ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan

janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Jenis – jenis operasi sectio caesarea 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) 2. Sectio caesarea transperitonealis 3. SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : 1. Mengeluarkan janin dengan cepat 2. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik 3. Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan 1. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik 2. Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan 3. SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : 1. Penjahitan luka lebih mudah 2. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik 3. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum 4. Perdarahan tidak begitu banyak 5. Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : 1. Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak 2. Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi 3. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal 2. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. Sayatan huruf T ( T insicion ) Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan

resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) ϖ Fetal distress ϖ His lemah / melemah ϖ Janin dalam posisi sungsang atau melintang ϖ Bayi besar ( BBL ³ 4,2 kg ) ϖ Plasenta previa ϖ Kalainan letak ϖ Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) ϖ Rupture uteri mengancam ϖ Hydrocephalus ϖ Primi muda atau tua ϖ Partus dengan komplikasi ϖ Panggul sempit ϖ Problema plasenta ϖ Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : 1. Infeksi puerperal ( Nifas ) 2. Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari 3. Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung 4. Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik 5. Perdarahan 6. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka 7. Perdarahan pada plasenta bed 8. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi 9. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya 10. Post Partum Definisi Puerperium / Nifas Nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002) Nifas adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983) Periode Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum Minggu pertama post partum. 3. Late post partum

Minggu kedua sampai dengan minggu keenam. Tujuan Asuhan Kepeawatan ϖ Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. ϖ Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. ϖ Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. ϖ Memberikan pelayanan keluarga berencana. Tanda dan Gejala 1. Perubahan Fisik 2. Sistem Reproduksi 3. Uterus 4. Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. o Lochea o Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe.  Tahap  Rubra (merah) : 1-3 hari.  Serosa (pink kecoklatan)  Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. ϖ Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. ϖ Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. ¬ Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. ¬ Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. ¬ Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi. ¬ Perineum ¬ Episiotomi

ϖ Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal.5 kg. ϖ Perubahan hematologik Ht meningkat.Penyembuhan dalam 2 minggu. ϖ Sistem Urinaria ϖ Edema pada kandung kemih. RR : 16-24 x/menit. ϖ Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal ϖ Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). ϖ Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. neutrophil meningkat. ϖ Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama. ϖ Pada fungsi ginjal: proteinuria. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. ϖ Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 – 500 cc. ϖ Jantung Kembali ke posisi normal. diuresis mulai 12 jam. ϖ Sistem Muskuloskeletal . LH. menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH. ϖ Sistem Endokrin ϖ Hormon Plasenta ϖ HCG (-) pada minggu ke-3 post partum. keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. puting mudah erektil bila dirangsang. Pada payudara yang tidak disusui. ϖ Sistem Gastrointestinal ϖ Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. ϖ Kehilangan rata-rata berat badan 5. leukosit meningkat. ϖ Sistem Kardiovaskuler ϖ Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin. tidak ditemukan pada minggu I post partum. ϖ Nafsu makan kembali normal. sesaria : 600 – 800 cc. COP meningkat dan normal 2-3 minggu. engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari.

jumlah. memar. Diastasis rekti 2-4 cm. ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM FISIOLOGIS PENGKAJIAN • Pemeriksaan Fisik • Monitor Keadaan Umum Ibu • Jam I : tiap 15 menit. • Lochea Tipe. ϖ Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. • Attachment yang mempengaruhi dari faktor ibu. • Bowel Pergerakan usus. drainase. konflik peran. marah. • Perubahan Psikologis • Peran Ibu meliputi: Kondisi Ibu. faktor sosial-ekonomi. . faktor keluarga. • Ekstremitas Tanda Homan. laserasi dan hemoroid. • Perineum Episiotomi. • Diagnostik Jumlah darah lengkap. posisi tinggi dan ukuran.Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. diberikan anti RHO imunoglobin. tenderness. • Uterus Konsistensi dan tonus. dan perubahan warna. ayah dan bayi. periksa redness. bau dan adanya gumpalan. hematoma. Kemerahan menandakan infeksi. • Perubahan Psikologis • Perubahan peran. respon depresi dan psikosis. usia ibu. kondisi bayi. ϖ Sistem Imun Rhesus incompability. edema. adakah anxietas. • Insisi SC Balutan dan insisi. • Kandung Kemih dan Output Urine Pola berkemih. edema. hemoroid dan bising usus. • Baby Blues: Mulai terjadinya. sebagai orang tua. kembali normal 6-8 minggu post partum. jam II tiap 30 menit • 24 jam I : tiap 4 jam • Setelah 24 jam : tiap 8 jam • Monitor Tanda-tanda Vital • Payudara Produksi kolustrum 48 jam pertama. jumlah distensi. urinalisis. discharge dan approximation. dan nyeri. warna.

biasanya pada hari III dimungkinkan karena turunnya hormon estrogen dan pergeseran yang mempengaruhi emosi ibu. maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10cm dapat menimbulkan kesulitan. • Kesempitan pintu atas panggul Pintu atas panggul dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 9½ cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm. bidang tengah dan pintu bawah panggul. ukuran melintang biasa • Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran muka belakang • Panggul corong :pintu atas panggul biasa.pintu bawah panggul sempit • Panggul belah : symphyse terbuka • kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya • Panggul rachitis : panggul picak. Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit. seluruha panggul sempit picak dan lain-lain • Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang • Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang • kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong • sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring • kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah .• Baby Blues merupakan gangguan perasaan yang menetap. • Faktor-faktor Risiko • Duerdistensi uterus • Persalinan yang lama • Episiotomi/laserasi • Ruptur membran prematur • Kala II persalinan • Plasenta tertahan • Breast feeding PANGGUL SEMPIT Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut : • Kesempitan pintu atas panggul • kesempitan bidang bawah panggul • kesempitan pintu bawah panggul • kombinasi kesempitan pintu atas pangul. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut : • Kelainan karena gangguan pertumbuhan • Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil • Panggul picak : ukuran muka belakang sempit. panggul sempit.

luxatio. letak sungsang dan letak lintang. Disamping itu mungkin pula ada exostase atau fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul. • Terjadi fistel : tekanan yang lama pada jaringan dapat menimbulkan ischaemia yang menyebabkan nekrosa. • Biasanya anak seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil dari pada ukuran bayi pukul rata. yang diterapkan dengan “knopfloch mechanismus” (mekanisme lobang kancing) • Pada oang sempit kepala anak mengadakan hyperflexi supaya ukuran-ukuran kepala belakang yang melalui jalan lahir sekecil-kecilnya • Pada panggul sempit melintang sutura sagitalis dalam jurusan muka belang (positio occypitalis directa) pada pintu atas panggul. Kadang-kadang karena infeksi dapat terjadi tympania uteri atau physometra. Infeksi ini tidak saja membahayakan ibu tapi juga dapat menyebabkan kematian anak didalam rahim. Nekrosa menimbulkan fistula vesicovaginalis atau fistula recto vaginalis. • Karena gangguan pembukaan • Karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak Kelainan pembukaan disebabkan karena ketuban pecah sebelum waktunya. • Pengaruh pada persalinan • Persalinan lebih lama dari biasa. atrofia. • Pengaruh panggul sempit pada kehamilan dan persalinan Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan maupun persalinan. • Dapat terjadi ruptura uteri kalau his menjadi terlalu kuat dalam usaha mengatasi rintangan yang ditimbulkan oleh panggul sempit • Sebaiknya jika otot rahim menjadi lelah karena rintangan oleh panggul sempit dapat terjadi infeksi intra partum.coxitis. Asynclitismus sering juga terjadi. karena bagian depan kurang menutup pintu atas panggul selanjutnya setelah ketuban pecah kepala tidak dapat menekan cervix karena tertahan pada pintu atas panggul • Pada panggul sempit sering terjadi kelainan presentasi atau posisi misalnya : • Pada panggul picak sering terjadi letak defleksi supaya diameter bitemporalis yang lebih kecil dari diameter biparietalis dapat melalui conjugata vera yang sempit itu. Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. Fistula vesicovaginalis lebih sering terjadi karena kandung kencing tertekan antara kepala anak dan . • Pengaruh pada kehamilan • Dapat menimbulkan retrafexio uteri gravida incarcerata • Karena kepala tidak dapat turun maka terutama pada primi gravida fundus atau gangguan peredaran darah Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung Perut yang menggantung pada seorang primi gravida merupakan tanda panggul sempit • Kepala tidak turun kedalam panggul pada bulan terakhir • Dapat menimbulkan letak muka.

• Pengaruh pada anak • Patus lama misalnya: yang lebih dari 20 jam atau kala II yang lebih dari 3 jam sangat menambah kematian perinatal apalagi kalau ketuban pecah sebelum waktunya. scoliose. jadi derajat kesempitan • Kemungkinan pergerakan dalam sendi-sendi panggul • Besarnya kepala dan kesanggupan moulage kepala • Presentasi dan posisi kepala • His Diantara faktor faktor tersebut diatas yang dapat diukur secara pasti dan sebelum persalinan berlangsung hanya ukuran-ukuran panggul : karena itu ukuran – ukuran tersebut sering menjadi dasar untuk meramalkan jalannya persalinan. yang paling sering adalah kelumpuhan N.5-10 cm hasil persalinan tergantung pada banyak faktor : • Riwayat persalinan yang lampau . Karena itu kalau CV < 8 ½ cm dilakukan SC primer ( panggul demikuan disebut panggul sempit absolut ) Sebaliknya pada CV antara 8.symphyse sedangkan rectum jarang tertekan dengan hebat keran adanya rongga sacrum. • Persangkaan Panggul sempit Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau : • Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36 • Pada primipara ada perut menggantung • pada multipara persalinan yang dulu – dulu sulit • kelainan letak pada hamil tua • kelainan bentuk badan (Cebol. Terutama kalau diameter biparietalis berkurang lebih dari ½ cm. Kalau terjadi symphysiolysis maka pasien mengeluh tentang nyeri didaerah symphyse dan tidak dapat mengangkat tungkainya. • Prolapsus foeniculli dapat menimbulkan kematian pada anak • Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak. Sebaliknya kalau CV 8 ½ cm atau lebih persalinan pervaginam dapat diharapkan berlangsung selamat. Peroneus . selain itu mungkin pada tengkorak terdapat tanda-tanda tekanan. • Ruptur symphyse dapat terjadi . • Parase kaki dapat menjelma karena tekanan dari kepala pada urat-urat saraf didalam rongga panggul .pincang dan lain-lain) • osborn positip • Prognosa Prognosa persalinan dengan panggul sempit tergantung pada berbagai faktor • Bentuk panggul • Ukuran panggul. malahan kadang – kadang ruptur dari articulatio scroilliaca. Terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal) malahan dapat terjadi fraktur impresi. Menurut pengalaman tidak ada anak yang cukup bulan yang dapat lahir dengan selamat per vaginam kalau CV kurang dari 8 ½ cm.

Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir setelah kita mendapatkan keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung per vaginam atau setelah anak lahir per vaginam. Kita menghentikan presalianan percobaan kalau: • – pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuaannya • Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik • Kalau ada lingkaran retraksi yang patologis • – setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban. Kalau dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap kepala janin tidak turun sampai H III maka test of labor dikatakan berhasil. jadi tidak dilakukan pada letak sungsang. letak dahi.kepala dalam 2 jam tidak mau masuk ke dalam rongga panggul walaupun his cukup kuat • Forcepe gagal Dalam keadaan-keadaan tersebut diatas dilakukan SC.• besarnya presentasi dan posisi anak • pecahnya ketuban sebelum waktunya memburuknya prognosa • his • lancarnya pembukaan • infeksi intra partum • bentuk panggul dan derajat kesempitan karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil persalinan pada panggul dengan CV antara 8 ½ – 10cm (sering disebut panggul sempit relatip) maka pada panggul sedemikian dilakukan persalinan percobaan. • Persalinan percobaan Yang disebut persalinan percobaan adalah untuk persalinan per vaginam pada wanita wanita dengan panggul yang relatip sempit. letak muka atau kelainan letak lainnya. Kalau SC dilakukan atas indikasi tersebut dalam golongan 2 (dua) maka pada persalinan berikutnya tidak ada gunanya dilakukan persalinan percobaan lagi Dalam istilah inggris ada 2 macam persalinan percobaan : • Trial of labor : serupa dengan persalinan percobaan yang diterngkan diatas • test of labor : sebetulnya merupakan fase terakhir dari trial of labor karena test of labor mulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam sesudahnya. Sekarang test of labor jarang dilakukan lagi karena: • Seringkali pembukaan tidak menjadi lengkap pada persalinan dengan panggul sempit • kematian anak terlalu tinggo dengan percobaan tersebut • kesempitan bidang tengah panggul bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah symphysis dan spinae ossis ischii dan memotong sacrum kira-kira pada pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 . Persalinan percobaan dilakukan hanya pada letak belakang kepala. Persalinan percobaan dikatakan berhasil kalau anak lahir pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forcepe atau vacum) dan anak serta ibu dalam keadaan baik.

Ukuran yang terpenting dari bidang ini adalah : • Diameter transversa ( diameter antar spina ) 10 ½ cm • diameter anteroposterior dari pinggir bawah symphyse ke pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan garis antar spina ke pertemuan sacral 4 dan 5 5 cm dikatakan bahwa bidang tengah panggul itu sempit : • Jumlah diameter transversa dan diameter sagitalis posterior 13.5 cm) • diameter antara spina < 9 cm ukuran – ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC bisanya dapat diselesaikan dengan forcepe dan dengan episiotomy yang cukup luas. Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi. tetapi kita dapat menduga kesempitan bidang tengah panggul kalau : • Spinae ischiadicae sangat menonjol • Kalau diameter antar tuber ischii 8 ½ cm atau kurang • Prognosa Kesempitan bidang tengah panggul dapat menimbulkan gangguan putaran paksi.5 cm ) Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit. • Kesempitan pintu bawah panggul: Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segi tiga dengan jarak antar tuberum sebagai dasar bersamaan Ukuran – ukuran yang penting ialah : • Diameter transversa (diameter antar tuberum ) 11 cm • diameter antara posterior dari pinggir bawah symphyse ke ujung os sacrum 11 ½ cm • diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke ujung os sacrum 7 ½ cm pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul.kalau diameter antar spinae 9 cm atau kurang kadang-kadang diperlukan SC. karena ekstraksi dengan forceps memperkecil ruangan jalan lahir. penyakit vaskuler perifer atau stasis . udema pulmonal.5 cm + 5 cm = 15. harus diukur secara rontgenelogis.5 cm = 18. • Terapi Kalau persalinan terhenti karena kesempitan bidang tengah panggul maka baiknya dipergunakan ekstraktor vacum. Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < 15 cm ( normal 11 cm + 7. • Pengkajian • Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung.5 atau kurang ( normal 10.

d insisi. apatis. merokok • Keamanan • Adanya alergi atau sensitive terhadap obat.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan • Resti infeksi b. muntah ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM A. tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi • Riwayat penyakit hepatic • Riwayat tranfusi darah • Tanda munculnya proses infeksi Proritas Keperawatan • Mengurangi ansietas dan trauma emosional • Menyediakan keamanan fisik • Mencegah komplikasi • Meredakan rasa sakit • Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan • Menyediakan informasi mengenai proses penyakit Diagnosa Keperawatan • Ansietas b. serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial. mual. kondisi yang kronik/ batuk. membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM. predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis • Pernafasan Adanya infeksi. flatus dan mobilitas • Resti perubahan nutrisi b. stimulasi simpatis • Makanan / cairan Malnutrisi. plester dan larutan • Adanya defisiensi imun • Munculnya kanker/ adanya terapi kanker • Riwayat keluarga. takut. Pengertian . marah. makanan. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat. gaya hidup.vaskuler ( peningkatan resiko pembentukan thrombus ) • integritas ego perasaan cemas. hubungan.d destruksi pertahanan terhadap bakteri • Nyeri akut b. peningkatan ketegangan. penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri.

Ilmu Kebidanan. hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi. c) Alergi.com/).blogspot. terdapat aseton dalam urine. takut terhadap kehamilan dan persalinan. dehidrasi.wordpress. Perubahan-perubahan anatomik pada otak.com/). d) Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Etiologi Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. juga disebut sebagai salah satu faktor organik. Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan muntahmuntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus-menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas Penyuluhan Gizi Rumah Sakit A. turgor kulit kurang. b) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik. (Sarwono Prawirohardjo. mola hidatidosa dan kehamilan ganda.wordpress. berat badan menurun. Sebagai salah satu respon dari jaringan.Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan : a) Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan. dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup. Rumah tangga yang retak. begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. 1. 1999). Pielitis dan sebagainya (http://zerich150105. jantung. kehilangan pekerjaan.com/). bukan karena penyakit seperti Appendisitis. Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien (http://zerich150105. karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.blogspot.ibu terhadap anak. diuresis kurang dan timbul aseton dalam air kencing (http://healthblogheg. Wahab Sjahranie Samarinda (http://healthblogheg. Dalam buku obstetri patologi (1982) Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil memuntahkan segala apa yang di makan dan di minum sehingga berat badannya sangat turun. .com/). Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu.

Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung. meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan. sehmgga cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi. bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. nadi kecil dan cepat. tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama. oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. turgor kulit lebih berkurang. perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen. Natrium dan Khlorida darah turun. menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu : a) Tingkatan I : Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita.com/). lidah mengering dan nampak kotor. Kekurangan Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal.wordpress. demikian pula Khlorida air kemih. dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan.Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. b) Tingkatan II : Penderita tampak lebih lemah dan apatis. 2. mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. (http://zerich150105. Patofisiologi Ada yang menyatakan bahwa. hemokonsentrasi. lidah mengering dan mata cekung. Pengaruh psikologik hormon estrogen ini tidak jelas. Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. akan mengalami emesis gravidarum yang berat. Belum jelas mengapa gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual. oliguri dan konstipasi. Tanda Dan Gejala Hiperemesis gravidarum. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna. tensi rendah. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang. . disamping faktor hormonal. ibu merasa lemah.1. nafsu makan tidak ada.

suhu meningkat. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan. menarik diri dan depresi (http://healthblogheg.blogspot. (http://healthblogheg. mendeteksi abnormalitas janin. Pemeriksaan Diagnostik a) USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel. nadi kecil dan cepat.com/) 1. kelaparan gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga. Avomin Isolasi . c) Tingkatan III: Keadaan umum lebih parah. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur. memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.wordpress. mendeteksi bakteri. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati. karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.com/) 1. Obat-obatan Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. b) Urinalisis : kultur. muntah berhenti. tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. c) Pemeriksaan fungsi hepar: AST.Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan.blogspot.com/) 1. melokalisasi plasenta. termasuk vitamin B kompleks. ALT dan kadar LDH.Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. alkalosis. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. (http://zerich150105. suhu badan meningkat dan tensi menurun. Penatalaksanaan Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik. kesadaran menurun dan somnolen sampai koma. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke. ikterik. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin. Komplikasi Dehidrasi berat. mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. BUN. takikardia.

1. Terapi psikologik Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan. namun demikian pada tingkatan yang berat. c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya.Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Diet a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. kebutaan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri. dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil. ASUHAN KEPERAWATAN A. Minuman tidak diberikan bersama makanan . Penghentian kehamilan Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik. kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik. Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan. tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital. hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat. Prognosis Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Delirium. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. tachikardi. Cairan parenteral Berikan cairan. karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.parenteral yang cukup elektrolit. Pengkajian Keperawatan . Bila ada kekurangan protein. bahkan mundur. khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin. penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. kecuali vitamin C.

Pernafasan Frekuensi pernapasan meningkat.wordpress. icterus dan dapat jatuh dalam koma 7. turgor kulit berkurang. 2. 4. Interaksi sosial Perubahan status kesehatan/stressor kehamilan. Keamanan Suhu kadang naik. Deflsit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan. membran mukosa mulut iritasi dan merah. 2.1. respon anggota keluarga yang dapat bervariasi terhadap hospitalisasi dan sakit. Turgor kulit. kesulitan ekonomi. Seksualitas Penghentian menstruasi. denyut nadi meningkat (> 100 kali per menit). 6. Rencana Keperawatan . 3. 3. (http://zerich150105. mata cekung dan lidah kering.com/) C. nyeri epigastrium. perubahan peran. pengurangan berat badan (5 – 10 Kg). 4. Pembelajaran dan penyuluhan 1. Aktifitas istirahat Tekanan darah sistol menurun. 9. Eliminasi Pcrubahan pada konsistensi. kehamilan tak direncanakan. 8. Integritas ego Konflik interpersonal keluarga. Segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan. nafas berbau aseton. badan lemah. 2. 5. Adanya aseton dalam urine (http://zerich150105.com/) B. lidah kering 4. apalagi apalahi kalau belangsung sudah lama.wordpress. Hb dan Ht rendah. Makanan/cairan Mual dan muntah yang berlebihan (4 – 8 minggu) . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. defekasi. sistem pendukung yang kurang. perubahan persepsi tentang kondisinya. Diagnosa Keperawatan 1. bila keadaan ibu membahayakan maka dilakukan abortus terapeutik. Berat badan turun lebih dari 1/10 dari berast badan normal 3. peningkatan frekuensi berkemih Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan pembersih mulut sesering mungkin. 2. Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut. Berikan obat anti emetik yang diprogramkan dengan dosis rendah. 10. Rasional : Koreksi adanya hipovolemia dan keseimbangan elektrolit 4. Rasional : Untuk mengetahui integritas inukosa mulut. 13. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh 6. Rasional : Untuk mempertahankan integritas mukosa mulut 11. misalnya Phenergan 10-20mg/i.v. Catal intake TPN. jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode tertentu. Ukur pembesaran uterus Rasional : Malnutrisi ibu berdampak terhadap pertumbuhan janin dan memperberat penurunan komplemen sel otak pada janin. 9. Rasional : Menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melului muntah. Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit Rasional : Mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan kapasitas pcmbawa oksigen ibu. Klien dengan kadar Hb < 12 mg/dl atau kadar Ht rendah dipertimbangkan anemi pada trimester I. Catat intake dan output. Intervensi 1. Pertahankan terapi cairan yang diprogramkan. anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit. Batasi intake oral hingga muntah berhenti. Rasional : Memelihara keseimbangan cairan elektfolit dan mencegah muntah selanjutnya. Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak Rasional : dapat menstimulus mual dan muntah 7. yang mengakibatkan kemunduran pcrkembangan janin dan kcmungkinan-kemungkinan lebih lanjUT . dilakukan secara rutin untuk mendeteksi situasi potensial resiko tinggi seperti ketidakadekuatan asupan karbohidrat.. Diabetik kcloasedosis dan Hipertensi karena kehamilan. Rasional : Untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi. 12. albumin dan glukosa. roti dan the (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur Rasional : Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang berlebih 8. 5. Rasional : Menetapkan data dasar . Rasional : Mencegah muntah serta memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit 3.1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan. Test urine terhadap aseton.

perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas gastrik memperberat mual/muntah pada trimester 1. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar Rasional : Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi. Berikan support psikologis Rasional : Untuk menurunkan kecemasan dan membina rasa saling percaya 4. membran mukosa. Kontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung Rasional : Untuk mencegah dan mengurangi kecemasan 2. 2.2) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan Intervensi 1. makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur. Berikan pelayanan kesehatan yang maksimal Rasional : Penting untuk meningkatkan kesehatan mental klien 4) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan Intervensi : . 1. Kaji suhu badan dan turgor kulit. Rasional : Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung. Rasional : Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. 3) Cemas berhubungan dengan Koping tidak efektif. Berikan penguatan positif Rasional : Untuk meringankan pengaruh psikologis akibat kehamilan 5. Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus peptikum. Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat. perubahan psikologi kehamilan Intervensi : 1. Kaji tingkat fungsi psikologis klien Rasional : Untuk menjaga intergritas psikologis 3. Rasional : Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi. input/output dan berat jenis urine. gastritis. Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah. Peningkatan kadar hormon Korionik gonadotropin (HCG). TD.

Bantu klien beraktifitas secara bertahap Rasional : Aktifitas bertahap meminimalkan terjadinya trauma seita meringankan dalam memenuhi kebutuhannya. 3. Mual dan mutah tidak ada lagi. Rasional : Aktifitas yang ditoleransi sebelumnya mungkin tidak dimodifikasi untuk wanita beresiko.wordpress.com/ http://zerich150105.blogspot. Keluhan subyektif tidak ada. Anjurkan klien untuk menghindari mengangkat berat. Tanda-tanda vital baik.com/ http://healthblogheg. Anjurkan klien membatasi aktifitas dengan isrirahat yang cukup. (http://zerich150105.com/) REFERENSI http://cakmoki. Anjurkan tirah baring yang dimodifikasi sesuai indikasi Rasional : Tingkat aktifitas mungkin periu dimodifikasi sesuai indikasi.com/) D.blogsome.blogsome.1.com/ .wordpress. Evaluasi 1. (http://cakmoki. 1. Rasional : Menghemat energi dan menghindari pengeluaran tenaga yang terusmenerus untuk meminimalkan kelelahan/kepekaan uterus 2. 2. 2.

khususnya golongan A. Bermacam-macam • • • Eksasogen Autogen Endogen : kuman datang dari luar. kain-kain. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau yang membantunya. coli berasal dari kandung kemih atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis. alat-alat yang suci hama dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau nifas. Clostridium Welchii. Etiologi. Jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. bersifat anaerob. E. Demam nifas Morbiditas Puerperalis meliputi demam pada masa nifas oleh sebab apa pun. Droplet infection. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat. Selain itu infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh: • • • • Streptococcus haemolytieus aerobicus merupakan sebab infeksi yang paling berat. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare. Suhu diukur dari mulut sedikit-dikitnya 4 kali sehari.ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFEKSI NIFAS TINJAUAN TEORI Definisi. Dalam RS banyak kuman-kuman patogen yang berasal dari penderita dengan berbagai jenis infeksi. AS morbiditas puerperalis ialah kenaikan C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama post°suhu sampai 38 partum dengan mengecualikan hari pertama. Cara terjadinya infeksi: • • • • Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh. . Banyak ditemukan di RS dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. vulva dan endometrium.alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman. Staphylococcus aerus menyebabkan infeksi terbatas. infeksi tenggorokan orang lain). alat atau kain yang tidak steril. walaupun kadang-kadang menjadi infeksi umum. : dari jalan lahir sendiri. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain. Hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara ke mana-mana antara lain ke handuk.

vulva. o Tertinggalnya sisa plasenta. Vaginitis. Infeksi nifas dapat terbagi dalam 2 golongan : • • Infeksi yang terbatas pada perineum. o Partus lama terutama dengan ketuban pecah lama. Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitar membengkak. vagina. Vulva. Vulvitis. Penyebaran dari tempat-tempat melalui vena. daerah bekas insertio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kirakira 4 cm. jahitan mudah terlepas.• • • • Coitus pada akhir kehamilan bukan merupakan sebab yang paling penting kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. pre ekslampsi. 1. selaput ketuban dan bekuan darah. Patologi. air ketuban menjadi keruh dan berbau. vagina. Biasanya terjadi pada partus lama. o Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir. seperti perdarahan banyak. infeksi lain seperti pneumonia. seviks dan endometrium. Faktor Predisposisi. jalan limfe dan melalui permukaan endometrium. Infeksi pada Perineum. o Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita. perineum merupakan tempat masuknya kuman patogen. berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi trombus dan merupakan area yang baik untuk tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenisjenis yang patogen dalam tubuh wanita. penyakit jantung dan sebagainya. luka yang terbuka menjadi ulkus dan megeluarkan pus. dapat/tidaknya persalinan berlangsung tanpa banyak perlukaan jalan lahir. apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan periksa dalam. begitu juga vulva. Infeksi intra partum. Vagina. tepi luka menjadi merah dan bengkak. Gejala: kenaikan suhu disertai leukositosis dan tachikardi. Setelah kala III. Serviks dan Endometrium 1. denyut jantung janin meningkat. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar di luar luka asalnya. lamanya infeksi berlangsung. permukaan tidak rata. . Prognosis infeksi intra partum sangat tergantung dari jenis kuman. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinanan.

daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium. Septikemia dan Piemia . Infeksi pada Perineum. 4. Penyebaran melalui pembuluh darah (Septikemia dan Piemia) Merupakan infeksi umum disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. Nadi kurang dan 100/menit. Gambaran Klinik. 1. terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Nyeri bila kencing. Endometritis. Vagina dan Serviks. Kuman–kuman memasuki endometrium (biasanya pada luka insertio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas. Rasa nyeri dan panas pada infeksi setempat. Peritonitis dan Parametritis (Sellulitis Pelvika) Penyebaran melalui permukaan endometrium. Suhu meningkat 38o C kadang mencapai 39o C – 40o C disertai menggigil. 5. radang terbatas pada endometrium. Sevicitis. Penyebaran melalui jalan limfe. Lokia bertambah banyak. berwarna merah atau coklat dan berbau. Vulva. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. Uterus agak membesar.Dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum. 3. Salfingitis dan Ooforitis. 1. Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah. Endometritis • • • • • Tergantung pada jenis virulensi kuman. sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut Lokiometra. Sering terjadi tapi tidak menimbulkan banyak gejala. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis dan cairan. Pada infeksi setempat. Biasanya demam mulai 48 jam pertama post partum bersifat naik turun. nyeri pada perabaan dan lembek. 2. Paling sering terjadi. permukaan mokusa membengkak dan kemerahan. 2.

terdapat abses pada cavum Douglas Sellulitis Pelvika Pada periksa dalam dirasakan nyeri. Piemia dimulai dengan rasa sakit pada daerah tromboplebitis. . Lochea: berbau.• • • • • • • • • Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toxinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. perut kembung dan nyeri. gelisah. • • • • Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalur jalan lahir. nadi cepat. Gejala septikemia lebih akut dan dari awal ibu kelihatan sudah sakit dan lemah. v Selama persalinan. setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas. Peritonitis • • Peritonitis terbatas pada daerah pelvis (pelvia peritonitis): demam. keadaan umum memburuk. Piemia dimulai dengan tromboplebitis vena-vena daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil dibawa keperadaran darah umum dan terjadilah infeksi dan abses pada organ-organ tubuh yang dihinggapinya. Lab: leukositosis. nadi cepat dan kecil. demam tinggi menetap dari satu minggu. Sesak nafas. kesadaran turun. involusi jelek. menggigil. nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih. KU baik. Membatasi perlukaan. TD turun. Keduanya merupakan infeksi berat. sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selamaVT. perut nyeri. bernanah. Membatasi lamanya persalinan. Membatasi perdarahan. Salfingitis dan Ooforitis Gejala hampir sama dengan pelvio peritonitis. nyeri perut bagian bawah. b) Selama nifas v Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik. v Coitus pada hamil tua hendaknya tidak dilakukan karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi. Peritonitis umum: suhu meningkat. Keadaan umum jelek Suhu meningkat antara 39°C – 40°C. Infiltrat kadang menjadi abses. Pencegahan Infeksi Nifas a) Selama kehamilan v Perbaikan gizi untuk mencegah anemia.

Cemas/ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan III. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang mungkin muncul adalah 1. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi 3. terutama suhu setiap 4 jam dan selama kondisi klien kritis. catat warna. serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai. Sambil menunggu hasil laboratorium berikan antibiotika spektrum luas. ü Kaji lochia: jenis. ASUHAN KEPERAWATAN I. makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh. luka operasi dan darah. ü Monitor vital sign. jalan lahir. serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. Tujuan 1: Mencegah dan mengurangi infeksi. Khusus dalam 24 jam sekurang-kurangnya 4 kali sehari. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. ü Lakukan perawatan perineum dan jaga kebersihan. ü Kaji tinggi fundus dan sifat. nyeri. Catat kecenderungan demam jika lebih dari 38o C pada 2 hari pertama dalam 10 hari post partum. ü Catat jumlah leukosit dan gabungkan dengan data klinik secara lengkap. Hubungkan dengan data perubahan post partum masing-masing dan catat apakah klien menyusui dengan ASI. Hubungkan dengan data post partum. dan infeksi nasokomial.Infeksi perineum (menggunakan senter yang baik). Berikan dosis yang cukup dan adekuat. Bersihkan perineum dan ganti alas tempat tidur secara teratur. Intervensi: ü Kaji data pasien dalam ruang bersalin. sumbatan dan cairan yang keluar (dari puting). Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. 2. Pengkajian …. Pengobatan Infeksi Nifas Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks. . jalan lahir.v Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama. dan infeksi nasokomial. warna dan sifatnya. sifat episiotomi dan warnanya. II. v Penderita dengan tanda infeksi nifas jangan digabung dengan wanita dalam nifas yang sehat. Perkiraan pinggir epis dan kemungkinan “perdarahan” / nyeri. ü Kaji payudara: eritema. jumlah. haruskan mencuci tangan pada pasien dan perawat. Rencana Keperawatan 1. transfusi darah. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus.

nyeri. vitamin C dan zat besi. suhu. ukuran.misal: tegangan otot. ü Berikan tindakan kenyamanan (missal : pijatan / masase punggung) ü Dorong menggunakan tekhnik manajemen nyeri . Oxitoksin seperti ergonovine atau methyler gonovine. Tujuan 2 : Identifikasi tanda dini infeksi dan mengatasi penyebabnya. ü Bantu pasien memilih makanan. gelisah. Intervensi : . Bantu pasien batuk efektif dan nafas dalam setiap 4 jam untuk melancarkan jalan nafas. cefoxitin. chloramfenicol atau metronidazol.ü Pertahankan intake dan output serta anjurkan peningkatan pemasukan cairan. ü Kaji bunyi nafas. visualisasi) ü Kolaborasi : • • Pemberian obat analgetika. Monitor untuk infeksi.perhatikan petunjuk non-verbal. Catatan: hindari produk mengandung aspirin karena mempunyai potensi perdarahan Pemberian Antibiotika 1. Intervensi: ü Catat perubahan suhu. Anjurkan mengubah posisi tidur secara sering dan teratur. ü Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan penuh stress. ü Pertahankan input dan output yang tepat. 1. frekwensi nafas dan usaha nafas.lokasi. gentamisin. Anjurkan yang banyak protein. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi Tujuan : Nyeri berkurang/terkontrol Intervensi : ü Selidiki keluhan pasien akan nyeri. ü Atur obat-obatan berikut yang mengindikasikan setelah perkembangan dan test sensitivitas antibiotik seperti penicillin.perhatikan intensitas (0-10). ü Kaji ekstremitas: warna. denyut nadi dan parasthesi/ kelumpuhan. ü Anjurkan istirahat dan tidur secara sempurna. tetracycline.dan faktor pencetus ü Awasi tanda vital. Bantu dengan ambulasi dini. Atur pemberian cairan dan elektrolit secara intravena. jangan berikan makanan dan minuman pada pasien yang muntah ü Pemberian analgetika dan antibiotika. ü Hentikan pemberian ASI jika terjadi mastitis supuratif. bimbingan imajinasi . Cemas / ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang. contoh : latihan relaksasi / napas dalam .

ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM RISIKO TINGGI A. takipnea.ü Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan Rasional : Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya ü Kaji respon fisiologis klien ( takikardia. DEFINISI Post partum risiko: • Perdarahan post partum . gemetar ) Rasional : Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiologis ü Perlakukan pasien secara kalem. serta sikap mendukung Rasional : Memberikan dukungan emosi ü Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan Rasional : Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui ü Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya Rasional : Ungkapan perasaan dapat mengurangi cemas ü Kaji mekanisme koping yang digunakan klien Rasional : Cemas yang berkepanjangan dapat dicegah dengan mekanisme koping yang tepat. empati.

HPP dini/primer/awal: terjadi dalam batas waktu 24 jam. B. ETIOLOGI HPP primer: Atonia uteri (1 dari 20 persalinan). tersering Retensi plasenta Laserasi jalan lahir Ruptur uteri Gangguan pembekuan darah HPP sekunder: Retensi sisa plasenta Sub involusi Endometritis C.• Infeksi post partum • Tromboembolok • Masalah psikologis post partum Perdarahan post partum/post partum hemorrhage (HPP) adalah kehilangan 500 ml darah pada persalinan normal (per vaginam) atau 1000 ml lebih pada persalinan SC penyebab kematian pada ibu. Perdarahan post partum dibedakan menjadi dua: .HPP lanjut/sekunder: terjadi lebih dari 24 jam tetapi kurang dari 6 minggu. takikardi Oligouria (urin < 300 cc/ 24 jam) Perdarahan > 500 cc/24 jam Distensi kandung kemih HPP Sekunder Perdarahan kadang banyak kadang sedikit Perdarahan dengan bekuan sisa plasenta Terdapat tanda subinvolusi Lochea merah tua dan berbau jika terdapat infeksi . MANIFESTASI KLINIS HPP Primer Perubahan hemodinamik: hipotensi. . FAKTOR RISIKO Kelahiran SC Bayi besar Persalinan dengan tindakan forsep/VE Riwayat HPP Multiparitas Manipulasi intrauterin/manual plasenta Penggunaan MgSO4 atau oksitosin dalam persalinan D.

tingkat kesadaran. urin output. discharge planning diperlukan sebelum klien pulang.Sepsis .Kaji tanda-tanda perdarahan dan syok hipovolemi: TD.Kaji adanya laserasi atau hematom yang mungkin menjadi sumber perdarahan. KOMPLIKASI . takipneu. kapiler refill. membran mukosa. Pengkajian HPP Primer .Vital sign (takikardi. . Pengkajian HPP Sekunder HPP sekunder sering terjadi ketika klien sudah pulang. DIAGNOSA KEPERAWATAN Defisit volume cairan Risiko infeksi Perubahan perfusi jaringan perifer Perubahan proses menjadi orang tua Cemas INTERVENSI Manajemen dan monitor cairan Atasi perdarahan Kontrol infeksi Kontrol kecemasan .Kaji perdarahan (warna dan jumlah) . oleh karena itu.Faktor risiko dan predisposisi . kelelahan.Syok dapat diatasi  anemia dan infeksi .Pengkajian fundus: kontraksi lemah. vena leher. . kecemasan disorientasi. nadi. warna kulit.Kenaikan suhu badan E.Distensi blader 2. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1.Syok . suara jantung (murmur). hipotensi) . TFU .Kegagalan fungsi ginjal F. suara nafas.

jarak 4 – 6 jam. Oligouria. peningkatan enzim hati (EL). peningkatan volume plasma darah. PATOFISIOLOGI Adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi. vasodilatasi. dengan teknik dan alat yang standar. atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih Proteinuria 5 gr/lebih dalam 24 jam. penurunan tekanan osmotik koloid. dan trombosit rendah (LP). hipertensi terjadi setelah minggu ke 20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. air kencing 400 ml/kurang dalam 24 jam . Atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan Preeklampsia Kondisi spesifik kehamilan. dan proteinuria. Eklampsia Yaitu terjadinya konvulsi atau koma pada klien disertai tanda dan gejala preeclampsia Konvulsi atau koma dapat muncul tanpa didahului gangguan neurologis. hipertensi. penurunan resistensi vaskuler sistemik. peningkatan curah jantung. DEFINISI Hipertensi: Kenaikan nilai tekanan sistolik sebesar 30 mmHg/lebih atau kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg diatas tekanan dasar.ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI KEHAMILAN A. B. Peningkatan darah terjadi minimal dengan 2 kali pemeriksaan. Peningkatan MAP > 20 mmHg/ jika tekanan darah sebelumnya tidak diketahui. Merupakan penyakit vasospastik yang ditandai dengan hemokonsentrasi. 3 atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif. Sindrom HELLP Suatu keadaan multisistem. Hipertensi sementara perkembangan hipertensi selama masa hamil/24 jam I nifas tanpa ada tanda preeklampsia. Hipertensi kronis hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan/sebelum gestasi 20 minggu. MAP sebesar 105 mmHg. merupakan suatu bentuk preeklampsia – eklampsia berat dimana ibu tersebut mengalami berbagai keluhan dan menunjukkan adanya bukti laboratorium umum untuk sindrom hemolisis (H). Pada preeklampsia: Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih.

glukosa Diagnosa Keperawatan 1. dan informasi tentang adaptasi normal pada kehamilan. perdarahan. prosses penyakit. edema paru. o Proteinuria > 5 gr dalam urin 24 jam o Oligouria < 400 ml dalam 24 jam o Gangguan otak dan penglihatan o Nyeri ulu hati o Edema paru/sianosis o Sindrom HELLP ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian: Pengkajian faktor risiko Pemeriksaan tekanan darah Observasi edema: distribusi. perawatan prenatal dini. Trombosis.d iritabilitas SSP. Gangguan pertukaran gas b. terapi Intervensi Intervensi efektif adalah pencegahan. USG Pemeriksaan laboratorium: HMT. konseling nutrisi. vasospasme siklik.d hipertensi. Hilangnya RTPkeracunan magnesium Menentukan status janin: DJJ. atau nyeri di daerah epigastrum Edema paru-paru atau sianosis Diagnosis Preeklampsia Berat o TD sistolik > 160 mmHg diastolik >110 mmHg pada 2 kali pemeriksaan. Cemas 6. HB. enzim hati. Perubahan perfusi jaringan/organ b. Intervensi pencegahan lain adalah: konseling. edema serebral. CST. Curah jantung menurun b. Koping individu/ keluarga tidak efektif 5. gangguan penglihatan. NST. Edema pitting (lekukan kecil akibat tekanan pada bagian yang edema. .d efek pengobatan. Risiko injuri b. menetap 10 – 30 menit). 3. 4. 2. identifikasi ibu berisiko selama kehamilan. pengenalan serta pelaporan tanda-tanda bahaya fisik. Refleks Tendon Profunda (RTP) Refleks bisep da patela serta klonus pada pergelangan kaki.d terapi antihipertensi yang berlebihan. derajat & pitting edema Edema dependen (edema bagian bawah/bagian tubuh yang dependen).Keluhan serebral.

Lakukan pemeriksaan antenatal secara teratur Managemen MgSO4 o Berfungsi untuk mencegah dan mengendalikan kejang o Dosis awal 4 – 6 g selama 15 – 30 menit diikuti dosis rumatan 2 – 4 g/jam o Observasi tanda keracunan Mg SO4: pernafasan < 12/menit. . Pantau kadar MgSO4 (kadar terapeutik: 4. penurunan TD dan denyut nadi o Intervensi: 1. Lakukan pemeriksaan TD. kadar serum toksik>9. edema. tanda distress (DJJ tiba-tiba menurun).6 mg/dl).8 – 9. hiporefleksia/tidak ada refleks. Hentikan MgSO4 . laporkan jika proteinuria ≥ +2 atau pengeluaran urin berkurang Monitor aktivitas janin setiap hari (3 gerakan atau kurang setiap jam) mengindikasikan gawat janin.6 mg/dl. Periksa jumlah keluaran urin bila <400 ml/24 jam. Bed rest miring kiri  memperbaiki sirkulasi uteroplasenta Latihan fisik ringan  memperbaiki sirkulasi.Berikan informasi pada ibu tentang kondisi dan tanggung jawabnya dalam penatalaksanaan preeklampsia. jumlah urin < 30 ml/jam.5 kg/minggu. Berikan kalsium glukonal/CaCl sesuai program (misal 1 gr melalui IV diberikan selama 3 menit) 4. tonus otot Hindari makanan tinggi garam Kolaboratif: antihipertensi menurunkan risiko gagal ventrikel kiri & perdarahan otak perfusi uteroplasenta terjaga Intervensi di rumah Laporkan bila ada peningkatan TD. Kolaborasi dengan dokter 3. ganti dengan larutan rumatan 2. pernafasan. urin 5. berat badan > 0.

panggul. Dalam percobaan in-vitro. 1. . androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium. 4. 2. 3.ASKEP CA OVARIUM A. Hal ini didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. 2. Proses penyembuhan sel-sel epitel yang terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor. Etiologi Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium. Pengertian Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain. dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru. C. (Wingo. Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. diantaranya: Hipotesis incessant ovulation Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi. atau endometrium 1. 5. Hipotesis androgen Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. 1995) B. Faktor Risiko Diet tinggi lemak Merokok Alkohol Penggunaan bedak talk perineal Riwayat kanker payudara. kolon.

Stadium 1c : tumor dengan stadium 1a dan 1b tetapi ada tumor dipermukaan luar atau kedua ovarium atau kapsul pecah atau dengan asietas berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif. kapsul utuh. STADIUM II –> Pertumbuhan pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke panggul 1. tidak ada tumor di permukaan luar. Lingkar abdomen yang terus meningkat E. Flatulenes 11. Menstruasi dini 10. Stadium 2c : tumor stadium 2a dan 2b tetapi pada tumor dengan permukaan satu atau kedua ovarium. kapsul pecah atau dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan bilasan peritoneum positif. Stadium 2b : perluasan jaringan pelvis lainnya 3. tidak ada pertumbuhan di permukaan luar. Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium 7. kapsul intak. Rasa begah setelah makan makanan kecil 12. Stadium 1a : pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium. Rasa tidak nyaman pada abdomen 7. Nyeri tekan pada payudara 5. adalah : STADIUM I –> pertumbuhan terbatas pada ovarium 1. Nulipara 8. . tidak asietas. berisi sel ganas. Tekanan pada pelvis 9. Dispepsia 8. Tanda & Gejala Gejala umum bervariasi dan tidak spesifik. Infertilitas 9. tidak ada asietas yang berisi sel ganas. 3. Stadium 1b : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium. Menopause dini 6. Menoragia 4. Ketegangan menstrual yang terus meningkat 3. STADIUM III –> tomor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di luar pelvis dan atau retroperitoneal positif. 2. Sering berkemih 10. Stadium Stadium kanker ovarium primer menurut FIGO (Federation InternationalofGinecologies and Obstetricians ) 1987. Stadium 2a : perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba 2. Pada stadium awal berupa : 1. Tidak pernah melahirkan D. Haid tidak teratur 2.6.

pemeriksaan CT-Scan/ MRI Pemeriksaan tumor marker seperti Ca-125 dan Ca-724. Stadium 3c : implant di abdoment dengan diameter > 2 cm dan atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif. Ciri2 kista yang bersifat ganas yaitu pada keadaan : Kista cepat membesar Kista pada usia remaja atau pascamenopause Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan Kista dengan bagian padat Tumor pada ovarium Pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat dugaan ke arah kanker ovarium seperti : USG dengan Doppler untuk menentukan arus darah Jika diperlukan. Hanya kanker ovarium stadium awal saja (stadium 1a dan 1b dengan derajat diferensiasi sel yang baik/sedang) yang tidak memerlukan kombinasi pengobatan. diameter melebihi 2 cm. dan kelenjar getah bening negativ. 1. Penegakan Diagnosa Medis Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. 3. beta – HCG dan alfafetoprotein Semua pemeriksaan diatas belum bisa memastikan diagnosis kanker ovarium. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dalam stadium 4. begitu juga metastasis ke permukaan liver.Tumor terbatas dalam pelvis kecil tetapi sel histologi terbukti meluas ke usus besar atau omentum. Kemoterapi diberikan sebanyak 6 seri dengan interval 3 – 4 minggu sekali dengan melakukan pemantauan . Stadium 3b : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant dipermukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopis. akan tetapi hanya sebagai pegangan untuk melakukan tindakan operasi. Stadium 3a : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara histologi dan dikonfirmasi secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan (seeding) dipermukaan peritoneum abdominal. apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). 2. F. G. STADIUM IV –> pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. Oleh karena itu. PENATALAKSANAAN Sebagian besar kanker ovarium memerlukan pengobatan dengan kemoterapi.

hamil Pemeriksaan fisik Data psikologis/sosiologis–> reaksi emosional setelah penyakit diketahui 2. keletihan. Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b. ASUHAN KEPERWATAN 1. frekuensi Kaji faktor lain yang menunjang nyeri.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran 3.d perubahan dalam penampilan fungsi dan peran Tujuan : KLien dapat memperbaiki persepsi citra tubuh dan harga dirinya. nifas. relaksasi. riwayat keluhan utama Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat kesehatan keluarga Riwayat reproduksi –> siklus haid. Penatalaksanaan yang sesuai dengan stadium yaitu : Operasi (stadium awal) Kemoterapi (tambahan terapi pada stadium awal) Radiasi (tambahan terapi untuk stadium lanjut) H. Pengkajian Data diri klien Data biologis/fisiologis –> keluhan utama. fungsi ginjal. Intervensi : Kaji perasaan klien tentang citra tubuh dan tingkat harga diri . stimulasi kutan Diagnosa 2 : Perubahan citra tubuh dan harga diri b. kualitas. fungsi hati. persalinan.terhadap efeh samping kemoterapi secara berkala terhadap sumsum tulang.Tujuan dan Intervensi Diagnosa 1 : Nyeri akut b. Diagnosa Keperawatan 1.d agen cidera biologi Tujuan : Klien merasa reda dari nyeri dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan Intervensi : Kaji karakteristik nyeri : lokasi. marah pasien Kolaborasi dengan tim medis dalam memberi obat analgesic Jelaskan kegunaan analgesic dan cara-cara untuk mengurangi efek samping Ajarkan klien strategi baru untuk meredakan nyeri dan ketidaknyamanan: imajinasi. sistem saluran cerna. sistem saraf dan sistem kardiovaskuler. durasi haid Riwayat obstetric –> kehamilan. Nyeri akut b. Perubahan citra tubuh dan harga diri b.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. sistem saluran cerna. perubahan kadar hormone 3.d agen cidera biologi 2.

Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak kesulitan. Pengertian Adalah penyakit kronik yang komplek yang dikarakterisasikan dengan gangguan metabolisme karbohidrat. Etiologi Penyakit gula dapat merupakan kelainan herediter dengan cara insufisiensi atau absennya insulin dalam sirkulasi darah.blogspot.d perubahan struktur atau fungsi tubuh. perubahan pada respons individu Kaji informasi klien dan pasangan tentang anatomi/ fungsi seksual dan pengaruh prosedur pembedahan Identifikasi faktor budaya/nilai budaya Bantu klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk menyadari atau menerima tahap berduka Dorong klien untuk berbagi pikiran/masalah dengan orang terdekatnya Berikan solusi masalah terhadap masalah potensial. makrivaskuler komplikasi dan neuropatik ( gangguan struktus dan fungsi ginjal). lemak. 2001. Berkurangnya glikogenesis. B.Mengidentifikasi kepuasan/ praktik seksual yang diterima dan beberapa alternatif cara mengekspresikan keinginan seksual Intervensi: Mendengarkan pernyataan klien dan pasangan Diskusikan sensasi atau ketidaknyamanan fisik. Marilynn E. protein. 1999.wordpress.Berikan dorongan untuk keikutsertaan kontinyu dalam aktifitas dan pembuatan keputusan Berikan dorongan pada klien dan pasangannya untuk saling berbagi kekhawatiran tentang perubahan fungsi seksual dan menggali alternatif untuk ekspresi seksual yang lazim Diagnosa 3 : Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual b. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. konsentrasi gula darah tinggi. . EGC: Jakarta Donges.html ASKEP IBU HAMIL DENGAN DM TINJAUAN TEORI A.Rencana Asuhan Keperawatan. arterisklerosis.com/2008/12/21/asuhan-keperawatan-klien-dengan-kankerovarium/ http://akperppnisolojateng. perubahan kadar hormon Tujuan : -KLien menyatakan paham tentang perubahan struktur dan fungsi seksual.com/2009/03/askep-caovarium. hiperglikemi dan perkembangan dari mikrovaskuler ( kental kapiler). ex : menunda koitus seksual saat kelelahan Daftar Pustaka Brunner & Suddarth. EGC: Jakarta http://viethanurse. penyakit ini akan .

25% kemungkinan akan berkembang menjadi DM. persalinan dan nifas terhadap DM a. DM akan menjadi lebih berat karena kehamilan 2. Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi asfiksia sampai dengan lahir mati . c) Diabetes Laten : Subklinis atau diabetes hamil. Sering mengalami lahir mati. Abortus dan partus prematurus b. Factor Predisposisi : Umur sudah mulai tua Multiparitas Penderita gemuk Kelainan anak lebih besar dari 4000 g Bersifat keturunan Pada pemeriksaan terdapat gula dalam urine Riwayat kehamilan : Sering meninggal dalam rahim. tetapi dapat diobati dengan insulin. Pengaruh penyakit terhadap persalinan a. Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi. E. Pre-eklamasi d. D. Pengobatan tidak memerlukan insulin cukup dengan diit saja. Pengaruh penyakit gula terhadap kehamilan di antaranya adalah : a. Kesalahan letak jantung e. tetapi tidak merupakan kecenderungan orang dengan gangguan toleransi glokusa . Klasifikasi Diabetes Melitus a) Type I ( IDDM ) : DM yang berganyung pada insulin b) Type II ( NIDDM ) : Orang tidak bergantung pada insulin. Pengaruh Diabetes Melitus Terhadap Kehamilan 1. kejadian meningkat sejalan dengan umur kehamilan. b. uji toleransi gula tidak normal. Gangguan kontraksi otot rahim partus lama / terlantar.menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal pada penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan. Sering mengalami keguguran Glokusuria C. Epidemitologi Gangguan Dm terjadi 2 % dari semua wanita hamil. Hidronion c. Sebaliknya diabetes akan mempengaruhi kehamilan dan persalinan. c. Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi manifes ( diabetik ) b. muncul > 50 tahun. Pengaruh kehamilan. Insufisiensi plasenta 3.

1. > usia kandungan 36 minggu b. status metabolic dan diet rendah protein Pendidikan pasien tentang penggunaan medikasi untuk mengontrol medikasi G. urine encer. haus. Dapat terjadi cacat bawaan. kontrol penyakit hipertensi. Pemeriksaan optalmologist Albuminuria monitor penyakit ginjal Kontrol hipertensi. cegah ulserasi. hipotensi. 1. Post partum mudah terjadi infeksi. turgor kering. takikardi. Terapi Dialysis : peritoneal. 5. membran mokusa kering. pelambatan pengisin . potensial penyakit saraf dan jiwa F. masukan dibatasi : mual. 2. Pencegahan Primer : untuk mengurangi obesitas dan BB. hemodialisa Total Nutrisi Parenteral Tube feeding Hyperosmolar Pembedahan Obat : Glukokortikoid. gangren dan amputasi. Bayi mengalami hypoglicemi post partum sehingga dapat menimbulkan kematian Pengaruh DM terhadap kala nifas a. d. 3. Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah menyebar Pengaruh DM terhadap bayi a. 2. Perdarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim. Agmen Beta Adrenergik Bloking. Sekunder : deteksi dini. 4. 1.4. kelemahan. Kemungkinan dibuktikan dengan : peningkatan haluaran urine. prematur. diazoxida. 5. kacau mental. Mudah terjadi infeksi post partum b. dipenilhidonsion. e. perawatan. Janin besar ( makrosomia ) c. Agen Immunosupresive. 3. diuretic. f. Tersier : Pendidikan tentang perawatan kaki. Abortus. anto rokok. penurunan berat BB tiba-tiba. muntah. ASUHAN KEPERWATAN Diagnosa Keperawatan Kekurangan volume cairan berhubungan dengan : Diuresis osmotik ( dari hiperglikemia ) kehilangan gastrik berlebihan : diare.

Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. Prof. 1994. Kelelahan berhubungan dengan : . penurunan kinerja. kelemahan. Sarwono.Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. dan kadar elektrolit dalam batas normal. Bandung : Elstar Offset. Kajarta : EGC Mochtar.Perubahan kimia darah . 1984. 1976. DR. ketidakmampuan mempertahankan rutinitas biasanya.Penurunan masukan oral. insufisiensi insulin . kecenderungan untuk kecelakaan.Peningkatan kebutuhan energi : status hipermatabolik Kemungkinan dibuktikan dengan : . anoreksia.Status hipermetabolisme.Kurang energi yang berlebihan. Rustam. Jakarta : Widya Medika Ledewig. Kemungkinan dibuktikan oleh : . Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. kortisol. turgor kulit baik. Pelepasan hormon stress misal . DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung.Melaporkan kemasukan makanan tak adekuat. Penurunan BB . . nyeri abdomen. Marilynn. Kroteria Hasil : .Mendemonstrasikan berat badanstabil atau penambahan ke arah rentang biasanya / yang diinginkan dengan nilai laboratrium yang normal.kapiler. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan : . . Jakarta :EGC . Doenges E. diare.Ketidakcukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glokusa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein / lamak. kelelahan. W. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir.Menunjukkan tingkat energi biasanya . Jakarta : EGC Prawiroharjo. Patricia. Geofferey. 2005. Kriteria hasil : mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan dengan tanda vital stabil. dan hormon GH. tonus otot buruk. Kriteria hasil . 2.Penurunan produksi energi metabolik . lambung penuh.Mencerna jumlah kalori / nutrisi yang tepat . 1989. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Obstetri Patologi. nadi ferifer dapat diraba. Ilmu Kebidanan. perubahan kesadaran. Edisi I. kurang nafsu makan. haluaran urine tepat secara individu. mula. 3.Mengungkapkan peningkatan energi . 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. epenipren.

Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn.Manumba. Jakarta : EGC ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN PENYAKIT JANTUNG DAN HIPERTENSI . 1990. Luz 1991. Ida Bagus. 1993. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Yayasan Esentia Medika Heller. Harry.

A. KONSEP DASAR 1. Penyakit jantung Keperluan jani yang sedang tumbuh akan oksigen san zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan, yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Oleh krena it di dalam kehamilan selalu terjadi perubahan-perubahan pada system kardiovaskular yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologis. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan oleh : a. Hipervolumia : dimulai sejak kehamilan 28 minggu dan mencapai puncak pada 28-32 minggu, lalu menetap. b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran rahim. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung. Saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah : a. Pada kehamilan 32-36 minggu dimana volume darah mencapai puncaknya. b. Pada kala II wanita mengerahkan tenaganya untuk mengedan dan memerlukan tenaga jantung yang erat. c. Pada post partum,dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk dalam sirkulasi darah ibu. d. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi. Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan : a. Dapat terjadi abortus b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan. c. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah. d. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati. e. Kematian jani dalam lahir ( KJDL ) Klasifiksi penyakit jantung dalam kehamilan : - Kelas 1 : a. Tanpa pembatasan gerak fisik. b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa - Kelas II : a. Sedikit dibatasi kegiatan fsiknya b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfisiensi jantung. d. Gejalanya adalah lelah, palpitalis, sesak nafas, dan nyeri dada ( angin pectoris ). - Kelas III : a. Kegiatan fisik sangat dibatasi b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung. - Kelas IV : a. Waktu istirahat dapat menimbulkan keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik. Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat meningkatkan kelas

tersebut menjadi III atau IV, Faktor-faktor yang dapat pula mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya aritmia jantung, dan hipertropi ventrikuler dan erhan sakit jantung. 2. Hipertensi Hipertensi dalam kehamilan berarti bahwa wanita telah menderita hipertensi sebelum hamil, disebut juga sebagai pre eklamasi tidak murni seperti mposed preeklamsia bia diserta pula dengan proteinnuria dan edemia. Penyebab utama hipertensi dalam kehamilan adalah : a. hipertensi esensial b. Penyakit ginjal Menurut Sims ( 1970 ) penyakit hipertensi dan penyakit ginjal yang dengan hipertensi adalah sebagai berikut : 1. Penyakit hipertensi a. Hipertensi esensial : ringan, sedang, berat, ganas( progresif ) b. Hipertensi renovaskuler ( penyakit pembulu darah ginjal ) c. Kartisio aorta d. Aldosteronisme primer e. Feokromositoma 2. Penyakit ginjal dan saluran kencing a. Glomerulonefritis ( mendadak, menahun, sindomaneftrotik ) b. Pielonefritis ( mendadak, menahun, ) c. Lupus eritmatusus, dengan glomerulitis, dengan glomerulonefritis d. Skelodermo dengan kelainan ginjal e. Pariarteritis nodosa dengan kelainan ginjal f. Gagal ginjal mendadak g. Penyakit polikistik h. Nefropatia diabetic a. Hipertensi esensial Adalah penyakit hipertnsi yang mungkin disebabkan faktor heriditer dan dipengaruhi oleh faktor emosi dan lingkungan. Wanita hamil dengan hipertensi tidak menunjukkan gejala-gejala lain kecuali hipertensi. Terbanyak dijupai adalah hipertensi jinak dengan tensi sekitar 140/90 sapai 160/100 mmHg. Jarang berubah menjadi ganas secara mendadak sampai sistolik 200 atau lebih. Gejala-gejala seperti kelainan kantung, arteriskelorosis, perdarahan otak dan penyakit ginjal baru timbul setelah dalam waktu lama dan penyakit terus berlanjut. 1) Kehamilan dengan hipertensi esensial akan berlangsung normal sampai aterme. 2) Pada kehamilan setelah 30 minggu 30 % adakan menunjukkan kenaikan tekanan darah namun tanpa gejala. 3) Kira-kira 20 % akan menunjukkan kenaikan tekanan darh yang mencolok, bisa disertai dengan proteinnuria dan edema ( preeklamsia tidak murni ) dengan keluhan : sakit kepala, nyeri epigastrium, nyeri muntah, dan gangguan penglihatan ( visus ). b. Penyakit ginjal hipertensi Penyakit ginjal dengan gejala hipertensi dan dapat dijumpai pada wanita hamil adalah :

- Glomerulonefritis akut dan kronik - Pielonefritis akut dan kronik Pemeriksaan : - Pemeriksaan urine lengkap dan faal ginjal - Pemeriksaan retina - Pemeriksaan umum tekanan darah dan nadi - Kuantitatif albumin air kencing ( urin ) - Darah lengkap dan ureum berdarah - Dll B. Etiologi 1. Penyakit jantung - Hipervolumia - Pembesaran rahim - Demam rematik 2. Hipertensi - Hipertensi esensial - Hipertensi ginjal C. Tanda dan gejala 1. Penyakit jantung - Aritmia - Pembesaran jantung - Mudah lelah - Dispenea - Nadi tidak teratur - Edema pulmonal - Sianosis 2. Hipertensi - Edema - Nyeri kepala - Nyeri epigastrium - Muntah - Gangguan visus ( superimposed pre exlamsia ) D. Penatalaksanaan 1. Penyakit jantung Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada gerajat fungsionalnya : - Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan. - Kelas II : Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan. Kurangi kerja fisik terutama antara kehamilan28-36 minggu. - Kelas III : Memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya dirawat di RS sejak kehamilan 28 – 30 minggu.

Dapat mengalami memar spontan. Hipertensi a. phenobarbital ). . perdarahan lama.Dapat mengalami edemia ekstrimitas bawah e.Istirahat .Obat penenang ( solusio charcot. . Aktifasi dan istirahat .Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal .Takikardia.Diabetes melitus .Dapat mengalami pembesaran jantungdan murmur diastolic dan pristolik kontinu .Obesitas . diazepam.Peningkatan tekanan darah . Sirkulasi . Makanan dan cairan . Eliminasi Menurunnya keluaran urine d.Riwayat penyakit jantung congenital dan demam reuna . romatozin..Obat hipotensif . 2.Diberikan obat hiptensif ( apabila tekanan darah sangat tinggi ) ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPERTENSI DAN PENYAKIT JANTUNG 1.Diit rendah garam . disritmia .Pengakhiran kehamilan ( dilakukan apabila terjadi upper imposed pre axlamsia.Pengawasan pertumbuhan janin .Malnutrisi .Nadi mungkin menurun . .Mual dan muntah .Clubbing dan sianosis . .Riwayat hipertensi kronis c. hipertensi ganas ) b. Pengkajian data Dasar a.kelas IV : Harus dirawat di RS dan dinerikan pengobatan bekerjasama dengan kardiolog. Nyeri dan rasa nyaman Dapat mengeluh nyeri dada dengan tanpa paktivitas . Hipertensi esensial . Penyakit ginjal .Perubahan poksisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan uterus.Dispenia nocturnal karena pengerahan tenaga b. palpitasi.Istirahat. dan trobositopenia.

Urine lengkaptes . Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan primer dan skunder. peningkatan tahanan aliran darah sistemik.SDP ( sel darah putih ) . penurunan tekanan osmotic koloid pasma.Amniosentris . b. 2. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) berhubungan dengan kurangnnya informasi dan interpretasi yang salah.Ortopnea g.Seri ultrasonografi . Kurangnnya volume cairan ( kegagalan regulasi ) berhubungan dengan kehilangan protein plasma. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan hipertensi : 1. 5.Tes cairan amniotikultrasonografi 2. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume sirkulasi.Pernafasan mungkin kurang dari 14 x / menit . 2.Dispnea . Pemeriksaan disgnostic . perubahan faal ginjal. penyakit/kondisi kronis.Echokardiograf .EKG ( Elektrodiograf ) . 6. Pernafasan . Kemanan Infeksi streptokokus berulang h. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output.LED ( laju endap darah . ruang pengetahuan tentang proses infeksi.Takipnea . Diagnosa Keperawatan a. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan penyakit jantung : 1. penurunan aliran balik vena. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan volume sirkulasi.Pencitraan jantung radionukleutida .Kratinin serum . dan perubahan inotropik pada jantung. perpindahan cairan keluar intravaskuler. disritmia.Tes presor supnie .Krekle . Penurunan curak antung berhubungan dengan hipovolumia. Kelebihan volum cairan berhubungan dengan peningkatan volum sirkulasi.GDA ( gas darah arteri ) . perubahan kontratiktilitas miokard.Strees kontraksi . .f.Hemoptisis . 3. 4.Hb dan HT ( hemoglobin dan memoktorit ) . intake cairan yang berlebihan.

Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir.3. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain. Bandung : Elstar Offset. DAFTAR PUSTAKA Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. Resiko cedera berhubungan dengan edema / hipoksia jaringan. Jakarta :EGC Manumba. 1989. 1984. Nutrisi. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Ilmu Kebidanan. Obstetri Patologi. 5. abnormallitas factor pembekuan. 1994. 1990. Prof. 4. Jakarta : EGC Prawiroharjo. Sarwono. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat intake nutrisi. 6. Kajarta : EGC Mochtar. W. Jakarta : EGC ASKEP IBU HAMIL DENGAN HYPERTIROID TINAJUAN TEORI . Yayasan Esentia Medika Heller. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. 1976. 2005. Ida Bagus. kejang. Jakarta : Widya Medika Ledewig. Rustam. Geofferey. Doenges E. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC Oxorn. Luz 1991. Kurangnya pengetahuan ( kebutuhan belajar berhubungan dengan kurangnya informasi dan pemahaman tentang proses penyakit. DR. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolumia. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Harry. Patricia. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. 1993. Marilynn. Edisi I.

Konsep Dasar Hipertiroid pada kehamilan ( morbus basodowi ) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan naiknya metabolism basal15-20 %.Peningkatan metabolism basal 15-20 % C. 2. Penatalaksanaan .Mual dan muntah .Pemberian obbat-obat profiltluarasil dan metiazol dosis rendah .Tremor . Etiologi Hipertiroid : .Kesulitan dalam menelan . Kejadian penyakit ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umunya disebabkan oleh adenoma tunggal.Kehamikan sering berakhir ( abortus habitualis ) . penyakit tulang atau tanpa gejala. Penderita hipertiroid biasanya mengalami gangguan haid ataupun kemandulan. Pasien dengan penyakit primer ini mungkin mengidap batu ginjal.Pembesarankelenjar tiroid . lakukan pada trimester III . karena bahaya kemungkinan timbulnya dekompensasi kordis.Takikardia . 1. kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid. B.A.Lekas letih . Tanda dan gejala Hipertiroid : .Eksoftalmus .Partus prematurus . Pengaruh penyakit terhadap kehamilan dan persalinan .Kala II hendaknya diperpendek dengan akstraksi vakum / forsial.Aneroksia .Kenaikan BMR sampai 25 % . Pengaruh kehamilan terhadap penyakit Kehamilan dapat membuat strua tambah besar dan keluhan penderita tambah berat. timbul dalam masa kehamilan.Hiperfungsi kelenjar tiroid .Hiptonik obat D.Operasi tiroidektomi.Konstipasi . Kadang juga terjadi kehamilan atau timbul penyakit baru.Hiperkinesis .Pembesaran kelenjar tiroid .

4) Ujung kuku/jari → terjadi Aerophacy. Komplikasi dan Pengangan Kematian meningkat dan dapat mencapai 50 %. Dalam kenyataan tetani neonatal sering membantu dalam memerlukan hiperparatiriodisme ibu. 1) Peningkatan tekanan darah 2) Tekanan nadi meningkat 3) Takhikardia 4) Aritmia 5) Berdebar-debar 6) Gagal jantung . Pembedahan adalah terapi yang dianjurkan. yaitu perubahan ujung jari → tabuh / clubbing finger disebut PLUMER NAIL. tetapi mungkin timbul hipokalsemia pasca bedah. PENGKAJIAN 1. licin. 4) Laktrimasi 5) Ortalmoplegia 6) Tanda Jefrey : kulit tidak dapat mengkerut pada waktu kepala sedikit menunduk dan mata melihat objek yang digerakkan ke atas. 5) Kalau ada peningkatan suhu → lebih dari 37. banyak keringat. karena jaringan orbita dan otot-otot mata diinfiltrasi oleh limposit.E. rusak. c. lembab. halus. bila keluhan menjadi ringan.8o C → indikasi Krisis Tyroid. mengkilat. 11) Tanda Molbius : kelemahan dalam akomodasi / konvergensi mata / gagal konvergensi. Kulit 1) Panas. 3) Kuku → terjadi onycholosi → terlepas. Pengaruh Kehamilan Terhadap Penyakit Kehamilan dapat membuat struma tambah besar dan keluhan penderita bertambah berat. Pemeriksaan Fisik : a. diet makanan kalsium 4 gelas susu / hari dapat dianjurkan. 9) Tanda Dalrymple : retraksi kelopak mata bagian atas sehingga memberi kesan mata membelalak. F. 3) Iritasi Conjunction dan Hemosis. ASUHAN KEPERAWATAN A. 8) Tanda stelwag : mata jarang berkedip. yang kemudian dioperasi untuk mengangkat adenomanya. 7) Tanda Rosenbach : tremor pada kelopak mata pada waktu mata menutup. 10) Tanda Van Graefe : kelopak mata terlambat turun dibandingkan boa mata. b. 2) Proptosis ( eksoptalmus ). Kalau perlu dilakukan pemeriksaan kalsium berkala dan bila nyata harus dilakukan koreksi dengan kalsium glokonat 2-3 x 20 ml cairan 10 %. mixedema local. pigmentasi. kemerahan. 2) Erythema. Mata ( Opthalmoptik ) 1) Retraksi kelopak mata atas → mata membelalak / tanda Dalrymple. Cardio vaskuler.

. Status reproduksi 1) Pada wanita : a. Kehilangan libido b. Status ginjal 1) Polyuri ( banyak dan sering kencing ).d. 2) Diare → bising usus hyperaktif 3) Enek 4) Berat badan turun f. Penurunan potensi k. Sistem persyarafan 1) Iritabiltas → gelisah 2) Tidak dapat berkonsentrasi 3) Pelupa 4) Mudah pindah perhatian 5) Insomnia 6) Gematar h. Status mental dan emosional 1) Emosi labil → lekas marah. Amenorrhoe Karena kelenjar tyroid mempengaruhi LH 2) Laki-laki : a. Hypomenorrhoe b. menangis tanpa sebab 2) Iritabilitas 3) Perubahan penampilan i. Leher 1) Teraba adany apembesaran tyroid ( goiter ). Otot 1) Kekuatan menurun 2) Kurus 3) Atrofi 4) Tremor 5) Cepat lelah 6) Hyperaktif refleks tendom g. 2) Polidipsi ( rasa haus berlebihan → banyak minum ) j. Respirasi 1) Perubahan pola nafas 2) Dyspnea 3) Pernafasan dalam 4) Respirasi rate meningkat e. Gastrointestinal 1) Poliphagia → nafsu makan meningkat.

i. pada waktu yang sama dengan timbangan dan pakaian yang sama. Intervensi : a. Hipetermia yang berhubungan dengan status hipermetabolik ditandai dengan panas. Konsulkan pasien untuk makanan yang disukai. cola. BMR meningkar e. Tingkatkan masukan cairan sampai 2500 ml / hari. g. f. Tujuan : nutrisi adekuat. masukan dan haluaran seimbang. Berikan dorongan untuk memperbanyak minum 2 sampai 3 liter setiap hari . Tawarkan makanan dalam jumlah kecil tapi sering dan tambahan diantara waktu makan. Serum T3 dan T4 meningkat ( Normal : T3 :8 – 16 g. 2.2) Briut ( + ).5oC. d. Tujuan : suhu normal 36. nyeri abdomen dan atau peningkatan BMR ditandai dengan BB turun. Kaji efektifitas selimut hipetermia bila dilakukan : . halyaran urine setiap 2 sampai 4. atau makanan yang lain yang mengandung kafein atau teobromin yang meningkatkan perasaan kenyang dan paristaltik. Tyroid → radio aktif iodine up take ( RAIU ) meningkat ( Normal: 10-35 % ) d. c.tidak yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen. e. Pemeriksaan Diagnostik a. hypertiroid < g) B. b. d. hypertiroid > 8 g. a. Pantau masukan dan haluaran setiap 8 jam. Timbang pasien setiap hari. g. Berikan asetamenofen sesuai pesanan ( aspirin merupakan kontra indikasi ) f. 2. Gunakan pakaian dan linen tempat tidur yang tipis. TSH serum menurun c. tinggi protein. T4 4-11 g ) b. PBI meningkat ( Normal :4 g – 8 g. .5oC – 37. Hasil yang diharapkan / evaluasi : Berat badan meningkat sampai batas yang normal bagi pasien : makan diet yang dianjurkan tanpa menunjukkan ketidaknyamanan abdomen . Kaji efektifitas pengobatan untuk mengatasi mual dan nyeri abdomen. Berikan lingkungan dengan pengunjung yang cocok bila pasien yang menginginkannya. Hindari makanan dengan jumlah yang banyak serat atau makanan yang banyak mengandung bumbu. h. Hindari stimulan : kopi. Pertahankan lingkungan yang sejuk. diaporesis. c. Pantau tanda vital. Berikan kompres hangat sesuai kebutuhan. j. Pantau masukan diet tinggi kalori. tinggi vitanin B.Lakukan tindakan untuk mencegah kerusakan kulit. mual. e. Intervensi . DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. hindari jus yang mungkin dapat menyebabkan diare. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan diare. tingkat kesadaran. tidak mengalami diare. tinggi karbohidrat. the. b.

Hasil yang diharapkan / evaluasi : a. Kaji tanda vital dasar dan tingkat aktivitas sebelumnya. gugup. Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi dan orang : berikan penekanan bahwa hal tersebut tepat adanya. orientasi. peka rangsang. e. 2) Konsisten dalam waktu dan saat melakukan prosedur atau aktifitas. Berikan jarak waktu antara prosedur untuk memungkinkan waktu istitrahat yang cukup. berikan penjelasan yang jelas dan singkat. Batasi akatifitas sampai tingkat toleransi pasien dengan melakukan pangkajian respon ( mis : kaji tanda vital selama melakukan aktifitas dan bandingkan dengan tanda vital dasar ). b. tanpa stress. Berikan lingkungan yang stabil. tenang. Kaji tingkat kesadaran. Pasien sadar dan responsif b. h. afek dan persepsi setiap 4 jam sampai 8 jam : laporkan adanya perubahan negatif. Menyelesaikan aktifitas yang direncanakan tanpa bukti-bukti intoleran. Hentikan aktifitas pada awal timbulnya gejala intoleran : dispnea. Tanda-tanda vital dan haluaran urine normal. Biarkan pasien membuat priorotas dalam perawatan di dalam keterbatasanna. Rencanakan aktifitas setiap hari dan pola istirahat yang dapat memudahkan meningkatan toleransi untuk perawatan diri. Perubahan proses fikir yang berhubungan dengan peningkatan rangsangan sistem saraf simpatis oleh tingginya kadar hormon tiroid ditandao dengan labil. Intervensi : a. dan tidak merangsang. b. Tujuan : tidak terjadi perubahan proses pikir. d. f. takipnea. . kebutuhan lain untuk mencegah penggunaan energi yang berlebihan oleh pasien sebelum aktivitas. 4) Hindari pergantian personel yang sering. takikardia. 4. c. 3) Batasi pengunjung sesuai kebutuhan. Tujuan : Aktifitas dapat dilakukan sesuai toleransi. Intervensi : a. b. 3. Berikan peralatan yang dibutuhkan. Intoleran aktivitas yang berhubunagan dengan ketiddakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan karena peningkatan kecepatan metabolisme dan intoleransi terhadap panas ditandai dengan kelemahan.h. c. Kolaborasikan dengan dokter dalam menggunakan tindakan pendinginan tambahan bila keadaannya membutuhkan. Meminta bantuan hanya ketika membutuhkan. Bantu pasien saat melakukan aktifitas yang tidak mampu dilakukan karena kelemahan atau tremor. Rencanakan perawatan bersama pasien. keletihan. 1) Atasi lingkunangan yang terlalu berisik. 5) Cegah situasi yang menimulkan kemarahan emosional bila memungkinkan d. g. Hasil yang diharapkan /evaluasi : a.

Orientasikan kembali pasien pada lingkungan sesuai dengan yang dibutuhkan dan berikan petunjuk yang mengorientasikan ( misalnya : jam. f. hindari hal-hal yang membutuhkan manipulasi motorik halus. Menggunakan teknik reduksi stress ASKEP TOKSEMIA GRAVIDARUM . h. j. Berespon sesuai terhadap situasi dan orang c. i. Pasien berorientasi b. Panyau terhadap reaksi buruk terhadap pengobatan. Antisipasi kebutuhan akan pencegahan reaksi hiperaktif. Informasikan pasien bahwa aktifitasnya mungkin dibatasi. gambar-gambar yang dikenal pasien dan sebagainya ). Berikan aktifitas yang menghibur dan benda-benda yang menurunkan rangsangan . g. Hasil yang diharapkan : a.e. Ajarkan teknik menurunkan stress dan kaji penggunaannya oleh pasien. kalender.

Hal seperti ini juga disebut sebagai toxemia atau pregnancy induced hypertension (PIH). tubuh anda menahan air. Tanda dan Gejala 1. sedangkan tanda-tanda inflamasi tidak ada. Umumnya tidak ada pengobatan khusus terhadap kelainan faal hati yang terjadi pada toksemia gravidarum. 3. Bila plasenta tidak mendapatkan cukup darah.TINJAUAN TEORI Pengertian Preeklamsia (toksemia gravidarum) adalah suatu kondisi dimana tekanan darah meningkat selama masa kehamilan. Faktor Resiko Resiko tinggi mengalami preeklamsia adalah : Baru pertama kali hamil Ibu hamil yang ibunya atau saudara perempuannya pernah mengalami preeklamsia Ibu hamil dengan kehamilan kembar. dan protein bisa ditemukan dalam urin anda. dan ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun Ibu hamil yang sebelum kehamilannya memiliki penyakit darah tinggi atau penyakit ginjal Patofisologi Preeklamsia dapat membuat plasenta tidak mendapatkan darah dalam jumlah yang cukup. Ini dapat mengakibatkan kelahiran dengan berat badan rendah. sedangkan ikterus jarang timbul. maka bayi anda tidak akan mendapatkan cukup oksigen dan makanan. Bila tekanan darah anda meningkat. hanya terjadi pada keadaan berat. 4. meskipun jarang terjadi. Perdarahan intrahepatik dan subkapsuler menimbulkan keluhan nyeri epigastrik atau nyeri perut kuadran kanan atas. ibu hamil usia remaja. yait karena koagulasi intravaskuler (DIC) dengan hemolisis dan nekrosis hati Gambaran histopatologis menampakkan adanya trombi fibrin dalam sinusoid di periportal disertai tanda-tanda perdarahan serta nekrosis. tapi resiko utama terjadinya pre-eklamsi adalah abrupsio plasenta. Etiologi Penyebab dari Toksemia Gravidarum sampai saat ini tidak diketahui. 2. . terminasi kehamilan akan memperbaiki keadaan klinis dan histopatologisnya. Keadaan ini dapat disertai kelainan faal hati berupa kenaikan kadar fosfatase alkali dan transaminase dalam serum. ruptur spontan hati yang mengakibatkan perdarahan intra peritoneal dan syok memerlukan tindakan bedah darurat.

dan proteinuria bertambah banyak. kelelahan. Pemeriksaan Penunjang Penlaian Keadaan Ibu Klinis . mual atau muntah-muntah Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklamsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklamsia akan timbul. Pada preeklamsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal. Gejala-gejala dari pre-eklamsi adalah: tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm hg wajah atau tangan membengkak kadar protein yang tinggi dalam air kemih. edema menjadi lebih umum. kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklamsi. Preeklamsia berat : sakit kepala. diplopia. hipertensi dan akhirnya proteinuria. Klasifikasi 1. protein dalam urin 2. diikuti edema. jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi. Manifetasi Klinis Biasanya tanda-tanda preeklamsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan. Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati) 3. tidak dapat melihat cahaya yang terang. napas pendek dan cenderung mudah cedera. bayi segera dilahirkan melalui operasi sesar. penglihatan kabur. bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklamsi. nyeri di daerah epigastrium. retensi air. Tekanan darahpun meningkat lebih tinggi. Preeklamsia ringan : Tekanan darah yang tinggi. jika terjadi sindroma hellp. sakit di perut bagian kanan atas. Komplikasi Komplikasi utama dari pre-eklamsi adalah sindroma hellp. sedikit buang air kecil (BAK). bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur. pandangan kabur. juga dikatakan menderita pre-eklamsi. 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah). skotoma. Pada preeklamsia ringan tidak ditemukan gejal-gejala subyektif.Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm hg. Hemolisis (penghancuran sel darah merah) 2. yang terdiri dari: 1. mual/muntah. Sindroma hellp cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklamsi tertunda.

kabur. berbaring pada sisi kiri tubuh agar janin anda tidak menindih urat darah.TD: derajat keparahan. dokter anda mungkin akan mengobatinya dengan memberikan obat-obat untuk menekan tekanan darah sampai perkembangan bayi anda cukup untuk dapat dilahirkan dengan selamat. ptekie Hepatik: nyeri kw kanan atas & epigastrik. 2. AT o PTT. somnolen o Mual & muntah Hematologi: edema. Mengurangi makan garam 4. Istirahat. asam urat Hepatik: o SGOT. Minum 8 gelas air per hari Penalataksanaan Medis 1. 2. hubungan TD dgn CVA. urea. SGPT. Min. Sering melakukan pemeriksaan sebelum kelahiran 3. hiperaktif. o Tremor. asam urat Penilaian Keadaan Janin Gerakan ( > 10x / 24jam ) DJJ USG untuk perkembangan Profil biofisik Indeks cairan amnion Pemeriksaan doppler arus darah: tali pusat Penatalaksanaan Keperawatan 1. risiko CVA pd ibu . LDH Glukosa Ginjal: o Proteinuria o Kreatinin. mual & muntah Ginjal: output & warna urin Penilaian Keadaan Ibu lab Hematologi: o Hb. Fibrinogen. Minimalkan palpasi 4. iritabilitas. Antasida. APTT. FDP o LDH. o Gg penglihatan-buta. Bila anda mengidap preeklamsia berat. Mual & muntah: antiemetik 3. Antihipertensi: a. bukan kejang SSP: Keparahan sakit kepala. perdarahan. Nyeri subhepatik: Morfin 2-4 mg iv.

. atau menderita gangguan dalam penglihatan. tidak ada cara pasti untuk mencegah preeklamsia. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. Mendapat waktu u/ penilaian lbh lanjut: memperpanjang kehamilan &persalinan pervaginam jk mungkin Pencegahan Sampai saat ini. pemeriksaan obstetrik.b. dan pemeriksaan laboratorium rutin Tekanan darah. Gunakan sedikit garam atau sama sekali tanpa garam pada makanan anda Minum 6-8 gelas air sehari Jangan banyak makan makanan yang digoreng dan junkfood Olahraga yang cukup Angkat kaki anda beberapa kali dalam sehari Hindari minum alcohol Hindari minuman yang mengandung kafein Dokter anda mungkin akan menyarankan anda untuk minum obat dan makan suplemen tambahan. saling berkaitan dan dinamis Pengkajian Anamnesis. Max. Ikuti instruksi dokter anda mengenai diet dan olahraga. air kencing. ada juga yang tidak. merasa mual. pemeriksaan umum. terus menerus. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. merasa nyeri di daerah epigastrium. dan edema dicari terutama pada daerah sacral Balans cairan ditentukan tiap hari Funduskopi dilakukan pada waktu penderita masuk rumah sakit dan kemudian tiap 3 hari Keadaan janin diperiksa tipa hari dan besarnya dinilai Penderita diingatkan untuk segera memberitahukan apaabila sakit kepala. menentukan cara pemecahannya. Ada faktor-faktor yang dapat penyebab terjadinya tekanan darah tinggi yang dapat dikontrol. kondisi ibu u/ persalinan yg aman c. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. berat badan diperiksa tiap hari.

5-7 Dapat mengambil gr per hari dan 6-8 tindakan lebih dini gelas air perhari Untuk menurunkan Anjurkan klien untuk tekanan darah istirahat dengan posisi Untuk mencegah lateral rekumben kiri kejang (eklamsi) Ajarkan klien tandatanda bahaya preeklamsi dan segera melaporkan jika hal itu terjadi .Edema ekstremitas berkurang 2 Pantau tanda dan Mengurangi edema gejala adanya yang terjadi preeklamsi Meningkatkan Anjurkan klien untuk aliran plasma ginjal diet tinggi protein dan perfusi dengan asupan plasenta natrium sedang 2.Tanda-tanda vital hematokrit) dbn . Perfusi jaringan perifer tidak efektif b/d peningkatan tekanan darah Rencana Keperawatan N O 1 DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL PK: PreeklamsiSetelah dilakukan tindakan keperawatan. perawat dapatmeminimalk an komplikasi preeklamsi yang terjadi dengan kriteria hasil: .Kolaborasi pemberian obat anti kejang sesuai indikasi Kelebihan Setelah dilakukan Fluid Manajement: Mempertahankan volume cairantindakan .Tidak terjadi kejang . retensi cairan dengan kriteria (peningkatan hasil: BUN.Monitor hasil lab yang meningkat keseimbangan berhubungan dengan volume cairan.Tanda-tanda vital dbn . PK: Preeklamsi 2.Kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai indikasi .penurunan .Pertahankan balance cairan b/d gangguankeperawatan pencatatan intake dan Pada edema terjadi mekanisme selama x24 jam.Monitor tanda-tanda . Kelebihan volume cairan b/d gangguan mekanisme pengaturan 3.Diagnosa Keperawatan 1. output cairan yang retensi cairan pengaturan klien akan akurat sehingga BB memiliki .

americanpregnancy.Warna kulit dbn setiap 2 jam jika . Walaupun kecil.Tidak ada edema memungkinkan perifer DAFTAR PUSTAKA Pregnancy Induced Hypertension (PIH): Preeclampsia or Toxemia http://www. bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal.Evaluasi edema danaliran darah perifer tidakkepaerawatan nadi perifer Mencegah efektif b/dselamax24 jam.Tidak ada edema perifer Perfusi Setelah dilakukan Circulatory Care Meningkatkan jaringan tindakan .Intake dan berat badan setiap output 24 jam hari seimbang .id PREMATUR KEHAMILAN DEFINISI Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba.Anjurkan klien untuk pada bony .org www. 1998 : 221).Rendahkan peningkatan peningkatan klien memiliki ekstremitas viskositas darah tekanan darah perfusi jaringan .Pertahankan hidrasiMelancarkan perifer yang yang adekuat peredarah darah efektif dengan .Ubah posisi pasien . Bayi prematur adalah Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran.Nadi perifer vital teraba .Nadi perifer latihan sesuai prominen distal dan kemampuan proksimal kuat .Berat badan diuretik sesuai stabil indikasi .sehatgroup.Kolaborasi pemberian . Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan. .Capillary refilll ≤ output dan penekanan 2 dtk .Monitor status cairan Melancarkan kriteria hasil: meliputi intake dan peredaran darah .web.Lakukan penimbangan .3 . ini berbeda dengan .

Kelainan anatomi rahim 5. faktor yang mempengaruhi Prematuritas adalah sebagai berikut: 1. walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur. Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun. toxemia. suku bangsa. 5. 3. Kawin dan tidak kawin: Tak syah 15 % prematur. placenta previa. Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang.Kondisi umum 2. amputasi serviks. abruption placenta.( Mochtar . dan sewaktu hamil 4. Keadaan rahim yang sering menimbulkan kontraksi dini : Serviks inkompeten karena kondisi serviks. Penyulit kebidanan 9. ETIOLOGI Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui : 1. incompetence cervical.Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi 10. temperatur tinggi. 8. 6. Holmer = sebagian besar tidak di ketahui. 6. BB ibu sebelum hamil. Keadaan sosial ekonomi rendah 3. pre-eklampsia. Kehamilan dengan perdarahan antepartum pada solusio plasenta. 1998 : 219 ) Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan preterm Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :Menurut Manuaba (1998 : 221) 1. Kurang gizi 4. merokok dan caffeine Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya persalinan preterm diantaranya: 1. plasenta previa. 3. Infeksi pada vagina aseden (naik) menjadi amnionitis Sedangkan menurut Mochtar (1998 : 220). Kelainan kongenital rahim: 7. 4. Anemia. Eastman = kausa prematur 61. malnutrisi dan diabetes mellitus. Penyakit ibu yang menyertai kehamilan seperti hipertensi. Kehamilan dengan ketuban pecah dini: terjadi gawat janin. Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui). janin kembar. 2. Perokok berat.9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui) 2. pecahnya sinus marginalis.prematur. ganda. alkohol. kawin sah 13 %prematur . Bakteriura (infeksi saluran kencing ) 3. Umur ibu. dengan lebih dari 10 batang/ hari. sosial ekonomi 2. 7. Kehamilan dengan hidramnion.

Anemia. Jarak antara persalinan yang terlalu rapat 8. penyakit jantung 7. infeksi vagina dan serviks. Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin : 1. Kelainan Bawaan Uterus Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada. Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil berat 9. riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya . solusio plasentae. Hidramnion. Kondisi Yang Menimbulkan Kontraksi Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan.5. atau kehamilan ganda GEJALA Gambaran fisik bayi prematur: • Ukuran kecil • Berat badan lahir rendah (kurang dari 2. misalnya pada plasenta praevia. Prenatal ( antenantal ) care 6. infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah. kehamilan ganda. Serviks Inkompeten 5. 4. terang dan berwarna pink (tembus cahaya) • Vena di bawah kulit terlihat (kulitnya transparan) • Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput • Rambut yang jarang • Telinga tipis dan lembek • Tangisannya lemah • Kepala relatif besar • Jaringan payudara belum berkembang • Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan) • Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk • Pernafasan yang tidak teratur • Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit ( anak laki – laki ) • Labia mayora belum menutupi labia minora ( pada anak perempuan). Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten. Ketuban Pecah Dini 3. Keadaan dimana bayi terpaksa dilahirkan prematur.5 kg) • Kulitnya tipis. 2. toksemia gravidarum. Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm . dan lain-lain.

2003 : 588 ). 2. . al. Pencegahan Persalinan Preterm Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut : Hal – hal yang dapat dicegah 1. Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.. Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek. Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran. Kehamilan Ganda 7. ( Saifuddin et.al. Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya. Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. 1. Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum. Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar. Menurunkan atau mengobati Anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi. Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau. Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial. 6. Episiotomi mengurangi tekananϖ pada cranium bayi. Kantongϖ ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar. Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran. Kelahiran presipitatus dan yangϖ tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur. 2002 : 302 ).( Oxorn. 2. Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam. Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat.( Wiknjosastro et. Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu. Kelahiran Prematur Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat. 2. Prinsip Penanganan. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan.inkompeten. 2002 : 313 ) Penanganan Persalinan Preterm Penanganan Umum 1.. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami konisasi.

Reproduksi 4. Resiko tinggi disstres pernafasan berhubungan dengan immaturitas paru dengan penurunan produksi surfactan yang menyebabkan hipoksemia dan acidosis .Data penunjang .3.Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ .Kardiovaskular . 6.Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa . Insersi tali pusat. 2. Congenital anomaly.Gastrointestinal . Vaktor Ovum. ASKEP PREMATUR KEHAMILAN Pengkajian 1.Renal . Tempat insersi plasenta. 7. Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan) ( Mochtar.Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia) .Kadar elektrolit. Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui). penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia .Muskuloskeletal .Integumen . Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat. 4. Suku bangsa. 3. 8. 1998 : 220 ). analisis feses dan lain sebagainya.Neurologik . golongan darah. kultur darah.Kadar kalsium serum. analisa gas darah. Hamil ganda.X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas . 1.Riwayat kehamilan 2. 1.Status bayi baru lahir 3. Hal – hal yang tidak dapat dicegah . urinalisis.Pemeriksaan fisik secara head to toe meliputi : . Plasenta previa. Diagnosa keperawatan Dx.Pulmonary . 5. 9.

Dx. Gangguan sensori persepsi : visual. Ilmu kesehatan Anak. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imaturitas imunologik bayi dan kemungkinan infeksi dari ibu atau tenaga medis/perawat Dx. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan imaturitas. 6.Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rapuh dan imaturitas kulit Dx.Fourth Edition. 1998. 1991. efek fototherapy atau kehilangan melalui kulit atau paru. kinestehetik. tidak adekuatnya intake kalori. Edisi 4 EGC. dan pascamaturitas. 8. gustatory. Dx. L. Nelson. serta kehilangan kalori.FKUI. Defiensi nutrisi berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen. EGC. Jakarta.Mosby-Year Book Inc. ( Varney Helen. 2000. Pengertian Kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu. kehamilan postterm. jilid I.2007) . 3. antara lain kehamilan memanjang. zat besi. atau 280 hari setelah ovulasi. Louis Missouri. Dx. 4. 7. Wong. auditory. Penata Laksanaan Neonatus Resiko Tinggi. harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas. Kehamilan lewat bulan. St. Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant yang sakit di rumah DARTAR PUSTAKA Klaus & Fanaroff. dan kalsium dan kehilangan cadangan glikogen karena metabolisme rate yang tinggi. radiasi lingkungan. Donna. Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing. 5. taktil dan olfaktory berhubungan dengan stimulasi yang kurang atau berlebihan pada lingkungan intensive care Dx. Resiko hipotermia atau hipertermia berhubungan dengan prematuritas atau perubahan suhu lingkungan Dx.Jakarta. yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir. 1990. kehamilan lewat bulan. POAT MATUR KEHAMILAN A . Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. 2. Markum.volume 2 Edisi 15.A.H. suatu kondisi antepartum.

Meskipun insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah.Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Selain itu. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. 15% postpartum C. Etiologi Etiologinya msih belum pasti. terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta.ubah. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Rustam. Namun kurang lebih 18 % kehamilan akan berlanjut melebihi 41 minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu bergantung pada populasi dan kriteria yang digunakan. kemudian menurun setelah 42 minggu.Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. 1999). Akibatnya induksi yang menjadi bersifat relatif. sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar.Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG yang makin banyak digunakan.Jika Tp telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. 55% intrapartum. Prognosis Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan bila lebih dari 41 minggu karena angka mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat setelah usia 40 minggu. Faktor yang dikemukakan adalh hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan. beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian besar induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu berdasarkan hitungan dengan USG. Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih berubah. kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu. B . Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum diketahui hingga kini. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah .

kesalahan letak. maka sel – sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. Apabila diambil batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3.kematian tersebut. baguan proksimal tibia. distosia bahu dan perdarahan postpartum. Janin besar (c) Moulding kepala kurang. 3. Penatalaksanaaan aktif pada bagi AGA dengan lebih bulan kenyataan dapat mengubah hasil positif yang diingunkan. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan. 2007) Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10.1998) Kesepakatan yang ada adalah bahwa resiko mortalitas perinatal lebih tinggi pada IUGR atau bayi SGA daripada AGA lewat bulan. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas. Namun bagi SGA mempunyai odds ratio 10. kulitb ketuban akan bercmapur lemak dari sel sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. (Varney. inersia uteri. 5. sesudah kehamilan 42 minggu. · Terhadap janin Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dri kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. gerkan janin dan jumlah air ketuban. .4 – 12%. USG : ukuran diameter biparietal.5 pada lahir post term. Clausson et al Menegaskan bahwa odds ratio untuk kematian perinatal untuk bayi AGA tidak berbeda signifkan pada bayi post term. tulang kuboid diameter biparietal 9.8 atau lebih.Rustam. Pengaruh terhadap Ibu dan Janin · Terhadap Ibu Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena (a) aksi uterus tidak terkoordinir (b). Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil.4 -4% ( Mochtar. Hanya dengan pemeriksaan antenatal yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan diagnosis. D . Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabiil dengan amniosenteris baik transvaginal maupun transabdominal. 2. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat pusat penulangan pada bagian distal femur. Maka akan sering dijumpai : partus lama. angka penatalaksanaan anestesia epidural. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya. Helen. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil. dan mortalitas. tetap dan ada yang berkurang. diagnosis tidak sukar. persalinan sesar. Pemeriksaan Penunjang 1. 4.

Variabel yang sangat memberatkan adalah usia gestasi janin. Amnioskopi. status medis ibu. Penatalaksanaan Medis Dua prinsip pemikiran : 1. 7. karena insufiensi plase 8. mengawasi dan membaca denyut jantung janin. Sebelum ada metode yang diterima untuk induksi persalinan seksio sesariamerupakan satu-satunya cara yang dapat diterima untuk mengatasi maslaah ini. atau keduanya) . Kardiotografi. Penatalaksanaan aktif versus penatalaksanaan antisipatif tergantung reabilitas kriteria yang digunakan dalam menentukan usia kehamilan.. pilihan wanita yang bersanngkutan. Pemeriksaan sitoloi vagina E . 9. dengan pertimbangan kondisi janin yang cukup baik / optimal. Jika ternyata reaksi janin kurang baik. Para klinisi sejak lama menyadari perlunya mempercepat persalinan jika terdapat kondisi obstetri dan medis yang mengancam ibu dan janin. Ada berbagai variasi kemungkinan penatalaksanaan antisipasi dan penatalaksanaan aktif. Secara umum metode induksi yang paling efektif adalah dengan meningkatkan denyut jantung janian dan hiperstimulasi pada uterus. antara lain: Pertimbangan kesiapan serviks ( skor bishop). dan metode induksi sesuai pertimbangan. kesejahteraan janin. volume cairan amnion. 2.Melebihi 10% = kehamilan diatas 36 minggu . Penatalaksanaan aktif-induksi persalinan pada semua wanita yang usia kandungannnya melebihi 42 minggu. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin 10. yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Uji oksitosin ( stress test).Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu 6. karena term yang berkembang cenderung mempertimbangkan usia kehamilan sebagai suatu rangkaian yang kontinu. Keputusan untuk mempercepat persalinan harus selalu ditetapkan dengan membandingkan resiko dan manfaat masing masing penatalaksanaan tersebut. melihat derajat kekeruhan air ketuban. . Penatalaksanaan antisipasi-antisipasi kesejahteraan janin dengan meningkatkan pengkajian dan intervensi jika hanya terdapat indikasi. riwayat kebidanan sebelumnya. hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan. menurt warnanya karena dikeruhi mekonium. perkiraan berat badan janin ( dengan manuver leopot. sonogram. Pemeriksaan pH darah kepala janin 11.

Jika kelainan berlanjut hingga 42 minggu dan perkiraan usia kehamilan dapat diandalkan mulai penanganan aktif mengacu pada protokol. NST) dua kali dalam seminggu. 6. Lakukan uji profil biofisik lengkap dan konsultasikan dengan dokter untuk hasil NST yang nonreaktif atau APV yang randah. Kaji kembali bersama wanita rencana penanganan kehamilan lewat bulan. IUGR menjelang usia cukup bulan f. distosia bahu jika janin makrosomia. Lakukan pengukuran volume cairan amnion ( Amniotic fluid volume.Induksi persalinan juga diperkirakan komplikasinya. Indikasi untuk induksi persalinan mencakup hal – hal : a. infeksi dan perdarahan sangat mengejutkan bagi masyarakat awam. cairan bercampur. Uji kembali nonstress awal ( Nonstress test. dokumentasikan rencana yang disepakati ( 40+ minggu) 3. praktik induksi telah banyak meningkat selama satu dekade terakhir. yang dimulai saat kehamilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. Beberapa pihak mengajukan keberatan terhadap induksi persalinan karena tidak alami dan dapat meningkatkan bahaya. seksio sesaria. yang dimulai saat kemilan berusia 41 minggu dan berlanjut hingga persalinan. APV) dua kali dalam seminggu. Induksi persalian dikaitkan dengan peningkatan anastesia epidural dalam seksio sesaria untuk wanita primigravida yang usia kehamilanyya lebih dai 41 minggu dan taksiran berat jain 3800 gram atau lebih. mekonium sindrom aspirasi mekonium pada neonatus. Riwayat lahir mati pada kehamilan cukup bulan. Pada kenyataannya induksi persalian meningkatkan resiko distress janin. Hasil uji janin meragukan ( skor profil biosfik rendah) b.Kaji kembail TP wanita sebagai titik tengah dalam kisaran waktu 4 minggu ( 40+minggu) 2. Diabetes dependent e. Namun walaupun banyak pihak yang menentang induksi persalinan dan tidak adanya standardisai kriteria. Oligohidramnion. 5. kehamilan lebih bulan akan meningkatkan resiko lahir mati. Penatalaksanaan antisipasi pada usia kehamilan lewat bulan antara 40 hingga 42 minggu 1. . Penatalaksanaan aktif pada kehamilan leat bulan : Induksi persalinan Pada tahun 1970-an terdapat meningkatnya kesadaran terhadap mordibitas kehamilan lewat bulan. c. Preeklamsi yang cukup parah menjelah cukup bulan d. 4.

bukan untuk induksi) tersedia dalam bentuk tablet 200 mg untuk diberikan per oral. Untuk menghasilkan persalinan yang aman. namun peran servik sangat penting yang aktivitasnya tidak sepenuhnya dipengaruhi uterus. Mifepriston 9 RU 486. antagonis reseptor progesteron) ( disetujui FDA untuk aborsi trimester pertama. 2. Suatu sintetis preparat PGE2 yang tersedia dalam bentuk jel 0. Dengan catatan servik sudah matang. bukan untuk induksi) b. a. • Metode hormon untuk induksi persalinan : 1. Meski metode induksi sekarang diutamakan pada induksi kontarkasi uterus. tersedia dalam dosis 10 mg yang dimasukkan ke vagina ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1995) 2) Merk dagang predipil. Dinoproston 1) Merk dagang cervidil suatu preparat PGE2. peregangan servik secara mekanis). Pemisahan ketuban Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya memisahkan membran amnion dari bagian servik . • Metode non hormon Induksi persalinan 1. stimulasi payudara. Metode lain yang digunakan untuk menginduksi persalinan ( misalnya minyak jarak. memiliki kisaran keberhasilan secara beragam dan atau sedikit penelitian untuk menguatkan rekomendasinya. keberhasilan induksi persalinnan setelah servik matang dapat dicapai dengan menggunakan prostaglandin E2 (PGE2) bersama oksitosin. Suatu tablet sintetis analog PGE1 yang diberikan intravagina ( disetujui FDA untuk mencegah ulkus peptikum. dan cara pemberian dan waktu pemberian untuk semua metode hingga kini masih dalam penelitian. dan prostaglandin terbukti lebih efektif sebagai agens yang mematangkan seriks dibanding oksitosin.5 mg deng diberika intraservik ( disetujui FDA untuk induksi persalinan pada tahun 1993) 3. Oksitosin yang digunakan melalui intravena ( atas persetujuan FDA untuk induksi persalinan ). Pengaturan dosis. Misprostol 1) Merk dagang cytotec. hasil yang diharapkan dari induksi persalinan adalah “ ibu dapat melahirkan bayi pervaginam setelah kontraksi distimulasi sebelum persalinan spontan terjadi”. Prostaglandin : dapat digunakan untuk mematangkan servik sehingga lebih baik dari oksitosin namun kombinasi keduanya menunjukkan hal yang positif.Menurut American college of obstetricians dan Gynecologist. Penggunanaan obat berpusat pada oksitosin sejak tahun 1960-an dan prostaglandin sejak tahun 1970-an.

melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan membaran. dan letak bagian bawah. Saat dikaukan bidan harus memeriksa dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik. Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin. Penangannya dengan menstimulasi selama 15 menit diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam sebanyak 3 kali perhari. Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna. Penggunaan cara ini relatif lebih aman kerna menggunakan metode yang sesuai dengan fisiologi kehamilan dan persalinan. 3. Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian ballon di isi udara 25 hingg 50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun. Minyak jarak Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada kehamilan cukup bulan. atau bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. Amniotomi Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). Pompa Payudara dan stimulasi puting. plasenta letak rendah. Kateter forey atau Kateter balon. Presentasi selain kepala merupakan kontrainsdikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun. namun hingga kini masih belum ada studi prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada kelompok tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini. Pemisahan memban servis tidak dilakukan pada kasus – kasus servisitis.yang mudah diraih dan segmen uterus bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam Dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk menentukan penipisan serviks. atau perdarahan pervaginam yang tidak diketahui. Beberapa uji klinis membuktikan bahwa teknik ini sangat efektif. maupun plasenta previa. 6. Meskipun amniotomi sering dilakukan untuk menginduksi persalinan. Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu.. Beberapa usapan biasanya eektif untuk menstimulasi kontaksi awal reguler dalam 72 jam. pembukaan dan posisi lazimnya. posisi yang tidak diketahui. pembukaanm posisi. . 4. 5. Aktifitas seksual. 2.

Wanita sebaiknya diberi tahu jika terdapat status yang tidak mencakup pada penggunaan resep.Pada saat persalinan. Bidan maupun wanita harus memahami secara benar standar perawatan setempat untuk menangani kehamilan lewat bulan.Nyeri b/d operasi sectio caesarea . dan bidan harus tetap merujuk pada literatur terkini seputar penanganan kehamilan lewat bulan. protokol dalam memuat panduan rekomendasi yang mencakup pemberian. begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. ASUHAN KEPERWATAN I. Dx PostMatur Kehamilan . wakru.asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. penting dinilai keadaan cairan ketuban. stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat. stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban. stadium I : kulit tampak kering.Jika bidan tidak merasa bahwa penatalaksanaan aktif pada persalinan lewat bula diindikasikan. dosis. verniks kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman. dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium : 1. 2. G. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea. rapuh dan mudah mengelupas (maserasi). dan langkah kewaspadaan. bidan dianjurkan mendokumentasikan secara teliti rencana penatalaksanaan yang disepakati bersama oleh wanita.Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant II Dx Bayi Postmatur } Kerusakan integritas kulit b/d maserasi . F. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia . Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan. -hipovolemia . Sementara pada penatalaksanaan antisipasi.Ansietas b/d proses kelahiran lama . 3.

} Sianosis b/d mekonium telah bercampur air ketuban } Kemungkinan komplikasi pada bayi postmaturhipoksia: -hipovolemia .asidosis -sindrom gawat napas -hipoglikemia -hipofungsi adrenal. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 : a.Jakarta. Jakarta.2003.EGC Manuaba.21. c. Ida Bagus Gede. Varney. B. Etiologi Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh : a. Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : . Gary. Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta. DAFTAR PUSTAKA Cunningham. Jakarta. Rustam. 1999.Endometrium yang kurang baik .EGC Prawiroharjo. Plasenta previa Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ). Sinopsis Obstetri.EGC Mochtar. Bersumber dari kelainan plasenta 1. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.1998. Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta. Arcan Askep Perdarahan Ante Partum A. Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta. Ilmu Kebidanan. Obstetri William ed. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.2006. Pengertian Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. dkk.2007. Sarwono.4 vo1. b. Helen Dkk. Jakarta. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.

sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. . Patofisiologi 1. hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta. dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa.Korpus luteum yang berreaksi lambat 2. biasanya tidak begtu berbahaya. Tidak bersumber dari kelainan plasenta. Biasanya dihitung kehamilan 28 minggu. Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua. Apabila perdarahan sedikit. Solusi plasenta ringan • Tanpa rasa sakit • Pendarahan kurang 500cc • Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian • Fibrinogen diatas 250 mg % b. 2.. Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadangkadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus. Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain : a. polip. pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. Solusi plasenta sedang • Bagian janin masih teraba • Perdarahan antara 500 – 1000 cc • Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian c. peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan.Chorion leave yang peresisten . Solusi plasenta Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. C. varises yang pecah ). misalnya kelainan serviks dan vagina ( erosion. dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak. Solusi plasenta berat • Abdomen nyeri-palpasi janin sukar • Janin telah meninggal • Plasenta lepas diatas 2/3 bagian • Terjadi gangguan pembekuan darah b.

D. Solusi plasenta a ) Perdarahan disertai rasa sakit b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat d ) Abdomen menjadi tegang e ) Perdarahan berwarna kehitaman f ) Sakit perut terus menerus E. Tanda dan Gejala 1. Akibatnya.Couvelair uterus kontraksi tak baik. Plasenta previa a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.Emboli dan obstetrik syok b. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Langsung . hematom retroplasenter akan bertambah besar.Perdarahan .Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. menyebabkan pendarahan post partum . sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus. Plasenta previa a ) Prolaps tali pusat b ) Prolaps plasenta c ) Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan d ) Robekan-robekan jalan lahir e ) Perdarahan post partum f ) Infeksi karena perdarahan yang banyak g ) Bayi prematuritas atau kelahiran mati a. Komplikasi 1. Komplikasi tidak langsung .B.R c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala d ) Perdarahan berwarna merah segar e ) Letak janin abnormal 2.Infeksi .

Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine. 3. e. d. menyebabkan anuria dan uremia. Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan. 2. Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama. Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta : 1. Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap. Apabila ada penilaian yang baik. Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show ( perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rectal apalagi vaginal) b. Terapi aktif Prinsip : Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan perdarahan segera berhenti. Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks. Sambil menunggu atau mengawasi berikan : 1.Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum . Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. progestin atau progesterone observasi teliti. Solusio plasenta a. Sambil mengawasi periksa golongan darah.. 2. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa. kepala sudah turun . Morphin suntikan subkutan 2. belum inpartus. dan pentazol. dan siapkan donor transfusi darah.Nekrosis korteks renalis. Terapi konsrvatif Prinsip : Tunggu sampai paerdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan. F. c. cardizol. b. Tranfuse darah. Plasenta previa a. 3. kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse darah ada. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari premature. Berikan obat-obatan spasmolitika. Penatalaksanaan 1. perdarahan sedikt janin masih hidup. Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di bawah 2500 gr. bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek.

Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan : a.Pandangan terhadap kehamilan F.Dukungan keluarga . identitas ibu hamil dan suaminya. Janin meninggal : lakukan embriotomi 4. Solusio plasenta dengan panggul sempit. pembukaan masih kecil. Keluhan utama Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu. C. Riwayat persalinan G. pembukaan kecil b.Penyakit berat Keadaan psikososial .Haid terakhir . Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan : a.Imunisasi E. Pengkajian Data Subjektif A. Solusio plasenta dengan toksemia berat. Riwayat kehamilan . Darah segar beberapa botol b.Keluhan . Riwayat kesehatan yang lalu D. 1. Data umum Biodata. Riwayat keluarga . B. Riwayat menstruasi . 7.sampai hodge III-IV : a. b. 6. Pada hipofibrinogenemia berikan : a.Riwayat penyakit ringan . b. Solusio plasenta dengan letak lintang. c. Fibrinogen Konsep Asuhan Kep. Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik. Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps. 5. Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan. Solusio plasenta dengan anak hidup. perdarahan agak banyak. d. Plasma darah c. Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.

Rambut dan kulit .Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.Status perkawinan . b. Leher d. anemis .Hudung .Volume darah meningkat .Menentukan tinggi fundus uteri . . Wajah . Riwayat perkawinan . .Bertambahnya ukuran dan noduler e.Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.Laju pertumbuhan rambut berkurang. f.Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.Peningkatan frekuensi nadi . .Menentukan letak janin . Jantung dan paru . . penurunan resistensi jalan nafas.Gigi dan mulut c.Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola. putting susu dan linea nigra. Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil. Abdomen Palpasi abdomen : .Peningkatan volume tidal. Buah dada / payudara .- Haid pertama Sirkulasi haid Lamanya haid Banyaknya darah haid Nyeri Haid terakhir H.Peningkatan pigmentasi areola putting susu .Diafragma meningga. . a. .Kawin pertama .Mata : pucat.Lama kawin Data Objektif Pemeriksaan fisik 1.

Tinggi fundus uteri .Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ? .Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ? . memposisikan dengan bantal.Pemeriksaan inspekulo . Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus.Gaya berjalan yang canggung .Persendian tulang pinggul yang mengendur . Vagina . Diagnosa Keperawatan 1. tanpa perdarahan. 4.Denyut jantung janin 3. System musculoskeletal .Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ? . mencakup tanda-tanda vital.Pemeriksaan radio isotopic .Pemeriksaan dalam 2. pelacakan pemantauan elektronik.Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ? . 2. 2.Ultrasonografi . Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini : .Panggul dan janin lahir . Khusus . Haluaran perkemihan.Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2.Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ? . Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya. .Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah baring dengan cara menggosok punggung. Intervensi 1. Pemberian cairan IV atau produk darah sesuai pesanan.Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) .g.Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ? . dan tanda persalinan. Gangguan perpusi jaringan ( plasental ) yang berhubungan dengan kehilangan darah. 3. Pemeriksaan penunjang .Posisi dan persentasi janin . pengalihan aktivitas. 3.Hipertropi epithelium h. Takut berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan diri dan bayinya.

Jika tak ada infeksi.membengkak. B. ASUHAN KEPERAWATAN BARTOLINITIS TINJAUAN TEORI A. tak akan menimbulkan keluhan D.coli C.juga dapat disertai demam . ETIOLOGI Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat. Bakteri : neiseria gonore. stafilokokus dan E. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman. “Kuman dalam vagina bisa menginfeksi salah satu kelenjar bartolin hingga tersumbat dan membengkak. Jamur : kandida albikan. serta terapi mulai diberikan. Evaluasi 1. seiring pembengkakan pada kelamin yang memerah. 2. Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis. TANDA dan GEJALA Tanda dan gejala o Pada vulva : perubahan warna kulit. pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan. Mulai dari chlamydia. timbunan nanah dalam kelenjar. Bakteri : neiseria gonore. nyeri tekan. b. Infeksi alat kelamin wanita bagian atas : Virus : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika. Biasanya. PATOFISIOLOGI Lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi cairan). Juga dapat disertai demam.4. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks. PENGERTIAN Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Jamur : asinomises. Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina ETIOLOGI INFEKSI a. gonorrhea.terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk. dan sebagainya. o Kelenjar bartolin membengkak.

hingga kelenjar tersebut mengempis. . diminum 3×1 untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan. diminum 3×1 sesudah makan. salpingitis. 1. Pemeriksaan : Pemeriksaan dengan spekulum : ostium uteri eksternum bisa tampak normal. Kalau ada keluhan biasanya disuria dan lekore. PENGOBATAN Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg. Tampak vaginal discharge dengan sifat mukoid keruh. Laboratorium : Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus gram negatif intraseluler lekosit. Sering anamnese hanya didapatkan riwayat kontak dengan penderita. o Terdapat abses pada daerah kelamin o Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah.o Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal. E. Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). Ketiga komplikasi tersebut terahir disebut Pelvis Inflamatory Disease (PID). dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax. kemerahan atau erosif. selama sedikitnya 5-7 hari. c. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Vullva In speculo G. PENATALAKSANAAN TATALAKSANA INFEKSI ALAT KELAMIN WANITA Berikut ini adalah beberapa infeksi alat kelamin wanita yang sering dijumpai di Puskesmas dan tatalaksana yang disesuaikan dengan sarana diagnosis dan obat-obatan yang tersedia. dll). 99 kasus GO pada wanita menyerang servik uteri dan 50-75 % kasus pada wanita tidak ada gejala atau keluhan. b. rasa sakit saat berhubungan dengan suami. rasa sakit saat buang air kecil. F. abses tubo ovarii bahkan pelvik peritonitis. mukopurulen atau purulen. molasic. Mungkin didapatkan komplikasi seperti : bartolinitis. yang sering diabaikan oleh penderita. atau ada benjolan di sekitar alat kelamin. GONORE (GO) Anamnese : a.

atau 4) . Sering juga dikeluhkan keluar darah pada akhir dari buang air kecil (terminal dysuria). atau 5) Kotrimoksasol tablet 480 : 1 X 4 tablet selama 5 hari 6) Bila ada komplikasi : Amoksisilin atau Ampisilin : 3. Selama masa terapi sebaiknya kegiatan sex dihentikan. 7 dan 14.5 gram oral dosis tunggal diteruskan 4 X 500 mg selama 10 hari. 2.2) Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus intraseluler lekosit gram negatif.Tetrasiklin cap: 4 X 500 mg selama 5 hari. Urin : berawan atau didapat benang-benang pendek (threads) Kriteria Minimal : 1) Riwayat kontak (+). atau 3) Amoksisilin atau Ampisilin : 3. Terapi : 1) Penisilin Prokain : 4.8 juta IU IM (skin test dulu). 7) Pengamatan dan pemberian ulang dilakukan pada hari ke 3. keluhan biasanya adalah disuria dengan atau tanpa discharge. Penatalaksanaan : 1) Tetrasiklin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari atau 2) Erytromisin : 4 X 500 mg selama 5 – 7 hari. mungkin ada nyeri tekan suprapubis. atau dosis awal 1. 2) Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-) Urin : berawan atau threads (+). dilanjutkan 4 X 500 mg selama 4 hari. Kalau ada. . sesudah itu setiap bulan selama 3 bulan. URETRITIS NON GONORE Anamnese : Biasanya tidak ada keluhan. atau 2) Kanamisin : 2 gram IM dosis tunggal. Catatan : Terapi sebaiknya diberikan juga kepada patner sex penderita (suami) secara bersamaan. Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-). Sering bersifat kumatkumatan (yang membedakan dengan GO) Riwayat kontak sering (+) Pemeriksaan : Mungkin ada discharge uretra. lekosit >10/lapangan pandang.5 gram oral dosis tunggal (lebih poten bila ditambahkan Probenesid 1 gram). 3) Pada kasus persisten lama pengobatan 21 hari.500 mg. Bila disertai sistitis. 2 hari berturut turut.

adanya plak putih. Laboratorium : Fluor albus : dengan mikroskup cahaya Trichomonas vaginalis (+). warna kuning atau putih kehijauan. Riwayat suami kencing nanah perlu ditanyakan. dan 2) Nistatin tablet : 4 X 1 tablet. KANDIDIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah keputihan dan gatal di vagina. Pemeriksaan : Pemeriksaan in speculo : terasa sakit. 2) Punctatae red spots (+) 3) Laboratorium : Puskesmas ? Penatalaksanaan : 1) Metronidasol : 1 X 2. Mungkin juga dikeluhkan adanya rasa sakit waktu melakukan aktivitas sexual. In speculo : Terasa sakit.000 mg. dan pemakaian antibiotika yang tidak terkontrol serta kegemukan. berwarna kuning atau putih kehijauan. 2) Discharge kental. sedikit. PENCEGAHAN . selama 7 hari. sebagai dosis tunggal. fluor albus cair dengan jumlah banyak dan berwarna kuning atau putih kehijauan. Kriteria Minimal : 1) Vuvovaginitis. H. selama 14 hari. Penatalaksanaan : 1) Topikal : Nistatin vaginal tablet : 1 X 1. TRIKOMONIASIS Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah adanya keputihan dengan jumlah banyak. sedikit. putih seperti keju dan biasanya menutup portio. Laboratorium : Sel ragi (yeast cells) atau tunas (budding body) dan pseudohypha atau spora.3. Discharge kental. Faktor predisposisi : diabetes militus. pemakaian Pil KB. mungkin didapat juga fisura atau erosi (Vulvovaginitis). putih seperti keju dan biasanya menutup portio. Pemeriksaan : Vulva : tampak merah. karena > 50% penderita GO wanita disertai dengan trikomoniasis. udem. 4. banyak. khas : didapat bintikbintik merah (punctatae red spots atau strawbery cervix) di dinding vagina. Sakit pada saat berhubungan sex (dyspareunia) juga sering dikeluhkan. Kriteria Minimal : 1) Fluor albus : cair.

Produk pembersih dan pengharum vagina yang banyak diperdagangkan sebetulnya tidak diperlukan. 7. Hindari mengenakan celana ketat. Hindari melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. Salah satunya adalah gaya hidup bersih dan sehat : - 1. PENGKAJIAN Perubahan warna kulit Udem Cairan pada kelenjar Nyeri Benjolan pada bibir vagina Bau cairan Kebersihan tubuh Jumlah dan warna urin .Untuk menghadang radang. ASUHAN KEPERWATAN A. Biasakan membersihkan diri. Berhati-hatilah saat menggunakan toilet umum. Siapa tahu. tak gampang mendeteksi sumber penularan bakteri. Perempuan seringkali salah kaprah. 9. Kuman dapat hidup subur di daerah tersebut. Kondisi ini dapat menimbulkan luka. ada penderita radang yang menggunakannya sebelum Anda. Usahakan agar Anda terhindar dari kegemukan yang menyebabkan paha bergesek. dengan gerakan membasuh dari depan ke belakang. Karena keputihan dapat dialami semua perempuan. Periksakan diri ke dokter jika mengalami keputihan cukup lama. Ingat. Mereka merasa nyaman jika pakaian dalamnya bersih. kuman juga bisa berasal dari pasangan Anda. 6. Biasakan membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual. 8. karena dapat memicu kelembapan. Padahal penggunaan pantyliner dapat meningkatkan Kelembapan kulit di sekitar vagina. Pilih pakaian dalam dari bahan yang menyerap keringat agar daerah vital selalu kering. Alat reproduksi memiliki sistem pembersihan diri untuk melawan kuman yang merugikan kesehatan. setelah buang air besar. jangan menggunakan pantyliner. Sebaliknya jika digunakan berlebihan bisa berbahaya. Jika tidak dibutuhkan. 5. 4. 3. Peradangan berhubungan erat dengan penyakit menular seksual dan pola seksual bebas. 2. Tak perlu malu berkonsultasi dengan dokter kandungan sekalipun belum menikah. berbagai cara bisa dilakukan. sehingga keadaan kulit di sekitar selangkangan menjadi panas dan lembap. Jika Anda bergantiganti pasangan. Konsumsi makanan sehat dan bergizi.

d kurangnya pemahaman terhadap sumber sumberinformasi nyeri b.d keadaan luka cemas Disfungsi seksual b.d proses penyakit C.d keterbatasan gerak Kerusakkan integritas kulit b. INTERVENSI Membantu pasien untuk memenuhi higiene pribadi Memantau keadaan luka Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan diri (kebersihan alat genetal) Kaji tingkat nyeri Gunakan cara-cara interaktif yang berfokus pada kebutuhan untuk membuat penyesuaian dalam peraktik seksual atau untuk meningkatkan koping terhadap masalah/gangguan seksual .d edem pada kulit Defisit pengetahuan b. DIAGNOSA Defisit perawatan diri b.- B.

ujung tumor. B. Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar. Pemeriksaan Diagnostik 1. kadangkadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina. 1. dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. Nekrosis dan Infeksi Pada myoma subserosum yang menjadi polip. E. D. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%). belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche. tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut. C. Komplikasi Pertumbuhan leimiosarkoma. Etiologi Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti. Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu. sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause Torsi (putaran tangkai) Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Mioma Submukosum . Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Kalau proses ini terjadi mendadak. Mioma Subserosum .Askep Ibu dengan Myoma Uteri A. namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen. 2. Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus. Pengertian Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid. Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus. 2. Lokalisasi Mioma Uteri Mioma intramural . . 3. 3.

kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding. perubahan dalam masalah kewanitaan. gangguan sensorik / motorik. Lekosit : turun / meningkat. yang dapat mempengaruhi tindakan operasi. . cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. Eritrosit : turun 2. B. konsistensi dan ukurannya. Diagnosa Keperawatan 1. F. USG : terlihat massa pada daerah uterus. Albumin : turun. akibat pada hubungan seksual. leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam. serviks. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.. 2. 4. Pengkajian …. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot 3. Cara Penanganan Mioma Uteri Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai.1. Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya. perut pada malignan neoplasmatic desease. TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus. Susan Martin. 6. 5. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan. 3. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). 1998). 4. teraba massa. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun.

Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri. bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine.5. tidak mengenal sumber informasi. Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien 5. Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Lakukan palpasi pada kandung kemih. Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien 3. mengatur posisi. Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya. Ajarkan teknik relaksasi Meningkatkan kenyamanan klien 4. Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine Melihat perubahan pola eliminasi klien 2. 3. mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya. mengalirkan air keran. Intervensi dan Rasional 1. Intervensi dan Rasional 1. Memudahkan tindakan keperawatan 2. Mencegah terjadinya retensi urine Daftar Pustaka . Tujuan Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine. Rencana Keperawatan Dx 1 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma Tujuan Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri. Kolaborasi pemberian analgesik Mengurangi nyeri Dx 2 Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya. observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi. gangguan sensorik / motorik.

2000. EGC. Ginekologi.Bagian Obstetri & Ginekologi FK. Poedjo. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta ASKEP PROLAPS UTERI TINJAUAN TEORI 1. Bandung Carpenito.penatalaksanaan pengeluaran plasenta. Jakarta Hartono. 1993.2000.reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai: a. Rasa sakit di pinggul dan pinggang(Backache).dkk. c. Unpad.Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang ketegangannya.sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan.meneran sebelum pembukaan lengkap.5 No. EGC. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Mimbar Vol. Jakarta Galle. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia eksterna.Oleh karena itu prolaps uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat. 2001. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala: .laserasi dinding vagina bawah pada kala II. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Charette.Persalinan lama dan sulit. Danielle. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause. Lynda Juall.Biasanya jika penderita berbaring. 2000. Jane.2 Mei 2001 Saifidin. Edisi 8. Definisi Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel. Tanda dan Gejala Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.keluhan menghilang atau menjadi kurang. b. Abdul Bari. 2. Elstar. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.

Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas.Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara. d.factor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus.Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali. Miksi sering dan sedikit-sedikit. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk.dan lambat laun menimbulkan ulkus yang dinamakan ulkus dekubitus.mengejan. obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel.ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel.Mula –mula pada siang hari. e.Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetric. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa penuh di vagina.Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal hanya dibelakang urethra ada . Etiologi Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering.Asdites dan tumortumor di daerah pelvis mempermudah terjadinya hal tsb.Terutama akibat persalinan.akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut. 3. lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena infeksi serta luka pada portio uteri. 2.Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri. 4.Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra. Serviks uteri terletak diluar vagina. baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan vagina. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya.1. f. Patofisiologi Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat . 3.prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta dsb. Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi: 1.Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap.terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam menopause.khususnya persalinan pervagina yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan ligament yang tergolong dalam fasia endopelviks dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul. pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu berjalan dan bekerja.dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut: 1.kemudian lebih berat juga pada malam hari 2.partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk porolaps yang sudah ada.Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja.atau yang diselesaikan dalam penurunan dan menyebabkan urethrokel.dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri totalis. 2.Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus.

apakah portio pada normal atau portio sampai introitus vagina atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina.Pada pemeriksaan rectal. b.untuk menghilangkan simpton yang ada sambil menunggu waktu operasi dapat dilakukan Pengobatan Operatif Prolapsus uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina. 5.dan selanjutnya dapat diraba dinding retrokel yang menonjol kelumen vagina.atau penderita masih ingin mendapat anak lagi. Penderita pada posisi jongkok disuruh mengejan dan ditemukan dengan pemeriksaan jari.Serviks uteri yang lebih panjang dari biasanya dinamakan Elongasio kolli. a.sebagai terapi tes.Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel.dekat pada oue.kateter itu diarahkan kedalam sitokel.kistik dan tidak nyeri.jika dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri.penderita menolak untuk dioperasi.Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus vagina adalah adanya keluhan.atau prolapsus uteri yang tidak ada belum perlu dioperasi.atau kondisinya tidak mengijinkan untuk dioperasi. Pengobatan dengan pessarium.bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi.prolapsus vagina perlu ditangani juga. Penatalaksanaan Medis Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu.Dinding vagina bagian belakang turun dan menonjol ke depan.atau penderita menolak untuk dioperasi. Latihan-latihan otot dasar panggul b.ada benjolan ke vagina terdapat di atas rectum. c.ada kemungkinan terjadi prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan.lubang yang membuat kantong antara urethra dan vagina.padahal tidak ada prolapsus uteri. .dinding rectum lurus.Enterokel menonjol kelumen vagina lebih keatas dari retrokel.jari dimasukkan kedalam rectum. Pemeriksaan Penunjang Friedman dan Little(1961) menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut: a.memanjang dari proksimal kedistal. Stimulasi otot –otot dengan alat listrik c. Untuk memastikan diagnosis.Kantong hernia ini dapat berisi usus atau omentum.yaitu menonjolnya rectum kelumen vagina 1/3 bagian bawah. Menegakkan diagnosis retrokel mudah. 6. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan. Penderita berbaring pada posisi litotomi.dengan indikasi:kehamilan.ditentukan pula panjangnya serviks uteri.Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam.Maka.Enterokel adalah hernia dari kavum Douglasi.kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetric atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rectum kedepan dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol kelumen vagina yang dinamakan retrokel.dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina.Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan.Penonjolan ini berbentuk lonjong.

Tidak nafsu makan. Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap. kembung. Nyeri di daerah benjolan.keinginanya untuk mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus. Pusing. Lemas. Puasa. Mual. Pucat. . Selaput mukosa mulut keying. Demam. Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya. kembung. Spasme otot. Pengkajian • Data Subyektif ♦ Sebelum Operasi Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan. ♦ Sesudah Operasi Nyeri di daerah operasi.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari beberapa factor. Pada saat bayi menangis/mengejan dan batukbatuk kuat timbul benjolan. Diagnosa Keperawatan • Sebelum Operasi Diagnosa Keperawatan 1. Anak / bayi rewel. Mual. Konstipasi. gelisah.seperi umur penderita.tingkat prolapsus dan adanya keluhan. Bayi menangis terns. Dehidrasi. 2. • Data Obyektif ♦ Sebelum Operasi Nyeri bila benjolan tersentuh. muntah. ♦ Sesudah Operasi Terdapat luka pada selangkangan. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PROLAPS UTERI 1. Terdengar bising usus pada benjolan.

3. Rencana tindakan : 1. Berikan posisi tidur yang menyenangkan clan aman. Observasi tanda-tanda vital clan keluhan pasien. cars menguranginya. Jelaskan tentang keadaan pasien setelah dioperasi. • Sesudah Operasi Diagnosa Keperawatan 1. secara bertahap. Hasil yang diharapkan : Ekspresi wajah tenang. Kaji tingkat kecemasan pasien. Bed obat-obat analgetik sesuai pesanan dokter. Observasi tanda-tanda vital 2. 4. Kaji intensitas nyeri pasien. Observasi keluhan nyeri. 2. Rencana tindakan : 1. Jelaskan penyebab rasa sakit. 6. 3. lokasi.Rencana tindakan : 1. Diagnosa Keperawatan 3. Rencana tindakan 1. waktu puasa. Jelaskan pada pasien tentang apa yang akan dilakukan di kamar operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan. 5. 2. . jam operasi. Kalau perlu pasang infus clan NGT sesuai program dokter. Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah. Hasil yang. diharapkan : Nyeri berkurang. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan inkontenensia urin Hasil yang diharapkan : Turgor kulit elastis. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan. Letakkan anak pada tempat tidur dengan teknik yang tepat sesuai dengan pembedahan yang dilakukan. 4. Diagnosa Keperawatan 2. Beri posisi senyaman mungkin bunt pasien. Nyeri berhubungan dengan luka operasi. 2. Beri kesempatan anak untuk bertanya. 5. jenis dan intensitas nyeri 3. Timbang berat baclan anak tiap hari. Ciptakan lingkungan yang tenang. Dengarkan keluhan pasien 4. 6. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. Ajarkan tehnik-tehnik relaksasi = tarik nafas dalam. 3. 7.

kering. 3. Jaga kebersihan sekitar luka operasi.5. Rencana tindakan : 1. Mual clan muntah ticlak ada. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan. Diagnosa Keperawatan 2. Hasil yang diharapkan Turgor kulit elastis. Observasi keadaan luka operasi dari tandatanda peradangan : demam. ticlak bengkak. bengkak dan keluar cairan. 5. 2. Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan. Resiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pads luka operasi. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. 2. 3. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar. kering. 4. Beri minum & makan secara bertahaP. Anjurkan untuk sesegera mungkin anak beraktivitas secara bertahap. Monitor pemberian infus. Rawat luka dengan teknik steril. Beri terapi antibiotik sesuai program medik. 4. Hasil yang diharapkan : 1. Diagnosa Keperawatan 3. Luka operasi bersih. Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi. Timbang berat badan tiap hari. Rawat luka operasi dengan tehnik steril. 7. 2. . Beri kompres hangat. 6. Monitor pemberian infus. tidak ada bengkak. 7. 4. Kalau perlu ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi. Hasil yang diharapkan Luka operasi bersih. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi clan lingkungannya. tidak ada perdarahan. Ajarkan tehnik relaksasi. 5. 2. Rencana tindakan : 1. Berikan therapi analgetik sesuai program medis. tidak kering. Lakukan tindakan keperawatan anak dengan hati-hati. 5. 8. 6. 3. Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya. Diagnosa Keperawatan 4. ticlak ada perdarahan. 6. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam. Monitor tanda-tanda dehidrasi. Suhu dalam batas normal (36-37°C) Rencana tindakan : 1. merah.

Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang akan membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang akan menghambat transportasi sperma ke vagina 2. 3. Jaga kebersihan luka operasi. Jelaskan tentang perawatan dirumah. Diagnosa Keperawatan 5. Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi. balutan jangan basah & kotor. Hasil penelitian membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/ minum obat secara teratur di rumah. keduanya 10%.6. Orang tua mengerti tentang perawatan luka operasi. DEFENISI Infertilitas adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-3 x / minggu. dan idiopatik 10%. Diskusikan tentang keinginan keluarga yang ingin diketahuinya. Ajarkan kepada orang tua cara merawat luka operasi & menjaga kebersihannya. Pada wanita • Gangguan organ reproduksi 1. Hasil yang diharapkan : 1. 5. perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. ASKEP INFERTILITAS A. tanpa mamakai matoda pencegahan selama 1 tahun Ada 2 jenis infertilitas : • Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama sekali. Orang tua dapat memelihara kebersihan luka operasi clan perawatannya. Rencana tindakan : 1. Selain itu. istri 4055%. 2. Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu pengeluaran mukus serviks. 4. • Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah itu tidak pernah hamil lagi B. Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain : a. dan kontrol kembali ke dokter. 7. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya. Apabila mukus sedikit di serviks. 2. ETIOLOGI Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. bekas operasi pada serviks yang . Monitor clan catat cairan masuk clan keluar.

asap rokok. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil. stress. • Endometriosis • Abrasi genetis • Faktor immunologis Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu. zat kimia. motilitas • Abnormalitas ejakulasi. Hambatan ini dapatterjadi karena adanya tumor kranial. • Kegagalan implantasi Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi.menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim 3. Radiasi. maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang 4. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini. morfologi. dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan. Akiatnya fetus tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu • Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi. dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi hipothalamus dan hipofise. • Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi. maka folicle mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gengguan ovulasi. perubahan pH dan perubahan komposisi kimiawi • Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut sehingga terjadi penyempitan pada obstruksi pada saluran genital • Lingkungan. proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. hipospadia • Abnormalitas ereksi • Abnormalitas cairan semen. Setelah terjadi pembuahan. b. gas ananstesi. Pada pria Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria yaitu : • Abnormalitas sperma. Kelainan pada uterus. obat-obatan anti cancer • Abrasi genetik . misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus. ejakulasi rerograde.

rokok. diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. Pria • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. PATOFISIOLOGI a. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas. memiliki payudara yang tidak berkembang. Wanita • Terjadi kelainan system endokrin • Hipomenore dan amenore • Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik • Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma. mempengaruhi pembentukan folikel. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. alkohol. radiasi. Abnormalitas ovarium. adhesi. narkotik. Wanita Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. MANIFESTASI KLINIS 1. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi .C. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi.dan gonatnya abnormal • Wanita infertil dapat memiliki uterus • Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi. atau tumor • Traktus reproduksi internal yang abnormal 2. bentuk dan motilitas sperma) • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen D.

b. Meliputi pengkajian BBT (basal body temperature ) 2. Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan. • Histerosalpinografi . infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus. Dengan pengambilan specimen urine dan darah pada berbagai waktu selama siklus menstruasi. Uji lendir serviks metoda berdasarkan hubungan antara pertumbuhan anatomi dan fisiologi serviks dengan siklus ovarium untuk mengetahui saat terjadinya keadaan optimal getah serviks dalam menerima sperma • Analisa hormon Mengkaji fungsi endokrin pada aksis ovarium – hipofisis – hipotalamus. PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik: Perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat ( spt distribusi lemak tubuh dan rambut yang tidak sesuai ). Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu. Pemeriksaan System Reproduksi 1. • Biopsy endometrium terjadwal Mengetahui pengaruh progesterone terhadap endometrium dan sebaiknya dilakukan pada 2-3 hr sebelum haid. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. Pria Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. • Sitologi vagina Pemeriksaan usap forniks vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina • Uji pasca senggama Mengetahui ada tidaknya spermatozoa yang melewati serviks ( 6 jam pasca coital ). penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido. E. Wanita • Deteksi Ovulasi 1.genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik.

jaringan parut dan adesi akibat proses radang. Pria • Analisa Semen Parameter Warna Putih keruh Bau Bunga akasia PH 7. serta informasi kehamilan intra uterin.8 Volume 2 – 5 ml Viskositas 1. Dilakukan secara terjadwal. Wanita • Pengetahuan tentang siklus menstruasi. gejala lendIr serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital • Pemberian terapi obat.6 – 6. • USG Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat struktur kelenjar prostat. . distrosi rongga uterus dan tuba uteri. atau seluran ejakulatori. PENATALAKSANAAN A. FSH.Radiografi kavum uteri dan tuba dengan pemberian materi kontras. • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona F.2 – 7.18-1. perkembangan dan maturitas folikuler. misalnya untuk identifikasi kelainan. • Pemeriksaan pelvis ultrasound Untuk memvisualisasi jaringan pelvis.tidak ada Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin Pemeriksaan ini berguna untuk menilai kembali fungsi hipothalamus. vesikula seminalis. • Biopsi testis Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan testis memakai metoda invasif untuk mengidentifikasi adanya kelainan patologi. dan LH. Disini dapat dilihat kelainan uterus.2 detik persentase gerak sperma motil > 60% Aglutasi Tidak ada Sel – sel Sedikit. Uji yang dilakukan bertujuna untuk menilai kadar hormon tesrosteron. hipofisis jika kelainan ini diduga sebagai penyebab infertilitas. seperti.6 centipose Jumlah sperma 20 juta / ml Sperma motil > 50% Bentuk normal > 60% Kecepatan gerak sperma 0. 2. • Laparoskopi Standar emas untuk mengetahui kelainan tuba dan peritoneum.

peningkatan kadar prolaktin. Seperti. pemberian tsh . PENGKAJIAN A. Stimulant ovulasi. Pria • Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun. tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat • Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital. Riwayat Kesehatan Sekarang . 2. • Pengangkatan tumor atau fibroid • Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi B. baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus. Terapi penggantian hormon 3.1. Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal 4. jangan yang mengandung spermatisida Konsep Asuhan Kep. Identitas klien Termasuk data etnis. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di rumah • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama • Tumor hipofisis atau prolaktinoma • Riwayat penyakit menular seksual • Riwayat kista b.m memperbaiki hipoganadisme • FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis • Bromokriptin. Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat • GIFT ( gemete intrafallopian transfer ) • Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas • Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate. Riwayat kesehatan 1) Wanita a. diharapkan kualitas sperma meningkat • Agen antimikroba • Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan • HCG secara i. digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus • Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik • Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma • Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. budaya dan agama B. 1. perbaikan nutrisi.

Pemeriksaan Fisik Terdapat berbagai kelainan pada organ genital. Riwayat Kesehatan Sekarang • Disfungsi ereksi berat • Ejakulasi retrograt • Hypo/epispadia • Mikropenis • Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha • Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla. pria atupun wanita. dan servik • Autoimun c. operasi tumor saluran kemih • Riwayat vasektomi b.• Endometriosis dan endometrits • Vaginismus (kejang pada otot vagina) • Gangguan ovulasi • Abnormalitas tuba falopi. uterus. narkotik. Riwayat Obstetri • Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi • Mengalami aborsi berulang • Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi 2) Pria a. Riwayat Kesehatan Dahulu • Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas. rokok. bentuk dan motilitas sperma) • Saluran sperma yang tersumbat • Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) • Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) • Abnormalitas cairan semen c. infeksi) • Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu • Riwayat infeksi genitorurinaria • Hipertiroidisme dan hipotiroid • Tumor hipofisis atau prolactinoma • Trauma. Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik C. ovarium. alkohol. radiasi. D. kecelakan sehinga testis rusak • Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis • Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi contoh : operasi prostat. Pemeriksaan penunjang . Riwayat Kesehatan Keluarga • Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik d.

d terapi untuk menangani infertilitas.tidak ada • Uji fruktosa 150-650 mg/dl • Pemeriksaan endokrin • USG • Biopsi testis • Uji penetrasi sperma • Uji hemizona 2.d perubahan struktur anatomis dan fungsional organ reproduksi Resiko tinggi terhadap kerusakan koping individu / keluarga b. alternatif untuk terapi Perubahan proses keluarga b.a.d metode yang digunakan dalam investigasi gangguan fertilitas Konflik pengambilan keputusan b. gangguan citra diri b.6 – 6.d prognosis yang buruk .2 – 7.d gangguan fertilitas Gangguan konsep diri. Pria • Analisa Semen • Parameter • Warna Putih keruh • Bau Bunga akasia • PH 7.d ketidaktahuan tentang hasil akhir proses diagnostic Gangguan konsep diri.6 centipose • Jumlah sperma 20 juta / ml • Sperma motil > 50% • Bentuk normal > 60% • Kecepatan gerak sperma 0. DIAGNOSA KEPERAWATAN Ansietas b.d harapan tidak terpenuhi untuk hamil Berduka dan antisipasi b. Wanita • Deteksi Ovulasi • Analisa hormon • Sitologi vagina • Uji pasca senggama • Biopsy endometrium terjadwal • Histerosalpinografi • Laparoskopi • Pemeriksaan pelvis ultrasound b.2 detik • persentase gerak sperma motil > 60% • Aglutasi Tidak ada • Sel – sel Sedikit.18-1. harga diri rendah b.8 • Volume 2 – 5 ml • Viskositas 1.

Abortus spontan terjadi karena kualitas sel telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah janin. investigasinya. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones.000 janin yang mengalami abortus . 2002). 2002). S.000-750.d kurang control terhadap prognosis Resiko tinggi isolasi social b. terlambatnya menarche selama beberapa hari.d kerusakan fertilitas. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyak wanita mengalami kehamilan dengan usia sangat dini. Terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan dalam hal ini adalah abortus yaitu abortus spontan. dan penataklaksanaannya Askep Abortus Pengertian Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. dalam hal ini adalah perawat setelah membaca pokok bahasan ini. sehingga seorang wanita tidak mengetahui kehamilannya.Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik (Prawirohardjo. pandangan yang ada di dalam masyarakat tidak boleh sama dengan pandangan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan. dengan demikian setiap tahun terdapat 500. abortus buatan. Angka kejadian abortus diperkirakan frekuensi dari abortus spontan berkisar 10-15%. d efek tes dfiagnostik Efek tes diagnostic ketedakberdayaan b. diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun. Oleh karena itu. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu.Nyeri akut b. Menariknya pembahasan tentang abortus dikarenakan pemahaman di kalangan masyarakat masih merupakan suatu tindakan yang masih dipandang sebelah mata. dan terapeutik. Di Indonesia.

2. Klasifikasi 1. Abortus terjadi pada usisa kehamilan kurang dari 8 minggu. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. S. Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu : . atau berat badanbayi belum 1000 gram. Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. dan tanpa adanya dilatasi serviks. setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta (Prawirohardjo. Pada kehamilan 8–14 minggu villi koriales menembus desidua secara mendalam. Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan) Yaitu: • • • • Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandunganapabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu.spontan. plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan. tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat. 2002). Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. janin dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan diatas 14 minggu. walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) Yaitu: • Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian abortus.

toxemia gravidarum 5. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna c. biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. 4. 6. Keracunan. Tuberkulosis paru aktif. Faktor maternal seperti pneumonia. retroversi uteri. misalnya : 1. virus. dll. Penyebab dari segi Maternal Penyebab secara umum: • Infeksi akut 1. mioma uteri dan kelainan bawaan uterus. ketakutan. Parasit. • Infeksi kronis 1. keracunan dan toksoplasmosis. dll. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. anemia berat. Radang pelvis kronis. Kelainan pada plasenta. hipertensi 2. Kelainan kromosom. Penyakit kronis. 3. . misalnya malaria. misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun 3. timah. virus. nephritis 3. 3. Pengaruh teratogen akibat radiasi. rubella. Trauma fisik. Fibroid. seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua). • Penyebab yang bersifat lokal: 1. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah : a. Kelainan traktus genetalia. terutama trimosoma dan monosoma X b. Infeksi bakteri. misalnya streptokokus. air raksa. penyakit jantung 6. misalnya cacar. inkompetensia serviks. hepatitis. endometrtis. 2. obat-obatan temabakau dan alcohol 2. typus. misalnya keracunan tembaga. 2. 2. Sifilis.1. biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. 4. diabetes 4. anemia berat 5. misalnya Syok. Gangguan fisiologis.

Pemeriksaan ginekologi : a. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil. besar uterus . diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.janin lahir mati. teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri. misalnya inflamasi dan degenerasi. Penyakit plasenta dan desidua. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis. denyut nadi normal atau cepat dan kecil. sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus 5. didaerah atas simfisis. ada atau tidak jaringan keluar dari ostium. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup.3. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum). mola kruenta. Mola hidatidosa. Rasa mulas atau kram perut. Manifestasi Klinis 1. suhu badan normal atau meningkat 3. Retroversi kronis. tercium bau busuk dari vulva b. osteum uteri terbuka atau sudah tertutup. fetus kompresus. maserasi atau fetus papiraseus. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun. sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus Penyebab dari segi Janin • • • Kematian janin akibat kelainan bawaan. 4. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi 4. c. ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu 2. janin masih hidup. tekanan darah normal atau menurun.

Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat dilanjutkan. tidak nyeri saat porsio digoyang. cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. kemamilan dengan kelainan serviks. cepat terhenti. yaitu : Abortus spontaneus Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis. nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion Diagnosa Banding Kehamilan etopik terganggu. dan tidak disertai mules-mules. Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. bahkan 2-3 minggu setelah abortus 2. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan. Komplikasi 1. tetapi karena faktor alamiah. atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup 3. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan perdarahan implantasi yang biasanya sedikit. Penatalaksanaan Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan. dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Aspek klinis abortus spontaneus meliputi : 1. syok dan infeksi 2. dan tanpa adanya dilatasi serviks. tidak nyeri pada perabaan adneksa. Tes Kehamilan Positif bila janin masih hidup. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah Pemeriksaan Penunjang 1.sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan. Perdarahan. perforasi. Sonografi vagina. berwarna merah. mola hidatidosa.pemeriksaan kuantitatif serial kadar . Abortus Imminens Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu.

Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam jumlah signifikan.2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau . Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apaka}r janin masih hidup. mungkin diperlukan kuretase. lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. segera lakukan: Berikan ergomefiin 0.gonadotropin korionik (hCG) serum. yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi. Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. dan kadar progesteron serum. Penanganan Abortus Insipiens meliputi : 1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti. Abortus Insipiens Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. maka dianjurkan dilakukan kuretase. Semua jaringan yang keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. 2. uterus harus dikosongkan. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. Penanganan abortus imminens meliputi : Istirahat baring. Setelah konseptus meninggal. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan. untuk memastikan apakah terdapat janin hidup intrauterus. disusul dengan kerokan. Jika evaluasi tidak dapat.

beri ergometrin 0. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0.2 mg intramuskulera taum iso prostol4 00 mcg per oral. cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. 2) Jika perdarahanb anyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan kurang 16 minggu. lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat. Abortus lnkompletus Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Jika perlu. Pada abortus yang lebih lanjut. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus. 3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3. Penanganan abortus inkomplit : 1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16 minggu. 2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu : Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. evaluasi hasil konsepsi dengan : Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih.2 mg intramuskuler (diulang . Jika perdarahan berhenti.misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu). evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks.

tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit. sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar. Padap emeriksaand itemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan. 3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg) Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Missed Abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu. 4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. Abortus Servikalis Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka. 4. Abortus Kompletus Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus. Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis. dan uterus sudah banyak mengecil. dengan dinding menipis.setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). ostium uteri telah menutup. kurang lebih bundar. 6. Etiologi missed abortion tidak . Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap. hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah. 5.

Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai dengan usia kehamilan. mengetahui ia mengandung janin yang telah mati. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan.diketahui. uterus tidak membesar lagi malah mengecil. KONSEP ASUHAN KEPERWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Penanganan Setelah diagnosis missed abortion dibuat. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. menentukan cara pemecahannya. Diagnosis Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Tindakan keperawatan tersebut . Abortus Habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut. timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. tes kehamilan menjadi negatif. mamma agak mengendor lagi. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah. tetapi diduga pengaruh hormone progesterone. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil. Gejala subyektif kehamilan menghilang. dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan. 7. seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun.

dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obatobatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.

1)

2)

3) 4)

1)

Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi 3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri 4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab 5. Cemas s.d kurang pengetahuan Intervensi Keperwatan 1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. Intervensi : Kaji kondisi status hemodinamika Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi Ukur pengeluaran harian Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal Berikan sejumlah cairan pengganti harian Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif Evaluasi status hemodinamika Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik 2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Intervensi : Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi

2) 3) 4) 5) 1) 2) 3) 1) 2) 3) perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien. dan bau Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri Kolaborasi pemberian analgetika Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 4. warna.d Kerusakan jaringan intrauteri Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami Intervensi : Kaji kondisi nyeri yang dialami klien Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi. kondisi vulva lembab Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan Intervensi : Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar . istirahat mutlak sangat diperlukan Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas Rsional : Menilai kondisi umum klien 3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s.d perdarahan. pada abortus imminens. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart . jumlah. Resiko tinggi Infeksi s.

(2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta 3) 4) 5) . demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi 6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se.4) Lakukan perawatan vulva Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi. 5. pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat 1) 2) Intervensi : Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas Kaji derajat kecemasan yang dialami klien Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga. untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga. 5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi.d kurang pengetahuan Tujuan : Tidak terjadi kecemasan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan. Lynda. Cemas s.ama masa perdarahan Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu.

Arif. 3. Jakarta Askep Ca Serviks TINJAUAN TEORI Pengertian Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI. Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2 5. Begitu pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia. 1995. Jilid I. Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. 2. 1997). 4. karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh. Mary. Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali 6. Etiologi Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun). edisi 6. Pada sebagian besar kasus. Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). Wanita merokok. dkk. EGC. Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. . infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap. FKKP. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Semakin dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. Kapita Selekta Kedokteran. 2001. Media Aesculapius.Hamilton. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. C. 1990. Jakarta Mansjoer.

tidak ditemukan daerah infiltrat antara tumor dengan dinding panggul. 4.1. bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm. sedang parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul. 7. 5. membran basalis utuh Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri Karsinoma mikro invasif. 6. uni atau bilateral. tetapi tidak sampai dinding panggul Penyebaran hanya ke vagina. dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah. Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma. Penyebaran sudah sampai dinding panggul. tetapi belum sampai dinding panggul Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina. metastasi jauh belum terjadi Ib II II a II b III a III b IV IV a . Faktor Resiko Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu: Usia. tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium. parametrium masih bebas dari infitrat tumor Penyebaran ke parametrum. Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari pangul kecil. 3. Jumlah perkawinan Hygiene dan sirkumsisi Status sosial ekonomi Pola seksual Terpajan virus terutama virus HIV Merokok Klasifikasi Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978 Tingk at 0 I Ia Kriteria Karsinoma In Situ ( KIS). 2.

Tanda dan Gejala Perdarahan Keputihan yang berbau dan tidak gatal Cepat lelah Kehilangan berat badan Anemia Manifestasi Klinis Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi. Pemeriksaan Penunjang Sitologi. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%. 4. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. keputihan warna putih atau puralen yang berbau dan tidak gatal. perdarahan pascakoitus. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar. perdarahan spontan. 3. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi. Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah. terraba lunak.IV b 1. terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. kehilangan berat badan. ireguler. 2. Setelah histerektomi radikal. dan bau busuk yang khas. Kolposkopi Servikografi Pemeriksaan visual langsung Gineskopi Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive) Penatalaksaan Medis Tingkat Penatalaksaan . Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. Telah terjadi metastasi jauh. dan anemia. Prognosis Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. 5. dengan cara tes pap Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks.

apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi. misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera. Riwayat psikososial Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks. Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga. serta kurangnya pengetahuan keluarga. Riwayat penyakit terdahulu. 6. 2. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat. Perdarahan dan keputihan Riwayat penyakit sekarang Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. Pemeriksaan Fisik 1. KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN Pengkaijan Identitas klien. Keluhan utama. Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain. 4. 5. 3.0 Ia I b dan II a II b . Inspeksi • Perdarahan • keputihan . III dan IV IV a dan IV b Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Biopsi kerucut Histerektomi trasnsvaginal Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan) Histerektomi transvaginal Radioterapi Radiasi paliatif Kemoterapi 1.

Diagnosa Keperawatan Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . Sitologi 2. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia.2. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubbungan dengan terbatasnya informasi. mual dan muntah. Tujuan: Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. 7. Gineskopi 6. 8. mual dan muntah. Pantau dan atur kecepatan infus. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Biopsi 3. Intervensi Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia . 3. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. Servikografi 5. 4. Kolaborasi dalam pemberian infus 1. Intervensi : Kolaborasi dalam pemeriksaan hematokrit dan Hb serta jumlah trombosit. 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. 6. Kolposkopi 4. palpasi • nyeri abdomen • nyeri punggung bawah Pemeriksaan Dignostik 1. Tujuan: . Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif) 1. Berikan cairan secara cepat. 5. 2.

Pantau masukan makanan oleh klien. Intervensi : Pantau tanda vital setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan.Masukan yang adekuat serta kalori yang mencukupi kebutuhan tubuh. Tujuan: Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan Intervensi : Kolaborasi dengan petugas laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap (Hb dan Trombosit) Lakukan tindakan yang tidak menyebabkan perdarahan. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi Tujuan: Potensial infeksi menurun dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Bantu pasien dalam menjaga hygiene perorangan Anjurkan pasien beristirahat sesuai kebutuhan. Intervensi: Kaji adanya pantangan atau adanya alergi terhadap makanan tertentu. Lakukan perawatan mulut sebelum makan sesuai ketentuan. Tujuan: Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal. . Tempatkan pasien pada lokasi yang tersedia. Observasi tanda-tanda perdarahan. Kolaborasi dalam pemeriksaan kultur dan pemberian antibiotika. Intervensi: Kaji pola istirahat serta adanya keletihan pasien. Observasi tanda-tanda vital. Kolaborasi dalam tindakan transfusi TC ( Trombosit Concentrated) 5. 4. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian menu yang sesuai dengan diet yang ditentukan. Anjurkan agar membawa makanan dari rumah jika dipelukan dan sesuai dengan diet. Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia. Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi. 3.

Anjurkan kepada pasien untuk mempertahan pola istirahat atau tidur sebanyak mungkin dengan diimbangi aktifitas. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai. Observasi kemampuan pasien dalam malakukan aktifitas. Berikan dorongan spiritual. 8. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perubahan fisik yang spesifik yang dibutuhkan sehubungan dengan penyakitnya. Intervensi: Gunakan pendekatan yang tenang dan cipakan suasana lingkungan yang kondusif. Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga. 6. Evaluasi kempuan pasien dalam mengambil keputusan Dorong harapan yang realistis. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan terbatasnya informasi. Tujuan: Ansietas. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi. . Diskusikan dengan keluarga untuk berkompensasi terhadap perubahan peran anggota yang sakit. Intervensi : Bantu pasien untuk mengedintifikasi peran yang bisa dilakukan didalam keluarga dan komunitasnya. Bantu pasien merencanakanaktifitas berdasarkan pola istirahat atau keletihan yang dialami. Kaji kepatenan kateter abdomen. Anjurkan kepada klien untuk melakukan latihan ringan. 7. Intervensi: Baringkan pasien diatas tempat tidur. kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.

kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.Nursing care and Plans. Ansietas.1994.wordpress.html . Evaluasi Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah : 1. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.blogspot. Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan. Tidak ada tanda-tanda infeksi 4. 6. Mochtar. Jilid 1. Jakarta:EGC. Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi DAFTAR PUSTAKA Arif Mansjoer dkk (2000). http:// www. Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh 3. Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal.E 1989. Chandra. 1989:Ginekologi Greenhill edisi 10. Sarwono.Synopsis obstetric.Philadelphia: F. Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan 5. 2. Rustam. 7.com http://khaidirmuhaj.com/2009/03/kanker-serviks. Jakarta: Gramedia. Edisi 3 .Ilmu Kandungan.Observasi tentang reaksi yang dialami pasien selama pengobatan Jelaskan pada pasien efek yang mungkin dapat terjadi. EGC : Jakarta Doengoes.com/med http://creasoft. Jakarta:EGC. Marilyn.A Davis Company. 8. Prawirohardjo. Kapita Selekta Kedokteran . Sanusi. 1989.medicastore .

dkk. Mary. (Mochtar. (Jack A. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati .Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. Pritchard. (Wiknjosastro. Arif. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Rustam .Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Imunoselektif dari tropoblast 3. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti.Kekurangan proteinf.1998 : 23) . Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. dkk. hidropik. Saleh. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. Hanifa. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. dkk.(Mansjoer. vaskularisasi dan edematus. tetapi terlambat dikeluarkan. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. dkk. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. daripada villi choriales. Rustam. namun faktor penyebabnya adalah 1. gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. C. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. 1973 : 325). Paritas tinggie. 2.

Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. berbentuk buah pear. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. Darah cenderung berwarna coklat. di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. 2003 : 164). Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. Silvia. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. Arif. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. Wilson. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Mola hidatidosa komplet (klasik).e. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. jika tidak ditemukan janin 2. dkk .Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. Mola hidatidosa inkomplet (parsial). Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). jika disertai janin atau bagian janin.Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. (Verrals. Teori neoplasma dari Park. (Silvia. (Mansjoer. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. berotot. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine . Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya.

sonde diputar setelah ditarik sedikit. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. Berjalan melalui annulus inguinalis. Hanifa. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma.(Wiknjosastro. profundus ke kanalis iguinalis.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis . uterus bertambah besar. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. Demikian pula dengan penyakit trofoblast.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. terdiri atas jaringan ikat dan otot. Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. Di bagian belakang. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal. membentuk kantong utero-vesikuler. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu. 2002 : 339) Tes Diagnostika.b).Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. di dalamnya terdapat tuba uterin. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali.5 cm. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis. bila tetap tidak ada tahanan. Bila tidak ada tahanan. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan.

Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. untuk anemia berat lakukan transfusi. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2. Selama pemantauan. Selain dari penanganan di atas. siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. Bila sumber vakum adalah tabung manual. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. pembesaran abnormal uterus.(Arif Mansjoer. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. selama dan setelah prosedur evakuasi. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. .000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif). terus menerus. menentukan cara pemecahannya. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. pelunakan serviks dan korpus uteri. dkk. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. saling berkaitan dan dinamis. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Kadar hCG diatas 100. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum.

Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang Riwayat kesehatan , yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. 2) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit. Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.

Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar.Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear. Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi, menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. (Carpenito, Lynda, 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien, memulihkan, memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Menetapkan prioritas masalah 2. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang Ekspresi wajah tenang TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri

akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien .5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil : Kebutuhan personal hygiene terpenuhi Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : Klien dapat tidur 7-8 jam per hari Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien.

pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : Ekspresi wajah tenang Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati . perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi.Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien.

Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : Nafsu makan meningkat Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan. anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil : Tidak tampak tanda-tanda infeksi Vital sign dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh .

Jakarta Soekojo. UI Patologi Anatomik. Kapita Selekta Kedokteran. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Lynda. keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. EGC. Jilid I. 2001. EGC. . Saleh. garis jahitan). 1995. pucat. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeks. Jilid I. Media Aesculapius. Rustam. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. Arif. dkk. Mary. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. 1973. Jakarta Mansjoer. Jakarta Hamilton. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. kaji warna kulit/membran mukosa. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. EGC. Jakarta Mochtar. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta Johnson & Taylor. DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil : Hb dalam batas normal (12-14 g%) Turgor kulit baik Vital sign dalam batas normal Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital. (2001). sehingga proses infeksi tidak terjadi. berkeringat. 1998. Patologi. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. daerah yang terpasang alat invasif (infus.3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. edisi 6. Sinopsis Obstetri. C.

Jakarta Askep Mola Hidatidosa Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa .

namun faktor penyebabnya adalah 1. Imunoselektif dari tropoblast 3. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati . 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus . tetapi terlambat dikeluarkan.gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Mola hidatidosa inkomplet (parsial). Pritchard. dkk. 2. C.Kekurangan proteinf. vaskularisasi dan edematus. Rustam . dkk. Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast : Teori missed abortion. Teori neoplasma dari Park. Rustam.1998 : 23) Patofisiologi Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi : 1. 1973 : 325). gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. Paritas tinggie. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo. Mary. 2001 : 265) Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung. Hanifa. 2002 : 339) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik.(Mansjoer. Studi dari Hertig Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. 1995 : 104) Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti. Saleh. 1991 : 514) Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik. dkk. jika tidak ditemukan janin 2. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus. dkk. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Arif. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. (Mochtar. (Jack A. jika disertai janin atau bagian janin. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. Mola hidatidosa komplet (klasik). daripada villi choriales. membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. hidropik. (Wiknjosastro.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas (Mochtar. sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan.

(Mansjoer. 2001 : 266) Anatomi Fisiologi Anatomi Uterus adalah organ yang tebal. peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. 4) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. profundus ke kanalis iguinalis. Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu : a). Berjalan melalui annulus inguinalis. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterine b). berbentuk buah pear. letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks c). membentuk kantong utero-vesikuler. 2003 : 164). Di bagian belakang. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna. terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus. Arif. terdiri atas jaringan ikat dan otot. 2000 : 467) Manifestasi Klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah : 1) Amenore dan tanda-tanda kehamilan 2) Perdarahan pervaginam berulang.menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan.5 cm.e. di dalamnya terdapat tuba uterin. Isthmus : terletak antara badan dan serviks Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. berotot. ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium. Silvia. selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12. Wilson. (Silvia.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya. di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. . (Verrals. 3) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. Darah cenderung berwarna coklat. dkk . Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus.

Fisiologi Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion. masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera 4. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per . pembesaran abnormal uterus. bila tetap tidak ada tahanan. Bila tidak ada tahanan. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson 3. sonde diputar setelah ditarik sedikit. pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. perdarahan hebat atau perforasi uterus) 5. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Hanifa.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janine. pelunakan serviks dan korpus uteri. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. Demikian pula dengan penyakit trofoblast. 1) Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin 2) Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. dkk. Selain dari penanganan di atas. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis (Arif Mansjoer. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. 2002 : 339) Tes Diagnostika. 2001 : 266) Penatalaksanaan Medik Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : 1. kemungkinan mola (cara Acosta-Sison) 3) Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 buland. uterus bertambah besar. dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udaraf. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis 2.(Wiknjosastro.

nama. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : ¬ Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi . hipertensi . Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. jantung . Kadar hCG diatas 100. umur. menentukan cara pemecahannya.menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari. ¬ Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. lamanya perkawinan dan alamat ¬ Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang ¬ Riwayat kesehatan . untuk anemia berat lakukan transfusi. oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. perkawinan ke. pekerjaan. Selama pemantauan. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. kapan . Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum. yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid. ¬ Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM . suku bangsa. jenis pembedahan . siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai.. berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. selama dan setelah prosedur evakuasi. Bila sumber vakum adalah tabung manual. agama. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. . 2) Riwayat kesehatan masa lalu ¬ Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien. dan penyakit-penyakit lainnya. penyakit endokrin . pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi. melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. masalah ginekologi/urinary . status perkawinan. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. terus menerus. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. saling berkaitan dan dinamis. pendidikan.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif).

jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. Data lain-lain :  Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS. istirahat tidur. sifat darah. bahasa tubuh. cairan dan elektrolit.  Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan. pap smear. persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini.  Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan . memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. lesi terhadap drainase. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna.  Tekanan : menentukan karakter nadi.  Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah. hygiene. pergerakan dan postur. ketergantungan. lamanya. eliminasi (BAB dan BAK). warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi. massa atau konsolidasi. memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. adanya keterbatasan fifik. apakah klien menggunakan kontrasepsi. 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium :  Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen. siklus menstruasi. ¬ Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien. ¬ Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah. baik sebelum dan saat sakit. meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.  Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. dan menggunakan KB jenis apa. apakah klien setuju. laserasi.¬ Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe. pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan. bagaimana keadaan kesehatan anaknya. (Johnson & Taylor. obat digitalis dan jenis obat lainnya. banyaknya. penggunaan ekstremitas. Pemeriksaan fisik.Data . mencatat suhu. biopsi. derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.  Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB. bau. mengevaluasi edema. USG. gejala serta keluahan yang menyertainya ¬ Riwayat kehamilan . dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. ¬ Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral. perubahan warna.

Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2.  Kaji orang terdekat dengan klien. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3. (Carpenito. Lynda. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. Menetapkan prioritas masalah 2. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai 3. hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan. bagaimana pola komunikasi dalam keluarga.  Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien  Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME.psikososial. Menentukan rencana tindakan keperawatan DIAGNOSA I Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria Hasil :  Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang . memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Intervensi Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah 7. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi. memulihkan. Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan Langkah-langkah penyusunan : 1. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase 8. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 5. Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan Tujuan : 1. Diagnosa Keperawatan yang Lazim Muncul Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. 2001: 45) Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah : 1. Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain 2.

 Ekspresi wajah tenang  TTV dalam batas normal Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri. lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien 3) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan 4) Beri posisi yang nyaman Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri 5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan DIAGNOSA II Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri Kriteria Hasil :  Kebutuhan personal hygiene terpenuhi  Klien nampak rapi dan bersih Intervensi : 1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya 2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat 3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya 4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri DIAGNOSA III Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu Kriteria Hasil : .

pola demam dapat membantu diagnosa 2) Pantau suhu lingkungan Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan. perhatikan menggigil/diaforesis Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi. suhu harus mendekati normal 3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam 4) Berikan kompres hangat Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh 5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus DIAGNOSA V Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang Kriteria Hasil : . Klien dapat tidur 7-8 jam per hari  Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Kaji pola tidur Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien. akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur 4) Batasi jumlah penjaga klien Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat 5) Memberlakukan jam besuk Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat 6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur DIAGNOSA IV Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas Kriteria Hasil :  Tanda-tanda vital dalam batas normal  Klien tidak mengalami komplikasi Intervensi : 1) Pantau suhu klien.

 Ekspresi wajah tenang  Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan klien Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien 2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan 3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan 4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya 5) Beri dorongan spiritual/support Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang DIAGNOSA VI Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil :  Nafsu makan meningkat  Porsi makan dihabiskan Intervensi : 1) Kaji status nutrisi klien Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya 2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia 3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 4) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan. anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan DIAGNOSA VII Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi Kriteria Hasil :  Tidak tampak tanda-tanda infeksi  Vital sign dalam batas normal .

pucat. Mary. edisi 6. sehingga proses infeksi tidak terjadi. Lynda. daerah yang terpasang alat invasif (infus. kateter) Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri. mempertahankan volume sirkulasi 5) Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Jakarta . C. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. garis jahitan). keluhan pusing dan sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial 3) Kaji kulit terhadap dingin. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta Hamilton. Penerbit Buku Kedokteran EGC. dasar kuku Rasional :Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan intervensi selanjutnya 2) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. kaji warna kulit/membran mukosa. 1995. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeksi DIAGNOSA VIII Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi Kriteria Hasil :  Hb dalam batas normal (12-14 g%)  Turgor kulit baik  Vital sign dalam batas normal  Tidak ada mual muntah Intervensi : 1) Awasi tanda-tanda vital.Intervensi : 1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi 2) Observasi vital sign Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh 3) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka. pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin 4) Berikan cairan intravena. EGC. produk darah Rasional : Menggantikan kehilangan daran. berkeringat.

Kapita Selekta Kedokteran. 2001. Media Aesculapius. Jakarta Mochtar. Jakarta Johnson & Taylor. Jilid I. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Patologi. Rustam. EGC. 2005. 1973. Arif. Sinopsis Obstetri. EGC. dkk. UI Patologi Anatomik. Saleh. Jakarta . Jakarta Mansjoer.Soekojo. 1998. Jilid I.