P. 1
ALmuhakam al mutasabih

ALmuhakam al mutasabih

|Views: 163|Likes:
Published by Jawa Hir

More info:

Published by: Jawa Hir on May 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2015

pdf

text

original

AL-MUHKAM DAN AL-MUTASYABIH

JUN 9 Posted by sarjoni

PENDAHULUAN
1.

Latar

Belakang

Seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman kebutuhan akan sarana dan prasarana penunjang kehidupan semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan kebobobrokan moral dari kalangan generasi muda sulit membedakan mana yang hak dan mana yang batil, hukum hanya nama dan simbol semata, ditabah lagi serangan dari musuh-musuh Islam, makar global yang menohok islam dan serangan pemikiran dan ajaran yang menyimpang yang ditanamkan oleh kaum orientalis dengan gerakan orientalisme-nya. Ibadah hanya dianggap sebatas ritual dan seremonial belaka. Manusia seperti kehilangan pedoman hidup. Mereka terpenjara, sengsara dana menderita karena ulah tangantangan mereka sendiri.
1.

Tujuan

Pembahasan

maka dari itu untuk mengobatri penyakit-penyakit tersebut semua, maka dalam hal ini yang sangat dibutuhkan disini adalah sebuah pedoman hidup yang benar-benar bisa menyelamatkan “hidup”, maka dari itu mempelajari ilmu-ilmu Al-quran adalah sebuah alternatif yang sangat-sangat dibutuhkan namun demikian telah termaktub dalam Al-qur‟an dijelaskan secara global dan ada pula yang secara detil. Ada sebagian ayat-ayat Al-qur‟an yang bisa langsung dipahami maknanya dan ada yang tidak. Maka dari itu perlu kita mempelajari Al-muhkam dan Al-mutasyabih, agar kita dapat mengetahui mana yang bisa dipahami maknanya dan mana yang tidak.

PEMBAHASAN
1.

Pengertian Menurut etimologi muhkam artinya suatu ungkapan yang maksud makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah. Muhkam diambil dari kata ihkâm, artinya kekokohan, kesempurnaan. Bisa bermakna, menolak dari kerusakan.Muhkam adalah ayat-ayat yang (dalâlah) maksud petunjuknya jelas dan tegas, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dan kekeliruan pemahaman. mutasyabih adalah ungkapan yang maksud makna lahirnya samar. mutasyabih diambil dari kata tasyâbaha – yatasyâbahu, artinya keserupaan dan kesamaan, terkadang menimbulkan kesamaran antara dua hal. Mutasyabih adalah ayat-ayat yang makna lahirnya bukanlah yang

dimaksudkannya. Oleh karena itu makna hakikinya dicoba dijelaskan dengan penakwilan. Bagi seorang muslim yang keimanannya kokoh, wajib mengimani dan tidak wajib mengamalkannya. Dan tidak ada yang mengetahui takwil ayatayat mutasyabihât melainkan Allah swt.
1.

Pengertian Muhkam dan Mutasyabih Secara Khusus Muhkam dan Mutasyabih terjadi banyak perbedaan pendapat. Yang terpenting di antaranya sebagai berikut :
1.

Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedangkan mutasyabih hanya Allah-lah yang mengetahui akan maksudnya. Muhkam adalah ayat yang dapat diketahui secara langsung, sedangkan mutashabih baru dapat diketahui dengan memerlukan penjelasan ayat-ayat lain.

2.

Para ulama memberikan contoh ayat-ayat Muhkam dalam al-Qur‟an dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum. Seperti halal dan haram, kewajiban dan larangan, janji dan ancaman. Sementara ayat-ayat Mutasyabih, mereka mencontohkan dengan nama-nama Allah dan sifatNya, seperti:

( ‫)552 :ة قبل‬ “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”. (‫)5 :هط‬ “Yang Maha Pengasih, yang bersemanyam di atas „Arsy”. ( ‫)41 : مقل‬ “(bahteranya nabi Nuh as) berlayar dengan pantauan mata Kami. (seperti itulah musibah yang Kami turunkan) sebagai balasan bagi orang yang ingkar”. ‫مق‬ ( ‫)01 :ح فل‬ “ esungguhnya orang-orang yang membai‟at-mu ya asul, mereka-lah yang berikrar menerima (bah a uhan mereka adalah Allah. angan Allah diatas tangan-tangan mereka”. ( ‫)88 :صصق‬ “dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa kecuali (wajah) Allah”. Muhkam ialah lafal yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat secara berdiri sendiri tanpa ditakwilkan karena susunan tertibnya tepat, dan tidak musykil, karena pengertiannya masuk akal, sehingga dapat diamalkan karena tidak dinasakh. Sedangkan pengertian mutasyabih

sehingga tidak dapat dijangkau oleh akal manusia karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri karena susunan tertibnya kurang tepat sehingga menimbulkan kesulitan cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu amalkan. 1. Mendorong umat untuk giat memahami. Menjadi rahmat bagi manusia. Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. 4. tidak harus menuggu penafsiran atau penjelasan dari lafal ayat atau surah yang lain. Di antara ulama yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Imam Malik yang berasal dari ulama Mutaqaddimin. yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri (tafwidh ilallah). 2. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya. Hikmah adanya Ayat-ayat tersebut. karena merupakan ilmu yang hanya dimonopoli Allah SWT. Madzhab Khalaf. 2. yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. 3. Hikmah Ayat-Ayat Muhkam. Madzhab Salaf. Hikmah Ayat-Ayat Mutasyabihat. gampang dipahami. karena lafal ayat-ayatnya telah mudah diketahui. Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya. dan jelas pula untuk diamalkan. Mereka umumnya berasal dari kalangan ulama Muta‟akhirin 2. 1. sangat besar arti dan faedahnya bagi mereka. Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana . Memperlihatkan kelemahan akal manusia. dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran. menghayati. Sikap Para Ulama Terhadap Ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih. Juga memudahkan bagi mereka dalam menghayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya. 1. 1. Mereka menyucikan Allah dari pengertianpengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur‟an. karena lafal ayat-ayat dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya. 1. khususnya orang kemampuan bahasa Arabnya lemah.ialah lafal-Al-Quran yang artinya samar. 2.

Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah. Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia. Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran. Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji. Sebagaimana Allah menyebutkan “wa ma yadzdzakkaru ila ulu al-albab”sebagai cercaan terhadap orangorang yang mengutak-atik ayat-ayat Mutasyabih. Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam. lima seruan ditujukan kepada Rasul secara khusus. 5. yang menggunakan huruf-huruf hijaiyah. Keempat. Hal tersebut menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah SWT. Kedua. terdapat pada 29 surat. ketiga. Ibnu Abi Al Asba‟. biasanya dimulai dengan huruf-huruf muqaththa‟ah (huruf-huruf yang terpisah). terdapat dalam 23 surat. kalimat berita (jumlah khabariyah). melainkan wahyu ciptaan Allah SWT. tergolong dalam ayat mutasyabih. terdapat dalam sepuluh surat. . kelima. Dan lima yang lain ditujukan kepada umat. dan kekuasaan ilmu-Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu. tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada naluri kehambaannya. 4. ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam Al-Quran. Mereka menyadari keterbatasan kalnya dan mengharapkan ilmu ladunni. Fawatih Al-Suwar Fawatih Al-Suwar berarti pembukaan-pembukaan surat dan menurut As-suyuthi. pujian terhadap Allah swt yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. yakni orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya untuk mengotak-atik ayat-ayat Mutasyabih sehingga mereka berkata “rabbana la tuzighqulubana“. Sebesar apapun usaha dan persiapan manusia. agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan manusia biasa. 3. ketinggian mutu sastra dan balaghahnya. Teguran bagi orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat Mutasyabih. 2. masih ada kekurangan dan kelemahannya. Sebaliknya Allah memberikan pujian bagi orang-orang yang mendalami ilmunya. dengan mempergunakan kata seru (ahrufun nida). Ayat-ayat Mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadaraannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu. terdapat dalam 15 surat. Pertama. dalam bentuk sumpah (Al-Aqsam). Pembagian karakter pembukaannya adalah sebagai berikut. 3.

S. As Sajdah. dan nida untuk umat manusia (‫س‬ ) terdapat dalam Q. ) dalam Q. yakni (Q.S. Al Haaqqah. Jumlah Ismiyyah.S. Yaasin). dan Q. At Tahrim dan At Thalaq. (Q.S.S. Thaha). terdapat dalam 3 rangkaian dan 9 surat. Al Fath.S.S.S. As yu‟ara . dan Q. Kelompok yang terdiri dari 4 huruf. as shaff. Sajdah).S. Q. Al An‟am.S. 2.S. yakni ‫ص‬ (Q. An Nur. yaitu : 1. Nun). Q. Al Baqoroh. Q. Al Hajj.S. dan ‫( ط م‬Q. yakni ‫ل م ه ي‬ ‫ . Al Kahfi. Q. Q.S. Q. dan ‫( س‬Q. 3.S. Al Mu‟min. yaitu terdapat dalam Q. 2.S. Pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang. al jum‟ah. terdapat dalam 3 surat. Az Zuhruf. (Q. Saba. Al Ahqaf). Nuh. Kelompok yang terdiri dari 5 huruf terdapat dalam 2 rangkaian dan 2 surat. ‫( طس‬Q.S. Pujian kepada Allah ada dua macam. nida untuk kaum mukminin dengan term terdapat dalam Q. Al Maidah dan Al hujurat. terdapat dalam 3 rangkaian dan 13 surat. Q. al ‫ي‬ Muzammil dan term ( ‫ث‬ ). Q. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus (Al Ahruful Muqoto‟ah . ح س ص ط ع ق‬Penggunaan surat-surat tersebut dalam pembukaan surat-surat Al Qur‟an disusun dalam 14 rangkaian.‫(ق‬Q.S.S. Q. Ar Rahman. yang terdiri dari kelompok berikut : 1. Ali Imron. al Hadid. Menetapkan sifat-sifat terpuji dengan menggunakan salah satu lafal berikut:Memakai lafal hamdalah yakni dibuka dengan ‫ . terdapat dalam 9 surat. Pembukaan dengan kalimat (jumlah) khabariyah (al istiftah bi al jumal al khabariyah).S. Jumlah khabariyah dalam pembukaan surat ada dua macam. Al A‟raf . dan Fathr.S. Al Hijr). Q. Q.S.S. dan Q.S. Lukman.Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (tanzih „an ssifatin naqshin) dengan menggunakan lafal tasbih terdapat dalam 7 surat yaitu : Q.S. Al Qori‟ah. هلل‬yang terdapat dalam 5 surat yaitu : Q.Al-Kautsar.S. yakni ditambah dengan Q. Yusuf. 4. Al Ahzab. terdapat dalam 2 rangkaian dan 2 surat. Az Zumar. An Naml). Q. Yunus. Q. Kelompok sederhana. yaitu nida untuk Nabi ( yang terdapat dalam Q. Muhammad. yakni ‫( م‬Q. Jumlah ismiyah yang menjadi pembuka surat terdapat 11 surat. Q.S. yakni ‫( م‬Q. Al Qoshosh dan Q. yakni ‫( ص‬Q. 4.S. Al Jatsiyah. Qof)Kelompok yang terdiri dari dua huruf. Shad).S. al Hasyr.S.AlMumtahanah. Al Qodr.S.S.S.S. Nida ini ada tiga macam. Al Fatihah. 3. yaitu : 1.S.( ‫ل‬ ).S. ‫( ط‬Q.S.S. Maryam) dan ‫ق م‬ (Q.S. 2.S. 5. At Taubah. Q.S. Q. Q. Jumlah fi‟liyah yang menjadi pembuka surat-surat Al . dan Q. Ar Rum.1. Hud.S. al A‟la.S. As yu‟ra . Al Furqon dan Al Mulk. Menurut As Suyuthi pembukaan dengan panggilan ini terdapat dalam 10 surat. Kelompok yang terdiri dari tiga huruf. Al Isra.Jumlah Fi‟liyyah. dan at Taghabun. An Nisa dan Q.S.Memakai lafal . Q. Q.S.S. Ad Duhkan.S. Ar a‟du dan ‫ص‬ (Q. Ibrahim.S. Pembukaan dengan panggilan (al istiftah bin nida). yang terdapat dalam 2 surat yaitu Q. Pembukaan dengan pujian kepada Allah (al-istiftah bil al tsana).S. terdiri dari satu huruf.

dan surat Al-a‟rad [13]. terdiri atas empat huruf. surat Asy-syu‟ara [26].S. DAFTAR PUSTAKA M.terdiri atas dua huruf.1999 Marhiyanto Bambang. Zubdah Al-Itqah Fi Ulum AlQur’anMutiara Ilmu-Ilmu Al-Quran Kitab Al-Itqom Fi Ulum Al-Quran AsSuyuth. surat Al-ankabut [29]. Q. 2. Pustaka Setia. Sumpah yang digunakan dalam pembukaan surat-surat Al Qur‟an ada tiga macam dan terdapat dalam 15 surat. terdapat pada 13 tempat: surat Al-baqarah [2]. Al Qiyamah. Menurut As-suyuthi. surat Al-ahqaf [46].S. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Masa Kini.S. bentuk redaksi fawatih Al-suwar didalam al-quran dijelaskan sebagai berikut: 1. dan surat Yaa sin [36]. Q. Al Qomar.S. surat Al-imran [3]. bandung : pustaka setia. surat Al-jatsiyyah [45].S. surat Ad-dukhan [44]. terdiri atas satu huruf. 3. surat Al-hijr [15]. Al Mu‟minun. Rosihon Anwar. terdapat pada dua tempat: surat Maryam [19] dan surat As-syu‟ra. Dr Muhammad Bin Alawi Al-Maliki.S. surat Yunus [10]. Q. 2008 Al-Hasani. terdapat pada dua tempat: suat Al-a‟raf [7].Qur‟an terdapat dalam 12 surat. 8. 5. terdapat pada tiga tempat: surat al-qalam [68] yang diawali huruf nun. surat Ibrahim [14].1999 Shiddieqi Teungku Muhammad hasbi.S.S. Abasa. Al Mujadalah. Q.Ag. Q. DR. Q. Al Anfal. Al Ma‟arij. Al Bayyinah.S.S. Ulum Al-quran. surat Luqman [31]. 4. Q. surat Fushshilat [41]. yaitu : Q. surat An-naml [27].S. Al Anbiya. terdiri atas tiga huruf. surat Thaha [20]. surat As-sajdah [32]. Pembukaan dengan sumpah (al istiftah bil qasam).S. 5. An Nahl. Q. surat Az-zukhruf [43]. karena fawatih al-suwar tergolong dalam ayat mutasyabih maka hikmah keberadaan/mempelajari tentang fawatih al-suwar sama dengan hikmah keberadaan ayat mutasyabih diantaranya: 6. Sejarah Dan Pengantar Ilmu AlQuran Dan Tafsir. 2. surat Yusuf [12]. memberikan pemahaman abstrak-ilahiah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang biasa disaksikannya. terdiri atas lima huruf. Bandung. Al Balad. terdapat pada sepuluh tempat: surat al-mukmin [40]. surat qaf [50] yang diawali huruf qaf dan surat shad [38] yang diawali huruf shad. Surabaya : Terbit Terang. Q. dan surat Al-qashshash [28]. surat As-syum [42]. memperlihatkan kelemahan akal manusiateguran bagi orang-orang yang mengotak-atik Al-qur‟an 7. surat Hud [11]. Semarang : PT Pustaka Rizki Putra. surat Ar-rum [30]. Q. Q. 1999 . At Takatsur.

chayo.wordpress.com/2008/05/fawatih-al-suwar-dan-khawatim-al-suwar.my-php.Almanhaj.net/artikel_view.com/artikel/bentuk-lahiri-al-quran-kajian-atas-ayat-dansurat/ www.php?page_detil=Fawatih%20AlSuwar%20dari%20As-suyuthi%20[19-Apr-2009 www.maizuddin.id .blogspot.or.www.aliyahalhuda.html www.

Contoh surat Al. B. Mutasyabih. 4. 3. Untuk memenuhi tugas terstuktur padamata kuliah Ulumul Qur‟an. dalam memahami tentang ilmu Muhkam wal Mutasyabih. keseksamaan. Untuk lebih lanjut terarahnya penulisan makalah ini.Baqarah ayat 83 : Artimya akan Ibu. Sikap Pengertian Ulama terhadap Al-Muhkam ayat-ayat Fawatill wal Muhkam wal Mutasyabih. Al-Suwar. PENGERTIAN AL-MUHKAM II AL-MUTASYABIH AL-MUTASYABIH. orangmanusia. Pembatasan masalah. C. Sedangkan secara terminology muhkam berarti ayat-ayat yang jelas maknanya. dan pencegahan. Al-Muhkam. Hikmah adanya ayat-ayat Al-Muhkam wal Mutasyabih. Muhkam berasal dari kata Ihkam yang bearti kekukuhan. dan tidak memerlukan keterangan dari ayat-ayat lain. 1. Tujuan Pembahsan. 2. BAB AL-MUHKAM A. I Ilmu muhkam wal Mutasyabih di latar belakangi oleh adanya perbedaan pendapaulamatentang adanya hubungan suatu ayat atau surat yang lain. Untuk bahasan dalam mata kuliah Ulumul Qur‟an. kemudian dan perduli” anak-anak-piatu yang baik ucapkanlah sembahyang kecuali tidak bayarlah kecil mengambil dari padamu .MUHKAM DAN MUTASYBIH 13 Mei 2009 BAB Pendahuluan A. maka penulis membatasi sebagai berikut : 1. maka suatu ilmu yang mempelajari ayat atau surat Al-Qur‟sn cukup penting kedududkannya. 3. Untuk menambah ilmu pengetahuan kita. kerjakanlah kamu berpaling kebaikankepada dan kepada zakat. kesempurnaan. di sebabkan pendapat ini. dekat dan kata dan sebagian janji dan dari anak-anak berbuat Israel : tidak menyembah dan miskin.Bapak oarng dan itu kamu : “dan ketika kami selain kerabat dan mengambil Allah. Sementara yang lain mengatakan bahwa didalam Al-Qur‟an ada ayat atau surat yang tidak berhubungan. 2. Latar belakang. 1.

11 defenisi Al-Alusi definisi yang yang sebagian dikuip Al-Zakqarni dari Al-Suyuti. indikasi / Pendapat melalui konteksi. baik secara nyata maupun Takwil. dan inilah ayat-ayat yang hanya Allah yang mengetauhinya . Tasyahabad Isttabaha berarti dua hal yang masing-masing menyerupai yang lainnya. AlSuyuti telah mengemukakan 18 definisi atau tempat yang diberikan Ulama. Al-Haramain. kiamat.  Muhkam ialah ayta yang diketahui maksudnya. dan memerlukan keterangan tertentu. atau Allah yang mengetahuinya. kepada huruf-huruf Ibnu yang dan terputus-putus kebanyakan di awal-awal fikih surat. Al-Zarqani mengemukakan Diantara 1. dikemukakan kepada Pendapat pemimpin-pemimpin  Muhkam ialah ayat yang jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungkinan nasakh.  Mutasyabih ialah ayat yang hanya Allah lah yang mengetahui maksudnya. Contoh surat Thoha ayat 5 : Artinya : “( Allah ) yang maha pemurah. memilih. para Ulama berbeda pendapat dalam merumuskanMuhkam dan Mutasyabih. Pendapat kelurnya dibangsakan Dajjal.  Mutasyabih ialah ayat yang mengandung banyak Takwil. adalah mazhab : Hanafi. Sedangkan secara terminology Al Mutasyabih berarti ayat-ayat yang belum jelasmaksudnya. keterangan. keterangan. seperti datangnya hari 3. dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya. Secara istilah. Pendapat Mutasyabih dibangsakan kepada Imam Al-Razi ialah dan banyak peneliti yang lawannya. urutannya. 2. tidak diketahui maknanya baik secra akil maupun naqli.2. yaitu lafal Al-Qur‟an nas dan lafal zahir sunah.  Mutasyabih ialah ayat yang tersembunyi ( maknanya ).  Muhkam ialah ayat yang ditujukan makna kuat.  Muhkam ialah ayat yang tidak mengandung kecuali satu kemungkinan makna Takwil. Al-Mutasyabih kata mutasyabih berasal dari kata tasyabuh yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal. Mutasyabih ialah ayat ini yang tidak berdiri sendiri Pendapat Muhkam ialah dibangsakan ayat yang kepada seksama  Mutasyabih ialah ayat yang seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali bila ada bersamanya 6. Pendapat dibangsakan kepada ahli sunah sebagai pendapat yang terpilih dikalangan mereka. 4. atau maknanya yang tersembunyi.   5. yang bersemayam diatas „Arasy”.  7.  Pendapatini Muhkam ialah ayat diceritakan yang tidak berdiri dari sendiri dan Imam tidak tetapi Ahmad memerlukan memerlukan Imam susunan dan ra. huruf-huruf yang terputus-putus di awal-awal surat. Abbas ahli mengikutinya. . seperti datangnya kiamat .  Muhkam ialah ayat yang jelas maknya dan tidak masuk kepadanya isykal ( kepelikan ). Al-Thibi.

dan Contoh surat An-Nisa‟ ayat 3 : Artinya ( : “dan jika ) kamu takut tidak adakn dapat yatim. mengetahui 2. permasalahannya hanya berkisar pada perbedaan dalam menakwilkannya. Yaitu mazhab yang mempunyai dan mazhab Mazhab mengimani sifat-sifat Allah kepada yang Mutasyabih. tangan diartikan kekuasaan Allah. seperti ayat-ayat : Hutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas. Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para Ulama tertentu dan bukan semua Ulama. dan Allah. berlaku maka adil terhadap kawinilah seumpamanya. Sebagian mana firman Allah dalam surat Al-An‟am ayat 59 : Artinya : “dan pada sisi Allah kecuali kunci-kunci semua yang Dia gaib. tak ada yang sendiri. muawwal. dan musykil. hal-hal gaib. Mutasyabih ialah ayat yang ditunjukkan maknanya tidak kuat yaitu lafal mujmal. jadikanlah seseorang yang paham dalam agama. Sebagai mana diisyaratkan oleh Nabi dengan do‟anya bagi Ibnu Abbas : Artinya :“ Ya Tuhanku. SIKAP ULAMA TERHADAP AYAT-AYAT MUTASYABIH DAN AYAT-AYAT MUHKAM. dan lain-lain. : salaf. Menurut Al-Zarqani. seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hari kiamat.dan ajarkanlah kepada takwil”. ayat-ayat Mutasyabih dapat dibagi 3 ( tiga ) macam : 1. 3. urutannya. pendapat Ulama terbagi kepada dua 1. Khakaf. menyerahkan 2. hak-hak perempuan yang wanita-wanita”. hakikat dan sifat-sifat zat Allah. Pada hakikatnya tidak ada pertentangan antara pendapat Ulama tersebut. B. dan secara praktis penerapan mazhab khalaf lebih dapat memenuhi tuntutan kebutuhan intelektual yang semakin hari semakin berkembang dan kritis. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat mengetahui maksudnya. Maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati seseorang yang jernih jiwanya dan mujahid. contohnya mazhab ini mengartikan mata dengan pengawasan Allah. panjang. Dengan melihat kondisi obyektif intelektual masyarakat modern yang . Secara teoritis pendapat Ulama dapat di kompromikan. hakikatnya Mazhab Yaitu Ulama yang menakwilkan lafal yang maknanya lahirnya musthahil kepada makna yang baik bagi zat Allah. Ayat-ayat yang setiap orang bias mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian. Mengenal ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah.

. As Suyuti menakwilkan pendapat Ibnu Abbas tentang huruf tersebut sebagai berikut : Dikatakan bahwapendapat itu hanya . 2. Az Zamakhsari berkata dalam tafsirnya “Al. yaitu 1. Ia erpendapat sesuai dengan Ar-Rasi. C.huruf hijaiyah. Al. c. d. Fawatib Al-Suwar yaitu pembukaan-pembukuan surat yang dimulai dengan potongan-potongan huruf.Quwabi mengatakan bahwasannya kalimat itu merupakan tambih bagi Nabi. Ulama memahami Fatwatil Al-Suwar ini sebagai rahasia hanya Allah yang mengetahuinya. maka Allah menyuruh Jibril untuk memberikan perhatian terhadapa apa yang disampaikan kepadanya. enam huruf. maka mazhab khalaf atau mazhab takwil ini yang lebih tepat diterapkan dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat dengan mengikuti ketentuan takwil yang dikenal dengan ilmu tafsir. Supaya menarik Merupakan Sumpah hati orang yang nama : surat.semakin berpikirkritis dewasa. Sebagian yang lain memandang sebagai peringatn kepada orang Arab agar mereka tertarik mendengarnya. bahwa tambih sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang kafir apabila nabi membaca Al-Qur‟an mereka menganjurkan satu sama lain untuk tidak mendengarkannya. 2. yang ada umumnya terdapat pada pembukuan ayat atau surat makkiah / huruf. Ulama ini mengatakan bahawa huruf-huruf awal surat sebagai huruf-huruf yang mengandung pengertian dapat dipahami oleh menusia. As-Sayid Rasyid Ridha tidak membenarkan Al-Quwabi karena Nabi senantiasa menunggu kedatangan wahyu. Pembukuan surat ini ada yang terdiri dari dua huruf. Allah mendengarnya. kemudian As-SSuyuti menerangkan bahwa hal itu suatu rahasia yang hanya Allah lah yang mengetahuinya.Qasysyaf” hururf-huruf ini ada beberapa pendapat. karena pengnut pendapat ini memberi pengertian kepada ayat ini : Contoh : Yang berarti “Aku Allah yang Melihat”. Pendapat Ulama tentanghuruf hijaiyah pembuka surat. a. Seperti : Dalam hal ini ada beberapa pendapat Ulama diantaranya yaitu : 1. b. FAWATIB AL-SUWAR. 3.erupakan anggapan belaka. Sedangkan sebagian Ulama memnadang huruf ini sebagai peringatan ( tanbih ) kepada agar Ulama waktu kesibukannya dengan urusan manusia berpaling kepada Jibril untuk mendengar ayat-ayat yang akan disampaikan kepadanya. lima huruf dan lain-lain.

hal ini memerlukan berbagai ilmu. Ushul Fiqih. Ayat ini menjadi dalil atas kebodohan dan kelemahan gaib. Ayat ini dalam Al-Qur‟an menguatkan kemukjjizatannya. HIKMAH ADANYA AYAT-AYAT MUTASYABIHAT DAN ALMUHKAM 1. Ma‟ni. maka banyaklah orang tidak berani mengeluarkan pendapat tentang huruf-huruf itu. Jika ayat-ayat Al-Qur‟an mengandung ayat Mutasyabihat maka untuk memehami diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara satu dengan yang lainnya. . Oleh karena itu I‟Tikad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari azalinya. Ayat-ayat Mutasyabihat merupakan rahmat bagi manusia yang lemah yang tidak mengetahui segala sesuatu. Ulama salaf berpendapat bahwa fawati Al-Suwar telah disusun sejak zaman azali sedemikian rupa supaya melengkapi segala yang melemahkan manusia dari yang didatangkan seperti AlQur‟an. 2.e. 4. manusia. dan sebagainya. orang menganggap huruf itu termasuk golongan mutasyabihat yang hanya Allah lah yang mengetahuinya. Gramatika. seperti Bahasa. 3. Ayat-ayat Mutasyabihat ini mengharuskan upayayang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya. Ayat ini juga merupakam cobaan bagi manusia apakah mereka percaya atau tidak tentang hal yang 5. D. 6. Ilmu Bayan.

sudah jelas maksudnya sehingga tidak menimbulkan kekeliruan bagi orang yang membacanya. maka ayat yang demikian dinamakan mutasyabih.MUHKAM DAN MUTASYABIH Makalah ini disusun untuk dipresentasikan dalam kelas mata kuliah “Studi Al-Qur’an” Semester II (Dua) Dosen pengampu: Dr. Muhkam wal mutasyabih merupakan salah satu dari sekian banyak dari diri Al-Qur‟an. jika kita renungkan bersama ternyata dengan adanya ayat-ayat muhkam wal mutasyabih terutama ayat-ayat mutasyaih dapat memunculkan kreaksi-kreaksi. OLEH: SUKATIN NMP. 20091010090 PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER STUDI ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA TAHUN 2010 BAB I PENDAHULUAN A. ungkapan dan uslub yang berbeda tetapi artinya tetap satu.Ag. Terlepas dari itu semua. terdapat pula ayat-ayat al-qur‟an yang bersifat umum dan samarsamar yang menimbulkan keraguan bagi yang membacanya. usaha-usaha yang kreaktif dan konsep-konsep baru dalam berbagai . Artinya muhkam wal mutasyabih merupakan sebuah pembahasan yang berhubungan langsung dengan diri Al-Qur‟an secara internal. Di sisi lain. sehingga ayat yang seperti ini menimbulkan ijtihad bagi para mujtahid untuk dapat mengembalikan pada makna yang jelas dan tegas. M. Latar Belakang Ayat-ayat yang terkandung dalam Al-qur‟an ada kalanya yang berbentuk lafadz. Ahmad Munir. Ayat-ayat Al-qur‟an seperti itu dinamakan muhkam.

sehingga hal ini pun mampu menimbulkan keraguan bagi yang membacanya. Istilahi Meskipun secara lughawi kedua istilah ini tidak bertentangan namun secara istilah terdapat perbedaan yang sangat tajam diantara keduanya. hukum.‫ ي ت شات و‬Secara etimologis “muhkam” berasal dari “Ihkam”yang menurut Al-Zarqaini mempunyai berbagai konotasi namun mengacu pada satu pengertian yaitu “Alman‟u”yang berarti mencegah. pembagian ayat-ayat mutasyabih. kebenaran informasi yang dibawanya penempatan kata yang akurat dan susunan kalimat yang kokoh. BAB II PEMBAHASAN A. kisah. Jika diartikan dengan ayat-ayat Al-qur‟an itu disusun secara rapi dan kokoh. Artinya ayat-ayat al-Qur‟an tersebut tersusun dengan rapi dan kokoh hingga tanpak dan terasa sekali pada keseluruhan ayat-ayat nya tanpa kecuali. B. Pengertian 1. sehingga pada kesemua ayat ini memiliki daya tarik dan I‟jaz yang sama. akhlak. Hal ini seperti yang difirmankan dalam surat Al. Rumusan Masalah Dalam pembahasan kali ini saya bermaksud menguraikan arti dari muhkam wal mutasyabih. Pengertian lughawi ini terdapat dalam firman Allah surat Al Zumar ayat 23: Artinya: “Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang”. Kondisi inilah yang dijumpai dalam ayat Al-Qur‟an.cabang ilmu. Maka tidak dapat dibedakan antara masing-masing ayat tersebut karena semuanya berbeda pada level yang sama dari segi balaqahnya. Lughawi (bahasa) Muhkam wal mutasyabih berasal dari bahasa Arab ‫ يح كى‬dan . Berdasarkan pengertian secara lughawi Nampak bahwa kedua istilah diatas saling mendukung (tidak bertentangan). sedikitpun tidak ada cela untuk mengkritiknya dari sudut mana pun karena. Seperti dalam firman Allah Q. Maksudnya: diperinci atas beberapa macam.Imron ayat 7 yang artinya:”dialah Allah yang telah . janji dan peringatan dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya. Sangking miripnya ayat yang satu dengan ayat yang lain. Kata “mutasyabih”dalam bahasa Indonesia diartikan “mirip” atau “samar-samar”. baik kata-kata penepatannya dalam kalimat maupun susunansusunan dalam kalimatnya sangat rapi dan kokoh serta tepat dan akurat. Juga mengandung berbagai konotasi yang biasanya membawa kapada ketidak pastian atau ragu (iltibas). Kemukjizatannya.S Hud Ayat 1: Artinya :”Alif laam raa. 2. maka akan saya uraikan lebih rinci mengenai muhkam wal mutasyabih sesuai pengetahuan dan informasi yang saya peroleh. sikap ulama terhadap ayat-ayat mutasyabih. ilmu pengetahuan. ada yang mengenai ketauhidan. (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci”.

kekaburan arti disebutkan banyak-banyak konotasi: lafadz ٍ‫ ي ً ي‬yang menunjuk kepada “tangan kanan” atau “kekuatan”. Maka mereka mengikuti pengertian yang samar-samar dari ayat-ayat yang mutasyabihat itu dengan tujuan untuk menimbulkan fitnah (kegaduhan. ayat-ayat tersebut juga bersifat Mu‟awwal sehingga karena sifatnya ini seseorang dapat mengetahui maknanya setelah melakukan pentakwilan. Menurut Imam Ar-Razi muhkam adalah ayat-ayat yang dalalahnya kuat. Kosakata Tunggal ‫رداتيف‬ Kekaburan makna pada suatu kosa kata biasanya disebabkan kata tersebut tidak bias dipakai uti zdafal uata‫غري ة‬ mempunyai banyak konotasi ‫ي ش ترك‬ Contoh I kekaburan arti karena tidak biasa dipakai. Menurut As-Suyuti. Pembagian ayat-ayat mutasyabih Ayat-ayat mutasyabih dapat dikatagorikan menjadi tiga bagian. Contoh II. Mutasabih dari segi lafadz. Dari berbagai penjelaan dan pendapat-pendapat diatas. Menurut Mnna‟ Al-Qathathan.menurunkan kepadamu al-kitab (Al-qur‟an). Selain bersifat mujmal. Dan hanya yang dapat mengambil pelajaran (dari ayatayat mutasyabihat itu) adalah mereka yang berakal. sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang dalalahnya lemah.padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. muhkam adalah ayat-ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerluakan keterangan lain.” Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa kedua istilah memang sangat berbeda. B. Dan yang lain (Ayat-ayat) mutasyabihat. sementara mutasyabihat adalah sesuatu yang samar-samar dan kabur adalah atau pengertiannya. Muhkam merupakan sesuatu yang jelas dan terang adalah atau pengertiannya. Dari sinilah timbul berbagai pendapat yang diantaranya sebagai berikut: a. Lafadz didalam ayat 31 dari surat Abasa: ‫ وف اكهة وات ا‬sahabat utama Rasul yakni Abu Bakar dan „Umar tidak dapat menjelaskan maksud kata tersebut. masih bersifat mujmal. ia memerlukan penjelasan dengan menunjuk kepada ayat lain. sedangkan mutasyabih tidak seperti itu. b. ataupun “sumpah” dalam ayat 93 surat Al-sfakat . Sedangan ayat mutasyabih merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Qur‟an yang masih belum jelas maksudnya. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan. maka dapat disimpulkan bahwa: Ayat muhkamat adalah ayat yang sudah jelas baik lafadz maupun maksudnya sehingga tidak menimbulkan keraguan dan kekeliruan bagi orang yang memahaminya. yakni: 1. c. mala peteka dan sebagainya) dikalangan umat dan untuk mencari-cari takwilnya. baik maksud maupun lafadnya. muhkam adalah sesuatu yang sudah jelas artinya. yang dibagi menjadi dua: a. memerlukan takwil dan sulit dipahami. hal ini dikarenakan ayat mutasyabih bersifat mujmal (global) dan rincian lebih dalam. Mereka mengatakan kami mempercayai sepenuhnya bahwa semua itu datang dari tuhan kami. sedangkan mutasyabih adalah sebaliknya. Diantara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat: itulah pokok-pokok (isi) AlQur‟an (Al-kitab).

Dalam hal ini AlZarqoni mengemukakkan contoh Ayat 11 dari As-syura‟ : ‫. Pola susunan kalimat ‫ ت رت ية‬terbagi menjadi dua: 1) Mutasyabih karena terlalu “padat” nya ungkapan. Bahwa idah wanita terletak ialah tiga kali suci. maka dapat dipahami bahwa Nabi Ibrahim memukul berhala-berhala tersebut dengan kekuatan penuh. dan membuat konotasinya menjadi kabur karena ‫( ك‬adat tasybih)berarti ‫ ي ثم‬jadi ‫ ك ً ث هو‬sama artinya dengan ‫. sementara makna yang ikandungnya sedikit. Apabila diartikan kata tersebut dengan tangan “kanan”. Inilah salah satu sebab yang membuat ulama berbeda penetapan hukum. b.” Sementara kekaburan maksud sebuah ungkapan yang dikarenakan terlalu panjang kalimat. Menurut Al-Zarqani perlu diberi penjelasan sebagai berikut : Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya).” 2) Susunan kata kurang berurutan. Keduanya terpakai dalam bahasa Arab. baik dilakukannya dengan tangan kanan langsung atau dengan alat-alat pemukul lainya. Contoh lain lafal ‫ ق روء‬dalam ayat 228 surat Al-Baqoroh: Kata ‫ ق روء‬dalam bahasa Arab dapat berarti “suci” dan dapat pula berarti “haid” mereka yang memahami lafal ‫ ق روء‬dalam pengertian “suci” maka akan menetapkan. ف راغ ع ه يهى ضرت ا ت ان يً ي‬kata ٍ‫ ي ً ي‬dalam ayat tersebut konotasinya tidak jelas. bahkan masuk pada ayat tersebut. ayat 3 dari surat Al-Nisa‟: Sepintas tidak jelas maksud ungkapan tersebut. dan tidak pernah ada penyimpangan didalamnya. kata tersebut seyogyanya ditempatkan setelah lafadz ‫ ان ك تاب‬karena afal nakapurem‫ق يًا‬ “keterangan” sifat yang menjelaskan tentang keadaan ‫ ان ك تاب‬itu sendiri.ٍ‫ . Misal lafadz ‫ ق يًا‬dalam ayat 1-2 dari surat Al-kahfi: Dari segi logika pemikiran. terutama hubungan antara berlaku adil terhadap anak yatim dengan perintah menikahi wanita. barangkali ungkapan ‫ ن وك ًج‬tersebut memang terasa agak janggal. Ternyata setelah diamati bersama hal itu tidak mengakibatkan kekaburan makna. Dan sudut kebebasan semata. Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi. ن يس ك ً ث هو شي‬ “tidak ada yang serupa yang mirip dengan Allah sesuatu juapun”. Namun bila direnungkan secara mendalam maka akan dirasakan bahwa ungkapan Al-Qr‟an itulah yang tepat. sebaliknya mereka yang meyakini kata ‫ ق روء‬itu berkonotasi “haid” maka akan mengistinbatkan huku darinya bahwa ialah wanita yang tertalak telah tiga kali haid. Dan apabila diartikan dengan “kekuatan”. Misalnya. Dari itu bila kata ‫ ق يًا‬itu didekatkan dengan ‫ ان ك تاب‬maka susunanya akan menjadi: Artinya:“segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambanya Al-Kitab yang lurus. maka maksud ayat itu adalah “ Nabi Ibrahim memukul berhala-berhala tersebut dengan tangan kanannya tanpa alat”. Karena yang dimaksudkan Allah dalam ayat ini adalah menanamkan keyakinan ke . Dengan ditempatkan jauh darinya. Apakah berarti “tangan kanan” atau “kekuatan”. ي ثم ي ث هو‬ Sehingga dengan begitu ungkapan “‫ ”يش هلثوك سيل‬itu sama dengan “‫ ”يش هلثو لثو سيل‬jadi dari segi kebahasaan ungkapan semacam itu merupakan pemborosan kata.

Hal ini dilihat dalam surat Al-Baqoroh ayat 189 : )dan bukanlah kebaikan itu bahwa kamu memasuki rumah-rumah dari belakangnya). namun semua keterangan itu tak sama dengan yang ada dalam presepsi manusia. kkaburan yang dilihat dari segi makna dan lafal tersebut dapat dilihat dari lima asek. Madar jika ihram membuat pintu (lubang) dibelakang Lalu mereka keluar dari belakang tirai secara sembunyi-sembunyi. tempat dan persyaratan sah atau batalnya perbuatan. Dari situlah dapat disimpulkan bahwa semua yang diinformasikan tuhan tentang dari –Nya dan All-Qur‟an atau adist Nabi dan sebagainya adalah symbolsimbol semu yang tidak diketahui oleh manusia hakikat sebenarnya di balik symbol-simbol tersebut. Apabila ditelusuri pendapat-pendapat ulama berkenaan dengan ayat-ayat mutsayabihat tentang sifat-sifat Tuhan. Sedangkan ayat-ayat yang lain. neraka. Lalu turunlah ayat: Dari gambaran tersbut tampan kepada kita bahwa kekaburan maksud ayat itu terasa dari dua segi lafal dan makna sekaligus. Namun masih tetap belu rumah. maka secara garis besarnya terbagi kedalam dua kelompok besar. Dari itu perlu diberi penjelasan. yaitu kuantitas. Khususnya ayatayat yang berkenaan dengan sifat-sifat tuhan benar-benar menjadi kontroveksi dikalagan para ulama. Contoh-contoh dari pertanyaan diatas antara lain seperti nash-nash yang engimformasikan tentang Tuhan. biasanya aat-ayat yang menginformasikan beritaberita ghoib seperti sifat-sifat Tuhan.namahamep gnudnagnem uti taya naikimed nagneD . Semua itu tidak jelas bagi siapapun belum ada yang mengalaminya. 2. Pengertian semua itu samar-samar dan semua bagi kita. misalnya dengan menambahkan setelah lafal “ awhab uti nakiabek halnakub nad ”. 3. ungkapan itu sulit sekali dipahami.”‫اٌ ك ن تى يحري يٍ ت حج او عًرة‬ kamu memasuki rumah-rumah dari belakangnya jika kamu dalam keadan ihram pada waktu pelaksanaan haji atau umrah. Sikap ulama terhadap ayat-ayat mutasyabih Para ulama mempunyai beberapa pendapat yang berbeda berhubungan dengan ayat-ayat mutasyabih diatas. Bahkan yang serupa dengan yang semisal engan-NYa pun tidak ada. Mutasyabih dari segi makna Terjadi tasyabuh terhadap pengertian yang terkandung oleh suatu ayat. kualitas. kondisi akherat seumpama surge. hari kiamat dan sebagainya. Lafal dan makna Menurut Al-roaghib al-Ishfatani. sehingga yang diinformasikan oleh Al-Qur‟an tidak bias dibayangkan secara tepat dan actual dalam benak kita. Kondisi inilah yang membuat pengertian ayat-ayat tersebut menjadi kabur bagi kita.dalam hati sanubari umat manusia bahwa jangankan yang serupa dengan-Nya. waktu. seperti (01 ‫“ ف ىق اي دي هى )ان ف تاح‬Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka. Dia bersila diatas „Arsy dan seterusnya. yaitu: ‫ي د هللا‬ . maka tidak terlalu mempersoalkannya. Jadi ayat tersebut emberikan informasi yang sangat tepat dan lebih mendalam tentang kondisi ketuhanan Allah yang dengan sangat jauh antara Dia dengan makhluk-Nya.” (5 : ‫( ان رحًٍ ع هي االع رش ا س تىي )طو‬Ar-rahman bersila dfiatas Arasy). Tidak ada yang tahu hakekat yang sebenarnya dibalik ungkapan trsebut. meskipun Tuhan menyatakan secara tegas :” Dia punya tangan. Meskipun telah diberi penjelasan. C. malaikat. Kata Al-zarqani. dan sebagainya.

yang memiliki arti “ Dan datanglah kepada Tuhanmu sedang para malaikat berbaris-baris. 2) Menerima dengan takwil Jika ulama salaf tidak memperolehkan pembahasan ayat-ayat mutasyabihat. Ar-Rahman ayat 27. melainkan menyerahkan saja maksudnya kepada Allah. jika ada pertanyaan apa maksud dari ayat-ayat tersebut? Maka disini terdapat perbedaan jawaban antara ulama salaf dan ulama Khalaf. sebagai berikut: Ulama salaf Ulama ini mempercayai dan memahami ayat-ayat tentang sifat-sifat mutasyabihat itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah. tempat dan anggota yang layaknya dipakai bagi makhluk yang misalnya manusia. tapi pantas dengan keagunggan Allah ditinjau dari segi logika dan agama.” g) Qs. dating diatas. Al-fajr ayat 2. Yang memiliki arti “dan tetap kekal wajah Tuhan-Mu. mereka menyerahkan urusan hakikat mereka ayat-ayat tersebut kepada Allah. Pada intinya. tangan. Thaha ayat 5 yang memiliki arti “(Allah) maha pengasih bersemayam di atas „Arasy”. yang memiliki arti “tangan Allah diatas tangan mereka. Itulah beberapa contoh ayat-ayat mutasyabih tentang sifat-sifat tersebut terdapat kata-kata bersemayam. Kelompok dua menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat itu sesuai dengan makna tau sifat-sifat yang dimaklumi oleh manusia. b) Qs.. Kaena kata-kata tersebut dibangsakan Allah. Al-Fath ayat 10. mata. Ali imon ayat 28. Thaha ayat 39. tetapi kita harus menyerahkan persoalannya kepada Allah semata. yang menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat itu sesuai dengan sifat-sifat yang diterima (dari-Nya)tanpa diketahui maksudnya secara tegas (pasti).” d) Qs. sisi. Mereka mulai sedikit toleran dan berlapang dada dalam menghadapi pemikiran-pemikiran yang tumbuh berkenaan dengan pemahaman ayat-ayat mutasyabihat tersebut. Al-An‟am ayat 61 yang memiliki arti “ Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi diatas hamba-hamba-Nya.Hasan al-Asy‟ari. Dengan demikian kelompok ini berusaha memalingkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat mutasyabihat kepada mmakna yang dipahami manusia. yang artinya “ Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya.1) Menerima tanpa takwil Mereka yang menerima dan mempercayai begitu saja secara apriori ayat-ayat mutasyabihat ini disebut dengan aliran salaf. Mereka tidak mau mempermasalahkannya.” f) Qs. Ulama Khalaf inipun dibagi menjadi dua kelompok. maka sulit dipahami akan maksud yang sebenarnya. yang pertama dipelopori oleh Abu Al. maka disini akan kami paparkan contoh ayat Al-Qur‟an yang menyebutkan sifat-sifat mutasyabihatNya seperti: a) Qs. Namun.” Dst. Keadaan tersebut menunjukkan keadaan. . Menurut ulama ini kita sebagai ciptaan Allah tidak perlu mencari-cai takwil tentang ayat-ayat mutasyabih. wajah. yang memiliki arti “agar engkau diasuh diatas mata-Ku.” e) Qs. c) Qs. namun sebagian besar mereka masih tetap memegangi pendapat lama yang menolak setiap upaya interpertasi terhadap ayatayat mutasyabihat dalam bentuk apapun. Untuk lebih jelasnya. dan diri yang dijanjikan “sifat Allah”.

Pekan baru: Ambah. Teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih 3. Ulumul Qur’an. DAFTAR PUSTAKA Anwar. 1990 Baidan. Jakarta: Pustaka Firdaus. Allah berada diatas Hamba-Nya diartikan dengan Allah maha tinggi. Memberikan pemahaman abstrak-ilahah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang biasa disaksikannya. ilmuan dan sebagainya berusaha mengerahkan segenapkemampuan. Mereka menakwilkan semua sifat-sifat yang terdapat pada ayat-ayat mutasyabihat diatas dengan takwilan yang rasional. Kedatanggan Allah mereka artikan dengan kedatangan perintah –Nya. pakar. Memperlihatkan kelemahan akal manusia. Demikianlah dua pendapat ulama‟ yang berbeda dalam menanggapi ayat-ayat mutasyabihat tesebut. BAB III PENUTUP A. Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an. maupun ilmu umum berkembang dengan sangat pesat. Dengan ayat-ayat mutasyabihat yang kurang terang pemahaman tersebut.Abu. Kesimpulan Jika kita coba renungkan bersama. daya piker dan zikir mereka untuk mengetahui makna-makna yang terselubung dibalik ungkapan yang samar-samar.Ulama Khalaf Ulama ini lebih dikenal dengan nama Muawwilah atau madzhab takwil. mereka artikan hal Allah. terjadilah usaha-usaha yang kreaktif dan inovatif secara berkesinambungan untuk mencapai suatu citacita. Tangan mereka artikan dengan kekuasaan Allah. maka kita akan mnemukan satu hikmah bahwa adanya ayat-ayat mutasyabihat tersebut sangat strategis dan teramat penting. Hikmah keberadaan ayat-ayat mtasyabih dalam al-qur’an Diantara hikmah kebeadaan ayat-ayat mutasyabih di dalam al-qur‟an dan ketidak mampuan akal untuk mengetahuinya adalah sebagai berikut: 1. Perlu diketahui bahwa hal-hal yang sifatnya selalu mendorong seseorang untuk mengetahui hakikat dibalik kesamaran it. Diri mereka artikan dengan siksaan-Nya. Nasruddin. maka para ulama. Wawasan baru ilmu tafsir. terutama dalam rangka mengembangkan potensi akal-budi dan nalar pikiran. 2005 . Kata sisi. 2002 As-Sholih. Dengan demikian. D. Dimana semua bidang ilmu agama. Subhi. bukan berada pada suatu tempat. Kondisi inilah kemudian yang membuat peradaban islam berkembang sebagaimana tercatat dalam sejarah dunia khususnya pada abad-abad pertengahan yang dikenal dengan zaman keemasan Islam. Mata mereka artikan dengan pengawasan. Yogyakarta: Pustaka belajar. 2. Bersemayam mereka takwilkan dengan pengendalian Allah terhadap ala mini tanpa mereasa kesulitan. Wajah mereka artikan dzat Allah.

Subhi Saleh. hal 372. 9. 1991. Nasrudin Baidan. . Ulumul Qur’an. pustaka setia. Amzah. 134-135 . Mabahits fi ulumul Qur’an. hal. 77. Rosihon anwar.cit. cet I 2002. ulum qur’an. cet I. 1998 Syanehchi. Surabaya: Dunia Ilmu. Al-Qur’an buku yang menyesasatkan dan buku yang mencerahkan.211. Bandung. Muhammad Al-Bakn Ismail. hal. Hal. pustaka firdaus. 2007. dirosat fi ulumul Al-Qur’an. 2002 Rosihon anwar. juz 2. Mudhir Kathim dkk. wawasan baru ilmu tafsir. cet. Al-itqan fi ulumul Qur’an. hal 372. Pekan baru. dan Al-manar. hal 2. Abdul. Ulumul Qur’an. 2002. hal.cit. Bandung. Hal 78.Jakarta: PT Gugus Press. 2007 Abu Anwar. 1993. Jakarta.Djalal. As-Suyuti. pustaka belajar. Amzah. Terjemah pustaka firdaus. Al-Subri Soleh. dan Al-fikr. ulum qur’an. pustaka setia. ibid Nasrudin Baidan. cet I. pecan baru. op. hal 157. op. Ulumul qur’an. Abu anwar. I. 2005. Yogyakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->