Terlepas dari kondisi makro perekonomian internasional, ada beberapa sebab penyebab kemiskinan (internal) seperti yang dipaparkan

oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat sebagai berikut. 1. Ketidakadilan memperoleh akses di bidang permodalan, pendidikan, kesehatan, pangan, dan infrastruktur serta peluang usaha dan peluang kerja yang berakibat kegagalan terhadap kepemilikan tanah dan modal. 2. Ketidakadilan pertumbuhan dalam strata ekonomi, antardaerah dan antarsektor. 3. Terbatasnya ketersediaan bahan kebutuhan dasar, sarana dan prasarana. 4. Kerentanan dan ketidakmampuan menghadapi goncangan karena krisis ekonomi, kegagalan panen, PHK, konflik sosial politik, korban kekerasan sosial dan rumah tangga, bencana alam, musibah. 5. Tidak adanya suara yang mewakili dan ketidakberdayaan di dalam institusi negara dan masyarakat karena tidak ada kepastian hukum, kebijakan publik yang tidak mendukung upaya penanggulangan kemiskinan serta rendahnya posisi tawar masyarakat miskin. 6. Kebijakan pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor. 7. Adanya perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat dan sistem yang kurang mendukung. 8. Adanya perbedaan sumber daya manusia dan perbedaan antar sektor ekonomi tradisional versus ekonomi modern. 9. Rendahnya produktivitas dan tingkat pembentukan modal dalam masyarakat. 10. Budaya hidup dikaitkan dengan kemampuan seseorang mengelola sumberdaya alam dan lingkungannya. 11. Tidak terselenggaranya pemerintahan yang bersih dan baik (good government). 12. Pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan Dari 12 catatan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. Pada dasarnya kemiskinan di Indonesia bukan persoalan bahwa negara ini tidak memiliki potensi untuk menjadi negara dan masyarakat yang makmur, tetapi lebih pada masalah kebijakan, sistem, mekanisme, metode, dan praksis-praksis yang tidak jalan, tidak sesuai (tidak pas) pada tingkat pelaksanaan dan sosialisasi di dalam

anak terlantar sebanyak 3. Jumlah balita kurang gizi sebesar 10. Berdasarkan BPS jumlah penduduk miskin sebesar 38. 4.20% dari jumlah penduduk.10% dari jumlah penduduk usia 15 tahun keatas (sekitar 40 juta orang) (Paparan Menko Kesra: 2003) Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa perspektif yang dipakai dalam melihat kemiskinan lebih sebagai problem-problem fisik dan angka-angka pada tingkat makro. Sistesis dari proses kemiskinan tersebut tentu saja memerlukan pengelolaan yang mencoba mempertimbangkan berbagai hal yang paling sesuai dengan jenis dan karakter kemiskinan yang dihadapi dalam setiap lokal-lokal atau kelompok-kelompok masyarakat. 5. 6.45 tahun dan perempuan 67. kajian-kaijian ataupun berbagai program pengentasan kemiskinan sangat mungkin memerlukan satu eksplorasi yang lebih mendalam berkaitan dengan karakter dan ciri-ciri kemiskinan sehingga berbagai program tersebut menjadi lebih realistis dan dapat dijalankan dengan baik.96%. terdapat sejumlah problem lain pada tingkat masyarakat itu sendiri. apa saja kendala-kendala di . 3. Secara umum di Indonesia kondisi masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut. 2.5 juta.masyarakat. Itu pula sebabnya.10% usia 13-15 tahun sebesar 79. Jika dikembangkan lebih jauh dalam konteks yang lebih besar adalah. fakir miskin 15.3 tahun.62% drop out sekolah anak usia kurang dari 15 tahun sebesar 2. 1.1 juta. ketidaktahuan. apakah masyarakat memang tidak siap untuk diajak bersama-sama mengatasi kemiskinan di dalam dirinya (mungkin karena kebodohan. Angka partisipasi sekolah anak usia 7-12 tahun sebesar 96. dan ini pernyataan lama. atau karena kemiskinan yang akut sehingga tidak dapat ditolong lagi). Tidak terdapat penjelasan yang signifikan mengapa proses tersebut terjadi.21%. Angka kematian bayi sebanyak 47 per 1000 kelahiran angka harapan hidup laki-laki 63. bahwa kemiskinan di Indonesia sangat mungkin merupakan perpaduan kemiskinan struktural dan kemiskinan mental (budaya). usia 19-24 tahun sebesar 11. Jumlah penduduk cacat 1.4 juta orang atau 18.36%. Pengangguran terbuka 8. Di samping itu.4 juta.

di sebelahnya gagah berdiri kilang penyulingan minyak yang menghasilkan 40 persen BBM nasional. Pengukuran angka kemiskinan dilakukan dengan menggunakan 2 pendataan. Rp 13. sektor industri tumbuh 5. pada saat yang sama. yang perlu dicari solusi yang kongkrit untuk masalah kemiskinan di Riau. bahkan Indonesia. Kondisi itu mengkhawatirkan dan ironis mengingat potensi perekonomian Riau dianggap sangat baik.05 persen dari sekitar 5. dan perdagangan 5.57 persen. kaijan-kajian yang bersifat kualitatif diperkirakan merupakan sumbangan masih tetap diperlukan. Selanjutnya dirumuskan upaya-upaya nyata yang dapat diaplikasikan untuk dapat meningkatkan marwah negeri dan rakyat Riau. setingkat di atas Indragiri Hulu.67 persen. tetapi problem-problem yang bersifat kualitatif. Padahal sebagian besar ladang minyak Riau. Padahal. yaitu penduduk Pra Sejahtera dan . Persoalan inilah yang masih mengkhawatirkan pemerintah provinsi Riau saat ini. Memasuki tahun 2004. yaitu angka kemiskinan yang dihitung oleh BKKBN dan yang berasal dari BPS. Kabupaten Bengkalis yang mempunyai tingkat kemiskinan nomor dua di Riau.45 persen. pengukuran kemiskinan dibagi dalam 2 kategori.88 persen. daerah yang menjadi kantung-kantung kemiskinan di Riau antara lain Buluh Cina. Jika dilihat dari estimasi pertumbuhan ekonomi di Riau. sedangkan pertambangan 4. Padahal. terletak di kabupaten ini. 4.dalam masyarakat berkaitan dengan berbagai program pengentasan kemiskinan yang relatif tidak jalan. pertumbuhan ekonomi provinsi ini sangat tinggi. Berdasarkan data dari BKKBN.2 juta. Ironisme di atas menyebabkan berbagai usaha untuk mengatasi kemiskinan di Riau masih sangat relevan untuk selalu dikaji dalam berbagai perspektif. Sejauh ini kita juga tidak mengetahui secara signifikan bagaimana aspirasi masyarakat terhadap problem yang mereka hadapi itu. Ini sangat ironis mengingat Provinsi Riau memiliki sumber daya alam dan posisi sangat strategis.5 juta penduduknya berada tepat di garis kemiskinan. Penelitian ini berusaha untuk mengidentifikasikan persoalanpersoalan mendasar yang menyebabkan terjadinya kemiskinan di Provinsi Riau. Provinsi Riau masih menghadapi persoalan kemiskinan yang tinggi karena 40. Itu pula sebabnya. Desa Tanjungpalas di Dumai menjadi desa tertinggal tahun 1996. tanpa melibatkan minyak dan gas. Sebagai contoh. dan diperkuat oleh produk domestik regional bruto per kapita yang juga tinggi.47 persen pada 2004 mendatang. diketahui sektor pertanian akan tumbuh sekitar 6. serta kendala-kendala lain yang tidak hanya sebagai problem struktural dan birokrasi.

Sejahtera I.13% sebagai akibat pengaruh krisis ekonomi. Sampai Maret 2006 jumlah penduduk miskin di provinsi Riau menurut BPS (Balitbang 2004) sebesar 1. kartu sehat. lebih rendah dibandingkan dengan angka kemiskinan rata-rata Nasional sebesar 18. 1. dan kemudian naik lagi menjadi 44. angka kemiskinan tersebut kembali mengalami penurunan menjadi 41. dana bergulir.25% pada tahun 2000.288 rumah tangga yang terdapat di provinsi Riau. seperti telah menjadi “pengetahuan umum” program tersebut lebih sebagai memberi ikat daripada memberi pancing. program pengentasan kemiskinan dapat berjalan? Tahun 2020. yang diukur menurut kebutuhan makanan sebesar 2100 kalori per kapita. Pada tahun 1998 angka kemiskinan sebesar 33.163 rang atau sebesar 22. (3) Program bantuan modal melalui ekonomi kerakyatan. (2) Jaringan Pengaman Sosial. (5) Santunan langsung tunai atau bantuan langsung tunai. (1) Inpers Desa Tertinggal.508 dari jumlah total 977.19%.000 jiwa. Angka kemiskinan berdasarkan Susenas Tahun 2002. Demikianlah rancangan yang akan dibangun oleh pemerintah provinsi Riau yang diserap dalam Visi Riau 2020. Angka kemiskinan di Provinsi Riau mengalami peningkatan yang cukup signifikan. pada tahun 1999 adalah 14. (4) Program bantuan beras miskin. Kemudian setelah melalui upaya pelaksanaan program ekonomi kerakyatan.57% pada tahun 2001 dan 40.008. Di dalam visi Riau tersebut.25% pada tahun 1999.67% pada tahun 2002. dll. dan (6) Pemberian beasiswa.05% pada tahun 2002. provinsi.00% dari total penduduk menurun menjadi 13. apakah jika masyarakat diberi pancing. Akan teapi. yaitu 42.5. Ini berarti sejak tahun 2000 ke tahun 2002 terdapat pengurangan penduduk miskin sebanyak 4.2 Teori Kemiskinan . terdapat berbagai indikator makro yang menjadi sasaran terwujudnya Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian di kawasan Asia Tenggara. Persoalannya. Adapun jenis program yang dilakukan oleh pemerintah pusat. sebuah pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara akan muncul di Provinsi Riau.02 % pada tahun 2002.2% atau lebih kurang 222. dan daerah dalam pengentasan kemiskinan antara lain sebagai berikut. Jumlah penduduk Pra Sejahtera dan Sejahtera I di Provinsi Riau karena alasan ekonomi dan nonekonomi menunjukkan tren yang berfluktuasi. sedangkan jumlah Rumah Tangga miskin di Provinsi Riau sebesar 231.

karya monumental Adam Smith. para pendukung neo-liberal berargumen bahwa kemiskinan merupakan persoalan individual yang disebabkan oleh kelemahan-kelemahan dan/atau pilihan-pilihan individu yang bersangkutan. dan hanya melibatkan keluarga. Peran negara hanyalah sebagai “penjaga malam” yang baru boleh ikut campur manakala lembaga-lembaga di atas tidak mampu lagi menjalankan tugasnya (Spicker. Teori neo-liberal berakar pada karya politik klasik yang ditulis oleh Thomas Hobbes. maka terdapat dua paradigma atau teori besar (grand theory) mengenai kemiskinan: yakni paradigma neo-liberal dan sosial demokrat. setidaknya dalam untuk keperluan penelitian ini. 1995. Kemiskinan akan hilang dengan sendirinya jika kekuatan-kekuatan pasar diperluas sebesar-besarnya dan prtumbuhan ekonomi dipacu setinggi-tingginya. O’Brien dan Belgrave. kemiskinan merupakan persoalan klasik yang telah ada sejak umat manusia ada. sementara. di . Pengupayaan tersebut tentu sangat berarti hingga kemiskinan tidak lagi menjadi masalah dalam kehidupan manusia. John Lock dan John Stuart Mill yang intinya menyerukan bahwa komponen penting dari sebuah masyarakat adalah kebebasan individu. dan yang kedua secara individual. Namun jika disederhanakan. seperti Program Jaringan Pengaman Sosial atau JPS. terdapat banyak teori dan pendekatan dalam memahami kemiskinan. signifikan. berwajah banyak. Kemiskinan merupakan persoalan kompleks. Meskipun sampai saat ini belum ditemukan suatu rumusan ataupun formula penanganan kemiskinan yang dianggap paling berdayaguna. Cheyne. the Wealth of Nation (1776). 1998). The Road to Serfdom (1944). Dalam bidang ekonomi. Kedua paradigama tersebut pertama yang memandang kemiskinan dari kacamata struktural. O’Brien dan Belgrave (1998) disebut sebagai ide yang mengunggulkan “mekanisme pasar bebas” dan mengusulkan “the almost complete absence of state’s intervention in the economy. yang oleh Cheyne. strategi penaggulangan kemiskinan harus bersifat “residual”. Seperti diketahui. pengkajian konsep dan strategi penanganan kemiskinan harus terus menerus diupayakan. dipandang sebagai rujukan kaum neo-liberal yang mengedepankan azas laissez faire.Pada dasarnya. kelompok-kelompok swadaya atau lembaga-lembaga keagamaan. Pandangan ini kemudian menjadi basis dalam menganalisis kemiskinan ataupun dalam merumuskan kebijakan dan program-program yang berusaha mengatasi kemiskinan. dan Frederick Hayek. dan relevan. dan tampaknya akan terus menjadi persoalan aktual dari masa ke masa.” Secara garis besar. Secara langsung. Penerapan program-program structural adjustment.

kapitalisme perlu dilengkapi dengan sistem negara kesejahteraan agar lebih berwajah manusiawi. Hanya saja. Sistem negara kesejahteraan yang menekankan pentingnya manajemen dan pendanaan negara dalam pemberian pelayanan sosial dasar. seperti pendidikan. Dengan kata lain. melainkan struktural. kebebasan berarti memiliki kemampuan (capabilities) untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. kesehatan. “The welfare state acts as the human face of capitalism. . Kemiskinan disebabkan oleh adanya ketidakadilan dan ketimpangan dalam masyarakat akibat tersumbatnya akses-akses kelompok tertentu terhadap berbagai sumber-sumber kemasyarakatan. Pendukung sosial demokrat berpendapat bahwa kesetaraan merupakan prasyarat penting dalam memperoleh kemandirian dan kebebasan. Akan tetapi. Teori sosial demokrat memandang bahwa kemiskinan bukanlah persoalan individual. Meskipun tidak setuju sepenuhnya terhadap sistem pasar bebas. seperti pendidikian. kesehatan yang baik dan pendapatan yang cukup.beberapa negara merupakan contoh kongkrit dari pengaruh neo-liberal dalam bidang penanggulangan kemiskinan ini. and when inequality and exploitation in economic and social relations are eliminated” (Cheyne. sangat dipengaruhi oleh pendekatan “ekonomi manajemen-permintaan” (demand-management economics) gaya Keynesian ini.” demikian menurut Cheyne. 1998). kaum sosial demokrat tidak memandang sistem ekonomi kapitalis sebagai evil. Pencapaian kebebasan hanya dimungkinkan jika setiap orang memiliki atau mampu menjangkau sumber-sumber. O’Brien dan Belgrave. Teori yang berporos pada prinsip-prinsip ekonomi campuran ini muncul sebagai jawaban terhadap depresi ekonomi yang terjadi pada tahun 1920-an dan awal 1930-an. (1998). keyakinan yang berlebihan tehadap keunggulan mekanisme pasar dan pertumbuhan ekonomi yang secara alamiah dianggap akan mampu mengatasi kemiskinan dan ketidakdilan sosial mendapat kritik dari kaum sosial demokrat. Kebebasan lebih dari sekadar bebas dari pengaruh luar. Bahkan kapitalis masih dipandang sebagai bentuk pengorganisasian ekonomi yang paling efektif. O’Brien dan Belgrave. perumahan dan jaminan sosial. melainkan pula bebas dalam menentukan pilihan-pilihan (choices). but to greater poverty and exploitation…a society is just when people’s needs are met. Pendukung sosial demokrat menyatakan bahwa “a free market did not lead to greater social wealth.

Misalnya. misalnya. strategi kemiskinan haruslah bersifat institusional (melembaga). . kemampuan menghindari kekurangan gizi. Eropa Barat. beorientasi proyek jangka pendek. Program-program jaminan sosial dan bantuan sosial yang dianut di AS. mongolia. kemampuan membaca. dapat meningkatkan kebebasan karena dapat menyediakan penghasilan dasar dengan mana orang akan memiliki kemampuan (capabilities) untuk memenuhi kebutuhan dan menentukan pilihanpilihannya (choices). Jaminan sosial yang berbentuk pemberian tunjangan pendapatan atau dana pensiun. merupakan contoh strategi anti kemiskinan yang diwarnai oleh teori sosial demokrat. Daftar Pustaka Blaxall. Menurut pandangan sosial demokrat. John (2000). menulis dan berkomunikasi. ketiadaan pelayanan dasar tersebut dapat menyebabkan ketergantungan (dependency) karena dapat membuat orang tidak memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dan menentukan pilihan-pilihannya. ulan Bator. terbatas dan tidak berwawasan pemberdayaan dan keberlanjutan. dan Jepang. kemampuan menghindari kematian dini. Apabila kaum neoliberal melihat bahwa jaminan sosial dapat menghambat “kebebasan”. kemampuan memenuhi kebutuhan dasarnya. october 4 to 6. karena membatasi dan bahkan menghilangkan kemampuan individu dalam menentukan pilihan-pilihannya (choices). kaum sosial demokrat justru meyakini bahwa ketiadaan sumber-sumber finansial yang mapan itulah yang justru dapat menghilangkan “kebebasan”. Sebaliknya. Dirumuskan secara tajam. pendukung sosial demokrat meyakini bahwa penanggulangan kemiskinan yang bersifat residual. makalah dipresentasikan pada the joint workshop on poverty reduction strategis in mongolia. ‘Governance and poverty. the world bank. Sebaliknya. justru merupakan strategi yang hanya menghabiskan dana saja karena efeknya juga singkat. Negara karenanya memiliki peranan dalam menjamin bahwa setiap orang dapat berpartisipasi dalam transaksi-transaksi kemasyarakatan yang memungkinkan mereka menentukan pilihanpilihannya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. maka dapat dikatakan bahwa kaum neoliberal memandang bahwa strategi penanggulangan kemiskinan yang melembaga merupakan tindakan yang tidak ekonomis dan menyebabkan ketergantungan.

Chiang Mai. Fakultas Ekonomi. Jakarta. Is West Bengal Unique? IDS Working Paper #130. Social Policy: Themes and Approaches. Hamid Davooli and Erwin Tiongson (2000). DC. April. 37 (1). Thailand. Jr (2002). Discussion Paper on Development Policy #5. England. Uschi (2000). makalah dipresentasikan pada the South Asia Regional Conference of the Hubbert H. IMF Working Paper No.00/116. Robert. Good Governance for Poverty Reduction. February 20. Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah.Cheyne. June.603-624. King. Kathmandu. Crook. The University of Bonn. Washington. 53(2). Dwight (2000). Corruption and the provision of health Care and Education Services. KPPOD (2002). February. Bulletin of Indonesian Economic Studies. Mike O’Brien dan Michael Belgrave (1998). La Porte. Humphrey Fellowship Program. Laporan Akhir [Final Report]. Sanjeev. Decentralization and Poverty Alleviation in Developing Countries: A Comparative Analysis or. Institute for Development Studies. Jakarta. International Monetary Fund. Pemeringkatan Daya Tarik Investasi Kabupaten/Kota: Studi Kasus di 90 Kabupaten/Kota di Indonesia [The Rangking of Investment Attractveness across Districts/cities: A Case Study of 90 Districts/Cities in Indonesia]. Auckland: Oxford University Press. Governance and Economic Performance: A Survey. Construction of Regional Index of Doing Business. pp 65-82. Paul (1995). Christine. Jean-Jacques (1999). Richard and Alan Sturia Sverrisson (2001). Dethier. LPEM (2001). Natasha (2001). Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat. makalah yang dipresentasikan pada the Asian Development Bank Seminar on The New Social Policy and Poverty Agenda for Asia and the Pacific. Spicker. Corruption in Indonesia: A Curable Cancer?. Anti Corruption Strategies in Indonesia. December. Universitas Indonesia. Nepal. Bonn. Hamilton-Hart. Journal of International Affair. Gupta. Governance: A Global Perspective. Brighton. . pp. London: Prentice-Hall. Center for Development Research. Social Policy in Aotearoa New Nealand: A Critical Introduction. Eid.