P. 1
Kewajiban Hukum Auditor Oleh Bambang

Kewajiban Hukum Auditor Oleh Bambang

|Views: 729|Likes:
Published by lidyawagiu

More info:

Published by: lidyawagiu on May 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2014

pdf

text

original

KEWAJIBAN HUKUM AUDITOR

http://bambangbima.blogspot.com/2009/12/kewajiban-hukum-auditor.html

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Profesi Akuntan Publik merupakan suatu hal yang sangat penting, khususnya bagi aktivitas berbisnis secara sehat di Indonesia. Hasil penelitian, analisa serta pendapat dari Akuntan Publik terhadap suatu laporan keuangan sebuah perusahaan akan sangat menentukan dasar pertimbangan dan pengambilan keputusan bagi seluruh pihak ataupun publik yang menggunakannya. Misalnya; para investor dalam mempertimbangkan serta bahkan memutuskan kebijakan investasinya, para penasehat keuangan ataupun investasi dalam memberikan arahan pada para investor terhadap keadaan dan prospek dari perusahaan tersebut, para pemberi pinjaman (lenders) dalam mempertimbangkan serta memutuskan langkah pemberian tersebut. Bagi suatu perusahaan sangat perlu untuk memberikan gambaran yang benar tentang status kesehatan keuangannya, sangat berhubungan dengan konsekuensi hukum dari aktivitas berbisnis (sebagai suatu hubungan hukum). Dimana konsekuensi hukum itu mengharuskan masing-masing pihak yang terikat didalamnya untuk dapat memenuhi setiap kewajiban yang diikatkan kepadanya, tepat seperti yang telah disepakati. Dalam keadaan yang terburuk, kegagalan dalam pemenuhan kewajiban tersebut, baik sebagai akibat dari tindakan wan prestasi (1243 KUHPerdata) ataupun ataupun penghentian pinjaman bagi perusahaan

Perbuatan Melawan Hukum (1365 KUH Pedata) yang secara hukum (by law) berdasarkan pasal 1131 KUHPerdata, akan memberikan konsekuensi penghukuman bagi pihak yang telah melakukan tindakan wanprestasi ataupun melawan hukum tersebut untuk membayar seluruh kerugian dari pihak-pihak yang dirugikan dengan menggunakan seluruh harta miliknya, tidak saja yang telah ada akan tetapi juga yang akan ada. Beberapa kasus yang terjadi yang dialami oleh kantor akuntan / kantor akuntan publik memprihatinkan dari profesi akuntan publik yaitu Pemerintah melalui Menteri Keuangan RI sejak awal September 2009 telah menetapkan pemberian sanksi pembekuan izin usaha kepada delapan akuntan publik (AP) dan kantor akuntan publik (KAP), diantaranya adalah : 1. KAP Drs Basyiruddin Nur yang dikenakan sanksi melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor: 1093/KM.1/2009 tanggal 2 September 2009. Kemudian AP Drs Basyiruddin Nur, telah dikenakan sanksi pembekuan selama tiga bulan karena yang bersangkutan belum sepenuhnya mematuhi Standar Auditing (SA)-Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dalam pelaksanaan audit umum atas laporan keuangan konsolidasian PT Datascrip dan anak perusahaan tahun buku 2007. Menkeu menilai hal itu berpotensi berpengaruh cukup signifikan terhadap laporan auditor independen.

yaitu tidak menyampaikan laporan tahunan KAP tahun takwin 2008. KAP Drs Dadi Muchidin melalui KMK Nomor: 1140/KM. Yang bersangkutan dikenakan sanksi pembekuan selama tiga bulan karena belum sepenuhnya mematuhi SA-SPAP dalam pelaksanaan audit umum atas laporan keuangan PT Samcon tahun buku 2008. KAP Drs Dadi Muchidin masih melakukan pelanggaran berikutnya. Sampai saat ini. KAP Drs Dadi Muchidin melalui KMK Nomor: 1103/KM. 3. KAP Matias Zakaria melalui KMK Nomor: 1117/KM. dengan sanksi pembekuan selama tiga bulan karena KAP tersebut telah dikenakan sanksi peringatan sebanyak 3 (tiga) kali dalam jangka waktu 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir. 4. selama tiga bulan karena KAP tersebut telah dikenakan sanksi peringatan sebanyak 3 (tiga) kali dalam jangka waktu 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir. KAP Drs Hans Burhanuddin Makarao yang dikenakan sanksi melalui KMK Nomor: 1124/KM. yang dinilai berpotensi berpengaruh cukup signifikan terhadap Laporan Auditor Independen.1/2009 tanggal 7 September 2009. 1/2009 tanggal 4 September 2009. KAP Drs Matias Zakaria masih juga melakukan pelanggaran berikutnya yaitu tidak menyampaikan laporan tahunan KAP tahun takwin 2007 dan 2008.2.1/2009 tanggal 4 September 2009. Bahkan ampai saat ini. Yang bersangkutan dikenakan sanksi pembekuan selama tiga bulan karena KAP Drs Dadi Muchidin telah dibekukan sehingga sesuai dengan ketentuan Pasal 71 ayat (3) Peraturan Menteri Keuangan bahwa izin AP Pemimpin KAP dibekukan apabila izin usaha KAP dibekukan.1/2009 tanggal 9 September 2009. . 5.

Melihat beberapa kasus yang terjadi selama ini baik sebelum atau sesudah munculnya kasus tersebut di atas dan pada level internasional adalah kasus Enron di Amerika Serikat berdampak kepada timbulnya krisis .Dilaporkan sampai saat ini. 2007. KAP Drs Soejono melalui KMK Nomor: 1118/KM. selama tiga bulan karena KAP tersebut telah dikenakan sanksi peringatan sebanyak 3 (tiga) kali dalam jangka waktu 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir.1/2009 tanggal 7 September 2009. 8. Isjwara melalui KMK Nomor: 1120/KM. melalui KMK Nomor: 1119/KM. Menkeu juga menetapkan sanksi untuk KAP Drs Abdul Azis B. Sampai saat ini KAP Drs Abdul Azis juga melakukan pelanggaran berikutnya yaitu tidak menyampaikan laporan tahunan KAP tahun takwin 2005.6.1/2009 tanggal 7 September 2009. 7. Isjwara sampai saat ini masih juga melakukan pelanggaran berikutnya yaitu tidak menyampaikan laporan tahunan KAP tahun takwin 2007 dan 2008. selama tiga bulan karena KAP tersebut telah dikenakan sanksi peringatan sebanyak tiga kali dalam jangka waktu 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir. KAP Drs M. KAP Drs M. karena KAP tersebut telah dikenakan sanksi peringatan sebanyak tiga kali dalam jangka waktu 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir. dan 2008. selama tiga bulan. KAP Drs Soejono masih juga melakukan pelanggaran berikutnya yaitu tidak menyampaikan laporan tahunan KAP tahun takwin 2005 hingga 2008.1 /2009 tanggal 7 September 2009.

Adanya perbedaan antara apa yang diharapkan oleh pemakai laporan keuangan dengan apa yang sesungguhnya menjadi tanggung jawab auditor menimbulkan adanya suatu perbedaan yang disebut expectation gap. Akuntan publik banyak mendapat sorotan dari masyarakat yang menganggap para akuntan telah bersekongkol melakukan tindak manipulasi informasi untuk kepentingan sekelompok masyarakat. . Untuk itulah maka pengujian oleh akuntan publik diperlukan guna menetralisir bias yang melekat pada informasi tersebut. Informasi keuangan yang disajikan oleh pihak manajemen merupakan tanggung jawab pihak manajemen sepenuhnya.kepercayaan publik terhadap profesi akuntan publik. dengan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak. sehingga laporan yang telah dinyatakan wajar oleh akuntan publik akan berisi informasi yang reliable. Auditor di dalam melaksanakan audit harus sesuai dengan standar auditing yang berlaku umum sementara itu para pemakai laporan keuangan memiliki keyakinan bahwa auditor menjamin akurasi laporan keuangan dan menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Oleh karena itu diperlukan jasa professional untuk menilai kewajaran informasi keuangan yang disajikan oleh pihak manajemen. Disinilah letak peran penting profesi akuntan publik. Bagaimanapun informasi yang hanya bersifat sepihak dari manajemen akan cenderung untuk banyak mengandung bias mengingat informasi tersebut dihasilkan dari lingkungan yang dilingkupi oleh banyak kepentingan. Profesi ini hadir untuk memberikan penilaian atas keandalan (reliability) informasi akuntansi yang disajikan perusahaan dalam laporan keuangan. Jasa profesi inilah yang dilakukan oleh auditor independent.

Untuk melihat lebih jauh permasalahan mengenai kewajiban hukum (legal liability) bagi profesi auditor. 1. . maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai kewajiban hukum (legal liability) bagi profesi auditor dengan melakukan studi literatur dari berbagai sumber yang meliputi tinjauan teori. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1.2. Disinilah mulai hilang kepercayaan pemakai laporan keuangan terhadap akuntan karena ketidakmampuannya mendekati harapan publik. Kewajiban hukum apa saja yang berkaitan dengan kewajiban hukum (legal liability) bagi auditor. 2. Bagaimana bentuk hukum dan kewajiban hukum dari profesi auditor berdasarkan realitas praktik yang pernah terjadi di lapangan. maka rumusan masalah yang diajukan adalah : 1. 1.Keyakinan yang dimiliki oleh para pemakai laporan keuangan nantinya cenderung akan menjadi masalah ketika opini yang dikeluarkan oleh auditor pada kenyataannya tidak sesuai dengan kondisi yang ada di perusahaan. yang akan berakibat adanya tuntutan dan gugatan terhadap kewajiban hukum profesi akuntan publik yang dianggap telah melakukan kesalahan di dalam memberikan opini.3. konsep dan pendapat para pakar-pakar auditing. untuk memperoleh pemahaman atas kewajiban hukum yang berkaitan dengan kewajiban hokum (legal liability) auditor.

untuk mendapatkan gambaran umum tentang realita hukum profesi auditor dalam praktik yang pernah terjadi di lapangan. sanksi berdasarkan PMK No. PEMBAHASAN 2. berupa: sanksi peringatan. Penghukuman dalam pemberian sanksi hingga pencabutan izin baru dilakukan dalam hal seorang Akuntan Publik tersebut telah melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam SPAP dan termasuk juga pelanggaran kode etik yang ditetapkan oleh IAPI. II. hukuman yang bersifat administratif tersebut walaupun diakui merupakan suatu hukuman yang cukup berat bagi eksistensi dan masa depan dari seorang Akuntan Publik ataupun KAP.2. Akan tetapi. ternyata masih belum menjawab penyelesaian permasalahan ataupun resiko kerugian yang telah . pembekuan ijin dan sanksi pencabutan ijin seperti yang diatur antara lain dalam pasal 62.1. 17/PMK. baik atas temuan-temuan bukti pelanggaran apapun yang bersifat pelanggaran ringan hingga yang bersifat pelanggaran dikenakan berat. serta juga melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang jasa yang diberikan. Tanggung Jawab Auditor Dalam hal terjadinya pelangaran yang dilakukan oleh seorang Akuntan Publik dalam memberikan jasanya. pasal 63. atau juga akibat dari pelanggaran yang terus dilakukan walaupun telah mendapatkan sanksi pembekuan izin sebelumya. ataupun tindakan-tindakan yang menentang langkah pemeriksaan sehubungan dengan adanya dugaan pelanggaran profesionalisme akuntan publik.01/2008 hanya sanksi administratif. pasal 64 dan pasal 65.

Apabila revisi atas laporan keuangan tersebut kurang tepat. Untuk itu auditor harus merencanakan suatu audit untuk mendeteksi adanya tindakan melanggar hukum serta mengimplementasikan rencana tersebut dengan kemahiran yang cermat dan seksama. Laporan ini dilaporkan oleh auditor kepada pihak manajemen. Tanggungjawab untuk mendeteksi kecurangan ataupun kesalahankesalahan yang tidak disengaja. Tanggungjawab untuk melaporkan tindakan melanggar hukum. sebagai akibat dari penggunaan hasil audit dari Akuntan Publik tersebut. 2.diderita oleh anggota masyarakat.h. Auditor bertanggungjawab atas salah saji yang berasal dari tindakan melanggar hukum yang memiliki pengaruh langsung dan material pada penentuan jumlah laporan keuangan. Mendeteksi kecurangan 1.2003. diwujudkan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit untuk mendapatkan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material yang disebabkan oleh kesalahan ataupun kecurangan.68): a. Tanggungjawab untuk melaporkan kecurangan jika terdapat bukti adanya kecurangan. komite audit. Tanggungjawab untuk mendeteksi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien. 2. dewan direksi b. auditor juga bertanggungjawab (Boynton. auditor harus mendesak manajemen untuk melakukan revisi atas laporan keuangan tersebut. Apabila suatu tindakan melanggar hukum berpengaruh material terhadap laporan keuangan. auditor bertanggungjawab untuk . Tindakan pelanggaran hukum oleh klien 1. Selama melakukan audit.

pemberi kredit dan sebagainya. Lebih jauh Soedarjono dalam Sarsiti (2003) mengungkapkan bahwa auditor memiliki beberapa tanggung jawab yaitu pertama.menginformasikannya kepada para pengguna laporan keuangan melalui suatu pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar bahwa laporan keuangan disajikan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. publik harus Kelima adalah tanngung jawab terhadap pihak ketiga. tanggung jawab terhadap opini yang diberikan. Hal ini disebabkan pengetahuan auditor terbatas pada apa yang diperolehnya melalui audit. Tanggung jawab ini hanya sebatas opini yang diberikan. Ketiga adalah tanggung jawab terhadap klien. standar auditing dan kode etik akuntan Indonesia. jika tidak dia akan dianggap lalai dan bisa dikenakan sanksi. Tanggung jawab ini mengenai mematuhi standar/ketentuan yang telah disepakati IAI. Bila ada kecurangan yang akuntan begitu besar tidak ditemukan. Auditor berkewajiban melaksanakan pekerjaan dengan seksama dan menggunakan kemahiran profesionalnya. hasil usaha dan arus kas sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum. Keempat adalah tanggung jawab untuk mengungkapkan kecurangan. Kedua adalah tanggung jawab terhadap profesi. sedangkan laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen. termasuk mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku. menyiratkan bagian terpadu tanggung jawab manajemen. bertanggung sehingga jawab. seperti investor. Oleh karena itu penyajian yang wajar posisi keuangan. Contoh dari tanggung jawab ini adalah . menyesatkan.

sedangkan dalam kenyataannya laporan tersebut disajikan salah secara material. Kegagalan bisnis : kegagalan yang terjadi jika perusahaan tidakmampu membayar kembali utangnya atau tidak mampu memenuhi harapan para investornya. dan antara kegagalan audit. 2. Dan yang keenam adalah tanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kecurangan yang tidak ditemukan.tanggung jawab atas kelalaiannya yang bisa menimbulkan kerugian yang cukup besar. Risiko audit :adalah risiko dimana auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan dengan wajar tanpa pengecualian. dan risiko audit. Dengan melihat lebih jauh penyebabnya. jika kecurangan karena prosedur auditnya tidak cukup. . Kegagalan audit :kegagalan yang terjadi jika auditor mengeluarkan pendapat audit yang salah karena gagal dalam memenuhi persyaratanpersyaratan standar auditing yang berlaku umum. 2.787) : 1. Berikut ini defenisi mengenai kegagalan bisnis. seperti resesi. Pemahaman Hukum dalam Kewajiban Auditor Banyak profesional akuntansi dan hukum percaya bahwa penyebab utama tuntutan hukum terhadap kantor akuntan publik adalah kurangnya pemahaman pemakai laporan keuangan tentang perbedaan antara kegagalan bisnis dan kegagalan audit. maka auditor harus bertanggung jawab. atau persaingan yang tak terduga dalam industri itu.h.2. keputusan manajemen yang buruk. karena kondisi ekonomi atau bisnis. kegagalan audit dan risiko audit menurut Loebbecke dan Arens (1999. seperti pendapat yang tidak didasari dengan dasar yang cukup. 3.

28). Dengan kata lain setelah mematuhi standar yang berlaku ada kalanya auditor menghadapi situasi yang belum diatur standar. Dalam hal yang terakhir ini. Standar ini minimal yang harus dipenuhi. akuntan publik harus bertanggung jawab. Sedangkan gross negligence merupakan kegagalan akuntan publik mematuhi standar profesional dan standar etika.h. yang dilakukan dengan sengaja demi motif tertentu maka akuntan publik dianggap telah melakukan fraud yang mengakibatkan akuntan publik dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana.Bila di dalam melaksanakan audit. Dalam hal ini auditor harus menggunakan “common sense” dan mengambil keputusan yang sama seperti seorang (typical) akuntan publik bertindak. dia tidak mengikuti pikiran sehat (reasonable care). Kegagalan audit yang dilakukan dapat dikelompokkam menjadi ordinary negligence. Bila akuntan publik gagal mematuhi standar minimal (gross negligence) dan pikiran sehat dalam situasi tertentu (ordinary negligence). Jika . akuntan publik telah gagal mematuhi standar profesinya. akuntan publik tidak luput dari kesalahan. maka besar kemungkinannya bahwa business failure juga dibarengi oleh audit failure. Ordinary negligence merupakan kesalah yang dilakukan akuntan publik. gross negligence. Sementara. dan fraud (Toruan. maka kantor akuntan publik yang bersangkutan harus diminta mempertahankan kualitas auditnya. ketika menjalankan tugas audit. dalam menjalankan tugasnya. Sebagian besar profesional akuntan setuju bahwa bila suatu audit gagal mengungkapkan kesalahan yang material dan oleh karenanya dikeluarkan jenis pendapat yang salah.2001.

dan pelayanan akuntansi. jika sebuah perusahaan bangkrut. pajak. meningkatnya kesadaran pemakai laporan keuangan akan tanggung jawab akuntan public 2. termasuk audit. sehingga jika benar-benar terjadi kesalahan yang diakibatkan oleh pihak akuntan publik dapat diminta pertanggung jawabannya secara hukum. berarti terjadi kegagalan audit.1999.h. tetapi bukan kegagalan audit.auditor gagal menggunakan keahliannya dalam pelaksanaan auditnya. atau tidak dapat membayar hutangnya. maka umumnya pemakai laporan keuangan akan mengklaim bahwa telah terjadi kegagalan audit. Lebih buruk jika terdapat kegagalan bisnis dan laporan keuangan yang kemudian diterbitkan salah saji. para pemakai akan mengklaim auditor telah lalai sekalipun telah melaksanakannya sesuai dengan standar auditing yang berlaku umum.786): 1. Akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek tugasnya. Kesulitan timbul bila terjadi kegagalan bisnis. Sebagai contoh. khususnya bila laporan audit paling akhir menunjukkan bahwa laporan itu dinyatakan secara wajar. Beberapa faktor utama yang menimbulkan kewajiban hukum bagi profesi audit diantaranya adalah (Loebbecke dan Arens. konsultasi manajemen. meningkatnya perhatian pihak-pihak yang terkait dengan pasar modal sehubungan dengan tanggung jawab untuk melindungi kepentingan investor . dan kantor akuntan publik tersebut atau perusahaan asuransinya harus membayar kepada mereka yang menderita kerugian akibat kelalaian auditor tersebut.

3. Sebaliknya apabila akuntan publik kurang memahaminya pada iklim keterbukaan di era reformasi seperti sekarang ini maka akan dapat membawa perkembangan fenomena ke dalam konteks yang lebih luas pada publik yang sudah mulai berani melakukan tuntutan hukum terhadap berbagai profesi termasuk profesi akuntan publik. Hal ini juga yang terjadi pada profesi akuntan publik di mana perilaku-perilaku yang terlibat terkadang kurang memahami secara benar apa yang telah menjadi kewajiban yang nantinya akan mempunyai konsekuensi terhadap hukum. bertambahnya kompleksitas audit yang disebabkan adanya perubahan lingkungan yang begitu pesat diberbagai sektor bisnis. Pemahaman terhadap hukum tidaklah mudah mengingat pemahaman tersebut menuntut suatu kesadaran dari perilaku-perilaku yang terlibat di dalamnya dan juga adanya kemungkinan interpretasi yang berbeda-beda terhadap keberadaan suatu hukum. kesediaan kantor akuntan publik untuk menyelesaikan masalah hukum diluar pengadilan. Auditor akan terkena sanksi atas kelalaiannya. yang dapat meningkatkan performance dan kredibilitas publik yang lebih baik. 2.3. dsb 4. sistem informasi. untuk menghindari biaya yang tinggi. Suatu pemahaman yang baik terhadap hukum akan membawa profesi akuntan publik minimal ke dalam praktek-praktek yang sehat. Kewajiban Hukum Bagi Auditor Auditor secara umum sama dengan profesi lainnya merupakan subjek hukum dan peraturan lainnya. seperti kegagalan untuk mematuhi standar profesional di .

Terlebih-lebih tanggung jawab yang dimaksud mengandung kewajiban hukum terhadap kliennya. Kewajiban kepada klien (Liabilities to Client) Kewajiban akuntan publik terhadap klien karena kegagalan untuk melaksanakan tugas audit sesuai . I Nengah Rata. Profesi ini sangat rentan terhadap penuntutan perkara (lawsuits) atas kelalaiannya yang digambarkan sebagai sebuah krisis (Huakanala dan Shinneke. Kewajiban Hukum Auditor Uraian 1. Lebih lanjut Palmrose dalam Huanakala dan Shinneka menjelaskan bahwa litigasi terhadap kantor akuntan publik dapat merusak citra atau reputasi bagi kualitas dari jasajasa yang disediakan kantor akuntan publik tersebut. Kewajiban hukum auditor dalam pelaksanaan audit apabila adanya tuntutan ke pengadilan yang menyangkut laporan keuangan menurut Loebbecke dan Arens serta Boynton dan Kell yang telah diolah oleh Azizul Kholis. Sri Sulistiyowati dan Endah Prepti Lestari (2001) adalah seperti yang ditampilkan dalam tabel berikut ini : Tabel 2 Kewajiban Hukum Auditor No. 2003) tanggung jawab profesi akuntan publik di Indonesia terhadap kepercayaan yang diberikan publik seharusnya akuntan publik dapat memberikan kualitas jasa yang dapat dipertanggung jawabkan dengan mengedepankan kepentingan publik yaitu selalu bersifat obyektif dan independen dalam setiap melakukan analisa serta berkompeten dalam teknis pekerjaannya.2003. Menurut Rachmad Saleh AS dan Saiful Anuar Syahdan (Media akuntansi.h.dalam kinerjanya.69).

2003). I Nengah Rata. UU Perpajakan dan lain sebagainya yang berkenaan dengan kewajiban hukum akuntan (Rachmad Saleh AS dan Saiful Anuar Syahdan. Sumber: Azizul Kholis. Kewajiban Perdata menurut hukum sekuritas federal (Liabilities under securities laws) Kewajiban hukum yang diatur menurut sekuritas federal dengan standar yang ketat. akan tetapi secara implisit hal tersebut sudah ada seperti tertuang dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). gagal menemui kesalahan. Keberadaan perangkat hukum yang mengatur akuntan publik di Indonesia sangat dibutuhkan oleh masyarakat termasuk kalangan profesi untuk melengkapi aturan main yang sudah ada.waktu yang disepakati. pelaksanaan audit yang tidak memadai. Kewajiban kepada pihak ketiga menurut Common Law (Liabilities to Third party) Kewajiban akuntan publik kepada pihak ketiga jika terjadi kerugian pada pihak penggugat karena mengandalkan laporan keuangan yang menyesatkan 3. Sri Sulistiyowati dan Endah Prepti Lestari Sedangkan kewajiban hukum yang mengatur akuntan publik di Indonesia secara eksplisit memang belum ada. 4. Peraturan-Peraturan mengenai Pasar Modal atau Bapepam. Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Kewajiban kriminal (Crime Liabilities) Kewajiban hukum yang timbul sebagai akibat kemungkinan akuntan publik disalahkan karena tindakan kriminal menurut undang-undang. dan pelanggaran kerahasiaan oleh akuntan public 2. Hal ini dibutuhkan agar disatu sisi kalangan profesi dapat menjalankan tanggung jawab profesionalnya .

Dari uraian diatas. dan kepada auditornya sebesar Rp 100 juta (Huanakala dan Shinneke. pihak manajemen dinilai teledor dengan menyatakan laporan keuangan unaudited sebagai audited. Seharusnya begitu mengetahui ada perbedaan dalam laporan keuangan manajemen langsung mengoreksinya dan mengumumkan kepada publik. Kasus dugaan penggelembungan nilai (mark up) yang dilakukan oleh PT. Tinjauan Beberapa Kasus Makalah ini akan mengambil beberapa contoh kasus yang menyangkut permasalahan hukum bagi profesi auditor. Bank Lippo Tbk. Kimia Farma Tbk. 2003). dapat disimpulkan bahwa kewajiban hukum bagi seorang akuntan publik adalah bertanggung jawab atas setiap aspek tugasnya sehingga jika memang terjadi kesalahan yang diakibatkan oleh kelalaian pihak auditor.4.dengan tingkat kepatuhan yang tinggi. maka akuntan publik dapat dimintai pertanggung jawaban secara hukum sebagai bentuk kewajiban hukum auditor 2.594 Milyar. misalnya : kasus yang terjadi di pasar modal di Indonesia dan kasus yang terjadi di USA. dan disisi lain masyarakat akan mempunyai landasan yang kuat bila sewaktu-waktu akan melakukan penuntutan tanggung jawab profesional terhadap akuntan publik. Laporan adanya indikasi mark up tersebut diberikan sendiri oleh pihak auditor yang mengaudit dari laboran keuangan perseroan tahun 2001 tersebut. Bapepam akhirnya menjatuhkan sanksi denda Rp 500 juta Kepada PT. Pada kasus ini Bapepam memberikan sanksi denda administratif sebesar Rp 2. Kimia Farma dimana laba perusahaan pada tahun 2001 dicatat sebesar Rp 132 Milyar padahal sebenarnya hanya Rp 99.5 milyar . Dalam kasus PT.

pengadilan menyatakan bahwa auditor mempunyai tugas bagi semua orang yang seharusnya sudah dapat diketahui sebagai pemakai laporan keuangan. menimbulkan keruguan lebih dari Rp 600 milyar. Pada Tahun 1983 Giant Store membeli perusahaan Rosenblum dengan pertukaran saham. Daripada mengikuti standar yang berlaku partner setuju untuk tidak mengungkapkannya dalam tahun berjalan. Berdasarkan contoh-contoh kasus di atas yang merupakan realitas praktik yang pernah terjadi di lapangan terbukti bahwa setiap auditor yang .h. Tetapi situasi memburuk.bagi PT. (Loebbecke dan Arens. Partner disalahkan karena tindakan kriminal yang melindungi penipuan dan harus menjalani hukuman penjara selama 12 tahun. Bank Lippo Tbk untuk kesalahan penempatan kata audited dan Rp 3. 2003). Kasus diselesaikan oleh Pengadilan Tinggi New Jersey dengan keuntungan pada pihak penuntut. dan bahkan. Pembelaan auditor adalah bahwa penuntut tidak mempunyai hubungan. Nilai saham ditentukan berdasarkan laporan keuangan Giant Store yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik.795).5 juta bagi akuntan publiknya untuk keterlambatan menyampaikan laporan penting (Huanakala dan Shinneke. karena mereka menggantungkan laporan keuangan tersebut untuk tujuan bisnis mereka. Dalam putusannya itu. Dalam kasus ESM Government Securiites vs Alexander Grart & Co (1986). yang menyebabkan saham diterima dengan harga yang sebenarnya lebih rendah. 1999. manajemen mengatakan kepada partner KAP yang mengaudit ESM bahwa laporan keuangan tahun lalu yang telah diaudit mengandung kesalahan yang material. Pemilik Rosenblum menuntut auditor dengan dasar kelalaian untuk menemukan penipuan.

Sosialisasi atas jenis-jenis jasa dan batasan tanggung jawab akuntan publik kepada masyarakat adalah hal yang mutlak harus dilakukan. akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek tugasnya sehingga jika memang terjadi kesalahan yang diakibatkan oleh kelalaian pihak auditor. Auditor hanya bertanggung jawab atas opini mengenai laporan keuangan dan opini tersebut harus mempunyai bobot integritas dan kompetensi profesional berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Berdasarkan pembahasan rumusan masalah. III. maka akuntan publik dapat dimintai pertanggung jawaban secara hukum sebagai bentuk kewajiban hukum auditor dan di dalam prakteknya terbukti bahwa setiap auditor yang melakukan pelanggaran dapat dituntut secara hukum sebagai bentuk pertanggung jawaban atas audit yang dilakukannya.melakukan pelanggaran dapat dituntut secara hukum sebagai bentuk pertanggung jawaban atas audit yang dilakukannya. Expectation gap antara masyarakat dan profesi akuntan publik memang nyatanya semakin lebar. . Tanggung jawab hukum auditor semakin berat. Jadi legal liability bukanlah ancaman bagi auditor tetapi lebih merupakan tantangan untuk bekerja lebih profesional dan independen. namun hal ini bukanlah isyarat untuk menjadi panik. KESIMPULAN DAN SARAN a. Satu sisi masyarakat harus memahami posisi dan fungsi akuntan dan sisi lain akuntan harus bisa menjawab segala tuntutan masyarakat. Masyarakat juga harus menyadari bahwa laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen dan akuntan hanya bertanggung jawab atas opini yang dikeluarkan dalam aspek-aspek yang material pada penugasan general audit.

Jakarta Loebbecke dan Arens. artikel. Johnson N Raymond dan Kell G. artikel.29/November-Desember/2002. No. Intama Artha Jakarta. C William. buku dua. Corporate accountability. Indonusa. Abadi Nomor Jusuf. Perspektif kewajiban hukum terhadap advokasi akuntan public di Indonesia. dkk. Volume oleh Amir 3. No. Penerbit Penerbit Erlangga. adaptasi Saleh. 3 Penerbit Desember Salemba Empat. Jakarta Huanakala dan Shinneke.35/Septemberoktober/2003. dan disisi lain masyarakat akan mempunyai landasan yang kuat bila sewaktu-waktu akan melakukan penuntutan tanggung jawab profesional terhadap akuntan public REFERENSI Boynton. Media Akuntansi. 2001.Perlunya perangkat hukum yang pasti guna mengatur akuntan publik di Indonesia untuk melengkapi aturan main yang sudah ada. Walter. Kewajiban hukum (legal liability)auditor terhadap public pasar modal. dan Endah Prapti Lestari. 2003. 2002. I Nengah Rata. Sri Sulistiyowati. edisi ketujuh diterjemahkan oleh Paul A. Media . edisi Indonesia. Modern Auditing. Auditing. Media Akuntansi. 2003. Kewajiban hukum (legal liability) auditor. Penerbit Intama Artha Indonusa. Rajoe. Harahap. 1999. Hal ini dibutuhkan agar disatu sisi kalangan profesi dapat menjalankan tanggung jawab profesionalnya dengan tingkat kepatuhan yang tinggi. Jurnal Bisinis dan Akuntansi. buku satu. AS Rachmad dan Saiful Anuar Syahdan. Jakarta Kholis. 2003. Azizul. Sofyan S.

No.Akuntansi. Nomor 2 Oktober 2003. Tanggung jawab akuntan publik. Media Akuntansi. No.18/Juni/2001. Indonusa. Kualitas audit dan tanggung jawab auditor terhadap penuntutan kerugian. Jurnal Keuangan dan Bisinis. 2001. Penerbit Intama Artha Indonusa. Toruan. Volume 1. L Henry.35/September-oktober/2003. Jakarta . Penerbit Intama Artha Jakarta Sarsiti.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->