BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Bekerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia.

Kebutuhan itu bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang ingin dicapai dan orang berharap aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawakan suatu keadaan yang lebih memuaskan dari sebelumnya. Perkembangan teknologi yang semakin maju mendorong Indonesia mencapai tahap industrialisasi, yaitu adanya berbagai macam industri yang ditunjang dengan teknologi maju dan modern. Salah satu konsekuensi dari perkembangan industri yang sangat pesat dan persaingan yang ketat antar perusahaan di Indonesia sekarang ini adalah tertantangnya proses produksi kerja dalam perusahaan supaya terus menerus berproduksi selama 24 jam. Dengan demikian diharapkan ada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Peranan manusia dalam industri tidak dapat diabaikan karena sampai saat ini dalam proses produksi masih terdapat adanya ketergantungan antara alat-alat kerja atau dengan kata lain adanya antara manusia, alat dan bahan sertalingkungan kerja Interaksi antara manusia, alat dan bahan, serta lingkungan kerjamenimbulkan beberapa pengaruh terhadap tenaga kerja. Pengaruh atau dampak negatif sebagai hasil samping proses industri merupakan beban tambahan dari tenaga kerja, yang bisa menimbulkan kelelahan kerja (Rosa, 2011). 1

Kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut, sehingga akan terjadi pemulihan. Gejala kelelahan akibat kerja dapat berkisar dari rasa sakit pada otot, rasa kaku atau kejang pada bagian tubuh tertentu, rasa sakit atau nyeri hingga rasa kantuk, kebingungan mental, kekejangan muskular (otot) dan kejenuhan. Tingkat kelelahan akibat kerja yang dialami karyawan bisa menyebabkan

ketidaknyamanan, gangguan dan kemungkinan mengurangi kepuasan serta penurunan produktivitas yang ditunjukkan dengan berkurangnya kecepatan performansi, menurunnya mutu produk, hilangnya orisinalitas, meningkatnya kesalahan dan kerusakan, kecelakaan yang sering terjadi, kendornya perhatian dan ketidaknyamanan dalam melaksanakan pekerjaan. Data dari ILO menyebutkan hampir setiap tahun sebanyak dua juta pekerja meninggal dunia karena kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor kelelahan. Penelitian tersebut menyatakan dari 58115 sampel, 32,8% diantaranya atau sekitar 18828 sampel menderita kelelahan. Penelitian mengenai kecelakaan transportasi yang dilakukan di New Zealand antara tahun 2002 dan 2004 menunjukkan bahwa dari 134 kecelakaan fatal, 11% diantaranya disebabkan faktor kelelahan dan dari 1703 cidera akibat kecelakaan, 6% disebabkan oleh kelelahan pada operator (Pangesti Putri, 2008). Berdasarkan data mengenai kecelakaan kerja yang tercatat di Kompas tahun 2004, di Indonesia setiap hari rata-rata terjadi 414 kecelakaan kerja, 27,8% disebabkan kelelahan yang cukup tinggi. Lebih kurang 9,5% atau 39 orang mengalami cacat. Data kecelakaan dari sumber yang dikeluarkan oleh Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional di sektor listrik (PLN) 2

2004) (Pangesti Putri. 3 .mencatat terjadi 1458 kasus kecelakaan dan salah satu penyebab adalah faktor kurangnya konsentrasi pekerja karena kelelahan (Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan. 2008) B. Tujuan Penelitian 1) Untuk mengetahui bagaimana cara mengoperasikan alat Reaction Timer 2) Untuk mengetahui intensitas kelelahan pekerja 3) Untuk menentukan apakah intensitas kelelahan yang telah diukur melewati NAB atau tidak.

kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat (Suma’mur. Menurut Tarwaka tahun 2004. Adapun kelelahan secara umum adalah keadan tenaga kerja yang ditandai oleh adanya perasaan kelelahan dan penurunan kesigapan kerja. bersifat kronis serta merupakan suatu fenomena psikososial. ke tidak hadiran. Kelelahan kerja menyebabkan penurunan kinerja yang dapat berakibat pada peningkatan kesalahan kerja. Kelelahan kerja merupakan kriteria yang 4 . Secara umum. istilah kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu. Definisi Kelelahan Kerja Ada beberapa definisi kelelahan yang dapat dijadikan acuan. dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan. keluar kerja. Kelelahan dapat diartikan sebagai suatu kondisi menurunnya efisiensi. performa kerja.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 2010). kecelakaan kerja dan berpengaruh perilaku kerja (Anonim. 1996). Kelelahan kerja dalam suatu industri berkaitan pada gejala-gejala yang saling berhubungan yaitu perasan lelah dan perubahan fisiologis dalam tubuh (syaraf dan otot tidak berfungsi dengan baik atau tidak secepat seperti keadaan normal) yang disebabkan oleh keadan kimiawi setelah bekerja dan dapat menurunkan kapasitas kerja. tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh .

menurut Wignjoesoebroto (2000) ialah disebabkan munculnya gejala kesakitan yang amat sangat ketika otot harus melakukan beban. B. Adanya perasaan lelah. Kelelahan otot. Berdasarkan proses dalam otot yang terdiri dari : a. penurunan motivasi dan penurunan produktivitas kerja Kelelahan adalah reaksi fungsionil dari pusat kesadaran yaitu cortex cerebri yang dipengaruhi oleh dua sistem antagonistik yaitu system penghambat atau inhibisi dan system penggerak atau aktivasi.komplek yang tidak hanya menyangkut kelelahan fisiologis dan psikologis tetapi dominan hubungannya dengan penurunan kinerja fisik. Jenis Kelelahan Kerja Berdasarkan pendapat para ahli sebagaimana yang dikutip Silaban (1996) bahwa kelelahan dibedakan berdasarkan 3 (tiga) bagian yaitu (Anonim. 2011) : 1. b. Sistem penghambat terdapat dalam thalamus yang mampu menurunkan kemampuan manusia bereaksi dan menyebabkan kecenderungan untuk tidur. dimana keduanya berada pada susunan syaraf pusat. kurang tertarik) yang mengakibatkan menurunnya kapasitas kerja. Sebab 5 . ialah suatu perasaan yang menyebar yang disertai dengan adanya penurunan kesiagaan dan kelambatan pada setiap aktivitas. Adapun sistem penggerak terdapat dalam formation retikularis yang dapat merangsang pusat-pusat vegetatif untuk konversi ergotropis dari dalam tubuh ke arah bekerja. Kelelahan umum. Kelelahan umum dapat menjadi gejala penyakit juga berhubungan dengan faktor psikologis (motivasi menurun.

terutama disebabkan oleh kerja suatu organ atau seluruh tubuh secara berlebihan b. Berdasarkan penyebabnya dikutip dari (Anonim. Menurut McFarland (1972) disebabkan oleh faktor fisiologis yaitu akumulasi dari substansi toksin (asam laktat) dalam darah dan faktor psikologis yaitu konflik yang menyebabkan stres emosional yang berkepanjangan c. keadaan lingkungan. 2. Menurut Phoon (1988) disebabkan oleh kelelahan fisik yaitu kelelahan karena kerja fisik. intensitas dan lamanya kerja fisik dan mental. kerja patologis ditandai dengan menurunnya kerja. rasa lelah dan ada hubungannya dengan faktor psikososial. Kelelahan akut. Menurut Singleton (1972) disebabkan oleh faktor fisik dan psikologis di tempat kerja b. terjadi bila kelelahan berlangsung setiap hari. Kelelahan kronis. 6 . 2011): a. kekhawatiran dan konflik) serta penyakit-penyakit. Berdasarkan waktu terjadinya kelelahan : a. sebab-sebab mental (tanggung jawab. berkepanjangan dan bahkan kadang-kadang telah terjadi sebelum memulai suatu pekerjaan 3.sebab kelelahan umum adalah monotoni.

Sedangkan pada teori syaraf pusat menjelaskan bahwa perubahan kimia hanya merupakan penunjang proses.C. Kerja yang monoton bisa menimbulkan kelelahan walaupun mungkin beban kerjanya 7 . menghambat pusat-pusat otak dalam mengendalikan gerakan sehingga frekuensi potensial kegiatan pada sel syaraf menjadi berkurang. Pada teori kimia secara umum menjelaskan bahwa terjadi kelelahan adalah akibat berkurangnya cadangan energi dan meningkatnya metabolisme sebagai penyebab hilangnya efisiensi otot. Berkurangnya frekuensi tersebut akan menurunkan kekuatan dan kecepatan kontraksi otot dan gerakan atas perintah kemauan menjadi lambat. sedang perubahan arus listrik kepada otot dan syaraf adalah penyebab sekunder. Perubahan kimia yang terjadi mengakibatkan dihantarnya rangsangan syaraf melalui syaraf sensoris ke otak yang disadari sebagai kelelahan. Sistem penghambat ini terdapat dalam thalamus dan bersifat menurunkan kemampuan manusia untuk bereaksi. 2010). Sebaliknya apabila sistem penghambat lebih kuat dari sistem penggerak maka orang tersebut akan mengalami kelelahan. Dengan demikian semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan semakin lemah kondisi otot seseorang (Anonim. Apabila sistem penggerak lebih kuat dari sistem penghambat maka keadaan orang tersebut ada dalam keadaan segar untuk bekerja. Ada suatu konsep yang menyatakan bahwa keadaan dan perasaan kelelahan ini timbul karena adanya reaksi fungsionil dari pusat kesadaran yaitu cortex cerebri yang bekerja atas pengaruh 2 sistem antagonistik yaitu sistem penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi). Mekanisme Kelelahan Sampai saat ini masih berlaku dua teori tentang kelelahan yaitu teori kimia dan teori syaraf pusat yang terjadi kelelahan.

Fungsi faal tubuh yang dapat berubah karena faktor usia mempengaruhi ketahanan tubuh dan kapasitas kerja seseorang.tidak seberapa. kebanyakan menyerang bilik kiri jantung sehingga paruparu akan mengalami bendungan dan penderita akan mengalami sesak napas sehingga akan mengalami kelelahan. tetapi ada faktor yang menyebabkannya. Status Kesehatan 1. (Suma’mur. 8 . Jenis Kelamin Pada tenaga kerja wanita akan terjadi siklus biologis setiap bulan di dalam mekanisme tubuhnya sehingga akan mempengaruhi kondisi fisik maupun psikisnya dan hal ini akan menyebabkan tingkat kelelahan wanita akan lebih besar dari pada tingkat kelelahan pria. Faktor Penyebab Kelelahan Kerja Terjadinya kelelahan tidak begitu saja. Hal ini disebabkan karena sistem penghambat lebih kuat dibandingkan sistem penggerak (Anonim. Penyakit Jantung Seseorang yang mengalami nyeri jantung jika kekurangan darah. D. 2010): 1. c. Faktor yang menyebabkan kelelahan tersebut antara lain (Anonim. semakin tua umur seseorang semakin besar tingkat kelelahan . Faktor dari Dalam Individu a. 1996) b. Usia Usia seseorang dapat mempengaruhi kelelahan kerja. 2010).

3. 4. Asma Pada penderita penyakit asma terjadi gangguan saluran udara bronkus kecil bronkiolus. Tekanan Darah Rendah Pada penderita tekanan darah rendah kerja jantung untuk memompa darah ke bagian tubuh yang membutuhkan kurang maksimal dan lambat sehingga kebutuhan oksigennya tidak proses kerja yang membutuhkan oksigen jaringan otot paru-paru terpenuhi. Pada tungkai terjadi penumpukan sisa metabolism yang menyebabkan kelelahan. Tekanan Darah Tinggi Pada tenaga kerja yang mengalami tekanan darah tinggi akan menyebabkan kerja jantung menjadi lebih kuat sehingga jantung membesar. Pada penderita penyakit paru-paru pertukaran O2 dan CO2 terganggu sehingga banyak tertimbun sisa metabolisme yang menjadi penyebab kelelahan.2. Proses transportasi oksigen dan karbondioksida terganggu sehingga terjadi akumulasi karbondioksida dalam tubuh yang menyebabkan kelelahan. Pada saat jantung tidak mampu mendorong darah beredar ke seluruh tubuh dan sebagian akan menumpuk pada jaringan seperti tungkai dan paru. 9 . Selanjutnya terjadi sesak napas bila ada pergerakan sedikit karena tidak tercukupi kebutuhan oksigennya akibatnya pertukaran darah terhambat. akibatnya terhambat. Terganggunya proses tersebut karena terkena radang.

10 . Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya dan masing-masing tenaga kerja mempunyai kemampuan sendiri untuk menangani beban kerjanya sebagai tambahan dari beban kerja langsung ini.2. Beban kerja menentukan berapa lama seseorang dapat bekerja tanpa mengakibatkan kelelahan atau gangguan. b. semakin lama seorang tenaga kerja bekerja pada lingkungan kerja yang kurang nyaman dan menyenangkan maka kelelahan pada orang tersebut akan menumpuk terus dari waktu ke waktu. kimia. Beban Kerja dan Masa Kerja Beban kerja adalah volume pekerjaan yang dibebankan kepada tenaga kerja baik berupa fisik maupun mental dan menjadi tanggung jawabnya. Faktor dari Luar Individu a. ergonomi dan psikologi. dan ergonomi. Seperti faktor lingkungan fisik. Pekerjaan biasanya dilakukan dalam suatu lingkungan atau situasi yang akan menjadi beban tambahan pada jasmani dan rohani tenaga kerja tersebut. Lingkungan Kerja Fisik Lingkungan kerja fisik yang mempengaruhi kelelahan antara lain penerangan. kebisingan iklim kerja. Pada pekerjaan yang terlalu berat dan berlebihan akan mempercepat pula kelelahan kerja seseorang. Masa kerja merupakan lama waktu seseorang bekerja pada suatu instansi atau tempat kerja. biologi. Pada masa kerja ini dapat berpengaruh pada kelelahan kerja khususnya kelelahan kronis.

Merasa susah berpikir. tidak dapat mengontrol sikap. Dapat mendorong terciptanya tingkah laku yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup rumah tangga seseorang. 2011) antara lain : a. Menunjukkan terjadinya pelemahan kegiatan. menjadi gugup. marasakan beban pada mata. 11 . Perasaan berat di kepala. Pekerja yang mengalami kelelahan kerja akan berprestasi lebih buruk lagi daripada pekerja yang masih “penuh semangat” b. cemas terhadap sesuatu. Akibat Kelelahan Kerja Konsekuensi kelelahan kerja menurut Randalf Schuler (1999) (Anonim. kurang kepercayaan. cenderung untuk lupa.E. Menunjukkan terjadinya pelemahan motivasi. lelah berbicara. tidak dapat tekun dalam pekerjaan. manjadi mengantuk. tidak seimbang dalam berdiri. menjadi lelah seluruh badan. sering menguap. mau berbaring. b. Menurut Suma’mur (1996) ada 30 gejala kelelahan yang terbagi dalam 3 kategori yaitu : a. merasa kacau pikiran. tidak konsentrasi. kaki merasa berat. kaku dan canggung dalam gerakan. Memburuknya hubungan si pekerja dengan kerja yang lain c. tidak dapat mempunyai perhatian terhadap sesuatu.

sering depresi. Gejala-gejala psikis ditandai dengan perbuatan-perbuatan anti sosial dan perasaan tidak cocok dengan sekitarnya. Tanda-tanda kelainan-kelainan psikolatis seperti sakit kepala. Kelelahan klinis terutama terjadi pada mereka yang mengalami konflik-konflik mental atau kesulitankesulitan psikologis. Perasaan lelah tidak saja terjadi sesudah bekerja pada sore hari.c. spasme dari kelopak mata. Perasaan lesu tampak sebagai suatu gejala. tidak dapat tidur dan lain-lain. haus. suara serak. merasa kurang sehat. Menunjukkan gambaran kelelahan fisik akibat keadaan umum Sakit kepala. Kelelahan kronis demikian disebut kelelahan klinis. gangguan pencernaan. Kelelahan yang terus menerus terjadi setiap hari akan berakibat terjadinya kelelahan yang kronis. tetapi juga selama bekerja. Sikap negatif terhadap kerja. 1996). perasaan terhadap atasan atau lingkungan kerja memungkinkan faktor penting dalam sebab ataupun akibat (Suma’mur. tremor pada anggota badan. bahkan kadang-kadang sebelumnya. vertigo. merasa nyeri di punggung. 12 . kekakuan di bahu. Hal ini menyebabkan tingkat absentisme akan meningkat terutama mangkir kerja pada waktu jangka pendek disebabkan kebutuhan istirahat lebih banyak atau meningkatnya angka sakit. kurangnya tenaga serta psikis ini sering disertai kehilangan inisiatif. terasa pening. terasa pernafasan tertekan.

banyak hal dapat dicapai dengan jam kerja. Kelelahan diatur secara sentral oleh otak.F. Sistem aktivasi bersifat simpatis. terdapat sistem aktivasi dan inhibisi. 1996). Kedua sistem ini saling mengimbangi tetapi kadang-kadang salah satu dari padanya lebih dominan sesuai dengan keperluan. Agar keseimbangan. masa-masa libur dan rekreasi. dan lainlain. Misalnya. pemberian kesempatan istirahat yang tepat. kamar-kamar istirahat. Cara Menanggulangi Kelelahan Kerja Untuk menghindari rasa lelah diperlukan adanya keseimbangan antara masukan sumber datangnya kelelahan tersebut (faktor-faktor penyebab kelelahan) dengan jumlah keluaran yang diperoleh lewat proses pemulihan (recovery). sedangkan inhibisi tenaga kerja berada dalam keserasian dan adalah parasimpatis. Dengan memperpendek jam kerja harian akan menghasilkan kenaikan output per jam sebaliknya dengan memperpanjang jam kerja harian akan menjurus memperlambat kecepatan (tempo) kerja yang akhirnya berakibat pada penurunan prestasi kerja per jamnya. kedua sistem tersebut harus berada pada kondisi yang memberikan stabilitasi kepada tubuh (Suma’mur. Kelelahan dapat dikurangi dengan berbagai cara yang ditujukkan kepada keadaan umum dan lingkungan fisik di tempat kerja. 13 . Proses pemulihan dapat dilakukan dengan cara antara lain memberikan waktu istirahat yang cukup baik yang terjadwal atau terstruktur atau tidak dan seimbang dengan tinggi rendahnya tingkat ketegangan kerja. Pada susunan saraf pusat.

yaitu : Tabel 1 Nilai Ambang Batas Kelelahan Kerja Menurut Balai Hiperkes Tahun 2004 No 1.G. 2004 14 .0 .0 – 580.0 >240. Nilai Ambang Batas (NAB) Kelelahan Kerja Adapun nilai ambang batas kelelahan kerja menurut Balai Hiperkes Tahun 2004.410.0 Sumber:Balai Hiperkes.240. Status Normal Kelelahan Kerja Ringan Kelelahan Kerja Sedang Kelelahan Kerja Berat Waktu Reaksi (ms) 150. 3.0 >410. 4. 2.0 .0 >580.

Waktu pengambilan sampel : Hari Jumat. Lokasi dan Waktu Pengambilan Sampel a.30 WITA B. Alat Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah Reaction Timer Center L-77 Merek Lakasidaya. Reaction Timer Center L-77 Merek Lakasidaya 15 . Lokasi pengambilan sampel: Laboratorium AVA (Audio Visual Aids). b. Gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat. Reaction Timer merupakan perangkat yang digunakan untuk mengukur tingkat kelelahan kerja.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pukul 14. 27 April 2012. Lantai 3. Gambar 1. Universitas Hasanuddin. Tamalanrea.

C. kedua alat diusahakan sejajar. D. 3) Responden diposisikan dengan Reaction Timer Center agak berjauhan. 4) Mouse Respon diarahkan dengan Tester menghadap ke responden. 16 .Alat ini terdiri dari 3 bagian. bagian ini sebagai pusat reaksi perintah alat dan berfungsi mengirimkan rangsang baik berupa cahaya ataupun suara. alat ini digunakan responden untuk menyampaikan respon dari rangsang yang diterima. Prosedur Kerja 1) Reaction Timer dihubungkan dengan arus listrik. 2) Reaction Timer diaktifkan dengan menekan tombol power (tombol ON). 2. Reaction Timer Center. Prinsip Kerja Prinsip kerja dari Reaction Timer yaitu rangsamg ditmbulkan dari Reaction Timer Center yang mengirimkan rangsang berupa cahaya atau suara kemudian disampaikan melalui Tester yang kemudian ditanggapi oleh responden dan menyampaikan rangsang melalui Mouse Respon. 6) Tombol mulai pada Reaction Timer Center ditekan oleh operator untuk memberikan rangsang. 7) Mouse Respon ditekan dengan cepat oleh responden setelah melihat cahaya atau mendengar suara dari Tester. 5) Tombol Cahaya atau Tombol Suara pada Reaction Timer Center ditekan (dipilih) sesuai dengan apa yang akan diukur. berfungsi menyampaikan rangsang dari Respon Timer Center ke responden 3. Tester. bisa juga posisi responden membelakangi Reaction Timer Center. Mouse Respon. yaitu: 1.

Nilai pengukurn ke-6 sampai ke-15 diambil untuk dilakukan perhitungan. alat dikalibrasi dengan cara Tombol Nol pada Reaction Timer Center ditekan. masing-masing pada respon cahaya maupun respon suara. kemudian tombol mulai ditekan kembali. nilai ke-1 sampai ke-5 responden belum konsentrasi atau masih adaptasi. 9) Setelah dicatat. 12) Pengukuran dilakukan dengan sangat hati-hati. sedangkan nilai ke-16 sampai ke-20 kemungkinan responden sudah mulai kelelahan. 10) Pengukuran dilakukan sebanyak 20 kali.8) Angka/nilai respon dari rangsang yang terlihat pada Reaction Timer Center dicatat. 11) Setelah pengukuran dilaksanakan sebanyak 20 kali. 17 . Hal ini disebabkan. karena alat yang sangat sensitif dan rentan terjadi error. pengukuran harus dimulai lagi dari awal apabila terjadi error dalam tahap pengukuran.

1 275.0 275.9 200.5 250.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.4 312.3 312.5 150.4 137.2 Sumber : Data Primer.3 350.5 150.3 175.9 388.5 204.7 225.2 287.0 250.8 250.3 200.8 212.2 200.4 212.7 174.3 312.7 125.3 412.8 225. diperoleh data sebagai berikut : Tabel 2 Hasil Pengukuran Kelelahan Pada Responden dengan Menggunakan Reaction Timer Di Laboratorium AVA FKM Unhas Tahun 2012 No.8 250.3 262.1 125.2 249.1 350.8 325.5 212.2 200. 2012 18 .9 188.3 162.4 175. Pengukuran Pengukuran Cahaya Pengukuran Suara 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 274. HASIL PENGAMATAN Dari hasil pengukuran.0 175.8 212.

dinyatakan bahwa angka kelelahan responden berada diatas Nilai Ambang Batas (NAB) normal yang ditetapkan Balai Hiperkes yang menyatakan bahwa NAB kelelahan untuk rangsangan cahaya melalui pengukuran Reaction Timer yaitu antara 150-240 ms.72 ms. menunjukkan bahwa intensitas kelelahan tertinggi berada pada pengukuran ke-7 yaitu 412.72 m/s. PEMBAHASAN a.B. dan diperoleh nilai rata-rata dari pengukuran ke-6 sampai ke-15 sebesar 291. Berdasarkan hasil pengukuran di atas. karena masih dalam taraf kelelahan ringan. Berdasarkan pengukuran ini. pemulihan akan segera terjadi apabila responden telah beristirahat. 19 . Perhitungan Daya Tangkap Cahaya: Rumus Perhitungan: Reaksi Cahaya = jumlah hasil percobaan ke-6 sampai ke-15 10 Dengan menggunakan rumus diatas. nilai yang dihasilkan tidak terlalu berbahaya bagi responden.5 m/s. Sedangkan hasil pemeriksaan responden menunjukkan angka 291. maka: ñ= Dari hasil pegukuranan kelelahan yang telah dilakukan. Sehingga responden dapat dinyatakan dalam keadaan kelelahan kerja ringan (interval 240-410 ms).

Perhitungan Daya Tangkap Suara: Rumus Perhitungan: Reaksi Suara = jumlah hasil percobaan ke-6 sampai ke-15 10 Dengan menggunakan rumus diatas. Dimana kelelahan ini tidak akan menimbulkan efek yang berbahaya bagi responden.b. 20 . dinyatakan bahwa angka kelelahan responden berada di batas normal yang ditetapkan Balai Hiperkes tahun 2004 yang menyatakan bahwa NAB kelelahan untuk rangsangan cahaya melalui pengukuran Reaction Timer yaitu antara 150240 ms. maka: ñ Dari hasil pegukuranan kelelahan yang telah dilakukan. karena intensitas kelelahan yang masih normal.0 m/s. menunjukkan bahwa intensitas kelelahan tertinggi berada pada pengukuran ke-1 yaitu 350. dan diperoleh nilai rata-rata dari pengukuran ke-6 sampai ke-15 sebesar 207. Berdasarkan pengukuran ini. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa responden masih dalam taraf aman.8 m/s. dibandingkan dengan intensitas kelelahan yang dialami oleh responden.

72 m/s b. Saran Diperlukan ketelitian dalam menggunakan alat ini. sedangkan hasil pengukuran dengan respon suara maka responden II masih dalam keadaan normal. karena alat ini sangat sensitif. 21 . Adapun intensitas kelelahan responden berupa rangsang cahaya maupun suara. Berdasarkan hasil pengukuran dengan respon cahaya maka responden I dinyatakan mengalami kelelahan ringan. 2. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pengukuran ini adalah sebagai berikut : 1. Cahaya = 291.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. disarankan untuk beristirahat untuk pemulihan kondisi fisik dan psikologi. Suara = 207. diperoleh hasil sebagai berikut: a. Bagi responden yang terdeteksi kelelahan ringan hingga berat. sehingga rentan terjadi error dalam pengukuran. B. dan tidak memiliki efek berbahaya bagi responden. Peneliti sudah mampu menggunakan alat Reaction Timer.8 m/s 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful