P. 1
PENYUSUNAN INSTRUMEN PENELITIAN

PENYUSUNAN INSTRUMEN PENELITIAN

|Views: 803|Likes:
Published by Adhi Seno Nugroho

More info:

Published by: Adhi Seno Nugroho on May 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2015

pdf

text

original

PENYUSUNAN INSTRUMEN PENELITIAN Oleh : Sri Yamtinah A.

PENDAHULUAN Meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Dengan demikian harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Instrumen penelitian diartikan sebagai suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian. Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan mutu suatu penelitian. Mutu penelitian dipengaruhi oleh kualitas data penelitian. Terdapat dua hal yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen sedangkan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu, instrumen yang telah teruji validitas dan reliabiltasnya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid dan reliabel, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya. Sedangkan jika kualitas instrumen yang digunakan tidak baik dalam arti mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru. Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah dianggap baku untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu. Dengan demikian, jika instrumen baku telah tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian maka kita dapat langsung menggunakan instrumen tersebut, dengan catatan bahwa teori yang dijadikan landasan penyusunan instrumen tersebut sesuai dengan teori yang diacu dalam penelitian kita. Selain itu konstruk variabel yang diukur oleh instrumen tersebut juga sama dengan konstruk variabel yang hendak kita ukur dalam penelitian. Akan tetapi, jika instrumen yang baku belum tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian, maka instrumen untuk mengumpulkan data variabel tersebut harus dibuat sendiri oleh peneliti. Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dlihat dari setting-nya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium dengan metode eksperimen, di rumah dengan berbagai responden, pada suatu seminar, diskusi, dijalan dan lain-lain. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan) dan dokumentasi.

Teknik Pengumpulan Data Ada 5 cara teknik pengumpulan data. data yang diperoleh pada umumnya adalah data naratif deskriptif. Fungsi instrumen adalah mengungkapkan fakta menjadi data. Instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif dan kualitatif tentang variasi karakteristik variabel penelitian secara objektif. Instrumen yang berisi benar – salah. berupa pertanyaan atau pernyataan yang jawabannya berbentuk skala deskriptif ataupun skala garis. pengetahuan intelegensi. benar salah (true false). bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Sedangkan menurut Djaali dan Muljono. jawaban tersebut dapat dijumlahkan sehingga diperoleh angka. Dalam hal ini wawancara dibedakan menjadi dua macam. Non Tes (bukan test) Pada instrumen non test atau bersifat menghimpun dengan jawaban berstruktur. interval atau rasio. menjodohkan (matching choice). 1. kemungkinan diperoleh data angka yang bisa diolah menjadi data nominal. b. yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Dalam studi dokumenter. karena berisi pertanyaan atau pernyataan yang alternative jawabannya memiliki standar jawaban tertentu. interval atau rasio. Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data. yaitu: a. tetapi data nominal. ordinal. INSTRUMEN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian dan penilaian. Instrumen tes bersifat mengukur. benar – salah ataupun skala jawaban. ataupun tes isian (completion test). dapat berbentuk tes pilihan jamak (multiple choice).B. kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. 2. yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel. mengikuti bentuk skala sikap dari Likert. Interview (Wawancara) Interview (wawancara) merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam bentuk deskriptif kualitatif dan deskriptif secara kuantitatif. Instrumen yang berisi jawaban skala. benar tidaknya data tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan data. instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis. Menurut Arikunto. yaitu: a. yaitu frekuensi atau jumlah jawaban. Angka tersebut bukan skor atau data ordinal. Tes Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan. deskriptif kualitatif ataupun kuantitatif terkait dengan narasi. Pada instrumen non tes dengan jawaban terbuka. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka individual atau kelompok. jawaban singkat (short answer). Instrumen Pengumpulan Data Secara garis besar. Instrumen memegang peranan penting dalam menentukan mutu suatu penelitian dan penilaian. data merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. . bentuk instrumen digolongkan menjadi dua macam.

kepala sekolah yang sedang memberikan pengarahan. Triangulasi Dalam teknik pengumpulan data. untuk setiap pertanyaan atau pernyataan terbuka dan berstruktur disediakan kolom untuk menuliskan jawaban atau respon dari responden secukupnya. Oleh karena angket dijawab atau diisi oleh responden dan peneliti tidak selalu bertemu langsung dengan responden. sebelum butir-butir pertanyaan atau pernyataan ada penngantar atau petunjuk pengisian. dan sebagainya. Peneliti menggunakan observasi partisipatif. c. gambar. kalimat tidak terlalu panjang. pengamat ikut sebagai peserta rapat atau peserta latihan. Kedua. Dalam observasi partisipatif pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Dengan demikian metode dokumentasi dapat dilaksanakan dengan dua cara. yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data. personil bidang kepegawaian yang sedang rapat. dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. dia hanya berperan mengamati kegiatan. triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. d. siswa belajar. Pertama. Kedua. Dalam observasi non partisipatif pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan. Check-list yaitu daftar variable yang akan dikumpulkan datanya. b. Observasi dapat dilakukan secara partisipatif ataupun non partisipatif. Kuesioner (Angket) Kuesioner (angket) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. maupun elektronik. maka dalam penyusuna angket perlu diperhatikan beberapa hal. yaitu: Pertama. baik dokumen tertulis. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi. maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data. Dokumen-dokumen yang dihimpun dipilih yang sesuai dengan tujeuan dan fokus masalah. dimana peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden. untuk . Dan Ketiga. Teknik Triangulasi berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. butirbutir pertanyaan dirumuskan secara jelas menggunakan kata-kata yang lazim digunakan (popular). tidak ikut dalam kegiatan. Observasi Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Dokumentasi Suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen. pedoman dokumentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya. Kegiatan tersebut biasa berkenaan dengan cara guru mengajar. e. Dalam hal ini peneliti tinggal memberikan tanda setiap pemunculan gejala yang dimaksud. Triangulasi sumber berarti.Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. wawancara mendalam.

Dalam hal instrument tes aspek kognitif. Dalam hal instrument non kognitif. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN INSTRUMEN Langkah-langkah dalam menyusun instrument secara lengkap dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. untuk menetapkan daya pembeda butir dan tingkat . Sintesa teori-teori yang sesuai dengan konsep variabel yang akan diukur (merumuskan definisi konseptual) dan membuat konstruk variable (merumuskan definisi operasional). Butir instrument yang ditulis divalidasi secara teoritik dan empirik 6. uji coba dilakukan dengan menggunakan minimal 2 orang penilai (rater). 9. digolongkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok pernyataan atau pertanyaan positif (favourable) dan kelompok pernyataan atau pertanyaan negatif (unfavourable). 5. Validasi kedua adalah uji coba instrumen di lapangan yang merupakan bagian dari proses validasi empirik. Kembangkan dimensi dan indikator variabel sesuai dengan rumusan konstruk variable. Dalam hal instrument tes aspek kognitif. Dalam hal instrumen pengukuran kinerja untuk aspek psikomotor. Validasi pertama yaitu validasi teoritik ditempuh melalui pemeriksaan pakar atau panelis yang menilai seberapa jauh ketepatan dimensi sebagai jabaran dari konstruk. 11. 2. Tulis butir-butir instrumen baik dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan. Setelah konsep instrumen dianggap valid secara teoritik dilanjutkan penggandaan instrumen secara terbatas untuk keperluan uji coba. indikator sebagai jabaran dimensi dan butir sebagai jabaran indikator. Jawaban responden adalah data empiris yang kemudian dianalisis untuk menguji validitas empiris atau validitas kriteria dari instrumen yang dikembangkan dengan Analisis Faktor Konfirmatori atau Analisis Faktor Eksploratori(untuk skripsi belum perlu dilakukan) 10.mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. Buat kisi-kisi instrumen dalam bentuk tabel spesifikasi yang memuat dimensi. Validasi pertama ini dapat disebut sebagai memvalidasi isi (content validity ). nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indicator 4. makin tinggi koefisien reliabilitas instrumen berarti semakin baik kualitas instrument (selengkapnya pada pembahasan reliabilitas ). Untuk instrument tes aspek kognitif. masih perlu dilakukan telaah butir secara empiris berdasarkan respon siswa hasil uji coba. 3. definisi konseptual adalah standar kompetensi dan definisi operasional adalah kompetensi dasar. 7. C. Berdasarkan validasi pakar atau panelis dapat dilakukan revisi instrumen dan dapat ditentukan besar validitas isinya berdasarkan rumus Gregory ataupun rumus CVR (Content Validity Ratio ) (selengkapnya pada pembahasan validitas) 8. dimensi adalah indikator kompetensi dan indikator adalah indikator soal. indikator. Koefisien reliabilitas memiliki rentangan 0-1. Dihitung koefisien reliabilitas dengan menggunakan formula atau rumus yang disesuaikan dengan jenis data. Instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel yang mempunyai karakteritik sama dengan populasi yang ingin diukur. Dalam hal instrument pengukuran kinerja (aspek psikomotor) perlu ditentukan juga reliabilitas antar rater.

Tes yang valid adalah tes yang mampu mengukur apa yang hendak diukur. Pemeriksaan validitas pengukuran dilakukan sebelum alat ukur/tes digunakan sesungguhnya.. makin tinggi tingkat validitas makin baik pengukuran itu. Validitas pengukuran memiliki nilai dari rendah ke tinggi. Rakit semua butir yang telah dibuat menjadi instrumen final. Atau dengan kata lain validitas adalah kecocokan antara alat ukur (tes) dengan sasaran ukur. Artinya alat ukur yang mempunyai validitas isi yang baik adalah tes yang benar-benar mengukur penguasaan materi yang seharusnya dikuasai sesuai dengan konten pengajaran yang tercantum dalam kurikulum. Pada formula Schultz & Whitney (2005) analisisnya pada masing-masing butir. Oleh karena fungsinya adalah melihat kecocokan. Oleh karena itu validitas selalu dikaitkan dengan tujuan tertentu. terdapat dua hal yang harus diperhatikan dan dipenuhi untuk memperoleh instrumen yang berkualitas yaitu instrumen tersebut harus valid dan reliabel. validitas instrument memenuhi syarat atau tidak digunakan 2 formula yaitu formula Schultz & Whitney (2005) untuk melihat validitas isi masingmasing butir dan formula Gregorry (2007) untuk melihat validitas isi secara keseluruhan.75. D. maka alat ukur dapat diperbaiki. Untuk itu. a. Contoh penggunaan formula Schultz & Whitney (2005) hasil pemeriksaan oleh 10 panelis dari 4 item yang diperiksa: Butir ke. Not necessary Usefull Essential CVR 1 1 1 8 0. Pemeriksaan validitas pengukuran dapat dilakukan pada saat tes baru dibuat atau disusun dan dapat juga dilakukan pada saat uji coba alat ukur. Validitas adalah sejauh mana suatu alat ukur atau tes melakukan fungsinya atau mengukur apa yang seharusnya diukur. maka perlu orang-orang yang ahli di bidangnya yang kita tunjuk sebagai panelis untuk memeriksa instrument kita. perlu pemahaman yang mendalam tentang validitas dan reliabilitas instrumen. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan tingkat validitas rendah. digunakan formula : Dimana: ne adalah banyaknya penelaah yang menyatakan essential N adalah banyaknya penelaah dan validitas isi dikatakan memenuhi syarat jika CVR ≥ 0. Ada 3 jenis validitas pengukuran yaitu: 1. Artinya sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya.kesukaran. Pemeriksaan validitas dan perbaikan alat ukur dilakukan berulang-ulang sampai alat ukur mencapai validitas pengukuran yang cukup tinggi. Untuk dapat mengetahui apakah secara isi.6 . Terkait langkah-langkah pengembangan instrumen di atas. tes yang valid untuk tujuan tertentu mungkin tidak valid untuk tujuan lain. Validitas Isi Validitas isi adalah kecocokan di antara isi alat ukur (tes) dengan isi sasaran ukur. VALIDITAS INSTRUMEN Validitas berasal dari kata validity yang berarti “kesahihan”. 12.

5.700 yang berarti memenuhi persyaratan untuk dapat dilanjutkan. 2. 26.2 0 1 9 0.10.30. 11. 25.7419 yang hanya sedikit lebih tinggi dari 0. Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan. 24. 10. Validitas Kriteria Prosedur pendekatan validitas berdasar kriteria menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. 27. 28.6 4 0 0 10 1. Hal ini juga menunjukkan bahwa instrumen ini relevan untuk mengukur variable yang diteliti. 18.14. dalam bentuk menilai relevan atau kurang relevan masing-masing indicator butir bila dicocokkan dengan butir-butirnya. 23.700 maka dapat dianalisis juga bahwa masih banyak item yang dianggap kurang relevan yang perlu untuk direvisi. 28. 14. 8. 4. 12. 27. 16. 23. Contoh penggunaan formula Gregorry. seperti yang disyaratkan Gregory. 21. 19. 9. 20.11. Formula Gregory (2000) adalah sebagai berikut : Content Validity (CV) = Dimana. 29 2. 7. A = Jumlah item yang kurang relevan menurut kedua panelis B= Jumlah item yang kurang relevan menurut Panelis I dan relevan menurut Panelis II C= Jumlah item relevan menurut Panelis I dan yang kurang relevan menurut Panelis II D= Jumlah item yang relevan menurut kedua Panelis Kriteria yang digunakan adalah jika CV > 0. 8. 2. 6. 18. 24. 7. 32. 16. Selanjutnya dibuat table bantu sebagai berikut : Panelis II Panelis I Jumlah Item yang Kurang Relevan Jumlah Item yang Relevan Jumlah Item yang Kurang Relevan 4 3 Jumlah Item yang Relevan 2 23 Conten Validity (CV) = Nilai CV= 0. 5. 13. 19. 3.8 3 0 2 8 0. 22. 12. 15. 4.9. 29 1.7419. 31. 25.0 b.32. 17. 20. Namun memperhatikan angka 0. dua orang panelis memberikan penilaiannya terhadap 32 butir pernyataan angket yaitu : Panelis I Panelis II Nomor Item Kurang relevan Nomor Item Relevan Nomor Item Kurang relevan Nomor Item Relevan 1. diperlukan 2 orang panelis untuk memeriksa kecocokan antara indicator dengan butir-butir instrument.700 maka analisis dapat dilanjutkan. 21.22.30. 15. 6. 3. Untuk melihat tingginya . 26. Nilai ini lebih dari 0.13. 31.22. 17. Untuk keseluruhan butir digunakan formula dari Gregory (2007): Pada formula Gregorry.

Validitas Konkuren Apabila skor tes dan skor kriteria dapat diperoleh dalam waktu yang bersamaan. Misalnya perangkat tes masuk dikatakan punya validitas prediktif yang baik bila mampu meramalkan kemampuan calon siswanya. 3. b. Validitas Konstruk Validitas konstruk mengacu pada sejauhmana suatu tes mengukur konsep dari suatu teori. Kemudian hasil perhitungan dapat dionsultasikan dengan tabel r product moment. Validitas Prediktif Validitas prediktif sangat penting artinya bila tes dimaksudkan berfungsi sebagai prediktor bagi performansi di waktu yang akan datang. validitas tes (rxy) selanjutnya disebut r hitung. Dalam menguji validitas perangkat tes buatan guru. yaitu validitas prediktif (predictive validity) dan validitas konkuren ( concurrent validity ). Item dikatakan valid bila harga r hitung ≥ r tabel.validitas berdasar kriteria dilakukan komputasi korelasi product moment antara skor tes (X) dengan skor kriteria (Y). a. Pengumpulan bukti validitas . Formula korelasi product moment adalah : rxy = Keterangan rumus: rxy : koefisien validitas X : skor butir item nomor tertentu Y : skor total N : jumlah subyek Taraf signifikansi yang dipakai adalah 5%. validitas tes (rxy) selanjutnya disebut r hitung. Koefisien korelasi product moment dari keduanya menghasilkan validitas konkuren. yaitu yang menjadi dasar penyusunan instrument ( Djemari. 2008). Dalam hal ini skor tes masuk disebut sebagai skor tes (X) dan nilai siswa pada ulangan semester sebagai skor kriteria (Y). maka korelasi antara keduanya disebut sebagai validitas konkuren. Kemudian hasil perhitungan dapat dikonsultasikan dengan tabel r product moment. maka hasil uji tes buatan guru sebagai skor tes (X) dan skor dari hasil uji tes yang telah baku sebagai skor kriteria (Y). Ada dua jenis validitas berdasar kriteria. Formula korelasi product moment adalah : rxy = Keterangan rumus: rxy : koefisien validitas X : skor butir item nomor tertentu Y : skor total N : jumlah subyek Taraf signifikansi yang dipakai adalah 5%. Item dikatakan valid bila harga r hitung ≥ r tabel.

Konsistensi Internal Kelemahan-kelemahan yang ada pada pendekatan tes ulang maupun tes paralel dapat diatasi pendekatan konsistensi internal. Selanjutnya dua distribusi skor ini ditentukan reliabilitasnya dengan menghitung koefisien korelasi antar keduanya dengan menggunakan korelasi product moment. Setelah selesai dijawab oleh subyek barulah item pada masing-masing tes kembali dipisahkan sehingga diperoleh dua distribusi skor. b. Pendekatan Tes Ulang Dalam pendekatan ini penyajian instrumen diberikan sebanyak dua kali dengan tenggang waktu tertentu. sehingga mengurangi kejenuhan siswa. Kelebihan dari metode tes paralel ini adalah siswa hanya mengerjakan sekali. selama aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah. kemungkinan siswa akan menjadi jenuh sehingga hasil yang didapatkan pada tes ke dua besar kemungkinan hanya apa yang diingat dari tes pertama. Namun demikian karena siswa harus mengerjakan 2 kali soal yang sama. Pendekatan Tes Paralel Pendekatan reliabilitas bentuk paralel dilakukan dengan memberikan sekaligus dua bentuk tes yang paralel satu sama lain. keajegan. Ide pokok dari reliabilitas adalah sejauh mana hasil dari suatu pengukuran dapat dipercaya. Istilah reliabilitas sering diartikan sebagai keterpercayaan. kestabilan maupun konsistensi. kedua tes paralel dapat digabungkan terlebih dahulu sehingga seakan-akan merupakan satu bentuk tes. Kelebihan dari metode ini terletak pada lebih mudah pada penyusunan soal karena hanya menyusun seperangkat saja. Selanjutnya 2 distribusi skor ini ditentukan reliabilitasnya melalui formula korelasi product moment. RELIABILITAS INSTRUMEN Reliabilitas merupakan penerjemahan dari rely dan ability. berarti hanya akan ada satu distribusi . Bila perbedaan sangat besar dari waktu ke waktu maka hasil pengukuran tidak dapat dipercaya dan dikatakan tidak reliabel. keterandalan. c. Namun penyusun soal mengalami kesulitan karena menyusun dua perangkat soal yang paralel adalah sebuah kesulitan tersendiri. kepada sekelompok subyek. Dalam hal ini relatif sama berarti tetap adanya toleransi terhadap perbedaan-perbedaan kecil di antara hasil beberapa kali pengukuran. Penentuan reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan tiga cara : a. E. Dengan pendekatan konsistensi internal ini penyusun soal hanya cukup membuat seperangkat soal saja dan diujikan kepada kelompok subyek satu kali. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama.konstruk merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait/variable/sifat yang diukur. Dengan hanya satu kali dikenakan pada kelompok subyek. Penentuan validitas konstruk dapat dilakukan dengan multitrait multi factor dan factor analysis. Apabila suatu instrumen telah diberikan sebanyak dua kali kepada kelompok subyek maka akan didapatkan dua distribusi skor. Dalam pelaksanaannya.

maka dapat dipilih formula Rulon. Cara apapun yang dipilih diharapkan akan memberikan belahan yang setara atau homogen. Formula : rxy = (ini baru ½ tes) rii = (reliabilitas tes keseluruhan) 2). Penentuan reliabilitas dapat menggunakan rumus-rumus sebagai berikut : 1). Formula KR-20 Formula ini digunakan untuk jumlah soal yang tidak terlalu banyak Formula : KR-20 = Di mana : KR-20 : koefisien korelasi k : banyaknya item dalam tes . Pembelahan tes bisa dilakukan menjadi beberapa belahan apabila diperlukan.skor. 4). Oleh karena itu prosedur analisis reliabilitasnya diarahkan pada kelompok-kelompok butir soal atau terhadap butir-butir soal sehingga perlu diberlakukan pembelahan terhadap perangkat soal. Formula Rulon Apabila homogenitas kedua belahan tes diragukan. Untuk tes yang dibelah menjadi lebih dari 2 belahan dapat digunakan formula Alpha sebagai berikut : Formula : α = Dimana : α : koefisien reliabilitas k : banyaknya belahan tes Sj2 : varians belahan j Sx2 : varians skor total Formula α digunakan juga pada data yang bersifat politomus. Formula : rxy = dimana : rxy : koefisien reliabilitas d : perbedaan skor kedua belahan ( skor belahan 1 – belahan 2 ) Sd2 : varians perbedaan skor kedua belahan Sx2 : varians skor total 3). dengan anggapan bahwa sumber kesalahan ( varians error ) adalah terletak pada perbedaan perbedaan skor kedua belahan. Pembelahan terhadap perangkat soal dapat menggunakan cara random ataupun cara gasal genap. Formula Alpha Pembelahan item tes tidak hanya terbatas dengan pembelahan menjadi 2 belahan saja. Formula Spearman-Brown Formula Spearman-Brown ini dapat digunakan dengan persyaratan kedua belahan paralel. dibuktikan dengan koefisien korelasi tinggi antar kedua belahan.

7 dapat membedakan dengan baik 0.0.0 dapat membedakan dengan baik sekali G.31 – 0. digunakan formula point biserial.p : proporsi peserta yang menjawab benar q : proporsi peserta yang menjawab salah (q=1-p) Sx2 : varians skor total F.0. DAYA PEMBEDA Daya beda butir merupakan kemampuan sebuah soal untuk membedakan antara siswa berkemampuan tinggi dengan siswa berkemampuan rendah.7 soal sedang 0. TINGKAT KESUKARAN Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Formula rumus korelasi point biserial adalah : rxy = dimana : rxy : koefisien korelasi Mp : rerata skor total dari sejumlah subyek yang menjawab benar pada item yang ditentukan validitasnya Mt : rerata skor total seluruh peserta pada seluruh soal St : standar deviasi dari skor total p : proporsi peserta yang menjawab benar q : proporsi peserta yang menjawab salah (q=1-p) Kriteria daya pembeda butir : 0.0. Besaran tingkat kesukaran antara 0.25) distribusinya berbentuk positif skewed.0 .2 kurang dapat membedakan 0. Untuk tes yang sangat sukar (TK= < 0. Indeks kesukaran : 0.4 cukup dapat membedakan 0. Untuk menentukan daya pembeda butir. Sehingga diformulasikan : P= Dimana : P : indeks kesukaran B : banyaknya peserta yang menjawab benar JS : jumlah seluruh peserta Tingkat kesukaran butir soal dapat mempengaruhi bentuk distribusi total skor tes. sedangkan tes yang mudah dengan TK= >0.0 – 1.3 soal sukar 0.1.0.21 .71 .71 – 1.0 – 0.41 . Tingkat kesukaran yang diukur .80) distribusinya berbentuk negatif skewed.0 soal mudah Indeks kesukaran (P) merupakan proporsi penjawab benar pada sebuah soal.

Essentials of Educational Measurement.40).D. DAFTAR BACAAN Djemari Mardapi (2008). J. Thorndike. R. (2005).A (1986). (2005).E. R. Prentice Hall. 5th Edition.New Jersey Shultz. Upper Saddle River. MA: Allyn & Bacon.Pearson Education Upper Saddle River. (2000). Psychological testing: History. California: Sage Publications. Linn. D. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Non Tes. Thousand Oaks. principles.L & Frisbie. Eight edition. Mitra Cendikia Press : Yogyakarta Ebel. Columbus.90). R. S. Fourth edition. Boston. Ohio. maka soal akan sangat mudah (TK= >0.L. Jika sampel berkemampuan rendah. K. Measurement and Assessment in Teaching. Measurement and Evaluation in Psychology and Education. maka soal akan sangat sulit (TK = < 0. New Jersey.Inc. (2007). and applications. & Whitney. Jika sampel berkemampuan tinggi. Inc.. . Measurement theory in action: Case studies and exercises. Seventh edition.Inc. & N.Englewood Cliffs. Prentice Hall. New Jersey Gregory. Grondlund.dengan menggunakan rumus di atas juga memiliki kelemahan karena sangat ditentukan oleh sampel.M. J. R.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->