POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK

)

BUDIDAYA TANAMAN JERUK KEPROK/SIAM

BANK INDONESIA
Direktorat Kredit, BPR dan UMKM
Telepon : (021) 3818043 Fax: (021) 3518951, Email : tbtlkm@bi.go.id

DAFTAR ISI
1. Pendahuluan ........................................................................ 2 a. Latar Belakang .................................................................................................. 2 b. Tujuan .................................................................................................................. 3 2. Kemitraan Terpadu ............................................................... 4 a. Organisasi ........................................................................................................... 4 b. Pola Kerjasama ................................................................................................. 6 c. Penyiapan Proyek ............................................................................................. 7 d. Mekanisme Proyek .......................................................................................... 8 e. Perjanjian Kerjasama ..................................................................................... 9 3. Aspek Pemasaran ............................................................... 11 a. Konsumsi ........................................................................................................... 11 b. Permintaan/Harga ......................................................................................... 13 c. Distribusi dan Pemasaran ........................................................................... 14 4. Aspek Produksi ................................................................... 16 a. Kesesuaian Lahan .......................................................................................... 16 b. Sarana dan Prasarana.................................................................................. 16 c. Penanaman ....................................................................................................... 18 d. Pemeliharaan ................................................................................................... 19 e. Pengelolaan Panen dan Pasca Panen ..................................................... 22 5. Aspek Keuangan ................................................................. 25 a. Kebutuhan Biaya Investasi ........................................................................ 25 b. Kredit/Finansial ............................................................................................... 27 6. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan ................. 29 a. Aspek Sosial Ekonomi .................................................................................. 29 b. Dampak Lingkungan ..................................................................................... 30 7. Penutup .............................................................................. 32 a. PKT Unggulan .................................................................................................. 32 b. Titik Kritis .......................................................................................................... 34 LAMPIRAN .............................................................................. 35

Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam

1

1. Pendahuluan
a. Latar Belakang Untuk memenuhi kebutuhan/permintaan akan buah jeruk manis segar, Indonesia di samping mengupayakan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut dari hasil propduksi dalam negeri, tetapi juga sampai dengan batasbatas tertentu masih harus mendatangkan jeruk dari luar negeri. Pertumbuhan permintaan terhadap jeruk manis segar disamping sangat diperoleh oleh peningkatan pendapatan perkapita (sebagai dampak keberhasilan pembangunan), harga buah-buahan lain ditingkat konsumen secara langsung juga karena dipengaruhi oleh asing dan pertumbuhan kepariwisataan. Perubahan perilaku masyarakat untuk mendapatkan buah segar yang bermutu, menyebabkan impor jeruk masih terus naik, pada tahun 1990 hanya sejumlah 178,53 ton dengan nilai US$ 217.70, tetapi pada tahun 1996 impor tersebut melonjak s/d 14.952.32 ton dengan nilai sebesar US$ 8.739.62. Bahkan impor jeruk yang tertinggi terjadi pada tahun 1994 sebesar 18.447.22 ton dengan nilai sebesar US$ 11.411.73. Kecenderungan meningkatnya impor buah jeruk segar tersebut telah mendorong pemerintah untuk membatasi impor. Sejalan dengan itu telah dilaksanakan pula kebijakan yang diharapkan dapat meningkatkan produksi/ produktivitas aneka ragam buah-buahan asli Indonesia. Peningkatan produksi dalam negeri yang diharapkan mampu memicu penawaran, dan dapat menciptakan perbaikan kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Indikatornya adalah bahwa pilihan konsumen terhadap buah-buahan segar yang ada semakin beragam dengan mutu yang semakin baik, serta dengan tingkat harga yang masih dapat dijangkau oleh daya beli sebagian besar masyarakat. Sehubungan dengan itu, dorongan pemerintah agar Indonesia mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan akan buah dari produksinya sendiri, yang sekaligus dengan maksud untuk mengurangi pembelanjaan devisa guna mendatangkan buah-buahan dari luar negeri, merupakan kesempatan yang sangat strategis bagi upaya-upaya domestik. Tercapainya tujuan tersebut dapat memberikan dampak ganda yang sangat relevan dengan kondisi perekonomian saat ini, yaitu tumbuhnya minat untuk meningkatkan produksi buah-buahan dalam negeri, tumbuhnya subsektor perekonomian lainnya yang terkait dengan upaya disisi hulu produksi dan sisi hilir subsektor buahbuahan yang dimaksud. Khususnya untuk buah jeruk manis siam, perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap buah-buahan untuk meningkatkan peranan ekonomi buah jeruk sangat erat kaitannya dengan maksud di atas. Maksud untuk meningkatkan peranan buah jeruk guna memenuhi permintaan buah tropis di dalam negeri maupun untuk upaya pemasaran global (sustitusi dan ekspor) tidak lepas dari kondisi yang kondusif saat-saat ini. Di samping untuk perbaikan kondisi perekonomian masyarakat kecil juga
Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam

2

Upaya yang dipandang sangat cocok untuk dapat menampung peranan positif dan pro aktif unsur-unsur yang dimaksud. (ii) segi kelayakan budidayanya yang dilak-sanakan dengan penerapan teknologi maju. Dengan demikian tujuan dalam pengembangan usaha kecil melalui peningkatan mutu budidaya tanaman jeruk tercapai sasarannya. upaya untuk mencari pola yang mampu meningkatkan peranan berbagai pihak yang terkait dengan subsektor buah jeruk manis siam. Tujuan Tujuan utama dari penyajian Laporan Model Kelayakan PKT "Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam" ini adalah untuk : 1. BUMN. Menyediakan suatu referensi bagi perbankan tentang kelayakan budidaya ta-namanan jeruk siam bilamana ditinjau dari segi-segi : (i) prospek atau kelayakan pasar/pemasarannya. yang antara lain terdiri dari unsur/lembaga keuangan (bank). adalah dengan mengembangkan proyek peningkatan produktivitas buah jeruk melalui pola/pendekatan pengembangan yang relatif dapat diterima. b. Bank Indonesia/Urusan Kredit menyusun suatu laporan kajian melalui pendekatan yang dikenal dengan Pola Kemitraan terpadu. diharapkan perbankan dapat mereplikasikan pelaksanaan proyek di daerah-daerah/lokasi yang sesuai/cocok dengan kajian kelayakan yang dimaksud.untuk menempatkan Indonesia dalam posisi yang sangat kuat pada situasi global. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 3 . Dengan referensi kelayakan tersebut. aman dan diminati oleh unsur-unsur dimaksud. Koperasi) dan sektor pemerintahan. meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani buah jeruk. Dalam rangka itu serta membantu mengembangkan usaha kecil khususnya dalam pengembangan tanaman jeruk. (iii) segi kelayakan keungan terutama bilamana sebagian dari biaya yang diperlukan akan dibiayai oleh bank dan (iv) dari segi pengorganisasian pelaksanaan proyeknya yang dapat menjamin lancarnya pelaksanaan proyek dan menjamin keuntungan bagi semua unsur yang ikut serta dalam pelaksanaan proyek. meningkatkan keamanan pelaksanaan kreditnya. sektor riil (swasta. yang ditempuh melalui peningkatan realisasi kredit yang cocok untuk usaha kecil. 2. harus secara paralel terdorong untuk memicu keberhasilan peningkatan produktivitas buah jeruk. Sehubungan dengan itu.

petani yang dapat ikut dalam proyek ini bisa terdiri atas (a) Petani yang akan menggunakan lahan usaha pertaniannya untuk penanaman dan perkebunan atau usaha kecil lain. Hubungan kerjasama antara kelompok petani/usaha kecil dengan Pengusaha Pengolahan atau eksportir dalam PKT. Proyek ini kemudian dikenal sebagai PKT yang disiapkan dengan mendasarkan pada adanya saling berkepentingan diantara semua pihak yang bermitra. Luas lahan atau skala usaha bisa bervariasi sesuai luasan atau skala yang dimiliki oleh masing-masing petani/usaha kecil. (b) Petani /usaha kecil yang telah memiliki usaha tetapi dalam keadaan yang perlu ditingkatkan dalam untuk itu memerlukan bantuan modal. Tugas Ketua dan Sekretaris Kelompok adalah mengadakan koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan oleh para petani anggotanya. Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam PKT yang sesuai dengan bidang usahanya. Petani Plasma Sesuai keperluan. 1. Ketua kelompok wajib menyelenggarakan pertemuan kelompok secara rutin yang waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok. Untuk kelompok (a). sedangkan untuk kelompok (b). sesuai hasil kesepakatan anggota. (2) Pengusaha Besar atau eksportir. ditunjuk seorang Ketua dan Sekretaris merangkap Bendahara. dibuat seperti halnya hubungan antara Plasma dengan Inti di dalam Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR). dan (3) Bank pemberi KKPA. kegiatan proyek dimulai dari penyiapan lahan dan penanaman atau penyiapan usaha. dalam batas masih bisa ditingkatkan produktivitasnya dengan perbaikan pada aspek usaha. Pada setiap kelompok tani/kelompok usaha. Petani/usaha kecil merupakan plasma dan Perusahaan Pengelolaan/Eksportir sebagai Inti. yaitu (1) Petani/Kelompok Tani atau usaha kecil. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 4 . Kerjasama kemitraan ini kemudian menjadi terpadu dengan keikut sertaan pihak bank yang memberi bantuan pinjaman bagi pembiayaan usaha petani plasma. didalam mengadakan hubungan dengan pihak Koperasi dan instansi lainnya yang perlu. kegiatan dimulai dari telah adanya kebun atau usaha yang berjalan. Kemitraan Terpadu a. Organisasi Proyek Kemitraan Terpadu ini merupakan kerjasama kemitraan dalam bidang usaha melibatkan tiga unsur.2.

Meskipun demikian petani plasma/usaha kecil dimungkinkan untuk mengolah hasil panennya. Jika menggunakan skim Kredit Usaha Kecil (KUK). Tenaga-tenaga ini bisa diberi honorarium oleh Koperasi yang bisa kemudian dibebankan kepada petani. kehadiran koperasi primer tidak merupakan keharusan. yang kemudian harus dijual kepada Perusahaan Inti. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 5 . Apabila koperasi menggunakan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). kegiatan pembibingan harus dapat diadakan oleh Koperasi dengan memanfaatkan bantuan tenaga pihak Dinas Perkebunan atau lainnya yang dikoordinasikan oleh Koperasi. Koperasi yang mengusahakan KKPA harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para anggotanya. akan semakin besar pula honor yang diterimanya. Koperasi bisa melakukan kegiatan-kegiatan untuk membantu plasma di dalam pembangunan kebun/usaha sesuai keperluannya. 3. hal ini penting untuk memastikan adanya pemasaran bagi produksi petani atau plasma. Perusahaan Besar dan Pengelola/Eksportir Suatu Perusahaan dan Pengelola/Eksportir yang bersedia menjalin kerjasama sebagai inti dalam Proyek Kemitraan terpadu ini. PKT tetap akan bisa dikembangkan dengan sekurang-kurangnya pihak Inti memiliki fasilitas pengolahan untuk diekspor. Dalam hal perusahaan inti tidak bisa melakukan pembinaan teknis. harus memiliki kemampuan dan fasilitas pengolahan untuk bisa menlakukan ekspor. perlu mendapatkan persetujuan Dinas Perkebunan setempat dan koperasi memberikan bantuan biaya yang diperlukan. Sehingga makin tinggi produksi kebun petani/usaha kecil. Fasilitas KKPA hanya bisa diperoleh melalui keanggotaan koperasi. perusahaan inti perlu memberikan bimbingan teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk keperluan petani plasma/usaha kecil. Koperasi juga bisa memperkerjakan langsung tenaga-tenaga teknis yang memiliki keterampilan dibidang perkebunan/usaha untuk membimbing petani/usaha kecil dengan dibiayai sendiri oleh Koperasi. Disamping ini. serta bersedia membeli seluruh produksi dari plasma untuk selanjutnya diolah di pabrik dan atau diekspor. Apabila Perusahaan Mitra tidak memiliki kemampuan cukup untuk mengadakan pembinaan teknis usaha. sebaiknya menjadi anggota suata koperasi primer di tempatnya. dari hasil penjualan secara proposional menurut besarnya produksi.2. Koperasi Para petani/usaha kecil plasma sebagai peserta suatu PKT.

dapat kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal kerja pembangunan atau perbaikan kebun. bank agar membuat perjanjian kerjasama dengan pihak perusahaan inti.4. sehingga mengarah pada perolehannya pendapatan bersih petani yang paling besar. Bank harus dapat mengatur cara petani plasma akan mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional lapangan. Pola Kerjasama Kemitraan antara petani/kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra. dapat dibuat menurut dua pola yaitu : a. bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai dengan bentuk usaha tani ini. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank. dan bagaimana petani akan membayar angsuran pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. Bank Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak Petani Plasma dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir sebagai inti. b. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada Bank. Skim kredit yang akan digunakan untuk pembiayaan ini. termasuk kelayakan keuangan. Untuk ini. juga harus memastikan bagaimana pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. Pihak bank di dalam mengadakan evaluasi. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani mengadakan perjanjian kerjasama langsung kepada Perusahaan Perkebunan/ Pengolahan Eksportir. berdasarkan kesepakatan pihak petani/kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 6 . Disamping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya/produksi yang diperlukan. Dalam pelaksanaanya.

apabila tidak dapat dilaksanakan oleh pihak Perusahaan Mitra. dan pengelolaannya langsung ditangani oleh Kelompok tani.Dengan bentuk kerja sama seperti ini. dari: sebaiknya dan dalam keberhasilan. minimal Kalau PKT ini akan perintisannya dimulai 1. c. melalui koperasinya mengadakan perjanjian yang dibuat antara Koperasi (mewakili anggotanya) dengan perusahaan perkebunan/pengolahan/ eksportir. Masalah pembinaan teknis budidaya tanaman/pengelolaan usaha. Adanya petani/pengusaha kecil yang telah menjadi anggota koperasi dan lahan pemilikannya akan dijadikan kebun/tempat usaha atau lahan kebun/usahanya sudah ada tetapi akan ditingkatkan produktivitasnya. Penyiapan Proyek Untuk melihat bahwa PKT ini dikembangkan dengan proses kegiatannya nanti memperoleh kelancaran dan dapat dilihat dari bagaimana PKT ini disiapkan. Sedangkan masalah pembinaan harus bisa diberikan oleh Perusahaan Mitra. mempergunakan KKPA untuk modal usaha plasma. pemberian KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan koperasi sebagai Executing Agent. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 7 . pemberian kredit yang berupa KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan Koperasi sebagai Channeling Agent. akan menjadi tanggung jawab koperasi. Dalam bentuk kerjasama seperti ini. b. Petani/usaha kecil tersebut harus menghimpun diri dalam kelompok dengan anggota sekitar 25 petani/kelompok usaha. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani.

dan dapat membantu memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi serta proses pemasarannya. Prakarsa bisa dimulai dari salah satu pihak untuk mengadakan pendekatan. Koperasi harus memiliki kemampuan di dalam mengorganisasikan dan mengelola administrasi yang berkaitan dengan PKT ini. untuk peningkatannya dapat diharapkan nantinya mendapat pembinaan dari perusahaan mitra. 3. dan Pemda). Adanya perusahaan perkebunan/pengolahan dan eksportir. Dalam kaitannya dengan penggunaan KKPA. untuk memperoleh kesepakatan di antara keduanya untuk bermitra. Kantor Badan Pertanahan. peran konsultan bisa dimanfaatkan untuk mengadakan identifikasi dan menghubungkan pihak kelompok tani/usaha kecil yang potensial dengan perusahaan yang dipilih memiliki kemampuan tinggi memberikan fasilitas yang diperlukan oleh pihak petani/usaha kecil. apakah akan beritndak sebagai badan pelaksana (executing agent) atau badan penyalur (channeling agent). 4.Berdasarkan persetujuan bersama. Apabila keterampilan koperasi kurang. Untuk itu perlu adanya kejelasan dari pihak Kantor Badan Pertanahan dan pihak Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Lahan yang akan digunakan untuk perkebunan/usaha dalam PKT ini. atau ada pihak yang akan membantu sebagai mediator. Koperasi kemudian mengadakan langkah-langkah yang berkaitan dengan formalitas PKT sesuai fungsinya. 5. Dipertemukannya kelompok tani/usaha kecil dan pengusaha perkebunan/pengolahan dan eksportir tersebut. 6. Diperoleh dukungan untuk kemitraan yang melibatkan para anggotanya oleh pihak koperasi. Koperasi harus mendapatkan persetujuan dari para anggotanya. mereka bersedia atau berkeinginan untuk bekerja sama dengan perusahaan perkebunan/ pengolahan/eksportir dan bersedia mengajukan permohonan kredit (KKPA) untuk keperluan peningkatan usaha. yang bersedia menjadi mitra petani/usaha kecil. Dinas Koperasi. d. 2. yang didapatkan melalui pertemuan anggota kelompok. Mekanisme Proyek Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu dapat dilihat pada skema berikut ini : Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 8 . harus jelas statusnya kepemilikannya bahwa sudah/atau akan bisa diberikan sertifikat dan buka merupakan lahan yang masih belum jelas statusnya yang benar ditanami/tempat usaha. Diperolehnya rekomendasi tentang pengembangan PKT ini oleh pihak instansi pemerintah setempat yang berkaitan (Dinas Perkebunan.

e. dan lain-lain. perlu dikukuhkan dalam suatu surat perjanjian kerjasama yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang bekerjasama berdasarkan kesepakatan mereka. perlu dibuat suatu nota kesepakatan (Memorandum of Understanding = MoU) yang mengikat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra (inti. Sesuai dengan nota kesepakatan. Hasil tanaman plasma dijual ke inti dengan harga yang telah disepakati dalam MoU. Perusahaan inti akan memotong sebagian hasil penjualan plasma untuk diserahkan kepada bank sebagai angsuran pinjaman dan sisanya dikembalikan ke petani sebagai pendapatan bersih. atas kuasa koperasi atau plasma. dana pekerjaan fisik. Plasma/Koperasi dan Bank). Dengan demikian plasma tidak akan menerima uang tunai dari perbankan. Jika proyek layak untuk dikembangkan. Perjanjian Kerjasama Untuk meresmikan kerja sama kemitraan ini. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 9 .Bank pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip bank teknis. Dalam perjanjian kerjasama itu dicantumkan kesepakatan apa yang akan menjadi kewajiban dan hak dari masing-masing pihak yang menjalin kerja sama kemitraan itu. kredit perbankan dapat dialihkan dari rekening koperasi/plasma ke rekening inti untuk selanjutnya disalurkan ke plasma dalam bentuk sarana produksi. Petani plasma melaksanakan proses produksi. tetapi yang diterima adalah sarana produksi pertanian yang penyalurannya dapat melalui inti atau koperasi.

Memberikan bantuan pembinaan budidaya/produksi dan penaganan hasil. dan g.Perjanjian tersebut memuat ketentuan yang menyangkut kewajiban pihak Mitra Perusahaan (Inti) dan petani/usaha kecil (plasma) antara lain sebagai berikut : 1. penanaman serta pemeliharaan kebun/usaha. Membantu petani plasma dan bank di dalam masalah pelunasan kredit bank (KKPA) dan bunganya. c. d. b. pengadaan sarana produksi (bibit. b. pupuk dan obat-obatan). Melaksanakan pemungutan hasil (panen) dan mengadakan perawatan sesuai petunjuk Perusahaan Mitra untuk kemudian seluruh hasil panen dijual kepada Perusahaan Mitra. Kewajiban Perusahaan Perkebunan/Pengolahan/Eksportir sebagai mitra (inti) a. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 10 . Membantu petani di dalam menyiapkan kebun. dan e. Pada saat pernjualan hasil petani akan menerima pembayaran harga produk sesuai kesepakatan dalam perjanjian dengan terlebih dahulu dipotong sejumlah kewajiban petani melunasi angsuran kredit bank dan pembayaran bunganya. Melakukan pembelian produksi petani plasma. Menggunakan sarana produksi dengan sepenuhnya seperti yang disediakan dalam rencana pada waktu mengajukan permintaan kredit. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pascapanen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan. e. Menghimpun diri secara berkelompok dengan petani tetangganya yang lahan usahanya berdekatan dan sama-sama ditanami. f. Menyediakan lahan pemilikannya untuk budidaya. sesuai rekomendasi budidaya oleh pihak Dinas Perkebunan/instansi terkait setempat yang tidak termasuk di dalam rencana waktu mengajukan permintaan kredit. serta bertindak sebagai avalis dalam rangka pemberian kredit bank untuk petani plasma. Menyediakan sarana produksi lainnya. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca panen untuk mencapai mutu yang tinggi. c. 2. Kewajiban petani peserta sebagai plasma a. d.

Produksi tertinggi dicapai oleh Sulawesi (33. Kemudian terus menurun sampai dengan tahun 1996. Kalimantan (23. Pada tahun 1996 telah terjadi penurunan produksi yang secara nasional menjadi sebesar 793.33%). Gambaran perkembangan luas panen. Aspek Pemasaran a. berikut. Menurunnya impor jeruk segar tersebut merupakan dampak dari kebijakan pemerintah dalam membatasi pembelanjaan devisa untuk impor buah-buahan.17%).631 ton. total Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 11 . Sumatra (15. Produksi Dalam Negeri Permintaan terhadap buah jeruk di samping dapat dipenuhi dari jeruk impor.53 persen.3. kemudian diikuti secara berturut-turut oleh Jawa (25.004. tetapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.31%) dan kepulauan lainnya sebesar 5. Kecendungan impor jeruk tersebut dapat diikuti dalam Gambar 2. Konsumsi Impor Jeruk Sekalipun secara geografis jeruk terdapat di semua propinsi di Indonesia. Penurunan produksi tersebut diduga disebabkan karena iklim kemarau yang relatif panjang dibandingkan dengan tahun sebelumnya.66%). Dari gambar di atas dapat diikuti bahwa impor yang dimulai pada tahun 1990 terus meningkat sampai dengan tahun1994. juga dipenuhi dari produksi dalam negeri. Indonesia masih harus impor.810 ton. Produksi jeruk secara nasional pada tahun 1995 sebesar 1.1.

Untuk konsumsi rumah tangga dan restoran pada tahun 1996 mencapai 9.910 61.produksi dan perkiraan produktivitas tanaman jeruk di Indonesia dapat diikuti dalam Tabel 2. Konsumsi ini akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk.037.050 Kg per minggu pada tahun 1996.2.000 78.2.341 71 393. Tabel 2.000 45.20 213.999.000 36.373.620 53.80 1.036 Produksi Produktivitas (Ton) (Kw/ha) 253.632 218 Sumber : Deptan RI 1997 Peluang Ekspor Menggunakan besaran konsumsi perkapita sebesar 0.88 782. Perkembangan Luas Panen. Produksi dan Produktivitas Jeruk Tahun 1990 – 1995 Tahun 1990 1991 1992 1993 1994 1995 Luas Panen (Ha) 50.1. maka konsumsi jeruk penduduk Indonesia naik dari 3.427 64 1. IPB 1998 Tahun 1998 2000 2005 2010 2015 Peluang pasar domestik lebih menitik beratkan untuk keperluan konsumsi rumah tangga.004.829.661 51 353. hotel dan restoran serta industri olahan.25 ton pada tahun 1990 menjadi 9. supermarket.917. Sedangkan proyeksi kebutuhan jeruk untuk pusat konsumsi nasional (Jakarta) sampai dengan tahun 2000 dapat disajikan dalam Tabel 2.74 19.1.00 Sumber : Desain dan Analisis Investasi Agribisnis Jeruk.39 240.190 36.92 13.000 57.15 pada tahun 1996. Perkiraan Permintaan dan Konsumsi Buah di Indonesia Total Buah Konsumsi Jeruk Populasi 10% dari Total Konsumsi/ Total Penduduk Buah Kapita Konsumsi (Juta) (Ribu ton) (Kg) (Ribu ton) 200. untuk memenuhi Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 12 .99 227.15 ton per minggu.900. Tabel 2.402 46.011 58 395.734 68 260.352.017 Kg per minggu pada tahun 1990 dan 0.90 1.000 36.917.76 7.390.047.217 60.08 254.00 735.000. Berdasarkan anjuran FAO.76 7.96 2.70 10.

15 ton per minggu. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 13 . Berdasarkan anjuran FAO.2.15 pada tahun 1996. 3.2 Kg perkapita per tahun. Kanada yang menyerap 10. Atas dasar anjuran FAO tersebut maka konsumsi buah-buahan di Indonesia masih sangat rendah yakni hanya 27. untuk memenuhi kebutuhan buah-buahan per kapita pertahun minimal 60 Kg. Secara garis besar terdapat tiga kawasan yang berpotensi untuk pemasaran buah-buahan tropis yakni : 1. 2. Kecilnyapasokan Indonesia terhadap pasaran dunia buah-buahan akibat kemampuan suplai terbatas dan tidak kontinyu serta kualitas produksi yang masih rendah. Andil Indonesia sebagai salah satu negara pemasok buah-buahan tropis segar dunia masih sangat kecil yakni kurang dari satu persen pasokan dunia. Kawasan Eropa yang terdiri dari Jerman.3% dari pasaran dunia. Ekspor jeruk mengalami perkembangan perkembangan yang cukup menggembirakan di era tahun delapan puluhan. Kawasan Asia Pasifik yang terdiri dari Jepang. maka konsumsi jeruk penduduk Indonesia naik dari 3.047.050 Kg per minggu pada tahun 1996. Sedangkan proyeksi kebutuhan jeruk untuk pusat konsumsi nasional (Jakarta) sampai dengan tahun 2000 dapat disajikan dalam Tabel 2.kebutuhan buah-buahan per kapita pertahun minimal 60 Kg. Inggris dan Benelux yang mampu menyerap 58% dari pasaran Dunia. supermarket. Untuk konsumsi rumah tangga dan restoran pada tahun 1996 mencapai 9. hotel dan restoran serta industri olahan. penurunan ekspor tersebut sebagai akibat adanya penyakit CVPD yang menyerang sebagian besar tanaman jeruk di sentra-sentra produksi di Indonesia.2% dari pasaran dunia. manggis dan jeruk.917. Perancis.25 ton pada tahun 1990 menjadi 9.2 Kg perkapita per tahun. Peluang pasar domestik lebih menitik beratkan untuk keperluan konsumsi rumah tangga. Atas dasar anjuran FAO tersebut maka konsumsi buah-buahan di Indonesia masih sangat rendah yakni hanya 27.917. nanas. Kawasan Amerika yang terdiri dari Amerika Serikat. Permintaan/Harga Kecenderungan Permintaan Menggunakan besaran konsumsi perkapita sebesar 0. Hongkong. Singapura dan Australia yang menyerap 9. Konsumsi ini akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Pada tahun sembilan puluhan mengalami penurunan yang sangat drastis. Peluang Ekspor Indonesia berpotensi dan berpeluang untuk melakukan ekspor komoditas buah-buahan tropis seperti buah mangga. b.017 Kg per minggu pada tahun 1990 dan 0.

grade B Rp 2.000 per Kg dan grade C Rp 1. Distribusi dan Pemasaran Saluran distribusi buah jeruk yang dihasilkan dari perkebunan/budidaya rakyat adalah sebagai berikut : Dari ketiga saluran distribusi yang ada. c. pola kedua yakni dari produsen (petani) ke pengumpul kecil lalu ke konsumen akhir.29% dari harga yang dibayar oleh konsumen. Hal ini dimaksudkan untuk memperbesar margin pasar yang dapat dinikmati oleh petani.100 per Kg. Sedangkan untuk kawasan tengah dan barat Indonesia pola ketigayakni produsen (petani). untuk analisis keuangan harga jeruk dataran tinggi diasumsikan rata-rata sebesar Rp 1. yang selama ini hanya menikmati 22 . dimana petani peserta proyek/plasma diharuskan menjual hasil produksi jeruk kepada pihak inti (mitra) dengan harga yang disepakati melalui nota kesepakatan/perjanjian kerjasama dengan berpedoman pada harga pasar dan atau perpatokan pada biaya produksi ditambah keuntungan petani sebesar 10% dari biaya produksi. merupakan pola yang dominan terjadi di Kawasan Timur Indonesia. Untuk jeruk hasil produksi di lahan basah (dataran rendah) harga jual ditingkat petani yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam aspek keuangan dibedakan atas 3 grade yaitu grade A Rp 2.Penetapan Harga Harga jual jeruk ditetapkan berdasarkan pola kemitraan usaha yang closed system. Dalam kajian ini saluran distribusi yang dianjurkan adalah sebagai berikut : Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 14 .250. pedagang pengumpul kecil ke pedagang pengecer lalu konsumen akhir. Margin pemasaran untuk tataniaga jeruk antar pulau dengan kasus dari sentra produksi Kalimantan Barat dapat dilihat pada Tabel 2.300 per Kg.3.

Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 15 .

Kelembaban udara 70 .7. Dalam kajian ini diasumsikan bahwa untuk lahan basah berlokasi di Kalimantan yang dapat di tanam jeruk siam sebnyak 364 pohon per Ha. Selama musim kering selama tiga bulan curah hujan diharapkan tetap ada sekitar 100 mm. Sarana dan Prasarana Prasarana Untuk perkebunan jeruk memerlukan prasarana sebagai berikut : 1.60%.1. Karenanya kebun jeruk untuk lahan basah perlu dibuat drainase. Jaringan Irigasi Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 16 . Penyinaran matahari 50 . Pada ketinggian di atas 900 m dpl rasanya asam. Setiap 1 Hal lahan dengan sistem bedengan dapat ditanami jeruk sebanyak 278 pohon.5 dan pH maksimum 6.900 mm per tahun.60 cm. Sedangkan untuk lahan dataran tinggi berlokasi di Jawa dan Sumatra yang ditanami 500 pohon per Ha. Iklim dan Curah Daerah-daerah di dunia tempat tumbuh jeruk adalah daerah tropis dan subtropis.270 mm . b. pH tanah yang sesuai adalah 5 . Air tanah: terdapat pada kedalaman 50 cm pada musim hujan dan 1.5 meter dan lebar 3 meter dan panjangnya menurut petakan lahan. Kesesuaian Lahan Elevasi Jeruk dapat tumbuh di dataran rendah (lahan basah) dan datarn tinggi. 35 derajat lintang selatan dan 35 derajat lintang utara.5 m pada musim kemarau. Di areal sawah bisa ditanami jeruk dengan cara membuat gundukan seluas 1 m2 dengan tinggi 50 . Kondisi Tanah Kebun jeruk tidak boleh tertutup oleh genangan air. Jeruk dapat tumbuh dengan baik pada elevasi 800-1500 meter dpl. Curah hujan yang baik antara 1.4. Namun jenis jeruk siam tertentu seperti jeruk tebas tumbuh dengan baik di kalimantan pada elevasi 100 m dpl.Untukdaerah pasang surut dibuat baluran (bedengan) dengan ukuran tinggi 0.80%. Aspek Produksi a.

KCL. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan buah jeruk keprok/siam bermutu tinggi. kored. Sumber air dari saluran drainase dan limpasan daerah sekitar. fungisida untuk pengendalian fungsi fatogen. Unit pengolahan hasil 3. Pestisida. Sarana Sarana produksi dan pra-produksi. TSP. Yaitu tempat-tempat penampungan air alami yang dibuat di dalam kebun dan akan digunakan sebagai sumber air irigasi.2. herbisida untuk pengendalian gulma dan sebagainya. 6. Pengadaan Bibit Bibit tanaman jeruk diperoleh dari pembelian bibit di penangkaran bibit yang telah mendapat sertifikat. Pompa air. 4. pelayanan. Pupuk seperti Urea. dan keranjang. pupuk mikro. gerobak dorong. 2. Diperlukan untuk mempercepat pengaliran air pada sat hujan deras atau untuk mengalirkan genangan air pada lahan basah. Unit penanganan jeruk buah segar (JBS). pupuk daun. Saluran drainase. garpu. Sarana yang diperlukan untuk produksi jeruk meliputi : 1. Pembukaan Lahan Pembukaan lahan hutan sekunder/belukar dengan menggunakan chain saw dan peralatan lain dibantu dengan penggunaan herbisida. Bangunan kebun diperlukan pada zona penerimaan. Kapur pertanian. 4. dan penanganan pasca panen. Peralatan berkebun seperti cangkul. Sarana pasca panen. 3. 3. sekop. Jaringan jalan. dan pupuk kandang. Pengolahan Tanah Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 17 . 5. meliputi : 1. Embung. 5. dan gunting stek. insektisida untuk penanggulangan serangan hama. Untuk menghubungkan antar bagian-bagian kebun maupun antar kebun dengan luar. Pembuatan sumur bor untuk lahan dataran tinggi. seprayer. Sarana angkutan hasil dari kebun ke pasar 2.

Di Jawa biasa digunakan jarak tanam 7 x 7 meter atau 8 x 8 meter.Pengolahan tanah dilakukan sebagai persiapan tanam maupun sebagai pemeliharaan tanaman. dan kedelai. menghancurkan akar-akar lama dan membentuk permukaan tanah menurut berbagai pola yang dikehendaki seprti guludan dan saluran air. Sebagai pemeliharaan tanaman. Sebelum penanaman. karena 40% dari lahan basah terpakai untuk keper-luan pembuatan drainase dan pembuatan jalan. Jarak tanam yang lebih besar umumnya tidak memberi pengaruh terhadap tanaman kecuali rendahnya populasi tanaman per hektarnya. Penanaman Cash Crop Tanaman jeruk baru menghasilkan setelah umur 3 . Dalam MK PKT ini diasumsi jarak tanam jeruk dataran rendah 5. Untuk perhitungan IDC (interest during construction) atas pemberian kredit digunakan grace period 3 tahun. Sedangkan di dataran tinggi 5 x 4 m atau 500 pohon per hektar. Jika usaha perkebunan jeruk dirancang untuk periode 10 tahun maka cukup menggunakan jarak tanam yang pendek misalnya 5 x 5 meter.5 luasan lahan dapat digunakan untuk tanaman casg crop. Tetapi jarak tanam yang dianjurkan untuk jeruk keprok adalah 6 x 6 meter.2 x 5. Jika umur lebih dari 10 tahun produksi masih baik dan jika kebun masih dipertahankan sebaiknya dilakukan penjarangan dengan menebang pohon-pohon yang kurang produktif. Selain itu juga dilakukan pengajiran untuk menentukan letak tanaman dan membuat lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm. Dengan jarak tanam 5 x 5 meter maka dalam 1 hektar akan terdapat 400 pohon. kacang tanah. Kebun jeruk di dataran rendah (lahan basah) jarak tanamnya relatif lebih jarang dibanding kebun jeruk di dataran tinggi. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 18 . padi gogo. pengolahan lahan/tanah dilakukan setiap kali setelah panen sebelum pemangkasan pengaturan pertumbuhan.2 m atau 364 batang pohon perhektar. c. lubang tanam yang sudah dibuat diisi dengan pupuk kandang/kompos yang dicampur tanah lapisan atas. Penanaman Jarak tanam yang digunakan bervariasi dari satu lokasi yang lainnya. Tujuan pengolahan tanah ini adalah untuk menggemburkan tanah dan sekaligus memberikan pupuk kandang dan pemupukan lainnya. Sebagai persiapan tanam. Karenanya sebelum Tanaman Menghasilkan (TM) untuk optimalisasi pemanfaatan lahan dapat ditanami dengan cabe. Diperkirakan 0. pengolahan lahan dilakukan sebagai usaha membersihkan tanah.4 tahun dan puncak produksi pada umur tahun ke 8-9.

pembuatan tiang penyangga. Kegiatan pemeliharaan ini merupakan kegiatan utama dalam perkebunan jeruk.1. pemupukan. Dengan penyiangan yang baik diharapkan pupuk yang diberikan efektif termanfaatkan untuk pohon jeruk. lainnya menjelang panen.d. Kebutuhan Pupuk Per Pohon Menurut Umur Pohon Jeruk Umur Pupuk Urea Tanaman Kandang (gram) (Tahun) (Kaleng/thn) Saat 3 0 tanam 1 3–4 200 – 300 2 4 300 – 400 3 6 400 – 500 4 8 500 – 600 5 10 600 – 800 6 14 800 – 1000 7 16 1000 – 1200 8 18 1200 – 1400 9 . pemangkasan. Kebutuhan pupuk per tahun per pohon umumnya adalah seperti pada Tabel 3. Tabel 3.800 KCL (gram) 0 100 – 200 150 – 200 200 –250 200 – 300 300 – 400 400 – 500 500 – 600 600 – 700 600 – 800 Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 19 . diantaranya satu kali bersamaan dengan pemupukan. benalu maupun tanaman liar lainnya. TSP/SP36 dan KCL. Semua pupuk diberikan secara berimbang agar maksud dari pemupukan tercapai yakni mendorong pertumbuhan tanaman.dst 20 1400 . Jakarta TSP (gram) 0 100 – 250 150 – 200 200 – 250 200 – 300 300 – 400 400 – 500 500 – 600 600 – 700 600 . Pemupukan Pupuk yang diperlukan secara teoritis adalah pupuk organik berupa pupuk kandang dan pupuk anorganikyang terdiri dari pupuk urea. Penyiangan Penyiangan dimaksudkan agar pohon jeruk tumbuh tanpa gangguan yang berarti baik gangguan gulma/peredu. Pemeliharaan Rangkaian kegiatan pemeliharaan mulai dari penyiangan. menjaga dari serangan hama dan penyakit dan menjaga tingkat kesuburan tanah.1. penjarangan buah dan pemberantasan hama dan penyakit.1600 Sumber : Penebar Swadaya. Pembersihan atau penyiangan paling tidak harus dilakukan dua kali dalam satu tahun.

Pupuk setelah dicampur dimasukan ke dalam lubang galian kemudian lubang ditutup kembali dengan tanah. Setelah berumur tiga tahun lebih. 1/3 bagian pupuk urea diberikan segera setelah pohon jeruk berbunga dan 1/3 dan TSP dan 2/3 KCl diberikan bilamana buah mulai membesar. Pemangkasan Untuk dapat menghasilkan pohon yang baik disamping dilakukan dengan pemberian pupuk juga harus dilakukan pemangkasan yang baik. disamping itu buah yang terlalu lebat juga akan mempengaruhi kondisi buah pada musim berikutnya. yang akan menngakibatkan rendahnya produksi buah. dengan cara menseleksi cabang dan ranting yang ada dan memilih yang sehat dan kuat. dengan harapan pohon akan berbunga pada musim kemarau. Bahkan pohon jeruk yang umurnya di bawah 4 tahun. kondisi tersebut tidak seluruhnya baik. bila berbuah terlalu lebat akan sangat mempengaruhi kesehatan dan produktivitas pohon jeruk pada masa selanjutnya. Penjarangan Buah Jeruk keprok siam cenderung berbuah lebat. Pohon yang berbunga pada musim kemarau akan menghasilkan buah lebih banyak karena perpindahan serbuk sari tidak mengalami gangguan. Dan sebaliknya bila pucuk dipangkas pada musim kemarau pohon akan berbunga pada musim hujan berikutnya. Pemupukan pertama dilaku-kan dengan menggabungkan semua pupuk kandang dengan pupuk urea 1/3 bagian dan bagian TSP dan 1/3 KCL. Pemangkasan sampai umur tanaman tiga tahun dimaksudkan untuk pembentukan cabang dan ranting yang baik. Oleh karena itu perlu ada penjarangan buah.kegiatan pemangkasan ini dilakukan pada setiap awal musim hujan. Sedangkan pemangkasan pucuk untuk mendapatkan buah yang lebih bagus. Buah yang baik adalah buah yang tumbuhnya normal. Dalam MK PKT ini pemakaian pupuk untuk lahan dataran tinggi lihat Lampiran 1. agar tidak memboroskan energi/unsur hara yang diserap oleh pohon jeruk. karena buah yang terlalu lebat akan mempengaruhi hasil produksi akhir. buah yang posisinya mudah terkena sinar matahari. pemangkasan puncuk dilakukan pada akhir musim hujan. oleh karena itu buah yang terdapat pada cabang yang terlindungi perlu dijarangkan/dibuang. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 20 .Pemberian pupuk kandang dilakukan pada permulaan musim hujan. sebaiknya dengan menggali lingkaran sedalam lebih kurang 30 cm dengan lebar 20 cm. Karena berbunga pada musim hujan umumnya bunga akan gugur. diujung batas lingkaran pohon dengan ujung daun (dekat akar rambut). Pada masa produksi awal (umur 3 tahun) sebaiknya buah hanya ditinggalkan pada cabang-cabang yang benar-benarkuat dan jumlahnya tidak terlalu banyak.

Ada banyak jenis hama yang suka menyerang pohon jeruk. Secara umum. beberapa cara pengendalian organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dapat dipadukan adalah : 1. sanitasi. Artinya semakin besar pohon maka semakin besar pula penyangga yang diperlukan. Namun bila bahan yang akan digunakan untuk penyangga harus dibeli tentunya ada tambahan biaya bahan penyangga. ulat tanah yang menyerang akar dan ada ulat dan belalang yang dapat merusak buah atau kembang. Pembuatan penyangga ini tentunya memerlukan biaya. tanaman pinggir yang berfungsi sebagai perangkap hama dan sekaligus menjadi tempat berkembangnya musuh alami. Cara budidaya. Pengendalian Hama Dan Penyakit Pohon jeruk termasuk tanaman yang rawan terhadap serangan hama dan penyakit.B. yaitu dengan karantina dan peraturan tentang lalu lintas tanaman.Penyangga Agar pohon jeruk tidak menerima beban terlalu berat dan rusak pada saat berbuah. yang meliputi ketahanan varietas. menghancurkan OPT secara mekanis. Cara biologis. pengairan dan drainase yang baik dan pemupukan yang sesuai. dengan memanfaatkan musuh alami yang banyak dapat ditemukan di alam. Semua serangan hama dan penyakit dapat dielimenir dengan melakukan pengamatan yang terus menerus terhadap pohon jeruk atau dengan pencegahan dini dengan menggunakan fungisida dan insektisida. maka sebaiknya pohon jeruk diberi tiang penyangga yang terbuat dari kayu atau bambu. 4. namun karena pembuatannya bisa dilakukan secara bertahap dapat dipenuhi dari bahan yang terdapat disekitar petani. tentu biaya yang diperhitungkan adalah biaya tenaga kerja saja. Cara mekanis. Cara kimiawi. cara ini pilihan terakhir dalam pengendalian OPT karena beresiko buruk terhadap keamanan manusia dan kelestarian lingkungan. dengan menangkap. penghancuran tanaman yang terserang dan menjadi sumber penyakit. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 21 . 2. Penyangga sebaiknya dibuat persegi empat sesuai dengan lingkaran dahan yang harus disangga. Cara peraturan. 5. 3. mulai dari hama perusak daun dan ranting berupa tungau. Kebutuhan fungsida dan pestisida untuk lahan dataran tinggi lihat Lampiran 6.

4. 3. Kulit buahnya kekuning-kuningan (orange). Umur produktif jeruk bila dipelihara dengan baik bisa mencapai umur 20 tahun. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada panen jeruk siam : 1. dalam analisa MK PKT ini umur jeruk untuk lahan dataran rendah diproyeksikan sampai umur 20 tahun dan dataran tinggi sampai umur 15. sekitar jam 9 pagi sampai sore. Saat panen. ciri-ciri fisik : 1. satu orang dapat memetik/memanen lebih kurang 50 .2. 2. Buahnya tidak terlalu keras jika dipegang. Waktu pemetikan hendaknya dilakukan pada saat matahari sudah bersinar dan tidak terdapat lagi sisa embun. sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini. Dengan cara pemeliharaan yang baik produksi jeruk bisa maksimal baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Pemanenan buah jeruk yang baik. Tangkai buah dikerat dengan gunting pangkas sekitar 1 . 2.e. Pengelolaan Panen dan Pasca Panen Jeruk siam dapat dipanen pada umur 6 . Untuk memetik buah pada cabang yang tinggi sebaiknya digunakan tangga. Lihat Tabel 3.2 cm dari buahnya. 3.75 kg per hari. Bagian bawah buahnya agak empuk dan bila dijentik dengan jari bunyinya tidak nyaring lagi. Tiap pemetik sebaiknya membawa keranjang atau kantong yang dapat digantungkan di leher sehingga buah jeruk tidak perlu dijatuhkan ke bawah karena buah jeruk bisa rusak. Tangkai yang terlalu panjang dapat merusak buah lain ketika dimasukkan ke dalam keranjang. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 22 .8 bulan setelah bunganya mekar.

berdiameter 5. Grading JBS diperlukan untuk kesesuaian harga dalam pemasarannya. sekitar 6 buah per kg berdiameter 6.3.2. Setelah kering buah jeruk yang jelek.9 sekitar 10 buah per kg. Setelah dicuci harus dikeringkan dengan lap kering. atau busuk dipisahkan dari buah yang berkualitas baik. Produksi buah Jeruk Keprok per pohon di dataran rendah dan Dataran tinggi per tahun menurut umur Produksi Produksi Dataran Dataran Rendah Tinggi (Kg) (buah) 1 0 0 2 0 0 3 0 0 4 0 30 5 110 60 6 180 80 7 210 100 8 250 135 9 300 125 10 350 100 11 400 100 12 450 90 13 500 70 14 550 60 15 600 50 16 400 0 17 300 0 18 200 0 19 200 0 20 100 0 Sumber : Hasil Survei Konsultan MK-PKT Jeruk Umur Pohon/Tahun Sortasi dan Grading Buah jeruk yang baru datang dari kebun dibersihkan dari sisa obat-obatan dan tanah yang menempel dengan cara dicuci dengan air sabun. sekitar 8 buah per kg berdiameter 5.6 cm.Tabel.3. rusak.14 buah per kg.7.8 cm. Proses selanjutnya jeruk dikelompokkan atas kelas-kelas tertentu (grading). sekitar 12 . Grading untuk buah jeruk siam dikelompokkan atas : Kelas Kelas Kelas Kelas A B C D : : : : buah jeruk berdiameter rata-rata 7. Standar mutu jeruk siam dapat dilihat pada Tabel 3. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 23 .

1 – 6.Rusak Maksimum 1% 2% Sumber : Penebar Swadaya Patokan pengepakan jeruk siam berdasarkan kelas buah dan pengaturan letaknya dalam peti dapat dilihat pada Tabel 3.Tabel 3.4.1 6.1 – 7.0 Sumber : Isi Peti Lapisan (Buah) 100 4 100 – 176 5–6 176 – 294 7 294 7 Penebar Swadaya Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 24 .Ukuran Seragam Kurang Seragam Kerusakan 5% 10% Maksimum .Tingkat ketuaan Tua.0 4.Kekerasan Keras Cukup Keras . Standar Mutu Jeruk Siam Kriteria Mutu Syarat Mutu I Syarat Mutu II Kriteria sifat Seragam seragam varietas .0 5.3. tetapi tidak Tua.0 – 5.4. Tabel 3. Pengepakan Buah Jeruk Siam Kelas A B C D Diameter Buah cm 7.Kotoran maksimum Bebas Bebas . tetapi tidak Terlalu matang Terlalu matang .

namun untuk menjaga kualitas dan produktivitas buah. Kebutuhan Biaya Investasi Pada umumnya tanaman jeruk keprok/siam sudah dapat berproduksi pada tahun ke 3. pencucian pohon. Pembiayaan tersebut ditambah dengan biaya bunga masa pembangunan. tumbang/perun. sortasi dan grading. pembukaan lahan dan infrastruktur. penanaman.205.000 per hektar. studi kelayakan dan organisasi perkebunan Inti dan Plasma sebesar Rp. Biaya panen dan pasca pnen terdiri dari antara lain pemetikan hasil. pemberantasan gulma. 2.268 per ha. seperti halnya dengan perkebunan lainnya terdiri dari biaya pra operasi.1.5. pemberantasan hama dan penyakit tumbuhan. dan pemeliharaan kebun (tanaman dan ifrastruktur). pelubangan. pemupukan. Ringkasan biaya investasi pembangunan kebun jeruk plasma setiap hektar adalah seperti pada Tabel 4. Aspek Keuangan a. Pembiayaan pra-operasi meliputi persiapan legalitas dan pemilikan lahan. pelimburan/pelaburan. Biaya penanaman dan pemeliharaan terdiri dari penanaman jeruk. Komponen biaya investasi dalam pembangunan perkebunan jeruk. pembuatan tukungan (bumbunan). pembuatan galangan. 519. sementara pembungaan pada tahun ke dua dan ketiga dikasrasi. pembuatan parit dan pembelian bibit.314 per ha. pemanenan buah baru dilakukan pada tahun ke empat. 117. sebesar Rp. pembersihan lahan. Oleh karena itu dalam pembangunan kebun jeruk keprok di daerah basah memerlukan masa investasi relatif panjang dengan tenggang waktu 3 tahun. Biaya pembukaan lahan dan infrastruktur meliputi biaya penebangan. penanaman cover crop. dan pembangunan jalan kebun sebesar Rp. serta pasca panen yang secara keseluruhan meliputi bahan dan upah tenaga kerja (Lampiran 1 s/d 5). pembibitan. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 25 .

maka petani mempunyai sumber penerimaan selain dari jeruk juga dapat dari komoditas lain seperti padi atau palawija.100. 8.0 5.000.8 15.Tabel 4.500.722.395.0 1.551.5 Lain-lain Jumlah Biaya (Rp) 14.0 1.875.128.0 1.2 2.4 5.232.970.5 5.0 150.0 5.502.098.5 1. 7. 6.4 11.0 100.064.1 424. Tanaman selain jeruk ini ditanam di gawangan antar galangan jeruk.235.729. 1.348. yang bertujuan untuk memperkecil risiko dan sebagai faktor pengaman pangan bagi peserta plasma kebun jeruk.810.0 214. Ringkasan Biaya Investasi Per Hektar Pembangunan Kebun Plasma Jeruk Pola Kemitraan Tahun Ke 0 1 2 3 Jumlah Uraian Bahan & Alat 10. 3.2.1 7. Asumsi Harga Satuan Beberapa Komponen Utama Dalam Pembangunan Kebun Plasma Jeruk No.000.0 20. Namun demikian.235.500.2. 11. Komponen Biaya dan Satuan Bibit siap tanam (btg) Pupuk kandang (truk) Kapur pertanian (Kg) Pupuk daun PPC (Kg) Fungisida (Kg) Insektisida (ltr) Pupuk NPK (Kg) Pupuk PK (mikro) Sprayer (set) Gunting Stek (set) Tenaga kerja (HOK) Biaya / Harga (Rp) 2.738.711. dalam analisis ini.000.749.506.291.5 Sesuai dengan proporsi penggunaan lahan yang direncanakan untuk tanaman jeruk sebesar 52%. 4.0 1. biaya dan penerimaan yang diperhitungkan hanya dari komoditas jeruk selaku main crops.0 131.000.000.000. 10.536. 2. 9.500.263.4 582.5 1.886.0 250.0 12.478.0 24.711.650.2 Pembiayaan (Rp) Tng Kerja 107.0 1. Beberapa asumsi harga satuan yang mendasari perhitungan pembangunan kebun plasma jeruk ini adalah seprti pada Tabel 4.510.408.000.083.4 3.842.0 biaya Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 26 . 5. Tabel 4. dan untuk tanaman lain sebesar 48%.740.958.5 3.1.

dan Nilai Tambah. 5. jumlah kredit pembangunan kebun plasma jeruk untuk setiap hektar memerlukan kredit sebesar Rp. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 27 . Kas defisit terjadi selama 4 tahun (tahun 0 s/d tahun ke 3) dimana pembangunan kebun jeruk sedang berlangsung dan belum menghasilkan sehingga belum ada penjualan hasil.317. Sesuai dengan rencana kegiatan fisik proyek (RKP).3. Dari tahun ke 4 nampak bahwa peserta kebun plasma jeruk sudah memperoleh pendapatan bersih. Komponen kredit investasi untuk setiap hektar kebun jeruk di dataran rendah adalah sebesar Rp. Kredit/Finansial Jumlah Kredit Kredit yang diperlukan untuk pembangunan kebun plasma jeruk di lahan basah meliputi komponen biaya investasi dan komponen bunga masa pembangunan kebun (IDC) selama 3 tahun dan 9 bulan. Dengan demikian. 21. kebun plasma jeruk telah mampu memberikan keuntungan bagi peserta plasma (Tabel Arus Kas-Rugi/Laba).006.064 sementara IDC dengan tingkat suku bunga 14% per tahun (KKPA) untuk selama 4 tahun 9 bulan sebesar Rp. Kas surplus terjadi mulai dari tahun ke 4 sampai dengan tahun ke 20 (Lampiran 7 : Tabel Arus Kas-Rugi/Laba).b.886. Return On Sales (ROS).070. pencairan kredit dilakukan secara triwulan. Hal ini berarti bahwa sejak tahun ke 4.431. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan kebun plasma jeruk keprok/siam secar finansial layak untuk dibiayai dengan parameter seperti pada Tabel 4. Proyeksi Laba/Rugi Proyeksi laba/rugi yang direfleksikan sebagai pendapatan bersih kebun plasma jeruk merupakan ukuran kemampuan proyek untuk menghasilkan uang bagi petani. dimana besar kecilnya tergantung dari volume dan unit cost masing-masing kegiatan. Proyeksi Arus Kas Arus yang diukur dari kas defisit dan kas surplus (selisih antara kas masuk dan kas keluar) tahunan usaha kebun plasma jeruk diproyeksikan mulai dari awal tahun kegiatan sampai dengan batas akhir tahun proyek selama 20 tahun. 15. Kelayakan Finansial Beberapa ukuran yang digunakan untuk mengetahui kelayakan finansial kebun plasma jeruk antara lain : Internal Rate of Return (IRR).

087. 3. 21.Tabel 4. 1.200.3.532 Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 28 .975 26% Rp. 12. Parameter Kelayakan Finansial Pembangunan Kebun Plasma Jeruk Keprok per Hektar No. 2. Parameter Kelayakan Net Present Value Internal Rate of Return (IRR) Laba Bersih Rata-rata Besaran Rp.

lahan intensifikasi dan perluasan tanaman pada lahan baru. Subtitusi Buah Impor Keberhasilan peningkatan produksi jeruk dalam negeri sebagai salah satu sasaran MK PKT ini akan membantu pemerintah dalam upaya mengurangai pembelanjaan devisa untuk buah-buahan. tahapan produksi dan operasional proyek serta pada subsektor ekonomi yang berada di sisi hilir subsektor budidaya tanaman jeruk. pada tahapan persiapan dan pelaksanaan PKT ini. Dengan penyajian atas mutu dan harga disetiap tingkat pasar konsumen eceran maka akan memberi kesempatan bagi para konsumen untuk membeli buah-buahan sesuai dengan daya belinya. sekaligus bilamana ditunjang dengan tata pemasaran/distribusi yang efisien akan mendorong pemenuhan permintaan masyarakat luas secara nasional terhadap buah-buahan segar yang berkualitas baik. tenaga kerja ahli dan tenaga kerja tidak tetap (tenaga kerja kasar). maka MK PKT ini dapat dilaksanakan dengan tujuan dan cakupan sasaran pelaksanaan untuk merehabilitasi tanaman yang sudah ada dan yang sudah tidak rpoduktif lagi. bibit. Menumbuhkan Industri Hilir Menumbuhkan Industri Hilir Pada tahapan dimana buah jeruk dapat disediakan secara berkesinambungan dan pada lokasi pertanaman yang Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 29 . Penciptaan dan Pemeliharaan Lapangan Kerja Pelaksanaan PKT ini akan memberi kesempatan bagi para tenaga kerja terampil. Model usaha tani yang dirumuskan dalam MK PKT ini didesain agar petani tersebut mampu menggantungkan sebagian besar dari sumber pendapatan keluarga semata-mata dari hasil panen dan penjualan hasil tanaman jeruknya. Aspek Sosial Ekonomi Peningkatan Pendapatan Petani Kecil Pelaksanaan PKT Budidaya Tanaman Jeruk akan memberikan peluang usaha bagi para petani kecil yang berminat memanfaatkan lahan yang dimiliki untuk berusaha tani tanaman jeruk. peralatan dan lain-lain). baik yang terkait dengan semua aspek disisi hulu subsektor produksi tanaman jeruk yang dirumuskan dalam PKT ini (disektor penyediaan saprotan. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan a. Cakupan Sasaran Pelaksanaan Sehubungan dengan itu.6.

Penataan dalam Pemanfaatan Sumberdaya Keberhasilan pengembangan tanaman jeruk pada lokasi yang cocok untuk tanaman ini akan membantu pemerintah dalam rangka pengalokasian dan penetapan sumberdaya lahan bagi kepentingan pelestarian pengembangan mata dagangan tertentu termasuk tanaman jeruk.relatif menyebar. akan membawa dampak terhadap perubahan fisik lahan dan habitat aslinya. Dampak Lingkungan Dampak Terhadap Lingkungan Fisik dan Kimia Pembangunan kebun plasma jeruk dengan hamparan yang luas akan membawa dampak terhadap lingkungan sekitar. Demikian pula terhadap perubahan kimia. Rangsangan Untuk Memperkuat Teknologi Keberhasilan pelaksanaan MK PKT ini untuk meningkatkan pendapatan para petani jeruk. terutama terhadap kesuburan tanah. pemupukan dapat Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 30 . menciptakan dan memelihara lapangan kerja serta mengurangi pembelanjaan devisa negarauntuk mengimpor buah. b. yang mampu memberi kesempatan luas bagi pengusaha yang bergerak dalam subsektor budidaya maupun sebagai subsektor yang membantu pemerintah dalam rangka pengurangan pembelanjaan dan sekaligus peningkatan devisa.baik lingkungan fisik maupun kimia. akan memberikan rangsangan bagi para peneliti secara berkesinambungan untuk terus meneliti dan menciptakan tanaman jedruk yang unggul yaitu varietas jeruk yang tahan virus dan cocok untuk iklim di wilayah-wilayah produksi di Indonesia. rasa buah yang segar ("juicy") serta dengan produktivitas yang tinggi pula. akan mendorong pula kemungkinan tumbuhnya industri olah lanjut yang menggunakan bahan baku jeruk segar. penyiapan lahan. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Dengan kemampuan untuk direplikasi yang relatif besar akan memberikan kesempatan kepada lokasi pengembangan guna menyumbangkan kepada pendapatan asli daerah melalui pajak yang berasal/berhasil ditarik disetiap subsektor ekonomi yang terkait di hulu dan di hulu subsektor budidaya tanaman jeruk. dan pembangunan infrasruktur. perubahan pH tanah dan peningkatan terhadap kadar kejenuhan basa (KB). Untuk mengatasi dampak negatif tersebut. Dengan berbagai kegiatan yang dilakukan dalam pembangunan kebun antara lain : pembukaan hutan sekunder. perlakuan terhadap tanah melalui pemberian kapur pertanian. Terbukanya lahan dalam hamparan luas akan mengakibatkan terjadinya pencucian hara tanah.

dan kalaupun mampu bertahan hidup. Oleh karena itu dampak negatif ini penting dan harus diwaspadai serta diantisipasi dengan metode pengendalian hama terpadu yang tepat. sehingga dapat mendorong produktivitas kerja. yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas kebun dan kesejahteraan masyarakat.memperpen-dek positip. Siklus hidup organisme peng-ganggu akan terputus. Dampak Terhadap Kesehatan Lingkungan Masyarakat Pada tahap pelaksanaan pembangunan kebun plasma jeruk dan infrastruktur untuk plasma dan Inti. dalam jangka pendek akan guncang. akan memakan apa adanya. Struktur dan komposisi komunitas tumbuhan akan berubah secara total. perlu upaya untuk menciptakan lingkungan kehidupan masyarakat yang sehat dan harmonis. dengan bertambahnya penduduk pendatang baru dan masuknya berbagai peralatan. Untuk mengatasi dampak negatif ini. Dampak penting lainnya akibat dari pembukaan lahan adalah berubahnya ekosistem tertutup menjadi ekosistem terbuka. Vegetasi hutan sekunder yang sebelumnya terdiri dari berbagai jenis. baik itu secara mekanis maupun secara biologis dan kimiawi. diperlukan kesedian perkebunan Inti menyiapkan berbagai fasilitas umum yang memadai antara lain: sarana dan prasarana pengobatan termasuk tenaga medis dan para medis. sarana dan prasarana pendidikan. dampak tersebut sehingga berubah menjadi dampak Dampak Terhadap Lingkungan Biota Pembukaan hutan sekunder dan penyiapan lahan tanam akan memberikan dampak yang nyata terhadap lingkungan biota. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 31 . Dampak negatif ini akan teratasi dalam waktu singkat dengan adanya pemeliharaan tanaman jeruk secara intensif dan memberikan keseimbangan baru bagi ekosistem wilayah. Organisme pengganggu pada umumnya adalah satwa liar yang suka akan habitat terbuka. dan memiliki struktur dan fungsi yang sesuai dengan keseimbangan ekosistem hutan. Dengan demikian. pasti terjadi dampak terhadap kesehatan masyarakat. atau bahkan akan menyerang tanaman jeruk di kebun plasma. pembukaan lahan diperkirakan justru akan meningkatkan baik jenis maupun populasi dari organisme penganggu. umur. serta tempat ibadah yang sesuai. Selain itu.

Jaminan pemasran jeruk manis tersebut dilaksanakan oleh UB (INTI). Dalam model ini kebutuhan terhadap faktor produksi dan pemasaran produk jeruk manis yang dihasilkan UK dijamin dalam benrtuk "sharing" antara Lembaga Penjaminan Kredit. Koperasi Primer yang bersangkutan. dalam tahapan pembangunan fisik. Penutup a. kemitraan antara petani jeruk dengan lembaga penampung. Adanya Jaminan Kesinambungan Pasar Kelancaran pemasaran hasil produksi Model Kelayakan PKT Budidaya Tanaman Jeruk ini dijamin sepenuhnya dalam bentuk "sharing" seperti yang telah diuraikan dalam Bab VI. tahapan proses produksi dan penjualan. Lembaga Pengumpul (UB) menyediakan bantuan teknis yang profesional (bermutu) secara berkesinambungan. ditujukan untuk kepentingan dan keuntungan UK. UB maupun untuk pengamanan kredit Bank. PKT Unggulan MK PKT Budidaya Tanaman Jeruk ini diharapkan dapat merupakan salah satu produk pembiayaan yang sangat menguntungkan bagi masyarakat dan dapat membantu perbankan dalam peningkatan kredit yang cocok untuk usaha kecil. Kemitraan dalam tahapan produksi yang disertai dengan jaminan kesinambungan pembelian jeruk segar hasil panen para plasma oleh Usaha Besar. Bantuan pendampingan ini dimulai semenjak pelaksanaan pelatihan untuk UK saat rekrutment calon UK yang bersungguhsungguh berkeinginan untuk menjadi petani plasma. Bantuan pendampingan yang dimaksudkan agar pelaksanaan proyek dapat berjalan sesuai dengan perencanaan. dengan Lembaga Pengumpul (Swasta) yang diposisikan sebagai INTI. Menghadirkan Kegiatan Pendampingan Untuk menunjang keberhasilan Model Kelayakan PKT ini. serta dalam tahapan pengelolaan dana hasil penjualan. serta kepastian pembayaran oleh Usaha Besar (INTI).7. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 32 . merupakan gambaran keberhasilan skala bisnis yang "on line". Keunggulan MK PKT ini sebagai salah satu kemungkinan produk unggulan perbankan yaitu karena memiliki unsur-unsur keunggulan sebagaimana berikut: Bisnis yang "on line" Seperti yang telah diuraikan dalam Bab VI jelas bahwa Model Kelayakan PKT Budidaya Tanaman Jeruk merupakan kemitraan usaha antara Petani Jeruk Manis yang dalam hal ini didudukkan sebagai petani plasma.

atau untuk jenis kegiatan produktif lainnya.an dan pelaksanaan proyek. 2. akan terbentuk dan tercipta pula aspek transparansi yang sangat diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan proyek dan proses pengkreditannya. Adanya Potensi Kegiatan Kelompok Yang Berkaitan Dengan Kredit Dengan mendasarkan kepada model yang telah diuraikan di atas.pinjam. Lembaga penjaminan kredit.Rugi. memungkinkan pembentukan kelompok sedini mungkin. Cash Flow Sebagai Alat Pengontrol Pengembalian Kredit Pengembalian kredit didasarkan. Pembentukan dan mengaktifkan kegiatan kelompok tersebut ditujukan antara lain untuk kegiatan simpan . dapat dikaitkan dengan besarnya potensi hasil analisa "net csh flow" maupun Laba . disesuaikan dan mengacu kepada perkembangan dan kekuatan cash flow. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 33 . yaitu ketika Lembaga Pengumpul (INTI) bersama dengan para petani jeruk dan ketika UK sebagai calon debitur sedang mengikuti pelatihan (sebelum mereka menjadi calon nominatif). Dari sebagian dana simpanan tersebut. Dengan sistem mengangsur. Pengembangan tabungan sebagai salah satu alat pengamanan kredit. Adanya Potensi Penjaminan Kredit Yang Relatif Lengkap Untuk penjaminan pengamanan kredit yang digunakan dalam pelaksanaan Model Kelayakan PKT ini.Adanya Kemampuan Untuk Memanfaatkan Kredit Berbunga Pasar "Financial Rate of Return (FRR)" yang relatif lebih besar dari bunga kredit bank menyebabkan Model Kelayakan PKT ini layak dilaksanakan dan dikembangkan. Proses Pemanfaatan dan Penggunaan Kredit Yang Aman Model Kelayakan ini merumuskan mekanisme pencairan dan peng-gunaan atas dana kredit yang disesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan proyek. Kegiatan kelompok guna mengembangkan tabungan dan pemupukan modal yang dikaitkan dengan kredit. maka proyek ini memungkinkan para petani plasma akan mampu menghimpun dana sendiri dan lepas dari ketergantungan terhadap kredit. Transparansi Pada Setiap Tahapan Pelaksanaan Proyek Dengan mengikutsertakan UK sejak sedini mungkin dalam perencana. dapat diikutsertakan berperannya : 1. secara potensial dapat digunakan sebagai dana untuk membantu proses pengembalian angsuran pokok dan bunga (bilamana diperlukan).

dan modal serta program pendampingan relatif mudah disediakan.an terutama pada saat proyek dan kredit masuk dalam tahapan pelaksanaan dan tahapan mengangsur.Daya Replikasi Yang Tinggi Proyek ini mempunyai potensi untuk dikembangkan hampir diseluruh propinsi. Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 34 . Dismaping itu. di mana tenaga kerja. khususnya bagi para petani yang mengusahakan lahan yang relatif tidak mendapat jaminan pengairan yang intensif sepanjang tahun. penerapan teknologi produksi dan penanganan produksi serta aspek keuangan. teknis dan finansial maka kemitraan akan berjalan secara berkesinambungan. Maksud dan tujuan mengikutsertakan mereka sedini mungkin yaitu agar mulai dari proses perencanaan para UK benar-benar dapat memahami perlunya kesungguhan dalam melaksanakan kemitraan. dapat dituangkan dalam bentuk Nota Kesepakatan b. perlu didasarkan atas suatu dokumen kesepahaman umum dan atau nota kesepakatan yang rinci dan diuraikan dalam bentuk yang sangat mudah dipahami oleh para UK (anggota plasma). maka perlu diusahakan agar UK yang telah direkrut dan merupakan calon nominatif semaksimal mungkin dapat diikutsertakan dalam perencanaan (ide dan pengembangannya) sedini mungkin. produk yang dihasilkan para petani dapat dipasarkan dengan pola kemitraan seperti yang telah diuraikan dalam Bab VI. Pemahaman Titik-titik Rawan Dan Transparansi Proses pemahaman terhadap titik-titik rtawan baik yang terdapat dalam pelaksanaan proses pemasaran jeruk manis. Dengan memahami tentang perlunya kesungguhan dalam melaksanakan proyek sesuai dengan yang diminta oleh persyaratan pasar. Nota Kesepakatan Semua hal yang menggambarkan keunggulan Model Kelayakan PKT Budidaya Tanaman Jeruk ini. Titik Kritis Program Pendampingan Yang Jelas Sehubungan dengan masih adanya kemungkinan muncul permasalah.

LAMPIRAN Bank Indonesia – Budidaya Tanaman Jeruk Keprok/Siam 35 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful