(Persero) CABANG I MALANG

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai keperluan disatu pihak terus meningkat dari tahun ketahun, sebagai dampak pertumbuhan penduduk dan pengembangan aktivitasnya. Padahal dilain pihak ketersediaan sumber daya air semakin terbatas bahkan cenderung semakin langka, terutama akibat penurunan kualitas lingkungan dan penurunan kualitas akibat pencemaran. Apabila hal seperti ini tidak diantisipasi, maka dapat dikhawatirkan dapat menimbulkan kepentingan ketegangan manakala dan bahkan konflik akibat tidak terjadinya seimbang benturan dengan permintaan (demand) lagi

ketersediaan sumber daya air untuk pemenuhannnya (supply). Oleh karena itu perlu upaya secara proporsional dan seimbang antara pengembangan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya air baik dilihat dari aspek teknis maupun aspek legal. Untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat diberbagai keperluan, diperlukan suatu perencanaan yang terpadu yang berbasis wilayah sungai guna menentukan langkah dan tindakan yang harus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan mengoptimalkan potensi pengembangan SDA, melindungi, melestarikan serta meningkatkan SDA dan lahan. Mengingat pengelolaan sumber daya air merupakan masalah yang kompleks dan melibatkan semua pihak baik sebagai pengguna, pemanfaat maupun pengelola, tidak dapat dihindari perlunya upaya bersama untuk mempergunakan pendekatan one river basin, one plan and one integrated management. Keterpaduan dalam perencanaan, kebersamaan dan pelaksanaan dan kepedulian dalam pengendalian sudah waktunya untuk diwujudkan. Perencanaan pengelolaan SDA WS adalah merupakan suatu pendekatan holistik, yang merangkum aspek kuantitas dan kualitas air. Perencanaan tersebut merumuskan dokumen inventarisasi sumber daya air wilayah sungai, identifikasi ketersediaan saat

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-1

(Persero) CABANG I MALANG

ini dan masa mendatang, pengguna air dan estimasi kebutuhan mereka baik pada saat ini maupun dimasa mendatang, serta analisis upaya alternatif agar lebih baik dalam penggunaan sumber daya air. Termasuk didalamnya evaluasi dampak dari upaya alternatif terhadap kualitas air, dan rekomendasi upaya yang akan menjadi dasar dan pedoman dalam pengelolaan wilayah sungai dimasa mendatang. Sejalan dengan itu, Undang-Undang Tentang Sumber Daya Air UU Nomor 7 Tahun 2004 dimaksudkan untuk memfasilitasi strategi pengelolaan sumber daya air untuk wilayah sungai diseluruh tanah air untuk memenuhi kebutuhan, baik jangka menengah maupun jangka panjang berkelanjutan. Pada pasal 1 ayat 8 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa “pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar datam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air”. Pada pasal 11 ayat 1 sampai dengan ayat 4 UU Nomor 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa : "untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar¬besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun pola pengelolaan sumber daya air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air bawah ". Undang-undang tersebut (dan peraturan pemerintah yang terkait) mencerminkan arah pemikiran yang berkembang saat ini berkaitan dengan penataan ulang tanggung jawab dalam sektor sumber daya air. Undang-undang tersebut mengungkapkan sejumlah aspek dimana pengelolaan sumber daya air diwilayah sungai dapat ditingkatkan lebih lanjut, antara lain dengan dimuatnya pasal-pasal tentang perencanaan pengelolaan sumber daya air. Dengan UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air tersebut diatas, jelas bahwa tahapan pengelolaan SDA wilayah sungai adalah sebagai berikut : 1. Sebelum dilakukannya penyusunan rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA wilayah sungai, terlebih dahulu perlu dikakukan penyusunan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai yang berisi tentang : Tujuan umum pengelolaan SDA

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-2

(Persero) CABANG I MALANG

Dasar-dasar pengelolaan SDA Prioritas dan strategi dalam mencapai tujuan Konsepsi kebijakan-kebijakan dasar pengelolaan SDA dan Rencana pengelolaan strategis. 2. Sebagai tindak lanjut dari penyusunan pola pengelolaan SDA WS tersebut, setelah disyahkan oleh yang berwewenang, selanjutnya akan disusun Rencana Induk (Master Plan) pengelolaan SDA yang merupakan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA, dimana perencanaan tersebut disusun dengan berpedoman kepada pengelolaan SDA untuk wilayah sungai terkait. 3. Kegiatan selanjutnya secara berurutan setelah penyusunan Rencana Induk pengelolaan SDA WS adalah : Studi Kelayakan (FS) Program Pengelolaan Rencana Kegiatan Rencana Rinci Pelaksanaan/ konstruksi dan OP Pernyataan pasal-pasal kedua Undang-Undang di atas mengingatkan kepada pengelola sumberdaya air tentang pentingnya peran air bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Hal tersebut jelas terlihat dalam permasalahan krisis air di sebagian besar wilayah Indonesia. Untuk hat tersebut diatas, pada tahun anggaran 2008, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air bermaksud akan melakukan garis arahan pengembangan melalui Pola Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Wilayah Sungai, diantaranya adalah Wilayah Sungai Barito-Kapuas guna mewujudkan pemanfaatan dan pendayagunaan sumber air di wilayah sungai tersebut serasa serasi dan optimal, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung lingkungan serta sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK/TOR), maksud dan tujuan pekerjaan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas”, ini adalah sebagai berikut: Maksud Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-3

(Persero) CABANG I MALANG

Maksud dari pekerjaan ini adalah merumuskan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas, untuk kemudian dapat dijadikan acuan dalam Penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Tersebut. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Rencana Induk pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas untuk dijadikan acuan dalam pelaksanaan studi kelayakan untuk WS tersebut, yang pada akhirnya dapat diketahui kegiatankegiatan yang perlu dilakukan. Tujuan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai adalah untuk memberikan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air (ps.3). Arahan tersebut meliputi arahan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air, serta pendayagunaan sumber daya air, serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota (ps.4). Kebijakan ini dirumuskan oleh wadah koordinasi SDA (Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya). Didalam implementasinya, kebijakan pengelolaan SDA WS tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh Presiden, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai tingkatannya karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah dan atau instansi/pihak di dalam penatagunaan sumber daya air khususnya dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (PSDAWS), adalah untuk merumuskan pola pengelolaan suatu wilayah sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-4

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk menyusun dokumentasi SDA WS (air permukaan dan air tanah), memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun dimasa mendatang dan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman untuk penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS dengan melibatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai berisi program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka-jangka panjang. Didalam implementasinya, Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai tersebut nantinya harus “dilegalisir” oleh pemerintah setempat, karena perencanaan ini kelak diharapkan akan menjadi acuan semua pihak dan dapat menjadi bingkai/kerangka kerjasama antar daerah didalam penatagunaan sumber daya air termasuk di dalam perencanaan, pemanfaatan, pengusahaan, pengendalian dan pelestarian sumber daya air secara terencana, terarah, terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Tujuan dari Penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS sebagai salah satu kegiatan dari Rencana Pengelolaan SDA WS, adalah untuk merumuskan perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan SDA WS (sebagai tindak lanjut dari kegiatan penyusunan pola pengelolaan SDA WS) dengan melibatkan peran serta masyarakat. Rencana induk ini merupakan rencana jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya rusak air di WS secara terpadu dan terarah. Rencana ini juga mencakup upaya struktural (desain dasar) dan upaya non-struktural.

1.3.

LINGKUP PEKERJAAN

Secara garis besar lingkup pekerjaan “Rencana Pola Wilayah Sungai BaritoKapuas”, ini adalah sebagai berikut : Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Mengadakaan koordinasi dengan Wadah koordinasi SDA Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-5

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Merumuskan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan SDA WS, yang mencakup arahan konservasi dan pendayagunaan SDA WS serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah SDA dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan.

3.

Membantu proyek dalam proses legalisasi kebijakan pengelolaan SDA WS.

Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Pola pengelolaan SDA wilayah sungai berorientasi pada keluasan wilayah yang menuntut perencanaan maupun pengelolaan berdasarkan batas-batas hidrologis. Dari awal inilah pengelolaan SDA wilayah sungai memerlukan informasi yang dilakukan dengan kerjasama dan koordinasi antar Kabupaten. Melalui pertemuan Konsultansi dengan masyarakat, dua proses dilakukan sekaligus, yaitu inventarisasi masalah-masalah setempat secara arus bawah-atas (bottom-up) dan proses penyadaran masyarakat terhadap isu strategis (jangka panjang) pengembangan wilayah sungai. Untuk pelaksanaan Undang-undang 22 dan 25 secara efektif, dalam proses pengelolaan sumber daya air wilayah sungai, koordinasi antara Kabupaten dan Provinsi dan komunikasi dengan para stakeholder menjadi sangat penting. Informasi praktis tentang bagaimana pola pengelolaan wilayah sungai dan pola pengelolaan wilayah Kabupaten dapat sejalan satu sama lain merupakan hal yang sangat penting untuk menentukan kerjasama secara struktural. Untuk pekerjaan tersebut diatas, beberapa kegiatan di bawah ini perlu dilakukan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pengumpulan data awal melalui desk study/literatur, kunjungan lapangan diskusi informal. Analisa awal yang kemudian disajikan pada laporan pendahuluan (Inception Report). Mengevaluasi data dan informasi yang sudah terkumpul. Mengumpulkan data melalui literatur maupun data lapangan dan diskusidiskusi informal. Pengumpulan data yang lebih detail, penelitian Water District dan melakukan set-up DSS sebagai analisa awal kebutuhan dan ketersediaan air. Analisa awal yang menghasilkan rencana sementara untuk wilayah sungai Barito-Kapuas disajikan dalam Laporan Pertengahan. Mengakses kebutuhan pengembangan kedepan dengan berbagai skenario.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-6

(Persero) CABANG I MALANG

8.

Mengidentifikasi kendala-kendala dalam mempertemukan kebutuhan dan pasokan air, usaha-usaha yang telah dilakukan dan perbaikan yang harus dilakukan untuk masa mendatang.

9.

Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM I) yang menekankan kepada kesepakatan bersama terhadap para pengguna air. Hal ini akan termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM I, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 200 orang. Koleksi data dengan wawancara kepada para pengguna selama pelaksanaan PKM I. Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM I.

10. Melakukan proses penghalusan (fine-tuning) terhadap DSS dan semua data yang telah dikoleksi maupun analisa melalui identifikasi yang lebih dalam terhadap kendala-kendala berdasarkan temuan-temuan yang didapat dari PKM I. 11. Analisa awal terhadap kombinasi upaya-upaya strategis dan akses terhadap kendala pada strategi tersebut untuk beberapa skenario yang berbeda, sebagai hasil yang tertuang dalam Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai sementara. 12. Mengorganisir Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PKM II) yang menekankan pada beberapa strategi berdasarkan kesepakatan bersama dengan mereka yang mewakili para stakeholder. Hal ini termasuk : Mengorganisir dan melaksanakan PKM II, selama 1 hari dengan peserta yang mewakili semua institusi terkait Tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi sekitar 150 orang. Pengumpulan data melalui wawancara dengan stakeholder secara individu selama pelaksanaan PKM II Melakukan koleksi data melalui distribusi prosiding PKM II. 13. Merumuskan Draft Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai berdasarkan temuan yang diperoleh pada PKM II dan temuan lainnya. 14. Mengorganisir Rapat Koordinasi untuk Wilayah Sungai Barito-Kapuas. 15. Membantu proyek dalam proses legalisasi. Rencana Induk Pengelolaan SDA Wilayah Sungai 1. Menyiapkan rencana pengelolaan jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-7

(Persero) CABANG I MALANG

rusak air di WS secara terpadu dan terarah sesuai Pola Pengelolaan SDA WS yang telah disusun. 2. Melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat guna merumuskan upayaupaya untuk mengatasi permasalahan SDA. 3. Menyiapkan desain dasar (outline design) untuk upaya yang bersifat struktural. 4. Membantu proyek dalam proses legalisasi. 1.4. LOKASI KEGIATAN

SWS Barito-Kapuas (kode A2-18, sesuai Permen PU No. 11A/PRT/M/2006) terletak di perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Selatan dan Sungai Kahayan. SWS BaritoKapuas (A2-18) memiliki 2 (dua) sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas. Daerah Aliran Sungai Barito yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 46.997 Km2 sedangkan Sungai Kapuas sebesar 16.044 Km2. Luas total SWS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas, adalah 79.000 km2. SWS Barito-Kapuas (04.02) dari hulu ke hilir yang mengalir di Provinsi Kalimantan Tengah melewati kabupaten berikut : Tabel 1.1 Kabupaten WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No. 1. 2. 3. 4. 5. Kabupaten Kab. Kapuas Kab. Murung Raya Kab. Barito Utara Kab. Barito Selatan Kab. Barito Timur DAS DAS Kapuas DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito

Sedangkan kabupaten-kabupaten yang masuk dalam WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 1.2 Kabupaten dilalui WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalsel No. 1 Kabupaten Kab. Barito Kuala DAS DAS Barito

Pembagian WS di Kalimantan serta peta WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada gambar 1.1 dan 1.2.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-8

(Persero) CABANG I MALANG

1.5.

LAPORAN

Laporan ini secara garis besar menyajikan latar belakang, gambaran umum wilayah studi, Pendekatan dan Metodologi Pelaksanaan, Pengolahan & Analisis Data, Tinjauan Kebijakan Pengelolaan SDA Nasional dan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS serta Kesimpulan dan Rekomendasi. Laporan ini terdiri dari : Komposisi Laporan Interim sebagai berikut : Volume 1 Volume 2 Volume 3 - Volume 3.1 - Volume 3.2 Volume 4 - Volume 4.1 - Volume 4.2 Volume 5 - Volume 5.1 - Volume 5.2 - Volume 5.3 1.6. : Executive Summary : Main Report : : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Barito : Rancangan Dokumen Pola Pengelolaan SDA WS Kapuas : : Laporan PKM I : Laporan PKM II : Supporting Report : Laporan Hidrologi : Laporan DSS-RIBASIM : Laporan Kajian Khusus

JADWAL PELAKSANAAN

Pelaksanaan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas adalah sejak tanggal 16 Agustus 2008 sampai dengan 13 Desember 2008 atau selama 120 (seratus dua puluh) hari kalender. Adapun jadwal pelaksanaan kegiatan Rancangan Pola Pengelolaan WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel 1.3 berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

I-9

10 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 1.3 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .

11 .1 Pembagian Wilayah Sungai di Kalimantan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS I .(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Studi Gambar 1.

12 Gambar 1.LETAK GEOGRAFIS : 0 95' LU s/d 3 35' LS 113o 15' BT s/d 115o 45' BT LUAS DAS : DAS BARITO. B arit RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS o Laporan Akhir PETA SWS BARITO-KAPUAS (Persero) CABANG I MALANG PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH K S.044 KM2 81.2 Peta WS Barito-Kapuas . s ua ap PROPINSI KALIMANTAN SELATAN 46. KALTENG DAS BARITO. KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO LUAS DAS : DAS BARITO. KALTENG DAS BARITO.675 KM2 LEBAR (m) PANJ (Km) DILAYARI (Km) 780 420 H (m) 8 6 KETERANGAN : BANJARMASIN Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan I .997 KM2 18.634 KM2 16. KALSEL DAS KAPUAS SWS BARITO 500 650 900 600 o o PALANGKARAYA S.

863.1.363. Murung Raya Kab. Barito Utara Kab. DAS Batulicin dan DAS Tabunino Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Secara administrasi Pemerintahan. Adapun batas wilayah hidrologi DAS Barito adalah sebagai berikut : Sebelah barat berbatasan dengan DAS Kapuas Sebelah timur berbatasan dengan DAS Sampanahan. Barito Selatan Kab.1 DAS Barito Secara geografis Daerah Aliran Sungai Barito yang terdapat di Provinsi Kalimantan selatan terletak antara 114o20’ sampai dengan 115o52’ BT dan 1o24’ sampai dengan 3o44’ LU dengan luas keseluruhan adalah 1. Barito Kuala DAS DAS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -1 .2 Kabupaten dilalui DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No.(Persero) CABANG I MALANG BAB 2 GAMBARAN UMUM WS BARITO-KAPUAS 2. 1 2 3 4 Kabupaten Kab.1 LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS ADMINISTRASI 2.30 ha.1 Kabupaten DAS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah No. Kabupaten-kabupaten yang termasuk dalam DAS Barito adalah sebagai berikut: Tabel 2. DAS Barito meliputi beberapa kabupaten. Kabupaten 1 Kab. Barito Timur DAS DAS Barito DAS Barito DAS Barito DAS Barito Sedangkan kabupaten-kabupaten yang dilalui aliran sungai di Provinsi Kalimantan Selatan adalah Tabel 2.

1. Kabupaten Barito Selatan Adapun batas wilayah hidrologi DAS Kapuas adalah sebagai berikut: Sebelah timur berbatasan dengan DAS Barito Sebelah Barat berbatasan dengan DAS Kahayan Sebelah utara berbatasan dengan DAS Barito Bagian Hulu Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -2 . Kabupaten Kapuas 2. Sejumlah Kabupaten yang termasuk dalam DAS Kapuas dari hulu ke hilir adalah : 1. Secara geografis Daerah Aliran Sungai Kapuas terletak antara 114o24’48” sampai dengan 114o53’39” BT dan 2o15’00” sampai dengan 2o47’53” LS.(Persero) CABANG I MALANG 2. Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas daerah tangkapan sebesar 16.2 DAS Kapuas Daerah Aliran Sungai Kapuas yang berada di Kabupaten Dati II Kapuas. Kabupaten Barito Utara 3. dengan ibukota Kabupaten Kota Kuala Kapuas.044 Km2.

MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Benangin Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong KABUPATEN BARITO UTARA T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Tumpung Laung T umpung Laung Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Ketapang Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon KABUPATEN BARITO SELATAN Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang TabakKanilan TT abakKanilan abak Kanilan TT abakKanilan TabakKanilan abak Kanilan KABUPATEN KAPUAS Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah . . Upau Upau Upau Upau Upau Upau TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG . TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG TANJUNG ! Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip Mengkatip TTanta Tanta anta TTanta Tanta anta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Paringin Paringin Paringin Paringin Lampihong Paringin Lampihong Paringin Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Lampihong Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Batumandi Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong Halong TTaniran Taniran aniran TTaniran Taniran aniran Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Kelua Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Sungai TTurak Sungai Turak Sungai urak Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang Rantau Kujang KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun Putat Basiun . MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN MARABAHAN Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Barimba Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Aserarat Barat Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Bungur Tambarangan ambarangan TTambarangan ambarangan TTambarangan Tambarangan KABUPATEN BARITO KUALA KABUPATEN BANJAR Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Binuang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam Lupak Dalam ! BANJARMASIN Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat Simpang Empat MARTAPURA MARTAPURA . . PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung T umbang Lahung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Laung Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH .AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Keserangan Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Ilung Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai Mantangai . BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pagat Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan Pasungkan KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU PULANGPISAU Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Mandomai Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Basarang Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Margasari Hulu Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Rantau Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat TTelagaLangsat Telaga Langsat elaga Langsat KABUPATEN TAPIN . MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA .1 Peta Batas Administrasi WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -3 . . BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Cempaka Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Aranio Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Kurau Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Gambar 2. BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK T impah T impah Timpah T impah Timpah T impah Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah KABUPATEN TABALONG KABUPATEN BARITO TIMUR Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Bentot Harui Harui Harui Harui Harui Harui Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Jaro Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya .(Persero) CABANG I MALANG KABUPATEN MURUNG RAYA Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi umbang Kunyi TTumbangKunyi Tumbang Kunyi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi .KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Kelumpang Sungai Raya Kelumpang SungaiRaya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Sungai Raya Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Lokpaikat Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado Loksado .

berupa rumput (50.15% : 1.29% Tanah di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan sebagian besar berupa hutan dengan rincian Hutan Lebat (780.545 Ha (31. DAS Kapuas bagian hilir umumnya berupa lahan dengan bentuk topografi yang relatif datar.2 KONDISI TOPOGRAFI Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43.15o dan pegunungan/pebukitan dengan kemiringan 15o .195 Ha (6.02 – 0.774 ha).05 – 0.840 Ha) Tanah berupa semak/alang-alang seluas 870. Bagian tengah merupakan dataran plateau dan pebukitan dengan kemiringan 8o – 25o dan ketinggian 50 – 1. Kemiringan lahan dari utara ke selatan sekitar 0.87%) > 15 . dengan elevasi sekitar + 4. Bagian selatan merupakan daerah pantai dan rawa-rawa dengan ketinggian antara 0 – 5 meter dari permukaan laut yang mempunyai elevasi 0% .0 m. dipengaruhi oleh pasang surut.05% wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2 %.25o.0 m sampai dengan +7.615.05%) > 2 . sedang kemiringan lahan antar dua sungai sekitar 0. 16%) Adapun luas wilayah Kalimantan Selatan menurut kelas ketinggian yang dibagi menjadi 6 kelas ketinggian menunjukkan wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berada pada kelas ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut yakni 31.192.314 ha .(Persero) CABANG I MALANG 2.03 permil (arah timur barat).119).014).630 Ha (43. dan hutan rawa (90.319 Ha). Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: • • • • 0 .847 Km. Bagian utara DAS Kapuas merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 – 500 meter dari permukaan laut dan mempunyai tingkat kemiringan 8o . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -4 . Hutan Sejenis (352.682 Ha (19.8%. Di sebelah selatan DAS merupakan daerah pantai pesisir Laut Jawa dengan panjang 189.08 permil.150 m.2% : 1.060 Ha). Hutan belukar (377. dan untuk lain lain (83.02%) > 40% : 231. sehingga merupakan daerah yang berpotensi banjir akibat pasang air laut.40% : 713.

P.0 sampai +7. 2. lidah dome gambut itu menjulur dari utara ke selatan. terbreksikan atau berstruktur aliran.3 KONDISI GEOLOGI DAN GEOHIDROLOGI 2. Bagian tengah DAS Kapuas mempunyai elevasi berkisar antara +4.00 m. Terdapat kemiringan umum dari utara ke selatan.0 m. publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712. rapat.1 Kondisi Geologi Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di WS Barito-Kapuas. Peta Geologi Lembar Long Pahangai.00 m sampai +14. 2. fenokris plagioklas berzoning komplex (An40 – 70). kerikil dan kerakal dari berbagai macam batuan.(Persero) CABANG I MALANG Bagian hulu mempunyai bentuk lebih undulating. berongga. mikrokristalin atau kacaan. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716.E. Bagian tengah antar dua sungai mempunyai elevasi sekitar 1. hornblenda (kebanyakan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -5 . pejal.1993 Publikasi P3GI 1.3.5 sampai 2 m lebih tinggi daripada bagian tepi sungai. Mentangai – S. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714. Bagian tengah antar dua sungai umumnya lebih tinggi karena terdapat kubah gambut. Barito. Pieters dkk.2 a. diantara S. Kapuas – S. publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715. S. Mentangai.Plistosen Batuan Gunungapi Metulang (TmQm) Terdiri dari Lava : kelabu tua sampai kelabu kehijauan. skoria atau amigdaloid (zeolit dan klorit). Mengkatip dan diantara S. porfiritik. terletak secara tidak selaras di atas satuan yang lebih tua. publikasi P3G tahun 1986 Adapun deskripsi secara litostratigrafi dari formasi-formasi kronostratigrafis yang ada adalah sebagai berikut. Mengkatip – S. dengan ketebalan lebih dari 6 m. dengan kisaran elevasi dari + 6. tersebar luas sebagai endapan gosong dan limpahan sungai. Holosen Alluvium (Qa) : Terdiri agregasi lepas pasir. Miosen Akhir . dan secara grafis peta Geologi WS BaritoKapuas dapat dilihat pada Gambar 2.

Sub-gunungapi : basal dan andesit porfiritik. diameter pecahan sampai 10 cm. Tufa kelabu sampai kelabu muda dan kebanyakan litik dan sedikit kristal. Batuan epiklastika : kebanyakan breksi lahar. kemas terbuka-tertutup. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -6 . serisit. pirit sekunder. ubahan ke klorit. kebanyakan endapan “air fall”. epidot dan silika. diorit. halus-kasar. masa dasar mikrolit plagioklas dan butir hornblenda. oksida besi (kebanyakan magnetit) dan interstisial kriptokristal dan atau bahan kaca. piroksin dan setempat biotit. dolerit yang tersusun oleh plagioklas berzona. hornblenda. Piroklastika : tufa dan aglomerat. piroksin (augit. sedikit hipersten) dan terkadang olivin dan biotit. piroksin.(Persero) CABANG I MALANG coklat tua). Aglomerat mengandung berbagai pecahan menyudut sampai menyudut tanggung dalam masa dasar terdiri dari tufa kasar.

sedikit batupasir dan batuan volkaniklastika.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. - Batuan Terobosan Sintang (Toms) Andesit porfir. diorit. sumbat. tidak selaras diatas Formasi Ujoh Bilang. retas dan sil.2 3. korok. Miosen - Peta Geologi Wilayah Sungai Barito-Kapuas Formasi Kelinjau (Tmk) Batulumpur. granodiorit. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -7 . mikrodiorit. setempat batubara.

urat dan urat halus kalsit. bioturbasi. batulumpur. menyudut-menyudut tanggung. setempat lapisan tipis lignit atau batubara. kebanyakan berlapis baik. sebagian gampingan dan karbonan. Batugamping : coklat muda sampai agak coklat. dari sangat tipis sampai sangat tebal. bergelombang dan flaser. Batupasir : kelabu muda sampai coklat. Eosen Akhir Formasi Batu Ayau (Tea) Kebanyakan batupasir. setempat tufaan. konkresi oksida besi. sedikit batulumpur dan batulanau. arenit litik dan arenit felspatik. kebanyakan klastika pecahan fosil. sedikit batupasir. Batulumpur dan batulanau : kelabu tua sampai hitam. lignitan atau perairan berbatubara. kaya kuarsa sampai litik. Batulumpur : coklat sedang sampai gelap. arenit kuarsa. jarang batugamping. Batupasir : kelabu muda. batulanau : kelabu tua. berlapis sampai pejal. terpilah baik. berbutir halus. 5. terpilah baik. Oligosen Awal Formasi Ujoh Bilang (Tou) Batulumpur. kalsilutit. berbutir halus sampai sedang. kebanyakan berbutir halus. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang. kalkarenit. Biasanya gampingan dan karbonan. Mendatar sama dengan karbonat Formasi Berai bagian bawah. kelabu sampai kelabu kecoklatan. mikaan. batulumpur. Serpih. gampingan. Batupasir : kelabu muda sampai coklat muda. Anggota Batupasir Lenmuring Formasi Ujoh Bilang (Tol) Batupasir kuarsa. Formasi Batu Kelau (Tek) Serpih. klastika. struktur cetakan. berlapis buruk. terpilah baik. Anggota Batugamping Batu Belah Formasi Ujoh Bilang (Tob) Kalsirudit fosilan. perairan atau perlapisan sejajar. umumnya menyerpih. merupakan lensa dalam Formasi Ujoh Bilang. masa dasar lumpur karbonat. batulanau. perlapisan silang-siur. umumnya berlapis baik. putih sampai coklat muda. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -8 . kebanyakan berbutir sedang. perairan sejajar. umumnya dengan batupasir halus. didukung butiran. sedikit batupasir. karbonan. setempat perairan bergulung (konvolut). pejal sampai berlapis buruk.(Persero) CABANG I MALANG 4.

arenit kuarsa. aglomerat. berbutir halus sampai kasar. kebanyakan klastika pecahan fosil. klastika. rijang. litik dan batuan gunungapi felsik. urat kuarsa setebal 1-2 cm. masa dasar lumpur karbonat atau kalsit berkristal halus. sedikit bergulung. didukung klastika. Batupasir Haloq dan Formasi Batu Kelau (Teh + Tek) Litologi batupasir Haloq dan formasi Batu Kelau tak terpisahkan. lava. Tufa : kelabu muda. kristal-kaca. albit dan biotit dan pecahan batuapung. setempat coklat lapuk. sedikit konglomerat (sebagian di dasar) dan batulumpur. lava dan batuan epiklastika halus. arenit kuarsa. terpecahkan. membulat tanggung-membulat. perlapisan silangsiur bergelembur. Tufa terlaskan : kelabu muda. kristal-litik dan tufa lapili dan breksi tufa. Aglomerat : kelabu muda. dipisahkan dari Komplek Busang oleh sesar detachment 6. klastika pecahan kuarsa. kerakal. Batugampiang : kelabu tua. terpilah sedang sampai baik. sferulitik. berlapis cukup tebal sampi tebal. perairan karbonan. terpilah sedang sampai buruk. tidak selaras di atas Kelompok Selangkai dan Kelompok Embaluh. tufa terlaskan. pecahan membulat tanggung. kerakal (kebanyakan 0. pejal. sedikit felspar dan litik. padat dan keras. afanitik-porfir.(Persero) CABANG I MALANG terpilah baik. perairan sejajar. Eosen Tengah Batuan Gunungapi Nyaan (Ten) Batuan tufa. setempat pecahan perlapisan vitroklastika. silikaan. mengandung beragam jumlah kuarasa. Selaras dibawah Formasi Batu Ayau. menjemari dengan Formasi Batu Kelau dan Formasi Haloq. epiklastika. berbutir halus-sedang. hipohialin. menyudut tanggung sampai membulat. tufa felsik. perairan bahan karbonan dan oksida besi. Batupasir : kelabu muda. kalkarenit sampai kalsilutit. perlapisan silangsiur. breksi lava.5 sampai 2 cm) sampai sedikit berangkal pecahan kuarsa. K-felspar. sedikit batugamping dan batubara. kaca. struktur aliran. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -9 . susunan dasit sampai riolit. perlapisan silangsiur sekala sedang sampai besar. Batupasir Haloq (Teh) Batupasir. Konglomerat : kelabu muda. berangkal dan bongkah sampai 20 m dalam masa dasar lempung (kaolin) yang sebagian berkarat besi dan pecahan silikaan.

karbonat (termasuk pecahan fosilmikro) dan oksida besi. Kapur Akhir – Eosen Tengah Kelompok Embaluh (Kte) Runtunan perselingan serpih. batulanau dan batupasir kerakalan termalihkan derajat sangat rendah. biotit. 7. perlapisan atau perairan silangsiur dan jejak erosi. lapisan sangat tipis sampai ratusan meter tebalnya. litik. tikas beban. khlorit. setempat urat kuarsa dan sedikit urat kalsit. pencelahan dan belahan menyabak sejajar atau membentuk sudut kecil dengan perlapisan. khlorit. perairan sejajar internal (batulempung-batulanau) umum dijumpai. oksida besi. tersusun dari pecahan kuarsa dan sedikit rijang. perlapisan dan perairan sejajar dan setempat perlapisan dan perairan bergulung. pelit malih tersusun dari kuarsa. batuan gunungapi menengah sampai mafik. kerakal menyudut tanggung dan membulat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -10 . breksi intraformasi. Kapur Akhir Granit Era (Kue) Granit. felspar terubah. kuarsit. kelabu kehijauan. kuarsa dan biotit. serisit sekunder. breksi. plagioklas terubah dan sedikit K-felspar dan batuan (termasuk pelit “penecontemporaneous” dan psamit. mineral tambahan termasuk rombakan piroksin. nahan karbonan. keadaan sentuhan dengan Kelompok Embaluh tidak diketahui. amfibol. Psamit : kelabu muda sampai tua. kuarsa mikrokristalin. pirit kebanyakan autigenik dan pasca deformasi. coklat lapuk. perlapisan berangsur tersebar luas. sangat halus sampai seperti pasir terutama berbutir halus sampai sedang. Batuan epiklastika : konglomerat volkanoklastika. nendatan. Pelit : kelabu tua sampai hitam. batupasir felspatik. kuarsa. kalsit dan mineral lempung dalam masadasar. kebanyakan menyudut tanggung sampai membulat tanggung. dapat dikorelasikan dengan Granit Era yang umurnya ditentukan dengan isotop di Putussibau. Batupasir kerakalan : terdapat dalam lapisan tipis sampai tebal sekali yang tidak menerus. klastika. perairan. porfiritik dengan fenokris K-felspar. dolerit dan diorit). oksaida besi. lempung. batusabak dan sebagian batupasir. Lava : kelabu muda.(Persero) CABANG I MALANG berubah ke epidot dan khlorit. serisit. 8. lapisan sangat tipis sampai tebal 10 m. batupasir halus dan batulanau. setempat kehijauan. karbonat. bahan karbonan. epidot dan zirkon.

tercerminkan. mineral lempung. tergeruskan. berbutir sedang. alktonolit. berlapis baik sampai sedang. oksida besi dan kuarsa. sedikit batubara. perlapisan silangsiur. berbutir sedang. hijau. terubah. setempat menyerpih Batupasir : kelabu muda sampai kelabu kecoklatan atau kehijauan. khlorit. dalam lapisan tidak menerus tebal sampai 2 m. setempat berbintil. rijang dan batuan gunungapi serta subgunungapi menengah sampai mafik terubah. terbreksikan. Batulempung : merah. spilit.(Persero) CABANG I MALANG tanggung. Kapur Kelompok Selangkai (Kse) Batulumpur. granodiorit. kuarsa. spilit : kelabu tua sampai hijau. batulempung. Batuan argilitan : kelabu tua samapai coklat. arenit kuarsa dan arenit kuarsa gampingan yang mengandung sampai 20% klastika felspar dan atau litik. batulanau. terpecahkan. Jura – Kapur Awal Komplek Kapuas (Jklk) Terdiri basal. umumnya agak terhablur ulang. batugamping. Basal. perlipatan sevron. 12. diorit dan korok Granit : granit biotit. coklat. umumnya gampingan dan karbonan. berbutir sedang. kalkarenit fosilan sampai kalsilutit. Rijang : merah atau hijau muda. lapisan bergelombang tipis tebal 2 – 15 cm. berbutir halus sampai kasar. coklat. urat kalsit. Batugamping : kelabu muda sampai tua. 9. sedikit komglomerat. epidot. gelembur-gelombang. kalkarenit fosilan sampai coklat. 10. Jura – Kapur Awal Komplek Mafik Danau (JKld) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -11 . berbutir seragam Granodiorit : granodiorit biotit – hornblenda. terubah ke albit. batupasir. Kapur Awal Granit Alan (Kla) Terdiri Granit. felspar dan pecahan batuan. setempat berbintil. Diorit : diorit hornblenda. kuarsit. dalam lapisan tebal 20 cm sampai pejal. 11. setempat kuarsit. rijang. perlapisan silangsiur. Konglomerat : kerakal (1-3 cm) membundar tanggung sampai membundar terdiri dari kuarsa. tetapi kebanyakan halus sampai sedang. kelabu.

batuan gunungapi terubah. sedikit batupasir dan batuan klastika gunungapi. Supriatna dan Adjat Sudradjat. terbreksikan dan terlipatkan. Kapur Akhir – Tersier Awal Bancuh dan Formasi Terhancurkan Batuan Kelompok Embaluh tergeruskan secara semrawut. tercerminkan. sedikit augit dan hipersten Sekis : kebanyakan disusun oleh mika dan kuarsa. Kuarsit : kelabu muda. Batuan Gunungapi Bundang (Tpbv) Terdiri dari lava dan breksi bersusunan andesit-basal. umumnya termalihkan dan terdaunkan dan sekis serta kuarsit. 13. gabro dan dolerit. 14. Granit : berbutir seragam sampai porfiroblastik dengan K-felspar putih atau merah jambu. Gabro : mineral mafik yang menonjol adalah hornblenda yang mengganti dan melapisi piroksin. hitam kehijauan. Plistosen Formasi Anap (Tpa) Terdiri dari batulumpur. gabro. endapan sungai. setempat dengan pecahan tektonik batugamping kristal kelabu tua. granodiorit. 2. berkemiringan landai diakibatkan oleh peggerusan dan milonitisasi. terubah kuat (khlorit). diorit. kebanyakan berbutir halus. setempat kayu terkersikkan dan sisipan batubara. Perem – Trias Komplek Busang (PTRb) Granit. 3.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari gabro. S. 1992 Publikasi P3GI 1. mengandung biotit. pada sentuhan di bagian atas perdauanan. rijang merah dan kelabu. Peta Geologi Lembar Muaratewe. dolerit. Pliosen Formasi Kampung Baru (Tpkb) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -12 . tersesarkan. pejal. Holosen Aluvial (Qa) Terdiri dari kerikil sampai kerakal kuarsa dalam pasir kuarsa kasar. b.

serpih dan batugamping. setempat dasit berupa sumbat. breksi lahar. batulanau. mengandung lapisan tipis mineral karbonan. 6. stok. mengandung foram besar dan koral. breksi gunungapi dan aglomerat. Miosen Tengah Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. tufa. 8. Oligosen Akhir – Miosen Awal Formasi Berai (Tomb) Terdiri batugamping abu-abu dan putih. 7. batulanau karbonan. Formasi Purukcahu (Tomc) Terdiri dari batulempung berfosil. sebagian terkristalkan ulang. breksi lava. berselingan dengan batulanau mengandung lensa kecil dan lapisan tipis batubara vitrinit Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -13 . mengandung sisipan batulempung karbonan.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa dengan sisipan lempung. Formasi Montalat (Tomm) Terdiri dari batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang. berbutir halus sampai sedang. Oligosen Akhir – Plistosen Andesit dan Diorit (TQi) Terdiri dari andesit dan diorit. Formasi Balikpapan (Tmb) Terdiri dari batupasir kuarsa dan batulempung dengan sisipan batulanau. 4. Miosen Awal – Miosen Tengah Formasi Meragoh (Tmmv) Terdiri dari lava. gambut dan oksida besi. konglomerat aneka bahan. kurang padat. Miosen Akhir – Pliosen Batuan Gunungapi Metulang (Tmpm) Terdiri dari lava. bersusunan basal sampai andesit. lignit. berlapis tebal. kelabu tua. bersusunan basal sampai andesit. 5. sebagian berlapis. bersisipan batulempung karbonan berwarna kelabu dan batulanau menyerpih berwarna kelabu tua. tufa. aglomerat. rombakan batubara nitrinit dan muskovit. retas dan retas lempeng.

kokuina dan basal terubah. Formasi Pamaluan (Tomp) Terdiri dari batupasir dengan sisipan batulempung. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur. Anggota Batugamping Penuut (Toml) Terdiri dari batugamping putih dan kelabu. batupasir kuarsa berlapis baik. genes dan batubara. umumnya terubah. berlapis baik. terpecahkan dan termineralisasikan. batulanau serpihan dan batulanau serpihan dan batulanau karbonan. berbutir sedang sampai kasar. bersisipan tipis batulempung dan batulanau. mengandung glaukonit. sedikit batupasir. kaya akan foram besar. batulumpur. 10. ganggang dan koral. breksi batugamping. jarang batugamping. Anggota Batugamping Jangkan (Tomj) Batugamping berfosil. sebagian termineralisasi. sedikit batupasir. tufa dan sedikit riolit. Oligosen Awal Batuan Gunungapi Malasan (Tomv) Leleran andesit sampai basal. bersisipan batugamping pasiran berfosil. breksi batugamping. bersisipan breksi berfragmen andesit. batulempung dengan sisipan batugamping. abu-abu tua sangat kompak bersisipan tipis batulumpur. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -14 . serpih. batulanau tufaan abu-abu kehijauan. kaya akan foram besar. 9. setempat struktur bantal dan kekar meniang. dasit. Formasi Ujohbilang (Tou) Terdiri dari batulumpur. batulanau. napal dan batulanau. sedikit konglomerat dan batulumpur. Formasi Tuyu (Toty) Terdiri dari napal. Eosen Akhir Formasi Batupasir Haloq (Teh) Terdiri dari batupasir kuarsa. breksi lahar. Formasi Batu Kelau (Tek) Terdiri dari serpih. Formasi Karamuan (Tomk) Terdiri dari batulumpur abu-abu sebagian gampingan dan berfosil.(Persero) CABANG I MALANG dan batupasir berstruktur perairan sejajar dan konvolut. masa dasarnya berupa batupasir kasar mengandung fragmen batubara vitrinit. abu-abu tua. batulanau abu-abu. bersisipan batugamping berfosil.

13. Sutrisno. bersisipan batulempung. Eosen Awal Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari perselingan batupasir kuarsa. batulanau dan batubara. sebagian besar pasir lepas bersisipan lempung. c. batulempung dan batulanau. Perem – Trias Formasi Busang (PTRb) Terdiri dari granit. umumnya termalihkan dan terdaunkan. Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping.Supriatna. umumnya karbonan. jarang batubara. S. lignit dan limonit. setempat konglomeratan. 1714. 3. kerikil. diorit. kerakal dan bongkahan. batulanau dan batubara. granodiorit. Formasi Montalat (Tomm) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -15 . Pliosen – Miosen Formasi Dahor (Tmpd) Terdiri dari batupasir kuarsa. 12. batulumpur konglomerat. batugamping berfosil. batulumpur. bersisipan batugamping dan konglomerat. setempat mengandung kerakal kuarsa. Kapur Akhir Formasi Selangkai (Kse) Terdiri dari serpih. lanau. Holosen Aluvium (Qa) Terdiri dari lumpur. Peta Geologi Regional Lembar Buntok. genes dan kuarsit. lempung. Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa. batuan beku bersifat granit dan batuan metasedimen. gabro.(Persero) CABANG I MALANG - Formasi Batu Ayau (Tea) Terdiri dari batupasir. umumnya karbonan dan gampingan. 4. setempat sisipan batubara dan lignit. pasir. 11. 2. sekis. 1981 Publikasi P3GI 1. umumnya berlapis. batulanau. mengandung foraminifera besar bersisipan batulempung.

Sikumbang dan Heryanto. tersingkap berupa stok Batuan Tak Terperinci (Ksv) Merupakan kumpulan batuan beku bersusunan basa sampai sangat basa dan batuan sedimen endapan laut. tekstur faneritik. Holosen Aluvium (Qha) Terdiri dari kerikil. 7. setempat lignit dan limonit. betulempung kelabu dan batubara. sil dan retas. kelabu muda. batupasir kerikil kurang padu. 3. Miosen Formasi Warukin (Tmw) Terdiri dari batupasir kuarsa berselingan dengan batulempung karbonan dan batubara. kelabu muda sampai kelabu tua. lempung dan lumpur. 6. kerakal dan sedikit lempung. Bagian bawahnya merupakan perselingan antara batupasir kuarsa yang mengandung muskovit dengan batulanau. batulempung lunak. Kapur Granit (Kgr) Terdiri dari granit muskovit. batulempung. d. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari bagian atas merupakan perselingan antara batupasir. Plistosen Formasi Martapura (Qpm) Terdiri dari pasir. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -16 . tersingkap berupa stok. kerikil. 2. Peta Geologi Regional Lembar Banjarmasin. batulanau dan konglomerat. lanau. 5. 4. bersisipan batugamping dan batubara.(Persero) CABANG I MALANG Terdiri dari batupasir kuarsa agak padat. pasir. 1981 Publikasi P3G 1. N. Oligosen – Eosen Basal Kasale (Tkb) Terdiri dari basal. Pliosen Formasi Dahor (QTd) Terdiri dari batupasir kuarsa lepas.

batulanau. Formasi Pitap (Kpb) Terdiri dari batugamping orbitulina Formasi Pitanak (Kpl) Terdiri dari leleran lava dengan breksi konglomerat vulkanik Andesit (Kan) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -17 . Miosen – Oligosen Formasi Berai (Tomb) Terdiri dari batugamping dengan sisipan napal dan batulempung. basal porfir ignimbrit. Formasi Manunggul (Kmp) Terdiri dari breksi dan leleran lava. Eosen Formasi Tanjung (Tet) Terdiri dari batupasir kuarsa. batulempung dan batupasir. Anggota Batununggal. Formasi Paniungan (Kpn) Terdiri dari batulanau. Olistolis Kintap. Formasi Binuang (Tob) Terdiri dari batulempung 6. batulempung dan batubara setempat dijumpai lensa batugamping. 7.(Persero) CABANG I MALANG 5. batumalihan dan mafik-ultramafik. Anggota Paau. Anggota Batukora. Formasi Pudak (Kok) Merupakan batugamping klastika. Formasi Pudak (Kap) Terdiri dari lava dan berselingan dengan konglomerat / breksi volkanik klastik (hialoklastik) dan batupasir kotor volkaniklastik dengan olistolis batugamping. Kapur Akhir Formasi Manunggul (Km) Terdiri dari konglomerat beraneka bahan bersisipan dengan batupasir dan batulempung. Kapur Akhir – Kapur Awal Kelompok Alino Formasi Keramaian (Kak) Terdiri dari perselingan batupasir (vulkarenit) dengan batulanau atau batulempung setempat dijumpai sisipan batugamping konglomeratan. 8. Formasi Pudak (Kab) Terdiri dari andesit piroksin dan vulkaniklastik.

Kedua anak cekungan tersebut di sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Meratus. yang terbentuk akibat penutupan cekungan samudra (Hutchison. Laut. sutura ini sama dengan jalur Serabang dan jalur Lupar. Tinggian Lintang Paternoster Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -18 . 1990) : Batuan alas benua Ofiolit dan batuan sedimen yang berkaitan Busur magmatik yang bersamaan dengan tektonik Cekungan busur muka Cekungan turbidit Cekungan-cekungan daratan Cekungan-cekungan peripheral Batuan terobosan tektonik akhir dan vulkanik regional satuan tektonostratigrafi ini menunjukkan suatu Penyebaran pertemuan (sutura) tektonik lempeng melintasi Borneo yang mengikuti singkapan komplek ofiolit dan bancuh tektonik.Diabas (Mdb) . Cekungan Barito dengan anak-anak cekungan asam-asam dipisahkan oleh Pegunungan Meratus dan dengan Anak Cekungan Pasir oleh Pegunungan Kukusan. 1989. Hinz & Schluter. menunjukkan bahwa penunjaman kearah selatan berhenti ketika benua dari arah utara sampai kearah lajur penunjaman dan akhirnya bertumbukan dengan benua sebelah selatan.Basal (Mba) . Di Kalimantan tengah dan barat. selatan oleh Laut Jawa dan di udara oleh Tinggian Lintang Paternoster. 1080 Bujur Timur) sampai barat laut Kalimantan dan melanjut ke timur ke Kalimatan Tengah dan membelok kearah utara-timurlaut sampai ke bagian tengah Sabah. 1985). Sutura ini berarah tenggara dari Pulau Natuna (40 Lintang Utara.Diorit (Mdi) .(Persero) CABANG I MALANG - Granit (Mgr) Batuan Malihan (Mm) Kelompok Ofiolit .Gabro (Mgb) . Timur oleh Tinggian P.Batuan Ultramafik (Mu) Geologi • • • • • • • • Kalimantan dapat diperikan menjadi 8 (delapan) satuan tektonostratigrafi utama (Pieters dan Supriatna.

terjadi kegiatan magma. Pada zaman Kapur Awal atau mungkin lebih tua. Sesar ini diduga terjadi pada kapur atas. Magma ini menerobos batuan yang dihasilkan pada zaman Jura. Pada formasi ini akan terbentuk suatu paparan yang menyebabkan suatu cekungan yang terdapat di Kalimantan Tengah dan Selatan yang termasuk dalam wilayah studi ini. Batuanbatuan tersebut merupakan alas dari Formasi Pitap. Stuktur geologi yang terbentuk perlipatan pada batuan Pra-Tersier tampaknya lebih kuat dengan sudut kemiringan sekitar 400 dan 700 dan yang terkecil 250 Sumbu antiklin dan sinklin umumnya berarah utara-selatan dengan bentuk tak setangkup dan setempat setangkup. adalah sebagai berikut. Kegiatan tektonik daerah ini diduga telah berlangsung sejak zaman Jura yang menyebabkan bercampurnya batuan ultramafik. batuan bancuh. sesar ini memunculkan batuan bancuh. 2. Lokasi yang diusulkan dalam 1) program perbaikan sumur yang telah ada dan sumur bor baru.3. Berdasarkan fisiografi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menunjukkan pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan cekungan di Kalimantan Tengah. batuan malihan dan rijang radiolaria. sudut kemiringan sekitar 450 kearah barat. Sesar turun berarah hampir utara-selatan. sehingga batuan tua tersesarkan ke atas Formasi Pitap. Kadar Fe dan pH di luar ambang batas baku mutu air minum yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan. umurnya diduga setelah Miosen. hal ini didasarkan kepada umur granit yang terdapat di Lembar Amuntai yang berumur 115 juta tahun. Sesar naik berarah timurlaut-baratdaya searah dengan sumbu lipatan.(Persero) CABANG I MALANG disebut juga Tinggian Lintang Barito Kutai atau Adang Flexture atau Sesar Adang yang memisahkan kedua anak cekungan tersebut dari Cekungan Kutai. 2) program pengembangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -19 .2 Kondisi Hidrogeologi Sumberdaya air tanah terdiri atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Sesar naik yang lebih muda mengakibatkan tersesarkannya Formasi Pitap keatas Formasi Pamaluan. Potensi air tanah sedang sampai tinggi (> 10 liter/detik) dengan kualitas cukup baik. Pada Kenozoikum sampai Mesozoikum menjadikan cekungan ini terbentuk suatu paparan. bagian timur relatif naik dari bagian barat. air tanah dangkal potensinya sangat besar dan khususnya pada wilayah fisiografi dataran rendah tepi pantai airnya payau atau asin.

78 1.75 1.60 2.50 1.80 1.75 1.20 1.20 1.75 1.50 2.50 1.00 3.10 1.00 2.90 3.60 2.50 2.80 1.75 2.3 Lokasi Sumur Bor Yang Memerlukan Perbaikan NO (1) 1 TA (2) 1996 / 1997 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 1997 / 1998 2 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 1998 / 1999 3 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 1999 / 2000 4 5 2001 2002 2002 2002 6 2003 2003 2003 2003 2003 L O K A S I DESA (3) Dadahup A-4 dan C-3 Unit Maliku Kiri (P.00 2.60 1.70 3.45 2.20 1.00 1.85 2.V) Unit Maliku Kanan (P.50 1.95 1.60 2.00 2.60 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.60 1.85 2. 38 Sumber Makmur Katingan I Respen pelangsian Sumber Makmur Meranti jaya / Bunut Subur Indah Jaya Makmur Bangun Jaya Kampung Baru Setia Mulia Singam Raya Dadahup A-1 dan A-2 Lamunti A-2 Bapanggang Pelangsian I Lamunti B-2 dan A-1 Dadahup G-1 Muka Istana Gubernur Lupak Dalam Warna Sari Samuda Luwuk Bunter Kartika Bhakti Kuala Pembuang I Tumbang Koling Kumpai Batu Atas Pasir Panjang Marga Mulya Palangka Raya Kapuas Kuala Kapuas Kuala Mentaya Baru Cempaga Seruyan Arut Selatan Arut Selatan Kumai KEC (4) Kapuas Murung Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Mentaya Baru Ketapang perengean perengean perengean Kumai Arut Selatan Arut Selatan Bukit Batu Bukit Batu Katingan Kuala Mantawa Baru Bagendang Bagendang Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Kapuas Murung Mantangai Mentawa Baru / ketapang Kapuas Murung KAB / KOTA (5) Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kobar Kobar Kobar Palangka Raya Palangka Raya Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kotim Kapuas Kapuas Kotim Kotim Kapuas Kapuas Palangka Raya Kapuas Kapuas Kotawaringin Timur Kotawaringin Timur Seruyan Seruyan Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Kotawaringin Barat Q pompa ( Lt / Det ) (6) 1.82 2. Km.15 1.75 175 174 176 175 175 200 200 250 250 250 250 250 250 250 250 250 250 249 250 250 250 250 Payau Tawar Digunakan Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KWALITAS AIR (8) Payau Payau Payau Tawar Tawar Tawar Tawar Tawar Payau Payau Pengg Ms KEMARAU (9) Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan KET (10) 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 2 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1 Titik 1Titik 1Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -20 .75 1.82 0.50 2.10 0.62 Dlm smr (m) (7) 150 150 150 150 175 175 175 175 176 174 174 150 150 1.50 1.00 1.VI) Unit Desa Pangkoh Samuda Pelangsian Karang Tunggal Mekar Jaya Karang Sari Pangkalan Tiga Kumpai Batu Bawah Sei Rangit Trans.70 2.80 2.56 2.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Mandiri Dan Adil ” (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Dalam rangka mewujudkan visi pembangunan daerah maka dirumuskan misi pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai berikut : • Mempercepat kecukupan sarana dan prasarana umum secara integratif dan komprehensif dalam rangka peningkatan daya dukung terhadap pembangunan daerah.70 2. Misi dan Strategi Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2025) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Kalimantan Tengah Yang Maju.1 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah Visi.90 0.00 1.85 0.4 KEBIJAKAN DAERAH 2.4.VII) Katingan II Kapuas Kuala Kapuas Kuala Kapuas Kuala Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Katingan Kuala KEC KAB / KOTA Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kotim DEBIT POMPA ( Lt / Det ) 2.IV) Unit Balanti II (P. agribisnis perikanan. khususnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -21 . yang perkebunan.80 DALAM SUMUR (M) KWALITAS AIR PENGGUNAAN PADA MUSIM KEMARAU Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan Perlu Perbaikan KET 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 1 Titik 4 Titik 2.00 0. • Mewujudkan kehutanan pertanian.00 2. untuk peternakan.80 1. pengembangan berorientasi agroindustri dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.VI) Unit Balanti I (P.75 1. • Mempercepat kuantitas dan kualitas penenman modal dalam rangka peningkatan agglomerasi ekonomi dan daya saing daerah.50 0.4 Lokasi Sumur Bor Yang Belum Dimanfaatkan NO 1 TA 1993 / 1994 1993 / 1994 1993 / 1994 2 1994 / 1995 1994 / 1995 1994 / 1995 3 1995 / 1996 1995 / 1996 1995 / 1996 4 1996 / 1997 1996 / 1997 1996 / 1997 1999 / 2000 L O K A S I DESA Paduran I Paduran II Paduran III Tamban Lupak A3 Tamban Lupak A4 Tamban Lupak A7 Talio (Pangkoh I) Pangkoh (Pangkoh II) Kantan (Pangkoh III) Unit Tahai (P.50 1. • Meningkatkan akselerasi perkembangan koperasi dan UKM serta dunia usaha yang saling terkait antar usaha dan antar daerah.00 1.

kreatif. • Mewujudkan kualitas ketenagakerjaan. • Mengoptimalkan produktifitas pemanfaatan dan pengendalian ruang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olahraga di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. profesional dan responsif dalam rangka percepatan pembangunan daerah. cerdas. • Membangun dan mengembangkan budaya pembelajaran yang mendidik secara merata dan adil pada semua jenis. Visi. • Mewujudkan kemitraan yang sistematis antara pemerintah daerah dan masyarakat serta penguatan partisipasi kelompok-kelompok masyarakat bagi pencegahan masalah peningkatan dan peningkatan kemasyarakatan kependudukan kecepatan secara dan penanggulangan berkesinambungan. jalur dan jenjang pendidikan untuk menciptakan masyarakat yang beriman. bertakwa. dan inovatif serta memiliki daya saing yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Misi dan Strategi Jangka Menengah Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (2006 – 2010) (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah ” Membuka Isolasi Menuju Kaliamantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat ” sosial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -22 . • Mewujudkan ketentraman dan ketertiban umum yang berbasis pada pemberdayaan modal sosial masyarakat serta meningkatkan rasa percaya dan harmonisasi pada kelompok masyarakat demi kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. • Mewujudkan pemerintah yang bersih. • Mewujudkan masyarakat berparadigma sehat untuk mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan.(Persero) CABANG I MALANG yang berbasis potensi dan keunggulan daerah yang saling terkait antar usaha dan antar daerah. • Mewujudkan fungsi sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi.

antar Kabupaten. c. Keamanan dan Hak Asasi Manusia Penegakan supermasi hukum yang berkeadilan termasuk pertanahan dan pendayagunaan dan aparat keamanan masyarakat dalam serta menciptakan perlindungan ketentraman f. perkebunan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -23 . Kesehatan dan Keluarga Berencana Peningkatan kemampuan pelayanan pendidikan. keadilan. kedamaian secara terencana dan terpadu. dan partisipasi yang berbasis multikultural. Hukum. Pemerintahan Peningkatan tanggungjawab daya tanggap pemerintah dalam perluasan dan peningkatan kualitas pelayanan publik kepada seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok wilayah dalam kerangka menciptakan effective goverment. baik dari dalam maupun luar negeri. antar desa terisolir dan antar sentra-sentra produksi di sektor/sub kehutanan. yang merata. terhadap Hak Asasi Manusia. e. pelabuhan laut dan sungai baik antar provinsi. good goverment dan bebas KKN. pertambangan. antar Kecamatan. secara berkesinambungan beserta sarana dan prasarananya. Ekonomi Peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal. Infrastruktur Pembangunan dan pemeliharaan jalan. Politik Pembangunan kehidupan politik yang berkelanjutan dengan dasar toleransi.(Persero) CABANG I MALANG (2) Arah Kebijakan Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah Kebijakan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Kaliamantan Tengah selama periode 2006 – 2010 diprioritaskan pada bidang : a. kesehatan keluarga berencana d. jembatan. dan peternakan perikanan/kelautan. Pendidikan. pelabuhan udara. pertanian. berkelanjutan serta mendorong investasi. b.

sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan serta mengoptimalkan produktivitas pemanfaatan dan pengendalian tata ruang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. k. l. Telekomunikasi yang mana pelayanan telekomunikasi harus ditingkatkan untuk menjangkau daerah-daerah baik di Kabupaten/Kota maupun di Kecamatan-kecamatan. Kepemudaan. ras maupun golongan dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk dalam kerangka dan semangat serta sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia h. Mewujudkan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi.(Persero) CABANG I MALANG g. Pramuka dan Keolahragaan Meningkatkan dan pemberdayaan peranan generasi muda dalam pembangunan. toleransi kultural dan kerukunan antar agama. i. Perhubungan dan Telekomunikasi Perhubungan yang dititik beratkan pada peningkatan fasilitas bandara udara. Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan Titik berat pembangunan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia Kalimantan Tengah yang handal dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -24 . Begitu pula dengan pelabuhan laut. pembelajaran. pelabuhan ferry dan pelabuhan sungai lainnya perlu distingkatkan fasilitasnya. baik yang berada di Kota Palangkaraya maupun Kabupaten-kabupaten lainnya. serta meningkatkan prestasi. partisipasi. Kepariwisataan Terwujudnya daya saing pariwisata dengan peningkatan pengembangan pemasaran pariwisata j. Sumber Daya Alam. Seni Budaya dan Agama Memperkuat keterbukaan. suku. menguatkan sarana dan prasarana kepramukaan seperti Bumi Perkemahan di masing-masing Kabupaten/Kota. profesionalme dan kualitas manajemen organisasi keolahragaan dalam mendukung pembangunan dan prestasi olahraga di Kalimantan Tengah. Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Pembangunan Kalimantan Tengah yang sangat strategis harus berwawasan lingkungan.

Dana Perimbangan dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah Provinsi Kalimantan Tengah 2. Dalam kajian ini sektor yang terkait dengan rencana pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah sektor perikanan. Permukiman dan prasarana wilayah) Pemantapan Pertanian. Perikanan. Peternakan. Peningkatan patisipasi pemerintah kabupaten/kota pelaku bisnis lokal. Peningkatan efektifitas dan efisiensi Belanja Daerah untuk Pembangunan Daerah dan pelayanan publik. Peningkatan pengelolaan Pembiayaan Daerah secara efektif dan efisiensi untuk penerimaan dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. seperti di bidang legislatif. 4. pertanian tanaman pangan. Pertambangan dan Energi (kelistrikan. No. pertambangan dan energi. Pengarus utamaan gender diartikan bahwa peran serta perempuan disejajarkan dengan lakilaki diberbagai aspek bidang. (3) Kebijakan Keuangan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah 1. kehutanan.(Persero) CABANG I MALANG dapat bersaing di era globalisasi. nasional dan internasional serta masyarakat dalam pembiayaan pembangunan daerah Provinsi kalimantan Tengah. Perkebunan. Kehutanan Perikanan. dan peternakan.4. ASPEK KAJIAN 1 Konservasi Sub aspek Pengelolaan Kualitas Air 2 Pengelolaan SDA SEKTOR /DINAS PELAKSANA Perkebunan. bidang eksekutif dan di masyarakat.2 Hubungan Rencana Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas dengan Strategi Pembangunan Provinsi Kalimantan Selatan (1) Visi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -25 . perkebunan. Bappedalda Pertanian. 3. Peternakan. Optimalisasi Peningkatan Pendapatan Daerah. Pertambangan dan Energi. Permukiman dan prasarana wilayah 3 Sub aspek Institusi Pengendalian Daya Rusak Semua sektor Air 2.

disertai struktur yang berimbang. berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis dan berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. sangat dibutuhkan untuk terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnya dari sumberdaya alam dan sumberdaya buatan bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pembangunan di Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. pengendali dan pengawas pembangunan. pelaksana. c/ Pengembangan sosial budaya. tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil. dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi b/ Penguatan ketahanan ekonomi rakyat. serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan. tertera program strategis yang menjadi program prioritas pembangunan daerah Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005 adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -26 . e/ Pengelolaan sumber daya alam (SDA). yang mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. serta ekonomi rumah tangga. dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah. untuk meningkatan kesejahteraan rakyat yang merata.(Persero) CABANG I MALANG Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melalui pembangunan berkelanjutan yang adil. (2) Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan. berisi sasaran pembangunan daerah sebagai berikut : a/ Peningkatan status ekonomi wilayah. sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. Bab II mengenai Prioritas Pembangunan Daerah. sumberdaya buatan (SDB) dan lingkungan hidup. dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah. transparan. efisien. butir B. Di dalam Program pembangunan daerah (PROPEDA) Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2001 – 2005. Program Prioritas. d/ Peningkatan mutu sumber daya manusia. keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana. teknologi.

Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. dan mampu bersaing. 4. disertai struktur yang berimbang dan dinamis diantara sektor-sektor ekonomi. kreatif. 3. dalam lingkup usaha ekonomi masyarakat golongan ekonomi bawah dan menengah dan usaha ekonomi rumah tangga. a. b. teknobio. sehat. Penguatan Ketahanan Ekonomi Rakyat Penguatan ketahanan ekonomi rakyat mengandung arti pemberdayaan ekonomi rakyat. transparan. efisien untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merata. Pengembangan Sosial Budaya Pengembangan sosial budaya sangat dibutuhkan untuk proses menuju masyarakat industri. dan informatika yang memerlukan modernisasi secara cepat dan terarah.(Persero) CABANG I MALANG 1. Misi Pembangunan Daerah Peningkatan Status Ekonomi Wilayah Peningkatan status ekonomi wilayah tercermin dari pertumbuhan ekonomi wilayah yang pesat dan stabil. pelaksana. Pembangunan Sumberdaya Manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai MITAQ. berkeadilan dalam tatanan masyarakat yang demokratis yang berbudaya tinggi yang bernafaskan keagamaan. Pengembangan Infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya. Peningkatan Mutu Sumberdaya Manusia Keberhasilan mewujudkan visi pada akhirnya sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia dalam fungsinya sebagai perencana. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -27 . Visi Pembangunan Daerah Mewujudkan Provinsi Kalimantan Selatan yang sejajar dengan daerah maju lainnya melaui pembangunan berkelanjutan yang adil. Implementasi Otonomi Daerah untuk Memantapkan Pelaksanaan Undang-undang Otonomi Daerah dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Daerah. 2.

buatan dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk menuju terwujudnya pencapaian manfaat yang sebesar-besarnyadari kesejahteraan sumberdaya dan alam dan buatan bagi di masyarakat peningkatan pembangunan Kalimantan Selatan secara berkelanjutan dan lestari. Pembangunan sumberdaya manusia yang menguasai IPTEK dan mempunyai IMTAQ. Pembangunan infrastruktur yang menunjang pembangunan ekonomi dan sosial budaya. a. sehat kreatif dan mampu bersaing. serta sebagai pengguna dan pemelihara hasil-hasil pembangunan. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi kerakyatan sehingga terbentuknya ketahanan ekonomi daerah dan meningkatnya pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat. Peningkatan pelayanan publik guna memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mengakses berbagai fasilitas umum dalam suasana yang transparan dan kondusif menuju terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean governance). Pengelolaan Sumberdaya Alam. Sumberdaya Buatan dan Lingkungan Hidup Pengelolaan sumberdaya alam. b. Prioritas Pembangunan Daerah Implementasi Otonomi Daerah untuk memantapkan pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah dalam upaya mewujudkan kemandirian daerah. Program-program bidang industri yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program pengembangan industri berbasis pertanian dan pertambangan. Pembangunan Ekonomi Industri Pembangunan industri merupakan upaya untuk menciptakan struktur perekonomian daerah yang semakin berimbang antara sektor industri dan sektor pertanian.(Persero) CABANG I MALANG pengendali dan pengawas pembangunan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -28 .

(Persero) CABANG I MALANG

Tanaman Pangan dan Holtikultura Pertanian merupakan penunjang pertumbuhan sektor ekonomi lainnya serta diharapkan dapat berperan dalam mendorong pemerataan, pertumbuhan, dan dinamika ekonomi daerah secara umum. Program-program bidang tanaman pangan dan holtikultura yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Peternakan Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam arti luas, serta merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Program-program bidang peternakan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Perkebunan Potensi seluas lahan yang tersedia ha, untuk perkembangan perkebunan berdasarkan RTRWP Kalimantan Selatan Tahun 2000 meliputi areal 1.086.123,25 sementara penggunaannya(efektif pertanaman) baru sekitar 367.919,15 ha (33.87%). Program-program bidang perkebunan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra agribisnis terpadu. Kehutanan Pembangunan kehutanan diadakan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dengan menjaga kelestarian dan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -29

(Persero) CABANG I MALANG

kelangsungan fungsi hutannya. Disadari bahwa sub sektor kehutanan merupakan salah satu penyelamat perekonomian nasional, oleh karena itu bidang usaha kehutanan perlu semakin dikembangkan untuk mendukung pembangunan sektor industri dimasa yang akan datang. Program-program bidang kehutanan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain: Program peningkatan produksi kehutanan; Program pengembangan agribisnis; Program pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan; Program reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis; Program perlindungan hutan dan konservasi lahan.

Perikanan dan Kelautan Pembangunan perikanan dan kelautan di Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang mempunyai nilai strategis dan sangat prospektif. Hal ini mengingat kecenderungan semakin meningkatnya permintaan dunia usaha akan produk perikanan, sehingga peluang usaha dibidang perikanan dan kelautan sangat terbuka lebar. Program-program bidang perikanan dan kelautan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain : Program peningkatan ketahanan pangan; Program pengembangan aquabisnis; Program pengembangan kawasan sentra produksi/sentra aquabisnis terpadu. Pertambangan Pembangunan sektor pertambangan di Kalimantan Selatan diarahkan untuk memanfaatkan sumberdaya alam tambang secara maksimal dan optimal bagi pembangunan daerah dan kemakmuran masyarakat dengan tetap menjaga fungsi lingkungan hidup, meningkatkan penerimaan daerah/negara, serta memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Program-program bidang pertambangan yang mendukung pembangunan ekonomi antara lain:

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -30

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program peningkatan produksi dan pengelolaan bahan tambang; Program penataan kawasan/area pengelolaan pertambangan; Program perencanaan, inventarisasi, pembinaan, pengendalian dan pengawasan sumberdaya tambang.

c. Pembangunan Daerah Pembangunan Derah Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan a) Program Penataan Ruang Program ini bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan kegiatan perencanaan tata ruang yang efektif, transparan dan partisifatif; mengembangkan penyelenggaraan kegiatan pemanfaatan ruang yang tertib berdasarkan rencana tata ruang; meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan pembangunan secara berkelanjutan. b) Program Pengelolaan Pertanahan Program ini ditujukan untuk mewujudkan sistem penguasaan tanah yang adil dan terselenggaranya pelayanan administrasi pertanahan yang baik. Mempercepat Pengembangan Wilayah a) Program Pemantapan Sistem Wilayah Pembangunan Program ini ditujukan untuk menyeimbangkan dan menserasikan pembangunan antar wilayah pembangunan, sehingga ketiga Wilayah Pengembangan (WP), yaitu WP Kayu Tangi, WP Tanah Bumbu, dan WP Banua Lima dapat berkembang selaras dan serasi tanpa ketimpangan. b) Program Pemantapan Fungsi Kota Program ini ditujukan untuk menciptakan kesatuan ekonomi wilayah yang tangguh dengan mewujudkan pemerataan dan penjalaran perkembangan pembangunan antara kabupaten/kota. c) Program Pengembangan Perdesaan Program ini ditujukan untuk mengidentifikasikan kawasan perdesaan yang potensial dikembangkan, sehingga dapat meningkatkan peran dan fungsi pusat kawasan perdesaan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -31

(Persero) CABANG I MALANG

sebagai kawasan produksi untuk mendukung pengembangan agroindustri dan agribisnis. Mempercepat Pengembangan Kawasan Tertentu a) Program Pengembangan Kawasan Andalan Program ini ditujukan Daerah daerah untuk Provinsi melalui meningkatkan dalam kemampuan melaksanakan wilayah; Pemerintah pembangunan

pengembangan

menyiapkan rencana program pembangunan kawasan prioritas terpilih yang akan dikembangkan oleh masing-masing daerah; serta identifikasi program pengembangan kawasan yang akan menjadi tanggung jawab pemerintah dan dunia usaha dalam satu kesatuan paket pertumbuhan ekonomi wilayah. b) Program Program Pengelolaan ini ditujukan percepatan daerah dan Kawasan untuk Pengembangan meingkatkan Ekonomi dan agar Terpadu (KAPET) peran kemampuan Pemerintah Daerah dalam pembangunan KAPET; mendorong pembangunan pengelolaan regional; KAPET serta operasionalisasinya dapat berjalan sesuai dengan tuntutan menunjang berjalannya mekanisme pelaksanaan program pengembangan KAPET yang sesuai dengan arah dan tujuan pembangunan daerah dan nasional. c) Program Pengembangan Kawasan Sentra Produksi/Agribisnis (KSP/A) Program ini ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan produk komoditasunggulan di kawasan sentra produksi; mewujudkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara optimal terutama penggunaan lahan yang ada dengan membentuk sentra-sentra pengembangan komoditas, guna mendapatkan efisiensi dan efektifitas yang diikuti alokasi sarana dan prasarana yang diperlukan; serta mengembangkan komoditas pangan dalam skala besar guna mendorong peningkatan sektor agoindustri dan agribisnis.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -32

(Persero) CABANG I MALANG

d) Program Pengelolaan Pembangunan Wilayah Terpadu (PPWT) Program ini ditujukan melalui upaya-upaya pembangunan yang diarahkan untuk pemerataan, keserasian dan percepatan pembangunan dengan mengembangkan potensi-potensi dan atau memecahkan masalah-masalah sosial budaya, ekonomi, fisik dan lingkungan hidup WKP (Wilayah Konsentrasi Pengembangan) melalui keterpaduan tujuan, sasaran lokasi, waktu, pembiayaan, kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan/pengendalian dan evaluasi dalam suatu siklus pengelolaan pembangunan dengan memberikan peran paling besar pada Pemerintah Daerah, lembaga sosial kemasyarakatan, dunia usaha, setempat. e) Program Pengembangan Kawasan Tertinggal Program ini ditujukan untuk mengidentifikasi permasalahan/faktor penyebab ketertinggalan kawasan yang meliputi letak geografis kawasan, sumberdaya alam, faktorfaktor yang kemasyarakatan, nantinya akan yang serta ketersediaan untuk sarana dan prasarana, dan menyediakan informasi kawasan tertinggal dipergunakan sesuai merumuskan dengan program/proyek kebutuhan koperasi dan masyarakat

memperlihatkan kapasitas sosial ekonomi masyarakat di kawasan tertinggal tersebut. f) Program Pengembangan Kawasan Banjarmasin Raya Program pengembangan kawasan Banjarmasin Raya adalah program pengembangan kawasan perkotaan yang meliputi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten barito Kuala dimana dalam pembangunannya terintegrasi secara terpadu diantara keempat Pemerintah Daerah. Transmigrasi Program Pengembangan Kawasan Transmigrasi dan Mobilitas Penduduk Program Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -33

(Persero) CABANG I MALANG

d. Pembangunan Sumberdaya dan Lingkungan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Program Pengembangan ini ditujukan Informasi untuk Sumberdaya Alam dan mutu, Lingkungan Hidup meningkatkan jumlah, informasi dan data dasar sumberdaya alam dan lingkungan hidup, mengetahui daya dukung dan menjamin persediaan sumberdaya alam berkelanjutan di daerah. Program Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Program Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Program Pengendalian Pencemaran dan Pemulihan Kualitas Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk mengurangi kemerosotan mutu lingkungan hidup perairan, tanah, dan udara yang disebabkan oleh semakinmeningkatnya aktivitas pembangunan daerah. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Sumberdaya Buatan (Sub Sektor Pengairan) Program Pengembangan dan Pengelolaan Pengairan Program ini bertujuan untuk menunjang tercapainya peningkatan ketahanan pangan daerah maupun nasional. Program Penyediaan dan Pengembangan Air Baku Untuk Masyarakat dan Industri Program ini bertujuan untuk menyediakan air baku dalam rangka memenuhi kebutuhan permukiman, perkotaan, industri dan non pertanian lainnya dengan meningkatkan efektivitas dan produktivitas pengelolaan jaringan pengairan serta meningkatkan penyediaan air untuk permukiman, perkotaan dan industri untuk memenuhi hajat hidup masyarakat baik di daerah perkotaan maupun perdesaan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -34

(Persero) CABANG I MALANG

-

Program Pengendalian Banjir Program ini bertujuan untuk mempertahankan sarana/prasarana pengairan, pertanian, transportasi dan permukiman. Program Pengembangan dan Pengelolaan Sungai, Danau dan Sumberdaya Air Lainnya Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan dan produktivitas sumber-sumber air dengan mewujudkan keterpaduan pengelolaan yang menjamin kemampuan keterbaharuannya serta pengaturan kembali berbagai kelembagaan dan peraturan perundang-undangan.

-

Nasional

DEW AN SDA NASIONAL KEBIJAKAN NASIONAL SDA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Nasional Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Departem en PU -SitJen SDA -Dit.Bina Program -Planning Unit Pusat

Provinsi DEW AN SDA PROVINSI -Kantor Gubernur -Dinas PSDA -Balai PSDA -Planning Unit Prov KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA PROVINSI DEW AN SDA W S

Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai

W S Provinsi

Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

Kab/Kota

DEW AN SDA KAB / KOTA KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA KAB/KOTA DEW AN SDA W S Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai W S Kab/Kota Rencana Pola Pengelolaan SDA W ilayah Sungai - Rencana Induk (Master Plan) W S - Feasibility Study - Program Perngelolaan SDA W S - Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA W S

-Kantor Bupati/W alokota -Dinas PSDA -Balai PSDA

Gambar 2.3

Struktur Kebijakan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -35

(Persero) CABANG I MALANG

2.5

KONDISI TATA GUNA LAHAN

2.5.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Perda Provinsi Kalimantan Tengah No. 8 Tahun 2003 1. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya a) Kawasan Hutan Lindung tersebar di Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, dan Kapuas. b) Kawasan Hutan Lindung Gambut tersebar di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan. c) Kawasan Resapan Air, tersebar di semua kabupaten. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan Sempadan Pantai yang meliputi daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai yaitu 100-200 meter dari titik pasang tertinggi kea rah darat dan 400 meter untuk pantai berhutan bakau. b) Kawasan Sempadan Sungai yang meliputi kawasan selebar 100 meter di kiri kanan, 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada diluar permukiman, 10-15 meter di kiri kanan saluran kanal (anjir) serta saluran irigasi untuk dibangun jalan inspeksi. c) Kawasan sekitar danau/waduk meliputi daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan fisik fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. d) Kawasan Sekitar Mata Air yang meliputi kawasan sekurangkurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. e) Kawasan Sekitar Riam meliputi daerah riam dalam badan sungai dengan aliran air yang deras dan berbatu. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya 1. Cagar Alam Pararawen I dan Pararawen II terletak di Kabupaten Barito Utara. 2. Cagar Alam Bukit Sapat Hawung di Kabupaten Murung Raya.

a) Kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -36

(Persero) CABANG I MALANG

3. Cagar Alam Air Terjun Molau Besar di Kabupaten Barito Utara. 4. Cagar Alam Bukit Bakatip di Kabupaten Murung Raya. b) Taman Nasional dan Taman Wisata Alam 1. Taman Wisata Air Terjun Poran di Kabupaten Barito Utara. 2. Taman Wisata Liang Saragih di Kabupaten Barito Timur. 2. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas terletak menyebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap terletak menyebar di seluruh kabupaten. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah tersebar di seluruh kabupaten. b) Kawasan Pertanian Lahan Kering tersebar di seluruh kabupaten. c) Kawasan Pertambakan terletak di Kabupaten Kapuas. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan Emas terletak di seluruh kabupaten. b) Pertambangan Batubara terletak di seluruh kabupaten. c) Pertambangan Granit terletak di seluruh kabupaten. d) Pertambangan Pasir terletak di seluruh kabupaten. e) Pertambangan Batu Permata terletak di seluruh kabupaten. f) Pertambangan Minyak Bumi yang terletak di Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Kapuas. Kawasan Industri diprioritaskan pengembangannya pada Kota Puruk Cahu, Muara Teweh, Buntok, Tamiyang Layang, dan Kuala Kapuas. Kawasan Pariwisata mencakup kawasan yang memiliki potensi besar untuk keperluan pariwisata di semua kabupaten. Kawasan Permukiman tersebar merata di seluruh kabupaten.

Tabel rekapitulasinya adalah sebagai berikut.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -37

167 113.261 1.2 6.2 1.64 24.2 0. Hutan Pendidikan dan Penelitian 9. Konservasi di Eks Kawasan PLG 8. Tumbang Sangai. Timpah. Cagar Budaya 9.798. Lampeong. Hutan Lindung 4. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 2. Muara Teweh. Pelantaran.7 0. Kota Sampit. Ampah. Kawasan Khusus JUMLAH II JUMLAH I + II 3. Kasongan.894.260. Palingkau. Sukamara. Bahaur.58 0. Tamiyang Layang dan Pegatan Orde III : Kota Kotawaringin Lama.008 2. Suaka Margasatwa (SK ada) 6.033 15. Areal Transmigrasi (T1) 7. Taman Wisata (SK ada) 5. Kandui. Dadahup - Kebijaksanaan Pengembangan a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -38 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Hutan Produksi Tetap (HPP) 3.608.6 10. Hutan Tanaman Industri (HTI) 4. Taman Nasional (SK ada) 2.585.8 0.96 3. Arboretum dan Tahura (SK ada) 7.53 678 606 10. Sistem Pusat-Pusat Permukiman Orde I Orde II Hirarki Kota-Kota : : Kota Palangkaraya.11 1. Provinsi Kalimantan Tengah NO I PEMANFAATAN LAHAN LUAS ALOKASI (HA) 525.392 281.933 76. Kuala Kurun.164 16 21 22. Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) 10.3 3.04 0. Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) 5.06 0.576.202.527 8. Tumbang Samba. Pangkut.63 514.266 3. Cagar Alam (SK ada) 3. Kota Pangkalan Bun Kota Buntok. Samuda. Kudangan. Puruk Cahu.32 84 100 Kawasan Lindung 1. Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain (KPPL) 6. Pulang Pisau.477 416. Tumbang Jutuh.5 Rencana Penggunaan Lahan Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya.2 408.927 1.029.071 13.789 2.460 3.435 35.299 PERSENTASE (%) 3.67 2. Bawan. Kota Kuala Kapuas.222.16 6. Danau JUMLAH I II Kawasan Budidaya 1. Rencana Areal Transmigrasi (T2) 8.48 0.008 0. Tumbang Senamang.

kota industri. serta Kecamatan Pandih Batu dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -39 . dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas). Tumbang Sangai. Pangkut. kota pelabuhan.(Persero) CABANG I MALANG 1. Kandui. Tumbang Senamang. Bawan. Perkebunan. terisolir. Pulang Pisau. Muara Teweh. agropolitan. kota pelabuhan laut. Kasongan. Tumbang Samba. Basarang. Palingkau. dan terbelakang. pusat pendidikan. Bahaur. kota kebudayaan. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri. Arahan Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan perdesaan terpencil. Kota Kuala Kapuas berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. pusat perdagangan dan jasa. Tamiyang Layang dan Pegatan. Samuda. meliputi Kecamatan Selat. Kudangan. Sukamara. Lampeong. pusat perdagangan dan jasa. Timpah. pusat perdagangan dan jasa. Kota Palangka Raya berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi. 2. 4. Kuala Kurun. c) Kota-kota kecamatan yang direncanakan untuk didorong pertumbuhannya dan perkembangannya menjadi kota Orde III adalah Kota Kotawaringin Lama. 4. kota industri. Tumbang Jutuh. Ampah. Puruk Cahu. Kota Pangkalan Bun berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. pusat perdagangan dan jasa. Kawasan perdesaan Kawasan di wilayah perbatasan dengan Kalimantan Barat. kota industri. b) Pengembangan Kota Orde II yang mempunyai skala pelayanan subregional atau kota-kota yang terletak disepanjang jalan kolektor primer-1 (K-1) serta mempunyai potensi cepat tumbuh. Pelantaran. yaitu Kota Buntok. Perikanan. kota pelabuhan laut. Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Dadahup. Kota Sampit berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten. 3. a) KSP Kapuas.

Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan. kelapa. Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. pisang. dan ikan perairan umum. meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. nenas. Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito). pisang. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). lada. ayam buras dan ikan kolam. rambutan. d) KSP Buntok. Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. sapi. Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. h) KSP Benangis. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). g) KSP Puruk Cahu. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -40 . c) KSP Muara Teweh. dan ayam buras. Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya. meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi.(Persero) CABANG I MALANG Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa. jagung. rambutan. kelapa dan ubi kayu. ayam buras. lada dan ayam buras. f) KSP Tamiyang Layang. b) KSP Ampah. Kawasan KAPET DAS KAKAB . e) KSP Kandui. kedelai.

d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III.016 6.6 Luas Kapet DAS KAKAP NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1. Mempertimbangkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.071 1.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I. PPSP II dan III umumnya berada di lokasi hutan produksi terbatas (HPT) dan hutan produksi tetap (HPP). Tabel 2. menurut RTRWP Kalimantan Tengah.128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2.099 1.829 27.065 1. khususnya Surat Gubernur KDH. dan kawasan konservasi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -41 .673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan.956 2.683 949 4. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang. terutama komoditi unggulan hanya bias diarahkan pada sentra produksi pada saat sekarang dan PPSP I yang alokasinya diperuntukkan bagi KPP (Kawasan Pengembangan Produksi) dan KPPL (Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain). Tanggal 14 Maret 1995.329 629 785 1.650 km2).(Persero) CABANG I MALANG wilayah mencapai 2. maka pengembangan pertanian.767. Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor 650/3654/IV/Bapp. dan menurut analisa dampak lingkungan pada PLG 1 juta hektar.

Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya a) Cagar Alam. 9 Tahun 2000 1. HSS. HST. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -42 . Suaka Margasatwa Pelaihari yang terletak di Kabupaten Tanah Laut. Cagar Alam Pulau Kaget yang terletak di Kabupaten Barito Kuala. meliputi: 1. Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya mencakup seluruh kawasan hutan lindung. Cagar Alam Gunung Ketawan di Kabupaten HSS. c) Kawasan Pantai Berhutan Bakau. d) Kawasan sekitar mata air yang terletak menyebar di Kalimantan Selatan dan memiliki kawasan sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Perda Provinsi Kalimantan Selatan No. b) Suaka Margasatwa. b) Kawasan sempadan sungai yang memiliki kawasan selebar 100 meter di kiri-kanan sungai-sungai besar dan didalam permukiman dapat membangun selebar jalan inspeksi.(Persero) CABANG I MALANG 2. 2. Kawasan Pesisir Berhutan Bakau di kabupaten Kotabaru. dan HSU yang meliputi seluruh areal atau dataran sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. meliputi: 1. meliputi: 1. Tanah Laut dan Kotabaru yang lebarnya proporsional dengan bentuk kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah daratan. Sebagian besar kawasan hutan lindung di Provinsi Kalimantan Selatan berada di Pegunungan Meratus. c) Kawasan sekitar danau/waduk yang terletak di Kabupaten Banjar. Kawasan Perlindungan Setempat a) Kawasan sempadan pantai yang meliputi dataran sepanjang tepian pantai yang meliputi Kabupaten Barito Kuala. Tanah Laut. dan Barito Kuala.5.

HSS. HST. Tapin. HSU. HST. Taman Wisata Alam Batakan di Kabupaten Tanah Laut. HST. HSS. Banjarbaru. Tanah Laut. c) Kawasan Hutan Produksi Konversi yang terletak di Kabupaten Banjar. HSU. HSU. HST. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Barito Kuala. Tanah Laut. 2. Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Kabupaten Tanah Laut. HSU. Kawasan Budidaya Kawasan Hutan Produksi a) Kawasan Hutan Produksi Terbatas yang terletak di Kabupaten Banjar. Tanah Laut. Tapin. b) Kawasan Hutan Produksi Tetap yang terletak di Kabupaten Banjar. d) Taman Wisata Alam. HST. 3. Tabalong. Tapin. Tabalong. Taman Wisata Alam Pulau Kembang yang terletak di Kabupaten Barito Kuala. 3. b) Kawasan Pertanian Lahan Kering terletak di Kabupaten Banjar. HSU. HST. Tapin. meliputi: 1. d) Pengembangan Peternakan di Kabupaten Barito Kuala. Tabalong. c) Kawasan Tanaman Tahunan/Perkebunan terletak di Kabupaten Barito Kuala. Kawasan Pertanian a) Kawasan Pertanian Lahan Basah terletak di Kabupaten Barito Kuala. HSU. 2. Banjar. Taman Hutan Raya Sultan Adam. e) Pengembangan Perikanan terletak di Kabupaten Barito Kuala. Tapin. Taman Wisata Alam Jaro di Kabupaten Tabalong. dan Tanah Laut. HSU. dan Barito Kuala. HSU. Tapin. e) Taman Hutan Raya. Tanah Laut. Banjar. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -43 . dan Tanah Laut. Tanah Laut. meliputi: 1.(Persero) CABANG I MALANG 2. HSS. dan Tanah Laut. HSS. Tabalong. dan Tabalong. Banjar. Tabalong. HSS. HSS. Tapin. Banjarbaru. Banjar. yang terletak di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. dan Tabalong. HST. HSS.

Kawasan industri pengolahan kayu Alalak di Kabupaten Barito Kuala. Kawasan Pariwisata a) Kawasan wisata Loksado di Kabupaten HSS. serta ibukota kecamatan. kabupaten. - Kawasan Permukiman a) Kawasan permukiman perdesaan yaitu permukiman di luar perkotaan yang telah ada dan permukiman transmigrasi yang tersebar di setiap kabupaten. Zona industri logam di Negara Kabupaten HSS. b) Pertambangan minyak bumi terletak di Kabupaten Tabalong. dan Tapin. meliputi: 1. Zona industri perabot kayu dan rotan di Kabupaten HSU. b) Zona Industri. - - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -44 . c) Kawasan wisata Pantai Swarangan di Kabupaten Tanah Laut. Kawasan industri Bati-Bati di Kabupaten Tanah Laut. HSS. b) Objek wisata Pasar Terapung dan Pulau Kaget di Kota Banjarmasin dan Barito Kuala. 3. 3.(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Industri dan Zona Industri a) Kawasan Industri. Zona agro industri Murung Pundak di Kabupaten Tabalong. Tapin. b) Kawasan permukiman perkotaan yaitu permukiman ibukota Provinsi. meliputi: 1. Kawasan industri Simpang Tiga Liang Anggang-Banjarbaru di Kota Banjarbaru. dan Tanah Laut. 2. d) Pertambangan intan dan batu mulia dan lainnya terletak di Kabupaten Banjar. Tabalong. HSU. 2. HST. d) Kawasan wisata Pantai Batakan di Kabupaten Tanah Laut. c) Pertambangan gamping terletak di kabupaten HSS. Kawasan Pertambangan a) Pertambangan batubara terletak di Kabupaten Banjar.

Sungai Danau. p) Kawasan wisata Jembatan Barito di Kabupaten Barito Kuala. dan Amuntai. Barabai.(Persero) CABANG I MALANG e) Kawasan wisata Pantai Takisung di Kabupaten Tanah Laut. Pengaron. m) Objek wisata pendulangan intan di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Kota Marabahan. l) Objek wisata relegius Makam Sultan Adam. f) Objek wisata Waduk Riam Kanan dan Taman Hutan Raya Sultan Adam di Kabupaten Banjar. Batulicin. Pagatan. Pantai Hambawang. Mesjid dan Makam Sultan Suriansyah di Kuin Utara Banjarmasin. 3. Pelaihari. n) Objek wisata sejarah Candi Agung di Kabupaten HSU. dan Manggalau. Batangalai Selatan. dan Kotabaru. Gambut. Negara. Sungai Kupang. Kertak Hanyar. Alabio. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -45 . Rantau. Penetapan Pusat-Pusat Permukiman Hierarki Kota-Kota Orde I Orde II Orde III : : : Kota Banjarmasin. Kintapura. k) Objek wisata relegius Pelampayan di Kabupaten Banjar. Margasari. i) Objek wisata alam Upau dan Jaro di Kabupaten Tabalong. Martapura. Tanjung Semalantakan. Binuang. j) Objek wisata alam Hantakan. Kota Banjarbaru. Paringin. Gunung Batu Besar. Alalak. Tanjung. Danau Panggang. Muara Uya. Takisung. Jorong. h) Objek wisata Tanjungpuri di Kabupaten Tabalong. dan Haruyan di Kabupaten HST. Pagat. Bati-Bati. Orde V : Ibukota Kecamatan (IKK) selain kota-kota tersebut diatas. g) Objek wisata Kerbau Rawa di Kabupaten HSS dan HSU. o) Objek wisata religius/sejarah. Kandangan. Anjir Pasar. Pangeran Antasari dan Kubah Basirih di Kota Banjarmasin. Orde IV : Kota Kelua.

Amuntai. Kotabaru. Margasari. perdagangan dan beberapa kota/wilayah dari: disekitarnya dalam lingkup terbatas. dan Kintapura. Pusat pelayanan wilayah belakang. Banjarmasin. Negara. Tanjung. Kebijkasanaan Pengembangan Pengembangan kota-kota dilakukan sesuai dengan ordenya dan kondisi obyektif potensi perkembangan kotanya. ditetapkan pada kota-kota yang/akan memiliki fasilitas dan prasarana yang memadai untuk berlangsungnya kegiatan industri serta akses terhadap bahan baku dan pemasaran produksi. Pelaihari. Pelaihari. perdagangan dan sosial/umum terhadap wilayah belakangnya. Barabai. Pusat industri manufaktur. Kandangan. yaitu Paringin dan Pagatan. Pagatan. Negara. Banjarbaru. Bati-Bati. ditetapkan pada kota yang secara administrasi memiliki kedudukan sebagai pusat utama pemerintahan.(Persero) CABANG I MALANG - Fungsi Kota-Kota Penetapan fungsi suatu kota sesuai dengan hirarki kotanya. Kotabaru. Kelua. yaitu terdiri Pusat pelayanan komunikasi. Kelua. Tanjung. a) Pengembangan Kota Orde I Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -46 . Pusat permukiman ditetapkan pada seluruh orde kota. Pantai Hambawang. Kotabaru. yaitu Kota Banjarmasin. Martapura. Kintapura. Pusat pelayanan lokal. Martapura. yaitu seluruh kota orde IV dan dua kota orde III. Banjarbaru. Margasari. Marabahan. Pusat administrasi pemerintahan. Manggalau. Rantau. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sebagai pusat pelayanan jasa. Rantau. Banjarbaru. Paringin. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki kemampuan sosial/umum sebagai secara pusat lokal pelayanan terhadap jasa. Kintapura. Alabio. Barabai. Kandangan. dan Marabahan. Tanjung. yaitu Kota Banjarmasin. Batulicin. Pagatan. yaitu Kota Batulicin. meliputi Kota Batulicin. Amuntai. Martapura. Amuntai. dan Muara Uya. Marabahan. ditetapkan pada kota-kota yang memiliki lokasi strategis.

Penataan ruang kota melalui perencanaan. Peningkatan fasilitas. 6. Pencegahan kerusakan lingkungan. permukiman dan industri polutif. 3. b) Pengembangan Kota Orde II 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -47 . sarana dan prasarana kota untuk menerima penjalaran perkembangan dari Banjarmasin (atau sebaliknya). sarana dan prasarana Kota Kandangan yang akan memacu dan memantapkan fungsi pusat pelayanan Wilayah Pengembangan Benua Lima. terutama untuk Kota Kandangan dan Batulicin. 2. Pemantapan keterkaitan Kota Banjarmasin dengan kota-kota di Provinsi lain dan peningkatan sarana dan prasarana sebagai kota pelayanan regional dan nasional. terutama di Sungai Barito dan pemeliharaan alur Sungai Barito agar dapat dilayari sepanjang tahun. 3. dan pengendalian tata ruang. Penertiban dan penanganan kegiatan-kegiatan yang mencemari lingkungan. 5. seperti fungsi pendidikan tinggi. Peningkatan status Batulicin sebagai pusat Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu. 5. sarana dan prasarana perkotaan yang dibutuhkan untuk menunjang fungsi kota. Pengalihan sebagian dari fungsi kota yang sudah tidak efisien berlokasi di Banjarmasin. pemerintahan. 2. Peningkatan fasilitas. Peningkatan kegiatan ekonomi (jasa dan perdagangan) untuk menunjang perkembangan ekonomi regional Kalimantan Selatan. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. 6.(Persero) CABANG I MALANG 1. swasta dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan sarana dan prasarana kota serta peningkatan pendapatan asli daerah untuk pembiayaan pembangunan kota yang mandiri. 4. 4. pemanfaatan. Peningkatan kerjasama antar pemerintah. Peningkatan kegiatan ekonomi serta sarana dan prasarana yang mempunyai kaitan erat dengan wilayah belakang.

Peningkatan kegiatan ekonomi dan aksesbilitas kota yang mempunyai kaitan erat dengan potensi wilayah belakang. 2. Pengendalian lingkungan. 5. Penataan ruang kota melalui perencanaan. d) Pengembangan Kota Orde IV dan V 1. Peningkatan aksesibilitas ke wilayah belakang serta ke kota-kota yang berorde lebih tinggi melalui pengembangan system perhubungan sungai maupun darat. serta Pelaihari yang memiliki industri pengolahan tebu. dan pengendalian tata ruang. dan pengendalian tata ruang. Penataan ruang kota melalui perencanaan. 3. pada tahap awal dikembangkan sebagai Kota Orde IV dan selanjutnya ditingkatkan sebagai Kota Orde III. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -48 . Pengembangan Kota Manggalau sebagai alternative pusat pengembangan Wilayah Pengembangan Tanah Bumbu Utara. pemanfaatan. pemanfaatan. Peningkatan kegiatan ekonomi yang dapat menarik penduduk sehingga kota-kota tersebut dapat mencapai ukuran ekonomis dalam pembangunan sarana dan prasarana. pemanfaatan. 4. Peningkatan sarana dan prasarana perkotaan yang menunjang pertumbuhan industri manufaktur dan agar mampu berfungsi sebagai pusat pengembangan wilayah belakang. terutama untuk Marabahn yang banyak memiliki industri pengolahan kayu. Peningkatan sarana dan prasarana kota sesuai dengan fungsi kota. dan pengendalian tata ruang. Penataan ruang kota melalui perencanaan. dengan prioritas Kota Rantau. Peningkatan kerjasama antar pemerintah dan swasta dalam pengadaan berbagai fasilitas. c) Pengembangan Kota Orde III 1. 6.(Persero) CABANG I MALANG 7. 3. sarana dan prasarana perkotaan. 4. Marabahan dan Tanjung. 2.

Kelua. Satui. Pengembangan Kawasan Prioritas Kawasan Lindung dan Kritis. c) Penataan wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-Asam. d) KSP HST-HSS meliputi Kecamatan Kandangan. Kawasan yang berperan menunjang sektor strategis. meliputi: a) Peningkatan fungsi catchment area Riam Kanan sebagai sumber air untuk berbagai keperluan. Muara Harus. meliputi: a) Pengembangan kawasan industri Simpang Tiga. e) Penataan rawa potensial.(Persero) CABANG I MALANG 4. yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. Pandawan. Tanjung. Cerbon. Mandastana. b) Rehabilitasi kawasan lahan kritis yang tersebar baik di kawasan budidaya maupun kawasan lindung khususnya pegunungan Meratus. dan konservasi. perikanan tambak dan ternak Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -49 . Labuan Amas Utara dan Labuan Amas Selatan yang Batulicin dan Sungai Loban yang merupakan kawasan pengembangan komoditi perikanan laut. Rantau Badauh. antara lain untuk pertanian. Bakumpai. Wanaraya. Batang Alai Utara. wisata. LianganggangBanjarbaru di Kota Banjarbaru. jeruk. Sungai Pandan. Banjang. Babirik dan Danau Panggang yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. meliputi: a) KSP Tabalong-HSU meliputi Kecamatan Banua Lawas. Lampihong. Sungai Tabuk dan Astambul. perikanan darat dan peternakan itik. b) KSP Barito Kuala-Banjar meliputi Kecamatan Marabahan. sapi. - Kawasan Sentra Produksi (KSP). b) Pengembangan zona industri pengolahan kayu Barito Kuala. Kusan Hilir. dan kedela. Anjir Pasar. c) KSP Tanah Laut-Kotabaru meliputi Kecamatan Kintap. d) Penataan wilayah wisata Loksado dan sekitarnya yang merupakan objek wisata alam dan budaya potensial. Barambai.

Kota Banjarbaru. dan Jorong yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. Tanta dan Benua Lawas. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -50 . yaitu kawasan yang karena kondisi geografis. d) Kabupaten HSU meliputi Kecamatan Babirik. h) KSP Tanah Laut meliputi Kecamatan Pelaihari. Kabupaten Barito Kuala. meliputi : a) Kabupaten Banjar meliputi Kecamatan Kertak Hanyar dan Kecamatan Aluh-Aluh. Muara Harus. Batu Ampar. Kawasan Tertinggal. dan Aranio yang merupakan kawasan pengembangan komoditi pisang.(Persero) CABANG I MALANG merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung. HST. e) KSP HSS-Tapin 1 meliputi Kecamatan Daha Utara. dan Candi Laras Selatan yang merupakan kawasan pengembangan kedelai. dan perikanan darat. HSS. f) Kabupaten Tapin. f) KSP HSS-Tapin 2 meliputi Kecamatan Loksado. dan ternak sapi. e) Kabupaten HST meliputi Kecamatan Haruyan. Kawasan Andalan. Tapin selatan dan Binuang yang merupakan kawasan pengembangan jeruk dan kacang tanah. Piani. g) KSP Banjar meliputi Kecamatan Simpang Empat. dan Batu Tangga. Panyipatan. Karang Intan. jeruk. yaitu Kecamatn Kurau. melinjo. yaitu Kecamatan Piani. b) Kawasan Andalan Banjarmasin dan sekitarnya meliputi Kota Banjarmasin. Kabupaten Banjar. Pengaron. c) Kabupaten Tabalong meliputi Kecamatan Pugaan. Juai dan Halong. Sungai Pinang. meliputi: a) Kawasan Andalan Kandangan dan sekitarnya yang meliputi Wilayah Pengembangan Benua Lima terdiri dari Kabupaten HSU. b) Kabupaten Tanah Laut. Padang Batung. Takisung. dan kedelai. ekonomi dan social budayanya memiliki ketertinggalan dibandingkan dengan kawasan lainnya. Hantakan. dan Kabupaten Tanah Laut. Tabalong dan Tapin. kacang tanah. Sungai Pandan. Daha Selatan.

Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah. g. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”. e. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang dipertimbangan dalam penetapan ini adalah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -51 . h) Kabupaten Barito Kuala meliputi Kecamatan Alalak. khususnya bagi penduduk yang mata pencahariannya terkait dengan sector pertanian pangan dan perikanan. Tamban. 5. untuk mengembangkan pembangunan daerah dan meningkatkan pendapatan masyarakat di perdesaan. b. dan masyarakat dalam pembangunan agribisnis dan agroindustri. i. c. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999. h. tanggal 10 Desermber 1999. telah menetapkan lokasi-lokasi KSP. swasta. Kawasan Sentra Produksi Tabalong. d. f.(Persero) CABANG I MALANG g) Kabupaten HSS meliputi Kecamatan Daha Selatan dan Daha Utara. Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. Tubanganen dan Kuripan. sebagai berikut : a.

Batu Mandi. padi sawah 139. Piani.7 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong. S. HSU LOKASI KAB. Pengaron. rambutan. Tapin Selatan. Candi Laras Selatan Laksado.3 40.2 63. Padang Batung. tambak.4 Jeruk.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Penyipatan. Binuang Marabahan. Babirik. Banjang. Batu licin P. Pandawan. Jorong Kintap.2 3 4 HSS – Tapin 1 HSS – Tapin 2 HSS Tapin HSS Tapin Kedelai Jeruk. Astambul Simpang Empat. jeruk Kedelai 1. Batu Ampar. Kusan hilir.76 55. Wanaraya.94 32. Sungai Pinang. Aranio Pelaihari. Loban.3 5 Batola – Banjar Barito Kuala 3. Daha Selatan.9 7 Tala Tanah Laut 8. perikanan laut 5.3 65. Labuan Amas Selatan Daha Utara. Tabalong HSU KECAMATAN Tanjung. P. Laut Selatan. Barabai.4 123. Satui.6 55.189 6. Amuntai Tengah.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61. Perikanan darat Peternakan (itik) LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT.207 19. Bakumpai. perikanan laut. kacang tanah 3. Muara Harus. Mandastana Sungai Tabuk. Kelua Pugaan Lampihong.2 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -52 .963 110. perikanan darat Jagung. Karang Intan.167 28 30.966 55. melinjo.6 8 Tala – Kotabaru Tanah Laut. ternak sapi Perikanan. Laut Barat JENIS KSP Kedelai. Anjir Pasar. KAWSN 1. Sei Pandan.Alai Utara. Cerbon. Danau Panggang Kandangan Bt. kacang tanah.675 55. Rantau Badauh.1 118. ternak sapi Rumput laut.8 2 HST – HSS HST HSS Jagung. Takisung.792 86. Kotabaru 10.4 6 Banjar Banjar Banjar Pisang. Labuan Amas Utara.

4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS Peta Rencana Tata Ruang Provinsi Kalimantan Tengah II -53 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

juga ditujukan untuk mencegah berbagai kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan baik pada kawasan lindung maupun sekitarnya. Proses transisi struktur ekonomi akan dilakukan secara bertahap menuju struktur ekonomi yang berbasis pada sumber daya lokal yang renewable. yaitu: Strategi pengembangan Tata Ruang Wilayah yang akan diimplementasikan disusun berdasarkan asumsi bahwa dalam 10 tahun yang akan datang fokus kebijakan pembangunan wilayah di Barito Selatan telah ditekankan pada upaya-upaya persiapan untuk meningkatkan nilai rate of return wilayah. kawasan budidaya investasi besar dan kawasan lindung). kompetitif dan berdampak luas pada ekonomi lokal (local multiplier). penetapan kawasan lindung merupakan suatu bentuk perlindungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -54 . mempertajam araham penggunaan lahan komoditas unggulan dan arahan penggunaan lahan yang berwawasan lingkungan. Strategi ini sangat penting karena telah terjadi kerusakan lahan yang relatif besar terutama pada Lahan Gambut satu juta hektar dan pada eksploitasi sumber daya hutan yang keduanya telah mempengaruhi keseimbangan sumber daya alam yang ada.5. Kawasan Lindung Tujuan utama penetapan kawasan lindung dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah untuk melindungi sumber daya alam atau buatan yang ada didalamnya. nasional dan internasional mengingat bahwa volume ekspor dari produk yang mempunyai nilai tambah sangat sedikit dan lebih terkonsentrasi pada usaha perkayuan. Proses transisi struktur ekonomi ini akan menuntut proses penguatan kelembagaan ekonomi dan sosial masyarakat dan pemerintah. Penetapan arahan penggunaan lahan yang efektif dan optimal berdasarkan reorientasi strategis penggunaan lahan yang telah terjadi dengan potensi pengembangan yang akan datang. berdasarkan perwilayahan kesesuaian lahan yang jelas (terutama penggunaan lahan kawasan budidaya rakyat. sehingga secara bertahap daya saing produk-produk yang dihasilkan oleh Kabupaten Barito Selatan dapat berkompetisi pada pasar regional. 1. Oleh karena itu.(Persero) CABANG I MALANG 2.3 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Selatan Terdapat tiga pertimbangan mendasar dalam penyusunan strategi tata ruang wilayah Kabupaten Barito Selatan.

perkebunan. Kawasan budidaya mencakup kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan. pertanian tanaman pangan. peternakan. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas kondisi dan potensi sumber daya alam. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -55 . perikanan. konservasi hidrologi Kawasan Perlindungan Setempat. perindustrian. sumber daya manusia dan sumber daya buatan. yaitu: Kawasan Hutan Lindung Kawasan Resapan Air Kawasan Konservasi 1. Konservasi flora dan fauna 3. yaitu: Kawasan sepadan pantai Kawasan sepadan sungai Kawasan sekitar danau Kawasan sekitar mata air Kawasan Perlindungan dan pelestarian Hutan (PPH) yang meliputi: PPH Dataran Tnggi PPH Peralihan PPH Galam PPH Hutan Rawa 2. Berdasarkan Keppres no 32 Tahun 1990 dan berdasarkan hasil kesesuaian lahan dan limitasi penggunaan lahan pada kawasan eks PLG. Lahan Gambut tebal > 3 m 2. konservasi air hitam 4.(Persero) CABANG I MALANG yang didasari oleh pentingnya melestarikan dan meningkatkan kualitas lahan yang memang potensial untuk dibudidayakan. yang termasuk kawasan lindung dalam wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah sebagai berikut: Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahnya. hutan produksi. konservasi mangrove 5. pertambangan. pariwisata dan kawasan lainnya.

baik karakteristik eksternal maupun internal. Berdasarkan pertimbangan diatas. pertanian.(Persero) CABANG I MALANG Rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya merupakan rencana untuk mencapai tujuan penataan ruang yang telah ditetapkan. pariwiasata yang lebih melihat kepada pola penggunaan lahan yang terjadi oleh masyarakat yaitu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -56 . Keppres no 57 Tahun 1990 tentang Jenis. yaitu: RTRW Provinsi Kalimantan Tengah sebagai acuan terhadap produk tata ruang yang lebih tinggi dengan tujuan untuk dapat lebih mensinergikan dan mengintegrasikan penentuan kawasan budidaya. perikanan. bahan pertimbangan adalah potensi penggunaan ruang kawasan budidaya. serta mempunyai manfaat bagi masyarakat secara umum. Definisi dan Kriteria Penetapan Kawasan Budidaya. perkebunan. Pola penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat yang terjadi pada sepanjang aliran sungai. investasi swasta dan kebijakan sektoral dalam pola penggunaan lahan. Dalam merumuskan rencana penggunaan ruang untuk kawasan budidaya dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut: Tujuan pengembangan tata ruang wilayah Konsep pengembangan tata ruang wilayah Strategi pengembangan tata ruang wilayah Karakteristik wilayah. maka klasifikasi rencana pemanfaatan ruang Wilayah Kabupaten barito selatan adalah: Budidaya kegiatan kehutanan 1. Kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan permukiman. Kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) 2. Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) 3. Disini. Oleh karena itu penetapan rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya Wilayah Kabupaten Barito Selatan ditetapkan dengan berbagai pertimbangan. Lahan berkembang untuk pengelolaan sumber daya alam dapat diperbaharui yang sesuai dengan kesesuaian wilayah dan ikutannya dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. pelayanan jasa pemerintahan. Oleh karena itu. Dalam kawasan ini masih terdapat hutan konservasi yang diperbolehkan mengkonversi lahan hutan menjadi kegiatan budidaya lainnya. perikanan. Delinasi kawasan budidaya / rakyat-rakyat yang memang telah dipergunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dalam jangka waktu yang lama di sepanjang aliran sungai. Dalam Rencana Penggunaan Ruang Kawasan Budidaya ini adalah adanya hak pengusahaan kawasan budidaya oleh rakyat yang memang telah berkembang dan memberikan suatu pola pemanfaatannya. termasuk pengelolaan SDA dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perdesaan Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utana pertanian. maka wilayah yang termasuk sebagai wwwilayah pengembangan kawasan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -57 . yang tujuannya dipergunakan sebagai lahan cadangan untuk kegiatan permukiman. Berdasarkan pertimbangan rencana pengembangan ekonomi. Hal yang sangat penting dalam Yujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten barito Selatan adalah meningkatnya peranan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbarui untuk kemakmuran masyarakat dan mengarah kepada pengembangan agroindustri berbasis masyarakat.(Persero) CABANG I MALANG pada sepanjang aliran sungai yang dinamakan Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) yang didalamnya lebih diutamakan kepada lahan budidaya yang dilaksanakan oleh masyarakat. strategi pengembangan kawasan produksi dan karakteristik fisik dan guna lahan. yaitu kegiatan budidaya rakyat berada pada wilayah sepanjnag sungai di Kabupaten Barito Selatan. perkebunan dan peternakan yang lebih diarahkan sebagai kegiatan produksi yang berskala besar atau Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Kawasan Transmigrasi. dalam rencana penggunaan dan pemanfaatan ruang kawasan budidaya ini menetapkan bahwa lahan budidaya rakyat (hak tanah ulayat rakyat) berada pada jarak 3 km arah kiri dan kanan sepanjang sungai di Kabupaten Barito Selatan. 3. Kawasan budidaya yang diperuntukkan untuk kegiatan pertanian.

Wilayah-wilayah yang termasuk kawasan perdesaan ini difungsikan sebagai sentra-sentra produksi sesuai dengan rencana pengembangan ekonomi. buah-buahan. strategi pengembangan kawasan produksi. Kegiatan yang dikembangkan dalam kawasan ini adalah perkebunan tanaman keras (karet). Kawasan III Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Utara dan Gunung Bintang Awai. Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. perlu ditetapkan wialayah yang menjadi kawasan perkotaan guna mengoptimalkan pemanfaatan alahan yang ada. konsep Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -58 . Pusat kolektor dan orientasi dari kawasan ini adalah Buntok. perkebunan tanaman keras dan semusim dan pariwisata. Kawasan II Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun hilir dan Jenamas. peternakan kecil dan besar. Untuk itu maka dilakukan deliniasi terhadap wilayah Kabupaten Barito Selatan yang termasuk sebagai kawasan perkotaan. peternakan besar dan kecil. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. perikanan umum hutan produksi dan pariwisata. Kawasan ini diarahkan untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. Dalam penetapan kawasan perkotaan ini telah mempertimbangkan rencana pengembangan ekonomi. Secara umum kawasan perdesaan dibagi menjadi 3 kelompok kawasan: Kawasan I Terdiri dari pusat-pusat desa yang berada di sekitar Kecamatan Dusun Selatan dan Kuala Karau. Deliniasi Wilayah Kabupaten Sebagai Kawasan Perkotaan Kawsan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan.(Persero) CABANG I MALANG perdesaan adalah setiap pusat-pusat desa di Kabupaten Barito Selatan serta pusat-pusat kecamatan yang tidak termasuk kawasan perkotaan. Dalam pengembangan wilayah kabupaten Barito Selatan. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. 4. perkebunan khususnya karet.

yang termasuk kawasan perkotaan mempunyai ciri-ciri: Tempat permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas. Mempunyai kepadatan penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah sekitarnya. Secara fisik. kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya. Mempunyai proporsi jumlah penduduk yang bekerja di sektor-sektor non pertanian. yang menjadi ciri kawasan perkotaan adalah: Mempunyai jumlah penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya. atau 10. Selain kriteria-kriteria yang telah disebutkan. seperti: pemerintahan. kriteria kawasan perkotaan dapat berupa ruang yang sudah menunjukkan sebagai kawasan perkotaan atau dapat berupa kawasan yang dicadangkan sebagai perluasan atau pengembangan kawasan perkotaan. yang dalam satu kesatuan areal terbangun berjumlah sekurang-kurangnya 20. industri. Kawasan tersebut saat ini dapat saja belum merupakan kawasan perkotaan akan tetapi dicadangkan/direncanakan sebagai kawasan perkotaan untuk kurun waktu yang akan datang. yang lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya. Madura dan Bali. Proporsi bangunan permanen lebih besar di tempat itu daripada di wilayah-wilayah sekitarnya. Mempunyai lebih banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi daripada wilayah sekitarnya. karakteristik fisik dan guna lahan serta kriteria-kriteria yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah tentang penataan ruang kawasan perkotaan. kriteria wilayah yang termasuk wilayah kota terbagi berdasarkan ciri-ciri secara fisik dan sosial-ekonomi. Dari aspek sosial ekonomi. jasa dan lain-lain.000 orang di pulau Jawa. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -59 . perdaganagan.000 orang di luar pulau-pulau tersebut.(Persero) CABANG I MALANG pengembangan ruang wilayah Kabupaten. Merupakan pusat kegiatan ekonomi yang menghubungkan kegiatan pertanian wilayah sekitarnya dan tempat pemasaran atau prosesing bahan baku untuk kegiatan industri. jumlah bangunan. 7 Tahun 1986. Menurut Permendagri No.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. letak. Kawasan Lindung Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian kemampuan lingkungan hidup mencakup Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -60 .5. 1. ukuran dan fungsi kawasan lindung dan budidaya.4 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Utara Rencana pola pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara meliputi batasbatas kawasan lindung dan kawasan budidaya.5 Peta Kawasan Lindung Kabupaten Barito Selatan 2.

maka perlu dilakukan beberapa upaya antara lain: Mencegah dilakukannya kegiatan budidaya di sepanjang sungai yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air sungai. Untuk memantapkan fungsinya sebagai kawasan lindung. Mempertahankan keanekaragaman flora. air dan iklim. pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan lindung. sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi sungai: Lebih kurang 100 m di kiri-kanan sungai besar dan 50 m di kiri-kanan anak sungai yang berada di luar kawasan permukiman. Pengelolaan kawasan lindung adalah upaya penetapan. Kawasan Perlindungan Setempat Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990. Mengamankan aliran sungai. Pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Barito Utara secara umum ditujukan untuk mencegah kemungkinan timbulnya berbagai kerusakan fungsi lingkungan hidup dan permasalahan kelestariannya. Sungai yang berada di kawasan permukiman (sempadan Sungai) lebih kurang 10-15 m (untuk jalan inspeksi. fauna dan tipe ekosistem serta keunikan alam Dalam kebijaksanaan pengelolaan kawasan lindung diperlukan pendekatan yang terintegrasi antara kepentingan pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal dengan pelestariannya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -61 . Untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan bawahannya.(Persero) CABANG I MALANG sunberdaya alam. sumberdaya buatan guna kepentingan pembangunan pembangunan berkelanjutan. Melakukan pengendalian terhadap kegiatan yang telah ada di sepanjajng sungai agar tidak berkembang lebih jauh. maka Pemda Kabupaten Barito Utara perlu mengembalikan fungsi kawasan lindung yang saat ini sudah hilang/rusak menjadi fungsi awalnya. Adapaun sasaran ditetapkannya kawasan lindung adalah untuk: Meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah.

Adapun wisata alam/sejarah yang perlu mendapat pembinaan dan pengembangan adalah: Kawasan Suaka Alam Kawasan Cagar Budaya - Kawasan Rawan Bencana Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990. sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. 837/KPTS/Um/11/1980. Kawasan Rawan Banjir Kawasan Rawan Longsor Kawasan Rawan Erosi dan Longsor 2. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama utnuk kegiatan budidaya berdasarkan kondisi dan potensi sumberdaya alam.066 Ha atau 7. - Kawasan Pelestarian Alam Kabupaten Barito Utara memiliki potensi wisata alam dan sejarah yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. lahan-lahan yang memiliki kemiringan diatas 40% atau memiliki kemiringan 15-40% pada tanah-tanah yang sangat peka terhadap erosi diarahkan fungsinya sebagai kawasan hutan lindung. Agar tercipta kawasan budidaya yang harmonis/ideal maka dalam pemanfaatan ruangnya diperlukan rencana dan arahan yang berdaya guna dan berhasil guna bagi hidup dan kehidupan manusia. masyarakat maupun swasta. dengan kriteria daerah yang diidentifikasikan sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi. kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam.95% dari luas total kabupaten. gempa bumi dan tanah longsor. Kawasan htan lindung di Kabupaten Barito Utara seluas 90. Rencana pemanfaatan ruang di Kabupaten Barito Utara mengarah kepada pola pemanfaatan hutan di bagian hulu dan tengah sub DAS anak Sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -62 .(Persero) CABANG I MALANG - Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kepada Kawasan Bawahannya Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990 dan SK Menteri Pertanian No.

967 311.109 50.8 Luasan Kawasan Budidaya Hutan di Kabupaten Barito Utara No 1 2 3 4 Jenis Hutan Produksi Terbatas (HPT) Hutan Produksi (HP) Hutan Tanaman Industri (HTI) Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) Luas (ha) 220.(Persero) CABANG I MALANG Barito. Kawasan Budidaya Hutan Kawasan budidaya hutan terdiri dari Hutan Produksi Terbatas (HPT). sedangkan kawasan permukiman perkotaan dan kawasan pengembangan produksi dikembangkan di bagian hilirnya.536 Ha (49% dari luas wilayah) yang terdiri dari: Tabel 2. Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Kawasan Pengembangan Produksi (KPP).00% 28. Hutan Produksi (HP). Rencana lokasi kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan penegembangan hutan produksi di wilayah Kabupaten Barito Utara tersebar di seluruh wilayah Kabupaten seluas ± 557.46% 4.700 Prosentase Dari luas kabupaten 20.Pembudidayaan sumberdaya alam pada kawasan hutan produksi bersifat terbatas.245 119.00% - Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) Kawasan Pertanian Kawasan Perkebunan Kawasan Peternakan dan Perikanan Kawasan Permukiman dan Transmigrasi Kawasan Industri Kawasan Pertambangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -63 .00% 11.

897. Pengembangan Permukiman Perdesaan Rencana pengembangan permukiman perdesaan akan dikembangkan pada masing-masing desa/kelurahan yang terjangkau oleh skala pelayanan sistem pusat-pusat.88 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 80.00 3.9 Alokasi Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Barito Utara Tahun 20062007 No A Penggunaan Lahan Kawasan Lindung Hutan Lindung Cagar Alam B Kawasan Budidaya Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi Hutan Tanaman Industri Kawasan Pengembangan Produksi Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain Areal Transmigrasi Industri Jumlah sumber: Hasil rencana tahun 2005 Keterangan : Floating zone tambang : 217.561.46 4.00 119.00 1.06 7.45 ha dengan daya tampung penduduk sebesar 56.336.627.67 91.43 10.57 27.200 jiwa dan pada tahun 2015 direncanakan mengalami peningkatan menjadi 75.000.108.54% Luas (ha) 97. Rencana Permukiman Perkotaan dan Perdesaaan Pengembangan Permukiman Perkotaan Pengembangan permukiman perkotaan dideliniasi berdasarkan pusat-pusat pelayanan dan fungsi pelayanannya.050 jiwa.38 19.48 24.066.500 jiwa sedangkan pada tahun 2015 direncanakan seluas 25.20 0.31 1.57 % 8.45 % dan 21. adapaun deliniasi luasan permukiman perkotaan pada tahun 2011 mencapai 22.13 2.750 jiwa.640.035.931.53 307.72 311.947.71 220.95 0.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.50 27. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -64 .67 50.132.194. Adapun kebutuhan lahan permukiman perdesaan pada tahun 2011 direncanakan 70.80 1.09 100.699.245.013.94 ha dengan daya tampung penduduk mencapai 72.86 90.303.966.118 Ha Hutan dan non Hutan : 78.00 ha untuk daya tampung penduduk sebesar 60.62 7.

Program Pemanfaatan Pada Kawasan Lindung.5. laut. melalui perlindungan kawasan-kawasan di darat. Memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2. penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -65 . • • Mempertahankan sempadan sungai. Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • Pengembangan SDM (sumber daya manusia) di bidang kehutanan. Pelestarian dan pengembangan program wisata budaya. Mempertahankan luas kawasan lindung yang telah ada. udara secara saling serasi dan selaras.6 Peta Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Barito Utara 2.5 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barito Timur 1.

Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan permukiman yang tidak menunjang fungsi utama kawasan. Program pengelolaan hutan masyarakat. Penertiban aktifitas pertanian. Melakukan reboisasi. konservasi dan rehabilitasi sumber daya alam. Menertibkan kegiatan illegal logging di kawasan hutan lindung.(Persero) CABANG I MALANG Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • Mengembalikan fungsi kawasan hutan lindung yang telah ada. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -66 . Program pemanfaatan kawasan lindung pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • • • • • • Mengendalikan dan mencegah kegiatan-kegiatan budidaya di kawasan lindung. Menetapkan kawasan fungsi lindung yang juga mencakup perlindungan terhadap kawasan rawan bencana. Mencegah dan mengendalikan kerusakan dan kebakaran hutan. Meningkatkan efektifitas pengelolaan. Penyusunan master plan drainase.

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.10 Garis besar program pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung Kabupaten Barito Timur
No Kawasan Lindung Jangka Panjang Seluruh kawasan lindung  berbentuk hutan Pengembangan SDM di Bidang  Kehutanan Garis Besar Program Jangka Menengah * Mengembalikan fungsi kawasan    hutan lindung yang telah ada * Rehabilitasi hutan dan    lahan kritis * Program penghijauan * Program pengendalian erosi dan    konservasi air * Program Pengelolan hutan   bersama masyarakat * Penertiban aktifitas pertanian    dan permukiman Jangka Pendek Sosialisasi dan penyuluhan kegiatan penghutanan dan reboisasi, konservasi rehabilitasi untuk seluruh kawasan lindung di luar hutan termasuk pencegahan kebakaran hutan dan pencegahan Illegal Logging * Sosialisasi penghutan dan    reboisasi * Penertiban * Sosialisasi penghijauan    dan reboisasi. Pelaksana Dinas Kehutanan Kabupaten dan  Propinsi Departemen Kehutanan

1 Kawasan Lindung  untuk Kawasan Hutan

2 Kawasan Resapan air

Seluruhnya berbentuk hutan

Dinas Kehutanan Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Dinas Pertanian Kabupaten Kantor Kebersihan dan Pertamanan Dinas Parbud Kabupaten

3 Kawasan Perlindungan setempat: sempadan sungai, kawasan sekitar waduk, sekitar mata air sempadan jalan 4 Kawasan Cagar Budaya

mempertahankan  penghijauan seluruh kawasan yang berfungsi sempadan

* Penertiban aktifitas pertanian   dan permukiman * Penghijauan dengan tanaman    keras/tahunan yang memiliki    nilai ekonomi * Pelestarian budaya * Pengembangan Program Wisata    Budaya yang Lestari dan   Berkelanjutan * Promosi wisata budaya Penyusunan master plan drainase

* Pelestarian budaya * Pengembangan program   wisata budaya yang   lestari dan berkelanjutan Pembangunan drainase prasarana pematusan air/ hujan menyeluruh * Terasering * Pelarangan pertanian     pada kawasan rawan    longsor

Penertiban terhadap adanya aktifitas budidaya dan per‐ mukiman yang tidak menun‐ jang fungsi utama kawasan Pemberian IMB berdasarkan KDB dan KLB terbatas Sosialisasi KDB dan KLB Penertiban aktifitas  pertanian

5 Kawasan Rawan  Bencana banjir/ genangan 6 Kawasan Rawan Bencana gerakan tanah /tanah longsor

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten dan Propinsi Dinas Pertanian

* Terasering * Pembangunan prasarana    drainase

2. Program Pemanfaatan Pada Kawasan Budidaya Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka panjang di Kabupaten Barito Timur antara lain: • • • Memanfaatkan sumber daya alam secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah. Mengembangkan kegiatan-kegiatan budidaya beserta prasarana penunjangnya secara sinergis. Megembangkan dan mempertahankan kawasan budidaya pertanian tanaman pangan nasional. Program pemanfaatan kawasan budidaya pada jangka menengah di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Memanfaatkan ruang kawasan budidaya secara optimal sesuai dengan kemampuan daya dukung lingkungan.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -67

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum pengembangan kawasan budidaya diarahkan untuk mengakomodasi kegiatan produksi lahan basah dan kering (pertanian, perkebunan, perikanan, hutan produksi), permukiman dan pariwisata.

Pengembangan kawasan budidaya pertanian perlu diarahkan pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi/kesesuaian lahan serta adanya dukungan pengembangan kawasan prasarana budidaya pengairan/irigasi diarahkan serta untuk memperhatikan pembangunan berkelanjutan.

Pengembangan

kehutanan

mewujudkan pengelolaan hutan lestari melalui pemantapan kondisi kawasan hutan, perencanaan, pengamanan dan perlindungan hutan yang terpadu melalui pengendalian penebangan liar dan penanggulangan kebakaran hutan serta rehabilitasi kawasan hutan kritis. Memenuhi bahan baku industri hilir dengan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan pengembangan hutan rakyat. Memperkuat kelembagaan masyarakat dalam rangka mitra sepaham pembangunan kehutanan dan peningkatan kesejahteraan. Menghindari terjadinya konflik kepentingan/penguasaan kerjasama lahan/kawasan lembaga hutan. peneliti Mengembangkan hasil hutan. • Pengembangan kawasan permukiman meliputi upaya untuk mendorong pengembangan pusat-pusat permukiman perdesaan sebagai desa pusat pertumbuhan terutama wilayah desa yang mempunyai potensi cepat berkembang dan dapat meningkatkan perkembangan desa di sekitarnya dan mendorong pengembangan permukiman sub urban atau kota baru pada daerah peripheral kota-kota metropilitan dan kota besar untuk memenuhi kebutuhan perumahan pada kota-kota tersebut dan sekaligus berperan sebagai penyaring arus migrasi desa-kota. • Pengembangan kawasan pariwisata diarahkan pada objek-objek wisata alam dan budaya dengan memperhatikan pelestarian lingkungan dan mengembangkan prasarana penunjang. • Pengembangan kawasan industri meliputi upaya untuk mendorong pengembangan industri pengolahan dan agro industri untuk meningkatkan nilai tambah sektor-sektor produksi wilayah seperti pertambangan, pertanian, perkebunan dan hasil hutan memberikan prioritas penanganan kawasan-kawasan industri. dengan

lokal/regional/internasional dalam rangka mengembangkan produk

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -68

(Persero) CABANG I MALANG

Pengembangan kawasan pertambangan meliputi mengembangkan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya energi dan mineral secara optimal dengan memperhatikan daya dukung lingkungan secara makro dan mikro: mengendalikan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya pertambangan secara ilegal terutama untuk mencegah dampak lingkungan terhadap wilayah sekitarnya, dan memprioritaskan pengelolaan kawasan-kawasan pertambangan yang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Mengendalikan pemanfaatan ruang pada kawasan budidaya agar tidak terjadi konflik antar kegiatan/sektor. Pengendalian pemanfaatan ruang sebagai suatu bagian mekanisme pengelolaan tata ruang perlu dilakukan melalui penyelesaian permasalahan tumpang-tindih yang ada serta upaya preventif untuk mencegah terjadinya konflik.

Penentuan prioritas dalam pemanfaatan ruang antar kegiatan budidaya sehingga dapat lebih terarah dan fleksibel sesuai dengan tuntutan perkembangan.

Penentuan prioritas pengembangan sistem prasarana kawasan pada bidang transportasi dan faktor produksi yaitu dengan mengembangkan jaringan jalan yang menghubungkan sentra-sentra produksi dengan pusat koleksi dan distribusi di tingkat lokal, intra regional dan inter regional.

Pengalokasian rencana pemanfaatan lahan yang lebih tegas dan bersifat flesibel.

Program pemanfaatan budidaya pada jangka pendek di Kabupaten Barito Timur antara lain diarahkan untuk: • Pengembangan hutan produksi antara lain meliputi: a. Pengusahaan hutan produksi melalui pemberian ijin HPH pola tebang pilih. b. Pengembangan zona penyangga pada kawasan hutan produksi yang berbatasan dengan hutan lindung. c. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan hutan serta perladangan berpindah. d. Pemanfaatan ruang pada kawasan hutan produksi konversi untuk kegiatan pertanian (perkebunan dan tanaman pangan) sesuai dengan potensinya.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -69

(Persero) CABANG I MALANG

e. Pengembangan pola tanaman industri. f. Reboisasi dan rehabilitasi lahan pada bekas tebangan HPH. g. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lainnya (pertanian, pertambangan) • Pemanfaatan ruang kawasan pertanian meliputi: a. Perluasan areal persawahan baru (ekstensifikasi) pasang surut dan aluvium. b. Pengembangan prasarana pengairan. c. Pembentukan kawasan Agroopolitan di kota Ampah. d. Pengendalian kegiatan lain agar tidak mengganggu lahan pertanian khususnya sawah pasang surut. e. Penyelesaian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lain. • Pemanfaatan ruang kawasan perkebunan meliputi upaya untuk: a. Peremajaan dan perluasan areal tanaman perkebunan sesuai dengan potensi/keseluruhan lahannya secara optimal, diarahkan ke Kecamatan Awang dan kecamatan Petangkep Tutui. b. Pengamanan daerah aliran sungai. • Pemanfaatan ruang kawasan pariwisata meliputi upaya untuk: a. Penataan ruang kawasan pariwisata. b. Pengembangan obyek wisata dan fasilitas pariwisata. • Pemanfaatan Ruang Kawasan Perindustrian adalah: a. Penataan ruang kawasan industri. b. Penyediaan prasarana pendukung kawasan industri. • Kebijaksanaan pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman adalah: a. Penataan ruang kota (RUTRK, RDTRK, RTRK) b. Pengembangan desa-desa pusat pertumbuhan. c. Pengembangan permukiman transmigrasi lokal. • Kebijaksanaan Pemanfaatan Ruang Kawasan Pertambangan adalah: a. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan pertambangan agar tidak mengganggu fungsi lindung. b. Pengembalian fungsi lindung pada kawasan bekas kuasa pertambangan. yaitu melakuakan penyusunan RTRK dan peninjauan kembali (evaluasi, revisi) RTRK.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -70

(Persero) CABANG I MALANG

3. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan dan Perkotaan Dalam suatu wilayah Kabupaten terdapat dua jenis kawasan fungsional yaitu kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan serta bisa terdapat kawasan tertentu. Rencana Pengelolaan Kawasan Perdesaan, Perkotaan dan Kawasan Tertentu dirumuskan untuk mencapai keserasian hubungan fungsional antara kawasan-kawasan tersebut. Bentuk bentuk pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu meliputi: • Kelembagaan Meliputi pembagian dan kewengan swasta, pengelolaan lembaga kawasan perdesaan, dan perkotaan dan tertentu yang melibatkan pemerintah Kabupaten, Kecamatan kawasan Desa, kemasyarakatan dapat masyarakat secara langsung. Hubungan kerjasama dalam pengelolaan perdesaan/perkotaan/tertentu juga melibatkan beberapa pemerintah kabupaten apabila kawasan mencakup dua atau lebih daerah otonom yang berbatasan secara langsung. • Program Pemanfaatan Meliputi garis besar program pemanfaatan yang diindikasikan pada kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu untuk jangka panjang, menengah dan pendek • Pengawasan Meliputi tata cara dan prosedur pengawasan terhadap kebijakan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dantertentu. Misalnya untuk pengelolaan kawasan perdesaan, dirumuskan kebijakan pengendalian konversi pemanfaatan ruang yang memperhatikan keberlanjutan dan pemenuhan kebutuhan hidup seperti udara, air dan pangan, mengingat dominannya sumber daya alam di kawasan perdesaan. Aspek pengawasan dalam pengelolaan kawasan melibatkan pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa bersama-sama dengan masyarakat. • Penertiban Meliputi tata cara dan prosedur pelaporan terhadap pelanggaran pelaksanaan kebijakan kawasan perdesaan, perkotaan dan tertentu.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -71

(Persero) CABANG I MALANG

2.5.6 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kuala Kapuas 1. Kabupaten Kapuas Sebagai bagian dari WS Kapuas, wilayah Kabupaten Kapuas hampir seluruhnya terletak di DAS Kapuas, dan berada pada posisi perbatasan antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Kondisi Kabupaten ini disusun sebagai informasi kajian analisis wilayah yang sangat relevan dengan rencana tata ruang dan master plan pada DAS Kapuas. Berdasarkan informasi awal kajian tata ruang ini, akan memberikan arahan dalam penyusunan master plan sumber daya air DAS Kapuas. Kebijaksanaan perwilayahan pembangunan dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas 1994/1995 – 1998/1999 membagi wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Kapuas atas 5 (lima) wilayah pembangunan, yaitu : 1. Wilayah Pembangunan Bagian Utara, meliputi kecamatan Kahayan Tengah, Banama Tingang, Sepang, Kuala Kurun, Tewah, Kahayan Hulu Utara, dengan Pusat Pengembangan Kuala Kurun. 2. Wilayah Pembangunan Bagian Selatan, meliputi kecamatan-kecamatan Selat, Kapuas Hilir, Pulau Petak, Kapuas Murung, Kapuas Timur, Basarang, dan Kapuas Kuala dengan pusat pengembangan Kuala Kapuas. 3. Wilayah Pembangunan Bagian Timur, meliputi Kecamatan-kecamatan Timpah, Kapuas Tengah, dan Kapuas Hulu dengan pusat perdagangan Timpah. 4. Wilayah Pengembangan Bagian Barat, meliputi Kecamatan-kecamatan Rungun dan Manuhing, dengan pusat pengembangan Tumbang Jutuh. 5. Wilayah Pembangunan Bagian Tengah, meliputi Kecamatan-kecamatan Kahayan Hilir, Kahayan Kuala, Pandih Batu, Kapuas Batu, dan Mantangai, dengan pusat pengembangan Pulang Pisau. 2. Fungsi dan Peranan Kota Kuala Kapuas Dengan demikian, dari kebijaksanaan tersebut Kota Kuala Kapuas, selain sebagai pusat utama Kabupaten Dati II Kapuas, berfungsi secara khusus sebagai pusat pengembangan wilayah pembangunan bagian selatan, yang melayani/membawahi wilayah fungsional yang relatif berbatasan dengan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -72

(Persero) CABANG I MALANG

Provinsi Kalimantan Selatan.

Kawasan WP Bagian Selatan relatif lebih

maju dibandingkan wilayah lainnya, terutama bila dilihat dari indicator kependudukan, kegiatan ekonomi, kelengkapan fasilitas dan fasilitas umum, serta jarak dan aksesibilitas dan transportasi wilayah. Dalam kajian ini, disusun kajian mengenai peran Kota Kuala Kapuas, sebagai pusat pengembangan wilayah Kabupaten Kapuas, yang mewakili peranan pengembangan DAS Kapuas. Berdasarkan hasil analisis terhadap potensi dan masalah perkembangan kota yang terjadi selama ini dan antisipasi terhadap masa yang akan dating, maka fungsi dan peranan Kota Kuala Kapuas yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut. A. Fungsi Primer 1. Pusat Pemerintahan Tingkat Kabupaten : sesuai peran sebagai ibukota kabupaten Kapuas, skala kerja Bupati 2. Kegiatan transportasi : potensi sebagai kota transit, baik angkutan sungai maupun darat 3. Kegiatan perdagangan dan jasa : mendukung Kota Kuala Kapuas sebagai pusat pengembangan wilayah dan jalur transportasi wilayah 4. Pendukung kegiatn industri : fungsi yang berkenaan dengan industri di wilayah interland kita yang terkait dengan hasil hutan. B. Fungsi Sekunder Fungsi sekunder yang utama adalah sebagai permukiman yang meliputi ketersediaan tempat hunian/wisma, tempat kerja, tempat rekreasi, dan fasilitas social. Keseluruhan komponen tersebut diperuntukan bagi penduduk kota saja. 3. Karakteristik Umum Kota Kuala Kapuas Wilayah perencanaan merupakan bagian dari wilayah Kota Kuala Kapuas yang berfungsi sebagai pusat pemerintah Kabupaten Kapuas, dan luas efektif kota adalah sebesar 2,733 Ha. Secara fisik, wilayah Kota Kuala Kapuas dipengaruhi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung, yang sekaligus menjadi pusat orientasi kegiatan air dan ini merupakan ciri khas kota air.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -73

(Persero) CABANG I MALANG

Secara umum, kawasan ini dapat dikembangkan untuk kegiatan kota, walaupun pada beberapa bagian wilayah kota Kapuas sangat besar dipengaruhi oleh genangan air pasang surut Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Hal ini menimbulkan terjadinya genangan air sepanjang tahun. Ditinjau dari pola tata guna lahan, sebagian besar dari kawasan terbangun yang ada merupakan kawasan perumahan yang sangat padat dengan kondisi bangunan dan lingkungan yang kurang baik. Lokasinya cenderung mengelompok di sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung. Pada posisi ini, maka pengembangan sector sumber daya air pada kedua sungai tersebut mengacu pada rencana peruntukan kota, yang memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai sebagai kawasan sentra pengembangan wilayah. 4. Tata Guna Tanah dan Kondisi Lingkungan Ditinjau dari tata guna tanahnya, sebagian besar digunakan untuk perumahan dan perdagangan. Penggunaan lainnya yang cukup menonjol adalah perdagangan yang terdapat di pusat kota dan kegiatan pemerintahan. Pada lahan-lahan yang relatif kosong terdapat lahan yang potensial untuk dikembangkan dan juga sulit dikembangkan karena merupakan tanah lempung yang berlumpur yang dalam. Masalah lingkungan yang cukup serius adalah lingkungan di tepian Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung yang berada di dekat atau di pusatpusat perdagangan dan jasa. Umumnya kondisi perumahan perpetakan bangunan dan kegiatan kurang terencana sehingga memberikan kesan kumuh (slums area). Juga masalah prasarana lingkungan masih relatif kurang memenuhi kebutuhan, khususnya air bersih dan sanitasi. Pada beberapa bagian di wilayah perencanaan ini dijumpai adanya penggunaan ganda (mix – used) serta pola distribusi kepadatan bangunan yang kurang merata dan banyaknya bangunan dengan kondisi yang kurang memadai. Untuk mengatasinya dapat diusahakan melalui peningkatan kondisi lingkungan, program perbaikan kampong (KIP), program kali bersih (Prokasih), resettlement dan lain-lain.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -74

(Persero) CABANG I MALANG

5. Rencana Struktur Kota Kuala Kapuas Rencana struktur ruang merupakan pedoman dasar bagi pengembangan suatu wilayah atau kawasan tertentu, yang selanjutnya akan menunjukan pola tata ruang yang sesuai dengan fungsinya yang lebih berorientasi pada pelayanan umum dan memenuhi kebutuhan warga kota secara optimal. Tujuan dan sasarannya adalah sebagai berikut : a) mengarahkan tingkat pertumbuhan Kota Kuala Kapuas ke wilayahwilayah BWK dan sub BWK sesuai dengan potensi dan porsi fungsi kota. b) c) d) Mengatur mekanisme untuk perkembangan penentuan fungsi kota dan intensitas ruang fisik secara keseluruhan. Mewujudkan pemerataan pengembangan ataupun pembangunan wilayah ke dalam BWK (bagian wilayah kota) Memberikan pedoman bagi pola peruntukan lahan beserta pembangunan fisik, terutama berkaitan dengan penyediaan fasilitas dan utilitas untuk menunjang BWK Kuala Kapuas yang aman, indah, dan ramah (sebagai Kota Air). 6. Rencana Pengembangan Kota dan Pembentukan Unit Pelayanan Untuk mengurangi permasalahan yang ada saat ini maupun yang akan dijumpai pada masa mendatang, maka Kota Kuala Kapuas dibagi menjadi 3 (tiga) Bagian Wilayah Kota (BWK), yaitu BWK Selatan, BWK Utara, BWK Timur. Setiap BWK tersebut terdiri dari satu sub bagian wilayah kota (Sub – BWK) dan beberapa pusat-pusat pelayanan. Fungsi bagian wilayah Kota Kapuas adalah sebagai berikut :

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -75

Dalam buku RUTK Kuala Kapuas telah ditetapkan rencana penggunaan lahan Kota Kuala Kapuas.27 0.14 0.05 56 34.00 % 33.5 1.124.97 2.84 2.00 1.58 53.733.45 0.93 10.28 1.99 1.05 1.37 1. praktek dokter) 7 Pusat pengembangan industri besar/menengah di Kelurahan Murung Keramat 1 Pusat pemerintahan skala wilayah kerja bupati 2 Pusat pengembangan perdagangan skala local dan regional 3 Pusat pengembangan pariwisata di Pulau Telo 4 Pusat pengembangan dan pendidikan dan lapangan olah raga (stadion Olah Raga) 5 Pengembangan perkantoran 6 Pengembangan permukiman skala BWK 7 Pengembangan terminal regional dan kota 8 Pengembangan sub terminal kota 9 Pengembangan dermaga barang 10 Pengembangan dermaga antar kota 1 Pusat pemerintahan skala kecamatan dan kelurahan 2 Perkantoran 3 Pengembangan industri kecil (tersebar) 4 Lapangan olah raga 5 Pengembangan permukiman 6 Perumahan terbatas (permukiman DAS) 2 BWK UTARA 3 BWK TIMUR Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK 7.72 2.07 0. Puskesmas.27 0.07 0.68 2.87 2.365.88 2.05 47.45 56 34.46 0.00 1.76 1.12 Rencana Tata Guna Lahan Kuala Kapuas.733.38 56 48.05 1.311. 1999 .23 1.00 2.24 47.85 1.49 % 32.77 1.89 31.55 50.57 1.38 1.00 % 36.5 1.86 10.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.4 48.86 10.05 1.15 12.96 Sumber : RUTRK Kuala Kapuas dan RDTRK Keterangan : Sempadan Sungai dan Pertanian bukan merupakan kawasan terbangun Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -76 .96 1.39 1.33 2009 LUAS (Ha) 1.99 67. Rencana Penggunaan Lahan Salah satu rencana yang paling penting adalah rencana penggunaan lahan.88 43.51 2.00 1.99 100 49. Tabel 2.553.66 1.05 52.11 Fungsi dan Bagian Wilayah Kota (BWK) Kuala Kapuas No 1 BWK BWK Selatan FUNGSI BWK 1 Perkantoran 2 Pusat perdagangan dan Jasa 3 Perumahan dan permukiman terbatas (DAS) di Pusat Kota 4 Pendidikan 5 Olah Raga 6 Kesehatan (RSU.65 100 45.05 56.5 1.733.18 42.2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 JENIS PENGGUNAAN Perumahan dan jalan Perkantoran Perdagangan dan jasa Peribadatan Kesehatan Pendidikan Olah raga /taman Sempadan sungai Jaringan jln Tempat pemakaman Pertanian terbuka TOTAL KAW TERBANGUN 1999 LUAS (Ha) 919.089.42 18.78 0.82 100 41.13 2004 LUAS (Ha) 1.238.007.59 2.01 0.94 57.438.75 77.09 0.76 1.69 0.

Hal ini menjadikan kota ini menjadi kota transit. yaitu di sepanjang daerah aliran sungai dan disepanjang jalur transportasi darat. dan jasa. yaitu telah terbukanya jalur jalan lintas Kalimantan Poros Selatan sebagai pergerakan arus barang dan pergerakan penduduk di masa yang akan datang. Untuk rencana pengembangan BWK Timur terdapat pada Kecamatan Kapuas Hilir sebagai pengembangan penduduk terbatas dan sebagai kawasan pengembangan KAPET (kawasan pengembangan ekonomi terpadu) di Kalimantan Tengah. pusat pengembangan skala pemerintahan kabupaten dan pusat adalah terpusat pada kawasan kota.(Persero) CABANG I MALANG 8. Direncanakan pengembangan kawasan terbangun kearah Bagian Wilayah Kota Utara sebagai pusat pengembangan BWK Utara di bundaran besar (jalur lalu lintas Kalimantan poros selatan). Perkembangan Fisik Bagian Kota Perkembangan fisik bangia wilayah Kota Kuala Kapuas pada awalnya berkembang dari pola permukiman penduduk yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). yang berfungsi sebagai pusat pengembangan perkantoran. perdagangan. pembangunan bagi daerah sekitarnya. Mengingat perkembangan kota kuala kapuas semakin berkembang di jalur transportasi darat. pendidikan. Adapun pola perkembangan fisik kota berbentuk grid – liner. Adapun arah utama perkembangan kota Kuala Kapuas saat ini Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -77 .

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.7 Peta Penggunaan Lahan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -78 .

8 Peta Penggunaan Lahan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -79 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

14 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2002 – 2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 114.969 Pertumb 2006 258.355 110.163 73.863 81.555 329.604 2004 119.751 2007 269.15 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.(Persero) CABANG I MALANG 2.448 Pendd% 0.148 113.395 Pertumb 2006 125.209 2004 253.019 5.580 82.659 335.448 jiwa. 2007 Tabel 2.615 88.900 Sumber :Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka.992 342.6.340 1. 2007 Tabel 2. periode 2002 – 2007 turun menjadi 1.996.053 2003 251.382 2007 128. Pertumbuhan pertahun cukup fluktuatif dengan toleransi rendah.470 2005 255.92 Sumber :Propinsi Kalimantan Tengah Dalam Angka.091 87.6 ASPEK SOSIAL EKONOMI 2.13 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan (2002 – 2007) No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Penduduk (Jiwa) 2002 248.567 83.218 112.266 91.152 106.567 348.117 81.360 1.397 355.434% per tahun.082 86.325 69.1 Kependudukan Berdasarkan laporan pada Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan.448 Luas (km2) 2.956 2003 116.96 Kepadatan / km2 90 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -80 .063 83.668 323.656 Pendd% 2. jumlah penduduk Kalsel yang masuk dalam WS Barito-Kapuas pada bulan Februari 2007 sebanyak 269.008 77.932 2005 122.580 1. Jumlah dan kepadatan penduduk Kalimantan Selatan yang termasuk dalam WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut: Tabel 2.557 109.823 107.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.75 15.002.18 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga Tiap Kabupaten WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128.082 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Jumlah RT 23.527 26.504 87.149 Rata2 per RT 5.87 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 2.31 Sumber : Hasil Perhitungan Perkembangan jumlah kabupaten atau kota ditentukan pula oleh perkembangan desa di kawasan tersebut.252 180.341.148 113.615 88.076 4.19 sebagai berikut.082 Luas (km2) 6.296 22.321 3. Tabel 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -81 .266 91.716.00 57.656 777.00 8.17 Jumlah Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk 269.397 355.656 777.834.570 20.397 355.266 91.615 88.448 Kepadatan / km2 90 Jumlah RT 69.300.911 4.458 4.148 113.584 Rata2 per RT 3. Kondisi desa-desa pada kabupaten tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.194 Kepadatan / km2 20 14 23 4 24 14 Sumber : Hasil Perhitungan Jumlah rata-rata jiwa per rumah tangga merupakan dasar perhitungan bagi proyeksi jumlah konsumen / pelanggan air bersih sehingga berfungsi sebagai asumsi dalam analisis.00 23.16 Penduduk Tiap Kabupaten pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah (2007) No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Penduduk 128.00 3.447 4.

memiliki tingkat pendidikan dasar.00 20.2.00 60.00 50.48 1.33 1.19 Kondisi Desa Tiap Kabupaten di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kab / Kota Barito Kuala Jumlah Desa 200 Desa Swadaya 0 Desa Swakarya 0 Desa Swasembada 200 Sumber : Propinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka. terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.00 10.2 Mata Pencaharian dan Pendapatan Penduduk 2. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor. 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis.6.00 40.10 3.00 - 59. Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Selatan didominasi penduduk yang berumur 25 sampai dengan 29 tahun. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.00 30.15 8.12 3.60 4.12 An gk ut an In du st ri n da ga ng an ba ng an ta m Ga s Ba Pe r Gambar 2. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan.1%.34 1.95 1. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor Pertambangan 0. 2007 2. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat. Sebagian besar (69%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor Pertanian. Relatif masih rendahnya tingkat pendidikan SDM yang bekerja.1 Barito Selatan Dari keseluruhan penduduk Barito Selatan. 70. tidak/belum tamat SD/sederajat.6.9 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Selatan Lis t rik . Pe r Ke ua Pe r La in ny a ng an n Ai r ng un a ta ni a da n Ja s a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -82 .81 15.

00 10. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor keuangan yaitu 0.30 % masih belum mendapatkan 80.62 7. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbangnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.42 % berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis.10 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Gambar diatas menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha.G as & Ai r Ba ng un Pe an rd ag an ga n An gk ut an Ja Ke sa ua Ke ng m an as ya ra ka ta n La in ny a Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -83 .00 50. 78.05%.6. 2.2 Barito Utara Dari keseluruhan penduduk Barito Utara.46 8. Komposisi angkatan kerja menurut kelompok umur di Barito Timur didominasi penduduk yang Pe rt a Pe ni an rt a m In ba du ng st ri an Pe ng ol Li ah st ri k an .00 70. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 21.2.33 1. kesempatan.55 2.94 1. terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja itu sendiri.15 0.78 0.56 %) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian.00 60. 53% berumur 10 tahun keatas yang merupakan penduduk usia produktif secara ekonomis. Sebagian besar (31.96 0.2.00 30.00 75.91 0.70 % dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan.29 Gambar 2. Relatif masih rendahnya tingkat pendisikan SDM yang bekerja.00 20.6.00 0. dan sisanya sekitar 78.(Persero) CABANG I MALANG 2.00 40.3 Barito Timur Dari keseluruhan penduduk Barito Timur.

6. Sebagian besar (60%) penduduk berumur 10 tahun keatas bekerja di sektor pertanian. sisanya sekitar 70% masih belum mendapat kesempatan. sedangkan sektor terkecil penyerapannya adalah sektor listrik.85 10.14 4.00 0.56 35.00 20.39 1.(Persero) CABANG I MALANG berumur 25 tahun sampai 29 tahun.00 5.99 19.34 20.11 Prosentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha 2.41 Gambar 2.25 0.99 2. gas dan air minum 0.93 0.75 0.00 30. Rata-rata setiap tahunnya tidak lebih dari 30% dari seluruh jumlah pencari kerja terdaftar yang mendapat pekerjaan.05 3.33 0.024 jiwa tahun 2006 menjadi 42. tidak/belum tamat SD/sederajat.00 15. Rendahnya tingkat pendidikan SDM yang ada terlihat dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja.00 9. Demikian pula penduduk yang bukan angkatan kerja turun dari 54. tamat SLTP/sederajat hingga tamat SLTA/sederajat.25 0.430 jiwa. Hampir 64% penduduk yang bekerja diberbagai sektor memiliki tingkat pendidikan dasar. Berdasarkan jumlah pencari kerja yang terdaftar tercermin tidak seimbanggnya antara pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia.78 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS ah as en isw a gu ru s Be R lu Pe T m ns /ti da iu n k be ke rja Pe Pe ta rta ni m ba ng an In du st Ko ri nt Pe ru ks rd i ag an Tr a n gan sp or Ke tasi ua ng an PN TN S Id an P Ja olri sa -ja sa La in ny a M Pe la ja r r/ m II -84 .00 25. Gambar berikut menunjukkan prosentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha 31.00 1.3 %.268 jiwa ditahun 2007.2.4 Barito Kuala Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2007 yang dilakukan BPS angkatan kerja ditahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu dari 132.814 jiwa turun menjadi 129.

00 10. disusul pencari kerja dari Sarjana Muda sebesar 24.35 0.38 14.00 5.10 Bu ru h 4.39%.00 40.17 0.39 24. pada tahun 2007 jumlah pencari kerja terbesar adalah dari tingkat pendidikan SLTA/sederajad sebesar 41.(Persero) CABANG I MALANG Penduduk yang bekerja juga mengalami penurunan dari 128.31 8.00 t ti n gk at ti n gk at tin gk a M ud a Sa rja na S1 41.5 Be lu m Gambar 2.96 2.6.97 23.28 32.76 2. Gambar berikut menunjukkan prosentase bidang pekerjaan penduduk Barito Kuala 40 35 30 25 20 15 10 5 0 35. Sedangkan pencari kerja terkecil dari adalah dari lulusan SD/sederajad. Berbeda dengan penduduk yang mencari pekerjaan yang mengalami peningkatan di tahun 2007 dari 4.81 SL TP /s e Gambar 2.00 25.20 5.40 1.13 Prosentase Pencari Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan SL TA /s e Sa rja na SD /s e La in -la in Be ke rja PN S AB R Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -85 .00 35.66 I PO LR Pe I Pe ns la iu ja na r /M n ah Pe as ta ni is /P wa er ke bu na n Pe Pe da te ga rn ng ak /N Ka el ry ay aw an an Sw as BU ta M N/ BU M D 2.119 orang tahun 2007.57 0.97%.270 jiwa pada tahun 2006 menjadi 2.08 0.311 jiwa pada tahun 2007.544 orang menjadi 127.00 20. 45.10 0.00 15.52 1. yaitu sebesar 1.00 30.12 Prosentase Bidang Pekerjaan Penduduk Barito Kuala Kapuas /T dk Berdasarkan buku Kapuas Dalam Angka 2007/2008.2.81%.

2. peternakan. dan pasir. dan perikanan.000 mm. rumah tangga. pariwisata dan pengembangan wilayah desa dan kecamatan. Salah satu visi kabupaten di dalam SWS Barito adalah Kabupaten Kapuas yang memiliki visi sebagai daerah pengembangan agrobisnis menuju agroindustri yang mendukung pembangunan daerah. Berkaitan dengan itu maka strategi pembangunan pengairan adalah bagaimana mengembangkan secara optimal sumber daya air yang ada untuk mencapai peningkatan produksi pangan dan peternakan dimana sektor ini menjadi soko guru ekonomi rakyat. jasa. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -86 . daerah ini didominasi oleh tanah organosol atau histosol dalam system Klasifikasi Soil Toxonomi (USDA) (2) Group dataran rawa marin (B) Rawa marine merupakan suatu kawasn yang berasal dari bahan endapan marin yang terdiri dari bahan liat.3.1 Sebaran Lahan Rawa Secara fisiografis lahan rawa di Kalimantan dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) group. Pengembangan diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas bidang pertanian khususnya pangan.6. lumpur.(Persero) CABANG I MALANG 2.6.3 Sektor Pertanian Pembangunan di bidang pengairan untuk kegunaan pertanian senantiasa mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Pemerintah dan pengembangan yang terus menerus selalu diupayakan. yaitu : (1) Group dataran rawa gambut (D) Dataran rawa gambut (Peat Dome D) terbentuk terutama karena pengaruh curah hujan tinggi dan airnya tergenang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. sehingga dipengaruhi air pasang surut dan intrusi air asin. hal ini guna menunjang dan mendukung Program Ketahanan Pangan. Curah hujan tahunan lebih dari 2. meningkatkan penyediaan air baku dan kebutuhan industri. Satuan lahan ini bila ditinjau dari posisinya relatif dekat dengan pantai.

nibung. Setiap group fisiografi dibedakan menjadi beberapa satuan lahan berdasarkan atas genesisnya. bakau. umumnya termasuk rawa pasang surut. pedada.140 Ha) dan Kalimantan Tengah (4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -87 . Kecuali rawa alluvial marin semua lahan yang termasuk dalam group rawa pedalaman /alluvial (A) merupakan rawa non pasang surut. tipe. Dataran rawa marin (B) karena lokasinya relatif dekat dengan pantai. Umumnya berpotensi untuk pengembangan pertanian. kesesuaian lahan komoditas pertanian tanaman pangan dan hortikultura. serta tipe dan kedalaman gambut. Tabel 2. Satuan lahan merupakan dasar penilaian potensi.140. Sehingga setiap lahan akan dapat diperkirakan tingkat kesulitan pengolahan apabila diarahkan untuk peningkatan fungsi dan manfaatnya (reklamasi). dan perikanan.361. api-api. bahan pembentuk.304 Ha). Kadang-kadang dicirikan juga oleh vegetasi alami yang tumbuh. Satuan tersebut disebut satuan kawasan rawa (SKR). dan katek yang dapat digunakan sebagai indikator. perkebunan.20 berikut menyajikan rekapitulasi penyebaran satuan lahan di Kalimantan Selatan (1. kondisi genangan air.(Persero) CABANG I MALANG (3) Group dataran pedalaman /alluvial (A) Rawa ini menempati daerah datar atau dataran pelembahan dan dataran banjir yang umumnya selalu tergenang air. seperti nipah. Untuk dataran rawa gambut dibedakan menjadi rawa gambut yang dipengaruhi oleh pasang surut (D1) dan dataran rawa air tawar (D2).

2 B.124 41.20 Luas dan Penyebaran Lahan Rawa di Kalteng dan Kalsel No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 No 13 14 15 16 Symbol A.1 A.1.702 16.3.2 A.595 0 67. payau Dataran teras berpasir tertutup gambut Rawa gambut ps surut dangkal Rawa gambut ps surut agak dalam Rawa gambut ps surut dalam Jumlah JUMLAH I SUMBERDAYA LAHAN RAWA YG TELAH DIPERUNTUKAN NON PASANG SURUT KAWASAN PERLINDUNGAN RAWA YANG SUDAH ADA Hg Rawa gambut dalam Th Kapasitas tampungan hujan/rawa masa depan Wd Waduk Kawasan pengawetan rawa yang sudah ada HSA Kawasan hutan suaka alam PPA Kawasan perlindungan dan pelestarian alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah Hm Kawasan pantai berhutan bakau HSA Kawasan hutan suaka alam Kawasan reklamasi rawa yang sudah ada R Kawasan reklamasi rawa (transmigran) Jumlah JUMLAH II JUMLAH SELURUHNYA 530.2.3.689 131.686 11. sering tergenang Dataran aluvial.023 985.045 0 23.3 Symbol P.497 19.1 B.049 0 239.806 63.804 89.2.1.623 140.435 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 B.1.3.376.468 37.685 100.717 858.4 A.798 22.371 37.2 D.562 0 Kalimantan Selatan 0 54.676 17.3.2.2.3 Satuan Lahan RAWA NON PASANG SURUT Pelembahan sungai Jalur meander dan tanggul yg lebar dari aliran sungai yang besar Rawa belakang tanggul sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran banjir berawa dan pelembahan sungai Dataran aluvial.800 25.790 396.1.343 12.050 Kalimantan Selatan (Ha) 2.2 A.341 0 28.679 3.1 D.530 5.784 32.3.014 0 653.2 D.2. dan alur-alur ps surut Dataran ps surut berlumpur dengan vegetasi mangrove Dataran muara sungai dan alur-alur ps surut Dataran aluvial marine.7.219 9.257 156.231 14.2.1 A.961 0 0 0 Kalimantan Tengah 247.090 14.2.469 141.637 994.2.215 55.4 A.2.1 D.330 0 0 33.1.4 B.6.140.1 A.2 A.790 896.2.749 29..558 2.652 319.2 B.304 4.1 D.2.421 63.671 71.671 45.618 80.1 B.2.111 74. bergambut Lembah tertutup.875 372.1.194 0 0 94.2.2 A.644 0 621.1 B.6 A.189 43.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.219 0 74.254 4.7 A.997 1.3 29 30 31 32 33 34 35 36 37 RAWA PASANG SURUT Dataran pantai berpasir dan lembah2 diantara beting pasir Dataran pantai berpasir Rawa belakang tanggul pantai dipengauhi ps surut Dataran ps surut berlumpur sepanjang pantai Dataran banjir.284 145.745 23.2.2.705 1.962 7.628 581.1 D.374 76.2.490 2.404 8.3 B.140 Sumber : Penelitian Kesesuaian Lahan Rawa di Kalimantan. sering tergenang Rawa dangkal dengan bekas-bekas jalan aliran sungai Rawa dangkal Rawa dalam Rawa dalam dengan bekas-bekas jalur aliran sungai Satuan Lahan Dataran rawa berpasir tertutup gambut Rawa gambut air tawar dangkal Rawa gambut air tawar agak dalam Rawa gambut air tawar dalam Jumlah Kalimantan Tengah (Ha) 150. muara sungai.389 96.1.2.361.7. 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -88 .1 A.187 70.811 91.276 41.722.369 0 0 0 2.

237 16. teknologi penanganan juga memerlukan peningkatan agar produktivitasnya sesuai target nasional.473 2.341 5 77 24 42 57 25 41 15 100 83 32 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.237 15.666 16.3. Tabel 2.997 30.834 Tanam 1 X ( Ha ) 8. baik intensifikasi atau extensifikasi lahan potensial.303 23.2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Untuk Pertanian Umum Pertanian Tanaman Pangan Lahan untuk pengembangan tanaman pangan padi sawah masih luas.530 5.33 37.855 11.96 23.704 56.604 9.956 Produktivitas ( Kw/Ha ) 29.530 4.199 635.530 4. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -89 .068 16.151 48.243 2.525 2. Kalimantan Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KAB / KODYA Kotabaru Barito Kuala Tanah Laut HSU Banjar HSS Tapin HST Tabalong Banjarmasin JUMLAH Luas Lahan Rawa ( Ha ) 236.22 Luas Penggunaan Usaha tani Tanaman Pangan pada Lahan Rawa WS Barito-Kapuas. Prov.009 108.276. Tabel 2. termasuk lahan rawa.363 76. Berikut ini adalah tabel luas pengusahaan usahatani pada lahan rawa beberapa kabupaten di WS Barito-Kapuas.188 24.295 203. Tahun 1991 No 1 2 3 4 5 WILAYAH Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Jawa Luar Jawa Indonesia Luas Panen ( Ha ) 203.199.341 94. 2002 Dari tabel diatas diketahui bahwa produktivitas padi di Kalimantan masih bisa ditingkatkan.132 Tanam 2 X ( Ha ) 2. Selain itu.997 23.526 2.428 935 314 52 62.243 2.374.21 Produksi dan Produktivitas Lahan Sawah di Kalsel dan Kalteng.414 14.909 83.88 45.243 184.691 885 165 6.324 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.738 26. namun belum dimanfaatkan seluruhnya.892 4.263 12.210 222.089.(Persero) CABANG I MALANG 2.912 53.335 Luas Lahan Usahatani ( Ha ) % 10.171.35 51.850 68.6.046 5.371.658 42.2 Produksi (Ton) 609.003 16.546 7.840 40.

yaitu : perkebunan rakyat. Tananam Perkebunan Terdapat 3 (tiga) pola pengelolaan perkebunan. diantaranya sawo. dan kakao. kopi. dibandingkan produktivitas potensialnya. Sedangkan komoditas perkebunan rakyat yang berkembangan adalah perkebunan karet. perkebunan rakyat di Kalimantan masih tetap menempati posisi strategis dan perlu prioritas pengembangan. dan mangga. Karena masih memberikan kinerja yang dominan baik dalam hal luas tanaman maupun jumlah produksi. Kedua tanaman tersebut ditanam tersebar merata ke seluruh wilayah. Selain itu juga penghasil sayursayuran. jambu mete banyak diusahakan dalam pola tegalan atau pekarangan. merupakan bagian kecil dari lahan yang ada. atau sekitar 66%nya. tetapi produktivitas perkebunan rakyat sangat rendah dibandingkan dengan kedua cara lainnya. perusahaan perkebunan milik pemerintah (PIP) dan perkebunan milik perusahaan swasta. Budidaya sosial seperti karet dan kelapa mendominasi terutama di wilayah lahan pasang surut. kawasan ini diprioritaskan. kemiri. Tanaman kakao dan kelapa sawit sebagai komoditas yang relatif baru cukup berkembang dengan baik. kelapa. Sedangkan tanaman pinang. Tanaman perkebunan tersebut diusahakan oleh petani setempat secara pola kebun. Komoditas kelapa sawit pada dasa warsa terakhir menjadi primadona bagi perusahaan swasta besar dan PTP di Kalimantan. jahe. nenas. Luas lahan dan jumlah produksi perkebunan rakyat menguasai secara dominan. kayumanis. kapok. Produktivitas tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat maupun perusahaan besar masih rendah. cengkeh. sehingga dalam program reklamasi rawa. lada. Hal ini menggambarkan bahwa peluang untuk meningkatkan produktivitas masih besar. Kabupaten Kapuas memiliki lahan rawa yang terluas.(Persero) CABANG I MALANG Tanaman Palawija dan Hortikultura Kabupaten Kapuas menghasilkan buah-buahan yang besar. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -90 . rambutan. papaya. kapulaga.

000 Produktivitas Real Kg/ha (2) 615. dan Babirik.23 Produktivitas Beberapa Tanaman Perkebunan di WS Barito-Kapuas. Pompa air yang telah ada sekarang hanya berfungsi suplai untuk 15% luasan yang ada.1 388.200 1. Pada periode tersebut aktivitas budaya tanaman selain tanaman tahunan berhenti dan petani mengalihkan kegiatannya untuk menangkap ikan atau beternak.161. Prov.2 4. sehingga tanaman padi.6. Pola tanam pada wilayah ini dipengaruhi penggenangan periodik tersebut. Curah hujan adalah salah satu faktor terhadap iklim maupun kegiatan tanam. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -91 .7 404.7 51. Danau Panggang.yang membentang di Alabio.600 15.000 300 1.6 70.3 53.10 % Real (2) / (1) 51. polder tergenang dan musim kemarau terjadi kekurangan air. sehingga pada musim hujan.3 74.50 8.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. No 1 Budidaya Perkebunan Rakyat Karet Kelapa Kopi Kakao Lada Cengkeh Tahun 19911 Kayu manis Tebu Serat karung Perkebunan Besar Karet Kakao Tebu Kelapa Sawit Produktivitas Potensial kg/ha (1) 1.6 51. Kalimantan Selatan.8 4.6 873.3 76. Polder dilengkapi dengan pompa air untuk intake dan untuk drainase. Salah satu kondisi rawa yang telah dikaji secara lebih terperinci adalah kondisi rawa lebak di Kabupaten HSU.300 1. Polder tersebut dibuat untuk mengatur tata air sehingga pada musim penghujan genangan bisa dikurangi dan pada musim kemarau air dari sungai bisa masuk ke polder. 2002.4 67. Lahan rawa di wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan tergenang mulai bulan Oktober sampai Mei.10 320 769 505.500 630 5.3.070.5 153.3 42.3 80.100 600 570 1.7 81.4 74.3 2 Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan.3 79.250 1.100 5.6 816.037.3 Sistem Budidaya Pertanian di Lahan Rawa Pada masa pendudukan Belanda dibuat Polder di Kabupaten Hulu Sungai Utara.6 465. Saat ini polder tersebut berkurang fungsinya.

yaitu lebak dangkal. Areal watun I umumnya ditanami pada bulan Mei/Juni dipanen bulan Agustus/September. Sedangkan pada lebak dalam bisa dimulai bulan Juli. lebak tengahan. Biasanya kekuranan air tersebut ditanggulangi dengan menaikan air dari Sungai Negara dengan pompa air. watun II. Kalsel 2002 Gambar 2. Pembagian areal tanam sering disebut istilah watun. palawija. dan lebak dalam. Tanaman padi umumnya pada lebak dangkal dan tengahan. Sebagian lebak dangkal ditanami tanaman tahunan dengan membuat system surjan untuk menghindari genangan pada musim kemarau. watun III ditanami pada bulan Juli. pada lebak dalam dilakukan budidaya ikan. Penanaman padi pada lebak dalam sering gagal panen karena terlambat tanam. Tanaman tahunan bisa bertahan melewati masa ini Musim tanam di daerah rawa dimulai pada bulan Mei dan berturut mulai dari lebak atas sampai tengah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -92 . hortikultur. Sementara itu di sepanjang levee Negara. Pada umumnya. Namun.(Persero) CABANG I MALANG palawija. seperti mangga dan lain-lain. Lahan rawa pada polder alabio bisa dibagi atas tiga jenis berdasarkan genangan pada musim hujan. dan hortikultura ditanam sekali setahun. di Kab HSU. dan komoditas tanam adalah mangga. kondisi pompa saat ini tidak mampu mensuplai kebutuhan pada lebak atas. lebak tengahan. Dec Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop MUSIM HUJAN MUSIM KEMARAU LAHAN TERGENANG PADI PALAWIJA DAN HORTIKULTURA Sumber : Laporan Akhir Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. ditanami bulan Juni/Juli dan panen bulan September/Oktober.14 Pola Tanam Polder Alabio Keterlambatan penanaman tersebut bisa mengakibatkan gagal panen. Tanaman padi pada lebak atas sering kekurangan air pada musim kemarau. ditanam tanaman tahunan. Lebak dalam.

sosial. Peruntukan lahan merupakan hal yang juga memerlukan kajian terhadap masalah ekonomi.53 4. dan persyaratan lingkungan hidup tertentu.049 305.232 304.471 1.18 0. hukum.4 Prioritas Pengembangan Kawasan Reklamasi Rawa Untuk Pertanian Prioritas peruntukan lahan berdasarkan kesesuaian sifat fisik dan lingkungan hidup.74 2.89 0.304 148. yang ditentukan oleh iklim. tanah.140.361.903 6. 2002.406 229.66 0.33 2.89 1 1. hidrologi.3 1.722 60.226 4.15 Pembagian Polder Alabio atas Watun 2. politik. dan juga didasarkan pada potensi wilayah.000 KALIMANTAN TENGAH 1 Barito Hulu – Buntok 2 Sebangau I 3 Barito Tengah 4 Kahayan – Murung I 5 Sebangau II 6 Kahayan – Murung II 7 Hulu Kahayan – Murung 8 Tangkiling – Kahayan Hulu JUMLAH KALTENG KALIMANTAN SELATAN 1 Banjar I 2 Banjar II 3 HSU dan Tengah II 4 Tanah Laut 5 Barito Kuala 6 HSU dan Tengah I 7 Kotabaru 8 Barito Tengah 9 Sei Kupang 10 Asam-asam – sebamban JUMLAH KALSEL Barito Selatan Kapuas Barito Timur Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Kapuas Banjar Banjar HSU dan Tengah Tanah Laut Barito Kuala HSU dan Tengah Kotabaru HSU dan Banjar Kotabaru Tanah Laut dan Sumber : Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Kalimantan. Dinas Perkebunan Prop Kalsel 1992 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -93 .(Persero) CABANG I MALANG Watun 1 Watun 2 Watun 3 Dominan padi dan palawija Dominan beje Masalah utama : kekurangan air pada musim kemarau Masalah utama : genangan air Gambar 2.447 102. dan kelembagaan yang menurut keterlibatan lintas sektoral.3.369 34.656 69.19 10.277 81.97 2.206 113.988 267.8 Lembar Peta 1:250.24 Prioritas Pengembangan Satuan Kawasan Rawa (SKR) di WS BaritoKapuas No NAMA SKR KABUPATEN LUAS SKR Ha 369.899 105.140 % 3. Sehingga disimpulkan bahwa faktor-faktor pendukung prioritas adalah : (a) urutan prioritas pengembanan komoditas berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan (b) luas hamparan satuan kawasan rawa (SKR) (c) ketersediaan aksesibilitas (d) kelayakan ekonomi dari komoditas yang secara teknis sesuai. topografi/bentuk. Tabel 2.361 20.5 0.89 2 41.06 2.08 0.303 501.57 2.6.41 0.136 304.899 211.77 0.

kakao.5 Pengembangan Perkebunan Pengembangan sektor perkebunan berdasarkan kajian hasil penelitian diatas menempatkan 2 (dua) kelompok perkebunan rakyat. 6% Other. 63% Kelapa sawit. 14% Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren kemiri.(Persero) CABANG I MALANG 2. tahun 2004. 1% tebu.6. lada. dan perkebunan besar (yang dikelola oleh perusahaan). cengkeh. serat karung. 0% aren. telah disusun 15 kimbun dengan 7 komoditas. Dari tabel tersebut nampak bahwa komoditas karet mendominasi sektor perkebunan. 3% Karet. Luasan perkebunan karet terbesar berada di Kabupaten Tabalong. kakao. kopi. dan kelapa sawit. Kalsel. tebu. kelapa. tebu.16 Preferences Pengembangan Perkebunan di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -94 . kayu manis. 13% obat-obatan. Sedangkan komoditas dari perkebunan besar adalah karet. Kelapa . 3% Gambar 2. Komoditas yang menjadi prioritas perkebunan rakyat adalah karet. sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan peluangnya menjadi cash provit bagi wilayah di dalam WS Barito-Kapuas. Berdasarkan hasil kajian dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan. pada tabel berikut ini.3.

612 26. Prop Kalsel No 1 KABUPATEN Kab Tanah Laut KOMODITAS Kimbun Kelapa sawit Kimbun Karet Kimbun Cengkeh Kimbun tebu Kimbun Obat-obatan Kimbun karet Kimbun kelapa Kimbun kelapa Kimbun karet Kimbun aren Kimbun karet Kimbun kelapa/ aren Kimbun karet Kimbun kemiri Kimbun kopi Kimbun karet Kimbun kelapa sawit Kimbun kelapa Kelapa sawit Karet Kelapa tebu kemiri obat-obatan aren AREAL EKSISTING (Ha) 20.180 349 7.106 N/A 14.056 121. Sept 2004 2.6 Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa Secara umum sektor pertanian dan sub sektor pendukungnya masih menempati ranking pertama terhadap pendapat wilayah secara umum. Pada analisis ini diasumsikan bahwa untuk mengerjakan usaha taninya petani hanya menggunakan tenaga kerja dari keluarga petani yang bersangkutan.928 5.808 7.422 14.461 24. walaupun pada beberapa tempat didominasi oleh pertambangan dan industri pendukungnya.005 974 N/A 13.086 994 1.000 4.362 2.638 1.25 Potensi Areal dan Rencana Pengembangan Perkebunan di WS BaritoKapuas.000 7.678 N/A 960 1.185 72.174 1.837 1. dan komoditas yang digunakan adalah padi. umbi alabio. Pada lahan basah kegiatan dilakukan pada watun I sampai watun 3.013 3.920 900 994 2. walaupun dalam kenyataannya tidak dibayar secara langsung.638 148 36. Besaran nilai return to family labour seakan-akan besarnya upah yang dibayarkan kepada anggota keluarga.235 13.085 17.454 3.678 N/A 4.358 8.670 1.096 898 N/A 900 2.615 6.627 200 8.097 8.362 1.061 16.874 25. Komoditas yang Diusulkan Kajian pengembangan komoditas didekati berdasarkan aspek sosial ekonomi.446 885 N/A 3.180 1.986 12. palawija.892 POTENSI (Ha) 10. dan sayuran.002 19.598 9.002 2.048 970 890 7.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.000 85.137 33.6.690 5.075 11.506 1.3.771 15.423 3. Kegiatan pertanian masih menonjol pada hampir semua wilayah yang memiliki lahan basah.670 148 5.066 4.763 PRODUKTIVITAS (Kg/Ha) 6.574 755 N/A 5.975 33.260 1.358 809 1.586 42.993 4.465 9.813 PRODUKSI (Ton) 5.244 826 582 7.650 18.366 3.180 10.000 N/A 3.174 349 17. Untuk mengentahui kecenderungan itu maka dilakukan analisis return to family labour. waluh.638 2 3 Kab Banjar Kab HSS 4 5 6 Kab HST Kab HSU Kab Tabalong 7 Kab Batola Sumber : Dnas Perkebunan Propinsi Kalsel.845 13.988 1.159 9. Nilai return to family labour Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -95 .369 147.719 3.314 30.

5m x 1.500.000 ekor tebar Dari kajian diatas. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -96 . 6.(Persero) CABANG I MALANG diperoleh dengan dengan menghitung besarnya tenaga kerja yang menyebabkan nilai NPV (net present value) = 0 (nol).000.000 1. dan hanya pada satu kawasan tertentu saja (Desa Sungai Durait Tengah).000. di Kab HSU.5m : 500 ekor tebar = 1.214. namun penyebarannya tidak merata.5m x 1. Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan untuk membudidayakan pada kawasan lain (ekstensifikasi).5m : 1. nampak bahwa usaha tani dengan basis tanaman pangan pada kabupaten HSU memberikan return to family labour lebih rendah dari usaha peternakan maupun perikanan.600 7 Budidaya karamba ikat betook ** Per karamba 640. Hasil kajian tersebut adalah : Tabel 2.26 Nilai Return to Family Labour Berbagai Jenis Usaha Tani NO JENIS USAHA TANI UNIT RETURN TO FAMILY LABOUR ( RP ) 1 2 3 4 5 Usaha tani padi Usaha tani kedelai Usaha tani jagung Usaha tani waluh Usaha ternak itik Ha/musim Ha/musim Ha/musim Ha/musim 100 ekor/kandang 5.-).370 Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak.305 2. Hal ini merupakan salah satu penyebab polder alabio kurang optimal pemanfaatannya. Usaha waluh menempati posisi tertinggi.5m x 1.556.000 20.300 6 Budidaya keramba ikan betutu * Per karamba 9.5m x 1.974. Kalsel 2002 * ** = 2.000. Besarnya return to family labour dapat dipakai sebagai salah satu indikator untuk melihat besarnya daya tarik petani terhadap suatu usaha tani.000 1. Untuk menaikkan nilai return to family labour. maka digabungkan dengan usaha ternak itik (menjadi ± Rp.000.

mempunyai pangsa pasar baik .lebih tahan penyakit. menyediakan pelayanan terpadu (reproduksi. kesehatan. populasi harus diimbangi dengan tersedianya fasilitas kesehatan ternak. Pengembangan Peternakan Kerbau Rawa Beberapa kelebihan dari peternakan kerbau rawa antara lain : .mempunyai kemampuan mencerna makanan lebih baik . Ciri POSYANDU. Dengan memperhatikan kapasitas tampung dan menjaga meluasnya gulma. nutrisi. pengembangan tempat POSYANDU (pelayanan terpadu ternak kerbau) di kantong-kantong produksi. prospek pengembangan peternakan sangat terbuka untuk ditingkatkan.penghasil pupuk organik potensial . A.3. . kecenderungan kebutuhan konsumen dengan ketersediaan pasokan komoditi ternak semakin meningkat dari tahun ke tahun. dan pemasaran) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -97 .mudah beradaptasi dengan lingkungan . Program yang diusulkan dalam pengembangan peternakan kerbau rawa adalah: 1. pakan.864 ekor pada tahun 2000 dengan luas lahan 24.sifat kerbau jinak dan mudah dipelihara . karena media air sangat cepat menularkan penyakit.7 Pengembangan Peternakan di Lahan Rawa Berdasarkan data peternakan nasional.makanannya murah dan tidak selektif .dapat dijadikan sebagai tabungan peternak Peternak kerbau rawa di Kecamatan Danau Panggang dengan populasi sebanyak 5. Hal ini menjadi kritis. Oleh karena itu.461 Ha masih memungkinkan untuk dikembangkan.dapat ditingkatkan pada aspek teknologi/bioteknologi untuk tujuan peternakan rakyat maupun komersil .6.sebagai ternak kerja . secara umum.(Persero) CABANG I MALANG 2.

khususnya mikro mineral disertai adanya anthelmintic melalui pengembangan metode salt mineralized lick. Penyelidikan 7. 5.(Persero) CABANG I MALANG 2. adalah dengan mengendalikan host intermediare-nya yaitu siput (lymnea rubiginosa). dan Taiwan. sekaligus sebagai pengembangan sistem penggembalaan (paddock) di daerah rawa. Program pengembangan yang dapat diusulkan adalah : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -98 . 4. kemungkinan kualitas peternak dengan meningkatkan pengetahuan. Rasionalisasi jarak dan sebaran kalang agar mudah dijangkau saat patus untuk mencegah kematian anak. terutama yang berkaitan dengan reproduksi. B. Introduksi beberapa pakan total daerah yang rawa yang tinggi kadar proteinnya (catatan : protin rumput rawa masih rendah dari yang dibutuhkan kerbau). 3. Saat ini terlihat bahwa rumput rawa kurang beragam jenisnya. Pengembangan Peternakan Itik Alabio Itik alabio merupakan maskot daerah di Kabupaten HSU. dan sedikit sekali berupa leguninosa. mengembangkan manajemen wilayah kantong produksi. kesehatan ternak dan pemasaran. Itik alabio sebagai itik pedaging merupakan andalan ekspor di beberapa Negara seperti Korea. 8. dengan prospek yang masih sangat memungkinkan sebagai produsen telur. Masyarakat telah mampu menyilangkan itik dengan jenis lain merupakan potensi SDM yang baik untuk mendapatkan varietas yang efisien. Teknologi mutakhir tentang persilangan merupakan komponen penunjang yang sangat baik untuk diimplementasikan di Kabupaten HSU. dan merupakan salah satu kawasan ternak andalan di DAS Barito. China. 6. Suplementasi pakan terpadu. Itik ini merupakan kualitas unggul di Indonesia. nutrisi pakan. Menjajaki tentang siput ini dapat membantu dalam upaya penemuan metode yang tepat dalam mencegah penyakit cacing hati. Pengendalian gulma (eceng gondok) agar lahan tempat tumbuh pakan ternak tidak menyempit. Salat satu cara mengurangi infeksi cacing hati.

itik. terutama dalam hal menghasilkan telur. khususnya itik afkir pengembangan system grading telur dan daging itik alabio pembuatan model system perkawinan untuk peningkatan mutu generik C. antar daerah. Pengembangan Peternakan Ayam Buras Perusahaan ayam buras sangat terbuka baik untuk pasokan lokal. Dengan demikian masih sangat terbuka untuk dikembangkan. maupun antar Provinsi. Salah satu sentra pengembangan ternak ini adalah di Kabupaten HSU. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -99 . padi. dan pakan aquatic) formulasi pakan lokal dan percontohan home industry produksi pakan lokal pengembangan pakan aquatic kaya protein dan energi sesuai dengan kondisi rawa. pengolahan daging itik. Teknologi persilangan yang mampu menghasilkan bibit secara efisien Ketersediaan pakan yang kontinyu dengan harga stabil Penanganan penyakit secara massal Ayam cukup rentan terhadap penyakit New Castle Descease (NCD) Adanya pengairan terpadu akan makin mendukung usaha peternakan ayam Program pendukung ternak ayam buras adalah : a) b) c) Vaksinasi Memberikan pakan tambahan Minimisasi biaya (low cost input) dengan menggunakan pakan biaya murah. Beberapa hal yang mendukung adalah : Peternak mampu menyilangkan produk ternak unggul yang setara ayam ras.(Persero) CABANG I MALANG demplot kandang terapung dengan menggunakan prinsip optimalisasi sumberdaya dan pendauran limbah yang efisien dalam suatu komoditas terpadu (ikan. walaupun pertumbuhannya kurang optimal.

Perikanan Tangkap Hal-hal yang mendukung pengembangan perikanan tangkap di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Perlunya penegakan hukum. B. sehingga harga ikan telah kembali normal. dimana ikan-ikan dengan nilai ekonomis tinggi seperti gabus dan betook sudah mulai berkurang.(Persero) CABANG I MALANG d) Metode pengembangan dengan system back yard farming dengan pemberian pakan system free choice dari areal sekitar perkandangan. A. diketahui bahwa hasil tangkap nelayan rawa mulai menurun. 2. Menampung ikan rawa yang bernilai ekonomi tinggi pada musim kemarau.6. yaitu : 1) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -100 . apabila mungkin didukung dengan pompa Pembukaan kawasan budidaya. sehingga siklus aliran masuk dan keluar teratur. 2) pengembangan perikanan tangkap.3. Sektor perikanan pengembangan budidaya ikan rawa. Dikembangkan suatu bangunan pengendali muka air pada watun yang telah diplot peruntukannya. Teknologi menjebak ikan dengan beje. dengan sentuhan teknologi tepat guna. Berdasarkan data kuantitas penangkapan ikan. karena rawa lebak adalah milik umum. Pengembangan Budidaya Ikan Rawa di Lahan Rawa Lebak Hal-hal yang mendukung pengembangan budidaya perikanan di lahan rawa lebak adalah sebagai berikut : Penataan kawasan. tetapi pada saat surut pada Watun – 3. pada kawasan lahan rawa lebak diarahkan pada 2 (dua) cara. dan diperlukan percontohan demplot.8 Pengembangan Perikanan di Lahan Rawa Saat ini kegiatan perikanan merupakan kegiatan tambahan disamping kegiatan bertani dan beternak. dengan pengaturan teknis Mengembangkan system budidaya sesuai ketersediaan air. sehingga siapapun boleh menangkap di perairan tersebut Kegiatan penangkapan ikan sebaiknya dibatasi dengan jenis alat yang digunakan. Untuk mengatasinya budidaya perlu dilakukan. dan menampung sampai musim hujan. misalnya pada musim hujan budidaya dilakukan di Watun – 1.

9 Pertanian Terpadu (Integrated Farming) Lebak yang berada di sepanjang aliran DAS Barito memiliki berbagai sifat fisik yang berbeda-beda dan memerlukan pemanfaatan yang berbeda pula. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -101 .6. peternakan. ii) variabilitas kondisi lahan secara mikro. sesuai dengan potensi masing-masing bagian wilayah tersebut. Hal ini akan sangat menguntungkan apabila kawasan yang dikembangkan memiliki kesesuaian untuk pengembangan potensi pertanian. yaitu penelitian yang dilakukan pada salah satu rawa lebak di Kabupaten HSU. Dengan mengkaji kondisi saat ini. sehingga akan didapatkan kondisi yang optimal. i) potensi lahan dalam siklus setahun.(Persero) CABANG I MALANG Kesepakatan bersama dalam suatu reservat Penebaran bibit pada perairan bebas. Hal yang perlu diperhatikan adalah. di Alabio. iii) analisis finansial.3. Oleh karena itu langkah yang paling pengembangan pertanian yang terbaik adalah mengembangkan program pertanian terpadu (integrated farming). Konsep pengembangan ini juga mengacu pada kondisi musim. dan perikanan. dengan komposisi yang bervariasi. maka disusun skenario seperti tabel berikut. dengan teknologi yang sesua Manfaat yang didapatkan apabila dilakukan pengembangan yang terencana dan terarah : a) b) c) d) e) Masyarakat akan memperoleh pendapatan tambahan selain dari bertani Kegiatan perikanan dapat mengarah pada peningkatan pendapatan daerah Kegiatan perikanan pada batas tertentu menjadi sumber protein yang murah bagi masyarakat Kegiatan perikanan merupakan langkah konservasi terhadap species tertentu Pengembangan pada tahap lanjutan merupakan potensi wisata 2.

dan 9. Cash flow dalam perhitungan NPV adalah nilai net cash flow yang telah dikurangi biaya untuk tenaga kerja. di Kab HSU. Kalsel 2002 Catatan : Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten HSU. dan digunakan untuk membandingkan skenario terbaik. 2.3.27 Skenario Usaha Tani Terintegrasi NO SKENARIO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMPONEN KOMPONEN TANAMAN PETERNAKAN Padi Padi Padi Padi Kedelai Kedelai Kedelai Kedelai – Itik Itik Ayam Ayam Itik Itik Ayam Ayam – KOMPONEN PERIKANAN Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Beje / kolam rawa Nelayan rawa / jarring tancap Ikan karamba dan betutu Sumber : Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. maka disusun program kegiatan yang dapat diselenggarakan dan dikompromikan pelaksanaannya oleh institusi yang terkait. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -102 .10 Program Pengembangan Rawa Berdasarkan hasil analisis dari penelitian pengembangan rawa. NPV yang dihitung merupakan nilai relatif dan bukan absolut.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.6. Indikator yang digunakan adalah Net Present Value (NPV). Program kegiatan ini akan lebih baik apabila mengarah pada penyelenggaraan pertanian terpadu (integrated farming). analisis finansial yang terpilih adalah 1.5.3.

cabe P eningk atan bak u pakan bahan P enam bahan tanam an aquatic pak an (azolla. di K ab H S U . jagung) Lim bah ikan L O K AS I W atun – 1. perk aw inan) P engem bangan perikanan Integrated farm ing P oli kultur P oli kultur Jarring tancap U dang galah P engem bangan tanam an tahunan K ehutanan (m eranti raw a. upland W atun – 1. duckw eed.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. baung local K olam raw a W atun – 1 W atun – 2 U pland W atun – 3 W atun – 2. w aluh. W atun – 2. W atun – 2 P engem bangan pertanian W atun – 1. W atun – 2 P engem bangan peternak an W atun – 1 W atun – 1.28 Skenario Usaha Tani Terintegrasi Pada Lahan Rawa P R O G R AM P engem bangan P enataan A ir K E G IAT AN T anggul antar w atun P om panisasi air tanah dangkal S um ur raw a P enanam an sagu pada bek as galian sum ur raw a T anam an pangan dan Intensifik asi (padi. k um pai sagu) P enanam an pangan (padi. K alsel 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -103 . haruan B aung – patin (kolam raw a) B etook . k angk ung darat. hortik ultura jagung. padi hiang. ram in) P erkebunan (kayu putih. terung. acacia. crasikarva) P engem bangan w isata P engem bangan w isata alam budaya pak et dan P apuyu. sagu. W atun – 3 P engem bangan bibit itik P eluang usaha itik K andang panggung K andang terapung P eluang usaha ayam B ack yard farm ing buras (vak sinasi. patin local (kolam rawa) P atin. W atun – 3 W atun – 2 W atun – 2 W atun – 1. W atun – 3 S um ber : S tudi P engem bangan Lahan R aw a Lebak. sepat. pakan. W atun – 2. k elapa hybrid. perbaikan pakan) P engem bangan usaha P os pelayanan k erbau raw a pengem bangan kerbau (kesehatan.

(Persero) CABANG I MALANG 2.B. Disisi lain. 2005 2. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap sejumlah 1.4. Sedangkan pada tahun 2006 terjadi penurunan jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan sebanyak 164 buah dan tenaga kerja (639 orang) serta nilai investasi (6.164 orang.137 1000 Sumber : Barito Selatan dalam angka.29 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2005) Kabupaten Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.299 milyar rupiah. pada tahun 2005 terserap 82 orang naik menjadi 746 orang pada tahun 2006. Awai Jumlah Tahun 2004 Industri Besar Perusahaan Tng. Banyaknya perusahaan dan tenaga kerja di Kabupaten Barito Utara menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut. untuk industri kecil (formal dan non formal) jumlah unit usaha kecil pertanian dan kehutanan tahun 2005 adalah 299 buah dengan jumlah tenaga kerja 759 orang dan nilai investasi sebanyak 6. Industri menengah berjumlah 4 perusahaan dengan 37 tenaga kerja dan industri besar hanya 2 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 1. Demikian pula untuk tenaga kerjanya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -104 .1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah perusahaan industri kecil di Barito Selatan tahun 2005 sebanyak 6 perusahaan. Kerja 1 623 1 2 1 4 4 8 8 21 37 132 2 2 1.6.4.4 Sektor Industri 2.137 orang.6.162 milyar rupiah).6. Tabel 2.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah perusahaan industri besar/sedang di Kabupaten Barito Utara tahun 2005 sebanyak 3 perusahaan sedangkan pada tahun 2006 bertambah menjadi 13 perusahaan. Kerja 1 514 Industri Sedang Perusahaan Tng.

Berdasarkan klasifikasi industri maka klasifikasi industri kecil yang paling besar yaitu 87 buah disusul industri rumah tangga 71 buah dan industri sedang 36 buah. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Industri Besar Perusahaan Tenaga Kerja 3 95 4 136 6 155 13 386 Industri Sedang Perusahaan Tenaga Kerja 3 17 1 5 9 52 3 18 16 92 IKKRT Perusahaan Tenaga Kerja 4 11 28 64 16 39 5 11 77 152 16 40 146 317 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Timur Jumlah perusahaan industri besar. kecil dan rumah tangga berdasarkan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala berjumlah 152 buah. Penurunan jumlah tenaga kerja terjadi karena sebagian tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di kelompok IKKRT diserap oleh kelompok industri besar dan sedang. Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Utara 2.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. jumlah perusahaan pada tahun 2007 sebanyak 146 perusahaan.3 Kabupaten Barito Timur Untuk Kabupaten Barito Timur. Tabel 2.6. sedang.4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -105 . dengan jumlah terbesar terletak di Kecamatan Alalak dan Kecamatan Marababan masing-masing 35 buah dan 25 buah.30 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2006) Kabupaten Barito Utara No. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 317 orang. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei Jumlah Industri Kecil Aneka Industri Perusahaan Tenaga Kerja Perusahaan Tenaga Kerja 24 66 0 0 18 35 0 0 29 127 0 0 37 81 0 0 215 714 0 0 16 46 0 0 339 1069 0 0 Sumber : Dinas Pertambangan.31 Banyaknya Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Kecamatan (2007) Barito Timur No.

000.4 Kabupaten Kapuas Untuk Kabupaten Kapuas.5 Kabupaten Barito Kuala Nilai investasi dan nilai produksi industri di Kabupaten Barito Kuala selama tahun 2007 bernilai Rp 1.000. pakaian dan kulit Kertas.6. Sedang Kecil dan Rumah Tangga di Kabupaten Barito Kuala No.33 Jumlah industri Besar.000. Tabel 2..4.disusul industri kayu dan barang dari rotan yang bernilai Rp 635.32 Banyaknya Jumlah Unit Usaha Industri di Kabupaten Kapuas.. Dengan nilai investasi terbesar berasal dari industri logam sebesar Rp 775.(Persero) CABANG I MALANG 2.6.-. Tabel 2.dan Rp 3.000.000. barang dari kertas dan percetakan Kayu dan barang dari rotan Kimia. Jumlah dan jenis industri di Kabupaten Barito Kuala ditunjukkan pada tabel berikut. jumlah unit usaha industri pada tahun 2007 sebanyak 20 perusahaan. No Jenis Industri 1 Minuman Ringan 2 Meubel Kayu 3 Roti 4 Komponen Bahan Bangunan 5 Foto Copy 6 Saos Tomat 7 Perhiasan Emas 8 Service Sepeda/Motor/Mobil 9 Ukiran Getah Nyatu 10 Jasa Kecantikan 11 Service Elektronik Jumlah Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Jumlah Unit Usaha 4 1 1 2 4 1 1 3 1 1 1 20 Tenaga Kerja 12 2 3 12 6 5 4 24 10 2 2 82 2. minuman dan tembakau Tekstil.000. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Makanan.000.777.4. karet dan plastik Barang Galian bukan logam Industri dasar dari logam Barang dari logam Industri lain Jumlah Klasifikasi Industri Sedang Kecil 0 14 0 0 0 16 16 20 20 0 0 0 0 11 0 6 0 20 36 87 Besar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Rumah Tangga 22 0 0 5 0 0 0 0 44 71 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -106 .000.082. sedangkan untuk tenaga kerja yang terserap 82 orang.-.

718. publikasi P3G tahun 1992 Peta Geologi Lembar Buntok – 1714. Batuan berasam. Koreksi petrografis dan biostratigrafi mestinya perlu dilengkapi. Miosen bawah. Pembahasan lebih rinci geologi lokal lebih dititikberatkan pada litostratigrafi sesuai superposisi perlapisan setempat.6.73 %) yang hanya terdapat di Sub-sub DAS Balangan dan Sub-sub Tabalong Kanan.18 %) serta paling luas terdapat di Sub DAS Negara yang merata di seluruh Sub-sub DAS. Berdasarkan penyebaran formasi batuan yang ada di SWS Barito maka secara umum dapat dibedakan berbagai batuan utama penyusun areal ini. b. publikasi P3G tahun 1981 Peta Geologi Lembar Banjarmasin – 1712. diantaranya : Peta Geologi Lembar Long Pahangai – 1716.(Persero) CABANG I MALANG 2. Basa menengah. publikasi P3G tahun 1986 Kondisi geologi WS Barito di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan terdiri dari Alluvial Induk dan Terumbu Koral. Beberapa referensi geologi regional yang akan mendasari pembahasan geologi di SWS Barito. Batuan Sedimen yang kaya akan mineral kuarsa (Formasi Dahor). Batuan sedimen yang berumur Tersier lainnya adalah batugamping (Formasi Berai) dan batupasir kuarsa (Formasi Montalat). selain itu ditemukan pula batugamping dan batupasir gampingan (Formasi Tanjung).898. rawa atau undak aluvium. c. determinasi litologis lebih didasarkan secara megaskopis dan referensi terdahulu. yaitu : a.077 ha (45.599 ha (12. Jenis batuan yang paling dominan adalah Aluvial Induk dan Terumbu Koral dengan luas 841. namun dalam keterbatasan selama studi ini. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -107 .5 Sektor Pertambangan Bahan Tambang Wilayah Sungai (WS) akan berdasar pada evaluasi sumber daya alam (natural resources) yang tersedia di WS tersebut. Batuan sedimen klastik halus sampai kasar yang berumur Tersier yang mengandung mineral kuarsa dan sedikit meterial vulkanik dengan sisipan batugamping (Formasi Warukin). publikasi P3G tahun 1993 Peta Geologi Lembar Muarateweh – 1715. Batuan Basa. Aluvium : merupakan endapan dasar sungai. diantaranya bersumber dari kondisi geologi wilayah tersebut. Permo-karbon dan Pra-tersier. Adapun yang terendah adalah jenis batuan basa menengah dengan luas 23.

pendulangan emas banyak dilakukan oleh penduduk dan beberapa perusahaan penambangan telah mengusahakan emas ini. Ketersediaan Sumber Daya alam bahan galian di Satuan Wilayah Sungai Barito dapat diuraikan sebagai berikut: 2. sekis dan gneiss. Batuan beku baik yang berupa batuan plutonik bersifat granit (asam) dan intrusi menengah sampai basa. berperan sebagai perangkap untuk emas.(Persero) CABANG I MALANG d. e. Batuan metamorf terutama kuarsit dan batuan metamorf lainnya seperti filit. Banyak emas mungkin berasal dari epitermal dengan alasan sebagai berikut : mineralisasi emas dan terobosan dangkal berkaitan secara ruang dan waktu. mangan dan platina 2. Hal ini wajar mengingat batuan induknya yang berupa batuan granit dan batupasir kuarsa sangat luas penyebarannya. Endapan pasir kuarsa tersebut merupakan hasil proses pelapukan batuan yang mengandung mineral kuarsa di atas.2 Bahan Galian Non Logam Mineral non logam yang cukup luas penyebarannya dan baik prospeknya adalah pasir kuarsa. Batuan vulkanik tua menghasilkan tanah yang kaya akan unsur hara. Mineral non logam lainnya adalah bentonit yaitu jenis mineral lempung montmorilonit yang dapat dimanfaatkan untuk lumpur dalam pemboran minyak bumi yang memang jarang ditemukan cadangannya di Indonesia. Emas cenderung sangat berlimpah di wilayah kampung Tujang di Sungai Murung. yang kemungkinan berasal dari Kelompok Selangkai yang diterobos oleh sumbat Batuan Terobosan Sintang. kromit. Kemungkinan sesar detachemen bersudut kecil pada dasar runtunan Tersier.5. nikel.6. logam dasar jarang ditemukan dan jenis ubahan penunjuk (pengersikan dan oksidasi/argilitisasi). Mineral logam lainnya adalah besi.5.1 Bahan Galian Logam Mineral logam utama yaitu berupa emas primer dan sekunder (plaser). stibnit dan sinabar jumlahnya sedikit tetapi merupakan komponen mineralisasi yang tersebar luas.6. f. bagian dasar dari runtunan endapan daratan muka Tersier dan atau batuan Terobosan Sintang. Endapan emas diduga terbentuk sebagai hasil kegiatan hidrothermal yang berhubungan dengan peristiwa magmatik Oligosen akhir sampai Miosen yang menghasilkan Batuan Terobosan Sintang dan bersamaan dengan pengangkatan tinggian alas (Komplek Busang). Mineral lempung lainnya yang merupakan bahan baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -108 .

umumnya berperingkat lignit sampai berbitumen tanggung (sub-bituminous).(Persero) CABANG I MALANG industri keramik adalah kaolin. Contohnya adalah batubara Ombilin (Sumatera Barat). yaitu kawasan yang dinilai bisa berkembang cepat dengan sedikit investasi pemerintah. Grup kedua adalah batubara Eosen yang umumnya mempunyai peringkat lebih tinggi daripada batubara Miosen. Namun yang bernilai ekonomis dan berskala besar hanya terpusat pada cekungancekungan Tersier di Indonesia bagian barat. Umumnya batubara Eosen mempunyai kandungan abu yang lebih tinggi daripada batubara Miosen. Senakin (Kalimantan Selatan) yang umumnya berperingkat berbitumen tanggung dengan bitumen berat isi tinggi. Pengembangan Kawasan Andalan Pada Sektor Pemanfaatan Potensi Mineral Dan Energi Kawasan andalan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) yang selanjutnya disebut kawasan andalan. karena kawasan tersebut akan mendapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -109 . Kaolin cukup luas penyebarannya dan prospeknya sangat baik. Mutu batubara Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua grup. maka DP-KTI memilh kawasan-kawasan andalan yang diprioritaskan pengembangannya. Namun karena keterbatasan dana pembangunan. Sumberdaya batubara Indonesia tersebar luas di seluruh kepulauan. Dengan memilih satu kawasan andalan dari setiap Provinsi diharapkan keberhasilannya lebih terjamin. yaitu di Pulau Sumatera dan Kalimantan. singkapan yang baik dapat dijumpai di hulu Sungai Kintap Kecil dan di Sungai Binuang. Pertumbuhan yang terjadi di kawasan andalan tersebut diharapkan berdampak positif terhadap pertumbuhan kawasan belakangnya (hinterland). Kecuali batubara Sangatta (Miosen) yang umumnya berperingkat bitumen beratsiri tinggi (high volatile bituminous). Grup pertama adalah batubara yang berumur Miosen. Batubara banyak dijumpai di Formasi Tanjung dengan tebal antara 50 – 100 cm. dalam hal ini adalah kawasan yang berpotensi untuk cepat tumbuh dibandingkan dengan kawasan lain yang ada dalam satu Provinsi. Kawasan andalan yang terdapat di KTI sebagaimana tercantum dalam Strategi Nasional Pemantapan Pola Tata Ruang (SNPPTR) berjumlah 56 kawasan. selain itu juga dijumpai dalam Formasi Warukin.

Dari ketigabelas kawasan andalan tersebut. Emas Batubara Gambut Intan Kaolin Pasir Kuarsa Fosfat Batu gamping Kristal Kuarsa 10. Pulau Seram di Maluku. Bitung-Manado di Sulawesi Utara. 2.(Persero) CABANG I MALANG prioritas Barat. pariwisata dan industri. potensi sumber daya alam dijadikan sebagai arahan untuk mengembangkan suatu kawasan. 5. alokasi DAS dana pembangunan. 9. Biak di Irian Jaya. Selatan. Besi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -110 . juga diuapayakan pemberdayaan sumber daya manusia setempat agar dapat berpartisipasi dalam pengembangan kawasan tersebut. Batui di Sulawesi Tengah. di Sakupangbalaut (Satui-Kusan-Kelumpang-Batulicin-Pulau Laut) di Kalimantan Sasamba (Samarinda-Sangasanga-Muara Jawa-Balikpapan) Kalimantan Timur. 6. kehutanan. Bukari (Buton-KolakaKendari) di Sulawesi Tenggara. Dengan demikian. mineral-mineral tersebut adalah : 1. terdapat tujuh sektor ekonomi yang menonjol untuk dikembangkan yaitu : sektor/subsektor pertanian tanaman pangan. Dengan demikian di DP-KTI telah menentukan 13 kawasan andalan sebagai berikut : Sanggau di Kalimantan Kakab (Kapuas-Kahayan-Barito) Kalimantan Tengah. 3. pertambangan. Selain itu. Pare-Pare di Sulawesi Selatan. Pengembangan kawasan andalan pada prinsipnya bertumpu pada pendekatan yang berorientasi pada sumberdaya alam dan pendekatan pada sumberdaya manusia. perikanan. 7. Saat ini terdapat 15 (lima belas) daftar mineral-mineral potensial yang terdapat di Kalimantan Tengah. Departemen Pertambangan dan Energi dalam usaha melengkapi data dan informasi yang dapat digunakan bagi usaha eksploitasi dan pengembangan industri pengolahannya dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia telah melakukan inventarisasi potensi pertambangan dan energi di 13 kawasan andalan prioritas di KTI. Mbay di Nusa Tenggara Timur dan Bima di Nusa Tenggara Barat. 8. 4. Batuan Beku / Batu belah 11. perkebunan.

Potensi Emas Kalimantan Tengah memiliki sejumlah endapan emas primer dan letakan (placer). Katingan Tengah.Seruyan : Kec. Manuhing.Seruyan Tengah. Kec.Kapuas : Kec. Kab. Permata Intan dan Tanah Siang Kab. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -111 . Rungan. Zircon Beberapa yang sudah produksi seperti batubara. Endapan letakan (placer) banyak ditemukan di sungai. Potensi Batubara Batubara yang menyusun suatu formasi/lapisan batubara pada awalnya berupa gambut atau akumulasi bahan serupa yang kemudian mengalami pembusukan.Barito Timur : Kec. 1. Kab. Endapan emas di Kalimantan Tengah dapat dijumpai di : − − − − − − − Kab.Bukit Batu. karena itu data-data sumberdaya mineral tersebut cukup akurat karena berdasarkan tahapan survey. rawarawa dan paleo chanel (gosong).Murung Raya : Kec. 2. danau. Batubara di Indonesia banyak digunakan untuk bahan bakar.Tewah. pasir kuarsa. Kab. Kahayan Hulu Utara. PLTU dan dalam jumlah kecil dalam peleburan timah dan nikel. sedangkan yang merupakan hasil endapan hidrotermal yang secara genetic berasosiasi dengan intrusi batuan beku asam dan juga sering berasosiasi dengan kuarsa dan sulfide (pirit. intan. Sedangkan mineralmineral lain sedang berada dalam proses survey dari tahap pengamatan lapangan sampai eksplorasi detail. melalui proses kompaksi dan panas dalam waktu yang sangat panjang maka gambut akan berubah menjadi batubara.Sumber Barito. Kota Palangka Raya : Sungai Takaras Kec.(Persero) CABANG I MALANG 12. batu lempung.Kapuas Hulu. kalkopirit dan sedikit pada galena dan spalerit). batu gamping. Timah Hitam 13.Gunung Mas : Kec. kristal kuarsa dan zircon. Sepang dan Kurun. industri semen. Kapuas Tengah dan Timpah Kab.Katingan : Kec. Sanaman Mantikei dan Katingan Hilir.Seruyan Hulu. emas. arseno pirit.Dusun Tengah. tetrahidrit. Air Raksa 15. Tembaga 14.Katingan Hulu.

Katingan : Kec.Katingan Tengah. Kab. Didaerah ini batubara banyak ditemukan di Muara Bakah. Produksi berkurang sejak Perang Dunia ke II dan kemudian berhenti total sekitar tahun 1960.39 – 1. Lebih dari 7 juta hektar berada sepanjang daerah barat.(Persero) CABANG I MALANG Batubara di Kalimantan Tengah sudah mulai ditambang sejak awal abad 19 tambang batubara didekat Muara Teweh sudah ditambang sejak tahun 1910 dan mampu menghasilkan sekitar 7. Kab.7 Lokasi lain yang juga memiliki potensi kandungan batubara dengan nilai kalori <6. Gambut di Indonesia diperkirakan memiliki area lebih 20 juta hektar dan kebanyakan dalam bentuk dataran rendah dan rawa.000 kal/gr) juga ditemukan di Kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara.000 cal/gr. Kurun.000 – 8. Manuhing.Mentaya Hulu.Kotawaringin Barat : Pangkalan Banteng dan Kotawaringin Lama.53 % Volatile Matter : 0. Potensi Gambut Gambut adalah endapan organik yang mengandung sisa-sisa tumbuhan yang telah mengalami dekomposisi sebagian dan mengandung bahan lain seperti air dan bahan-bahan lain non organic biasanya berupa lempung dan lanau.74 – 15. Bakanon.000 ton pertahun saat itu.44 – 48. dan Tewang Sangalang garing.000 berkualitas baik (> 8. Beberapa lapisan batubara mempunyai ketebalan mencapai 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -112 .76 % Karbon : 38.000 kal/gr antara lain : − − − − Kab.5 – 7 meter dan mempunyai kualifikasi “Cooking Coal dengan kandungan sebagai berikut : − − − − − − Kandungan air : 8. Rungan. salah satunya PT. BHP-Biliton yang telah memprediksikan bahwa terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori >7. Sungai Maruwai dan sekitarnya. Sungai Montalat. Survey penyelidikan batubara di Kalimantan Tengah telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi baik pemerintah maupun perusahaan asing.Gunung Mas : Kec. tengah dan selatan pantai pulau Kalimantan.35 – 0. CSN : 5 .46 % Nilai Kalori : 7.Tewah.66 % Sulfur : 0. Kotawaringin Timur : Kec. Sungai Lahei. Mentaya Hilir dan Cempaga. 3.

Daerah lain yang mempunyai potensi gambut di Kalimantan Tengah adalah : 4.66 % Zat Terbang : 41.11 – 18. Intan dipotong dan dipoles/digosok di Martapura Kalimantan Selatan. Daerah antara Sampit dan Pangkalan Bun Daerah antara Palangka Raya dan Pulang Pisau. dan di Bereng Bengkel sendiri sekitar 20 hektar telah diselidiki secara detail dan telah dilakukan ujicoba produksi gambut bekerjasama dengan Finlandia.13 % Nilai Kalori : 3. Gambut yang mempunyai kedalaman lebih dari 100 cm mempunyai potensi sebagai energi.66 – 6. Sumber energi gambut biasanya digunakan untuk tenaga pembangkit tapi dapat juga digunakan untuk bahan baker dan memasak yang biasanya dalam bentuk briket.426 cal/gr Daerah antara Sampit dan Kota Besi. contohnya batuan yang kita kenal sebagai Kimberlite-pipe di Afrika Selatan. Secara umum endapan utama intan berasosiasi dengan batuan ultrabasic khususnya batuan periodit.03 – 37. Daerah Bereng Bengkel – Kanamit mempunyai potensi yang cukup besar dengan rata-rata kedalaman gambut sekitar 2 meter.75 – 57.72 % Karbon : 21. Palangka Raya dan Kanamit. Kualitas gambut Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut : − − − − − − − − Kandungan air : 6. Saat ini penduduk local Kalimantan Tengah menambang endapan intan alluvial mempergunakan peralatan dan metode yang masih sederhana. Penyelidikan gambut untuk bahan baker telah dilakukan oleh Direktorat batubara dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sejak tahun 1984 didaerah Bereng Bengkel. Intan yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -113 . Kuala Kapuas. Penyelidikan yang dilakukan untuk tujuan pertanian biasanya hanya gambut yang mempunyai kedalaman 100 cm atau kurang.982 – 5.(Persero) CABANG I MALANG Survey tanah gambut telah banyak dilakukan secara intensif terutama untuk keperluan pertanian (agricultur).70 % Abu : 0. Potensi Intan Intan telah banyak ditambang dibanyak tempat di Pulau Kalimantan oleh penduduk sejak lama dan berkembang diberbagai tingkatan sampai sekarang.

emas.76 meter Ketebalan Overbuden : 1. hyacinth.897. garnet. Terdapat 5 endapan kaolin yang cukup besar dan berpotensi tinggi.06 meter = Endapan ini mempunyai kualitas yang cukup baik dan mempunyai ketahanan terhadap panas (seger cone 35/1780º) dan kandungan TiO 1. Pasir hitam yang terbentuk dari pencucian residu (disebut puya) terdiri dari : Titano magnetite. farmasi dan kosmetika. kromit.(Persero) CABANG I MALANG terdapat dalam endapan alluvial biasanya terdapat bersama sejumlah mineral seperti korundum. fosfat dan batu gamping. 5. yang berada dekat Kota Palangka Raya dengan perkiraan jumlah cadangan terukur sekitar 13. pasir kuarsa. Endapan kaolin yang terbesar terdapat di Kereng Bangkirai. spinel. quartz. brookite. rutile. Potensi Endapan Mineral Lainnya Kalimantan Tengah masih mempunyai sumber endapan mineral lain sebagai bahan tambang yaitu kaolin.Kotim dengan jumlah cadangan terukur : 2 Kebutuhan lain untuk kaolin dengan kualitas baik adalah untuk industri Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -114 .091. Endapan berada disuatu area dengan luas 125 ha dan mempunyai karakteristik endapan sebagai berikut : − − − − Warna : Putih keabu-abuan Butiran lempung : Halus Ketebalan rata-rata : 6. Tetapi kesempatan bagi eksplorasi endapan utama dan alluvial masih ada dan dilakukan.04 % yang potensial untuk industri keramik. a.03 – 2. Endapan utama lainnya adalah : − Kasongan dengan jumlah cadangan terukur : 2. Penyelidikan terhadap endapan intan sudah dilakukan sejak dulu tetapi masih belum mendapatkan hasil berupa penemuan endapan utamanya. topaz.754.650 ton. Kaolin Kaolin adalah salah satu jeni mineral industri yang terbentuk dari hasil proses dekomposisi dan merupakan pelapukan dari batuan yang kaya akan silikat aluminium. platinum dan pirit. dan ruby.5 ton − Pahirangan Mentaya Kab.

380.370.000 ton.110. Barito Selatan dengan cadangan terukur 14. endapan berada diareal seluas 544 hektar dengan karakteristik endapan sebagai berikut : − Warna : Putih. Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa merupakan endapan sediment dengan ukuran butir pasir dan mempunyai komposisi dominant kristal kuarsa.000 ton − Petak Putih Cadangan terukur : − Parit Indikasi cadangan : 20.000 ton 30.000 ton b.32 – 3. Sedangkan lokasi endapan lain yang cukup potensial terdapat didaerah : − Tanah Putih Indikasi cadangan : − Tanjung Jaringau Cadangan terukur : − Bukit Arang Cadangan terukur : − Pantai Harapan Indikasi cadangan : − Pengkang Indikasi cadangan : 4.70 – 69.94 – 36. Manuhing dengan jumlah cadangan indikasi : 1.856 ton 48.23 % Fe O : 0.45 % 2 2 3 2 3 2 46.16 % TiO : 0.000 ton.000 ton 640.01 – 2.08 – 1.000 ton − Telang Baru.300 ton 690.000 ton − Kereng Pangi Indikasi cadangan : 16.000 ton Kualitas kaolin yang ada adalah sebagai berikut : − − − − − SiO : 41.400.955.000 ton.(Persero) CABANG I MALANG 2. Endapan utama pasir kuarsa di Telang Baru.438.97 % Al O : 4.64 % MgO : 0. Barito Selatan dengan jumlah cadangan terukur : 1.600. coklat kekuningan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -115 .000 ton − Pundu Indikasi cadangan : 5. − Bereng.856.

000 ton 4.28 % MgO : 0.900.160.000 ton 23.11 meter Ketebalan Overbuden : 0.22 % Fe O : 0.10 – 0.000.900.000 ton 3.000 ton 2.680.001 – 0.(Persero) CABANG I MALANG − − − Ukuran butiran : Halus .400.46 meter Endapan lain berada didaerah : − Tuanan Indikasi cadangan : − Sungai Marui Indikasi cadangan : − Batengkong Indikasi cadangan : − Sungai Manyuluh Indikasi cadangan : − Sungai Hawuk Indikasi cadangan : − Lahei Indikasi cadangan : − Merapit Indikasi cadangan : − Takaras Indikasi cadangan : − Pembuang Indikasi cadangan : − Danau Sembuluh Indikasi cadangan : − − − − − SiO : 95.07 % TiO : 0.68 – 1.kasar Ketebalan rata-rata : 1. Pasir kuarsa sebagai bahan mentah dan industri gelas merupakan satu peluang untuk memperluas ekspor didaerah.000 ton 1.000 ton 650.000 ton Kualitas pasir kuarsa yang ada adalah sebagai berikut : Kebutuhan pasar dalam negeri untuk pasir kuarsa saat ini meningkat terutama untuk bahan industri gelas.000 ton 15.000 ton 3.160.04 – 1.16 – 99.16 % 2 2 3 2 3 2 4.000 ton 15.8 % Al O : 0.600.950. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -116 .

Kualitas Fosfat yang ada adalah sebagai berikut : − − − − SiO : 7.7 % Fe O : 6. Kualitas : Baik.000 ton Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -117 . Tipe endapan ini ada fosfat guano yang ditemukan didaerah Bukit Angah. Batu Gamping Istilah untuk batu gamping dipakai untuk semua batuan sediment yang mengandung bahan karbonat.(Persero) CABANG I MALANG c.10 % P O : 44 % Al O : 30.480. Barito Utara dengan jumlah cadangan terindikasi sekitar 60.386 ton.5 hektar dengan karakteristik batuan : − − Warna : Putih. Barito Selatan dengan kemungkinan cadangan sekitar 133.18 % 2 3 2 3 2 5 2 Endapan fosfat guano ini direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan local khususnya bidang perkebunan dan agrikultur.000.000 ton 52.000 ton 11. Lokasi lain yang menyimpan endapan batu gamping adalah : − Wonorejo Indikasi cadangan : − Pendreh Indikasi cadangan : − Muara Sepayang Indikasi cadangan : − Muara Juloi Indikasi cadangan : − Batu Qadar Indikasi cadangan : 260. digunakan untuk industri semen. d.080 ton. Kalimantan Tengah mempunyai sejumlah endapan batu gamping yang sudah diselidiki yaitu didaerah Hayaping.000 ton 19.518.000. Fosfat Pada saat ini hanya ada satu lokasi potensial yang sudah ditemukan di Kalimantan Tengah. Endapan ini berada di area seluas 1.000 ton − Batu Besar Indikasi cadangan : − Gunung Angah 21.000.500.466. keabu-abuan kompak dan berfosil.337.000 ton 39.

Lokasi endapan kristal kuarsa terdapat didaerah : − Pangkut. putih dan kecoklatan (istilah pasar menyebutnya kecubung). Besi Biji besi mempunyai 2 tipe yaitu magnetis dan kolovial. kecuali di Kecamatan Katingan Kuala. Lokasi dijumpainya batuan beku adalah : − Kabupaten Murung Raya − Kabupaten Barito Utara − Kabupaten Barito Selatan − Kabupaten Gunung Mas − Kabupaten Katingan − Kota Palangka Raya − Kabupaten Kotawaringin Barat − Kabupaten Kotawaringin Timur − Kabupaten Sukamara − Kabupaten Lamandau g. sedangkan tipe kolovial dijumpai didaerah Kabupaten Kotawaringin Timur. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -118 .000 ton 150. Jenis ini telah lama diusahakan oleh masyarakat didaerah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Sukamara. Nibung Terjun. Di Kalimantan Tengah dijumpai dibagian tengah kearah utara.000 ton 500. Kabupaten Kotawaringin Barat.(Persero) CABANG I MALANG Indikasi cadangan : − Sarang Burung Indikasi cadangan : − Bukit Sali Indikasi cadangan : e. Batuan Beku/Batu Belah Batuan beku adalah hasil pembekuan magma berkomposisi asam sampai basa. biji besi tipe magnetis dijumpai didaerah Kabupaten Lamandau. Ajang. Kristal Kuarsa 8. f.000 ton Di Kalimantan Tengah dikenal 3 macam yaitu kristal kuarsa yang berwarna ungu. − Pangkalan Muntai.280. Karena sifatnya yang sporadic maka data pasti tentang cadangan ataupun jumlah produksinya belum diketahui dengan pasti. Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat.

Di Kalimantan tengah keterdapatannya juga masih merupakan indikasi didaerah Rantau Pandan. Kecamatan Kahayan Hulu Utara. Kabupaten Katingan − Barito Timur Lokasi tipe kolovial berada didaerah : − Kenyala. Belum ada catatan pasti tentang potensi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -119 . h. Timah Hitam Timah Hitam yang lebih dikenal sebagai timbale dijumpai sebagai indikasi. Kecamatan Sanaman Mantikei. Kegiatan tahap lanjutan untuk mendapatkan informasi mengenai timah hitam di Kalimantan Tengah belum dilakukan. Cadangan bijih besi yang sudah ditemukan 41. Batu Ngasah dan Sungai Miri. Lokasi tipe magnetis berada didaerah : − Bukit Karim. i. sedangkan tipe kolovial terdiri dari limonit dan Ilmenite.2 juta ton. Kecamatan Kotabesi. Pada saat ini menjadi bahan galian primadona dan terdapat menyebar luas diseluruh Kalimantan Tengah bagian barat. yang berasosiasi dengan besi.(Persero) CABANG I MALANG Tipe magnetis terdiri dari hematite dan pegmatite. Kabupaten Kotawaringin Timur. Kabupaten Lamandau − Petarikan. Kabupaten Gunung Mas. Di Kalimantan Tengah timah hitam dijumpai didaerah Rungan Hirang. Dijumpai didaerah Tumbang Manggu dan Sungai Manukoi. Tembaga Tembaga di Kalimantan Tengah juga dijumpai sebagai indikasi. j. Zircon Zircon sebagai bahan pada logam yang keterdapatannya sebagai hasil sampingan kegiatan pertambangan emas alluvial. Air Raksa Air Raksa sebagai bahan pada dijumpai mineral Cinabar yang merupakan senyawa HgS. Kabupaten Lamandau − Tumbang Manggu. Kabupaten Katingan. Kabupaten Lamandau − Bukit Gojo. k.

dan keunikan hukum. Wisata alam ( sungai. Arung Jeram ( wisata tantangan ) b. danau. Keunikan berupa sejarah masyarakat.(Persero) CABANG I MALANG produksi Zircon Kalimantan Tengah pada saat ini. Potensi wisata tersebut dapat mengandalkan kekayaan alam yang dimiliki. yang hingga saat ini belum dikelola dengan baik.6. fasilitas wisata seperti tempat makan. riam.000 ton per tahun. Untuk mengembangkannya diperlukan promosi serta pengelolaan yang profesional. promosi yang memadai dan profesionalitas listrik. keamanan.6.1 jaringan jalan dan alur sungai yang dapat dilalui oleh kapal. Produksi diperkirakan ± 150. desa-desa tradisional. Kabupaten Murung Raya Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang mengelola potensi objek wisata di daerah ini.6 Sektor Pariwisata Lokasi rawa memiliki keunikan yang dapat dikelola sebagai tempat wisata khas milik suatu wilayah.6. antara lain : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -120 . Objek wisata budaya yang potensial untuk dikunjungi oleh para wisatawan baik dari dalam negeri maupun dari luar. Taman berburu d. Berdasarkan karekteristik wilayahnya. diantaranya berupa : a. Potensi alam dan budaya merupakan potensi wisata. kebudayaan. Kabupaten Murung Raya mempunyai kekayaan alam yang sangat luas. air terjun. c. Kabupaten Murung Raya memiliki potensi pariwisata yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi ekowisata. Sektor pariwisata di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Hal-hal yang perlu disempurnakan untuk mendukung hal tersebut adalah pengelolaan transportasi. keindahan alam. 2. hutan alam dan sumber air panas. pegunungan. gau. Taman keanekaragaman hayati dan agro-wisata. penyelenggaraan wisata. Disamping itu keramahan masyarakat merupakan daya tarik pula. 2.

Pandulangan Emas Masuparia Lokasi pendulangan emas masupari ada di lembah aliran sungai Masupa. Objek wisata yang cukup menarik ini terletak di kaki bukit Manyawang. anak sungai Tihis. 2). Betang Konut Betang Betang atau Konut rumah terdapat panjang. Beliau adalah penerus perjuangan Pangeran Antasari dalam memimpin perang Barito selama lebih dari 40 tahun melawan kolonial. lokasi ini dapat dicapai melalui jalan darat.(Persero) CABANG I MALANG 1). mampu menarik para wisatawan untuk berkunjung. Gambar 2. yang hingga saat ini belum dikelola pariwisata dengan di Kabupaten Murung Raya belum memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.17 Obyek Wisata Betang Konut 3). Betang Konut merupakan salah satu betang yang masih berdiri dari suku dayak siang.18 Obyek Wisata Pandulangan Emas Masuparia Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -121 . Sultan Muhammad Semam adalah Sultan Kerajaan Banjar. Perang Barito berakhir tahun 1903 seiring dengan wafatnya Sultan Muhammad Semam serta tertangkapnya Panglima Batur. Sampai sekarang ini potensi objek wisata di daerah ini masih belum banyak yang tergali dan masih belum ada investor yang dan mengelola budaya potensi objek potensi Sektor wisata di daerah ini. di desa merupakan rumah khas suku dayak. cabang dari sungai Mendaun anak sungai Kapuas. Gambar 2. wisata. Konut wilayah kecamatan Tanah Siang. Makam Sultan Muhammad Semam Makam bersejarah ini terdapat di pusat kota Puruk Cahu. kurang lebih 8 KM dari Puruk Cahu. Potensi alam merupakan baik.

20 Obyek Wisata Air Terjun Dirung Duhung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -122 . Obyek wisata Dirung Duhung terletak di Kecamatan Tanah siang kurang lebih 20 km dari kota Puruk Cahu Ibukota Kabupaten Murung Raya.(Persero) CABANG I MALANG 4).19 Obyek Wisata Pasir Putih 5). menuju obyek wisata air terjun Bumbun dan Monumen Equator di Kecamatan Utut Murung. yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Gambar 2. Wisata Pasir Putih Obyek Wisata ini dikenal dengan sebutan Bukit Tengkorak. Obyek wisata ini dapat ditempuh kurang lebih 4 jam dengan menggunakan kendaraaan roda empat maupun roda dua dari arah Ibukota Kabupaten Murung Raya Puruk Cahu. Gambar 2. Air Terjun Dirung Duhung Kawasan ini dikembangkan dan dilindungi oleh Pemerintah Kabupaten Murung Raya dengan membangun berbagai fasilitas wisata untuk kenyamanan para wisatawan yang akan mengunjungi kawasan wisata ini yang sangat potensial dijadikan gelanggang wisata Arung Jeram.

(Persero) CABANG I MALANG

6). Air Terjun Bumbun Obyek wisata ini terletak di desa Tumbang Olong, keindahan alamnya yang sangat menarik dengan percikan airnya yang sangat jernih. Tidak heran pada hari-hari liburan banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke lokasi ini. Jaraknya, kurang lebih 100 km dari ibukota Puruk Cahu. Gambar 2.21 Obyek Wisata Air Terjun Bumbun 2.6.6.2 Kabupaten Barito Kuala

Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Barito Kuala ada beberapa tempat wisata yang lazim dikunjungi oleh wisatawan seperti Taman Wisata Alam Pulau Kembang, Cagar Alam Pulau Kaget Alur Sungai Barito, dan Makam Syekh H. Abdussamad Wisatawan terbanyak selama Tahun 2007 berkunjung Taman Wisata Pulau Kembang dan Tempat relegius Makam Sekh H. Abdul Samat yakni berjumlah 13.225 orang dan 11.825 orang. Wisatawan yang berkunjung ini berasal dari wisata manca negara berjumlah 125 orang dan sisanya wisatawan nusantara 49.865 orang. Tabel 2.34 Obyek Wisata di Kabupaten Barito Kuala
Nama Obyek Wisata Taman Wisata Alam Pulau Kembang Jenis Alam Daya Tarik Kera dan Bekantan Sungai dan Pulau Bakut Tanah Lapang dan Danau Tanaman Jeruk Pemandangan Sungai Barito Kerbau dan Rawa Makam Ulama Lokasi/ Tempat Kec. Alalak Jarak ke Objek Wisata (Km) 60

Jembatan Barito

Buatan

Kec. Alalak

50

Agropolitan Terantang

Buatan

Kec. Mandastana

25

Wisata Agro Sungai Kambat

Agro

Kec. Cerbon

5

Siring Wisata Marabahan

Buatan

Kec. Marabahan Kec. Kuripan Kec. Marabahan Kec. Alalak Kec. Alalak

0

Peternakan Kerbau Kalang

Alam

60

Makam H. Abdussamad

Ziarah

0.5

Makam Datu Kayan Makam Datu Aminin Ziarah Makam

Ziarah Ziarah

Makam Ulama Makam Ulama

50 56

Sumber : Dinas Lingk. Hidup,Kebersihan, Pariwisata dan Budaya Kab. Barito Kuala

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -123

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.7 Sektor Energi 2.6.7.1 Kebutuhan Tenaga Listrik

Tinggi rendahnya pemakaian listrik adalah merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat disamping pemakaian air minum (air bersih). Adanya peningkatan yaitu banyaknya listrik yang terjual selain untuk konsumsi pemerintah, lainnya dan susut/hilang, dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya derajat kesejahteraan masyarakat. 1. Kabupaten Barito Selatan Pada tahun 2005, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Selatan sebanyak 13.042 sambungan. Kecamatan Dusun Selatan merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 7.676 sambungan dan daya yang terjual sebesar 11.120.192 Kwh. Sedangkan Kecamatan G. B. Awai merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terkecil, yaitu 485 pelanggan dengan daya yang terjual sebesar 315.273 Kwh.

Tabel 2.35 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 1,310 968 1,567 7,676 1,036 485 13,042 11,966 Daya Terpasang (VA) 818,250 577,900 921,960 7,316,100 615,150 299,950 10,549,310 Listrik Terjual (Kwh) 1,080,143 643,327 1,141,484 11,120,192 647,479 315,273 14,947,898 15,211,283 15,129,465

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -124

(Persero) CABANG I MALANG

2.

Kabupaten Barito Utara Pemakaian energi listrik di Kabupaten Barito Utara didominasi oleh pelanggan rumah tangga. Pada tahun 2007, jumlah pelanggan rumah tangga mencapai 11.788 rumah tangga dengan pemakaian daya listrik sebesar 18.638.437 Kwh. Jumlah produksi dan pemakaian tenaga listrik pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.36 Produksi dan Pemakaian Tenaga Listrik Menurut Unit Pembangkit pada PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Unit Pembangkit Rtg Muara Teweh ULD Benangin ULD Lemoo Sub Rtg Tumpung Laung ULD Bintang Ninggi ULD Luwe Hulu ULD Montallat Sub Rtg Kandui ULD Sabuh Kantor Jaga M. Lahei Jumlah

Produksi (Kwh) 20,135,098 214,872 516,224 218,966 100,987 512,746 66,241 21,765,134

Dijual (Kwh) 15,804,410 207,043 406,028 472,314 303,795 185,399 98,100 478,550 59,897 622,901 18,638,437

Dipakai Sendiri Susut / Hilang (Kwh) (Kwh) 1,265,853 1,732,128 7,414 43,030 33,139 2,607 33,277 6,232 1,265,853 1,857,827

Sumber : PT. PLN Cabang Kuala Kapuas

3.

Kabupaten Barito Timur Pada tahun 2007, jumlah keseluruhan pelanggan listrik di Kabupaten Barito Timur sebanyak 11.705 sambungan. Kecamatan Dusun Timur merupakan kecamatan dengan jumlah pelanggan terbesar yaitu 3.375 sambungan dan daya yang terjual sebesar 6.229.654 Kwh. Tabel 2.37 Distribusi Tenaga Listrik Menurut Kecamatan Pada Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah Pelanggan 1,160 3,375 764 617 3,024 1,403 498 864 11,705 Daya Terpasang 1,423,585 2,938,250 212,474 338,050 1,603,055 764,740 441,590 798,626 8,520,370 Listrik Terjual 216,855 6,229,654 60,450 30,135 212,771 105,635 52,120 86,027 6,993,647

Sumber : PT. PLN Ranting Ampah & Tamiang Layang

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -125

(Persero) CABANG I MALANG

4.

Kabupaten Murung raya Listrik merupakan fasilitas publik yang sangat strategis dalam mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan wilayah di Kabupaten Murung Raya. Sektor ini mampu memberikan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat/rumah tangga maupun terhadap pengembangan industri, perdagangan dan jasa-jasa serta kegiatan pemerintahan. Seiring dengan pemekaran wilayah, dinamika penduduk terus bertambah, kebutuhan akan listrik meningkat setiap tahunnya. Pengembangan sumberdaya air dalam rangka mendukung program tenaga listrik menjadi kebutuhan yang utama saat ini apalagi dengan meningkatnya aktivitasaktivitas pembangunan di Kabupaten Murung Raya. Listrik merupakan sumber energi yang penting bagi kehidupan manusia. Ketergantungan manusia akan sumber energi listrik ini semakin meningkat, baik sebagai alat penerangan, sumber energi bagi alat rumah tangga atau perkantoran dan sarana penggerak kegiatan ekonomi dalam masyarakat. Kebutuhan tenaga listrik bagi Kabupaten Murung Raya bersumber dari PLTD PT. PLN Cabang Murung Raya. Pada Tahun 2003 jumlah daya terpasang di Kabupaten Murung Raya sebesar 2.652.700 VA. dan daya terpakai 3.711.794 Kwh dengan jumlah pelanggan sebanyak 3.302 rumah tangga. Dibandingkan dengan jumlah rumah tangga sebanyak 20.504 KK maka hanya 16,10% dari rumah tangga yang sudah memanfaatkan aliran listrik.

5.

Kabupaten Kapuas Sektor rumah tangga merupakan pelanggan terbesar PLN di Kabupaten Kapuas. Sebanyak 36.886 pelanggan telah terdaftar menjadi pelanggan PLN pada tahun 2007. Pelanggan rumah tangga ini telah menyerap 67.88% dari energi listrik yang terjual. Tabel 2.38 Pelanggan Listrik di PLN Kuala Kapuas
No 1 2 3 4 Jenis Pelanggan Rumah Tangga Usaha Industri Publik Jumlah Pelanggan 36,886 1,706 20 1,397 Kwh Terjual 32,459,014 4,274,857 8,015,305 3,069,915

Sumber : PT PLN (Persero) Wil VI Cabang Kuala Kapuas

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -126

(Persero) CABANG I MALANG

Industri 17% Usaha 9%

Publik 6%

Rumah Tangga 68%

Gambar 2.22 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Kapuas 6. Kabupaten Barito Kuala Jumlah pelanggan listrik pada Tahun 2007 berjumlah 517.064 pelanggan dengan daya tersambung sebesar 345.451.520 VA. Untuk KWH terjual sebesar 43.574.172 kwh. Untuk pelanggan yang terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga sebesar 493.664 pelanggan, kemudian kelompok tarif sosial sebesar 14.365 pelanggan. Sedangkan pelanggan yang terkecil pada kelompok tarif Industri yaitu berjumlah 92 pelanggan. Hal ini disebabkan pengelolaan pelanggan yang besarnya diatas 83.500 VA langsung ditangani oleh PT PLN Cabang Banjarmasin karena letaknya berseberangan kota Banjarmasin tepatnya di Kecamatan Tamban dan Alalak. Daya tersambung dan KWH terjual juga terbesar berada pada kelompok tarif rumah tangga kemudian diikututi kelompok tarif kantor dan PJU yakni masingmasing besarnya 34.788.304 kwh dan 4.463.464 kwh. Tabel 2.39 Pelanggan Listrik Di PT PLN Ranting Marabahan 2007
No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah Tahun 2006 Tahun 2005 Daya Pelanggan VA Tersambung KWH Terjual 10,467,650 14,365 10,467,650 885,603 295,541,400 493,664 295,541,400 34,788,304 20,143,100 6,081 20,143,100 3,203,546 708,000 92 708,000 92,668 18,591,370 2,862 18,591,370 4,463,464 140,560 345,451,520 517,064 345,451,520 43,574,145 324,441,870 535,443 324444870 41,141,668 43,175 265,982 3192292 43,175

Sumber : PT PLN Cabang Marabahan

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -127

(Persero) CABANG I MALANG

PS dan TS Indust r i 0% Usaha 6% Kant or dan PJU 5% 0% Sosial 3%

Rumah Tangga 86%

Gambar 2.23 Distribusi Pemakai Daya Listrik di Kabupaten Barito Kuala

2.6.7.2

Pusat Beban Kalimantan Selatan

Pusat beban Kapuas, Barito dipasok dari sistem interkoneksi 150 kV dan 70 kV Sistem Kalimantan Selatan. Kapasitas terpasang saat ini sebesar 117 MW yang terdiri atas PLTA 30 MW, PLTG 21 MW dan PLTD 66 MW. Untuk mengurangi peranan PLTD dan meningkatkan keandalan sistem, sedang dibangun jaringan transmisi 150 kV sampai ke sistem Banua Lima yang akan beroperasi akhir 1996 dan pengembangan transmisi ke Palangka Raya yang akan beroperasi tahun 1998. Kebutuhan tenaga listrik di sistem Kalsel diproyeksikan akan tumbuh 13%/tahun sehingga beban puncak saat ini 107,7 MW, diperkirakan akan meningkat menjadi 169,9 MW pada tahun 1998. Jumlah desa berlistrik saat ini di kawasan andalan DAS KAKAB adalah 166 desa dari total 484 desa dan direncanakan tambahan desa berlistrik selama Repelita VI sebanyak 91 desa.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -128

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.8 Sektor Air Bersih Sehubungan dengan kebijakan Departemen Permukiman dan prasarana Wilayah dalam ‘ pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh dan terpadu dikenal sebagai ‘ One river, One Plan and One Management’ maka salah satu permasalahan yang berkembang di kawasan Barito adalah masalah penyediaan air baku. Berikut angka statistik yang berkaitan dengan penyediaan air bersih di WS Barito-Kapuas: Tabel 2.40 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara G.B. Awai Jumlah 2004 2003 Pelanggan 299 297 962 5,532 546 142 7,778 7,219 9,342 Air Disalurkan (M3) 42,751 38,512 95,516 1,103,346 50,356 11,171 1,341,652 1,231,854 1,490,312 Nilai (Rp) 78,846,600 71,425,200 200,049,200 2,653,478,450 103,955,600 25,008,800 3,132,763,850 2,477,042,250 2,244,260,400

Sumber : Barito Selatan dalam angka, 2005

Tabel 2.41 Jumlah Air Minum Yang Disalurkan Menurut Jenis Konsumen di PDAM Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Konsumen Rumah Tangga Hotel/Obyek Wisata Badan Sosial dan Rumah Sakit Pertokoan/Industri Umum Instansi Pemerintah Lainnya Susut Jumlah Pelanggan (buah) 478 1,109 89 110 934 103 152 2,975 Air Disalurkan 3 (m ) 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 507,532 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 1,110,639,600

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Utara

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -129

(Persero) CABANG I MALANG

Tabel 2.42 Distribusi Air Minum Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Timur
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Pelanggan 478 1,109 89 110 934 103 152 46 3,021 2,655 2,594 Air Disalurkan 84,978 191,264 11,906 15,592 169,842 16,859 17,091 3,273 510,805 433,622 413,018 Nilai (Rp) 151,388,750 470,885,650 30,057,200 32,010,800 365,275,050 33,656,650 27,365,500 8,127,500 1,118,767,100 1,067,659,900 572,688,050

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Barito Timur

Tabel 2.43 Pemakaian Air Bersih Kabupaten Murung Raya
Produksi (m3) 274,416 Jumlah Pelanggan 1453 Jumlah KK 20504 Prosentase Pemakaian 7.09

Sumber: Situs Resmi Kabupaten Murung Raya (2008)

Tabel 2.44 Jumlah Pelanggan dan Banyaknya Air Bersih Yang Disalurkan di PDAM Kabupaten Kapuas
No 1 2 3 4 Tahun 2004 2005 2006 2007 Jumlah Pelanggan 13,045 13,626 10,953 11,255 Volume (m3) 3,131,054 2,294,742 2,770,116 2,722,209

Sumber : PDAM Cabang Kapuas

Tabel 2.45 Rekapitulasi Unit PDAM Barito Kuala 2007
No 1 2 3 4 5 6 7 Unit Marabahan Bakumpai Cerbon Rantau Badauh Alalak Anjir Pasar Tamban Jumlah Produksi (m3) 1,956,859 44,529 42,937 105,578 897,152 123,264 1,690 3,172,009 Distribusi (m3) 927,946 35,619 37,799 100,616 772,902 82,834 1,558 1,959,274 Terjual (m3) 764,220 29,349 32,615 92,782 710,943 47,795 1,321 1,679,025 Kebocoran (m3) 163,726 6,270 5,184 7,834 61,959 35,039 237 280,249 Prosentase Sambungan Kebocoran Rumah 17.64 2,519 17.60 219 13.71 197 7.79 355 8.02 3,530 42.30 413 15.21 27 14.30 7,260

Sumber : PDAM Barito Kuala 2007

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -130

(Persero) CABANG I MALANG

2.6.9 Sektor Kesehatan 2.6.9.1 Kabupaten Barito Selatan Jumlah tenaga medis yang ada di Kabupaten Barito Selatan adalah 701 0rang yang terdiri dari dokter umum 26 orang, dokter gigi 8 orang dan bidan 159 orang. Komposisi tenaga medis di Kabupatten Barito Seltan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.46 Jumlah Tenaga Medis di Kabupaten Barito Selatan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara Gunung Bintang Awai Dusun Tengah Pematang Karau Awang Petangkep Tutui Dusun Timur Benua Lima Jumlah Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat Apoteker 1 1 2 9 1 2 2 1 1 1 4 1 26 1 1 0 2 0 0 1 0 0 0 2 1 8 5 10 10 26 17 17 21 11 8 9 18 7 159 10 13 13 86 10 19 24 10 5 6 31 5 232 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 1 0 8 SPKU Tenaga Jumlah Pembantu Teknis 0 5 22 3 7 35 5 9 39 44 82 256 4 2 34 8 14 4 4 1 20 5 112 7 7 2 2 2 24 7 156 53 69 28 20 19 100 26 701

Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2006

2.6.9.2 Kabupaten Barito Utara Jumlah rumah sakit umum pada Kabupaten Barito Utara masih 1 unit yang berada di Kecamatan Teweh Tengah. Sedangkan Puskesmas yang ada berjumlah 11 buah dimana terbanyak berada di Kecamatan Teweh Tengah berjumlah 4 unit. Sarana kesehatan yang ada di Kabupaten Barito Utara pada masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 2.47 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Utara
No. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Rumah Sakit Umum 0 0 0 0 1 0 1 Puskesmas 1 2 1 1 4 2 11 Puskesmas Pembantu 7 8 3 9 27 15 69 Rumah Bersalin 0 0 0 0 2 0 2

Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

II -131

6.9. pada tahun 2007 bertambah menjadi 50 unit. Dimana pada tahun 2006 berjumlah 42 unit. Tabel 2. pembangunan prasarana kesehatan terus ditingkatkan terutama untuk puskesmas-puskesmas pembantu.48 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Utara No.3 Kabupaten Barito Timur Dibidang kesehatan. Sedangkan pada tahun 2006 terdapat 452 orang yang bekerja dibidang kesehatan.49 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Barito Timur Tahun 2007 No. Pada tahun 2007 meningkat lagi menjadi 458 orang yang bekerja di bidang kesehatan. Hal ini terlihat dari jumlah puskesmas pembantu yang ada. Apoteker 1 0 0 0 3 1 5 SPKU Pembantu Perawat 1 2 0 0 4 0 7 Tenaga Teknis 7 16 5 9 36 14 87 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -132 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2007 Rumah Sakit 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 Puskesmas 1 2 1 1 2 1 1 0 0 9 8 8 Puskesmas Pembantu 4 6 4 4 9 7 5 4 7 50 42 42 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Jumlah tenaga medis yang bekerja terjadi peningkatan dari tahun ke tahun.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Pada tahun 2005 terdapat 417 orang yang bekerja di bidang kesehatan. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Montallat Gunung Timang Gunung Purei Teweh Timur Teweh Tengah Lahei JUMLAH Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat 0 2 2 2 4 2 12 0 0 0 0 1 0 1 5 11 5 11 37 14 83 6 11 6 11 25 18 77 Apoteker/Ass.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Benua Lima Dusun Timur Awang Patangkep Tutui Dusun Tengah Pematang Karau Paju Epat Raren Batuah Paku Jumlah 2006 2005 Dokter 2 11 1 1 4 1 0 0 0 20 22 20 Perawat 9 86 11 13 25 17 7 5 4 177 171 129 Bidan 8 35 3 7 9 10 3 4 5 84 94 90 Lainnya 11 111 7 6 30 12 0 0 0 177 165 178 Jumlah 30 243 22 27 68 40 10 9 9 458 452 417 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2.4 Kabupaten Murung Raya Pada tahun 2003. Apt Perawat 2 4 1 3 2 8 Tenaga Teknis 0 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Tabel 2.52 Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Dokter Umum Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Puskesmas 1 2 2 2 1 8 Puskesmas Pembantu 5 8 13 6 8 40 Jumlah 6 10 15 8 9 48 Sumber : Murung Raya Dalam Angka 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -133 .9. yang tersebar di masing-masing kecamatan di kabupaten Murung Raya.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.6. Jumlah Puskesmas sebanyak 8 buah dan Puskesmas Pembantu sebanyak 40 buah.50 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Barito Timur No. jumlah dokter umum yang bertugas di Kabupaten Murung Raya sebanyak 7 orang.51 Banyaknya Tenaga Kerja Kesehatan Menurut Kecamatan No 1 2 3 4 5 Kecamatan Permata Intan Murung Laung Tuhup Tanah Siang Sumber barito Jumlah Dokter Umum 1 2 2 1 1 7 Dokter Gigi 1 1 45 Bidan 2 11 14 11 7 Pengatur Rawat 8 11 12 13 7 51 Apoteker SPKU Pemb. Tabel 2. Ass.

RSU sebanyak 1 unit dan Klinik KB sejumlah 28 unit Tabel 2. Puskesmas 76 unit.54 Sarana Kesehatan di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 Kabupaten/Kota Baritokuala Sarana Kesehatan (unit) BKIA Puskesmas RSU 5 1 76 Posyandu 344 Klinik KB 28 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.854 145.9.(Persero) CABANG I MALANG 2.404 9. Kalsel)’. BKIA sebanyak 5 unit.53 Sarana Kesehatan Masyarakat Kabupaten Kapuas Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kecamatan Kapuas Kuala Kapuas Timur Selat Basarang Kapuas Hilir Pulau Petak Kapuas Murung Kapuas Barat Mantangai Timpah Kapuas Tengah Kapuas Hulu Jumlah Puskemas 2 1 6 1 1 1 4 1 3 1 1 1 23 Dokter Umum 1 1 7 1 1 1 2 1 1 0 1 0 17 Dokter Gigi 0 0 3 0 1 1 0 0 0 0 0 0 5 Paramedis lainnya 15 6 71 10 12 5 40 12 32 7 14 6 230 Rata-rata Kunjungan 12.132 4.5 Kabupaten Kapuas Jumlah puskesmas di Kabupaten Kapuas berjumlah 23 buah terbanyak di Kecamatan Selat sebanyak 6 buah dan disusul Kecamatan Kapuas Murung sebanyak 4 buah.924 4.677 3.6.531 3.663 28. September 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -134 .95 6.446 4.9.787 6.6. Sarana kesahatan di Kabupaten Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.454 56.989 3.6 Kabupaten Barito kuala Fasilitas kesehatan yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas Posyandu sebanyak 344 unit.811 Sumber : Kapuas dalam Angka tahun 2006 2.

Tabel 2.08) 13.234.183.020.078. melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan terutama di dorong oleh melambatnya pertumbuhan sektor industri besar.00 2005 2.00 1.35 (4.65% (dengan industri besar).00 2.687.340.2007 PDRB atas dasar Harga Berlaku (Rp) PDRB Dengan Industri Besar 2004 2.00 2006 2.768.92% (dengan industri besar).00 2007 2.770.00 1.00 Rata-rata Pertumbuhan Sumber : Kabupaten Barito Kuala Dalam Angka 2008 Tahun Pertumbuhan (%) PDRB atas dasar Harga Konstan (Rp) Pertumbuhan (%) 1.67 17. Perhitungan PDRB terbagi atas PDRB harga berlaku dan PDRB harga konstan.92 1.974.591.228.00 3.633.00 Rata-rata Pertumbuhan PDRB Tanpa Industri Besar 2004 1.00 (3.1 Kabupaten Barito Kuala Perekonomian Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan sebesar 6.441.755. 2.197. untuk mengukur keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi pada suatu daerah.00 2007 2. Dari sisi penawaran.1.917.67% (tanpa industri besar) dan -2.22 5.738.65) 0.211.7.145. digunakan indicator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).1 Provinsi Kalimantan Selatan 2.7 PERTUMBUHAN EKONOMI DI WILAYAH STUDI Sesuai dengan kelaziman yang berlaku.516.00 2006 1.67 6.206.79) 1.75 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -135 .00 1.930.231.55 PDRB Barito Kuala 2004 .7.72 1.980.585.92) (9.22% (tanpa industri besar) dan -9.00 7.086.35 Rata-rata Pertumbuhan (2.100.11 16.473.(Persero) CABANG I MALANG 2.857. sedangkan PDRB harga konstan digunakan untuk menghitung pertumbuhan perekonomian.298. PDRB harga berlaku digunakan untuk menghitung struktur perekonomian.732.14 1.255.35 5. lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2005 yang mencapai 5.00 2005 1.00 Rata-rata Pertumbuhan 5.97 15.

00 % 41.43 5.700.46 9.800.43 14. bangunan/konstruksi sebesar 8. Gas dan Air Bersih 56.00 Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.2 Provinsi Kalimantan Tengah 2.79 3.72 3.06 Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Kontribusi sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan terbesar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 sebesar 41.20 0.021.900.(Persero) CABANG I MALANG 2.01%.41 13.00 92.7. Tabel 2.2%.800. Persewaan & Jasa Perusa 22.00 TOTAL Sumber : BPS Kabupaten Barito Selatan tahun 2005 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -136 .06 Nilai Pertanian 292.00 Listrik.7.00 Jasa-jasa 701.700. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barito Selatan dari berbagai kegiatan ekonomi yang terjadi di wilayah kabupaten pada tahun 2005 adalah sebesar 5.00 Industri Pengolahan 2.57 9.00 93.000.65 0.00 62.95 0.00 2004 1.30 12.26 13.61 3.94 10. kemudian sektor perdagangan.600.33%.00 3.72%.00 5.01 100.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertumbuhan (%) 3.72 5.600.000.800.000.700.100.00 3. Hotel & Restoran 89.300.900.57 Peranan PDRB menurut sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku (dalam jutaan) Lapangan Usaha 2004 % 41.2.07 0.600.100. hotel dan restoran sebesar 14.00 675. pengangkutan dan komunikasi 12.400.300.00 25.43%.00 736.39 8.00 2005 Nilai 303.06% atau naik sebesar hampir 1. Tabel 2.00 Perdagangan.900.00 Bangunan/Konstruksi 100.00 701.00 7.45 6.19 3.00 3.79 2005 1.232.00 105.900.00 44.100.16 100.00 95.00 Pertambangan dan Penggalian 41.00 2.90 5.07 14.700.300.79%.40 8. jasa-jasa 13.28 4.1 Kabupaten Barito Selatan Angka PDRB dapat menunjukkan sebearapa besar kegiatan perekonomian yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu (satu tahun) di Kabupaten Barito Selatan dan pertumbuhan dari kegiatan perekonomian Kabupaten Barito Selatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.27% dari tahun 2004 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3.900.33 12.400.00 736.56 PDRB Kabupaten Barito Selatan tahun 2003-2005 (dalam jutaan rupiah) Tahun Atas Dasar Harga Pertumbuhan (%) Berlaku Konstan 2000 2003 870.

Tahun 2007 PDRB atas dasar harga berlaku. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.7 63. Distribusi PDRB Kabupaten Barito Selatan pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2000 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.09 % dari tahun sebelumnya. disusul sektor jasa 12. Tabel 2.9 1023.19 persen dan sektor konstruksi 7.8 39.1 4.9 7.2007 No. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 sebesar 1.3 111.24. PDRB atas dasar harga konstan 2000 terjadi kenaikan 5.2 Kabupaten Barito Timur Untuk wilayah Kabupaten Barito Timur.31 %.3 2007 542.8 70.7 96.5 124.2.3 746.48 %. Persewaan & Jasa Perusahaan 3% Pengangkutan dan Komunikasi 13% Jasa-jasa 13% Pertanian 43% Perdagangan.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan.3 125.0 5.8 2.4 35. Hotel Pertambangan dan & Restoran Penggalian 14% Bangunan/Konstruks 0% Industri Pengolahan i 6% Listrik.1 36.73 % dibanding tahun sebelumya atau sebesar 886.7 39.1 886.3 43.58 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah) Tahun 2005 . sektor pertanian memberi sumbangan/peranan terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu 53.023.4 milyar rupiah.2 57.3 76.4 25. restoran dan hotel 12.3 2006 461.6 111. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2005 385.4 53. Gas dan Air 8% Bersih 0% Gambar 2. sektor perdagangan.5 2. Tabel berikut menunjukkan PDRB dari berbagai sektor dan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Timur.8 3.6 99.8 milyar rupiah atau meningkat 15.7.01 %.8 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -137 .9 30.

752.495. dan sektor pengangkutan dan komunikasi yang besarnya masing-masing sebesar 17.95 5.083.91 Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -138 . Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000.34 PDRB 0.11 5.108.62 61.73 PDRB Kalteng 2.10 10.13 % PDRB Barito Utara berdasarkan harga berlaku menurut lapangan usaha dan pertumbuhan PDRB Barito Utara dapat dilihat pada tabel berikut. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan. sektor pertanian memberi sumbangan yang terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu sebesar 34.370.24 3.65 9.25 63.90 5.29 3.06 5.15 9.65 195.126.89 87.42 7.86 3.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.961.33 % dari tahun 2005 yang besarnya mencapai 1.71 68.161.60 83.73 4. Kemudian disusul secara berturutturut oleh sektor perdagangan.2006 No.594.77 Sekunder 3.41 17.22 5.93 32.59 12.048. Tabel 2.21 % dan 8.004.412.00 45.166.06 Sumber : Barito Timur Dalam Angka 2007 2.282.604.161.06 26.88 %.60 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) Tahun 2004 .567.336.610.7.538.35 223.70 104.62 105.275.3 Kabupaten Barito Utara PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006 sebesar 1.18 % dari tahun sebelumnya atau hanya 824 milyar rupiah.02 1. hotel dan restoran.30 4.86 4.10 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan. sektor pertambangan dan penggalian.2.75 148.19 2006 441.59 Laju Pertumbuhan PDRB Barito Timur dan PDRB Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 PDRB Barito Timur Primer 4.161 milyar rupiah.86 78. sektor jasa. Tahun 2006. terjadi kenaikan sebasar 3.87 5.91 3.37 3. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2004 395.721.26 2005 413.497.46 5.84 2.712.860. 8.81 4.09 3.12 59.281 milyar rupiah atau meningkat sebesar 10.07 Tersier 2.962.86 5.91 5.47 %.29 0.151.86 39.84 6.965.28 8.58 216.08 189.24 9.281.51 217.230. 16.26 1.17 11.201.83 70.20 57.44 %.27 1.76 75.884.695.

90 3.23 3. selanjutnya pada tahun 2002 dan 2003 masing-masing -16.49%) maupun atas dasar harga konstan (-0.61 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Utara (%) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB Barito Timur Primer 43.90 3.66 9.2.19 10.49%. dan pada tahun 2003 pertumbuhan mencapai 4.21%. Kemudian pertumbuhan atas dasar harga berlaku pada tahun 2001 mencapai 13. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya baik atas dasar harga berlaku (4.94 3.18 Ket : * Data tidak tersedia Sumber : Barito Utara Dalam Angka 2006 2.54 -19.86%). Laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi atas dasar harga berlaku mencapai 14.94 3.40 0.21%. maka perekonomian Kabupaten Murung Raya didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian. Pertumbuhan tahun 2001 sebesar -0.25% hingga 5.04% dan 20.05%.58% dan -0.66%.57 0.61% atas dasar harga konstan 4. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0.4 Kabupaten Murung Raya Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya ditunjukkan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan dan harga berlaku.90 -2. Keadaan PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2000–2003 di Kabupaten Murung Raya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Murung Raya atas dasar harga konstan sejak tahun 2001 hingga tahun 2003 cenderung negatif.46%. Pada tahun 2003 ketiga sektor tersebut mampu memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Murung Raya masing-masing 41.91 4.7.46%) lebih rendah jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi di tingkat Provinsi. Apabila laju pertumbuhan ekonomi secara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -139 .78%. Hotel dan Restoran.41 8.82 1.86 2. sektor Pertambangan dan Penggalian.05 4.29 Tersier 4.05 1.93 3.17 3.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.04%). Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten. Pendapatan regional perkapita sering digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. 21.86 Sekunder 6.24 4.47 PDRB 4. serta sektor Perdagangan. pada tahun 2002 terjadi pertumbuhan negatif (-12.

Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik. Pendapatan regional perkapita masyarakat Kabupaten Murung Raya pada tahun 2003 atas dasar harga konstan tahun 1993 mencapai Rp 2. Distribusi PDRB Kabupaten Kapuas pada sembilan sektor ekonomi atas dasar harga berlaku 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -140 .00%.3% hingga 5.25. maka perekonomian Kabupaten Kapuas didominasi oleh tiga sektor yaitu: sektor Pertanian(48%).2. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya hanya berkisar antara 0. 2. maka akan terjadi peningkatan pendapatan regional perkapita masyarakat.7.(Persero) CABANG I MALANG riil lebih besar dari pertumbuhan penduduk. -.633.dan atas dasar harga berlaku mencapai Rp 9. Sebaliknya jika laju pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 2.096.5 Kabupaten Kapuas Dilihat dari besarnya kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB kabupaten. Keuangan. sektor Perdagangan. Hotel dan Restoran (18%) serta sektor Jasa-jasa (10%).741. Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan.695. maka pendapatan perkapita masyarakat akan mengalami penurunan. .

680. Deskripsi kondisi faktor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini.95 290.2 – 87.386.920.63 Kisaran Unsur Cuaca No 1 2 3 4 5 UNSUR CUACA Suhu udara Kelembaban Nisbi Penyinaran matahari Kecepatan Angin Evapotranspirasi Potensial Tanaman UNIT C % Jam/hr knoot Mm/hr o KALIMANTAN TENGAH 25.62 PDRB Kabupaten Kapuas Berdasarkan Harga Berlaku No.508.351.6 – 6.611.8.24 2006 1. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angin muson tenggara.76 12.98 87. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1.021.9 – 4.055.0 2.7 – 97.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.360. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.73 8.25 184.12 2.364.400.37 2.45 2005 1.2 – 5.085.121.486.530.402.85 119.1 – 27.4 2.12 224.81 11.4 1. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -141 .14 195.572.81 9.521.442.00 256.03 152.8 HIDROLOGI WS Barito-Kapuas yang terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas yang melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.0 2.546. 2.12 107.92 297.318.73 151. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau.4 – 27.73 170.406. dimana berada pada daerah tropis.033.49 2.834.650.74 10.32 2.29 11.346.87 3.8 – 6.1 Iklim Kondisi iklim berdasarkan data dari Penelitian Lahan Rawa 2002.108.6 3. sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober.811.228.263.371.73 587.93 99.41 8.936.7 – 5.73 2007 1.263.43 118.88 217.332.0 1.423.65 10.581. Tabel 2. angin berhembus membawa uap air.96 345.97 473.814.408.078.03 133.513.653.02 247. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.7 KALIMANTAN SELATAN 23.998. Selama musim hujan pada bulan November – April.228.9 70.81 98.48 146.0 80.845.583.80 350.731.879.9 – 3. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan. didapatkan kisaran seperti pada table berikut ini.134.83 376.3 Sumber : Penelitian Lahan Rawa Kalimantan.

66 50.2 27.5 59.3 4.3 26.7 85 84.6 82.8 4.6 26.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.(Persero) CABANG I MALANG Kondisi klimatologi yang merupakan hasil penelitian pada daerah kerja “A” PLG Kalteng.75 4.2 Sumber : Manual OP Proyek PLG.8 47 35.7 26.6 79 77.8 50.5 4.8 84.0 70.9 79.2 4.8 26.40 84.8 80.9 4.5 59.00 Temperatur 26.3 Jul Ags Sep 26. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -142 .0 27.5 4.8 3.8 5.75 55.75 5.6 84.1 82.7 83.0 35.6 4.2 26.5 26.3 Okt Nop Dec 27 26. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Pengamatan meteorologi pada stasiun Banjarmasin dan Awang Bangkal rekapitulasi grafiknya pada gambar berikut ini.6 26.75 5.00 35.6 51 .33 55.3 4.3 53.20 27.1 83.4 4.3 26.3 26.2 26.1 83.8 55.5 26.20 26.1 35.2 63. merupakan data rata-rata stasiun di Banjarmasin dan Palangkaraya adalah sebagai berikut : Tabel 2.40 26.3 79 82.8 55.80 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2.26.6 26.7 85.9 82.0 75.1 46.0 26.2 47.0 36.33 4.1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 46.0 45.5 82.64 Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan (Lokasi PLG Kalteng) No 1 2 3 4 5 UNSUR Suhu udara Kelembaban Nisbi Kecepatan Angin Penyinaran matahari Evapotranspirasi UNIT C % knt Jam/hr Mm/hr o Jan Feb Mar 26. 2002 Catatan : 1) 2) Data dari Stasiun Banjarmasin dan Stasiun Palangkaraya Evapotranspirasi dihitung dengan metoda Penman 27.9 4.80 60.5 27.17 36.8 4.8 83.0 40.1 35.0 50.0 82.8 26.2 4.0 80.8 85.0 27.8 80.25 3.6 79.3 63.0 77.21 5.6 4.5 Mei Jun 27.4 5 5.7 Apr 27.8 26.60 55.3 53.3 26.1 4.0 1 1 2 25.75 51.0 26.

sekitar 3oC per bulan.00 Temperatur 26.00 25.27.6 75.0 85.7 26.0 25. yaitu pada pegunungan utara.000 mm/tahun. variasi suhu relatif kecil.0 85.3 51 . tinggi curah hujan rata-rata pada daerah pegunungan timur dalam DAS Barito adalah 3.0 37.0 26.1 27.3 79.0 27.3 27.0 86.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Mean Relatively Humidity.0 55. Sementara curah hujan di selatan DAS (hilir sungai) cenderung lebih rendah dibandingkan pada daerah hulu.60 26.9 27.500 mm/tahun.40 83.80 9 1 0 1 1 1 2 Penyinaran matahari Kelembaban Nisbi Suhu udara Month Gambar 2. sedangkan reratanya adalah 27. Sunshine. Tinggi curah hujan rata-rata di pegunungan utara adalah sekitar 3. sedangkan terendah pada saat musim kemarau. disimpulkan bahwa curah hujan cenderung lebih tinggi di pegunungan.20 26.0 39.0 81 .0 35.2 Curah Hujan Seperti yang terjadi pada belahan wilayah kepulauan Indonesia lainnya.0 83.0 1 7 8 26.0 26.0 26.0 25.0 83.0 84. Rekapitulasi Data Klimatologi Bulanan Kalimantan Selatan ( 2 ) Variasi suhu udara pada kondisi rata-rata maksimum adalah sebesar 32oC dan 22oC pada kondisi rata-rata minimum.3 26.0 6 30.0 45. 2. kelembaban relatif bulanan adalah yang tertinggi. Kelembaban relative adalah 82% pada stasiun Kota Banjarmasin. sampai minimum kurang dari 49%.0 50.4 56.0 78.0 60.40 40. Sementara itu. Pada saat musim hujan.7 26.3 86.0 2 3 4 5 44.0 75.0 30.3oC.0 45.0 31 .0 27.0 27.0 Kelembaban Relatif % Penyinaran Matahari 65.80 26.500 mm/tahun.0 26.0 70.6 26.0 80. dan di daerah datar selatan sekitar 2.20 27.0 43.1 80.0 26. and Temperature in Barito River Basin 90.8.0 45. Tabel data hujan dapat dilihat pada tabel di Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -143 .

Wilayah diantara kedua DAS tersebut diambil pada wilayah ‘A’ eks PLG Kalteng. yang mengambil data-data curah hujan 10 tahun terakhir dari Stasiun Mandomai dan Stasiun Mentangai (1984 – 1994.516 355 2.(Persero) CABANG I MALANG bawah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -144 . dan makin rendah pada daerah dataran rendah di sekitar lembah sungai.469 Mei-Okt 1.28.65 Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan pada Zona Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Region Peg Peg Plain Jan 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec Annual 384 3.930 316 2. 11 tahun). Rekapitulasi Curah Hujan Tahunan Kawasan Dataran dan Pegunungan di DAS Barito Variasi kondisi curah hujan cenderung tinggi pada daerah pedalaman dan pegunungan. Tabel 2. Nampak bahwa tinggi hujan pada musim hujan adalah sekitar 60% 70% dari curah hujan tahunan. DAS Kapuas dan daerah antara kedua DAS tersebut. Beberapa data berikut menggambarkan curah hujan di DAS Barito.368 940 754 %DRY 39% 32% 30% %WET 61% 68% 70% Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito 450 403 400 350 331 300 374 326 339 330 Ms Kemarau 384 CH Bulanan 250 199 200 150 100 50 324 0 319 293 228 197 125 114 373 370 180 346 273 229 155 141 246 226 178 355 274 169 124 92 122 94 132 235 316 Peg Utara Peg Timur Plain area Jan Peg Utara Peg Timur Plain area 331 373 324 Feb 326 370 319 Mar 403 346 293 Apr 374 273 228 Mei 339 229 197 Jun 199 155 125 Bulan Jul 180 141 114 Ags 226 124 92 Sep 178 122 94 Okt 246 169 132 Nop 330 274 235 Dec 384 355 316 Gambar 2.

6 291..4 1 53.2 81.8 160.8 104.446 2.7 86.4 319.9 12 33.8 138.7 321.5 37.1 114 155.5 185.8 2.7 266.5 0.9 104.815 2.7 88.5 280.3 149.3 278.8 21.9 229.8 333.9 1 87.6 228.9 18.0 81 .6 266.1 33.6 274.8 119.2 18.2 165.8 13.1 Feb 237.9 350.5 85.4 269 295.9 301.1 365.7 216.1 134 305.0 280.3 21.67 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 589.917 1.9 40.5 234.5 155.4 231.2 82.2 Mar 148.6 119.2 Okt Nop Dec 33.8 229.9 335.1 265 422.9 487.2 179.5 36.1 295.014 1.2 237.8 53.9 Jun 29.0 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 229.9 44.2 108.9 Sep 86.7 44 10.6 57 243.6 Jul 301.8 Ags 62.4 422.4 59.9 162.4 240.1 126.2 130. 2002 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -145 .1 117 126.5 252.8 48.244 2.4 6. Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tabel 2.5 506.2 69.1 254.2 372.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.462 1.1 160.1 151.503 Sumber : Manual OP Proyek PLG.0 1 97.2 128 59.4 44.957 1.3 64.5 176.0 44.6 207.2 21.5 94.2 50.9 33.2 187.6 346.1 296.9 143.1 314.5 105.3 83.3 114.6 73.7 101.8 88.6 245.4 310. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Zone "A" PLG Kalteng 300.4 172.0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep Okt No p Dec Gambar 2.1 238 119.5 83.7 228.2 167.8 250.66 Curah Hujan Rerata Bulanan Daerah Kerja “A” PLG Kalteng Tahun 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 MAX MEAN MIN Jan 172.953 1.1 Apr 165.3 Jun 266.2 57.8 372.5 66.1 83.3 204.2 381.4 Mei 468.6 240.4 Jul 347 118 6.7 6.6 162.1 Annual RF 1.6 238 153.891 1.5 29.4 180.1 96.6 12.29.3 254.4 67.8 47 174.5 78.2 180.3 344.896 149.3 36.7 174.0 100.3 305.4 Ags 171 77.1 365.1 Mei 232.2 154.5 126.2 232.3 301.8 58.659 1.2 197.1 265.9 35.8 25.6 91.8 29.3 24.2 220 50.5 Mar 580.7 199.7 181.7 176.5 83.7 75 71.5 110.8 49 Okt Nop Dec Annual RF Month 251.8 38.8 57 98.8 272.4 Feb 415.683 133 Sumber : Manual OP Proyek PLG.9 150.5 98.4 250.4 149.7 143.4 151.8 304.7 42.6 1.8 116.1 216.9 269.4 134.8 29.4 108.9 278.4 128 36.9 40.5 10.2 48.2 506.6 200.1 50.2 Sep 710.1 613.6 Apr 528 312.

5 31 2.2 295.2 280.2 1 54. 2002 Monthly Basin Mean Rainfall in Kapuas River Basin 450 400 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 306.5 A gs Sep Okt No p Dec Month Gambar 2.4 280.5 Sep 130.3 77.0 1 150 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul A gs Sep 1 38.2 2.4 35.8 Monthly Basin Mean Rainfall (mm) 350 304.8 1 8.506 Sumber : Manual OP Proyek PLG.1 237.7 1 49.1 Apr 260.3 293. Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Barito (1976 – 1994) Tabel 2.9 Mei 237.9 247.2 1 65.4 Jul 105.7 Mar 548 247.8 250 200 245.68 Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Tahun MAX MEAN MIN Jan 530.31.2 Dec Annual RF 306.5 89.2 Ags 84.30.(Persero) CABANG I MALANG Monthly Basin Mean Rainfall in Barito River Basin 450 400 381 .5 Okt 140.5 260.8 Okt No p Dec Month Gambar 2.9 Nop 254.4 Feb 459. Curah Hujan Rerata Bulanan DAS Kapuas (1976 – 1994) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -146 .2 1 30.5 1 40.2 300 250 200 293.4 150 1 05.9 300 250.9 100 50 0 Jan Feb M ar A pr M ei Jun Jul 84.9 Jun 165.5 254.9 254.

S.208 Rata-rata Hari Hujan Per Bulan 11.69 Kondisi Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I.518 12.DAS Riam Kanan 3 S.167 mm.741 10.DAS Balangan 5 S.S. Secara umum kondisi iklim di DAS Barito seperti tabel berikut.DAS Amandit 3 S.DAS Barito Tengah S.426 189.827 194. Muara Halong.C B 2.289 194.816 190.S.DAS Barito Hilir S.483 162.S.DAS Alalak 2 S.926 Rata-rata Curah Hujan Bulanan 179.723 204. Berdasarkan data tersebut diperoleh data bahwa curah hujan tertinggi yaitu sebesar 141.S.316 2.509 11. dengan jumlah hari hujan tahunan rata-rata sebesar hari per tahun. Barabai.039 192.761 195.473 13.921 12. 2.DAS Batang Alai 4 S.DAS Tapin 2 S.627 201.885 mm.548 13.958 8.327 2.S.C Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.86 10.DAS Tabalong Kanan 6 S. Martapura.323 2.C B B IV.B A.145 11.S. Kandangan.588 8.S.125 1. Berdasarkan data dari stasiun pengamat curah hujan di atas.S. Sei Malang. Layang-layang Pengaron.DAS Danau Panggang Ds 8 S.(Persero) CABANG I MALANG Pada wilayah DAS yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan. Sub DAS/ Sub Sub DAS S. Jaro dan Marabahan.DAS Bahalayung Rata-rata Curah Hujan Tahunan 2.61 mm – 369. Mabu’un. DAS Barito termasuk tipe iklim B ( Schmidt Fergusson) dengan nilai Q rata-rata sebesar 0.982 175.302 1.479 Tipe Iklim B.DAS Riam Kiwa S.C B A.916 11.213 jumlah curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 197.B A.409 2.389 2.DAS Negara 1 S.993 2.DAS Tabalong Kiwa 7 S. Adapun stasiun pengamat/penakar hujan tersebut adalah stasiun pengamat Gn.895 166.B B B. II.S.064 B. Tabel 2. Binuang.823 B.B A.S. dan yang terendah adalah sebesar 58. data iklim yang menggambarkan kondisi iklim di DAS Barito didapatkan dari beberapa stasiun pengamat yang ada (10 stasiun pengamat/penakar hujan) yang sebarannya dianalisa berdsasarkan pembagian wilayah iklim metoda Thiessen. III. Kalsel)’.3 13.DAS Martapura 1 S.288 2. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -147 .85 mm.225 2.091 191.

87 589.44 Tipe B B B A B C A B B B Tahun 1977-2002 1977-2002 1990-2002 1978-2000 1997-1992 1986-1998 1976-2001 1976-1999 1976-2001 1978-2001 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.255 1.926 2.55 621.202 826 2.356 656 B inuang (Tapin) Kandangan (HSS) B arabai (HST) M uara Halo ng (HSU) M artapura (B anjar) 1.434 2.509 2.(Persero) CABANG I MALANG Annual RF dan Max RF DAS Barito. Kalsel)’.66 605.356 2.382 686 Tabel 2.783 2.926 427 641 2.255 2.281 B akumpai (B arito Kuala) Jaro (Tabalo ng) Sungai M alang (HSU) M abu'un (Tabalo ng) Gn Layang-layang (B anjar) 661 1.783 2.342 606 2.11 711.202 Max RF (mm) 826.509 712 2. September 2003 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -148 .70 Tipe Iklim DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Station Binuang (Tapin) Kandangan (HSS) Barabai (HST) Muara Halong (HSU) Martapura (Banjar) Bakumpai (Barito Kuala) Jaro (Tabalong) Sungai Malang (HSU) Mabu'un (Tabalong) Gn Layang-layang (Banjar) Annual RF (mm) 2.281 1.342 2.27 656.382 2. Kalsel 589 622 2.434 2.82 686.2 641 427 660.

Karau Ampah Tampa Hayaping Bentot 2 0 LS Bingkuang Mangkatip 2 0 LS TAMIANG LAYANG Jenamas 114 0 BT 115 0 BT Gambar 2.Montallat 10 LS Lampeong Kandui BUNTOK Bambulung S. Tampa POS HUJAN 1. Kandui 3. Hayaping POS KLIMATOLOGI 1. Ampah Benangin Ketapang Tumpung Laung Pendang Tabak Kanilan S.Benangin 1 LS 0 POS DUGA AIR (AWLR) 1. Muara Teweh 2.Murung 0 0 LS Tumbangolong 0 0 LS TUMBANG KUNYI Saripoi PURUK CAHU KETERANGAN MUARA TEWEH S. Ampah 4. Muara Teweh 2.32. KALIMANTAN TENGAH 115 0 BT S. Buntok 2. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -149 .(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P. Tabak Kanilan 3.Paku S.

Pujon POS KLIMATOLOGI 1.(Persero) CABANG I MALANG 114 0 BT P. Pos Klimatologi dan Pos Hujan WS Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -150 . Serapat Basarang KUALA KAPUAS 3 0 LS A. Mandomai 2. Kelampan Palingkau Sei Tatas Barimba A. KALIMANTAN TENGAH Tumbangbukoi 10 LS KETERANGAN POS DUGA AIR (AWLR) 1. Hanyu 10 LS Pujon Timpah 2 0 LS 2 0 LS S.Mantangai Ketimpun Mantangai Mandomai A. Basarang 3 0 LS Lupak Dalam Pelampai 114 BT 0 Gambar 2. Pujon POS HUJAN 1. Lokasi Pos Duga Air. Mantangai Sei.33.

621 2. Tabanio Tanah Laut S. Hanyar Tabalong S. yaitu sekitar 2.KALSEL Nama Sungai Panjang (km) 15 61 106 119 187 21 19 121 94 93 60 71 159 52 133 92 92 57 29 83 30 Luas CA (km2) 77 303 1.5 15 7. Barabai Hulu Sungai Tengah S. Tabalong Tabalong S. Berdasarkan hasil studi terdahulu pada Proyek Bendungan Riam Kanan.8.(Persero) CABANG I MALANG 2. Pitap Hulu Sungai Utara S. Riam Kanan Banjar S. debit yang digunakan sebagai pembanding hasil analisis ketersediaan air pada tiap-tiap anak sungai adalah seperti pada table berikut. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Lokasi (kabupaten) S. debit tahunan anak sungai Riam Kanan diperkirakan dari setengah tinggi curah hujan tahunan. Tabalong Kiri Tabalong S.2 38 22 100 10.3 Limpasan Permukaan (Runoff) Limpasan permukaan pada anak-anak sungai DAS Barito sangat bervariasi.1 7. Dalam kajian ini.325 351 2. Asam-asam Tanah Laut S. Ninian Hulu Sungai Utara S.333 3. Negara Hulu Sungai Utara S.880 mm/tahun pada DAS yaitu 48. Tabalong Kanan Tabalong S.2 15 27.604 196 69 273 1. Riam Kiwa Banjar S.5 8 30 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -151 . Luas DAS yang digunakan pada perhitungan Bendungan Riam Kanan adalah sebesar 1. Balangan Hulu Sungai Utara S. Amandit Hulu Sungai Selatan S. Tapin Tapin S.010 790 474 494 2.063 km2.4 m3/detik pada lokasi bendungan. Batang Alai Hulu Sungai Tengah S.379 Debit Rata-rata (m3/det) 3 14 48 29 150 54 7 8 55.993 10.622 2.3 200 17.075 1. Mangkauk Banjar S. Uya Tabalong S. Martapura Banjar S. Ayu Tabalong S.71 Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan No. Kintap Tanah Laut DAS BARITO . Tabel 2. Sawarangan Tanah Laut S.621 532 306 775 535 33.

2 200.0 14. P itap S. Negara S. M angkauk S.0 54. Tabanio S.1 100. B alangan S.0 55. Kintap S. Hanyar S. Debit Rata-rata Harian Sungai di Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -152 . Tabalo ng Kanan S.0 De bit Rata-rata Sungai DAS Barito di Kalse l 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 De bit Rata-rata (m3/se c) Gambar 2. Sawarangan S. A mandit S. B atang A lai S. Tabalo ng Kiri S. A yu S. Ninian S.0 3. Uya 30. A sam-asam S.5 15.34.0 7. B arabai S. Riam Kanan S.0 7. Riam Kiwa S. M artapura S.0 22.0 38. Tapin S.5 10.(Persero) CABANG I MALANG S.3 8.0 48.0 150.0 27.0 7. Tabalo ng S.0 8.0 29.0 17.2 15.

35. Stasiun Hidrologi dan Sebaran Hujan WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -153 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o 50’ – 287o 55’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir di Kota Banjarmasin ke arah utara di bagian hulunya. 2. pada daerah dengan perubahan iklim yang besar. Dengan kondisi iklim yang sesuai. Kendala-kendala tersebut harus dapat diantisipasi dalam rangka pencapaian tujuan akhir dari kegiatan pengelolaan DAS sebagai berikut: 1.9 EROSI DAN SEDIMENTASI Pengelolaan DAS sebagai bagian dari pembangunan wilayah sampai saat ini masih menghadapi berbagai masalah yang kompleks dan saling terkait. tetapi. erosi yang terjadi biasanya lebih besar daripada hujan dengan intensitas lebih kecil dengan waktu berlangsungnya hujan lebih lama.(Persero) CABANG I MALANG 2. Dari segi sosial ekonomi. Tabalong dan terendah adalah 1m dari permukaan laut yang terdapat di Kota Banjarmasin. dan kekeringan yang sangat erat kaitannya dengan keadaan sumber daya alam vegetasi/hutan tanah dan air serta unsur manusia yang terdapat dalam ekosistem DAS tersebut. meliputi hasil air yang memadai baik jumlah. pertumbuhan vegetasi terhambat oleh tidak memadainya intensitas hujan. kualitas. adalah terciptanya lingkungan hidup yang baik dan nyaman dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah. intensitas hujan tersebut umumnya sangat tinggi. banjir. Pengaruh langsung adalah melalui tenaga kinetis air hujan terutama intensitas dan diameter butiran air hujan.256 m dan ini menyebabkan pada daerah yang lebih tinggi akan mempunyai temperatur yang lebih rendah dan relatif banyak terjadi hujan dibandingkan dengan daerah yang lebih rendah. Meningkatnya produktivitas lahan 3. Kondisi hidrologis DAS yang optimal. Sedangkan pengaruh iklim tidak langsung ditentukan melalui pengaruhnya terhadap pertumbuhan vegetasi. sedimentasi. sebaliknya. Perbedaan ketinggian tersebut menghasilkan beda tinggi sebesar 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -154 . Pengaruh iklim terhadap erosi dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Pada hujan yang intensif dan berlangsung dalam waktu pendek. misalnya di daerah kering. Permasalahan tersebut antara lain terjadinya erosi.257 m dari permukaan laut yaitu terdapat di Kab. vegetasi dapat tumbuh secara optimal. sekali hujan turun. DAS Barito memiliki titik ketinggian yang tertinggi 1. kontinuitas dan sebaran waktu serta terkendalinya erosi dan kekeringan.

berarti kemungkinannya adalah sebagai berikut: a. Tingkat peresapan atau infiltrasi tergantung pada curah hujan. Agak Kritis dan Potensial Kritis. maka tingkat infiltrasi air hujan ke dalam tanah merupakan faktor yang sangat penting. dimana penyebarannya dianalisa sesuai dengan fungsi kawasannya. tipe tanah. Tingkat kerusakan lahan di DAS Barito dapat dilihat dari keadaan erosi aktual dan tingkat bahaya erosi. kemiringan. justru gejala kearah kerusakan lahan sudah banyak ditemukan. jenis tanah (erodibilitas). Bentuk penggunaan lahan merupakan aspek di bawah pengaruh kegiatan manusia. Tingkat kekritisan daerah resapan menggambarkan mengenai penilaian tentang tingkat kekritisan daerah resapan terhadap air hujan. Pengelolaan lahan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah c. Untuk melestarikan simpanan air tanah. topografi (kelerengan dan panjang lereng). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -155 . yaitu lahan Sangat Kritis. yaitu Kawasan Hutan Lindung. maka akan didapat Tingkat Bahaya Erosi yang diklasifikasikan mulai dari Sangat Ringan sampai Sangat Berat. tipe vegetasi dan penggunaan lahan. Jika aspek alami mencerminkan kondisi potensial. ”maka aspek penggunaan lahan mencerminkan kondisi aktual”. mempunyai implikasi yang berbeda terhadap infiltrasi.73. penutupan lahan dan upaya konservasi tanah. Letak dan kondisi lahan yang masih labil khususnya di lereng-lereng pegunungan.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hasil analisa dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tingkat kerusakan tanah di DAS Barito pada umumnya masih baik. Semakin besar tingkat resapan (infiltrasi) maka semakin kecil tingkat air larian (surface runoff). demikian pula cadangan air tanahnya. keadaan lahan kritis.72 dan 2. kekritisan hidrologis dan tingkat kekritisan Sub DAS sebagaimana disajikan pada Tabel 2. persentase run-off. sehingga debit banjir dapat menurun dan sebaliknya aliran dasar (baseflow) dapat naik. Kritis. namun demikian hal ini bukan berarti tidak terjadi kerusakan. Kawasan Lindung di luar Kawasan Hutan dan Kawasan Budidaya untuk usaha Pertanian. Dengan mempertimbangkan solum tanah. Sedangkan keadaan lahan kritis dibedakan menjadi 4 (empat) klasifikasi. Masih banyaknya lahan-lahan terlantar yang tidak dikerjakan b. Tingkat erosi aktual menggambarkan keadaan lahan tererosi dengan mempertimbangkan curah hujan (erosivitas).

yaitu baik.484.DAS Batang Alai S.517. agak kritis.068. Nilai indeks Sub DAS yang tinggi menunjukkan tingkat kekritisan Sub DAS yang tinggi pula. dikatakan bahwa menurut Dirut PDAM Kab.033 cm/th.83 164. menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat erosi yang terjadi di DAS Barito berkisar antara kelas II (antara 15-60 ton/ha/th) dan kelas III (antara 60 – 180 ton/ha/th) dengan rata-rata erosi adalah 34.917. mulai kritis.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5.831 ton/ha/th atau setara erosi yang terjadi pada seluruh DAS Barito dengan luas 1.68 117.S.01 49. kritis dan sangat kritis.23 8.158.239 Indeks SDR 8.61 88.30 1.888.93 94. II. Banjar bahwa kandungan lumpur dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -156 .478. Sebagai ilustrasi adalah informasi dari media massa Radar Banjarmasin (hari Selasa tanggal 26 Agustus 2003.201 10.186.661. dengan ”judul Investor Baru Keruk Alur”).27 8.363. Tabel 2.957.38 8.7 ton/ha.916 4.526.26 8.969.134 971.137 16. 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S.863.30 ha adalah 81.863.92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. normal alami.26 136.S.240.905 1.DAS Riam Kiwa S.S. Sedangkan pada Radar Banjarmasin terbitan hari Rabu tanggal 27 Agustus 2003 ( Rubrik Radar Banua halaman 10 dengan judul ”Pelanggan PDAM Bakal Terlantar”).917.617 66.292. Kalsel)’.56 164.14 202.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189.S.663 54.284 44.DAS Riam Kanan S.44 110.975.108. Rubrik Radar Banua.S. dan dengan memperhitungkan nilai SDR (Sediment Delivery Ratio) sebesar 5.908 5.DAS Amandit S.27 8.S. Adapun tingkat kekritisan Sub DAS diperoleh dari nilai-nilai indeks erosivitasnya yang dihitung berdasarkan bentuk wilayah/topografi.578 4. bahwa alur Barito setiap hari mengalami pendangkalan setinggi 2 cm.240 6.35 8.92%.S.(Persero) CABANG I MALANG Tingkat kekritisan hidrologis dibedakan menjadi 5 (lima) kelas.11 173. maka ketebalan laju sedimentasi yang masuk ke dalam Sungai Barito bila dianggap sebagai waduk/penampungan adalah 0. lereng/slope.325 mm/th atau 0.26 8. III.772 284.610 81.957.908.DAS Alalak S.431..343.743.636 6.896 81.DAS Balangan S.72 Sebaran Kelas Erosi di DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No 1 I.S. bentuk percabangan sungai dan penggunaan lahan.126.082.567.239 ton/th.714 17.DAS Tabalong Kiwa S.155.31 8.S.186.568.768.35 8.DAS Barito Hilir Ds S.020.991 50.550 6.43 5.156 36. September 2003 Berdasarkan Tabel di atas.DAS Barito Tengah S.116 453.37 8.S.862 10.363.DAS Tabalong Kanan S.747 63.8 ton/m3. maka akan didapat hasil sedimen yang masuk ke dalam Sungai Barito sebesar 4.DAS Martapura S. diberitakan berdasarkan pernyataan Ketua Komisi D DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.264.851.DAS Danau Panggang Ds S.987.380 9.036.839.25 213.096.495 462.921. Selanjutnya dengan asumsi bahwa berat sedimen adalah 0.349. halaman 9 dan halaman 15.

Berdasarkan Tabel 2.066 cm/th Sub Sub DAS Danau Panggang : 38.006 cm/th Pendekatan lain untuk menilai DAS Barito dapat dikaji pula mengenai tingkat kekritisan daerah resapannya.576 ton/th atau setara 0.461.834 ton/th atau setara 0.084 cm/th Sub Sub DAS Tabalong Kanan : 919.057 cm/th Sub Sub DAS Batang Alai : 572.368.941.448 ton/th atau setara 0.052 cm/th Sub Sub DAS Balangan : 1.881. yaitu 15 – 60 ton/ha/th. menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai tingkat kekritisan hidrologis/kondisi daerah resapan yang rata-rata Normal Alami artinya bahwa potensi terjadinya infiltrasi karena kondisi alamnya tidak terlalu terganggu dengan adanya perlakuan lahan yang diatasnya.403 ton/th atau setara 0.958.385.914 ton/th atau setara 0. dimana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -157 . Sub Sub DAS yang termasuk ke dalam erosi Kelas III (60 – 180 ton/ha/th). Dengan memperhatikan erosi yang terjadi dan indeks SDR (Sediment Delivey Ratio) pada masing-masing Sub Sub DAS.005 cm/th Sub DAS Barito Tengah : 37.647.018 cm/th Sub Sub DAS Riam Kanan : 907. Kontribusi erosi dan sedimentasi tersebut berasal dari beberapa Sub Sub DAS dengan variasi jumlah dan kelas erosinya.633 ton/th atau setara 0.046 cm/th Sub DAS Negara: Sub Sub DAS Tapin : 891. Sub Sub DAS Batang Alai.735 Ton/th atau setara 0.069 cm/th Sub Sub DAS Riam Kiwa : 781.916 ton/th atau setara 0.478. Sub Sub DAS Amandit.171 ton/th atau setara 0.004 cm/th Sub DAS Martapura: Sub Sub DAS Alalak : 127.282 ton/th atau setara 0. Sub Sub DAS Balangan.265 ton/th atau setara 0.435.625. adalah Sub Sub DAS Riam Kanan yang sudah barang tentu akan memberikan kontribusi laju sedimentasi yang lebih tinggi pula.73.895. didapat jumlah sedimen yang terjadi pada masing-masing sungainya sbb: Sub DAS Barito Hilir : 79. yang pada intinya membandingkan antara infiltrasi potensial dan infiltrasi actual di DAS. Sub DAS dan Sub Sub DAS yang bersangkutan.908 ton/th atau setara 0. dan hampir sebagian besar Sub DAS Negara yang meliputi Sub Sub DAS Tapin.070 cm/th Sub Sub DAS Amandit : 541.216. Sedangkan Sub Sub DAS Riam Kiwa di Sub DAS Martapura.403.(Persero) CABANG I MALANG rangka pengerukan lumpur yang terdapat di irigasi Riam Kanan adalah 40 cm dari ketinggian air 60 cm.005 cm/th Sub Sub DAS Bahalayung : 23. Sub Sub DAS yang mempunyai erosi rata-rata kelas II.

957.S.772 284. Air yang kualitas buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya.01 49.DAS Batang Alai S.68 117.240 6.186. Air memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan suatu komunitas karena penyediaan air yang dapat diandalkan merupakan persyaratan bagi terbentuknya komunitas yang permanen.610 81.020.43 5.92 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.747 63.987.27 8.517. zat kimia dan bahan buangan atau limbah.44 110.83 164. sedangkan yang termasuk Baik adalah Sub Sub DAS Riam Kiwa dan Sub Sub DAS Tapin.25 213.917. sehingga adanya keseimbangan antara potensi infiltrasi yang disebabkan keadaan alamnya dengan infiltrasi aktual yang terjadi. III.186.578 4.380 9.661. Hal ini dapat dilihat pada kondisi daerah resapan dengan klasifikasi Normal Alami hampir sebagian besar Sub Sub DAS Alalak dan Sub Sub DAS Danau Panggang termasuk daerah resapan yang masuk dalam klasifikasi Mulai Kritis.S.991 50.3 Rata-rata Kerusakan Lahan Berdasarkan Kelas Erosi (ton/ha/tahun) Jumlah (ton/th) I II III IV (<15) (15 – 60) (60-180) (180-480) 4 5 6 7 8 5.S.DAS Alalak S.14 202.969.905 1.363.495 462.201 10.26 8.284 44.126.23 8.S.036.567. Tidak sebagaimana bahan baku lainnya.S.714 17. 1 2 3 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/Sub Sub DAS 2 S.916 4.30 1.343.863.663 54.(Persero) CABANG I MALANG penutupan lahan secara keseluruhan cukup baik.11 173.839.26 136.61 88.349.S.56 164. Kalsel)’.158.DAS Riam Kanan S.DAS Danau Panggang Ds S.10 KUALITAS AIR WS BARITO-KAPUAS Air merupakan sumber alam yang sangat penting di dunia ini karena tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung.768. Pencemaran utama air adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -158 .743.DAS Barito Hilir Ds S.862 10.239 Indeks SDR 8.108. Pencemaran air adalah adanya kontaminasi air oleh materi asing seperti mikroorganisme. September 2003 2.617 66.550 6.921. II.526.896 81.DAS Martapura S.156 36.134 971.137 16.264. mengingat pertumbuhan penduduk dan pengembangan industri selalu diikuti dengan peningkatan kebutuhan air bersih.568.DAS Riam Kiwa S.155.DAS Bahalayung Jumlah Luas (ha) 3 189.116 453.636 6.888.484.S.31 8.082.73 Tingkat kekritisan Daerah Resapan DAS Barito di Provinsi Kalsel No 1 I.478.S.DAS Barito Tengah S.096.38 8.292.DAS Tabalong Kiwa S.37 8.S.27 8.DAS Balangan S.975.DAS Amandit S.DAS Tabalong Kanan S. air merupakan satu-satunya sumber alam yang tidak bisa digantikan oleh material lain.26 8.908 5.93 94.068..240.S. Tabel 2.431.35 8. Konsep bahwa air merupakan sumberdaya alam yang harus dikelola secara hati-hati adalah sangat penting dan perlu.35 8.

SO4 (Sulfat). Parameter yang diuji dalam pemantauan kualitas air meliputi: Temperatur. NH3 (Amoniak). pertambangan dan daerah padat penduduk di perkotaan yang terbawa oleh aliran air hujan. Minyak 5. sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen badan perairan dan bau yang tidak enak. DO (Dissolved Oxygen). Detergen. Zat Padat Terlarut (TDS). DHL (Daya Hantar Listrik). 4.(Persero) CABANG I MALANG 1. Minyak/Lemak.Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok . Nitrit (NO2). PO4 (Phosphat).Lokasi 2 : Baru .Lokasi 5 : Kalahien Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -159 .Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu .10. Zat Padat Tersuspensi (TSS). Limbah rumah tangga dan limbah lain yang mengandung banyak materi karbon organik. COD (Chemical Oxygen Demand). Sungai Barito Berdasarkan Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun 2007 Oleh BPPLHD Provinsi Kalimantan Tengah Sampel air Sungai Barito yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Mei 2007) diambil di 24 (dua puluh empat) lokasi titik pengambilan yaitu: . 2. juga merupakan arahan tentang tingkat kualitas air yang akan dicapai atau dipertahankan oleh setiap program kerja pengendalian pencemaran air. Bahan kimia organik. pH. pencemaran air yang diindikasikan dengan turunnya kualitas air sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya. Berdasarkan definisinya. 2. misalnya pestisida dan surfaktan pada detergen. 3. Fenol.1. Mineral anorganik dan bahan kimia anorganik 6. sehingga untuk dekomposisi limbah tersebut diperlukan banyak oksigen.Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok . Merkuri (Hg). Pupuk pertanian yang dapat merangsang pertumbuhan air secara berlebihan atau (eutrofikasi). BOD5 (Biological Oxygen Demand). Sedimen yang terdiri dari tanah dan partikel mineral yang yang berasal dari lahan pertanian. Nitrat (NO3). Yang dimaksud tingkat tertentu tersebut adalah baku mutu air yang ditetapkan sebagai tolak ukur untuk menentukan telah terjadinya pencemaran air. Fecal Coli dan Total Koliform.

Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 7 : Sungai Pendang .Lokasi 16 : Muara Lahei .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .(Persero) CABANG I MALANG .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 8 : Bintang Linggi .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri .Lokasi 10 : Kandui .Lokasi 24 : Laung Tuhup Sedangkan pada tahap II (September 2007) diambil di 10 (sepuluh) lokasi titik pengambilan yaitu : .Lokasi 15 : Lahei .Lokasi 19 : Sungai Lumuk .Lokasi 12 : Muara Teweh .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -160 .

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.74 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap I (Bulan Mei 2007) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -161 .

Lokasi 3 : Mentangai .2. Kapuas .Lokasi 5 : Masaran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -162 .Lokasi 1 : K. Sungai Kapuas Sampel air Sungai Kapuas yang diuji kualitas airnya pada tahap I (Juni 2007) diambil di 6 (enam) lokasi titik pengambilan yaitu: .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Tilu .Lokasi 5 : Masaran .10.Lokasi 3 : Mentangai . Kapuas .Lokasi 6 : Masaran Hulu Sedangkan pada tahap II (Oktober 2007) diambil di 9 (sembilan) lokasi titik pengambilan yaitu : .Lokasi 2 : P.75 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai Barito Tahap II (Bulan September 2007) 2.Lokasi 4 : Timpah .Lokasi 4 : Timpah . Tilu .Lokasi 2 : P.Lokasi 1 : K.

76 Kualitas air di WS Kapuas 2.Lokasi 7 : Masaran Hilir .11.11 KONDISI WS BARITO DAN KAPUAS 2.1.(Persero) CABANG I MALANG .11. Bentuk DAS sebenarnya sukar untuk dinyatakan secara kuantitatif.Lokasi 9 : Mandomai Hasil pengujian kualitas air sungai di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut: Tabel 2. dapat dibuat suatu Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -163 .Lokasi 6 : Masaran Hulu . Dengan membandingkan konfigurasi basin.1 Kondisi DAS Barito 2.Lokasi 8 : Timpah Hulu .1 Bentuk DAS Bentuk DAS dapat dinyatakan dengan menggunakan nilai Rc (Ratio circularity) yang mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman puncak discharge banjir.

sedangkan pada musim kemarau diatas rata-rata normal dapat menyebabkan terjadi kekeringan lebih cepat dibandingkan dengan DAS yang mempunyai bentuk memanjang.562. bila lembah sungai tidak dapat menampung aliran air permukaan. Bila hujan merata. Bentuk Sub Sub DAS. Dengan memperhatikan panjang dan lebar serta diameter DAS tersebut.04 km. Dari perhitungan nilai Rc dan RE tersebut di atas. hampir semua Sub Sub DAS mempunyai bentuk memanjang yang cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir relatif cepat dan kurang baik menyimpan air kecuali Sub Sub DAS Balangan dan Sub Sub DAS Tapin serta Sub DAS Martapura dan DAS Barito secara keseluruhan. maka bentuk DAS tersebut adalah cenderung membulat.937 km dan lebar adalah 121. terutama bila terjadi hujan yang merata di bagian hulu dengan curah hujan yang tinggi.312. hal ini berarti bahwa karakteristik DAS Barito mempunyai bentuk memanjang yang menunjukkan pola aliran dan puncak discharge banjir yang cepat menuju sungai utama. didapat panjang DAS Barito adalah 1. Jika DAS berbentuk lingkaran maka indeks bentuk DAS mendekati nilai 1 dan atau apabila nilai Rc lebih kecil dari 0. terutama jika Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -164 . walaupun pada kondisi tertentu dapat menyebabkan terjadinya banjir dan kekeringan.(Persero) CABANG I MALANG indeks yang didasarkan paa circularity DAS. maka mudah terjadi kenaikan debit yang mencolok dan hal ini akan menyebabkan timbulnya genangan dan banjir. Karakteristik bentuk DAS Barito tersebut dapat dilihat juga dari faktor diameter. Sub DAS dan DAS yang memanjang agak membulat/lingkaran tersebut cenderung mempunyai pola aliran dan puncak discharge banjir yang relatif lambat baik dalam penyimpanan air dibandingkan dengan Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang.594. Hal ini menunjukkan bahwa DAS Barito mempunyai bentuk memanjang agak membulat/lingkaran.5 maka bentuk DAS tersebtu adalah memanjang dan apabila nilai Rc lebih besar dari 0.5. yaitu memanjang agak membulat/lingkaran. karena waktu konstentrasi curah hujan melalui debit alirannya cenderung pendek. artinya pada musim hujan mudah mengalami banjir di bagian hilirnya. maka nilai RE untuk DAS Barito adalah 0. Berdasarkan hasil analisa planimetris dan GIS dengan menggunakan peta RBI dan peta topografi. dimana kondisi DAS yang demikian kadang kurang dapat menyimpan air dengan baik. lebar dan panjang sungainya melalui perhitungan (Elongation Ratio). Secara keseluruhan Nilai Rc yang menggambarkan bentuk DAS Barito adalah 0.

Dengan demikian secara keseluruhan DAS Barito mempunyai bentuk memanjang dan agak membulat/lingkaran yang dibentuk oleh Sub DAS dan Sub Sub DAS yang mempunyai bentuk memanjang serta bentuk memanjang agak membulat/lingkaran. Selanjutnya pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS sungai utama yang dimaksud adalah sungai yang membentuk Sub DAS dan Sub Sub DAS tersebut.298 km.298 km. Sungai utama yang membentuk DAS Barito adalah Sungai Barito dengan panjang 153. pengalirannya. Diantara Sub DAS yang ada.(Persero) CABANG I MALANG kondisi musim hujan dan musim kemarau berada di atas rata-rata normal.378 km dan yang terpendek adalah sungai Martapura yaitu 69. Sebagai contoh sungai utama Sub DAS Martapura adalah Sungai Martapura dengan panjang 69. sedangkan sungai utama Sub Sub DAS Amandit adalah Sungai Amandit dengan panjang 98. Panjang sungai menentukan besarnya wilayah pengaliran sungai dan pengelolaannya. begitu seterusnya untuk masing-masing Sub DAS dan Sub Sub DAS yang lainnya. Secara umum panjang sungai utama.945 km dan memanjang mulai dari bagian hilir/muara sungai di Kota Banjarmasin sampai di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong yang seterusnya memasuki wilayah Provinsi Kalteng. sungai utama terpanjang adalah sungai yang terdapat di Sub DAS Negara. lebar DAS dan bentuk DAS Barito disajikan pada tabel berikut : dimana makin panjang sungai makin besar wilayah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -165 .973 km. yaitu 208.

DAS Tabalong Kiwa S.562 0.436 0.869 13.9806 16.442 0.274 0.38 0.354 144. September 2003 2. kedua dan seterusnya. suatu DAS dapat terdiri dari Sub DAS urutan pertama.945 83.649 69.813 Lebar DAS ( km ) 121. II.DAS Bahalayung Panjang Sungai Utama (km) 153.556 0.DAS Batang Alai S.578 11. 1 2 3 IV. III.DAS Balangan S.S.228 0.S.DAS Barito Hilir Ds S.DAS Alalak S.607 67.77 Tabel bentuk/nilai Rc DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No DAS/ Sub DAS/Sub Sub DAS DAS BARITO S.312 0.914 14.17 0.DAS Riam Kanan S.712 15.S.315 0.242 98.1.275 0.403 0.681 12.S.S.DAS Negara S.891 14. dimana setiap aliran sungai yang tidak bercabang disebut Sub DAS urutan / ordo pertama.DAS Amandit S.391 0.04 22.DAS Danau Panggang S.341 0.226 Nilai RE 0. semakin luas wilayah Sub DAS dan semakin banyak percabangan sungai yang terdapat di dalam DAS yang bersangkutan.55 0.389 0.675 155.316 97.378 126.DAS Barito Tengah S.S.909 7.S.2 Jaringan Sungai Berdasarkan Asdak C (2002).219 0.006 208.822 Nilai Rc 0.296 70.302 0. Respon tersebut diwujudkan dalam bentuk kurva hidrograf aliran yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kondisi hidrologi DAS yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -166 .264 0. mengatakan bahwa kedudukan aliran sungai dapat diklasifikasikan secara sistematik berdasarkan urutan daerah aliran sungai.756 52.322 0..S. Dengan demikian semakin besar angka urutan.028 208.512 0.269 8.226 0.298 98.336 0.33 0. Sistem klasifikasi Horton berawal dari urutan pertama dan selanjutnya meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah percabangan aliran air atau anak-anak sungai.S.982 18.DAS Tapin S.311 0.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.973 95. Kalsel)’. Dalam suatu DAS. Setiap anak sungai menghasilkan hidrograf aliran yang menunjukkan respon DAS terhadap curah hujan. anak sungai di bagian atas akan bersambung dengan anak sungai yang lebih besar di bawahnya.207 38. Oleh karena itu.358 0.322 0.271 13. Meskipun tampak bahwa urutan Sub DAS berkaitan erat dengan karakteristik DAS lainnya.94 92.469 0.364 I.326 0. kebanyakan pakar hidrologi beranggapan bahwa tidak ditemukan bukti yang cukup untuk mengaitkan sistem urutan Sub DAS dengan perilaku air larian di daerah tersebut.S. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop.S.467 0.DAS Riam Kiwa S.378 66.DAS Tabalong Kanan S.276 12.DAS Martapura S.11.

(Persero) CABANG I MALANG bersangkutan.458 10.354 743. Debit puncak untuk satu anak sungai mungkin telah terlampaui.865 7.146 12.306 6. aliran air dari kedua anak sungai tersebut tidak terjadi secara bersamaan.855 0.S. Secara rinci keadaan jaringan sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Tabel 2.442 0.889 13. S.877 5.021 0.DAS Amandit S.DAS Martapura S. S.75 43 32 35 8 5. S. 1.286.DAS Balangan III-I 1562.604 0.281 32 10.126 6.DAS Alalak S.937 1203.919 0.DAS Barito Tengah III.449 1.891 1.166 6.935.239 1.444 18 1 1 7.986 III-I 2. 1. S.861 1193. No DAS/ Sub DAS/ Sub Sub DAS Orde Sungai Panjang Sungai Total (km) I. Ketika anak sungai bergabung dengan anak sungai lain dibawahnya.483 IV-I III-I III-I III-I 8.329.S.593.514 26.40 10.039 6.130.205 IV-I III-I III-I 4. Pengaruh ketidaksamaan waktu terjadinya debit puncak pada masing-masing anak sungai tersebut akan menurunkan besarnya debit puncak total pada sungai utama (sungai yang menampung kedua anak sungai tersebut).842 0.S. S.213.023 5.807 6.343 4.DAS Negara S.S.385 57 14.253 67 1 1 5. 2. 2.S. sementara pada anak sungai berikutnya debit puncak akan segera terjadi.313 IV-I 1.DAS Tapin S.S.295 7.290 1.004 1.DAS Riam Kanan 3.DAS Barito Hilir Ds II.78 Keadaan Jaringan Sungai Pada DAS Barito di Provinsi Kalsel.360 1.DAS Batang Alai 4.254 124 12 55 1 6.790 4.DAS Riam Kiwa IV.S. S. 3.939 IV-I 953.771 5.221 Dd (km/km2) Rb 1-2 Rb 2-3 Rb 3-4 Rb 4-5 Wrb Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -167 .

maka pada ordo sungai 1 ke 2.516 Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. atau dengan ratio 73 : 17 : 3 : 1.DAS Tabalong Kiwa III-I 816.S. yaitu Rb 1-2 mempunyai nilai 5. Ordo II dengan panjang sungai 2.621 km dan ordo V dengan panjang sungai 153.696 4.23.269.(Persero) CABANG I MALANG 5. sedangkan pada setiap Sub DAS sungainya mempunyai 4 (empat) ordo dan pada Sub Sub DAS sungainya mempunyai 3 (tiga) ordo.23). S. Sedangkan ratio percabangan sungai dapat ditunjukkan dengan nilai Rb masing-masing ordonya. sehingga jumlah sungai pada ordo 3 ada kemungkinan daya tampung sungainya tidak mampu menerima aliran permukaan air tersebut dan kemungkinan akan terjadinya genangan pada daerah ini.196.016 km. Rb 2-3 mempunyai nilai 19.161 0.400 15 - - 7. Banyaknya jumlah alur sungai menggambarkan tingkat torehan aliran permukaan dan kerusakan atas lahan di daerah hulu. Hal ini menunjukkan bahwa muka alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat dan demikian dengan penurunannya akan terjadi dengan cepat pula. jumlah sungai masih dapat menampung aliran air. ordo III dengan panjang sungai 1.687. 3 ke 4 dan ordo 4 ke 5. Rb 3-4 mempunyai nilai 5.307 6. ordo IV dengan panjang sungai 431.001 km. Bila pada daerah sekitar ordo sungai terjadi hujan merata dan deras. S.609 0. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan ordonya.492 3.DAS Danau Panggang Ds III-I 655.497 5. dapat dilihat bahwa DAS Barito dapat dirinci menjadi 5 (lima) ordo. maka panjang sungai akan semakin panjang dan bercabang.828 0. Perbandingan panjang sungai total mulai orde I sampai Ordo V adalah Ordo I dengan panjang sungai 11.945 km.DAS Tabalong Kanan III-I 855.S. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -168 .59.275 km.428 21 - - 8.819 7. September 2003 Berdasarkan tabel diatas. Semakin banyak jumlah alur sungai per satuan luas menunjukkan tingkat kerusakan lahan yang semakin tinggi.0. Kalsel)’.222 27 - - 9.5 dan Rb 4-5 mempunyai nilai 4. S. tetapi pada ordo 2 ke 3 terjadi perubahan ordo yang cukup besar (mempunyai Rb yang lebih tinggi daripada Rb pada ordo yang lain / Rb 2-3 = 19.S.

pelebaran lembah sungai.(Persero) CABANG I MALANG Pada umumnya. termasuk sampai pada tingkatan Sub DAS. sehingga diperlukan upaya konservasi tanah yang baik dan perlu dicadangkan sistem drainase dan daerah resapan air. seperti langkah-langkah penanggulangan melalui pelurusan/normalisasi sungai yang berkelok-kelok. jumlah air larian total yang terjadi dan jumlah air tanah yang tersimpan.62 km/km2). Keadaan ini menunjukkan bahwa torehan aliran permukaan dan kerusakan lahan cukup intensif. Bila pada daerah ini terjadi hujan yang merata dengan jumlah curah hujan yang tinggi serta waktu konsentrasinya cepat. DAS Barito mempunyai jumlah alur sungai yang banyak dan panjang pada bagian hulu atau pada ordo I sampai ordo III dan keadaan ini terjadi juga pada setiap Sub DAS dan Sub Sub DAS. Secara umum. Dd mempunyai korelasi dengan perilaku laju air larian. sehingga diperlukan upaya pencegahan terhadap terjadinya genangan. maka DAS tersebut akan sering mengalami kekeringan. Menurut Lynsley (1949). Dengan demikian. Kerapatan sungai dan kepadatan aliran yang terjadi di DAS Barito ditunjukkan dengan nilai Dd yang terjadi. Sub Sub DAS Bahalayung dan Sub Sub DAS Danau Panggang. Sub DAS Barito Tengah. terutama pada daerah yang dilalui oleh sungai pada ordo I sampai ordo III. dikatakan bahwa jika nilai kerapatan aliran lebih kecil dari 1 mile/mile2 ( 0. Hal ini berarti bahwa secara keseluruhan DAS Barito tidak mudah terjadi penggenangan maupun kekeringan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -169 . karena alur sungai pada ordo III kurang cukup menampung jumlah aliran tersebut. yaitu termasuk kategori sedang dengan indeks 1. Sub DAS Martapura dan Sub DAS Negara. dimana daerahnya mempunyai kerapatan sungai yang kecil. Sedangkan menurut Soewarno.488. yaitu Sub Sub DAS Tabalong Kanan.10 km/km2). artinya bahwa semakin besar jumlah air larian total (semakin kecil infiltrasi) akan semakin kecil air tanah yang tersimpan di daerah tersebut. penertiban hunian di sempadan sungai dan upaya lainnya. Sub Sub DAS Tabalong Kiwa. dapat menyebabkan limpasan dan genangan. maka DAS tersebut akan mengalami penggenangan sedangkan jika lebih besar dari 5 mile/mile2 (3. jika nilai Dd antara 0. dan jika lebih besar dari 10 km/km2 termasuk kategori tinggi yang berarti jumlah curah hujan yang menjadi aliran akan menjadi besar. Walaupun demikian pada beberapa Sub Sub DAS masih terdapat potensi untuk terjadinya genangan. seperti Sub DAS Barito Hilir.25 – 10 km/km2 termasuk kategori sedang. semakin besar nilai Dd akan semakin baik sistim pengaliran (drainase) di daerah tersebut.

3.S. yaitu 1. 1. yaitu 1 meter dari permukaan laut.138 1. Sedangkan beda tinggi maksimum dan terendah pada masing-masing Sub DAS bervariasi.S. IV.256 m. S.DAS Balangan S. 3.DAS Amandit S.DAS Tabalong Kiwa 7.S.DAS Riam Kiwa S.DAS Batang Alai S.S. sedangkan tempat yang tertinggi terdapat di Kabupaten Tabalong.DAS Tabalong Kanan 6.DAS Barito Tengah S. 4.(Persero) CABANG I MALANG 2.156 1.DAS Negara S.230 3 1 1 275 1. 1. Secara umum rincian perbedaan ketinggian DAS Barito disajikan pada tabel berikut.251 1.3 Ketinggian dan Arah DAS Ketinggian tempat di daerah hilir DAS Barito terdapat di Kabupaten Barito Kuala.DAS Tapin S.S. 2.257 3 2 5 2 6 1.251 1. dengan demikian beda tinggi DAS barito adalah 1.093 1.S. Tabel 2.DAS Bahalayung 9 2 7 81o10’ 61 2 59 195o05’ 890 16 874 197o00’ 1.257 meter diatas permukaan air laut.S.11.DAS Riam Kanan S. S.DAS Alalak S.137 1.79 Ketinggian dan Arah DAS Barito di Provinsi Kalsel No DAS/ Sub DAS / Sub Sub DAS Tinggi Maks (m) I.093 1. S. II.S.S. 2.DAS Martapura S.259 270o00’ 279o40’ 287o55’ 273o35’ 204o05’ 278 1.229 255o50’ 255 50’ 276o25’ o Tingi min (m) Beda Tinggi (m) Arah/Orientasi (Azimuth) 13 17 1 2 12 15 206o50’ 209o55’ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -170 .045 1.DAS Barito Hilir Ds S.S.DAS Danau Panggang Ds 8. III.158 1. 5. S.042 1.S.1.

Balangan dan Tabalong Kanan sistem drainase yang terbentuk adalah Sedang. Semakin besar gradien sungai suatu DAS. Batang Alai. seperti pada Sub Sub DAS Alalak. kemudian Sub-sub DAS Bahalayung pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic: Medium to fine dengan sistem drainase yang terbentuk adalah Ringan. Gradien sungai digunakan untuk menggambarkan kecepatan aliran dalam suatu DAS.1. walaupun demikian pada beberapa Sub DAS terdapat beberapa pola aliran yang lain. yaitu dengan menghitung lereng saluran antara 10% dan 85% jarak dari outlet. 2.4 Pola Aliran dan Gradien Sungai Secara keseluruhan pola aliran sungai yang terjadi pada DAS Barito adalah Dendritic : Medium.(Persero) CABANG I MALANG Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. Sub Sub DAS Amandit. begitu pula sebaliknya. Juga dapat dilihat bahwa pada bagian hulu DAS Barito. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada Sub-sub DAS Alalak. Balangan dan Tabalong Kanan pola aliran yang terjadi adalah Rectangular Dendritic : Fine. dimana kondisi ini menunjukkan bahwa sistem drainase yang terbentuk ringan. Perhitungan gradien sungai dapa diperoleh dengan slope faktor. maka kecepatan aliran dalam suatu DAS akan semakin tinggi.000 m di atas permukaan air laut. seperti Sub Sub DAS Tapin. yaitu pada bagian hulu beberapa Sub Sub DAS mempunyai ketinggian diatas 1. Sub Sub DAS Balangan. dan Sub Sub DAS Tabalong Kanan. Dan lainnya berkisar antara 9 sampai 890 m diatas permukaan air laut. Sub Sub DAS Batang Alai. Secara rinci keadaan pola aliran sungai pada DAS Barito disajikan pada tabel berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -171 .11. Kalsel)’. Sedangkan arah DAS Barito secara keseluruhan terdapat pada azimuth 206o50’ sampai 204o05’ yaitu memanjang dari mulai muara/bagian hilir kearah utara di bagian hulunya. September 2003 Berdasarkan tabel diatas. dapat dilihat bahwa ketinggian maksimum terdapat pada Sub Sub DAS Tabalong Kanan dan ketinggian minimum terdapat pada Sub Sub DAS Riam Kanan dan Sub Sub DAS Riam Kiwa. Batang Alai.

Kalsel)’. 1 2 3 IV.S.80 Pola Aliran dan Gradien Sungai DAS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan No I.55 4.S.9 3.S.DAS Tabalong Kanan S.DAS Balangan S.S.DAS Amandit S.1 3. September 2003 2.81 Fluktuasi Pasang Surut Muka Air Sungai Kapuas Sungai Kapuas Spring Tide Muka Air Kemarau Musim Hujan HWL 5 5.S.1 2. III.S.DAS Martapura S.DAS Tapin S. kecepatan air maksimum yang pernah terjadi di Sungai Kapuas 0.S.DAS Riam Kiwa S. 2002 Selama periode pengamatan.DAS Batang Alai S.S. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sub DAS/ Sub Sub DAS S.DAS Riam Kanan S.DAS Bahalayung Pola Aliran Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Fine Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Rectangular Dendritic : Fine Denditric : Medium Denditric : Medium Denditric : Medium Rectangular Dendritic : Medium to fine Sumber : BP DAS Barito ’Laporan indentifikasi karakteristik DAS Barito (Prop. Fluktuasi muka air di sungai adalah sebagai berikut : Tabel 2. II.30 m 2.DAS Alalak S.1 Kisaran 2.DAS Negara S.DAS Tabalong Kiwa S.2 Kondisi DAS Kapuas Sungai utama yang berpengaruh mempunyai lebar sekitar 250 – 300 m dengan kedalaman sekitar 10 – 15 m.6 4.DAS Barito Tengah S.S.00 m Ket Sumber : Manual OP Proyek PLG.2 5. pada beberapa tempat bisa mencapai kedalaman 20 m.S.S.4 Mean 3.DAS Barito Hilir Ds S.8 3.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.30 m Neap Tide Kemarau Musim Hujan 4.DAS Danau Panggang Ds S.20 m 2.1 1.25 LWL 2.11.88 m/dt Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -172 .

dalam daerah khususnya penetapan dan bagi ini adalah.1.1 Kebijakan Penetapan Kawasan Sentra Pengembangan Dalam rangka mendukung pengembangan sektor pertanian yang masih mendominasi produk domestik bruto wilayah ini. Kawasan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah. maka pemerintah menetapkan kawasan-kawasan potensial yang dijadikan sentra produksi unggulan dan diharapkan menjadi salah satu tiang perekonomian wilayah.(Persero) CABANG I MALANG 2. sebagai berikut : Kawasan Sentra Produksi Tabalong.12.1 Rencana Pengembangan Irigasi dan Pertanian 2.12 ASPEK PENDAYAGUNAAN / PEMANFAATAN SDA Pemanfaatan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas saat ini terdiri dari beberapa kegiatan antara lain pemanfaatan untuk rumah tangga. kolam ikan dan energi listrik berupa mikro hidro. melalui surat keputusan nomor : 0303/Tahun 1999. perkotaan dan industri serta kebutuhan air untuk irigasi. yang untuk mata mengembangkan masyarakat meningkatkan penduduk pendapatan pencahariannya terkait dengan sektor pertanian pangan dan perikanan. tentang : “Penetapan Kawasan Sentra Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan”. telah menetapkan lokasi-lokasi KSP.12. HSU Kawasan Sentra Produksi HST – HSS Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 1 Kawasan Sentra Produksi HSS – Tapin 2 Kawasan Sentra Produksi Batola – Banjar Kawasan Sentra Produksi Banjar Kawasan Sentra Produksi Tala Kawasan Sentra Produksi Tala – Kotabaru Kawasan Sentra Produksi Kotabaru Sasaran yang di dipertimbangan pembangunan perdesaan. tanggal 10 Desermber 1999. 2. a) Kawasan Sentra Produksi Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. dan masyarakat dalam pembangunan agrobisnis dan agroindustri. swasta. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -173 .

Rantau Badauh. S. Basarang. HSU KAB.189 28 55. Satui. dan Kapuas Kuala (Kabupaten Kapuas). Labuan Amas Selatan Daha Utara.2 LUAS LAHAN (Ha) AWAL POT. Harus. Peternakan (itik) Batu Mandi. Mandastana Sungai Tabuk. Daha Kedelai Selatan.966 55. Wanaraya. Kusan hilir. Babirik. Binuang Marabahan.963 110. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -174 . Loban. kacang Batung. Labuan Amas Utara.94 32.207 19. rambutan. serta Kecamatan Pandih Batu dan Kahayan Kuala (Kabupaten Pulang Pisau) yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. rambutan. ternak sapi Perikanan.4 123. Anjir Pasar. perikanan laut. ternak sapi Runput laut. melinjo. Banjang. Muara Kedelai. perikanan darat Jagung. Bakumpai. Candi Laras Selatan Laksado. Jeruk.2 b) Pengembangan Kawasan Prioritas Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah Kawasan Sentra Produksi Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Batu licin P. Padang Jeruk. Pengaron.675 55. Batu Ampar. Kotabaru 10. Aranio Pelaihari.6 8 Tala Kotabaru – Tanah Laut. Laut Barat 1.4 139. meliputi Kecamatan Selat. Tapin tanah Selatan.1 118. Perkebunan. Piani. padi sawah Cerbon. perikanan laut 5. Kehewanan dan Kawasan Sentra Industri. Sei Pandan. Kedelai Pandawan.792 86. Penyipatan. Kelua Pugaan Perikanan darat Lampihong. a) KSP Kapuas. nenas.Alai Utara. Barabai.167 30.9 7 Tala Tanah Laut 8.8 HSU 2 HST – HSS HST HSS 3 HSS – Tapin HSS Tapin 1 HSS – Tapin HSS Tapin 2 3.2 4 6. Takisung. KAWSN 1. Danau Panggang Jagung.3 65. Laut Selatan.4 Banjar 6 Ba\njar Banjar Pisang. Sungai Pinang. Tabalong JENIS KSP LOKASI KECAMATAN Tanjung. Amuntai Tengah.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. Perikanan. kelapa dan ubi kayu. Jorong Kintap. Astambul Simpang Empat.3 5 Batola Banjar – Barito Kuala 3.6 63.3 40.76 9 Kotabaru Kotabaru 6 18 61. jeruk Kandangan Bt.82 Lokasi dan Jenis KSP di Provinsi Kalimantan Selatan NO 1 NAMA KSP Tabalong. Karang Intan. tambak. kacang tanah. P.76 55.

dan ikan perairan umum. dan ayam buras. meliputi Kecamatan Dusun Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan kelapa. meliputi Kecamatan Teweh Timur yang merupakan kawasan pengembangan komoditi kedelai. f) KSP Tamiyang Layang. Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2.(Persero) CABANG I MALANG b) KSP Ampah. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). rambutan. Kawasan KAPET DAS KAKAB . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -175 . kedelai. ayam buras.767. meliputi Kecamatan Teweh Tengah dan Lahei yang merupakan kawasan pengembangan komoditi jagung.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. meliputi Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. meliputi Kecamatan Murung yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi dan pisang. pisang. pisang. c) KSP Muara Teweh. lada. lada dan ayam buras. h) KSP Benangis. Kawasan Sekitar Jalur Jalan Lintas Kalimantan. jagung. dan ikan kolam. g) KSP Puruk Cahu. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). meliputi Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. d) KSP Buntok. sapi. Kawasan KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito). Secara administrasi KAPET DAS KAKAB (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. meliputi Kecamatan Gunung Timang dan Montallat yang merupakan kawasan pengembangan komoditi padi. Kawasan Andalan Buntok dan sekitarnya. Kawasan Andalan Muara Teweh dan sekitarnya. Kawasan Andalan Kuala Kapuas dan sekitarnya. kelapa.650 km2). ayam buras. e) KSP Kandui.

25 1.444.099 1.20 1.03 506.50 63.802.057.83 Luas Kapet DAS Kakab NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Palangkaraya Pulang Pisau KECAMATAN Pahandut Bukit Batu Banama Tingang Kahayan Tengah Kahayan Hilir Pandih Batu Kahayan Kuala Timpah Mantangai Kapuas Barat Basarang Pulau Petak Selat Kapuas Hilir Kapuas Timur Kapuas Murung Kapuas Kuala Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan JUMLAH IBUKOTA KECAMATAN Palangkaraya Tangkiling Bawan Bukit Rawi Pulang Pisau Pangkoh Bahaur Timpah Mantangai Mandomai Anjir Basarang Sei Tatas Kuala Kapuas Barimba Anjir Serapat Palingkau Baru Lupak dalam Rantau Kujang Mangkatip Bangkuang Bunto LUAS WILAYAH (KM2) 1.00 54.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799.00 148.81 41.319.84 Luas Lahan Irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Ha 3.12.15%.924.00 1.00 61.00 66.1.100.976. total luas baku dari lima kabupaten adalah 148.225 Ha.000.75 3.60 41.92 Ha atau sebesar 45. Tabel 2.956 2.071 1. d) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas III.35 60.00 1.128 480 206 135 394 91 202 491 427 708 2.00 799.845.20 55.10 4.673 3 Kapuas 4 Barito Selatan KAPET – DAS KAKAB dibagi atas 4 (empat) kategori kawasan.234.81%dari luas baku lahan irigasi.92 65.125. c) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas II.125.225.683 949 4. Sedangkan lahan yang ditanami.065 1.829 27.329 629 785 1. pada tahun 2001 sebesar 66.121. yaitu: a) Sentra Produksi (SP) saat sekarang.00 5.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.970.39 1.016 6.02 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -176 .570.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1. b) Potensi Pengembangan Sentra Produksi (PPSP) Prioritas I.2 Potensi Lahan Irigasi (Upland Irrigation) a) Provinsi Kalimantan Tengah Di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.250.00 558.20 4.924. 2.042.25 45.50 66.552.446.15 44.00 137.00 1. Pada tahun 2002 luas lahan yang ditanami menurun menjadi hanya 41.

Tabel 2.474 2.624 31. Sei Sawarangan.725 4.367 Ha. Sei Asam-Asam.869 11. Sei 100.(Persero) CABANG I MALANG b) Provinsi Kalimantan Selatan Luas daerah irigasi di Provinsi Kalimantan relatif lebih luas dibandingkan di Provinsi Kalimantan Tengah. Sei Sabuhur. Sei Jaing. II.257 Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi lahan yang sangat luas. Lahan yang masih memerlukan investasi untuk pengembangan jaringan baru adalah 22.090 4.718 287 126 18. VI LUAS EKSISTING LUAS BARU LUAS TOTAL CABANG DINAS DAERAH BAKU RENCANA BAKU RENCANA BAKU RENCANA IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 4 5 6 7 8 BANJAR 26.607 HULU SUNGAI SELATAN 5.795 16.645 122. Sei Namun.865 8. dengan luas baku 53. Sei Kinarum.257 22. Sei Tabanio.894 6.579 4.779 6.464 6.901 855 415 0 115 0 415 TANAH LAUT 2.090 6.231 1. IV.869 HULU SUNGAI TENGAH 7.896 Ha.257 ha.539 922 22. VI VII 1/ 2/ 3/ LUAS LUAS SAWAH BELUM DPT JD TDK DPT JD CABANG DINAS DAERAH JAR BARU PENINGKATAN BAKU SWH JAR IRIGASI SAWAH SAWAH SAWAH IRIGASI (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2 3 7 8 9 10 11 12 13 BANJAR 26. III.691 6.901 2.724 6.179 5.901 1.865 8.901 1.236 1. III.460 24. Tabel 2.378 17.460 PENINGKATAN 5. Sei Kintap Kecil.487 3. Sei Mihim.184 53 146 342 1.204 21.170 199 HULU SUNGAI UTARA 1.469 44.367 68.378 6.231 19.573 4.779 11.207 11.367 24. Sei Riam.155 TABALONG 1. Sementara pemeliharaan untuk jaringan eksisting adalah seluas 24.231 2. Sei Sawarangan.247 2. Sei Bakar.625 HULU SUNGAI UTARA 1.257 5.028 14.469 17.579 6. Sei 21.624 31.775 PEMELIHARAAN 24. Sei Nahiyah.724 9.090 5.847 TAPIN 8.435 Sei Teratai.435 SUMBER AIR VII TANAH LAUT TOTAL 53.231 2.155 8.334 25. V.775 JARINGAN BARU 22.894 6.824 2.775 Ha.108 279 0 258 0 279 TOTAL 53. dimana lahan yang telah diidentifikasi adalah seluas 68.460 Ha.012 Ha.464 1.179 5. Sei Pitap Sei Jaro.624 Ha. dan peningkatan seluas 5.85 Pemeliharaan Jaringan Irigasi di Kalimantan Selatan No 1 I.028 6.464 1. Sei Sawarangan. V.204 19.520 9 Sei Riam Kanan Sei Tapin Sei Kayu Habang. Sei Amandit Sei Batang Alai.901 17.012 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -177 .775 4.236 1.544 388 547 0 2. II.539 5.86 Potensi Lahan Pertanian di Kalimantan Selatan NO 1 I. Sei Mihim. Perincian ini dapat dilihat pada tabel berikut. dan jaringan irigasi yang berproduksi adalah seluas 31.005 TAPIN 8.901 9.896 68. IV.090 5.464 833 191 413 27 0 604 TABALONG 1.689 192 146 54 0 338 HULU SUNGAI TENGAH 7.460 4.691 8.600 935 HULU SUNGAI SELATAN 5. Sei Barabai Sei Balangan. sehingga total luas produktif menjadi 100.

Konsekuensi logis.2. maupun ekonomi dari tahun ke tahun semakin meningkat.12.1 Provinsi Kalimantan Selatan Secara aktual. Peta Daerah Irigasi WS Barito-Kapuas 2.36. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -178 . sosial.12. pertumbuhan dan perkembangan kota /kawasan di Provinsi Kalimantan Selatan saat ini baik fisik. perlu upaya penyeimbangan antara kebutuhan (demand) dan penyediaan (supply) akan prasarana dan sarana kota/kawasan dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan.2 Air Bersih 2.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 2.

09%) tinggal di perdesaan.743 Ha.902. Kondisi saat ini. Menyimak dari data tersebut.028 jiwa. terhadap rangkaian studi yang telah dilaksanakan maupun yang sedang berjalan. angka tersebut mungkin saja akan meningkat sejalan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan di perkotaan. Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah 3. prosentase pemenuhan kebutuhan air minum adalah 39% di perkotaan dan masih 8% di perdesaan.969.066. yang terdiri dari 13 kabupaten /kota mempunyai penduduk pada tahun 2000 sejumlah 2. sekitar 1. Rendahnya kinerja pelayanan air minum bagi masyarakat perkotaan yang pelayanannya dilakukan oleh PDAM telah mendorong pemanfaatan air tanah dangkal oleh sebagian besar kelompok rumah tangga (sekitar 85%) dan air tanah dalam oleh sebagian besar kelompok non rumah tangga.19%) tinggal di perkotaan. Sehingga diharapkan adanya perbaikan sistem pemberian air pada daerah perkotaan.110 jiwa (35. sedangkan sekitar 1. keuangan. terutama di Kota Banjarmasin. Salah satu prasarana dan sarana permukiman di perkotaan yang paling strategis adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).(Persero) CABANG I MALANG Secara makro perlu diadakan kajian studi terhadap aspek air baku. Dari jumlah tersebut. sumber Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Desa (% ) Target Pemenuhan Kota (% ) 8 40 39 80 pembiayaan aspek dan yang yang penangan pada aspek sifatnya serta manajemen kelembagaan pendekatan prioritas adalah yang ada. jumlah penduduk di perkotaan mencapai 35.37 Kondisi Pemenuhan Air Bersih Kalsel Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS substantif yaitu aspek II -179 .09% dari jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Selatan. Lemahnya kinerja PDAM pada dasarnya disebabkan oleh berbagai aspek yang secara umum dapat dikelompokkan pada aspek teknis – teknologis. Indonesia pada tahun 2015 diharapkan dapat memenuhi target pemenuhan pelayanan air minum menjadi 80% di daerah perkotaan dan 40% di daerah perdesaan. Berdasarkan agenda KTT Bumi 2002 di Johannesburg.737. Untuk tahun-tahun mendatang. Secara mendasar dikembangkan dalam Gambar 2.918 jiwa (64.

Bagpro Pembinaan Prasarana dan Sarana Permukiman Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -180 . Tabel 2.(Persero) CABANG I MALANG teknik – teknologis dengan tetap memperhatikan aspek manajemen dan kuangan. dan Sumber Pengambilan Air dalam Wilayah DAS Barito. Sumber : Tahun Anggaran 2004. Balangan S. Balangan S. Negara S. Balangan S. Propinsi Kalimantan Selatan”. IKK. Balangan S. Negara Kabupaten Tanah Laut 1) BNA Pelaihari 2) IKK Penyipatan 3) IKK Batuampar 4) IKK Bati-bati 5) IKK Jorong 6) IKK Takisung 6 7 Kota Banjarbaru BNA Banjarbaru (Banjarbaru Banjar) Simpang Empat (Banjarbaru) IKK Landasan Ulin (Banjarbaru) IKK Dalam Pagar (Banjarbaru) 8 / Sei Barito Sei Barito Sei Barito Sei Negara Sei Anjir Sei Andai Sumur Dalam Sumur Dalam 9 Kabupaten Banjar 1) BNA Banjarbaru (Banjarbaru / Banjar) 2) IKK Astambul (Banjar) 3) IKK Mataraman (Banjar) 4) IKK Pengaron (Banjar) 5) IKK Gambut (Banjar) 6) IKK Sungai Tabuk (Banjar) 7) IKK Karang Intan (Banjar) 2) IKK Rantau Badauh 3) IKK Cerbon 4) IKK Lepasan 5) IKK Anjir 6) IKK Alalak 7) Desa Kolam Kiri 8) Desa Surya Kanta 10 Kota Banjarmasin 1) IPA – I (A Yani) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) IPA – II (A Yani) MTP Kayu Tangi MTP Sei Lulut MTP Sutoyo S MTP S. Panggang S. Negara D. Amandit / S. Balangan S. Balangan S. Parman MTP Jahri Saleh Sumur Bor Ulin Sumber : “Identifikasi Kegiatan Optimalisasi Untuk Penyehatan PDAM.87 Daftar PDAM. Balangan S. di Provinsi Kalsel No 1 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Nama Kab dan PDAM Kab. Negara 3 1) 2) 3) 4) 5) 6) 5 Kabupaten Hulu Sungai Selatan BNA Muara Banta IKK Padang Batung IKK Angkinan /Telaga Langsat IKK Daha Selatan dan Daha Utara IKK Kalumpang IKK Simpur dan Sungai Raya S. Tabalong BNA Agung IKK Tanta IKK Belimbing IKK Kelua IKK Muara Harus IKK Benua Lawas IKK Jaro IKK Muara Uya Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Sei Tabalong Air Gunung Sumur Bor Sumber Air Nama Kab dan PDAM Kab Hulu Sungai Utara dan 2 Balangan 1) BNA Amuntai (HSU) 2) IKK Alabio 3) IKK Danau Panggang (HSU) 4) IKK Babirik (HSU) 5) IKK Paringin (Balangan) 6) IKK Lampihong (Balangan) 7) IKK Awayan (Balangan) 8) IKK Juai (Balangan) 9) IKK Halong (Balangan) 10) IKK Batumandi (Balangan) 11) IKK Gunung Pandau 12) IKK Rantau Bujur 4 Kabupaten Hulu Sungai Tengah 1) BNA Barabai 2) IKK Pandawan Baru 3) IKK Batu Benawa 4) IKK Kasarangan 5) IKK Haruyan 6) IKK Batang Alai Selatan 7) IKK Batang Alai Utara Kabupaten Tapin 1) PDAM Rantau /BNA Bungur 2) IKK Binuang 3) IKK Tapin Selatan 4) IKK Tapin Tengah 5) IKK Candi Laras Utara 6) IKK Candi Laras Selatan 7) IKK Bakarangan 8) IKK Batu Hapu 9) IKK Lokpaikat Kabupaten Barito Kuala 1) BNA Marabahan Sei Barabai Sei Pagatan Sei Kasarangan Sei Haruyan Sei Kambat Sei Batang Alai Sei Hung Sei Tapin Danau/bendung Sei Rutas Sei Tatakan Sei Negara Sei Negara Sei Mangkul Sei Tapin No Sumber Air S. Balangan S.

501 7.501 26.501 KK dari total jumalah KK sebanyak 23.021 1.2 Provinsi Kalimantan Tengah Pemenuhan kebutuhan air bersih di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah masih tergolong rendah.88 Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No 1 2 3 4 5 Kabupaten Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Jumlah KK 23.(Persero) CABANG I MALANG 2.88% dari total KK yang ada. Pelanggan PDAM di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -181 .527 KK.000 20. jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 36.623 KK dari total KK sebanyak 26.13 28.99 13.000 Barito Selat an Barito Utara Barito Timur M urung Raya Kapuas 23.22 17.570 20.12. jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM sebesar 28. yaitu sebesar 28.021 KK dari 16. Sebagian besar penduduk masih menggunakan air tanah dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.2.000 50.527 8.000 10.000 80. Sedangkan di Kabupaten Barito Selatan.623 22.663 3.623 3.09 12.13% dari total KK.504 10.570 20. atau hanya 18 % dari total KK di kabupaten ini.252 Jumlah KK Jumlah Pelanggan Gambar 2. atau hanya sejumlah 7. Tabel 2. atau sebesar 8.000 70.663 31.296 KK pada tahun 2007.479 KK.261 % terlayani 36.296 22.000 40.99% dari total KK di kabupaten ini.453 10.021 1.527 26. Untuk Kabupaten Barito Utara.296 7.39 7.38.252 180.000 90. Untuk Kabupaten Barito Timur jumlah KK yang menjadi pelanggan PDAM adalah 3.000 60.000 30.453 87.504 87.149 Jumlah Pelanggan 8.35 Sumber : Hasil analisa 100.

a. dan pertanian. maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) scheme yang memerlukan kajian lanjutan.3 Penggunaan Air Lain-Lain Program Pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng. perikanan.(Persero) CABANG I MALANG 2.89 Identifikasi Lokasi Bendungan No. Muara Teweh Lahan budi daya perikanan air danau Obyek wisata dan lain-lain c. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. irigasi. Lokasi Lokasi bendungan-bendungan yang telah diidentifikasi tersebut adalah: Tabel 2. Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi. Manfaat Adapun manfaat dari rencana pembangunan bendungan-bendungan ini antara lain: Mengurangi bahaya banjir yang terjadi setiap tahun di kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Memenuhi pasokan kebutuhan listrik untuk meningkatkan perekonomian di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -182 . 1 2 3 4 Bendungan Muara Juloi Muara Tuhup Lahei Teweh Desa Muara Juloi Muara Tuhup Lahei/Jurubaru Hajak/Liangnaga Kabupaten Murung Raya Barito Utara Barito Utara Barito Utara b.12. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari rencana bendungan-bendungan ini adalah: Pengendalian banjir kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Utara Pemberian air irigasi untuk pertanian Pembangkit listrik tenaga air Penyedia air baku PDAM Puruk Cahu.

00 2. Barito S. m 190 90 85 85 MOL El. m 185 85 80 80 BENDUNGAN UTAMA Tipe Rockfill Rockfill Rockfill Rockfill Elevasi Puncak Bendungan El.5 72.3 32.1 WADUK HWL El. Barito S.00 767 2.849.00 64.5 88.2 85. Data Teknis Data-data teknis sementara bendungan/waduk tersebut adalah sebagai berikut.3 34 Operasi beban puncak Jam 5 5 5 5 Prakiraan Produksi Energi per MWh 516 18.600. 2005 2006 2007 2007 - Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968.793.139.00 Debit rata-rata m3/ sec 605.Teweh e.00 Curah Hujan Tahunan Rerata mm/ th 2.00 2.600.583.(Persero) CABANG I MALANG - Penyediaan lapangan kerja masyarakat kabupaten Murung Raya dan kabupaten Barito Timur pada saat pembangunan bendungan.00 62.411.47 201 189 HIDROLOGI Luas DAS km2 7. Tabel 2. Benangin River Basin S. Barito Panjang Sungai km 169. Barito S.00 2.00 tahun Prespective Investigate Prespective Prespective BENDUNGAN MUARA JOLOI MUARA TUHUP LAHEI TEWEH Ds Muara Juloi Ds Muara Tuhup Ds Lahei /Jurubaru Ds Hajak /Liangnaga 60 km dari Tokung 40 km dari Purukcahu 15 km dari M.00 2.600.523. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -183 .Teweh 15 km dari M.90 Data Teknis Waduk Muara Juloi No A B 1 2 3 C 1 2 3 D 1 2 E 1 2 3 4 5 F 1 2 3 URAIAN UNIT LOKASI Aksesibilitas km SUNGAI Sungai Sei Joloi Sei Tuhup Sei Nganarayan S. m 125 30 25 20 Tinggi Bendungan m 75 65 65 65 Estimated Net Head m 70 60 60 60 POWER GENERATION Daya Terpasang MW 282. m 200 100 90 90 Elevasi Dasar Sungai El.600.9 10. Program Pelaksanaan Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut.9 22. dalam rangka peningkatan ekonomi setempat Membuka isolasi penduduk asli pegunungan khususnya suku Dayak yang berada di pegunungan - d.

Kota-kota utama yang berpotensi mengalami banjir dan memerlukan penanganan banjir secara serius secara terpadu adalah sebagai berikut : Tabel 2.91 Kota-kota Utama yang Berpotensi Mengalami Banjir NO KOTA /LOKASI SUNGAI 1 Banjarmasin Main Stream S. yang dilaksanaan secara bertahap. Tapin 4 Kandangan S. Martapura 2 Amuntai S. Balangan 8 Tabalong S. Tabalong 9 Kuala Kapuas 10 Palangkaraya 11 Buntok 12 Muara Teweh 13 Ampah Sementara itu beberapa kota yang juga mengalami banjir dan memerlukan penanganan serta kajian untuk masa mendatang adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -184 . Amandit 5 Barabai S. Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer.13 ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Usulan rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS. Barabai 6 Baruh Batung S. dan detail desain drainase. Batang Alai 7 Balangan S. Barito S.(Persero) CABANG I MALANG 2010 2007 2008 2012 2013 Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2. Negara 3 Rantau S.

Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi. Puring Mainstream Barito. Barito Anak Sungai Benangin Main Stream S. 0. Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -185 . S. S. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil. S. Tabal Mainstream Barito. 0. seperti Unit Hidrologi. Barito Main Stream S.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air. 0. Provinsi. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada. Karau S. Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. Karau S. Karau S. Barito Anak Sungai Temparak Anak Sungai Ayuh Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito Main stream Barito S. Karau S. Puring Mainstream Barito. Tabal Mainstream Barito. Karau S. Setelah adanya Balai PSDA. Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi. Puring Mainstream Barito. Karau Mainstream Barito. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi. S. S. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan. Karau S. S. S. Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini. Tabal S. Karau KERUGIAN RUMAH LUAS / TINGGI GENANGAN 4 5 6 7 8 9 Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Utara Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Dusun Selatan Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Karau Kuala Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Dusun Hilir Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Jenamas Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Bintang Awai Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Pematang Karau Kec Dusun Tengah Kec Dusun Tengah 692 65 245 108 545 2615 702 76 370 921 910 52 330 240 706 381 496 687 272 340 162 136 513 262 289 710 491 KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK KK 150 Ha. dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA.92 Kota yang Memerlukan Penanganan Banjir NO KOTA /LOKASI 1 Buntok 2 Muara Teweh 3 Pendang Majunre Reong Parapak Kalahien Buntok Baru Muara Talang Talio Babai Bangkuang Selat Baru Sungai Jaya Majahandu Mengkatif Kelanis Rangga Ilung Rantau Kujang Rantau Bahawung Tabak Kanilan Kayumban Sarimbah Bambulung Tuyau Muara Plantau Tampa Dayu KEC SUNGAI Main Stream S.14 ASPEK KELEMBAGAAN Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito.5 m 215 Ha. yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi. Temparak S. Karau S. Apabila belum ada. Temparak S. Puring Mainstream Barito. Temparak S.45 m 2. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga.4 m 155 Ha.

industri. Pemuka masyarakat) 6. Persetujuan Prinsip Antar Provinsi (Setelah mendapat masukan Ketua Komisi / Fraksi DPRD Provinsi) 2. Persetujuan Menteri PU (Setelah mendapat masukan dari Dewan SDA Nasional) 4. PDAM. Konsultasi Publik / Kab / Kota (Pemda. Naskah kerjasama disetujui masing-masing Gubernur Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -186 .C = ADMINISTRATION DISTRICT Kerjasama Pengelolaan Wilayah Sungai Antar Provinsi disusun sebagai berikut. Pemanfaat air/petani. DPRD. ORNOP / LSM. Pembentukan Tim Kerja Antar Provinsi (Naskah Kerjasama) 5.B. Usulan ke Departemen PU 3.(Persero) CABANG I MALANG Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. Boundary of river basin Upper Watershed Reservoir Main River Illegal Housing Boundary of districts LAUT A. Perguruan Tinggi. 1.

Rencana pengembangan irigasi dan pertanian f. pengembangan daerah irigasi dan rawa. Tujuan Mengembangkan sektor sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito melalui suatu perencanaan yang matang. konservasi lahan pada daerah aliran sungai Barito untuk jangka waktu perencanaan sampai tahun 2030. yang dapat diselesaikan pada tahun 2004.15. Rencana pengelolaan transportasi darat e. Rencana Pengelolaan kualitas air g. dimana alternative ke-3 dan ke-4 cukup aplikatif untuk dilaksanakan. Pemenuhan kebutuhan air bersih. meliputi : a. Pembentukan Dewan SDA Provinsi (Gabungan) / Pola Operasi 10. akan dapat dilakukan proses pengembangan yang efisien sehingga diperoleh hasil yang efektif. pengendalian banjir dan daya rusak air. Program pengembangan Listrik h. b. Tanda Tangan Naskah Kerjasama oleh masing-masing Gubernur 9. Program pengembangan Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -187 .1 Maksud dan Tujuan Maksud Merumuskan Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Air secara menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan air baku. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas disusunlah rancangan Induk Pengembangan Wilayah Sungai Barito Kapuas. Rencana pengelolaan transportasi Air d.(Persero) CABANG I MALANG 7. Dengan demikian melalui konsep Master plan yang mantap. Pelaksanaan oleh Dinas terkait Beberapa bentuk kerjasama ini dituangkan dalam 4 (empat) scenario yang dapat diterapkan untuk wilayah SWS Barito. Rencana pengendalian banjir c. Persetujuan oleh masing-masing DPRD Provinsi (setelah dibentuk POKJA DPRD) 8.15 RENCANA INDUK BARITO 2004 2. konprehensif antar sektor maupun wilayah administratif serta menyesuaikan dengan penataan ruang wilayah. 2.

total 700 m3 – Pengembangan tersebut untuk mengatasi vakum produksi selama 4-5 bulan pada musim kemarau – Pengadaan WTP/IPA dengan kapasitas 25 liter/det dengan total kapasitas terpasang 40 liter/det – Penambahan jar pipa untuk perluasan distribusi ke daerah yang belum terjangkau 2 Kec Alalak / Daerah pelayanan a. Kelebihan produksi ditampung dalam reservoir air bersih – Membuang ground reservoir air bersih dengan daya tampung 600 m3. dan institusi pendukung penyediaan sumber air. Program Pengelolaan Terpadu WS Barito 2. dan diusulkan dalam program : – Kelurahan Berangas – Desa Sungai Lumbah – Desa Baringin – Desa Pitung (daerah pelayanan dari 3 desa menjadi 7 desa) – Diharapkan meningkat dari 34. ditambah dengan ground kapasitas lama 100 m3. Daerah yang sudah dilayani air bersih melalui jar pipa dan diusulkan perluasan : – Desa Handil Bakti – Desa Berangas Timur – Desa Semangat Dalam b.50% menjadi 55. Program-program yang diusulkan oleh institusi penyedia layanan distribusi disusun berdasarkan kebutuhan pada tiap IKK yang diusulkan pada tiap kecamatan. Adapun penanganan-penenganan pada masing-masing wilayah adalah seperti tabel berikut : Tabel 2.(Persero) CABANG I MALANG i.15. Pengelolaan DAS Kapuas j.02% Jangkauan pelayanan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -188 .2. Daerah yang belum terlayani air bersih dan belum terpasang jaringan pipa.1 Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Rencana pengelolaan air bersih ditinjau pada : • • • Rencana investasi penambahan kapasitas instalasi institusi penyedia layanan distribusi.93 Usulan Penanganan Masalah Air Bersih di Kabupaten Barito Kuala No 1 PDAM / IKK KAB/KOTA PDAM IKK Alalak USULAN PENANGANAN – Menambah kapasitas produksi 30 l/det karena kapasitas daya terpasang yang ada sekarang sudah max dibandingkan dengan jumlah daftar calon pelanggan dan pelanggan.15.2 Garis Besar Masterplan 2004 2.

156 1.500 2 % % % % 30% 23% 0% 7% 73% 55% 0% 17% 77% 53% 0% 24% 3 %dom %dom %dom %dom 26% 16% 9% 1% 12% 5% 7% 0% 18% 9% 9% 1% 4 m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 14.215 1.429 43 64.115 75.897 0 323 1.365 8 ( m3 ) 4.980 0 89.735 3.085 1.360 19.580 7.840 54.200 15.563 0 1.94 Analisis Kebutuhan Sistem Penyediaan Air Bersih Banjarmasin.000 18.776 635 12 22.742 989 5 6 l/det l/det 425 565 1.530 2.800 Sumber : Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (PPPKT) Kalimantan Sumber : Banjarmasin. Berdasarkan Proyeksi Kebutuhan No 1 URAIAN PENDUDUK Total Dilayani PELAYANAN DOMESTIK Total Samb rumah Samb halaman HU KEBUTUHAN NON DOM Total Komersil Sosial institusi Industri PROYEKSI KEBUTUHAN Kebutuhan domestik Kebutuhan non domestik Pelabuhan.363 82.315 11.775 13.800 0 18. PDAM Di Kota Banjarmasin.000 488.220 22.535 21.775 19 59.440 56.870 1.070 17.350 7 l/det 389 1.992 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 2.000 579.855 0 1.772 2. dll Rata-rata Hari puncak Kehilangan air PROYEKSI SAMBUNGAN Samb rumah Samb halaman HU Komersil Servis Industri Total Pertamb samb/th KAPASITAS DISAIN Produksi Distribusi KAPASITAS RATA-RATA Total system KEBUTUHAN RESERVOIR Total SATUAN Jiwa Jiwa 1990/1991 480. Program Jangka Menengah.785 0 71.935 3. Pemerintah Kotamadya Daerah Tk II Banjarmasin Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -189 .000 2009/2010 750.500 2004/2005 668.755 103.798 1.642 - 63.737 139.

TABALONG S. . dan detail desain drainase. NEGARA Tanjung . Salah satu pendekatan umum dalam perencanaan sistem pengendalian banjir kota (urban flood control) adalah penentuan outline drainase primer. BATANG ALAI Amuntai . Rantau LEGENDA : BANJARMASIN ! Martapura Banjarbaru . .2 Pengendalian Banjir Rencana pengendalian banjir disusun berdasarkan konsep pengendalian terpadu dengan merencanakan sistem drainase kota berdasarkan sub DAS. S.15.2. . yang dilaksanaan secara bertahap. MARTAPURA . BARABAI . COMPREHENSIVE FLOOD CONTROL PROGRAM : S. Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito di Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -190 .(Persero) CABANG I MALANG 2. Barabai S. Marabahan Kandangan S. Batas Provinsi Batas Kabupaten Sungai Kota Provinsi Kota Kabupaten Daerah Rawan Banjir PETA SWS BARITO PROP KALSEL Gambar 2. S. RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL . AMANDIT S. BALANGAN S. . Rencana pengendalian banjir pada WS Barito Kapuas dapat dilihat pada gambar 2.29 dan gambar 2.30 berikut. TAPIN .39.

Batang Alai S. Tapa RENCANA USULAN PROGRAM FLOOD CONTROL S. K Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang Pendang ap um S. Ala r S. Ay Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Bambulung Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah Ampah a ng a su S. Kandangan S. TEMPARAK Mainstream Buntok n S. A S. Karau Kuala Kec. PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU Muara Laung Muara Laung Muara Laung a ri S. L an da un S.40. Dusun Hilir Kec. Barabai S. BARABAI lam p ar KANDANGAN KANDANGAN . Barabai D. MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH MUARA TEWEH Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu Seihanyu S. Ria iw a mK II Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron Pengaron KAPUAS MURUNG S. Tapin S. Berio i Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi Tumbang Kunyi ah ai S. J u la i S. . Be bem Ketapang Ketapang Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Ketapang Tumpung Laung Tumpung Laung Tumpung Laung S. D ui mb Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei Muara Lahei MUARA TEWEH MUARA TEWEH . L S. Alalak Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang Sungai Pinang n ba am A. Tuy au Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Timpah Kiw a Kec. P S. BARABAI S. MARTAPURA . Jenamas Kec. P Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung Tumbang Lahung a nu S. Tapin S. A S. Peta Rencana Pengendalian Banjir SWS Barito ah un g S. Dusun Tengah Kec. Samu Kec. Batang Alai S. Busang tun g S. Bangkau Keserangan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan Haruyan BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI BARABAI . Tabalong Harui S. Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan Pugaan S.(Persero) CABANG I MALANG Be la S. Tabalong Harui S. Djulai S. Tu tu i m S. Tabalong S. Barabai Keserangan S. Tapin S. Martapura S. Ta balo ng S. Martapura S. TABALONG S. Martapura S. Tu hu p 40 S. Malu ka MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA MARTAPURA . T ab al o ng Ka na S. M alu S. T ab al S. Barabai Keserangan S. Bintang Awai Kec. N eg . Bu rak S. TAPIN ar a S. U uwei sei S. Kandangan Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Palingkau Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas Seitatas S. . BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Kec. Mangkutup Muara Laung Muara Laung Muara Laung . Batang Alai S. Tapin S. Ka puas M PETA SWS BARITO Gambar 2. Karau Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Hayaping Bentot Bentot Bentot Bentot S. Kandangan S. Murun g S. M eta k Pu lau P S. Riamkanan n na Ka Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati Bati-Bati S. un in g S. Rantau Rantau Rantau Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Tambarangan Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa Miawa . KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN KANDANGAN S. T ew eh S. Lu S. Dusun Hilir Kec. Batang Alai Keserangan S. M is si Mu ru S. Karau Kuala Ka rau S. Dusun Hilir Kec. Karau S. Teweh Besar S . Martapura S. Bumban S. L S. Pu rin g s S. AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI AMUNTAI Ilung Ilung Ilung Ilung S. n n da To S. Barabai Keserangan S.T ! Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Sungai Tabuk Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Kertak Hanyar Gambul Gambul Gambul Gambul Gambul S S. S. Dusun Tengah Kec. Dusun Tengah Kec. Bintang Awai Kec. g un La S. L ami S. Murungpudak Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas Pasar Panas aik ng lo ba Ta ng S. MARTAPURA Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh Aluh-aluh S. Jenamas S. Tabalong Harui Harui Harui ing Ja S. KARAU S. Terusan S. Dusun Hilir Kec. Jenamas Kec. Bintang Awai Kec. S. M ka eng tip Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik Babirik S. Dusun Hilir Kec. M ta en Na pu Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Taniran Ha lon g ! Pe ta i S. Murungpudak Murungpudak Murungpudak . Barabai Keserangan S. Karau Kuala Kec. Kandangan nd ma S. . H ia ng s S. S. Karau S. Karau Kuala Kec. AMANDIT S. ji An rS at ap er S. Kandangan it S. M urung S. Dusun Hilir Murungpudak Murungpudak . Jenamas Kec. k pa Lu Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Pujon Kec. Karau S. Tapin S. K ap u a S. Pamelu nuh S. Martapura S. Bintang Awai Kec. i S. Bintang Awai Kec. Kandangan S. Karau S. an gk ook S. M ar Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi Saripoi S. Martapura S. Tabalong Harui S. NEGARA Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya Muara Uya yu S. Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Tanta Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Muara Harus Juai Juai Juai Juai Juai Juai Halong Halong Halong Halong Halong Halong S. Ba lan ga Paringin Paringin Paringin Paringin Paringin nParingin ita S. BALANGAN S. Ba rito Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang Bangkuang TAMIANG LAYANG S . L p uy am at Ku an tan S. L emu Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong Lampeong ang S . in ng n ta Ma Ke S. BATANG ALAI S. Jenamas Kec. Batang Alai S. BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU BANJARBARU m Ria D.S a egi n Tabak Kanilan Kanilan uh Tabak Kanilan Tabak Kanilan Tabak Kanilan Kanilan S. Karau Kuala Kec. Batang Alai S. TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG Kec. Jenamas Kec. Karau S. Dusun Tengah S. Dusun Tengah Kec. Dusun Tengah Kec. Tempar ak S. Karau Kuala Kec. Tapin Rantau Rantau Rantau . P p S. Bintang Awai S. n la a Ka S Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -191 . Tabalong S.

41.3 Rencana Pengelolaan Transportasi Air PETA SWS BARITO 4 3 2 PALANGKARA 1 BANJARMAS Gambar 2. Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Barito Keterangan Dapat dilayari perahu besar walaupun di musim kemarau. Aliran relatif cepat dengan beberapa jeram Aliran cukup deras dan banyak jeram tetapi masih dapat dilayari perahu kecil Zona Lokasi 1 Dari Muara sampai dengan Kalanis.(Persero) CABANG I MALANG 2.2. Buntok 2 Dari Buntok sampai dengan Muara Teweh Dari Muara Teweh sampai dengan Puruk Cahu Dari Puruk Cahu sampai dengan Muara Joloi 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -192 . kemiringan dasar sungai sangat landai Dapat dilayari perahu besar hanya pada musim penghujan. Kemiringan dasar sungai relatif masih landai Dapat dilayari oleh perahu kecil (kapasitas 1 ton).15.

n da S. TTim pah T im pah im pah TTim pah T im pah im pah n egia S S. ANJ DILAYARI HINGGA MS MS KEMARAU KONDISI Gambar 2. Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta Ko ta bbarrru Ko ta baa uu Ko ta S in gk an PUJON LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee LLahhei ii Laahee S. M an a ra n S . ku ng Ma tup ! S. LLam uuniti Laam unniti m iti LLam uuniti Laam unniti m iti Me k ng p a ti M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M M aanuusuup M annussupp M ˜ ˇ PPalingk au P alingk au alingk au alingk au PPalingk au P alingk au 3 D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D D aadaahuup D addahhupp D 4 Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Pa la nngkkauuBa rrru Pa la nggkaau Ba uu Pa la Ba Ke l am Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta Pe nndaaKe ta ppi i Pe ndda Ke ta pi Pe Ke ta MANDOMAI Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m Ka nnam itit Ka naam it Ka m p a M andom ai M andom ai M andom ai r M andom ai M andom ai M andom ai ˜ et a k Pu lau P A. B eb em ˜ 7 M aaraapitit M ar rappit M M aaraapitit M ar rappit M S. in ng n ta Ma Te w eh Be sa r ˇ 2 TIMPAH .(Persero) CABANG I MALANG . Skema Ruas Transportasi Air di Sungai Kapuas Murung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -193 . H s S. T er us a n ˜ 1 . 6 b am Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam Lupak D alam ! LUMPAK DALAM 3o 0 0 L S an ua s M k pa Lu S. ia n g K A B U P A T EN K A P U A S S. S. Ba ˇ sa ra 5 ng 4 SSeit at as S eit at as eit at as SSeit at as S eit at as eit at as 0o 0 0 M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik M aalikuu M alik u M lik S ˇ . K A P U A S TE N GA H g S SEIHANYU ˇ 1 SSeihany uu S eihany u eihany SSeihany uu S eihany u eihany S . Mu ru i S. Da m nu bu i PETA DAS KAPUAS . BBarim ba B arim ba arim ba BBarim ba B arim ba arim ba 1o 0 0 L S KUALA KAPUAS S . PPujon P ujon ujon PPujon P ujon ujon S. ˜ 2 An A. on S. M ta en k ai ng MANTANGAI ˜ M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai M ant angai 6 ˜ 5 S. Bu n u t Ku an tan S. L n ah u T S. Ka pu as S. K ap .42.T jir Se t pa ra 2o 00 LS urun g ˇ S. K E C . .S S.

yaitu jangka pendek atau periode I (2003 – 2008). yaitu peningkatan terhadap ruas jalan penghubung antar kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah. maupun mobilitas. serta kualitas pelayanan.4 Rencana Pengelolaan Transportasi Darat Strategi pengembangan diusulkan dalam 3 (tiga) periode masing-masing. Penyelaesaian Jembatan Sei Barito di Puruk Cahu ( ruas Muara Teweh – Puruk Cahu). Penyelesaian Pembangunan Jalan dan jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok.5 meter. lebar minimal 4.(Persero) CABANG I MALANG 2.0 meter. Penyelesaian jembatan balok T (jembatan layang) di daerah Tumbang Nusa (ruas Palangkaraya – Pulang Pisau). sebagai berikut: Periode I (2003) 1.15. 2) Strategi jangka menengah adalah meningkatkan kemudahan dalam hal aksesibilitas dan mobilitas.2. Meningkatkan jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi perkerasan beraspal dengan lebar 4. jangka menengah atau periode II (2008 – 2013) dan jangka panjang atau periode III (2013 – 2018) dengan mengacu pada konsep memperbaiki dan meningkatkan aksesibilitas. meskipun kualitas pelayanannya masih rendah. 2. utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan. 4. Rehabilitasi/pemeliharaan pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor 3. Dalam merealisasikan strategi pengembangan transportasi di Provinsi Kalimantan Tengah diusulkan pula pentahapan program pengembangan pada masing-masing periode. 3) Strategi jangka panjang atau periode III adalah difokuskan pada peningkatan kenyamanan perjalanan masyarakat pengguna jasa transportasi serta pembangunan jalan kereta api untuk angkutan barang. 5. 1) Strategi jangka pendek adalah membentuk jaringan jalan yang utuh. yaitu dengan meningkatkan tingkat kemudahan jangkauan pelayanan hingga daerahdaerah di Provinsi Kalimantan Tengah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -194 .5 – 6.

Periode II (2008-2013) 1. Pasar Panas – Tamiyang Layang – Ampah – Buntok ditingkatkan menjadi 2x7 meter. Peningkatan ruas jalan eksternal menuju Banjarmasin ruas Palangkaraya – Banjarmasin 6 meter. Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Laung di Tumbang Laung (ruas Batu Putih – Puruk Cahu). Pembangunan jembatan yang melintasi Sei Kapuas di Sei Hanyu (ruas K. ruas jalan menuju Provinsi Kalbar ruas jalan Nanga Bulik. Sampit – Samuda. Pemeliharaan (rutin/periodik) atau rehabiltasi pada segmen-segmen tertentu sepanjang koridor utama yang dirasakan sangat mendesak untuk lebih dimantapkan. Periode III (2013-2018) 1. Pembangunan pelabuhan di Kabupaten Katingan dengan salah satu alternatif posisi pada selat jeruju (Pegatan-Mendawai). 4. Peningkatan struktur jaringan jalan sepanjang koridor utama dengan konstruksi lapis permukaan aspal beton dan lebar minimum 6. Membangun terminal dan fasilitasnya pada masing-masing ibu kota kabupaten yang belum memiliki terminal. Pembangunan jalan rel kereta api untuk transportasi angkutan barang dengan alternatif jalur yaitu jalur daratan tinggi menuju outlet Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -195 .Kurun – Sei Hanyu – Batu Putih).(Persero) CABANG I MALANG 6. Pembangunan Jembatan Sungai Kapuas Di Lungkuh Layang pada Ruas Jalan Koridor Utama Palangkaraya – Buntok.0 meter. 3. Peningkatan Pembangunan Jalan dan Jembatan Ruas Palangkaraya – Timpah – Buntok dari kondisi agregat ke kondisi aspal beton lebar minimum 6 meter. 10. 2. Palangkaraya – Bereng Bengkel Km 35. 9. Peningkatan struktur dan lebar jalan di koridor utama pada segmensegmen dalam ruas jalan Palangkaraya – Tangkiling. 5. Kuala Kapuas – Batas Kal-Sel. 7. Mengoptimalkan Terminal Angkutan Darat bagi kabupaten yang sudah memiliki terminal. Kujan – Kudangan ke arah Kalbar lebar 6 meter. 8. 2.

23 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup.2. 3. kab.6 Program pengembangan Listrik Meninjau kajian kurangnya kapasitas daya terpasang listrik yang ada di kedua Provinsi Kalselteng. atau peraturan perundangan lainnya.5 Rencana Pengelolaan Kualitas Air Mengingat banyaknya kegiatan pertambangan emas di sungai dinilai telah banyak mengganggu kelancaran dan keselamatan angkutan sungai serta sistim pengolahan yang terbukti mencemari air sungai. Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi kalsel (kab. serta sanksi terhadap pelanggar lingkungan agar disosialisasikan secara luas sampai ke desadesa. Banjar. kab. kab.(Persero) CABANG I MALANG (Kumai/Pangkalan Bun dan Bagendang/Ujung Pandaran. dan s. Tapin) 4. Sampit) dari kawasan pengembangan industri yang merupakan jaringan tingkat sekunder pada sistem jaringan primer trans Borneo railways yang meliputi Kuala Kurun – Tumbang Samba ( menuju Parenggean dan Bagendang/Ujung Pandaran) – Nangabulik (menuju pelabuhan Kumai). Pengelolaan kualitas air sungai pada kawasan pertambangan di Provinsi Kalteng (s. Jalur menuju ke perbatasan Kalimantan Barat/Kalimantan Timur.15. Maruwei. maka diusulkan kajian lanjutan terhadap 4 (empat) kapuas tengah. Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu (Dinas Pertambangan dan Energi tingkat kabupaten) 2. s. termasuk kajian teknis pengolahan emas dengan air raksa yang aman untuk lingkungan (kecamatan mantangai) 3. Hsu. Karau. Hst. Pengelolaan kualitas air sungai-sungai di kab kapuas. Program yang diusulkan untuk mengatasi hal ini adalah : 1. Kumai dan Bagendang/Ujung Pandaran. Ayuh. Merupakan pengembangan pada tahapan alternatif (a) daerah Upland Coridor dan perbatasan menuju outlet. kab. 2.2. Dan berorientasi ke 3 (tiga) outlet (pelabuhan). 2.15. kecamatan timpah. Tabalong. s. Sosialisasi undang-undang no. Murung) 5. dan kecamatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -196 . kab. Banjarmasin. Hss. maka dipandang perlu upaya bersama untuk mengurangi dampak negarif tersebut.

2. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -197 . Salah satu usulan yaitu Waduk Muara Juloi. perikanan. Tabel 2. yang dimonitor secara langsung oleh Menteri Kimpraswil.15. Salah satu tahapan utama adalah telah adanya lembaga Balai PSDA pada tingkat Provinsi. Setelah adanya Balai PSDA.(Persero) CABANG I MALANG scheme yang memerlukan kajian lanjutan. yang telah ada pada tiap dinas pengairan Provinsi. di Kabupaten Murung Raya merupakan waduk serbaguna yang berfungsi sebagai waduk pengendali banjir. dan studi awal dilanjutkan pada tahun 2005 Diusulkan untuk dilakukan studi kelayakan dan rona lingkungan bendungan Detail desain dan dampak lingkungan serta sosialisasi masalah pembebasan tanah dan rumah Sosialisasi masalah pembebasan tanah dan pembebasan tanah Pelaksanaan fisik jalan masuk + jembatan ke lokasi (access road) Pelelangan fisik pekerjaan Awal pelaksanaan fisik sampai penyelesaian Awal operasi bendungan/dam 2. Apabila belum ada. Program pelaksanaan rencana pembangunan bendungan/waduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut. dimana terdapat peranan Menteri Kimpraswil secara langsung pada salah satu unit kerja pada ke-4 opsi yang ditawarkan. dan pertanian. maka diperlukan suatu bentuk institusi yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat pengguna (stakeholder) air. Konsep yang diusulkan terdiri dari 4 opsi. seperti Unit Hidrologi.7 Program Pengembangan Institusi Pengelola SDA Sebagai daerah aliran sungai yang melewati 2 (dua) daerah administratif yang memanfaatkan aliran Sungai Barito. maka embrio dari balai ini dapat disusun dari unit-unit yang ada.95 Program Pelaksanaan Rencana Pembangunan Bendungan/Waduk di Provinsi Kalimantan Tengah 2005 2006 2007 2007 2010 2007 2008 2012 2013 Identifikasi telah dilakukan pada tahun 1968. irigasi. Selanjutnya ada pilihan mengenai fungsi Balai Lintas ini. maka langkah selanjutnya adalah Balai PSDA Lintas Provinsi. apakah sebagai “operator” SDA atau sebagai “developer” infrastruktur SDA juga.

Provinsi. Kajian teknis terhadap kondisi kritis wilayah. dan transportasi air merupakan prasarana penting perekonomian wilayah ini. Pengembangan institusi pengelola SDA sebagai institusi lintas wilayah administrasi memerlukan konsep terpadu dengan partisipasi pihak-pihak pengelola yang mendukung rencana tersebut. 2. dari Kuala Kapuas sampai Seihanyu. maka diusulkan program konservasi dengan kajian pengendalian erosi pada anak-anak sungainya. untuk sektor konservasi Analisis ekonomi untuk sektor pendayagunaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -198 .9 Program Pengelolaan Terpadu WS Barito Alokasi waktu perencanaan program disusun dalam jangka pendek. KAPUAS 9 KONSERVASI KAWASAN BUKIT JANGKA MENENGAH DAN TANGKILING PANJANG Kedudukan Proyek Induk akan berada dalam satu unit dengan Balai Pelayanan Umum PSDA Lintas 2. MANGKUTUP.(Persero) CABANG I MALANG Dari konsep inilah yang menjadi dasar pembentukan PROYEK INDUK. dan jangka panjang. Tabel 2.96 Usulan Program Konservasi dengan Kajian Pengendalian Erosi NO USULAN PROYEK KATEGORI JANGKA WAKTU 1 DRAINASE TERPADU KOTA KUALA JANGKA PENDEK DAN KAPUAS MENENGAH 2 PROGRAM KALI BERSIH JANGKA MENENGAH KABUPATEN KAPUAS 3 PENGEMBANGAN TPA KOTA JANGKA PENDEK KAPUAS 4 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MENTANGAI. dimana peran utama proyek adalah sebagai “developer” SDA.2. DAN MURAI 5 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI JANGKA MENENGAH MANGKUTUP 6 PENGENDALIAN SEDIMEN SUNGAI MURAI 7 MONITORING KUALITAS AIR JANGKA PENDEK SUNGAI MENTANGAI 8 PEMELIHARAAN ALUR SUNGAI JANGKA PANJANG MAIN STREAM HULU S. 2.15.2.8 Pengelolaan DAS Kapuas DAS Kapuas dan DAS Barito dihubungkan oleh aliran Sungai Kapuas Murung. Untuk mendukung sector transportasi tersebut. Prioritas program jangka pendek didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut : 1. Sepanjang 420 km dari 600 km aliran Sungai Kapuas dapat dilayari sampai ke hulu. menengah.15.

KALTENG. dan HSS D.000 Ha dan 87.97 Daftar Program Prioritas SEKTOR / PROJECT TITLE 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO. Riam Kiwa. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS Balangan. HST.279 Ha 280 MW 10 ) 11 ) 12 ) 13 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -199 .(Persero) CABANG I MALANG 3. DAS Riam Kanan. 200. BATIKAP III. Kabupaten HSU. 740. 35. PROP KALSEL. 81. BATIKAP II. dan Tabalong Kanan) PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN.I. MUARA SINGAN 10.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I.000 Ha. KAB MURUNG RAYA.700 Ha (Cagar Alam) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT.375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA. PROP KALSEL. Tingkat kerugian untuk sektor pengedalian daya rusak air Tabel 2. 155.

(Persero) CABANG I MALANG MASTER PLAN WILAYAH SUNGAI (WS) BARITO NO 1 SEKTOR / PROJECT TITLE Drainase Kota 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10 ) 11 ) 11 ) 12 ) PENGEMBANGAN TPA KOTA KUALA KAPUAS PERENCANAAN DRAINASE PRIMER DAN SEKUNDER KOTA KUALA KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KAPUAS PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI NEGARA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MARTAPURA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TAPIN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BARABAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BATANG ALAI PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI BALANGAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TABALONG PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI AYUH PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI TEWEH PENYUSUNAN OUTLINE PLAN DRAINASE KOTA BUNTOK Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -200 .

DAS RIAM KANAN. DAN TABALONG KANAN) NO SEKTOR / PROJECT TITLE PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALTENG) 17 ) 18 ) 19 ) 20 ) 21 ) 22 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Lahei (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Teweh (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Juloi (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Laung Tuhup (Kab Mura) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayuh (Kab Barsel) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Bekakar dan Takuan Puri (Kab Bartim) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -201 . Erosi dan Sedimentasi 15 ) 16 ) PENGENDALIAN SEDIMEN DAS KAPUAS PENGELOLAAN DAS KRITIS DI DAS BARITO. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DAS BALANGAN. RIAM KIWA.(Persero) CABANG I MALANG 2 Waduk Serbaguna 13 ) 14 ) WADUK SERBAGUNA MUARA JULOI WADUK SERBAGUNA LAHEI 3 Konservasi Hutan.

000 Ha (Kab HST) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tapin.000 740.500 Ha (Kab Tapin) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Alalak 8. 99. 17.375 200.543 155.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Ayu. 155.000 Ha Ha Ha Ha Ha 31 ) 32 ) 33 ) KONSERVASI KAWASAN BUKIT TANGKILING.000 Ha (Kab Tabalong) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Batangalai.700 Ha (Cagar Alam) (Sblmnya Parawen I dan Parawen II. 1982) 81.(Persero) CABANG I MALANG PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KAPUAS) 23 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Mentangai (Kab Kapuas) PENGELOLAAN KONDISI DAS PADA KAWASAN POTENSI PERTAMBANGAN (KALSEL) 24 ) 25 ) 26 ) 27 ) 28 ) 29 ) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Tabalong Kiwa. PROP KALSEL.400 Ha (Kab Banjar) Pengendalian Pengolahan Tanah di Hulu DAS di Sungai Martapura 77. KAB KAPUAS. KALTENG.543 Ha (Cagar Alam dan Taman Wisata) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI TANAH LAUT. 2.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -202 . 81. 67. 35.000 Ha (CA dan Suaka Margasatwa) KONSERVASI KAWASAN PLEIHARI MARTAPURA.000 Ha dan 87. 4. PROP KALSEL.000 2.000 Ha (Kab Banjar) 30 ) KONSERVASI KAWASAN LINDUNG PARAWEN.

000 Ha (CA) 4 PLTA 43 ) 44 ) 45 ) 46 ) PLTA MUARA JULOI PLTA LAHEI PLTA TEWEH PLTA RIAM KIWA (2 X 21 MW) 280 32. BATIKAP III. 150. Kabupaten HSU. HST. 25. KAB MURUNG RAYA.(Persero) CABANG I MALANG 34 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KAGET.3 34 42 MW MW MW MW 5 Pengembangan Pertanian 47 ) D. KAB BANJAR. dan HSS KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU TANJUNG.I. 200. Kabupaten HSU dan Tabalong KONSERVASI KAWASAN MUARA UYA. PROP KALSEL. 275 Ha (CA) NO SEKTOR / PROJECT TITLE 35 ) 36 ) 37 ) 38 ) 39 ) 40 ) 41 ) 42 ) KONSERVASI KAWASAN PULAU KEMBANG. 6.250 Ha. PROP KALSEL.279 Ha Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -203 .375 Ha KONSERVASI KAWASAN MERATUS HULU BARABAI. BATIKAP II. 740.000 Ha (SM) KONSERVASI KAWASAN HUTAN GAMBUT LIANG ANGGANG. KAB TABALONG.000 Ha. MUARA SINGAN 10. 46. KAB HSS. KAB HSU. 60 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN G. 245 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN BATIKAP I.000 Ha (CA) KONSERVASI KAWASAN SUNGAI NAGARA. KENTAWAN.

I.927 5. Murung) 59 ) 60 ) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -204 .519 Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha NO 7 SEKTOR / PROJECT TITLE Pengelolaan Kualitas Air 58 ) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI-SUNGAI DI KAB KAPUAS (Kecamatan Kapuas Tengah. PITAP STUDI PENERAPAN SUB POLDER PADA POLDER ALABIO KAJIAN PERTANIAN TERPADU PADA POLDER ALABIO 7.I. Karau.I. BALANGAN D.432 6.I.823 3.I.I. Kab HSS.078 2.172 4. Kab HST) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALTENG (S. Kab HSU. S. TONDAN D. Kecamatan Timpah.I. Maruwei. MARUWEI D. S. dan S.459 6.BARABAI D. Ayuh. BATANG ALAI D. TEMPARAH D.I. AMANDIT D. dan Kecamatan Mantangai) PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI PADA KAWASAN PERTAMBANGAN DI PROVINSI KALSEL (Kab Tabalong.(Persero) CABANG I MALANG 48 ) 49 ) 50 ) 51 ) 52 ) 53 ) 54 ) 55 ) 56 ) 57 ) D.984 7.

23 / 1997) Lembaga Pengelola Lintas Provinsi 63 ) 64 ) 65 ) 66 ) 67 ) 68 ) 69 ) Lokakarya Sistem Pengelolaan Lingkungan / DAS Terpadu Rapat Koordinasi antara dan penandanganan Nota Kesepakatan Antar Bupati yang berada di SWS Barito Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalsel) Capacity Building dan Pemantapan Insitusi Tingkat Provinsi untuk Pembentukan Balai SDA (Kalteng) Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalsel Pelatihan dan Pemantapan PPPA Provinsi Kalteng Pembentukan Balai SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS II -205 .(Persero) CABANG I MALANG 61 ) 62 ) 8 Monitoring Kegiatan Penambangan Terpadu Sosialisasi undang-undang tentang pengelolaan lingkungan hidup (No.

1 menunjukkan tahapan dalam penyusunan perencanaan Sumber Daya Air (Subdit PWS.2 merupakan bagan alir penyusunan pola sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG BAB 3 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN STUDI 3. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Di dalam pendekatan penyusunan Pola Pengelolaan SDA tersebut akan diuraikan secara singkat tahapan dalam perencanaan sumber daya air wilayah sungai. Gambar 3. 2006) yang meliputi penyusunan kebijakan pengelolaan Sumber Daya Air di tingkat Propinsi serta penyusunan pola pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di wilayah sungai. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -1 .1 Umum Pendekatan yang diambil dalam perencanaan sumber daya air di wilayah sungai mengacu pada UU No.1.1. Sedangkan pada gambar 3. Direktorat Bina Program. PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN STUDI 3. dimana kegiatan tersebut merupakan kegiatan awal dalam perencanaan SDA di wilayah sungai.

Dlm WS KONSTRUKSI OPERASI & PEMELIHARAAN PANTAU EVALUASI RTRW Nas/Pro/Kab/Kt Program Prioritas SDA Ditjen Lain Departemen lain Survey dan Investigasi Operasi & Pemeliharaan (OM) Studi Klykn (FS)+Amdl ya Detail Desain (D/D) Pelaksanaan Konstruksi (C) Monitoring dan Evaluasi KETERANGAN : *) Pola PSDA = Kerangka Dasar untuk --> merencanakan. PSDA WS Renc.Induk: K. Daya Guna. melaksanakan. memantau & mengevaluasi (Konservasi.DR tidak PLANNING (perencanaan) Makro/Mikro Basis Basis Wil. 2006) Gambar 3.1 Tahapan Dalam Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -2 . Daya Rusak) **) Rencana PSDA merupakan keterpaduan dari Rencana Induk: Konservasi. Sungai Area Keg. Daya Guna. Direktorat Bina Program. Daya Rusak Sumber : Subdit PWS. Dlm WS Mikro Basis Lokasi Krj.DG.(Persero) CABANG I MALANG TAHAPAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Makro Basis Spasial Nas/Prop/Kab/Kot Kebijakan Nasional SDA Survey Investigasi & Review Studi WS Kebijakan SDA Prop/Kab/Kota Pola PSDA WS yg tlh ditetapkan Men/Gub/Bup Inventarisasi SDA WS Renc.

(Persero) CABANG I MALANG Start Mempelajari kebijakan Daerah di Dalam Pengelolaan SDA Inventarisasi Data Identifikasi Masalah TAHAP I PERSIAPAN PKM I Jika tidak sesuai Jika sesuai Analisa data Skenario Pengembangan Strategi Kebijakan Operasional (Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS) PKM II TAHAP II PENYUSUNAN Finalisasi Konsep Rancangan Pola Proses Penetapan TAHAP III PROSES PENETAPAN Pola Pengelolaan SDA WS End Gambar 3. misi.2 Bagan Alir Penyusunan Pola Sumber Daya Air. 3. Misi.1. azas dan prinsip pengelolaan sumber air sesuai dengan paradigma baru yaitu : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -3 . Azas dan Prinsip sebagai Panduan Penyusunan Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air akan menggunakan visi.2 Visi.

(Persero) CABANG I MALANG Visi : Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. antar wilayah. peran serta Prinsip : - - pendayagunaan. konservasi. - pengendalian masyarakat dan sistem informasi SDA Keterpaduan antar sektor. satu rencana. Misi : Azas : - Konservasi sumber daya air Pendayagunaan sumber daya air Pengendalian daya rusak air Peran serta masyarakat Sistem informasi sumber daya air Kelestarian Keseimbangan Kemanfaatan umum Keterpaduan dan keserasian Keadilan Kemandirian Transparansi dan akuntabilitas Satu sungai. antar instansi tanpa mengurangi kewenangan masing-masing - Keterpaduan antara air permukaan dan air tanah Upaya pendayagunaan diimbangi dengan upaya konservasi Proses rencana pengelolaan melibatkan seluruh stakeholder Penerapan kebijakan sumber daya air diselenggarakan secara demokratis dengan pelibatan semua unsur stakeholder berdasarkan asas tersebut diatas - Dalam jangka panjang implementasi kebijakan dilaksanakan oleh badan pengelola yang mandiri. satu manajemen yang terkoordinasi berdasarkan wilayah sungai sebagai kesatuan pengelolaan Pengelolaan sumber daya air daya mencakup rusak. profesional dan akuntabel Pelibatan masyarakat dalam seluruh proses pembangunan - Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -4 .

Unsur-unsur utama yang mendukung dan mempengaruhi jalannya operasional proyek meliputi: Personil (Tenaga Ahli dan Tenaga Penunjang) Organisasi Sistem Koordinasi Fasilitas kerja Tempat (kantor dan base camp) Secara diagram.3 Pendekatan Operasional Pelaksanaan Pekerjaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -5 . agar tercapai hasil kerja yang optimal Konsultan akan menyiapkan rencana operasional proyek yang seefektif dan seefisien mungkin.3.2. PENDEKATAN OPERASIONAL FASILITAS LAPANGAN KANTOR STUDIO TRANSPORTASI KOMUNIKASI KUALITAS KAPASITAS OPERASIONAL EFEKTIF KOORDINASI INTERN EKSTERN EFISIEN ORGANISASI INTERN EKSTERN TEPAT TEPAT MUTU Gambar 3. pendekatan operasional pelaksanaan pekerjaan dapat dilihat pada Gambar 3.(Persero) CABANG I MALANG 3. PENDEKATAN OPERASIONAL Untuk pelaksanaan studi “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini.

multi-sasaran. Pendekatan analisis sistem ini yang diterapkan pada Wilayah Sungai (WS) atau pada Daerah Aliran Sungai (DAS) ini dicirikan dengan adanya dua buah komponen utama. sosial. sebaiknya digunakan pendekatan analisis sistem sumberdaya air secara holistik.(Persero) CABANG I MALANG 3. multi-disiplin.peta . operasi.. air minum.3.erosi dan sed. kekeringan. multi-sektoral. komprehensif dan terpadu. ANALISIS SISTEM SUMBERDAYA AIR . industri. yaitu: 1. dsb. PERUMUSAN KONDISI ANALISIS DAN PENDEKATAN ANALITIS RENCANA KERJA IDENTIFIKASI SASARAN PERENCANAAN DAN KRITERIA EVALUASI SASARAN DAN KRITERIA TAHAP ANALISIS TERPADU PERUMUSAN DAN ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN AIR PEMICU banjir. database dan user-interface untuk mendukung Kerangka Kerja Analisis.+ analisis sensitivitas PENYAJIAN HASIL laporan . ANALISIS AWAL PERMASALAHAN DAN UPAYA PENANGGULANGAN EVALUASI STRATEGI PENGELOLAAN AIR teknis.kartu skor .4 Kerangka Kerja Analisis Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -6 .lingkungan dll. TAHAP INSEPSI TAHAP PERSIAPAN (pengumpulan data dan analisis sektoral) ANALISIS EKONOMI MAKRO DAN KELEMBAGAAN pola tata ruang populasi kelembagaan ANALISIS PENGGUNAAN AIR DAN AKTIVITAS YANG BERKAITAN pertanian. Kerangka Kerja Analitis Untuk memecahkan permasalahan perencanaan sumber daya air yang bersifat kompleks. Kerangka Kerja Analisis (Framework for the Analysis) yang merupakan pola pikir.kualitas air . dan menjelaskan urutan pelaksanaan dalam studi. dan antar-wilayah ini.1.3.model database MASUKAN UNTUK PARA PENENTU KEBIJAKSANAAN Gambar 3.ekonomis. perencanaan. 2. dsb. dll. energi. PENDEKATAN UMUM 3. dan Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) berupa model komputer.hidrologi . multi-kriteria.

3. Pembuatan kerangka kerja komputasi ini biasanya memakan banyak waktu dan biaya.3.(Persero) CABANG I MALANG 3. debit. model erosi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -7 . Kerangka Kerja Komputasi. Perangkat lunak ini dikembangkan pada tahap persiapan dan terdiri atas: • • Basis data (data base ) Kumpulan model matematis yang konsisten terdiri atas model ketersediaan air. Basis data merupakan bank data yang berfungsi untuk memberikan masukan pada model computer.2. program khusus basis data seperti dBase III. 3. Idealnya basis data pengembangan sumber SDA terpadu adalah mencakup antara lain : • • Basis data ekonomi dan kependudukan pada tingkat kabupaten dan kecamatan. untuk tujuan sebagai berikut : • • Mempermudah koordinasi penyimpanan dan pemeliharaan data Menghindarkan timbulnya duplikasi data yang dapat mengakibatkan pemborosan media penyimpanan data serta mengurangi keandalan data yang tepat waktu. air tanah. dan lain sebagainya. 1985 ) kumpulan data yang diatur sedemikian rupa sehingga pencarian serta pemunculan data dapat dilakukan dengan sangat efisien. klimatologi. Basis data hidrometeorologi: hujan. atau program basis data yang khusus dibuat untuk menangani data masalah sumber daya air. tetapi jika basis data serta model sudah tersedia maka akan sangat memudahkan analisis selanjutnya. juga untuk permasalahan yang serupa pada Daerah Aliran Sungai yang lain. Data yang ada sebaiknya disusun dalam basis data.3. dicetak pada kertas sebagai laporan atau dipindahkan pada media penyimpanan data (misalnya dalam CD) Basis data adalah (Kukstehl. sehingga data dapat dilihat pada layer. distribusi air. kebutuhan air. • Mempertinggi keluwesan akses data. Kerangka kerja komputasi adalah perangkat lunak untuk membantu analitis pada tahap persiapan serta tahap analisis. misalnya HYMOS. Basis Data. model air tanah. Basis data dapat dikelola mulai dari program computer yang sederhana seperti Microsoft Excel.

aturan operasi waduk serta bendung. Basis data lainnya: kualitas air. Model Matematis. Model komputer ini dapat dibagi menurut peranannya dalam tahapan yang ada pada kerangka kerja analitis yaitu : • • • • Tahap analisis ekonomi makro dan kependudukan. Untuk meneliti kondisi system pada saat ini. Model matematis adalah kaitan fungsional antara masukan dan keluaran. dan Tahap analisis terpadu. program non linear.4.(Persero) CABANG I MALANG • • Basis data jaringan sumber daya air: skematis. Model kualitas air Model untuk melaksanakan analisa terpadu. dan lain sebagainya. untuk menirukan keadaan sebenarnya di dalam dunia nyata. Teknik probabilistic ( teori antrian. Selain itu bilamana perlu dapat ditambahkan juga penggunaan beberapa model antara lain sbb: • • • • • Model air tanah. Model analisa banjir. infrastruktur. teori persediaan ). Model erosi. skematis daerah aliran sungai dan mengalokasikan pembagian air sesuai prioritas yang telah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -8 . operasi. Tahap analisis system saat ini. Model matematis dapat menggunakan satu atau lebih teknik analitis sebagai berikut: Teknik optimasi (program linear. 3. berfungsi mensimulasikan alokasi air pada jaringan skematis daerah aliran mengingat kebutuhan air untuk berbagai pengguna air. Model sedimentasi. akan digunakan model hidrologi untuk menelaah situasi ketersediaan air dengan HYMOS. sebab pelaksanaan perhitungannya • • • • biasanya dilakukan dengan bantuan computer. Tahap analisis penggunaan air serta aktivitas yang berkaitan dengan air. erosi dan sedimentasi dan lain lain. teori keputusan). Teknik statistic (multivariate. program dinamis).3. Teknik simulasi Untuk system SDA yang kompleks seperti wilayah sungai BARITO . kebutuhan air untuk masing masing pengguna air.KAPUAS akan digunakan metode simulasi. Model matematis kerap kali dinamakan juga sebagai model computer. inferensi.

maka akan digunakan program khusus untuk simulasi wilayah yaitu RIBASIM. 6. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. PENDEKATAN HUKUM Penyusunan “Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito-Kapuas” ini mengacu kepada peraturan perundangan yang lahir sesuai arah kebijakan politik. yaitu : a) Kegiatan Pendahuluan b) Survey dan Inventarisasi Data c) Pengolahan dan Analisis Data d) Identifikasi Rencana Pengembangan Sumber Daya Air e) Analisis Strategi Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai 3. Undang-undang No. Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 5. dimana otonomi seluas-luasnya diberikan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota. Secara berjenjang.KAPUAS ini terdiri dari 5 (lima) Kegiatan utama. 4. Alinea ke-4 Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Undang-undang No. 7. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -9 . Undang-undang No. Undang-undang No. Mengingat system tata air yang dikaji sangat kompleks dan rumit. 2. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai tersusun dengan urutan sebagai berikut : Undang-Undang Dasar 1.(Persero) CABANG I MALANG ditentukan dan air yang tersedia. 2. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. kegiatan yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan pekerjaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah sungai BARITO . Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 3. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air Undang-undang No. Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 Undang-Undang 1. Secara garis besar. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.4.

5. Memantau dan Mengevaluasi Sumber Daya kegiatan Air dan Sumber Pendayagunaan Pengendalian Daya Rusak Air. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No.(Persero) CABANG I MALANG Peraturan Pemerintah 1.1 Penentuan Responden Penentuan Responden dalam analisis Penyusunan Pola Pengelolaan SDA ditetapkan berdasarkan teknik Purposive Sampling dengan pertimbangan bahwa Responden adalah pelaku (Individu atau Lembaga) yang mempengaruhi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -10 . Peraturan Pemerintah No. Daya Air. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Keputusan Presiden Keputusan Presiden No. Peraturan Pemerintah No. 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air. Konservasi Melaksanakan. 3.5. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006 tentang tentang Irigasi. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 4. PENDEKATAN PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO .(Pasal 1 ayat 8 UU No 7 tahun 2004) pada Wilayah Sungai BARITO .KAPUAS dengan Prinsip Keterpaduan antara Air Permukaan dan Air Tanah serta Keseimbangan Upaya Konservasi dan Pendayagunaan Sumber Daya Air.KAPUAS Untuk menjamin terselenggaranya PSDA yang dapat memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun Pola Pengelolaan Sumber Daya Air. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. 3. 2. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air merupakan Kerangka Dasar dalam Merencanakan. Peraturan Daerah 3. 5.

1.KAPUAS.(Persero) CABANG I MALANG penyusunan Pola Pengelolaan SDA. PENDEKATAN TEKNIS PENYUSUNAN POLA WS BARITO .2 Tahapan Analisis Metode pengambilan keputusan pemilihan alternatif tindakan pola Pengelolaan SDA untuk pencapaian pengelolaan SDA berkelanjutan dilakukan dengan dua pola alur analisis pengambilan keputusan yaitu : a.5. Wakil Pengguna Air c.6. LSM 3. Responden yang ditetapkan adalah sebagai berikut : a.2. Survey dan Inventarisasi Data Data-data yang dikumpulkan pada uraian pendekatan umum akan dilakukan review untuk dijadikan bahan masukan dalam kegiatan ini. Wakil Pemerintah Daerah b. Beberapa item kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -11 . Universitas e.6. Secara ringkas tahapan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : 3. Alur pengembangan Kriteria dan Ukuran Evaluasi b. 3.6.KAPUAS Tahapan dalam metodologi pelaksanaan diuraikan secara ringkas dan mengacu pada tahapan kegiatan seperti pada KAK. Persiapan Personil dan Administrasi Konsultan akan mengerahkan tenaga ahli dengan koordinasi oleh Direktur Teknik Perusahaan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan. Kehutanan d. baik langsung maupun tidak langsung di Daerah Aliran Sungai pada wilayah sungai BARITO . 3. Pembangkitan Alternatif dan Evaluasi rekayasa.

Sacramento model dan total demand dalam suatu distric.2. Pendekatan parametrik (parametric approach) yaitu sistem klasifikasi dan pembagian lahan atas dasar pengaruh atau nilai ciri lahan tertentu dan kemudian mengkombinasikan pengaruh-pengaruh tersebut untuk memperoleh kesesuaiannya. Pendekatan fisiografik (physiographic approach) a. b.2.(Persero) CABANG I MALANG 3. 3. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dengan diperkenalkannya sistem informasi berbasis SIG.6.KAPUAS secara umum dan kajian hasil studi dari beberapa instansi terkait. Mempertimbangkan lahan secara keseluruhan di dalam penilaiannya. Inventarisasi yang dilakukan adalah sejauh mana manajemen sumber daya air yang telah dikelola oleh suatu institusi kemudian akan didekati dengan analisis run off model balance.1 Informasi Kondisi Fisiografis Lahan Item kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan kondisi tata guna lahan pada wilayah sungai BARITO . Sebagai pendekatan holistrik dan sintetik 2. yaitu untuk memetakan tanah dengan skala kecil yang diperlukan untuk Masterplan. Beberapa pendekatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : • • Pendekatan bentangan (Landscape Approach). Pendekatan mengatasi masalah konservasi lahan meliputi : 1. Pendekatan yang akan dilakukan pada tahap informasi kondisi fisiografis lahan adalah sifat fisik lahan yang merupakan dasar bagi perencanaan penggunaan lahan yang rasional.6. Menggunakan kerangka bentuk lahan (land form framework) untuk mengidentifikasi kan satuan daerah secara alami c.2 Inventarisasi Kondisi Existing Water District Tahap ini merupakan penjabaran dari model Ribasim atau Ribasim District yang menganalisis berdasarkan district level. Pendekatan sistem evaluasi lahan dan penilaian lokasi (Land Evaluation and Site Assesment = LESA) yaitu suatu sistem untuk membantu instansi yang terkait untuk membuat keputusan-keputusan dalam perencanaan penggunaan lahan. Kelanjutan inventarisasi kondisi water distric ini adalah analisis water Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -12 .

Wilayah Kecamatan dan Kabupaten masing masing akan diplot dalam peta wilayah sungai tersebut untuk memperjelas DAS masing masing wilayah. Pengumpulan Peta Geographic Information System C. Dari peta tersebut yang akan dibagi berdasarkan masing masing Sub WS akan diperoleh jumlah situ atau mata air masing masing sub WS. Identifikasi Permasalahan / Problem / Constraint Pada tahap ini konsultan akan melakukan inventarisasi permasalahan sumber air di wilayah sungai BARITO .(Persero) CABANG I MALANG A. Inventarisasi ini akan memperoleh besaran kebutuhan air untuk berbagai keperluan dan prioritas masing-masing yang disusun secara hirarki. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -13 . 7 tahun 2004 disebutkan bahwa penentuan prioritas alokasi air adalah sebagai berikut : • Prioritas A : • Prioritas B : • Prioritas C : Air minum rumah tangga Pertahanan & keamanan nasional Peribadatan Usaha perkotaan (kebakaran. Pembuatan Peta Kerja Yang dimaksud kegiatan ini adalah konsultan akan menyiapkan peta kerja bersumber dari peta skala 1:50. Inventarisasi Kondisi Existing Demand Cluster Pada tahap ini akan dikumpulkan data water user yang terkait dengan demand secara hirarki.KAPUAS tersebut berdasarkan data sekunder yang terkumpul dan hasil studi terdahulu D. penggelontoran. taman) Pertanian Pertanian rakyat dan usaha pertanian lainnya Peternakan Perkebunan Perikanan Ketenagaan Industri Pertambangan Lalu Lintas air Rekreasi B. Pada undang-undang no.000 Bakosurtanal.

KAPUAS berdasarkan data yang ada. Kajian Hidrologi dan Air Tanah Kegiatan ini mencakup review data dan review analisis terdahulu berkaitan dengan hidrologi baik ketersediaan air maupun debit banjir kemudian akan dilakukan re.3.3. 3. Kaji Ulang Data Terdahulu Pada tahap ini konsultan akan melakukan review data sekunder berupa laporan dan gambar hasil studi terdahulu dan menyusun kesimpulan yang akan menjadi bahan untuk evaluasi dan membandingkan dengan kondisi sekarang. Inventarisasi Kelembagaan Tahap ini team akan mengumpulkan data tentang kelembagaan yang ada diwilayah sungai BARITO . Studi Khusus Metodologi dalam studi khusus ini diuraikan secara ringkas untuk masingmasing komponen sebagai berikut : 3. Kajian Tata Ruang Wilayah Kabupaten / Kota Kajian mengenai RTRW akan dilakukan berdasarkan data RTRW yang ada dan memberikan masukan hasil analisis kondisi saat ini yang dikaitkan dengan sumber daya air baik konservasi.(Persero) CABANG I MALANG E.6.3.3.6.analisis berdasarkan water district dan demand cluster saat ini dengan model simulasi.6. pendayagunaan dan daya rusak air. Inventarisasi Perundang Undangan Team akan melakukan pengumpulan data mengenai Undang.1.3. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -14 . 3. F.2.6. Kajian Air tanah akan dilakukan dengan melakukan inventarisasi penggunaan saat ini dan kondisi yang ada serta mempelajari potensi hidrolgeologi pada wilayah sungai BARITO .Undang dan Peraturan lainnya yang terkait dengan Pengelolaan SDA baik tingkat Nasional maupun Daerah. 3.KAPUAS yang berkaitan dengan pengelolaan SDA.

Konsultasi publik bertujuan mencegah dan meminimalkan dampak sosial yang mungkin timbul serta untuk mendorong terlaksananya transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan yang lebih adil.5. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan. Serta rekomendasi tindak lanjut kedepan yang dikaitkan dengan kondisi SDA wilayah BARITO .6.3.6.(Persero) CABANG I MALANG 3.6. Kajian Pertanian. (Sumber Penjelasan pada UU No 7 / 2004 tentang SDA) Pertemuan Konsultasi Masyarakat wajib dilaksanakan dalam proses penyusunan rencana dan kegiatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai dengan ketentuan : a. Ditujukan masyarakat. dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai.4. 3. peta kawasan lindung akan dilakukan kajian mengenai kondisi saat ini dan permasalahan yang ada. Kajian Sosial Ekonomi dan Budaya serta Lingkungan Tahap ini akan melakukan kegiatan wawancara langsung dengan responden terpilih untuk mendapatkan masukan mengenai kondisi sosial ekonomi dan lingkungan. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap.4. Kajian Kelembagaan dibidang SDA Berdasarkan data kelembagaan yang ada akan dilakukan kaji ulang dilapangan kondisi masing masing kelembagaan yang ada saat ini dan keterlibatannya dalam pengelolaan SDA di wilayah sungai BARITO .KAPUAS. Pertemuan Konsultasi Masyarakat Yang dimaksud dengan konsultasi publik adalah upaya menyerap aspirasi masyarakat melalui dialog dan musyawarah dengan semua pihak yang berkepentingan.6. 3. data sekunder yang ada. Kehutanan dan Perkebunan Berdasarkan peta penggunaan lahan.KAPUAS. untuk serta memperoleh untuk dan mengkoordinasikan kesepakatan aspirasi atas tercapainya bersama kebijakan/ pola/ rencana yang dirumuskan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -15 .3. 3.3. permasalahan.6.

Melibatkan pihak-pihak dalam masyarakat yang berkepentingan terhadap pengelolaan sumber daya air Informasi tentang rancangan rencana pengelolaan sumber daya air disampaikan terlebih dulu sebelum Pertemuan Konsultasi Masyarakat dilaksanakan Apabila dunia usaha akan menggunakan sumber daya air di wilayah sungai maka dunia usaha harus dilibatkan sejak dari perencanaan. sehingga sebagai komponen masyarakat dunia usaha harus diikutkan dalam pertemuan konsultansi masyarakat. badan usaha milik negara. Dalam perumusan tersebut akan dibahas mengenai : o Pendayagunaan SDA melalui pendekatan ekosistem wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -16 .5. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan. dan rencana pengusahaan ini diharuskan untuk melalui Pertemuan Konsultasi Masyarakat terlebih dahulu. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan.6. c. Perumusan hasil Pertemuan Team Nara Sumber dan Pembina. serta badan usaha milik daerah dan swasta. Pengusahaan sumber daya air pada bagian wilayah sungai masih dimungkinkan untuk dilakukan oleh perorangan. 3. Perumusan Masalah Dalam kegiatan ini akan dilakukan Penyusunan Program Komponen Pengelolaan SDA. Perumusan Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat b. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi. Tiga tahapan perumusan yang akan dilakukan mencakup : a.(Persero) CABANG I MALANG b. badan usaha maupun kerjasama badan usaha. permasalahan. Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (Pertama) dan II (Kedua) akan dilaksanakan di Propinsi Sulawesi Selatan. Perumusan Hasil Studi Khusus c. dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai.

6. alat/ software yang digunakan dalam mencapai tujuan pekerjaan dan pendekatan pelaksanaan studi. dan dikelola dengan baik serta sesuai dengan kebijakan pembangunan Nasional. Efisiensi. Team Konsultan dan Nara Sumber menganalisa masing jadwal pembiayaan. A. Berlanjut. Kajian terhadap peta penunjang.KAPUAS akan berisi tentang urutan pelaksanaan pekerjaan.6. Pemerataan.(Persero) CABANG I MALANG o o Pengendalian daya rusak air termasuk sistem pengendalian banjir dan penanganan kekeringan Konservasi SDA termasuk penanganan lahan kritis secara struktur maupun non struktur 3. jadwal kerja dan hubungan antara input-proses dan output dari pekerjaan. analisa dampaknya dan penyusunan jadwal pembiayaan. hubungannya dengan sistem pelaporan. Dengan kata lain akan melalui proses Tujuan diterapkan dan Strategi Dirumuskan. pengelompokan dan penetapan prioritas usulan kegiatan. Pengkajian Data Kajian terhadap data-data hasil survey lapangan dan inventarisasi data dalam pelaksanaan pekerjaan ini meliputi : 1. Analisis Pada tahap ini akan dilakukan analisis yang meliputi pengidentifikasian komponen.1. peta tata guna lahan. Kajian terhadap rencana tata ruang wilayah Propinsi. kabupaten dan kota Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -17 . Analisis Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO – KAPUAS Metodologi yang digunakan dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO . Selain itu juga perlu analisa terhadap dampak rencana yang diusulkan dan usulan kegiatan. peta tata ruang. Setiap komponen didukung oleh sejumlah usulan kegiatan. peta geologi dan lain-lain.6. Usulan kegiatan dikelompokkan berdasarkan aspek struktural dan masing usulan kegiatan dan menyusun perkiraan non struktural biaya dan dan ditetapkan prioritas. Dapat diterima.6. 2. yang terdiri dari dari peta topografi. 3. Rencana ini didasarkan pada prinsip Optimalisasi.

ekonomi. Kajian terhadap kondisi tata guna lahan saat ini meliputi peta tata guna lahan. Kajian terhadap data hidrologi meliputi data curah hujan. peta daerah irigasi.KAPUAS di Propinsi Sulawesi Selatan yang mencakup aspek hidrologi.(Persero) CABANG I MALANG 3. Kajian terhadap populasi dan data sumber daya manusia 9. Kajian terhadap informasi tentang banjir dan kekeringan yang pernah terjadi meliputi daerah yang terjadi banjir dan kekeringan. Kajian terhadap konservasi sumber daya air saat ini dan identifikasi dari rencana yang akan datang 8. Pengelolaan wilayah sungai yang mencakup kelembagaan. luas genangan banjir dan lain-lain sebagainya 13. geografi. hasil tata guna lahan dan tata ruang 6. sumber pencemar dan lain-lain 7. data debit. Pembangunan daerah dan permasalahan sumber daya air di daerah Berdasarkan masukan data dan informasi tersebut diatas. Kajian terhadap data kualitas lingkungan keairan yang meliputi kualitas air sungai dan danau. budaya 3. Kondisi fisik Wilayah Sungai BARITO . sosial. Kajian terhadap data Kelembagaan Dari kunjungan ke lapangan kemudian dilakukan Kajian terhadap beberapa aspek yaitu : 1. Kajian terhadap kebijakan-kebijakan yang terkait dan hasil studi terdahulu (di Propinsi) 4. organisasi formal dan informal 4. kemudian dilakukan prosesing dan analisa dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS (Hydrological Model System) yaitu suatu perangkat lunak yang merupakan sistem basis data dan pengolahan data hidrologi yang terpadu dan RIBASIM Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -18 . Kajian terhadap data pertanian yang meliputi data pola tanam dan lainlain 11. lingkungan dan lainlain 2. kebutuhan air irigasi 12. Pengembangan wilayah sungai yang mencakup data kependudukan. topografi. data air tanah dan lain-lain 5. Kajian terhadap data sosial ekonomi yang mendukung penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai 10. Kajian terhadap data irigasi yang meliputi luas daerah irigasi.

prosedur untuk melakukan running berbagai komponen yang ada. dilakukan melalui rangkaian kegiatan sebagai berikut : 1. Dalam mengidentifikasi upaya strategis tersebut. berbagai pilihan visual. Menganalisa ketersediaan air di setiap Water District dan total Wilayah Sungai 6. RIBASIM (River Basin Simulation) adalah salah satu perangkat lunak yang diperlukan dalam program DSS (Decision Support System). Menganalisis kebutuhan air antar sektor pada saat ini dan proyeksinya di masa yang akan datang untuk setiap Demand Cluster 4.(Persero) CABANG I MALANG (River Basin Simulation) suatu perangkat untuk melakukan simulasi pengembangan sumber daya air. RIBASIM menjelaskan mengenai user interface. seperti : 1) Skematisasi WS. RIBASIM merupakan salah satu perangkat lunak yang paling utama dalam DSS sehingga sering disebut DSS RIBASIM. detail konsep dasar pembuatan model dan simulasi WS. Dalam DSS RIBASIM dilakukan simulasi neraca air dan alokasi air di WS dengan berdasarkan pasokan dan kebutuhan air. Membagi Wilayah Sungai ke dalam beberapa distrik air (Water District) yang dikaitkan dengan Demand Cluster-nya 5. prosedur pemasukan. Menghitung neraca air bulanan di setiap pasangan Water District dan demand cluster juga untuk total Wilayah Sungai 7. uraian singakat hasil simulasi. 2) Perhitungan kebutuhan air. Identifikasi dan Upaya Strategis Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak HYMOS dan RIBASIM. Mengidentifikasi skenario pengembangan wilayah sebagai basis untuk proyeksi kebutuhan air 2. prosedur penggunaan untuk kepentingan yang lain. Mengelompokan daerah di wilayah sungai ke dalam beberapa kelompok pengguna (Demand Cluster) yang mengacu pada rencana tata ruang 3. format data. selanjutnya diidentifikasi upaya-upaya startegis yang diperlukan dalam pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. data yang diperlukan. 4) Pemilihan pengelolaan air B. Menghitung tingkat pemakaian air sekarang dan proyeksinya dengan menggunakan indicator Indeks Penggunaan air dan menentukan tingkat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -19 . 3) Pengoperasian bangunan waduk dan bangunan pelimpah.

3.KAPUAS yang sifatnya lintas Propinsi perlu ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam bentuk Keputusan Presiden atau Keputusan Menteri yang ditunjuk.8.6. Berdasarkan ringkasan Metodologi diatas gambar 3.(Persero) CABANG I MALANG kestabilan berupa perbandingan antara debit minimum dan debit maksimum dam indicator coefisient of variation (CV) debit sungai 3. BARITO . Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -20 .7 Tahun 2004 tentang SDA.5 memperlihatkan diagram alir pelaksanaan penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS. Penetapan Proses penetapan Pola Pengelolaan SDA WS BARITO . 3. Penyusunan Rancangan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO KAPUAS Berdasarkan hasil-hasil analisis pada sub-bab tersebut di atas selanjutnya disusun Konsep Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai BARITO KAPUAS.7.9.6.6. Alih Pengetahuan Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan transfer hasil analisis khususnya yang menggunakan software yaitu Hymos dan Ribasim yang akan dimanfaatkan oleh staf Satuan Kerja dilingkungan Ditjen SDA di Jakarta. Untuk itu perlu ditentukan alternatif prioritas penanganan dalam Pola Pengelolaan SDA WS.KAPUAS yang sesuai dengan kelima pilar yang tertuang dalam UU No.

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -21 .

(Persero) CABANG I MALANG Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -22 .

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 3.KAPUAS Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS III -23 .5 Diagram Alir Pelaksanaan Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai BARITO .

Kabupaten dan Kota bersifat otonom. khususnya dalam hal mewujudkan One River One Plan One Management.1. Secara administratif.(Persero) CABANG I MALANG BAB 4 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4. Kebijakan otonomi tersebut cenderung untuk memicu konflik pengelolaan WS yang terpadu. WS Barito Kapuas merupakan salah satu WS yang bermuara di laut Jawa. seperti : 1. dengan demikian setiap daerah pemerintahan berwenang mengelola sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. curah hujan yang jatuh dialirkan melalui sistem sungai tersebut dan keluar melalui satu outlet tunggal. di dalamnya sistem sungai yang saling berhubungan.1 ANALISIS TATA RUANG 4.22/1999).1 Analisis Kebijakan Tata Ruang Wilayah Sungai (WS) merupakan suatu wilayah kesatuan ekosistem bentang lahan yang dibatasi oleh puncak-puncak gunung ataupun perbukitan yang menghubungkannya. Dengan adanya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah (Revisi UU No. yang di dalamnya juga terdiri dari beberapa kabupaten/kota. yang secara geografis melintasi beberapa kota/Kabupaten. yang antara lain menegaskan bahwa setiap pemerintahan Daerah Provinsi. akibat adanya konflik kepentingan masingmasing wilayah yang tercakup dalam WS. Perkembangan yang pesat di Kabupaten Barito Timur sebagai salah satu Kabupaten di Kalimantan Tengah menimbulkan aktivitas kegiatan produksi dan industri yang sangat tinggi. Wilayah Sungai Barito . Perubahan status dan wewenang pemerintahan daerah yang otonom ini merupakan salah satu kendala yang sangat berpengaruh terhadap manajemen terpadu suatu WS.Kapuas mencakup dua wilayah Provinsi yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Kawasan dan Pengelolaan WS menjadi parsial Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -1 .

Namun kondisi ideal ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan teoritis yang penting dalam merumuskan arahan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito .Kapuas merupakan gambaran ideal pemanfaatan ruang wilayah WS Barito .Kapuas ini juga terdapat KSP (Kawasan Sentra Produksi) dan Kawasan KAPET DAS KAKAP (Kahayan-Kapuas-Barito) mencakup 4 (empat) daerah tingkat II dan 21 (dua puluh satu) kecamatan. Karena alasan kepentingan tiap daerah maka dalam RTRW Kabupaten/Kota.300 ha atau sekitar 18% dari luas Kalimantan Tengah (153. Kewenangan dalam mengelola WS berada pada masing-masing Kabupaten/Kota (terpecah-pecah /tidak terpadu) 3. Penataan ruang ideal WS Barito .Kapuas. Dalam menyususun peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas diperlukan beberapa data pendukung yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dari peta penataan ruang ideal.1.2 Konflik Pemanfaatan Ruang Perbedaan kepentingan tiap wilayah Kabupaten/Kota akan menimbulkan konflik dalam pemanfaatan ruang.650 km2). 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -2 . Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki kepentingan yang berbeda terhadap Wilayah Sungai 4. Kabupaten Pulang Pisau (5 kecamatan). Kabupaten Kapuas (10 kecamatan) dan Kabupaten Barito Selatan (4 kecamatan) dengan luas wilayah mencapai 2.Kapuas berdasarkan kajian dan perhitungan teoritis terkait fisik wilayah. Berikut adalah kerangka pikir dasar dalam penyusunan peta penataan ruang ideal WS Barito-Kapuas. Perwujudan ruang yang dihasilkan belum mempertimbangkan bagaimana kondisi eksisting pemanfaatan lahan dan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat (kegiatan perekonomian).(Persero) CABANG I MALANG 2. Sulit dilaksanakan koordinasi antar Kabupaten/Kota 5. Selain Wilayah Kabupaten/Kota di WS Barito . Masing-masing Kabupaten/Kota memiliki ’cara pandang’ yang berbedabeda terhadap keutuhan WS sebagai suatu ekosistem.767. yaitu dengan perincian Kota Palangkaraya (2 kecamatan). kurang mempertimbangkan mana yang seharusnya kawasan budidaya dan mana yang seharusnya merupakan kawasan non budidaya.

Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -3 .(Persero) CABANG I MALANG PETA RESIKO BENCANA GERAKAN TANAH PETA RESIKO BENCANA BANJIR PETA HIDROGEOLOGI PETA RESAPAN PETA HASIL ANALISIS UNTUK PENATAAN RUANG IDEAL PETA KONSERVASI Gambar 4.1 Penentuan Ruang Ideal WS Barito .

BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK BUNTOK Batas Kabupaten Batas Propinsi Batas SWS Barito PALANGKARAYA ! PALANGKARAYA TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG TAMIANG LAYANG .2 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -4 .(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN TENGAH PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU PUTUSSIBAU . MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH MUARA TEW EH LEGENDA : Ibukota Kecamatan Ibukota Kabupaten Ibukota Propinsi Batas Kecamatan KAWASAN LINDUNG : CA HL TN CB TW DAN PPH Cagar Alam Hutan Lindung Taman Nasional Cagar Budaya Taman Wisata Danau Perlindungan Pelestarian Hutan Suaka Margasatw a . . KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS KUALAKAPUAS . Hutan Produksi Hutan Produksi Terbatas Permukiman dan Pengemb . HP KPPL KPP HTI Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi SM Kaw asan Pemukiman dan Pengembangan Lainnya Kaw asan Pengembangan Produksi Hutan Tanaman Industri Areal Transmigrasi Rencana Areal Transmigrasi Hutan Pendidikan & Penelitian Kaw asan Khusus ! . T1 T2 Kaw Pengemb Produksi HPP KK Gambar 4. PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU PURUK CAHU . . . SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT SAMPIT .TAMIANG LAYANG . . SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU SANGAU Hutan lindung . PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN PANGKALANBUN . . KAWASAN BUDIDAYA HPT .

(Persero) CABANG I MALANG PETA RTRW PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Hutan Lindung Hutan Produksi Tetap Tanjung Barabai Kandangan Rantau Kota Banjarmasin Perkebunan Pertanian Lahan Basah Permukiman Perkebunan Gambar 4.3 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -5 .

Kapuas. mengingat bahwa WS Barito .Kapuas dibutuhkan sebagai panduan pemanfaatan ruang di wilayah WS Barito . Development Permit.Kapuas. Site Plan Control.(Persero) CABANG I MALANG 4. DEVELOPMENT Mengarahkan Pembangunan (Direct Development ) PREVENTIF Zoning Development control. Di dalam Peraturan Pemerintah No.1. RDTRK Insentif Sumber: Zulkaidi. Pada prinsipnya. Disinsentif. sedangkan kewenangan penataan perwilayahan ekosistem WS Barito . dll KURATIF Enforcement . Bab II Pasal 2 ayat 3. Ditjen Penataan Ruang – Departemen Pekerjaan Umum: 2005 Kriteria pemanfaatan ruang. sifat pengendalian pemanfaatan ruang dapat dibedakan menjadi kriteria preventif (pencegahan) dan kriteria kuratif (pengobatan).Kapuas yang berada dalam wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. angka 13 Bidang Penataan Ruang ditetapkan bahwa “Penetapan kriteria penataan perwilayahan ekosistem daerah tangkapan air pada daerah aliran sungai merupakan kewenangan Pemerintah Pusat”. Dengan demikian. sebagai bentuk perangkat pengendalian pemanfaatan ruang.Kapuas berada di Provinsi. dalam Pekerjaan Apresiasi NSPM Penataan Ruang Kabupaten dan Kota di Wilayah I (Sumatera).Kapuas dimaksudkan sebagai perangkat pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan WS. Pemerintah Pusat berwenang untuk menetapkan kriteria dimaksud. Mendorong Pembangunan (Promote Development ) RTRWK. Kriteria WS Barito . Penetapan kriteria WS Barito . 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.Kapuas dilakukan dengan berpedoman pada kriteria pemanfaatan ruang di wilayah WS normatif kemudian disesuaikan dengan permasalahan yang timbul di wilayah WS Barito . Rencana Detail Tata Ruang dan Zoning Regulation.3 Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Sungai Arahan pemanfaatan ruang WS Barito . yang sifatnya preventif (pencegahan) dapat berupa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -6 . agar tidak terjadi penyimpangan pemanfaatan ruang sehingga berakibat pada kerusakan lingkungan. Denny.

Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Di Bawahnya 2. Secara umum. kawasan mata air. dll. kehutanan.Kapuas. masing-masing untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. kawasan hutan lindung. 4. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan yang berfungsi lindung. jasa dan industri. Pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan wilayah ekosistem WS Barito . Kawasan budidaya non perkotaan sendiri meliputi kawasan perkebunan. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -7 . Kawasan Perlindungan Setempat 3. pertanian. kriteria penetapan dibagi dua. Termasuk dalam kawasan budidaya perkotaan adalah kawasan permukiman. Salah satu aspek penting dalam penataan wilayah ekosistem WS Barito . Termasuk dalam kawasan lindung berpengaruh langsung antara lain adalah Kawasan Sempadan Sungai. dan sebagainya.3. Dalam konteks pengendalian pemanfaatan ruang WS.Kapuas memiliki beberapa jenis kawasan lindung seperti: 1. Berdasarkan Keppres No. Kriteria penetapan Kawasan Lindung dibedakan menjadi kawasan lindung yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap wilayah WS Barito . kriteria pemanfaatan ruang dirumuskan untuk masingmasing klasifikasi kawasan.(Persero) CABANG I MALANG pengaturan pemanfaatan ruang (zonasi). Sementara kriteria penetapan Kawasan Budidaya dibedakan menjadi budidaya perkotaan dan budidaya non perkotaan. dll.1. ekosistem WS Barito . maupun pemeliharaan kesuburan tanah.Kapuas adalah arahan pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung. kawasan resapan air.1 Arahan Kawasan Non Budidaya/Kawasan Lindung Kawasan lindung merupakan kawasan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan pada pengaturan tata air. perdagangan. baik bawah tanah atau air permukaan serta sebagai pencegah banjir dan erosi.Kapuas. sedangkan perangkat pengendalian pemanfaatan ruang yang sifatnya untuk mendorong pembangunan dengan memperhatikan perbaikan kondisi dan permasalahan dapat berupa arahanarahan dan rencana penataan ruang.

Dari berbagai jenis kawasan lindung yang paling diharapkan dapat menunjang kawasan WS adalah kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya.(Persero) CABANG I MALANG Dari ketiga klasifikasi kawasan lindung tersebut. meliputi: Tidak selalu ada di daerah pengaliran sungai. meliputi sungai-sungai pada Wilayah Sungai Barito . kecuali Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya. kedua kawasan tersebut tidak dapat diharapkan dapat mendukung upaya perlindungan terhadap daerah aliran sungai secara langsung. hanya dua kategori yang berpengaruh secara langsung terhadap wilayah sungai Barito . yaitu kawasan hutan lindung dan kawasan resapan air. Namun demikian.Kapuas beserta sungai-sungai kecil lainnya.000 m atau lebih (arahan nasional) atau elevasinya 1.000 m atau lebih (arahan provinsi).Kapuas. Di samping kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. kawasan ini lokasinya tidak Sempadan Sungai (sepanjang Sungai). prioritas penanganan untuk kawasan suaka alam dan cagar budaya relatif lebih rendah jika dibandingkan terhadap kedua klasifikasi kawasan lindung lainnya. • Pada Kawasan Resapan Air selalu di hulu WS. Oleh karena itu. kawasan perlindungan setempat pun mampu menjadi elemen pendukung pelestarian WS. tampak bahwa pada daerah aliran sungai (DAS) sebagai wilayah ekosistem sumberdaya air secara eksplisit dan langsung belum termasuk dalam kawasan lindung. Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan lindung. karena: • Pada Kawasan Hutan Lindung Hanya berlaku bila kawasan tersebut berupa hutan dan ada pula kriteria lain. Jika terdapat kawasan resapan air. seperti : wilayah dengan kelas kelerengan 40% atau lebih dan elevasinya 2. Dari kriteria pengelolaan kawasan lindung yang terdapat dalam RTRWP 2003. maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan lindung antara lain adalah: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -8 .

meningkatkan sumber pendapatan negara dan devisa. ekonomi dan budaya. yaitu dengan Body Covered Ratio (BCR) < 20% dan juga membuat sumur resapan. hidrogeologis dan bencana geologi. • • • Membangun kelembagaan yang kondusif bagi terciptanya partisipasi semua pengelola hutan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -9 . memelihara dan memperluas lapangan dan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha. Pembangunan di daerah resapan air dapat dilakukan dengan ketentuan rasio lahan terbangun tertentu. • • • • Pelestarian daerah rawa disekitar pantai untuk menahan abrasi dan intrusi air laut. Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan minimal 30% Karena hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional merupakan kawasan yang digunakan untuk menjaga kelestarian habitat langka dari kepunahan • Penyelenggaraan perlindungan hutan ditujukan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. memacu pembangunan wilayah terpadu dengan pembangunan daerah dan mendukung pemberdayaan masyarakat desa yang diselaraskan dengan kepentingan rakyat yang tinggal dan hidup di wilayah hutan. Hutan konservasi. • Perlu adanya penetapan kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan hutan berwawasan lingkungan yang tegas dan tepat dalam menjaga kelestarian ekosistem wilayah di Kawasan lindung dan hutan produksi.(Persero) CABANG I MALANG • Fungsi Hutan lindung. • Pentingnya pemeliharaan kawasan hutan dan lingkungannya agar fungsi lindung. fungsi konservasi. Perlu menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai imbuhan air tanah menanggulangi bencana geologi. dan fungsi produksi tercapai secara optimal dan lestari. Kawasan hutan suaka alam dan Kawasan hutan pelestarian alam harus dilestarikan dan ditingkatkan pengelolaannya agar kelestariannya terjamin dan memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perlindungan kawasan hutan lindung untuk menjaga fungsi hidrologis.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -10 . sepadan sungai. Dengan memperhatikan permasalahan yang terkait dengan kawasan budidaya. Kawasan-kawasan permukiman yang telah memenuhi persyaratan dapat dikembangkan menjadi kawasan siap bangun.1.(Persero) CABANG I MALANG • Pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan lindung. sementara hutan produksi dibutuhkan untuk mendukung berbagai industri berbasis kehutanan yang telah menjadi sektor unggulan bagi Riau.rumputan penguat tebing. • Satu-satunya lingkungan permukiman harus diberi akses (jaringan) transportasi terhadap kawasan-kawasan lain yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja. maka beberapa arahan umum yang dapat diberikan dalam pengembangan penetapan kawasan budidaya antara lain adalah: • Pemanfaatan hutan untuk kegiatan ekonomi sebaiknya dilakukan di luar hutan untuk menjaga fungsi pokok hutan serta dapat meningkatkan produktivitas dan penganekaragaman produk pengolahan hasil hutan melalui peningkatan kemampuan dalam menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan tetap di bawah pembinaan.3. 4. • Pada daerah sepanjang tepi sungai harus ditetapkan areal selebar (sekurang-kurangnya) 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat sempadan pantai • Pengembangan struktur ruang mikro yang integratif terhadap struktur ruang makro untuk meningkatkan aksesibilitas kawasan-kawasan produksi ke pasar regional/lokal dan ke pasar internasional/nasional melalui pengembangan prasarana dan sarana transportasi antar kawasan (intra wilayah). • Mengurangi sedimentasi melalui rencana program pengelolaan tataguna lahan dan tata air melalui reboisasi sepanjang penanaman rumput .2 Arahan Kawasan Budidaya/Kawasan Non Lindung Tujuan pengembangan kawasan budidaya di wilayah ekosistem WS Barito Kapuas adalah untuk memanfatkan potensi yang ada untuk mensejahterakan masyarakat serta menunjang pembangunan daerah.

melalui : ─ ─ ─ ─ ─ Pembuatan IPAL domestik terpadu.1. Mengoptimalkan pemanfaatan ruang kawasan budidaya melalui peningkatan pemanfaatan kawasan izin investasi yang belum digarap. Memperhatikan kepentingan “stakeholder” (pemerintah swasta dan masyarakat).Kapuas dari berbagai sumber melalui Pengendalian dan penataan lokasi sumber pencemar point source (industri) dan non point source (non industri). Pembuatan IPAL Kota Terpadu.2 ANALISIS SOSIAL EKONOMI 4.1 Provinsi Kalimantan Selatan 1. Pembatasan beban cemaran yang masuk ke badan air WS Barito . dan limbah B3. Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebagai ditunjukkan dalam tabel di bawah.90%.Kapuas. Pengawasan kapal masuk dan keluar ─ Pengembangan program land application 4.(Persero) CABANG I MALANG • • • • • Perlu menetapkan kriteria lokasi dan standard teknis pengolahan dan pengelolaan secara konsisten dan pengenaan sanksi kawasan izin investasi. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Selatan yang meliputi kabupaten Barito Kuala tahun 2007 adalah sebesar 269. Memperhatikan satus penguasaan lahan. Pembuatan septik tank terpadu untuk daerah pemukiman di sekitar sungai.2. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata adalah 0.1 Proyeksi Penduduk 4. Melaksanakan pemantauan kualitas perairan secara periodik dan berkelanjutan. • Mengendalikan kuantitas dan kualitas limbah yang masuk ke perairan Sungai Barito .448 jiwa. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -11 . untuk kawasan pemukiman di perkotaan.2.

4 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Kepadatan rata-rata penduduk pada WS Barito-Kapuas berdasarkan batasan administrasi di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami peningkatan. Tabel 4.1 Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Pertumb Pendd% 0.2 Proyeksi Kepadatan Penduduk pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Selatan Penduduk (2007) 269.50%.604 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Sumber :Hasil Perhitungan Proyeksi Jumlah Penduduk WS Barito-Kapuas Kalsel Jumlah Penduduk 340.000 2007 2010 2015 Tahun 2020 2025 Gambar 4.000 240.733 2025 316.000 320.604 Luas (km2) 2.448 No 1 Kab / Kota Barito Kuala Penduduk (2025) 316. Rincian jumlah penduduk berdasarkan tahun tinjauan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Dari proyeksi jumlah penduduk pada Kabupaten yang berada pada Wilayah DAS Barito di Provinsi Kalimantan pada tahun 2025 sebesar 316.996.96 Kepadatan / km2 (2007) 90 Kepadatan / km2 (2025) 106 Sumber : BPS Kabupaten Tahun 2007 dan hasil analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -12 .90 2007 269.448 Jumlah Penduduk (jiwa) 2010 276.000 300.470 2020 302.000 280.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan data penduduk dan laju pertumbuhannya maka dapat dibuat proyeksi penduduk untuk 20 tahun yang akan datang.789 2015 289. Pada tahun 2007. kepadatan penduduk 90 jiwa/km2 menjadi 106 jiwa/km2atau naik sebesar 17.604 jiwa.000 260. Tingkat kepadatan penduduk pada WS Barito-Kapuas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.

566 376.2.340 1.701 185. Tabel 4.325 144.137 455.188. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang terdapat di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah yang meliputi 5 kabupaten/kota.000 Jumlah Penduduk 500. Kepadatan penduduk di Kabupaten Murung Raya tergolong paling jarang yaitu hanya 4 jiwa/km2.000 100.841 1.2 Provinsi Kalimantan Tengah 1.580 1.426 100.266 91.538 2015 154.656 777.196 126.13 2.724 141.410 2025 194.938 242.360 1.000 2007 2010 2015 Tahun Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2020 2025 Gambar 4.889 105.314 90.92 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Jumlah Penduduk (Jiwa) 2007 128.886 500.43 42. Pada tahun 2025 diproyeksikan bahwa pada Kabupaten Kapuas kepadatan penduduknya paling tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Barito Selatan.082 jiwa.35 12.000 200. Gambaran besarnya jumlah penduduk di WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut.(Persero) CABANG I MALANG 4.615 88.000 400.082 2010 137.878 600.119 414. Barito Timur dan Barito Utara serta kabupaten Murung Raya.019 5. Berdasarkan luas wilayah dibanding dengan jumlah penduduk yang ada.581 95.356 118.1.100 2020 173.148 113.19 8.5 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS Barito-Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -13 . pada tahun 2007 adalah sebesar 777.3 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Pertumb Pendd% Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Sumber :Hasil Perhitungan 16.397 355.992 107.000 300.91 20.102 135.

957 242.34% (dengan industri besar) dan 14.75% (tanpa industri besar).4 Proyeksi Kepadatan Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Penduduk (2007) 128.35 42.002.750 91.02% (dengan industri besar).13 12.194 Kepadatan / km (2007) 20 14 23 4 6 9 2 Kepadatan / km (2025) 32 20 41 10 16 18 2 Sumber : hasil perhitungan 4.341.091 88.886 242.898 156.43 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Gambar 4.91 20.00 57.014. Berdasarkan angka pertumbuhan tersebut bisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -14 . dan 4. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 1.00 3.2. Sedangkan pertumbuhan PDRB atas dasar harga tetap sebesar -5.00 23.397 91.783 No 1 2 3 4 5 Kab / Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas JUMLAH Penduduk (2025) 203.716.148 112.(Persero) CABANG I MALANG Proyeksi Sebaran Penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2025 (%) 16.69% (tanpa industri besar).75 15. Provinsi Kalimantan Selatan 1.2.526 167.00 8.152 Luas (km2) 6.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Studi 4.397 511.6 Proyeksi Sebaran Penduduk Kabupaten dan Kota pada WS BaritoKapuas di Provinsi Kalimantan Tengah Tabel 4.1.300.834.2.886 1.19 8.

000.802.426.00 1.770.00 3.495.206.8 Proyeksi PDRB (tanpa industri besar) Kabupaten Barito Kuala Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -15 .086.00 3. 000.237.5 Proyeksi PDRB Kabupaten Barito Kuala No I Jenis PDRB 2007 Dengan Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap Tanpa Industri Besar 1 PDRB atas dasar harga berlaku 2 PDRB atas dasar harga tetap 2.7 Proyeksi PDRB (dengan industri besar) Kabupaten Barito Kuala 35.000.756 1. 000.251 3.000. 000.000.738.473.022 2025 4.012. 00 10.886.299.000.(Persero) CABANG I MALANG diproyeksikan besarnya PDRB Kabupaten Barito Kuala dalam beberapa tahun ke depan. 000.246.234.970.000.337.798. 000. 00 20.201 29.00 2.00 4. 00 30. 000. 000. 000.534.451 1.00 2007 2010 2015 2020 2025 PDRB atas dasar har ga ber l aku PDRB atas dasar har ga tetap Gambar 4.748.784 Sumber : Hasil Perhitungan 5. 000. 000. Tabel 4.250.255.211. 000.799 14.539 1. 000.00 Proyeksi PDRB (Rp) 2010 2015 2.934 II 2.857. 00 5.932 2. 00 2007 2010 2015 2020 2025 P DRB at as dasar har ga ber l ak u P DRB at as dasar har ga t et ap Gambar 4.783 3.072 2020 3.270 821. 000. 00 15.000.000. 000.00 1. 00 25.000.00 1.742 6.919 1.000.039 1.

265.23 224.224.76 2.947.900.244.27 2020 541. 0 0 500.17 170.100.194.258.00 44.144.850.972.119.37 2. Provinsi Kalimantan Tengah 1.821. hotel.979. disusul sektor perdagangan.47 2015 446. 0 0 0 .000.608.9 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Kabupaten Barito Selatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -16 .20 3.00 736.734.92 206.86 13.212.00 3.000.92 126.23 157.75 179. Tabel 4.09 180.279.74 22.06 156.28 144.368.2.19 98.00 2.05 4. Berdasarkan nilai pertumbuhan tersebut.(Persero) CABANG I MALANG 4.68 63.700.35 89.2.687.540.61 62.000.100.600.559.300.500.00 1. 0 0 0 .900.95 140. 0 0 0 .48%.80 116.00 93.85 116.15 1.00 2.00 2010 368.909.819.35 2025 657.338.600.53 5.08 39.585. Pertumbuhan PDRB pada tahun 2001 sebesar 2.755.456.66 5.000.003. peternakan.63 176.706.364. Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa TOTAL Sumber : Hasil Perhitungan 2005 303.314.617.00 62. kehutanan dan perikanan sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB Kabupateb Barito Selatan yakni 43.600.6 Proyeksi PDRB Barito Selatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.16 136.76 1.749.700.48%. Kabupaten Barito Selatan Kontribusi sektor pertanian.137.05 249.730. Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.38 228. dibuat proyeksi besarnya PDRB sampai tahun 2025.784.2.900.00 95.615.230.30 295. 0 0 1.00 105.00 25.96 948.57 8.118.200.00 2005 2 0 10 2 0 15 2020 2025 Gambar 4.03 4. 5 0 0 .541. Gas dan Air Bersih Bangunan/Konstruksi Perdagangan.79 %.813.69 99. restoran sebesar 13.723.56 396.

2 38.23 127.0 2015 475. menunjukkan bahwa sektor pertanian sampai saat ini masih merupakan sektor yang paling dominan dalam pembentukan total PDRB yakni 53. PDRB Barito Timur atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha pada tahun 2006 sebesar 886. 12% 4% 6% 12% 7% 0% 4% 54% 1% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.63 49.48 79.9 2025 829.03 % disusul sektor jasa 12.7 Proyeksi PDRB Barito Timur 3. Kabupaten Barito Utara Laju pertumbuhan PDRB berdasarkan harga konstan 2000 pada Kabupaten Barito Utara pada tahun 2006 untuk tiap sektornya rata-rata sebesar 3. Sektor perdagangan.67 55.76 97.94 883.8 562.2 3.39 73. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2007 304.3 2010 359. Hotel dan Restoran Keuangan. Hotel dan Restoran menempati urutan kedua dalam Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -17 . Kontribusi terbesar dari total PDRB disumbang oleh pertanian sebesar 37 86%.40 90.18%.31 23. Kabupaten Barito Timur Dilihat andil per sektor perekonomian terhadap PDRB Barito Timur.9 35.55 4.30 %.47 1.42 45.91 30.2 1.9 2020 627.93 2.1 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.33 10.38 1.(Persero) CABANG I MALANG 2. Persewaan dan Jasa Gambar 4.85 158.06 5.60 1.3 milyar rupiah.543.8 milyar rupiah. pada tahun 2007 naik menjadi 1023.98 209.68 7.10 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Timur 2007 No.167.97 96.7 24. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.60 53.79 1.69 168.78 37.87 40.72 73.8 76.37 28.98 3.8 19.09 65. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.87 59.16 42.92 119.4 61.27 104.77 669.

01% dari total PDRB.38723 160367.9848 87442.7372 5140.936.11 Distribusi sektor ekonomi pada PDRB Barito Utara 2006 Tabel 4.764.423 344333.8 Proyeksi PDRB Barito Utara No.(Persero) CABANG I MALANG menyumbang PDRB Barito Utara. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.77 99. dan merupakan urutan ketiga penyumbang PDRB Barito Utara.6888 111058.14 936.83 238.589.10 63.96 2020 394. yaitu sebesar 20.053.030.40 3.563.57 82.98 27.762636 94154.42 49.83% dari total PDRB.370.20 126.89 47.022.90 67. Sektor Jasa-jasa memberikan peranan sebesar 10.161 152859.3246 60076. Persewaan dan Jasa Gambar 4.858.499.244.17 82.4008 95928.510.71 1.141.952.40 171.203.14 34.449.309.570.976.431. Proyeksi PDRB sampai dengan tahun 2025 dalam dilihat pada tabel berikut ini: 8% 3% 10% 38% 21% 6% 0% 6% 8% Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian Listrik dan Air Bersih Perdagangan.10 2015 362.785.652.274.99567 6226.1802 56208.72 2025 428.503.72 46.784.220. Persewaan dan Jasa Jasa-jasa PDRB 2006 312.02 71.13 75.68 198.79 52.658 85.79 2010 333.17395 286743.410 204923.8379 1.22708 64413.18 824.784.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -18 .656.848.89 59.55 4.9426 1.005.80 50.66516 203303.81459 118008.104.121. Hotel dan Restoran Keuangan.650 114.14 3.535.

611.034%.423.680.73 587.81 98.97 473.88 217.386.814.581.41 8.00 2006 2010 2015 2020 2025 Gambar 4.583.521. Kabupaten Kapuas PDRB Kabupaten atas dasar harga berlaku Kapuas pada tahun 2007 sebesar (angka sementara) Rp.371.80 350.508.98 87.45 2005 1.228.49 2.65%.000.318.96 345.74 10.134. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.03 152.73 2007 1.29 11.263.400.48 146. Pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor bangunan/konstruksi sebesar 39.085.00 1.(Persero) CABANG I MALANG 1.332.000.00 400.386.078.000.92 297.360.93 99.81 9.442. Ini berarti telah terjadi peningkatan sebesar 18.9 PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No.000.02 247.364.486.00 256.530.37 2.70%.811.000.121.845. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Lapangan Usaha 2004 1.408. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.228.320.936.200.351.408.85 119.879.055. Sektor pertanian memberikan sumbangan terbesar terhadap angka PDRb ini.83 376. Sumbangan terkecil diberikan oleh sektor listrik.-.033. yaitu sebesar 46.03 133.600.76 12.43 118.998.12 107.65 10.21%.95 290.021.73 170.546.87 3. 3.572.513.402.653.00 800.108.731. gas dan air bersih sebesar 0.12 Proyeksi Pertumbuhan PDRB Barito Utara 4. Tabel 4.650.24 2006 1.25 184.920.32 Sumber : Kapuas Dalam Angka 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -19 .346.263.14 195.12 224.834.73 151.29% terhadap PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2006. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.73 8.81 11.12 2.406. sedangkan pertumbuhan terkecil terjadi pada sektor pertambangansebesar 8.

763.47 508.206.456.336.863.76 2010 1.(Persero) CABANG I MALANG Keuangan.442.12 113.519.02 215.724.174.1 Provinsi Kalimantan Selatan 1. Jika pertumbuhan jumlah pelanggan listrik dihitung berdasarkan pertumbuhan jumlah penduduk di Kabupaten Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -20 .57 209. Pemakaian daya listrik rata-rata tiap pelanggan pada tahun 2007 adalah sebesar 668.71 164.928.683.50 125.077. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.581.38 162.22 77.72 130.864.554.019.495.94 2.127.53 102.42 3.93 272.24 266.587. Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan.148.49 4.138.95 169.407. Sedangkan pada tahun 2007 turun menjadi sebesar -3.490.10 Proyeksi PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rp) Kabupaten Kapuas No.59 401.466.662.86 Sumber : Hasil Perhitungan 4.713.64 158.91 5.725.890.35 260.813.87 6.682. Hotel dan Restauran 18% Bangunan / Konstruksi 10% Jasa-Jasa 10% Pertanian 48% Pertambangan 0% Industri Pengolahan 6% Listrik.469.15 645.66 140.15 98.663.40 210.3.10 Kwh.04 7.674. Tabel 4.44 15.50 274.3 Proyeksi Sektor Energi Listrik 4.217.67 2020 1.220.352.40 11.584.158.894.57 12.29 130.223.13 Sumbangan masing-masing sektor lapangan usaha terhadap PDRB (menurut harga berlaku) Kabupaten Kapuas 2007.876. Gas dan Air Bersih 0% Gambar 4.51 88.946.71 205.68 4.58 316.511.964.84 2015 1.72 330.27 67.39 165.294.531.68 9.380.636.396.175.715.741.2.454.962.15 1.590.326. Persewaan dan Jasa Perusahaan 4% Pengangkutan dan Telekomunikasi 4% Perdagangan.15 2.605. Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan.849.2.44 9.26 7.266. Kabupaten Barito Kuala Pertumbuhan jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2006 adalah sebesar 101.081.31%. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB 2007 1.79 2025 2.19 147.43%.03 346.

14 2.042 11.533 99 3.647 6.009 Daya Terpasang Rata-rata Pemakaian Pertumbuhan (Kwh) Daya (Kwh) (%) 14.520.794.432 530.582 2025 405.862 517.00 1.14 1.664 6. maka bisa dibuat proyeksi beberapa tahun ke depan untuk jumlah pelanggan dan besarnya pemakaian daya listrik.437.00 1.02 3.9%.788 11.21 1.947. Proyeksi kebutuhan energi listrik ini dihitung berdasarkan angka pertumbuhan penduduk di masing-masing daerah.247 95 2.195.34 18. Tabel 4.940 531.879 580. Konsumsi listrik terbesar terjadi di Kabupaten Kapuas yaitu sebesar 47.354.13 Data Kelistrikan di WS Barito-Kapuas No 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Pelanggan 13.938 2025 16.520 2010 354.638.091. Kabupaten murung Raya dan Kabupaten Kapuas.081 92 2. Sedangkan rata-rata pemakaian energi listrik per pelanggan terbesar terjadi di Kabupaten Barito Utara yaitu sebesar 1.11 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 6 Kelompok Tarif Sosial Rumah Tangga Usaha Industri Kantor dan PJU PS dan TS Jumlah 2007 14.370.151 Tahun 2015 15.36 8. yaitu Kabupaten Barito Selatan.832 103 3.908.451.898. Kabupaten Barito Timur.12 Proyeksi Besarnya Daya Listrik Terdistribusi di Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 Tahun Daya Listrik (KWH) 2007 345.348 6.145 108 3.10 5.2.113 6.00 727.302 40.487 2020 16.3.457 4.581.819.(Persero) CABANG I MALANG Kuala sebesar 0.20 Kwh untuk empat kabupaten.00 1. dengan Kabupaten Kapuas merupakan konsumen tertinggi.92 Sumber : Hasil Perhitungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -21 .819.862. pada tahun 2007.705 3.125.064 2010 14.93 1.555 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.146.059 7.365 493.58 47.2 Provinsi Kalimantan Tengah WS Barito-Kapuas di kalimantan tengah mencakup lima (5) Kabupaten/Kota.14 Kwh per pelanggan.140 554.124.216 580.091 Kwh. Kabupaten Barito Utara.908 2015 371.121.756 507.776 2020 388. Tabel 4.711.581.075 555. Pada tahun 2025 total pemakaian energi listrik sebesar 116.756.363 607.00 1.

21 55.93 23.83 66.720.15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 15.13 Sumber : Hasil Perhitungan Barito Selatan 17% Barit o Utara 13% Kapuas 51% Barito Timur M urung Raya 12% 7% Gambar 4.659.503.42 3.853.2327 20713.66 7.45039 12.711.27 14.483.96 15.81 22.765.53 72.276.13 9.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.655.17 5.088.00 Jumlah Pelanggan 2010 2015 2020 2025 14641.51 11.00 11.048.986.864.437.991.638.78 54.897.842.15 5.731.819.39 9.00 3.216.688.804.731.1 20.42 10.27 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 4.284.773.00 8.886.775.11 140.50 18.00 43.311.82 60.644.496.520.205.409.00 47.48 12.84 4.091.00 2010 16780588.354.783.302.55 21147611.52 13.458.858.693.226.768.60 Daya Terpasang (Kwh) 2015 2020 18837976.464.794.06 2025 23740418.014.370.050.098.29 9.77 12.21 8.788.428.65 8.368.55 19.274.00 45.746.94 13.14 Distribusi Banyaknya Pelanggan Listrik di WS Barito-Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -22 .705.00 3.518.495.242.275.02 14.066.0175 16436.240.032.02 60.36 6.0829 18451.133.14 Proyeksi Jumlah Pelanggan Listrik di WS Barito Kapuas Kalimantan Tengah No Kabupaten/Kota 1 2 3 4 5 Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas 2007 13.214.272.92 50.

(Persero) CABANG I MALANG 80.000.00 20. WS Barito-kapuas yang terdiri dari DAS Barito. dimana berada pada daerah tropis. baik curah hujan. curah hujan. Dalam analisa hidrologi.000.15 Proyeksi Daya Listrik Terpasang di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah (Kwh) 4. dan analisis ketersediaan air atau potensi air.000. ketersediaan air atau potensi maupun unsur hidrologi lainnya. Hal ini mempunyai pengertian bahwa informasi yang diperoleh dalam analisis hidrologi merupakan suatu masukan yang penting didalam melakukan analisis selanjutnya.000.3 ANALISIS HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI Analisis hidrologi merupakan satu bagian analisa awal dalam suatu kajian tentang berbagai keperluan yang menyangkut pemanfaatan sumber daya air berbasis wilayah sungai.000. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -23 . Selama musim hujan pada bulan November – April.00 2007 Barito Selatan 2010 Barito Utara 2015 Barito Timur 2020 Murung Raya 2025 Kapuas Gambar 4.00 60. iklim.000.000. Analisis hidrologi mencakup analisis perilaku debit aliran sungai. dengan kondisi iklim terdiri dari musim hujan dan musim kemarau yang dipengaruhi angina monsoon tenggara. salah satu aspek analisis yang diharapkan untuk menunjang perancangan dalam pengelolaan SDA mencakup penetapan besaran rancangan. angin berhembus membawa uap air.00 40. DAS Kapuas melintasi 2 (dua) Provinsi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. debit rancangan dengan kala ulang tertentu. perilaku debit aliran sungai.000.

4. antara lain rata-rata. Ketersediaan air merupakan hal yang penting dalam pengelolaan suatu wilayah sungai yang dinyatakan dalam keandalan debit yang dapat disediakan dalam rangka memenuhi kebutuhan di dalam maupun diluar wilayah sungai tersebut. Ketersedian air yang cenderung menurun di satu pihak dan meningkatnya kebutuhan air sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkamya kegiatan ekonomi masyarakat di lain pihak. simpangan baku. berhembus angin kering yang membawa musim kemarau.(Persero) CABANG I MALANG sementara itu selama musim kemarau dari bulan Mei – Oktober. pada prinsipnya dapat bersumber diri dari 3 (tiga) jenis. Angka koefisien variasi menyatakan seberapa besar variabilitas debit. Artinya dengan kemungkinan 80% debit yang terjadi adalah lebih besar atau sama dengan debit tersebut. Untuk keperluan air minum dan industri maka dituntut reabilitas yang lebih tinggi. Semakin besar variabilitas debit aliran sungai berarti sungai tersebut memerlukan perhatian khusus. minimum. maksimum.1 Ketersediaan Air Wilayah Sungai Air sebagai sumber daya alam strategis secara alami bersifat dinamis dan mengalir dari sumbernya ke tempat-tempat yang lebih rendah tanpa mengenal batas wilayah administrasi. Sumber air permukaan merupakan sumber yang sangat berpotensi untuk dimanfaatkan yang pada umumnya dipakai untuk kebutuhan air baku. Deskripsi kondisi factor-faktor hidrologis disampaikan dalam pembahasan berikut ini. atau sistem irigasi boleh gagal sekali dalam lima tahun. Analisis perilaku hidroklimatologi dilakukan berdasarkan statistik data historis. Ketersediaan air bagi pemenuhan berbagai kebutuhan. dan koefisien variasi. Analisis ketersediaan air atau analisis potensi air dilakukan dengan menggunakan berbagai alternatif data dasar sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -24 .3. Debit andalan merupakan debit yang dapat diandalkan untuk suatu reabilitas tertentu. Untuk keperluan irigasi biasanya digunakan debit andalan dengan reabilitas 80%. yaitu sekitar 90%. yaitu : hujan. air permukaan dan air tanah. pertanian dan industri.

tebal Aliran rata-rata. atau jika ternyata data debit yang ada hanya mencakup kurang dari lima tahun. Jika tidak tersedia data debit. terjadi banyak kekosongan data pada data debit aliran sungai. iklim dan kondisi wilayah sungai dengan menggunakan model hujan-aliran (rainfall-runoff model). bilamana data tersebut tersedia. Berdasarkan data runtut-waktu (time-series) dari data yang ada (historis). tebal Aliran Q80% dan tebal aliran Q90%. Debit limpasan yang dihasilkan dari seluruh sub-DAS diperoleh dengan menerapkan parameter-parameter hasil kalibrasi dan verifikasi terhadap hujan rata-rata kawasan pada tiap sub DPS. maka diperlukan data seri debit dengan panjang data minimal 10 tahun.Kapuas dihitung berdasarkan pemenuhan berbagai kepentingan khususnya pemenuhan air baku untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -25 . Dalam menghitung debit andalan lebih baik memakai data debit aliran pengamatan dengan data seri yang panjang. namun ketersedian data tersebut masih sangat terbatas (jarang) dan bahkan tidak setiap sungai mempunyai data debit pengamatan. Dalam perhitungan dengan menggunakan analisis frekuensi untuk besaran debit andalan Q80% dan Q90%. debit andalan Q80%. debit andalan Q90%. sehingga untuk analisis potensi air dan masukan untuk DSS-Ribasim perlu dilengkapi dengan menggunakan data hujan melalui suatu proses analisis hujan-aliran (rainfall-runoff). yaitu dengan mengalikan tebal aliran dengan luas catchment area dari lokasi yang dihitung. b.(Persero) CABANG I MALANG a. Adapun besaran tebal aliran sangat diperlukan untuk memperkirakan besarnya debit aliran sungai pada lokasi lain. Dari data yang telah diperoleh. perhitungan ketersediaan debit andalan lebih ditekankan dengan menggunakan data-data debit dari hasil pengamatan. Barito . Dalam studi ini. namun bila tidak ada atau data seri yang ada tidak terlalu panjang. Dari hasil pengolahan data-data debit yang ada maka dapat dihitung debit rata-rata. Untuk ketersediaan air di WS. maka perkiraan potensi sumber daya air dilakukan berdasarkan data curah hujan. kurang dari 10 tahun maka ditambahkan dengan memakai data curah hujan bulanan yang dikonversi menjadi data debit menggunakan model konseptual Sacramento yang merupakan bagian dari Paket Program Hymos.

Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -26 . Barito .Kapuas Dengan kenampakan morfologi dan geologi (volkanik) seperti terdahulu maka dapat diprediksikan bahwa kondisi hidrogeologi daerah ini sebagian besar cukup baik dengan pola akuifer dari jenis Aliran melalui Celahan dan Ruang Antar Butir yang termasuk dalam kelompok Akuifer dengan Produktivitas Tinggi sampai Sedang dengan penyebaran Luas yang secara umum debit air tanahnya mampu mencapai lebih dari 5 liter/detik sampai kurang dari 5 liter/detik.Kapuas.3.3. maka di daerah tersebut banyak dijumpai mata air – mata air. Untuk menghindari duplikasi atau pengulangan perhitungan yang dapat menimbulkan inkonsistensensi maka studi ini memperhatikan dan mengkaji studi-studi yang telah dilakukan terutama perhitungan-perhitungan terbaru sebagai pembanding untuk menghasilkan gambaran kondisi banjir yang terjadi di WS Barito . Oleh karena itu potensi air tanah ditinjau secara umum wilayah Cekungan Air Tanah yang berpotensi dapat memberikan kontribusi ketersediaan air bila pilihan pertama yaitu air permukaan tidak dapat memenuhi atau kondisi medan sulit untuk melakukan rekayasa teknik dengan pembuatan waduk atau sejenisnya.Kapuas. perkotaan dan industri serta untuk keperluan irigasi di WS. 4.2 Ketersediaan Air Tanah Dalam analisa keseimbangan air permukaan tidak mencakup potensi air tanah mengingat pengambilan air tanah merupakan pilihan terakhir untuk mengurangi kerusakan lingkungan. Kapasitas tampungan sungai Barito .Kapuas dijelaskan dalam Bab-5 selanjutnya. Geohidrologi Wilayah Sungai Barito .(Persero) CABANG I MALANG keperluan rumah tangga. Adanya kondisi akuifer seperti tersebut.Kapuas merupakan salah satu masalah pokok yang terjadi hampir setiap tahun.3 Debit Banjir Rencana Masalah banjir di wilayah Wilayah Sungai Barito .Kapuas. pada saat musim hujan tidak dapat menampung debit yang ada sehingga hal ini mengakibatkan genangan banjir yang merusak daerah sekitar alur sungai Barito . 4.

baik dengan memakai analisa frekuensi untuk daerah yang mempunyai data pengamatan debit yang cukup panjang dan lengkap sedangkan untuk mengetahui hidrograf banjir jam-jaman dipakai hidrograf satuan sintesis (HSS Nakayasu).4. 4.Tahun 2020 dan tahun 2025. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -27 .4 ANALISIS KEBUTUHAN AIR BAKU 4. dan kebutuhan air industri. Komponen kebutuhan air.Kapuas akan diperhitungkan kebutuhan air bersih rumah tangga yang berasal dari SPAM PDAM dengan sumber air baku dapat berasal dari air sungai. 4.4. kebutuhan air perkotaan. Perhitungan perkiraan kebutuhan air bersih mengacu pada Kebutuhan Air Rumah Tangga Perkotaan dan Industri (RKI) berdasarkan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Buku 3. mata air. biasanya diperoleh secara individu dari sumber air yang dibuat oleh masing-masing rumah tangga berupa sumur dangkal.1 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga Air bersih adalah air yang diperlukan untuk rumah tangga. 1974) untuk menghitung debit banjir rancangan (design floods) dengan mengunakan data curah hujan kerena keterbatasan data debit yang ada dengan kisaran ketersediaan data antara tahun 1970 – 1973 (3 tahun data).1. sumur dalam atau kombinasinya. tentang ”Proyeksi Penduduk dan Kebutuhan Air RKI(DPU.3.4 Hasil Perhitungan Debit Banjir Rancangan Hasil perhitungan debit banjir rancangan dengan berbagai kala ulang.(Persero) CABANG I MALANG Dari studi terdahulu yang dilakukan oleh ECI pada tahun 1975 (The Barito Kapuas River Basin Development Project. Tahun 2015. atau dapat diperoleh dari layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) PDAM.1 Kebutuhan Air (RKI) Perkiraan kebutuhan air bersih WS Barito .Kapuas dan proyeksinya direncanakan untuk Tahun 2010. 4. terdiri dari kebutuhan air rumah tangga.2004). Dalam WS Barito .

yaitu : Tabel 4.000 – 20.000 500. tahun 2021 dan tahun 2026) pada WS Barito-Kapuas ditentukan berdasarkan kebutuhan air bersih dalam tahun 2006.000 – 100. Materi Pelatihan Penyegaran SDM Sektor Air Minum Sumber : (Peningkatan Kemampuan Staf Profesional Penyelenggara SPAM) WS. serta proyeksinya diasumsi terjadi kenaikan sebesar 1 % per tahun. tahun 2016.125 120 – 150 150 – 200 No 1 2 3 4 5 Kategori Kota Semi Urban (Ibu Kota Kecamatan/Desa) Kota Kecil Kota Sedang Kota Besar Metropolitan Sumber : Dirjen Cipta Karya. yang mengacu pada ketentuan dari Dirjen Cipta Karya.000. 2006 (Tabel 4. DPU.19).(Persero) CABANG I MALANG Kebutuhan air bersih rumah tangga. maka pada setiap tahapan terjadi kenaikan kebutuhan air bersih rumah tangga.000 Kebutuhan Air Bersih (L/O/H) 60 – 90 90 – 110 100.000 – 500. DPU. Barito .16 Kriteria Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk (Jiwa) 3.000 20. diuraikan sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -28 .Kapuas terdiri dari beberapa Sub WS.2006.000 – 1.000 100.000. dinyatakan dalam satuan Liter/Orang/ Hari (L/O/H).000 > 1. besar kebutuhan tergantung dari jumlah penduduk yang ada di setiap Sub DAS yang dikorelasikan dengan Kriteria dari Dirjen Cipta Karya. Jumlah penduduk pada setiap Sub DAS menurut tahun perencanaan (tahun 2011. perkiraan besar kebutuhan air bersih setiap Sub DAS adalah berdasarkan jumlah penduduk pada setiap Sub WS dibandingkan dengan kebutuhan air bersih (L/O/H) berdasarkan jumlah penduduk dari Tabel. ”Unit Pelayanan”.

356 105 118.733 119 2025 194.656 116 0.1.2 Kebutuhan Air Perkotaan Kebutuhan Air Perkotaan yaitu untuk memenuhi kebutuhan air komersial dan sosial.426 108 100.100 126 289.841 131 316.92 355.137 111 455.148 102 1. rumah sakit.615 101 1.36 113. Ternyata makin besar dan padat penduduknya cenderung lebih banyak daerah komersial dan sosial.17 Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga per Orang Per Hari Berdasarkan Jumlah Penduduk pada WS Barito-Kapuas No 1 Kab / Kota Barito Selatan Pertumb Pendd% 2.34 2007 128.886 114 500. sehingga kebutuhan untuk air komersial dan sosial akan lebih tinggi jika penduduk makin banyak.410 128 302. gudang. Selain itu kebutuhan air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -29 .102 110 135.470 118 2020 173.448 111 2010 137. sekolah.4.789 114 Tahun Kajian 2015 154.992 103 107.724 105 141.581 107 95.566 104 376. bengkel.119 108 414. Barito-Kapuas kebutuhan air untuk perkotaan diasumsi sebesar 35 % dari kebutuhan air bersih rumah tangga.325 111 144.02 88.938 106 242. sehingga sampai proyeksi kebutuhan tahun 2025 nilainya sama sebesar 35 %. dengan nilai konstan dari masing-masing tahapan perencanaan.314 104 90.397 108 1. Pada umumnya hampir semua pelayanan PDAM antara 15% sampai dengan 35% dari total air perpipaan untuk kebutuhan air komersial dan sosial seperti : toko.196 109 126.889 108 105.266 107 5. Dalam perencanaan WS.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.604 119 2 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Utara Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Timur Kebutuhan Air Bersih (LOH) Murung Raya Kebutuhan Air Bersih (LOH) Kapuas Kebutuhan Air Bersih (LOH) Barito Kuala 3 4 5 6 Kebutuhan Air Bersih (LOH) Sumber :Hasil Perhitungan 4.90 269.538 121 276.58 91.701 105 185. hotel dsb.

pada tahap awal diperhitungkan sebesar 500 L/O/H.. Sehingga. teknologi yang dipergunakan (umumnya yang lebih modern akan lebih efisien dalam penggunaan air). L/O/H % Penduduk diasumsi pada tahap perencanaan awal.20 % tahun 2015 menjadi 6. Kehilangan dalam proses sebesar 6 %. selain itu tergantung pula pada ukuran pabrik... %P AP = Persentase asumsi penduduk = Kebutuhan air industri per tenaga kerja. bahkan untuk setiap produk yang dikerjakan pada setiap saat. dan tahun 2025 menjadi sebesar 6.95 % .5 % setiap tahun.45 %.4.1. Air yang digunakan setiap pabrik berbeda untuk masing-masing jenisnya (pabrik tekstil berbeda dengan pabrik elektronik). Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %. tahun 2020 menjadi 6. Besar kebutuhan air bersih industri diperhitungkan berdasarkan jumlah penduduk terhadap kebutuhan per pekerja dan rata rata pelayanan. (2). terjadi peningkatan sebesar 0. yaitu : KAI = %Px AP x RL.3 Kebutuhan Air Industri Kebutuhan air untuk industri sangat kompleks. biasanya sesuai dengan klasifikasi jenis dan ukuran industrinya. akan sulit menentukan perkirakan kebutuhan air untuk industri secara lebih akurat. sehingga ada kenaikan pada tahap perencanaan tahun 2010 menjadi sebesar 6. diperhitungkan konstan sebesar 70 %.70 %. terjadi peningkatan sebesar 1 % setiap tahun. 4.. Banyak pabrik mengambil air tanah dari sumur dalamnya sendiri dan untuk tambahan diperoleh dari PDAM walaupun masih dalam jumlah yang sedikit. RL = Rerata Layanan. namun korelasi antara jenis dan ukuran industri dengan kebutuhan air tersebut kurang nyata... tahun 2006 sebesar 6 %. ( Formula 1) Dimana : KAI = Kebutuhan Air Industri .(Persero) CABANG I MALANG bersih rumah tangga diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -30 ..

lt/dt/ha Luas daerah yang diairi. kehilangan air di jaringan irigasi tersier dianggap 15 – 22.Kehilangan dalam proses sebesar 6 %. baik berupa rawa monoton maupun rawa pasang surut. Dalam master plan satuan wilayah sungai Barito. Kebutuhan air irigasi yang dirumuskan sebagai Debit rencana dihitung dengan rumus umum berikut : Qt = NFR × A et = = = = Debit rencana. evaporasi dan perembesan. juga mengutamakan kegiatan peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman pangan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah porsi potensi lahan low land yang relatif luas ternyata masih memerlukan kajian teknis mendalam untuk dapat dimanfaatkan lebih optimal.4. ha Efisiensi irigasi di petak tersier di mana : Qt NFR A et Kebutuhan air irigasi ditentukan oleh faktor – faktor berikut : • • • • • Pola tanam yang diajukan evapotranspirasi potensial koefisien penanaman perkolasi hujan efektif dan kehilangan-kehilangan.2 Kebutuhan Irigasi di WS Barito-Kapuas Potensi pertanian di Kalimantan sebagian besar terdapat di daerah rawa.5% antara bangunan sadap tersier dan sawah (atau Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -31 . Hanya tanah-tanah yang lulus air saja yang akan memerlukan perhitungan tersendiri. dimana SWS Barito sesuai Kepmen No 39/1989 terdiri dari DAS Barito dan DAS Kapuas. 4. Akibat eksploitasi.Kehilangan air tidak terhitung yaitu sebesar 25 %. sebagian dari air yang dibagikan akan hilang sebelum mencapai tanaman padi. (2). Untuk tujuan perencanaan. Kehilangan air akibat evaporasi dan perembesan kecil saja dibanding kehilangan akibat eksploitasi. lt/dt Kebutuhan bersih air di sawah.(Persero) CABANG I MALANG Selain itu kebutuhan air industri diperhitungkan pula untuk kehilangan air yang terdiri dari : (1).

394 ton. nenas dan rambutan.(Persero) CABANG I MALANG efftotal = 0. Untuk jenis tanaman perkebunan di Kabupaten Barito Kuala produksi terbesar adalah tanaman kelapa dalam yaitu sebesar 10. 4. Produksi jeruk untuk Tahun 2007 sebesar 262.399 hektar.Tanaman bahan makanan . jeruk.17 dan 310. nenas 34.529 ton dan mangga 86.185 ton. Selain tanaman diatas Batola juga potensi tanaman buah-buahan seperti.68 Kw/Ha.Perikanan . Kabupaten Barito Kuala Pembangunan ekonomi disektor pertanian adalah untuk meningkatkan produksi pertanian dan bertujuan meningkatkan pendapatan petani.9 dan pada saluran primer 0.Tanaman perkebunan .97 ton kemudian disusul oleh tanaman purun danau dan sagu masing-masing sebesar 232. ubi kayu 3.Peternakan Luas tanah menurut penggunaannya Tahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 yakni dari 243.293. pada saluran sekunder 0.119 hektar menjadi 235.2. Hampir semua kecamatan di Kabupaten Barito Kuala merupakan sentra produksi padi sawah dimana Kabupaten Barito Kuala juga merupakan sentra produksi padi di Provinsi Kalimantan Selatan.4. Data statistik yang di sajikan di bagi dalam lima sub sektor.203 ton. jagung sebanyak 53 ton.878 ton. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -32 .8.157 ton. Untuk produksi tanaman Bahan Makanan lainnya pada Tahun 2007 seperti.775 – 0. Karena Kabupaten Barito Kuala wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah maka tanaman padi ladang tidak ditanam disini sehingga produksi padi hanya ada padi sawah saja. ubi jalar 1.476.94 ha dan 697. Effisisensi pengaliran untuk saluran tersier 0. Berdasarkan rekapitulasi potensi perkebunan Kabupaten Barito Kuala maka Tanaman Kelapa Dalam merupakan tanaman paling berpotensi yakni seluas 13.26 ha. kedelai 2 ton. Kacang tanah 183 ton.Kehutanan .57 ton. mangga. Produksi padi Tahun 2007 adalah 280. rambutan 33.yaitu .58 ha disusul oleh tanaman karet dan tanaman purun danau yang masing-masing 875.121 ton dengan produksi rata-rata 31.1 Kalimantan Selatan 1.9.85).

209 9.00 66.50 66. Luas daerah irigasi terbesar di Kabupaten Kapuas yang merupakan lumbung padi di kawasan Sulawesi Tengah.75 3.03 506.947 241.083 15.15 44.2 Kalimantan Tengah Masih besarnya kontribusi sektor pertanian baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai lapangan pekerjaan.92 65.964 51.115 2.39 1.343 20.672 136.4.758 13.319. Penggembalaan Ternak 5.15% dari keseluruhan luas lahan potensial yang ada.234.250.441 4. kehutanan.81 41.25 1.125.125. Sementara Tidak Diusahakan 6.956 23.976.00 54.769 48.00 61.225.00 799. maka luas lahan yang bisa ditanami hanya sekitar 45.50 63.795 Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Barito Kuala 4.385 228. perkebunan.18 Perkembangan Luas Tanah Menurut Jenis Penggunaannya Tahun 2005-2007 2005 119. Karena keterbatasan sarana dan prasarana pengairan.19 No 1 2 3 4 5 Wilayah Barito Selatan Barito Utara Barito Timur Murung Raya Kapuas Jumlah Luas Lahan Potensial di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah Luas Ha 3.057.009 24.00 100% Tahun 2001 Tanam Panen 799.00 558.20 4. Lahan Pekarangan 2.25 45.809 9. Tegalan / Kebun 3.023 12.444.446.35 60. Luas daerah irigasi di WS Barito-Kapuas Kalimantan Tengah sebesar 148.00 137.00 1.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.505 No Jenis Penggunaan Tanah I Lahan Sawah 1.00 5.802.431 15. Ladang/Huma 4.139 189 42. Tabel 4.225 ha.970.552.899 10.121. peternakan dan perikanan memegang peran penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di Kalimantan Tengah.00 1.2.60 41.10 4.924.042. Pasang Surut 2.02 IV -33 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS .308 1.928 11.276 Luas Tanah (Ha) 2006 115. sub sektor tanaman pangan.100.509 15.017 2007 10.139 12.00 1. Sementara Tidak di Usahakan Bukan Lahan Sawah 1.20 1.00 148.845. Lain-lain Jumlah II 15. yang tersebar di lima kabupaten/kota.51 Tahun 2002 Tanam Panen 1.20 55.000.570.

Mengingat kebutuhan air yang paling besar adalah dari kebutuhan air untuk irigasi maka keperluan air baku lainnya dapat dipenuhi dari jumlah pasokan yang tersedia berdasarkan analisis waterbalance. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” terdiri dari empat kelas sebagai berikut : • Kelas satu. Volume air baku yang diperlukan dapat dimanfaatkan sekaligus dengan ketersediaan air yang direncanakan dari sungai baik skala besar maupun skala kecil. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum. air untuk mengairi pertanaman.3 Upaya Peningkatan Penyediaan Air Baku Upaya peningkatan penyediaan air baku dilakukan berdasarkan kebutuhan air yang meningkat dari proyeksi yang sudah dihitung terdahulu.1 Tolok Ukur Kualitas Air Tingkat pencemaran sungai. kegunaan tsb.4. • Kelas tiga. • Kelas empat. SMA yaitu suatu tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau baik dalam waktu tertentu dengan membandingkan terhadap baku mutu air. selain itu jumlah pengukuranpun lebih dari satu kali.(Persero) CABANG I MALANG 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -34 . peternakan. 4. air untuk mengairi pertanaman. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. peternakan. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. Agar SMA diketahui parameter kualitas air yang diukur harus mengikuti parameter yang ditentukan dalam kriteria.5. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman. pembudidayaan ikan air tawar. • Kelas dua.5 ANALISIS KUALITAS AIR 4. Sebagai gambararan status mutu air dari PP 82/2001 diuraikan dalam klasifikasi dan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001. dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tsb. dapat diketahui dengan caran menganalisis Status Mutu Air (SMA). dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan.

2 (-) 1 0.02 6-9 6 50 3 1 20 (-) 1 0.Mn mg/L.005 2 (-) (-) Bagi pengolahan air minum konvensional .1 mg/L Apabila secara alamiah diluar rentang tsb.03 0.NO 3 -N mg/L.Cr mg/L.2 Bagi pengolahan air minum konvensional.05 0.1 0.01 0.01 1 0.NH3 N mg/L.residu tersuspensi < 5000mg/L Satuan Kelas I II III IV Keterangan Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No.05 (-) 0.B mg/L.05 0.Se mg/L.Cl mg/L.20 Kritera Air” Parameter FISIKA Temperatur Residu Tersuspensi Residu Tersuspensi KIMIA ANORGANIK pH BOD COD DO Total fosfat. kimia dan biologi dijelaskan dalam tabel berikut : Tabel 4.05 0.2 (-) 1 0.03 (-) 0.Hg mg/L.Cu 6-9 2 10 6 0.Fe mg/L. As mg/L.NH 3 Besi Timbal Mangan Air Raksa Seng Khlorida Sianida mg/L. Cu < 1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional.002 0.05 0.02 6–9 3 25 4 0..CN 0.03 (-) 0.Ba Mg/L.2 1 1 0.(Persero) CABANG I MALANG Kadar masing-masing kelas berdasarkan parameter kualitas air fisika. Zn < 5 mg/L Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -35 . Pb < 0.05 0.2 (-) 1 0.Co mg/L. sbg. Fe < 5 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional .05 0.P Nitrat Amoniak Arsen Kobalt Barium Boron Selenium Kadmium Khrom (VI) Tembaga mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L.05 (-) 0.82/2001 Tentang”Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Angka batas minimum Bagi perikanan.2 10 (-) 1 0.02 (-) 1 (-) 0.Zn Mg/L.05 600 0.02 5-9 12 100 0 5 20 (-) 1 0.01 0.01 0.02 mg/l sbg.01 0.3 0.02 (-) 0.Cd Mg/L.001 0.002 0. maka ditentukan berdasarkan kondisi alamiah °C mg/L mg/L Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 50 Deviasi 3 1000 400 Deviasi Deviasi temperatur dari keadaan 5 alamiahnya 2000 Bagi pengolahan air minum 400 secara konvensional .05 0.2 10 0.02 (-) 0.5 0.Pb mg/L.amonia bebas utk ikan peka<0.

NO 2 -N < 1 mg/L Jml/100mL Jml/100mL 100 1000 1000 5000 2000 10. bahwa pada kelas tsb.1 1 0.merupakan nilai rentang yang tidak boleh kurang mL= mililiter Tersuspensi dan lebih Nilai DO merupakan batas Arti (-).82/2001 Tentang ”Pengelolan Air”(lanjutan) PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV Keterangan KIMIA ORGANIK Minyak dan Lemak μg/L 1000 1000 1000 (-) Detergent sbg MBAS μg/L 200 200 200 (-) Senyawa Fenol μg/L 1 1 1 (-) BHC μg/L 210 210 210 (-) Aldrien/Dieldrin μg/L 17 (-) (-) (-) Chlordane μg/L 3 (-) (-) (-) DDT μg/L 2 2 2 2 Heptachlor &H.1 mg/L Bagi pengolahan air minum konvensional.5 0.05 (-) 0.sbg N Sulfat Klorin Bebas Belerang sbg H2 S MIKROBIOLOGI Fecal coliform Total Coliform RADIOAKTIVITAS Gross A Gross B Mg/L.5 0.05 400 0.kecuali p H &DO Substance Logam berat merupakan logam p H. kunci harus diukur yang Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -36 .21 Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas dari PP No.1 1 0.03 0.F mg/L. agar dapat memberikan gambaran sejauh mana kondisi kualitas air sumber tersebut.1 1 Tabel 4.NO2-N mg/L.1 1 0.SO4 mg/L mg/L 0.03 0.Epoxide μg/L 18 (-) (-) (-) Lindane μg/L 56 (-) (-) (-) Methoxychlor μg/L 35 (-) (-) (-) Endrin μg/L 1 4 4 (-) Toxaphan μg/L 5 (-) (-) (-) Keterangan: Mg = milligram Bq = Bequerel MBAS=Methylene Blue Active μg = mikrogram Nilai diatas merupakan batas max.000 Bq/L Bq/L 0.000 2000 10. S sbg H 2 S < 0.000 jml/100 mL.002 (-) (-) (-) (-) (-) Bagi Air Baku Air Minum tidak dipersyaratkan Bagi pengolahan air minum konvensional . Bagi pengolahan air minum konvensional .parameter tsb.002 1.dan Total coliform < 10. kimia dan bakteriologi.05 (-) 0. Akan tetapi minimal parameter meliputi parameter fisika.tidak minimum dipersyaratkan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Secara ideal parameter kualitas air yang diukur harus sesuai dengan tabel diatas.(Persero) CABANG I MALANG Fluorida Nitrit.5 0.03 0.002 1.Fecal coliform < 2000 jml/100 mL .

5. Air yang keruh pada umumnya akan memiliki temperatur yang lebih tinggi.2 pH (tingkat keasaman) pH menunjukkan kadar asam atau basa dalam suatu larutan. Di samping itu suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. melalui konsentrasi ion Hidrogen H+. ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Di samping itu suhu yang tinggi juga akan menurunkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air.5°C – 28. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -37 . baik sungai Barito aaupun Sungai Kapuas masih memenuhi standar deviasi baku mutu yang dipersyaratkan.(Persero) CABANG I MALANG Parameter kunci kualitas air dijelaskan sebagai berikut : 4.3°C : 27.1. H+ tidak hanya merupakan unsur molekul H2O saja tetapi merupakan unsur banyak senyawa lain.5°C – 28. Dari Hasil uji sample di beberapa lokasi. Kenaikan temperatur sungai akan dapat menimbulkan akibat sebagai berikut : Menurunnya jumlah oksigen terlarut dalam air Meningkatnya kecepatan reaksi kimia. ikan dan hewan air akan mati karena kekurangan oksigen. hingga jumlah reaksi tanpa H+ dapat dikatakan sedikit saja. Rata-rata temperature air sungai dari beberapa titik pengujian pada tahap I dan II adalah sebagai berikut: Sungai Barito Sungai Kapuas : 27. Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air lainnya Jika batas suhu yang mematikan terlampaui. Ion hidrogen merupakan faktor utama untuk mengerti reaksi kimiawi karena: H+ selalu ada dalam keseimbangan dinamis dengan air/H2O. dan tingkat kekeruhan air.5.1 Temperatur (suhu) Temperatur air sungai sangat dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari.1. Akibatnya. yang membentuk suasana untuk semua reaksi kimiawi yang berkaitan dengan masalah pencemaran air dimana sumber ion hidrogen tidak pernah habis.6°C 4. Hal ini disebabkan partikel-partikel tersuspensi yang ada dalam air akan menyerap dan menahan panas dari sinar matahari sehingga mengakibatkan kenaikan temperatur.

pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum. pH tertinggi terdapat di Masaran sebesar 4.21 dan pH tekecil di Timpah Hulu sebesar 7. suasana air juga mempengaruhi beberapa hal lain. Hasil pengujian Ph dari sungai Barito dan Sungai Kapuas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Sungai Kapuas a) Tahap I. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. dan pH tekecil berada di lokasi 24 yaitu Laung Tuhup sebesar 6. Air adalah pelarut yang baik sekali. tidak asam/basa untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan distribusi air minum. pH tertinggi di Masaran sebesar 7. b) Tahap II.05 . pH air di lokasi pengambilan sampel semua di bawah baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. Air minum sebaiknya netral.32 .02 Nilai pH pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -38 . Peranan ion hidrogen tidak penting kalau zat pelarut bukan air melainkan molekul organis seperti alkohol bensin (hidrokarbon) dan lain-lain. misalnya kehidupan biologi dan mikrobiologi.46. pH air di lokasi pengambilan sampel rata-rata diatas baku mutu minimum yang dipersyaratkan yaitu 6. dapat melarutkan berbagai element kimia yang dilaluinya. b) Tahap II.24 dan pH tekecil berada di Kuala Kapuas sebesar 4. dan pH tekecil berada di lokasi 22 yaitu Tumbang Lahung sebesar 6. maka dibantu dengan pH yang tidak netral.01. pH tertinggi terdapat di lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 7. Sungai Barito a) Tahap I. pH tertinggi terdapat di lokasi 10 yaitu Kandui sebesar 7.87.(Persero) CABANG I MALANG Lewat aspek kimiawi. 2.

1.3 DHL (Daya Hantar Listrik) DHL (Daya hantar Listrik) adalah kemampuan dari larutan untuk menghantarkan arus listrik yang dinyatakan dalam satuan μmhos/cm atau μS. Hasil Pengujian Ph sungai Barito Gambar 4.16. Hasil Pengujian Ph sungai Kapuas 4. Kemampuan tersebut antara lain bergantung pada kadar zat terlarut yang mengion di dalam air. valensi dan suhu air.17.5. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -39 .(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. pergerakan ion.

2.64 μmhos/cm.36 μmhos/cm dan terendah di lokasi 12 yaitu Muara Teweh sebesar 16. DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 13 yaitu Muara Sungai Tewah sebesar 99. b) Tahap II. DHL tertinggi ditemukan di Lokasi 25 yaitu Jembatan Baliton sebesar 18.Kapuas sebesar 17. konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di K.18. Sungai Kapuas a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter DHL yaitu tidak dipersyaratkan.Tilu sebesar 95. Sungai Barito a) Tahap I. Adapun konsentrasi DHL di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. b) Tahap II.07 μmhos/cm dan terendah di lokasi 19 yaitu Sungai Lumuk sebesar 20.46 μmhos/cm Berikut adalah grafik DHL dari sungai Barito dan Sungai Kapuas: Gambar 4.68 μmhos/cm dan terendah di Kuala Kapuas sebesar 70.04 μmhos/cm. konsentrasi DHL tertinggi ditemukan di P.46 μmhos/cm.26 μmhos/cm dan terendah di Timpah sebesar 16. Konsentrasi DHL Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -40 .

F. Derajat konduktivitas air adalah sebanding dengan padatan terlarut total dalam air itu. Ca. Padatan terlarut total mencerminkan jumlah kepekatan padatan dalam suatu sampe air. NO3. Adapun nilai TDS di masing – masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -41 .1.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. B dan Silika. Konsentrasi DHL Sungai Kapuas 4. Bahan anorganik seperti ion-ion Na. Padatan ini terdiri dari senyawasenyawa organic dan anorganik yang terlarut di dalam air. Misalnya suatu sampel air dengan padatan terlarut total.4 TDS (Total Disolved Solid) / Partikel Terlarut Padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil dibandingkan dengan padatan tersuspensi. SO4. Fe.5. K. mineral dan garam-garamnya. Cl. Mg. Juga dinyatakan dalam milligram per liter atau ppm. Padatan terlarut total dapat lebih cepat ditentukan dengan mengukur daya hantar listrik sampel air. artinya dalam 1 liter air terdapat 200 mg padatan terlarut. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TDS yaitu 1000 mg/liter.19.

b) Tahap II. Sungai Barito a) Tahap I.(Persero) CABANG I MALANG 1. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Jembatan Pendang sebesar 68 mg/l.20. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. 2. konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. Sungai Kapuas a) Tahap I. Grafik Konsentrasi Total Disolved Solid Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -42 . konsentrasi zat padat terlarut di semua lokasi masih dibawah baku mutu. b) Tahap II. sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir sebesar 34 mg/l.Kapuas dan Mandomai sebesar 75 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 53 mg/liter. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di K. Gambar 4. Konsentrasi TDS tertinggi di Muara Sungai Tewah sebesar 77 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pelabuhan Hulu sebesar 31 mg/liter. Konsentrasi TDS tertinggi ditemukan di Mantangai sebesar 129 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Timpah sebesar 96 mg/liter.

misalnya tanah liat. sel-sel mikroorganisme dan sebagainya. bahan-bahan organik tertentu.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. terutama TSS dapat meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolam air dan akhirnya berpengaruh pada proses fotosintesis di perairan sehingga berdampak pada penurunan kandungan oksigen terlarut. Bahan-bahan tersuspensi dan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik.1. G r a f i k K o n s e n t r a s i Total Disolved Solid Sungai Kapuas Nilai TDS diperairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan batuan. Misalnya. namun jika berlebihan.5. tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap. sehingga mengakibatkan terjadinya penggumpalan yang kemudian diikuti dengan pengendapan. 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -43 . air permukaan mengandung tanah liat dalam bentuk suspensi yang dapat bertahan sampai berbulan-bulan. limpasan dari tanah dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri). terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen.21. kecuali jika keseimbangannya terganggu oleh zat-zat lain.5 TSS (Total Suspended Solid)/ Partikel Tersuspensi Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air.

Tumbang Lahung sebesar 11 mg/l. b) Tahap II. Sungai Barito a) Tahap I. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -44 . Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Masaran sebesar 321 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga akan mempengaruhi regenerasi oksigen serta fotosintesis. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di P. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Sungai Pendang yaitu sebesar 1831 mg/l. dan terendah di Mentangai sebesar 96 mg/l. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi TSS tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 169 mg/l. b) Tahap II. Sungai Kapuas a) Tahap I. dan konsentrasi TSS terendah di Sungai Tewah sebesar 75 mg/l. 2. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter TSS yaitu 50 mg/l.(Persero) CABANG I MALANG Jumlah padatan tersuspensi dalam air dapat diukur dengan Turbidimeter. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. kecuali di Jembatan Baliton sebesar 28 mg/l.Tilu sebesar 192 mg/l. Seperti halnya padatan terendap. Adapun konsentrasi TSS di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. konsentrasi TSS di semua lokasi pengambilan sampel melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Muara Teweh sebesar 49 mg/l dan Pelabuhan Buntok 35 mg/l. kecuali di Kuala Kapuas sebesar 37 mg/l.

karena kelotok/ speedboat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -45 .22.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Barito Gambar 4.23. Aktivitas masyarakat sekitar yang menggunakan sungai sebagai jalur transportasi juga dapat menyebabkan tingginya konsentrasi TSS. Hal ini mungkin disebabkan oleh aktivitas Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) yang menyedot emas di dasar sungai maupun akibat dari adanya erosi yang meningkat yang disebabkan banyaknya vegetasi di sekitar sungai yang hilang. Grafik Konsentrasi Total Suspended Solid Sungai Kapuas Secara umum di semua lokasi di Kalimantan Tengah konsentrasi TSS nya melebihi ambang batas yang dipersyaratkan.

Menurut Alabaster dan Loyd. Nilai BOD limbah industri dapat mencapai 25. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable). Bahan organik ini dapat berupa lemak.(Persero) CABANG I MALANG dapat mengakibatkan sedimen di sekitar sungai mengalami turbulensi akibat mesin kelotok. 1988). yang berperan sebagai sumber bahan organik adalah pembusukan tanaman. Pada tahap kedua. 1991). BOD merupakan gambaran kadar bahan organik. aldehida.80 81 . Dengan kata lain.22 Nilai TSS dan Pengaruh Terhadap Kepentingan Perikanan Nilai TSS (mg/l) < 25 25 . dalam keadaan tanpa cahaya (Boyd. protein. 1982 4.6 BOD5 (Biological Oxygen Demand) Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap. yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air (Davis dan Cornwell. Perairan yang memiliki nilai BOD lebih dari 10 mg/liter dianggap telah mengalami pencemaran. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -46 . Perairan alami memiliki nilai BOD antara 0. Pada perairan alami.0 mg/l (Jeffries dan Mills. ester dan sebagainya. 1982 kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan Nilai Padatan Tersuspensi (TSS) sebagaimana yang disajikan pada table berikut: Tabel 4. 1996). kanji. Secara tidak langsung.000 mg/l (UNESCO/WHO/UNEP. bahan anorganik yang tidak stabil mengalami oksidasi menjadi bahan anorganik yang lebih stabil. glukosa. Pada tahap pertama. BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikroba aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20° C selama lima hari. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik.5 – 7.400 > 400 Pengaruh Terhadap Kepentingan perikanan Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kepentingan perikanan Tidak baik bagi kepentingan perikanan Sumber: Alabaster dan Loyd.5. 1992).1.

Tilu sebesar 34 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Mandomai sebesar 9 mg/liter. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. Gambar 4. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 6.(Persero) CABANG I MALANG Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter BOD yaitu 3 mg/l.5 mg/liter 2. Sungai Kapuas a) Tahap I. b) Tahap II.6 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Pelabuhan Spead Boat Sukamara sebesar 3.2 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Hulu Jembatan Penyebrangan sebesar 5. Nilai BOD tertinggi ditemukan di P. Grafik Konsentrasi BOD Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -47 . Sungai Barito a) Tahap I. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 12 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Timpah sebesar 4 mg/liter. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan.3 mg/liter.24. konsentrasi limbah organik disemua lokasi melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Nilai BOD tertinggi ditemukan di Sukaramai Hulu sebesar 21. di semua lokasi konsentrasi limbah organik melebihi ambang batas. Adapun nilai BOD di masing –masing sungai sebagai berikut: 1. b) Tahap II.

(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.000 mg/l (UNESCO /WHO/ UNEP. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter COD yaitu 25 mg/l.5. sedangkan pada perairan yang tercemar dapat lebih dari 200 mg/l dan pada limbah industri dapat mencapai 60. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/l.7 COD (Chemical Oxygen Demand) COD menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. Grafik Konsentrasi BOD Sungai Kapuas 4. Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga dan industri. pabrik kertas dan industri makanan. baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O. misalnya pabrik bubur kertas (pulp). Pengukuran COD didasarkan pada kenyataan bahwa hampir semua bahan organic dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan bantuan oksidator kuat (kalium dikromat) dalam suasana asam.1. Adapun nilai COD di masing –masing sungai : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -48 . Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. 1992).25.

1 mg/l sedangkan nilai terendah di Jembatan Hasan Basri sebesar 5.1 mg/l. Bila dibandingkan dengan baku Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Sungai Tewah sebesar 27. Nilai COD tertinggi di Sungai Pendang sebesar 258.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Pendang sebesar 30.4 mg/l. Grafik Konsentrasi COD Sungai Kapuas 1.2 mg/l dan Sungai Pendang sebesar 258. Pelabuhan Buntok sebesar 120.27.5 mg/l.2 mg/.1 mg/l.2 mg/l.8 mg/l.2 mg/l. Sungai Barito a) Tahap I. Puruk Cahu Hilir sebesar 37. Bintang Linggi sebesar 170. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -49 . Sungai Lumuk sebesar 45.7 mg/l.26. Montalat sebesar 37.8 mg/l. Laung Tuhup sebesar 60. Grafik Konsentrasi COD Sungai Barito Gambar 4. Pelabuhan Hulu sebesar 82.

Pada suhu 200C dengan tekanan satu atmosfer konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -50 . Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer.Kapuas.5. sedangkan biota airdingin memerlukan oksigen terlarut mendekati jenuh. dan dari atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas. Nilai COD tertinggi ditemukan di P. Konserntarsi oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm.Tilu Mentangai. Nilai COD tertinggi ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 42.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II. dan yang sangat terkecil kebutuhuan oksigennya adalah bakteri. Biota air hangat memerkan oksigen terlarut minimal 5 ppm. b) Tahap II. dimana jumlah tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya.Cahu sebesar 27. Ikan merupakan makhluk air yang memerlukan oksigen tertinggi. Timpah. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku adalah Jembatan Baliton sebesar 36. Masaran Hulu dan Masaran Hilir.3 mg/l. Masaran.1 mg/liter. 2.3 mg/l.3 mg/liter sedangkan nilai terendah ditemukan di Puruk Cahu Hilir dan Laung Tuhup sebesar 12.1. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu adalah K.2 mg/l dan Pendang sebesar 33. Tumbang Lahung sebesar 42. Bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka lokasi yang nilai COD melebihi baku mutu yang dipersyaratkan adalah Kuala Kapuas sebesar 26 mg/l. Kehdupan makhluk hidup di dalam air tersebut sangat tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya.8 DO (Dissolved Oxygen) Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air.2 mg/l. Pelabuhan P. Jembatan Hasan Basri sebesar 27. nilai COD tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 26 mg/liter dan terendah ditemukan di Timpah sebesar 8.8 mg/liter.3 mg/liter dan terendah ditemukan di Mandomai sebesar 16.5 mg/liter. kemudian invertebrata. Sungai Kapuas a) Tahap I.3 Muara Teweh sebesar 30. P.2 mg/l. 4.Tilu sebesar 67. Oksigen terlarut (dissolved oxygen = DO) dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air.

sedangkan pada suhu 500C dengan tekanan atmosfer yang sama tingkat kejenuhannya hanya 5. Oksigen yang tersedia di dalam air di konsumsi oleh bakteri yang aktif memecah bahan-bahan tersebut. Adapun nilai DO di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -51 . Konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mempengaruhi ikanikan dan binatang air lainnya yang membutuhkan oksigen akan mati. Konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut selain dipengaruhi oleh jumlah bahan buangan juga dipengaruhi oleh jumlah air yang dicemari. pembekuan udang dan ikan. Polutan semacam ini berasal dari berbagai sumber seperti kotoran hewan maupun manusia.(Persero) CABANG I MALANG jenuh adalah 9. Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga mengakibatkan proses perkaratan semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam. Bahan-bahan buangan yang memerlukan oksigen terutama terdiri dari bahanbahan organik. dan sebagainya. pabrik kertas. Bahan-bahan tersebut terdiri dari bahan yang mudah dibusukkan atau dipecah oleh bakteri dengan adanya oksigen. Oleh karena itu pada waktu musim panas di mana air kali atau danau sedang surut.6 pp. dan mungkin beberapa bahan anorganik. semakin rendah tingkat kejenuhannya. tanaman-tanaman yang mati atau samah organik. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan yang mengkonsumsi oksigen. konsentrasi bahan-bahan buangan tersebut meningkat sehingga konsentrasi oksigen terlarut biasanya menurun. industri pemotongan daging.2 ppm. Oleh karena itu semakin tinggi kandungan bahan-bahan tersebut senakin berkurang konsentrasi oksigen terlarut. bahan-bahan buangan dari industri pengolahan pangan. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter oksigen terlarut yaitu minimum 4 mg/l. Semakin tinggi suhu air. industri penyamakan kulit. Air dikatakan sebagai air terpolusi jika konsentrasi oksigen terlarut menurun di bawah batas yang dibutuhkan untuk kehidupan biota.

konsentrasi oksigen terlarut di dalam air yang memenuhi standar baku mutu yaitu di Jembatan Baliton sebesar 5.28 mg/l. Pendang sebesar 4.17 mg/liter. Tumbang Lahung sebesar 4. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air kurang dari standar baku mutu yaitu di Pelabuhan Buntok sebesar 3.(Persero) CABANG I MALANG 1. Sungai Kapuas a) Tahap I. Bintang Linggi sebesar 3. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air pada umumnya belum memenuhi persyaratan. kecuali di Mandomai sebesar 4. Nilai DO terendah ditemukan di Laung Tuhup sebesar 3. Nilai DO tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 5.71 mg/l.54 mg/l. b) Tahap II. Sungai Pendang sebesar 3.77 mg/l.88 mg/l dan Muara Sungai Tewah sebesar 3.3 mg/l.44 mg/liter.63 mg/l.. b) Tahap II. Kalahien sebesar 3.08 mg/liter.57 mg/liter.32 mg/liter ditemukan di Mentangai. Nilai DO tertinggi sebesar 3. 2.75 mg/l. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -52 .Tilu sebesar 3.72 mg/l dan Pelabuhan Buntok sebesar 4. Sungai Barito a) Tahap I. Jembatan Hasan Basri sebesar 3. konsentrasi oksigen terlarut di dalam air belum memenuhi persyaratan. sedangkan nilai DO terendah ditemukan di P.39 mg/liter yang merupakan nilai DO tertinggi Nilai DO terendah ditemukan di Masaran Hulu sebesar 3.04 mg/l.

Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara amonia dan nitrat dan antara nitrat dan gas nitrogen. karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (sawyer dan McCarty.1. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrit yaitu 0.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. 1978).29. Adapun konsentrasi nitrit di masing –masing sungai sebagai berikut : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -53 . kadar nitrit sekitar 10 mg/l masih dapat ditolerir. Di perairan. Kadar nitrit yang lebih dari 0.28.001 mg/l dan sebaiknya tidak melebihi 0.06 mg/l (Canadian Council of Resource and Environment Minister.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif (Moore. Kadar nitrit pada perairan relatif kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat. 1991). Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0. Grafik Nilai DO Sungai Kapuas 4. Bagi manusia dan hewan.5. Sumber nitrit dapat berupa limbah industri dan limbah domestik.9 Nitrit (NO2) Di perairan alami. 1987). nitrit lebih toksik dari pada nitrat. nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dari pada nitrat. Untuk kepentingan peternakan. Grafik Nilai DO Sungai Barito Gambar 4.06 mg/liter.

Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di K. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu.30.Kapuas.001 mg/liter. Mentangai.002 mg/liter.006 mg/liter sedangkan terendah di Timpah Hulu konsentrasinya sebesar 0. Gambar 4. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu.003 mg/liter sedangkan di Kuala Kapuas. Sungai Barito a) Tahap I. Masaran dan Masaran Hulu konsentrasinya sebesar 0. 2. Sungai Kapuas a) Tahap I. Konsentrasi Nitrit tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0. b) Tahap II. Konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi Nitrit tertinggi di P.024 mg/liter. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -54 . Konsentrasi Nitrit di 24 (dua puluh empat) lokasi berkisar antara 0. Timpah dan Masaran sebesar 0.Tilu dan Timpah sebesar 0.(Persero) CABANG I MALANG 1.021 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Tumbang Lahung sebesar 0.012 mg/liter sampai dengan 0.013 mg/liter. konsentrasi Nitrit di semua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. b) Tahap II.

Pada perairan yang menerima limpasan air dari daerah pertanian yang banyak mengandung pupuk. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung pada kondisi aerob. yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming).1. Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Kadar nitrat-nitrogen yang lebih dari 0. terutama pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -55 . kadar nitrat dapat mencapai 1.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.1 mg/l. Grafik Konsentrasi Nitrit Sungai Kapuas 4.10 Nitrat (NO3) Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Kadar nitrat lebih dari 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah untuk mengikat oksigen.2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan.31. Kadar nitrat-nitrogen pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0.000 mg/l.5. Nitratnitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa-senyawa nitrogen di perairan. Kadar nitrat di perairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi dari kadar amonium. Namun` amonium lebih disukai tumbuhan. Nitrat dan amonium adalah sumber utama nitrogen di perairan.

Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Muara Teweh sebesar 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -56 .085 mg/liter.009 mg/liter.177 mg/liter.(Persero) CABANG I MALANG bayi yang berumur kurang dari lima bulan.116 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Pendang sebesar 0. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Nitrat yaitu 10 mg/liter Adapun konsentrasi nitrat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Sungai Barito a) Tahap I. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di P. Sungai Kapuas a) Tahap I.372 mg/liter.25 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di P.Tilu sebesar 0. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan yaitu sebesar 10 mg/liter untuk sungai kelas II. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Sungai Pendang sebesar 2.072 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Masaran sebesar 0. 1991. Konsentrasi Nitrat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 2.721 mg/liter sedangkan konsentrasi terendah ditemukan di Kandui sebesar 0. b) Tahap II. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu. Konsentrasi Nitrat disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan 2. Mason. Keadaan ini dikenal sebagai methamoglobinemia atau blue baby yang mengakibatkan kulit bayi berwarna kebiruan (cyanosis) (Davis an Cornwell. 1993). b) Tahap II.Tilu sebesar 0.

pH dan suhu . Proses denitrifikasi oleh aktivitas mikroba pada kondisi anaerob. pada proses pengolahan limbah juga dihasilkan gas amonia (Novotny dan Olem. Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati) oleh mikroba dan jamur. Proses ini dikenal dengan istilah amonifikasi. Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Kapuas 4.5.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.33. Ikan tidak dapat bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses peningkatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat mengakibatkan sufoksi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -57 . Tinja dari biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas metabolisme juga banyak mengeluarkan amonia.1. Ion amonium adalah bentuk dari transisi amonia. Grafik Konsentrasi Nitrat Sungai Barito Gambar 4. Sumber amonia yang lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer.11 Amoniak Bebas (NH3-N) Amonia (NH3) dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air. limbah industri dan domestik. Amonia banyak digunakan dalam proses reduksi urea. industri bahan kimia serta industri bubur kertas dan kertas.32. Toksisitas amonia terhadap mikroorganisme akuatik akan meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut. 1994). Amoniak yang tidak terionisasi bersifat toksik terhadap mikroorganisme akuatik.

341 mg/l.56 mg/l dan konsentrasi terendah di Puruk Cahu Hilir sebesar 0. 1978).371 mg/l dan konsentrasi terendah di Kalahien sebesar 0.02 mg/l.144 mg/l dan konsentrasi terendah di P.042 mg/l. Kadar amonia bebas yang tidak terionisasi (NH3) pada perairan tawar sebaiknya tidak lebih dari 0. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0.1 mg/l (McNelely et al.(Persero) CABANG I MALANG Kadar amonia bebas pada perairan alami biasanya kurang dari 0.068 mg/l. 2. Sungai Barito a) Tahap I. perairan bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan (Sawyer dan McCarty. 1979). b) Tahap II. Adapun konsentrasi amoniak di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.2 mg/l.. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Amoniak untuk sungai Kelas II tidak dipersyaratkan. Sungai Kapuas a) Tahap I. Kadar amonia yang tinggi dapat merupakan indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Jembatan Hasan Basri sebesar 0. industri dan limpasan (run-off) pupuk pertanian. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -58 . b) Tahap II. Jika kadar amonia bebas lebih dari 0.07 mg/l. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0. konsentrasi amoniak bebas tertinggi ditemukan di Lahei sebesar 0.Tilu sebesar 0.571 mg/l dan konsentrasi terendah di Masaran Hulu sebesar 0.

Keberadaan senyawa fosfat dalam air sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan.1. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kelestarian ekosistem perairan.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4.5. seperti pada air alam (< 0. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Kapuas 4. Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. pertumbuhan dan ganggang akan terhalang.01 mg P/L). seperti industri pencucian. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan.35. Sebaliknya bila kadar fosfat dalam air tinggi. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat untuk pertumbuhannya.12 Phospat (PO4) Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa ortofosfat. Polifosfat dapat memasuki sungai melaui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat. Grafik Konsentrasi Amoniak Bebas Sungai Barito Gambar 4. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Keadaan ini disebut oligotrop. sehingga dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut air. polifosfat dan fosfat organis. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut. pertumbuhan tanaman dan ganggang tidak terbatas lagi (keadaan eutrop). Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -59 . industri logam dan sebagainya. Bila kadar fosfat dalam air rendah.34.

2. kecuali di Bintang Linggi sebesar 0. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Sungai Barito a) Tahap I.452 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi dibandingkan dengan lokasi yang lain. bilamana dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan kecuali di Timpah Hulu sebesar 0.043 mg/liter Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -60 . b) Tahap II. Konsentrasi phospat terendah di Mentangai sebesar 0.011 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Muara Lahung sebesar 0. bilamana dibandingkan dengan baku mutu maka di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi phospat terendah ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 0.015 mg/liter. di semua lokasi nilai phospatnya di bawah baku mutu.2 mg/liter.(Persero) CABANG I MALANG Pencemaran Air untuk parameter phospat yaitu 0. Sungai Kapuas a) Tahap I. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Pelabuhan Puruk Cahu sebesar 0.011 mg/liter.22 mg/liter dan konsentrasi phospat terendah di Timpah sebesar 0.238 mg/l yang merupakan konsentrasi phospat tertinggi. b) Tahap II. Konsentrasi phospat tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 0.002 mg/liter. Adapun konsentrasi phospat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.

Ion sulfat yang telah diserap tumbuhan mengalami reduksi hingga menjadi bentuk sulfidril (SH) di dalam protein. cubanite (CuFe2S3). kertas. Sulfur oksida (SOx) dan hidrogen sulfida (H2S) merupakan sulfur dalam bentuk gas yang biasa ditemukan di atmosfer. molybdenite (MoS2). Atmosfer menerima sulfur dan berbagai sumber. Sulfat banyak digunakan dalam industri tekstil. Kerak bumi mengandung sulfur sekitar 260 mg/kg. sulfur dioksida. percikan air laut karena tiupan angin yang melepaskan sulfat. Di perairan. chalcopyrite (Cu2S). gregite (Fe3S4). 1992).(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. yaitu aktivitas bakteri yang melepas hidrogen sulfida.5. Sulfur anorganik terutama terdapat dalam bentuk sulfat yang merupakan bentuk sulfur utama di perairan dan tanah (Rao. penyamak kulit.36. pembakaran bahan bakar fosil yang melepaskan sulfur oksida. Sumber alami sulfat adalah bravoite {(NiFe)S2]. Beberapa bentuk sulfur di perairan adalah sulfida. metalurgi dan lain-lain. Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Kapuas 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -61 . Sulfur (S) berada dalam bentuk organik dan anorganik. sulfida oksida dan sulfat. Grafik Konsentrasi Phospat (PO4) Sungai Barito Gambar 4.1. dan pyrite (FeS2). serta aktivitas vulkanik yang melepaskan hidrogen sulfida. gypsum (CaSO4.13 Sulfat (SO4) Sulfur merupakan salah satu elemen yang esensial bagi makhluk hidup. sulfur berkaitan dengan ion hidrogen dan oksigen.2H2O). karena merupakan elemen penting dalam protoplasma.37. sulfit dan sulfat.

konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Laung Tuhup sebesar 9. b) Tahap II. Pada kondisi ini dapat menimbulkan permasalahan bau yang cukup serius. Sungai Barito a) Tahap I. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di P. H2S dapat menimbulkan bau seperti telur busuk. Sungai Kapuas a) Tahap I.098 mg/l. H2S juga dianggap sebagai salah satu penyebab karat pada logam.837 mg/l dan konsentrasi terendah di Sungai Lumuk sebesar 1. misalnya Clorobacteriaceae dan Thiorhodaceae dapat mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfur. toksisitas H2S meningkat dengan penurunan nilai pH.237 mg/l dan konsentrasi terendah di Kuala Kapuas sebesar 18.(Persero) CABANG I MALANG Reduksi pengurangan oksigen dan penambahan hidrogen anion sulfat menjadi hidrogen sulfida pada kondisi anaerob dalam proses dekomposisi bahan organik yang menimbulkan bau yang kurang sedap dan meningkatkan korosiftas logam.266 mg/l. Hidrogen sulfida yang dihasilkan kemudian dilepaskan ke atmosfer. Pada pH sekitar 5 sulfur terdapat bentuk H2S. Proses pembentukan karat ini disebabkan oleh keberadaan bakteri yang mampu mengoksidasi H2S menjadi H2SO4 secara berlimpah.Tilu sebesar 24. Beberapa bakteri. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -62 . Adapun konsentrasi sulfat di masing –masing sungai sebagai berikut : 1.771 mg/l dan konsentrasi terendah di Jembatan Baliton sebesar 0. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Muara Sungai Tewah sebesar 6. Terbentuknya asam kuat H2SO4 dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan korosifitas logam dan terjadinya karat.816 mg/l. Pada kondisi aerob. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Sulfat tidak dipersyaratkan. 2. Oleh karena itu. hidrogen sulfida segera dioksidasikan oleh bakteri Thiobacillus menjadi sulfat.

Gambar 4.789 mg/l. konsentrasi sulfat tertinggi ditemukan di Mandomai sebesar 8.38.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II.39.611 mg/l dan konsentrasi terendah di Mentangai sebesar 6. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Barito Gambar 4. Grafik Konsentrasi Sulfat Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -63 .

1989). Cinnabar sukar larut dalam air. karbon organik. bateri.1. baik pada kondisi aerob maupun anaerob. cat.(Persero) CABANG I MALANG 4. Pada perairan alami. 1991). kadar merkuri anorganik. juga mengandung merkuri. senyawa anti karat (anti fouling). fotografi dan elektronik (eckenfelder. akan terbentuk monometil merkuri. yakni hanya sekitar 0. Merkuri anorganik dapat mengalami transformasi menjadi dimetil merkuri dengan bantuan aktivitas mikroba. Merkuri terserap dalam bahan-bahan partikulat dan mengalami presipitasi. merkuri juga hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil. komponen listrk.5.14 Merkuri (Hg) Merkuri (Hg) adalah unsur renik pada kerak bumi. 1991). Pada perairan alami. Pada dasar perairan anaerobic merkuri berikatan dengan sulfur. 1978). pH dan suhu. akan terbentuk dimetil merkuri. Metil merkuri diangkut oleh sel darah merah dan dapat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -64 . ekstraksi emas dan perak. misalnya (ZnS). baik secara langsung ataupun melalui jala makanan(food web). Metil merkuri dapat mengalami bioakumulai dan biomagnifikasi pada biota perairan. Kadar merkuri pada perairan tawar alami berkisar antara 10-100 mg/liter. Sumber alami merkuri paling umum adalah cinnabar (HgS) (Novotny dan Olem. Garam-garam merkuri juga digunakan sebagai fumigan yang berperan sebagai pestisida (Sawyer dan McCarty. namun pelapukan bermacam-macam batuan dan erosi tanah dapat melepaskan merkuri ke dalam lingkungan perairan (McNeely et al. sedangkan pada perairan laut berkisar antara <10-30 mg/liter (Moore. Senyawa merkuri digunakan dalam pembuatan amalgam. gigi palsu. chalcopyrite (CuFeS) dan galena (PbS). wurtzite (ZnS)..1979. Selain itu.08 mg/liter (Moore. kadar monometil merkuridan dimetil merkuri dipengaruhi oleh keberadaan mikroba. sedangkan pada kadar merkuri anorganik yang tinggi. Senyawa merkuri bersifat sangat toksik bagi manusia dan hewan. Industri kimia yang memproduksi gas klorin dan asam klorida juga menggunakan merkuri. 1994). Pada kadar merkuri anorganik yang rendah. Merkuri merupakan satusatunya logam yang berada dalam bentuk cairan pada suhu normal. mineral sulfida. Garam-garam merkuri terserap dalam usus dan terakumulasi di dalam ginjal dan hati. Kedua bentuk senyawa metil merkuri tersebut dapatdipecah oleh bakteri yang hidup pada sedimen.

konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Mentangai sebesar 7.2 μg/liter. 2. untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena pada saat itu kondisi alat dalam keaadaan rusak.Kapuas sebesar 4.081 μg/liter.3 μg/liter (Moore.029 μg/liter. 1991). menunjukkan bahwa disemua lokasi pemantauan tidak terdeteksi kandungan Merkuri. untuk parameter merkuri tidak dilakukan pemeriksaan karena kondisi alat dalam keaadaan rusak . Konsentrasi merkuri tertinggi ditemukan di Sungai Tewah sebesar 0.(Persero) CABANG I MALANG mengakibatkan kerusakan pada otak. Adapun konsentrasi merkuri di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Senyawa merkuri bersifat toksik bagi ikan dan biota akuatik lain karena dapat mengalami biomagnifikasi pada jalan makanan. Sungai Kapuas a) Tahap I. kadar merkuri yang diperbolehkan tidak lebih dari 0. Berdasarkan hasil uji Laboratorium. 1991) Kadar merkuri pada air minum sebaiknya tidak melebihi 0. Organisme yang berada pada rantai yang paling tinggi (top carnivora) memiliki kadar merkuri yang lebih tinggi daripada organisme di bawahnya.Tilu sebesar 4. b) Tahap II. konsentrasi merkurinya masih dibawah baku mutu.002 mg/liter (Davis dan Cornell.1 μg/liter dan 0. Konsentrasi merkuri yang di atas baku mutu yaitu di K. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter merkuri yaitu 2 μg/l. Senyawa merkuri mengalami masa tinggal (retention time) yang cukup lama di dalam tubuh manusia. sedangkan untuk melindungi kehidupan organisme laut di European Community (EC). Mentangai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -65 . b) Tahap II. P. Sedangkan di 23 (dua puluh tiga) lokasi yang lain. Sungai Barito a) Tahap I.643 μg/liter. Untuk melindungi kehidupan organisme perairan di Kanada dan European Community (EC). kadar merkuri yang diperbolehkan berturut-turut adalah 0.5519 μg/liter yang mana konsentrasi merkuri tersebut melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Ion metil merkuri lima puluh kali lebih toksik dari pada garam-garam merkuri anorganik.

5. hanya beberapa μg/l.(Persero) CABANG I MALANG sebesar 7.161 μg/liter Gambar 4. Masaran sebesar 2.567 μg/liter dan Masaran Hulu sebesar 2.029 μg/liter. Keberadaan fenol di perairan mengakibatkan perubahan sifat organoleptik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -66 . industri kimia.15 Fenol Senyawa fenol merupakan senyawa aromatik dengan satu atau beberapa gugus hidroksil yang terikat secara langsung pada cincin benzene.40. kayu lapis.286 μg/liter. Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Barito Gambar 4. tekstil. Timpah sebesar 3. Senyawa fenol dihasilkan dari proses pemurnian minyak. Grafik Konsentrasi Merkuri (Hg) Sungai Kapuas 4. Kadar alami fenol di perairan sangat kecil.1.41.

1992).42. Gambar 4. Konsentrasi tertinggi terdapat di Mentangai sebesar 0. Konsentrasi tertinggi terdapat di Masaran sebesar 0. Adapun konsentrasi phenol di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Jembatan Hasan Basri dan Muara Teweh yang konsentrasi fenolnya tidak terdeteksi. Pelabuhan Hulu.18 mg/liter 2. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Kalahien sebesar 0.072 mg/ liter dan konsentrasi terendah di Timpah Hulu sebesar 0. Konsentrasi Fenol tertinggi terdapat di Muara Teweh sebesar 0. kecuali di Baru Hilir/Buntok. konsentrasi terendah di Tumbang Lahung sebesar 0. sehingga kadar fenol yang diperkenankan terdapat pada air minum adalah 0.05 mg/liter.001 mg/l. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Phenol yaitu 0.26 mg/ l.25 mg/ liter. b) Tahap II. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Pada kadar yang lebih tinggi dari 0. konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.003 mg/liter. Konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -67 .Tilu sebesar 0.001 mg/l.312 mg/ liter dan konsentrasi terendah di P.(Persero) CABANG I MALANG air. Sungai Kapuas a) Tahap I. Sungai Barito a) Tahap I. konsentrasi Fenol disemua lokasi melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.01 mg/l fenol bersifat toksik bagi ikan (UNESCO/WHO/UNEP. b) Tahap II.

16 Minyak / Lemak Minyak dan lemak yang mencemari lingkungan sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan. Sungai Lumuk sebesar 2 mg/l dan Muara Lahung sebesar 2 mg/l melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Grafik Konsentrasi Fenol Sungai Kapuas 4.5. pengeboran minyak dan buangan pabrik.1. Air yang diperuntukkan bagi keperluan domestik sebaiknya bebas dari kandungan oil (minyak) dan grase (lemak) karena air dengan kadar minyak relatif tinggi menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Adapun konsentrasi Minyak/Lemak di masing – masing sungai sebagai berikut : 1. Minyak yang terdapat di dalam air berasal dari berbagai sumber. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -68 .43. diantaranya dari pembersihan dan pencucian kapal. Puruk cahu sebesar 5 mg/l. Kandui sebesar 2 mg/l. Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata. Puruk Cahu Hilir sebesar 3 mg/l. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Minyak/Lemak yaitu 1 mg/l. konsentrasi minyak/lemak di Bintang Linggi sebesar 2 mg/liter. Sungai Barito a) Tahap I. yaitu padatan yang mengapung di atas permukaan air.

Sedangkan di lokasi lainnya konsentrasi minyak/lemak tidak ternyata. Masaran sebesar 4 mg/liter dan Masaran Hulu sebesar 6 mg/liter. Sungai Kapuas a) Tahap I. konsentrasi minyak/lemak tertinggi berada di Pelabuhan Buntok sebesar 4 mg/l dan konsentrasi terendah di Pelabuhan P. konsentrasi minyak/lemak disemua lokasi melebihi ambang batas. Konsentrasi ini melebihi ambang batas. Konsentrasi Minyak/Lemak tertinggi berada di K. b) Tahap II.44. Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -69 .Cahu dan Muara Teweh sebesar 1 mg/l. 2.Kapuas sebesar 9 mg/liter dan terendah di Timpah Hulu sebesar 2 mg/l. Gambar 4. konsentrasi Minyak/Lemak di Kuala Kapuas sebesar 1 mg/liter.(Persero) CABANG I MALANG b) Tahap II.

Surfaktan di dalam deterjen berfungsi sebagai bahan pembasah yang menyebabkan menurunnya tegangan permukaan air sehingga air lebih mudah meresap ke dalam kain yang dicuci.17 Deterjen Deterjen dalam arti luas adalah bahan yang digunakan sebagai pembersih.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Sifat alkali tersebut penting untuk menghilangkan kotoran secara efektif.5. Polusi air yang disebabkan oleh penggunaan deterjen terutama menyangkut masalah surfaktan dan bahan pembentuk. Surfaktan yang banyak digunakan pada saat ini berbeda dengan yang digunakan beberapa tahun yang lalu. Bahan pembentuk yang umum digunakan adalah polifosfat. Surfaktan merupakan bahan pembersih utama yang terdapat di dalam deterjen. Komposisi kimia deterjen terdiri dari bermacam-macam komponen yang dapat dikelompokkan menjadi tiga grup yaitu surfaktan. Definisi yang lebih spesifik dari deterjen adalah bahan pembersih yang mengandung senyawa petrokimia atau surfaktan sintetik lainnya.1. termasuk sabun cuci piring alkali dan cairan pembersih. Bahan pembentuk di dalam deterjen mengalami reaksi hidrolisis dengan air pencuci yang mengakibatkan air menjadi bersifat alkali. bahan pembentuk dan bahan lain-lain. Perbedaan utama adalah karena yang digunakan pada saat ini mempunyai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -70 . Konsentrasi Minyak/Lemak Sungai Kapuas 4.45.

Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Sungai Lumuk sebesar 0.035 mg/liter dan konsentrasi deterjen terendah di Mentangai 0.029 mg/liter.03 mg/liter. yaitu dapat dipecah menjadi senyawa-senyawa sederhana oleh bakteri yang terdapat di lingkungan. Sungai Barito a) Tahap I. konsentrasi deterjen yang melebihi baku mutu adalah di Masaran sebesar 0.05 mg/liter. konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu.254 mg/l 2. sedangkan surfaktan yang digunakan sebelum tahun 1965 tidak dapat dipecah oleh bakteri sehingga terdapat dalam bentuk tetap tidak berubah dalam jangka waktu lama di lingkungan.342 mg/liter. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -71 . Sungai Kapuas a) Tahap I. Sedangkan konsentrasi deterjen terendah di P. b) Tahap II.308 mg/l dan Masaran Hulu sebesar 0. b) Tahap II. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Kuala Kapuas sebesar 0. Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan.(Persero) CABANG I MALANG sifat dapat dipecah secara biologis (biodegradable).563 mg/l dan konsentrasi deterjen terendah di Pelabuhan Buntok sebesar 0. Adapun konsentrasi deterjen di masing –masing sungai sebagai berikut : 1. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter deterjen yaitu 0. Konsentrasi deterjen tertinggi ditemukan di Muara Lahung sebesar 0.Tilu sebesar 0. Konsentrasi deterjen disemua lokasi masih diatas baku mutu yang dipersyaratkan. Ada 10 (sepuluh) lokasi yang lain konsentrasi deterjen tidak terdeteksi.042 mg/liter.

47.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -72 . Grafik Konsentrasi Deterjen Sungai Barito Gambar 4.46.

Timpah Hulu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml. Sungai Kapuas a) Tahap I. P. Gambar 4. Sungai Barito a) Tahap I.1.18 Fecal Coli Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Fecal Coli tidak dipersyaratkan. konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml. b) Tahap II. Mentangai.Tilu. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -73 . 2. konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. konsentrasi Fecal Coli tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 240 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml. Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml. b) Tahap II.5. Adapun konsentrasi Fecal Coli di masing – masing sungai sebagai berikut : 1.48.(Persero) CABANG I MALANG 4. konsentrasi Fecal Coli tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas.

bakteri inilah yang paling ekonomis dapat digunakan untuk kepentingan tersebut.49.19 Total Coliform Jumlah perkiraan terdekat (JPT) bakteri coliform/100 cc air digunakan sebagai indikator kelompok mikrobiologis.1. tetapi sampai saat ini.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Bintang linggi sebesar 300 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Pendang 2 APM/100 ml. Grafik Konsentrasi Fecal Coli Sungai Kapuas 4. yang menunjukkan telah terjadinya pencemaran tinja pada sungai tersebut dan dapat menyebabkan penyakit diare. Mayoritas sungai yang terdapat di kota padat penduduk seperti di Pulau Jawa cenderung lebih tercemar oleh bakteri coliform dan fecal coli. Hal ini tentunya tidak terlalu tepat. Adapun konsentrasi Total Coliform di masing –masing sungai sebagai berikut: 1. Sungai Barito a) Tahap I. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -74 .5. Baku mutu air kelas II berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk parameter Total Coliform tidak dipersyaratkan.

Tilu dan Masaran Hilir sebesar < 2 APM/100 ml. konsentrasi Total Coliform tertinggi ditemukan di Muara Lahung dan Pendang sebesar 13 APM/100 ml sedangkan konsentrasi Fecal Coli terendah di Tumbang Lahung sebesar 2 APM/100 ml. Gambar 4. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -75 . b) Tahap II. 2. P. Timpah dan Masaran Hulu sebesar 2 APM/100 ml.(Persero) CABANG I MALANG b)Tahap II. Sungai Kapuas a) Tahap I. konsentrasi Total Coliform tertinggi di Timpah sebesar 240 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Kuala Kapuas. konsentrasi Total Coliform tertinggi di Masaran sebesar 6 APM/100 ml dan konsentrasi Fecal Coli terendah di Mentangai.50.

5. Hal ini disebabkan persamaanpersamaan matematis yang dipergunakan untuk menghitung Pollution Indeks (PI) mempersyaratkan hal tersebut. kelas tiga dan kelas empat. Grafik Konsentrasi Total Coliform Sungai Kapuas 4.2 Status Mutu Air (SMA) Status Mutu Air (SMA) dapat diketahui dengan cara membandingkan kualitas air hasil pengukuran dengan Kriteria Mutu Air dari PP 82/2001. sedangkan untuk parameter yang tidak terdeteksi keberadaanya dan besarannya tidak dipersyaratkan dalam baku mutu tidak akan dilakukan perhitungan. hanya diambil paramater-paremeter yang terdeteksi keberadaannya dan dipersyaratkan dalam baku mutu. Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam Baku Peruntukan Air (j). kelas dua. Tujuan perhitungan Pollution Indeks (PI) adalah untuk menggambarkan secara utuh kualitas air sungai yang ada di lokasi studi. Penentuan Status Mutu Air dengan menggunakan Metode Polutant Index.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 4. yaitu Kelas satu. tentang “Pengelolan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air” yang terdiri dari empat kelas. Dari seluruh parameter yang diuji.51. maka dalam penentuan Pollution Indeks (PI) ini. Prosedur perhitungan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. dan Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang diperoleh dari hasil analisis cuplikan air pada suatu lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -76 .

Bilamana Nilai Lij memiliki Rentang : Untuk Ci ≤ Lijrata-rata (Ci / Lij ) baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) min imum − ( Lij ) rata − rata ] Untuk Ci ≥ Lij rata-rata (Ci / Lij )baru = [Ci − ( Lij ) rata − rata ] [( Lij ) maksimum − ( Lij ) rata − rata ] Penggunaan nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran kalau nilai ini lebih keci dari 1.(Persero) CABANG I MALANG pengambilan cuplikan dari suatu alur sungai. maka ditentukan nilai teoritik atau nilai maksimum Cim (misal untuk DO. Bilamana nilai konsentrasi parameter yang menurun menyatakan tingkat pencemaran meningkat. Menentukan nilai rata-rata dan nilai maksimum dari keseluruhan Ci/Lij. 3. Memilih parameter-parameter yang jika harga parameter rendah maka kualitas air akan membaik. Menghitung harga Ci/Lij untuk tiap parameter pada setiap lokasi pengambilan cuplikan.0. Memilih konsentrasi parameter baku mutu yang tidak memiliki rentang. yaitu : (Ci / Lij ) baru = Cim − Ci(hasil Pengukuran) Cim − Lij 5. makaPIj ini dapat ditentukan dengan cara : 1. 2. 6. Dalam kasus ini nilai Ci/Lij hasil pengukuran digantikan oleh nilai Ci/Lij hasil perhitungan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -77 .log(Ci/Lij)hasil pengukuran P adalah konstanta dan nilainya ditentukan dengan bebas dan disesuaikan dengan hasil pengamatan lingkungan dan atau persyaratan yang dikehendaki untuk suatu peruntukan (biasanya digunakan nilai 5).0. (Ci/Lij)baru = 1. maka Cim merupakan nilai DO jenuh). Penggunaan nilai (Ci/Lij)baru jika nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran lebih besar dari 1. misal DO. 4.0+P. maka PIj adalah Indeks Pencemaran bagi peruntukkan (j) yang merupakan fungsi dari Ci/Lij. ((Ci/Lij)R dan (Ci/Lij)M).

0 ≤ PI ≤ 10 10 ≤ PI ≤ 15 tabel berikut : : Memenuhi Baku Mutu : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Berat Hasil perhitungan Pollutant Index.0 ≤ PI ≤ 5. Menentukan harga PIj (Ci / Clj ) M 2 + (Ci / Lij ) 2 R 2 Pl j = Evaluasi terhadap Nilai PI adalah : 0 ≤ PI ≤ 1.0 5.0 1. masing-masing sungai disajikan pada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -78 .(Persero) CABANG I MALANG 7.

23 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -79 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

24 Perhitungan Pollutant Index Sungai Barito Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -80 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.25 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap I Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -81 .

26 Perhitungan Pollutant Index Sungai Kapuas Tahap II Tahun 2007 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -82 .(Persero) CABANG I MALANG Tabel 4.

Lokasi 12 : Muara Teweh : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 10 : Kandui . Tahap II (September 2007) .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok .Lokasi 15 : Lahei . Sungai Barito Tahap I (Juni 2007) .Lokasi 12 : Muara Teweh .(Persero) CABANG I MALANG Dari hasil perhitungan di atas.Lokasi 17 : Puruk Cahu .Lokasi 5 : Kalahien .Lokasi 4 : Pelabuhan Hulu .Lokasi 9 : Montalat .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 24 : Laung Tuhup .Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 23 : Muara Lahung .Lokasi 13 : Muara Sungai Tewah .Lokasi 16 : Muara Lahei .Lokasi 2 : Baru .Lokasi 7 : Sungai Pendang . dapat dikemukakan bahwa kualitas air di masing-masing sungai adalah : 1.Lokasi 8 : Bintang Linggi .Lokasi 14 : Sungai Tewah .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 18 : Puruk Cahu Hilir .Lokasi 21 : Jembatan Penyebrangan : Cemar Ringan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -83 .Lokasi 20 : Sungai Lumuk Hulu .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 24 : Laung Tuhup b.Lokasi 26 : Pelabuhan Puruk Cahu : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan .Lokasi 22 : Tumbang Lahung .Lokasi 1 : Baru Hilir / Buntok .Lokasi 19 : Sungai Lumuk .Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Memenuhi Baku Mutu .Lokasi 25 : Jembatan Bahitom .

Lokasi 6 : Pendang .Lokasi 3 : Mentangai .Lokasi 2 : P. pada umumnya berasal dari kegiatan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI).Lokasi 1 : K. maka mutu air di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : . Tahap II (Oktober 2007) .Lokasi 5 : Masaran . Kapuas .Lokasi 3 : Pelabuhan Buntok 2.Lokasi 5 : Masaran .Lokasi 6 : Masaran Hulu b.Lokasi 6 : Masaran Hulu .Sungai Barito : PI = 3.(Persero) CABANG I MALANG . maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a Salah satu prosedur penting dalam proses pengelolaan kualitas air adalah melaksanakan pemantauan air secara kontinyu dan berkesinambungan.Lokasi 1 : K. Tilu . Sungai Kapuas a.Sungai Kapuas : PI = 3.Lokasi 11 : Jembatan Hasan Basri : Cemar Ringan .7217 (Cemar Ringan) d Sumber utama pencemaran yang mengakibatkan penurunan kualitas air sungai.Lokasi 9 : Mandomai : Cemar Ringan : Cemar Sedang : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan : Cemar Ringan Dari uraian dan pembahasan tersebut di atas. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -84 . Kapuas . Tahap I (Juni 2007) : .Lokasi 2 : P.Lokasi 4 : Timpah .Lokasi 4 : Timpah .Lokasi 3 : Mentangai . b Hasil pemantauan memberikan informasi faktual tentang kondisi (status) lingkungan masa sekarang dan kecenderungan kondisi masa lalu serta prediksi masa datang.54 (Cemar Ringan) .Lokasi 7 : Masaran Hilir . c Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau). Tilu .Lokasi 8 : Timpah Hulu .

sehingga masih terdapat sumber air minum yang tidak terlindung.5.3 Permasalahan Lingkungan Beberapa hal yang berakibat pada permasalahan lingkungan di WS BaritoKapuas diantaranya : Belum terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) penduduk secara terpusat Sarana pengolahan limbah tinja penduduk dengan menggunakan tangki septik terbatas dan terdapat sebagian membuang kotoran ke sungai. konsekwensinya sumber air minum penduduk sangat beragam. walaupun dari segi bakteriologi tidak dapat diulas.(Persero) CABANG I MALANG limbah organik dari kegiatan rumah tangga. kegiatan industri dan pertanian yang ada disepanjang sungai yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah 4. Cakupan PDAM untuk melayani air bersih penduduk terbatas.4 Prediksi Kualitas Air WS Barito – Kapuas Berdasarkan tiga kali pengukuran dari kegiatan studi sebelumnya maupun pengukuran oleh Balai Barito-Kapuas Ciwulan. namun seperti sungai besar lainnya kemungkinan tidak memenuhi untuk air Kelas 1. Prediksi kualitas air kedepan apabila tanpa dilakukan pengelolaan areal pertanian dan pengolahan limbah penduduk maka kualitas air WS BaritoKapuas diduga lebih memburuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -85 . maka Kualitas air dari segi sedimentasi atau indikator erosi sangat dominan Nilai COD dan BOD di beberapa lokasi masih lebih tinggi dari nilai baku Mutu Air. 4.5. Kemungkinan pencemaran terjadi karen adanya buangan limbah penduduk. ini merupakan indikator bahwa air sungai Barito di beberapa titik pengambilan sampel telah mengalami pencemaran. tanah dsb.

36 Rm (Rain)m R = Erosivitas curah hujan bulanan rata-rata (EI30) = Jumlah curah hujan bulanan rata-rata dalam cm = Erosivitas curah hujan tahunan rata-rata = jumlah Rm selama 12 bulan. Indeks pengelolaan tanaman (C) dan indeks pengawetan tanah (P) serta nilai indeks erodibilitas tanah (ketiganya merupakan nilai tertimbang) diperoleh dari tabel yang memuat nilai K.21 x (Rain)m1. Rumus umum dari persamaan tersebut adalah: A = R x K x LS x C x P A R K = Erosi aktual (ton/ha/th) = faktor indeks erosivitas hujan = faktor indeks erodibilitas tanah LS = faktor indeks panjang dan kemiringan lereng C P = faktor indeks pengelolaan tanaman = faktor indeks pengawetan tanah Indeks erosivitas hujan diperoleh dengan menggunakan rumus Lenvain yaitu: Rm = 2. Jenis erosi yang kedua ini umumnya yang menjadi permasalahan utama pada kawasan daerah aliran sungai. Besarnya erosi yang terjadi dihitung berdasarkan satuan Sub DAS dengan menggunakan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation) dari Wischmeier dan Smith (1965).(Persero) CABANG I MALANG 4. dan CP untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -86 . Faktor indeks panjang dan kemiringan lereng dihitung dengan menggunakan rumus dan nomograf. yaitu (a) erosi geologi (geological erosion) akibat proses alamiah yang berjalan secara normal jika pembentukan tanah lebih besar dari kehilangan tanah dan (b) erosi dipercepat (accelerated erosion) akibat aktivitas manusia pada permukaan tanah yang menyebabkan pembentukan tanah lebih kecil dari kehilangan tanah.1 Erosi dan Sedimen Secara umum proses erosi terdiri atas dua jenis.6 ANALISIS KONSERVASI LAHAN DAN AIR 4. suatu prosedur penghitungan erosi yang umum dilakukan di Indonesia.6.

(Persero) CABANG I MALANG tanah. dan lereng dapat diasumsikan sama untuk jangka prediksi 20 tahun. jarang sekali ada penelitian erosi yang berkelanjutan pada satu DAS sehingga menyebabkan data time series erosi menjadi tidak tersedia. Dari lima faktor yang mempengaruhi erosi sebagaimana yang ditulis pada rumus USLE.5 untuk pemukiman.0987 Y = sedimentasi dalam mm/tahun X = besarnya erosi dalam ton/ha/tahun Persamaan tersebut di atas cocok digunakan untuk menentukan besarnya sedimen yang terjadi untuk kawasan DAS yang terdapat di Pulau Kalimantan dan digunakan oleh BPDAS dalam menghitung besarnya sedimentasi. Sungguhpun demikian. Sudah diketahui bahwa hutan yang utuh sangat Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -87 . faktor penutupan lahan dan pengelolaan tanah bersifat dinamis perubahannya. Aspek tata ruang yang selalu diperbaharui sesuai dengan perencanaan Pemerintah Daerah sangat menentukan penutupan lahan.2 Prediksi Erosi dan Sedimentasi Pada dasarnya. Akan tetapi.0001 untuk sawah menjadi 0. Analisis sedimentasi yang digunakan didasarkan pada rumus hasil penelitian Al Khadimi (1981) yang dikembangkan oleh DPMA (1987) melalui persamaan sebagai berikut: Y = 0. prediksi besarnya erosi di masa yang akan datang merupakan aspek penting dalam perencanaan konservasi Daerah Aliran Sungai. Salah satu contoh perubahan penutupan lahan dan pengolahan tanah adalah konversi sawah menjadi pemukiman akan mengubah indeks CP dari 0. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap penutupan lahan adalah tingginya kerusakan hutan akibat pembalakan hutan serta meningkatnya luasan lahan kritis sepanjang tahun.006607X1. erodibilitas tanah.6. tanaman dan pengawetan tanah. Nilai tersebut merupakan nilai empiris dari hasil penelitian lapangan pada berbagai tempat. tiga faktor yaitu erosivitas. Adapun data yang digunakan untuk menghitung setiap komponen rumus USLE tersebut diperoleh dari data sekunder. 4.

4. Unsur dari masyarakat adalah sekelompok masyarakat. Institusi pengelola sumberdaya air antara lain adalah pengusaha/kelompok pengusaha. berhak memungut iuran dari para pemanfaat dan menerima kontribusi dari Pemerintah (untuk pembiayaan yang ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat dan keselamatan umum) dan berkewajiban memberi pelayanan prima dan mengupayakan penigkatanperan serta masyarakat dan swasta dalam melakukan pengelolaan wilayah sungai serta mempertanggung-jawabkan pelaksanaan tugas kepada Pemerinatah dan msayarakat.7 ANALISIS KELEMBAGAAN 4.1 Peranan Kelembagaan Kelembagaan pengelolaan sumber daya air berasal dari unsur Pemerintah. pemerhati atau akademisi yang berkaitan dan concern dengan pengembangan sumberdaya air. badan usaha milik daerah atau milik negara maupun swasta yang bergerak dalam bidang sumberdaya air. unsur Institusi Pengelola sumberdaya air dan dari unsur masyarakat.7. Selaku oerator yang memperoleh konsesi untuk mengelola sumberdaya air dan prasarana pengairan bertugas melaksanakan pengelolaan wilayah sungai dan mengembangkan sistem pengelolaan sungai.(Persero) CABANG I MALANG berperan dalam mengurangi besarnya aliran permukaan yang pada akhirnya berdampak kepada erosi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -88 . Pemerintah selaku owner (pemilik) sumberdaya air dan prasarana pengairan. mempunyai fungsi pengaturan dan kebijakan baik pada tingkat Nasional (Makro) maupun tingkat daerah (Operasional) dan bertugas melaksanakan kegiatan yang terkait dengan kewenangan publik. Selaku pemanfaat mempunyai hak memperoleh pelayanan yang baik dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan namun diharapkan dapat menggunakan air secara efisien dan ikut menjaga kelestarian lingkungan serta wajib memberikan kontribusi pembiayaan dan kontrol sosial yang positip atas pengelolaan wailayah sungai. berhak memperoleh sebagian laba bersih dari institusi pengelola dan berkewajiban memberikan kontribusi untuk membiayai kegiatan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum.

Per Men PU No 11A/PRT/M/2006) dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum. Provinsi dan Kabupaten 4. Wilayah sungai Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -89 .DAG I R BAPPEN AS M ENEG .LH D EP KEH TAN U AN D EP PERTAN IAN D ITJENSD A D EKTO AT IR R Bina Program D EKTO AT IR R PSD A DIR EKTO AT R Irigasi D EKTO AT IR R Raw Pantai a DIREKTO AT R SU AW D A PR PIN O SI G BER U U NR Pem binaan teknis dan penelitian PTPA BAPPED A Perencanaan W ilayah Sungai BAPPELD A ALD D AS IN D AS IN DIN PEN AIR AS G AN U Perencanaan nit O w P ilayah sungai Konsultasi Tata Ruang BALAI PSD (PPTPA) A KETER AN ANG : BU PATI Perintah Perw akilan Pengguna/ Kom unikasi Pem binaan P3A D INASPUPEN AIR G AN KABU PATEN Konsultasi Gambar 4.(Persero) CABANG I MALANG Gambar dibawah memperlihatkan Instansi kelembagaan dari unsur pemerintah yang terlibat dalam perencanaan/pengelolaan sumber daya air wilayah sungai mulai dari pemerintah/instansi pusat sampai dengan unsur pemerintah/instansi kabupaten.7. Kelembagaan pengelolaan SDA level Pusat. PU T SA PU D EP.52.2 Kelembagaan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas Wilayah sungai Barito-Kapuas merupakan wilayah sungai yang pengelolaannya ditangani oleh Balai Besar Wilayah Sungai Kalimantan II ( Kode A2-18.

108 tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah. ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan pengelolaan. No.7.1 Pendekatan Menyeluruh dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector).3 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4. (antar instream-offstream. Pengelolaan SDA Provinsi tercermin dalam Rencana Strategis masing-masing Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah No. yang diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai. Beberapa Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan Sumber Daya Air Provinsi khususnya Kalimantan Selatan telah disusun Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No.(Persero) CABANG I MALANG merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. 18 tahun 1995 tentang RTRW 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -90 . Dalam tahun-tahun belakangan ini. lingkungan (konservasi generasi).3. menyeluruh berkelanjutan (hulu-hilir. berwawasan kuantitas-kualitas). suatu pendekatan regional dalam pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dan kaitannya dengan tata ruang wilayah. Peraturan Daerah tentang Sumber Daya Air yang dibuat disusun berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.3 tahun 1999 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah yang diperbaharui dengan Peraturan Daerah No 9 Tahun 2000 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Tengah. 1 Tahun 1994 tentang RTRW Kabupaten Barito Kuala yang diperbaharui dengan Perda Kabupaten Barito Kuala. oleh karenanya perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. Sedangkan untuk wilayah hilir sungai Barito-Kapuas yang masuk wilayah Kalimantan Selatan terkait dengan beberapa Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala yaitu Perda No.7.

Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Serawak dan Malaysia). mengontrol penggunaan sumber daya air. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan yang dapat menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. masalah hukum. 4. juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. Departemen-departemen ini juga mengalokasikan biaya (budget) untuk pengembangan sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG Suatu pendekatan kewilayahan dapat memberikan perhatian. Pendekatan ini telah mengarah pada definisi batas wilayah sungai dan pada beberapa sungai pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. Perencanaan sumber daya air salah satunya dapat berupa program komprehensif pengembangan sumber daya air untuk jangka pendek dan jangka panjang. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -91 . Keterlibatan penggunaan berbagai sektor kebutuhan air dapat menyebabkan konflik untuk penggunaan sumber daya air. harus memperkirakan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya di masa mendatang. 3. mengontrol kualitas sumber daya air. badan perencanaan bertugas merencanakan. Pihak lainnya dilibatkan dalam hal koordinasi perencanaan. Pada tingkat pusat. 2. yang bertanggung jawab kepada Provinsi. dan mengatur alokasi air. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. pengawasan. mengatur. untuk mensosialisasikan proyek dan tujuannya. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. seperti dari Eropa (Republik Checz. alokasi. mengontrol akses ke sumber daya air. Definisi fungsi institusi yang mewakili pemerintah pusat adalah sebagai berikut: 1. institusi dan legislatif. penegakan hukum. Mengadakan seminar informasi dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). seperti seminar.

Komite ini terdiri dari pihak lain yang terkait. kontrol kualitas sumber daya air. Hal ini dibagi berdasarkan WS yang ada. sub komite manajemen suplai air. kontrol penggunaan sumber daya air. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang ada pada manajemen sumber daya air dan pada tingkat nasional.000. dan kualitas air. 7. diantaranya: • • • • sub komite manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah. Pembuatan prinsip dan konsep institusi dan tanggung jawab mengenai manajemen integrasi DAS dan daerah pantai dibagi berdasarkan area DAS. Untuk keperluan ini. 6. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) yang terdiri dari perwakilan 17 departemen pemerintah dan lembaga yang terlibat dalam perencanaan manajemen dan penggunaan sumber daya air. penggunaan. kontrol akses. terutama dari sektor swasta. Menghindari pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang ada. Pembagian area DAS tersebut adalah sebagai berikut : ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Daerah aliran air bagian hulu Daerah aliran air bagian tengah Daerah aliran air bagian hilir Daerah pantai Saluran sungai Dataran banjir yang diatur Daerah banjir DAS Daerah tangkapan hujan (catchment area) Daerah pinggiran banjir yang diatur (regulatory foodway fringe) perencanaan.(Persero) CABANG I MALANG 5. Pembagian Institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -92 . Provinsi. perawatan air. sub komite manajemen batas air dan daerah pantai. Bappenas telah mempersiapkan peta Indonesia skala 1:1. Mengklarifikasi pembagian tugas. sub komite koordinasi dan legistatif sumber daya air.000 yang menggambarkan kondisi batas WS. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak lainnya yang terkait. manajemen. 8.

pengembangan sumber daya manusia. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. alokasi sumber daya air. evaluasi dan pengawasan. 12. 16. baik masalah kurangnya air. air irigasi. alokasi keuangan dan 9.7. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannya. Menyiapkan pilihan dan alterbatif untuk pemerintah pusat tentang pembagian tugas antar pihak swasta yang terkait. dan perikanan air tawar dan air asin. 14. erosi dan sedimentasi. mengontrol pembiayaan.2 Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Era Otonomi Daerah Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -93 . banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. masalah hukum. industri. 4. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasikan secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: suplai air minum. planning perencanaan pengembangan partisipasi publik. Merumuskan kekurangan infrastruktur perawatan air dan legalisasi untuk kota dan daerah urban. koordinasi pengembangan. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi suplai air pada lembaga pemerintah dan pihak terkait lainnya. masalah legistatif.3.(Persero) CABANG I MALANG ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● pengguna dan aplikasi sumber daya air. 11. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi pada suplai air industri. penegakan hukum. 13. pembangkit listrik tenaga air. resolusi konflik. 15. masalah institusi. Mengadakan studi banding mengenai integrasi. Identifikasi tugas institusi dalam kondisi yang baru. 10.

akan banyak memberikan perubahanperubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. disebutkan bahwa: 1. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya.(Persero) CABANG I MALANG Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan Provinsi sebagai otonomi daerah. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya Air. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai 3. berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat. Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu direvisi. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi. yang dalam Undangundang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. 2. pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -94 .

baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah Provinsi. namun juga biaya jasa pengelolaan sumber daya (termasuk pengembalian biaya investasi) dan biaya konservasi. Penetapan Pola dan Pelaksanan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumberdaya Air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) Pengelolaan sumberdaya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah Provinsi/kabupaten/kota dan stakeholders.27 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/Kota Lintas Kabupaten/Kota dalam satu Provinsi Lintas Provinsi Sungai Strategis Sumber: UU No. Sumber pembiayaan dari setiap jenis kegiatan antara lain: (a) Dana Pemerintah. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai. (b) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -95 . ditetapkan sebagai berikut : Tabel 4. Pembiayaan sumber daya air tidak hanya untuk mendanai pembangunan infrastruktur serta operasi dan pemeliharaan.7. telah disebutkan prinsip-prinsip dan kebijakan tentang pembiayaan sumber daya air (water financing) yang meletakan dasar-dasar ke depan keberlanjutan dalam aspek pembiayaan untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air.4 Strategi Pembiayaan 4. 7 Tahun 2004 Wewenang Penetapan Wilayah Sungai.1 Kebijakan Public Service Obligation Sumber Daya Air di Indonesia Di dalam kondisi keuangan Negara yang sangat terbatas.7. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumberdaya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan.(Persero) CABANG I MALANG 4. dimasa depan dibutuhkan sumber dana dari masyarakat untuk pengembangan sumber daya air. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.4. Di dalam UU No. 4. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumberdaya air.

Kewenangan mengelola dana di wilayah sungai didasarkan pada pembagian kewenangan antara pusat. pemerintah pemanfaat. 4. Prinsip Pengelolaan sumber daya air yang dapat lebih menjanjikan dalam aspek finansial untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air di era otonomi daerah adalah ”One River – one plan – one system of multi level basin management” 2.(Persero) CABANG I MALANG Dana swasta (termasuk pinjaman atau hibah). dapat dilakukan kerjasama pengelolaan dana untuk wilayah sungai.7. masyarakat swasta dalam pembiayaan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air.4. PTPA dan PPTPA harus ditingkatkan fungsinya dan disempurnakan keanggotaannya sebagai wadah koordinasi dan konsultasi serta sebagai regulatory body/parlemen air yang dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memungkinkan diterapkannya pendekatan partisipatif dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air sehingga prinsip keterbukaan. Provinsi. transparasi dan akuntabilitas dapat diterapkan secara memadai. saham dalam usaha pengelolaan dan sumber daya air akan memberikan iklim kondisif untuk partisipasi pemerintah. demokratisasi. 4. dan kabupaten/kota sesuai UU Sumber Daya Air. dan (c) Dana yang diperoleh dari jasa pengelolaan sumber daya air (misalnya dana untuk konservasi serta pemantauan dan pembinaan).2 Konsep Dasar Sistem Pembiayaan Berkelanjutan Konsep dasar sistem pembiayaan berkelanjutan: 1. 3. keadilan. Institusi pengelolaan sumber daya air di Tingkat Wilayah Sungai yang dapat merealisasikan keberlanjutan aspek finansial dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah BUMN/BUMD yang berbentuk Perusahaan Publik yang netral dan profesional yang secara seimbang menerapkan norma-norma pengusahaan yang sehat dan kaidah-kaidah pelayanan umum yang handal atas air dan sumber-sumber air dengan bertumpu pada partisipasi masyarakat dan kemitraan dengan swasta. Di samping itu. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -96 . Sistem pembiayaan yang memperhitungkan sebagai saham atas kontribusi biaya publik dan subsidi pelayanan sosial yang akan diperhitungkan sebagai daerah.

(Persero) CABANG I MALANG Badan-Badan Pengelola Sistem Pendukung (BPSP) Pemerintah/Perintah Daerah (Cost & Fee) Recovery Badan Pengelola Sistem Utama (BPSU) (Cost & Fee)* Recovery* Badan-badan Pengelola Sistem Pemanfaat (BPSM) (Cost & Fee)** Recovery** Pemanfaat Air (Pemanfaat Spesifik) Pemanfaat Air (Pemanfaat Umum/Non Spesifik) Pelayanan air Pelayanan dari badan pengelola di hulunya Pembayaran iuran Pembayaran pajak Konstribusi pembiayaan Subsidi biaya publik & biaya sosial Gambar 4. Sistem Multilevel Basin Management Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -97 .53.

Diagram Skematik Sistem Sharing dan Deviden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -98 .54.(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah Pemerintah Daerah (Propinsi/Kabupaten/Kota) Pemanfaat air dan Sumber-sumber air Masyarakat umum dan swasta Badan Pengelola SDA (BPSU/BPSP) Share Deviden Pengembangan dan Pengelolaan SDA Konstribusi biaya Investasi Subsidi biaya publik & sosial u/ pengelolaan Deviden atas konstribusi biaya investasi Deviden atas subsidi biaya publik & sosial Gambar 4.

sesuai kemampuannya. Mengacu pada kenyataan dengan adanya peningkatan kontribusi pemanfaat untuk membiayai pengelolaan sumber daya air di WS BaritoKapuas sedang di lain pihak Goverment Obligation Principles belum dapat direalisasikan. petani pemakai air dapat memberikan konstribusi dalam bentuk iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -99 . Kelompok Stakeholders dan Dewan Daerah SDA 4. 2.55.(Persero) CABANG I MALANG Pemerintah/ Pemda (Owner/ Regulator) Dewan Daerah SDA (PTPA/PPTPA) Masyarakat (User/ Beneficieries) Badan Usaha Pengelola SDA (Operator/ Service Providers/ Developer) Gambar 4. Mengingat irigasi sebagai pengguna air terbesar dan mengingat prinsip keadilan. perlu diupayakan secara bertahap realisasi konstribusi pemerintah untuk membiayai pelayanan umum dan subsidi untuk pelayanan sosial.7.5 Strategi Implementasi 1. maka guna menjaga kelestarian fungsi sarana dan prasarana pengairan dalam rangka dapat menjamin keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat. maka secara bertahap.

pengendalian banjir. dan pengendalian kualitas air) perlu dilakukan berdasarkan metode sederhana (berdasar nilai manfaat) dengan dibuat suatu formula kenaikan tarif berkala dengan memperhatikan unsur-unsur biaya yang berpengaruh secara dominan terhadap biaya pengelolaan sumber daya air (BBM. Pembebanan biaya kepada kelompok-kelompok pemanfaat (listrik. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Sesuai dengan amanat dalam Undang Undang SDA No7 tahun 2004. 6. air bersih. Kenaikan tarif di samping memperhatikan faktor-faktor kenaikan harga juga harus mencakup peningkatan derajat pelaksanaan O & P dengan jangka waktu ideal selambat-lambatnya 5 – 10 tahun untuk mencapai O & M Cost Recovery. industri. Dengan demikian dalam pembentukan kelembagaan dikemudian hari keikutsertaan stakeholder dalam wadah Dewan Air nantinya sangat berperan dalam PENDAYAGUNAAN SDA. 5.(Persero) CABANG I MALANG 3. 4. inflasi rata di wilayah sungai yang bersangkutan). KONSERVASI SDA. irigasi. Pengawasan oleh Dewan Daerah Sumber Daya Air yang bagaimana yang tidak menimbulkan duplikasi dengan pengawasan oleh pihak pemilik perusahaan yang dilakukan oleh Badan/Dewan Pengawas Perusahaan. maka tarif pajak pengambilan dan pemanfaatan air agar dapat ditetapkan yang proporsional terhadap tarif iuran pembiayaan pengelolaan sumber daya air sehingga dana kontribusi dari pemanfaat tersebut dapat sebesar-besarnya dipergunakan secara langsung untuk membiayai pengelolaan sumber daya air yang bersangkutan. UMP. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IV -100 . Dalam rangka memberikan kontinuitas pelayanannya.

maka diperlukan bantuan dari suatu model komputer untuk alokasi air.1 UMUM Perencanaan pengembangan wilayah sungai merupakan suatu proses perencanaan secara spasial dan temporal yang sangat kompleks.(Persero) CABANG I MALANG BAB 5 SIMULASI MODEL ALOKASI AIR WS BARITO-KAPUAS 5. pemeliharaan aliran. Mengingat kompleksnya sistem alokasi air ini. antara lain sebagai berikut: 1) Evaluasi alternatif dan potensi pengembangan sumberdaya air. Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya perekonomian dan industri. Situasi ini jika dibiarkan berlarutlarut akan dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional pada umumnya. perkotaan dan industri. 2) Untuk suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan ketersediaan airnya yang berfluktuasi. dan lainnya. 5.2 MODEL SIMULASI WILAYAH SUNGAI Pemodelan simulasi alokasi air di tingkat wilayah sungai akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali muncul dalam pengembangan sumberdaya air. akan tetapi juga secara operasional untuk memxbantu para pengelola air sebagai suatu decision support system (sistem pendukung pengambilan keputusan). penyediaan air baku untuk rumah-tangga. perkotaan dan industri. sampai sejauh mana dapat dikembangkan jaringan irigasi dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-1 . irigasi. Untuk mengantisipasi hal ini maka perlu dilakukan pengelolaan distribusi air pada tingkat wilayah sungai atau bahkan antar wilayah sungai. yang tidak hanya digunakan pada tahap perencanaan. dan melibatkan berbagai aspek sosial dan ekonomi dalam meningkatkan produksi pangan. Dilain pihak ketersediaan air jumlahnya tetap sehingga sudah mulai terasa adanya conflict of interest dalam hal pemakaian air. maka semakin meningkat pula kebutuhan akan air untuk berbagai keperluan (terutama untuk domestik. secara komprehensif dan terpadu. listrik. wisata dan lingkungan).

dan bagaimana pola pengoperasian yang optimal? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas.1 Skematisasi Sistem Tata Air Untuk dapat mensimulasikan satuan wilayah sungai sebagai suatu sistem tata air. dan Alternatif Pengembangan Sumberdaya Air yang direncanakan.2. Skematisasi sistem tata air terdiri atas simpul-simpul yang menyatakan sumber air. maka disusun skematisasi sistem tata air yang dapat menggambarkan sistem tata air secara hidrologis. dan mudah dioperasikan.(Persero) CABANG I MALANG pemasokan air baku tanpa menimbulkan kekurangan air atau merugikan pemakai air lainnya? 3) Apakah akan terjadi benturan kepentingan (conflict of interests) antara para pemakai air (irigasi. Artinya model harus mampu menirukan karakteristik penting dari wilayah sungai. listrik tenaga air. saluran. kebutuhan air. kebutuhan air dan infrastruktur. dan lainnya) di masa mendatang? Bilamana dan dimana? 4) Berapa potensi listrik tenaga air? 5) Berapa debit andalan (reliable flow) dengan atau tanpa waduk? 6) Pengkajian upaya-upaya pembangunan infrastruktur pengairan dan upayaupaya pengelolaan air. dan simpul kendali sebagai berikut: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-2 . dan kemungkinan alternatif pengembangan. disamping memberikan kemudahan pemasukan data dan keluaran informasi secara efisien. dan cabang-cabang yang menyatakan sungai. maka suatu model simulasi wilayah sungai harus dapat melakukan perhitungan simulasi dengan baik. Dalam simulasi wilayah sungai terdapat dua hal penting. dan dampak alternatif pengembangan (dalam bentuk peta dan grafik) yang mudah dievaluasi dengan cepat. 5. pengoperasian sistem tata air. lengkap dengan bangunan-bangunan air dan sarana pembawanya. yaitu kondisi sistem tata air yang dinyatakan dalam Skematisasi Sistem Tata Air. 7) Seberapa efektif upaya pembangunan waduk terhadap pemenuhan kebutuhan air irigasi dan tambak? 8) Berapa ukuran waduk yang diperlukan. Simpul-simpul tersebut terdiri atas tiga jenis. yaitu simpul biasa. terutama ketersediaan air. air baku. dalam format yang mudah disajikan. simpul aktivitas. terowongan atau pipa.

Simpul Akhir (terminal node). yaitu sub-WS di hulu. Simpul-simpul ini dapat berupa Simpul Aliran (inflow node). Simpul Penyadapan Air untuk Sub-Wilayah Sungai (district extraction node). Sub-WS ini mencirikan: unit hidrologi terkecil yang mencakupi kebutuhan air dan pasokan air mempunyai persamaan sifat dalam merespon hujan dan aliran unit yang saling melengkapi dalam pengaturan sumber daya air dan dapat dimungkinkan untuk membuat keseimbangan Ukuran dari pembagian sub-WS banyak pertimbangannya. dengan batas potongan berupa infrastruktur di sungai atau batas alami berupa anak atau cabang sungai. dapat berupa: waduk dan bendung. yang selanjutnya digunakan untuk penggambaran daerah studi dalam bentuk Skematisasi.2 Water District Untuk dapat menggambarkan skematisasi dengan baik. Simpul Pertemuan (confluence node). waduk. c) Simpul kendali merupakan infrastruktur pengairan yang dapat digunakan untuk mengendalikan sistem tata air. Simpul Irigasi (irrigation node). tengah dan pantai. Masing-masing sub-WS ini mempunyai karakteristik tertentu yang secara umum dapat digolongkan atas tiga bagian. maka biasa dilakukan deliniasi Wilayah Sungai (WS) atas beberapa sub-WS. dan Simpul Drainase Sub-Wilayah Sungai (district drainage node). dan Simpul Kehilangan Air (loss flow).2. Sub-WS di bagian Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-3 . atau water district. Batas dari sub-WS pada suatu DAS bagian hulu biasanya bertepatan dengan batas dari DAS Pada bagian tengah dan hilir dari WS kondisinya lebih kompleks dengan adanya bangunan-bangunan air seperti bendung. Sub-WS atau Water District merupakan suatu satuan luasan alami terkecil. Simpul Aliran Rendah (low flow node). dan dapat berupa: Simpul Air Bersih (public water supply node). 5. b) Simpul aktivitas yang merupakan simpul kebutuhan air. Simpul Tambak (fishpond node).(Persero) CABANG I MALANG a) Simpul biasa merupakan unsur dalam tata air yang tidak mengatur aliran air. tergantung pada detil wilayah dari analisa kebutuhan dan pasokan dan lokasi pada bangunan utama pada sungai. Simpul Listrik Mikrohidro (run-of-river node). Simpul Semu (dummy node). sistem saluran utama dll.

Pada kawasan ini perlu diberikan perlindungan konservasi lahan. merupakan daerah tangkapan air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-4 .(Persero) CABANG I MALANG hulu. penampungan air dan pengendalian anak-anak sungai. Pemodelan pada kawasan yang menjadi simpul inflow ini menyangkut kalibrasi hubungan hujanlimpasan.

1.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5. Berbagai tipe water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-5 .

Daerah Tangkapan Air Bendung sebagai water district Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-6 .2.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5.

perikanan. yang dinamakan dengan Kasus Dasar (Base Case) dan terdiri atas Kasus Dasar Masa Kini (untuk kalibrasi sistem) dan Kasus Dasar Masa Mendatang (untuk perbandingan alternatifalternatif). kebutuhan air baku. untuk kondisi tanpa upaya. produksi hasil pertanian. dan sebagainya. sebab merupakan daerah produksi dan pemanfaatan. Setelah dilakukan perkiraan biaya konstruksi. dan produksi energi listrik. dan perkotaan dengan permasalahan alokasi air. Untuk dapat mengevaluasi hasil alternatif pengembangan. pasokan air terhadap suatu kebutuhan air. Upaya-upaya tersebut dapat berupa Upaya Teknis / Infrastruktural seperti pembangunan waduk dan pengembangan irigasi. Upaya Operasional. 5. Perbedaan hasil dari kedua buah simulasi tersebut merupakan dampak dari alternatif pengembangan yang dikaji. misalnya skenario laju pertumbuhan penduduk. b) Simulasi Kedua dan seterusnya. dengan berbagai alternatif pengembangan. dicirikan dengan adanya pertanian. dan analisis multi kriteria untuk menyajikan hasil kajian alternatif pengembangan kepada para pengambil keputusan. Kasus-kasus simulasi tersebut diatas disimulasikan menurut skenario yang digunakan. Selain itu upaya-upaya dapat pula dikelompokkan atas Upaya yang terarah pada Pasok (supply oriented). skenario tingkat sukubunga. Model alokasi pembagian air yang telah umum digunakan pada beberapa Wilayah Sungai di Indonesia. pengendalian muara pantai. Skenario adalah parameter sistem yang tidak dapat diubah oleh proyek dan bersifat probabilistik. maka dapat dilakukan analisis ekonomi teknik. serta Upaya Hukum dan Kelembagaan. Sub-WS di daerah hilir merupakan daerah pemanfaatan dan juga pembuangan.(Persero) CABANG I MALANG Pada sub-WS di bagian tengah lebih kompleks. antara lain adalah model WRMM (Water Resources Management Model) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-7 . Perbedaan ini misalnya dapat berupa: debit air.2. dan Upaya yang terarah pada Kebutuhan (demand oriented). dapat berupa daerah irigasi teknis. misalnya peningkatan operasi waduk. pembebasan lahan.3 Alternatif Pengembangan Sumber Daya Air Setiap alternatif pengembangan sumberdaya air pada umumnya terdiri atas gabungan beberapa upaya (proyek). maka paling tidak harus dilakukan dua buah simulasi yaitu: a) Simulasi Pertama. dan intrusi air laut. dan pemeliharaan. dan skenario kondisi hidrologi. tambak. operasi.

dan DSSRibasim.3. Tahun Hidrologi dan Tahun Kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-8 .(Persero) CABANG I MALANG dari Kanada. Gambar 5.4. model ad-hoc yang berdasarkan Lotus-123 atau Microsoft-Excel. Simulasi Wilayah Sungai Gambar 5.

3 DSS-RIBASIM UNTUK WILAYAH SUNGAI BARITO KAPUAS DSS. atau pemberian ijin pengambilan air industri.Ribasim merupakan salah satu model alokasi air yang dapat digunakan pada tahap perencanaan pengembangan sumberdaya air.5. Model ini dikembangkan oleh Delft Hydraulic dari Negeri Belanda sejak tahun 1985. maupun secara operasional untuk membantu pengambilan keputusan taktis (misalnya sebagai sarana negosiasi operasi beberapa waduk. Model yang konsep dasarnya Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V-9 . Simulasi Alternatif Pengembangan 5.(Persero) CABANG I MALANG Gambar 5.

PEMBAGIAN DAS DI WS BARITO KAPUAS BERDASARKAN PERMEN PU No.1 Sistem Tata Air Berdasarkan PERMEN PU No. Ambawang PALANGKARAYA ! . Murung Barito Kapuas PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH DAS : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin . . . 11A/PRT/M/2006 Tg.3. yaitu : Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin. Riam Kanan Riam Kiwa . 26 Juni 2006 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V .(Persero) CABANG I MALANG diilhami oleh model MITSIM dari Amerika Serikat ini telah digunakan pada lebih dari 20 negara di dunia. 26 Juni 2006 telah membagi Wilayah Sungai menjadi 11 sub-DAS. Tg. PROPINSI KALIMANTAN SELATAN Tapin Martapura . . 5. 11A/PRT/M/2006.10 . . . . Kubu Landak . . Negara . . KETERANGAN : Batas Propinsi Batas Kabupaten Area DAS Barito Area DAS Kapuas Sungai Jalan B !ANJ ARMASIN .

Sbr Barito Desa Muara Joloi I Tumbang Tulang Tanjung Belatung Main stream barito S. Bebem S. Laung Timur Kec. Murung Kec. Kuantan S. Lahei S. Mantangaik S. Murung Kec. Dusun Utara Kota Buntok Kec. Karau Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Murung Raya Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Utara Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kab Barito Selatan Kec. Timpah Kec. Lahei Kec. Tuhup Main stream barito S.(Persero) CABANG I MALANG Agar kita dapat mengetahui dimana terjadi kekurangan air. Alar S. Dusun Tengah Kota Ampah Balawa Sei Hanyu Sei Hanyu Kec. Gunung Butang Awal Kec. Permata Intan Kec. Mantangai Palingkau 2 Kapuas S. Tanah Siang Kec. Timpah Kec. maka pada studi ini diperlukan pembagian sub-DAS yang lebih detail. Teweh Tengah Kec. Pematang Kanan Kec. Mengkatip Kab Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . Danumbul S. Singkap S. Laung S. Teweh Timur Kec. sebagai berikut: No.11 . Murung Kabupaten Kab Murung Raya Kecamatan Kec. Mengkutup S. Teweh Tengah Muara Lahai Bangkanal Kec. Ayuh Main stream Barito S. Gunung Timang Muara Bitung Kec. dan bagaimana upayaupaya penanggulangannya. Montalat Kec. Berioi Sungai di timur Kota Muara Sungai Montalat Main stream Barito S. Timpah Kec. Mantangai Kec. 2004) dalam water district. Murui S. Gunung Pirel Kec. Timpah Kec. sesuai dengan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (Ditjen Sumber Daya Air. Kapuas Tengah Pujon Kec. 1 Sub DAS Barito Sungai-sungai S. Mantangin S. Lahung S. Kapuas S. Mantangai Kec. Mantangai Kec. Teweh besar S.

Busang Kabupaten Kecamatan Mandomai Barimba Lupak Dalam Desa Kab Murung Raya S. Kalaan 6 Riam Kiwa S. Pulau Petak S. Martapura S. Alalak S. Tabalong S. Maluka S. Sub DAS 3 Murung Sungai-sungai Main stream kapuas S.12 . Halong S. Amandit Kab Hulu Sungai Selatan Rantau Kandangan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS V . Kapuas Murung S. Riam Kanan S. Juloi (selatan) 4 5 Martapura Riam Kanan S. Balangan S. Tapin S. Mangkook 7 Negara S. Kumap S. Riam Kiwa S. Tabalong Kiwa S. Batangalai 8 9 10 11 Ambawang Kubu Landak Tapin Kab Murung Raya Kab Banjar Kab Banjar Kota Martapura Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Kota Martapura dan Kota Banjarbaru Muara Juloi II Parahali Tumbang Julung Tumbang Kalasin Tumbang Maan Tumbang Tuhai Kab Banjar Kab Hulu Sungai Utara S. Tabalong Kanan S.(Persero) CABANG I MALANG No. Pitap S.

yaitu “ Gambaran mengenai keadaan yang diinginkan pada masa 10-20 tahun yang akan datang” sedangkan untuk merealisasikan Visi tersebut. makna dari Kebijakan Nasional Sumber Daya Air adalah merupakan ‘Arah’ dan ‘Tujuan’ yang akan diikuti oleh masyarakat pada tingkat nasional.2 Makna Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Cita-cita mulia tersebut adalah ‘Visi’ dari kebijakan nasional sumber daya air. Dengan demikian. yang berkaitan dengan sumber daya air. yaitu “Uraian mengenai hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai keadaan sebagaimana tersebut pada Visi”. diperlukan usaha-usaha atau “Misi”. yang akan dicapai. yang merupakan haluan yang akan diikuti oleh segenap pemilik kepentingan untuk mewujudkan cita-cita yang akan dicapai.1 Makna Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ‘KEBIJAKAN’ adalah ‘Arah’ atau ‘Tujuan’. 6.1.1.1. 6. Tata kelola Sumber Daya Air dengan paradigma baru (New Paradigm of Water Governance) dan Kesepakatan-kesepakatan global Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . untuk mewujudkan cita-cita nasional.1 .(Persero) CABANG I MALANG BAB 6 TINJAUAN KEBIJAKAN SUMBER DAYA AIR 6.3 Proses Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air Perumusan Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air dengan alur pikir dilakukan dengan mengikuti prinsip-prinsip yang ada pada: UU No.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA NASIONAL 6. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air berikut Peraturan Pemerintahnya. yang mempunyai kepentingan dengan sumber daya air.

2 .4 Visi dan Misi Kebijakan Nasional Sumber Daya Air 6. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup Tertingkatkannya perlindungan masyarakat dari bencana daya rusak air Terpenuhinya kecukupan air bagi sebagian besar masyarakat dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat. Misi Untuk merealisasikan Visi tersebut di atas. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.(Persero) CABANG I MALANG Selain mengikuti prinsip-prinsip dari ketiga hal tersebut. Visi Jangka Panjang (20 tahun atau sampai dengan Tahun 2025) Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.1. termasuk UU No. Visi dan Misi juga memperhatikan Latar Belakang penyusunan Kebijakan Nasional Sumber Daya Air ini serta hasil kajian dari kebijakan-kebijakan sumber daya air yang ada. terpadu.1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .1. Adapun gambaran umum keadaan yang akan dicapai pada tahun 2025 adalah: i) Tercapainya pengelolaan sumber daya air berdasar pola pengelolaan wilayah ii) iii) sungai yang menyeluruh. diperlukan Misi sebagai berikut: i) ii) Misi 1: Misi 2: Mengkonversi sumber daya air secara berkelanjutan Mendayagunakan sumber daya air secara adil serta memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas untuk berbagai kebutuhan masyarakat. 6. dan kebijakankebijakan sejenis yang ada di Negara lain.1.4. iii) Misi 3: Mengendalikan daya rusak air yang dapat memberikan insentif dan disinsentif dengan memanfaatkan berbagai sumber daya secara sinergi dan terintegrasi. iv) Terwujudnya keterlibatan peran masyarakat secara aktif dalam pengelolaan sumber daya air melalui Dewan Sumber Daya Air yang merupakan Forum Dialog dan Koordinasi antar Pemilik Kepentingan yang terlegitimasi. v) Terlaksananya suatu prinsip pembiayaan jasa pengelolaan sumber daya air 6.4.2.

Dikaitkan dengan perkembangan yang terjadi di tingkat global berbagai kesepakatan telah dilakukan. KEPMEN Kebijakan O & P Irigasi diterbitkan 1987 Workshop on Water for Sustainable Development 1992 Java Irrigation and Water Manajement Project (JIWMP) 1993 Formulasi Program Irigasi 1993 (JICA) dilanjutkan dengan studi Sustainable Irrigation Manajement bantuan PTPA. Khususnya jajaran Ditjen Pengairan Dep. ADB tahun 1998 Nasional Water Resources Policy Study. FAO 1995 Capacity Building Project for Water Resources Sector. ADB 2000 (Reformasi Kebijakan Pengelolaan SDA) Pengelolaan yang didasarkan pada UU. PERMEN. 6. Rio De Jenairo.5 Studi-Studi Kebijakan yang Pernah Ada Studi-studi mengenai kebijakan yang pernah ada antara lain: i) ii) iii) iv) v) vi) vii) Paket UU 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dan Peraturan turutannya – PP. keadaannya sangat cocok dengan perkembangan di Indonesia. 7 sampai butir 8 di atas sebagai kulminasinya boleh dikatakan adalah suatu upaya besar yang sudah dilakukan pemerintah. Ancaman tersebut diakibatkan perubahan/pemerosotan DAS hulu dengan cepatnya eksploitasi hutan untuk mendukung pendapatan nasional disamping viii) Water Resources Sector Adjustment Loan (WATSAL). World Summit on Sustainable Development. Pekerjaan Umum) dalam merespon cepatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan selama orde baru dan lebih lagi selama periode reformasi yaitu sejak terjadinya krisis ekonomi/ moneter 1998. Sejak 1987 situasi daya dukung SDA di Indonesia mulai terancam. 6. IBRD 2000 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Yohannesburg dan lain-lain.3 . 3.(Persero) CABANG I MALANG iv) v) Misi 4: Misi 5: Memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat dan Pemerintah dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Meningkatkan keterbukaan serta ketersediaan data dan informasi dalam pembangunan Sumber Daya Air. PU (sekarang Ditjen SDA Dept. 11 tahun 1974 yang dilengkapi dengan berbagai kebijakan/arahan sebagai hasil studi mulai dari butir 1. 4. 2. antara lain The Dublin Statement. Earth Summit Agenda 21. 5.1.

Tuntutan lahan dan SDA ini berlawanan dengan keinginan lingkungan yang membatasi pembukaan lahan baru dan pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . dengan mensyaratkan rambu-rambu pembangunan antara lain: Kebijakan pangan disisi lain menuntut ketersediaan lahan. Lingkungan dan Pangan Tiga aspek penting pembangunan yang erat kaitannya dengan SDA ialah Penataan Ruang.4 .1. (iii) pencegahan kerusakan fungsi lingkungan. Proses pergeseran paradigma SDA mulai dirasakan sejak 1980 dimana fungsi pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana tanpa partisipasi masyarakat yang menerima manfaat akan berat sekali beban pemerintah. Berikut dapat kita bandingkan tiga kebijakan tersebut: a. b.6.(Persero) CABANG I MALANG besarnya tekanan atas DAS oleh pertumbuhan penduduk dan ekonomi sosial masyarakat.1. Kebijakan SDA. Sumber Daya Alam dan SDA yang cukup untuk dapat menyediakan pangan sejalan dengan kebutuhan oleh pertumbuhan penduduk dan kemakmuran masyarakat. Lingkungan dan Pangan seyogianya diselaraskan secara timbal balik sedemikian akan dicapai rencana dan implementasi pembangunan beberapa sarana dan prasarana secara berkelanjutan. 7 tentang SDA pada Februari 2004. Kebijakan Tata Ruang. Kebijakan lingkungan ternyata jiwanya bersamaan dengan penataan ruang. yaitu multi sektor dan terpadu hulu hilir dan antar wilayah. Kulminasi pergeseran/ pembaharuan kebijakan ini diawali dengan Kepmenko tentang Kebijakan Pengelolaan SDA tahun 2001 dan dikunci dengan diterbitkannya UU No.6 Tinjauan Pada Kebijakan-Kebijakan yang Ada 6.1. c. 6. Perubahan atau pembaharuan kebijakan sejalan dengan pergeseran paradigma sudah benar jalur dan prosesnya dalam menuju pengelolaan SDA yang ideal harus menyeluruh dan terpadu. Penataan Ruang. Kebijakan penataan ruang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan melalui (i) pemanfaatan sumber daya alam dan buatan secara optimal (ii) keseimbangan perkembangan antara kawasan melalui pemanfaatan ruang kawasan secara serasi. Lingkungan dan Pangan yang semuanya terkait dengan ruang/ lahan. selaras dan seimbang serta berkelanjutan dan.

2. pulau dan propinsi/ kabupaten belum memberikan kinerja yang maksimal karena masih banyaknya pelanggaran tata ruang. Sampai sekarang peranan dan hasil penataan ruang baik nasional. Menururt UU No. Tentu saja semua hal ini akan mempengaruhi kebijakan pengelolaan SDA ke depan terutama aspek perencanaan perlu lebih akurat dan lengkap berupa rencana kerja tahunan. Kebijakan Keuangan Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.1. sebagai paket reformasi bidang keuangan.(Persero) CABANG I MALANG waduk serta daerah irigasi yang mengubah bentang alam secara signifikan d. 6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . menuju good government.5 . Tiap negara mempunyai undang-undang yang mengatur kebijakan keuangan negara/ pemerintah yang berarti mengatur pemasukan dan pengeluaran uang dan semua kekayaan negara.6. Diharapkan penataan ruang dapat menyikapi secara optimal dan berkelanjutan kepentingan sektor pertanian pangan dan lingkungan dan sektor SDA. dan tiga tahunan secara rolling serta rencana jangka menengah dan jangka panjang. 17/2003 tentang keuangan bersama UU lain sebagai satu paket akan diberlakukan mulai tahun anggaran 2006. pada negara maju misalnya ada tiga fungsi pokok pemerintah yang amat menonjol yaitu: (i) memelihara keamanan yang baik agar rakyat bisa berkinerja optimal (ii) penyediaan infrastruktur kebutuhan hidup dan ekonomi yang tidak bisa disediakan dunia usaha dan masyarakat dan (iii) memelihara kesamaan hak dan tanggungjawab warga negara dengan penerapan hukum yang adil Dari mana sumber dana pemerintah untuk membiayai 3 fungsi tersebut? Tentu saja dari pajak perusahaan dan pajak perseorangan/ warga negara. Undang-Undang ini mensyaratkan dana anggaran berdasarkan kinerja. UU keuangan ini mewajibkan tiap kementrian membuat rencana rolling 3 tahunan yang berbeda dengan rencana 5 tahun selama ini (Pelita atau Propenas 1999-2004).

Kebijakan pada Pelita I ditekankan pada rehabilitasi dan peningkatan daerah irigasi untuk dapat menekan import beras dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Pada pelita III dan IV kebijakan mulai bergeser ke keterpaduan pengelolaan SDA. Pada tahun 1974 awal Pelita II berhasil diterbitkan UU.6 .3. telah membuat beban pencemaran makin berat. Tugas pokok dan fungsi: penataan ruang.(Persero) CABANG I MALANG 6. tetapi juga mulai ditangani Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .6. pengembangan perkotaan. bukan hanya irigasi. Besarnya import karena kemerosotan jaringan irigasi yang sangat parah sehingga produksi beras nasional jauh di bawah kebutuhan b.11-1974 tentang Pengairan.1. Pelita I 1968 diawali dengan keadaan pangan beras import mencapai 4 juta ton yaitu lebih kurang 25% kebutuhan nasional. d. Departemen ESDM dan sebagainya. 6.6. perlu mendapat perhatian khusus. barulah melakukan keterpaduan eksternal dengan sektor-sektor lain di luar Departemen Pekerjaan Umum seperti Departemen Kehutanan. Meneg Lingkungan. Departemen Pertanian. Kebijakan Departemen Pekerjaan Umum Keterpaduan yang saling mengisi dan selaras antara kebijakan perkotaan dan permukiman dengan kebijakan trasportasi jalan dan pengelolaan SDA. Pembangunan baru irigasi dan penanganan/pengaturan sungai untuk pengendalian banjir dan penyediaan air dengan waduk mulai dilakukan pada Pelita II ini. UU ini meletakkan kebijakan nasional pengelolaan SDA sebagai pengganti peraturan Per-UU jaman Kolonial. c. penyediaan air bersih.4. pengelolaan SDA yang diemban oleh Departeman Pekerjaan Umum seyogianya benar-benar dipadukan internal lebih dahulu. Kebijakan Pelita I sampai dengan Pelita VI a. karena pola perumahan/ permukiman dan pembangunan lingkungan terbangun horisontal selama ini tampaknya telah membuat lingkungan SDA sangat kritis karena resapan air hujan dan retensi atau tempat parkir air menjadi sangat minim.1. pengembangan permukiman. perkotaan dan industri yang belum jelas apakah sistem sewarage atau terus seperti sekarang semua pembuangan ke saluran umum dan sungai. Demikian juga kebijakan penanganan limbah rumah tangga.

terutama terkait dengan isu sosial dan lingkungan. perkotaan dan industri (RKI) dan penanganan masalah banjir yang lebih besar karena kerusakan DAS. sedangkan pembangunan tampungan air dalam skala besar perlu pertimbangan yang lebih hati-hati karena menghadapi masalah yang lebih kompleks. OECF (JBIC) dan Government to Government (G to G) seperti Canada.7 . Upaya konservasi sumber-sumber air dilakukan tidak hanya untuk melestarikan kuantitas air. Pada Pelita III dan IV berbagai kebijakan diterbitkan sebagai implementasi UU.11 tahun 1974 kebijakan tersebut tertuang dalam berbagai Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri. 6. Pembangunan tampungan air berskala kecil akan lebih dikedepankan. Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan dengan memperhatikan keserasian antara konservasi dan pendayagunaan. serta antara pemenuhan kepentingan jangka pendek dan kepentingan jangka panjang. 2. Bank Asia. 3. antara lain Bank Dunia. antara pengelolaan demand dan supply. Belanda.7 Arah Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air 1. e. antara lain rekayasa keteknikan yang lebih Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .(Persero) CABANG I MALANG penyediaan Air Baku untuk rumah tangga. Dalam situasi sebagian besar pendanaan bersumber dari BLN maka kebijakan pengelolaan SDA dalam situasi tertentu dipengaruhi oleh aturan dan persyaratan dari pemberi bantuan tersebut di atas. Pengembangan dan penerapan sistem conjunctive use antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah akan digalakkan. antara hulu dan hilir.1. 6. 5. antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah. 4. Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi pada lima tahun ke depan difokuskan pada upaya: • Peningkatan fungsi jaringan irigasi yang sudah dibangun tetapi belum berfungsi dalam rangka konservasi sumber-sumber air diimbangi dengan upaya lain. tetapi juga diarahkan untuk memelihara kualitas air. Pendekatan vegetatif bersifat quick yielding. Pendanaan/Anggaran untuk pembangunan sektor Pengairan sebagian besar diperoleh dari Bantuan Luar Negeri (BLN).

terutama untuk menggali dan merevitalisasi kearifan lokal (local wisdom) yang secara tradisi banyak tersebar di masyarakat Indonesia untuk menjamin keberlanjutan fungsi infrastruktur. 10. pulau-pulau kecil serta pusat kegiatan ekonomi. Dalam upaya memperkokoh civil society. wilayah tertinggal. Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air baku diprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan pokok rumahtangga terutama di wilayah rawan defisit air. dan wilayah strategis. 9.(Persero) CABANG I MALANG Dilakukan hanya pada areal yang ketersediaan airnya terjamin dan petani penggarapnya sudah siap • Rehabilitasi pada areal irigasi berfungsi yang mengalami kerusakan Diprioritaskan pada areal irigasi di daerah lumbung padi • Skema insentif kepada petani agar bersedia mempertahankan lahan sawahnya 7.8 . keterlibatan masyarakat. 8. Pengendalian daya rusak air • Pengendalian banjir mengutamakan pendekatan non-struktur melalui konservasi sumber daya air dan pengelolaan daerah aliran sungai dengan memperhatikan keterpaduan dengan tata ruang wilayah • Peningkatan partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan terus diupayakan tidak hanya pada saat kejadian banjir • Pengendalian banjir diutamakan pada wilayah berpenduduk padat dan wilayah strategis • Pengamanan pantai dari abrasi terutama dilakukan pada daerah perbatasan. Penataan kelembagaan melalui pengaturan kembali kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pemangku kepentingan. Pengembangan modal sosial dilakuakn dengan pendekatan budaya. 11. Penataan dan penguatan sistem pengolahan data dan informasi sumber daya air dilakukan secara terencana dan dikelola secara berkesinambungan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 12. BUMN/D dan swasta terus didorong.

6. 7.9 . Melaksanakan rasionalisasi. 2. restrukturisasi. berkeadilan.2. 3. efisien.(Persero) CABANG I MALANG 6. Menetapkan melaksanakan perhitungan biaya pengelolaan Sumber Daya Air dalam upaya konservasi. fungsi pemanfaatan. dan fungsi koordinasi di WS BaritoKapuas dengan tetap menjaga sinergi antar fungsi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. pengoperasian dan pemeliharaan. pendayagunaan sumber daya air. Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi paling besar pedoman bagi masyarakat dengan jasa memperhatikan kaidah lingkungan hidup. Menerapkan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas. 5.1 Umum 1. Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas berdasarkan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dengan pada tahun 2008. 4.2 INDIKASI PROGRAM KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS KAITANNYA DENGAN KEBIJAKAN NASIONAL Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas perlu disiapkan Indikasi Program Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas kaitannya Kebijakan Nasional sebagai berikut : 6. Melaksanakan kepentingan dan sumber meningkatkan daya air koordinasi dalam antar para pemilik tingkat wadah koordinasi kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas. dan berkelanjutan. Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif. fungsi pelaksanaan.

Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau. rawa) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang Sumber Daya Air kepada seluruh masyarakat di dalam WS Barito-Kapuas 9.10 . embung. situ/ embung dan mata air dengan aturan : a. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. danau. 4.2 Konservasi Sumber Daya Air 1. Pembentukan wadah koordinasi Sumber Daya Air Wilayah Sungai BaritoKapuas sesuai dengan kebutuhan. c. 5. waduk. 3. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri. 6. 2.(Persero) CABANG I MALANG 8. rawa. waduk dengan prioritas daerah pemukiman. 7. embung. mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. rawa. d. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. situ. 6. reuse.2. Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. situ. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau. recycle). Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi situ / embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau. menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan.

10.11 . 5. Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce. Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan. Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010. 6. Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum. 4. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . pemulihan. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada. Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. 9. selambat-lambatnya pada tahun 2026. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. 3. Meningkatkan daya tampung air dengan membangun bendungan.2. 7.(Persero) CABANG I MALANG 8.3 Pendayagunaan Sumber Daya Air. secara biologi. 2. 1. reuse). waduk. Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa. Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan. 9. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2010. dengan target efektif 2010. embung. 6. 8. sumur resapan air hujan dan menyediakan lumbung air minimal 1 (satu) unit setiap kecamatan.

6. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air. sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau. 12.(Persero) CABANG I MALANG 10. Merasionalisasikan biaya pengelolaan Sumber Daya Air. 13. Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air. Menyiapkan. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” . serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir. olah raga air dan transportasi air. 2. Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan Sumber Daya Air. 11. Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air secara konsisten. 16. 15. 8. 14. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir. pariwisata. 6.12 . Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. Menyusun dan melaksanakan program pengembangan Sumber Daya Air terpadu berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air.2. perikanan. 4. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar Wilayah Sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. dan revitalisasi serta pengendaliannya. Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. tata kota dan tata bangunan. 7. 5.4 Pengendalian Daya Rusak Air. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir. Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air . Mendorong pengembangan Sumber Daya Air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai. 3. menerapkan dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir. 1.

Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan. Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural. perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI .(Persero) CABANG I MALANG 9. Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan umum lainnya.5 Pemberdayaan Pemerintah. 2. 15. Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan Sumber Daya Air di setiap Wilayah Sungai secara berkelanjutan. prasarana umum dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen. Swasta dan dalam upaya penyelamatan jiwa manusia. 13. 1. pelatihan. 16.13 . 10. dan Peningkatan Peran Masyarakat. utamanya pada daerah pengembangan baru. 6. 3. Melakukan perlindungan daerah permukiman.2. pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir. Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta kegiatan pemulihan akibat bencana. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai. 11. 4. Melakukan penyuluhan. Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase. 12. Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayahnya. 14. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Sumber Daya Air kepada dunia usaha.

Kebijakan Sumber Daya Air. teknologi Sumber Daya Air. menyampaikan berkelanjutan. 6. 8. Membangun jaringan informasi Sumber Daya Air dalam WS. yang sehingga tepat mampu waktu.14 . dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan Sumber Daya Air. prasarana Sumber Daya Air. Menyiapkan Peraturan Daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan Sumber Daya Air.(Persero) CABANG I MALANG 5. 1. 2. 6. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Sumber Daya Manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi. hidrometeorologi. kerjasama dan koordinasi antar lembaga pemerintah yang terkait dalam pengelolaan Sumber Daya Air.6 Keterbukaan dan Ketersediaan Data serta Informasi Sumber Daya Air. 10. 3. 4. 9. Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan Sumber Daya Air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . sistem pembiayaan dan yang memadai. 11. hidrogeologi. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan Sumber Daya Air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. data informasi akurat. Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan Wilayah Sungai dalam pengelolaan Sumber Daya Air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif. Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan Sumber Daya Air. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi.2. Mengembangkan sistem informasi Sumber Daya Air dalam WS. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi Sumber Daya Air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. dll. Meningkatkan kemampuan komunikasi. 7.

Kebijakan Sumber Daya Air Kebijakan sumber daya air disusun dengan maksud untuk memberikan arahan strategis dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air guna mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air.15 . dan kabupaten/kota.3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 6. Kebijakan sumber daya air meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional. 7. Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan informasi kepada masyarakat. Membangun jaringan basis data dalam WS. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . klasifikasi. 6. provinsi. proses data dan metode/ prosedur pengumpulan data dan informasi. dan kabupaten/kota. Menerapkan standar untuk format. Arahan strategis sebagaimana dimaksud meliputi arahan strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah sumber daya air dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di tingkat nasional. Barito-Kapuas. (2) Kebijakan nasional sumber daya air menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan Undang Undang no 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa (1) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 disusun di tingkat nasional. provinsi. (3) Kebijakan sumber daya air provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota. atau kabupaten/kota. kodifikasi. 6. (4) Kebijakan sumber daya air dapat ditetapkan baik sebagai kebijakan tersendiri maupun terintegrasi ke dalam kebijakan pembangunan di tingkat nasional. provinsi dan kabupaten/kota. atau provinsi.(Persero) CABANG I MALANG 5.1.3.

dasar-dasar yang dipergunakan dalam melakukan pengelolaan sumber daya air.16 . tujuan umum pengelolaan sumber daya air. Pola Pengelolaan SDA disusun dan ditetapkan berdasarkan : (1) Pola pengelolaan sumber daya air disusun dan ditetapkan sebagai kerangka dasar dalam tanah.3. 6.2. prioritas kegiatan pengelolaan dan strategi dalam pencapaian tujuan pengelolaan. (2) Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat: a. Perumusan Kebijakan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas ini akan ditentukan oleh: (1) Kebijakan nasional sumber daya air dirumuskan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dan ditetapkan oleh Presiden. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air. pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai dan cekungan air dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . (3) Kebijakan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air kabupaten/kota yang bernama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh bupati/walikota. (6) Kebijakan sumber daya air yang ditetapkan secara tersendiri. disusun secara komprehensif dan selaras dengan kebijakan pembangunan di wilayah yang bersangkutan. c. Prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah diselenggarakan dengan memperhatikan wewenang dan tanggung jawab masing-masing instansi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.(Persero) CABANG I MALANG (5) Kebijakan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara terpadu yang mencakup kebijakan semua air. (2) Kebijakan sumber daya air di tingkat provinsi dirumuskan oleh wadah koordinasi sumber daya air provinsi yang bernama dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain dan ditetapkan oleh gubernur. b.

kepentingan dan kebijakan wilayah administrasi yang bersangkutan. konsepsi kebijakan operasional yang ditetapkan dalam pengelolaan sumber daya air. pengelolaan sumber daya air dilakukan secara berkelanjutan untuk menjamin pendayagunaannya pada masa mendatang dan berwawasan lingkungan hidup. Rancangan pola pengelolaan sumber daya air yang diusulkan oleh instansi teknis merupakan hasil kerja bersama instansi terkait. Instansi teknis tingkat pusat adalah instansi teknis yang membidangi sumber daya air di tingkat pusat. kebutuhan sumber daya air bagi semua pemanfaat di wilayah sungai yang bersangkutan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . e. Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) disusun berdasarkan kebijakan sumber daya air pada wilayah administratif yang bersangkutan.(Persero) CABANG I MALANG d. rencana pengelolaan strategis. Pola pengelolaan sumber daya air disusun dengan memperhatikan: a. Untuk wilayah sungai Barito-Kapuas Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi disusun berdasarkan kebijakan nasional sumberdaya air. Rancangan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas yang merupakan lintas provinsi diusulkan oleh instansi teknis tingkat pusat kepada dewan nasional sumber daya air untuk dirumuskan dengan mengikutsertakan ketua dewan atau wadah koordinasi sumber daya air provinsi terkait dan selanjutnya ditetapkan oleh Menteri.17 . Pengelolaan sumber daya air dilakukan secara menyeluruh dalam satu kesatuan sistem hidrologis dengan memperhatikan sifat alami dan karakteristik masing-masing air. d. c. b.

Misi Pengelolaan Sumber Daya Air WS.1. Sasaran Pengelolaan Sumber Daya Air WS.3. Pendayagunaan Sumber Daya Air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat yang memenuhi kualitas dan kuantitas 3. Peningkatan keterbukaan dan ketersediaan data serta informasi dalam pembangunan SDA 6. daerah perbatasan dan wilayah strategis. Berkurangnya dampak bencana banjir dan kekeringan. 7. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . Meningkatnya kemampuan pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga. Terkendalinya potensi konflik air. Barito-Kapuas Misi pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas yaitu: 1.18 . Terkendalinya pemanfaatan air tanah.3. Barito-Kapuas Sasaran pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Barito-Kapuas antara lain adalah: 1. berwawasan lingkungan dan berkesinambungan secara kualitas dan kuantitas dan mampu menunjang pertumbuhan berbagai sektor untuk kesejahteraan masyarakat di Wilayah Sungai Barito-Kapuas.2. 3.3. dan indutri dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat. Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat. permukiman. 5. Terkendalinya pencemaran air. swasta dan pemerintah 5. Tercapainya pola pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan 2.3. Pengendalian Daya Rusak Air (termasuk kekeringan) 4.3. 4. Kebijakan Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas 6. Terlindunginya daerah pantai dari abrasi air laut terutama pada pulaupulau kecil. Konservasi SDA yang berkelanjutan. Visi Dan Misi Visi Pengelolaan Sumber Daya Air WS. Barito-Kapuas Terwujudnya pemanfaatan SDA Sungai Barito-Kapuas yang lestari. 2.(Persero) CABANG I MALANG 6. 6.3. pertanian.

82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air & Pengendalian Pencemaran Air.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang No.4 LANDASAN HUKUM Beberapa Undang-Undang. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup.11A Tahun 2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai. 12. Peraturan Pemerintah No. Instruksi Presiden. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. 6. Peraturan Pemerintah No. akurat dan mudah diakses. 2. 6. Tersedianya data dan sistem informasi yang aktual. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. 13. 10. Keputusan Menteri dan Peraturan Pemerintah serta Peraturan Daerah yang terkait dengan kebijakan penyusunan Pola Pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1. 14. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Pengendalian banjir terutama pada daerah perkotaan. Ketersediaan air baku bagi masyarakat. 4.(Persero) CABANG I MALANG 8. Undang-Undang No. 9. Undang-Undang Dasar 1945. 5. Peraturan Pemerintah No.19 . Undang-Undang No. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat 9. 8. Peraturan Menteri No. Pulihnya kondisi sumber-sumber air dan prasarana sumber daya air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VI . 12. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. 3. 7. Terciptanya pola pembiayaan yang berkelanjutan 11. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 11.20 Tahun 2006 tentang Irigasi. Meningkatnya kualitas koodinasi dan kerjasama antar instansi 10. Undang-Undang No.

baik koperasi. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap. permasalahan. Untuk maksud ini sebagai bagian dari kegiatan Penyusunan Rancangan Pola Wilayah Sungai Barito .1 .Kapuas. serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah dengan pelaksana Konsultan PT. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Sejalan dengan prinsip demokratis. pemantauan. serta badan usaha milik daerah dan swasta. badan usaha milik negara. permasalahan. badan usaha milik negara. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi. dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha seluas-luasnya. Departemen Pekerjaan Umum. Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. masyarakat tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air. Indra Karya (persero) Cabang I Malang telah mengadakan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I). pelaksanaan konstruksi. tetapi berperan pula dalam proses perencanaan. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Penyusunan pola pengelolaan perlu melibatkan seluas-luasnya peran masyarakat dan dunia usaha. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan. badan usaha milik daerah maupun badan usaha swasta. operasi dan pemeliharaan. dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai.1 UMUM Menurut pasal 11 ayat (3) Undang-Undang No.(Persero) CABANG I MALANG BAB 7 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) 7.

PLN) 7. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan. Adapun peserta yang diundang untuk pengumpulan aspirasi dan masalah tersebut adalah : Departemen Pekerjaan Umum.1. 5) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . kendala. keinginan. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta Yang Terlibat Kegiatan PKM I yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan. keinginan.2 .(Persero) CABANG I MALANG 7. Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT. dimaksudkan untuk menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah. 4) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau . aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. Tujuan PKM I Tujuan penyelenggaraan pertemuan konsultasi ini adalah untuk : 1) Menjaring informasi dan aspirasi secara luas tentang permasalahan daerah.kendala. 3) Mengidentifikasi permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan pengembangan SDA yang berbeda untuk masing-masing Sub WS.2. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. aspirasi dan usulan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. 2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air.2 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) I 7.2.2.

3 .2.2. Kalimantan Selatan. sebagai pelaksana pekerjaan ini. 6) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk memformulasikan kebutuhan akan pengembangan SDA dan strategi dalam rangka menyusun Pola Pengelolaan SDA. 7.5. tanggal 23 Oktober 2008.(Persero) CABANG I MALANG pengelolaan SDA WS Barito .Kapuas. Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan di Palangkaraya.00 WITA sampai Selesai. Pukul 09. Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang. 7. Dokumentasi : Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . 7. Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT.2. Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat I (PKM I) dilaksanakan pada hari Rabu.3.4.

00 Penutup dan Makan Siang BITO .15 – 09. 23 Agustus 2008 Peserta PKM I Peserta PKM I Pembawa Acara Pembawa Acara Peserta PKM I Peserta PKM I Bappeda Prop.15 Pembukaan oleh Ka Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan 09.2. TA 2008 Peserta Moderator Peserta PKM I Panitia Peserta PKM I Pembawa Acara Hari/Tanggal Rabu.KAPUAS.4 .00 Pengisian Daftar Hadir 09.00 – 09.00 – 13.(Persero) CABANG I MALANG 7. Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM I) dalam rangka PENYUSUNAN RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI Waktu Acara 08.30 – 10. Indra Karya (Persero) 10. Kalsel Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .00 Diskusi dan Pembahasan Kuisener 12. Jakarta 09.6.30 – 09.00 Paparan PKM I oleh Konsultan PT.30 Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air.00 – 12.

agro forestry. Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan serta Sistem Informasi Sumber Daya Air. Pengelolaan hutan produksi dilakukan dengan pemanfaatan dan pelestarian hasil (kayu dan non kayu) sehingga diperoleh manfaat ekonomi. Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air Pemanfaatan ladang di pegunungan Reboisasi. Kawasan sempadan sungai besar 100 m di kiri kanan diukur dari tepi sungai. Hutan Milik Dinas Kehutanan Penataan batas kawasan hutan. pembangunan waduk. koordinasi lintas sektoral. pelatihan. sungai kecil 50 m 1. penambahan polisi hutan Terutama daerah hulu sungai Barito 2. yang meliputi Konservasi Daerah Tangkapan Air. pemberdayaan masyarakat. Pengendalian Daya Rusak Air. Pemberdayaan masyarakat. penyuluhan. pelestarian sumber air. sosialisasi UU No. Secara keseluruhan kawasan resapan air tersebar di semua wilayah kabupaten/kota di Kalteng Pemanfaatannya secara umum dikuasai oleh negara khususnya pemerintah daerah tetapi pengembangannya harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat setempat Tata guna air ditujukan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan air bersih dan irigasi bagi penduduk dan aktifitasnya melalui pengelolaan lahan terpadu di DAS dan kawasan pesisir sebagai suatu ekosistem Kawasan sentra perkebunan khususnya pengembangan komoditi unggulan diarahkan ke wilayah pegunungan. Pengisian air pada sumber air Pembuatan embung. penegakan hukum. terasering Seluruh WS Barito 4. Analisis Persandingan Dari PKM 1 yang telah dilaksanakan. Pemanfaatan Potensi Hutan (Kayu) Hutan desa. penghijauan. KONSERVASI DAERAH TANGKAPAN AIR Kawasan hutan lindung dikelola berdasarkan ketentuan atau tata cara pemanfaatan hutan lindung yaitu pemanfaatan semaksimal mungkin untuk kepentingan masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan pada kawasan budidaya di bawahnya. penanganan secara terpadu oleh instansi terkait. penyuluhan Hulu dan hilir DAS Barito 6. Penebangan Hutan Penghutanan kembali. sosial dan ekologi yang maksimal bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan Kawasan resapan air meliputi sebaran air tanah yang terdiri atas endapan aluvial sungai dan tanah. Hulu WS Barito 7 Pengaturan daerah sempadan air Konservasi oleh Masyarakat (swadaya) Seluruh WS Barito Hulu WS Barito 8 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-5 . embung.7. diperoleh beberapa Isu pokok meliputi beberapa komponen. BIDANG /LINGKUP 1 PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI 3 ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Komponen 1. pengembangan hutan kemasyarakatan dan resetlement penduduk di luar kawasan hutan lindung Perlu adanya Perda tentang sempadan sungai Perlu sosialisasi peran serta masyarakat. 41 Terutama daerah hulu sungai Barito 3. legalitas kesepakatan antar kepentingan Terutama daerah hulu sungai Barito 5. diperlukan perencanaan terpadu.2.(Persero) CABANG I MALANG 7. Pendayagunaan SDA.

Tradisional/Desa Pemberdyaan P3A 7 Perikanan darat dan tambak Pembangunan jaringan irigasi tambak 8. pengamanan khusus sumber-sumber air Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air hulu sungai Barito Dalam WS Barito Meminimalkan pencemaran air baik di darat maupun di laut termasuk dampak negatif dari penambangan bahan galian golongan C di sungai 3 Kondisi Air Distribusi dari PDAM (Kebutuhan Domestik) Pembangunan IPA. 9 1 Pelestarian hutan lindung. penyediaaan air baku Kota dan Kabupaten Arahan pengembangan air bersih adalah pengembangan sistem pelayanan air baku dan air bersih secara terpadu. Konservasi SDA dan pembangunan waduk. Sungai atau sumber air lainnya Kerusakan Sumber Mata Air 3 Hulu WS Barito 1. Kebutuhan air minum binatang ternak Ketersediaan air untuk listrik Pembagunan embung dan chekdam Pengamanan hutan pada daerah hulu Di daerah peternakan Hulu WS BaritoKapuas 9 Memantapkan Kerangka Institusi Pengelola SDA Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-6 . Kondisi Air Baku Perdesaan / Perkotaan Kondisi lokasi pengambilan air baku Kebutuhan air industri Diharapkan dibangun wadukwaduk penampungan air Dalam WS S Barito Pengembangan irigasi sawah diprioritaskan pada kegiatan rehabilitasi dan pengembangan irigasi kecil Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah Pembangunan sarana dan prasarana air baku untuk air bersih Kota dan Kabupaten Dalam WS Barito 2. suaka marga satwa dan taman wisata. Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi Peningkatan/pemeliharaan sarana/prasarana irigasi Dalam WS Barito 6.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Pelestarian hutan lindung. kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam Kualitas Air Kondisi Air di Mata Air. Penambahan jaringan. peningkatan pelayanan air bersih melalui kerjasama antar daerah dan kerjasama dengan swasta. Kebutuhan air irigasi 5. taman nasional. penyuluhan LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 Kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam meliputi cagar alam. Komponen 2. 2. 3. Semi Teknis. embung dll. peningkatan pelayanan air bersih dengan penambahan kapasitas produksi air. Permasalahan Irigasi Teknis. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1. 4.

Balai DAS / BP-DAS 3 2. perbaikan hilir sungai. peta rawan daerah banjir. P3A Pengelola air di tingkat desa Pemantauan Survai dan Fasilitator Pengairan lainnya Sistem Pelaporan Kondisi Sungai dan Bangunan yang ada Kab dalam WS Barito-Kapuas Seluruh desa 3. Upaya pemberdayaan oleh Pemda Belum terbentuknya Dewan Sumber Daya Air Provinsi dan Sosialisasi petunjuk pelaksanaan UU dan Perda dan pengucuran dana Perlu dibentuk Dewan SDA WS Barito 2. pembangunan bendungan pengendali banjir Konservasi hulu sungai. Erosi .(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 Perlu dibentuk Balai DAS dan pembuatan Perda Pemberdayaan P3A Dibentuk pengelola air ditingkat desa Perlu adanya program pemantauan survai dan ditunjuk fasilitator pengairan Disediakan biaya pelaporan dan petugas yang memadai LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 1. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 7 WS Barito 8 Pembuangan Sampah oleh Masyarakat Program kali bersih Sungai Barito Komponen 4. antara lain budidaya pertanian tanaman tahunan. 7 tahun 2004 WS Barito 4 Bangunan Pengendali Banjir yang ada Peringatan Dini tentang Bahaya Banjir Upaya untuk Menanggulangi Kerugian Banjir Desa-desa Rawan Tergenang Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pengadaaan alat peringatan dini bila terjadi banjir Pembangunan bangunan pengendali banjir pada daerah rawan banjir Pemetaan dan pembuatan saluran pembuangan WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. 3. 5 Komponen 3. WS Barito Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-7 .Sedimentasi Dalam WS Barito Kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan sempadan sungai diijinkan sepanjang tidak mempengaruhi fungsi lindungnya terhadap ekosistem sungai tersebut. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Konservasi hulu sungai. rehabilitasi hutan kritis Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 5 WS Barito 6 WS Barito Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. Banjir hilir Barito 2. PEMBERDAYAAN STAKEHOLDERS DAN KELEMBAGAAN 1. Perambahan Bantaran Sungai Sosialisasi UU No. perbaikan hilir sungai. beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana 1. 4.

dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. 2. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Informasi mengenai kondisi hidrologi Informasi mengenai kondisi hidrometeorologi Informasi mengenai kondisi hidrogelogi Informasi mengenai kondisi kebijakan sumber daya air Informasi mengenai kondisi prasarana sumber daya air Informasi mengenai kondisi teknologi sumber daya air Informasi mengenai kondisi lingkungan pada sumber daya air Informasi mengenai kondisi kegiatan sosial ekonomi budaya terkait dengan SDA Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Belum terbentuknya Balai PSDA Kurangnya peran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan SDA Konflik masyarakat antar kelompok/daerah Pembentukan balai PSDA WS BaritoKapuas Provinsi 4 Sosialisasi 5 di kabupaten Komponen 5. sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk Dewan SDA dan Komisi Irigasi Kabupaten/ Kota Wilayah Sungai Barito-Kapuas.(Persero) CABANG I MALANG BIDANG /LINGKUP PROGRAM DIUSULKAN STAKEHOLDER 2 LOKASI ARAHAN RTRW PROP KALIMANTAN 4 1 Kabupaten 3 3. di kabupaten 3. di kabupaten 4 di kabupaten 5 di kabupaten 6 di kabupaten 7 di kabupaten 8 di kabupaten Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan 1. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. Dalam rangka peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan SDA. SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR 1. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan IP3A/GP3A/P3A dan organisasi pemanfaat air lainnya. Dengan maksud meningkatkan koordinasi antar instansi terkait. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-8 . dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap. dibuat database di kabupaten 2. dibuat database Perlu ada kegiatan penelitian dalam rangka penyusunan sistem lengkap.

internet) 3. Pelaksanaan Ekspose dan Peserta yang Terlibat Kegiatan PKM II yang pemaparannya dilakukan oleh Konsultan. pengumpulan data dan menyediakan informasi SDA kepada Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-9 . sebagian besar masyarakat masyarakat. Sehubungan dengan peningkatan kinerja pengelolaan SDA. Dalam rangka pengelolaan SDA secara efektif.1. sebagian masyarakat mengusulkan agar diterbitkan Perda dan keputusan Bupati/ Walikota dalam pengelolaan SDA serta penerapan sanksinya.(Persero) CABANG I MALANG 3. dimaksudkan untuk memberikan sosialisasi terhadap rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air. 4. sebagian masyarakat mengusulkan agar pemanfaat air dilibatkan dalam mengambil keputusan. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar menyiapkan Sistem Informasi Manajemen (melalui: radio. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan mengusulkan agar pihak pengelola SDA melakukan inventarisasi. audio visual. sebagian besar masyarakat mengusulkan agar pengelola SDA melakukan penyuluhan semua aspek pengelolaan SDA. sebagian masyarakat mengusulkan agar dibentuk dan diaktifkan unit yang menangani SIM dan kontrol kualitas. 7. Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan. 2. Dengan maksud untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan memiliki dalam pengelolaan SDA. media massa.3 PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM) II 7. Dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat tentang SDA. Adapun peserta yang diundang dalam rangka sosialisasi rancangan pola pengembangan dan pengelolaan SDA adalah : Departemen Pekerjaan Umum. Dengan maksud untuk memudahkan mendapatkan data. 5. Dalam rangka penyebarluasan informasi pengelolaan SDA. Komponen Sistem Informasi SDA 1. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.3. Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah.

3) Meningkatkan kesadaran para pengguna air akan tujuan dan kegiatan studi Rancangan Pola Wilayah Sungau .(Persero) CABANG I MALANG Tengah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan timur dan Kalimantan Selatan Para Kepala Bappeda Kabupaten Para Kepala Dinas Kabupaten yang terkait dengan SDA Para akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan SDA Pelaku industri yang berhubungan dengan SDA (PT.3. 2) Menambah pemahaman tentang situasi permasalahan air dan isu-isu yang menyangkut air dan para pengguna air. Tempat Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan di Jakarta.3.00 WIB sampai Selesai. 7. 7. Pukul 09.4.3. Indra Karya (persero) Cabang 1 Malang. PLN) 7. sebagai pelaksana pekerjaan ini. 7.3. 5) Mempergunakan hasil identifikasi tentang permasalahan pengelolaan SDA dan keinginan terhadap pembangunan untuk dilaksanakan sesuai dengan rancangan pengembangan SDA dan strategi dalam SDA. Pembiayaan Seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) ini menjadi tanggungan pihak Konsultan PT. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII-10 .5. tanggal 10 Desember 2008. Tujuan PKM II Tujuan penyelenggaraan pertemuan Sosialisasi ini adalah untuk : 1) Memberikan sosialisasi terhadap rancangan pengembangan dan pengelolaan SDA melalui diskusi langsung dengan para pengguna air.2. 4) Mengupayakan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan SDA WS Barito .3.Kapuas. Waktu Kegiatan Pertemuan Konsultasi Masyarakat II (PKM II) dilaksanakan pada hari Rabu.

11 .30 09.00 Peserta PKM II Peserta PKM II Pembawa Acara Pembawa Acara 10.6.00 – 09.KAPUAS. Kalimantan Tengah Pembawa Acara Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .(Persero) CABANG I MALANG 7. Indra Karya (Persero) Diskusi dan Penyampaian saran serta masukan Penutup dan Makan Siang Peserta Peserta PKM II Peserta PKM II Moderator Panitia Pembawa Acara 09.00 – 13.00 09. Jakarta Paparan PKM II oleh Konsultan PT.15 – 09.30 – 10. TA 2008 Hari/Tanggal Rabu.30 – 09.3.00 12. Jadwal JADWAL ACARA PERTEMUAN KONSULTASI MASYARAKAT (PKM II) dalam rangka SOSIALISASI RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BITO .15 Acara Pengisian Daftar Hadir Pembukaan oleh Ka Satker Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Propinsi Kalimantan Tengah Pengarahan oleh Ditjen Sumber Daya Air. 10 Desember 2008 Waktu 08.00 – 12.00 Peserta PKM II Peserta PKM II Bappeda Prop.

Kabupaten Barito Kuala Reboisasi .12 .3. sosialisasi UU No.Kab. Hasil Sosialisasi PKM II Hasil PKM tahap II yang telah dilaksanakan di Jakarta diperoleh beberapa masukan meliputi aspek Konservasi.Sungai Barito .Kab.Kabupaten Kapuas .7. 41 4 √ 5 √ Penghutanan kembali.Barito Selatan .Barito Timur .Sungai Kapuas .Sub DAS Negara Pembangunan (Arbaretum/ pelestarian sumber air) di kawasan sungai danmata air: . Murung Raya .Kabupaten Barito Kuala Memberikan contoh cara bercocok tanam pada lahan miring berdasarkan kaidah konservasi Pembuatan tras bangku (demplot) : . Pengendalian Daya Rusak Air.Kab. penambahan polisi hutan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Sub DAS Martapura . Komponen Konservasi Daerah Tangkapan Air NO I 1 Usulan Program Konservasi Daerah Tangkapan Air Rehabilitasi hutan dan lahan kritis .Sub DAS Barito Tengah . agro forestry. penegakan hukum.Kab. Pendayagunaan SDA.(Persero) CABANG I MALANG 7.Sub DAS Barito Hilir .Kabupaten Kapuas .3.Mata air Perencanaan terpadu pemanfaatan potensi hutan (kayu) .daerah hulu Sungai Barito Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Tetapi Arbaretum bukan upaya untuk aspek Konservasi tetapi lebih cocok untuk aspek Pendayagunaan SDA Hutan desa diperlukan koordinasi lintas sektoral. Murung Raya .Barito Timur .7.Kabupaten Barito Utara .Kab.1. Kelembagaan dan Sistem Informasi Managemen sebagai berikut : 7.Barito Selatan .Kabupaten Barito Utara . penyuluhan.Kab.

Kabupaten Kapuas .Sungai Barito .Kabupaten Barito Utara .Barito Selatan .Sumber Air Lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 3 4 5 Rehabilitasi/peningkatan jaringan irigasi sederhana .Kab. industri maupun PDAM Peningkatan/pemelihar aan sarana/prasarana irigasi √ Peningkatan fungsifungsi fasilitas irigasi yang sudah ada. Target pelayanan RKI untuk seluruh kabupaten di WS Barito Kapuas: .13 .Barito Selatan . √ Penyediaan air baku yang berkualitas baik dari air permukaan maupun air tanah.Kab.3.Kabupaten Barito Utara .Kab.Kabupaten Barito Utara .Kabupaten Barito Kuala Optimalisasi sistem irigasi pada DI Teknis /semi teknis : . Murung Raya .Kab. dengan target tingkat pelayanan 80 % & seluruh kota kecamatan dapat terlayani kebutuhan air bersihnya hingga tahun 2025 Membangun prasarana air baku baru untuk tingkat kecamatan yang belum ada prasarananya.Barito Timur .Barito Timur .(Persero) CABANG I MALANG 7.7.Kabupaten Barito Kuala Meningkatkan pelayanan untuk RKI.Sungai Kapuas .Kabupaten Kapuas .2.Kabupaten Kapuas .Kab.Kab.Barito Timur .Barito Selatan .Barito Timur .Kabupaten Kapuas . Murung Raya . Penyediaan air ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.Kab.Barito Selatan .Kabupaten Barito Kuala √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Murung Raya .Kab.Kab.Kabupaten Barito Utara . √ Banyaknya lahan pertanian yang belum termanfaatkan karena kurangnya fasilitas irigasi. Komponen Pendayagunaan Sumber Daya Air N O II 1 Usulan Program Pendayagunaan SDA Penyediaan Air Baku .Kabupaten Barito Kuala Pembangunan irigasi baru .Kab.Kab.Kab. Murung Raya .

Sungai Kapuas .Sungai Barito . Perlu dibangun waduk sebagai tampungan untuk sistem PLTA Perlunya dibangun embung atau chekdam untuk tempat minum binatang ternak Pembangunan jaringan irigasi untuk tambak dan perikanan darat.P3A .Sungai Kapuas . Penyediaan karamba untuk budidaya ikan di sungai Untuk mencukupi kebutuhan air bersih rumah tangga dan pertanian tanaman kering.Sumber Air Lainnya Pembangunan sumur-sumur air tanah : √ √ 9 √ 10 Kelembagaan sumber daya air .Balai DAS/BP-DAS .(Persero) CABANG I MALANG N O 6 Usulan Program Ketersediaan air untuk listrik .Sungai Kapuas .Fasilitator pengelola air lainnya √ 11 Sistem pelaporan kondisi sumber air .Pengelola air di tingkat desa .Sumber Air Lainnya Meningkatkan kontrol terhadap kualitas air dengan memasang titik kontrol BOD dan BO di sugai-sungai √ 12 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII . Sehingga akan didapat data kualitas air sungai-sungai di WS Citanduy secara lengkap 7 8 Pemanfaatan air untuk binatang ternak .Sumber Air Lainnya Pemanfaatan air untuk Perikanan darat dan Tambak .Sungai Barito . Dimaksudkan untuk memantau kondisi terakhir dari sumbersumber air yang ada.Sungai Barito . Pembentukan lembaga pengelola air dimaksudkan agar terjadi koordinasi antar instansi dan antar pengguna SDA sehingga bisa dihindari penggunaan SDA yang kurang bertanggungjawab.14 .Waduk Muara Juloi Tanggapan Setuju √ Tidak Keterangan Ketersediaan air yang melimpah belum termanfaatkan secara optimal.

beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana Konservasi hulu sungai.3.3.(Persero) CABANG I MALANG 7. Murung Raya . dll Flood warning √ Berdasarkan kejadian bencana alam yang pernah terjadi. pompa air cerucuk Perahu karet.Sungai Barito . (jika upaya lainnya sulit dan mahal.Barito Selatan . perlu diterapkan Flood Proofing) Meningkatkan managemen banjir melalui partisipasi masyarakat & sosialisasi .Kabupaten Kapuas .Sungai Kapuas Menjadikan DAS bagian hulu sebagai waduk alam dengan pengelolaan DAS yg baik sesuai dengan kaidah konservasi Flood Zoning.7. pembangunan bendungan pengendali banjir . rehabilitasi hutan kritis 3 √ 4 √ Penetapan daerahdaerah resapan air.Kabupaten Barito Utara . perbaikan hilir sungai.Kab.Kab.Barito Timur .15 . karung pasir.Kab.Kabupaten Barito Kuala Pengendalian penambangan galian C 1) Penyusunan perda tentang perizinan dan tata cara penambangan Penanggulangan Daya Rusak air Perbaikan/perkuatan tebing kritis yang belum ditangani dan memelihara serta memonitor yang sudah ditangani Penanggulangan darurat bencana 1) Penyediaan bronjong. 5 √ 6 √ B 1 2 3 √ √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Sungai Kapuas Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 Pencegahan Erosi dan Sedimentasi . peta rawan daerah banjir.Sungai Barito . perbaikan hilir sungai. Komponen Pengendalian Daya Rusak Air N O III A 1 Usulan Program Pengendalian Daya Rusak Air WS BaritoKapuas Pencegahan Daya Rusak Air Konservasi hulu sungai. kemah. Flood Proofing.

Komponen Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan N O IV 1 Usulan Program Pemberdayaan Masyarakat (Sosial dan Budaya) Pemberdayaan/penguatan petani pemakai air (P3A) dan peningkatan Partisipasi masyarakat pemakai air Penyuluhan kepada masyarakat tentang kepedulian terhadap penanganan banjir .Kabupaten Barito Utara .Kab.7.5.Kabupaten Kapuas .Kab.data pengamat muka air .7.(Persero) CABANG I MALANG 7.Barito Selatan . Murung Raya .16 .data klimatologi O & P bangunan hidrologi termasuk pengadaan kertas alat dan perlengkapan lainnya Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .data hujan .Kabupaten Barito Utara .Barito Selatan .3.Kabupaten Barito Kuala Pengelolaan data hidrologi .Kab.Kabupaten Kapuas .4.3.Kabupaten Barito Kuala Penyuluhan kepada petani memberi peran pada P3A untuk ikut mengendalikan & pengawasan pemakaian air 1) Penyuluhan pada P3A 2) Mengeffektifkan semua P3A yang ada Tanggapan Setuju Tidak Keterangan √ 2 √ 3 √ 7. Murung Raya .Kab.Barito Timur .Kab.Barito Timur . Komponen Sistem Informasi Sumber Daya Air N O V 1 Usulan Program Sistem Informasi Sumber Daya Air Membangun sistem pengelolaan data dan informasi (6 Kabupaten / Kota) .Kab.

Stasiun klimatologi Publikasi data hidrologi ditingkatkan : Setiap bulan sekali data-data hidrologi di publikasikan melalui internet Tanggapan Setuju Tidak Keterangan 4 √ 5 Pengukuran debit dan pengambilan sampel air ditingkatkan (setiap seminggu sekali diadakan pengukuran debit dan pengambilan sampel air) √ Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena tidak bisa tiap bulan datadata hidrologi bisa tiap bulan dipublikasikan Dirasakan masih sulit untuk dilaksanakan karena melihat dari faktor biaya dan petugas yang ada minimum 6 SIM agar dilengkapi dengan sistem informasi Geografis SDA.(Persero) CABANG I MALANG N O Usulan Program . agar bisa menganalisis secara spasial dari wilayah S.17 . Barito-Kapuas beserta konservasi dan pendayagunaan airnya √ Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VII .Stasiun pengamat muka air .Stasiun hujan .

Ketidak konsistenan Tata Ruang.2 ISU POKOK NASIONAL PERMASALAHAN SDA 8.1. 8.1.2.(Persero) CABANG I MALANG BAB 8 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI BARITO-KAPUAS 8. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .1 . Rancangan pola ini disusun berdasarkan hasil kajian permasalahan dan isu yang ada di Wilayah Sungai Barito-Kapuas baik permasalahan umum maupun khusus serta hasil masukan dalam PKM 1. Hal ini diperparah adanya Kebijakan RTRW per Kabupaten yang belum mempertimbangkan Tata Ruang Wilayah Sungai.2. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Semakin meluasnya degradasi DAS dan semakin tingginya sedimentasi akibat pembabatan hutan dan praktek pertanian dan perkebunan yang tidak mengikuti aspek konservasi lahan yang didorong oleh tekanan kependudukan dan meningkatnya kegiatan ekonomi dan tata guna tanah serta tata ruang yang tidak kondusif. Barito-Kapuas perlu disiapkan Rancangan Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Kebijakan Nasional maupun kebijakan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan dan masukan dari stakeholder melalui PKM.1 UMUM Sebagai landasan dalam pembuatan Pola Pengelolaan SDA WS.1. Salah satu penyebabnya adalah belum adanya sistem pengaturan kompensasi atas kehilangan kesempatan pemanfaatan ruang di bagian hulu untuk penggunaan yang lebih produktif dan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih besar daripada untuk daerah resapan air. Permasalahan SDA dari Sisi Pasokan/ Ketersedian Air 8. diantara masalah-masalah sbb: Kebijakan pemerintah tentang penetapan kawasan konservasi / resapan di bagian hulu dan kawasan budidaya di bagian hilir suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) banyak yang tidak berjalan efektif.

akibatnya semakin menurunkan luas areal retensi air untuk banjir dan juga menurunkan resepan untuk “recharge” air tanah. Terbatasnya Prasarana Penyedia / Pengendali Pasokan Air Dilihat dari potensi pasokan air dari kedua sungai. Akibatnya banyak bantaran sungai dijadikan permukiman sehingga mempersempit palung sungai yang pada gilirannya dapat mengakibatkan terjadinya banjir/ genangan dan daerah kumuh.2 .3. dilaksanakan secara sengaja maupun tidak sengaja dan dengan skala kecil maupun besar. Kerusakan Sumber Air Masalah kerusakan sumber air di wilayah sungai Barito-Kapuas akhir akhir ini adalah mencakup : Menyempitnya sungai sungai dan saluran drainasi baik dalam DAS Barito maupun DAS Kapuas akibat tingginya kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran air sungai maupun drainasi sebagai akibat rusaknya DAS maupun akibat sampah yang dibuang penduduk disekitar sungai maupun drainasi yang pada akhirnya akan menurunkan kemampuan kapasitas sungai/drainasi sehingga menyebabkan banjir.1. (penerapan Flood zoning regulation) Penggunaan kawasan lindung untuk kegiatan ekonomi-sosial maupun pertanian dan perkebunan.2. 8.2. Terbatasnya jumlah bangunan penyedia air telah menyebabkan kurang berkembangnya pertanian/persawahan di WS Barito-Kapuas. Tercemarnya sumber-sumber air seperti sungai dan danau oleh limbah penduduk maupun pertanian. Daerah Irigasi lainnya yang dikelola oleh Dinas Pengelolaan SDA yang terdiri dari jaringan irigasi teknis.1.(Persero) CABANG I MALANG Kurangnya perhatian dan keberpihakan pihak perencana tata ruang untuk mengalokasikan ruang bagi permukiman yang aman dan sehat penduduk golongan miskin. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Adanya kawasan hutan lindung yang dikonversi menjadi daerah permukiman dan pertanian/perkebunan. 8. Selain itu sebagian sarana dan prasarana irigasi yang ada telah mengalami penurunan kinerja karena kerusakan/penurunan fungsi bangunan irigasi. ketersediaan air untuk irigasi sangat mencukupi.2. semi teknis dan sederhana di beberapa lokasi terpencar juga mengalami penurunan fungsi pelayanan.

8.2. Dampak Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk sebesar rata-rata 1. jasa dan perkotaan diperkirakan akan meningkat sebesar 2 s/d 3 kali dari kebutuhan. jasa dan perkotaan memerlukan dukungan berbagai sektor diantaranya penyediaan air baku untuk industri.2. 8.2.2.2.3 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS .2. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi yang dimanifestasikan dalam meningkatnya kegiatan industri.(Persero) CABANG I MALANG 8.2. Perilaku Boros Air.2. Masalah Sumber Daya Air dari Sisi Permintaan (Penggunaan) 8.4. demikian juga pembuangan sampah padat dan limbah cair ke air dan sumber air tidak saja menyebabkan penyempitan sungai tetapi juga menebarkan bau tidak sedap disepanjang sungai/kanal. 8.2. Dilain pihak konsumsi beras di Indonesia akan meningkat dari tahun ke tahun yang memerlukan pertambahan sawah beririgasi baru dan sarana irigasi yang memadai.3. Penanganan untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat antara lain melalui : • • Informasi publik tentang air belum tertata/ berkembang Pendidikan publik tentang air belum tertata/ berkembang VIII . Namun yang kenyataannya yang terjadi adalah kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi. Rendahnya (tidak memadainya) alokasi dana untuk O&P prasarana SDA Dengan adanya pembagian wewenang dalam pengelolaan jaringan irigasi yang diindikasikan dari luasan jaringan irigasi. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih (domestik. perkotaan dan industri ) daerah perkotaan s/d tahun 2025 akan diperlukan penambahan air baku yang cukup signifikan dari yang ada sekarang ini.2.4.1. Kurangnya sawah beririgasi teknis dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana irigasi adalah ancaman bagi swasembada pangan 8.2% pertahun akan menimbulkan bertambahnya kebutuhan pangan dan bahkan tekanan yang sangat besar di atas tanah (lahan). Untuk memenuhi kebutuhan pangan (beras) sampai dengan tahun 2025 maka sawah beririgasi baru harus dibangun. Ketahanan Pangan Memerlukan Air dan Lahan Upaya ketahanan pangan memerlukan peningkatan produksi pangan terutama pada lahan beririgasi. dana OP pada daerah irigasi yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten menjadi sangat minim rendah.1. Tidak Peduli dan Tidak Ramah Lingkungan Perilaku masyarakat yang boros air dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.2.2.

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3. Masalah Manajemen Sumber Daya Air 8.2.3.1. Penanganan Yang Terfragmentasi Dengan sifat SDA yang dinamis, maka penanganan SDA menjadi terfragmentasi di beberapa Departemen. Tiap sektor menangani sehingga cenderung membentuk egoisme sektoral yang menitikberatkan kepada kepentingan masing-masing. Akibatnya terjadi tumpang tindih maupun ”gap” (kekosongan) tanggung jawab dan wewenang institusi yang merencanakan dan membuat aturan. Institusi yang berhubungan dengan kualitas air misalnya, juga bermacam-macam sehingga sampai saat ini masalah lingkungan masih belum terpecahkan. 8.2.3.2. Kelemahan Koordinasi Koordinasi pengelolaan Sumber Daya Air di pusat maupun di daerah masih lemah : • • Lembaga koordinasi di tingkat pusat baru mencakup antar instansi terkait dan belum melibatkan seluruh komponen stakeholder secara lengkap; Belum optimalnya fungsi lembaga koordinasi di tingkat Provinsi yaitu Panitia Tata Pengaturan air ( PTPA ) dan tingkat Wilayah Sungai (WS) yaitu Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air ( PPTPA ) . • PTPA dan PPTPA belum mencakup seluruh komponen stakeholders.

8.2.3.3. Konsep dan Perangkat Desentralisasi Pengelolaan SAD Belum Mantap Tersedianya dana, tersedianya semberdaya manusia dan kemampuan manajemen selalu menjadi kendala utama. Disamping itu desentralisasi tidak hanya menyangkut hak dan wewenang tetapi melekat didalamnya adalah tugas dan kewajiban. Dengan desentralisasi maka institusi daerah perlu dikembangkan termasuk posisi baru. Jika terjadi ”perubahan lagi” maka posisi akan hilang kembali. Karena itu sebaiknya desentralisasi dilakukan dengan persiapan yang matang, secara bertahap dan berjenjang. 8.2.3.4. ”User Pays Principle & Polluters Pays Principle” Instrumen dan mekanisme untuk operasionalisasi prinsip pemakai air atau menerima manfaat dan “pembuangan limbah“ harus membayar belum memadai sehingga masih memerlukan penyempurnaan dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 4

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.5. Mekanisme Perijinan Belum Bemadai Mekanisme perijinan khususnya yang menyangkut “hak guna” untuk “bulk water“ (air dalam jumlah besar) untuk pemakaian yang bersifat komersial belum memadai dan perlu disesuaikan dengan UU dan PP desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah baru. 8.2.3.6. Organisasi Masyarakat Pemakai Air Belum Mandiri Organisasi masyarakat pemakai air belum mampu berkontribusi dalam pembiayaan untuk kegiatan Operasi & Pemeliharaan (O&P), perbaikan dan pemeliharaan prasarana-sarana pengairan maupun ”cost recovery” untuk investasi di bidang pengembangan SDA. Sehingga keseluruhan biaya pengelolaan SDA (dari O&P s/d pembangunan prasarana pengairan) menjadi beban pemerintah. 8.2.3.7. Keterbatasan Investasi Dari Pemerintah dan Swasta Sejak REPELITA II s/d sekarang (TA 2008) investasi untuk prasarana dan sarana SDA skala besar hampir semua didanai dengan pinjaman luar negeri seperti OECF/ JBIC, Bank Dunia, ADB dan sebagainya. Keberlanjutan pembangunan prasarana dan sarana skala besar dimasa depan tergantung kebijakan pemerintah, yaitu apakah akan meneruskan pola penyediaan dana seperti sebelumnya (dengan Loan) atau dengan skema pembiayaan yang lain. Di sisi yang lain peranan swasta dalam negeri maupun luar negeri untuk investasi bersama dengan pemerintah untuk membangun prasarana SDA masih sangat terbatas karena kompleksnya permasalahan dan resiko yang tinggi seperti kepastian hukum, kemampuan pemakai air/ penerima manfaat untuk membayar layanan dan sebagainya. 8.2.3.8. Penerapan Prinsip Good Governance Penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan SDA masih pada tataran konsep dengan operasionalisasi masih sangat terbatas, misalnya proses Konsultasi Masyarakat untuk mendapat masukan dari stakeholders pada berbagai tingkatan Pusat, Provinsi, Kabupaten/kota, belum maksimal. 8.2.3.9. Akuntabilitas Publik Pengelolaan SDA Masih banyak institusi yang menangani masalah yang bersifat kebijakan dan strategi masih menyatu dengan institusi yang menjalankan operasional. Dengan demikian maka akuntabilitas kedua hal tersebut menjadi kabur dan rancu. Institusi itu membuat kebijakan dan sekaligus melaksanakan sendiri kebijakannya. Disamping itu satu sektor pembangunan ditangani oleh berbagai institusi sehingga akuntabilitas institusi sulit diwujudkan.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 5

(Persero) CABANG I MALANG

8.2.3.10. Lemahnya Lembaga Pengelola SDA Wilayah Sungai Belum efektifnya kerangka kelembagaan dan lembaga pengelola prasarana dan sarana Wilayah Sungai. 8.2.3.11. Tidak Efektifnya Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tidak efektifnya pemeliharaan jaringan irigasi dan tidak berlanjutnya (unsustainable) penyediaan dana untuk rehabilitasi/ perbaikan jaringan irigasi. 8.2.3.12. Lemahnya Management Informationt System (MIS) Sumber Daya Air Kurang andalnya data hidrologi dan kualitas air serta tidak tersedianya Manajemen Informasi Sumber Daya Air yang handal menyebabkan akurasi dan kualitas produk perencanaan maupun manajemen SDA belum mencapai ke tingkat yang diharapkan. 8.2.4. Masalah Yang Berkembang Saat Ini Berdasarkan Hasil PKM Hasil PKM Tahap I ditinjau dari 5 komponen, yaitu : Aspek Konservasi Daerah Tangkapan Air. Aspek Pendayagunaan SDA. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air. Aspek Pemberdayaan Stakeholder dan Kelembagaan. Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air. Hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II seperti yang dijelaskan pada bab 7 sebelumnya. 8.3 KONSEPSI POLA PENGELOLAAN SDA WS BARITO-KAPUAS Uraian dibawah ini merupakan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas yang dijiwai oleh Indikasi Program yang telah diuraikan terdahulu. Secara MATRIKS akan dijelaskan pada lampiran bab ini kaitan antara indikasi Program dengan Konsepsi Pola SDA yang dijabarkan dalam arahan kegiatan operasional. 8.3.1 Konservasi Sumber Daya Air Konservasi sumberdaya air merupakan salah satu misi yang diemban dalam arahan pengelolaan SDA menurut UU No 7/2004. tiga hal, yaitu : Kebijakan yang berkaitan dengan konservasi sumber daya air dalam Kebijakan Nasional Sumber Daya Air mencakup

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 6

(Persero) CABANG I MALANG

a) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. b) meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. c) memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Pola pengelolaan Sumber Daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Dalam hubungannya dengan aspek konservasi Sumber Daya Air, maka pola pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas diarahkan pada beberapa hal berikut : a) peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air. b) Pengembangan dan rehabilitasi sarana dan prasarana sumberdaya air dan upaya pemeliharaan sumber air. c) Menetapkan dan pengelolaan daerah sabuk hijau untuk kawasan danau, waduk, rawa, situ/ embung dan mata air serta sempadan sungai dengan prioritas daerah permukiman. d) Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air. e) Memperbaiki kualitas air pada sumber air dan meningkatkan kualitas air dengan cara mengelola industri serta berkesinambungan. f) Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta system penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumberdaya air dan lingkungan. g) Memberdayakan masyarakat dalam aktivitas konservasi sumberdaya air. limbah cair komunal di kawasan permukiman dan system pemantauan kualitas air secara membangun

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 7

(Persero) CABANG I MALANG

Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Konservasi SDA di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat : 1. Mengupayakan selalu tersedianya air dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. 2. Melestarikan sumber-sumber air dengan memperhatikan kearifan lokal/adat istiadat setempat. 3. Melindungi sumber air dengan lebih mengutamakan kegiatan rekayasa sosial, peraturan perundang-undangan, monitoring kualitas dan kuantitas air dan kegiatan vegetatif. 4. Meningkatkan daerah resapan air dan daerah tangkapan air dengan konservasi 5. Mempertahankan dan memulihkan kualitas dan kuantitas air yang berada pada sumber-sumber air 6. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan konservasi SDA. Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air Beberapa aktivititas yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah sebagai berikut: a. Rehabilitasi, konservasi dan perlindungan hutan dalam kaitannya dengan fungsi hutan sebagai penyimpan air. Keberadaan hutan dengan vegetasi penuh akan mengurangi erosi yang mempunyai dampak negatif terhadap sumber daya alam lainnya dan Sumber Daya Air. b. Reboisasi dalam kawasan hutan yang rusak akibat penggundulan hutan, penebangan liar dan pembangunan liar di hulu sungai harus dilakukan. c. Penghijauan di lahan kritis tidak dapat dibudidayakan. d. Penanaman tanaman bakau pada kawasan pantai dan rawa dan perlindungan tanaman yang sudah ada. e. Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai, danau, waduk, rawa, situ/ embung sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat. f. Penatagunaan lahan sesuai dengan kelas kesesuaian lahannya dan aktivitas budidaya pertanian dengan memperhatikan kaedah-kaedah konservasi tanah. g. Pelestarian dan perlindungan sumber mata air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem Sumber Daya Air dapat dicegah. h. Penertiban usaha penambangan galian C terutama yang berkaitan dengan kawasan sumber air.
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

milik masyarakat yang jumlahnya cukup luas.

Lahan semacam ini jika tidak dihijaukan berpotensi semakin terdegradasi dan

VIII - 8

(Persero) CABANG I MALANG

Pengawetan Air Walaupun usaha-usaha pengawetan air pada dasarnya lebih sulit dari pengawetan tanah karena air merupakan komponen ekosistem yang dinamik, beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam rangka pengawetan air adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan pemanfaatan air permukaan dengan cara, antara lain : a) Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui : Pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian Penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation) Penanaman dalam strip (sistem penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim Pembuatan teras yang dapat menyimpan air, misalnya teras bangku konservasi (Conservation Bench Terrace) Zingg Pembangunan waduk dan embung

b) Penyadapan air (water harvesting) c) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. d) Pengolahan tanah minimum (minimum tillage). 2. Pengelolaan Air Tanah (Soil Water Management), dapat dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan, drainase dalam, atau kombinasi keduanya. 3. Meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi melalui antara lain pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air, mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan, pergiliran pemberian air dan pemberian air secara terputus. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam kaitannya dengan pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air adalah :
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 9

(Persero) CABANG I MALANG

1. Kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik dengan membuat peraturan limbah domestik dan sosialisasi terhadap masyarakat tentang hidup sehat yang terkaitan dengan permasalahan sampah. 2. Pengelolaan sampah domestik secara terpadu dengan sistem daur ulang, pembuatan produk yang mudah didaur ulang, pemisahan jenis sampah organik dengan sampah anorganik. 3. Pengendalian/pengawasan pembuangan limbah industri sesuai dengan baku mutu yang sudah ditetapkan pemerintah. Pengendalian limbah industri dapat dilakukan dengan cara good house keeping (pengelolaan internal), minimasi limbah, dan pemantauan periodik. 4. Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri, baik berupa IPAL individu (industri besar) atau IPAL bersama (industri kecil dan menengah). 5. Audit lingkungan. 8.3.2 Pendayagunaan SDA Pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada Pola Pengelolaan Sumber Daya Air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Beberapa komponen penting dalam pendayagunaan SDA yang telah di uraikan pada indikasi program menjadi titik tolak penyusunan konsep pengelolaan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Dari Indikasi Program tersebut akan dijabarkan dalam matriks Indikasi Program Versus Konsepsi Pola khususnya dalam aspek pendayagunaan SDA. Dengan mengacu kepada arah kebijakan nasional dan memperhatikan hasil kajian terhadap isu-isu utama yang ada di WS. Barito-Kapuas serta analisis atas kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadap pengelolaan SDA, disusunlah arah kebijakan pengelolan sumber daya air di WS. Barito-Kapuas yang akan menjadi pedoman dalam penyusunan agenda pengelolaan SDA selama 20 tahun ke depan (2006-2025), sebagai penjabaran pelaksanaan misi dalam rangka mewujudkan visi pengelolaan SDA yang telah disepakati bersama.

Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 10

(Persero) CABANG I MALANG

Pendayagunaan SDA merupakan upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan Sumber Daya Air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. Sumber air mengandung arti tempat atau wadah air alami dan atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. Sumber air memiliki fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi bagi kehidupan manusia yang perlu dipelihara keselarasannya. Pengelolaan sumberdaya air sampai saat ini belum memberikan kejelasan dalam hal proporsi antar fungsi sumber daya air, sehingga pendayagunaan lebih lanjut dari Sumber Daya Air dapat mengakibatkan ketidakseimbangan fungsi yang menjurus kepada kerusakan atau menjadi bencana di kemudian hari dari sumber air. Di dalam menyelaraskan fungsi-fungsi tersebut, akan diperlukan sistem pengkajian, pemantauan dan evaluasi yang dapat memberikan data dan informasi yang transparan yang diperlukan didalam pengembangan pengelolaan sumber air lebih lanjut secara berkesinambungan. Transparansi dan akuntabilitas dari suatu pengelolaan sumber air akan menjamin keberlanjutan dari penyelenggaraan pengelolaan sumber air. Salah satu kunci di dalam upaya meningkatkan transparansi dan akuntabiliti dari suatu pengelolaan sumber air adalah dengan merumuskan, menentukan dan menetapkan “zona pemanfaatan sumber air” sebagai suatu unit terkecil didalam pengelolaan sumber air. Bupati/ Walikota dan Gubernur wilayah terkait, sesuai dengan kewenangannya bekerjasama merumuskan rencana Zona Pemanfaatan Sumber Air. Penetapan Zona Pemanfaatan Sumber Air di koordinasikan melalui wadah koordinasi sumber air (PPTPA) pada Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Penetapan rencana Zona pemanfaatan sumber air merupakan bagian dari proses penyusunan pola pengelolaan SDA dan rencana induk pengelolaan SDA. Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong lebih meningkatnya nilai ekonomi air dibanding fungsi sosialnya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar sektor, antar wilayah dan berbagai pihak yang terkait dengan Sumber Daya Air. Di sisi lain, pengelolaan Sumber Daya Air yang lebih bersandar kepada nilai ekonomi akan cenderung lebih memihak kepada pemilik modal serta dapat mengabaikan fungsi sosial Sumber Daya Air. Untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut akan diperlukan penetapan peruntukan air pada sumber air. Pemerintah, pemerintah daerah wajib menyelenggarakan berbagai upaya untuk menjamin ketersediaan air bagi setiap orang yang tinggal di wilayahnya. Jaminan tersebut menjadi tanggungan bersama antara pemerintah, pemerintah daerah,
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 11

(Persero) CABANG I MALANG

termasuk di dalamnya menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Jaminan penataan sumber air secara layak akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS BARITO-KAPUAS diarahkan untuk dapat: 1. Mendayagunakan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air secara berkelanjutan. 2. Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. 3. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. 4. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan, ketertiban dan keadilan, ketapatan penggunaan, keberlanjutan penggunaan, dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. 5. Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air, dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. 6. Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dengan prinsip meningkatkan efisiensi alokasi dan distribusi kemanfaatan sumber air.

8.3.2.1 Penetapan zona pemanfaatan sumber air 1. Menetapkan rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kota dalam zone pemanfaatan sumber air meliputi: hutan lindung, kawasan resapan air, sempadan sungai, sempadan pantai, cagar alam, cagar budaya dan ilmu pengetahuan, tanaman lahan basah, tanaman lahan kering, rawan bencana dengan memperhatikan semua pengguna sumber air terakomodasi, meminimalkan dampak negatif kelestarian air, konflik penggunaan sumber air dari kawasan lindung dan fungsi kawasan. 2. Menetapkan zone pemanfaatan sumber air dikoordinasikan melalui Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air (PPTPA) Wilayah Sungai. 8.3.2.2 Peruntukan SDA 1. Menetapkan Perda peruntukan air dengan memperhatikan penyebaran penduduk di wilayah sungai. Proyeksi kebutuhan dan pemanfaatan air yang sudah ada untuk keperluan kolam ikan, PDAM dan irigasi dalam kurun waktu/ proyeksi 20 tahun kedepan. 2. Menetapkan peruntukan air yang dikoordiansikan melalui PPTPA wilayah sungai 8.3.2.3 Penyediaan SDA 1. Mengusahakan dan menyediakan air untuk irigasi sawah sesuai dengan luasannya, kebutuhan air minum di masing-masing kabupaten/ kota dan pelayanan kebutuhan kolam ikan. 2. Menyediakan sumber air sesuai dengan prinsip-prinsip urutan prioritas penyediaan air dan apabila menimbulkan kerugian bagi pemakai air
Laporan Akhir
RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS

VIII - 12

memperoleh perpanjangan ijin.6 Pengusahaan SDA Pengusahaan SDA dilakukan dengan memperhatikan pemanfaatan air untuk kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi dan memperhatikan lingkungan dan berkelanjutan SDA melalui konsultasi dengan PPTPA WS.2.5 Pengembangan SDA 1.3. Memberikan prioritas yang tinggi kepada pemenuhan kebutuhan pokok seharihari dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim. 4. maka rencana tersebut dapat ditinjau kembali. 8. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pengembangan SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan dengan melalui pertimbangan PPTPA WS. dengan menetapkan urutan prioritas yang disetujui oleh Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air WS. Pengembangan teknologi modifikasi cuaca yang ditujukan untuk menambah volume air waduk.13 . Jika dalam pengembangan SDA sebagian masyarakat yang terkena dampak kegiatan menyatakan keberatan. program pembangunan. BaritoKapuas.3. Barito-Kapuas.4 Penggunaan SDA 1. 8. danau atau tampungan air hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan PPTPA WS.(Persero) CABANG I MALANG sebelumnya diatur bersama-sama dengan PPTPA WS. 2. 3. Pembentukan pemegang izin dilakukan dengan pertimbangan PPTPA WS. Barito-Kapuas. 2. keringanan biaya jasa pengelolaan SDA. Barito-Kapuas. Barito-Kapuas dan memberikan kompensasi secara wajar kepada pemakai. Pengembangan SDA yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup dikenakan ketentuan-ketentuan tentang analisis mengenai dampak lingkungan. Barito-Kapuas.2. 3. ganti rugi. Barito-Kapuas.2. 3. Hasil monitoring oleh pemerintah ditembuskan kepada PPTPA WS. 4. 8. Menetapkan Perda penggunaan air yang mengatur waktu izin menyangkut hak guna air paling sedikit 5 (lima) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun sesuai pertimbangan PPTPA WS.3. Penetapan Perda tata cara pemberian kompensasi dapat berupa. Barito-Kapuas yang ditetapkan 5 (lima) tahun sekali. memperoleh penyediaan air dari sumber lain.

longsoran tanah.3 Pengendalian Daya Rusak Air Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan.14 . 4. erosi. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. Mengupayakan Keberlangsungan Aktivitas Masyarakat dan terlindunginya sarana dan prasarana pendukung aktivitas masyarakat. terancam kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa serta wabah penyakit yang dikonsultasikan kepada PPTPA WS. Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung. mempercepat pemerintah daerah Provinsi. dan fisika air.3. banjir lahar dingin. Barito-Kapuas. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. Meningkatkan sistem penanggulangan bencana. erosi dan sedimentasi. kekeringan. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. dan/atau wabah penyakit. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah. biologi dan fisika air. 5. tanah longsor. Daya rusak air dapat berupa banjir. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan. Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. 2.3. Menetapkan kawasan rawan bencana alam dalam zona-zona dengan Perda Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . kekeringan. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS BARITOKAPUAS diarahkan untuk dapat: 1. 1. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. biologi. Kabupaten/Kota terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. amblesan tanah. 8.(Persero) CABANG I MALANG 8. dan upaya pemulihan akibat bencana. amblesan tanah. upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. Sejalan dengan kepentingan yaitu untuk pemerintah.1 Pencegahan Bencana Alam rawan banjir. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana. 3. sedimentasi. Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air.3. terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan/atau satwa. Memulihkan fungsi sarana dan prasarana guna pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. banjir lahar dingin. penanggulangan dan pemulihan.

Barito-Kapuas. Penanggulangan Bencana Alam Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama masyarakat yang dibantu oleh PPTPA WS.(Persero) CABANG I MALANG 2.3. dilakukan dengan melalui radio dalam acara Pengelolaan Sumber Daya Air WS. Peringatan dini dilakukan di lokasi yang rawan bencana. elemen masyarakat. 3. Pernyataan Pemerintah Kabupaten/Kota atau Provinsi tentang tingkat kejadian bencana alam diperlukan pembahasan dengan PPTPA WS. Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat. 4. Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam di sebar luaskan melalui radio. Melakukan penyebaran berita melalui radio yang ditetapkan oleh pemerintah. 8. Tabel berikut ini adalah matriks indikasi program dan konsepsi Pola Pengelolaan SDA WS Barito-Kapuas. Selain permasalahan. Penetapan prosedur operasi standar penanggulangan kerusakan bencana akibat 4.3.4 Antisipasi Perkembangan Kebutuhan Pembangunan Pengelolaan sumber daya air perlu melihat ke depan agar dapat memperkirakan proyeksi pengembangan dan dampaknya terhadap kebutuhan air. 3.3 Pemulihan Bencana Alam Pemulihan daya rusak air oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dengan melibatkan semua unsur.3. berbagai isu strategis berkaitan dengan rencana pembangunan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .3. daya rusak air ditetapkan melalui Perda masing-masing Kabupaten/Kota dan Provinsi. 8. 8. Berbagai permasalahan yang telah muncul pada saat ini jika tidak diantisipasi akan berkembang dan menjadi persoalan yang sulit untuk diselesaikan.3.2 1. BaritoKapuas. 2.3. wilayah telah pula disampaikan. BaritoKapuas.15 .

persatuan dan kesatuan bangsa.sedangkan alokasi untuk kebutuhan lainnya dengan memperhatikan nilai lingkungan dan ekonomi air Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 4 Mengembangkan dan menerapkan instrumen kebijakan untuk mendorong alokasi air dan penggunaan yang efektif dan efisien serta memberikan manfaat sosial ekonomi paling besar bagi masyarakat dengan memperhatikan kaidah lingkungan hidup. Mengembangkan sistem alokasi air untuk kebutuhan pokok mahluk hidup termasuk pertanian rakyat sebagai prioritas utama. target 25% tahun 2011. 50% tahun 2016. serta memperhatikan kebutuhan generasi sekarang dan akan datang. pembiayaan. INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN 2 3 Menerapkan rencana pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai Barito-Kapuas secara bertahap dimulai tahun 2009. pola pengelolaan sumber daya air. Mewujudkan sinergi dan mencegah konflik antar wilayah dan antar sektor dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional. pelaksana. rencana induk. Penerapan keterpaduan disusun dengan memperhatikan wadah koordinasi.(Persero) CABANG I MALANG Tabel 8. dan SIM yang pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. Menetapkan dan menerapkan pola pengelolaan sumber daya air yang didasarkan atas wilayah Menerapkan prinsip kesimbangan antara permintaan dan penyediaan air dan daya air dengan pola pengelolaan SDA secara terpadu dan berkelanjutan Menyusun perencanaan pengelolaan SDA agar upaya konservasi dan pendayagunaan SDA lebih seimbang Menerapkan pengelolaan sumber daya air terpadu di wilayah sungai Barito-Kapuas.1 Matriks Indikasi Program Dan Konsep Pola PSDA NO A. UMUM 1 Melaksanakan dan meningkatkan koordinasi antar para pemilik kepentingan sumber daya air dalam wadah koordinasi tingkat kabupaten/kota dan wilayah sungai Barito-Kapuas Menyusun dan menetapkan Rencana Induk pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai Barito-Kapuas berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air pada tahun 2008.16 . 100% tahun 2026.

Penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat didalam WS BaritoKapuas KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman tentang standar pelayanan dan jasa pengelolaan SDA dan memberlakukan pedoman tersebut dalam upaya konservasi. kabupaten/kota. pendayagunaan sumber daya air.(Persero) CABANG I MALANG NO 5 INDIKASI PROGRAM Menetapkan dan melaksanakan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan sumber daya air dalam upaya konservasi. dan pengendalian daya rusak air untuk para pemilik kepentingan sumber daya air di WS Barito-Kapuas Menyelenggarakan sistem pembiayaan yang menerapkan prinsip penerima manfaat dan pencemar menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara efektif. dan fungsi koordinasi di WS Barito-Kapuas dengan tetap menjaga sinergi antarfungsi.pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air yang dilaksanakan oleh pemilik kepentingan SDA. dan refungsionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang menuju terciptanya pemisahan fungsi pengaturan. berkeadilan dan berkelanjutan. fungsi pemanfaatan. Mengembangkan sistem penegakan hukum dengan menetapkan pejabat penyidik pegawai negeri sipil sebagai ”polisi jaga air” sesuai dengan pasal 93 Undang-undang No. tanggung jawab. efisien. KETERANGAN 6 7 Rasionalisasi adalah penyesuaian kelembagaan termasuk kompetensi sumber daya manusianya agar sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing 8 9 Pembentukan wadah koordinasi sumber daya air wilayah sungai Barito-Kapuas sesuai dengan kebutuhan. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air serta menyediakan pos-pos pengaduan. pengoperasian dan pemeliharaan. Melaksanakan rasionalisasi. Sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang sumber daya air kepada seluruh masyarakat. Menerapkan diversifikasi sumber pembiayaan pengelolaan SDA . dan kewenangannya. Menyelenggarakan sistem pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi bukan hanya untuk kebutuhan teknis tetapi juga untuk pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada berkelanjutan Melaksanakan rasionalisasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional. kabupaten/kota dan wilayah sungai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dan wilayah sungai agar lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan tugas. Melaksanakan koordinasi antar pemilik kepentingan SDA dalam wadah koordinasi tingkat Nasional. fungsi pelaksanaan. restrukturisasi.17 . Provinsi.

waduk dengan prioritas daerah permukiman. 3 4 Menata daerah sempadan sungai utamanya di daerah permukiman.50 % di tahun 2026. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter dari muka air tertinggi rawa ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau c. Pemeliharaan embung dan rawa serta mata air Pembangunan Embung Pembangunan Waduk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .groundsill. mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air. menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. Perlunya penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran sempadan sumber air 2 Menetapkan dan mengelola kawasan danau.18 . danau dan waduk dengan target 15% tiap 5 tahun. sumur resapan. dengan target 12. Sekurang kurangnya 100 (seratus) meter dari dari muka air tertinggi embung ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau d.25 % di tahun 2016 . embung. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan & lahan. danau.teknik pemanenan hujan dll) -.5 % di tahun 2011. Checkdam. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi SDA dengan target minimal 25 % tiap 5 tahun (small and medium pond. Sekurang kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekeliling mata air harus berfungsi sebagai sabuk hijau Menetapkan dan mengelola daerah batas sempadan sungai. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. rawa dan mata air dengan aturan : a. situ. mata air ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. embung. rawa.(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEPSI POLA KETERANGAN B. rawa. Sosialisasi dan desiminasi mengenai fungsi dan manfaat sempadan sumber air -. waduk. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis untuk WS. KONSERVASI SUMBER DAYA AIR Menetapkan dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak air melalui rehabilitasi hutan dan lahan kiritis. Perlu melakukan pematokan batas sempadan sumber air -.BaritoKapuas dengan prioritas daerah hulu sungai Barito dan Kapuas serta bantaran sungai. Sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari muka air tertinggi danau dan waduk ke arah darat harus berfungsi sebagai sabuk hijau b.

Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce.recycle). dengan target efektif 2010. Pembangunan baru IPAL penduduk komunal -. melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 2 Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. Penertiban sumber pencemar dengan mengolah limbah sebelum dibuang Menetapkan alokasi air dan hak guna air pada lokasi sumber air Perlu dipersiapkan Perda Hak Guna Air Perlu dibuat ketetapan prioritas penggunaan air Perlu ditetapkan kebutuhan pokok minimal kehidupan sehari hari air per kapita (lt/kapita/hari) Penyediaan pasokan air dengan target minimal 25% tiap 5 tahun guna memenuhi kekurangan pasokannya.reuse.19 .70 % untuk tahun 2016 dan 80 % untuk tahun KETERANGAN 7 8 9 Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. secara biologi. C. 3 4 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . reuse. Menentukan baku mutu sumber air. pemulihan. -. KONSEPSI POLA Menyusun aturan.melaksanakan penyuluhan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran penambangan galian C. Pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana air baku untuk air minum dengan target pelayanan: 65 % untuk tahun 2011. Menyediakan pasokan air baku untuk air minum sehingga pada tahun 2015 dapat memenuhi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air minum. Menetapkan alokasi dan hak guna air bagi pengguna yang sudah ada dengan target penyelesaian paling lambat pada tahun 2010. selambat-lambatnya pada tahun 2025. Meningkatkan monitoring dan pengawasan kualitas air limbah. -. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan.(Persero) CABANG I MALANG NO 5 6 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan permukiman dan kawasan industri. Menyusun aturan. Pemantauan kualitas sumber air -. -. Mengupayakan”pengelolaan permintaan air” yang effektip dan effesien (reduce.recycle) serta sekaligus mengkampanyekan budaya hemat air dengan target minimal pada 25 % pengguna air dan target minimal 5 % dari kehilangan air tiap 5 tahun -. Menyediakan pasokan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai dengan prioritas dan rencana alokasi yang telah ditetapkan.

Mengendalikan penggunaan air melalui mekanisme perizinan berdasarkan rencana alokasi air yang telah ditetapkan.antar wilayah sungai tanpa mengorbankan lingkungan Mengembangkan potensi SDA untuk menunjang kebutuhan berbagai sektor dan mendukung perkembangan ekonomi secara effektip dan effisien dengan mempertimbangkan kepentingan antar sektor. 11 12 13 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .20 . Merehabilitasi dan/atau meningkatkan jaringan irigasi dan rawa untuk mengembalikan dan/atau menigkatkan kinerja seluruh jaringan irigasi dan rawa. Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” yang efektif dan efisien dengan target minimal pada 25% pengguna air dan target minimal 5% dari kehilangan air tiap 5 tahun Mencegah pendayagunaan SDA pada kawasan suaka alam danKawasan pelestarian Pengendalian pendayagunaan SDA pada kawasan lindung Mengembangkan dan menerapkan mekanisme pengelolaan SDA antar kepentingan sektor.(rencana program kegiatan ) Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi yang ada serta rehabilitasi jaringan irigasi Merehabilitasi dan meningkatkan jaringan irigasi dengan target 9685 ha tiap 5 tahun pada daerah yang telah ditempati penduduk. pariwisata. dengan memperhatikan kepentingan antar sektor dan antar wilayah sungai dengan tidak mengorbankan lingkungan. KONSEPSI POLA 2021. dan transportasi air Menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan sedimen pada sumber air berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air. serta mengembangkan dan menerapkan teknologi pengelolaan rawa termasuk pengembangan perikanan rawa dan memberdayakan masyarakat agar penduduk yang bermukim di daerah rawa dapat hidup secara harmoni dengan lingkungannya. olah raga air.wilayah dan dampak jangka panjang. Menyusun dan menetapkan mekanisme perizinan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian di sumber air.(Persero) CABANG I MALANG NO 6 7 INDIKASI PROGRAM Memelihara fungsi sistem irigasi yang sudah ada dengan menyelenggarakan operasi dan pemeliharaan untuk seluruh jaringan irigasi dan rawa yang ada. Menyusun dan melaksanakan program pengembangan sumber daya air terpadu berdasarkan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air. perikanan. reuse). Mendorong pengembangan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Menyusun persyaratan dan prosedur pengelolaan sedimen pada sumber air pada tahun 2009 dan penerapannya secara konsisten Menyempurnakan persyaratan dan sistem pemantauan penambangan bahan galian pada 2009 KETERANGAN 8 9 10 Mengupayakan ”pengelolaan permintaan air” (demand management) yang efektif dan efisien (reduce.

Menciptakan sistem perizinan bagi pelaku pengubah daerah tangkapan air Melakukan upaya pengendalian erosi dan sedimen pada daerah yang dikembangkan Daerah yang menerima manfaat dari perlindungan banjir dikenakan kontribusi. pedoman. tata kota dan tata bangunan. Inventarisasi perubahan fungsi lahan yang menyebabkan masalah banjir. 6 7 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . menerapkan. dengan target selesai tahun 2009 Mengeffisienkan pengelolaan SDA. Menerapkan sistem peringatan dini kepada masyarakat dan menyiapkan sistem evakuasi. sehingga biaya jasa pengelolaannya lebih terjangkau. standar.(Persero) CABANG I MALANG NO 14 15 16 INDIKASI PROGRAM Menerapkan Perda penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air secara konsisten. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 2 3 4 Menyiapkan informasi daerah rawan banjir dan sosialisasi kepada masyarakat Perencanaan tata ruang perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya banjir Sosialisasi PERDA kepada masyarakat dan mengajak masyarakat ikut peran serta Prinsip ”zero delta q policy” perlu dimasukan ke dalam penyusunan norma.yang akan diberikan sebagai kompensasi kepada daerah yang dapat memberi manfaat penanggulangan bahaya banjir di hilirnya. Menyebarluaskan dan menciptakan sistem perizinan dengan prinsip “zero delta q policy” KONSEPSI POLA Menetapkan pedoman perhitungan biaya jasa pengelolaan SDA serta metode pembebanannya kepada para pemanfaat. dan revitalisasi serta pengendaliannya. Melakukan pencegahan perubahan fungsi daerah manfaat sungai. dan mengevaluasi pelaksanaan sistem insentif dan disinsentif antara hulu-hilir. dan manual pengembangan kawasan. Menetapkan sistem perizinan dan sistem pengawasan pengusahaan sumberdaya air. serta menyelenggarakan simulasi dalam rangka menghadapi banjir. Meningkatkan kesiapan dan ketahanan pemilik kepentingan dalam menghadapi segala akibat daya rusak air Mencegah pengembangan permukiman dan bangunan lainnya yang akan menyebabkan terjadinya “inundasi” (genangan yang berlebihan) 5 Menyiapkan.21 . Meningkatkan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran tata ruang. Merasionalisasikan biaya pengelolaan sumber daya air. sehingga biayan jasa pengelolaan terjangkau Koordinasi dalam Penyusunan PERDA KETERANGAN D. Pengkajian ulang tata ruang pada kawasan rawan banjir dan kawasan penyebab banjir.

Penanggulangan darurat prasaran SDA seperti tanggul yang bocor .terutama revitalisasi obyek umum yang mengalami kerusakan Menanggulangi stress atau trauma masyarakat yang tertimpa musibah daya rusak air Mengikut sertakan masyarakat dan pihak swasta dalam rangka revitalisasi sarana dan prasarana umum maupun SDA yang rusak akibat daya rusak air Perlu adanya sharing dalam pembiayaan penanggulangan daya rusak air antara daerah dan pusat KETERANGAN 10 11 12 13 14 15 16 Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dan swasta dalam kegiatan pemulihan akibat bencana.karung pasir.perahu karet. Melakukan pemisahan prasarana pembuangan limbah cair dan drainase. dan daerah produksi non pertanian terhadap banjir 25 tahunan sampai dengan tahun 2025 serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir 10 tahunan Membuat perencanaan yang terpadu antara drainasi perkotaan dengan sistem pengendalian banjir kawasan tersebut Menyusun pedoman penanggulangan bencana banjir pada masing masing sungai yang rawan banjir. dan daerah produksi nonpertanian dengan prasarana pengendalian banjir terhadap banjir tahunan dengan resiko sama atau lebih besar 4 (empat) persen serta perlindungan daerah produksi pertanian terhadap banjir dengan resiko sama atau lebih besar 10 (sepuluh) persen.cerucuk dll. Mengintegrasikan pengelolaan drainase perkotaan. prasarana umum.tenda tenda. Menyediakan pembiayaan untuk penanggulangan daya rusak air yang bersumber dari dana APBN dan APBD dalam jumlah yang memadai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . prasarana umum.pompa pompa air. Menyiapkan lokasi lokasi untuk evakuasi.22 .bronjong kawat. Melakukan kegiatan tanggap darurat yang terdiri dari evaluasi tingkat bahaya dan kesiap-siagaan menghadapi bencana.jembatan yang limpas dll Rekonstruksi bangunan bangunan yang rusak akibat daya rusak air. Dalam keadaan terjadi bencana dilakukan upaya penyelamatan jiwa manusia. Melakukan perlindungan daerah permukiman. KONSEPSI POLA Menyediakan informasi daerah rawan banjir dan disosialisasikan kepada masyarakat Melakukan perlindungan daerah permukiman.(Persero) CABANG I MALANG NO 8 9 INDIKASI PROGRAM Meningkatkan pemberian informasi mengenai kawasan rawan bencana akibat daya rusak air. utamanya pada daerah pengembangan baru. perbaikan darurat prasarana sumber daya air dan prasarana umum lainnya. pengendalian air larian di tingkat kawasan dengan prasarana pengendalian banjir. Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun nonstruktural. Menyiapkan bahan untuk penanggulangan darurat seperti.

PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. Menumbuhkan prakarsa serta memberikan peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. Menyiapkan peraturan daerah yang kondusif dan menyebarluaskan program SDA bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam pengelolaan sumber daya air Menyesuaikan dan menyempurnakan kelembagaan pemerintah di kabupaten/kota dan wilayah sungai dalam pengelolaan sumber daya air sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Memberikan pengakuan hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayahnya. DAN PEMERINTAH 1 Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai secara berkelanjutan. dan pembinaan dalam menyikapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sumber daya air kepada dunia usaha. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka memenuhi standard kompetensi.(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM KONSEP POLA KETERANGAN E. Menyusun dan menerapkan standar kompetensi sumber daya manusia yang sesuai dengan tugas pokoknya dalam pengelolaan sumber daya air. Melakukan penyuluhan. pelatihan.23 . SWASTA. Meningkatkan kemampuan komunikasi. kerjasama. dan koordinasi antarlembaga pemerintah yang terkait dalam Menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia pemilik kepentingan dengan target minimal satu kali dalam setahun pada seluruh yang telah terbentuk dewan sumber daya airnya Memberi peran kepada masyarakat disertai dengan pemberdayaan untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan SDA pada Wilayah Sungai 2 3 4 5 6 Sosialisasi UU no 7 tahun 2004 Menciptakan kepastian hukum bagi swasta untuk berperan dalam pengelolaan SDA Meningkatkan kinerja lembaga Pemeritah dalam pengelolaan sumber daya air Penerapan NSPM Pelatihan yang terorganisir melalui dewan air 7 8 9 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

transparan. berkelanjutan. Meningkatkan konsultasi dan koordinanasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. Membangun jaringan bank data dan basis data dengan sasaran 50% wilayah sungai pada tahun 2011 dan 100% wilayah sungai 2016. teknologi sumber daya air. kebijakan sumber daya air. Meningkatkan pelayanan informasi pengelolaan sumber daya air dengan penyediaan data dan informasi melalui website dan media lainnya. Melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan sumber daya air dan melaksanakan penyuluhan keberadaan wadah koordinasi SDA. tepat waktu. berkelanjutan. hidrometeorologi. Meningkatkan pemerataan informasi pengelolaan SDA dengan menghilangkan kendala dan masalah yang menghambat pemerataan informasi pengelolaan SDA Membangun sistem pengelolaan data dan informasi Meningkatkan keterbukaan publik dalam 2 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . sistem pembiayaan yang memadai. Menyusun tata tertib koordinasi dan pengambilan keputusan wadah koordinasi sumber daya air dan meningkatkan konsultasi serta koordinasi antar wadah koordinasi SDA baik secara horisontal maupun vertikal. dll.24 . dan mudah diakses. Memfasilitasi penyediaan data meliputi data hidrologi. prasarana sumber daya air. KONSEP POLA Membentuk Dewan Sumber Daya Air yang melibatkan semua pemilik kepentingan melalui prinsip keterwakilan dalam pengelolaan SDA . dan mengembangkan partisipasi masyarakat secara luas dalam memberikan informasi tentang SDA. sehingga mampu menyampaikan data dan informasi yang akurat. KETERBUKAAN DAN KETERSEDIAAN DATA DAN INFORMASI SUMBER DAYA AIR.(Persero) CABANG I MALANG NO 10 INDIKASI PROGRAM pengelolaan sumber daya air. Membangun jaringan basis data dalam WS Barito-Kapuas Menerapkan prosedur operasi standard tentang keterbukaan data dan Meningkatkan ketersediaan data dan informasi sumber daya air secara akurat. 1 Mengembangkan sistem informasi sumber daya air dalam WS BaritoKapuas yang terpadu dan didukung oleh kelembagaan yang tangguh serta responsif. serta berorientasi pada pengguna. tepat waktu. Memberikan hak memperoleh informasi tentang pengelolaan sumber daya air kepada masyarakat. KETERANGAN 11 F. Membangun jaringan informasi sumber daya air dalam WS Barito-Kapuas yang melibatkan seluruh pihak terkait dengan sumber daya air. hidrogeologi.

proses data. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .(Persero) CABANG I MALANG NO INDIKASI PROGRAM informasi kepada masyarakat KONSEP POLA proses penyusunan kebijakan dan pengelolaan sumber daya air. dan metode/prosedur pengumpulan data dan informasi. klasifikasi. kodifikasi. Menetapkan standar untuk pengkodean data. KETERANGAN 7 Menerapkan standar untuk format.25 .

Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah 2. Beberapa kelembagaan terkait tersebut adalah : 1.3. Pasal 86 berisi tentang panduan tugas pokok. jenjang organisasi dewan air mengikuti jenjang administrasi pemerintahan. Instansi lain yang terkait Badan Pengelola WS Barito-Kapuas Konsep Dewan Sumber Daya Air Mengacu pada Undang Undang SDA No 7 Tahun 2004 disebutkan bahwa kelembagaan dewan Sumber Daya Air termuat dalam dalam BAB XII.(Persero) CABANG I MALANG 8. Selain itu keberadaan Dewan Sumber Daya Air juga disinggung pada BAB II Pasal 14 tentang kewenangan presiden. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Selatan 3. Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Barito-Kapuas 4. wilayah dan pemegang kepentingan dalam bidang sumber daya air (Pasal 85). Tugas pokok Dewan Sumber Daya Air adalah menyusun dan merumuskan kebijakan strategi serta strategi pengelolaan sumberdaya air b.26 . Pasal 85. 86 dan 87 tentang koordinasi pengelolaan. Lebih lanjut Pasal 86 menyebutkan bahwa : a. Dinas Pengairan / Sumber Daya Air Kabupaten 5. hubungan antar jenjang dewan air serta pedoman pembentukan dewan air. Sedang dalam Pasal 87 memuat basis pembentukan Dewan Air.4 Kelembagaan dan Peran Masyarakat Dengan terbentuknya Balai Wilayah Sungai Kalimantan II yang menangani WS Barito-Kapuas yang mulai diberlakukan tahun 2007 maka selama masa peralihan tersebut diharapkan adanya koordinasi dengan institusi lainnya yang terkait dengan pengelolaan SDA di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. PTPA di Tingkat Provinsi dan PPTPA ditingkat Kabupaten 6. Menurut pasal-pasal ini dewan Sumber Daya Air disebut sebagai wadah koordinasi untuk menjamin tercapainya keterpaduan pengelolaan Sumber Daya Air. disamping itu sebagai sarana mengintergrasikan kepentingan berbagai sektor. Dewan air sebagai wadah koordinasi beranggotakan Unsur Pemerintah dan Unsur Non Pemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilkan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . keanggotaan serta susunan organisasi dan tata kerja.

Susunan keanggotaan ini berbeda dengan konsep dewan serupa di Undang Undang sebelumnya. Hubungan kerja antar wadah koordinasi tingkat nasional. b. Ada lima tingkatan atau bentuk dewan sumberdaya air yaitu tingkat nasional. Pedoman mengenai pembentukan wadah koordinasi pada tingkat provinsi.27 . Hingga sat ini belum ada bentuk baik mengenai dewan air baik nasional maupun provinsi. Susunan organisasi dan tata kerja dewan air sebagai wadah koordinasi akan diatur lebih lanjut dengan keputusan Presiden Sementara Pasal 87 menyatakan bahwa : a. Ini tercermin dalam pernyataan dewan pengelolaan Sumber Daya Air yang terdiri dari semua pemangki kepentingan (pemerintah dan perwakilan masyarakat umum dan industri pengguna air) secara proporsional. Dari diskripsi diatas dapat ditarik beberapa konsepsi utama tentang dewan air sebagai berikut : a. Dengan demikian dewan air diharapkan untuk menjamin terwujudnya asas Community Based dalam pengelolaan SDA. kabupaten/kota dan wilayah sungai bersifat konsutatif dan koordinatif d.(Persero) CABANG I MALANG c. provinsi. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional yang dibentuk oleh pemerintah dan pada tingkat provinsi dilakukan oleh wadah koordinasi dengan nama Dewan Sumber Daya Air Provinsi atau dengan nama lain yang dibentuk oleh pemerintah provinsi sedangkan untuk koordinasi pada tingkat kabupaten/ kota dapat dibentuk wadah koordinasi dengan nama lain oleh pemerintah kabupaten/ kota. kabupaten/ kota dan Wilayah Sungai diatur lebih lanjut dengan keputusan Menteri yang membidangi Sumber Daya Air. Wadah koordinasi pada Wilayah Sungai dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan pengelolaan Sumber Daya Air pada Wilayah Sungai yang bersangkutan c. c. provinsi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Lintas Kabupaten/ Kota atau (b) Lintas Negara. Keberadaan dean air nampak dimaksudkan untuk memberikan warna koloboratif dan koordinatif dalam pengelolaan Sumber Daya Air. kabupaten/kota dan Dewan Sumber Daya Air Wilayah Sungai khusus apabila Wilayah Sungai bersifat (a) Lintas Provinsi. b.

harus menjadi satu-satunya wahana koordinasi Stakeholder yang menerapkan mitra Stakeholders dalam pengambilan keputusan (One Decision Making Process) untuk menjamin tercapainya sebagai wujud dari prinsip One River One Plan One Management Dewan Sumber Data Air harus menjadi satu-satunya tempat dan proses perencanaan pengelolaan. yang bisa diwujudkan dalam bentuk pro aktif saat perencanaan dan penentuan kebijakan umum pengelolaan. Memiliki Kapasitas Pengambilan Keputusan. swasta maupun masyarakat. Keterwakilkan yang proporsional dan setara. (Pemangku kepentingan – stakeholders adalah mereka yang menimbulkan dan terkena dampak pengelolaan DAS). d.(Persero) CABANG I MALANG Berdasarkan hal diatas beberapa rekomendasi dalam pembentukan dewan sumberdaya air wilayah sungai adalah sebagai berikut : a.28 . Namun dalam kenyataannya di Indonesia lembaga yang tidak memiliki wewenang eksekusi biasanya akan berhenti sebagai organisasi tanpa peran penting. keterwakilkan pihak yang terkena dampak bisa dinyatakan dalam posisi penting mereka dalam dewan air. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dan idealnya para pemilik properti. misalnya dalam bentuk nota kesepakatan (Memorandum of Understanding) c. Mengingat kesenjangan antara teori dan praktis dalam aspek institusi selama ini. Secara teoritik dewan air yang efektif minimal bersifat Advisory kepada pemerintah. Partisipasi yang Luas. Legitimacy. Namun hal ini tidak disebutkan dalam UU SDA No 7 2004. Oleh karena itu dewan ini seharusnya memprakarsai pembentukan / penyusunan Rencana Induk Pengelolaan SDA nantinya. yakni mereka memiliki peran kepemimpinan dan bukan anggota. Ini hanya dimungkinkan kalau keanggotaannya sudah mencakup semua stake holder yang secara faktual punya kepentingan terhadap DAS. Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas harus diakui oleh semua stakeholders yang ada di kabupaten/ kota terkait dengan wilayah sungai baik jajaran pemerintah. Pengakuan dapat berujud dokumen formal yang ditandatangai oleh semua pemangku kepentingan. e. operator industri (barang dan jasa) harus berperan dalam perencanaan. Dewan air. Semua pemangku kepentingan yang telah teridentifikasi kepentingannya atas DAS harus tahu dan ambil bagian dalam proses perencanaan. b. Untuk itu Dewan sumber daya air harus memiliki paling tidak peran kontrol.

Perumusan kebijakan dan Rencana Induk Pengelolaan SDA WS BaritoKapuas 2. Barito-Kapuas disusun berdasarkan arah kebijakan nasional pengelolaan SDA. Pembinaan Jejaring dan pertukaran informasi 4. industri dan masyarakat pengenalan dalam dan proses pengelolaan peran antar DAS adalah esensial provinsi bagi dan keberhasilan pengelolaan dan pengaturan kerja. Dewan sumberdaya air wahana sebagai perencanaan kemitraan pengelolaan yang kolaboratif harusmenyediakan mekanisme penyelesaian sengketa yang mungkin timbul antar pemangku kepentingan yang tidak bisa diselesaikan secara internal.29 . Pengendalian dan penegakan 8. masukan dan usulan dari Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan analisis konsultan yang didasarkan analisa Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Perumusan Regulasi Pengelolaan 7. pengendalian polusi dan pengelolaan kualita air 6. Perumus mekanisme dan wadah bagi penyelesaian sengketa 8.4. teknik perlakuan dan penggunaan kembali air. Memiliki Kejelasan Peran. konservasi dan proteksi.1. Pemahaman dan kesepakatan yang jelas mengenai peran dan tanggung jawab antara pemerintah.(Persero) CABANG I MALANG f. Termasuk disini adalah kejelasan pemerintah kabupaten/kota yang harus disepakati dari awal. permasalahan sumber daya air yang ada di WS. Perumusan Standar Alokasi hak PEMANFAATAN PASOKAN AIR 5.4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI 8. g. Edukasi dan promosi bagi berhasilnya Pola Pengelolaan yang dihasilkan 3. Umum Strategi pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) WS. Rumusan Standar pengendalian daya rusak air dan resiko sumberdaya air. Barito-Kapuas. Secara lebih rinci sebagai otonom Dewan Sumber Air WS Barito-Kapuas diharapkan bisa memfungsikan diri dalam : 1. Mekanisme Penyelesaian Sengketa.

Pola Konservasi WS Barito-Kapuas Dalam merancang konservasi di WS Barito-Kapuas yang dilakukan terhadap setiap sub DAS yang tercakup dalam kawasan wilayah sungai tersebut.1. (d) Kondisi lereng. Perumusan Strategi dan Komponennya yang mengacu pada Isu Pokok 8. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Arah kebijakan pengelolaan SDA WS. Ketersediaan dan Kebutuhan Air) dan Sektor Terkait 4.4. Wilayah Sungai. hasil analisis dari data biofisik merupakan parameter utama yang menjadi pertimbangan yang akan dilaksanakan. (b) Kedalaman tanah. Barito-Kapuas 8. Sekarang dan Mendatang. (e) Lahan kritis.2. Analisa Kecenderungan Masa Lalu.4. Tinjauan Atas Lingkup Kebijakan Nasional dan Provinsi serta Kebijakan Pengelolaan Wilayah Sungai Barito-Kapuas 2.30 . (c) Kondisi penutupan lahan. Fisik DAS.2. Pendayagunaan SDA dan Pengendalian Daya Rusak Air Langkah langkah dalam Perumusan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air ditetapkan sebagai berikut : 1.Barito-Kapuas mengacu pada arah kebijakan nasional yang telah diatur dalam Undang Undang no 7 tahun 2004 tentang SDA yang meliputi: Konservasi SDA. Kelembagaan. terutama ditekankan pada lereng dengan kemiringan >15%. dalam Aspek Sumber Daya Air (Mencakup Sosial Ekonomi. baik yang terdapat di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Parameter biofisik tersebut mencakup: (a) Erosi aktual serta penyebarannya dalam satu kawasan Sub DAS. Konservasi SDA WS. Tinjauan Atas Permasalahan yang di-Identifikasi dalam Potensi dan Tantangan untuk menjamin bahwa Strategi yang dirumuskan.(Persero) CABANG I MALANG SWOT dan rasionalisasi program (analisis Hymos dan Ribasin) serta penentuan prioritas program berdasarkan pada kebutuhan mendesak. Kajian Strategi Yang Diusulkan dengan Prioritas yang sesuai dengan Kondisi Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3. tanggap terhadap berbagai permasalahan tersebut 5.

kiri kanan tepi sungai di daerah rawa. Menteri Kehutanan. kiri kanan tepi sungai. Sungai dan anak sungai. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Hutan. (b) Sistem budidaya pertanian. Keputusan-keputusan Dirjen RLPS yang terkait dengan konservasi lahan kritis. mata air. kiri kanan tepi anak sungai. 353/Kpts-II/1986 Tentang Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air. Tentang Penanganan Konservasi Tanah dalam Rangka Pengamanan Daerah Aliran Sungai Prioritas. dan Menteri Pekerjaan Umum No: 19 Tahun 1984 – No: 059/Kpts-II/1984 – No: 124/Kpts/1984 tanggal 4 April 1984. Undang-Undang Pokok Kehutanan No. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Barito-Kapuas ini juga mengacu kepada : Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri. Keputusan Presiden No. yakni waduk/danau. Barito-Kapuas dapat dilihat pada diagram alir.(Persero) CABANG I MALANG Adapun aspek sosial ekonomi yang dipertimbangkan dalam menyusun pola konservasi adalah (a) Tekanan Penduduk. Kerangka penyusunan pola konservasi untuk WS. Keputusan Menteri Kehutanan No. penyusunan pola konservasi di WS. Tepi Jurang. Di samping aspek biofisik dan sosial ekonomi seperti tersebut di atas. khususnya pasal-pasal yang terkait dengan konservasi seperti bagian keempat dan kelima dari UU tersebut. Waduk/Danau.31 . Bagian keempat memuat tentang Rehabiltasi dan Reklamasi. sedangkan bagian kelima memuat tentang perlindungan hutan dan konservasi alam. Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya. pasang surut. tepi jurang. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Pasal 50 secara khusus mengatur tentang konservasi sumber-sumber air.

32 .4. daya tampung dan fungsi DAS untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan.2.(Persero) CABANG I MALANG 8. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Meningkatkan. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. Memulihkan dan mempertahankan kualitas air guna memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan.2. Strategi Konservasi SDA. ii. Strategi Pengelolaan SDA untuk aspek konservasi SDA WS Barito-Kapuas diarahkan untuk dapat : i. Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan daya rusak air.

lereng .penutupan lahan .Sistem budidaya pertanian Input PKM I & II STRATEGI KONSERVASI Gambar 8.kedalaman tanah . .lahan kritis Analisis Sosial Ekonomi: .erosi . Penduduk.1.(Persero) CABANG I MALANG Wilayah Sungai Barito-Kapuas DAS - - Barito Kapuas Murung Martapura Riam Kanan - Riam Kiwa Negara Ambawang Kubu Landak Tapin Di luar kawasan hutan Di dalam kawasan hutan Analisis Biofisik: .33 . Diagram Alir Strategi Konservasi di WS Barito-Kapuas Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .Tek.

34 . beberapa kegiatan di WS.(Persero) CABANG I MALANG Dari tiga butir strategi pokok tersebut. embung dan rawa sebagai sabuk hijau terutama yang saat ini digunakan sebagai permukiman oleh masyarakat. pembuatan teras yang dapat menyimpan air. penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation). • Pengolahan tanah minimum (minimum tillage) Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . pembangunan waduk dan embung. (5) Penatagunaan lahan sesuai dengan kaidah-kadiah konservasi tanah (6) Pelestarian dan perlindungan sumber air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem sumber daya air dapat dicegah (7) Penertiban penambangan galian Golongan C b) Pengawetan Air (1) Peningkatan pemanfaatan air permukaan dengan cara antara lain: • Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui: pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian. • • Penyadapan air (water harvesting) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah. waduk. BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: a) Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air (1) Rehabilitasi dan perlindungan hutan (2) Reboisasi kawasan hutan yang rusak (3) Penghijauan di lahan kritis milik masyarakat dan negara yang jumlahnya cukup luas (4) Penetapan dan pengelolaan kawasan sempadan sungai. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tanaman penutup tanah (mulsa) atau bahan organik. misalnya teras bangku konservasi. danau. penanaman dalam strip (system penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput atau leguminosa) dan strip tanaman semusim.

strip. pupuk hijau dan sisa tanaman Hutan produksi. pupuk kandang.>60% Fungsi lahan: Budidaya tahunan Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 40% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : budidaya tahunan/ semusim Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum >15 cm Fungsi lahan : Budidaya tahunan/ semusim Diluar/dalam kawasan hutan Lahan tidak produktif lereng kecil dari 60% 3 4 5 6 Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .2 Rencana Strategi konservasi WS Barito-Kapuas No 1 2 Pola Konservasi Reboisasi Penghijauan Pertanaman campuran. drainase dalam. c) Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (1) Pengelolaan kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik (2) Pengendalian/ pengawasan pembuangan limbah industri (3) Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk industri (4) Pelaksanaan audit lingkungan Tabel berikut memuat rencana strategi konservasi di WS Barito-Kapuas Tabel 8.(Persero) CABANG I MALANG (2) Pengelolaan air tanah. pencampuran kompos. mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan. atau kombinasi keduanya. dan penanaman lorong Manajemen bahan organik termasuk mulsa.35 . termasuk hutan produksi terbatas dan hutan rakyat Prasyarat dan Lokasi Dalam kawasan hutan Persentase penutupan lahan kecil Semak belukar Di luar kawasan hutan lahan kritis/tidak produktif Lahan milik Di luar kawasan hutan/lahan pertanian Lereng 0 – 15% Kedalaman tanah minimum 30 . dan pemberian air secara terputus. pergiliran pemberian air. dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan. termasuk pergiliran tanaman. (3) Peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi antara lain dengan: pengurangan tinggi penggenangan atau pemberian air. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. tumpang gilir dan tumpang sari Penanaman menurut kontur.

4. Pengembangan sumber daya air. Cakupan Kegiatan Pendayagunaan Sumber Daya Air Pendayagunaan sumber daya air mencakup kegiatan : (1).Pada lahan pertanian/kawasan budidaya . (3).Lereng 10 – 60% .Lereng 15 – 60% . (2).Pada lahan pertanian/kawasan budidaya .Kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan : lindung. Pendayagunaan SDA WS. budidaya tahunan/semusim . Penyediaan sumber daya air. termasuk kebun rumah 8 Suksesi Alami 9 Vegetasi permanen. 1. Barito-Kapuas 8.kedalaman tanah minimum >30 cm Fungsi lahan: lindung. Penetapan zona pemanfaatan sumber air didasarkan pada pertimbangan : Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . (4).3.(Persero) CABANG I MALANG No Pola Konservasi - Prasyarat dan Lokasi Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: budidaya Status lahan jelas Di luar kawasan hutan Lereng kecil dari 80% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan: Budidaya Lahan masyarakat Dalam kawasan hutan Dapat dilakukan pada semua kondisi lereng Kedalaman tanah minimum 15 cm Potensi kawasan masih baik Fungsi lahan: lindung dan budidaya Di dalam/luar kawasan hutan Lereng kecil dari 60% Kedalaman tanah minimum 15 cm Fungsi lahan : lindung dan budidaya 7 Agroforestry kebun campuran. termasuk teras bangku datar. Penggunaan sumber daya air.1. Penatagunaan sumber daya air ditujukan untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. termasuk tanaman industri. Pengusahaan sumber daya air (A). perkebunan dan kebun 10 Teras gulud.3. termasuk pematang kontur 11 Teras bangku.4. dan teras kebun . (5). budidaya tahunan/semusim 8. Penentuan zona pemanfaatan sumber air ditujukan untuk pendayagunaan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air yang bersangkutan secara berkelanjutan. Penetapan zona pemanfaatan sumber air.36 . teras bangku miring.

4. Penetapan rencana zona pemanfaatan sumber air. Dampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air yang minimal.37 . Merumuskan rencana zona pemanfaatan sumber air dan melakukan kegiatan sbb: • • Penelitian dan pengukuran parameter fisik dan karakter sumber air.(Persero) CABANG I MALANG • • • • • • Terakomodasinya semua jenis pemanfaatan secara layak. kimia dan biologi pada sumber air. 3.dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Penetapan rencana peruntukan air pada sumber air. Dalam • • • • • menetapkan rencana peruntukan air pada sumber air perlu melakukan pengumpulan data dan informasi mengenai : Daya dukung sumber air Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya Perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber air. Peruntukan air pada sumber air ditentukan berdasarkan klasifikasi atau penggolongan mutu air yang ditetapkan 2. Inventarisasi jenis-jenis pemanfaatan yang sudah dilakukan diseluruh bagian sumber air. Pedoman dan petunjuk teknis penetapan peruntukan air ditetapkan oleh Menteri.dikoordinasikan melalui wadah koordinasi sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Peruntukan air pada sumber air 1. Potensi konplik antar jenis penggunaan yang minimal Fungsi lindung dan budi daya Fungsi kawasan Hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologi 2. (B). Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Rencana tata ruang wilayah Pemanfaatan air yang sudah ada 3.

Rencana penyediaan sumber daya air tahunan disusun sesuai dengan : • • Urutan prioritas penyediaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Ketersediaan air pada musim kemarau dan musim hujan. Rencana penyediaan sumber daya air yang berasal dari cekungan air tanah disesuaikan dengan kapasitas cekungan air tanah yang bersangkutan. Penyediaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • • • Mengutamakan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada.38 . Penyediaan sumber daya air 1. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air diatas semua kebutuhan. Rencana penyediaan sumber daya air terdiri dari rencana penyediaan sumber daya air tahunan dan rencana penyediaan sumber daa air rinci. prioritas penyediaan air ditempatkan pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari hari. Memperhatikan penyediaan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari penduduk yang berdomisili dekat dengan sumber air dan atau di sekitar jaringan pembawa air. Penggunaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip: • Penghematan penggunaan. Menjaga kelangsungan penyediaan air untuk pemakai air lainnya yang sudah ada. Dalam hal terjadi situasi kekeringan yang ekstrim sehingga timbul konflik kepentingan antara pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pemenuhan kebutuhan air irigasi untuk pertanian rakyat. 6. 5. (D). 3.(Persero) CABANG I MALANG (C). peruntukan air. kebutuhan air pada wilayah sungai yang bersangkutan dan disesuaikan kondisi setempat. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Penggunaan sumber daya air. 4. 1. Prioritas penyediaan sumber daya air untuk kebutuhan air lainnya ditetapkan berdasarkan hasil penetapan zona pemanfaatan sumber air. 2.

2. Meningkatkan effisiensi alokasi dan distribusi kemamfaatan sumber daya air. Penggunaan air dapat dilakukan dengan cara : • • • • • Penyadapan bebas. Kemampuan pembiayaan. baik secara kuantitas maupun kualitas. Ketepatan penggunaan.3. Penggunaan langsung dari sumber air. (E). Keberlanjutan penggunaan.(Persero) CABANG I MALANG • • • • Ketertiban dan keadilan. Pemompaan air dari sumber air. Pembangunan bendung dan bendungan. Penggunaan yang saling saling menunjang antara air permukaan dan air tanah dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan.39 . Kelestarian keanekaragaman hayati sumber air bersangkutan. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyediaan serta penggunaan air irigasi dengan lebih mengutamakan kegiatan operasi dan pemeliharaan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pengusahaan sumber daya air Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan untuk : • • • Meningkatkan pelayanan kebutuhan masyarakat akan air. Pengembangan sumber daya air Rencana pengembangan sumber daya air disusun dengan memperhatikan : • • • • Daya dukung sumber daya air yang ada. 8. 2. Pengambilan langsung dari sumber air. Kekhasan dan aspirasi daerah dan masyarakat setempat. (F). Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. 2.4. Menyediakan air yang memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas sesuai dengan ruang dan waktu untuk memenuhi kebutuhan air pokok secara berkelanjutan. Langkah Kebijakan Pendayagunaan SDA 1.

Mendayagunakan potensi sumber daya air secara berkelanjutan. Mengupayakan penataan sumber air secara layak. pendayagunaan ekonomi sumber daya air dan untuk menunjang dengan secara efektif efisien mempertimbangkan kepentingan antar sektor. 4.(Persero) CABANG I MALANG optimalisasi. Menerapkan prinsip penerima manfaat menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air kecuali untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat. untuk mendorong penghematan penggunaan air dan meningkatkan kinerja pengelolaan sumber daya air. Meningkatkan peran dunia usaha dalam pengusahaan sumber daya air dengan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat. 6.3. • • • Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air. rehabilitasi dan peningkatan kinerja sistem irigasi yang ada secara berkelanjutan. wilayah dan dampak jangka Dari beberapa butir strategi pokok tersebut beberapa kegiatan di WS. ketapatan penggunaan. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan ketertiban dan keadilan. Mendorong pengembangan irigasi dan rawa dalam rangka mendukung produktifitas usaha tani untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan mensejahterakan masyarakat khususnya petani.40 . keberlanjutan penggunaan dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. Meningkatkan efisiensi alokasi air dan distribusi kemanfaatan sumber air. BaritoKapuas dapat diuraikan berupa: Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 5. 8.3.4. Strategi Pendayagunaan SDA Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: • • • Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. 3. dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. Melaksanakan perkembangan panjang.

Penyediaan. Barito-Kapuas. dan fisika air.1. terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan atau satwa dan atau wabah penyakit. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .4. longsoran tanah. Pengendalian Daya Rusak Air WS. biologi. Daya rusak air dapat berupa banjir. banjir lahar dingin. 2. (3) Penetapan ijin penggunaan air berkaitan dengan hak guna air. Penggunaan dan Pengusahaan SDA (1) Penetapan peruntukan air untuk berbagai kepentingan. erosi dan sedimentasi. Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah. menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. Diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. kekeringan. (2) Penetapan zona pemanfaatan sumber air yang sudah dikoordinasikan melalui PPTPA/ Dewan SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas.4. 3. penanggulangan dan pemulihan. 8.41 . Penetapan zona pemanfaatan sumber air (1) Penetapan zona pemanfaatan sumber air ke dalam peta tata ruang wilayah Kabupaten/ Kota di WS. Peruntukan. Umum Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan.4. (2) Penyediaan air sesuai prioritas yaitu untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat. Barito-Kapuas 8.(Persero) CABANG I MALANG 1. Pengembangan SDA (1) Pengembangan (AMDAL). (4) Pengusahaan SDA tanpa mengabaikan fungsi sosial SDA. amblesan tanah. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. pelaksanaan dan dilengkapi dengan studi Analisis Dampak Lingkungan (2) Pengembangan terhadap modifikasi cuaca untuk menambah volume sumber air.4. SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan.

sedimentasi. (3) Peringatan dini dilakukan di lokasi rawan bencana. Kabupaten/Kota yaitu untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.42 . kekeringan. erosi. upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana. Dari dua butir strategi pokok tersebut. Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS Barito-Kapuas di arahkan untuk dapat: 1.4. BaritoKapuas antara lain : 1.4. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. dan upaya pemulihan akibat bencana. Pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana. banjir lahar dingin. Strategi Pengendalian Daya Rusak Air. amblesan tanah. (2) Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat. maka upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana dan pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air perlu dilaksanakan. biologi dan fisikan air.(Persero) CABANG I MALANG Hal tersebut telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung. Sejalan dengan kepentingan pemerintah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. beberapa kegiatan di WS.2. Dampak daya rusak air terhadap kondisi sosial-ekonomi yang utama adalah terganggunya aktivitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. pemerintah daerah Provinsi. Pencegahan bencana alam (1) Penetapan zona rawan banjir. tanah longsor. kepunahan flora dan fauna serta wabah penyakit. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. 8. 2.

Pemulihan Pasca Banjir atau disebut juga Rehabilitasi Pasca Banjir. (3) Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam.(Persero) CABANG I MALANG 2.: (1) Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural. Revitalisasi Evaluasi kelayakan terdiri dari (1) Kriteria legalitas (2) Kriteria tingkat resiko banjir Rekonstruksi mengembalikan seperti semula dengan: (1) Pengembalian total seperti kondisi sebelum banjir atau (2) Tidak melakukan perubahan atau desain ulang Konstruksi lebih baik dari semula yaitu: (1) Peningkatan di lokasi semula (2) Bangunan jenis baru (3) Pindah ke lokasi baru (relokasi) serta masyarakat dalam kegiatan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Kegiatan yang dibutuhkan antara lain : Data awal. (2) Penetapan prosedur operasi standart penanggulangan bencana alam. baik berupa bencana banjir. (3) Revitalisasai wadah wadah air pada daerah aliran sungai. bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sbb. (2) Menumbuh kembangkan peran pemulihan akibat bencana. adalah proses perbaikan keadaan terencana berdasarkan hasil evaluasi kelayakan agar keadaan kembali sama dengan atau lebih baik dari keadaan semula. Penanggulangan bencana alam (1) Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air. 3. (3) Penilaian kerusakan. Inventarisasi terdiri dari kegiatan (1) Jenis kerusakan (2) Karakter banjir.43 . Pemulihan daya rusak air Pemulihan daya rusak air merupakan penanganan pasca bencana.

Revitalisasi wadah wadah air pada daerah aliran sungai. A. Barito-Kapuas. Langkah I ini terdiri dari kegiatan Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat daya rusak air termasuk kawasan yang terkena bencana akibat daya rusak air dan penanggulangan daya rusak air dengan menerapkan sistem peringatan dini dalam WS.3. Langkah Strategis Pengendalian Daya Rusak Air WS.(Persero) CABANG I MALANG 8. Langkah I (Jangka Menengah / Mendesak ) Merupakan langkah kegiatan jangka pendek/ menengah yang harus segera dilaksanakan untuk memulihkan sarana dan prasarana pengendalian daya rusak air sungai Barito-Kapuas yang mengalami kerusakan akibat daya rusak air maupun penurunan kinerja yang cukup serius.4. baik berupa bencana banjir. Menumbuh kembangkan peran masyarakat dalam kegiatan pemulihan akibat bencana.Barito-Kapuas 1. Rehabilitasi tanggul pengendali banjir yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi. Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir • • • • Rehabilitasi atau perbaikan pintu pengendali banjir yang rusak atau mengalami penurunan fungsi. bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sebagai berikut : Merehabilitasi kerusakan baik secara struktural maupun non struktural. Rehabilitasi tidal levee yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi.4.44 . Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air Pemulihan sarana dan prasarana merupakan penanganan pasca bencana. kegiatan ini merupakan program mendesak jangka menengah. Rehabilitasi atau perbaikan tidal gate yang rusak atau mengalami penirunan fungsi. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

Sosialisasi dan pelatihan RTD Pengamatan dan tahapan siaga banjir Penyiapan dan mobilisasi kebutuhan Pengungsian penduduk dan penentuan tempat evakuasi Prasarana darurat banjir Pencarian dan pertolongan orang hilang Pelayanan korban banjir Deklarasi pengakhiran keadaan darurat Pemulangan pengungsi 2). Ada dua Strategi untuk penanggulangan banjir sungai Barito-Kapuas yaitu: 1). Upaya ini dapat membantu penanggulangan bahaya banjir secara dini sehingga mengurangi kerugian yang mungkin terjadi misalnya relokasi penduduk ke daerah yang aman. Dilaksanakan sejak banjir diperkirakan akan terjadi. Manajemen penanggulangan banjir atau yang lazim disebut Manajemen Tanggap Darurat yaitu: Dilaksanakan secara terencana dan terkoordinir.(Persero) CABANG I MALANG B. Tujuannya untuk menyelamatkan jiwa dan meminimalkan kerugian. hingga banjir berakhir. Umum Sistem peringatan banjir dini adalah cara yang relatif murah untuk mengurangi korban dan kerugian akibat banjir. Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) a). Penanggulangan Daya Rusak Air Kondisi DAS wilayah sungai Barito-Kapuas termasuk DAS kritis dengan tingkat erosi dan sedimen yang tinggi hal ini dapat dilihat dari data erosi dan juga diindikasikan dari fluktuasi debit rata rata maksimun dan debit rata rata minimum besar.45 . Manajemen Tanggap Darurat terdiri dari : Penyusunan Rencana Tanggap Darurat (RTD).penanggulangan darurat pada lokasi lokasi Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

Komponen Software terdiri dari: Telemetri software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk mengumpulkan data hujan. Hydrological software yaitu program komputer yang berfungsi sebagai sarana untuk menghitung berapa besar debit yang akan terjadi pada suatu titik (stasiun pengamat muka air) berdasarkan data hujan yang diterima.(Persero) CABANG I MALANG tanggul yang mengalami kebocoran atau pada lokasi tanggul yang akan melimpas akibat banjir Pada WS Barito-Kapuas seharusnya dipasang peralatan Flood Warning and Forecasting system. Sistem ini terdiri 2 komponen yaitu hardware dan software.46 . Informasi banjir yang akan didapat terdiri dari 2 sumber. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Flood warning and forecasting system adalah suatu sistem yang dapat digunakan untuk meramal tentang waktu dan besarnya banjir yang akan terjadi pada suatu titik pengamatan yang terjangkau di dalam sistem tersebut. cuaca maupun muka air dari lapangan secara tepat waktu. Keluaran (output) dari sistem ini adalah berupa data ramalan banjir yang terdiri dari :data muka air. data debit dan waktu kejadian banjir serta tempat dimana banjir tersebut terjadi. masyarakat dan Pokmas. melalui mekanisme yang berlaku. sehingga besarnya banjir yang akan terjadi dapat diketahui lebih dini sehingga daerah daerah rawan banjir dapat segera ditanggulangi bahaya banjirnya termasuk lokasi tanggul yang akan terlampuai kemampuannya terhadap banjirnya. peronda. Informasi banjir yang berasal dari peramalan banjir dengan menggunakan fasilitas flood warning and forecasting system. Data ramalan banjir tersebut di informasikan kepada penduduk di daerah banjir melalui Instansi terkait. Informasi banjir yang merupakan hasil pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan oleh pengamat.

Siaga banjir III.tanggul dan bangunan pengendali banjir) tidak berfungsi. Siaga banjir II.(Persero) CABANG I MALANG b) Tingkat Siaga Banjir Ada 4 macam pemberitaan siaga banjir yang masing masing akan berdampak pada daerah rawan banjir. 2. Dalam menahan air ini diberlakukan konsep keseimbangan alamiah. menahan air di bagian hulu dan hilir. karena sebenarnya banjir dan kekeringan ini merupakan kejadian yang saling susul dan saling memperparah. apabila kondisi muka air berjarak 1. tengah dan hilir. Dalam penanggulangan banjir dengan konsep eko-hidraulik dikenal kunci pokok penyelesaian banjir. Langkah ke II Pencegahan Daya Rusak Air (Jangka Panjang ) Alternatif 1 : Melayani Debit Banjir Dengan Peningkatan Kapasitas Bangunan pengendali banjir Alternatif 2 : Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. Jadi dalam konsep dasar penanggulangan banjir eko-hidraulik adalah dengan meretensi air dari hulu hingga hilir secara merata. apabila kondisi muka air berjarak 0.8 m dari permukaan tanggul. Penyelesaian banjir harus dilakukan secara konprehensif dengan metode menahan atau meretensi air di DAS bagian hulu.47 . apabila kondisi muka air berjarak 1. apabila sebagian/semua bangunan utama pengendali banjir (tanggul. Pembagian kritaria Siaga Banjir secara umum adalah sebagai berikut: Siaga banjir I. Sempadan Sungai (SS) dan Badan Sungai (BS) harus dipandang sebagai kesatuan sistem dan ekosistem ekologi-hidraulik yang integral. dalam arti Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . serta menahan air di sepanjang wilayah sungai. Cara ini sekaligus merupakan cara menanggulangi kekeringan suatu kawasan atau DAS.2 m dari permukaan tanggul. Siaga banjir IV.5 m dari permukaan tanggul. sempadan sungai dan badan sungai di bagian hulu tengah dan hilir. yaitu bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai (WS).

Selanjutnya reboisasi juga mengarah ke DAS bagian tengah dan hilir.7 tahun 2004 tentang SDA . 6) Memfungsikan daerah genangan atau rawa sebagai polder alamiah di sepanjang sempadan sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung air. 5) Tebing-tebing sungai yang mengalami erosi atau scouring terutama pada tikungan luar jika memungkinkan dilaksanakan dengan cara penanaman dengan teknologi Eco-Engineering dengan menggunakan vegetasi setempat. Konsep ini sesuai dengan kebijakan dalam UU No.(Persero) CABANG I MALANG mengacu pada kondisi karakteristik alamiah sebelumnya. 7) Beberapa rawa yang terdapat di sepanjang sungai Barito-Kapuas dapat difungsikan sebagai folder alamiah atau daerah penahan banjir (detention basin). 2) Penataan tataguna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan mempertinggi retensi dan konservasi air di DAS. 3) Sungai Barito-Kapuas yang bermeander justru dipertahankan sehingga dapat menyumbangkan retensi. mengurangi erosi dan meningkatkan konservasi. yaitu sistem pengolahan lahan dengan membuat terasering mengikuti kontur lahan sehingga air hujan tidak langsung mengalir tapi tertahan dulu di teras teras. maka kesempatan infiltrasi akan lebih banyak dan akan menurunkan koefisien runoff dan mengurangi erosi lahan. di sepanjang sempadan sungai dan badan sungai justru ditingkatkan. Penanganan banjir dengan konsep ekologi-hidraulik secara konkrit terdiri dari: 1) DAS bagian hulu dengan reboisasi dan konservasi hutan untuk meningkatkan retensi dan tangkapan air di hulu terutama pada lahan kritis. 4) Komponen retensi alamiah di wilayah sungai. 8) Mencari berbagai alternatif untuk mengembangkan kolam konservasi alamiah di sepanjang sungai atau di lokasi-lokasi yang memungkinkan baik Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . dengan cara menanami atau merenaturalisasi kembali sempadan sungai yang telah rusak. Untuk Itu kami usulkan Semua lahan pertanian pada lahan miring di WS Barito-Kapuas di buat dengan sistem teras mengikuti kontur.48 .

Membatasi atau mencegah pembangunan baru pada daerah yang mempunyai resiko kerugian akibat banjir (rawan banjir). agar dapat dilaksanakan dengan baik. Alternatif 3 : Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) 1) Flood Zoning Pengendalian dan pengelolaan dataran banjir atau dapat juga disebut pengelolaan Tata Ruang dataran banjir bertujuan untuk memperkecil kerugian yang diakibatkan banjir. termasuk kerugian sosial ekonomi dan kerusakan lingkungan. sehingga kerugian material dapat dikurangi dan korban jiwa dapat dihindarkan. Rekomendasi yang termuat dalam peta rawan banjir (flood zoning ) dengan segala resikonya.49 . 9) Disamping solusi eko-hidroteknis tersebut. bila penerapan dari perda ini harus membongkar banyak bangunan yang telah ada. Selain hal-hal tersebut diatas sumur-sumur resapan perlu digalakkan pembuatannya.(Persero) CABANG I MALANG di perkotaan-hunian atau di luar perkotaan. Peraturan daerah ini lebih ditujukan kepada pembangunan dan pengembangan baru (setelah perda berlaku secara hukum). Dengan demikian keuntungan ekonomi jangka panjang serta kecilnya dampak lingkungan sebagai konsekuensi dari usaha ini dapat diperoleh. Peraturan daerah untuk penetapan daerah rawan banjir. agar tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan. sangat diperlukan juga pendekatan sosio-hidraulik sebagai bagian dari eko-hidraulik dengan meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus-menerus akan peran mereka dalam ikut mengatasi banjir. Untuk bangunan yang telah ada dikenakan aturan lain yaitu tentang sandi bangunan (flood proofing). terutama pada daerah yang akan dikembangkan. pada prinsipnya harus mempunyai tujuan yang mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . harus ditetapkan berdasarkan peraturan daerah (perda). Genangan-genangan alamiah ini berfungsi meretensi banjir tanpa menyebabkan banjir lokal karena banjir di bagi-bagi di DAS dan di sepanjang wilayah. sempadan dan badan sungai.

Berdasarkan kecocokan topografi dan maksud pengendalian banjir. dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang. peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. Bangunannya sendiri dihindarkan dari genangan banjir dengan cara meninggikan lantainya. maka flood proofing dapat dilaksanakan. 2. Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir). karena tertalu mahal atau sulit dari segi sosial. Harus dapat mencegah timbulnya kegiatan-kegiatan baru yang dapat menempati daerah genangan dan akibatnya memperdalam genangan banjir. biasanya analisis ekonomi menunjukkan kurang layak. Bentang Sungai Barito-Kapuas termasuk pendek sehingga sulit untuk memperpanjang waktu rayapan. oleh karena itu waduk biasanya dibangun untuk berbagai jenis kegunaan (multiple purpose). terlebih-lebih bilamana kondisi DAS-nya telah rusak. baik secara ekonomis maupun teknis. Bangunan beserta komponen-komponennya stabil (tahan) terhadap ancaman banjir. Pada upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir. agar lebih layak. Bilamana waduk ini dibuat khusus untuk maksud pengendalian banjir.(Persero) CABANG I MALANG 2. flood proofing mempunyai dua maksud yaitu: 1. Pembuatan bendungan merupakan cara yang paling langsung untuk mengendalikan debit banjir. Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Pengendalian debit banjir merupakan alternatif penanggulangan banjir dengan cara memperpanjang waktu rayapan baik dalam bentuk storage (in-stream ataupun off-stream) maupun dengan pendekatan cascade sepanjang sungai. maka waduk ini dibangun di bagian hulu dari daerah pengendali sungai. Alternatif 4 : Pengendalian Debit Banjir 1).50 . 2) Flood Proofing Bilamana upaya pencegahan bahaya dan kerugian banjir lainnya kurang efektif untuk dilaksanakan. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .

sekaligus akan dapat menurunkan puncak banjirnya. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . Pertimbangan atas perubahan morfologi sungai yang diakibatkan pembuatan bangunan pelimpah antar basin ini tidak hanya pada DAS yang menerima pelimpahan saja. tetapi juga pada DAS yang memberi pelimpahan sebagian debit banjirnya. untuk selanjutnya dilepaskan sedikit demi sedikit menurut daya tampung sungai di bagian hilirnya. 3). mudah pelaksanaannya dan tidak terlalu rumit dalam perencanaannya. Membangun checkdam Membangun checkdam checkdam secara cascade sepanjang alur Sungai Barito-Kapuas dan anak anak sungainya di bagian hulu sungai. dengan demikian banjir di bagian hilir dapat diatur dan dikendalikan. pemindahan sebagain debit banjir ke DAS lain memerlukan pertimbangan ekstra hati-hati atas perubahan morfologi sungai. Bangunan Checkdam kami usulkan berupa konstruksi bronjong karena konstruksinya praktis. Selain itu. Metode transfer antar basin ini harus ditinjau dengan hati-hati untuk menjamin agar jangan sampai memindahkan masalah banjir dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas bangunan checkdam dalam mengurangi puncak banjir perlu dikaji lebih lanjut termasuk seberapa banyak jumlah checkdam yang perlu dibangun. dengan maksud mengurangi kemiringan slope alur sungai sehingga akan dapat memperpanjang time peak debit banjir. Bilamana fungsi pengendalian banjir dari waduk merupakan prioritas utama.(Persero) CABANG I MALANG Waduk ini menampung aliran banjir untuk sementara. Transfer Antar Basin Metode pengendalian banjir dengan metode transfer antar basin bertujuan untuk menurunkan ketinggian puncak banjir dengan cara memindahkan sebagian debit banjir ke DAS lain yaitu dengan membangun bangunan pelimpah dan dialirkan ke DAS lain yang terdekat. maka sebagian besar dari seluruh kapasitas waduk harus diperuntukkan bagi pengendalian banjir sedangkan bagian sisanya untuk fungsi waduk yang lain yang merupakan prioritas selanjutnya. 2).51 . karena upaya ini merupakan pemaksaan terhadap perubahan rezim sungai.

Meningkatkan penyelenggaraan sosialisasi UU no.52 . 2 3 Melibatkan perguruan tinggi dan LSM dalam program penguatan (capacity building) institusi PSDA. 7 di lingkungan stakeholders. Perguruan Tinggi dan LSM dalam pendayagunaan SDA.(Persero) CABANG I MALANG 8. Kabupaten dan Kota. 4 5 6 Meningkatkan koordinasi unsur-unsur perencanaan PSDA dengan Institusi Perencana Pembangunan (Bapeda) Provinsi. 7 Sosialisasi/Diseminasi mengenai ancaman yang dapat timbul sebagai akibat dari alih fungsi lahan terhadap kondisi lahan kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai BaritoKapuas 8 Meningkatkan kerjasama antara perencana wilayah yang terkait dengan PSDA untuk mendorong tersusunnya SK Gubernur mengenai Baku Mutu Peruntukan Air Sungai pada semua sungai di Wilayah Sungai Barito- Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .5 RANCANGAN POLA PENGELOLAAN SDA Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito-Kapuas disusun berdasarkan 2 (dua) kerangka waktu. untuk diusulkan kepada Pemerintah. utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan. Rancangan Jangka Panjang merupakan strategi yang dilaksanakan sampai dengan rentang waktu 20 tahun ke depan. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. dengan memperhatikan aspek hidrologis dan topografis serta melibatkan stakeholder di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. yaitu Jangka Pendek dan Jangka Panjang. Rancangan Jangka Pendek merupakan strategi yang dilaksanakan pada 5 tahun pertama setelah Pola Pengelolaan Sumber Daya Air ini ditetapkan. 1 Mensinergiskan kegiatan Institusi pengelola SDA dengan kegiatan yang positip dari Masyarakat. Dunia Usaha. Pengembangan sistem operasional pengelolaan SDA melalui penetapan Zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air.

9 Meningkatkan koordinasi dan memperkuat posisi institusi PSDA di lingkungan institusi perencana pembangunan Pemerintah Daerah.53 . 2 Sosialisasi/Diseminasi persoalan (key issues) mengenai Konservasi. 8.2 Rancangan/Strategi Jangka Panjang (20 Tahun Ke Depan) Strategi Jangka Panjang dalam Pola Pengelolaan SDA WS. Perguruan Tinggi. Dalam implementasinya nanti berbagai rancangan strategi tersebut akan dijabarkan kedalam berbagai program kegiatan yang disusun sesuai dengan kebutuhan nyata dan kondisi nyata yang dituangkan dalam matrik pola pengelolaan SDA.5. dan LSM dalam pendayagunaan SDA.(Persero) CABANG I MALANG Kapuas. Secara logis strategi yang menempatkan penguatan kelembagaan di awal ini akan sangat berguna untuk memantapkan jalannya pengelolaan SDA di masa depan. Barito-Kapuas.5. Dunia Usaha. 8. kepentingan. 12 Menyusun Program perbaikan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. 10 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan. Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Usulan strategi kebijakan pada periode 5 tahun pertama ini sebagian besar lebih merupakan strategi yang ditujukan untuk penguatan institusi pengelolaan SDA WS.1 Rancangan/strategi Jangka Pendek (5 Tahun) Strategi Jangka Pendek dalam Pola Pengelolaan SDA WS. pelaksanaan. Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : 1 Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . 11 Menyusun peta potensi sumber daya air yang dapat mendukung pembuatan sonasi (zoning).

segera munculnya mengenai mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai. BLN atau dari Stakeholders). dan aktivitas non pertanian. 7 8 Meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki instansi PSDA. 12 Peningkatan monitoring penggunaan air untuk berbagai kepentingan usaha dan atau kegiatan. sementara untuk kebutuhan lainnya diupayakan dari sumber lain (APBN. 13 Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga internasional maupun pelaksanaan. kepentingan. dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat.54 .(Persero) CABANG I MALANG pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air kepada unsur perencana pembangunan Pemerintah Daerah di Wilayah Sungai Barito-Kapuas 3 Memasukkan unsur Lokal Inflow yang cukup signifikan besarnya dalam perhitungan ketersediaan air sehingga dapat mengurangi dampak dari tingginya fluktuasi aliran sungai antara musim kemarau dengan musim hujan. 4 Mengembangkan Sistem Database (untuk wadah dari hasil inventarisasi potensi internal dan ancaman external) untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan SDA dengan baik. 9 Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana SDA dengan melibatkan peran serta masyarakat. 10 Melengkapi dan mengintegrasikan penyusunan profil SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas dengan melibatkan perencana pembangunan Pemerintah Daerah 11 Meningkatkan koordinasi diantara pengelola SDA baik di tingkat perencanaan. Mengarahkan alokasi dana dari PAD untuk keperluan operasional dengan selalu mengadakan alokasi untuk peningkatan SDM di lingkungan Institusi pengelola SDA. dan pengawasan dalam rangka mengantisipasi meningkatnya aktivitas penggunaan air untuk berbagai Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII . kolam ikan. 5 Memberikan masukan sebanyak-banyaknya kepada unsur perencana pembangunan 6 Mendorong daerah agar perubahan perda tata guna SDA lahan/RTRW yang dapat memperhatikan arah kebijakan konservasi sumber daya air. Perda Irigasi.

55 . 18 Membuat Warning System untuk banjir dengan partisipasi masyarakat. yang sangat diperlukan untuk keperluan pembiayaan pengelolaan sumber daya air. perguruan tinggi. 16 Peningkatan kapasitas SDM dengan memanfaatkan kerjasama dengan perguruan tinggi. Asosiasi. maupun lembaga lain baik di dalam maupun di luar negeri. termasuk OP. 17 Mengembangkan Sistem Informasi SDA dengan melibatkan Institusi Pengusahaan dan Pemanfaat SDA. penataan pengelolaan mendukung terealisasikannya penggalangan dana dari potensi yang ada. 15 Menyusun regulasi yang mengatur kegiatan masyarakat yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan SDA khususnya kegiatan konservasi agar tidak terjadi hal-hal yang negatip. dan lembaga lain yang terkait dengan PSDA 19 Menyusun regulasi yang dapat mendorong partisipasi masyarakat untuk ikut mendanai kebutuhan pengelolaan SDA. 20 Meningkatkan daya dukung lingkungan melalui pengembangan sewerage system Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS VIII .(Persero) CABANG I MALANG lembaga donor lainnya yang concern dengan pengelolaan SDA untuk mendapatkan 14 Menyusun grant/hibah/softloan sistem yang dapat yang digunakan dapat untuk mendukung pengelolaan SDA wilayah sungai Barito-Kapuas dengan baik.

kebijakan dan indikasi program. Dalam rangka mewujudkan pencapaian visi dan misi pengelolaan sumber daya air serta mengimplementasikan strategi. selanjutnya dianalisis lebih lanjut tingkat kepentingannya. maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut : 9. sasaran. tujuan.1 Aspek Kebijakan 1. kebijakan dan program yang diperoleh berdasarkan Analisis dan informasi teknik yang diperoleh dari berbagai aspek teknis antara lain. diharapkan rumusan rancangan tersebut dapat disepakati oleh kedua provinsi dan dijadikan bahan rumusan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Strategi. Analisis DSS-Ribasim pada WS. maka diperlukan pengaturan dalam bentuk kebijakan Provinsi. upaya-upaya konservasi sumber daya air . pendayagunaan sumber daya air. yaitu serta masyarakat serta sistem informasi. 2. pengendalian daya rusak air. Barito-Kapuas. Konsep kebijakan tersebut di atas pada dasarnya mengacu pada lima buah pilar pengelolaan sumber daya air. Studi ini telah menghasilkan suatu rumusan . Sebagai hasil akhir dari proses tersebut telah dihasilkan suatu rumusan Rancangan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air di WS Barito-Kapuas.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis serta kajian pada bab-bab sebelumnya serta hasil rumusan pada Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) I dan II yang telah diselenggarakan beberapa waktu yang lalu. peningkatan peran Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-1 .(Persero) CABANG I MALANG BAB 9 KESIMPULAN DAN SARAN 9. yang selanjutnya dijadikan acuan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (termasuk kabupaten/kota) dalam menyusun rencana induk/ master plan serta rencana pengelolaan sumber daya air WS Barito Kapuas.1.

WS Barito-Kapuas administrasi. meningkatnya pencemaran air sungai. menurunnya kualitas air.1.2 Aspek Tata Ruang 1.3 Aspek Konservasi Beberapa kesimpulan dapat ditarik berdasarkan hasil analisis beberapa sifat biofisik di WS Barito-Kapuas. 2. Diperlukan suatu kesepakatan. kekeringan pada musim kemarau serta 9. 3. keterpaduan dan kesinambungan yang bersifat lintas provinsi.(Persero) CABANG I MALANG 9. namun sesuai dengan UU SDA merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari hulu ke hilir.1. tidak bisa dipisah-pisah sesuai dalam wilayah pengelolaan sumber daya air yang berbasis wilayah sungai. Usaha konservasi tanah dan air merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menahan laju peningkatan nilai erosi tersebut dari tahun ke Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-2 . yaitu: 1. Adanya konflik kepentingan antar sektor dalam pemanfaatan lahan sehingga pelaksanaan di lapangan tidak konsisten dengan rencana tata ruang. Erosi yang terjadi di WS Barito-Kapuas untuk setiap DAS berdasarkan perhitungan tahun 2006 pada umumnya berkisar dari sedang sampai berat Prediksi erosi hingga tahun 2025 menunjukkan klasifikasi yang sama yaitu dari sedang sampai berat. berwawasan lingkungan dan berkesinambungan perlu adanya keterpaduan dan sinkronisasi dalam penataan ruang di wilayah perbatasan. 4. Nilai erosi tersebut diasumsikan akan terjadi jika tidak dilakukan usaha pengawetan tanah dan air. 2. berkurangnya debit aliran rendah pada musim kemarau. Perubahan pemanfaatan fungsi ruang di daerah tangkapan air WS Barito-Kapuas telah semakin memprihatinkan. tingginya laju erosi dan sedimentasi yang menurunnya kualitas lingkungan keairan. hal ini telah mengakibatkan meningkatnya debit sungai pada musim penghujan. menyebabkan terjadinya bencana banjir dan pendangkalan sungai. Dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi/ kabupaten/ kota yang lestari.

diperoleh kesimpulan 9. 2. Status Mutu Air (SMA) berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan di Sungai Barito-Kapuas dan beberapa anak sungainya. Mengingat kualitas limbah RKI yang dihasilkan mengandung kadar pencemar tinggi. aktivitas perambahan hutan. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Simulasi menunjukkan tidak ada kekurangan air baku sampai dengan tahun 2025.54 (Cemar Ringan) . di masing-masing sungai tahun 2007 pada umumnya sebagai berikut : . Upaya konservasi ini dapat dilakukan dengan metode vegetatif dan cara mekanik.Sungai Barito : PI = 3.5 Aspek Pendayagunaan SDA Dari hasil simulasi DSS-Ribasim untuk kasus dasar 2007. Hasil simulasi base case 2007 menunjukkan bahwa dari ketersediaan air alami. Oleh karena itu. tidak ada kekurangan air untuk rumah-tangga. Keberadaan hutan yang utuh merupakan salah satu upaya untuk mengurangi terjadinya erosi.1.1.(Persero) CABANG I MALANG tahun. pembalakan liar serta konversi hutan menjadi peruntukan lain harus dicegah secara maksimal. diperlukan pengolahan limbah cair RKI. karena apabila dibiarkan akan menurunkan kualitas sumber daya air yang berfungsi sebagai penampung limbah RKI.7217 (Cemar Ringan) terhadap kualitas air Sungai. Dari aspek kuantitas terjadi peningkatan jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan penggunaan air bersih. 3. maka dapat diketahui bahwa rata-rata Pollutant Index pada tahap I (musim penghujan) dan tahap II (musim kemarau). 2025 dan masing-masing upaya.4 Aspek Kualitas Air Berdasarkan hasil analisis sebagai berikut : 1. Pembangunan bangunan penyedia air baku dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-3 .Sungai Kapuas : PI = 3. 9. 2. perkotaan dan industri (semua sukses diatas 90%).

maka dalam studi ini telah ditetapkan bahwa strategi Pengendalian Daya Rusak Air dibagi dalam dua periode waktu. yang pada akhirnya mengurangi kapasitas sungai. Banjir yang terjadi di WS Barito-Kapuas disebabkan oleh beberapa faktor.1. 2. Menurunnya kapasitas dari sungai-sungai / drainasi karena sedimentasi c. d. yaitu : Jangka Menengah/ Mendesak a) Pemulihan sarana dan prasarana pengendalian banjir akibat Daya rusak Air meliputi : − − − − − Rehabilitasi / normalisasi jaringan drainasi Normalisasi alur sungai Pengerukan muara sungai yang mengalami pendangkalan Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pengendali banjir Rehabilitasi / perbaikan tebing kritis Manajemen penanggulangan banjir atau yang lajim disebut Manajemen Tanggap Darurat Penerapan Sistem Peringatan Dini (Flood Warning System) b) Penanggulangan Daya Rusak Air − − Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-4 . Pada beberapa bendung strategis di Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Mengingat banjir tidak dapat dihilangkan secara absulut.6 Aspek Pengendalian Daya Rusak Air (DRA) Berdasarkan analisis dan hasil simulasi yang telah dilakukan. yaitu: a. Perubahan fungsi Retarding Basin yang berubah menjadi daerah pemukiman & pertanian. 9. debit andalan Q80%.(Persero) CABANG I MALANG 3. Kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai atau drain mengakibatkan pendangkalan sungai. Sedangkan kebutuhan air terdiri atas kebutuhan air irigasi dan pemeliharaan aliran untuk lingkungan. dan debit andalan Q90%. b. Prilaku masyarakat yang kurang memperhatikan fungsi dari sungai dan prasarana banjir yang dibangun. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. dengan kondisi ketersediaan air rata-rata.

3. Konservasi dan perlindungan daerah tangkapan air di wilayah hulu sungai perlu dilakukan secara intensif mengingat daya dukung lingkungan dan daya tampung Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-5 .2 SARAN Usulan saran terhadap pengembangan wilayah sungai meliputi usulan pengelolaan sesuai tahapan dalam Undang-undang No. tentang Sumber Daya Air dan usulan pengembangan pengelola SDA lintas Propinsi adalah sebagai berikut : 1. utamanya agar fungsi pemantauan dan pengendalian yang dapat mencakup seluruh Wilayah Sungai Barito-Kapuas dapat berjalan. dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penimbunan tanah dan di atas tiang. Perlunya mempercepat munculnya perda mengenai SDA yang dapat mengantisipasi pelanggaran pemanfaatan SDA (Perda Sungai. peninggian lantai bangunan lebih dari muka air banjir. c) Pengendalian Debit Banjir − − Pengendalian Debit Banjir Dengan Waduk Transfer Antar Basin 9. untuk diusulkan kepada Pemerintah. 7 Tahun 2004.(Persero) CABANG I MALANG Jangka Panjang a) Dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-Hidraulis) di sepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. dst) dengan melibatkan peranserta masyarakat. 2. − Flood Proofing Meninggikan lantai bangunan (di atas muka air banjir). menahan air di bagian hulu dan hilir b) Pengendalian dan Pengelolaan Dataran Banjir (Flood Zoning/ Flood Proofing) − Flood Zoning Daerah daerah rawan banjir yang perlu ditetapkan sebagai flood zoning yang didasarkan atas frekuensi banjir yang terjadi. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan perlu menyusun kesepakatan mengenai peningkatan kapasitas Institusi Pengelola SDA Wilayah Sungai Barito-Kapuas. Perda Irigasi.

(b). 3). selanjutnya effluent Echo Garden Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-6 . sumur resapan. Alternatif pengolahan. 5. Perlu dilakukan audit lingkungan secara komprehensif baik secara biogeofisik maupun sosial budaya air di wilayah sungai. tentang kewajiban untuk mengolah limbah dari industri. yaitu : (a). Untuk mengatasi banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. sehingga jaringan perpipaan lebih sederhana dan kapasitas IPAL terpusat bisa lebih kecil. ini sesuai Pasal 38 ayat (2) butir (a) dari PP 82/2001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”). di daerah hulu sungai perlu dibuatkan embungembung penampungan air hujan. dengan alternatif pengolahan : 1). Untuk areal permukiman terpencar dilakukan secara komunal di daerah bersangkutan. 2). terdiri dari : dapat menyerap unsur pencemar. tetapi untuk grey water ( air bekas mandi. Air Limbah Industri : 1). Dalam mengatasi jumlah limbah cair RKI yang terus meningkat dari tahun ke tahun dengan kuantitas yang banyak dan memilki potensi untuk mencemari WS Barito-Kapuas. cuci menggunakan tanaman (wetland system) atau Echo Garden dapat dibuang ke badan air. Air Limbah Rumah Tangga dan Perkotaan. serta menerapkan Q – Delta Policy dalam setiap pembangunan . Untuk permukiman yang terpisah dengan pertimbangan daya dukung lahan masih memadai dapat dan dapur) dapat diolah diolah secara individu dengan tangki dengan konsep ekoteknologi yang yang septik untuk tinjanya. Untuk permukiman dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan ekonomi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan kebijakan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya menggunakan ”Off Site System”. maka perlu pengolahan limbah. selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat.(Persero) CABANG I MALANG sudah tidak memadai lagi. yaitu dengan menggunakan jaringan perpipaan air limbah untuk menampung air limbah dari setiap sumber pencemar. 4. Harus diolah sebelum dibuang ke badan air.

Dunia Usaha. Mensinergiskan Kegiatan Institusi pengelola SDA dengan Kegiatan yang positip dari Masyarakat. 6. dan LSM dalam pendayagunaan SDA 9. Untuk memanfaatkan sumber daya air yang ada. 38 ayat (2) butir (e) : dari PP 82/20012001 (”Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air”). PLTA. 8. sesuai dengan Pasal. selanjutnya disalurkan dan diolah di IPAL terpusat.(Persero) CABANG I MALANG • • Dengan pengolahan individu di masing masing industri Untuk areal industri yang memiliki limbah sejenis dan terkumpul dalam suatu area dapat dilakukan Pengolahan Terpusat. Limbah industri harus dipantau secara kontinyu. 2). Rehabilitasi hutan dan lahan kritis 2 Menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan konservasi SDA 3. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana untuk Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-7 . (c). Perguruan Tinggi. Upaya-upaya konservasi yang perlu segera dilakukan di WS Barito-Kapuas adalah sebagai berikut : Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemamfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan DRA 1. Menerapkan Aspek Hukum yaitu sangsi dan penghargaan bagi industri yang belum dan telah memenuhi Ketentuan Baku Mutu Limbah Cair. swasta dan LSM dalam upaya memelihara dan melindungi sempadan sungai 7. Meningkatkan kemampuan lembaga pengelolaan sumber daya air (capacity building) serta meningkatkan tingkat kesadaran serta peran serta masyarakat. maka dapat dipertimbangkan pembangunan waduk Muara Julai yang diharapkan akan dapat menyediakan air untuk irigasi teknis. Pariwisata dan juga perikanan darat. sehingga limbah cair yang disalurkan ke jaringan pengumpul limbah memiliki mutu tertentu sesuai dengan ketentuan yang diberikan dari Badan Pengelola. tentang Persyaratan melakukan pemantauan mutu dan debit air limbah. dimana setiap industri biasanya diwajibabkan melakukan Pra Pengolahan.

embung & mata air dgn aturan. rawa. Pengawetan SDA 2. Menetapkan daerah batas sempadan sungai. Menetapkan dan mengelola kawasan danau rawa. 3. daya tampung dan fungsi sumber daya air secara berkelanjutan 1. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. Pengendalian penggunaan air tanah kota Memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan 10. Upaya-upaya pengendalian banjir yang perlu segera dilakukan di WS BaritoKapuas adalah sebagai berikut : (a) Penanganan banjir supaya dilakukan secara menyeluruh. Pemeliharaan mata air 5. (c) Tidak kalah pentingnya upaya penataan penggunaan bantaran dan alur sungai serta kegiatan konservasi untuk daerah hulu untuk mencegah adanya trend kenaikan debit banjir akibat kerusakan daerah resapan air (d) Perlu dilakukan pengaturan tanggung jawab dan wewenang pada sektor/ dinas/ instansi di daerah yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai Barito-Kapuas serta pengkoordinasiannya agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya. embung dengan prioritas daerah pemukiman 4. Pelestarian situ 6. (b) Rasionalisasi alur sungai dan drainase kota merupakan upaya penanganan banjir WS. dengan memperhatikan faktor penyebab yang paling dominan dan optimasi penanganannya baik yang dilakukan secara struktural maupun non struktural.(Persero) CABANG I MALANG Meningkatkan. Barito-Kapuas yang harus mendapatkan perhatian yang memadai dari Pemerintah Daerah. Laporan Akhir RANCANGAN POLA WILAYAH SUNGAI BARITO – KAPUAS IX-8 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful