(Persero) CABANG I MALANG

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai keperluan disatu pihak terus meningkat dari tahun ketahun, sebagai dampak pertumbuhan penduduk dan pengembangan aktivitasnya. Padahal dilain pihak ketersediaan sumber daya air semakin terbatas bahkan cenderung semakin langka, terutama akibat penurunan kualitas lingkungan dan penurunan kualitas akibat pencemaran. Apabila hal seperti ini tidak diantisipasi, maka dapat dikhawatirkan dapat menimbulkan kepentingan ketegangan manakala dan bahkan konflik akibat tidak terjadinya seimbang benturan dengan permintaan (demand) lagi

ketersediaan sumber daya air untuk pemenuhannnya (supply). Oleh karena itu perlu upaya secara proporsional dan seimbang antara pengembangan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya air baik dilihat dari aspek teknis maupun aspek legal. Untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat diberbagai keperluan, diperlukan suatu perencanaan yang terpadu yang berbasis wilayah sungai guna menentukan langkah dan tindakan yang harus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan mengoptimalkan potensi pengembangan SDA, melindungi, melestarikan serta meningkatkan SDA dan lahan. Mengingat pengelolaan sumber daya air merupakan masalah yang kompleks dan melibatkan semua pihak baik sebagai pengguna, pemanfaat maupun pengelola, tidak dapat dihindari perlunya upaya bersama untuk mempergunakan pendekatan one river basin, one plan and one integrated management. Keterpaduan dalam perencanaan, kebersamaan dan pelaksanaan dan kepedulian dalam pengendalian sudah waktunya untuk diwujudkan. Perencanaan pengelolaan SDA WS adalah merupakan suatu pendekatan holistik, yang merangkum aspek kuantitas dan kualitas air. Perencanaan tersebut merumuskan dokumen inventarisasi sumber daya air wilayah sungai, identifikasi ketersediaan saat

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-1

(Persero) CABANG I MALANG

ini dan masa mendatang, pengguna air dan estimasi kebutuhan mereka baik pada saat ini maupun dimasa mendatang, serta analisis upaya alternatif agar lebih baik dalam penggunaan sumber daya air. Termasuk didalamnya evaluasi dampak dari upaya alternatif terhadap kualitas air, dan rekomendasi upaya yang akan menjadi dasar dan pedoman dalam pengelolaan wilayah sungai dimasa mendatang. Sejalan dengan itu, Undang-Undang Tentang Sumber Daya Air UU Nomor 7 Tahun 2004 dimaksudkan untuk memfasilitasi strategi pengelolaan sumber daya air untuk wilayah sungai diseluruh tanah air untuk memenuhi kebutuhan, baik jangka menengah maupun jangka panjang berkelanjutan. Pada pasal 1 ayat 8 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa “pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar datam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air”. Pada pasal 11 ayat 1 sampai dengan ayat 4 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa : "untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar¬besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun pola pengelolaan sumber daya air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air bawah ". Undang-undang tersebut (dan peraturan pemerintah yang terkait) mencerminkan arah pemikiran yang berkembang saat ini berkaitan dengan penataan ulang tanggung jawab dalam sektor sumber daya air. Undang-undang tersebut mengungkapkan sejumlah aspek dimana pengelolaan sumber daya air diwilayah sungai dapat ditingkatkan lebih lanjut, antara lain dengan dimuatnya pasal-pasal tentang perencanaan pengelolaan sumber daya air. Dengan UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air tersebut diatas, jelas bahwa tahapan pengelolaan SDA wilayah sungai adalah sebagai berikut : 1. Sebelum dilakukannya penyusunan rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA wilayah sungai, terlebih dahulu perlu dikakukan penyusunan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai yang berisi tentang : Tujuan umum pengelolaan SDA

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-2

(Persero) CABANG I MALANG

Dasar-dasar pengelolaan SDA Prioritas dan strategi dalam mencapai tujuan Konsepsi kebijakan-kebijakan dasar pengelolaan SDA dan Rencana pengelolaan strategis. 2. Sebagai tindak lanjut dari penyusunan pola pengelolaan SDA WS tersebut, setelah disyahkan oleh yang berwewenang, selanjutnya akan disusun Rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA yang merupakan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA, dimana perencanaan tersebut disusun dengan berpedoman kepada pengelolaan SDA untuk wilayah sungai terkait. 3. Kegiatan selanjutnya secara berurutan setelah penyusunan Rencana Induk pengelolaan SDA WS adalah : Studi Kelayakan (FS) Program Pengelolaan Rencana Kegiatan Rencana Rinci Pelaksanaan/ konstruksi dan OP Pernyataan pasal-pasal kedua Undang-Undang di atas mengingatkan kepada pengelola sumberdaya air tentang pentingnya peran air bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Hal tersebut jelas terlihat dalam permasalahan krisis air di sebagian besar wilayah Indonesia. Untuk hat tersebut diatas, pada tahun anggaran 2008, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air bermaksud akan melakukan garis arahan pengembangan melalui Pola Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Wilayah Sungai, diantaranya adalah Wilayah Sungai Barito-Kapuas guna mewujudkan pemanfaatan dan pendayagunaan sumber air di wilayah sungai tersebut serasa serasi dan optimal, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung lingkungan serta sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK/TOR), maksud dan tujuan pekerjaan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas”, ini adalah sebagai berikut: Maksud Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-3

(Persero) CABANG I MALANG

Maksud dari pekerjaan ini adalah merumuskan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas, untuk kemudian dapat dijadikan acuan dalam Penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Rencana Induk pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam pelaksanaan studi kelayakan untuk WS tersebut, yang pada akhirnya dapat diketahui kegiatankegiatan yang perlu dilakukan. Tujuan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai adalah untuk memberikan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air (ps.3). Arahan tersebut meliputi arahan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air, serta pendayagunaan sumber daya air, serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota (ps.4). Kebijakan ini dirumuskan oleh wadah koordinasi SDA (Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya). Didalam implementasinya, kebijakan pengelolaan SDA WS tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh Presiden, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai tingkatannya karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah dan atau instansi/pihak di dalam penatagunaan sumber daya air khususnya dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (PSDAWS), adalah untuk merumuskan pola pengelolaan suatu wilayah sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-4

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk menyusun dokumentasi SDA WS (air permukaan dan air tanah), memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun dimasa mendatang dan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman untuk penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS dengan melibatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai berisi program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka-jangka panjang. Didalam implementasinya, Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh pemerintah setempat, karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah didalam penatagunaan sumber daya air termasuk di dalam perencanaan, pemanfaatan, pengusahaan, pengendalian dan pelestarian sumber daya air secara terencana, terarah, terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS sebagai salah satu kegiatan dari Rencana Pengelolaan SDA WS, adalah untuk merumuskan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA WS (sebagai tindak lanjut dari kegiatan penyusunan pola pengelolaan SDA WS) dengan melibatkan peran serta masyarakat. Rencana induk ini merupakan rencana jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya rusak air di WS secara terpadu dan terarah. Rencana ini juga mencakup upaya struktural (desain dasar) dan upaya non-struktural.

1.3.

LINGKUP PEKERJAAN

Secara garis besar lingkup pekerjaan “Rencana Pola Wilayah Sungai BaritoKapuas”, ini adalah sebagai berikut : Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Mengadakaan koordinasi dengan Wadah koordinasi SDA Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-5

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Merumuskan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan SDA WS, yang mencakup arahan konservasi dan pendayagunaan SDA WS serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah SDA dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan.

3.

Membantu proyek dalam proses legalisasi kebijakan pengelolaan SDA WS.

Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Pola pengelolaan SDA wilayah sungai berorientasi pada keluasan wilayah yang menuntut perencanaan maupun pengelolaan berdasarkan batas-batas hidrologis. Dari awal inilah pengelolaan SDA wilayah sungai memerlukan informasi yang dilakukan dengan kerjasama dan koordinasi antar Kabupaten. Melalui pertemuan Konsultansi dengan masyarakat, dua proses dilakukan sekaligus, yaitu inventarisasi masalah-masalah setempat secara arus bawah-atas (bottom-up) dan proses penyadaran masyarakat terhadap isu strategis (jangka panjang) pengembangan wilayah sungai. Untuk pelaksanaan Undang-undang 22 dan 25 secara efektif, dalam proses pengelolaan sumber daya air wilayah sungai, koordinasi antara Kabupaten dan Provinsi dan komunikasi dengan para stakeholder menjadi sangat penting. Informasi praktis tentang bagaimana pola pengelolaan wilayah sungai dan pola pengelolaan wilayah Kabupaten dapat sejalan satu sama lain merupakan hal yang sangat penting untuk menentukan kerjasama secara struktural. Untuk pekerjaan tersebut diatas, beberapa kegiatan di bawah ini perlu dilakukan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pengumpulan data awal melalui desk study/literatur, kunjungan lapangan diskusi informal. Analisa awal yang kemudian disajikan pada laporan pendahuluan (Inception Report). Mengevaluasi data dan informasi yang sudah terkumpul. Mengumpulkan data melalui literatur maupun data lapangan dan diskusidiskusi informal. Pengumpulan data yang lebih detail, penelitian Water District dan melakukan set-up DSS sebagai analisa awal kebutuhan dan ketersediaan air. Analisa awal yang menghasilkan rencana sementara untuk wilayah sungai Barito-Kapuas disajikan dalam Laporan Pertengahan. Mengakses kebutuhan pengembangan kedepan dengan berbagai skenario.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-6

(Persero) CABANG I MALANG

8.

Mengidentifikasi kendala-kendala dalam mempertemukan kebutuhan dan pasokan air, usaha-usaha yang telah dilakukan dan perbaikan yang harus dilakukan untuk masa mendatang.

9.

Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM I) yang menekankan kepada kesepakatan bersama terhadap para pengguna air. Hal ini akan termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM I, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 200 orang. Koleksi data dengan wawancara kepada para pengguna selama pelaksanaan PKM I. Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM I.

10. Melakukan proses penghalusan (fine-tuning) terhadap DSS dan semua data yang telah dikoleksi maupun analisa melalui identifikasi yang lebih dalam terhadap kendala-kendala berdasarkan temuan-temuan yang didapat dari PKM I. 11. Analisa awal terhadap kombinasi upaya-upaya strategis dan akses terhadap kendala pada strategi tersebut untuk beberapa skenario yang berbeda, sebagai hasil yang tertuang dalam Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai sementara. 12. Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM II) yang menekankan pada beberapa strategi berdasarkan kesepakatan bersama dengan mereka yang mewakili para stakeholder. Hal ini termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM II, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 150 orang. Pengumpulan data melalui wawancara dengan stakeholder secara individu selama pelaksanaan PKM II Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM II. 13. Merumuskan Draft Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai berdasarkan temuan yang diperoleh pada PKM II dan temuan lainnya. 14. Mengorganisir Rapat Koordinasi untuk Wilayah Sungai Barito-Kapuas. 15. Membantu proyek dalam proses legalisasi. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Menyiapkan rencana pengelolaan jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-7

(Persero) CABANG I MALANG

rusak air di WS secara terpadu dan terarah sesuai Pola Pengelolaan SDA WS yang telah disusun. 2. Melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat guna merumuskan upayaupaya untuk mengatasi permasalahan SDA. 3. Menyiapkan desain dasar (outline design) untuk upaya yang bersifat struktural. 4. Membantu proyek dalam proses legalisasi. 1.4. LOKASI KEGIATAN

SWS Barito-Kapuas (kode A2-18, sesuai Permen PU No. 11A/PRT/M/2006) terletak di perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Selatan dan Sungai Kahayan. SWS BaritoKapuas (A2-18) memiliki 2 (dua) sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas. Daerah Aliran Sungai Barito yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 46.997 Km2 sedangkan Sungai Kapuas sebesar 16.044 Km2. Luas total SWS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas, adalah 79.000 km2. SWS Barito-Kapuas (04.02) dari hulu ke hilir yang mengalir di Provinsi Kalimantan Tengah melewati kabupaten berikut : Tabel 1.1 Kabupaten WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No. 1. 2. 3. 4. 5. Kabupaten Kab. Kapuas Kab. Murung Raya Kab. Barito Utara Kab. Barito Selatan Kab. Barito Timur DAS DAS Kapuas DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito

Sedangkan kabupaten-kabupaten yang masuk dalam WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 1.2 Kabupaten dilalui WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalsel No. 1 Kabupaten Kab. Barito Kuala DAS DAS Barito

Pembagian WS di Kalimantan serta peta WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada gambar 1.1 dan 1.2.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-8

(Persero) CABANG I MALANG

1.5.

LAPORAN

Laporan ini secara garis besar menyajikan latar belakang, gambaran umum wilayah studi, Pendekatan dan Metodologi Pelaksanaan, Pengolahan & Analisis Data, Tinjauan Kebijakan Pengelolaan SDA Nasional dan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS serta Kesimpulan dan Rekomendasi. Laporan ini terdiri dari : Komposisi Laporan Interim sebagai berikut : Volume 1 Volume 2 Volume 3 - Volume 3.1 - Volume 3.2 Volume 4 - Volume 4.1 - Volume 4.2 Volume 5 - Volume 5.1 - Volume 5.2 - Volume 5.3 1.6. : Executive Summary : Main Report : : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Barito : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Kapuas : : Laporan PKM I : Laporan PKM II : Supporting Report : Laporan Hidrologi : Laporan DSS-RIBASIM : Laporan Kajian Khusus

JADWAL PELAKSANAAN

Pelaksanaan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas adalah sejak tanggal 16 Agustus 2008 sampai dengan 13 Desember 2008 atau selama 120 (seratus dua puluh) hari kalender. Adapun jadwal pelaksanaan kegiatan Rancangan Pola Pengelolaan WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel 1.3 berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-9

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 1.10 .3 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .

1 Pembagian Wilayah Sungai di Kalimantan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Studi Gambar 1.11 .

B arit RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS o Laporan Akhir PETA SWS BARITO-KAPUAS (Persero) CABANG I MALANG PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH K S.2 Peta WS Barito-Kapuas . KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO LUAS DAS : DAS BARITO. KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO 500 650 900 600 o o PALANGKARAYA S.044 KM2 81.LETAK GEOGRAFIS : 0 95' LU s/d 3 35' LS 113o 15' BT s/d 115o 45' BT LUAS DAS : DAS BARITO. KALTENG DAS BARITO.634 KM2 16. s ua ap PROPINSI KALIMANTAN SELATAN 46.997 KM2 18.675 KM2 LEBAR (m) PANJ (Km) DILAYARI (Km) 780 420 H (m) 8 6 KETERANGAN : BANJARMASIN Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan I .12 Gambar 1. KALTENG DAS BARITO.

Barito Selatan Kab.1 Kabupaten DAS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah No.363.1.1 DAS Barito Secara geografis Daerah Aliran Sungai Barito yang terdapat di Provinsi Kalimantan selatan terletak antara 114o20’ sampai dengan 115o52’ BT dan 1o24’ sampai dengan 3o44’ LU dengan luas keseluruhan adalah 1.(Persero) CABANG I MALANG BAB 2 GAMBARAN UMUM WS BARITO-KAPUAS 2. 1 2 3 4 Kabupaten Kab. DAS Batulicin dan DAS Tabunino Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Secara administrasi Pemerintahan.1 LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS ADMINISTRASI 2. Barito Kuala DAS DAS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -1 . Kabupaten 1 Kab.863.2 Kabupaten dilalui DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No. DAS Barito meliputi beberapa kabupaten. Murung Raya Kab. Barito Utara Kab. Adapun batas wilayah hidrologi DAS Barito adalah sebagai berikut : Sebelah barat berbatasan dengan DAS Kapuas Sebelah timur berbatasan dengan DAS Sampanahan. Barito Timur DAS DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito Sedangkan kabupaten-kabupaten yang dilalui aliran sungai di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 2.30 ha. Kabupaten-kabupaten yang termasuk dalam DAS Barito adalah sebagai berikut: Tabel 2.

2 DAS Kapuas Daerah Aliran Sungai Kapuas yang berada di Kabupaten Dati II Kapuas. Sejumlah Kabupaten yang termasuk dalam DAS Kapuas dari hulu ke hilir adalah : 1. Kabupaten Barito Selatan Adapun batas wilayah hidrologi DAS Kapuas adalah sebagai berikut: Sebelah timur berbatasan dengan DAS Barito Sebelah Barat berbatasan dengan DAS Kahayan Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -2 . Secara geografis Daerah Aliran Sungai Kapuas terletak antara 114o24’48” sampai dengan 114o53’39” BT dan 2o15’00” sampai dengan 2o47’53” LS.(Persero) CABANG I MALANG 2. dengan ibukota Kabupaten Kota Kuala Kapuas. Kabupaten Barito Utara 3.1. Kabupaten Kapuas 2.044 Km2. Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 16.

BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK T impah T impah Timpah T impah Timpah T impah Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah KABUPATEN TABALONG KABUPATEN BARITO TIMUR Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Harui Harui Harui Harui Harui Harui Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya . BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Gambar 2. .(Persero) CABANG I MALANG KABUPATEN MURUNG RAYA Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi . MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA . . MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong KABUPATEN BARITO UTARA T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon KABUPATEN BARITO SELATAN Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang TabakKanilan TT abakKanilan abak Kanilan TT abakKanilan TabakKanilan abak Kanilan KABUPATEN KAPUAS Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah . MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Tambarangan ambarangan TTambarangan ambarangan TTambarangan Tambarangan KABUPATEN BARITO KUALA KABUPATEN BANJAR Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam ! BANJARMASIN Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat MARTAPURA MARTAPURA . . PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH . Upau Upau Upau Upau Upau Upau TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG . TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG ! Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip TTanta Tanta anta TTanta Tanta anta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Paringin Paringin Paringin Paringin Lampihong Paringin Lampihong Paringin Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong TTaniran Taniran aniran TTaniran Taniran aniran Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun .1 Peta Batas Administrasi WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -3 .KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Sungai Raya Kelumpang SungaiRaya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado . BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat KABUPATEN TAPIN .AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai .

2% : 1. Di sebelah selatan DAS merupakan daerah pantai pesisir Laut Jawa dengan panjang 189.(Persero) CABANG I MALANG 2.87%) > 15 .02 – 0. Kemiringan lahan dari utara ke selatan sekitar 0.847 Km. sedang kemiringan lahan antar dua sungai sekitar 0. dipengaruhi oleh pasang surut.05% wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2 %.682 Ha (19. 16%) Adapun luas wilayah Kalimantan Selatan menurut kelas ketinggian yang dibagi menjadi 6 kelas ketinggian menunjukkan wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berada pada kelas ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut yakni 31.2 KONDISI TOPOGRAFI Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43.05%) > 2 . dengan elevasi sekitar + 4. berupa rumput (50.02%) > 40% : 231. DAS Kapuas bagian hilir umumnya berupa lahan dengan bentuk topografi yang relatif datar. sehingga merupakan daerah yang berpotensi banjir akibat pasang air laut.08 permil. Bagian tengah merupakan dataran plateau dan pebukitan dengan kemiringan 8o – 25o dan ketinggian 50 – 1.630 Ha (43.615.314 ha .060 Ha).545 Ha (31. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -4 .25o.119). Bagian selatan merupakan daerah pantai dan rawa-rawa dengan ketinggian antara 0 – 5 meter dari permukaan laut yang mempunyai elevasi 0% .319 Ha). Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: • • • • 0 .05 – 0.014).195 Ha (6.0 m.15o dan pegunungan/pebukitan dengan kemiringan 15o . Bagian utara DAS Kapuas merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 – 500 meter dari permukaan laut dan mempunyai tingkat kemiringan 8o .0 m sampai dengan +7.774 ha).150 m. dan untuk lain lain (83. Hutan belukar (377.840 Ha) Tanah berupa semak/alang-alang seluas 870. dan hutan rawa (90.40% : 713.03 permil (arah timur barat).29% Tanah di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan sebagian besar berupa hutan dengan rincian Hutan Lebat (780.8%.15% : 1.192. Hutan Sejenis (352.

terbreksikan atau berstruktur aliran. Holosen Alluvium (Qa) : Terdiri agregasi lepas pasir. Bagian tengah antar dua sungai umumnya lebih tinggi karena terdapat kubah gambut.1993 Publikasi P3GI 1.E. rapat. Mentangai – S. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714.0 sampai +7.Plistosen Batuan Gunungapi Metulang (TmQm) Terdiri dari Lava : kelabu tua sampai kelabu kehijauan. 2.3. publikasi P3G tahun 1986 Adapun deskripsi secara litostratigrafi dari formasi-formasi kronostratigrafis yang ada adalah sebagai berikut. pejal. P. dan secara grafis peta Geologi WS BaritoKapuas dapat dilihat pada Gambar 2. Mentangai. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716. terletak secara tidak selaras di atas satuan yang lebih tua. publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715. porfiritik. Mengkatip – S. publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712. 2. S. hornblenda (kebanyakan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -5 . Pieters dkk. fenokris plagioklas berzoning komplex (An40 – 70). berongga. dengan kisaran elevasi dari + 6.2 a. Peta Geologi Lembar Long Pahangai. dengan ketebalan lebih dari 6 m. Miosen Akhir .5 sampai 2 m lebih tinggi daripada bagian tepi sungai.00 m. Barito. diantara S. skoria atau amigdaloid (zeolit dan klorit).00 m sampai +14.(Persero) CABANG I MALANG Bagian hulu mempunyai bentuk lebih undulating. Mengkatip dan diantara S.3 KONDISI GEOLOGI DAN GEOHIDROLOGI 2. tersebar luas sebagai endapan gosong dan limpahan sungai. Bagian tengah antar dua sungai mempunyai elevasi sekitar 1.1 Kondisi Geologi Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di WS Barito-Kapuas. Terdapat kemiringan umum dari utara ke selatan. kerikil dan kerakal dari berbagai macam batuan. lidah dome gambut itu menjulur dari utara ke selatan. Bagian tengah DAS Kapuas mempunyai elevasi berkisar antara +4. Kapuas – S.0 m. mikrokristalin atau kacaan.

ubahan ke klorit. Sub-gunungapi : basal dan andesit porfiritik.(Persero) CABANG I MALANG coklat tua). epidot dan silika. diameter pecahan sampai 10 cm. diorit. hornblenda. kemas terbuka-tertutup. Piroklastika : tufa dan aglomerat. piroksin. sedikit hipersten) dan terkadang olivin dan biotit. piroksin dan setempat biotit. kebanyakan endapan “air fall”. Tufa kelabu sampai kelabu muda dan kebanyakan litik dan sedikit kristal. dolerit yang tersusun oleh plagioklas berzona. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -6 . serisit. piroksin (augit. oksida besi (kebanyakan magnetit) dan interstisial kriptokristal dan atau bahan kaca. halus-kasar. Batuan epiklastika : kebanyakan breksi lahar. pirit sekunder. Aglomerat mengandung berbagai pecahan menyudut sampai menyudut tanggung dalam masa dasar terdiri dari tufa kasar. masa dasar mikrolit plagioklas dan butir hornblenda.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -7 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. mikrodiorit. Miosen - Peta Geologi Wilayah Sungai Barito-Kapuas Formasi Kelinjau (Tmk) Batulumpur.2 3. setempat batubara. sedikit batupasir dan batuan volkaniklastika. diorit. granodiorit. - Batuan Terobosan Sintang (Toms) Andesit porfir. retas dan sil. tidak selaras diatas Formasi Ujoh Bilang. korok. sumbat.

berlapis buruk. putih sampai coklat muda. Batupasir : kelabu muda. mikaan. karbonan. perlapisan silang-siur. umumnya berlapis baik. gampingan. arenit kuarsa. klastika. kebanyakan berbutir halus. kalkarenit. lignitan atau perairan berbatubara. batulumpur. bioturbasi. Batulumpur dan batulanau : kelabu tua sampai hitam. perairan sejajar. struktur cetakan. Batulumpur : coklat sedang sampai gelap. arenit litik dan arenit felspatik. setempat lapisan tipis lignit atau batubara. Oligosen Awal Formasi Ujoh Bilang (Tou) Batulumpur. Anggota Batugamping Batu Belah Formasi Ujoh Bilang (Tob) Kalsirudit fosilan. Batupasir : kelabu muda sampai coklat muda. 5. bergelombang dan flaser. berlapis sampai pejal. batulumpur. sedikit batupasir. Batugamping : coklat muda sampai agak coklat. setempat tufaan. pejal sampai berlapis buruk. dari sangat tipis sampai sangat tebal. kebanyakan berlapis baik. terpilah baik. umumnya dengan batupasir halus. kebanyakan klastika pecahan fosil. kaya kuarsa sampai litik. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -8 . jarang batugamping. sedikit batupasir. sebagian gampingan dan karbonan. menyudut-menyudut tanggung. setempat perairan bergulung (konvolut). Serpih. batulanau. kelabu sampai kelabu kecoklatan. konkresi oksida besi. urat dan urat halus kalsit. umumnya menyerpih. kalsilutit. sedikit batulumpur dan batulanau. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang. terpilah baik. kebanyakan berbutir sedang. Batupasir : kelabu muda sampai coklat. berbutir halus. perairan atau perlapisan sejajar. batulanau : kelabu tua. Anggota Batupasir Lenmuring Formasi Ujoh Bilang (Tol) Batupasir kuarsa. Mendatar sama dengan karbonat Formasi Berai bagian bawah. berbutir halus sampai sedang. didukung butiran. masa dasar lumpur karbonat. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang. Eosen Akhir Formasi Batu Ayau (Tea) Kebanyakan batupasir. terpilah baik.(Persero) CABANG I MALANG 4. Biasanya gampingan dan karbonan. Formasi Batu Kelau (Tek) Serpih.

sedikit batugamping dan batubara. setempat pecahan perlapisan vitroklastika. padat dan keras. Selaras dibawah Formasi Batu Ayau. albit dan biotit dan pecahan batuapung. aglomerat. kristal-litik dan tufa lapili dan breksi tufa. sedikit felspar dan litik. Batugampiang : kelabu tua. berbutir halus sampai kasar. Aglomerat : kelabu muda. pecahan membulat tanggung. kaca. sedikit konglomerat (sebagian di dasar) dan batulumpur. perairan bahan karbonan dan oksida besi. kristal-kaca. Batupasir Haloq dan Formasi Batu Kelau (Teh + Tek) Litologi batupasir Haloq dan formasi Batu Kelau tak terpisahkan. sedikit bergulung. terpecahkan. urat kuarsa setebal 1-2 cm. struktur aliran. Tufa terlaskan : kelabu muda. kalkarenit sampai kalsilutit. tidak selaras di atas Kelompok Selangkai dan Kelompok Embaluh. dipisahkan dari Komplek Busang oleh sesar detachment 6. mengandung beragam jumlah kuarasa. Eosen Tengah Batuan Gunungapi Nyaan (Ten) Batuan tufa.5 sampai 2 cm) sampai sedikit berangkal pecahan kuarsa. perlapisan silangsiur sekala sedang sampai besar. Tufa : kelabu muda. membulat tanggung-membulat. epiklastika. rijang. terpilah sedang sampai buruk. setempat coklat lapuk. susunan dasit sampai riolit. silikaan. menjemari dengan Formasi Batu Kelau dan Formasi Haloq. Konglomerat : kelabu muda. kerakal. arenit kuarsa. litik dan batuan gunungapi felsik. arenit kuarsa. klastika. tufa terlaskan. masa dasar lumpur karbonat atau kalsit berkristal halus. hipohialin. perlapisan silangsiur bergelembur. perairan sejajar. kebanyakan klastika pecahan fosil. perlapisan silangsiur. berangkal dan bongkah sampai 20 m dalam masa dasar lempung (kaolin) yang sebagian berkarat besi dan pecahan silikaan. tufa felsik. pejal. sferulitik. didukung klastika. berlapis cukup tebal sampi tebal. terpilah sedang sampai baik. klastika pecahan kuarsa. breksi lava. Batupasir : kelabu muda. K-felspar. Batupasir Haloq (Teh) Batupasir. kerakal (kebanyakan 0. menyudut tanggung sampai membulat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -9 . berbutir halus-sedang. afanitik-porfir. lava dan batuan epiklastika halus. perairan karbonan. lava.(Persero) CABANG I MALANG terpilah baik.

oksaida besi. oksida besi. tikas beban. Lava : kelabu muda. Pelit : kelabu tua sampai hitam. batusabak dan sebagian batupasir. khlorit. bahan karbonan. karbonat (termasuk pecahan fosilmikro) dan oksida besi. 8. perlapisan berangsur tersebar luas. perlapisan atau perairan silangsiur dan jejak erosi. kerakal menyudut tanggung dan membulat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -10 . plagioklas terubah dan sedikit K-felspar dan batuan (termasuk pelit “penecontemporaneous” dan psamit. lapisan sangat tipis sampai ratusan meter tebalnya. dapat dikorelasikan dengan Granit Era yang umurnya ditentukan dengan isotop di Putussibau. kuarsa mikrokristalin. mineral tambahan termasuk rombakan piroksin. pirit kebanyakan autigenik dan pasca deformasi. pencelahan dan belahan menyabak sejajar atau membentuk sudut kecil dengan perlapisan. epidot dan zirkon. khlorit. pelit malih tersusun dari kuarsa. breksi. keadaan sentuhan dengan Kelompok Embaluh tidak diketahui. nendatan. setempat urat kuarsa dan sedikit urat kalsit. Kapur Akhir Granit Era (Kue) Granit. klastika. nahan karbonan. perlapisan dan perairan sejajar dan setempat perlapisan dan perairan bergulung. kalsit dan mineral lempung dalam masadasar. serisit sekunder. tersusun dari pecahan kuarsa dan sedikit rijang. kuarsa. setempat kehijauan. Batuan epiklastika : konglomerat volkanoklastika. Psamit : kelabu muda sampai tua. amfibol. kelabu kehijauan. biotit. coklat lapuk. batuan gunungapi menengah sampai mafik. porfiritik dengan fenokris K-felspar. perairan. sangat halus sampai seperti pasir terutama berbutir halus sampai sedang. Batupasir kerakalan : terdapat dalam lapisan tipis sampai tebal sekali yang tidak menerus. batupasir felspatik. karbonat. serisit. kebanyakan menyudut tanggung sampai membulat tanggung. felspar terubah. breksi intraformasi. batulanau dan batupasir kerakalan termalihkan derajat sangat rendah. kuarsa dan biotit. perairan sejajar internal (batulempung-batulanau) umum dijumpai. dolerit dan diorit). batupasir halus dan batulanau. litik. Kapur Akhir – Eosen Tengah Kelompok Embaluh (Kte) Runtunan perselingan serpih. 7. kuarsit.(Persero) CABANG I MALANG berubah ke epidot dan khlorit. lempung. lapisan sangat tipis sampai tebal 10 m.

dalam lapisan tidak menerus tebal sampai 2 m. umumnya gampingan dan karbonan. khlorit. berbutir halus sampai kasar. Batugamping : kelabu muda sampai tua. perlapisan silangsiur. 12. gelembur-gelombang. diorit dan korok Granit : granit biotit. terbreksikan. berlapis baik sampai sedang. Kapur Awal Granit Alan (Kla) Terdiri Granit. hijau. 10. Rijang : merah atau hijau muda. berbutir sedang. Basal. setempat kuarsit. epidot. oksida besi dan kuarsa. setempat berbintil. Konglomerat : kerakal (1-3 cm) membundar tanggung sampai membundar terdiri dari kuarsa. terpecahkan. alktonolit. Jura – Kapur Awal Komplek Mafik Danau (JKld) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -11 . coklat. perlapisan silangsiur. mineral lempung. Batulempung : merah. batupasir. terubah. kuarsit. terubah ke albit. 9. kuarsa. kalkarenit fosilan sampai coklat. Diorit : diorit hornblenda. coklat. rijang dan batuan gunungapi serta subgunungapi menengah sampai mafik terubah. 11. lapisan bergelombang tipis tebal 2 – 15 cm. batulanau. sedikit komglomerat. spilit. Kapur Kelompok Selangkai (Kse) Batulumpur. tercerminkan. Batuan argilitan : kelabu tua samapai coklat. kelabu. granodiorit. Jura – Kapur Awal Komplek Kapuas (Jklk) Terdiri basal. urat kalsit. berbutir seragam Granodiorit : granodiorit biotit – hornblenda.(Persero) CABANG I MALANG tanggung. spilit : kelabu tua sampai hijau. kalkarenit fosilan sampai kalsilutit. tergeruskan. batugamping. setempat berbintil. umumnya agak terhablur ulang. dalam lapisan tebal 20 cm sampai pejal. perlipatan sevron. berbutir sedang. felspar dan pecahan batuan. setempat menyerpih Batupasir : kelabu muda sampai kelabu kecoklatan atau kehijauan. arenit kuarsa dan arenit kuarsa gampingan yang mengandung sampai 20% klastika felspar dan atau litik. batulempung. tetapi kebanyakan halus sampai sedang. rijang. berbutir sedang. sedikit batubara.

Kapur Akhir – Tersier Awal Bancuh dan Formasi Terhancurkan Batuan Kelompok Embaluh tergeruskan secara semrawut. tersesarkan. Kuarsit : kelabu muda. Peta Geologi Lembar Muaratewe. hitam kehijauan. gabro dan dolerit. endapan sungai. terubah kuat (khlorit). gabro. rijang merah dan kelabu. Batuan Gunungapi Bundang (Tpbv) Terdiri dari lava dan breksi bersusunan andesit-basal. batuan gunungapi terubah. terbreksikan dan terlipatkan. pada sentuhan di bagian atas perdauanan. b. 13. berkemiringan landai diakibatkan oleh peggerusan dan milonitisasi. sedikit batupasir dan batuan klastika gunungapi. 14. 2. pejal. Perem – Trias Komplek Busang (PTRb) Granit. Supriatna dan Adjat Sudradjat. tercerminkan. Plistosen Formasi Anap (Tpa) Terdiri dari batulumpur. Holosen Aluvial (Qa) Terdiri dari kerikil sampai kerakal kuarsa dalam pasir kuarsa kasar. Granit : berbutir seragam sampai porfiroblastik dengan K-felspar putih atau merah jambu.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari gabro. diorit. S. kebanyakan berbutir halus. mengandung biotit. Pliosen Formasi Kampung Baru (Tpkb) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -12 . dolerit. setempat kayu terkersikkan dan sisipan batubara. umumnya termalihkan dan terdaunkan dan sekis serta kuarsit. 1992 Publikasi P3GI 1. setempat dengan pecahan tektonik batugamping kristal kelabu tua. Gabro : mineral mafik yang menonjol adalah hornblenda yang mengganti dan melapisi piroksin. granodiorit. sedikit augit dan hipersten Sekis : kebanyakan disusun oleh mika dan kuarsa. 3.

serpih dan batugamping. berbutir halus sampai sedang. 6. kelabu tua. retas dan retas lempeng. Miosen Tengah Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. aglomerat. bersusunan basal sampai andesit. breksi lahar. bersisipan batulempung karbonan berwarna kelabu dan batulanau menyerpih berwarna kelabu tua. berselingan dengan batulanau mengandung lensa kecil dan lapisan tipis batubara vitrinit Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -13 . tufa. Oligosen Akhir – Miosen Awal Formasi Berai (Tomb) Terdiri batugamping abu-abu dan putih. bersusunan basal sampai andesit. batulanau karbonan. 5. sebagian berlapis. konglomerat aneka bahan. mengandung lapisan tipis mineral karbonan. mengandung foram besar dan koral. rombakan batubara nitrinit dan muskovit. batulanau. mengandung sisipan batulempung karbonan. Oligosen Akhir – Plistosen Andesit dan Diorit (TQi) Terdiri dari andesit dan diorit. Miosen Awal – Miosen Tengah Formasi Meragoh (Tmmv) Terdiri dari lava. 4. Formasi Montalat (Tomm) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. lignit. kurang padat. berlapis tebal. gambut dan oksida besi. 7. tufa. breksi lava. Miosen Akhir – Pliosen Batuan Gunungapi Metulang (Tmpm) Terdiri dari lava. Formasi Purukcahu (Tomc) Terdiri dari batulempung berfosil. stok.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa dengan sisipan lempung. 8. sebagian terkristalkan ulang. breksi gunungapi dan aglomerat. Formasi Balikpapan (Tmb) Terdiri dari batupasir kuarsa dan batulempung dengan sisipan batulanau. setempat dasit berupa sumbat.

bersisipan breksi berfragmen andesit. batulempung dengan sisipan batugamping. Formasi Ujohbilang (Tou) Terdiri dari batulumpur. Formasi Tuyu (Toty) Terdiri dari napal. mengandung glaukonit. napal dan batulanau. jarang batugamping. genes dan batubara. bersisipan batugamping pasiran berfosil.(Persero) CABANG I MALANG dan batupasir berstruktur perairan sejajar dan konvolut. kaya akan foram besar. batupasir kuarsa berlapis baik. dasit. 10. sedikit konglomerat dan batulumpur. bersisipan batugamping berfosil. berbutir sedang sampai kasar. sebagian termineralisasi. Oligosen Awal Batuan Gunungapi Malasan (Tomv) Leleran andesit sampai basal. Anggota Batugamping Penuut (Toml) Terdiri dari batugamping putih dan kelabu. tufa dan sedikit riolit. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur. Formasi Batu Kelau (Tek) Terdiri dari serpih. Anggota Batugamping Jangkan (Tomj) Batugamping berfosil. batulanau abu-abu. Eosen Akhir Formasi Batupasir Haloq (Teh) Terdiri dari batupasir kuarsa. abu-abu tua. Formasi Pamaluan (Tomp) Terdiri dari batupasir dengan sisipan batulempung. 9. kaya akan foram besar. serpih. sedikit batupasir. batulumpur. breksi batugamping. bersisipan tipis batulempung dan batulanau. masa dasarnya berupa batupasir kasar mengandung fragmen batubara vitrinit. umumnya terubah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -14 . batulanau tufaan abu-abu kehijauan. batulanau serpihan dan batulanau serpihan dan batulanau karbonan. breksi lahar. batulanau. breksi batugamping. ganggang dan koral. terpecahkan dan termineralisasikan. kokuina dan basal terubah. sedikit batupasir. berlapis baik. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur. setempat struktur bantal dan kekar meniang. Formasi Karamuan (Tomk) Terdiri dari batulumpur abu-abu sebagian gampingan dan berfosil.

mengandung foraminifera besar bersisipan batulempung. umumnya karbonan. Holosen Aluvium (Qa) Terdiri dari lumpur. genes dan kuarsit. batulanau dan batubara. lignit dan limonit. Kapur Akhir Formasi Selangkai (Kse) Terdiri dari serpih. kerakal dan bongkahan. Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa. pasir. Sutrisno. batulumpur konglomerat. jarang batubara. sekis. batuan beku bersifat granit dan batuan metasedimen. 1981 Publikasi P3GI 1. bersisipan batulempung. umumnya termalihkan dan terdaunkan. 12. diorit. setempat konglomeratan. granodiorit. setempat mengandung kerakal kuarsa. lanau. Eosen Awal Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari perselingan batupasir kuarsa. Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping. batulumpur. Perem – Trias Formasi Busang (PTRb) Terdiri dari granit. sebagian besar pasir lepas bersisipan lempung. batugamping berfosil. bersisipan batugamping dan konglomerat. batulanau. lempung. 3.(Persero) CABANG I MALANG - Formasi Batu Ayau (Tea) Terdiri dari batupasir. Pliosen – Miosen Formasi Dahor (Tmpd) Terdiri dari batupasir kuarsa. umumnya karbonan dan gampingan. 13. batulanau dan batubara. gabro.Supriatna. Formasi Montalat (Tomm) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -15 . Peta Geologi Regional Lembar Buntok. batulempung dan batulanau. 11. c. kerikil. 4. 2. umumnya berlapis. 1714. S. setempat sisipan batubara dan lignit.

kelabu muda sampai kelabu tua. kerakal dan sedikit lempung. tersingkap berupa stok. sil dan retas. tekstur faneritik. Pliosen Formasi Dahor (QTd) Terdiri dari batupasir kuarsa lepas.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa agak padat. Plistosen Formasi Martapura (Qpm) Terdiri dari pasir. d. betulempung kelabu dan batubara. 2. Bagian bawahnya merupakan perselingan antara batupasir kuarsa yang mengandung muskovit dengan batulanau. kelabu muda. batulempung. batulempung lunak. 5. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -16 . bersisipan batugamping dan batubara. 6. batulanau dan konglomerat. Holosen Aluvium (Qha) Terdiri dari kerikil. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari bagian atas merupakan perselingan antara batupasir. Peta Geologi Regional Lembar Banjarmasin. tersingkap berupa stok Batuan Tak Terperinci (Ksv) Merupakan kumpulan batuan beku bersusunan basa sampai sangat basa dan batuan sedimen endapan laut. batupasir kerikil kurang padu. Kapur Granit (Kgr) Terdiri dari granit muskovit. pasir. 1981 Publikasi P3G 1. kerikil. 3. N. Oligosen – Eosen Basal Kasale (Tkb) Terdiri dari basal. 4. lanau. lempung dan lumpur.Sikumbang dan Heryanto. 7. Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berselingan dengan batulempung karbonan dan batubara. setempat lignit dan limonit.

Formasi Pitap (Kpb) Terdiri dari batugamping orbitulina Formasi Pitanak (Kpl) Terdiri dari leleran lava dengan breksi konglomerat vulkanik Andesit (Kan) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -17 . Anggota Batununggal. batulempung dan batubara setempat dijumpai lensa batugamping. basal porfir ignimbrit. Formasi Manunggul (Kmp) Terdiri dari breksi dan leleran lava. Formasi Pudak (Kab) Terdiri dari andesit piroksin dan vulkaniklastik. Kapur Akhir – Kapur Awal Kelompok Alino Formasi Keramaian (Kak) Terdiri dari perselingan batupasir (vulkarenit) dengan batulanau atau batulempung setempat dijumpai sisipan batugamping konglomeratan. 8. Formasi Paniungan (Kpn) Terdiri dari batulanau. Kapur Akhir Formasi Manunggul (Km) Terdiri dari konglomerat beraneka bahan bersisipan dengan batupasir dan batulempung. batulempung dan batupasir. Formasi Binuang (Tob) Terdiri dari batulempung 6. batumalihan dan mafik-ultramafik. Olistolis Kintap. Anggota Batukora. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari batupasir kuarsa. Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping dengan sisipan napal dan batulempung. 7. batulanau. Formasi Pudak (Kap) Terdiri dari lava dan berselingan dengan konglomerat / breksi volkanik klastik (hialoklastik) dan batupasir kotor volkaniklastik dengan olistolis batugamping. Anggota Paau.(Persero) CABANG I MALANG 5. Formasi Pudak (Kok) Merupakan batugamping klastika.

yang terbentuk akibat penutupan cekungan samudra (Hutchison.Gabro (Mgb) .Batuan Ultramafik (Mu) Geologi • • • • • • • • Kalimantan dapat diperikan menjadi 8 (delapan) satuan tektonostratigrafi utama (Pieters dan Supriatna. sutura ini sama dengan jalur Serabang dan jalur Lupar. Di Kalimantan tengah dan barat. Timur oleh Tinggian P. Tinggian Lintang Paternoster Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -18 .Basal (Mba) . 1080 Bujur Timur) sampai barat laut Kalimantan dan melanjut ke timur ke Kalimatan Tengah dan membelok kearah utara-timurlaut sampai ke bagian tengah Sabah. Sutura ini berarah tenggara dari Pulau Natuna (40 Lintang Utara. 1989. 1985).Diorit (Mdi) . 1990) : Batuan alas benua Ofiolit dan batuan sedimen yang berkaitan Busur magmatik yang bersamaan dengan tektonik Cekungan busur muka Cekungan turbidit Cekungan-cekungan daratan Cekungan-cekungan peripheral Batuan terobosan tektonik akhir dan vulkanik regional satuan tektonostratigrafi ini menunjukkan suatu Penyebaran pertemuan (sutura) tektonik lempeng melintasi Borneo yang mengikuti singkapan komplek ofiolit dan bancuh tektonik. Laut.(Persero) CABANG I MALANG - Granit (Mgr) Batuan Malihan (Mm) Kelompok Ofiolit . Cekungan Barito dengan anak-anak cekungan asam-asam dipisahkan oleh Pegunungan Meratus dan dengan Anak Cekungan Pasir oleh Pegunungan Kukusan. Hinz & Schluter. selatan oleh Laut Jawa dan di udara oleh Tinggian Lintang Paternoster. Kedua anak cekungan tersebut di sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Meratus.Diabas (Mdb) . menunjukkan bahwa penunjaman kearah selatan berhenti ketika benua dari arah utara sampai kearah lajur penunjaman dan akhirnya bertumbukan dengan benua sebelah selatan.

2. umurnya diduga setelah Miosen. sesar ini memunculkan batuan bancuh. Berdasarkan fisiografi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menunjukkan pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan cekungan di Kalimantan Tengah. Sesar ini diduga terjadi pada kapur atas.2 Kondisi Hidrogeologi Sumberdaya air tanah terdiri atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Pada Kenozoikum sampai Mesozoikum menjadikan cekungan ini terbentuk suatu paparan. Kegiatan tektonik daerah ini diduga telah berlangsung sejak zaman Jura yang menyebabkan bercampurnya batuan ultramafik. Lokasi yang diusulkan dalam 1) program perbaikan sumur yang telah ada dan sumur bor baru. adalah sebagai berikut. sudut kemiringan sekitar 450 kearah barat. Sesar naik berarah timurlaut-baratdaya searah dengan sumbu lipatan. Stuktur geologi yang terbentuk perlipatan pada batuan Pra-Tersier tampaknya lebih kuat dengan sudut kemiringan sekitar 400 dan 700 dan yang terkecil 250 Sumbu antiklin dan sinklin umumnya berarah utara-selatan dengan bentuk tak setangkup dan setempat setangkup. Batuanbatuan tersebut merupakan alas dari Formasi Pitap. Magma ini menerobos batuan yang dihasilkan pada zaman Jura. Sesar turun berarah hampir utara-selatan. Pada zaman Kapur Awal atau mungkin lebih tua. terjadi kegiatan magma.(Persero) CABANG I MALANG disebut juga Tinggian Lintang Barito Kutai atau Adang Flexture atau Sesar Adang yang memisahkan kedua anak cekungan tersebut dari Cekungan Kutai. Pada formasi ini akan terbentuk suatu paparan yang menyebabkan suatu cekungan yang terdapat di Kalimantan Tengah dan Selatan yang termasuk dalam wilayah studi ini. batuan bancuh. Potensi air tanah sedang sampai tinggi (> 10 liter/detik) dengan kualitas cukup baik. batuan malihan dan rijang radiolaria. Sesar naik yang lebih muda mengakibatkan tersesarkannya Formasi Pitap keatas Formasi Pamaluan. air tanah dangkal potensinya sangat besar dan khususnya pada wilayah fisiografi dataran rendah tepi pantai airnya payau atau asin. 2) program pengembangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -19 . hal ini didasarkan kepada umur granit yang terdapat di Lembar Amuntai yang berumur 115 juta tahun. bagian timur relatif naik dari bagian barat. Kadar Fe dan pH di luar ambang batas baku mutu air minum yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan.3. sehingga batuan tua tersesarkan ke atas Formasi Pitap.

50 1.00 2.80 2.70 2.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.V) Unit Maliku Kanan (P.VI) Unit Desa Pangkoh Samuda Pelangsian Karang Tunggal Mekar Jaya Karang Sari Pangkalan Tiga Kumpai Batu Bawah Sei Rangit Trans.60 2.10 1.60 1.82 2.85 2.50 1.80 1.20 1.20 1.3 Lokasi Sumur Bor Yang Memerlukan Perbaikan NO (1) 1 TA (2) 1996 / 1997 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 2 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 3 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 4 5 2001 2002 2002 2002 6 2003 2003 2003 2003 2003 L O K A S I DESA (3) Dadahup A-4 dan C-3 Unit Maliku Kiri (P.75 2.50 2.00 3.80 1.15 1.75 1. Km.60 2.78 1.90 3.60 1.62 Dlm smr (m) (7) 150 150 150 150 175 175 175 175 176 174 174 150 150 1.75 175 174 176 175 175 200 200 250 250 250 250 250 250 250 250 250 250 249 250 250 250 250 Payau Tawar Digunakan Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KWALITAS AIR (8) Payau Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Payau Pengg Ms KEMARAU (9) Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KET (10) 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -20 .82 0.85 2.45 2.20 1.75 1.50 1.70 3.10 0.75 1.50 2.60 1.00 1.00 1.00 2. 38 Sumber Makmur Katingan I Respen pelangsian Sumber Makmur Meranti jaya / Bunut Subur Indah Jaya Makmur Bangun Jaya Kampung Baru Setia Mulia Singam Raya Dadahup A-1 dan A-2 Lamunti A-2 Bapanggang Pelangsian I Lamunti B-2 dan A-1 Dadahup G-1 Muka Istana Gubernur Lupak Dalam Warna Sari Samuda Luwuk Bunter Kartika Bhakti Kuala Pembuang I Tumbang Koling Kumpai Batu Atas Pasir Panjang Marga Mulya Palangka Raya Kapuas Kuala Kapuas Kuala Mentaya Baru Cempaga Seruyan Arut Selatan Arut Selatan Kumai KEC (4) Kapuas Murung Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Mentaya Baru Ketapang perengean perengean perengean Kumai Arut Selatan Arut Selatan Bukit Batu Bukit Batu Katingan Kuala Mantawa Baru Bagendang Bagendang Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Kapuas Murung Mantangai Mentawa Baru / ketapang Kapuas Murung KAB / KOTA (5) Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kobar Kobar Kobar Palangka Raya Palangka Raya Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kapuas Kapuas Palangka Raya Kapuas Kapuas Kotawaringin Timur Kotawaringin Timur Seruyan Seruyan Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Q pompa ( Lt / Det ) (6) 1.50 1.56 2.60 2.50 2.75 1.95 1.00 2.

00 0. khususnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -21 . agribisnis perikanan.00 1.80 1.75 1. pengembangan berorientasi agroindustri dan ketahanan pangan secara berkelanjutan. • Mempercepat kuantitas dan kualitas penenman modal dalam rangka peningkatan agglomerasi ekonomi dan daya saing daerah. • Meningkatkan akselerasi perkembangan koperasi dan UKM serta dunia usaha yang saling terkait antar usaha dan antar daerah.70 2. untuk peternakan.50 0. Mandiri Dan Adil ” (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Dalam rangka mewujudkan visi pembangunan daerah maka dirumuskan misi pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai berikut : • Mempercepat kecukupan sarana dan prasarana umum secara integratif dan komprehensif dalam rangka peningkatan daya dukung terhadap pembangunan daerah.90 0.1 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah Visi.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.85 0. yang perkebunan. Misi dan Strategi Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2025) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Kalimantan Tengah Yang Maju.50 1. • Mewujudkan kehutanan pertanian.4.00 2.4 Lokasi Sumur Bor Yang Belum Dimanfaatkan NO 1 TA 1993 / 1994 1993 / 1994 1993 / 1994 2 1994 / 1995 1994 / 1995 1994 / 1995 3 1995 / 1996 1995 / 1996 1995 / 1996 4 1996 / 1997 1996 / 1997 1996 / 1997 1999 / 2000 L O K A S I DESA Paduran I Paduran II Paduran III Tamban Lupak A3 Tamban Lupak A4 Tamban Lupak A7 Talio (Pangkoh I) Pangkoh (Pangkoh II) Kantan (Pangkoh III) Unit Tahai (P.VI) Unit Balanti I (P.4 KEBIJAKAN DAERAH 2.IV) Unit Balanti II (P.00 1.80 DALAM SUMUR (M) KWALITAS AIR PENGGUNAAN PADA MUSIM KEMARAU Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan KET 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 4 Titik 2.VII) Katingan II Kapuas Kuala Kapuas Kuala Kapuas Kuala Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Katingan Kuala KEC KAB / KOTA Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim DEBIT POMPA ( Lt / Det ) 2.

cerdas. kreatif. sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan. • Mewujudkan fungsi sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi. bertakwa.(Persero) CABANG I MALANG yang berbasis potensi dan keunggulan daerah yang saling terkait antar usaha dan antar daerah. dan inovatif serta memiliki daya saing yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. profesional dan responsif dalam rangka percepatan pembangunan daerah. Misi dan Strategi Jangka Menengah Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2010) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Membuka Isolasi Menuju Kaliamantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat ” sosial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -22 . jalur dan jenjang pendidikan untuk menciptakan masyarakat yang beriman. • Membangun dan mengembangkan budaya pembelajaran yang mendidik secara merata dan adil pada semua jenis. • Mewujudkan ketentraman dan ketertiban umum yang berbasis pada pemberdayaan modal sosial masyarakat serta meningkatkan rasa percaya dan harmonisasi pada kelompok masyarakat demi kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Visi. • Mewujudkan kualitas ketenagakerjaan. • Mewujudkan kemitraan yang sistematis antara pemerintah daerah dan masyarakat serta penguatan partisipasi kelompok-kelompok masyarakat bagi pencegahan masalah peningkatan dan peningkatan kemasyarakatan kependudukan kecepatan secara dan penanggulangan berkesinambungan. • Mewujudkan masyarakat berparadigma sehat untuk mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. • Mengoptimalkan produktifitas pemanfaatan dan pengendalian ruang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. • Mewujudkan pemerintah yang bersih. keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olahraga di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.

perkebunan.(Persero) CABANG I MALANG (2) Arah Kebijakan Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Kebijakan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Kaliamantan Tengah selama periode 2006 – 2010 diprioritaskan pada bidang : a. kedamaian secara terencana dan terpadu. jembatan. c. Kesehatan dan Keluarga Berencana Peningkatan kemampuan pelayanan pendidikan. baik dari dalam maupun luar negeri. Politik Pembangunan kehidupan politik yang berkelanjutan dengan dasar toleransi. antar Kecamatan. b. Pemerintahan Peningkatan tanggungjawab daya tanggap pemerintah dalam perluasan dan peningkatan kualitas pelayanan publik kepada seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok wilayah dalam kerangka menciptakan effective goverment. dan peternakan perikanan/kelautan. good goverment dan bebas KKN. pelabuhan udara. pelabuhan laut dan sungai baik antar provinsi. yang merata. Ekonomi Peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -23 . Keamanan dan Hak Asasi Manusia Penegakan supermasi hukum yang berkeadilan termasuk pertanahan dan pendayagunaan dan aparat keamanan masyarakat dalam serta menciptakan perlindungan ketentraman f. pertambangan. antar desa terisolir dan antar sentra-sentra produksi di sektor/sub kehutanan. Hukum. dan partisipasi yang berbasis multikultural. berkelanjutan serta mendorong investasi. secara berkesinambungan beserta sarana dan prasarananya. pertanian. kesehatan keluarga berencana d. Pendidikan. e. antar Kabupaten. keadilan. Infrastruktur Pembangunan dan pemeliharaan jalan. terhadap Hak Asasi Manusia.

partisipasi. Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan Titik berat pembangunan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia Kalimantan Tengah yang handal dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -24 . k. suku. serta meningkatkan prestasi. ras maupun golongan dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk dalam kerangka dan semangat serta sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia h. Seni Budaya dan Agama Memperkuat keterbukaan. Kepemudaan. Pramuka dan Keolahragaan Meningkatkan dan pemberdayaan peranan generasi muda dalam pembangunan. Perhubungan dan Telekomunikasi Perhubungan yang dititik beratkan pada peningkatan fasilitas bandara udara. toleransi kultural dan kerukunan antar agama. profesionalme dan kualitas manajemen organisasi keolahragaan dalam mendukung pembangunan dan prestasi olahraga di Kalimantan Tengah. i. Sumber Daya Alam. sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan serta mengoptimalkan produktivitas pemanfaatan dan pengendalian tata ruang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mewujudkan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi. baik yang berada di Kota Palangkaraya maupun Kabupaten-kabupaten lainnya. pembelajaran. Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Pembangunan Kalimantan Tengah yang sangat strategis harus berwawasan lingkungan. Begitu pula dengan pelabuhan laut.(Persero) CABANG I MALANG g. l. Telekomunikasi yang mana pelayanan telekomunikasi harus ditingkatkan untuk menjangkau daerah-daerah baik di Kabupaten/Kota maupun di Kecamatan-kecamatan. Kepariwisataan Terwujudnya daya saing pariwisata dengan peningkatan pengembangan pemasaran pariwisata j. menguatkan sarana dan prasarana kepramukaan seperti Bumi Perkemahan di masing-masing Kabupaten/Kota. pelabuhan ferry dan pelabuhan sungai lainnya perlu distingkatkan fasilitasnya.

kehutanan. Dalam kajian ini sektor yang terkait dengan rencana pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah sektor perikanan. Peningkatan patisipasi pemerintah kabupaten/kota pelaku bisnis lokal. Optimalisasi Peningkatan Pendapatan Daerah. Bappedalda Pertanian. Permukiman dan prasarana wilayah) Pemantapan Pertanian. seperti di bidang legislatif. dan peternakan. Dana Perimbangan dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah Provinsi Kalimantan Tengah 2. perkebunan. 3. ASPEK KAJIAN 1 Konservasi Sub aspek Pengelolaan Kualitas Air 2 Pengelolaan SDA SEKTOR /DINAS PELAKSANA Perkebunan. Peternakan. pertanian tanaman pangan. pertambangan dan energi.(Persero) CABANG I MALANG dapat bersaing di era globalisasi. Perkebunan. Kehutanan Perikanan. Pengarus utamaan gender diartikan bahwa peran serta perempuan disejajarkan dengan lakilaki diberbagai aspek bidang. Pertambangan dan Energi (kelistrikan. No. bidang eksekutif dan di masyarakat. 4. Pertambangan dan Energi. Perikanan. Peningkatan pengelolaan Pembiayaan Daerah secara efektif dan efisiensi untuk penerimaan dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah.4. Permukiman dan prasarana wilayah 3 Sub aspek Institusi Pengendalian Daya Rusak Semua sektor Air 2. (3) Kebijakan Keuangan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah 1. Peningkatan efektifitas dan efisiensi Belanja Daerah untuk Pembangunan Daerah dan pelayanan publik.2 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Selatan (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -25 . Peternakan. nasional dan internasional serta masyarakat dalam pembiayaan pembangunan daerah Provinsi kalimantan Tengah.

berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis dan berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah. serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan. dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah. dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi b/ Penguatan ketahanan ekonomi rakyat. Program Prioritas. berisi sasaran pembangunan daerah sebagai berikut : a/ Peningkatan status ekonomi wilayah. sumberdaya buatan (SDB) dan lingkungan hidup. butir B. c/ Pengembangan sosial budaya. transparan.(Persero) CABANG I MALANG Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melalui pembangunan berkelanjutan yang adil. sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. disertai struktur yang berimbang. Di dalam Program pembangunan daerah (PROPEDA) Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005. pelaksana. yang mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. e/ Pengelolaan sumber daya alam (SDA). untuk meningkatan kesejahteraan rakyat yang merata. d/ Peningkatan mutu sumber daya manusia. efisien. serta ekonomi rumah tangga. keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana. Bab II mengenai Prioritas Pembangunan Daerah. (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan. pengendali dan pengawas pembangunan. tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil. sangat dibutuhkan untuk terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnya dari sumberdaya alam dan sumberdaya buatan bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pembangunan di Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. tertera program strategis yang menjadi program prioritas pembangunan daerah Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005 adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -26 . teknologi.

Misi Pembangunan Daerah Peningkatan Status Ekonomi Wilayah Peningkatan status ekonomi wilayah tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil. Pembangunan Sumberdaya Manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai MITAQ. 2.(Persero) CABANG I MALANG 1. b. Visi Pembangunan Daerah Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melaui pembangunan berkelanjutan yang adil. teknobio. berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis yang berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. disertai struktur yang berimbang dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi. Penguatan Ketahanan Ekonomi Rakyat Penguatan ketahanan ekonomi rakyat mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. pelaksana. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -27 . 4. Implementasi Otonomi Daerah untuk Memantapkan Pelaksanaan Undang-undang Otonomi Daerah dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Daerah. sehat. dan mampu bersaing. kreatif. Peningkatan Mutu Sumberdaya Manusia Keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana. efisien untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merata. Pengembangan Sosial Budaya Pengembangan sosial budaya sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah dan usaha ekonomi rumah tangga. dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah. transparan. a. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. 3. Pengembangan Infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya.

Pembangunan Ekonomi Industri Pembangunan industri merupakan upaya untuk menciptakan struktur perekonomian daerah yang semakin berimbang antara sektor industri dan sektor pertanian. Pembangunan sumberdaya manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai IMTAQ. Pembangunan infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya. a. Peningkatan pelayanan publik guna memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mengakses berbagai fasilitas umum dalam suasana yang transparan dan kondusif menuju terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean governance). serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan. Pengelolaan Sumberdaya Alam. sehat kreatif dan mampu bersaing. buatan dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk menuju terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnyadari kesejahteraan sumberdaya dan alam dan buatan bagi di masyarakat peningkatan pembangunan Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. Program-program bidang industri yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program pengembangan industri berbasis pertanian dan pertambangan.(Persero) CABANG I MALANG pengendali dan pengawas pembangunan. Prioritas Pembangunan Daerah Implementasi Otonomi Daerah untuk memantapkan pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah dalam upaya mewujudkan kemandirian daerah. b. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -28 . Sumberdaya Buatan dan Lingkungan Hidup Pengelolaan sumberdaya alam.

(Persero) CABANG I MALANG

Tanaman Pangan dan Holtikultura Pertanian merupakan penunjang pertumbuhan sektor ekonomi lainnya serta diharapkan dapat berperan dalam mendorong pemerataan, pertumbuhan, dan dinamika ekonomi daerah secara umum. Program-program bidang tanaman pangan dan holtikultura yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Peternakan Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam arti luas, serta merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Program-program bidang peternakan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Perkebunan Potensi seluas lahan yang tersedia ha, untuk perkembangan perkebunan berdasarkan RTRWP Kalimantan Selatan Tahun 2000 meliputi areal 1.086.123,25 sementara penggunaannya(efektif pertanaman) baru sekitar 367.919,15 ha (33.87%). Program-program bidang perkebunan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Kehutanan Pembangunan kehutanan diadakan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dengan menjaga kelestarian dan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -29

(Persero) CABANG I MALANG

kelangsungan fungsi hutannya. Disadari bahwa sub sektor kehutanan merupakan salah satu penyelamat perekonomian nasional, oleh karena itu bidang usaha kehutanan perlu semakin dikembangkan untuk mendukung pembangunan sektor industri dimasa yang akan datang. Program-program bidang kehutanan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan produksi kehutanan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan; Program reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis; Program perlindungan hutan dan konservasi lahan.

Perikanan dan Kelautan Pembangunan perikanan dan kelautan di Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang mempunyai nilai strategis dan sangat prospektif. Hal ini mengingat kecenderungan semakin meningkatnya permintaan dunia usaha akan produk perikanan, sehingga peluang usaha dibidang perikanan dan kelautan sangat terbuka lebar. Program-program bidang perikanan dan kelautan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain : Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan aquabisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra aquabisnis terpadu. Pertambangan Pembangunan sektor pertambangan di Kalimantan Selatan diarahkan untuk memanfaatkan sumberdaya alam tambang secara maksimal dan optimal bagi pembangunan daerah dan kemakmuran masyarakat dengan tetap menjaga fungsi lingkungan hidup, meningkatkan penerimaan daerah/negara, serta memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Program-program bidang pertambangan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain:

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -30

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program peningkatan produksi dan pengelolaan bahan tambang; Program penataan kawasan/area pengelolaan pertambangan; Program perencanaan, inventarisasi, pembinaan, pengendalian dan pengawasan sumberdaya tambang.

c. Pembangunan Daerah Pembangunan Derah Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan a) Program Penataan Ruang Program ini bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan kegiatan perencanaan tata ruang yang efektif, transparan dan partisifatif; mengembangkan penyelenggaraan kegiatan pemanfaatan ruang yang tertib berdasarkan rencana tata ruang; meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan pembangunan secara berkelanjutan. b) Program Pengelolaan Pertanahan Program ini ditujukan untuk mewujudkan sistem penguasaan tanah yang adil dan terselenggaranya pelayanan administrasi pertanahan yang baik. Mempercepat Pengembangan Wilayah a) Program Pemantapan Sistem Wilayah Pembangunan Program ini ditujukan untuk menyeimbangkan dan menserasikan pembangunan antar wilayah pembangunan, sehingga ketiga Wilayah Pengembangan (WP), yaitu WP Kayu Tangi, WP Tanah Bumbu, dan WP Banua Lima dapat berkembang selaras dan serasi tanpa ketimpangan. b) Program Pemantapan Fungsi Kota Program ini ditujukan untuk menciptakan kesatuan ekonomi wilayah yang tangguh dengan mewujudkan pemerataan dan penjalaran perkembangan pembangunan antara kabupaten/kota. c) Program Pengembangan Perdesaan Program ini ditujukan untuk mengidentifikasikan kawasan perdesaan yang potensial dikembangkan, sehingga dapat meningkatkan peran dan fungsi pusat kawasan perdesaan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -31

(Persero) CABANG I MALANG

sebagai kawasan produksi untuk mendukung pengembangan agroindustri dan agribisnis. Mempercepat Pengembangan Kawasan Tertentu a) Program Pengembangan Kawasan Andalan Program ini ditujukan Daerah daerah untuk Provinsi melalui meningkatkan dalam kemampuan melaksanakan wilayah; Pemerintah pembangunan

pengembangan

menyiapkan rencana program pembangunan kawasan prioritas terpilih yang akan dikembangkan oleh masing-masing daerah; serta identifikasi program pengembangan kawasan yang akan menjadi tanggung jawab pemerintah dan dunia usaha dalam satu kesatuan paket pertumbuhan ekonomi wilayah. b) Program Program Pengelolaan ini ditujukan percepatan daerah dan Kawasan untuk Pengembangan meingkatkan Ekonomi dan agar Terpadu (KAPET) peran kemampuan Pemerintah Daerah dalam pembangunan KAPET; mendorong pembangunan pengelolaan regional; KAPET serta operasionalisasinya dapat berjalan sesuai dengan tuntutan menunjang berjalannya mekanisme pelaksanaan program pengembangan KAPET yang sesuai dengan arah dan tujuan pembangunan daerah dan nasional. c) Program Pengembangan Kawasan Sentra Produksi/Agribisnis (KSP/A) Program ini ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan produk komoditasunggulan di kawasan sentra produksi; mewujudkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara optimal terutama penggunaan lahan yang ada dengan membentuk sentra-sentra pengembangan komoditas, guna mendapatkan efisiensi dan efektifitas yang diikuti alokasi sarana dan prasarana yang diperlukan; serta mengembangkan komoditas pangan dalam skala besar guna mendorong peningkatan sektor agoindustri dan agribisnis.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -32

(Persero) CABANG I MALANG

d) Program Pengelolaan Pembangunan Wilayah Terpadu (PPWT) Program ini ditujukan melalui upaya-upaya pembangunan yang diarahkan untuk pemerataan, keserasian dan percepatan pembangunan dengan mengembangkan potensi-potensi dan atau memecahkan masalah-masalah sosial budaya, ekonomi, fisik dan lingkungan hidup WKP (Wilayah Konsentrasi Pengembangan) melalui keterpaduan tujuan, sasaran lokasi, waktu, pembiayaan, kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan/pengendalian dan evaluasi dalam suatu siklus pengelolaan pembangunan dengan memberikan peran paling besar pada Pemerintah Daerah, lembaga sosial kemasyarakatan, dunia usaha, setempat. e) Program Pengembangan Kawasan Tertinggal Program ini ditujukan untuk mengidentifikasi permasalahan/faktor penyebab ketertinggalan kawasan yang meliputi letak geografis kawasan, sumberdaya alam, faktorfaktor yang kemasyarakatan, nantinya akan yang serta ketersediaan untuk sarana dan prasarana, dan menyediakan informasi kawasan tertinggal dipergunakan sesuai merumuskan dengan program/proyek kebutuhan koperasi dan masyarakat

memperlihatkan kapasitas sosial ekonomi masyarakat di kawasan tertinggal tersebut. f) Program Pengembangan Kawasan Banjarmasin Raya Program pengembangan kawasan Banjarmasin Raya adalah program pengembangan kawasan perkotaan yang meliputi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten barito Kuala dimana dalam pembangunannya terintegrasi secara terpadu diantara keempat Pemerintah Daerah. Transmigrasi Program Pengembangan Kawasan Transmigrasi dan Mobilitas Penduduk Program Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -33

(Persero) CABANG I MALANG

d. Pembangunan Sumberdaya dan Lingkungan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Program Pengembangan ini ditujukan Informasi untuk Sumberdaya Alam dan mutu, Lingkungan Hidup meningkatkan jumlah, informasi dan data dasar sumberdaya alam dan lingkungan hidup, mengetahui daya dukung dan menjamin persediaan sumberdaya alam berkelanjutan di daerah. Program Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Program Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Pengendalian Pencemaran dan Pemulihan Kualitas Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk mengurangi kemerosotan mutu lingkungan hidup perairan, tanah, dan udara yang disebabkan oleh semakinmeningkatnya aktivitas pembangunan daerah. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Sumberdaya Buatan (Sub Sektor Pengairan) Program Pengembangan dan Pengelolaan Pengairan Program ini bertujuan untuk menunjang tercapainya peningkatan ketahanan pangan daerah maupun nasional. Program Penyediaan dan Pengembangan Air Baku Untuk Masyarakat dan Industri Program ini bertujuan untuk menyediakan air baku dalam rangka memenuhi kebutuhan permukiman, perkotaan, industri dan non pertanian lainnya dengan meningkatkan efektivitas dan produktivitas pengelolaan jaringan pengairan serta meningkatkan penyediaan air untuk permukiman, perkotaan dan industri untuk memenuhi hajat hidup masyarakat baik di daerah perkotaan maupun perdesaan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -34

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program Pengendalian Banjir Program ini bertujuan untuk mempertahankan sarana/prasarana pengairan, pertanian, transportasi dan permukiman. Program Pengembangan dan Pengelolaan Sungai, Danau dan Sumberdaya Air Lainnya Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan dan produktivitas sumber-sumber air dengan mewujudkan keterpaduan pengelolaan yang menjamin kemampuan keterbaharuannya serta pengaturan kembali berbagai kelembagaan dan peraturan perundang-undangan.

-

Nasional

DEW AN SDA NASIONAL KEBIJAKAN NASIONAL SDA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Nasional Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Departem en PU -SitJen SDA -Dit.Bina Program -Planning Unit Pusat

Provinsi DEW AN SDA PROVINSI -Kantor Gubernur -Dinas PSDA -Balai PSDA -Planning Unit Prov KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA PROVINSI DEW AN SDA W S

Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai

W S Provinsi

Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

Kab/Kota

DEW AN SDA KAB / KOTA KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA KAB/KOTA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Kab/Kota Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Kantor Bupati/W alokota -Dinas PSDA -Balai PSDA

Gambar 2.3

Struktur Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -35

(Persero) CABANG I MALANG

2.5

KONDISI TATA GUNA LAHAN

2.5.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Perda Provinsi Kalimantan Tengah No. 8 Tahun 2003 1. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya a) Kawasan Hutan Lindung tersebar di Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, dan Kapuas. b) Kawasan Hutan Lindung Gambut tersebar di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan. c) Kawasan Resapan Air, tersebar di semua kabupaten. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan Sempadan Pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai yaitu 100-200 meter dari titik pasang tertinggi kea rah darat dan 400 meter untuk pantai berhutan bakau. b) Kawasan Sempadan Sungai yang meliputi kawasan selebar 100 meter di kiri kanan, 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada diluar permukiman, 10-15 meter di kiri kanan saluran kanal (anjir) serta saluran irigasi untuk dibangun jalan inspeksi. c) Kawasan sekitar danau/waduk meliputi daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan fisik fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. d) Kawasan Sekitar Mata Air yang meliputi kawasan sekurangkurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. e) Kawasan Sekitar Riam meliputi daerah riam dalam badan sungai dengan aliran air yang deras dan berbatu. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya 1. Cagar Alam Pararawen I dan Pararawen II terletak di Kabupaten Barito Utara. 2. Cagar Alam Bukit Sapat Hawung di Kabupaten Murung Raya.

a) Kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -36

(Persero) CABANG I MALANG

3. Cagar Alam Air Terjun Molau Besar di Kabupaten Barito Utara. 4. Cagar Alam Bukit Bakatip di Kabupaten Murung Raya. b) Taman Nasional dan Taman Wisata Alam 1. Taman Wisata Air Terjun Poran di Kabupaten Barito Utara. 2. Taman Wisata Liang Saragih di Kabupaten Barito Timur. 2. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas terletak menyebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap terletak menyebar di seluruh kabupaten. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah tersebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Pertanian Lahan Kering tersebar di seluruh kabupaten. c) Kawasan Pertambakan terletak di Kabupaten Kapuas. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan Emas terletak di seluruh kabupaten. b) Pertambangan Batubara terletak di seluruh kabupaten. c) Pertambangan Granit terletak di seluruh kabupaten. d) Pertambangan Pasir terletak di seluruh kabupaten. e) Pertambangan Batu Permata terletak di seluruh kabupaten. f) Pertambangan Minyak Bumi yang terletak di Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Kapuas. Kawasan Industri diprioritaskan pengembangannya pada Kota Puruk Cahu, Muara Teweh, Buntok, Tamiyang Layang, dan Kuala Kapuas. Kawasan Pariwisata mencakup kawasan yang memiliki potensi besar untuk keperluan pariwisata di semua kabupaten. Kawasan Permukiman tersebar merata di seluruh kabupaten.

Tabel rekapitulasinya adalah sebagai berikut.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -37

008 2.96 3.789 2.32 84 100 Kawasan Lindung 1.8 0. Danau JUMLAH I II Kawasan Budidaya 1.029.2 1.894.585.06 0.2 408. Ampah.11 1.008 0.261 1.7 0.167 113.2 6.202. Pelantaran. Kasongan. Tamiyang Layang dan Pegatan Orde III : Kota Kotawaringin Lama.64 24.48 0.164 16 21 22. Puruk Cahu. Samuda.435 35. Taman Nasional (SK ada) 2.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Hutan Produksi Tetap (HPP) 3. Pulang Pisau.933 76. Rencana Areal Transmigrasi (T2) 8.576.2 0. Tumbang Samba.927 1.299 PERSENTASE (%) 3. Kandui. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 2.67 2. Tumbang Sangai. Pangkut.04 0.58 0. Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) 5.3 3.6 10. Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) 10. Sukamara. Areal Transmigrasi (T1) 7. Lampeong. Tumbang Jutuh. Suaka Margasatwa (SK ada) 6. Provinsi Kalimantan Tengah NO I PEMANFAATAN LAHAN LUAS ALOKASI (HA) 525. Cagar Budaya 9.63 514. Hutan Lindung 4.392 281. Kuala Kurun.266 3. Taman Wisata (SK ada) 5.071 13.53 678 606 10. Bawan. Hutan Tanaman Industri (HTI) 4.608. Kota Kuala Kapuas. Kota Sampit. Palingkau. Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain (KPPL) 6. Tumbang Senamang. Bahaur. Cagar Alam (SK ada) 3. Kota Pangkalan Bun Kota Buntok.527 8. Timpah.460 3. Sistem Pusat-Pusat Permukiman Orde I Orde II Hirarki Kota-Kota : : Kota Palangkaraya. Kawasan Khusus JUMLAH II JUMLAH I + II 3. Kudangan.16 6. Hutan Pendidikan dan Penelitian 9.5 Rencana Penggunaan Lahan Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Arboretum dan Tahura (SK ada) 7.477 416.260. Muara Teweh.798.222. Dadahup - Kebijaksanaan Pengembangan a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -38 .033 15. Konservasi di Eks Kawasan PLG 8.

serta Kecamatan Pandih Batu dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -39 . kota industri. Basarang. Arahan Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan perdesaan terpencil. Kudangan. pusat perdagangan dan jasa. kota pelabuhan laut. kota kebudayaan. Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri. pusat pendidikan. Kuala Kurun. meliputi Kecamatan Selat. Sukamara. Perkebunan. pusat perdagangan dan jasa. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. pusat perdagangan dan jasa. dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas). kota pelabuhan laut. Tumbang Senamang. Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Puruk Cahu. Tumbang Sangai. yaitu Kota Buntok. Kandui. b) Pengembangan Kota Orde II yang mempunyai skala pelayanan subregional atau kota-kota yang terletak disepanjang jalan kolektor primer-1 (K-1) serta mempunyai potensi cepat tumbuh. Bahaur. Tamiyang Layang dan Pegatan. Kota Pangkalan Bun berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. a) KSP Kapuas. c) Kota-kota kecamatan yang direncanakan untuk didorong pertumbuhannya dan perkembangannya menjadi kota Orde III adalah Kota Kotawaringin Lama. Pelantaran. pusat perdagangan dan jasa. Kota Kuala Kapuas berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. terisolir. dan terbelakang. Kawasan perdesaan Kawasan di wilayah perbatasan dengan Kalimantan Barat. 4. Pulang Pisau.(Persero) CABANG I MALANG 1. agropolitan. Perikanan. Kota Palangka Raya berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi. kota industri. Lampeong. kota pelabuhan. 2. 4. Muara Teweh. Tumbang Samba. Bawan. kota industri. Samuda. Kasongan. Pangkut. Kota Sampit berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. Palingkau. Ampah. 3. Timpah. Dadahup. Tumbang Jutuh.

meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito). nenas. ayam buras dan ikan kolam. pisang. meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa. Kawasan KAPET DAS KAKAB . Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. f) KSP Tamiyang Layang. dan ikan perairan umum. h) KSP Benangis. sapi. rambutan. lada.(Persero) CABANG I MALANG Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. ayam buras. kedelai. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). dan ayam buras. d) KSP Buntok. c) KSP Muara Teweh. jagung. Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan. pisang. Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -40 . b) KSP Ampah. e) KSP Kandui. rambutan. meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. kelapa dan ubi kayu. Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya. lada dan ayam buras. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). g) KSP Puruk Cahu. kelapa.

Tanggal 14 Maret 1995.650 km2).329 629 785 1. PPSP II dan III umumnya berada di lokasi hutan produksi terbatas (HPT) dan hutan produksi tetap (HPP).683 949 4. dan kawasan konservasi. Tabel 2.6 Luas Kapet DAS KAKAP NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1.673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I. Mempertimbangkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -41 . menurut RTRWP Kalimantan Tengah.016 6.(Persero) CABANG I MALANG wilayah mencapai 2.767. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang. d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III.071 1. Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor 650/3654/IV/Bapp. terutama komoditi unggulan hanya bias diarahkan pada sentra produksi pada saat sekarang dan PPSP I yang alokasinya diperuntukkan bagi KPP (Kawasan Pengembangan Produksi) dan KPPL (Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain). maka pengembangan pertanian.099 1. khususnya Surat Gubernur KDH.829 27.128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2.065 1.956 2. dan menurut analisa dampak lingkungan pada PLG 1 juta hektar.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -42 .2 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Perda Provinsi Kalimantan Selatan No. d) Kawasan sekitar mata air yang terletak menyebar di Kalimantan Selatan dan memiliki kawasan sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. Suaka Margasatwa Pelaihari yang terletak di Kabupaten Tanah Laut. Cagar Alam Gunung Ketawan di Kabupaten HSS. meliputi: 1. b) Kawasan sempadan sungai yang memiliki kawasan selebar 100 meter di kiri-kanan sungai-sungai besar dan didalam permukiman dapat membangun selebar jalan inspeksi. c) Kawasan sekitar danau/waduk yang terletak di Kabupaten Banjar. meliputi: 1. Cagar Alam Pulau Kaget yang terletak di Kabupaten Barito Kuala. HST. dan HSU yang meliputi seluruh areal atau dataran sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. meliputi: 1. Kawasan Pesisir Berhutan Bakau di kabupaten Kotabaru. 9 Tahun 2000 1. c) Kawasan Pantai Berhutan Bakau. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya a) Cagar Alam. 2. dan Barito Kuala. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan sempadan pantai yang meliputi dataran sepanjang tepian pantai yang meliputi Kabupaten Barito Kuala. b) Suaka Margasatwa. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya mencakup seluruh kawasan hutan lindung.(Persero) CABANG I MALANG 2. HSS. Sebagian besar kawasan hutan lindung di Provinsi Kalimantan Selatan berada di Pegunungan Meratus. Tanah Laut.5. Tanah Laut dan Kotabaru yang lebarnya proporsional dengan bentuk kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah daratan.

Tanah Laut. Tapin. 2. Tanah Laut. HSU. Banjar. HSU. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -43 . e) Pengembangan Perikanan terletak di Kabupaten Barito Kuala.(Persero) CABANG I MALANG 2. dan Tanah Laut. Banjarbaru. Banjar. HSS. c) Kawasan Hutan Produksi Konversi yang terletak di Kabupaten Banjar. HST. e) Taman Hutan Raya. HST. d) Taman Wisata Alam. Tabalong. Banjarbaru. Tanah Laut. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Tanah Laut. dan Tabalong. Tapin. HST. Tabalong. b) Kawasan Pertanian Lahan Kering terletak di Kabupaten Banjar. HSU. 3. Tanah Laut. Taman Wisata Alam Pulau Kembang yang terletak di Kabupaten Barito Kuala. HSS. Tabalong. dan Tabalong. HSU. dan Tanah Laut. HSU. HST. 2. Banjar. Taman Wisata Alam Jaro di Kabupaten Tabalong. Tanah Laut. HSS. HSS. Tapin. HSS. dan Tanah Laut. HST. Tapin. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas yang terletak di Kabupaten Banjar. Tabalong. Tapin. Tabalong. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah terletak di Kabupaten Barito Kuala. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Barito Kuala. HSU. HST. c) Kawasan Tanaman Tahunan/Perkebunan terletak di Kabupaten Barito Kuala. HSU. HST. HSU. yang terletak di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. Taman Wisata Alam Batakan di Kabupaten Tanah Laut. Tapin. meliputi: 1. Taman Hutan Raya Sultan Adam. Tapin. Banjar. HSS. 3. meliputi: 1. dan Barito Kuala. d) Pengembangan Peternakan di Kabupaten Barito Kuala. HSS. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap yang terletak di Kabupaten Banjar.

serta ibukota kecamatan. Kawasan industri Simpang Tiga Liang Anggang-Banjarbaru di Kota Banjarbaru. Kawasan Pariwisata a) Kawasan wisata Loksado di Kabupaten HSS. Tapin. - Kawasan Permukiman a) Kawasan permukiman perdesaan yaitu permukiman di luar perkotaan yang telah ada dan permukiman transmigrasi yang tersebar di setiap kabupaten. Tabalong. b) Zona Industri. b) Kawasan permukiman perkotaan yaitu permukiman ibukota Provinsi. HSS. Kawasan industri pengolahan kayu Alalak di Kabupaten Barito Kuala. - - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -44 . meliputi: 1. dan Tapin. Kawasan industri Bati-Bati di Kabupaten Tanah Laut. HST. d) Kawasan wisata Pantai Batakan di Kabupaten Tanah Laut. dan Tanah Laut. 3.(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Industri dan Zona Industri a) Kawasan Industri. Zona industri perabot kayu dan rotan di Kabupaten HSU. d) Pertambangan intan dan batu mulia dan lainnya terletak di Kabupaten Banjar. b) Pertambangan minyak bumi terletak di Kabupaten Tabalong. kabupaten. 2. Zona agro industri Murung Pundak di Kabupaten Tabalong. HSU. meliputi: 1. Zona industri logam di Negara Kabupaten HSS. b) Objek wisata Pasar Terapung dan Pulau Kaget di Kota Banjarmasin dan Barito Kuala. c) Pertambangan gamping terletak di kabupaten HSS. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan batubara terletak di Kabupaten Banjar. 2. c) Kawasan wisata Pantai Swarangan di Kabupaten Tanah Laut. 3.

Pengaron. g) Objek wisata Kerbau Rawa di Kabupaten HSS dan HSU. Pagat. Alabio. Anjir Pasar. Jorong. Kota Marabahan. Batulicin. Gambut. Takisung. dan Amuntai. Martapura. dan Kotabaru. dan Haruyan di Kabupaten HST. j) Objek wisata alam Hantakan. Mesjid dan Makam Sultan Suriansyah di Kuin Utara Banjarmasin. Danau Panggang. n) Objek wisata sejarah Candi Agung di Kabupaten HSU. h) Objek wisata Tanjungpuri di Kabupaten Tabalong. Rantau. f) Objek wisata Waduk Riam Kanan dan Taman Hutan Raya Sultan Adam di Kabupaten Banjar. Pagatan. l) Objek wisata relegius Makam Sultan Adam. Kertak Hanyar. Binuang. o) Objek wisata religius/sejarah. Batangalai Selatan. Pantai Hambawang. Tanjung. m) Objek wisata pendulangan intan di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Margasari. Muara Uya. Orde V : Ibukota Kecamatan (IKK) selain kota-kota tersebut diatas. Kota Banjarbaru. Kandangan. 3. Kintapura. Gunung Batu Besar. p) Kawasan wisata Jembatan Barito di Kabupaten Barito Kuala. Paringin. dan Manggalau. Penetapan Pusat-Pusat Permukiman Hierarki Kota-Kota Orde I Orde II Orde III : : : Kota Banjarmasin. Barabai. Sungai Danau. Negara. Alalak. Orde IV : Kota Kelua.(Persero) CABANG I MALANG e) Kawasan wisata Pantai Takisung di Kabupaten Tanah Laut. k) Objek wisata relegius Pelampayan di Kabupaten Banjar. Pelaihari. i) Objek wisata alam Upau dan Jaro di Kabupaten Tabalong. Sungai Kupang. Bati-Bati. Pangeran Antasari dan Kubah Basirih di Kota Banjarmasin. Tanjung Semalantakan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -45 .

ditetapkan pada kota-kota yang/akan memiliki fasilitas dan prasarana yang memadai untuk berlangsungnya kegiatan industri serta akses terhadap bahan baku dan pemasaran produksi. a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -46 . Banjarbaru. Pusat administrasi pemerintahan. Kandangan. Pusat permukiman ditetapkan pada seluruh orde kota. Pusat industri manufaktur. Pagatan. ditetapkan pada kota yang secara administrasi memiliki kedudukan sebagai pusat utama pemerintahan. Kotabaru. Kandangan. Kintapura. dan Muara Uya. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki lokasi strategis. Kebijkasanaan Pengembangan Pengembangan kota-kota dilakukan sesuai dengan ordenya dan kondisi obyektif potensi perkembangan kotanya. Paringin. meliputi Kota Batulicin. Barabai. Kelua. Amuntai. Barabai. yaitu Paringin dan Pagatan. Rantau. yaitu Kota Banjarmasin. perdagangan dan beberapa kota/wilayah dari: disekitarnya dalam lingkup terbatas. Martapura. Kelua. Kintapura. Pusat pelayanan wilayah belakang. Marabahan. Margasari. Amuntai.(Persero) CABANG I MALANG - Fungsi Kota-Kota Penetapan fungsi suatu kota sesuai dengan hirarki kotanya. Bati-Bati. Kotabaru. dan Kintapura. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sosial/umum sebagai secara pusat lokal pelayanan terhadap jasa. Pusat pelayanan lokal. Kotabaru. Tanjung. Margasari. Martapura. Rantau. Tanjung. Negara. Tanjung. perdagangan dan sosial/umum terhadap wilayah belakangnya. yaitu terdiri Pusat pelayanan komunikasi. Banjarbaru. Negara. Pantai Hambawang. yaitu Kota Batulicin. Pelaihari. yaitu seluruh kota orde IV dan dua kota orde III. Alabio. Amuntai. yaitu Kota Banjarmasin. Banjarmasin. Banjarbaru. Marabahan. Pelaihari. Manggalau. Martapura. dan Marabahan. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sebagai pusat pelayanan jasa. Batulicin. Pagatan.

terutama di Sungai Barito dan pemeliharaan alur Sungai Barito agar dapat dilayari sepanjang tahun. Peningkatan status Batulicin sebagai pusat Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu. 3. Pemantapan keterkaitan Kota Banjarmasin dengan kota-kota di Provinsi lain dan peningkatan sarana dan prasarana sebagai kota pelayanan regional dan nasional. dan pengendalian tata ruang. 4. pemanfaatan. Peningkatan fasilitas. 3. Peningkatan kegiatan ekonomi serta sarana dan prasarana yang mempunyai kaitan erat dengan wilayah belakang. sarana dan prasarana kota untuk menerima penjalaran perkembangan dari Banjarmasin (atau sebaliknya). sarana dan prasarana Kota Kandangan yang akan memacu dan memantapkan fungsi pusat pelayanan Wilayah Pengembangan Benua Lima. sarana dan prasarana perkotaan yang dibutuhkan untuk menunjang fungsi kota. 2. 5. terutama untuk Kota Kandangan dan Batulicin. Peningkatan kerjasama antar pemerintah. b) Pengembangan Kota Orde II 1. 5. permukiman dan industri polutif. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. pemerintahan.(Persero) CABANG I MALANG 1. Peningkatan fasilitas. Penertiban dan penanganan kegiatan-kegiatan yang mencemari lingkungan. seperti fungsi pendidikan tinggi. 6. Peningkatan kegiatan ekonomi (jasa dan perdagangan) untuk menunjang perkembangan ekonomi regional Kalimantan Selatan. 6. 2. swasta dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan sarana dan prasarana kota serta peningkatan pendapatan asli daerah untuk pembiayaan pembangunan kota yang mandiri. 4. Pengalihan sebagian dari fungsi kota yang sudah tidak efisien berlokasi di Banjarmasin. Pencegahan kerusakan lingkungan. Penataan ruang kota melalui perencanaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -47 .

dan pengendalian tata ruang. 3. 4. Pengendalian lingkungan. dengan prioritas Kota Rantau. pada tahap awal dikembangkan sebagai Kota Orde IV dan selanjutnya ditingkatkan sebagai Kota Orde III. Penataan ruang kota melalui perencanaan. dan pengendalian tata ruang. 4. c) Pengembangan Kota Orde III 1.(Persero) CABANG I MALANG 7. 2. pemanfaatan. d) Pengembangan Kota Orde IV dan V 1. sarana dan prasarana perkotaan. terutama untuk Marabahn yang banyak memiliki industri pengolahan kayu. dan pengendalian tata ruang. Peningkatan aksesibilitas ke wilayah belakang serta ke kota-kota yang berorde lebih tinggi melalui pengembangan system perhubungan sungai maupun darat. 6. pemanfaatan. Peningkatan sarana dan prasarana perkotaan yang menunjang pertumbuhan industri manufaktur dan agar mampu berfungsi sebagai pusat pengembangan wilayah belakang. Penataan ruang kota melalui perencanaan. Penataan ruang kota melalui perencanaan. Peningkatan kegiatan ekonomi dan aksesbilitas kota yang mempunyai kaitan erat dengan potensi wilayah belakang. 3. Pengembangan Kota Manggalau sebagai alternative pusat pengembangan Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu Utara. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -48 . pemanfaatan. serta Pelaihari yang memiliki industri pengolahan tebu. 5. Peningkatan sarana dan prasarana kota sesuai dengan fungsi kota. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. 2. Peningkatan kegiatan ekonomi yang dapat menarik penduduk sehingga kota-kota tersebut dapat mencapai ukuran ekonomis dalam pembangunan sarana dan prasarana. Marabahan dan Tanjung.

e) Penataan rawa potensial. Rantau Badauh. meliputi: a) Pengembangan kawasan industri Simpang Tiga. - Kawasan Sentra Produksi (KSP). Wanaraya. b) Pengembangan zona industri pengolahan kayu Barito Kuala. Bakumpai. Banjang. c) Penataan wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-Asam. Lampihong. Kawasan yang berperan menunjang sektor strategis. Mandastana. Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan Lindung dan Kritis. sapi. Tanjung. yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. dan kedela. d) Penataan wilayah wisata Loksado dan sekitarnya yang merupakan objek wisata alam dan budaya potensial. Kelua. meliputi: a) Peningkatan fungsi catchment area Riam Kanan sebagai sumber air untuk berbagai keperluan. Satui. d) KSP HST-HSS meliputi Kecamatan Kandangan. Labuan Amas Utara dan Labuan Amas Selatan yang Batulicin dan Sungai Loban yang merupakan kawasan pengembangan komoditi perikanan laut. antara lain untuk pertanian. jeruk. Cerbon. Anjir Pasar. dan konservasi. Sungai Pandan. Muara Harus. LianganggangBanjarbaru di Kota Banjarbaru. Kusan Hilir. Barambai. b) KSP Barito Kuala-Banjar meliputi Kecamatan Marabahan. wisata. Pandawan. meliputi: a) KSP Tabalong-HSU meliputi Kecamatan Banua Lawas. Batang Alai Utara. c) KSP Tanah Laut-Kotabaru meliputi Kecamatan Kintap. Babirik dan Danau Panggang yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. perikanan tambak dan ternak Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -49 . b) Rehabilitasi kawasan lahan kritis yang tersebar baik di kawasan budidaya maupun kawasan lindung khususnya pegunungan Meratus.(Persero) CABANG I MALANG 4. Sungai Tabuk dan Astambul. perikanan darat dan peternakan itik.

yaitu Kecamatan Piani. meliputi : a) Kabupaten Banjar meliputi Kecamatan Kertak Hanyar dan Kecamatan Aluh-Aluh.(Persero) CABANG I MALANG merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. dan kedelai. Takisung. c) Kabupaten Tabalong meliputi Kecamatan Pugaan. dan Candi Laras Selatan yang merupakan kawasan pengembangan kedelai. melinjo. f) KSP HSS-Tapin 2 meliputi Kecamatan Loksado. b) Kabupaten Tanah Laut. b) Kawasan Andalan Banjarmasin dan sekitarnya meliputi Kota Banjarmasin. Sungai Pinang. Daha Selatan. Muara Harus. e) KSP HSS-Tapin 1 meliputi Kecamatan Daha Utara. Tabalong dan Tapin. g) KSP Banjar meliputi Kecamatan Simpang Empat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -50 . jeruk. e) Kabupaten HST meliputi Kecamatan Haruyan. kacang tanah. Kabupaten Banjar. yaitu Kecamatn Kurau. f) Kabupaten Tapin. Piani. Tapin selatan dan Binuang yang merupakan kawasan pengembangan jeruk dan kacang tanah. Tanta dan Benua Lawas. Pengaron. Karang Intan. d) Kabupaten HSU meliputi Kecamatan Babirik. Kota Banjarbaru. Batu Ampar. Kabupaten Barito Kuala. dan perikanan darat. HSS. Sungai Pandan. h) KSP Tanah Laut meliputi Kecamatan Pelaihari. Juai dan Halong. dan Jorong yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. Panyipatan. dan Aranio yang merupakan kawasan pengembangan komoditi pisang. dan Kabupaten Tanah Laut. meliputi: a) Kawasan Andalan Kandangan dan sekitarnya yang meliputi Wilayah Pengembangan Benua Lima terdiri dari Kabupaten HSU. dan Batu Tangga. HST. Kawasan Andalan. dan ternak sapi. Padang Batung. Hantakan. ekonomi dan social budayanya memiliki ketertinggalan dibandingkan dengan kawasan lainnya. yaitu kawasan yang karena kondisi geografis. Kawasan Tertinggal.

Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang dipertimbangan dalam penetapan ini adalah. sebagai berikut : a. khususnya bagi penduduk yang mata pencahariannya terkait dengan sector pertanian pangan dan perikanan. untuk mengembangkan pembangunan daerah dan meningkatkan pendapatan masyarakat di perdesaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -51 . 5. f. b. h. g. tanggal 10 Desermber 1999.(Persero) CABANG I MALANG g) Kabupaten HSS meliputi Kecamatan Daha Selatan dan Daha Utara. Tubanganen dan Kuripan. h) Kabupaten Barito Kuala meliputi Kecamatan Alalak. c. Tamban. e. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999. Kawasan Sentra Produksi Tabalong. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. telah menetapkan lokasi-lokasi KSP. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”. i. swasta. d. dan masyarakat dalam pembangunan agribisnis dan agroindustri.

Takisung. Daha Selatan. Pandawan.3 5 Batola – Banjar Barito Kuala 3. Anjir Pasar. jeruk Kedelai 1.Alai Utara.675 55. rambutan. Kotabaru 10. Batu Mandi. Banjang. melinjo. Jorong Kintap. Muara Harus.9 7 Tala Tanah Laut 8. perikanan darat Jagung. Wanaraya. perikanan laut 5. KAWSN 1. S. Candi Laras Selatan Laksado. tambak. Karang Intan. Aranio Pelaihari. padi sawah 139.4 6 Banjar Banjar Banjar Pisang.76 55. Mandastana Sungai Tabuk. Perikanan darat Peternakan (itik) LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT.2 63. Sungai Pinang. Batu licin P. HSU LOKASI KAB. Labuan Amas Selatan Daha Utara. Batu Ampar.4 123.4 Jeruk.94 32. kacang tanah 3. Kusan hilir.6 55. Loban. P.792 86. Binuang Marabahan.207 19. Bakumpai.963 110.2 3 4 HSS – Tapin 1 HSS – Tapin 2 HSS Tapin HSS Tapin Kedelai Jeruk. Satui. kacang tanah. Tabalong HSU KECAMATAN Tanjung. ternak sapi Perikanan. Danau Panggang Kandangan Bt.3 40. ternak sapi Rumput laut. perikanan laut. Penyipatan.966 55. Laut Selatan. Amuntai Tengah. Labuan Amas Utara.7 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong.2 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -52 .1 118. Barabai.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Kelua Pugaan Lampihong. Astambul Simpang Empat. Pengaron. Tapin Selatan. Laut Barat JENIS KSP Kedelai.167 28 30.189 6. Cerbon. Sei Pandan.8 2 HST – HSS HST HSS Jagung. Babirik. Rantau Badauh.3 65.6 8 Tala – Kotabaru Tanah Laut.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61. Piani. Padang Batung.

4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS Peta Rencana Tata Ruang Provinsi Kalimantan Tengah II -53 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

kawasan budidaya investasi besar dan kawasan lindung). mempertajam araham penggunaan lahan komoditas unggulan dan arahan penggunaan lahan yang berwawasan lingkungan. sehingga secara bertahap daya saing produk-produk yang dihasilkan oleh Kabupaten Barito Selatan dapat berkompetisi pada pasar regional.3 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan Terdapat tiga pertimbangan mendasar dalam penyusunan strategi tata ruang wilayah Kabupaten Barito Selatan.5. 1. kompetitif dan berdampak luas pada ekonomi lokal (local multiplier).(Persero) CABANG I MALANG 2. Penetapan arahan penggunaan lahan yang efektif dan optimal berdasarkan reorientasi strategis penggunaan lahan yang telah terjadi dengan potensi pengembangan yang akan datang. nasional dan internasional mengingat bahwa volume ekspor dari produk yang mempunyai nilai tambah sangat sedikit dan lebih terkonsentrasi pada usaha perkayuan. Proses transisi struktur ekonomi ini akan menuntut proses penguatan kelembagaan ekonomi dan sosial masyarakat dan pemerintah. penetapan kawasan lindung merupakan suatu bentuk perlindungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -54 . yaitu: Strategi pengembangan Tata Ruang Wilayah yang akan diimplementasikan disusun berdasarkan asumsi bahwa dalam 10 tahun yang akan datang fokus kebijakan pembangunan wilayah di Barito Selatan telah ditekankan pada upaya-upaya persiapan untuk meningkatkan nilai rate of return wilayah. berdasarkan perwilayahan kesesuaian lahan yang jelas (terutama penggunaan lahan kawasan budidaya rakyat. Strategi ini sangat penting karena telah terjadi kerusakan lahan yang relatif besar terutama pada Lahan Gambut satu juta hektar dan pada eksploitasi sumber daya hutan yang keduanya telah mempengaruhi keseimbangan sumber daya alam yang ada. Proses transisi struktur ekonomi akan dilakukan secara bertahap menuju struktur ekonomi yang berbasis pada sumber daya lokal yang renewable. juga ditujukan untuk mencegah berbagai kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan baik pada kawasan lindung maupun sekitarnya. Kawasan Lindung Tujuan utama penetapan kawasan lindung dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah untuk melindungi sumber daya alam atau buatan yang ada didalamnya. Oleh karena itu.

(Persero) CABANG I MALANG yang didasari oleh pentingnya melestarikan dan meningkatkan kualitas lahan yang memang potensial untuk dibudidayakan. perindustrian. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas kondisi dan potensi sumber daya alam. Kawasan budidaya mencakup kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan. perikanan. peternakan. hutan produksi. konservasi hidrologi Kawasan Perlindungan Setempat. pertambangan. konservasi mangrove 5. yaitu: Kawasan sepadan pantai Kawasan sepadan sungai Kawasan sekitar danau Kawasan sekitar mata air Kawasan Perlindungan dan pelestarian Hutan (PPH) yang meliputi: PPH Dataran Tnggi PPH Peralihan PPH Galam PPH Hutan Rawa 2. sumber daya manusia dan sumber daya buatan. Konservasi flora dan fauna 3. konservasi air hitam 4. perkebunan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -55 . Berdasarkan Keppres no 32 Tahun 1990 dan berdasarkan hasil kesesuaian lahan dan limitasi penggunaan lahan pada kawasan eks PLG. yaitu: Kawasan Hutan Lindung Kawasan Resapan Air Kawasan Konservasi 1. Lahan Gambut tebal > 3 m 2. yang termasuk kawasan lindung dalam wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah sebagai berikut: Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahnya. pariwisata dan kawasan lainnya. pertanian tanaman pangan.

pariwiasata yang lebih melihat kepada pola penggunaan lahan yang terjadi oleh masyarakat yaitu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -56 . pertanian. maka klasifikasi rencana pemanfaatan ruang Wilayah Kabupaten barito selatan adalah: Budidaya kegiatan kehutanan 1. Lahan berkembang untuk pengelolaan sumber daya alam dapat diperbaharui yang sesuai dengan kesesuaian wilayah dan ikutannya dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Keppres no 57 Tahun 1990 tentang Jenis. perikanan. Oleh karena itu penetapan rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya Wilayah Kabupaten Barito Selatan ditetapkan dengan berbagai pertimbangan. Pola penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat yang terjadi pada sepanjang aliran sungai. perkebunan. serta mempunyai manfaat bagi masyarakat secara umum. Berdasarkan pertimbangan diatas. Kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) 2. Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) 3. Definisi dan Kriteria Penetapan Kawasan Budidaya. yaitu: RTRW Provinsi Kalimantan Tengah sebagai acuan terhadap produk tata ruang yang lebih tinggi dengan tujuan untuk dapat lebih mensinergikan dan mengintegrasikan penentuan kawasan budidaya. bahan pertimbangan adalah potensi penggunaan ruang kawasan budidaya. Kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan permukiman. investasi swasta dan kebijakan sektoral dalam pola penggunaan lahan. Disini. Dalam merumuskan rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut: Tujuan pengembangan tata ruang wilayah Konsep pengembangan tata ruang wilayah Strategi pengembangan tata ruang wilayah Karakteristik wilayah.(Persero) CABANG I MALANG Rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya merupakan rencana untuk mencapai tujuan penataan ruang yang telah ditetapkan. baik karakteristik eksternal maupun internal.

maka wilayah yang termasuk sebagai wwwilayah pengembangan kawasan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -57 . pelayanan jasa pemerintahan. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perdesaan Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utana pertanian. Berdasarkan pertimbangan rencana pengembangan ekonomi. Delinasi kawasan budidaya / rakyat-rakyat yang memang telah dipergunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dalam jangka waktu yang lama di sepanjang aliran sungai. Oleh karena itu. perikanan. Hal yang sangat penting dalam Yujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten barito Selatan adalah meningkatnya peranan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbarui untuk kemakmuran masyarakat dan mengarah kepada pengembangan agroindustri berbasis masyarakat. perkebunan dan peternakan yang lebih diarahkan sebagai kegiatan produksi yang berskala besar atau Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Kawasan Transmigrasi. yaitu kegiatan budidaya rakyat berada pada wilayah sepanjnag sungai di Kabupaten Barito Selatan. dalam rencana penggunaan dan pemanfaatan ruang kawasan budidaya ini menetapkan bahwa lahan budidaya rakyat (hak tanah ulayat rakyat) berada pada jarak 3 km arah kiri dan kanan sepanjang sungai di Kabupaten Barito Selatan. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Dalam kawasan ini masih terdapat hutan konservasi yang diperbolehkan mengkonversi lahan hutan menjadi kegiatan budidaya lainnya. Dalam Rencana Penggunaan Ruang Kawasan Budidaya ini adalah adanya hak pengusahaan kawasan budidaya oleh rakyat yang memang telah berkembang dan memberikan suatu pola pemanfaatannya. termasuk pengelolaan SDA dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. 3. strategi pengembangan kawasan produksi dan karakteristik fisik dan guna lahan. Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan pertanian.(Persero) CABANG I MALANG pada sepanjang aliran sungai yang dinamakan Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) yang didalamnya lebih diutamakan kepada lahan budidaya yang dilaksanakan oleh masyarakat. yang tujuannya dipergunakan sebagai lahan cadangan untuk kegiatan permukiman.

Pusat kolektor dan orientasi dari kawasan ini adalah Buntok. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perkotaan Kawsan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. Secara umum kawasan perdesaan dibagi menjadi 3 kelompok kawasan: Kawasan I Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Selatan dan Kuala Karau. Kawasan II Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun hilir dan Jenamas. peternakan kecil dan besar. Kegiatan yang dikembangkan dalam kawasan ini adalah perkebunan tanaman keras (karet). Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. buah-buahan. perikanan umum hutan produksi dan pariwisata. perkebunan khususnya karet. Untuk itu maka dilakukan deliniasi terhadap wilayah Kabupaten Barito Selatan yang termasuk sebagai kawasan perkotaan. Kawasan III Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Utara dan Gunung Bintang Awai. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Dalam pengembangan wilayah kabupaten Barito Selatan. 4. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. perlu ditetapkan wialayah yang menjadi kawasan perkotaan guna mengoptimalkan pemanfaatan alahan yang ada. Dalam penetapan kawasan perkotaan ini telah mempertimbangkan rencana pengembangan ekonomi. Wilayah-wilayah yang termasuk kawasan perdesaan ini difungsikan sebagai sentra-sentra produksi sesuai dengan rencana pengembangan ekonomi. peternakan besar dan kecil. strategi pengembangan kawasan produksi. perkebunan tanaman keras dan semusim dan pariwisata. Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. konsep Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -58 .(Persero) CABANG I MALANG perdesaan adalah setiap pusat-pusat desa di Kabupaten Barito Selatan serta pusat-pusat kecamatan yang tidak termasuk kawasan perkotaan.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -59 . perdaganagan.000 orang di luar pulau-pulau tersebut. Secara fisik. Proporsi bangunan permanen lebih besar di tempat itu daripada di wilayah-wilayah sekitarnya. yang lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya. jasa dan lain-lain. Selain kriteria-kriteria yang telah disebutkan. kriteria kawasan perkotaan dapat berupa ruang yang sudah menunjukkan sebagai kawasan perkotaan atau dapat berupa kawasan yang dicadangkan sebagai perluasan atau pengembangan kawasan perkotaan.000 orang di pulau Jawa. kriteria wilayah yang termasuk wilayah kota terbagi berdasarkan ciri-ciri secara fisik dan sosial-ekonomi. seperti: pemerintahan. Merupakan pusat kegiatan ekonomi yang menghubungkan kegiatan pertanian wilayah sekitarnya dan tempat pemasaran atau prosesing bahan baku untuk kegiatan industri. jumlah bangunan. Madura dan Bali. atau 10. 7 Tahun 1986. industri. yang menjadi ciri kawasan perkotaan adalah: Mempunyai jumlah penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya. Dari aspek sosial ekonomi. yang dalam satu kesatuan areal terbangun berjumlah sekurang-kurangnya 20. Menurut Permendagri No. Mempunyai kepadatan penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah sekitarnya. Kawasan tersebut saat ini dapat saja belum merupakan kawasan perkotaan akan tetapi dicadangkan/direncanakan sebagai kawasan perkotaan untuk kurun waktu yang akan datang. Mempunyai proporsi jumlah penduduk yang bekerja di sektor-sektor non pertanian. kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya. Mempunyai lebih banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi daripada wilayah sekitarnya. karakteristik fisik dan guna lahan serta kriteria-kriteria yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah tentang penataan ruang kawasan perkotaan.(Persero) CABANG I MALANG pengembangan ruang wilayah Kabupaten. yang termasuk kawasan perkotaan mempunyai ciri-ciri: Tempat permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. letak. ukuran dan fungsi kawasan lindung dan budidaya. Kawasan Lindung Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian kemampuan lingkungan hidup mencakup Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -60 .4 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Utara Rencana pola pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara meliputi batasbatas kawasan lindung dan kawasan budidaya.5. 1.5 Peta Kawasan Lindung Kabupaten Barito Selatan 2.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -61 . Sungai yang berada di kawasan permukiman (sempadan Sungai) lebih kurang 10-15 m (untuk jalan inspeksi. maka perlu dilakukan beberapa upaya antara lain: Mencegah dilakukannya kegiatan budidaya di sepanjang sungai yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air sungai. Untuk memantapkan fungsinya sebagai kawasan lindung. maka Pemda Kabupaten Barito Utara perlu mengembalikan fungsi kawasan lindung yang saat ini sudah hilang/rusak menjadi fungsi awalnya. Mengamankan aliran sungai. Kawasan Perlindungan Setempat Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990. fauna dan tipe ekosistem serta keunikan alam Dalam kebijaksanaan pengelolaan kawasan lindung diperlukan pendekatan yang terintegrasi antara kepentingan pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal dengan pelestariannya. Melakukan pengendalian terhadap kegiatan yang telah ada di sepanjajng sungai agar tidak berkembang lebih jauh. Adapaun sasaran ditetapkannya kawasan lindung adalah untuk: Meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah. Mempertahankan keanekaragaman flora. sumberdaya buatan guna kepentingan pembangunan pembangunan berkelanjutan. air dan iklim. Pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Barito Utara secara umum ditujukan untuk mencegah kemungkinan timbulnya berbagai kerusakan fungsi lingkungan hidup dan permasalahan kelestariannya.(Persero) CABANG I MALANG sunberdaya alam. sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi sungai: Lebih kurang 100 m di kiri-kanan sungai besar dan 50 m di kiri-kanan anak sungai yang berada di luar kawasan permukiman. Pengelolaan kawasan lindung adalah upaya penetapan. pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan lindung. Untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan bawahannya.

masyarakat maupun swasta. dengan kriteria daerah yang diidentifikasikan sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi. Kawasan htan lindung di Kabupaten Barito Utara seluas 90.95% dari luas total kabupaten. lahan-lahan yang memiliki kemiringan diatas 40% atau memiliki kemiringan 15-40% pada tanah-tanah yang sangat peka terhadap erosi diarahkan fungsinya sebagai kawasan hutan lindung.(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kepada Kawasan Bawahannya Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990 dan SK Menteri Pertanian No. sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. Agar tercipta kawasan budidaya yang harmonis/ideal maka dalam pemanfaatan ruangnya diperlukan rencana dan arahan yang berdaya guna dan berhasil guna bagi hidup dan kehidupan manusia. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama utnuk kegiatan budidaya berdasarkan kondisi dan potensi sumberdaya alam. gempa bumi dan tanah longsor. - Kawasan Pelestarian Alam Kabupaten Barito Utara memiliki potensi wisata alam dan sejarah yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Kawasan Rawan Banjir Kawasan Rawan Longsor Kawasan Rawan Erosi dan Longsor 2.066 Ha atau 7. 837/KPTS/Um/11/1980. kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Rencana pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara mengarah kepada pola pemanfaatan hutan di bagian hulu dan tengah sub DAS anak Sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -62 . Adapun wisata alam/sejarah yang perlu mendapat pembinaan dan pengembangan adalah: Kawasan Suaka Alam Kawasan Cagar Budaya - Kawasan Rawan Bencana Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990.

700 Prosentase Dari luas kabupaten 20.46% 4.536 Ha (49% dari luas wilayah) yang terdiri dari: Tabel 2. Hutan Produksi (HP). Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Kawasan Pengembangan Produksi (KPP).967 311. Rencana lokasi kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan penegembangan hutan produksi di wilayah Kabupaten Barito Utara tersebar di seluruh wilayah Kabupaten seluas ± 557.00% 11.(Persero) CABANG I MALANG Barito.245 119. sedangkan kawasan permukiman perkotaan dan kawasan pengembangan produksi dikembangkan di bagian hilirnya.00% 28. Kawasan Budidaya Hutan Kawasan budidaya hutan terdiri dari Hutan Produksi Terbatas (HPT).Pembudidayaan sumberdaya alam pada kawasan hutan produksi bersifat terbatas.109 50.00% - Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) Kawasan Pertanian Kawasan Perkebunan Kawasan Peternakan dan Perikanan Kawasan Permukiman dan Transmigrasi Kawasan Industri Kawasan Pertambangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -63 .8 Luasan Kawasan Budidaya Hutan di Kabupaten Barito Utara No 1 2 3 4 Jenis Hutan Produksi Terbatas (HPT) Hutan Produksi (HP) Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Luas (ha) 220.

13 2.67 50.95 0.200 jiwa dan pada tahun 2015 direncanakan mengalami peningkatan menjadi 75. Rencana Permukiman Perkotaan dan Perdesaaan Pengembangan Permukiman Perkotaan Pengembangan permukiman perkotaan dideliniasi berdasarkan pusat-pusat pelayanan dan fungsi pelayanannya.20 0.72 311.931.500 jiwa sedangkan pada tahun 2015 direncanakan seluas 25.43 10.303.336.67 91.132.06 7.245. Pengembangan Permukiman Perdesaan Rencana pengembangan permukiman perdesaan akan dikembangkan pada masing-masing desa/kelurahan yang terjangkau oleh skala pelayanan sistem pusat-pusat.066.9 Alokasi Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Barito Utara Tahun 20062007 No A Penggunaan Lahan Kawasan Lindung Hutan Lindung Cagar Alam B Kawasan Budidaya Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi Hutan Tanaman Industri Kawasan Pengembangan Produksi Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain Areal Transmigrasi Industri Jumlah sumber: Hasil rencana tahun 2005 Keterangan : Floating zone tambang : 217.80 1.45 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 56.46 4.194.118 Ha Hutan dan non Hutan : 78.561.699.50 27.45 % dan 21.94 ha dengan daya tampung penduduk mencapai 72.947.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.00 1.53 307.00 119.108. Adapun kebutuhan lahan permukiman perdesaan pada tahun 2011 direncanakan 70.035.00 3.48 24.57 % 8.88 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 80. adapaun deliniasi luasan permukiman perkotaan pada tahun 2011 mencapai 22.966.54% Luas (ha) 97.00 ha untuk daya tampung penduduk sebesar 60.050 jiwa.62 7.71 220.57 27.640.750 jiwa.013. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -64 .000.86 90.31 1.38 19.627.09 100.897.

udara secara saling serasi dan selaras.5.6 Peta Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Barito Utara 2. Program Pemanfaatan Pada Kawasan Lindung. Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • Pengembangan SDM (sumber daya manusia) di bidang kehutanan.5 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Timur 1. laut. Mempertahankan luas kawasan lindung yang telah ada.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. melalui perlindungan kawasan-kawasan di darat. Memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup. Pelestarian dan pengembangan program wisata budaya. • • Mempertahankan sempadan sungai. penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -65 .

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -66 . Program pengelolaan hutan masyarakat. konservasi dan rehabilitasi sumber daya alam. Menetapkan kawasan fungsi lindung yang juga mencakup perlindungan terhadap kawasan rawan bencana. Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan permukiman yang tidak menunjang fungsi utama kawasan. Menertibkan kegiatan illegal logging di kawasan hutan lindung. Penyusunan master plan drainase. Penertiban aktifitas pertanian.(Persero) CABANG I MALANG Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • Mengembalikan fungsi kawasan hutan lindung yang telah ada. Meningkatkan efektifitas pengelolaan. Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • • Mengendalikan dan mencegah kegiatan-kegiatan budidaya di kawasan lindung. Mencegah dan mengendalikan kerusakan dan kebakaran hutan. Melakukan reboisasi.

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.10 Garis besar program pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung Kabupaten Barito Timur
No Kawasan Lindung Jangka Panjang Seluruh kawasan lindung  berbentuk hutan Pengembangan SDM di Bidang  Kehutanan Garis Besar Program Jangka Menengah * Mengembalikan fungsi kawasan    hutan lindung yang telah ada * Rehabilitasi hutan dan    lahan kritis * Program penghijauan * Program pengendalian erosi dan    konservasi air * Program Pengelolan hutan   bersama masyarakat * Penertiban aktifitas pertanian    dan permukiman Jangka Pendek Sosialisasi dan penyuluhan kegiatan penghutanan dan reboisasi, konservasi rehabilitasi untuk seluruh kawasan lindung di luar hutan termasuk pencegahan kebakaran hutan dan pencegahan Illegal Logging * Sosialisasi penghutan dan    reboisasi * Penertiban * Sosialisasi penghijauan    dan reboisasi. Pelaksana Dinas Kehutanan Kabupaten dan  Propinsi Departemen Kehutanan

1 Kawasan Lindung  untuk Kawasan Hutan

2 Kawasan Resapan air

Seluruhnya berbentuk hutan

Dinas Kehutanan Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pertanian Kabupaten Kantor Kebersihan dan Pertamanan Dinas Parbud Kabupaten

3 Kawasan Perlindungan setempat: sempadan sungai, kawasan sekitar waduk, sekitar mata air sempadan jalan 4 Kawasan Cagar Budaya

mempertahankan  penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi sempadan

* Penertiban aktifitas pertanian   dan permukiman * Penghijauan dengan tanaman    keras/tahunan yang memiliki    nilai ekonomi * Pelestarian budaya * Pengembangan Program Wisata    Budaya yang Lestari dan   Berkelanjutan * Promosi wisata budaya Penyusunan master plan drainase

* Pelestarian budaya * Pengembangan program   wisata budaya yang   lestari dan berkelanjutan Pembangunan drainase prasarana pematusan air/ hujan menyeluruh * Terasering * Pelarangan pertanian     pada kawasan rawan    longsor

Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan per‐ mukiman yang tidak menun‐ jang fungsi utama kawasan Pemberian IMB berdasarkan KDB dan KLB terbatas Sosialisasi KDB dan KLB Penertiban aktifitas  pertanian

5 Kawasan Rawan  Bencana banjir/ genangan 6 Kawasan Rawan Bencana gerakan tanah /tanah longsor

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten dan Propinsi Dinas Pertanian

* Terasering * Pembangunan prasarana    drainase

2. Program Pemanfaatan Pada Kawasan Budidaya Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain: • • • Memanfaatkan sumber daya alam secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah. Mengembangkan kegiatan-kegiatan budidaya beserta prasarana penunjangnya secara sinergis. Megembangkan dan mempertahankan kawasan budidaya pertanian tanaman pangan nasional. Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Memanfaatkan ruang kawasan budidaya secara optimal sesuai dengan kemampuan daya dukung lingkungan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -67

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum pengembangan kawasan budidaya diarahkan untuk mengakomodasi kegiatan produksi lahan basah dan kering (pertanian, perkebunan, perikanan, hutan produksi), permukiman dan pariwisata.

Pengembangan kawasan budidaya pertanian perlu diarahkan pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi/kesesuaian lahan serta adanya dukungan pengembangan kawasan prasarana budidaya pengairan/irigasi diarahkan serta untuk memperhatikan pembangunan berkelanjutan.

Pengembangan

kehutanan

mewujudkan pengelolaan hutan lestari melalui pemantapan kondisi kawasan hutan, perencanaan, pengamanan dan perlindungan hutan yang terpadu melalui pengendalian penebangan liar dan penanggulangan kebakaran hutan serta rehabilitasi kawasan hutan kritis. Memenuhi bahan baku industri hilir dengan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan pengembangan hutan rakyat. Memperkuat kelembagaan masyarakat dalam rangka mitra sepaham pembangunan kehutanan dan peningkatan kesejahteraan. Menghindari terjadinya konflik kepentingan/penguasaan kerjasama lahan/kawasan lembaga hutan. peneliti Mengembangkan hasil hutan. • Pengembangan kawasan permukiman meliputi upaya untuk mendorong pengembangan pusat-pusat permukiman perdesaan sebagai desa pusat pertumbuhan terutama wilayah desa yang mempunyai potensi cepat berkembang dan dapat meningkatkan perkembangan desa di sekitarnya dan mendorong pengembangan permukiman sub urban atau kota baru pada daerah peripheral kota-kota metropilitan dan kota besar untuk memenuhi kebutuhan perumahan pada kota-kota tersebut dan sekaligus berperan sebagai penyaring arus migrasi desa-kota. • Pengembangan kawasan pariwisata diarahkan pada objek-objek wisata alam dan budaya dengan memperhatikan pelestarian lingkungan dan mengembangkan prasarana penunjang. • Pengembangan kawasan industri meliputi upaya untuk mendorong pengembangan industri pengolahan dan agro industri untuk meningkatkan nilai tambah sektor-sektor produksi wilayah seperti pertambangan, pertanian, perkebunan dan hasil hutan memberikan prioritas penanganan kawasan-kawasan industri. dengan

lokal/regional/internasional dalam rangka mengembangkan produk

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -68

(Persero) CABANG I MALANG

Pengembangan kawasan pertambangan meliputi mengembangkan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya energi dan mineral secara optimal dengan memperhatikan daya dukung lingkungan secara makro dan mikro: mengendalikan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya pertambangan secara ilegal terutama untuk mencegah dampak lingkungan terhadap wilayah sekitarnya, dan memprioritaskan pengelolaan kawasan-kawasan pertambangan yang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Mengendalikan pemanfaatan ruang pada kawasan budidaya agar tidak terjadi konflik antar kegiatan/sektor. Pengendalian pemanfaatan ruang sebagai suatu bagian mekanisme pengelolaan tata ruang perlu dilakukan melalui penyelesaian permasalahan tumpang-tindih yang ada serta upaya preventif untuk mencegah terjadinya konflik.

Penentuan prioritas dalam pemanfaatan ruang antar kegiatan budidaya sehingga dapat lebih terarah dan fleksibel sesuai dengan tuntutan perkembangan.

Penentuan prioritas pengembangan sistem prasarana kawasan pada bidang transportasi dan faktor produksi yaitu dengan mengembangkan jaringan jalan yang menghubungkan sentra-sentra produksi dengan pusat koleksi dan distribusi di tingkat lokal, intra regional dan inter regional.

Pengalokasian rencana pemanfaatan lahan yang lebih tegas dan bersifat flesibel.

Program pemanfaatan budidaya pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Pengembangan hutan produksi antara lain meliputi: a. Pengusahaan hutan produksi melalui pemberian ijin HPH pola tebang pilih. b. Pengembangan zona penyangga pada kawasan hutan produksi yang berbatasan dengan hutan lindung. c. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan hutan serta perladangan berpindah. d. Pemanfaatan ruang pada kawasan hutan produksi konversi untuk kegiatan pertanian (perkebunan dan tanaman pangan) sesuai dengan potensinya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -69

(Persero) CABANG I MALANG

e. Pengembangan pola tanaman industri. f. Reboisasi dan rehabilitasi lahan pada bekas tebangan HPH. g. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lainnya (pertanian, pertambangan) • Pemanfaatan ruang kawasan pertanian meliputi: a. Perluasan areal persawahan baru (ekstensifikasi) pasang surut dan aluvium. b. Pengembangan prasarana pengairan. c. Pembentukan kawasan Agroopolitan di kota Ampah. d. Pengendalian kegiatan lain agar tidak mengganggu lahan pertanian khususnya sawah pasang surut. e. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lain. • Pemanfaatan ruang kawasan perkebunan meliputi upaya untuk: a. Peremajaan dan perluasan areal tanaman perkebunan sesuai dengan potensi/keseluruhan lahannya secara optimal, diarahkan ke Kecamatan Awang dan kecamatan Petangkep Tutui. b. Pengamanan daerah aliran sungai. • Pemanfaatan ruang kawasan pariwisata meliputi upaya untuk: a. Penataan ruang kawasan pariwisata. b. Pengembangan obyek wisata dan fasilitas pariwisata. • Pemanfaatan Ruang Kawasan Perindustrian adalah: a. Penataan ruang kawasan industri. b. Penyediaan prasarana pendukung kawasan industri. • Kebijaksanaan pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman adalah: a. Penataan ruang kota (RUTRK, RDTRK, RTRK) b. Pengembangan desa-desa pusat pertumbuhan. c. Pengembangan permukiman transmigrasi lokal. • Kebijaksanaan Pemanfaatan Ruang Kawasan Pertambangan adalah: a. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan pertambangan agar tidak mengganggu fungsi lindung. b. Pengembalian fungsi lindung pada kawasan bekas kuasa pertambangan. yaitu melakuakan penyusunan RTRK dan peninjauan kembali (evaluasi, revisi) RTRK.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -70

(Persero) CABANG I MALANG

3. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan dan Perkotaan Dalam suatu wilayah Kabupaten terdapat dua jenis kawasan fungsional yaitu kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan serta bisa terdapat kawasan tertentu. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan, Perkotaan dan Kawasan Tertentu dirumuskan untuk mencapai keserasian hubungan fungsional antara kawasan-kawasan tersebut. Bentuk bentuk pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu meliputi: • Kelembagaan Meliputi pembagian dan kewengan swasta, pengelolaan lembaga kawasan perdesaan, dan perkotaan dan tertentu yang melibatkan pemerintah Kabupaten, Kecamatan kawasan Desa, kemasyarakatan dapat masyarakat secara langsung. Hubungan kerjasama dalam pengelolaan perdesaan/perkotaan/tertentu juga melibatkan beberapa pemerintah kabupaten apabila kawasan mencakup dua atau lebih daerah otonom yang berbatasan secara langsung. • Program Pemanfaatan Meliputi garis besar program pemanfaatan yang diindikasikan pada kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu untuk jangka panjang, menengah dan pendek • Pengawasan Meliputi tata cara dan prosedur pengawasan terhadap kebijakan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dantertentu. Misalnya untuk pengelolaan kawasan perdesaan, dirumuskan kebijakan pengendalian konversi pemanfaatan ruang yang memperhatikan keberlanjutan dan pemenuhan kebutuhan hidup seperti udara, air dan pangan, mengingat dominannya sumber daya alam di kawasan perdesaan. Aspek pengawasan dalam pengelolaan kawasan melibatkan pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa bersama-sama dengan masyarakat. • Penertiban Meliputi tata cara dan prosedur pelaporan terhadap pelanggaran pelaksanaan kebijakan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -71

(Persero) CABANG I MALANG

2.5.6 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kuala Kapuas 1. Kabupaten Kapuas Sebagai bagian dari WS Kapuas, wilayah Kabupaten Kapuas hampir seluruhnya terletak di DAS Kapuas, dan berada pada posisi perbatasan antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Kondisi Kabupaten ini disusun sebagai informasi kajian analisis wilayah yang sangat relevan dengan rencana tata ruang dan master plan pada DAS Kapuas. Berdasarkan informasi awal kajian tata ruang ini, akan memberikan arahan dalam penyusunan master plan sumber daya air DAS Kapuas. Kebijaksanaan perwilayahan pembangunan dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas 1994/1995 – 1998/1999 membagi wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas atas 5 (lima) wilayah pembangunan, yaitu : 1. Wilayah Pembangunan Bagian Utara, meliputi kecamatan Kahayan Tengah, Banama Tingang, Sepang, Kuala Kurun, Tewah, Kahayan Hulu Utara, dengan Pusat Pengembangan Kuala Kurun. 2. Wilayah Pembangunan Bagian Selatan, meliputi kecamatan-kecamatan Selat, Kapuas Hilir, Pulau Petak, Kapuas Murung, Kapuas Timur, Basarang, dan Kapuas Kuala dengan pusat pengembangan Kuala Kapuas. 3. Wilayah Pembangunan Bagian Timur, meliputi Kecamatan-kecamatan Timpah, Kapuas Tengah, dan Kapuas Hulu dengan pusat perdagangan Timpah. 4. Wilayah Pengembangan Bagian Barat, meliputi Kecamatan-kecamatan Rungun dan Manuhing, dengan pusat pengembangan Tumbang Jutuh. 5. Wilayah Pembangunan Bagian Tengah, meliputi Kecamatan-kecamatan Kahayan Hilir, Kahayan Kuala, Pandih Batu, Kapuas Batu, dan Mantangai, dengan pusat pengembangan Pulang Pisau. 2. Fungsi dan Peranan Kota Kuala Kapuas Dengan demikian, dari kebijaksanaan tersebut Kota Kuala Kapuas, selain sebagai pusat utama Kabupaten Dati II Kapuas, berfungsi secara khusus sebagai pusat pengembangan wilayah pembangunan bagian selatan, yang melayani/membawahi wilayah fungsional yang relatif berbatasan dengan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -72

(Persero) CABANG I MALANG

Provinsi Kalimantan Selatan.

Kawasan WP Bagian Selatan relatif lebih

maju dibandingkan wilayah lainnya, terutama bila dilihat dari indicator kependudukan, kegiatan ekonomi, kelengkapan fasilitas dan fasilitas umum, serta jarak dan aksesibilitas dan transportasi wilayah. Dalam kajian ini, disusun kajian mengenai peran Kota Kuala Kapuas, sebagai pusat pengembangan wilayah Kabupaten Kapuas, yang mewakili peranan pengembangan DAS Kapuas. Berdasarkan hasil analisis terhadap potensi dan masalah perkembangan kota yang terjadi selama ini dan antisipasi terhadap masa yang akan dating, maka fungsi dan peranan Kota Kuala Kapuas yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut. A. Fungsi Primer 1. Pusat Pemerintahan Tingkat Kabupaten : sesuai peran sebagai ibukota kabupaten Kapuas, skala kerja Bupati 2. Kegiatan transportasi : potensi sebagai kota transit, baik angkutan sungai maupun darat 3. Kegiatan perdagangan dan jasa : mendukung Kota Kuala Kapuas sebagai pusat pengembangan wilayah dan jalur transportasi wilayah 4. Pendukung kegiatn industri : fungsi yang berkenaan dengan industri di wilayah interland kita yang terkait dengan hasil hutan. B. Fungsi Sekunder Fungsi sekunder yang utama adalah sebagai permukiman yang meliputi ketersediaan tempat hunian/wisma, tempat kerja, tempat rekreasi, dan fasilitas social. Keseluruhan komponen tersebut diperuntukan bagi penduduk kota saja. 3. Karakteristik Umum Kota Kuala Kapuas Wilayah perencanaan merupakan bagian dari wilayah Kota Kuala Kapuas yang berfungsi sebagai pusat pemerintah Kabupaten Kapuas, dan luas efektif kota adalah sebesar 2,733 Ha. Secara fisik, wilayah Kota Kuala Kapuas dipengaruhi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung, yang sekaligus menjadi pusat orientasi kegiatan air dan ini merupakan ciri khas kota air.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -73

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum, kawasan ini dapat dikembangkan untuk kegiatan kota, walaupun pada beberapa bagian wilayah kota Kapuas sangat besar dipengaruhi oleh genangan air pasang surut Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Hal ini menimbulkan terjadinya genangan air sepanjang tahun. Ditinjau dari pola tata guna lahan, sebagian besar dari kawasan terbangun yang ada merupakan kawasan perumahan yang sangat padat dengan kondisi bangunan dan lingkungan yang kurang baik. Lokasinya cenderung mengelompok di sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Pada posisi ini, maka pengembangan sector sumber daya air pada kedua sungai tersebut mengacu pada rencana peruntukan kota, yang memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai sebagai kawasan sentra pengembangan wilayah. 4. Tata Guna Tanah dan Kondisi Lingkungan Ditinjau dari tata guna tanahnya, sebagian besar digunakan untuk perumahan dan perdagangan. Penggunaan lainnya yang cukup menonjol adalah perdagangan yang terdapat di pusat kota dan kegiatan pemerintahan. Pada lahan-lahan yang relatif kosong terdapat lahan yang potensial untuk dikembangkan dan juga sulit dikembangkan karena merupakan tanah lempung yang berlumpur yang dalam. Masalah lingkungan yang cukup serius adalah lingkungan di tepian Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung yang berada di dekat atau di pusatpusat perdagangan dan jasa. Umumnya kondisi perumahan perpetakan bangunan dan kegiatan kurang terencana sehingga memberikan kesan kumuh (slums area). Juga masalah prasarana lingkungan masih relatif kurang memenuhi kebutuhan, khususnya air bersih dan sanitasi. Pada beberapa bagian di wilayah perencanaan ini dijumpai adanya penggunaan ganda (mix – used) serta pola distribusi kepadatan bangunan yang kurang merata dan banyaknya bangunan dengan kondisi yang kurang memadai. Untuk mengatasinya dapat diusahakan melalui peningkatan kondisi lingkungan, program perbaikan kampong (KIP), program kali bersih (Prokasih), resettlement dan lain-lain.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -74

(Persero) CABANG I MALANG

5. Rencana Struktur Kota Kuala Kapuas Rencana struktur ruang merupakan pedoman dasar bagi pengembangan suatu wilayah atau kawasan tertentu, yang selanjutnya akan menunjukan pola tata ruang yang sesuai dengan fungsinya yang lebih berorientasi pada pelayanan umum dan memenuhi kebutuhan warga kota secara optimal. Tujuan dan sasarannya adalah sebagai berikut : a) mengarahkan tingkat pertumbuhan Kota Kuala Kapuas ke wilayahwilayah BWK dan sub BWK sesuai dengan potensi dan porsi fungsi kota. b) c) d) Mengatur mekanisme untuk perkembangan penentuan fungsi kota dan intensitas ruang fisik secara keseluruhan. Mewujudkan pemerataan pengembangan ataupun pembangunan wilayah ke dalam BWK (bagian wilayah kota) Memberikan pedoman bagi pola peruntukan lahan beserta pembangunan fisik, terutama berkaitan dengan penyediaan fasilitas dan utilitas untuk menunjang BWK Kuala Kapuas yang aman, indah, dan ramah (sebagai Kota Air). 6. Rencana Pengembangan Kota dan Pembentukan Unit Pelayanan Untuk mengurangi permasalahan yang ada saat ini maupun yang akan dijumpai pada masa mendatang, maka Kota Kuala Kapuas dibagi menjadi 3 (tiga) Bagian Wilayah Kota (BWK), yaitu BWK Selatan, BWK Utara, BWK Timur. Setiap BWK tersebut terdiri dari satu sub bagian wilayah kota (Sub – BWK) dan beberapa pusat-pusat pelayanan. Fungsi bagian wilayah Kota Kapuas adalah sebagai berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -75

praktek dokter) 7 Pusat pengembangan industri besar/menengah di Kelurahan Murung Keramat 1 Pusat pemerintahan skala wilayah kerja bupati 2 Pusat pengembangan perdagangan skala local dan regional 3 Pusat pengembangan pariwisata di Pulau Telo 4 Pusat pengembangan dan pendidikan dan lapangan olah raga (stadion Olah Raga) 5 Pengembangan perkantoran 6 Pengembangan permukiman skala BWK 7 Pengembangan terminal regional dan kota 8 Pengembangan sub terminal kota 9 Pengembangan dermaga barang 10 Pengembangan dermaga antar kota 1 Pusat pemerintahan skala kecamatan dan kelurahan 2 Perkantoran 3 Pengembangan industri kecil (tersebar) 4 Lapangan olah raga 5 Pengembangan permukiman 6 Perumahan terbatas (permukiman DAS) 2 BWK UTARA 3 BWK TIMUR Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK 7.14 0.45 0.57 1. Dalam buku RUTK Kuala Kapuas telah ditetapkan rencana penggunaan lahan Kota Kuala Kapuas.65 100 45.69 0.37 1.00 1.05 1.13 2004 LUAS (Ha) 1.99 100 49.07 0.733.38 1.89 31.00 1.49 % 32.23 1.15 12.46 0.77 1.88 2.311.553.72 2.38 56 48.94 57.733.5 1.238.97 2.85 1.5 1.99 67.88 43.96 1.05 56.87 2.99 1.28 1.86 10.76 1.59 2.82 100 41.12 Rencana Tata Guna Lahan Kuala Kapuas.00 1.18 42.2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 JENIS PENGGUNAAN Perumahan dan jalan Perkantoran Perdagangan dan jasa Peribadatan Kesehatan Pendidikan Olah raga /taman Sempadan sungai Jaringan jln Tempat pemakaman Pertanian terbuka TOTAL KAW TERBANGUN 1999 LUAS (Ha) 919.84 2.42 18.78 0.58 53.45 56 34.96 Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK Keterangan : Sempadan Sungai dan Pertanian bukan merupakan kawasan terbangun Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -76 . Tabel 2.5 1.33 2009 LUAS (Ha) 1.00 % 36.05 1.39 1.007.66 1. Rencana Penggunaan Lahan Salah satu rencana yang paling penting adalah rencana penggunaan lahan.76 1.93 10.86 10.089.27 0.124.438.55 50. 1999 .05 56 34.05 1.01 0.733.11 Fungsi dan Bagian Wilayah Kota (BWK) Kuala Kapuas No 1 BWK BWK Selatan FUNGSI BWK 1 Perkantoran 2 Pusat perdagangan dan Jasa 3 Perumahan dan permukiman terbatas (DAS) di Pusat Kota 4 Pendidikan 5 Olah Raga 6 Kesehatan (RSU.68 2.05 47.27 0.365.05 52.00 2. Puskesmas.75 77.09 0.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.51 2.4 48.00 % 33.24 47.07 0.

Hal ini menjadikan kota ini menjadi kota transit. pusat pengembangan skala pemerintahan kabupaten dan pusat adalah terpusat pada kawasan kota. yaitu telah terbukanya jalur jalan lintas Kalimantan Poros Selatan sebagai pergerakan arus barang dan pergerakan penduduk di masa yang akan datang. pendidikan.(Persero) CABANG I MALANG 8. perdagangan. Adapun pola perkembangan fisik kota berbentuk grid – liner. Untuk rencana pengembangan BWK Timur terdapat pada Kecamatan Kapuas Hilir sebagai pengembangan penduduk terbatas dan sebagai kawasan pengembangan KAPET (kawasan pengembangan ekonomi terpadu) di Kalimantan Tengah. yang berfungsi sebagai pusat pengembangan perkantoran. Adapun arah utama perkembangan kota Kuala Kapuas saat ini Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -77 . dan jasa. Perkembangan Fisik Bagian Kota Perkembangan fisik bangia wilayah Kota Kuala Kapuas pada awalnya berkembang dari pola permukiman penduduk yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). yaitu di sepanjang daerah aliran sungai dan disepanjang jalur transportasi darat. pembangunan bagi daerah sekitarnya. Mengingat perkembangan kota kuala kapuas semakin berkembang di jalur transportasi darat. Direncanakan pengembangan kawasan terbangun kearah Bagian Wilayah Kota Utara sebagai pusat pengembangan BWK Utara di bundaran besar (jalur lalu lintas Kalimantan poros selatan).

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.7 Peta Penggunaan Lahan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -78 .

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.8 Peta Penggunaan Lahan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -79 .

091 87.900 Sumber :Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka.751 2007 269.152 106.659 335.360 1.434% per tahun.863 81.956 2003 116.053 2003 251.969 Pertumb 2006 258.382 2007 128. periode 2002 – 2007 turun menjadi 1.063 83.580 82.15 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.92 Sumber :Propinsi Kalimantan Tengah Dalam Angka.932 2005 122.218 112.082 86.209 2004 253.019 5.992 342.397 355.6.448 Pendd% 0.448 jiwa. jumlah penduduk Kalsel yang masuk dalam WS Barito-Kapuas pada bulan Februari 2007 sebanyak 269.996.325 69.14 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2002 – 2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 114.470 2005 255.008 77.604 2004 119. 2007 Tabel 2.557 109.580 1.615 88.448 Luas (km2) 2.567 348.266 91. 2007 Tabel 2. Pertumbuhan pertahun cukup fluktuatif dengan toleransi rendah.148 113.96 Kepadatan / km2 90 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -80 .340 1.823 107.(Persero) CABANG I MALANG 2.656 Pendd% 2.117 81.163 73.355 110.395 Pertumb 2006 125.6 ASPEK SOSIAL EKONOMI 2. Jumlah dan kepadatan penduduk Kalimantan Selatan yang termasuk dalam WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut: Tabel 2.555 329.13 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2002 – 2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 248.567 83.668 323.1 Kependudukan Berdasarkan laporan pada Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan.

458 4.00 23.00 57.87 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 2.076 4.19 sebagai berikut.75 15.584 Rata2 per RT 3.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.082 Luas (km2) 6.716.834. Tabel 2.570 20.148 113.16 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128.082 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Jumlah RT 23.527 26.002.17 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.656 777.321 3.18 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga Tiap Kabupaten WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128.656 777.00 3. Kondisi desa-desa pada kabupaten tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.615 88.194 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Sumber : Hasil Perhitungan Jumlah rata-rata jiwa per rumah tangga merupakan dasar perhitungan bagi proyeksi jumlah konsumen / pelanggan air bersih sehingga berfungsi sebagai asumsi dalam analisis.397 355.341.447 4.300.615 88.266 91.911 4.148 113.504 87.31 Sumber : Hasil Perhitungan Perkembangan jumlah kabupaten atau kota ditentukan pula oleh perkembangan desa di kawasan tersebut. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -81 .149 Rata2 per RT 5.252 180.00 8.397 355.266 91.296 22.448 Kepadatan / km2 90 Jumlah RT 69.

2 Mata Pencaharian dan Pendapatan Penduduk 2. Pe r Ke ua Pe r La in ny a ng an n Ai r ng un a ta ni a da n Ja s a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -82 . Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Selatan didominasi penduduk yang berumur 25 sampai dengan 29 tahun.6.60 4. Relatif masih rendahnya tingkat pendidikan SDM yang bekerja. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor Pertambangan 0. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor.33 1.6. 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis.12 3.19 Kondisi Desa Tiap Kabupaten di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Desa 200 Desa Swadaya 0 Desa Swakarya 0 Desa Swasembada 200 Sumber : Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka.81 15.95 1.15 8. memiliki tingkat pendidikan dasar.2.00 60.48 1. 2007 2.00 10.10 3.00 - 59.1 Barito Selatan Dari keseluruhan penduduk Barito Selatan.34 1. tidak/belum tamat SD/sederajat. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan. Sebagian besar (69%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor Pertanian. terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri.00 30.00 20.1%. 70.9 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Selatan Lis t rik .12 An gk ut an In du st ri n da ga ng an ba ng an ta m Ga s Ba Pe r Gambar 2.00 40.00 50.

94 1.00 75.3 Barito Timur Dari keseluruhan penduduk Barito Timur.G as & Ai r Ba ng un Pe an rd ag an ga n An gk ut an Ja Ke sa ua Ke ng m an as ya ra ka ta n La in ny a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -83 .78 0. Relatif masih rendahnya tingkat pendisikan SDM yang bekerja.15 0.42 % berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis. 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis.00 20.00 40.2 Barito Utara Dari keseluruhan penduduk Barito Utara.00 60.00 50. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor keuangan yaitu 0. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 21.96 0. Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Timur didominasi penduduk yang Pe rt a Pe ni an rt a m In ba du ng st ri an Pe ng ol Li ah st ri k an .29 Gambar 2. kesempatan.62 7.30 % masih belum mendapatkan 80. 2.55 2.46 8. Sebagian besar (31. terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri.91 0.(Persero) CABANG I MALANG 2.70 % dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan.00 10.6. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.33 1. dan sisanya sekitar 78.10 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Gambar diatas menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha.2.6.56 %) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian.00 70.05%.2. 78.00 30.00 0.

Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan.430 jiwa. Demikian pula penduduk yang bukan angkatan kerja turun dari 54.4 Barito Kuala Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2007 yang dilakukan BPS angkatan kerja ditahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu dari 132. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS ah as en isw a gu ru s Be R lu Pe T m ns /ti da iu n k be ke rja Pe Pe ta rta ni m ba ng an In du st Ko ri nt Pe ru ks rd i ag an Tr a n gan sp or Ke tasi ua ng an PN TN S Id an P Ja olri sa -ja sa La in ny a M Pe la ja r r/ m II -84 .00 5.00 0.05 3.814 jiwa turun menjadi 129.56 35.99 2.85 10.024 jiwa tahun 2006 menjadi 42. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbanggnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.41 Gambar 2.6. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat. Rendahnya tingkat pendidikan SDM yang ada terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja. tidak/belum tamat SD/sederajat.00 25.00 1. Gambar berikut menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha 31.75 0.25 0.93 0. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor memiliki tingkat pendidikan dasar.34 20.78 2.00 9.00 30.99 19.3 %.00 20. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor listrik.14 4.2.33 0. gas dan air minum 0. Sebagian besar (60%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian.00 15. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan.39 1.(Persero) CABANG I MALANG berumur 25 tahun sampai 29 tahun.268 jiwa ditahun 2007.11 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha 2.25 0.

97 23.00 40.96 2. 45.00 25.20 5. yaitu sebesar 1.97%.39 24. pada tahun 2007 jumlah pencari kerja terbesar adalah dari tingkat pendidikan SLTA/sederajad sebesar 41.00 35.119 orang tahun 2007.5 Be lu m Gambar 2. Sedangkan pencari kerja terkecil dari adalah dari lulusan SD/sederajad.12 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Kuala Kapuas /T dk Berdasarkan buku Kapuas Dalam Angka 2007/2008. Gambar berikut menunjukkan prosentase bidang pekerjaan penduduk Barito Kuala 40 35 30 25 20 15 10 5 0 35.311 jiwa pada tahun 2007.544 orang menjadi 127.10 Bu ru h 4.31 8.40 1.17 0. disusul pencari kerja dari Sarjana Muda sebesar 24.52 1.00 10.08 0.66 I PO LR Pe I Pe ns la iu ja na r /M n ah Pe as ta ni is /P wa er ke bu na n Pe Pe da te ga rn ng ak /N Ka el ry ay aw an an Sw as BU ta M N/ BU M D 2.35 0.13 Prosentase Pencari Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan SL TA /s e Sa rja na SD /s e La in -la in Be ke rja PN S AB R Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -85 .10 0.76 2.00 5. Berbeda dengan penduduk yang mencari pekerjaan yang mengalami peningkatan di tahun 2007 dari 4.39%.00 20.00 30.00 15.(Persero) CABANG I MALANG Penduduk yang bekerja juga mengalami penurunan dari 128.81%.00 t ti n gk at ti n gk at tin gk a M ud a Sa rja na S1 41.57 0.28 32.2.81 SL TP /s e Gambar 2.6.38 14.270 jiwa pada tahun 2006 menjadi 2.

Salah satu visi kabupaten di dalam SWS Barito adalah Kabupaten Kapuas yang memiliki visi sebagai daerah pengembangan agrobisnis menuju agroindustri yang mendukung pembangunan daerah.6. yaitu : (1) Group dataran rawa gambut (D) Dataran rawa gambut (Peat Dome D) terbentuk terutama karena pengaruh curah hujan tinggi dan airnya tergenang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. peternakan. Satuan lahan ini bila ditinjau dari posisinya relatif dekat dengan pantai. Berkaitan dengan itu maka strategi pembangunan pengairan adalah bagaimana mengembangkan secara optimal sumber daya air yang ada untuk mencapai peningkatan produksi pangan dan peternakan dimana sektor ini menjadi soko guru ekonomi rakyat. 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -86 . daerah ini didominasi oleh tanah organosol atau histosol dalam system Klasifikasi Soil Toxonomi (USDA) (2) Group dataran rawa marin (B) Rawa marine merupakan suatu kawasn yang berasal dari bahan endapan marin yang terdiri dari bahan liat. dan pasir.1 Sebaran Lahan Rawa Secara fisiografis lahan rawa di Kalimantan dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) group. pariwisata dan pengembangan wilayah desa dan kecamatan.6. meningkatkan penyediaan air baku dan kebutuhan industri.3 Sektor Pertanian Pembangunan di bidang pengairan untuk kegunaan pertanian senantiasa mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Pemerintah dan pengembangan yang terus menerus selalu diupayakan.3. rumah tangga.000 mm. jasa. dan perikanan. lumpur. hal ini guna menunjang dan mendukung Program Ketahanan Pangan.(Persero) CABANG I MALANG 2. sehingga dipengaruhi air pasang surut dan intrusi air asin. Curah hujan tahunan lebih dari 2. Pengembangan diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas bidang pertanian khususnya pangan.

kesesuaian lahan komoditas pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Sehingga setiap lahan akan dapat diperkirakan tingkat kesulitan pengolahan apabila diarahkan untuk peningkatan fungsi dan manfaatnya (reklamasi). seperti nipah. Satuan lahan merupakan dasar penilaian potensi. tipe. bakau. Dataran rawa marin (B) karena lokasinya relatif dekat dengan pantai. dan perikanan. dan katek yang dapat digunakan sebagai indikator. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -87 . kondisi genangan air.140 Ha) dan Kalimantan Tengah (4. Umumnya berpotensi untuk pengembangan pertanian. Kadang-kadang dicirikan juga oleh vegetasi alami yang tumbuh. umumnya termasuk rawa pasang surut. bahan pembentuk.361. Setiap group fisiografi dibedakan menjadi beberapa satuan lahan berdasarkan atas genesisnya. serta tipe dan kedalaman gambut. perkebunan.304 Ha).140. Tabel 2. pedada.(Persero) CABANG I MALANG (3) Group dataran pedalaman /alluvial (A) Rawa ini menempati daerah datar atau dataran pelembahan dan dataran banjir yang umumnya selalu tergenang air. nibung. Kecuali rawa alluvial marin semua lahan yang termasuk dalam group rawa pedalaman /alluvial (A) merupakan rawa non pasang surut. Satuan tersebut disebut satuan kawasan rawa (SKR). Untuk dataran rawa gambut dibedakan menjadi rawa gambut yang dipengaruhi oleh pasang surut (D1) dan dataran rawa air tawar (D2). api-api.20 berikut menyajikan rekapitulasi penyebaran satuan lahan di Kalimantan Selatan (1.

1 A.1 D.194 0 0 94.1 D.2.421 63.1.1 D.389 96.790 896.2.014 0 653.2 A..404 8.189 43. payau Dataran teras berpasir tertutup gambut Rawa gambut ps surut dangkal Rawa gambut ps surut agak dalam Rawa gambut ps surut dalam Jumlah JUMLAH I SUMBERDAYA LAHAN RAWA YG TELAH DIPERUNTUKAN NON PASANG SURUT KAWASAN PERLINDUNGAN RAWA YANG SUDAH ADA Hg Rawa gambut dalam Th Kapasitas tampungan hujan/rawa masa depan Wd Waduk Kawasan pengawetan rawa yang sudah ada HSA Kawasan hutan suaka alam PPA Kawasan perlindungan dan pelestarian alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah Hm Kawasan pantai berhutan bakau HSA Kawasan hutan suaka alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah JUMLAH II JUMLAH SELURUHNYA 530.371 37.961 0 0 0 Kalimantan Tengah 247.1 B.3 29 30 31 32 33 34 35 36 37 RAWA PASANG SURUT Dataran pantai berpasir dan lembah2 diantara beting pasir Dataran pantai berpasir Rawa belakang tanggul pantai dipengauhi ps surut Dataran ps surut berlumpur sepanjang pantai Dataran banjir.1.685 100.361.628 581.090 14.045 0 23.671 45.800 25.530 5.3.702 16.7 A.2.4 B.3.219 0 74.111 74.637 994.7.623 140.784 32. dan alur-alur ps surut Dataran ps surut berlumpur dengan vegetasi mangrove Dataran muara sungai dan alur-alur ps surut Dataran aluvial marine.1 B.1 B.2 D.2.2.341 0 28.2.469 141. 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -88 .497 19.1.187 70.1.2.2 A.745 23.562 0 Kalimantan Selatan 0 54.284 145.595 0 67.2.644 0 621.20 Luas dan Penyebaran Lahan Rawa di Kalteng dan Kalsel No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 No 13 14 15 16 Symbol A.4 A.671 71.875 372.705 1.3.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.1.7.804 89.231 14.435 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 B.1.369 0 0 0 2.4 A.2.3 Satuan Lahan RAWA NON PASANG SURUT Pelembahan sungai Jalur meander dan tanggul yg lebar dari aliran sungai yang besar Rawa belakang tanggul sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran aluvial.140.219 9.558 2.679 3.6.1. sering tergenang Rawa dangkal dengan bekas-bekas jalan aliran sungai Rawa dangkal Rawa dalam Rawa dalam dengan bekas-bekas jalur aliran sungai Satuan Lahan Dataran rawa berpasir tertutup gambut Rawa gambut air tawar dangkal Rawa gambut air tawar agak dalam Rawa gambut air tawar dalam Jumlah Kalimantan Tengah (Ha) 150.304 4.3. muara sungai.023 985.717 858.676 17.2.215 55.3.2 B.2.2.257 156. bergambut Lembah tertutup.798 22.722.276 41.1 A.1 A.374 76.2.6 A.376.3 Symbol P.330 0 0 33.049 0 239.468 37.962 7.124 41.2 B.2.140 Sumber : Penelitian Kesesuaian Lahan Rawa di Kalimantan.618 80.2.686 11.2 A.2.490 2.050 Kalimantan Selatan (Ha) 2.997 1.689 131.2.254 4.790 396.2 A. sering tergenang Dataran aluvial.806 63.343 12.1 A.811 91.749 29.3 B.652 319.1 D.2 D.

009 108.263 12.335 Luas Lahan Usahatani ( Ha ) % 10.199.132 Tanam 2 X ( Ha ) 2.341 94.604 9.341 5 77 24 42 57 25 41 15 100 83 32 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.3.96 23.295 203.324 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.210 222.151 48.188 24.997 23.(Persero) CABANG I MALANG 2. Berikut ini adalah tabel luas pengusahaan usahatani pada lahan rawa beberapa kabupaten di WS Barito-Kapuas.363 76.956 Produktivitas ( Kw/Ha ) 29.243 2.35 51.089.2 Produksi (Ton) 609.374.243 184. Prov.003 16.046 5.530 4.428 935 314 52 62.33 37.530 5.303 23.276. Selain itu.243 2.526 2. teknologi penanganan juga memerlukan peningkatan agar produktivitasnya sesuai target nasional.912 53.171. Tabel 2. termasuk lahan rawa. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -89 .892 4.414 14.546 7.834 Tanam 1 X ( Ha ) 8.840 40.6. Tabel 2.237 15.850 68.691 885 165 6.855 11.909 83. baik intensifikasi atau extensifikasi lahan potensial. namun belum dimanfaatkan seluruhnya. 2002 Dari tabel diatas diketahui bahwa produktivitas padi di Kalimantan masih bisa ditingkatkan.738 26.525 2. Tahun 1991 No 1 2 3 4 5 WILAYAH Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Jawa Luar Jawa Indonesia Luas Panen ( Ha ) 203.658 42.21 Produksi dan Produktivitas Lahan Sawah di Kalsel dan Kalteng.068 16.530 4.22 Luas Penggunaan Usaha tani Tanaman Pangan pada Lahan Rawa WS Barito-Kapuas.2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Untuk Pertanian Umum Pertanian Tanaman Pangan Lahan untuk pengembangan tanaman pangan padi sawah masih luas. Kalimantan Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KAB / KODYA Kotabaru Barito Kuala Tanah Laut HSU Banjar HSS Tapin HST Tabalong Banjarmasin JUMLAH Luas Lahan Rawa ( Ha ) 236.704 56.473 2.666 16.88 45.237 16.199 635.997 30.371.

dibandingkan produktivitas potensialnya. Kedua tanaman tersebut ditanam tersebar merata ke seluruh wilayah. kayumanis.(Persero) CABANG I MALANG Tanaman Palawija dan Hortikultura Kabupaten Kapuas menghasilkan buah-buahan yang besar. perkebunan rakyat di Kalimantan masih tetap menempati posisi strategis dan perlu prioritas pengembangan. kelapa. kemiri. diantaranya sawo. Karena masih memberikan kinerja yang dominan baik dalam hal luas tanaman maupun jumlah produksi. sehingga dalam program reklamasi rawa. kawasan ini diprioritaskan. yaitu : perkebunan rakyat. Tanaman perkebunan tersebut diusahakan oleh petani setempat secara pola kebun. cengkeh. Sedangkan tanaman pinang. dan mangga. jambu mete banyak diusahakan dalam pola tegalan atau pekarangan. Produktivitas tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat maupun perusahaan besar masih rendah. kapok. dan kakao. merupakan bagian kecil dari lahan yang ada. lada. Tananam Perkebunan Terdapat 3 (tiga) pola pengelolaan perkebunan. kapulaga. jahe. Hal ini menggambarkan bahwa peluang untuk meningkatkan produktivitas masih besar. perusahaan perkebunan milik pemerintah (PIP) dan perkebunan milik perusahaan swasta. nenas. Sedangkan komoditas perkebunan rakyat yang berkembangan adalah perkebunan karet. Tanaman kakao dan kelapa sawit sebagai komoditas yang relatif baru cukup berkembang dengan baik. papaya. Selain itu juga penghasil sayursayuran. rambutan. Budidaya sosial seperti karet dan kelapa mendominasi terutama di wilayah lahan pasang surut. atau sekitar 66%nya. Komoditas kelapa sawit pada dasa warsa terakhir menjadi primadona bagi perusahaan swasta besar dan PTP di Kalimantan. tetapi produktivitas perkebunan rakyat sangat rendah dibandingkan dengan kedua cara lainnya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -90 . Luas lahan dan jumlah produksi perkebunan rakyat menguasai secara dominan. kopi. Kabupaten Kapuas memiliki lahan rawa yang terluas.

Danau Panggang. Polder tersebut dibuat untuk mengatur tata air sehingga pada musim penghujan genangan bisa dikurangi dan pada musim kemarau air dari sungai bisa masuk ke polder.7 51.4 74.500 630 5.037.000 Produktivitas Real Kg/ha (2) 615. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -91 .6. Pola tanam pada wilayah ini dipengaruhi penggenangan periodik tersebut. dan Babirik.100 5.3 74. Kalimantan Selatan.2 4.yang membentang di Alabio. sehingga pada musim hujan.10 % Real (2) / (1) 51.600 15. Salah satu kondisi rawa yang telah dikaji secara lebih terperinci adalah kondisi rawa lebak di Kabupaten HSU.6 873. sehingga tanaman padi.3 79.6 816.100 600 570 1. Prov.4 67. Lahan rawa di wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan tergenang mulai bulan Oktober sampai Mei.23 Produktivitas Beberapa Tanaman Perkebunan di WS Barito-Kapuas.3 53.3. Curah hujan adalah salah satu faktor terhadap iklim maupun kegiatan tanam. Pada periode tersebut aktivitas budaya tanaman selain tanaman tahunan berhenti dan petani mengalihkan kegiatannya untuk menangkap ikan atau beternak.6 465. Polder dilengkapi dengan pompa air untuk intake dan untuk drainase.3 Sistem Budidaya Pertanian di Lahan Rawa Pada masa pendudukan Belanda dibuat Polder di Kabupaten Hulu Sungai Utara.3 42.7 81.50 8.161. Pompa air yang telah ada sekarang hanya berfungsi suplai untuk 15% luasan yang ada.1 388.7 404.070.3 76.6 51.300 1.3 2 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan. polder tergenang dan musim kemarau terjadi kekurangan air.000 300 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. No 1 Budidaya Perkebunan Rakyat Karet Kelapa Kopi Kakao Lada Cengkeh Tahun 19911 Kayu manis Tebu Serat karung Perkebunan Besar Karet Kakao Tebu Kelapa Sawit Produktivitas Potensial kg/ha (1) 1.250 1.6 70. 2002.5 153.3 80.8 4.200 1.10 320 769 505. Saat ini polder tersebut berkurang fungsinya.

Pada umumnya. di Kab HSU. dan lebak dalam. Namun. watun II. yaitu lebak dangkal. Pembagian areal tanam sering disebut istilah watun. ditanam tanaman tahunan. Lebak dalam.(Persero) CABANG I MALANG palawija. Lahan rawa pada polder alabio bisa dibagi atas tiga jenis berdasarkan genangan pada musim hujan. dan hortikultura ditanam sekali setahun. pada lebak dalam dilakukan budidaya ikan. Tanaman padi umumnya pada lebak dangkal dan tengahan.14 Pola Tanam Polder Alabio Keterlambatan penanaman tersebut bisa mengakibatkan gagal panen. seperti mangga dan lain-lain. Sebagian lebak dangkal ditanami tanaman tahunan dengan membuat system surjan untuk menghindari genangan pada musim kemarau. Biasanya kekuranan air tersebut ditanggulangi dengan menaikan air dari Sungai Negara dengan pompa air. Tanaman padi pada lebak atas sering kekurangan air pada musim kemarau. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -92 . hortikultur. Kalsel 2002 Gambar 2. dan komoditas tanam adalah mangga. Tanaman tahunan bisa bertahan melewati masa ini Musim tanam di daerah rawa dimulai pada bulan Mei dan berturut mulai dari lebak atas sampai tengah. Penanaman padi pada lebak dalam sering gagal panen karena terlambat tanam. watun III ditanami pada bulan Juli. lebak tengahan. palawija. lebak tengahan. Sementara itu di sepanjang levee Negara. Sedangkan pada lebak dalam bisa dimulai bulan Juli. Areal watun I umumnya ditanami pada bulan Mei/Juni dipanen bulan Agustus/September. ditanami bulan Juni/Juli dan panen bulan September/Oktober. Dec Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop MUSIM HUJAN MUSIM KEMARAU LAHAN TERGENANG PADI PALAWIJA DAN HORTIKULTURA Sumber : Laporan Akhir Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. kondisi pompa saat ini tidak mampu mensuplai kebutuhan pada lebak atas.

447 102. tanah.89 2 41.06 2.369 34.136 304. hidrologi. dan kelembagaan yang menurut keterlibatan lintas sektoral.406 229.97 2.24 Prioritas Pengembangan Satuan Kawasan Rawa (SKR) di WS BaritoKapuas No NAMA SKR KABUPATEN LUAS SKR Ha 369.903 6. politik. yang ditentukan oleh iklim.988 267.049 305.361.277 81.08 0.18 0. Peruntukan lahan merupakan hal yang juga memerlukan kajian terhadap masalah ekonomi.3 1.140 % 3.8 Lembar Peta 1:250.722 60.19 10.899 105.899 211.232 304. sosial.74 2.303 501.206 113.304 148.66 0.5 0. hukum.77 0. dan juga didasarkan pada potensi wilayah.89 0. topografi/bentuk.226 4.471 1.(Persero) CABANG I MALANG Watun 1 Watun 2 Watun 3 Dominan padi dan palawija Dominan beje Masalah utama : kekurangan air pada musim kemarau Masalah utama : genangan air Gambar 2.3.41 0.15 Pembagian Polder Alabio atas Watun 2.33 2.6.361 20. Sehingga disimpulkan bahwa faktor-faktor pendukung prioritas adalah : (a) urutan prioritas pengembanan komoditas berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan (b) luas hamparan satuan kawasan rawa (SKR) (c) ketersediaan aksesibilitas (d) kelayakan ekonomi dari komoditas yang secara teknis sesuai.89 1 1. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -93 .4 Prioritas Pengembangan Kawasan Reklamasi Rawa Untuk Pertanian Prioritas peruntukan lahan berdasarkan kesesuaian sifat fisik dan lingkungan hidup. Tabel 2.53 4.57 2.000 KALIMANTAN TENGAH 1 Barito Hulu – Buntok 2 Sebangau I 3 Barito Tengah 4 Kahayan – Murung I 5 Sebangau II 6 Kahayan – Murung II 7 Hulu Kahayan – Murung 8 Tangkiling – Kahayan Hulu JUMLAH KALTENG KALIMANTAN SELATAN 1 Banjar I 2 Banjar II 3 HSU dan Tengah II 4 Tanah Laut 5 Barito Kuala 6 HSU dan Tengah I 7 Kotabaru 8 Barito Tengah 9 Sei Kupang 10 Asam-asam – sebamban JUMLAH KALSEL Barito Selatan Kapuas Barito Timur Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Banjar Banjar HSU dan Tengah Tanah Laut Barito Kuala HSU dan Tengah Kotabaru HSU dan Banjar Kotabaru Tanah Laut dan Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.656 69. dan persyaratan lingkungan hidup tertentu. 2002.140.

Berdasarkan hasil kajian dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan. kopi. 3% Karet. Luasan perkebunan karet terbesar berada di Kabupaten Tabalong. 13% obat-obatan.5 Pengembangan Perkebunan Pengembangan sektor perkebunan berdasarkan kajian hasil penelitian diatas menempatkan 2 (dua) kelompok perkebunan rakyat. Kelapa . 0% aren. tebu. Dari tabel tersebut nampak bahwa komoditas karet mendominasi sektor perkebunan. kakao. 1% tebu. dan perkebunan besar (yang dikelola oleh perusahaan). Komoditas yang menjadi prioritas perkebunan rakyat adalah karet. 14% Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren kemiri.16 Preferences Pengembangan Perkebunan di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -94 . pada tabel berikut ini.6. telah disusun 15 kimbun dengan 7 komoditas. 3% Gambar 2. Sedangkan komoditas dari perkebunan besar adalah karet. lada. tebu. kakao. dan kelapa sawit. Kalsel. 6% Other. sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan peluangnya menjadi cash provit bagi wilayah di dalam WS Barito-Kapuas. 63% Kelapa sawit. kayu manis. kelapa.3.(Persero) CABANG I MALANG 2. cengkeh. serat karung. tahun 2004.

808 7. Besaran nilai return to family labour seakan-akan besarnya upah yang dibayarkan kepada anggota keluarga.362 1.986 12. dan sayuran.650 18.874 25. Pada analisis ini diasumsikan bahwa untuk mengerjakan usaha taninya petani hanya menggunakan tenaga kerja dari keluarga petani yang bersangkutan.061 16.002 19.993 4.845 13.000 4.975 33. waluh.586 42.235 13.670 1. dan komoditas yang digunakan adalah padi.422 14.423 3. Prop Kalsel No 1 KABUPATEN Kab Tanah Laut KOMODITAS Kimbun Kelapa sawit Kimbun Karet Kimbun Cengkeh Kimbun tebu Kimbun Obat-obatan Kimbun karet Kimbun kelapa Kimbun kelapa Kimbun karet Kimbun aren Kimbun karet Kimbun kelapa/ aren Kimbun karet Kimbun kemiri Kimbun kopi Kimbun karet Kimbun kelapa sawit Kimbun kelapa Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren AREAL EKSISTING (Ha) 20.454 3.670 148 5. Nilai return to family labour Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -95 .638 2 3 Kab Banjar Kab HSS 4 5 6 Kab HST Kab HSU Kab Tabalong 7 Kab Batola Sumber : Dnas Perkebunan Propinsi Kalsel. walaupun dalam kenyataannya tidak dibayar secara langsung.244 826 582 7.000 N/A 3.598 9. palawija.892 POTENSI (Ha) 10.678 N/A 4.920 900 994 2.928 5.180 1.358 8.106 N/A 14.056 121.005 974 N/A 13.6.627 200 8.048 970 890 7. Untuk mengentahui kecenderungan itu maka dilakukan analisis return to family labour.075 11.085 17.174 1.066 4.180 349 7. Pada lahan basah kegiatan dilakukan pada watun I sampai watun 3.461 24.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. umbi alabio.615 6.813 PRODUKSI (Ton) 5.185 72. Komoditas yang Diusulkan Kajian pengembangan komoditas didekati berdasarkan aspek sosial ekonomi.638 148 36. walaupun pada beberapa tempat didominasi oleh pertambangan dan industri pendukungnya.638 1.3.260 1.763 PRODUKTIVITAS (Kg/Ha) 6.678 N/A 960 1.690 5.369 147.574 755 N/A 5.771 15.506 1. Kegiatan pertanian masih menonjol pada hampir semua wilayah yang memiliki lahan basah.988 1.719 3.013 3. Sept 2004 2.366 3.086 994 1.159 9.137 33.837 1.000 7.314 30.000 85.362 2.6 Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa Secara umum sektor pertanian dan sub sektor pendukungnya masih menempati ranking pertama terhadap pendapat wilayah secara umum.465 9.097 8.358 809 1.612 26.174 349 17.096 898 N/A 900 2.25 Potensi Areal dan Rencana Pengembangan Perkebunan di WS BaritoKapuas.002 2.446 885 N/A 3.180 10.

26 Nilai Return to Family Labour Berbagai Jenis Usaha Tani NO JENIS USAHA TANI UNIT RETURN TO FAMILY LABOUR ( RP ) 1 2 3 4 5 Usaha tani padi Usaha tani kedelai Usaha tani jagung Usaha tani waluh Usaha ternak itik Ha/musim Ha/musim Ha/musim Ha/musim 100 ekor/kandang 5. nampak bahwa usaha tani dengan basis tanaman pangan pada kabupaten HSU memberikan return to family labour lebih rendah dari usaha peternakan maupun perikanan.5m : 1. Usaha waluh menempati posisi tertinggi.600 7 Budidaya karamba ikat betook ** Per karamba 640.000.000.(Persero) CABANG I MALANG diperoleh dengan dengan menghitung besarnya tenaga kerja yang menyebabkan nilai NPV (net present value) = 0 (nol). 6.000. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -96 .370 Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak.000 1.214.5m x 1.000 ekor tebar Dari kajian diatas. di Kab HSU. Kalsel 2002 * ** = 2.5m x 1.305 2. namun penyebarannya tidak merata. Hal ini merupakan salah satu penyebab polder alabio kurang optimal pemanfaatannya. Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan untuk membudidayakan pada kawasan lain (ekstensifikasi).000 1.300 6 Budidaya keramba ikan betutu * Per karamba 9. maka digabungkan dengan usaha ternak itik (menjadi ± Rp.000 20.5m x 1.000. Hasil kajian tersebut adalah : Tabel 2.556. dan hanya pada satu kawasan tertentu saja (Desa Sungai Durait Tengah). Untuk menaikkan nilai return to family labour.500.974. Besarnya return to family labour dapat dipakai sebagai salah satu indikator untuk melihat besarnya daya tarik petani terhadap suatu usaha tani.-).5m : 500 ekor tebar = 1.5m x 1.

Program yang diusulkan dalam pengembangan peternakan kerbau rawa adalah: 1. karena media air sangat cepat menularkan penyakit.dapat ditingkatkan pada aspek teknologi/bioteknologi untuk tujuan peternakan rakyat maupun komersil .6. Oleh karena itu.mudah beradaptasi dengan lingkungan . .864 ekor pada tahun 2000 dengan luas lahan 24. menyediakan pelayanan terpadu (reproduksi.461 Ha masih memungkinkan untuk dikembangkan. Pengembangan Peternakan Kerbau Rawa Beberapa kelebihan dari peternakan kerbau rawa antara lain : .(Persero) CABANG I MALANG 2. kecenderungan kebutuhan konsumen dengan ketersediaan pasokan komoditi ternak semakin meningkat dari tahun ke tahun.dapat dijadikan sebagai tabungan peternak Peternak kerbau rawa di Kecamatan Danau Panggang dengan populasi sebanyak 5.mempunyai kemampuan mencerna makanan lebih baik . secara umum. prospek pengembangan peternakan sangat terbuka untuk ditingkatkan. Hal ini menjadi kritis.sifat kerbau jinak dan mudah dipelihara . A. Ciri POSYANDU. kesehatan.3.penghasil pupuk organik potensial .lebih tahan penyakit. pakan.mempunyai pangsa pasar baik . pengembangan tempat POSYANDU (pelayanan terpadu ternak kerbau) di kantong-kantong produksi. populasi harus diimbangi dengan tersedianya fasilitas kesehatan ternak. Dengan memperhatikan kapasitas tampung dan menjaga meluasnya gulma.sebagai ternak kerja . nutrisi. dan pemasaran) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -97 .makanannya murah dan tidak selektif .7 Pengembangan Peternakan di Lahan Rawa Berdasarkan data peternakan nasional.

China. Masyarakat telah mampu menyilangkan itik dengan jenis lain merupakan potensi SDM yang baik untuk mendapatkan varietas yang efisien. sekaligus sebagai pengembangan sistem penggembalaan (paddock) di daerah rawa. Pengembangan Peternakan Itik Alabio Itik alabio merupakan maskot daerah di Kabupaten HSU. kemungkinan kualitas peternak dengan meningkatkan pengetahuan. terutama yang berkaitan dengan reproduksi. B. Rasionalisasi jarak dan sebaran kalang agar mudah dijangkau saat patus untuk mencegah kematian anak. adalah dengan mengendalikan host intermediare-nya yaitu siput (lymnea rubiginosa). mengembangkan manajemen wilayah kantong produksi. Penyelidikan 7. Menjajaki tentang siput ini dapat membantu dalam upaya penemuan metode yang tepat dalam mencegah penyakit cacing hati. Introduksi beberapa pakan total daerah yang rawa yang tinggi kadar proteinnya (catatan : protin rumput rawa masih rendah dari yang dibutuhkan kerbau). Program pengembangan yang dapat diusulkan adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -98 . Pengendalian gulma (eceng gondok) agar lahan tempat tumbuh pakan ternak tidak menyempit. nutrisi pakan. dan merupakan salah satu kawasan ternak andalan di DAS Barito. Itik alabio sebagai itik pedaging merupakan andalan ekspor di beberapa Negara seperti Korea. Suplementasi pakan terpadu. Saat ini terlihat bahwa rumput rawa kurang beragam jenisnya. 8. dengan prospek yang masih sangat memungkinkan sebagai produsen telur. Itik ini merupakan kualitas unggul di Indonesia. dan Taiwan. 6.(Persero) CABANG I MALANG 2. dan sedikit sekali berupa leguninosa. kesehatan ternak dan pemasaran. 4. 3. 5. Salat satu cara mengurangi infeksi cacing hati. khususnya mikro mineral disertai adanya anthelmintic melalui pengembangan metode salt mineralized lick. Teknologi mutakhir tentang persilangan merupakan komponen penunjang yang sangat baik untuk diimplementasikan di Kabupaten HSU.

walaupun pertumbuhannya kurang optimal. Teknologi persilangan yang mampu menghasilkan bibit secara efisien Ketersediaan pakan yang kontinyu dengan harga stabil Penanganan penyakit secara massal Ayam cukup rentan terhadap penyakit New Castle Descease (NCD) Adanya pengairan terpadu akan makin mendukung usaha peternakan ayam Program pendukung ternak ayam buras adalah : a) b) c) Vaksinasi Memberikan pakan tambahan Minimisasi biaya (low cost input) dengan menggunakan pakan biaya murah. Pengembangan Peternakan Ayam Buras Perusahaan ayam buras sangat terbuka baik untuk pasokan lokal. khususnya itik afkir pengembangan system grading telur dan daging itik alabio pembuatan model system perkawinan untuk peningkatan mutu generik C. maupun antar Provinsi. Salah satu sentra pengembangan ternak ini adalah di Kabupaten HSU. terutama dalam hal menghasilkan telur.(Persero) CABANG I MALANG demplot kandang terapung dengan menggunakan prinsip optimalisasi sumberdaya dan pendauran limbah yang efisien dalam suatu komoditas terpadu (ikan. Beberapa hal yang mendukung adalah : Peternak mampu menyilangkan produk ternak unggul yang setara ayam ras. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -99 . dan pakan aquatic) formulasi pakan lokal dan percontohan home industry produksi pakan lokal pengembangan pakan aquatic kaya protein dan energi sesuai dengan kondisi rawa. antar daerah. pengolahan daging itik. padi. itik. Dengan demikian masih sangat terbuka untuk dikembangkan.

dengan pengaturan teknis Mengembangkan system budidaya sesuai ketersediaan air. misalnya pada musim hujan budidaya dilakukan di Watun – 1. Teknologi menjebak ikan dengan beje. apabila mungkin didukung dengan pompa Pembukaan kawasan budidaya. sehingga siklus aliran masuk dan keluar teratur. B. yaitu : 1) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -100 .(Persero) CABANG I MALANG d) Metode pengembangan dengan system back yard farming dengan pemberian pakan system free choice dari areal sekitar perkandangan. dengan sentuhan teknologi tepat guna.3. A. 2) pengembangan perikanan tangkap. Pengembangan Budidaya Ikan Rawa di Lahan Rawa Lebak Hal-hal yang mendukung pengembangan budidaya perikanan di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Penataan kawasan. sehingga siapapun boleh menangkap di perairan tersebut Kegiatan penangkapan ikan sebaiknya dibatasi dengan jenis alat yang digunakan. dan diperlukan percontohan demplot. pada kawasan lahan rawa lebak diarahkan pada 2 (dua) cara. karena rawa lebak adalah milik umum. Menampung ikan rawa yang bernilai ekonomi tinggi pada musim kemarau. Untuk mengatasinya budidaya perlu dilakukan.6. dimana ikan-ikan dengan nilai ekonomis tinggi seperti gabus dan betook sudah mulai berkurang. Perikanan Tangkap Hal-hal yang mendukung pengembangan perikanan tangkap di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Perlunya penegakan hukum. Dikembangkan suatu bangunan pengendali muka air pada watun yang telah diplot peruntukannya. sehingga harga ikan telah kembali normal. diketahui bahwa hasil tangkap nelayan rawa mulai menurun. dan menampung sampai musim hujan. tetapi pada saat surut pada Watun – 3. 2. Sektor perikanan pengembangan budidaya ikan rawa. Berdasarkan data kuantitas penangkapan ikan.8 Pengembangan Perikanan di Lahan Rawa Saat ini kegiatan perikanan merupakan kegiatan tambahan disamping kegiatan bertani dan beternak.

i) potensi lahan dalam siklus setahun.6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -101 . Konsep pengembangan ini juga mengacu pada kondisi musim. dan perikanan. maka disusun skenario seperti tabel berikut. Hal yang perlu diperhatikan adalah.3. dengan komposisi yang bervariasi. yaitu penelitian yang dilakukan pada salah satu rawa lebak di Kabupaten HSU.9 Pertanian Terpadu (Integrated Farming) Lebak yang berada di sepanjang aliran DAS Barito memiliki berbagai sifat fisik yang berbeda-beda dan memerlukan pemanfaatan yang berbeda pula. Dengan mengkaji kondisi saat ini. di Alabio. sesuai dengan potensi masing-masing bagian wilayah tersebut. iii) analisis finansial. ii) variabilitas kondisi lahan secara mikro. Oleh karena itu langkah yang paling pengembangan pertanian yang terbaik adalah mengembangkan program pertanian terpadu (integrated farming). dengan teknologi yang sesua Manfaat yang didapatkan apabila dilakukan pengembangan yang terencana dan terarah : a) b) c) d) e) Masyarakat akan memperoleh pendapatan tambahan selain dari bertani Kegiatan perikanan dapat mengarah pada peningkatan pendapatan daerah Kegiatan perikanan pada batas tertentu menjadi sumber protein yang murah bagi masyarakat Kegiatan perikanan merupakan langkah konservasi terhadap species tertentu Pengembangan pada tahap lanjutan merupakan potensi wisata 2. peternakan. sehingga akan didapatkan kondisi yang optimal.(Persero) CABANG I MALANG Kesepakatan bersama dalam suatu reservat Penebaran bibit pada perairan bebas. Hal ini akan sangat menguntungkan apabila kawasan yang dikembangkan memiliki kesesuaian untuk pengembangan potensi pertanian.

dan digunakan untuk membandingkan skenario terbaik.5. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -102 .3. Cash flow dalam perhitungan NPV adalah nilai net cash flow yang telah dikurangi biaya untuk tenaga kerja.6. Indikator yang digunakan adalah Net Present Value (NPV).10 Program Pengembangan Rawa Berdasarkan hasil analisis dari penelitian pengembangan rawa. Program kegiatan ini akan lebih baik apabila mengarah pada penyelenggaraan pertanian terpadu (integrated farming). di Kab HSU.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.27 Skenario Usaha Tani Terintegrasi NO SKENARIO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMPONEN KOMPONEN TANAMAN PETERNAKAN Padi Padi Padi Padi Kedelai Kedelai Kedelai Kedelai – Itik Itik Ayam Ayam Itik Itik Ayam Ayam – KOMPONEN PERIKANAN Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Ikan karamba dan betutu Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. NPV yang dihitung merupakan nilai relatif dan bukan absolut. dan 9. Kalsel 2002 Catatan : Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten HSU. maka disusun program kegiatan yang dapat diselenggarakan dan dikompromikan pelaksanaannya oleh institusi yang terkait.3. 2. analisis finansial yang terpilih adalah 1.

W atun – 2.28 Skenario Usaha Tani Terintegrasi Pada Lahan Rawa P R O G R AM P engem bangan P enataan A ir K E G IAT AN T anggul antar w atun P om panisasi air tanah dangkal S um ur raw a P enanam an sagu pada bek as galian sum ur raw a T anam an pangan dan Intensifik asi (padi. sagu. W atun – 3 S um ber : S tudi P engem bangan Lahan R aw a Lebak. padi hiang. crasikarva) P engem bangan w isata P engem bangan w isata alam budaya pak et dan P apuyu. W atun – 3 P engem bangan bibit itik P eluang usaha itik K andang panggung K andang terapung P eluang usaha ayam B ack yard farm ing buras (vak sinasi. patin local (kolam rawa) P atin. W atun – 2. k um pai sagu) P enanam an pangan (padi. perk aw inan) P engem bangan perikanan Integrated farm ing P oli kultur P oli kultur Jarring tancap U dang galah P engem bangan tanam an tahunan K ehutanan (m eranti raw a. haruan B aung – patin (kolam raw a) B etook . perbaikan pakan) P engem bangan usaha P os pelayanan k erbau raw a pengem bangan kerbau (kesehatan. pakan. upland W atun – 1. sepat. W atun – 2 P engem bangan peternak an W atun – 1 W atun – 1. hortik ultura jagung. k angk ung darat. k elapa hybrid. acacia. duckw eed. K alsel 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -103 . W atun – 3 W atun – 2 W atun – 2 W atun – 1. di K ab H S U . terung. W atun – 2 P engem bangan pertanian W atun – 1. ram in) P erkebunan (kayu putih. cabe P eningk atan bak u pakan bahan P enam bahan tanam an aquatic pak an (azolla. jagung) Lim bah ikan L O K AS I W atun – 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. w aluh. baung local K olam raw a W atun – 1 W atun – 2 U pland W atun – 3 W atun – 2.

2005 2.29 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2005) Kabupaten Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G. Demikian pula untuk tenaga kerjanya. Sedangkan pada tahun 2006 terjadi penurunan jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan sebanyak 164 buah dan tenaga kerja (639 orang) serta nilai investasi (6.4 Sektor Industri 2. untuk industri kecil (formal dan non formal) jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan tahun 2005 adalah 299 buah dengan jumlah tenaga kerja 759 orang dan nilai investasi sebanyak 6. Banyaknya perusahaan dan tenaga kerja di Kabupaten Barito Utara menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2.137 orang.6.4.299 milyar rupiah. Industri menengah berjumlah 4 perusahaan dengan 37 tenaga kerja dan industri besar hanya 2 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 1. Disisi lain.6. Kerja 1 623 1 2 1 4 4 8 8 21 37 132 2 2 1. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap sejumlah 1.137 1000 Sumber : Barito Selatan dalam angka.(Persero) CABANG I MALANG 2.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah perusahaan industri besar/sedang di Kabupaten Barito Utara tahun 2005 sebanyak 3 perusahaan sedangkan pada tahun 2006 bertambah menjadi 13 perusahaan. Awai Jumlah Tahun 2004 Industri Besar Perusahaan Tng.162 milyar rupiah).B. pada tahun 2005 terserap 82 orang naik menjadi 746 orang pada tahun 2006. Kerja 1 514 Industri Sedang Perusahaan Tng.6.164 orang.4.1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah perusahaan industri kecil di Barito Selatan tahun 2005 sebanyak 6 perusahaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -104 .

Tabel 2. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 317 orang.3 Kabupaten Barito Timur Untuk Kabupaten Barito Timur.4.31 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2007) Barito Timur No.30 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2006) Kabupaten Barito Utara No. Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Utara 2. Penurunan jumlah tenaga kerja terjadi karena sebagian tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di kelompok IKKRT diserap oleh kelompok industri besar dan sedang. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei Jumlah Industri Kecil Aneka Industri Perusahaan Tenaga Kerja Perusahaan Tenaga Kerja 24 66 0 0 18 35 0 0 29 127 0 0 37 81 0 0 215 714 0 0 16 46 0 0 339 1069 0 0 Sumber : Dinas Pertambangan. dengan jumlah terbesar terletak di Kecamatan Alalak dan Kecamatan Marababan masing-masing 35 buah dan 25 buah. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Industri Besar Perusahaan Tenaga Kerja 3 95 4 136 6 155 13 386 Industri Sedang Perusahaan Tenaga Kerja 3 17 1 5 9 52 3 18 16 92 IKKRT Perusahaan Tenaga Kerja 4 11 28 64 16 39 5 11 77 152 16 40 146 317 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Timur Jumlah perusahaan industri besar. Berdasarkan klasifikasi industri maka klasifikasi industri kecil yang paling besar yaitu 87 buah disusul industri rumah tangga 71 buah dan industri sedang 36 buah.6. sedang. kecil dan rumah tangga berdasarkan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala berjumlah 152 buah. jumlah perusahaan pada tahun 2007 sebanyak 146 perusahaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -105 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.

Tabel 2.000. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Makanan. karet dan plastik Barang Galian bukan logam Industri dasar dari logam Barang dari logam Industri lain Jumlah Klasifikasi Industri Sedang Kecil 0 14 0 0 0 16 16 20 20 0 0 0 0 11 0 6 0 20 36 87 Besar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Rumah Tangga 22 0 0 5 0 0 0 0 44 71 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -106 . minuman dan tembakau Tekstil.5 Kabupaten Barito Kuala Nilai investasi dan nilai produksi industri di Kabupaten Barito Kuala selama tahun 2007 bernilai Rp 1.082.dan Rp 3.777.-.6.000.(Persero) CABANG I MALANG 2. pakaian dan kulit Kertas.4.000.6. No Jenis Industri 1 Minuman Ringan 2 Meubel Kayu 3 Roti 4 Komponen Bahan Bangunan 5 Foto Copy 6 Saos Tomat 7 Perhiasan Emas 8 Service Sepeda/Motor/Mobil 9 Ukiran Getah Nyatu 10 Jasa Kecantikan 11 Service Elektronik Jumlah Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Jumlah Unit Usaha 4 1 1 2 4 1 1 3 1 1 1 20 Tenaga Kerja 12 2 3 12 6 5 4 24 10 2 2 82 2..000. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 82 orang. Sedang Kecil dan Rumah Tangga di Kabupaten Barito Kuala No.000.. Tabel 2. Dengan nilai investasi terbesar berasal dari industri logam sebesar Rp 775. jumlah unit usaha industri pada tahun 2007 sebanyak 20 perusahaan.disusul industri kayu dan barang dari rotan yang bernilai Rp 635.33 Jumlah industri Besar.32 Banyaknya Jumlah Unit Usaha Industri di Kabupaten Kapuas.4.000.000. Jumlah dan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala ditunjukkan pada tabel berikut.4 Kabupaten Kapuas Untuk Kabupaten Kapuas. barang dari kertas dan percetakan Kayu dan barang dari rotan Kimia.-.000.

rawa atau undak aluvium.5 Sektor Pertambangan Bahan Tambang Wilayah Sungai (WS) akan berdasar pada evaluasi sumber daya alam (natural resources) yang tersedia di WS tersebut. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714. Basa menengah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -107 . diantaranya bersumber dari kondisi geologi wilayah tersebut. determinasi litologis lebih didasarkan secara megaskopis dan referensi terdahulu. publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715.898. Berdasarkan penyebaran formasi batuan yang ada di SWS Barito maka secara umum dapat dibedakan berbagai batuan utama penyusun areal ini. Jenis batuan yang paling dominan adalah Aluvial Induk dan Terumbu Koral dengan luas 841. b. c. Pembahasan lebih rinci geologi lokal lebih dititikberatkan pada litostratigrafi sesuai superposisi perlapisan setempat. publikasi P3G tahun 1986 Kondisi geologi WS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan terdiri dari Alluvial Induk dan Terumbu Koral.(Persero) CABANG I MALANG 2.18 %) serta paling luas terdapat di Sub DAS Negara yang merata di seluruh Sub-sub DAS. publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712. Miosen bawah. namun dalam keterbatasan selama studi ini. Batuan Basa. Batuan sedimen yang berumur Tersier lainnya adalah batugamping (Formasi Berai) dan batupasir kuarsa (Formasi Montalat). selain itu ditemukan pula batugamping dan batupasir gampingan (Formasi Tanjung).077 ha (45. Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di SWS Barito.6. Aluvium : merupakan endapan dasar sungai. Permo-karbon dan Pra-tersier. Batuan berasam. Batuan sedimen klastik halus sampai kasar yang berumur Tersier yang mengandung mineral kuarsa dan sedikit meterial vulkanik dengan sisipan batugamping (Formasi Warukin).599 ha (12. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716. Koreksi petrografis dan biostratigrafi mestinya perlu dilengkapi.73 %) yang hanya terdapat di Sub-sub DAS Balangan dan Sub-sub Tabalong Kanan. yaitu : a. Adapun yang terendah adalah jenis batuan basa menengah dengan luas 23. Batuan Sedimen yang kaya akan mineral kuarsa (Formasi Dahor).718.

Mineral non logam lainnya adalah bentonit yaitu jenis mineral lempung montmorilonit yang dapat dimanfaatkan untuk lumpur dalam pemboran minyak bumi yang memang jarang ditemukan cadangannya di Indonesia. sekis dan gneiss. Endapan emas diduga terbentuk sebagai hasil kegiatan hidrothermal yang berhubungan dengan peristiwa magmatik Oligosen akhir sampai Miosen yang menghasilkan Batuan Terobosan Sintang dan bersamaan dengan pengangkatan tinggian alas (Komplek Busang).2 Bahan Galian Non Logam Mineral non logam yang cukup luas penyebarannya dan baik prospeknya adalah pasir kuarsa. bagian dasar dari runtunan endapan daratan muka Tersier dan atau batuan Terobosan Sintang.5. Banyak emas mungkin berasal dari epitermal dengan alasan sebagai berikut : mineralisasi emas dan terobosan dangkal berkaitan secara ruang dan waktu. berperan sebagai perangkap untuk emas.1 Bahan Galian Logam Mineral logam utama yaitu berupa emas primer dan sekunder (plaser).6. Hal ini wajar mengingat batuan induknya yang berupa batuan granit dan batupasir kuarsa sangat luas penyebarannya. Emas cenderung sangat berlimpah di wilayah kampung Tujang di Sungai Murung.6. logam dasar jarang ditemukan dan jenis ubahan penunjuk (pengersikan dan oksidasi/argilitisasi). mangan dan platina 2. Kemungkinan sesar detachemen bersudut kecil pada dasar runtunan Tersier. Mineral logam lainnya adalah besi. Batuan metamorf terutama kuarsit dan batuan metamorf lainnya seperti filit. f. Batuan beku baik yang berupa batuan plutonik bersifat granit (asam) dan intrusi menengah sampai basa. Ketersediaan Sumber Daya alam bahan galian di Satuan Wilayah Sungai Barito dapat diuraikan sebagai berikut: 2. Mineral lempung lainnya yang merupakan bahan baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -108 . Endapan pasir kuarsa tersebut merupakan hasil proses pelapukan batuan yang mengandung mineral kuarsa di atas.(Persero) CABANG I MALANG d. stibnit dan sinabar jumlahnya sedikit tetapi merupakan komponen mineralisasi yang tersebar luas. Batuan vulkanik tua menghasilkan tanah yang kaya akan unsur hara. pendulangan emas banyak dilakukan oleh penduduk dan beberapa perusahaan penambangan telah mengusahakan emas ini. e.5. nikel. kromit. yang kemungkinan berasal dari Kelompok Selangkai yang diterobos oleh sumbat Batuan Terobosan Sintang.

Mutu batubara Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua grup. umumnya berperingkat lignit sampai berbitumen tanggung (sub-bituminous). Namun karena keterbatasan dana pembangunan. Umumnya batubara Eosen mempunyai kandungan abu yang lebih tinggi daripada batubara Miosen. dalam hal ini adalah kawasan yang berpotensi untuk cepat tumbuh dibandingkan dengan kawasan lain yang ada dalam satu Provinsi. Pertumbuhan yang terjadi di kawasan andalan tersebut diharapkan berdampak positif terhadap pertumbuhan kawasan belakangnya (hinterland). singkapan yang baik dapat dijumpai di hulu Sungai Kintap Kecil dan di Sungai Binuang. Kawasan andalan yang terdapat di KTI sebagaimana tercantum dalam Strategi Nasional Pemantapan Pola Tata Ruang (SNPPTR) berjumlah 56 kawasan. Grup kedua adalah batubara Eosen yang umumnya mempunyai peringkat lebih tinggi daripada batubara Miosen.(Persero) CABANG I MALANG industri keramik adalah kaolin. selain itu juga dijumpai dalam Formasi Warukin. Sumberdaya batubara Indonesia tersebar luas di seluruh kepulauan. Contohnya adalah batubara Ombilin (Sumatera Barat). Dengan memilih satu kawasan andalan dari setiap Provinsi diharapkan keberhasilannya lebih terjamin. yaitu kawasan yang dinilai bisa berkembang cepat dengan sedikit investasi pemerintah. Namun yang bernilai ekonomis dan berskala besar hanya terpusat pada cekungancekungan Tersier di Indonesia bagian barat. Pengembangan Kawasan Andalan Pada Sektor Pemanfaatan Potensi Mineral Dan Energi Kawasan andalan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) yang selanjutnya disebut kawasan andalan. Grup pertama adalah batubara yang berumur Miosen. Kecuali batubara Sangatta (Miosen) yang umumnya berperingkat bitumen beratsiri tinggi (high volatile bituminous). Senakin (Kalimantan Selatan) yang umumnya berperingkat berbitumen tanggung dengan bitumen berat isi tinggi. Kaolin cukup luas penyebarannya dan prospeknya sangat baik. maka DP-KTI memilh kawasan-kawasan andalan yang diprioritaskan pengembangannya. karena kawasan tersebut akan mendapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -109 . yaitu di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Batubara banyak dijumpai di Formasi Tanjung dengan tebal antara 50 – 100 cm.

8. Batuan Beku / Batu belah 11. perkebunan. 5. Bitung-Manado di Sulawesi Utara. 4.(Persero) CABANG I MALANG prioritas Barat. mineral-mineral tersebut adalah : 1. Selatan. Pulau Seram di Maluku. Dengan demikian. kehutanan. 9. 6. Emas Batubara Gambut Intan Kaolin Pasir Kuarsa Fosfat Batu gamping Kristal Kuarsa 10. pariwisata dan industri. Departemen Pertambangan dan Energi dalam usaha melengkapi data dan informasi yang dapat digunakan bagi usaha eksploitasi dan pengembangan industri pengolahannya dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia telah melakukan inventarisasi potensi pertambangan dan energi di 13 kawasan andalan prioritas di KTI. Dengan demikian di DP-KTI telah menentukan 13 kawasan andalan sebagai berikut : Sanggau di Kalimantan Kakab (Kapuas-Kahayan-Barito) Kalimantan Tengah. Batui di Sulawesi Tengah. Pare-Pare di Sulawesi Selatan. Saat ini terdapat 15 (lima belas) daftar mineral-mineral potensial yang terdapat di Kalimantan Tengah. di Sakupangbalaut (Satui-Kusan-Kelumpang-Batulicin-Pulau Laut) di Kalimantan Sasamba (Samarinda-Sangasanga-Muara Jawa-Balikpapan) Kalimantan Timur. juga diuapayakan pemberdayaan sumber daya manusia setempat agar dapat berpartisipasi dalam pengembangan kawasan tersebut. alokasi DAS dana pembangunan. Pengembangan kawasan andalan pada prinsipnya bertumpu pada pendekatan yang berorientasi pada sumberdaya alam dan pendekatan pada sumberdaya manusia. potensi sumber daya alam dijadikan sebagai arahan untuk mengembangkan suatu kawasan. terdapat tujuh sektor ekonomi yang menonjol untuk dikembangkan yaitu : sektor/subsektor pertanian tanaman pangan. pertambangan. perikanan. Biak di Irian Jaya. Mbay di Nusa Tenggara Timur dan Bima di Nusa Tenggara Barat. 7. 3. Selain itu. Dari ketigabelas kawasan andalan tersebut. Besi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -110 . 2. Bukari (Buton-KolakaKendari) di Sulawesi Tenggara.

Potensi Emas Kalimantan Tengah memiliki sejumlah endapan emas primer dan letakan (placer). pasir kuarsa. Air Raksa 15.Seruyan Hulu.Seruyan : Kec. emas.Kapuas : Kec.Gunung Mas : Kec. Batubara di Indonesia banyak digunakan untuk bahan bakar. Rungan. Sepang dan Kurun. Kapuas Tengah dan Timpah Kab.Katingan : Kec.Seruyan Tengah. batu lempung.Sumber Barito. Sedangkan mineralmineral lain sedang berada dalam proses survey dari tahap pengamatan lapangan sampai eksplorasi detail. kristal kuarsa dan zircon. Endapan emas di Kalimantan Tengah dapat dijumpai di : − − − − − − − Kab. Kec. Endapan letakan (placer) banyak ditemukan di sungai. Permata Intan dan Tanah Siang Kab. rawarawa dan paleo chanel (gosong). batu gamping.Bukit Batu. kalkopirit dan sedikit pada galena dan spalerit). Potensi Batubara Batubara yang menyusun suatu formasi/lapisan batubara pada awalnya berupa gambut atau akumulasi bahan serupa yang kemudian mengalami pembusukan. Kab. sedangkan yang merupakan hasil endapan hidrotermal yang secara genetic berasosiasi dengan intrusi batuan beku asam dan juga sering berasosiasi dengan kuarsa dan sulfide (pirit. intan. danau.Kapuas Hulu. Kota Palangka Raya : Sungai Takaras Kec. 2.Katingan Hulu. Tembaga 14.(Persero) CABANG I MALANG 12. industri semen. melalui proses kompaksi dan panas dalam waktu yang sangat panjang maka gambut akan berubah menjadi batubara.Dusun Tengah. Kab. Zircon Beberapa yang sudah produksi seperti batubara.Tewah. Kahayan Hulu Utara. Katingan Tengah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -111 . arseno pirit. Sanaman Mantikei dan Katingan Hilir. 1. karena itu data-data sumberdaya mineral tersebut cukup akurat karena berdasarkan tahapan survey. tetrahidrit.Murung Raya : Kec. PLTU dan dalam jumlah kecil dalam peleburan timah dan nikel. Kab.Barito Timur : Kec. Timah Hitam 13. Manuhing.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -112 .000 ton pertahun saat itu.Katingan : Kec. Sungai Montalat. Gambut di Indonesia diperkirakan memiliki area lebih 20 juta hektar dan kebanyakan dalam bentuk dataran rendah dan rawa. Survey penyelidikan batubara di Kalimantan Tengah telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi baik pemerintah maupun perusahaan asing.Katingan Tengah.53 % Volatile Matter : 0. Lebih dari 7 juta hektar berada sepanjang daerah barat. CSN : 5 .74 – 15.000 kal/gr antara lain : − − − − Kab.66 % Sulfur : 0.000 – 8.Kotawaringin Barat : Pangkalan Banteng dan Kotawaringin Lama.000 berkualitas baik (> 8.(Persero) CABANG I MALANG Batubara di Kalimantan Tengah sudah mulai ditambang sejak awal abad 19 tambang batubara didekat Muara Teweh sudah ditambang sejak tahun 1910 dan mampu menghasilkan sekitar 7.Tewah. Manuhing. Mentaya Hilir dan Cempaga. Sungai Maruwai dan sekitarnya. salah satunya PT.46 % Nilai Kalori : 7. Bakanon. Kab. Kab.000 cal/gr. Produksi berkurang sejak Perang Dunia ke II dan kemudian berhenti total sekitar tahun 1960. 3. Kurun.Mentaya Hulu. Potensi Gambut Gambut adalah endapan organik yang mengandung sisa-sisa tumbuhan yang telah mengalami dekomposisi sebagian dan mengandung bahan lain seperti air dan bahan-bahan lain non organic biasanya berupa lempung dan lanau. Sungai Lahei. Rungan.Gunung Mas : Kec.44 – 48. Beberapa lapisan batubara mempunyai ketebalan mencapai 1.000 kal/gr) juga ditemukan di Kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara. Didaerah ini batubara banyak ditemukan di Muara Bakah.7 Lokasi lain yang juga memiliki potensi kandungan batubara dengan nilai kalori <6.76 % Karbon : 38. BHP-Biliton yang telah memprediksikan bahwa terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori >7.39 – 1. dan Tewang Sangalang garing. tengah dan selatan pantai pulau Kalimantan. Kotawaringin Timur : Kec.35 – 0.5 – 7 meter dan mempunyai kualifikasi “Cooking Coal dengan kandungan sebagai berikut : − − − − − − Kandungan air : 8.

Palangka Raya dan Kanamit.03 – 37. Penyelidikan gambut untuk bahan baker telah dilakukan oleh Direktorat batubara dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sejak tahun 1984 didaerah Bereng Bengkel.70 % Abu : 0.426 cal/gr Daerah antara Sampit dan Kota Besi.66 – 6.72 % Karbon : 21.982 – 5. Daerah Bereng Bengkel – Kanamit mempunyai potensi yang cukup besar dengan rata-rata kedalaman gambut sekitar 2 meter. Sumber energi gambut biasanya digunakan untuk tenaga pembangkit tapi dapat juga digunakan untuk bahan baker dan memasak yang biasanya dalam bentuk briket. Daerah antara Sampit dan Pangkalan Bun Daerah antara Palangka Raya dan Pulang Pisau. Kualitas gambut Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut : − − − − − − − − Kandungan air : 6. Penyelidikan yang dilakukan untuk tujuan pertanian biasanya hanya gambut yang mempunyai kedalaman 100 cm atau kurang. Intan dipotong dan dipoles/digosok di Martapura Kalimantan Selatan. Daerah lain yang mempunyai potensi gambut di Kalimantan Tengah adalah : 4. Saat ini penduduk local Kalimantan Tengah menambang endapan intan alluvial mempergunakan peralatan dan metode yang masih sederhana. Kuala Kapuas. Intan yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -113 .66 % Zat Terbang : 41. Potensi Intan Intan telah banyak ditambang dibanyak tempat di Pulau Kalimantan oleh penduduk sejak lama dan berkembang diberbagai tingkatan sampai sekarang. dan di Bereng Bengkel sendiri sekitar 20 hektar telah diselidiki secara detail dan telah dilakukan ujicoba produksi gambut bekerjasama dengan Finlandia.13 % Nilai Kalori : 3. Gambut yang mempunyai kedalaman lebih dari 100 cm mempunyai potensi sebagai energi.(Persero) CABANG I MALANG Survey tanah gambut telah banyak dilakukan secara intensif terutama untuk keperluan pertanian (agricultur).75 – 57. Secara umum endapan utama intan berasosiasi dengan batuan ultrabasic khususnya batuan periodit. contohnya batuan yang kita kenal sebagai Kimberlite-pipe di Afrika Selatan.11 – 18.

Endapan kaolin yang terbesar terdapat di Kereng Bangkirai. Kaolin Kaolin adalah salah satu jeni mineral industri yang terbentuk dari hasil proses dekomposisi dan merupakan pelapukan dari batuan yang kaya akan silikat aluminium. Penyelidikan terhadap endapan intan sudah dilakukan sejak dulu tetapi masih belum mendapatkan hasil berupa penemuan endapan utamanya.04 % yang potensial untuk industri keramik. Endapan berada disuatu area dengan luas 125 ha dan mempunyai karakteristik endapan sebagai berikut : − − − − Warna : Putih keabu-abuan Butiran lempung : Halus Ketebalan rata-rata : 6. Terdapat 5 endapan kaolin yang cukup besar dan berpotensi tinggi. 5.5 ton − Pahirangan Mentaya Kab. spinel. dan ruby. quartz. a. Tetapi kesempatan bagi eksplorasi endapan utama dan alluvial masih ada dan dilakukan.06 meter = Endapan ini mempunyai kualitas yang cukup baik dan mempunyai ketahanan terhadap panas (seger cone 35/1780º) dan kandungan TiO 1. Endapan utama lainnya adalah : − Kasongan dengan jumlah cadangan terukur : 2. Pasir hitam yang terbentuk dari pencucian residu (disebut puya) terdiri dari : Titano magnetite. Potensi Endapan Mineral Lainnya Kalimantan Tengah masih mempunyai sumber endapan mineral lain sebagai bahan tambang yaitu kaolin. garnet. fosfat dan batu gamping.(Persero) CABANG I MALANG terdapat dalam endapan alluvial biasanya terdapat bersama sejumlah mineral seperti korundum.Kotim dengan jumlah cadangan terukur : 2 Kebutuhan lain untuk kaolin dengan kualitas baik adalah untuk industri Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -114 . rutile. emas.03 – 2. hyacinth.091.897. farmasi dan kosmetika.754.650 ton. platinum dan pirit. topaz. yang berada dekat Kota Palangka Raya dengan perkiraan jumlah cadangan terukur sekitar 13. kromit. pasir kuarsa. brookite.76 meter Ketebalan Overbuden : 1.

370.000 ton Kualitas kaolin yang ada adalah sebagai berikut : − − − − − SiO : 41. − Bereng.97 % Al O : 4.08 – 1. Endapan utama pasir kuarsa di Telang Baru.000 ton b.600.110. Barito Selatan dengan cadangan terukur 14.380.300 ton 690.45 % 2 2 3 2 3 2 46.856 ton 48.000 ton. Barito Selatan dengan jumlah cadangan terukur : 1.856.32 – 3. Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa merupakan endapan sediment dengan ukuran butir pasir dan mempunyai komposisi dominant kristal kuarsa.000 ton 640. endapan berada diareal seluas 544 hektar dengan karakteristik endapan sebagai berikut : − Warna : Putih.70 – 69.000 ton − Kereng Pangi Indikasi cadangan : 16.(Persero) CABANG I MALANG 2.000 ton − Pundu Indikasi cadangan : 5.000 ton. Sedangkan lokasi endapan lain yang cukup potensial terdapat didaerah : − Tanah Putih Indikasi cadangan : − Tanjung Jaringau Cadangan terukur : − Bukit Arang Cadangan terukur : − Pantai Harapan Indikasi cadangan : − Pengkang Indikasi cadangan : 4.16 % TiO : 0.438.955.000 ton − Petak Putih Cadangan terukur : − Parit Indikasi cadangan : 20.000 ton 30.000 ton − Telang Baru.23 % Fe O : 0.94 – 36.01 – 2. coklat kekuningan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -115 .000 ton.64 % MgO : 0. Manuhing dengan jumlah cadangan indikasi : 1.400.

04 – 1.680.000.000 ton 15.(Persero) CABANG I MALANG − − − Ukuran butiran : Halus .22 % Fe O : 0.160.160.000 ton 4.900. Pasir kuarsa sebagai bahan mentah dan industri gelas merupakan satu peluang untuk memperluas ekspor didaerah.000 ton 23.000 ton 650.000 ton Kualitas pasir kuarsa yang ada adalah sebagai berikut : Kebutuhan pasar dalam negeri untuk pasir kuarsa saat ini meningkat terutama untuk bahan industri gelas.10 – 0.07 % TiO : 0.001 – 0.400.000 ton 1.600. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -116 .28 % MgO : 0.46 meter Endapan lain berada didaerah : − Tuanan Indikasi cadangan : − Sungai Marui Indikasi cadangan : − Batengkong Indikasi cadangan : − Sungai Manyuluh Indikasi cadangan : − Sungai Hawuk Indikasi cadangan : − Lahei Indikasi cadangan : − Merapit Indikasi cadangan : − Takaras Indikasi cadangan : − Pembuang Indikasi cadangan : − Danau Sembuluh Indikasi cadangan : − − − − − SiO : 95.11 meter Ketebalan Overbuden : 0.000 ton 15.000 ton 3.16 – 99.kasar Ketebalan rata-rata : 1.900.16 % 2 2 3 2 3 2 4.68 – 1.950.000 ton 2.000 ton 3.8 % Al O : 0.

000 ton 19.(Persero) CABANG I MALANG c.000 ton − Batu Besar Indikasi cadangan : − Gunung Angah 21.10 % P O : 44 % Al O : 30.000 ton 39. Tipe endapan ini ada fosfat guano yang ditemukan didaerah Bukit Angah. Fosfat Pada saat ini hanya ada satu lokasi potensial yang sudah ditemukan di Kalimantan Tengah. Barito Selatan dengan kemungkinan cadangan sekitar 133. d.080 ton.000.500.337.000 ton 52.466.518.000.5 hektar dengan karakteristik batuan : − − Warna : Putih. Barito Utara dengan jumlah cadangan terindikasi sekitar 60.7 % Fe O : 6. Kalimantan Tengah mempunyai sejumlah endapan batu gamping yang sudah diselidiki yaitu didaerah Hayaping. Kualitas : Baik.000.000 ton 11. Batu Gamping Istilah untuk batu gamping dipakai untuk semua batuan sediment yang mengandung bahan karbonat.386 ton.000 ton Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -117 . Kualitas Fosfat yang ada adalah sebagai berikut : − − − − SiO : 7. Lokasi lain yang menyimpan endapan batu gamping adalah : − Wonorejo Indikasi cadangan : − Pendreh Indikasi cadangan : − Muara Sepayang Indikasi cadangan : − Muara Juloi Indikasi cadangan : − Batu Qadar Indikasi cadangan : 260. digunakan untuk industri semen.18 % 2 3 2 3 2 5 2 Endapan fosfat guano ini direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan local khususnya bidang perkebunan dan agrikultur. Endapan ini berada di area seluas 1.480. keabu-abuan kompak dan berfosil.

− Pangkalan Muntai. kecuali di Kecamatan Katingan Kuala. Kristal Kuarsa 8. Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat. Batuan Beku/Batu Belah Batuan beku adalah hasil pembekuan magma berkomposisi asam sampai basa. Ajang. biji besi tipe magnetis dijumpai didaerah Kabupaten Lamandau.280. Kabupaten Kotawaringin Barat.000 ton 150. Karena sifatnya yang sporadic maka data pasti tentang cadangan ataupun jumlah produksinya belum diketahui dengan pasti. putih dan kecoklatan (istilah pasar menyebutnya kecubung). Jenis ini telah lama diusahakan oleh masyarakat didaerah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Sukamara. Di Kalimantan Tengah dijumpai dibagian tengah kearah utara. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -118 . Nibung Terjun. Besi Biji besi mempunyai 2 tipe yaitu magnetis dan kolovial. sedangkan tipe kolovial dijumpai didaerah Kabupaten Kotawaringin Timur.000 ton 500. f. Lokasi endapan kristal kuarsa terdapat didaerah : − Pangkut. Lokasi dijumpainya batuan beku adalah : − Kabupaten Murung Raya − Kabupaten Barito Utara − Kabupaten Barito Selatan − Kabupaten Gunung Mas − Kabupaten Katingan − Kota Palangka Raya − Kabupaten Kotawaringin Barat − Kabupaten Kotawaringin Timur − Kabupaten Sukamara − Kabupaten Lamandau g.000 ton Di Kalimantan Tengah dikenal 3 macam yaitu kristal kuarsa yang berwarna ungu.(Persero) CABANG I MALANG Indikasi cadangan : − Sarang Burung Indikasi cadangan : − Bukit Sali Indikasi cadangan : e.

Kabupaten Katingan − Barito Timur Lokasi tipe kolovial berada didaerah : − Kenyala. Kabupaten Lamandau − Petarikan. Batu Ngasah dan Sungai Miri. k. Kecamatan Kahayan Hulu Utara. Kabupaten Katingan. yang berasosiasi dengan besi. Kabupaten Lamandau − Tumbang Manggu. h. sedangkan tipe kolovial terdiri dari limonit dan Ilmenite. Air Raksa Air Raksa sebagai bahan pada dijumpai mineral Cinabar yang merupakan senyawa HgS. Cadangan bijih besi yang sudah ditemukan 41. Zircon Zircon sebagai bahan pada logam yang keterdapatannya sebagai hasil sampingan kegiatan pertambangan emas alluvial. Dijumpai didaerah Tumbang Manggu dan Sungai Manukoi. j. Lokasi tipe magnetis berada didaerah : − Bukit Karim. Belum ada catatan pasti tentang potensi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -119 .(Persero) CABANG I MALANG Tipe magnetis terdiri dari hematite dan pegmatite. Kecamatan Sanaman Mantikei. Tembaga Tembaga di Kalimantan Tengah juga dijumpai sebagai indikasi. Di Kalimantan tengah keterdapatannya juga masih merupakan indikasi didaerah Rantau Pandan. Di Kalimantan Tengah timah hitam dijumpai didaerah Rungan Hirang. Kegiatan tahap lanjutan untuk mendapatkan informasi mengenai timah hitam di Kalimantan Tengah belum dilakukan.2 juta ton. Timah Hitam Timah Hitam yang lebih dikenal sebagai timbale dijumpai sebagai indikasi. Kabupaten Lamandau − Bukit Gojo. Kabupaten Gunung Mas. i. Kecamatan Kotabesi. Pada saat ini menjadi bahan galian primadona dan terdapat menyebar luas diseluruh Kalimantan Tengah bagian barat. Kabupaten Kotawaringin Timur.

Kabupaten Murung Raya Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang mengelola potensi objek wisata di daerah ini. Arung Jeram ( wisata tantangan ) b. 2. Disamping itu keramahan masyarakat merupakan daya tarik pula. keamanan. riam. c. diantaranya berupa : a. yang hingga saat ini belum dikelola dengan baik. Taman berburu d. Kabupaten Murung Raya mempunyai kekayaan alam yang sangat luas. 2. hutan alam dan sumber air panas. kebudayaan. keindahan alam. Kabupaten Murung Raya memiliki potensi pariwisata yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi ekowisata.(Persero) CABANG I MALANG produksi Zircon Kalimantan Tengah pada saat ini.6. fasilitas wisata seperti tempat makan. danau.6. pegunungan. air terjun. Potensi wisata tersebut dapat mengandalkan kekayaan alam yang dimiliki. antara lain : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -120 . Wisata alam ( sungai.000 ton per tahun. Taman keanekaragaman hayati dan agro-wisata. Keunikan berupa sejarah masyarakat. penyelenggaraan wisata. Hal-hal yang perlu disempurnakan untuk mendukung hal tersebut adalah pengelolaan transportasi.1 jaringan jalan dan alur sungai yang dapat dilalui oleh kapal. gau. Produksi diperkirakan ± 150. Objek wisata budaya yang potensial untuk dikunjungi oleh para wisatawan baik dari dalam negeri maupun dari luar. dan keunikan hukum.6. Sektor pariwisata di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Untuk mengembangkannya diperlukan promosi serta pengelolaan yang profesional.6 Sektor Pariwisata Lokasi rawa memiliki keunikan yang dapat dikelola sebagai tempat wisata khas milik suatu wilayah. desa-desa tradisional. Potensi alam dan budaya merupakan potensi wisata. promosi yang memadai dan profesionalitas listrik. Berdasarkan karekteristik wilayahnya.

wisata. di desa merupakan rumah khas suku dayak. Makam Sultan Muhammad Semam Makam bersejarah ini terdapat di pusat kota Puruk Cahu. Objek wisata yang cukup menarik ini terletak di kaki bukit Manyawang. Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang dan mengelola budaya potensi objek potensi Sektor wisata di daerah ini. Sultan Muhammad Semam adalah Sultan Kerajaan Banjar. Potensi alam merupakan baik. Betang Konut merupakan salah satu betang yang masih berdiri dari suku dayak siang. Beliau adalah penerus perjuangan Pangeran Antasari dalam memimpin perang Barito selama lebih dari 40 tahun melawan kolonial. anak sungai Tihis. Gambar 2. Betang Konut Betang Betang atau Konut rumah terdapat panjang.17 Obyek Wisata Betang Konut 3). Konut wilayah kecamatan Tanah Siang. yang hingga saat ini belum dikelola pariwisata dengan di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. kurang lebih 8 KM dari Puruk Cahu. cabang dari sungai Mendaun anak sungai Kapuas. mampu menarik para wisatawan untuk berkunjung. Gambar 2.18 Obyek Wisata Pandulangan Emas Masuparia Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -121 . Pandulangan Emas Masuparia Lokasi pendulangan emas masupari ada di lembah aliran sungai Masupa. lokasi ini dapat dicapai melalui jalan darat. 2).(Persero) CABANG I MALANG 1). Perang Barito berakhir tahun 1903 seiring dengan wafatnya Sultan Muhammad Semam serta tertangkapnya Panglima Batur.

19 Obyek Wisata Pasir Putih 5). menuju obyek wisata air terjun Bumbun dan Monumen Equator di Kecamatan Utut Murung.(Persero) CABANG I MALANG 4). Gambar 2. Obyek wisata Dirung Duhung terletak di Kecamatan Tanah siang kurang lebih 20 km dari kota Puruk Cahu Ibukota Kabupaten Murung Raya. Obyek wisata ini dapat ditempuh kurang lebih 4 jam dengan menggunakan kendaraaan roda empat maupun roda dua dari arah Ibukota Kabupaten Murung Raya Puruk Cahu. Air Terjun Dirung Duhung Kawasan ini dikembangkan dan dilindungi oleh Pemerintah Kabupaten Murung Raya dengan membangun berbagai fasilitas wisata untuk kenyamanan para wisatawan yang akan mengunjungi kawasan wisata ini yang sangat potensial dijadikan gelanggang wisata Arung Jeram. Gambar 2. Wisata Pasir Putih Obyek Wisata ini dikenal dengan sebutan Bukit Tengkorak.20 Obyek Wisata Air Terjun Dirung Duhung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -122 . yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

(Persero) CABANG I MALANG

6). Air Terjun Bumbun Obyek wisata ini terletak di desa Tumbang Olong, keindahan alamnya yang sangat menarik dengan percikan airnya yang sangat jernih. Tidak heran pada hari-hari liburan banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke lokasi ini. Jaraknya, kurang lebih 100 km dari ibukota Puruk Cahu. Gambar 2.21 Obyek Wisata Air Terjun Bumbun 2.6.6.2 Kabupaten Barito Kuala

Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Barito Kuala ada beberapa tempat wisata yang lazim dikunjungi oleh wisatawan seperti Taman Wisata Alam Pulau Kembang, Cagar Alam Pulau Kaget Alur Sungai Barito, dan Makam Syekh H. Abdussamad Wisatawan terbanyak selama Tahun 2007 berkunjung Taman Wisata Pulau Kembang dan Tempat relegius Makam Sekh H. Abdul Samat yakni berjumlah 13.225 orang dan 11.825 orang. Wisatawan yang berkunjung ini berasal dari wisata manca negara berjumlah 125 orang dan sisanya wisatawan nusantara 49.865 orang. Tabel 2.34 Obyek Wisata di Kabupaten Barito Kuala
Nama Obyek Wisata Taman Wisata Alam Pulau Kembang Jenis Alam Daya Tarik Kera dan Bekantan Sungai dan Pulau Bakut Tanah Lapang dan Danau Tanaman Jeruk Pemandangan Sungai Barito Kerbau dan Rawa Makam Ulama Lokasi/ Tempat Kec. Alalak Jarak ke Objek Wisata (Km) 60

Jembatan Barito

Buatan

Kec. Alalak

50

Agropolitan Terantang

Buatan

Kec. Mandastana

25

Wisata Agro Sungai Kambat

Agro

Kec. Cerbon

5

Siring Wisata Marabahan

Buatan

Kec. Marabahan Kec. Kuripan Kec. Marabahan Kec. Alalak Kec. Alalak

0

Peternakan Kerbau Kalang

Alam

60

Makam H. Abdussamad

Ziarah

0.5

Makam Datu Kayan Makam Datu Aminin Ziarah Makam

Ziarah Ziarah

Makam Ulama Makam Ulama

50 56

Sumber : Dinas Lingk. Hidup,Kebersihan, Pariwisata dan Budaya Kab. Barito Kuala

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -123

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.7 Sektor Energi 2.6.7.1 Kebutuhan Tenaga Listrik

Tinggi rendahnya pemakaian listrik adalah merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat disamping pemakaian air minum (air bersih). Adanya peningkatan yaitu banyaknya listrik yang terjual selain untuk konsumsi pemerintah, lainnya dan susut/hilang, dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya derajat kesejahteraan masyarakat. 1. Kabupaten Barito Selatan Pada tahun 2005, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Selatan sebanyak 13.042 sambungan. Kecamatan Dusun Selatan merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 7.676 sambungan dan daya yang terjual sebesar 11.120.192 Kwh. Sedangkan Kecamatan G. B. Awai merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terkecil, yaitu 485 pelanggan dengan daya yang terjual sebesar 315.273 Kwh.

Tabel 2.35 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 1,310 968 1,567 7,676 1,036 485 13,042 11,966 Daya Terpasang (VA) 818,250 577,900 921,960 7,316,100 615,150 299,950 10,549,310 Listrik Terjual (Kwh) 1,080,143 643,327 1,141,484 11,120,192 647,479 315,273 14,947,898 15,211,283 15,129,465

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -124

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Kabupaten Barito Utara Pemakaian energi listrik di Kabupaten Barito Utara didominasi oleh pelanggan rumah tangga. Pada tahun 2007, jumlah pelanggan rumah tangga mencapai 11.788 rumah tangga dengan pemakaian daya listrik sebesar 18.638.437 Kwh. Jumlah produksi dan pemakaian tenaga listrik pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.36 Produksi dan Pemakaian Tenaga Listrik Menurut Unit Pembangkit pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Unit Pembangkit Rtg Muara Teweh ULD Benangin ULD Lemoo Sub Rtg Tumpung Laung ULD Bintang Ninggi ULD Luwe Hulu ULD Montallat Sub Rtg Kandui ULD Sabuh Kantor Jaga M. Lahei Jumlah

Produksi (Kwh) 20,135,098 214,872 516,224 218,966 100,987 512,746 66,241 21,765,134

Dijual (Kwh) 15,804,410 207,043 406,028 472,314 303,795 185,399 98,100 478,550 59,897 622,901 18,638,437

Dipakai Sendiri Susut / Hilang (Kwh) (Kwh) 1,265,853 1,732,128 7,414 43,030 33,139 2,607 33,277 6,232 1,265,853 1,857,827

Sumber : PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

3.

Kabupaten Barito Timur Pada tahun 2007, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Timur sebanyak 11.705 sambungan. Kecamatan Dusun Timur merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 3.375 sambungan dan daya yang terjual sebesar 6.229.654 Kwh. Tabel 2.37 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Pelanggan 1,160 3,375 764 617 3,024 1,403 498 864 11,705 Daya Terpasang 1,423,585 2,938,250 212,474 338,050 1,603,055 764,740 441,590 798,626 8,520,370 Listrik Terjual 216,855 6,229,654 60,450 30,135 212,771 105,635 52,120 86,027 6,993,647

Sumber : PT. PLN Ranting Ampah & Tamiang Layang

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -125

(Persero) CABANG I MALANG

4.

Kabupaten Murung raya Listrik merupakan fasilitas publik yang sangat strategis dalam mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan wilayah di Kabupaten Murung Raya. Sektor ini mampu memberikan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat/rumah tangga maupun terhadap pengembangan industri, perdagangan dan jasa-jasa serta kegiatan pemerintahan. Seiring dengan pemekaran wilayah, dinamika penduduk terus bertambah, kebutuhan akan listrik meningkat setiap tahunnya. Pengembangan sumberdaya air dalam rangka mendukung program tenaga listrik menjadi kebutuhan yang utama saat ini apalagi dengan meningkatnya aktivitasaktivitas pembangunan di Kabupaten Murung Raya. Listrik merupakan sumber energi yang penting bagi kehidupan manusia. Ketergantungan manusia akan sumber energi listrik ini semakin meningkat, baik sebagai alat penerangan, sumber energi bagi alat rumah tangga atau perkantoran dan sarana penggerak kegiatan ekonomi dalam masyarakat. Kebutuhan tenaga listrik bagi Kabupaten Murung Raya bersumber dari PLTD PT. PLN Cabang Murung Raya. Pada Tahun 2003 jumlah daya terpasang di Kabupaten Murung Raya sebesar 2.652.700 VA. dan daya terpakai 3.711.794 Kwh dengan jumlah pelanggan sebanyak 3.302 rumah tangga. Dibandingkan dengan jumlah rumah tangga sebanyak 20.504 KK maka hanya 16,10% dari rumah tangga yang sudah memanfaatkan aliran listrik.

5.

Kabupaten Kapuas Sektor rumah tangga merupakan pelanggan terbesar PLN di Kabupaten Kapuas. Sebanyak 36.886 pelanggan telah terdaftar menjadi pelanggan PLN pada tahun 2007. Pelanggan rumah tangga ini telah menyerap 67.88% dari energi listrik yang terjual. Tabel 2.38 Pelanggan Listrik di PLN Kuala Kapuas
No 1 2 3 4 Jenis Pelanggan Rumah Tangga Usaha Industri Publik Jumlah Pelanggan 36,886 1,706 20 1,397 Kwh Terjual 32,459,014 4,274,857 8,015,305 3,069,915

Sumber : PT PLN (Persero) Wil VI Cabang Kuala Kapuas

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -126

(Persero) CABANG I MALANG

Industri 17% Usaha 9%

Publik 6%

Rumah Tangga 68%

Gambar 2.22 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Kapuas 6. Kabupaten Barito Kuala Jumlah pelanggan listrik pada Tahun 2007 berjumlah 517.064 pelanggan dengan daya tersambung sebesar 345.451.520 VA. Untuk KWH terjual sebesar 43.574.172 kwh. Untuk pelanggan yang terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga sebesar 493.664 pelanggan, kemudian kelompok tarif sosial sebesar 14.365 pelanggan. Sedangkan pelanggan yang terkecil pada kelompok tarif Industri yaitu berjumlah 92 pelanggan. Hal ini disebabkan pengelolaan pelanggan yang besarnya diatas 83.500 VA langsung ditangani oleh PT PLN Cabang Banjarmasin karena letaknya berseberangan kota Banjarmasin tepatnya di Kecamatan Tamban dan Alalak. Daya tersambung dan KWH terjual juga terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga kemudian diikututi kelompok tarif kantor dan PJU yakni masingmasing besarnya 34.788.304 kwh dan 4.463.464 kwh. Tabel 2.39 Pelanggan Listrik Di PT PLN Ranting Marabahan 2007
No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah Tahun 2006 Tahun 2005 Daya Pelanggan VA Tersambung KWH Terjual 10,467,650 14,365 10,467,650 885,603 295,541,400 493,664 295,541,400 34,788,304 20,143,100 6,081 20,143,100 3,203,546 708,000 92 708,000 92,668 18,591,370 2,862 18,591,370 4,463,464 140,560 345,451,520 517,064 345,451,520 43,574,145 324,441,870 535,443 324444870 41,141,668 43,175 265,982 3192292 43,175

Sumber : PT PLN Cabang Marabahan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -127

(Persero) CABANG I MALANG

PS dan TS Indust r i 0% Usaha 6% Kant or dan PJU 5% 0% Sosial 3%

Rumah Tangga 86%

Gambar 2.23 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Barito Kuala

2.6.7.2

Pusat Beban Kalimantan Selatan

Pusat beban Kapuas, Barito dipasok dari sistem interkoneksi 150 kV dan 70 kV Sistem Kalimantan Selatan. Kapasitas terpasang saat ini sebesar 117 MW yang terdiri atas PLTA 30 MW, PLTG 21 MW dan PLTD 66 MW. Untuk mengurangi peranan PLTD dan meningkatkan keandalan sistem, sedang dibangun jaringan transmisi 150 kV sampai ke sistem Banua Lima yang akan beroperasi akhir 1996 dan pengembangan transmisi ke Palangka Raya yang akan beroperasi tahun 1998. Kebutuhan tenaga listrik di sistem Kalsel diproyeksikan akan tumbuh 13%/tahun sehingga beban puncak saat ini 107,7 MW, diperkirakan akan meningkat menjadi 169,9 MW pada tahun 1998. Jumlah desa berlistrik saat ini di kawasan andalan DAS KAKAB adalah 166 desa dari total 484 desa dan direncanakan tambahan desa berlistrik selama Repelita VI sebanyak 91 desa.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -128

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.8 Sektor Air Bersih Sehubungan dengan kebijakan Departemen Permukiman dan prasarana Wilayah dalam ‘ pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh dan terpadu dikenal sebagai ‘ One river, One Plan and One Management’ maka salah satu permasalahan yang berkembang di kawasan Barito adalah masalah penyediaan air baku. Berikut angka statistik yang berkaitan dengan penyediaan air bersih di WS Barito-Kapuas: Tabel 2.40 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 299 297 962 5,532 546 142 7,778 7,219 9,342 Air Disalurkan (M3) 42,751 38,512 95,516 1,103,346 50,356 11,171 1,341,652 1,231,854 1,490,312 Nilai (Rp) 78,846,600 71,425,200 200,049,200 2,653,478,450 103,955,600 25,008,800 3,132,763,850 2,477,042,250 2,244,260,400

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Tabel 2.41 Jumlah Air Minum Yang Disalurkan Menurut Jenis Konsumen di PDAM Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Konsumen Rumah Tangga Hotel/Obyek Wisata Badan Sosial dan Rumah Sakit Pertokoan/Industri Umum Instansi Pemerintah Lainnya Susut Jumlah Pelanggan (buah) 478 1,109 89 110 934 103 152 2,975 Air Disalurkan 3 (m ) 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 507,532 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 1,110,639,600

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Utara

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -129

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.42 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Pelanggan 478 1,109 89 110 934 103 152 46 3,021 2,655 2,594 Air Disalurkan 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 3,273 510,805 433,622 413,018 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 8,127,500 1,118,767,100 1,067,659,900 572,688,050

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Timur

Tabel 2.43 Pemakaian Air Bersih Kabupaten Murung Raya
Produksi (m3) 274,416 Jumlah Pelanggan 1453 Jumlah KK 20504 Prosentase Pemakaian 7.09

Sumber: Situs Resmi Kabupaten Murung Raya (2008)

Tabel 2.44 Jumlah Pelanggan dan Banyaknya Air Bersih Yang Disalurkan di PDAM Kabupaten Kapuas
No 1 2 3 4 Tahun 2004 2005 2006 2007 Jumlah Pelanggan 13,045 13,626 10,953 11,255 Volume (m3) 3,131,054 2,294,742 2,770,116 2,722,209

Sumber : PDAM Cabang Kapuas

Tabel 2.45 Rekapitulasi Unit PDAM Barito Kuala 2007
No 1 2 3 4 5 6 7 Unit Marabahan Bakumpai Cerbon Rantau Badauh Alalak Anjir Pasar Tamban Jumlah Produksi (m3) 1,956,859 44,529 42,937 105,578 897,152 123,264 1,690 3,172,009 Distribusi (m3) 927,946 35,619 37,799 100,616 772,902 82,834 1,558 1,959,274 Terjual (m3) 764,220 29,349 32,615 92,782 710,943 47,795 1,321 1,679,025 Kebocoran (m3) 163,726 6,270 5,184 7,834 61,959 35,039 237 280,249 Prosentase Sambungan Kebocoran Rumah 17.64 2,519 17.60 219 13.71 197 7.79 355 8.02 3,530 42.30 413 15.21 27 14.30 7,260

Sumber : PDAM Barito Kuala 2007

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -130

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.9 Sektor Kesehatan 2.6.9.1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah tenaga medis yang ada di Kabupaten Barito Selatan adalah 701 0rang yang terdiri dari dokter umum 26 orang, dokter gigi 8 orang dan bidan 159 orang. Komposisi tenaga medis di Kabupatten Barito Seltan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.46 Jumlah Tenaga Medis di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara Gunung Bintang Awai Dusun Tengah Pematang Karau Awang Petangkep Tutui Dusun Timur Benua Lima Jumlah Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat Apoteker 1 1 2 9 1 2 2 1 1 1 4 1 26 1 1 0 2 0 0 1 0 0 0 2 1 8 5 10 10 26 17 17 21 11 8 9 18 7 159 10 13 13 86 10 19 24 10 5 6 31 5 232 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 1 0 8 SPKU Tenaga Jumlah Pembantu Teknis 0 5 22 3 7 35 5 9 39 44 82 256 4 2 34 8 14 4 4 1 20 5 112 7 7 2 2 2 24 7 156 53 69 28 20 19 100 26 701

Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2006

2.6.9.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah rumah sakit umum pada Kabupaten Barito Utara masih 1 unit yang berada di Kecamatan Teweh Tengah. Sedangkan Puskesmas yang ada berjumlah 11 buah dimana terbanyak berada di Kecamatan Teweh Tengah berjumlah 4 unit. Sarana kesehatan yang ada di Kabupaten Barito Utara pada masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 2.47 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Rumah Sakit Umum 0 0 0 0 1 0 1 Puskesmas 1 2 1 1 4 2 11 Puskesmas Pembantu 7 8 3 9 27 15 69 Rumah Bersalin 0 0 0 0 2 0 2

Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -131

Pada tahun 2007 meningkat lagi menjadi 458 orang yang bekerja di bidang kesehatan.3 Kabupaten Barito Timur Dibidang kesehatan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2007 Rumah Sakit 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 Puskesmas 1 2 1 1 2 1 1 0 0 9 8 8 Puskesmas Pembantu 4 6 4 4 9 7 5 4 7 50 42 42 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Jumlah tenaga medis yang bekerja terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Apoteker 1 0 0 0 3 1 5 SPKU Pembantu Perawat 1 2 0 0 4 0 7 Tenaga Teknis 7 16 5 9 36 14 87 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2.6. pada tahun 2007 bertambah menjadi 50 unit. Pada tahun 2005 terdapat 417 orang yang bekerja di bidang kesehatan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -132 . 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat 0 2 2 2 4 2 12 0 0 0 0 1 0 1 5 11 5 11 37 14 83 6 11 6 11 25 18 77 Apoteker/Ass.48 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Utara No.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Sedangkan pada tahun 2006 terdapat 452 orang yang bekerja dibidang kesehatan. Tabel 2. Hal ini terlihat dari jumlah puskesmas pembantu yang ada. pembangunan prasarana kesehatan terus ditingkatkan terutama untuk puskesmas-puskesmas pembantu.9.49 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Timur Tahun 2007 No. Dimana pada tahun 2006 berjumlah 42 unit.

6. Apt Perawat 2 4 1 3 2 8 Tenaga Teknis 0 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Tabel 2. jumlah dokter umum yang bertugas di Kabupaten Murung Raya sebanyak 7 orang. Tabel 2.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.50 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Timur No.4 Kabupaten Murung Raya Pada tahun 2003.52 Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Dokter Umum Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Puskesmas 1 2 2 2 1 8 Puskesmas Pembantu 5 8 13 6 8 40 Jumlah 6 10 15 8 9 48 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -133 .51 Banyaknya Tenaga Kerja Kesehatan Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Kecamatan Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Dokter Umum 1 2 2 1 1 7 Dokter Gigi 1 1 45 Bidan 2 11 14 11 7 Pengatur Rawat 8 11 12 13 7 51 Apoteker SPKU Pemb. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Dokter 2 11 1 1 4 1 0 0 0 20 22 20 Perawat 9 86 11 13 25 17 7 5 4 177 171 129 Bidan 8 35 3 7 9 10 3 4 5 84 94 90 Lainnya 11 111 7 6 30 12 0 0 0 177 165 178 Jumlah 30 243 22 27 68 40 10 9 9 458 452 417 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2. yang tersebar di masing-masing kecamatan di kabupaten Murung Raya. Jumlah Puskesmas sebanyak 8 buah dan Puskesmas Pembantu sebanyak 40 buah.9. Ass.

531 3.6.132 4. RSU sebanyak 1 unit dan Klinik KB sejumlah 28 unit Tabel 2.811 Sumber : Kapuas dalam Angka tahun 2006 2.5 Kabupaten Kapuas Jumlah puskesmas di Kabupaten Kapuas berjumlah 23 buah terbanyak di Kecamatan Selat sebanyak 6 buah dan disusul Kecamatan Kapuas Murung sebanyak 4 buah.9. Puskesmas 76 unit. Kalsel)’. BKIA sebanyak 5 unit.54 Sarana Kesehatan di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kabupaten/Kota Baritokuala Sarana Kesehatan (unit) BKIA Puskesmas RSU 5 1 76 Posyandu 344 Klinik KB 28 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.404 9.(Persero) CABANG I MALANG 2.95 6.446 4.677 3.454 56.6 Kabupaten Barito kuala Fasilitas kesehatan yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas Posyandu sebanyak 344 unit.989 3.53 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Kapuas Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Kapuas Kuala Kapuas Timur Selat Basarang Kapuas Hilir Pulau Petak Kapuas Murung Kapuas Barat Mantangai Timpah Kapuas Tengah Kapuas Hulu Jumlah Puskemas 2 1 6 1 1 1 4 1 3 1 1 1 23 Dokter Umum 1 1 7 1 1 1 2 1 1 0 1 0 17 Dokter Gigi 0 0 3 0 1 1 0 0 0 0 0 0 5 Paramedis lainnya 15 6 71 10 12 5 40 12 32 7 14 6 230 Rata-rata Kunjungan 12.663 28. Sarana kesahatan di Kabupaten Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2. September 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -134 .924 4.787 6.9.6.854 145.

020.228.00 2007 2.755. untuk mengukur keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi pada suatu daerah. Tabel 2.078.197.92% (dengan industri besar).980.231.92) (9.14 1.72 1. PDRB harga berlaku digunakan untuk menghitung struktur perekonomian. digunakan indicator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).211.00 1.00 1.22 5.(Persero) CABANG I MALANG 2.974.92 1.00 2005 2.7.633.65) 0.00 2006 2.1. lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2005 yang mencapai 5.732.7.206.591.35 5.67% (tanpa industri besar) dan -2.00 7.473.00 3. 2.441.35 (4. Dari sisi penawaran.00 Rata-rata Pertumbuhan Sumber : Kabupaten Barito Kuala Dalam Angka 2008 Tahun Pertumbuhan (%) PDRB atas dasar Harga Konstan (Rp) Pertumbuhan (%) 1.183.08) 13.100.67 17.79) 1.298.770.340.086.516. melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan terutama di dorong oleh melambatnya pertumbuhan sektor industri besar.11 16.738.930. Perhitungan PDRB terbagi atas PDRB harga berlaku dan PDRB harga konstan.55 PDRB Barito Kuala 2004 .1 Kabupaten Barito Kuala Perekonomian Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan sebesar 6. sedangkan PDRB harga konstan digunakan untuk menghitung pertumbuhan perekonomian.97 15.75 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -135 .255.00 Rata-rata Pertumbuhan 5.00 2007 2.7 PERTUMBUHAN EKONOMI DI WILAYAH STUDI Sesuai dengan kelaziman yang berlaku.687.234.768.00 1.917.00 2.65% (dengan industri besar).145.2007 PDRB atas dasar Harga Berlaku (Rp) PDRB Dengan Industri Besar 2004 2.35 Rata-rata Pertumbuhan (2.00 2005 1.1 Provinsi Kalimantan Selatan 2.00 Rata-rata Pertumbuhan PDRB Tanpa Industri Besar 2004 1.00 (3.22% (tanpa industri besar) dan -9.00 2006 1.67 6.585.857.

700.00 3.300.00 5.021.26 13.45 6.00 44.39 8.79 2005 1.800.00 Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.900.700.900.(Persero) CABANG I MALANG 2.43 14.28 4. Gas dan Air Bersih 56.00 Pertambangan dan Penggalian 41.400.95 0.06 Nilai Pertanian 292.16 100.19 3.33%.000.07 0.00 105.00 Listrik.43 5.2. kemudian sektor perdagangan.30 12. Tabel 2.27% dari tahun 2004 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3.100.000.00 62. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barito Selatan dari berbagai kegiatan ekonomi yang terjadi di wilayah kabupaten pada tahun 2005 adalah sebesar 5. pengangkutan dan komunikasi 12.00 92.00 Bangunan/Konstruksi 100.07 14.00 736. Tabel 2.00 Industri Pengolahan 2.06% atau naik sebesar hampir 1.900.01%. hotel dan restoran sebesar 14.2%.72%.00 Perdagangan.65 0.56 PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2003-2005 (dalam jutaan rupiah) Tahun Atas Dasar Harga Pertumbuhan (%) Berlaku Konstan 2000 2003 870.00 3.33 12.700.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertumbuhan (%) 3.100. Hotel & Restoran 89.1 Kabupaten Barito Selatan Angka PDRB dapat menunjukkan sebearapa besar kegiatan perekonomian yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu (satu tahun) di Kabupaten Barito Selatan dan pertumbuhan dari kegiatan perekonomian Kabupaten Barito Selatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.79 3.57 Peranan PDRB menurut sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku (dalam jutaan) Lapangan Usaha 2004 % 41.43%.400.800.2 Provinsi Kalimantan Tengah 2.79%.600.00 93.00 Jasa-jasa 701.7.700. jasa-jasa 13.00 % 41.900.600.900.40 8.72 3.7.00 675.94 10.90 5.00 3.00 25.00 95.20 0.41 13.100.00 2.01 100.61 3.800.00 TOTAL Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -136 .00 736.00 701.46 9.232.300.300.72 5. Persewaan & Jasa Perusa 22.00 2004 1.06 Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Kontribusi sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan terbesar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 sebesar 41. bangunan/konstruksi sebesar 8.00 7.000.600.00 2005 Nilai 303.57 9.

8 3.9 7.3 2006 461. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.2007 No. Tabel 2. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2005 385.73 % dibanding tahun sebelumya atau sebesar 886.48 %.2 Kabupaten Barito Timur Untuk wilayah Kabupaten Barito Timur.1 886.4 35.01 %. Tabel berikut menunjukkan PDRB dari berbagai sektor dan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Timur. Tahun 2007 PDRB atas dasar harga berlaku. restoran dan hotel 12.7.8 70.58 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah) Tahun 2005 .5 124.7 39.0 5.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan.8 39.3 76.7 96.3 2007 542. Gas dan Air 8% Bersih 0% Gambar 2.7 63.31 %.09 % dari tahun sebelumnya. sektor pertanian memberi sumbangan/peranan terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu 53.9 1023.1 36. Hotel Pertambangan dan & Restoran Penggalian 14% Bangunan/Konstruks 0% Industri Pengolahan i 6% Listrik. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 sebesar 1.3 746.3 43. disusul sektor jasa 12. PDRB atas dasar harga konstan 2000 terjadi kenaikan 5.2. Persewaan & Jasa Perusahaan 3% Pengangkutan dan Komunikasi 13% Jasa-jasa 13% Pertanian 43% Perdagangan. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.1 4.6 111.2 57.3 111.6 99.4 milyar rupiah.5 2.023.19 persen dan sektor konstruksi 7.8 2.4 53.4 25.3 125. sektor perdagangan.8 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -137 .9 30.24. Distribusi PDRB Kabupaten Barito Selatan pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2000 2.8 milyar rupiah atau meningkat 15.

2.721.59 12.24 3.84 6.73 PDRB Kalteng 2. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2004 395.26 1.151.281.282.46 5.275.884.166.19 2006 441.91 3.91 5.610.567.7.30 4.20 57.62 61. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000.10 10.73 4.15 9.22 5.59 Laju Pertumbuhan PDRB Barito Timur dan PDRB Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 PDRB Barito Timur Primer 4.230.86 5. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.75 148. Tahun 2006.13 % PDRB Barito Utara berdasarkan harga berlaku menurut lapangan usaha dan pertumbuhan PDRB Barito Utara dapat dilihat pada tabel berikut.24 9.083.84 2.06 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2.87 5.65 195. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.965.91 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -138 .752.00 45.161. 8.60 83.26 2005 413.281 milyar rupiah atau meningkat sebesar 10. Tabel 2.604.048.161.47 %.71 68. terjadi kenaikan sebasar 3.09 3.83 70.2006 No.29 0.58 216.77 Sekunder 3.42 7.126.10 5.90 5.495.161 milyar rupiah. Kemudian disusul secara berturutturut oleh sektor perdagangan.712.961.41 17.201.06 5.34 PDRB 0.08 189.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.62 105.538.81 4.76 75.35 223.17 11.29 3.3 Kabupaten Barito Utara PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006 sebesar 1.12 59.37 3.412.86 78. sektor jasa.51 217. sektor pertanian memberi sumbangan yang terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu sebesar 34.60 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) Tahun 2004 .89 87. dan sektor pengangkutan dan komunikasi yang besarnya masing-masing sebesar 17.27 1.25 63. sektor pertambangan dan penggalian.108.11 5.497.95 5.28 8.86 4.594.02 1.06 26.962.21 % dan 8.004.86 39.70 104.860.86 3. 16.33 % dari tahun 2005 yang besarnya mencapai 1.93 32.695.07 Tersier 2.44 %.370.336.88 %.65 9.18 % dari tahun sebelumnya atau hanya 824 milyar rupiah. hotel dan restoran.

maka perekonomian Kabupaten Murung Raya didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian. Pada tahun 2003 ketiga sektor tersebut mampu memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Murung Raya masing-masing 41.04% dan 20.90 3.05 1.40 0.24 4.91 4.47 PDRB 4.86 2.94 3.17 3. 21.57 0. Pertumbuhan tahun 2001 sebesar -0. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya baik atas dasar harga berlaku (4.2.82 1.46%. dan pada tahun 2003 pertumbuhan mencapai 4.54 -19.23 3.78%.61% atas dasar harga konstan 4. Apabila laju pertumbuhan ekonomi secara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -139 .49%.21%.05 4.41 8.05%.46%) lebih rendah jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi.19 10. Kemudian pertumbuhan atas dasar harga berlaku pada tahun 2001 mencapai 13.04%).29 Tersier 4.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.58% dan -0.86 Sekunder 6. Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten.86%).94 3.61 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Utara (%) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB Barito Timur Primer 43.25% hingga 5.4 Kabupaten Murung Raya Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya ditunjukkan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan dan harga berlaku.90 -2.66%.90 3.21%. Pendapatan regional perkapita sering digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0.18 Ket : * Data tidak tersedia Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2. Keadaan PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2000–2003 di Kabupaten Murung Raya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya atas dasar harga konstan sejak tahun 2001 hingga tahun 2003 cenderung negatif.49%) maupun atas dasar harga konstan (-0.7. sektor Pertambangan dan Penggalian. selanjutnya pada tahun 2002 dan 2003 masing-masing -16.93 3. pada tahun 2002 terjadi pertumbuhan negatif (-12. Hotel dan Restoran.66 9. serta sektor Perdagangan. Laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi atas dasar harga berlaku mencapai 14.

633. Hotel dan Restoran (18%) serta sektor Jasa-jasa (10%). Keuangan. Sebaliknya jika laju pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0. 2.00%.695. Distribusi PDRB Kabupaten Kapuas pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -140 .3% hingga 5. maka akan terjadi peningkatan pendapatan regional perkapita masyarakat. sektor Perdagangan.741.5 Kabupaten Kapuas Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten. Pendapatan regional perkapita masyarakat Kabupaten Murung Raya pada tahun 2003 atas dasar harga konstan tahun 1993 mencapai Rp 2.096.7.(Persero) CABANG I MALANG riil lebih besar dari pertumbuhan penduduk. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 2. maka perekonomian Kabupaten Kapuas didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian(48%). . Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan.25.dan atas dasar harga berlaku mencapai Rp 9.2. Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik. -. maka pendapatan perkapita masyarakat akan mengalami penurunan.

318.9 – 3.6 3.98 87.65 10. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.1 – 27.12 2.3 Sumber : Penelitian Lahan Rawa Kalimantan.0 80.43 118.9 – 4.81 11.653.1 Iklim Kondisi iklim berdasarkan data dari Penelitian Lahan Rawa 2002.0 2.4 1.7 KALIMANTAN SELATAN 23.332.88 217.0 1.12 107.650.021.74 10.96 345.228.442.845.95 290.879.97 473.546.2 – 5. Tabel 2.513.4 – 27.351.346.134.8.611. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1.033.14 195. 2.371.572.402.360.93 99.02 247.73 2007 1.406.62 PDRB Kabupaten Kapuas Berdasarkan Harga Berlaku No.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -141 .73 170. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.108.4 2.76 12. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.83 376.7 – 5.581. dimana berada pada daerah tropis.400.81 98.364.228.45 2005 1.87 3.936.6 – 6. angin berhembus membawa uap air.73 151.81 9.508. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angin muson tenggara.24 2006 1.8 HIDROLOGI WS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas yang melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.73 587.8 – 6.9 70.03 152.998.0 2.530.263.29 11.085.731.63 Kisaran Unsur Cuaca No 1 2 3 4 5 UNSUR CUACA Suhu udara Kelembaban Nisbi Penyinaran matahari Kecepatan Angin Evapotranspirasi Potensial Tanaman UNIT C % Jam/hr knoot Mm/hr o KALIMANTAN TENGAH 25.680.85 119.41 8.055.2 – 87.00 256.814. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau.521.92 297.834.486.408.583.920.49 2.7 – 97. didapatkan kisaran seperti pada table berikut ini.03 133. sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober.37 2.25 184.12 224. Selama musim hujan pada bulan November – April.48 146.386.078.263.32 2.80 350.423. Deskripsi kondisi faktor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini.73 8.121.811.

4 5 5.5 Mei Jun 27.3 79 82.60 55.0 45.1 83.3 4.1 35.6 79 77.5 26.8 4.3 53.0 70.5 82.80 60.5 27.5 26.25 3.0 40.6 26.9 82.7 Apr 27.0 1 1 2 25.6 84.00 Temperatur 26.8 83.0 35.75 5.3 63.6 26.6 82.8 55.9 4.1 82.8 55. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Pengamatan meteorologi pada stasiun Banjarmasin dan Awang Bangkal rekapitulasi grafiknya pada gambar berikut ini.80 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2.17 36.20 26.3 26.00 35.6 26.1 4.8 26.2 27.5 59. 2002 Catatan : 1) 2) Data dari Stasiun Banjarmasin dan Stasiun Palangkaraya Evapotranspirasi dihitung dengan metoda Penman 27.8 4.2 26.8 26.6 51 .1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 46.9 4.1 46.7 85.1 83.8 5.2 63.64 Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan (Lokasi PLG Kalteng) No 1 2 3 4 5 UNSUR Suhu udara Kelembaban Nisbi Kecepatan Angin Penyinaran matahari Evapotranspirasi UNIT C % knt Jam/hr Mm/hr o Jan Feb Mar 26.0 80.3 4.8 80.40 84.8 3.8 50.0 77.7 85 84.0 27.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.4 4.2 26.3 26.2 47.9 79.1 35.8 84.0 26.3 26.21 5.75 4.75 51.2 4.2 4.26.7 83.5 4.(Persero) CABANG I MALANG Kondisi klimatologi yang merupakan hasil penelitian pada daerah kerja “A” PLG Kalteng.0 50.75 5.7 26. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -142 .40 26.5 59.33 55.2 Sumber : Manual OP Proyek PLG.3 26. merupakan data rata-rata stasiun di Banjarmasin dan Palangkaraya adalah sebagai berikut : Tabel 2.0 26.75 55.33 4.0 82.66 50.0 27.8 85.6 4.8 47 35.8 26.20 27.6 79.0 36.0 75.8 80.6 4.3 Jul Ags Sep 26.3 53.5 4.3 Okt Nop Dec 27 26.

1 27.0 1 7 8 26.7 26.0 45.0 25.0 70.0 26.0 27.0 50. Sementara curah hujan di selatan DAS (hilir sungai) cenderung lebih rendah dibandingkan pada daerah hulu.40 40. Kelembaban relative adalah 82% pada stasiun Kota Banjarmasin.3 51 . 2.0 35.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Mean Relatively Humidity.0 45.00 Temperatur 26.0 81 . tinggi curah hujan rata-rata pada daerah pegunungan timur dalam DAS Barito adalah 3.000 mm/tahun.3 26.0 78.3oC. disimpulkan bahwa curah hujan cenderung lebih tinggi di pegunungan. sedangkan reratanya adalah 27.27.0 26.500 mm/tahun. and Temperature in Barito River Basin 90. Pada saat musim hujan.6 75.0 31 .40 83.0 80.0 85.8.0 84.0 37.0 60.0 26. sekitar 3oC per bulan.9 27.3 27.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.20 26.0 26.1 80.6 26.80 26. sedangkan terendah pada saat musim kemarau. kelembaban relatif bulanan adalah yang tertinggi. sampai minimum kurang dari 49%.60 26. Sunshine.0 25.20 27. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Kalimantan Selatan ( 2 ) Variasi suhu udara pada kondisi rata-rata maksimum adalah sebesar 32oC dan 22oC pada kondisi rata-rata minimum.0 27.0 86.0 85. yaitu pada pegunungan utara.4 56.3 79.0 45. Tinggi curah hujan rata-rata di pegunungan utara adalah sekitar 3.3 86. variasi suhu relatif kecil.0 6 30. Sementara itu.0 83.0 30.80 9 1 0 1 1 1 2 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2.0 43.7 26.0 39. dan di daerah datar selatan sekitar 2.0 75. Tabel data hujan dapat dilihat pada tabel di Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -143 .500 mm/tahun.2 Curah Hujan Seperti yang terjadi pada belahan wilayah kepulauan Indonesia lainnya.0 26.0 83.00 25.0 27.0 2 3 4 5 44.0 55.

28. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -144 . Wilayah diantara kedua DAS tersebut diambil pada wilayah ‘A’ eks PLG Kalteng.469 Mei-Okt 1. Tabel 2. 11 tahun). yang mengambil data-data curah hujan 10 tahun terakhir dari Stasiun Mandomai dan Stasiun Mentangai (1984 – 1994.65 Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan pada Zona Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Region Peg Peg Plain Jan 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec Annual 384 3. DAS Kapuas dan daerah antara kedua DAS tersebut. Nampak bahwa tinggi hujan pada musim hujan adalah sekitar 60% 70% dari curah hujan tahunan.(Persero) CABANG I MALANG bawah. dan makin rendah pada daerah dataran rendah di sekitar lembah sungai.930 316 2. Beberapa data berikut menggambarkan curah hujan di DAS Barito. Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan Kawasan Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Variasi kondisi curah hujan cenderung tinggi pada daerah pedalaman dan pegunungan.516 355 2.368 940 754 %DRY 39% 32% 30% %WET 61% 68% 70% Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito 450 403 400 350 331 300 374 326 339 330 Ms Kemarau 384 CH Bulanan 250 199 200 150 100 50 324 0 319 293 228 197 125 114 373 370 180 346 273 229 155 141 246 226 178 355 274 169 124 92 122 94 132 235 316 Peg Utara Peg Timur Plain area Jan Peg Utara Peg Timur Plain area 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Bulan Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec 384 355 316 Gambar 2.

917 1.2 179.66 Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tahun 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 MAX MEAN MIN Jan 172.1 254.9 40.659 1.7 42.6 346.503 Sumber : Manual OP Proyek PLG.6 207.9 35.4 250.0 100.7 86..7 266.0 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 229.446 2.9 33.2 232.8 333.8 138.7 44 10.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.896 149.2 21.8 25.4 172.2 Okt Nop Dec 33.67 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 589.8 2.0 81 .6 238 153.9 487.9 18.4 180.5 105.2 220 50.2 165.1 265 422.3 114.6 12.3 24.5 Mar 580.1 365.5 37.5 66.1 Annual RF 1.8 104.4 134.1 238 119.8 48.815 2.462 1.3 301.1 Mei 232.9 12 33.5 78.9 150.4 149.5 85.9 143.5 126.9 1 87.5 36.4 Jul 347 118 6.6 240.3 254.5 29.2 57.6 245.6 162.6 119.2 Sep 710.4 151.4 67.4 231.2 82.2 187.9 278.4 44.9 269.8 372.6 91.8 272.2 237.5 280.5 94.4 269 295.3 36.1 151.2 197.1 83.8 57 98.8 250.2 81.3 83.1 50.8 88.1 Feb 237.7 199.7 181.3 305.2 108.4 319.9 44.1 33.4 240.1 216.2 372.8 53.9 229.7 101.7 143.4 422. Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tabel 2.2 167.1 295.2 18.5 234.2 180.2 130.014 1.8 13.4 1 53.7 176.1 365.4 Feb 415.9 335.29.6 57 243.891 1.4 6. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Zone "A" PLG Kalteng 300.9 350.1 Apr 165.3 344.2 48.1 314.3 21.7 88.2 128 59.1 126.3 Jun 266.5 98.6 228.0 280.9 104.6 266.8 21.3 149.1 114 155.5 176.2 69.8 160.5 0.7 6.7 216.5 10.244 2.8 49 Okt Nop Dec Annual RF Month 251.4 Mei 468.9 Jun 29.5 110.3 204.0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep Okt No p Dec Gambar 2.2 506.0 1 97.9 162.9 40.8 38.1 160.2 381.6 274.5 83. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -145 .2 50.5 83.1 117 126.6 291.7 75 71.8 304.8 119.8 229.9 Sep 86.4 Ags 171 77.6 1.4 108.2 Mar 148.7 228.5 155.0 44.6 Jul 301.7 174.683 133 Sumber : Manual OP Proyek PLG.953 1.1 265.2 154.4 59.5 252.8 116.6 200.3 278.1 134 305.1 96.8 Ags 62.4 128 36.3 64.4 310.957 1.8 29.6 Apr 528 312.5 185.8 58.8 29.8 47 174.6 73.9 301.7 321.1 613.1 296.5 506.

5 31 2.7 1 49.7 Mar 548 247.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Basin Mean Rainfall in Barito River Basin 450 400 381 .4 Feb 459.5 254.0 1 150 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep 1 38.2 2.9 247.506 Sumber : Manual OP Proyek PLG.9 Nop 254.5 1 40.4 Jul 105.8 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 304.1 Apr 260.2 1 65.2 Dec Annual RF 306.3 293. Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tabel 2.1 237. Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -146 .9 254.5 Sep 130.8 Okt No p Dec Month Gambar 2.4 35.8 250 200 245.2 280.2 1 30.4 150 1 05. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Kapuas River Basin 450 400 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 306.9 Jun 165.2 295.2 Ags 84.9 Mei 237.5 Okt 140.31.3 77.9 300 250.5 89.2 1 54.9 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul 84.2 300 250 200 293.8 1 8.5 A gs Sep Okt No p Dec Month Gambar 2.4 280.68 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 530.30.5 260.

Adapun stasiun pengamat/penakar hujan tersebut adalah stasiun pengamat Gn. data iklim yang menggambarkan kondisi iklim di DAS Barito didapatkan dari beberapa stasiun pengamat yang ada (10 stasiun pengamat/penakar hujan) yang sebarannya dianalisa berdsasarkan pembagian wilayah iklim metoda Thiessen.69 Kondisi Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I.483 162.DAS Bahalayung Rata-rata Curah Hujan Tahunan 2.895 166.289 194.B B B.S.DAS Tabalong Kiwa 7 S.213 jumlah curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 197.86 10.885 mm.C B A.S. Sei Malang.C B B IV.827 194.DAS Martapura 1 S.85 mm.627 201.S.409 2.323 2. Kandangan. Secara umum kondisi iklim di DAS Barito seperti tabel berikut.C Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.816 190. II.288 2. Berdasarkan data tersebut diperoleh data bahwa curah hujan tertinggi yaitu sebesar 141.S. Binuang.208 Rata-rata Hari Hujan Per Bulan 11. III.823 B.039 192.3 13.145 11.588 8.DAS Riam Kiwa S. dan yang terendah adalah sebesar 58. 2.DAS Batang Alai 4 S.316 2.DAS Barito Tengah S.S. Barabai.S.S.DAS Barito Hilir S.167 mm.S. Sub DAS/ Sub Sub DAS S. dengan jumlah hari hujan tahunan rata-rata sebesar hari per tahun. Layang-layang Pengaron.DAS Tabalong Kanan 6 S. Berdasarkan data dari stasiun pengamat curah hujan di atas.479 Tipe Iklim B.DAS Alalak 2 S.761 195.327 2.61 mm – 369.302 1.993 2.B A.548 13. Kalsel)’. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -147 .723 204.S.958 8.091 191.B A.916 11.741 10.125 1.DAS Riam Kanan 3 S. Mabu’un.DAS Amandit 3 S.509 11.B A.473 13.389 2. Muara Halong.C B 2. DAS Barito termasuk tipe iklim B ( Schmidt Fergusson) dengan nilai Q rata-rata sebesar 0.926 Rata-rata Curah Hujan Bulanan 179.S.DAS Balangan 5 S. Jaro dan Marabahan.DAS Negara 1 S. Martapura.225 2.DAS Tapin 2 S. Tabel 2.518 12.S.982 175.064 B.426 189.(Persero) CABANG I MALANG Pada wilayah DAS yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan.DAS Danau Panggang Ds 8 S.921 12.

27 656.509 2.70 Tipe Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Station Binuang (Tapin) Kandangan (HSS) Barabai (HST) Muara Halong (HSU) Martapura (Banjar) Bakumpai (Barito Kuala) Jaro (Tabalong) Sungai Malang (HSU) Mabu'un (Tabalong) Gn Layang-layang (Banjar) Annual RF (mm) 2.509 712 2.255 2.281 1.926 2.783 2. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -148 .382 686 Tabel 2.356 2. Kalsel)’.342 606 2.342 2.2 641 427 660. Kalsel 589 622 2.281 B akumpai (B arito Kuala) Jaro (Tabalo ng) Sungai M alang (HSU) M abu'un (Tabalo ng) Gn Layang-layang (B anjar) 661 1.783 2.55 621.356 656 B inuang (Tapin) Kandangan (HSS) B arabai (HST) M uara Halo ng (HSU) M artapura (B anjar) 1.255 1.82 686.382 2.(Persero) CABANG I MALANG Annual RF dan Max RF DAS Barito.926 427 641 2.202 Max RF (mm) 826.66 605.434 2.202 826 2.434 2.87 589.11 711.44 Tipe B B B A B C A B B B Tahun 1977-2002 1977-2002 1990-2002 1978-2000 1997-1992 1986-1998 1976-2001 1976-1999 1976-2001 1978-2001 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.

Muara Teweh 2. Buntok 2.Karau Ampah Tampa Hayaping Bentot 2 0 LS Bingkuang Mangkatip 2 0 LS TAMIANG LAYANG Jenamas 114 0 BT 115 0 BT Gambar 2. KALIMANTAN TENGAH 115 0 BT S. Muara Teweh 2.Paku S. Hayaping POS KLIMATOLOGI 1. Tabak Kanilan 3. Ampah 4.Montallat 10 LS Lampeong Kandui BUNTOK Bambulung S. Tampa POS HUJAN 1.Murung 0 0 LS Tumbangolong 0 0 LS TUMBANG KUNYI Saripoi PURUK CAHU KETERANGAN MUARA TEWEH S.Benangin 1 LS 0 POS DUGA AIR (AWLR) 1.32. Kandui 3. Ampah Benangin Ketapang Tumpung Laung Pendang Tabak Kanilan S.(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -149 .

Basarang 3 0 LS Lupak Dalam Pelampai 114 BT 0 Gambar 2. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -150 .Mantangai Ketimpun Mantangai Mandomai A. Mantangai Sei. KALIMANTAN TENGAH Tumbangbukoi 10 LS KETERANGAN POS DUGA AIR (AWLR) 1. Pujon POS HUJAN 1. Pujon POS KLIMATOLOGI 1. Mandomai 2.(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P.33. Serapat Basarang KUALA KAPUAS 3 0 LS A. Hanyu 10 LS Pujon Timpah 2 0 LS 2 0 LS S. Lokasi Pos Duga Air. Kelampan Palingkau Sei Tatas Barimba A.

Amandit Hulu Sungai Selatan S. Sawarangan Tanah Laut S. yaitu sekitar 2. Riam Kiwa Banjar S. Tapin Tapin S. Tabalong Kanan Tabalong S. Mangkauk Banjar S.3 Limpasan Permukaan (Runoff) Limpasan permukaan pada anak-anak sungai DAS Barito sangat bervariasi. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Lokasi (kabupaten) S. Negara Hulu Sungai Utara S. Tabalong Kiri Tabalong S.063 km2.71 Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan No.880 mm/tahun pada DAS yaitu 48.325 351 2. Martapura Banjar S.010 790 474 494 2.3 200 17.2 15 27. Uya Tabalong S. Ayu Tabalong S.604 196 69 273 1. Asam-asam Tanah Laut S.075 1.993 10. Tabalong Tabalong S. Tabanio Tanah Laut S. Dalam kajian ini. Hanyar Tabalong S. debit tahunan anak sungai Riam Kanan diperkirakan dari setengah tinggi curah hujan tahunan. Barabai Hulu Sungai Tengah S. Pitap Hulu Sungai Utara S.(Persero) CABANG I MALANG 2.4 m3/detik pada lokasi bendungan.KALSEL Nama Sungai Panjang (km) 15 61 106 119 187 21 19 121 94 93 60 71 159 52 133 92 92 57 29 83 30 Luas CA (km2) 77 303 1.621 532 306 775 535 33.333 3.622 2.8.2 38 22 100 10. Riam Kanan Banjar S.5 15 7.5 8 30 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -151 .1 7. Batang Alai Hulu Sungai Tengah S. Berdasarkan hasil studi terdahulu pada Proyek Bendungan Riam Kanan. Balangan Hulu Sungai Utara S.379 Debit Rata-rata (m3/det) 3 14 48 29 150 54 7 8 55. Ninian Hulu Sungai Utara S.621 2. debit yang digunakan sebagai pembanding hasil analisis ketersediaan air pada tiap-tiap anak sungai adalah seperti pada table berikut. Kintap Tanah Laut DAS BARITO . Tabel 2. Luas DAS yang digunakan pada perhitungan Bendungan Riam Kanan adalah sebesar 1.

A sam-asam S.0 38. B arabai S.2 15. Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -152 .0 17.5 15. Hanyar S. A mandit S. Tabanio S. Kintap S. Uya 30.0 7. Negara S.0 7.3 8.0 55. A yu S.0 54.0 150. Tabalo ng S.0 29.0 22. Tabalo ng Kanan S.0 14.34.(Persero) CABANG I MALANG S.0 8.0 27.0 De bit Rata-rata Sungai DAS Barito di Kalse l 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 De bit Rata-rata (m3/se c) Gambar 2.0 7.1 100. M angkauk S. Tabalo ng Kiri S. Tapin S. Riam Kiwa S. M artapura S.2 200.0 48.0 3. Sawarangan S.5 10. P itap S. B alangan S. Ninian S. B atang A lai S. Riam Kanan S.

Stasiun Hidrologi dan Sebaran Hujan WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -153 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.35.

Tabalong dan terendah adalah 1m dari permukaan laut yang terdapat di Kota Banjarmasin. banjir. sekali hujan turun. pertumbuhan vegetasi terhambat oleh tidak memadainya intensitas hujan.256 m dan ini menyebabkan pada daerah yang lebih tinggi akan mempunyai temperatur yang lebih rendah dan relatif banyak terjadi hujan dibandingkan dengan daerah yang lebih rendah. kualitas. kontinuitas dan sebaran waktu serta terkendalinya erosi dan kekeringan. adalah terciptanya lingkungan hidup yang baik dan nyaman dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah. Kondisi hidrologis DAS yang optimal. Kendala-kendala tersebut harus dapat diantisipasi dalam rangka pencapaian tujuan akhir dari kegiatan pengelolaan DAS sebagai berikut: 1. Permasalahan tersebut antara lain terjadinya erosi. misalnya di daerah kering. meliputi hasil air yang memadai baik jumlah.(Persero) CABANG I MALANG 2. Perbedaan ketinggian tersebut menghasilkan beda tinggi sebesar 1. 2. Meningkatnya produktivitas lahan 3. pada daerah dengan perubahan iklim yang besar. vegetasi dapat tumbuh secara optimal. Sedangkan pengaruh iklim tidak langsung ditentukan melalui pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetasi.257 m dari permukaan laut yaitu terdapat di Kab. sedimentasi. sebaliknya. DAS Barito memiliki titik ketinggian yang tertinggi 1. Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o 50’ – 287o 55’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir di Kota Banjarmasin ke arah utara di bagian hulunya. tetapi. Pengaruh iklim terhadap erosi dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Dengan kondisi iklim yang sesuai. erosi yang terjadi biasanya lebih besar daripada hujan dengan intensitas lebih kecil dengan waktu berlangsungnya hujan lebih lama. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -154 . intensitas hujan tersebut umumnya sangat tinggi. Dari segi sosial ekonomi. Pengaruh langsung adalah melalui tenaga kinetis air hujan terutama intensitas dan diameter butiran air hujan.9 EROSI DAN SEDIMENTASI Pengelolaan DAS sebagai bagian dari pembangunan wilayah sampai saat ini masih menghadapi berbagai masalah yang kompleks dan saling terkait. Pada hujan yang intensif dan berlangsung dalam waktu pendek. dan kekeringan yang sangat erat kaitannya dengan keadaan sumber daya alam vegetasi/hutan tanah dan air serta unsur manusia yang terdapat dalam ekosistem DAS tersebut.

keadaan lahan kritis. justru gejala kearah kerusakan lahan sudah banyak ditemukan. Pengelolaan lahan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah c. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -155 . Tingkat kerusakan lahan di DAS Barito dapat dilihat dari keadaan erosi aktual dan tingkat bahaya erosi. berarti kemungkinannya adalah sebagai berikut: a. Untuk melestarikan simpanan air tanah. Tingkat peresapan atau infiltrasi tergantung pada curah hujan. namun demikian hal ini bukan berarti tidak terjadi kerusakan. yaitu lahan Sangat Kritis. tipe tanah. yaitu Kawasan Hutan Lindung. Letak dan kondisi lahan yang masih labil khususnya di lereng-lereng pegunungan. Bentuk penggunaan lahan merupakan aspek di bawah pengaruh kegiatan manusia. sehingga debit banjir dapat menurun dan sebaliknya aliran dasar (baseflow) dapat naik.72 dan 2.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hasil analisa dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tingkat kerusakan tanah di DAS Barito pada umumnya masih baik. Kritis. penutupan lahan dan upaya konservasi tanah. jenis tanah (erodibilitas). Masih banyaknya lahan-lahan terlantar yang tidak dikerjakan b. dimana penyebarannya dianalisa sesuai dengan fungsi kawasannya. kemiringan. Kawasan Lindung di luar Kawasan Hutan dan Kawasan Budidaya untuk usaha Pertanian. ”maka aspek penggunaan lahan mencerminkan kondisi aktual”. Agak Kritis dan Potensial Kritis. maka akan didapat Tingkat Bahaya Erosi yang diklasifikasikan mulai dari Sangat Ringan sampai Sangat Berat. demikian pula cadangan air tanahnya.73. Tingkat erosi aktual menggambarkan keadaan lahan tererosi dengan mempertimbangkan curah hujan (erosivitas). mempunyai implikasi yang berbeda terhadap infiltrasi. Dengan mempertimbangkan solum tanah. persentase run-off. kekritisan hidrologis dan tingkat kekritisan Sub DAS sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Sedangkan keadaan lahan kritis dibedakan menjadi 4 (empat) klasifikasi. Jika aspek alami mencerminkan kondisi potensial. Semakin besar tingkat resapan (infiltrasi) maka semakin kecil tingkat air larian (surface runoff). tipe vegetasi dan penggunaan lahan. Tingkat kekritisan daerah resapan menggambarkan mengenai penilaian tentang tingkat kekritisan daerah resapan terhadap air hujan. maka tingkat infiltrasi air hujan ke dalam tanah merupakan faktor yang sangat penting. topografi (kelerengan dan panjang lereng).

975.137 16. dan dengan memperhitungkan nilai SDR (Sediment Delivery Ratio) sebesar 5.DAS Balangan S.DAS Riam Kanan S.01 49. yaitu baik.35 8.851.567. Rubrik Radar Banua.S.DAS Riam Kiwa S.44 110.30 1.661.349.S.DAS Tabalong Kanan S.082. lereng/slope.957.896 81.610 81.72 Sebaran Kelas Erosi di DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 I. Sedangkan pada Radar Banjarmasin terbitan hari Rabu tanggal 27 Agustus 2003 ( Rubrik Radar Banua halaman 10 dengan judul ”Pelanggan PDAM Bakal Terlantar”).27 8.478.068.S.363. maka akan didapat hasil sedimen yang masuk ke dalam Sungai Barito sebesar 4. kritis dan sangat kritis.7 ton/ha.495 462.35 8.31 8.26 136.186.240.DAS Amandit S.917. halaman 9 dan halaman 15.239 Indeks SDR 8.743.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189.27 8.DAS Barito Hilir Ds S.325 mm/th atau 0.DAS Danau Panggang Ds S.096.663 54.568. normal alami. III. maka ketebalan laju sedimentasi yang masuk ke dalam Sungai Barito bila dianggap sebagai waduk/penampungan adalah 0.431..DAS Martapura S. Selanjutnya dengan asumsi bahwa berat sedimen adalah 0.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5.68 117.714 17.30 ha adalah 81.020.37 8.23 8. diberitakan berdasarkan pernyataan Ketua Komisi D DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.186.134 971.116 453.25 213. bahwa alur Barito setiap hari mengalami pendangkalan setinggi 2 cm.969.11 173. Sebagai ilustrasi adalah informasi dari media massa Radar Banjarmasin (hari Selasa tanggal 26 Agustus 2003.578 4.957.863.DAS Alalak S.S. menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat erosi yang terjadi di DAS Barito berkisar antara kelas II (antara 15-60 ton/ha/th) dan kelas III (antara 60 – 180 ton/ha/th) dengan rata-rata erosi adalah 34.26 8.343.363.863.155. 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S.284 44.526. II.108.987.636 6.S. September 2003 Berdasarkan Tabel di atas. Banjar bahwa kandungan lumpur dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -156 .26 8.905 1.S.158.862 10.768.908 5.292.8 ton/m3.92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.92%. bentuk percabangan sungai dan penggunaan lahan.550 6.033 cm/th.908.14 202.747 63.380 9.239 ton/th.S.S. Nilai indeks Sub DAS yang tinggi menunjukkan tingkat kekritisan Sub DAS yang tinggi pula.991 50. Tabel 2. dengan ”judul Investor Baru Keruk Alur”).484.56 164.517.831 ton/ha/th atau setara erosi yang terjadi pada seluruh DAS Barito dengan luas 1.S.772 284. Adapun tingkat kekritisan Sub DAS diperoleh dari nilai-nilai indeks erosivitasnya yang dihitung berdasarkan bentuk wilayah/topografi. Kalsel)’.(Persero) CABANG I MALANG Tingkat kekritisan hidrologis dibedakan menjadi 5 (lima) kelas.917. mulai kritis.93 94.126.839.DAS Barito Tengah S.036.201 10.921.DAS Tabalong Kiwa S.617 66.43 5.240 6. agak kritis.61 88.38 8.83 164. dikatakan bahwa menurut Dirut PDAM Kab.264.888.S.156 36.DAS Batang Alai S.916 4.

435.478. dimana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -157 .005 cm/th Sub DAS Barito Tengah : 37. dan hampir sebagian besar Sub DAS Negara yang meliputi Sub Sub DAS Tapin.576 ton/th atau setara 0.895.046 cm/th Sub DAS Negara: Sub Sub DAS Tapin : 891.834 ton/th atau setara 0. adalah Sub Sub DAS Riam Kanan yang sudah barang tentu akan memberikan kontribusi laju sedimentasi yang lebih tinggi pula.916 ton/th atau setara 0. Sub Sub DAS Balangan.216.633 ton/th atau setara 0.461. yang pada intinya membandingkan antara infiltrasi potensial dan infiltrasi actual di DAS.005 cm/th Sub Sub DAS Bahalayung : 23.265 ton/th atau setara 0.881. menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai tingkat kekritisan hidrologis/kondisi daerah resapan yang rata-rata Normal Alami artinya bahwa potensi terjadinya infiltrasi karena kondisi alamnya tidak terlalu terganggu dengan adanya perlakuan lahan yang diatasnya.084 cm/th Sub Sub DAS Tabalong Kanan : 919. Sub Sub DAS yang mempunyai erosi rata-rata kelas II.908 ton/th atau setara 0.403. Sub Sub DAS Amandit.282 ton/th atau setara 0.069 cm/th Sub Sub DAS Riam Kiwa : 781.018 cm/th Sub Sub DAS Riam Kanan : 907. Sub Sub DAS yang termasuk ke dalam erosi Kelas III (60 – 180 ton/ha/th). Sedangkan Sub Sub DAS Riam Kiwa di Sub DAS Martapura.368.057 cm/th Sub Sub DAS Batang Alai : 572.(Persero) CABANG I MALANG rangka pengerukan lumpur yang terdapat di irigasi Riam Kanan adalah 40 cm dari ketinggian air 60 cm.735 Ton/th atau setara 0.941. Dengan memperhatikan erosi yang terjadi dan indeks SDR (Sediment Delivey Ratio) pada masing-masing Sub Sub DAS.914 ton/th atau setara 0. Berdasarkan Tabel 2. yaitu 15 – 60 ton/ha/th.070 cm/th Sub Sub DAS Amandit : 541.647.171 ton/th atau setara 0.006 cm/th Pendekatan lain untuk menilai DAS Barito dapat dikaji pula mengenai tingkat kekritisan daerah resapannya.066 cm/th Sub Sub DAS Danau Panggang : 38.004 cm/th Sub DAS Martapura: Sub Sub DAS Alalak : 127. Kontribusi erosi dan sedimentasi tersebut berasal dari beberapa Sub Sub DAS dengan variasi jumlah dan kelas erosinya.385. Sub DAS dan Sub Sub DAS yang bersangkutan.403 ton/th atau setara 0.958. didapat jumlah sedimen yang terjadi pada masing-masing sungainya sbb: Sub DAS Barito Hilir : 79.73. Sub Sub DAS Batang Alai.625.052 cm/th Sub Sub DAS Balangan : 1.448 ton/th atau setara 0.

73 Tingkat kekritisan Daerah Resapan DAS Barito di Provinsi Kalsel No 1 I.568. sehingga adanya keseimbangan antara potensi infiltrasi yang disebabkan keadaan alamnya dengan infiltrasi aktual yang terjadi.862 10.S.38 8.431.284 44.83 164.036.567.186.517.108.239 Indeks SDR 8.DAS Amandit S.292.10 KUALITAS AIR WS BARITO-KAPUAS Air merupakan sumber alam yang sangat penting di dunia ini karena tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung.987.969.863.484.27 8.DAS Martapura S.991 50.DAS Riam Kiwa S.917.495 462. sedangkan yang termasuk Baik adalah Sub Sub DAS Riam Kiwa dan Sub Sub DAS Tapin. air merupakan satu-satunya sumber alam yang tidak bisa digantikan oleh material lain. II.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189. Tidak sebagaimana bahan baku lainnya.DAS Riam Kanan S.921.888.380 9.264.343.01 49.30 1.617 66.126.155.27 8. Hal ini dapat dilihat pada kondisi daerah resapan dengan klasifikasi Normal Alami hampir sebagian besar Sub Sub DAS Alalak dan Sub Sub DAS Danau Panggang termasuk daerah resapan yang masuk dalam klasifikasi Mulai Kritis.714 17.661.116 453.743.363.93 94. Kalsel)’.156 36.92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.35 8.839.14 202.349.44 110.526.478.56 164.663 54.S.S.43 5.636 6.768.550 6.26 8.S.DAS Barito Hilir Ds S.158. September 2003 2.137 16. Air yang kualitas buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya. 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S.DAS Batang Alai S.DAS Danau Panggang Ds S.240.37 8.DAS Tabalong Kanan S. III.096.S.S.186.S.11 173.747 63.772 284.896 81.082.(Persero) CABANG I MALANG penutupan lahan secara keseluruhan cukup baik. zat kimia dan bahan buangan atau limbah.134 971. Pencemaran utama air adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -158 .26 8. Tabel 2.31 8. Konsep bahwa air merupakan sumberdaya alam yang harus dikelola secara hati-hati adalah sangat penting dan perlu.S.DAS Tabalong Kiwa S.61 88.35 8.916 4.068.S.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5.578 4.26 136.DAS Barito Tengah S.020. mengingat pertumbuhan penduduk dan pengembangan industri selalu diikuti dengan peningkatan kebutuhan air bersih.610 81..25 213.240 6.DAS Alalak S.957.908 5.201 10.905 1.S. Pencemaran air adalah adanya kontaminasi air oleh materi asing seperti mikroorganisme.23 8. Air memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan suatu komunitas karena penyediaan air yang dapat diandalkan merupakan persyaratan bagi terbentuknya komunitas yang permanen.975.DAS Balangan S.68 117.

Mineral anorganik dan bahan kimia anorganik 6. BOD5 (Biological Oxygen Demand). 3. sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen badan perairan dan bau yang tidak enak. Yang dimaksud tingkat tertentu tersebut adalah baku mutu air yang ditetapkan sebagai tolak ukur untuk menentukan telah terjadinya pencemaran air. DO (Dissolved Oxygen). Zat Padat Tersuspensi (TSS). Sedimen yang terdiri dari tanah dan partikel mineral yang yang berasal dari lahan pertanian.(Persero) CABANG I MALANG 1. PO4 (Phosphat). pH. Berdasarkan definisinya. Fenol. Nitrit (NO2).Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu .Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok . 2. Minyak/Lemak. COD (Chemical Oxygen Demand). Zat Padat Terlarut (TDS). Sungai Barito Berdasarkan Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun 2007 Oleh BPPLHD Provinsi Kalimantan Tengah Sampel air Sungai Barito yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Mei 2007) diambil di 24 (dua puluh empat) lokasi titik pengambilan yaitu: . 4.Lokasi 2 : Baru . Minyak 5.10. DHL (Daya Hantar Listrik). 2. Limbah rumah tangga dan limbah lain yang mengandung banyak materi karbon organik.1.Lokasi 5 : Kalahien Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -159 .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok . SO4 (Sulfat). NH3 (Amoniak). misalnya pestisida dan surfaktan pada detergen. Merkuri (Hg). Fecal Coli dan Total Koliform. Nitrat (NO3). juga merupakan arahan tentang tingkat kualitas air yang akan dicapai atau dipertahankan oleh setiap program kerja pengendalian pencemaran air. Bahan kimia organik. Parameter yang diuji dalam pemantauan kualitas air meliputi: Temperatur. Detergen. pencemaran air yang diindikasikan dengan turunnya kualitas air sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya. Pupuk pertanian yang dapat merangsang pertumbuhan air secara berlebihan atau (eutrofikasi). pertambangan dan daerah padat penduduk di perkotaan yang terbawa oleh aliran air hujan. sehingga untuk dekomposisi limbah tersebut diperlukan banyak oksigen.

Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 8 : Bintang Linggi .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -160 .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 16 : Muara Lahei .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 24 : Laung Tuhup Sedangkan pada tahap II (September 2007) diambil di 10 (sepuluh) lokasi titik pengambilan yaitu : .Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 15 : Lahei .Lokasi 19 : Sungai Lumuk .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan .Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 10 : Kandui .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 7 : Sungai Pendang .(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .

74 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap I (Bulan Mei 2007) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -161 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.

Sungai Kapuas Sampel air Sungai Kapuas yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Juni 2007) diambil di 6 (enam) lokasi titik pengambilan yaitu: . Tilu .Lokasi 4 : Timpah . Kapuas . Kapuas .10.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.Lokasi 1 : K.Lokasi 2 : P.2.Lokasi 6 : Masaran Hulu Sedangkan pada tahap II (Oktober 2007) diambil di 9 (sembilan) lokasi titik pengambilan yaitu : .Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 4 : Timpah .Lokasi 5 : Masaran . Tilu .Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 1 : K.75 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap II (Bulan September 2007) 2.Lokasi 5 : Masaran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -162 .Lokasi 2 : P.

11 KONDISI WS BARITO DAN KAPUAS 2. Bentuk DAS sebenarnya sukar untuk dinyatakan secara kuantitatif.1 Bentuk DAS Bentuk DAS dapat dinyatakan dengan menggunakan nilai Rc (Ratio circularity) yang mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman puncak discharge banjir. Dengan membandingkan konfigurasi basin. dapat dibuat suatu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -163 .Lokasi 8 : Timpah Hulu .11.1.(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 7 : Masaran Hilir .11.Lokasi 6 : Masaran Hulu .Lokasi 9 : Mandomai Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Tabel 2.1 Kondisi DAS Barito 2.76 Kualitas air di WS Kapuas 2.

maka mudah terjadi kenaikan debit yang mencolok dan hal ini akan menyebabkan timbulnya genangan dan banjir.5 maka bentuk DAS tersebtu adalah memanjang dan apabila nilai Rc lebih besar dari 0. hal ini berarti bahwa karakteristik DAS Barito mempunyai bentuk memanjang yang menunjukkan pola aliran dan puncak discharge banjir yang cepat menuju sungai utama. Dengan memperhatikan panjang dan lebar serta diameter DAS tersebut. yaitu memanjang agak membulat/lingkaran. didapat panjang DAS Barito adalah 1. Berdasarkan hasil analisa planimetris dan GIS dengan menggunakan peta RBI dan peta topografi. Bila hujan merata. hampir semua Sub Sub DAS mempunyai bentuk memanjang yang cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir relatif cepat dan kurang baik menyimpan air kecuali Sub Sub DAS Balangan dan Sub Sub DAS Tapin serta Sub DAS Martapura dan DAS Barito secara keseluruhan.937 km dan lebar adalah 121. sedangkan pada musim kemarau diatas rata-rata normal dapat menyebabkan terjadi kekeringan lebih cepat dibandingkan dengan DAS yang mempunyai bentuk memanjang. maka bentuk DAS tersebut adalah cenderung membulat. Karakteristik bentuk DAS Barito tersebut dapat dilihat juga dari faktor diameter. lebar dan panjang sungainya melalui perhitungan (Elongation Ratio).594. Dari perhitungan nilai Rc dan RE tersebut di atas. bila lembah sungai tidak dapat menampung aliran air permukaan. artinya pada musim hujan mudah mengalami banjir di bagian hilirnya.04 km.562. Jika DAS berbentuk lingkaran maka indeks bentuk DAS mendekati nilai 1 dan atau apabila nilai Rc lebih kecil dari 0.5.312. terutama jika Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -164 . maka nilai RE untuk DAS Barito adalah 0. dimana kondisi DAS yang demikian kadang kurang dapat menyimpan air dengan baik. Bentuk Sub Sub DAS. walaupun pada kondisi tertentu dapat menyebabkan terjadinya banjir dan kekeringan. Sub DAS dan DAS yang memanjang agak membulat/lingkaran tersebut cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir yang relatif lambat baik dalam penyimpanan air dibandingkan dengan Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang. terutama bila terjadi hujan yang merata di bagian hulu dengan curah hujan yang tinggi.(Persero) CABANG I MALANG indeks yang didasarkan paa circularity DAS. karena waktu konstentrasi curah hujan melalui debit alirannya cenderung pendek. Secara keseluruhan Nilai Rc yang menggambarkan bentuk DAS Barito adalah 0. Hal ini menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai bentuk memanjang agak membulat/lingkaran.

Selanjutnya pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS sungai utama yang dimaksud adalah sungai yang membentuk Sub DAS dan Sub Sub DAS tersebut.(Persero) CABANG I MALANG kondisi musim hujan dan musim kemarau berada di atas rata-rata normal.945 km dan memanjang mulai dari bagian hilir/muara sungai di Kota Banjarmasin sampai di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong yang seterusnya memasuki wilayah Provinsi Kalteng.298 km.298 km. lebar DAS dan bentuk DAS Barito disajikan pada tabel berikut : dimana makin panjang sungai makin besar wilayah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -165 . Dengan demikian secara keseluruhan DAS Barito mempunyai bentuk memanjang dan agak membulat/lingkaran yang dibentuk oleh Sub DAS dan Sub Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang serta bentuk memanjang agak membulat/lingkaran. Diantara Sub DAS yang ada. Sebagai contoh sungai utama Sub DAS Martapura adalah Sungai Martapura dengan panjang 69. pengalirannya. sungai utama terpanjang adalah sungai yang terdapat di Sub DAS Negara. begitu seterusnya untuk masing-masing Sub DAS dan Sub Sub DAS yang lainnya. yaitu 208. Sungai utama yang membentuk DAS Barito adalah Sungai Barito dengan panjang 153. Panjang sungai menentukan besarnya wilayah pengaliran sungai dan pengelolaannya.378 km dan yang terpendek adalah sungai Martapura yaitu 69. Secara umum panjang sungai utama.973 km. sedangkan sungai utama Sub Sub DAS Amandit adalah Sungai Amandit dengan panjang 98.

006 208. Sistem klasifikasi Horton berawal dari urutan pertama dan selanjutnya meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah percabangan aliran air atau anak-anak sungai.DAS Alalak S.578 11.822 Nilai Rc 0.DAS Danau Panggang S..681 12.973 95.S.275 0.028 208.562 0.556 0.DAS Bahalayung Panjang Sungai Utama (km) 153.403 0.354 144.512 0.38 0.276 12.389 0.242 98.298 98.358 0.17 0.S.226 0. 1 2 3 IV.756 52.271 13. kedua dan seterusnya. Setiap anak sungai menghasilkan hidrograf aliran yang menunjukkan respon DAS terhadap curah hujan.DAS Batang Alai S.DAS Riam Kanan S. September 2003 2.DAS Barito Hilir Ds S.311 0.364 I.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.316 97.322 0.264 0.DAS Negara S.322 0.649 69.945 83.712 15.378 126.378 66. Dengan demikian semakin besar angka urutan.467 0.DAS Tabalong Kanan S.312 0. semakin luas wilayah Sub DAS dan semakin banyak percabangan sungai yang terdapat di dalam DAS yang bersangkutan.1.11.914 14.DAS Tapin S.675 155.315 0.9806 16.869 13.S.226 Nilai RE 0.S. mengatakan bahwa kedudukan aliran sungai dapat diklasifikasikan secara sistematik berdasarkan urutan daerah aliran sungai.S.DAS Amandit S.607 67.296 70.S.442 0.2 Jaringan Sungai Berdasarkan Asdak C (2002).DAS Martapura S. anak sungai di bagian atas akan bersambung dengan anak sungai yang lebih besar di bawahnya.302 0.DAS Riam Kiwa S.228 0.219 0. Respon tersebut diwujudkan dalam bentuk kurva hidrograf aliran yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kondisi hidrologi DAS yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -166 . Meskipun tampak bahwa urutan Sub DAS berkaitan erat dengan karakteristik DAS lainnya. kebanyakan pakar hidrologi beranggapan bahwa tidak ditemukan bukti yang cukup untuk mengaitkan sistem urutan Sub DAS dengan perilaku air larian di daerah tersebut.982 18. III. Oleh karena itu.909 7. dimana setiap aliran sungai yang tidak bercabang disebut Sub DAS urutan / ordo pertama.269 8. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. Dalam suatu DAS.77 Tabel bentuk/nilai Rc DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No DAS/ Sub DAS/Sub Sub DAS DAS BARITO S.891 14.326 0.S.336 0.813 Lebar DAS ( km ) 121.DAS Tabalong Kiwa S. Kalsel)’.469 0.436 0.04 22.S.S.341 0.DAS Barito Tengah S.274 0.391 0. suatu DAS dapat terdiri dari Sub DAS urutan pertama.94 92.S.DAS Balangan S.55 0.33 0.207 38.S. II.

S.126 6. S. S.281 32 10.DAS Batang Alai 4.DAS Amandit S.360 1. S.DAS Negara S. 2. sementara pada anak sungai berikutnya debit puncak akan segera terjadi.935.S.166 6.S.253 67 1 1 5. Secara rinci keadaan jaringan sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Tabel 2.986 III-I 2.919 0.891 1.221 Dd (km/km2) Rb 1-2 Rb 2-3 Rb 3-4 Rb 4-5 Wrb Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -167 .DAS Alalak S.514 26.449 1.329.DAS Riam Kanan 3.75 43 32 35 8 5.DAS Martapura S. No DAS/ Sub DAS/ Sub Sub DAS Orde Sungai Panjang Sungai Total (km) I.004 1. Debit puncak untuk satu anak sungai mungkin telah terlampaui.939 IV-I 953.239 1.021 0.807 6.604 0.295 7.254 124 12 55 1 6.205 IV-I III-I III-I 4.855 0. 1.483 IV-I III-I III-I III-I 8. S.889 13.78 Keadaan Jaringan Sungai Pada DAS Barito di Provinsi Kalsel.937 1203.S. aliran air dari kedua anak sungai tersebut tidak terjadi secara bersamaan.DAS Barito Tengah III.290 1.146 12. 3.313 IV-I 1.S. Pengaruh ketidaksamaan waktu terjadinya debit puncak pada masing-masing anak sungai tersebut akan menurunkan besarnya debit puncak total pada sungai utama (sungai yang menampung kedua anak sungai tersebut).790 4.S.444 18 1 1 7.DAS Balangan III-I 1562.771 5.213.DAS Barito Hilir Ds II.286.(Persero) CABANG I MALANG bersangkutan.DAS Riam Kiwa IV.306 6.S.S. Ketika anak sungai bergabung dengan anak sungai lain dibawahnya.842 0.593.877 5.039 6.130. 1.40 10.DAS Tapin S.442 0.343 4.354 743.865 7.458 10. S.861 1193.023 5. 2.385 57 14.

0.687.5 dan Rb 4-5 mempunyai nilai 4. Hal ini menunjukkan bahwa muka alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat dan demikian dengan penurunannya akan terjadi dengan cepat pula. S. September 2003 Berdasarkan tabel diatas.196. maka panjang sungai akan semakin panjang dan bercabang.307 6.S.497 5. yaitu Rb 1-2 mempunyai nilai 5. dapat dilihat bahwa DAS Barito dapat dirinci menjadi 5 (lima) ordo.59. Ordo II dengan panjang sungai 2.(Persero) CABANG I MALANG 5.S.016 km. sedangkan pada setiap Sub DAS sungainya mempunyai 4 (empat) ordo dan pada Sub Sub DAS sungainya mempunyai 3 (tiga) ordo. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -168 .400 15 - - 7.621 km dan ordo V dengan panjang sungai 153.269.DAS Danau Panggang Ds III-I 655.492 3.945 km.DAS Tabalong Kanan III-I 855. Rb 3-4 mempunyai nilai 5.S.222 27 - - 9. jumlah sungai masih dapat menampung aliran air. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan ordonya.275 km. Kalsel)’. S. Perbandingan panjang sungai total mulai orde I sampai Ordo V adalah Ordo I dengan panjang sungai 11.516 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.696 4. 3 ke 4 dan ordo 4 ke 5. atau dengan ratio 73 : 17 : 3 : 1.001 km. sehingga jumlah sungai pada ordo 3 ada kemungkinan daya tampung sungainya tidak mampu menerima aliran permukaan air tersebut dan kemungkinan akan terjadinya genangan pada daerah ini. Rb 2-3 mempunyai nilai 19.161 0.23. Sedangkan ratio percabangan sungai dapat ditunjukkan dengan nilai Rb masing-masing ordonya. Bila pada daerah sekitar ordo sungai terjadi hujan merata dan deras. maka pada ordo sungai 1 ke 2. Banyaknya jumlah alur sungai menggambarkan tingkat torehan aliran permukaan dan kerusakan atas lahan di daerah hulu. ordo III dengan panjang sungai 1.428 21 - - 8.819 7.23). S. Semakin banyak jumlah alur sungai per satuan luas menunjukkan tingkat kerusakan lahan yang semakin tinggi. ordo IV dengan panjang sungai 431. tetapi pada ordo 2 ke 3 terjadi perubahan ordo yang cukup besar (mempunyai Rb yang lebih tinggi daripada Rb pada ordo yang lain / Rb 2-3 = 19.609 0.828 0.DAS Tabalong Kiwa III-I 816.

10 km/km2). jika nilai Dd antara 0. dimana daerahnya mempunyai kerapatan sungai yang kecil. artinya bahwa semakin besar jumlah air larian total (semakin kecil infiltrasi) akan semakin kecil air tanah yang tersimpan di daerah tersebut. DAS Barito mempunyai jumlah alur sungai yang banyak dan panjang pada bagian hulu atau pada ordo I sampai ordo III dan keadaan ini terjadi juga pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS. terutama pada daerah yang dilalui oleh sungai pada ordo I sampai ordo III. jumlah air larian total yang terjadi dan jumlah air tanah yang tersimpan. dikatakan bahwa jika nilai kerapatan aliran lebih kecil dari 1 mile/mile2 ( 0.488. Kerapatan sungai dan kepadatan aliran yang terjadi di DAS Barito ditunjukkan dengan nilai Dd yang terjadi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -169 . seperti langkah-langkah penanggulangan melalui pelurusan/normalisasi sungai yang berkelok-kelok. Sub Sub DAS Bahalayung dan Sub Sub DAS Danau Panggang. sehingga diperlukan upaya konservasi tanah yang baik dan perlu dicadangkan sistem drainase dan daerah resapan air. Bila pada daerah ini terjadi hujan yang merata dengan jumlah curah hujan yang tinggi serta waktu konsentrasinya cepat. maka DAS tersebut akan sering mengalami kekeringan.(Persero) CABANG I MALANG Pada umumnya. penertiban hunian di sempadan sungai dan upaya lainnya. Sub DAS Barito Tengah. yaitu Sub Sub DAS Tabalong Kanan. dan jika lebih besar dari 10 km/km2 termasuk kategori tinggi yang berarti jumlah curah hujan yang menjadi aliran akan menjadi besar. termasuk sampai pada tingkatan Sub DAS. maka DAS tersebut akan mengalami penggenangan sedangkan jika lebih besar dari 5 mile/mile2 (3. dapat menyebabkan limpasan dan genangan. Sub Sub DAS Tabalong Kiwa. Hal ini berarti bahwa secara keseluruhan DAS Barito tidak mudah terjadi penggenangan maupun kekeringan. Sedangkan menurut Soewarno. semakin besar nilai Dd akan semakin baik sistim pengaliran (drainase) di daerah tersebut. seperti Sub DAS Barito Hilir. Dd mempunyai korelasi dengan perilaku laju air larian. sehingga diperlukan upaya pencegahan terhadap terjadinya genangan. Keadaan ini menunjukkan bahwa torehan aliran permukaan dan kerusakan lahan cukup intensif.25 – 10 km/km2 termasuk kategori sedang. yaitu termasuk kategori sedang dengan indeks 1. karena alur sungai pada ordo III kurang cukup menampung jumlah aliran tersebut. Secara umum. Sub DAS Martapura dan Sub DAS Negara. Dengan demikian.62 km/km2). pelebaran lembah sungai. Menurut Lynsley (1949). Walaupun demikian pada beberapa Sub Sub DAS masih terdapat potensi untuk terjadinya genangan.

DAS Riam Kanan S. Secara umum rincian perbedaan ketinggian DAS Barito disajikan pada tabel berikut.DAS Martapura S.DAS Tabalong Kanan 6.DAS Tapin S. sedangkan tempat yang tertinggi terdapat di Kabupaten Tabalong.3 Ketinggian dan Arah DAS Ketinggian tempat di daerah hilir DAS Barito terdapat di Kabupaten Barito Kuala.DAS Negara S.79 Ketinggian dan Arah DAS Barito di Provinsi Kalsel No DAS/ Sub DAS / Sub Sub DAS Tinggi Maks (m) I.257 meter diatas permukaan air laut.S.251 1. IV.S. III.042 1. 2.DAS Barito Tengah S. 2.158 1.DAS Amandit S.11.1.137 1. S.DAS Bahalayung 9 2 7 81o10’ 61 2 59 195o05’ 890 16 874 197o00’ 1.229 255o50’ 255 50’ 276o25’ o Tingi min (m) Beda Tinggi (m) Arah/Orientasi (Azimuth) 13 17 1 2 12 15 206o50’ 209o55’ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -170 .093 1. yaitu 1 meter dari permukaan laut.S. yaitu 1. 1.251 1.S.DAS Danau Panggang Ds 8. S.DAS Barito Hilir Ds S.S.(Persero) CABANG I MALANG 2. 3.093 1. 3.257 3 2 5 2 6 1. Tabel 2. II.S. 4.DAS Tabalong Kiwa 7.S.156 1.S.DAS Alalak S.S. 5.138 1. S.DAS Batang Alai S.S. S.259 270o00’ 279o40’ 287o55’ 273o35’ 204o05’ 278 1. Sedangkan beda tinggi maksimum dan terendah pada masing-masing Sub DAS bervariasi.230 3 1 1 275 1.256 m.045 1.DAS Riam Kiwa S.DAS Balangan S. dengan demikian beda tinggi DAS barito adalah 1.S. 1.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pada Sub-sub DAS Alalak. Batang Alai. dan Sub Sub DAS Tabalong Kanan.11. 2. dapat dilihat bahwa ketinggian maksimum terdapat pada Sub Sub DAS Tabalong Kanan dan ketinggian minimum terdapat pada Sub Sub DAS Riam Kanan dan Sub Sub DAS Riam Kiwa.1. Balangan dan Tabalong Kanan sistem drainase yang terbentuk adalah Sedang. Perhitungan gradien sungai dapa diperoleh dengan slope faktor. walaupun demikian pada beberapa Sub DAS terdapat beberapa pola aliran yang lain. Dan lainnya berkisar antara 9 sampai 890 m diatas permukaan air laut.4 Pola Aliran dan Gradien Sungai Secara keseluruhan pola aliran sungai yang terjadi pada DAS Barito adalah Dendritic : Medium. Gradien sungai digunakan untuk menggambarkan kecepatan aliran dalam suatu DAS. Batang Alai. Juga dapat dilihat bahwa pada bagian hulu DAS Barito. seperti Sub Sub DAS Tapin. Kalsel)’. maka kecepatan aliran dalam suatu DAS akan semakin tinggi. Semakin besar gradien sungai suatu DAS. Sub Sub DAS Amandit. Balangan dan Tabalong Kanan pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic : Fine. Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o50’ sampai 204o05’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir kearah utara di bagian hulunya. yaitu pada bagian hulu beberapa Sub Sub DAS mempunyai ketinggian diatas 1.(Persero) CABANG I MALANG Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. kemudian Sub-sub DAS Bahalayung pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic: Medium to fine dengan sistem drainase yang terbentuk adalah Ringan. September 2003 Berdasarkan tabel diatas. Sub Sub DAS Batang Alai. begitu pula sebaliknya.000 m di atas permukaan air laut. Secara rinci keadaan pola aliran sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -171 . Sub Sub DAS Balangan. seperti pada Sub Sub DAS Alalak. yaitu dengan menghitung lereng saluran antara 10% dan 85% jarak dari outlet. dimana kondisi ini menunjukkan bahwa sistem drainase yang terbentuk ringan.

DAS Tabalong Kiwa S.1 3. kecepatan air maksimum yang pernah terjadi di Sungai Kapuas 0.S. III.55 4.2 Kondisi DAS Kapuas Sungai utama yang berpengaruh mempunyai lebar sekitar 250 – 300 m dengan kedalaman sekitar 10 – 15 m.S.DAS Negara S.88 m/dt Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -172 .DAS Danau Panggang Ds S.1 Kisaran 2. 2002 Selama periode pengamatan.DAS Martapura S.11.DAS Alalak S. 1 2 3 IV.S.DAS Tapin S.1 1.DAS Bahalayung Pola Aliran Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Fine Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Medium to fine Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.DAS Batang Alai S.DAS Balangan S.DAS Tabalong Kanan S.2 5.80 Pola Aliran dan Gradien Sungai DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I. Kalsel)’.25 LWL 2.00 m Ket Sumber : Manual OP Proyek PLG.9 3.S.20 m 2. Fluktuasi muka air di sungai adalah sebagai berikut : Tabel 2.DAS Barito Tengah S. II. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/ Sub Sub DAS S.4 Mean 3.S.S.DAS Riam Kiwa S.8 3.1 2.6 4.S. pada beberapa tempat bisa mencapai kedalaman 20 m.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. September 2003 2.S.S.S.DAS Amandit S.81 Fluktuasi Pasang Surut Muka Air Sungai Kapuas Sungai Kapuas Spring Tide Muka Air Kemarau Musim Hujan HWL 5 5.30 m Neap Tide Kemarau Musim Hujan 4.30 m 2.DAS Riam Kanan S.S.DAS Barito Hilir Ds S.

12.1 Kebijakan Penetapan Kawasan Sentra Pengembangan Dalam rangka mendukung pengembangan sektor pertanian yang masih mendominasi produk domestik bruto wilayah ini. a) Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. maka pemerintah menetapkan kawasan-kawasan potensial yang dijadikan sentra produksi unggulan dan diharapkan menjadi salah satu tiang perekonomian wilayah. sebagai berikut : Kawasan Sentra Produksi Tabalong. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang di dipertimbangan pembangunan perdesaan. dan masyarakat dalam pembangunan agrobisnis dan agroindustri. Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah.(Persero) CABANG I MALANG 2. dalam daerah khususnya penetapan dan bagi ini adalah. tanggal 10 Desermber 1999. yang untuk mata mengembangkan masyarakat meningkatkan penduduk pendapatan pencahariannya terkait dengan sektor pertanian pangan dan perikanan. kolam ikan dan energi listrik berupa mikro hidro.12 ASPEK PENDAYAGUNAAN / PEMANFAATAN SDA Pemanfaatan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas saat ini terdiri dari beberapa kegiatan antara lain pemanfaatan untuk rumah tangga. 2. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999.1 Rencana Pengembangan Irigasi dan Pertanian 2. telah menetapkan lokasi-lokasi KSP. perkotaan dan industri serta kebutuhan air untuk irigasi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -173 .1. swasta. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”.12.

Laut Selatan. Labuan Amas Selatan Daha Utara. Aranio Pelaihari. rambutan.2 b) Pengembangan Kawasan Prioritas Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. ternak sapi Perikanan.76 55. Barabai. Amuntai Tengah. Pengaron.8 HSU 2 HST – HSS HST HSS 3 HSS – Tapin HSS Tapin 1 HSS – Tapin HSS Tapin 2 3.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Peternakan (itik) Batu Mandi.94 32. Mandastana Sungai Tabuk. serta Kecamatan Pandih Batu dan Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi.4 123. Padang Jeruk. kacang Batung. Laut Barat 1. kelapa dan ubi kayu. Batu licin P. Batu Ampar. Babirik. Perikanan. Satui. Wanaraya. Perkebunan. S.2 4 6. Jorong Kintap. Karang Intan. Rantau Badauh. nenas.3 40.4 139. Binuang Marabahan. rambutan. Kedelai Pandawan. Penyipatan. Bakumpai.963 110. a) KSP Kapuas. Takisung. kacang tanah. ternak sapi Runput laut. melinjo. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -174 . Kotabaru 10.675 55.2 LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT. Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri.Alai Utara. Jeruk. Labuan Amas Utara. Banjang.4 Banjar 6 Ba\njar Banjar Pisang. Loban. Tabalong JENIS KSP LOKASI KECAMATAN Tanjung. jeruk Kandangan Bt. perikanan laut. Daha Kedelai Selatan. Basarang.207 19. dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas).9 7 Tala Tanah Laut 8.792 86. tambak.1 118. Candi Laras Selatan Laksado.189 28 55.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61. meliputi Kecamatan Selat. Kusan hilir. Astambul Simpang Empat. Sei Pandan. Danau Panggang Jagung. HSU KAB.82 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong.966 55.6 8 Tala Kotabaru – Tanah Laut. Kelua Pugaan Perikanan darat Lampihong. KAWSN 1.6 63. Piani. Harus. Muara Kedelai.167 30. Anjir Pasar. Sungai Pinang.3 65. perikanan darat Jagung. Tapin tanah Selatan. P. padi sawah Cerbon. perikanan laut 5.3 5 Batola Banjar – Barito Kuala 3.

Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2. meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. pisang. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -175 .767. f) KSP Tamiyang Layang. ayam buras.(Persero) CABANG I MALANG b) KSP Ampah. dan ikan perairan umum. kelapa. lada dan ayam buras. c) KSP Muara Teweh. ayam buras. kedelai.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). rambutan. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan.650 km2). meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. g) KSP Puruk Cahu. h) KSP Benangis. meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa. Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. dan ikan kolam. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito). Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya. d) KSP Buntok. e) KSP Kandui. meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Kawasan KAPET DAS KAKAB . Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan. Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. jagung. pisang. lada. sapi. dan ayam buras.

00 54.329 629 785 1.042.071 1.50 66.15 44.20 55.00 61.25 1.75 3.20 4.35 60. 2.128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2.829 27.234.2 Potensi Lahan Irigasi (Upland Irrigation) a) Provinsi Kalimantan Tengah Di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.00 1.250. Pada tahun 2002 luas lahan yang ditanami menurun menjadi hanya 41.845.976.446.02 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -176 .125.00 5.00 137.00 799.81 41.956 2.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.12. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II.924. d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III.225 Ha.00 1.20 1.00 1.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799.39 1.125.683 949 4.1.319.92 65.00 66.83 Luas Kapet DAS Kakab NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1.570.225.00 558.057.60 41. Tabel 2.10 4.444.000.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1.016 6.25 45.673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan.81%dari luas baku lahan irigasi.03 506. total luas baku dari lima kabupaten adalah 148.92 Ha atau sebesar 45. pada tahun 2001 sebesar 66. Sedangkan lahan yang ditanami.065 1.15%.84 Luas Lahan Irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Ha 3. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang.802.00 148.970.924.099 1. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I.50 63.552.100.121.

155 8. II.724 6.86 Potensi Lahan Pertanian di Kalimantan Selatan NO 1 I.691 6.896 Ha.724 9. dengan luas baku 53.204 19.896 68.779 6.779 11.901 1.367 24.520 9 Sei Riam Kanan Sei Tapin Sei Kayu Habang.207 11. Sei Sawarangan.894 6.460 Ha.775 Ha.247 2.155 TABALONG 1.869 HULU SUNGAI TENGAH 7.901 855 415 0 115 0 415 TANAH LAUT 2. Sei Amandit Sei Batang Alai.624 31. Sei Asam-Asam.539 922 22. V.179 5.901 2.231 1.257 22.544 388 547 0 2.170 199 HULU SUNGAI UTARA 1.(Persero) CABANG I MALANG b) Provinsi Kalimantan Selatan Luas daerah irigasi di Provinsi Kalimantan relatif lebih luas dibandingkan di Provinsi Kalimantan Tengah. Lahan yang masih memerlukan investasi untuk pengembangan jaringan baru adalah 22. dan peningkatan seluas 5. Sei Bakar.624 31.691 8.469 17.435 SUMBER AIR VII TANAH LAUT TOTAL 53. Sementara pemeliharaan untuk jaringan eksisting adalah seluas 24.600 935 HULU SUNGAI SELATAN 5.85 Pemeliharaan Jaringan Irigasi di Kalimantan Selatan No 1 I.090 5. II.775 JARINGAN BARU 22.865 8.689 192 146 54 0 338 HULU SUNGAI TENGAH 7. Sei Kinarum. Sei Riam.718 287 126 18.231 19.573 4. Sei Pitap Sei Jaro.236 1. Tabel 2.894 6.579 6.257 ha.539 5.231 2.625 HULU SUNGAI UTARA 1.334 25.204 21.469 44. Sei Kintap Kecil.607 HULU SUNGAI SELATAN 5.257 Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi lahan yang sangat luas. Sei Jaing.901 9.090 4.624 Ha.028 14.257 5.012 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -177 .378 17.435 Sei Teratai. Sei Mihim.824 2.460 4.367 Ha.179 5.901 1.012 Ha.464 833 191 413 27 0 604 TABALONG 1.005 TAPIN 8.460 24.108 279 0 258 0 279 TOTAL 53. Sei 21. Sei Sawarangan.474 2. III.725 4.090 5. Tabel 2.901 17. IV. dan jaringan irigasi yang berproduksi adalah seluas 31. Sei Mihim. VI LUAS EKSISTING LUAS BARU LUAS TOTAL CABANG DINAS DAERAH BAKU RENCANA BAKU RENCANA BAKU RENCANA IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 4 5 6 7 8 BANJAR 26.184 53 146 342 1.775 PEMELIHARAAN 24. Perincian ini dapat dilihat pada tabel berikut.464 1.378 6.231 2.487 3. sehingga total luas produktif menjadi 100. III.847 TAPIN 8. Sei Sabuhur. Sei Barabai Sei Balangan.090 6. Sei Sawarangan. Sei Nahiyah.869 11. Sei 100. Sei Tabanio. dimana lahan yang telah diidentifikasi adalah seluas 68.367 68. VI VII 1/ 2/ 3/ LUAS LUAS SAWAH BELUM DPT JD TDK DPT JD CABANG DINAS DAERAH JAR BARU PENINGKATAN BAKU SWH JAR IRIGASI SAWAH SAWAH SAWAH IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 7 8 9 10 11 12 13 BANJAR 26.795 16.865 8.645 122. V.028 6.464 1. Sei Namun.236 1.579 4.775 4.460 PENINGKATAN 5.464 6. IV.

sosial. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -178 .2 Air Bersih 2.12.1 Provinsi Kalimantan Selatan Secara aktual. pertumbuhan dan perkembangan kota /kawasan di Provinsi Kalimantan Selatan saat ini baik fisik. Peta Daerah Irigasi WS Barito-Kapuas 2.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.2.36. maupun ekonomi dari tahun ke tahun semakin meningkat. perlu upaya penyeimbangan antara kebutuhan (demand) dan penyediaan (supply) akan prasarana dan sarana kota/kawasan dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan. Konsekuensi logis.12.

743 Ha. sedangkan sekitar 1. angka tersebut mungkin saja akan meningkat sejalan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan di perkotaan. Indonesia pada tahun 2015 diharapkan dapat memenuhi target pemenuhan pelayanan air minum menjadi 80% di daerah perkotaan dan 40% di daerah perdesaan. Menyimak dari data tersebut. Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah 3. Untuk tahun-tahun mendatang. terhadap rangkaian studi yang telah dilaksanakan maupun yang sedang berjalan. sumber Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Desa (% ) Target Pemenuhan Kota (% ) 8 40 39 80 pembiayaan aspek dan yang yang penangan pada aspek sifatnya serta manajemen kelembagaan pendekatan prioritas adalah yang ada. prosentase pemenuhan kebutuhan air minum adalah 39% di perkotaan dan masih 8% di perdesaan.19%) tinggal di perkotaan.028 jiwa. terutama di Kota Banjarmasin. Secara mendasar dikembangkan dalam Gambar 2. Berdasarkan agenda KTT Bumi 2002 di Johannesburg.737. Dari jumlah tersebut.918 jiwa (64.09% dari jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Selatan. Rendahnya kinerja pelayanan air minum bagi masyarakat perkotaan yang pelayanannya dilakukan oleh PDAM telah mendorong pemanfaatan air tanah dangkal oleh sebagian besar kelompok rumah tangga (sekitar 85%) dan air tanah dalam oleh sebagian besar kelompok non rumah tangga.09%) tinggal di perdesaan. sekitar 1.902. Kondisi saat ini. Salah satu prasarana dan sarana permukiman di perkotaan yang paling strategis adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sehingga diharapkan adanya perbaikan sistem pemberian air pada daerah perkotaan. Lemahnya kinerja PDAM pada dasarnya disebabkan oleh berbagai aspek yang secara umum dapat dikelompokkan pada aspek teknis – teknologis.066.969. keuangan.37 Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS substantif yaitu aspek II -179 .(Persero) CABANG I MALANG Secara makro perlu diadakan kajian studi terhadap aspek air baku. jumlah penduduk di perkotaan mencapai 35. yang terdiri dari 13 kabupaten /kota mempunyai penduduk pada tahun 2000 sejumlah 2.110 jiwa (35.

Tabalong BNA Agung IKK Tanta IKK Belimbing IKK Kelua IKK Muara Harus IKK Benua Lawas IKK Jaro IKK Muara Uya Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Air Gunung Sumur Bor Sumber Air Nama Kab dan PDAM Kab Hulu Sungai Utara dan 2 Balangan 1) BNA Amuntai (HSU) 2) IKK Alabio 3) IKK Danau Panggang (HSU) 4) IKK Babirik (HSU) 5) IKK Paringin (Balangan) 6) IKK Lampihong (Balangan) 7) IKK Awayan (Balangan) 8) IKK Juai (Balangan) 9) IKK Halong (Balangan) 10) IKK Batumandi (Balangan) 11) IKK Gunung Pandau 12) IKK Rantau Bujur 4 Kabupaten Hulu Sungai Tengah 1) BNA Barabai 2) IKK Pandawan Baru 3) IKK Batu Benawa 4) IKK Kasarangan 5) IKK Haruyan 6) IKK Batang Alai Selatan 7) IKK Batang Alai Utara Kabupaten Tapin 1) PDAM Rantau /BNA Bungur 2) IKK Binuang 3) IKK Tapin Selatan 4) IKK Tapin Tengah 5) IKK Candi Laras Utara 6) IKK Candi Laras Selatan 7) IKK Bakarangan 8) IKK Batu Hapu 9) IKK Lokpaikat Kabupaten Barito Kuala 1) BNA Marabahan Sei Barabai Sei Pagatan Sei Kasarangan Sei Haruyan Sei Kambat Sei Batang Alai Sei Hung Sei Tapin Danau/bendung Sei Rutas Sei Tatakan Sei Negara Sei Negara Sei Mangkul Sei Tapin No Sumber Air S. Panggang S. Propinsi Kalimantan Selatan”. Balangan S. Negara D. Negara S. Balangan S. Balangan S. Parman MTP Jahri Saleh Sumur Bor Ulin Sumber : “Identifikasi Kegiatan Optimalisasi Untuk Penyehatan PDAM. Balangan S. Negara 3 1) 2) 3) 4) 5) 6) 5 Kabupaten Hulu Sungai Selatan BNA Muara Banta IKK Padang Batung IKK Angkinan /Telaga Langsat IKK Daha Selatan dan Daha Utara IKK Kalumpang IKK Simpur dan Sungai Raya S. dan Sumber Pengambilan Air dalam Wilayah DAS Barito. Negara Kabupaten Tanah Laut 1) BNA Pelaihari 2) IKK Penyipatan 3) IKK Batuampar 4) IKK Bati-bati 5) IKK Jorong 6) IKK Takisung 6 7 Kota Banjarbaru BNA Banjarbaru (Banjarbaru Banjar) Simpang Empat (Banjarbaru) IKK Landasan Ulin (Banjarbaru) IKK Dalam Pagar (Banjarbaru) 8 / Sei Barito Sei Barito Sei Barito Sei Negara Sei Anjir Sei Andai Sumur Dalam Sumur Dalam 9 Kabupaten Banjar 1) BNA Banjarbaru (Banjarbaru / Banjar) 2) IKK Astambul (Banjar) 3) IKK Mataraman (Banjar) 4) IKK Pengaron (Banjar) 5) IKK Gambut (Banjar) 6) IKK Sungai Tabuk (Banjar) 7) IKK Karang Intan (Banjar) 2) IKK Rantau Badauh 3) IKK Cerbon 4) IKK Lepasan 5) IKK Anjir 6) IKK Alalak 7) Desa Kolam Kiri 8) Desa Surya Kanta 10 Kota Banjarmasin 1) IPA – I (A Yani) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) IPA – II (A Yani) MTP Kayu Tangi MTP Sei Lulut MTP Sutoyo S MTP S.87 Daftar PDAM. Balangan S. Balangan S. di Provinsi Kalsel No 1 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Nama Kab dan PDAM Kab. Sumber : Tahun Anggaran 2004. Balangan S. Tabel 2. Amandit / S. IKK.(Persero) CABANG I MALANG teknik – teknologis dengan tetap memperhatikan aspek manajemen dan kuangan. Bagpro Pembinaan Prasarana dan Sarana Permukiman Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -180 . Balangan S.

99% dari total KK di kabupaten ini.296 22.453 10.000 Barito Selat an Barito Utara Barito Timur M urung Raya Kapuas 23.09 12.000 40. yaitu sebesar 28.453 87.000 20. Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -181 .22 17.000 60.623 22. Tabel 2.252 180.149 Jumlah Pelanggan 8.35 Sumber : Hasil analisa 100.021 1.2 Provinsi Kalimantan Tengah Pemenuhan kebutuhan air bersih di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah masih tergolong rendah. jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 28.570 20. atau hanya 18 % dari total KK di kabupaten ini.504 87.000 10. Untuk Kabupaten Barito Utara.252 Jumlah KK Jumlah Pelanggan Gambar 2. jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 36.000 90.296 KK pada tahun 2007.13% dari total KK.527 KK.501 7.527 8.623 3.000 70.000 80.39 7.88% dari total KK yang ada.99 13. Sebagian besar penduduk masih menggunakan air tanah dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.000 30.570 20.501 26. Untuk Kabupaten Barito Timur jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM adalah 3.13 28.479 KK. Sedangkan di Kabupaten Barito Selatan.501 KK dari total jumalah KK sebanyak 23.(Persero) CABANG I MALANG 2.296 7. atau sebesar 8.623 KK dari total KK sebanyak 26.504 10. atau hanya sejumlah 7.663 3.261 % terlayani 36.88 Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kabupaten Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Jumlah KK 23.527 26.021 1.12.021 KK dari 16.2.663 31.38.000 50.

irigasi.3 Penggunaan Air Lain-Lain Program Pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng. maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) scheme yang memerlukan kajian lanjutan. Lokasi Lokasi bendungan-bendungan yang telah diidentifikasi tersebut adalah: Tabel 2. dan pertanian. a. Muara Teweh Lahan budi daya perikanan air danau Obyek wisata dan lain-lain c.12. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. 1 2 3 4 Bendungan Muara Juloi Muara Tuhup Lahei Teweh Desa Muara Juloi Muara Tuhup Lahei/Jurubaru Hajak/Liangnaga Kabupaten Murung Raya Barito Utara Barito Utara Barito Utara b.89 Identifikasi Lokasi Bendungan No.(Persero) CABANG I MALANG 2. perikanan. Manfaat Adapun manfaat dari rencana pembangunan bendungan-bendungan ini antara lain: Mengurangi bahaya banjir yang terjadi setiap tahun di kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Memenuhi pasokan kebutuhan listrik untuk meningkatkan perekonomian di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -182 . Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari rencana bendungan-bendungan ini adalah: Pengendalian banjir kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Pemberian air irigasi untuk pertanian Pembangkit listrik tenaga air Penyedia air baku PDAM Puruk Cahu.

139.600. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -183 .00 767 2.9 22.00 2.00 2.00 Debit rata-rata m3/ sec 605. Barito S.5 72.(Persero) CABANG I MALANG - Penyediaan lapangan kerja masyarakat kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Timur pada saat pembangunan bendungan.00 62. m 190 90 85 85 MOL El.Teweh 15 km dari M.90 Data Teknis Waduk Muara Juloi No A B 1 2 3 C 1 2 3 D 1 2 E 1 2 3 4 5 F 1 2 3 URAIAN UNIT LOKASI Aksesibilitas km SUNGAI Sungai Sei Joloi Sei Tuhup Sei Nganarayan S.00 2.3 32.2 85. m 125 30 25 20 Tinggi Bendungan m 75 65 65 65 Estimated Net Head m 70 60 60 60 POWER GENERATION Daya Terpasang MW 282.00 64.793. Barito S.5 88.523.583. Barito Panjang Sungai km 169.1 WADUK HWL El.600. 2005 2006 2007 2007 - Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968.Teweh e. m 185 85 80 80 BENDUNGAN UTAMA Tipe Rockfill Rockfill Rockfill Rockfill Elevasi Puncak Bendungan El. Benangin River Basin S.9 10. m 200 100 90 90 Elevasi Dasar Sungai El.600. Program Pelaksanaan Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut. dalam rangka peningkatan ekonomi setempat Membuka isolasi penduduk asli pegunungan khususnya suku Dayak yang berada di pegunungan - d.849.47 201 189 HIDROLOGI Luas DAS km2 7.00 Curah Hujan Tahunan Rerata mm/ th 2.00 tahun Prespective Investigate Prespective Prespective BENDUNGAN MUARA JOLOI MUARA TUHUP LAHEI TEWEH Ds Muara Juloi Ds Muara Tuhup Ds Lahei /Jurubaru Ds Hajak /Liangnaga 60 km dari Tokung 40 km dari Purukcahu 15 km dari M.600. Data Teknis Data-data teknis sementara bendungan/waduk tersebut adalah sebagai berikut.411.3 34 Operasi beban puncak Jam 5 5 5 5 Prakiraan Produksi Energi per MWh 516 18. Barito S. Tabel 2.00 2.

Barito S. yang dilaksanaan secara bertahap. Kota-kota utama yang berpotensi mengalami banjir dan memerlukan penanganan banjir secara serius secara terpadu adalah sebagai berikut : Tabel 2.13 ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Usulan rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS. Negara 3 Rantau S. dan detail desain drainase.(Persero) CABANG I MALANG 2010 2007 2008 2012 2013 Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2. Tabalong 9 Kuala Kapuas 10 Palangkaraya 11 Buntok 12 Muara Teweh 13 Ampah Sementara itu beberapa kota yang juga mengalami banjir dan memerlukan penanganan serta kajian untuk masa mendatang adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -184 . Balangan 8 Tabalong S. Tapin 4 Kandangan S. Batang Alai 7 Balangan S. Amandit 5 Barabai S. Barabai 6 Baruh Batung S. Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer.91 Kota-kota Utama yang Berpotensi Mengalami Banjir NO KOTA /LOKASI SUNGAI 1 Banjarmasin Main Stream S. Martapura 2 Amuntai S.

yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi. S. Barito Anak Sungai Temparak Anak Sungai Ayuh Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito S. Puring Mainstream Barito. Tabal S. dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA. Setelah adanya Balai PSDA. Barito Anak Sungai Benangin Main Stream S. Provinsi. Temparak S. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan.45 m 2. Karau S. Karau S. Tabal Mainstream Barito. S. Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi.14 ASPEK KELEMBAGAAN Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga. S.92 Kota yang Memerlukan Penanganan Banjir NO KOTA /LOKASI 1 Buntok 2 Muara Teweh 3 Pendang Majunre Reong Parapak Kalahien Buntok Baru Muara Talang Talio Babai Bangkuang Selat Baru Sungai Jaya Majahandu Mengkatif Kelanis Rangga Ilung Rantau Kujang Rantau Bahawung Tabak Kanilan Kayumban Sarimbah Bambulung Tuyau Muara Plantau Tampa Dayu KEC SUNGAI Main Stream S. Barito Main Stream S. Apabila belum ada. S. Karau KERUGIAN RUMAH LUAS / TINGGI GENANGAN 4 5 6 7 8 9 Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Dusun Tengah Kec Dusun Tengah 692 65 245 108 545 2615 702 76 370 921 910 52 330 240 706 381 496 687 272 340 162 136 513 262 289 710 491 KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK 150 Ha. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air. Karau S. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi. Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini. Karau S. 0. S. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil. S. Karau Mainstream Barito. Temparak S. S. Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. Tabal Mainstream Barito. Karau S.5 m 215 Ha. Puring Mainstream Barito. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.4 m 155 Ha. Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi. Puring Mainstream Barito. Temparak S. Karau S. Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -185 . 0. 0. Puring Mainstream Barito. Karau S. seperti Unit Hidrologi.

ORNOP / LSM. Konsultasi Publik / Kab / Kota (Pemda. Persetujuan Prinsip Antar Provinsi (Setelah mendapat masukan Ketua Komisi / Fraksi DPRD Provinsi) 2. Boundary of river basin Upper Watershed Reservoir Main River Illegal Housing Boundary of districts LAUT A. PDAM. Pembentukan Tim Kerja Antar Provinsi (Naskah Kerjasama) 5. 1. Pemanfaat air/petani. Persetujuan Menteri PU (Setelah mendapat masukan dari Dewan SDA Nasional) 4. DPRD. Usulan ke Departemen PU 3. Pemuka masyarakat) 6.(Persero) CABANG I MALANG Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. Perguruan Tinggi.C = ADMINISTRATION DISTRICT Kerjasama Pengelolaan Wilayah Sungai Antar Provinsi disusun sebagai berikut. Naskah kerjasama disetujui masing-masing Gubernur Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -186 . industri.B.

2. Pemenuhan kebutuhan air bersih. Pelaksanaan oleh Dinas terkait Beberapa bentuk kerjasama ini dituangkan dalam 4 (empat) scenario yang dapat diterapkan untuk wilayah SWS Barito. dimana alternative ke-3 dan ke-4 cukup aplikatif untuk dilaksanakan. Rencana pengembangan irigasi dan pertanian f. Rencana pengelolaan transportasi Air d.15 RENCANA INDUK BARITO 2004 2. yang dapat diselesaikan pada tahun 2004. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas disusunlah rancangan Induk Pengembangan Wilayah Sungai Barito Kapuas. Rencana pengelolaan transportasi darat e. Rencana Pengelolaan kualitas air g. Dengan demikian melalui konsep Master plan yang mantap. Program pengembangan Listrik h. Pembentukan Dewan SDA Provinsi (Gabungan) / Pola Operasi 10. Rencana pengendalian banjir c. konprehensif antar sektor maupun wilayah administratif serta menyesuaikan dengan penataan ruang wilayah. Tanda Tangan Naskah Kerjasama oleh masing-masing Gubernur 9. meliputi : a. konservasi lahan pada daerah aliran sungai Barito untuk jangka waktu perencanaan sampai tahun 2030.15. Persetujuan oleh masing-masing DPRD Provinsi (setelah dibentuk POKJA DPRD) 8. Tujuan Mengembangkan sektor sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito melalui suatu perencanaan yang matang. Program pengembangan Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -187 . b. akan dapat dilakukan proses pengembangan yang efisien sehingga diperoleh hasil yang efektif.(Persero) CABANG I MALANG 7. pengendalian banjir dan daya rusak air. pengembangan daerah irigasi dan rawa.1 Maksud dan Tujuan Maksud Merumuskan Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan air baku.

Daerah yang belum terlayani air bersih dan belum terpasang jaringan pipa. Adapun penanganan-penenganan pada masing-masing wilayah adalah seperti tabel berikut : Tabel 2.50% menjadi 55.02% Jangkauan pelayanan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -188 . Kelebihan produksi ditampung dalam reservoir air bersih – Membuang ground reservoir air bersih dengan daya tampung 600 m3. total 700 m3 – Pengembangan tersebut untuk mengatasi vakum produksi selama 4-5 bulan pada musim kemarau – Pengadaan WTP/IPA dengan kapasitas 25 liter/det dengan total kapasitas terpasang 40 liter/det – Penambahan jar pipa untuk perluasan distribusi ke daerah yang belum terjangkau 2 Kec Alalak / Daerah pelayanan a.15.(Persero) CABANG I MALANG i. Daerah yang sudah dilayani air bersih melalui jar pipa dan diusulkan perluasan : – Desa Handil Bakti – Desa Berangas Timur – Desa Semangat Dalam b.93 Usulan Penanganan Masalah Air Bersih di Kabupaten Barito Kuala No 1 PDAM / IKK KAB/KOTA PDAM IKK Alalak USULAN PENANGANAN – Menambah kapasitas produksi 30 l/det karena kapasitas daya terpasang yang ada sekarang sudah max dibandingkan dengan jumlah daftar calon pelanggan dan pelanggan. ditambah dengan ground kapasitas lama 100 m3.15. dan institusi pendukung penyediaan sumber air.2 Garis Besar Masterplan 2004 2. Pengelolaan DAS Kapuas j.1 Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Rencana pengelolaan air bersih ditinjau pada : • • • Rencana investasi penambahan kapasitas instalasi institusi penyedia layanan distribusi. Program-program yang diusulkan oleh institusi penyedia layanan distribusi disusun berdasarkan kebutuhan pada tiap IKK yang diusulkan pada tiap kecamatan.2. Program Pengelolaan Terpadu WS Barito 2. dan diusulkan dalam program : – Kelurahan Berangas – Desa Sungai Lumbah – Desa Baringin – Desa Pitung (daerah pelayanan dari 3 desa menjadi 7 desa) – Diharapkan meningkat dari 34.

530 2.350 7 l/det 389 1.737 139.429 43 64.000 488.992 1. PDAM Di Kota Banjarmasin.855 0 1.798 1.000 18. Program Jangka Menengah. dll Rata-rata Hari puncak Kehilangan air PROYEKSI SAMBUNGAN Samb rumah Samb halaman HU Komersil Servis Industri Total Pertamb samb/th KAPASITAS DISAIN Produksi Distribusi KAPASITAS RATA-RATA Total system KEBUTUHAN RESERVOIR Total SATUAN Jiwa Jiwa 1990/1991 480.935 3.980 0 89.800 0 18.840 54. Berdasarkan Proyeksi Kebutuhan No 1 URAIAN PENDUDUK Total Dilayani PELAYANAN DOMESTIK Total Samb rumah Samb halaman HU KEBUTUHAN NON DOM Total Komersil Sosial institusi Industri PROYEKSI KEBUTUHAN Kebutuhan domestik Kebutuhan non domestik Pelabuhan.156 1.775 13.070 17.000 579.870 1.500 2004/2005 668.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.315 11.200 15.500 2 % % % % 30% 23% 0% 7% 73% 55% 0% 17% 77% 53% 0% 24% 3 %dom %dom %dom %dom 26% 16% 9% 1% 12% 5% 7% 0% 18% 9% 9% 1% 4 m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 14.775 19 59.800 Sumber : Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (PPPKT) Kalimantan Sumber : Banjarmasin.440 56.94 Analisis Kebutuhan Sistem Penyediaan Air Bersih Banjarmasin.735 3.580 7.755 103.772 2.363 82.785 0 71.085 1.776 635 12 22.742 989 5 6 l/det l/det 425 565 1.535 21.220 22.115 75.365 8 ( m3 ) 4. Pemerintah Kotamadya Daerah Tk II Banjarmasin Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -189 .000 2009/2010 750.897 0 323 1.563 0 1.360 19.215 1.642 - 63.

MARTAPURA .15. NEGARA Tanjung . Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer. S. RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL .2 Pengendalian Banjir Rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS.29 dan gambar 2. BARABAI .(Persero) CABANG I MALANG 2. Barabai S.2. . . Marabahan Kandangan S. .TABALONG S. Batas Provinsi Batas Kabupaten Sungai Kota Provinsi Kota Kabupaten Daerah Rawan Banjir PETA SWS BARITO PROP KALSEL Gambar 2. AMANDIT S. Rencana pengendalian banjir pada WS Barito Kapuas dapat dilihat pada gambar 2.39. TAPIN . yang dilaksanaan secara bertahap. . dan detail desain drainase.30 berikut. BALANGAN S. Rantau LEGENDA : BANJARMASIN ! Martapura Banjarbaru . S. COMPREHENSIVE FLOOD CONTROL PROGRAM : S. BATANG ALAI Amuntai . Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -190 .

Tu hu p 40 S. Jenamas Kec. Bumban S. Jenamas Kec. Martapura S. TEMPARAK Mainstream Buntok n S. Batang Alai Keserangan S. A S. Murungpudak Murungpudak Murungpudak . A S. D ui mb Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH . Karau Kuala Kec. Berio i Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi ah ai S. Alalak Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang n ba am A. Tabalong S. Batang Alai S. Dusun Tengah Kec. Bangkau Keserangan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI . Jenamas Kec. ji An rS at ap er S. MARTAPURA . Barabai Keserangan S. Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito ah un g S. K ap u a S. n la a Ka S Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -191 . Mangkutup Muara Laung Muara Laung Muara Laung . Bintang Awai Kec. Bintang Awai S. Bintang Awai Kec. U uwei sei S. Martapura S. Bu rak S. P p S. Riamkanan n na Ka Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati S. NEGARA Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya yu S. Karau S. AMANDIT S. Dusun Tengah Kec. T ew eh S. Karau S. . Dusun Hilir Murungpudak Murungpudak . Dusun Tengah S. KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN S. T ab al S. M urung S. L S. Dusun Hilir Kec. BATANG ALAI S. S. n n da To S. PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU Muara Laung Muara Laung Muara Laung a ri S. Tabalong Harui S. MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu S. Samu Kec. Karau Kuala Kec. Martapura S. Djulai S. Terusan S. Ka puas M PETA SWS BARITO Gambar 2. Jenamas Kec. Malu ka MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA . Ba rito Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang TAMIANG LAYANG S . Karau Kuala Kec. Tu tu i m S. Karau S. P S. T ab al o ng Ka na S. Kandangan S. M is si Mu ru S. Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan S. i S. Be bem Ketapang Ketapang Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Tumpung Laung Tumpung Laung S. Busang tun g S. un in g S. Tapin S. Jenamas S. P Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung a nu S. N eg . an gk ook S. Kandangan S. Barabai D. Tapin S. L emu Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong ang S . Teweh Besar S . Kandangan S. Tapin S. TAPIN ar a S. Bintang Awai Kec. Karau Kuala Kec. M ar Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi S. Martapura S. Dusun Tengah Kec. Pamelu nuh S. Tabalong Harui Harui Harui ing Ja S. Karau S. Batang Alai S. Rantau Rantau Rantau Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa . TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG Kec. Barabai Keserangan S.S a egi n Tabak Kanilan Kanilan uh Tabak Kanilan Tabak Kanilan Tabak Kanilan Kanilan S. BARABAI lam p ar KANDANGAN KANDANGAN . K Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang ap um S. Dusun Hilir Kec. L S. MARTAPURA Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh S. Batang Alai S. L ami S. Tapin S. KARAU S. Ba lan ga Paringin Paringin Paringin Paringin Paringin nParingin ita S. Tuy au Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Kiw a Kec. S. AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Ilung Ilung Ilung Ilung S. M alu S. L an da un S. g un La S. Karau Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot S. Barabai S. Tempar ak S. Tapa RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL S. Karau S. k pa Lu Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Kec. Kandangan it S. M ta en Na pu Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Ha lon g ! Pe ta i S. Bintang Awai Kec. Pu rin g s S. Martapura S. Bintang Awai Kec. Dusun Tengah Kec. Murun g S. Barabai Keserangan S. H ia ng s S.T ! Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul S S. Dusun Hilir Kec. Batang Alai S. Jenamas Kec. J u la i S. Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Halong Halong Halong Halong Halong Halong S. Dusun Hilir Kec.40. L p uy am at Ku an tan S. Batang Alai S. M ka eng tip Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik S. S. Karau Kuala Ka rau S. . . M eta k Pu lau P S. BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU m Ria D. Tapin S. Lu S. in ng n ta Ma Ke S. Dusun Hilir Kec. Tabalong S. Tabalong Harui S. Karau Kuala Kec. Barabai Keserangan S. TABALONG S. Tabalong Harui S.(Persero) CABANG I MALANG Be la S. Tapin Rantau Rantau Rantau . Ay Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah a ng a su S. Kandangan nd ma S. Dusun Tengah Kec. BALANGAN S. Ala r S. BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Kec. BARABAI S. Murungpudak Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas aik ng lo ba Ta ng S. Ria iw a mK II Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron KAPUAS MURUNG S. Martapura S. Kandangan Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas S. Ta balo ng S.

Aliran relatif cepat dengan beberapa jeram Aliran cukup deras dan banyak jeram tetapi masih dapat dilayari perahu kecil Zona Lokasi 1 Dari Muara sampai dengan Kalanis. kemiringan dasar sungai sangat landai Dapat dilayari perahu besar hanya pada musim penghujan.15.41.3 Rencana Pengelolaan Transportasi Air PETA SWS BARITO 4 3 2 PALANGKARA 1 BANJARMAS Gambar 2.2. Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Barito Keterangan Dapat dilayari perahu besar walaupun di musim kemarau. Kemiringan dasar sungai relatif masih landai Dapat dilayari oleh perahu kecil (kapasitas 1 ton).(Persero) CABANG I MALANG 2. Buntok 2 Dari Buntok sampai dengan Muara Teweh Dari Muara Teweh sampai dengan Puruk Cahu Dari Puruk Cahu sampai dengan Muara Joloi 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -192 .

Da m nu bu i PETA DAS KAPUAS . H s S. 6 b am Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam ! LUMPAK DALAM 3o 0 0 L S an ua s M k pa Lu S. Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Kapuas Murung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -193 . M ta en k ai ng MANTANGAI ˜ M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai 6 ˜ 5 S. Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta S in gk an PUJON LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee S. PPujon P ujon ujon PPujon P ujon ujon S. ˜ 2 An A. K ap .S S. . K A P U A S TE N GA H g S SEIHANYU ˇ 1 SSeihany uu S eihany u eihany SSeihany uu S eihany u eihany S . ku ng Ma tup ! S. ia n g K A B U P A T EN K A P U A S S. ANJ DILAYARI HINGGA MS MS KEMARAU KONDISI Gambar 2. L n ah u T S. B eb em ˜ 7 M aaraapitit M ar rappit M M aaraapitit M ar rappit M S. M an a ra n S . S. Ba ˇ sa ra 5 ng 4 SSeit at as S eit at as eit at as SSeit at as S eit at as eit at as 0o 0 0 M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik S ˇ . on S.T jir Se t pa ra 2o 00 LS urun g ˇ S.42. Ka pu as S.(Persero) CABANG I MALANG . Bu n u t Ku an tan S. Mu ru i S. K E C . n da S. TTim pah T im pah im pah TTim pah T im pah im pah n egia S S. BBarim ba B arim ba arim ba BBarim ba B arim ba arim ba 1o 0 0 L S KUALA KAPUAS S . T er us a n ˜ 1 . LLam uuniti Laam unniti m iti LLam uuniti Laam unniti m iti Me k ng p a ti M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M ˜ ˇ PPalingk au P alingk au alingk au alingk au PPalingk au P alingk au 3 D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D 4 Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Ke l am Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta MANDOMAI Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m p a M andom ai M andom ai M andom ai r M andom ai M andom ai M andom ai ˜ et a k Pu lau P A. in ng n ta Ma Te w eh Be sa r ˇ 2 TIMPAH .

meskipun kualitas pelayanannya masih rendah. serta kualitas pelayanan. 2.4 Rencana Pengelolaan Transportasi Darat Strategi pengembangan diusulkan dalam 3 (tiga) periode masing-masing. sebagai berikut: Periode I (2003) 1. Penyelaesaian Jembatan Sei Barito di Puruk Cahu ( ruas Muara Teweh – Puruk Cahu).15. 2) Strategi jangka menengah adalah meningkatkan kemudahan dalam hal aksesibilitas dan mobilitas.5 meter. Penyelesaian jembatan balok T (jembatan layang) di daerah Tumbang Nusa (ruas Palangkaraya – Pulang Pisau). lebar minimal 4. Dalam merealisasikan strategi pengembangan transportasi di Provinsi Kalimantan Tengah diusulkan pula pentahapan program pengembangan pada masing-masing periode.(Persero) CABANG I MALANG 2.2. maupun mobilitas. 5.5 – 6. utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan. 4. 1) Strategi jangka pendek adalah membentuk jaringan jalan yang utuh.0 meter. jangka menengah atau periode II (2008 – 2013) dan jangka panjang atau periode III (2013 – 2018) dengan mengacu pada konsep memperbaiki dan meningkatkan aksesibilitas. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -194 . Meningkatkan jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi perkerasan beraspal dengan lebar 4. 3) Strategi jangka panjang atau periode III adalah difokuskan pada peningkatan kenyamanan perjalanan masyarakat pengguna jasa transportasi serta pembangunan jalan kereta api untuk angkutan barang. Rehabilitasi/pemeliharaan pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor 3. yaitu dengan meningkatkan tingkat kemudahan jangkauan pelayanan hingga daerahdaerah di Provinsi Kalimantan Tengah. Penyelesaian Pembangunan Jalan dan jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok. yaitu peningkatan terhadap ruas jalan penghubung antar kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah. yaitu jangka pendek atau periode I (2003 – 2008).

Peningkatan ruas jalan eksternal menuju Banjarmasin ruas Palangkaraya – Banjarmasin 6 meter. Pembangunan Jembatan Sungai Kapuas Di Lungkuh Layang pada Ruas Jalan Koridor Utama Palangkaraya – Buntok. Mengoptimalkan Terminal Angkutan Darat bagi kabupaten yang sudah memiliki terminal. 2. 4. Kuala Kapuas – Batas Kal-Sel. 10. ruas jalan menuju Provinsi Kalbar ruas jalan Nanga Bulik. Peningkatan Pembangunan Jalan dan Jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok dari kondisi agregat ke kondisi aspal beton lebar minimum 6 meter. Palangkaraya – Bereng Bengkel Km 35. 5. Sampit – Samuda. Periode III (2013-2018) 1. 7. Pasar Panas – Tamiyang Layang – Ampah – Buntok ditingkatkan menjadi 2x7 meter.(Persero) CABANG I MALANG 6.0 meter. Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Kapuas di Sei Hanyu (ruas K. Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Laung di Tumbang Laung (ruas Batu Putih – Puruk Cahu). 8. 3. Periode II (2008-2013) 1. Membangun terminal dan fasilitasnya pada masing-masing ibu kota kabupaten yang belum memiliki terminal. Pembangunan jalan rel kereta api untuk transportasi angkutan barang dengan alternatif jalur yaitu jalur daratan tinggi menuju outlet Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -195 . Kujan – Kudangan ke arah Kalbar lebar 6 meter. Peningkatan struktur dan lebar jalan di koridor utama pada segmensegmen dalam ruas jalan Palangkaraya – Tangkiling. 9. Pemeliharaan (rutin/periodik) atau rehabiltasi pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan. Peningkatan struktur jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi lapis permukaan aspal beton dan lebar minimum 6. 2.Kurun – Sei Hanyu – Batu Putih). Pembangunan pelabuhan di Kabupaten Katingan dengan salah satu alternatif posisi pada selat jeruju (Pegatan-Mendawai).

kab. atau peraturan perundangan lainnya. Hsu. Tapin) 4. Tabalong. kab. Dan berorientasi ke 3 (tiga) outlet (pelabuhan). Sampit) dari kawasan pengembangan industri yang merupakan jaringan tingkat sekunder pada sistem jaringan primer trans Borneo railways yang meliputi Kuala Kurun – Tumbang Samba ( menuju Parenggean dan Bagendang/Ujung Pandaran) – Nangabulik (menuju pelabuhan Kumai).(Persero) CABANG I MALANG (Kumai/Pangkalan Bun dan Bagendang/Ujung Pandaran. Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi Kalteng (s. Banjar. Maruwei. Karau. Sosialisasi undang-undang no.6 Program pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng. Jalur menuju ke perbatasan Kalimantan Barat/Kalimantan Timur. kab. s. Program yang diusulkan untuk mengatasi hal ini adalah : 1. kecamatan timpah. 2. Hss.15. kab. kab. Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi kalsel (kab. Ayuh. 3. Banjarmasin. Murung) 5. serta sanksi terhadap pelanggar lingkungan agar disosialisasikan secara luas sampai ke desadesa.2. Hst.5 Rencana Pengelolaan Kualitas Air Mengingat banyaknya kegiatan pertambangan emas di sungai dinilai telah banyak mengganggu kelancaran dan keselamatan angkutan sungai serta sistim pengolahan yang terbukti mencemari air sungai. Merupakan pengembangan pada tahapan alternatif (a) daerah Upland Coridor dan perbatasan menuju outlet. Pengelolaan kualitas air sungai-sungai di kab kapuas. 23 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. dan kecamatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -196 . maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) kapuas tengah. s. 2. Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu (Dinas Pertambangan dan Energi tingkat kabupaten) 2. maka dipandang perlu upaya bersama untuk mengurangi dampak negarif tersebut. Kumai dan Bagendang/Ujung Pandaran.15. termasuk kajian teknis pengolahan emas dengan air raksa yang aman untuk lingkungan (kecamatan mantangai) 3.2. dan s.

2. Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada. Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini.95 Program Pelaksanaan Rencana Pembangunan Bendungan/Waduk di Provinsi Kalimantan Tengah 2005 2006 2007 2007 2010 2007 2008 2012 2013 Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -197 .15. dan pertanian. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi.7 Program Pengembangan Institusi Pengelola SDA Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito. Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan. Apabila belum ada. yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air. Tabel 2. Setelah adanya Balai PSDA. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil. Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2.(Persero) CABANG I MALANG scheme yang memerlukan kajian lanjutan. perikanan. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi. seperti Unit Hidrologi. irigasi.

Untuk mendukung sector transportasi tersebut. Kajian teknis terhadap kondisi kritis wilayah. Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. Tabel 2.15. DAN MURAI 5 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MANGKUTUP 6 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI MURAI 7 MONITORING KUALITAS AIR JANGKA PENDEK SUNGAI MENTANGAI 8 PEMELIHARAAN ALUR SUNGAI JANGKA PANJANG MAIN STREAM HULU S. Sepanjang 420 km dari 600 km aliran Sungai Kapuas dapat dilayari sampai ke hulu.(Persero) CABANG I MALANG Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. Provinsi. KAPUAS 9 KONSERVASI KAWASAN BUKIT JANGKA MENENGAH DAN TANGKILING PANJANG Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas 2. untuk sektor konservasi Analisis ekonomi untuk sektor pendayagunaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -198 .96 Usulan Program Konservasi dengan Kajian Pengendalian Erosi NO USULAN PROYEK KATEGORI JANGKA WAKTU 1 DRAINASE TERPADU KOTA KUALA JANGKA PENDEK DAN KAPUAS MENENGAH 2 PROGRAM KALI BERSIH JANGKA MENENGAH KABUPATEN KAPUAS 3 PENGEMBANGAN TPA KOTA JANGKA PENDEK KAPUAS 4 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MENTANGAI.9 Program Pengelolaan Terpadu WS Barito Alokasi waktu perencanaan program disusun dalam jangka pendek. MANGKUTUP. Prioritas program jangka pendek didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut : 1. 2. dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA.2. dan transportasi air merupakan prasarana penting perekonomian wilayah ini.15. 2. menengah.8 Pengelolaan DAS Kapuas DAS Kapuas dan DAS Barito dihubungkan oleh aliran Sungai Kapuas Murung.2. maka diusulkan program konservasi dengan kajian pengendalian erosi pada anak-anak sungainya. dari Kuala Kapuas sampai Seihanyu. dan jangka panjang.

97 Daftar Program Prioritas SEKTOR / PROJECT TITLE 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO. 35. 155.(Persero) CABANG I MALANG 3. dan HSS D. BATIKAP II. MUARA SINGAN 10.279 Ha 280 MW 10 ) 11 ) 12 ) 13 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -199 .375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI.000 Ha dan 87. PROP KALSEL. 81. 200. KAB MURUNG RAYA. Kabupaten HSU. HST. Tingkat kerugian untuk sektor pengedalian daya rusak air Tabel 2. BATIKAP III.700 Ha (Cagar Alam) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I.000 Ha. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS Balangan.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA. 740. Riam Kiwa. dan Tabalong Kanan) PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN. KALTENG.I. DAS Riam Kanan. PROP KALSEL.

(Persero) CABANG I MALANG MASTER PLAN WILAYAH SUNGAI (WS) BARITO NO 1 SEKTOR / PROJECT TITLE Drainase Kota 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10 ) 11 ) 11 ) 12 ) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI NEGARA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TAPIN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BARABAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BATANG ALAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BALANGAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TABALONG PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI AYUH PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TEWEH PENYUSUNAN OUTLINE PLAN DRAINASE KOTA BUNTOK Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -200 .

DAN TABALONG KANAN) NO SEKTOR / PROJECT TITLE PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALTENG) 17 ) 18 ) 19 ) 20 ) 21 ) 22 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Lahei (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Teweh (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Juloi (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Laung Tuhup (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayuh (Kab Barsel) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Bekakar dan Takuan Puri (Kab Bartim) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -201 . Erosi dan Sedimentasi 15 ) 16 ) PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS BALANGAN.(Persero) CABANG I MALANG 2 Waduk Serbaguna 13 ) 14 ) WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI WADUK SERBAGUNA LAHEI 3 Konservasi Hutan. DAS RIAM KANAN. RIAM KIWA.

67. 155. KALTENG.000 2.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayu. 35. 81.000 Ha Ha Ha Ha Ha 31 ) 32 ) 33 ) KONSERVASI KAWASAN BUKIT TANGKILING.000 Ha dan 87. PROP KALSEL.543 155.400 Ha (Kab Banjar) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Martapura 77. 99.000 Ha (Kab Banjar) 30 ) KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN.500 Ha (Kab Tapin) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Alalak 8. 1982) 81.375 200.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -202 .000 740.700 Ha (Cagar Alam) (Sblmnya Parawen I dan Parawen II.000 Ha (Kab HST) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tapin. 4.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA. PROP KALSEL. KAB KAPUAS.(Persero) CABANG I MALANG PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KAPUAS) 23 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Mentangai (Kab Kapuas) PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALSEL) 24 ) 25 ) 26 ) 27 ) 28 ) 29 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tabalong Kiwa. 2.543 Ha (Cagar Alam dan Taman Wisata) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT. 17.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Batangalai.

BATIKAP III. 46.(Persero) CABANG I MALANG 34 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KAGET.000 Ha. BATIKAP II. KAB HSS. 245 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I.250 Ha.3 34 42 MW MW MW MW 5 Pengembangan Pertanian 47 ) D. 25. Kabupaten HSU. KAB MURUNG RAYA. 150. MUARA SINGAN 10. HST. KAB TABALONG. KAB BANJAR. KENTAWAN. KAB HSU. 6. 60 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN G. PROP KALSEL.000 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN SUNGAI NAGARA.I. dan HSS KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU TANJUNG.000 Ha (SM) KONSERVASI KAWASAN HUTAN GAMBUT LIANG ANGGANG. PROP KALSEL. 275 Ha (CA) NO SEKTOR / PROJECT TITLE 35 ) 36 ) 37 ) 38 ) 39 ) 40 ) 41 ) 42 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KEMBANG.279 Ha Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -203 . Kabupaten HSU dan Tabalong KONSERVASI KAWASAN MUARA UYA. 200.000 Ha (CA) 4 PLTA 43 ) 44 ) 45 ) 46 ) PLTA MUARA JULOI PLTA LAHEI PLTA TEWEH PLTA RIAM KIWA (2 X 21 MW) 280 32.375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI. 740.

(Persero) CABANG I MALANG 48 ) 49 ) 50 ) 51 ) 52 ) 53 ) 54 ) 55 ) 56 ) 57 ) D. dan S. Ayuh. Karau. BATANG ALAI D. BALANGAN D.BARABAI D. dan Kecamatan Mantangai) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALSEL (Kab Tabalong.I. Kab HSS.927 5. S. PITAP STUDI PENERAPAN SUB POLDER PADA POLDER ALABIO KAJIAN PERTANIAN TERPADU PADA POLDER ALABIO 7. AMANDIT D. S. Maruwei. MARUWEI D.I. Kecamatan Timpah.459 6.I.823 3. Kab HSU.I.432 6.I. Murung) 59 ) 60 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -204 .I.I. TEMPARAH D.519 Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha NO 7 SEKTOR / PROJECT TITLE Pengelolaan Kualitas Air 58 ) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI-SUNGAI DI KAB KAPUAS (Kecamatan Kapuas Tengah.984 7.I.078 2.172 4. Kab HST) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALTENG (S. TONDAN D.

(Persero) CABANG I MALANG 61 ) 62 ) 8 Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu Sosialisasi undang-undang tentang pengelolaan lingkungan hidup (No. 23 / 1997) Lembaga Pengelola Lintas Provinsi 63 ) 64 ) 65 ) 66 ) 67 ) 68 ) 69 ) Lokakarya Sistem Pengelolaan Lingkungan / DAS Terpadu Rapat Koordinasi antara dan penandanganan Nota Kesepakatan Antar Bupati yang berada di SWS Barito Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalsel) Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalteng) Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalsel Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalteng Pembentukan Balai SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -205 .

1.1 Umum Pendekatan yang diambil dalam perencanaan sumber daya air di wilayah sungai mengacu pada UU No. dimana kegiatan tersebut merupakan kegiatan awal dalam perencanaan SDA di wilayah sungai.1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -1 .2 merupakan bagan alir penyusunan pola sumber daya air. 2006) yang meliputi penyusunan kebijakan pengelolaan Sumber Daya Air di tingkat Propinsi serta penyusunan pola pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di wilayah sungai. Gambar 3. Sedangkan pada gambar 3. PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN STUDI 3. Direktorat Bina Program.1 menunjukkan tahapan dalam penyusunan perencanaan Sumber Daya Air (Subdit PWS.(Persero) CABANG I MALANG BAB 3 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN STUDI 3. Di dalam pendekatan penyusunan Pola Pengelolaan SDA tersebut akan diuraikan secara singkat tahapan dalam perencanaan sumber daya air wilayah sungai. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Daya Rusak Sumber : Subdit PWS. 2006) Gambar 3. Sungai Area Keg. Direktorat Bina Program. Daya Rusak) **) Rencana PSDA merupakan keterpaduan dari Rencana Induk: Konservasi. Dlm WS KONSTRUKSI OPERASI & PEMELIHARAAN PANTAU EVALUASI RTRW Nas/Pro/Kab/Kt Program Prioritas SDA Ditjen Lain Departemen lain Survey dan Investigasi Operasi & Pemeliharaan (OM) Studi Klykn (FS)+Amdl ya Detail Desain (D/D) Pelaksanaan Konstruksi (C) Monitoring dan Evaluasi KETERANGAN : *) Pola PSDA = Kerangka Dasar untuk --> merencanakan. memantau & mengevaluasi (Konservasi.1 Tahapan Dalam Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -2 . Dlm WS Mikro Basis Lokasi Krj.DR tidak PLANNING (perencanaan) Makro/Mikro Basis Basis Wil. Daya Guna.(Persero) CABANG I MALANG TAHAPAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Makro Basis Spasial Nas/Prop/Kab/Kot Kebijakan Nasional SDA Survey Investigasi & Review Studi WS Kebijakan SDA Prop/Kab/Kota Pola PSDA WS yg tlh ditetapkan Men/Gub/Bup Inventarisasi SDA WS Renc. Daya Guna. melaksanakan.DG. PSDA WS Renc.Induk: K.

azas dan prinsip pengelolaan sumber air sesuai dengan paradigma baru yaitu : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -3 .2 Bagan Alir Penyusunan Pola Sumber Daya Air.2 Visi. Misi.1. Azas dan Prinsip sebagai Panduan Penyusunan Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air akan menggunakan visi.(Persero) CABANG I MALANG Start Mempelajari kebijakan Daerah di Dalam Pengelolaan SDA Inventarisasi Data Identifikasi Masalah TAHAP I PERSIAPAN PKM I Jika tidak sesuai Jika sesuai Analisa data Skenario Pengembangan Strategi Kebijakan Operasional (Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS) PKM II TAHAP II PENYUSUNAN Finalisasi Konsep Rancangan Pola Proses Penetapan TAHAP III PROSES PENETAPAN Pola Pengelolaan SDA WS End Gambar 3. misi. 3.

antar wilayah. - pengendalian masyarakat dan sistem informasi SDA Keterpaduan antar sektor. satu rencana. profesional dan akuntabel Pelibatan masyarakat dalam seluruh proses pembangunan - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -4 .(Persero) CABANG I MALANG Visi : Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. peran serta Prinsip : - - pendayagunaan. satu manajemen yang terkoordinasi berdasarkan wilayah sungai sebagai kesatuan pengelolaan Pengelolaan sumber daya air daya mencakup rusak. antar instansi tanpa mengurangi kewenangan masing-masing - Keterpaduan antara air permukaan dan air tanah Upaya pendayagunaan diimbangi dengan upaya konservasi Proses rencana pengelolaan melibatkan seluruh stakeholder Penerapan kebijakan sumber daya air diselenggarakan secara demokratis dengan pelibatan semua unsur stakeholder berdasarkan asas tersebut diatas - Dalam jangka panjang implementasi kebijakan dilaksanakan oleh badan pengelola yang mandiri. Misi : Azas : - Konservasi sumber daya air Pendayagunaan sumber daya air Pengendalian daya rusak air Peran serta masyarakat Sistem informasi sumber daya air Kelestarian Keseimbangan Kemanfaatan umum Keterpaduan dan keserasian Keadilan Kemandirian Transparansi dan akuntabilitas Satu sungai. konservasi.

Unsur-unsur utama yang mendukung dan mempengaruhi jalannya operasional proyek meliputi: Personil (Tenaga Ahli dan Tenaga Penunjang) Organisasi Sistem Koordinasi Fasilitas kerja Tempat (kantor dan base camp) Secara diagram.2.3 Pendekatan Operasional Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -5 . pendekatan operasional pelaksanaan pekerjaan dapat dilihat pada Gambar 3.(Persero) CABANG I MALANG 3. PENDEKATAN OPERASIONAL Untuk pelaksanaan studi “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini.3. agar tercapai hasil kerja yang optimal Konsultan akan menyiapkan rencana operasional proyek yang seefektif dan seefisien mungkin. PENDEKATAN OPERASIONAL FASILITAS LAPANGAN KANTOR STUDIO TRANSPORTASI KOMUNIKASI KUALITAS KAPASITAS OPERASIONAL EFEKTIF KOORDINASI INTERN EKSTERN EFISIEN ORGANISASI INTERN EKSTERN TEPAT TEPAT MUTU Gambar 3.

multi-disiplin. multi-sasaran. yaitu: 1. PERUMUSAN KONDISI ANALISIS DAN PENDEKATAN ANALITIS RENCANA KERJA IDENTIFIKASI SASARAN PERENCANAAN DAN KRITERIA EVALUASI SASARAN DAN KRITERIA TAHAP ANALISIS TERPADU PERUMUSAN DAN ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN AIR PEMICU banjir.+ analisis sensitivitas PENYAJIAN HASIL laporan .. 2. ANALISIS SISTEM SUMBERDAYA AIR . TAHAP INSEPSI TAHAP PERSIAPAN (pengumpulan data dan analisis sektoral) ANALISIS EKONOMI MAKRO DAN KELEMBAGAAN pola tata ruang populasi kelembagaan ANALISIS PENGGUNAAN AIR DAN AKTIVITAS YANG BERKAITAN pertanian. multi-kriteria. industri. operasi. Kerangka Kerja Analitis Untuk memecahkan permasalahan perencanaan sumber daya air yang bersifat kompleks. dan menjelaskan urutan pelaksanaan dalam studi.kualitas air .ekonomis. energi.peta . dan Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) berupa model komputer. kekeringan.hidrologi . sosial.3. Pendekatan analisis sistem ini yang diterapkan pada Wilayah Sungai (WS) atau pada Daerah Aliran Sungai (DAS) ini dicirikan dengan adanya dua buah komponen utama. dan antar-wilayah ini. air minum. Kerangka Kerja Analisis (Framework for the Analysis) yang merupakan pola pikir.3.kartu skor .lingkungan dll. dll. sebaiknya digunakan pendekatan analisis sistem sumberdaya air secara holistik.model database MASUKAN UNTUK PARA PENENTU KEBIJAKSANAAN Gambar 3.1. multi-sektoral. dsb. komprehensif dan terpadu.4 Kerangka Kerja Analisis Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -6 . ANALISIS AWAL PERMASALAHAN DAN UPAYA PENANGGULANGAN EVALUASI STRATEGI PENGELOLAAN AIR teknis.erosi dan sed. database dan user-interface untuk mendukung Kerangka Kerja Analisis.(Persero) CABANG I MALANG 3. perencanaan. dsb. PENDEKATAN UMUM 3.

Basis data dapat dikelola mulai dari program computer yang sederhana seperti Microsoft Excel.(Persero) CABANG I MALANG 3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -7 . dan lain sebagainya. untuk tujuan sebagai berikut : • • Mempermudah koordinasi penyimpanan dan pemeliharaan data Menghindarkan timbulnya duplikasi data yang dapat mengakibatkan pemborosan media penyimpanan data serta mengurangi keandalan data yang tepat waktu. Basis Data.2. Perangkat lunak ini dikembangkan pada tahap persiapan dan terdiri atas: • • Basis data (data base ) Kumpulan model matematis yang konsisten terdiri atas model ketersediaan air. atau program basis data yang khusus dibuat untuk menangani data masalah sumber daya air. • Mempertinggi keluwesan akses data. Pembuatan kerangka kerja komputasi ini biasanya memakan banyak waktu dan biaya. Data yang ada sebaiknya disusun dalam basis data. Kerangka kerja komputasi adalah perangkat lunak untuk membantu analitis pada tahap persiapan serta tahap analisis. juga untuk permasalahan yang serupa pada Daerah Aliran Sungai yang lain. misalnya HYMOS. air tanah. Idealnya basis data pengembangan sumber SDA terpadu adalah mencakup antara lain : • • Basis data ekonomi dan kependudukan pada tingkat kabupaten dan kecamatan. dicetak pada kertas sebagai laporan atau dipindahkan pada media penyimpanan data (misalnya dalam CD) Basis data adalah (Kukstehl. 3. klimatologi. kebutuhan air.3.3. Basis data hidrometeorologi: hujan. Basis data merupakan bank data yang berfungsi untuk memberikan masukan pada model computer. model air tanah. sehingga data dapat dilihat pada layer. Kerangka Kerja Komputasi. tetapi jika basis data serta model sudah tersedia maka akan sangat memudahkan analisis selanjutnya.3. 1985 ) kumpulan data yang diatur sedemikian rupa sehingga pencarian serta pemunculan data dapat dilakukan dengan sangat efisien. debit. model erosi. program khusus basis data seperti dBase III. distribusi air.

Model analisa banjir.4. Untuk meneliti kondisi system pada saat ini. erosi dan sedimentasi dan lain lain. teori persediaan ). aturan operasi waduk serta bendung. dan lain sebagainya. Tahap analisis system saat ini. operasi. sebab pelaksanaan perhitungannya • • • • biasanya dilakukan dengan bantuan computer. inferensi. berfungsi mensimulasikan alokasi air pada jaringan skematis daerah aliran mengingat kebutuhan air untuk berbagai pengguna air. kebutuhan air untuk masing masing pengguna air. Basis data lainnya: kualitas air. program dinamis). Model komputer ini dapat dibagi menurut peranannya dalam tahapan yang ada pada kerangka kerja analitis yaitu : • • • • Tahap analisis ekonomi makro dan kependudukan. akan digunakan model hidrologi untuk menelaah situasi ketersediaan air dengan HYMOS. program non linear. untuk menirukan keadaan sebenarnya di dalam dunia nyata. Model Matematis. dan Tahap analisis terpadu. Selain itu bilamana perlu dapat ditambahkan juga penggunaan beberapa model antara lain sbb: • • • • • Model air tanah. Model kualitas air Model untuk melaksanakan analisa terpadu. infrastruktur. Teknik statistic (multivariate. Tahap analisis penggunaan air serta aktivitas yang berkaitan dengan air. Teknik simulasi Untuk system SDA yang kompleks seperti wilayah sungai BARITO .3. 3. Model matematis adalah kaitan fungsional antara masukan dan keluaran. Model matematis kerap kali dinamakan juga sebagai model computer.(Persero) CABANG I MALANG • • Basis data jaringan sumber daya air: skematis. skematis daerah aliran sungai dan mengalokasikan pembagian air sesuai prioritas yang telah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -8 . teori keputusan). Model sedimentasi. Model erosi.KAPUAS akan digunakan metode simulasi. Model matematis dapat menggunakan satu atau lebih teknik analitis sebagai berikut: Teknik optimasi (program linear. Teknik probabilistic ( teori antrian.

2. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air Undang-undang No.KAPUAS ini terdiri dari 5 (lima) Kegiatan utama. PENDEKATAN HUKUM Penyusunan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini mengacu kepada peraturan perundangan yang lahir sesuai arah kebijakan politik. kegiatan yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan pekerjaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah sungai BARITO . Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 Undang-Undang 1. yaitu : a) Kegiatan Pendahuluan b) Survey dan Inventarisasi Data c) Pengolahan dan Analisis Data d) Identifikasi Rencana Pengembangan Sumber Daya Air e) Analisis Strategi Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai 3. Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang No. 6. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. 4. maka akan digunakan program khusus untuk simulasi wilayah yaitu RIBASIM. Undang-undang No. Undang-undang No. 3. Undang-undang No. Secara berjenjang. Alinea ke-4 Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. 5. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai tersusun dengan urutan sebagai berikut : Undang-Undang Dasar 1. Undang-undang No. 7. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.(Persero) CABANG I MALANG ditentukan dan air yang tersedia. Mengingat system tata air yang dikaji sangat kompleks dan rumit. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Secara garis besar. dimana otonomi seluas-luasnya diberikan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota. 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -9 .4.

27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air merupakan Kerangka Dasar dalam Merencanakan. 4. Memantau dan Mengevaluasi Sumber Daya kegiatan Air dan Sumber Pendayagunaan Pengendalian Daya Rusak Air.KAPUAS dengan Prinsip Keterpaduan antara Air Permukaan dan Air Tanah serta Keseimbangan Upaya Konservasi dan Pendayagunaan Sumber Daya Air. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.(Persero) CABANG I MALANG Peraturan Pemerintah 1. 20 Tahun 2006 tentang tentang Irigasi.1 Penentuan Responden Penentuan Responden dalam analisis Penyusunan Pola Pengelolaan SDA ditetapkan berdasarkan teknik Purposive Sampling dengan pertimbangan bahwa Responden adalah pelaku (Individu atau Lembaga) yang mempengaruhi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -10 . Peraturan Daerah 3. 3.(Pasal 1 ayat 8 UU No 7 tahun 2004) pada Wilayah Sungai BARITO . Peraturan Pemerintah No. Daya Air. 3. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. Keputusan Presiden Keputusan Presiden No. Peraturan Pemerintah No. 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air. Konservasi Melaksanakan. 5. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom.KAPUAS Untuk menjamin terselenggaranya PSDA yang dapat memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun Pola Pengelolaan Sumber Daya Air.5.5. 2. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. PENDEKATAN PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO .

Secara ringkas tahapan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : 3. Wakil Pemerintah Daerah b. Pembangkitan Alternatif dan Evaluasi rekayasa.2. Beberapa item kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -11 .(Persero) CABANG I MALANG penyusunan Pola Pengelolaan SDA. Persiapan Personil dan Administrasi Konsultan akan mengerahkan tenaga ahli dengan koordinasi oleh Direktur Teknik Perusahaan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan.5.2 Tahapan Analisis Metode pengambilan keputusan pemilihan alternatif tindakan pola Pengelolaan SDA untuk pencapaian pengelolaan SDA berkelanjutan dilakukan dengan dua pola alur analisis pengambilan keputusan yaitu : a. Responden yang ditetapkan adalah sebagai berikut : a. Survey dan Inventarisasi Data Data-data yang dikumpulkan pada uraian pendekatan umum akan dilakukan review untuk dijadikan bahan masukan dalam kegiatan ini. 3.KAPUAS Tahapan dalam metodologi pelaksanaan diuraikan secara ringkas dan mengacu pada tahapan kegiatan seperti pada KAK.1. 3. Wakil Pengguna Air c. Kehutanan d. PENDEKATAN TEKNIS PENYUSUNAN POLA WS BARITO . LSM 3.6. baik langsung maupun tidak langsung di Daerah Aliran Sungai pada wilayah sungai BARITO . Universitas e. Alur pengembangan Kriteria dan Ukuran Evaluasi b.6.KAPUAS.6.

2 Inventarisasi Kondisi Existing Water District Tahap ini merupakan penjabaran dari model Ribasim atau Ribasim District yang menganalisis berdasarkan district level. Pendekatan sistem evaluasi lahan dan penilaian lokasi (Land Evaluation and Site Assesment = LESA) yaitu suatu sistem untuk membantu instansi yang terkait untuk membuat keputusan-keputusan dalam perencanaan penggunaan lahan. Sacramento model dan total demand dalam suatu distric. Pendekatan mengatasi masalah konservasi lahan meliputi : 1. Inventarisasi yang dilakukan adalah sejauh mana manajemen sumber daya air yang telah dikelola oleh suatu institusi kemudian akan didekati dengan analisis run off model balance. b.(Persero) CABANG I MALANG 3. Kelanjutan inventarisasi kondisi water distric ini adalah analisis water Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -12 . Beberapa pendekatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : • • Pendekatan bentangan (Landscape Approach). Pendekatan yang akan dilakukan pada tahap informasi kondisi fisiografis lahan adalah sifat fisik lahan yang merupakan dasar bagi perencanaan penggunaan lahan yang rasional. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dengan diperkenalkannya sistem informasi berbasis SIG. yaitu untuk memetakan tanah dengan skala kecil yang diperlukan untuk Masterplan. Pendekatan fisiografik (physiographic approach) a.6.1 Informasi Kondisi Fisiografis Lahan Item kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan kondisi tata guna lahan pada wilayah sungai BARITO .2.KAPUAS secara umum dan kajian hasil studi dari beberapa instansi terkait. 3.6.2. Menggunakan kerangka bentuk lahan (land form framework) untuk mengidentifikasi kan satuan daerah secara alami c. Mempertimbangkan lahan secara keseluruhan di dalam penilaiannya. Sebagai pendekatan holistrik dan sintetik 2. Pendekatan parametrik (parametric approach) yaitu sistem klasifikasi dan pembagian lahan atas dasar pengaruh atau nilai ciri lahan tertentu dan kemudian mengkombinasikan pengaruh-pengaruh tersebut untuk memperoleh kesesuaiannya.

7 tahun 2004 disebutkan bahwa penentuan prioritas alokasi air adalah sebagai berikut : • Prioritas A : • Prioritas B : • Prioritas C : Air minum rumah tangga Pertahanan & keamanan nasional Peribadatan Usaha perkotaan (kebakaran. penggelontoran. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -13 .(Persero) CABANG I MALANG A.KAPUAS tersebut berdasarkan data sekunder yang terkumpul dan hasil studi terdahulu D. Pada undang-undang no. Wilayah Kecamatan dan Kabupaten masing masing akan diplot dalam peta wilayah sungai tersebut untuk memperjelas DAS masing masing wilayah. Inventarisasi Kondisi Existing Demand Cluster Pada tahap ini akan dikumpulkan data water user yang terkait dengan demand secara hirarki. Identifikasi Permasalahan / Problem / Constraint Pada tahap ini konsultan akan melakukan inventarisasi permasalahan sumber air di wilayah sungai BARITO . Dari peta tersebut yang akan dibagi berdasarkan masing masing Sub WS akan diperoleh jumlah situ atau mata air masing masing sub WS. taman) Pertanian Pertanian rakyat dan usaha pertanian lainnya Peternakan Perkebunan Perikanan Ketenagaan Industri Pertambangan Lalu Lintas air Rekreasi B. Pembuatan Peta Kerja Yang dimaksud kegiatan ini adalah konsultan akan menyiapkan peta kerja bersumber dari peta skala 1:50. Inventarisasi ini akan memperoleh besaran kebutuhan air untuk berbagai keperluan dan prioritas masing-masing yang disusun secara hirarki.000 Bakosurtanal. Pengumpulan Peta Geographic Information System C.

Kaji Ulang Data Terdahulu Pada tahap ini konsultan akan melakukan review data sekunder berupa laporan dan gambar hasil studi terdahulu dan menyusun kesimpulan yang akan menjadi bahan untuk evaluasi dan membandingkan dengan kondisi sekarang. 3.6.analisis berdasarkan water district dan demand cluster saat ini dengan model simulasi.KAPUAS berdasarkan data yang ada.2.6. pendayagunaan dan daya rusak air. 3. Inventarisasi Kelembagaan Tahap ini team akan mengumpulkan data tentang kelembagaan yang ada diwilayah sungai BARITO .3.6. Kajian Air tanah akan dilakukan dengan melakukan inventarisasi penggunaan saat ini dan kondisi yang ada serta mempelajari potensi hidrolgeologi pada wilayah sungai BARITO . Inventarisasi Perundang Undangan Team akan melakukan pengumpulan data mengenai Undang.3.Undang dan Peraturan lainnya yang terkait dengan Pengelolaan SDA baik tingkat Nasional maupun Daerah.3.KAPUAS yang berkaitan dengan pengelolaan SDA. Studi Khusus Metodologi dalam studi khusus ini diuraikan secara ringkas untuk masingmasing komponen sebagai berikut : 3.(Persero) CABANG I MALANG E. Kajian Tata Ruang Wilayah Kabupaten / Kota Kajian mengenai RTRW akan dilakukan berdasarkan data RTRW yang ada dan memberikan masukan hasil analisis kondisi saat ini yang dikaitkan dengan sumber daya air baik konservasi. Kajian Hidrologi dan Air Tanah Kegiatan ini mencakup review data dan review analisis terdahulu berkaitan dengan hidrologi baik ketersediaan air maupun debit banjir kemudian akan dilakukan re.1.3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -14 .6.3. F. 3.

Kajian Sosial Ekonomi dan Budaya serta Lingkungan Tahap ini akan melakukan kegiatan wawancara langsung dengan responden terpilih untuk mendapatkan masukan mengenai kondisi sosial ekonomi dan lingkungan. 3. data sekunder yang ada.6.6.6.(Persero) CABANG I MALANG 3. (Sumber Penjelasan pada UU No 7 / 2004 tentang SDA) Pertemuan Konsultasi Masyarakat wajib dilaksanakan dalam proses penyusunan rencana dan kegiatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai dengan ketentuan : a. Konsultasi publik bertujuan mencegah dan meminimalkan dampak sosial yang mungkin timbul serta untuk mendorong terlaksananya transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan yang lebih adil.3. Serta rekomendasi tindak lanjut kedepan yang dikaitkan dengan kondisi SDA wilayah BARITO . Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan. 3. Pertemuan Konsultasi Masyarakat Yang dimaksud dengan konsultasi publik adalah upaya menyerap aspirasi masyarakat melalui dialog dan musyawarah dengan semua pihak yang berkepentingan.4.3. permasalahan. Kehutanan dan Perkebunan Berdasarkan peta penggunaan lahan.KAPUAS. Kajian Kelembagaan dibidang SDA Berdasarkan data kelembagaan yang ada akan dilakukan kaji ulang dilapangan kondisi masing masing kelembagaan yang ada saat ini dan keterlibatannya dalam pengelolaan SDA di wilayah sungai BARITO . Kajian Pertanian.3. untuk serta memperoleh untuk dan mengkoordinasikan kesepakatan aspirasi atas tercapainya bersama kebijakan/ pola/ rencana yang dirumuskan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -15 . dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai.6.KAPUAS. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap.4. peta kawasan lindung akan dilakukan kajian mengenai kondisi saat ini dan permasalahan yang ada.6. Ditujukan masyarakat. 3.5.

Perumusan Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat b. Perumusan Hasil Studi Khusus c. Tiga tahapan perumusan yang akan dilakukan mencakup : a.5. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. dan rencana pengusahaan ini diharuskan untuk melalui Pertemuan Konsultasi Masyarakat terlebih dahulu. Pengusahaan sumber daya air pada bagian wilayah sungai masih dimungkinkan untuk dilakukan oleh perorangan. Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (Pertama) dan II (Kedua) akan dilaksanakan di Propinsi Sulawesi Selatan. dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. c. Perumusan Masalah Dalam kegiatan ini akan dilakukan Penyusunan Program Komponen Pengelolaan SDA. badan usaha milik negara. Melibatkan pihak-pihak dalam masyarakat yang berkepentingan terhadap pengelolaan sumber daya air Informasi tentang rancangan rencana pengelolaan sumber daya air disampaikan terlebih dulu sebelum Pertemuan Konsultasi Masyarakat dilaksanakan Apabila dunia usaha akan menggunakan sumber daya air di wilayah sungai maka dunia usaha harus dilibatkan sejak dari perencanaan. sehingga sebagai komponen masyarakat dunia usaha harus diikutkan dalam pertemuan konsultansi masyarakat. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan. serta badan usaha milik daerah dan swasta.(Persero) CABANG I MALANG b. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi.6. badan usaha maupun kerjasama badan usaha. Perumusan hasil Pertemuan Team Nara Sumber dan Pembina. Dalam perumusan tersebut akan dibahas mengenai : o Pendayagunaan SDA melalui pendekatan ekosistem wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -16 . 3. permasalahan.

6. Selain itu juga perlu analisa terhadap dampak rencana yang diusulkan dan usulan kegiatan. A. analisa dampaknya dan penyusunan jadwal pembiayaan. 2. Pengkajian Data Kajian terhadap data-data hasil survey lapangan dan inventarisasi data dalam pelaksanaan pekerjaan ini meliputi : 1. Dengan kata lain akan melalui proses Tujuan diterapkan dan Strategi Dirumuskan. 3. alat/ software yang digunakan dalam mencapai tujuan pekerjaan dan pendekatan pelaksanaan studi. dan dikelola dengan baik serta sesuai dengan kebijakan pembangunan Nasional. kabupaten dan kota Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -17 . hubungannya dengan sistem pelaporan. Rencana ini didasarkan pada prinsip Optimalisasi.(Persero) CABANG I MALANG o o Pengendalian daya rusak air termasuk sistem pengendalian banjir dan penanganan kekeringan Konservasi SDA termasuk penanganan lahan kritis secara struktur maupun non struktur 3.KAPUAS akan berisi tentang urutan pelaksanaan pekerjaan.6.1. Berlanjut.6. jadwal kerja dan hubungan antara input-proses dan output dari pekerjaan. Kajian terhadap peta penunjang. Pemerataan. peta tata guna lahan. yang terdiri dari dari peta topografi. Setiap komponen didukung oleh sejumlah usulan kegiatan. Team Konsultan dan Nara Sumber menganalisa masing jadwal pembiayaan. Dapat diterima. Usulan kegiatan dikelompokkan berdasarkan aspek struktural dan masing usulan kegiatan dan menyusun perkiraan non struktural biaya dan dan ditetapkan prioritas. Kajian terhadap rencana tata ruang wilayah Propinsi. Analisis Pada tahap ini akan dilakukan analisis yang meliputi pengidentifikasian komponen. Efisiensi. peta geologi dan lain-lain. Analisis Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO – KAPUAS Metodologi yang digunakan dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO .6. peta tata ruang. pengelompokan dan penetapan prioritas usulan kegiatan.

hasil tata guna lahan dan tata ruang 6. sosial. Kajian terhadap populasi dan data sumber daya manusia 9. organisasi formal dan informal 4. sumber pencemar dan lain-lain 7. Kajian terhadap data hidrologi meliputi data curah hujan. Kajian terhadap data Kelembagaan Dari kunjungan ke lapangan kemudian dilakukan Kajian terhadap beberapa aspek yaitu : 1. lingkungan dan lainlain 2. Pengembangan wilayah sungai yang mencakup data kependudukan. kebutuhan air irigasi 12. Kajian terhadap kondisi tata guna lahan saat ini meliputi peta tata guna lahan.KAPUAS di Propinsi Sulawesi Selatan yang mencakup aspek hidrologi. Kajian terhadap data pertanian yang meliputi data pola tanam dan lainlain 11. Kajian terhadap data sosial ekonomi yang mendukung penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai 10. data debit. luas genangan banjir dan lain-lain sebagainya 13. ekonomi. Pembangunan daerah dan permasalahan sumber daya air di daerah Berdasarkan masukan data dan informasi tersebut diatas. Pengelolaan wilayah sungai yang mencakup kelembagaan. Kajian terhadap kebijakan-kebijakan yang terkait dan hasil studi terdahulu (di Propinsi) 4.(Persero) CABANG I MALANG 3. data air tanah dan lain-lain 5. budaya 3. Kajian terhadap konservasi sumber daya air saat ini dan identifikasi dari rencana yang akan datang 8. Kondisi fisik Wilayah Sungai BARITO . Kajian terhadap data kualitas lingkungan keairan yang meliputi kualitas air sungai dan danau. Kajian terhadap informasi tentang banjir dan kekeringan yang pernah terjadi meliputi daerah yang terjadi banjir dan kekeringan. geografi. peta daerah irigasi. topografi. kemudian dilakukan prosesing dan analisa dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS (Hydrological Model System) yaitu suatu perangkat lunak yang merupakan sistem basis data dan pengolahan data hidrologi yang terpadu dan RIBASIM Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -18 . Kajian terhadap data irigasi yang meliputi luas daerah irigasi.

RIBASIM merupakan salah satu perangkat lunak yang paling utama dalam DSS sehingga sering disebut DSS RIBASIM. 4) Pemilihan pengelolaan air B. berbagai pilihan visual. format data. Mengidentifikasi skenario pengembangan wilayah sebagai basis untuk proyeksi kebutuhan air 2. Identifikasi dan Upaya Strategis Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS dan RIBASIM. Dalam mengidentifikasi upaya strategis tersebut. 3) Pengoperasian bangunan waduk dan bangunan pelimpah. Menganalisis kebutuhan air antar sektor pada saat ini dan proyeksinya di masa yang akan datang untuk setiap Demand Cluster 4. Menganalisa ketersediaan air di setiap Water District dan total Wilayah Sungai 6. prosedur untuk melakukan running berbagai komponen yang ada. selanjutnya diidentifikasi upaya-upaya startegis yang diperlukan dalam pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. Dalam DSS RIBASIM dilakukan simulasi neraca air dan alokasi air di WS dengan berdasarkan pasokan dan kebutuhan air. dilakukan melalui rangkaian kegiatan sebagai berikut : 1. RIBASIM (River Basin Simulation) adalah salah satu perangkat lunak yang diperlukan dalam program DSS (Decision Support System). uraian singakat hasil simulasi.(Persero) CABANG I MALANG (River Basin Simulation) suatu perangkat untuk melakukan simulasi pengembangan sumber daya air. prosedur pemasukan. 2) Perhitungan kebutuhan air. RIBASIM menjelaskan mengenai user interface. prosedur penggunaan untuk kepentingan yang lain. Menghitung tingkat pemakaian air sekarang dan proyeksinya dengan menggunakan indicator Indeks Penggunaan air dan menentukan tingkat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -19 . detail konsep dasar pembuatan model dan simulasi WS. seperti : 1) Skematisasi WS. Membagi Wilayah Sungai ke dalam beberapa distrik air (Water District) yang dikaitkan dengan Demand Cluster-nya 5. Mengelompokan daerah di wilayah sungai ke dalam beberapa kelompok pengguna (Demand Cluster) yang mengacu pada rencana tata ruang 3. Menghitung neraca air bulanan di setiap pasangan Water District dan demand cluster juga untuk total Wilayah Sungai 7. data yang diperlukan.

8.5 memperlihatkan diagram alir pelaksanaan penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS.6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -20 .6. BARITO . 3. Penetapan Proses penetapan Pola Pengelolaan SDA WS BARITO . Berdasarkan ringkasan Metodologi diatas gambar 3.KAPUAS yang sesuai dengan kelima pilar yang tertuang dalam UU No.6.KAPUAS yang sifatnya lintas Propinsi perlu ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam bentuk Keputusan Presiden atau Keputusan Menteri yang ditunjuk.7 Tahun 2004 tentang SDA.9.7. Alih Pengetahuan Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan transfer hasil analisis khususnya yang menggunakan software yaitu Hymos dan Ribasim yang akan dimanfaatkan oleh staf Satuan Kerja dilingkungan Ditjen SDA di Jakarta. 3. Penyusunan Rancangan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS Berdasarkan hasil-hasil analisis pada sub-bab tersebut di atas selanjutnya disusun Konsep Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS.(Persero) CABANG I MALANG kestabilan berupa perbandingan antara debit minimum dan debit maksimum dam indicator coefisient of variation (CV) debit sungai 3. Untuk itu perlu ditentukan alternatif prioritas penanganan dalam Pola Pengelolaan SDA WS.

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -21 .

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -22 .

KAPUAS Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -23 .5 Diagram Alir Pelaksanaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 3.

Kebijakan otonomi tersebut cenderung untuk memicu konflik pengelolaan WS yang terpadu. Kabupaten dan Kota bersifat otonom. khususnya dalam hal mewujudkan One River One Plan One Management. seperti : 1. Secara administratif. Perkembangan yang pesat di Kabupaten Barito Timur sebagai salah satu Kabupaten di Kalimantan Tengah menimbulkan aktivitas kegiatan produksi dan industri yang sangat tinggi.22/1999). yang antara lain menegaskan bahwa setiap pemerintahan Daerah Provinsi.1 ANALISIS TATA RUANG 4. dengan demikian setiap daerah pemerintahan berwenang mengelola sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan adanya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (Revisi UU No. akibat adanya konflik kepentingan masingmasing wilayah yang tercakup dalam WS. WS Barito Kapuas merupakan salah satu WS yang bermuara di laut Jawa. Wilayah Sungai Barito .(Persero) CABANG I MALANG BAB 4 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Analisis Kebijakan Tata Ruang Wilayah Sungai (WS) merupakan suatu wilayah kesatuan ekosistem bentang lahan yang dibatasi oleh puncak-puncak gunung ataupun perbukitan yang menghubungkannya. Kawasan dan Pengelolaan WS menjadi parsial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -1 . Perubahan status dan wewenang pemerintahan daerah yang otonom ini merupakan salah satu kendala yang sangat berpengaruh terhadap manajemen terpadu suatu WS. yang di dalamnya juga terdiri dari beberapa kabupaten/kota. yang secara geografis melintasi beberapa kota/Kabupaten. di dalamnya sistem sungai yang saling berhubungan.1. curah hujan yang jatuh dialirkan melalui sistem sungai tersebut dan keluar melalui satu outlet tunggal.Kapuas mencakup dua wilayah Provinsi yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

2 Konflik Pemanfaatan Ruang Perbedaan kepentingan tiap wilayah Kabupaten/Kota akan menimbulkan konflik dalam pemanfaatan ruang. Penataan ruang ideal WS Barito . Karena alasan kepentingan tiap daerah maka dalam RTRW Kabupaten/Kota.1. Perwujudan ruang yang dihasilkan belum mempertimbangkan bagaimana kondisi eksisting pemanfaatan lahan dan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat (kegiatan perekonomian). Kewenangan dalam mengelola WS berada pada masing-masing Kabupaten/Kota (terpecah-pecah /tidak terpadu) 3. Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki kepentingan yang berbeda terhadap Wilayah Sungai 4. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). Selain Wilayah Kabupaten/Kota di WS Barito . 4.767. Sulit dilaksanakan koordinasi antar Kabupaten/Kota 5.(Persero) CABANG I MALANG 2.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153.Kapuas. Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki ’cara pandang’ yang berbedabeda terhadap keutuhan WS sebagai suatu ekosistem. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2.650 km2). Namun kondisi ideal ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan teoritis yang penting dalam merumuskan arahan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito .Kapuas ini juga terdapat KSP (Kawasan Sentra Produksi) dan Kawasan KAPET DAS KAKAP (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan).Kapuas merupakan gambaran ideal pemanfaatan ruang wilayah WS Barito . kurang mempertimbangkan mana yang seharusnya kawasan budidaya dan mana yang seharusnya merupakan kawasan non budidaya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -2 . Berikut adalah kerangka pikir dasar dalam penyusunan peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas. Dalam menyususun peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas diperlukan beberapa data pendukung yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dari peta penataan ruang ideal.Kapuas berdasarkan kajian dan perhitungan teoritis terkait fisik wilayah.

Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -3 .(Persero) CABANG I MALANG PETA RESIKO BENCANA GERAKAN TANAH PETA RESIKO BENCANA BANJIR PETA HIDROGEOLOGI PETA RESAPAN PETA HASIL ANALISIS UNTUK PENATAAN RUANG IDEAL PETA KONSERVASI Gambar 4.1 Penentuan Ruang Ideal WS Barito .

HP KPPL KPP HTI Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi SM Kaw asan Pemukiman dan Pengembangan Lainnya Kaw asan Pengembangan Produksi Hutan Tanaman Industri Areal Transmigrasi Rencana Areal Transmigrasi Hutan Pendidikan & Penelitian Kaw asan Khusus ! . PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU . SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU Hutan lindung . KAWASAN BUDIDAYA HPT . PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN . .(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN TENGAH PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU . . . .TAMIANG LAYANG . BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Batas Kabupaten Batas Propinsi Batas SWS Barito PALANGKARAYA ! PALANGKARAYA TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG . KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS . T1 T2 Kaw Pengemb Produksi HPP KK Gambar 4. Hutan Produksi Hutan Produksi Terbatas Permukiman dan Pengemb . SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT . MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH LEGENDA : Ibukota Kecamatan Ibukota Kabupaten Ibukota Propinsi Batas Kecamatan KAWASAN LINDUNG : CA HL TN CB TW DAN PPH Cagar Alam Hutan Lindung Taman Nasional Cagar Budaya Taman Wisata Danau Perlindungan Pelestarian Hutan Suaka Margasatw a .2 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -4 . .

3 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -5 .(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Hutan Lindung Hutan Produksi Tetap Tanjung Barabai Kandangan Rantau Kota Banjarmasin Perkebunan Pertanian Lahan Basah Permukiman Perkebunan Gambar 4.

Development Permit. angka 13 Bidang Penataan Ruang ditetapkan bahwa “Penetapan kriteria penataan perwilayahan ekosistem daerah tangkapan air pada daerah aliran sungai merupakan kewenangan Pemerintah Pusat”. dll KURATIF Enforcement . Penetapan kriteria WS Barito .(Persero) CABANG I MALANG 4. Denny. mengingat bahwa WS Barito .Kapuas dilakukan dengan berpedoman pada kriteria pemanfaatan ruang di wilayah WS normatif kemudian disesuaikan dengan permasalahan yang timbul di wilayah WS Barito . Kriteria WS Barito . agar tidak terjadi penyimpangan pemanfaatan ruang sehingga berakibat pada kerusakan lingkungan. RDTRK Insentif Sumber: Zulkaidi.1. Dengan demikian. Bab II Pasal 2 ayat 3. DEVELOPMENT Mengarahkan Pembangunan (Direct Development ) PREVENTIF Zoning Development control. Ditjen Penataan Ruang – Departemen Pekerjaan Umum: 2005 Kriteria pemanfaatan ruang.Kapuas. yang sifatnya preventif (pencegahan) dapat berupa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -6 . Mendorong Pembangunan (Promote Development ) RTRWK. dalam Pekerjaan Apresiasi NSPM Penataan Ruang Kabupaten dan Kota di Wilayah I (Sumatera). Disinsentif. Pada prinsipnya. sifat pengendalian pemanfaatan ruang dapat dibedakan menjadi kriteria preventif (pencegahan) dan kriteria kuratif (pengobatan).Kapuas yang berada dalam wilayah lebih dari satu kabupaten/kota.Kapuas dibutuhkan sebagai panduan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito . sedangkan kewenangan penataan perwilayahan ekosistem WS Barito . sebagai bentuk perangkat pengendalian pemanfaatan ruang.Kapuas berada di Provinsi. Rencana Detail Tata Ruang dan Zoning Regulation.Kapuas.Kapuas dimaksudkan sebagai perangkat pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan WS. Di dalam Peraturan Pemerintah No. Site Plan Control. Pemerintah Pusat berwenang untuk menetapkan kriteria dimaksud. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.3 Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Sungai Arahan pemanfaatan ruang WS Barito .

Kawasan budidaya non perkotaan sendiri meliputi kawasan perkebunan. dll. maupun pemeliharaan kesuburan tanah. dll. Secara umum. dan sebagainya.Kapuas memiliki beberapa jenis kawasan lindung seperti: 1. 4. kawasan resapan air. ekosistem WS Barito . Kawasan Perlindungan Setempat 3. sedangkan perangkat pengendalian pemanfaatan ruang yang sifatnya untuk mendorong pembangunan dengan memperhatikan perbaikan kondisi dan permasalahan dapat berupa arahanarahan dan rencana penataan ruang. masing-masing untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. Sementara kriteria penetapan Kawasan Budidaya dibedakan menjadi budidaya perkotaan dan budidaya non perkotaan. perdagangan.3. kawasan mata air.1 Arahan Kawasan Non Budidaya/Kawasan Lindung Kawasan lindung merupakan kawasan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan pada pengaturan tata air.1. Pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan wilayah ekosistem WS Barito . jasa dan industri. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -7 . baik bawah tanah atau air permukaan serta sebagai pencegah banjir dan erosi. kriteria penetapan dibagi dua.Kapuas. pertanian. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan yang berfungsi lindung. Kriteria penetapan Kawasan Lindung dibedakan menjadi kawasan lindung yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap wilayah WS Barito . Termasuk dalam kawasan lindung berpengaruh langsung antara lain adalah Kawasan Sempadan Sungai. Berdasarkan Keppres No. kehutanan.Kapuas adalah arahan pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung. kriteria pemanfaatan ruang dirumuskan untuk masingmasing klasifikasi kawasan. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Di Bawahnya 2. Dalam konteks pengendalian pemanfaatan ruang WS.(Persero) CABANG I MALANG pengaturan pemanfaatan ruang (zonasi). kawasan hutan lindung.Kapuas. Termasuk dalam kawasan budidaya perkotaan adalah kawasan permukiman. Salah satu aspek penting dalam penataan wilayah ekosistem WS Barito .

meliputi sungai-sungai pada Wilayah Sungai Barito .Kapuas beserta sungai-sungai kecil lainnya. Namun demikian. meliputi: Tidak selalu ada di daerah pengaliran sungai. kecuali Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya. yaitu kawasan hutan lindung dan kawasan resapan air. karena: • Pada Kawasan Hutan Lindung Hanya berlaku bila kawasan tersebut berupa hutan dan ada pula kriteria lain.000 m atau lebih (arahan nasional) atau elevasinya 1. • Pada Kawasan Resapan Air selalu di hulu WS. hanya dua kategori yang berpengaruh secara langsung terhadap wilayah sungai Barito . prioritas penanganan untuk kawasan suaka alam dan cagar budaya relatif lebih rendah jika dibandingkan terhadap kedua klasifikasi kawasan lindung lainnya.(Persero) CABANG I MALANG Dari ketiga klasifikasi kawasan lindung tersebut. maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan lindung antara lain adalah: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -8 . Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan lindung. Jika terdapat kawasan resapan air. kawasan perlindungan setempat pun mampu menjadi elemen pendukung pelestarian WS.000 m atau lebih (arahan provinsi). kawasan ini lokasinya tidak Sempadan Sungai (sepanjang Sungai). Di samping kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. seperti : wilayah dengan kelas kelerengan 40% atau lebih dan elevasinya 2. Oleh karena itu. Dari berbagai jenis kawasan lindung yang paling diharapkan dapat menunjang kawasan WS adalah kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. kedua kawasan tersebut tidak dapat diharapkan dapat mendukung upaya perlindungan terhadap daerah aliran sungai secara langsung. tampak bahwa pada daerah aliran sungai (DAS) sebagai wilayah ekosistem sumberdaya air secara eksplisit dan langsung belum termasuk dalam kawasan lindung.Kapuas. Dari kriteria pengelolaan kawasan lindung yang terdapat dalam RTRWP 2003.

Perlindungan kawasan hutan lindung untuk menjaga fungsi hidrologis. hidrogeologis dan bencana geologi. Kawasan hutan suaka alam dan Kawasan hutan pelestarian alam harus dilestarikan dan ditingkatkan pengelolaannya agar kelestariannya terjamin dan memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. • Pentingnya pemeliharaan kawasan hutan dan lingkungannya agar fungsi lindung. ekonomi dan budaya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -9 . memelihara dan memperluas lapangan dan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha. fungsi konservasi. • • • Membangun kelembagaan yang kondusif bagi terciptanya partisipasi semua pengelola hutan. Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan minimal 30% Karena hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional merupakan kawasan yang digunakan untuk menjaga kelestarian habitat langka dari kepunahan • Penyelenggaraan perlindungan hutan ditujukan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Pembangunan di daerah resapan air dapat dilakukan dengan ketentuan rasio lahan terbangun tertentu.(Persero) CABANG I MALANG • Fungsi Hutan lindung. • • • • Pelestarian daerah rawa disekitar pantai untuk menahan abrasi dan intrusi air laut. Perlu menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai imbuhan air tanah menanggulangi bencana geologi. memacu pembangunan wilayah terpadu dengan pembangunan daerah dan mendukung pemberdayaan masyarakat desa yang diselaraskan dengan kepentingan rakyat yang tinggal dan hidup di wilayah hutan. yaitu dengan Body Covered Ratio (BCR) < 20% dan juga membuat sumur resapan. • Perlu adanya penetapan kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan hutan berwawasan lingkungan yang tegas dan tepat dalam menjaga kelestarian ekosistem wilayah di Kawasan lindung dan hutan produksi. meningkatkan sumber pendapatan negara dan devisa. dan fungsi produksi tercapai secara optimal dan lestari. Hutan konservasi.

4.rumputan penguat tebing. • Pada daerah sepanjang tepi sungai harus ditetapkan areal selebar (sekurang-kurangnya) 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat sempadan pantai • Pengembangan struktur ruang mikro yang integratif terhadap struktur ruang makro untuk meningkatkan aksesibilitas kawasan-kawasan produksi ke pasar regional/lokal dan ke pasar internasional/nasional melalui pengembangan prasarana dan sarana transportasi antar kawasan (intra wilayah).(Persero) CABANG I MALANG • Pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan lindung. maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan budidaya antara lain adalah: • Pemanfaatan hutan untuk kegiatan ekonomi sebaiknya dilakukan di luar hutan untuk menjaga fungsi pokok hutan serta dapat meningkatkan produktivitas dan penganekaragaman produk pengolahan hasil hutan melalui peningkatan kemampuan dalam menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan tetap di bawah pembinaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -10 .3. • Satu-satunya lingkungan permukiman harus diberi akses (jaringan) transportasi terhadap kawasan-kawasan lain yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja. sepadan sungai.2 Arahan Kawasan Budidaya/Kawasan Non Lindung Tujuan pengembangan kawasan budidaya di wilayah ekosistem WS Barito Kapuas adalah untuk memanfatkan potensi yang ada untuk mensejahterakan masyarakat serta menunjang pembangunan daerah. sementara hutan produksi dibutuhkan untuk mendukung berbagai industri berbasis kehutanan yang telah menjadi sektor unggulan bagi Riau.1. • Mengurangi sedimentasi melalui rencana program pengelolaan tataguna lahan dan tata air melalui reboisasi sepanjang penanaman rumput . Kawasan-kawasan permukiman yang telah memenuhi persyaratan dapat dikembangkan menjadi kawasan siap bangun. Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan budidaya.

untuk kawasan pemukiman di perkotaan. Pengawasan kapal masuk dan keluar ─ Pengembangan program land application 4.90%. Memperhatikan kepentingan “stakeholder” (pemerintah swasta dan masyarakat). Memperhatikan satus penguasaan lahan. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan yang meliputi kabupaten Barito Kuala tahun 2007 adalah sebesar 269. • Mengendalikan kuantitas dan kualitas limbah yang masuk ke perairan Sungai Barito .Kapuas.1 Proyeksi Penduduk 4.2 ANALISIS SOSIAL EKONOMI 4. Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebagai ditunjukkan dalam tabel di bawah.2.(Persero) CABANG I MALANG • • • • • Perlu menetapkan kriteria lokasi dan standard teknis pengolahan dan pengelolaan secara konsisten dan pengenaan sanksi kawasan izin investasi. Pembatasan beban cemaran yang masuk ke badan air WS Barito .1. Mengoptimalkan pemanfaatan ruang kawasan budidaya melalui peningkatan pemanfaatan kawasan izin investasi yang belum digarap. Melaksanakan pemantauan kualitas perairan secara periodik dan berkelanjutan. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata adalah 0. melalui : ─ ─ ─ ─ ─ Pembuatan IPAL domestik terpadu.2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -11 . dan limbah B3. Pembuatan IPAL Kota Terpadu.448 jiwa. Pembuatan septik tank terpadu untuk daerah pemukiman di sekitar sungai.Kapuas dari berbagai sumber melalui Pengendalian dan penataan lokasi sumber pencemar point source (industri) dan non point source (non industri).1 Provinsi Kalimantan Selatan 1.

kepadatan penduduk 90 jiwa/km2 menjadi 106 jiwa/km2atau naik sebesar 17.2 Proyeksi Kepadatan Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Penduduk (2007) 269. Pada tahun 2007. Tingkat kepadatan penduduk pada WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.000 280.000 320.448 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk (2025) 316. Tabel 4.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan data penduduk dan laju pertumbuhannya maka dapat dibuat proyeksi penduduk untuk 20 tahun yang akan datang.90 2007 269.50%.604 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Sumber :Hasil Perhitungan Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas Kalsel Jumlah Penduduk 340.96 Kepadatan / km2 (2007) 90 Kepadatan / km2 (2025) 106 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 dan hasil analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -12 .000 240.1 Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Pertumb Pendd% 0.789 2015 289.000 300.996.000 2007 2010 2015 Tahun 2020 2025 Gambar 4. Dari proyeksi jumlah penduduk pada Kabupaten yang berada pada Wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan pada tahun 2025 sebesar 316.604 Luas (km2) 2.000 260.470 2020 302. Rincian jumlah penduduk berdasarkan tahun tinjauan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.448 Jumlah Penduduk (jiwa) 2010 276.604 jiwa.4 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Kepadatan rata-rata penduduk pada WS Barito-Kapuas berdasarkan batasan administrasi di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami peningkatan.733 2025 316.

000 400.(Persero) CABANG I MALANG 4.581 95.000 300.841 1. Pada tahun 2025 diproyeksikan bahwa pada Kabupaten Kapuas kepadatan penduduknya paling tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Barito Selatan.266 91.3 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Pertumb Pendd% Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Sumber :Hasil Perhitungan 16.410 2025 194.938 242.35 12.538 2015 154.100 2020 173.000 100.2 Provinsi Kalimantan Tengah 1.1.426 100.356 118.325 144.314 90. Tabel 4.137 455.188.19 8.102 135.082 2010 137. Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut.91 20.019 5.082 jiwa.2. Kepadatan penduduk di Kabupaten Murung Raya tergolong paling jarang yaitu hanya 4 jiwa/km2.992 107.119 414.196 126. Berdasarkan luas wilayah dibanding dengan jumlah penduduk yang ada.397 355. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah yang meliputi 5 kabupaten/kota.580 1. Barito Timur dan Barito Utara serta kabupaten Murung Raya.000 2007 2010 2015 Tahun Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2020 2025 Gambar 4.43 42.656 777.724 141.5 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -13 . pada tahun 2007 adalah sebesar 777.13 2.340 1.148 113.889 105.92 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Jumlah Penduduk (Jiwa) 2007 128.878 600.886 500.360 1.000 200.615 88.701 185.566 376.000 Jumlah Penduduk 500.

02% (dengan industri besar).397 511.957 242.34% (dengan industri besar) dan 14.00 3.886 1. Sedangkan pertumbuhan PDRB atas dasar harga tetap sebesar -5.69% (tanpa industri besar).002.2.148 112.750 91.35 42.300.19 8.526 167.4 Proyeksi Kepadatan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Penduduk (2007) 128. Provinsi Kalimantan Selatan 1.6 Proyeksi Sebaran Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Tabel 4.13 12.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Studi 4.75 15.397 91.2.00 57.716. dan 4.834. Berdasarkan angka pertumbuhan tersebut bisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -14 .886 242.75% (tanpa industri besar).00 23.014. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 1.91 20.341.091 88.1.43 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Gambar 4.898 156.194 Kepadatan / km (2007) 20 14 23 4 6 9 2 Kepadatan / km (2025) 32 20 41 10 16 18 2 Sumber : hasil perhitungan 4.00 8.2.152 Luas (km2) 6.(Persero) CABANG I MALANG Proyeksi Sebaran Penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2025 (%) 16.783 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas JUMLAH Penduduk (2025) 203.

000.738.798.886.000. Tabel 4.00 Proyeksi PDRB (Rp) 2010 2015 2.784 Sumber : Hasil Perhitungan 5. 00 5.000.748. 000. 00 25.000.000. 000. 000. 00 20.802.00 3.022 2025 4.246.00 1.426.237.012.742 6.000.086. 000.495.251 3.5 Proyeksi PDRB Kabupaten Barito Kuala No I Jenis PDRB 2007 Dengan Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap Tanpa Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap 2.783 3.473.201 29.539 1. 00 30.337.00 4.756 1.211.(Persero) CABANG I MALANG diproyeksikan besarnya PDRB Kabupaten Barito Kuala dalam beberapa tahun ke depan.000. 000.072 2020 3.250. 000.00 3. 00 2007 2010 2015 2020 2025 P DRB at as dasar har ga ber l ak u P DRB at as dasar har ga t et ap Gambar 4.919 1.270 821.932 2.234.000. 00 15.970.8 Proyeksi PDRB (tanpa industri besar) Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -15 .039 1. 000.00 1. 000.000.534.799 14.7 Proyeksi PDRB (dengan industri besar) Kabupaten Barito Kuala 35. 000. 000.206. 000.000.299. 000.00 1.00 2. 00 10.770.451 1.857.934 II 2.000.00 2007 2010 2015 2020 2025 PDRB atas dasar har ga ber l aku PDRB atas dasar har ga tetap Gambar 4.255. 000.

Provinsi Kalimantan Tengah 1.909.79 %. 0 0 500.17 170.755.09 180.100.19 98.00 105. Gas dan Air Bersih Bangunan/Konstruksi Perdagangan.137.500.74 22.194. Kabupaten Barito Selatan Kontribusi sektor pertanian.003. Berdasarkan nilai pertumbuhan tersebut.63 176.00 2005 2 0 10 2 0 15 2020 2025 Gambar 4.706.68 63.16 136.00 25. 5 0 0 . peternakan.75 179.00 3.244.(Persero) CABANG I MALANG 4.368.364.00 44.314.61 62.734.900.200.66 5.300.000.749.608. 0 0 0 .540.56 396.000.48%. 0 0 0 .819. 0 0 1.258.000.00 736.30 295.2.69 99.784.100.212.700.947.813.9 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -16 .20 3. 0 0 0 .972.230.76 2.700.53 5.600. kehutanan dan perikanan sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB Kabupateb Barito Selatan yakni 43. Tabel 4.76 1.456.92 206.821.900.15 1.00 93.559.00 95.35 2025 657.00 62.57 8.723.00 2. Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.600.48%.00 2010 368.28 144.541.00 2.47 2015 446.279.118.144. dibuat proyeksi besarnya PDRB sampai tahun 2025.23 224.08 39.37 2.600.80 116.979.03 4.224.85 116.730. restoran sebesar 13. disusul sektor perdagangan.00 1.86 13.05 249.119.615.617.265.35 89.585.000.900.05 4.06 156.95 140.23 157.2.92 126.6 Proyeksi PDRB Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa TOTAL Sumber : Hasil Perhitungan 2005 303. hotel.850.2.338.687. Pertumbuhan PDRB pada tahun 2001 sebesar 2.96 948.38 228.27 2020 541.

87 59. Persewaan dan Jasa Gambar 4.60 1. PDRB Barito Timur atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha pada tahun 2006 sebesar 886.78 37.40 90.8 milyar rupiah.93 2.9 2020 627.27 104.16 42. Sektor perdagangan. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.69 168.77 669.47 1.(Persero) CABANG I MALANG 2.8 76.39 73.85 158.91 30.60 53.98 209. Hotel dan Restoran Keuangan.06 5.09 65.87 40.31 23.23 127.2 38.1 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.0 2015 475.30 %.3 milyar rupiah.03 % disusul sektor jasa 12.97 96. Kabupaten Barito Utara Laju pertumbuhan PDRB berdasarkan harga konstan 2000 pada Kabupaten Barito Utara pada tahun 2006 untuk tiap sektornya rata-rata sebesar 3.92 119.38 1.543.2 3.3 2010 359.9 35.67 55. menunjukkan bahwa sektor pertanian sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB yakni 53.79 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.76 97. Hotel dan Restoran menempati urutan kedua dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -17 .37 28.48 79. pada tahun 2007 naik menjadi 1023. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2007 304. Kabupaten Barito Timur Dilihat andil per sektor perekonomian terhadap PDRB Barito Timur.94 883.42 45. 12% 4% 6% 12% 7% 0% 4% 54% 1% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.2 1.68 7.33 10.7 Proyeksi PDRB Barito Timur 3.9 2025 829.72 73. Kontribusi terbesar dari total PDRB disumbang oleh pertanian sebesar 37 86%.55 4.8 19.98 3.4 61.63 49.7 24.10 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Timur 2007 No.8 562.167.18%.

66516 203303.220.10 2015 362.030.96 2020 394.20 126.203.55 4.121.449. Hotel dan Restoran Keuangan.848.976.244.79 2010 333. Proyeksi PDRB sampai dengan tahun 2025 dalam dilihat pada tabel berikut ini: 8% 3% 10% 38% 21% 6% 0% 6% 8% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.90 67. Sektor Jasa-jasa memberikan peranan sebesar 10.6888 111058.14 3.563.79 52.1802 56208.053.309.02 71.936.784.80 50.83 238.81459 118008.141. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2006 312.503.410 204923.858.68 198.99567 6226.274.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -18 .510.762636 94154.785.370.17395 286743.570.22708 64413.005. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.104.14 34.71 1.423 344333.952.01% dari total PDRB.652.4008 95928.14 936.535. Persewaan dan Jasa Gambar 4.72 2025 428.3246 60076.38723 160367.42 49.022.161 152859. yaitu sebesar 20.784.10 63.650 114.77 99.431.8 Proyeksi PDRB Barito Utara No.17 82.89 59.9848 87442. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.83% dari total PDRB.98 27.656.57 82.(Persero) CABANG I MALANG menyumbang PDRB Barito Utara.8379 1.658 85.764.9426 1.72 46. dan merupakan urutan ketiga penyumbang PDRB Barito Utara.13 75.40 171.499.589.18 824.11 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Utara 2006 Tabel 4.40 3.7372 5140.89 47.

Kabupaten Kapuas PDRB Kabupaten atas dasar harga berlaku Kapuas pada tahun 2007 sebesar (angka sementara) Rp.936. gas dan air bersih sebesar 0.00 2006 2010 2015 2020 2025 Gambar 4.(Persero) CABANG I MALANG 1.81 11.263.000.033.546.423.228.45 2005 1. sedangkan pertumbuhan terkecil terjadi pada sektor pertambangansebesar 8.834.583.085.263.-.000.03 152.12 224.530.650. Tabel 4.386.76 12.73 587.320. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.200.29% terhadap PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006.87 3.12 107.879.572.021.32 Sumber : Kapuas Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -19 .12 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Barito Utara 4.02 247.400.386.998.731.845.43 118.49 2. Sumbangan terkecil diberikan oleh sektor listrik.96 345.92 297.581.360.00 400. 3. Ini berarti telah terjadi peningkatan sebesar 18.97 473.920.25 184. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1.653.814.65 10.611.73 2007 1.37 2.408.81 98.402.513.98 87.442.14 195.486.81 9.034%.00 800.351.73 8.00 1.078.83 376.65%.228.364.41 8.521. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.680.121.811.21%.318. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.134.108.371.93 99.95 290.80 350.00 256.29 11.12 2. Pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor bangunan/konstruksi sebesar 39.9 PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No.408.332.48 146.73 170.74 10. Sektor pertanian memberikan sumbangan terbesar terhadap angka PDRb ini.000.600.85 119.000.03 133.88 217.346.73 151.406.70%.000.24 2006 1.508. yaitu sebesar 46.055.

326.127.490. Jika pertumbuhan jumlah pelanggan listrik dihitung berdasarkan pertumbuhan jumlah penduduk di Kabupaten Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -20 .04 7.511.469.94 2.59 401.813.158.68 9.725.964.40 11.519.79 2025 2.396.077.663. Pemakaian daya listrik rata-rata tiap pelanggan pada tahun 2007 adalah sebesar 668.67 2020 1.206.456.58 316.454.713.27 67.47 508.605.890. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.39 165.71 164.3.636.266.12 113.863.15 2.57 209.876.49 4.466.336.95 169.715.682.71 205.175.849.3 Proyeksi Sektor Energi Listrik 4. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.380.495.86 Sumber : Hasil Perhitungan 4.31%.02 215.50 274.93 272.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan.87 6. Tabel 4.13 Sumbangan masing-masing sektor lapangan usaha terhadap PDRB (menurut harga berlaku) Kabupaten Kapuas 2007.15 98.587.590.581.26 7.741.44 15.68 4.76 2010 1.220.64 158.081.29 130.584.294.38 162. Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik.50 125.442.864.72 130.148.51 88.019.138.554.223.84 2015 1.19 147.03 346.763. Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan.662.15 1.57 12.1 Provinsi Kalimantan Selatan 1.928.352. Sedangkan pada tahun 2007 turun menjadi sebesar -3.724.15 645.10 Kwh. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 4.24 266.217.407.2.174.2.531.66 140.894.35 260.42 3.43%. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.10 Proyeksi PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB 2007 1.674.72 330.44 9.962.91 5.40 210. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 adalah sebesar 101.683.946.53 102.22 77.

00 1.520.756 507.009 Daya Terpasang Rata-rata Pemakaian Pertumbuhan (Kwh) Daya (Kwh) (%) 14.365 493.705 3.940 531. Kabupaten Barito Utara.432 530.20 Kwh untuk empat kabupaten.487 2020 16. Konsumsi listrik terbesar terjadi di Kabupaten Kapuas yaitu sebesar 47. Tabel 4.581. Sedangkan rata-rata pemakaian energi listrik per pelanggan terbesar terjadi di Kabupaten Barito Utara yaitu sebesar 1.879 580.908 2015 371.647 6.756.908.064 2010 14.00 1.145 108 3.664 6.555 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4. Pada tahun 2025 total pemakaian energi listrik sebesar 116.091.11 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah 2007 14.140 554.059 7.00 1.151 Tahun 2015 15.533 99 3.794.947.3. maka bisa dibuat proyeksi beberapa tahun ke depan untuk jumlah pelanggan dan besarnya pemakaian daya listrik.354.146.075 555.14 2.10 5.711.125.832 103 3.124. Tabel 4.216 580.121.581.081 92 2.363 607.042 11.091 Kwh.819.21 1.93 1.302 40.2.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -21 .898.938 2025 16.788 11.113 6.9%.451.457 4.348 6.36 8.58 47.437.13 Data Kelistrikan di WS Barito-Kapuas No 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Pelanggan 13.247 95 2.2 Provinsi Kalimantan Tengah WS Barito-Kapuas di kalimantan tengah mencakup lima (5) Kabupaten/Kota. dengan Kabupaten Kapuas merupakan konsumen tertinggi.00 1.638.195.(Persero) CABANG I MALANG Kuala sebesar 0.582 2025 405.370.819.12 Proyeksi Besarnya Daya Listrik Terdistribusi di Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 Tahun Daya Listrik (KWH) 2007 345.14 1.14 Kwh per pelanggan.862.00 727.776 2020 388. Kabupaten murung Raya dan Kabupaten Kapuas. pada tahun 2007.520 2010 354. Kabupaten Barito Timur.862 517.02 3. Proyeksi kebutuhan energi listrik ini dihitung berdasarkan angka pertumbuhan penduduk di masing-masing daerah. yaitu Kabupaten Barito Selatan.34 18.

370.091.638.53 72.13 9.693.483.214.098.711.52 13.986.02 14.77 12.746.65 8.45039 12.17 5.705.765.464.518.2327 20713.226.773.284.81 22.864.048.496.731.050.775.354.659.886.520.84 4.458.311.216.11 140.27 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.50 18.788.36 6.688.503.51 11.78 54.94 13.720.83 66.242.21 55.794.39 9.00 2010 16780588.644.0829 18451.853.00 3.66 7.804.276.897.783.96 15.02 60.00 45.437.274.15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 15.495.00 Jumlah Pelanggan 2010 2015 2020 2025 14641.731.48 12.55 19.00 43.00 47.275.302.92 50.205.272.93 23.15 5.368.82 60.768.240.858.133.00 3.655.06 2025 23740418.088.29 9.1 20.13 Sumber : Hasil Perhitungan Barito Selatan 17% Barit o Utara 13% Kapuas 51% Barito Timur M urung Raya 12% 7% Gambar 4.00 11.55 21147611.14 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik di WS Barito Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 13.00 8.14 Distribusi Banyaknya Pelanggan Listrik di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -22 .842.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.819.21 8.032.42 3.60 Daya Terpasang (Kwh) 2015 2020 18837976.0175 16436.066.014.991.27 14.42 10.409.428.

baik curah hujan.00 40.00 20. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -23 . salah satu aspek analisis yang diharapkan untuk menunjang perancangan dalam pengelolaan SDA mencakup penetapan besaran rancangan. curah hujan. perilaku debit aliran sungai.3 ANALISIS HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI Analisis hidrologi merupakan satu bagian analisa awal dalam suatu kajian tentang berbagai keperluan yang menyangkut pemanfaatan sumber daya air berbasis wilayah sungai. debit rancangan dengan kala ulang tertentu. Hal ini mempunyai pengertian bahwa informasi yang diperoleh dalam analisis hidrologi merupakan suatu masukan yang penting didalam melakukan analisis selanjutnya.00 2007 Barito Selatan 2010 Barito Utara 2015 Barito Timur 2020 Murung Raya 2025 Kapuas Gambar 4.000.000. DAS Kapuas melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Analisis hidrologi mencakup analisis perilaku debit aliran sungai. ketersediaan air atau potensi maupun unsur hidrologi lainnya.(Persero) CABANG I MALANG 80.00 60. WS Barito-kapuas yang terdiri dari DAS Barito. dimana berada pada daerah tropis.15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah (Kwh) 4.000. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angina monsoon tenggara.000.000.000.000. Dalam analisa hidrologi.000. Selama musim hujan pada bulan November – April. dan analisis ketersediaan air atau potensi air. angin berhembus membawa uap air. iklim.

Ketersedian air yang cenderung menurun di satu pihak dan meningkatnya kebutuhan air sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkamya kegiatan ekonomi masyarakat di lain pihak.3. pada prinsipnya dapat bersumber diri dari 3 (tiga) jenis. Deskripsi kondisi factor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini.1 Ketersediaan Air Wilayah Sungai Air sebagai sumber daya alam strategis secara alami bersifat dinamis dan mengalir dari sumbernya ke tempat-tempat yang lebih rendah tanpa mengenal batas wilayah administrasi. Untuk keperluan air minum dan industri maka dituntut reabilitas yang lebih tinggi. Debit andalan merupakan debit yang dapat diandalkan untuk suatu reabilitas tertentu. Semakin besar variabilitas debit aliran sungai berarti sungai tersebut memerlukan perhatian khusus. maksimum. Analisis ketersediaan air atau analisis potensi air dilakukan dengan menggunakan berbagai alternatif data dasar sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -24 . dan koefisien variasi. antara lain rata-rata. Analisis perilaku hidroklimatologi dilakukan berdasarkan statistik data historis. Sumber air permukaan merupakan sumber yang sangat berpotensi untuk dimanfaatkan yang pada umumnya dipakai untuk kebutuhan air baku. atau sistem irigasi boleh gagal sekali dalam lima tahun. Angka koefisien variasi menyatakan seberapa besar variabilitas debit. air permukaan dan air tanah. pertanian dan industri.(Persero) CABANG I MALANG sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau. simpangan baku. 4. minimum. yaitu : hujan. Ketersediaan air merupakan hal yang penting dalam pengelolaan suatu wilayah sungai yang dinyatakan dalam keandalan debit yang dapat disediakan dalam rangka memenuhi kebutuhan di dalam maupun diluar wilayah sungai tersebut. Untuk keperluan irigasi biasanya digunakan debit andalan dengan reabilitas 80%. Artinya dengan kemungkinan 80% debit yang terjadi adalah lebih besar atau sama dengan debit tersebut. yaitu sekitar 90%. Ketersediaan air bagi pemenuhan berbagai kebutuhan.

perhitungan ketersediaan debit andalan lebih ditekankan dengan menggunakan data-data debit dari hasil pengamatan. Untuk ketersediaan air di WS. namun ketersedian data tersebut masih sangat terbatas (jarang) dan bahkan tidak setiap sungai mempunyai data debit pengamatan. namun bila tidak ada atau data seri yang ada tidak terlalu panjang. tebal Aliran rata-rata. kurang dari 10 tahun maka ditambahkan dengan memakai data curah hujan bulanan yang dikonversi menjadi data debit menggunakan model konseptual Sacramento yang merupakan bagian dari Paket Program Hymos. Dari data yang telah diperoleh. Jika tidak tersedia data debit. Dari hasil pengolahan data-data debit yang ada maka dapat dihitung debit rata-rata. Debit limpasan yang dihasilkan dari seluruh sub-DAS diperoleh dengan menerapkan parameter-parameter hasil kalibrasi dan verifikasi terhadap hujan rata-rata kawasan pada tiap sub DPS. Dalam menghitung debit andalan lebih baik memakai data debit aliran pengamatan dengan data seri yang panjang. atau jika ternyata data debit yang ada hanya mencakup kurang dari lima tahun. Dalam perhitungan dengan menggunakan analisis frekuensi untuk besaran debit andalan Q80% dan Q90%. yaitu dengan mengalikan tebal aliran dengan luas catchment area dari lokasi yang dihitung. b. Berdasarkan data runtut-waktu (time-series) dari data yang ada (historis). Barito . Dalam studi ini. terjadi banyak kekosongan data pada data debit aliran sungai. Adapun besaran tebal aliran sangat diperlukan untuk memperkirakan besarnya debit aliran sungai pada lokasi lain. debit andalan Q90%. maka diperlukan data seri debit dengan panjang data minimal 10 tahun. bilamana data tersebut tersedia. sehingga untuk analisis potensi air dan masukan untuk DSS-Ribasim perlu dilengkapi dengan menggunakan data hujan melalui suatu proses analisis hujan-aliran (rainfall-runoff). iklim dan kondisi wilayah sungai dengan menggunakan model hujan-aliran (rainfall-runoff model). maka perkiraan potensi sumber daya air dilakukan berdasarkan data curah hujan.Kapuas dihitung berdasarkan pemenuhan berbagai kepentingan khususnya pemenuhan air baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -25 . debit andalan Q80%. tebal Aliran Q80% dan tebal aliran Q90%.(Persero) CABANG I MALANG a.

Kapasitas tampungan sungai Barito . pada saat musim hujan tidak dapat menampung debit yang ada sehingga hal ini mengakibatkan genangan banjir yang merusak daerah sekitar alur sungai Barito . Untuk menghindari duplikasi atau pengulangan perhitungan yang dapat menimbulkan inkonsistensensi maka studi ini memperhatikan dan mengkaji studi-studi yang telah dilakukan terutama perhitungan-perhitungan terbaru sebagai pembanding untuk menghasilkan gambaran kondisi banjir yang terjadi di WS Barito .2 Ketersediaan Air Tanah Dalam analisa keseimbangan air permukaan tidak mencakup potensi air tanah mengingat pengambilan air tanah merupakan pilihan terakhir untuk mengurangi kerusakan lingkungan.Kapuas.(Persero) CABANG I MALANG keperluan rumah tangga. maka di daerah tersebut banyak dijumpai mata air – mata air. Adanya kondisi akuifer seperti tersebut. Oleh karena itu potensi air tanah ditinjau secara umum wilayah Cekungan Air Tanah yang berpotensi dapat memberikan kontribusi ketersediaan air bila pilihan pertama yaitu air permukaan tidak dapat memenuhi atau kondisi medan sulit untuk melakukan rekayasa teknik dengan pembuatan waduk atau sejenisnya.Kapuas Dengan kenampakan morfologi dan geologi (volkanik) seperti terdahulu maka dapat diprediksikan bahwa kondisi hidrogeologi daerah ini sebagian besar cukup baik dengan pola akuifer dari jenis Aliran melalui Celahan dan Ruang Antar Butir yang termasuk dalam kelompok Akuifer dengan Produktivitas Tinggi sampai Sedang dengan penyebaran Luas yang secara umum debit air tanahnya mampu mencapai lebih dari 5 liter/detik sampai kurang dari 5 liter/detik. perkotaan dan industri serta untuk keperluan irigasi di WS.Kapuas.Kapuas dijelaskan dalam Bab-5 selanjutnya.Kapuas merupakan salah satu masalah pokok yang terjadi hampir setiap tahun.3. Geohidrologi Wilayah Sungai Barito . 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -26 .3 Debit Banjir Rencana Masalah banjir di wilayah Wilayah Sungai Barito .3. Barito . 4.Kapuas.

terdiri dari kebutuhan air rumah tangga. 1974) untuk menghitung debit banjir rancangan (design floods) dengan mengunakan data curah hujan kerena keterbatasan data debit yang ada dengan kisaran ketersediaan data antara tahun 1970 – 1973 (3 tahun data).1 Kebutuhan Air (RKI) Perkiraan kebutuhan air bersih WS Barito .Tahun 2020 dan tahun 2025.3. baik dengan memakai analisa frekuensi untuk daerah yang mempunyai data pengamatan debit yang cukup panjang dan lengkap sedangkan untuk mengetahui hidrograf banjir jam-jaman dipakai hidrograf satuan sintesis (HSS Nakayasu). biasanya diperoleh secara individu dari sumber air yang dibuat oleh masing-masing rumah tangga berupa sumur dangkal. sumur dalam atau kombinasinya. Tahun 2015.Kapuas dan proyeksinya direncanakan untuk Tahun 2010.4 Hasil Perhitungan Debit Banjir Rancangan Hasil perhitungan debit banjir rancangan dengan berbagai kala ulang. 4.4. Perhitungan perkiraan kebutuhan air bersih mengacu pada Kebutuhan Air Rumah Tangga Perkotaan dan Industri (RKI) berdasarkan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Buku 3. 4. 4.Kapuas akan diperhitungkan kebutuhan air bersih rumah tangga yang berasal dari SPAM PDAM dengan sumber air baku dapat berasal dari air sungai.1 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga Air bersih adalah air yang diperlukan untuk rumah tangga.1. mata air. kebutuhan air perkotaan.4. atau dapat diperoleh dari layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) PDAM. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -27 .(Persero) CABANG I MALANG Dari studi terdahulu yang dilakukan oleh ECI pada tahun 1975 (The Barito Kapuas River Basin Development Project. tentang ”Proyeksi Penduduk dan Kebutuhan Air RKI(DPU. Dalam WS Barito . Komponen kebutuhan air.4 ANALISIS KEBUTUHAN AIR BAKU 4.2004). dan kebutuhan air industri.

dinyatakan dalam satuan Liter/Orang/ Hari (L/O/H). yang mengacu pada ketentuan dari Dirjen Cipta Karya. maka pada setiap tahapan terjadi kenaikan kebutuhan air bersih rumah tangga. Materi Pelatihan Penyegaran SDM Sektor Air Minum Sumber : (Peningkatan Kemampuan Staf Profesional Penyelenggara SPAM) WS. perkiraan besar kebutuhan air bersih setiap Sub DAS adalah berdasarkan jumlah penduduk pada setiap Sub WS dibandingkan dengan kebutuhan air bersih (L/O/H) berdasarkan jumlah penduduk dari Tabel.000 – 500.Kapuas terdiri dari beberapa Sub WS.2006. Barito .000 20. DPU.000 100. yaitu : Tabel 4. diuraikan sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -28 .000 – 100.000 Kebutuhan Air Bersih (L/O/H) 60 – 90 90 – 110 100.000 > 1. besar kebutuhan tergantung dari jumlah penduduk yang ada di setiap Sub DAS yang dikorelasikan dengan Kriteria dari Dirjen Cipta Karya. ”Unit Pelayanan”. DPU.000.19). Jumlah penduduk pada setiap Sub DAS menurut tahun perencanaan (tahun 2011.000.000 – 1. tahun 2016.(Persero) CABANG I MALANG Kebutuhan air bersih rumah tangga.000 – 20.125 120 – 150 150 – 200 No 1 2 3 4 5 Kategori Kota Semi Urban (Ibu Kota Kecamatan/Desa) Kota Kecil Kota Sedang Kota Besar Metropolitan Sumber : Dirjen Cipta Karya. tahun 2021 dan tahun 2026) pada WS Barito-Kapuas ditentukan berdasarkan kebutuhan air bersih dalam tahun 2006. serta proyeksinya diasumsi terjadi kenaikan sebesar 1 % per tahun.000 500. 2006 (Tabel 4.16 Kriteria Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk (Jiwa) 3.

90 269.148 102 1.100 126 289.789 114 Tahun Kajian 2015 154.656 116 0.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.841 131 316.196 109 126.325 111 144.2 Kebutuhan Air Perkotaan Kebutuhan Air Perkotaan yaitu untuk memenuhi kebutuhan air komersial dan sosial.58 91. sehingga kebutuhan untuk air komersial dan sosial akan lebih tinggi jika penduduk makin banyak.886 114 500.266 107 5.581 107 95.724 105 141. bengkel.1. Barito-Kapuas kebutuhan air untuk perkotaan diasumsi sebesar 35 % dari kebutuhan air bersih rumah tangga.36 113. Pada umumnya hampir semua pelayanan PDAM antara 15% sampai dengan 35% dari total air perpipaan untuk kebutuhan air komersial dan sosial seperti : toko.538 121 276.02 88. gudang. Ternyata makin besar dan padat penduduknya cenderung lebih banyak daerah komersial dan sosial.314 104 90. sekolah.733 119 2025 194.17 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas No 1 Kab / Kota Barito Selatan Pertumb Pendd% 2.356 105 118.426 108 100.410 128 302.566 104 376.137 111 455. Dalam perencanaan WS.4.470 118 2020 173.448 111 2010 137.992 103 107.604 119 2 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Utara Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Timur Kebutuhan Air Bersih (LOH) Murung Raya Kebutuhan Air Bersih (LOH) Kapuas Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Kuala 3 4 5 6 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Sumber :Hasil Perhitungan 4.34 2007 128. hotel dsb. rumah sakit.119 108 414.397 108 1. sehingga sampai proyeksi kebutuhan tahun 2025 nilainya sama sebesar 35 %.701 105 185. dengan nilai konstan dari masing-masing tahapan perencanaan.938 106 242.102 110 135.889 108 105. Selain itu kebutuhan air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -29 .615 101 1.92 355.

. L/O/H % Penduduk diasumsi pada tahap perencanaan awal. pada tahap awal diperhitungkan sebesar 500 L/O/H. Sehingga. RL = Rerata Layanan.. Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %. tahun 2006 sebesar 6 %. Banyak pabrik mengambil air tanah dari sumur dalamnya sendiri dan untuk tambahan diperoleh dari PDAM walaupun masih dalam jumlah yang sedikit. terjadi peningkatan sebesar 0.3 Kebutuhan Air Industri Kebutuhan air untuk industri sangat kompleks. ( Formula 1) Dimana : KAI = Kebutuhan Air Industri . yaitu : KAI = %Px AP x RL. dan tahun 2025 menjadi sebesar 6.4.. Besar kebutuhan air bersih industri diperhitungkan berdasarkan jumlah penduduk terhadap kebutuhan per pekerja dan rata rata pelayanan.70 %. namun korelasi antara jenis dan ukuran industri dengan kebutuhan air tersebut kurang nyata. diperhitungkan konstan sebesar 70 %.20 % tahun 2015 menjadi 6..(Persero) CABANG I MALANG bersih rumah tangga diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1). terjadi peningkatan sebesar 1 % setiap tahun. selain itu tergantung pula pada ukuran pabrik. Kehilangan dalam proses sebesar 6 %. sehingga ada kenaikan pada tahap perencanaan tahun 2010 menjadi sebesar 6.95 % . tahun 2020 menjadi 6.. (2).5 % setiap tahun. teknologi yang dipergunakan (umumnya yang lebih modern akan lebih efisien dalam penggunaan air). akan sulit menentukan perkirakan kebutuhan air untuk industri secara lebih akurat. 4. %P AP = Persentase asumsi penduduk = Kebutuhan air industri per tenaga kerja. Air yang digunakan setiap pabrik berbeda untuk masing-masing jenisnya (pabrik tekstil berbeda dengan pabrik elektronik). biasanya sesuai dengan klasifikasi jenis dan ukuran industrinya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -30 .1...45 %. bahkan untuk setiap produk yang dikerjakan pada setiap saat.

juga mengutamakan kegiatan peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman pangan. baik berupa rawa monoton maupun rawa pasang surut. Akibat eksploitasi. ha Efisiensi irigasi di petak tersier di mana : Qt NFR A et Kebutuhan air irigasi ditentukan oleh faktor – faktor berikut : • • • • • Pola tanam yang diajukan evapotranspirasi potensial koefisien penanaman perkolasi hujan efektif dan kehilangan-kehilangan. evaporasi dan perembesan. kehilangan air di jaringan irigasi tersier dianggap 15 – 22. Kehilangan air akibat evaporasi dan perembesan kecil saja dibanding kehilangan akibat eksploitasi. Kebutuhan air irigasi yang dirumuskan sebagai Debit rencana dihitung dengan rumus umum berikut : Qt = NFR × A et = = = = Debit rencana. dimana SWS Barito sesuai Kepmen No 39/1989 terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas.Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah porsi potensi lahan low land yang relatif luas ternyata masih memerlukan kajian teknis mendalam untuk dapat dimanfaatkan lebih optimal. sebagian dari air yang dibagikan akan hilang sebelum mencapai tanaman padi. 4.5% antara bangunan sadap tersier dan sawah (atau Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -31 .(Persero) CABANG I MALANG Selain itu kebutuhan air industri diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1).Kehilangan dalam proses sebesar 6 %. Hanya tanah-tanah yang lulus air saja yang akan memerlukan perhitungan tersendiri. Untuk tujuan perencanaan.2 Kebutuhan Irigasi di WS Barito-Kapuas Potensi pertanian di Kalimantan sebagian besar terdapat di daerah rawa. Dalam master plan satuan wilayah sungai Barito.4. lt/dt/ha Luas daerah yang diairi. lt/dt Kebutuhan bersih air di sawah. (2).

jagung sebanyak 53 ton.94 ha dan 697.Peternakan Luas tanah menurut penggunaannya Tahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 yakni dari 243.476.8.17 dan 310. pada saluran sekunder 0. Kacang tanah 183 ton.394 ton.Kehutanan .68 Kw/Ha.57 ton. Untuk jenis tanaman perkebunan di Kabupaten Barito Kuala produksi terbesar adalah tanaman kelapa dalam yaitu sebesar 10. rambutan 33. Selain tanaman diatas Batola juga potensi tanaman buah-buahan seperti. nenas 34.58 ha disusul oleh tanaman karet dan tanaman purun danau yang masing-masing 875. Produksi jeruk untuk Tahun 2007 sebesar 262.1 Kalimantan Selatan 1. Data statistik yang di sajikan di bagi dalam lima sub sektor. jeruk. Kabupaten Barito Kuala Pembangunan ekonomi disektor pertanian adalah untuk meningkatkan produksi pertanian dan bertujuan meningkatkan pendapatan petani. 4.203 ton. kedelai 2 ton.(Persero) CABANG I MALANG efftotal = 0.97 ton kemudian disusul oleh tanaman purun danau dan sagu masing-masing sebesar 232.529 ton dan mangga 86. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -32 . Hampir semua kecamatan di Kabupaten Barito Kuala merupakan sentra produksi padi sawah dimana Kabupaten Barito Kuala juga merupakan sentra produksi padi di Provinsi Kalimantan Selatan.9. nenas dan rambutan. Berdasarkan rekapitulasi potensi perkebunan Kabupaten Barito Kuala maka Tanaman Kelapa Dalam merupakan tanaman paling berpotensi yakni seluas 13.9 dan pada saluran primer 0.775 – 0. Produksi padi Tahun 2007 adalah 280.Tanaman bahan makanan .121 ton dengan produksi rata-rata 31.185 ton. ubi kayu 3.yaitu . Untuk produksi tanaman Bahan Makanan lainnya pada Tahun 2007 seperti.Tanaman perkebunan .399 hektar.Perikanan .26 ha.4. mangga. Karena Kabupaten Barito Kuala wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah maka tanaman padi ladang tidak ditanam disini sehingga produksi padi hanya ada padi sawah saja.119 hektar menjadi 235. Effisisensi pengaliran untuk saluran tersier 0.157 ton.878 ton.85). ubi jalar 1.293.2.

758 13. Luas daerah irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah sebesar 148.139 189 42.25 1. Penggembalaan Ternak 5.00 5.505 No Jenis Penggunaan Tanah I Lahan Sawah 1.928 11.15 44.00 148.2.00 54.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1.60 41. Ladang/Huma 4. Tabel 4.03 506. Sementara Tidak Diusahakan 6.509 15.81 41.20 4.10 4.39 1.25 45.20 55.970. Pasang Surut 2.18 Perkembangan Luas Tanah Menurut Jenis Penggunaannya Tahun 2005-2007 2005 119.00 1.15% dari keseluruhan luas lahan potensial yang ada.50 63.319.924.444.225.35 60.50 66.00 799.431 15.250.00 1. Lain-lain Jumlah II 15.00 61.023 12.009 24.139 12. kehutanan.121.795 Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Barito Kuala 4.276 Luas Tanah (Ha) 2006 115.02 IV -33 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS .083 15.00 137.947 241.552.057. Sementara Tidak di Usahakan Bukan Lahan Sawah 1. yang tersebar di lima kabupaten/kota.570. maka luas lahan yang bisa ditanami hanya sekitar 45.343 20.446.042. perkebunan.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.964 51.672 136.956 23.225 ha. peternakan dan perikanan memegang peran penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di Kalimantan Tengah.017 2007 10.4.809 9.75 3.125.00 66.100.385 228.441 4.00 558.115 2.845.19 No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Lahan Potensial di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Luas Ha 3.308 1. sub sektor tanaman pangan.2 Kalimantan Tengah Masih besarnya kontribusi sektor pertanian baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai lapangan pekerjaan. Luas daerah irigasi terbesar di Kabupaten Kapuas yang merupakan lumbung padi di kawasan Sulawesi Tengah.00 1. Lahan Pekarangan 2.234.209 9.20 1.802.92 65.899 10.000. Tegalan / Kebun 3.125. Karena keterbatasan sarana dan prasarana pengairan.976.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799.769 48.

dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. peternakan.5 ANALISIS KUALITAS AIR 4. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air.3 Upaya Peningkatan Penyediaan Air Baku Upaya peningkatan penyediaan air baku dilakukan berdasarkan kebutuhan air yang meningkat dari proyeksi yang sudah dihitung terdahulu. 4. • Kelas empat.1 Tolok Ukur Kualitas Air Tingkat pencemaran sungai. Agar SMA diketahui parameter kualitas air yang diukur harus mengikuti parameter yang ditentukan dalam kriteria.5. Sebagai gambararan status mutu air dari PP 82/2001 diuraikan dalam klasifikasi dan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001. Mengingat kebutuhan air yang paling besar adalah dari kebutuhan air untuk irigasi maka keperluan air baku lainnya dapat dipenuhi dari jumlah pasokan yang tersedia berdasarkan analisis waterbalance. SMA yaitu suatu tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau baik dalam waktu tertentu dengan membandingkan terhadap baku mutu air. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. • Kelas dua. air untuk mengairi pertanaman. kegunaan tsb.(Persero) CABANG I MALANG 4. air untuk mengairi pertanaman. peternakan. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. • Kelas tiga. dapat diketahui dengan caran menganalisis Status Mutu Air (SMA). Volume air baku yang diperlukan dapat dimanfaatkan sekaligus dengan ketersediaan air yang direncanakan dari sungai baik skala besar maupun skala kecil. selain itu jumlah pengukuranpun lebih dari satu kali. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” terdiri dari empat kelas sebagai berikut : • Kelas satu. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman.4. pembudidayaan ikan air tawar. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -34 .

02 (-) 0. maka ditentukan berdasarkan kondisi alamiah °C mg/L mg/L Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 400 Deviasi Deviasi temperatur dari keadaan 5 alamiahnya 2000 Bagi pengolahan air minum 400 secara konvensional .82/2001 Tentang”Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Angka batas minimum Bagi perikanan.amonia bebas utk ikan peka<0.Co mg/L.Hg mg/L.01 0.02 (-) 0.05 600 0.05 (-) 0..03 0.05 0.B mg/L.05 0.NH 3 Besi Timbal Mangan Air Raksa Seng Khlorida Sianida mg/L.03 (-) 0. Cu < 1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional. Zn < 5 mg/L Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -35 . Pb < 0.Cd Mg/L.2 1 1 0.Fe mg/L.20 Kritera Air” Parameter FISIKA Temperatur Residu Tersuspensi Residu Tersuspensi KIMIA ANORGANIK pH BOD COD DO Total fosfat.Cr mg/L.02 6-9 6 50 3 1 20 (-) 1 0.005 2 (-) (-) Bagi pengolahan air minum konvensional .Se mg/L.2 Bagi pengolahan air minum konvensional.3 0.01 0.01 0. kimia dan biologi dijelaskan dalam tabel berikut : Tabel 4.1 mg/L Apabila secara alamiah diluar rentang tsb.P Nitrat Amoniak Arsen Kobalt Barium Boron Selenium Kadmium Khrom (VI) Tembaga mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L.5 0.2 (-) 1 0.05 0.05 0.1 0.05 0.2 10 0.Pb mg/L.05 0.001 0. sbg.2 (-) 1 0.02 5-9 12 100 0 5 20 (-) 1 0.Mn mg/L.02 (-) 1 (-) 0.residu tersuspensi < 5000mg/L Satuan Kelas I II III IV Keterangan Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No.05 (-) 0. As mg/L.01 1 0.Cl mg/L.Cu 6-9 2 10 6 0.Zn Mg/L.CN 0.NH3 N mg/L.Ba Mg/L.02 6–9 3 25 4 0. Fe < 5 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional .NO 3 -N mg/L.2 (-) 1 0.002 0.(Persero) CABANG I MALANG Kadar masing-masing kelas berdasarkan parameter kualitas air fisika.01 0.03 (-) 0.02 mg/l sbg.002 0.05 0.2 10 (-) 1 0.

1 1 Tabel 4. kimia dan bakteriologi.002 1.05 (-) 0.dan Total coliform < 10.F mg/L.03 0.5 0.21 Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No. Akan tetapi minimal parameter meliputi parameter fisika.5 0. S sbg H 2 S < 0.SO4 mg/L mg/L 0.1 1 0.tidak minimum dipersyaratkan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Secara ideal parameter kualitas air yang diukur harus sesuai dengan tabel diatas.merupakan nilai rentang yang tidak boleh kurang mL= mililiter Tersuspensi dan lebih Nilai DO merupakan batas Arti (-).03 0.(Persero) CABANG I MALANG Fluorida Nitrit.1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional. Bagi pengolahan air minum konvensional . kunci harus diukur yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -36 .002 1.05 400 0. bahwa pada kelas tsb.002 (-) (-) (-) (-) (-) Bagi Air Baku Air Minum tidak dipersyaratkan Bagi pengolahan air minum konvensional .1 1 0.sbg N Sulfat Klorin Bebas Belerang sbg H2 S MIKROBIOLOGI Fecal coliform Total Coliform RADIOAKTIVITAS Gross A Gross B Mg/L.parameter tsb. agar dapat memberikan gambaran sejauh mana kondisi kualitas air sumber tersebut.05 (-) 0.Fecal coliform < 2000 jml/100 mL .1 1 0.NO2-N mg/L.000 2000 10.000 Bq/L Bq/L 0.5 0.kecuali p H &DO Substance Logam berat merupakan logam p H.Epoxide μg/L 18 (-) (-) (-) Lindane μg/L 56 (-) (-) (-) Methoxychlor μg/L 35 (-) (-) (-) Endrin μg/L 1 4 4 (-) Toxaphan μg/L 5 (-) (-) (-) Keterangan: Mg = milligram Bq = Bequerel MBAS=Methylene Blue Active μg = mikrogram Nilai diatas merupakan batas max.82/2001 Tentang ”Pengelolan Air”(lanjutan) PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV Keterangan KIMIA ORGANIK Minyak dan Lemak μg/L 1000 1000 1000 (-) Detergent sbg MBAS μg/L 200 200 200 (-) Senyawa Fenol μg/L 1 1 1 (-) BHC μg/L 210 210 210 (-) Aldrien/Dieldrin μg/L 17 (-) (-) (-) Chlordane μg/L 3 (-) (-) (-) DDT μg/L 2 2 2 2 Heptachlor &H. NO 2 -N < 1 mg/L Jml/100mL Jml/100mL 100 1000 1000 5000 2000 10.000 jml/100 mL.03 0.

5°C – 28.2 pH (tingkat keasaman) pH menunjukkan kadar asam atau basa dalam suatu larutan. ikan dan hewan air akan mati karena kekurangan oksigen. Di samping itu suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Air yang keruh pada umumnya akan memiliki temperatur yang lebih tinggi.5.1. melalui konsentrasi ion Hidrogen H+. dan tingkat kekeruhan air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -37 . Di samping itu suhu yang tinggi juga akan menurunkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air. baik sungai Barito aaupun Sungai Kapuas masih memenuhi standar deviasi baku mutu yang dipersyaratkan. Rata-rata temperature air sungai dari beberapa titik pengujian pada tahap I dan II adalah sebagai berikut: Sungai Barito Sungai Kapuas : 27. H+ tidak hanya merupakan unsur molekul H2O saja tetapi merupakan unsur banyak senyawa lain. ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi.(Persero) CABANG I MALANG Parameter kunci kualitas air dijelaskan sebagai berikut : 4. Dari Hasil uji sample di beberapa lokasi. Ion hidrogen merupakan faktor utama untuk mengerti reaksi kimiawi karena: H+ selalu ada dalam keseimbangan dinamis dengan air/H2O.5.1.1 Temperatur (suhu) Temperatur air sungai sangat dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari.5°C – 28. hingga jumlah reaksi tanpa H+ dapat dikatakan sedikit saja.6°C 4. Kenaikan temperatur sungai akan dapat menimbulkan akibat sebagai berikut : Menurunnya jumlah oksigen terlarut dalam air Meningkatnya kecepatan reaksi kimia. Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air lainnya Jika batas suhu yang mematikan terlampaui. Hal ini disebabkan partikel-partikel tersuspensi yang ada dalam air akan menyerap dan menahan panas dari sinar matahari sehingga mengakibatkan kenaikan temperatur.3°C : 27. yang membentuk suasana untuk semua reaksi kimiawi yang berkaitan dengan masalah pencemaran air dimana sumber ion hidrogen tidak pernah habis. Akibatnya.

maka dibantu dengan pH yang tidak netral.46. pH tertinggi terdapat di Masaran sebesar 4. Air minum sebaiknya netral.02 Nilai pH pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -38 . Sungai Barito a) Tahap I. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. pH tertinggi di Masaran sebesar 7. pH tertinggi terdapat di lokasi 10 yaitu Kandui sebesar 7. b) Tahap II.21 dan pH tekecil di Timpah Hulu sebesar 7.32 . pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum. dan pH tekecil berada di lokasi 24 yaitu Laung Tuhup sebesar 6. tidak asam/basa untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan distribusi air minum. Sungai Kapuas a) Tahap I.24 dan pH tekecil berada di Kuala Kapuas sebesar 4. dapat melarutkan berbagai element kimia yang dilaluinya. Hasil pengujian Ph dari sungai Barito dan Sungai Kapuas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Air adalah pelarut yang baik sekali.87. misalnya kehidupan biologi dan mikrobiologi. 2. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. b) Tahap II. dan pH tekecil berada di lokasi 22 yaitu Tumbang Lahung sebesar 6.05 . pH tertinggi terdapat di lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 7.(Persero) CABANG I MALANG Lewat aspek kimiawi. suasana air juga mempengaruhi beberapa hal lain. pH air di lokasi pengambilan sampel semua di bawah baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. Peranan ion hidrogen tidak penting kalau zat pelarut bukan air melainkan molekul organis seperti alkohol bensin (hidrokarbon) dan lain-lain.01.

1.5.3 DHL (Daya Hantar Listrik) DHL (Daya hantar Listrik) adalah kemampuan dari larutan untuk menghantarkan arus listrik yang dinyatakan dalam satuan μmhos/cm atau μS. Kemampuan tersebut antara lain bergantung pada kadar zat terlarut yang mengion di dalam air. Hasil Pengujian Ph sungai Kapuas 4. Hasil Pengujian Ph sungai Barito Gambar 4. valensi dan suhu air.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.17.16. pergerakan ion. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -39 .

konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di P.46 μmhos/cm Berikut adalah grafik DHL dari sungai Barito dan Sungai Kapuas: Gambar 4.64 μmhos/cm.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter DHL yaitu tidak dipersyaratkan. DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 18. Sungai Barito a) Tahap I.18.07 μmhos/cm dan terendah di lokasi 19 yaitu Sungai Lumuk sebesar 20. 2. Konsentrasi DHL Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -40 .36 μmhos/cm dan terendah di lokasi 12 yaitu Muara Teweh sebesar 16.04 μmhos/cm. DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 13 yaitu Muara Sungai Tewah sebesar 99.Tilu sebesar 95. Sungai Kapuas a) Tahap I.26 μmhos/cm dan terendah di Timpah sebesar 16. b) Tahap II.46 μmhos/cm. Adapun konsentrasi DHL di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. b) Tahap II.Kapuas sebesar 17. konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di K.68 μmhos/cm dan terendah di Kuala Kapuas sebesar 70.

F. Misalnya suatu sampel air dengan padatan terlarut total. Padatan ini terdiri dari senyawasenyawa organic dan anorganik yang terlarut di dalam air. Fe.4 TDS (Total Disolved Solid) / Partikel Terlarut Padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil dibandingkan dengan padatan tersuspensi. Padatan terlarut total dapat lebih cepat ditentukan dengan mengukur daya hantar listrik sampel air. Bahan anorganik seperti ion-ion Na.5.19. Padatan terlarut total mencerminkan jumlah kepekatan padatan dalam suatu sampe air. Derajat konduktivitas air adalah sebanding dengan padatan terlarut total dalam air itu. B dan Silika. Adapun nilai TDS di masing – masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -41 . mineral dan garam-garamnya.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. SO4. NO3. Juga dinyatakan dalam milligram per liter atau ppm. Konsentrasi DHL Sungai Kapuas 4. Cl. artinya dalam 1 liter air terdapat 200 mg padatan terlarut. Ca. K.1. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TDS yaitu 1000 mg/liter. Mg.

sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir sebesar 34 mg/l. 2.(Persero) CABANG I MALANG 1. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Mantangai sebesar 129 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 96 mg/liter. b) Tahap II.Kapuas dan Mandomai sebesar 75 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 53 mg/liter. Gambar 4.20. b) Tahap II. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. Sungai Barito a) Tahap I. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di K. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi TDS tertinggi di Muara Sungai Tewah sebesar 77 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pelabuhan Hulu sebesar 31 mg/liter. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. Grafik Konsentrasi Total Disolved Solid Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -42 . Sungai Kapuas a) Tahap I. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Jembatan Pendang sebesar 68 mg/l.

terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen. namun jika berlebihan. sel-sel mikroorganisme dan sebagainya. Bahan-bahan tersuspensi dan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik. Misalnya. terutama TSS dapat meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolam air dan akhirnya berpengaruh pada proses fotosintesis di perairan sehingga berdampak pada penurunan kandungan oksigen terlarut. misalnya tanah liat. tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap.1.5. sehingga mengakibatkan terjadinya penggumpalan yang kemudian diikuti dengan pengendapan. bahan-bahan organik tertentu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -43 . air permukaan mengandung tanah liat dalam bentuk suspensi yang dapat bertahan sampai berbulan-bulan. kecuali jika keseimbangannya terganggu oleh zat-zat lain. G r a f i k K o n s e n t r a s i Total Disolved Solid Sungai Kapuas Nilai TDS diperairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan batuan. limpasan dari tanah dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri). 4.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.5 TSS (Total Suspended Solid)/ Partikel Tersuspensi Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air.21.

Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Sungai Pendang yaitu sebesar 1831 mg/l. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TSS yaitu 50 mg/l. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -44 . Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 169 mg/l.(Persero) CABANG I MALANG Jumlah padatan tersuspensi dalam air dapat diukur dengan Turbidimeter. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Masaran sebesar 321 mg/l. Adapun konsentrasi TSS di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. b) Tahap II. padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga akan mempengaruhi regenerasi oksigen serta fotosintesis.Tilu sebesar 192 mg/l. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di P. 2. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Seperti halnya padatan terendap. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Muara Teweh sebesar 49 mg/l dan Pelabuhan Buntok 35 mg/l. kecuali di Kuala Kapuas sebesar 37 mg/l. dan konsentrasi TSS terendah di Sungai Tewah sebesar 75 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Sungai Barito a) Tahap I. kecuali di Jembatan Baliton sebesar 28 mg/l. b) Tahap II. Sungai Kapuas a) Tahap I. dan terendah di Mentangai sebesar 96 mg/l. Tumbang Lahung sebesar 11 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.

Aktivitas masyarakat sekitar yang menggunakan sungai sebagai jalur transportasi juga dapat menyebabkan tingginya konsentrasi TSS.22.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.23. Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Barito Gambar 4. karena kelotok/ speedboat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -45 . Hal ini mungkin disebabkan oleh aktivitas Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) yang menyedot emas di dasar sungai maupun akibat dari adanya erosi yang meningkat yang disebabkan banyaknya vegetasi di sekitar sungai yang hilang. Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Kapuas Secara umum di semua lokasi di Kalimantan Tengah konsentrasi TSS nya melebihi ambang batas yang dipersyaratkan.

kanji. glukosa. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -46 . Perairan yang memiliki nilai BOD lebih dari 10 mg/liter dianggap telah mengalami pencemaran.6 BOD5 (Biological Oxygen Demand) Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap.5. Nilai BOD limbah industri dapat mencapai 25.000 mg/l (UNESCO/WHO/UNEP. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable). protein.80 81 .5 – 7. dalam keadaan tanpa cahaya (Boyd. 1996). yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air (Davis dan Cornwell. BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikroba aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20° C selama lima hari. ester dan sebagainya. 1988).400 > 400 Pengaruh Terhadap Kepentingan perikanan Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kepentingan perikanan Tidak baik bagi kepentingan perikanan Sumber: Alabaster dan Loyd. 1982 4. Pada tahap pertama. Secara tidak langsung. bahan anorganik yang tidak stabil mengalami oksidasi menjadi bahan anorganik yang lebih stabil. BOD merupakan gambaran kadar bahan organik.0 mg/l (Jeffries dan Mills. Dengan kata lain. 1982 kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan Nilai Padatan Tersuspensi (TSS) sebagaimana yang disajikan pada table berikut: Tabel 4. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik.22 Nilai TSS dan Pengaruh Terhadap Kepentingan Perikanan Nilai TSS (mg/l) < 25 25 . Bahan organik ini dapat berupa lemak. Pada tahap kedua. 1991). aldehida. yang berperan sebagai sumber bahan organik adalah pembusukan tanaman. Perairan alami memiliki nilai BOD antara 0. Pada perairan alami.1.(Persero) CABANG I MALANG dapat mengakibatkan sedimen di sekitar sungai mengalami turbulensi akibat mesin kelotok. Menurut Alabaster dan Loyd. 1992).

6 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Pelabuhan Spead Boat Sukamara sebesar 3. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. Grafik Konsentrasi BOD Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -47 . Adapun nilai BOD di masing –masing sungai sebagai berikut: 1. b) Tahap II.(Persero) CABANG I MALANG Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter BOD yaitu 3 mg/l.2 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Hulu Jembatan Penyebrangan sebesar 5. Sungai Barito a) Tahap I. b) Tahap II. Nilai BOD tertinggi ditemukan di P.24. Sungai Kapuas a) Tahap I.3 mg/liter. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 21. Gambar 4.5 mg/liter 2. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan.Tilu sebesar 34 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Mandomai sebesar 9 mg/liter. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 12 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Timpah sebesar 4 mg/liter. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 6.

pabrik kertas dan industri makanan.5.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter COD yaitu 25 mg/l.000 mg/l (UNESCO /WHO/ UNEP. 1992). Grafik Konsentrasi BOD Sungai Kapuas 4. Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga dan industri.7 COD (Chemical Oxygen Demand) COD menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian.25. misalnya pabrik bubur kertas (pulp). Adapun nilai COD di masing –masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -48 .1. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/l. Pengukuran COD didasarkan pada kenyataan bahwa hampir semua bahan organic dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan bantuan oksidator kuat (kalium dikromat) dalam suasana asam. sedangkan pada perairan yang tercemar dapat lebih dari 200 mg/l dan pada limbah industri dapat mencapai 60.

Pelabuhan Hulu sebesar 82.4 mg/l. Sungai Lumuk sebesar 45.2 mg/l.1 mg/l. Montalat sebesar 37.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.2 mg/. Grafik Konsentrasi COD Sungai Barito Gambar 4.8 mg/l.27. Grafik Konsentrasi COD Sungai Kapuas 1. Laung Tuhup sebesar 60. Puruk Cahu Hilir sebesar 37. Bila dibandingkan dengan baku Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Sungai Tewah sebesar 27.1 mg/l sedangkan nilai terendah di Jembatan Hasan Basri sebesar 5.26. Nilai COD tertinggi di Sungai Pendang sebesar 258.2 mg/l dan Sungai Pendang sebesar 258.7 mg/l.5 mg/l. Sungai Barito a) Tahap I.1 mg/l. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -49 . Pelabuhan Buntok sebesar 120. Bintang Linggi sebesar 170.8 mg/l. Pendang sebesar 30.2 mg/l.

3 mg/l. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu yang dipersyaratkan adalah Kuala Kapuas sebesar 26 mg/l.5.2 mg/l.Tilu sebesar 67. P.3 mg/liter dan terendah ditemukan di Mandomai sebesar 16.8 mg/liter.Kapuas.2 mg/l dan Pendang sebesar 33. b) Tahap II. Nilai COD tertinggi ditemukan di P. Masaran.3 mg/l. Ikan merupakan makhluk air yang memerlukan oksigen tertinggi. Timpah. Pada suhu 200C dengan tekanan satu atmosfer konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -50 . Konserntarsi oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu adalah K.1.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II. Tumbang Lahung sebesar 42. sedangkan biota airdingin memerlukan oksigen terlarut mendekati jenuh. Oksigen terlarut (dissolved oxygen = DO) dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air. Biota air hangat memerkan oksigen terlarut minimal 5 ppm.Tilu Mentangai.3 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir dan Laung Tuhup sebesar 12.8 DO (Dissolved Oxygen) Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehdupan makhluk hidup di dalam air tersebut sangat tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. kemudian invertebrata. 2. 4. Sungai Kapuas a) Tahap I. Pelabuhan P. dimana jumlah tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Jembatan Baliton sebesar 36.1 mg/liter. Nilai COD tertinggi ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 42. nilai COD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 26 mg/liter dan terendah ditemukan di Timpah sebesar 8.5 mg/liter.3 Muara Teweh sebesar 30. dan dari atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas.Cahu sebesar 27. dan yang sangat terkecil kebutuhuan oksigennya adalah bakteri. Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer. Masaran Hulu dan Masaran Hilir. Jembatan Hasan Basri sebesar 27.2 mg/l.

Polutan semacam ini berasal dari berbagai sumber seperti kotoran hewan maupun manusia. Adapun nilai DO di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -51 . konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut meningkat sehingga konsentrasi oksigen terlarut biasanya menurun. sedangkan pada suhu 500C dengan tekanan atmosfer yang sama tingkat kejenuhannya hanya 5.2 ppm. dan sebagainya. Konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut selain dipengaruhi oleh jumlah bahan buangan juga dipengaruhi oleh jumlah air yang dicemari. bahan-bahan buangan dari industri pengolahan pangan. Konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mempengaruhi ikanikan dan binatang air lainnya yang membutuhkan oksigen akan mati. Oleh karena itu semakin tinggi kandungan bahan-bahan tersebut senakin berkurang konsentrasi oksigen terlarut. Bahan-bahan tersebut terdiri dari bahan yang mudah dibusukkan atau dipecah oleh bakteri dengan adanya oksigen. tanaman-tanaman yang mati atau samah organik. Oksigen yang tersedia di dalam air di konsumsi oleh bakteri yang aktif memecah bahan-bahan tersebut. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter oksigen terlarut yaitu minimum 4 mg/l. Oleh karena itu pada waktu musim panas di mana air kali atau danau sedang surut. semakin rendah tingkat kejenuhannya. pabrik kertas. industri penyamakan kulit.6 pp. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan yang mengkonsumsi oksigen. Semakin tinggi suhu air. Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga mengakibatkan proses perkaratan semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam. dan mungkin beberapa bahan anorganik.(Persero) CABANG I MALANG jenuh adalah 9. Air dikatakan sebagai air terpolusi jika konsentrasi oksigen terlarut menurun di bawah batas yang dibutuhkan untuk kehidupan biota. pembekuan udang dan ikan. Bahan-bahan buangan yang memerlukan oksigen terutama terdiri dari bahanbahan organik. industri pemotongan daging.

Nilai DO tertinggi sebesar 3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -52 .(Persero) CABANG I MALANG 1. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air kurang dari standar baku mutu yaitu di Pelabuhan Buntok sebesar 3. Bintang Linggi sebesar 3. 2.44 mg/liter.63 mg/l.. Sungai Pendang sebesar 3. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air belum memenuhi persyaratan.75 mg/l. sedangkan nilai DO terendah ditemukan di P.57 mg/liter. Nilai DO terendah ditemukan di Laung Tuhup sebesar 3.88 mg/l dan Muara Sungai Tewah sebesar 3.54 mg/l.71 mg/l. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air pada umumnya belum memenuhi persyaratan.04 mg/l. kecuali di Mandomai sebesar 4. Jembatan Hasan Basri sebesar 3. Sungai Barito a) Tahap I.77 mg/l.08 mg/liter. Nilai DO tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 5. Kalahien sebesar 3.Tilu sebesar 3.17 mg/liter. Pendang sebesar 4.72 mg/l dan Pelabuhan Buntok sebesar 4. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air yang memenuhi standar baku mutu yaitu di Jembatan Baliton sebesar 5.28 mg/l.32 mg/liter ditemukan di Mentangai. b) Tahap II.39 mg/liter yang merupakan nilai DO tertinggi Nilai DO terendah ditemukan di Masaran Hulu sebesar 3. b) Tahap II. Sungai Kapuas a) Tahap I. Tumbang Lahung sebesar 4.3 mg/l.

Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara amonia dan nitrat dan antara nitrat dan gas nitrogen. Di perairan.001 mg/l dan sebaiknya tidak melebihi 0.1. Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0. Adapun konsentrasi nitrit di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -53 .06 mg/l (Canadian Council of Resource and Environment Minister. 1991).(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Kadar nitrit yang lebih dari 0. Grafik Nilai DO Sungai Barito Gambar 4. Bagi manusia dan hewan. 1987). Sumber nitrit dapat berupa limbah industri dan limbah domestik. 1978). karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (sawyer dan McCarty. nitrit lebih toksik dari pada nitrat. Untuk kepentingan peternakan. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrit yaitu 0. nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dari pada nitrat.5.28.06 mg/liter. Grafik Nilai DO Sungai Kapuas 4. kadar nitrit sekitar 10 mg/l masih dapat ditolerir. Kadar nitrit pada perairan relatif kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat.9 Nitrit (NO2) Di perairan alami.29.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif (Moore.

001 mg/liter. Sungai Kapuas a) Tahap I. b) Tahap II.003 mg/liter sedangkan di Kuala Kapuas.024 mg/liter. Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0. Masaran dan Masaran Hulu konsentrasinya sebesar 0. Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di K.002 mg/liter. Sungai Barito a) Tahap I.30.(Persero) CABANG I MALANG 1.006 mg/liter sedangkan terendah di Timpah Hulu konsentrasinya sebesar 0.Tilu dan Timpah sebesar 0. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.Kapuas. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu. Konsentrasi Nitrit tertinggi di P. Gambar 4. 2. Konsentrasi Nitrit di 24 (dua puluh empat) lokasi berkisar antara 0. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -54 .021 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 0. Timpah dan Masaran sebesar 0.013 mg/liter. Konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.012 mg/liter sampai dengan 0. Mentangai. b) Tahap II.

Konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah untuk mengikat oksigen. Nitrat dan amonium adalah sumber utama nitrogen di perairan.1.31.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. terutama pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -55 . Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Nitratnitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Kapuas 4. Kadar nitrat lebih dari 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Namun` amonium lebih disukai tumbuhan. yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). Kadar nitrat di perairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi dari kadar amonium. kadar nitrat dapat mencapai 1.10 Nitrat (NO3) Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Pada perairan yang menerima limpasan air dari daerah pertanian yang banyak mengandung pupuk. Kadar nitrat-nitrogen pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa-senyawa nitrogen di perairan.1 mg/l.2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan.000 mg/l.5. Kadar nitrat-nitrogen yang lebih dari 0. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung pada kondisi aerob.

009 mg/liter.(Persero) CABANG I MALANG bayi yang berumur kurang dari lima bulan. 1991. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. b) Tahap II. Mason. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -56 . Sungai Barito a) Tahap I. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di P.177 mg/liter. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan yaitu sebesar 10 mg/liter untuk sungai kelas II.116 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pendang sebesar 0.Tilu sebesar 0. b) Tahap II. Keadaan ini dikenal sebagai methamoglobinemia atau blue baby yang mengakibatkan kulit bayi berwarna kebiruan (cyanosis) (Davis an Cornwell.085 mg/liter. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 2.25 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di P. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Muara Teweh sebesar 1. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu.072 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Masaran sebesar 0.Tilu sebesar 0. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Sungai Pendang sebesar 2.372 mg/liter.721 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Kandui sebesar 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrat yaitu 10 mg/liter Adapun konsentrasi nitrat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan 2. Sungai Kapuas a) Tahap I. 1993).

11 Amoniak Bebas (NH3-N) Amonia (NH3) dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air. pada proses pengolahan limbah juga dihasilkan gas amonia (Novotny dan Olem. Toksisitas amonia terhadap mikroorganisme akuatik akan meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut.32. 1994). Sumber amonia yang lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer. limbah industri dan domestik. Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati) oleh mikroba dan jamur. Ion amonium adalah bentuk dari transisi amonia.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Kapuas 4. Amoniak yang tidak terionisasi bersifat toksik terhadap mikroorganisme akuatik.33. Proses denitrifikasi oleh aktivitas mikroba pada kondisi anaerob. Proses ini dikenal dengan istilah amonifikasi. Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Barito Gambar 4.1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -57 . pH dan suhu .5. Ikan tidak dapat bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses peningkatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat mengakibatkan sufoksi. industri bahan kimia serta industri bubur kertas dan kertas. Amonia banyak digunakan dalam proses reduksi urea. Tinja dari biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas metabolisme juga banyak mengeluarkan amonia.

371 mg/l dan konsentrasi terendah di Kalahien sebesar 0.042 mg/l.341 mg/l. Sungai Barito a) Tahap I.068 mg/l. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0. b) Tahap II. 1979).Tilu sebesar 0.. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Amoniak untuk sungai Kelas II tidak dipersyaratkan. Kadar amonia bebas yang tidak terionisasi (NH3) pada perairan tawar sebaiknya tidak lebih dari 0. perairan bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan (Sawyer dan McCarty.02 mg/l. Kadar amonia yang tinggi dapat merupakan indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -58 .07 mg/l. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Lahei sebesar 0.56 mg/l dan konsentrasi terendah di Puruk Cahu Hilir sebesar 0. Sungai Kapuas a) Tahap I. 2. 1978). konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0.144 mg/l dan konsentrasi terendah di P. Adapun konsentrasi amoniak di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Jika kadar amonia bebas lebih dari 0. industri dan limpasan (run-off) pupuk pertanian.(Persero) CABANG I MALANG Kadar amonia bebas pada perairan alami biasanya kurang dari 0. b) Tahap II.2 mg/l.571 mg/l dan konsentrasi terendah di Masaran Hulu sebesar 0. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0.1 mg/l (McNelely et al.

Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut. sehingga dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut air. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Kapuas 4. Keberadaan senyawa fosfat dalam air sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. seperti industri pencucian. Polifosfat dapat memasuki sungai melaui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat.34. industri logam dan sebagainya. Sebaliknya bila kadar fosfat dalam air tinggi. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat untuk pertumbuhannya.01 mg P/L). Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. pertumbuhan dan ganggang akan terhalang. Keadaan ini disebut oligotrop. pertumbuhan tanaman dan ganggang tidak terbatas lagi (keadaan eutrop).35.1. Bila kadar fosfat dalam air rendah. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kelestarian ekosistem perairan. seperti pada air alam (< 0.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Barito Gambar 4. polifosfat dan fosfat organis.5. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -59 .12 Phospat (PO4) Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa ortofosfat.

Sungai Kapuas a) Tahap I.452 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi dibandingkan dengan lokasi yang lain.015 mg/liter. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 0.002 mg/liter. Adapun konsentrasi phospat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Pelabuhan Puruk Cahu sebesar 0.22 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Timpah sebesar 0. b) Tahap II. Sungai Barito a) Tahap I. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan kecuali di Timpah Hulu sebesar 0. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi phospat terendah di Mentangai sebesar 0.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter phospat yaitu 0.043 mg/liter Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -60 . di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu. Konsentrasi phospat terendah ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 0. kecuali di Bintang Linggi sebesar 0. 2.011 mg/liter.238 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi.2 mg/liter. bilamana dibandingkan dengan baku mutu maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. b) Tahap II.011 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Muara Lahung sebesar 0.

percikan air laut karena tiupan angin yang melepaskan sulfat. Sulfur anorganik terutama terdapat dalam bentuk sulfat yang merupakan bentuk sulfur utama di perairan dan tanah (Rao. sulfur dioksida. Di perairan. karena merupakan elemen penting dalam protoplasma.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. molybdenite (MoS2). serta aktivitas vulkanik yang melepaskan hidrogen sulfida. Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Kapuas 4.37. pembakaran bahan bakar fosil yang melepaskan sulfur oksida.13 Sulfat (SO4) Sulfur merupakan salah satu elemen yang esensial bagi makhluk hidup. Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Barito Gambar 4. kertas.5. Atmosfer menerima sulfur dan berbagai sumber. gregite (Fe3S4). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -61 . 1992). penyamak kulit. Sulfur oksida (SOx) dan hidrogen sulfida (H2S) merupakan sulfur dalam bentuk gas yang biasa ditemukan di atmosfer. sulfur berkaitan dengan ion hidrogen dan oksigen. Kerak bumi mengandung sulfur sekitar 260 mg/kg. Beberapa bentuk sulfur di perairan adalah sulfida. gypsum (CaSO4.1. chalcopyrite (Cu2S). dan pyrite (FeS2).2H2O). Sulfur (S) berada dalam bentuk organik dan anorganik.36. sulfida oksida dan sulfat. metalurgi dan lain-lain. sulfit dan sulfat. yaitu aktivitas bakteri yang melepas hidrogen sulfida. Ion sulfat yang telah diserap tumbuhan mengalami reduksi hingga menjadi bentuk sulfidril (SH) di dalam protein. cubanite (CuFe2S3). Sumber alami sulfat adalah bravoite {(NiFe)S2]. Sulfat banyak digunakan dalam industri tekstil.

2. hidrogen sulfida segera dioksidasikan oleh bakteri Thiobacillus menjadi sulfat. toksisitas H2S meningkat dengan penurunan nilai pH. Proses pembentukan karat ini disebabkan oleh keberadaan bakteri yang mampu mengoksidasi H2S menjadi H2SO4 secara berlimpah.266 mg/l. Pada pH sekitar 5 sulfur terdapat bentuk H2S.816 mg/l.098 mg/l. Oleh karena itu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -62 .771 mg/l dan konsentrasi terendah di Jembatan Baliton sebesar 0. Pada kondisi ini dapat menimbulkan permasalahan bau yang cukup serius. Terbentuknya asam kuat H2SO4 dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan korosifitas logam dan terjadinya karat. Pada kondisi aerob. Beberapa bakteri. Sungai Kapuas a) Tahap I.837 mg/l dan konsentrasi terendah di Sungai Lumuk sebesar 1. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Sulfat tidak dipersyaratkan. H2S juga dianggap sebagai salah satu penyebab karat pada logam. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di P. misalnya Clorobacteriaceae dan Thiorhodaceae dapat mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfur.Tilu sebesar 24. Adapun konsentrasi sulfat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.237 mg/l dan konsentrasi terendah di Kuala Kapuas sebesar 18. Hidrogen sulfida yang dihasilkan kemudian dilepaskan ke atmosfer. b) Tahap II. H2S dapat menimbulkan bau seperti telur busuk.(Persero) CABANG I MALANG Reduksi pengurangan oksigen dan penambahan hidrogen anion sulfat menjadi hidrogen sulfida pada kondisi anaerob dalam proses dekomposisi bahan organik yang menimbulkan bau yang kurang sedap dan meningkatkan korosiftas logam. Sungai Barito a) Tahap I. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Laung Tuhup sebesar 9. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 6.

(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II.39.38. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Mandomai sebesar 8.611 mg/l dan konsentrasi terendah di Mentangai sebesar 6. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Barito Gambar 4. Gambar 4.789 mg/l. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -63 .

Selain itu. wurtzite (ZnS). 1989). Metil merkuri diangkut oleh sel darah merah dan dapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -64 .08 mg/liter (Moore. 1991). Pada perairan alami. Senyawa merkuri digunakan dalam pembuatan amalgam. fotografi dan elektronik (eckenfelder. 1994). kadar merkuri anorganik. yakni hanya sekitar 0.. komponen listrk. Metil merkuri dapat mengalami bioakumulai dan biomagnifikasi pada biota perairan. juga mengandung merkuri. Pada perairan alami. namun pelapukan bermacam-macam batuan dan erosi tanah dapat melepaskan merkuri ke dalam lingkungan perairan (McNeely et al. Sumber alami merkuri paling umum adalah cinnabar (HgS) (Novotny dan Olem. akan terbentuk dimetil merkuri. pH dan suhu. baik pada kondisi aerob maupun anaerob. sedangkan pada perairan laut berkisar antara <10-30 mg/liter (Moore. chalcopyrite (CuFeS) dan galena (PbS). sedangkan pada kadar merkuri anorganik yang tinggi. kadar monometil merkuridan dimetil merkuri dipengaruhi oleh keberadaan mikroba. Garam-garam merkuri terserap dalam usus dan terakumulasi di dalam ginjal dan hati. gigi palsu. Senyawa merkuri bersifat sangat toksik bagi manusia dan hewan. Cinnabar sukar larut dalam air. Industri kimia yang memproduksi gas klorin dan asam klorida juga menggunakan merkuri. ekstraksi emas dan perak. Merkuri merupakan satusatunya logam yang berada dalam bentuk cairan pada suhu normal. Merkuri anorganik dapat mengalami transformasi menjadi dimetil merkuri dengan bantuan aktivitas mikroba. Kedua bentuk senyawa metil merkuri tersebut dapatdipecah oleh bakteri yang hidup pada sedimen. merkuri juga hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil. Pada kadar merkuri anorganik yang rendah. akan terbentuk monometil merkuri. baik secara langsung ataupun melalui jala makanan(food web). mineral sulfida. 1991). 1978). Kadar merkuri pada perairan tawar alami berkisar antara 10-100 mg/liter. senyawa anti karat (anti fouling).14 Merkuri (Hg) Merkuri (Hg) adalah unsur renik pada kerak bumi.1979. cat. Garam-garam merkuri juga digunakan sebagai fumigan yang berperan sebagai pestisida (Sawyer dan McCarty.5. misalnya (ZnS). Merkuri terserap dalam bahan-bahan partikulat dan mengalami presipitasi.(Persero) CABANG I MALANG 4. karbon organik.1. bateri. Pada dasar perairan anaerobic merkuri berikatan dengan sulfur.

Mentangai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -65 .002 mg/liter (Davis dan Cornell. 1991) Kadar merkuri pada air minum sebaiknya tidak melebihi 0. Adapun konsentrasi merkuri di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Organisme yang berada pada rantai yang paling tinggi (top carnivora) memiliki kadar merkuri yang lebih tinggi daripada organisme di bawahnya. untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena kondisi alat dalam keaadaan rusak . kadar merkuri yang diperbolehkan berturut-turut adalah 0. konsentrasi merkurinya masih dibawah baku mutu.(Persero) CABANG I MALANG mengakibatkan kerusakan pada otak. Sedangkan di 23 (dua puluh tiga) lokasi yang lain. b) Tahap II.029 μg/liter. Untuk melindungi kehidupan organisme perairan di Kanada dan European Community (EC).2 μg/liter. Senyawa merkuri mengalami masa tinggal (retention time) yang cukup lama di dalam tubuh manusia.643 μg/liter. Ion metil merkuri lima puluh kali lebih toksik dari pada garam-garam merkuri anorganik. Konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Sungai Tewah sebesar 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter merkuri yaitu 2 μg/l.1 μg/liter dan 0. b) Tahap II. Senyawa merkuri bersifat toksik bagi ikan dan biota akuatik lain karena dapat mengalami biomagnifikasi pada jalan makanan. untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena pada saat itu kondisi alat dalam keaadaan rusak.Tilu sebesar 4.081 μg/liter. Sungai Kapuas a) Tahap I. Sungai Barito a) Tahap I. 1991). menunjukkan bahwa disemua lokasi pemantauan tidak terdeteksi kandungan Merkuri. 2.5519 μg/liter yang mana konsentrasi merkuri tersebut melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.Kapuas sebesar 4. sedangkan untuk melindungi kehidupan organisme laut di European Community (EC). P. konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 7.3 μg/liter (Moore. Konsentrasi merkuri yang di atas baku mutu yaitu di K. Berdasarkan hasil uji Laboratorium. kadar merkuri yang diperbolehkan tidak lebih dari 0.

hanya beberapa μg/l.161 μg/liter Gambar 4. Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Kapuas 4. Timpah sebesar 3.15 Fenol Senyawa fenol merupakan senyawa aromatik dengan satu atau beberapa gugus hidroksil yang terikat secara langsung pada cincin benzene.029 μg/liter. Keberadaan fenol di perairan mengakibatkan perubahan sifat organoleptik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -66 .1.41. tekstil. industri kimia.5.(Persero) CABANG I MALANG sebesar 7.567 μg/liter dan Masaran Hulu sebesar 2.40. Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Barito Gambar 4. Senyawa fenol dihasilkan dari proses pemurnian minyak. kayu lapis. Kadar alami fenol di perairan sangat kecil. Masaran sebesar 2.286 μg/liter.

Gambar 4. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.05 mg/liter. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Phenol yaitu 0.42. sehingga kadar fenol yang diperkenankan terdapat pada air minum adalah 0. konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Muara Teweh sebesar 0. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG air.003 mg/liter.072 mg/ liter dan konsentrasi terendah di Timpah Hulu sebesar 0. Konsentrasi tertinggi terdapat di Masaran sebesar 0.01 mg/l fenol bersifat toksik bagi ikan (UNESCO/WHO/UNEP.312 mg/ liter dan konsentrasi terendah di P. konsentrasi terendah di Tumbang Lahung sebesar 0. konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.001 mg/l.Tilu sebesar 0. Adapun konsentrasi phenol di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Kalahien sebesar 0. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.25 mg/ liter. b) Tahap II.001 mg/l.18 mg/liter 2.26 mg/ l. b) Tahap II. Jembatan Hasan Basri dan Muara Teweh yang konsentrasi fenolnya tidak terdeteksi. kecuali di Baru Hilir/Buntok. Konsentrasi tertinggi terdapat di Mentangai sebesar 0. Pada kadar yang lebih tinggi dari 0. Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -67 . Pelabuhan Hulu. 1992). Sungai Kapuas a) Tahap I.

konsentrasi minyak/lemak di Bintang Linggi sebesar 2 mg/liter. Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata. Adapun konsentrasi Minyak/Lemak di masing – masing sungai sebagai berikut : 1.5. Sungai Barito a) Tahap I.43. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -68 .16 Minyak / Lemak Minyak dan lemak yang mencemari lingkungan sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Minyak/Lemak yaitu 1 mg/l.1. Sungai Lumuk sebesar 2 mg/l dan Muara Lahung sebesar 2 mg/l melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Air yang diperuntukkan bagi keperluan domestik sebaiknya bebas dari kandungan oil (minyak) dan grase (lemak) karena air dengan kadar minyak relatif tinggi menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak. Puruk cahu sebesar 5 mg/l. Puruk Cahu Hilir sebesar 3 mg/l. Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Kapuas 4. diantaranya dari pembersihan dan pencucian kapal. yaitu padatan yang mengapung di atas permukaan air. pengeboran minyak dan buangan pabrik. Minyak yang terdapat di dalam air berasal dari berbagai sumber. Kandui sebesar 2 mg/l.

Masaran sebesar 4 mg/liter dan Masaran Hulu sebesar 6 mg/liter. Konsentrasi ini melebihi ambang batas. Konsentrasi Minyak/Lemak tertinggi berada di K.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II. Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -69 .Cahu dan Muara Teweh sebesar 1 mg/l.Kapuas sebesar 9 mg/liter dan terendah di Timpah Hulu sebesar 2 mg/l. Gambar 4. konsentrasi Minyak/Lemak di Kuala Kapuas sebesar 1 mg/liter. b) Tahap II. Sungai Kapuas a) Tahap I. konsentrasi minyak/lemak tertinggi berada di Pelabuhan Buntok sebesar 4 mg/l dan konsentrasi terendah di Pelabuhan P.44. Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata. konsentrasi minyak/lemak disemua lokasi melebihi ambang batas. 2.

Polusi air yang disebabkan oleh penggunaan deterjen terutama menyangkut masalah surfaktan dan bahan pembentuk. Surfaktan di dalam deterjen berfungsi sebagai bahan pembasah yang menyebabkan menurunnya tegangan permukaan air sehingga air lebih mudah meresap ke dalam kain yang dicuci.1.5.17 Deterjen Deterjen dalam arti luas adalah bahan yang digunakan sebagai pembersih. Perbedaan utama adalah karena yang digunakan pada saat ini mempunyai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -70 . Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Kapuas 4. termasuk sabun cuci piring alkali dan cairan pembersih. Surfaktan yang banyak digunakan pada saat ini berbeda dengan yang digunakan beberapa tahun yang lalu. Definisi yang lebih spesifik dari deterjen adalah bahan pembersih yang mengandung senyawa petrokimia atau surfaktan sintetik lainnya. Sifat alkali tersebut penting untuk menghilangkan kotoran secara efektif. Bahan pembentuk yang umum digunakan adalah polifosfat. bahan pembentuk dan bahan lain-lain. Komposisi kimia deterjen terdiri dari bermacam-macam komponen yang dapat dikelompokkan menjadi tiga grup yaitu surfaktan.45.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Surfaktan merupakan bahan pembersih utama yang terdapat di dalam deterjen. Bahan pembentuk di dalam deterjen mengalami reaksi hidrolisis dengan air pencuci yang mengakibatkan air menjadi bersifat alkali.

(Persero) CABANG I MALANG sifat dapat dipecah secara biologis (biodegradable). Adapun konsentrasi deterjen di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.563 mg/l dan konsentrasi deterjen terendah di Pelabuhan Buntok sebesar 0.029 mg/liter.254 mg/l 2. Ada 10 (sepuluh) lokasi yang lain konsentrasi deterjen tidak terdeteksi. Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih diatas baku mutu yang dipersyaratkan. konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu. konsentrasi deterjen yang melebihi baku mutu adalah di Masaran sebesar 0. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 0. b) Tahap II.342 mg/liter. b) Tahap II.042 mg/liter. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter deterjen yaitu 0.03 mg/liter. Sedangkan konsentrasi deterjen terendah di P. yaitu dapat dipecah menjadi senyawa-senyawa sederhana oleh bakteri yang terdapat di lingkungan. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Muara Lahung sebesar 0. Sungai Kapuas a) Tahap I. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -71 . Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.308 mg/l dan Masaran Hulu sebesar 0. sedangkan surfaktan yang digunakan sebelum tahun 1965 tidak dapat dipecah oleh bakteri sehingga terdapat dalam bentuk tetap tidak berubah dalam jangka waktu lama di lingkungan.05 mg/liter.035 mg/liter dan konsentrasi deterjen terendah di Mentangai 0.Tilu sebesar 0. Sungai Barito a) Tahap I.

Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Barito Gambar 4.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -72 .46.47.

konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 240 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml. 2. Mentangai. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -73 .48. Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml. konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. Sungai Barito a) Tahap I. Adapun konsentrasi Fecal Coli di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. Gambar 4.1.5.Tilu. Sungai Kapuas a) Tahap I. P.(Persero) CABANG I MALANG 4. b) Tahap II. Timpah Hulu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml. konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml. b) Tahap II.18 Fecal Coli Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Fecal Coli tidak dipersyaratkan.

5.19 Total Coliform Jumlah perkiraan terdekat (JPT) bakteri coliform/100 cc air digunakan sebagai indikator kelompok mikrobiologis. Mayoritas sungai yang terdapat di kota padat penduduk seperti di Pulau Jawa cenderung lebih tercemar oleh bakteri coliform dan fecal coli. tetapi sampai saat ini.1. Sungai Barito a) Tahap I.49. konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 300 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml. Hal ini tentunya tidak terlalu tepat. bakteri inilah yang paling ekonomis dapat digunakan untuk kepentingan tersebut. Adapun konsentrasi Total Coliform di masing –masing sungai sebagai berikut: 1.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Kapuas 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -74 . yang menunjukkan telah terjadinya pencemaran tinja pada sungai tersebut dan dapat menyebabkan penyakit diare. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Total Coliform tidak dipersyaratkan.

konsentrasi Total Coliform tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Mentangai.Tilu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml. konsentrasi Total Coliform tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas.(Persero) CABANG I MALANG b)Tahap II. konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml.50. 2. b) Tahap II. Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml. Sungai Kapuas a) Tahap I. Gambar 4. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -75 . P.

Prosedur perhitungan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. dan Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang diperoleh dari hasil analisis cuplikan air pada suatu lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -76 . sedangkan untuk parameter yang tidak terdeteksi keberadaanya dan besarannya tidak dipersyaratkan dalam baku mutu tidak akan dilakukan perhitungan. hanya diambil paramater-paremeter yang terdeteksi keberadaannya dan dipersyaratkan dalam baku mutu. Penentuan Status Mutu Air dengan menggunakan Metode Polutant Index. Dari seluruh parameter yang diuji. Tujuan perhitungan Pollution Indeks (PI) adalah untuk menggambarkan secara utuh kualitas air sungai yang ada di lokasi studi. kelas tiga dan kelas empat.51. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Kapuas 4. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” yang terdiri dari empat kelas.5. yaitu Kelas satu. kelas dua. Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam Baku Peruntukan Air (j).2 Status Mutu Air (SMA) Status Mutu Air (SMA) dapat diketahui dengan cara membandingkan kualitas air hasil pengukuran dengan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001. maka dalam penentuan Pollution Indeks (PI) ini. Hal ini disebabkan persamaanpersamaan matematis yang dipergunakan untuk menghitung Pollution Indeks (PI) mempersyaratkan hal tersebut.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.

maka ditentukan nilai teoritik atau nilai maksimum Cim (misal untuk DO. Dalam kasus ini nilai Ci/Lij hasil pengukuran digantikan oleh nilai Ci/Lij hasil perhitungan.0+P. maka PIj adalah Indeks Pencemaran bagi peruntukkan (j) yang merupakan fungsi dari Ci/Lij. Memilih parameter-parameter yang jika harga parameter rendah maka kualitas air akan membaik. 6. (Ci/Lij)baru = 1.(Persero) CABANG I MALANG pengambilan cuplikan dari suatu alur sungai. misal DO. makaPIj ini dapat ditentukan dengan cara : 1. yaitu : (Ci / Lij ) baru = Cim − Ci(hasil Pengukuran) Cim − Lij 5. 3. Menentukan nilai rata-rata dan nilai maksimum dari keseluruhan Ci/Lij.0. Bilamana nilai konsentrasi parameter yang menurun menyatakan tingkat pencemaran meningkat. Penggunaan nilai (Ci/Lij)baru jika nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran lebih besar dari 1.0. Menghitung harga Ci/Lij untuk tiap parameter pada setiap lokasi pengambilan cuplikan. ((Ci/Lij)R dan (Ci/Lij)M). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -77 . 2.log(Ci/Lij)hasil pengukuran P adalah konstanta dan nilainya ditentukan dengan bebas dan disesuaikan dengan hasil pengamatan lingkungan dan atau persyaratan yang dikehendaki untuk suatu peruntukan (biasanya digunakan nilai 5). Bilamana Nilai Lij memiliki Rentang : Untuk Ci ≤ Lijrata-rata (Ci / Lij ) baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) min imum − ( Lij ) rata − rata ] Untuk Ci ≥ Lij rata-rata (Ci / Lij )baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) maksimum − ( Lij ) rata − rata ] Penggunaan nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran kalau nilai ini lebih keci dari 1. 4. maka Cim merupakan nilai DO jenuh). Memilih konsentrasi parameter baku mutu yang tidak memiliki rentang.

0 ≤ PI ≤ 5. masing-masing sungai disajikan pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -78 .0 5.0 1.0 ≤ PI ≤ 10 10 ≤ PI ≤ 15 tabel berikut : : Memenuhi Baku Mutu : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Berat Hasil perhitungan Pollutant Index. Menentukan harga PIj (Ci / Clj ) M 2 + (Ci / Lij ) 2 R 2 Pl j = Evaluasi terhadap Nilai PI adalah : 0 ≤ PI ≤ 1.(Persero) CABANG I MALANG 7.

23 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -79 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

24 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -80 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.25 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -81 .

26 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -82 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 5 : Kalahien .Lokasi 19 : Sungai Lumuk .Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 12 : Muara Teweh : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Memenuhi Baku Mutu . dapat dikemukakan bahwa kualitas air di masing-masing sungai adalah : 1.Lokasi 22 : Tumbang Lahung . Sungai Barito Tahap I (Juni 2007) .Lokasi 8 : Bintang Linggi .Lokasi 23 : Muara Lahung . Tahap II (September 2007) .Lokasi 15 : Lahei .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 10 : Kandui .Lokasi 16 : Muara Lahei .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan : Cemar Ringan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -83 .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 24 : Laung Tuhup b.(Persero) CABANG I MALANG Dari hasil perhitungan di atas.Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 7 : Sungai Pendang .Lokasi 2 : Baru .Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok .

(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 1 : K. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -84 . Sungai Kapuas a.Lokasi 2 : P. Kapuas .Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 6 : Pendang .Sungai Kapuas : PI = 3.Lokasi 4 : Timpah . maka mutu air di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : .54 (Cemar Ringan) .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok 2.7217 (Cemar Ringan) d Sumber utama pencemaran yang mengakibatkan penurunan kualitas air sungai. maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a Salah satu prosedur penting dalam proses pengelolaan kualitas air adalah melaksanakan pemantauan air secara kontinyu dan berkesinambungan.Lokasi 1 : K.Lokasi 5 : Masaran . c Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau).Lokasi 4 : Timpah . Kapuas .Lokasi 8 : Timpah Hulu . Tilu .Lokasi 6 : Masaran Hulu . Tilu .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Cemar Ringan .Lokasi 5 : Masaran .Lokasi 2 : P. Tahap I (Juni 2007) : .Lokasi 7 : Masaran Hilir . pada umumnya berasal dari kegiatan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI).Sungai Barito : PI = 3.Lokasi 6 : Masaran Hulu b.Lokasi 9 : Mandomai : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan Dari uraian dan pembahasan tersebut di atas.Lokasi 3 : Mentangai . Tahap II (Oktober 2007) . b Hasil pemantauan memberikan informasi faktual tentang kondisi (status) lingkungan masa sekarang dan kecenderungan kondisi masa lalu serta prediksi masa datang.

5. maka Kualitas air dari segi sedimentasi atau indikator erosi sangat dominan Nilai COD dan BOD di beberapa lokasi masih lebih tinggi dari nilai baku Mutu Air. walaupun dari segi bakteriologi tidak dapat diulas. sehingga masih terdapat sumber air minum yang tidak terlindung. kegiatan industri dan pertanian yang ada disepanjang sungai yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah 4.5. namun seperti sungai besar lainnya kemungkinan tidak memenuhi untuk air Kelas 1. 4. konsekwensinya sumber air minum penduduk sangat beragam. Kemungkinan pencemaran terjadi karen adanya buangan limbah penduduk. tanah dsb. Prediksi kualitas air kedepan apabila tanpa dilakukan pengelolaan areal pertanian dan pengolahan limbah penduduk maka kualitas air WS BaritoKapuas diduga lebih memburuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -85 . ini merupakan indikator bahwa air sungai Barito di beberapa titik pengambilan sampel telah mengalami pencemaran.3 Permasalahan Lingkungan Beberapa hal yang berakibat pada permasalahan lingkungan di WS BaritoKapuas diantaranya : Belum terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) penduduk secara terpusat Sarana pengolahan limbah tinja penduduk dengan menggunakan tangki septik terbatas dan terdapat sebagian membuang kotoran ke sungai.4 Prediksi Kualitas Air WS Barito – Kapuas Berdasarkan tiga kali pengukuran dari kegiatan studi sebelumnya maupun pengukuran oleh Balai Barito-Kapuas Ciwulan. Cakupan PDAM untuk melayani air bersih penduduk terbatas.(Persero) CABANG I MALANG limbah organik dari kegiatan rumah tangga.

yaitu (a) erosi geologi (geological erosion) akibat proses alamiah yang berjalan secara normal jika pembentukan tanah lebih besar dari kehilangan tanah dan (b) erosi dipercepat (accelerated erosion) akibat aktivitas manusia pada permukaan tanah yang menyebabkan pembentukan tanah lebih kecil dari kehilangan tanah. dan CP untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -86 .1 Erosi dan Sedimen Secara umum proses erosi terdiri atas dua jenis.36 Rm (Rain)m R = Erosivitas curah hujan bulanan rata-rata (EI30) = Jumlah curah hujan bulanan rata-rata dalam cm = Erosivitas curah hujan tahunan rata-rata = jumlah Rm selama 12 bulan.6. Faktor indeks panjang dan kemiringan lereng dihitung dengan menggunakan rumus dan nomograf. Jenis erosi yang kedua ini umumnya yang menjadi permasalahan utama pada kawasan daerah aliran sungai. suatu prosedur penghitungan erosi yang umum dilakukan di Indonesia.(Persero) CABANG I MALANG 4.6 ANALISIS KONSERVASI LAHAN DAN AIR 4. Besarnya erosi yang terjadi dihitung berdasarkan satuan Sub DAS dengan menggunakan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation) dari Wischmeier dan Smith (1965). Indeks pengelolaan tanaman (C) dan indeks pengawetan tanah (P) serta nilai indeks erodibilitas tanah (ketiganya merupakan nilai tertimbang) diperoleh dari tabel yang memuat nilai K. Rumus umum dari persamaan tersebut adalah: A = R x K x LS x C x P A R K = Erosi aktual (ton/ha/th) = faktor indeks erosivitas hujan = faktor indeks erodibilitas tanah LS = faktor indeks panjang dan kemiringan lereng C P = faktor indeks pengelolaan tanaman = faktor indeks pengawetan tanah Indeks erosivitas hujan diperoleh dengan menggunakan rumus Lenvain yaitu: Rm = 2.21 x (Rain)m1.

Sudah diketahui bahwa hutan yang utuh sangat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -87 . Akan tetapi.(Persero) CABANG I MALANG tanah.5 untuk pemukiman.2 Prediksi Erosi dan Sedimentasi Pada dasarnya. tanaman dan pengawetan tanah.006607X1. Sungguhpun demikian.0001 untuk sawah menjadi 0. faktor penutupan lahan dan pengelolaan tanah bersifat dinamis perubahannya. Adapun data yang digunakan untuk menghitung setiap komponen rumus USLE tersebut diperoleh dari data sekunder.6. Aspek tata ruang yang selalu diperbaharui sesuai dengan perencanaan Pemerintah Daerah sangat menentukan penutupan lahan.0987 Y = sedimentasi dalam mm/tahun X = besarnya erosi dalam ton/ha/tahun Persamaan tersebut di atas cocok digunakan untuk menentukan besarnya sedimen yang terjadi untuk kawasan DAS yang terdapat di Pulau Kalimantan dan digunakan oleh BPDAS dalam menghitung besarnya sedimentasi. prediksi besarnya erosi di masa yang akan datang merupakan aspek penting dalam perencanaan konservasi Daerah Aliran Sungai. tiga faktor yaitu erosivitas. Analisis sedimentasi yang digunakan didasarkan pada rumus hasil penelitian Al Khadimi (1981) yang dikembangkan oleh DPMA (1987) melalui persamaan sebagai berikut: Y = 0. Nilai tersebut merupakan nilai empiris dari hasil penelitian lapangan pada berbagai tempat. jarang sekali ada penelitian erosi yang berkelanjutan pada satu DAS sehingga menyebabkan data time series erosi menjadi tidak tersedia. dan lereng dapat diasumsikan sama untuk jangka prediksi 20 tahun. Dari lima faktor yang mempengaruhi erosi sebagaimana yang ditulis pada rumus USLE. erodibilitas tanah. 4. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap penutupan lahan adalah tingginya kerusakan hutan akibat pembalakan hutan serta meningkatnya luasan lahan kritis sepanjang tahun. Salah satu contoh perubahan penutupan lahan dan pengolahan tanah adalah konversi sawah menjadi pemukiman akan mengubah indeks CP dari 0.

badan usaha milik daerah atau milik negara maupun swasta yang bergerak dalam bidang sumberdaya air. unsur Institusi Pengelola sumberdaya air dan dari unsur masyarakat. berhak memperoleh sebagian laba bersih dari institusi pengelola dan berkewajiban memberikan kontribusi untuk membiayai kegiatan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum. 4.1 Peranan Kelembagaan Kelembagaan pengelolaan sumber daya air berasal dari unsur Pemerintah. Selaku pemanfaat mempunyai hak memperoleh pelayanan yang baik dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan namun diharapkan dapat menggunakan air secara efisien dan ikut menjaga kelestarian lingkungan serta wajib memberikan kontribusi pembiayaan dan kontrol sosial yang positip atas pengelolaan wailayah sungai.7. berhak memungut iuran dari para pemanfaat dan menerima kontribusi dari Pemerintah (untuk pembiayaan yang ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat dan keselamatan umum) dan berkewajiban memberi pelayanan prima dan mengupayakan penigkatanperan serta masyarakat dan swasta dalam melakukan pengelolaan wilayah sungai serta mempertanggung-jawabkan pelaksanaan tugas kepada Pemerinatah dan msayarakat. mempunyai fungsi pengaturan dan kebijakan baik pada tingkat Nasional (Makro) maupun tingkat daerah (Operasional) dan bertugas melaksanakan kegiatan yang terkait dengan kewenangan publik. Pemerintah selaku owner (pemilik) sumberdaya air dan prasarana pengairan. Institusi pengelola sumberdaya air antara lain adalah pengusaha/kelompok pengusaha. Unsur dari masyarakat adalah sekelompok masyarakat. pemerhati atau akademisi yang berkaitan dan concern dengan pengembangan sumberdaya air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -88 .(Persero) CABANG I MALANG berperan dalam mengurangi besarnya aliran permukaan yang pada akhirnya berdampak kepada erosi.7 ANALISIS KELEMBAGAAN 4. Selaku oerator yang memperoleh konsesi untuk mengelola sumberdaya air dan prasarana pengairan bertugas melaksanakan pengelolaan wilayah sungai dan mengembangkan sistem pengelolaan sungai.

LH D EP KEH TAN U AN D EP PERTAN IAN D ITJENSD A D EKTO AT IR R Bina Program D EKTO AT IR R PSD A DIR EKTO AT R Irigasi D EKTO AT IR R Raw Pantai a DIREKTO AT R SU AW D A PR PIN O SI G BER U U NR Pem binaan teknis dan penelitian PTPA BAPPED A Perencanaan W ilayah Sungai BAPPELD A ALD D AS IN D AS IN DIN PEN AIR AS G AN U Perencanaan nit O w P ilayah sungai Konsultasi Tata Ruang BALAI PSD (PPTPA) A KETER AN ANG : BU PATI Perintah Perw akilan Pengguna/ Kom unikasi Pem binaan P3A D INASPUPEN AIR G AN KABU PATEN Konsultasi Gambar 4.(Persero) CABANG I MALANG Gambar dibawah memperlihatkan Instansi kelembagaan dari unsur pemerintah yang terlibat dalam perencanaan/pengelolaan sumber daya air wilayah sungai mulai dari pemerintah/instansi pusat sampai dengan unsur pemerintah/instansi kabupaten.7. Wilayah sungai Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -89 .2 Kelembagaan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas Wilayah sungai Barito-Kapuas merupakan wilayah sungai yang pengelolaannya ditangani oleh Balai Besar Wilayah Sungai Kalimantan II ( Kode A2-18. Kelembagaan pengelolaan SDA level Pusat. PU T SA PU D EP. Per Men PU No 11A/PRT/M/2006) dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum.52. Provinsi dan Kabupaten 4.DAG I R BAPPEN AS M ENEG .

18 tahun 1995 tentang RTRW 4. Pengelolaan SDA Provinsi tercermin dalam Rencana Strategis masing-masing Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Beberapa Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan Sumber Daya Air Provinsi khususnya Kalimantan Selatan telah disusun Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No.7. oleh karenanya perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. (antar instream-offstream. Dalam tahun-tahun belakangan ini. No.3 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -90 . 1 Tahun 1994 tentang RTRW Kabupaten Barito Kuala yang diperbaharui dengan Perda Kabupaten Barito Kuala.3 tahun 1999 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah yang diperbaharui dengan Peraturan Daerah No 9 Tahun 2000 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah.3.1 Pendekatan Menyeluruh dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). suatu pendekatan regional dalam pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dan kaitannya dengan tata ruang wilayah. Peraturan Daerah tentang Sumber Daya Air yang dibuat disusun berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. lingkungan (konservasi generasi). yang diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai.108 tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah. Sedangkan untuk wilayah hilir sungai Barito-Kapuas yang masuk wilayah Kalimantan Selatan terkait dengan beberapa Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala yaitu Perda No.7.(Persero) CABANG I MALANG merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. berwawasan kuantitas-kualitas). Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector). ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan pengelolaan. menyeluruh berkelanjutan (hulu-hilir.

3. Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. yang bertanggung jawab kepada Provinsi. Pihak lainnya dilibatkan dalam hal koordinasi perencanaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -91 . dan mengatur alokasi air. mengontrol penggunaan sumber daya air. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Serawak dan Malaysia). Pada tingkat pusat. juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. Definisi fungsi institusi yang mewakili pemerintah pusat adalah sebagai berikut: 1. alokasi. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. badan perencanaan bertugas merencanakan. seperti dari Eropa (Republik Checz. harus memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya di masa mendatang. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. Perencanaan sumber daya air salah satunya dapat berupa program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka panjang. Mengadakan seminar informasi dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. 2. institusi dan legislatif. mengontrol akses ke sumber daya air. mengontrol kualitas sumber daya air. untuk mensosialisasikan proyek dan tujuannya.(Persero) CABANG I MALANG Suatu pendekatan kewilayahan dapat memberikan perhatian. Keterlibatan penggunaan berbagai sektor kebutuhan air dapat menyebabkan konflik untuk penggunaan sumber daya air. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. mengatur. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah. pengawasan. masalah hukum. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). 4. seperti seminar. Departemen-departemen ini juga mengalokasikan biaya (budget) untuk pengembangan sumber daya air. Pendekatan ini telah mengarah pada definisi batas wilayah sungai dan pada beberapa sungai pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. penegakan hukum.

Pembagian Institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -92 . Mengklarifikasi pembagian tugas. 7. sub komite manajemen batas air dan daerah pantai. 6. terutama dari sektor swasta. Menghindari pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang ada. manajemen. 8. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak lainnya yang terkait. perawatan air.000. Pembagian area DAS tersebut adalah sebagai berikut : ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Daerah aliran air bagian hulu Daerah aliran air bagian tengah Daerah aliran air bagian hilir Daerah pantai Saluran sungai Dataran banjir yang diatur Daerah banjir DAS Daerah tangkapan hujan (catchment area) Daerah pinggiran banjir yang diatur (regulatory foodway fringe) perencanaan.(Persero) CABANG I MALANG 5. Bappenas telah mempersiapkan peta Indonesia skala 1:1. diantaranya: • • • • sub komite manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah. Untuk keperluan ini. penggunaan. Hal ini dibagi berdasarkan WS yang ada. kontrol akses. sub komite manajemen suplai air. kontrol penggunaan sumber daya air. Provinsi. dan kualitas air. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang ada pada manajemen sumber daya air dan pada tingkat nasional. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) yang terdiri dari perwakilan 17 departemen pemerintah dan lembaga yang terlibat dalam perencanaan manajemen dan penggunaan sumber daya air.000 yang menggambarkan kondisi batas WS. Komite ini terdiri dari pihak lain yang terkait. sub komite koordinasi dan legistatif sumber daya air. kontrol kualitas sumber daya air. Pembuatan prinsip dan konsep institusi dan tanggung jawab mengenai manajemen integrasi DAS dan daerah pantai dibagi berdasarkan area DAS.

(Persero) CABANG I MALANG ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● pengguna dan aplikasi sumber daya air. 12. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -93 . dan perikanan air tawar dan air asin. masalah hukum. alokasi sumber daya air. koordinasi pengembangan. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi suplai air pada lembaga pemerintah dan pihak terkait lainnya. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannya. Mengadakan studi banding mengenai integrasi. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi pada suplai air industri.3. resolusi konflik. 11. evaluasi dan pengawasan. pengembangan sumber daya manusia. Merumuskan kekurangan infrastruktur perawatan air dan legalisasi untuk kota dan daerah urban. masalah institusi. pembangkit listrik tenaga air. 13. penegakan hukum. 14. Identifikasi tugas institusi dalam kondisi yang baru. planning perencanaan pengembangan partisipasi publik. 15. alokasi keuangan dan 9. masalah legistatif.2 Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Era Otonomi Daerah Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air.7. 16. 10. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. 4. industri. air irigasi. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. Menyiapkan pilihan dan alterbatif untuk pemerintah pusat tentang pembagian tugas antar pihak swasta yang terkait. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasikan secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: suplai air minum. mengontrol pembiayaan. baik masalah kurangnya air. erosi dan sedimentasi.

pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 2. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. disebutkan bahwa: 1. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya. yang dalam Undangundang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -94 . Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu direvisi. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya Air. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi. Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai 3. akan banyak memberikan perubahanperubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan Provinsi sebagai otonomi daerah. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat.

(Persero) CABANG I MALANG 4.7.1 Kebijakan Public Service Obligation Sumber Daya Air di Indonesia Di dalam kondisi keuangan Negara yang sangat terbatas.4 Strategi Pembiayaan 4. telah disebutkan prinsip-prinsip dan kebijakan tentang pembiayaan sumber daya air (water financing) yang meletakan dasar-dasar ke depan keberlanjutan dalam aspek pembiayaan untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air. Penetapan Pola dan Pelaksanan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) Pengelolaan sumberdaya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah Provinsi/kabupaten/kota dan stakeholders. 7 Tahun 2004 Wewenang Penetapan Wilayah Sungai. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai. (b) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -95 . namun juga biaya jasa pengelolaan sumber daya (termasuk pengembalian biaya investasi) dan biaya konservasi. 4. baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah Provinsi.4. Di dalam UU No.27 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/Kota Lintas Kabupaten/Kota dalam satu Provinsi Lintas Provinsi Sungai Strategis Sumber: UU No. Sumber pembiayaan dari setiap jenis kegiatan antara lain: (a) Dana Pemerintah. ditetapkan sebagai berikut : Tabel 4. dimasa depan dibutuhkan sumber dana dari masyarakat untuk pengembangan sumber daya air. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumberdaya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.7. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumberdaya air. Pembiayaan sumber daya air tidak hanya untuk mendanai pembangunan infrastruktur serta operasi dan pemeliharaan.

Kewenangan mengelola dana di wilayah sungai didasarkan pada pembagian kewenangan antara pusat. 4. Institusi pengelolaan sumber daya air di Tingkat Wilayah Sungai yang dapat merealisasikan keberlanjutan aspek finansial dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah BUMN/BUMD yang berbentuk Perusahaan Publik yang netral dan profesional yang secara seimbang menerapkan norma-norma pengusahaan yang sehat dan kaidah-kaidah pelayanan umum yang handal atas air dan sumber-sumber air dengan bertumpu pada partisipasi masyarakat dan kemitraan dengan swasta. Di samping itu. Provinsi. pemerintah pemanfaat. Sistem pembiayaan yang memperhitungkan sebagai saham atas kontribusi biaya publik dan subsidi pelayanan sosial yang akan diperhitungkan sebagai daerah. PTPA dan PPTPA harus ditingkatkan fungsinya dan disempurnakan keanggotaannya sebagai wadah koordinasi dan konsultasi serta sebagai regulatory body/parlemen air yang dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memungkinkan diterapkannya pendekatan partisipatif dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air sehingga prinsip keterbukaan. 4.(Persero) CABANG I MALANG Dana swasta (termasuk pinjaman atau hibah).2 Konsep Dasar Sistem Pembiayaan Berkelanjutan Konsep dasar sistem pembiayaan berkelanjutan: 1.7.4. 3. masyarakat swasta dalam pembiayaan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. demokratisasi. dapat dilakukan kerjasama pengelolaan dana untuk wilayah sungai. keadilan. Prinsip Pengelolaan sumber daya air yang dapat lebih menjanjikan dalam aspek finansial untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air di era otonomi daerah adalah ”One River – one plan – one system of multi level basin management” 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -96 . saham dalam usaha pengelolaan dan sumber daya air akan memberikan iklim kondisif untuk partisipasi pemerintah. transparasi dan akuntabilitas dapat diterapkan secara memadai. dan kabupaten/kota sesuai UU Sumber Daya Air. dan (c) Dana yang diperoleh dari jasa pengelolaan sumber daya air (misalnya dana untuk konservasi serta pemantauan dan pembinaan).

53.(Persero) CABANG I MALANG Badan-Badan Pengelola Sistem Pendukung (BPSP) Pemerintah/Perintah Daerah (Cost & Fee) Recovery Badan Pengelola Sistem Utama (BPSU) (Cost & Fee)* Recovery* Badan-badan Pengelola Sistem Pemanfaat (BPSM) (Cost & Fee)** Recovery** Pemanfaat Air (Pemanfaat Spesifik) Pemanfaat Air (Pemanfaat Umum/Non Spesifik) Pelayanan air Pelayanan dari badan pengelola di hulunya Pembayaran iuran Pembayaran pajak Konstribusi pembiayaan Subsidi biaya publik & biaya sosial Gambar 4. Sistem Multilevel Basin Management Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -97 .

Diagram Skematik Sistem Sharing dan Deviden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -98 .(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah Pemerintah Daerah (Propinsi/Kabupaten/Kota) Pemanfaat air dan Sumber-sumber air Masyarakat umum dan swasta Badan Pengelola SDA (BPSU/BPSP) Share Deviden Pengembangan dan Pengelolaan SDA Konstribusi biaya Investasi Subsidi biaya publik & sosial u/ pengelolaan Deviden atas konstribusi biaya investasi Deviden atas subsidi biaya publik & sosial Gambar 4.54.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -99 . Kelompok Stakeholders dan Dewan Daerah SDA 4.(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah/ Pemda (Owner/ Regulator) Dewan Daerah SDA (PTPA/PPTPA) Masyarakat (User/ Beneficieries) Badan Usaha Pengelola SDA (Operator/ Service Providers/ Developer) Gambar 4. Mengingat irigasi sebagai pengguna air terbesar dan mengingat prinsip keadilan. petani pemakai air dapat memberikan konstribusi dalam bentuk iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air.5 Strategi Implementasi 1. maka guna menjaga kelestarian fungsi sarana dan prasarana pengairan dalam rangka dapat menjamin keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat. maka secara bertahap.55.7. sesuai kemampuannya. perlu diupayakan secara bertahap realisasi konstribusi pemerintah untuk membiayai pelayanan umum dan subsidi untuk pelayanan sosial. Mengacu pada kenyataan dengan adanya peningkatan kontribusi pemanfaat untuk membiayai pengelolaan sumber daya air di WS BaritoKapuas sedang di lain pihak Goverment Obligation Principles belum dapat direalisasikan. 2.

Dalam rangka memberikan kontinuitas pelayanannya. irigasi. 5. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Sesuai dengan amanat dalam Undang Undang SDA No7 tahun 2004. pengendalian banjir. air bersih.(Persero) CABANG I MALANG 3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -100 . UMP. 6. industri. Dengan demikian dalam pembentukan kelembagaan dikemudian hari keikutsertaan stakeholder dalam wadah Dewan Air nantinya sangat berperan dalam PENDAYAGUNAAN SDA. KONSERVASI SDA. Kenaikan tarif di samping memperhatikan faktor-faktor kenaikan harga juga harus mencakup peningkatan derajat pelaksanaan O & P dengan jangka waktu ideal selambat-lambatnya 5 – 10 tahun untuk mencapai O & M Cost Recovery. dan pengendalian kualitas air) perlu dilakukan berdasarkan metode sederhana (berdasar nilai manfaat) dengan dibuat suatu formula kenaikan tarif berkala dengan memperhatikan unsur-unsur biaya yang berpengaruh secara dominan terhadap biaya pengelolaan sumber daya air (BBM. inflasi rata di wilayah sungai yang bersangkutan). Pengawasan oleh Dewan Daerah Sumber Daya Air yang bagaimana yang tidak menimbulkan duplikasi dengan pengawasan oleh pihak pemilik perusahaan yang dilakukan oleh Badan/Dewan Pengawas Perusahaan. maka tarif pajak pengambilan dan pemanfaatan air agar dapat ditetapkan yang proporsional terhadap tarif iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air sehingga dana kontribusi dari pemanfaat tersebut dapat sebesar-besarnya dipergunakan secara langsung untuk membiayai pengelolaan sumber daya air yang bersangkutan. 4. Pembebanan biaya kepada kelompok-kelompok pemanfaat (listrik.

Mengingat kompleksnya sistem alokasi air ini. Untuk mengantisipasi hal ini maka perlu dilakukan pengelolaan distribusi air pada tingkat wilayah sungai atau bahkan antar wilayah sungai. dan lainnya. pemeliharaan aliran. Dilain pihak ketersediaan air jumlahnya tetap sehingga sudah mulai terasa adanya conflict of interest dalam hal pemakaian air. Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya perekonomian dan industri. perkotaan dan industri. penyediaan air baku untuk rumah-tangga. antara lain sebagai berikut: 1) Evaluasi alternatif dan potensi pengembangan sumberdaya air. akan tetapi juga secara operasional untuk memxbantu para pengelola air sebagai suatu decision support system (sistem pendukung pengambilan keputusan). dan melibatkan berbagai aspek sosial dan ekonomi dalam meningkatkan produksi pangan. yang tidak hanya digunakan pada tahap perencanaan. maka semakin meningkat pula kebutuhan akan air untuk berbagai keperluan (terutama untuk domestik. sampai sejauh mana dapat dikembangkan jaringan irigasi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-1 .1 UMUM Perencanaan pengembangan wilayah sungai merupakan suatu proses perencanaan secara spasial dan temporal yang sangat kompleks. wisata dan lingkungan). perkotaan dan industri. maka diperlukan bantuan dari suatu model komputer untuk alokasi air. Situasi ini jika dibiarkan berlarutlarut akan dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional pada umumnya. 2) Untuk suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan ketersediaan airnya yang berfluktuasi.2 MODEL SIMULASI WILAYAH SUNGAI Pemodelan simulasi alokasi air di tingkat wilayah sungai akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali muncul dalam pengembangan sumberdaya air. listrik. irigasi. secara komprehensif dan terpadu.(Persero) CABANG I MALANG BAB 5 SIMULASI MODEL ALOKASI AIR WS BARITO-KAPUAS 5. 5.

7) Seberapa efektif upaya pembangunan waduk terhadap pemenuhan kebutuhan air irigasi dan tambak? 8) Berapa ukuran waduk yang diperlukan. air baku. yaitu simpul biasa.(Persero) CABANG I MALANG pemasokan air baku tanpa menimbulkan kekurangan air atau merugikan pemakai air lainnya? 3) Apakah akan terjadi benturan kepentingan (conflict of interests) antara para pemakai air (irigasi. dan dampak alternatif pengembangan (dalam bentuk peta dan grafik) yang mudah dievaluasi dengan cepat. simpul aktivitas. terowongan atau pipa. dan Alternatif Pengembangan Sumberdaya Air yang direncanakan. 5. dan bagaimana pola pengoperasian yang optimal? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas. maka disusun skematisasi sistem tata air yang dapat menggambarkan sistem tata air secara hidrologis. kebutuhan air dan infrastruktur. Artinya model harus mampu menirukan karakteristik penting dari wilayah sungai. dan cabang-cabang yang menyatakan sungai. dan mudah dioperasikan. yaitu kondisi sistem tata air yang dinyatakan dalam Skematisasi Sistem Tata Air. lengkap dengan bangunan-bangunan air dan sarana pembawanya. saluran. maka suatu model simulasi wilayah sungai harus dapat melakukan perhitungan simulasi dengan baik.2. dan kemungkinan alternatif pengembangan.1 Skematisasi Sistem Tata Air Untuk dapat mensimulasikan satuan wilayah sungai sebagai suatu sistem tata air. disamping memberikan kemudahan pemasukan data dan keluaran informasi secara efisien. terutama ketersediaan air. Skematisasi sistem tata air terdiri atas simpul-simpul yang menyatakan sumber air. kebutuhan air. pengoperasian sistem tata air. dan simpul kendali sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-2 . listrik tenaga air. dalam format yang mudah disajikan. Dalam simulasi wilayah sungai terdapat dua hal penting. dan lainnya) di masa mendatang? Bilamana dan dimana? 4) Berapa potensi listrik tenaga air? 5) Berapa debit andalan (reliable flow) dengan atau tanpa waduk? 6) Pengkajian upaya-upaya pembangunan infrastruktur pengairan dan upayaupaya pengelolaan air. Simpul-simpul tersebut terdiri atas tiga jenis.

Sub-WS di bagian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-3 . dengan batas potongan berupa infrastruktur di sungai atau batas alami berupa anak atau cabang sungai. Simpul Listrik Mikrohidro (run-of-river node). b) Simpul aktivitas yang merupakan simpul kebutuhan air. Batas dari sub-WS pada suatu DAS bagian hulu biasanya bertepatan dengan batas dari DAS Pada bagian tengah dan hilir dari WS kondisinya lebih kompleks dengan adanya bangunan-bangunan air seperti bendung. dan Simpul Drainase Sub-Wilayah Sungai (district drainage node). Simpul Pertemuan (confluence node). maka biasa dilakukan deliniasi Wilayah Sungai (WS) atas beberapa sub-WS.2. Simpul Akhir (terminal node). dapat berupa: waduk dan bendung. Simpul Semu (dummy node). waduk. yang selanjutnya digunakan untuk penggambaran daerah studi dalam bentuk Skematisasi. tergantung pada detil wilayah dari analisa kebutuhan dan pasokan dan lokasi pada bangunan utama pada sungai. c) Simpul kendali merupakan infrastruktur pengairan yang dapat digunakan untuk mengendalikan sistem tata air. Masing-masing sub-WS ini mempunyai karakteristik tertentu yang secara umum dapat digolongkan atas tiga bagian. Simpul Tambak (fishpond node). Sub-WS atau Water District merupakan suatu satuan luasan alami terkecil. tengah dan pantai. yaitu sub-WS di hulu. sistem saluran utama dll. dan Simpul Kehilangan Air (loss flow).(Persero) CABANG I MALANG a) Simpul biasa merupakan unsur dalam tata air yang tidak mengatur aliran air. Simpul-simpul ini dapat berupa Simpul Aliran (inflow node). dan dapat berupa: Simpul Air Bersih (public water supply node). Simpul Irigasi (irrigation node). Simpul Aliran Rendah (low flow node).2 Water District Untuk dapat menggambarkan skematisasi dengan baik. 5. Sub-WS ini mencirikan: unit hidrologi terkecil yang mencakupi kebutuhan air dan pasokan air mempunyai persamaan sifat dalam merespon hujan dan aliran unit yang saling melengkapi dalam pengaturan sumber daya air dan dapat dimungkinkan untuk membuat keseimbangan Ukuran dari pembagian sub-WS banyak pertimbangannya. Simpul Penyadapan Air untuk Sub-Wilayah Sungai (district extraction node). atau water district.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-4 . penampungan air dan pengendalian anak-anak sungai.(Persero) CABANG I MALANG hulu. Pemodelan pada kawasan yang menjadi simpul inflow ini menyangkut kalibrasi hubungan hujanlimpasan. Pada kawasan ini perlu diberikan perlindungan konservasi lahan. merupakan daerah tangkapan air.

1.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5. Berbagai tipe water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-5 .

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5.2. Daerah Tangkapan Air Bendung sebagai water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-6 .

Untuk dapat mengevaluasi hasil alternatif pengembangan. serta Upaya Hukum dan Kelembagaan. pembebasan lahan. operasi. dan produksi energi listrik. misalnya peningkatan operasi waduk. Skenario adalah parameter sistem yang tidak dapat diubah oleh proyek dan bersifat probabilistik. pengendalian muara pantai. kebutuhan air baku. perikanan. Upaya Operasional. Setelah dilakukan perkiraan biaya konstruksi. Model alokasi pembagian air yang telah umum digunakan pada beberapa Wilayah Sungai di Indonesia.3 Alternatif Pengembangan Sumber Daya Air Setiap alternatif pengembangan sumberdaya air pada umumnya terdiri atas gabungan beberapa upaya (proyek).(Persero) CABANG I MALANG Pada sub-WS di bagian tengah lebih kompleks. antara lain adalah model WRMM (Water Resources Management Model) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-7 . untuk kondisi tanpa upaya. dan analisis multi kriteria untuk menyajikan hasil kajian alternatif pengembangan kepada para pengambil keputusan. maka dapat dilakukan analisis ekonomi teknik. dan Upaya yang terarah pada Kebutuhan (demand oriented). dan intrusi air laut. dan sebagainya. maka paling tidak harus dilakukan dua buah simulasi yaitu: a) Simulasi Pertama. sebab merupakan daerah produksi dan pemanfaatan. b) Simulasi Kedua dan seterusnya.2. Sub-WS di daerah hilir merupakan daerah pemanfaatan dan juga pembuangan. Perbedaan hasil dari kedua buah simulasi tersebut merupakan dampak dari alternatif pengembangan yang dikaji. Kasus-kasus simulasi tersebut diatas disimulasikan menurut skenario yang digunakan. misalnya skenario laju pertumbuhan penduduk. produksi hasil pertanian. skenario tingkat sukubunga. dapat berupa daerah irigasi teknis. Perbedaan ini misalnya dapat berupa: debit air. pasokan air terhadap suatu kebutuhan air. dan pemeliharaan. dan perkotaan dengan permasalahan alokasi air. dan skenario kondisi hidrologi. yang dinamakan dengan Kasus Dasar (Base Case) dan terdiri atas Kasus Dasar Masa Kini (untuk kalibrasi sistem) dan Kasus Dasar Masa Mendatang (untuk perbandingan alternatifalternatif). dengan berbagai alternatif pengembangan. 5. dicirikan dengan adanya pertanian. Upaya-upaya tersebut dapat berupa Upaya Teknis / Infrastruktural seperti pembangunan waduk dan pengembangan irigasi. tambak. Selain itu upaya-upaya dapat pula dikelompokkan atas Upaya yang terarah pada Pasok (supply oriented).

3. Tahun Hidrologi dan Tahun Kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-8 .(Persero) CABANG I MALANG dari Kanada. Gambar 5. Simulasi Wilayah Sungai Gambar 5. model ad-hoc yang berdasarkan Lotus-123 atau Microsoft-Excel.4. dan DSSRibasim.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5.Ribasim merupakan salah satu model alokasi air yang dapat digunakan pada tahap perencanaan pengembangan sumberdaya air. Model yang konsep dasarnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-9 .5. maupun secara operasional untuk membantu pengambilan keputusan taktis (misalnya sebagai sarana negosiasi operasi beberapa waduk.3 DSS-RIBASIM UNTUK WILAYAH SUNGAI BARITO KAPUAS DSS. Simulasi Alternatif Pengembangan 5. Model ini dikembangkan oleh Delft Hydraulic dari Negeri Belanda sejak tahun 1985. atau pemberian ijin pengambilan air industri.

11A/PRT/M/2006. PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Tapin Martapura . . . .3. 5.(Persero) CABANG I MALANG diilhami oleh model MITSIM dari Amerika Serikat ini telah digunakan pada lebih dari 20 negara di dunia. 11A/PRT/M/2006 Tg. yaitu : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin. KETERANGAN : Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan B !ANJ ARMASIN . Murung Barito Kapuas PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH DAS : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin . . Negara . . Riam Kanan Riam Kiwa . . Ambawang PALANGKARAYA ! . PEMBAGIAN DAS DI WS BARITO KAPUAS BERDASARKAN PERMEN PU No.10 . 26 Juni 2006 telah membagi Wilayah Sungai menjadi 11 sub-DAS.1 Sistem Tata Air Berdasarkan PERMEN PU No. . . Kubu Landak . Tg. 26 Juni 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V .

Murui S. Mantangai Kec. Teweh Tengah Muara Lahai Bangkanal Kec. Murung Kec. 1 Sub DAS Barito Sungai-sungai S. Timpah Kec. 2004) dalam water district. Mantangin S. Kapuas Tengah Pujon Kec. Laung S. Mengkatip Kab Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . Gunung Butang Awal Kec. maka pada studi ini diperlukan pembagian sub-DAS yang lebih detail. Lahei S.11 . Berioi Sungai di timur Kota Muara Sungai Montalat Main stream Barito S.(Persero) CABANG I MALANG Agar kita dapat mengetahui dimana terjadi kekurangan air. Tanah Siang Kec. Teweh Tengah Kec. Mengkutup S. Sbr Barito Desa Muara Joloi I Tumbang Tulang Tanjung Belatung Main stream barito S. Dusun Tengah Kota Ampah Balawa Sei Hanyu Sei Hanyu Kec. dan bagaimana upayaupaya penanggulangannya. sesuai dengan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (Ditjen Sumber Daya Air. Mantangaik S. Danumbul S. Pematang Kanan Kec. Bebem S. Tuhup Main stream barito S. Murung Kec. Alar S. Kapuas S. Gunung Pirel Kec. Singkap S. Teweh besar S. Mantangai Kec. Ayuh Main stream Barito S. Lahei Kec. Laung Timur Kec. Dusun Utara Kota Buntok Kec. Murung Kabupaten Kab Murung Raya Kecamatan Kec. Gunung Timang Muara Bitung Kec. Permata Intan Kec. Timpah Kec. Montalat Kec. Teweh Timur Kec. Kuantan S. Karau Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kec. Mantangai Palingkau 2 Kapuas S. Timpah Kec. Lahung S. Mantangai Kec. sebagai berikut: No. Timpah Kec.

Balangan S. Tabalong Kanan S. Mangkook 7 Negara S. Juloi (selatan) 4 5 Martapura Riam Kanan S.(Persero) CABANG I MALANG No. Halong S. Kumap S. Riam Kanan S. Maluka S. Pitap S. Sub DAS 3 Murung Sungai-sungai Main stream kapuas S. Tabalong Kiwa S. Busang Kabupaten Kecamatan Mandomai Barimba Lupak Dalam Desa Kab Murung Raya S. Tapin S. Batangalai 8 9 10 11 Ambawang Kubu Landak Tapin Kab Murung Raya Kab Banjar Kab Banjar Kota Martapura Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Muara Juloi II Parahali Tumbang Julung Tumbang Kalasin Tumbang Maan Tumbang Tuhai Kab Banjar Kab Hulu Sungai Utara S. Alalak S. Tabalong S. Riam Kiwa S. Amandit Kab Hulu Sungai Selatan Rantau Kandangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . Kalaan 6 Riam Kiwa S.12 . Pulau Petak S. Martapura S. Kapuas Murung S.

6. Tata kelola Sumber Daya Air dengan paradigma baru (New Paradigm of Water Governance) dan Kesepakatan-kesepakatan global Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . yang mempunyai kepentingan dengan sumber daya air.1 Makna Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ‘KEBIJAKAN’ adalah ‘Arah’ atau ‘Tujuan’.1. yaitu “ Gambaran mengenai keadaan yang diinginkan pada masa 10-20 tahun yang akan datang” sedangkan untuk merealisasikan Visi tersebut. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air berikut Peraturan Pemerintahnya. yaitu “Uraian mengenai hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai keadaan sebagaimana tersebut pada Visi”.(Persero) CABANG I MALANG BAB 6 TINJAUAN KEBIJAKAN SUMBER DAYA AIR 6. untuk mewujudkan cita-cita nasional. makna dari Kebijakan Nasional Sumber Daya Air adalah merupakan ‘Arah’ dan ‘Tujuan’ yang akan diikuti oleh masyarakat pada tingkat nasional.1. Dengan demikian. yang berkaitan dengan sumber daya air.2 Makna Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Cita-cita mulia tersebut adalah ‘Visi’ dari kebijakan nasional sumber daya air. 6.3 Proses Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air dengan alur pikir dilakukan dengan mengikuti prinsip-prinsip yang ada pada: UU No. yang merupakan haluan yang akan diikuti oleh segenap pemilik kepentingan untuk mewujudkan cita-cita yang akan dicapai.1.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA NASIONAL 6.1 . diperlukan usaha-usaha atau “Misi”. yang akan dicapai.

2 . 6. dan kebijakankebijakan sejenis yang ada di Negara lain.1.1.4 Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air 6.1. Misi Untuk merealisasikan Visi tersebut di atas.4. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup Tertingkatkannya perlindungan masyarakat dari bencana daya rusak air Terpenuhinya kecukupan air bagi sebagian besar masyarakat dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat. terpadu. Visi dan Misi juga memperhatikan Latar Belakang penyusunan Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ini serta hasil kajian dari kebijakan-kebijakan sumber daya air yang ada. Adapun gambaran umum keadaan yang akan dicapai pada tahun 2025 adalah: i) Tercapainya pengelolaan sumber daya air berdasar pola pengelolaan wilayah ii) iii) sungai yang menyeluruh.1. v) Terlaksananya suatu prinsip pembiayaan jasa pengelolaan sumber daya air 6. iv) Terwujudnya keterlibatan peran masyarakat secara aktif dalam pengelolaan sumber daya air melalui Dewan Sumber Daya Air yang merupakan Forum Dialog dan Koordinasi antar Pemilik Kepentingan yang terlegitimasi. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . iii) Misi 3: Mengendalikan daya rusak air yang dapat memberikan insentif dan disinsentif dengan memanfaatkan berbagai sumber daya secara sinergi dan terintegrasi. diperlukan Misi sebagai berikut: i) ii) Misi 1: Misi 2: Mengkonversi sumber daya air secara berkelanjutan Mendayagunakan sumber daya air secara adil serta memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas untuk berbagai kebutuhan masyarakat.4.2. Visi Jangka Panjang (20 tahun atau sampai dengan Tahun 2025) Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.(Persero) CABANG I MALANG Selain mengikuti prinsip-prinsip dari ketiga hal tersebut. termasuk UU No.

5 Studi-Studi Kebijakan yang Pernah Ada Studi-studi mengenai kebijakan yang pernah ada antara lain: i) ii) iii) iv) v) vi) vii) Paket UU 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dan Peraturan turutannya – PP. keadaannya sangat cocok dengan perkembangan di Indonesia. PU (sekarang Ditjen SDA Dept. IBRD 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Khususnya jajaran Ditjen Pengairan Dep. 4. Rio De Jenairo. 6. FAO 1995 Capacity Building Project for Water Resources Sector. Pekerjaan Umum) dalam merespon cepatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan selama orde baru dan lebih lagi selama periode reformasi yaitu sejak terjadinya krisis ekonomi/ moneter 1998. 6.1. World Summit on Sustainable Development. 11 tahun 1974 yang dilengkapi dengan berbagai kebijakan/arahan sebagai hasil studi mulai dari butir 1. antara lain The Dublin Statement.3 . KEPMEN Kebijakan O & P Irigasi diterbitkan 1987 Workshop on Water for Sustainable Development 1992 Java Irrigation and Water Manajement Project (JIWMP) 1993 Formulasi Program Irigasi 1993 (JICA) dilanjutkan dengan studi Sustainable Irrigation Manajement bantuan PTPA. Earth Summit Agenda 21. 5. ADB tahun 1998 Nasional Water Resources Policy Study. 3. Dikaitkan dengan perkembangan yang terjadi di tingkat global berbagai kesepakatan telah dilakukan. Yohannesburg dan lain-lain.(Persero) CABANG I MALANG iv) v) Misi 4: Misi 5: Memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat dan Pemerintah dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Meningkatkan keterbukaan serta ketersediaan data dan informasi dalam pembangunan Sumber Daya Air. 2. Ancaman tersebut diakibatkan perubahan/pemerosotan DAS hulu dengan cepatnya eksploitasi hutan untuk mendukung pendapatan nasional disamping viii) Water Resources Sector Adjustment Loan (WATSAL). 7 sampai butir 8 di atas sebagai kulminasinya boleh dikatakan adalah suatu upaya besar yang sudah dilakukan pemerintah. ADB 2000 (Reformasi Kebijakan Pengelolaan SDA) Pengelolaan yang didasarkan pada UU. PERMEN. Sejak 1987 situasi daya dukung SDA di Indonesia mulai terancam.

Kebijakan SDA. 6. Kebijakan penataan ruang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan melalui (i) pemanfaatan sumber daya alam dan buatan secara optimal (ii) keseimbangan perkembangan antara kawasan melalui pemanfaatan ruang kawasan secara serasi. Kebijakan lingkungan ternyata jiwanya bersamaan dengan penataan ruang. 7 tentang SDA pada Februari 2004. Lingkungan dan Pangan yang semuanya terkait dengan ruang/ lahan. Sumber Daya Alam dan SDA yang cukup untuk dapat menyediakan pangan sejalan dengan kebutuhan oleh pertumbuhan penduduk dan kemakmuran masyarakat. b.1.1. Lingkungan dan Pangan Tiga aspek penting pembangunan yang erat kaitannya dengan SDA ialah Penataan Ruang. Proses pergeseran paradigma SDA mulai dirasakan sejak 1980 dimana fungsi pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana tanpa partisipasi masyarakat yang menerima manfaat akan berat sekali beban pemerintah.1. yaitu multi sektor dan terpadu hulu hilir dan antar wilayah. Berikut dapat kita bandingkan tiga kebijakan tersebut: a. Tuntutan lahan dan SDA ini berlawanan dengan keinginan lingkungan yang membatasi pembukaan lahan baru dan pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Kulminasi pergeseran/ pembaharuan kebijakan ini diawali dengan Kepmenko tentang Kebijakan Pengelolaan SDA tahun 2001 dan dikunci dengan diterbitkannya UU No. Kebijakan Tata Ruang. Lingkungan dan Pangan seyogianya diselaraskan secara timbal balik sedemikian akan dicapai rencana dan implementasi pembangunan beberapa sarana dan prasarana secara berkelanjutan.4 . (iii) pencegahan kerusakan fungsi lingkungan.6. selaras dan seimbang serta berkelanjutan dan.6 Tinjauan Pada Kebijakan-Kebijakan yang Ada 6. c. Penataan Ruang. dengan mensyaratkan rambu-rambu pembangunan antara lain: Kebijakan pangan disisi lain menuntut ketersediaan lahan. Perubahan atau pembaharuan kebijakan sejalan dengan pergeseran paradigma sudah benar jalur dan prosesnya dalam menuju pengelolaan SDA yang ideal harus menyeluruh dan terpadu.(Persero) CABANG I MALANG besarnya tekanan atas DAS oleh pertumbuhan penduduk dan ekonomi sosial masyarakat.

Menururt UU No. dan tiga tahunan secara rolling serta rencana jangka menengah dan jangka panjang. pada negara maju misalnya ada tiga fungsi pokok pemerintah yang amat menonjol yaitu: (i) memelihara keamanan yang baik agar rakyat bisa berkinerja optimal (ii) penyediaan infrastruktur kebutuhan hidup dan ekonomi yang tidak bisa disediakan dunia usaha dan masyarakat dan (iii) memelihara kesamaan hak dan tanggungjawab warga negara dengan penerapan hukum yang adil Dari mana sumber dana pemerintah untuk membiayai 3 fungsi tersebut? Tentu saja dari pajak perusahaan dan pajak perseorangan/ warga negara.6. 6. menuju good government. Sampai sekarang peranan dan hasil penataan ruang baik nasional. Undang-Undang ini mensyaratkan dana anggaran berdasarkan kinerja. 17/2003 tentang keuangan bersama UU lain sebagai satu paket akan diberlakukan mulai tahun anggaran 2006.(Persero) CABANG I MALANG waduk serta daerah irigasi yang mengubah bentang alam secara signifikan d.1. Kebijakan Keuangan Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. UU keuangan ini mewajibkan tiap kementrian membuat rencana rolling 3 tahunan yang berbeda dengan rencana 5 tahun selama ini (Pelita atau Propenas 1999-2004). Tentu saja semua hal ini akan mempengaruhi kebijakan pengelolaan SDA ke depan terutama aspek perencanaan perlu lebih akurat dan lengkap berupa rencana kerja tahunan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .5 . pulau dan propinsi/ kabupaten belum memberikan kinerja yang maksimal karena masih banyaknya pelanggaran tata ruang.2. Tiap negara mempunyai undang-undang yang mengatur kebijakan keuangan negara/ pemerintah yang berarti mengatur pemasukan dan pengeluaran uang dan semua kekayaan negara. Diharapkan penataan ruang dapat menyikapi secara optimal dan berkelanjutan kepentingan sektor pertanian pangan dan lingkungan dan sektor SDA. sebagai paket reformasi bidang keuangan.

pengembangan permukiman. pengembangan perkotaan.11-1974 tentang Pengairan. d. telah membuat beban pencemaran makin berat. penyediaan air bersih.1. Pelita I 1968 diawali dengan keadaan pangan beras import mencapai 4 juta ton yaitu lebih kurang 25% kebutuhan nasional. perkotaan dan industri yang belum jelas apakah sistem sewarage atau terus seperti sekarang semua pembuangan ke saluran umum dan sungai. Meneg Lingkungan.6 . perlu mendapat perhatian khusus. tetapi juga mulai ditangani Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Pada tahun 1974 awal Pelita II berhasil diterbitkan UU. Kebijakan Pelita I sampai dengan Pelita VI a.6. karena pola perumahan/ permukiman dan pembangunan lingkungan terbangun horisontal selama ini tampaknya telah membuat lingkungan SDA sangat kritis karena resapan air hujan dan retensi atau tempat parkir air menjadi sangat minim. Departemen ESDM dan sebagainya.3. bukan hanya irigasi.6. Tugas pokok dan fungsi: penataan ruang.4. Demikian juga kebijakan penanganan limbah rumah tangga. pengelolaan SDA yang diemban oleh Departeman Pekerjaan Umum seyogianya benar-benar dipadukan internal lebih dahulu. Departemen Pertanian. 6. Pada pelita III dan IV kebijakan mulai bergeser ke keterpaduan pengelolaan SDA. barulah melakukan keterpaduan eksternal dengan sektor-sektor lain di luar Departemen Pekerjaan Umum seperti Departemen Kehutanan. UU ini meletakkan kebijakan nasional pengelolaan SDA sebagai pengganti peraturan Per-UU jaman Kolonial. c. Pembangunan baru irigasi dan penanganan/pengaturan sungai untuk pengendalian banjir dan penyediaan air dengan waduk mulai dilakukan pada Pelita II ini. Besarnya import karena kemerosotan jaringan irigasi yang sangat parah sehingga produksi beras nasional jauh di bawah kebutuhan b.(Persero) CABANG I MALANG 6.1. Kebijakan Departemen Pekerjaan Umum Keterpaduan yang saling mengisi dan selaras antara kebijakan perkotaan dan permukiman dengan kebijakan trasportasi jalan dan pengelolaan SDA. Kebijakan pada Pelita I ditekankan pada rehabilitasi dan peningkatan daerah irigasi untuk dapat menekan import beras dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

3. Upaya konservasi sumber-sumber air dilakukan tidak hanya untuk melestarikan kuantitas air. Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi pada lima tahun ke depan difokuskan pada upaya: • Peningkatan fungsi jaringan irigasi yang sudah dibangun tetapi belum berfungsi dalam rangka konservasi sumber-sumber air diimbangi dengan upaya lain. e. Pendekatan vegetatif bersifat quick yielding.7 . 2. terutama terkait dengan isu sosial dan lingkungan. antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah. Pada Pelita III dan IV berbagai kebijakan diterbitkan sebagai implementasi UU. Pengembangan dan penerapan sistem conjunctive use antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah akan digalakkan. antara lain rekayasa keteknikan yang lebih Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Belanda.(Persero) CABANG I MALANG penyediaan Air Baku untuk rumah tangga. Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan dengan memperhatikan keserasian antara konservasi dan pendayagunaan.11 tahun 1974 kebijakan tersebut tertuang dalam berbagai Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri. Bank Asia. 6. Pendanaan/Anggaran untuk pembangunan sektor Pengairan sebagian besar diperoleh dari Bantuan Luar Negeri (BLN). 4. Pembangunan tampungan air berskala kecil akan lebih dikedepankan. antara pengelolaan demand dan supply. perkotaan dan industri (RKI) dan penanganan masalah banjir yang lebih besar karena kerusakan DAS. tetapi juga diarahkan untuk memelihara kualitas air. serta antara pemenuhan kepentingan jangka pendek dan kepentingan jangka panjang. antara lain Bank Dunia. sedangkan pembangunan tampungan air dalam skala besar perlu pertimbangan yang lebih hati-hati karena menghadapi masalah yang lebih kompleks. Dalam situasi sebagian besar pendanaan bersumber dari BLN maka kebijakan pengelolaan SDA dalam situasi tertentu dipengaruhi oleh aturan dan persyaratan dari pemberi bantuan tersebut di atas. antara hulu dan hilir.7 Arah Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air 1.1. 6. OECF (JBIC) dan Government to Government (G to G) seperti Canada. 5.

wilayah tertinggal. Pengembangan modal sosial dilakuakn dengan pendekatan budaya. 11. pulau-pulau kecil serta pusat kegiatan ekonomi. Penataan dan penguatan sistem pengolahan data dan informasi sumber daya air dilakukan secara terencana dan dikelola secara berkesinambungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air baku diprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan pokok rumahtangga terutama di wilayah rawan defisit air. terutama untuk menggali dan merevitalisasi kearifan lokal (local wisdom) yang secara tradisi banyak tersebar di masyarakat Indonesia untuk menjamin keberlanjutan fungsi infrastruktur. Dalam upaya memperkokoh civil society. 8. 9. dan wilayah strategis. Pengendalian daya rusak air • Pengendalian banjir mengutamakan pendekatan non-struktur melalui konservasi sumber daya air dan pengelolaan daerah aliran sungai dengan memperhatikan keterpaduan dengan tata ruang wilayah • Peningkatan partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan terus diupayakan tidak hanya pada saat kejadian banjir • Pengendalian banjir diutamakan pada wilayah berpenduduk padat dan wilayah strategis • Pengamanan pantai dari abrasi terutama dilakukan pada daerah perbatasan. 12.8 . keterlibatan masyarakat. Penataan kelembagaan melalui pengaturan kembali kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pemangku kepentingan. BUMN/D dan swasta terus didorong. 10.(Persero) CABANG I MALANG Dilakukan hanya pada areal yang ketersediaan airnya terjamin dan petani penggarapnya sudah siap • Rehabilitasi pada areal irigasi berfungsi yang mengalami kerusakan Diprioritaskan pada areal irigasi di daerah lumbung padi • Skema insentif kepada petani agar bersedia mempertahankan lahan sawahnya 7.

dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. Melaksanakan kepentingan dan sumber meningkatkan daya air koordinasi dalam antar para pemilik tingkat wadah koordinasi kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas. fungsi pemanfaatan. 3. dan fungsi koordinasi di WS BaritoKapuas dengan tetap menjaga sinergi antar fungsi. 4. Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas berdasarkan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dengan pada tahun 2008. restrukturisasi.2 INDIKASI PROGRAM KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS KAITANNYA DENGAN KEBIJAKAN NASIONAL Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas perlu disiapkan Indikasi Program Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas kaitannya Kebijakan Nasional sebagai berikut : 6.2. Menetapkan melaksanakan perhitungan biaya pengelolaan Sumber Daya Air dalam upaya konservasi. Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif. 5. efisien. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas. Melaksanakan rasionalisasi. berkeadilan.1 Umum 1. pendayagunaan sumber daya air. dan berkelanjutan.9 . fungsi pelaksanaan.(Persero) CABANG I MALANG 6. 6. pengoperasian dan pemeliharaan. 2. Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi paling besar pedoman bagi masyarakat dengan jasa memperhatikan kaidah lingkungan hidup. Menerapkan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 7.

embung. 6. menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. rawa. Pembentukan wadah koordinasi Sumber Daya Air Wilayah Sungai BaritoKapuas sesuai dengan kebutuhan. waduk dengan prioritas daerah pemukiman.2 Konservasi Sumber Daya Air 1. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce.10 . 4. recycle). Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai. reuse. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi situ / embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau. 7. rawa) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. situ.2. 6.(Persero) CABANG I MALANG 8. Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. waduk. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. 3. situ/ embung dan mata air dengan aturan : a. d. rawa. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b. Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang Sumber Daya Air kepada seluruh masyarakat di dalam WS Barito-Kapuas 9. embung. situ. c. danau. 5. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. 2. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau.

2.3 Pendayagunaan Sumber Daya Air. 9. embung. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 10. 6. reuse). Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan. 9. pemulihan. 3. selambat-lambatnya pada tahun 2026. Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. sumur resapan air hujan dan menyediakan lumbung air minimal 1 (satu) unit setiap kecamatan. Meningkatkan daya tampung air dengan membangun bendungan.11 . 7. Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa. Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada. 6. Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce. Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum. Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. 4. dengan target efektif 2010. waduk. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2010. 8. Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan. 1. secara biologi. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. 2. 5.(Persero) CABANG I MALANG 8.

serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir. Merasionalisasikan biaya pengelolaan Sumber Daya Air. 11. Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” . Menyiapkan.(Persero) CABANG I MALANG 10. pariwisata. 4. Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air. tata kota dan tata bangunan. 15. Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. 7. menerapkan dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . olah raga air dan transportasi air. 3. Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air. perikanan. Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai. 14. 8. 5. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir. sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau.2. Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air . Mendorong pengembangan Sumber Daya Air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir. 6. Menyusun dan melaksanakan program pengembangan Sumber Daya Air terpadu berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air. 1. 6.4 Pengendalian Daya Rusak Air. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar Wilayah Sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. 12.12 . Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan Sumber Daya Air. dan revitalisasi serta pengendaliannya. Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air secara konsisten. 16. 13. 2.

Melakukan perlindungan daerah permukiman.2. 6. Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta kegiatan pemulihan akibat bencana.5 Pemberdayaan Pemerintah. 3. 12. Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase. 13. 2. dan Peningkatan Peran Masyarakat. pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir. 15. Melakukan penyuluhan. pelatihan. 16. 1. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Sumber Daya Air kepada dunia usaha. Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayahnya. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan. 14. Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan Sumber Daya Air di setiap Wilayah Sungai secara berkelanjutan. 11. 10. Swasta dan dalam upaya penyelamatan jiwa manusia. 4.13 . perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan umum lainnya.(Persero) CABANG I MALANG 9. prasarana umum dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen. utamanya pada daerah pengembangan baru. Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . sistem pembiayaan dan yang memadai. Menyiapkan Peraturan Daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan Sumber Daya Air. BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif. Membangun jaringan informasi Sumber Daya Air dalam WS.6 Keterbukaan dan Ketersediaan Data serta Informasi Sumber Daya Air. 3. Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan Sumber Daya Air. kerjasama dan koordinasi antar lembaga pemerintah yang terkait dalam pengelolaan Sumber Daya Air. 10. Kebijakan Sumber Daya Air. Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan Sumber Daya Air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. 2.(Persero) CABANG I MALANG 5. 1. menyampaikan berkelanjutan. Mengembangkan sistem informasi Sumber Daya Air dalam WS. data informasi akurat. Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan Wilayah Sungai dalam pengelolaan Sumber Daya Air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dll. 4. hidrogeologi. 7. 6. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi Sumber Daya Air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. Meningkatkan kemampuan komunikasi. 6. dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA. 8. hidrometeorologi.14 . teknologi Sumber Daya Air.2. yang sehingga tepat mampu waktu. 11. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan Sumber Daya Air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. prasarana Sumber Daya Air. 9. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Sumber Daya Manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi.

3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 6.15 . Barito-Kapuas.1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Membangun jaringan basis data dalam WS. 6.(Persero) CABANG I MALANG 5. (2) Kebijakan nasional sumber daya air menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi. atau kabupaten/kota. provinsi dan kabupaten/kota. dan kabupaten/kota. Menerapkan standar untuk format. Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan informasi kepada masyarakat. 6. (4) Kebijakan sumber daya air dapat ditetapkan baik sebagai kebijakan tersendiri maupun terintegrasi ke dalam kebijakan pembangunan di tingkat nasional. Arahan strategis sebagaimana dimaksud meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional. Kebijakan Sumber Daya Air Kebijakan sumber daya air disusun dengan maksud untuk memberikan arahan strategis dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air. atau provinsi. Kebijakan sumber daya air meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional. dan kabupaten/kota. provinsi. kodifikasi. provinsi. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan Undang Undang no 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa (1) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 disusun di tingkat nasional.3. proses data dan metode/ prosedur pengumpulan data dan informasi. 7. klasifikasi. (3) Kebijakan sumber daya air provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota.

Perumusan Kebijakan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas ini akan ditentukan oleh: (1) Kebijakan nasional sumber daya air dirumuskan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dan ditetapkan oleh Presiden. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air. 6. (3) Kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air kabupaten/kota yang bernama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh bupati/walikota. Pola Pengelolaan SDA disusun dan ditetapkan berdasarkan : (1) Pola pengelolaan sumber daya air disusun dan ditetapkan sebagai kerangka dasar dalam tanah. prioritas kegiatan pengelolaan dan strategi dalam pencapaian tujuan pengelolaan. c. Prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah diselenggarakan dengan memperhatikan wewenang dan tanggung jawab masing-masing instansi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. disusun secara komprehensif dan selaras dengan kebijakan pembangunan di wilayah yang bersangkutan. (2) Kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air provinsi yang bernama dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh gubernur. b. (6) Kebijakan sumber daya air yang ditetapkan secara tersendiri. (2) Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat: a.2. pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai dan cekungan air dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .3.(Persero) CABANG I MALANG (5) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara terpadu yang mencakup kebijakan semua air. dasar-dasar yang dipergunakan dalam melakukan pengelolaan sumber daya air.16 . tujuan umum pengelolaan sumber daya air.

Untuk wilayah sungai Barito-Kapuas Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi disusun berdasarkan kebijakan nasional sumberdaya air. Rancangan pola pengelolaan sumber daya air yang diusulkan oleh instansi teknis merupakan hasil kerja bersama instansi terkait. Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) disusun berdasarkan kebijakan sumber daya air pada wilayah administratif yang bersangkutan. Rancangan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas yang merupakan lintas provinsi diusulkan oleh instansi teknis tingkat pusat kepada dewan nasional sumber daya air untuk dirumuskan dengan mengikutsertakan ketua dewan atau wadah koordinasi sumber daya air provinsi terkait dan selanjutnya ditetapkan oleh Menteri. konsepsi kebijakan operasional yang ditetapkan dalam pengelolaan sumber daya air. kepentingan dan kebijakan wilayah administrasi yang bersangkutan. Pola pengelolaan sumber daya air disusun dengan memperhatikan: a.17 . b. e. pengelolaan sumber daya air dilakukan secara berkelanjutan untuk menjamin pendayagunaannya pada masa mendatang dan berwawasan lingkungan hidup. rencana pengelolaan strategis. c. d. kebutuhan sumber daya air bagi semua pemanfaat di wilayah sungai yang bersangkutan.(Persero) CABANG I MALANG d. Pengelolaan sumber daya air dilakukan secara menyeluruh dalam satu kesatuan sistem hidrologis dengan memperhatikan sifat alami dan karakteristik masing-masing air. Instansi teknis tingkat pusat adalah instansi teknis yang membidangi sumber daya air di tingkat pusat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .

Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat.2.3.3. dan indutri dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat. permukiman. Visi Dan Misi Visi Pengelolaan Sumber Daya Air WS. 6.18 . 7. Berkurangnya dampak bencana banjir dan kekeringan. Barito-Kapuas Sasaran pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas antara lain adalah: 1. daerah perbatasan dan wilayah strategis. Misi Pengelolaan Sumber Daya Air WS.3.3. Meningkatnya kemampuan pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga.(Persero) CABANG I MALANG 6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 2. 3. Barito-Kapuas Terwujudnya pemanfaatan SDA Sungai Barito-Kapuas yang lestari.3. Terlindunginya daerah pantai dari abrasi air laut terutama pada pulaupulau kecil. Peningkatan keterbukaan dan ketersediaan data serta informasi dalam pembangunan SDA 6. Sasaran Pengelolaan Sumber Daya Air WS. Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas 6. Pendayagunaan Sumber Daya Air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat yang memenuhi kualitas dan kuantitas 3. Pengendalian Daya Rusak Air (termasuk kekeringan) 4. berwawasan lingkungan dan berkesinambungan secara kualitas dan kuantitas dan mampu menunjang pertumbuhan berbagai sektor untuk kesejahteraan masyarakat di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. swasta dan pemerintah 5.3. Konservasi SDA yang berkelanjutan. pertanian. 4. 5. Terkendalinya pencemaran air. Tercapainya pola pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan 2. Terkendalinya potensi konflik air.1. Barito-Kapuas Misi pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas yaitu: 1. Terkendalinya pemanfaatan air tanah.

19 . 13.11A Tahun 2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai. 10.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air & Pengendalian Pencemaran Air. 12. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang No.20 Tahun 2006 tentang Irigasi. 8. 5. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Pulihnya kondisi sumber-sumber air dan prasarana sumber daya air. Meningkatnya kualitas koodinasi dan kerjasama antar instansi 10. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. 2. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Undang-Undang No. Pengendalian banjir terutama pada daerah perkotaan. 6. 6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 3. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. akurat dan mudah diakses. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 7. Undang-Undang No. 4. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. 9. Undang-Undang No. Peraturan Menteri No. Tersedianya data dan sistem informasi yang aktual. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup.4 LANDASAN HUKUM Beberapa Undang-Undang. Terciptanya pola pembiayaan yang berkelanjutan 11.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang Dasar 1945. Peraturan Pemerintah No. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat 9. 12. Keputusan Menteri dan Peraturan Pemerintah serta Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan penyusunan Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1. 14. Instruksi Presiden. Ketersediaan air baku bagi masyarakat. 11. Undang-Undang No.(Persero) CABANG I MALANG 8. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No.

7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha seluas-luasnya. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan. operasi dan pemeliharaan. serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air. serta badan usaha milik daerah dan swasta. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah. masyarakat tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air. badan usaha milik negara. dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai.1 . baik koperasi. permasalahan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Penyusunan pola pengelolaan perlu melibatkan seluas-luasnya peran masyarakat dan dunia usaha. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi.Kapuas. Sejalan dengan prinsip demokratis. Departemen Pekerjaan Umum. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah dengan pelaksana Konsultan PT. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. badan usaha milik daerah maupun badan usaha swasta. permasalahan.1 UMUM Menurut pasal 11 ayat (3) Undang-Undang No. tetapi berperan pula dalam proses perencanaan. Untuk maksud ini sebagai bagian dari kegiatan Penyusunan Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito . pelaksanaan konstruksi. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap. badan usaha milik negara. pemantauan.(Persero) CABANG I MALANG BAB 7 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) 7. dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan. Indra Karya (persero) Cabang I Malang telah mengadakan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I). Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

2. Tujuan PKM I Tujuan penyelenggaraan pertemuan konsultasi ini adalah untuk : 1) Menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah.kendala. 5) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .2 .2.1.2. PLN) 7. Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT. kendala. aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. keinginan. aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. keinginan.2 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) I 7.(Persero) CABANG I MALANG 7. Adapun peserta yang diundang untuk pengumpulan aspirasi dan masalah tersebut adalah : Departemen Pekerjaan Umum. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta Yang Terlibat Kegiatan PKM I yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan. 3) Mengidentifikasi permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan pengembangan SDA yang berbeda untuk masing-masing Sub WS. 4) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau . 2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air. dimaksudkan untuk menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Kalimantan Selatan. 7. Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang.4.5.2. 7. Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan di Palangkaraya.2.(Persero) CABANG I MALANG pengelolaan SDA WS Barito . 7. 6) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk memformulasikan kebutuhan akan pengembangan SDA dan strategi dalam rangka menyusun Pola Pengelolaan SDA.3 .2.3. tanggal 23 Oktober 2008. sebagai pelaksana pekerjaan ini.Kapuas. Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT. Pukul 09. Dokumentasi : Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan pada hari Rabu.00 WITA sampai Selesai.

2.15 – 09. 23 Agustus 2008 Peserta PKM I Peserta PKM I Pembawa Acara Pembawa Acara Peserta PKM I Peserta PKM I Bappeda Prop.(Persero) CABANG I MALANG 7. Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM I) dalam rangka PENYUSUNAN RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI Waktu Acara 08.KAPUAS.4 .00 – 09.00 Penutup dan Makan Siang BITO .00 – 13.30 Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air.15 Pembukaan oleh Ka Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan 09. TA 2008 Peserta Moderator Peserta PKM I Panitia Peserta PKM I Pembawa Acara Hari/Tanggal Rabu.00 Pengisian Daftar Hadir 09.00 Diskusi dan Pembahasan Kuisener 12. Jakarta 09. Indra Karya (Persero) 10. Kalsel Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .00 – 12.00 Paparan PKM I oleh Konsultan PT.6.30 – 10.30 – 09.

sungai kecil 50 m 1. legalitas kesepakatan antar kepentingan Terutama daerah hulu sungai Barito 5. diperlukan perencanaan terpadu. sosialisasi UU No. pembangunan waduk. penegakan hukum. Pengendalian Daya Rusak Air. Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air Pemanfaatan ladang di pegunungan Reboisasi. pemberdayaan masyarakat. embung. Hutan Milik Dinas Kehutanan Penataan batas kawasan hutan. Pengisian air pada sumber air Pembuatan embung. BIDANG /LINGKUP 1 PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI 3 ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Komponen 1. Pendayagunaan SDA. Analisis Persandingan Dari PKM 1 yang telah dilaksanakan. penanganan secara terpadu oleh instansi terkait. terasering Seluruh WS Barito 4. sosial dan ekologi yang maksimal bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan Kawasan resapan air meliputi sebaran air tanah yang terdiri atas endapan aluvial sungai dan tanah. koordinasi lintas sektoral. Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan serta Sistem Informasi Sumber Daya Air. pelestarian sumber air. diperoleh beberapa Isu pokok meliputi beberapa komponen.7. Penebangan Hutan Penghutanan kembali. KONSERVASI DAERAH TANGKAPAN AIR Kawasan hutan lindung dikelola berdasarkan ketentuan atau tata cara pemanfaatan hutan lindung yaitu pemanfaatan semaksimal mungkin untuk kepentingan masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan pada kawasan budidaya di bawahnya. Kawasan sempadan sungai besar 100 m di kiri kanan diukur dari tepi sungai. penyuluhan. Secara keseluruhan kawasan resapan air tersebar di semua wilayah kabupaten/kota di Kalteng Pemanfaatannya secara umum dikuasai oleh negara khususnya pemerintah daerah tetapi pengembangannya harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat setempat Tata guna air ditujukan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan air bersih dan irigasi bagi penduduk dan aktifitasnya melalui pengelolaan lahan terpadu di DAS dan kawasan pesisir sebagai suatu ekosistem Kawasan sentra perkebunan khususnya pengembangan komoditi unggulan diarahkan ke wilayah pegunungan. Pemberdayaan masyarakat. pengembangan hutan kemasyarakatan dan resetlement penduduk di luar kawasan hutan lindung Perlu adanya Perda tentang sempadan sungai Perlu sosialisasi peran serta masyarakat.2. Hulu WS Barito 7 Pengaturan daerah sempadan air Konservasi oleh Masyarakat (swadaya) Seluruh WS Barito Hulu WS Barito 8 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-5 . penghijauan.(Persero) CABANG I MALANG 7. pelatihan. penambahan polisi hutan Terutama daerah hulu sungai Barito 2. Pengelolaan hutan produksi dilakukan dengan pemanfaatan dan pelestarian hasil (kayu dan non kayu) sehingga diperoleh manfaat ekonomi. 41 Terutama daerah hulu sungai Barito 3. Pemanfaatan Potensi Hutan (Kayu) Hutan desa. penyuluhan Hulu dan hilir DAS Barito 6. agro forestry. yang meliputi Konservasi Daerah Tangkapan Air.

Komponen 2. peningkatan pelayanan air bersih dengan penambahan kapasitas produksi air. suaka marga satwa dan taman wisata. Semi Teknis. penyuluhan LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam meliputi cagar alam. Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi Peningkatan/pemeliharaan sarana/prasarana irigasi Dalam WS Barito 6. Penambahan jaringan. Kebutuhan air irigasi 5. penyediaaan air baku Kota dan Kabupaten Arahan pengembangan air bersih adalah pengembangan sistem pelayanan air baku dan air bersih secara terpadu. Permasalahan Irigasi Teknis. kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam Kualitas Air Kondisi Air di Mata Air. taman nasional. pengamanan khusus sumber-sumber air Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air hulu sungai Barito Dalam WS Barito Meminimalkan pencemaran air baik di darat maupun di laut termasuk dampak negatif dari penambangan bahan galian golongan C di sungai 3 Kondisi Air Distribusi dari PDAM (Kebutuhan Domestik) Pembangunan IPA. 9 1 Pelestarian hutan lindung. 2. embung dll. 3.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Pelestarian hutan lindung. Kebutuhan air minum binatang ternak Ketersediaan air untuk listrik Pembagunan embung dan chekdam Pengamanan hutan pada daerah hulu Di daerah peternakan Hulu WS BaritoKapuas 9 Memantapkan Kerangka Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-6 . Konservasi SDA dan pembangunan waduk. Sungai atau sumber air lainnya Kerusakan Sumber Mata Air 3 Hulu WS Barito 1. 4. Kondisi Air Baku Perdesaan / Perkotaan Kondisi lokasi pengambilan air baku Kebutuhan air industri Diharapkan dibangun wadukwaduk penampungan air Dalam WS S Barito Pengembangan irigasi sawah diprioritaskan pada kegiatan rehabilitasi dan pengembangan irigasi kecil Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah Pembangunan sarana dan prasarana air baku untuk air bersih Kota dan Kabupaten Dalam WS Barito 2. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1. peningkatan pelayanan air bersih melalui kerjasama antar daerah dan kerjasama dengan swasta. Tradisional/Desa Pemberdyaan P3A 7 Perikanan darat dan tambak Pembangunan jaringan irigasi tambak 8.

Balai DAS / BP-DAS 3 2.Sedimentasi Dalam WS Barito Kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan sempadan sungai diijinkan sepanjang tidak mempengaruhi fungsi lindungnya terhadap ekosistem sungai tersebut. perbaikan hilir sungai. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 7 WS Barito 8 Pembuangan Sampah oleh Masyarakat Program kali bersih Sungai Barito Komponen 4. 3. 7 tahun 2004 WS Barito 4 Bangunan Pengendali Banjir yang ada Peringatan Dini tentang Bahaya Banjir Upaya untuk Menanggulangi Kerugian Banjir Desa-desa Rawan Tergenang Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pengadaaan alat peringatan dini bila terjadi banjir Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pemetaan dan pembuatan saluran pembuangan WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. peta rawan daerah banjir. Perambahan Bantaran Sungai Sosialisasi UU No. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 1. 5 Komponen 3. Upaya pemberdayaan oleh Pemda Belum terbentuknya Dewan Sumber Daya Air Provinsi dan Sosialisasi petunjuk pelaksanaan UU dan Perda dan pengucuran dana Perlu dibentuk Dewan SDA WS Barito 2. PEMBERDAYAAN STAKEHOLDERS DAN KELEMBAGAAN 1. Erosi . Banjir hilir Barito 2. WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-7 . pembangunan bendungan pengendali banjir Konservasi hulu sungai. antara lain budidaya pertanian tanaman tahunan. rehabilitasi hutan kritis Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. P3A Pengelola air di tingkat desa Pemantauan Survai dan Fasilitator Pengairan lainnya Sistem Pelaporan Kondisi Sungai dan Bangunan yang ada Kab dalam WS Barito-Kapuas Seluruh desa 3. 4. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Konservasi hulu sungai. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 5 WS Barito 6 WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. perbaikan hilir sungai.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Perlu dibentuk Balai DAS dan pembuatan Perda Pemberdayaan P3A Dibentuk pengelola air ditingkat desa Perlu adanya program pemantauan survai dan ditunjuk fasilitator pengairan Disediakan biaya pelaporan dan petugas yang memadai LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 1.

dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. 2. di kabupaten 4 di kabupaten 5 di kabupaten 6 di kabupaten 7 di kabupaten 8 di kabupaten Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan 1.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 Kabupaten 3 3. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan IP3A/GP3A/P3A dan organisasi pemanfaat air lainnya. dibuat database di kabupaten 2. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Dalam rangka peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan SDA. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR 1. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk Dewan SDA dan Komisi Irigasi Kabupaten/ Kota Wilayah Sungai Barito-Kapuas. di kabupaten 3. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Informasi mengenai kondisi hidrologi Informasi mengenai kondisi hidrometeorologi Informasi mengenai kondisi hidrogelogi Informasi mengenai kondisi kebijakan sumber daya air Informasi mengenai kondisi prasarana sumber daya air Informasi mengenai kondisi teknologi sumber daya air Informasi mengenai kondisi lingkungan pada sumber daya air Informasi mengenai kondisi kegiatan sosial ekonomi budaya terkait dengan SDA Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Dengan maksud meningkatkan koordinasi antar instansi terkait. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Belum terbentuknya Balai PSDA Kurangnya peran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan SDA Konflik masyarakat antar kelompok/daerah Pembentukan balai PSDA WS BaritoKapuas Provinsi 4 Sosialisasi 5 di kabupaten Komponen 5. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-8 .

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan mengusulkan agar pihak pengelola SDA melakukan inventarisasi. Dengan maksud untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan memiliki dalam pengelolaan SDA. Adapun peserta yang diundang dalam rangka sosialisasi rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA adalah : Departemen Pekerjaan Umum. 2. sebagian masyarakat mengusulkan agar pemanfaat air dilibatkan dalam mengambil keputusan. sebagian masyarakat mengusulkan agar diterbitkan Perda dan keputusan Bupati/ Walikota dalam pengelolaan SDA serta penerapan sanksinya.3 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) II 7. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar menyiapkan Sistem Informasi Manajemen (melalui: radio. Dalam rangka pengelolaan SDA secara efektif. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta yang Terlibat Kegiatan PKM II yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan. sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan unit yang menangani SIM dan kontrol kualitas. dimaksudkan untuk memberikan sosialisasi terhadap rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. Komponen Sistem Informasi SDA 1. audio visual. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar pengelola SDA melakukan penyuluhan semua aspek pengelolaan SDA. Dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat tentang SDA. internet) 3. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan. pengumpulan data dan menyediakan informasi SDA kepada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-9 . media massa.(Persero) CABANG I MALANG 3. 4. 7.1. Sehubungan dengan peningkatan kinerja pengelolaan SDA.3. sebagian besar masyarakat masyarakat. 5. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Dalam rangka penyebarluasan informasi pengelolaan SDA. Dengan maksud untuk memudahkan mendapatkan data. Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah.

Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang.3.3. 2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air. 3) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau . tanggal 10 Desember 2008. 7. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-10 . Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan di Jakarta. sebagai pelaksana pekerjaan ini. 5) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk dilaksanakan sesuai dengan rancangan pengembangan SDA dan strategi dalam SDA. Pukul 09. PLN) 7.4.00 WIB sampai Selesai. Tujuan PKM II Tujuan penyelenggaraan pertemuan Sosialisasi ini adalah untuk : 1) Memberikan sosialisasi terhadap rancangan pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air.3.(Persero) CABANG I MALANG Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT.Kapuas.3.3.5. 7. Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan pada hari Rabu. 4) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan SDA WS Barito . Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT.2. 7.

30 – 10.(Persero) CABANG I MALANG 7. Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM II) dalam rangka SOSIALISASI RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BITO .00 – 12. Kalimantan Tengah Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .11 .00 09.30 09. Indra Karya (Persero) Diskusi dan Penyampaian saran serta masukan Penutup dan Makan Siang Peserta Peserta PKM II Peserta PKM II Moderator Panitia Pembawa Acara 09.30 – 09.3.00 – 13.00 – 09.15 Acara Pengisian Daftar Hadir Pembukaan oleh Ka Satker Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Propinsi Kalimantan Tengah Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air. TA 2008 Hari/Tanggal Rabu. 10 Desember 2008 Waktu 08.00 Peserta PKM II Peserta PKM II Bappeda Prop.6.15 – 09. Jakarta Paparan PKM II oleh Konsultan PT.00 Peserta PKM II Peserta PKM II Pembawa Acara Pembawa Acara 10.00 12.KAPUAS.

Kabupaten Barito Kuala Reboisasi .Kabupaten Barito Kuala Memberikan contoh cara bercocok tanam pada lahan miring berdasarkan kaidah konservasi Pembuatan tras bangku (demplot) : .Kabupaten Barito Utara .Kab. Komponen Konservasi Daerah Tangkapan Air NO I 1 Usulan Program Konservasi Daerah Tangkapan Air Rehabilitasi hutan dan lahan kritis .Sub DAS Martapura . penambahan polisi hutan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Pengendalian Daya Rusak Air.Barito Timur .Barito Selatan .daerah hulu Sungai Barito Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Tetapi Arbaretum bukan upaya untuk aspek Konservasi tetapi lebih cocok untuk aspek Pendayagunaan SDA Hutan desa diperlukan koordinasi lintas sektoral. penegakan hukum.Sub DAS Barito Hilir . Murung Raya .Kab.Barito Selatan .Sub DAS Negara Pembangunan (Arbaretum/ pelestarian sumber air) di kawasan sungai danmata air: . agro forestry.7.Mata air Perencanaan terpadu pemanfaatan potensi hutan (kayu) .(Persero) CABANG I MALANG 7.1.Sungai Barito . Pendayagunaan SDA. 41 4 √ 5 √ Penghutanan kembali.Kabupaten Kapuas .3.Sub DAS Barito Tengah . Hasil Sosialisasi PKM II Hasil PKM tahap II yang telah dilaksanakan di Jakarta diperoleh beberapa masukan meliputi aspek Konservasi.Kab.Kab. Murung Raya . penyuluhan.3.Kabupaten Kapuas .Sungai Kapuas .Kab. Kelembagaan dan Sistem Informasi Managemen sebagai berikut : 7.Kabupaten Barito Utara .Kab.7.Barito Timur . sosialisasi UU No.12 .

Kab.Barito Selatan .Kab.3.Kab.13 . Penyediaan air ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.Barito Timur .Kab.Kabupaten Barito Utara .Kabupaten Kapuas . dengan target tingkat pelayanan 80 % & seluruh kota kecamatan dapat terlayani kebutuhan air bersihnya hingga tahun 2025 Membangun prasarana air baku baru untuk tingkat kecamatan yang belum ada prasarananya.Kabupaten Kapuas . industri maupun PDAM Peningkatan/pemelihar aan sarana/prasarana irigasi √ Peningkatan fungsifungsi fasilitas irigasi yang sudah ada.Barito Selatan .Kab.Barito Timur . Komponen Pendayagunaan Sumber Daya Air N O II 1 Usulan Program Pendayagunaan SDA Penyediaan Air Baku .Barito Selatan . Murung Raya .7.Sungai Barito .Kabupaten Barito Kuala Pembangunan irigasi baru . Murung Raya .Barito Selatan .2.Kabupaten Barito Utara .Kab.Kabupaten Kapuas .Kabupaten Barito Kuala Optimalisasi sistem irigasi pada DI Teknis /semi teknis : .Barito Timur .(Persero) CABANG I MALANG 7.Kabupaten Barito Utara . Murung Raya .Kabupaten Barito Kuala √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Kab. √ Banyaknya lahan pertanian yang belum termanfaatkan karena kurangnya fasilitas irigasi. Target pelayanan RKI untuk seluruh kabupaten di WS Barito Kapuas: .Barito Timur . Murung Raya .Kabupaten Barito Kuala Meningkatkan pelayanan untuk RKI.Kab.Sumber Air Lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 3 4 5 Rehabilitasi/peningkatan jaringan irigasi sederhana .Kab.Kab.Kab.Sungai Kapuas .Kabupaten Kapuas .Kabupaten Barito Utara .Kab. √ Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah.

(Persero) CABANG I MALANG N O 6 Usulan Program Ketersediaan air untuk listrik . Pembentukan lembaga pengelola air dimaksudkan agar terjadi koordinasi antar instansi dan antar pengguna SDA sehingga bisa dihindari penggunaan SDA yang kurang bertanggungjawab.Balai DAS/BP-DAS .Sungai Barito .Pengelola air di tingkat desa .14 .Sungai Kapuas .Sungai Kapuas . Perlu dibangun waduk sebagai tampungan untuk sistem PLTA Perlunya dibangun embung atau chekdam untuk tempat minum binatang ternak Pembangunan jaringan irigasi untuk tambak dan perikanan darat.Sumber Air Lainnya Pemanfaatan air untuk Perikanan darat dan Tambak . Dimaksudkan untuk memantau kondisi terakhir dari sumbersumber air yang ada. Sehingga akan didapat data kualitas air sungai-sungai di WS Citanduy secara lengkap 7 8 Pemanfaatan air untuk binatang ternak .Waduk Muara Juloi Tanggapan Setuju √ Tidak Keterangan Ketersediaan air yang melimpah belum termanfaatkan secara optimal.Fasilitator pengelola air lainnya √ 11 Sistem pelaporan kondisi sumber air .Sungai Barito .Sumber Air Lainnya Pembangunan sumur-sumur air tanah : √ √ 9 √ 10 Kelembagaan sumber daya air .Sumber Air Lainnya Meningkatkan kontrol terhadap kualitas air dengan memasang titik kontrol BOD dan BO di sugai-sungai √ 12 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Sungai Kapuas .Sungai Barito .P3A . Penyediaan karamba untuk budidaya ikan di sungai Untuk mencukupi kebutuhan air bersih rumah tangga dan pertanian tanaman kering.

Kab. pompa air cerucuk Perahu karet.Kab.Sungai Barito .Kabupaten Kapuas .Sungai Barito . Komponen Pengendalian Daya Rusak Air N O III A 1 Usulan Program Pengendalian Daya Rusak Air WS BaritoKapuas Pencegahan Daya Rusak Air Konservasi hulu sungai. perlu diterapkan Flood Proofing) Meningkatkan managemen banjir melalui partisipasi masyarakat & sosialisasi . perbaikan hilir sungai.Barito Timur . 5 √ 6 √ B 1 2 3 √ √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .3. Flood Proofing.Kabupaten Barito Kuala Pengendalian penambangan galian C 1) Penyusunan perda tentang perizinan dan tata cara penambangan Penanggulangan Daya Rusak air Perbaikan/perkuatan tebing kritis yang belum ditangani dan memelihara serta memonitor yang sudah ditangani Penanggulangan darurat bencana 1) Penyediaan bronjong. karung pasir.Sungai Kapuas Menjadikan DAS bagian hulu sebagai waduk alam dengan pengelolaan DAS yg baik sesuai dengan kaidah konservasi Flood Zoning. perbaikan hilir sungai.Barito Selatan .Kabupaten Barito Utara . pembangunan bendungan pengendali banjir . kemah. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana Konservasi hulu sungai.15 . dll Flood warning √ Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. peta rawan daerah banjir. rehabilitasi hutan kritis 3 √ 4 √ Penetapan daerahdaerah resapan air. (jika upaya lainnya sulit dan mahal.Sungai Kapuas Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 Pencegahan Erosi dan Sedimentasi .Kab.7.3. Murung Raya .(Persero) CABANG I MALANG 7.

Murung Raya .7.Kab.3.Kabupaten Barito Utara .4.5.Kabupaten Kapuas .3.Barito Selatan .data pengamat muka air .Kab.Kabupaten Barito Kuala Penyuluhan kepada petani memberi peran pada P3A untuk ikut mengendalikan & pengawasan pemakaian air 1) Penyuluhan pada P3A 2) Mengeffektifkan semua P3A yang ada Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ 7.Kabupaten Kapuas . Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan N O IV 1 Usulan Program Pemberdayaan Masyarakat (Sosial dan Budaya) Pemberdayaan/penguatan petani pemakai air (P3A) dan peningkatan Partisipasi masyarakat pemakai air Penyuluhan kepada masyarakat tentang kepedulian terhadap penanganan banjir .Kabupaten Barito Kuala Pengelolaan data hidrologi . Komponen Sistem Informasi Sumber Daya Air N O V 1 Usulan Program Sistem Informasi Sumber Daya Air Membangun sistem pengelolaan data dan informasi (6 Kabupaten / Kota) .Kabupaten Barito Utara .Kab.Barito Timur .data klimatologi O & P bangunan hidrologi termasuk pengadaan kertas alat dan perlengkapan lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .16 .Barito Timur .(Persero) CABANG I MALANG 7.7.Barito Selatan .Kab.Kab.Kab. Murung Raya .data hujan .

agar bisa menganalisis secara spasial dari wilayah S.Stasiun hujan .Stasiun klimatologi Publikasi data hidrologi ditingkatkan : Setiap bulan sekali data-data hidrologi di publikasikan melalui internet Tanggapan Setuju Tidak Keterangan 4 √ 5 Pengukuran debit dan pengambilan sampel air ditingkatkan (setiap seminggu sekali diadakan pengukuran debit dan pengambilan sampel air) √ Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena tidak bisa tiap bulan datadata hidrologi bisa tiap bulan dipublikasikan Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena melihat dari faktor biaya dan petugas yang ada minimum 6 SIM agar dilengkapi dengan sistem informasi Geografis SDA.(Persero) CABANG I MALANG N O Usulan Program .17 .Stasiun pengamat muka air . Barito-Kapuas beserta konservasi dan pendayagunaan airnya √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .

Hal ini diperparah adanya Kebijakan RTRW per Kabupaten yang belum mempertimbangkan Tata Ruang Wilayah Sungai.2.2 ISU POKOK NASIONAL PERMASALAHAN SDA 8.1. Rancangan pola ini disusun berdasarkan hasil kajian permasalahan dan isu yang ada di Wilayah Sungai Barito-Kapuas baik permasalahan umum maupun khusus serta hasil masukan dalam PKM 1. Permasalahan SDA dari Sisi Pasokan/ Ketersedian Air 8.1 UMUM Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS. Salah satu penyebabnya adalah belum adanya sistem pengaturan kompensasi atas kehilangan kesempatan pemanfaatan ruang di bagian hulu untuk penggunaan yang lebih produktif dan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih besar daripada untuk daerah resapan air. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Semakin meluasnya degradasi DAS dan semakin tingginya sedimentasi akibat pembabatan hutan dan praktek pertanian dan perkebunan yang tidak mengikuti aspek konservasi lahan yang didorong oleh tekanan kependudukan dan meningkatnya kegiatan ekonomi dan tata guna tanah serta tata ruang yang tidak kondusif.2. diantara masalah-masalah sbb: Kebijakan pemerintah tentang penetapan kawasan konservasi / resapan di bagian hulu dan kawasan budidaya di bagian hilir suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) banyak yang tidak berjalan efektif.1.1 .1. 8. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Barito-Kapuas perlu disiapkan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Kebijakan Nasional maupun kebijakan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan dan masukan dari stakeholder melalui PKM. Ketidak konsistenan Tata Ruang.(Persero) CABANG I MALANG BAB 8 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 8.

(penerapan Flood zoning regulation) Penggunaan kawasan lindung untuk kegiatan ekonomi-sosial maupun pertanian dan perkebunan.2 . Akibatnya banyak bantaran sungai dijadikan permukiman sehingga mempersempit palung sungai yang pada gilirannya dapat mengakibatkan terjadinya banjir/ genangan dan daerah kumuh.2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . ketersediaan air untuk irigasi sangat mencukupi.1. 8.3. akibatnya semakin menurunkan luas areal retensi air untuk banjir dan juga menurunkan resepan untuk “recharge” air tanah. semi teknis dan sederhana di beberapa lokasi terpencar juga mengalami penurunan fungsi pelayanan.1. 8.(Persero) CABANG I MALANG Kurangnya perhatian dan keberpihakan pihak perencana tata ruang untuk mengalokasikan ruang bagi permukiman yang aman dan sehat penduduk golongan miskin. Selain itu sebagian sarana dan prasarana irigasi yang ada telah mengalami penurunan kinerja karena kerusakan/penurunan fungsi bangunan irigasi. Adanya kawasan hutan lindung yang dikonversi menjadi daerah permukiman dan pertanian/perkebunan. Tercemarnya sumber-sumber air seperti sungai dan danau oleh limbah penduduk maupun pertanian. Terbatasnya Prasarana Penyedia / Pengendali Pasokan Air Dilihat dari potensi pasokan air dari kedua sungai. Terbatasnya jumlah bangunan penyedia air telah menyebabkan kurang berkembangnya pertanian/persawahan di WS Barito-Kapuas. Kerusakan Sumber Air Masalah kerusakan sumber air di wilayah sungai Barito-Kapuas akhir akhir ini adalah mencakup : Menyempitnya sungai sungai dan saluran drainasi baik dalam DAS Barito maupun DAS Kapuas akibat tingginya kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran air sungai maupun drainasi sebagai akibat rusaknya DAS maupun akibat sampah yang dibuang penduduk disekitar sungai maupun drainasi yang pada akhirnya akan menurunkan kemampuan kapasitas sungai/drainasi sehingga menyebabkan banjir.2. dilaksanakan secara sengaja maupun tidak sengaja dan dengan skala kecil maupun besar. Daerah Irigasi lainnya yang dikelola oleh Dinas Pengelolaan SDA yang terdiri dari jaringan irigasi teknis.2.

2.2% pertahun akan menimbulkan bertambahnya kebutuhan pangan dan bahkan tekanan yang sangat besar di atas tanah (lahan). Dampak Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk sebesar rata-rata 1.1.2.4.2. Perilaku Boros Air. Rendahnya (tidak memadainya) alokasi dana untuk O&P prasarana SDA Dengan adanya pembagian wewenang dalam pengelolaan jaringan irigasi yang diindikasikan dari luasan jaringan irigasi.1. Kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi adalah ancaman bagi swasembada pangan 8. Penanganan untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat antara lain melalui : • • Informasi publik tentang air belum tertata/ berkembang Pendidikan publik tentang air belum tertata/ berkembang VIII . perkotaan dan industri ) daerah perkotaan s/d tahun 2025 akan diperlukan penambahan air baku yang cukup signifikan dari yang ada sekarang ini. 8.(Persero) CABANG I MALANG 8.2. 8.2. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih (domestik. Masalah Sumber Daya Air dari Sisi Permintaan (Penggunaan) 8.2. demikian juga pembuangan sampah padat dan limbah cair ke air dan sumber air tidak saja menyebabkan penyempitan sungai tetapi juga menebarkan bau tidak sedap disepanjang sungai/kanal. Ketahanan Pangan Memerlukan Air dan Lahan Upaya ketahanan pangan memerlukan peningkatan produksi pangan terutama pada lahan beririgasi. Untuk memenuhi kebutuhan pangan (beras) sampai dengan tahun 2025 maka sawah beririgasi baru harus dibangun.2.2. jasa dan perkotaan diperkirakan akan meningkat sebesar 2 s/d 3 kali dari kebutuhan. 8.2.3. dana OP pada daerah irigasi yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten menjadi sangat minim rendah. Tidak Peduli dan Tidak Ramah Lingkungan Perilaku masyarakat yang boros air dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.3 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS .2.2. Dilain pihak konsumsi beras di Indonesia akan meningkat dari tahun ke tahun yang memerlukan pertambahan sawah beririgasi baru dan sarana irigasi yang memadai.2. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi yang dimanifestasikan dalam meningkatnya kegiatan industri. Namun yang kenyataannya yang terjadi adalah kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi. jasa dan perkotaan memerlukan dukungan berbagai sektor diantaranya penyediaan air baku untuk industri.4.

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3. Masalah Manajemen Sumber Daya Air 8.2.3.1. Penanganan Yang Terfragmentasi Dengan sifat SDA yang dinamis, maka penanganan SDA menjadi terfragmentasi di beberapa Departemen. Tiap sektor menangani sehingga cenderung membentuk egoisme sektoral yang menitikberatkan kepada kepentingan masing-masing. Akibatnya terjadi tumpang tindih maupun ”gap” (kekosongan) tanggung jawab dan wewenang institusi yang merencanakan dan membuat aturan. Institusi yang berhubungan dengan kualitas air misalnya, juga bermacam-macam sehingga sampai saat ini masalah lingkungan masih belum terpecahkan. 8.2.3.2. Kelemahan Koordinasi Koordinasi pengelolaan Sumber Daya Air di pusat maupun di daerah masih lemah : • • Lembaga koordinasi di tingkat pusat baru mencakup antar instansi terkait dan belum melibatkan seluruh komponen stakeholder secara lengkap; Belum optimalnya fungsi lembaga koordinasi di tingkat Provinsi yaitu Panitia Tata Pengaturan air ( PTPA ) dan tingkat Wilayah Sungai (WS) yaitu Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air ( PPTPA ) . • PTPA dan PPTPA belum mencakup seluruh komponen stakeholders.

8.2.3.3. Konsep dan Perangkat Desentralisasi Pengelolaan SAD Belum Mantap Tersedianya dana, tersedianya semberdaya manusia dan kemampuan manajemen selalu menjadi kendala utama. Disamping itu desentralisasi tidak hanya menyangkut hak dan wewenang tetapi melekat didalamnya adalah tugas dan kewajiban. Dengan desentralisasi maka institusi daerah perlu dikembangkan termasuk posisi baru. Jika terjadi ”perubahan lagi” maka posisi akan hilang kembali. Karena itu sebaiknya desentralisasi dilakukan dengan persiapan yang matang, secara bertahap dan berjenjang. 8.2.3.4. ”User Pays Principle & Polluters Pays Principle” Instrumen dan mekanisme untuk operasionalisasi prinsip pemakai air atau menerima manfaat dan “pembuangan limbah“ harus membayar belum memadai sehingga masih memerlukan penyempurnaan dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 4

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.5. Mekanisme Perijinan Belum Bemadai Mekanisme perijinan khususnya yang menyangkut “hak guna” untuk “bulk water“ (air dalam jumlah besar) untuk pemakaian yang bersifat komersial belum memadai dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru. 8.2.3.6. Organisasi Masyarakat Pemakai Air Belum Mandiri Organisasi masyarakat pemakai air belum mampu berkontribusi dalam pembiayaan untuk kegiatan Operasi & Pemeliharaan (O&P), perbaikan dan pemeliharaan prasarana-sarana pengairan maupun ”cost recovery” untuk investasi di bidang pengembangan SDA. Sehingga keseluruhan biaya pengelolaan SDA (dari O&P s/d pembangunan prasarana pengairan) menjadi beban pemerintah. 8.2.3.7. Keterbatasan Investasi Dari Pemerintah dan Swasta Sejak REPELITA II s/d sekarang (TA 2008) investasi untuk prasarana dan sarana SDA skala besar hampir semua didanai dengan pinjaman luar negeri seperti OECF/ JBIC, Bank Dunia, ADB dan sebagainya. Keberlanjutan pembangunan prasarana dan sarana skala besar dimasa depan tergantung kebijakan pemerintah, yaitu apakah akan meneruskan pola penyediaan dana seperti sebelumnya (dengan Loan) atau dengan skema pembiayaan yang lain. Di sisi yang lain peranan swasta dalam negeri maupun luar negeri untuk investasi bersama dengan pemerintah untuk membangun prasarana SDA masih sangat terbatas karena kompleksnya permasalahan dan resiko yang tinggi seperti kepastian hukum, kemampuan pemakai air/ penerima manfaat untuk membayar layanan dan sebagainya. 8.2.3.8. Penerapan Prinsip Good Governance Penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan SDA masih pada tataran konsep dengan operasionalisasi masih sangat terbatas, misalnya proses Konsultasi Masyarakat untuk mendapat masukan dari stakeholders pada berbagai tingkatan Pusat, Provinsi, Kabupaten/kota, belum maksimal. 8.2.3.9. Akuntabilitas Publik Pengelolaan SDA Masih banyak institusi yang menangani masalah yang bersifat kebijakan dan strategi masih menyatu dengan institusi yang menjalankan operasional. Dengan demikian maka akuntabilitas kedua hal tersebut menjadi kabur dan rancu. Institusi itu membuat kebijakan dan sekaligus melaksanakan sendiri kebijakannya. Disamping itu satu sektor pembangunan ditangani oleh berbagai institusi sehingga akuntabilitas institusi sulit diwujudkan.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 5

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.10. Lemahnya Lembaga Pengelola SDA Wilayah Sungai Belum efektifnya kerangka kelembagaan dan lembaga pengelola prasarana dan sarana Wilayah Sungai. 8.2.3.11. Tidak Efektifnya Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tidak efektifnya pemeliharaan jaringan irigasi dan tidak berlanjutnya (unsustainable) penyediaan dana untuk rehabilitasi/ perbaikan jaringan irigasi. 8.2.3.12. Lemahnya Management Informationt System (MIS) Sumber Daya Air Kurang andalnya data hidrologi dan kualitas air serta tidak tersedianya Manajemen Informasi Sumber Daya Air yang handal menyebabkan akurasi dan kualitas produk perencanaan maupun manajemen SDA belum mencapai ke tingkat yang diharapkan. 8.2.4. Masalah Yang Berkembang Saat Ini Berdasarkan Hasil PKM Hasil PKM Tahap I ditinjau dari 5 komponen, yaitu : Aspek Konservasi Daerah Tangkapan Air. Aspek Pendayagunaan SDA. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air. Aspek Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan. Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air. Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II seperti yang dijelaskan pada bab 7 sebelumnya. 8.3 KONSEPSI POLA PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS Uraian dibawah ini merupakan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Indikasi Program yang telah diuraikan terdahulu. Secara MATRIKS akan dijelaskan pada lampiran bab ini kaitan antara indikasi Program dengan Konsepsi Pola SDA yang dijabarkan dalam arahan kegiatan operasional. 8.3.1 Konservasi Sumber Daya Air Konservasi sumberdaya air merupakan salah satu misi yang diemban dalam arahan pengelolaan SDA menurut UU No 7/2004. tiga hal, yaitu : Kebijakan yang berkaitan dengan konservasi sumber daya air dalam Kebijakan Nasional Sumber Daya Air mencakup

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 6

(Persero) CABANG I MALANG

a) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. b) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. c) memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Pola pengelolaan Sumber Daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Dalam hubungannya dengan aspek konservasi Sumber Daya Air, maka pola pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas diarahkan pada beberapa hal berikut : a) peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air. b) Pengembangan dan rehabilitasi sarana dan prasarana sumberdaya air dan upaya pemeliharaan sumber air. c) Menetapkan dan pengelolaan daerah sabuk hijau untuk kawasan danau, waduk, rawa, situ/ embung dan mata air serta sempadan sungai dengan prioritas daerah permukiman. d) Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. e) Memperbaiki kualitas air pada sumber air dan meningkatkan kualitas air dengan cara mengelola industri serta berkesinambungan. f) Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta system penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumberdaya air dan lingkungan. g) Memberdayakan masyarakat dalam aktivitas konservasi sumberdaya air. limbah cair komunal di kawasan permukiman dan system pemantauan kualitas air secara membangun

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 7

(Persero) CABANG I MALANG

Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Konservasi SDA di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat : 1. Mengupayakan selalu tersedianya air dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. 2. Melestarikan sumber-sumber air dengan memperhatikan kearifan lokal/adat istiadat setempat. 3. Melindungi sumber air dengan lebih mengutamakan kegiatan rekayasa sosial, peraturan perundang-undangan, monitoring kualitas dan kuantitas air dan kegiatan vegetatif. 4. Meningkatkan daerah resapan air dan daerah tangkapan air dengan konservasi 5. Mempertahankan dan memulihkan kualitas dan kuantitas air yang berada pada sumber-sumber air 6. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan konservasi SDA. Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air Beberapa aktivititas yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah sebagai berikut: a. Rehabilitasi, konservasi dan perlindungan hutan dalam kaitannya dengan fungsi hutan sebagai penyimpan air. Keberadaan hutan dengan vegetasi penuh akan mengurangi erosi yang mempunyai dampak negatif terhadap sumber daya alam lainnya dan Sumber Daya Air. b. Reboisasi dalam kawasan hutan yang rusak akibat penggundulan hutan, penebangan liar dan pembangunan liar di hulu sungai harus dilakukan. c. Penghijauan di lahan kritis tidak dapat dibudidayakan. d. Penanaman tanaman bakau pada kawasan pantai dan rawa dan perlindungan tanaman yang sudah ada. e. Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai, danau, waduk, rawa, situ/ embung sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat. f. Penatagunaan lahan sesuai dengan kelas kesesuaian lahannya dan aktivitas budidaya pertanian dengan memperhatikan kaedah-kaedah konservasi tanah. g. Pelestarian dan perlindungan sumber mata air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem Sumber Daya Air dapat dicegah. h. Penertiban usaha penambangan galian C terutama yang berkaitan dengan kawasan sumber air.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

milik masyarakat yang jumlahnya cukup luas.

Lahan semacam ini jika tidak dihijaukan berpotensi semakin terdegradasi dan

VIII - 8

(Persero) CABANG I MALANG

Pengawetan Air Walaupun usaha-usaha pengawetan air pada dasarnya lebih sulit dari pengawetan tanah karena air merupakan komponen ekosistem yang dinamik, beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam rangka pengawetan air adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan pemanfaatan air permukaan dengan cara, antara lain : a) Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui : Pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian Penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation) Penanaman dalam strip (sistem penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim Pembuatan teras yang dapat menyimpan air, misalnya teras bangku konservasi (Conservation Bench Terrace) Zingg Pembangunan waduk dan embung

b) Penyadapan air (water harvesting) c) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. d) Pengolahan tanah minimum (minimum tillage). 2. Pengelolaan Air Tanah (Soil Water Management), dapat dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan, drainase dalam, atau kombinasi keduanya. 3. Meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi melalui antara lain pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air, mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan, pergiliran pemberian air dan pemberian air secara terputus. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam kaitannya dengan pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air adalah :
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 9

(Persero) CABANG I MALANG

1. Kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik dengan membuat peraturan limbah domestik dan sosialisasi terhadap masyarakat tentang hidup sehat yang terkaitan dengan permasalahan sampah. 2. Pengelolaan sampah domestik secara terpadu dengan sistem daur ulang, pembuatan produk yang mudah didaur ulang, pemisahan jenis sampah organik dengan sampah anorganik. 3. Pengendalian/pengawasan pembuangan limbah industri sesuai dengan baku mutu yang sudah ditetapkan pemerintah. Pengendalian limbah industri dapat dilakukan dengan cara good house keeping (pengelolaan internal), minimasi limbah, dan pemantauan periodik. 4. Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri, baik berupa IPAL individu (industri besar) atau IPAL bersama (industri kecil dan menengah). 5. Audit lingkungan. 8.3.2 Pendayagunaan SDA Pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada Pola Pengelolaan Sumber Daya Air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Beberapa komponen penting dalam pendayagunaan SDA yang telah di uraikan pada indikasi program menjadi titik tolak penyusunan konsep pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Dari Indikasi Program tersebut akan dijabarkan dalam matriks Indikasi Program Versus Konsepsi Pola khususnya dalam aspek pendayagunaan SDA. Dengan mengacu kepada arah kebijakan nasional dan memperhatikan hasil kajian terhadap isu-isu utama yang ada di WS. Barito-Kapuas serta analisis atas kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadap pengelolaan SDA, disusunlah arah kebijakan pengelolan sumber daya air di WS. Barito-Kapuas yang akan menjadi pedoman dalam penyusunan agenda pengelolaan SDA selama 20 tahun ke depan (2006-2025), sebagai penjabaran pelaksanaan misi dalam rangka mewujudkan visi pengelolaan SDA yang telah disepakati bersama.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 10

(Persero) CABANG I MALANG

Pendayagunaan SDA merupakan upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan Sumber Daya Air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. Sumber air mengandung arti tempat atau wadah air alami dan atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. Sumber air memiliki fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi bagi kehidupan manusia yang perlu dipelihara keselarasannya. Pengelolaan sumberdaya air sampai saat ini belum memberikan kejelasan dalam hal proporsi antar fungsi sumber daya air, sehingga pendayagunaan lebih lanjut dari Sumber Daya Air dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fungsi yang menjurus kepada kerusakan atau menjadi bencana di kemudian hari dari sumber air. Di dalam menyelaraskan fungsi-fungsi tersebut, akan diperlukan sistem pengkajian, pemantauan dan evaluasi yang dapat memberikan data dan informasi yang transparan yang diperlukan didalam pengembangan pengelolaan sumber air lebih lanjut secara berkesinambungan. Transparansi dan akuntabilitas dari suatu pengelolaan sumber air akan menjamin keberlanjutan dari penyelenggaraan pengelolaan sumber air. Salah satu kunci di dalam upaya meningkatkan transparansi dan akuntabiliti dari suatu pengelolaan sumber air adalah dengan merumuskan, menentukan dan menetapkan “zona pemanfaatan sumber air” sebagai suatu unit terkecil didalam pengelolaan sumber air. Bupati/ Walikota dan Gubernur wilayah terkait, sesuai dengan kewenangannya bekerjasama merumuskan rencana Zona Pemanfaatan Sumber Air. Penetapan Zona Pemanfaatan Sumber Air di koordinasikan melalui wadah koordinasi sumber air (PPTPA) pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Penetapan rencana Zona pemanfaatan sumber air merupakan bagian dari proses penyusunan pola pengelolaan SDA dan rencana induk pengelolaan SDA. Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong lebih meningkatnya nilai ekonomi air dibanding fungsi sosialnya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar sektor, antar wilayah dan berbagai pihak yang terkait dengan Sumber Daya Air. Di sisi lain, pengelolaan Sumber Daya Air yang lebih bersandar kepada nilai ekonomi akan cenderung lebih memihak kepada pemilik modal serta dapat mengabaikan fungsi sosial Sumber Daya Air. Untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut akan diperlukan penetapan peruntukan air pada sumber air. Pemerintah, pemerintah daerah wajib menyelenggarakan berbagai upaya untuk menjamin ketersediaan air bagi setiap orang yang tinggal di wilayahnya. Jaminan tersebut menjadi tanggungan bersama antara pemerintah, pemerintah daerah,
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 11

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk di dalamnya menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Jaminan penataan sumber air secara layak akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS BARITO-KAPUAS diarahkan untuk dapat: 1. Mendayagunakan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air secara berkelanjutan. 2. Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. 3. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. 4. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan, ketertiban dan keadilan, ketapatan penggunaan, keberlanjutan penggunaan, dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. 5. Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air, dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. 6. Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dengan prinsip meningkatkan efisiensi alokasi dan distribusi kemanfaatan sumber air.

8.3.2.1 Penetapan zona pemanfaatan sumber air 1. Menetapkan rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kota dalam zone pemanfaatan sumber air meliputi: hutan lindung, kawasan resapan air, sempadan sungai, sempadan pantai, cagar alam, cagar budaya dan ilmu pengetahuan, tanaman lahan basah, tanaman lahan kering, rawan bencana dengan memperhatikan semua pengguna sumber air terakomodasi, meminimalkan dampak negatif kelestarian air, konflik penggunaan sumber air dari kawasan lindung dan fungsi kawasan. 2. Menetapkan zone pemanfaatan sumber air dikoordinasikan melalui Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air (PPTPA) Wilayah Sungai. 8.3.2.2 Peruntukan SDA 1. Menetapkan Perda peruntukan air dengan memperhatikan penyebaran penduduk di wilayah sungai. Proyeksi kebutuhan dan pemanfaatan air yang sudah ada untuk keperluan kolam ikan, PDAM dan irigasi dalam kurun waktu/ proyeksi 20 tahun kedepan. 2. Menetapkan peruntukan air yang dikoordiansikan melalui PPTPA wilayah sungai 8.3.2.3 Penyediaan SDA 1. Mengusahakan dan menyediakan air untuk irigasi sawah sesuai dengan luasannya, kebutuhan air minum di masing-masing kabupaten/ kota dan pelayanan kebutuhan kolam ikan. 2. Menyediakan sumber air sesuai dengan prinsip-prinsip urutan prioritas penyediaan air dan apabila menimbulkan kerugian bagi pemakai air
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 12

Penetapan Perda tata cara pemberian kompensasi dapat berupa. maka rencana tersebut dapat ditinjau kembali. 3. memperoleh penyediaan air dari sumber lain. Memberikan prioritas yang tinggi kepada pemenuhan kebutuhan pokok seharihari dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim. 3. Pengembangan SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan dengan melalui pertimbangan PPTPA WS.3. 3.13 . dengan menetapkan urutan prioritas yang disetujui oleh Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air WS. ganti rugi. Barito-Kapuas. Barito-Kapuas yang ditetapkan 5 (lima) tahun sekali.6 Pengusahaan SDA Pengusahaan SDA dilakukan dengan memperhatikan pemanfaatan air untuk kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi dan memperhatikan lingkungan dan berkelanjutan SDA melalui konsultasi dengan PPTPA WS. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . program pembangunan.2. 4. danau atau tampungan air hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan PPTPA WS.(Persero) CABANG I MALANG sebelumnya diatur bersama-sama dengan PPTPA WS.3.4 Penggunaan SDA 1. 8. 2. memperoleh perpanjangan ijin. Barito-Kapuas. keringanan biaya jasa pengelolaan SDA. Hasil monitoring oleh pemerintah ditembuskan kepada PPTPA WS. Jika dalam pengembangan SDA sebagian masyarakat yang terkena dampak kegiatan menyatakan keberatan. Barito-Kapuas. Pengembangan SDA yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup dikenakan ketentuan-ketentuan tentang analisis mengenai dampak lingkungan. 4. 8. Barito-Kapuas dan memberikan kompensasi secara wajar kepada pemakai. BaritoKapuas.2. 8.2.5 Pengembangan SDA 1. Pembentukan pemegang izin dilakukan dengan pertimbangan PPTPA WS. Barito-Kapuas. 2.3. Pengembangan teknologi modifikasi cuaca yang ditujukan untuk menambah volume air waduk. Menetapkan Perda penggunaan air yang mengatur waktu izin menyangkut hak guna air paling sedikit 5 (lima) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun sesuai pertimbangan PPTPA WS. Barito-Kapuas.

biologi dan fisika air. upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan/atau satwa. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah.14 . terancam kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa serta wabah penyakit yang dikonsultasikan kepada PPTPA WS. kekeringan. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. 5. Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. amblesan tanah. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat: 1. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. penanggulangan dan pemulihan. dan upaya pemulihan akibat bencana.1 Pencegahan Bencana Alam rawan banjir. kekeringan. Memulihkan fungsi sarana dan prasarana guna pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Mengupayakan Keberlangsungan Aktivitas Masyarakat dan terlindunginya sarana dan prasarana pendukung aktivitas masyarakat. menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. 8. Daya rusak air dapat berupa banjir. longsoran tanah. amblesan tanah.3. erosi dan sedimentasi. banjir lahar dingin. 2. Menetapkan kawasan rawan bencana alam dalam zona-zona dengan Perda Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . erosi. Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung. sedimentasi. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan.3. mempercepat pemerintah daerah Provinsi. dan fisika air. biologi. Kabupaten/Kota terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.3 Pengendalian Daya Rusak Air Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan. banjir lahar dingin.(Persero) CABANG I MALANG 8. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana. Sejalan dengan kepentingan yaitu untuk pemerintah. Meningkatkan sistem penanggulangan bencana. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. 3.3. tanah longsor. Barito-Kapuas. dan/atau wabah penyakit. 1. 4.

BaritoKapuas. daya rusak air ditetapkan melalui Perda masing-masing Kabupaten/Kota dan Provinsi.4 Antisipasi Perkembangan Kebutuhan Pembangunan Pengelolaan sumber daya air perlu melihat ke depan agar dapat memperkirakan proyeksi pengembangan dan dampaknya terhadap kebutuhan air. Berbagai permasalahan yang telah muncul pada saat ini jika tidak diantisipasi akan berkembang dan menjadi persoalan yang sulit untuk diselesaikan.2 1. Penanggulangan Bencana Alam Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama masyarakat yang dibantu oleh PPTPA WS.3. 3. Pernyataan Pemerintah Kabupaten/Kota atau Provinsi tentang tingkat kejadian bencana alam diperlukan pembahasan dengan PPTPA WS.(Persero) CABANG I MALANG 2. Peringatan dini dilakukan di lokasi yang rawan bencana. 8. dilakukan dengan melalui radio dalam acara Pengelolaan Sumber Daya Air WS.3. 8. 2. Tabel berikut ini adalah matriks indikasi program dan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas. Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam di sebar luaskan melalui radio. BaritoKapuas. berbagai isu strategis berkaitan dengan rencana pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Selain permasalahan.3 Pemulihan Bencana Alam Pemulihan daya rusak air oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dengan melibatkan semua unsur. elemen masyarakat.3. Barito-Kapuas. 4.3. 8. 3.3. Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat. Penetapan prosedur operasi standar penanggulangan kerusakan bencana akibat 4.15 .3. wilayah telah pula disampaikan. Melakukan penyebaran berita melalui radio yang ditetapkan oleh pemerintah.

Mewujudkan sinergi dan mencegah konflik antar wilayah dan antar sektor dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional. Menetapkan dan menerapkan pola pengelolaan sumber daya air yang didasarkan atas wilayah Menerapkan prinsip kesimbangan antara permintaan dan penyediaan air dan daya air dengan pola pengelolaan SDA secara terpadu dan berkelanjutan Menyusun perencanaan pengelolaan SDA agar upaya konservasi dan pendayagunaan SDA lebih seimbang Menerapkan pengelolaan sumber daya air terpadu di wilayah sungai Barito-Kapuas. target 25% tahun 2011. INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN 2 3 Menerapkan rencana pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009. persatuan dan kesatuan bangsa. 4 Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial ekonomi paling besar bagi masyarakat dengan memperhatikan kaidah lingkungan hidup. pola pengelolaan sumber daya air. Penerapan keterpaduan disusun dengan memperhatikan wadah koordinasi.1 Matriks Indikasi Program Dan Konsep Pola PSDA NO A. pelaksana. 100% tahun 2026. pembiayaan. rencana induk. UMUM 1 Melaksanakan dan meningkatkan koordinasi antar para pemilik kepentingan sumber daya air dalam wadah koordinasi tingkat kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas Menyusun dan menetapkan Rencana Induk pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai Barito-Kapuas berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air pada tahun 2008.16 . 50% tahun 2016.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 8. dan SIM yang pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. serta memperhatikan kebutuhan generasi sekarang dan akan datang.sedangkan alokasi untuk kebutuhan lainnya dengan memperhatikan nilai lingkungan dan ekonomi air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Mengembangkan sistem alokasi air untuk kebutuhan pokok mahluk hidup termasuk pertanian rakyat sebagai prioritas utama.

Menyelenggarakan sistem pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi bukan hanya untuk kebutuhan teknis tetapi juga untuk pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada berkelanjutan Melaksanakan rasionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional. kabupaten/kota dan wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . tanggung jawab.17 . Melaksanakan rasionalisasi. fungsi pemanfaatan. kabupaten/kota. pengoperasian dan pemeliharaan. dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. berkeadilan dan berkelanjutan. Provinsi. Mengembangkan sistem penegakan hukum dengan menetapkan pejabat penyidik pegawai negeri sipil sebagai ”polisi jaga air” sesuai dengan pasal 93 Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air serta menyediakan pos-pos pengaduan. fungsi pelaksanaan. restrukturisasi. KETERANGAN 6 7 Rasionalisasi adalah penyesuaian kelembagaan termasuk kompetensi sumber daya manusianya agar sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing 8 9 Pembentukan wadah koordinasi sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas sesuai dengan kebutuhan. Sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat. pendayagunaan sumber daya air.pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air yang dilaksanakan oleh pemilik kepentingan SDA. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan sumber daya air di WS Barito-Kapuas Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif. dan kewenangannya. efisien. dan wilayah sungai agar lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan tugas. Melaksanakan koordinasi antar pemilik kepentingan SDA dalam wadah koordinasi tingkat Nasional. Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat didalam WS BaritoKapuas KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman tentang standar pelayanan dan jasa pengelolaan SDA dan memberlakukan pedoman tersebut dalam upaya konservasi.(Persero) CABANG I MALANG NO 5 INDIKASI PROGRAM Menetapkan dan melaksanakan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan sumber daya air dalam upaya konservasi. Menerapkan diversifikasi sumber pembiayaan pengelolaan SDA . dan fungsi koordinasi di WS Barito-Kapuas dengan tetap menjaga sinergi antarfungsi.

Perlu melakukan pematokan batas sempadan sumber air -. Checkdam. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai. mata air ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. Sosialisasi dan desiminasi mengenai fungsi dan manfaat sempadan sumber air -. embung. rawa dan mata air dengan aturan : a.50 % di tahun 2026.BaritoKapuas dengan prioritas daerah hulu sungai Barito dan Kapuas serta bantaran sungai. embung. situ. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. danau. dengan target 12. rawa. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi SDA dengan target minimal 25 % tiap 5 tahun (small and medium pond.(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN B.groundsill. Pemeliharaan embung dan rawa serta mata air Pembangunan Embung Pembangunan Waduk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. sumur resapan. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b. waduk. danau dan waduk dengan target 15% tiap 5 tahun. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau d. KONSERVASI SUMBER DAYA AIR Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan & lahan. Perlunya penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran sempadan sumber air 2 Menetapkan dan mengelola kawasan danau.25 % di tahun 2016 . Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau c.5 % di tahun 2011. 3 4 Menata daerah sempadan sungai utamanya di daerah permukiman.18 . waduk dengan prioritas daerah permukiman. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis untuk WS. rawa. menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan.teknik pemanenan hujan dll) -.

Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. selambat-lambatnya pada tahun 2025. Mengupayakan”pengelolaan permintaan air” yang effektip dan effesien (reduce. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 2 Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. secara biologi. -. -. Menentukan baku mutu sumber air.recycle). Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010. C. Meningkatkan monitoring dan pengawasan kualitas air limbah.reuse. dengan target efektif 2010. KONSEPSI POLA Menyusun aturan.19 .recycle) serta sekaligus mengkampanyekan budaya hemat air dengan target minimal pada 25 % pengguna air dan target minimal 5 % dari kehilangan air tiap 5 tahun -. Pemantauan kualitas sumber air -. pemulihan. Pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana air baku untuk air minum dengan target pelayanan: 65 % untuk tahun 2011.melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran penambangan galian C. Penertiban sumber pencemar dengan mengolah limbah sebelum dibuang Menetapkan alokasi air dan hak guna air pada lokasi sumber air Perlu dipersiapkan Perda Hak Guna Air Perlu dibuat ketetapan prioritas penggunaan air Perlu ditetapkan kebutuhan pokok minimal kehidupan sehari hari air per kapita (lt/kapita/hari) Penyediaan pasokan air dengan target minimal 25% tiap 5 tahun guna memenuhi kekurangan pasokannya. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum. Menyusun aturan. melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran. 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .(Persero) CABANG I MALANG NO 5 6 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan permukiman dan kawasan industri.70 % untuk tahun 2016 dan 80 % untuk tahun KETERANGAN 7 8 9 Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. reuse. Pembangunan baru IPAL penduduk komunal -. Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan. -.

KONSEPSI POLA 2021. perikanan. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar wilayah sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air. Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan. Menyusun dan melaksanakan program pengembangan sumber daya air terpadu berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air. Mendorong pengembangan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa.wilayah dan dampak jangka panjang.(Persero) CABANG I MALANG NO 6 7 INDIKASI PROGRAM Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada. Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” yang efektif dan efisien dengan target minimal pada 25% pengguna air dan target minimal 5% dari kehilangan air tiap 5 tahun Mencegah pendayagunaan SDA pada kawasan suaka alam danKawasan pelestarian Pengendalian pendayagunaan SDA pada kawasan lindung Mengembangkan dan menerapkan mekanisme pengelolaan SDA antar kepentingan sektor. dan transportasi air Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air. reuse). olah raga air. pariwisata. 11 12 13 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Menyusun persyaratan dan prosedur pengelolaan sedimen pada sumber air pada tahun 2009 dan penerapannya secara konsisten Menyempurnakan persyaratan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian pada 2009 KETERANGAN 8 9 10 Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce.(rencana program kegiatan ) Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi yang ada serta rehabilitasi jaringan irigasi Merehabilitasi dan meningkatkan jaringan irigasi dengan target 9685 ha tiap 5 tahun pada daerah yang telah ditempati penduduk.antar wilayah sungai tanpa mengorbankan lingkungan Mengembangkan potensi SDA untuk menunjang kebutuhan berbagai sektor dan mendukung perkembangan ekonomi secara effektip dan effisien dengan mempertimbangkan kepentingan antar sektor. serta mengembangkan dan menerapkan teknologi pengelolaan rawa termasuk pengembangan perikanan rawa dan memberdayakan masyarakat agar penduduk yang bermukim di daerah rawa dapat hidup secara harmoni dengan lingkungannya.20 .

pedoman. Merasionalisasikan biaya pengelolaan sumber daya air.yang akan diberikan sebagai kompensasi kepada daerah yang dapat memberi manfaat penanggulangan bahaya banjir di hilirnya. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan SDA serta metode pembebanannya kepada para pemanfaat. 6 7 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . sehingga biayan jasa pengelolaan terjangkau Koordinasi dalam Penyusunan PERDA KETERANGAN D. dan manual pengembangan kawasan. dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir. serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir. Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 2 3 4 Menyiapkan informasi daerah rawan banjir dan sosialisasi kepada masyarakat Perencanaan tata ruang perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya banjir Sosialisasi PERDA kepada masyarakat dan mengajak masyarakat ikut peran serta Prinsip ”zero delta q policy” perlu dimasukan ke dalam penyusunan norma. menerapkan. standar. tata kota dan tata bangunan. dengan target selesai tahun 2009 Mengeffisienkan pengelolaan SDA. dan revitalisasi serta pengendaliannya. Menciptakan sistem perizinan bagi pelaku pengubah daerah tangkapan air Melakukan upaya pengendalian erosi dan sedimen pada daerah yang dikembangkan Daerah yang menerima manfaat dari perlindungan banjir dikenakan kontribusi. Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan sumberdaya air. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir. Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai. Meningkatkan kesiapan dan ketahanan pemilik kepentingan dalam menghadapi segala akibat daya rusak air Mencegah pengembangan permukiman dan bangunan lainnya yang akan menyebabkan terjadinya “inundasi” (genangan yang berlebihan) 5 Menyiapkan.21 . sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau.(Persero) CABANG I MALANG NO 14 15 16 INDIKASI PROGRAM Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air secara konsisten.

Penanggulangan darurat prasaran SDA seperti tanggul yang bocor .(Persero) CABANG I MALANG NO 8 9 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air. Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural.bronjong kawat.22 . pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana.cerucuk dll. Menyiapkan bahan untuk penanggulangan darurat seperti.terutama revitalisasi obyek umum yang mengalami kerusakan Menanggulangi stress atau trauma masyarakat yang tertimpa musibah daya rusak air Mengikut sertakan masyarakat dan pihak swasta dalam rangka revitalisasi sarana dan prasarana umum maupun SDA yang rusak akibat daya rusak air Perlu adanya sharing dalam pembiayaan penanggulangan daya rusak air antara daerah dan pusat KETERANGAN 10 11 12 13 14 15 16 Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta dalam kegiatan pemulihan akibat bencana. Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan upaya penyelamatan jiwa manusia.perahu karet. perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana umum lainnya.pompa pompa air. Menyiapkan lokasi lokasi untuk evakuasi. KONSEPSI POLA Menyediakan informasi daerah rawan banjir dan disosialisasikan kepada masyarakat Melakukan perlindungan daerah permukiman. Melakukan perlindungan daerah permukiman. Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase.jembatan yang limpas dll Rekonstruksi bangunan bangunan yang rusak akibat daya rusak air.karung pasir. utamanya pada daerah pengembangan baru. dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen.tenda tenda. dan daerah produksi non pertanian terhadap banjir 25 tahunan sampai dengan tahun 2025 serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir 10 tahunan Membuat perencanaan yang terpadu antara drainasi perkotaan dengan sistem pengendalian banjir kawasan tersebut Menyusun pedoman penanggulangan bencana banjir pada masing masing sungai yang rawan banjir. prasarana umum. prasarana umum.

Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayahnya. SWASTA. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. DAN PEMERINTAH 1 Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai secara berkelanjutan. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi sumber daya manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan sumber daya air.23 .(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEP POLA KETERANGAN E. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sumber daya air kepada dunia usaha. Melakukan penyuluhan. dan koordinasi antarlembaga pemerintah yang terkait dalam Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia pemilik kepentingan dengan target minimal satu kali dalam setahun pada seluruh yang telah terbentuk dewan sumber daya airnya Memberi peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan SDA pada Wilayah Sungai 2 3 4 5 6 Sosialisasi UU no 7 tahun 2004 Menciptakan kepastian hukum bagi swasta untuk berperan dalam pengelolaan SDA Meningkatkan kinerja lembaga Pemeritah dalam pengelolaan sumber daya air Penerapan NSPM Pelatihan yang terorganisir melalui dewan air 7 8 9 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi. PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. kerjasama. pelatihan. Menyiapkan peraturan daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan sumber daya air Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan wilayah sungai dalam pengelolaan sumber daya air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Meningkatkan kemampuan komunikasi.

dan mudah diakses. berkelanjutan. prasarana sumber daya air. dll. kebijakan sumber daya air. hidrometeorologi. Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan sumber daya air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. KETERBUKAAN DAN KETERSEDIAAN DATA DAN INFORMASI SUMBER DAYA AIR. Membangun jaringan bank data dan basis data dengan sasaran 50% wilayah sungai pada tahun 2011 dan 100% wilayah sungai 2016. teknologi sumber daya air. Membangun jaringan basis data dalam WS Barito-Kapuas Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan Meningkatkan ketersediaan data dan informasi sumber daya air secara akurat. Memberikan hak memperoleh informasi tentang pengelolaan sumber daya air kepada masyarakat. berkelanjutan. tepat waktu. KONSEP POLA Membentuk Dewan Sumber Daya Air yang melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan SDA . Meningkatkan konsultasi dan koordinanasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. hidrogeologi. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan sumber daya air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. sehingga mampu menyampaikan data dan informasi yang akurat. 1 Mengembangkan sistem informasi sumber daya air dalam WS BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif. Membangun jaringan informasi sumber daya air dalam WS Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan sumber daya air. Meningkatkan pemerataan informasi pengelolaan SDA dengan menghilangkan kendala dan masalah yang menghambat pemerataan informasi pengelolaan SDA Membangun sistem pengelolaan data dan informasi Meningkatkan keterbukaan publik dalam 2 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA. KETERANGAN 11 F. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi sumber daya air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. serta berorientasi pada pengguna. sistem pembiayaan yang memadai. transparan. tepat waktu. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi.24 .(Persero) CABANG I MALANG NO 10 INDIKASI PROGRAM pengelolaan sumber daya air.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .25 .(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM informasi kepada masyarakat KONSEP POLA proses penyusunan kebijakan dan pengelolaan sumber daya air. kodifikasi. klasifikasi. proses data. dan metode/prosedur pengumpulan data dan informasi. KETERANGAN 7 Menerapkan standar untuk format. Menetapkan standar untuk pengkodean data.

Sedang dalam Pasal 87 memuat basis pembentukan Dewan Air. Dewan air sebagai wadah koordinasi beranggotakan Unsur Pemerintah dan Unsur Non Pemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilkan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . wilayah dan pemegang kepentingan dalam bidang sumber daya air (Pasal 85). keanggotaan serta susunan organisasi dan tata kerja. Pasal 86 berisi tentang panduan tugas pokok. Lebih lanjut Pasal 86 menyebutkan bahwa : a. PTPA di Tingkat Provinsi dan PPTPA ditingkat Kabupaten 6.(Persero) CABANG I MALANG 8. Dinas Pengairan / Sumber Daya Air Kabupaten 5. hubungan antar jenjang dewan air serta pedoman pembentukan dewan air. Menurut pasal-pasal ini dewan Sumber Daya Air disebut sebagai wadah koordinasi untuk menjamin tercapainya keterpaduan pengelolaan Sumber Daya Air. disamping itu sebagai sarana mengintergrasikan kepentingan berbagai sektor. Beberapa kelembagaan terkait tersebut adalah : 1.4 Kelembagaan dan Peran Masyarakat Dengan terbentuknya Balai Wilayah Sungai Kalimantan II yang menangani WS Barito-Kapuas yang mulai diberlakukan tahun 2007 maka selama masa peralihan tersebut diharapkan adanya koordinasi dengan institusi lainnya yang terkait dengan pengelolaan SDA di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Selatan 3. jenjang organisasi dewan air mengikuti jenjang administrasi pemerintahan. Tugas pokok Dewan Sumber Daya Air adalah menyusun dan merumuskan kebijakan strategi serta strategi pengelolaan sumberdaya air b. 86 dan 87 tentang koordinasi pengelolaan.3. Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Barito-Kapuas 4. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah 2. Instansi lain yang terkait Badan Pengelola WS Barito-Kapuas Konsep Dewan Sumber Daya Air Mengacu pada Undang Undang SDA No 7 Tahun 2004 disebutkan bahwa kelembagaan dewan Sumber Daya Air termuat dalam dalam BAB XII.26 . Pasal 85. Selain itu keberadaan Dewan Sumber Daya Air juga disinggung pada BAB II Pasal 14 tentang kewenangan presiden.

Ini tercermin dalam pernyataan dewan pengelolaan Sumber Daya Air yang terdiri dari semua pemangki kepentingan (pemerintah dan perwakilan masyarakat umum dan industri pengguna air) secara proporsional. b. Keberadaan dean air nampak dimaksudkan untuk memberikan warna koloboratif dan koordinatif dalam pengelolaan Sumber Daya Air. b. Susunan organisasi dan tata kerja dewan air sebagai wadah koordinasi akan diatur lebih lanjut dengan keputusan Presiden Sementara Pasal 87 menyatakan bahwa : a. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Lintas Kabupaten/ Kota atau (b) Lintas Negara. provinsi. Hubungan kerja antar wadah koordinasi tingkat nasional. Dengan demikian dewan air diharapkan untuk menjamin terwujudnya asas Community Based dalam pengelolaan SDA. c. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional yang dibentuk oleh pemerintah dan pada tingkat provinsi dilakukan oleh wadah koordinasi dengan nama Dewan Sumber Daya Air Provinsi atau dengan nama lain yang dibentuk oleh pemerintah provinsi sedangkan untuk koordinasi pada tingkat kabupaten/ kota dapat dibentuk wadah koordinasi dengan nama lain oleh pemerintah kabupaten/ kota.(Persero) CABANG I MALANG c. Wadah koordinasi pada Wilayah Sungai dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan pengelolaan Sumber Daya Air pada Wilayah Sungai yang bersangkutan c. Hingga sat ini belum ada bentuk baik mengenai dewan air baik nasional maupun provinsi. Dari diskripsi diatas dapat ditarik beberapa konsepsi utama tentang dewan air sebagai berikut : a. Pedoman mengenai pembentukan wadah koordinasi pada tingkat provinsi. provinsi. Susunan keanggotaan ini berbeda dengan konsep dewan serupa di Undang Undang sebelumnya. kabupaten/kota dan Dewan Sumber Daya Air Wilayah Sungai khusus apabila Wilayah Sungai bersifat (a) Lintas Provinsi. kabupaten/ kota dan Wilayah Sungai diatur lebih lanjut dengan keputusan Menteri yang membidangi Sumber Daya Air. Ada lima tingkatan atau bentuk dewan sumberdaya air yaitu tingkat nasional.27 . kabupaten/kota dan wilayah sungai bersifat konsutatif dan koordinatif d.

dan idealnya para pemilik properti.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hal diatas beberapa rekomendasi dalam pembentukan dewan sumberdaya air wilayah sungai adalah sebagai berikut : a. swasta maupun masyarakat. Ini hanya dimungkinkan kalau keanggotaannya sudah mencakup semua stake holder yang secara faktual punya kepentingan terhadap DAS. Mengingat kesenjangan antara teori dan praktis dalam aspek institusi selama ini. Keterwakilkan yang proporsional dan setara. e. (Pemangku kepentingan – stakeholders adalah mereka yang menimbulkan dan terkena dampak pengelolaan DAS). Semua pemangku kepentingan yang telah teridentifikasi kepentingannya atas DAS harus tahu dan ambil bagian dalam proses perencanaan. yakni mereka memiliki peran kepemimpinan dan bukan anggota. Partisipasi yang Luas.28 . Namun hal ini tidak disebutkan dalam UU SDA No 7 2004. b. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pengakuan dapat berujud dokumen formal yang ditandatangai oleh semua pemangku kepentingan. yang bisa diwujudkan dalam bentuk pro aktif saat perencanaan dan penentuan kebijakan umum pengelolaan. d. Namun dalam kenyataannya di Indonesia lembaga yang tidak memiliki wewenang eksekusi biasanya akan berhenti sebagai organisasi tanpa peran penting. Secara teoritik dewan air yang efektif minimal bersifat Advisory kepada pemerintah. harus menjadi satu-satunya wahana koordinasi Stakeholder yang menerapkan mitra Stakeholders dalam pengambilan keputusan (One Decision Making Process) untuk menjamin tercapainya sebagai wujud dari prinsip One River One Plan One Management Dewan Sumber Data Air harus menjadi satu-satunya tempat dan proses perencanaan pengelolaan. Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas harus diakui oleh semua stakeholders yang ada di kabupaten/ kota terkait dengan wilayah sungai baik jajaran pemerintah. misalnya dalam bentuk nota kesepakatan (Memorandum of Understanding) c. Legitimacy. Oleh karena itu dewan ini seharusnya memprakarsai pembentukan / penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA nantinya. operator industri (barang dan jasa) harus berperan dalam perencanaan. keterwakilkan pihak yang terkena dampak bisa dinyatakan dalam posisi penting mereka dalam dewan air. Memiliki Kapasitas Pengambilan Keputusan. Dewan air. Untuk itu Dewan sumber daya air harus memiliki paling tidak peran kontrol.

Perumusan Regulasi Pengelolaan 7. permasalahan sumber daya air yang ada di WS.4. Pengendalian dan penegakan 8. konservasi dan proteksi. Dewan sumberdaya air wahana sebagai perencanaan kemitraan pengelolaan yang kolaboratif harusmenyediakan mekanisme penyelesaian sengketa yang mungkin timbul antar pemangku kepentingan yang tidak bisa diselesaikan secara internal. Termasuk disini adalah kejelasan pemerintah kabupaten/kota yang harus disepakati dari awal.4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI 8. Mekanisme Penyelesaian Sengketa. Pembinaan Jejaring dan pertukaran informasi 4.1. masukan dan usulan dari Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan analisis konsultan yang didasarkan analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Edukasi dan promosi bagi berhasilnya Pola Pengelolaan yang dihasilkan 3. Rumusan Standar pengendalian daya rusak air dan resiko sumberdaya air. g. Umum Strategi pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) WS. Perumusan Standar Alokasi hak PEMANFAATAN PASOKAN AIR 5. Pemahaman dan kesepakatan yang jelas mengenai peran dan tanggung jawab antara pemerintah. Barito-Kapuas. Perumus mekanisme dan wadah bagi penyelesaian sengketa 8.(Persero) CABANG I MALANG f. teknik perlakuan dan penggunaan kembali air. Barito-Kapuas disusun berdasarkan arah kebijakan nasional pengelolaan SDA. Secara lebih rinci sebagai otonom Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas diharapkan bisa memfungsikan diri dalam : 1. pengendalian polusi dan pengelolaan kualita air 6. Perumusan kebijakan dan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS BaritoKapuas 2.29 . Memiliki Kejelasan Peran. industri dan masyarakat pengenalan dalam dan proses pengelolaan peran antar DAS adalah esensial provinsi bagi dan keberhasilan pengelolaan dan pengaturan kerja.

Fisik DAS. Pendayagunaan SDA dan Pengendalian Daya Rusak Air Langkah langkah dalam Perumusan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air ditetapkan sebagai berikut : 1. Wilayah Sungai.2. hasil analisis dari data biofisik merupakan parameter utama yang menjadi pertimbangan yang akan dilaksanakan. Sekarang dan Mendatang. baik yang terdapat di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan.1. Kelembagaan. (c) Kondisi penutupan lahan. Konservasi SDA WS. terutama ditekankan pada lereng dengan kemiringan >15%. Analisa Kecenderungan Masa Lalu.Barito-Kapuas mengacu pada arah kebijakan nasional yang telah diatur dalam Undang Undang no 7 tahun 2004 tentang SDA yang meliputi: Konservasi SDA.30 . Tinjauan Atas Permasalahan yang di-Identifikasi dalam Potensi dan Tantangan untuk menjamin bahwa Strategi yang dirumuskan. Kajian Strategi Yang Diusulkan dengan Prioritas yang sesuai dengan Kondisi Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3.2. Arah kebijakan pengelolaan SDA WS. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .(Persero) CABANG I MALANG SWOT dan rasionalisasi program (analisis Hymos dan Ribasin) serta penentuan prioritas program berdasarkan pada kebutuhan mendesak. (d) Kondisi lereng. Tinjauan Atas Lingkup Kebijakan Nasional dan Provinsi serta Kebijakan Pengelolaan Wilayah Sungai Barito-Kapuas 2. Barito-Kapuas 8. Parameter biofisik tersebut mencakup: (a) Erosi aktual serta penyebarannya dalam satu kawasan Sub DAS. tanggap terhadap berbagai permasalahan tersebut 5. (e) Lahan kritis. Pola Konservasi WS Barito-Kapuas Dalam merancang konservasi di WS Barito-Kapuas yang dilakukan terhadap setiap sub DAS yang tercakup dalam kawasan wilayah sungai tersebut.4. (b) Kedalaman tanah. dalam Aspek Sumber Daya Air (Mencakup Sosial Ekonomi.4. Perumusan Strategi dan Komponennya yang mengacu pada Isu Pokok 8. Ketersediaan dan Kebutuhan Air) dan Sektor Terkait 4.

khususnya pasal-pasal yang terkait dengan konservasi seperti bagian keempat dan kelima dari UU tersebut. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Hutan. Barito-Kapuas dapat dilihat pada diagram alir. Kerangka penyusunan pola konservasi untuk WS. Undang-Undang Pokok Kehutanan No. tepi jurang. Keputusan-keputusan Dirjen RLPS yang terkait dengan konservasi lahan kritis. Tepi Jurang. 353/Kpts-II/1986 Tentang Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air. kiri kanan tepi anak sungai. (b) Sistem budidaya pertanian. Tentang Penanganan Konservasi Tanah dalam Rangka Pengamanan Daerah Aliran Sungai Prioritas. pasang surut. Bagian keempat memuat tentang Rehabiltasi dan Reklamasi.(Persero) CABANG I MALANG Adapun aspek sosial ekonomi yang dipertimbangkan dalam menyusun pola konservasi adalah (a) Tekanan Penduduk. Waduk/Danau. Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya.31 . penyusunan pola konservasi di WS. sedangkan bagian kelima memuat tentang perlindungan hutan dan konservasi alam. kiri kanan tepi sungai di daerah rawa. Sungai dan anak sungai. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Keputusan Presiden No. Di samping aspek biofisik dan sosial ekonomi seperti tersebut di atas. kiri kanan tepi sungai. Keputusan Menteri Kehutanan No. dan Menteri Pekerjaan Umum No: 19 Tahun 1984 – No: 059/Kpts-II/1984 – No: 124/Kpts/1984 tanggal 4 April 1984. mata air. Barito-Kapuas ini juga mengacu kepada : Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri. Pasal 50 secara khusus mengatur tentang konservasi sumber-sumber air. yakni waduk/danau. Menteri Kehutanan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

daya tampung dan fungsi DAS untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. Meningkatkan.32 . memulihkan dan mempertahankan daya dukung.2. Strategi Konservasi SDA. Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan daya rusak air.2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Strategi Pengelolaan SDA untuk aspek konservasi SDA WS Barito-Kapuas diarahkan untuk dapat : i.4. Memulihkan dan mempertahankan kualitas air guna memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. ii.(Persero) CABANG I MALANG 8.

lereng .Tek.erosi .1.(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Sungai Barito-Kapuas DAS - - Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan - Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin Di luar kawasan hutan Di dalam kawasan hutan Analisis Biofisik: .33 .kedalaman tanah .penutupan lahan .Sistem budidaya pertanian Input PKM I & II STRATEGI KONSERVASI Gambar 8.lahan kritis Analisis Sosial Ekonomi: . Penduduk. . Diagram Alir Strategi Konservasi di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

34 . Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. beberapa kegiatan di WS. • • Penyadapan air (water harvesting) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. embung dan rawa sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat. misalnya teras bangku konservasi.(Persero) CABANG I MALANG Dari tiga butir strategi pokok tersebut. waduk. pembangunan waduk dan embung. (5) Penatagunaan lahan sesuai dengan kaidah-kadiah konservasi tanah (6) Pelestarian dan perlindungan sumber air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem sumber daya air dapat dicegah (7) Penertiban penambangan galian Golongan C b) Pengawetan Air (1) Peningkatan pemanfaatan air permukaan dengan cara antara lain: • Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui: pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian. pembuatan teras yang dapat menyimpan air. BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: a) Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air (1) Rehabilitasi dan perlindungan hutan (2) Reboisasi kawasan hutan yang rusak (3) Penghijauan di lahan kritis milik masyarakat dan negara yang jumlahnya cukup luas (4) Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai. penanaman dalam strip (system penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim. • Pengolahan tanah minimum (minimum tillage) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . danau. penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation).

pupuk hijau dan sisa tanaman Hutan produksi. pencampuran kompos. atau kombinasi keduanya. termasuk hutan produksi terbatas dan hutan rakyat Prasyarat dan Lokasi Dalam kawasan hutan Persentase penutupan lahan kecil Semak belukar Di luar kawasan hutan lahan kritis/tidak produktif Lahan milik Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng 0 – 15% Kedalaman tanah minimum 30 . (3) Peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi antara lain dengan: pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air. mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan. dan penanaman lorong Manajemen bahan organik termasuk mulsa. tumpang gilir dan tumpang sari Penanaman menurut kontur.2 Rencana Strategi konservasi WS Barito-Kapuas No 1 2 Pola Konservasi Reboisasi Penghijauan Pertanaman campuran.35 . c) Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (1) Pengelolaan kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik (2) Pengendalian/ pengawasan pembuangan limbah industri (3) Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri (4) Pelaksanaan audit lingkungan Tabel berikut memuat rencana strategi konservasi di WS Barito-Kapuas Tabel 8. strip. drainase dalam. dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan. pupuk kandang.(Persero) CABANG I MALANG (2) Pengelolaan air tanah. pergiliran pemberian air.>60% Fungsi lahan: Budidaya tahunan Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 40% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : budidaya tahunan/ semusim Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : Budidaya tahunan/ semusim Diluar/dalam kawasan hutan Lahan tidak produktif lereng kecil dari 60% 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dan pemberian air secara terputus. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. termasuk pergiliran tanaman.

Lereng 15 – 60% . Penetapan zona pemanfaatan sumber air. Barito-Kapuas 8. Penentuan zona pemanfaatan sumber air ditujukan untuk pendayagunaan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air yang bersangkutan secara berkelanjutan. teras bangku miring.4. (3).Kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan : lindung. Pendayagunaan SDA WS. (5). dan teras kebun . termasuk pematang kontur 11 Teras bangku. budidaya tahunan/semusim . Penyediaan sumber daya air.4. (4). Pengembangan sumber daya air. Cakupan Kegiatan Pendayagunaan Sumber Daya Air Pendayagunaan sumber daya air mencakup kegiatan : (1). termasuk teras bangku datar. perkebunan dan kebun 10 Teras gulud. 1. (2).1.Lereng 10 – 60% . Penatagunaan sumber daya air ditujukan untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air.Pada lahan pertanian/kawasan budidaya . Pengusahaan sumber daya air (A).36 . termasuk kebun rumah 8 Suksesi Alami 9 Vegetasi permanen.3.Pada lahan pertanian/kawasan budidaya .(Persero) CABANG I MALANG No Pola Konservasi - Prasyarat dan Lokasi Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: budidaya Status lahan jelas Di luar kawasan hutan Lereng kecil dari 80% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: Budidaya Lahan masyarakat Dalam kawasan hutan Dapat dilakukan pada semua kondisi lereng Kedalaman tanah minimum 15 cm Potensi kawasan masih baik Fungsi lahan: lindung dan budidaya Di dalam/luar kawasan hutan Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan : lindung dan budidaya 7 Agroforestry kebun campuran. termasuk tanaman industri.kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan: lindung. Penetapan zona pemanfaatan sumber air didasarkan pada pertimbangan : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penggunaan sumber daya air.3. budidaya tahunan/semusim 8.

dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. 4. Potensi konplik antar jenis penggunaan yang minimal Fungsi lindung dan budi daya Fungsi kawasan Hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologi 2. Inventarisasi jenis-jenis pemanfaatan yang sudah dilakukan diseluruh bagian sumber air. Pedoman dan petunjuk teknis penetapan peruntukan air ditetapkan oleh Menteri. Penetapan rencana zona pemanfaatan sumber air. Rencana tata ruang wilayah Pemanfaatan air yang sudah ada 3. Peruntukan air pada sumber air 1. kimia dan biologi pada sumber air. Peruntukan air pada sumber air ditentukan berdasarkan klasifikasi atau penggolongan mutu air yang ditetapkan 2.dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Merumuskan rencana zona pemanfaatan sumber air dan melakukan kegiatan sbb: • • Penelitian dan pengukuran parameter fisik dan karakter sumber air. Dampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air yang minimal. Dalam • • • • • menetapkan rencana peruntukan air pada sumber air perlu melakukan pengumpulan data dan informasi mengenai : Daya dukung sumber air Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya Perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . (B).37 . 3.(Persero) CABANG I MALANG • • • • • • Terakomodasinya semua jenis pemanfaatan secara layak. Penetapan rencana peruntukan air pada sumber air.

peruntukan air. 6. 1. 3. Dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim sehingga timbul konflik kepentingan antara pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pemenuhan kebutuhan air irigasi untuk pertanian rakyat. Penggunaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • Penghematan penggunaan. 4. prioritas penyediaan air ditempatkan pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari hari. Penyediaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • • • Mengutamakan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada. kebutuhan air pada wilayah sungai yang bersangkutan dan disesuaikan kondisi setempat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Rencana penyediaan sumber daya air yang berasal dari cekungan air tanah disesuaikan dengan kapasitas cekungan air tanah yang bersangkutan. Rencana penyediaan sumber daya air tahunan disusun sesuai dengan : • • Urutan prioritas penyediaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan.(Persero) CABANG I MALANG (C). Menjaga kelangsungan penyediaan air untuk pemakai air lainnya yang sudah ada.38 . (D). 2. Prioritas penyediaan sumber daya air untuk kebutuhan air lainnya ditetapkan berdasarkan hasil penetapan zona pemanfaatan sumber air. Ketersediaan air pada musim kemarau dan musim hujan. Memperhatikan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari penduduk yang berdomisili dekat dengan sumber air dan atau di sekitar jaringan pembawa air. 5. Rencana penyediaan sumber daya air terdiri dari rencana penyediaan sumber daya air tahunan dan rencana penyediaan sumber daa air rinci. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air diatas semua kebutuhan. Penggunaan sumber daya air. Penyediaan sumber daya air 1.

Penggunaan langsung dari sumber air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pemompaan air dari sumber air. Kekhasan dan aspirasi daerah dan masyarakat setempat. Penggunaan yang saling saling menunjang antara air permukaan dan air tanah dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. Menyediakan air yang memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas sesuai dengan ruang dan waktu untuk memenuhi kebutuhan air pokok secara berkelanjutan. Pengembangan sumber daya air Rencana pengembangan sumber daya air disusun dengan memperhatikan : • • • • Daya dukung sumber daya air yang ada. Keberlanjutan penggunaan.3. Kelestarian keanekaragaman hayati sumber air bersangkutan.(Persero) CABANG I MALANG • • • • Ketertiban dan keadilan.39 . Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. (E). Pengusahaan sumber daya air Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan untuk : • • • Meningkatkan pelayanan kebutuhan masyarakat akan air. 8. Kemampuan pembiayaan. Pembangunan bendung dan bendungan. Pengambilan langsung dari sumber air.2. 2. Ketepatan penggunaan. Meningkatkan effisiensi alokasi dan distribusi kemamfaatan sumber daya air. Langkah Kebijakan Pendayagunaan SDA 1. baik secara kuantitas maupun kualitas. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyediaan serta penggunaan air irigasi dengan lebih mengutamakan kegiatan operasi dan pemeliharaan. (F). Penggunaan air dapat dilakukan dengan cara : • • • • • Penyadapan bebas.4. 2.

(Persero) CABANG I MALANG optimalisasi. keberlanjutan penggunaan dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. pendayagunaan ekonomi sumber daya air dan untuk menunjang dengan secara efektif efisien mempertimbangkan kepentingan antar sektor. rehabilitasi dan peningkatan kinerja sistem irigasi yang ada secara berkelanjutan. 5. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. ketapatan penggunaan. Melaksanakan perkembangan panjang. Meningkatkan peran dunia usaha dalam pengusahaan sumber daya air dengan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan ketertiban dan keadilan. wilayah dan dampak jangka Dari beberapa butir strategi pokok tersebut beberapa kegiatan di WS. BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 8. • • • Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air. Mendayagunakan potensi sumber daya air secara berkelanjutan.3. Menerapkan prinsip penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air kecuali untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat. Meningkatkan efisiensi alokasi air dan distribusi kemanfaatan sumber air. 4. dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air.40 . 6. Mendorong pengembangan irigasi dan rawa dalam rangka mendukung produktifitas usaha tani untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan mensejahterakan masyarakat khususnya petani.3. untuk mendorong penghematan penggunaan air dan meningkatkan kinerja pengelolaan sumber daya air.4. 3. Strategi Pendayagunaan SDA Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: • • • Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan.

(2) Penyediaan air sesuai prioritas yaitu untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat.(Persero) CABANG I MALANG 1. SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan.1. Daya rusak air dapat berupa banjir. erosi dan sedimentasi. (4) Pengusahaan SDA tanpa mengabaikan fungsi sosial SDA. longsoran tanah. Penyediaan. Barito-Kapuas. Pengendalian Daya Rusak Air WS. 8. Penggunaan dan Pengusahaan SDA (1) Penetapan peruntukan air untuk berbagai kepentingan. terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa dan atau wabah penyakit. pelaksanaan dan dilengkapi dengan studi Analisis Dampak Lingkungan (2) Pengembangan terhadap modifikasi cuaca untuk menambah volume sumber air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Barito-Kapuas 8. Peruntukan.4. dan fisika air. Umum Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan. amblesan tanah. Pengembangan SDA (1) Pengembangan (AMDAL). menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air.4. kekeringan. (3) Penetapan ijin penggunaan air berkaitan dengan hak guna air. (2) Penetapan zona pemanfaatan sumber air yang sudah dikoordinasikan melalui PPTPA/ Dewan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas.4. 3.41 . biologi.4. 2. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. banjir lahar dingin. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. Penetapan zona pemanfaatan sumber air (1) Penetapan zona pemanfaatan sumber air ke dalam peta tata ruang wilayah Kabupaten/ Kota di WS. penanggulangan dan pemulihan. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah.

Kabupaten/Kota yaitu untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. sedimentasi.2. (3) Peringatan dini dilakukan di lokasi rawan bencana. (2) Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat.4. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. Sejalan dengan kepentingan pemerintah. Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan. upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. 2. dan upaya pemulihan akibat bencana. kepunahan flora dan fauna serta wabah penyakit. amblesan tanah.(Persero) CABANG I MALANG Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung. Dari dua butir strategi pokok tersebut. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 8. Strategi Pengendalian Daya Rusak Air. biologi dan fisikan air.4. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. tanah longsor. Pencegahan bencana alam (1) Penetapan zona rawan banjir. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana. banjir lahar dingin.42 . kekeringan. BaritoKapuas antara lain : 1. pemerintah daerah Provinsi. erosi. beberapa kegiatan di WS. Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: 1.

(3) Penilaian kerusakan. Pemulihan daya rusak air Pemulihan daya rusak air merupakan penanganan pasca bencana. baik berupa bencana banjir. (3) Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam. Inventarisasi terdiri dari kegiatan (1) Jenis kerusakan (2) Karakter banjir. Pemulihan Pasca Banjir atau disebut juga Rehabilitasi Pasca Banjir. bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sbb. (2) Penetapan prosedur operasi standart penanggulangan bencana alam.(Persero) CABANG I MALANG 2. (3) Revitalisasai wadah wadah air pada daerah aliran sungai. adalah proses perbaikan keadaan terencana berdasarkan hasil evaluasi kelayakan agar keadaan kembali sama dengan atau lebih baik dari keadaan semula.43 . Kegiatan yang dibutuhkan antara lain : Data awal. 3.: (1) Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural. Revitalisasi Evaluasi kelayakan terdiri dari (1) Kriteria legalitas (2) Kriteria tingkat resiko banjir Rekonstruksi mengembalikan seperti semula dengan: (1) Pengembalian total seperti kondisi sebelum banjir atau (2) Tidak melakukan perubahan atau desain ulang Konstruksi lebih baik dari semula yaitu: (1) Peningkatan di lokasi semula (2) Bangunan jenis baru (3) Pindah ke lokasi baru (relokasi) serta masyarakat dalam kegiatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . (2) Menumbuh kembangkan peran pemulihan akibat bencana. Penanggulangan bencana alam (1) Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air.

Rehabilitasi tidal levee yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi. Rehabilitasi atau perbaikan tidal gate yang rusak atau mengalami penirunan fungsi. Rehabilitasi tanggul pengendali banjir yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi. Menumbuh kembangkan peran masyarakat dalam kegiatan pemulihan akibat bencana. Revitalisasi wadah wadah air pada daerah aliran sungai.Barito-Kapuas 1.(Persero) CABANG I MALANG 8. A.4. Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir • • • • Rehabilitasi atau perbaikan pintu pengendali banjir yang rusak atau mengalami penurunan fungsi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Langkah I (Jangka Menengah / Mendesak ) Merupakan langkah kegiatan jangka pendek/ menengah yang harus segera dilaksanakan untuk memulihkan sarana dan prasarana pengendalian daya rusak air sungai Barito-Kapuas yang mengalami kerusakan akibat daya rusak air maupun penurunan kinerja yang cukup serius. bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sebagai berikut : Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural. Barito-Kapuas. Langkah Strategis Pengendalian Daya Rusak Air WS. Langkah I ini terdiri dari kegiatan Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat daya rusak air termasuk kawasan yang terkena bencana akibat daya rusak air dan penanggulangan daya rusak air dengan menerapkan sistem peringatan dini dalam WS. kegiatan ini merupakan program mendesak jangka menengah.4.44 . Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air Pemulihan sarana dan prasarana merupakan penanganan pasca bencana.3. baik berupa bencana banjir.

Dilaksanakan sejak banjir diperkirakan akan terjadi. Sosialisasi dan pelatihan RTD Pengamatan dan tahapan siaga banjir Penyiapan dan mobilisasi kebutuhan Pengungsian penduduk dan penentuan tempat evakuasi Prasarana darurat banjir Pencarian dan pertolongan orang hilang Pelayanan korban banjir Deklarasi pengakhiran keadaan darurat Pemulangan pengungsi 2). Upaya ini dapat membantu penanggulangan bahaya banjir secara dini sehingga mengurangi kerugian yang mungkin terjadi misalnya relokasi penduduk ke daerah yang aman.45 . Manajemen Tanggap Darurat terdiri dari : Penyusunan Rencana Tanggap Darurat (RTD). hingga banjir berakhir. Manajemen penanggulangan banjir atau yang lazim disebut Manajemen Tanggap Darurat yaitu: Dilaksanakan secara terencana dan terkoordinir. Ada dua Strategi untuk penanggulangan banjir sungai Barito-Kapuas yaitu: 1). Umum Sistem peringatan banjir dini adalah cara yang relatif murah untuk mengurangi korban dan kerugian akibat banjir.(Persero) CABANG I MALANG B.penanggulangan darurat pada lokasi lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) a). Penanggulangan Daya Rusak Air Kondisi DAS wilayah sungai Barito-Kapuas termasuk DAS kritis dengan tingkat erosi dan sedimen yang tinggi hal ini dapat dilihat dari data erosi dan juga diindikasikan dari fluktuasi debit rata rata maksimun dan debit rata rata minimum besar. Tujuannya untuk menyelamatkan jiwa dan meminimalkan kerugian.

Sistem ini terdiri 2 komponen yaitu hardware dan software.46 .(Persero) CABANG I MALANG tanggul yang mengalami kebocoran atau pada lokasi tanggul yang akan melimpas akibat banjir Pada WS Barito-Kapuas seharusnya dipasang peralatan Flood Warning and Forecasting system. melalui mekanisme yang berlaku. masyarakat dan Pokmas. Hydrological software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk menghitung berapa besar debit yang akan terjadi pada suatu titik (stasiun pengamat muka air) berdasarkan data hujan yang diterima. Informasi banjir yang merupakan hasil pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan oleh pengamat. Keluaran (output) dari sistem ini adalah berupa data ramalan banjir yang terdiri dari :data muka air. sehingga besarnya banjir yang akan terjadi dapat diketahui lebih dini sehingga daerah daerah rawan banjir dapat segera ditanggulangi bahaya banjirnya termasuk lokasi tanggul yang akan terlampuai kemampuannya terhadap banjirnya. Informasi banjir yang akan didapat terdiri dari 2 sumber. Informasi banjir yang berasal dari peramalan banjir dengan menggunakan fasilitas flood warning and forecasting system. Data ramalan banjir tersebut di informasikan kepada penduduk di daerah banjir melalui Instansi terkait. peronda. data debit dan waktu kejadian banjir serta tempat dimana banjir tersebut terjadi. Komponen Software terdiri dari: Telemetri software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk mengumpulkan data hujan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . cuaca maupun muka air dari lapangan secara tepat waktu. Flood warning and forecasting system adalah suatu sistem yang dapat digunakan untuk meramal tentang waktu dan besarnya banjir yang akan terjadi pada suatu titik pengamatan yang terjangkau di dalam sistem tersebut.

Pembagian kritaria Siaga Banjir secara umum adalah sebagai berikut: Siaga banjir I. Dalam menahan air ini diberlakukan konsep keseimbangan alamiah. menahan air di bagian hulu dan hilir. Siaga banjir II. sempadan sungai dan badan sungai di bagian hulu tengah dan hilir.(Persero) CABANG I MALANG b) Tingkat Siaga Banjir Ada 4 macam pemberitaan siaga banjir yang masing masing akan berdampak pada daerah rawan banjir.8 m dari permukaan tanggul. Jadi dalam konsep dasar penanggulangan banjir eko-hidraulik adalah dengan meretensi air dari hulu hingga hilir secara merata. yaitu bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai (WS). Siaga banjir IV. Sempadan Sungai (SS) dan Badan Sungai (BS) harus dipandang sebagai kesatuan sistem dan ekosistem ekologi-hidraulik yang integral. Siaga banjir III. serta menahan air di sepanjang wilayah sungai. tengah dan hilir. Dalam penanggulangan banjir dengan konsep eko-hidraulik dikenal kunci pokok penyelesaian banjir. apabila sebagian/semua bangunan utama pengendali banjir (tanggul. Cara ini sekaligus merupakan cara menanggulangi kekeringan suatu kawasan atau DAS. apabila kondisi muka air berjarak 1.tanggul dan bangunan pengendali banjir) tidak berfungsi.2 m dari permukaan tanggul. 2. Penyelesaian banjir harus dilakukan secara konprehensif dengan metode menahan atau meretensi air di DAS bagian hulu. karena sebenarnya banjir dan kekeringan ini merupakan kejadian yang saling susul dan saling memperparah. apabila kondisi muka air berjarak 1. dalam arti Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Langkah ke II Pencegahan Daya Rusak Air (Jangka Panjang ) Alternatif 1 : Melayani Debit Banjir Dengan Peningkatan Kapasitas Bangunan pengendali banjir Alternatif 2 : Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir.5 m dari permukaan tanggul.47 . apabila kondisi muka air berjarak 0.

2) Penataan tataguna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan mempertinggi retensi dan konservasi air di DAS. Konsep ini sesuai dengan kebijakan dalam UU No. yaitu sistem pengolahan lahan dengan membuat terasering mengikuti kontur lahan sehingga air hujan tidak langsung mengalir tapi tertahan dulu di teras teras.48 . maka kesempatan infiltrasi akan lebih banyak dan akan menurunkan koefisien runoff dan mengurangi erosi lahan. Selanjutnya reboisasi juga mengarah ke DAS bagian tengah dan hilir. 7) Beberapa rawa yang terdapat di sepanjang sungai Barito-Kapuas dapat difungsikan sebagai folder alamiah atau daerah penahan banjir (detention basin). Untuk Itu kami usulkan Semua lahan pertanian pada lahan miring di WS Barito-Kapuas di buat dengan sistem teras mengikuti kontur.7 tahun 2004 tentang SDA . 3) Sungai Barito-Kapuas yang bermeander justru dipertahankan sehingga dapat menyumbangkan retensi. dengan cara menanami atau merenaturalisasi kembali sempadan sungai yang telah rusak. 8) Mencari berbagai alternatif untuk mengembangkan kolam konservasi alamiah di sepanjang sungai atau di lokasi-lokasi yang memungkinkan baik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . mengurangi erosi dan meningkatkan konservasi. 6) Memfungsikan daerah genangan atau rawa sebagai polder alamiah di sepanjang sempadan sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung air. 4) Komponen retensi alamiah di wilayah sungai. di sepanjang sempadan sungai dan badan sungai justru ditingkatkan. 5) Tebing-tebing sungai yang mengalami erosi atau scouring terutama pada tikungan luar jika memungkinkan dilaksanakan dengan cara penanaman dengan teknologi Eco-Engineering dengan menggunakan vegetasi setempat. Penanganan banjir dengan konsep ekologi-hidraulik secara konkrit terdiri dari: 1) DAS bagian hulu dengan reboisasi dan konservasi hutan untuk meningkatkan retensi dan tangkapan air di hulu terutama pada lahan kritis.(Persero) CABANG I MALANG mengacu pada kondisi karakteristik alamiah sebelumnya.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Genangan-genangan alamiah ini berfungsi meretensi banjir tanpa menyebabkan banjir lokal karena banjir di bagi-bagi di DAS dan di sepanjang wilayah. Membatasi atau mencegah pembangunan baru pada daerah yang mempunyai resiko kerugian akibat banjir (rawan banjir). Selain hal-hal tersebut diatas sumur-sumur resapan perlu digalakkan pembuatannya. Dengan demikian keuntungan ekonomi jangka panjang serta kecilnya dampak lingkungan sebagai konsekuensi dari usaha ini dapat diperoleh. harus ditetapkan berdasarkan peraturan daerah (perda).49 . terutama pada daerah yang akan dikembangkan. Alternatif 3 : Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) 1) Flood Zoning Pengendalian dan pengelolaan dataran banjir atau dapat juga disebut pengelolaan Tata Ruang dataran banjir bertujuan untuk memperkecil kerugian yang diakibatkan banjir. Untuk bangunan yang telah ada dikenakan aturan lain yaitu tentang sandi bangunan (flood proofing). Rekomendasi yang termuat dalam peta rawan banjir (flood zoning ) dengan segala resikonya. bila penerapan dari perda ini harus membongkar banyak bangunan yang telah ada.(Persero) CABANG I MALANG di perkotaan-hunian atau di luar perkotaan. Peraturan daerah ini lebih ditujukan kepada pembangunan dan pengembangan baru (setelah perda berlaku secara hukum). agar dapat dilaksanakan dengan baik. pada prinsipnya harus mempunyai tujuan yang mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. sehingga kerugian material dapat dikurangi dan korban jiwa dapat dihindarkan. sempadan dan badan sungai. Peraturan daerah untuk penetapan daerah rawan banjir. 9) Disamping solusi eko-hidroteknis tersebut. termasuk kerugian sosial ekonomi dan kerusakan lingkungan. sangat diperlukan juga pendekatan sosio-hidraulik sebagai bagian dari eko-hidraulik dengan meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus-menerus akan peran mereka dalam ikut mengatasi banjir. agar tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan.

maka flood proofing dapat dilaksanakan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 2. agar lebih layak. peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. Bilamana waduk ini dibuat khusus untuk maksud pengendalian banjir. dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang. oleh karena itu waduk biasanya dibangun untuk berbagai jenis kegunaan (multiple purpose). karena tertalu mahal atau sulit dari segi sosial. Alternatif 4 : Pengendalian Debit Banjir 1). 2) Flood Proofing Bilamana upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir lainnya kurang efektif untuk dilaksanakan. biasanya analisis ekonomi menunjukkan kurang layak. baik secara ekonomis maupun teknis. Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir). terlebih-lebih bilamana kondisi DAS-nya telah rusak. Bentang Sungai Barito-Kapuas termasuk pendek sehingga sulit untuk memperpanjang waktu rayapan. Pembuatan bendungan merupakan cara yang paling langsung untuk mengendalikan debit banjir. Harus dapat mencegah timbulnya kegiatan-kegiatan baru yang dapat menempati daerah genangan dan akibatnya memperdalam genangan banjir.(Persero) CABANG I MALANG 2. Bangunan beserta komponen-komponennya stabil (tahan) terhadap ancaman banjir. Berdasarkan kecocokan topografi dan maksud pengendalian banjir.50 . flood proofing mempunyai dua maksud yaitu: 1. maka waduk ini dibangun di bagian hulu dari daerah pengendali sungai. Pada upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir. Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Pengendalian debit banjir merupakan alternatif penanggulangan banjir dengan cara memperpanjang waktu rayapan baik dalam bentuk storage (in-stream ataupun off-stream) maupun dengan pendekatan cascade sepanjang sungai. Bangunannya sendiri dihindarkan dari genangan banjir dengan cara meninggikan lantainya.

pemindahan sebagain debit banjir ke DAS lain memerlukan pertimbangan ekstra hati-hati atas perubahan morfologi sungai. Selain itu.51 . mudah pelaksanaannya dan tidak terlalu rumit dalam perencanaannya. Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas bangunan checkdam dalam mengurangi puncak banjir perlu dikaji lebih lanjut termasuk seberapa banyak jumlah checkdam yang perlu dibangun. untuk selanjutnya dilepaskan sedikit demi sedikit menurut daya tampung sungai di bagian hilirnya. Membangun checkdam Membangun checkdam checkdam secara cascade sepanjang alur Sungai Barito-Kapuas dan anak anak sungainya di bagian hulu sungai. sekaligus akan dapat menurunkan puncak banjirnya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Metode transfer antar basin ini harus ditinjau dengan hati-hati untuk menjamin agar jangan sampai memindahkan masalah banjir dari satu tempat ke tempat lainnya. maka sebagian besar dari seluruh kapasitas waduk harus diperuntukkan bagi pengendalian banjir sedangkan bagian sisanya untuk fungsi waduk yang lain yang merupakan prioritas selanjutnya. Transfer Antar Basin Metode pengendalian banjir dengan metode transfer antar basin bertujuan untuk menurunkan ketinggian puncak banjir dengan cara memindahkan sebagian debit banjir ke DAS lain yaitu dengan membangun bangunan pelimpah dan dialirkan ke DAS lain yang terdekat. 3). Pertimbangan atas perubahan morfologi sungai yang diakibatkan pembuatan bangunan pelimpah antar basin ini tidak hanya pada DAS yang menerima pelimpahan saja. dengan demikian banjir di bagian hilir dapat diatur dan dikendalikan. 2). dengan maksud mengurangi kemiringan slope alur sungai sehingga akan dapat memperpanjang time peak debit banjir.(Persero) CABANG I MALANG Waduk ini menampung aliran banjir untuk sementara. Bangunan Checkdam kami usulkan berupa konstruksi bronjong karena konstruksinya praktis. karena upaya ini merupakan pemaksaan terhadap perubahan rezim sungai. tetapi juga pada DAS yang memberi pelimpahan sebagian debit banjirnya. Bilamana fungsi pengendalian banjir dari waduk merupakan prioritas utama.

untuk diusulkan kepada Pemerintah. 4 5 6 Meningkatkan koordinasi unsur-unsur perencanaan PSDA dengan Institusi Perencana Pembangunan (Bapeda) Provinsi. Kabupaten dan Kota. Dunia Usaha. 1 Mensinergiskan kegiatan Institusi pengelola SDA dengan kegiatan yang positip dari Masyarakat. Meningkatkan penyelenggaraan sosialisasi UU no. Rancangan Jangka Panjang merupakan strategi yang dilaksanakan sampai dengan rentang waktu 20 tahun ke depan.5 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas disusun berdasarkan 2 (dua) kerangka waktu.52 . Perguruan Tinggi dan LSM dalam pendayagunaan SDA. 7 Sosialisasi/Diseminasi mengenai ancaman yang dapat timbul sebagai akibat dari alih fungsi lahan terhadap kondisi lahan kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai BaritoKapuas 8 Meningkatkan kerjasama antara perencana wilayah yang terkait dengan PSDA untuk mendorong tersusunnya SK Gubernur mengenai Baku Mutu Peruntukan Air Sungai pada semua sungai di Wilayah Sungai Barito- Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dengan memperhatikan aspek hidrologis dan topografis serta melibatkan stakeholder di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. 2 3 Melibatkan perguruan tinggi dan LSM dalam program penguatan (capacity building) institusi PSDA. 7 di lingkungan stakeholders. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Rancangan Jangka Pendek merupakan strategi yang dilaksanakan pada 5 tahun pertama setelah Pola Pengelolaan Sumber Daya Air ini ditetapkan. utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan. yaitu Jangka Pendek dan Jangka Panjang. Pengembangan sistem operasional pengelolaan SDA melalui penetapan Zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air.(Persero) CABANG I MALANG 8.

(Persero) CABANG I MALANG Kapuas.1 Rancangan/strategi Jangka Pendek (5 Tahun) Strategi Jangka Pendek dalam Pola Pengelolaan SDA WS. 9 Meningkatkan koordinasi dan memperkuat posisi institusi PSDA di lingkungan institusi perencana pembangunan Pemerintah Daerah. 8. Dalam implementasinya nanti berbagai rancangan strategi tersebut akan dijabarkan kedalam berbagai program kegiatan yang disusun sesuai dengan kebutuhan nyata dan kondisi nyata yang dituangkan dalam matrik pola pengelolaan SDA. Barito-Kapuas. kepentingan. 10 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan. Secara logis strategi yang menempatkan penguatan kelembagaan di awal ini akan sangat berguna untuk memantapkan jalannya pengelolaan SDA di masa depan.5. 8. Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1 Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. pelaksanaan. Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Usulan strategi kebijakan pada periode 5 tahun pertama ini sebagian besar lebih merupakan strategi yang ditujukan untuk penguatan institusi pengelolaan SDA WS. 11 Menyusun peta potensi sumber daya air yang dapat mendukung pembuatan sonasi (zoning). 12 Menyusun Program perbaikan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. Perguruan Tinggi. dan LSM dalam pendayagunaan SDA.2 Rancangan/Strategi Jangka Panjang (20 Tahun Ke Depan) Strategi Jangka Panjang dalam Pola Pengelolaan SDA WS. 2 Sosialisasi/Diseminasi persoalan (key issues) mengenai Konservasi. Dunia Usaha.5.53 . dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

BLN atau dari Stakeholders). kolam ikan.(Persero) CABANG I MALANG pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3 Memasukkan unsur Lokal Inflow yang cukup signifikan besarnya dalam perhitungan ketersediaan air sehingga dapat mengurangi dampak dari tingginya fluktuasi aliran sungai antara musim kemarau dengan musim hujan. dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat. Perda Irigasi. 9 Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. segera munculnya mengenai mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai. 13 Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga internasional maupun pelaksanaan. dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . kepentingan. 12 Peningkatan monitoring penggunaan air untuk berbagai kepentingan usaha dan atau kegiatan. dan aktivitas non pertanian.54 . 7 8 Meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki instansi PSDA. sementara untuk kebutuhan lainnya diupayakan dari sumber lain (APBN. Mengarahkan alokasi dana dari PAD untuk keperluan operasional dengan selalu mengadakan alokasi untuk peningkatan SDM di lingkungan Institusi pengelola SDA. 10 Melengkapi dan mengintegrasikan penyusunan profil SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas dengan melibatkan perencana pembangunan Pemerintah Daerah 11 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan. 4 Mengembangkan Sistem Database (untuk wadah dari hasil inventarisasi potensi internal dan ancaman external) untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan SDA dengan baik. 5 Memberikan masukan sebanyak-banyaknya kepada unsur perencana pembangunan 6 Mendorong daerah agar perubahan perda tata guna SDA lahan/RTRW yang dapat memperhatikan arah kebijakan konservasi sumber daya air.

perguruan tinggi. 17 Mengembangkan Sistem Informasi SDA dengan melibatkan Institusi Pengusahaan dan Pemanfaat SDA. 18 Membuat Warning System untuk banjir dengan partisipasi masyarakat. penataan pengelolaan mendukung terealisasikannya penggalangan dana dari potensi yang ada. dan lembaga lain yang terkait dengan PSDA 19 Menyusun regulasi yang dapat mendorong partisipasi masyarakat untuk ikut mendanai kebutuhan pengelolaan SDA. 20 Meningkatkan daya dukung lingkungan melalui pengembangan sewerage system Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . maupun lembaga lain baik di dalam maupun di luar negeri. 15 Menyusun regulasi yang mengatur kegiatan masyarakat yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan SDA khususnya kegiatan konservasi agar tidak terjadi hal-hal yang negatip. 16 Peningkatan kapasitas SDM dengan memanfaatkan kerjasama dengan perguruan tinggi.(Persero) CABANG I MALANG lembaga donor lainnya yang concern dengan pengelolaan SDA untuk mendapatkan 14 Menyusun grant/hibah/softloan sistem yang dapat yang digunakan dapat untuk mendukung pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas dengan baik.55 . termasuk OP. yang sangat diperlukan untuk keperluan pembiayaan pengelolaan sumber daya air. Asosiasi.

pengendalian daya rusak air. peningkatan peran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-1 . 2. Dalam rangka mewujudkan pencapaian visi dan misi pengelolaan sumber daya air serta mengimplementasikan strategi.1. Barito-Kapuas. Studi ini telah menghasilkan suatu rumusan . Sebagai hasil akhir dari proses tersebut telah dihasilkan suatu rumusan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas. pendayagunaan sumber daya air.1 Aspek Kebijakan 1. Strategi. kebijakan dan program yang diperoleh berdasarkan Analisis dan informasi teknik yang diperoleh dari berbagai aspek teknis antara lain. kebijakan dan indikasi program. yang selanjutnya dijadikan acuan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (termasuk kabupaten/kota) dalam menyusun rencana induk/ master plan serta rencana pengelolaan sumber daya air WS Barito Kapuas. Analisis DSS-Ribasim pada WS. sasaran. Konsep kebijakan tersebut di atas pada dasarnya mengacu pada lima buah pilar pengelolaan sumber daya air. maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut : 9.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis serta kajian pada bab-bab sebelumnya serta hasil rumusan pada Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II yang telah diselenggarakan beberapa waktu yang lalu. selanjutnya dianalisis lebih lanjut tingkat kepentingannya. upaya-upaya konservasi sumber daya air . diharapkan rumusan rancangan tersebut dapat disepakati oleh kedua provinsi dan dijadikan bahan rumusan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah.(Persero) CABANG I MALANG BAB 9 KESIMPULAN DAN SARAN 9. yaitu serta masyarakat serta sistem informasi. maka diperlukan pengaturan dalam bentuk kebijakan Provinsi. tujuan.

berkurangnya debit aliran rendah pada musim kemarau. WS Barito-Kapuas administrasi.1. tidak bisa dipisah-pisah sesuai dalam wilayah pengelolaan sumber daya air yang berbasis wilayah sungai.(Persero) CABANG I MALANG 9.2 Aspek Tata Ruang 1. 2. hal ini telah mengakibatkan meningkatnya debit sungai pada musim penghujan. 3.1. Perubahan pemanfaatan fungsi ruang di daerah tangkapan air WS Barito-Kapuas telah semakin memprihatinkan. meningkatnya pencemaran air sungai. Usaha konservasi tanah dan air merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menahan laju peningkatan nilai erosi tersebut dari tahun ke Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-2 . menurunnya kualitas air. tingginya laju erosi dan sedimentasi yang menurunnya kualitas lingkungan keairan. Dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi/ kabupaten/ kota yang lestari. Nilai erosi tersebut diasumsikan akan terjadi jika tidak dilakukan usaha pengawetan tanah dan air. namun sesuai dengan UU SDA merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari hulu ke hilir. kekeringan pada musim kemarau serta 9. yaitu: 1. Erosi yang terjadi di WS Barito-Kapuas untuk setiap DAS berdasarkan perhitungan tahun 2006 pada umumnya berkisar dari sedang sampai berat Prediksi erosi hingga tahun 2025 menunjukkan klasifikasi yang sama yaitu dari sedang sampai berat. keterpaduan dan kesinambungan yang bersifat lintas provinsi. 2. Diperlukan suatu kesepakatan. berwawasan lingkungan dan berkesinambungan perlu adanya keterpaduan dan sinkronisasi dalam penataan ruang di wilayah perbatasan. menyebabkan terjadinya bencana banjir dan pendangkalan sungai. Adanya konflik kepentingan antar sektor dalam pemanfaatan lahan sehingga pelaksanaan di lapangan tidak konsisten dengan rencana tata ruang.3 Aspek Konservasi Beberapa kesimpulan dapat ditarik berdasarkan hasil analisis beberapa sifat biofisik di WS Barito-Kapuas. 4.

4 Aspek Kualitas Air Berdasarkan hasil analisis sebagai berikut : 1. diperoleh kesimpulan 9. karena apabila dibiarkan akan menurunkan kualitas sumber daya air yang berfungsi sebagai penampung limbah RKI.5 Aspek Pendayagunaan SDA Dari hasil simulasi DSS-Ribasim untuk kasus dasar 2007. Keberadaan hutan yang utuh merupakan salah satu upaya untuk mengurangi terjadinya erosi. maka dapat diketahui bahwa rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau). perkotaan dan industri (semua sukses diatas 90%).1. Dari aspek kuantitas terjadi peningkatan jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan penggunaan air bersih. aktivitas perambahan hutan. Mengingat kualitas limbah RKI yang dihasilkan mengandung kadar pencemar tinggi.54 (Cemar Ringan) . Upaya konservasi ini dapat dilakukan dengan metode vegetatif dan cara mekanik. 2. Hasil simulasi base case 2007 menunjukkan bahwa dari ketersediaan air alami. 9. Status Mutu Air (SMA) berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan di Sungai Barito-Kapuas dan beberapa anak sungainya. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1.Sungai Barito : PI = 3.1. pembalakan liar serta konversi hutan menjadi peruntukan lain harus dicegah secara maksimal. di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : . Pembangunan bangunan penyedia air baku dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-3 . tidak ada kekurangan air untuk rumah-tangga. diperlukan pengolahan limbah cair RKI.7217 (Cemar Ringan) terhadap kualitas air Sungai. Oleh karena itu.Sungai Kapuas : PI = 3. 2025 dan masing-masing upaya. 3. Simulasi menunjukkan tidak ada kekurangan air baku sampai dengan tahun 2025.(Persero) CABANG I MALANG tahun. 2.

yaitu : Jangka Menengah/ Mendesak a) Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air meliputi : − − − − − Rehabilitasi / normalisasi jaringan drainasi Normalisasi alur sungai Pengerukan muara sungai yang mengalami pendangkalan Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir Rehabilitasi / perbaikan tebing kritis Manajemen penanggulangan banjir atau yang lajim disebut Manajemen Tanggap Darurat Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) b) Penanggulangan Daya Rusak Air − − Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-4 . Banjir yang terjadi di WS Barito-Kapuas disebabkan oleh beberapa faktor. b. Mengingat banjir tidak dapat dihilangkan secara absulut. 2. maka dalam studi ini telah ditetapkan bahwa strategi Pengendalian Daya Rusak Air dibagi dalam dua periode waktu. yaitu: a. Perubahan fungsi Retarding Basin yang berubah menjadi daerah pemukiman & pertanian. debit andalan Q80%.1. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1.6 Aspek Pengendalian Daya Rusak Air (DRA) Berdasarkan analisis dan hasil simulasi yang telah dilakukan. dan debit andalan Q90%. d. Menurunnya kapasitas dari sungai-sungai / drainasi karena sedimentasi c. Pada beberapa bendung strategis di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Prilaku masyarakat yang kurang memperhatikan fungsi dari sungai dan prasarana banjir yang dibangun. Kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai atau drain mengakibatkan pendangkalan sungai. Sedangkan kebutuhan air terdiri atas kebutuhan air irigasi dan pemeliharaan aliran untuk lingkungan. yang pada akhirnya mengurangi kapasitas sungai. 9. dengan kondisi ketersediaan air rata-rata.(Persero) CABANG I MALANG 3.

3. untuk diusulkan kepada Pemerintah. 7 Tahun 2004. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan perlu menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat. tentang Sumber Daya Air dan usulan pengembangan pengelola SDA lintas Propinsi adalah sebagai berikut : 1.2 SARAN Usulan saran terhadap pengembangan wilayah sungai meliputi usulan pengelolaan sesuai tahapan dalam Undang-undang No. peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. Perlunya mempercepat munculnya perda mengenai SDA yang dapat mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai. − Flood Proofing Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir). c) Pengendalian Debit Banjir − − Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Transfer Antar Basin 9.(Persero) CABANG I MALANG Jangka Panjang a) Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. Konservasi dan perlindungan daerah tangkapan air di wilayah hulu sungai perlu dilakukan secara intensif mengingat daya dukung lingkungan dan daya tampung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-5 . Perda Irigasi. utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan. dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang. 2. menahan air di bagian hulu dan hilir b) Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) − Flood Zoning Daerah daerah rawan banjir yang perlu ditetapkan sebagai flood zoning yang didasarkan atas frekuensi banjir yang terjadi.

Air Limbah Rumah Tangga dan Perkotaan. Untuk areal permukiman terpencar dilakukan secara komunal di daerah bersangkutan. ini sesuai Pasal 38 ayat (2) butir (a) dari PP 82/2001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”). tentang kewajiban untuk mengolah limbah dari industri. Untuk permukiman yang terpisah dengan pertimbangan daya dukung lahan masih memadai dapat dan dapur) dapat diolah diolah secara individu dengan tangki dengan konsep ekoteknologi yang yang septik untuk tinjanya. serta menerapkan Q – Delta Policy dalam setiap pembangunan . (b).(Persero) CABANG I MALANG sudah tidak memadai lagi. terdiri dari : dapat menyerap unsur pencemar. Untuk mengatasi banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. yaitu : (a). tetapi untuk grey water ( air bekas mandi. Harus diolah sebelum dibuang ke badan air. dengan alternatif pengolahan : 1). yaitu dengan menggunakan jaringan perpipaan air limbah untuk menampung air limbah dari setiap sumber pencemar. Dalam mengatasi jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun dengan kuantitas yang banyak dan memilki potensi untuk mencemari WS Barito-Kapuas. 5. cuci menggunakan tanaman (wetland system) atau Echo Garden dapat dibuang ke badan air. sehingga jaringan perpipaan lebih sederhana dan kapasitas IPAL terpusat bisa lebih kecil. maka perlu pengolahan limbah. Untuk permukiman dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan ekonomi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan kebijakan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya menggunakan ”Off Site System”. selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat. Air Limbah Industri : 1). Perlu dilakukan audit lingkungan secara komprehensif baik secara biogeofisik maupun sosial budaya air di wilayah sungai. 4. selanjutnya effluent Echo Garden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-6 . Alternatif pengolahan. 3). di daerah hulu sungai perlu dibuatkan embungembung penampungan air hujan. 2). sumur resapan.

Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-7 .(Persero) CABANG I MALANG • • Dengan pengolahan individu di masing masing industri Untuk areal industri yang memiliki limbah sejenis dan terkumpul dalam suatu area dapat dilakukan Pengolahan Terpusat. 38 ayat (2) butir (e) : dari PP 82/20012001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”). selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat. Limbah industri harus dipantau secara kontinyu. Dunia Usaha. Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. 6. Meningkatkan kemampuan lembaga pengelolaan sumber daya air (capacity building) serta meningkatkan tingkat kesadaran serta peran serta masyarakat. 2). Pariwisata dan juga perikanan darat. (c). 8. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis 2 Menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan konservasi SDA 3. Perguruan Tinggi. PLTA. sesuai dengan Pasal. dan LSM dalam pendayagunaan SDA 9. dimana setiap industri biasanya diwajibabkan melakukan Pra Pengolahan. Upaya-upaya konservasi yang perlu segera dilakukan di WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan DRA 1. swasta dan LSM dalam upaya memelihara dan melindungi sempadan sungai 7. maka dapat dipertimbangkan pembangunan waduk Muara Julai yang diharapkan akan dapat menyediakan air untuk irigasi teknis. sehingga limbah cair yang disalurkan ke jaringan pengumpul limbah memiliki mutu tertentu sesuai dengan ketentuan yang diberikan dari Badan Pengelola. Untuk memanfaatkan sumber daya air yang ada. Menerapkan Aspek Hukum yaitu sangsi dan penghargaan bagi industri yang belum dan telah memenuhi Ketentuan Baku Mutu Limbah Cair. tentang Persyaratan melakukan pemantauan mutu dan debit air limbah.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-8 . Upaya-upaya pengendalian banjir yang perlu segera dilakukan di WS BaritoKapuas adalah sebagai berikut : (a) Penanganan banjir supaya dilakukan secara menyeluruh. (b) Rasionalisasi alur sungai dan drainase kota merupakan upaya penanganan banjir WS. dengan memperhatikan faktor penyebab yang paling dominan dan optimasi penanganannya baik yang dilakukan secara struktural maupun non struktural. Pemeliharaan mata air 5. (c) Tidak kalah pentingnya upaya penataan penggunaan bantaran dan alur sungai serta kegiatan konservasi untuk daerah hulu untuk mencegah adanya trend kenaikan debit banjir akibat kerusakan daerah resapan air (d) Perlu dilakukan pengaturan tanggung jawab dan wewenang pada sektor/ dinas/ instansi di daerah yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas serta pengkoordinasiannya agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya. embung dengan prioritas daerah pemukiman 4. Menetapkan daerah batas sempadan sungai. rawa. Menetapkan dan mengelola kawasan danau rawa. Pengendalian penggunaan air tanah kota Memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan 10. 3. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. daya tampung dan fungsi sumber daya air secara berkelanjutan 1. Pengawetan SDA 2. Barito-Kapuas yang harus mendapatkan perhatian yang memadai dari Pemerintah Daerah. embung & mata air dgn aturan.(Persero) CABANG I MALANG Meningkatkan. Pelestarian situ 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful