Proposal PTK IPA SD

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pendidikan adalah proses memproduksi sistem nilai dan budaya kearah yang lebih baik, antara lain dalam pembentukan kepribadian, keterampilan dan perkembangan intelektual siswa. Dalam lembaga formal, proses reproduksi sistem nilai dan budaya ini dilakukan terutama dengan mediasi proses belajar mengajar sejumlah mata pelajaran di kelas. Salah satu mata pelajaran yang turut berperan penting dalam pendidikan wawasan, keterampilan dan sikap ilmiah sejak dini bagi anak adalah mata pelajaran IPA. Berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah bahwa standar kompetensi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bukan hanya bergantung lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata, hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Piaget yaitu belajar merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan yang melibatkan asimilasi, yaitu proses bergabungnya stimulus kedalam struktur kognitif. Bila stimulus baru tersebut masuk kedalam struktur kognitif diasimilasikan, maka akan terjadi proses adaptasi yang disebut kesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah. Dengan demikian jelas bahwa tahap berfikir anak usia SD harus dikaitkan dengan halhal nyata dan pengetahuan awal siswa yang telah dibangun mereka dengan sendirinya.

1 Nama Murid CAHRONI Nilai 4 Ket Tidak Lulus 2 HENDRI 2 Tidak Lulus 3 ISKANDAR 2 Tidak Lulus 4 ANGGA AUNUL KHOLIQ 9 Lulus 5 6 BAYU ANDIKA CANDRA LESMANA 6 3 Lulus Tidak Lulus 7 8 DHEA NURHASANAH INDRA LESMANA 2 6 Tidak Lulus Lulus . setelah siswa mencatat guru langsung menjelaskan materi.Pada saat pembelajaran IPA di kelas III SD N 02 Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara. ketika guru menjelaskan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. guru diawal pembelajaran tidak melakukan apersepsi. guru langsung menulis materi di papan tulis. yaitu nilainya dibawah KKM. Bahkan ada siswa yang menaikan kakinya ke atas meja. Dalam proses pembelajaran guru juga tidak melakukan percobaan mengenai energi gerak. ngobrol dengan teman-temannya. Adapun nilai yang diperoleh siswa pada pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 1.1 Daftar Nilai Siswa Kelas III Mata Pelajaran IPA Mengenai Energi Gerak No. mereka bergurau. Pada saat guru melakukan evaluasi sebagian siswa tidak dapat menjawab soal evaluasi sehingga hasil evaluasi siswa pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. kemudian siswa disuruh mancatat materi tersebut. mengenai bentuk-bentuk energi dan perubahannya yang diantaranya bentuk energi gerak. Melihat kondisi kelas seperti itu guru langsung memberikan pertanyaan kepada siswa seputar materi. namun mereka terdiam dan tidak paham. pembelajaran yang dilakukan guru tidak berpusat pada siswa.

28 Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Lulus Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Lulus Tidak Lulus Lulus Lulus Lulus Tidak Lulus Dari data nilai siswa diatas. dalam pembelajaran IPA guru mengharapkan siswa diam dengan sikap duduk tegak dan menghadap . hanya 10 siswa yang mendapatkan nilai di atas 6 atau sekitar 40 %. AGNAN MOMON PUJI TRISNA NINGRUM RIVALDI RIZKI SHOLEH SRI INDAH LESTARI DADAN HENI SUSANTI IDA JUBAEDAH INDRAWAN MEGA TATI CAHYATI NUNUNG JUMLAH RATA-RATA 4 5 5 4 8 8 4 4 8 5 5 6 5 7 7 8 5 132 5.9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 LEMBAYUNG LESTA LESTARI LILI MELIYANI MELINDA M. dengan jumlah siswa 25. ditemukanlah beberapa penyebab masalah. dalam menyampaikan materi kurang menarik sehingga pembelajaran terasa membosankan dan dalam pembelajaran juga guru tidak melakukan percobaan mengenai energi gerak. guru kurang membangkitkan motivasi terhadap pembelajaran. Siswa yang mendapatkan nilai di bawah 6 sebanyak 15 atau sekitar 60 %. Dari analisis masalah yang ada. Dengan demikian tujuan pembelajaran tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran yang terjadi di atas mengakibatkan siswa tidak paham tentang energi gerak dan siswa tidak berani mengungkapkan pendapatnya. siswa tidak memperhatikan penjelasan guru. Masih sering terjadi. antara lain : pada awal pembelajaran guru tidak melakukan apersepsi.

maka rumusan masalah penelitian tindakan kelas yaitu : a. Latar belakang di atas mendorong penulis untuk megambil fokus penelitian dengan judul “Penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 2 Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara”. peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran IPA. Bagaimana gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 2 Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara? 1) Bagaimana perencanaan penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 2 Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara? 2) Bagaimana pelaksanaan penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 2 Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara? . produk dan sikap. Pembelajaran demikian jelas bertentangan dengan hakikat anak dan pendidikan IPA itu sendiri. Bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memahami energi gerak di kelas III SD Negeri 2 Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara? Untuk lebih spesifiknya.ke depan. Bagaimana gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 2 Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara? b.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas. 1. Karena pembelajaran yang mengacu pada pandangan konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. sementara guru dengan fasih menceramahkan materi IPA. dengan kata lain siswa lebih berpengalaman untuk mengkonstruksikan sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. maka kedua rumusan masalah tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut : a. Pembelajaran IPA yang efektif dicirikan antara lain oleh tingginya kemampuan pembelajaran tersebut dalam menyajikan hakekat pendidikan IPA di SD yakni sebagai proses. Untuk mengatasi permasalahan di atas.

4 Manfaat Penelitian 1. 2. Manfaat bagi siswa. Manfaat bagi sekolah. 2. maka penelitian ini bertujuan : 1. 3.3) Bagaimana evaluasi penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 2 Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara? b.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan pertanyaan penelitian tindakan kelas yang terdapat dalam perumusan masalah di atas. Bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memahami energi gerak di kelas III SD Negeri 2 Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara? 1) Apakah model pembelajaran konstruktivisme dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman energi gerak? 2) Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat dalam memahami energi gerak dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme? 3) Bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memahami energi gerak setelah model pembelajaran konstruktivisme diterapkan? 1. untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak. Untuk mengetahui gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 02 Lebak. 1. untuk mengembangkan potensi guru dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran konstruktivisme. Manfaat bagi guru. untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar. Untuk mengetahui bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memahami energi gerak di kelas III SD Negeri 02 Lebak. .

Moh. Kajian Teoritis 1. dan kecakapan”. yaitu “suatu kegiatan berupa pertanyaan dan penyelidikan alam semesta dan penemuan dan pengungkapan serangkaian rahasia alam. kebiasaan. sikap. pengetahuan.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. sebagai hasil dari pengalaman individu itus sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. . baik tentang gejala maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis (Depdiknas. penyempurnaan jawaban. Crow & crow (1958) : „belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan. 2. pemahaman jawaban.5) menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies. yang berlangsung sepanjang hayat. Pengertian Belajar Bell Gredler dalam Winaputra (2007: 1. Surya (1997) : “Belajar dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. 2002:1). and attitude. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku secara keseluruhan yang didapat dari pengalaman dari lingkungan formal maupun informal. Kemampuan. pencarian jawaban. pengetahuan. ketrampilan. skills. Hakikat Pembelajaran IPA di SD a. Carin (1999:3) mendefinisikan science sebagai The activity of questioning and exploring the universe and finding and expressing it‟s hidden order. Pembelajaran IPA Beberapa ilmuan memberikan definisi sains sesuai pengamatan dan pemahamannya.” Sains mengandung makna pengajuan pertanyaan. Witherington (1952) : „belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk ketrampilan. dan sikap baru”. mulai dari masa bayi hingga akhir hayat. dan sikap tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat. Dari pengertian di atas.

dalam wujud “pengetahuan deklaratif”. termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan metode ilmiah dan sikap ilmiah. Mata pelajaran IPA mempunyai tujuan mengupayakan peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. IPA di Sekolah Dasar Sesuai dengan Standar Isi KTSP. serta prosepek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau fakta yang dihafal. Teori yang mendasari IPA. 2002:2) 2) Teori Ausubel tentang Pembelajaran Bermakna (Meaningfull) Ausubel (dalam Dahar. konsep. Tujuan khusus dari mata pelajaran IPA di SD/MI adalah agar peserta didik memiliki kemampuan : 1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan. c. dan sikap ilmiah. lingkungan. hukum. cara sains dan teknologi bekerja dalam bentuk pengetahuan prosedural. proses. akan tetapi belajar sains juga belajar tentang cara memperoleh informasi sains. yaitu : produk. keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya 2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari 3) Mengembangkan rasa ingin tahu. Hakikat dari teori kontruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri (Nur dan Retno. namun juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam mempelajari rahasia gejala alam. mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan itu apabila tidak lagi sesuai. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya sains terdiri dari tiga komponen.Belajar sains tidak sekadar belajar informasi sains tentang fakta. sikap positip dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA. 1) Teori Konstruktivisme Teori yang dikenal dengan constructivist theories of learning menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasi informasi kompleks. prinsip. 1988:137) mengemukakan bahwa belajar dikatakan bermakna (meaningfull) jika informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai struktur kognitif yang dimiliki peserta didik sehingga peserta didik dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. teknologi dan masyarakat . b.

cahaya dan pesawat sederhana 4) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah. yaitu manusia. konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs. Ruang lingkup mata pelajaran IPA di SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut : 1) Makhluk hidup dan proses kehidupan.4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar. listrik. dapat disimpulkan bahwa model konstruktivisme dalam pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara . Pada kondisi ini diperlukan alternatif strategi lain untuk mengatasinya. Jika hal baru tersebut tidak sesuai dengan konsepsi awal siswa. panas. Berdasarkan pandangan tersebut. hewan. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya. sehingga diperlukan perubahan/modifikasi struktur kognitif untuk mencapai keseimbangan. dan benda-benda langit lainnya. serta kesehatan 2) 3) Benda/materi. Model Pembelajaran Konstruktivisme a. memecahkan masalah dan membuat keputusan 5) Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara. maka akan terjadi konflik kognitif yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan dalam struktur kognisinya. Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja. tata surya. padat dan gas Energi dan perubahannya meliputi: gaya. magnet. Perolehan pengetahuan siswa diawali dengan diadopsinya hal baru sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. peristiwa ini akan terjadi secara berkelanjutan. sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair. kemudian hal baru tersebut dibandingkan dengan konsepsi awal yang telah dimiliki sebelumnya. selama siswa menerima pengetahuan baru. bunyi. bumi. tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan. 3. Pengertian model pembelajaran konstruktivisme Model pembelajaran konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. menjaga dan melestarikan lingkungan alam 6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan 7) Memperoleh bekal pengetahuan.

Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. b. Konstruktivisme dalam pembelajaran Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif.mental. Pembelajaran yang dimaksud diatas adalah pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa. yang dilandasi oleh struktur kognitif yang dimilikinya. Dari berbagai pandangan di atas. c. bahwa pembelajaran yang mengacu pada pandangan konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka dengan kata lain siswa lebih berpengalaman untuk mengonstruksikan sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. 3) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. 2) Melatih siswa berfikir kritis dan kreatif. Dalam penggunaan model konstruktivisme terdapat keuntungan yaitu : 1) Dapat memberikan kemudahan kepada siswa dalam mempelajari konsep IPA. Dalam pelaksanaan teori belajar konstruktivisme ada beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran yaitu sebagai berikut : 1) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya dengan bahasa sendiri. membangun pengetahuannya. 2) Memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga lebih kreatif dan imajinatif. 4) Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. Siswa mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari. menerangkan pada kemampuan minds-on dan hands-on serta terjadi interaksi dan mengakui adanya konsepsi awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya. dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Proses perolehan pengetahuan akan terjadi apabila guru dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal yang dimaksud disini adalah suatu proses belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik IPA dan memperhatikan perspektif siswa sekolah dasar. Penekanan tentang belajar dan mengajar lebih berfokus terhadap suksesnya siswa mengorganisasi pengalaman mereka. ini merupakan proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dalam pikiran mereka. Dalam hal ini siswa membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu. Keuntungan dan kelemahan dalam menggunakan model konstruktivisme. 5) Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. . 6) Menciptakan lingkungan yang kondusif.

Agus Wuryanto. Pembelajaran tentang Energi Gerak Setiap benda yang melakukan kegiatan atau usaha memerlukan energi. hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbedabeda. energi listrik.Pd. Antusiasme siswa dalam mengikoti proses pembelajaran IPA mengalami peningkatan dengan diterapkannya metode interaktif pada proses pembelajaran. Setelah dilakukan pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. M. 2) Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri. tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi. Adanya peningkatan pemahaman terhadap materi IPA tercermin pada peningkatan nilai hasil evaluasi belajar siswa. energi cahaya. Kesimpulan ini didasarkan dari . Energi gerak adalah energi yang dimiliki oleh benda yang sedang bergerak. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi. dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. (2010).Pd. 2. dalam penelitiannya yang berjudul “Pengoptimalan Penerapan Metode Interaktif Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Materi Pelajaran IPA” mengungkapkan bahwa : 1.Adapun kelemahan pembelajaran konstruktivisme adalah : 1) Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. energi bunyi. Bentuk-bentuk energi antara lain energi gerak. 3) Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama. Kajian Empiris Dra Prayekti. (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Interaktif pada Mata Pelajaran IPA di SD”. baik pada pelaksanaan PTK siklus I maupun pada siklus II. panas. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. 4. karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa. mengungkapkan bahwa : Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. dan energi kimia. S. Pengoptimalan penerapan metode interaktif mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran IPA. B. energi gerak dimiliki oleh air dan angin.

sehingga siswa kurang mampu memahami materi.Kerangka Berfikir Kondisi Awal        Pembelajaran masih konvensional Pembelajaran Berpusat pada guru Siswa kurang memahami materi yang dipelajari Siswa kurang aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran Tindakan Menggunakan model pembelajaran konstruktivisme Siswa dibawa pada suasana yang dekat dan akrab dengan kehidupan sehari-hari mereka Siswa diajak untuk mengembangkan pemahaman yang mereka miliki tentang energi gerak Kondisi Akhir    Pembelajaran lebih aktif dan menyenangkan Siswa bisa mengembangkan pemahaman dan pengetahuannya tentang energi gerak Siswa memiliki pengalaman yang bermakna setelah mengikuti pembelajaran Sebelum dilaksanakan pembelajaran bermodel konstruktivisme.data hasil observasi rekan sejawat yang menjadi observer pada pelaksanaan pembelajaran. Dengan menggunakan model pembelajaran konstruktivisme siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain dan informasi itu manjadi milik mereka sendiri. Proses pembelajaran IPA lebih menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan yaitu daya fikir dan daya kreasi. baikpada siklus I maupun pada siklus II. Hal ini berakibat siswa kurang antusias dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Hal ini juga berkorelasi dengan meningkatnya pencapaian hasil belajar siswa. Guru tidak memperhatikan pemahaman awal peserta didik tentang materi yang akan dipelajari. sistem pembelajaran masih menggunakan model konvensional. Sementara daya pikir kreasi sebagai indikator dari perkembangan kognitif itu sendiri bukan merupakan akumulasi . C. hal ini terlihat saat memulai pembelajaran guru tidak memberikan apersepsi kepada siswa. yaitu berceramah. dan pada akhirnya tujuan pembelajaran tidak tercapai.

kepentingan perubahan perilaku terpisah melainkan merupakan pembentukan oleh anak.Hipotesis Tindakan Dari hasil analisis tindakan. . penulis membuat hopotesis bahwa. Sehingga dengan diterapkannya pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran IPA. D. suatu kerangka teori belajar terhadap usaha seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya. jika guru menggunakan model pembelajaran konstruktivisme dengan siswa melakukan percobaan mengenai energi gerak dan siswa berperan aktif dalam pembelajaran maka pemahaman siswa tentang energi gerak akan meningkat. siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih memahami penjelasan guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.