P. 1
Barito-Kapuas_1297774134

Barito-Kapuas_1297774134

|Views: 682|Likes:
Published by Dedy Safriansyah

More info:

Published by: Dedy Safriansyah on May 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2014

pdf

text

original

(Persero) CABANG I MALANG

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai keperluan disatu pihak terus meningkat dari tahun ketahun, sebagai dampak pertumbuhan penduduk dan pengembangan aktivitasnya. Padahal dilain pihak ketersediaan sumber daya air semakin terbatas bahkan cenderung semakin langka, terutama akibat penurunan kualitas lingkungan dan penurunan kualitas akibat pencemaran. Apabila hal seperti ini tidak diantisipasi, maka dapat dikhawatirkan dapat menimbulkan kepentingan ketegangan manakala dan bahkan konflik akibat tidak terjadinya seimbang benturan dengan permintaan (demand) lagi

ketersediaan sumber daya air untuk pemenuhannnya (supply). Oleh karena itu perlu upaya secara proporsional dan seimbang antara pengembangan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya air baik dilihat dari aspek teknis maupun aspek legal. Untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat diberbagai keperluan, diperlukan suatu perencanaan yang terpadu yang berbasis wilayah sungai guna menentukan langkah dan tindakan yang harus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan mengoptimalkan potensi pengembangan SDA, melindungi, melestarikan serta meningkatkan SDA dan lahan. Mengingat pengelolaan sumber daya air merupakan masalah yang kompleks dan melibatkan semua pihak baik sebagai pengguna, pemanfaat maupun pengelola, tidak dapat dihindari perlunya upaya bersama untuk mempergunakan pendekatan one river basin, one plan and one integrated management. Keterpaduan dalam perencanaan, kebersamaan dan pelaksanaan dan kepedulian dalam pengendalian sudah waktunya untuk diwujudkan. Perencanaan pengelolaan SDA WS adalah merupakan suatu pendekatan holistik, yang merangkum aspek kuantitas dan kualitas air. Perencanaan tersebut merumuskan dokumen inventarisasi sumber daya air wilayah sungai, identifikasi ketersediaan saat

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-1

(Persero) CABANG I MALANG

ini dan masa mendatang, pengguna air dan estimasi kebutuhan mereka baik pada saat ini maupun dimasa mendatang, serta analisis upaya alternatif agar lebih baik dalam penggunaan sumber daya air. Termasuk didalamnya evaluasi dampak dari upaya alternatif terhadap kualitas air, dan rekomendasi upaya yang akan menjadi dasar dan pedoman dalam pengelolaan wilayah sungai dimasa mendatang. Sejalan dengan itu, Undang-Undang Tentang Sumber Daya Air UU Nomor 7 Tahun 2004 dimaksudkan untuk memfasilitasi strategi pengelolaan sumber daya air untuk wilayah sungai diseluruh tanah air untuk memenuhi kebutuhan, baik jangka menengah maupun jangka panjang berkelanjutan. Pada pasal 1 ayat 8 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa “pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar datam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air”. Pada pasal 11 ayat 1 sampai dengan ayat 4 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa : "untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar¬besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun pola pengelolaan sumber daya air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air bawah ". Undang-undang tersebut (dan peraturan pemerintah yang terkait) mencerminkan arah pemikiran yang berkembang saat ini berkaitan dengan penataan ulang tanggung jawab dalam sektor sumber daya air. Undang-undang tersebut mengungkapkan sejumlah aspek dimana pengelolaan sumber daya air diwilayah sungai dapat ditingkatkan lebih lanjut, antara lain dengan dimuatnya pasal-pasal tentang perencanaan pengelolaan sumber daya air. Dengan UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air tersebut diatas, jelas bahwa tahapan pengelolaan SDA wilayah sungai adalah sebagai berikut : 1. Sebelum dilakukannya penyusunan rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA wilayah sungai, terlebih dahulu perlu dikakukan penyusunan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai yang berisi tentang : Tujuan umum pengelolaan SDA

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-2

(Persero) CABANG I MALANG

Dasar-dasar pengelolaan SDA Prioritas dan strategi dalam mencapai tujuan Konsepsi kebijakan-kebijakan dasar pengelolaan SDA dan Rencana pengelolaan strategis. 2. Sebagai tindak lanjut dari penyusunan pola pengelolaan SDA WS tersebut, setelah disyahkan oleh yang berwewenang, selanjutnya akan disusun Rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA yang merupakan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA, dimana perencanaan tersebut disusun dengan berpedoman kepada pengelolaan SDA untuk wilayah sungai terkait. 3. Kegiatan selanjutnya secara berurutan setelah penyusunan Rencana Induk pengelolaan SDA WS adalah : Studi Kelayakan (FS) Program Pengelolaan Rencana Kegiatan Rencana Rinci Pelaksanaan/ konstruksi dan OP Pernyataan pasal-pasal kedua Undang-Undang di atas mengingatkan kepada pengelola sumberdaya air tentang pentingnya peran air bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Hal tersebut jelas terlihat dalam permasalahan krisis air di sebagian besar wilayah Indonesia. Untuk hat tersebut diatas, pada tahun anggaran 2008, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air bermaksud akan melakukan garis arahan pengembangan melalui Pola Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Wilayah Sungai, diantaranya adalah Wilayah Sungai Barito-Kapuas guna mewujudkan pemanfaatan dan pendayagunaan sumber air di wilayah sungai tersebut serasa serasi dan optimal, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung lingkungan serta sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK/TOR), maksud dan tujuan pekerjaan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas”, ini adalah sebagai berikut: Maksud Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-3

(Persero) CABANG I MALANG

Maksud dari pekerjaan ini adalah merumuskan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas, untuk kemudian dapat dijadikan acuan dalam Penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Rencana Induk pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam pelaksanaan studi kelayakan untuk WS tersebut, yang pada akhirnya dapat diketahui kegiatankegiatan yang perlu dilakukan. Tujuan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai adalah untuk memberikan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air (ps.3). Arahan tersebut meliputi arahan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air, serta pendayagunaan sumber daya air, serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota (ps.4). Kebijakan ini dirumuskan oleh wadah koordinasi SDA (Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya). Didalam implementasinya, kebijakan pengelolaan SDA WS tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh Presiden, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai tingkatannya karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah dan atau instansi/pihak di dalam penatagunaan sumber daya air khususnya dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (PSDAWS), adalah untuk merumuskan pola pengelolaan suatu wilayah sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-4

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk menyusun dokumentasi SDA WS (air permukaan dan air tanah), memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun dimasa mendatang dan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman untuk penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS dengan melibatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai berisi program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka-jangka panjang. Didalam implementasinya, Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh pemerintah setempat, karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah didalam penatagunaan sumber daya air termasuk di dalam perencanaan, pemanfaatan, pengusahaan, pengendalian dan pelestarian sumber daya air secara terencana, terarah, terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS sebagai salah satu kegiatan dari Rencana Pengelolaan SDA WS, adalah untuk merumuskan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA WS (sebagai tindak lanjut dari kegiatan penyusunan pola pengelolaan SDA WS) dengan melibatkan peran serta masyarakat. Rencana induk ini merupakan rencana jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya rusak air di WS secara terpadu dan terarah. Rencana ini juga mencakup upaya struktural (desain dasar) dan upaya non-struktural.

1.3.

LINGKUP PEKERJAAN

Secara garis besar lingkup pekerjaan “Rencana Pola Wilayah Sungai BaritoKapuas”, ini adalah sebagai berikut : Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Mengadakaan koordinasi dengan Wadah koordinasi SDA Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-5

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Merumuskan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan SDA WS, yang mencakup arahan konservasi dan pendayagunaan SDA WS serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah SDA dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan.

3.

Membantu proyek dalam proses legalisasi kebijakan pengelolaan SDA WS.

Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Pola pengelolaan SDA wilayah sungai berorientasi pada keluasan wilayah yang menuntut perencanaan maupun pengelolaan berdasarkan batas-batas hidrologis. Dari awal inilah pengelolaan SDA wilayah sungai memerlukan informasi yang dilakukan dengan kerjasama dan koordinasi antar Kabupaten. Melalui pertemuan Konsultansi dengan masyarakat, dua proses dilakukan sekaligus, yaitu inventarisasi masalah-masalah setempat secara arus bawah-atas (bottom-up) dan proses penyadaran masyarakat terhadap isu strategis (jangka panjang) pengembangan wilayah sungai. Untuk pelaksanaan Undang-undang 22 dan 25 secara efektif, dalam proses pengelolaan sumber daya air wilayah sungai, koordinasi antara Kabupaten dan Provinsi dan komunikasi dengan para stakeholder menjadi sangat penting. Informasi praktis tentang bagaimana pola pengelolaan wilayah sungai dan pola pengelolaan wilayah Kabupaten dapat sejalan satu sama lain merupakan hal yang sangat penting untuk menentukan kerjasama secara struktural. Untuk pekerjaan tersebut diatas, beberapa kegiatan di bawah ini perlu dilakukan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pengumpulan data awal melalui desk study/literatur, kunjungan lapangan diskusi informal. Analisa awal yang kemudian disajikan pada laporan pendahuluan (Inception Report). Mengevaluasi data dan informasi yang sudah terkumpul. Mengumpulkan data melalui literatur maupun data lapangan dan diskusidiskusi informal. Pengumpulan data yang lebih detail, penelitian Water District dan melakukan set-up DSS sebagai analisa awal kebutuhan dan ketersediaan air. Analisa awal yang menghasilkan rencana sementara untuk wilayah sungai Barito-Kapuas disajikan dalam Laporan Pertengahan. Mengakses kebutuhan pengembangan kedepan dengan berbagai skenario.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-6

(Persero) CABANG I MALANG

8.

Mengidentifikasi kendala-kendala dalam mempertemukan kebutuhan dan pasokan air, usaha-usaha yang telah dilakukan dan perbaikan yang harus dilakukan untuk masa mendatang.

9.

Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM I) yang menekankan kepada kesepakatan bersama terhadap para pengguna air. Hal ini akan termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM I, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 200 orang. Koleksi data dengan wawancara kepada para pengguna selama pelaksanaan PKM I. Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM I.

10. Melakukan proses penghalusan (fine-tuning) terhadap DSS dan semua data yang telah dikoleksi maupun analisa melalui identifikasi yang lebih dalam terhadap kendala-kendala berdasarkan temuan-temuan yang didapat dari PKM I. 11. Analisa awal terhadap kombinasi upaya-upaya strategis dan akses terhadap kendala pada strategi tersebut untuk beberapa skenario yang berbeda, sebagai hasil yang tertuang dalam Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai sementara. 12. Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM II) yang menekankan pada beberapa strategi berdasarkan kesepakatan bersama dengan mereka yang mewakili para stakeholder. Hal ini termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM II, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 150 orang. Pengumpulan data melalui wawancara dengan stakeholder secara individu selama pelaksanaan PKM II Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM II. 13. Merumuskan Draft Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai berdasarkan temuan yang diperoleh pada PKM II dan temuan lainnya. 14. Mengorganisir Rapat Koordinasi untuk Wilayah Sungai Barito-Kapuas. 15. Membantu proyek dalam proses legalisasi. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Menyiapkan rencana pengelolaan jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-7

(Persero) CABANG I MALANG

rusak air di WS secara terpadu dan terarah sesuai Pola Pengelolaan SDA WS yang telah disusun. 2. Melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat guna merumuskan upayaupaya untuk mengatasi permasalahan SDA. 3. Menyiapkan desain dasar (outline design) untuk upaya yang bersifat struktural. 4. Membantu proyek dalam proses legalisasi. 1.4. LOKASI KEGIATAN

SWS Barito-Kapuas (kode A2-18, sesuai Permen PU No. 11A/PRT/M/2006) terletak di perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Selatan dan Sungai Kahayan. SWS BaritoKapuas (A2-18) memiliki 2 (dua) sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas. Daerah Aliran Sungai Barito yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 46.997 Km2 sedangkan Sungai Kapuas sebesar 16.044 Km2. Luas total SWS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas, adalah 79.000 km2. SWS Barito-Kapuas (04.02) dari hulu ke hilir yang mengalir di Provinsi Kalimantan Tengah melewati kabupaten berikut : Tabel 1.1 Kabupaten WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No. 1. 2. 3. 4. 5. Kabupaten Kab. Kapuas Kab. Murung Raya Kab. Barito Utara Kab. Barito Selatan Kab. Barito Timur DAS DAS Kapuas DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito

Sedangkan kabupaten-kabupaten yang masuk dalam WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 1.2 Kabupaten dilalui WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalsel No. 1 Kabupaten Kab. Barito Kuala DAS DAS Barito

Pembagian WS di Kalimantan serta peta WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada gambar 1.1 dan 1.2.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-8

(Persero) CABANG I MALANG

1.5.

LAPORAN

Laporan ini secara garis besar menyajikan latar belakang, gambaran umum wilayah studi, Pendekatan dan Metodologi Pelaksanaan, Pengolahan & Analisis Data, Tinjauan Kebijakan Pengelolaan SDA Nasional dan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS serta Kesimpulan dan Rekomendasi. Laporan ini terdiri dari : Komposisi Laporan Interim sebagai berikut : Volume 1 Volume 2 Volume 3 - Volume 3.1 - Volume 3.2 Volume 4 - Volume 4.1 - Volume 4.2 Volume 5 - Volume 5.1 - Volume 5.2 - Volume 5.3 1.6. : Executive Summary : Main Report : : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Barito : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Kapuas : : Laporan PKM I : Laporan PKM II : Supporting Report : Laporan Hidrologi : Laporan DSS-RIBASIM : Laporan Kajian Khusus

JADWAL PELAKSANAAN

Pelaksanaan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas adalah sejak tanggal 16 Agustus 2008 sampai dengan 13 Desember 2008 atau selama 120 (seratus dua puluh) hari kalender. Adapun jadwal pelaksanaan kegiatan Rancangan Pola Pengelolaan WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel 1.3 berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-9

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 1.3 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .10 .

(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Studi Gambar 1.11 .1 Pembagian Wilayah Sungai di Kalimantan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .

s ua ap PROPINSI KALIMANTAN SELATAN 46. B arit RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS o Laporan Akhir PETA SWS BARITO-KAPUAS (Persero) CABANG I MALANG PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH K S.634 KM2 16. KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO 500 650 900 600 o o PALANGKARAYA S.LETAK GEOGRAFIS : 0 95' LU s/d 3 35' LS 113o 15' BT s/d 115o 45' BT LUAS DAS : DAS BARITO.675 KM2 LEBAR (m) PANJ (Km) DILAYARI (Km) 780 420 H (m) 8 6 KETERANGAN : BANJARMASIN Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan I .2 Peta WS Barito-Kapuas . KALTENG DAS BARITO.997 KM2 18. KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO LUAS DAS : DAS BARITO.12 Gambar 1.044 KM2 81. KALTENG DAS BARITO.

863. Barito Timur DAS DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito Sedangkan kabupaten-kabupaten yang dilalui aliran sungai di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 2. Barito Selatan Kab. Barito Kuala DAS DAS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -1 .30 ha. Barito Utara Kab.2 Kabupaten dilalui DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No.1 Kabupaten DAS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah No. DAS Batulicin dan DAS Tabunino Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Secara administrasi Pemerintahan. Kabupaten-kabupaten yang termasuk dalam DAS Barito adalah sebagai berikut: Tabel 2. 1 2 3 4 Kabupaten Kab.1. Adapun batas wilayah hidrologi DAS Barito adalah sebagai berikut : Sebelah barat berbatasan dengan DAS Kapuas Sebelah timur berbatasan dengan DAS Sampanahan.(Persero) CABANG I MALANG BAB 2 GAMBARAN UMUM WS BARITO-KAPUAS 2.1 LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS ADMINISTRASI 2. DAS Barito meliputi beberapa kabupaten. Kabupaten 1 Kab. Murung Raya Kab.1 DAS Barito Secara geografis Daerah Aliran Sungai Barito yang terdapat di Provinsi Kalimantan selatan terletak antara 114o20’ sampai dengan 115o52’ BT dan 1o24’ sampai dengan 3o44’ LU dengan luas keseluruhan adalah 1.363.

044 Km2.2 DAS Kapuas Daerah Aliran Sungai Kapuas yang berada di Kabupaten Dati II Kapuas. Sejumlah Kabupaten yang termasuk dalam DAS Kapuas dari hulu ke hilir adalah : 1.(Persero) CABANG I MALANG 2. Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 16. dengan ibukota Kabupaten Kota Kuala Kapuas. Kabupaten Barito Utara 3. Kabupaten Kapuas 2.1. Kabupaten Barito Selatan Adapun batas wilayah hidrologi DAS Kapuas adalah sebagai berikut: Sebelah timur berbatasan dengan DAS Barito Sebelah Barat berbatasan dengan DAS Kahayan Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -2 . Secara geografis Daerah Aliran Sungai Kapuas terletak antara 114o24’48” sampai dengan 114o53’39” BT dan 2o15’00” sampai dengan 2o47’53” LS.

. BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK T impah T impah Timpah T impah Timpah T impah Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah KABUPATEN TABALONG KABUPATEN BARITO TIMUR Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Harui Harui Harui Harui Harui Harui Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya .AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai . MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong KABUPATEN BARITO UTARA T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon KABUPATEN BARITO SELATAN Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang TabakKanilan TT abakKanilan abak Kanilan TT abakKanilan TabakKanilan abak Kanilan KABUPATEN KAPUAS Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah . MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Tambarangan ambarangan TTambarangan ambarangan TTambarangan Tambarangan KABUPATEN BARITO KUALA KABUPATEN BANJAR Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam ! BANJARMASIN Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat MARTAPURA MARTAPURA . BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat KABUPATEN TAPIN . Upau Upau Upau Upau Upau Upau TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG .(Persero) CABANG I MALANG KABUPATEN MURUNG RAYA Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi . MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA .KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Sungai Raya Kelumpang SungaiRaya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado .1 Peta Batas Administrasi WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -3 . TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG ! Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip TTanta Tanta anta TTanta Tanta anta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Paringin Paringin Paringin Paringin Lampihong Paringin Lampihong Paringin Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong TTaniran Taniran aniran TTaniran Taniran aniran Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun . . BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Gambar 2. PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH . .

15o dan pegunungan/pebukitan dengan kemiringan 15o . Bagian tengah merupakan dataran plateau dan pebukitan dengan kemiringan 8o – 25o dan ketinggian 50 – 1.25o.8%. DAS Kapuas bagian hilir umumnya berupa lahan dengan bentuk topografi yang relatif datar.840 Ha) Tanah berupa semak/alang-alang seluas 870. berupa rumput (50.014).545 Ha (31. sehingga merupakan daerah yang berpotensi banjir akibat pasang air laut.847 Km.314 ha .(Persero) CABANG I MALANG 2.15% : 1.05% wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2 %.2 KONDISI TOPOGRAFI Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43. dipengaruhi oleh pasang surut.319 Ha).08 permil. Di sebelah selatan DAS merupakan daerah pantai pesisir Laut Jawa dengan panjang 189. Hutan belukar (377. dan hutan rawa (90. Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: • • • • 0 .192.02%) > 40% : 231.05%) > 2 .0 m.630 Ha (43.40% : 713. dan untuk lain lain (83. Hutan Sejenis (352.29% Tanah di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan sebagian besar berupa hutan dengan rincian Hutan Lebat (780. Bagian selatan merupakan daerah pantai dan rawa-rawa dengan ketinggian antara 0 – 5 meter dari permukaan laut yang mempunyai elevasi 0% .615.0 m sampai dengan +7.150 m.060 Ha).774 ha). 16%) Adapun luas wilayah Kalimantan Selatan menurut kelas ketinggian yang dibagi menjadi 6 kelas ketinggian menunjukkan wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berada pada kelas ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut yakni 31. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -4 .119). Bagian utara DAS Kapuas merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 – 500 meter dari permukaan laut dan mempunyai tingkat kemiringan 8o . dengan elevasi sekitar + 4.03 permil (arah timur barat).195 Ha (6. Kemiringan lahan dari utara ke selatan sekitar 0.02 – 0.05 – 0.682 Ha (19.2% : 1. sedang kemiringan lahan antar dua sungai sekitar 0.87%) > 15 .

3. Miosen Akhir .1 Kondisi Geologi Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di WS Barito-Kapuas. kerikil dan kerakal dari berbagai macam batuan. porfiritik.1993 Publikasi P3GI 1.0 sampai +7.E. berongga. Mengkatip – S. hornblenda (kebanyakan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -5 .(Persero) CABANG I MALANG Bagian hulu mempunyai bentuk lebih undulating. S. 2. lidah dome gambut itu menjulur dari utara ke selatan. Holosen Alluvium (Qa) : Terdiri agregasi lepas pasir.3 KONDISI GEOLOGI DAN GEOHIDROLOGI 2.2 a.5 sampai 2 m lebih tinggi daripada bagian tepi sungai. Mentangai. rapat. Pieters dkk. dengan ketebalan lebih dari 6 m. dengan kisaran elevasi dari + 6. publikasi P3G tahun 1986 Adapun deskripsi secara litostratigrafi dari formasi-formasi kronostratigrafis yang ada adalah sebagai berikut.00 m sampai +14. dan secara grafis peta Geologi WS BaritoKapuas dapat dilihat pada Gambar 2. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714. P. Bagian tengah DAS Kapuas mempunyai elevasi berkisar antara +4.Plistosen Batuan Gunungapi Metulang (TmQm) Terdiri dari Lava : kelabu tua sampai kelabu kehijauan. Mengkatip dan diantara S. skoria atau amigdaloid (zeolit dan klorit). publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712. 2. Bagian tengah antar dua sungai umumnya lebih tinggi karena terdapat kubah gambut. Peta Geologi Lembar Long Pahangai. pejal. Mentangai – S. Terdapat kemiringan umum dari utara ke selatan.00 m. Bagian tengah antar dua sungai mempunyai elevasi sekitar 1. terletak secara tidak selaras di atas satuan yang lebih tua. Barito. diantara S. Kapuas – S.0 m. mikrokristalin atau kacaan. publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715. fenokris plagioklas berzoning komplex (An40 – 70). terbreksikan atau berstruktur aliran. tersebar luas sebagai endapan gosong dan limpahan sungai. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716.

Batuan epiklastika : kebanyakan breksi lahar. hornblenda. halus-kasar. diorit. sedikit hipersten) dan terkadang olivin dan biotit. Tufa kelabu sampai kelabu muda dan kebanyakan litik dan sedikit kristal. kemas terbuka-tertutup. Piroklastika : tufa dan aglomerat. dolerit yang tersusun oleh plagioklas berzona. pirit sekunder. ubahan ke klorit. piroksin. kebanyakan endapan “air fall”. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -6 . Aglomerat mengandung berbagai pecahan menyudut sampai menyudut tanggung dalam masa dasar terdiri dari tufa kasar. Sub-gunungapi : basal dan andesit porfiritik. diameter pecahan sampai 10 cm. serisit. piroksin dan setempat biotit. oksida besi (kebanyakan magnetit) dan interstisial kriptokristal dan atau bahan kaca. epidot dan silika.(Persero) CABANG I MALANG coklat tua). masa dasar mikrolit plagioklas dan butir hornblenda. piroksin (augit.

mikrodiorit.2 3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -7 . diorit. retas dan sil. setempat batubara. tidak selaras diatas Formasi Ujoh Bilang. Miosen - Peta Geologi Wilayah Sungai Barito-Kapuas Formasi Kelinjau (Tmk) Batulumpur. sedikit batupasir dan batuan volkaniklastika. granodiorit. sumbat. - Batuan Terobosan Sintang (Toms) Andesit porfir. korok.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

5. karbonan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -8 . bioturbasi. kalkarenit. berlapis buruk. sedikit batupasir. Batupasir : kelabu muda sampai coklat muda. Batugamping : coklat muda sampai agak coklat. dari sangat tipis sampai sangat tebal. sedikit batulumpur dan batulanau. Mendatar sama dengan karbonat Formasi Berai bagian bawah. Eosen Akhir Formasi Batu Ayau (Tea) Kebanyakan batupasir. terpilah baik. Serpih. berbutir halus. kebanyakan klastika pecahan fosil. Batulumpur : coklat sedang sampai gelap. urat dan urat halus kalsit. konkresi oksida besi. mikaan. Anggota Batupasir Lenmuring Formasi Ujoh Bilang (Tol) Batupasir kuarsa. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang. didukung butiran. batulumpur. putih sampai coklat muda. arenit litik dan arenit felspatik. Formasi Batu Kelau (Tek) Serpih. umumnya menyerpih. berlapis sampai pejal. perlapisan silang-siur. perairan atau perlapisan sejajar. Batulumpur dan batulanau : kelabu tua sampai hitam. batulanau.(Persero) CABANG I MALANG 4. klastika. terpilah baik. terpilah baik. sedikit batupasir. Anggota Batugamping Batu Belah Formasi Ujoh Bilang (Tob) Kalsirudit fosilan. Batupasir : kelabu muda sampai coklat. kalsilutit. batulanau : kelabu tua. Batupasir : kelabu muda. berbutir halus sampai sedang. kelabu sampai kelabu kecoklatan. masa dasar lumpur karbonat. Oligosen Awal Formasi Ujoh Bilang (Tou) Batulumpur. umumnya dengan batupasir halus. kebanyakan berbutir sedang. setempat perairan bergulung (konvolut). bergelombang dan flaser. setempat lapisan tipis lignit atau batubara. jarang batugamping. umumnya berlapis baik. Biasanya gampingan dan karbonan. kaya kuarsa sampai litik. kebanyakan berlapis baik. gampingan. setempat tufaan. menyudut-menyudut tanggung. lignitan atau perairan berbatubara. sebagian gampingan dan karbonan. pejal sampai berlapis buruk. arenit kuarsa. batulumpur. kebanyakan berbutir halus. perairan sejajar. struktur cetakan. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang.

hipohialin. sedikit felspar dan litik. litik dan batuan gunungapi felsik. perairan bahan karbonan dan oksida besi. menjemari dengan Formasi Batu Kelau dan Formasi Haloq. pejal. sedikit bergulung. Tufa terlaskan : kelabu muda. lava. dipisahkan dari Komplek Busang oleh sesar detachment 6. berlapis cukup tebal sampi tebal. klastika pecahan kuarsa. kerakal. pecahan membulat tanggung. berangkal dan bongkah sampai 20 m dalam masa dasar lempung (kaolin) yang sebagian berkarat besi dan pecahan silikaan. masa dasar lumpur karbonat atau kalsit berkristal halus. kristal-kaca. struktur aliran. kalkarenit sampai kalsilutit. tufa felsik. padat dan keras. kristal-litik dan tufa lapili dan breksi tufa. arenit kuarsa.5 sampai 2 cm) sampai sedikit berangkal pecahan kuarsa. epiklastika. Konglomerat : kelabu muda. didukung klastika. afanitik-porfir. terpilah sedang sampai buruk. breksi lava. berbutir halus sampai kasar. lava dan batuan epiklastika halus. Batugampiang : kelabu tua. Eosen Tengah Batuan Gunungapi Nyaan (Ten) Batuan tufa. kaca. terpilah sedang sampai baik. Tufa : kelabu muda. tufa terlaskan. albit dan biotit dan pecahan batuapung. Selaras dibawah Formasi Batu Ayau. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -9 . susunan dasit sampai riolit. berbutir halus-sedang. perairan sejajar. membulat tanggung-membulat. Batupasir : kelabu muda. urat kuarsa setebal 1-2 cm. Batupasir Haloq (Teh) Batupasir. kerakal (kebanyakan 0. aglomerat. perlapisan silangsiur. rijang. silikaan. sedikit konglomerat (sebagian di dasar) dan batulumpur. klastika. perlapisan silangsiur sekala sedang sampai besar. tidak selaras di atas Kelompok Selangkai dan Kelompok Embaluh. sferulitik. Batupasir Haloq dan Formasi Batu Kelau (Teh + Tek) Litologi batupasir Haloq dan formasi Batu Kelau tak terpisahkan. sedikit batugamping dan batubara. setempat pecahan perlapisan vitroklastika. mengandung beragam jumlah kuarasa. Aglomerat : kelabu muda. perairan karbonan. arenit kuarsa. kebanyakan klastika pecahan fosil.(Persero) CABANG I MALANG terpilah baik. setempat coklat lapuk. perlapisan silangsiur bergelembur. terpecahkan. K-felspar. menyudut tanggung sampai membulat.

breksi. kelabu kehijauan. keadaan sentuhan dengan Kelompok Embaluh tidak diketahui.(Persero) CABANG I MALANG berubah ke epidot dan khlorit. oksaida besi. perlapisan berangsur tersebar luas. dapat dikorelasikan dengan Granit Era yang umurnya ditentukan dengan isotop di Putussibau. batulanau dan batupasir kerakalan termalihkan derajat sangat rendah. tikas beban. serisit sekunder. lapisan sangat tipis sampai tebal 10 m. tersusun dari pecahan kuarsa dan sedikit rijang. setempat urat kuarsa dan sedikit urat kalsit. batupasir felspatik. setempat kehijauan. batusabak dan sebagian batupasir. pencelahan dan belahan menyabak sejajar atau membentuk sudut kecil dengan perlapisan. khlorit. lapisan sangat tipis sampai ratusan meter tebalnya. Batupasir kerakalan : terdapat dalam lapisan tipis sampai tebal sekali yang tidak menerus. bahan karbonan. plagioklas terubah dan sedikit K-felspar dan batuan (termasuk pelit “penecontemporaneous” dan psamit. kuarsa dan biotit. Lava : kelabu muda. pirit kebanyakan autigenik dan pasca deformasi. Kapur Akhir – Eosen Tengah Kelompok Embaluh (Kte) Runtunan perselingan serpih. 7. perlapisan dan perairan sejajar dan setempat perlapisan dan perairan bergulung. kalsit dan mineral lempung dalam masadasar. Psamit : kelabu muda sampai tua. Kapur Akhir Granit Era (Kue) Granit. litik. klastika. mineral tambahan termasuk rombakan piroksin. biotit. kuarsit. serisit. karbonat (termasuk pecahan fosilmikro) dan oksida besi. felspar terubah. khlorit. sangat halus sampai seperti pasir terutama berbutir halus sampai sedang. Batuan epiklastika : konglomerat volkanoklastika. breksi intraformasi. kuarsa mikrokristalin. Pelit : kelabu tua sampai hitam. perairan sejajar internal (batulempung-batulanau) umum dijumpai. coklat lapuk. karbonat. nendatan. epidot dan zirkon. kebanyakan menyudut tanggung sampai membulat tanggung. porfiritik dengan fenokris K-felspar. amfibol. batuan gunungapi menengah sampai mafik. kuarsa. perlapisan atau perairan silangsiur dan jejak erosi. 8. lempung. nahan karbonan. oksida besi. kerakal menyudut tanggung dan membulat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -10 . dolerit dan diorit). pelit malih tersusun dari kuarsa. batupasir halus dan batulanau. perairan.

hijau. arenit kuarsa dan arenit kuarsa gampingan yang mengandung sampai 20% klastika felspar dan atau litik. dalam lapisan tebal 20 cm sampai pejal. Jura – Kapur Awal Komplek Kapuas (Jklk) Terdiri basal. setempat menyerpih Batupasir : kelabu muda sampai kelabu kecoklatan atau kehijauan. 9. batulempung. khlorit. berbutir sedang. setempat kuarsit. Konglomerat : kerakal (1-3 cm) membundar tanggung sampai membundar terdiri dari kuarsa. urat kalsit. Jura – Kapur Awal Komplek Mafik Danau (JKld) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -11 . umumnya agak terhablur ulang. terpecahkan. berbutir sedang. berbutir halus sampai kasar. kelabu. felspar dan pecahan batuan. tetapi kebanyakan halus sampai sedang. lapisan bergelombang tipis tebal 2 – 15 cm. kuarsa. Rijang : merah atau hijau muda. berbutir sedang. umumnya gampingan dan karbonan. tergeruskan. Diorit : diorit hornblenda. kalkarenit fosilan sampai kalsilutit. batupasir. Batuan argilitan : kelabu tua samapai coklat. 11. Kapur Kelompok Selangkai (Kse) Batulumpur. gelembur-gelombang. Basal. mineral lempung. sedikit batubara. sedikit komglomerat. rijang dan batuan gunungapi serta subgunungapi menengah sampai mafik terubah. batulanau. kalkarenit fosilan sampai coklat. Batugamping : kelabu muda sampai tua. setempat berbintil. coklat. 12. berlapis baik sampai sedang. Batulempung : merah. terubah. setempat berbintil. rijang.(Persero) CABANG I MALANG tanggung. spilit. 10. diorit dan korok Granit : granit biotit. coklat. perlipatan sevron. Kapur Awal Granit Alan (Kla) Terdiri Granit. epidot. perlapisan silangsiur. alktonolit. terubah ke albit. granodiorit. oksida besi dan kuarsa. berbutir seragam Granodiorit : granodiorit biotit – hornblenda. spilit : kelabu tua sampai hijau. perlapisan silangsiur. terbreksikan. tercerminkan. dalam lapisan tidak menerus tebal sampai 2 m. batugamping. kuarsit.

Gabro : mineral mafik yang menonjol adalah hornblenda yang mengganti dan melapisi piroksin. tersesarkan. Perem – Trias Komplek Busang (PTRb) Granit. dolerit. kebanyakan berbutir halus. pada sentuhan di bagian atas perdauanan. berkemiringan landai diakibatkan oleh peggerusan dan milonitisasi. batuan gunungapi terubah. pejal. tercerminkan. 14. 13. endapan sungai. rijang merah dan kelabu. Peta Geologi Lembar Muaratewe. Batuan Gunungapi Bundang (Tpbv) Terdiri dari lava dan breksi bersusunan andesit-basal. terubah kuat (khlorit). setempat dengan pecahan tektonik batugamping kristal kelabu tua. diorit. 1992 Publikasi P3GI 1. 3.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari gabro. Pliosen Formasi Kampung Baru (Tpkb) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -12 . S. granodiorit. 2. umumnya termalihkan dan terdaunkan dan sekis serta kuarsit. Plistosen Formasi Anap (Tpa) Terdiri dari batulumpur. Holosen Aluvial (Qa) Terdiri dari kerikil sampai kerakal kuarsa dalam pasir kuarsa kasar. Granit : berbutir seragam sampai porfiroblastik dengan K-felspar putih atau merah jambu. hitam kehijauan. mengandung biotit. Kuarsit : kelabu muda. sedikit batupasir dan batuan klastika gunungapi. setempat kayu terkersikkan dan sisipan batubara. gabro. terbreksikan dan terlipatkan. Kapur Akhir – Tersier Awal Bancuh dan Formasi Terhancurkan Batuan Kelompok Embaluh tergeruskan secara semrawut. gabro dan dolerit. sedikit augit dan hipersten Sekis : kebanyakan disusun oleh mika dan kuarsa. b. Supriatna dan Adjat Sudradjat.

tufa. konglomerat aneka bahan.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa dengan sisipan lempung. tufa. berbutir halus sampai sedang. Formasi Montalat (Tomm) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. rombakan batubara nitrinit dan muskovit. 4. mengandung lapisan tipis mineral karbonan. Oligosen Akhir – Miosen Awal Formasi Berai (Tomb) Terdiri batugamping abu-abu dan putih. kelabu tua. 8. batulanau karbonan. 6. stok. bersisipan batulempung karbonan berwarna kelabu dan batulanau menyerpih berwarna kelabu tua. breksi lava. lignit. batulanau. Miosen Awal – Miosen Tengah Formasi Meragoh (Tmmv) Terdiri dari lava. berlapis tebal. aglomerat. Miosen Tengah Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. mengandung foram besar dan koral. kurang padat. bersusunan basal sampai andesit. Miosen Akhir – Pliosen Batuan Gunungapi Metulang (Tmpm) Terdiri dari lava. 7. retas dan retas lempeng. 5. breksi lahar. Formasi Balikpapan (Tmb) Terdiri dari batupasir kuarsa dan batulempung dengan sisipan batulanau. mengandung sisipan batulempung karbonan. berselingan dengan batulanau mengandung lensa kecil dan lapisan tipis batubara vitrinit Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -13 . sebagian terkristalkan ulang. Oligosen Akhir – Plistosen Andesit dan Diorit (TQi) Terdiri dari andesit dan diorit. bersusunan basal sampai andesit. setempat dasit berupa sumbat. gambut dan oksida besi. sebagian berlapis. Formasi Purukcahu (Tomc) Terdiri dari batulempung berfosil. serpih dan batugamping. breksi gunungapi dan aglomerat.

ganggang dan koral. masa dasarnya berupa batupasir kasar mengandung fragmen batubara vitrinit. bersisipan batugamping pasiran berfosil. 9. batulanau abu-abu. Formasi Karamuan (Tomk) Terdiri dari batulumpur abu-abu sebagian gampingan dan berfosil. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur. kaya akan foram besar. serpih. batulanau tufaan abu-abu kehijauan. sedikit konglomerat dan batulumpur. kaya akan foram besar. bersisipan breksi berfragmen andesit. jarang batugamping. Formasi Tuyu (Toty) Terdiri dari napal. batulempung dengan sisipan batugamping. Formasi Batu Kelau (Tek) Terdiri dari serpih. umumnya terubah. berbutir sedang sampai kasar. breksi batugamping. breksi lahar. breksi batugamping. Oligosen Awal Batuan Gunungapi Malasan (Tomv) Leleran andesit sampai basal. bersisipan tipis batulempung dan batulanau. tufa dan sedikit riolit. Formasi Ujohbilang (Tou) Terdiri dari batulumpur. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur.(Persero) CABANG I MALANG dan batupasir berstruktur perairan sejajar dan konvolut. genes dan batubara. bersisipan batugamping berfosil. batupasir kuarsa berlapis baik. sedikit batupasir. mengandung glaukonit. Anggota Batugamping Jangkan (Tomj) Batugamping berfosil. kokuina dan basal terubah. dasit. abu-abu tua. batulanau serpihan dan batulanau serpihan dan batulanau karbonan. berlapis baik. napal dan batulanau. 10. sebagian termineralisasi. Formasi Pamaluan (Tomp) Terdiri dari batupasir dengan sisipan batulempung. sedikit batupasir. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -14 . batulanau. batulumpur. terpecahkan dan termineralisasikan. Eosen Akhir Formasi Batupasir Haloq (Teh) Terdiri dari batupasir kuarsa. Anggota Batugamping Penuut (Toml) Terdiri dari batugamping putih dan kelabu. setempat struktur bantal dan kekar meniang.

Peta Geologi Regional Lembar Buntok. umumnya termalihkan dan terdaunkan. Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping. umumnya berlapis. batulumpur. diorit. gabro. sekis. 11. 4. mengandung foraminifera besar bersisipan batulempung. jarang batubara. sebagian besar pasir lepas bersisipan lempung. lempung. umumnya karbonan. Formasi Montalat (Tomm) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -15 . lignit dan limonit. 12. genes dan kuarsit. granodiorit. 3. setempat mengandung kerakal kuarsa. setempat sisipan batubara dan lignit. pasir. kerakal dan bongkahan.(Persero) CABANG I MALANG - Formasi Batu Ayau (Tea) Terdiri dari batupasir. 1981 Publikasi P3GI 1. bersisipan batulempung. 2. Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa. 1714. Holosen Aluvium (Qa) Terdiri dari lumpur. batuan beku bersifat granit dan batuan metasedimen. Kapur Akhir Formasi Selangkai (Kse) Terdiri dari serpih. batugamping berfosil. batulanau dan batubara. 13. Eosen Awal Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari perselingan batupasir kuarsa. batulempung dan batulanau. Pliosen – Miosen Formasi Dahor (Tmpd) Terdiri dari batupasir kuarsa. bersisipan batugamping dan konglomerat. Perem – Trias Formasi Busang (PTRb) Terdiri dari granit. Sutrisno. setempat konglomeratan.Supriatna. lanau. kerikil. umumnya karbonan dan gampingan. batulumpur konglomerat. S. batulanau. c. batulanau dan batubara.

batulempung. pasir. kerakal dan sedikit lempung. lempung dan lumpur. 4. batulanau dan konglomerat. bersisipan batugamping dan batubara. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari bagian atas merupakan perselingan antara batupasir. 2. Peta Geologi Regional Lembar Banjarmasin. 3. setempat lignit dan limonit. Plistosen Formasi Martapura (Qpm) Terdiri dari pasir. kerikil. tersingkap berupa stok Batuan Tak Terperinci (Ksv) Merupakan kumpulan batuan beku bersusunan basa sampai sangat basa dan batuan sedimen endapan laut. tersingkap berupa stok. Oligosen – Eosen Basal Kasale (Tkb) Terdiri dari basal. sil dan retas. kelabu muda. Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berselingan dengan batulempung karbonan dan batubara.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa agak padat. 7.Sikumbang dan Heryanto. Pliosen Formasi Dahor (QTd) Terdiri dari batupasir kuarsa lepas. Bagian bawahnya merupakan perselingan antara batupasir kuarsa yang mengandung muskovit dengan batulanau. 6. 1981 Publikasi P3G 1. kelabu muda sampai kelabu tua. batulempung lunak. 5. Holosen Aluvium (Qha) Terdiri dari kerikil. batupasir kerikil kurang padu. Kapur Granit (Kgr) Terdiri dari granit muskovit. N. lanau. tekstur faneritik. betulempung kelabu dan batubara. d. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -16 .

Formasi Pudak (Kok) Merupakan batugamping klastika. Formasi Manunggul (Kmp) Terdiri dari breksi dan leleran lava. Kapur Akhir Formasi Manunggul (Km) Terdiri dari konglomerat beraneka bahan bersisipan dengan batupasir dan batulempung. 7. Formasi Pudak (Kab) Terdiri dari andesit piroksin dan vulkaniklastik. 8. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari batupasir kuarsa. batulempung dan batubara setempat dijumpai lensa batugamping. Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping dengan sisipan napal dan batulempung. batulempung dan batupasir. Olistolis Kintap. basal porfir ignimbrit. batulanau. Formasi Binuang (Tob) Terdiri dari batulempung 6. Kapur Akhir – Kapur Awal Kelompok Alino Formasi Keramaian (Kak) Terdiri dari perselingan batupasir (vulkarenit) dengan batulanau atau batulempung setempat dijumpai sisipan batugamping konglomeratan. Anggota Paau. Formasi Paniungan (Kpn) Terdiri dari batulanau. Anggota Batukora. batumalihan dan mafik-ultramafik. Formasi Pudak (Kap) Terdiri dari lava dan berselingan dengan konglomerat / breksi volkanik klastik (hialoklastik) dan batupasir kotor volkaniklastik dengan olistolis batugamping.(Persero) CABANG I MALANG 5. Formasi Pitap (Kpb) Terdiri dari batugamping orbitulina Formasi Pitanak (Kpl) Terdiri dari leleran lava dengan breksi konglomerat vulkanik Andesit (Kan) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -17 . Anggota Batununggal.

Kedua anak cekungan tersebut di sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Meratus. Sutura ini berarah tenggara dari Pulau Natuna (40 Lintang Utara. Cekungan Barito dengan anak-anak cekungan asam-asam dipisahkan oleh Pegunungan Meratus dan dengan Anak Cekungan Pasir oleh Pegunungan Kukusan. Hinz & Schluter. Laut. 1080 Bujur Timur) sampai barat laut Kalimantan dan melanjut ke timur ke Kalimatan Tengah dan membelok kearah utara-timurlaut sampai ke bagian tengah Sabah. 1990) : Batuan alas benua Ofiolit dan batuan sedimen yang berkaitan Busur magmatik yang bersamaan dengan tektonik Cekungan busur muka Cekungan turbidit Cekungan-cekungan daratan Cekungan-cekungan peripheral Batuan terobosan tektonik akhir dan vulkanik regional satuan tektonostratigrafi ini menunjukkan suatu Penyebaran pertemuan (sutura) tektonik lempeng melintasi Borneo yang mengikuti singkapan komplek ofiolit dan bancuh tektonik. menunjukkan bahwa penunjaman kearah selatan berhenti ketika benua dari arah utara sampai kearah lajur penunjaman dan akhirnya bertumbukan dengan benua sebelah selatan.Batuan Ultramafik (Mu) Geologi • • • • • • • • Kalimantan dapat diperikan menjadi 8 (delapan) satuan tektonostratigrafi utama (Pieters dan Supriatna.Basal (Mba) . 1985). sutura ini sama dengan jalur Serabang dan jalur Lupar. yang terbentuk akibat penutupan cekungan samudra (Hutchison. selatan oleh Laut Jawa dan di udara oleh Tinggian Lintang Paternoster.(Persero) CABANG I MALANG - Granit (Mgr) Batuan Malihan (Mm) Kelompok Ofiolit . Timur oleh Tinggian P.Diabas (Mdb) .Gabro (Mgb) . Tinggian Lintang Paternoster Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -18 .Diorit (Mdi) . Di Kalimantan tengah dan barat. 1989.

2 Kondisi Hidrogeologi Sumberdaya air tanah terdiri atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. hal ini didasarkan kepada umur granit yang terdapat di Lembar Amuntai yang berumur 115 juta tahun. Berdasarkan fisiografi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menunjukkan pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan cekungan di Kalimantan Tengah. air tanah dangkal potensinya sangat besar dan khususnya pada wilayah fisiografi dataran rendah tepi pantai airnya payau atau asin. sudut kemiringan sekitar 450 kearah barat. Sesar naik berarah timurlaut-baratdaya searah dengan sumbu lipatan. bagian timur relatif naik dari bagian barat. Kegiatan tektonik daerah ini diduga telah berlangsung sejak zaman Jura yang menyebabkan bercampurnya batuan ultramafik. 2) program pengembangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -19 . umurnya diduga setelah Miosen. Pada Kenozoikum sampai Mesozoikum menjadikan cekungan ini terbentuk suatu paparan.(Persero) CABANG I MALANG disebut juga Tinggian Lintang Barito Kutai atau Adang Flexture atau Sesar Adang yang memisahkan kedua anak cekungan tersebut dari Cekungan Kutai. sehingga batuan tua tersesarkan ke atas Formasi Pitap. terjadi kegiatan magma. Magma ini menerobos batuan yang dihasilkan pada zaman Jura. Sesar turun berarah hampir utara-selatan.3. sesar ini memunculkan batuan bancuh. Stuktur geologi yang terbentuk perlipatan pada batuan Pra-Tersier tampaknya lebih kuat dengan sudut kemiringan sekitar 400 dan 700 dan yang terkecil 250 Sumbu antiklin dan sinklin umumnya berarah utara-selatan dengan bentuk tak setangkup dan setempat setangkup. batuan malihan dan rijang radiolaria. adalah sebagai berikut. Pada zaman Kapur Awal atau mungkin lebih tua. batuan bancuh. Sesar naik yang lebih muda mengakibatkan tersesarkannya Formasi Pitap keatas Formasi Pamaluan. Potensi air tanah sedang sampai tinggi (> 10 liter/detik) dengan kualitas cukup baik. Lokasi yang diusulkan dalam 1) program perbaikan sumur yang telah ada dan sumur bor baru. 2. Batuanbatuan tersebut merupakan alas dari Formasi Pitap. Kadar Fe dan pH di luar ambang batas baku mutu air minum yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan. Pada formasi ini akan terbentuk suatu paparan yang menyebabkan suatu cekungan yang terdapat di Kalimantan Tengah dan Selatan yang termasuk dalam wilayah studi ini. Sesar ini diduga terjadi pada kapur atas.

80 2.00 1.62 Dlm smr (m) (7) 150 150 150 150 175 175 175 175 176 174 174 150 150 1.75 2.80 1.20 1. 38 Sumber Makmur Katingan I Respen pelangsian Sumber Makmur Meranti jaya / Bunut Subur Indah Jaya Makmur Bangun Jaya Kampung Baru Setia Mulia Singam Raya Dadahup A-1 dan A-2 Lamunti A-2 Bapanggang Pelangsian I Lamunti B-2 dan A-1 Dadahup G-1 Muka Istana Gubernur Lupak Dalam Warna Sari Samuda Luwuk Bunter Kartika Bhakti Kuala Pembuang I Tumbang Koling Kumpai Batu Atas Pasir Panjang Marga Mulya Palangka Raya Kapuas Kuala Kapuas Kuala Mentaya Baru Cempaga Seruyan Arut Selatan Arut Selatan Kumai KEC (4) Kapuas Murung Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Mentaya Baru Ketapang perengean perengean perengean Kumai Arut Selatan Arut Selatan Bukit Batu Bukit Batu Katingan Kuala Mantawa Baru Bagendang Bagendang Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Kapuas Murung Mantangai Mentawa Baru / ketapang Kapuas Murung KAB / KOTA (5) Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kobar Kobar Kobar Palangka Raya Palangka Raya Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kapuas Kapuas Palangka Raya Kapuas Kapuas Kotawaringin Timur Kotawaringin Timur Seruyan Seruyan Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Q pompa ( Lt / Det ) (6) 1.50 2.82 2.60 1.60 1.15 1.50 2.80 1.82 0.50 1.70 3.60 2.00 2.10 1.60 2.75 1.00 2.10 0.60 2. Km.90 3.95 1.78 1.75 1.VI) Unit Desa Pangkoh Samuda Pelangsian Karang Tunggal Mekar Jaya Karang Sari Pangkalan Tiga Kumpai Batu Bawah Sei Rangit Trans.85 2.45 2.20 1.50 2.85 2.00 2.00 1.60 1.75 175 174 176 175 175 200 200 250 250 250 250 250 250 250 250 250 250 249 250 250 250 250 Payau Tawar Digunakan Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KWALITAS AIR (8) Payau Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Payau Pengg Ms KEMARAU (9) Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KET (10) 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -20 .V) Unit Maliku Kanan (P.50 1.50 1.3 Lokasi Sumur Bor Yang Memerlukan Perbaikan NO (1) 1 TA (2) 1996 / 1997 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 2 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 3 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 4 5 2001 2002 2002 2002 6 2003 2003 2003 2003 2003 L O K A S I DESA (3) Dadahup A-4 dan C-3 Unit Maliku Kiri (P.50 1.20 1.00 3.75 1.56 2.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.70 2.75 1.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.80 1.1 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah Visi.4 KEBIJAKAN DAERAH 2.4.4 Lokasi Sumur Bor Yang Belum Dimanfaatkan NO 1 TA 1993 / 1994 1993 / 1994 1993 / 1994 2 1994 / 1995 1994 / 1995 1994 / 1995 3 1995 / 1996 1995 / 1996 1995 / 1996 4 1996 / 1997 1996 / 1997 1996 / 1997 1999 / 2000 L O K A S I DESA Paduran I Paduran II Paduran III Tamban Lupak A3 Tamban Lupak A4 Tamban Lupak A7 Talio (Pangkoh I) Pangkoh (Pangkoh II) Kantan (Pangkoh III) Unit Tahai (P. yang perkebunan. Misi dan Strategi Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2025) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Kalimantan Tengah Yang Maju.00 1.00 2.00 0.50 0. • Mewujudkan kehutanan pertanian. untuk peternakan.IV) Unit Balanti II (P.85 0. khususnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -21 .75 1. agribisnis perikanan. pengembangan berorientasi agroindustri dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.80 DALAM SUMUR (M) KWALITAS AIR PENGGUNAAN PADA MUSIM KEMARAU Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan KET 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 4 Titik 2.70 2.VII) Katingan II Kapuas Kuala Kapuas Kuala Kapuas Kuala Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Katingan Kuala KEC KAB / KOTA Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim DEBIT POMPA ( Lt / Det ) 2. Mandiri Dan Adil ” (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Dalam rangka mewujudkan visi pembangunan daerah maka dirumuskan misi pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai berikut : • Mempercepat kecukupan sarana dan prasarana umum secara integratif dan komprehensif dalam rangka peningkatan daya dukung terhadap pembangunan daerah.VI) Unit Balanti I (P. • Mempercepat kuantitas dan kualitas penenman modal dalam rangka peningkatan agglomerasi ekonomi dan daya saing daerah.50 1. • Meningkatkan akselerasi perkembangan koperasi dan UKM serta dunia usaha yang saling terkait antar usaha dan antar daerah.90 0.00 1.

kreatif. • Mewujudkan kualitas ketenagakerjaan. bertakwa. keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olahraga di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. dan inovatif serta memiliki daya saing yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. • Membangun dan mengembangkan budaya pembelajaran yang mendidik secara merata dan adil pada semua jenis.(Persero) CABANG I MALANG yang berbasis potensi dan keunggulan daerah yang saling terkait antar usaha dan antar daerah. • Mewujudkan kemitraan yang sistematis antara pemerintah daerah dan masyarakat serta penguatan partisipasi kelompok-kelompok masyarakat bagi pencegahan masalah peningkatan dan peningkatan kemasyarakatan kependudukan kecepatan secara dan penanggulangan berkesinambungan. jalur dan jenjang pendidikan untuk menciptakan masyarakat yang beriman. • Mewujudkan pemerintah yang bersih. cerdas. • Mengoptimalkan produktifitas pemanfaatan dan pengendalian ruang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. profesional dan responsif dalam rangka percepatan pembangunan daerah. sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan. • Mewujudkan masyarakat berparadigma sehat untuk mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. Visi. • Mewujudkan fungsi sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi. • Mewujudkan ketentraman dan ketertiban umum yang berbasis pada pemberdayaan modal sosial masyarakat serta meningkatkan rasa percaya dan harmonisasi pada kelompok masyarakat demi kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Misi dan Strategi Jangka Menengah Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2010) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Membuka Isolasi Menuju Kaliamantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat ” sosial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -22 .

Kesehatan dan Keluarga Berencana Peningkatan kemampuan pelayanan pendidikan. jembatan. antar Kabupaten. perkebunan.(Persero) CABANG I MALANG (2) Arah Kebijakan Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Kebijakan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Kaliamantan Tengah selama periode 2006 – 2010 diprioritaskan pada bidang : a. Infrastruktur Pembangunan dan pemeliharaan jalan. dan peternakan perikanan/kelautan. dan partisipasi yang berbasis multikultural. pertambangan. yang merata. good goverment dan bebas KKN. pertanian. Keamanan dan Hak Asasi Manusia Penegakan supermasi hukum yang berkeadilan termasuk pertanahan dan pendayagunaan dan aparat keamanan masyarakat dalam serta menciptakan perlindungan ketentraman f. secara berkesinambungan beserta sarana dan prasarananya. pelabuhan laut dan sungai baik antar provinsi. Pendidikan. b. antar Kecamatan. e. Hukum. baik dari dalam maupun luar negeri. c. kedamaian secara terencana dan terpadu. berkelanjutan serta mendorong investasi. terhadap Hak Asasi Manusia. Pemerintahan Peningkatan tanggungjawab daya tanggap pemerintah dalam perluasan dan peningkatan kualitas pelayanan publik kepada seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok wilayah dalam kerangka menciptakan effective goverment. pelabuhan udara. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -23 . keadilan. Ekonomi Peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal. Politik Pembangunan kehidupan politik yang berkelanjutan dengan dasar toleransi. antar desa terisolir dan antar sentra-sentra produksi di sektor/sub kehutanan. kesehatan keluarga berencana d.

k. Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan Titik berat pembangunan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia Kalimantan Tengah yang handal dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -24 . pembelajaran. suku. toleransi kultural dan kerukunan antar agama. l. serta meningkatkan prestasi. baik yang berada di Kota Palangkaraya maupun Kabupaten-kabupaten lainnya. sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan serta mengoptimalkan produktivitas pemanfaatan dan pengendalian tata ruang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pramuka dan Keolahragaan Meningkatkan dan pemberdayaan peranan generasi muda dalam pembangunan. menguatkan sarana dan prasarana kepramukaan seperti Bumi Perkemahan di masing-masing Kabupaten/Kota. Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Pembangunan Kalimantan Tengah yang sangat strategis harus berwawasan lingkungan. Telekomunikasi yang mana pelayanan telekomunikasi harus ditingkatkan untuk menjangkau daerah-daerah baik di Kabupaten/Kota maupun di Kecamatan-kecamatan.(Persero) CABANG I MALANG g. ras maupun golongan dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk dalam kerangka dan semangat serta sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia h. profesionalme dan kualitas manajemen organisasi keolahragaan dalam mendukung pembangunan dan prestasi olahraga di Kalimantan Tengah. Kepariwisataan Terwujudnya daya saing pariwisata dengan peningkatan pengembangan pemasaran pariwisata j. pelabuhan ferry dan pelabuhan sungai lainnya perlu distingkatkan fasilitasnya. partisipasi. Perhubungan dan Telekomunikasi Perhubungan yang dititik beratkan pada peningkatan fasilitas bandara udara. Begitu pula dengan pelabuhan laut. i. Mewujudkan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi. Seni Budaya dan Agama Memperkuat keterbukaan. Kepemudaan. Sumber Daya Alam.

Pengarus utamaan gender diartikan bahwa peran serta perempuan disejajarkan dengan lakilaki diberbagai aspek bidang.(Persero) CABANG I MALANG dapat bersaing di era globalisasi. Permukiman dan prasarana wilayah) Pemantapan Pertanian. Perkebunan. Dalam kajian ini sektor yang terkait dengan rencana pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah sektor perikanan. No. 4. ASPEK KAJIAN 1 Konservasi Sub aspek Pengelolaan Kualitas Air 2 Pengelolaan SDA SEKTOR /DINAS PELAKSANA Perkebunan. Perikanan. Peningkatan efektifitas dan efisiensi Belanja Daerah untuk Pembangunan Daerah dan pelayanan publik. seperti di bidang legislatif. (3) Kebijakan Keuangan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah 1. dan peternakan. pertanian tanaman pangan. Optimalisasi Peningkatan Pendapatan Daerah. Bappedalda Pertanian. 3. bidang eksekutif dan di masyarakat. Dana Perimbangan dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah Provinsi Kalimantan Tengah 2. Kehutanan Perikanan. Pertambangan dan Energi. Pertambangan dan Energi (kelistrikan. kehutanan.2 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Selatan (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -25 . Peningkatan patisipasi pemerintah kabupaten/kota pelaku bisnis lokal. pertambangan dan energi. Permukiman dan prasarana wilayah 3 Sub aspek Institusi Pengendalian Daya Rusak Semua sektor Air 2. Peternakan. Peternakan. perkebunan. Peningkatan pengelolaan Pembiayaan Daerah secara efektif dan efisiensi untuk penerimaan dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. nasional dan internasional serta masyarakat dalam pembiayaan pembangunan daerah Provinsi kalimantan Tengah.4.

dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah. keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana. yang mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. transparan. c/ Pengembangan sosial budaya. berisi sasaran pembangunan daerah sebagai berikut : a/ Peningkatan status ekonomi wilayah. butir B.(Persero) CABANG I MALANG Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melalui pembangunan berkelanjutan yang adil. d/ Peningkatan mutu sumber daya manusia. pengendali dan pengawas pembangunan. Program Prioritas. disertai struktur yang berimbang. dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi b/ Penguatan ketahanan ekonomi rakyat. tertera program strategis yang menjadi program prioritas pembangunan daerah Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005 adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -26 . dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah. sumberdaya buatan (SDB) dan lingkungan hidup. efisien. (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan. Bab II mengenai Prioritas Pembangunan Daerah. sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. teknologi. sangat dibutuhkan untuk terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnya dari sumberdaya alam dan sumberdaya buatan bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pembangunan di Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. Di dalam Program pembangunan daerah (PROPEDA) Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005. serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan. untuk meningkatan kesejahteraan rakyat yang merata. berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis dan berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. serta ekonomi rumah tangga. pelaksana. tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil. e/ Pengelolaan sumber daya alam (SDA).

4. 2. a. Pengembangan Infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya. b. dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah dan usaha ekonomi rumah tangga. Pembangunan Sumberdaya Manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai MITAQ. teknobio. efisien untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merata.(Persero) CABANG I MALANG 1. sehat. dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah. disertai struktur yang berimbang dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi. Pengembangan Sosial Budaya Pengembangan sosial budaya sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. kreatif. Peningkatan Mutu Sumberdaya Manusia Keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana. transparan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -27 . Penguatan Ketahanan Ekonomi Rakyat Penguatan ketahanan ekonomi rakyat mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. Implementasi Otonomi Daerah untuk Memantapkan Pelaksanaan Undang-undang Otonomi Daerah dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Daerah. pelaksana. 3. Visi Pembangunan Daerah Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melaui pembangunan berkelanjutan yang adil. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis yang berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. dan mampu bersaing. Misi Pembangunan Daerah Peningkatan Status Ekonomi Wilayah Peningkatan status ekonomi wilayah tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil.

Prioritas Pembangunan Daerah Implementasi Otonomi Daerah untuk memantapkan pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah dalam upaya mewujudkan kemandirian daerah. a. sehat kreatif dan mampu bersaing. Pembangunan infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -28 .(Persero) CABANG I MALANG pengendali dan pengawas pembangunan. Peningkatan pelayanan publik guna memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mengakses berbagai fasilitas umum dalam suasana yang transparan dan kondusif menuju terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean governance). Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. Pembangunan Ekonomi Industri Pembangunan industri merupakan upaya untuk menciptakan struktur perekonomian daerah yang semakin berimbang antara sektor industri dan sektor pertanian. Pembangunan sumberdaya manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai IMTAQ. Pengelolaan Sumberdaya Alam. b. Sumberdaya Buatan dan Lingkungan Hidup Pengelolaan sumberdaya alam. buatan dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk menuju terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnyadari kesejahteraan sumberdaya dan alam dan buatan bagi di masyarakat peningkatan pembangunan Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan. Program-program bidang industri yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program pengembangan industri berbasis pertanian dan pertambangan.

(Persero) CABANG I MALANG

Tanaman Pangan dan Holtikultura Pertanian merupakan penunjang pertumbuhan sektor ekonomi lainnya serta diharapkan dapat berperan dalam mendorong pemerataan, pertumbuhan, dan dinamika ekonomi daerah secara umum. Program-program bidang tanaman pangan dan holtikultura yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Peternakan Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam arti luas, serta merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Program-program bidang peternakan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Perkebunan Potensi seluas lahan yang tersedia ha, untuk perkembangan perkebunan berdasarkan RTRWP Kalimantan Selatan Tahun 2000 meliputi areal 1.086.123,25 sementara penggunaannya(efektif pertanaman) baru sekitar 367.919,15 ha (33.87%). Program-program bidang perkebunan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Kehutanan Pembangunan kehutanan diadakan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dengan menjaga kelestarian dan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -29

(Persero) CABANG I MALANG

kelangsungan fungsi hutannya. Disadari bahwa sub sektor kehutanan merupakan salah satu penyelamat perekonomian nasional, oleh karena itu bidang usaha kehutanan perlu semakin dikembangkan untuk mendukung pembangunan sektor industri dimasa yang akan datang. Program-program bidang kehutanan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan produksi kehutanan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan; Program reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis; Program perlindungan hutan dan konservasi lahan.

Perikanan dan Kelautan Pembangunan perikanan dan kelautan di Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang mempunyai nilai strategis dan sangat prospektif. Hal ini mengingat kecenderungan semakin meningkatnya permintaan dunia usaha akan produk perikanan, sehingga peluang usaha dibidang perikanan dan kelautan sangat terbuka lebar. Program-program bidang perikanan dan kelautan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain : Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan aquabisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra aquabisnis terpadu. Pertambangan Pembangunan sektor pertambangan di Kalimantan Selatan diarahkan untuk memanfaatkan sumberdaya alam tambang secara maksimal dan optimal bagi pembangunan daerah dan kemakmuran masyarakat dengan tetap menjaga fungsi lingkungan hidup, meningkatkan penerimaan daerah/negara, serta memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Program-program bidang pertambangan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain:

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -30

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program peningkatan produksi dan pengelolaan bahan tambang; Program penataan kawasan/area pengelolaan pertambangan; Program perencanaan, inventarisasi, pembinaan, pengendalian dan pengawasan sumberdaya tambang.

c. Pembangunan Daerah Pembangunan Derah Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan a) Program Penataan Ruang Program ini bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan kegiatan perencanaan tata ruang yang efektif, transparan dan partisifatif; mengembangkan penyelenggaraan kegiatan pemanfaatan ruang yang tertib berdasarkan rencana tata ruang; meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan pembangunan secara berkelanjutan. b) Program Pengelolaan Pertanahan Program ini ditujukan untuk mewujudkan sistem penguasaan tanah yang adil dan terselenggaranya pelayanan administrasi pertanahan yang baik. Mempercepat Pengembangan Wilayah a) Program Pemantapan Sistem Wilayah Pembangunan Program ini ditujukan untuk menyeimbangkan dan menserasikan pembangunan antar wilayah pembangunan, sehingga ketiga Wilayah Pengembangan (WP), yaitu WP Kayu Tangi, WP Tanah Bumbu, dan WP Banua Lima dapat berkembang selaras dan serasi tanpa ketimpangan. b) Program Pemantapan Fungsi Kota Program ini ditujukan untuk menciptakan kesatuan ekonomi wilayah yang tangguh dengan mewujudkan pemerataan dan penjalaran perkembangan pembangunan antara kabupaten/kota. c) Program Pengembangan Perdesaan Program ini ditujukan untuk mengidentifikasikan kawasan perdesaan yang potensial dikembangkan, sehingga dapat meningkatkan peran dan fungsi pusat kawasan perdesaan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -31

(Persero) CABANG I MALANG

sebagai kawasan produksi untuk mendukung pengembangan agroindustri dan agribisnis. Mempercepat Pengembangan Kawasan Tertentu a) Program Pengembangan Kawasan Andalan Program ini ditujukan Daerah daerah untuk Provinsi melalui meningkatkan dalam kemampuan melaksanakan wilayah; Pemerintah pembangunan

pengembangan

menyiapkan rencana program pembangunan kawasan prioritas terpilih yang akan dikembangkan oleh masing-masing daerah; serta identifikasi program pengembangan kawasan yang akan menjadi tanggung jawab pemerintah dan dunia usaha dalam satu kesatuan paket pertumbuhan ekonomi wilayah. b) Program Program Pengelolaan ini ditujukan percepatan daerah dan Kawasan untuk Pengembangan meingkatkan Ekonomi dan agar Terpadu (KAPET) peran kemampuan Pemerintah Daerah dalam pembangunan KAPET; mendorong pembangunan pengelolaan regional; KAPET serta operasionalisasinya dapat berjalan sesuai dengan tuntutan menunjang berjalannya mekanisme pelaksanaan program pengembangan KAPET yang sesuai dengan arah dan tujuan pembangunan daerah dan nasional. c) Program Pengembangan Kawasan Sentra Produksi/Agribisnis (KSP/A) Program ini ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan produk komoditasunggulan di kawasan sentra produksi; mewujudkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara optimal terutama penggunaan lahan yang ada dengan membentuk sentra-sentra pengembangan komoditas, guna mendapatkan efisiensi dan efektifitas yang diikuti alokasi sarana dan prasarana yang diperlukan; serta mengembangkan komoditas pangan dalam skala besar guna mendorong peningkatan sektor agoindustri dan agribisnis.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -32

(Persero) CABANG I MALANG

d) Program Pengelolaan Pembangunan Wilayah Terpadu (PPWT) Program ini ditujukan melalui upaya-upaya pembangunan yang diarahkan untuk pemerataan, keserasian dan percepatan pembangunan dengan mengembangkan potensi-potensi dan atau memecahkan masalah-masalah sosial budaya, ekonomi, fisik dan lingkungan hidup WKP (Wilayah Konsentrasi Pengembangan) melalui keterpaduan tujuan, sasaran lokasi, waktu, pembiayaan, kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan/pengendalian dan evaluasi dalam suatu siklus pengelolaan pembangunan dengan memberikan peran paling besar pada Pemerintah Daerah, lembaga sosial kemasyarakatan, dunia usaha, setempat. e) Program Pengembangan Kawasan Tertinggal Program ini ditujukan untuk mengidentifikasi permasalahan/faktor penyebab ketertinggalan kawasan yang meliputi letak geografis kawasan, sumberdaya alam, faktorfaktor yang kemasyarakatan, nantinya akan yang serta ketersediaan untuk sarana dan prasarana, dan menyediakan informasi kawasan tertinggal dipergunakan sesuai merumuskan dengan program/proyek kebutuhan koperasi dan masyarakat

memperlihatkan kapasitas sosial ekonomi masyarakat di kawasan tertinggal tersebut. f) Program Pengembangan Kawasan Banjarmasin Raya Program pengembangan kawasan Banjarmasin Raya adalah program pengembangan kawasan perkotaan yang meliputi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten barito Kuala dimana dalam pembangunannya terintegrasi secara terpadu diantara keempat Pemerintah Daerah. Transmigrasi Program Pengembangan Kawasan Transmigrasi dan Mobilitas Penduduk Program Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -33

(Persero) CABANG I MALANG

d. Pembangunan Sumberdaya dan Lingkungan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Program Pengembangan ini ditujukan Informasi untuk Sumberdaya Alam dan mutu, Lingkungan Hidup meningkatkan jumlah, informasi dan data dasar sumberdaya alam dan lingkungan hidup, mengetahui daya dukung dan menjamin persediaan sumberdaya alam berkelanjutan di daerah. Program Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Program Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Pengendalian Pencemaran dan Pemulihan Kualitas Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk mengurangi kemerosotan mutu lingkungan hidup perairan, tanah, dan udara yang disebabkan oleh semakinmeningkatnya aktivitas pembangunan daerah. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Sumberdaya Buatan (Sub Sektor Pengairan) Program Pengembangan dan Pengelolaan Pengairan Program ini bertujuan untuk menunjang tercapainya peningkatan ketahanan pangan daerah maupun nasional. Program Penyediaan dan Pengembangan Air Baku Untuk Masyarakat dan Industri Program ini bertujuan untuk menyediakan air baku dalam rangka memenuhi kebutuhan permukiman, perkotaan, industri dan non pertanian lainnya dengan meningkatkan efektivitas dan produktivitas pengelolaan jaringan pengairan serta meningkatkan penyediaan air untuk permukiman, perkotaan dan industri untuk memenuhi hajat hidup masyarakat baik di daerah perkotaan maupun perdesaan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -34

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program Pengendalian Banjir Program ini bertujuan untuk mempertahankan sarana/prasarana pengairan, pertanian, transportasi dan permukiman. Program Pengembangan dan Pengelolaan Sungai, Danau dan Sumberdaya Air Lainnya Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan dan produktivitas sumber-sumber air dengan mewujudkan keterpaduan pengelolaan yang menjamin kemampuan keterbaharuannya serta pengaturan kembali berbagai kelembagaan dan peraturan perundang-undangan.

-

Nasional

DEW AN SDA NASIONAL KEBIJAKAN NASIONAL SDA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Nasional Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Departem en PU -SitJen SDA -Dit.Bina Program -Planning Unit Pusat

Provinsi DEW AN SDA PROVINSI -Kantor Gubernur -Dinas PSDA -Balai PSDA -Planning Unit Prov KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA PROVINSI DEW AN SDA W S

Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai

W S Provinsi

Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

Kab/Kota

DEW AN SDA KAB / KOTA KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA KAB/KOTA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Kab/Kota Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Kantor Bupati/W alokota -Dinas PSDA -Balai PSDA

Gambar 2.3

Struktur Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -35

(Persero) CABANG I MALANG

2.5

KONDISI TATA GUNA LAHAN

2.5.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Perda Provinsi Kalimantan Tengah No. 8 Tahun 2003 1. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya a) Kawasan Hutan Lindung tersebar di Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, dan Kapuas. b) Kawasan Hutan Lindung Gambut tersebar di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan. c) Kawasan Resapan Air, tersebar di semua kabupaten. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan Sempadan Pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai yaitu 100-200 meter dari titik pasang tertinggi kea rah darat dan 400 meter untuk pantai berhutan bakau. b) Kawasan Sempadan Sungai yang meliputi kawasan selebar 100 meter di kiri kanan, 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada diluar permukiman, 10-15 meter di kiri kanan saluran kanal (anjir) serta saluran irigasi untuk dibangun jalan inspeksi. c) Kawasan sekitar danau/waduk meliputi daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan fisik fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. d) Kawasan Sekitar Mata Air yang meliputi kawasan sekurangkurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. e) Kawasan Sekitar Riam meliputi daerah riam dalam badan sungai dengan aliran air yang deras dan berbatu. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya 1. Cagar Alam Pararawen I dan Pararawen II terletak di Kabupaten Barito Utara. 2. Cagar Alam Bukit Sapat Hawung di Kabupaten Murung Raya.

a) Kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -36

(Persero) CABANG I MALANG

3. Cagar Alam Air Terjun Molau Besar di Kabupaten Barito Utara. 4. Cagar Alam Bukit Bakatip di Kabupaten Murung Raya. b) Taman Nasional dan Taman Wisata Alam 1. Taman Wisata Air Terjun Poran di Kabupaten Barito Utara. 2. Taman Wisata Liang Saragih di Kabupaten Barito Timur. 2. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas terletak menyebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap terletak menyebar di seluruh kabupaten. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah tersebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Pertanian Lahan Kering tersebar di seluruh kabupaten. c) Kawasan Pertambakan terletak di Kabupaten Kapuas. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan Emas terletak di seluruh kabupaten. b) Pertambangan Batubara terletak di seluruh kabupaten. c) Pertambangan Granit terletak di seluruh kabupaten. d) Pertambangan Pasir terletak di seluruh kabupaten. e) Pertambangan Batu Permata terletak di seluruh kabupaten. f) Pertambangan Minyak Bumi yang terletak di Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Kapuas. Kawasan Industri diprioritaskan pengembangannya pada Kota Puruk Cahu, Muara Teweh, Buntok, Tamiyang Layang, dan Kuala Kapuas. Kawasan Pariwisata mencakup kawasan yang memiliki potensi besar untuk keperluan pariwisata di semua kabupaten. Kawasan Permukiman tersebar merata di seluruh kabupaten.

Tabel rekapitulasinya adalah sebagai berikut.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -37

Hutan Pendidikan dan Penelitian 9.008 2. Danau JUMLAH I II Kawasan Budidaya 1.48 0.64 24. Suaka Margasatwa (SK ada) 6. Bahaur.67 2. Tumbang Jutuh. Konservasi di Eks Kawasan PLG 8.32 84 100 Kawasan Lindung 1.2 6.7 0. Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) 5. Kudangan. Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) 10.266 3.299 PERSENTASE (%) 3. Kandui.798. Rencana Areal Transmigrasi (T2) 8.63 514. Samuda.435 35.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.164 16 21 22. Arboretum dan Tahura (SK ada) 7. Pulang Pisau.53 678 606 10. Ampah. Tumbang Sangai. Areal Transmigrasi (T1) 7.608.11 1.789 2.167 113.5 Rencana Penggunaan Lahan Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya.927 1.2 0. Kasongan.2 1.06 0. Palingkau. Kawasan Khusus JUMLAH II JUMLAH I + II 3.2 408. Tumbang Samba.527 8. Pelantaran.3 3. Sistem Pusat-Pusat Permukiman Orde I Orde II Hirarki Kota-Kota : : Kota Palangkaraya. Hutan Lindung 4. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 2.008 0.261 1. Dadahup - Kebijaksanaan Pengembangan a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -38 .260. Taman Nasional (SK ada) 2. Cagar Budaya 9. Kuala Kurun.460 3. Kota Kuala Kapuas.029. Muara Teweh.04 0.894.576.202.933 76. Hutan Produksi Tetap (HPP) 3. Kota Pangkalan Bun Kota Buntok. Pangkut.96 3.6 10.071 13. Kota Sampit.222. Cagar Alam (SK ada) 3. Puruk Cahu.585. Timpah. Tumbang Senamang.392 281. Tamiyang Layang dan Pegatan Orde III : Kota Kotawaringin Lama. Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain (KPPL) 6. Taman Wisata (SK ada) 5.58 0.16 6.033 15. Bawan. Provinsi Kalimantan Tengah NO I PEMANFAATAN LAHAN LUAS ALOKASI (HA) 525. Sukamara.8 0. Lampeong. Hutan Tanaman Industri (HTI) 4.477 416.

kota industri. 4. a) KSP Kapuas. pusat perdagangan dan jasa. meliputi Kecamatan Selat. Tumbang Senamang. 2. Palingkau. dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas). Pulang Pisau. kota pelabuhan. pusat perdagangan dan jasa. Muara Teweh. yaitu Kota Buntok. Tumbang Jutuh. Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Bahaur. Ampah. Kota Kuala Kapuas berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. Tumbang Sangai. Kuala Kurun. b) Pengembangan Kota Orde II yang mempunyai skala pelayanan subregional atau kota-kota yang terletak disepanjang jalan kolektor primer-1 (K-1) serta mempunyai potensi cepat tumbuh. Pelantaran. dan terbelakang. kota pelabuhan laut. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Kota Palangka Raya berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi. Bawan. Lampeong. Perkebunan. pusat perdagangan dan jasa. kota kebudayaan. c) Kota-kota kecamatan yang direncanakan untuk didorong pertumbuhannya dan perkembangannya menjadi kota Orde III adalah Kota Kotawaringin Lama. Pangkut. 3. Arahan Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan perdesaan terpencil. Kota Pangkalan Bun berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. Puruk Cahu. kota pelabuhan laut. kota industri. Kudangan. Sukamara. Dadahup. pusat perdagangan dan jasa. pusat pendidikan.(Persero) CABANG I MALANG 1. Basarang. Kasongan. terisolir. kota industri. Kawasan perdesaan Kawasan di wilayah perbatasan dengan Kalimantan Barat. Timpah. Tumbang Samba. Samuda. agropolitan. Kota Sampit berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. serta Kecamatan Pandih Batu dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -39 . Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri. Tamiyang Layang dan Pegatan. Perikanan. Kandui. 4.

Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya. rambutan. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -40 . dan ikan perairan umum. ayam buras dan ikan kolam. pisang. Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito). sapi. jagung. dan ayam buras. pisang. meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. ayam buras. Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa. kelapa. f) KSP Tamiyang Layang. Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. b) KSP Ampah. meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. kelapa dan ubi kayu. Kawasan KAPET DAS KAKAB . meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). lada dan ayam buras. Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan. nenas. Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. lada. e) KSP Kandui. meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. kedelai. meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. d) KSP Buntok.(Persero) CABANG I MALANG Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. rambutan. g) KSP Puruk Cahu. c) KSP Muara Teweh. h) KSP Benangis.

956 2.071 1.329 629 785 1.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. terutama komoditi unggulan hanya bias diarahkan pada sentra produksi pada saat sekarang dan PPSP I yang alokasinya diperuntukkan bagi KPP (Kawasan Pengembangan Produksi) dan KPPL (Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain). dan kawasan konservasi.673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan.767. Tabel 2. PPSP II dan III umumnya berada di lokasi hutan produksi terbatas (HPT) dan hutan produksi tetap (HPP).829 27. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -41 . khususnya Surat Gubernur KDH. Tanggal 14 Maret 1995.128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2. d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III. Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor 650/3654/IV/Bapp.650 km2). dan menurut analisa dampak lingkungan pada PLG 1 juta hektar.683 949 4.099 1. menurut RTRWP Kalimantan Tengah.016 6. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I.065 1. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II.(Persero) CABANG I MALANG wilayah mencapai 2. maka pengembangan pertanian.6 Luas Kapet DAS KAKAP NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1. Mempertimbangkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Suaka Margasatwa Pelaihari yang terletak di Kabupaten Tanah Laut. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya a) Cagar Alam. Tanah Laut dan Kotabaru yang lebarnya proporsional dengan bentuk kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah daratan.(Persero) CABANG I MALANG 2. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan sempadan pantai yang meliputi dataran sepanjang tepian pantai yang meliputi Kabupaten Barito Kuala. Cagar Alam Pulau Kaget yang terletak di Kabupaten Barito Kuala. c) Kawasan Pantai Berhutan Bakau. dan HSU yang meliputi seluruh areal atau dataran sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. 9 Tahun 2000 1. HSS.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Perda Provinsi Kalimantan Selatan No. HST. Tanah Laut. Cagar Alam Gunung Ketawan di Kabupaten HSS. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -42 . meliputi: 1. dan Barito Kuala. b) Suaka Margasatwa. d) Kawasan sekitar mata air yang terletak menyebar di Kalimantan Selatan dan memiliki kawasan sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air.5. b) Kawasan sempadan sungai yang memiliki kawasan selebar 100 meter di kiri-kanan sungai-sungai besar dan didalam permukiman dapat membangun selebar jalan inspeksi. c) Kawasan sekitar danau/waduk yang terletak di Kabupaten Banjar. 2. Kawasan Pesisir Berhutan Bakau di kabupaten Kotabaru. Sebagian besar kawasan hutan lindung di Provinsi Kalimantan Selatan berada di Pegunungan Meratus. meliputi: 1. meliputi: 1. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya mencakup seluruh kawasan hutan lindung.

HST. HSU. HST. meliputi: 1. Banjar. Taman Wisata Alam Pulau Kembang yang terletak di Kabupaten Barito Kuala. HST. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap yang terletak di Kabupaten Banjar. Tabalong. Tabalong. e) Pengembangan Perikanan terletak di Kabupaten Barito Kuala. Banjarbaru. HSS. Taman Hutan Raya Sultan Adam. HSS. c) Kawasan Tanaman Tahunan/Perkebunan terletak di Kabupaten Barito Kuala. dan Barito Kuala. Tapin. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah terletak di Kabupaten Barito Kuala. Tapin. Taman Wisata Alam Jaro di Kabupaten Tabalong. 3. HST. Tanah Laut. Tanah Laut. HST. d) Pengembangan Peternakan di Kabupaten Barito Kuala. HSS. Tapin. Banjar. HSS. HSU. HSU. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Barito Kuala. dan Tanah Laut. HST. Tanah Laut. Taman Wisata Alam Batakan di Kabupaten Tanah Laut. meliputi: 1. HSU. Tapin. c) Kawasan Hutan Produksi Konversi yang terletak di Kabupaten Banjar. Banjar. HSS. dan Tanah Laut. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas yang terletak di Kabupaten Banjar. HST. Tabalong. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -43 . b) Kawasan Pertanian Lahan Kering terletak di Kabupaten Banjar. HSU. Tapin. HSS. e) Taman Hutan Raya. d) Taman Wisata Alam. 3. 2. HSU. Banjarbaru. Tabalong. Tanah Laut. dan Tanah Laut. Tabalong. Banjar. HSS.(Persero) CABANG I MALANG 2. yang terletak di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Tanah Laut. Tapin. Tanah Laut. Tapin. HSU. HSU. 2. dan Tabalong. dan Tabalong.

HSS. meliputi: 1. Tapin. Zona agro industri Murung Pundak di Kabupaten Tabalong. - - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -44 . b) Pertambangan minyak bumi terletak di Kabupaten Tabalong. 3. - Kawasan Permukiman a) Kawasan permukiman perdesaan yaitu permukiman di luar perkotaan yang telah ada dan permukiman transmigrasi yang tersebar di setiap kabupaten. Zona industri perabot kayu dan rotan di Kabupaten HSU. Kawasan Pariwisata a) Kawasan wisata Loksado di Kabupaten HSS. Kawasan industri Simpang Tiga Liang Anggang-Banjarbaru di Kota Banjarbaru. Tabalong. b) Kawasan permukiman perkotaan yaitu permukiman ibukota Provinsi. b) Zona Industri. kabupaten. serta ibukota kecamatan. dan Tanah Laut. HSU. 2. meliputi: 1. b) Objek wisata Pasar Terapung dan Pulau Kaget di Kota Banjarmasin dan Barito Kuala. dan Tapin. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan batubara terletak di Kabupaten Banjar. d) Pertambangan intan dan batu mulia dan lainnya terletak di Kabupaten Banjar.(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Industri dan Zona Industri a) Kawasan Industri. HST. 3. c) Pertambangan gamping terletak di kabupaten HSS. 2. d) Kawasan wisata Pantai Batakan di Kabupaten Tanah Laut. c) Kawasan wisata Pantai Swarangan di Kabupaten Tanah Laut. Kawasan industri pengolahan kayu Alalak di Kabupaten Barito Kuala. Zona industri logam di Negara Kabupaten HSS. Kawasan industri Bati-Bati di Kabupaten Tanah Laut.

Kota Banjarbaru. Takisung. Pagatan. p) Kawasan wisata Jembatan Barito di Kabupaten Barito Kuala. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -45 . Barabai. Pengaron. Margasari. Alalak. i) Objek wisata alam Upau dan Jaro di Kabupaten Tabalong. f) Objek wisata Waduk Riam Kanan dan Taman Hutan Raya Sultan Adam di Kabupaten Banjar. dan Haruyan di Kabupaten HST. Bati-Bati. j) Objek wisata alam Hantakan. Mesjid dan Makam Sultan Suriansyah di Kuin Utara Banjarmasin. g) Objek wisata Kerbau Rawa di Kabupaten HSS dan HSU. Paringin. Penetapan Pusat-Pusat Permukiman Hierarki Kota-Kota Orde I Orde II Orde III : : : Kota Banjarmasin. n) Objek wisata sejarah Candi Agung di Kabupaten HSU. Martapura. Binuang. Gambut. Pelaihari. Batulicin. 3. Alabio. Tanjung. Tanjung Semalantakan. Kintapura. Orde V : Ibukota Kecamatan (IKK) selain kota-kota tersebut diatas. Danau Panggang. Muara Uya. Pagat. h) Objek wisata Tanjungpuri di Kabupaten Tabalong. Gunung Batu Besar. Orde IV : Kota Kelua. Pangeran Antasari dan Kubah Basirih di Kota Banjarmasin. o) Objek wisata religius/sejarah. Kota Marabahan. dan Kotabaru. Rantau. Jorong. Pantai Hambawang. l) Objek wisata relegius Makam Sultan Adam. Anjir Pasar. dan Amuntai.(Persero) CABANG I MALANG e) Kawasan wisata Pantai Takisung di Kabupaten Tanah Laut. dan Manggalau. Kandangan. Negara. m) Objek wisata pendulangan intan di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. k) Objek wisata relegius Pelampayan di Kabupaten Banjar. Sungai Kupang. Batangalai Selatan. Sungai Danau. Kertak Hanyar.

Banjarbaru. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sosial/umum sebagai secara pusat lokal pelayanan terhadap jasa. Alabio. Paringin. Kandangan. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sebagai pusat pelayanan jasa. yaitu Kota Banjarmasin. Kintapura. Manggalau. Tanjung. meliputi Kota Batulicin. Barabai. Pusat pelayanan wilayah belakang. Pelaihari. Pusat permukiman ditetapkan pada seluruh orde kota. Banjarbaru. Rantau. dan Kintapura. Barabai. Kebijkasanaan Pengembangan Pengembangan kota-kota dilakukan sesuai dengan ordenya dan kondisi obyektif potensi perkembangan kotanya. Negara. a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -46 . Martapura. yaitu Paringin dan Pagatan. Tanjung. Kandangan. Pusat industri manufaktur. dan Muara Uya. Martapura.(Persero) CABANG I MALANG - Fungsi Kota-Kota Penetapan fungsi suatu kota sesuai dengan hirarki kotanya. Batulicin. Banjarbaru. Kelua. yaitu Kota Banjarmasin. Kelua. Pusat administrasi pemerintahan. Margasari. Bati-Bati. Pagatan. Pelaihari. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki lokasi strategis. ditetapkan pada kota-kota yang/akan memiliki fasilitas dan prasarana yang memadai untuk berlangsungnya kegiatan industri serta akses terhadap bahan baku dan pemasaran produksi. yaitu seluruh kota orde IV dan dua kota orde III. Martapura. Negara. ditetapkan pada kota yang secara administrasi memiliki kedudukan sebagai pusat utama pemerintahan. Amuntai. Marabahan. yaitu terdiri Pusat pelayanan komunikasi. Kotabaru. Tanjung. yaitu Kota Batulicin. Rantau. Kotabaru. perdagangan dan sosial/umum terhadap wilayah belakangnya. dan Marabahan. Banjarmasin. Amuntai. Margasari. perdagangan dan beberapa kota/wilayah dari: disekitarnya dalam lingkup terbatas. Pagatan. Pusat pelayanan lokal. Pantai Hambawang. Marabahan. Kintapura. Amuntai. Kotabaru.

5. Penataan ruang kota melalui perencanaan. sarana dan prasarana Kota Kandangan yang akan memacu dan memantapkan fungsi pusat pelayanan Wilayah Pengembangan Benua Lima. sarana dan prasarana perkotaan yang dibutuhkan untuk menunjang fungsi kota. pemanfaatan. permukiman dan industri polutif. 4. 2. Peningkatan kegiatan ekonomi serta sarana dan prasarana yang mempunyai kaitan erat dengan wilayah belakang. 4. Peningkatan fasilitas. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. seperti fungsi pendidikan tinggi. 2.(Persero) CABANG I MALANG 1. Pengalihan sebagian dari fungsi kota yang sudah tidak efisien berlokasi di Banjarmasin. Peningkatan fasilitas. Pencegahan kerusakan lingkungan. Peningkatan kegiatan ekonomi (jasa dan perdagangan) untuk menunjang perkembangan ekonomi regional Kalimantan Selatan. Peningkatan kerjasama antar pemerintah. swasta dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan sarana dan prasarana kota serta peningkatan pendapatan asli daerah untuk pembiayaan pembangunan kota yang mandiri. 5. pemerintahan. Penertiban dan penanganan kegiatan-kegiatan yang mencemari lingkungan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -47 . dan pengendalian tata ruang. Peningkatan status Batulicin sebagai pusat Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu. b) Pengembangan Kota Orde II 1. terutama di Sungai Barito dan pemeliharaan alur Sungai Barito agar dapat dilayari sepanjang tahun. 6. sarana dan prasarana kota untuk menerima penjalaran perkembangan dari Banjarmasin (atau sebaliknya). 3. 3. 6. Pemantapan keterkaitan Kota Banjarmasin dengan kota-kota di Provinsi lain dan peningkatan sarana dan prasarana sebagai kota pelayanan regional dan nasional. terutama untuk Kota Kandangan dan Batulicin.

serta Pelaihari yang memiliki industri pengolahan tebu. Pengendalian lingkungan. sarana dan prasarana perkotaan. 2. terutama untuk Marabahn yang banyak memiliki industri pengolahan kayu. 4. dengan prioritas Kota Rantau. Peningkatan sarana dan prasarana kota sesuai dengan fungsi kota. pemanfaatan. dan pengendalian tata ruang. 3. Peningkatan kegiatan ekonomi dan aksesbilitas kota yang mempunyai kaitan erat dengan potensi wilayah belakang. pemanfaatan. 2. Pengembangan Kota Manggalau sebagai alternative pusat pengembangan Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu Utara. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -48 . Penataan ruang kota melalui perencanaan. Peningkatan aksesibilitas ke wilayah belakang serta ke kota-kota yang berorde lebih tinggi melalui pengembangan system perhubungan sungai maupun darat. pada tahap awal dikembangkan sebagai Kota Orde IV dan selanjutnya ditingkatkan sebagai Kota Orde III. Peningkatan kegiatan ekonomi yang dapat menarik penduduk sehingga kota-kota tersebut dapat mencapai ukuran ekonomis dalam pembangunan sarana dan prasarana. 4. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. 5. Penataan ruang kota melalui perencanaan. 3. dan pengendalian tata ruang. Peningkatan sarana dan prasarana perkotaan yang menunjang pertumbuhan industri manufaktur dan agar mampu berfungsi sebagai pusat pengembangan wilayah belakang. dan pengendalian tata ruang. 6. d) Pengembangan Kota Orde IV dan V 1. Penataan ruang kota melalui perencanaan.(Persero) CABANG I MALANG 7. pemanfaatan. c) Pengembangan Kota Orde III 1. Marabahan dan Tanjung.

yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. perikanan darat dan peternakan itik. wisata. Kelua. Bakumpai. dan konservasi. Batang Alai Utara. Kusan Hilir. Pandawan. jeruk. - Kawasan Sentra Produksi (KSP). Satui. Lampihong. meliputi: a) KSP Tabalong-HSU meliputi Kecamatan Banua Lawas. perikanan tambak dan ternak Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -49 .(Persero) CABANG I MALANG 4. Mandastana. meliputi: a) Pengembangan kawasan industri Simpang Tiga. Wanaraya. Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan Lindung dan Kritis. Labuan Amas Utara dan Labuan Amas Selatan yang Batulicin dan Sungai Loban yang merupakan kawasan pengembangan komoditi perikanan laut. c) KSP Tanah Laut-Kotabaru meliputi Kecamatan Kintap. Cerbon. Sungai Tabuk dan Astambul. e) Penataan rawa potensial. Tanjung. d) Penataan wilayah wisata Loksado dan sekitarnya yang merupakan objek wisata alam dan budaya potensial. Sungai Pandan. d) KSP HST-HSS meliputi Kecamatan Kandangan. antara lain untuk pertanian. sapi. Babirik dan Danau Panggang yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. Kawasan yang berperan menunjang sektor strategis. b) Pengembangan zona industri pengolahan kayu Barito Kuala. Barambai. Rantau Badauh. LianganggangBanjarbaru di Kota Banjarbaru. c) Penataan wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-Asam. dan kedela. b) Rehabilitasi kawasan lahan kritis yang tersebar baik di kawasan budidaya maupun kawasan lindung khususnya pegunungan Meratus. Anjir Pasar. meliputi: a) Peningkatan fungsi catchment area Riam Kanan sebagai sumber air untuk berbagai keperluan. Muara Harus. b) KSP Barito Kuala-Banjar meliputi Kecamatan Marabahan. Banjang.

Sungai Pandan. Juai dan Halong. melinjo. Sungai Pinang. Pengaron. Muara Harus. ekonomi dan social budayanya memiliki ketertinggalan dibandingkan dengan kawasan lainnya. Takisung. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -50 . dan Kabupaten Tanah Laut. dan Batu Tangga. Padang Batung. dan Candi Laras Selatan yang merupakan kawasan pengembangan kedelai. dan kedelai. Tapin selatan dan Binuang yang merupakan kawasan pengembangan jeruk dan kacang tanah. HST. e) Kabupaten HST meliputi Kecamatan Haruyan.(Persero) CABANG I MALANG merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. dan ternak sapi. h) KSP Tanah Laut meliputi Kecamatan Pelaihari. Daha Selatan. dan Jorong yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. kacang tanah. meliputi: a) Kawasan Andalan Kandangan dan sekitarnya yang meliputi Wilayah Pengembangan Benua Lima terdiri dari Kabupaten HSU. Panyipatan. Kabupaten Banjar. Piani. b) Kawasan Andalan Banjarmasin dan sekitarnya meliputi Kota Banjarmasin. g) KSP Banjar meliputi Kecamatan Simpang Empat. b) Kabupaten Tanah Laut. HSS. yaitu kawasan yang karena kondisi geografis. Tabalong dan Tapin. Karang Intan. e) KSP HSS-Tapin 1 meliputi Kecamatan Daha Utara. Kota Banjarbaru. jeruk. yaitu Kecamatan Piani. dan perikanan darat. f) KSP HSS-Tapin 2 meliputi Kecamatan Loksado. Kabupaten Barito Kuala. dan Aranio yang merupakan kawasan pengembangan komoditi pisang. Kawasan Andalan. meliputi : a) Kabupaten Banjar meliputi Kecamatan Kertak Hanyar dan Kecamatan Aluh-Aluh. Kawasan Tertinggal. c) Kabupaten Tabalong meliputi Kecamatan Pugaan. Tanta dan Benua Lawas. yaitu Kecamatn Kurau. f) Kabupaten Tapin. Batu Ampar. Hantakan. d) Kabupaten HSU meliputi Kecamatan Babirik.

Kawasan Sentra Produksi Tabalong. Tamban. telah menetapkan lokasi-lokasi KSP. sebagai berikut : a. Tubanganen dan Kuripan. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999.(Persero) CABANG I MALANG g) Kabupaten HSS meliputi Kecamatan Daha Selatan dan Daha Utara. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -51 . Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah. d. i. e. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang dipertimbangan dalam penetapan ini adalah. swasta. h) Kabupaten Barito Kuala meliputi Kecamatan Alalak. dan masyarakat dalam pembangunan agribisnis dan agroindustri. untuk mengembangkan pembangunan daerah dan meningkatkan pendapatan masyarakat di perdesaan. g. c. khususnya bagi penduduk yang mata pencahariannya terkait dengan sector pertanian pangan dan perikanan. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. f. 5. tanggal 10 Desermber 1999. b. h. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”.

3 5 Batola – Banjar Barito Kuala 3. Rantau Badauh. Cerbon. Satui. Perikanan darat Peternakan (itik) LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT. Danau Panggang Kandangan Bt.207 19. Sei Pandan. Batu licin P. ternak sapi Perikanan.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61.8 2 HST – HSS HST HSS Jagung. Kusan hilir.6 8 Tala – Kotabaru Tanah Laut. HSU LOKASI KAB. Barabai. Tapin Selatan. Babirik. S. Tabalong HSU KECAMATAN Tanjung.76 55. Padang Batung.167 28 30.3 65. Pengaron.4 6 Banjar Banjar Banjar Pisang.3 40. Wanaraya. Kelua Pugaan Lampihong.675 55. Bakumpai. Batu Ampar. perikanan darat Jagung.2 63. Sungai Pinang.2 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -52 .6 55. Takisung. perikanan laut. Mandastana Sungai Tabuk. Jorong Kintap. padi sawah 139. kacang tanah. tambak.4 Jeruk. Aranio Pelaihari. Astambul Simpang Empat. Candi Laras Selatan Laksado. Amuntai Tengah. Daha Selatan.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Penyipatan. Anjir Pasar. Pandawan. perikanan laut 5.94 32. kacang tanah 3. Labuan Amas Selatan Daha Utara. Kotabaru 10. Binuang Marabahan. Banjang. Piani.963 110. Laut Barat JENIS KSP Kedelai.7 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong. rambutan. P.966 55. melinjo.189 6. ternak sapi Rumput laut. KAWSN 1. jeruk Kedelai 1.Alai Utara. Labuan Amas Utara. Muara Harus. Loban.792 86. Batu Mandi.4 123. Karang Intan.2 3 4 HSS – Tapin 1 HSS – Tapin 2 HSS Tapin HSS Tapin Kedelai Jeruk.9 7 Tala Tanah Laut 8.1 118. Laut Selatan.

4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS Peta Rencana Tata Ruang Provinsi Kalimantan Tengah II -53 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

Oleh karena itu.3 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan Terdapat tiga pertimbangan mendasar dalam penyusunan strategi tata ruang wilayah Kabupaten Barito Selatan. kawasan budidaya investasi besar dan kawasan lindung). juga ditujukan untuk mencegah berbagai kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan baik pada kawasan lindung maupun sekitarnya. kompetitif dan berdampak luas pada ekonomi lokal (local multiplier). Kawasan Lindung Tujuan utama penetapan kawasan lindung dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah untuk melindungi sumber daya alam atau buatan yang ada didalamnya.5. Penetapan arahan penggunaan lahan yang efektif dan optimal berdasarkan reorientasi strategis penggunaan lahan yang telah terjadi dengan potensi pengembangan yang akan datang. penetapan kawasan lindung merupakan suatu bentuk perlindungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -54 .(Persero) CABANG I MALANG 2. berdasarkan perwilayahan kesesuaian lahan yang jelas (terutama penggunaan lahan kawasan budidaya rakyat. nasional dan internasional mengingat bahwa volume ekspor dari produk yang mempunyai nilai tambah sangat sedikit dan lebih terkonsentrasi pada usaha perkayuan. Strategi ini sangat penting karena telah terjadi kerusakan lahan yang relatif besar terutama pada Lahan Gambut satu juta hektar dan pada eksploitasi sumber daya hutan yang keduanya telah mempengaruhi keseimbangan sumber daya alam yang ada. 1. mempertajam araham penggunaan lahan komoditas unggulan dan arahan penggunaan lahan yang berwawasan lingkungan. Proses transisi struktur ekonomi akan dilakukan secara bertahap menuju struktur ekonomi yang berbasis pada sumber daya lokal yang renewable. yaitu: Strategi pengembangan Tata Ruang Wilayah yang akan diimplementasikan disusun berdasarkan asumsi bahwa dalam 10 tahun yang akan datang fokus kebijakan pembangunan wilayah di Barito Selatan telah ditekankan pada upaya-upaya persiapan untuk meningkatkan nilai rate of return wilayah. Proses transisi struktur ekonomi ini akan menuntut proses penguatan kelembagaan ekonomi dan sosial masyarakat dan pemerintah. sehingga secara bertahap daya saing produk-produk yang dihasilkan oleh Kabupaten Barito Selatan dapat berkompetisi pada pasar regional.

yang termasuk kawasan lindung dalam wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah sebagai berikut: Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahnya. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas kondisi dan potensi sumber daya alam. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -55 . Konservasi flora dan fauna 3. pariwisata dan kawasan lainnya. pertanian tanaman pangan. perikanan. hutan produksi. pertambangan. Lahan Gambut tebal > 3 m 2. konservasi air hitam 4.(Persero) CABANG I MALANG yang didasari oleh pentingnya melestarikan dan meningkatkan kualitas lahan yang memang potensial untuk dibudidayakan. perkebunan. Berdasarkan Keppres no 32 Tahun 1990 dan berdasarkan hasil kesesuaian lahan dan limitasi penggunaan lahan pada kawasan eks PLG. konservasi mangrove 5. peternakan. konservasi hidrologi Kawasan Perlindungan Setempat. yaitu: Kawasan sepadan pantai Kawasan sepadan sungai Kawasan sekitar danau Kawasan sekitar mata air Kawasan Perlindungan dan pelestarian Hutan (PPH) yang meliputi: PPH Dataran Tnggi PPH Peralihan PPH Galam PPH Hutan Rawa 2. Kawasan budidaya mencakup kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan. sumber daya manusia dan sumber daya buatan. perindustrian. yaitu: Kawasan Hutan Lindung Kawasan Resapan Air Kawasan Konservasi 1.

bahan pertimbangan adalah potensi penggunaan ruang kawasan budidaya. Dalam merumuskan rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut: Tujuan pengembangan tata ruang wilayah Konsep pengembangan tata ruang wilayah Strategi pengembangan tata ruang wilayah Karakteristik wilayah. investasi swasta dan kebijakan sektoral dalam pola penggunaan lahan. Oleh karena itu penetapan rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya Wilayah Kabupaten Barito Selatan ditetapkan dengan berbagai pertimbangan. Disini.(Persero) CABANG I MALANG Rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya merupakan rencana untuk mencapai tujuan penataan ruang yang telah ditetapkan. Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) 3. baik karakteristik eksternal maupun internal. perikanan. pertanian. pariwiasata yang lebih melihat kepada pola penggunaan lahan yang terjadi oleh masyarakat yaitu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -56 . Definisi dan Kriteria Penetapan Kawasan Budidaya. Pola penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat yang terjadi pada sepanjang aliran sungai. Kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan permukiman. maka klasifikasi rencana pemanfaatan ruang Wilayah Kabupaten barito selatan adalah: Budidaya kegiatan kehutanan 1. Lahan berkembang untuk pengelolaan sumber daya alam dapat diperbaharui yang sesuai dengan kesesuaian wilayah dan ikutannya dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Berdasarkan pertimbangan diatas. Keppres no 57 Tahun 1990 tentang Jenis. perkebunan. yaitu: RTRW Provinsi Kalimantan Tengah sebagai acuan terhadap produk tata ruang yang lebih tinggi dengan tujuan untuk dapat lebih mensinergikan dan mengintegrasikan penentuan kawasan budidaya. serta mempunyai manfaat bagi masyarakat secara umum. Kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) 2.

Delinasi kawasan budidaya / rakyat-rakyat yang memang telah dipergunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dalam jangka waktu yang lama di sepanjang aliran sungai. Oleh karena itu. Hal yang sangat penting dalam Yujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten barito Selatan adalah meningkatnya peranan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbarui untuk kemakmuran masyarakat dan mengarah kepada pengembangan agroindustri berbasis masyarakat. termasuk pengelolaan SDA dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. strategi pengembangan kawasan produksi dan karakteristik fisik dan guna lahan. yang tujuannya dipergunakan sebagai lahan cadangan untuk kegiatan permukiman. 3. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perdesaan Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utana pertanian. maka wilayah yang termasuk sebagai wwwilayah pengembangan kawasan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -57 . Dalam kawasan ini masih terdapat hutan konservasi yang diperbolehkan mengkonversi lahan hutan menjadi kegiatan budidaya lainnya. perkebunan dan peternakan yang lebih diarahkan sebagai kegiatan produksi yang berskala besar atau Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Kawasan Transmigrasi. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. pelayanan jasa pemerintahan. Berdasarkan pertimbangan rencana pengembangan ekonomi. dalam rencana penggunaan dan pemanfaatan ruang kawasan budidaya ini menetapkan bahwa lahan budidaya rakyat (hak tanah ulayat rakyat) berada pada jarak 3 km arah kiri dan kanan sepanjang sungai di Kabupaten Barito Selatan. perikanan.(Persero) CABANG I MALANG pada sepanjang aliran sungai yang dinamakan Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) yang didalamnya lebih diutamakan kepada lahan budidaya yang dilaksanakan oleh masyarakat. Dalam Rencana Penggunaan Ruang Kawasan Budidaya ini adalah adanya hak pengusahaan kawasan budidaya oleh rakyat yang memang telah berkembang dan memberikan suatu pola pemanfaatannya. yaitu kegiatan budidaya rakyat berada pada wilayah sepanjnag sungai di Kabupaten Barito Selatan. Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan pertanian.

perkebunan tanaman keras dan semusim dan pariwisata. Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. Wilayah-wilayah yang termasuk kawasan perdesaan ini difungsikan sebagai sentra-sentra produksi sesuai dengan rencana pengembangan ekonomi. Dalam penetapan kawasan perkotaan ini telah mempertimbangkan rencana pengembangan ekonomi.(Persero) CABANG I MALANG perdesaan adalah setiap pusat-pusat desa di Kabupaten Barito Selatan serta pusat-pusat kecamatan yang tidak termasuk kawasan perkotaan. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. konsep Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -58 . Secara umum kawasan perdesaan dibagi menjadi 3 kelompok kawasan: Kawasan I Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Selatan dan Kuala Karau. Kawasan II Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun hilir dan Jenamas. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Untuk itu maka dilakukan deliniasi terhadap wilayah Kabupaten Barito Selatan yang termasuk sebagai kawasan perkotaan. perlu ditetapkan wialayah yang menjadi kawasan perkotaan guna mengoptimalkan pemanfaatan alahan yang ada. Kegiatan yang dikembangkan dalam kawasan ini adalah perkebunan tanaman keras (karet). perkebunan khususnya karet. 4. Pusat kolektor dan orientasi dari kawasan ini adalah Buntok. Kawasan III Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Utara dan Gunung Bintang Awai. peternakan kecil dan besar. strategi pengembangan kawasan produksi. Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. peternakan besar dan kecil. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perkotaan Kawsan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. Dalam pengembangan wilayah kabupaten Barito Selatan. buah-buahan. perikanan umum hutan produksi dan pariwisata.

000 orang di luar pulau-pulau tersebut. Proporsi bangunan permanen lebih besar di tempat itu daripada di wilayah-wilayah sekitarnya. Merupakan pusat kegiatan ekonomi yang menghubungkan kegiatan pertanian wilayah sekitarnya dan tempat pemasaran atau prosesing bahan baku untuk kegiatan industri. jasa dan lain-lain. 7 Tahun 1986. Selain kriteria-kriteria yang telah disebutkan. Secara fisik. industri. yang termasuk kawasan perkotaan mempunyai ciri-ciri: Tempat permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas. Menurut Permendagri No. seperti: pemerintahan. Madura dan Bali. kriteria wilayah yang termasuk wilayah kota terbagi berdasarkan ciri-ciri secara fisik dan sosial-ekonomi. yang dalam satu kesatuan areal terbangun berjumlah sekurang-kurangnya 20. Mempunyai lebih banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi daripada wilayah sekitarnya. Mempunyai proporsi jumlah penduduk yang bekerja di sektor-sektor non pertanian. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -59 . yang lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya.(Persero) CABANG I MALANG pengembangan ruang wilayah Kabupaten. jumlah bangunan.000 orang di pulau Jawa. Mempunyai kepadatan penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah sekitarnya. karakteristik fisik dan guna lahan serta kriteria-kriteria yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah tentang penataan ruang kawasan perkotaan. kriteria kawasan perkotaan dapat berupa ruang yang sudah menunjukkan sebagai kawasan perkotaan atau dapat berupa kawasan yang dicadangkan sebagai perluasan atau pengembangan kawasan perkotaan. yang menjadi ciri kawasan perkotaan adalah: Mempunyai jumlah penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya. atau 10. Kawasan tersebut saat ini dapat saja belum merupakan kawasan perkotaan akan tetapi dicadangkan/direncanakan sebagai kawasan perkotaan untuk kurun waktu yang akan datang. perdaganagan. Dari aspek sosial ekonomi. kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya.

1. letak.4 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Utara Rencana pola pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara meliputi batasbatas kawasan lindung dan kawasan budidaya. ukuran dan fungsi kawasan lindung dan budidaya.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.5.5 Peta Kawasan Lindung Kabupaten Barito Selatan 2. Kawasan Lindung Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian kemampuan lingkungan hidup mencakup Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -60 .

Mempertahankan keanekaragaman flora. maka perlu dilakukan beberapa upaya antara lain: Mencegah dilakukannya kegiatan budidaya di sepanjang sungai yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air sungai. sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi sungai: Lebih kurang 100 m di kiri-kanan sungai besar dan 50 m di kiri-kanan anak sungai yang berada di luar kawasan permukiman. Pengelolaan kawasan lindung adalah upaya penetapan. Untuk memantapkan fungsinya sebagai kawasan lindung. air dan iklim. fauna dan tipe ekosistem serta keunikan alam Dalam kebijaksanaan pengelolaan kawasan lindung diperlukan pendekatan yang terintegrasi antara kepentingan pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal dengan pelestariannya.(Persero) CABANG I MALANG sunberdaya alam. maka Pemda Kabupaten Barito Utara perlu mengembalikan fungsi kawasan lindung yang saat ini sudah hilang/rusak menjadi fungsi awalnya. Melakukan pengendalian terhadap kegiatan yang telah ada di sepanjajng sungai agar tidak berkembang lebih jauh. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -61 . Adapaun sasaran ditetapkannya kawasan lindung adalah untuk: Meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah. Pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Barito Utara secara umum ditujukan untuk mencegah kemungkinan timbulnya berbagai kerusakan fungsi lingkungan hidup dan permasalahan kelestariannya. pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan lindung. Kawasan Perlindungan Setempat Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990. Sungai yang berada di kawasan permukiman (sempadan Sungai) lebih kurang 10-15 m (untuk jalan inspeksi. Mengamankan aliran sungai. Untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan bawahannya. sumberdaya buatan guna kepentingan pembangunan pembangunan berkelanjutan.

Agar tercipta kawasan budidaya yang harmonis/ideal maka dalam pemanfaatan ruangnya diperlukan rencana dan arahan yang berdaya guna dan berhasil guna bagi hidup dan kehidupan manusia. lahan-lahan yang memiliki kemiringan diatas 40% atau memiliki kemiringan 15-40% pada tanah-tanah yang sangat peka terhadap erosi diarahkan fungsinya sebagai kawasan hutan lindung. Adapun wisata alam/sejarah yang perlu mendapat pembinaan dan pengembangan adalah: Kawasan Suaka Alam Kawasan Cagar Budaya - Kawasan Rawan Bencana Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990. 837/KPTS/Um/11/1980.(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kepada Kawasan Bawahannya Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990 dan SK Menteri Pertanian No. sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. gempa bumi dan tanah longsor. kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Kawasan Rawan Banjir Kawasan Rawan Longsor Kawasan Rawan Erosi dan Longsor 2. dengan kriteria daerah yang diidentifikasikan sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi. - Kawasan Pelestarian Alam Kabupaten Barito Utara memiliki potensi wisata alam dan sejarah yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Kawasan htan lindung di Kabupaten Barito Utara seluas 90.066 Ha atau 7. masyarakat maupun swasta. Rencana pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara mengarah kepada pola pemanfaatan hutan di bagian hulu dan tengah sub DAS anak Sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -62 . Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama utnuk kegiatan budidaya berdasarkan kondisi dan potensi sumberdaya alam.95% dari luas total kabupaten.

00% 28.245 119.Pembudidayaan sumberdaya alam pada kawasan hutan produksi bersifat terbatas. sedangkan kawasan permukiman perkotaan dan kawasan pengembangan produksi dikembangkan di bagian hilirnya.700 Prosentase Dari luas kabupaten 20.109 50. Kawasan Budidaya Hutan Kawasan budidaya hutan terdiri dari Hutan Produksi Terbatas (HPT).536 Ha (49% dari luas wilayah) yang terdiri dari: Tabel 2.00% 11. Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Kawasan Pengembangan Produksi (KPP).(Persero) CABANG I MALANG Barito. Hutan Produksi (HP).967 311.00% - Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) Kawasan Pertanian Kawasan Perkebunan Kawasan Peternakan dan Perikanan Kawasan Permukiman dan Transmigrasi Kawasan Industri Kawasan Pertambangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -63 .8 Luasan Kawasan Budidaya Hutan di Kabupaten Barito Utara No 1 2 3 4 Jenis Hutan Produksi Terbatas (HPT) Hutan Produksi (HP) Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Luas (ha) 220. Rencana lokasi kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan penegembangan hutan produksi di wilayah Kabupaten Barito Utara tersebar di seluruh wilayah Kabupaten seluas ± 557.46% 4.

336.640.750 jiwa.46 4.20 0.066.500 jiwa sedangkan pada tahun 2015 direncanakan seluas 25.45 % dan 21. Adapun kebutuhan lahan permukiman perdesaan pada tahun 2011 direncanakan 70. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -64 . adapaun deliniasi luasan permukiman perkotaan pada tahun 2011 mencapai 22.000.966.45 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 56.00 3.86 90.38 19.627.303.50 27.43 10. Rencana Permukiman Perkotaan dan Perdesaaan Pengembangan Permukiman Perkotaan Pengembangan permukiman perkotaan dideliniasi berdasarkan pusat-pusat pelayanan dan fungsi pelayanannya.00 119.118 Ha Hutan dan non Hutan : 78.72 311.194.013.947.62 7.09 100.9 Alokasi Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Barito Utara Tahun 20062007 No A Penggunaan Lahan Kawasan Lindung Hutan Lindung Cagar Alam B Kawasan Budidaya Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi Hutan Tanaman Industri Kawasan Pengembangan Produksi Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain Areal Transmigrasi Industri Jumlah sumber: Hasil rencana tahun 2005 Keterangan : Floating zone tambang : 217.94 ha dengan daya tampung penduduk mencapai 72.897. Pengembangan Permukiman Perdesaan Rencana pengembangan permukiman perdesaan akan dikembangkan pada masing-masing desa/kelurahan yang terjangkau oleh skala pelayanan sistem pusat-pusat.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.00 1.931.050 jiwa.06 7.88 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 80.245.200 jiwa dan pada tahun 2015 direncanakan mengalami peningkatan menjadi 75.67 91.95 0.71 220.67 50.00 ha untuk daya tampung penduduk sebesar 60.57 % 8.699.561.48 24.13 2.108.035.132.53 307.54% Luas (ha) 97.80 1.31 1.57 27.

udara secara saling serasi dan selaras. melalui perlindungan kawasan-kawasan di darat.6 Peta Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Barito Utara 2. laut. Pelestarian dan pengembangan program wisata budaya.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -65 .5. Program Pemanfaatan Pada Kawasan Lindung.5 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Timur 1. Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • Pengembangan SDM (sumber daya manusia) di bidang kehutanan. • • Mempertahankan sempadan sungai. Mempertahankan luas kawasan lindung yang telah ada. Memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup.

Penyusunan master plan drainase. Penertiban aktifitas pertanian.(Persero) CABANG I MALANG Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • Mengembalikan fungsi kawasan hutan lindung yang telah ada. Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan permukiman yang tidak menunjang fungsi utama kawasan. Mencegah dan mengendalikan kerusakan dan kebakaran hutan. Program pengelolaan hutan masyarakat. Menertibkan kegiatan illegal logging di kawasan hutan lindung. Melakukan reboisasi. Menetapkan kawasan fungsi lindung yang juga mencakup perlindungan terhadap kawasan rawan bencana. konservasi dan rehabilitasi sumber daya alam. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -66 . Meningkatkan efektifitas pengelolaan. Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • • Mengendalikan dan mencegah kegiatan-kegiatan budidaya di kawasan lindung.

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.10 Garis besar program pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung Kabupaten Barito Timur
No Kawasan Lindung Jangka Panjang Seluruh kawasan lindung  berbentuk hutan Pengembangan SDM di Bidang  Kehutanan Garis Besar Program Jangka Menengah * Mengembalikan fungsi kawasan    hutan lindung yang telah ada * Rehabilitasi hutan dan    lahan kritis * Program penghijauan * Program pengendalian erosi dan    konservasi air * Program Pengelolan hutan   bersama masyarakat * Penertiban aktifitas pertanian    dan permukiman Jangka Pendek Sosialisasi dan penyuluhan kegiatan penghutanan dan reboisasi, konservasi rehabilitasi untuk seluruh kawasan lindung di luar hutan termasuk pencegahan kebakaran hutan dan pencegahan Illegal Logging * Sosialisasi penghutan dan    reboisasi * Penertiban * Sosialisasi penghijauan    dan reboisasi. Pelaksana Dinas Kehutanan Kabupaten dan  Propinsi Departemen Kehutanan

1 Kawasan Lindung  untuk Kawasan Hutan

2 Kawasan Resapan air

Seluruhnya berbentuk hutan

Dinas Kehutanan Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pertanian Kabupaten Kantor Kebersihan dan Pertamanan Dinas Parbud Kabupaten

3 Kawasan Perlindungan setempat: sempadan sungai, kawasan sekitar waduk, sekitar mata air sempadan jalan 4 Kawasan Cagar Budaya

mempertahankan  penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi sempadan

* Penertiban aktifitas pertanian   dan permukiman * Penghijauan dengan tanaman    keras/tahunan yang memiliki    nilai ekonomi * Pelestarian budaya * Pengembangan Program Wisata    Budaya yang Lestari dan   Berkelanjutan * Promosi wisata budaya Penyusunan master plan drainase

* Pelestarian budaya * Pengembangan program   wisata budaya yang   lestari dan berkelanjutan Pembangunan drainase prasarana pematusan air/ hujan menyeluruh * Terasering * Pelarangan pertanian     pada kawasan rawan    longsor

Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan per‐ mukiman yang tidak menun‐ jang fungsi utama kawasan Pemberian IMB berdasarkan KDB dan KLB terbatas Sosialisasi KDB dan KLB Penertiban aktifitas  pertanian

5 Kawasan Rawan  Bencana banjir/ genangan 6 Kawasan Rawan Bencana gerakan tanah /tanah longsor

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten dan Propinsi Dinas Pertanian

* Terasering * Pembangunan prasarana    drainase

2. Program Pemanfaatan Pada Kawasan Budidaya Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain: • • • Memanfaatkan sumber daya alam secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah. Mengembangkan kegiatan-kegiatan budidaya beserta prasarana penunjangnya secara sinergis. Megembangkan dan mempertahankan kawasan budidaya pertanian tanaman pangan nasional. Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Memanfaatkan ruang kawasan budidaya secara optimal sesuai dengan kemampuan daya dukung lingkungan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -67

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum pengembangan kawasan budidaya diarahkan untuk mengakomodasi kegiatan produksi lahan basah dan kering (pertanian, perkebunan, perikanan, hutan produksi), permukiman dan pariwisata.

Pengembangan kawasan budidaya pertanian perlu diarahkan pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi/kesesuaian lahan serta adanya dukungan pengembangan kawasan prasarana budidaya pengairan/irigasi diarahkan serta untuk memperhatikan pembangunan berkelanjutan.

Pengembangan

kehutanan

mewujudkan pengelolaan hutan lestari melalui pemantapan kondisi kawasan hutan, perencanaan, pengamanan dan perlindungan hutan yang terpadu melalui pengendalian penebangan liar dan penanggulangan kebakaran hutan serta rehabilitasi kawasan hutan kritis. Memenuhi bahan baku industri hilir dengan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan pengembangan hutan rakyat. Memperkuat kelembagaan masyarakat dalam rangka mitra sepaham pembangunan kehutanan dan peningkatan kesejahteraan. Menghindari terjadinya konflik kepentingan/penguasaan kerjasama lahan/kawasan lembaga hutan. peneliti Mengembangkan hasil hutan. • Pengembangan kawasan permukiman meliputi upaya untuk mendorong pengembangan pusat-pusat permukiman perdesaan sebagai desa pusat pertumbuhan terutama wilayah desa yang mempunyai potensi cepat berkembang dan dapat meningkatkan perkembangan desa di sekitarnya dan mendorong pengembangan permukiman sub urban atau kota baru pada daerah peripheral kota-kota metropilitan dan kota besar untuk memenuhi kebutuhan perumahan pada kota-kota tersebut dan sekaligus berperan sebagai penyaring arus migrasi desa-kota. • Pengembangan kawasan pariwisata diarahkan pada objek-objek wisata alam dan budaya dengan memperhatikan pelestarian lingkungan dan mengembangkan prasarana penunjang. • Pengembangan kawasan industri meliputi upaya untuk mendorong pengembangan industri pengolahan dan agro industri untuk meningkatkan nilai tambah sektor-sektor produksi wilayah seperti pertambangan, pertanian, perkebunan dan hasil hutan memberikan prioritas penanganan kawasan-kawasan industri. dengan

lokal/regional/internasional dalam rangka mengembangkan produk

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -68

(Persero) CABANG I MALANG

Pengembangan kawasan pertambangan meliputi mengembangkan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya energi dan mineral secara optimal dengan memperhatikan daya dukung lingkungan secara makro dan mikro: mengendalikan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya pertambangan secara ilegal terutama untuk mencegah dampak lingkungan terhadap wilayah sekitarnya, dan memprioritaskan pengelolaan kawasan-kawasan pertambangan yang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Mengendalikan pemanfaatan ruang pada kawasan budidaya agar tidak terjadi konflik antar kegiatan/sektor. Pengendalian pemanfaatan ruang sebagai suatu bagian mekanisme pengelolaan tata ruang perlu dilakukan melalui penyelesaian permasalahan tumpang-tindih yang ada serta upaya preventif untuk mencegah terjadinya konflik.

Penentuan prioritas dalam pemanfaatan ruang antar kegiatan budidaya sehingga dapat lebih terarah dan fleksibel sesuai dengan tuntutan perkembangan.

Penentuan prioritas pengembangan sistem prasarana kawasan pada bidang transportasi dan faktor produksi yaitu dengan mengembangkan jaringan jalan yang menghubungkan sentra-sentra produksi dengan pusat koleksi dan distribusi di tingkat lokal, intra regional dan inter regional.

Pengalokasian rencana pemanfaatan lahan yang lebih tegas dan bersifat flesibel.

Program pemanfaatan budidaya pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Pengembangan hutan produksi antara lain meliputi: a. Pengusahaan hutan produksi melalui pemberian ijin HPH pola tebang pilih. b. Pengembangan zona penyangga pada kawasan hutan produksi yang berbatasan dengan hutan lindung. c. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan hutan serta perladangan berpindah. d. Pemanfaatan ruang pada kawasan hutan produksi konversi untuk kegiatan pertanian (perkebunan dan tanaman pangan) sesuai dengan potensinya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -69

(Persero) CABANG I MALANG

e. Pengembangan pola tanaman industri. f. Reboisasi dan rehabilitasi lahan pada bekas tebangan HPH. g. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lainnya (pertanian, pertambangan) • Pemanfaatan ruang kawasan pertanian meliputi: a. Perluasan areal persawahan baru (ekstensifikasi) pasang surut dan aluvium. b. Pengembangan prasarana pengairan. c. Pembentukan kawasan Agroopolitan di kota Ampah. d. Pengendalian kegiatan lain agar tidak mengganggu lahan pertanian khususnya sawah pasang surut. e. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lain. • Pemanfaatan ruang kawasan perkebunan meliputi upaya untuk: a. Peremajaan dan perluasan areal tanaman perkebunan sesuai dengan potensi/keseluruhan lahannya secara optimal, diarahkan ke Kecamatan Awang dan kecamatan Petangkep Tutui. b. Pengamanan daerah aliran sungai. • Pemanfaatan ruang kawasan pariwisata meliputi upaya untuk: a. Penataan ruang kawasan pariwisata. b. Pengembangan obyek wisata dan fasilitas pariwisata. • Pemanfaatan Ruang Kawasan Perindustrian adalah: a. Penataan ruang kawasan industri. b. Penyediaan prasarana pendukung kawasan industri. • Kebijaksanaan pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman adalah: a. Penataan ruang kota (RUTRK, RDTRK, RTRK) b. Pengembangan desa-desa pusat pertumbuhan. c. Pengembangan permukiman transmigrasi lokal. • Kebijaksanaan Pemanfaatan Ruang Kawasan Pertambangan adalah: a. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan pertambangan agar tidak mengganggu fungsi lindung. b. Pengembalian fungsi lindung pada kawasan bekas kuasa pertambangan. yaitu melakuakan penyusunan RTRK dan peninjauan kembali (evaluasi, revisi) RTRK.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -70

(Persero) CABANG I MALANG

3. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan dan Perkotaan Dalam suatu wilayah Kabupaten terdapat dua jenis kawasan fungsional yaitu kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan serta bisa terdapat kawasan tertentu. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan, Perkotaan dan Kawasan Tertentu dirumuskan untuk mencapai keserasian hubungan fungsional antara kawasan-kawasan tersebut. Bentuk bentuk pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu meliputi: • Kelembagaan Meliputi pembagian dan kewengan swasta, pengelolaan lembaga kawasan perdesaan, dan perkotaan dan tertentu yang melibatkan pemerintah Kabupaten, Kecamatan kawasan Desa, kemasyarakatan dapat masyarakat secara langsung. Hubungan kerjasama dalam pengelolaan perdesaan/perkotaan/tertentu juga melibatkan beberapa pemerintah kabupaten apabila kawasan mencakup dua atau lebih daerah otonom yang berbatasan secara langsung. • Program Pemanfaatan Meliputi garis besar program pemanfaatan yang diindikasikan pada kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu untuk jangka panjang, menengah dan pendek • Pengawasan Meliputi tata cara dan prosedur pengawasan terhadap kebijakan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dantertentu. Misalnya untuk pengelolaan kawasan perdesaan, dirumuskan kebijakan pengendalian konversi pemanfaatan ruang yang memperhatikan keberlanjutan dan pemenuhan kebutuhan hidup seperti udara, air dan pangan, mengingat dominannya sumber daya alam di kawasan perdesaan. Aspek pengawasan dalam pengelolaan kawasan melibatkan pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa bersama-sama dengan masyarakat. • Penertiban Meliputi tata cara dan prosedur pelaporan terhadap pelanggaran pelaksanaan kebijakan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -71

(Persero) CABANG I MALANG

2.5.6 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kuala Kapuas 1. Kabupaten Kapuas Sebagai bagian dari WS Kapuas, wilayah Kabupaten Kapuas hampir seluruhnya terletak di DAS Kapuas, dan berada pada posisi perbatasan antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Kondisi Kabupaten ini disusun sebagai informasi kajian analisis wilayah yang sangat relevan dengan rencana tata ruang dan master plan pada DAS Kapuas. Berdasarkan informasi awal kajian tata ruang ini, akan memberikan arahan dalam penyusunan master plan sumber daya air DAS Kapuas. Kebijaksanaan perwilayahan pembangunan dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas 1994/1995 – 1998/1999 membagi wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas atas 5 (lima) wilayah pembangunan, yaitu : 1. Wilayah Pembangunan Bagian Utara, meliputi kecamatan Kahayan Tengah, Banama Tingang, Sepang, Kuala Kurun, Tewah, Kahayan Hulu Utara, dengan Pusat Pengembangan Kuala Kurun. 2. Wilayah Pembangunan Bagian Selatan, meliputi kecamatan-kecamatan Selat, Kapuas Hilir, Pulau Petak, Kapuas Murung, Kapuas Timur, Basarang, dan Kapuas Kuala dengan pusat pengembangan Kuala Kapuas. 3. Wilayah Pembangunan Bagian Timur, meliputi Kecamatan-kecamatan Timpah, Kapuas Tengah, dan Kapuas Hulu dengan pusat perdagangan Timpah. 4. Wilayah Pengembangan Bagian Barat, meliputi Kecamatan-kecamatan Rungun dan Manuhing, dengan pusat pengembangan Tumbang Jutuh. 5. Wilayah Pembangunan Bagian Tengah, meliputi Kecamatan-kecamatan Kahayan Hilir, Kahayan Kuala, Pandih Batu, Kapuas Batu, dan Mantangai, dengan pusat pengembangan Pulang Pisau. 2. Fungsi dan Peranan Kota Kuala Kapuas Dengan demikian, dari kebijaksanaan tersebut Kota Kuala Kapuas, selain sebagai pusat utama Kabupaten Dati II Kapuas, berfungsi secara khusus sebagai pusat pengembangan wilayah pembangunan bagian selatan, yang melayani/membawahi wilayah fungsional yang relatif berbatasan dengan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -72

(Persero) CABANG I MALANG

Provinsi Kalimantan Selatan.

Kawasan WP Bagian Selatan relatif lebih

maju dibandingkan wilayah lainnya, terutama bila dilihat dari indicator kependudukan, kegiatan ekonomi, kelengkapan fasilitas dan fasilitas umum, serta jarak dan aksesibilitas dan transportasi wilayah. Dalam kajian ini, disusun kajian mengenai peran Kota Kuala Kapuas, sebagai pusat pengembangan wilayah Kabupaten Kapuas, yang mewakili peranan pengembangan DAS Kapuas. Berdasarkan hasil analisis terhadap potensi dan masalah perkembangan kota yang terjadi selama ini dan antisipasi terhadap masa yang akan dating, maka fungsi dan peranan Kota Kuala Kapuas yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut. A. Fungsi Primer 1. Pusat Pemerintahan Tingkat Kabupaten : sesuai peran sebagai ibukota kabupaten Kapuas, skala kerja Bupati 2. Kegiatan transportasi : potensi sebagai kota transit, baik angkutan sungai maupun darat 3. Kegiatan perdagangan dan jasa : mendukung Kota Kuala Kapuas sebagai pusat pengembangan wilayah dan jalur transportasi wilayah 4. Pendukung kegiatn industri : fungsi yang berkenaan dengan industri di wilayah interland kita yang terkait dengan hasil hutan. B. Fungsi Sekunder Fungsi sekunder yang utama adalah sebagai permukiman yang meliputi ketersediaan tempat hunian/wisma, tempat kerja, tempat rekreasi, dan fasilitas social. Keseluruhan komponen tersebut diperuntukan bagi penduduk kota saja. 3. Karakteristik Umum Kota Kuala Kapuas Wilayah perencanaan merupakan bagian dari wilayah Kota Kuala Kapuas yang berfungsi sebagai pusat pemerintah Kabupaten Kapuas, dan luas efektif kota adalah sebesar 2,733 Ha. Secara fisik, wilayah Kota Kuala Kapuas dipengaruhi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung, yang sekaligus menjadi pusat orientasi kegiatan air dan ini merupakan ciri khas kota air.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -73

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum, kawasan ini dapat dikembangkan untuk kegiatan kota, walaupun pada beberapa bagian wilayah kota Kapuas sangat besar dipengaruhi oleh genangan air pasang surut Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Hal ini menimbulkan terjadinya genangan air sepanjang tahun. Ditinjau dari pola tata guna lahan, sebagian besar dari kawasan terbangun yang ada merupakan kawasan perumahan yang sangat padat dengan kondisi bangunan dan lingkungan yang kurang baik. Lokasinya cenderung mengelompok di sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Pada posisi ini, maka pengembangan sector sumber daya air pada kedua sungai tersebut mengacu pada rencana peruntukan kota, yang memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai sebagai kawasan sentra pengembangan wilayah. 4. Tata Guna Tanah dan Kondisi Lingkungan Ditinjau dari tata guna tanahnya, sebagian besar digunakan untuk perumahan dan perdagangan. Penggunaan lainnya yang cukup menonjol adalah perdagangan yang terdapat di pusat kota dan kegiatan pemerintahan. Pada lahan-lahan yang relatif kosong terdapat lahan yang potensial untuk dikembangkan dan juga sulit dikembangkan karena merupakan tanah lempung yang berlumpur yang dalam. Masalah lingkungan yang cukup serius adalah lingkungan di tepian Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung yang berada di dekat atau di pusatpusat perdagangan dan jasa. Umumnya kondisi perumahan perpetakan bangunan dan kegiatan kurang terencana sehingga memberikan kesan kumuh (slums area). Juga masalah prasarana lingkungan masih relatif kurang memenuhi kebutuhan, khususnya air bersih dan sanitasi. Pada beberapa bagian di wilayah perencanaan ini dijumpai adanya penggunaan ganda (mix – used) serta pola distribusi kepadatan bangunan yang kurang merata dan banyaknya bangunan dengan kondisi yang kurang memadai. Untuk mengatasinya dapat diusahakan melalui peningkatan kondisi lingkungan, program perbaikan kampong (KIP), program kali bersih (Prokasih), resettlement dan lain-lain.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -74

(Persero) CABANG I MALANG

5. Rencana Struktur Kota Kuala Kapuas Rencana struktur ruang merupakan pedoman dasar bagi pengembangan suatu wilayah atau kawasan tertentu, yang selanjutnya akan menunjukan pola tata ruang yang sesuai dengan fungsinya yang lebih berorientasi pada pelayanan umum dan memenuhi kebutuhan warga kota secara optimal. Tujuan dan sasarannya adalah sebagai berikut : a) mengarahkan tingkat pertumbuhan Kota Kuala Kapuas ke wilayahwilayah BWK dan sub BWK sesuai dengan potensi dan porsi fungsi kota. b) c) d) Mengatur mekanisme untuk perkembangan penentuan fungsi kota dan intensitas ruang fisik secara keseluruhan. Mewujudkan pemerataan pengembangan ataupun pembangunan wilayah ke dalam BWK (bagian wilayah kota) Memberikan pedoman bagi pola peruntukan lahan beserta pembangunan fisik, terutama berkaitan dengan penyediaan fasilitas dan utilitas untuk menunjang BWK Kuala Kapuas yang aman, indah, dan ramah (sebagai Kota Air). 6. Rencana Pengembangan Kota dan Pembentukan Unit Pelayanan Untuk mengurangi permasalahan yang ada saat ini maupun yang akan dijumpai pada masa mendatang, maka Kota Kuala Kapuas dibagi menjadi 3 (tiga) Bagian Wilayah Kota (BWK), yaitu BWK Selatan, BWK Utara, BWK Timur. Setiap BWK tersebut terdiri dari satu sub bagian wilayah kota (Sub – BWK) dan beberapa pusat-pusat pelayanan. Fungsi bagian wilayah Kota Kapuas adalah sebagai berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -75

553. Puskesmas.45 56 34.07 0.87 2.311.5 1.58 53.13 2004 LUAS (Ha) 1.69 0.365.27 0. Rencana Penggunaan Lahan Salah satu rencana yang paling penting adalah rencana penggunaan lahan.51 2.14 0.68 2.99 100 49.733.05 56.72 2.09 0.05 1.76 1.238.15 12.5 1.11 Fungsi dan Bagian Wilayah Kota (BWK) Kuala Kapuas No 1 BWK BWK Selatan FUNGSI BWK 1 Perkantoran 2 Pusat perdagangan dan Jasa 3 Perumahan dan permukiman terbatas (DAS) di Pusat Kota 4 Pendidikan 5 Olah Raga 6 Kesehatan (RSU.86 10.89 31. praktek dokter) 7 Pusat pengembangan industri besar/menengah di Kelurahan Murung Keramat 1 Pusat pemerintahan skala wilayah kerja bupati 2 Pusat pengembangan perdagangan skala local dan regional 3 Pusat pengembangan pariwisata di Pulau Telo 4 Pusat pengembangan dan pendidikan dan lapangan olah raga (stadion Olah Raga) 5 Pengembangan perkantoran 6 Pengembangan permukiman skala BWK 7 Pengembangan terminal regional dan kota 8 Pengembangan sub terminal kota 9 Pengembangan dermaga barang 10 Pengembangan dermaga antar kota 1 Pusat pemerintahan skala kecamatan dan kelurahan 2 Perkantoran 3 Pengembangan industri kecil (tersebar) 4 Lapangan olah raga 5 Pengembangan permukiman 6 Perumahan terbatas (permukiman DAS) 2 BWK UTARA 3 BWK TIMUR Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK 7.28 1.45 0.39 1.12 Rencana Tata Guna Lahan Kuala Kapuas.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. 1999 .66 1. Dalam buku RUTK Kuala Kapuas telah ditetapkan rencana penggunaan lahan Kota Kuala Kapuas.86 10.93 10.27 0.4 48.97 2.55 50.42 18.57 1.46 0.99 1.124.089.38 1.05 1.77 1.2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 JENIS PENGGUNAAN Perumahan dan jalan Perkantoran Perdagangan dan jasa Peribadatan Kesehatan Pendidikan Olah raga /taman Sempadan sungai Jaringan jln Tempat pemakaman Pertanian terbuka TOTAL KAW TERBANGUN 1999 LUAS (Ha) 919.05 56 34.05 1.94 57.78 0.84 2.38 56 48.82 100 41.00 % 33.65 100 45.18 42. Tabel 2.88 43.99 67.23 1.96 Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK Keterangan : Sempadan Sungai dan Pertanian bukan merupakan kawasan terbangun Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -76 .96 1.733.00 1.33 2009 LUAS (Ha) 1.85 1.24 47.76 1.00 2.37 1.5 1.88 2.07 0.05 52.59 2.00 % 36.00 1.00 1.05 47.01 0.75 77.733.49 % 32.007.438.

yang berfungsi sebagai pusat pengembangan perkantoran. Hal ini menjadikan kota ini menjadi kota transit.(Persero) CABANG I MALANG 8. dan jasa. pendidikan. pusat pengembangan skala pemerintahan kabupaten dan pusat adalah terpusat pada kawasan kota. yaitu telah terbukanya jalur jalan lintas Kalimantan Poros Selatan sebagai pergerakan arus barang dan pergerakan penduduk di masa yang akan datang. Mengingat perkembangan kota kuala kapuas semakin berkembang di jalur transportasi darat. Adapun pola perkembangan fisik kota berbentuk grid – liner. yaitu di sepanjang daerah aliran sungai dan disepanjang jalur transportasi darat. pembangunan bagi daerah sekitarnya. Untuk rencana pengembangan BWK Timur terdapat pada Kecamatan Kapuas Hilir sebagai pengembangan penduduk terbatas dan sebagai kawasan pengembangan KAPET (kawasan pengembangan ekonomi terpadu) di Kalimantan Tengah. perdagangan. Direncanakan pengembangan kawasan terbangun kearah Bagian Wilayah Kota Utara sebagai pusat pengembangan BWK Utara di bundaran besar (jalur lalu lintas Kalimantan poros selatan). Perkembangan Fisik Bagian Kota Perkembangan fisik bangia wilayah Kota Kuala Kapuas pada awalnya berkembang dari pola permukiman penduduk yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Adapun arah utama perkembangan kota Kuala Kapuas saat ini Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -77 .

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.7 Peta Penggunaan Lahan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -78 .

8 Peta Penggunaan Lahan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -79 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

(Persero) CABANG I MALANG 2.15 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.656 Pendd% 2.932 2005 122.555 329.448 Pendd% 0.448 Luas (km2) 2. 2007 Tabel 2.218 112.152 106.13 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2002 – 2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 248.751 2007 269.063 83.091 87.163 73.470 2005 255.355 110.360 1.397 355.266 91. 2007 Tabel 2.1 Kependudukan Berdasarkan laporan pada Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan.996.008 77.96 Kepadatan / km2 90 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -80 .148 113.92 Sumber :Propinsi Kalimantan Tengah Dalam Angka. periode 2002 – 2007 turun menjadi 1.117 81.580 1.14 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2002 – 2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 114.900 Sumber :Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka. jumlah penduduk Kalsel yang masuk dalam WS Barito-Kapuas pada bulan Februari 2007 sebanyak 269.615 88.567 348.053 2003 251.382 2007 128.992 342. Pertumbuhan pertahun cukup fluktuatif dengan toleransi rendah.659 335.6.557 109.082 86.567 83.325 69.209 2004 253.969 Pertumb 2006 258.668 323.019 5.580 82.6 ASPEK SOSIAL EKONOMI 2.434% per tahun.604 2004 119.395 Pertumb 2006 125.956 2003 116.448 jiwa.863 81. Jumlah dan kepadatan penduduk Kalimantan Selatan yang termasuk dalam WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut: Tabel 2.340 1.823 107.

570 20.252 180.584 Rata2 per RT 3.615 88.31 Sumber : Hasil Perhitungan Perkembangan jumlah kabupaten atau kota ditentukan pula oleh perkembangan desa di kawasan tersebut.458 4.321 3.296 22.16 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128.148 113.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.448 Kepadatan / km2 90 Jumlah RT 69. Tabel 2.266 91.19 sebagai berikut.656 777.266 91.341.076 4.527 26.149 Rata2 per RT 5.75 15.397 355.18 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga Tiap Kabupaten WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128.00 23.911 4.194 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Sumber : Hasil Perhitungan Jumlah rata-rata jiwa per rumah tangga merupakan dasar perhitungan bagi proyeksi jumlah konsumen / pelanggan air bersih sehingga berfungsi sebagai asumsi dalam analisis.17 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.002.615 88.834. Kondisi desa-desa pada kabupaten tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.00 57.082 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Jumlah RT 23.87 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -81 .300.148 113.397 355.447 4.00 3.00 8.656 777.504 87.082 Luas (km2) 6.716.

34 1. memiliki tingkat pendidikan dasar.10 3.00 40. Relatif masih rendahnya tingkat pendidikan SDM yang bekerja.1 Barito Selatan Dari keseluruhan penduduk Barito Selatan. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia. tidak/belum tamat SD/sederajat.00 30.81 15.00 50. 2007 2.2 Mata Pencaharian dan Pendapatan Penduduk 2.00 10.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor Pertambangan 0. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor.1%.48 1.6.15 8.60 4. Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Selatan didominasi penduduk yang berumur 25 sampai dengan 29 tahun. Sebagian besar (69%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor Pertanian.19 Kondisi Desa Tiap Kabupaten di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Desa 200 Desa Swadaya 0 Desa Swakarya 0 Desa Swasembada 200 Sumber : Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka.6. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan. Pe r Ke ua Pe r La in ny a ng an n Ai r ng un a ta ni a da n Ja s a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -82 . terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri.95 1.00 60.12 An gk ut an In du st ri n da ga ng an ba ng an ta m Ga s Ba Pe r Gambar 2. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat.2.00 - 59. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan.00 20.33 1. 70.9 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Selatan Lis t rik . 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis.12 3.

46 8. 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis.(Persero) CABANG I MALANG 2. kesempatan.00 30. Sebagian besar (31.70 % dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor keuangan yaitu 0.3 Barito Timur Dari keseluruhan penduduk Barito Timur.56 %) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian.2.62 7.00 60.30 % masih belum mendapatkan 80. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 21.05%.00 10.6.00 40.55 2.2. terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri.10 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Gambar diatas menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha.94 1. Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Timur didominasi penduduk yang Pe rt a Pe ni an rt a m In ba du ng st ri an Pe ng ol Li ah st ri k an .2 Barito Utara Dari keseluruhan penduduk Barito Utara.G as & Ai r Ba ng un Pe an rd ag an ga n An gk ut an Ja Ke sa ua Ke ng m an as ya ra ka ta n La in ny a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -83 . Relatif masih rendahnya tingkat pendisikan SDM yang bekerja.42 % berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis. dan sisanya sekitar 78.78 0.15 0. 2.29 Gambar 2.00 50.6.00 0. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.91 0.00 75.00 70. 78.00 20.33 1.96 0.

00 30. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS ah as en isw a gu ru s Be R lu Pe T m ns /ti da iu n k be ke rja Pe Pe ta rta ni m ba ng an In du st Ko ri nt Pe ru ks rd i ag an Tr a n gan sp or Ke tasi ua ng an PN TN S Id an P Ja olri sa -ja sa La in ny a M Pe la ja r r/ m II -84 .41 Gambar 2.3 %. Gambar berikut menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha 31.33 0.024 jiwa tahun 2006 menjadi 42.00 25. tidak/belum tamat SD/sederajat. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat.78 2.11 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha 2.00 1.00 9.6.25 0. Demikian pula penduduk yang bukan angkatan kerja turun dari 54.814 jiwa turun menjadi 129. Sebagian besar (60%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian.93 0. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan.4 Barito Kuala Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2007 yang dilakukan BPS angkatan kerja ditahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu dari 132.34 20.05 3.14 4.85 10. Rendahnya tingkat pendidikan SDM yang ada terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja.75 0.25 0.430 jiwa.00 0.00 15. gas dan air minum 0.00 20. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor listrik. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan.(Persero) CABANG I MALANG berumur 25 tahun sampai 29 tahun.00 5.99 19. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor memiliki tingkat pendidikan dasar.268 jiwa ditahun 2007.56 35.99 2.39 1.2. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbanggnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.

10 Bu ru h 4.40 1.00 5.544 orang menjadi 127.39 24.00 30.2. pada tahun 2007 jumlah pencari kerja terbesar adalah dari tingkat pendidikan SLTA/sederajad sebesar 41.00 40.57 0. yaitu sebesar 1.17 0.81 SL TP /s e Gambar 2.00 t ti n gk at ti n gk at tin gk a M ud a Sa rja na S1 41.12 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Kuala Kapuas /T dk Berdasarkan buku Kapuas Dalam Angka 2007/2008. 45.270 jiwa pada tahun 2006 menjadi 2.20 5. disusul pencari kerja dari Sarjana Muda sebesar 24.10 0.119 orang tahun 2007. Gambar berikut menunjukkan prosentase bidang pekerjaan penduduk Barito Kuala 40 35 30 25 20 15 10 5 0 35.08 0.311 jiwa pada tahun 2007.66 I PO LR Pe I Pe ns la iu ja na r /M n ah Pe as ta ni is /P wa er ke bu na n Pe Pe da te ga rn ng ak /N Ka el ry ay aw an an Sw as BU ta M N/ BU M D 2.81%.31 8.39%.00 35. Sedangkan pencari kerja terkecil dari adalah dari lulusan SD/sederajad.00 20.00 25.00 10.38 14.76 2.6.97%.(Persero) CABANG I MALANG Penduduk yang bekerja juga mengalami penurunan dari 128.5 Be lu m Gambar 2.96 2. Berbeda dengan penduduk yang mencari pekerjaan yang mengalami peningkatan di tahun 2007 dari 4.28 32.52 1.35 0.00 15.97 23.13 Prosentase Pencari Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan SL TA /s e Sa rja na SD /s e La in -la in Be ke rja PN S AB R Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -85 .

2. hal ini guna menunjang dan mendukung Program Ketahanan Pangan.3 Sektor Pertanian Pembangunan di bidang pengairan untuk kegunaan pertanian senantiasa mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Pemerintah dan pengembangan yang terus menerus selalu diupayakan.(Persero) CABANG I MALANG 2.000 mm. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -86 .1 Sebaran Lahan Rawa Secara fisiografis lahan rawa di Kalimantan dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) group.6. dan perikanan. jasa.6. rumah tangga. Curah hujan tahunan lebih dari 2. Salah satu visi kabupaten di dalam SWS Barito adalah Kabupaten Kapuas yang memiliki visi sebagai daerah pengembangan agrobisnis menuju agroindustri yang mendukung pembangunan daerah. pariwisata dan pengembangan wilayah desa dan kecamatan. daerah ini didominasi oleh tanah organosol atau histosol dalam system Klasifikasi Soil Toxonomi (USDA) (2) Group dataran rawa marin (B) Rawa marine merupakan suatu kawasn yang berasal dari bahan endapan marin yang terdiri dari bahan liat. dan pasir. lumpur. yaitu : (1) Group dataran rawa gambut (D) Dataran rawa gambut (Peat Dome D) terbentuk terutama karena pengaruh curah hujan tinggi dan airnya tergenang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Satuan lahan ini bila ditinjau dari posisinya relatif dekat dengan pantai. Berkaitan dengan itu maka strategi pembangunan pengairan adalah bagaimana mengembangkan secara optimal sumber daya air yang ada untuk mencapai peningkatan produksi pangan dan peternakan dimana sektor ini menjadi soko guru ekonomi rakyat.3. peternakan. meningkatkan penyediaan air baku dan kebutuhan industri. Pengembangan diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas bidang pertanian khususnya pangan. sehingga dipengaruhi air pasang surut dan intrusi air asin.

pedada. bakau. nibung. kesesuaian lahan komoditas pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Kadang-kadang dicirikan juga oleh vegetasi alami yang tumbuh.140. api-api. seperti nipah. perkebunan. Tabel 2. Satuan lahan merupakan dasar penilaian potensi. Sehingga setiap lahan akan dapat diperkirakan tingkat kesulitan pengolahan apabila diarahkan untuk peningkatan fungsi dan manfaatnya (reklamasi). Dataran rawa marin (B) karena lokasinya relatif dekat dengan pantai. bahan pembentuk.(Persero) CABANG I MALANG (3) Group dataran pedalaman /alluvial (A) Rawa ini menempati daerah datar atau dataran pelembahan dan dataran banjir yang umumnya selalu tergenang air. kondisi genangan air. dan katek yang dapat digunakan sebagai indikator. serta tipe dan kedalaman gambut.361. Umumnya berpotensi untuk pengembangan pertanian. Kecuali rawa alluvial marin semua lahan yang termasuk dalam group rawa pedalaman /alluvial (A) merupakan rawa non pasang surut. dan perikanan. Satuan tersebut disebut satuan kawasan rawa (SKR). tipe.20 berikut menyajikan rekapitulasi penyebaran satuan lahan di Kalimantan Selatan (1. Setiap group fisiografi dibedakan menjadi beberapa satuan lahan berdasarkan atas genesisnya. Untuk dataran rawa gambut dibedakan menjadi rawa gambut yang dipengaruhi oleh pasang surut (D1) dan dataran rawa air tawar (D2).140 Ha) dan Kalimantan Tengah (4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -87 .304 Ha). umumnya termasuk rawa pasang surut.

490 2.014 0 653.1.689 131.421 63. bergambut Lembah tertutup.2.1 B.2.219 9.341 0 28.3.369 0 0 0 2.469 141.652 319.254 4.187 70.679 3.3 29 30 31 32 33 34 35 36 37 RAWA PASANG SURUT Dataran pantai berpasir dan lembah2 diantara beting pasir Dataran pantai berpasir Rawa belakang tanggul pantai dipengauhi ps surut Dataran ps surut berlumpur sepanjang pantai Dataran banjir.790 896.1.637 994.1.124 41. 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -88 .2 A.304 4.1 A.2 B.3 B.676 17.2.20 Luas dan Penyebaran Lahan Rawa di Kalteng dan Kalsel No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 No 13 14 15 16 Symbol A.7.562 0 Kalimantan Selatan 0 54.2. sering tergenang Dataran aluvial.717 858.3.4 A.1 B.1 A.7 A.2.361.371 37.961 0 0 0 Kalimantan Tengah 247.2.343 12. payau Dataran teras berpasir tertutup gambut Rawa gambut ps surut dangkal Rawa gambut ps surut agak dalam Rawa gambut ps surut dalam Jumlah JUMLAH I SUMBERDAYA LAHAN RAWA YG TELAH DIPERUNTUKAN NON PASANG SURUT KAWASAN PERLINDUNGAN RAWA YANG SUDAH ADA Hg Rawa gambut dalam Th Kapasitas tampungan hujan/rawa masa depan Wd Waduk Kawasan pengawetan rawa yang sudah ada HSA Kawasan hutan suaka alam PPA Kawasan perlindungan dan pelestarian alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah Hm Kawasan pantai berhutan bakau HSA Kawasan hutan suaka alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah JUMLAH II JUMLAH SELURUHNYA 530.1 D.189 43..628 581.595 0 67.194 0 0 94.705 1.2 A.671 71.257 156.284 145.1.140.2.045 0 23.1 A.023 985. muara sungai.2 D.2.3.4 B.1 A.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.2 B.2.2.798 22.745 23.784 32.219 0 74.4 A.374 76.530 5.2.389 96.049 0 239.722.804 89.1 D.686 11.2.1 D.3 Symbol P.090 14.558 2.3 Satuan Lahan RAWA NON PASANG SURUT Pelembahan sungai Jalur meander dan tanggul yg lebar dari aliran sungai yang besar Rawa belakang tanggul sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran aluvial.997 1.623 140. sering tergenang Rawa dangkal dengan bekas-bekas jalan aliran sungai Rawa dangkal Rawa dalam Rawa dalam dengan bekas-bekas jalur aliran sungai Satuan Lahan Dataran rawa berpasir tertutup gambut Rawa gambut air tawar dangkal Rawa gambut air tawar agak dalam Rawa gambut air tawar dalam Jumlah Kalimantan Tengah (Ha) 150.2 A.2 D.140 Sumber : Penelitian Kesesuaian Lahan Rawa di Kalimantan.215 55.2.800 25.6.3.811 91.1 D.644 0 621.671 45.749 29.468 37.685 100.404 8.618 80.497 19.790 396.7.2.962 7.3.1.1 B.276 41.702 16.2.376.1.111 74.435 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 B.2.050 Kalimantan Selatan (Ha) 2.231 14.1.6 A. dan alur-alur ps surut Dataran ps surut berlumpur dengan vegetasi mangrove Dataran muara sungai dan alur-alur ps surut Dataran aluvial marine.330 0 0 33.2.875 372.2 A.806 63.

termasuk lahan rawa. Prov.132 Tanam 2 X ( Ha ) 2.237 15.997 23.243 2. Tabel 2.473 2.892 4.997 30.295 203.003 16.237 16.956 Produktivitas ( Kw/Ha ) 29.525 2. Tabel 2.526 2.6.243 184.834 Tanam 1 X ( Ha ) 8.068 16.530 4.691 885 165 6.2 Produksi (Ton) 609.151 48.530 5.2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Untuk Pertanian Umum Pertanian Tanaman Pangan Lahan untuk pengembangan tanaman pangan padi sawah masih luas.341 5 77 24 42 57 25 41 15 100 83 32 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.530 4. 2002 Dari tabel diatas diketahui bahwa produktivitas padi di Kalimantan masih bisa ditingkatkan. namun belum dimanfaatkan seluruhnya. Berikut ini adalah tabel luas pengusahaan usahatani pada lahan rawa beberapa kabupaten di WS Barito-Kapuas.324 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.188 24.840 40.96 23.303 23.3.658 42.371.199.263 12.850 68.363 76.199 635.276.909 83.335 Luas Lahan Usahatani ( Ha ) % 10.22 Luas Penggunaan Usaha tani Tanaman Pangan pada Lahan Rawa WS Barito-Kapuas.428 935 314 52 62.009 108. Selain itu. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -89 .666 16.374.243 2.(Persero) CABANG I MALANG 2.341 94.855 11.046 5.738 26.912 53.210 222.88 45.604 9.33 37. baik intensifikasi atau extensifikasi lahan potensial. teknologi penanganan juga memerlukan peningkatan agar produktivitasnya sesuai target nasional.21 Produksi dan Produktivitas Lahan Sawah di Kalsel dan Kalteng.546 7.35 51.171.089. Kalimantan Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KAB / KODYA Kotabaru Barito Kuala Tanah Laut HSU Banjar HSS Tapin HST Tabalong Banjarmasin JUMLAH Luas Lahan Rawa ( Ha ) 236. Tahun 1991 No 1 2 3 4 5 WILAYAH Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Jawa Luar Jawa Indonesia Luas Panen ( Ha ) 203.704 56.414 14.

Hal ini menggambarkan bahwa peluang untuk meningkatkan produktivitas masih besar. papaya. Kabupaten Kapuas memiliki lahan rawa yang terluas. Komoditas kelapa sawit pada dasa warsa terakhir menjadi primadona bagi perusahaan swasta besar dan PTP di Kalimantan. perusahaan perkebunan milik pemerintah (PIP) dan perkebunan milik perusahaan swasta. tetapi produktivitas perkebunan rakyat sangat rendah dibandingkan dengan kedua cara lainnya.(Persero) CABANG I MALANG Tanaman Palawija dan Hortikultura Kabupaten Kapuas menghasilkan buah-buahan yang besar. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -90 . sehingga dalam program reklamasi rawa. jambu mete banyak diusahakan dalam pola tegalan atau pekarangan. Selain itu juga penghasil sayursayuran. perkebunan rakyat di Kalimantan masih tetap menempati posisi strategis dan perlu prioritas pengembangan. dan mangga. Budidaya sosial seperti karet dan kelapa mendominasi terutama di wilayah lahan pasang surut. nenas. cengkeh. diantaranya sawo. Karena masih memberikan kinerja yang dominan baik dalam hal luas tanaman maupun jumlah produksi. dibandingkan produktivitas potensialnya. atau sekitar 66%nya. jahe. Produktivitas tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat maupun perusahaan besar masih rendah. merupakan bagian kecil dari lahan yang ada. Sedangkan komoditas perkebunan rakyat yang berkembangan adalah perkebunan karet. kayumanis. Tananam Perkebunan Terdapat 3 (tiga) pola pengelolaan perkebunan. Tanaman perkebunan tersebut diusahakan oleh petani setempat secara pola kebun. kopi. rambutan. kawasan ini diprioritaskan. kapok. Kedua tanaman tersebut ditanam tersebar merata ke seluruh wilayah. Tanaman kakao dan kelapa sawit sebagai komoditas yang relatif baru cukup berkembang dengan baik. dan kakao. Luas lahan dan jumlah produksi perkebunan rakyat menguasai secara dominan. lada. yaitu : perkebunan rakyat. kemiri. Sedangkan tanaman pinang. kapulaga. kelapa.

100 600 570 1. sehingga tanaman padi.3.1 388. 2002. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -91 .3 2 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan. Danau Panggang.6 873. Pola tanam pada wilayah ini dipengaruhi penggenangan periodik tersebut.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Curah hujan adalah salah satu faktor terhadap iklim maupun kegiatan tanam.4 67.200 1.500 630 5.000 300 1. Polder tersebut dibuat untuk mengatur tata air sehingga pada musim penghujan genangan bisa dikurangi dan pada musim kemarau air dari sungai bisa masuk ke polder. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 2.3 74. polder tergenang dan musim kemarau terjadi kekurangan air.23 Produktivitas Beberapa Tanaman Perkebunan di WS Barito-Kapuas.6 51.10 % Real (2) / (1) 51.6. Prov. No 1 Budidaya Perkebunan Rakyat Karet Kelapa Kopi Kakao Lada Cengkeh Tahun 19911 Kayu manis Tebu Serat karung Perkebunan Besar Karet Kakao Tebu Kelapa Sawit Produktivitas Potensial kg/ha (1) 1. sehingga pada musim hujan.000 Produktivitas Real Kg/ha (2) 615.600 15.6 816.037.50 8.6 70.250 1.100 5. Pompa air yang telah ada sekarang hanya berfungsi suplai untuk 15% luasan yang ada.3 53. Kalimantan Selatan.070. Salah satu kondisi rawa yang telah dikaji secara lebih terperinci adalah kondisi rawa lebak di Kabupaten HSU. Pada periode tersebut aktivitas budaya tanaman selain tanaman tahunan berhenti dan petani mengalihkan kegiatannya untuk menangkap ikan atau beternak.3 42. Lahan rawa di wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan tergenang mulai bulan Oktober sampai Mei.8 4.3 Sistem Budidaya Pertanian di Lahan Rawa Pada masa pendudukan Belanda dibuat Polder di Kabupaten Hulu Sungai Utara.7 81.3 76.6 465.5 153.3 79.161. dan Babirik.7 404.4 74.3 80.7 51.yang membentang di Alabio.2 4. Saat ini polder tersebut berkurang fungsinya.300 1. Polder dilengkapi dengan pompa air untuk intake dan untuk drainase.10 320 769 505.

14 Pola Tanam Polder Alabio Keterlambatan penanaman tersebut bisa mengakibatkan gagal panen. Dec Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop MUSIM HUJAN MUSIM KEMARAU LAHAN TERGENANG PADI PALAWIJA DAN HORTIKULTURA Sumber : Laporan Akhir Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. Penanaman padi pada lebak dalam sering gagal panen karena terlambat tanam. Areal watun I umumnya ditanami pada bulan Mei/Juni dipanen bulan Agustus/September. kondisi pompa saat ini tidak mampu mensuplai kebutuhan pada lebak atas. Pembagian areal tanam sering disebut istilah watun. Sebagian lebak dangkal ditanami tanaman tahunan dengan membuat system surjan untuk menghindari genangan pada musim kemarau. pada lebak dalam dilakukan budidaya ikan. seperti mangga dan lain-lain. Namun. watun III ditanami pada bulan Juli. Tanaman padi pada lebak atas sering kekurangan air pada musim kemarau. ditanami bulan Juni/Juli dan panen bulan September/Oktober. Lahan rawa pada polder alabio bisa dibagi atas tiga jenis berdasarkan genangan pada musim hujan. lebak tengahan. yaitu lebak dangkal. ditanam tanaman tahunan. di Kab HSU. dan lebak dalam.(Persero) CABANG I MALANG palawija. Pada umumnya. lebak tengahan. dan komoditas tanam adalah mangga. Tanaman tahunan bisa bertahan melewati masa ini Musim tanam di daerah rawa dimulai pada bulan Mei dan berturut mulai dari lebak atas sampai tengah. Kalsel 2002 Gambar 2. Biasanya kekuranan air tersebut ditanggulangi dengan menaikan air dari Sungai Negara dengan pompa air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -92 . palawija. dan hortikultura ditanam sekali setahun. watun II. Lebak dalam. Sementara itu di sepanjang levee Negara. Sedangkan pada lebak dalam bisa dimulai bulan Juli. hortikultur. Tanaman padi umumnya pada lebak dangkal dan tengahan.

sosial. Sehingga disimpulkan bahwa faktor-faktor pendukung prioritas adalah : (a) urutan prioritas pengembanan komoditas berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan (b) luas hamparan satuan kawasan rawa (SKR) (c) ketersediaan aksesibilitas (d) kelayakan ekonomi dari komoditas yang secara teknis sesuai.3 1.97 2.277 81. Tabel 2.74 2.140.369 34.08 0.988 267.8 Lembar Peta 1:250. dan persyaratan lingkungan hidup tertentu.903 6.447 102.406 229.18 0. politik.24 Prioritas Pengembangan Satuan Kawasan Rawa (SKR) di WS BaritoKapuas No NAMA SKR KABUPATEN LUAS SKR Ha 369.19 10.53 4.89 2 41.4 Prioritas Pengembangan Kawasan Reklamasi Rawa Untuk Pertanian Prioritas peruntukan lahan berdasarkan kesesuaian sifat fisik dan lingkungan hidup.303 501.656 69.66 0.471 1.89 0.232 304. tanah.5 0. hidrologi.140 % 3. Peruntukan lahan merupakan hal yang juga memerlukan kajian terhadap masalah ekonomi.15 Pembagian Polder Alabio atas Watun 2.77 0.361. yang ditentukan oleh iklim.3.049 305.57 2.89 1 1.722 60. hukum. dan kelembagaan yang menurut keterlibatan lintas sektoral.899 105. 2002.(Persero) CABANG I MALANG Watun 1 Watun 2 Watun 3 Dominan padi dan palawija Dominan beje Masalah utama : kekurangan air pada musim kemarau Masalah utama : genangan air Gambar 2.41 0. dan juga didasarkan pada potensi wilayah.33 2.136 304.899 211.6. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -93 .226 4.000 KALIMANTAN TENGAH 1 Barito Hulu – Buntok 2 Sebangau I 3 Barito Tengah 4 Kahayan – Murung I 5 Sebangau II 6 Kahayan – Murung II 7 Hulu Kahayan – Murung 8 Tangkiling – Kahayan Hulu JUMLAH KALTENG KALIMANTAN SELATAN 1 Banjar I 2 Banjar II 3 HSU dan Tengah II 4 Tanah Laut 5 Barito Kuala 6 HSU dan Tengah I 7 Kotabaru 8 Barito Tengah 9 Sei Kupang 10 Asam-asam – sebamban JUMLAH KALSEL Barito Selatan Kapuas Barito Timur Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Banjar Banjar HSU dan Tengah Tanah Laut Barito Kuala HSU dan Tengah Kotabaru HSU dan Banjar Kotabaru Tanah Laut dan Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.06 2.361 20.304 148. topografi/bentuk.206 113.

kopi. dan perkebunan besar (yang dikelola oleh perusahaan). tahun 2004. pada tabel berikut ini.(Persero) CABANG I MALANG 2.16 Preferences Pengembangan Perkebunan di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -94 . Dari tabel tersebut nampak bahwa komoditas karet mendominasi sektor perkebunan. Sedangkan komoditas dari perkebunan besar adalah karet. 3% Gambar 2. 3% Karet. Kalsel. 1% tebu. cengkeh. 0% aren. 13% obat-obatan.6.3. 63% Kelapa sawit. tebu. tebu. kayu manis. 6% Other. dan kelapa sawit. Komoditas yang menjadi prioritas perkebunan rakyat adalah karet. telah disusun 15 kimbun dengan 7 komoditas. kakao.5 Pengembangan Perkebunan Pengembangan sektor perkebunan berdasarkan kajian hasil penelitian diatas menempatkan 2 (dua) kelompok perkebunan rakyat. kakao. lada. sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan peluangnya menjadi cash provit bagi wilayah di dalam WS Barito-Kapuas. Luasan perkebunan karet terbesar berada di Kabupaten Tabalong. 14% Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren kemiri. Berdasarkan hasil kajian dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan. Kelapa . serat karung. kelapa.

075 11.159 9.615 6.837 1. dan komoditas yang digunakan adalah padi.002 19.808 7.678 N/A 4.056 121.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.423 3.465 9.066 4.314 30.013 3.362 1.061 16.813 PRODUKSI (Ton) 5.506 1.106 N/A 14.612 26. walaupun dalam kenyataannya tidak dibayar secara langsung.3. Prop Kalsel No 1 KABUPATEN Kab Tanah Laut KOMODITAS Kimbun Kelapa sawit Kimbun Karet Kimbun Cengkeh Kimbun tebu Kimbun Obat-obatan Kimbun karet Kimbun kelapa Kimbun kelapa Kimbun karet Kimbun aren Kimbun karet Kimbun kelapa/ aren Kimbun karet Kimbun kemiri Kimbun kopi Kimbun karet Kimbun kelapa sawit Kimbun kelapa Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren AREAL EKSISTING (Ha) 20.845 13.358 8.638 1.000 4.260 1.358 809 1.244 826 582 7.993 4.366 3.719 3.6.638 2 3 Kab Banjar Kab HSS 4 5 6 Kab HST Kab HSU Kab Tabalong 7 Kab Batola Sumber : Dnas Perkebunan Propinsi Kalsel. waluh.369 147.174 349 17. Pada analisis ini diasumsikan bahwa untuk mengerjakan usaha taninya petani hanya menggunakan tenaga kerja dari keluarga petani yang bersangkutan.000 N/A 3.446 885 N/A 3.690 5.670 148 5.598 9.362 2.574 755 N/A 5.638 148 36.180 10.002 2.6 Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa Secara umum sektor pertanian dan sub sektor pendukungnya masih menempati ranking pertama terhadap pendapat wilayah secara umum. dan sayuran.137 33. Komoditas yang Diusulkan Kajian pengembangan komoditas didekati berdasarkan aspek sosial ekonomi. Untuk mengentahui kecenderungan itu maka dilakukan analisis return to family labour.988 1. umbi alabio.25 Potensi Areal dan Rencana Pengembangan Perkebunan di WS BaritoKapuas.586 42.928 5. Pada lahan basah kegiatan dilakukan pada watun I sampai watun 3.086 994 1.874 25. walaupun pada beberapa tempat didominasi oleh pertambangan dan industri pendukungnya.975 33.180 1. Besaran nilai return to family labour seakan-akan besarnya upah yang dibayarkan kepada anggota keluarga.097 8.892 POTENSI (Ha) 10.235 13.461 24.180 349 7. palawija.670 1.185 72.096 898 N/A 900 2.650 18.454 3. Kegiatan pertanian masih menonjol pada hampir semua wilayah yang memiliki lahan basah.048 970 890 7.174 1. Sept 2004 2.678 N/A 960 1.920 900 994 2.005 974 N/A 13.627 200 8.000 85.085 17.763 PRODUKTIVITAS (Kg/Ha) 6.000 7.422 14. Nilai return to family labour Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -95 .771 15.986 12.

Kalsel 2002 * ** = 2.-).500.214.5m : 1.000. 6.5m x 1.305 2.000. Hal ini merupakan salah satu penyebab polder alabio kurang optimal pemanfaatannya.000.300 6 Budidaya keramba ikan betutu * Per karamba 9.000. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -96 . dan hanya pada satu kawasan tertentu saja (Desa Sungai Durait Tengah). Untuk menaikkan nilai return to family labour. Usaha waluh menempati posisi tertinggi.5m x 1. di Kab HSU. Besarnya return to family labour dapat dipakai sebagai salah satu indikator untuk melihat besarnya daya tarik petani terhadap suatu usaha tani.600 7 Budidaya karamba ikat betook ** Per karamba 640.000 ekor tebar Dari kajian diatas.974.26 Nilai Return to Family Labour Berbagai Jenis Usaha Tani NO JENIS USAHA TANI UNIT RETURN TO FAMILY LABOUR ( RP ) 1 2 3 4 5 Usaha tani padi Usaha tani kedelai Usaha tani jagung Usaha tani waluh Usaha ternak itik Ha/musim Ha/musim Ha/musim Ha/musim 100 ekor/kandang 5. namun penyebarannya tidak merata.000 1.5m x 1.370 Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. nampak bahwa usaha tani dengan basis tanaman pangan pada kabupaten HSU memberikan return to family labour lebih rendah dari usaha peternakan maupun perikanan.5m : 500 ekor tebar = 1. maka digabungkan dengan usaha ternak itik (menjadi ± Rp.000 1.000 20. Hasil kajian tersebut adalah : Tabel 2.(Persero) CABANG I MALANG diperoleh dengan dengan menghitung besarnya tenaga kerja yang menyebabkan nilai NPV (net present value) = 0 (nol).5m x 1.556. Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan untuk membudidayakan pada kawasan lain (ekstensifikasi).

mempunyai pangsa pasar baik . dan pemasaran) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -97 .7 Pengembangan Peternakan di Lahan Rawa Berdasarkan data peternakan nasional.3. Program yang diusulkan dalam pengembangan peternakan kerbau rawa adalah: 1. Oleh karena itu.(Persero) CABANG I MALANG 2.mempunyai kemampuan mencerna makanan lebih baik .864 ekor pada tahun 2000 dengan luas lahan 24.mudah beradaptasi dengan lingkungan . A. Pengembangan Peternakan Kerbau Rawa Beberapa kelebihan dari peternakan kerbau rawa antara lain : .dapat ditingkatkan pada aspek teknologi/bioteknologi untuk tujuan peternakan rakyat maupun komersil . Hal ini menjadi kritis. pengembangan tempat POSYANDU (pelayanan terpadu ternak kerbau) di kantong-kantong produksi.6. kesehatan.sifat kerbau jinak dan mudah dipelihara .sebagai ternak kerja . menyediakan pelayanan terpadu (reproduksi.461 Ha masih memungkinkan untuk dikembangkan. prospek pengembangan peternakan sangat terbuka untuk ditingkatkan. . kecenderungan kebutuhan konsumen dengan ketersediaan pasokan komoditi ternak semakin meningkat dari tahun ke tahun. nutrisi. Dengan memperhatikan kapasitas tampung dan menjaga meluasnya gulma. karena media air sangat cepat menularkan penyakit. secara umum. populasi harus diimbangi dengan tersedianya fasilitas kesehatan ternak. Ciri POSYANDU.lebih tahan penyakit.penghasil pupuk organik potensial . pakan.dapat dijadikan sebagai tabungan peternak Peternak kerbau rawa di Kecamatan Danau Panggang dengan populasi sebanyak 5.makanannya murah dan tidak selektif .

dan merupakan salah satu kawasan ternak andalan di DAS Barito. adalah dengan mengendalikan host intermediare-nya yaitu siput (lymnea rubiginosa). 4. Introduksi beberapa pakan total daerah yang rawa yang tinggi kadar proteinnya (catatan : protin rumput rawa masih rendah dari yang dibutuhkan kerbau). mengembangkan manajemen wilayah kantong produksi. terutama yang berkaitan dengan reproduksi. 8. 6. B. Program pengembangan yang dapat diusulkan adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -98 . Salat satu cara mengurangi infeksi cacing hati. nutrisi pakan. 3. Masyarakat telah mampu menyilangkan itik dengan jenis lain merupakan potensi SDM yang baik untuk mendapatkan varietas yang efisien. Menjajaki tentang siput ini dapat membantu dalam upaya penemuan metode yang tepat dalam mencegah penyakit cacing hati. Pengendalian gulma (eceng gondok) agar lahan tempat tumbuh pakan ternak tidak menyempit.(Persero) CABANG I MALANG 2. kemungkinan kualitas peternak dengan meningkatkan pengetahuan. Suplementasi pakan terpadu. dan sedikit sekali berupa leguninosa. Teknologi mutakhir tentang persilangan merupakan komponen penunjang yang sangat baik untuk diimplementasikan di Kabupaten HSU. kesehatan ternak dan pemasaran. 5. China. Saat ini terlihat bahwa rumput rawa kurang beragam jenisnya. Pengembangan Peternakan Itik Alabio Itik alabio merupakan maskot daerah di Kabupaten HSU. Penyelidikan 7. dengan prospek yang masih sangat memungkinkan sebagai produsen telur. Rasionalisasi jarak dan sebaran kalang agar mudah dijangkau saat patus untuk mencegah kematian anak. Itik ini merupakan kualitas unggul di Indonesia. Itik alabio sebagai itik pedaging merupakan andalan ekspor di beberapa Negara seperti Korea. khususnya mikro mineral disertai adanya anthelmintic melalui pengembangan metode salt mineralized lick. sekaligus sebagai pengembangan sistem penggembalaan (paddock) di daerah rawa. dan Taiwan.

dan pakan aquatic) formulasi pakan lokal dan percontohan home industry produksi pakan lokal pengembangan pakan aquatic kaya protein dan energi sesuai dengan kondisi rawa. pengolahan daging itik. terutama dalam hal menghasilkan telur. antar daerah. Beberapa hal yang mendukung adalah : Peternak mampu menyilangkan produk ternak unggul yang setara ayam ras. Pengembangan Peternakan Ayam Buras Perusahaan ayam buras sangat terbuka baik untuk pasokan lokal. itik. padi. khususnya itik afkir pengembangan system grading telur dan daging itik alabio pembuatan model system perkawinan untuk peningkatan mutu generik C. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -99 .(Persero) CABANG I MALANG demplot kandang terapung dengan menggunakan prinsip optimalisasi sumberdaya dan pendauran limbah yang efisien dalam suatu komoditas terpadu (ikan. Dengan demikian masih sangat terbuka untuk dikembangkan. Salah satu sentra pengembangan ternak ini adalah di Kabupaten HSU. walaupun pertumbuhannya kurang optimal. maupun antar Provinsi. Teknologi persilangan yang mampu menghasilkan bibit secara efisien Ketersediaan pakan yang kontinyu dengan harga stabil Penanganan penyakit secara massal Ayam cukup rentan terhadap penyakit New Castle Descease (NCD) Adanya pengairan terpadu akan makin mendukung usaha peternakan ayam Program pendukung ternak ayam buras adalah : a) b) c) Vaksinasi Memberikan pakan tambahan Minimisasi biaya (low cost input) dengan menggunakan pakan biaya murah.

Pengembangan Budidaya Ikan Rawa di Lahan Rawa Lebak Hal-hal yang mendukung pengembangan budidaya perikanan di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Penataan kawasan. A. Dikembangkan suatu bangunan pengendali muka air pada watun yang telah diplot peruntukannya. dengan pengaturan teknis Mengembangkan system budidaya sesuai ketersediaan air. dan diperlukan percontohan demplot. dimana ikan-ikan dengan nilai ekonomis tinggi seperti gabus dan betook sudah mulai berkurang.3. sehingga siapapun boleh menangkap di perairan tersebut Kegiatan penangkapan ikan sebaiknya dibatasi dengan jenis alat yang digunakan. 2) pengembangan perikanan tangkap. karena rawa lebak adalah milik umum. apabila mungkin didukung dengan pompa Pembukaan kawasan budidaya. 2. dan menampung sampai musim hujan. Menampung ikan rawa yang bernilai ekonomi tinggi pada musim kemarau. Untuk mengatasinya budidaya perlu dilakukan. pada kawasan lahan rawa lebak diarahkan pada 2 (dua) cara.(Persero) CABANG I MALANG d) Metode pengembangan dengan system back yard farming dengan pemberian pakan system free choice dari areal sekitar perkandangan. tetapi pada saat surut pada Watun – 3. Perikanan Tangkap Hal-hal yang mendukung pengembangan perikanan tangkap di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Perlunya penegakan hukum. sehingga harga ikan telah kembali normal.6. misalnya pada musim hujan budidaya dilakukan di Watun – 1. yaitu : 1) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -100 . Teknologi menjebak ikan dengan beje. Sektor perikanan pengembangan budidaya ikan rawa. sehingga siklus aliran masuk dan keluar teratur. Berdasarkan data kuantitas penangkapan ikan. dengan sentuhan teknologi tepat guna. diketahui bahwa hasil tangkap nelayan rawa mulai menurun.8 Pengembangan Perikanan di Lahan Rawa Saat ini kegiatan perikanan merupakan kegiatan tambahan disamping kegiatan bertani dan beternak. B.

maka disusun skenario seperti tabel berikut. sesuai dengan potensi masing-masing bagian wilayah tersebut.6. dan perikanan. sehingga akan didapatkan kondisi yang optimal. Dengan mengkaji kondisi saat ini. Hal ini akan sangat menguntungkan apabila kawasan yang dikembangkan memiliki kesesuaian untuk pengembangan potensi pertanian. dengan komposisi yang bervariasi. Hal yang perlu diperhatikan adalah. i) potensi lahan dalam siklus setahun.9 Pertanian Terpadu (Integrated Farming) Lebak yang berada di sepanjang aliran DAS Barito memiliki berbagai sifat fisik yang berbeda-beda dan memerlukan pemanfaatan yang berbeda pula. iii) analisis finansial. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -101 . peternakan. yaitu penelitian yang dilakukan pada salah satu rawa lebak di Kabupaten HSU. dengan teknologi yang sesua Manfaat yang didapatkan apabila dilakukan pengembangan yang terencana dan terarah : a) b) c) d) e) Masyarakat akan memperoleh pendapatan tambahan selain dari bertani Kegiatan perikanan dapat mengarah pada peningkatan pendapatan daerah Kegiatan perikanan pada batas tertentu menjadi sumber protein yang murah bagi masyarakat Kegiatan perikanan merupakan langkah konservasi terhadap species tertentu Pengembangan pada tahap lanjutan merupakan potensi wisata 2.3.(Persero) CABANG I MALANG Kesepakatan bersama dalam suatu reservat Penebaran bibit pada perairan bebas. di Alabio. Konsep pengembangan ini juga mengacu pada kondisi musim. Oleh karena itu langkah yang paling pengembangan pertanian yang terbaik adalah mengembangkan program pertanian terpadu (integrated farming). ii) variabilitas kondisi lahan secara mikro.

Kalsel 2002 Catatan : Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten HSU. maka disusun program kegiatan yang dapat diselenggarakan dan dikompromikan pelaksanaannya oleh institusi yang terkait. analisis finansial yang terpilih adalah 1.27 Skenario Usaha Tani Terintegrasi NO SKENARIO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMPONEN KOMPONEN TANAMAN PETERNAKAN Padi Padi Padi Padi Kedelai Kedelai Kedelai Kedelai – Itik Itik Ayam Ayam Itik Itik Ayam Ayam – KOMPONEN PERIKANAN Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Ikan karamba dan betutu Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. dan digunakan untuk membandingkan skenario terbaik. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -102 . Cash flow dalam perhitungan NPV adalah nilai net cash flow yang telah dikurangi biaya untuk tenaga kerja. Indikator yang digunakan adalah Net Present Value (NPV).3. di Kab HSU.3.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.6.5. NPV yang dihitung merupakan nilai relatif dan bukan absolut. dan 9.10 Program Pengembangan Rawa Berdasarkan hasil analisis dari penelitian pengembangan rawa. 2. Program kegiatan ini akan lebih baik apabila mengarah pada penyelenggaraan pertanian terpadu (integrated farming).

jagung) Lim bah ikan L O K AS I W atun – 1.28 Skenario Usaha Tani Terintegrasi Pada Lahan Rawa P R O G R AM P engem bangan P enataan A ir K E G IAT AN T anggul antar w atun P om panisasi air tanah dangkal S um ur raw a P enanam an sagu pada bek as galian sum ur raw a T anam an pangan dan Intensifik asi (padi. ram in) P erkebunan (kayu putih.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. patin local (kolam rawa) P atin. W atun – 2 P engem bangan peternak an W atun – 1 W atun – 1. W atun – 3 P engem bangan bibit itik P eluang usaha itik K andang panggung K andang terapung P eluang usaha ayam B ack yard farm ing buras (vak sinasi. acacia. di K ab H S U . cabe P eningk atan bak u pakan bahan P enam bahan tanam an aquatic pak an (azolla. pakan. terung. upland W atun – 1. W atun – 2. k um pai sagu) P enanam an pangan (padi. W atun – 2 P engem bangan pertanian W atun – 1. k elapa hybrid. k angk ung darat. hortik ultura jagung. duckw eed. W atun – 3 S um ber : S tudi P engem bangan Lahan R aw a Lebak. sagu. K alsel 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -103 . crasikarva) P engem bangan w isata P engem bangan w isata alam budaya pak et dan P apuyu. haruan B aung – patin (kolam raw a) B etook . padi hiang. W atun – 3 W atun – 2 W atun – 2 W atun – 1. baung local K olam raw a W atun – 1 W atun – 2 U pland W atun – 3 W atun – 2. perk aw inan) P engem bangan perikanan Integrated farm ing P oli kultur P oli kultur Jarring tancap U dang galah P engem bangan tanam an tahunan K ehutanan (m eranti raw a. perbaikan pakan) P engem bangan usaha P os pelayanan k erbau raw a pengem bangan kerbau (kesehatan. w aluh. W atun – 2. sepat.

137 orang. Awai Jumlah Tahun 2004 Industri Besar Perusahaan Tng. Industri menengah berjumlah 4 perusahaan dengan 37 tenaga kerja dan industri besar hanya 2 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 1.137 1000 Sumber : Barito Selatan dalam angka. Tabel 2. Demikian pula untuk tenaga kerjanya.1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah perusahaan industri kecil di Barito Selatan tahun 2005 sebanyak 6 perusahaan. untuk industri kecil (formal dan non formal) jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan tahun 2005 adalah 299 buah dengan jumlah tenaga kerja 759 orang dan nilai investasi sebanyak 6.4 Sektor Industri 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -104 .6.B.4. Kerja 1 514 Industri Sedang Perusahaan Tng.4.29 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2005) Kabupaten Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap sejumlah 1.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah perusahaan industri besar/sedang di Kabupaten Barito Utara tahun 2005 sebanyak 3 perusahaan sedangkan pada tahun 2006 bertambah menjadi 13 perusahaan. Kerja 1 623 1 2 1 4 4 8 8 21 37 132 2 2 1.6. Sedangkan pada tahun 2006 terjadi penurunan jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan sebanyak 164 buah dan tenaga kerja (639 orang) serta nilai investasi (6.164 orang.6.162 milyar rupiah).(Persero) CABANG I MALANG 2. 2005 2. pada tahun 2005 terserap 82 orang naik menjadi 746 orang pada tahun 2006. Disisi lain. Banyaknya perusahaan dan tenaga kerja di Kabupaten Barito Utara menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.299 milyar rupiah.

sedang.6.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Penurunan jumlah tenaga kerja terjadi karena sebagian tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di kelompok IKKRT diserap oleh kelompok industri besar dan sedang.31 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2007) Barito Timur No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Industri Besar Perusahaan Tenaga Kerja 3 95 4 136 6 155 13 386 Industri Sedang Perusahaan Tenaga Kerja 3 17 1 5 9 52 3 18 16 92 IKKRT Perusahaan Tenaga Kerja 4 11 28 64 16 39 5 11 77 152 16 40 146 317 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Timur Jumlah perusahaan industri besar. kecil dan rumah tangga berdasarkan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala berjumlah 152 buah. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei Jumlah Industri Kecil Aneka Industri Perusahaan Tenaga Kerja Perusahaan Tenaga Kerja 24 66 0 0 18 35 0 0 29 127 0 0 37 81 0 0 215 714 0 0 16 46 0 0 339 1069 0 0 Sumber : Dinas Pertambangan. jumlah perusahaan pada tahun 2007 sebanyak 146 perusahaan.4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -105 . Tabel 2. Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Utara 2.30 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2006) Kabupaten Barito Utara No. Berdasarkan klasifikasi industri maka klasifikasi industri kecil yang paling besar yaitu 87 buah disusul industri rumah tangga 71 buah dan industri sedang 36 buah. dengan jumlah terbesar terletak di Kecamatan Alalak dan Kecamatan Marababan masing-masing 35 buah dan 25 buah. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 317 orang.3 Kabupaten Barito Timur Untuk Kabupaten Barito Timur.

000.33 Jumlah industri Besar.-. Tabel 2. No Jenis Industri 1 Minuman Ringan 2 Meubel Kayu 3 Roti 4 Komponen Bahan Bangunan 5 Foto Copy 6 Saos Tomat 7 Perhiasan Emas 8 Service Sepeda/Motor/Mobil 9 Ukiran Getah Nyatu 10 Jasa Kecantikan 11 Service Elektronik Jumlah Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Jumlah Unit Usaha 4 1 1 2 4 1 1 3 1 1 1 20 Tenaga Kerja 12 2 3 12 6 5 4 24 10 2 2 82 2.000. Tabel 2.disusul industri kayu dan barang dari rotan yang bernilai Rp 635.5 Kabupaten Barito Kuala Nilai investasi dan nilai produksi industri di Kabupaten Barito Kuala selama tahun 2007 bernilai Rp 1.000.-.32 Banyaknya Jumlah Unit Usaha Industri di Kabupaten Kapuas.000.082.000. pakaian dan kulit Kertas.4.dan Rp 3.6.. Jumlah dan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala ditunjukkan pada tabel berikut.4 Kabupaten Kapuas Untuk Kabupaten Kapuas. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Makanan. karet dan plastik Barang Galian bukan logam Industri dasar dari logam Barang dari logam Industri lain Jumlah Klasifikasi Industri Sedang Kecil 0 14 0 0 0 16 16 20 20 0 0 0 0 11 0 6 0 20 36 87 Besar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Rumah Tangga 22 0 0 5 0 0 0 0 44 71 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -106 .000. barang dari kertas dan percetakan Kayu dan barang dari rotan Kimia. jumlah unit usaha industri pada tahun 2007 sebanyak 20 perusahaan..6.000. Dengan nilai investasi terbesar berasal dari industri logam sebesar Rp 775. minuman dan tembakau Tekstil. Sedang Kecil dan Rumah Tangga di Kabupaten Barito Kuala No.000.777.4.(Persero) CABANG I MALANG 2. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 82 orang.

077 ha (45. Basa menengah.(Persero) CABANG I MALANG 2. rawa atau undak aluvium. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714. publikasi P3G tahun 1986 Kondisi geologi WS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan terdiri dari Alluvial Induk dan Terumbu Koral.5 Sektor Pertambangan Bahan Tambang Wilayah Sungai (WS) akan berdasar pada evaluasi sumber daya alam (natural resources) yang tersedia di WS tersebut. Pembahasan lebih rinci geologi lokal lebih dititikberatkan pada litostratigrafi sesuai superposisi perlapisan setempat. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716. c. selain itu ditemukan pula batugamping dan batupasir gampingan (Formasi Tanjung). Batuan sedimen yang berumur Tersier lainnya adalah batugamping (Formasi Berai) dan batupasir kuarsa (Formasi Montalat). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -107 . Berdasarkan penyebaran formasi batuan yang ada di SWS Barito maka secara umum dapat dibedakan berbagai batuan utama penyusun areal ini. namun dalam keterbatasan selama studi ini. Batuan sedimen klastik halus sampai kasar yang berumur Tersier yang mengandung mineral kuarsa dan sedikit meterial vulkanik dengan sisipan batugamping (Formasi Warukin). publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712.898. Jenis batuan yang paling dominan adalah Aluvial Induk dan Terumbu Koral dengan luas 841. publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715.599 ha (12. Adapun yang terendah adalah jenis batuan basa menengah dengan luas 23. Batuan berasam. Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di SWS Barito. Koreksi petrografis dan biostratigrafi mestinya perlu dilengkapi. Miosen bawah. diantaranya bersumber dari kondisi geologi wilayah tersebut.18 %) serta paling luas terdapat di Sub DAS Negara yang merata di seluruh Sub-sub DAS.718. b. yaitu : a. Batuan Basa. Batuan Sedimen yang kaya akan mineral kuarsa (Formasi Dahor).6. determinasi litologis lebih didasarkan secara megaskopis dan referensi terdahulu.73 %) yang hanya terdapat di Sub-sub DAS Balangan dan Sub-sub Tabalong Kanan. Aluvium : merupakan endapan dasar sungai. Permo-karbon dan Pra-tersier.

Hal ini wajar mengingat batuan induknya yang berupa batuan granit dan batupasir kuarsa sangat luas penyebarannya. Emas cenderung sangat berlimpah di wilayah kampung Tujang di Sungai Murung. yang kemungkinan berasal dari Kelompok Selangkai yang diterobos oleh sumbat Batuan Terobosan Sintang.6. sekis dan gneiss. kromit.1 Bahan Galian Logam Mineral logam utama yaitu berupa emas primer dan sekunder (plaser). pendulangan emas banyak dilakukan oleh penduduk dan beberapa perusahaan penambangan telah mengusahakan emas ini. bagian dasar dari runtunan endapan daratan muka Tersier dan atau batuan Terobosan Sintang. berperan sebagai perangkap untuk emas. mangan dan platina 2.5. Batuan vulkanik tua menghasilkan tanah yang kaya akan unsur hara.2 Bahan Galian Non Logam Mineral non logam yang cukup luas penyebarannya dan baik prospeknya adalah pasir kuarsa. e.5. Batuan metamorf terutama kuarsit dan batuan metamorf lainnya seperti filit. Ketersediaan Sumber Daya alam bahan galian di Satuan Wilayah Sungai Barito dapat diuraikan sebagai berikut: 2. Kemungkinan sesar detachemen bersudut kecil pada dasar runtunan Tersier. Endapan emas diduga terbentuk sebagai hasil kegiatan hidrothermal yang berhubungan dengan peristiwa magmatik Oligosen akhir sampai Miosen yang menghasilkan Batuan Terobosan Sintang dan bersamaan dengan pengangkatan tinggian alas (Komplek Busang). Endapan pasir kuarsa tersebut merupakan hasil proses pelapukan batuan yang mengandung mineral kuarsa di atas. Mineral lempung lainnya yang merupakan bahan baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -108 . Mineral non logam lainnya adalah bentonit yaitu jenis mineral lempung montmorilonit yang dapat dimanfaatkan untuk lumpur dalam pemboran minyak bumi yang memang jarang ditemukan cadangannya di Indonesia. f. Mineral logam lainnya adalah besi. nikel.(Persero) CABANG I MALANG d. Batuan beku baik yang berupa batuan plutonik bersifat granit (asam) dan intrusi menengah sampai basa. logam dasar jarang ditemukan dan jenis ubahan penunjuk (pengersikan dan oksidasi/argilitisasi). stibnit dan sinabar jumlahnya sedikit tetapi merupakan komponen mineralisasi yang tersebar luas. Banyak emas mungkin berasal dari epitermal dengan alasan sebagai berikut : mineralisasi emas dan terobosan dangkal berkaitan secara ruang dan waktu.6.

Kecuali batubara Sangatta (Miosen) yang umumnya berperingkat bitumen beratsiri tinggi (high volatile bituminous). Kawasan andalan yang terdapat di KTI sebagaimana tercantum dalam Strategi Nasional Pemantapan Pola Tata Ruang (SNPPTR) berjumlah 56 kawasan. selain itu juga dijumpai dalam Formasi Warukin. Contohnya adalah batubara Ombilin (Sumatera Barat). Pertumbuhan yang terjadi di kawasan andalan tersebut diharapkan berdampak positif terhadap pertumbuhan kawasan belakangnya (hinterland).(Persero) CABANG I MALANG industri keramik adalah kaolin. Dengan memilih satu kawasan andalan dari setiap Provinsi diharapkan keberhasilannya lebih terjamin. Namun yang bernilai ekonomis dan berskala besar hanya terpusat pada cekungancekungan Tersier di Indonesia bagian barat. Grup kedua adalah batubara Eosen yang umumnya mempunyai peringkat lebih tinggi daripada batubara Miosen. Umumnya batubara Eosen mempunyai kandungan abu yang lebih tinggi daripada batubara Miosen. maka DP-KTI memilh kawasan-kawasan andalan yang diprioritaskan pengembangannya. Sumberdaya batubara Indonesia tersebar luas di seluruh kepulauan. Grup pertama adalah batubara yang berumur Miosen. Pengembangan Kawasan Andalan Pada Sektor Pemanfaatan Potensi Mineral Dan Energi Kawasan andalan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) yang selanjutnya disebut kawasan andalan. yaitu di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Senakin (Kalimantan Selatan) yang umumnya berperingkat berbitumen tanggung dengan bitumen berat isi tinggi. yaitu kawasan yang dinilai bisa berkembang cepat dengan sedikit investasi pemerintah. umumnya berperingkat lignit sampai berbitumen tanggung (sub-bituminous). karena kawasan tersebut akan mendapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -109 . Kaolin cukup luas penyebarannya dan prospeknya sangat baik. Namun karena keterbatasan dana pembangunan. Batubara banyak dijumpai di Formasi Tanjung dengan tebal antara 50 – 100 cm. dalam hal ini adalah kawasan yang berpotensi untuk cepat tumbuh dibandingkan dengan kawasan lain yang ada dalam satu Provinsi. Mutu batubara Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua grup. singkapan yang baik dapat dijumpai di hulu Sungai Kintap Kecil dan di Sungai Binuang.

Batuan Beku / Batu belah 11. 4. Mbay di Nusa Tenggara Timur dan Bima di Nusa Tenggara Barat. Selain itu. Dengan demikian. juga diuapayakan pemberdayaan sumber daya manusia setempat agar dapat berpartisipasi dalam pengembangan kawasan tersebut.(Persero) CABANG I MALANG prioritas Barat. pariwisata dan industri. di Sakupangbalaut (Satui-Kusan-Kelumpang-Batulicin-Pulau Laut) di Kalimantan Sasamba (Samarinda-Sangasanga-Muara Jawa-Balikpapan) Kalimantan Timur. Bitung-Manado di Sulawesi Utara. 7. Departemen Pertambangan dan Energi dalam usaha melengkapi data dan informasi yang dapat digunakan bagi usaha eksploitasi dan pengembangan industri pengolahannya dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia telah melakukan inventarisasi potensi pertambangan dan energi di 13 kawasan andalan prioritas di KTI. 2. kehutanan. Biak di Irian Jaya. 5. Bukari (Buton-KolakaKendari) di Sulawesi Tenggara. mineral-mineral tersebut adalah : 1. Pare-Pare di Sulawesi Selatan. 3. Besi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -110 . Pengembangan kawasan andalan pada prinsipnya bertumpu pada pendekatan yang berorientasi pada sumberdaya alam dan pendekatan pada sumberdaya manusia. alokasi DAS dana pembangunan. potensi sumber daya alam dijadikan sebagai arahan untuk mengembangkan suatu kawasan. 6. Pulau Seram di Maluku. terdapat tujuh sektor ekonomi yang menonjol untuk dikembangkan yaitu : sektor/subsektor pertanian tanaman pangan. 8. perkebunan. pertambangan. Dari ketigabelas kawasan andalan tersebut. Batui di Sulawesi Tengah. Dengan demikian di DP-KTI telah menentukan 13 kawasan andalan sebagai berikut : Sanggau di Kalimantan Kakab (Kapuas-Kahayan-Barito) Kalimantan Tengah. Emas Batubara Gambut Intan Kaolin Pasir Kuarsa Fosfat Batu gamping Kristal Kuarsa 10. 9. perikanan. Saat ini terdapat 15 (lima belas) daftar mineral-mineral potensial yang terdapat di Kalimantan Tengah. Selatan.

pasir kuarsa. Sedangkan mineralmineral lain sedang berada dalam proses survey dari tahap pengamatan lapangan sampai eksplorasi detail.Gunung Mas : Kec.Sumber Barito. Rungan.Bukit Batu.Dusun Tengah. karena itu data-data sumberdaya mineral tersebut cukup akurat karena berdasarkan tahapan survey. Katingan Tengah. Kab. danau. Sepang dan Kurun. intan. Air Raksa 15. Sanaman Mantikei dan Katingan Hilir.Murung Raya : Kec. emas. Manuhing. Endapan letakan (placer) banyak ditemukan di sungai. Tembaga 14. Potensi Emas Kalimantan Tengah memiliki sejumlah endapan emas primer dan letakan (placer). 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -111 .Seruyan Tengah. Batubara di Indonesia banyak digunakan untuk bahan bakar. Kapuas Tengah dan Timpah Kab. industri semen. Kab.Barito Timur : Kec.Katingan : Kec.Katingan Hulu. Potensi Batubara Batubara yang menyusun suatu formasi/lapisan batubara pada awalnya berupa gambut atau akumulasi bahan serupa yang kemudian mengalami pembusukan. batu lempung.Seruyan Hulu. PLTU dan dalam jumlah kecil dalam peleburan timah dan nikel. sedangkan yang merupakan hasil endapan hidrotermal yang secara genetic berasosiasi dengan intrusi batuan beku asam dan juga sering berasosiasi dengan kuarsa dan sulfide (pirit. Kota Palangka Raya : Sungai Takaras Kec.(Persero) CABANG I MALANG 12. batu gamping. arseno pirit. Kab. kalkopirit dan sedikit pada galena dan spalerit).Tewah. Kahayan Hulu Utara. Kec.Seruyan : Kec. kristal kuarsa dan zircon.Kapuas : Kec. Zircon Beberapa yang sudah produksi seperti batubara. 1.Kapuas Hulu. rawarawa dan paleo chanel (gosong). Timah Hitam 13. Endapan emas di Kalimantan Tengah dapat dijumpai di : − − − − − − − Kab. melalui proses kompaksi dan panas dalam waktu yang sangat panjang maka gambut akan berubah menjadi batubara. tetrahidrit. Permata Intan dan Tanah Siang Kab.

7 Lokasi lain yang juga memiliki potensi kandungan batubara dengan nilai kalori <6. Sungai Montalat.53 % Volatile Matter : 0. Sungai Maruwai dan sekitarnya. Kotawaringin Timur : Kec.Katingan Tengah.44 – 48.Katingan : Kec. Potensi Gambut Gambut adalah endapan organik yang mengandung sisa-sisa tumbuhan yang telah mengalami dekomposisi sebagian dan mengandung bahan lain seperti air dan bahan-bahan lain non organic biasanya berupa lempung dan lanau. salah satunya PT. Rungan. Sungai Lahei. Kab. Lebih dari 7 juta hektar berada sepanjang daerah barat.46 % Nilai Kalori : 7. Kab. BHP-Biliton yang telah memprediksikan bahwa terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori >7. Manuhing. Gambut di Indonesia diperkirakan memiliki area lebih 20 juta hektar dan kebanyakan dalam bentuk dataran rendah dan rawa. Kurun. dan Tewang Sangalang garing.5 – 7 meter dan mempunyai kualifikasi “Cooking Coal dengan kandungan sebagai berikut : − − − − − − Kandungan air : 8. Didaerah ini batubara banyak ditemukan di Muara Bakah.000 cal/gr.(Persero) CABANG I MALANG Batubara di Kalimantan Tengah sudah mulai ditambang sejak awal abad 19 tambang batubara didekat Muara Teweh sudah ditambang sejak tahun 1910 dan mampu menghasilkan sekitar 7.Tewah.Kotawaringin Barat : Pangkalan Banteng dan Kotawaringin Lama.Mentaya Hulu.74 – 15. tengah dan selatan pantai pulau Kalimantan.000 kal/gr) juga ditemukan di Kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara. 3.35 – 0. Survey penyelidikan batubara di Kalimantan Tengah telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi baik pemerintah maupun perusahaan asing.000 ton pertahun saat itu.76 % Karbon : 38. CSN : 5 .000 kal/gr antara lain : − − − − Kab. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -112 .39 – 1.000 berkualitas baik (> 8. Bakanon. Mentaya Hilir dan Cempaga. Beberapa lapisan batubara mempunyai ketebalan mencapai 1.66 % Sulfur : 0.Gunung Mas : Kec. Produksi berkurang sejak Perang Dunia ke II dan kemudian berhenti total sekitar tahun 1960.000 – 8.

Saat ini penduduk local Kalimantan Tengah menambang endapan intan alluvial mempergunakan peralatan dan metode yang masih sederhana. Penyelidikan yang dilakukan untuk tujuan pertanian biasanya hanya gambut yang mempunyai kedalaman 100 cm atau kurang. Potensi Intan Intan telah banyak ditambang dibanyak tempat di Pulau Kalimantan oleh penduduk sejak lama dan berkembang diberbagai tingkatan sampai sekarang.13 % Nilai Kalori : 3. Gambut yang mempunyai kedalaman lebih dari 100 cm mempunyai potensi sebagai energi. Daerah Bereng Bengkel – Kanamit mempunyai potensi yang cukup besar dengan rata-rata kedalaman gambut sekitar 2 meter.75 – 57.66 % Zat Terbang : 41.(Persero) CABANG I MALANG Survey tanah gambut telah banyak dilakukan secara intensif terutama untuk keperluan pertanian (agricultur). Secara umum endapan utama intan berasosiasi dengan batuan ultrabasic khususnya batuan periodit.70 % Abu : 0.982 – 5. Palangka Raya dan Kanamit. Sumber energi gambut biasanya digunakan untuk tenaga pembangkit tapi dapat juga digunakan untuk bahan baker dan memasak yang biasanya dalam bentuk briket.11 – 18.72 % Karbon : 21. Intan yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -113 . contohnya batuan yang kita kenal sebagai Kimberlite-pipe di Afrika Selatan. dan di Bereng Bengkel sendiri sekitar 20 hektar telah diselidiki secara detail dan telah dilakukan ujicoba produksi gambut bekerjasama dengan Finlandia. Kuala Kapuas. Kualitas gambut Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut : − − − − − − − − Kandungan air : 6. Daerah antara Sampit dan Pangkalan Bun Daerah antara Palangka Raya dan Pulang Pisau. Daerah lain yang mempunyai potensi gambut di Kalimantan Tengah adalah : 4. Penyelidikan gambut untuk bahan baker telah dilakukan oleh Direktorat batubara dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sejak tahun 1984 didaerah Bereng Bengkel. Intan dipotong dan dipoles/digosok di Martapura Kalimantan Selatan.66 – 6.426 cal/gr Daerah antara Sampit dan Kota Besi.03 – 37.

06 meter = Endapan ini mempunyai kualitas yang cukup baik dan mempunyai ketahanan terhadap panas (seger cone 35/1780º) dan kandungan TiO 1. farmasi dan kosmetika.Kotim dengan jumlah cadangan terukur : 2 Kebutuhan lain untuk kaolin dengan kualitas baik adalah untuk industri Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -114 . yang berada dekat Kota Palangka Raya dengan perkiraan jumlah cadangan terukur sekitar 13. 5.897. Terdapat 5 endapan kaolin yang cukup besar dan berpotensi tinggi. rutile. pasir kuarsa. dan ruby.5 ton − Pahirangan Mentaya Kab.03 – 2. spinel. fosfat dan batu gamping. garnet.76 meter Ketebalan Overbuden : 1.650 ton. Endapan kaolin yang terbesar terdapat di Kereng Bangkirai. brookite.091. Kaolin Kaolin adalah salah satu jeni mineral industri yang terbentuk dari hasil proses dekomposisi dan merupakan pelapukan dari batuan yang kaya akan silikat aluminium.04 % yang potensial untuk industri keramik. Penyelidikan terhadap endapan intan sudah dilakukan sejak dulu tetapi masih belum mendapatkan hasil berupa penemuan endapan utamanya. Pasir hitam yang terbentuk dari pencucian residu (disebut puya) terdiri dari : Titano magnetite. hyacinth. emas. Endapan berada disuatu area dengan luas 125 ha dan mempunyai karakteristik endapan sebagai berikut : − − − − Warna : Putih keabu-abuan Butiran lempung : Halus Ketebalan rata-rata : 6. platinum dan pirit. Potensi Endapan Mineral Lainnya Kalimantan Tengah masih mempunyai sumber endapan mineral lain sebagai bahan tambang yaitu kaolin. topaz. Tetapi kesempatan bagi eksplorasi endapan utama dan alluvial masih ada dan dilakukan.(Persero) CABANG I MALANG terdapat dalam endapan alluvial biasanya terdapat bersama sejumlah mineral seperti korundum. a. quartz. Endapan utama lainnya adalah : − Kasongan dengan jumlah cadangan terukur : 2.754. kromit.

000 ton Kualitas kaolin yang ada adalah sebagai berikut : − − − − − SiO : 41.000 ton.000 ton − Telang Baru.000 ton − Kereng Pangi Indikasi cadangan : 16.23 % Fe O : 0.97 % Al O : 4. Barito Selatan dengan cadangan terukur 14.300 ton 690.45 % 2 2 3 2 3 2 46.856 ton 48.000 ton 640. Barito Selatan dengan jumlah cadangan terukur : 1.856.110.000 ton b.000 ton − Petak Putih Cadangan terukur : − Parit Indikasi cadangan : 20.600.08 – 1.000 ton. Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa merupakan endapan sediment dengan ukuran butir pasir dan mempunyai komposisi dominant kristal kuarsa.000 ton.01 – 2.000 ton 30.400.955. Endapan utama pasir kuarsa di Telang Baru.380.370.64 % MgO : 0. Sedangkan lokasi endapan lain yang cukup potensial terdapat didaerah : − Tanah Putih Indikasi cadangan : − Tanjung Jaringau Cadangan terukur : − Bukit Arang Cadangan terukur : − Pantai Harapan Indikasi cadangan : − Pengkang Indikasi cadangan : 4.(Persero) CABANG I MALANG 2.70 – 69. endapan berada diareal seluas 544 hektar dengan karakteristik endapan sebagai berikut : − Warna : Putih. coklat kekuningan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -115 . Manuhing dengan jumlah cadangan indikasi : 1.32 – 3.000 ton − Pundu Indikasi cadangan : 5.16 % TiO : 0.438.94 – 36. − Bereng.

000 ton Kualitas pasir kuarsa yang ada adalah sebagai berikut : Kebutuhan pasar dalam negeri untuk pasir kuarsa saat ini meningkat terutama untuk bahan industri gelas.04 – 1.22 % Fe O : 0.46 meter Endapan lain berada didaerah : − Tuanan Indikasi cadangan : − Sungai Marui Indikasi cadangan : − Batengkong Indikasi cadangan : − Sungai Manyuluh Indikasi cadangan : − Sungai Hawuk Indikasi cadangan : − Lahei Indikasi cadangan : − Merapit Indikasi cadangan : − Takaras Indikasi cadangan : − Pembuang Indikasi cadangan : − Danau Sembuluh Indikasi cadangan : − − − − − SiO : 95. Pasir kuarsa sebagai bahan mentah dan industri gelas merupakan satu peluang untuk memperluas ekspor didaerah.001 – 0.000 ton 3.8 % Al O : 0.16 – 99.950.160.(Persero) CABANG I MALANG − − − Ukuran butiran : Halus .000 ton 1.10 – 0.000 ton 15.900.11 meter Ketebalan Overbuden : 0.000 ton 2.000.680.160.400.kasar Ketebalan rata-rata : 1.000 ton 3.28 % MgO : 0.600.000 ton 4.16 % 2 2 3 2 3 2 4.000 ton 650.900. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -116 .68 – 1.07 % TiO : 0.000 ton 15.000 ton 23.

d. Kalimantan Tengah mempunyai sejumlah endapan batu gamping yang sudah diselidiki yaitu didaerah Hayaping. Barito Selatan dengan kemungkinan cadangan sekitar 133.518.000 ton 39.000 ton 52.386 ton.10 % P O : 44 % Al O : 30. Kualitas : Baik. Tipe endapan ini ada fosfat guano yang ditemukan didaerah Bukit Angah. digunakan untuk industri semen.080 ton. Barito Utara dengan jumlah cadangan terindikasi sekitar 60. keabu-abuan kompak dan berfosil. Lokasi lain yang menyimpan endapan batu gamping adalah : − Wonorejo Indikasi cadangan : − Pendreh Indikasi cadangan : − Muara Sepayang Indikasi cadangan : − Muara Juloi Indikasi cadangan : − Batu Qadar Indikasi cadangan : 260.18 % 2 3 2 3 2 5 2 Endapan fosfat guano ini direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan local khususnya bidang perkebunan dan agrikultur.000.466.000.5 hektar dengan karakteristik batuan : − − Warna : Putih.000 ton 11.000 ton 19.000.480.7 % Fe O : 6.(Persero) CABANG I MALANG c.000 ton Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -117 .500. Batu Gamping Istilah untuk batu gamping dipakai untuk semua batuan sediment yang mengandung bahan karbonat.337. Endapan ini berada di area seluas 1. Kualitas Fosfat yang ada adalah sebagai berikut : − − − − SiO : 7. Fosfat Pada saat ini hanya ada satu lokasi potensial yang sudah ditemukan di Kalimantan Tengah.000 ton − Batu Besar Indikasi cadangan : − Gunung Angah 21.

Kristal Kuarsa 8.000 ton 150. Kabupaten Kotawaringin Barat.280.000 ton 500. − Pangkalan Muntai.000 ton Di Kalimantan Tengah dikenal 3 macam yaitu kristal kuarsa yang berwarna ungu. sedangkan tipe kolovial dijumpai didaerah Kabupaten Kotawaringin Timur. Ajang. kecuali di Kecamatan Katingan Kuala. Jenis ini telah lama diusahakan oleh masyarakat didaerah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Sukamara. biji besi tipe magnetis dijumpai didaerah Kabupaten Lamandau. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -118 .(Persero) CABANG I MALANG Indikasi cadangan : − Sarang Burung Indikasi cadangan : − Bukit Sali Indikasi cadangan : e. putih dan kecoklatan (istilah pasar menyebutnya kecubung). Lokasi dijumpainya batuan beku adalah : − Kabupaten Murung Raya − Kabupaten Barito Utara − Kabupaten Barito Selatan − Kabupaten Gunung Mas − Kabupaten Katingan − Kota Palangka Raya − Kabupaten Kotawaringin Barat − Kabupaten Kotawaringin Timur − Kabupaten Sukamara − Kabupaten Lamandau g. Batuan Beku/Batu Belah Batuan beku adalah hasil pembekuan magma berkomposisi asam sampai basa. Lokasi endapan kristal kuarsa terdapat didaerah : − Pangkut. f. Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat. Nibung Terjun. Karena sifatnya yang sporadic maka data pasti tentang cadangan ataupun jumlah produksinya belum diketahui dengan pasti. Besi Biji besi mempunyai 2 tipe yaitu magnetis dan kolovial. Di Kalimantan Tengah dijumpai dibagian tengah kearah utara.

Kabupaten Katingan − Barito Timur Lokasi tipe kolovial berada didaerah : − Kenyala. j. Kecamatan Kahayan Hulu Utara. Kabupaten Katingan. sedangkan tipe kolovial terdiri dari limonit dan Ilmenite. Zircon Zircon sebagai bahan pada logam yang keterdapatannya sebagai hasil sampingan kegiatan pertambangan emas alluvial. Tembaga Tembaga di Kalimantan Tengah juga dijumpai sebagai indikasi. Kabupaten Lamandau − Tumbang Manggu. Di Kalimantan Tengah timah hitam dijumpai didaerah Rungan Hirang. i. Kabupaten Kotawaringin Timur. Kabupaten Gunung Mas. Belum ada catatan pasti tentang potensi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -119 . yang berasosiasi dengan besi. Di Kalimantan tengah keterdapatannya juga masih merupakan indikasi didaerah Rantau Pandan. Kegiatan tahap lanjutan untuk mendapatkan informasi mengenai timah hitam di Kalimantan Tengah belum dilakukan. Air Raksa Air Raksa sebagai bahan pada dijumpai mineral Cinabar yang merupakan senyawa HgS. k.2 juta ton. Kabupaten Lamandau − Bukit Gojo. Batu Ngasah dan Sungai Miri. Lokasi tipe magnetis berada didaerah : − Bukit Karim. h.(Persero) CABANG I MALANG Tipe magnetis terdiri dari hematite dan pegmatite. Kecamatan Sanaman Mantikei. Kabupaten Lamandau − Petarikan. Cadangan bijih besi yang sudah ditemukan 41. Kecamatan Kotabesi. Timah Hitam Timah Hitam yang lebih dikenal sebagai timbale dijumpai sebagai indikasi. Dijumpai didaerah Tumbang Manggu dan Sungai Manukoi. Pada saat ini menjadi bahan galian primadona dan terdapat menyebar luas diseluruh Kalimantan Tengah bagian barat.

c. Hal-hal yang perlu disempurnakan untuk mendukung hal tersebut adalah pengelolaan transportasi. Sektor pariwisata di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. keamanan. pegunungan. Kabupaten Murung Raya memiliki potensi pariwisata yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi ekowisata. Produksi diperkirakan ± 150. promosi yang memadai dan profesionalitas listrik.000 ton per tahun. Kabupaten Murung Raya mempunyai kekayaan alam yang sangat luas. fasilitas wisata seperti tempat makan.1 jaringan jalan dan alur sungai yang dapat dilalui oleh kapal. Kabupaten Murung Raya Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang mengelola potensi objek wisata di daerah ini. Taman berburu d. air terjun. 2. Berdasarkan karekteristik wilayahnya. riam. danau. gau. yang hingga saat ini belum dikelola dengan baik. Potensi alam dan budaya merupakan potensi wisata. Taman keanekaragaman hayati dan agro-wisata. Wisata alam ( sungai.6.6 Sektor Pariwisata Lokasi rawa memiliki keunikan yang dapat dikelola sebagai tempat wisata khas milik suatu wilayah. Disamping itu keramahan masyarakat merupakan daya tarik pula. desa-desa tradisional. kebudayaan. Untuk mengembangkannya diperlukan promosi serta pengelolaan yang profesional. 2. dan keunikan hukum. hutan alam dan sumber air panas. antara lain : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -120 . keindahan alam.6. penyelenggaraan wisata. Keunikan berupa sejarah masyarakat. Potensi wisata tersebut dapat mengandalkan kekayaan alam yang dimiliki. diantaranya berupa : a.6. Arung Jeram ( wisata tantangan ) b.(Persero) CABANG I MALANG produksi Zircon Kalimantan Tengah pada saat ini. Objek wisata budaya yang potensial untuk dikunjungi oleh para wisatawan baik dari dalam negeri maupun dari luar.

kurang lebih 8 KM dari Puruk Cahu. di desa merupakan rumah khas suku dayak. Objek wisata yang cukup menarik ini terletak di kaki bukit Manyawang. Pandulangan Emas Masuparia Lokasi pendulangan emas masupari ada di lembah aliran sungai Masupa. cabang dari sungai Mendaun anak sungai Kapuas. lokasi ini dapat dicapai melalui jalan darat. mampu menarik para wisatawan untuk berkunjung. Konut wilayah kecamatan Tanah Siang. anak sungai Tihis. Beliau adalah penerus perjuangan Pangeran Antasari dalam memimpin perang Barito selama lebih dari 40 tahun melawan kolonial. wisata. Perang Barito berakhir tahun 1903 seiring dengan wafatnya Sultan Muhammad Semam serta tertangkapnya Panglima Batur. Gambar 2. Makam Sultan Muhammad Semam Makam bersejarah ini terdapat di pusat kota Puruk Cahu. Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang dan mengelola budaya potensi objek potensi Sektor wisata di daerah ini. Gambar 2. Potensi alam merupakan baik. Betang Konut merupakan salah satu betang yang masih berdiri dari suku dayak siang.17 Obyek Wisata Betang Konut 3). 2). Betang Konut Betang Betang atau Konut rumah terdapat panjang.18 Obyek Wisata Pandulangan Emas Masuparia Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -121 .(Persero) CABANG I MALANG 1). Sultan Muhammad Semam adalah Sultan Kerajaan Banjar. yang hingga saat ini belum dikelola pariwisata dengan di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.

19 Obyek Wisata Pasir Putih 5). Gambar 2. Wisata Pasir Putih Obyek Wisata ini dikenal dengan sebutan Bukit Tengkorak. yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Gambar 2.(Persero) CABANG I MALANG 4).20 Obyek Wisata Air Terjun Dirung Duhung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -122 . Air Terjun Dirung Duhung Kawasan ini dikembangkan dan dilindungi oleh Pemerintah Kabupaten Murung Raya dengan membangun berbagai fasilitas wisata untuk kenyamanan para wisatawan yang akan mengunjungi kawasan wisata ini yang sangat potensial dijadikan gelanggang wisata Arung Jeram. menuju obyek wisata air terjun Bumbun dan Monumen Equator di Kecamatan Utut Murung. Obyek wisata Dirung Duhung terletak di Kecamatan Tanah siang kurang lebih 20 km dari kota Puruk Cahu Ibukota Kabupaten Murung Raya. Obyek wisata ini dapat ditempuh kurang lebih 4 jam dengan menggunakan kendaraaan roda empat maupun roda dua dari arah Ibukota Kabupaten Murung Raya Puruk Cahu.

(Persero) CABANG I MALANG

6). Air Terjun Bumbun Obyek wisata ini terletak di desa Tumbang Olong, keindahan alamnya yang sangat menarik dengan percikan airnya yang sangat jernih. Tidak heran pada hari-hari liburan banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke lokasi ini. Jaraknya, kurang lebih 100 km dari ibukota Puruk Cahu. Gambar 2.21 Obyek Wisata Air Terjun Bumbun 2.6.6.2 Kabupaten Barito Kuala

Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Barito Kuala ada beberapa tempat wisata yang lazim dikunjungi oleh wisatawan seperti Taman Wisata Alam Pulau Kembang, Cagar Alam Pulau Kaget Alur Sungai Barito, dan Makam Syekh H. Abdussamad Wisatawan terbanyak selama Tahun 2007 berkunjung Taman Wisata Pulau Kembang dan Tempat relegius Makam Sekh H. Abdul Samat yakni berjumlah 13.225 orang dan 11.825 orang. Wisatawan yang berkunjung ini berasal dari wisata manca negara berjumlah 125 orang dan sisanya wisatawan nusantara 49.865 orang. Tabel 2.34 Obyek Wisata di Kabupaten Barito Kuala
Nama Obyek Wisata Taman Wisata Alam Pulau Kembang Jenis Alam Daya Tarik Kera dan Bekantan Sungai dan Pulau Bakut Tanah Lapang dan Danau Tanaman Jeruk Pemandangan Sungai Barito Kerbau dan Rawa Makam Ulama Lokasi/ Tempat Kec. Alalak Jarak ke Objek Wisata (Km) 60

Jembatan Barito

Buatan

Kec. Alalak

50

Agropolitan Terantang

Buatan

Kec. Mandastana

25

Wisata Agro Sungai Kambat

Agro

Kec. Cerbon

5

Siring Wisata Marabahan

Buatan

Kec. Marabahan Kec. Kuripan Kec. Marabahan Kec. Alalak Kec. Alalak

0

Peternakan Kerbau Kalang

Alam

60

Makam H. Abdussamad

Ziarah

0.5

Makam Datu Kayan Makam Datu Aminin Ziarah Makam

Ziarah Ziarah

Makam Ulama Makam Ulama

50 56

Sumber : Dinas Lingk. Hidup,Kebersihan, Pariwisata dan Budaya Kab. Barito Kuala

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -123

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.7 Sektor Energi 2.6.7.1 Kebutuhan Tenaga Listrik

Tinggi rendahnya pemakaian listrik adalah merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat disamping pemakaian air minum (air bersih). Adanya peningkatan yaitu banyaknya listrik yang terjual selain untuk konsumsi pemerintah, lainnya dan susut/hilang, dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya derajat kesejahteraan masyarakat. 1. Kabupaten Barito Selatan Pada tahun 2005, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Selatan sebanyak 13.042 sambungan. Kecamatan Dusun Selatan merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 7.676 sambungan dan daya yang terjual sebesar 11.120.192 Kwh. Sedangkan Kecamatan G. B. Awai merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terkecil, yaitu 485 pelanggan dengan daya yang terjual sebesar 315.273 Kwh.

Tabel 2.35 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 1,310 968 1,567 7,676 1,036 485 13,042 11,966 Daya Terpasang (VA) 818,250 577,900 921,960 7,316,100 615,150 299,950 10,549,310 Listrik Terjual (Kwh) 1,080,143 643,327 1,141,484 11,120,192 647,479 315,273 14,947,898 15,211,283 15,129,465

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -124

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Kabupaten Barito Utara Pemakaian energi listrik di Kabupaten Barito Utara didominasi oleh pelanggan rumah tangga. Pada tahun 2007, jumlah pelanggan rumah tangga mencapai 11.788 rumah tangga dengan pemakaian daya listrik sebesar 18.638.437 Kwh. Jumlah produksi dan pemakaian tenaga listrik pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.36 Produksi dan Pemakaian Tenaga Listrik Menurut Unit Pembangkit pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Unit Pembangkit Rtg Muara Teweh ULD Benangin ULD Lemoo Sub Rtg Tumpung Laung ULD Bintang Ninggi ULD Luwe Hulu ULD Montallat Sub Rtg Kandui ULD Sabuh Kantor Jaga M. Lahei Jumlah

Produksi (Kwh) 20,135,098 214,872 516,224 218,966 100,987 512,746 66,241 21,765,134

Dijual (Kwh) 15,804,410 207,043 406,028 472,314 303,795 185,399 98,100 478,550 59,897 622,901 18,638,437

Dipakai Sendiri Susut / Hilang (Kwh) (Kwh) 1,265,853 1,732,128 7,414 43,030 33,139 2,607 33,277 6,232 1,265,853 1,857,827

Sumber : PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

3.

Kabupaten Barito Timur Pada tahun 2007, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Timur sebanyak 11.705 sambungan. Kecamatan Dusun Timur merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 3.375 sambungan dan daya yang terjual sebesar 6.229.654 Kwh. Tabel 2.37 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Pelanggan 1,160 3,375 764 617 3,024 1,403 498 864 11,705 Daya Terpasang 1,423,585 2,938,250 212,474 338,050 1,603,055 764,740 441,590 798,626 8,520,370 Listrik Terjual 216,855 6,229,654 60,450 30,135 212,771 105,635 52,120 86,027 6,993,647

Sumber : PT. PLN Ranting Ampah & Tamiang Layang

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -125

(Persero) CABANG I MALANG

4.

Kabupaten Murung raya Listrik merupakan fasilitas publik yang sangat strategis dalam mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan wilayah di Kabupaten Murung Raya. Sektor ini mampu memberikan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat/rumah tangga maupun terhadap pengembangan industri, perdagangan dan jasa-jasa serta kegiatan pemerintahan. Seiring dengan pemekaran wilayah, dinamika penduduk terus bertambah, kebutuhan akan listrik meningkat setiap tahunnya. Pengembangan sumberdaya air dalam rangka mendukung program tenaga listrik menjadi kebutuhan yang utama saat ini apalagi dengan meningkatnya aktivitasaktivitas pembangunan di Kabupaten Murung Raya. Listrik merupakan sumber energi yang penting bagi kehidupan manusia. Ketergantungan manusia akan sumber energi listrik ini semakin meningkat, baik sebagai alat penerangan, sumber energi bagi alat rumah tangga atau perkantoran dan sarana penggerak kegiatan ekonomi dalam masyarakat. Kebutuhan tenaga listrik bagi Kabupaten Murung Raya bersumber dari PLTD PT. PLN Cabang Murung Raya. Pada Tahun 2003 jumlah daya terpasang di Kabupaten Murung Raya sebesar 2.652.700 VA. dan daya terpakai 3.711.794 Kwh dengan jumlah pelanggan sebanyak 3.302 rumah tangga. Dibandingkan dengan jumlah rumah tangga sebanyak 20.504 KK maka hanya 16,10% dari rumah tangga yang sudah memanfaatkan aliran listrik.

5.

Kabupaten Kapuas Sektor rumah tangga merupakan pelanggan terbesar PLN di Kabupaten Kapuas. Sebanyak 36.886 pelanggan telah terdaftar menjadi pelanggan PLN pada tahun 2007. Pelanggan rumah tangga ini telah menyerap 67.88% dari energi listrik yang terjual. Tabel 2.38 Pelanggan Listrik di PLN Kuala Kapuas
No 1 2 3 4 Jenis Pelanggan Rumah Tangga Usaha Industri Publik Jumlah Pelanggan 36,886 1,706 20 1,397 Kwh Terjual 32,459,014 4,274,857 8,015,305 3,069,915

Sumber : PT PLN (Persero) Wil VI Cabang Kuala Kapuas

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -126

(Persero) CABANG I MALANG

Industri 17% Usaha 9%

Publik 6%

Rumah Tangga 68%

Gambar 2.22 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Kapuas 6. Kabupaten Barito Kuala Jumlah pelanggan listrik pada Tahun 2007 berjumlah 517.064 pelanggan dengan daya tersambung sebesar 345.451.520 VA. Untuk KWH terjual sebesar 43.574.172 kwh. Untuk pelanggan yang terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga sebesar 493.664 pelanggan, kemudian kelompok tarif sosial sebesar 14.365 pelanggan. Sedangkan pelanggan yang terkecil pada kelompok tarif Industri yaitu berjumlah 92 pelanggan. Hal ini disebabkan pengelolaan pelanggan yang besarnya diatas 83.500 VA langsung ditangani oleh PT PLN Cabang Banjarmasin karena letaknya berseberangan kota Banjarmasin tepatnya di Kecamatan Tamban dan Alalak. Daya tersambung dan KWH terjual juga terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga kemudian diikututi kelompok tarif kantor dan PJU yakni masingmasing besarnya 34.788.304 kwh dan 4.463.464 kwh. Tabel 2.39 Pelanggan Listrik Di PT PLN Ranting Marabahan 2007
No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah Tahun 2006 Tahun 2005 Daya Pelanggan VA Tersambung KWH Terjual 10,467,650 14,365 10,467,650 885,603 295,541,400 493,664 295,541,400 34,788,304 20,143,100 6,081 20,143,100 3,203,546 708,000 92 708,000 92,668 18,591,370 2,862 18,591,370 4,463,464 140,560 345,451,520 517,064 345,451,520 43,574,145 324,441,870 535,443 324444870 41,141,668 43,175 265,982 3192292 43,175

Sumber : PT PLN Cabang Marabahan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -127

(Persero) CABANG I MALANG

PS dan TS Indust r i 0% Usaha 6% Kant or dan PJU 5% 0% Sosial 3%

Rumah Tangga 86%

Gambar 2.23 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Barito Kuala

2.6.7.2

Pusat Beban Kalimantan Selatan

Pusat beban Kapuas, Barito dipasok dari sistem interkoneksi 150 kV dan 70 kV Sistem Kalimantan Selatan. Kapasitas terpasang saat ini sebesar 117 MW yang terdiri atas PLTA 30 MW, PLTG 21 MW dan PLTD 66 MW. Untuk mengurangi peranan PLTD dan meningkatkan keandalan sistem, sedang dibangun jaringan transmisi 150 kV sampai ke sistem Banua Lima yang akan beroperasi akhir 1996 dan pengembangan transmisi ke Palangka Raya yang akan beroperasi tahun 1998. Kebutuhan tenaga listrik di sistem Kalsel diproyeksikan akan tumbuh 13%/tahun sehingga beban puncak saat ini 107,7 MW, diperkirakan akan meningkat menjadi 169,9 MW pada tahun 1998. Jumlah desa berlistrik saat ini di kawasan andalan DAS KAKAB adalah 166 desa dari total 484 desa dan direncanakan tambahan desa berlistrik selama Repelita VI sebanyak 91 desa.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -128

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.8 Sektor Air Bersih Sehubungan dengan kebijakan Departemen Permukiman dan prasarana Wilayah dalam ‘ pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh dan terpadu dikenal sebagai ‘ One river, One Plan and One Management’ maka salah satu permasalahan yang berkembang di kawasan Barito adalah masalah penyediaan air baku. Berikut angka statistik yang berkaitan dengan penyediaan air bersih di WS Barito-Kapuas: Tabel 2.40 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 299 297 962 5,532 546 142 7,778 7,219 9,342 Air Disalurkan (M3) 42,751 38,512 95,516 1,103,346 50,356 11,171 1,341,652 1,231,854 1,490,312 Nilai (Rp) 78,846,600 71,425,200 200,049,200 2,653,478,450 103,955,600 25,008,800 3,132,763,850 2,477,042,250 2,244,260,400

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Tabel 2.41 Jumlah Air Minum Yang Disalurkan Menurut Jenis Konsumen di PDAM Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Konsumen Rumah Tangga Hotel/Obyek Wisata Badan Sosial dan Rumah Sakit Pertokoan/Industri Umum Instansi Pemerintah Lainnya Susut Jumlah Pelanggan (buah) 478 1,109 89 110 934 103 152 2,975 Air Disalurkan 3 (m ) 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 507,532 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 1,110,639,600

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Utara

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -129

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.42 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Pelanggan 478 1,109 89 110 934 103 152 46 3,021 2,655 2,594 Air Disalurkan 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 3,273 510,805 433,622 413,018 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 8,127,500 1,118,767,100 1,067,659,900 572,688,050

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Timur

Tabel 2.43 Pemakaian Air Bersih Kabupaten Murung Raya
Produksi (m3) 274,416 Jumlah Pelanggan 1453 Jumlah KK 20504 Prosentase Pemakaian 7.09

Sumber: Situs Resmi Kabupaten Murung Raya (2008)

Tabel 2.44 Jumlah Pelanggan dan Banyaknya Air Bersih Yang Disalurkan di PDAM Kabupaten Kapuas
No 1 2 3 4 Tahun 2004 2005 2006 2007 Jumlah Pelanggan 13,045 13,626 10,953 11,255 Volume (m3) 3,131,054 2,294,742 2,770,116 2,722,209

Sumber : PDAM Cabang Kapuas

Tabel 2.45 Rekapitulasi Unit PDAM Barito Kuala 2007
No 1 2 3 4 5 6 7 Unit Marabahan Bakumpai Cerbon Rantau Badauh Alalak Anjir Pasar Tamban Jumlah Produksi (m3) 1,956,859 44,529 42,937 105,578 897,152 123,264 1,690 3,172,009 Distribusi (m3) 927,946 35,619 37,799 100,616 772,902 82,834 1,558 1,959,274 Terjual (m3) 764,220 29,349 32,615 92,782 710,943 47,795 1,321 1,679,025 Kebocoran (m3) 163,726 6,270 5,184 7,834 61,959 35,039 237 280,249 Prosentase Sambungan Kebocoran Rumah 17.64 2,519 17.60 219 13.71 197 7.79 355 8.02 3,530 42.30 413 15.21 27 14.30 7,260

Sumber : PDAM Barito Kuala 2007

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -130

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.9 Sektor Kesehatan 2.6.9.1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah tenaga medis yang ada di Kabupaten Barito Selatan adalah 701 0rang yang terdiri dari dokter umum 26 orang, dokter gigi 8 orang dan bidan 159 orang. Komposisi tenaga medis di Kabupatten Barito Seltan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.46 Jumlah Tenaga Medis di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara Gunung Bintang Awai Dusun Tengah Pematang Karau Awang Petangkep Tutui Dusun Timur Benua Lima Jumlah Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat Apoteker 1 1 2 9 1 2 2 1 1 1 4 1 26 1 1 0 2 0 0 1 0 0 0 2 1 8 5 10 10 26 17 17 21 11 8 9 18 7 159 10 13 13 86 10 19 24 10 5 6 31 5 232 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 1 0 8 SPKU Tenaga Jumlah Pembantu Teknis 0 5 22 3 7 35 5 9 39 44 82 256 4 2 34 8 14 4 4 1 20 5 112 7 7 2 2 2 24 7 156 53 69 28 20 19 100 26 701

Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2006

2.6.9.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah rumah sakit umum pada Kabupaten Barito Utara masih 1 unit yang berada di Kecamatan Teweh Tengah. Sedangkan Puskesmas yang ada berjumlah 11 buah dimana terbanyak berada di Kecamatan Teweh Tengah berjumlah 4 unit. Sarana kesehatan yang ada di Kabupaten Barito Utara pada masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 2.47 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Rumah Sakit Umum 0 0 0 0 1 0 1 Puskesmas 1 2 1 1 4 2 11 Puskesmas Pembantu 7 8 3 9 27 15 69 Rumah Bersalin 0 0 0 0 2 0 2

Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -131

Dimana pada tahun 2006 berjumlah 42 unit.48 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Utara No. Hal ini terlihat dari jumlah puskesmas pembantu yang ada. Pada tahun 2007 meningkat lagi menjadi 458 orang yang bekerja di bidang kesehatan. Pada tahun 2005 terdapat 417 orang yang bekerja di bidang kesehatan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -132 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2007 Rumah Sakit 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 Puskesmas 1 2 1 1 2 1 1 0 0 9 8 8 Puskesmas Pembantu 4 6 4 4 9 7 5 4 7 50 42 42 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Jumlah tenaga medis yang bekerja terjadi peningkatan dari tahun ke tahun.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.6. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat 0 2 2 2 4 2 12 0 0 0 0 1 0 1 5 11 5 11 37 14 83 6 11 6 11 25 18 77 Apoteker/Ass.3 Kabupaten Barito Timur Dibidang kesehatan. pada tahun 2007 bertambah menjadi 50 unit. Sedangkan pada tahun 2006 terdapat 452 orang yang bekerja dibidang kesehatan.49 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Timur Tahun 2007 No. Apoteker 1 0 0 0 3 1 5 SPKU Pembantu Perawat 1 2 0 0 4 0 7 Tenaga Teknis 7 16 5 9 36 14 87 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2.9. Tabel 2. pembangunan prasarana kesehatan terus ditingkatkan terutama untuk puskesmas-puskesmas pembantu.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. jumlah dokter umum yang bertugas di Kabupaten Murung Raya sebanyak 7 orang. Tabel 2.4 Kabupaten Murung Raya Pada tahun 2003. Apt Perawat 2 4 1 3 2 8 Tenaga Teknis 0 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Tabel 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Dokter 2 11 1 1 4 1 0 0 0 20 22 20 Perawat 9 86 11 13 25 17 7 5 4 177 171 129 Bidan 8 35 3 7 9 10 3 4 5 84 94 90 Lainnya 11 111 7 6 30 12 0 0 0 177 165 178 Jumlah 30 243 22 27 68 40 10 9 9 458 452 417 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2.50 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Timur No.51 Banyaknya Tenaga Kerja Kesehatan Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Kecamatan Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Dokter Umum 1 2 2 1 1 7 Dokter Gigi 1 1 45 Bidan 2 11 14 11 7 Pengatur Rawat 8 11 12 13 7 51 Apoteker SPKU Pemb. Ass. Jumlah Puskesmas sebanyak 8 buah dan Puskesmas Pembantu sebanyak 40 buah.6.9. yang tersebar di masing-masing kecamatan di kabupaten Murung Raya.52 Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Dokter Umum Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Puskesmas 1 2 2 2 1 8 Puskesmas Pembantu 5 8 13 6 8 40 Jumlah 6 10 15 8 9 48 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -133 .

446 4. BKIA sebanyak 5 unit.54 Sarana Kesehatan di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kabupaten/Kota Baritokuala Sarana Kesehatan (unit) BKIA Puskesmas RSU 5 1 76 Posyandu 344 Klinik KB 28 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.(Persero) CABANG I MALANG 2.9. RSU sebanyak 1 unit dan Klinik KB sejumlah 28 unit Tabel 2.404 9.6.924 4.811 Sumber : Kapuas dalam Angka tahun 2006 2.454 56.989 3. Sarana kesahatan di Kabupaten Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.787 6.6. September 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -134 .9. Kalsel)’.132 4.6 Kabupaten Barito kuala Fasilitas kesehatan yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas Posyandu sebanyak 344 unit. Puskesmas 76 unit.5 Kabupaten Kapuas Jumlah puskesmas di Kabupaten Kapuas berjumlah 23 buah terbanyak di Kecamatan Selat sebanyak 6 buah dan disusul Kecamatan Kapuas Murung sebanyak 4 buah.854 145.531 3.663 28.95 6.53 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Kapuas Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Kapuas Kuala Kapuas Timur Selat Basarang Kapuas Hilir Pulau Petak Kapuas Murung Kapuas Barat Mantangai Timpah Kapuas Tengah Kapuas Hulu Jumlah Puskemas 2 1 6 1 1 1 4 1 3 1 1 1 23 Dokter Umum 1 1 7 1 1 1 2 1 1 0 1 0 17 Dokter Gigi 0 0 3 0 1 1 0 0 0 0 0 0 5 Paramedis lainnya 15 6 71 10 12 5 40 12 32 7 14 6 230 Rata-rata Kunjungan 12.677 3.

231.473.980.65% (dengan industri besar).08) 13.00 3.00 2007 2.298.1 Provinsi Kalimantan Selatan 2.22% (tanpa industri besar) dan -9.00 7.00 (3.00 Rata-rata Pertumbuhan PDRB Tanpa Industri Besar 2004 1.14 1.67% (tanpa industri besar) dan -2.145.255.11 16.67 6. Dari sisi penawaran.738. melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan terutama di dorong oleh melambatnya pertumbuhan sektor industri besar. sedangkan PDRB harga konstan digunakan untuk menghitung pertumbuhan perekonomian.770. untuk mengukur keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi pada suatu daerah.00 2005 1.732.35 Rata-rata Pertumbuhan (2.228.211.020.92% (dengan industri besar).00 1.92 1.917.79) 1.55 PDRB Barito Kuala 2004 .234.00 2005 2.768. lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2005 yang mencapai 5. Tabel 2.340.(Persero) CABANG I MALANG 2.35 5.00 1.078. 2.197.441.97 15.00 2006 2.00 Rata-rata Pertumbuhan 5.7 PERTUMBUHAN EKONOMI DI WILAYAH STUDI Sesuai dengan kelaziman yang berlaku.00 Rata-rata Pertumbuhan Sumber : Kabupaten Barito Kuala Dalam Angka 2008 Tahun Pertumbuhan (%) PDRB atas dasar Harga Konstan (Rp) Pertumbuhan (%) 1. PDRB harga berlaku digunakan untuk menghitung struktur perekonomian.67 17.7.687. Perhitungan PDRB terbagi atas PDRB harga berlaku dan PDRB harga konstan. digunakan indicator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).1.086.591.00 2006 1.100.585.183.1 Kabupaten Barito Kuala Perekonomian Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan sebesar 6.72 1.516.75 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -135 .7.35 (4.2007 PDRB atas dasar Harga Berlaku (Rp) PDRB Dengan Industri Besar 2004 2.65) 0.974.755.857.633.92) (9.00 2.00 1.00 2007 2.206.930.22 5.

900.00 Pertambangan dan Penggalian 41.700.00 62.00 3.00 675.94 10.19 3. Gas dan Air Bersih 56.00 736.600. kemudian sektor perdagangan. hotel dan restoran sebesar 14.2%.95 0.57 9.232.00 2005 Nilai 303.00 Perdagangan.07 0.79 2005 1.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertumbuhan (%) 3.07 14.43 14.00 Industri Pengolahan 2.100.300.90 5.00 25.00 93.00 736.01 100.000.00 5.06 Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Kontribusi sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan terbesar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 sebesar 41.900.7.79 3.000.16 100. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barito Selatan dari berbagai kegiatan ekonomi yang terjadi di wilayah kabupaten pada tahun 2005 adalah sebesar 5.2.00 % 41.46 9.30 12.00 2.43 5.65 0.900.1 Kabupaten Barito Selatan Angka PDRB dapat menunjukkan sebearapa besar kegiatan perekonomian yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu (satu tahun) di Kabupaten Barito Selatan dan pertumbuhan dari kegiatan perekonomian Kabupaten Barito Selatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.72 5.100.00 7.43%.06% atau naik sebesar hampir 1.61 3. jasa-jasa 13.20 0.56 PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2003-2005 (dalam jutaan rupiah) Tahun Atas Dasar Harga Pertumbuhan (%) Berlaku Konstan 2000 2003 870.45 6.900.700.2 Provinsi Kalimantan Tengah 2.400.700. Tabel 2.28 4.40 8.33 12.00 95.00 3.900.400.00 Jasa-jasa 701. Persewaan & Jasa Perusa 22.00 TOTAL Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -136 .00 92.100.57 Peranan PDRB menurut sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku (dalam jutaan) Lapangan Usaha 2004 % 41.00 105.7.00 Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Hotel & Restoran 89.01%.41 13.800.27% dari tahun 2004 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3. Tabel 2.021.300.72 3.00 Bangunan/Konstruksi 100. pengangkutan dan komunikasi 12.600.39 8.00 3.000.700.00 44.26 13.06 Nilai Pertanian 292.33%. bangunan/konstruksi sebesar 8.00 2004 1.(Persero) CABANG I MALANG 2.800.00 701.00 Listrik.600.800.72%.300.79%.

58 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah) Tahun 2005 .7 96.2 57.3 2006 461.3 76.4 35. Gas dan Air 8% Bersih 0% Gambar 2. Distribusi PDRB Kabupaten Barito Selatan pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2000 2. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2005 385.09 % dari tahun sebelumnya.023.8 70.7 39.9 7.8 39. Tabel 2.0 5.5 124. sektor perdagangan. restoran dan hotel 12.3 125.48 %. Tahun 2007 PDRB atas dasar harga berlaku.1 4. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.8 2.7.1 36. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 sebesar 1.4 25. PDRB atas dasar harga konstan 2000 terjadi kenaikan 5.8 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -137 .5 2.01 %.73 % dibanding tahun sebelumya atau sebesar 886.2.3 43.8 3. sektor pertanian memberi sumbangan/peranan terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu 53.1 886. Hotel Pertambangan dan & Restoran Penggalian 14% Bangunan/Konstruks 0% Industri Pengolahan i 6% Listrik.9 30.24. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan. Persewaan & Jasa Perusahaan 3% Pengangkutan dan Komunikasi 13% Jasa-jasa 13% Pertanian 43% Perdagangan.3 111.9 1023.31 %.19 persen dan sektor konstruksi 7.4 milyar rupiah. disusul sektor jasa 12.8 milyar rupiah atau meningkat 15.2007 No.7 63.4 53.6 111.3 746.2 Kabupaten Barito Timur Untuk wilayah Kabupaten Barito Timur. Tabel berikut menunjukkan PDRB dari berbagai sektor dan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Timur.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan.6 99.3 2007 542.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.60 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) Tahun 2004 .12 59.083.048.90 5.86 78.84 6. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.86 5.37 3.230.24 3.41 17. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.004.60 83.412.65 9.860.282. sektor pertanian memberi sumbangan yang terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu sebesar 34.15 9.51 217.93 32.721.26 1.02 1.281 milyar rupiah atau meningkat sebesar 10.81 4.75 148.27 1.7.59 12.17 11.126.46 5.86 4.336.161 milyar rupiah.00 45.18 % dari tahun sebelumnya atau hanya 824 milyar rupiah.19 2006 441.91 5.70 104. hotel dan restoran.161.21 % dan 8.29 3.34 PDRB 0.695.2. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2004 395.87 5.95 5. sektor pertambangan dan penggalian.24 9.281. Tahun 2006.42 7.22 5.91 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -138 .567. 8.88 %.370.59 Laju Pertumbuhan PDRB Barito Timur dan PDRB Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 PDRB Barito Timur Primer 4.161.62 61.91 3.29 0.610.11 5.108. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000.594.71 68.84 2.77 Sekunder 3.73 4.20 57.06 26. Tabel 2.752.62 105.07 Tersier 2.961.2006 No.73 PDRB Kalteng 2.28 8.89 87.35 223.30 4. terjadi kenaikan sebasar 3.44 %.151.884.25 63.86 3.33 % dari tahun 2005 yang besarnya mencapai 1.497.3 Kabupaten Barito Utara PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006 sebesar 1.538. sektor jasa.86 39.275.83 70.65 195.76 75.604. Kemudian disusul secara berturutturut oleh sektor perdagangan.495.09 3.166.06 5.58 216.965.13 % PDRB Barito Utara berdasarkan harga berlaku menurut lapangan usaha dan pertumbuhan PDRB Barito Utara dapat dilihat pada tabel berikut.10 5.47 %. 16.26 2005 413.201.712.08 189. dan sektor pengangkutan dan komunikasi yang besarnya masing-masing sebesar 17.962.10 10.06 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2.

maka perekonomian Kabupaten Murung Raya didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian.54 -19.93 3.94 3.66 9. Pada tahun 2003 ketiga sektor tersebut mampu memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Murung Raya masing-masing 41. Apabila laju pertumbuhan ekonomi secara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -139 .82 1.05%.86%).49%) maupun atas dasar harga konstan (-0.19 10.61% atas dasar harga konstan 4.18 Ket : * Data tidak tersedia Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2.29 Tersier 4.04% dan 20.2.24 4.90 3. 21. Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten.25% hingga 5.61 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Utara (%) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB Barito Timur Primer 43.46%) lebih rendah jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi.40 0. Hotel dan Restoran.78%.86 Sekunder 6.17 3. Kemudian pertumbuhan atas dasar harga berlaku pada tahun 2001 mencapai 13.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya baik atas dasar harga berlaku (4. Pendapatan regional perkapita sering digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi atas dasar harga berlaku mencapai 14.21%. pada tahun 2002 terjadi pertumbuhan negatif (-12.86 2.49%.23 3. dan pada tahun 2003 pertumbuhan mencapai 4.66%.7. selanjutnya pada tahun 2002 dan 2003 masing-masing -16.94 3. Pertumbuhan tahun 2001 sebesar -0.05 1.41 8.58% dan -0. serta sektor Perdagangan. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0.4 Kabupaten Murung Raya Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya ditunjukkan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan dan harga berlaku.47 PDRB 4.91 4.04%).21%.57 0.46%. sektor Pertambangan dan Penggalian. Keadaan PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2000–2003 di Kabupaten Murung Raya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya atas dasar harga konstan sejak tahun 2001 hingga tahun 2003 cenderung negatif.90 3.05 4.90 -2.

2. . Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0.7.633. Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik.5 Kabupaten Kapuas Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten. sektor Perdagangan.00%.25. maka akan terjadi peningkatan pendapatan regional perkapita masyarakat.(Persero) CABANG I MALANG riil lebih besar dari pertumbuhan penduduk.695.096. Sebaliknya jika laju pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk. Distribusi PDRB Kabupaten Kapuas pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -140 .2.3% hingga 5. Hotel dan Restoran (18%) serta sektor Jasa-jasa (10%). maka pendapatan perkapita masyarakat akan mengalami penurunan. Pendapatan regional perkapita masyarakat Kabupaten Murung Raya pada tahun 2003 atas dasar harga konstan tahun 1993 mencapai Rp 2. maka perekonomian Kabupaten Kapuas didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian(48%).dan atas dasar harga berlaku mencapai Rp 9. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 2. Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan. Keuangan. -.741.

45 2005 1. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1.228.486.7 – 5.0 1.920. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau.37 2. Deskripsi kondisi faktor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini.0 80.8 – 6.48 146.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.4 – 27. Tabel 2.12 107.364.6 – 6.121.400. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan. didapatkan kisaran seperti pada table berikut ini.0 2.408.62 PDRB Kabupaten Kapuas Berdasarkan Harga Berlaku No.581.263.508.81 11.63 Kisaran Unsur Cuaca No 1 2 3 4 5 UNSUR CUACA Suhu udara Kelembaban Nisbi Penyinaran matahari Kecepatan Angin Evapotranspirasi Potensial Tanaman UNIT C % Jam/hr knoot Mm/hr o KALIMANTAN TENGAH 25.4 1.442.41 8.2 – 87.25 184.49 2.108. sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober.834.24 2006 1.1 – 27. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -141 .81 98.546.406.653.680.73 170.811.73 587.021.12 2.95 290.423.386.371.263.85 119.83 376.9 – 4.88 217. angin berhembus membawa uap air.055.9 – 3.93 99.814. 2.87 3.96 345.9 70.4 2.0 2.228.81 9.03 152.731.73 2007 1.1 Iklim Kondisi iklim berdasarkan data dari Penelitian Lahan Rawa 2002.73 151.32 2.73 8.2 – 5.402.033.00 256.513.936.65 10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.332.998.530. Selama musim hujan pada bulan November – April.078.3 Sumber : Penelitian Lahan Rawa Kalimantan.650.583.845.12 224.43 118.346.76 12.98 87.92 297.085.80 350.74 10.360.14 195. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angin muson tenggara.97 473.29 11.572.03 133.8 HIDROLOGI WS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas yang melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.611.7 KALIMANTAN SELATAN 23.134. dimana berada pada daerah tropis.8.879.318.7 – 97.02 247.521.351.6 3.

8 84.6 26.0 36.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.3 26.8 4.8 26. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -142 .3 26.6 84.6 4.6 26. merupakan data rata-rata stasiun di Banjarmasin dan Palangkaraya adalah sebagai berikut : Tabel 2.75 5.9 4.7 85.6 4.0 70.0 35.1 35.8 80.0 82.2 27.2 63.3 53.3 63.0 1 1 2 25.5 27.8 50.8 26.(Persero) CABANG I MALANG Kondisi klimatologi yang merupakan hasil penelitian pada daerah kerja “A” PLG Kalteng.5 59.8 55.3 79 82.20 27.64 Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan (Lokasi PLG Kalteng) No 1 2 3 4 5 UNSUR Suhu udara Kelembaban Nisbi Kecepatan Angin Penyinaran matahari Evapotranspirasi UNIT C % knt Jam/hr Mm/hr o Jan Feb Mar 26.8 83.60 55.17 36.4 5 5.75 51.1 46.6 51 .2 4.7 85 84.0 75.9 79.00 Temperatur 26.7 83.25 3.1 83.0 27.75 55.1 4.8 85.2 26.8 4.4 4.3 4.3 26.7 26.3 4.1 82.0 45.0 26.5 59.6 26.2 47.80 60.3 26.3 Okt Nop Dec 27 26.5 Mei Jun 27.9 4.6 79 77.3 53.33 4.66 50.33 55.8 26.8 80.75 5.8 5.6 82.1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 46.40 84.8 47 35.3 Jul Ags Sep 26. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Pengamatan meteorologi pada stasiun Banjarmasin dan Awang Bangkal rekapitulasi grafiknya pada gambar berikut ini.9 82.2 Sumber : Manual OP Proyek PLG.2 26.80 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2. 2002 Catatan : 1) 2) Data dari Stasiun Banjarmasin dan Stasiun Palangkaraya Evapotranspirasi dihitung dengan metoda Penman 27.5 26.2 4.0 26.5 26.0 80.0 77.40 26.1 83.75 4.7 Apr 27.5 4.8 55.20 26.5 4.8 3.26.0 50.0 27.0 40.21 5.1 35.00 35.6 79.5 82.

Sementara itu.0 86.000 mm/tahun. Sementara curah hujan di selatan DAS (hilir sungai) cenderung lebih rendah dibandingkan pada daerah hulu.20 27. disimpulkan bahwa curah hujan cenderung lebih tinggi di pegunungan. Tinggi curah hujan rata-rata di pegunungan utara adalah sekitar 3.0 83.1 27.0 26. dan di daerah datar selatan sekitar 2. sedangkan terendah pada saat musim kemarau.0 26. 2. yaitu pada pegunungan utara.0 6 30.40 83.3 79.0 80.0 25.60 26.0 25.1 80.0 27.3oC.0 35.7 26.0 1 7 8 26.0 85.0 84. Tabel data hujan dapat dilihat pada tabel di Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -143 .27.0 45.6 75. Kelembaban relative adalah 82% pada stasiun Kota Banjarmasin.20 26. variasi suhu relatif kecil. sampai minimum kurang dari 49%.0 78. kelembaban relatif bulanan adalah yang tertinggi.0 26.0 2 3 4 5 44.0 30. sedangkan reratanya adalah 27.9 27.0 81 . sekitar 3oC per bulan.0 26.0 45.2 Curah Hujan Seperti yang terjadi pada belahan wilayah kepulauan Indonesia lainnya.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Mean Relatively Humidity.7 26. Sunshine.0 43.3 26.6 26.4 56.40 40.80 9 1 0 1 1 1 2 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Kalimantan Selatan ( 2 ) Variasi suhu udara pada kondisi rata-rata maksimum adalah sebesar 32oC dan 22oC pada kondisi rata-rata minimum.0 39.80 26.0 70.0 37.500 mm/tahun.0 27.0 27.0 26.500 mm/tahun.0 45.3 27. and Temperature in Barito River Basin 90.0 75.00 25.3 51 .0 31 .00 Temperatur 26.8.0 85.0 83.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.0 50.0 55.3 86. tinggi curah hujan rata-rata pada daerah pegunungan timur dalam DAS Barito adalah 3.0 60. Pada saat musim hujan.

Wilayah diantara kedua DAS tersebut diambil pada wilayah ‘A’ eks PLG Kalteng. DAS Kapuas dan daerah antara kedua DAS tersebut. Tabel 2.469 Mei-Okt 1.516 355 2. 11 tahun).(Persero) CABANG I MALANG bawah. yang mengambil data-data curah hujan 10 tahun terakhir dari Stasiun Mandomai dan Stasiun Mentangai (1984 – 1994. Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan Kawasan Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Variasi kondisi curah hujan cenderung tinggi pada daerah pedalaman dan pegunungan. dan makin rendah pada daerah dataran rendah di sekitar lembah sungai.65 Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan pada Zona Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Region Peg Peg Plain Jan 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec Annual 384 3. Beberapa data berikut menggambarkan curah hujan di DAS Barito. Nampak bahwa tinggi hujan pada musim hujan adalah sekitar 60% 70% dari curah hujan tahunan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -144 .930 316 2.28.368 940 754 %DRY 39% 32% 30% %WET 61% 68% 70% Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito 450 403 400 350 331 300 374 326 339 330 Ms Kemarau 384 CH Bulanan 250 199 200 150 100 50 324 0 319 293 228 197 125 114 373 370 180 346 273 229 155 141 246 226 178 355 274 169 124 92 122 94 132 235 316 Peg Utara Peg Timur Plain area Jan Peg Utara Peg Timur Plain area 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Bulan Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec 384 355 316 Gambar 2.

5 126.2 Sep 710.9 229.6 207.3 114.5 280.014 1.4 6.6 274.1 314.5 Mar 580.8 272.6 291.3 Jun 266.4 Ags 171 77.8 58.9 143.3 204.5 155.1 265 422.5 83.4 319.8 2.2 154.7 266.2 57.2 180.6 238 153.5 85.7 199.6 346.1 Mei 232.67 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 589.503 Sumber : Manual OP Proyek PLG.1 160.5 36.2 Okt Nop Dec 33.9 487.896 149.2 372.4 59.4 1 53.9 269.9 18.1 365.9 12 33.8 104.5 83.8 229.7 42.4 Mei 468.1 Apr 165.7 101.8 Ags 62.2 381.4 Jul 347 118 6.8 88.1 238 119.3 64.2 48.1 Feb 237.1 265. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Zone "A" PLG Kalteng 300.8 38.3 301.2 167.1 83.8 13.6 Apr 528 312.1 254.4 422.1 365.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.9 350.8 57 98.5 506.1 117 126.5 37.9 301.815 2.9 40.1 33.0 81 .7 321.3 21.4 172.6 Jul 301.8 138.4 269 295.66 Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tahun 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 MAX MEAN MIN Jan 172.6 1.1 96.7 75 71.8 304.4 240.4 Feb 415.3 254.6 57 243.659 1.9 33.2 69.0 280.917 1.7 86.1 296.891 1.4 310.7 228.4 128 36.8 21.7 216.6 228.3 36.8 48.7 174.2 506.9 Sep 86.6 91.1 151. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -145 .1 50.2 81.2 Mar 148.2 165.7 88.0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep Okt No p Dec Gambar 2.1 Annual RF 1.2 130.3 344.1 216.2 18.3 278.0 44.5 0.2 197.6 200.8 333.4 250.9 335.8 250.8 116.0 1 97.1 134 305.6 73.5 105.9 Jun 29.3 149.1 613.8 160.29.1 295.8 119.957 1.683 133 Sumber : Manual OP Proyek PLG.4 134.2 128 59.0 100.3 305.7 181.6 119.9 1 87.6 162.8 25.9 162.6 12.953 1.8 49 Okt Nop Dec Annual RF Month 251.8 29.8 372.6 245.9 104.8 29.4 67.5 66.2 237.9 278.446 2.7 6.244 2.462 1.2 232.9 40.8 47 174.7 176.4 108.8 53.4 180.9 150.5 98.4 149.5 176.2 21.5 10.6 240.0 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 229.9 44.4 231. Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tabel 2.4 151.9 35.1 114 155.5 110.4 44.1 126.7 44 10.5 94.5 29.3 83.2 50.5 252.2 220 50.5 185..2 179.2 82.2 187.3 24.5 78.6 266.5 234.2 108.7 143.

5 89.68 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 530.4 Feb 459.5 254.9 Jun 165.9 Nop 254.9 Mei 237.31.2 1 30. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Kapuas River Basin 450 400 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 306.4 35.1 Apr 260.2 Dec Annual RF 306.2 1 65.7 1 49.2 295. Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tabel 2.4 Jul 105.5 A gs Sep Okt No p Dec Month Gambar 2.2 Ags 84.30.2 1 54.4 280.0 1 150 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep 1 38.5 260.8 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 304.2 280.506 Sumber : Manual OP Proyek PLG.4 150 1 05.3 293.5 Sep 130.2 300 250 200 293.5 1 40.2 2.9 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul 84. Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -146 .1 237.3 77.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Basin Mean Rainfall in Barito River Basin 450 400 381 .8 1 8.9 254.9 247.7 Mar 548 247.5 Okt 140.8 Okt No p Dec Month Gambar 2.9 300 250.8 250 200 245.5 31 2.

data iklim yang menggambarkan kondisi iklim di DAS Barito didapatkan dari beberapa stasiun pengamat yang ada (10 stasiun pengamat/penakar hujan) yang sebarannya dianalisa berdsasarkan pembagian wilayah iklim metoda Thiessen.S.827 194.S. DAS Barito termasuk tipe iklim B ( Schmidt Fergusson) dengan nilai Q rata-rata sebesar 0. II.DAS Tabalong Kiwa 7 S. Layang-layang Pengaron.DAS Riam Kiwa S.B A.B A. III.409 2. Sei Malang. 2.DAS Balangan 5 S.145 11.S.208 Rata-rata Hari Hujan Per Bulan 11.993 2.DAS Martapura 1 S.DAS Amandit 3 S.61 mm – 369.B A.DAS Riam Kanan 3 S.926 Rata-rata Curah Hujan Bulanan 179.064 B.S.S.895 166. Secara umum kondisi iklim di DAS Barito seperti tabel berikut.85 mm.548 13.225 2.S.389 2.426 189. Martapura.3 13.921 12. Adapun stasiun pengamat/penakar hujan tersebut adalah stasiun pengamat Gn. Kalsel)’. Muara Halong.588 8.091 191.S.(Persero) CABANG I MALANG Pada wilayah DAS yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan. Mabu’un.DAS Negara 1 S.C B B IV.DAS Barito Tengah S.741 10.86 10.S. Sub DAS/ Sub Sub DAS S.69 Kondisi Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I.C B 2.289 194.761 195.C Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.DAS Barito Hilir S.S.DAS Alalak 2 S.473 13.509 11.823 B. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -147 . Tabel 2. dengan jumlah hari hujan tahunan rata-rata sebesar hari per tahun. dan yang terendah adalah sebesar 58. Berdasarkan data dari stasiun pengamat curah hujan di atas.958 8.483 162.S.323 2.627 201.DAS Danau Panggang Ds 8 S.982 175.302 1.167 mm.DAS Tabalong Kanan 6 S.039 192.213 jumlah curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 197.723 204. Barabai. Binuang.885 mm.816 190.316 2.518 12.916 11. Kandangan. Berdasarkan data tersebut diperoleh data bahwa curah hujan tertinggi yaitu sebesar 141.B B B. Jaro dan Marabahan.DAS Batang Alai 4 S.479 Tipe Iklim B.125 1.DAS Bahalayung Rata-rata Curah Hujan Tahunan 2.327 2.DAS Tapin 2 S.288 2.C B A.S.

509 712 2.342 2. Kalsel 589 622 2.255 1.926 427 641 2. Kalsel)’.926 2.434 2.202 826 2.281 B akumpai (B arito Kuala) Jaro (Tabalo ng) Sungai M alang (HSU) M abu'un (Tabalo ng) Gn Layang-layang (B anjar) 661 1.82 686.356 2.509 2.783 2.255 2.44 Tipe B B B A B C A B B B Tahun 1977-2002 1977-2002 1990-2002 1978-2000 1997-1992 1986-1998 1976-2001 1976-1999 1976-2001 1978-2001 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.87 589.(Persero) CABANG I MALANG Annual RF dan Max RF DAS Barito.66 605.356 656 B inuang (Tapin) Kandangan (HSS) B arabai (HST) M uara Halo ng (HSU) M artapura (B anjar) 1.202 Max RF (mm) 826.70 Tipe Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Station Binuang (Tapin) Kandangan (HSS) Barabai (HST) Muara Halong (HSU) Martapura (Banjar) Bakumpai (Barito Kuala) Jaro (Tabalong) Sungai Malang (HSU) Mabu'un (Tabalong) Gn Layang-layang (Banjar) Annual RF (mm) 2. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -148 .382 686 Tabel 2.783 2.382 2.434 2.342 606 2.11 711.281 1.55 621.2 641 427 660.27 656.

Tabak Kanilan 3. Muara Teweh 2. KALIMANTAN TENGAH 115 0 BT S.Montallat 10 LS Lampeong Kandui BUNTOK Bambulung S.Paku S. Muara Teweh 2.32. Kandui 3. Ampah Benangin Ketapang Tumpung Laung Pendang Tabak Kanilan S. Ampah 4. Buntok 2. Tampa POS HUJAN 1. Hayaping POS KLIMATOLOGI 1.Benangin 1 LS 0 POS DUGA AIR (AWLR) 1. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -149 .(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P.Karau Ampah Tampa Hayaping Bentot 2 0 LS Bingkuang Mangkatip 2 0 LS TAMIANG LAYANG Jenamas 114 0 BT 115 0 BT Gambar 2.Murung 0 0 LS Tumbangolong 0 0 LS TUMBANG KUNYI Saripoi PURUK CAHU KETERANGAN MUARA TEWEH S.

Mantangai Sei. Lokasi Pos Duga Air. Mandomai 2. Pujon POS HUJAN 1.33. KALIMANTAN TENGAH Tumbangbukoi 10 LS KETERANGAN POS DUGA AIR (AWLR) 1.(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P. Basarang 3 0 LS Lupak Dalam Pelampai 114 BT 0 Gambar 2. Kelampan Palingkau Sei Tatas Barimba A. Pujon POS KLIMATOLOGI 1.Mantangai Ketimpun Mantangai Mandomai A. Serapat Basarang KUALA KAPUAS 3 0 LS A. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -150 . Hanyu 10 LS Pujon Timpah 2 0 LS 2 0 LS S.

4 m3/detik pada lokasi bendungan.621 2.3 200 17. Ninian Hulu Sungai Utara S. Barabai Hulu Sungai Tengah S. Luas DAS yang digunakan pada perhitungan Bendungan Riam Kanan adalah sebesar 1.KALSEL Nama Sungai Panjang (km) 15 61 106 119 187 21 19 121 94 93 60 71 159 52 133 92 92 57 29 83 30 Luas CA (km2) 77 303 1.2 15 27.621 532 306 775 535 33.(Persero) CABANG I MALANG 2. Asam-asam Tanah Laut S.010 790 474 494 2.379 Debit Rata-rata (m3/det) 3 14 48 29 150 54 7 8 55. Negara Hulu Sungai Utara S. Riam Kanan Banjar S. Ayu Tabalong S.075 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Lokasi (kabupaten) S. Hanyar Tabalong S.5 15 7. Pitap Hulu Sungai Utara S. Tabalong Tabalong S. Tabalong Kiri Tabalong S. Tabel 2.333 3.622 2. Tabanio Tanah Laut S. Berdasarkan hasil studi terdahulu pada Proyek Bendungan Riam Kanan.8. Tabalong Kanan Tabalong S. Riam Kiwa Banjar S. Amandit Hulu Sungai Selatan S. Kintap Tanah Laut DAS BARITO .3 Limpasan Permukaan (Runoff) Limpasan permukaan pada anak-anak sungai DAS Barito sangat bervariasi.604 196 69 273 1.325 351 2. Mangkauk Banjar S. debit yang digunakan sebagai pembanding hasil analisis ketersediaan air pada tiap-tiap anak sungai adalah seperti pada table berikut.880 mm/tahun pada DAS yaitu 48.993 10. yaitu sekitar 2. Uya Tabalong S.2 38 22 100 10. Batang Alai Hulu Sungai Tengah S.1 7. Sawarangan Tanah Laut S. Tapin Tapin S. Martapura Banjar S.063 km2. Balangan Hulu Sungai Utara S.5 8 30 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -151 .71 Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan No. debit tahunan anak sungai Riam Kanan diperkirakan dari setengah tinggi curah hujan tahunan. Dalam kajian ini.

Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -152 .0 8. Uya 30.0 27. Riam Kanan S.0 7.2 200. Negara S.0 29. A sam-asam S. M artapura S. Tapin S.(Persero) CABANG I MALANG S.3 8. Tabalo ng Kiri S.0 22. B atang A lai S.0 150.0 55. M angkauk S.0 54.34. Tabalo ng Kanan S.0 De bit Rata-rata Sungai DAS Barito di Kalse l 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 De bit Rata-rata (m3/se c) Gambar 2.1 100. Kintap S. Sawarangan S.0 48.0 17.2 15.0 3.0 7.0 38. P itap S. A mandit S. B arabai S. Hanyar S.0 14.5 15. Riam Kiwa S.0 7. Ninian S. B alangan S.5 10. Tabanio S. A yu S. Tabalo ng S.

35. Stasiun Hidrologi dan Sebaran Hujan WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -153 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

Tabalong dan terendah adalah 1m dari permukaan laut yang terdapat di Kota Banjarmasin. sedimentasi. vegetasi dapat tumbuh secara optimal. pertumbuhan vegetasi terhambat oleh tidak memadainya intensitas hujan. Kendala-kendala tersebut harus dapat diantisipasi dalam rangka pencapaian tujuan akhir dari kegiatan pengelolaan DAS sebagai berikut: 1. tetapi. pada daerah dengan perubahan iklim yang besar. sebaliknya.9 EROSI DAN SEDIMENTASI Pengelolaan DAS sebagai bagian dari pembangunan wilayah sampai saat ini masih menghadapi berbagai masalah yang kompleks dan saling terkait. Perbedaan ketinggian tersebut menghasilkan beda tinggi sebesar 1. intensitas hujan tersebut umumnya sangat tinggi. Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o 50’ – 287o 55’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir di Kota Banjarmasin ke arah utara di bagian hulunya.257 m dari permukaan laut yaitu terdapat di Kab. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -154 . Pada hujan yang intensif dan berlangsung dalam waktu pendek. banjir. Meningkatnya produktivitas lahan 3. DAS Barito memiliki titik ketinggian yang tertinggi 1.256 m dan ini menyebabkan pada daerah yang lebih tinggi akan mempunyai temperatur yang lebih rendah dan relatif banyak terjadi hujan dibandingkan dengan daerah yang lebih rendah. Dengan kondisi iklim yang sesuai. Pengaruh langsung adalah melalui tenaga kinetis air hujan terutama intensitas dan diameter butiran air hujan. adalah terciptanya lingkungan hidup yang baik dan nyaman dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah. sekali hujan turun. misalnya di daerah kering. dan kekeringan yang sangat erat kaitannya dengan keadaan sumber daya alam vegetasi/hutan tanah dan air serta unsur manusia yang terdapat dalam ekosistem DAS tersebut. Permasalahan tersebut antara lain terjadinya erosi. Sedangkan pengaruh iklim tidak langsung ditentukan melalui pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetasi. Kondisi hidrologis DAS yang optimal. meliputi hasil air yang memadai baik jumlah. kualitas. Pengaruh iklim terhadap erosi dapat bersifat langsung dan tidak langsung. kontinuitas dan sebaran waktu serta terkendalinya erosi dan kekeringan. Dari segi sosial ekonomi. 2.(Persero) CABANG I MALANG 2. erosi yang terjadi biasanya lebih besar daripada hujan dengan intensitas lebih kecil dengan waktu berlangsungnya hujan lebih lama.

justru gejala kearah kerusakan lahan sudah banyak ditemukan.72 dan 2. Pengelolaan lahan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah c. Masih banyaknya lahan-lahan terlantar yang tidak dikerjakan b. yaitu lahan Sangat Kritis. kekritisan hidrologis dan tingkat kekritisan Sub DAS sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Untuk melestarikan simpanan air tanah. namun demikian hal ini bukan berarti tidak terjadi kerusakan. Letak dan kondisi lahan yang masih labil khususnya di lereng-lereng pegunungan. Kritis. topografi (kelerengan dan panjang lereng).(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hasil analisa dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tingkat kerusakan tanah di DAS Barito pada umumnya masih baik. yaitu Kawasan Hutan Lindung. Tingkat erosi aktual menggambarkan keadaan lahan tererosi dengan mempertimbangkan curah hujan (erosivitas). Tingkat kekritisan daerah resapan menggambarkan mengenai penilaian tentang tingkat kekritisan daerah resapan terhadap air hujan. kemiringan.73. tipe vegetasi dan penggunaan lahan. Tingkat peresapan atau infiltrasi tergantung pada curah hujan. tipe tanah. penutupan lahan dan upaya konservasi tanah. Jika aspek alami mencerminkan kondisi potensial. maka akan didapat Tingkat Bahaya Erosi yang diklasifikasikan mulai dari Sangat Ringan sampai Sangat Berat. Semakin besar tingkat resapan (infiltrasi) maka semakin kecil tingkat air larian (surface runoff). Dengan mempertimbangkan solum tanah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -155 . dimana penyebarannya dianalisa sesuai dengan fungsi kawasannya. mempunyai implikasi yang berbeda terhadap infiltrasi. ”maka aspek penggunaan lahan mencerminkan kondisi aktual”. Tingkat kerusakan lahan di DAS Barito dapat dilihat dari keadaan erosi aktual dan tingkat bahaya erosi. berarti kemungkinannya adalah sebagai berikut: a. Kawasan Lindung di luar Kawasan Hutan dan Kawasan Budidaya untuk usaha Pertanian. Sedangkan keadaan lahan kritis dibedakan menjadi 4 (empat) klasifikasi. maka tingkat infiltrasi air hujan ke dalam tanah merupakan faktor yang sangat penting. sehingga debit banjir dapat menurun dan sebaliknya aliran dasar (baseflow) dapat naik. keadaan lahan kritis. Agak Kritis dan Potensial Kritis. persentase run-off. jenis tanah (erodibilitas). demikian pula cadangan air tanahnya. Bentuk penggunaan lahan merupakan aspek di bawah pengaruh kegiatan manusia.

7 ton/ha.DAS Danau Panggang Ds S.082.917. III. diberitakan berdasarkan pernyataan Ketua Komisi D DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.617 66.663 54.43 5.975.35 8.S. Adapun tingkat kekritisan Sub DAS diperoleh dari nilai-nilai indeks erosivitasnya yang dihitung berdasarkan bentuk wilayah/topografi. September 2003 Berdasarkan Tabel di atas.30 1.26 8.126.550 6.23 8.292.01 49.526.26 8.888.851. kritis dan sangat kritis. 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S.325 mm/th atau 0.DAS Alalak S.863.S.DAS Martapura S.92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.S.8 ton/m3. halaman 9 dan halaman 15.610 81.905 1. Tabel 2.240.S.27 8.863.568.239 Indeks SDR 8.517.772 284.93 94.DAS Barito Hilir Ds S.(Persero) CABANG I MALANG Tingkat kekritisan hidrologis dibedakan menjadi 5 (lima) kelas.714 17.991 50.839.158.56 164. Rubrik Radar Banua.137 16.917.DAS Amandit S.957.68 117.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189.343.363.495 462. dikatakan bahwa menurut Dirut PDAM Kab.S.DAS Barito Tengah S.916 4.108.83 164.14 202.S.11 173.DAS Riam Kiwa S.661.DAS Riam Kanan S.431.921.44 110. dan dengan memperhitungkan nilai SDR (Sediment Delivery Ratio) sebesar 5.186.S.26 136.484.92%. mulai kritis.186.036.37 8..363.020.S. yaitu baik.240 6.862 10.156 36. menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat erosi yang terjadi di DAS Barito berkisar antara kelas II (antara 15-60 ton/ha/th) dan kelas III (antara 60 – 180 ton/ha/th) dengan rata-rata erosi adalah 34.068. maka akan didapat hasil sedimen yang masuk ke dalam Sungai Barito sebesar 4.30 ha adalah 81.72 Sebaran Kelas Erosi di DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 I.033 cm/th.768.567. II. Banjar bahwa kandungan lumpur dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -156 .578 4.25 213.349. dengan ”judul Investor Baru Keruk Alur”).31 8.908 5. Selanjutnya dengan asumsi bahwa berat sedimen adalah 0.134 971. Nilai indeks Sub DAS yang tinggi menunjukkan tingkat kekritisan Sub DAS yang tinggi pula.957. agak kritis. lereng/slope.201 10.155.969.743.27 8.478.284 44.DAS Balangan S.831 ton/ha/th atau setara erosi yang terjadi pada seluruh DAS Barito dengan luas 1.264.DAS Tabalong Kanan S. bentuk percabangan sungai dan penggunaan lahan.096.380 9. Sedangkan pada Radar Banjarmasin terbitan hari Rabu tanggal 27 Agustus 2003 ( Rubrik Radar Banua halaman 10 dengan judul ”Pelanggan PDAM Bakal Terlantar”).35 8. normal alami. Kalsel)’.908.S.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5.987.61 88.S. maka ketebalan laju sedimentasi yang masuk ke dalam Sungai Barito bila dianggap sebagai waduk/penampungan adalah 0.747 63. Sebagai ilustrasi adalah informasi dari media massa Radar Banjarmasin (hari Selasa tanggal 26 Agustus 2003.239 ton/th.38 8.DAS Batang Alai S. bahwa alur Barito setiap hari mengalami pendangkalan setinggi 2 cm.896 81.DAS Tabalong Kiwa S.636 6.116 453.

Sub Sub DAS yang mempunyai erosi rata-rata kelas II.265 ton/th atau setara 0.914 ton/th atau setara 0.052 cm/th Sub Sub DAS Balangan : 1.625.069 cm/th Sub Sub DAS Riam Kiwa : 781.005 cm/th Sub Sub DAS Bahalayung : 23. yaitu 15 – 60 ton/ha/th.461.448 ton/th atau setara 0.478.057 cm/th Sub Sub DAS Batang Alai : 572. menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai tingkat kekritisan hidrologis/kondisi daerah resapan yang rata-rata Normal Alami artinya bahwa potensi terjadinya infiltrasi karena kondisi alamnya tidak terlalu terganggu dengan adanya perlakuan lahan yang diatasnya. Sub DAS dan Sub Sub DAS yang bersangkutan.005 cm/th Sub DAS Barito Tengah : 37.735 Ton/th atau setara 0.435.633 ton/th atau setara 0. adalah Sub Sub DAS Riam Kanan yang sudah barang tentu akan memberikan kontribusi laju sedimentasi yang lebih tinggi pula. Sedangkan Sub Sub DAS Riam Kiwa di Sub DAS Martapura. dimana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -157 . Sub Sub DAS Amandit.171 ton/th atau setara 0.403 ton/th atau setara 0. Sub Sub DAS Batang Alai.916 ton/th atau setara 0. dan hampir sebagian besar Sub DAS Negara yang meliputi Sub Sub DAS Tapin.647.084 cm/th Sub Sub DAS Tabalong Kanan : 919.046 cm/th Sub DAS Negara: Sub Sub DAS Tapin : 891.881.282 ton/th atau setara 0.004 cm/th Sub DAS Martapura: Sub Sub DAS Alalak : 127. Sub Sub DAS Balangan.216.941.895.73. Berdasarkan Tabel 2.006 cm/th Pendekatan lain untuk menilai DAS Barito dapat dikaji pula mengenai tingkat kekritisan daerah resapannya.(Persero) CABANG I MALANG rangka pengerukan lumpur yang terdapat di irigasi Riam Kanan adalah 40 cm dari ketinggian air 60 cm.070 cm/th Sub Sub DAS Amandit : 541.018 cm/th Sub Sub DAS Riam Kanan : 907.834 ton/th atau setara 0.066 cm/th Sub Sub DAS Danau Panggang : 38.368. didapat jumlah sedimen yang terjadi pada masing-masing sungainya sbb: Sub DAS Barito Hilir : 79. Kontribusi erosi dan sedimentasi tersebut berasal dari beberapa Sub Sub DAS dengan variasi jumlah dan kelas erosinya.385.576 ton/th atau setara 0.908 ton/th atau setara 0. Sub Sub DAS yang termasuk ke dalam erosi Kelas III (60 – 180 ton/ha/th).958. Dengan memperhatikan erosi yang terjadi dan indeks SDR (Sediment Delivey Ratio) pada masing-masing Sub Sub DAS.403. yang pada intinya membandingkan antara infiltrasi potensial dan infiltrasi actual di DAS.

September 2003 2.26 8.921. mengingat pertumbuhan penduduk dan pengembangan industri selalu diikuti dengan peningkatan kebutuhan air bersih.25 213.126..56 164.156 36.43 5.S.068.73 Tingkat kekritisan Daerah Resapan DAS Barito di Provinsi Kalsel No 1 I.478.14 202.92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. Pencemaran utama air adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -158 .020.DAS Barito Hilir Ds S. sedangkan yang termasuk Baik adalah Sub Sub DAS Riam Kiwa dan Sub Sub DAS Tapin.916 4.S.896 81.DAS Alalak S.284 44.663 54.969.975.108. Pencemaran air adalah adanya kontaminasi air oleh materi asing seperti mikroorganisme.636 6.01 49. Kalsel)’.550 6.239 Indeks SDR 8. Air yang kualitas buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya.343.743. Air memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan suatu komunitas karena penyediaan air yang dapat diandalkan merupakan persyaratan bagi terbentuknya komunitas yang permanen. Hal ini dapat dilihat pada kondisi daerah resapan dengan klasifikasi Normal Alami hampir sebagian besar Sub Sub DAS Alalak dan Sub Sub DAS Danau Panggang termasuk daerah resapan yang masuk dalam klasifikasi Mulai Kritis.35 8.888. Konsep bahwa air merupakan sumberdaya alam yang harus dikelola secara hati-hati adalah sangat penting dan perlu.363.10 KUALITAS AIR WS BARITO-KAPUAS Air merupakan sumber alam yang sangat penting di dunia ini karena tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung.987. zat kimia dan bahan buangan atau limbah.578 4.264.862 10.83 164.991 50.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5.526.957.714 17.863.93 94.DAS Riam Kanan S.S.DAS Barito Tengah S.155.116 453.S.096.610 81.DAS Batang Alai S.036.484.082.661.38 8. Tidak sebagaimana bahan baku lainnya.292.35 8.431.747 63.37 8.DAS Martapura S.26 8.517.DAS Amandit S.DAS Balangan S.DAS Riam Kiwa S.27 8.201 10. Tabel 2.134 971.617 66.DAS Tabalong Kiwa S. 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S.568.186.27 8.905 1. II.772 284.S.768.S.26 136.908 5.11 173.31 8.44 110.495 462.240 6.349.380 9.68 117. sehingga adanya keseimbangan antara potensi infiltrasi yang disebabkan keadaan alamnya dengan infiltrasi aktual yang terjadi.(Persero) CABANG I MALANG penutupan lahan secara keseluruhan cukup baik.240.S. air merupakan satu-satunya sumber alam yang tidak bisa digantikan oleh material lain.61 88.839.S.30 1.158.186.DAS Danau Panggang Ds S.137 16.S.567.DAS Tabalong Kanan S.S.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189.917. III.23 8.

Limbah rumah tangga dan limbah lain yang mengandung banyak materi karbon organik. misalnya pestisida dan surfaktan pada detergen. Nitrat (NO3). sehingga untuk dekomposisi limbah tersebut diperlukan banyak oksigen.Lokasi 2 : Baru . Pupuk pertanian yang dapat merangsang pertumbuhan air secara berlebihan atau (eutrofikasi). 3. BOD5 (Biological Oxygen Demand). 2. Yang dimaksud tingkat tertentu tersebut adalah baku mutu air yang ditetapkan sebagai tolak ukur untuk menentukan telah terjadinya pencemaran air. NH3 (Amoniak). juga merupakan arahan tentang tingkat kualitas air yang akan dicapai atau dipertahankan oleh setiap program kerja pengendalian pencemaran air. Sedimen yang terdiri dari tanah dan partikel mineral yang yang berasal dari lahan pertanian. Zat Padat Terlarut (TDS). Mineral anorganik dan bahan kimia anorganik 6. pencemaran air yang diindikasikan dengan turunnya kualitas air sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya. Bahan kimia organik. PO4 (Phosphat).Lokasi 5 : Kalahien Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -159 . Minyak 5. Zat Padat Tersuspensi (TSS).10. DO (Dissolved Oxygen). Minyak/Lemak. Merkuri (Hg). pertambangan dan daerah padat penduduk di perkotaan yang terbawa oleh aliran air hujan.Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu . Fenol.Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok . Parameter yang diuji dalam pemantauan kualitas air meliputi: Temperatur. sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen badan perairan dan bau yang tidak enak.1. Berdasarkan definisinya. Sungai Barito Berdasarkan Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun 2007 Oleh BPPLHD Provinsi Kalimantan Tengah Sampel air Sungai Barito yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Mei 2007) diambil di 24 (dua puluh empat) lokasi titik pengambilan yaitu: . 4. Nitrit (NO2). SO4 (Sulfat). Fecal Coli dan Total Koliform. COD (Chemical Oxygen Demand).(Persero) CABANG I MALANG 1. DHL (Daya Hantar Listrik).Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok . 2. pH. Detergen.

Lokasi 24 : Laung Tuhup Sedangkan pada tahap II (September 2007) diambil di 10 (sepuluh) lokasi titik pengambilan yaitu : .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 10 : Kandui .Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 7 : Sungai Pendang .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 8 : Bintang Linggi .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -160 .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 16 : Muara Lahei .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 15 : Lahei .Lokasi 19 : Sungai Lumuk .Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan .

74 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap I (Bulan Mei 2007) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -161 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.

Kapuas .2.Lokasi 6 : Masaran Hulu Sedangkan pada tahap II (Oktober 2007) diambil di 9 (sembilan) lokasi titik pengambilan yaitu : .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.Lokasi 1 : K.75 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap II (Bulan September 2007) 2.10.Lokasi 5 : Masaran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -162 .Lokasi 5 : Masaran .Lokasi 2 : P.Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 4 : Timpah . Tilu . Sungai Kapuas Sampel air Sungai Kapuas yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Juni 2007) diambil di 6 (enam) lokasi titik pengambilan yaitu: .Lokasi 2 : P.Lokasi 1 : K.Lokasi 4 : Timpah . Kapuas . Tilu .

1 Bentuk DAS Bentuk DAS dapat dinyatakan dengan menggunakan nilai Rc (Ratio circularity) yang mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman puncak discharge banjir. Bentuk DAS sebenarnya sukar untuk dinyatakan secara kuantitatif.Lokasi 9 : Mandomai Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Tabel 2.11 KONDISI WS BARITO DAN KAPUAS 2. dapat dibuat suatu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -163 .11.Lokasi 8 : Timpah Hulu .(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 7 : Masaran Hilir .76 Kualitas air di WS Kapuas 2.11.1 Kondisi DAS Barito 2. Dengan membandingkan konfigurasi basin.Lokasi 6 : Masaran Hulu .1.

maka nilai RE untuk DAS Barito adalah 0. Karakteristik bentuk DAS Barito tersebut dapat dilihat juga dari faktor diameter. hampir semua Sub Sub DAS mempunyai bentuk memanjang yang cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir relatif cepat dan kurang baik menyimpan air kecuali Sub Sub DAS Balangan dan Sub Sub DAS Tapin serta Sub DAS Martapura dan DAS Barito secara keseluruhan. Dari perhitungan nilai Rc dan RE tersebut di atas. Hal ini menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai bentuk memanjang agak membulat/lingkaran. maka bentuk DAS tersebut adalah cenderung membulat.(Persero) CABANG I MALANG indeks yang didasarkan paa circularity DAS. sedangkan pada musim kemarau diatas rata-rata normal dapat menyebabkan terjadi kekeringan lebih cepat dibandingkan dengan DAS yang mempunyai bentuk memanjang.594. walaupun pada kondisi tertentu dapat menyebabkan terjadinya banjir dan kekeringan. dimana kondisi DAS yang demikian kadang kurang dapat menyimpan air dengan baik.5.5 maka bentuk DAS tersebtu adalah memanjang dan apabila nilai Rc lebih besar dari 0. Dengan memperhatikan panjang dan lebar serta diameter DAS tersebut.04 km. hal ini berarti bahwa karakteristik DAS Barito mempunyai bentuk memanjang yang menunjukkan pola aliran dan puncak discharge banjir yang cepat menuju sungai utama. Jika DAS berbentuk lingkaran maka indeks bentuk DAS mendekati nilai 1 dan atau apabila nilai Rc lebih kecil dari 0. lebar dan panjang sungainya melalui perhitungan (Elongation Ratio). didapat panjang DAS Barito adalah 1. yaitu memanjang agak membulat/lingkaran. Sub DAS dan DAS yang memanjang agak membulat/lingkaran tersebut cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir yang relatif lambat baik dalam penyimpanan air dibandingkan dengan Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang. Secara keseluruhan Nilai Rc yang menggambarkan bentuk DAS Barito adalah 0.312. bila lembah sungai tidak dapat menampung aliran air permukaan. maka mudah terjadi kenaikan debit yang mencolok dan hal ini akan menyebabkan timbulnya genangan dan banjir.562.937 km dan lebar adalah 121. terutama bila terjadi hujan yang merata di bagian hulu dengan curah hujan yang tinggi. Bentuk Sub Sub DAS. karena waktu konstentrasi curah hujan melalui debit alirannya cenderung pendek. Berdasarkan hasil analisa planimetris dan GIS dengan menggunakan peta RBI dan peta topografi. terutama jika Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -164 . artinya pada musim hujan mudah mengalami banjir di bagian hilirnya. Bila hujan merata.

pengalirannya. Secara umum panjang sungai utama. lebar DAS dan bentuk DAS Barito disajikan pada tabel berikut : dimana makin panjang sungai makin besar wilayah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -165 .973 km.298 km. yaitu 208. Diantara Sub DAS yang ada. Selanjutnya pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS sungai utama yang dimaksud adalah sungai yang membentuk Sub DAS dan Sub Sub DAS tersebut.945 km dan memanjang mulai dari bagian hilir/muara sungai di Kota Banjarmasin sampai di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong yang seterusnya memasuki wilayah Provinsi Kalteng. Panjang sungai menentukan besarnya wilayah pengaliran sungai dan pengelolaannya.(Persero) CABANG I MALANG kondisi musim hujan dan musim kemarau berada di atas rata-rata normal. sedangkan sungai utama Sub Sub DAS Amandit adalah Sungai Amandit dengan panjang 98. Sebagai contoh sungai utama Sub DAS Martapura adalah Sungai Martapura dengan panjang 69.298 km. sungai utama terpanjang adalah sungai yang terdapat di Sub DAS Negara.378 km dan yang terpendek adalah sungai Martapura yaitu 69. Sungai utama yang membentuk DAS Barito adalah Sungai Barito dengan panjang 153. Dengan demikian secara keseluruhan DAS Barito mempunyai bentuk memanjang dan agak membulat/lingkaran yang dibentuk oleh Sub DAS dan Sub Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang serta bentuk memanjang agak membulat/lingkaran. begitu seterusnya untuk masing-masing Sub DAS dan Sub Sub DAS yang lainnya.

77 Tabel bentuk/nilai Rc DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No DAS/ Sub DAS/Sub Sub DAS DAS BARITO S.326 0. September 2003 2.DAS Tabalong Kanan S.822 Nilai Rc 0.DAS Danau Panggang S.973 95.DAS Balangan S.712 15. Meskipun tampak bahwa urutan Sub DAS berkaitan erat dengan karakteristik DAS lainnya.298 98.302 0.467 0.S.9806 16.228 0.675 155. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.607 67.DAS Barito Tengah S.681 12.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Oleh karena itu.S.006 208.S.04 22.869 13.2 Jaringan Sungai Berdasarkan Asdak C (2002).DAS Riam Kanan S. semakin luas wilayah Sub DAS dan semakin banyak percabangan sungai yang terdapat di dalam DAS yang bersangkutan.378 66.275 0.DAS Batang Alai S.226 0..296 70.909 7.354 144.322 0.358 0.312 0.DAS Negara S.DAS Barito Hilir Ds S.322 0.914 14.315 0.94 92.813 Lebar DAS ( km ) 121.378 126.316 97.17 0.207 38.276 12.891 14.11.226 Nilai RE 0.S. Respon tersebut diwujudkan dalam bentuk kurva hidrograf aliran yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kondisi hidrologi DAS yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -166 . anak sungai di bagian atas akan bersambung dengan anak sungai yang lebih besar di bawahnya.264 0.S.311 0.55 0.469 0.DAS Riam Kiwa S.403 0.33 0.649 69.DAS Martapura S.336 0.436 0. Kalsel)’.578 11.028 208. III.274 0.562 0. II. Dengan demikian semakin besar angka urutan. suatu DAS dapat terdiri dari Sub DAS urutan pertama. kebanyakan pakar hidrologi beranggapan bahwa tidak ditemukan bukti yang cukup untuk mengaitkan sistem urutan Sub DAS dengan perilaku air larian di daerah tersebut.S.982 18.364 I.271 13.S.556 0.1.38 0.756 52. 1 2 3 IV.219 0.S.391 0.S. Setiap anak sungai menghasilkan hidrograf aliran yang menunjukkan respon DAS terhadap curah hujan.DAS Alalak S.DAS Tabalong Kiwa S. Dalam suatu DAS.389 0.945 83.DAS Tapin S.341 0. kedua dan seterusnya.DAS Bahalayung Panjang Sungai Utama (km) 153.S. mengatakan bahwa kedudukan aliran sungai dapat diklasifikasikan secara sistematik berdasarkan urutan daerah aliran sungai.442 0. Sistem klasifikasi Horton berawal dari urutan pertama dan selanjutnya meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah percabangan aliran air atau anak-anak sungai.DAS Amandit S.242 98.269 8.512 0.S. dimana setiap aliran sungai yang tidak bercabang disebut Sub DAS urutan / ordo pertama.

483 IV-I III-I III-I III-I 8.861 1193.DAS Tapin S.039 6.935. 1.239 1.DAS Martapura S.290 1.021 0.75 43 32 35 8 5.306 6.295 7. Secara rinci keadaan jaringan sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Tabel 2. Debit puncak untuk satu anak sungai mungkin telah terlampaui.877 5.865 7.458 10.444 18 1 1 7.DAS Riam Kanan 3. aliran air dari kedua anak sungai tersebut tidak terjadi secara bersamaan.205 IV-I III-I III-I 4.313 IV-I 1.DAS Alalak S. Ketika anak sungai bergabung dengan anak sungai lain dibawahnya.221 Dd (km/km2) Rb 1-2 Rb 2-3 Rb 3-4 Rb 4-5 Wrb Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -167 .329.360 1.146 12. 1.354 743.790 4.004 1.78 Keadaan Jaringan Sungai Pada DAS Barito di Provinsi Kalsel. S.S.442 0.855 0.(Persero) CABANG I MALANG bersangkutan.771 5.253 67 1 1 5.286.254 124 12 55 1 6.385 57 14.889 13.DAS Balangan III-I 1562. 2.281 32 10.DAS Amandit S.S.842 0.986 III-I 2.126 6. 3.939 IV-I 953.130.023 5.DAS Barito Tengah III.DAS Riam Kiwa IV.593.891 1.213. No DAS/ Sub DAS/ Sub Sub DAS Orde Sungai Panjang Sungai Total (km) I. sementara pada anak sungai berikutnya debit puncak akan segera terjadi.DAS Batang Alai 4. S.514 26. S.S. S.S.DAS Negara S.937 1203.S. Pengaruh ketidaksamaan waktu terjadinya debit puncak pada masing-masing anak sungai tersebut akan menurunkan besarnya debit puncak total pada sungai utama (sungai yang menampung kedua anak sungai tersebut).S.166 6.919 0. S.807 6.604 0.343 4. S.DAS Barito Hilir Ds II.449 1.S.40 10. 2.

Semakin banyak jumlah alur sungai per satuan luas menunjukkan tingkat kerusakan lahan yang semakin tinggi.687.S.59.DAS Danau Panggang Ds III-I 655. sedangkan pada setiap Sub DAS sungainya mempunyai 4 (empat) ordo dan pada Sub Sub DAS sungainya mempunyai 3 (tiga) ordo. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan ordonya. Perbandingan panjang sungai total mulai orde I sampai Ordo V adalah Ordo I dengan panjang sungai 11. Rb 2-3 mempunyai nilai 19. sehingga jumlah sungai pada ordo 3 ada kemungkinan daya tampung sungainya tidak mampu menerima aliran permukaan air tersebut dan kemungkinan akan terjadinya genangan pada daerah ini.819 7.428 21 - - 8. S.275 km. Ordo II dengan panjang sungai 2.S.196.400 15 - - 7.0.497 5. Hal ini menunjukkan bahwa muka alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat dan demikian dengan penurunannya akan terjadi dengan cepat pula.828 0. Banyaknya jumlah alur sungai menggambarkan tingkat torehan aliran permukaan dan kerusakan atas lahan di daerah hulu.016 km.S. S. atau dengan ratio 73 : 17 : 3 : 1. Rb 3-4 mempunyai nilai 5.(Persero) CABANG I MALANG 5.492 3. ordo III dengan panjang sungai 1.222 27 - - 9.23.DAS Tabalong Kiwa III-I 816. September 2003 Berdasarkan tabel diatas. Kalsel)’. tetapi pada ordo 2 ke 3 terjadi perubahan ordo yang cukup besar (mempunyai Rb yang lebih tinggi daripada Rb pada ordo yang lain / Rb 2-3 = 19.5 dan Rb 4-5 mempunyai nilai 4.307 6.609 0. S. maka pada ordo sungai 1 ke 2.516 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. 3 ke 4 dan ordo 4 ke 5.269. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -168 . jumlah sungai masih dapat menampung aliran air.696 4. Bila pada daerah sekitar ordo sungai terjadi hujan merata dan deras.161 0. maka panjang sungai akan semakin panjang dan bercabang.945 km. dapat dilihat bahwa DAS Barito dapat dirinci menjadi 5 (lima) ordo.DAS Tabalong Kanan III-I 855. yaitu Rb 1-2 mempunyai nilai 5.23). Sedangkan ratio percabangan sungai dapat ditunjukkan dengan nilai Rb masing-masing ordonya.621 km dan ordo V dengan panjang sungai 153. ordo IV dengan panjang sungai 431.001 km.

pelebaran lembah sungai. dikatakan bahwa jika nilai kerapatan aliran lebih kecil dari 1 mile/mile2 ( 0. Sub DAS Barito Tengah. DAS Barito mempunyai jumlah alur sungai yang banyak dan panjang pada bagian hulu atau pada ordo I sampai ordo III dan keadaan ini terjadi juga pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS.488. Menurut Lynsley (1949). artinya bahwa semakin besar jumlah air larian total (semakin kecil infiltrasi) akan semakin kecil air tanah yang tersimpan di daerah tersebut. yaitu Sub Sub DAS Tabalong Kanan. jika nilai Dd antara 0. seperti Sub DAS Barito Hilir. dan jika lebih besar dari 10 km/km2 termasuk kategori tinggi yang berarti jumlah curah hujan yang menjadi aliran akan menjadi besar. sehingga diperlukan upaya pencegahan terhadap terjadinya genangan. dapat menyebabkan limpasan dan genangan. Dd mempunyai korelasi dengan perilaku laju air larian. seperti langkah-langkah penanggulangan melalui pelurusan/normalisasi sungai yang berkelok-kelok. termasuk sampai pada tingkatan Sub DAS. Dengan demikian. maka DAS tersebut akan sering mengalami kekeringan. maka DAS tersebut akan mengalami penggenangan sedangkan jika lebih besar dari 5 mile/mile2 (3.62 km/km2). Keadaan ini menunjukkan bahwa torehan aliran permukaan dan kerusakan lahan cukup intensif. Bila pada daerah ini terjadi hujan yang merata dengan jumlah curah hujan yang tinggi serta waktu konsentrasinya cepat. penertiban hunian di sempadan sungai dan upaya lainnya.(Persero) CABANG I MALANG Pada umumnya. Sedangkan menurut Soewarno. Kerapatan sungai dan kepadatan aliran yang terjadi di DAS Barito ditunjukkan dengan nilai Dd yang terjadi. Hal ini berarti bahwa secara keseluruhan DAS Barito tidak mudah terjadi penggenangan maupun kekeringan. yaitu termasuk kategori sedang dengan indeks 1.25 – 10 km/km2 termasuk kategori sedang. Sub Sub DAS Bahalayung dan Sub Sub DAS Danau Panggang. Secara umum. terutama pada daerah yang dilalui oleh sungai pada ordo I sampai ordo III. Sub Sub DAS Tabalong Kiwa. semakin besar nilai Dd akan semakin baik sistim pengaliran (drainase) di daerah tersebut.10 km/km2). sehingga diperlukan upaya konservasi tanah yang baik dan perlu dicadangkan sistem drainase dan daerah resapan air. jumlah air larian total yang terjadi dan jumlah air tanah yang tersimpan. Walaupun demikian pada beberapa Sub Sub DAS masih terdapat potensi untuk terjadinya genangan. Sub DAS Martapura dan Sub DAS Negara. karena alur sungai pada ordo III kurang cukup menampung jumlah aliran tersebut. dimana daerahnya mempunyai kerapatan sungai yang kecil. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -169 .

yaitu 1 meter dari permukaan laut. yaitu 1. Secara umum rincian perbedaan ketinggian DAS Barito disajikan pada tabel berikut.257 3 2 5 2 6 1. 1.137 1. Tabel 2.DAS Bahalayung 9 2 7 81o10’ 61 2 59 195o05’ 890 16 874 197o00’ 1. Sedangkan beda tinggi maksimum dan terendah pada masing-masing Sub DAS bervariasi.S.S. 3. 2. S.S.256 m.251 1.DAS Barito Tengah S. dengan demikian beda tinggi DAS barito adalah 1.DAS Alalak S.230 3 1 1 275 1. sedangkan tempat yang tertinggi terdapat di Kabupaten Tabalong.79 Ketinggian dan Arah DAS Barito di Provinsi Kalsel No DAS/ Sub DAS / Sub Sub DAS Tinggi Maks (m) I.DAS Batang Alai S.259 270o00’ 279o40’ 287o55’ 273o35’ 204o05’ 278 1.S.138 1.158 1. IV.3 Ketinggian dan Arah DAS Ketinggian tempat di daerah hilir DAS Barito terdapat di Kabupaten Barito Kuala.DAS Martapura S.1.S.DAS Negara S. S.DAS Riam Kanan S. III. 4.093 1.156 1.S. 5.093 1. 2.S. S.251 1. II.DAS Balangan S.045 1.S.042 1.S.S.257 meter diatas permukaan air laut. S.DAS Amandit S.DAS Tabalong Kanan 6.DAS Tabalong Kiwa 7.(Persero) CABANG I MALANG 2.DAS Riam Kiwa S. 1.DAS Barito Hilir Ds S. 3.S.DAS Tapin S.DAS Danau Panggang Ds 8.11.229 255o50’ 255 50’ 276o25’ o Tingi min (m) Beda Tinggi (m) Arah/Orientasi (Azimuth) 13 17 1 2 12 15 206o50’ 209o55’ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -170 .

seperti pada Sub Sub DAS Alalak. Gradien sungai digunakan untuk menggambarkan kecepatan aliran dalam suatu DAS. Batang Alai. Semakin besar gradien sungai suatu DAS. yaitu pada bagian hulu beberapa Sub Sub DAS mempunyai ketinggian diatas 1. maka kecepatan aliran dalam suatu DAS akan semakin tinggi. Dan lainnya berkisar antara 9 sampai 890 m diatas permukaan air laut. Perhitungan gradien sungai dapa diperoleh dengan slope faktor. yaitu dengan menghitung lereng saluran antara 10% dan 85% jarak dari outlet. Juga dapat dilihat bahwa pada bagian hulu DAS Barito. Sub Sub DAS Batang Alai. Sub Sub DAS Amandit. seperti Sub Sub DAS Tapin. Batang Alai. Balangan dan Tabalong Kanan pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic : Fine. Kalsel)’.(Persero) CABANG I MALANG Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. September 2003 Berdasarkan tabel diatas. begitu pula sebaliknya. walaupun demikian pada beberapa Sub DAS terdapat beberapa pola aliran yang lain. Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o50’ sampai 204o05’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir kearah utara di bagian hulunya. dapat dilihat bahwa ketinggian maksimum terdapat pada Sub Sub DAS Tabalong Kanan dan ketinggian minimum terdapat pada Sub Sub DAS Riam Kanan dan Sub Sub DAS Riam Kiwa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada Sub-sub DAS Alalak. Balangan dan Tabalong Kanan sistem drainase yang terbentuk adalah Sedang. 2. Secara rinci keadaan pola aliran sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -171 . dan Sub Sub DAS Tabalong Kanan. kemudian Sub-sub DAS Bahalayung pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic: Medium to fine dengan sistem drainase yang terbentuk adalah Ringan.1.11.000 m di atas permukaan air laut.4 Pola Aliran dan Gradien Sungai Secara keseluruhan pola aliran sungai yang terjadi pada DAS Barito adalah Dendritic : Medium. Sub Sub DAS Balangan. dimana kondisi ini menunjukkan bahwa sistem drainase yang terbentuk ringan.

S.25 LWL 2.1 2.DAS Barito Tengah S.DAS Alalak S. 1 2 3 IV.DAS Negara S. Kalsel)’.DAS Danau Panggang Ds S.20 m 2.S.DAS Amandit S.DAS Bahalayung Pola Aliran Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Fine Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Medium to fine Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.DAS Tapin S.8 3.1 3.6 4. Fluktuasi muka air di sungai adalah sebagai berikut : Tabel 2.88 m/dt Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -172 .DAS Riam Kiwa S.55 4. III.S.S.S.4 Mean 3.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.11. II.DAS Balangan S.S. 2002 Selama periode pengamatan.S.9 3.DAS Tabalong Kanan S.S.2 Kondisi DAS Kapuas Sungai utama yang berpengaruh mempunyai lebar sekitar 250 – 300 m dengan kedalaman sekitar 10 – 15 m.30 m 2. pada beberapa tempat bisa mencapai kedalaman 20 m.DAS Barito Hilir Ds S. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/ Sub Sub DAS S.S.DAS Martapura S.1 Kisaran 2.S.80 Pola Aliran dan Gradien Sungai DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I.2 5.00 m Ket Sumber : Manual OP Proyek PLG. September 2003 2. kecepatan air maksimum yang pernah terjadi di Sungai Kapuas 0.S.1 1.81 Fluktuasi Pasang Surut Muka Air Sungai Kapuas Sungai Kapuas Spring Tide Muka Air Kemarau Musim Hujan HWL 5 5.30 m Neap Tide Kemarau Musim Hujan 4.DAS Tabalong Kiwa S.DAS Riam Kanan S.DAS Batang Alai S.

12 ASPEK PENDAYAGUNAAN / PEMANFAATAN SDA Pemanfaatan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas saat ini terdiri dari beberapa kegiatan antara lain pemanfaatan untuk rumah tangga. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang di dipertimbangan pembangunan perdesaan. a) Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. dan masyarakat dalam pembangunan agrobisnis dan agroindustri.12. maka pemerintah menetapkan kawasan-kawasan potensial yang dijadikan sentra produksi unggulan dan diharapkan menjadi salah satu tiang perekonomian wilayah. dalam daerah khususnya penetapan dan bagi ini adalah. tanggal 10 Desermber 1999. telah menetapkan lokasi-lokasi KSP.12.1 Kebijakan Penetapan Kawasan Sentra Pengembangan Dalam rangka mendukung pengembangan sektor pertanian yang masih mendominasi produk domestik bruto wilayah ini. Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah. swasta. kolam ikan dan energi listrik berupa mikro hidro.(Persero) CABANG I MALANG 2. yang untuk mata mengembangkan masyarakat meningkatkan penduduk pendapatan pencahariannya terkait dengan sektor pertanian pangan dan perikanan.1. sebagai berikut : Kawasan Sentra Produksi Tabalong. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -173 .1 Rencana Pengembangan Irigasi dan Pertanian 2. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”. 2. perkotaan dan industri serta kebutuhan air untuk irigasi.

Binuang Marabahan. Daha Kedelai Selatan. Astambul Simpang Empat. kelapa dan ubi kayu. Kedelai Pandawan.2 b) Pengembangan Kawasan Prioritas Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Barabai.207 19. melinjo.6 8 Tala Kotabaru – Tanah Laut. jeruk Kandangan Bt.4 139. Perkebunan. Tapin tanah Selatan. Kusan hilir. Pengaron.675 55. tambak. kacang tanah.Alai Utara. kacang Batung.2 4 6. Rantau Badauh. HSU KAB.9 7 Tala Tanah Laut 8. rambutan. a) KSP Kapuas. Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri. perikanan darat Jagung.3 65. Batu Ampar. Batu licin P. padi sawah Cerbon.2 LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT.4 123. Peternakan (itik) Batu Mandi. Laut Barat 1.6 63. Wanaraya.3 5 Batola Banjar – Barito Kuala 3. Karang Intan. Satui.792 86. Jorong Kintap. Muara Kedelai.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.8 HSU 2 HST – HSS HST HSS 3 HSS – Tapin HSS Tapin 1 HSS – Tapin HSS Tapin 2 3. Loban.963 110.966 55. Sei Pandan. Takisung. S. KAWSN 1.76 55. serta Kecamatan Pandih Batu dan Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. ternak sapi Runput laut. Danau Panggang Jagung. rambutan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -174 . ternak sapi Perikanan. nenas. P. Tabalong JENIS KSP LOKASI KECAMATAN Tanjung. Piani. Kelua Pugaan Perikanan darat Lampihong. Penyipatan. Amuntai Tengah.82 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong.189 28 55. meliputi Kecamatan Selat. Harus.1 118. Padang Jeruk. Labuan Amas Selatan Daha Utara. Kotabaru 10.167 30. Banjang. Perikanan. Labuan Amas Utara. Bakumpai. Basarang. Mandastana Sungai Tabuk. perikanan laut 5.94 32. dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas). Laut Selatan. Candi Laras Selatan Laksado. Jeruk. perikanan laut. Aranio Pelaihari.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61. Babirik. Anjir Pasar.3 40. Sungai Pinang.4 Banjar 6 Ba\njar Banjar Pisang.

Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya. pisang. d) KSP Buntok. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -175 . jagung. Kawasan KAPET DAS KAKAB . ayam buras. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). pisang.767. f) KSP Tamiyang Layang. meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. c) KSP Muara Teweh. Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2. meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. ayam buras. lada dan ayam buras. kelapa. rambutan. Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. dan ikan perairan umum.(Persero) CABANG I MALANG b) KSP Ampah. sapi. kedelai. lada. h) KSP Benangis. dan ikan kolam. dan ayam buras. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito). meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. g) KSP Puruk Cahu. Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. e) KSP Kandui.650 km2). Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa.

329 629 785 1.225.673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan.25 45.84 Luas Lahan Irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Ha 3.1.92 65.03 506.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1.50 66.042.83 Luas Kapet DAS Kakab NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1. d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III.924.970.20 4.2 Potensi Lahan Irigasi (Upland Irrigation) a) Provinsi Kalimantan Tengah Di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.20 55.92 Ha atau sebesar 45. Pada tahun 2002 luas lahan yang ditanami menurun menjadi hanya 41.81 41.00 1. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I.446.00 5.319.60 41.39 1.50 63. pada tahun 2001 sebesar 66. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II.065 1. total luas baku dari lima kabupaten adalah 148.100.976.099 1.444.20 1.00 54.15 44.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.802.845. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang.071 1.234.057.00 799.956 2.81%dari luas baku lahan irigasi.10 4.00 66.552.15%.000.25 1.00 148.00 558.125.125.12. Tabel 2.00 1.570.128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2.00 1. 2.250.02 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -176 .225 Ha.829 27.00 137.00 61. Sedangkan lahan yang ditanami.683 949 4.924.121.016 6.35 60.75 3.

795 16. Sei Jaing.334 25.204 19.544 388 547 0 2. II. dan jaringan irigasi yang berproduksi adalah seluas 31.367 Ha.464 833 191 413 27 0 604 TABALONG 1. IV.779 6.204 21.012 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -177 .539 922 22.090 5. Sei Riam. Sei 21.869 HULU SUNGAI TENGAH 7. Sementara pemeliharaan untuk jaringan eksisting adalah seluas 24.724 6.691 6.435 Sei Teratai.090 5. Lahan yang masih memerlukan investasi untuk pengembangan jaringan baru adalah 22.257 5.896 68.901 1. Sei Sawarangan. VI VII 1/ 2/ 3/ LUAS LUAS SAWAH BELUM DPT JD TDK DPT JD CABANG DINAS DAERAH JAR BARU PENINGKATAN BAKU SWH JAR IRIGASI SAWAH SAWAH SAWAH IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 7 8 9 10 11 12 13 BANJAR 26. dan peningkatan seluas 5.579 4.170 199 HULU SUNGAI UTARA 1.718 287 126 18.028 6.090 6.894 6.775 4. III.367 68.108 279 0 258 0 279 TOTAL 53.155 8.435 SUMBER AIR VII TANAH LAUT TOTAL 53.894 6.231 19. V. Sei Sawarangan. Tabel 2.231 2.236 1.487 3. II.607 HULU SUNGAI SELATAN 5.(Persero) CABANG I MALANG b) Provinsi Kalimantan Selatan Luas daerah irigasi di Provinsi Kalimantan relatif lebih luas dibandingkan di Provinsi Kalimantan Tengah.179 5.469 44.460 24.155 TABALONG 1. V. Sei Barabai Sei Balangan. Sei Sawarangan. Sei Namun.464 1.257 22.236 1.779 11.865 8.896 Ha.231 2.901 9. Sei Kinarum. sehingga total luas produktif menjadi 100.005 TAPIN 8.624 31. III.86 Potensi Lahan Pertanian di Kalimantan Selatan NO 1 I. Sei Mihim.257 Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi lahan yang sangat luas.625 HULU SUNGAI UTARA 1.689 192 146 54 0 338 HULU SUNGAI TENGAH 7.901 855 415 0 115 0 415 TANAH LAUT 2. Sei Asam-Asam.464 1.724 9.460 Ha.85 Pemeliharaan Jaringan Irigasi di Kalimantan Selatan No 1 I.012 Ha.901 17.184 53 146 342 1.028 14.775 PEMELIHARAAN 24.645 122.247 2.539 5. Sei Amandit Sei Batang Alai. Sei Pitap Sei Jaro. Sei Kintap Kecil. IV.378 17.460 PENINGKATAN 5.378 6. Tabel 2. Perincian ini dapat dilihat pada tabel berikut.460 4.775 Ha.624 Ha.901 2.464 6.579 6.257 ha.775 JARINGAN BARU 22.207 11.869 11.231 1. Sei Sabuhur. Sei Bakar.090 4.901 1.367 24. Sei Tabanio.624 31. Sei 100.600 935 HULU SUNGAI SELATAN 5.179 5. VI LUAS EKSISTING LUAS BARU LUAS TOTAL CABANG DINAS DAERAH BAKU RENCANA BAKU RENCANA BAKU RENCANA IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 4 5 6 7 8 BANJAR 26.847 TAPIN 8.824 2.474 2. Sei Mihim.573 4.691 8. dengan luas baku 53. Sei Nahiyah.865 8.469 17.725 4.520 9 Sei Riam Kanan Sei Tapin Sei Kayu Habang. dimana lahan yang telah diidentifikasi adalah seluas 68.

36.1 Provinsi Kalimantan Selatan Secara aktual.2 Air Bersih 2. maupun ekonomi dari tahun ke tahun semakin meningkat.2. Konsekuensi logis. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -178 . sosial. Peta Daerah Irigasi WS Barito-Kapuas 2.12. perlu upaya penyeimbangan antara kebutuhan (demand) dan penyediaan (supply) akan prasarana dan sarana kota/kawasan dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan.12.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. pertumbuhan dan perkembangan kota /kawasan di Provinsi Kalimantan Selatan saat ini baik fisik.

737. Sehingga diharapkan adanya perbaikan sistem pemberian air pada daerah perkotaan.918 jiwa (64. Indonesia pada tahun 2015 diharapkan dapat memenuhi target pemenuhan pelayanan air minum menjadi 80% di daerah perkotaan dan 40% di daerah perdesaan.09% dari jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Selatan.(Persero) CABANG I MALANG Secara makro perlu diadakan kajian studi terhadap aspek air baku.969. terutama di Kota Banjarmasin. Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah 3.902. jumlah penduduk di perkotaan mencapai 35. keuangan.110 jiwa (35.09%) tinggal di perdesaan.028 jiwa. Dari jumlah tersebut. sekitar 1. Salah satu prasarana dan sarana permukiman di perkotaan yang paling strategis adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Lemahnya kinerja PDAM pada dasarnya disebabkan oleh berbagai aspek yang secara umum dapat dikelompokkan pada aspek teknis – teknologis. Berdasarkan agenda KTT Bumi 2002 di Johannesburg. Kondisi saat ini. sedangkan sekitar 1. Menyimak dari data tersebut. Rendahnya kinerja pelayanan air minum bagi masyarakat perkotaan yang pelayanannya dilakukan oleh PDAM telah mendorong pemanfaatan air tanah dangkal oleh sebagian besar kelompok rumah tangga (sekitar 85%) dan air tanah dalam oleh sebagian besar kelompok non rumah tangga. yang terdiri dari 13 kabupaten /kota mempunyai penduduk pada tahun 2000 sejumlah 2. angka tersebut mungkin saja akan meningkat sejalan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan di perkotaan. Secara mendasar dikembangkan dalam Gambar 2.743 Ha. sumber Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Desa (% ) Target Pemenuhan Kota (% ) 8 40 39 80 pembiayaan aspek dan yang yang penangan pada aspek sifatnya serta manajemen kelembagaan pendekatan prioritas adalah yang ada. prosentase pemenuhan kebutuhan air minum adalah 39% di perkotaan dan masih 8% di perdesaan. Untuk tahun-tahun mendatang. terhadap rangkaian studi yang telah dilaksanakan maupun yang sedang berjalan.37 Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS substantif yaitu aspek II -179 .066.19%) tinggal di perkotaan.

Negara Kabupaten Tanah Laut 1) BNA Pelaihari 2) IKK Penyipatan 3) IKK Batuampar 4) IKK Bati-bati 5) IKK Jorong 6) IKK Takisung 6 7 Kota Banjarbaru BNA Banjarbaru (Banjarbaru Banjar) Simpang Empat (Banjarbaru) IKK Landasan Ulin (Banjarbaru) IKK Dalam Pagar (Banjarbaru) 8 / Sei Barito Sei Barito Sei Barito Sei Negara Sei Anjir Sei Andai Sumur Dalam Sumur Dalam 9 Kabupaten Banjar 1) BNA Banjarbaru (Banjarbaru / Banjar) 2) IKK Astambul (Banjar) 3) IKK Mataraman (Banjar) 4) IKK Pengaron (Banjar) 5) IKK Gambut (Banjar) 6) IKK Sungai Tabuk (Banjar) 7) IKK Karang Intan (Banjar) 2) IKK Rantau Badauh 3) IKK Cerbon 4) IKK Lepasan 5) IKK Anjir 6) IKK Alalak 7) Desa Kolam Kiri 8) Desa Surya Kanta 10 Kota Banjarmasin 1) IPA – I (A Yani) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) IPA – II (A Yani) MTP Kayu Tangi MTP Sei Lulut MTP Sutoyo S MTP S. Balangan S. Sumber : Tahun Anggaran 2004. Negara 3 1) 2) 3) 4) 5) 6) 5 Kabupaten Hulu Sungai Selatan BNA Muara Banta IKK Padang Batung IKK Angkinan /Telaga Langsat IKK Daha Selatan dan Daha Utara IKK Kalumpang IKK Simpur dan Sungai Raya S. Propinsi Kalimantan Selatan”. Amandit / S. Balangan S. IKK. Balangan S. Parman MTP Jahri Saleh Sumur Bor Ulin Sumber : “Identifikasi Kegiatan Optimalisasi Untuk Penyehatan PDAM.(Persero) CABANG I MALANG teknik – teknologis dengan tetap memperhatikan aspek manajemen dan kuangan. Panggang S. Tabel 2. Balangan S. Negara D. di Provinsi Kalsel No 1 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Nama Kab dan PDAM Kab. Bagpro Pembinaan Prasarana dan Sarana Permukiman Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -180 . Negara S. Tabalong BNA Agung IKK Tanta IKK Belimbing IKK Kelua IKK Muara Harus IKK Benua Lawas IKK Jaro IKK Muara Uya Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Air Gunung Sumur Bor Sumber Air Nama Kab dan PDAM Kab Hulu Sungai Utara dan 2 Balangan 1) BNA Amuntai (HSU) 2) IKK Alabio 3) IKK Danau Panggang (HSU) 4) IKK Babirik (HSU) 5) IKK Paringin (Balangan) 6) IKK Lampihong (Balangan) 7) IKK Awayan (Balangan) 8) IKK Juai (Balangan) 9) IKK Halong (Balangan) 10) IKK Batumandi (Balangan) 11) IKK Gunung Pandau 12) IKK Rantau Bujur 4 Kabupaten Hulu Sungai Tengah 1) BNA Barabai 2) IKK Pandawan Baru 3) IKK Batu Benawa 4) IKK Kasarangan 5) IKK Haruyan 6) IKK Batang Alai Selatan 7) IKK Batang Alai Utara Kabupaten Tapin 1) PDAM Rantau /BNA Bungur 2) IKK Binuang 3) IKK Tapin Selatan 4) IKK Tapin Tengah 5) IKK Candi Laras Utara 6) IKK Candi Laras Selatan 7) IKK Bakarangan 8) IKK Batu Hapu 9) IKK Lokpaikat Kabupaten Barito Kuala 1) BNA Marabahan Sei Barabai Sei Pagatan Sei Kasarangan Sei Haruyan Sei Kambat Sei Batang Alai Sei Hung Sei Tapin Danau/bendung Sei Rutas Sei Tatakan Sei Negara Sei Negara Sei Mangkul Sei Tapin No Sumber Air S. Balangan S. Balangan S. Balangan S.87 Daftar PDAM. Balangan S. dan Sumber Pengambilan Air dalam Wilayah DAS Barito.

527 26.623 22.22 17.623 KK dari total KK sebanyak 26.663 31.000 50.000 20.2.296 KK pada tahun 2007. atau hanya sejumlah 7. Sedangkan di Kabupaten Barito Selatan.663 3.527 8.021 1.021 KK dari 16.252 180.501 26.000 30.000 40.35 Sumber : Hasil analisa 100.261 % terlayani 36. jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 36.38. Untuk Kabupaten Barito Utara.000 Barito Selat an Barito Utara Barito Timur M urung Raya Kapuas 23.39 7.99 13.501 7.504 87.296 7.88% dari total KK yang ada.13% dari total KK.12.000 60. atau hanya 18 % dari total KK di kabupaten ini.000 10.623 3.09 12. Sebagian besar penduduk masih menggunakan air tanah dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. atau sebesar 8.252 Jumlah KK Jumlah Pelanggan Gambar 2.000 90.000 70.527 KK. Tabel 2.13 28.2 Provinsi Kalimantan Tengah Pemenuhan kebutuhan air bersih di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah masih tergolong rendah.479 KK.(Persero) CABANG I MALANG 2.453 10.149 Jumlah Pelanggan 8. yaitu sebesar 28.570 20. Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -181 . jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 28.570 20.88 Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kabupaten Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Jumlah KK 23.296 22.501 KK dari total jumalah KK sebanyak 23. Untuk Kabupaten Barito Timur jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM adalah 3.504 10.453 87.99% dari total KK di kabupaten ini.000 80.021 1.

Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi. a.89 Identifikasi Lokasi Bendungan No. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari rencana bendungan-bendungan ini adalah: Pengendalian banjir kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Pemberian air irigasi untuk pertanian Pembangkit listrik tenaga air Penyedia air baku PDAM Puruk Cahu. Muara Teweh Lahan budi daya perikanan air danau Obyek wisata dan lain-lain c. dan pertanian. perikanan. Lokasi Lokasi bendungan-bendungan yang telah diidentifikasi tersebut adalah: Tabel 2. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. Manfaat Adapun manfaat dari rencana pembangunan bendungan-bendungan ini antara lain: Mengurangi bahaya banjir yang terjadi setiap tahun di kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Memenuhi pasokan kebutuhan listrik untuk meningkatkan perekonomian di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -182 .(Persero) CABANG I MALANG 2. irigasi.12. maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) scheme yang memerlukan kajian lanjutan. 1 2 3 4 Bendungan Muara Juloi Muara Tuhup Lahei Teweh Desa Muara Juloi Muara Tuhup Lahei/Jurubaru Hajak/Liangnaga Kabupaten Murung Raya Barito Utara Barito Utara Barito Utara b.3 Penggunaan Air Lain-Lain Program Pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng.

m 185 85 80 80 BENDUNGAN UTAMA Tipe Rockfill Rockfill Rockfill Rockfill Elevasi Puncak Bendungan El. Benangin River Basin S.1 WADUK HWL El. m 190 90 85 85 MOL El.2 85. Program Pelaksanaan Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut.600. m 125 30 25 20 Tinggi Bendungan m 75 65 65 65 Estimated Net Head m 70 60 60 60 POWER GENERATION Daya Terpasang MW 282. Tabel 2.00 Curah Hujan Tahunan Rerata mm/ th 2.00 2.00 64. Data Teknis Data-data teknis sementara bendungan/waduk tersebut adalah sebagai berikut. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -183 .00 2.Teweh e.5 72.849.Teweh 15 km dari M.(Persero) CABANG I MALANG - Penyediaan lapangan kerja masyarakat kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Timur pada saat pembangunan bendungan.583.523. 2005 2006 2007 2007 - Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968. m 200 100 90 90 Elevasi Dasar Sungai El.00 62.600.600. Barito S.9 10.3 32.00 Debit rata-rata m3/ sec 605.00 tahun Prespective Investigate Prespective Prespective BENDUNGAN MUARA JOLOI MUARA TUHUP LAHEI TEWEH Ds Muara Juloi Ds Muara Tuhup Ds Lahei /Jurubaru Ds Hajak /Liangnaga 60 km dari Tokung 40 km dari Purukcahu 15 km dari M. Barito Panjang Sungai km 169.47 201 189 HIDROLOGI Luas DAS km2 7.3 34 Operasi beban puncak Jam 5 5 5 5 Prakiraan Produksi Energi per MWh 516 18.139.411.00 2.00 767 2. Barito S.9 22. Barito S.600.793.90 Data Teknis Waduk Muara Juloi No A B 1 2 3 C 1 2 3 D 1 2 E 1 2 3 4 5 F 1 2 3 URAIAN UNIT LOKASI Aksesibilitas km SUNGAI Sungai Sei Joloi Sei Tuhup Sei Nganarayan S. dalam rangka peningkatan ekonomi setempat Membuka isolasi penduduk asli pegunungan khususnya suku Dayak yang berada di pegunungan - d.5 88.00 2.

91 Kota-kota Utama yang Berpotensi Mengalami Banjir NO KOTA /LOKASI SUNGAI 1 Banjarmasin Main Stream S. Balangan 8 Tabalong S. Negara 3 Rantau S. Barabai 6 Baruh Batung S. Batang Alai 7 Balangan S. Barito S. Martapura 2 Amuntai S. Tabalong 9 Kuala Kapuas 10 Palangkaraya 11 Buntok 12 Muara Teweh 13 Ampah Sementara itu beberapa kota yang juga mengalami banjir dan memerlukan penanganan serta kajian untuk masa mendatang adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -184 .13 ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Usulan rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS. Tapin 4 Kandangan S. Kota-kota utama yang berpotensi mengalami banjir dan memerlukan penanganan banjir secara serius secara terpadu adalah sebagai berikut : Tabel 2. dan detail desain drainase. Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer. yang dilaksanaan secara bertahap. Amandit 5 Barabai S.(Persero) CABANG I MALANG 2010 2007 2008 2012 2013 Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2.

Karau S. S. Karau S. S. Setelah adanya Balai PSDA.5 m 215 Ha.4 m 155 Ha. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga. Tabal Mainstream Barito. Barito Anak Sungai Temparak Anak Sungai Ayuh Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito S. Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi. Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi.45 m 2. Tabal S. Apabila belum ada. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada. S. S. dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA. Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini. Puring Mainstream Barito. Puring Mainstream Barito. Temparak S. Karau S.14 ASPEK KELEMBAGAAN Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito. Karau S. S.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. 0. S. Tabal Mainstream Barito. Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. Puring Mainstream Barito. Temparak S. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi. Karau S. Karau S. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil. Puring Mainstream Barito. S. Karau Mainstream Barito. yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi. 0. Karau KERUGIAN RUMAH LUAS / TINGGI GENANGAN 4 5 6 7 8 9 Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Dusun Tengah Kec Dusun Tengah 692 65 245 108 545 2615 702 76 370 921 910 52 330 240 706 381 496 687 272 340 162 136 513 262 289 710 491 KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK 150 Ha. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air. Provinsi. Temparak S. Barito Main Stream S. Barito Anak Sungai Benangin Main Stream S. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan. Karau S.92 Kota yang Memerlukan Penanganan Banjir NO KOTA /LOKASI 1 Buntok 2 Muara Teweh 3 Pendang Majunre Reong Parapak Kalahien Buntok Baru Muara Talang Talio Babai Bangkuang Selat Baru Sungai Jaya Majahandu Mengkatif Kelanis Rangga Ilung Rantau Kujang Rantau Bahawung Tabak Kanilan Kayumban Sarimbah Bambulung Tuyau Muara Plantau Tampa Dayu KEC SUNGAI Main Stream S. seperti Unit Hidrologi. 0. Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -185 .

1. Usulan ke Departemen PU 3. Pemuka masyarakat) 6. Perguruan Tinggi. Persetujuan Menteri PU (Setelah mendapat masukan dari Dewan SDA Nasional) 4. Pembentukan Tim Kerja Antar Provinsi (Naskah Kerjasama) 5. ORNOP / LSM. PDAM.(Persero) CABANG I MALANG Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. Boundary of river basin Upper Watershed Reservoir Main River Illegal Housing Boundary of districts LAUT A. Konsultasi Publik / Kab / Kota (Pemda.C = ADMINISTRATION DISTRICT Kerjasama Pengelolaan Wilayah Sungai Antar Provinsi disusun sebagai berikut. Naskah kerjasama disetujui masing-masing Gubernur Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -186 . Pemanfaat air/petani.B. Persetujuan Prinsip Antar Provinsi (Setelah mendapat masukan Ketua Komisi / Fraksi DPRD Provinsi) 2. DPRD. industri.

yang dapat diselesaikan pada tahun 2004. akan dapat dilakukan proses pengembangan yang efisien sehingga diperoleh hasil yang efektif. Rencana Pengelolaan kualitas air g. Dengan demikian melalui konsep Master plan yang mantap. konprehensif antar sektor maupun wilayah administratif serta menyesuaikan dengan penataan ruang wilayah. Pelaksanaan oleh Dinas terkait Beberapa bentuk kerjasama ini dituangkan dalam 4 (empat) scenario yang dapat diterapkan untuk wilayah SWS Barito. Rencana pengembangan irigasi dan pertanian f. Pemenuhan kebutuhan air bersih.(Persero) CABANG I MALANG 7. Rencana pengelolaan transportasi darat e. Tanda Tangan Naskah Kerjasama oleh masing-masing Gubernur 9.1 Maksud dan Tujuan Maksud Merumuskan Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan air baku. dimana alternative ke-3 dan ke-4 cukup aplikatif untuk dilaksanakan. Pembentukan Dewan SDA Provinsi (Gabungan) / Pola Operasi 10. pengembangan daerah irigasi dan rawa. Tujuan Mengembangkan sektor sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito melalui suatu perencanaan yang matang. Rencana pengelolaan transportasi Air d. Persetujuan oleh masing-masing DPRD Provinsi (setelah dibentuk POKJA DPRD) 8. Program pengembangan Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -187 . Untuk mencapai tujuan tersebut di atas disusunlah rancangan Induk Pengembangan Wilayah Sungai Barito Kapuas. pengendalian banjir dan daya rusak air.15. konservasi lahan pada daerah aliran sungai Barito untuk jangka waktu perencanaan sampai tahun 2030. Rencana pengendalian banjir c.15 RENCANA INDUK BARITO 2004 2. Program pengembangan Listrik h. meliputi : a. b. 2.

dan institusi pendukung penyediaan sumber air.50% menjadi 55. Kelebihan produksi ditampung dalam reservoir air bersih – Membuang ground reservoir air bersih dengan daya tampung 600 m3. Pengelolaan DAS Kapuas j. Adapun penanganan-penenganan pada masing-masing wilayah adalah seperti tabel berikut : Tabel 2.02% Jangkauan pelayanan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -188 . Program Pengelolaan Terpadu WS Barito 2.15. Program-program yang diusulkan oleh institusi penyedia layanan distribusi disusun berdasarkan kebutuhan pada tiap IKK yang diusulkan pada tiap kecamatan.2 Garis Besar Masterplan 2004 2. Daerah yang belum terlayani air bersih dan belum terpasang jaringan pipa.2. dan diusulkan dalam program : – Kelurahan Berangas – Desa Sungai Lumbah – Desa Baringin – Desa Pitung (daerah pelayanan dari 3 desa menjadi 7 desa) – Diharapkan meningkat dari 34. ditambah dengan ground kapasitas lama 100 m3.(Persero) CABANG I MALANG i. total 700 m3 – Pengembangan tersebut untuk mengatasi vakum produksi selama 4-5 bulan pada musim kemarau – Pengadaan WTP/IPA dengan kapasitas 25 liter/det dengan total kapasitas terpasang 40 liter/det – Penambahan jar pipa untuk perluasan distribusi ke daerah yang belum terjangkau 2 Kec Alalak / Daerah pelayanan a.1 Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Rencana pengelolaan air bersih ditinjau pada : • • • Rencana investasi penambahan kapasitas instalasi institusi penyedia layanan distribusi.15. Daerah yang sudah dilayani air bersih melalui jar pipa dan diusulkan perluasan : – Desa Handil Bakti – Desa Berangas Timur – Desa Semangat Dalam b.93 Usulan Penanganan Masalah Air Bersih di Kabupaten Barito Kuala No 1 PDAM / IKK KAB/KOTA PDAM IKK Alalak USULAN PENANGANAN – Menambah kapasitas produksi 30 l/det karena kapasitas daya terpasang yang ada sekarang sudah max dibandingkan dengan jumlah daftar calon pelanggan dan pelanggan.

000 579.220 22. PDAM Di Kota Banjarmasin.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.798 1.115 75.935 3.360 19.070 17.000 488.200 15.737 139.642 - 63.776 635 12 22.530 2.94 Analisis Kebutuhan Sistem Penyediaan Air Bersih Banjarmasin.365 8 ( m3 ) 4.785 0 71.500 2004/2005 668.580 7. Berdasarkan Proyeksi Kebutuhan No 1 URAIAN PENDUDUK Total Dilayani PELAYANAN DOMESTIK Total Samb rumah Samb halaman HU KEBUTUHAN NON DOM Total Komersil Sosial institusi Industri PROYEKSI KEBUTUHAN Kebutuhan domestik Kebutuhan non domestik Pelabuhan. dll Rata-rata Hari puncak Kehilangan air PROYEKSI SAMBUNGAN Samb rumah Samb halaman HU Komersil Servis Industri Total Pertamb samb/th KAPASITAS DISAIN Produksi Distribusi KAPASITAS RATA-RATA Total system KEBUTUHAN RESERVOIR Total SATUAN Jiwa Jiwa 1990/1991 480.563 0 1.742 989 5 6 l/det l/det 425 565 1.350 7 l/det 389 1.000 18.855 0 1.772 2.800 Sumber : Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (PPPKT) Kalimantan Sumber : Banjarmasin.755 103.315 11.535 21.156 1.897 0 323 1.775 19 59.800 0 18.363 82.500 2 % % % % 30% 23% 0% 7% 73% 55% 0% 17% 77% 53% 0% 24% 3 %dom %dom %dom %dom 26% 16% 9% 1% 12% 5% 7% 0% 18% 9% 9% 1% 4 m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 14.992 1.215 1.429 43 64.085 1.775 13.735 3.000 2009/2010 750.980 0 89. Pemerintah Kotamadya Daerah Tk II Banjarmasin Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -189 .840 54.440 56. Program Jangka Menengah.870 1.

S. COMPREHENSIVE FLOOD CONTROL PROGRAM : S.2.30 berikut. dan detail desain drainase.2 Pengendalian Banjir Rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS. NEGARA Tanjung .TABALONG S. S.15. . RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL .(Persero) CABANG I MALANG 2. Rantau LEGENDA : BANJARMASIN ! Martapura Banjarbaru . . . . Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer. BALANGAN S. Marabahan Kandangan S.39. Barabai S. Rencana pengendalian banjir pada WS Barito Kapuas dapat dilihat pada gambar 2. Batas Provinsi Batas Kabupaten Sungai Kota Provinsi Kota Kabupaten Daerah Rawan Banjir PETA SWS BARITO PROP KALSEL Gambar 2. TAPIN . MARTAPURA . yang dilaksanaan secara bertahap. BATANG ALAI Amuntai . BARABAI . Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -190 .29 dan gambar 2. AMANDIT S.

Martapura S. Batang Alai S. BATANG ALAI S. BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Kec. Karau Kuala Kec. L an da un S. Dusun Tengah Kec. Karau Kuala Ka rau S.(Persero) CABANG I MALANG Be la S. Kandangan S. Kandangan S. Dusun Tengah Kec. Martapura S. Jenamas Kec. Karau Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot S. Batang Alai Keserangan S. TABALONG S. Bangkau Keserangan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI . Dusun Hilir Murungpudak Murungpudak . Tapin Rantau Rantau Rantau . P Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung a nu S. Tapin S. MARTAPURA . K Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang ap um S. S. U uwei sei S. AMANDIT S. NEGARA Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya yu S. Dusun Hilir Kec. Kandangan nd ma S. in ng n ta Ma Ke S. Riamkanan n na Ka Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati S. Teweh Besar S . Jenamas Kec. J u la i S. Barabai S. Dusun Tengah Kec. Ba lan ga Paringin Paringin Paringin Paringin Paringin nParingin ita S. Jenamas S. Batang Alai S. T ab al S. Mangkutup Muara Laung Muara Laung Muara Laung . Karau S. Bintang Awai Kec. BALANGAN S. Dusun Hilir Kec. Pamelu nuh S. Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito ah un g S. Lu S. Martapura S. Karau S. M ta en Na pu Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Ha lon g ! Pe ta i S. Batang Alai S. AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Ilung Ilung Ilung Ilung S. T ew eh S. Bintang Awai Kec. Karau Kuala Kec. N eg . Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Halong Halong Halong Halong Halong Halong S. . Terusan S. Be bem Ketapang Ketapang Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Tumpung Laung Tumpung Laung S.40. Tapin S. Tabalong Harui S. Alalak Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang n ba am A. Karau Kuala Kec. Dusun Hilir Kec. Berio i Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi ah ai S. Ba rito Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang TAMIANG LAYANG S . Kandangan it S. Murungpudak Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas aik ng lo ba Ta ng S. Rantau Rantau Rantau Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa . Murungpudak Murungpudak Murungpudak .T ! Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul S S. L emu Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong ang S . H ia ng s S. S. Samu Kec. BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU m Ria D. L S. Dusun Tengah Kec. Batang Alai S. Martapura S. Martapura S. Ta balo ng S. TAPIN ar a S. n la a Ka S Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -191 . Karau S. Barabai Keserangan S. Karau Kuala Kec. Jenamas Kec. Barabai Keserangan S. TEMPARAK Mainstream Buntok n S. Ay Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah a ng a su S. BARABAI S. . Bintang Awai Kec. Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan S. Karau Kuala Kec. Tapa RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL S. PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU Muara Laung Muara Laung Muara Laung a ri S. Tabalong S. M urung S. ji An rS at ap er S. Murun g S. KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN S. Tabalong Harui S. K ap u a S. Tabalong Harui S. L S. M ar Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi S. Barabai Keserangan S. Dusun Hilir Kec. Kandangan S. Bu rak S. KARAU S. T ab al o ng Ka na S. un in g S. k pa Lu Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Kec. Tu tu i m S. Djulai S. D ui mb Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH . Busang tun g S. n n da To S. Ria iw a mK II Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron KAPUAS MURUNG S. Dusun Tengah S. M eta k Pu lau P S. MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu S. Bintang Awai Kec. M is si Mu ru S. L p uy am at Ku an tan S. MARTAPURA Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh S. Bumban S. Karau S. Dusun Hilir Kec.S a egi n Tabak Kanilan Kanilan uh Tabak Kanilan Tabak Kanilan Tabak Kanilan Kanilan S. Tabalong Harui Harui Harui ing Ja S. Karau S. Kandangan Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas S. Tabalong S. P S. Batang Alai S. S. A S. . Ka puas M PETA SWS BARITO Gambar 2. Jenamas Kec. Pu rin g s S. Tapin S. an gk ook S. L ami S. M alu S. Bintang Awai Kec. Tapin S. Malu ka MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA . Ala r S. Martapura S. Tu hu p 40 S. Tempar ak S. Jenamas Kec. Bintang Awai S. TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG Kec. BARABAI lam p ar KANDANGAN KANDANGAN . Tuy au Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Kiw a Kec. Barabai D. M ka eng tip Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik S. Barabai Keserangan S. A S. g un La S. Dusun Tengah Kec. i S. Tapin S. P p S.

Kemiringan dasar sungai relatif masih landai Dapat dilayari oleh perahu kecil (kapasitas 1 ton). Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Barito Keterangan Dapat dilayari perahu besar walaupun di musim kemarau.(Persero) CABANG I MALANG 2.41.3 Rencana Pengelolaan Transportasi Air PETA SWS BARITO 4 3 2 PALANGKARA 1 BANJARMAS Gambar 2.2. Aliran relatif cepat dengan beberapa jeram Aliran cukup deras dan banyak jeram tetapi masih dapat dilayari perahu kecil Zona Lokasi 1 Dari Muara sampai dengan Kalanis. kemiringan dasar sungai sangat landai Dapat dilayari perahu besar hanya pada musim penghujan. Buntok 2 Dari Buntok sampai dengan Muara Teweh Dari Muara Teweh sampai dengan Puruk Cahu Dari Puruk Cahu sampai dengan Muara Joloi 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -192 .15.

Da m nu bu i PETA DAS KAPUAS . n da S. K E C . ku ng Ma tup ! S. B eb em ˜ 7 M aaraapitit M ar rappit M M aaraapitit M ar rappit M S. LLam uuniti Laam unniti m iti LLam uuniti Laam unniti m iti Me k ng p a ti M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M ˜ ˇ PPalingk au P alingk au alingk au alingk au PPalingk au P alingk au 3 D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D 4 Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Ke l am Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta MANDOMAI Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m p a M andom ai M andom ai M andom ai r M andom ai M andom ai M andom ai ˜ et a k Pu lau P A. ia n g K A B U P A T EN K A P U A S S. Bu n u t Ku an tan S. on S. Ba ˇ sa ra 5 ng 4 SSeit at as S eit at as eit at as SSeit at as S eit at as eit at as 0o 0 0 M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik S ˇ . M ta en k ai ng MANTANGAI ˜ M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai 6 ˜ 5 S. Mu ru i S. BBarim ba B arim ba arim ba BBarim ba B arim ba arim ba 1o 0 0 L S KUALA KAPUAS S . ˜ 2 An A.(Persero) CABANG I MALANG . H s S. L n ah u T S. T er us a n ˜ 1 .S S. S. PPujon P ujon ujon PPujon P ujon ujon S. Ka pu as S. ANJ DILAYARI HINGGA MS MS KEMARAU KONDISI Gambar 2. K ap . . Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Kapuas Murung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -193 .T jir Se t pa ra 2o 00 LS urun g ˇ S. TTim pah T im pah im pah TTim pah T im pah im pah n egia S S. 6 b am Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam ! LUMPAK DALAM 3o 0 0 L S an ua s M k pa Lu S. K A P U A S TE N GA H g S SEIHANYU ˇ 1 SSeihany uu S eihany u eihany SSeihany uu S eihany u eihany S . Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta S in gk an PUJON LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee S.42. in ng n ta Ma Te w eh Be sa r ˇ 2 TIMPAH . M an a ra n S .

meskipun kualitas pelayanannya masih rendah. yaitu peningkatan terhadap ruas jalan penghubung antar kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah. yaitu dengan meningkatkan tingkat kemudahan jangkauan pelayanan hingga daerahdaerah di Provinsi Kalimantan Tengah. serta kualitas pelayanan. Dalam merealisasikan strategi pengembangan transportasi di Provinsi Kalimantan Tengah diusulkan pula pentahapan program pengembangan pada masing-masing periode. 1) Strategi jangka pendek adalah membentuk jaringan jalan yang utuh. yaitu jangka pendek atau periode I (2003 – 2008). 2) Strategi jangka menengah adalah meningkatkan kemudahan dalam hal aksesibilitas dan mobilitas. maupun mobilitas.5 – 6. Rehabilitasi/pemeliharaan pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor 3.15.4 Rencana Pengelolaan Transportasi Darat Strategi pengembangan diusulkan dalam 3 (tiga) periode masing-masing. 5.0 meter. jangka menengah atau periode II (2008 – 2013) dan jangka panjang atau periode III (2013 – 2018) dengan mengacu pada konsep memperbaiki dan meningkatkan aksesibilitas. Penyelesaian Pembangunan Jalan dan jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok.2. 3) Strategi jangka panjang atau periode III adalah difokuskan pada peningkatan kenyamanan perjalanan masyarakat pengguna jasa transportasi serta pembangunan jalan kereta api untuk angkutan barang. lebar minimal 4. Penyelaesaian Jembatan Sei Barito di Puruk Cahu ( ruas Muara Teweh – Puruk Cahu). sebagai berikut: Periode I (2003) 1. 4. utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan.5 meter. 2. Meningkatkan jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi perkerasan beraspal dengan lebar 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -194 . Penyelesaian jembatan balok T (jembatan layang) di daerah Tumbang Nusa (ruas Palangkaraya – Pulang Pisau).(Persero) CABANG I MALANG 2.

0 meter. Peningkatan struktur dan lebar jalan di koridor utama pada segmensegmen dalam ruas jalan Palangkaraya – Tangkiling. 5. Pemeliharaan (rutin/periodik) atau rehabiltasi pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan. ruas jalan menuju Provinsi Kalbar ruas jalan Nanga Bulik. Mengoptimalkan Terminal Angkutan Darat bagi kabupaten yang sudah memiliki terminal. 9. Pembangunan jalan rel kereta api untuk transportasi angkutan barang dengan alternatif jalur yaitu jalur daratan tinggi menuju outlet Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -195 .(Persero) CABANG I MALANG 6.Kurun – Sei Hanyu – Batu Putih). Pembangunan pelabuhan di Kabupaten Katingan dengan salah satu alternatif posisi pada selat jeruju (Pegatan-Mendawai). Pembangunan Jembatan Sungai Kapuas Di Lungkuh Layang pada Ruas Jalan Koridor Utama Palangkaraya – Buntok. Pasar Panas – Tamiyang Layang – Ampah – Buntok ditingkatkan menjadi 2x7 meter. Peningkatan Pembangunan Jalan dan Jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok dari kondisi agregat ke kondisi aspal beton lebar minimum 6 meter. Kuala Kapuas – Batas Kal-Sel. 4. 7. Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Laung di Tumbang Laung (ruas Batu Putih – Puruk Cahu). Peningkatan struktur jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi lapis permukaan aspal beton dan lebar minimum 6. Membangun terminal dan fasilitasnya pada masing-masing ibu kota kabupaten yang belum memiliki terminal. Periode II (2008-2013) 1. Peningkatan ruas jalan eksternal menuju Banjarmasin ruas Palangkaraya – Banjarmasin 6 meter. Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Kapuas di Sei Hanyu (ruas K. Kujan – Kudangan ke arah Kalbar lebar 6 meter. 10. Palangkaraya – Bereng Bengkel Km 35. 8. 3. Sampit – Samuda. Periode III (2013-2018) 1. 2. 2.

Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi Kalteng (s. Ayuh. kab.2. serta sanksi terhadap pelanggar lingkungan agar disosialisasikan secara luas sampai ke desadesa. Program yang diusulkan untuk mengatasi hal ini adalah : 1.15. dan kecamatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -196 . Sampit) dari kawasan pengembangan industri yang merupakan jaringan tingkat sekunder pada sistem jaringan primer trans Borneo railways yang meliputi Kuala Kurun – Tumbang Samba ( menuju Parenggean dan Bagendang/Ujung Pandaran) – Nangabulik (menuju pelabuhan Kumai).5 Rencana Pengelolaan Kualitas Air Mengingat banyaknya kegiatan pertambangan emas di sungai dinilai telah banyak mengganggu kelancaran dan keselamatan angkutan sungai serta sistim pengolahan yang terbukti mencemari air sungai. Tapin) 4. Murung) 5. Dan berorientasi ke 3 (tiga) outlet (pelabuhan). kecamatan timpah. kab. maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) kapuas tengah. 2. dan s. Hsu. 3. Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi kalsel (kab. s. Hst. kab. Banjarmasin. Tabalong. s. Pengelolaan kualitas air sungai-sungai di kab kapuas. termasuk kajian teknis pengolahan emas dengan air raksa yang aman untuk lingkungan (kecamatan mantangai) 3. Sosialisasi undang-undang no. 23 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Maruwei. 2.2. Hss. kab. maka dipandang perlu upaya bersama untuk mengurangi dampak negarif tersebut. kab. Merupakan pengembangan pada tahapan alternatif (a) daerah Upland Coridor dan perbatasan menuju outlet. Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu (Dinas Pertambangan dan Energi tingkat kabupaten) 2. Banjar. Kumai dan Bagendang/Ujung Pandaran. atau peraturan perundangan lainnya.15. Karau.6 Program pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng.(Persero) CABANG I MALANG (Kumai/Pangkalan Bun dan Bagendang/Ujung Pandaran. Jalur menuju ke perbatasan Kalimantan Barat/Kalimantan Timur.

perikanan. Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada. Apabila belum ada. yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi. Setelah adanya Balai PSDA. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi. Tabel 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -197 .15. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air. Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi.2.95 Program Pelaksanaan Rencana Pembangunan Bendungan/Waduk di Provinsi Kalimantan Tengah 2005 2006 2007 2007 2010 2007 2008 2012 2013 Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil. seperti Unit Hidrologi. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga.7 Program Pengembangan Institusi Pengelola SDA Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito. irigasi. Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini. Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi.(Persero) CABANG I MALANG scheme yang memerlukan kajian lanjutan. dan pertanian. Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut.

Kajian teknis terhadap kondisi kritis wilayah. dari Kuala Kapuas sampai Seihanyu.8 Pengelolaan DAS Kapuas DAS Kapuas dan DAS Barito dihubungkan oleh aliran Sungai Kapuas Murung. untuk sektor konservasi Analisis ekonomi untuk sektor pendayagunaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -198 . MANGKUTUP.15. DAN MURAI 5 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MANGKUTUP 6 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI MURAI 7 MONITORING KUALITAS AIR JANGKA PENDEK SUNGAI MENTANGAI 8 PEMELIHARAAN ALUR SUNGAI JANGKA PANJANG MAIN STREAM HULU S. Provinsi. dan transportasi air merupakan prasarana penting perekonomian wilayah ini. Tabel 2. Sepanjang 420 km dari 600 km aliran Sungai Kapuas dapat dilayari sampai ke hulu. KAPUAS 9 KONSERVASI KAWASAN BUKIT JANGKA MENENGAH DAN TANGKILING PANJANG Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas 2.96 Usulan Program Konservasi dengan Kajian Pengendalian Erosi NO USULAN PROYEK KATEGORI JANGKA WAKTU 1 DRAINASE TERPADU KOTA KUALA JANGKA PENDEK DAN KAPUAS MENENGAH 2 PROGRAM KALI BERSIH JANGKA MENENGAH KABUPATEN KAPUAS 3 PENGEMBANGAN TPA KOTA JANGKA PENDEK KAPUAS 4 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MENTANGAI.2.15. Prioritas program jangka pendek didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut : 1. dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA.9 Program Pengelolaan Terpadu WS Barito Alokasi waktu perencanaan program disusun dalam jangka pendek. 2. maka diusulkan program konservasi dengan kajian pengendalian erosi pada anak-anak sungainya. Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. dan jangka panjang.2. 2. Untuk mendukung sector transportasi tersebut.(Persero) CABANG I MALANG Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. menengah.

81. BATIKAP II. MUARA SINGAN 10.I. HST. Tingkat kerugian untuk sektor pengedalian daya rusak air Tabel 2. PROP KALSEL. 740.000 Ha.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA. dan HSS D. 155. 35.375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI.000 Ha dan 87.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I. BATIKAP III.279 Ha 280 MW 10 ) 11 ) 12 ) 13 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -199 . Kabupaten HSU. KAB MURUNG RAYA. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS Balangan.700 Ha (Cagar Alam) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT. PROP KALSEL. 200. KALTENG. Riam Kiwa.(Persero) CABANG I MALANG 3.97 Daftar Program Prioritas SEKTOR / PROJECT TITLE 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO. dan Tabalong Kanan) PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN. DAS Riam Kanan.

(Persero) CABANG I MALANG MASTER PLAN WILAYAH SUNGAI (WS) BARITO NO 1 SEKTOR / PROJECT TITLE Drainase Kota 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10 ) 11 ) 11 ) 12 ) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI NEGARA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TAPIN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BARABAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BATANG ALAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BALANGAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TABALONG PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI AYUH PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TEWEH PENYUSUNAN OUTLINE PLAN DRAINASE KOTA BUNTOK Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -200 .

DAN TABALONG KANAN) NO SEKTOR / PROJECT TITLE PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALTENG) 17 ) 18 ) 19 ) 20 ) 21 ) 22 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Lahei (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Teweh (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Juloi (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Laung Tuhup (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayuh (Kab Barsel) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Bekakar dan Takuan Puri (Kab Bartim) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -201 . RIAM KIWA. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS BALANGAN.(Persero) CABANG I MALANG 2 Waduk Serbaguna 13 ) 14 ) WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI WADUK SERBAGUNA LAHEI 3 Konservasi Hutan. DAS RIAM KANAN. Erosi dan Sedimentasi 15 ) 16 ) PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO.

(Persero) CABANG I MALANG PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KAPUAS) 23 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Mentangai (Kab Kapuas) PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALSEL) 24 ) 25 ) 26 ) 27 ) 28 ) 29 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tabalong Kiwa.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Batangalai.700 Ha (Cagar Alam) (Sblmnya Parawen I dan Parawen II. PROP KALSEL.543 155. 67.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -202 .000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA.375 200. 2. 17.543 Ha (Cagar Alam dan Taman Wisata) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayu.000 Ha Ha Ha Ha Ha 31 ) 32 ) 33 ) KONSERVASI KAWASAN BUKIT TANGKILING. 35. 1982) 81. 99.000 Ha dan 87. KALTENG.000 Ha (Kab HST) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tapin.000 2. 4. KAB KAPUAS.000 740. 155.400 Ha (Kab Banjar) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Martapura 77.000 Ha (Kab Banjar) 30 ) KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN. 81.500 Ha (Kab Tapin) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Alalak 8. PROP KALSEL.

740.000 Ha (CA) 4 PLTA 43 ) 44 ) 45 ) 46 ) PLTA MUARA JULOI PLTA LAHEI PLTA TEWEH PLTA RIAM KIWA (2 X 21 MW) 280 32.250 Ha. Kabupaten HSU.000 Ha (SM) KONSERVASI KAWASAN HUTAN GAMBUT LIANG ANGGANG. 200. 275 Ha (CA) NO SEKTOR / PROJECT TITLE 35 ) 36 ) 37 ) 38 ) 39 ) 40 ) 41 ) 42 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KEMBANG.(Persero) CABANG I MALANG 34 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KAGET. MUARA SINGAN 10. PROP KALSEL. KENTAWAN. 46.000 Ha. KAB HSS.000 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN SUNGAI NAGARA.I. 60 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN G. 25. KAB BANJAR. KAB TABALONG. Kabupaten HSU dan Tabalong KONSERVASI KAWASAN MUARA UYA. BATIKAP III. BATIKAP II. KAB MURUNG RAYA. 6. HST.3 34 42 MW MW MW MW 5 Pengembangan Pertanian 47 ) D.279 Ha Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -203 . dan HSS KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU TANJUNG. 245 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I.375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI. PROP KALSEL. KAB HSU. 150.

519 Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha NO 7 SEKTOR / PROJECT TITLE Pengelolaan Kualitas Air 58 ) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI-SUNGAI DI KAB KAPUAS (Kecamatan Kapuas Tengah.I. BATANG ALAI D. dan Kecamatan Mantangai) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALSEL (Kab Tabalong.I. S. dan S. TONDAN D.078 2.823 3.432 6.BARABAI D.I.I. Kab HSS. MARUWEI D. Kecamatan Timpah.I.459 6. Maruwei. Ayuh.I.(Persero) CABANG I MALANG 48 ) 49 ) 50 ) 51 ) 52 ) 53 ) 54 ) 55 ) 56 ) 57 ) D. BALANGAN D. Kab HST) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALTENG (S. Murung) 59 ) 60 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -204 .984 7. Kab HSU.927 5. PITAP STUDI PENERAPAN SUB POLDER PADA POLDER ALABIO KAJIAN PERTANIAN TERPADU PADA POLDER ALABIO 7.172 4. TEMPARAH D. Karau.I. AMANDIT D.I. S.

(Persero) CABANG I MALANG 61 ) 62 ) 8 Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu Sosialisasi undang-undang tentang pengelolaan lingkungan hidup (No. 23 / 1997) Lembaga Pengelola Lintas Provinsi 63 ) 64 ) 65 ) 66 ) 67 ) 68 ) 69 ) Lokakarya Sistem Pengelolaan Lingkungan / DAS Terpadu Rapat Koordinasi antara dan penandanganan Nota Kesepakatan Antar Bupati yang berada di SWS Barito Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalsel) Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalteng) Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalsel Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalteng Pembentukan Balai SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -205 .

PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN STUDI 3.1. Gambar 3. dimana kegiatan tersebut merupakan kegiatan awal dalam perencanaan SDA di wilayah sungai. 2006) yang meliputi penyusunan kebijakan pengelolaan Sumber Daya Air di tingkat Propinsi serta penyusunan pola pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di wilayah sungai.1.(Persero) CABANG I MALANG BAB 3 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN STUDI 3. Direktorat Bina Program.1 menunjukkan tahapan dalam penyusunan perencanaan Sumber Daya Air (Subdit PWS.1 Umum Pendekatan yang diambil dalam perencanaan sumber daya air di wilayah sungai mengacu pada UU No. Sedangkan pada gambar 3.2 merupakan bagan alir penyusunan pola sumber daya air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -1 . 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Di dalam pendekatan penyusunan Pola Pengelolaan SDA tersebut akan diuraikan secara singkat tahapan dalam perencanaan sumber daya air wilayah sungai.

Direktorat Bina Program. Daya Guna. Sungai Area Keg. Dlm WS KONSTRUKSI OPERASI & PEMELIHARAAN PANTAU EVALUASI RTRW Nas/Pro/Kab/Kt Program Prioritas SDA Ditjen Lain Departemen lain Survey dan Investigasi Operasi & Pemeliharaan (OM) Studi Klykn (FS)+Amdl ya Detail Desain (D/D) Pelaksanaan Konstruksi (C) Monitoring dan Evaluasi KETERANGAN : *) Pola PSDA = Kerangka Dasar untuk --> merencanakan. PSDA WS Renc. melaksanakan. Daya Guna. Dlm WS Mikro Basis Lokasi Krj.1 Tahapan Dalam Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -2 .Induk: K. memantau & mengevaluasi (Konservasi. 2006) Gambar 3. Daya Rusak) **) Rencana PSDA merupakan keterpaduan dari Rencana Induk: Konservasi.DG. Daya Rusak Sumber : Subdit PWS.DR tidak PLANNING (perencanaan) Makro/Mikro Basis Basis Wil.(Persero) CABANG I MALANG TAHAPAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Makro Basis Spasial Nas/Prop/Kab/Kot Kebijakan Nasional SDA Survey Investigasi & Review Studi WS Kebijakan SDA Prop/Kab/Kota Pola PSDA WS yg tlh ditetapkan Men/Gub/Bup Inventarisasi SDA WS Renc.

(Persero) CABANG I MALANG Start Mempelajari kebijakan Daerah di Dalam Pengelolaan SDA Inventarisasi Data Identifikasi Masalah TAHAP I PERSIAPAN PKM I Jika tidak sesuai Jika sesuai Analisa data Skenario Pengembangan Strategi Kebijakan Operasional (Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS) PKM II TAHAP II PENYUSUNAN Finalisasi Konsep Rancangan Pola Proses Penetapan TAHAP III PROSES PENETAPAN Pola Pengelolaan SDA WS End Gambar 3. misi. 3.2 Bagan Alir Penyusunan Pola Sumber Daya Air.2 Visi. azas dan prinsip pengelolaan sumber air sesuai dengan paradigma baru yaitu : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -3 .1. Misi. Azas dan Prinsip sebagai Panduan Penyusunan Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air akan menggunakan visi.

satu manajemen yang terkoordinasi berdasarkan wilayah sungai sebagai kesatuan pengelolaan Pengelolaan sumber daya air daya mencakup rusak. peran serta Prinsip : - - pendayagunaan. Misi : Azas : - Konservasi sumber daya air Pendayagunaan sumber daya air Pengendalian daya rusak air Peran serta masyarakat Sistem informasi sumber daya air Kelestarian Keseimbangan Kemanfaatan umum Keterpaduan dan keserasian Keadilan Kemandirian Transparansi dan akuntabilitas Satu sungai. - pengendalian masyarakat dan sistem informasi SDA Keterpaduan antar sektor. satu rencana. profesional dan akuntabel Pelibatan masyarakat dalam seluruh proses pembangunan - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -4 .(Persero) CABANG I MALANG Visi : Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. antar instansi tanpa mengurangi kewenangan masing-masing - Keterpaduan antara air permukaan dan air tanah Upaya pendayagunaan diimbangi dengan upaya konservasi Proses rencana pengelolaan melibatkan seluruh stakeholder Penerapan kebijakan sumber daya air diselenggarakan secara demokratis dengan pelibatan semua unsur stakeholder berdasarkan asas tersebut diatas - Dalam jangka panjang implementasi kebijakan dilaksanakan oleh badan pengelola yang mandiri. konservasi. antar wilayah.

agar tercapai hasil kerja yang optimal Konsultan akan menyiapkan rencana operasional proyek yang seefektif dan seefisien mungkin. pendekatan operasional pelaksanaan pekerjaan dapat dilihat pada Gambar 3.(Persero) CABANG I MALANG 3.2.3 Pendekatan Operasional Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -5 . PENDEKATAN OPERASIONAL FASILITAS LAPANGAN KANTOR STUDIO TRANSPORTASI KOMUNIKASI KUALITAS KAPASITAS OPERASIONAL EFEKTIF KOORDINASI INTERN EKSTERN EFISIEN ORGANISASI INTERN EKSTERN TEPAT TEPAT MUTU Gambar 3.3. Unsur-unsur utama yang mendukung dan mempengaruhi jalannya operasional proyek meliputi: Personil (Tenaga Ahli dan Tenaga Penunjang) Organisasi Sistem Koordinasi Fasilitas kerja Tempat (kantor dan base camp) Secara diagram. PENDEKATAN OPERASIONAL Untuk pelaksanaan studi “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini.

perencanaan. PERUMUSAN KONDISI ANALISIS DAN PENDEKATAN ANALITIS RENCANA KERJA IDENTIFIKASI SASARAN PERENCANAAN DAN KRITERIA EVALUASI SASARAN DAN KRITERIA TAHAP ANALISIS TERPADU PERUMUSAN DAN ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN AIR PEMICU banjir.3. ANALISIS SISTEM SUMBERDAYA AIR . dll. 2. multi-sektoral. dsb. operasi. dan menjelaskan urutan pelaksanaan dalam studi. multi-kriteria. yaitu: 1.kartu skor . TAHAP INSEPSI TAHAP PERSIAPAN (pengumpulan data dan analisis sektoral) ANALISIS EKONOMI MAKRO DAN KELEMBAGAAN pola tata ruang populasi kelembagaan ANALISIS PENGGUNAAN AIR DAN AKTIVITAS YANG BERKAITAN pertanian.hidrologi . sosial. Kerangka Kerja Analisis (Framework for the Analysis) yang merupakan pola pikir.1. air minum. komprehensif dan terpadu. multi-disiplin. energi.peta .kualitas air .ekonomis. Kerangka Kerja Analitis Untuk memecahkan permasalahan perencanaan sumber daya air yang bersifat kompleks.4 Kerangka Kerja Analisis Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -6 . ANALISIS AWAL PERMASALAHAN DAN UPAYA PENANGGULANGAN EVALUASI STRATEGI PENGELOLAAN AIR teknis. multi-sasaran. database dan user-interface untuk mendukung Kerangka Kerja Analisis. Pendekatan analisis sistem ini yang diterapkan pada Wilayah Sungai (WS) atau pada Daerah Aliran Sungai (DAS) ini dicirikan dengan adanya dua buah komponen utama.model database MASUKAN UNTUK PARA PENENTU KEBIJAKSANAAN Gambar 3.lingkungan dll.erosi dan sed. dan Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) berupa model komputer.3.(Persero) CABANG I MALANG 3. industri. kekeringan.. dan antar-wilayah ini.+ analisis sensitivitas PENYAJIAN HASIL laporan . dsb. PENDEKATAN UMUM 3. sebaiknya digunakan pendekatan analisis sistem sumberdaya air secara holistik.

Basis data dapat dikelola mulai dari program computer yang sederhana seperti Microsoft Excel. 1985 ) kumpulan data yang diatur sedemikian rupa sehingga pencarian serta pemunculan data dapat dilakukan dengan sangat efisien.3.3. • Mempertinggi keluwesan akses data. atau program basis data yang khusus dibuat untuk menangani data masalah sumber daya air. dan lain sebagainya. distribusi air.3. tetapi jika basis data serta model sudah tersedia maka akan sangat memudahkan analisis selanjutnya. Basis data hidrometeorologi: hujan. untuk tujuan sebagai berikut : • • Mempermudah koordinasi penyimpanan dan pemeliharaan data Menghindarkan timbulnya duplikasi data yang dapat mengakibatkan pemborosan media penyimpanan data serta mengurangi keandalan data yang tepat waktu. dicetak pada kertas sebagai laporan atau dipindahkan pada media penyimpanan data (misalnya dalam CD) Basis data adalah (Kukstehl. program khusus basis data seperti dBase III. Kerangka kerja komputasi adalah perangkat lunak untuk membantu analitis pada tahap persiapan serta tahap analisis. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -7 . Basis Data. Pembuatan kerangka kerja komputasi ini biasanya memakan banyak waktu dan biaya.(Persero) CABANG I MALANG 3.2. 3. kebutuhan air. Kerangka Kerja Komputasi. model air tanah. air tanah. juga untuk permasalahan yang serupa pada Daerah Aliran Sungai yang lain. Perangkat lunak ini dikembangkan pada tahap persiapan dan terdiri atas: • • Basis data (data base ) Kumpulan model matematis yang konsisten terdiri atas model ketersediaan air. klimatologi. Data yang ada sebaiknya disusun dalam basis data. debit. Basis data merupakan bank data yang berfungsi untuk memberikan masukan pada model computer. misalnya HYMOS. sehingga data dapat dilihat pada layer. model erosi. Idealnya basis data pengembangan sumber SDA terpadu adalah mencakup antara lain : • • Basis data ekonomi dan kependudukan pada tingkat kabupaten dan kecamatan.

Model analisa banjir. 3. Model Matematis. erosi dan sedimentasi dan lain lain. aturan operasi waduk serta bendung. Untuk meneliti kondisi system pada saat ini. Teknik probabilistic ( teori antrian. Teknik statistic (multivariate. Tahap analisis penggunaan air serta aktivitas yang berkaitan dengan air. Model erosi. kebutuhan air untuk masing masing pengguna air. operasi.KAPUAS akan digunakan metode simulasi.(Persero) CABANG I MALANG • • Basis data jaringan sumber daya air: skematis. Basis data lainnya: kualitas air. infrastruktur. teori persediaan ). inferensi. Model sedimentasi.3. program non linear. dan lain sebagainya. program dinamis). Model matematis dapat menggunakan satu atau lebih teknik analitis sebagai berikut: Teknik optimasi (program linear. Model kualitas air Model untuk melaksanakan analisa terpadu. teori keputusan). Model matematis adalah kaitan fungsional antara masukan dan keluaran.4. berfungsi mensimulasikan alokasi air pada jaringan skematis daerah aliran mengingat kebutuhan air untuk berbagai pengguna air. dan Tahap analisis terpadu. untuk menirukan keadaan sebenarnya di dalam dunia nyata. Model matematis kerap kali dinamakan juga sebagai model computer. akan digunakan model hidrologi untuk menelaah situasi ketersediaan air dengan HYMOS. Teknik simulasi Untuk system SDA yang kompleks seperti wilayah sungai BARITO . Tahap analisis system saat ini. sebab pelaksanaan perhitungannya • • • • biasanya dilakukan dengan bantuan computer. skematis daerah aliran sungai dan mengalokasikan pembagian air sesuai prioritas yang telah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -8 . Model komputer ini dapat dibagi menurut peranannya dalam tahapan yang ada pada kerangka kerja analitis yaitu : • • • • Tahap analisis ekonomi makro dan kependudukan. Selain itu bilamana perlu dapat ditambahkan juga penggunaan beberapa model antara lain sbb: • • • • • Model air tanah.

kegiatan yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan pekerjaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah sungai BARITO . Alinea ke-4 Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 Undang-Undang 1. 3. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.4. Undang-undang No.KAPUAS ini terdiri dari 5 (lima) Kegiatan utama. Undang-undang No. PENDEKATAN HUKUM Penyusunan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini mengacu kepada peraturan perundangan yang lahir sesuai arah kebijakan politik. 5. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Undang-undang No. 4. Undang-undang No. 6. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air Undang-undang No. dimana otonomi seluas-luasnya diberikan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota. yaitu : a) Kegiatan Pendahuluan b) Survey dan Inventarisasi Data c) Pengolahan dan Analisis Data d) Identifikasi Rencana Pengembangan Sumber Daya Air e) Analisis Strategi Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai 3. 7. Undang-undang No.(Persero) CABANG I MALANG ditentukan dan air yang tersedia. 2. Mengingat system tata air yang dikaji sangat kompleks dan rumit. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Secara garis besar. peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai tersusun dengan urutan sebagai berikut : Undang-Undang Dasar 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -9 . 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. maka akan digunakan program khusus untuk simulasi wilayah yaitu RIBASIM. Secara berjenjang. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006 tentang tentang Irigasi. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No.(Pasal 1 ayat 8 UU No 7 tahun 2004) pada Wilayah Sungai BARITO . 2. PENDEKATAN PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO .5. 3.KAPUAS Untuk menjamin terselenggaranya PSDA yang dapat memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun Pola Pengelolaan Sumber Daya Air. Peraturan Pemerintah No.5.KAPUAS dengan Prinsip Keterpaduan antara Air Permukaan dan Air Tanah serta Keseimbangan Upaya Konservasi dan Pendayagunaan Sumber Daya Air. Memantau dan Mengevaluasi Sumber Daya kegiatan Air dan Sumber Pendayagunaan Pengendalian Daya Rusak Air.1 Penentuan Responden Penentuan Responden dalam analisis Penyusunan Pola Pengelolaan SDA ditetapkan berdasarkan teknik Purposive Sampling dengan pertimbangan bahwa Responden adalah pelaku (Individu atau Lembaga) yang mempengaruhi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -10 . Keputusan Presiden Keputusan Presiden No. Konservasi Melaksanakan. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. 3. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. 5.(Persero) CABANG I MALANG Peraturan Pemerintah 1. 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air. Peraturan Daerah 3. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air merupakan Kerangka Dasar dalam Merencanakan. 4. Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Daya Air.

5. Universitas e. PENDEKATAN TEKNIS PENYUSUNAN POLA WS BARITO .2 Tahapan Analisis Metode pengambilan keputusan pemilihan alternatif tindakan pola Pengelolaan SDA untuk pencapaian pengelolaan SDA berkelanjutan dilakukan dengan dua pola alur analisis pengambilan keputusan yaitu : a.2.6. Alur pengembangan Kriteria dan Ukuran Evaluasi b.(Persero) CABANG I MALANG penyusunan Pola Pengelolaan SDA. Pembangkitan Alternatif dan Evaluasi rekayasa. 3.6. Kehutanan d. Survey dan Inventarisasi Data Data-data yang dikumpulkan pada uraian pendekatan umum akan dilakukan review untuk dijadikan bahan masukan dalam kegiatan ini. LSM 3.KAPUAS Tahapan dalam metodologi pelaksanaan diuraikan secara ringkas dan mengacu pada tahapan kegiatan seperti pada KAK. Beberapa item kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -11 . baik langsung maupun tidak langsung di Daerah Aliran Sungai pada wilayah sungai BARITO .1. Wakil Pengguna Air c. Secara ringkas tahapan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : 3. 3. Persiapan Personil dan Administrasi Konsultan akan mengerahkan tenaga ahli dengan koordinasi oleh Direktur Teknik Perusahaan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan.KAPUAS.6. Responden yang ditetapkan adalah sebagai berikut : a. Wakil Pemerintah Daerah b.

Mempertimbangkan lahan secara keseluruhan di dalam penilaiannya. Kelanjutan inventarisasi kondisi water distric ini adalah analisis water Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -12 . Sebagai pendekatan holistrik dan sintetik 2.2. yaitu untuk memetakan tanah dengan skala kecil yang diperlukan untuk Masterplan.KAPUAS secara umum dan kajian hasil studi dari beberapa instansi terkait. Inventarisasi yang dilakukan adalah sejauh mana manajemen sumber daya air yang telah dikelola oleh suatu institusi kemudian akan didekati dengan analisis run off model balance. Pendekatan fisiografik (physiographic approach) a.2.6. Pendekatan yang akan dilakukan pada tahap informasi kondisi fisiografis lahan adalah sifat fisik lahan yang merupakan dasar bagi perencanaan penggunaan lahan yang rasional. b. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dengan diperkenalkannya sistem informasi berbasis SIG. Pendekatan mengatasi masalah konservasi lahan meliputi : 1.2 Inventarisasi Kondisi Existing Water District Tahap ini merupakan penjabaran dari model Ribasim atau Ribasim District yang menganalisis berdasarkan district level.(Persero) CABANG I MALANG 3. Pendekatan parametrik (parametric approach) yaitu sistem klasifikasi dan pembagian lahan atas dasar pengaruh atau nilai ciri lahan tertentu dan kemudian mengkombinasikan pengaruh-pengaruh tersebut untuk memperoleh kesesuaiannya.1 Informasi Kondisi Fisiografis Lahan Item kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan kondisi tata guna lahan pada wilayah sungai BARITO . Beberapa pendekatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : • • Pendekatan bentangan (Landscape Approach).6. 3. Pendekatan sistem evaluasi lahan dan penilaian lokasi (Land Evaluation and Site Assesment = LESA) yaitu suatu sistem untuk membantu instansi yang terkait untuk membuat keputusan-keputusan dalam perencanaan penggunaan lahan. Menggunakan kerangka bentuk lahan (land form framework) untuk mengidentifikasi kan satuan daerah secara alami c. Sacramento model dan total demand dalam suatu distric.

KAPUAS tersebut berdasarkan data sekunder yang terkumpul dan hasil studi terdahulu D. Identifikasi Permasalahan / Problem / Constraint Pada tahap ini konsultan akan melakukan inventarisasi permasalahan sumber air di wilayah sungai BARITO . Inventarisasi ini akan memperoleh besaran kebutuhan air untuk berbagai keperluan dan prioritas masing-masing yang disusun secara hirarki. Dari peta tersebut yang akan dibagi berdasarkan masing masing Sub WS akan diperoleh jumlah situ atau mata air masing masing sub WS. 7 tahun 2004 disebutkan bahwa penentuan prioritas alokasi air adalah sebagai berikut : • Prioritas A : • Prioritas B : • Prioritas C : Air minum rumah tangga Pertahanan & keamanan nasional Peribadatan Usaha perkotaan (kebakaran. Inventarisasi Kondisi Existing Demand Cluster Pada tahap ini akan dikumpulkan data water user yang terkait dengan demand secara hirarki. Pembuatan Peta Kerja Yang dimaksud kegiatan ini adalah konsultan akan menyiapkan peta kerja bersumber dari peta skala 1:50. Pada undang-undang no. penggelontoran. Pengumpulan Peta Geographic Information System C. Wilayah Kecamatan dan Kabupaten masing masing akan diplot dalam peta wilayah sungai tersebut untuk memperjelas DAS masing masing wilayah.(Persero) CABANG I MALANG A. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -13 .000 Bakosurtanal. taman) Pertanian Pertanian rakyat dan usaha pertanian lainnya Peternakan Perkebunan Perikanan Ketenagaan Industri Pertambangan Lalu Lintas air Rekreasi B.

F. pendayagunaan dan daya rusak air. Kajian Air tanah akan dilakukan dengan melakukan inventarisasi penggunaan saat ini dan kondisi yang ada serta mempelajari potensi hidrolgeologi pada wilayah sungai BARITO . Studi Khusus Metodologi dalam studi khusus ini diuraikan secara ringkas untuk masingmasing komponen sebagai berikut : 3.2. 3.KAPUAS yang berkaitan dengan pengelolaan SDA.Undang dan Peraturan lainnya yang terkait dengan Pengelolaan SDA baik tingkat Nasional maupun Daerah.6. Kaji Ulang Data Terdahulu Pada tahap ini konsultan akan melakukan review data sekunder berupa laporan dan gambar hasil studi terdahulu dan menyusun kesimpulan yang akan menjadi bahan untuk evaluasi dan membandingkan dengan kondisi sekarang.3. Inventarisasi Kelembagaan Tahap ini team akan mengumpulkan data tentang kelembagaan yang ada diwilayah sungai BARITO .3.3.analisis berdasarkan water district dan demand cluster saat ini dengan model simulasi. 3. Kajian Tata Ruang Wilayah Kabupaten / Kota Kajian mengenai RTRW akan dilakukan berdasarkan data RTRW yang ada dan memberikan masukan hasil analisis kondisi saat ini yang dikaitkan dengan sumber daya air baik konservasi.6.3.KAPUAS berdasarkan data yang ada. 3. Kajian Hidrologi dan Air Tanah Kegiatan ini mencakup review data dan review analisis terdahulu berkaitan dengan hidrologi baik ketersediaan air maupun debit banjir kemudian akan dilakukan re. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -14 . Inventarisasi Perundang Undangan Team akan melakukan pengumpulan data mengenai Undang.6.1.3.6.(Persero) CABANG I MALANG E.

Konsultasi publik bertujuan mencegah dan meminimalkan dampak sosial yang mungkin timbul serta untuk mendorong terlaksananya transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan yang lebih adil.(Persero) CABANG I MALANG 3. Pertemuan Konsultasi Masyarakat Yang dimaksud dengan konsultasi publik adalah upaya menyerap aspirasi masyarakat melalui dialog dan musyawarah dengan semua pihak yang berkepentingan. untuk serta memperoleh untuk dan mengkoordinasikan kesepakatan aspirasi atas tercapainya bersama kebijakan/ pola/ rencana yang dirumuskan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -15 .6.6. (Sumber Penjelasan pada UU No 7 / 2004 tentang SDA) Pertemuan Konsultasi Masyarakat wajib dilaksanakan dalam proses penyusunan rencana dan kegiatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai dengan ketentuan : a.3.4. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap. data sekunder yang ada.4. Kajian Kelembagaan dibidang SDA Berdasarkan data kelembagaan yang ada akan dilakukan kaji ulang dilapangan kondisi masing masing kelembagaan yang ada saat ini dan keterlibatannya dalam pengelolaan SDA di wilayah sungai BARITO .6. Ditujukan masyarakat. 3. Kajian Sosial Ekonomi dan Budaya serta Lingkungan Tahap ini akan melakukan kegiatan wawancara langsung dengan responden terpilih untuk mendapatkan masukan mengenai kondisi sosial ekonomi dan lingkungan. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan. 3. Kajian Pertanian. Serta rekomendasi tindak lanjut kedepan yang dikaitkan dengan kondisi SDA wilayah BARITO .5.6. peta kawasan lindung akan dilakukan kajian mengenai kondisi saat ini dan permasalahan yang ada.6. Kehutanan dan Perkebunan Berdasarkan peta penggunaan lahan.KAPUAS.3.3. permasalahan. dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. 3.KAPUAS.

dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai.5. Perumusan Hasil Studi Khusus c.6. badan usaha maupun kerjasama badan usaha.(Persero) CABANG I MALANG b. serta badan usaha milik daerah dan swasta. badan usaha milik negara. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi. permasalahan. Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (Pertama) dan II (Kedua) akan dilaksanakan di Propinsi Sulawesi Selatan. c. Tiga tahapan perumusan yang akan dilakukan mencakup : a. sehingga sebagai komponen masyarakat dunia usaha harus diikutkan dalam pertemuan konsultansi masyarakat. Dalam perumusan tersebut akan dibahas mengenai : o Pendayagunaan SDA melalui pendekatan ekosistem wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -16 . Melibatkan pihak-pihak dalam masyarakat yang berkepentingan terhadap pengelolaan sumber daya air Informasi tentang rancangan rencana pengelolaan sumber daya air disampaikan terlebih dulu sebelum Pertemuan Konsultasi Masyarakat dilaksanakan Apabila dunia usaha akan menggunakan sumber daya air di wilayah sungai maka dunia usaha harus dilibatkan sejak dari perencanaan. dan rencana pengusahaan ini diharuskan untuk melalui Pertemuan Konsultasi Masyarakat terlebih dahulu. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. Perumusan hasil Pertemuan Team Nara Sumber dan Pembina. Perumusan Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat b. Pengusahaan sumber daya air pada bagian wilayah sungai masih dimungkinkan untuk dilakukan oleh perorangan. 3. Perumusan Masalah Dalam kegiatan ini akan dilakukan Penyusunan Program Komponen Pengelolaan SDA.

Berlanjut. Dapat diterima. Usulan kegiatan dikelompokkan berdasarkan aspek struktural dan masing usulan kegiatan dan menyusun perkiraan non struktural biaya dan dan ditetapkan prioritas. alat/ software yang digunakan dalam mencapai tujuan pekerjaan dan pendekatan pelaksanaan studi. A.(Persero) CABANG I MALANG o o Pengendalian daya rusak air termasuk sistem pengendalian banjir dan penanganan kekeringan Konservasi SDA termasuk penanganan lahan kritis secara struktur maupun non struktur 3.6. Analisis Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO – KAPUAS Metodologi yang digunakan dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO . yang terdiri dari dari peta topografi.6. jadwal kerja dan hubungan antara input-proses dan output dari pekerjaan. Efisiensi. Kajian terhadap rencana tata ruang wilayah Propinsi. 2.6. Pemerataan. peta tata guna lahan. peta geologi dan lain-lain. Dengan kata lain akan melalui proses Tujuan diterapkan dan Strategi Dirumuskan.KAPUAS akan berisi tentang urutan pelaksanaan pekerjaan. 3. Analisis Pada tahap ini akan dilakukan analisis yang meliputi pengidentifikasian komponen. dan dikelola dengan baik serta sesuai dengan kebijakan pembangunan Nasional. Rencana ini didasarkan pada prinsip Optimalisasi. Kajian terhadap peta penunjang. kabupaten dan kota Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -17 . Setiap komponen didukung oleh sejumlah usulan kegiatan. pengelompokan dan penetapan prioritas usulan kegiatan. Pengkajian Data Kajian terhadap data-data hasil survey lapangan dan inventarisasi data dalam pelaksanaan pekerjaan ini meliputi : 1.1. analisa dampaknya dan penyusunan jadwal pembiayaan. Team Konsultan dan Nara Sumber menganalisa masing jadwal pembiayaan.6. hubungannya dengan sistem pelaporan. peta tata ruang. Selain itu juga perlu analisa terhadap dampak rencana yang diusulkan dan usulan kegiatan.

hasil tata guna lahan dan tata ruang 6. Kajian terhadap data Kelembagaan Dari kunjungan ke lapangan kemudian dilakukan Kajian terhadap beberapa aspek yaitu : 1. budaya 3. sosial. data debit. lingkungan dan lainlain 2. Kajian terhadap konservasi sumber daya air saat ini dan identifikasi dari rencana yang akan datang 8. Kajian terhadap data kualitas lingkungan keairan yang meliputi kualitas air sungai dan danau. kebutuhan air irigasi 12.(Persero) CABANG I MALANG 3. Kajian terhadap kebijakan-kebijakan yang terkait dan hasil studi terdahulu (di Propinsi) 4. ekonomi. sumber pencemar dan lain-lain 7. Kajian terhadap data hidrologi meliputi data curah hujan. Kajian terhadap informasi tentang banjir dan kekeringan yang pernah terjadi meliputi daerah yang terjadi banjir dan kekeringan. kemudian dilakukan prosesing dan analisa dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS (Hydrological Model System) yaitu suatu perangkat lunak yang merupakan sistem basis data dan pengolahan data hidrologi yang terpadu dan RIBASIM Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -18 . Kajian terhadap populasi dan data sumber daya manusia 9. data air tanah dan lain-lain 5. luas genangan banjir dan lain-lain sebagainya 13. Pembangunan daerah dan permasalahan sumber daya air di daerah Berdasarkan masukan data dan informasi tersebut diatas. geografi. Kajian terhadap kondisi tata guna lahan saat ini meliputi peta tata guna lahan. Pengembangan wilayah sungai yang mencakup data kependudukan. organisasi formal dan informal 4. Kajian terhadap data sosial ekonomi yang mendukung penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai 10. Kondisi fisik Wilayah Sungai BARITO .KAPUAS di Propinsi Sulawesi Selatan yang mencakup aspek hidrologi. topografi. Pengelolaan wilayah sungai yang mencakup kelembagaan. Kajian terhadap data pertanian yang meliputi data pola tanam dan lainlain 11. peta daerah irigasi. Kajian terhadap data irigasi yang meliputi luas daerah irigasi.

Membagi Wilayah Sungai ke dalam beberapa distrik air (Water District) yang dikaitkan dengan Demand Cluster-nya 5. Menganalisis kebutuhan air antar sektor pada saat ini dan proyeksinya di masa yang akan datang untuk setiap Demand Cluster 4. Dalam DSS RIBASIM dilakukan simulasi neraca air dan alokasi air di WS dengan berdasarkan pasokan dan kebutuhan air. seperti : 1) Skematisasi WS. selanjutnya diidentifikasi upaya-upaya startegis yang diperlukan dalam pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. data yang diperlukan. berbagai pilihan visual. RIBASIM menjelaskan mengenai user interface. dilakukan melalui rangkaian kegiatan sebagai berikut : 1. 4) Pemilihan pengelolaan air B. uraian singakat hasil simulasi. Mengidentifikasi skenario pengembangan wilayah sebagai basis untuk proyeksi kebutuhan air 2. 2) Perhitungan kebutuhan air. format data. prosedur penggunaan untuk kepentingan yang lain. prosedur untuk melakukan running berbagai komponen yang ada. RIBASIM merupakan salah satu perangkat lunak yang paling utama dalam DSS sehingga sering disebut DSS RIBASIM.(Persero) CABANG I MALANG (River Basin Simulation) suatu perangkat untuk melakukan simulasi pengembangan sumber daya air. Dalam mengidentifikasi upaya strategis tersebut. prosedur pemasukan. Menganalisa ketersediaan air di setiap Water District dan total Wilayah Sungai 6. Mengelompokan daerah di wilayah sungai ke dalam beberapa kelompok pengguna (Demand Cluster) yang mengacu pada rencana tata ruang 3. detail konsep dasar pembuatan model dan simulasi WS. Identifikasi dan Upaya Strategis Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS dan RIBASIM. Menghitung neraca air bulanan di setiap pasangan Water District dan demand cluster juga untuk total Wilayah Sungai 7. Menghitung tingkat pemakaian air sekarang dan proyeksinya dengan menggunakan indicator Indeks Penggunaan air dan menentukan tingkat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -19 . RIBASIM (River Basin Simulation) adalah salah satu perangkat lunak yang diperlukan dalam program DSS (Decision Support System). 3) Pengoperasian bangunan waduk dan bangunan pelimpah.

Penetapan Proses penetapan Pola Pengelolaan SDA WS BARITO .6.KAPUAS yang sesuai dengan kelima pilar yang tertuang dalam UU No.9.7.(Persero) CABANG I MALANG kestabilan berupa perbandingan antara debit minimum dan debit maksimum dam indicator coefisient of variation (CV) debit sungai 3.7 Tahun 2004 tentang SDA.5 memperlihatkan diagram alir pelaksanaan penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. 3.8. Penyusunan Rancangan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS Berdasarkan hasil-hasil analisis pada sub-bab tersebut di atas selanjutnya disusun Konsep Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. Berdasarkan ringkasan Metodologi diatas gambar 3.6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -20 .6. 3.KAPUAS yang sifatnya lintas Propinsi perlu ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam bentuk Keputusan Presiden atau Keputusan Menteri yang ditunjuk. Untuk itu perlu ditentukan alternatif prioritas penanganan dalam Pola Pengelolaan SDA WS. BARITO . Alih Pengetahuan Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan transfer hasil analisis khususnya yang menggunakan software yaitu Hymos dan Ribasim yang akan dimanfaatkan oleh staf Satuan Kerja dilingkungan Ditjen SDA di Jakarta.

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -21 .

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -22 .

5 Diagram Alir Pelaksanaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO .KAPUAS Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -23 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 3.

khususnya dalam hal mewujudkan One River One Plan One Management. yang antara lain menegaskan bahwa setiap pemerintahan Daerah Provinsi. dengan demikian setiap daerah pemerintahan berwenang mengelola sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yang secara geografis melintasi beberapa kota/Kabupaten.1 Analisis Kebijakan Tata Ruang Wilayah Sungai (WS) merupakan suatu wilayah kesatuan ekosistem bentang lahan yang dibatasi oleh puncak-puncak gunung ataupun perbukitan yang menghubungkannya. Secara administratif. akibat adanya konflik kepentingan masingmasing wilayah yang tercakup dalam WS.Kapuas mencakup dua wilayah Provinsi yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. yang di dalamnya juga terdiri dari beberapa kabupaten/kota. Kebijakan otonomi tersebut cenderung untuk memicu konflik pengelolaan WS yang terpadu.22/1999). Perubahan status dan wewenang pemerintahan daerah yang otonom ini merupakan salah satu kendala yang sangat berpengaruh terhadap manajemen terpadu suatu WS.(Persero) CABANG I MALANG BAB 4 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4. Dengan adanya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (Revisi UU No.1. Kabupaten dan Kota bersifat otonom.1 ANALISIS TATA RUANG 4. Wilayah Sungai Barito . seperti : 1. Perkembangan yang pesat di Kabupaten Barito Timur sebagai salah satu Kabupaten di Kalimantan Tengah menimbulkan aktivitas kegiatan produksi dan industri yang sangat tinggi. Kawasan dan Pengelolaan WS menjadi parsial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -1 . curah hujan yang jatuh dialirkan melalui sistem sungai tersebut dan keluar melalui satu outlet tunggal. di dalamnya sistem sungai yang saling berhubungan. WS Barito Kapuas merupakan salah satu WS yang bermuara di laut Jawa.

Berikut adalah kerangka pikir dasar dalam penyusunan peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas.Kapuas.767.(Persero) CABANG I MALANG 2. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan).650 km2).2 Konflik Pemanfaatan Ruang Perbedaan kepentingan tiap wilayah Kabupaten/Kota akan menimbulkan konflik dalam pemanfaatan ruang. Penataan ruang ideal WS Barito . Namun kondisi ideal ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan teoritis yang penting dalam merumuskan arahan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito .Kapuas berdasarkan kajian dan perhitungan teoritis terkait fisik wilayah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -2 . Kewenangan dalam mengelola WS berada pada masing-masing Kabupaten/Kota (terpecah-pecah /tidak terpadu) 3.1. 4. Perwujudan ruang yang dihasilkan belum mempertimbangkan bagaimana kondisi eksisting pemanfaatan lahan dan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat (kegiatan perekonomian). Karena alasan kepentingan tiap daerah maka dalam RTRW Kabupaten/Kota.Kapuas merupakan gambaran ideal pemanfaatan ruang wilayah WS Barito . Selain Wilayah Kabupaten/Kota di WS Barito . Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki ’cara pandang’ yang berbedabeda terhadap keutuhan WS sebagai suatu ekosistem. Sulit dilaksanakan koordinasi antar Kabupaten/Kota 5.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki kepentingan yang berbeda terhadap Wilayah Sungai 4.Kapuas ini juga terdapat KSP (Kawasan Sentra Produksi) dan Kawasan KAPET DAS KAKAP (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. Dalam menyususun peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas diperlukan beberapa data pendukung yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dari peta penataan ruang ideal. kurang mempertimbangkan mana yang seharusnya kawasan budidaya dan mana yang seharusnya merupakan kawasan non budidaya.

(Persero) CABANG I MALANG PETA RESIKO BENCANA GERAKAN TANAH PETA RESIKO BENCANA BANJIR PETA HIDROGEOLOGI PETA RESAPAN PETA HASIL ANALISIS UNTUK PENATAAN RUANG IDEAL PETA KONSERVASI Gambar 4.Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -3 .1 Penentuan Ruang Ideal WS Barito .

TAMIANG LAYANG . HP KPPL KPP HTI Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi SM Kaw asan Pemukiman dan Pengembangan Lainnya Kaw asan Pengembangan Produksi Hutan Tanaman Industri Areal Transmigrasi Rencana Areal Transmigrasi Hutan Pendidikan & Penelitian Kaw asan Khusus ! . MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH LEGENDA : Ibukota Kecamatan Ibukota Kabupaten Ibukota Propinsi Batas Kecamatan KAWASAN LINDUNG : CA HL TN CB TW DAN PPH Cagar Alam Hutan Lindung Taman Nasional Cagar Budaya Taman Wisata Danau Perlindungan Pelestarian Hutan Suaka Margasatw a . BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Batas Kabupaten Batas Propinsi Batas SWS Barito PALANGKARAYA ! PALANGKARAYA TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG . PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN . T1 T2 Kaw Pengemb Produksi HPP KK Gambar 4. SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU Hutan lindung .(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN TENGAH PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU . KAWASAN BUDIDAYA HPT . . SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT . .2 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -4 . . PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU . . Hutan Produksi Hutan Produksi Terbatas Permukiman dan Pengemb . . KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS .

3 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -5 .(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Hutan Lindung Hutan Produksi Tetap Tanjung Barabai Kandangan Rantau Kota Banjarmasin Perkebunan Pertanian Lahan Basah Permukiman Perkebunan Gambar 4.

Kapuas dibutuhkan sebagai panduan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito . DEVELOPMENT Mengarahkan Pembangunan (Direct Development ) PREVENTIF Zoning Development control.3 Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Sungai Arahan pemanfaatan ruang WS Barito . Ditjen Penataan Ruang – Departemen Pekerjaan Umum: 2005 Kriteria pemanfaatan ruang. Site Plan Control. sebagai bentuk perangkat pengendalian pemanfaatan ruang.Kapuas dimaksudkan sebagai perangkat pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan WS.Kapuas. Dengan demikian. dll KURATIF Enforcement . Disinsentif. yang sifatnya preventif (pencegahan) dapat berupa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -6 . sifat pengendalian pemanfaatan ruang dapat dibedakan menjadi kriteria preventif (pencegahan) dan kriteria kuratif (pengobatan). agar tidak terjadi penyimpangan pemanfaatan ruang sehingga berakibat pada kerusakan lingkungan.Kapuas yang berada dalam wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. RDTRK Insentif Sumber: Zulkaidi. Denny.(Persero) CABANG I MALANG 4. Pada prinsipnya. sedangkan kewenangan penataan perwilayahan ekosistem WS Barito . Bab II Pasal 2 ayat 3. angka 13 Bidang Penataan Ruang ditetapkan bahwa “Penetapan kriteria penataan perwilayahan ekosistem daerah tangkapan air pada daerah aliran sungai merupakan kewenangan Pemerintah Pusat”.Kapuas dilakukan dengan berpedoman pada kriteria pemanfaatan ruang di wilayah WS normatif kemudian disesuaikan dengan permasalahan yang timbul di wilayah WS Barito .Kapuas berada di Provinsi.Kapuas. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom. Kriteria WS Barito . Mendorong Pembangunan (Promote Development ) RTRWK. Development Permit.1. mengingat bahwa WS Barito . Pemerintah Pusat berwenang untuk menetapkan kriteria dimaksud. Rencana Detail Tata Ruang dan Zoning Regulation. dalam Pekerjaan Apresiasi NSPM Penataan Ruang Kabupaten dan Kota di Wilayah I (Sumatera). Penetapan kriteria WS Barito . Di dalam Peraturan Pemerintah No.

Secara umum. Pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan wilayah ekosistem WS Barito . dan sebagainya. Sementara kriteria penetapan Kawasan Budidaya dibedakan menjadi budidaya perkotaan dan budidaya non perkotaan. Berdasarkan Keppres No. maupun pemeliharaan kesuburan tanah.(Persero) CABANG I MALANG pengaturan pemanfaatan ruang (zonasi). Dalam konteks pengendalian pemanfaatan ruang WS. kawasan resapan air.3. kehutanan.Kapuas. dll. jasa dan industri. Salah satu aspek penting dalam penataan wilayah ekosistem WS Barito .1. 4. baik bawah tanah atau air permukaan serta sebagai pencegah banjir dan erosi. kawasan hutan lindung.Kapuas adalah arahan pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung. dll. Kawasan budidaya non perkotaan sendiri meliputi kawasan perkebunan. Kriteria penetapan Kawasan Lindung dibedakan menjadi kawasan lindung yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap wilayah WS Barito . kawasan mata air. masing-masing untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. kriteria penetapan dibagi dua.1 Arahan Kawasan Non Budidaya/Kawasan Lindung Kawasan lindung merupakan kawasan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan pada pengaturan tata air. perdagangan. Termasuk dalam kawasan budidaya perkotaan adalah kawasan permukiman. kriteria pemanfaatan ruang dirumuskan untuk masingmasing klasifikasi kawasan.Kapuas memiliki beberapa jenis kawasan lindung seperti: 1. ekosistem WS Barito . Termasuk dalam kawasan lindung berpengaruh langsung antara lain adalah Kawasan Sempadan Sungai. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -7 . sedangkan perangkat pengendalian pemanfaatan ruang yang sifatnya untuk mendorong pembangunan dengan memperhatikan perbaikan kondisi dan permasalahan dapat berupa arahanarahan dan rencana penataan ruang. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan yang berfungsi lindung. pertanian. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Di Bawahnya 2.Kapuas. Kawasan Perlindungan Setempat 3.

kedua kawasan tersebut tidak dapat diharapkan dapat mendukung upaya perlindungan terhadap daerah aliran sungai secara langsung. yaitu kawasan hutan lindung dan kawasan resapan air.(Persero) CABANG I MALANG Dari ketiga klasifikasi kawasan lindung tersebut. meliputi sungai-sungai pada Wilayah Sungai Barito . hanya dua kategori yang berpengaruh secara langsung terhadap wilayah sungai Barito . kecuali Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya. prioritas penanganan untuk kawasan suaka alam dan cagar budaya relatif lebih rendah jika dibandingkan terhadap kedua klasifikasi kawasan lindung lainnya. tampak bahwa pada daerah aliran sungai (DAS) sebagai wilayah ekosistem sumberdaya air secara eksplisit dan langsung belum termasuk dalam kawasan lindung. maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan lindung antara lain adalah: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -8 .Kapuas beserta sungai-sungai kecil lainnya. kawasan ini lokasinya tidak Sempadan Sungai (sepanjang Sungai). Oleh karena itu. • Pada Kawasan Resapan Air selalu di hulu WS. karena: • Pada Kawasan Hutan Lindung Hanya berlaku bila kawasan tersebut berupa hutan dan ada pula kriteria lain. Di samping kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya.000 m atau lebih (arahan nasional) atau elevasinya 1. Dari berbagai jenis kawasan lindung yang paling diharapkan dapat menunjang kawasan WS adalah kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya.000 m atau lebih (arahan provinsi). Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan lindung.Kapuas. kawasan perlindungan setempat pun mampu menjadi elemen pendukung pelestarian WS. Jika terdapat kawasan resapan air. Namun demikian. seperti : wilayah dengan kelas kelerengan 40% atau lebih dan elevasinya 2. Dari kriteria pengelolaan kawasan lindung yang terdapat dalam RTRWP 2003. meliputi: Tidak selalu ada di daerah pengaliran sungai.

Perlindungan kawasan hutan lindung untuk menjaga fungsi hidrologis. meningkatkan sumber pendapatan negara dan devisa. ekonomi dan budaya. • • • • Pelestarian daerah rawa disekitar pantai untuk menahan abrasi dan intrusi air laut. • • • Membangun kelembagaan yang kondusif bagi terciptanya partisipasi semua pengelola hutan. Hutan konservasi.(Persero) CABANG I MALANG • Fungsi Hutan lindung. Perlu menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai imbuhan air tanah menanggulangi bencana geologi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -9 . fungsi konservasi. memelihara dan memperluas lapangan dan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha. • Pentingnya pemeliharaan kawasan hutan dan lingkungannya agar fungsi lindung. dan fungsi produksi tercapai secara optimal dan lestari. memacu pembangunan wilayah terpadu dengan pembangunan daerah dan mendukung pemberdayaan masyarakat desa yang diselaraskan dengan kepentingan rakyat yang tinggal dan hidup di wilayah hutan. • Perlu adanya penetapan kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan hutan berwawasan lingkungan yang tegas dan tepat dalam menjaga kelestarian ekosistem wilayah di Kawasan lindung dan hutan produksi. hidrogeologis dan bencana geologi. yaitu dengan Body Covered Ratio (BCR) < 20% dan juga membuat sumur resapan. Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan minimal 30% Karena hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional merupakan kawasan yang digunakan untuk menjaga kelestarian habitat langka dari kepunahan • Penyelenggaraan perlindungan hutan ditujukan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Pembangunan di daerah resapan air dapat dilakukan dengan ketentuan rasio lahan terbangun tertentu. Kawasan hutan suaka alam dan Kawasan hutan pelestarian alam harus dilestarikan dan ditingkatkan pengelolaannya agar kelestariannya terjamin dan memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(Persero) CABANG I MALANG • Pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan lindung. Kawasan-kawasan permukiman yang telah memenuhi persyaratan dapat dikembangkan menjadi kawasan siap bangun. • Satu-satunya lingkungan permukiman harus diberi akses (jaringan) transportasi terhadap kawasan-kawasan lain yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja. • Pada daerah sepanjang tepi sungai harus ditetapkan areal selebar (sekurang-kurangnya) 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat sempadan pantai • Pengembangan struktur ruang mikro yang integratif terhadap struktur ruang makro untuk meningkatkan aksesibilitas kawasan-kawasan produksi ke pasar regional/lokal dan ke pasar internasional/nasional melalui pengembangan prasarana dan sarana transportasi antar kawasan (intra wilayah).2 Arahan Kawasan Budidaya/Kawasan Non Lindung Tujuan pengembangan kawasan budidaya di wilayah ekosistem WS Barito Kapuas adalah untuk memanfatkan potensi yang ada untuk mensejahterakan masyarakat serta menunjang pembangunan daerah. sepadan sungai.3.1. Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan budidaya. 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -10 . sementara hutan produksi dibutuhkan untuk mendukung berbagai industri berbasis kehutanan yang telah menjadi sektor unggulan bagi Riau. maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan budidaya antara lain adalah: • Pemanfaatan hutan untuk kegiatan ekonomi sebaiknya dilakukan di luar hutan untuk menjaga fungsi pokok hutan serta dapat meningkatkan produktivitas dan penganekaragaman produk pengolahan hasil hutan melalui peningkatan kemampuan dalam menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan tetap di bawah pembinaan.rumputan penguat tebing. • Mengurangi sedimentasi melalui rencana program pengelolaan tataguna lahan dan tata air melalui reboisasi sepanjang penanaman rumput .

Pembuatan septik tank terpadu untuk daerah pemukiman di sekitar sungai.448 jiwa.1 Provinsi Kalimantan Selatan 1. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata adalah 0.90%. dan limbah B3. Memperhatikan satus penguasaan lahan. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan yang meliputi kabupaten Barito Kuala tahun 2007 adalah sebesar 269.2 ANALISIS SOSIAL EKONOMI 4.1 Proyeksi Penduduk 4. Pengawasan kapal masuk dan keluar ─ Pengembangan program land application 4.1.Kapuas dari berbagai sumber melalui Pengendalian dan penataan lokasi sumber pencemar point source (industri) dan non point source (non industri). • Mengendalikan kuantitas dan kualitas limbah yang masuk ke perairan Sungai Barito . Melaksanakan pemantauan kualitas perairan secara periodik dan berkelanjutan. untuk kawasan pemukiman di perkotaan. Pembatasan beban cemaran yang masuk ke badan air WS Barito . Mengoptimalkan pemanfaatan ruang kawasan budidaya melalui peningkatan pemanfaatan kawasan izin investasi yang belum digarap. Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebagai ditunjukkan dalam tabel di bawah. Memperhatikan kepentingan “stakeholder” (pemerintah swasta dan masyarakat). Pembuatan IPAL Kota Terpadu.2.(Persero) CABANG I MALANG • • • • • Perlu menetapkan kriteria lokasi dan standard teknis pengolahan dan pengelolaan secara konsisten dan pengenaan sanksi kawasan izin investasi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -11 .2. melalui : ─ ─ ─ ─ ─ Pembuatan IPAL domestik terpadu.Kapuas.

Tabel 4.96 Kepadatan / km2 (2007) 90 Kepadatan / km2 (2025) 106 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 dan hasil analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -12 .470 2020 302.000 2007 2010 2015 Tahun 2020 2025 Gambar 4.50%. Tingkat kepadatan penduduk pada WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.000 240.789 2015 289.000 300.604 Luas (km2) 2. Dari proyeksi jumlah penduduk pada Kabupaten yang berada pada Wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan pada tahun 2025 sebesar 316.448 Jumlah Penduduk (jiwa) 2010 276.1 Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Pertumb Pendd% 0. Rincian jumlah penduduk berdasarkan tahun tinjauan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.604 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Sumber :Hasil Perhitungan Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas Kalsel Jumlah Penduduk 340.448 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk (2025) 316.000 260.000 280.000 320.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan data penduduk dan laju pertumbuhannya maka dapat dibuat proyeksi penduduk untuk 20 tahun yang akan datang.996. kepadatan penduduk 90 jiwa/km2 menjadi 106 jiwa/km2atau naik sebesar 17. Pada tahun 2007.90 2007 269.733 2025 316.2 Proyeksi Kepadatan Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Penduduk (2007) 269.604 jiwa.4 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Kepadatan rata-rata penduduk pada WS Barito-Kapuas berdasarkan batasan administrasi di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami peningkatan.

2 Provinsi Kalimantan Tengah 1.886 500.082 2010 137.360 1. Kepadatan penduduk di Kabupaten Murung Raya tergolong paling jarang yaitu hanya 4 jiwa/km2.5 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -13 . Berdasarkan luas wilayah dibanding dengan jumlah penduduk yang ada.19 8.615 88.580 1.314 90.325 144.3 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Pertumb Pendd% Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Sumber :Hasil Perhitungan 16.91 20.000 100.2.397 355.724 141.188.581 95.356 118.656 777.119 414.148 113. Barito Timur dan Barito Utara serta kabupaten Murung Raya.102 135.000 2007 2010 2015 Tahun Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2020 2025 Gambar 4.889 105.92 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Jumlah Penduduk (Jiwa) 2007 128.938 242.196 126.13 2.841 1.082 jiwa.100 2020 173.878 600.566 376.000 400. pada tahun 2007 adalah sebesar 777.35 12. Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut.426 100.410 2025 194.1.(Persero) CABANG I MALANG 4.000 200.43 42. Tabel 4.000 Jumlah Penduduk 500. Pada tahun 2025 diproyeksikan bahwa pada Kabupaten Kapuas kepadatan penduduknya paling tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Barito Selatan.266 91.340 1.019 5. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah yang meliputi 5 kabupaten/kota.137 455.701 185.538 2015 154.000 300.992 107.

6 Proyeksi Sebaran Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Tabel 4.148 112.783 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas JUMLAH Penduduk (2025) 203.2. Provinsi Kalimantan Selatan 1.69% (tanpa industri besar).2.957 242.886 1.886 242.397 91. dan 4.002. Berdasarkan angka pertumbuhan tersebut bisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -14 .526 167.091 88.750 91.898 156.00 3.2.91 20.13 12.(Persero) CABANG I MALANG Proyeksi Sebaran Penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2025 (%) 16.00 8.014.4 Proyeksi Kepadatan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Penduduk (2007) 128.152 Luas (km2) 6.716.34% (dengan industri besar) dan 14.341. Sedangkan pertumbuhan PDRB atas dasar harga tetap sebesar -5.397 511.834.43 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Gambar 4.1.19 8. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 1.00 57.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Studi 4.00 23.35 42.300.75% (tanpa industri besar).75 15.02% (dengan industri besar).194 Kepadatan / km (2007) 20 14 23 4 6 9 2 Kepadatan / km (2025) 32 20 41 10 16 18 2 Sumber : hasil perhitungan 4.

798. 000.00 2007 2010 2015 2020 2025 PDRB atas dasar har ga ber l aku PDRB atas dasar har ga tetap Gambar 4.00 2. 00 2007 2010 2015 2020 2025 P DRB at as dasar har ga ber l ak u P DRB at as dasar har ga t et ap Gambar 4. 00 10.039 1.337.255.495.012.072 2020 3.539 1.000.5 Proyeksi PDRB Kabupaten Barito Kuala No I Jenis PDRB 2007 Dengan Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap Tanpa Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap 2. 000.(Persero) CABANG I MALANG diproyeksikan besarnya PDRB Kabupaten Barito Kuala dalam beberapa tahun ke depan. 000.8 Proyeksi PDRB (tanpa industri besar) Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -15 . 000. 000.783 3.000.251 3. 00 5.000. 00 15. 00 20. 000. 000.473.738.426.00 1. 000.206. 000.919 1.211.756 1.000.934 II 2.748.000.00 4.857.784 Sumber : Hasil Perhitungan 5.799 14.250.802.000.022 2025 4.970.000.770. 000.00 1. 000. 00 25.086.270 821. 000.742 6.000.00 3.7 Proyeksi PDRB (dengan industri besar) Kabupaten Barito Kuala 35. Tabel 4. 000.451 1.246.237.00 3.932 2.201 29. 000. 00 30.886.000.00 1.000.00 Proyeksi PDRB (Rp) 2010 2015 2.299.234.534.

23 157.706. Tabel 4.00 2.00 44.118.(Persero) CABANG I MALANG 4.06 156.2.615.00 25.00 1.000.368. Pertumbuhan PDRB pada tahun 2001 sebesar 2.200.900.003.61 62. Berdasarkan nilai pertumbuhan tersebut. 0 0 0 .00 2010 368.749.00 105.9 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -16 .900.95 140.48%.244.09 180.617.47 2015 446.850.224.000.500.05 249.20 3.16 136.600. hotel.00 2005 2 0 10 2 0 15 2020 2025 Gambar 4.28 144.687.38 228.00 736.456. Provinsi Kalimantan Tengah 1. dibuat proyeksi besarnya PDRB sampai tahun 2025.979. 0 0 1.821.35 2025 657.2.27 2020 541. Kabupaten Barito Selatan Kontribusi sektor pertanian.57 8.30 295.53 5.66 5.00 93.05 4.76 1.17 170.700.909.15 1.700.69 99. peternakan.608.100.75 179.755.813.23 224.000. Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa TOTAL Sumber : Hasil Perhitungan 2005 303.6 Proyeksi PDRB Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.00 2.730.37 2.2.734.338.96 948.540.559.230.48%.03 4.784.00 62.76 2.541.137.19 98.56 396.258.900.947.80 116.85 116.144.74 22.00 3. kehutanan dan perikanan sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB Kabupateb Barito Selatan yakni 43. 5 0 0 .00 95. 0 0 0 . Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.314.212.300.68 63.86 13.92 126.92 206.585.119.265.600. disusul sektor perdagangan.08 39.100.819. 0 0 0 .194.63 176.279. restoran sebesar 13.972.35 89. Gas dan Air Bersih Bangunan/Konstruksi Perdagangan.723.79 %.364.600.000. 0 0 500.

68 7.40 90.03 % disusul sektor jasa 12.3 milyar rupiah.27 104.10 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Timur 2007 No.91 30.60 1.9 2020 627.4 61. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.47 1. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2007 304.42 45. Sektor perdagangan.69 168.06 5.63 49. Hotel dan Restoran menempati urutan kedua dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -17 .98 3.0 2015 475.77 669.16 42.2 38.55 4.94 883. pada tahun 2007 naik menjadi 1023.1 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.87 40.3 2010 359.09 65.18%.85 158.97 96.92 119.167.78 37.543. Kabupaten Barito Timur Dilihat andil per sektor perekonomian terhadap PDRB Barito Timur.9 2025 829.33 10. Kabupaten Barito Utara Laju pertumbuhan PDRB berdasarkan harga konstan 2000 pada Kabupaten Barito Utara pada tahun 2006 untuk tiap sektornya rata-rata sebesar 3.79 1.87 59.72 73.37 28.23 127.8 19.2 1.8 562. menunjukkan bahwa sektor pertanian sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB yakni 53. Kontribusi terbesar dari total PDRB disumbang oleh pertanian sebesar 37 86%. 12% 4% 6% 12% 7% 0% 4% 54% 1% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.76 97.93 2.31 23.7 24.7 Proyeksi PDRB Barito Timur 3. PDRB Barito Timur atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha pada tahun 2006 sebesar 886.(Persero) CABANG I MALANG 2. Hotel dan Restoran Keuangan.30 %.8 76.39 73.48 79.8 milyar rupiah.67 55. Persewaan dan Jasa Gambar 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.9 35.98 209.2 3.38 1.60 53.

02 71.936. dan merupakan urutan ketiga penyumbang PDRB Barito Utara.96 2020 394.80 50.8 Proyeksi PDRB Barito Utara No.22708 64413.72 2025 428.858.14 936.13 75.952.563.90 67.848. Sektor Jasa-jasa memberikan peranan sebesar 10.9848 87442.1802 56208. Persewaan dan Jasa Gambar 4.14 3.10 63.11 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Utara 2006 Tabel 4.17 82.71 1.66516 203303.658 85.762636 94154.570.42 49. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.01% dari total PDRB.309.3246 60076.14 34.68 198.98 27.40 171.005.431. Proyeksi PDRB sampai dengan tahun 2025 dalam dilihat pada tabel berikut ini: 8% 3% 10% 38% 21% 6% 0% 6% 8% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.40 3.81459 118008.79 2010 333.18 824.203.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -18 .7372 5140.57 82.121.89 59.79 52.104.9426 1.410 204923.6888 111058.274.141.370.784.89 47.55 4.4008 95928.499.976. Hotel dan Restoran Keuangan.220.785.17395 286743. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.244.652.022.510.10 2015 362.72 46.656.83% dari total PDRB.161 152859.053.(Persero) CABANG I MALANG menyumbang PDRB Barito Utara.83 238.650 114.503.20 126.38723 160367.030. yaitu sebesar 20. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2006 312.589.449.784.764.77 99.535.423 344333.99567 6226.8379 1.

97 473.402.085.9 PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No.263. Tabel 4.121.611.03 133.650.00 256. 3.400.73 587.108.033.423.134.936.318.41 8.021. yaitu sebesar 46.12 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Barito Utara 4.055.12 2.811.21%. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.73 170.583.81 11. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.85 119.-.332.000.93 99.508.65 10.546. sedangkan pertumbuhan terkecil terjadi pada sektor pertambangansebesar 8.00 800.000.581. Ini berarti telah terjadi peningkatan sebesar 18.346.70%.88 217. gas dan air bersih sebesar 0.814. Pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor bangunan/konstruksi sebesar 39.228.03 152.034%.81 9.48 146.74 10.14 195.12 224.364. Sektor pertanian memberikan sumbangan terbesar terhadap angka PDRb ini.998. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.263.486.83 376.371.731.521.513.00 400.43 118. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1.000.442.228.98 87.(Persero) CABANG I MALANG 1.45 2005 1. Kabupaten Kapuas PDRB Kabupaten atas dasar harga berlaku Kapuas pada tahun 2007 sebesar (angka sementara) Rp.32 Sumber : Kapuas Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -19 .078.408.49 2.76 12.653.73 2007 1.406.02 247.351.25 184.24 2006 1.92 297.600.95 290.572.81 98.00 1.00 2006 2010 2015 2020 2025 Gambar 4.408.29% terhadap PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006.530.12 107.000.37 2.87 3.29 11.96 345.65%.680.73 151.879.360.000.73 8.920.386.320.80 350.386.845.834. Sumbangan terkecil diberikan oleh sektor listrik.200.

466.019.59 401.2.22 77.584.40 11.495.27 67.127.590.72 330.10 Proyeksi PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No.39 165.175.94 2.93 272.43%.081.442. Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik.72 130.511.336.077.86 Sumber : Hasil Perhitungan 4.148.456.715.928.469.1 Provinsi Kalimantan Selatan 1.02 215.42 3.40 210.964.724. Jika pertumbuhan jumlah pelanggan listrik dihitung berdasarkan pertumbuhan jumlah penduduk di Kabupaten Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -20 .15 645.67 2020 1.47 508.84 2015 1.49 4.763.38 162.894.674. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 adalah sebesar 101. Sedangkan pada tahun 2007 turun menjadi sebesar -3.12 113.71 164.863.174.04 7.79 2025 2.220.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan.138.57 209.294.26 7.962. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 4.24 266.581.68 9.663.713.87 6.3.890.19 147.223.682.849.91 5.206.29 130.68 4.380.531.50 274.519.15 2.605.53 102.03 346. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.813.266. Pemakaian daya listrik rata-rata tiap pelanggan pada tahun 2007 adalah sebesar 668.95 169.66 140.44 15.864.57 12.35 260.15 1.946.662.44 9.352.217.636.31%.76 2010 1.407.158.58 316.15 98. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB 2007 1.50 125. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.396.326.876.490.13 Sumbangan masing-masing sektor lapangan usaha terhadap PDRB (menurut harga berlaku) Kabupaten Kapuas 2007.683.10 Kwh.71 205. Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan.554.454. Tabel 4.725.64 158.2.3 Proyeksi Sektor Energi Listrik 4.51 88.587.741.

705 3.064 2010 14.151 Tahun 2015 15.908 2015 371. Konsumsi listrik terbesar terjadi di Kabupaten Kapuas yaitu sebesar 47.216 580.756. Pada tahun 2025 total pemakaian energi listrik sebesar 116.302 40.34 18. maka bisa dibuat proyeksi beberapa tahun ke depan untuk jumlah pelanggan dan besarnya pemakaian daya listrik. Tabel 4.13 Data Kelistrikan di WS Barito-Kapuas No 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Pelanggan 13.940 531.819.9%.58 47. Kabupaten Barito Utara.146.140 554.520.862 517.520 2010 354.(Persero) CABANG I MALANG Kuala sebesar 0.756 507.247 95 2.908. Tabel 4.93 1. Kabupaten Barito Timur.898.879 580.00 1.2 Provinsi Kalimantan Tengah WS Barito-Kapuas di kalimantan tengah mencakup lima (5) Kabupaten/Kota.819.582 2025 405.195.14 1.12 Proyeksi Besarnya Daya Listrik Terdistribusi di Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 Tahun Daya Listrik (KWH) 2007 345.3.832 103 3.555 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.788 11.487 2020 16.2.125.363 607.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -21 .00 1.00 1.947. Proyeksi kebutuhan energi listrik ini dihitung berdasarkan angka pertumbuhan penduduk di masing-masing daerah.124.145 108 3.354.581.113 6.664 6. dengan Kabupaten Kapuas merupakan konsumen tertinggi.00 727.938 2025 16.059 7.432 530.075 555.042 11.437.794.581.370.00 1. yaitu Kabupaten Barito Selatan.091.009 Daya Terpasang Rata-rata Pemakaian Pertumbuhan (Kwh) Daya (Kwh) (%) 14.11 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah 2007 14.14 Kwh per pelanggan.121.348 6.36 8.533 99 3.091 Kwh.776 2020 388.10 5.365 493.21 1. pada tahun 2007. Sedangkan rata-rata pemakaian energi listrik per pelanggan terbesar terjadi di Kabupaten Barito Utara yaitu sebesar 1.02 3.451.711.14 2.20 Kwh untuk empat kabupaten.647 6.457 4.081 92 2.638.862. Kabupaten murung Raya dan Kabupaten Kapuas.

284.92 50.731.819.84 4.644.853.788.783.655.1 20.50 18.226.272.06 2025 23740418.00 3.311.42 3.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.11 140.82 60.133.45039 12.17 5.520.14 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik di WS Barito Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 13.02 60.032.437.842.15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 15.00 2010 16780588.13 Sumber : Hasil Perhitungan Barito Selatan 17% Barit o Utara 13% Kapuas 51% Barito Timur M urung Raya 12% 7% Gambar 4.214.638.014.00 43.659.428.864.27 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.55 19.275.858.216.088.773.60 Daya Terpasang (Kwh) 2015 2020 18837976.091.066.55 21147611.804.78 54.496.986.048.098.274.96 15.354.458.276.52 13.15 5.370.42 10.495.39 9.53 72.00 3.991.36 6.48 12.14 Distribusi Banyaknya Pelanggan Listrik di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -22 .409.13 9.21 55.731.242.81 22.02 14.765.21 8.0175 16436.65 8.775.688.503.66 7.2327 20713.518.94 13.00 11.29 9.00 47.746.83 66.205.768.77 12.050.693.720.368.27 14.483.794.0829 18451.00 45.302.00 Jumlah Pelanggan 2010 2015 2020 2025 14641.93 23.240.00 8.711.464.51 11.897.886.705.

00 60. curah hujan.000. Hal ini mempunyai pengertian bahwa informasi yang diperoleh dalam analisis hidrologi merupakan suatu masukan yang penting didalam melakukan analisis selanjutnya. dan analisis ketersediaan air atau potensi air. Selama musim hujan pada bulan November – April. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -23 .000.(Persero) CABANG I MALANG 80. debit rancangan dengan kala ulang tertentu. angin berhembus membawa uap air.00 20. baik curah hujan. Analisis hidrologi mencakup analisis perilaku debit aliran sungai. perilaku debit aliran sungai.00 2007 Barito Selatan 2010 Barito Utara 2015 Barito Timur 2020 Murung Raya 2025 Kapuas Gambar 4. WS Barito-kapuas yang terdiri dari DAS Barito.00 40. salah satu aspek analisis yang diharapkan untuk menunjang perancangan dalam pengelolaan SDA mencakup penetapan besaran rancangan.000. dimana berada pada daerah tropis.000.000.000. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angina monsoon tenggara. DAS Kapuas melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.3 ANALISIS HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI Analisis hidrologi merupakan satu bagian analisa awal dalam suatu kajian tentang berbagai keperluan yang menyangkut pemanfaatan sumber daya air berbasis wilayah sungai.000. iklim. Dalam analisa hidrologi.000. ketersediaan air atau potensi maupun unsur hidrologi lainnya.15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah (Kwh) 4.

4. Analisis perilaku hidroklimatologi dilakukan berdasarkan statistik data historis. yaitu : hujan. Angka koefisien variasi menyatakan seberapa besar variabilitas debit. Analisis ketersediaan air atau analisis potensi air dilakukan dengan menggunakan berbagai alternatif data dasar sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -24 .3. dan koefisien variasi. air permukaan dan air tanah. Artinya dengan kemungkinan 80% debit yang terjadi adalah lebih besar atau sama dengan debit tersebut. yaitu sekitar 90%. Debit andalan merupakan debit yang dapat diandalkan untuk suatu reabilitas tertentu. pada prinsipnya dapat bersumber diri dari 3 (tiga) jenis.1 Ketersediaan Air Wilayah Sungai Air sebagai sumber daya alam strategis secara alami bersifat dinamis dan mengalir dari sumbernya ke tempat-tempat yang lebih rendah tanpa mengenal batas wilayah administrasi. minimum.(Persero) CABANG I MALANG sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau. antara lain rata-rata. Semakin besar variabilitas debit aliran sungai berarti sungai tersebut memerlukan perhatian khusus. Ketersedian air yang cenderung menurun di satu pihak dan meningkatnya kebutuhan air sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkamya kegiatan ekonomi masyarakat di lain pihak. pertanian dan industri. maksimum. simpangan baku. Ketersediaan air merupakan hal yang penting dalam pengelolaan suatu wilayah sungai yang dinyatakan dalam keandalan debit yang dapat disediakan dalam rangka memenuhi kebutuhan di dalam maupun diluar wilayah sungai tersebut. Ketersediaan air bagi pemenuhan berbagai kebutuhan. Deskripsi kondisi factor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini. Untuk keperluan irigasi biasanya digunakan debit andalan dengan reabilitas 80%. Sumber air permukaan merupakan sumber yang sangat berpotensi untuk dimanfaatkan yang pada umumnya dipakai untuk kebutuhan air baku. Untuk keperluan air minum dan industri maka dituntut reabilitas yang lebih tinggi. atau sistem irigasi boleh gagal sekali dalam lima tahun.

Jika tidak tersedia data debit. Dalam menghitung debit andalan lebih baik memakai data debit aliran pengamatan dengan data seri yang panjang. maka diperlukan data seri debit dengan panjang data minimal 10 tahun.Kapuas dihitung berdasarkan pemenuhan berbagai kepentingan khususnya pemenuhan air baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -25 . tebal Aliran Q80% dan tebal aliran Q90%. yaitu dengan mengalikan tebal aliran dengan luas catchment area dari lokasi yang dihitung. Dalam perhitungan dengan menggunakan analisis frekuensi untuk besaran debit andalan Q80% dan Q90%. atau jika ternyata data debit yang ada hanya mencakup kurang dari lima tahun. debit andalan Q90%. Untuk ketersediaan air di WS. Dari data yang telah diperoleh. namun bila tidak ada atau data seri yang ada tidak terlalu panjang. iklim dan kondisi wilayah sungai dengan menggunakan model hujan-aliran (rainfall-runoff model). Adapun besaran tebal aliran sangat diperlukan untuk memperkirakan besarnya debit aliran sungai pada lokasi lain. Debit limpasan yang dihasilkan dari seluruh sub-DAS diperoleh dengan menerapkan parameter-parameter hasil kalibrasi dan verifikasi terhadap hujan rata-rata kawasan pada tiap sub DPS. Dalam studi ini. kurang dari 10 tahun maka ditambahkan dengan memakai data curah hujan bulanan yang dikonversi menjadi data debit menggunakan model konseptual Sacramento yang merupakan bagian dari Paket Program Hymos. bilamana data tersebut tersedia. debit andalan Q80%. namun ketersedian data tersebut masih sangat terbatas (jarang) dan bahkan tidak setiap sungai mempunyai data debit pengamatan. Barito . sehingga untuk analisis potensi air dan masukan untuk DSS-Ribasim perlu dilengkapi dengan menggunakan data hujan melalui suatu proses analisis hujan-aliran (rainfall-runoff). maka perkiraan potensi sumber daya air dilakukan berdasarkan data curah hujan. tebal Aliran rata-rata.(Persero) CABANG I MALANG a. perhitungan ketersediaan debit andalan lebih ditekankan dengan menggunakan data-data debit dari hasil pengamatan. terjadi banyak kekosongan data pada data debit aliran sungai. Berdasarkan data runtut-waktu (time-series) dari data yang ada (historis). Dari hasil pengolahan data-data debit yang ada maka dapat dihitung debit rata-rata. b.

4. Barito . maka di daerah tersebut banyak dijumpai mata air – mata air.(Persero) CABANG I MALANG keperluan rumah tangga. perkotaan dan industri serta untuk keperluan irigasi di WS.2 Ketersediaan Air Tanah Dalam analisa keseimbangan air permukaan tidak mencakup potensi air tanah mengingat pengambilan air tanah merupakan pilihan terakhir untuk mengurangi kerusakan lingkungan.3 Debit Banjir Rencana Masalah banjir di wilayah Wilayah Sungai Barito .Kapuas.3. Geohidrologi Wilayah Sungai Barito . Oleh karena itu potensi air tanah ditinjau secara umum wilayah Cekungan Air Tanah yang berpotensi dapat memberikan kontribusi ketersediaan air bila pilihan pertama yaitu air permukaan tidak dapat memenuhi atau kondisi medan sulit untuk melakukan rekayasa teknik dengan pembuatan waduk atau sejenisnya.Kapuas merupakan salah satu masalah pokok yang terjadi hampir setiap tahun. Kapasitas tampungan sungai Barito .Kapuas dijelaskan dalam Bab-5 selanjutnya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -26 . pada saat musim hujan tidak dapat menampung debit yang ada sehingga hal ini mengakibatkan genangan banjir yang merusak daerah sekitar alur sungai Barito . 4.Kapuas.Kapuas. Untuk menghindari duplikasi atau pengulangan perhitungan yang dapat menimbulkan inkonsistensensi maka studi ini memperhatikan dan mengkaji studi-studi yang telah dilakukan terutama perhitungan-perhitungan terbaru sebagai pembanding untuk menghasilkan gambaran kondisi banjir yang terjadi di WS Barito .3.Kapuas Dengan kenampakan morfologi dan geologi (volkanik) seperti terdahulu maka dapat diprediksikan bahwa kondisi hidrogeologi daerah ini sebagian besar cukup baik dengan pola akuifer dari jenis Aliran melalui Celahan dan Ruang Antar Butir yang termasuk dalam kelompok Akuifer dengan Produktivitas Tinggi sampai Sedang dengan penyebaran Luas yang secara umum debit air tanahnya mampu mencapai lebih dari 5 liter/detik sampai kurang dari 5 liter/detik. Adanya kondisi akuifer seperti tersebut.

1 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga Air bersih adalah air yang diperlukan untuk rumah tangga. baik dengan memakai analisa frekuensi untuk daerah yang mempunyai data pengamatan debit yang cukup panjang dan lengkap sedangkan untuk mengetahui hidrograf banjir jam-jaman dipakai hidrograf satuan sintesis (HSS Nakayasu). dan kebutuhan air industri. mata air.4 ANALISIS KEBUTUHAN AIR BAKU 4.(Persero) CABANG I MALANG Dari studi terdahulu yang dilakukan oleh ECI pada tahun 1975 (The Barito Kapuas River Basin Development Project.Kapuas akan diperhitungkan kebutuhan air bersih rumah tangga yang berasal dari SPAM PDAM dengan sumber air baku dapat berasal dari air sungai.Tahun 2020 dan tahun 2025. 4. 4.4.4. terdiri dari kebutuhan air rumah tangga. 4. Perhitungan perkiraan kebutuhan air bersih mengacu pada Kebutuhan Air Rumah Tangga Perkotaan dan Industri (RKI) berdasarkan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Buku 3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -27 .Kapuas dan proyeksinya direncanakan untuk Tahun 2010.4 Hasil Perhitungan Debit Banjir Rancangan Hasil perhitungan debit banjir rancangan dengan berbagai kala ulang. kebutuhan air perkotaan. 1974) untuk menghitung debit banjir rancangan (design floods) dengan mengunakan data curah hujan kerena keterbatasan data debit yang ada dengan kisaran ketersediaan data antara tahun 1970 – 1973 (3 tahun data). sumur dalam atau kombinasinya. tentang ”Proyeksi Penduduk dan Kebutuhan Air RKI(DPU. Tahun 2015.2004).3.1 Kebutuhan Air (RKI) Perkiraan kebutuhan air bersih WS Barito .1. biasanya diperoleh secara individu dari sumber air yang dibuat oleh masing-masing rumah tangga berupa sumur dangkal. Komponen kebutuhan air. Dalam WS Barito . atau dapat diperoleh dari layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) PDAM.

000 > 1. tahun 2016. serta proyeksinya diasumsi terjadi kenaikan sebesar 1 % per tahun. dinyatakan dalam satuan Liter/Orang/ Hari (L/O/H). besar kebutuhan tergantung dari jumlah penduduk yang ada di setiap Sub DAS yang dikorelasikan dengan Kriteria dari Dirjen Cipta Karya. perkiraan besar kebutuhan air bersih setiap Sub DAS adalah berdasarkan jumlah penduduk pada setiap Sub WS dibandingkan dengan kebutuhan air bersih (L/O/H) berdasarkan jumlah penduduk dari Tabel. yang mengacu pada ketentuan dari Dirjen Cipta Karya. maka pada setiap tahapan terjadi kenaikan kebutuhan air bersih rumah tangga. 2006 (Tabel 4. yaitu : Tabel 4.000 – 1.000 – 100.000. ”Unit Pelayanan”.2006.16 Kriteria Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk (Jiwa) 3. Barito .000 500.19).000 – 20.000 – 500. Jumlah penduduk pada setiap Sub DAS menurut tahun perencanaan (tahun 2011.Kapuas terdiri dari beberapa Sub WS.000 Kebutuhan Air Bersih (L/O/H) 60 – 90 90 – 110 100. tahun 2021 dan tahun 2026) pada WS Barito-Kapuas ditentukan berdasarkan kebutuhan air bersih dalam tahun 2006. Materi Pelatihan Penyegaran SDM Sektor Air Minum Sumber : (Peningkatan Kemampuan Staf Profesional Penyelenggara SPAM) WS. DPU.000 100. DPU.125 120 – 150 150 – 200 No 1 2 3 4 5 Kategori Kota Semi Urban (Ibu Kota Kecamatan/Desa) Kota Kecil Kota Sedang Kota Besar Metropolitan Sumber : Dirjen Cipta Karya.(Persero) CABANG I MALANG Kebutuhan air bersih rumah tangga.000.000 20. diuraikan sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -28 .

bengkel.566 104 376.356 105 118.448 111 2010 137.36 113.2 Kebutuhan Air Perkotaan Kebutuhan Air Perkotaan yaitu untuk memenuhi kebutuhan air komersial dan sosial.841 131 316. Ternyata makin besar dan padat penduduknya cenderung lebih banyak daerah komersial dan sosial.02 88.4. sehingga kebutuhan untuk air komersial dan sosial akan lebih tinggi jika penduduk makin banyak.615 101 1.58 91.100 126 289.325 111 144. dengan nilai konstan dari masing-masing tahapan perencanaan.604 119 2 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Utara Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Timur Kebutuhan Air Bersih (LOH) Murung Raya Kebutuhan Air Bersih (LOH) Kapuas Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Kuala 3 4 5 6 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Sumber :Hasil Perhitungan 4.886 114 500.938 106 242.538 121 276. rumah sakit.581 107 95.470 118 2020 173.266 107 5.410 128 302. sehingga sampai proyeksi kebutuhan tahun 2025 nilainya sama sebesar 35 %. Selain itu kebutuhan air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -29 .701 105 185.733 119 2025 194.34 2007 128.119 108 414.148 102 1. Dalam perencanaan WS.196 109 126.656 116 0.1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.90 269.314 104 90. sekolah.426 108 100.889 108 105.992 103 107. hotel dsb.92 355. Barito-Kapuas kebutuhan air untuk perkotaan diasumsi sebesar 35 % dari kebutuhan air bersih rumah tangga.789 114 Tahun Kajian 2015 154.724 105 141.137 111 455.17 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas No 1 Kab / Kota Barito Selatan Pertumb Pendd% 2.102 110 135. gudang.397 108 1. Pada umumnya hampir semua pelayanan PDAM antara 15% sampai dengan 35% dari total air perpipaan untuk kebutuhan air komersial dan sosial seperti : toko.

. Sehingga. 4. pada tahap awal diperhitungkan sebesar 500 L/O/H.. tahun 2020 menjadi 6. terjadi peningkatan sebesar 1 % setiap tahun. Air yang digunakan setiap pabrik berbeda untuk masing-masing jenisnya (pabrik tekstil berbeda dengan pabrik elektronik).45 %. teknologi yang dipergunakan (umumnya yang lebih modern akan lebih efisien dalam penggunaan air). dan tahun 2025 menjadi sebesar 6. namun korelasi antara jenis dan ukuran industri dengan kebutuhan air tersebut kurang nyata. sehingga ada kenaikan pada tahap perencanaan tahun 2010 menjadi sebesar 6. L/O/H % Penduduk diasumsi pada tahap perencanaan awal.(Persero) CABANG I MALANG bersih rumah tangga diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1). ( Formula 1) Dimana : KAI = Kebutuhan Air Industri . selain itu tergantung pula pada ukuran pabrik...20 % tahun 2015 menjadi 6. biasanya sesuai dengan klasifikasi jenis dan ukuran industrinya. %P AP = Persentase asumsi penduduk = Kebutuhan air industri per tenaga kerja. terjadi peningkatan sebesar 0.4. Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %.3 Kebutuhan Air Industri Kebutuhan air untuk industri sangat kompleks. yaitu : KAI = %Px AP x RL..95 % .. RL = Rerata Layanan.. Besar kebutuhan air bersih industri diperhitungkan berdasarkan jumlah penduduk terhadap kebutuhan per pekerja dan rata rata pelayanan. diperhitungkan konstan sebesar 70 %. Kehilangan dalam proses sebesar 6 %. tahun 2006 sebesar 6 %. bahkan untuk setiap produk yang dikerjakan pada setiap saat.5 % setiap tahun.1. Banyak pabrik mengambil air tanah dari sumur dalamnya sendiri dan untuk tambahan diperoleh dari PDAM walaupun masih dalam jumlah yang sedikit. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -30 . (2). akan sulit menentukan perkirakan kebutuhan air untuk industri secara lebih akurat.70 %.

ha Efisiensi irigasi di petak tersier di mana : Qt NFR A et Kebutuhan air irigasi ditentukan oleh faktor – faktor berikut : • • • • • Pola tanam yang diajukan evapotranspirasi potensial koefisien penanaman perkolasi hujan efektif dan kehilangan-kehilangan.2 Kebutuhan Irigasi di WS Barito-Kapuas Potensi pertanian di Kalimantan sebagian besar terdapat di daerah rawa. baik berupa rawa monoton maupun rawa pasang surut. Kehilangan air akibat evaporasi dan perembesan kecil saja dibanding kehilangan akibat eksploitasi. Dalam master plan satuan wilayah sungai Barito. kehilangan air di jaringan irigasi tersier dianggap 15 – 22. sebagian dari air yang dibagikan akan hilang sebelum mencapai tanaman padi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah porsi potensi lahan low land yang relatif luas ternyata masih memerlukan kajian teknis mendalam untuk dapat dimanfaatkan lebih optimal. Akibat eksploitasi. juga mengutamakan kegiatan peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman pangan. Kebutuhan air irigasi yang dirumuskan sebagai Debit rencana dihitung dengan rumus umum berikut : Qt = NFR × A et = = = = Debit rencana.Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %.4. Untuk tujuan perencanaan. lt/dt Kebutuhan bersih air di sawah.5% antara bangunan sadap tersier dan sawah (atau Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -31 . (2). lt/dt/ha Luas daerah yang diairi. 4.(Persero) CABANG I MALANG Selain itu kebutuhan air industri diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1). dimana SWS Barito sesuai Kepmen No 39/1989 terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas. evaporasi dan perembesan. Hanya tanah-tanah yang lulus air saja yang akan memerlukan perhitungan tersendiri.Kehilangan dalam proses sebesar 6 %.

9. 4.157 ton. Untuk jenis tanaman perkebunan di Kabupaten Barito Kuala produksi terbesar adalah tanaman kelapa dalam yaitu sebesar 10.26 ha.Tanaman perkebunan .399 hektar.17 dan 310. Kabupaten Barito Kuala Pembangunan ekonomi disektor pertanian adalah untuk meningkatkan produksi pertanian dan bertujuan meningkatkan pendapatan petani.529 ton dan mangga 86.476.203 ton. Data statistik yang di sajikan di bagi dalam lima sub sektor. Effisisensi pengaliran untuk saluran tersier 0.394 ton.97 ton kemudian disusul oleh tanaman purun danau dan sagu masing-masing sebesar 232.4. Selain tanaman diatas Batola juga potensi tanaman buah-buahan seperti. jeruk.185 ton.121 ton dengan produksi rata-rata 31. ubi kayu 3. Hampir semua kecamatan di Kabupaten Barito Kuala merupakan sentra produksi padi sawah dimana Kabupaten Barito Kuala juga merupakan sentra produksi padi di Provinsi Kalimantan Selatan. Karena Kabupaten Barito Kuala wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah maka tanaman padi ladang tidak ditanam disini sehingga produksi padi hanya ada padi sawah saja. Produksi padi Tahun 2007 adalah 280.Tanaman bahan makanan .58 ha disusul oleh tanaman karet dan tanaman purun danau yang masing-masing 875. nenas dan rambutan. kedelai 2 ton. Produksi jeruk untuk Tahun 2007 sebesar 262.2.(Persero) CABANG I MALANG efftotal = 0. jagung sebanyak 53 ton.yaitu .Peternakan Luas tanah menurut penggunaannya Tahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 yakni dari 243.57 ton.293. Berdasarkan rekapitulasi potensi perkebunan Kabupaten Barito Kuala maka Tanaman Kelapa Dalam merupakan tanaman paling berpotensi yakni seluas 13.878 ton. Kacang tanah 183 ton. rambutan 33. Untuk produksi tanaman Bahan Makanan lainnya pada Tahun 2007 seperti. mangga.Kehutanan .68 Kw/Ha.9 dan pada saluran primer 0. ubi jalar 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -32 .1 Kalimantan Selatan 1.Perikanan .85).94 ha dan 697.119 hektar menjadi 235.775 – 0.8. nenas 34. pada saluran sekunder 0.

25 45.00 1.18 Perkembangan Luas Tanah Menurut Jenis Penggunaannya Tahun 2005-2007 2005 119. Lain-lain Jumlah II 15.928 11.845.899 10.570.809 9. Sementara Tidak di Usahakan Bukan Lahan Sawah 1.057.000.964 51. Pasang Surut 2.00 5.009 24.60 41.446.308 1.444.083 15. peternakan dan perikanan memegang peran penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di Kalimantan Tengah. Penggembalaan Ternak 5.023 12.115 2. kehutanan.00 61.2 Kalimantan Tengah Masih besarnya kontribusi sektor pertanian baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai lapangan pekerjaan.225 ha.02 IV -33 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS . yang tersebar di lima kabupaten/kota.017 2007 10. perkebunan.03 506.225.125.924.505 No Jenis Penggunaan Tanah I Lahan Sawah 1.20 4. Sementara Tidak Diusahakan 6.00 66.20 55. sub sektor tanaman pangan.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.10 4.970.25 1. Lahan Pekarangan 2.795 Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Barito Kuala 4.75 3.769 48.125.431 15. Tegalan / Kebun 3.19 No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Lahan Potensial di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Luas Ha 3.976.343 20.00 148.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1.00 558.35 60. Luas daerah irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah sebesar 148. Luas daerah irigasi terbesar di Kabupaten Kapuas yang merupakan lumbung padi di kawasan Sulawesi Tengah.319.20 1.00 799.947 241.139 189 42.758 13.672 136.00 137. Ladang/Huma 4.50 66.100.250.00 1.15% dari keseluruhan luas lahan potensial yang ada.2.139 12. Tabel 4.385 228. Karena keterbatasan sarana dan prasarana pengairan.50 63.209 9.956 23.042.441 4.4.509 15.92 65.15 44.276 Luas Tanah (Ha) 2006 115.121.802.39 1. maka luas lahan yang bisa ditanami hanya sekitar 45.00 54.552.81 41.234.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799.00 1.

5.(Persero) CABANG I MALANG 4.4. 4. • Kelas empat. Agar SMA diketahui parameter kualitas air yang diukur harus mengikuti parameter yang ditentukan dalam kriteria. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman. SMA yaitu suatu tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau baik dalam waktu tertentu dengan membandingkan terhadap baku mutu air.1 Tolok Ukur Kualitas Air Tingkat pencemaran sungai. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” terdiri dari empat kelas sebagai berikut : • Kelas satu. • Kelas tiga. dapat diketahui dengan caran menganalisis Status Mutu Air (SMA). • Kelas dua. Mengingat kebutuhan air yang paling besar adalah dari kebutuhan air untuk irigasi maka keperluan air baku lainnya dapat dipenuhi dari jumlah pasokan yang tersedia berdasarkan analisis waterbalance.5 ANALISIS KUALITAS AIR 4. air untuk mengairi pertanaman. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -34 . dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. kegunaan tsb. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum. pembudidayaan ikan air tawar. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air. air untuk mengairi pertanaman. Sebagai gambararan status mutu air dari PP 82/2001 diuraikan dalam klasifikasi dan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001. selain itu jumlah pengukuranpun lebih dari satu kali. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan.3 Upaya Peningkatan Penyediaan Air Baku Upaya peningkatan penyediaan air baku dilakukan berdasarkan kebutuhan air yang meningkat dari proyeksi yang sudah dihitung terdahulu. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. peternakan. Volume air baku yang diperlukan dapat dimanfaatkan sekaligus dengan ketersediaan air yang direncanakan dari sungai baik skala besar maupun skala kecil. peternakan.

2 (-) 1 0. Cu < 1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional.Cd Mg/L. Fe < 5 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional .Hg mg/L. Zn < 5 mg/L Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -35 .05 0.01 1 0.P Nitrat Amoniak Arsen Kobalt Barium Boron Selenium Kadmium Khrom (VI) Tembaga mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L.B mg/L.Pb mg/L.Mn mg/L.05 0.Co mg/L.residu tersuspensi < 5000mg/L Satuan Kelas I II III IV Keterangan Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No.02 (-) 0.NH3 N mg/L.02 5-9 12 100 0 5 20 (-) 1 0. kimia dan biologi dijelaskan dalam tabel berikut : Tabel 4.05 0.2 10 (-) 1 0.2 (-) 1 0..05 0.2 10 0.05 0.01 0.NO 3 -N mg/L. maka ditentukan berdasarkan kondisi alamiah °C mg/L mg/L Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 400 Deviasi Deviasi temperatur dari keadaan 5 alamiahnya 2000 Bagi pengolahan air minum 400 secara konvensional .2 Bagi pengolahan air minum konvensional.3 0.Zn Mg/L.002 0.02 (-) 0.CN 0.03 (-) 0.02 (-) 1 (-) 0.NH 3 Besi Timbal Mangan Air Raksa Seng Khlorida Sianida mg/L.005 2 (-) (-) Bagi pengolahan air minum konvensional . As mg/L.82/2001 Tentang”Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Angka batas minimum Bagi perikanan.Ba Mg/L.Cu 6-9 2 10 6 0.02 mg/l sbg.Cl mg/L.20 Kritera Air” Parameter FISIKA Temperatur Residu Tersuspensi Residu Tersuspensi KIMIA ANORGANIK pH BOD COD DO Total fosfat.05 0.1 0.001 0.2 1 1 0.02 6-9 6 50 3 1 20 (-) 1 0.Se mg/L.2 (-) 1 0.05 600 0.01 0.01 0.1 mg/L Apabila secara alamiah diluar rentang tsb.Cr mg/L.05 (-) 0.02 6–9 3 25 4 0.002 0.03 (-) 0.(Persero) CABANG I MALANG Kadar masing-masing kelas berdasarkan parameter kualitas air fisika. sbg.05 0.05 (-) 0.03 0. Pb < 0.01 0.Fe mg/L.amonia bebas utk ikan peka<0.5 0.

03 0.03 0.05 (-) 0.002 (-) (-) (-) (-) (-) Bagi Air Baku Air Minum tidak dipersyaratkan Bagi pengolahan air minum konvensional .NO2-N mg/L.(Persero) CABANG I MALANG Fluorida Nitrit.sbg N Sulfat Klorin Bebas Belerang sbg H2 S MIKROBIOLOGI Fecal coliform Total Coliform RADIOAKTIVITAS Gross A Gross B Mg/L. S sbg H 2 S < 0. bahwa pada kelas tsb. agar dapat memberikan gambaran sejauh mana kondisi kualitas air sumber tersebut.1 1 0.5 0.F mg/L.SO4 mg/L mg/L 0.000 Bq/L Bq/L 0.82/2001 Tentang ”Pengelolan Air”(lanjutan) PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV Keterangan KIMIA ORGANIK Minyak dan Lemak μg/L 1000 1000 1000 (-) Detergent sbg MBAS μg/L 200 200 200 (-) Senyawa Fenol μg/L 1 1 1 (-) BHC μg/L 210 210 210 (-) Aldrien/Dieldrin μg/L 17 (-) (-) (-) Chlordane μg/L 3 (-) (-) (-) DDT μg/L 2 2 2 2 Heptachlor &H.5 0.03 0. NO 2 -N < 1 mg/L Jml/100mL Jml/100mL 100 1000 1000 5000 2000 10.000 2000 10. Bagi pengolahan air minum konvensional .1 1 0.Epoxide μg/L 18 (-) (-) (-) Lindane μg/L 56 (-) (-) (-) Methoxychlor μg/L 35 (-) (-) (-) Endrin μg/L 1 4 4 (-) Toxaphan μg/L 5 (-) (-) (-) Keterangan: Mg = milligram Bq = Bequerel MBAS=Methylene Blue Active μg = mikrogram Nilai diatas merupakan batas max.5 0.05 (-) 0.tidak minimum dipersyaratkan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Secara ideal parameter kualitas air yang diukur harus sesuai dengan tabel diatas.002 1.Fecal coliform < 2000 jml/100 mL .kecuali p H &DO Substance Logam berat merupakan logam p H.05 400 0.1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional.parameter tsb. kunci harus diukur yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -36 .1 1 Tabel 4.merupakan nilai rentang yang tidak boleh kurang mL= mililiter Tersuspensi dan lebih Nilai DO merupakan batas Arti (-).000 jml/100 mL. Akan tetapi minimal parameter meliputi parameter fisika. kimia dan bakteriologi.002 1.21 Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No.1 1 0.dan Total coliform < 10.

5°C – 28. Dari Hasil uji sample di beberapa lokasi. Kenaikan temperatur sungai akan dapat menimbulkan akibat sebagai berikut : Menurunnya jumlah oksigen terlarut dalam air Meningkatnya kecepatan reaksi kimia. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -37 .5.1. dan tingkat kekeruhan air.(Persero) CABANG I MALANG Parameter kunci kualitas air dijelaskan sebagai berikut : 4. Hal ini disebabkan partikel-partikel tersuspensi yang ada dalam air akan menyerap dan menahan panas dari sinar matahari sehingga mengakibatkan kenaikan temperatur.6°C 4. hingga jumlah reaksi tanpa H+ dapat dikatakan sedikit saja. Rata-rata temperature air sungai dari beberapa titik pengujian pada tahap I dan II adalah sebagai berikut: Sungai Barito Sungai Kapuas : 27.2 pH (tingkat keasaman) pH menunjukkan kadar asam atau basa dalam suatu larutan. baik sungai Barito aaupun Sungai Kapuas masih memenuhi standar deviasi baku mutu yang dipersyaratkan. Di samping itu suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi.5°C – 28. melalui konsentrasi ion Hidrogen H+. Di samping itu suhu yang tinggi juga akan menurunkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air.1. yang membentuk suasana untuk semua reaksi kimiawi yang berkaitan dengan masalah pencemaran air dimana sumber ion hidrogen tidak pernah habis.5. H+ tidak hanya merupakan unsur molekul H2O saja tetapi merupakan unsur banyak senyawa lain. Akibatnya.1 Temperatur (suhu) Temperatur air sungai sangat dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari. ikan dan hewan air akan mati karena kekurangan oksigen. Air yang keruh pada umumnya akan memiliki temperatur yang lebih tinggi. ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi.3°C : 27. Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air lainnya Jika batas suhu yang mematikan terlampaui. Ion hidrogen merupakan faktor utama untuk mengerti reaksi kimiawi karena: H+ selalu ada dalam keseimbangan dinamis dengan air/H2O.

Peranan ion hidrogen tidak penting kalau zat pelarut bukan air melainkan molekul organis seperti alkohol bensin (hidrokarbon) dan lain-lain. suasana air juga mempengaruhi beberapa hal lain. dan pH tekecil berada di lokasi 22 yaitu Tumbang Lahung sebesar 6.01. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum. Sungai Barito a) Tahap I. pH air di lokasi pengambilan sampel semua di bawah baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6.21 dan pH tekecil di Timpah Hulu sebesar 7.24 dan pH tekecil berada di Kuala Kapuas sebesar 4.(Persero) CABANG I MALANG Lewat aspek kimiawi. pH tertinggi terdapat di lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 7. b) Tahap II.87. pH tertinggi terdapat di lokasi 10 yaitu Kandui sebesar 7. Air minum sebaiknya netral. maka dibantu dengan pH yang tidak netral.05 . Sungai Kapuas a) Tahap I. b) Tahap II.32 . Hasil pengujian Ph dari sungai Barito dan Sungai Kapuas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. tidak asam/basa untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan distribusi air minum. dan pH tekecil berada di lokasi 24 yaitu Laung Tuhup sebesar 6. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. dapat melarutkan berbagai element kimia yang dilaluinya. pH tertinggi di Masaran sebesar 7. Air adalah pelarut yang baik sekali. 2.46.02 Nilai pH pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -38 . misalnya kehidupan biologi dan mikrobiologi. pH tertinggi terdapat di Masaran sebesar 4.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. valensi dan suhu air. pergerakan ion. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -39 .16. Hasil Pengujian Ph sungai Barito Gambar 4.17. Kemampuan tersebut antara lain bergantung pada kadar zat terlarut yang mengion di dalam air.3 DHL (Daya Hantar Listrik) DHL (Daya hantar Listrik) adalah kemampuan dari larutan untuk menghantarkan arus listrik yang dinyatakan dalam satuan μmhos/cm atau μS.1. Hasil Pengujian Ph sungai Kapuas 4.5.

Adapun konsentrasi DHL di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Sungai Barito a) Tahap I.Tilu sebesar 95. b) Tahap II.Kapuas sebesar 17. konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di P.26 μmhos/cm dan terendah di Timpah sebesar 16. 2. Sungai Kapuas a) Tahap I.18.46 μmhos/cm Berikut adalah grafik DHL dari sungai Barito dan Sungai Kapuas: Gambar 4. DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 13 yaitu Muara Sungai Tewah sebesar 99.46 μmhos/cm. b) Tahap II.07 μmhos/cm dan terendah di lokasi 19 yaitu Sungai Lumuk sebesar 20.04 μmhos/cm.68 μmhos/cm dan terendah di Kuala Kapuas sebesar 70. Konsentrasi DHL Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -40 . konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di K.36 μmhos/cm dan terendah di lokasi 12 yaitu Muara Teweh sebesar 16. DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 18.64 μmhos/cm.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter DHL yaitu tidak dipersyaratkan.

Cl. K. Juga dinyatakan dalam milligram per liter atau ppm.4 TDS (Total Disolved Solid) / Partikel Terlarut Padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil dibandingkan dengan padatan tersuspensi.19. artinya dalam 1 liter air terdapat 200 mg padatan terlarut.1. Derajat konduktivitas air adalah sebanding dengan padatan terlarut total dalam air itu. Ca. Fe. Adapun nilai TDS di masing – masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -41 . SO4. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TDS yaitu 1000 mg/liter. Mg. B dan Silika. Padatan ini terdiri dari senyawasenyawa organic dan anorganik yang terlarut di dalam air. Bahan anorganik seperti ion-ion Na.5. F. NO3. Padatan terlarut total mencerminkan jumlah kepekatan padatan dalam suatu sampe air. Konsentrasi DHL Sungai Kapuas 4.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Padatan terlarut total dapat lebih cepat ditentukan dengan mengukur daya hantar listrik sampel air. Misalnya suatu sampel air dengan padatan terlarut total. mineral dan garam-garamnya.

20. Konsentrasi TDS tertinggi di Muara Sungai Tewah sebesar 77 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pelabuhan Hulu sebesar 31 mg/liter. Sungai Kapuas a) Tahap I. Gambar 4.Kapuas dan Mandomai sebesar 75 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 53 mg/liter. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Mantangai sebesar 129 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 96 mg/liter. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Jembatan Pendang sebesar 68 mg/l. 2. b) Tahap II. sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir sebesar 34 mg/l. Grafik Konsentrasi Total Disolved Solid Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -42 . Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG 1. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di K. b) Tahap II.

terutama TSS dapat meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolam air dan akhirnya berpengaruh pada proses fotosintesis di perairan sehingga berdampak pada penurunan kandungan oksigen terlarut. air permukaan mengandung tanah liat dalam bentuk suspensi yang dapat bertahan sampai berbulan-bulan. sel-sel mikroorganisme dan sebagainya.21. Bahan-bahan tersuspensi dan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik. G r a f i k K o n s e n t r a s i Total Disolved Solid Sungai Kapuas Nilai TDS diperairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan batuan. bahan-bahan organik tertentu. Misalnya. terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -43 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. limpasan dari tanah dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri).5. tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap. namun jika berlebihan.1. 4. sehingga mengakibatkan terjadinya penggumpalan yang kemudian diikuti dengan pengendapan.5 TSS (Total Suspended Solid)/ Partikel Tersuspensi Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air. kecuali jika keseimbangannya terganggu oleh zat-zat lain. misalnya tanah liat.

Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Masaran sebesar 321 mg/l. kecuali di Jembatan Baliton sebesar 28 mg/l. Sungai Barito a) Tahap I. Seperti halnya padatan terendap. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 169 mg/l. Adapun konsentrasi TSS di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Sungai Pendang yaitu sebesar 1831 mg/l. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -44 . padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga akan mempengaruhi regenerasi oksigen serta fotosintesis. kecuali di Kuala Kapuas sebesar 37 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. b) Tahap II. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di P. dan terendah di Mentangai sebesar 96 mg/l. b) Tahap II. dan konsentrasi TSS terendah di Sungai Tewah sebesar 75 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.Tilu sebesar 192 mg/l. Sungai Kapuas a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG Jumlah padatan tersuspensi dalam air dapat diukur dengan Turbidimeter. Tumbang Lahung sebesar 11 mg/l. 2. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TSS yaitu 50 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Muara Teweh sebesar 49 mg/l dan Pelabuhan Buntok 35 mg/l.

Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Barito Gambar 4. Hal ini mungkin disebabkan oleh aktivitas Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) yang menyedot emas di dasar sungai maupun akibat dari adanya erosi yang meningkat yang disebabkan banyaknya vegetasi di sekitar sungai yang hilang.22. Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Kapuas Secara umum di semua lokasi di Kalimantan Tengah konsentrasi TSS nya melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Aktivitas masyarakat sekitar yang menggunakan sungai sebagai jalur transportasi juga dapat menyebabkan tingginya konsentrasi TSS.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.23. karena kelotok/ speedboat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -45 .

Pada tahap kedua. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable). Pada perairan alami. ester dan sebagainya.0 mg/l (Jeffries dan Mills.1. 1996).6 BOD5 (Biological Oxygen Demand) Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap. 1991).(Persero) CABANG I MALANG dapat mengakibatkan sedimen di sekitar sungai mengalami turbulensi akibat mesin kelotok. Dengan kata lain. 1988). glukosa. bahan anorganik yang tidak stabil mengalami oksidasi menjadi bahan anorganik yang lebih stabil.400 > 400 Pengaruh Terhadap Kepentingan perikanan Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kepentingan perikanan Tidak baik bagi kepentingan perikanan Sumber: Alabaster dan Loyd. Nilai BOD limbah industri dapat mencapai 25. Menurut Alabaster dan Loyd. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -46 . yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air (Davis dan Cornwell. 1982 kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan Nilai Padatan Tersuspensi (TSS) sebagaimana yang disajikan pada table berikut: Tabel 4. Pada tahap pertama.22 Nilai TSS dan Pengaruh Terhadap Kepentingan Perikanan Nilai TSS (mg/l) < 25 25 . aldehida. 1982 4. Perairan alami memiliki nilai BOD antara 0. BOD merupakan gambaran kadar bahan organik. yang berperan sebagai sumber bahan organik adalah pembusukan tanaman. kanji.80 81 .5. Bahan organik ini dapat berupa lemak. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik. BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikroba aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20° C selama lima hari. Secara tidak langsung. 1992).5 – 7. Perairan yang memiliki nilai BOD lebih dari 10 mg/liter dianggap telah mengalami pencemaran.000 mg/l (UNESCO/WHO/UNEP. dalam keadaan tanpa cahaya (Boyd. protein.

b) Tahap II.2 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Hulu Jembatan Penyebrangan sebesar 5. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 21. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan.5 mg/liter 2. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Sungai Kapuas a) Tahap I. Nilai BOD tertinggi ditemukan di P. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 12 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Timpah sebesar 4 mg/liter. Sungai Barito a) Tahap I.3 mg/liter. b) Tahap II. Adapun nilai BOD di masing –masing sungai sebagai berikut: 1.24.6 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Pelabuhan Spead Boat Sukamara sebesar 3. Gambar 4.(Persero) CABANG I MALANG Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter BOD yaitu 3 mg/l. Grafik Konsentrasi BOD Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -47 .Tilu sebesar 34 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Mandomai sebesar 9 mg/liter. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 6.

Adapun nilai COD di masing –masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -48 . 1992). Pengukuran COD didasarkan pada kenyataan bahwa hampir semua bahan organic dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan bantuan oksidator kuat (kalium dikromat) dalam suasana asam.1. Grafik Konsentrasi BOD Sungai Kapuas 4. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian.000 mg/l (UNESCO /WHO/ UNEP.5.7 COD (Chemical Oxygen Demand) COD menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter COD yaitu 25 mg/l. pabrik kertas dan industri makanan. baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/l. Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga dan industri.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. misalnya pabrik bubur kertas (pulp). sedangkan pada perairan yang tercemar dapat lebih dari 200 mg/l dan pada limbah industri dapat mencapai 60.25.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Grafik Konsentrasi COD Sungai Barito Gambar 4.8 mg/l. Pelabuhan Buntok sebesar 120. Grafik Konsentrasi COD Sungai Kapuas 1. Pendang sebesar 30.7 mg/l. Bintang Linggi sebesar 170. Nilai COD tertinggi di Sungai Pendang sebesar 258. Bila dibandingkan dengan baku Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Sungai Tewah sebesar 27. Sungai Barito a) Tahap I.4 mg/l. Sungai Lumuk sebesar 45.1 mg/l sedangkan nilai terendah di Jembatan Hasan Basri sebesar 5.26.2 mg/l. Puruk Cahu Hilir sebesar 37. Laung Tuhup sebesar 60.5 mg/l.2 mg/l.8 mg/l. Montalat sebesar 37.2 mg/. Pelabuhan Hulu sebesar 82.1 mg/l.1 mg/l. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -49 .27.2 mg/l dan Sungai Pendang sebesar 258.

Nilai COD tertinggi ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 42.8 mg/liter. Pelabuhan P. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Jembatan Baliton sebesar 36.8 DO (Dissolved Oxygen) Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Biota air hangat memerkan oksigen terlarut minimal 5 ppm.Tilu Mentangai.5.5 mg/liter.3 mg/l.3 mg/l. dimana jumlah tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya. P. kemudian invertebrata. Timpah. Oksigen terlarut (dissolved oxygen = DO) dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air. Masaran.1. Konserntarsi oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm. b) Tahap II.3 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir dan Laung Tuhup sebesar 12. Masaran Hulu dan Masaran Hilir.1 mg/liter.2 mg/l.3 Muara Teweh sebesar 30.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II. nilai COD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 26 mg/liter dan terendah ditemukan di Timpah sebesar 8.Cahu sebesar 27. sedangkan biota airdingin memerlukan oksigen terlarut mendekati jenuh.3 mg/liter dan terendah ditemukan di Mandomai sebesar 16. Pada suhu 200C dengan tekanan satu atmosfer konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -50 . Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu yang dipersyaratkan adalah Kuala Kapuas sebesar 26 mg/l. dan yang sangat terkecil kebutuhuan oksigennya adalah bakteri. Nilai COD tertinggi ditemukan di P. dan dari atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas. Jembatan Hasan Basri sebesar 27. Kehdupan makhluk hidup di dalam air tersebut sangat tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Ikan merupakan makhluk air yang memerlukan oksigen tertinggi.2 mg/l.2 mg/l dan Pendang sebesar 33. 4. Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer. 2. Tumbang Lahung sebesar 42.Tilu sebesar 67.Kapuas. Sungai Kapuas a) Tahap I. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu adalah K.

Konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mempengaruhi ikanikan dan binatang air lainnya yang membutuhkan oksigen akan mati. tanaman-tanaman yang mati atau samah organik. dan mungkin beberapa bahan anorganik. Air dikatakan sebagai air terpolusi jika konsentrasi oksigen terlarut menurun di bawah batas yang dibutuhkan untuk kehidupan biota. pabrik kertas. Adapun nilai DO di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -51 . semakin rendah tingkat kejenuhannya.(Persero) CABANG I MALANG jenuh adalah 9. Konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut selain dipengaruhi oleh jumlah bahan buangan juga dipengaruhi oleh jumlah air yang dicemari. Bahan-bahan buangan yang memerlukan oksigen terutama terdiri dari bahanbahan organik. Semakin tinggi suhu air. Oleh karena itu semakin tinggi kandungan bahan-bahan tersebut senakin berkurang konsentrasi oksigen terlarut. pembekuan udang dan ikan. Oksigen yang tersedia di dalam air di konsumsi oleh bakteri yang aktif memecah bahan-bahan tersebut. Polutan semacam ini berasal dari berbagai sumber seperti kotoran hewan maupun manusia. industri penyamakan kulit. sedangkan pada suhu 500C dengan tekanan atmosfer yang sama tingkat kejenuhannya hanya 5. Oleh karena itu pada waktu musim panas di mana air kali atau danau sedang surut. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter oksigen terlarut yaitu minimum 4 mg/l. Bahan-bahan tersebut terdiri dari bahan yang mudah dibusukkan atau dipecah oleh bakteri dengan adanya oksigen. Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga mengakibatkan proses perkaratan semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam. dan sebagainya.2 ppm.6 pp. konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut meningkat sehingga konsentrasi oksigen terlarut biasanya menurun. bahan-bahan buangan dari industri pengolahan pangan. industri pemotongan daging. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan yang mengkonsumsi oksigen.

Nilai DO tertinggi sebesar 3. sedangkan nilai DO terendah ditemukan di P.04 mg/l. Sungai Pendang sebesar 3.Tilu sebesar 3. 2. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air belum memenuhi persyaratan.77 mg/l.32 mg/liter ditemukan di Mentangai. Tumbang Lahung sebesar 4.71 mg/l.39 mg/liter yang merupakan nilai DO tertinggi Nilai DO terendah ditemukan di Masaran Hulu sebesar 3.. b) Tahap II. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air pada umumnya belum memenuhi persyaratan. Sungai Kapuas a) Tahap I.54 mg/l.(Persero) CABANG I MALANG 1.08 mg/liter.44 mg/liter. Sungai Barito a) Tahap I. Pendang sebesar 4. Nilai DO tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 5. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -52 . b) Tahap II. Bintang Linggi sebesar 3.63 mg/l. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air yang memenuhi standar baku mutu yaitu di Jembatan Baliton sebesar 5.3 mg/l. Jembatan Hasan Basri sebesar 3. Nilai DO terendah ditemukan di Laung Tuhup sebesar 3.28 mg/l.75 mg/l.17 mg/liter. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air kurang dari standar baku mutu yaitu di Pelabuhan Buntok sebesar 3.57 mg/liter. kecuali di Mandomai sebesar 4.72 mg/l dan Pelabuhan Buntok sebesar 4.88 mg/l dan Muara Sungai Tewah sebesar 3. Kalahien sebesar 3.

nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dari pada nitrat. kadar nitrit sekitar 10 mg/l masih dapat ditolerir. 1987). Sumber nitrit dapat berupa limbah industri dan limbah domestik.06 mg/l (Canadian Council of Resource and Environment Minister.9 Nitrit (NO2) Di perairan alami. Untuk kepentingan peternakan. Bagi manusia dan hewan. 1991).001 mg/l dan sebaiknya tidak melebihi 0.5.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif (Moore. karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. nitrit lebih toksik dari pada nitrat.28.06 mg/liter. Grafik Nilai DO Sungai Barito Gambar 4. kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (sawyer dan McCarty. Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0.29. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrit yaitu 0. Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara amonia dan nitrat dan antara nitrat dan gas nitrogen.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Adapun konsentrasi nitrit di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -53 . Kadar nitrit pada perairan relatif kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat. Kadar nitrit yang lebih dari 0. 1978). Di perairan.1. Grafik Nilai DO Sungai Kapuas 4.

Masaran dan Masaran Hulu konsentrasinya sebesar 0. Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -54 .003 mg/liter sedangkan di Kuala Kapuas. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu.Tilu dan Timpah sebesar 0. Konsentrasi Nitrit di 24 (dua puluh empat) lokasi berkisar antara 0. Gambar 4. b) Tahap II.024 mg/liter. Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di K.013 mg/liter.002 mg/liter.30. b) Tahap II.021 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 0. Timpah dan Masaran sebesar 0. Mentangai.006 mg/liter sedangkan terendah di Timpah Hulu konsentrasinya sebesar 0. Sungai Kapuas a) Tahap I. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.012 mg/liter sampai dengan 0. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu. Konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.001 mg/liter. 2.Kapuas. Konsentrasi Nitrit tertinggi di P. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG 1.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.1. Namun` amonium lebih disukai tumbuhan. Kadar nitrat di perairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi dari kadar amonium. Nitratnitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil.31. Kadar nitrat-nitrogen yang lebih dari 0. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa-senyawa nitrogen di perairan. Kadar nitrat-nitrogen pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0. Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Kapuas 4. Nitrat dan amonium adalah sumber utama nitrogen di perairan. terutama pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -55 .10 Nitrat (NO3) Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae.000 mg/l. kadar nitrat dapat mencapai 1.2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan.1 mg/l. Kadar nitrat lebih dari 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan.5. Konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah untuk mengikat oksigen. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung pada kondisi aerob. Pada perairan yang menerima limpasan air dari daerah pertanian yang banyak mengandung pupuk. yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming).

009 mg/liter. 1991.721 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Kandui sebesar 0. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan yaitu sebesar 10 mg/liter untuk sungai kelas II. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan 2.372 mg/liter.177 mg/liter. b) Tahap II. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrat yaitu 10 mg/liter Adapun konsentrasi nitrat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.Tilu sebesar 0. Sungai Barito a) Tahap I.116 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pendang sebesar 0. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Muara Teweh sebesar 1. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di P. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -56 . Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 2.072 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Masaran sebesar 0.Tilu sebesar 0. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Sungai Pendang sebesar 2.085 mg/liter. 1993). b) Tahap II. Keadaan ini dikenal sebagai methamoglobinemia atau blue baby yang mengakibatkan kulit bayi berwarna kebiruan (cyanosis) (Davis an Cornwell.25 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di P. Mason.(Persero) CABANG I MALANG bayi yang berumur kurang dari lima bulan. Sungai Kapuas a) Tahap I.

Proses denitrifikasi oleh aktivitas mikroba pada kondisi anaerob. Proses ini dikenal dengan istilah amonifikasi. Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati) oleh mikroba dan jamur.33. 1994). Amonia banyak digunakan dalam proses reduksi urea. Ion amonium adalah bentuk dari transisi amonia. Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Kapuas 4.32. limbah industri dan domestik. Toksisitas amonia terhadap mikroorganisme akuatik akan meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut. Amoniak yang tidak terionisasi bersifat toksik terhadap mikroorganisme akuatik. Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Barito Gambar 4.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.1. pH dan suhu . pada proses pengolahan limbah juga dihasilkan gas amonia (Novotny dan Olem.11 Amoniak Bebas (NH3-N) Amonia (NH3) dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air.5. industri bahan kimia serta industri bubur kertas dan kertas. Sumber amonia yang lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer. Tinja dari biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas metabolisme juga banyak mengeluarkan amonia. Ikan tidak dapat bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses peningkatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat mengakibatkan sufoksi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -57 .

2 mg/l. 1978). Sungai Kapuas a) Tahap I.56 mg/l dan konsentrasi terendah di Puruk Cahu Hilir sebesar 0. 2.371 mg/l dan konsentrasi terendah di Kalahien sebesar 0.068 mg/l.042 mg/l. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -58 .02 mg/l. 1979). perairan bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan (Sawyer dan McCarty. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG Kadar amonia bebas pada perairan alami biasanya kurang dari 0. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0.. Adapun konsentrasi amoniak di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.Tilu sebesar 0.341 mg/l. Jika kadar amonia bebas lebih dari 0. b) Tahap II.571 mg/l dan konsentrasi terendah di Masaran Hulu sebesar 0. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0.1 mg/l (McNelely et al. b) Tahap II. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Amoniak untuk sungai Kelas II tidak dipersyaratkan. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0.07 mg/l. Kadar amonia yang tinggi dapat merupakan indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik. Kadar amonia bebas yang tidak terionisasi (NH3) pada perairan tawar sebaiknya tidak lebih dari 0. industri dan limpasan (run-off) pupuk pertanian.144 mg/l dan konsentrasi terendah di P. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Lahei sebesar 0.

Polifosfat dapat memasuki sungai melaui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kelestarian ekosistem perairan. Keberadaan senyawa fosfat dalam air sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan. seperti pada air alam (< 0. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Kapuas 4. Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -59 . Sebaliknya bila kadar fosfat dalam air tinggi.01 mg P/L). seperti industri pencucian. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat untuk pertumbuhannya.35.12 Phospat (PO4) Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa ortofosfat. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. industri logam dan sebagainya. polifosfat dan fosfat organis. Keadaan ini disebut oligotrop. Bila kadar fosfat dalam air rendah. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Barito Gambar 4. pertumbuhan tanaman dan ganggang tidak terbatas lagi (keadaan eutrop).5.1. sehingga dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut air. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.34. pertumbuhan dan ganggang akan terhalang.

2 mg/liter.011 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Muara Lahung sebesar 0.011 mg/liter. Konsentrasi phospat terendah ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 0. bilamana dibandingkan dengan baku mutu maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi phospat terendah di Mentangai sebesar 0. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan.043 mg/liter Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -60 . kecuali di Bintang Linggi sebesar 0.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter phospat yaitu 0.452 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi dibandingkan dengan lokasi yang lain. b) Tahap II. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 0. b) Tahap II. 2. Sungai Kapuas a) Tahap I. di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan kecuali di Timpah Hulu sebesar 0.22 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Timpah sebesar 0. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Pelabuhan Puruk Cahu sebesar 0.238 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi. Sungai Barito a) Tahap I.015 mg/liter. Adapun konsentrasi phospat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.002 mg/liter.

cubanite (CuFe2S3). yaitu aktivitas bakteri yang melepas hidrogen sulfida. sulfur dioksida. metalurgi dan lain-lain. serta aktivitas vulkanik yang melepaskan hidrogen sulfida. gypsum (CaSO4. Sulfur (S) berada dalam bentuk organik dan anorganik.37. Beberapa bentuk sulfur di perairan adalah sulfida.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. sulfida oksida dan sulfat. 1992).1. Kerak bumi mengandung sulfur sekitar 260 mg/kg. Sumber alami sulfat adalah bravoite {(NiFe)S2]. karena merupakan elemen penting dalam protoplasma. chalcopyrite (Cu2S). sulfur berkaitan dengan ion hidrogen dan oksigen. Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Barito Gambar 4. Sulfur anorganik terutama terdapat dalam bentuk sulfat yang merupakan bentuk sulfur utama di perairan dan tanah (Rao.36. kertas. pembakaran bahan bakar fosil yang melepaskan sulfur oksida. Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Kapuas 4. Sulfat banyak digunakan dalam industri tekstil. gregite (Fe3S4).5. Atmosfer menerima sulfur dan berbagai sumber. Di perairan. sulfit dan sulfat.13 Sulfat (SO4) Sulfur merupakan salah satu elemen yang esensial bagi makhluk hidup. penyamak kulit. Ion sulfat yang telah diserap tumbuhan mengalami reduksi hingga menjadi bentuk sulfidril (SH) di dalam protein. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -61 . dan pyrite (FeS2).2H2O). molybdenite (MoS2). Sulfur oksida (SOx) dan hidrogen sulfida (H2S) merupakan sulfur dalam bentuk gas yang biasa ditemukan di atmosfer. percikan air laut karena tiupan angin yang melepaskan sulfat.

konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 6.237 mg/l dan konsentrasi terendah di Kuala Kapuas sebesar 18.098 mg/l.Tilu sebesar 24. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di P. Pada pH sekitar 5 sulfur terdapat bentuk H2S. Sungai Kapuas a) Tahap I.771 mg/l dan konsentrasi terendah di Jembatan Baliton sebesar 0. Pada kondisi ini dapat menimbulkan permasalahan bau yang cukup serius. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Sulfat tidak dipersyaratkan. Terbentuknya asam kuat H2SO4 dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan korosifitas logam dan terjadinya karat. Sungai Barito a) Tahap I. hidrogen sulfida segera dioksidasikan oleh bakteri Thiobacillus menjadi sulfat.266 mg/l. b) Tahap II.816 mg/l.(Persero) CABANG I MALANG Reduksi pengurangan oksigen dan penambahan hidrogen anion sulfat menjadi hidrogen sulfida pada kondisi anaerob dalam proses dekomposisi bahan organik yang menimbulkan bau yang kurang sedap dan meningkatkan korosiftas logam.837 mg/l dan konsentrasi terendah di Sungai Lumuk sebesar 1. Beberapa bakteri. Adapun konsentrasi sulfat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. misalnya Clorobacteriaceae dan Thiorhodaceae dapat mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfur. Pada kondisi aerob. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -62 . 2. Oleh karena itu. Hidrogen sulfida yang dihasilkan kemudian dilepaskan ke atmosfer. H2S dapat menimbulkan bau seperti telur busuk. Proses pembentukan karat ini disebabkan oleh keberadaan bakteri yang mampu mengoksidasi H2S menjadi H2SO4 secara berlimpah. H2S juga dianggap sebagai salah satu penyebab karat pada logam. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Laung Tuhup sebesar 9. toksisitas H2S meningkat dengan penurunan nilai pH.

Gambar 4. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -63 . konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Mandomai sebesar 8.39.789 mg/l.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II.38. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Barito Gambar 4.611 mg/l dan konsentrasi terendah di Mentangai sebesar 6.

akan terbentuk monometil merkuri. Pada kadar merkuri anorganik yang rendah. Senyawa merkuri bersifat sangat toksik bagi manusia dan hewan. fotografi dan elektronik (eckenfelder. baik secara langsung ataupun melalui jala makanan(food web). chalcopyrite (CuFeS) dan galena (PbS).. misalnya (ZnS). Garam-garam merkuri terserap dalam usus dan terakumulasi di dalam ginjal dan hati. gigi palsu. juga mengandung merkuri. Merkuri terserap dalam bahan-bahan partikulat dan mengalami presipitasi. senyawa anti karat (anti fouling). 1991). pH dan suhu. baik pada kondisi aerob maupun anaerob. Kedua bentuk senyawa metil merkuri tersebut dapatdipecah oleh bakteri yang hidup pada sedimen. Pada perairan alami.1979. Industri kimia yang memproduksi gas klorin dan asam klorida juga menggunakan merkuri. yakni hanya sekitar 0. Cinnabar sukar larut dalam air. Merkuri merupakan satusatunya logam yang berada dalam bentuk cairan pada suhu normal. 1989). Metil merkuri dapat mengalami bioakumulai dan biomagnifikasi pada biota perairan. karbon organik. 1994). Pada dasar perairan anaerobic merkuri berikatan dengan sulfur.08 mg/liter (Moore. cat. Pada perairan alami. bateri.1. komponen listrk. namun pelapukan bermacam-macam batuan dan erosi tanah dapat melepaskan merkuri ke dalam lingkungan perairan (McNeely et al. kadar monometil merkuridan dimetil merkuri dipengaruhi oleh keberadaan mikroba. Senyawa merkuri digunakan dalam pembuatan amalgam. 1978). merkuri juga hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil. Kadar merkuri pada perairan tawar alami berkisar antara 10-100 mg/liter. akan terbentuk dimetil merkuri.5. Selain itu. Sumber alami merkuri paling umum adalah cinnabar (HgS) (Novotny dan Olem. sedangkan pada perairan laut berkisar antara <10-30 mg/liter (Moore. wurtzite (ZnS). ekstraksi emas dan perak. Metil merkuri diangkut oleh sel darah merah dan dapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -64 .(Persero) CABANG I MALANG 4. Garam-garam merkuri juga digunakan sebagai fumigan yang berperan sebagai pestisida (Sawyer dan McCarty. kadar merkuri anorganik.14 Merkuri (Hg) Merkuri (Hg) adalah unsur renik pada kerak bumi. 1991). sedangkan pada kadar merkuri anorganik yang tinggi. mineral sulfida. Merkuri anorganik dapat mengalami transformasi menjadi dimetil merkuri dengan bantuan aktivitas mikroba.

Adapun konsentrasi merkuri di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. kadar merkuri yang diperbolehkan berturut-turut adalah 0. Sungai Kapuas a) Tahap I. 1991). Ion metil merkuri lima puluh kali lebih toksik dari pada garam-garam merkuri anorganik. untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena kondisi alat dalam keaadaan rusak . konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 7. P.1 μg/liter dan 0.(Persero) CABANG I MALANG mengakibatkan kerusakan pada otak.029 μg/liter. b) Tahap II. untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena pada saat itu kondisi alat dalam keaadaan rusak. Sedangkan di 23 (dua puluh tiga) lokasi yang lain.Tilu sebesar 4.5519 μg/liter yang mana konsentrasi merkuri tersebut melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. sedangkan untuk melindungi kehidupan organisme laut di European Community (EC). 2. Mentangai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -65 .Kapuas sebesar 4. Konsentrasi merkuri yang di atas baku mutu yaitu di K. Berdasarkan hasil uji Laboratorium. b) Tahap II. Organisme yang berada pada rantai yang paling tinggi (top carnivora) memiliki kadar merkuri yang lebih tinggi daripada organisme di bawahnya. Sungai Barito a) Tahap I.081 μg/liter. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter merkuri yaitu 2 μg/l. menunjukkan bahwa disemua lokasi pemantauan tidak terdeteksi kandungan Merkuri. konsentrasi merkurinya masih dibawah baku mutu. kadar merkuri yang diperbolehkan tidak lebih dari 0. Senyawa merkuri bersifat toksik bagi ikan dan biota akuatik lain karena dapat mengalami biomagnifikasi pada jalan makanan. Untuk melindungi kehidupan organisme perairan di Kanada dan European Community (EC). Konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Sungai Tewah sebesar 0.3 μg/liter (Moore.643 μg/liter. Senyawa merkuri mengalami masa tinggal (retention time) yang cukup lama di dalam tubuh manusia.2 μg/liter.002 mg/liter (Davis dan Cornell. 1991) Kadar merkuri pada air minum sebaiknya tidak melebihi 0.

15 Fenol Senyawa fenol merupakan senyawa aromatik dengan satu atau beberapa gugus hidroksil yang terikat secara langsung pada cincin benzene. Keberadaan fenol di perairan mengakibatkan perubahan sifat organoleptik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -66 .40. hanya beberapa μg/l.41.286 μg/liter.029 μg/liter. Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Kapuas 4. Kadar alami fenol di perairan sangat kecil. tekstil.161 μg/liter Gambar 4. Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Barito Gambar 4. kayu lapis.1.(Persero) CABANG I MALANG sebesar 7. Masaran sebesar 2. Timpah sebesar 3. industri kimia. Senyawa fenol dihasilkan dari proses pemurnian minyak.5.567 μg/liter dan Masaran Hulu sebesar 2.

Pelabuhan Hulu. Sungai Kapuas a) Tahap I. b) Tahap II. Sungai Barito a) Tahap I. Gambar 4. Pada kadar yang lebih tinggi dari 0.001 mg/l.05 mg/liter.42. b) Tahap II.072 mg/ liter dan konsentrasi terendah di Timpah Hulu sebesar 0. Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -67 .01 mg/l fenol bersifat toksik bagi ikan (UNESCO/WHO/UNEP. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Muara Teweh sebesar 0. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.312 mg/ liter dan konsentrasi terendah di P. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Kalahien sebesar 0.18 mg/liter 2. 1992).001 mg/l. Konsentrasi tertinggi terdapat di Mentangai sebesar 0.(Persero) CABANG I MALANG air. sehingga kadar fenol yang diperkenankan terdapat pada air minum adalah 0. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Adapun konsentrasi phenol di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Phenol yaitu 0.003 mg/liter.26 mg/ l. konsentrasi terendah di Tumbang Lahung sebesar 0. Jembatan Hasan Basri dan Muara Teweh yang konsentrasi fenolnya tidak terdeteksi. kecuali di Baru Hilir/Buntok.25 mg/ liter.Tilu sebesar 0. konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi tertinggi terdapat di Masaran sebesar 0. konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.

Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Minyak/Lemak yaitu 1 mg/l. Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Kapuas 4.1.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. pengeboran minyak dan buangan pabrik. Minyak yang terdapat di dalam air berasal dari berbagai sumber. Kandui sebesar 2 mg/l.16 Minyak / Lemak Minyak dan lemak yang mencemari lingkungan sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan. Puruk cahu sebesar 5 mg/l. Sungai Barito a) Tahap I.5. Puruk Cahu Hilir sebesar 3 mg/l. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -68 . diantaranya dari pembersihan dan pencucian kapal. konsentrasi minyak/lemak di Bintang Linggi sebesar 2 mg/liter. yaitu padatan yang mengapung di atas permukaan air. Air yang diperuntukkan bagi keperluan domestik sebaiknya bebas dari kandungan oil (minyak) dan grase (lemak) karena air dengan kadar minyak relatif tinggi menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak.43. Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata. Adapun konsentrasi Minyak/Lemak di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. Sungai Lumuk sebesar 2 mg/l dan Muara Lahung sebesar 2 mg/l melebihi ambang batas yang dipersyaratkan.

Konsentrasi Minyak/Lemak tertinggi berada di K. 2. Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata. konsentrasi Minyak/Lemak di Kuala Kapuas sebesar 1 mg/liter. b) Tahap II. Sungai Kapuas a) Tahap I.44.Cahu dan Muara Teweh sebesar 1 mg/l. Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -69 . konsentrasi minyak/lemak tertinggi berada di Pelabuhan Buntok sebesar 4 mg/l dan konsentrasi terendah di Pelabuhan P.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II. Konsentrasi ini melebihi ambang batas. Gambar 4.Kapuas sebesar 9 mg/liter dan terendah di Timpah Hulu sebesar 2 mg/l. konsentrasi minyak/lemak disemua lokasi melebihi ambang batas. Masaran sebesar 4 mg/liter dan Masaran Hulu sebesar 6 mg/liter.

Bahan pembentuk di dalam deterjen mengalami reaksi hidrolisis dengan air pencuci yang mengakibatkan air menjadi bersifat alkali. Bahan pembentuk yang umum digunakan adalah polifosfat.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Perbedaan utama adalah karena yang digunakan pada saat ini mempunyai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -70 .45.1.5. Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Kapuas 4. Definisi yang lebih spesifik dari deterjen adalah bahan pembersih yang mengandung senyawa petrokimia atau surfaktan sintetik lainnya. Surfaktan di dalam deterjen berfungsi sebagai bahan pembasah yang menyebabkan menurunnya tegangan permukaan air sehingga air lebih mudah meresap ke dalam kain yang dicuci.17 Deterjen Deterjen dalam arti luas adalah bahan yang digunakan sebagai pembersih. Surfaktan yang banyak digunakan pada saat ini berbeda dengan yang digunakan beberapa tahun yang lalu. Surfaktan merupakan bahan pembersih utama yang terdapat di dalam deterjen. Komposisi kimia deterjen terdiri dari bermacam-macam komponen yang dapat dikelompokkan menjadi tiga grup yaitu surfaktan. Sifat alkali tersebut penting untuk menghilangkan kotoran secara efektif. Polusi air yang disebabkan oleh penggunaan deterjen terutama menyangkut masalah surfaktan dan bahan pembentuk. bahan pembentuk dan bahan lain-lain. termasuk sabun cuci piring alkali dan cairan pembersih.

Ada 10 (sepuluh) lokasi yang lain konsentrasi deterjen tidak terdeteksi. konsentrasi deterjen yang melebihi baku mutu adalah di Masaran sebesar 0. konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu.05 mg/liter. yaitu dapat dipecah menjadi senyawa-senyawa sederhana oleh bakteri yang terdapat di lingkungan. Sungai Barito a) Tahap I. Adapun konsentrasi deterjen di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0. b) Tahap II. Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih diatas baku mutu yang dipersyaratkan.308 mg/l dan Masaran Hulu sebesar 0.342 mg/liter. Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. Sedangkan konsentrasi deterjen terendah di P.035 mg/liter dan konsentrasi deterjen terendah di Mentangai 0. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 0. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -71 .(Persero) CABANG I MALANG sifat dapat dipecah secara biologis (biodegradable). Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter deterjen yaitu 0. sedangkan surfaktan yang digunakan sebelum tahun 1965 tidak dapat dipecah oleh bakteri sehingga terdapat dalam bentuk tetap tidak berubah dalam jangka waktu lama di lingkungan.03 mg/liter.Tilu sebesar 0.029 mg/liter.254 mg/l 2. b) Tahap II.042 mg/liter. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Muara Lahung sebesar 0.563 mg/l dan konsentrasi deterjen terendah di Pelabuhan Buntok sebesar 0. Sungai Kapuas a) Tahap I.

Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Barito Gambar 4.46. Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -72 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.47.

b) Tahap II.1. Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml. Sungai Barito a) Tahap I. Adapun konsentrasi Fecal Coli di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. Sungai Kapuas a) Tahap I. 2. P.48.(Persero) CABANG I MALANG 4.18 Fecal Coli Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Fecal Coli tidak dipersyaratkan. konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. Timpah Hulu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -73 . b) Tahap II. konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 240 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml. konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml.5.Tilu. Gambar 4. Mentangai.

konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 300 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml.5.49. Mayoritas sungai yang terdapat di kota padat penduduk seperti di Pulau Jawa cenderung lebih tercemar oleh bakteri coliform dan fecal coli. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -74 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.1. Hal ini tentunya tidak terlalu tepat.19 Total Coliform Jumlah perkiraan terdekat (JPT) bakteri coliform/100 cc air digunakan sebagai indikator kelompok mikrobiologis. Sungai Barito a) Tahap I. bakteri inilah yang paling ekonomis dapat digunakan untuk kepentingan tersebut. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Kapuas 4. Adapun konsentrasi Total Coliform di masing –masing sungai sebagai berikut: 1. tetapi sampai saat ini. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Total Coliform tidak dipersyaratkan. yang menunjukkan telah terjadinya pencemaran tinja pada sungai tersebut dan dapat menyebabkan penyakit diare.

Sungai Kapuas a) Tahap I. konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml.(Persero) CABANG I MALANG b)Tahap II.Tilu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml.50. konsentrasi Total Coliform tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. 2. Gambar 4. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -75 . Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml. konsentrasi Total Coliform tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Mentangai. b) Tahap II. P.

51. hanya diambil paramater-paremeter yang terdeteksi keberadaannya dan dipersyaratkan dalam baku mutu. Penentuan Status Mutu Air dengan menggunakan Metode Polutant Index. kelas dua. dan Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang diperoleh dari hasil analisis cuplikan air pada suatu lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -76 . Hal ini disebabkan persamaanpersamaan matematis yang dipergunakan untuk menghitung Pollution Indeks (PI) mempersyaratkan hal tersebut. Tujuan perhitungan Pollution Indeks (PI) adalah untuk menggambarkan secara utuh kualitas air sungai yang ada di lokasi studi. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Kapuas 4. sedangkan untuk parameter yang tidak terdeteksi keberadaanya dan besarannya tidak dipersyaratkan dalam baku mutu tidak akan dilakukan perhitungan. maka dalam penentuan Pollution Indeks (PI) ini. yaitu Kelas satu. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” yang terdiri dari empat kelas. Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam Baku Peruntukan Air (j). Dari seluruh parameter yang diuji. kelas tiga dan kelas empat.5. Prosedur perhitungan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.2 Status Mutu Air (SMA) Status Mutu Air (SMA) dapat diketahui dengan cara membandingkan kualitas air hasil pengukuran dengan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001.

maka PIj adalah Indeks Pencemaran bagi peruntukkan (j) yang merupakan fungsi dari Ci/Lij.0.log(Ci/Lij)hasil pengukuran P adalah konstanta dan nilainya ditentukan dengan bebas dan disesuaikan dengan hasil pengamatan lingkungan dan atau persyaratan yang dikehendaki untuk suatu peruntukan (biasanya digunakan nilai 5). maka Cim merupakan nilai DO jenuh). maka ditentukan nilai teoritik atau nilai maksimum Cim (misal untuk DO.0+P. Menghitung harga Ci/Lij untuk tiap parameter pada setiap lokasi pengambilan cuplikan. Memilih konsentrasi parameter baku mutu yang tidak memiliki rentang. Menentukan nilai rata-rata dan nilai maksimum dari keseluruhan Ci/Lij.(Persero) CABANG I MALANG pengambilan cuplikan dari suatu alur sungai. (Ci/Lij)baru = 1. Bilamana nilai konsentrasi parameter yang menurun menyatakan tingkat pencemaran meningkat. Bilamana Nilai Lij memiliki Rentang : Untuk Ci ≤ Lijrata-rata (Ci / Lij ) baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) min imum − ( Lij ) rata − rata ] Untuk Ci ≥ Lij rata-rata (Ci / Lij )baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) maksimum − ( Lij ) rata − rata ] Penggunaan nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran kalau nilai ini lebih keci dari 1. makaPIj ini dapat ditentukan dengan cara : 1. 3. Penggunaan nilai (Ci/Lij)baru jika nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran lebih besar dari 1. 6. misal DO. 2. 4. ((Ci/Lij)R dan (Ci/Lij)M). yaitu : (Ci / Lij ) baru = Cim − Ci(hasil Pengukuran) Cim − Lij 5. Dalam kasus ini nilai Ci/Lij hasil pengukuran digantikan oleh nilai Ci/Lij hasil perhitungan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -77 .0. Memilih parameter-parameter yang jika harga parameter rendah maka kualitas air akan membaik.

masing-masing sungai disajikan pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -78 .(Persero) CABANG I MALANG 7.0 5.0 1. Menentukan harga PIj (Ci / Clj ) M 2 + (Ci / Lij ) 2 R 2 Pl j = Evaluasi terhadap Nilai PI adalah : 0 ≤ PI ≤ 1.0 ≤ PI ≤ 10 10 ≤ PI ≤ 15 tabel berikut : : Memenuhi Baku Mutu : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Berat Hasil perhitungan Pollutant Index.0 ≤ PI ≤ 5.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.23 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -79 .

24 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -80 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.25 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -81 .

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.26 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -82 .

Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 24 : Laung Tuhup b.Lokasi 22 : Tumbang Lahung . Sungai Barito Tahap I (Juni 2007) .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 15 : Lahei . Tahap II (September 2007) .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok .(Persero) CABANG I MALANG Dari hasil perhitungan di atas.Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 7 : Sungai Pendang .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan : Cemar Ringan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -83 .Lokasi 16 : Muara Lahei .Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 19 : Sungai Lumuk .Lokasi 5 : Kalahien .Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu . dapat dikemukakan bahwa kualitas air di masing-masing sungai adalah : 1.Lokasi 12 : Muara Teweh : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 8 : Bintang Linggi .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Memenuhi Baku Mutu .Lokasi 10 : Kandui .Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 2 : Baru .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .

Kapuas . Tilu . pada umumnya berasal dari kegiatan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI). Tilu .Lokasi 9 : Mandomai : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan Dari uraian dan pembahasan tersebut di atas. b Hasil pemantauan memberikan informasi faktual tentang kondisi (status) lingkungan masa sekarang dan kecenderungan kondisi masa lalu serta prediksi masa datang.7217 (Cemar Ringan) d Sumber utama pencemaran yang mengakibatkan penurunan kualitas air sungai.Lokasi 5 : Masaran .(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 1 : K.Lokasi 6 : Pendang . Tahap II (Oktober 2007) .Sungai Kapuas : PI = 3.Lokasi 7 : Masaran Hilir . Tahap I (Juni 2007) : . Kapuas .Lokasi 4 : Timpah .54 (Cemar Ringan) . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -84 .Lokasi 8 : Timpah Hulu . c Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau).Sungai Barito : PI = 3.Lokasi 5 : Masaran .Lokasi 3 : Mentangai . maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a Salah satu prosedur penting dalam proses pengelolaan kualitas air adalah melaksanakan pemantauan air secara kontinyu dan berkesinambungan.Lokasi 2 : P.Lokasi 4 : Timpah .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok 2.Lokasi 2 : P. maka mutu air di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : .Lokasi 1 : K.Lokasi 6 : Masaran Hulu b.Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Cemar Ringan .Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 6 : Masaran Hulu . Sungai Kapuas a.

Kemungkinan pencemaran terjadi karen adanya buangan limbah penduduk. 4. tanah dsb.3 Permasalahan Lingkungan Beberapa hal yang berakibat pada permasalahan lingkungan di WS BaritoKapuas diantaranya : Belum terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) penduduk secara terpusat Sarana pengolahan limbah tinja penduduk dengan menggunakan tangki septik terbatas dan terdapat sebagian membuang kotoran ke sungai. sehingga masih terdapat sumber air minum yang tidak terlindung. walaupun dari segi bakteriologi tidak dapat diulas. konsekwensinya sumber air minum penduduk sangat beragam. Cakupan PDAM untuk melayani air bersih penduduk terbatas. kegiatan industri dan pertanian yang ada disepanjang sungai yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah 4. Prediksi kualitas air kedepan apabila tanpa dilakukan pengelolaan areal pertanian dan pengolahan limbah penduduk maka kualitas air WS BaritoKapuas diduga lebih memburuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -85 .(Persero) CABANG I MALANG limbah organik dari kegiatan rumah tangga. ini merupakan indikator bahwa air sungai Barito di beberapa titik pengambilan sampel telah mengalami pencemaran. namun seperti sungai besar lainnya kemungkinan tidak memenuhi untuk air Kelas 1.4 Prediksi Kualitas Air WS Barito – Kapuas Berdasarkan tiga kali pengukuran dari kegiatan studi sebelumnya maupun pengukuran oleh Balai Barito-Kapuas Ciwulan.5. maka Kualitas air dari segi sedimentasi atau indikator erosi sangat dominan Nilai COD dan BOD di beberapa lokasi masih lebih tinggi dari nilai baku Mutu Air.5.

dan CP untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -86 . suatu prosedur penghitungan erosi yang umum dilakukan di Indonesia.36 Rm (Rain)m R = Erosivitas curah hujan bulanan rata-rata (EI30) = Jumlah curah hujan bulanan rata-rata dalam cm = Erosivitas curah hujan tahunan rata-rata = jumlah Rm selama 12 bulan. yaitu (a) erosi geologi (geological erosion) akibat proses alamiah yang berjalan secara normal jika pembentukan tanah lebih besar dari kehilangan tanah dan (b) erosi dipercepat (accelerated erosion) akibat aktivitas manusia pada permukaan tanah yang menyebabkan pembentukan tanah lebih kecil dari kehilangan tanah.6 ANALISIS KONSERVASI LAHAN DAN AIR 4.1 Erosi dan Sedimen Secara umum proses erosi terdiri atas dua jenis. Indeks pengelolaan tanaman (C) dan indeks pengawetan tanah (P) serta nilai indeks erodibilitas tanah (ketiganya merupakan nilai tertimbang) diperoleh dari tabel yang memuat nilai K. Rumus umum dari persamaan tersebut adalah: A = R x K x LS x C x P A R K = Erosi aktual (ton/ha/th) = faktor indeks erosivitas hujan = faktor indeks erodibilitas tanah LS = faktor indeks panjang dan kemiringan lereng C P = faktor indeks pengelolaan tanaman = faktor indeks pengawetan tanah Indeks erosivitas hujan diperoleh dengan menggunakan rumus Lenvain yaitu: Rm = 2. Jenis erosi yang kedua ini umumnya yang menjadi permasalahan utama pada kawasan daerah aliran sungai. Besarnya erosi yang terjadi dihitung berdasarkan satuan Sub DAS dengan menggunakan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation) dari Wischmeier dan Smith (1965). Faktor indeks panjang dan kemiringan lereng dihitung dengan menggunakan rumus dan nomograf.6.(Persero) CABANG I MALANG 4.21 x (Rain)m1.

006607X1. tiga faktor yaitu erosivitas.0987 Y = sedimentasi dalam mm/tahun X = besarnya erosi dalam ton/ha/tahun Persamaan tersebut di atas cocok digunakan untuk menentukan besarnya sedimen yang terjadi untuk kawasan DAS yang terdapat di Pulau Kalimantan dan digunakan oleh BPDAS dalam menghitung besarnya sedimentasi. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap penutupan lahan adalah tingginya kerusakan hutan akibat pembalakan hutan serta meningkatnya luasan lahan kritis sepanjang tahun.6. Adapun data yang digunakan untuk menghitung setiap komponen rumus USLE tersebut diperoleh dari data sekunder.0001 untuk sawah menjadi 0. tanaman dan pengawetan tanah. jarang sekali ada penelitian erosi yang berkelanjutan pada satu DAS sehingga menyebabkan data time series erosi menjadi tidak tersedia.5 untuk pemukiman. erodibilitas tanah. Nilai tersebut merupakan nilai empiris dari hasil penelitian lapangan pada berbagai tempat. Dari lima faktor yang mempengaruhi erosi sebagaimana yang ditulis pada rumus USLE. dan lereng dapat diasumsikan sama untuk jangka prediksi 20 tahun.(Persero) CABANG I MALANG tanah. faktor penutupan lahan dan pengelolaan tanah bersifat dinamis perubahannya. Analisis sedimentasi yang digunakan didasarkan pada rumus hasil penelitian Al Khadimi (1981) yang dikembangkan oleh DPMA (1987) melalui persamaan sebagai berikut: Y = 0. Akan tetapi. prediksi besarnya erosi di masa yang akan datang merupakan aspek penting dalam perencanaan konservasi Daerah Aliran Sungai. Sungguhpun demikian. 4.2 Prediksi Erosi dan Sedimentasi Pada dasarnya. Salah satu contoh perubahan penutupan lahan dan pengolahan tanah adalah konversi sawah menjadi pemukiman akan mengubah indeks CP dari 0. Sudah diketahui bahwa hutan yang utuh sangat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -87 . Aspek tata ruang yang selalu diperbaharui sesuai dengan perencanaan Pemerintah Daerah sangat menentukan penutupan lahan.

4. Selaku oerator yang memperoleh konsesi untuk mengelola sumberdaya air dan prasarana pengairan bertugas melaksanakan pengelolaan wilayah sungai dan mengembangkan sistem pengelolaan sungai. unsur Institusi Pengelola sumberdaya air dan dari unsur masyarakat. Selaku pemanfaat mempunyai hak memperoleh pelayanan yang baik dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan namun diharapkan dapat menggunakan air secara efisien dan ikut menjaga kelestarian lingkungan serta wajib memberikan kontribusi pembiayaan dan kontrol sosial yang positip atas pengelolaan wailayah sungai.7.(Persero) CABANG I MALANG berperan dalam mengurangi besarnya aliran permukaan yang pada akhirnya berdampak kepada erosi. mempunyai fungsi pengaturan dan kebijakan baik pada tingkat Nasional (Makro) maupun tingkat daerah (Operasional) dan bertugas melaksanakan kegiatan yang terkait dengan kewenangan publik.1 Peranan Kelembagaan Kelembagaan pengelolaan sumber daya air berasal dari unsur Pemerintah. berhak memungut iuran dari para pemanfaat dan menerima kontribusi dari Pemerintah (untuk pembiayaan yang ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat dan keselamatan umum) dan berkewajiban memberi pelayanan prima dan mengupayakan penigkatanperan serta masyarakat dan swasta dalam melakukan pengelolaan wilayah sungai serta mempertanggung-jawabkan pelaksanaan tugas kepada Pemerinatah dan msayarakat. Institusi pengelola sumberdaya air antara lain adalah pengusaha/kelompok pengusaha. Pemerintah selaku owner (pemilik) sumberdaya air dan prasarana pengairan.7 ANALISIS KELEMBAGAAN 4. badan usaha milik daerah atau milik negara maupun swasta yang bergerak dalam bidang sumberdaya air. pemerhati atau akademisi yang berkaitan dan concern dengan pengembangan sumberdaya air. Unsur dari masyarakat adalah sekelompok masyarakat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -88 . berhak memperoleh sebagian laba bersih dari institusi pengelola dan berkewajiban memberikan kontribusi untuk membiayai kegiatan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum.

2 Kelembagaan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas Wilayah sungai Barito-Kapuas merupakan wilayah sungai yang pengelolaannya ditangani oleh Balai Besar Wilayah Sungai Kalimantan II ( Kode A2-18. Per Men PU No 11A/PRT/M/2006) dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum.7.DAG I R BAPPEN AS M ENEG .52. Kelembagaan pengelolaan SDA level Pusat. PU T SA PU D EP.LH D EP KEH TAN U AN D EP PERTAN IAN D ITJENSD A D EKTO AT IR R Bina Program D EKTO AT IR R PSD A DIR EKTO AT R Irigasi D EKTO AT IR R Raw Pantai a DIREKTO AT R SU AW D A PR PIN O SI G BER U U NR Pem binaan teknis dan penelitian PTPA BAPPED A Perencanaan W ilayah Sungai BAPPELD A ALD D AS IN D AS IN DIN PEN AIR AS G AN U Perencanaan nit O w P ilayah sungai Konsultasi Tata Ruang BALAI PSD (PPTPA) A KETER AN ANG : BU PATI Perintah Perw akilan Pengguna/ Kom unikasi Pem binaan P3A D INASPUPEN AIR G AN KABU PATEN Konsultasi Gambar 4. Wilayah sungai Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -89 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar dibawah memperlihatkan Instansi kelembagaan dari unsur pemerintah yang terlibat dalam perencanaan/pengelolaan sumber daya air wilayah sungai mulai dari pemerintah/instansi pusat sampai dengan unsur pemerintah/instansi kabupaten. Provinsi dan Kabupaten 4.

3 tahun 1999 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah yang diperbaharui dengan Peraturan Daerah No 9 Tahun 2000 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah. yang diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai.3 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4. (antar instream-offstream. ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan pengelolaan. 1 Tahun 1994 tentang RTRW Kabupaten Barito Kuala yang diperbaharui dengan Perda Kabupaten Barito Kuala.(Persero) CABANG I MALANG merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. suatu pendekatan regional dalam pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dan kaitannya dengan tata ruang wilayah.7. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -90 . Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector).108 tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah. oleh karenanya perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. berwawasan kuantitas-kualitas). lingkungan (konservasi generasi). Sedangkan untuk wilayah hilir sungai Barito-Kapuas yang masuk wilayah Kalimantan Selatan terkait dengan beberapa Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala yaitu Perda No.7. Peraturan Daerah tentang Sumber Daya Air yang dibuat disusun berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. No.1 Pendekatan Menyeluruh dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). Beberapa Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan Sumber Daya Air Provinsi khususnya Kalimantan Selatan telah disusun Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No. menyeluruh berkelanjutan (hulu-hilir. Pengelolaan SDA Provinsi tercermin dalam Rencana Strategis masing-masing Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah No.3. 18 tahun 1995 tentang RTRW 4. Dalam tahun-tahun belakangan ini.

juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. institusi dan legislatif. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back).(Persero) CABANG I MALANG Suatu pendekatan kewilayahan dapat memberikan perhatian. Pendekatan ini telah mengarah pada definisi batas wilayah sungai dan pada beberapa sungai pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. 4. Departemen-departemen ini juga mengalokasikan biaya (budget) untuk pengembangan sumber daya air. alokasi. mengontrol penggunaan sumber daya air. mengontrol kualitas sumber daya air. mengatur. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. Mengadakan seminar informasi dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. yang bertanggung jawab kepada Provinsi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -91 . pengawasan. Pada tingkat pusat. mengontrol akses ke sumber daya air. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Serawak dan Malaysia). Pihak lainnya dilibatkan dalam hal koordinasi perencanaan. seperti seminar. 3. penegakan hukum. fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. 2. harus memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya di masa mendatang. seperti dari Eropa (Republik Checz. Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. Perencanaan sumber daya air salah satunya dapat berupa program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka panjang. untuk mensosialisasikan proyek dan tujuannya. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. badan perencanaan bertugas merencanakan. Definisi fungsi institusi yang mewakili pemerintah pusat adalah sebagai berikut: 1. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah. masalah hukum. Keterlibatan penggunaan berbagai sektor kebutuhan air dapat menyebabkan konflik untuk penggunaan sumber daya air. dan mengatur alokasi air.

kontrol penggunaan sumber daya air. penggunaan. sub komite manajemen suplai air. Komite ini terdiri dari pihak lain yang terkait. Pembagian area DAS tersebut adalah sebagai berikut : ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Daerah aliran air bagian hulu Daerah aliran air bagian tengah Daerah aliran air bagian hilir Daerah pantai Saluran sungai Dataran banjir yang diatur Daerah banjir DAS Daerah tangkapan hujan (catchment area) Daerah pinggiran banjir yang diatur (regulatory foodway fringe) perencanaan. diantaranya: • • • • sub komite manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah. kontrol akses. Provinsi. kontrol kualitas sumber daya air. sub komite koordinasi dan legistatif sumber daya air. 8. terutama dari sektor swasta. 7. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) yang terdiri dari perwakilan 17 departemen pemerintah dan lembaga yang terlibat dalam perencanaan manajemen dan penggunaan sumber daya air. Pembuatan prinsip dan konsep institusi dan tanggung jawab mengenai manajemen integrasi DAS dan daerah pantai dibagi berdasarkan area DAS. perawatan air.000 yang menggambarkan kondisi batas WS. Hal ini dibagi berdasarkan WS yang ada. manajemen. sub komite manajemen batas air dan daerah pantai. Bappenas telah mempersiapkan peta Indonesia skala 1:1. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang ada pada manajemen sumber daya air dan pada tingkat nasional. Untuk keperluan ini. Mengklarifikasi pembagian tugas. dan kualitas air. Menghindari pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang ada. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak lainnya yang terkait. Pembagian Institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -92 .(Persero) CABANG I MALANG 5.000. 6.

masalah legistatif. resolusi konflik. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -93 . koordinasi pengembangan. alokasi keuangan dan 9. evaluasi dan pengawasan. 12. alokasi sumber daya air. 13. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasikan secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: suplai air minum. 16. air irigasi. 11. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi pada suplai air industri. erosi dan sedimentasi. 14. mengontrol pembiayaan. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. 15. penegakan hukum. dan perikanan air tawar dan air asin. pembangkit listrik tenaga air. Merumuskan kekurangan infrastruktur perawatan air dan legalisasi untuk kota dan daerah urban. 10.7. Identifikasi tugas institusi dalam kondisi yang baru.(Persero) CABANG I MALANG ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● pengguna dan aplikasi sumber daya air. baik masalah kurangnya air. masalah hukum. masalah institusi. Mengadakan studi banding mengenai integrasi. 4. pengembangan sumber daya manusia.2 Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Era Otonomi Daerah Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. Menyiapkan pilihan dan alterbatif untuk pemerintah pusat tentang pembagian tugas antar pihak swasta yang terkait. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi suplai air pada lembaga pemerintah dan pihak terkait lainnya. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannya.3. industri. planning perencanaan pengembangan partisipasi publik.

Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan Provinsi sebagai otonomi daerah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -94 . Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai 3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu direvisi. berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat. akan banyak memberikan perubahanperubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. 2. pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya Air. yang dalam Undangundang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. disebutkan bahwa: 1. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

7. Penetapan Pola dan Pelaksanan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) Pengelolaan sumberdaya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah Provinsi/kabupaten/kota dan stakeholders. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumberdaya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan. telah disebutkan prinsip-prinsip dan kebijakan tentang pembiayaan sumber daya air (water financing) yang meletakan dasar-dasar ke depan keberlanjutan dalam aspek pembiayaan untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air. Pembiayaan sumber daya air tidak hanya untuk mendanai pembangunan infrastruktur serta operasi dan pemeliharaan.27 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/Kota Lintas Kabupaten/Kota dalam satu Provinsi Lintas Provinsi Sungai Strategis Sumber: UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.4. dimasa depan dibutuhkan sumber dana dari masyarakat untuk pengembangan sumber daya air. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumberdaya air.7.4 Strategi Pembiayaan 4. 7 Tahun 2004 Wewenang Penetapan Wilayah Sungai. baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah Provinsi. 4. Di dalam UU No.1 Kebijakan Public Service Obligation Sumber Daya Air di Indonesia Di dalam kondisi keuangan Negara yang sangat terbatas.(Persero) CABANG I MALANG 4. ditetapkan sebagai berikut : Tabel 4. (b) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -95 . namun juga biaya jasa pengelolaan sumber daya (termasuk pengembalian biaya investasi) dan biaya konservasi. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai. Sumber pembiayaan dari setiap jenis kegiatan antara lain: (a) Dana Pemerintah.

4.(Persero) CABANG I MALANG Dana swasta (termasuk pinjaman atau hibah). saham dalam usaha pengelolaan dan sumber daya air akan memberikan iklim kondisif untuk partisipasi pemerintah.2 Konsep Dasar Sistem Pembiayaan Berkelanjutan Konsep dasar sistem pembiayaan berkelanjutan: 1. Sistem pembiayaan yang memperhitungkan sebagai saham atas kontribusi biaya publik dan subsidi pelayanan sosial yang akan diperhitungkan sebagai daerah. Prinsip Pengelolaan sumber daya air yang dapat lebih menjanjikan dalam aspek finansial untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air di era otonomi daerah adalah ”One River – one plan – one system of multi level basin management” 2.7. 3. PTPA dan PPTPA harus ditingkatkan fungsinya dan disempurnakan keanggotaannya sebagai wadah koordinasi dan konsultasi serta sebagai regulatory body/parlemen air yang dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memungkinkan diterapkannya pendekatan partisipatif dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air sehingga prinsip keterbukaan.4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -96 . demokratisasi. transparasi dan akuntabilitas dapat diterapkan secara memadai. dan (c) Dana yang diperoleh dari jasa pengelolaan sumber daya air (misalnya dana untuk konservasi serta pemantauan dan pembinaan). Institusi pengelolaan sumber daya air di Tingkat Wilayah Sungai yang dapat merealisasikan keberlanjutan aspek finansial dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah BUMN/BUMD yang berbentuk Perusahaan Publik yang netral dan profesional yang secara seimbang menerapkan norma-norma pengusahaan yang sehat dan kaidah-kaidah pelayanan umum yang handal atas air dan sumber-sumber air dengan bertumpu pada partisipasi masyarakat dan kemitraan dengan swasta. Di samping itu. dapat dilakukan kerjasama pengelolaan dana untuk wilayah sungai. Kewenangan mengelola dana di wilayah sungai didasarkan pada pembagian kewenangan antara pusat. keadilan. Provinsi. 4. masyarakat swasta dalam pembiayaan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. pemerintah pemanfaat. dan kabupaten/kota sesuai UU Sumber Daya Air.

53.(Persero) CABANG I MALANG Badan-Badan Pengelola Sistem Pendukung (BPSP) Pemerintah/Perintah Daerah (Cost & Fee) Recovery Badan Pengelola Sistem Utama (BPSU) (Cost & Fee)* Recovery* Badan-badan Pengelola Sistem Pemanfaat (BPSM) (Cost & Fee)** Recovery** Pemanfaat Air (Pemanfaat Spesifik) Pemanfaat Air (Pemanfaat Umum/Non Spesifik) Pelayanan air Pelayanan dari badan pengelola di hulunya Pembayaran iuran Pembayaran pajak Konstribusi pembiayaan Subsidi biaya publik & biaya sosial Gambar 4. Sistem Multilevel Basin Management Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -97 .

54. Diagram Skematik Sistem Sharing dan Deviden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -98 .(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah Pemerintah Daerah (Propinsi/Kabupaten/Kota) Pemanfaat air dan Sumber-sumber air Masyarakat umum dan swasta Badan Pengelola SDA (BPSU/BPSP) Share Deviden Pengembangan dan Pengelolaan SDA Konstribusi biaya Investasi Subsidi biaya publik & sosial u/ pengelolaan Deviden atas konstribusi biaya investasi Deviden atas subsidi biaya publik & sosial Gambar 4.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -99 . perlu diupayakan secara bertahap realisasi konstribusi pemerintah untuk membiayai pelayanan umum dan subsidi untuk pelayanan sosial. 2. Mengingat irigasi sebagai pengguna air terbesar dan mengingat prinsip keadilan.5 Strategi Implementasi 1. petani pemakai air dapat memberikan konstribusi dalam bentuk iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air. Mengacu pada kenyataan dengan adanya peningkatan kontribusi pemanfaat untuk membiayai pengelolaan sumber daya air di WS BaritoKapuas sedang di lain pihak Goverment Obligation Principles belum dapat direalisasikan. Kelompok Stakeholders dan Dewan Daerah SDA 4. sesuai kemampuannya.(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah/ Pemda (Owner/ Regulator) Dewan Daerah SDA (PTPA/PPTPA) Masyarakat (User/ Beneficieries) Badan Usaha Pengelola SDA (Operator/ Service Providers/ Developer) Gambar 4.55. maka secara bertahap.7. maka guna menjaga kelestarian fungsi sarana dan prasarana pengairan dalam rangka dapat menjamin keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat.

PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Sesuai dengan amanat dalam Undang Undang SDA No7 tahun 2004. dan pengendalian kualitas air) perlu dilakukan berdasarkan metode sederhana (berdasar nilai manfaat) dengan dibuat suatu formula kenaikan tarif berkala dengan memperhatikan unsur-unsur biaya yang berpengaruh secara dominan terhadap biaya pengelolaan sumber daya air (BBM. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -100 . inflasi rata di wilayah sungai yang bersangkutan). Kenaikan tarif di samping memperhatikan faktor-faktor kenaikan harga juga harus mencakup peningkatan derajat pelaksanaan O & P dengan jangka waktu ideal selambat-lambatnya 5 – 10 tahun untuk mencapai O & M Cost Recovery. UMP. industri. 5. 6. irigasi. Dalam rangka memberikan kontinuitas pelayanannya. Pengawasan oleh Dewan Daerah Sumber Daya Air yang bagaimana yang tidak menimbulkan duplikasi dengan pengawasan oleh pihak pemilik perusahaan yang dilakukan oleh Badan/Dewan Pengawas Perusahaan. pengendalian banjir. Dengan demikian dalam pembentukan kelembagaan dikemudian hari keikutsertaan stakeholder dalam wadah Dewan Air nantinya sangat berperan dalam PENDAYAGUNAAN SDA. Pembebanan biaya kepada kelompok-kelompok pemanfaat (listrik. KONSERVASI SDA. maka tarif pajak pengambilan dan pemanfaatan air agar dapat ditetapkan yang proporsional terhadap tarif iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air sehingga dana kontribusi dari pemanfaat tersebut dapat sebesar-besarnya dipergunakan secara langsung untuk membiayai pengelolaan sumber daya air yang bersangkutan. 4.(Persero) CABANG I MALANG 3. air bersih.

irigasi. maka diperlukan bantuan dari suatu model komputer untuk alokasi air. 5. perkotaan dan industri. dan lainnya. secara komprehensif dan terpadu. penyediaan air baku untuk rumah-tangga.2 MODEL SIMULASI WILAYAH SUNGAI Pemodelan simulasi alokasi air di tingkat wilayah sungai akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali muncul dalam pengembangan sumberdaya air. sampai sejauh mana dapat dikembangkan jaringan irigasi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-1 . Dilain pihak ketersediaan air jumlahnya tetap sehingga sudah mulai terasa adanya conflict of interest dalam hal pemakaian air. maka semakin meningkat pula kebutuhan akan air untuk berbagai keperluan (terutama untuk domestik. perkotaan dan industri. listrik. pemeliharaan aliran. antara lain sebagai berikut: 1) Evaluasi alternatif dan potensi pengembangan sumberdaya air. Untuk mengantisipasi hal ini maka perlu dilakukan pengelolaan distribusi air pada tingkat wilayah sungai atau bahkan antar wilayah sungai. dan melibatkan berbagai aspek sosial dan ekonomi dalam meningkatkan produksi pangan. Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya perekonomian dan industri. 2) Untuk suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan ketersediaan airnya yang berfluktuasi.1 UMUM Perencanaan pengembangan wilayah sungai merupakan suatu proses perencanaan secara spasial dan temporal yang sangat kompleks. Mengingat kompleksnya sistem alokasi air ini. yang tidak hanya digunakan pada tahap perencanaan. Situasi ini jika dibiarkan berlarutlarut akan dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional pada umumnya. akan tetapi juga secara operasional untuk memxbantu para pengelola air sebagai suatu decision support system (sistem pendukung pengambilan keputusan).(Persero) CABANG I MALANG BAB 5 SIMULASI MODEL ALOKASI AIR WS BARITO-KAPUAS 5. wisata dan lingkungan).

terutama ketersediaan air. 7) Seberapa efektif upaya pembangunan waduk terhadap pemenuhan kebutuhan air irigasi dan tambak? 8) Berapa ukuran waduk yang diperlukan. dan dampak alternatif pengembangan (dalam bentuk peta dan grafik) yang mudah dievaluasi dengan cepat. Dalam simulasi wilayah sungai terdapat dua hal penting. kebutuhan air dan infrastruktur. maka suatu model simulasi wilayah sungai harus dapat melakukan perhitungan simulasi dengan baik. dan kemungkinan alternatif pengembangan. dan lainnya) di masa mendatang? Bilamana dan dimana? 4) Berapa potensi listrik tenaga air? 5) Berapa debit andalan (reliable flow) dengan atau tanpa waduk? 6) Pengkajian upaya-upaya pembangunan infrastruktur pengairan dan upayaupaya pengelolaan air. Artinya model harus mampu menirukan karakteristik penting dari wilayah sungai. dan simpul kendali sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-2 . dan cabang-cabang yang menyatakan sungai. maka disusun skematisasi sistem tata air yang dapat menggambarkan sistem tata air secara hidrologis.2. terowongan atau pipa. yaitu kondisi sistem tata air yang dinyatakan dalam Skematisasi Sistem Tata Air. Simpul-simpul tersebut terdiri atas tiga jenis. dan bagaimana pola pengoperasian yang optimal? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas. kebutuhan air. yaitu simpul biasa. disamping memberikan kemudahan pemasukan data dan keluaran informasi secara efisien. dan mudah dioperasikan. 5. pengoperasian sistem tata air.1 Skematisasi Sistem Tata Air Untuk dapat mensimulasikan satuan wilayah sungai sebagai suatu sistem tata air. saluran. Skematisasi sistem tata air terdiri atas simpul-simpul yang menyatakan sumber air. lengkap dengan bangunan-bangunan air dan sarana pembawanya. dan Alternatif Pengembangan Sumberdaya Air yang direncanakan. listrik tenaga air.(Persero) CABANG I MALANG pemasokan air baku tanpa menimbulkan kekurangan air atau merugikan pemakai air lainnya? 3) Apakah akan terjadi benturan kepentingan (conflict of interests) antara para pemakai air (irigasi. air baku. dalam format yang mudah disajikan. simpul aktivitas.

Masing-masing sub-WS ini mempunyai karakteristik tertentu yang secara umum dapat digolongkan atas tiga bagian. Batas dari sub-WS pada suatu DAS bagian hulu biasanya bertepatan dengan batas dari DAS Pada bagian tengah dan hilir dari WS kondisinya lebih kompleks dengan adanya bangunan-bangunan air seperti bendung. dan dapat berupa: Simpul Air Bersih (public water supply node).2. atau water district. 5.(Persero) CABANG I MALANG a) Simpul biasa merupakan unsur dalam tata air yang tidak mengatur aliran air. Simpul-simpul ini dapat berupa Simpul Aliran (inflow node). c) Simpul kendali merupakan infrastruktur pengairan yang dapat digunakan untuk mengendalikan sistem tata air. Simpul Akhir (terminal node). Sub-WS atau Water District merupakan suatu satuan luasan alami terkecil. maka biasa dilakukan deliniasi Wilayah Sungai (WS) atas beberapa sub-WS. sistem saluran utama dll.2 Water District Untuk dapat menggambarkan skematisasi dengan baik. Simpul Tambak (fishpond node). Simpul Semu (dummy node). b) Simpul aktivitas yang merupakan simpul kebutuhan air. Sub-WS ini mencirikan: unit hidrologi terkecil yang mencakupi kebutuhan air dan pasokan air mempunyai persamaan sifat dalam merespon hujan dan aliran unit yang saling melengkapi dalam pengaturan sumber daya air dan dapat dimungkinkan untuk membuat keseimbangan Ukuran dari pembagian sub-WS banyak pertimbangannya. Simpul Pertemuan (confluence node). dapat berupa: waduk dan bendung. dan Simpul Kehilangan Air (loss flow). waduk. Simpul Penyadapan Air untuk Sub-Wilayah Sungai (district extraction node). yaitu sub-WS di hulu. Sub-WS di bagian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-3 . tergantung pada detil wilayah dari analisa kebutuhan dan pasokan dan lokasi pada bangunan utama pada sungai. Simpul Aliran Rendah (low flow node). Simpul Listrik Mikrohidro (run-of-river node). Simpul Irigasi (irrigation node). tengah dan pantai. dengan batas potongan berupa infrastruktur di sungai atau batas alami berupa anak atau cabang sungai. yang selanjutnya digunakan untuk penggambaran daerah studi dalam bentuk Skematisasi. dan Simpul Drainase Sub-Wilayah Sungai (district drainage node).

(Persero) CABANG I MALANG hulu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-4 . Pada kawasan ini perlu diberikan perlindungan konservasi lahan. Pemodelan pada kawasan yang menjadi simpul inflow ini menyangkut kalibrasi hubungan hujanlimpasan. penampungan air dan pengendalian anak-anak sungai. merupakan daerah tangkapan air.

Berbagai tipe water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-5 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5.1.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5.2. Daerah Tangkapan Air Bendung sebagai water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-6 .

Upaya-upaya tersebut dapat berupa Upaya Teknis / Infrastruktural seperti pembangunan waduk dan pengembangan irigasi. Untuk dapat mengevaluasi hasil alternatif pengembangan. skenario tingkat sukubunga. misalnya skenario laju pertumbuhan penduduk. dan analisis multi kriteria untuk menyajikan hasil kajian alternatif pengembangan kepada para pengambil keputusan. dan produksi energi listrik. pasokan air terhadap suatu kebutuhan air.(Persero) CABANG I MALANG Pada sub-WS di bagian tengah lebih kompleks. kebutuhan air baku. operasi. pengendalian muara pantai. sebab merupakan daerah produksi dan pemanfaatan. misalnya peningkatan operasi waduk. b) Simulasi Kedua dan seterusnya. 5. dan skenario kondisi hidrologi. pembebasan lahan. dan intrusi air laut. Kasus-kasus simulasi tersebut diatas disimulasikan menurut skenario yang digunakan. produksi hasil pertanian. Sub-WS di daerah hilir merupakan daerah pemanfaatan dan juga pembuangan. Setelah dilakukan perkiraan biaya konstruksi. dan perkotaan dengan permasalahan alokasi air.2. Upaya Operasional. Perbedaan hasil dari kedua buah simulasi tersebut merupakan dampak dari alternatif pengembangan yang dikaji. tambak. yang dinamakan dengan Kasus Dasar (Base Case) dan terdiri atas Kasus Dasar Masa Kini (untuk kalibrasi sistem) dan Kasus Dasar Masa Mendatang (untuk perbandingan alternatifalternatif). dan pemeliharaan. Selain itu upaya-upaya dapat pula dikelompokkan atas Upaya yang terarah pada Pasok (supply oriented). dengan berbagai alternatif pengembangan. dapat berupa daerah irigasi teknis. untuk kondisi tanpa upaya. Skenario adalah parameter sistem yang tidak dapat diubah oleh proyek dan bersifat probabilistik. serta Upaya Hukum dan Kelembagaan. Perbedaan ini misalnya dapat berupa: debit air.3 Alternatif Pengembangan Sumber Daya Air Setiap alternatif pengembangan sumberdaya air pada umumnya terdiri atas gabungan beberapa upaya (proyek). dan sebagainya. Model alokasi pembagian air yang telah umum digunakan pada beberapa Wilayah Sungai di Indonesia. maka paling tidak harus dilakukan dua buah simulasi yaitu: a) Simulasi Pertama. dicirikan dengan adanya pertanian. maka dapat dilakukan analisis ekonomi teknik. dan Upaya yang terarah pada Kebutuhan (demand oriented). antara lain adalah model WRMM (Water Resources Management Model) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-7 . perikanan.

dan DSSRibasim. Gambar 5. model ad-hoc yang berdasarkan Lotus-123 atau Microsoft-Excel. Tahun Hidrologi dan Tahun Kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-8 .3.(Persero) CABANG I MALANG dari Kanada.4. Simulasi Wilayah Sungai Gambar 5.

Ribasim merupakan salah satu model alokasi air yang dapat digunakan pada tahap perencanaan pengembangan sumberdaya air. atau pemberian ijin pengambilan air industri. Model ini dikembangkan oleh Delft Hydraulic dari Negeri Belanda sejak tahun 1985. Model yang konsep dasarnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-9 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5. Simulasi Alternatif Pengembangan 5.3 DSS-RIBASIM UNTUK WILAYAH SUNGAI BARITO KAPUAS DSS.5. maupun secara operasional untuk membantu pengambilan keputusan taktis (misalnya sebagai sarana negosiasi operasi beberapa waduk.

Tg. 5. Ambawang PALANGKARAYA ! . Riam Kanan Riam Kiwa . 26 Juni 2006 telah membagi Wilayah Sungai menjadi 11 sub-DAS. .3. . . yaitu : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin. . KETERANGAN : Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan B !ANJ ARMASIN . Murung Barito Kapuas PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH DAS : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin . Negara .(Persero) CABANG I MALANG diilhami oleh model MITSIM dari Amerika Serikat ini telah digunakan pada lebih dari 20 negara di dunia. . PEMBAGIAN DAS DI WS BARITO KAPUAS BERDASARKAN PERMEN PU No. PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Tapin Martapura . 11A/PRT/M/2006. Kubu Landak .10 . 11A/PRT/M/2006 Tg. 26 Juni 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . . .1 Sistem Tata Air Berdasarkan PERMEN PU No. .

Timpah Kec. Tuhup Main stream barito S. Dusun Utara Kota Buntok Kec. Mantangai Kec.11 . Berioi Sungai di timur Kota Muara Sungai Montalat Main stream Barito S. Timpah Kec. Ayuh Main stream Barito S. Teweh Timur Kec. Teweh Tengah Kec. Murung Kec. Karau Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kec. maka pada studi ini diperlukan pembagian sub-DAS yang lebih detail. Mantangai Kec. sebagai berikut: No. Gunung Butang Awal Kec. Pematang Kanan Kec. Laung S. Murung Kabupaten Kab Murung Raya Kecamatan Kec. Murui S. Mengkatip Kab Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . Lahung S. 2004) dalam water district. Mengkutup S. Singkap S. Kapuas Tengah Pujon Kec. 1 Sub DAS Barito Sungai-sungai S. Timpah Kec. Teweh Tengah Muara Lahai Bangkanal Kec. Permata Intan Kec. Murung Kec. Bebem S. Mantangaik S. Lahei Kec. Dusun Tengah Kota Ampah Balawa Sei Hanyu Sei Hanyu Kec. sesuai dengan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (Ditjen Sumber Daya Air. Tanah Siang Kec. Timpah Kec. Laung Timur Kec. Alar S. Kapuas S. Montalat Kec. Teweh besar S. Mantangai Kec. Gunung Pirel Kec. Mantangai Palingkau 2 Kapuas S. Sbr Barito Desa Muara Joloi I Tumbang Tulang Tanjung Belatung Main stream barito S.(Persero) CABANG I MALANG Agar kita dapat mengetahui dimana terjadi kekurangan air. dan bagaimana upayaupaya penanggulangannya. Kuantan S. Lahei S. Danumbul S. Mantangin S. Gunung Timang Muara Bitung Kec.

Juloi (selatan) 4 5 Martapura Riam Kanan S.12 . Kalaan 6 Riam Kiwa S. Amandit Kab Hulu Sungai Selatan Rantau Kandangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . Tabalong Kiwa S. Tabalong S. Tabalong Kanan S. Riam Kiwa S. Sub DAS 3 Murung Sungai-sungai Main stream kapuas S. Tapin S. Balangan S. Kumap S. Riam Kanan S. Halong S. Maluka S. Alalak S. Batangalai 8 9 10 11 Ambawang Kubu Landak Tapin Kab Murung Raya Kab Banjar Kab Banjar Kota Martapura Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Muara Juloi II Parahali Tumbang Julung Tumbang Kalasin Tumbang Maan Tumbang Tuhai Kab Banjar Kab Hulu Sungai Utara S. Martapura S. Mangkook 7 Negara S.(Persero) CABANG I MALANG No. Kapuas Murung S. Pulau Petak S. Busang Kabupaten Kecamatan Mandomai Barimba Lupak Dalam Desa Kab Murung Raya S. Pitap S.

1.2 Makna Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Cita-cita mulia tersebut adalah ‘Visi’ dari kebijakan nasional sumber daya air. yang mempunyai kepentingan dengan sumber daya air. Tata kelola Sumber Daya Air dengan paradigma baru (New Paradigm of Water Governance) dan Kesepakatan-kesepakatan global Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . yaitu “Uraian mengenai hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai keadaan sebagaimana tersebut pada Visi”. Dengan demikian. diperlukan usaha-usaha atau “Misi”.1.1 Makna Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ‘KEBIJAKAN’ adalah ‘Arah’ atau ‘Tujuan’. yang berkaitan dengan sumber daya air. yang merupakan haluan yang akan diikuti oleh segenap pemilik kepentingan untuk mewujudkan cita-cita yang akan dicapai. yang akan dicapai.1 . untuk mewujudkan cita-cita nasional. yaitu “ Gambaran mengenai keadaan yang diinginkan pada masa 10-20 tahun yang akan datang” sedangkan untuk merealisasikan Visi tersebut.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA NASIONAL 6. 6.3 Proses Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air dengan alur pikir dilakukan dengan mengikuti prinsip-prinsip yang ada pada: UU No.(Persero) CABANG I MALANG BAB 6 TINJAUAN KEBIJAKAN SUMBER DAYA AIR 6. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air berikut Peraturan Pemerintahnya. makna dari Kebijakan Nasional Sumber Daya Air adalah merupakan ‘Arah’ dan ‘Tujuan’ yang akan diikuti oleh masyarakat pada tingkat nasional. 6.1.

1.4. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup Tertingkatkannya perlindungan masyarakat dari bencana daya rusak air Terpenuhinya kecukupan air bagi sebagian besar masyarakat dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.1. terpadu. iii) Misi 3: Mengendalikan daya rusak air yang dapat memberikan insentif dan disinsentif dengan memanfaatkan berbagai sumber daya secara sinergi dan terintegrasi. 6.2. iv) Terwujudnya keterlibatan peran masyarakat secara aktif dalam pengelolaan sumber daya air melalui Dewan Sumber Daya Air yang merupakan Forum Dialog dan Koordinasi antar Pemilik Kepentingan yang terlegitimasi. Visi Jangka Panjang (20 tahun atau sampai dengan Tahun 2025) Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Visi dan Misi juga memperhatikan Latar Belakang penyusunan Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ini serta hasil kajian dari kebijakan-kebijakan sumber daya air yang ada.(Persero) CABANG I MALANG Selain mengikuti prinsip-prinsip dari ketiga hal tersebut.1. Misi Untuk merealisasikan Visi tersebut di atas.2 . dan kebijakankebijakan sejenis yang ada di Negara lain.4 Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air 6. v) Terlaksananya suatu prinsip pembiayaan jasa pengelolaan sumber daya air 6. Adapun gambaran umum keadaan yang akan dicapai pada tahun 2025 adalah: i) Tercapainya pengelolaan sumber daya air berdasar pola pengelolaan wilayah ii) iii) sungai yang menyeluruh. termasuk UU No.4. diperlukan Misi sebagai berikut: i) ii) Misi 1: Misi 2: Mengkonversi sumber daya air secara berkelanjutan Mendayagunakan sumber daya air secara adil serta memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas untuk berbagai kebutuhan masyarakat.

Pekerjaan Umum) dalam merespon cepatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan selama orde baru dan lebih lagi selama periode reformasi yaitu sejak terjadinya krisis ekonomi/ moneter 1998. PERMEN. ADB 2000 (Reformasi Kebijakan Pengelolaan SDA) Pengelolaan yang didasarkan pada UU. KEPMEN Kebijakan O & P Irigasi diterbitkan 1987 Workshop on Water for Sustainable Development 1992 Java Irrigation and Water Manajement Project (JIWMP) 1993 Formulasi Program Irigasi 1993 (JICA) dilanjutkan dengan studi Sustainable Irrigation Manajement bantuan PTPA. 6. FAO 1995 Capacity Building Project for Water Resources Sector. Sejak 1987 situasi daya dukung SDA di Indonesia mulai terancam. Ancaman tersebut diakibatkan perubahan/pemerosotan DAS hulu dengan cepatnya eksploitasi hutan untuk mendukung pendapatan nasional disamping viii) Water Resources Sector Adjustment Loan (WATSAL). Yohannesburg dan lain-lain.3 . IBRD 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .5 Studi-Studi Kebijakan yang Pernah Ada Studi-studi mengenai kebijakan yang pernah ada antara lain: i) ii) iii) iv) v) vi) vii) Paket UU 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dan Peraturan turutannya – PP. World Summit on Sustainable Development. keadaannya sangat cocok dengan perkembangan di Indonesia. 4. 7 sampai butir 8 di atas sebagai kulminasinya boleh dikatakan adalah suatu upaya besar yang sudah dilakukan pemerintah. ADB tahun 1998 Nasional Water Resources Policy Study. 11 tahun 1974 yang dilengkapi dengan berbagai kebijakan/arahan sebagai hasil studi mulai dari butir 1. 3. Khususnya jajaran Ditjen Pengairan Dep. Dikaitkan dengan perkembangan yang terjadi di tingkat global berbagai kesepakatan telah dilakukan. Rio De Jenairo. antara lain The Dublin Statement. 6. PU (sekarang Ditjen SDA Dept.(Persero) CABANG I MALANG iv) v) Misi 4: Misi 5: Memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat dan Pemerintah dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Meningkatkan keterbukaan serta ketersediaan data dan informasi dalam pembangunan Sumber Daya Air. 5. Earth Summit Agenda 21.1. 2.

Proses pergeseran paradigma SDA mulai dirasakan sejak 1980 dimana fungsi pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana tanpa partisipasi masyarakat yang menerima manfaat akan berat sekali beban pemerintah. 6. Lingkungan dan Pangan yang semuanya terkait dengan ruang/ lahan. Berikut dapat kita bandingkan tiga kebijakan tersebut: a. Kebijakan Tata Ruang.6 Tinjauan Pada Kebijakan-Kebijakan yang Ada 6. Lingkungan dan Pangan Tiga aspek penting pembangunan yang erat kaitannya dengan SDA ialah Penataan Ruang.(Persero) CABANG I MALANG besarnya tekanan atas DAS oleh pertumbuhan penduduk dan ekonomi sosial masyarakat. yaitu multi sektor dan terpadu hulu hilir dan antar wilayah. selaras dan seimbang serta berkelanjutan dan. b. Penataan Ruang. Kulminasi pergeseran/ pembaharuan kebijakan ini diawali dengan Kepmenko tentang Kebijakan Pengelolaan SDA tahun 2001 dan dikunci dengan diterbitkannya UU No.6.1. Kebijakan lingkungan ternyata jiwanya bersamaan dengan penataan ruang. c.4 . Lingkungan dan Pangan seyogianya diselaraskan secara timbal balik sedemikian akan dicapai rencana dan implementasi pembangunan beberapa sarana dan prasarana secara berkelanjutan. Kebijakan penataan ruang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan melalui (i) pemanfaatan sumber daya alam dan buatan secara optimal (ii) keseimbangan perkembangan antara kawasan melalui pemanfaatan ruang kawasan secara serasi. (iii) pencegahan kerusakan fungsi lingkungan. Kebijakan SDA.1. Tuntutan lahan dan SDA ini berlawanan dengan keinginan lingkungan yang membatasi pembukaan lahan baru dan pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Sumber Daya Alam dan SDA yang cukup untuk dapat menyediakan pangan sejalan dengan kebutuhan oleh pertumbuhan penduduk dan kemakmuran masyarakat. 7 tentang SDA pada Februari 2004. Perubahan atau pembaharuan kebijakan sejalan dengan pergeseran paradigma sudah benar jalur dan prosesnya dalam menuju pengelolaan SDA yang ideal harus menyeluruh dan terpadu.1. dengan mensyaratkan rambu-rambu pembangunan antara lain: Kebijakan pangan disisi lain menuntut ketersediaan lahan.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . dan tiga tahunan secara rolling serta rencana jangka menengah dan jangka panjang. 17/2003 tentang keuangan bersama UU lain sebagai satu paket akan diberlakukan mulai tahun anggaran 2006. pada negara maju misalnya ada tiga fungsi pokok pemerintah yang amat menonjol yaitu: (i) memelihara keamanan yang baik agar rakyat bisa berkinerja optimal (ii) penyediaan infrastruktur kebutuhan hidup dan ekonomi yang tidak bisa disediakan dunia usaha dan masyarakat dan (iii) memelihara kesamaan hak dan tanggungjawab warga negara dengan penerapan hukum yang adil Dari mana sumber dana pemerintah untuk membiayai 3 fungsi tersebut? Tentu saja dari pajak perusahaan dan pajak perseorangan/ warga negara. Undang-Undang ini mensyaratkan dana anggaran berdasarkan kinerja. Sampai sekarang peranan dan hasil penataan ruang baik nasional. Tentu saja semua hal ini akan mempengaruhi kebijakan pengelolaan SDA ke depan terutama aspek perencanaan perlu lebih akurat dan lengkap berupa rencana kerja tahunan. 6. Tiap negara mempunyai undang-undang yang mengatur kebijakan keuangan negara/ pemerintah yang berarti mengatur pemasukan dan pengeluaran uang dan semua kekayaan negara.5 . pulau dan propinsi/ kabupaten belum memberikan kinerja yang maksimal karena masih banyaknya pelanggaran tata ruang. sebagai paket reformasi bidang keuangan. Menururt UU No. menuju good government. Kebijakan Keuangan Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.6.(Persero) CABANG I MALANG waduk serta daerah irigasi yang mengubah bentang alam secara signifikan d.1.2. UU keuangan ini mewajibkan tiap kementrian membuat rencana rolling 3 tahunan yang berbeda dengan rencana 5 tahun selama ini (Pelita atau Propenas 1999-2004). Diharapkan penataan ruang dapat menyikapi secara optimal dan berkelanjutan kepentingan sektor pertanian pangan dan lingkungan dan sektor SDA.

bukan hanya irigasi. Kebijakan Departemen Pekerjaan Umum Keterpaduan yang saling mengisi dan selaras antara kebijakan perkotaan dan permukiman dengan kebijakan trasportasi jalan dan pengelolaan SDA. Departemen ESDM dan sebagainya.6 . Pelita I 1968 diawali dengan keadaan pangan beras import mencapai 4 juta ton yaitu lebih kurang 25% kebutuhan nasional. tetapi juga mulai ditangani Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . karena pola perumahan/ permukiman dan pembangunan lingkungan terbangun horisontal selama ini tampaknya telah membuat lingkungan SDA sangat kritis karena resapan air hujan dan retensi atau tempat parkir air menjadi sangat minim. Meneg Lingkungan.6.1. Pembangunan baru irigasi dan penanganan/pengaturan sungai untuk pengendalian banjir dan penyediaan air dengan waduk mulai dilakukan pada Pelita II ini. pengelolaan SDA yang diemban oleh Departeman Pekerjaan Umum seyogianya benar-benar dipadukan internal lebih dahulu. Pada tahun 1974 awal Pelita II berhasil diterbitkan UU.6.3. Kebijakan pada Pelita I ditekankan pada rehabilitasi dan peningkatan daerah irigasi untuk dapat menekan import beras dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. perkotaan dan industri yang belum jelas apakah sistem sewarage atau terus seperti sekarang semua pembuangan ke saluran umum dan sungai. perlu mendapat perhatian khusus. Tugas pokok dan fungsi: penataan ruang. c.(Persero) CABANG I MALANG 6. pengembangan perkotaan. telah membuat beban pencemaran makin berat. Besarnya import karena kemerosotan jaringan irigasi yang sangat parah sehingga produksi beras nasional jauh di bawah kebutuhan b. penyediaan air bersih. 6.1. Demikian juga kebijakan penanganan limbah rumah tangga. Departemen Pertanian. Kebijakan Pelita I sampai dengan Pelita VI a. barulah melakukan keterpaduan eksternal dengan sektor-sektor lain di luar Departemen Pekerjaan Umum seperti Departemen Kehutanan.11-1974 tentang Pengairan. Pada pelita III dan IV kebijakan mulai bergeser ke keterpaduan pengelolaan SDA.4. UU ini meletakkan kebijakan nasional pengelolaan SDA sebagai pengganti peraturan Per-UU jaman Kolonial. d. pengembangan permukiman.

Belanda. tetapi juga diarahkan untuk memelihara kualitas air. Pengembangan dan penerapan sistem conjunctive use antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah akan digalakkan. 5. 3. antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah. antara pengelolaan demand dan supply. sedangkan pembangunan tampungan air dalam skala besar perlu pertimbangan yang lebih hati-hati karena menghadapi masalah yang lebih kompleks. Pada Pelita III dan IV berbagai kebijakan diterbitkan sebagai implementasi UU. perkotaan dan industri (RKI) dan penanganan masalah banjir yang lebih besar karena kerusakan DAS. antara lain Bank Dunia.(Persero) CABANG I MALANG penyediaan Air Baku untuk rumah tangga.1. Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi pada lima tahun ke depan difokuskan pada upaya: • Peningkatan fungsi jaringan irigasi yang sudah dibangun tetapi belum berfungsi dalam rangka konservasi sumber-sumber air diimbangi dengan upaya lain.11 tahun 1974 kebijakan tersebut tertuang dalam berbagai Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri. Pembangunan tampungan air berskala kecil akan lebih dikedepankan. Pendanaan/Anggaran untuk pembangunan sektor Pengairan sebagian besar diperoleh dari Bantuan Luar Negeri (BLN). antara hulu dan hilir. OECF (JBIC) dan Government to Government (G to G) seperti Canada. e.7 Arah Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air 1. Bank Asia.7 . 6. Upaya konservasi sumber-sumber air dilakukan tidak hanya untuk melestarikan kuantitas air. 2. Pendekatan vegetatif bersifat quick yielding. terutama terkait dengan isu sosial dan lingkungan. antara lain rekayasa keteknikan yang lebih Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan dengan memperhatikan keserasian antara konservasi dan pendayagunaan. 4. Dalam situasi sebagian besar pendanaan bersumber dari BLN maka kebijakan pengelolaan SDA dalam situasi tertentu dipengaruhi oleh aturan dan persyaratan dari pemberi bantuan tersebut di atas. 6. serta antara pemenuhan kepentingan jangka pendek dan kepentingan jangka panjang.

BUMN/D dan swasta terus didorong. Penataan kelembagaan melalui pengaturan kembali kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pemangku kepentingan. Dalam upaya memperkokoh civil society. 8. 9. keterlibatan masyarakat. 11.8 . Pengendalian daya rusak air • Pengendalian banjir mengutamakan pendekatan non-struktur melalui konservasi sumber daya air dan pengelolaan daerah aliran sungai dengan memperhatikan keterpaduan dengan tata ruang wilayah • Peningkatan partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan terus diupayakan tidak hanya pada saat kejadian banjir • Pengendalian banjir diutamakan pada wilayah berpenduduk padat dan wilayah strategis • Pengamanan pantai dari abrasi terutama dilakukan pada daerah perbatasan. pulau-pulau kecil serta pusat kegiatan ekonomi. Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air baku diprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan pokok rumahtangga terutama di wilayah rawan defisit air.(Persero) CABANG I MALANG Dilakukan hanya pada areal yang ketersediaan airnya terjamin dan petani penggarapnya sudah siap • Rehabilitasi pada areal irigasi berfungsi yang mengalami kerusakan Diprioritaskan pada areal irigasi di daerah lumbung padi • Skema insentif kepada petani agar bersedia mempertahankan lahan sawahnya 7. 10. 12. dan wilayah strategis. wilayah tertinggal. Pengembangan modal sosial dilakuakn dengan pendekatan budaya. terutama untuk menggali dan merevitalisasi kearifan lokal (local wisdom) yang secara tradisi banyak tersebar di masyarakat Indonesia untuk menjamin keberlanjutan fungsi infrastruktur. Penataan dan penguatan sistem pengolahan data dan informasi sumber daya air dilakukan secara terencana dan dikelola secara berkesinambungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .

Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi paling besar pedoman bagi masyarakat dengan jasa memperhatikan kaidah lingkungan hidup. Menetapkan melaksanakan perhitungan biaya pengelolaan Sumber Daya Air dalam upaya konservasi.(Persero) CABANG I MALANG 6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 4. dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif. berkeadilan. restrukturisasi. dan fungsi koordinasi di WS BaritoKapuas dengan tetap menjaga sinergi antar fungsi. pendayagunaan sumber daya air. fungsi pelaksanaan. pengoperasian dan pemeliharaan.2 INDIKASI PROGRAM KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS KAITANNYA DENGAN KEBIJAKAN NASIONAL Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas perlu disiapkan Indikasi Program Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas kaitannya Kebijakan Nasional sebagai berikut : 6.2. 7. fungsi pemanfaatan. Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas berdasarkan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dengan pada tahun 2008. 3. dan berkelanjutan. 2. Melaksanakan kepentingan dan sumber meningkatkan daya air koordinasi dalam antar para pemilik tingkat wadah koordinasi kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas.1 Umum 1. Menerapkan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009.9 . 5. Melaksanakan rasionalisasi. efisien. 6.

2. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi situ / embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau. rawa. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. embung. 2. 7. Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. rawa) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. rawa. Pembentukan wadah koordinasi Sumber Daya Air Wilayah Sungai BaritoKapuas sesuai dengan kebutuhan. situ.(Persero) CABANG I MALANG 8. 3. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b. waduk dengan prioritas daerah pemukiman. c. 6. d. situ/ embung dan mata air dengan aturan : a. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan.2 Konservasi Sumber Daya Air 1. reuse. waduk. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . embung.10 . mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. situ. 4. 6. 5. danau. Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang Sumber Daya Air kepada seluruh masyarakat di dalam WS Barito-Kapuas 9. recycle).

reuse).2. pemulihan. waduk. 7. 9. Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi.11 . Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce. 2. Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010. 1. Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan. 10. Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa. 4.3 Pendayagunaan Sumber Daya Air. embung. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2010. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. 3. 6. dengan target efektif 2010. 9.(Persero) CABANG I MALANG 8. sumur resapan air hujan dan menyediakan lumbung air minimal 1 (satu) unit setiap kecamatan. Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada. 6. 5. Meningkatkan daya tampung air dengan membangun bendungan. secara biologi. 8. Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . selambat-lambatnya pada tahun 2026.

2. Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air. menerapkan dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar Wilayah Sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. pariwisata. 5.4 Pengendalian Daya Rusak Air. 7. Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir. serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir.12 . 16. Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Mendorong pengembangan Sumber Daya Air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. 14. Menyusun dan melaksanakan program pengembangan Sumber Daya Air terpadu berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air.(Persero) CABANG I MALANG 10. Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai.2. 8. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir. 12. olah raga air dan transportasi air. dan revitalisasi serta pengendaliannya. Merasionalisasikan biaya pengelolaan Sumber Daya Air. Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan Sumber Daya Air. 6. 11. tata kota dan tata bangunan. sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau. 3. 15. Menyiapkan. Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. 1. 6. Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air secara konsisten. 4. 13. perikanan. Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air .

13 . 12. dan Peningkatan Peran Masyarakat.5 Pemberdayaan Pemerintah. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai. 1. 10.(Persero) CABANG I MALANG 9. Melakukan penyuluhan. Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase. Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan umum lainnya. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan. pelatihan. pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir. Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural. 11. 3. 6.2. utamanya pada daerah pengembangan baru. 14. Swasta dan dalam upaya penyelamatan jiwa manusia. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Air. perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayahnya. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Sumber Daya Air kepada dunia usaha. Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta kegiatan pemulihan akibat bencana. prasarana umum dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen. Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana. Melakukan perlindungan daerah permukiman. 13. Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan Sumber Daya Air di setiap Wilayah Sungai secara berkelanjutan. 15. 16. 2. 4.

14 . dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA.6 Keterbukaan dan Ketersediaan Data serta Informasi Sumber Daya Air. 11. 6. yang sehingga tepat mampu waktu. Membangun jaringan informasi Sumber Daya Air dalam WS. 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .(Persero) CABANG I MALANG 5. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi Sumber Daya Air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. 6. kerjasama dan koordinasi antar lembaga pemerintah yang terkait dalam pengelolaan Sumber Daya Air. hidrogeologi. 8. 7. prasarana Sumber Daya Air. BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan Sumber Daya Air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. 2. 3. Kebijakan Sumber Daya Air. menyampaikan berkelanjutan. teknologi Sumber Daya Air. Mengembangkan sistem informasi Sumber Daya Air dalam WS. data informasi akurat. hidrometeorologi. 4. Menyiapkan Peraturan Daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan Sumber Daya Air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. dll. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Sumber Daya Manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi. 9. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi.2. Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan Wilayah Sungai dalam pengelolaan Sumber Daya Air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sistem pembiayaan dan yang memadai. Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan Sumber Daya Air. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Meningkatkan kemampuan komunikasi. 10.

3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 6. provinsi. klasifikasi. 7. Barito-Kapuas. Kebijakan sumber daya air meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan Undang Undang no 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa (1) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 disusun di tingkat nasional. Kebijakan Sumber Daya Air Kebijakan sumber daya air disusun dengan maksud untuk memberikan arahan strategis dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air.15 . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . provinsi dan kabupaten/kota.1. kodifikasi. Membangun jaringan basis data dalam WS. atau provinsi. Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan informasi kepada masyarakat. (2) Kebijakan nasional sumber daya air menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi. (4) Kebijakan sumber daya air dapat ditetapkan baik sebagai kebijakan tersendiri maupun terintegrasi ke dalam kebijakan pembangunan di tingkat nasional. atau kabupaten/kota. (3) Kebijakan sumber daya air provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota. Menerapkan standar untuk format. dan kabupaten/kota. dan kabupaten/kota. 6.(Persero) CABANG I MALANG 5. provinsi.3. 6. proses data dan metode/ prosedur pengumpulan data dan informasi. Arahan strategis sebagaimana dimaksud meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional.

tujuan umum pengelolaan sumber daya air. c. pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai dan cekungan air dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . disusun secara komprehensif dan selaras dengan kebijakan pembangunan di wilayah yang bersangkutan. (6) Kebijakan sumber daya air yang ditetapkan secara tersendiri. 6. (2) Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat: a. (3) Kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air kabupaten/kota yang bernama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh bupati/walikota. (2) Kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air provinsi yang bernama dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh gubernur. b.2. Prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah diselenggarakan dengan memperhatikan wewenang dan tanggung jawab masing-masing instansi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Pola Pengelolaan SDA disusun dan ditetapkan berdasarkan : (1) Pola pengelolaan sumber daya air disusun dan ditetapkan sebagai kerangka dasar dalam tanah.16 . Perumusan Kebijakan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas ini akan ditentukan oleh: (1) Kebijakan nasional sumber daya air dirumuskan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dan ditetapkan oleh Presiden. prioritas kegiatan pengelolaan dan strategi dalam pencapaian tujuan pengelolaan.3. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air. dasar-dasar yang dipergunakan dalam melakukan pengelolaan sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG (5) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara terpadu yang mencakup kebijakan semua air.

Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) disusun berdasarkan kebijakan sumber daya air pada wilayah administratif yang bersangkutan. konsepsi kebijakan operasional yang ditetapkan dalam pengelolaan sumber daya air. Instansi teknis tingkat pusat adalah instansi teknis yang membidangi sumber daya air di tingkat pusat.(Persero) CABANG I MALANG d. pengelolaan sumber daya air dilakukan secara berkelanjutan untuk menjamin pendayagunaannya pada masa mendatang dan berwawasan lingkungan hidup. c. b. Rancangan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas yang merupakan lintas provinsi diusulkan oleh instansi teknis tingkat pusat kepada dewan nasional sumber daya air untuk dirumuskan dengan mengikutsertakan ketua dewan atau wadah koordinasi sumber daya air provinsi terkait dan selanjutnya ditetapkan oleh Menteri. rencana pengelolaan strategis. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Untuk wilayah sungai Barito-Kapuas Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi disusun berdasarkan kebijakan nasional sumberdaya air. kepentingan dan kebijakan wilayah administrasi yang bersangkutan.17 . kebutuhan sumber daya air bagi semua pemanfaat di wilayah sungai yang bersangkutan. Pola pengelolaan sumber daya air disusun dengan memperhatikan: a. d. e. Pengelolaan sumber daya air dilakukan secara menyeluruh dalam satu kesatuan sistem hidrologis dengan memperhatikan sifat alami dan karakteristik masing-masing air. Rancangan pola pengelolaan sumber daya air yang diusulkan oleh instansi teknis merupakan hasil kerja bersama instansi terkait.

2. Tercapainya pola pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan 2. Meningkatnya kemampuan pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga. Terkendalinya pencemaran air.3. Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat. Terkendalinya pemanfaatan air tanah. Terkendalinya potensi konflik air. Peningkatan keterbukaan dan ketersediaan data serta informasi dalam pembangunan SDA 6. 6. Pendayagunaan Sumber Daya Air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat yang memenuhi kualitas dan kuantitas 3.3. Misi Pengelolaan Sumber Daya Air WS. Terlindunginya daerah pantai dari abrasi air laut terutama pada pulaupulau kecil.3. Barito-Kapuas Misi pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas yaitu: 1. Berkurangnya dampak bencana banjir dan kekeringan.2. Sasaran Pengelolaan Sumber Daya Air WS. berwawasan lingkungan dan berkesinambungan secara kualitas dan kuantitas dan mampu menunjang pertumbuhan berbagai sektor untuk kesejahteraan masyarakat di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. daerah perbatasan dan wilayah strategis.3. dan indutri dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat.(Persero) CABANG I MALANG 6. permukiman. 7. Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas 6. swasta dan pemerintah 5. 5. 4. pertanian. 3. Pengendalian Daya Rusak Air (termasuk kekeringan) 4.3. Barito-Kapuas Terwujudnya pemanfaatan SDA Sungai Barito-Kapuas yang lestari. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .3.1. Visi Dan Misi Visi Pengelolaan Sumber Daya Air WS. Barito-Kapuas Sasaran pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas antara lain adalah: 1.18 . Konservasi SDA yang berkelanjutan.

19 . 9. 14. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Keputusan Menteri dan Peraturan Pemerintah serta Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan penyusunan Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1. Instruksi Presiden. Undang-Undang No. 13. 8. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat 9.20 Tahun 2006 tentang Irigasi. Peraturan Pemerintah No. Ketersediaan air baku bagi masyarakat. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Peraturan Pemerintah No.4 LANDASAN HUKUM Beberapa Undang-Undang. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Undang-Undang No. Pulihnya kondisi sumber-sumber air dan prasarana sumber daya air. Undang-Undang No. Meningkatnya kualitas koodinasi dan kerjasama antar instansi 10. 4. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup. 3. 5. 12. Undang-Undang No. Pengendalian banjir terutama pada daerah perkotaan. 10. 6. 7. Undang-Undang No.(Persero) CABANG I MALANG 8. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .11A Tahun 2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai. Peraturan Menteri No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Undang-Undang Dasar 1945. 11. 2. 6. Tersedianya data dan sistem informasi yang aktual.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air & Pengendalian Pencemaran Air. akurat dan mudah diakses. 12. Terciptanya pola pembiayaan yang berkelanjutan 11. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Undang-Undang No.

badan usaha milik daerah maupun badan usaha swasta. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. badan usaha milik negara. permasalahan.(Persero) CABANG I MALANG BAB 7 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) 7. serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha seluas-luasnya. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah. dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. tetapi berperan pula dalam proses perencanaan. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap. serta badan usaha milik daerah dan swasta. permasalahan.1 UMUM Menurut pasal 11 ayat (3) Undang-Undang No.1 . Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah dengan pelaksana Konsultan PT. Sejalan dengan prinsip demokratis. pemantauan. pelaksanaan konstruksi. Indra Karya (persero) Cabang I Malang telah mengadakan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I). masyarakat tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . baik koperasi. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan. Departemen Pekerjaan Umum. operasi dan pemeliharaan. badan usaha milik negara. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan.Kapuas. Untuk maksud ini sebagai bagian dari kegiatan Penyusunan Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito . Penyusunan pola pengelolaan perlu melibatkan seluas-luasnya peran masyarakat dan dunia usaha.

kendala. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan. Tujuan PKM I Tujuan penyelenggaraan pertemuan konsultasi ini adalah untuk : 1) Menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah.2. aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT. 3) Mengidentifikasi permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan pengembangan SDA yang berbeda untuk masing-masing Sub WS.1. dimaksudkan untuk menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah.2 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) I 7. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta Yang Terlibat Kegiatan PKM I yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan.2.(Persero) CABANG I MALANG 7. 4) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau . Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. kendala. keinginan. Adapun peserta yang diundang untuk pengumpulan aspirasi dan masalah tersebut adalah : Departemen Pekerjaan Umum. PLN) 7. 2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air. 5) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .2 .2. keinginan.

3 . 7. 6) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk memformulasikan kebutuhan akan pengembangan SDA dan strategi dalam rangka menyusun Pola Pengelolaan SDA. Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan di Palangkaraya. Kalimantan Selatan. sebagai pelaksana pekerjaan ini. tanggal 23 Oktober 2008.5. 7. Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang. Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT.4. 7. Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan pada hari Rabu.2.(Persero) CABANG I MALANG pengelolaan SDA WS Barito .Kapuas.2.3. Pukul 09.2. Dokumentasi : Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .00 WITA sampai Selesai.

00 Diskusi dan Pembahasan Kuisener 12.00 Paparan PKM I oleh Konsultan PT.15 – 09.6.30 – 10. Kalsel Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .15 Pembukaan oleh Ka Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan 09. 23 Agustus 2008 Peserta PKM I Peserta PKM I Pembawa Acara Pembawa Acara Peserta PKM I Peserta PKM I Bappeda Prop.(Persero) CABANG I MALANG 7.2.00 – 13.00 Penutup dan Makan Siang BITO . Jakarta 09.00 – 09.4 .00 – 12.30 – 09.30 Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air.00 Pengisian Daftar Hadir 09. Indra Karya (Persero) 10. Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM I) dalam rangka PENYUSUNAN RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI Waktu Acara 08.KAPUAS. TA 2008 Peserta Moderator Peserta PKM I Panitia Peserta PKM I Pembawa Acara Hari/Tanggal Rabu.

penanganan secara terpadu oleh instansi terkait.2. penghijauan. legalitas kesepakatan antar kepentingan Terutama daerah hulu sungai Barito 5. Pemanfaatan Potensi Hutan (Kayu) Hutan desa. Secara keseluruhan kawasan resapan air tersebar di semua wilayah kabupaten/kota di Kalteng Pemanfaatannya secara umum dikuasai oleh negara khususnya pemerintah daerah tetapi pengembangannya harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat setempat Tata guna air ditujukan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan air bersih dan irigasi bagi penduduk dan aktifitasnya melalui pengelolaan lahan terpadu di DAS dan kawasan pesisir sebagai suatu ekosistem Kawasan sentra perkebunan khususnya pengembangan komoditi unggulan diarahkan ke wilayah pegunungan. agro forestry. pelatihan. diperlukan perencanaan terpadu. Analisis Persandingan Dari PKM 1 yang telah dilaksanakan. koordinasi lintas sektoral. Pengisian air pada sumber air Pembuatan embung. Hutan Milik Dinas Kehutanan Penataan batas kawasan hutan. Pengelolaan hutan produksi dilakukan dengan pemanfaatan dan pelestarian hasil (kayu dan non kayu) sehingga diperoleh manfaat ekonomi. pemberdayaan masyarakat. pengembangan hutan kemasyarakatan dan resetlement penduduk di luar kawasan hutan lindung Perlu adanya Perda tentang sempadan sungai Perlu sosialisasi peran serta masyarakat. diperoleh beberapa Isu pokok meliputi beberapa komponen. terasering Seluruh WS Barito 4. Hulu WS Barito 7 Pengaturan daerah sempadan air Konservasi oleh Masyarakat (swadaya) Seluruh WS Barito Hulu WS Barito 8 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-5 . sungai kecil 50 m 1. penyuluhan. penambahan polisi hutan Terutama daerah hulu sungai Barito 2. sosialisasi UU No. embung. Pendayagunaan SDA. yang meliputi Konservasi Daerah Tangkapan Air. pembangunan waduk. Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan serta Sistem Informasi Sumber Daya Air. sosial dan ekologi yang maksimal bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan Kawasan resapan air meliputi sebaran air tanah yang terdiri atas endapan aluvial sungai dan tanah. BIDANG /LINGKUP 1 PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI 3 ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Komponen 1.(Persero) CABANG I MALANG 7. KONSERVASI DAERAH TANGKAPAN AIR Kawasan hutan lindung dikelola berdasarkan ketentuan atau tata cara pemanfaatan hutan lindung yaitu pemanfaatan semaksimal mungkin untuk kepentingan masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan pada kawasan budidaya di bawahnya. penyuluhan Hulu dan hilir DAS Barito 6.7. Pengendalian Daya Rusak Air. Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air Pemanfaatan ladang di pegunungan Reboisasi. penegakan hukum. 41 Terutama daerah hulu sungai Barito 3. Pemberdayaan masyarakat. pelestarian sumber air. Penebangan Hutan Penghutanan kembali. Kawasan sempadan sungai besar 100 m di kiri kanan diukur dari tepi sungai.

peningkatan pelayanan air bersih melalui kerjasama antar daerah dan kerjasama dengan swasta. kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam Kualitas Air Kondisi Air di Mata Air. Kondisi Air Baku Perdesaan / Perkotaan Kondisi lokasi pengambilan air baku Kebutuhan air industri Diharapkan dibangun wadukwaduk penampungan air Dalam WS S Barito Pengembangan irigasi sawah diprioritaskan pada kegiatan rehabilitasi dan pengembangan irigasi kecil Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah Pembangunan sarana dan prasarana air baku untuk air bersih Kota dan Kabupaten Dalam WS Barito 2. Penambahan jaringan. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1. penyuluhan LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam meliputi cagar alam. Tradisional/Desa Pemberdyaan P3A 7 Perikanan darat dan tambak Pembangunan jaringan irigasi tambak 8. Kebutuhan air minum binatang ternak Ketersediaan air untuk listrik Pembagunan embung dan chekdam Pengamanan hutan pada daerah hulu Di daerah peternakan Hulu WS BaritoKapuas 9 Memantapkan Kerangka Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-6 . pengamanan khusus sumber-sumber air Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air hulu sungai Barito Dalam WS Barito Meminimalkan pencemaran air baik di darat maupun di laut termasuk dampak negatif dari penambangan bahan galian golongan C di sungai 3 Kondisi Air Distribusi dari PDAM (Kebutuhan Domestik) Pembangunan IPA. peningkatan pelayanan air bersih dengan penambahan kapasitas produksi air. Komponen 2. 2. Semi Teknis.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Pelestarian hutan lindung. Kebutuhan air irigasi 5. 9 1 Pelestarian hutan lindung. 3. Sungai atau sumber air lainnya Kerusakan Sumber Mata Air 3 Hulu WS Barito 1. Konservasi SDA dan pembangunan waduk. 4. suaka marga satwa dan taman wisata. Permasalahan Irigasi Teknis. taman nasional. Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi Peningkatan/pemeliharaan sarana/prasarana irigasi Dalam WS Barito 6. embung dll. penyediaaan air baku Kota dan Kabupaten Arahan pengembangan air bersih adalah pengembangan sistem pelayanan air baku dan air bersih secara terpadu.

beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 7 WS Barito 8 Pembuangan Sampah oleh Masyarakat Program kali bersih Sungai Barito Komponen 4. perbaikan hilir sungai. PEMBERDAYAAN STAKEHOLDERS DAN KELEMBAGAAN 1. 4. P3A Pengelola air di tingkat desa Pemantauan Survai dan Fasilitator Pengairan lainnya Sistem Pelaporan Kondisi Sungai dan Bangunan yang ada Kab dalam WS Barito-Kapuas Seluruh desa 3. pembangunan bendungan pengendali banjir Konservasi hulu sungai. antara lain budidaya pertanian tanaman tahunan. 5 Komponen 3. perbaikan hilir sungai. Upaya pemberdayaan oleh Pemda Belum terbentuknya Dewan Sumber Daya Air Provinsi dan Sosialisasi petunjuk pelaksanaan UU dan Perda dan pengucuran dana Perlu dibentuk Dewan SDA WS Barito 2. Banjir hilir Barito 2. Perambahan Bantaran Sungai Sosialisasi UU No. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 5 WS Barito 6 WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 1.Sedimentasi Dalam WS Barito Kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan sempadan sungai diijinkan sepanjang tidak mempengaruhi fungsi lindungnya terhadap ekosistem sungai tersebut. rehabilitasi hutan kritis Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. 3. 7 tahun 2004 WS Barito 4 Bangunan Pengendali Banjir yang ada Peringatan Dini tentang Bahaya Banjir Upaya untuk Menanggulangi Kerugian Banjir Desa-desa Rawan Tergenang Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pengadaaan alat peringatan dini bila terjadi banjir Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pemetaan dan pembuatan saluran pembuangan WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Konservasi hulu sungai.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Perlu dibentuk Balai DAS dan pembuatan Perda Pemberdayaan P3A Dibentuk pengelola air ditingkat desa Perlu adanya program pemantauan survai dan ditunjuk fasilitator pengairan Disediakan biaya pelaporan dan petugas yang memadai LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 1. Balai DAS / BP-DAS 3 2. peta rawan daerah banjir. WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-7 . Erosi .

Dengan maksud meningkatkan koordinasi antar instansi terkait. sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk Dewan SDA dan Komisi Irigasi Kabupaten/ Kota Wilayah Sungai Barito-Kapuas. SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR 1. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan IP3A/GP3A/P3A dan organisasi pemanfaat air lainnya. Dalam rangka peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan SDA. dibuat database di kabupaten 2. di kabupaten 4 di kabupaten 5 di kabupaten 6 di kabupaten 7 di kabupaten 8 di kabupaten Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan 1. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 Kabupaten 3 3. Belum terbentuknya Balai PSDA Kurangnya peran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan SDA Konflik masyarakat antar kelompok/daerah Pembentukan balai PSDA WS BaritoKapuas Provinsi 4 Sosialisasi 5 di kabupaten Komponen 5. di kabupaten 3. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-8 . dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Informasi mengenai kondisi hidrologi Informasi mengenai kondisi hidrometeorologi Informasi mengenai kondisi hidrogelogi Informasi mengenai kondisi kebijakan sumber daya air Informasi mengenai kondisi prasarana sumber daya air Informasi mengenai kondisi teknologi sumber daya air Informasi mengenai kondisi lingkungan pada sumber daya air Informasi mengenai kondisi kegiatan sosial ekonomi budaya terkait dengan SDA Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap.

sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan unit yang menangani SIM dan kontrol kualitas.3 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) II 7. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar menyiapkan Sistem Informasi Manajemen (melalui: radio. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan. media massa. Dengan maksud untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan memiliki dalam pengelolaan SDA. audio visual. internet) 3. 5. Dengan maksud untuk memudahkan mendapatkan data. Dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat tentang SDA. dimaksudkan untuk memberikan sosialisasi terhadap rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. sebagian masyarakat mengusulkan agar pemanfaat air dilibatkan dalam mengambil keputusan. Dalam rangka pengelolaan SDA secara efektif. Komponen Sistem Informasi SDA 1. Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah. sebagian besar masyarakat masyarakat.1.(Persero) CABANG I MALANG 3. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan mengusulkan agar pihak pengelola SDA melakukan inventarisasi. Sehubungan dengan peningkatan kinerja pengelolaan SDA. pengumpulan data dan menyediakan informasi SDA kepada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-9 . 2. sebagian masyarakat mengusulkan agar diterbitkan Perda dan keputusan Bupati/ Walikota dalam pengelolaan SDA serta penerapan sanksinya. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. 7.3. 4. Adapun peserta yang diundang dalam rangka sosialisasi rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA adalah : Departemen Pekerjaan Umum. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar pengelola SDA melakukan penyuluhan semua aspek pengelolaan SDA. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta yang Terlibat Kegiatan PKM II yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan. Dalam rangka penyebarluasan informasi pengelolaan SDA.

2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air. 5) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk dilaksanakan sesuai dengan rancangan pengembangan SDA dan strategi dalam SDA. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-10 . 7. 4) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan SDA WS Barito . tanggal 10 Desember 2008. Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang. 3) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau .3.3.(Persero) CABANG I MALANG Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT.Kapuas. Tujuan PKM II Tujuan penyelenggaraan pertemuan Sosialisasi ini adalah untuk : 1) Memberikan sosialisasi terhadap rancangan pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air.2.3. sebagai pelaksana pekerjaan ini. 7. Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan pada hari Rabu. Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT.3.4.3. PLN) 7.5.00 WIB sampai Selesai. Pukul 09. 7. Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan di Jakarta.

30 09. TA 2008 Hari/Tanggal Rabu.30 – 10. Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM II) dalam rangka SOSIALISASI RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BITO .00 Peserta PKM II Peserta PKM II Bappeda Prop.11 . Jakarta Paparan PKM II oleh Konsultan PT.3.15 Acara Pengisian Daftar Hadir Pembukaan oleh Ka Satker Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Propinsi Kalimantan Tengah Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air.KAPUAS.(Persero) CABANG I MALANG 7.00 12.00 09.6. Indra Karya (Persero) Diskusi dan Penyampaian saran serta masukan Penutup dan Makan Siang Peserta Peserta PKM II Peserta PKM II Moderator Panitia Pembawa Acara 09.00 – 09. Kalimantan Tengah Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . 10 Desember 2008 Waktu 08.15 – 09.30 – 09.00 – 12.00 Peserta PKM II Peserta PKM II Pembawa Acara Pembawa Acara 10.00 – 13.

Mata air Perencanaan terpadu pemanfaatan potensi hutan (kayu) .Barito Selatan . penegakan hukum. agro forestry.(Persero) CABANG I MALANG 7.Kab. Pengendalian Daya Rusak Air.Sub DAS Barito Tengah .Kabupaten Kapuas .7. Murung Raya .Sub DAS Negara Pembangunan (Arbaretum/ pelestarian sumber air) di kawasan sungai danmata air: . Hasil Sosialisasi PKM II Hasil PKM tahap II yang telah dilaksanakan di Jakarta diperoleh beberapa masukan meliputi aspek Konservasi.Barito Timur .Sub DAS Barito Hilir . Kelembagaan dan Sistem Informasi Managemen sebagai berikut : 7. sosialisasi UU No.Sub DAS Martapura .Kab.Kabupaten Barito Utara .Kab.12 .3.Kab.Barito Selatan .Kabupaten Barito Utara .3. penyuluhan. Murung Raya .Kabupaten Barito Kuala Reboisasi .Sungai Barito .7.Kabupaten Barito Kuala Memberikan contoh cara bercocok tanam pada lahan miring berdasarkan kaidah konservasi Pembuatan tras bangku (demplot) : . Komponen Konservasi Daerah Tangkapan Air NO I 1 Usulan Program Konservasi Daerah Tangkapan Air Rehabilitasi hutan dan lahan kritis .Kabupaten Kapuas . penambahan polisi hutan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Barito Timur . 41 4 √ 5 √ Penghutanan kembali.Kab.daerah hulu Sungai Barito Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Tetapi Arbaretum bukan upaya untuk aspek Konservasi tetapi lebih cocok untuk aspek Pendayagunaan SDA Hutan desa diperlukan koordinasi lintas sektoral.1. Pendayagunaan SDA.Sungai Kapuas .Kab.

Sungai Barito .Barito Timur .Kab. Komponen Pendayagunaan Sumber Daya Air N O II 1 Usulan Program Pendayagunaan SDA Penyediaan Air Baku . √ Banyaknya lahan pertanian yang belum termanfaatkan karena kurangnya fasilitas irigasi. Murung Raya .Kabupaten Barito Utara .Sungai Kapuas .13 .Kabupaten Barito Kuala Pembangunan irigasi baru . industri maupun PDAM Peningkatan/pemelihar aan sarana/prasarana irigasi √ Peningkatan fungsifungsi fasilitas irigasi yang sudah ada.Kabupaten Kapuas .Kab.Kab.Barito Timur .Kabupaten Barito Kuala Meningkatkan pelayanan untuk RKI.Kabupaten Barito Utara .Barito Timur . Murung Raya .Kabupaten Barito Kuala Optimalisasi sistem irigasi pada DI Teknis /semi teknis : .Kab. Murung Raya .Kab. dengan target tingkat pelayanan 80 % & seluruh kota kecamatan dapat terlayani kebutuhan air bersihnya hingga tahun 2025 Membangun prasarana air baku baru untuk tingkat kecamatan yang belum ada prasarananya.7.Sumber Air Lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 3 4 5 Rehabilitasi/peningkatan jaringan irigasi sederhana .Kab.Kabupaten Barito Kuala √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Penyediaan air ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.3. Target pelayanan RKI untuk seluruh kabupaten di WS Barito Kapuas: .Kab.Kabupaten Kapuas .Kabupaten Kapuas .2.Barito Selatan .Kabupaten Barito Utara .Kabupaten Kapuas . √ Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah. Murung Raya .Kab.Kab.Barito Selatan .Barito Selatan .Kab.Kabupaten Barito Utara .Kab.Kab.Barito Timur .Barito Selatan .(Persero) CABANG I MALANG 7.

Pembentukan lembaga pengelola air dimaksudkan agar terjadi koordinasi antar instansi dan antar pengguna SDA sehingga bisa dihindari penggunaan SDA yang kurang bertanggungjawab.Sungai Barito .P3A . Dimaksudkan untuk memantau kondisi terakhir dari sumbersumber air yang ada.Sungai Barito . Penyediaan karamba untuk budidaya ikan di sungai Untuk mencukupi kebutuhan air bersih rumah tangga dan pertanian tanaman kering. Perlu dibangun waduk sebagai tampungan untuk sistem PLTA Perlunya dibangun embung atau chekdam untuk tempat minum binatang ternak Pembangunan jaringan irigasi untuk tambak dan perikanan darat.(Persero) CABANG I MALANG N O 6 Usulan Program Ketersediaan air untuk listrik .Sungai Barito .Fasilitator pengelola air lainnya √ 11 Sistem pelaporan kondisi sumber air .Sumber Air Lainnya Meningkatkan kontrol terhadap kualitas air dengan memasang titik kontrol BOD dan BO di sugai-sungai √ 12 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Waduk Muara Juloi Tanggapan Setuju √ Tidak Keterangan Ketersediaan air yang melimpah belum termanfaatkan secara optimal.14 .Sungai Kapuas .Sungai Kapuas .Pengelola air di tingkat desa . Sehingga akan didapat data kualitas air sungai-sungai di WS Citanduy secara lengkap 7 8 Pemanfaatan air untuk binatang ternak .Sumber Air Lainnya Pembangunan sumur-sumur air tanah : √ √ 9 √ 10 Kelembagaan sumber daya air .Sumber Air Lainnya Pemanfaatan air untuk Perikanan darat dan Tambak .Sungai Kapuas .Balai DAS/BP-DAS .

dll Flood warning √ Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi.3.Sungai Barito . beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana Konservasi hulu sungai. Murung Raya .Sungai Barito .Kab.Barito Selatan .Kabupaten Barito Utara .Barito Timur . karung pasir.7.15 . Flood Proofing. kemah. (jika upaya lainnya sulit dan mahal. perbaikan hilir sungai. pembangunan bendungan pengendali banjir .Kab.(Persero) CABANG I MALANG 7.Kabupaten Barito Kuala Pengendalian penambangan galian C 1) Penyusunan perda tentang perizinan dan tata cara penambangan Penanggulangan Daya Rusak air Perbaikan/perkuatan tebing kritis yang belum ditangani dan memelihara serta memonitor yang sudah ditangani Penanggulangan darurat bencana 1) Penyediaan bronjong. 5 √ 6 √ B 1 2 3 √ √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .3. perlu diterapkan Flood Proofing) Meningkatkan managemen banjir melalui partisipasi masyarakat & sosialisasi . rehabilitasi hutan kritis 3 √ 4 √ Penetapan daerahdaerah resapan air. perbaikan hilir sungai. peta rawan daerah banjir. pompa air cerucuk Perahu karet.Kabupaten Kapuas .Kab.Sungai Kapuas Menjadikan DAS bagian hulu sebagai waduk alam dengan pengelolaan DAS yg baik sesuai dengan kaidah konservasi Flood Zoning.Sungai Kapuas Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 Pencegahan Erosi dan Sedimentasi . Komponen Pengendalian Daya Rusak Air N O III A 1 Usulan Program Pengendalian Daya Rusak Air WS BaritoKapuas Pencegahan Daya Rusak Air Konservasi hulu sungai.

data klimatologi O & P bangunan hidrologi termasuk pengadaan kertas alat dan perlengkapan lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Kabupaten Barito Kuala Pengelolaan data hidrologi . Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan N O IV 1 Usulan Program Pemberdayaan Masyarakat (Sosial dan Budaya) Pemberdayaan/penguatan petani pemakai air (P3A) dan peningkatan Partisipasi masyarakat pemakai air Penyuluhan kepada masyarakat tentang kepedulian terhadap penanganan banjir . Murung Raya .Kab.Barito Selatan .3. Komponen Sistem Informasi Sumber Daya Air N O V 1 Usulan Program Sistem Informasi Sumber Daya Air Membangun sistem pengelolaan data dan informasi (6 Kabupaten / Kota) .Kab.5.7.data pengamat muka air .Kab.7.Barito Timur .Kab.(Persero) CABANG I MALANG 7.Kabupaten Barito Utara .Kab.Barito Selatan .Kabupaten Kapuas .data hujan .Kabupaten Barito Utara .Kab.Kabupaten Kapuas .Barito Timur .4.16 . Murung Raya .3.Kabupaten Barito Kuala Penyuluhan kepada petani memberi peran pada P3A untuk ikut mengendalikan & pengawasan pemakaian air 1) Penyuluhan pada P3A 2) Mengeffektifkan semua P3A yang ada Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ 7.

17 .(Persero) CABANG I MALANG N O Usulan Program .Stasiun klimatologi Publikasi data hidrologi ditingkatkan : Setiap bulan sekali data-data hidrologi di publikasikan melalui internet Tanggapan Setuju Tidak Keterangan 4 √ 5 Pengukuran debit dan pengambilan sampel air ditingkatkan (setiap seminggu sekali diadakan pengukuran debit dan pengambilan sampel air) √ Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena tidak bisa tiap bulan datadata hidrologi bisa tiap bulan dipublikasikan Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena melihat dari faktor biaya dan petugas yang ada minimum 6 SIM agar dilengkapi dengan sistem informasi Geografis SDA.Stasiun pengamat muka air . agar bisa menganalisis secara spasial dari wilayah S. Barito-Kapuas beserta konservasi dan pendayagunaan airnya √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Stasiun hujan .

Ketidak konsistenan Tata Ruang. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .2. diantara masalah-masalah sbb: Kebijakan pemerintah tentang penetapan kawasan konservasi / resapan di bagian hulu dan kawasan budidaya di bagian hilir suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) banyak yang tidak berjalan efektif.2 ISU POKOK NASIONAL PERMASALAHAN SDA 8.1.1.1 . Hal ini diperparah adanya Kebijakan RTRW per Kabupaten yang belum mempertimbangkan Tata Ruang Wilayah Sungai. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Semakin meluasnya degradasi DAS dan semakin tingginya sedimentasi akibat pembabatan hutan dan praktek pertanian dan perkebunan yang tidak mengikuti aspek konservasi lahan yang didorong oleh tekanan kependudukan dan meningkatnya kegiatan ekonomi dan tata guna tanah serta tata ruang yang tidak kondusif. Permasalahan SDA dari Sisi Pasokan/ Ketersedian Air 8.1. 8. Rancangan pola ini disusun berdasarkan hasil kajian permasalahan dan isu yang ada di Wilayah Sungai Barito-Kapuas baik permasalahan umum maupun khusus serta hasil masukan dalam PKM 1.1 UMUM Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS. Barito-Kapuas perlu disiapkan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Kebijakan Nasional maupun kebijakan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan dan masukan dari stakeholder melalui PKM.(Persero) CABANG I MALANG BAB 8 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 8. Salah satu penyebabnya adalah belum adanya sistem pengaturan kompensasi atas kehilangan kesempatan pemanfaatan ruang di bagian hulu untuk penggunaan yang lebih produktif dan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih besar daripada untuk daerah resapan air.2.

1.2. 8. akibatnya semakin menurunkan luas areal retensi air untuk banjir dan juga menurunkan resepan untuk “recharge” air tanah. Selain itu sebagian sarana dan prasarana irigasi yang ada telah mengalami penurunan kinerja karena kerusakan/penurunan fungsi bangunan irigasi. Akibatnya banyak bantaran sungai dijadikan permukiman sehingga mempersempit palung sungai yang pada gilirannya dapat mengakibatkan terjadinya banjir/ genangan dan daerah kumuh. Daerah Irigasi lainnya yang dikelola oleh Dinas Pengelolaan SDA yang terdiri dari jaringan irigasi teknis. Terbatasnya jumlah bangunan penyedia air telah menyebabkan kurang berkembangnya pertanian/persawahan di WS Barito-Kapuas. Tercemarnya sumber-sumber air seperti sungai dan danau oleh limbah penduduk maupun pertanian. Kerusakan Sumber Air Masalah kerusakan sumber air di wilayah sungai Barito-Kapuas akhir akhir ini adalah mencakup : Menyempitnya sungai sungai dan saluran drainasi baik dalam DAS Barito maupun DAS Kapuas akibat tingginya kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran air sungai maupun drainasi sebagai akibat rusaknya DAS maupun akibat sampah yang dibuang penduduk disekitar sungai maupun drainasi yang pada akhirnya akan menurunkan kemampuan kapasitas sungai/drainasi sehingga menyebabkan banjir. 8. ketersediaan air untuk irigasi sangat mencukupi.(Persero) CABANG I MALANG Kurangnya perhatian dan keberpihakan pihak perencana tata ruang untuk mengalokasikan ruang bagi permukiman yang aman dan sehat penduduk golongan miskin. Adanya kawasan hutan lindung yang dikonversi menjadi daerah permukiman dan pertanian/perkebunan.2. (penerapan Flood zoning regulation) Penggunaan kawasan lindung untuk kegiatan ekonomi-sosial maupun pertanian dan perkebunan. Terbatasnya Prasarana Penyedia / Pengendali Pasokan Air Dilihat dari potensi pasokan air dari kedua sungai. semi teknis dan sederhana di beberapa lokasi terpencar juga mengalami penurunan fungsi pelayanan.3.2. dilaksanakan secara sengaja maupun tidak sengaja dan dengan skala kecil maupun besar.2 .1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

2. Tidak Peduli dan Tidak Ramah Lingkungan Perilaku masyarakat yang boros air dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Penanganan untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat antara lain melalui : • • Informasi publik tentang air belum tertata/ berkembang Pendidikan publik tentang air belum tertata/ berkembang VIII . Masalah Sumber Daya Air dari Sisi Permintaan (Penggunaan) 8. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih (domestik.(Persero) CABANG I MALANG 8.2% pertahun akan menimbulkan bertambahnya kebutuhan pangan dan bahkan tekanan yang sangat besar di atas tanah (lahan). Namun yang kenyataannya yang terjadi adalah kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi. perkotaan dan industri ) daerah perkotaan s/d tahun 2025 akan diperlukan penambahan air baku yang cukup signifikan dari yang ada sekarang ini. Untuk memenuhi kebutuhan pangan (beras) sampai dengan tahun 2025 maka sawah beririgasi baru harus dibangun.4.1.2. Dilain pihak konsumsi beras di Indonesia akan meningkat dari tahun ke tahun yang memerlukan pertambahan sawah beririgasi baru dan sarana irigasi yang memadai.2.2.2.1. Ketahanan Pangan Memerlukan Air dan Lahan Upaya ketahanan pangan memerlukan peningkatan produksi pangan terutama pada lahan beririgasi.4. Rendahnya (tidak memadainya) alokasi dana untuk O&P prasarana SDA Dengan adanya pembagian wewenang dalam pengelolaan jaringan irigasi yang diindikasikan dari luasan jaringan irigasi. 8. demikian juga pembuangan sampah padat dan limbah cair ke air dan sumber air tidak saja menyebabkan penyempitan sungai tetapi juga menebarkan bau tidak sedap disepanjang sungai/kanal.2.3 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS . dana OP pada daerah irigasi yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten menjadi sangat minim rendah.2.2.2.3. Perilaku Boros Air. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi yang dimanifestasikan dalam meningkatnya kegiatan industri. Dampak Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk sebesar rata-rata 1.2. jasa dan perkotaan memerlukan dukungan berbagai sektor diantaranya penyediaan air baku untuk industri. Kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi adalah ancaman bagi swasembada pangan 8. 8.2. jasa dan perkotaan diperkirakan akan meningkat sebesar 2 s/d 3 kali dari kebutuhan. 8.2.

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3. Masalah Manajemen Sumber Daya Air 8.2.3.1. Penanganan Yang Terfragmentasi Dengan sifat SDA yang dinamis, maka penanganan SDA menjadi terfragmentasi di beberapa Departemen. Tiap sektor menangani sehingga cenderung membentuk egoisme sektoral yang menitikberatkan kepada kepentingan masing-masing. Akibatnya terjadi tumpang tindih maupun ”gap” (kekosongan) tanggung jawab dan wewenang institusi yang merencanakan dan membuat aturan. Institusi yang berhubungan dengan kualitas air misalnya, juga bermacam-macam sehingga sampai saat ini masalah lingkungan masih belum terpecahkan. 8.2.3.2. Kelemahan Koordinasi Koordinasi pengelolaan Sumber Daya Air di pusat maupun di daerah masih lemah : • • Lembaga koordinasi di tingkat pusat baru mencakup antar instansi terkait dan belum melibatkan seluruh komponen stakeholder secara lengkap; Belum optimalnya fungsi lembaga koordinasi di tingkat Provinsi yaitu Panitia Tata Pengaturan air ( PTPA ) dan tingkat Wilayah Sungai (WS) yaitu Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air ( PPTPA ) . • PTPA dan PPTPA belum mencakup seluruh komponen stakeholders.

8.2.3.3. Konsep dan Perangkat Desentralisasi Pengelolaan SAD Belum Mantap Tersedianya dana, tersedianya semberdaya manusia dan kemampuan manajemen selalu menjadi kendala utama. Disamping itu desentralisasi tidak hanya menyangkut hak dan wewenang tetapi melekat didalamnya adalah tugas dan kewajiban. Dengan desentralisasi maka institusi daerah perlu dikembangkan termasuk posisi baru. Jika terjadi ”perubahan lagi” maka posisi akan hilang kembali. Karena itu sebaiknya desentralisasi dilakukan dengan persiapan yang matang, secara bertahap dan berjenjang. 8.2.3.4. ”User Pays Principle & Polluters Pays Principle” Instrumen dan mekanisme untuk operasionalisasi prinsip pemakai air atau menerima manfaat dan “pembuangan limbah“ harus membayar belum memadai sehingga masih memerlukan penyempurnaan dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 4

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.5. Mekanisme Perijinan Belum Bemadai Mekanisme perijinan khususnya yang menyangkut “hak guna” untuk “bulk water“ (air dalam jumlah besar) untuk pemakaian yang bersifat komersial belum memadai dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru. 8.2.3.6. Organisasi Masyarakat Pemakai Air Belum Mandiri Organisasi masyarakat pemakai air belum mampu berkontribusi dalam pembiayaan untuk kegiatan Operasi & Pemeliharaan (O&P), perbaikan dan pemeliharaan prasarana-sarana pengairan maupun ”cost recovery” untuk investasi di bidang pengembangan SDA. Sehingga keseluruhan biaya pengelolaan SDA (dari O&P s/d pembangunan prasarana pengairan) menjadi beban pemerintah. 8.2.3.7. Keterbatasan Investasi Dari Pemerintah dan Swasta Sejak REPELITA II s/d sekarang (TA 2008) investasi untuk prasarana dan sarana SDA skala besar hampir semua didanai dengan pinjaman luar negeri seperti OECF/ JBIC, Bank Dunia, ADB dan sebagainya. Keberlanjutan pembangunan prasarana dan sarana skala besar dimasa depan tergantung kebijakan pemerintah, yaitu apakah akan meneruskan pola penyediaan dana seperti sebelumnya (dengan Loan) atau dengan skema pembiayaan yang lain. Di sisi yang lain peranan swasta dalam negeri maupun luar negeri untuk investasi bersama dengan pemerintah untuk membangun prasarana SDA masih sangat terbatas karena kompleksnya permasalahan dan resiko yang tinggi seperti kepastian hukum, kemampuan pemakai air/ penerima manfaat untuk membayar layanan dan sebagainya. 8.2.3.8. Penerapan Prinsip Good Governance Penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan SDA masih pada tataran konsep dengan operasionalisasi masih sangat terbatas, misalnya proses Konsultasi Masyarakat untuk mendapat masukan dari stakeholders pada berbagai tingkatan Pusat, Provinsi, Kabupaten/kota, belum maksimal. 8.2.3.9. Akuntabilitas Publik Pengelolaan SDA Masih banyak institusi yang menangani masalah yang bersifat kebijakan dan strategi masih menyatu dengan institusi yang menjalankan operasional. Dengan demikian maka akuntabilitas kedua hal tersebut menjadi kabur dan rancu. Institusi itu membuat kebijakan dan sekaligus melaksanakan sendiri kebijakannya. Disamping itu satu sektor pembangunan ditangani oleh berbagai institusi sehingga akuntabilitas institusi sulit diwujudkan.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 5

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.10. Lemahnya Lembaga Pengelola SDA Wilayah Sungai Belum efektifnya kerangka kelembagaan dan lembaga pengelola prasarana dan sarana Wilayah Sungai. 8.2.3.11. Tidak Efektifnya Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tidak efektifnya pemeliharaan jaringan irigasi dan tidak berlanjutnya (unsustainable) penyediaan dana untuk rehabilitasi/ perbaikan jaringan irigasi. 8.2.3.12. Lemahnya Management Informationt System (MIS) Sumber Daya Air Kurang andalnya data hidrologi dan kualitas air serta tidak tersedianya Manajemen Informasi Sumber Daya Air yang handal menyebabkan akurasi dan kualitas produk perencanaan maupun manajemen SDA belum mencapai ke tingkat yang diharapkan. 8.2.4. Masalah Yang Berkembang Saat Ini Berdasarkan Hasil PKM Hasil PKM Tahap I ditinjau dari 5 komponen, yaitu : Aspek Konservasi Daerah Tangkapan Air. Aspek Pendayagunaan SDA. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air. Aspek Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan. Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air. Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II seperti yang dijelaskan pada bab 7 sebelumnya. 8.3 KONSEPSI POLA PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS Uraian dibawah ini merupakan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Indikasi Program yang telah diuraikan terdahulu. Secara MATRIKS akan dijelaskan pada lampiran bab ini kaitan antara indikasi Program dengan Konsepsi Pola SDA yang dijabarkan dalam arahan kegiatan operasional. 8.3.1 Konservasi Sumber Daya Air Konservasi sumberdaya air merupakan salah satu misi yang diemban dalam arahan pengelolaan SDA menurut UU No 7/2004. tiga hal, yaitu : Kebijakan yang berkaitan dengan konservasi sumber daya air dalam Kebijakan Nasional Sumber Daya Air mencakup

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 6

(Persero) CABANG I MALANG

a) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. b) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. c) memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Pola pengelolaan Sumber Daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Dalam hubungannya dengan aspek konservasi Sumber Daya Air, maka pola pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas diarahkan pada beberapa hal berikut : a) peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air. b) Pengembangan dan rehabilitasi sarana dan prasarana sumberdaya air dan upaya pemeliharaan sumber air. c) Menetapkan dan pengelolaan daerah sabuk hijau untuk kawasan danau, waduk, rawa, situ/ embung dan mata air serta sempadan sungai dengan prioritas daerah permukiman. d) Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. e) Memperbaiki kualitas air pada sumber air dan meningkatkan kualitas air dengan cara mengelola industri serta berkesinambungan. f) Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta system penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumberdaya air dan lingkungan. g) Memberdayakan masyarakat dalam aktivitas konservasi sumberdaya air. limbah cair komunal di kawasan permukiman dan system pemantauan kualitas air secara membangun

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 7

(Persero) CABANG I MALANG

Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Konservasi SDA di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat : 1. Mengupayakan selalu tersedianya air dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. 2. Melestarikan sumber-sumber air dengan memperhatikan kearifan lokal/adat istiadat setempat. 3. Melindungi sumber air dengan lebih mengutamakan kegiatan rekayasa sosial, peraturan perundang-undangan, monitoring kualitas dan kuantitas air dan kegiatan vegetatif. 4. Meningkatkan daerah resapan air dan daerah tangkapan air dengan konservasi 5. Mempertahankan dan memulihkan kualitas dan kuantitas air yang berada pada sumber-sumber air 6. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan konservasi SDA. Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air Beberapa aktivititas yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah sebagai berikut: a. Rehabilitasi, konservasi dan perlindungan hutan dalam kaitannya dengan fungsi hutan sebagai penyimpan air. Keberadaan hutan dengan vegetasi penuh akan mengurangi erosi yang mempunyai dampak negatif terhadap sumber daya alam lainnya dan Sumber Daya Air. b. Reboisasi dalam kawasan hutan yang rusak akibat penggundulan hutan, penebangan liar dan pembangunan liar di hulu sungai harus dilakukan. c. Penghijauan di lahan kritis tidak dapat dibudidayakan. d. Penanaman tanaman bakau pada kawasan pantai dan rawa dan perlindungan tanaman yang sudah ada. e. Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai, danau, waduk, rawa, situ/ embung sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat. f. Penatagunaan lahan sesuai dengan kelas kesesuaian lahannya dan aktivitas budidaya pertanian dengan memperhatikan kaedah-kaedah konservasi tanah. g. Pelestarian dan perlindungan sumber mata air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem Sumber Daya Air dapat dicegah. h. Penertiban usaha penambangan galian C terutama yang berkaitan dengan kawasan sumber air.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

milik masyarakat yang jumlahnya cukup luas.

Lahan semacam ini jika tidak dihijaukan berpotensi semakin terdegradasi dan

VIII - 8

(Persero) CABANG I MALANG

Pengawetan Air Walaupun usaha-usaha pengawetan air pada dasarnya lebih sulit dari pengawetan tanah karena air merupakan komponen ekosistem yang dinamik, beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam rangka pengawetan air adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan pemanfaatan air permukaan dengan cara, antara lain : a) Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui : Pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian Penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation) Penanaman dalam strip (sistem penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim Pembuatan teras yang dapat menyimpan air, misalnya teras bangku konservasi (Conservation Bench Terrace) Zingg Pembangunan waduk dan embung

b) Penyadapan air (water harvesting) c) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. d) Pengolahan tanah minimum (minimum tillage). 2. Pengelolaan Air Tanah (Soil Water Management), dapat dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan, drainase dalam, atau kombinasi keduanya. 3. Meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi melalui antara lain pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air, mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan, pergiliran pemberian air dan pemberian air secara terputus. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam kaitannya dengan pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air adalah :
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 9

(Persero) CABANG I MALANG

1. Kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik dengan membuat peraturan limbah domestik dan sosialisasi terhadap masyarakat tentang hidup sehat yang terkaitan dengan permasalahan sampah. 2. Pengelolaan sampah domestik secara terpadu dengan sistem daur ulang, pembuatan produk yang mudah didaur ulang, pemisahan jenis sampah organik dengan sampah anorganik. 3. Pengendalian/pengawasan pembuangan limbah industri sesuai dengan baku mutu yang sudah ditetapkan pemerintah. Pengendalian limbah industri dapat dilakukan dengan cara good house keeping (pengelolaan internal), minimasi limbah, dan pemantauan periodik. 4. Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri, baik berupa IPAL individu (industri besar) atau IPAL bersama (industri kecil dan menengah). 5. Audit lingkungan. 8.3.2 Pendayagunaan SDA Pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada Pola Pengelolaan Sumber Daya Air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Beberapa komponen penting dalam pendayagunaan SDA yang telah di uraikan pada indikasi program menjadi titik tolak penyusunan konsep pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Dari Indikasi Program tersebut akan dijabarkan dalam matriks Indikasi Program Versus Konsepsi Pola khususnya dalam aspek pendayagunaan SDA. Dengan mengacu kepada arah kebijakan nasional dan memperhatikan hasil kajian terhadap isu-isu utama yang ada di WS. Barito-Kapuas serta analisis atas kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadap pengelolaan SDA, disusunlah arah kebijakan pengelolan sumber daya air di WS. Barito-Kapuas yang akan menjadi pedoman dalam penyusunan agenda pengelolaan SDA selama 20 tahun ke depan (2006-2025), sebagai penjabaran pelaksanaan misi dalam rangka mewujudkan visi pengelolaan SDA yang telah disepakati bersama.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 10

(Persero) CABANG I MALANG

Pendayagunaan SDA merupakan upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan Sumber Daya Air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. Sumber air mengandung arti tempat atau wadah air alami dan atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. Sumber air memiliki fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi bagi kehidupan manusia yang perlu dipelihara keselarasannya. Pengelolaan sumberdaya air sampai saat ini belum memberikan kejelasan dalam hal proporsi antar fungsi sumber daya air, sehingga pendayagunaan lebih lanjut dari Sumber Daya Air dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fungsi yang menjurus kepada kerusakan atau menjadi bencana di kemudian hari dari sumber air. Di dalam menyelaraskan fungsi-fungsi tersebut, akan diperlukan sistem pengkajian, pemantauan dan evaluasi yang dapat memberikan data dan informasi yang transparan yang diperlukan didalam pengembangan pengelolaan sumber air lebih lanjut secara berkesinambungan. Transparansi dan akuntabilitas dari suatu pengelolaan sumber air akan menjamin keberlanjutan dari penyelenggaraan pengelolaan sumber air. Salah satu kunci di dalam upaya meningkatkan transparansi dan akuntabiliti dari suatu pengelolaan sumber air adalah dengan merumuskan, menentukan dan menetapkan “zona pemanfaatan sumber air” sebagai suatu unit terkecil didalam pengelolaan sumber air. Bupati/ Walikota dan Gubernur wilayah terkait, sesuai dengan kewenangannya bekerjasama merumuskan rencana Zona Pemanfaatan Sumber Air. Penetapan Zona Pemanfaatan Sumber Air di koordinasikan melalui wadah koordinasi sumber air (PPTPA) pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Penetapan rencana Zona pemanfaatan sumber air merupakan bagian dari proses penyusunan pola pengelolaan SDA dan rencana induk pengelolaan SDA. Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong lebih meningkatnya nilai ekonomi air dibanding fungsi sosialnya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar sektor, antar wilayah dan berbagai pihak yang terkait dengan Sumber Daya Air. Di sisi lain, pengelolaan Sumber Daya Air yang lebih bersandar kepada nilai ekonomi akan cenderung lebih memihak kepada pemilik modal serta dapat mengabaikan fungsi sosial Sumber Daya Air. Untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut akan diperlukan penetapan peruntukan air pada sumber air. Pemerintah, pemerintah daerah wajib menyelenggarakan berbagai upaya untuk menjamin ketersediaan air bagi setiap orang yang tinggal di wilayahnya. Jaminan tersebut menjadi tanggungan bersama antara pemerintah, pemerintah daerah,
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 11

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk di dalamnya menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Jaminan penataan sumber air secara layak akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS BARITO-KAPUAS diarahkan untuk dapat: 1. Mendayagunakan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air secara berkelanjutan. 2. Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. 3. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. 4. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan, ketertiban dan keadilan, ketapatan penggunaan, keberlanjutan penggunaan, dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. 5. Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air, dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. 6. Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dengan prinsip meningkatkan efisiensi alokasi dan distribusi kemanfaatan sumber air.

8.3.2.1 Penetapan zona pemanfaatan sumber air 1. Menetapkan rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kota dalam zone pemanfaatan sumber air meliputi: hutan lindung, kawasan resapan air, sempadan sungai, sempadan pantai, cagar alam, cagar budaya dan ilmu pengetahuan, tanaman lahan basah, tanaman lahan kering, rawan bencana dengan memperhatikan semua pengguna sumber air terakomodasi, meminimalkan dampak negatif kelestarian air, konflik penggunaan sumber air dari kawasan lindung dan fungsi kawasan. 2. Menetapkan zone pemanfaatan sumber air dikoordinasikan melalui Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air (PPTPA) Wilayah Sungai. 8.3.2.2 Peruntukan SDA 1. Menetapkan Perda peruntukan air dengan memperhatikan penyebaran penduduk di wilayah sungai. Proyeksi kebutuhan dan pemanfaatan air yang sudah ada untuk keperluan kolam ikan, PDAM dan irigasi dalam kurun waktu/ proyeksi 20 tahun kedepan. 2. Menetapkan peruntukan air yang dikoordiansikan melalui PPTPA wilayah sungai 8.3.2.3 Penyediaan SDA 1. Mengusahakan dan menyediakan air untuk irigasi sawah sesuai dengan luasannya, kebutuhan air minum di masing-masing kabupaten/ kota dan pelayanan kebutuhan kolam ikan. 2. Menyediakan sumber air sesuai dengan prinsip-prinsip urutan prioritas penyediaan air dan apabila menimbulkan kerugian bagi pemakai air
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 12

2.5 Pengembangan SDA 1.4 Penggunaan SDA 1. keringanan biaya jasa pengelolaan SDA. Barito-Kapuas. Penetapan Perda tata cara pemberian kompensasi dapat berupa. 2.(Persero) CABANG I MALANG sebelumnya diatur bersama-sama dengan PPTPA WS. 3. BaritoKapuas. danau atau tampungan air hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan PPTPA WS. 8. Memberikan prioritas yang tinggi kepada pemenuhan kebutuhan pokok seharihari dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim. Barito-Kapuas.3. Jika dalam pengembangan SDA sebagian masyarakat yang terkena dampak kegiatan menyatakan keberatan.13 . Pengembangan teknologi modifikasi cuaca yang ditujukan untuk menambah volume air waduk.3. memperoleh perpanjangan ijin. 8. 4. 4.2. Pengembangan SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan dengan melalui pertimbangan PPTPA WS. Pengembangan SDA yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup dikenakan ketentuan-ketentuan tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Pembentukan pemegang izin dilakukan dengan pertimbangan PPTPA WS. 8. ganti rugi.2. Barito-Kapuas. Barito-Kapuas. memperoleh penyediaan air dari sumber lain. Barito-Kapuas yang ditetapkan 5 (lima) tahun sekali.6 Pengusahaan SDA Pengusahaan SDA dilakukan dengan memperhatikan pemanfaatan air untuk kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi dan memperhatikan lingkungan dan berkelanjutan SDA melalui konsultasi dengan PPTPA WS. Barito-Kapuas. Barito-Kapuas dan memberikan kompensasi secara wajar kepada pemakai.2. maka rencana tersebut dapat ditinjau kembali. dengan menetapkan urutan prioritas yang disetujui oleh Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air WS.3. program pembangunan. Hasil monitoring oleh pemerintah ditembuskan kepada PPTPA WS. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 3. 3. Menetapkan Perda penggunaan air yang mengatur waktu izin menyangkut hak guna air paling sedikit 5 (lima) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun sesuai pertimbangan PPTPA WS.

8. dan fisika air. amblesan tanah. Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. 3. menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air.1 Pencegahan Bencana Alam rawan banjir. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah. longsoran tanah. Barito-Kapuas. terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan/atau satwa. kekeringan. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. dan upaya pemulihan akibat bencana. Kabupaten/Kota terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. 1. Menetapkan kawasan rawan bencana alam dalam zona-zona dengan Perda Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . kekeringan.3 Pengendalian Daya Rusak Air Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan. perubahan sifat dan kandungan kimiawi.3. banjir lahar dingin. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat: 1. 4. terancam kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa serta wabah penyakit yang dikonsultasikan kepada PPTPA WS. 2. upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. biologi. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana. Meningkatkan sistem penanggulangan bencana.14 . dan/atau wabah penyakit. Memulihkan fungsi sarana dan prasarana guna pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung.3. tanah longsor. banjir lahar dingin.3. Sejalan dengan kepentingan yaitu untuk pemerintah. Daya rusak air dapat berupa banjir. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan. erosi dan sedimentasi. mempercepat pemerintah daerah Provinsi. sedimentasi.(Persero) CABANG I MALANG 8. amblesan tanah. Mengupayakan Keberlangsungan Aktivitas Masyarakat dan terlindunginya sarana dan prasarana pendukung aktivitas masyarakat. 5. penanggulangan dan pemulihan. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. biologi dan fisika air. erosi.

3. Selain permasalahan.3. 4. 8. BaritoKapuas.2 1. elemen masyarakat. Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam di sebar luaskan melalui radio. Tabel berikut ini adalah matriks indikasi program dan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas. 3.3.15 .3. Peringatan dini dilakukan di lokasi yang rawan bencana.4 Antisipasi Perkembangan Kebutuhan Pembangunan Pengelolaan sumber daya air perlu melihat ke depan agar dapat memperkirakan proyeksi pengembangan dan dampaknya terhadap kebutuhan air. BaritoKapuas. 8. Berbagai permasalahan yang telah muncul pada saat ini jika tidak diantisipasi akan berkembang dan menjadi persoalan yang sulit untuk diselesaikan. 2. Melakukan penyebaran berita melalui radio yang ditetapkan oleh pemerintah. Penanggulangan Bencana Alam Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama masyarakat yang dibantu oleh PPTPA WS. Pernyataan Pemerintah Kabupaten/Kota atau Provinsi tentang tingkat kejadian bencana alam diperlukan pembahasan dengan PPTPA WS.3. dilakukan dengan melalui radio dalam acara Pengelolaan Sumber Daya Air WS.3 Pemulihan Bencana Alam Pemulihan daya rusak air oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dengan melibatkan semua unsur. wilayah telah pula disampaikan. Penetapan prosedur operasi standar penanggulangan kerusakan bencana akibat 4.(Persero) CABANG I MALANG 2. berbagai isu strategis berkaitan dengan rencana pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 8. 3. daya rusak air ditetapkan melalui Perda masing-masing Kabupaten/Kota dan Provinsi.3. Barito-Kapuas. Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat.

100% tahun 2026.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 8. pola pengelolaan sumber daya air. persatuan dan kesatuan bangsa. Mewujudkan sinergi dan mencegah konflik antar wilayah dan antar sektor dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional.sedangkan alokasi untuk kebutuhan lainnya dengan memperhatikan nilai lingkungan dan ekonomi air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . pembiayaan. pelaksana. INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN 2 3 Menerapkan rencana pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009.16 . dan SIM yang pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. serta memperhatikan kebutuhan generasi sekarang dan akan datang.1 Matriks Indikasi Program Dan Konsep Pola PSDA NO A. target 25% tahun 2011. 50% tahun 2016. Menetapkan dan menerapkan pola pengelolaan sumber daya air yang didasarkan atas wilayah Menerapkan prinsip kesimbangan antara permintaan dan penyediaan air dan daya air dengan pola pengelolaan SDA secara terpadu dan berkelanjutan Menyusun perencanaan pengelolaan SDA agar upaya konservasi dan pendayagunaan SDA lebih seimbang Menerapkan pengelolaan sumber daya air terpadu di wilayah sungai Barito-Kapuas. rencana induk. UMUM 1 Melaksanakan dan meningkatkan koordinasi antar para pemilik kepentingan sumber daya air dalam wadah koordinasi tingkat kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas Menyusun dan menetapkan Rencana Induk pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai Barito-Kapuas berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air pada tahun 2008. 4 Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial ekonomi paling besar bagi masyarakat dengan memperhatikan kaidah lingkungan hidup. Mengembangkan sistem alokasi air untuk kebutuhan pokok mahluk hidup termasuk pertanian rakyat sebagai prioritas utama. Penerapan keterpaduan disusun dengan memperhatikan wadah koordinasi.

Provinsi. Melaksanakan koordinasi antar pemilik kepentingan SDA dalam wadah koordinasi tingkat Nasional. restrukturisasi. Menyelenggarakan sistem pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi bukan hanya untuk kebutuhan teknis tetapi juga untuk pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada berkelanjutan Melaksanakan rasionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional. pengoperasian dan pemeliharaan. efisien. Melaksanakan rasionalisasi. dan wilayah sungai agar lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan tugas. Sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat. dan fungsi koordinasi di WS Barito-Kapuas dengan tetap menjaga sinergi antarfungsi. fungsi pemanfaatan. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan sumber daya air di WS Barito-Kapuas Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif.(Persero) CABANG I MALANG NO 5 INDIKASI PROGRAM Menetapkan dan melaksanakan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan sumber daya air dalam upaya konservasi.17 . kabupaten/kota. Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat didalam WS BaritoKapuas KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman tentang standar pelayanan dan jasa pengelolaan SDA dan memberlakukan pedoman tersebut dalam upaya konservasi. dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. berkeadilan dan berkelanjutan. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air serta menyediakan pos-pos pengaduan. fungsi pelaksanaan. kabupaten/kota dan wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . tanggung jawab. pendayagunaan sumber daya air. dan kewenangannya. KETERANGAN 6 7 Rasionalisasi adalah penyesuaian kelembagaan termasuk kompetensi sumber daya manusianya agar sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing 8 9 Pembentukan wadah koordinasi sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas sesuai dengan kebutuhan.pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air yang dilaksanakan oleh pemilik kepentingan SDA. Mengembangkan sistem penegakan hukum dengan menetapkan pejabat penyidik pegawai negeri sipil sebagai ”polisi jaga air” sesuai dengan pasal 93 Undang-undang No. Menerapkan diversifikasi sumber pembiayaan pengelolaan SDA .

18 . Checkdam. mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. waduk. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b. rawa dan mata air dengan aturan : a.BaritoKapuas dengan prioritas daerah hulu sungai Barito dan Kapuas serta bantaran sungai.5 % di tahun 2011. embung. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau c. mata air ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. situ.teknik pemanenan hujan dll) -. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis untuk WS. rawa.(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN B. KONSERVASI SUMBER DAYA AIR Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. embung. rawa.50 % di tahun 2026.groundsill. Perlu melakukan pematokan batas sempadan sumber air -. waduk dengan prioritas daerah permukiman. sumur resapan. Perlunya penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran sempadan sumber air 2 Menetapkan dan mengelola kawasan danau. dengan target 12.25 % di tahun 2016 . Sosialisasi dan desiminasi mengenai fungsi dan manfaat sempadan sumber air -. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau d. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. danau. 3 4 Menata daerah sempadan sungai utamanya di daerah permukiman. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi SDA dengan target minimal 25 % tiap 5 tahun (small and medium pond. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan & lahan. danau dan waduk dengan target 15% tiap 5 tahun. Pemeliharaan embung dan rawa serta mata air Pembangunan Embung Pembangunan Waduk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

Penertiban sumber pencemar dengan mengolah limbah sebelum dibuang Menetapkan alokasi air dan hak guna air pada lokasi sumber air Perlu dipersiapkan Perda Hak Guna Air Perlu dibuat ketetapan prioritas penggunaan air Perlu ditetapkan kebutuhan pokok minimal kehidupan sehari hari air per kapita (lt/kapita/hari) Penyediaan pasokan air dengan target minimal 25% tiap 5 tahun guna memenuhi kekurangan pasokannya. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. secara biologi. Pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana air baku untuk air minum dengan target pelayanan: 65 % untuk tahun 2011. Pemantauan kualitas sumber air -. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 2 Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .recycle) serta sekaligus mengkampanyekan budaya hemat air dengan target minimal pada 25 % pengguna air dan target minimal 5 % dari kehilangan air tiap 5 tahun -. Pembangunan baru IPAL penduduk komunal -.(Persero) CABANG I MALANG NO 5 6 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan permukiman dan kawasan industri. selambat-lambatnya pada tahun 2025. Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010. Mengupayakan”pengelolaan permintaan air” yang effektip dan effesien (reduce.19 . Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum. -. -.reuse.melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran penambangan galian C.70 % untuk tahun 2016 dan 80 % untuk tahun KETERANGAN 7 8 9 Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan. -. pemulihan. Menyusun aturan. Meningkatkan monitoring dan pengawasan kualitas air limbah. KONSEPSI POLA Menyusun aturan. C. dengan target efektif 2010.recycle). Menentukan baku mutu sumber air. reuse.

Mendorong pengembangan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik.(Persero) CABANG I MALANG NO 6 7 INDIKASI PROGRAM Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada.(rencana program kegiatan ) Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi yang ada serta rehabilitasi jaringan irigasi Merehabilitasi dan meningkatkan jaringan irigasi dengan target 9685 ha tiap 5 tahun pada daerah yang telah ditempati penduduk. perikanan. 11 12 13 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . KONSEPSI POLA 2021.20 . reuse). Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” yang efektif dan efisien dengan target minimal pada 25% pengguna air dan target minimal 5% dari kehilangan air tiap 5 tahun Mencegah pendayagunaan SDA pada kawasan suaka alam danKawasan pelestarian Pengendalian pendayagunaan SDA pada kawasan lindung Mengembangkan dan menerapkan mekanisme pengelolaan SDA antar kepentingan sektor. Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa. Menyusun persyaratan dan prosedur pengelolaan sedimen pada sumber air pada tahun 2009 dan penerapannya secara konsisten Menyempurnakan persyaratan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian pada 2009 KETERANGAN 8 9 10 Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar wilayah sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. dan transportasi air Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air. Menyusun dan melaksanakan program pengembangan sumber daya air terpadu berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air. Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan. pariwisata. Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air.antar wilayah sungai tanpa mengorbankan lingkungan Mengembangkan potensi SDA untuk menunjang kebutuhan berbagai sektor dan mendukung perkembangan ekonomi secara effektip dan effisien dengan mempertimbangkan kepentingan antar sektor.wilayah dan dampak jangka panjang. olah raga air. serta mengembangkan dan menerapkan teknologi pengelolaan rawa termasuk pengembangan perikanan rawa dan memberdayakan masyarakat agar penduduk yang bermukim di daerah rawa dapat hidup secara harmoni dengan lingkungannya.

Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai. pedoman. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan SDA serta metode pembebanannya kepada para pemanfaat. Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan sumberdaya air. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir.21 .(Persero) CABANG I MALANG NO 14 15 16 INDIKASI PROGRAM Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air secara konsisten. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir. dan revitalisasi serta pengendaliannya. Merasionalisasikan biaya pengelolaan sumber daya air. Meningkatkan kesiapan dan ketahanan pemilik kepentingan dalam menghadapi segala akibat daya rusak air Mencegah pengembangan permukiman dan bangunan lainnya yang akan menyebabkan terjadinya “inundasi” (genangan yang berlebihan) 5 Menyiapkan. standar. Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. 6 7 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .yang akan diberikan sebagai kompensasi kepada daerah yang dapat memberi manfaat penanggulangan bahaya banjir di hilirnya. sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau. sehingga biayan jasa pengelolaan terjangkau Koordinasi dalam Penyusunan PERDA KETERANGAN D. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 2 3 4 Menyiapkan informasi daerah rawan banjir dan sosialisasi kepada masyarakat Perencanaan tata ruang perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya banjir Sosialisasi PERDA kepada masyarakat dan mengajak masyarakat ikut peran serta Prinsip ”zero delta q policy” perlu dimasukan ke dalam penyusunan norma. dan manual pengembangan kawasan. Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. dengan target selesai tahun 2009 Mengeffisienkan pengelolaan SDA. Menciptakan sistem perizinan bagi pelaku pengubah daerah tangkapan air Melakukan upaya pengendalian erosi dan sedimen pada daerah yang dikembangkan Daerah yang menerima manfaat dari perlindungan banjir dikenakan kontribusi. serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir. menerapkan. dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir. tata kota dan tata bangunan.

22 .cerucuk dll. KONSEPSI POLA Menyediakan informasi daerah rawan banjir dan disosialisasikan kepada masyarakat Melakukan perlindungan daerah permukiman. pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir. Melakukan perlindungan daerah permukiman. Menyiapkan bahan untuk penanggulangan darurat seperti.tenda tenda. prasarana umum. prasarana umum.(Persero) CABANG I MALANG NO 8 9 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural.jembatan yang limpas dll Rekonstruksi bangunan bangunan yang rusak akibat daya rusak air. dan daerah produksi non pertanian terhadap banjir 25 tahunan sampai dengan tahun 2025 serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir 10 tahunan Membuat perencanaan yang terpadu antara drainasi perkotaan dengan sistem pengendalian banjir kawasan tersebut Menyusun pedoman penanggulangan bencana banjir pada masing masing sungai yang rawan banjir.pompa pompa air. Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana. dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen. Penanggulangan darurat prasaran SDA seperti tanggul yang bocor . Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan upaya penyelamatan jiwa manusia.perahu karet. perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana umum lainnya.terutama revitalisasi obyek umum yang mengalami kerusakan Menanggulangi stress atau trauma masyarakat yang tertimpa musibah daya rusak air Mengikut sertakan masyarakat dan pihak swasta dalam rangka revitalisasi sarana dan prasarana umum maupun SDA yang rusak akibat daya rusak air Perlu adanya sharing dalam pembiayaan penanggulangan daya rusak air antara daerah dan pusat KETERANGAN 10 11 12 13 14 15 16 Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta dalam kegiatan pemulihan akibat bencana. Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan. Menyiapkan lokasi lokasi untuk evakuasi.bronjong kawat. utamanya pada daerah pengembangan baru.karung pasir.

(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEP POLA KETERANGAN E. kerjasama. PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. pelatihan. Melakukan penyuluhan. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. dan koordinasi antarlembaga pemerintah yang terkait dalam Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia pemilik kepentingan dengan target minimal satu kali dalam setahun pada seluruh yang telah terbentuk dewan sumber daya airnya Memberi peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan SDA pada Wilayah Sungai 2 3 4 5 6 Sosialisasi UU no 7 tahun 2004 Menciptakan kepastian hukum bagi swasta untuk berperan dalam pengelolaan SDA Meningkatkan kinerja lembaga Pemeritah dalam pengelolaan sumber daya air Penerapan NSPM Pelatihan yang terorganisir melalui dewan air 7 8 9 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi. DAN PEMERINTAH 1 Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai secara berkelanjutan.23 . Meningkatkan kemampuan komunikasi. Menyiapkan peraturan daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan sumber daya air Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan wilayah sungai dalam pengelolaan sumber daya air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sumber daya air kepada dunia usaha. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi sumber daya manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan sumber daya air. Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayahnya. SWASTA.

prasarana sumber daya air. tepat waktu. Meningkatkan pemerataan informasi pengelolaan SDA dengan menghilangkan kendala dan masalah yang menghambat pemerataan informasi pengelolaan SDA Membangun sistem pengelolaan data dan informasi Meningkatkan keterbukaan publik dalam 2 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . kebijakan sumber daya air. teknologi sumber daya air. sehingga mampu menyampaikan data dan informasi yang akurat. transparan. Membangun jaringan basis data dalam WS Barito-Kapuas Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan Meningkatkan ketersediaan data dan informasi sumber daya air secara akurat. Meningkatkan konsultasi dan koordinanasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. dan mudah diakses. KETERBUKAAN DAN KETERSEDIAAN DATA DAN INFORMASI SUMBER DAYA AIR. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan sumber daya air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. Memberikan hak memperoleh informasi tentang pengelolaan sumber daya air kepada masyarakat. Membangun jaringan bank data dan basis data dengan sasaran 50% wilayah sungai pada tahun 2011 dan 100% wilayah sungai 2016. sistem pembiayaan yang memadai. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi. KETERANGAN 11 F. KONSEP POLA Membentuk Dewan Sumber Daya Air yang melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan SDA . dll. dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA. 1 Mengembangkan sistem informasi sumber daya air dalam WS BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi sumber daya air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. hidrometeorologi. serta berorientasi pada pengguna.24 . berkelanjutan.(Persero) CABANG I MALANG NO 10 INDIKASI PROGRAM pengelolaan sumber daya air. hidrogeologi. Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan sumber daya air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. berkelanjutan. tepat waktu. Membangun jaringan informasi sumber daya air dalam WS Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan sumber daya air.

klasifikasi.25 . dan metode/prosedur pengumpulan data dan informasi.(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM informasi kepada masyarakat KONSEP POLA proses penyusunan kebijakan dan pengelolaan sumber daya air. KETERANGAN 7 Menerapkan standar untuk format. Menetapkan standar untuk pengkodean data. proses data. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . kodifikasi.

(Persero) CABANG I MALANG 8. Selain itu keberadaan Dewan Sumber Daya Air juga disinggung pada BAB II Pasal 14 tentang kewenangan presiden. jenjang organisasi dewan air mengikuti jenjang administrasi pemerintahan. Menurut pasal-pasal ini dewan Sumber Daya Air disebut sebagai wadah koordinasi untuk menjamin tercapainya keterpaduan pengelolaan Sumber Daya Air.3. keanggotaan serta susunan organisasi dan tata kerja. Lebih lanjut Pasal 86 menyebutkan bahwa : a. 86 dan 87 tentang koordinasi pengelolaan. Dinas Pengairan / Sumber Daya Air Kabupaten 5. Pasal 86 berisi tentang panduan tugas pokok. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah 2. Dewan air sebagai wadah koordinasi beranggotakan Unsur Pemerintah dan Unsur Non Pemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilkan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Selatan 3. PTPA di Tingkat Provinsi dan PPTPA ditingkat Kabupaten 6. Sedang dalam Pasal 87 memuat basis pembentukan Dewan Air. Pasal 85. disamping itu sebagai sarana mengintergrasikan kepentingan berbagai sektor. Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Barito-Kapuas 4.4 Kelembagaan dan Peran Masyarakat Dengan terbentuknya Balai Wilayah Sungai Kalimantan II yang menangani WS Barito-Kapuas yang mulai diberlakukan tahun 2007 maka selama masa peralihan tersebut diharapkan adanya koordinasi dengan institusi lainnya yang terkait dengan pengelolaan SDA di Wilayah Sungai Barito-Kapuas.26 . hubungan antar jenjang dewan air serta pedoman pembentukan dewan air. Tugas pokok Dewan Sumber Daya Air adalah menyusun dan merumuskan kebijakan strategi serta strategi pengelolaan sumberdaya air b. wilayah dan pemegang kepentingan dalam bidang sumber daya air (Pasal 85). Instansi lain yang terkait Badan Pengelola WS Barito-Kapuas Konsep Dewan Sumber Daya Air Mengacu pada Undang Undang SDA No 7 Tahun 2004 disebutkan bahwa kelembagaan dewan Sumber Daya Air termuat dalam dalam BAB XII. Beberapa kelembagaan terkait tersebut adalah : 1.

provinsi. kabupaten/ kota dan Wilayah Sungai diatur lebih lanjut dengan keputusan Menteri yang membidangi Sumber Daya Air. Ada lima tingkatan atau bentuk dewan sumberdaya air yaitu tingkat nasional. Hingga sat ini belum ada bentuk baik mengenai dewan air baik nasional maupun provinsi. c. kabupaten/kota dan wilayah sungai bersifat konsutatif dan koordinatif d. Hubungan kerja antar wadah koordinasi tingkat nasional.(Persero) CABANG I MALANG c. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Lintas Kabupaten/ Kota atau (b) Lintas Negara. Wadah koordinasi pada Wilayah Sungai dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan pengelolaan Sumber Daya Air pada Wilayah Sungai yang bersangkutan c. b. Susunan keanggotaan ini berbeda dengan konsep dewan serupa di Undang Undang sebelumnya. Keberadaan dean air nampak dimaksudkan untuk memberikan warna koloboratif dan koordinatif dalam pengelolaan Sumber Daya Air. kabupaten/kota dan Dewan Sumber Daya Air Wilayah Sungai khusus apabila Wilayah Sungai bersifat (a) Lintas Provinsi. Pedoman mengenai pembentukan wadah koordinasi pada tingkat provinsi. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional yang dibentuk oleh pemerintah dan pada tingkat provinsi dilakukan oleh wadah koordinasi dengan nama Dewan Sumber Daya Air Provinsi atau dengan nama lain yang dibentuk oleh pemerintah provinsi sedangkan untuk koordinasi pada tingkat kabupaten/ kota dapat dibentuk wadah koordinasi dengan nama lain oleh pemerintah kabupaten/ kota. provinsi. Dengan demikian dewan air diharapkan untuk menjamin terwujudnya asas Community Based dalam pengelolaan SDA. Dari diskripsi diatas dapat ditarik beberapa konsepsi utama tentang dewan air sebagai berikut : a. Susunan organisasi dan tata kerja dewan air sebagai wadah koordinasi akan diatur lebih lanjut dengan keputusan Presiden Sementara Pasal 87 menyatakan bahwa : a. Ini tercermin dalam pernyataan dewan pengelolaan Sumber Daya Air yang terdiri dari semua pemangki kepentingan (pemerintah dan perwakilan masyarakat umum dan industri pengguna air) secara proporsional.27 . b.

Partisipasi yang Luas. Secara teoritik dewan air yang efektif minimal bersifat Advisory kepada pemerintah. Untuk itu Dewan sumber daya air harus memiliki paling tidak peran kontrol. Namun hal ini tidak disebutkan dalam UU SDA No 7 2004.28 . d. Ini hanya dimungkinkan kalau keanggotaannya sudah mencakup semua stake holder yang secara faktual punya kepentingan terhadap DAS. operator industri (barang dan jasa) harus berperan dalam perencanaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . yang bisa diwujudkan dalam bentuk pro aktif saat perencanaan dan penentuan kebijakan umum pengelolaan. Oleh karena itu dewan ini seharusnya memprakarsai pembentukan / penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA nantinya. Keterwakilkan yang proporsional dan setara. Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas harus diakui oleh semua stakeholders yang ada di kabupaten/ kota terkait dengan wilayah sungai baik jajaran pemerintah. Memiliki Kapasitas Pengambilan Keputusan.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hal diatas beberapa rekomendasi dalam pembentukan dewan sumberdaya air wilayah sungai adalah sebagai berikut : a. e. Legitimacy. Dewan air. b. dan idealnya para pemilik properti. Namun dalam kenyataannya di Indonesia lembaga yang tidak memiliki wewenang eksekusi biasanya akan berhenti sebagai organisasi tanpa peran penting. Semua pemangku kepentingan yang telah teridentifikasi kepentingannya atas DAS harus tahu dan ambil bagian dalam proses perencanaan. swasta maupun masyarakat. Mengingat kesenjangan antara teori dan praktis dalam aspek institusi selama ini. keterwakilkan pihak yang terkena dampak bisa dinyatakan dalam posisi penting mereka dalam dewan air. yakni mereka memiliki peran kepemimpinan dan bukan anggota. misalnya dalam bentuk nota kesepakatan (Memorandum of Understanding) c. (Pemangku kepentingan – stakeholders adalah mereka yang menimbulkan dan terkena dampak pengelolaan DAS). harus menjadi satu-satunya wahana koordinasi Stakeholder yang menerapkan mitra Stakeholders dalam pengambilan keputusan (One Decision Making Process) untuk menjamin tercapainya sebagai wujud dari prinsip One River One Plan One Management Dewan Sumber Data Air harus menjadi satu-satunya tempat dan proses perencanaan pengelolaan. Pengakuan dapat berujud dokumen formal yang ditandatangai oleh semua pemangku kepentingan.

Perumusan Regulasi Pengelolaan 7. Memiliki Kejelasan Peran. Rumusan Standar pengendalian daya rusak air dan resiko sumberdaya air. Perumusan Standar Alokasi hak PEMANFAATAN PASOKAN AIR 5. Barito-Kapuas disusun berdasarkan arah kebijakan nasional pengelolaan SDA. g.29 .4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI 8. Barito-Kapuas. permasalahan sumber daya air yang ada di WS. industri dan masyarakat pengenalan dalam dan proses pengelolaan peran antar DAS adalah esensial provinsi bagi dan keberhasilan pengelolaan dan pengaturan kerja. Termasuk disini adalah kejelasan pemerintah kabupaten/kota yang harus disepakati dari awal. Perumusan kebijakan dan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS BaritoKapuas 2.(Persero) CABANG I MALANG f. Edukasi dan promosi bagi berhasilnya Pola Pengelolaan yang dihasilkan 3. Mekanisme Penyelesaian Sengketa. Pengendalian dan penegakan 8. teknik perlakuan dan penggunaan kembali air. pengendalian polusi dan pengelolaan kualita air 6. Pemahaman dan kesepakatan yang jelas mengenai peran dan tanggung jawab antara pemerintah. Secara lebih rinci sebagai otonom Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas diharapkan bisa memfungsikan diri dalam : 1.1. Umum Strategi pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) WS. Perumus mekanisme dan wadah bagi penyelesaian sengketa 8. Dewan sumberdaya air wahana sebagai perencanaan kemitraan pengelolaan yang kolaboratif harusmenyediakan mekanisme penyelesaian sengketa yang mungkin timbul antar pemangku kepentingan yang tidak bisa diselesaikan secara internal. konservasi dan proteksi.4. Pembinaan Jejaring dan pertukaran informasi 4. masukan dan usulan dari Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan analisis konsultan yang didasarkan analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

tanggap terhadap berbagai permasalahan tersebut 5.2. baik yang terdapat di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. (c) Kondisi penutupan lahan. Pola Konservasi WS Barito-Kapuas Dalam merancang konservasi di WS Barito-Kapuas yang dilakukan terhadap setiap sub DAS yang tercakup dalam kawasan wilayah sungai tersebut. hasil analisis dari data biofisik merupakan parameter utama yang menjadi pertimbangan yang akan dilaksanakan. Barito-Kapuas 8. terutama ditekankan pada lereng dengan kemiringan >15%. Kajian Strategi Yang Diusulkan dengan Prioritas yang sesuai dengan Kondisi Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3. (e) Lahan kritis.(Persero) CABANG I MALANG SWOT dan rasionalisasi program (analisis Hymos dan Ribasin) serta penentuan prioritas program berdasarkan pada kebutuhan mendesak. Tinjauan Atas Lingkup Kebijakan Nasional dan Provinsi serta Kebijakan Pengelolaan Wilayah Sungai Barito-Kapuas 2. Pendayagunaan SDA dan Pengendalian Daya Rusak Air Langkah langkah dalam Perumusan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air ditetapkan sebagai berikut : 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Tinjauan Atas Permasalahan yang di-Identifikasi dalam Potensi dan Tantangan untuk menjamin bahwa Strategi yang dirumuskan. Wilayah Sungai. Ketersediaan dan Kebutuhan Air) dan Sektor Terkait 4.4.30 . Analisa Kecenderungan Masa Lalu. Fisik DAS. (b) Kedalaman tanah. Kelembagaan. Parameter biofisik tersebut mencakup: (a) Erosi aktual serta penyebarannya dalam satu kawasan Sub DAS. Sekarang dan Mendatang. Konservasi SDA WS.1. dalam Aspek Sumber Daya Air (Mencakup Sosial Ekonomi.Barito-Kapuas mengacu pada arah kebijakan nasional yang telah diatur dalam Undang Undang no 7 tahun 2004 tentang SDA yang meliputi: Konservasi SDA. (d) Kondisi lereng.2.4. Arah kebijakan pengelolaan SDA WS. Perumusan Strategi dan Komponennya yang mengacu pada Isu Pokok 8.

32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Hutan. Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya. Bagian keempat memuat tentang Rehabiltasi dan Reklamasi. Pasal 50 secara khusus mengatur tentang konservasi sumber-sumber air. Barito-Kapuas ini juga mengacu kepada : Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri.31 . 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. (b) Sistem budidaya pertanian. Waduk/Danau. pasang surut. Barito-Kapuas dapat dilihat pada diagram alir. Keputusan Presiden No. Keputusan Menteri Kehutanan No. Kerangka penyusunan pola konservasi untuk WS. khususnya pasal-pasal yang terkait dengan konservasi seperti bagian keempat dan kelima dari UU tersebut. Di samping aspek biofisik dan sosial ekonomi seperti tersebut di atas. dan Menteri Pekerjaan Umum No: 19 Tahun 1984 – No: 059/Kpts-II/1984 – No: 124/Kpts/1984 tanggal 4 April 1984. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . kiri kanan tepi sungai di daerah rawa. kiri kanan tepi anak sungai. sedangkan bagian kelima memuat tentang perlindungan hutan dan konservasi alam. Tentang Penanganan Konservasi Tanah dalam Rangka Pengamanan Daerah Aliran Sungai Prioritas.(Persero) CABANG I MALANG Adapun aspek sosial ekonomi yang dipertimbangkan dalam menyusun pola konservasi adalah (a) Tekanan Penduduk. mata air. Menteri Kehutanan. Sungai dan anak sungai. 353/Kpts-II/1986 Tentang Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air. tepi jurang. penyusunan pola konservasi di WS. Tepi Jurang. Keputusan-keputusan Dirjen RLPS yang terkait dengan konservasi lahan kritis. kiri kanan tepi sungai. Undang-Undang Pokok Kehutanan No. yakni waduk/danau.

(Persero) CABANG I MALANG 8.2.32 . Meningkatkan. Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan daya rusak air. Strategi Pengelolaan SDA untuk aspek konservasi SDA WS Barito-Kapuas diarahkan untuk dapat : i. ii.4. daya tampung dan fungsi DAS untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. Strategi Konservasi SDA. memulihkan dan mempertahankan daya dukung.2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Memulihkan dan mempertahankan kualitas air guna memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan.

lereng . Penduduk. Diagram Alir Strategi Konservasi di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . .33 .(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Sungai Barito-Kapuas DAS - - Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan - Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin Di luar kawasan hutan Di dalam kawasan hutan Analisis Biofisik: .lahan kritis Analisis Sosial Ekonomi: .1.Tek.kedalaman tanah .Sistem budidaya pertanian Input PKM I & II STRATEGI KONSERVASI Gambar 8.erosi .penutupan lahan .

danau.(Persero) CABANG I MALANG Dari tiga butir strategi pokok tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. penanaman dalam strip (system penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim. beberapa kegiatan di WS.34 . embung dan rawa sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat. • Pengolahan tanah minimum (minimum tillage) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . waduk. pembangunan waduk dan embung. (5) Penatagunaan lahan sesuai dengan kaidah-kadiah konservasi tanah (6) Pelestarian dan perlindungan sumber air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem sumber daya air dapat dicegah (7) Penertiban penambangan galian Golongan C b) Pengawetan Air (1) Peningkatan pemanfaatan air permukaan dengan cara antara lain: • Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui: pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian. pembuatan teras yang dapat menyimpan air. penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation). misalnya teras bangku konservasi. • • Penyadapan air (water harvesting) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: a) Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air (1) Rehabilitasi dan perlindungan hutan (2) Reboisasi kawasan hutan yang rusak (3) Penghijauan di lahan kritis milik masyarakat dan negara yang jumlahnya cukup luas (4) Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai.

pupuk hijau dan sisa tanaman Hutan produksi. atau kombinasi keduanya. pencampuran kompos. pupuk kandang. c) Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (1) Pengelolaan kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik (2) Pengendalian/ pengawasan pembuangan limbah industri (3) Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri (4) Pelaksanaan audit lingkungan Tabel berikut memuat rencana strategi konservasi di WS Barito-Kapuas Tabel 8. dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. tumpang gilir dan tumpang sari Penanaman menurut kontur. mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan.2 Rencana Strategi konservasi WS Barito-Kapuas No 1 2 Pola Konservasi Reboisasi Penghijauan Pertanaman campuran. (3) Peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi antara lain dengan: pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air. drainase dalam.>60% Fungsi lahan: Budidaya tahunan Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 40% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : budidaya tahunan/ semusim Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : Budidaya tahunan/ semusim Diluar/dalam kawasan hutan Lahan tidak produktif lereng kecil dari 60% 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .35 . strip. termasuk pergiliran tanaman. pergiliran pemberian air. termasuk hutan produksi terbatas dan hutan rakyat Prasyarat dan Lokasi Dalam kawasan hutan Persentase penutupan lahan kecil Semak belukar Di luar kawasan hutan lahan kritis/tidak produktif Lahan milik Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng 0 – 15% Kedalaman tanah minimum 30 . dan penanaman lorong Manajemen bahan organik termasuk mulsa.(Persero) CABANG I MALANG (2) Pengelolaan air tanah. dan pemberian air secara terputus.

teras bangku miring.(Persero) CABANG I MALANG No Pola Konservasi - Prasyarat dan Lokasi Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: budidaya Status lahan jelas Di luar kawasan hutan Lereng kecil dari 80% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: Budidaya Lahan masyarakat Dalam kawasan hutan Dapat dilakukan pada semua kondisi lereng Kedalaman tanah minimum 15 cm Potensi kawasan masih baik Fungsi lahan: lindung dan budidaya Di dalam/luar kawasan hutan Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan : lindung dan budidaya 7 Agroforestry kebun campuran. Penetapan zona pemanfaatan sumber air didasarkan pada pertimbangan : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penentuan zona pemanfaatan sumber air ditujukan untuk pendayagunaan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air yang bersangkutan secara berkelanjutan. Penatagunaan sumber daya air ditujukan untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air.Pada lahan pertanian/kawasan budidaya .3.Kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan : lindung. (3). (5). Penetapan zona pemanfaatan sumber air. termasuk pematang kontur 11 Teras bangku. budidaya tahunan/semusim 8.4. Pengusahaan sumber daya air (A).3. termasuk teras bangku datar.Pada lahan pertanian/kawasan budidaya . budidaya tahunan/semusim . termasuk kebun rumah 8 Suksesi Alami 9 Vegetasi permanen. dan teras kebun .Lereng 10 – 60% .Lereng 15 – 60% .36 . perkebunan dan kebun 10 Teras gulud. Cakupan Kegiatan Pendayagunaan Sumber Daya Air Pendayagunaan sumber daya air mencakup kegiatan : (1). Pendayagunaan SDA WS. termasuk tanaman industri.1. Pengembangan sumber daya air. 1. (4). (2). Penyediaan sumber daya air.kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan: lindung. Penggunaan sumber daya air. Barito-Kapuas 8.4.

Penetapan rencana peruntukan air pada sumber air. Pedoman dan petunjuk teknis penetapan peruntukan air ditetapkan oleh Menteri. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .37 . Peruntukan air pada sumber air ditentukan berdasarkan klasifikasi atau penggolongan mutu air yang ditetapkan 2. Penetapan rencana zona pemanfaatan sumber air. 4. (B).(Persero) CABANG I MALANG • • • • • • Terakomodasinya semua jenis pemanfaatan secara layak. Dampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air yang minimal. Inventarisasi jenis-jenis pemanfaatan yang sudah dilakukan diseluruh bagian sumber air. Dalam • • • • • menetapkan rencana peruntukan air pada sumber air perlu melakukan pengumpulan data dan informasi mengenai : Daya dukung sumber air Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya Perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber air. 3. Rencana tata ruang wilayah Pemanfaatan air yang sudah ada 3. kimia dan biologi pada sumber air.dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Peruntukan air pada sumber air 1. Merumuskan rencana zona pemanfaatan sumber air dan melakukan kegiatan sbb: • • Penelitian dan pengukuran parameter fisik dan karakter sumber air. Potensi konplik antar jenis penggunaan yang minimal Fungsi lindung dan budi daya Fungsi kawasan Hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologi 2.dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan.

prioritas penyediaan air ditempatkan pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari hari. 6. Memperhatikan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari penduduk yang berdomisili dekat dengan sumber air dan atau di sekitar jaringan pembawa air. peruntukan air. Menjaga kelangsungan penyediaan air untuk pemakai air lainnya yang sudah ada. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air diatas semua kebutuhan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penyediaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • • • Mengutamakan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada. Rencana penyediaan sumber daya air tahunan disusun sesuai dengan : • • Urutan prioritas penyediaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Rencana penyediaan sumber daya air yang berasal dari cekungan air tanah disesuaikan dengan kapasitas cekungan air tanah yang bersangkutan. 3. Prioritas penyediaan sumber daya air untuk kebutuhan air lainnya ditetapkan berdasarkan hasil penetapan zona pemanfaatan sumber air. Penggunaan sumber daya air. (D). Penggunaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • Penghematan penggunaan.38 . kebutuhan air pada wilayah sungai yang bersangkutan dan disesuaikan kondisi setempat.(Persero) CABANG I MALANG (C). Rencana penyediaan sumber daya air terdiri dari rencana penyediaan sumber daya air tahunan dan rencana penyediaan sumber daa air rinci. Penyediaan sumber daya air 1. 2. 5. 4. Dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim sehingga timbul konflik kepentingan antara pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pemenuhan kebutuhan air irigasi untuk pertanian rakyat. Ketersediaan air pada musim kemarau dan musim hujan. 1.

8.2. 2. Pengembangan sumber daya air Rencana pengembangan sumber daya air disusun dengan memperhatikan : • • • • Daya dukung sumber daya air yang ada. baik secara kuantitas maupun kualitas. Penggunaan yang saling saling menunjang antara air permukaan dan air tanah dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. Kelestarian keanekaragaman hayati sumber air bersangkutan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. Pengambilan langsung dari sumber air.(Persero) CABANG I MALANG • • • • Ketertiban dan keadilan. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyediaan serta penggunaan air irigasi dengan lebih mengutamakan kegiatan operasi dan pemeliharaan. Kemampuan pembiayaan. (E).39 . 2. Langkah Kebijakan Pendayagunaan SDA 1.4. Meningkatkan effisiensi alokasi dan distribusi kemamfaatan sumber daya air. Menyediakan air yang memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas sesuai dengan ruang dan waktu untuk memenuhi kebutuhan air pokok secara berkelanjutan. Ketepatan penggunaan. Penggunaan air dapat dilakukan dengan cara : • • • • • Penyadapan bebas. Kekhasan dan aspirasi daerah dan masyarakat setempat. Penggunaan langsung dari sumber air. Keberlanjutan penggunaan.3. Pemompaan air dari sumber air. Pembangunan bendung dan bendungan. (F). Pengusahaan sumber daya air Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan untuk : • • • Meningkatkan pelayanan kebutuhan masyarakat akan air.

Strategi Pendayagunaan SDA Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: • • • Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. 3. untuk mendorong penghematan penggunaan air dan meningkatkan kinerja pengelolaan sumber daya air. • • • Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air. wilayah dan dampak jangka Dari beberapa butir strategi pokok tersebut beberapa kegiatan di WS. pendayagunaan ekonomi sumber daya air dan untuk menunjang dengan secara efektif efisien mempertimbangkan kepentingan antar sektor. 5. Meningkatkan efisiensi alokasi air dan distribusi kemanfaatan sumber air.3. 4. 8. BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. ketapatan penggunaan. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. Meningkatkan peran dunia usaha dalam pengusahaan sumber daya air dengan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat. Melaksanakan perkembangan panjang. keberlanjutan penggunaan dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan.3. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan ketertiban dan keadilan. rehabilitasi dan peningkatan kinerja sistem irigasi yang ada secara berkelanjutan. 6. Menerapkan prinsip penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air kecuali untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat.4.40 .(Persero) CABANG I MALANG optimalisasi. Mendayagunakan potensi sumber daya air secara berkelanjutan. Mendorong pengembangan irigasi dan rawa dalam rangka mendukung produktifitas usaha tani untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan mensejahterakan masyarakat khususnya petani.

Penyediaan. penanggulangan dan pemulihan. Pengembangan SDA (1) Pengembangan (AMDAL). (3) Penetapan ijin penggunaan air berkaitan dengan hak guna air. Daya rusak air dapat berupa banjir.1. (2) Penetapan zona pemanfaatan sumber air yang sudah dikoordinasikan melalui PPTPA/ Dewan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas.41 .(Persero) CABANG I MALANG 1. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan. 8.4.4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penetapan zona pemanfaatan sumber air (1) Penetapan zona pemanfaatan sumber air ke dalam peta tata ruang wilayah Kabupaten/ Kota di WS. erosi dan sedimentasi. terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa dan atau wabah penyakit. biologi. (4) Pengusahaan SDA tanpa mengabaikan fungsi sosial SDA. 2. Pengendalian Daya Rusak Air WS. menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. 3. banjir lahar dingin. Barito-Kapuas 8. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah. pelaksanaan dan dilengkapi dengan studi Analisis Dampak Lingkungan (2) Pengembangan terhadap modifikasi cuaca untuk menambah volume sumber air. Penggunaan dan Pengusahaan SDA (1) Penetapan peruntukan air untuk berbagai kepentingan. kekeringan. (2) Penyediaan air sesuai prioritas yaitu untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat.4. perubahan sifat dan kandungan kimiawi.4. Umum Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan. Barito-Kapuas. amblesan tanah. dan fisika air. Peruntukan. longsoran tanah.

Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: 1. kepunahan flora dan fauna serta wabah penyakit. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. 8. Dari dua butir strategi pokok tersebut. beberapa kegiatan di WS. sedimentasi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .4. upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. erosi. Strategi Pengendalian Daya Rusak Air.4. (2) Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat.42 . Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. tanah longsor. amblesan tanah. Kabupaten/Kota yaitu untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. kekeringan. Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. dan upaya pemulihan akibat bencana. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana. Sejalan dengan kepentingan pemerintah. biologi dan fisikan air. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan.2. (3) Peringatan dini dilakukan di lokasi rawan bencana. 2.(Persero) CABANG I MALANG Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung. pemerintah daerah Provinsi. banjir lahar dingin. BaritoKapuas antara lain : 1. Pencegahan bencana alam (1) Penetapan zona rawan banjir.

(Persero) CABANG I MALANG 2.: (1) Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural. Penanggulangan bencana alam (1) Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air. (3) Revitalisasai wadah wadah air pada daerah aliran sungai. (3) Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam.43 . 3. Revitalisasi Evaluasi kelayakan terdiri dari (1) Kriteria legalitas (2) Kriteria tingkat resiko banjir Rekonstruksi mengembalikan seperti semula dengan: (1) Pengembalian total seperti kondisi sebelum banjir atau (2) Tidak melakukan perubahan atau desain ulang Konstruksi lebih baik dari semula yaitu: (1) Peningkatan di lokasi semula (2) Bangunan jenis baru (3) Pindah ke lokasi baru (relokasi) serta masyarakat dalam kegiatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . baik berupa bencana banjir. bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sbb. (3) Penilaian kerusakan. adalah proses perbaikan keadaan terencana berdasarkan hasil evaluasi kelayakan agar keadaan kembali sama dengan atau lebih baik dari keadaan semula. Pemulihan daya rusak air Pemulihan daya rusak air merupakan penanganan pasca bencana. Kegiatan yang dibutuhkan antara lain : Data awal. Inventarisasi terdiri dari kegiatan (1) Jenis kerusakan (2) Karakter banjir. (2) Penetapan prosedur operasi standart penanggulangan bencana alam. Pemulihan Pasca Banjir atau disebut juga Rehabilitasi Pasca Banjir. (2) Menumbuh kembangkan peran pemulihan akibat bencana.

A.Barito-Kapuas 1. Langkah I (Jangka Menengah / Mendesak ) Merupakan langkah kegiatan jangka pendek/ menengah yang harus segera dilaksanakan untuk memulihkan sarana dan prasarana pengendalian daya rusak air sungai Barito-Kapuas yang mengalami kerusakan akibat daya rusak air maupun penurunan kinerja yang cukup serius. Rehabilitasi tanggul pengendali banjir yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi. Menumbuh kembangkan peran masyarakat dalam kegiatan pemulihan akibat bencana.44 . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Barito-Kapuas. Langkah I ini terdiri dari kegiatan Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat daya rusak air termasuk kawasan yang terkena bencana akibat daya rusak air dan penanggulangan daya rusak air dengan menerapkan sistem peringatan dini dalam WS. baik berupa bencana banjir.(Persero) CABANG I MALANG 8. Langkah Strategis Pengendalian Daya Rusak Air WS. Rehabilitasi tidal levee yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi. Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir • • • • Rehabilitasi atau perbaikan pintu pengendali banjir yang rusak atau mengalami penurunan fungsi. Revitalisasi wadah wadah air pada daerah aliran sungai. Rehabilitasi atau perbaikan tidal gate yang rusak atau mengalami penirunan fungsi. Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air Pemulihan sarana dan prasarana merupakan penanganan pasca bencana. kegiatan ini merupakan program mendesak jangka menengah. bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sebagai berikut : Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural.4.3.4.

Manajemen penanggulangan banjir atau yang lazim disebut Manajemen Tanggap Darurat yaitu: Dilaksanakan secara terencana dan terkoordinir. Upaya ini dapat membantu penanggulangan bahaya banjir secara dini sehingga mengurangi kerugian yang mungkin terjadi misalnya relokasi penduduk ke daerah yang aman.penanggulangan darurat pada lokasi lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penanggulangan Daya Rusak Air Kondisi DAS wilayah sungai Barito-Kapuas termasuk DAS kritis dengan tingkat erosi dan sedimen yang tinggi hal ini dapat dilihat dari data erosi dan juga diindikasikan dari fluktuasi debit rata rata maksimun dan debit rata rata minimum besar. Tujuannya untuk menyelamatkan jiwa dan meminimalkan kerugian. Sosialisasi dan pelatihan RTD Pengamatan dan tahapan siaga banjir Penyiapan dan mobilisasi kebutuhan Pengungsian penduduk dan penentuan tempat evakuasi Prasarana darurat banjir Pencarian dan pertolongan orang hilang Pelayanan korban banjir Deklarasi pengakhiran keadaan darurat Pemulangan pengungsi 2). Umum Sistem peringatan banjir dini adalah cara yang relatif murah untuk mengurangi korban dan kerugian akibat banjir. Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) a). Ada dua Strategi untuk penanggulangan banjir sungai Barito-Kapuas yaitu: 1).45 . Manajemen Tanggap Darurat terdiri dari : Penyusunan Rencana Tanggap Darurat (RTD).(Persero) CABANG I MALANG B. hingga banjir berakhir. Dilaksanakan sejak banjir diperkirakan akan terjadi.

masyarakat dan Pokmas. data debit dan waktu kejadian banjir serta tempat dimana banjir tersebut terjadi.(Persero) CABANG I MALANG tanggul yang mengalami kebocoran atau pada lokasi tanggul yang akan melimpas akibat banjir Pada WS Barito-Kapuas seharusnya dipasang peralatan Flood Warning and Forecasting system. cuaca maupun muka air dari lapangan secara tepat waktu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Hydrological software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk menghitung berapa besar debit yang akan terjadi pada suatu titik (stasiun pengamat muka air) berdasarkan data hujan yang diterima. melalui mekanisme yang berlaku. Flood warning and forecasting system adalah suatu sistem yang dapat digunakan untuk meramal tentang waktu dan besarnya banjir yang akan terjadi pada suatu titik pengamatan yang terjangkau di dalam sistem tersebut. Data ramalan banjir tersebut di informasikan kepada penduduk di daerah banjir melalui Instansi terkait. sehingga besarnya banjir yang akan terjadi dapat diketahui lebih dini sehingga daerah daerah rawan banjir dapat segera ditanggulangi bahaya banjirnya termasuk lokasi tanggul yang akan terlampuai kemampuannya terhadap banjirnya. peronda. Komponen Software terdiri dari: Telemetri software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk mengumpulkan data hujan. Sistem ini terdiri 2 komponen yaitu hardware dan software. Keluaran (output) dari sistem ini adalah berupa data ramalan banjir yang terdiri dari :data muka air. Informasi banjir yang akan didapat terdiri dari 2 sumber.46 . Informasi banjir yang merupakan hasil pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan oleh pengamat. Informasi banjir yang berasal dari peramalan banjir dengan menggunakan fasilitas flood warning and forecasting system.

Pembagian kritaria Siaga Banjir secara umum adalah sebagai berikut: Siaga banjir I.47 .8 m dari permukaan tanggul. apabila kondisi muka air berjarak 1. Siaga banjir II. karena sebenarnya banjir dan kekeringan ini merupakan kejadian yang saling susul dan saling memperparah.2 m dari permukaan tanggul. 2. apabila sebagian/semua bangunan utama pengendali banjir (tanggul.tanggul dan bangunan pengendali banjir) tidak berfungsi. Dalam penanggulangan banjir dengan konsep eko-hidraulik dikenal kunci pokok penyelesaian banjir. apabila kondisi muka air berjarak 0. tengah dan hilir.5 m dari permukaan tanggul. Jadi dalam konsep dasar penanggulangan banjir eko-hidraulik adalah dengan meretensi air dari hulu hingga hilir secara merata. Cara ini sekaligus merupakan cara menanggulangi kekeringan suatu kawasan atau DAS. sempadan sungai dan badan sungai di bagian hulu tengah dan hilir. Langkah ke II Pencegahan Daya Rusak Air (Jangka Panjang ) Alternatif 1 : Melayani Debit Banjir Dengan Peningkatan Kapasitas Bangunan pengendali banjir Alternatif 2 : Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. Dalam menahan air ini diberlakukan konsep keseimbangan alamiah. dalam arti Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . serta menahan air di sepanjang wilayah sungai. Siaga banjir IV. Sempadan Sungai (SS) dan Badan Sungai (BS) harus dipandang sebagai kesatuan sistem dan ekosistem ekologi-hidraulik yang integral. Penyelesaian banjir harus dilakukan secara konprehensif dengan metode menahan atau meretensi air di DAS bagian hulu. Siaga banjir III.(Persero) CABANG I MALANG b) Tingkat Siaga Banjir Ada 4 macam pemberitaan siaga banjir yang masing masing akan berdampak pada daerah rawan banjir. apabila kondisi muka air berjarak 1. menahan air di bagian hulu dan hilir. yaitu bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai (WS).

(Persero) CABANG I MALANG mengacu pada kondisi karakteristik alamiah sebelumnya. 3) Sungai Barito-Kapuas yang bermeander justru dipertahankan sehingga dapat menyumbangkan retensi. 4) Komponen retensi alamiah di wilayah sungai. Untuk Itu kami usulkan Semua lahan pertanian pada lahan miring di WS Barito-Kapuas di buat dengan sistem teras mengikuti kontur. maka kesempatan infiltrasi akan lebih banyak dan akan menurunkan koefisien runoff dan mengurangi erosi lahan. di sepanjang sempadan sungai dan badan sungai justru ditingkatkan. 8) Mencari berbagai alternatif untuk mengembangkan kolam konservasi alamiah di sepanjang sungai atau di lokasi-lokasi yang memungkinkan baik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . mengurangi erosi dan meningkatkan konservasi. 5) Tebing-tebing sungai yang mengalami erosi atau scouring terutama pada tikungan luar jika memungkinkan dilaksanakan dengan cara penanaman dengan teknologi Eco-Engineering dengan menggunakan vegetasi setempat. 2) Penataan tataguna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan mempertinggi retensi dan konservasi air di DAS.7 tahun 2004 tentang SDA . yaitu sistem pengolahan lahan dengan membuat terasering mengikuti kontur lahan sehingga air hujan tidak langsung mengalir tapi tertahan dulu di teras teras. Penanganan banjir dengan konsep ekologi-hidraulik secara konkrit terdiri dari: 1) DAS bagian hulu dengan reboisasi dan konservasi hutan untuk meningkatkan retensi dan tangkapan air di hulu terutama pada lahan kritis. Selanjutnya reboisasi juga mengarah ke DAS bagian tengah dan hilir. 7) Beberapa rawa yang terdapat di sepanjang sungai Barito-Kapuas dapat difungsikan sebagai folder alamiah atau daerah penahan banjir (detention basin). dengan cara menanami atau merenaturalisasi kembali sempadan sungai yang telah rusak.48 . 6) Memfungsikan daerah genangan atau rawa sebagai polder alamiah di sepanjang sempadan sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung air. Konsep ini sesuai dengan kebijakan dalam UU No.

agar dapat dilaksanakan dengan baik. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . sehingga kerugian material dapat dikurangi dan korban jiwa dapat dihindarkan. Alternatif 3 : Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) 1) Flood Zoning Pengendalian dan pengelolaan dataran banjir atau dapat juga disebut pengelolaan Tata Ruang dataran banjir bertujuan untuk memperkecil kerugian yang diakibatkan banjir. Membatasi atau mencegah pembangunan baru pada daerah yang mempunyai resiko kerugian akibat banjir (rawan banjir). agar tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan. Peraturan daerah untuk penetapan daerah rawan banjir.49 . Genangan-genangan alamiah ini berfungsi meretensi banjir tanpa menyebabkan banjir lokal karena banjir di bagi-bagi di DAS dan di sepanjang wilayah. Peraturan daerah ini lebih ditujukan kepada pembangunan dan pengembangan baru (setelah perda berlaku secara hukum). Selain hal-hal tersebut diatas sumur-sumur resapan perlu digalakkan pembuatannya. 9) Disamping solusi eko-hidroteknis tersebut. sangat diperlukan juga pendekatan sosio-hidraulik sebagai bagian dari eko-hidraulik dengan meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus-menerus akan peran mereka dalam ikut mengatasi banjir. harus ditetapkan berdasarkan peraturan daerah (perda). Rekomendasi yang termuat dalam peta rawan banjir (flood zoning ) dengan segala resikonya.(Persero) CABANG I MALANG di perkotaan-hunian atau di luar perkotaan. bila penerapan dari perda ini harus membongkar banyak bangunan yang telah ada. sempadan dan badan sungai. Untuk bangunan yang telah ada dikenakan aturan lain yaitu tentang sandi bangunan (flood proofing). termasuk kerugian sosial ekonomi dan kerusakan lingkungan. terutama pada daerah yang akan dikembangkan. Dengan demikian keuntungan ekonomi jangka panjang serta kecilnya dampak lingkungan sebagai konsekuensi dari usaha ini dapat diperoleh. pada prinsipnya harus mempunyai tujuan yang mencakup hal-hal sebagai berikut : 1.

Bangunan beserta komponen-komponennya stabil (tahan) terhadap ancaman banjir. maka flood proofing dapat dilaksanakan. peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. biasanya analisis ekonomi menunjukkan kurang layak. maka waduk ini dibangun di bagian hulu dari daerah pengendali sungai. Bilamana waduk ini dibuat khusus untuk maksud pengendalian banjir. Pembuatan bendungan merupakan cara yang paling langsung untuk mengendalikan debit banjir. Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir). Alternatif 4 : Pengendalian Debit Banjir 1). karena tertalu mahal atau sulit dari segi sosial. agar lebih layak. Bentang Sungai Barito-Kapuas termasuk pendek sehingga sulit untuk memperpanjang waktu rayapan. 2) Flood Proofing Bilamana upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir lainnya kurang efektif untuk dilaksanakan. Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Pengendalian debit banjir merupakan alternatif penanggulangan banjir dengan cara memperpanjang waktu rayapan baik dalam bentuk storage (in-stream ataupun off-stream) maupun dengan pendekatan cascade sepanjang sungai. Berdasarkan kecocokan topografi dan maksud pengendalian banjir. baik secara ekonomis maupun teknis. Bangunannya sendiri dihindarkan dari genangan banjir dengan cara meninggikan lantainya.(Persero) CABANG I MALANG 2. 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .50 . dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang. oleh karena itu waduk biasanya dibangun untuk berbagai jenis kegunaan (multiple purpose). Pada upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir. terlebih-lebih bilamana kondisi DAS-nya telah rusak. Harus dapat mencegah timbulnya kegiatan-kegiatan baru yang dapat menempati daerah genangan dan akibatnya memperdalam genangan banjir. flood proofing mempunyai dua maksud yaitu: 1.

untuk selanjutnya dilepaskan sedikit demi sedikit menurut daya tampung sungai di bagian hilirnya. 3). Transfer Antar Basin Metode pengendalian banjir dengan metode transfer antar basin bertujuan untuk menurunkan ketinggian puncak banjir dengan cara memindahkan sebagian debit banjir ke DAS lain yaitu dengan membangun bangunan pelimpah dan dialirkan ke DAS lain yang terdekat. Bilamana fungsi pengendalian banjir dari waduk merupakan prioritas utama. tetapi juga pada DAS yang memberi pelimpahan sebagian debit banjirnya. Pertimbangan atas perubahan morfologi sungai yang diakibatkan pembuatan bangunan pelimpah antar basin ini tidak hanya pada DAS yang menerima pelimpahan saja. Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas bangunan checkdam dalam mengurangi puncak banjir perlu dikaji lebih lanjut termasuk seberapa banyak jumlah checkdam yang perlu dibangun. dengan maksud mengurangi kemiringan slope alur sungai sehingga akan dapat memperpanjang time peak debit banjir.(Persero) CABANG I MALANG Waduk ini menampung aliran banjir untuk sementara.51 . pemindahan sebagain debit banjir ke DAS lain memerlukan pertimbangan ekstra hati-hati atas perubahan morfologi sungai. maka sebagian besar dari seluruh kapasitas waduk harus diperuntukkan bagi pengendalian banjir sedangkan bagian sisanya untuk fungsi waduk yang lain yang merupakan prioritas selanjutnya. karena upaya ini merupakan pemaksaan terhadap perubahan rezim sungai. 2). mudah pelaksanaannya dan tidak terlalu rumit dalam perencanaannya. Metode transfer antar basin ini harus ditinjau dengan hati-hati untuk menjamin agar jangan sampai memindahkan masalah banjir dari satu tempat ke tempat lainnya. Selain itu. Bangunan Checkdam kami usulkan berupa konstruksi bronjong karena konstruksinya praktis. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dengan demikian banjir di bagian hilir dapat diatur dan dikendalikan. sekaligus akan dapat menurunkan puncak banjirnya. Membangun checkdam Membangun checkdam checkdam secara cascade sepanjang alur Sungai Barito-Kapuas dan anak anak sungainya di bagian hulu sungai.

2 3 Melibatkan perguruan tinggi dan LSM dalam program penguatan (capacity building) institusi PSDA. Meningkatkan penyelenggaraan sosialisasi UU no. Pengembangan sistem operasional pengelolaan SDA melalui penetapan Zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air.(Persero) CABANG I MALANG 8. Rancangan Jangka Pendek merupakan strategi yang dilaksanakan pada 5 tahun pertama setelah Pola Pengelolaan Sumber Daya Air ini ditetapkan. dengan memperhatikan aspek hidrologis dan topografis serta melibatkan stakeholder di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. untuk diusulkan kepada Pemerintah. 1 Mensinergiskan kegiatan Institusi pengelola SDA dengan kegiatan yang positip dari Masyarakat.52 . Kabupaten dan Kota. Perguruan Tinggi dan LSM dalam pendayagunaan SDA. 4 5 6 Meningkatkan koordinasi unsur-unsur perencanaan PSDA dengan Institusi Perencana Pembangunan (Bapeda) Provinsi. 7 Sosialisasi/Diseminasi mengenai ancaman yang dapat timbul sebagai akibat dari alih fungsi lahan terhadap kondisi lahan kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai BaritoKapuas 8 Meningkatkan kerjasama antara perencana wilayah yang terkait dengan PSDA untuk mendorong tersusunnya SK Gubernur mengenai Baku Mutu Peruntukan Air Sungai pada semua sungai di Wilayah Sungai Barito- Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Rancangan Jangka Panjang merupakan strategi yang dilaksanakan sampai dengan rentang waktu 20 tahun ke depan. yaitu Jangka Pendek dan Jangka Panjang. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. 7 di lingkungan stakeholders. Dunia Usaha. utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan.5 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas disusun berdasarkan 2 (dua) kerangka waktu.

2 Rancangan/Strategi Jangka Panjang (20 Tahun Ke Depan) Strategi Jangka Panjang dalam Pola Pengelolaan SDA WS. Barito-Kapuas. Dunia Usaha. 2 Sosialisasi/Diseminasi persoalan (key issues) mengenai Konservasi. 8. 10 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan. dan LSM dalam pendayagunaan SDA.(Persero) CABANG I MALANG Kapuas. Perguruan Tinggi.5. 8. 9 Meningkatkan koordinasi dan memperkuat posisi institusi PSDA di lingkungan institusi perencana pembangunan Pemerintah Daerah. Secara logis strategi yang menempatkan penguatan kelembagaan di awal ini akan sangat berguna untuk memantapkan jalannya pengelolaan SDA di masa depan.1 Rancangan/strategi Jangka Pendek (5 Tahun) Strategi Jangka Pendek dalam Pola Pengelolaan SDA WS. Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1 Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. 12 Menyusun Program perbaikan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. kepentingan. 11 Menyusun peta potensi sumber daya air yang dapat mendukung pembuatan sonasi (zoning). Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Usulan strategi kebijakan pada periode 5 tahun pertama ini sebagian besar lebih merupakan strategi yang ditujukan untuk penguatan institusi pengelolaan SDA WS. pelaksanaan. dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .5.53 . Dalam implementasinya nanti berbagai rancangan strategi tersebut akan dijabarkan kedalam berbagai program kegiatan yang disusun sesuai dengan kebutuhan nyata dan kondisi nyata yang dituangkan dalam matrik pola pengelolaan SDA.

segera munculnya mengenai mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai. Perda Irigasi. 5 Memberikan masukan sebanyak-banyaknya kepada unsur perencana pembangunan 6 Mendorong daerah agar perubahan perda tata guna SDA lahan/RTRW yang dapat memperhatikan arah kebijakan konservasi sumber daya air.54 . 7 8 Meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki instansi PSDA. 4 Mengembangkan Sistem Database (untuk wadah dari hasil inventarisasi potensi internal dan ancaman external) untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan SDA dengan baik. kolam ikan. sementara untuk kebutuhan lainnya diupayakan dari sumber lain (APBN. BLN atau dari Stakeholders). dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 9 Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. kepentingan. 13 Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga internasional maupun pelaksanaan. dan aktivitas non pertanian. Mengarahkan alokasi dana dari PAD untuk keperluan operasional dengan selalu mengadakan alokasi untuk peningkatan SDM di lingkungan Institusi pengelola SDA. dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat. 12 Peningkatan monitoring penggunaan air untuk berbagai kepentingan usaha dan atau kegiatan.(Persero) CABANG I MALANG pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3 Memasukkan unsur Lokal Inflow yang cukup signifikan besarnya dalam perhitungan ketersediaan air sehingga dapat mengurangi dampak dari tingginya fluktuasi aliran sungai antara musim kemarau dengan musim hujan. 10 Melengkapi dan mengintegrasikan penyusunan profil SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas dengan melibatkan perencana pembangunan Pemerintah Daerah 11 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan.

maupun lembaga lain baik di dalam maupun di luar negeri. penataan pengelolaan mendukung terealisasikannya penggalangan dana dari potensi yang ada. 17 Mengembangkan Sistem Informasi SDA dengan melibatkan Institusi Pengusahaan dan Pemanfaat SDA. yang sangat diperlukan untuk keperluan pembiayaan pengelolaan sumber daya air. 15 Menyusun regulasi yang mengatur kegiatan masyarakat yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan SDA khususnya kegiatan konservasi agar tidak terjadi hal-hal yang negatip. perguruan tinggi.(Persero) CABANG I MALANG lembaga donor lainnya yang concern dengan pengelolaan SDA untuk mendapatkan 14 Menyusun grant/hibah/softloan sistem yang dapat yang digunakan dapat untuk mendukung pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas dengan baik. dan lembaga lain yang terkait dengan PSDA 19 Menyusun regulasi yang dapat mendorong partisipasi masyarakat untuk ikut mendanai kebutuhan pengelolaan SDA.55 . 16 Peningkatan kapasitas SDM dengan memanfaatkan kerjasama dengan perguruan tinggi. Asosiasi. 20 Meningkatkan daya dukung lingkungan melalui pengembangan sewerage system Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 18 Membuat Warning System untuk banjir dengan partisipasi masyarakat. termasuk OP.

sasaran. pengendalian daya rusak air.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis serta kajian pada bab-bab sebelumnya serta hasil rumusan pada Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II yang telah diselenggarakan beberapa waktu yang lalu.1 Aspek Kebijakan 1. kebijakan dan program yang diperoleh berdasarkan Analisis dan informasi teknik yang diperoleh dari berbagai aspek teknis antara lain. maka diperlukan pengaturan dalam bentuk kebijakan Provinsi. pendayagunaan sumber daya air. peningkatan peran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-1 . Konsep kebijakan tersebut di atas pada dasarnya mengacu pada lima buah pilar pengelolaan sumber daya air. diharapkan rumusan rancangan tersebut dapat disepakati oleh kedua provinsi dan dijadikan bahan rumusan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah.1. upaya-upaya konservasi sumber daya air . 2. yaitu serta masyarakat serta sistem informasi. maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut : 9. Dalam rangka mewujudkan pencapaian visi dan misi pengelolaan sumber daya air serta mengimplementasikan strategi. Studi ini telah menghasilkan suatu rumusan . Sebagai hasil akhir dari proses tersebut telah dihasilkan suatu rumusan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas. Strategi. kebijakan dan indikasi program. Barito-Kapuas. tujuan. selanjutnya dianalisis lebih lanjut tingkat kepentingannya. Analisis DSS-Ribasim pada WS.(Persero) CABANG I MALANG BAB 9 KESIMPULAN DAN SARAN 9. yang selanjutnya dijadikan acuan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (termasuk kabupaten/kota) dalam menyusun rencana induk/ master plan serta rencana pengelolaan sumber daya air WS Barito Kapuas.

2 Aspek Tata Ruang 1. tidak bisa dipisah-pisah sesuai dalam wilayah pengelolaan sumber daya air yang berbasis wilayah sungai. 4.1. tingginya laju erosi dan sedimentasi yang menurunnya kualitas lingkungan keairan. WS Barito-Kapuas administrasi. namun sesuai dengan UU SDA merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari hulu ke hilir. menyebabkan terjadinya bencana banjir dan pendangkalan sungai. Usaha konservasi tanah dan air merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menahan laju peningkatan nilai erosi tersebut dari tahun ke Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-2 . Diperlukan suatu kesepakatan. 2. berkurangnya debit aliran rendah pada musim kemarau. keterpaduan dan kesinambungan yang bersifat lintas provinsi. meningkatnya pencemaran air sungai. hal ini telah mengakibatkan meningkatnya debit sungai pada musim penghujan.1. menurunnya kualitas air. 3.(Persero) CABANG I MALANG 9. berwawasan lingkungan dan berkesinambungan perlu adanya keterpaduan dan sinkronisasi dalam penataan ruang di wilayah perbatasan. Nilai erosi tersebut diasumsikan akan terjadi jika tidak dilakukan usaha pengawetan tanah dan air. Erosi yang terjadi di WS Barito-Kapuas untuk setiap DAS berdasarkan perhitungan tahun 2006 pada umumnya berkisar dari sedang sampai berat Prediksi erosi hingga tahun 2025 menunjukkan klasifikasi yang sama yaitu dari sedang sampai berat. Perubahan pemanfaatan fungsi ruang di daerah tangkapan air WS Barito-Kapuas telah semakin memprihatinkan. kekeringan pada musim kemarau serta 9. 2. Adanya konflik kepentingan antar sektor dalam pemanfaatan lahan sehingga pelaksanaan di lapangan tidak konsisten dengan rencana tata ruang. yaitu: 1.3 Aspek Konservasi Beberapa kesimpulan dapat ditarik berdasarkan hasil analisis beberapa sifat biofisik di WS Barito-Kapuas. Dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi/ kabupaten/ kota yang lestari.

di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : . karena apabila dibiarkan akan menurunkan kualitas sumber daya air yang berfungsi sebagai penampung limbah RKI. Pembangunan bangunan penyedia air baku dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-3 .(Persero) CABANG I MALANG tahun.Sungai Kapuas : PI = 3. maka dapat diketahui bahwa rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau). diperlukan pengolahan limbah cair RKI. Oleh karena itu. 9. perkotaan dan industri (semua sukses diatas 90%). 3. Dari aspek kuantitas terjadi peningkatan jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan penggunaan air bersih.7217 (Cemar Ringan) terhadap kualitas air Sungai. Keberadaan hutan yang utuh merupakan salah satu upaya untuk mengurangi terjadinya erosi. Upaya konservasi ini dapat dilakukan dengan metode vegetatif dan cara mekanik.1. aktivitas perambahan hutan. Status Mutu Air (SMA) berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan di Sungai Barito-Kapuas dan beberapa anak sungainya.Sungai Barito : PI = 3.54 (Cemar Ringan) . Hasil simulasi base case 2007 menunjukkan bahwa dari ketersediaan air alami.5 Aspek Pendayagunaan SDA Dari hasil simulasi DSS-Ribasim untuk kasus dasar 2007. 2. Mengingat kualitas limbah RKI yang dihasilkan mengandung kadar pencemar tinggi. 2. 2025 dan masing-masing upaya.1. pembalakan liar serta konversi hutan menjadi peruntukan lain harus dicegah secara maksimal.4 Aspek Kualitas Air Berdasarkan hasil analisis sebagai berikut : 1. tidak ada kekurangan air untuk rumah-tangga. diperoleh kesimpulan 9. Simulasi menunjukkan tidak ada kekurangan air baku sampai dengan tahun 2025. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1.

Mengingat banjir tidak dapat dihilangkan secara absulut. Menurunnya kapasitas dari sungai-sungai / drainasi karena sedimentasi c. Banjir yang terjadi di WS Barito-Kapuas disebabkan oleh beberapa faktor. 9. 2. dan debit andalan Q90%. yang pada akhirnya mengurangi kapasitas sungai. maka dalam studi ini telah ditetapkan bahwa strategi Pengendalian Daya Rusak Air dibagi dalam dua periode waktu. dengan kondisi ketersediaan air rata-rata. yaitu: a. Kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai atau drain mengakibatkan pendangkalan sungai. d.(Persero) CABANG I MALANG 3. Pada beberapa bendung strategis di Wilayah Sungai Barito-Kapuas.6 Aspek Pengendalian Daya Rusak Air (DRA) Berdasarkan analisis dan hasil simulasi yang telah dilakukan. b. Prilaku masyarakat yang kurang memperhatikan fungsi dari sungai dan prasarana banjir yang dibangun. Perubahan fungsi Retarding Basin yang berubah menjadi daerah pemukiman & pertanian. debit andalan Q80%. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. yaitu : Jangka Menengah/ Mendesak a) Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air meliputi : − − − − − Rehabilitasi / normalisasi jaringan drainasi Normalisasi alur sungai Pengerukan muara sungai yang mengalami pendangkalan Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir Rehabilitasi / perbaikan tebing kritis Manajemen penanggulangan banjir atau yang lajim disebut Manajemen Tanggap Darurat Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) b) Penanggulangan Daya Rusak Air − − Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-4 .1. Sedangkan kebutuhan air terdiri atas kebutuhan air irigasi dan pemeliharaan aliran untuk lingkungan.

dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat.2 SARAN Usulan saran terhadap pengembangan wilayah sungai meliputi usulan pengelolaan sesuai tahapan dalam Undang-undang No.(Persero) CABANG I MALANG Jangka Panjang a) Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. untuk diusulkan kepada Pemerintah. − Flood Proofing Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir). Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan perlu menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. 3. Perda Irigasi. menahan air di bagian hulu dan hilir b) Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) − Flood Zoning Daerah daerah rawan banjir yang perlu ditetapkan sebagai flood zoning yang didasarkan atas frekuensi banjir yang terjadi. Konservasi dan perlindungan daerah tangkapan air di wilayah hulu sungai perlu dilakukan secara intensif mengingat daya dukung lingkungan dan daya tampung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-5 . utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan. c) Pengendalian Debit Banjir − − Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Transfer Antar Basin 9. Perlunya mempercepat munculnya perda mengenai SDA yang dapat mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai. 2. tentang Sumber Daya Air dan usulan pengembangan pengelola SDA lintas Propinsi adalah sebagai berikut : 1. 7 Tahun 2004. dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang.

Air Limbah Industri : 1). yaitu : (a). dengan alternatif pengolahan : 1). 4. Alternatif pengolahan. terdiri dari : dapat menyerap unsur pencemar. maka perlu pengolahan limbah. 5. Untuk mengatasi banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. ini sesuai Pasal 38 ayat (2) butir (a) dari PP 82/2001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”). Air Limbah Rumah Tangga dan Perkotaan. cuci menggunakan tanaman (wetland system) atau Echo Garden dapat dibuang ke badan air. sumur resapan. (b). selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat. Harus diolah sebelum dibuang ke badan air.(Persero) CABANG I MALANG sudah tidak memadai lagi. yaitu dengan menggunakan jaringan perpipaan air limbah untuk menampung air limbah dari setiap sumber pencemar. Perlu dilakukan audit lingkungan secara komprehensif baik secara biogeofisik maupun sosial budaya air di wilayah sungai. di daerah hulu sungai perlu dibuatkan embungembung penampungan air hujan. 3). Dalam mengatasi jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun dengan kuantitas yang banyak dan memilki potensi untuk mencemari WS Barito-Kapuas. tetapi untuk grey water ( air bekas mandi. serta menerapkan Q – Delta Policy dalam setiap pembangunan . Untuk permukiman dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan ekonomi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan kebijakan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya menggunakan ”Off Site System”. sehingga jaringan perpipaan lebih sederhana dan kapasitas IPAL terpusat bisa lebih kecil. 2). Untuk areal permukiman terpencar dilakukan secara komunal di daerah bersangkutan. selanjutnya effluent Echo Garden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-6 . Untuk permukiman yang terpisah dengan pertimbangan daya dukung lahan masih memadai dapat dan dapur) dapat diolah diolah secara individu dengan tangki dengan konsep ekoteknologi yang yang septik untuk tinjanya. tentang kewajiban untuk mengolah limbah dari industri.

tentang Persyaratan melakukan pemantauan mutu dan debit air limbah.(Persero) CABANG I MALANG • • Dengan pengolahan individu di masing masing industri Untuk areal industri yang memiliki limbah sejenis dan terkumpul dalam suatu area dapat dilakukan Pengolahan Terpusat. Untuk memanfaatkan sumber daya air yang ada. maka dapat dipertimbangkan pembangunan waduk Muara Julai yang diharapkan akan dapat menyediakan air untuk irigasi teknis. dan LSM dalam pendayagunaan SDA 9. swasta dan LSM dalam upaya memelihara dan melindungi sempadan sungai 7. sehingga limbah cair yang disalurkan ke jaringan pengumpul limbah memiliki mutu tertentu sesuai dengan ketentuan yang diberikan dari Badan Pengelola. Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. 38 ayat (2) butir (e) : dari PP 82/20012001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”). Limbah industri harus dipantau secara kontinyu. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis 2 Menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan konservasi SDA 3. 8. Menerapkan Aspek Hukum yaitu sangsi dan penghargaan bagi industri yang belum dan telah memenuhi Ketentuan Baku Mutu Limbah Cair. Perguruan Tinggi. Upaya-upaya konservasi yang perlu segera dilakukan di WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan DRA 1. dimana setiap industri biasanya diwajibabkan melakukan Pra Pengolahan. selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat. Pariwisata dan juga perikanan darat. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-7 . 6. Meningkatkan kemampuan lembaga pengelolaan sumber daya air (capacity building) serta meningkatkan tingkat kesadaran serta peran serta masyarakat. sesuai dengan Pasal. 2). PLTA. (c). Dunia Usaha.

dengan memperhatikan faktor penyebab yang paling dominan dan optimasi penanganannya baik yang dilakukan secara struktural maupun non struktural. Pemeliharaan mata air 5. embung dengan prioritas daerah pemukiman 4. Pengendalian penggunaan air tanah kota Memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan 10. Pengawetan SDA 2. (c) Tidak kalah pentingnya upaya penataan penggunaan bantaran dan alur sungai serta kegiatan konservasi untuk daerah hulu untuk mencegah adanya trend kenaikan debit banjir akibat kerusakan daerah resapan air (d) Perlu dilakukan pengaturan tanggung jawab dan wewenang pada sektor/ dinas/ instansi di daerah yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas serta pengkoordinasiannya agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya. (b) Rasionalisasi alur sungai dan drainase kota merupakan upaya penanganan banjir WS. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. Barito-Kapuas yang harus mendapatkan perhatian yang memadai dari Pemerintah Daerah. daya tampung dan fungsi sumber daya air secara berkelanjutan 1. Menetapkan daerah batas sempadan sungai. Upaya-upaya pengendalian banjir yang perlu segera dilakukan di WS BaritoKapuas adalah sebagai berikut : (a) Penanganan banjir supaya dilakukan secara menyeluruh. embung & mata air dgn aturan. Menetapkan dan mengelola kawasan danau rawa. rawa. 3. Pelestarian situ 6.(Persero) CABANG I MALANG Meningkatkan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-8 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->