P. 1
TEORI EKONOMI Mikro

TEORI EKONOMI Mikro

5.0

|Views: 11,116|Likes:
Published by Achas

More info:

Published by: Achas on May 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2015

original

Sections

Ketdakefesienan yang dihasilkan perusahaan yang beroperasi dalam pasar persaingan
monopolistik menimbulkan pertanyaan, apakah perlu pengaturan? Jawabannya adalah tidak! Hal
ini berlandaskan tiga argumen:

a. Daya monopoliyang realatif kecil menyebabkan kesejahteraan yang hilang (dead weight loss)
realtif kecil.
b. Permintaan yang sangat elastis menyebabkan kelebihan kapasitas produksi realatif kecil.

c. Ketidakefisienan yang dihasilkan perusahaan yang beroperasi dalam pasar persaingan
monopolistik diimbang dengan kenikmatan konsumen karena beragamnya produk,
peningkatan kualitas dan meningkatnya kebebasan konsumen dalam memilih output

Rangkuman

Tiga Asumsi Dasar Persaingan Monopolistik
Produk yang terdiferensiasi (differentiated produk)
Jumlah perusahaan banyak dalam (industry large number off firms)
Bebas masuk dan keluar pasar (free antry and exit)
Perusahaan mencapai dalam jangka pendek dimana perusahaan dapat menikmati laba
super normal. Dalam jangka panjang perusahaan hanya menikmati laba normal. Laba super
normal yang dinikmati perusahaan mengundang perusahaan pendatang memasuki industry
yang memberika dua kemungkinan terhadap perusahaan lama, yang pertama pelanggan makin
setia yang kedua pelanggan makin bersifat memilih.
Ada dua penyebab mengapa pasar persaingan monopolistic tidak dapat lebih efesien
disbanding pasar persaingan sempurna :
a. Harga jual masih levbih besar dari biaya merjinal (P > NC)
b. Kapasitas berlebihan (exess capacity)
Ketidak efesienan yang dihasilkan perusahaan yang beroperasi dalam pasar
persaingan monopolistic menimbulkan pertanyaan, apakah perlu pengaturan ? tidak. Hal ini
berlandaskan tiga argument :

Daya monopoli yang relative kecil menyebabkan kesejahteraan yang hilang
(deat weight loss) relative kecil.
Permintaan yang sangat elastic menyebabkan kelebihan kapasitas produksi
relative kecil.
Ketidak efesienan yang dihasilkan perusahaan yang beroperasi dalam
persaingan monopolistic diimbangi dengan kenikmatan konsumen karena
beragamnya produk, peningkatan kualitas dan meningkatnya kebebasan
konsumen dalam memilih output.

PASAR OLIGOPOLI

Struktur pasar atau olipogoli (oligopoli) adalah pasar (industri) yang terdiri dari hanya
sedikit perusahaan (produsen). Setiap perusahan memioliki kekuatan (cukup) besar untuk
mempengaruhi harga pasar. Produk dapat homogeny atau terdiferensi. Perilaku setiap
perusahaan akan mempengaruhi perilaku perusahaan lainya dalam industry. Dari definisi
diatas, kondisi pasar oligopoly mendekati kondisi pasar monopoli.

Para ekonom umumnya hanya berbicara tentang empat bentuk pasar utama:
persaingan sempurna, momopoli, persaingan monopolistic dan oligopoly. Dalam semuah
bentuk pasar itu para penjual memperhatikan respon pembeli,tetapi dalam oligopoly para
penjual juga memperhatikan respin lawan – lawanya. Didalam ketiga pasar yang disebut
terdahulu, kurva – kurva permintaanya diturunkan dari data tentang konsumen. Tapi dalam
oligopoly hal itu belum cukup. Seorang oligopolies memperkirakan permintaan juga
tergantung pada reaksi apa yang akan dialkukan lawan – lawanya terhadap perubahan harga
yang diambil. Ini memang sulit diramalkan, tetapi penting bagi kita untuk bias membuat
kurva permintaanya.

1. Karekteristik pasar oligopoly

Dari definisi diatas kita dapat melihat beberapa unsure penting (karakter) pasar oligopoly
Hanya sedikit perusahaan dal;am industry (few number of firms)
Produknya homogeny atau terdiferensi (homogeny or differentiated produc)
Pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi (interdependence decisions)
Kompetisi nonharga (non pricing competition)

a. Hanya Sedikit Perusahaan Dalam Industri (Few Number of Firms
Secara teoritis sulit sekali untuk menetapkan berapa jumlah perusahaan
didalam pasar, agar dapat dikatakan oligopoly. Namun un tuk dasar analisis, biasanya
jumlah perusahaan diasumsikan kurang dari sepuluh/ Dalam kasusu tertentu hanya
terdapat dua perusahaan (duopoly). Kekuatan perusahan – perusahaan dalam industry
dapat diukur dengan menghitung rasio konsentrasi (concentration ratio). Rasio
konsentrasi menghitung berapa persen output dalam pasar oligopoly dikuasai oleh
perusahaan – perusahaan yang dominan (empat sampai delapan perusahaan). Jika
rasio konsetrasi empat perusahaan (four firms concentration ratio atau CR4) adalah 60
%, berarti 60% output dalam indutri dikuasai dalam empat perusahaan terbesar. CR4
yang semakin kecil mencerminkan struktur pasar yang semakin bersaing sempurna.
Pasar suatu industry dinyatakan berstruktur oligopolistic apabila CR4 melebihi 40%.
Kita bias juga mewngukur derajat konsenyrasi delapan perusahaan (CR8) atau
jumlah lainya. Jika CR8 80%, berarti 80% penjualan output dalam industry diuasai
oleh delapan perusahaan terbesar.

Berdasarkan criteria CR4, struktur pasar sector industry di Indonesia pada
umumnya oligopoly, sebagaimana ditunjukkan oleh table, sebagai berikut

Tabel 11.1

CR4 Sektor Industri Indonesia, Tahun 1985, 1990 & 1993

No.

Kelompok Industri

1985

1990

1993

1
2
3
4

5

6

7
8
9

Industri makanan, minuman dan tembakau
Industri tekstil, pakaian jadi dan kulit
Indutri kayu dan barabg – barang dari kayu
Industri kertas, barang – barang dari kertas percetakan dan
penerbitan
Industri kima, dan barang – barang dari bahan
kimia, minyak bumi, batu bara, karet dan plastik
Industri barang galian bukan logam, kecuali minyak bumi,
dan batu bara
Industri logam dasar
Industri barang dari logam, mesin dan peralatannya
Industri pengolahan lainya

58
26
17
47

47

62

66
53
69

61
22
17
63

44

54

57
54
55

67
26
17
56

47

55

55
60
69

Rata – rata sektor industry

49

47

50

b. Produk Homogen atau Terdiferensiasi (homogen or differentiated produck)
Dilihat dari sifat output yang dihasilkan, pasar oligopoly merupakan peralihan
antara persaingan sempurnah dengan monopoli. Perbedaan sifat output yang
dihasilkan akan mempengerahui perilaku perusahaan dalam upaya mencapai kondisi
optimal (laba maksimum). Jika dalam pasar persaingan sempurna perusahaan
mengatur jumlah output (output strategy) untuk mengatur tingkat laba, dalam pasar
monopoli hanya satu perusahaan yang mampu mengendalikan harga dan output, maka
dalam pasar pasar oligopoly bentuk persaingan atau perusahaan adalah persaingan
harga (pricing strategy) dan non harga ( (non pricing strategy), contoh pasar oligopoly
yang menghasilkan produk diferensiasi adalah industry mobil, rokok, film kamera.
Sedangkan yang menghasilkan produk homogeny adalah industry baja, pipa peralon,
seng dan kertas.

Penggolongan ini mempunyai arti penting dalam menganalisis pasar yang
oligopolistic. Semakin besar tingkat diferensiasinya, perusahan makin tidak
tergantung pada kegiatan perusahaan – perusahaan lainya. Berarti oligopoly dengan
produk diferensiasi dapat lebih muda memprediksi reaksi – reaksi dari perusahaan –
perusahaan lawan.

Diluar unsure modal, rintangan untuk masuk kedalam industry oligopoly yang
menghasilkan produk homogeny lebig sedikit, karena pada industri dengan produk
diferensiasi sangat berkaitan dengan loyalitas konsumen terhadap produk (merek)
tertentu.

c. Pengambilan Keputusan Yang Saling Mempengaruhi (Interdependence Decisions)
Keputusan perusahaan dalam menentukan harga dan jumlah output akan
mempengaruhi perusahaan lainya, baik yang sudah ada (exiting firms) maupun yang
masih diluar industry (potential firms). Karenanya guna menahan perusahaan
potensial untuk masuk industry, perusahaan yang sudah ada menempuh strategi
menetapkan harga jual terbatas (lkimitinh prices), yang membuat perusahaan
menikmati laba super normal dibawah tingkat maksimum.

d. Komprtiso Non Harga (Non Pricing Cempotition)

Dalam upayanya mencapai kondisi optimal, perusahaan tidak hanya bersaing
dalam harga,namun juga non harga (non pricing competition). Bentuk – bentuk
kompetisi non harga antara lain adalah pelayanan purna jual serat iklan untuk
memberikan informasi, membentuk citra yang baik terhadap perusahaan dan merek ,
serta mempengaruhi perilaku konsumen. Keputusan investasi yang akurat diperlukan
agar perusahaan dapat berjalan dengan tingkat efesiensi yang sangat tinggi. Tidak
tertutup kemungkinan perusahaan melakuikan kegiatan intelijen indistri untuk
memperoleh informasi (mengetahui) keadaan, kekuatan dan kelemahan pesaing nyata
maupun potensial. Informasi – informasi ini sangat penting agar perusahaan dapat
memperediksi reaksi pesaing terhadap setiap keputusan yang diambil.

2. Faktor – Faktor Penyebab Terbentuknya Pasar Iligopoli

Ada dua factor penting penyebab terbentuknya pasar oligopoly:
a. Efisiensi Skala Besar

Dalam dunia nyata, perusahaan – perusahaan yang bergerak dalam industry
mobi, semen, kertas, pupuk, dan peralatan mesin, umumnya berstruktur oligopoly.
Teknologi padat modal ( capital intensive ) yang dibutuhkan dalam proses produksi
menyebabkan efisiensi (biaya rata – rata minimum) baru tercapai bila output
diproduksi dalam skala sangat besar. Dalam industry mobil, untuk satu jenis mobil,
skala efesiensi baru tercapai jika produksi mobil minimal 50,000 sampai 100,000 unit
pertahun. Jika perusahaan memproduksi 3 jenis mobil saja, output minimal
seluruhnya antara 200.000 – 300.000 unit pertahun. Selanjutnya bila biaya produksi
per mobil puluhan juta rupiah, dana yang dibutuhkan untuk memproduksi ratusan
miliar rupiah per tahun. Jika dihitung dengan biaya investasi awal, maka perusahaan
yang ingin memasuki industry mobil harus menyiapkan dana triliunan rupiah.
Keadaan diatas merupakan hambatan unutk masuk (barriers to entry) bagi
perusahaan – perusahaan penting. Tidak mengherankan jika dalam pasar oligopoly
hanya terdapat sedikit produsen.

b. Kompleksitas Manajemen.

Berbeda dengan tiga struktur pasar lainya (persaingan sempurna, monopoli,
dan persaingan monopolistic), struktur pasar oligopoly ditandai dengan kompetisi
harga dan non harga. Perusahaan juga harus cermat memperhitungkan setiap
keputusan agar tidak menimbulkan reaksi yang merugikan dari perusahaan pesaing.

Karena itu dalam industry oligopoly, kemampuan keuagan yang besar saja tidak
cukup sebagai modal untuk bertahan dalam industry. Perusahaan juga harus
mempunyai kemampuan manejemen yang sangat baik agar mampu bertahan dalam
struktur industry yang pesaingnya begitu kompleks. Tidak banyak perusahaan yang
memiliki kemampuan tersebut, sehingga dalam pasar oligopoly akhirnya terdapat
sedikit produsen.

3. Keseimbangan Oligopolis

Perusahaan yang bergerak dalam pasar oligopoly disebut oligopolies
(oligopolist). Sebagai produsen, keseimbangan terjadi bila laba maksimum tercapai.
Analisis keseimbangan oligopoly tidak menekankan dimensi waktu, melainkan kompetisi.
Perusahaan seimbang atau tidak bukan saja dilihat dari kemam[puan mengatur output dan
harga, tetapi juga kemampuan memprediksi perilaku pesaing. Karena itu ologopolis akan
mencapai keseimbangan jika perusahaan dapat melakukan apa yang dapat dilakukan dan
tidak mempunyai alas an lagi untuk mengubah jumlah output dan harga. Demikian juga
dengan para pesaing.

Begitu kompleksnya situasi dalam pasar oligopoly, sehingga para ekonom
mengembangkan berbagai model untuk menganalisis perilaku oligopolies. Sayangnya ,
tidak ada satupun model yang diterima secara umum sebagai model terbaik. Dalam bab
ini hanya akan dibahas model permintaan patah (kinked demand model) dan model
kepemimpinan harga (price leadership model).
a. Model Permintaan yang Patah (kinked Demand Model)
Model ini dikembangkan oleh P.M. sweezy (1939). Dua pemikiran penting
yang dilontarkan sweezy adalah harga dalam pasar oligopoly bersifat kaku
(infleksible) dan oligopolies mengambil keputusan berdasarkan sikap (scenario)
pesimis (pessimistic way). Permintaan sangat elastis bila harga dianaikkan dan
inelastic bila harga diturunkan.
Konsekuensi dari pemikiran tersebut adalah perusahaan menhadapi dua
scenario permintaan. Scenario pertama, sebut saj D1 adalah permintaan dengan
asumsi pesaing tidak beraksi terhadap strategi perusahaan. Permintaan ini sangat
elastis. Permintaan kedua (D2) adalah jika pesaing bereaksi terhadap strategi
perusahaan. Permintaan ini tidak elastic, seperti gambar diagram dibawah ini

Kurva yang relavan bagi perusahaan adalah ABD2 (garis tidak putus – putus).
Sampai batas harga P1, kurva permintaan yang relevan adalah AB, karena jika
perusahaan menetapkan harga diatas P1, pesaing tidak bereaksi. Akibatnya bila
oligopolies menetapkan kenaikan harga, misalnya, 10% (P3), ia akan kehilangan
permintaan lebih besar dari 10% (Q1 – Q3). Hal ini karena para oligopolies
menetapkan harga dibawah P1, misalnya P2, pesaing bereaksi. Kurva permintaan
yang relevan adalah BD2. Bila oligopolies menurunkan harga sebesar 10%, tambahan
permintaan yang diperoleh lebih sedikit dari 10%, karena perusahaan – perusahaan
lainya ikut menurunkan harga (beraksi). Mereka tidak mau konsumenya berpindah
keperusahaan yang tadi menurunkan harga. Kurva penerimaan marjinal (MR) yang
relevan bagi perusahaan adalah ACDE. Harga keseimbangan pasar adalah P1.

Pada diagram 11.2, oligopolies berada dalam keseimbangan pada saat MR =
MC (titik D) dengan jumlah output Q1. Tetapi perubahan struktur biaya (perubahan
MC) tidak otomatis mempengaruhi harga jual, sebab dapat menimbulkan reaksi
pesaing. Jika MC bergeser diantara MC1 sampai MC2 harga tidak berubah.
Oligopolies juga tidak akan mengubah jumlah output, sebab sangat merugikan.
Misalnya output dinaikkan ke Q2, pesaing akan bereaksi karena kurva MR yang
relevan adalah ACDE. Akibatnya laba menurun karena MR < MC. Jika oligopolies
mengurangi output ke Q3 (harga lebih tinggi dari P1), pesaing tidak bereaksi, sehigga
hal ini merugikan, sebab pada produksi Q3, MR > MC, dan laba yang diperoleh
berkurang .

b. Model Kepemimpinan Harga (price leadership model)

dalam model ini perusahaan yang dominan mengambil inisiaif dalam
penentuan harga .Tujuannya adalah untuk meningkatkan laba dengan membentuk
kolusi secara impliasit (implicit collusion). Dikatakan kolusi karena perusahaan
dominan berharap perusahaan lain mengikuti langkahtersebut. Dikatakan implicit
karena kolusi tidak berdasarkan perjanjian formal.produsen dominan memberikan

sinyal harga (price signaling), misalnya dengan memgunakan media massa (konfrensi
pers)produsen dominan memiliki posisi penentu harga (price setter),perusahaan yang
lain sebagai penerima harga (price taker) diagram 11.3 menggamgarkan sebagai
secara grafis. Di Indonesia , semen Tiga Roda (indocoment),dan film fuji adalah
contoh price leader dalam pasar yang oligopolistic.

Permintaan pasar adalah Dm yang merupakan permintaaan total yang di
hadapi setiap perusahaan dalam pasar, pada saat harga P1,perusahaan dominan tidak
berproduksi . Bila harga di bawah P2,permintaan perusahaan dominan identik dengan
permintaan industry , karena permintaan terhadap perusahaan lain nya sudah tidak ada
(nol).struktur penawaran industry di gambar kan kurva Sm yang merupakan
penjumlahan biaya marjinal seluruh perusahaan dalam industry .sedangkan
permintaan perusahaan dominan adalah Dddengan sruktur penawaran Sd. Untuk
mencapai laba maksimum perusahaan dominan menyamakan MR dan MC, sehingga
mejual seharga Pd dengan output sejumlah Qd.

Karena posisi nya hanya sebagai penerima harga , perusahaan- perusahaan lain
menetapkan jumlah produksi berdasar yang di tetapkan perusahaan dominan (Pd)
dengan harga jual Pd per unit, jumlah output yang memhasilkan laba maksimum
adalah Qs, pada saat =Sm. Jumlah output yang di produksi industry adalah
Qm=Qs+Qd.

Seandainay kolusi ekspisit (explicit collusion) diijinkan,produsen menentukan
kerja sama foremal yang disebut kartel (cartel). Seperti yang di lakukan oleh Negara-
negara penghasil minyak bumi dalam kartel OPEC pembentukan kartel menyebabkan
produsen yang bergabung memiliki posisi olipologi dominan (dominant oliopolist)
dan dapat m,engambil inisiatif penentu harga.alat analisis perilaku perusahaan
dominan (price leadership modal ).untuk mencapai hasil maksimal, dua sayrat di
penuhi kartel ,yaitu memiliki pontensi monopolis(permintaan inelastic )

C. Price leadership dan kinked demand curve

Dalam pembicaraan mengenai oligopoli dijelaskan tentang teori kurva
permintaan yang patah(kinked demand curve) dasri reaksi lawan. Seperti telah
disinggung, hal itu didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan perusahaan lawan akan
mempunyai kecenderungan untuk mengikuti penurunan harga dari perusahaan yang
oligolopolistik, tapi tidak akan mengikuti bila harga dinaikkan. Sedangkan price
leadership merupakan keadaan dimana perusahaan perusahaan akan mengikuti
pemimpinya, baik untuk harga naik maupun harga turun. Dengan demikian teori
kinked demand curve tidaklah relevan dengan price leadership. Kinked demand curve
hanay berlaku bagi penurunan harga. Apabila harga naik maka perusahaan perusahaan
lain akan mengikuti sebagaimana terjadi apabila harga turun, maka hal itu akan

menghapuskan “patah”nya kurva permintaan dan dengan demikian teori kinked

demand curve tidak ada.

4. Duopoli

Duopoli (duopoly) adalah keadaan khusus dimana dalam pasar oligopoli hanya ada
dua perusahaan. Model inidikembangkan untuk melihat lebih tajam interaksi anatar
perusahaan dalam pasar oligopoli.
a. Model cournot (cournot model)

Model ini dikembangkan augustin cournot (ekonom prancis) tahun 1938.
Dasar pengembangan model ini adalah keseimbangan duopolies tercapai bila biaya
marjinal adalah nol (MC=0). Dengan pembuktian otomtis , duoopolis ( apabila msing-
masing )perusahaan tidak saling bririnteraksi)akan mencapai interaksi keseinmbngn
bila output masing-masing perusahaan adalah separuhjumlah permintaan pada saat
harga P=0, Seperti diagram berikut

Masing-masing duopolies (perusahaan yang beroperasi dalam pasar
duopoly)mempunyai daya monopoli yang sama. Keputusan jumlah output yang di
produksi duopolies berdasarkan asumsi bahwa output duopolies yang satu
(saingannya) sudah di putuskan dan tidak akan berubah.
Misalkan permintaan pasar adalah:

Q = 30 – P ………………………………….….(11.1)

Atau

P = 30 – Q
Dimana: Q = Q1 + Q2

Maka penerimaan total duopolies yang pertama (TR1) dan kedua (TR2) adalah jumlah
output yang di jual di kalikan harga jual.
TR1

= P x Q1
= (30 - Q) x Q1 = {30 - (Q1+Q2) x Q1}
= 30Q1 – Q

-Q1-Q2…………………………………....(11.2)

Laba maksimum tercapai bila MR =0
MR = 30 - 2Q1 Q2 = 0…………………………………………(11.3)
Q1 = 15 - 1/2 Q2.......................................................................(11.4)

Persamaan (11.4) merupakan kurva reaksi Q1, karena menunjukkan besarnya
output yang di tetapkan duopolies pertama berdasarkan perkiraan output duopolies
kedua. Dengan cara yang sama kita dapat menurunkan kurva reaksi duopolies
kedua(Q2).

Q2 = 15 – 1/2 Q2...........................................................(11.5)

Kedua kurva reaksi dapat di gambarkan dalam diagram 11.4 berikut ini

Duopolis akan mencapai keseimbangan bila reaksinya sama (Q1=Q2). Dengan
penyelesaian matematika sederhana , keseimbangan akan tercapai pada saat
Q1=Q2=10 unit.jika P=30-Q, maka harga keseimbangan adalah 20. Keseimbagan ini
di sebut keseimbangan Cournot (Cournot equilibrium) atau titik Cournot (cournot
point). Dalam Diagram 11.4 keseimbangan courot terjadi di titik C

pada titik Cournot terjadi keseimbangan yang stabil, setiap gerakan menjauhi
titik itu akan di dorong untuk kembali ketitik keseimbangan , di mana masing-masing
menhasilkan 1/3 dari output total industry . modal ini dapat di kembangkan untuk
lebih dari dua perusahaan yang bersaing. Apabila terdapat n perusahaan dalam
industry , maka masing- masing perusahaan akan menghasilkan 1/(n+1) dari output
total industry , atau secara bersama-sama mereka menghasilkan sebanyak n/ (n+1)
dari output total industry

b. Model kepemimpinan Stackelberg (Stackelberg leadership model)
Model cornot di atas mengasumsikan bahwa keputusan dua perusahaan di
lakukan secara bersama.bagaimana jika perusahaan yang mengambil inisiatif terlebih
dahulu ? siapa yang lebih beruntung ? model stackelberg mencobe menjawab
pertaanyaan ini . jika kasus di atas di kembangkan dengan mengasumsikan bahwa
perusahaan pertama mengambil inisiatif , kemudian perusahaan kedua
mengikuti,maka:

P =30 Q, di mana kurva reaksi perusahaan kedua :Q2=15 -1/2 Q1 maka untuk
mencapai laba maksimum , fungsi penerimaan perusahaan pertama mempertitungkan
reaksi perusahaan kedua

TR1 = {30 - Q1 + Q2} . Q1

= 30Q1 - Q

- Q2 Q1

= 30Q1 - Q

- 15Q1 +

Q

= 15Q1 -

Q

……………………………………………………… (11.6)

MR1 =

= 15 – Q1 …………………………………….(11. 70)

Bila laba maksimum tercapai pada saat MR=0, maka perusahaan pertama
memproduksi sebanyak 15 unit. Sementara perusahaan kedua berdasarkan kurva
reaksinya (Q2=15 -1/2Q1) hanya memproduksi sebanyak 7,5 unit. Jadi menurut model
Stackelberg, perusahaan yang mengambil inisiatif penentuan harga akan memperoleh
laba di banding perusahaan yang hanya mengikuti (follower)

c. Modal Dilema Narapidana (Prisoners’ Dilemma model )

Model ini ingin menjelaskan bagaimana sikap seseorang mengambil
keputusan dalam keadaan tidak dapat di berkomunuikasi dengan teman atau
lawannya. Model di bangun berdasarkan cerita bahwa dua narapidana tertangkap
setelah bekerja sama dalam melakukan kejahatan.hal yang harus di lakukan adalah
apakah mereka harus mengakui kejahatannya di depan polisi pemeriksa, hasil pay off
yang di peroleh dari setiap keputusan di gambarkan dalam matriks berikut ini

Narapidana B

Narapidana A

mengaku

Tidak Mengaku

Mengaku
Tidak Mengaku

-5,-5
-10,-1

-1,10
-2,-2

Jika kedua narapidana mengambil keputusan mengaku , setiap orang akan di
penjara 5 tahun. Sebalinya jika sama- sama tidak mengaku masing-masing hanya akan
di penjarakan 2 tahun. Bila hanya satu yang mengaku,yang tidak mengaku akan di
penjara 10 tahun, yang mengaku hanya 1 tahun. Keputusan yang paling
menguntungkan adalah bila keduanya tidak mengaku, karena masing –masing hanya
di penjara selama2 tahun. Tetapi meraka tidak mempunyai kemampuaqn
berkomunikasi karena di tahan dalam dua ruangan yang terrpisa jauh. Khawatir
karena yang lain mengakui kesalahan, maka keduanya narapidana mengambil
keputusan untuk mengaku dan masing-masing menjalani hukuman penjara 5 tahun.
Modal dilemma narapidana dapat diadaptasi untuk menganalisis keputusan
masing- masing duopolies dalam menentukan harga jual. Misalnya perusahaan
otomatif A adalah pasangan duopolis perusahaan otomotif B. Mereka harus
mengambil keputusan tentang harga jual mobil mereka. Keputusan dan hasilnya
seperti dalam matriks di bawah ini.

Perusahaan Otomotif B

Perusahaan Otomotif B

Harga Mobil
Rp 125 Juta/unit

Harga Mobil
Rp 150 Juta/Unit

Harga Mobil Rp 125 Juta/Unit

Harga Mobil Rp 150 Juta/Unit

15.000, 15.000

5.000,30.000

30.000, 12.000

25.000, 25.000

Bila perusahaan A dan B masing- masing menetapkan harga Rp125 juta per
unit, setiap perusahaan akan menjual sebanyak 15.000 unit mobil. Bila sama-sama
menjual dengan harga Rp 150 juta per unit, masing- masing menjual sebanyak 25.000
unit mobil. Karena berbeda dalam keadaan dilemma seperti yang di hadapi narapidana
dalam contoh di atas, maka keputusan apapun yang di tempuh oleh perusahaan A,
perusahaan B memilih untuk menetapkan harga mobil Rp 125 juta per unit .
mengapa? Sebab dengan menetapkan harga sebesar Rp 125 juta per unit, perusahaan
B akan dapat menjual mobil minimal sama dengan jumlah penjualan perusahaan A
(15.000 unit) jika perusahaan A memutuskan harga sama. Tetapi jika perusahaan A
menetapkan harga lebih mahal, perusahaan B mampu menjual 30.000 unit.

Jika perusahaan B menetapkan harga Rp 150 juta per unit, kondisinya
berbahaya sebab perusahaan A dapat menjual mobil sebanyak 30.000 unit, sedangkan
perusahaan B hanya 5.000 unit seandainya perusahaan A menetapkan harga Rp 125
juta. Jika Anda adalah direktur perusahaann A atau B, apa yang Anda putuskan?

Rangkuman

Karakteristik pasar oligopoly mempunyai beberapa unsur penting yaitu :

Hanya sedikit perusahaan dalam industry (few number of firms)
Produknya homogeny atau terdiferensiasi (homogeny or diferentiatet produk)
Pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi (interdependence
decisions)
Kompetisi nonharga (non pricing kompetetion)

Ada dua factor penting penyebab terbwentuknya pasar oligopoly :

Efesiensi skala besar
Kompleksitas manajemen

Perusahaan yang bergerak dalam pasar oligopoly disebut oligopolies apabila.
Sebagai produsen kesimbangan terjadi bila laba maksimum tercapai. Begitu
kompleknya situasi pasar dalam oligopoly, sehingga para ekonom mengembangkan
berbagai model untuk menganilisis prilaku oligopoly.

Duopoly merupakan keadaan khusus dimana dalam pasar oligopoly hanya ada
dua perusahaan. Model ini dikembangkan untuk melihat lebih tajam interaksi antar
perusahaan dalam pasar oligopoly.

Model cournot

Model ini dikembangkan Augustin cournot (ekonom prancis) 1938.
Dasar pengembangan ini adalah keseimbangan duopolies tercapai bila
biaya marjinal adalah nol (MC = 0).
Model kepemimpinan stackelberg (stackelberg leadership model)
Jika dikembangkan dengan mengasumsikan bahwa perusahaan
pertama mengambil inisiatif kemudian perusahaan kedua mengikuti
maka untuk mencapai laba maksimum, fungsi penerimaan perusahaan
pertama memperhitungkan reaksi kedua.
Model dilema narapidana
Model ini menjelaskan bagaimana sikap seseorang mengambil
keputusan dalam keadaan tidak dapat berkomunikasi dengan teman
atau lawannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->