TINJAUAN PUSTAKA

Perkecambahan Benih Padi Menurut Byrd (1983) perkecambahan adalah berkembangnya strukturstruktur penting dari embrio benih dan menunjukkan kemampuannya untuk menghasilkan tanaman normal pada keadaan yang menguntungkan. Kuswanto (1997) menyatakan kecambah normal adalah kecambah yang memiliki kemampuan untuk tumbuh menjadi tanaman normal jika ditanam pada lingkungan yang optimum dapat berkembang dengan baik, tanpa kerusakan terutama pada jaringan pendukung (contact tissue). Bewley & Black (1985) menyatakan perkecambahan yang sempurna ditandai dengan penetrasi struktur embrio berupa radikula dari testa benih. Plumula dan radikula yang tumbuh diharapkan dapat menghasilkan kecambah yang normal, jika faktor lingkungan mendukung. Pada tingkat sel, tahapan metabolisme dan imbibisi terjadi pada benih dorman dan benih non-dorman saat sebelum perkecambahan. Benih dorman mengalami semua proses metabolisme perkecambahan, tetapi radikula gagal memanjang. Perkecambahan padi merupakan suatu rangkaian perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Copeland & Mc.Donald (2001) menyatakan bahwa perkecambahan benih, secara fisiologi adalah muncul dan berkembangnya struktur-struktur penting dari embrio benih sampai dengan akar menembus kulit benih. Proses metabolisme perkecambahan benih ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih adalah sifat dormansi dan komposisi kimia benih. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih adalah air, gas, suhu dan cahaya. Bewley & Black (1985) menyatakan bahwa keseluruhan proses perkecambahan melewati tiga fase, yaitu fase I (fase imbibisi), fase II (lag phase) dan fase III (fase pertumbuhan). Fase I diawali dengan proses penyerapan air oleh benih, baik benih dorman dan non-dorman, benih viabel maupun benih nonviabel. Proses penyerapan air berlangsung karena adanya perbedaan potensial air di dalam benih dengan air disekitarnya. Potensial air di dalam benih kering dapat mencapai -1000 bar, sementara pada air disekitarnya 0 bar. Fase II atau lag phase adalah periode mulai aktifnya metabolisme sebagai persiapan perkecambahan pada benih non-dorman, sementara pengaktifan metabolisme tidak terjadi pada

Dormansi benih dapat berlangsung beberapa hari. benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah meskipun diletakkan pada keadaan yang umum dianggap memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan. Pengujian viabilitas benih dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Copeland & Mc. Viabilitas benih dapat diindikasikan oleh tolok ukur secara langsung dengan menilai pertumbuhan dengan pendekatan fisiologi. salah satunya adalah melalui pendekatan fisiologi. .Donald (2001) menyatakan dormansi merupakan fenomena fisiologis yang menunjukkan ketidakmampuan benih hidup untuk berkecambah pada kondisi optimum. Fase III atau fase pertumbuhan terjadi hanya pada benih non-dorman yang viabel. Proses pertama yang terjadi selama perkecambahan adalah pengambilan air melalui proses imbibisi. Copeland & Mc. Menurut Sadjad (1994) viabilitas benih merupakan daya hidup benih yang ditunjukkan oleh fenomena pertumbuhan benih. kinerja kromosom atau keadaan organel sitoplasma atau garis viabilitas. bahkan bisa diketahui pada saat munculnya radikula dari testa benih tanpa perlu mengetahui pertumbuhan tanaman secara keseluruhan (Sadjad 2008). Dormansi Benih Menurut Sutopo (2002). ditandai dengan munculnya akar dan diikuti dengan proses pembelahan sel yang ekstensif.6 benih mati. Salah satu indikasi langsung menggunakan tolok ukur daya berkecambah (DB). Benih yang viabel dapat diidentifikasi dari pertumbuhan organ seminalnya. perombakan cadangan makanan. translokasi dan penggunaan cadangan makanan.Donald (2001) menyatakan imbibisi tergantung pada komposisi kimia benih. beberapa minggu hingga beberapa bulan tergantung pada jenis tanaman. yaitu mengamati proses pertumbuhan di laboratorium dan di lapangan. Air adalah kebutuhan dasar untuk perkecambahan benih yang penting untuk aktivasi enzim. gejala metabolisme. dan untuk padi sendiri perhitungan DB pada hari ke-5 dan hari ke-7. permeabilitas kulit benih dan ketersediaan air. peningkatan laju penyerapan air dan perombakan cadangan makanan. Benih viabel dan non-dorman akan berkecambah sempurna.

Donald (2001) mengelompokkan dormansi primer menjadi dua sifat yaitu (1) dormansi eksogenus yaitu tipe dormansi yang berhubungan dengan sifat fisik dari kulit. Bahan kimia dapat menciptakan suatu tekanan osmotik yang tidak menguntungkan pada proses pertumbuhan. dormansi endogenus terdiri dari (1) dormansi endogenus morfologis yaitu dormansi yang disebabkan karena embrio yang belum berkembang. Hambatan perkecambahan dapat disebabkan oleh kulit benih dan bahan kimia.7 Bewley & Black (1985) maupun Copeland & Mc. Penyebab dormansi antara lain embrio yang tidak sempurna.Donald (2001) membagi dua tipe dormansi yaitu dormansi primer dan sekunder.Donald (2001) menambahkan faktor lingkungan yang mempengaruhi dormansi endogenus antara lain panjang hari. setelah . umur tanaman induk dan suhu selama pembungaan. kebutuhan embrio akan penyimpanan kering. Dormansi pada padi terjadi sejak benih masih berada pada tanaman induk. membatasi pertumbuhan. ada juga yang membentuk senyawa-senyawa penghambat pertumbuhan. Mugnisjah (2007) menambahkan.Donald 2001). kulit benih impermeabel. (2) dormansi endogenus fisiologis yaitu dormansi yang disebabkan oleh impermeabilitas benih terhadap gas. (2) dormansi endogenus yaitu dormansi yang disebabkan sifat-sifat tertentu yang melekat pada benih. Faktor utama yang mempengaruhi lamanya dormansi endogenus pada benih adalah faktor lingkungan selama pertumbuhan dan pembungaan (Baskin & Baskin 2001). Dormansi primer merupakan tipe dormansi yang umum paling sering terjadi. embrio belum masak. Dormansi primer adalah dormansi yang berasal dari dalam benih yang dihasilkan selama pembentukan benih. naungan. (3) dormansi endogenus morfofisiologis yaitu dormansi yang disebabkan oleh kombinasi antara penyebab dormansi endogenus morfologis dengan penyebab dormansi endogenus fisiologis. Copeland & Mc. embrio benih yang rudimenter dan kepekaan terhadap suhu dan cahaya. sedangkan dormansi sekunder merupakan dormansi yang terjadi karena faktor lingkungan. kulit benih tebal. Copeland & Mc. kebutuhan embrio akan cahaya serta kebutuhan embrio akan suhu dingin. posisi benih pada buah atau bunga. dan terdapat senyawa-senyawa yang menghambat perkecambahan (Copeland & Mc.

Benih tersebut akan berkecambah setelah melalui proses penyimpanan dalam jangka waktu tertentu. dari hanya beberapa hari sampai beberapa minggu. Banyak spesies tanaman yang apabila benihnya sudah terlepas dari tanaman induknya. Ketebalan lemma dan palea pada benih juga diduga menghambat perkecambahan. Menurut Bewley & Black (1985) dormansi benih disebabkan adanya inhibitor pada kulit benih.Donald 2001). Adanya lemma dan palea dapat memperpanjang daya simpan dan menyebabkan dormansi. Menurut Gardner et al. sedangkan penghambat pertumbuhan seperti ABA meningkat. Periode after ripening adalah lamanya minggu atau bulan suatu biji berada dalam keadaan dorman dihitung sejak dipanen. . Jangka waktu tersebut disebut dengan periode after-ripening (Sutopo 2002). Sebaliknya kandungan hormon IAA selama perkembangan benih akan menurun sejalan dengan peningkatan kemasakan benih. Menurut Sadjad (1980) benih padi yang mengalami after-ripening akan berkecambah sampai kadar air berkurang selama pengeringan. Penyebab dormansi pada padi adalah impermeabilitas kulit benih terhadap oksigen serta adanya zat penghambat perkecambahan (Salisburry & Ross 1995. Benih yang mengalami after-ripening akan berkecambah setelah disimpan dalam jangka waktu tertentu. Periode afterripening berbeda-beda antar varietas tergantung dari jenis benihnya. yang disebut sebagai innate dormancy atau dormansi primer.8 embrio berkembang penuh. (1991) bahan perangsang pertumbuhan semakin menurun selama pembentukan benih. kelembaban dan oksigen berpengaruh terhadap periode after-ripening. Akibatnya terjadi dormansi benih pada saat benih masak. karena ketidakseimbangan hormon dalam benih. Copeland & Mc. Dormansi primer yang dialami benih padi adalah after-ripening. Hal ini menunjukkan bahwa ABA merupakan salah satu penyebab dormansi. tidak berkecambah meskipun berada pada lingkungan yang optimal untuk perkecambahannya. Bewley & Black (1985) menyatakan bahwa kondisi lingkungan berupa suhu. Kandungan hormon ABA dalam benih padi semakin meningkat dengan meningkatnya kemasakan benih pada proses perkembangan benih padi.

atau embrio. Kondisi lingkungan selama pertumbuhan dan pembungaan benih mempengaruhi lamanya durasi dormansi endogenus. musim tanam. dan tahap perkecambahan. Intensitas dormansi tergantung dari beberapa faktor yaitu spesies. Menurut Soejadi & Nugraha (2001b) intensitas dormansi adalah persentase benih viabel yang tidak berkecambah. Jumlah benih nondorman mencapai 80% atau lebih setelah disimpan 2-8 minggu. sebaliknya kadar oksigen yang tinggi akan mempercepat proses afterripening. yang dapat ditentukan dengan mengurangi angka 100% dengan persentase daya berkecambah benih yang tanpa perlakuan pematahan dormansi dan persentase benih mati. tempat panen. umur tanaman induk. pengupasan kulit. Kadar oksigen yang rendah juga menunda proses afterripening. naungan.Donald 2001).9 Keadaan benih dalam kadar air minimum diperlukan dalam proses after-ripening . posisi benih pada buah atau bunga. Menurut Sutopo (2002). Faktor lingkungan yang mempengaruhi dormansi endogenus diantaranya adalah panjang hari. Santika (2006) melaporkan bahwa varietas padi yang berumur pendek atau genjah (100-115 hari) tidak selalu memiliki periode after-ripening yang pendek. aleuron. beberapa zat penghambat tumbuh telah ditemukan pada biji padi sehubungan dengan dormansi embrio tersebut antara lain asam absisat (ABA) dan koumarin yang dapat berada pada sekam. sedangkan padi hibrida varietas Sunggal patah dormansi pada minggu keempat setelah panen. Padi hibrida Varietas Ariza patah dormansinya pada minggu kedua setelah panen. Soejadi & Nugraha (2001a) berpendapat bahwa persentase benih nondorman meningkat seiring dengan semakin lamanya waktu penyimpanan. Kandungan hormon . varietas. Menurut Nugraha & Soejadi (1989) daya simpan dan ketahanan benih terhadap deraan di lapang dipengaruhi oleh perilaku dormansi (persistensi dan intensitas). dan perendaman pada larutan kimia baik larutan organik maupun larutan anorganik. Dormansi akibat kebutuhan akan after-ripening ini dapat dipatahkan dengan perlakuan suhu tinggi. Perbedaan persistensi dormansi antar varietas diduga disebabkan oleh faktor yang mempengaruhi masa dormansi. serta suhu selama pembungaan (Copeland & Mc. tetapi apabila terlalu kering (sebagai contoh pada kadar air 5%) maka proses afterripening akan tertunda.

kultivar Indica memperlihatkan derajat dormansi benih yang paling besar. Varietas Nagara pada minggu keduabelas dormansinya patah sempurna. diikuti oleh kultivar Javanica. sedangkan varietas Bondoyodo. kemudian Japonica adalah yang mempunyai masa dormansi pendek.10 ABA pada benih padi hibrida Ariza dan Sunggal semakin meningkat dengan meningkatnya stadia kemasakan benih. Minggu keenam dan ketujuh merupakan puncak patah dormansi benih padi. sitokinin dan KNO3 merupakan perlakuan pematahan dormansi pada kasus dormansi endogenous. Penelitian Ellis et al. Varietas yang patah sempurna dormansi pada minggu keempat Arias. Penggunaan hormon seperti GA3. dormansi benih dapat disebabkan oleh zat penghambat asam absisat (Hayashi 1987) atau perikarp yang impermeabel terhadap oksigen (Bewley & Black 1985). sedangkan varietas Laut Tawar patah dormansinya pada minggu kesepuluh. Varietas Cisadane. . (1983) melaporkan dari tiga tipe Oryza sativa. Perlakuan Pematahan Dormansi Benih Padi Ellis et al. (1983) menyatakan nitrit atau nitrat yang berasal dari larutan KNO3 diketahui memiliki stimulatory effect terhadap perkecambahan benih melalui perannya sebaga ion penerima elektron. Cikapundung dan Bahbolon patah sempurna dormansi pada minggu keempat. Padi sawah varietas Cipunegara. Ciherang patah sempurna dormansinya pada minggu kesembilan. Padi pasang surut varietas Kapuas patah sempurna dormansinya pada minggu ketiga. Hasanah (1989) menyatakan meningkatnya daya berkecambah benih padi diduga karena pematahan dormansi oleh impermeabilitas kulit benih terhadap oksigen dapat diatasi dengan perendaman dalam larutan KNO3 3%. Progo dan Citanduy patah sempurna dormansi pada minggu kelima. Pada kultivar Indica. Soejadi & Nugraha (2001a) melaporkan perendaman benih padi dalam larutan KNO3 3% selama dua hari nyata meningkatkan daya berkecambah. etilen. Santika (2006) melaporkan benih padi gogo varietas Sentani patah sempurna dormansinya pada minggu kedua. sebaliknya kandungan hormon IAA pada perkembangan benih menurun dengan semakin meningkatnya stadia kemasakan benih (Sinambela 2008). Kalimas dan Barito patah dormansinya pada minggu ketujuh.

Perendaman dalam larutan KNO3 selama dua hari efektif mematahkan dormansi benih varietas Maros. oksigen yang terbatas mengakibatkan lintasan pentose fosfat menjadi inaktif karena oksigen digunakan untuk aktivitas respirasi melalui lintasan lain (Bewley & Black 1985). Perlakuan perendaman dalam air mengalir berfungsi untuk mencuci zat-zat yang menghambat perkecambahan dan dapat melunakkan kulit benih. Perendaman dalam larutan KNO3 dapat meningkatkan daya berkecambah benih yang diduga karena impermeabilitas kulit benih terhadap air dan oksigen (Hasanah. Pematahan dormansi dengan KNO3 diduga berhubungan dengan aktivitas lintasan pentose fosfat. Perendaman dapat merangsang penyerapan air lebih cepat. Perendaman benih dalam air pada suhu kamar (29. selain itu ada resiko bahwa benih akan mati jika dibiarkan dalam air sampai seluruh benih menjadi BP23F-PN-11. Towuti dan Cilosari.11 Impermeabilitas kulit benih terhadap air yang menyebabkan dormansi pada benih padi dapat diatasi dengan perendaman dalam air (Hasanah 1989). Way Rarem dan Gajah Mungkur pada 0 MSP (masa sesudah panen). Ciherang.2% untuk membasahi substrat. Pematahan dormansi menggunakan larutan KNO3 berdasarkan SNI 016233. Pematahan dormansi dengan KNO3 2% selama 48 jam sebelum benih disimpan (Periode simpan 0 minggu) efektif untuk genotipe 2003). Ciherang.3-2003 dapat dilakukan dengan Co-aplikasi larutan KNO3 0. Digul. Perendaman dalam air diduga dapat menghilangkan/menurunkan konsentrasi zat penghambat perkecambahan dan merangsang aktivasi enzim yang berperan pada tahap awal perkecambahan benih. 1989). perendaman KNO3 3% selama 1 hari serta perendaman pada KNO3 2-3% selama 1-2 hari tergantung varietas. Towuti dan Cilosari (Soejadi & Nugraha 2001a). Perendaman adalah prosedur yang sangat lambat untuk mengatasi dormansi fisik. B10386E-KN-36-1 dan B9645E-MR-1 (Rosmawati . Digul.30C) selama dua hari efektif mematahkan dormansi benih varietas Maros.2 – 31. Penyebab dormansi benih tersebut diduga karena impermebilitas kulit benih terhadap air dan adanya senyawa inhibitor perkecambahan (Soejadi & Nugraha 2001a). Ilyas & Diarni (2007) melaporkan bahwa perlakuan perendaman dalam KNO3 1% selama 48 jam merupakan pematahan dormansi yang paling efektif pada benih padi gogo varietas Kalimutu.

dengan perlakuan pengelupasan kulit benih masa dormansi dapat dipatahkan (Soejadi & Nugraha 2001a). Ketebalan lemma dan palea pada benih padi diduga menghambat perkecambahan benih.12 permeabel (Schmidt 2000). .