KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF AGAMA DI INDONESIA

Dalam hal apapun agama mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, penekanan harmonitas kehidupan menjadi bersifat lintas agama. Akan tetapi, dalam hal kerukunan di kehidupan sosial sering kali didasarkan pada ikatan-ikatan primordial dengan saling terlikung dan mengejek. Seperti penguatan identitas politik, etnis, suku dan agama sekalipun (Qodir, 2011: 194). Banyak pengamat yang melihat bahwa Indonesia masih menjadi semacam laboratorium bagi kerukunan umat beragama. Setidaknya penilaian ini diberikan oleh Menteri Luar Negeri Italia, Franco Frattini. Penilaian dari Franco Frattini ini disampaikan oleh Mochsen, saat berlangsung dialog Pengembangan Wawasan Multikultural bagi para tokoh agama, pemuda dan mahasiswa lintas agama di Palu. Diantara usaha untuk mewujudkan kerukunan umat beragama tersebut, tentunya ada upaya untuk saling berdialog antar umat beragama sebagai refleksi perwujudan rasionalitas komunikatif merupakan tindakan komunikasi (action of communication) diantara manusia yang hidup bersama dalam menciptakan masyarakat yang komunikatif dan berkualitas. Meskipun dialog antar umat beragama tidak jarang menemui hambatan dan kesulitan, seperti saling curiga, sifat inklusif, tidak jujur dan tulus. Bahkan, dialog itu mungkin hanya sekedar alat untuk kepentingan lain, contohnya adanya kepentingan politik, dan paling utama biasanya faktor ekonomi. Jurgen Habermas menegaskan bahwa “dengan memahami komunikasi sebagai dimensi praksis manusia, teori tindakan komunikasi dapat memberikan landasan bagi terselenggaranya dialog yang mengkhususkan antar umat beragama yang ideal, yang didasarkan pada rasionalitas komunikatif” (Habermas, 1979: 207). Studi Perbandingan Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghuchu Rukun berarti cocok, selaras, tidak berselisih dan sehati (Poerwadarminta, 2003: 73). Dalam bahasa Inggris disepadankan dengan harmonious atau concord (M. E. & Shadily, 1994: 468). Sering kali dalam literatur ilmu sosial, kerukunan diartikan dengan istilah integrasi. Lantaran, integrasi bisa diartikan sebagai “the creation and maintenance of diversified patterns of interactions among autonomous unit” (kerukunan merupakan upaya menciptakan dan memelihara pola-pola interaksi yang beragam diantara unit-unit atau unsur
1

Kerukunan bisa berfungsi sebagai safety value bagi disintegrasi sosial juga bisa mereduksi konflik. seperti penjajahan. Jika semangat ini bisa disebarkan ke seluruh Indonesia. pengusiran dari tempat tinggal dan bentuk penindasan yang lain. 2003: 73). Umar membuat sebuah perjanjian dengan penduduk Yerussalem. dan Konghucu serta satu pohon untuk aliran kepercayaan (http://nationalgeographic. kerukunan antar umat. Katolik.yang otonom) (Yusul.id). setelah kota suci itu ditaklukkan oleh kaum Muslimin. maka kerukunan akan tercipta (http://nationalgeographic. peribadatan. dan untuk gereja-gereja dan salib-salibnya.id). Gamping. dan untuk agamanya secara keseluruhan. Hindu. pada hari Sabtu tanggal 17 Maret 2012. umat Islam tidak dilarang untuk berbuat baik dan adil kepada siapapun dari kalangan bukan Muslim yang tidak menunjukkan permusuhan. Di Indonesia. Islam Sejarah umat Islam telah menunjukkan adanya golongan sosial yang disebut dengan dimmi. Dalam pandangan Nurcholish Madjid Piagam Madinah merupakan dokumen politik resmi pertama yang meletakkan prinsip kebebasan beragama dan berusaha (Madjid. Pohon menjadi simbol kerukunan karena mengandung filosofi sebagai sumber kehidupan dan kedamaian. Sleman. 1992: 193). dialog antar pemeluk 2 . 1992: 195). serta yang dalam keadaan sakit ataupun sehat. 2003: 29).co. Gereja-gerejanya tidak akan diduduki dan tidak pula dirusak. 1. Isi perjanjian itu antara lain berbunyi “Umar menjamin keamanan untuk jiwa dan hartanya. Eksistensinya tentang keyakinan. melakukan upacara tanam pohon „Laku Budaya Taruparwa‟ bersama dengan enam pemuka agama. dan tidak akan dikurangi sesuatu apa pun dari gereja-gereja itu dan tidak pula dari lingkungannya” (Madjid. Kristen Protestan. baik atas nama agama atau lainnya. Oleh karena itu. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Banyumili Country Club. yakni komunitas penganut agama selain Islam yang dilindungi karena tidak melakukan permusuhan. Penanaman pohon ini menjadi simbol tumbuhnya nilai budaya. Ada tujuh pohon yang akan ditanam yang melambangkan enam agama di Indonesia yaitu Islam. Budha. Contoh lain dari wujud toleransi Islam terhadap agama lain diperlihatkan oleh Umar ibn al-Khattab. Sebagaimana nilai yang terkandung di atas sebagai perwujudan kerukunan umat beragama.co. Kawarasan. pendidikan dan kebudayaan juga harus dihormati (Mufid. Nabi Muhammad pernah diminta kaum musyrik Makkah untuk mengadakan kompromi agama. serta gerakan penghijauan di Yogyakarta.

Yang menjadi persoalan. Dialog itu diprakarsai oleh pemerintah dan dihadiri oleh pemimpin agama Islam. Kedua hal ini tidak dapat dicampuraduk. sebagai suatu keberagaman. Berbagai persoalan yang menimpa umat beragama sering kali disebabkan adanya pandangan bahwa keberagaman seseorang sebagai satu-satunya yang paling 3 . Namun demikian.berbagai agama pernah dilaksanakan pada tahun 1969. Masa pasca-Soekarno. khususnya IslamKristen dapat dikatakan sebagai salah satu dari masa puncak ketegangan. meskipun orang Islam tidak bisa mengakui bahwa Bibel sebagaimana sebelumnya hari ini terdiri dari Kalam Tuhan seluruhnya. ketika umat Islam melakukan protes atas dibangunnya sebuah gereja di tengah-tengah perkampungan kaum muslimin yang tidak ada pemeluk Kristennya. Hal ini dapat dilihat dari terjadinya berbagai peristiwa konflik dan ketegangan di beberapa wilayah di Indonesia. 1979: 314). dan terjadilah peristiwa Meulaboh itu (Hasyim. Djohan tidak setuju terhadap pandangan keagamaan seseorang. Isa atau rasul-rasul lain. tetapi golongan Kristen tidak mengacuhkannya. yang berkata kepada murid-murid yang beragama Islam pada suatu sekolah bahwa Muhammad adalah seorang pezina. Hindu dan Budha. seorang yang bodoh dan tolol. usaha dialog ini tidak berhasil sebab ada satu hal yang tidak disetujui oleh Protestan dan Katolik. orang Islam juga tidak hanya memandang al-Qur‟an tetapi juga Taurat dan Injil sebagai kitab suci (Kitabullah). Orang Islam sungguh tidak dapat mempercayai (mengimani) ketuhanan Jesus Kristus tetapi mempercayai kenabiannya sebagaimana Nabi Muhammad. Absolutisme keberagaman adalah tidak benar. yang dianggap bersifat absolut. Misalnya. peristiwa Meulaboh Aceh Barat. Akan tetapi. Djohan membuat garis pembatas yang tegas antara agama dan keberagaman. 1970: 55). Hal ini bukan berarti bahwa orang Islam selalu menolak wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Musa. 1999: 83). dan tidak pandai menulis dan membaca (Hasyim. ketika sebuah gereja dilempari batu-batu. Juga peristiwa Makassar yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1967. Protestan. dan apakah seluruhnya merupakan wahyu Tuhan. Suatu peristiwa yang diawali penghinaan oleh seorang pendeta Kristen Protestan kepada Nabi Muhammad. 1979: 291). Katolik. sehingga pertemuan atau dialog itu tidak menghasilkan perumusan sebagaimana diharapkan (Ali. Kemudian. yaitu tentang saran bahwa “hendaknya penyiaran agama tidak ditujukan kepada orang-orang yang sudah beragama”. orang Islam percaya bahwa Bibel memuat/mengandung Kalam Tuhan (Ali. apakah Bibel yang ada sekarang ini otentik atau tidak. hubungan antaragama.

Keempat. 1990: 108-109). tercapainya tujuan dari agama. Dalam hal penerapan sehari-hari. Kedua. Ketiga. Oleh karena itu. gereja dan masjid. pengusiran dari tempat tinggal dan bentuk penindasan yang lain (Madjid. yaitu diantara praktek hidup beragama secara benar dan efektif. Selain itu pula. ia tidak menyembah Allah (1 Yoh 4: 8). Merujuk ayat al-Qur‟an yang menyatakan bahwa “tak ada paksaan dalam agama”. Menurut Djohan. agama Kristen memiliki beberapa hal penting untuk diwujudkan. tindakan dasar bagi setiap teori atau praktek yang mengadakan perbedaan mengenai manusia serta hak-hak yang bersumber pada antar manusia dan manusia. Islam mengajarkan pandangan tentang kesatuan nubuwwah (kenabian) dan umat yang percaya kepada Tuhan. Jadi. 2. Islam mengajarkan bahwa agama Tuhan adalah universal. Menjelaskan tentang titik temu agama-agama. sementara keberagaman orang lain salah. dakwah dan semacamnya. baik atas nama agama atau lainnya. umat Islam tidak dilarang untuk berbuat baik dan adil kepada siapapun dari kalangan bukan Muslim yang tidak menunjukkan permusuhan. dikenal dua poin penting yang menjadi dasar. Kristen Dalam konteks keimanan agama Kristen. yaitu terwujudnya keselamatan. yaitu bahwa Tuhan itu baik terhadap semua orang (Mazmur. gereja mengecam setiap diskriminasi yang ada. Terkait dengan kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Islam secara tegas memberikan kebebasan sepenuhnya kepada manusia dalam masalah agama dan keberagaman. Pertama. agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah kelanjutan langsung agama-agama sebelumnya. khususnya para penganut kitab suci (Ahl al-Kitab) (Madjid. ada empat prinsip yang dikemukakan oleh Nurcholish. umat islam diperintahkan untuk menjaga hubungan yang baik dengan orang-orang beragama lain. Juga merujuk ayat yang menunjukkan bahwa Tuhan mempersilahkan siapa saja yang mau beriman atau kufur tehadap-Nya. khususnya yang secara “genealogis” paling dekat ialah agama-agama Semitik-Abrahamik. Inilah yang kemudian menumbuhsuburkan adanya misi. kebahagiaan di dunia 4 . seperti penjajahan. 145: 9) dan barang siapa tidak mencintai. Djohan merujuk ayat al-Qur‟an yang menyatakan keharusan membela kebebasan beragama yang disimbolkan dengan sikap mempertahankan rumah-rumah ibadah seperti biara. status sosial dan juga ajaran yang berbeda.benar. 1990: 111). karena Tuhan telah mengutus Rasul-Nya kepada setiap umat manusia. Gereja juga mengecam adanya penganiayaan yang berlandaskan warna kulit.

maka di sana akan terwujud persatuan dan kesatuan dan selanjutnya apabila persatuan dan kesatuan telah terwujud maka di situ akan dapat dibangun sebuah kerajaan yang jaya (Sarijo. Persaudaraan universal segenap bangsa merupakan satu masyarakat atau keluarga umat manusia. Budha Agama Buddha dalam sejarah perkembangannya telah menunjukkan bahwa agama Buddha pada masa kejayaan Sriwijaya. Moral dalam manifestasinya dapat berupa 5 . 2012). dialog antar umat beragama dan dialog antar umat beragama dengan pemerintah. (2) Kerukunan Antar Umat Beragama. akhirnya lahirlah Tri Kerukunan Hidup Beragama. Inti dari kesemalatan yang diberikan Allah adalah ketenteraman lahir dan batin. Keselamatan yang universal dari Allah yang terwujud dalam diri Yesus. Hal ini menujukkan bahwa dimana telah terbina kerukanan hidup antar umat beragama. yaitu (1) Kerukunan Intern Umat Beragama. 3. Etika. memahami dan mengakui. keselamatan ditujukan bagi semua bangsa dan semua umat dari berbagai agama yang ada. Majapahit maupun pada masa kerajaan Mataram Kuno telah mampu mempersatukan dan membina kerukunan hidup antar umat beragama. Cara membangun kerukunan menurut iman Kristen adalah dengan membangkitkan kesadaran dan pengakuan akan masalah dan kebutuhan bersama melalui dialog kemanusiaan dan persaudaraan. Kemudian berusaha untuk meningkatkan pemahaman akan pihak lain melalui studi bersama saling tukar informasi dan berusaha untuk senantiasa menghindari cara-cara yang dapat merusak kerukunan serta toleransi antar agama.akhirat yang dapat dicapai melalui cinta kasih dan terwujudnya kebutuhan yang hakiki dan cita-cita dari setiap manusia yaitu damai sejahtera lahir dan batin dalam dunia yang harmonis rukun dan damai. sehingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa. sebagai hasil dari dialog intern umat beragama. dan (3) Kerukunan Umat Beragama dengan Pemerintah. dan Akhlak bangsa yang disebut SILA. Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk. Dasar kerukunan dan toleransi antar umat beragama dapat dilihat dari kesamaan kodrat dan martabat kebebasan hak dan kewajiban dari umat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang segambar denganNya. Pada beberapa tahun yang lalu. yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. menghargai dan berdialog satu sama lain. Selanjutnya menumbuhkembangkan sikap dasar untuk aliran terbuka. Upaya yang dapat ditempuh umat Buddha dalam rangka menuju terciptanya dan melestarikan Tri Kerukunan tersebut adalah dengan meningkatkan Moral.

individu) adalah anadi (tanpa awal) sehingga dengan mengikuti jalan rohani tertentu (marga). Dalam sejarahnya. terpuji dan mulia (Sarijo. maka pertentangan diantara tradisi-tradisi tidak seharusnya ada. secara universal agama Buddha mengajarkan agar semua makhluk hidup berbahagia. dan jiwa (diri empiris. 2012). Memahami kerukunan dapat dilihat segi pasif dan aktif. benar dan baik. artinya setiap pandangan merupakan satu kesimpulan logis yang didasarkan 6 . Hindu Agama Hindu termasuk salah satu agama yang tidak memiliki awal yang dapat ditelusuri dengan mudah. agama Hindu berkembang di tanah subur yang akhirnya juga menumbuhkan Jainisme dan Agama Budha. Banyak manfaat baik sebagai hasil dari kerukunan merupakan tujuan dari kerukunan itu sendiri. Konsepsi ini memberikan peluang untuk memungkinkan terciptanya kerukunan intern dan antar umat beragama. 4. Adanya aliran-aliran dalam Agama Hindu dan agama-agama lain merupakan pengejawantahan yang berbeda dari suatu realitas ilahi yang ekstern. prinsip-prinsip. Setiap agama merupakan pemahaman yang berbeda mengenai yang ilahi atau yang mutlak. 2012). jiwa. Dengan dasar ajaran cinta kasih (metta) dan kasih sayang (karuna) terhadap semua makhluk. Pada prinsipnya ajaran agama Buddha mengajarkan kepada umat Buddha untuk membebaskan diri dari penderitaan. samsara (dunia fenomena. Dalam hal ini jelaslah tidak ada ada kata “tidak” untuk hidup rukun bagi umat Buddha. pembebasan dapat tercapai. Agama Hindu juga dituntut untuk bersikap toleran dalam menyikapi dan merangkul semua aliran yang ada didalam Hindu dikarenakan setiap konsepsi adalah benar dalam perspektifnya sendiri. 1989: 117). Konsep kerukunan yang diajarkan Sang Buddha bukanlah konsep teoritis namun harus dibarengi dengan praktik nyata. Karena semua pengejawantahan kembali mengarah ke sumber yang sama. yang terus menerus bergerak atau mengalir dan kelahiran kembali merupakan salah satu seginya). Ketiga agama ini sama-sama memiliki pra anggapan bahwa karma (jejak atau benih mental yang ditinggalkan oleh setiap gagasan atau tindakan).aturan. Agama Hindu memaknai pluralitas intra agama ini sebagai keberagaman keyakinan Hindu pada satu realitas ilahi yang dapat menggejala dalam banyak bentuk yang berbeda. agama Buddha memberikan peluang dan wawasan kepada umatnya untuk memiliki wawasan keagamaan yang insklusif mau menerima dan menghargai kehadiran golongan agama lain di luar dirinya (Sarijo. yang akan dialami pada ujung jalan rohani (Coward.

Pilihan untuk memeluk agama merupakan hak asasi setiap manusia (Coward. Prinsip Tepasalira ini kemudian ditegaskan dalam beberapa sabdanya yang terkenal.pada pra anggapan dari perspektifnya sendiri. terdapat tiga unsur penting yang dimiliki oleh manusia atau dikenal dengan “Tiga Pusaka Kehidupan”. yaitu: Zhi. “Apa yang diri sendiri tiada inginkan. yaitu Tian dan Tuhan Yang Maha Esa atau Sangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). yang berbeda-beda hanya cara menamakan Dia.” Hal ini menyebabkan semua pertengkaran keagamaan. Akan tetapi. Konghucu juga mengenal hubungan antara manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia lain. Konghuchu Konghucu merupakan agama yang monoteis atau percaya hanya pada satu Tuhan. “Tiga Mutiara Kebajikan” atau “Tiga Kebajikan Utama”. Kabir (1500) yang banyak mendapatkan pengaruh dari ajaran dan kalangan Hindu. Kabir menjauhkan diri dari lambang-lambang kehidupan agama. Zhi berarti wisdom dan sekaligus enlightenment 7 . Atau dengan kata lain bahwa dilihat tiada nampak. 1989: 117-9). serta pertengkaran diantara agama lainnya adalah sia-sia (Coward. Tuhan tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan. berusahalah agar orang lain tegak (maju)”. Salah satu tokoh yang berperan dalam upaya ini adalah seorang penyair Islam. Menurut Kabir. Ditegaskan bahwa. dan yang Yong tidak dirundung ketakutan”. berhala dan praktik ziarah. namun dapat dirasakan oleh mereka yang beriman. Dalam ajarannya kemudian. terutama yang terjadi antara kaum Muslim dan Hindu. Penolakan terhadap kasta. Dalam kosa kata agama Konghucu disebut sebagai Zhong Shu. termasuk kasta. Dalam konsep Konghucu. Kedua sabda ini dikenal sebagai “Golden Rule” (Hukum Emas) yang bersifat Yin dan Yang. penggunaan bahasa sehari-hari. pengampunan dan penolakan terhadap penyembahan berhala merupakan landasan bagi upaya untuk mendekatkan agama Hindu dan agama Islam. 5. “Yang Zhi tidak dilamun bimbang. jangan diberikan kepada orang lain” dan “Bila diri sendiri ingin tegak (maju). Interaksi agama Hindu dengan agama islam telah dimulai dari abad kedelapan Masehi yang ditandai dengan berkunjungnya orang-orang Arab ke India hingga melahirkan komunitas-komunitas Muslim. dan Tepasalira (tenggang rasa) kepada sesama manusia. “Allah yang sama dicari dalam semua agama. namun tiada satu wujudpun yang tanpa dia. yang Ren tidak merasakan susah payah. Seperti halnya dengan ajaran pokok agama lain. Ren dan Yong. Satya kepada (Firman) Tuhan. 1989: 127). didengar tidak terdengar.

berani atas dasar rasa tahu malu. Bijaksana dapat diartikan pandai. menilai atas dasar masa lalu seseorang. Ren tidak mengenal segala bentuk diskriminasi atau pertimbangan atas dasar kelompok. arif. Balaslah Kebaikan dengan Kebaikan. Meski berasal dari satu kelompok. mampu mengatasi persoalan dan mampu mengenal orang lain. agama dan umat manusia. Yong juga diartikan sebagai Keberanian untuk melakukan koreksi dan instrospeksi diri. bangsa. bukan meminta atau menuntut balasan dalam bentuk apapun. memberi. Mencintai kebaikan dan membenci keburukan. berbakti. tidak terbatas pada orang tua dan keluarga sedarah belaka. tidak boleh terkena stigma. Dalam salah satu sabdanya Kongzi mengatakan bahwa “Orang yang berperi-Cintakasih bisa mencintai dan membenci”. Setelah berada di jalan yang benar. Pencerahan atau yang Tercerahkan. Bila bersalah. Ren dalam pengertian agama Konghucu selalu didasari pada sikap ketulusan. termasuk didalamnya mampu mengenal yang hakiki. selalu menggunakan akal budinya. Namun perlu diingat bahwa Ren tidak berarti mencinta tanpa dasar pertimbangan baik dan buruk.(Bijaksana dan Tercerahkan/Pencerahan). Yang dimaksud dengan Keberanian di sini adalah berani karena benar. Yong sering diartikan Berani atau Keberanian. harus diluruskan. Di sini berarti siapa pun yang bersalah. masyarakat. tajam pikiran. bukanlah keberanian dalam “k” kecil. Ren berarti Cinta Kasih universal. namun juga kepada sahabat. maka bisa saja berpihak kepada orang yang berasal dari kelompok berbeda namun benar-benar berada dalam kebajikan. harus berani mengakui kesalahan tersebut dan sekaligus berani untuk mengkoreksinya. berarti mampu mengenal dan memahami diri sendiri. negara. berani atas dasar aturan atau kesusilaan. 8 . bila seseorang bersalah atau melanggar kebajikan. Namun yang dimaksud dengan Yong. dihukum secara adil dan diberi pendidikan secara optimal agar dapat kembali ke jalan yang benar. lingkungan terdekat. Balaslah Kejahatan dengan Kelurusan”.

Singkatnya. Hal ini pasti makan membantu terpeliharanya suasana damai dan rukun dalam masyarakat yang multi religius ini. Dialog antar agama yang berfungsi menciptakan kerukunan hidup beragama. tidak bisa tidak lain. junjung tinggi agama sendiri tetapi hormatilah agama orang lain. mengandung potensi konflik. keterbukaan terhadap agama yang lain untuk bisa saling mengenal dan saling memahami timbal balik. Berbagai aspek dan gagasan yang terkandung dalam teori tindakan komunikatif Habermas. para penganut agama harus menapaki jalan menuju kesatuan dengan menghormati perbedaan-perbedaan agama. bukan malah menciptakan kerukunan yang semu. masyarakat multi religius. Dalam mencapai kehidupan beragama yang dinamis itu. Dialog yang bertujuan untuk kerukunan antar umat beragama merupakan titik pertemuan para penganut berbagai agama. yang besar kemungkinan menimbulkan problem besar dalam kehidupan sosial. sehingga mendukung hubungan yang lancar dan ramah dalam suatu masyarakat yang menganut berbagai agama. Masing-masing komunitas agama tetap tinggal pada prasangka dan klaim komunitasnya masing-masing (eksklusif). kekacauan. Sebagai akibatnya komunikasi diantara kehidupan manusia yang berbeda agama tersebur tetap tidak tercipta. tidak terelakkan jika fakta pluralitas agama akan berujung pada dialog antar agama. Karena itu. bisa saja menjadi penyebab perpecahan. namun dialog antara agama merupakan suatu bentuk komunikasi manusia. Pola tindakan komunikasi Habermas. Dialog antar agama sebagai bentuk komunikasi bukan hanya terbatas kepada diskusi rasional tentang agama termasuk diskusi tentang etika atau teologi agama-agama.KESIMPULAN Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya tidak dipungkiri adanya perbedaan terutama perbedaan keyakinan dalam multi religius ini. Akan tetapi lain halnya jika perbedaan menjadi nafas baru dalam kerukunan umat beragama ketika perbedaan menjadi penyebab dan penumbuh untuk rasa membuka diri dan belajar dari perbedaan. kerukunan yang hanya terbatas pada dialog yang seremonial formalistik. dengan rasionalitas komunikatifnya bisa mencairkan kebekuan yang terjadi didalam dialog antar agama yang demikian itu. diharapkan dapat menjadi kerangka atau titik pihak bagi terselenggaranya dialog antar agama yang komunikatif. seperti melalui proses dialog untuk menuju kerukunan antar agama. 9 . bahkan konflik.

dalam Jurnal Multikultural dan Multireligius. [online] dalam http://sulut.id/lihat/berita/2932/pohon-kerukunan-antar-umatditanam-di-yogyakarta. Communication and the Evolution of Society. Muhlisin.org/022012/post-1535. dalam Jurnal Ulumul Qur’an. Sarijo. W. Jakarta: Balitbang Depag RI. Poerwadarminta. 2012.B.d. Bingkai Sosio-Kultural Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama di Indonesia. Zuly. Mursyid (ed.J. Pluralisme. Madjid. Nomor 5.id/file/dokumen/PakJohn. Pengembangan Wadah Kerukunan dan Ketahanan Masyarakat Lokal di Balikpapan. diakses pada tanggal 28 April 2012. Volume II. Olivia Lewi. Tilaar.html. Nomor 6.1 Vol.DAFTAR PUSTAKA Ali. 2003. Tantangan bagi Agama-agama. Jürgen. London: Heinemann. Choirul Fuad. 2003. 1979. Shadily. Qodir.). Nomor 6. 2003.. Toleransi dan Kemerdekaan Beragama dalam Islam Sebagai Dasar Menuju Dialog dan Kerukunan Antar Agama. Surabaya.go. Pramesti. diakses pada tanggal 02 Mei 2012. Memahami Kerukunan Umat Beragama dari Konteks Iman Kristen. Echols & Hasan. No. Kerukunan Hidup Antarumat Bergama Persperktif Sufisme. Logat Kecil Bahasa Indonesia. Bina Ilmu. 1994. Jakarta. Sosiologi Agama: Esai-Esai Agama di Ruang Publik. Studi Agama-Agama di Perguruan Tinggi. Gramedia. Hasyim. 1993. Kanisius. Johni. Kamus Indonesia Inggris. 2011. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Habermas. J.co. Volume II. n. 2012. Thomas McCarty.pdf. Selintas Mengenal Agama Konghucu. Ahmad Syafii. dalam Jurnal Multikultural dan Multireligius. trans.kemenag. Coward. Volume II. John M. [online] dalam http://icrponline. [online] dalam http://nationalgeographic. 1999. “Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan untuk Generasi Mendatang”. Mufid. Kerukunan Umat Beragama dalam Agama Buddha. 1979. Harold.S & Wolters. Nurcholish. dalam Jurnal Multikultural dan Multireligius. IV. Umar. dalam Acara Sosialisasi PBM Forum Kerukunan Umat Beragama di Lampung Timur. 1989. Yusul. 10 . “Pohon Kerukunan Antar Umat Ditanam di Yogyakarta”. diakses pada tanggal 28 April 2012.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful