P. 1
TEORI EKONOMI Mikro

TEORI EKONOMI Mikro

5.0

|Views: 11,093|Likes:
Published by Achas

More info:

Published by: Achas on May 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2015

original

Sections

Perubahan keseimbangan pasar terjadi bila ada perubahan di sisi permintaan dan atau
penawaran. Jika factor yang menyebabkaN perubahan adalah harga, keseimbangan
akan kembali ketitik awal (Diagram 2.7.a). tetapi jika yang berubah adalah factor-
faktor ceteris paribus seperti teknologi untuk sisi penawaran, atau pendapatan untuk
sisi permintaan, keseimbangan tidak terjadi di sisi awal (Diagram 2.7.b dan 2.7.c).

Diagram 2.7
Prubahan Keseimbangan dasar

5. Surplus Ekonomi

Dasar pendekatan yang di gunakan untuk analisis pasar adalah marjinalis
(marginalism approach), yang mengatakan bahwa keputusan dalam memproduksi
atau mengonsumsi di tentukan oleh beberapa besar tambahan pendapatan atau
manfaat dari unit terakhir barang yang di produksi atau di konsumsi. Konsekuensi
dari pemikiran ini, bagai produsen adalah dia tidak menetapkan harga yang sama
untuk setiap jumlah penjualan. Jika kasus pasar di gunkan kembali sebagai contoh,
satu unit mobil pertama di jual dengan harga Rp 82 Juta, sedangkan unit kedua baru
akan di jual jika harganya Rp 84 Juta dan seterusnya. Sebaliknya bagi konsumen
untuk satu unit persaja unit kedua, konsumen hanya mau membeli dengan harga di
bawah Rp 199 Juta, Yaitu Rp 198 Juta. Alsanya tambahan manfaat dari tambahan
pemakaian mobil telahn menurun.
Pada saat keseimbangan, konsumen membayar mobil yang dibeli jauh lebih
sedikit di banding kesedaiaan membayar. Sebaliknya produsen menerima uang lebih
banyak daripada yang sebenarnya mereka harapkan.
Apa yang di alami oleh konsumen di sebut surplus konsumen (Consumer
surplus
), yaitu selisih antara antara jumlah yang konsumen sedia bayarkan dengan
yang harus di bayar. Untuk produsen di sebut surplus produsen (produser surplus),
yaitu selisih antara jumlah yang di terima dengan yang mreka harapkan untuk dibayar.
Dalam kasus pasar mobil, surplus konsumen jumlahnya seluas sege tiga ABE,
yang merepukan selesih luas trapezium 0BEC (jumlah yang konsumen bersedia
membayar) dengan sedi empat 0AEC (jumlah yang harus konsumn bayar). Jumlah
surplus produsen seluas segitiga FAE yang merupakan FAE yang merupakan slisih
antara luas segi empat 0AEC (jumlah yang konsumen bayarkan ) dengan trapezium
0FEC (jumlah yang produsen bersedia di bayar).
Teori surplus konomi sangat bermanfaat dalam menganalisis dampak campur
tangan pemerintah. Campur tangan pemerintah di anggap makin buruk bila total
khilangan surplus ekonomi (kehilangan surplus konsumen + surplus produsen) makin
besar. Dalam buku teks berbahasa inggris, ini di sbut dead weight loss.

Diagram 2.8
Surplus Produsen dan Surplus Konsumen

6. Kegagalan Pasar

Pasar dapat menjadi alokasi sumber daya yang efisien, bila asumsi-asumsinya
terpnuhi, antara lain prilaku bersifat rasional, memiliki informasi yang sempurna,
pasar berbentuk persaingan sempurna dan barang bersifat privat. Proses pertukaran
(exchange) tidak terbatasi dimensi waktu dan tempat. Kenyataannya tidak seperti
dunia ideal. Banyak asumsi tidak cocok dengan lapangan. Akibatnya pasar gagal
menjadi alat alokasi sumberdaya yang efisien .
a. InformaSI Tidak Sempurna
Dalam kemyataan kita tak pernah tahu persisi tentang kualitas barang yang
digunakan. Misalnya ketika membeli mobil bekas. Untuk memperoleh informasi
tentang mobil itu, seringkali harus membayar. Misalnya dengan menyewa montir
mobil yang ahli mesin dan dapat dipercaya. Demikian juga perusahaan –
perusahaan yang ingin merekrut pegawai. Untuk mengethui kualiatas calon
pegawai, mereka terpaksa menggunakan konsultan, yang untuk menikmati
jasanya. Perusahaan harus membayar

b. Daya monopoli

Asumsi pasar persaingan sempurnah adalah produksi begitu banyak dan kecil
– kecil sehingga secara individu tidak mampu mempengaruhi pasar.keputusan
produsen dalam memasok, bereferensi pada harga yang berlaku dipasar (price
taker). Dalam kenyataannya sering terjadi dalam pasar hanya ada satu (monopoli)
atau beberapa produsen oligopoly yang begitu kuat. Mereka mampu
mempengaruhi pasar dengan menentukan tingkat harga (price setter).
Kemampuan itu menyebabkan barang yang diproduksi lebih sedikit, harga yang
lebih tinggi, disbanding dalam pasar persaingan sempurna.

c. Eksternaliats

Merupakan keuntungan atau kerugian yang dinikmati atau diderita pelaku
ekonomi sebagai akibat tindakan pelaku ekonomi yang lain, tetapi tidak dapat
dimasukkan dalam perhitungan biaya secara formal. Misalnya dipropinsi lampung
banyak pabrik tapioka yang mencemarkan lingkungan denagn membuang
limbahnya kesungai. Kerugian yang diderita masyarakat sekitarnya tidak masuk
dalam perhitungan biaya produksi tapioka. Akibatnya, walaupun secara financial
biaya produksi tapioca menjadi murah (tidak perlu infestasi fasilitas pengolahan
limbah), secara ekonomis biayanya mahal; sebagian biaya itu ditanggung
masyarakat dalam bentuk biaya social (social cost).

d. Barang public (public goods)
Asumsi dasar lain yang seringkali tidak relevan adalah barang yang
dipertukarkan bersifat private (rival dan eksekutif). Rival artinya, barng tidak
dapat dikonsumsi secara simultan (bersamaan) tanpa saling merugikan. Eksklusif
artinya siap yang tidak mau membayar tidak dapat menikmati/ memamfaatkannya.
Softdrink atau nasi, misalnya merupakan barang privat (private good). Bila satu
kaleng softdrink sudah kita minum (konsumsi), maka orang lain sudah tidak dapat

mengkonsumsi softdrink tersebut (barang yang sama). Selain bersifat rivalry, kita
juga harus membeli (membayar) untuk dapat mengkonsumsinya.
Dalam kenyataan ada barang yang bersifat non rivalry, noneksklusif, dan non
divisible (tidak dapat dipecah – pecah). Sebut saja jalan raya, taman, jembatan
fasilitas keamanan dll. Sifat non-rivalry, non-eksklusif, dan non-divisible ini
sering menimbulkan fenomenapendoplegan atau pembonceng gratis (free rider),
yaitu mereka dapat menikmati mamfaat dari barang publik tetapi tidak membayar
pajak, misalnya pajak penghasilan (barang public tersebut dibuat oleh pemerintah,
yang sumber pembiayaanya antara lain berasal dari penerimaan pajak).

e. Barang Altruisme

Selain barang public, kita juga mengenal barang altruism. Barang altruism
adalah barang yang ketersediaanya berdasarkan sukarela karena rasa
kemanusiaan, contoh barang altruisme adalah darah.
7. Intervensi Pemerintah
Kegagalan pasar, seringkali menuntut campur tangan (intervensi) pemerintah, namun
yang harus diperhatikan adalah tidak semuah campur tangan Pemerintah memberikan
hasil yang baik. Walupun tujuannya baik. Banyak factor yang menyebabkannya.
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi pemerintah dalam menentukan
kebijaksanaan adalah adanya trade off (kinflik), antara tujuan – tujuan yang ingin
dicapai. Misalnya ada konflik antara tujuan efesiensi dengan pemerataan. Agar rumah
dapat terjangkau rakyat kecil dan penghasilan rendah, pemerintah memberikan subsidi
itu cenderung mengorbankan efisiensi, karena uang subsidi bisa dialokasikan kesektor
– sector yang lebih produktif.

Tujuan dilakukannya campur tangan pemerintah adalah sebagai berikut :
Menjamin agar kesamaan hak bagi setiap individu dapat tetap terwujud dan
ekploitasi dapat dihindarkan
Menjaga agar perekonomian dapat tumbuh dan mengalami perkembagan yang
teratur dan stabil
Mengawasi kegiatan – kegiatan perusahaan, terutama perusahaan – perusahaan
besar yang dapat mempengaruhi pasar, agar mereka tidak menjalankan praktik-
praktik monopoli yang merugikan
Menyediakan barang public (public goods) untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat
Mengawasi agar ekternalitas kegiatan ekonomi yang merugikan masyarakat dapat
dihindari atau dikurangi.

a. Kontrol Harga

Tujuan control harga adalah melindungi konsumen atau produsen. Bentuk
control haraga yang paling umum digunakan adalah penetapan harga dasar (floor
price) dan harga maksimum (ceiling price).
1. Harga dasar (floor price)

Harga dasar adalah tingkat harga minimum yang diberlakukan. Bila
pemerintah menetapkan harga dasar gabah Rp. 700,00 perkoligram, pembeli
gabah harus membeli gabah dari petani dengan harga serendah – rendahnya Rp.
700,00 /kg.

Kasus pasar gabah dikrawang
Qd = 2.000 – 3P ; Qs = - 500 + 2P
Dimana : Qd,Qs = ribu ton permusim
P = ratus ribu rupiah per ton

Keseimbangan pasar tercapai pada harga gabah Rp 500.000,00 /ton.
Sedangkan jumlah gabah yang tersedia 500,00 ton/ musim. Andaikan pemerintah
merasa bahwa jumlah gabah terlalu sedikit dan berniat menambahnya pada musim
tanam mendatang dengan menetapkan harga dasar gabah menjadi Rp. 600,000,00
/ton, akan terjadi kelebihan penawaran 500,000/ ton. Sebab penawaran naik
menjadi 700,000/ ton, sedangkan pemerintah turun menjadi 200,000 ton.
Keputusan ini merugikan konsumen dan produsen karena total surplus ekonomi
yang hilang (consumer surplus dan producer surplus) besarnya seluas segi tiga
B+C.

Agar harga gabah tetap pada tingkat Rp. 600.000.00/ ton. Pemerintah harus
membeli kelebihan penawaran tersebut. Pembelian pemerintah memperbesar
permintaan yang kita sebut saja permintaan pemerintah (Qdp). Akibatnya kurva
permintaan bergeser ke Qd2 yang besarnya merupakan Qd + Qdp. Besar anggaran
yang disediakan adalah 500,000 ton dikali dengan Rp. 600,000,00 sama dengan
Rp 300,000,000,000,00.

Kasus tenaga kerja di Cianjur

Qd = 20,000 – 6P ; Qs = - 5,000 + 4P

Dimana : Qd, Qs = jiwa per bulan

P = upah perhari

Keseimbangan pasar terjadi pada harga Rp 2,500,00/ hari. Kesempatan kerja yang
tersedia untuk 5,000 pekerja/ bulan. Jika pemerintah cianjur menilai uoah
keseimbangan itu terlalu rendah dan menetapkan upah minimum sebesar Rp.
3,000,00/hari, yang terjadi penganguran sebanyak 5000 orang/ bulan. Sebab
dengan upah tingkat tersebut jumlah yang ingin bekerja meningkat menjadi 7,000
orang / bulan. Sedangkan permintaan terhadap tenaga kerja menurun menjadi
2,000 orang/ bulan.

2. Harga Tertinggi (Ceiling price)

Harga tertinggi adalah batas maksimum harga penjualan oleh produsen. Di
Indonesia yang paling terkenal misalnya penetapan harga patokan setempat (HPS)
untuk semen. Tujuan penetapan harga tertinggi umumnya adalah agar
hargaproduk dapat terjangkau oleh konsumen yang daya belinya kurang. Namun
kebijakan ini tidak berdaya guna bila produsen memilikikekuatan oligopoly,
Apalagi monopoli. Seperti yang terjadi pada HPS semen yang terus – menerus
dilanggar produsen semen yang raksasa.
Kasus pasar Mie Instan di Indonesia
Qd = 20,000 – 5P; Qs = -5,000 + 20P
Dimana : Qd,Qs = ribu bungkus perbulan
P = harga perbungkus

Keseimbangan pasar terjadi pada tingkat harga mie instant Rp 1.000,00
per bungkus, dengan jumlah 15 juta bungkus per bulan. Kebalikan dari dua contoh
di atas, sekarang pemerintah merasa harga mie instan terlalu tinggi dan
menetapkan harga Rp 750,00 per bungkus. Kepeutusan ini menyebabkan
kelebihan permintaan sebesar 6.250.000 bungkus perbulan (16.250.000 –
10.000.000). secara ekonomis keputusan ini merugikan, karena terjadi kehilangan
surplus ekonomi (deadweight loss) sebesar luas segitiga A + B

3. Kuota

Selain dengan pembelian, pemerintah mempengaruhi tingkat harga dengan
melakukan kebijaksanaan Kuota (pembatasan produksi). Misalnya pemerintah
ingin menolong petani jagung dengan cara membatasi jumlah produksi (kuota)
untuk meningkatkan harga. Diagram 2.12 menunjukkan tanpa campur dengan
pemerintah keseimbangan pasar jagung terjadi di titik E1 dengan jumlah jagung Q0
dan harga P0.

Jika pemerintah ingin menjaga agar jagung minimal P1, untuk itu jumlah
produksi dibatasi hanya sampai Q1. Kurva penawaran jagung yang relevan adalah
S1 keputusan ini mengurangi surpluskonsumen sebesar A+B. produsen mengalami
kehilangan surplus seluas C, tetapi memperoleh tambahan surplus seluas A di
tambah insentif tidak memproduksi, seluas D. agar produsen mau mengurangi
produksinya sampai tingkat Q1 maka insentif finasial yang harus diberikan
setidak-tidaknya seluas B+C+D.

b. Pajak dan Subsidi

1. Pajak

Dilihat dari satu sisi, pajak memberatkan karena membuat harga barang
menjadi lebih mahal. Namun disisi lain, pajak dibutuhkan sebagai sumber
penerimaan Negara untuk membiyai fungsi-fungsinya, khususnya retribusi
pendapatan dan sebagai alat stabilitas ekonomi hanya saja keputusan penentuan
pajak harus mempertimbangkan elastisitas permintaan dan penawaran. Jika tidak
tujuan-tujuan yang ditargetkan tidak tercapai.
Diagram 2.13 adalah contoh yang menjelaskan pengaruh pajak terhadap
keseimbangan pasar.

Pemerintah bermaksud menarik pajak dari pasar sepeda motor, dengan
membebankan pajak sebesar T per unit (Diagram 2.13). Pajak itu dibebankan
kepada produsen. Pengenaan pajak menyebabkan kurva penawaran bergeser dari
S0 ke S1, sehingga harga keseimbangan menjadi Q1. Kebijakan ini sebenarnya
menyebabkan konsumen sebanyak A+B. sedangkan produsen kehilangan
surplus produsen sebanyak D+C sama dengan 0Q1 x (P1 – p2). Sepintas
pemerintah tampaknya senang dengan pemerintah itu tetapi konsumen dirugikan
karena beban pajak yang seharusnya di tanggung produsen, sebagai A oleh
konsumen. Ini disebut pergeseran beban pajak besar beban pajak sangat
tergantung pada elastisitas permintaan dan penawaran.

2. Subsidi

Subsisdi dapat dipandang sebagai pajak negative (negative tax), karena subsidi
menambah pendapatan nyata. Sebagaimana halnya pajak, manfaat pemberian
subsidi terbagi-bagi antara produsen dan konsumen, tergantung elstisitas
permintaan dan penawaran.

Kasus Pasar Susu Bayi Di Jakarta

Diagram 2.14 menggambarkan keseimbangan pasar susu bayi di Jakarta. Agar
makin banyak keluarga yang mampu membeli susu ke P1. Dengan harga setingkat
P1 permintaan meningkat menjadi Q1, sementara penawaran berkurang menjadi Q2.
Sadar bila menempuh kebijakan harga tertinggi akan menimbulkan deadweight
Loss, pemerintah menempuh kebijakan subsidi (negative tax). Besarnya subsidi
yang diberikan adalah 0Q1(P1-P2). Bila subsidi diberikan kepada konsumen, akan
menggeser kurva permintaan ke D1, sehingga keseimbangan baru terjadi dititik E2
bila subsidi diberikan kepada produsen, akan menggeser kurva penawaran ke S1.
Keseimbangan baru terjadi di titik E1.

c. Tarif dan Kuota

Dalam system perekonomian yang terbuka (melakukan transaksi dengan
perekonomian luar), maka harga barang yang berlaku adalah harga internasional.
Yang menjadi persoalan adalah bila harga domestic lebih tinggi daripada harga dunia.
Sebab dengan mekanisme pasar bebas, terpaksa dilakukan impor untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri. Walaupun dari sudut konsumen hal ini menguntungkan,
tetapi demi melindungi industry dalam negeri, pemerintah menempuh kebijakan
protektif dengan memberlakukan tariff (pajak impor) dan kuota impor (pembatasan
jumlah impor).

Dengan harga internasional setingkat Pw, tingkat impor mencapai sejumlah Qd0-Qs0
unit. Untuk melindungi industry dalam negeri, pemerintah menetapkan tariff sebesar
T per unit impor. Harga dalam negeri meningkat menjadi P*, impor pun berkurang
menjadi Qd1-Qs1 unit. Bagi produsen domestic, kebijakan ini menambahkan
keuntungan mereka sebesar luas trapezium A. tetapi konsumen domestic mengalami
kerugian besar A+B+C+D. sedangkan D merupakan penerimaan pajak pemerintah.
Jika pemerintah memberlakukan kuota impor, D merupakan keuntungan yang
diperoleh produsen asing. Sehingga kerugian domestic neto adalah B+C+D.

Apendiks

Pengaruh pajak dan Subsidi Terhadap Keseimbangan Pasar (Parsial)

Pengaruh pajak terhadap keseimbangan pasar (parsial) sangat tergantung jenis
pajaknya, apakah pajak per unit dan atau persentase. Untuk mengetahui perbedaan dampak
tersebut kita susun model sederhana sebagai berikut :
Pasar berstruktur persaingan sempurna (uraian mengenai pasar persaingan sempurna di
jelaskan di bab VIII).
Permintaan : Q = 30 – 6P atau P = 5 – 1 / 5 Q
Penawaran : Q = -10 + 4P atau P = 1 / 4 Q + 2 ½
Keseimbangan awal (E0 pada diagram 2.16.a,b,c):
Permintaan = penawaran
30-6P = -10 + 4P
10P = 40
P = 4
Q = 30 – 6P
= 30 – 6(4)
= 6 unit

Keseimbangan awal tercapai pada saat jumlah out put adalah 6 unit, dengan harga jual 4
per unit.
1. Jika pemerintah menetapkan pajak penjualan kepada produsen sebesar 1 ¼ per unit.

Harga jual setelah pengenaan pajak (Pt) adalah harga jual mula-mula (P) ditambah
pajak per unit (1 ¼ per unit).
Pt = P + T

= (1/4 Q + 2 1/2) + ¼
= ¼ Q = 3 ¾
Atau ¼ Q = - 3 ¾ + P
Q = -15 + 4P
Keseimbangan baru (E1 pada diagram 2.16.a):
Permintaan = penawaran
30 – 6P = -15 + 4P
10P = 45
P = 4,5
Q = 30 – 6P
= 30 – 6(4,5)
= 3 unit

Besar pajak yang diterima pemerintah adalah jumlah output x pajak per unit, atau
Penerimaan pajak = 3 (1 ¼ = 3 3/4)

2. Jika pemerintah menetapkan pajak penjualan sebesar 20%.
Pengaruh terhadap sisi penawaran :
Pt = P(1+r), dimana r adalah persentase pajak
Pt = (1/4 Q + 21/2) x (1,2)
= (0,3 Q + 3), atau
0,3 Q = -3+P
Q = -10 + 3 1/3 P
Keseimbangan baru (E1 pada diagram 2.16.b):
Permintaan = penawaran
30 -6P = -10 + 3 1/3 P
9 1/3 P = 40
P = 120 = 4 2/7
28
Q = 30 – 6P
= 30 _ 6(4 2/7)
= 4 2/7 unit
Penerimaan pajak = 20% x (P x Q)
= 20% x (4 2/7 x 4 2/7)
= 3,7
3. Jika pemerintah menerapkan susidi besar 1 ¼ per unit yang diberikan kepada sisi
penawaran, maka penawaran setelah subsidi.
Ps = P + s = P + (-T)
= (1/4 Q + 2 1/2) + (-1 1/4)
= ¼ Q + 1 1/4
¼ Q = -1 ¼ + Ps
Q = -5 + 4P

Keseimbangan setelah subsidi (E1 pada diagram 2.16.c):
Permintaan = penawaran
30 – 6P = -5 + 4P
10P = 35
P = 3,5
Q = 30 – 6P
= 30 – 6(3,5)
= 9 unit
Keseimbangan pasar karena ada subsidi adalah :
Jumlah output = 9 unit, dengan harga jual 3,5 per unit.
Besar subsidi yang harus disediakan pemerintah adalah jumlah output (Q) dikalikan
subsidi per unit = 9x1 ¼ = 11 1/4 .

Rangkuman

Masalah ekonomi sama tuanya dengan usia peradabAN manusia. Tetapi ilmu
ekonomi baru muncul diabad 18, melalui buku Adam smith yang berjudul An inquiri into the
nature and causes of the weath nations yang kemudian dikenal sebagai the wealth of nations
(1776). Itulah sebabnya Adam Smith dihormati sebagai bapak ilmu ekonomi modern. Bukan
berarti sebelum masa itu tidak ada pemikir yang tertarik pada masalah ekonomi Plato, filsuf
yunani abad 4 SM dan Thomas Aquienas rohaniwan Kristen abad 13 M, adalah dua dari
beberapa pemikir yang mendahului adam Smith. Baik Plato maupun Aquinas mencoba
memecahkan masalah ekonomi dengan pendekatan moral dan teologis. Sedangkan adam
Smith melihatnya dari sudut rasionalitas.

Pemikiran Adam Smith dikembangkan antara lain oleh J. B. Say, Thomas Malthus
dan David Ricardo, terbentuklah pemikiran tentang pasar. Pasar dalam pengertian ilmu
ekonomi adalah pertemuan permintaan dan penawaran dan bersifat interaktif bukan fisik.
Mekanisme pasar adalah proses penentuan tingkat harga berdasarkan kekuatan permintaan
dan penawaran.

Permintaan adalah keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai tingkat
harga selama priode waktu tertentu. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi permintaan
adalah :

Harga barang itu sendiri
Harga barang lain yang terkait
Tingkat pendapatan perkapita
Selera atau kebiasaan
Jumlah penduduk
Perkiraan harga di masa mendatang
Distribusi pendapatan
Usaha-usaha produsen meningkatkan penjualan
Fungsi permintaan adalah permintaan yang dinyatakan dalam hubungan matematis
dengan factor-faktor yang mempengaruhinya. Skedul permintaan adalah daftar hubungan
antara hrga suatu barang dengan tingkat permintaan barang tersebut. Perubahan permintaan
terjadi karena dua sebab, yaitu : pertama, perubahan harga menyebabkan perubahan jumlah
barang yang diminta tetapi perubahan itu hanya terjadi dalam satu kurva yang sama, ini yang
disebut pergerakan permintaan sepanjang kurva permintaan. Kedua, perubahan ceteris
paribus yaitu pendapatan, maka akan terjadi pergeseran kurva permintaan (shifting).

PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIK

Teori persaingan monopolistik (monopolistic competition) dikembangkan karena tidak
kepuasan terhadap daya analiss model persaingan sempurna (perfect competition) maupun monopoli
(monopoly). Ekonom yang pertama kali mengejukan ketidakpuasan terhadap dua model di atas adalah
Peirro Srafa (universitas Cambridge), kemudian diikuti oleh Hotelling dan Zeuthen. Pada akhir
dasawarsa 1920-an dan awal dasawarsa 1930-an model persaingan monopolistik dikembangkan
secara intensif terutama oleh Joan Robinson (ekonom inggris) dan Eward Chamber lain (ekonom
Ame-rika serikat.

Struktur pasar persaingan monopolistik hampir sama dengan persaingan sempurna. Didalam
industri terdapat banyak perusahaan yang bebas keluar masuk. Namun produk yang dihasilkan tidak
homogen, melainkan terdiferensiasi ( differentiated product ). Namun perbedaan barang antara satu
produk (merek) dengan produk ( merek) yang lain ti9dak terlalu besar. Diferensiasi ini mendorong
perusahaan untuk melakukan persaingan non harga. Walaupun demikian output yang di hasilkan
sangat mungkin saling menjadi substitusi. Perusahaan memiliki kemampuan monopoli yang relatif
terbatas.

1. Karakteristik Pasar Persaingan Monopolistik

Tiga asumsi dasar persaingan monopolistik adalah :

- Produk yang terdiferensiasi (differentiated product)
- Jumlah perusahaan banyak dalam industri (large number of firms)
- Bebas masuk keluar pasar (free entry and exit)

a. Produk yang terdiferensiasi (Differentiated product)

yang dimaksud dengan produk terdiferensiasi adalah produk dapat dibedakan oleh
konsumen dengan melihat siapa produsenya. Jika dalam persaingan sempurna konsumen
membeli barang tanpa perlu membedakan siapa produsen, dalam persaingan monopolistik
yang menjadi pertimbangan adalah siapa produsenya. Barang-barang tersebudapat
diperbedakan oleh kualitas barangnya,model,bentuk,warna, bahkan oleh kemasan, merek dan
pelayanannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu memiliki pilihan yang tetap untuk produk-
produk sabun mandi,pakaian jadi, sepatu, dan lain-lain. Seorang gadis yang biasa

menggunakan sabun mandi bermerek “sutera”, sulit untuk pindah kemerek lain.dia dapat

membedakan produk sabun kesukaanya dari produk perusahaan yang lain. Hal ini
menyebabkan perusahaan memeliki daya monopoli, walau terbatas.

Namun demikian di antara produk-produk tersebut sebenarnya dapat saling menjadi
subtitusi. Misalnya (sedang berada di desa), sabun mandi merek kesayangan tidak ada, maka
merek lain dapat menggantikan tanpa menimbulkan dampak negatif secara teknis (kesehatan
terganggu). Karena itu, permintaan tersebut sangat elastis (highly elastic demmand). Elastitas
permintaan pasar persaingan monopolistik berada di antara pasar persaingan sempurna dan
monopoli, seperti di gambarkan dalam diagram 10.1 di bawah ini.

Diagram 10.1
Kurva permintaan perusahaan
Dalam pasar persaingan monopolistik

Rp

D persaingan sempurna

D perusahaan persaingan monopolistic

D monopoli = D industri

KuantitaS

b. Jumlah Produsen Banyak Dalam Industri (large number of firms)
jumlah perusahaan (produsen) dalam pasar persaingan monopolistik banyak.
Diinfdonesia dapat di lihat dari begitu banyaknya merek pakaian, dan sepatu.
Banyaknya perusahaan menyebabkan keputusan perusahaan tentang harga dan output
tidak perlu harus memperhitungkan reaksi perusahaan lain dalam industri (independence
decision of price and output), karena setiap perusahaan menghadapi kurva permintaan
masing-masing.

c. Bebas Masuk Dan Keluar (Free Entry and Exit)
laba supernoval yang dinikmati perusahaan (Existing firm) mengundang perusahaan
pendatang perusahaan pendatang untuk memasuki industri. Jika mereka mampu bertahan,
dalam jangka panjang dapat mengalahkan perusahaan yang lain, tetapi jika kalah mereka
harus keluar, agar kerugian tidak menjadi lebih besar. Sama halnya dalam pasar persaingan
sempurna, dalam pasr persaingan monopolistik proses masuk keluar akan terhenti bila semua
perusahaan hanya memperoleh laba normal.

2. Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Pendek

Perusahaan mencapai keseimbangan dalam jangka pendek dan panjang . dalam jangka
pendek pereusahaan dapat menikmati laba supernoval. Dalam jang panjang perusahaan hanya
menikmati laba normal.

Keseimbangan jangka pendek perusahaan tercapai bila MR = MC. Karena daya
monopoli, walau terbatas, kondisi keseimbangan perusahaan yang bergerak dalam pasar
persaingan monopolistik sama dengan perusahaan yang bergerak dalam pasar monopoli (Diagram
10.2).

Diagram 10.2 menunjukkan perusahaan mencapai laba maksimum pada saat MR = MC dan
titik E. sama halnya dengan perusahaan monopolis. Harga jual beli besar dari biaya marjinal (P >
MC). Tetapi kemampuan eksploitasi laba relatif terbatas, karena kurva permintaan yang di hadapi
sangat landai. Laba supernoval yang di nikmati perusahaan sebesar laus segi empat APBC, di
mana harga P0’ dan jumlah output yang di produksi Q*.

3. Pasar Persaingan Monolpolistik Dan Efisiensi Ekonomi

Laba supernoval yang dinikmati perusahaan (Diagram 10.2) mengundang perusahaan
pendatang memasuki industri. Masuknya pendatang memberikan dua kemungkinan terhadap
p[ermintaan perusahaan lama. Yang pertama, pelanggan makin setia, secara grafis terlihat dari
kurva permintaan jangka panjang lebih curam dari jangka pendek, (Diagram 10.3.a). Atau
pelanggan makin bersifat memilih, di mana permintaan jangka panjang menjadi lebih landai di
banding jangka pendek ( Diagram 10.3.b). bagaimanapun pengaruhnya, perusahaan hanya akan
dapat bertahan dalam jangka panjang jika mampu menikmaTI Laba normal, pada saat harga jual
sama dengan biaya rata-rata (P = AC). Dalam diagram 10.3 keseimbangan tersebut terjadi di titik
A (Diagram 10.3.a) atau B (Diagram 10.3.b).

4. Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Panjang

Di bandingkan dengan pasar monopoli, persaingan monopolistik masih lebih baik dilihat
dari lebih kecilnya total kesejahteraan yang hilang (dead weight loss). Namun tetap kurang
efisien di banding passar persaingan sempurna. Ada dua penyebab mengapa pasar persaingan
monopolistik tidak dapat lebih efisien di banding pasar persaingan sempurna.

a. Harga Jual Masih Lebih Besar Dari Biaya Marjinal (P>MC)

Karena memiliki daya monopoli, perusahaan dalam pasar persaingan monopolistik
mampu membebankan harga jual yanbg lebih tinggi dari biaya marjinal (P > MC). Namun
demikian Karena mkurva permintaan yang di hadapi sangatg elastis, maka selisih harga dan
biaya marjinal tidak sebesar biaya monopolis.

b. Kapasitas Berlebih (Ecess capacity)
Telah di nyatakan, karena bebasnya perusahaan untuk keluar dan masuk, dalam
jangka panjang perusahaan yang beroperasi dalam pasar persaingan monopolistik hanya
menikmati laba normal. Keadaan tersebut kita gambarkan kembali dalam bentuk diagram
10.4 di bawah ini.

Pada saat berada dalam keseimbangan jangka panjang (titik A), perusahaan
sebenarnya tidak berproduksi pada tingkat yang paling efesien, sebab titik A bukan titik
terendah pada kurva biaya rata-rata (AC). Jika perusahaan ingin memperoduksi pada AC yang
paling rendah, output harus ditambah sampai sejumlah Qb.tetapi jika output melebihi Qa
(output keseimbangan), penambahan output hanya menurungkan laba (bahkan merugi)
karena penerimaan marjinal Lebih kecil dari biaya marjinal (MR dalam jangka panjang perusahaan yang bergerak dalam pasar persaingan monopolistik akan
mengalami kelebihan kapalitas produksi (excess capacity).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->