak mengadakan hyperflexi supaya ukuran-ukuran kepala belakang yang melalui jalan lahir sekecil-kecilnya • Pada panggul sempit melintang sutura sagitalis dalam jurusan muka belang (positio occypitalis directa) pada pintu atas panggul. letak sungsang dan letak lintang. atrofia. karena bagian depan kurang menutup pintu atas panggul selanjutnya setelah ketuban pecah kepala tidak dapat menekan cervix karena tertahan pada pintu atas panggul • Pada panggul sempit sering terjadi kelainan presentasi atau posisi misalnya : • Pada panggul picak sering terjadi letak defleksi supaya diameter bitemporalis yang lebih kecil dari diameter biparietalis dapat melalui conjugata vera yang sempit itu. • Karena gangguan pembukaan • Karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak Kelainan pembukaan disebabkan karena ketuban pecah sebelum waktunya. Disamping itu mungkin pula ada exostase atau fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul. luxatio. Infeksi ini tidak saja membahayakan ibu tapi juga dapat menyebabkan kematian anak didalam rahim. Asynclitismus sering juga terjadi. • Biasanya anak seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil dari pada ukuran bayi pukul rata. Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. • Terjadi fistel : tekanan yang lama pada jaringan dapat menimbulkan ischaemia yang menyebabkan nekrosa. • Pengaruh pada kehamilan • Dapat menimbulkan retrafexio uteri gravida incarcerata • Karena kepala tidak dapat turun maka terutama pada primi gravida fundus atau gangguan peredaran darah Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung Perut yang menggantung pada seorang primi gravida merupakan tanda panggul sempit • Kepala tidak turun kedalam panggul pada bulan terakhir • Dapat menimbulkan letak muka.

Terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal) malahan dapat terjadi fraktur impresi. malahan kadang – kadang ruptur dari articulatio scroilliaca. Sebaliknya kalau CV 8 ½ cm atau lebih persalinan pervaginam dapat diharapkan berlangsung selamat. • Pengaruh pada anak • Patus lama misalnya: yang lebih dari 20 jam atau kala II yang lebih dari 3 jam sangat menambah kematian perinatal apalagi kalau ketuban pecah sebelum waktunya. selain itu mungkin pada tengkorak terdapat tanda-tanda tekanan. yang paling sering adalah kelumpuhan N. • Ruptur symphyse dapat terjadi .pincang dan lain-lain) • osborn positip • Prognosa Prognosa persalinan dengan panggul sempit tergantung pada berbagai faktor • Bentuk panggul • Ukuran panggul. Karena itu kalau CV < 8 ½ cm dilakukan SC primer ( panggul demikuan disebut panggul sempit absolut ) Sebaliknya pada CV antara 8. • Persangkaan Panggul sempit Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau : • Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36 • Pada primipara ada perut menggantung • pada multipara persalinan yang dulu – dulu sulit • kelainan letak pada hamil tua • kelainan bentuk badan (Cebol. • Parase kaki dapat menjelma karena tekanan dari kepala pada urat-urat saraf didalam rongga panggul . Terutama kalau diameter biparietalis berkurang lebih dari ½ cm. Peroneus . • Prolapsus foeniculli dapat menimbulkan kematian pada anak • Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak. scoliose. Kalau terjadi symphysiolysis maka pasien mengeluh tentang nyeri didaerah symphyse dan tidak dapat mengangkat tungkainya.symphyse sedangkan rectum jarang tertekan dengan hebat keran adanya rongga sacrum. Menurut pengalaman tidak ada anak yang cukup bulan yang dapat lahir dengan selamat per vaginam kalau CV kurang dari 8 ½ cm.5-10 cm hasil persalinan tergantung pada banyak faktor : • Riwayat persalinan yang lampau . jadi derajat kesempitan • Kemungkinan pergerakan dalam sendi-sendi panggul • Besarnya kepala dan kesanggupan moulage kepala • Presentasi dan posisi kepala • His Diantara faktor faktor tersebut diatas yang dapat diukur secara pasti dan sebelum persalinan berlangsung hanya ukuran-ukuran panggul : karena itu ukuran – ukuran tersebut sering menjadi dasar untuk meramalkan jalannya persalinan.

Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir setelah kita mendapatkan keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung per vaginam atau setelah anak lahir per vaginam. Persalinan percobaan dilakukan hanya pada letak belakang kepala.kepala dalam 2 jam tidak mau masuk ke dalam rongga panggul walaupun his cukup kuat • Forcepe gagal Dalam keadaan-keadaan tersebut diatas dilakukan SC. letak dahi. Persalinan percobaan dikatakan berhasil kalau anak lahir pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forcepe atau vacum) dan anak serta ibu dalam keadaan baik. Kita menghentikan presalianan percobaan kalau: • – pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuaannya • Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik • Kalau ada lingkaran retraksi yang patologis • – setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban. • Persalinan percobaan Yang disebut persalinan percobaan adalah untuk persalinan per vaginam pada wanita wanita dengan panggul yang relatip sempit.• besarnya presentasi dan posisi anak • pecahnya ketuban sebelum waktunya memburuknya prognosa • his • lancarnya pembukaan • infeksi intra partum • bentuk panggul dan derajat kesempitan karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil persalinan pada panggul dengan CV antara 8 ½ – 10cm (sering disebut panggul sempit relatip) maka pada panggul sedemikian dilakukan persalinan percobaan. letak muka atau kelainan letak lainnya. Kalau SC dilakukan atas indikasi tersebut dalam golongan 2 (dua) maka pada persalinan berikutnya tidak ada gunanya dilakukan persalinan percobaan lagi Dalam istilah inggris ada 2 macam persalinan percobaan : • Trial of labor : serupa dengan persalinan percobaan yang diterngkan diatas • test of labor : sebetulnya merupakan fase terakhir dari trial of labor karena test of labor mulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam sesudahnya. Kalau dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap kepala janin tidak turun sampai H III maka test of labor dikatakan berhasil. jadi tidak dilakukan pada letak sungsang. Sekarang test of labor jarang dilakukan lagi karena: • Seringkali pembukaan tidak menjadi lengkap pada persalinan dengan panggul sempit • kematian anak terlalu tinggo dengan percobaan tersebut • kesempitan bidang tengah panggul bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah symphysis dan spinae ossis ischii dan memotong sacrum kira-kira pada pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 .

harus diukur secara rontgenelogis.5 cm + 5 cm = 15.kalau diameter antar spinae 9 cm atau kurang kadang-kadang diperlukan SC. Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < 15 cm ( normal 11 cm + 7. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC bisanya dapat diselesaikan dengan forcepe dan dengan episiotomy yang cukup luas.Ukuran yang terpenting dari bidang ini adalah : • Diameter transversa ( diameter antar spina ) 10 ½ cm • diameter anteroposterior dari pinggir bawah symphyse ke pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan garis antar spina ke pertemuan sacral 4 dan 5 5 cm dikatakan bahwa bidang tengah panggul itu sempit : • Jumlah diameter transversa dan diameter sagitalis posterior 13. • Terapi Kalau persalinan terhenti karena kesempitan bidang tengah panggul maka baiknya dipergunakan ekstraktor vacum. Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi. penyakit vaskuler perifer atau stasis .5 cm ) Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit.5 cm = 18. udema pulmonal. • Pengkajian • Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung.5 cm) • diameter antara spina < 9 cm ukuran – ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis.5 atau kurang ( normal 10. tetapi kita dapat menduga kesempitan bidang tengah panggul kalau : • Spinae ischiadicae sangat menonjol • Kalau diameter antar tuber ischii 8 ½ cm atau kurang • Prognosa Kesempitan bidang tengah panggul dapat menimbulkan gangguan putaran paksi. karena ekstraksi dengan forceps memperkecil ruangan jalan lahir. • Kesempitan pintu bawah panggul: Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segi tiga dengan jarak antar tuberum sebagai dasar bersamaan Ukuran – ukuran yang penting ialah : • Diameter transversa (diameter antar tuberum ) 11 cm • diameter antara posterior dari pinggir bawah symphyse ke ujung os sacrum 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke ujung os sacrum 7 ½ cm pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul.

marah.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan • Resti infeksi b. stimulasi simpatis • Makanan / cairan Malnutrisi.d destruksi pertahanan terhadap bakteri • Nyeri akut b. peningkatan ketegangan.d insisi. merokok • Keamanan • Adanya alergi atau sensitive terhadap obat. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat. serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial. kondisi yang kronik/ batuk. Pengertian . penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri. flatus dan mobilitas • Resti perubahan nutrisi b. mual. apatis. makanan.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka. gaya hidup. predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis • Pernafasan Adanya infeksi. hubungan. takut.vaskuler ( peningkatan resiko pembentukan thrombus ) • integritas ego perasaan cemas. tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi • Riwayat penyakit hepatic • Riwayat tranfusi darah • Tanda munculnya proses infeksi Proritas Keperawatan • Mengurangi ansietas dan trauma emosional • Menyediakan keamanan fisik • Mencegah komplikasi • Meredakan rasa sakit • Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan • Menyediakan informasi mengenai proses penyakit Diagnosa Keperawatan • Ansietas b. plester dan larutan • Adanya defisiensi imun • Munculnya kanker/ adanya terapi kanker • Riwayat keluarga. muntah ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM A. membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM.

Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan : a) Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida. karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.com/). juga disebut sebagai salah satu faktor organik.com/). takut terhadap kehamilan dan persalinan. berat badan menurun. 1.blogspot. 1999). mola hidatidosa dan kehamilan ganda. c) Alergi. Ilmu Kebidanan. Rumah tangga yang retak. begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari. hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi. Wahab Sjahranie Samarinda (http://healthblogheg.blogspot. jantung.ibu terhadap anak. dehidrasi. . terdapat aseton dalam urine. dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup. diuresis kurang dan timbul aseton dalam air kencing (http://healthblogheg.com/). Dalam buku obstetri patologi (1982) Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil memuntahkan segala apa yang di makan dan di minum sehingga berat badannya sangat turun. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. Etiologi Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. bukan karena penyakit seperti Appendisitis. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan. Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan muntahmuntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus-menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas Penyuluhan Gizi Rumah Sakit A. kehilangan pekerjaan. b) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik. d) Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Pielitis dan sebagainya (http://zerich150105. Perubahan-perubahan anatomik pada otak. Sebagai salah satu respon dari jaringan. Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu.wordpress.wordpress. (Sarwono Prawirohardjo. Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien (http://zerich150105. turgor kulit kurang.com/).Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk.

bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen. oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Kekurangan Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. hemokonsentrasi. oliguri dan konstipasi.Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang. tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung. Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit. turgor kulit lebih berkurang. Tanda Dan Gejala Hiperemesis gravidarum. dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung.wordpress. meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna. demikian pula Khlorida air kemih. bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. sehmgga cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Pengaruh psikologik hormon estrogen ini tidak jelas. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. lidah mengering dan mata cekung.1. tensi rendah. nadi kecil dan cepat. nafsu makan tidak ada. Belum jelas mengapa gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita. menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu : a) Tingkatan I : Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda.com/). 2. ibu merasa lemah. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Patofisiologi Ada yang menyatakan bahwa. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. akan mengalami emesis gravidarum yang berat. (http://zerich150105. . disamping faktor hormonal. lidah mengering dan nampak kotor. Natrium dan Khlorida darah turun. b) Tingkatan II : Penderita tampak lebih lemah dan apatis. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual.

suhu badan meningkat dan tensi menurun. kesadaran menurun dan somnolen sampai koma. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. alkalosis. ikterik. mendeteksi bakteri. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan. kelaparan gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati. memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.com/) 1. (http://zerich150105. termasuk vitamin B kompleks. melokalisasi plasenta. Avomin Isolasi . c) Tingkatan III: Keadaan umum lebih parah. Pemeriksaan Diagnostik a) USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel. mendeteksi abnormalitas janin.blogspot. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke. (http://healthblogheg. nadi kecil dan cepat. BUN.com/) 1. menarik diri dan depresi (http://healthblogheg. b) Urinalisis : kultur. mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. ALT dan kadar LDH. c) Pemeriksaan fungsi hepar: AST. Komplikasi Dehidrasi berat.Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Penatalaksanaan Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik. tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. suhu meningkat. muntah berhenti.Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan. Obat-obatan Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital.wordpress. dengan gejala : nistagtnus dan diplopia.com/) 1. karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing. takikardia.blogspot.

Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi. yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi.Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital. oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. ASUHAN KEPERAWATAN A.parenteral yang cukup elektrolit. Cairan parenteral Berikan cairan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. namun demikian pada tingkatan yang berat. Prognosis Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan. Diet a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. 1. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin. b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil. Pengkajian Keperawatan . karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. bahkan mundur. kecuali vitamin C. penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium. Penghentian kehamilan Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri. Minuman tidak diberikan bersama makanan . kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Terapi psikologik Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan. Bila ada kekurangan protein. tachikardi. Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D. kebutaan. Delirium.

icterus dan dapat jatuh dalam koma 7. peningkatan frekuensi berkemih Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine. (http://zerich150105. Pembelajaran dan penyuluhan 1. Diagnosa Keperawatan 1. denyut nadi meningkat (> 100 kali per menit). perubahan persepsi tentang kondisinya. defekasi. membran mukosa mulut iritasi dan merah. perubahan peran. mata cekung dan lidah kering. 5.wordpress. nyeri epigastrium. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.1. Rencana Keperawatan . Interaksi sosial Perubahan status kesehatan/stressor kehamilan. Turgor kulit. Deflsit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan. 6. 3. Integritas ego Konflik interpersonal keluarga. 2. Berat badan turun lebih dari 1/10 dari berast badan normal 3. Aktifitas istirahat Tekanan darah sistol menurun. 4. kesulitan ekonomi. lidah kering 4. Segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan. Eliminasi Pcrubahan pada konsistensi. Pernafasan Frekuensi pernapasan meningkat. 9. badan lemah. 2. nafas berbau aseton. bila keadaan ibu membahayakan maka dilakukan abortus terapeutik. kehamilan tak direncanakan. apalagi apalahi kalau belangsung sudah lama. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan. Keamanan Suhu kadang naik. Hb dan Ht rendah. 4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. 3.wordpress.com/) C.com/) B. pengurangan berat badan (5 – 10 Kg). Seksualitas Penghentian menstruasi. respon anggota keluarga yang dapat bervariasi terhadap hospitalisasi dan sakit. 2. 8. Adanya aseton dalam urine (http://zerich150105. Makanan/cairan Mual dan muntah yang berlebihan (4 – 8 minggu) . turgor kulit berkurang. sistem pendukung yang kurang.

v. 10. Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak Rasional : dapat menstimulus mual dan muntah 7.. Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut. Rasional : Koreksi adanya hipovolemia dan keseimbangan elektrolit 4. jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode tertentu. Catal intake TPN. Catat intake dan output. Test urine terhadap aseton. anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit. misalnya Phenergan 10-20mg/i.1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. 5. dilakukan secara rutin untuk mendeteksi situasi potensial resiko tinggi seperti ketidakadekuatan asupan karbohidrat. roti dan the (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur Rasional : Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang berlebih 8. Rasional : Untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi. Batasi intake oral hingga muntah berhenti. 13. Rasional : Untuk mengetahui integritas inukosa mulut. Rasional : Untuk mempertahankan integritas mukosa mulut 11. 2. Rasional : Menetapkan data dasar . Intervensi 1. yang mengakibatkan kemunduran pcrkembangan janin dan kcmungkinan-kemungkinan lebih lanjUT . Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh 6. 12. Klien dengan kadar Hb < 12 mg/dl atau kadar Ht rendah dipertimbangkan anemi pada trimester I. albumin dan glukosa. Ukur pembesaran uterus Rasional : Malnutrisi ibu berdampak terhadap pertumbuhan janin dan memperberat penurunan komplemen sel otak pada janin. Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan pembersih mulut sesering mungkin. 9. Diabetik kcloasedosis dan Hipertensi karena kehamilan. Rasional : Memelihara keseimbangan cairan elektfolit dan mencegah muntah selanjutnya. Pertahankan terapi cairan yang diprogramkan. Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit Rasional : Mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan kapasitas pcmbawa oksigen ibu. Berikan obat anti emetik yang diprogramkan dengan dosis rendah. Rasional : Menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melului muntah. Rasional : Mencegah muntah serta memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit 3.

1. perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas gastrik memperberat mual/muntah pada trimester 1. Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat. input/output dan berat jenis urine. Kontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung Rasional : Untuk mencegah dan mengurangi kecemasan 2. Berikan support psikologis Rasional : Untuk menurunkan kecemasan dan membina rasa saling percaya 4. Berikan pelayanan kesehatan yang maksimal Rasional : Penting untuk meningkatkan kesehatan mental klien 4) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan Intervensi : . Rasional : Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung. Rasional : Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi. Kaji tingkat fungsi psikologis klien Rasional : Untuk menjaga intergritas psikologis 3. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar Rasional : Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur. Peningkatan kadar hormon Korionik gonadotropin (HCG). TD. Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus peptikum. Kaji suhu badan dan turgor kulit.2) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan Intervensi 1. Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah. Berikan penguatan positif Rasional : Untuk meringankan pengaruh psikologis akibat kehamilan 5. makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Rasional : Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. 2. membran mukosa. gastritis. perubahan psikologi kehamilan Intervensi : 1. 3) Cemas berhubungan dengan Koping tidak efektif.

Rasional : Aktifitas yang ditoleransi sebelumnya mungkin tidak dimodifikasi untuk wanita beresiko. Keluhan subyektif tidak ada. Anjurkan klien membatasi aktifitas dengan isrirahat yang cukup. 2.1.com/) REFERENSI http://cakmoki.com/) D. Anjurkan tirah baring yang dimodifikasi sesuai indikasi Rasional : Tingkat aktifitas mungkin periu dimodifikasi sesuai indikasi.blogspot.com/ . Rasional : Menghemat energi dan menghindari pengeluaran tenaga yang terusmenerus untuk meminimalkan kelelahan/kepekaan uterus 2. 2. 3. 1.wordpress. Mual dan mutah tidak ada lagi. Bantu klien beraktifitas secara bertahap Rasional : Aktifitas bertahap meminimalkan terjadinya trauma seita meringankan dalam memenuhi kebutuhannya.blogsome. (http://cakmoki.com/ http://healthblogheg. Evaluasi 1. (http://zerich150105. Anjurkan klien untuk menghindari mengangkat berat. Tanda-tanda vital baik.wordpress.blogsome.com/ http://zerich150105.

khususnya golongan A. kain-kain. E. bersifat anaerob. Jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. AS morbiditas puerperalis ialah kenaikan C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama post°suhu sampai 38 partum dengan mengecualikan hari pertama. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain. alat atau kain yang tidak steril. coli berasal dari kandung kemih atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum. infeksi tenggorokan orang lain).alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat. Bermacam-macam • • • Eksasogen Autogen Endogen : kuman datang dari luar. Staphylococcus aerus menyebabkan infeksi terbatas. Selain itu infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh: • • • • Streptococcus haemolytieus aerobicus merupakan sebab infeksi yang paling berat. Droplet infection. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara ke mana-mana antara lain ke handuk. : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh. Suhu diukur dari mulut sedikit-dikitnya 4 kali sehari. Dalam RS banyak kuman-kuman patogen yang berasal dari penderita dengan berbagai jenis infeksi. Cara terjadinya infeksi: • • • • Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau yang membantunya. alat-alat yang suci hama dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau nifas. Hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin. Etiologi. . Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis. walaupun kadang-kadang menjadi infeksi umum. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare. Banyak ditemukan di RS dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. Clostridium Welchii. vulva dan endometrium. Demam nifas Morbiditas Puerperalis meliputi demam pada masa nifas oleh sebab apa pun. : dari jalan lahir sendiri.ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFEKSI NIFAS TINJAUAN TEORI Definisi.

Infeksi intra partum. o Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir. Infeksi pada Perineum. begitu juga vulva. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar di luar luka asalnya. jahitan mudah terlepas. Biasanya terjadi pada partus lama. o Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita. Vagina. o Partus lama terutama dengan ketuban pecah lama. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinanan. Setelah kala III. Vaginitis. permukaan tidak rata. o Tertinggalnya sisa plasenta. penyakit jantung dan sebagainya. air ketuban menjadi keruh dan berbau. . Vulva. perineum merupakan tempat masuknya kuman patogen.• • • • Coitus pada akhir kehamilan bukan merupakan sebab yang paling penting kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. vulva. tepi luka menjadi merah dan bengkak. vagina. vagina. Gejala: kenaikan suhu disertai leukositosis dan tachikardi. 1. luka yang terbuka menjadi ulkus dan megeluarkan pus. infeksi lain seperti pneumonia. Vulvitis. selaput ketuban dan bekuan darah. pre ekslampsi. apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan periksa dalam. denyut jantung janin meningkat. berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi trombus dan merupakan area yang baik untuk tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenisjenis yang patogen dalam tubuh wanita. jalan limfe dan melalui permukaan endometrium. Prognosis infeksi intra partum sangat tergantung dari jenis kuman. Patologi. Penyebaran dari tempat-tempat melalui vena. daerah bekas insertio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kirakira 4 cm. seviks dan endometrium. Faktor Predisposisi. lamanya infeksi berlangsung. Serviks dan Endometrium 1. dapat/tidaknya persalinan berlangsung tanpa banyak perlukaan jalan lahir. seperti perdarahan banyak. Infeksi nifas dapat terbagi dalam 2 golongan : • • Infeksi yang terbatas pada perineum. Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitar membengkak.

3. Sevicitis. nyeri pada perabaan dan lembek. Endometritis. Endometritis • • • • • Tergantung pada jenis virulensi kuman. Gambaran Klinik. Peritonitis dan Parametritis (Sellulitis Pelvika) Penyebaran melalui permukaan endometrium. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis dan cairan. Salfingitis dan Ooforitis. radang terbatas pada endometrium. permukaan mokusa membengkak dan kemerahan. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas. 1. Infeksi pada Perineum. 2. Vulva. terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Lokia bertambah banyak. Rasa nyeri dan panas pada infeksi setempat. Uterus agak membesar. Nadi kurang dan 100/menit.Dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum. Vagina dan Serviks. 4. sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut Lokiometra. Suhu meningkat 38o C kadang mencapai 39o C – 40o C disertai menggigil. Pada infeksi setempat. Penyebaran melalui jalan limfe. daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah. 1. Penyebaran melalui pembuluh darah (Septikemia dan Piemia) Merupakan infeksi umum disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. Nyeri bila kencing. Biasanya demam mulai 48 jam pertama post partum bersifat naik turun. 2. Septikemia dan Piemia . Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium. Paling sering terjadi. Kuman–kuman memasuki endometrium (biasanya pada luka insertio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. Sering terjadi tapi tidak menimbulkan banyak gejala. berwarna merah atau coklat dan berbau. 5.

• • • • Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalur jalan lahir. Membatasi lamanya persalinan. Membatasi perdarahan. v Selama persalinan. involusi jelek. nyeri perut bagian bawah. Lochea: berbau.• • • • • • • • • Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toxinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. KU baik. b) Selama nifas v Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik. Peritonitis • • Peritonitis terbatas pada daerah pelvis (pelvia peritonitis): demam. Keadaan umum jelek Suhu meningkat antara 39°C – 40°C. keadaan umum memburuk. . bernanah. Pencegahan Infeksi Nifas a) Selama kehamilan v Perbaikan gizi untuk mencegah anemia. kesadaran turun. nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih. perut kembung dan nyeri. Gejala septikemia lebih akut dan dari awal ibu kelihatan sudah sakit dan lemah. Keduanya merupakan infeksi berat. Salfingitis dan Ooforitis Gejala hampir sama dengan pelvio peritonitis. Lab: leukositosis. sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selamaVT. Piemia dimulai dengan rasa sakit pada daerah tromboplebitis. Membatasi perlukaan. TD turun. setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas. nadi cepat. Infiltrat kadang menjadi abses. Sesak nafas. perut nyeri. nadi cepat dan kecil. terdapat abses pada cavum Douglas Sellulitis Pelvika Pada periksa dalam dirasakan nyeri. Peritonitis umum: suhu meningkat. menggigil. v Coitus pada hamil tua hendaknya tidak dilakukan karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi. demam tinggi menetap dari satu minggu. Piemia dimulai dengan tromboplebitis vena-vena daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil dibawa keperadaran darah umum dan terjadilah infeksi dan abses pada organ-organ tubuh yang dihinggapinya. gelisah.

II. Pengkajian …. warna dan sifatnya. jumlah. transfusi darah. Rencana Keperawatan 1. makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh. sifat episiotomi dan warnanya. catat warna. ü Kaji payudara: eritema. dan infeksi nasokomial. Tujuan 1: Mencegah dan mengurangi infeksi. Hubungkan dengan data post partum. ü Catat jumlah leukosit dan gabungkan dengan data klinik secara lengkap. Perkiraan pinggir epis dan kemungkinan “perdarahan” / nyeri. Khusus dalam 24 jam sekurang-kurangnya 4 kali sehari. jalan lahir. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus. dan infeksi nasokomial. serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai. haruskan mencuci tangan pada pasien dan perawat. Pengobatan Infeksi Nifas Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks. 2. . Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi 3. Bersihkan perineum dan ganti alas tempat tidur secara teratur. v Penderita dengan tanda infeksi nifas jangan digabung dengan wanita dalam nifas yang sehat.Infeksi perineum (menggunakan senter yang baik). Berikan dosis yang cukup dan adekuat. terutama suhu setiap 4 jam dan selama kondisi klien kritis. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. Catat kecenderungan demam jika lebih dari 38o C pada 2 hari pertama dalam 10 hari post partum. serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. ü Kaji tinggi fundus dan sifat. jalan lahir. luka operasi dan darah. ü Kaji lochia: jenis. Cemas/ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan III. Sambil menunggu hasil laboratorium berikan antibiotika spektrum luas. ü Monitor vital sign. nyeri. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang mungkin muncul adalah 1. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. Intervensi: ü Kaji data pasien dalam ruang bersalin. Hubungkan dengan data perubahan post partum masing-masing dan catat apakah klien menyusui dengan ASI. sumbatan dan cairan yang keluar (dari puting).v Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama. ASUHAN KEPERAWATAN I. ü Lakukan perawatan perineum dan jaga kebersihan.

perhatikan intensitas (0-10).ü Pertahankan intake dan output serta anjurkan peningkatan pemasukan cairan. Monitor untuk infeksi.perhatikan petunjuk non-verbal. Intervensi : . denyut nadi dan parasthesi/ kelumpuhan. ü Kaji bunyi nafas. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi Tujuan : Nyeri berkurang/terkontrol Intervensi : ü Selidiki keluhan pasien akan nyeri. Atur pemberian cairan dan elektrolit secara intravena. visualisasi) ü Kolaborasi : • • Pemberian obat analgetika. Intervensi: ü Catat perubahan suhu. ü Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan penuh stress. chloramfenicol atau metronidazol. ü Kaji ekstremitas: warna. contoh : latihan relaksasi / napas dalam . Cemas / ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang. vitamin C dan zat besi. ü Atur obat-obatan berikut yang mengindikasikan setelah perkembangan dan test sensitivitas antibiotik seperti penicillin. suhu. Oxitoksin seperti ergonovine atau methyler gonovine. Catatan: hindari produk mengandung aspirin karena mempunyai potensi perdarahan Pemberian Antibiotika 1. nyeri. 1. frekwensi nafas dan usaha nafas.lokasi. ü Berikan tindakan kenyamanan (missal : pijatan / masase punggung) ü Dorong menggunakan tekhnik manajemen nyeri . gelisah.dan faktor pencetus ü Awasi tanda vital. ü Hentikan pemberian ASI jika terjadi mastitis supuratif. cefoxitin. Bantu pasien batuk efektif dan nafas dalam setiap 4 jam untuk melancarkan jalan nafas. Tujuan 2 : Identifikasi tanda dini infeksi dan mengatasi penyebabnya. ü Anjurkan istirahat dan tidur secara sempurna. Anjurkan yang banyak protein. tetracycline. Anjurkan mengubah posisi tidur secara sering dan teratur. ukuran. jangan berikan makanan dan minuman pada pasien yang muntah ü Pemberian analgetika dan antibiotika. gentamisin. ü Bantu pasien memilih makanan. Bantu dengan ambulasi dini.misal: tegangan otot. ü Pertahankan input dan output yang tepat. bimbingan imajinasi .

empati. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM RISIKO TINGGI A. serta sikap mendukung Rasional : Memberikan dukungan emosi ü Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan Rasional : Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui ü Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya Rasional : Ungkapan perasaan dapat mengurangi cemas ü Kaji mekanisme koping yang digunakan klien Rasional : Cemas yang berkepanjangan dapat dicegah dengan mekanisme koping yang tepat. DEFINISI Post partum risiko: • Perdarahan post partum .ü Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan Rasional : Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya ü Kaji respon fisiologis klien ( takikardia. takipnea. gemetar ) Rasional : Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiologis ü Perlakukan pasien secara kalem.

MANIFESTASI KLINIS HPP Primer Perubahan hemodinamik: hipotensi. takikardi Oligouria (urin < 300 cc/ 24 jam) Perdarahan > 500 cc/24 jam Distensi kandung kemih HPP Sekunder Perdarahan kadang banyak kadang sedikit Perdarahan dengan bekuan sisa plasenta Terdapat tanda subinvolusi Lochea merah tua dan berbau jika terdapat infeksi .HPP lanjut/sekunder: terjadi lebih dari 24 jam tetapi kurang dari 6 minggu.• Infeksi post partum • Tromboembolok • Masalah psikologis post partum Perdarahan post partum/post partum hemorrhage (HPP) adalah kehilangan 500 ml darah pada persalinan normal (per vaginam) atau 1000 ml lebih pada persalinan SC penyebab kematian pada ibu. tersering Retensi plasenta Laserasi jalan lahir Ruptur uteri Gangguan pembekuan darah HPP sekunder: Retensi sisa plasenta Sub involusi Endometritis C.HPP dini/primer/awal: terjadi dalam batas waktu 24 jam. B. . FAKTOR RISIKO Kelahiran SC Bayi besar Persalinan dengan tindakan forsep/VE Riwayat HPP Multiparitas Manipulasi intrauterin/manual plasenta Penggunaan MgSO4 atau oksitosin dalam persalinan D. Perdarahan post partum dibedakan menjadi dua: . ETIOLOGI HPP primer: Atonia uteri (1 dari 20 persalinan).

discharge planning diperlukan sebelum klien pulang. urin output.Vital sign (takikardi. Pengkajian HPP Primer .Distensi blader 2.Kaji tanda-tanda perdarahan dan syok hipovolemi: TD. hipotensi) . nadi. TFU .Syok dapat diatasi  anemia dan infeksi . . Pengkajian HPP Sekunder HPP sekunder sering terjadi ketika klien sudah pulang.Kaji adanya laserasi atau hematom yang mungkin menjadi sumber perdarahan. warna kulit. .Kaji perdarahan (warna dan jumlah) .Kenaikan suhu badan E.Syok . kecemasan disorientasi. takipneu. DIAGNOSA KEPERAWATAN Defisit volume cairan Risiko infeksi Perubahan perfusi jaringan perifer Perubahan proses menjadi orang tua Cemas INTERVENSI Manajemen dan monitor cairan Atasi perdarahan Kontrol infeksi Kontrol kecemasan . ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1.Kegagalan fungsi ginjal F. vena leher. kelelahan. suara jantung (murmur). membran mukosa.Pengkajian fundus: kontraksi lemah. oleh karena itu. tingkat kesadaran. KOMPLIKASI . suara nafas. kapiler refill.Sepsis .Faktor risiko dan predisposisi .

hipertensi. B. jarak 4 – 6 jam. MAP sebesar 105 mmHg. peningkatan enzim hati (EL). PATOFISIOLOGI Adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi. atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih Proteinuria 5 gr/lebih dalam 24 jam. Hipertensi kronis hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan/sebelum gestasi 20 minggu. Hipertensi sementara perkembangan hipertensi selama masa hamil/24 jam I nifas tanpa ada tanda preeklampsia. dan trombosit rendah (LP). Oligouria. vasodilatasi. merupakan suatu bentuk preeklampsia – eklampsia berat dimana ibu tersebut mengalami berbagai keluhan dan menunjukkan adanya bukti laboratorium umum untuk sindrom hemolisis (H). 3 atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif. peningkatan volume plasma darah. penurunan resistensi vaskuler sistemik. Merupakan penyakit vasospastik yang ditandai dengan hemokonsentrasi. hipertensi terjadi setelah minggu ke 20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Sindrom HELLP Suatu keadaan multisistem. Peningkatan darah terjadi minimal dengan 2 kali pemeriksaan. Peningkatan MAP > 20 mmHg/ jika tekanan darah sebelumnya tidak diketahui. air kencing 400 ml/kurang dalam 24 jam . Atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan Preeklampsia Kondisi spesifik kehamilan. DEFINISI Hipertensi: Kenaikan nilai tekanan sistolik sebesar 30 mmHg/lebih atau kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg diatas tekanan dasar. dengan teknik dan alat yang standar.ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI KEHAMILAN A. Pada preeklampsia: Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih. dan proteinuria. peningkatan curah jantung. Eklampsia Yaitu terjadinya konvulsi atau koma pada klien disertai tanda dan gejala preeclampsia Konvulsi atau koma dapat muncul tanpa didahului gangguan neurologis. penurunan tekanan osmotik koloid.

Cemas 6. vasospasme siklik. NST. o Proteinuria > 5 gr dalam urin 24 jam o Oligouria < 400 ml dalam 24 jam o Gangguan otak dan penglihatan o Nyeri ulu hati o Edema paru/sianosis o Sindrom HELLP ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian: Pengkajian faktor risiko Pemeriksaan tekanan darah Observasi edema: distribusi.d efek pengobatan.d hipertensi. Trombosis. USG Pemeriksaan laboratorium: HMT. CST. atau nyeri di daerah epigastrum Edema paru-paru atau sianosis Diagnosis Preeklampsia Berat o TD sistolik > 160 mmHg diastolik >110 mmHg pada 2 kali pemeriksaan. Edema pitting (lekukan kecil akibat tekanan pada bagian yang edema. Gangguan pertukaran gas b. Koping individu/ keluarga tidak efektif 5. perdarahan. menetap 10 – 30 menit). Perubahan perfusi jaringan/organ b. pengenalan serta pelaporan tanda-tanda bahaya fisik. derajat & pitting edema Edema dependen (edema bagian bawah/bagian tubuh yang dependen). perawatan prenatal dini. Curah jantung menurun b. 4.d iritabilitas SSP. 2. HB. glukosa Diagnosa Keperawatan 1. Intervensi pencegahan lain adalah: konseling. edema serebral. identifikasi ibu berisiko selama kehamilan. .d terapi antihipertensi yang berlebihan. Refleks Tendon Profunda (RTP) Refleks bisep da patela serta klonus pada pergelangan kaki. edema paru. 3. Hilangnya RTPkeracunan magnesium Menentukan status janin: DJJ. dan informasi tentang adaptasi normal pada kehamilan. enzim hati. konseling nutrisi. gangguan penglihatan. terapi Intervensi Intervensi efektif adalah pencegahan.Keluhan serebral. Risiko injuri b. prosses penyakit.

urin 5. laporkan jika proteinuria ≥ +2 atau pengeluaran urin berkurang Monitor aktivitas janin setiap hari (3 gerakan atau kurang setiap jam) mengindikasikan gawat janin. pernafasan. Kolaborasi dengan dokter 3.Berikan informasi pada ibu tentang kondisi dan tanggung jawabnya dalam penatalaksanaan preeklampsia.6 mg/dl. Periksa jumlah keluaran urin bila <400 ml/24 jam. tonus otot Hindari makanan tinggi garam Kolaboratif: antihipertensi menurunkan risiko gagal ventrikel kiri & perdarahan otak perfusi uteroplasenta terjaga Intervensi di rumah Laporkan bila ada peningkatan TD. Hentikan MgSO4 .8 – 9. kadar serum toksik>9. berat badan > 0.6 mg/dl). Lakukan pemeriksaan TD. penurunan TD dan denyut nadi o Intervensi: 1. . jumlah urin < 30 ml/jam. ganti dengan larutan rumatan 2. tanda distress (DJJ tiba-tiba menurun). hiporefleksia/tidak ada refleks. Bed rest miring kiri  memperbaiki sirkulasi uteroplasenta Latihan fisik ringan  memperbaiki sirkulasi. Pantau kadar MgSO4 (kadar terapeutik: 4. Lakukan pemeriksaan antenatal secara teratur Managemen MgSO4 o Berfungsi untuk mencegah dan mengendalikan kejang o Dosis awal 4 – 6 g selama 15 – 30 menit diikuti dosis rumatan 2 – 4 g/jam o Observasi tanda keracunan Mg SO4: pernafasan < 12/menit. Berikan kalsium glukonal/CaCl sesuai program (misal 1 gr melalui IV diberikan selama 3 menit) 4.5 kg/minggu. edema.

Faktor Risiko Diet tinggi lemak Merokok Alkohol Penggunaan bedak talk perineal Riwayat kanker payudara. kolon. androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium. Hipotesis androgen Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain. dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru. 3. 1. 2. Dalam percobaan in-vitro.ASKEP CA OVARIUM A. 4. diantaranya: Hipotesis incessant ovulation Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi. atau endometrium 1. 5. Hal ini didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. Proses penyembuhan sel-sel epitel yang terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor. Etiologi Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. 2. panggul. Pengertian Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium. 1995) B. Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. C. (Wingo. .

. Rasa begah setelah makan makanan kecil 12. Pada stadium awal berupa : 1. Rasa tidak nyaman pada abdomen 7. Nyeri tekan pada payudara 5. Nulipara 8. Haid tidak teratur 2. Stadium 1b : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium. 2. Lingkar abdomen yang terus meningkat E. Tanda & Gejala Gejala umum bervariasi dan tidak spesifik. Ketegangan menstrual yang terus meningkat 3.6. berisi sel ganas. Flatulenes 11. tidak ada tumor di permukaan luar. Menoragia 4. STADIUM III –> tomor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di luar pelvis dan atau retroperitoneal positif. Menopause dini 6. STADIUM II –> Pertumbuhan pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke panggul 1. kapsul pecah atau dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan bilasan peritoneum positif. kapsul utuh. Infertilitas 9. Menstruasi dini 10. Stadium 2b : perluasan jaringan pelvis lainnya 3. Stadium 2c : tumor stadium 2a dan 2b tetapi pada tumor dengan permukaan satu atau kedua ovarium. Tekanan pada pelvis 9. Stadium 1a : pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium. Dispepsia 8. Sering berkemih 10. tidak ada pertumbuhan di permukaan luar. adalah : STADIUM I –> pertumbuhan terbatas pada ovarium 1. Tidak pernah melahirkan D. Stadium Stadium kanker ovarium primer menurut FIGO (Federation InternationalofGinecologies and Obstetricians ) 1987. Stadium 2a : perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba 2. tidak asietas. Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium 7. tidak ada asietas yang berisi sel ganas. 3. Stadium 1c : tumor dengan stadium 1a dan 1b tetapi ada tumor dipermukaan luar atau kedua ovarium atau kapsul pecah atau dengan asietas berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif. kapsul intak.

Stadium 3a : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara histologi dan dikonfirmasi secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan (seeding) dipermukaan peritoneum abdominal. Ciri2 kista yang bersifat ganas yaitu pada keadaan : Kista cepat membesar Kista pada usia remaja atau pascamenopause Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan Kista dengan bagian padat Tumor pada ovarium Pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat dugaan ke arah kanker ovarium seperti : USG dengan Doppler untuk menentukan arus darah Jika diperlukan. beta – HCG dan alfafetoprotein Semua pemeriksaan diatas belum bisa memastikan diagnosis kanker ovarium. PENATALAKSANAAN Sebagian besar kanker ovarium memerlukan pengobatan dengan kemoterapi. Stadium 3c : implant di abdoment dengan diameter > 2 cm dan atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif. Stadium 3b : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant dipermukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopis.Tumor terbatas dalam pelvis kecil tetapi sel histologi terbukti meluas ke usus besar atau omentum. Oleh karena itu. STADIUM IV –> pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. begitu juga metastasis ke permukaan liver. pemeriksaan CT-Scan/ MRI Pemeriksaan tumor marker seperti Ca-125 dan Ca-724. Hanya kanker ovarium stadium awal saja (stadium 1a dan 1b dengan derajat diferensiasi sel yang baik/sedang) yang tidak memerlukan kombinasi pengobatan. apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). 3. 2. G. Kemoterapi diberikan sebanyak 6 seri dengan interval 3 – 4 minggu sekali dengan melakukan pemantauan . Penegakan Diagnosa Medis Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. akan tetapi hanya sebagai pegangan untuk melakukan tindakan operasi. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dalam stadium 4. dan kelenjar getah bening negativ. diameter melebihi 2 cm. F. 1.

fungsi ginjal. keletihan. kualitas. sistem saluran cerna. frekuensi Kaji faktor lain yang menunjang nyeri. Perubahan citra tubuh dan harga diri b. fungsi hati. riwayat keluhan utama Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat kesehatan keluarga Riwayat reproduksi –> siklus haid. durasi haid Riwayat obstetric –> kehamilan. ASUHAN KEPERWATAN 1. Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. Intervensi : Kaji perasaan klien tentang citra tubuh dan tingkat harga diri . Pengkajian Data diri klien Data biologis/fisiologis –> keluhan utama. relaksasi. Diagnosa Keperawatan 1. perubahan kadar hormone 3.d agen cidera biologi 2. hamil Pemeriksaan fisik Data psikologis/sosiologis–> reaksi emosional setelah penyakit diketahui 2.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran 3.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran Tujuan : KLien dapat memperbaiki persepsi citra tubuh dan harga dirinya. stimulasi kutan Diagnosa 2 : Perubahan citra tubuh dan harga diri b.terhadap efeh samping kemoterapi secara berkala terhadap sumsum tulang.d agen cidera biologi Tujuan : Klien merasa reda dari nyeri dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan Intervensi : Kaji karakteristik nyeri : lokasi.Tujuan dan Intervensi Diagnosa 1 : Nyeri akut b. sistem saluran cerna. persalinan. Penatalaksanaan yang sesuai dengan stadium yaitu : Operasi (stadium awal) Kemoterapi (tambahan terapi pada stadium awal) Radiasi (tambahan terapi untuk stadium lanjut) H. Nyeri akut b. marah pasien Kolaborasi dengan tim medis dalam memberi obat analgesic Jelaskan kegunaan analgesic dan cara-cara untuk mengurangi efek samping Ajarkan klien strategi baru untuk meredakan nyeri dan ketidaknyamanan: imajinasi. nifas. sistem saraf dan sistem kardiovaskuler.

perubahan pada respons individu Kaji informasi klien dan pasangan tentang anatomi/ fungsi seksual dan pengaruh prosedur pembedahan Identifikasi faktor budaya/nilai budaya Bantu klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk berbagi pikiran/masalah dengan orang terdekatnya Berikan solusi masalah terhadap masalah potensial. EGC: Jakarta http://viethanurse.Rencana Asuhan Keperawatan. protein. lemak. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Mengidentifikasi kepuasan/ praktik seksual yang diterima dan beberapa alternatif cara mengekspresikan keinginan seksual Intervensi: Mendengarkan pernyataan klien dan pasangan Diskusikan sensasi atau ketidaknyamanan fisik. penyakit ini akan . 1999. B. . Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak kesulitan. makrivaskuler komplikasi dan neuropatik ( gangguan struktus dan fungsi ginjal). Berkurangnya glikogenesis. konsentrasi gula darah tinggi.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. ex : menunda koitus seksual saat kelelahan Daftar Pustaka Brunner & Suddarth. arterisklerosis. Marilynn E.com/2008/12/21/asuhan-keperawatan-klien-dengan-kankerovarium/ http://akperppnisolojateng.Berikan dorongan untuk keikutsertaan kontinyu dalam aktifitas dan pembuatan keputusan Berikan dorongan pada klien dan pasangannya untuk saling berbagi kekhawatiran tentang perubahan fungsi seksual dan menggali alternatif untuk ekspresi seksual yang lazim Diagnosa 3 : Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b.blogspot. 2001. perubahan kadar hormon Tujuan : -KLien menyatakan paham tentang perubahan struktur dan fungsi seksual.wordpress.html ASKEP IBU HAMIL DENGAN DM TINJAUAN TEORI A. Etiologi Penyakit gula dapat merupakan kelainan herediter dengan cara insufisiensi atau absennya insulin dalam sirkulasi darah.com/2009/03/askep-caovarium. EGC: Jakarta Donges. hiperglikemi dan perkembangan dari mikrovaskuler ( kental kapiler). Pengertian Adalah penyakit kronik yang komplek yang dikarakterisasikan dengan gangguan metabolisme karbohidrat.

Sebaliknya diabetes akan mempengaruhi kehamilan dan persalinan. muncul > 50 tahun. Insufisiensi plasenta 3. D. Sering mengalami keguguran Glokusuria C. Abortus dan partus prematurus b. c. c) Diabetes Laten : Subklinis atau diabetes hamil. uji toleransi gula tidak normal. Hidronion c. Pengaruh Diabetes Melitus Terhadap Kehamilan 1. kejadian meningkat sejalan dengan umur kehamilan. Pengaruh penyakit terhadap persalinan a. Kesalahan letak jantung e. Sering mengalami lahir mati. Factor Predisposisi : Umur sudah mulai tua Multiparitas Penderita gemuk Kelainan anak lebih besar dari 4000 g Bersifat keturunan Pada pemeriksaan terdapat gula dalam urine Riwayat kehamilan : Sering meninggal dalam rahim. Pre-eklamasi d. tetapi tidak merupakan kecenderungan orang dengan gangguan toleransi glokusa . Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi manifes ( diabetik ) b. 25% kemungkinan akan berkembang menjadi DM. persalinan dan nifas terhadap DM a. DM akan menjadi lebih berat karena kehamilan 2. Pengaruh kehamilan. E. Klasifikasi Diabetes Melitus a) Type I ( IDDM ) : DM yang berganyung pada insulin b) Type II ( NIDDM ) : Orang tidak bergantung pada insulin. Pengobatan tidak memerlukan insulin cukup dengan diit saja. Pengaruh penyakit gula terhadap kehamilan di antaranya adalah : a. Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi asfiksia sampai dengan lahir mati . tetapi dapat diobati dengan insulin. Epidemitologi Gangguan Dm terjadi 2 % dari semua wanita hamil.menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal pada penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan. b. Gangguan kontraksi otot rahim partus lama / terlantar.

5. Pemeriksaan optalmologist Albuminuria monitor penyakit ginjal Kontrol hipertensi. Perdarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim. masukan dibatasi : mual. haus. dipenilhidonsion. turgor kering. Bayi mengalami hypoglicemi post partum sehingga dapat menimbulkan kematian Pengaruh DM terhadap kala nifas a. Kemungkinan dibuktikan dengan : peningkatan haluaran urine. kontrol penyakit hipertensi. status metabolic dan diet rendah protein Pendidikan pasien tentang penggunaan medikasi untuk mengontrol medikasi G. f. 1. 3. diuretic. Janin besar ( makrosomia ) c. muntah. cegah ulserasi. Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah menyebar Pengaruh DM terhadap bayi a. 1. Tersier : Pendidikan tentang perawatan kaki. kelemahan.4. Post partum mudah terjadi infeksi. Sekunder : deteksi dini. 2. 3. 4. Pencegahan Primer : untuk mengurangi obesitas dan BB. d. kacau mental. 5. e. takikardi. membran mokusa kering. penurunan berat BB tiba-tiba. Agmen Beta Adrenergik Bloking. hemodialisa Total Nutrisi Parenteral Tube feeding Hyperosmolar Pembedahan Obat : Glukokortikoid. pelambatan pengisin . prematur. 1. gangren dan amputasi. hipotensi. Agen Immunosupresive. > usia kandungan 36 minggu b. Abortus. perawatan. ASUHAN KEPERWATAN Diagnosa Keperawatan Kekurangan volume cairan berhubungan dengan : Diuresis osmotik ( dari hiperglikemia ) kehilangan gastrik berlebihan : diare. diazoxida. Mudah terjadi infeksi post partum b. anto rokok. Dapat terjadi cacat bawaan. urine encer. Terapi Dialysis : peritoneal. potensial penyakit saraf dan jiwa F. 2.

1993 Rencana Asuhan Keperawatan. kurang nafsu makan. DR.Mencerna jumlah kalori / nutrisi yang tepat .Mengungkapkan peningkatan energi .Kurang energi yang berlebihan. Prof. Kajarta : EGC Mochtar. nadi ferifer dapat diraba. Kroteria Hasil : . 1976. anoreksia. Kriteria hasil : mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan dengan tanda vital stabil. 2005. Jakarta : EGC Prawiroharjo. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. kelelahan. 1994.Melaporkan kemasukan makanan tak adekuat.Penurunan produksi energi metabolik . Rustam. kortisol. kecenderungan untuk kecelakaan. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. .Penurunan masukan oral. Patricia. epenipren. haluaran urine tepat secara individu. Kelelahan berhubungan dengan : . Obstetri Patologi. nyeri abdomen. Bandung : Elstar Offset. . Doenges E. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. Ilmu Kebidanan. 3. 1984. penurunan kinerja. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan : . Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir.Menunjukkan tingkat energi biasanya . Geofferey. Jakarta :EGC . Penurunan BB . Obstetrik dan Ginekologi Praktis.Ketidakcukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glokusa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein / lamak. dan kadar elektrolit dalam batas normal. Kemungkinan dibuktikan oleh : .Status hipermetabolisme. dan hormon GH. Edisi I. Pelepasan hormon stress misal .Mendemonstrasikan berat badanstabil atau penambahan ke arah rentang biasanya / yang diinginkan dengan nilai laboratrium yang normal. Jakarta : Widya Medika Ledewig. diare. Marilynn. tonus otot buruk. 2. ketidakmampuan mempertahankan rutinitas biasanya. perubahan kesadaran. Sarwono. 1989. Kriteria hasil .Peningkatan kebutuhan energi : status hipermatabolik Kemungkinan dibuktikan dengan : . mula.Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. W. turgor kulit baik. insufisiensi insulin . lambung penuh. kelemahan.Perubahan kimia darah .kapiler.

Luz 1991. Ida Bagus. Yayasan Esentia Medika Heller. Jakarta : EGC ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN PENYAKIT JANTUNG DAN HIPERTENSI . Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn.Manumba. Harry. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . 1990. 1993. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri.

A. KONSEP DASAR 1. Penyakit jantung Keperluan jani yang sedang tumbuh akan oksigen san zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan, yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Oleh krena it di dalam kehamilan selalu terjadi perubahan-perubahan pada system kardiovaskular yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologis. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan oleh : a. Hipervolumia : dimulai sejak kehamilan 28 minggu dan mencapai puncak pada 28-32 minggu, lalu menetap. b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran rahim. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung. Saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah : a. Pada kehamilan 32-36 minggu dimana volume darah mencapai puncaknya. b. Pada kala II wanita mengerahkan tenaganya untuk mengedan dan memerlukan tenaga jantung yang erat. c. Pada post partum,dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk dalam sirkulasi darah ibu. d. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi. Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan : a. Dapat terjadi abortus b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan. c. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah. d. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati. e. Kematian jani dalam lahir ( KJDL ) Klasifiksi penyakit jantung dalam kehamilan : - Kelas 1 : a. Tanpa pembatasan gerak fisik. b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa - Kelas II : a. Sedikit dibatasi kegiatan fsiknya b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfisiensi jantung. d. Gejalanya adalah lelah, palpitalis, sesak nafas, dan nyeri dada ( angin pectoris ). - Kelas III : a. Kegiatan fisik sangat dibatasi b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung. - Kelas IV : a. Waktu istirahat dapat menimbulkan keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik. Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat meningkatkan kelas

tersebut menjadi III atau IV, Faktor-faktor yang dapat pula mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya aritmia jantung, dan hipertropi ventrikuler dan erhan sakit jantung. 2. Hipertensi Hipertensi dalam kehamilan berarti bahwa wanita telah menderita hipertensi sebelum hamil, disebut juga sebagai pre eklamasi tidak murni seperti mposed preeklamsia bia diserta pula dengan proteinnuria dan edemia. Penyebab utama hipertensi dalam kehamilan adalah : a. hipertensi esensial b. Penyakit ginjal Menurut Sims ( 1970 ) penyakit hipertensi dan penyakit ginjal yang dengan hipertensi adalah sebagai berikut : 1. Penyakit hipertensi a. Hipertensi esensial : ringan, sedang, berat, ganas( progresif ) b. Hipertensi renovaskuler ( penyakit pembulu darah ginjal ) c. Kartisio aorta d. Aldosteronisme primer e. Feokromositoma 2. Penyakit ginjal dan saluran kencing a. Glomerulonefritis ( mendadak, menahun, sindomaneftrotik ) b. Pielonefritis ( mendadak, menahun, ) c. Lupus eritmatusus, dengan glomerulitis, dengan glomerulonefritis d. Skelodermo dengan kelainan ginjal e. Pariarteritis nodosa dengan kelainan ginjal f. Gagal ginjal mendadak g. Penyakit polikistik h. Nefropatia diabetic a. Hipertensi esensial Adalah penyakit hipertnsi yang mungkin disebabkan faktor heriditer dan dipengaruhi oleh faktor emosi dan lingkungan. Wanita hamil dengan hipertensi tidak menunjukkan gejala-gejala lain kecuali hipertensi. Terbanyak dijupai adalah hipertensi jinak dengan tensi sekitar 140/90 sapai 160/100 mmHg. Jarang berubah menjadi ganas secara mendadak sampai sistolik 200 atau lebih. Gejala-gejala seperti kelainan kantung, arteriskelorosis, perdarahan otak dan penyakit ginjal baru timbul setelah dalam waktu lama dan penyakit terus berlanjut. 1) Kehamilan dengan hipertensi esensial akan berlangsung normal sampai aterme. 2) Pada kehamilan setelah 30 minggu 30 % adakan menunjukkan kenaikan tekanan darah namun tanpa gejala. 3) Kira-kira 20 % akan menunjukkan kenaikan tekanan darh yang mencolok, bisa disertai dengan proteinnuria dan edema ( preeklamsia tidak murni ) dengan keluhan : sakit kepala, nyeri epigastrium, nyeri muntah, dan gangguan penglihatan ( visus ). b. Penyakit ginjal hipertensi Penyakit ginjal dengan gejala hipertensi dan dapat dijumpai pada wanita hamil adalah :

- Glomerulonefritis akut dan kronik - Pielonefritis akut dan kronik Pemeriksaan : - Pemeriksaan urine lengkap dan faal ginjal - Pemeriksaan retina - Pemeriksaan umum tekanan darah dan nadi - Kuantitatif albumin air kencing ( urin ) - Darah lengkap dan ureum berdarah - Dll B. Etiologi 1. Penyakit jantung - Hipervolumia - Pembesaran rahim - Demam rematik 2. Hipertensi - Hipertensi esensial - Hipertensi ginjal C. Tanda dan gejala 1. Penyakit jantung - Aritmia - Pembesaran jantung - Mudah lelah - Dispenea - Nadi tidak teratur - Edema pulmonal - Sianosis 2. Hipertensi - Edema - Nyeri kepala - Nyeri epigastrium - Muntah - Gangguan visus ( superimposed pre exlamsia ) D. Penatalaksanaan 1. Penyakit jantung Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada gerajat fungsionalnya : - Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan. - Kelas II : Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan. Kurangi kerja fisik terutama antara kehamilan28-36 minggu. - Kelas III : Memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya dirawat di RS sejak kehamilan 28 – 30 minggu.

Istirahat .. Makanan dan cairan . disritmia . dan trobositopenia.Dapat mengalami pembesaran jantungdan murmur diastolic dan pristolik kontinu .Diit rendah garam . Pengkajian data Dasar a.Nadi mungkin menurun .Clubbing dan sianosis . . Hipertensi a.kelas IV : Harus dirawat di RS dan dinerikan pengobatan bekerjasama dengan kardiolog.Dapat mengalami edemia ekstrimitas bawah e.Obat penenang ( solusio charcot. Hipertensi esensial . .Pengawasan pertumbuhan janin .Malnutrisi . diazepam.Riwayat penyakit jantung congenital dan demam reuna . hipertensi ganas ) b.Dapat mengalami memar spontan. phenobarbital ).Pengakhiran kehamilan ( dilakukan apabila terjadi upper imposed pre axlamsia.Takikardia. Nyeri dan rasa nyaman Dapat mengeluh nyeri dada dengan tanpa paktivitas . Eliminasi Menurunnya keluaran urine d. . perdarahan lama. 2.Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal .Obat hipotensif . .Obesitas . Penyakit ginjal . palpitasi.Diberikan obat hiptensif ( apabila tekanan darah sangat tinggi ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPERTENSI DAN PENYAKIT JANTUNG 1. Sirkulasi .Istirahat. romatozin.Dispenia nocturnal karena pengerahan tenaga b.Diabetes melitus . Aktifasi dan istirahat .Mual dan muntah .Peningkatan tekanan darah .Riwayat hipertensi kronis c.Perubahan poksisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan uterus.

Ortopnea g. perubahan kontratiktilitas miokard.SDP ( sel darah putih ) . Penurunan curak antung berhubungan dengan hipovolumia.Krekle . Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) berhubungan dengan kurangnnya informasi dan interpretasi yang salah. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan penyakit jantung : 1.Strees kontraksi . Diagnosa Keperawatan a.Tes presor supnie .EKG ( Elektrodiograf ) .Amniosentris . Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan hipertensi : 1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output.Dispnea .LED ( laju endap darah . 2. . intake cairan yang berlebihan. Kemanan Infeksi streptokokus berulang h. ruang pengetahuan tentang proses infeksi.Urine lengkaptes .Takipnea . 2.Pernafasan mungkin kurang dari 14 x / menit . Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi. disritmia. 4.Seri ultrasonografi . Pernafasan . Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan primer dan skunder.f.GDA ( gas darah arteri ) . penurunan tekanan osmotic koloid pasma.Kratinin serum .Tes cairan amniotikultrasonografi 2. penyakit/kondisi kronis. peningkatan tahanan aliran darah sistemik. 3. Kurangnnya volume cairan ( kegagalan regulasi ) berhubungan dengan kehilangan protein plasma. perubahan faal ginjal.Pencitraan jantung radionukleutida . b. perpindahan cairan keluar intravaskuler.Echokardiograf . Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi.Hemoptisis . penurunan aliran balik vena. 6. Kelebihan volum cairan berhubungan dengan peningkatan volum sirkulasi.Hb dan HT ( hemoglobin dan memoktorit ) . 5. dan perubahan inotropik pada jantung. Pemeriksaan disgnostic .

Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat intake nutrisi. Bandung : Elstar Offset.3. 1993. 6. Ida Bagus. DR. Resiko cedera berhubungan dengan edema / hipoksia jaringan. 1976. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. Edisi I. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolumia. 4. kejang. 1989. Rustam. Luz 1991. Jakarta : Widya Medika Ledewig. Jakarta : EGC Prawiroharjo. W. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. Nutrisi. Harry. Kurangnya pengetahuan ( kebutuhan belajar berhubungan dengan kurangnya informasi dan pemahaman tentang proses penyakit. abnormallitas factor pembekuan. Sarwono. Marilynn. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Yayasan Esentia Medika Heller. Jakarta :EGC Manumba. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. 2005. 1990. Kajarta : EGC Mochtar. 1984. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn. 5. Jakarta : EGC ASKEP IBU HAMIL DENGAN HYPERTIROID TINAJUAN TEORI . Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Patricia. Geofferey. 1994. Doenges E. Obstetri Patologi. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. Ilmu Kebidanan. Prof.

Hiptonik obat D. Penderita hipertiroid biasanya mengalami gangguan haid ataupun kemandulan. kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid.Tremor . Penatalaksanaan .A.Hiperfungsi kelenjar tiroid .Konstipasi .Aneroksia .Pemberian obbat-obat profiltluarasil dan metiazol dosis rendah .Mual dan muntah .Eksoftalmus . lakukan pada trimester III . karena bahaya kemungkinan timbulnya dekompensasi kordis. 1.Kesulitan dalam menelan .Takikardia . Tanda dan gejala Hipertiroid : . Kejadian penyakit ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umunya disebabkan oleh adenoma tunggal.Peningkatan metabolism basal 15-20 % C. B. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit Kehamilan dapat membuat strua tambah besar dan keluhan penderita tambah berat.Kenaikan BMR sampai 25 % . Kadang juga terjadi kehamilan atau timbul penyakit baru. 2.Kehamikan sering berakhir ( abortus habitualis ) . penyakit tulang atau tanpa gejala.Pembesaran kelenjar tiroid .Partus prematurus . Etiologi Hipertiroid : .Kala II hendaknya diperpendek dengan akstraksi vakum / forsial.Operasi tiroidektomi.Hiperkinesis . Pengaruh penyakit terhadap kehamilan dan persalinan .Pembesarankelenjar tiroid . timbul dalam masa kehamilan.Lekas letih . Pasien dengan penyakit primer ini mungkin mengidap batu ginjal. Konsep Dasar Hipertiroid pada kehamilan ( morbus basodowi ) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan naiknya metabolism basal15-20 %.

4) Ujung kuku/jari → terjadi Aerophacy. banyak keringat. 7) Tanda Rosenbach : tremor pada kelopak mata pada waktu mata menutup.8o C → indikasi Krisis Tyroid. 4) Laktrimasi 5) Ortalmoplegia 6) Tanda Jefrey : kulit tidak dapat mengkerut pada waktu kepala sedikit menunduk dan mata melihat objek yang digerakkan ke atas. 1) Peningkatan tekanan darah 2) Tekanan nadi meningkat 3) Takhikardia 4) Aritmia 5) Berdebar-debar 6) Gagal jantung . Pemeriksaan Fisik : a. Pengaruh Kehamilan Terhadap Penyakit Kehamilan dapat membuat struma tambah besar dan keluhan penderita bertambah berat. b. Cardio vaskuler.E. 11) Tanda Molbius : kelemahan dalam akomodasi / konvergensi mata / gagal konvergensi. Kulit 1) Panas. 10) Tanda Van Graefe : kelopak mata terlambat turun dibandingkan boa mata. mengkilat. licin. F. yaitu perubahan ujung jari → tabuh / clubbing finger disebut PLUMER NAIL. Dalam kenyataan tetani neonatal sering membantu dalam memerlukan hiperparatiriodisme ibu. 2) Proptosis ( eksoptalmus ). karena jaringan orbita dan otot-otot mata diinfiltrasi oleh limposit. diet makanan kalsium 4 gelas susu / hari dapat dianjurkan. rusak. mixedema local. Pembedahan adalah terapi yang dianjurkan. 5) Kalau ada peningkatan suhu → lebih dari 37. 2) Erythema. Komplikasi dan Pengangan Kematian meningkat dan dapat mencapai 50 %. Kalau perlu dilakukan pemeriksaan kalsium berkala dan bila nyata harus dilakukan koreksi dengan kalsium glokonat 2-3 x 20 ml cairan 10 %. tetapi mungkin timbul hipokalsemia pasca bedah. halus. 3) Kuku → terjadi onycholosi → terlepas. kemerahan. ASUHAN KEPERAWATAN A. 8) Tanda stelwag : mata jarang berkedip. c. 9) Tanda Dalrymple : retraksi kelopak mata bagian atas sehingga memberi kesan mata membelalak. yang kemudian dioperasi untuk mengangkat adenomanya. lembab. 3) Iritasi Conjunction dan Hemosis. Mata ( Opthalmoptik ) 1) Retraksi kelopak mata atas → mata membelalak / tanda Dalrymple. PENGKAJIAN 1. pigmentasi. bila keluhan menjadi ringan.

Gastrointestinal 1) Poliphagia → nafsu makan meningkat. menangis tanpa sebab 2) Iritabilitas 3) Perubahan penampilan i. Sistem persyarafan 1) Iritabiltas → gelisah 2) Tidak dapat berkonsentrasi 3) Pelupa 4) Mudah pindah perhatian 5) Insomnia 6) Gematar h. Status reproduksi 1) Pada wanita : a. Kehilangan libido b. Otot 1) Kekuatan menurun 2) Kurus 3) Atrofi 4) Tremor 5) Cepat lelah 6) Hyperaktif refleks tendom g.d. Penurunan potensi k. 2) Polidipsi ( rasa haus berlebihan → banyak minum ) j. Hypomenorrhoe b. Status ginjal 1) Polyuri ( banyak dan sering kencing ). Leher 1) Teraba adany apembesaran tyroid ( goiter ). Amenorrhoe Karena kelenjar tyroid mempengaruhi LH 2) Laki-laki : a. . 2) Diare → bising usus hyperaktif 3) Enek 4) Berat badan turun f. Status mental dan emosional 1) Emosi labil → lekas marah. Respirasi 1) Perubahan pola nafas 2) Dyspnea 3) Pernafasan dalam 4) Respirasi rate meningkat e.

BMR meningkar e. pada waktu yang sama dengan timbangan dan pakaian yang sama. Pemeriksaan Diagnostik a. Hipetermia yang berhubungan dengan status hipermetabolik ditandai dengan panas.5oC – 37. cola. Berikan asetamenofen sesuai pesanan ( aspirin merupakan kontra indikasi ) f. Hindari stimulan : kopi. Berikan kompres hangat sesuai kebutuhan. Pantau tanda vital. Intervensi : a. Berikan dorongan untuk memperbanyak minum 2 sampai 3 liter setiap hari . Kaji efektifitas pengobatan untuk mengatasi mual dan nyeri abdomen. b. b. tinggi protein. 2. Tujuan : suhu normal 36. Timbang pasien setiap hari. TSH serum menurun c. mual. Berikan lingkungan dengan pengunjung yang cocok bila pasien yang menginginkannya. the. diaporesis.tidak yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen. Pantau masukan dan haluaran setiap 8 jam.Lakukan tindakan untuk mencegah kerusakan kulit. PBI meningkat ( Normal :4 g – 8 g. tidak mengalami diare. Tawarkan makanan dalam jumlah kecil tapi sering dan tambahan diantara waktu makan. Pertahankan lingkungan yang sejuk. Serum T3 dan T4 meningkat ( Normal : T3 :8 – 16 g. 2. Tingkatkan masukan cairan sampai 2500 ml / hari. Hasil yang diharapkan / evaluasi : Berat badan meningkat sampai batas yang normal bagi pasien : makan diet yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen .5oC. g. Pantau masukan diet tinggi kalori. d. a. masukan dan haluaran seimbang. c. c. d. tingkat kesadaran. e. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. e. atau makanan yang lain yang mengandung kafein atau teobromin yang meningkatkan perasaan kenyang dan paristaltik. hypertiroid > 8 g. tinggi vitanin B. Kaji efektifitas selimut hipetermia bila dilakukan : . . Tyroid → radio aktif iodine up take ( RAIU ) meningkat ( Normal: 10-35 % ) d. hindari jus yang mungkin dapat menyebabkan diare. nyeri abdomen dan atau peningkatan BMR ditandai dengan BB turun. i. j. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan diare. tinggi karbohidrat. g. T4 4-11 g ) b. Gunakan pakaian dan linen tempat tidur yang tipis. halyaran urine setiap 2 sampai 4. Tujuan : nutrisi adekuat. hypertiroid < g) B. h. f.2) Briut ( + ). Intervensi . Hindari makanan dengan jumlah yang banyak serat atau makanan yang banyak mengandung bumbu. Konsulkan pasien untuk makanan yang disukai.

Bantu pasien saat melakukan aktifitas yang tidak mampu dilakukan karena kelemahan atau tremor. e. Tanda-tanda vital dan haluaran urine normal. Intervensi : a. takipnea. Perubahan proses fikir yang berhubungan dengan peningkatan rangsangan sistem saraf simpatis oleh tingginya kadar hormon tiroid ditandao dengan labil. dan tidak merangsang. 1) Atasi lingkunangan yang terlalu berisik.h. Berikan jarak waktu antara prosedur untuk memungkinkan waktu istitrahat yang cukup. tanpa stress. 3) Batasi pengunjung sesuai kebutuhan. berikan penjelasan yang jelas dan singkat. Rencanakan perawatan bersama pasien. gugup. Kaji tingkat kesadaran. Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi dan orang : berikan penekanan bahwa hal tersebut tepat adanya. g. f. b. Hentikan aktifitas pada awal timbulnya gejala intoleran : dispnea. Biarkan pasien membuat priorotas dalam perawatan di dalam keterbatasanna. Berikan peralatan yang dibutuhkan. 2) Konsisten dalam waktu dan saat melakukan prosedur atau aktifitas. Rencanakan aktifitas setiap hari dan pola istirahat yang dapat memudahkan meningkatan toleransi untuk perawatan diri. afek dan persepsi setiap 4 jam sampai 8 jam : laporkan adanya perubahan negatif. Pasien sadar dan responsif b. orientasi. Intervensi : a. Tujuan : Aktifitas dapat dilakukan sesuai toleransi. Hasil yang diharapkan / evaluasi : a. 4. keletihan. tenang. Berikan lingkungan yang stabil. Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa bukti-bukti intoleran. Tujuan : tidak terjadi perubahan proses pikir. b. h. 4) Hindari pergantian personel yang sering. Kolaborasikan dengan dokter dalam menggunakan tindakan pendinginan tambahan bila keadaannya membutuhkan. Batasi akatifitas sampai tingkat toleransi pasien dengan melakukan pangkajian respon ( mis : kaji tanda vital selama melakukan aktifitas dan bandingkan dengan tanda vital dasar ). c. kebutuhan lain untuk mencegah penggunaan energi yang berlebihan oleh pasien sebelum aktivitas. b. takikardia. . Hasil yang diharapkan /evaluasi : a. 3. Meminta bantuan hanya ketika membutuhkan. Intoleran aktivitas yang berhubunagan dengan ketiddakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan karena peningkatan kecepatan metabolisme dan intoleransi terhadap panas ditandai dengan kelemahan. c. 5) Cegah situasi yang menimulkan kemarahan emosional bila memungkinkan d. Kaji tanda vital dasar dan tingkat aktivitas sebelumnya. d. peka rangsang.

Berikan aktifitas yang menghibur dan benda-benda yang menurunkan rangsangan . gambar-gambar yang dikenal pasien dan sebagainya ). Pasien berorientasi b. f. Orientasikan kembali pasien pada lingkungan sesuai dengan yang dibutuhkan dan berikan petunjuk yang mengorientasikan ( misalnya : jam. hindari hal-hal yang membutuhkan manipulasi motorik halus. i. Antisipasi kebutuhan akan pencegahan reaksi hiperaktif.e. Berespon sesuai terhadap situasi dan orang c. Informasikan pasien bahwa aktifitasnya mungkin dibatasi. Ajarkan teknik menurunkan stress dan kaji penggunaannya oleh pasien. g. Panyau terhadap reaksi buruk terhadap pengobatan. Menggunakan teknik reduksi stress ASKEP TOKSEMIA GRAVIDARUM . j. h. Hasil yang diharapkan : a. kalender.

tubuh anda menahan air. sedangkan tanda-tanda inflamasi tidak ada. Bila plasenta tidak mendapatkan cukup darah. Keadaan ini dapat disertai kelainan faal hati berupa kenaikan kadar fosfatase alkali dan transaminase dalam serum. Ini dapat mengakibatkan kelahiran dengan berat badan rendah. terminasi kehamilan akan memperbaiki keadaan klinis dan histopatologisnya. . sedangkan ikterus jarang timbul. dan protein bisa ditemukan dalam urin anda. Tanda dan Gejala 1. Perdarahan intrahepatik dan subkapsuler menimbulkan keluhan nyeri epigastrik atau nyeri perut kuadran kanan atas. Umumnya tidak ada pengobatan khusus terhadap kelainan faal hati yang terjadi pada toksemia gravidarum. Faktor Resiko Resiko tinggi mengalami preeklamsia adalah : Baru pertama kali hamil Ibu hamil yang ibunya atau saudara perempuannya pernah mengalami preeklamsia Ibu hamil dengan kehamilan kembar. yait karena koagulasi intravaskuler (DIC) dengan hemolisis dan nekrosis hati Gambaran histopatologis menampakkan adanya trombi fibrin dalam sinusoid di periportal disertai tanda-tanda perdarahan serta nekrosis. dan ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun Ibu hamil yang sebelum kehamilannya memiliki penyakit darah tinggi atau penyakit ginjal Patofisologi Preeklamsia dapat membuat plasenta tidak mendapatkan darah dalam jumlah yang cukup. maka bayi anda tidak akan mendapatkan cukup oksigen dan makanan. ibu hamil usia remaja. hanya terjadi pada keadaan berat. 4. Hal seperti ini juga disebut sebagai toxemia atau pregnancy induced hypertension (PIH). 2. meskipun jarang terjadi. ruptur spontan hati yang mengakibatkan perdarahan intra peritoneal dan syok memerlukan tindakan bedah darurat. tapi resiko utama terjadinya pre-eklamsi adalah abrupsio plasenta.TINJAUAN TEORI Pengertian Preeklamsia (toksemia gravidarum) adalah suatu kondisi dimana tekanan darah meningkat selama masa kehamilan. 3. Bila tekanan darah anda meningkat. Etiologi Penyebab dari Toksemia Gravidarum sampai saat ini tidak diketahui.

Preeklamsia berat : sakit kepala. penglihatan kabur. yang terdiri dari: 1. pandangan kabur. kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklamsi. Preeklamsia ringan : Tekanan darah yang tinggi. protein dalam urin 2. sakit di perut bagian kanan atas. Tekanan darahpun meningkat lebih tinggi. sedikit buang air kecil (BAK). Pada preeklamsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal.Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm hg. hipertensi dan akhirnya proteinuria. Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati) 3. Hemolisis (penghancuran sel darah merah) 2. skotoma. Pada preeklamsia ringan tidak ditemukan gejal-gejala subyektif. 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. Klasifikasi 1. jika terjadi sindroma hellp. retensi air. kelelahan. diplopia. Pemeriksaan Penunjang Penlaian Keadaan Ibu Klinis . bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur. edema menjadi lebih umum. juga dikatakan menderita pre-eklamsi. Manifetasi Klinis Biasanya tanda-tanda preeklamsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan. bayi segera dilahirkan melalui operasi sesar. dan proteinuria bertambah banyak. mual atau muntah-muntah Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklamsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklamsia akan timbul. nyeri di daerah epigastrium. bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklamsi. napas pendek dan cenderung mudah cedera. diikuti edema. Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah). tidak dapat melihat cahaya yang terang. Sindroma hellp cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklamsi tertunda. jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi. Gejala-gejala dari pre-eklamsi adalah: tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm hg wajah atau tangan membengkak kadar protein yang tinggi dalam air kemih. Komplikasi Komplikasi utama dari pre-eklamsi adalah sindroma hellp. mual/muntah.

Nyeri subhepatik: Morfin 2-4 mg iv. FDP o LDH. Antihipertensi: a. AT o PTT. urea. 2. hubungan TD dgn CVA. 2. dokter anda mungkin akan mengobatinya dengan memberikan obat-obat untuk menekan tekanan darah sampai perkembangan bayi anda cukup untuk dapat dilahirkan dengan selamat. Min. o Tremor. Bila anda mengidap preeklamsia berat. kabur. iritabilitas. Minum 8 gelas air per hari Penalataksanaan Medis 1. SGPT. Fibrinogen.TD: derajat keparahan. somnolen o Mual & muntah Hematologi: edema. Antasida. APTT. Mual & muntah: antiemetik 3. Mengurangi makan garam 4. LDH Glukosa Ginjal: o Proteinuria o Kreatinin. risiko CVA pd ibu . hiperaktif. Sering melakukan pemeriksaan sebelum kelahiran 3. ptekie Hepatik: nyeri kw kanan atas & epigastrik. asam urat Penilaian Keadaan Janin Gerakan ( > 10x / 24jam ) DJJ USG untuk perkembangan Profil biofisik Indeks cairan amnion Pemeriksaan doppler arus darah: tali pusat Penatalaksanaan Keperawatan 1. Istirahat. mual & muntah Ginjal: output & warna urin Penilaian Keadaan Ibu lab Hematologi: o Hb. Minimalkan palpasi 4. bukan kejang SSP: Keparahan sakit kepala. o Gg penglihatan-buta. perdarahan. asam urat Hepatik: o SGOT. berbaring pada sisi kiri tubuh agar janin anda tidak menindih urat darah.

dan edema dicari terutama pada daerah sacral Balans cairan ditentukan tiap hari Funduskopi dilakukan pada waktu penderita masuk rumah sakit dan kemudian tiap 3 hari Keadaan janin diperiksa tipa hari dan besarnya dinilai Penderita diingatkan untuk segera memberitahukan apaabila sakit kepala. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. tidak ada cara pasti untuk mencegah preeklamsia. Mendapat waktu u/ penilaian lbh lanjut: memperpanjang kehamilan &persalinan pervaginam jk mungkin Pencegahan Sampai saat ini. ada juga yang tidak. kondisi ibu u/ persalinan yg aman c. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan.b. terus menerus. Ikuti instruksi dokter anda mengenai diet dan olahraga. pemeriksaan obstetrik. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. merasa mual. Ada faktor-faktor yang dapat penyebab terjadinya tekanan darah tinggi yang dapat dikontrol. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. saling berkaitan dan dinamis Pengkajian Anamnesis. menentukan cara pemecahannya. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. pemeriksaan umum. Gunakan sedikit garam atau sama sekali tanpa garam pada makanan anda Minum 6-8 gelas air sehari Jangan banyak makan makanan yang digoreng dan junkfood Olahraga yang cukup Angkat kaki anda beberapa kali dalam sehari Hindari minum alcohol Hindari minuman yang mengandung kafein Dokter anda mungkin akan menyarankan anda untuk minum obat dan makan suplemen tambahan. merasa nyeri di daerah epigastrium. dan pemeriksaan laboratorium rutin Tekanan darah. . air kencing. Max. atau menderita gangguan dalam penglihatan. berat badan diperiksa tiap hari.

5-7 Dapat mengambil gr per hari dan 6-8 tindakan lebih dini gelas air perhari Untuk menurunkan Anjurkan klien untuk tekanan darah istirahat dengan posisi Untuk mencegah lateral rekumben kiri kejang (eklamsi) Ajarkan klien tandatanda bahaya preeklamsi dan segera melaporkan jika hal itu terjadi .Kolaborasi pemberian obat anti kejang sesuai indikasi Kelebihan Setelah dilakukan Fluid Manajement: Mempertahankan volume cairantindakan .Diagnosa Keperawatan 1. perawat dapatmeminimalk an komplikasi preeklamsi yang terjadi dengan kriteria hasil: .Kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai indikasi .Pertahankan balance cairan b/d gangguankeperawatan pencatatan intake dan Pada edema terjadi mekanisme selama x24 jam.Tanda-tanda vital dbn .Edema ekstremitas berkurang 2 Pantau tanda dan Mengurangi edema gejala adanya yang terjadi preeklamsi Meningkatkan Anjurkan klien untuk aliran plasma ginjal diet tinggi protein dan perfusi dengan asupan plasenta natrium sedang 2. Kelebihan volume cairan b/d gangguan mekanisme pengaturan 3. PK: Preeklamsi 2.Tidak terjadi kejang . Perfusi jaringan perifer tidak efektif b/d peningkatan tekanan darah Rencana Keperawatan N O 1 DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL PK: PreeklamsiSetelah dilakukan tindakan keperawatan.penurunan . output cairan yang retensi cairan pengaturan klien akan akurat sehingga BB memiliki .Monitor tanda-tanda . retensi cairan dengan kriteria (peningkatan hasil: BUN.Monitor hasil lab yang meningkat keseimbangan berhubungan dengan volume cairan.Tanda-tanda vital hematokrit) dbn .

Evaluasi edema danaliran darah perifer tidakkepaerawatan nadi perifer Mencegah efektif b/dselamax24 jam.web.id PREMATUR KEHAMILAN DEFINISI Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba. bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal.3 . ini berbeda dengan .sehatgroup. .americanpregnancy.Pertahankan hidrasiMelancarkan perifer yang yang adekuat peredarah darah efektif dengan .Nadi perifer vital teraba . Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan.Capillary refilll ≤ output dan penekanan 2 dtk .Tidak ada edema perifer Perfusi Setelah dilakukan Circulatory Care Meningkatkan jaringan tindakan . 1998 : 221).Intake dan berat badan setiap output 24 jam hari seimbang .Kolaborasi pemberian .Lakukan penimbangan . Bayi prematur adalah Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran.Warna kulit dbn setiap 2 jam jika .Berat badan diuretik sesuai stabil indikasi .org www. Walaupun kecil.Anjurkan klien untuk pada bony .Nadi perifer latihan sesuai prominen distal dan kemampuan proksimal kuat .Ubah posisi pasien .Rendahkan peningkatan peningkatan klien memiliki ekstremitas viskositas darah tekanan darah perfusi jaringan .Monitor status cairan Melancarkan kriteria hasil: meliputi intake dan peredaran darah .Tidak ada edema memungkinkan perifer DAFTAR PUSTAKA Pregnancy Induced Hypertension (PIH): Preeclampsia or Toxemia http://www.

Kelainan kongenital rahim: 7. Penyulit kebidanan 9. 8. ganda. kawin sah 13 %prematur . temperatur tinggi. suku bangsa. walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur.prematur. amputasi serviks. janin kembar.Kondisi umum 2. Penyakit ibu yang menyertai kehamilan seperti hipertensi. Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang. faktor yang mempengaruhi Prematuritas adalah sebagai berikut: 1. 2. alkohol. Keadaan rahim yang sering menimbulkan kontraksi dini : Serviks inkompeten karena kondisi serviks. pecahnya sinus marginalis. Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui). sosial ekonomi 2. Kehamilan dengan perdarahan antepartum pada solusio plasenta. 4. Holmer = sebagian besar tidak di ketahui. BB ibu sebelum hamil. incompetence cervical. Kehamilan dengan hidramnion. 6. abruption placenta. 1998 : 219 ) Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan preterm Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :Menurut Manuaba (1998 : 221) 1. placenta previa. Keadaan sosial ekonomi rendah 3. plasenta previa. Kehamilan dengan ketuban pecah dini: terjadi gawat janin.Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi 10. dan sewaktu hamil 4. Bakteriura (infeksi saluran kencing ) 3. merokok dan caffeine Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya persalinan preterm diantaranya: 1. Eastman = kausa prematur 61. ETIOLOGI Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui : 1. Infeksi pada vagina aseden (naik) menjadi amnionitis Sedangkan menurut Mochtar (1998 : 220). toxemia. Anemia. 3. Kelainan anatomi rahim 5. 7. Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun. Perokok berat.( Mochtar .9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui) 2. 6. pre-eklampsia. 5. malnutrisi dan diabetes mellitus. dengan lebih dari 10 batang/ hari. Kurang gizi 4. Kawin dan tidak kawin: Tak syah 15 % prematur. 3. Umur ibu.

2. solusio plasentae. terang dan berwarna pink (tembus cahaya) • Vena di bawah kulit terlihat (kulitnya transparan) • Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput • Rambut yang jarang • Telinga tipis dan lembek • Tangisannya lemah • Kepala relatif besar • Jaringan payudara belum berkembang • Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan) • Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk • Pernafasan yang tidak teratur • Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit ( anak laki – laki ) • Labia mayora belum menutupi labia minora ( pada anak perempuan). Jarak antara persalinan yang terlalu rapat 8. Kelainan Bawaan Uterus Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada. toksemia gravidarum. Serviks Inkompeten 5. dan lain-lain. Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil berat 9. Kondisi Yang Menimbulkan Kontraksi Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan. Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Hidramnion. Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm . kehamilan ganda. atau kehamilan ganda GEJALA Gambaran fisik bayi prematur: • Ukuran kecil • Berat badan lahir rendah (kurang dari 2. penyakit jantung 7.5 kg) • Kulitnya tipis. Keadaan dimana bayi terpaksa dilahirkan prematur. Ketuban Pecah Dini 3. riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya . Prenatal ( antenantal ) care 6. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten. Anemia.5. infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah. kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin : 1. 4. infeksi vagina dan serviks. misalnya pada plasenta praevia.

Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran. 2. 1. Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya. Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar. Kelahiran presipitatus dan yangϖ tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur. ( Saifuddin et. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami konisasi. Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek. Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial. Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran. Kehamilan Ganda 7. Menurunkan atau mengobati Anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi.( Oxorn. Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi. Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau. al. 2002 : 302 ). 2.( Wiknjosastro et. Kantongϖ ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan. Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam.inkompeten.. Episiotomi mengurangi tekananϖ pada cranium bayi. Pencegahan Persalinan Preterm Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut : Hal – hal yang dapat dicegah 1. . Kelahiran Prematur Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat. 2. Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat.al. 2003 : 588 ). Prinsip Penanganan. Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu. Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum. 6.. 2002 : 313 ) Penanganan Persalinan Preterm Penanganan Umum 1.

Riwayat kehamilan 2.Reproduksi 4. Tempat insersi plasenta. Hamil ganda. penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia .Neurologik . Diagnosa keperawatan Dx.Status bayi baru lahir 3.Kadar elektrolit. kultur darah.Pemeriksaan fisik secara head to toe meliputi : . Plasenta previa. 4. 1998 : 220 ). Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).Muskuloskeletal .Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa . ASKEP PREMATUR KEHAMILAN Pengkajian 1.3. 1. 8. urinalisis.Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia) . analisis feses dan lain sebagainya. Suku bangsa.Integumen .X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas . golongan darah.Data penunjang .Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ .Pulmonary .Gastrointestinal . Resiko tinggi disstres pernafasan berhubungan dengan immaturitas paru dengan penurunan produksi surfactan yang menyebabkan hipoksemia dan acidosis . Congenital anomaly. 6. Insersi tali pusat. 3.Kadar kalsium serum. 2. 1.Renal . 9. 5. Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat. 7. Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan) ( Mochtar. Vaktor Ovum. analisa gas darah. Hal – hal yang tidak dapat dicegah .Kardiovaskular .

kehamilan lewat bulan. POAT MATUR KEHAMILAN A . radiasi lingkungan. dan pascamaturitas.Jakarta. 2. Nelson.Fourth Edition.2007) . St. 4. Dx. harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas. tidak adekuatnya intake kalori. Jakarta. ( Varney Helen. auditory. Edisi 4 EGC. 2000.A. Resiko hipotermia atau hipertermia berhubungan dengan prematuritas atau perubahan suhu lingkungan Dx. Defiensi nutrisi berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen. 1998. serta kehilangan kalori. 5. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan imaturitas.Mosby-Year Book Inc. Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. 7. Kehamilan lewat bulan. Markum. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imaturitas imunologik bayi dan kemungkinan infeksi dari ibu atau tenaga medis/perawat Dx. Ilmu kesehatan Anak. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin.volume 2 Edisi 15. Gangguan sensori persepsi : visual.H. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rapuh dan imaturitas kulit Dx. dan kalsium dan kehilangan cadangan glikogen karena metabolisme rate yang tinggi. 1990. Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing. Louis Missouri. antara lain kehamilan memanjang. Jakarta. L. Dx.Dx. 8. suatu kondisi antepartum. taktil dan olfaktory berhubungan dengan stimulasi yang kurang atau berlebihan pada lingkungan intensive care Dx. EGC. zat besi. 3. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. kinestehetik. Penata Laksanaan Neonatus Resiko Tinggi. kehamilan postterm. jilid I.FKUI. Pengertian Kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu. efek fototherapy atau kehilangan melalui kulit atau paru. Donna. 6. yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir. Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant yang sakit di rumah DARTAR PUSTAKA Klaus & Fanaroff. 1991.Bagian Ilmu Kesehatan Anak. gustatory. atau 280 hari setelah ovulasi. Wong.

Rustam. Faktor yang dikemukakan adalh hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan.Jika Tp telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan. Namun kurang lebih 18 % kehamilan akan berlanjut melebihi 41 minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu bergantung pada populasi dan kriteria yang digunakan. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Selain itu. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. 15% postpartum C. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih berubah.Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu. Etiologi Etiologinya msih belum pasti.ubah. 1999).Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG yang makin banyak digunakan. Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Akibatnya induksi yang menjadi bersifat relatif.Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar. B . Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu. beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian besar induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu berdasarkan hitungan dengan USG. Prognosis Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan bila lebih dari 41 minggu karena angka mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat setelah usia 40 minggu. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum. Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum diketahui hingga kini. Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah . kemudian menurun setelah 42 minggu. Meskipun insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah. 55% intrapartum. terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin.

maka sel – sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. Janin besar (c) Moulding kepala kurang. 4.4 – 12%. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan. distosia bahu dan perdarahan postpartum.Rustam.8 atau lebih. sesudah kehamilan 42 minggu. 3. 2.5 pada lahir post term. Pemeriksaan Penunjang 1.4 -4% ( Mochtar. Helen. kesalahan letak. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat pusat penulangan pada bagian distal femur. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil. tulang kuboid diameter biparietal 9. Apabila diambil batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3. · Terhadap janin Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dri kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. diagnosis tidak sukar. persalinan sesar. angka penatalaksanaan anestesia epidural. baguan proksimal tibia. dan mortalitas. inersia uteri. Pengaruh terhadap Ibu dan Janin · Terhadap Ibu Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena (a) aksi uterus tidak terkoordinir (b). . Maka akan sering dijumpai : partus lama. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya. tetap dan ada yang berkurang. Hanya dengan pemeriksaan antenatal yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan diagnosis. Penatalaksanaaan aktif pada bagi AGA dengan lebih bulan kenyataan dapat mengubah hasil positif yang diingunkan. gerkan janin dan jumlah air ketuban. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil.1998) Kesepakatan yang ada adalah bahwa resiko mortalitas perinatal lebih tinggi pada IUGR atau bayi SGA daripada AGA lewat bulan.kematian tersebut. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas. kulitb ketuban akan bercmapur lemak dari sel sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. 5. (Varney. D . Clausson et al Menegaskan bahwa odds ratio untuk kematian perinatal untuk bayi AGA tidak berbeda signifkan pada bayi post term. USG : ukuran diameter biparietal. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabiil dengan amniosenteris baik transvaginal maupun transabdominal. Namun bagi SGA mempunyai odds ratio 10. 2007) Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10.

yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Penatalaksanaan aktif-induksi persalinan pada semua wanita yang usia kandungannnya melebihi 42 minggu. mengawasi dan membaca denyut jantung janin. Jika ternyata reaksi janin kurang baik. Sebelum ada metode yang diterima untuk induksi persalinan seksio sesariamerupakan satu-satunya cara yang dapat diterima untuk mengatasi maslaah ini. 7. 2. pilihan wanita yang bersanngkutan. Penatalaksanaan aktif versus penatalaksanaan antisipatif tergantung reabilitas kriteria yang digunakan dalam menentukan usia kehamilan. dengan pertimbangan kondisi janin yang cukup baik / optimal.. Pemeriksaan sitoloi vagina E . kesejahteraan janin. dan metode induksi sesuai pertimbangan. 9. Keputusan untuk mempercepat persalinan harus selalu ditetapkan dengan membandingkan resiko dan manfaat masing masing penatalaksanaan tersebut. sonogram. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin 10.Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu 6. Penatalaksanaan antisipasi-antisipasi kesejahteraan janin dengan meningkatkan pengkajian dan intervensi jika hanya terdapat indikasi. melihat derajat kekeruhan air ketuban. status medis ibu. Para klinisi sejak lama menyadari perlunya mempercepat persalinan jika terdapat kondisi obstetri dan medis yang mengancam ibu dan janin. Secara umum metode induksi yang paling efektif adalah dengan meningkatkan denyut jantung janian dan hiperstimulasi pada uterus. karena term yang berkembang cenderung mempertimbangkan usia kehamilan sebagai suatu rangkaian yang kontinu. Ada berbagai variasi kemungkinan penatalaksanaan antisipasi dan penatalaksanaan aktif. Penatalaksanaan Medis Dua prinsip pemikiran : 1. Variabel yang sangat memberatkan adalah usia gestasi janin. . Uji oksitosin ( stress test). karena insufiensi plase 8. antara lain: Pertimbangan kesiapan serviks ( skor bishop). Pemeriksaan pH darah kepala janin 11.Melebihi 10% = kehamilan diatas 36 minggu . Kardiotografi. riwayat kebidanan sebelumnya. volume cairan amnion. menurt warnanya karena dikeruhi mekonium. Amnioskopi. atau keduanya) . perkiraan berat badan janin ( dengan manuver leopot. hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan.

. Oligohidramnion. distosia bahu jika janin makrosomia. cairan bercampur. NST) dua kali dalam seminggu. Indikasi untuk induksi persalinan mencakup hal – hal : a. Induksi persalian dikaitkan dengan peningkatan anastesia epidural dalam seksio sesaria untuk wanita primigravida yang usia kehamilanyya lebih dai 41 minggu dan taksiran berat jain 3800 gram atau lebih. IUGR menjelang usia cukup bulan f. 4. Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test. Pada kenyataannya induksi persalian meningkatkan resiko distress janin. Preeklamsi yang cukup parah menjelah cukup bulan d. Hasil uji janin meragukan ( skor profil biosfik rendah) b. Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST yang nonreaktif atau APV yang randah. Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan. kehamilan lebih bulan akan meningkatkan resiko lahir mati. yang dimulai saat kehamilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. APV) dua kali dalam seminggu. Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat diandalkan mulai penanganan aktif mengacu pada protokol. Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42 minggu 1. c. Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume. Riwayat lahir mati pada kehamilan cukup bulan. infeksi dan perdarahan sangat mengejutkan bagi masyarakat awam. mekonium sindrom aspirasi mekonium pada neonatus. 6. Namun walaupun banyak pihak yang menentang induksi persalinan dan tidak adanya standardisai kriteria. seksio sesaria.Induksi persalinan juga diperkirakan komplikasinya. praktik induksi telah banyak meningkat selama satu dekade terakhir. Diabetes dependent e. Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan karena tidak alami dan dapat meningkatkan bahaya. 5. dokumentasikan rencana yang disepakati ( 40+ minggu) 3. Penatalaksanaan aktif pada kehamilan leat bulan : Induksi persalinan Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan lewat bulan. yang dimulai saat kemilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan.Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4 minggu ( 40+minggu) 2.

dan cara pemberian dan waktu pemberian untuk semua metode hingga kini masih dalam penelitian. a. Oksitosin yang digunakan melalui intravena ( atas persetujuan FDA untuk induksi persalinan ). memiliki kisaran keberhasilan secara beragam dan atau sedikit penelitian untuk menguatkan rekomendasinya. Pengaturan dosis. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan intravagina ( disetujui FDA untuk mencegah ulkus peptikum. hasil yang diharapkan dari induksi persalinan adalah “ ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah kontraksi distimulasi sebelum persalinan spontan terjadi”. Meski metode induksi sekarang diutamakan pada induksi kontarkasi uterus.5 mg deng diberika intraservik ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1993) 3. bukan untuk induksi) b. Pemisahan ketuban Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya memisahkan membran amnion dari bagian servik . Dengan catatan servik sudah matang. Misprostol 1) Merk dagang cytotec. Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik dari oksitosin namun kombinasi keduanya menunjukkan hal yang positif. Untuk menghasilkan persalinan yang aman. Mifepriston 9 RU 486. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk jel 0. • Metode hormon untuk induksi persalinan : 1. 2. dan prostaglandin terbukti lebih efektif sebagai agens yang mematangkan seriks dibanding oksitosin. • Metode non hormon Induksi persalinan 1. Dinoproston 1) Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2. namun peran servik sangat penting yang aktivitasnya tidak sepenuhnya dipengaruhi uterus. tersedia dalam dosis 10 mg yang dimasukkan ke vagina ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1995) 2) Merk dagang predipil. Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin sejak tahun 1970-an. peregangan servik secara mekanis). Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan ( misalnya minyak jarak. antagonis reseptor progesteron) ( disetujui FDA untuk aborsi trimester pertama. stimulasi payudara. bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200 mg untuk diberikan per oral.Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist. keberhasilan induksi persalinnan setelah servik matang dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama oksitosin.

4. Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna. 6. Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu. Kateter forey atau Kateter balon. Meskipun amniotomi sering dilakukan untuk menginduksi persalinan. Pompa Payudara dan stimulasi puting. Pemisahan memban servis tidak dilakukan pada kasus – kasus servisitis. plasenta letak rendah. atau perdarahan pervaginam yang tidak diketahui. Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian ballon di isi udara 25 hingg 50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. maupun plasenta previa. Aktifitas seksual. Beberapa uji klinis membuktikan bahwa teknik ini sangat efektif. Penangannya dengan menstimulasi selama 15 menit diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam sebanyak 3 kali perhari. 2. pembukaan dan posisi lazimnya. atau bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun. dan letak bagian bawah. 3. Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin.yang mudah diraih dan segmen uterus bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam Dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk menentukan penipisan serviks. Penggunaan cara ini relatif lebih aman kerna menggunakan metode yang sesuai dengan fisiologi kehamilan dan persalinan. posisi yang tidak diketahui. Presentasi selain kepala merupakan kontrainsdikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun. . Beberapa usapan biasanya eektif untuk menstimulasi kontaksi awal reguler dalam 72 jam. namun hingga kini masih belum ada studi prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini.. Amniotomi Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). 5. Saat dikaukan bidan harus memeriksa dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik. melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan membaran. Minyak jarak Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada kehamilan cukup bulan. pembukaanm posisi.

rapuh dan mudah mengelupas (maserasi). dan langkah kewaspadaan.asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea. bidan dianjurkan mendokumentasikan secara teliti rencana penatalaksanaan yang disepakati bersama oleh wanita. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia .Nyeri b/d operasi sectio caesarea . 3. dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium : 1. Bidan maupun wanita harus memahami secara benar standar perawatan setempat untuk menangani kehamilan lewat bulan. dan bidan harus tetap merujuk pada literatur terkini seputar penanganan kehamilan lewat bulan. F. stadium I : kulit tampak kering. wakru.Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant II Dx Bayi Postmatur } Kerusakan integritas kulit b/d maserasi . -hipovolemia . protokol dalam memuat panduan rekomendasi yang mencakup pemberian. Sementara pada penatalaksanaan antisipasi. penting dinilai keadaan cairan ketuban. Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan. Wanita sebaiknya diberi tahu jika terdapat status yang tidak mencakup pada penggunaan resep. stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat. 2. dosis. verniks kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman. ASUHAN KEPERWATAN I.Pada saat persalinan.Ansietas b/d proses kelahiran lama . Dx PostMatur Kehamilan . G.Jika bidan tidak merasa bahwa penatalaksanaan aktif pada persalinan lewat bula diindikasikan.

2003. Obstetri William ed.1998.Jakarta. Helen Dkk. Ilmu Kebidanan.asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. Etiologi Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh : a. Ida Bagus Gede. Bersumber dari kelainan plasenta 1. Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta. Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta. b. Plasenta previa Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ). DAFTAR PUSTAKA Cunningham.2007. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.} Sianosis b/d mekonium telah bercampur air ketuban } Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia: -hipovolemia . 1999. Sarwono.21. Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : . Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta. dkk. Arcan Askep Perdarahan Ante Partum A. Gary.2006. Jakarta. Sinopsis Obstetri.4 vo1. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.EGC Mochtar. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Pengertian Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 : a. Varney. Jakarta. c. Jakarta. Jakarta.EGC Manuaba. B.Endometrium yang kurang baik .EGC Prawiroharjo. Rustam. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.

Biasanya dihitung kehamilan 28 minggu. Patofisiologi 1. Solusi plasenta Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Tidak bersumber dari kelainan plasenta. dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. C. dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan. pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. biasanya tidak begtu berbahaya. Solusi plasenta berat • Abdomen nyeri-palpasi janin sukar • Janin telah meninggal • Plasenta lepas diatas 2/3 bagian • Terjadi gangguan pembekuan darah b. sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. . misalnya kelainan serviks dan vagina ( erosion. varises yang pecah ).. Kadangkadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus.Chorion leave yang peresisten . Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain : a. Solusi plasenta sedang • Bagian janin masih teraba • Perdarahan antara 500 – 1000 cc • Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian c. Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus.Korpus luteum yang berreaksi lambat 2. polip. Solusi plasenta ringan • Tanpa rasa sakit • Pendarahan kurang 500cc • Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian • Fibrinogen diatas 250 mg % b. peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. 2. Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua. Apabila perdarahan sedikit. hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta.

hematom retroplasenter akan bertambah besar. Akibatnya.Infeksi . D.Emboli dan obstetrik syok b. Plasenta previa a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S. Langsung . Komplikasi 1. Tanda dan Gejala 1. Komplikasi tidak langsung . Plasenta previa a ) Prolaps tali pusat b ) Prolaps plasenta c ) Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan d ) Robekan-robekan jalan lahir e ) Perdarahan post partum f ) Infeksi karena perdarahan yang banyak g ) Bayi prematuritas atau kelahiran mati a. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus. menyebabkan pendarahan post partum .Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman.Couvelair uterus kontraksi tak baik. Solusi plasenta a ) Perdarahan disertai rasa sakit b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat d ) Abdomen menjadi tegang e ) Perdarahan berwarna kehitaman f ) Sakit perut terus menerus E.B.Perdarahan .R c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala d ) Perdarahan berwarna merah segar e ) Letak janin abnormal 2.

Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan. dan siapkan donor transfusi darah. Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta : 1. kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse darah ada. 3. Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show ( perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rectal apalagi vaginal) b. Morphin suntikan subkutan 2. Terapi aktif Prinsip : Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan perdarahan segera berhenti. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. b. Sambil mengawasi periksa golongan darah. 2. c. progestin atau progesterone observasi teliti. dan pentazol. Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan. 2. d. kepala sudah turun . Tranfuse darah.Nekrosis korteks renalis. Solusio plasenta a. Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks. F. belum inpartus. Plasenta previa a. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa. cardizol. Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap. Terapi konsrvatif Prinsip : Tunggu sampai paerdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di bawah 2500 gr. e. Apabila ada penilaian yang baik. menyebabkan anuria dan uremia. 3.Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum . Sambil menunggu atau mengawasi berikan : 1. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari premature. perdarahan sedikt janin masih hidup. Penatalaksanaan 1. Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama. Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine.. bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek. Berikan obat-obatan spasmolitika.

5. Pengkajian Data Subjektif A. identitas ibu hamil dan suaminya.Haid terakhir . c.Dukungan keluarga . Solusio plasenta dengan letak lintang. B. Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan. Darah segar beberapa botol b. 1.Penyakit berat Keadaan psikososial . Solusio plasenta dengan panggul sempit. Keluhan utama Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu. C. Solusio plasenta dengan toksemia berat. Fibrinogen Konsep Asuhan Kep. perdarahan agak banyak. Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup. Data umum Biodata. Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan : a. Plasma darah c. Riwayat menstruasi .Imunisasi E. b.Pandangan terhadap kehamilan F. Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps. Riwayat keluarga . d. Riwayat kesehatan yang lalu D. Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan : a. Pada hipofibrinogenemia berikan : a. 6. pembukaan masih kecil. Riwayat kehamilan . pembukaan kecil b. Janin meninggal : lakukan embriotomi 4. Solusio plasenta dengan anak hidup. 7.Riwayat penyakit ringan . Riwayat persalinan G.Keluhan . Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik. b.sampai hodge III-IV : a.

Rambut dan kulit .Menentukan letak janin . .Peningkatan pigmentasi areola putting susu .Kawin pertama .Peningkatan frekuensi nadi . . Jantung dan paru .Mata : pucat.Laju pertumbuhan rambut berkurang. . Abdomen Palpasi abdomen : .Gigi dan mulut c. f. b. Riwayat perkawinan .Volume darah meningkat .Peningkatan volume tidal.Hudung . .Terjadi hiperventilasi selama kehamilan. anemis . Buah dada / payudara .Status perkawinan .Lama kawin Data Objektif Pemeriksaan fisik 1.Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada. Leher d.Bertambahnya ukuran dan noduler e.Menentukan tinggi fundus uteri . penurunan resistensi jalan nafas.Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil.- Haid pertama Sirkulasi haid Lamanya haid Banyaknya darah haid Nyeri Haid terakhir H. .Diafragma meningga.Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal. Wajah . putting susu dan linea nigra.Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola. . a.

. tanpa perdarahan.Pemeriksaan dalam 2. Pemeriksaan penunjang .Pemeriksaan radio isotopic . Intervensi 1. mencakup tanda-tanda vital.Tinggi fundus uteri .Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ? .Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ? .Ultrasonografi . Haluaran perkemihan.Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ? .Gaya berjalan yang canggung . 3. System musculoskeletal .Denyut jantung janin 3.Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah baring dengan cara menggosok punggung. Diagnosa Keperawatan 1. pengalihan aktivitas. 4. Pemberian cairan IV atau produk darah sesuai pesanan. Khusus . Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini : .Panggul dan janin lahir . pelacakan pemantauan elektronik. Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya.Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ? .Pemeriksaan inspekulo .Persendian tulang pinggul yang mengendur .Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ? . memposisikan dengan bantal. dan tanda persalinan. 2.Hipertropi epithelium h.Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ? .g. Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus. 3.Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2. 2.Posisi dan persentasi janin . Vagina .Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) . Gangguan perpusi jaringan ( plasental ) yang berhubungan dengan kehilangan darah. Takut berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan diri dan bayinya.

Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis. dan sebagainya. Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina ETIOLOGI INFEKSI a. nyeri tekan. Jamur : asinomises. tak akan menimbulkan keluhan D. Jika tak ada infeksi. Jamur : kandida albikan.membengkak. timbunan nanah dalam kelenjar. TANDA dan GEJALA Tanda dan gejala o Pada vulva : perubahan warna kulit. Bakteri : neiseria gonore. pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan.coli C. ASUHAN KEPERAWATAN BARTOLINITIS TINJAUAN TEORI A. serta terapi mulai diberikan. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks. ETIOLOGI Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. b. “Kuman dalam vagina bisa menginfeksi salah satu kelenjar bartolin hingga tersumbat dan membengkak. Evaluasi 1. Infeksi alat kelamin wanita bagian atas : Virus : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika. Mulai dari chlamydia. 2.terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat. stafilokokus dan E. seiring pembengkakan pada kelamin yang memerah. Juga dapat disertai demam. gonorrhea.4. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman. B.juga dapat disertai demam . PENGERTIAN Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Biasanya. PATOFISIOLOGI Lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi cairan). Bakteri : neiseria gonore. o Kelenjar bartolin membengkak.

mukopurulen atau purulen. 1. . Mungkin didapatkan komplikasi seperti : bartolinitis. c. atau ada benjolan di sekitar alat kelamin. diminum 3×1 sesudah makan. Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). Kalau ada keluhan biasanya disuria dan lekore. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Vullva In speculo G. Tampak vaginal discharge dengan sifat mukoid keruh. yang sering diabaikan oleh penderita. dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax. E. molasic. 99 kasus GO pada wanita menyerang servik uteri dan 50-75 % kasus pada wanita tidak ada gejala atau keluhan. abses tubo ovarii bahkan pelvik peritonitis. diminum 3×1 untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan. rasa sakit saat berhubungan dengan suami. hingga kelenjar tersebut mengempis. b. salpingitis. dll). o Terdapat abses pada daerah kelamin o Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah. Laboratorium : Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus gram negatif intraseluler lekosit. Sering anamnese hanya didapatkan riwayat kontak dengan penderita. PENATALAKSANAAN TATALAKSANA INFEKSI ALAT KELAMIN WANITA Berikut ini adalah beberapa infeksi alat kelamin wanita yang sering dijumpai di Puskesmas dan tatalaksana yang disesuaikan dengan sarana diagnosis dan obat-obatan yang tersedia.o Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal. rasa sakit saat buang air kecil. F. Ketiga komplikasi tersebut terahir disebut Pelvis Inflamatory Disease (PID). GONORE (GO) Anamnese : a. PENGOBATAN Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg. Pemeriksaan : Pemeriksaan dengan spekulum : ostium uteri eksternum bisa tampak normal. selama sedikitnya 5-7 hari. kemerahan atau erosif.

2) Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-) Urin : berawan atau threads (+). dilanjutkan 4 X 500 mg selama 4 hari.2) Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus intraseluler lekosit gram negatif. 7 dan 14. mungkin ada nyeri tekan suprapubis.5 gram oral dosis tunggal (lebih poten bila ditambahkan Probenesid 1 gram). 3) Pada kasus persisten lama pengobatan 21 hari. atau dosis awal 1. 2. Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-). 7) Pengamatan dan pemberian ulang dilakukan pada hari ke 3. atau 4) . Sering juga dikeluhkan keluar darah pada akhir dari buang air kecil (terminal dysuria). atau 3) Amoksisilin atau Ampisilin : 3.8 juta IU IM (skin test dulu). sesudah itu setiap bulan selama 3 bulan. Kalau ada.500 mg. atau 2) Kanamisin : 2 gram IM dosis tunggal. Catatan : Terapi sebaiknya diberikan juga kepada patner sex penderita (suami) secara bersamaan. URETRITIS NON GONORE Anamnese : Biasanya tidak ada keluhan. lekosit >10/lapangan pandang. Selama masa terapi sebaiknya kegiatan sex dihentikan. Terapi : 1) Penisilin Prokain : 4.Tetrasiklin cap: 4 X 500 mg selama 5 hari. 2 hari berturut turut. Penatalaksanaan : 1) Tetrasiklin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari atau 2) Erytromisin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari. Bila disertai sistitis. atau 5) Kotrimoksasol tablet 480 : 1 X 4 tablet selama 5 hari 6) Bila ada komplikasi : Amoksisilin atau Ampisilin : 3.5 gram oral dosis tunggal diteruskan 4 X 500 mg selama 10 hari. . Sering bersifat kumatkumatan (yang membedakan dengan GO) Riwayat kontak sering (+) Pemeriksaan : Mungkin ada discharge uretra. Urin : berawan atau didapat benang-benang pendek (threads) Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). keluhan biasanya adalah disuria dengan atau tanpa discharge.

Discharge kental. mungkin didapat juga fisura atau erosi (Vulvovaginitis). dan 2) Nistatin tablet : 4 X 1 tablet. Riwayat suami kencing nanah perlu ditanyakan. Pemeriksaan : Vulva : tampak merah. In speculo : Terasa sakit. sedikit. berwarna kuning atau putih kehijauan. Mungkin juga dikeluhkan adanya rasa sakit waktu melakukan aktivitas sexual. sebagai dosis tunggal. udem. karena > 50% penderita GO wanita disertai dengan trikomoniasis. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. dan pemakaian antibiotika yang tidak terkontrol serta kegemukan. pemakaian Pil KB. Pemeriksaan : Pemeriksaan in speculo : terasa sakit. 4. Penatalaksanaan : 1) Topikal : Nistatin vaginal tablet : 1 X 1. KANDIDIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah keputihan dan gatal di vagina. Laboratorium : Sel ragi (yeast cells) atau tunas (budding body) dan pseudohypha atau spora. Kriteria Minimal : 1) Fluor albus : cair. Sakit pada saat berhubungan sex (dyspareunia) juga sering dikeluhkan. H.3. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. 2) Discharge kental. TRIKOMONIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah adanya keputihan dengan jumlah banyak. sedikit. khas : didapat bintikbintik merah (punctatae red spots atau strawbery cervix) di dinding vagina. Faktor predisposisi : diabetes militus. 2) Punctatae red spots (+) 3) Laboratorium : Puskesmas ? Penatalaksanaan : 1) Metronidasol : 1 X 2. Kriteria Minimal : 1) Vuvovaginitis. PENCEGAHAN . selama 14 hari. adanya plak putih. warna kuning atau putih kehijauan.000 mg. fluor albus cair dengan jumlah banyak dan berwarna kuning atau putih kehijauan. Laboratorium : Fluor albus : dengan mikroskup cahaya Trichomonas vaginalis (+). selama 7 hari. banyak.

jangan menggunakan pantyliner. tak gampang mendeteksi sumber penularan bakteri. Jika Anda bergantiganti pasangan. Kuman dapat hidup subur di daerah tersebut. 6. Hindari mengenakan celana ketat. Produk pembersih dan pengharum vagina yang banyak diperdagangkan sebetulnya tidak diperlukan. ASUHAN KEPERWATAN A. Biasakan membersihkan diri. berbagai cara bisa dilakukan. Mereka merasa nyaman jika pakaian dalamnya bersih. Pilih pakaian dalam dari bahan yang menyerap keringat agar daerah vital selalu kering. 9. Konsumsi makanan sehat dan bergizi. Karena keputihan dapat dialami semua perempuan. Siapa tahu. Biasakan membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual. 2. 7. 5. 4. 8. Kondisi ini dapat menimbulkan luka. Jika tidak dibutuhkan. Ingat. karena dapat memicu kelembapan. Salah satunya adalah gaya hidup bersih dan sehat : - 1. sehingga keadaan kulit di sekitar selangkangan menjadi panas dan lembap. Sebaliknya jika digunakan berlebihan bisa berbahaya. Periksakan diri ke dokter jika mengalami keputihan cukup lama. PENGKAJIAN Perubahan warna kulit Udem Cairan pada kelenjar Nyeri Benjolan pada bibir vagina Bau cairan Kebersihan tubuh Jumlah dan warna urin . setelah buang air besar. Peradangan berhubungan erat dengan penyakit menular seksual dan pola seksual bebas. dengan gerakan membasuh dari depan ke belakang. Tak perlu malu berkonsultasi dengan dokter kandungan sekalipun belum menikah. Usahakan agar Anda terhindar dari kegemukan yang menyebabkan paha bergesek. Perempuan seringkali salah kaprah. Berhati-hatilah saat menggunakan toilet umum. Alat reproduksi memiliki sistem pembersihan diri untuk melawan kuman yang merugikan kesehatan.Untuk menghadang radang. 3. kuman juga bisa berasal dari pasangan Anda. Hindari melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. Padahal penggunaan pantyliner dapat meningkatkan Kelembapan kulit di sekitar vagina. ada penderita radang yang menggunakannya sebelum Anda.

INTERVENSI Membantu pasien untuk memenuhi higiene pribadi Memantau keadaan luka Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan diri (kebersihan alat genetal) Kaji tingkat nyeri Gunakan cara-cara interaktif yang berfokus pada kebutuhan untuk membuat penyesuaian dalam peraktik seksual atau untuk meningkatkan koping terhadap masalah/gangguan seksual .- B.d kurangnya pemahaman terhadap sumber sumberinformasi nyeri b. DIAGNOSA Defisit perawatan diri b.d edem pada kulit Defisit pengetahuan b.d proses penyakit C.d keterbatasan gerak Kerusakkan integritas kulit b.d keadaan luka cemas Disfungsi seksual b.

tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%). . namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen. ujung tumor. E. Nekrosis dan Infeksi Pada myoma subserosum yang menjadi polip. Kalau proses ini terjadi mendadak. 2. Etiologi Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti. belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche. sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause Torsi (putaran tangkai) Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu. 3. Mioma Subserosum . Lokalisasi Mioma Uteri Mioma intramural . 2. B. Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus. Komplikasi Pertumbuhan leimiosarkoma. D. Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar. C. dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. 3. kadangkadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina. 1. Pemeriksaan Diagnostik 1. Pengertian Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid. Mioma Submukosum . Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus.Askep Ibu dengan Myoma Uteri A.

Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya.. leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker. kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding. cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi. 1998). Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang.1. akibat pada hubungan seksual. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan. Cara Penanganan Mioma Uteri Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus. 4. Diagnosa Keperawatan 1. yang dapat mempengaruhi tindakan operasi. perubahan dalam masalah kewanitaan. USG : terlihat massa pada daerah uterus. Eritrosit : turun 2. 3. 6. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). 4. . F. serviks. 2. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun. B. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut. teraba massa. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam. gangguan sensorik / motorik. Pengkajian …. Albumin : turun. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot 3. konsistensi dan ukurannya. perut pada malignan neoplasmatic desease. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi. 5. Lekosit : turun / meningkat. Susan Martin. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A.

Tujuan Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine. Kurang pengetahuan tentang kondisi. mengalirkan air keran. 3. Ajarkan teknik relaksasi Meningkatkan kenyamanan klien 4. mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya. gangguan sensorik / motorik. Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien 5. Rencana Keperawatan Dx 1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma Tujuan Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri. Intervensi dan Rasional 1. Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine Melihat perubahan pola eliminasi klien 2. Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya. observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri. Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien 3. Mencegah terjadinya retensi urine Daftar Pustaka . Lakukan palpasi pada kandung kemih. mengatur posisi. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi. Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat. Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri. Kolaborasi pemberian analgesik Mengurangi nyeri Dx 2 Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya. Memudahkan tindakan keperawatan 2.5. Intervensi dan Rasional 1. tidak mengenal sumber informasi. bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine.

Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Elstar. 2000.Bagian Obstetri & Ginekologi FK.reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah.Biasanya jika penderita berbaring. Lynda Juall.Oleh karena itu prolaps uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat. Ginekologi. Poedjo. Edisi 8. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia eksterna. Tanda dan Gejala Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.Persalinan lama dan sulit.dkk. 2.2 Mei 2001 Saifidin. b. Rasa sakit di pinggul dan pinggang(Backache). EGC. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause. Definisi Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel.penatalaksanaan pengeluaran plasenta. 1993. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. 2000.Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang ketegangannya. Danielle.5 No. c. Jane.Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun.sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. Mimbar Vol. Jakarta Galle. Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai: a. Charette.meneran sebelum pembukaan lengkap. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala: . Unpad.laserasi dinding vagina bawah pada kala II. Jakarta ASKEP PROLAPS UTERI TINJAUAN TEORI 1.keluhan menghilang atau menjadi kurang. Bandung Carpenito. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Jakarta Hartono. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. EGC. Abdul Bari. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.2000. 2001.

dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar.Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra. f.akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut.factor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus. pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu berjalan dan bekerja. e. Etiologi Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering.1. obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel. Serviks uteri terletak diluar vagina.atau yang diselesaikan dalam penurunan dan menyebabkan urethrokel.dan lambat laun menimbulkan ulkus yang dinamakan ulkus dekubitus.prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta dsb.dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri totalis. lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena infeksi serta luka pada portio uteri.Terutama akibat persalinan.ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel. 3.Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetric.Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus. 4.mengejan. d.khususnya persalinan pervagina yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan ligament yang tergolong dalam fasia endopelviks dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul.partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk porolaps yang sudah ada. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa penuh di vagina.Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap.Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja. Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi: 1.Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara.Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri. Patofisiologi Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat . Miksi sering dan sedikit-sedikit.terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam menopause.kemudian lebih berat juga pada malam hari 2. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk. 2. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut: 1. baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan vagina.Asdites dan tumortumor di daerah pelvis mempermudah terjadinya hal tsb.Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas.Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal hanya dibelakang urethra ada . Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya.Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali. 3. 2.Mula –mula pada siang hari.

atau kondisinya tidak mengijinkan untuk dioperasi.Pada pemeriksaan rectal.Enterokel menonjol kelumen vagina lebih keatas dari retrokel.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus vagina adalah adanya keluhan.dengan indikasi:kehamilan. Pengobatan dengan pessarium.padahal tidak ada prolapsus uteri.prolapsus vagina perlu ditangani juga.jari dimasukkan kedalam rectum.kateter itu diarahkan kedalam sitokel. Latihan-latihan otot dasar panggul b.atau prolapsus uteri yang tidak ada belum perlu dioperasi.Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel.Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan.dinding rectum lurus.kistik dan tidak nyeri. Penderita pada posisi jongkok disuruh mengejan dan ditemukan dengan pemeriksaan jari.Kantong hernia ini dapat berisi usus atau omentum. Pemeriksaan Penunjang Friedman dan Little(1961) menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut: a.dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan.dekat pada oue. Penderita berbaring pada posisi litotomi. c.untuk menghilangkan simpton yang ada sambil menunggu waktu operasi dapat dilakukan Pengobatan Operatif Prolapsus uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina.memanjang dari proksimal kedistal. 5.ada kemungkinan terjadi prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan.dan selanjutnya dapat diraba dinding retrokel yang menonjol kelumen vagina.ditentukan pula panjangnya serviks uteri.bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi.kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetric atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rectum kedepan dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol kelumen vagina yang dinamakan retrokel.Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam.Maka. Stimulasi otot –otot dengan alat listrik c.yaitu menonjolnya rectum kelumen vagina 1/3 bagian bawah.Serviks uteri yang lebih panjang dari biasanya dinamakan Elongasio kolli.sebagai terapi tes.Enterokel adalah hernia dari kavum Douglasi.Dinding vagina bagian belakang turun dan menonjol ke depan. a. . Penatalaksanaan Medis Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu. Menegakkan diagnosis retrokel mudah.jika dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri.Penonjolan ini berbentuk lonjong.apakah portio pada normal atau portio sampai introitus vagina atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina.atau penderita menolak untuk dioperasi.lubang yang membuat kantong antara urethra dan vagina.atau penderita masih ingin mendapat anak lagi.penderita menolak untuk dioperasi. b.Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan.ada benjolan ke vagina terdapat di atas rectum. 6. Untuk memastikan diagnosis.

Pengkajian • Data Subyektif ♦ Sebelum Operasi Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan. . Mual. Lemas. Demam.keinginanya untuk mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus. muntah. Pucat. kembung. • Data Obyektif ♦ Sebelum Operasi Nyeri bila benjolan tersentuh. Puasa.seperi umur penderita. Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap. gelisah. Bayi menangis terns. ♦ Sesudah Operasi Terdapat luka pada selangkangan. Pada saat bayi menangis/mengejan dan batukbatuk kuat timbul benjolan. Tidak nafsu makan. Dehidrasi. Spasme otot. Konstipasi.tingkat prolapsus dan adanya keluhan. ♦ Sesudah Operasi Nyeri di daerah operasi. Nyeri di daerah benjolan. kembung. Diagnosa Keperawatan • Sebelum Operasi Diagnosa Keperawatan 1. Anak / bayi rewel. Mual. Pusing.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari beberapa factor. Terdengar bising usus pada benjolan. Selaput mukosa mulut keying. 2. Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PROLAPS UTERI 1.

Beri kesempatan anak untuk bertanya. Ajarkan tehnik-tehnik relaksasi = tarik nafas dalam. 2. cars menguranginya. waktu puasa. jenis dan intensitas nyeri 3. Dengarkan keluhan pasien 4. 5. Kaji intensitas nyeri pasien. Berikan posisi tidur yang menyenangkan clan aman. Observasi tanda-tanda vital clan keluhan pasien. Letakkan anak pada tempat tidur dengan teknik yang tepat sesuai dengan pembedahan yang dilakukan. 4. Jelaskan pada pasien tentang apa yang akan dilakukan di kamar operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan. Rencana tindakan 1. 2. 3. 2. 6. Timbang berat baclan anak tiap hari. 6. • Sesudah Operasi Diagnosa Keperawatan 1. secara bertahap. jam operasi. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan. Diagnosa Keperawatan 2. lokasi. Jelaskan tentang keadaan pasien setelah dioperasi. Observasi keluhan nyeri. Kalau perlu pasang infus clan NGT sesuai program dokter. diharapkan : Nyeri berkurang. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. 5. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan inkontenensia urin Hasil yang diharapkan : Turgor kulit elastis. Nyeri berhubungan dengan luka operasi. Diagnosa Keperawatan 3. Rencana tindakan : 1. Beri posisi senyaman mungkin bunt pasien. Observasi tanda-tanda vital 2. 3. Hasil yang. 7. Bed obat-obat analgetik sesuai pesanan dokter. Hasil yang diharapkan : Ekspresi wajah tenang. Jelaskan penyebab rasa sakit. . 3. 4.Rencana tindakan : 1. Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah. Ciptakan lingkungan yang tenang. Kaji tingkat kecemasan pasien. Rencana tindakan : 1.

Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya. Rencana tindakan : 1. ticlak bengkak. Monitor tanda-tanda dehidrasi. 5. Monitor pemberian infus. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi clan lingkungannya. 4. Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi. Diagnosa Keperawatan 3. tidak ada perdarahan. kering. . 2. Beri kompres hangat. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. tidak ada bengkak. 3. Kalau perlu ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi. Timbang berat badan tiap hari. 3. 4. Suhu dalam batas normal (36-37°C) Rencana tindakan : 1. Observasi keadaan luka operasi dari tandatanda peradangan : demam. Rawat luka dengan teknik steril. Monitor pemberian infus. Luka operasi bersih. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. Beri terapi antibiotik sesuai program medik. Ajarkan tehnik relaksasi. 3. 6. ticlak ada perdarahan. 2. Hasil yang diharapkan Luka operasi bersih. 8. bengkak dan keluar cairan. 6. Berikan therapi analgetik sesuai program medis. Diagnosa Keperawatan 2. kering. Beri minum & makan secara bertahaP. 7. Diagnosa Keperawatan 4. Resiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pads luka operasi. 4. 7. 2.5. Rencana tindakan : 1. tidak kering. 5. Hasil yang diharapkan Turgor kulit elastis. Lakukan tindakan keperawatan anak dengan hati-hati. Rawat luka operasi dengan tehnik steril. Jaga kebersihan sekitar luka operasi. Mual clan muntah ticlak ada. 5. Hasil yang diharapkan : 1. 2. Anjurkan untuk sesegera mungkin anak beraktivitas secara bertahap. merah. 6.

Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi. Apabila mukus sedikit di serviks. 3. bekas operasi pada serviks yang . balutan jangan basah & kotor. Orang tua mengerti tentang perawatan luka operasi. Selain itu. Jelaskan tentang perawatan dirumah. perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. • Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah itu tidak pernah hamil lagi B. 5. Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang akan membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang akan menghambat transportasi sperma ke vagina 2. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri. dan idiopatik 10%. keduanya 10%. 4. Hasil yang diharapkan : 1. Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain : a. Pada wanita • Gangguan organ reproduksi 1. Ajarkan kepada orang tua cara merawat luka operasi & menjaga kebersihannya. 7. 2. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. Rencana tindakan : 1. istri 4055%. 2. Hasil penelitian membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil. DEFENISI Infertilitas adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-3 x / minggu. dan kontrol kembali ke dokter. tanpa mamakai matoda pencegahan selama 1 tahun Ada 2 jenis infertilitas : • Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali. Jaga kebersihan luka operasi. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya. Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu pengeluaran mukus serviks. Orang tua dapat memelihara kebersihan luka operasi clan perawatannya. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/ minum obat secara teratur di rumah. Diagnosa Keperawatan 5. ASKEP INFERTILITAS A. ETIOLOGI Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Diskusikan tentang keinginan keluarga yang ingin diketahuinya.6.

• Kegagalan implantasi Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi. Akiatnya fetus tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus. dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi hipothalamus dan hipofise. zat kimia. perubahan pH dan perubahan komposisi kimiawi • Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut sehingga terjadi penyempitan pada obstruksi pada saluran genital • Lingkungan. b. Setelah terjadi pembuahan. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini. Pada pria Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria yaitu : • Abnormalitas sperma. proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. stress. mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang 4. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil. Kelainan pada uterus.menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim 3. • Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi. Hambatan ini dapatterjadi karena adanya tumor kranial. obat-obatan anti cancer • Abrasi genetik . asap rokok. maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. ejakulasi rerograde. hipospadia • Abnormalitas ereksi • Abnormalitas cairan semen. dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan. morfologi. Radiasi. gas ananstesi. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu • Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi. misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus. maka folicle mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gengguan ovulasi. motilitas • Abnormalitas ejakulasi. • Endometriosis • Abrasi genetis • Faktor immunologis Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu.

MANIFESTASI KLINIS 1. bentuk dan motilitas sperma) • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen D. adhesi. Wanita Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. atau tumor • Traktus reproduksi internal yang abnormal 2. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi.C. mempengaruhi pembentukan folikel. PATOFISIOLOGI a. radiasi. alkohol. memiliki payudara yang tidak berkembang. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma. Wanita • Terjadi kelainan system endokrin • Hipomenore dan amenore • Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik • Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi . rokok. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas. narkotik.dan gonatnya abnormal • Wanita infertil dapat memiliki uterus • Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi. Pria • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. Abnormalitas ovarium.

• Biopsy endometrium terjadwal Mengetahui pengaruh progesterone terhadap endometrium dan sebaiknya dilakukan pada 2-3 hr sebelum haid. Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok. Pria Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. E. Meliputi pengkajian BBT (basal body temperature ) 2. penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido. Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan. b.genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik. • Sitologi vagina Pemeriksaan usap forniks vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina • Uji pasca senggama Mengetahui ada tidaknya spermatozoa yang melewati serviks ( 6 jam pasca coital ). Wanita • Deteksi Ovulasi 1. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu. Dengan pengambilan specimen urine dan darah pada berbagai waktu selama siklus menstruasi. Pemeriksaan System Reproduksi 1. • Histerosalpinografi . PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik: Perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat ( spt distribusi lemak tubuh dan rambut yang tidak sesuai ). infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus. Uji lendir serviks metoda berdasarkan hubungan antara pertumbuhan anatomi dan fisiologi serviks dengan siklus ovarium untuk mengetahui saat terjadinya keadaan optimal getah serviks dalam menerima sperma • Analisa hormon Mengkaji fungsi endokrin pada aksis ovarium – hipofisis – hipotalamus. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma.

Disini dapat dilihat kelainan uterus. • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona F.tidak ada Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin Pemeriksaan ini berguna untuk menilai kembali fungsi hipothalamus. 2. Wanita • Pengetahuan tentang siklus menstruasi.2 detik persentase gerak sperma motil > 60% Aglutasi Tidak ada Sel – sel Sedikit. dan LH. serta informasi kehamilan intra uterin. gejala lendIr serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital • Pemberian terapi obat. . atau seluran ejakulatori. jaringan parut dan adesi akibat proses radang. Uji yang dilakukan bertujuna untuk menilai kadar hormon tesrosteron. misalnya untuk identifikasi kelainan. perkembangan dan maturitas folikuler. • Pemeriksaan pelvis ultrasound Untuk memvisualisasi jaringan pelvis.18-1. Dilakukan secara terjadwal. • USG Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat struktur kelenjar prostat.8 Volume 2 – 5 ml Viskositas 1. PENATALAKSANAAN A.6 – 6. FSH. seperti. Pria • Analisa Semen Parameter Warna Putih keruh Bau Bunga akasia PH 7.2 – 7. distrosi rongga uterus dan tuba uteri.Radiografi kavum uteri dan tuba dengan pemberian materi kontras. hipofisis jika kelainan ini diduga sebagai penyebab infertilitas.6 centipose Jumlah sperma 20 juta / ml Sperma motil > 50% Bentuk normal > 60% Kecepatan gerak sperma 0. vesikula seminalis. • Laparoskopi Standar emas untuk mengetahui kelainan tuba dan peritoneum. • Biopsi testis Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan testis memakai metoda invasif untuk mengidentifikasi adanya kelainan patologi.

Riwayat Kesehatan Sekarang . budaya dan agama B. Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat • GIFT ( gemete intrafallopian transfer ) • Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas • Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate. Terapi penggantian hormon 3. baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus. Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal 4. tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat • Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital.1. Stimulant ovulasi. jangan yang mengandung spermatisida Konsep Asuhan Kep. pemberian tsh . 1. digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus • Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik • Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma • Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Seperti. peningkatan kadar prolaktin. Identitas klien Termasuk data etnis. • Pengangkatan tumor atau fibroid • Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi B. diharapkan kualitas sperma meningkat • Agen antimikroba • Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan • HCG secara i. Pria • Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun.m memperbaiki hipoganadisme • FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis • Bromokriptin. Riwayat kesehatan 1) Wanita a. 2. perbaikan nutrisi. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di rumah • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama • Tumor hipofisis atau prolaktinoma • Riwayat penyakit menular seksual • Riwayat kista b. PENGKAJIAN A.

Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. radiasi. bentuk dan motilitas sperma) • Saluran sperma yang tersumbat • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen c. dan servik • Autoimun c. pria atupun wanita. kecelakan sehinga testis rusak • Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis • Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi contoh : operasi prostat. D. Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik d. ovarium. uterus. Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik C. alkohol. narkotik. operasi tumor saluran kemih • Riwayat vasektomi b.• Endometriosis dan endometrits • Vaginismus (kejang pada otot vagina) • Gangguan ovulasi • Abnormalitas tuba falopi. Riwayat Kesehatan Sekarang • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. Riwayat Obstetri • Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi • Mengalami aborsi berulang • Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi 2) Pria a. Pemeriksaan penunjang . Pemeriksaan Fisik Terdapat berbagai kelainan pada organ genital. rokok. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Trauma.

d prognosis yang buruk . Pria • Analisa Semen • Parameter • Warna Putih keruh • Bau Bunga akasia • PH 7.d ketidaktahuan tentang hasil akhir proses diagnostic Gangguan konsep diri. Wanita • Deteksi Ovulasi • Analisa hormon • Sitologi vagina • Uji pasca senggama • Biopsy endometrium terjadwal • Histerosalpinografi • Laparoskopi • Pemeriksaan pelvis ultrasound b.d metode yang digunakan dalam investigasi gangguan fertilitas Konflik pengambilan keputusan b.tidak ada • Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin • USG • Biopsi testis • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Ansietas b. harga diri rendah b. alternatif untuk terapi Perubahan proses keluarga b.18-1.8 • Volume 2 – 5 ml • Viskositas 1.d terapi untuk menangani infertilitas.6 centipose • Jumlah sperma 20 juta / ml • Sperma motil > 50% • Bentuk normal > 60% • Kecepatan gerak sperma 0.a.d harapan tidak terpenuhi untuk hamil Berduka dan antisipasi b.2 detik • persentase gerak sperma motil > 60% • Aglutasi Tidak ada • Sel – sel Sedikit.2 – 7.d perubahan struktur anatomis dan fungsional organ reproduksi Resiko tinggi terhadap kerusakan koping individu / keluarga b.6 – 6.d gangguan fertilitas Gangguan konsep diri. gangguan citra diri b.

terlambatnya menarche selama beberapa hari. dalam hal ini adalah perawat setelah membaca pokok bahasan ini. Angka kejadian abortus diperkirakan frekuensi dari abortus spontan berkisar 10-15%. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu. d efek tes dfiagnostik Efek tes diagnostic ketedakberdayaan b.d kerusakan fertilitas. Terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan dalam hal ini adalah abortus yaitu abortus spontan.000-750. diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun. dengan demikian setiap tahun terdapat 500.Nyeri akut b. pandangan yang ada di dalam masyarakat tidak boleh sama dengan pandangan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan.000 janin yang mengalami abortus . S. sehingga seorang wanita tidak mengetahui kehamilannya. Di Indonesia. dan penataklaksanaannya Askep Abortus Pengertian Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Oleh karena itu. 2002). Abortus spontan terjadi karena kualitas sel telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah janin. 2002). dan terapeutik. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones. Menariknya pembahasan tentang abortus dikarenakan pemahaman di kalangan masyarakat masih merupakan suatu tindakan yang masih dipandang sebelah mata.d kurang control terhadap prognosis Resiko tinggi isolasi social b.Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik (Prawirohardjo. investigasinya. abortus buatan. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyak wanita mengalami kehamilan dengan usia sangat dini.

Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan) Yaitu: • • • • Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. Pada kehamilan 8–14 minggu villi koriales menembus desidua secara mendalam. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta (Prawirohardjo. walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup. janin dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. dan tanpa adanya dilatasi serviks. Abortus terjadi pada usisa kehamilan kurang dari 8 minggu. Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. 2.spontan. Pada kehamilan diatas 14 minggu. Klasifikasi 1. Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu : . Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandunganapabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu. S. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian abortus. 2002). plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) Yaitu: • Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. atau berat badanbayi belum 1000 gram. Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.

toxemia gravidarum 5. misalnya keracunan tembaga. dll. misalnya malaria. 4.1. terutama trimosoma dan monosoma X b. inkompetensia serviks. diabetes 4. biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. 4. timah. Fibroid. endometrtis. Gangguan fisiologis. • Infeksi kronis 1. anemia berat 5. misalnya Syok. Trauma fisik. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah : a. Infeksi bakteri. . 2. misalnya : 1. 2. dll. retroversi uteri. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna c. Parasit. air raksa. Sifilis. 3. obat-obatan temabakau dan alcohol 2. Kelainan traktus genetalia. Penyebab dari segi Maternal Penyebab secara umum: • Infeksi akut 1. Kelainan pada plasenta. Pengaruh teratogen akibat radiasi. virus. 2. Radang pelvis kronis. 6. Faktor maternal seperti pneumonia. • Penyebab yang bersifat lokal: 1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. Kelainan kromosom. mioma uteri dan kelainan bawaan uterus. Keracunan. rubella. misalnya cacar. penyakit jantung 6. ketakutan. hipertensi 2. hepatitis. nephritis 3. biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. keracunan dan toksoplasmosis. virus. Tuberkulosis paru aktif. misalnya streptokokus. 3. Penyakit kronis. seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua). misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun 3. anemia berat. typus.

janin lahir mati. c. sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus Penyebab dari segi Janin • • • Kematian janin akibat kelainan bawaan. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu 2.Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri. suhu badan normal atau meningkat 3. ada atau tidak jaringan keluar dari ostium. ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. Penyakit plasenta dan desidua. didaerah atas simfisis. mola kruenta. misalnya inflamasi dan degenerasi. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum). Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi. penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. maserasi atau fetus papiraseus. fetus kompresus. janin masih hidup. sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus 5. Manifestasi Klinis 1. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup. Retroversi kronis. teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri. osteum uteri terbuka atau sudah tertutup. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi 4. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil. besar uterus . tekanan darah normal atau menurun. diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. 4. Pemeriksaan ginekologi : a. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis. Rasa mulas atau kram perut. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun. denyut nadi normal atau cepat dan kecil. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Mola hidatidosa. tercium bau busuk dari vulva b.3.

Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat dilanjutkan. bahkan 2-3 minggu setelah abortus 2. mola hidatidosa. nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan perdarahan implantasi yang biasanya sedikit. Sonografi vagina. dan tanpa adanya dilatasi serviks. Penatalaksanaan Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan. perforasi. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu.sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan. Tes Kehamilan Positif bila janin masih hidup. tidak nyeri saat porsio digoyang. atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. berwarna merah. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah Pemeriksaan Penunjang 1. Perdarahan.pemeriksaan kuantitatif serial kadar . Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup 3. tidak nyeri pada perabaan adneksa. Komplikasi 1. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion Diagnosa Banding Kehamilan etopik terganggu. dan tidak disertai mules-mules. Abortus Imminens Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. kemamilan dengan kelainan serviks. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. Aspek klinis abortus spontaneus meliputi : 1. tetapi karena faktor alamiah. dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. syok dan infeksi 2. yaitu : Abortus spontaneus Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis. Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. cepat terhenti. cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.

Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular.2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau . dan kadar progesteron serum. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum. Setelah konseptus meninggal.gonadotropin korionik (hCG) serum. Jika evaluasi tidak dapat. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Semua jaringan yang keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. disusul dengan kerokan. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan. 2. lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. maka dianjurkan dilakukan kuretase. untuk memastikan apakah terdapat janin hidup intrauterus. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apaka}r janin masih hidup. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti. mungkin diperlukan kuretase.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti. karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. Penanganan abortus imminens meliputi : Istirahat baring. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini. Penanganan Abortus Insipiens meliputi : 1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu. Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam jumlah signifikan. segera lakukan: Berikan ergomefiin 0. uterus harus dikosongkan. yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi. Abortus Insipiens Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.

lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Pada abortus yang lebih lanjut. Jika perlu.misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu). beri ergometrin 0.2 mg intramuskuler (diulang . evaluasi hasil konsepsi dengan : Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat.2 mg intramuskulera taum iso prostol4 00 mcg per oral. evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. Abortus lnkompletus Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. 2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu : Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. Jika perdarahan berhenti. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus. 2) Jika perdarahanb anyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan kurang 16 minggu. Penanganan abortus inkomplit : 1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16 minggu. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0. 3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3.

Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap. tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. 4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. 3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg) Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. 5. sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar. 6. hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah. ostium uteri telah menutup. Etiologi missed abortion tidak . Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus. Abortus Kompletus Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Missed Abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu. dengan dinding menipis. Abortus Servikalis Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka. Padap emeriksaand itemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit.setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). dan uterus sudah banyak mengecil. 4. kurang lebih bundar.

seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. KONSEP ASUHAN KEPERWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil. Gejala subyektif kehamilan menghilang. Tindakan keperawatan tersebut . tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai dengan usia kehamilan. sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. 7. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. mengetahui ia mengandung janin yang telah mati. mamma agak mengendor lagi. tetapi diduga pengaruh hormone progesterone. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia. tes kehamilan menjadi negatif.diketahui. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. Penanganan Setelah diagnosis missed abortion dibuat. Abortus Habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut. Diagnosis Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah. uterus tidak membesar lagi malah mengecil. menentukan cara pemecahannya. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin.

dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obatobatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.

1)

2)

3) 4)

1)

Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi 3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri 4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab 5. Cemas s.d kurang pengetahuan Intervensi Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. Intervensi : Kaji kondisi status hemodinamika Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi Ukur pengeluaran harian Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal Berikan sejumlah cairan pengganti harian Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif Evaluasi status hemodinamika Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Intervensi : Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi

pada abortus imminens. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s. istirahat mutlak sangat diperlukan Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas Rsional : Menilai kondisi umum klien 3. dan bau Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart .2) 3) 4) 5) 1) 2) 3) 1) 2) 3) perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien.d perdarahan. kondisi vulva lembab Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan Intervensi : Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar . Resiko tinggi Infeksi s.d Kerusakan jaringan intrauteri Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami Intervensi : Kaji kondisi nyeri yang dialami klien Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi. jumlah. warna. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri Kolaborasi pemberian analgetika Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 4.

ama masa perdarahan Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu. 5. 5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi 6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Lynda. senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan. untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga. pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat 1) 2) Intervensi : Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas Kaji derajat kecemasan yang dialami klien Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga. Cemas s. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. (2001). Jakarta 3) 4) 5) .d kurang pengetahuan Tujuan : Tidak terjadi kecemasan.4) Lakukan perawatan vulva Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). dkk. Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2 5. Jakarta Askep Ca Serviks TINJAUAN TEORI Pengertian Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI. 3. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex). 1997). Arif. Mary. Kapita Selekta Kedokteran. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Pada sebagian besar kasus. EGC. 4. Media Aesculapius. Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. edisi 6. FKKP. karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh. Wanita merokok. 1990. C. 2. 2001. . Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali 6. Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Begitu pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia. 1995. Jilid I. Jakarta Mansjoer. Etiologi Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun).Hamilton. Semakin dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap.

uni atau bilateral. 7. Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari pangul kecil. tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium. Jumlah perkawinan Hygiene dan sirkumsisi Status sosial ekonomi Pola seksual Terpajan virus terutama virus HIV Merokok Klasifikasi Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978 Tingk at 0 I Ia Kriteria Karsinoma In Situ ( KIS). 3. metastasi jauh belum terjadi Ib II II a II b III a III b IV IV a . 6.1. dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah. tidak ditemukan daerah infiltrat antara tumor dengan dinding panggul. sedang parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul. 4. Penyebaran sudah sampai dinding panggul. 5. bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm. Faktor Resiko Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu: Usia. tetapi tidak sampai dinding panggul Penyebaran hanya ke vagina. Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma. 2. parametrium masih bebas dari infitrat tumor Penyebaran ke parametrum. membran basalis utuh Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri Karsinoma mikro invasif. tetapi belum sampai dinding panggul Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina.

terraba lunak. 3. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi. Telah terjadi metastasi jauh. Tanda dan Gejala Perdarahan Keputihan yang berbau dan tidak gatal Cepat lelah Kehilangan berat badan Anemia Manifestasi Klinis Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi. 2. ireguler. Setelah histerektomi radikal. Prognosis Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. 5. dengan cara tes pap Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. keputihan warna putih atau puralen yang berbau dan tidak gatal. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%.IV b 1. perdarahan spontan. perdarahan pascakoitus. Pemeriksaan Penunjang Sitologi. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Kolposkopi Servikografi Pemeriksaan visual langsung Gineskopi Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive) Penatalaksaan Medis Tingkat Penatalaksaan . kehilangan berat badan. 4. dan bau busuk yang khas. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar. terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun. dan anemia.

5. apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi. Riwayat psikososial Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat. Inspeksi • Perdarahan • keputihan . misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera. Pemeriksaan Fisik 1. Perdarahan dan keputihan Riwayat penyakit sekarang Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga. 4. KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN Pengkaijan Identitas klien. 6. III dan IV IV a dan IV b Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan) Histerektomi transvaginal Radioterapi Radiasi paliatif Kemoterapi 1. Keluhan utama. Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain. Riwayat penyakit terdahulu. serta kurangnya pengetahuan keluarga. 2.0 Ia I b dan II a II b . 3.

3. Berikan cairan secara cepat. Kolaborasi dalam pemberian infus 1. Gineskopi 6. Servikografi 5. Tujuan: Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. Sitologi 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. 2.2. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubbungan dengan terbatasnya informasi. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. Pantau dan atur kecepatan infus. 6. Kolposkopi 4. 8. mual dan muntah. palpasi • nyeri abdomen • nyeri punggung bawah Pemeriksaan Dignostik 1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif) 1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. mual dan muntah. Intervensi : Kolaborasi dalam pemeriksaan hematokrit dan Hb serta jumlah trombosit. 4. Tujuan: . 7. 2. Diagnosa Keperawatan Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . Intervensi Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . 5. Biopsi 3.

Observasi tanda-tanda perdarahan. 3. Anjurkan agar membawa makanan dari rumah jika dipelukan dan sesuai dengan diet.Masukan yang adekuat serta kalori yang mencukupi kebutuhan tubuh. Intervensi: Kaji adanya pantangan atau adanya alergi terhadap makanan tertentu. Intervensi : Pantau tanda vital setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan. Tempatkan pasien pada lokasi yang tersedia. Tujuan: Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan Intervensi : Kolaborasi dengan petugas laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap (Hb dan Trombosit) Lakukan tindakan yang tidak menyebabkan perdarahan. Kolaborasi dalam pemeriksaan kultur dan pemberian antibiotika. Kolaborasi dalam tindakan transfusi TC ( Trombosit Concentrated) 5. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. . Bantu pasien dalam menjaga hygiene perorangan Anjurkan pasien beristirahat sesuai kebutuhan. Observasi tanda-tanda vital. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Tujuan: Potensial infeksi menurun dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Pantau masukan makanan oleh klien. Intervensi: Kaji pola istirahat serta adanya keletihan pasien. Tujuan: Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. Lakukan perawatan mulut sebelum makan sesuai ketentuan. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian menu yang sesuai dengan diet yang ditentukan. Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. 4.

Anjurkan kepada klien untuk melakukan latihan ringan. Intervensi: Baringkan pasien diatas tempat tidur. 6. Kaji kepatenan kateter abdomen. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi. Diskusikan dengan keluarga untuk berkompensasi terhadap perubahan peran anggota yang sakit. . Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Evaluasi kempuan pasien dalam mengambil keputusan Dorong harapan yang realistis. Tujuan: Ansietas.Anjurkan kepada pasien untuk mempertahan pola istirahat atau tidur sebanyak mungkin dengan diimbangi aktifitas. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan terbatasnya informasi. Bantu pasien merencanakanaktifitas berdasarkan pola istirahat atau keletihan yang dialami. Berikan dorongan spiritual. Intervensi: Gunakan pendekatan yang tenang dan cipakan suasana lingkungan yang kondusif. 8. 7. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perubahan fisik yang spesifik yang dibutuhkan sehubungan dengan penyakitnya. Intervensi : Bantu pasien untuk mengedintifikasi peran yang bisa dilakukan didalam keluarga dan komunitasnya. Observasi kemampuan pasien dalam malakukan aktifitas. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi.

com http://khaidirmuhaj. Tidak ada tanda-tanda infeksi 4. Jakarta:EGC. Sarwono. 2. Kapita Selekta Kedokteran . Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh 3.Ilmu Kandungan.Synopsis obstetric.Nursing care and Plans. Prawirohardjo. 1989. EGC : Jakarta Doengoes. 6. Jakarta: Gramedia.wordpress.Observasi tentang reaksi yang dialami pasien selama pengobatan Jelaskan pada pasien efek yang mungkin dapat terjadi. Marilyn. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi. http:// www. Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan 5. 1989:Ginekologi Greenhill edisi 10. Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan.medicastore . Jilid 1. Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi DAFTAR PUSTAKA Arif Mansjoer dkk (2000). Sanusi. Mochtar. Chandra. Rustam.E 1989. Edisi 3 . Ansietas.blogspot. Jakarta:EGC.A Davis Company.1994.com/med http://creasoft. 8. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran. 7.com/2009/03/kanker-serviks.html .Philadelphia: F. Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. Evaluasi Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah : 1.

Imunoselektif dari tropoblast 3. vaskularisasi dan edematus. (Mochtar. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Mary. Saleh. dkk. (Jack A. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik.(Mansjoer. tetapi terlambat dikeluarkan.1998 : 23) . dkk.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. Rustam. (Wiknjosastro. Arif.Kekurangan proteinf. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. namun faktor penyebabnya adalah 1. Rustam . Pritchard. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. daripada villi choriales. gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. C. dkk. Paritas tinggie. Hanifa. hidropik.Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. dkk. 1973 : 325). 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. 2. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus.

Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. Mola hidatidosa inkomplet (parsial).Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. (Silvia. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. (Mansjoer. Mola hidatidosa komplet (klasik). (Verrals. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). dkk . berbentuk buah pear. berotot.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. jika disertai janin atau bagian janin. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Arif. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. Silvia. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. jika tidak ditemukan janin 2. Teori neoplasma dari Park. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. Wilson. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. 2003 : 164). 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine .e.

5 cm.b). tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. Hanifa. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu.(Wiknjosastro. terdiri atas jaringan ikat dan otot. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan. Demikian pula dengan penyakit trofoblast. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar. membentuk kantong utero-vesikuler.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis . sonde diputar setelah ditarik sedikit. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. bila tetap tidak ada tahanan. uterus bertambah besar. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. Berjalan melalui annulus inguinalis. 2002 : 339) Tes Diagnostika.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. Di bagian belakang. Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. profundus ke kanalis iguinalis. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. di dalamnya terdapat tuba uterin.

Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. selama dan setelah prosedur evakuasi. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting.(Arif Mansjoer. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. saling berkaitan dan dinamis. Bila sumber vakum adalah tabung manual. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. untuk anemia berat lakukan transfusi.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. Kadar hCG diatas 100. pelunakan serviks dan korpus uteri. menentukan cara pemecahannya. terus menerus. Selama pemantauan. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. dkk. Selain dari penanganan di atas. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. . siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. pembesaran abnormal uterus. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan.

Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.

Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar.Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear. Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi, menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. (Carpenito, Lynda, 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien, memulihkan, memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Menetapkan prioritas masalah 2. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang Ekspresi wajah tenang TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri

5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil : Kebutuhan personal hygiene terpenuhi Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : Klien dapat tidur 7-8 jam per hari Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien. akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien .

pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan. perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : Ekspresi wajah tenang Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati .Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien.

Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : Nafsu makan meningkat Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan. anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil : Tidak tampak tanda-tanda infeksi Vital sign dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh .

mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. 2005. 1998. Patologi. Mary. Kapita Selekta Kedokteran. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. Jakarta Mansjoer. berkeringat. Saleh. 1973. Jakarta Johnson & Taylor. EGC. Rustam. DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil : Hb dalam batas normal (12-14 g%) Turgor kulit baik Vital sign dalam batas normal Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. edisi 6. Arif. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Jilid I. (2001). 1995. 2001. daerah yang terpasang alat invasif (infus. EGC. Penerbit Buku Kedokteran EGC. UI Patologi Anatomik. Buku Ajar Praktik Kebidanan. kaji warna kulit/membran mukosa. pucat. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. Jakarta Mochtar. Jakarta Soekojo. C. Jakarta Hamilton. Sinopsis Obstetri. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeks. . EGC. Jilid I. sehingga proses infeksi tidak terjadi. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin.3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. garis jahitan). Media Aesculapius. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. Lynda. dkk.

Jakarta Askep Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa .

(Mochtar. Paritas tinggie. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. Mary. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo.(Mansjoer.gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Mola hidatidosa inkomplet (parsial). dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. vaskularisasi dan edematus. Teori neoplasma dari Park. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. dkk. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. namun faktor penyebabnya adalah 1. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan.1998 : 23) Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. Rustam . Rustam. dkk. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. C. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. 1973 : 325). Mola hidatidosa komplet (klasik). gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. 2. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. Hanifa. tetapi terlambat dikeluarkan. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . jika tidak ditemukan janin 2. dkk.Kekurangan proteinf. daripada villi choriales. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus . Arif. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. (Jack A. Saleh. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. Pritchard. dkk. jika disertai janin atau bagian janin. Imunoselektif dari tropoblast 3. hidropik. (Wiknjosastro.

Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). 2003 : 164). Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. . membentuk kantong utero-vesikuler. berbentuk buah pear. (Mansjoer.5 cm. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12.menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. Berjalan melalui annulus inguinalis. di dalamnya terdapat tuba uterin. (Silvia. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine b). 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. terdiri atas jaringan ikat dan otot. Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. Arif. berotot. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. (Verrals. dkk . di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar.e. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. Wilson. Darah cenderung berwarna coklat. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. profundus ke kanalis iguinalis. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. Di bagian belakang. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Silvia.

bila tetap tidak ada tahanan. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali.(Wiknjosastro. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan. dkk. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. uterus bertambah besar. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. sonde diputar setelah ditarik sedikit. 2002 : 339) Tes Diagnostika. pelunakan serviks dan korpus uteri. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3.Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. Selain dari penanganan di atas.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis (Arif Mansjoer. Demikian pula dengan penyakit trofoblast. Hanifa. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis. pembesaran abnormal uterus. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. Bila tidak ada tahanan. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per . sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan.

Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. terus menerus. Bila sumber vakum adalah tabung manual. jenis pembedahan ..000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). dan penyakit-penyakit lainnya. 2) Riwayat kesehatan masa lalu ¬ Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien. nama. oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. ¬ Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM . ¬ Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid. masalah ginekologi/urinary . menentukan cara pemecahannya. kapan . Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : ¬ Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi . saling berkaitan dan dinamis. penyakit endokrin . hipertensi . jantung . pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. agama. Kadar hCG diatas 100. umur. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. selama dan setelah prosedur evakuasi.menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). suku bangsa. pendidikan. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Selama pemantauan. perkawinan ke. siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. lamanya perkawinan dan alamat ¬ Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang ¬ Riwayat kesehatan . merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. pekerjaan. status perkawinan. untuk anemia berat lakukan transfusi. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. .

gejala serta keluahan yang menyertainya ¬ Riwayat kehamilan . ¬ Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien. dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. lamanya. mencatat suhu. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna. jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.Data . adanya keterbatasan fifik. Pemeriksaan fisik. pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan. baik sebelum dan saat sakit. sifat darah. penggunaan ekstremitas. persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini. obat digitalis dan jenis obat lainnya. massa atau konsolidasi. ketergantungan. 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium :  Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen.  Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB. bau. bahasa tubuh.  Tekanan : menentukan karakter nadi. derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. eliminasi (BAB dan BAK). pap smear. Data lain-lain :  Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS. apakah klien menggunakan kontrasepsi. banyaknya. cairan dan elektrolit. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah.  Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan. dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. pergerakan dan postur. perubahan warna. warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi. bagaimana keadaan kesehatan anaknya. istirahat tidur. (Johnson & Taylor.¬ Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe. siklus menstruasi. meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. ¬ Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi. laserasi. USG. dan menggunakan KB jenis apa.  Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan .  Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah. apakah klien setuju. hygiene. biopsi. lesi terhadap drainase.  Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. mengevaluasi edema. memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. ¬ Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral.

dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Menetapkan prioritas masalah 2. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1.  Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien  Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2.psikososial. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi. bagaimana pola komunikasi dalam keluarga. (Carpenito. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri 4. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. memulihkan. menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil :  Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang . Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan.  Kaji orang terdekat dengan klien. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5. 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Lynda.

lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri 5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil :  Kebutuhan personal hygiene terpenuhi  Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : . Ekspresi wajah tenang  TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri.

perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi. pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan. akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil :  Tanda-tanda vital dalam batas normal  Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien. Klien dapat tidur 7-8 jam per hari  Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : .

 Ekspresi wajah tenang  Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil :  Nafsu makan meningkat  Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan. anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil :  Tidak tampak tanda-tanda infeksi  Vital sign dalam batas normal .

EGC. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. Penerbit Buku Kedokteran EGC. (2001).Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh 3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. daerah yang terpasang alat invasif (infus. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeksi DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil :  Hb dalam batas normal (12-14 g%)  Turgor kulit baik  Vital sign dalam batas normal  Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. sehingga proses infeksi tidak terjadi. berkeringat. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. Jakarta Hamilton. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Mary. garis jahitan). kaji warna kulit/membran mukosa. edisi 6. pucat. C. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. 1995. Jakarta . Lynda.

Sinopsis Obstetri. 2005. Jakarta Mansjoer. Arif. Jilid I. Saleh. Rustam. Media Aesculapius. UI Patologi Anatomik. Jakarta . Jakarta Mochtar.Soekojo. dkk. Patologi. Jilid I. Jakarta Johnson & Taylor. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Kapita Selekta Kedokteran. EGC. 1973. EGC. 1998. 2001.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful