P. 1
SKRIPSI jadi dj

SKRIPSI jadi dj

|Views: 882|Likes:
Published by Khodiejah Jazuly

More info:

Published by: Khodiejah Jazuly on May 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Pesantren1 di Indonesia sudah sedemikian lama, Dalam catatan sejarah, Pondok pesantren dikenal di Indonesia sejak zaman walisongo. Ketika itu Sunan Ampel mendirikan sebuah pedepokan di Ampel Surabaya dan menjadikannya sebagai pusat pendidikan Agama di Jawa.2 Para santri yang berasal dari pulau Jawa datang untuk menuntut ilmu agama. Bahkan diantara para santri yang ada yang berasal dari Gowa dan Talo, Sulawesi.3 Dinyatakan oleh Pigeaud dan de Graaf bahwa pondok pesantren atau sejenisnya seperti pondok, surau dayah dan nama lain sesuai dengan daerahnya. Pada periode awal abad ke-16 merupakan jenis pusat Islam penting kedua setelah masjid.4

1

Kata pesantren dari akar kata “santri”, yaitu istilah yang digunakan bagi orang yang mendalami agama Islam. Kata “ santri” dengan mendapat awalan “pe”dan akhiran “an” menjadi “pesantren”, yang berarti tempat santri atau murid-murid belajar mengaji. Hanun Asrohah, Pelembagaan Pesantren, Asal Usul dan Perkembangan Pesantren di Jawa (Jakarta: Departemen Agama RI,2004),30. Menurut John, seperti dikutip oleh Zamakhsyari Dhofier, kata santri berasal dari bahasa Tamil “santri” yang berarti “guru mengaji”. Sedangkan menurut C.C. Berg. Sebagaimana dikutip oleh Dhofier, kata santri berasal dari bahasa India “shastri” yang berarti, “ buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku ilmu pengetahuan”. Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup kyai (Jakarta: LP3ES, 2011),41. Menurut Robson, kata santri berasal dari bahasa Tamil ”sattiri” yang diartikan “ orang yang tinggal disebuah rumah atau bangunan secara umum”. S.O. Robson, Java at the Crossroads:Aspect of Javanese Cultural History in the 14th and 15th Centuries” dalam BKI (Gravenhaage: Martinus Nijhoff, 1981), 275. 2 Dalam perkembangan pesantren sejak dahulu sudah dikenal dengan kesederhanaannya sehingga cap tradisionalis, kolot, konservatif, seringkali di alamatkan di pesantren, meskipun dalam perkembangannya pesantren di masa kini sudah banyak mengalami “perubahan” paling tidak Jamal Ma’mur Asmani memetakan pesantren dalam konteks kekinian dengan tiga model: 1). Pesantren salaf an-sich seperti Al- Anwar sarang Rembang, pacul Gowang Jombang, dan LirboyoPloso Kediri. 2). Pesantren Modern an-sich seperti Ponorogo, Zaitun Solo, Darun Najah, Darur Rahman Jakarta. 3). Pesantren semi salaf – semi modern seperti Tebuireng (KH. Yusuf Hasyim), dan Cipasung Tasikmalaya (KH. Ilyas Ruhiyat). Jamal Ma’mur Asmani, Fiqih Sosial Kyai Sahal mahfudh, antara konsep dan implementasi (Surabaya: Khalista, 2007), 192 3 Media Umat, Edisi 66/tahun ke III/Minggu 1-11 Mei 2009. 4 Marzuki Wahid, ma’ahad Aly: Nestapa Tradisionalisme dan tradisi akademik yang hilang Jurnal Tashwirul Afkar no. 11 (Jakarta:Lakpesdam NU,2001),46.

Menurut Mastuhu, Pesantren5 merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam, dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian, atau disebut tafaqquh fi al-din, dengan menekankan pentingnya moral dalam kehidupan masyarakat. Pesantren telah hidup sejak 300-400 tahun yang lampau, menjangkau seluruh lapisan masyarakat muslim, pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.6 Pesantren seperti yang dikatakan Sayyed Hossein Nasr, adalah “dunia tradisonal Islam, yakni dunia yang mewarisi dan memelihara komunitas tradisi Islam yang dikembangkan Ulama’ dari masa kemasa, tidak terbatas pada periode tertentu, seperti periode salaf, yaitu periode sahabat dan Tabi’in”.7 Peran pesantren di Nusantara ini tidak dapat dihilangkan, terutama dalam kontribusi munculnya pendidikan Islam, hal ini diakui oleh Nurcholish Madjid sebagaimana dikutip M. Arif Hidayat - seandainya negeri kita ini tidak

mengalami penjajahan, mungkin pertumbuhan sistem pendidikannya akan mengikuti jalur-jalur yang ditempuh pesantren-pesantren itu, sehingga

5

Menurut Ahmad Zahro, pesantren dapat dikatakan inherent (melekat) dengan NU, atau paling tidak sebagai infrastukturnya. Miniatur NU ada dipesantren, sebab ditelusuri dari aspek historis maupun empiris, terlihat jelas hubungan antara pesantren dengan NU. Dalam sejarahnya NU tidak dapat dipisahkan dengan pesantren, karena pesantren merupakan bagian integral darinya. NU sendiri lahir juga dibidani oleh para kyai pesantren dan eksis hingga sekarang juga tidak terlepas dari dukungan mereka. Pengikut jam’iyah ini hamper seluruhnya mereka yang mempunyai hubungan emosional, pemikiran atau tradisi ritual dengan pesantren. Oleh karenanya masih relevan untuk ditegaskan, bahwa hingga sekarang pesantren dan NU adalah pilar tegaknya Islam tradisional. Namun tidak secara otomatis tiap pesantren yang ada sekarang ini adalah pilar NU, sebab ada pesantren yang merupakan wadah dari warga Muhammadiyah, persid Al-Isyad atau pesantren modern seperti Gontor. Hal diatas lebih ditekankan kepada penilaian yang bersifat umum, dalam arti sebagian besar pesantren di Indonesia berafiliasi kepada NU dan pendirinya adalah warga NU. Ahmad Zahro, Tradisi intelektual NU (Yogyakarta: LkiS,2004),25. 6 Mastuhu,Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta:INIS, 1994),3. 7 Azyumardi Azra, “Pesantren kontinuitas dan perubahan”dalam Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan Ed. Nurcholish Madjid (Jakarta:Yayasan Wakaf Paramadina,1997),xxvi.

perguruan-perguruan tinggi yang ada sekarang ini tidak akan berupa UI, ITB, IPB, UGM, Unair ataupun yang lainnya, tetapi mungkin namanya “universitas” Tremas, Krapyak, Tebuireng, Bangkalan, Lasem, dan seterusnya8. Pengertian pesantren yang dikehendaki oleh Ki Hajar Dewantara, adalah penekanan pada fungsinya sebagai pusat pendidikan budi pekerti, sebagai imbangan atas system sekolah “Barat”. Sedangkan Dr. Sutomo mempertimbangkan pesantren dalam fungsinya sebagai meringankan biaya penyebaran kecerdasan atau menyediakan sekolah yang murah. Disamping itu fungsi pesantren yang utama adalah sebagai penuntun dan pengawas hidup sehari-hari anak didik.9 Dawam Raharjo sebagaimana dikutip Abd. Harits Ar-Rozy – menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga Pendidikan efektif dalam mempelajari agama selama berabad-abad, para kyai telah mempertahankan dan memelihara keilmuan pesantren, sehingga para pendidik dan pemikir justru menengok kembali ke pesantren.10 Dalam perkembangannya, pondok pesantren menjelma sebagai lembaga sosial yang memberikan warna khas bagi perkembangan masyarakat sekitarnya. Peranannya pun berubah menjadi agen pembaharuan (agen of change) dan agen pembangunan masyarakat. Sekalipun demikian apapun usaha yang dilakukan pondok pesantren tetap saja yang menjadi khittah berdirinya dan tujuan utamanya, yaitu tafagguh fid-din.11
8

M. Arif Hidayat, KMNU, Al- Azhar, dan generasi Baru, Jurnal Tashwirul Afkar no 6 (Jakarta: PP. Lakpesdam NU, 1999),69. 9 Choirotun Chisaan, LESBUMI,Strategi Politik Kebudayaan (Yogyakarta: LkiS, 2008),71. 10 Abd. Harits Ar-Razy, Gagasan Pembaharuan Pesantren post-Modern, Majalah Aula No. 07 (Surabaya:PWNU Jatim, Tahun XXIX Juli 2007),83. 11 H.E Badri Munawiroh,Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah (Jakarta:Puslitbang Lektur Keagamaan),3.

Abdur Rahman Wahid mengadakan perbandingan bahwa pada masa silam pesantren Indonesia dapat merespon tantangan zamannya dengan sukses. Sedangkan system pesantren yang dikembangkan oleh kaum sufi baik di Malaysia maupun di Thailand bagian utara baik untuk sekarang ini senantiasa merana ditekan system model Barat. Sebenarnya asumsi peneliti Barat mleset dalam mendeskripsikan pesantren telah luntur seperti sosiologi Amerika menyatakan bahwa masyarakat tradisional Islam akan luntur dalam menghadapi dunia modern, masuknya informasi akan mengurangi peran kyai. Namun, kyai senantiasa me-filter informasi yang masuk sehingga masyarakat disarankan untuk menggunakan aspek positif dan melupakan aspek yang berdampak buruk bagi mereka. Setiap pesantren memiliki cirri khusus akibat perbedaan selera kyai dan keadaan sosial maupun geografis yang mengelilinginya.12 Problema dan tantangan pendidikan pesantren seiring dengan kuatnya arus modernisasi dan liberalisasi, secara perlahan tapi pasti model pendidikan ala pondok pesantren mulai kurang diminati oleh generasi muda sekarang. Hal ini tercermin dari semakin berkurangnya jumlah santri di sebagian besar pondok pesantren di Nusantara. Hal ini terjadi karena karena masyarakat semakin hedonis dan pragmatis sebagai dampak modernisasi dan globalisasi sehingga biasanya masyarakat cenderung lebih memilih model pendidikan yang lulusannya siap bekerja di dunia industry, perkantoran, menjadi Pegawai Negeri Sipil. Sementara itu pondok pesantren selama ini memang dikhususkan untuk mencetak ulama guna untuk mengembangkan agama saja sehingga kurang

12

Qomar,Pesantren dan Transformasi Metodologi menuju Demokratisasi Institusi,15.

mampu memenuhi tuntutan pasaran kerja masyarakat modern yang berbasiskan skill. Ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi modern.13 Setiap pesantren memiliki literatur yang berbeda antara pesantren yang satu dengan pesantren yang lainnya. Karena pada setiap pesantren memiliki kondisi masyarakat baik social, kultur, ekonomi, dan politik bahkan letak geografis yang berbeda pula, sehingga hal tersebut dapat memicu perbedaan dasar-dasar pemikiran pengelola pesantren (kyai, pengurus, asatidz) dalam menjawab berbagai pertanyaan masyarakat minimal masyarakat

dilingkungannya. Lembaga pesantren sebagai lembaga salafiyah tampaknya sudah mulai terjadi degradasi pemahaman, baik dari sisi institusi atau kelembagaan, proses belajar, masa belajar, penggunaan literatur, maupun manajemen kelembagaan. Dari sisi institusi, pesantren tidak hanya berebentuk lembaga pendidikan non klasikal, tetapi dilingkungan pesantren ini juga sudah diselenggarakan lembaga pendidikan formal berjenjang semisal madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah. Aliyah, dan pendidikan lembaga non formal keagamaan semisal Diniyah Awaliyah, Diniyah Wustha dan Diniyah Ulya. Dari sisi proses belajar mengajar, perubahan terjadi pada cara penyampaian atau pemberian materi bahan ajar yang lazim dilakukan di pesantren salafiyah oleh para kyai dengan cara sorogan, wetonan dan bandongan. Kini disamping cara tradisional tersebut di pesantren dilakukan pula metode penyampaian bahan ajar dengan cara klasikal dan berjenjang sesuai dengan tingkatan sekolah yang diselenggarakan di pesantren tersebut. Bahkan kedua cara tersebut tetap dilakukan, hanya saja metode
13

www.google.com, http://ala-santri.blogspot.com/2011/04/pesanpesantren-salaf-di-tengah.html

sorogan, wetonan dan bandongan dilaksanakan pada saat santri mengaji di waktu malam, biasanya pada pengajian kitab kuning setelah shalat magrib dan sholat subuh. Artinya, pada saat proses pendidikan dilakukan secara kalsikal digunakan system sekolah, namun sistem pesantren tetap dipertahankan untuk mengkaji kitab-kitab klasik.14 Maka dengan atas dasar pembaharuan tersebut, Azyumardi Azra sangat tegas menyatakan eksistensi pesantren dengan berbagai perkembangan saat ini masih tetap survive, meskipun perubahan atau modernisasi pendidikan Islam diberbagai kawasan muslim terus dilancarkan. Azra juga menyinsalir tidak banyak lembaga pendidikan tradisional Islam seperti pesantren yang mampu bertahan. Bahkan kebanyakan punah setelah tergusur oleh ekspansi system pendidikan umum, atau sekurang-kurangnya mengadaptasi diri dan sedikit banyak mengadopsi isi dan metodologi pendidikan umum. Kenyataannya, arus globalisasi sangat berpengaruh besar terhadap dunia pendidikan terutama pendidikan pesantren. Banyak perubahan yang dilakukan oleh pesantren salaf untuk menghadapi persaingan yang terjadi pada saat ini. Melihat kenyataan yang terjadi pada masyarakat, Kesadaran masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan lebih memilih pendidikan umum di banding pendidikan pesantren, karena mereka berasumsi bahwa pendidikan pesantren nantinya hanya menghasilkan out put yang mutunya masih lebih jelek apabila dibandingkan dengan pendidikan umum. Masyarakat juga beranggapan bahwa

14

H.E Badri Munawiroh,Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah (Jakarta:Puslitbang Lektur Keagamaan), xiv-xv

pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan global masih belum bisa bersaing dengan kondusif. Oleh karenanya, dalam menjawab pertanyaan masyarakat lebih-lebih alumni fanatis, maka banyak pesantren salaf yang ingin melakukan perpaduan sistem pendidikan salafi dengan sistem pendidikan modern untuk menghadapi persaingan global yang saat ini terjadi pada semua lini pendidikan terutama dalam pendidikan pesantren. Fakta yang kita lihat di lapang, pesantren yang menggunakan sistem pendidikan modern banyak diminati oleh masyarakat dibandingkan pesantren yang menggunakan sistem salafi. Sehingga sebagian pesantren salaf pada saat ini memasukkan model pendidikan modern ke dalam sistem pendidikan yang dipakai dalam pesantren, hal tersebut dapat dilihat dengan menjamurnya pesantren yang memasukkan lembaga pendidikan formal berada dalam naungan yayasan yang notabene dikelola oleh pesantren. Pesantren miftahul ulum merupakan pondok pesantren yang masih eksis dalam pengembangan pengajiab kitab kuning, walaupun pada saat ini Pondok Pesantren Miftahul Ulum sudah mulai memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren. Pondok Pesantren Miftahul Ulum disini masih dikatakan dengan pondok pesantren salafiyah tetapi Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren untuk menjawab tantangan global dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu pesantren yang hingga sekarang tetap mengembangkan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pesantren adalah Pondok

Pesantren Miftahul Ulum yang terletak jauh dari keramaian kota Tempeh Lumajang, pesantren yang didirikan oleh almarhum KH. Abdul Mujib Husnan ini, hingga saat ini mengalami kemajuan. Semenjak KH. Abdul Mujib Husnan wafat tahun 2006, kemudian estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putra pertamanya kyai Idris Husnan. Masa kepemimpinan Kyai Idris Husnan dalam bidang pendidikan mengalami pembaharuan signifikan. Walaupun sudah mengalami pembaharuan dalam bidang pendidikan tetapi Pondok Pesantren Miftahul Ulum tetap menggunakan model pendidikan tradisional untuk meningkatkan intelektual, emosional dan spiritual santri. Ide dan inti dari pembaharuan itu, berupaya meninggalkan pola pemikiran lama yang tidak sesuai lagi dengan kemajuan zaman dan berupaya meraih aspek-aspek yang menopang untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Berdasarkan dua daya dorong itulah maka Pondok Pesantren Miftahul Ulum mulai memunculkan ide untuk memasukkan mata pelajaran umum ke lembaga pendidikan Islam serta mengubah metode pelajaran lama kepada metode yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman. Dengan adanya fakta diatas kami sebagai peneliti mengambil judul “Akulturasi model Pendidikan Salaf Dengan Model Pendidikan Modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang Tahun 2011/212” dengan tujuan melahirkan ulama’ yang intelek dan intelek yang ulama’. B. Fokus Penelitian

Keberadaan masalah menjadi ciri dan titik tolak sebuah penelitian. Dan inti dari penelitian adalah memecahkan masalah. Oleh karena itu peneliti hendaknya memahami: pertama, bagaimana menemukan masalah suatu penelitian. Kedua, apa yang melatar belakangi diangkatnya persoalan itu. Dan ketiga, bagaimana merumuskan suatu masalah penelitian.15 Perumusan masalah harus disusun secara singkat, jelas, tegas, spesifik, operasional, yang dituangkan dalam bentuk kalimat tanya.16 Maka untuk lebih fokus dalam menjalankan penelitian ini, peneliti merumuskan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Fokus Penelitian

Bagaimanakah akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang tahun 2011/2012? 2. Sub Fokus
a. Penelitian Bagaimanakah konsep model pendidikan salaf dengan model

pendidikan

modern

ala

Pondok

Pesantren

Miftahul

Ulum

Desa

Pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang tahun 2011/2012?

15 16

Subana dan sudrajat, Dasar-dasar penelitian ilmiah (Bandung: Pustaka setia, 2005),59. STAIN, penulisan karya ilmiah mahasiswa (Jember:STAIN,2011),65.

b.

Bagaimanakah pelaksanaan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang tahun 2011/2012?

c.

Bagaimanakah wujud akulturasi pendidikan salaf dengan pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Pandanwangi Kec. Kunir Kab. Lumajang tahun 2011/2012?

C. Tujuan Penelitian Selain rumusan masalah, hal yang dianggap penting dalam suatu penelitian adalah tujuan penelitian. Tujuan penelitian digunakan agar penelitian itu jelas dan terarah. Bahkan setidaknya tujuan penelitian ini di gunakan sebagai petunjuk dalam melaksanakan penelitian.17 Selain itu tujuan penelitian harus mengacu pada masalah-masalah yang dirumuskan sebelumnya.18 Oleh karena itu tujuan dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi dua bagian, antara lain: 1. Tujuan Umum Adapun tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mendeskripsikan akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa

Pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang Tahun 2011/2012.

17 18

Subana dan sudrajat, Dasar-dasar penelitian,71. STAIN, penulisan karya ilmiah, 65.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mendeskripsikan konsep model pendidikan salaf dengan model

pendidikan modern ala pondok peasantren Miftahul Desa Pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang tahun 2011/2012.
b. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan model pendidikan salaf dengan

model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang tahun 2011/2012.
c. Untuk mendeskripsikan wujud akulturasi model pendidikan salaf

dengan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang tahun 2011/2012. D. Manfaat Penelitian Selain tiga tujuan diatas, manfaat penelitian adalah: 1. Bagi pengembangan cakrawala keilmuan Secara akademik atau teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan dan penambahan khasanah perbendaharaan ilmu pengetahuan utamanya adalah pendidikaan Islam, sekaligus sebagai masukan kepada lembaga pemerintahan atau penentu kebijakan akan urgensi pondok pesantren dalam pemberdayaan mental spiritual masyarakat. 2. Bagi pembaca Dapat dijadikan sebagai bahan kajian yang mendalam, dan sebagai informasi. Data akademik yang sangat berguna bagi insan akademik atau para peneliti, guna menggali lebih dalam tentang akulturasi model pendidikan

salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren Pesantren Miftahul Ulum.
3. Bagi Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pandanwangi Lumajang

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian sekaligus acuan bagi Pondok Pesantren Miftahul Ulum dalam rangka meningkatkan mutu pesantren yang berhubungan dengan model pendidikan yang diterapkan pondok pesantren kearah yang lebih optimal. Terutama kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan akulturasi model pendidikan salaf dengan model modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum. 4. Bagi peneliti Penelitian ini dapat menambah wawasan khasanah keilmuan yang mendalam dibidang model pendidikan Islam dengan fokus di Pondok Pesantren. Yang sangat bermanfaat bagi peneliti untuk lebih mendalam dengan data faktual tantang akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum. 5. Bagi lembaga STAIN Bagi intitusi STAIN jember penelitian ini dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi pemikiran untuk menunjukkan eksistensi kesarjanaan seseorang serta referensi bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pendidikan agama Islam serta bidang sosial kemasyarakatan.

E. Definisi Istilah Untuk memberikan arahan Agar tidak terjadi kesalahan interpretasi dalam memahami penelitian ini, maka sangat perlu adanya definisi istilah, sehingga penelitian dapat konsisten dan koheren. Dari judul “Akulturasi Model Pendidikan Salaf dengan Model Pendidikan Modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang Tahun 2011/2012 ”, maka hal-hal yang perlu dijelaskan lebih awal sebagai berikut: 1. Akulturasi Model Akulturasi merupakan proses masuknya pengaruh kebudayaan asing di suatu masyarakat, sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu.19 Model adalah abstraksi dari sistem sebenarnya, dari gambaran yang lebih sederhana serta mempunyai tingkat prosentase, yang bersifat menyeluruh atau model adalah abstraksi dari realitas dengan hanya memusatkan perhatian pada beberapa bagian atau sifat dari kehidupan sebenaranya.20 Dalam penelitian ini akulturasi model memiliki maksud yaitu proses masuknya pengaruh sistem pendidikan modern terhadap sistem pendidikan salaf. Sehingga dengan adanya modernisasi terhadap sistem pendidikan Islam maka perlu adanya perpaduan (akulturasi) antara pendidikan salaf dengan pendidikan modern ala pesantren Mifatahul Ulum.

19

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka,2007), 24 20 www.google.com, http://www.damandiri.or.id/file/ahmadsuyutiunairbab2.pdf

2. Pendidikan salaf

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.21 Salaf 22 adalah sesuatu atau orang yang terdahulu. Pesantren salafi adalah sistem pesantren yang tetap mempertahankan sistem (materi pelajaran) yang bersumber dari kitab-kitab Islam klasik, meskipun sekali waktu sistem madrasah dipraktekkan juga, sekedar untuk kemudahan pelaksanaan sistem sorogan yang merupakan sendi utama. Pesantren jenis ini tidak mengajarkan pengetahuan non agama.23 Sistem pengajaran yang digunakan dalam pesantren salafi yaitu dengan metode-metode sorogan, bandhongan, wetonan, dan hafalan.
3. Pendidikan modern ala pesantren

Pendidikan modern yaitu pendidikan yang menerapkan system pengajaran klasikal (madrasah), memberikan ilmu umum dan agama, serta juga memberikan pendidikan keterampilan.24 Lembaga pendidikan sekolah-sekolah Islam, di lembaga ini disamping mengajarkan ilmu-ilmu umum sebagai materi pokoknya, juga mengajarkan ilmu-ilmu agama. Lembaga pendidikan madrasah, lembaga ini adalah mencoba mengadopsi sistem pesantren dan sekolah, dengan

21

Tim Penyusun,Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Penjelasannya (Jakarta:Sinar Grafika Offset,2003),3. 22 Departemen Pendidikan Nasional,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (Jakarta:Balai Pustaka,2007), 23 Win Usuluddin,Sintesis Pendidikan Islam Asia-Afrika (Yogyakarta:Paradigma,2002),53-54 24 Khozin, Jejak Pendidikan Islam di Indonesia (Malang:UMM Press,2006),101

menambahkan sistem baru. Ada unsur-unsur yang diambil dari pesantren dan ada pula unsur-unsur yang diambil dari sekolah. Ada dua bentuk kelembagaan pendidikan Islam, yaitu: pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan non formal yaitu seperti pesantren tradisional, majelis taklim, sarekat tolong menolong dan majelis kultum.25 Pesantren termasuk lembaga pendidikan Islam yang formal. Pesantren memiliki metode dan model pembelajaran yang sudah permanen. Sistem pendidikan modern ala pesantren didasari, digerakkan, dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran dasar Islam. Ajaran Islam ini menyatu dengan struktur kontekstual atau realitas social yang digumuli dalam kehidupan keseharian. Dengan demikian yang dimaksud dengan judul diatas adalah akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum yaitu memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Melihat problematika dan tantangan pendidikan pesantren seiring dengan kuatnya arus modernisasi dan liberalisasi, secara perlahan tapi pasti model pendidikan ala pondok pesantren salaf mulai kurang diminati oleh generasi muda sekarang. Ini tercermin dari semakin kurangnya jumlah santri di sebagian pondok pesantren di Nusantara. F. Sistematika Pembahasan Menyangkut rencana penyusunan skripsi sebagai tindak lanjut dalam penelitian kali ini. Menyangkut materi yang akan dibahas pada dasarnya terdiri dari empat bab, setiap bab dibagi menjadi beberapa sub-bab, hal ini untuk mempermudah pemahaman dan pembahasan, dimana antara bab yang satu
25

Rofiq dkk,Pemberdayaan Pesantren (Yogyakarta:Pustaka Pesantren,2005 ),4

dengan bab yang lainnya, saling berhubungan bahkan bab berikutnya merupakan pematangan dan pendalaman dari bab sebelumnya. Selanjutnya bab tersebut diuraikan sebagai berikut: Bab satu: merupakan pembahasan pendahuluan yang meliputi pembahasan umum tentang latar belakang masalah dan rumusan masalah menyangkut penelitian yang telah dilakukan, penjelasan alasan pemilihan judul, tujuan penulisan, manfaat penelitian, metodologi dan prosedur penelitian, uji kevalidan data, serta sistematika pembahasan. Bab dua pembahasan tentang kajian kepustakaan yang meliputi penelitian terdahulu dan kajian teori. Bab tiga: merupakan pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data dan analisa terhadap data-data yang bekenaan dengan model pendidikan yang digunakan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum serta keabsahan data dan tahap penelitian. Bab empat: merupakan penyajian data dan analisis yang meliputi gambaran objek penelitian, penyajian data dan analisis serta pembasan temuan Bab lima; merupakan bab terakhir yang memaparkan kesimpulan dari penelitian yang dilengkapi dengan saran-saran dari penulis dan di akhiri dengan penutup.

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu Terdapat beberapa penelitian yang telah membahas tentang pendidikan pesantren. Akan tetapi tidak ada satu karyapun yang fokus mengkaji tentang akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pesantren. Beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan model pendidikan dan pesantren, sehingga menghasilkan kesimpulan sebatas sistem pendidikan Islam dalam pesantren. Pada kajian ini peneliti mencamtumkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini, yaitu: Muhammad Sujari26 mahasiswa STAIN Jember (2007) dengan judul ”pendidikan pondok pesantren tradisional dalam perspektif pendidikan Islam Indonesia” yang fokus masalahnya pada:
1.

visi dan misi Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional dalam

perspektif Pendidikan Islam Indonesia. 2. Kurikulum pendidikan pondok pesantren tradisional saat ini tidak

sekedar fokus pada kitab-kitab klasik tetapi juga memasukkan banyak mata pelajaran dan keterampilan umum 3. Manajemen kelembagaan, di lembaga pendidikan pondok pesantren

tradisional saat ini terjadi perubahan mendasar, yakni dari kepemimpinan

26

Muhamaad Sujari,Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional Dalam Perspektif Pendidikan Islam (Jember: Skripsi STAIN,2007)

yang sentralistik, hierarkis dan cenderung single fighter berubah menjadi model manajemen kolektif seperti model yayasan. Sedangkan Huda Ali27 tentang Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren. Penelitian ini dilakukan disalah satu pesantren di Palembang dan menfokuskan penelitian tentang modernisasi sistem pendidikan dalam pesantren tersebut. Penelitian ini menjelaskan bahwa pesantren yang berasal dari pesantren salaf/pesantren tradisional, yang telah melangkah memasukkan unsur-unsur modern dalam program pendidikannya. Out put dari pesantren telah mampu menembus perguruan tinggi yang elit seperti ITB. Dengan kemampuan mengkombinasikan sistem pendidikan pesantren salaf dan sistem pendidikan pesantren khalaf telah menjadi daya tarik bagi pondok pesantren terutama pondok pesantren Sabilul Hasanah kepada masyarakat untuk memasukkan putera-puterinya ke pesantren. Habiba28 tentang Dinamika Pondok Pesantren Khalafiyah sebagai

Media Transformasi Pendidikan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Penelitian ini dilakukan disalah satu pesantren di Jember dan memfokuskan penelitian tentang dinamika pondok pesantren khlafiyah dalam pesantren tersebut. Penelitian ini menjelaskan pondok pesantren Bahrul Ulum adalah lembaga pendidikan Islam yang telah berupaya mempersiapkan santrinya dalam media transformasi pendidikan dengan mengembangkan penerapan kurikulum, proses

27

28

Malik M Thaha Tuanaya dkk,Modernisasi Pesantren (Jakarta:Balai Penelitian dan Pengembangan Agama,2007) Habiba,Dinamika Pondok Pesantren Khalafiyah sebagai Media Transformasi Pendidikan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (Jember:skripsi STAIN,2007)

belajar mengajar dan menerapkan evaluasi serta menciptakan kualitas intelektual dan keagamaam santri. TABEL 1 Penelitian Terdahulu Tentang Pendidikan Pesantren No. Nama peneliti Judul Temuan-temuan 3. Muhammad pendidikan pondok Modernisasi Sujari pesantren dalam pendidikan 2. Huda Ali Indonesia Modernisasi tradisional kurikulum perspektif manajemen Islam kelembagaan Sistem pesantren salaf/pesantren Buku Tahun: 2007 Keterangan Skripsi

dan Tahun: 2007 STAIN Jember

Pendidikan Pesantren

tradisional, yang Jakarta:Balai telah melangkah Penelitian dan

memasukkan unsur-unsur modern program pendidikannya. Out put dari telah dalam

Pengembangan Agama

pesantren mampu menembus

perguruan tinggi yang elit seperti 3. Habiba tentang Pondok Khalafiyah Media Dinamika ITB. mempersiapkan Skripsi

Pesantren santrinya sebagai media

dalam Tahun: 2007 STAIN Jember

Transformasi transformasi

Pendidikan di Pondok pendidikan dengan Pesantren Ulum Bahrul mengembangkan penerapan kurikulum, proses belajar dan mengajar menerapkan serta

evaluasi menciptakan

kualitas intelektual dan santri. keagamaam

4.

Khodiejah

Akulturasi pendidikan dengan

model salaf model

pendidikan modern ala pesantren tahun

2011/2012 Sedangkan peneliti sendiri lebih menitik beratkan dan lebih fokus membahas tentang akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pesantren B. Kajian Teori 1. Model pendidikan salaf Pesantren salafi adalah sistem pesantren yang tetap mempertahankan sistem (materi pelajaran) yang bersumber dari kitab-kitab Islam klasik meskipun sekali waktu sistem madrasah di praktekkan juga, sekedar untuk kemudahan pelaksanaan sistem-sistem yang diterapkan didalam pesantren salafi seperti sistem sorogan, wetonan, dan hafalan yang merupakan sendi utama29. Pondok pesantren adalah asrama pendidikan Islam Tradisional, dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan seorang atau lebih guru yang lebih dikenal dengan sebutan ”kyai”. Asrama untuk para santri tersebut berada dalam lingkungan komplek pesantren dimana kyai bertempat tinggal yang juga menyediakan masjid untuk

29

Win Usuluddin,Sintesis Pendidikan Islam Asia-Afrika (Yogyakarta:Paradigma,2002),54

beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang lain30. Sejarah Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah pesantren. Islam yang berkembang dan semerbak di Indonesia merupakan pantulan dari khazanah yang melimpah ruah di pesantren. Pada awal penyebarab Islam, wali songo menggunakan pesantren sebagai kawah condrodimuka dalam menggembleng santri dan media mentransformasikan nilai Islam secara kultural di masyarakat31. Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, mamahami, mendalami, mengahayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Adapun pengertian ”pesantren salafiyah” adalah lembaga tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mengahayati dan mengamalkan ajaran Islam yang murni sesuai dengan ajaran Nabi saw dan bertujuan tafaqquh fid-din dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari melalui karya-karya ulama terdahulu yang tertera dalam kitab-kitab kuning32.
30

Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren (Jakarta:LP3ES,1982),44 Muhammadun,Menuju Pesantren yang Transformatif, Majalah Aula No. 10 (Surabaya:PWNU Jatim Tahun XXVIII Oktober 2006),86 32 Kitab kuning adalah kitab-kitab klasik keagamaan (Islam) berbahasa Arab, Melayu, Jawa atau bahasa daerah lainnya dengan menggunakan tulisan Arab yang ditulis oleh para ulama’ Timur Tengah dan ulama’ Jawi (istilah ulama’ untuk Asia Tenggara) dan dicetak atau ditulis pada kertas yang berwarna kuning. H. E Badri, munawiroh,Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah (Jakarta:Puslitbang Lektur Keagamaan,2007),36-38. Untuk mengajarkan kitab-kitab klasik tersebut seorang kyai menempuh metode:wetonan, sorogan,halaqah dan hafalan. Kitab-kitab yang dipelajari itu diklasifikasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan, ada tingkatan awal, menengah dan atas. Haidar Putra Daulay, sejarah pertumbuhan dan pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2007),69
31

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam secara selektif bertujuan menjadikan para santrinya sebagai manusia yang mandiri yang diharapkan dapat menjadi pemimpin umat dalam menuju ibtighaa mardhati- Ilahi (mengharap keridhaan Allah). Oleh sebab itu pesantren bertugas untuk mencetak manusia yang benar-benar ahli dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan kemasyarakatan serta berakhlak mulia. Untuk mencapai tujuan tersebut pesantren mengajarkan Tauhid, Fiqih, tafsir, Hadist, Nahwu, Sharaf, ma’ani badi’ dan bayan, Ushul-fiqih, Musthalahul hadist dan Mantiq33. Metodik-didaktik pengajaran pesantren yang diberikan dalam bentuk: sorogan, bandhongan, halaqah dan hafalan34. Penerapan metode tersebut mengakibatkan santri bersikap pasif. Sebab kreativitas dalam proses belajar mengajar didominasi oleh kyai atau ustadz, sementara santri hanya mendengarkan dan memperhatikan dan memperhatikan

keterangannya35. Tujuan terbentuknya pondok pesantren36 adalah (1) Tujuan umum yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian
33

Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi, Format pendidikan, Ideal, Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2005),310-311 34 Sorogan, artinya belajar secara individual dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Bandongan, artinya belajar secara kelompok yang diikuti oleh seluruh santri. Biasanya kyai menggunakan bahasa daerah setempat dan langsung menerjemahkan kalimat demi kalimat dari kitab yang dipelajari. Halaqah, artinya diskusi untuk memahami isi kitab, bukan untuk mempertanyakan kemungkinanbenar salahnya apa yang diajarkan oleh kitab, tetapi untuk memahami apa maksud yang diajarkan oleh kitab. Santri yakin bahwa kyai tidak akan mengajarkan hal-hal yang salah, dan mereka juga yakin bahwa isi kitab yang dipelajari adalah benar. Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta:INIS,1994),61 35 Mujamil Qomar,Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju demokratisasi Institusi (Jakarta:erlangga),143 36 Arifin HM, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum (Jakarta:Bumi Aksara, 1991),248

Islam, yang dengan ilmu agamya ia sanggup menjadi muballig Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya; (2) Tujuan khusus yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan serta dalam mengamalkan dan mendakwahkannya dalam masyarakat. Sistem yang ditampilkan dalam pondok pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan sistem yang diterapkan dalam lembaga pendidikan umumnya,yaitu: (1) memakai sistem tradisional, yang memiliki kebebesan penuh dibandingkan dengan sekolah modern, sehingga terjadi hubungan dua arah antara kyai dan santri;(2) kehidupan di pesantren menampakkan semangat demokrasi, karena mereka praktis bekerjasama mengatasi problem non kurikuler mereka sendiri;(3) para santri tidak mengidap penyakit simbolis, perolehan gelar dan ijazah, sedangkan santri dengan ketulusan hatinya masuk pesantren tanpa adanya ijazah tersebut ; (4) sistem podok pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri, dan keberanian hidup.(5) alumni pondok pesantren tidak ingin menduduki jabatan pemerintahan, sehingga mereka hampir tak dapat dikuasai oleh pemerintah37. Ciri-ciri pendidikan di lembaga pendidikan salaf yaitu pertama, nonklasikal; kedua,metode sorogan, wetonan dan hafalan;ketiga,materi pelajaran adalah terpusat pada kitab-kitab klasik. Tinggi rendahnya ilmu seseorang diukur dari penguasaannya kepada kitab-kitab tersebut38.
37 38

Amien Rais M, Cakrawala Islam:antara cita dan fakta (Bandung:Mizan, 1989),162 Haidar Putra Daulay, sejarah pertumbuhan dan pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2007),50

Disamping itu ada beberapa indikasi pendidikan Islam sebelum dimasuki oleh ide-ide pembaharuan: a. Pendidikan yang bersifat non-klasikal. Pendidikan ini tidak dibatasi atau ditentukan lamanya belajar seorang berdasarkan tahun. Jadi seorang bisa tinggal disuatu pesantren satu tahun, dua tahun atau boleh jadi berapa bulan saja bahkan mungkin juga belasan tahun b. Masa pelajaran adalah semata-mata adalah pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Tidak ada diajarkan mata pelajaran umum. c. Metode yang digunakan adalah metode sorogan,wetonan, hafalan dan metode tardisional lainnya. d. Tidak mementingkan ijazah sebagai bukti yang bersangkutan telah menyelesaikan atau menamatkan pelajarannya.
e. Tradisi kehidupan pesantren amat dominan dikalangan santri dan

kyai39.
2. Model pendidikan modern ala pesantren

Perubahan atau modernisasi Islam di Indonesia yang berkaitan dengan gagasan modernisasi Islam di kawasan ini mempengaruhi dinamika keilmuan di lingkungan pesantren40. Sistem pendidikan pesantren dan surau yang merupakan lembaga pendidikan Islam asli (pribumi) dimodernisasi. Misalnya dengan mengambil atau mencontoh aspek-aspek tertentu dari

39

40

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995), 12.

sistem

pendidikan modern, khususnya dalam kandungan kurikulum,

tekhnik, metode pengajaran dan sebagainya Pesantren khalafi adalah pondok pesantren yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dimana madrasah-madrasah yang

dikembangkan, atau membuat tipe-tipe sekolah umum lingkungan pesantren. Akhir-akhir ini pesantren seperti ini telah menambah berbagai jenis keterampilan atau usaha-usaha tertentu. Pondok Modern Gontor misalnya, tidak lagi mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Dalam pesantren khalafi sekali waktu kitab-kitab Islam klasik hanya dijadikan refresensi saja terutama dalam perguruan tinggi agama/non agama yang tumbuh dalam pesantren41. Berbeda dengan ”pesantren salafiyah”, pondok modern- yang juga disebut “pesantren khalaf”- memiliki sistem pembelajaran yang sistematik dan memberikan porsi yang cukup besar untuk mata pelajaran umum. Pembelajaran dilaksanakan di kelas. Refrensi utama dalam materi keIslaman bukan materi kitab kuning, melainkan kitab-kitab baru yang ditulis para sarjana muslim abad ke-20. Ciri khas pondok modern adalah tekanannya yang sangat kuat terhadap pembelajaran bahasa, baik Arab maupun Inggris. Aktivitas pembelajaran bahasa tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga praktik percakapan sehari-hari di lingkungan pesantren. Ciri khas lain adalah dalam aktivitas pembelajaran di pondok modern, aspek disiplin mendapat penekanan. Para guru dan santri

41

Win Usuluddin,Sintesis Pendidikan Islam Asia-Afrika (Yogyakarta:Paradigma,2002),54

diwajibkan berpakaian rapi dan berdasi, sesuatu yang tidak lazim di pesantren pada waktu itu42 Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan di Indonesia, agaknya tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam local genius. Dikalangan umat Islam sendiri pesantren telah di anggap sebagai model institusi keilmuannya, yang oleh Martin Van Bruinessen dinilai sebagai salah satu tradisi agung (great tradition)43. Mulai dekade 1970-an, terjadi perubahan yang cukup besar pada sistem pendidikan pesantren. Jika sebelumnya sistem pendidikan pesantren dikenal sebagai bentuk sistem pendidikan non sekolah (kelas bandhonngan tardisional), yang muncul kemudian justru bentuk sistem pendidikan sekolah: mulai dari madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, SLTP/SLTA umum, perguruan tinggi keagamaan, bahkan perguruan tinggi umum. Jika semula penyelenggaraan pendidikan di pesantren dilakukan secara tradisional, kini diselenggarakan dengan sistem modern seperti sekolah agama yang dikembangkan Departemen Agama. Sistem ini adalah subsistem pendidikan nasional yang dalam berbagai hal berbeda secara mendasar dengan sistem pendidikan nasional44. Adapun sikap pesantren dalam menghadapi perubahan sistem pendidikan (modernisasi) di masyarakat berbeda-beda dari sekian

42

43

44

Arief Subhan,Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad Ke-20 Pergumulan antara Modernisasasi dan Identitas (Jakarta:KENCANA PRENADA MEDIA GROUP,2012),130. Malik Fadjar,Reorientasi Pendidikan Islam (Jakarta:Yayasan Pendidikan Fajar Dunia Islam FAJAR DUNIA,1999),113. Mujamil Qomar,Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju demokratisasi Institusi (Jakarta:erlangga),79.

pesantren. Dan sikap pondok pesantren tersebut digolongkan dengan sebagai berikut: a. Pondok pesantren yang menolak sistem baru dan tetap

mempertahankan sistem tradisionalnya
b. Pondok pesantren yang mempertahankan sistem tradisionalnya, dan

memasukkan sistem baru dalam bentuk sekolah yang bercorak klasikal, seperti Madrasah Ibtida’iyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Perguruan Tinggi Agama Islam
c. Pondok pesantren yang tetap mengajarkan kitab klasik, namun

dilingkungan pondok menyelenggarakan sekolah umum seperti SD, SMP, SMP dan Universitas45. Sehingga, metode yang digunakan dalam model pendidikan modern ala pesantren tidak hanya metode sorogan, bandhongan, halaqah dan hafalan, tetapi penggunaan metode pendidikan Islam secara formal adalah sebagaimana yang antara lain dikemukakan Dr. Zakiyah Darajat – yang dikutip oleh Arifuddin Arif diantaranya: metode ceramah, metode diskusi, metode eksperimen, metode demonstrasi, metode pemberian tugas, metode sosio drama, metode drill (latihan), metode kerja kelompok, metode tanya jawab, metode proyek46. Bentuk pendidikan yang seperti ini merupakan kategori pondok pesantren modern. Bersamaan dengan masuknya pendidikan sekolah di pondok pesantren, para kyai kemudian

menformalkan pondok pesantren kedalam bentuk badan hukum, berupa
45

Atmaturida, Sistem Pengelolaan Pondok Pesantren (Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta, 2001), 28. 46 Arifuddin arif, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta:Kultura (GP Press Group),2008),113.

yayasan. Para kyai mempunyai asumsi bahwa sekiranya pengaruh luar, terutama sistem pendidikan sekolah (formal) yang dibentuk pemerintah tidak dapat dihindarkan, maka pondok pesantren tidak perlu menghindar apalagi menolaknya, bagaimanapun lambat laun pasti berjalan dan pengaruh itu pun tetap ada47. Pesantren modern atau khalaf adalah pesantren yang telah melakukan pembaharuan (modernisasi) dalam sistem pendidikan,

kelembagaan, pemikiran dan fungsi. Beberapa aspek modernitas yang menjadi kajian dalam hal ini adalah: a. Sistem Pendidikan sistem pendidikan dalam pendidikan modern mencakup paling tidak: kurikulum dan metodologi. Pembahruan (modernisasi) kurikulum dilakukan dengan cara tetap memberikanpengajaan agama Islam, sekaligus memasukkan subjek (pelajaran) sebagai substansi pendidikan.

Pembaharuan metodologi dilakukan dengan menerapkan sistem klasikal. Dari segi metode pengajaran, tidak lagi menerapkan sorogan atau bandhongan, tetapi telah mulai menggunakan berbagai metode

pengajaranyang diterapkan pada metode sekolah umum seperti: tanya jawab, hafalan, sosio-drama, ceramah, widyawisata hingga sistem modul. Bahkan pada beberapa pesantren modern saat ini, seperti pesantren alhikam, mulai mencoba metode diskusi dan seminar. b. Manajemen kelembagaan

47

Sukamto,Kepemimpinan Kyai Dalam Pesantren (Jakarta:PT. Pustaka LP3ES,1999),15.

Sebagai lembaga pendidikan berciri modern yang artinya mau dan mampu menerima perubahan dari luar, dari aspek kelembagaan dan kecenderungan pesantren modern untuk melakukan konsolidasi organisasi kelembagaan, khususnya aspek kepemimpinan dan manajemen. c. Fungsionalisasi Modernisasi tidak hanya menyangkut gaya hidup, tetapi juga nilainilai yang diacu.keterbukaan terhadap nilai yang berasal dari luar senantiasa dilakukan oleh pesantren. Pesantren selalu peka terhadap perubahan jaman dan berperan bukan saja dalam bidan pendidikan tetapi juga aspek lainnya48. Pendidikan pesantren dalam menghadapi era globalisasi, meskipun pada awalnya dunia pesantren terlihat enggan dan rikuh dalam menerima perubahan sehingga tercipta kesenjangan antara pesantren dengan dunia luar. Tetapi secara gradual pondok pesanten kemudian melakukan akomodasi dan konsesi tertentu untuk kemudian menemikan pola yang dipandangnya cukup tepat guna menghadapi perubahan yang begitu cepat dan berdampak luas dalam hal ini, pendidikan adalah kehidupan, untuk itu kegiatan belajar harus dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup ( life skill atau life competency) yang sesuia dengan lingkungan kehidupan ddan kebutuhan santri49.

48

Malik M Thaha Tuanaya dkk,Modernisasi Pesantren (Jakarta:Balai Penelitian dan Pengembangan Agama,2007),10-11. 49 http://www.damandiri.or.id/file/ahmadsuyutiunairbab3.pdf.

Sebagaimana yang telah diketahui sekarang, pondok pesantren dalam perjalanannya telah mengalami perubahan, baik isi maupun bentuknya, meskipun masih pula dapat dijumpai beberapa pondok pesantren yang tetap berusaha untuk mempertahankan pola, model atau gaya lama. Perubahan-perubahan tersebut akhirnya dapat dilihat dalam bentuk beberapa pola, sebagai berikut: TABEL: 2 POLA-POLA PONDOK PESANTREN POLA KETERANGAN Pola I masjid, rumah Pesantren ini masih bersifat sederhana, dimana kyai masih kyai menggunakan masjid rumahnya. Sebagai tempat untuk mengajar. Dalam pola ini santri hanya datang dari daerah sekitar pesantren sendiri, namun mereka telah mempelajari ilmu agama secara secara sistematis dan kontinue. Sedangkan metode pengajarannya ialah sorogan dan weton. Pola II masjid, rumah Dalam pola ini pesantren telah memiliki pondok, atau kyai, pondok asrama yang disediakan oleh pondok bagi para santri yang datang dari daerah lain. Sedangkan metode pengajarannya Pola III ialah sorogan dan weton. masjid, Pesantren pola ini telah memakai sistem klasikal, dimana

rumah kyai, pondok, santri santri yang mondok mendapat pendidikan di madrasah madrasah. Ada kalanya murid yang datang ke madrasah. Ada kalanya murid yang datang ke madrasah itu dari

daerah pesantren itu sendiri. Disamping madarsah ada pula pengajian sistem. Weton yang dilakukan oleh kyai pengajar madrasah tersebut biasanya hanya disebut sebagai Pola IV guru agama saja. masjid, Pada pola ini, sebuah pesantren sudah memiliki tempat-

rumah kyai, pondok, tempat untuk latihan keterampilan disamping pondok, madrasah, tempat madrasah. Misalnya: toko koperasi, madrasah peternakan

keterampilan sawah dan ladang, dan tempat keterampilan Pola V masjid, rumah Dalam pola ini, pesantren sebagai lembaga pendidikan kia, madrasah, pondok, telah berkembang menjadi menjadi sebuah pondok tempat- modern. Disamping bangunan-bangunan yang telah

tempat keterampilan disebutkan pada pola-pola diatas memungkinkan bisa universitas/ perguruan balai atau aula didapati pula bangunan-banngunan madrasah atau fasilitastinggi, fasilitas sebagaimana berikut ini: pertemauan 1. Kantor administrasi 2. Perpustakaan 3. Toko koperasi 4. Dapur umum 5. Ruang makan
6. Ruang atau rumah penginapan tamu (misalnya orang

tua atau wali murid ataupun tamu umum), operation

room dan saebagainya. Diantara pesantren yang ada, terdapat pula sekolah umum, misalnya:

SMP,SMA,STM dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Dewasa ini tidak sedikit pesantren di Indonesia telah mengadopsi sistem pendidikan formal seperti yang diselenggarakan pemerintah. Sistem pesantren yang masih salafi murni tidak banyak lagi. Pesantren besar biasanya sudah berkembang menjadi pesantren khalafi, semacam perguruan tinggi yang memasukkan mata pelajaran umum sesuai dengan sistem pendidikan nasional. Sementara itu pesantren tetap bertahan pada bentuk salafi biasanya kurang mampu berkembang secara kondusif50.
3.

Akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan

modern ala pesantren Institusi pendidikan di Indonesia yang telah menganyam sejarah paling panjang diantaranya adalah pesantren. Institusi ini lahir, tumbuh, dan berkembang lebih lama. Bahkan, semenjak belum dikenalnya lembaga pendidikan lainnya di Indonesia, pesantren telah hadir lebih awal. Hal ini menandakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai akar sejarah keindonesian51. Pendidikan pesantren dalam mengahadapi era globalisasi, meskipun pada awalnya dunia pesantren terlihat enggan dan rikuh dalam menerima perubahan, sehingga tercipta kesenjangan antara pesantren dengan dunia
50

51

Mujamil Qomar,Pesantren dari Transformasi Metodologi Menujudemokratisasi Institusi (Jakarta:erlangga),79 Ninik Masruroh dan Umiarso,Modernisasi Pendidikan Islam Ala Azyumardi Azra (Jakarta:ArRuzz Media,2011),209

luar. Tetapi secara gradual pondok pesantren kemudian melakukan akomodasi dan konsesi tertentu untuk kemudian memandang pola yang dipandangnya cukup tepat guna meghadapi perubahan yang kian cepat dan nampak luas. Adanya perubahan yang begitu cepat menyadarkan kalangan pesantren untuk melakukan tindakan-tindakan yang memberi manfaat bagi kelangsungan dan pengembangan pendidikan Islam tertua ini menurut persepsi masing-masing pengasuh. Perubahan sistem pendidikan pesantren ini mengalami proses sejarah tertentu. ”Awal abad abad ke-20, sistem pendidikan pondok pesantren mulai dikembangkan sejalan dengan tuntutan masyarakat”. Sedangkan menurut Husni Rahim yang dikutip oleh Mujammil Qomar, modernisasi pesantren telah berlangsung lamapaling tidak sejak awal abad ke-19 lembaga-lembaga pendidikan Islam Indonesia baik pesantren maupun Surau (di Minangkabau) sudah mengadopsi sistem pendidikan modern52. Untuk dapat memahami perubahan-perubahan dalam sebuah pola pendididikan di pesantren, haruslah diketahui terlebih dahulu sebab-sebab yang mendorong terjadinya perubahan itu sendiri. Sebab utamanya adalah keinginan sangat kuat pada permulaan abad ini untuk menerapkan sistem sekolah pada pendidikan di pesantren. Dimulai oleh beberapa pesantren di Sumatra dan pesantren tebuireng di Jawa Timur, sistem sekolah di pesantren itu segera berkembang dengan pesat sehingga dewasa ini
52

Mujamil,Qomar,Pesantren dari Transformasi Metodologi Menujudemokratisasi Institusi (Jakarta:erlangga),78

tinggal sedikit sekali pesantren yang tidak menggunakan sistem sekolah. Dinamai Madrasah, sistem sekolah dipesantren itu berusah

menggabungkan pelajaran pengetahuan non-agama dalam kurikulumnya. Akan tetapi, keseragaman kurikulum tetap belum dapat diterapkan di antara mayoritas madrasah hingga saat ini, yang berhasil hanyalah di beberapa puluh madrasah negeri yang diasuh oleh sejumlah pesantren belaka.53 Menurut Cece Wijaya, sebagaimana dikutip oleh Zainuri sistem pendidikan dapat berjalan dengan baik apabila ditopang oleh komponen komponen pendidikan.54 Ada 5 komponen pendidikan yang dipaparkan oleh wijaya yaitu guru, siswa, fasilitas, program, dan kurikulum. Seluruh komponen tersebut disamping dimiliki oleh pendidikan umum, dimiliki pula oleh pendidikan pesantren. Melalui modernisasi, komponen pendidikan yang dimiliki oleh pesantren tradisional mengalami perubahan secara gradual. Perubahan tersebut merupakan imbas dari proses akulturasi unsur tradisional dan unsur modern di dalam lembaga pendidikan pondok pesantren. a. Guru Guru atau kyai dan ustad dalam istilah pesantren, berpengaruh kuat dalam proses belajar mengajar di pesantren. Dalam menyampaikan materi pendidikan agama, guru pesantren tradisional cenderung menggunakan metode ceramah. Metode mengajar tersebut ditiru
53

54

Abdurrahman Wahid,menggerakkan Tradisi esai-esai pesantren (Yogyakarta:LKis,2001),105106 Cendekia,Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren (Ponorogo:STAIN Ponorogo),28

langsung dari guru-guru mereka ketika masih belajar di pesantren. Sehingga metode yang digunakan di pesantren masih cukup tardisional. Disamping itu guru pesantren tradisional pada umumnya bersikap tertutup dalam interaksi dengan murid-murid mereka. Terutama dalam hal kegiatan belajar mengajar murid bersikap pasif dalam menerima materi pelajaran. Sikap tersebut merupakan keniscayaan sebagai seorang murid dan gurunya dalam memperdalam pengatahuan agama. Akan tetapi tentu saja dalam koridor yang selayak dan sewajarnya. Dalam perkembangannya unsur modern disamping ceramah, Menawarkan banyak metode baru dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga proses transformasi informasi tidak monoton dan cenderung aktif dan dinamis. Kedua belah pihak, baik guru maupun siswa dapat secara aktif ikut serta dalam setiap kegiatan dikelas. Dengan demikian para guru lebuh terbuka dan komunukatif dalam proses belajar mengajar dengan para murid mereka. b. Siswa Siswa atau santri dalam term pendidikan pesantren merupakan objek utama dala proses pembelajaran. Pada awalnya santri di pesantren tradisional, secara umum memiliki karakteristik kuat untuk mencari pengatahuan agama. Hasrat akan ilmu pengetahuan tersebut

berimplikasi pada kedisiplinan secara mandiri untuk belajar. Lembaga pesantren tradisional sendiri pada awalnya tidak terlalu menerapkan

disiplin yang ketat. Hal ini mengingat para santri tradisional saat itu memiliki kemandirian dalam menuntut ilmu agama. Seiring berjalannya waktu, kedisiplinan dalam perilaku para santri pesantren mulai mengendur. Di banyak pesantren tardisional, para santri yang rajin akan selalu mengikuti proses pembelajaran. Sebaliknya, para santri yang malas akan berusaha menghindari kegiatan belajar-mengajar. Para santri yang cenderung yang malas ini pada umumnya menajadi santri karena keinginan orang tua mereka, bukan atas keinginan mereka sendiri. Kondisi tersebut mengharuskan pondok pesantren untuk

menerima unsur modern, yaitu membentuk peraturan yang baku. Peraturan yang baku tersebut diterapkan untuk para santri secara keseluruhan. Apabila kedisiplinan santri pada masa lalu berangkat dari motivasi internal, maka saat ini di banyak pesantren, kedisiplinan berangkat dari motivasi internal (minat) maupun eksternal

(punishment). c. Fasilitas Sarana dan prasarana pendidikan adalah bagian dari fasilitas pendidikan. Fasilitas pendidikan dapat berupa gedung sekolah, ruang kelas, meja-kursi, papan tulis, alat peraga dan sebagainya. Pesantren tradisional memiliki fasilitas yang relatif sederhana. di pesantren tradisional, fasilitas yang digunakan dalam sistem wetonan dan sorogan adalah meja pendek sebagai tempat menulis dan membaca

kitab kuning, yang biasa dihamparkan diatas lantai. Berbeda dengan pesantren modern yang menggunakan sistem kalsikal, pembelajaran di pesantren tradisional berlangsung hanya didalam surau atau masjid sederhana. Adapun metode pengajaran, secara konstan menggunakan metode ceramah. Sehingga tidak membutuhkan papan tulis atau alat peraga sebagai fasilitas pendukukng. Lambat laun, pesantren tradisional mulai membangun dan menata fasilitas pendidikan yang ada. Secara perlahan, unsur-unsur luar telah merambah masuk kedalam pesantren. Madrasah sebagai ruang kelas, kantor pesantren sebagai pusat roda organisasi, perpustakaan sebagai fasilitas pendukung pembelajaran, pondok sebagai asrama santri, dibangun dengan konstruksi yang baru dan kokoh. Dengan berdirinya madrasah, pesantren melengkapi ruang kelas dengan kursi-meja, papan tulis dan alat peraga. Adapun sumber dana diperoleh secara mandiri atau swadaya, dan sebagian lagi diperoleh melalui bantuwan pemerintah. d. Program Program sebagai komponen pendidikan, mencakup tujuan dan rencana pendidikan. Pesantren tradisional secara umum memiliki program sebagai pencetak kader ulama’. Program tersebut secara turun temurun dari generasi kegenerasi dipatenkan dalam rencana dan tujuan pendidikan. Sehingga dengan dibekali ilmu agama, para santri diharapkan mampu meneruskan perjuangan ulama’ dalam menyebarkan

syi’ar Islam. Adapun bagaimana para santri dilatih untuk menghadapi masalah ekonomi, pesantren menyerahkan sepenuhnya kepada para santri bersangkutan. Demikian pesantren pada tahap awal memberi doktrin kesederhanaan, sehingga para santri diarahkan kepada urusan agama dan akhirat semata. Searah perkembangan kultur kehidupan sosial masyarakat, para santri mulai melirik kepada urusan-urusan duniawi seperti ekonomi dan politik. Kecenderungan tersebut memaksa pesantren untuk mereformasi program pendidikan sebelumnya. Program pendidikan pesantren saat ini mulai diperluas. Disamping pesantren menjadi tempat untuk mencetak kader ulama’, pesantren berupaya pula untuk mencetak generasi profesional di bidang lain. Bagi santri yang berminat pada pelajaran-pelajaran agama dipersilahkan untuk mendalaminya secara intens. Dan bagi santri yang berminat untuk mempelajari sains, dipersilahkan pula dengan tetap mempelajari dasar-dasar ilmu agama. e. Kurikulum Melalui reformasi program penndidikan, pesantren

mempertahankan dan menambah kurikulum yang diajarkan. Kurikulum yang ada pada awalnya hanya mencakup ilmu-ilmu agama, diperluas denga ilmu pengetahuan umum dan bahasa. Berangkat dari pertimbangan bahwa segala ilmu adalah milik Allah, pesantren mulai menerima perubahan tersebut. Dikotomi ilmu pengetahuan dan agama

yang dahulu sulit untuk didamaikan, lambat laun mulai ditingggalkan. Ilmu agama dan ilmu pengetahuan kemudian disejajarkan dalam kurikulum pesantren. Metode wetonan dan sorogan tetap

dipertahankan, hanya saja ditambah dengan metode klasikal. Disamping itu, bahasa asing (Arab dan Inggris) mulai diajarkan disetiap jenjang pedidikan. Penguasaan bahasa arab maerupakan alat utama untuk mempelajari ilmu agama. Sedangkan bahasa inggris diajarkan pila sebagai alat utama untuk mempelajari ilmu pengetahuan atau sains. Saat ini, kedua bahasa tersebut mutlak diperlukan sebagai alat komunikasi dunia. Dari uraian tersebut diatas, sebagai besar pesantren mulai melakukan banyak perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi merupakan upaya untuk merespon kebutuhan masyarakat. Dengan tanpa kehilangan identitas asli sebagai subkultur, pesantren mulai menata dan mereformasi komponen pendidikan yang telah lama mentradisi selama berabad-abad. Pada perkembangan selanjutnya, sejak 20-30 tahun yang lalu, sebagai akibat tantangan yang semakin gencar dari perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi, maka kini sudah menjadi pemandangan sehari-hari bahwa didalam pesantren telah diselenggarakan jenis pendidikan formal yaitu madrasah dan sekolah umum yang mempelajari ilmu-ilmu umum. Sumber belajar pun telah berkembang dengan luar biasa, tidak hanya terbatas pada kitab-kitab kuning yang

bercorak fikih-sufistik saja, tetapi telah berkembang pula pelajaranpelajaran filsafat lengkap dengan cabang keilmuannya.55 Dewasa ini, pondok pesantren merupakan lembaga gabungan antara system klasikal dan non klasikal, disamping masih terdapat pondok pesantren dengan sifatnya yang murni non klasikal, atau dengan kata lain merupakan suatu proses penyesuaian dari sistem pendidikan asli Indonesia dengan system pendidikan Barat.56 Pondok pesantren yang memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pesantren memiliki tipe dimana:
a. Para santri belajar belajar dan bertempat tinggal bersama-sama

dengan dengan guru (kyai). b. Mempunyai madrasah untuk belajar pendidikan modern seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah atau Perguruan tinggi
c. Memiliki kurikulum tertentu d. Pengajaran dari kyai hanya aplikasi stadium general, pengajaran

pokok terletak pada madrasah yang didirikan
e. Kyai memberikan pelajarannya secara umum kepada para santri

dalam waktu yang telah di tentukan
f. Para santri yang belajar kepada sang kyai yang bertempat tinggal di

sekitar rumah kyai, disamping mendapat mendapat pengetahuan umum maupun agama di Madrasah
55

Malik M Thaha Tuanaya dkk,Modernisasi Pesantren (Jakarta:Balai Penelitian Pengembangan Agama,2007),207 56 Win Usuluddin,Sintesis Pendidikan Islam Asia-Afrika (Yogyakarta:Paradigma,2002),52

dan

g.

Para santri belajar di madrasah-madrasah atau sekolah-sekola umum

h. Fungsi kyai hanya sebagai supervisor dan Pembina mental.

Pondok pesantren pada saat ini merupakan lembaga gabungan antara sistem pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan sistem bandungan, sorogan dengan para santri kalong yang dalam istilah pendidikan pondok pesantren modern memenuhi kriteria pendidikan non formal serta formal dan sekolah umum dan aneka kejuruan menurut kebutuhan masyarakat masing-masing.57

57

Hasbullah,Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta:PT. Raja Grafindo persada,1999),46

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kancah atau lapangan (grounded reseach).58 Karena penelitian ini dilakukan secara langsung dilapangan, yaitu di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang. Adapun landasan teori yang ditulis dalam skripsi penelitian ini lebih berfungsi untuk menunjukkan seberapa jauh peneliti memiliki teori dan memahami permasalahan yang akan diteliti. Walaupun permasalahan tersebut masih bersifat sementara. Sehingga peneliti kualitatif dituntut untuk melakukan grounded reseach, yaitu menemukan teori berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan atau situasi social.59 Dalam bahasan ini penulis ingin mengetahui konsep, metode dan hasil serta wujud dari akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Sehingga pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif historis.60 Menurut van61, survei merupakan bagian dari studi deskriptif yang bertujuan untuk mencari kedudukan (status) fenomena (gejala) dan menentukan kesamaan status dengan cara membndingkanya dengan standar yang sudah ditentukan.
58

Suharsimi arikunto,prosedur penelitian suatu pendekatan praktek (Jakarta:Rieneka cipta,2006),10. 59 Sugiyono, metode penelitian kuantitatif kualitatif R&D (Bandung:Alfabeta,2009),214. 60 Arikunto,prosedur penelitian suatu pendekatan praktek, 82. 61 Arikunto, metode, 113.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, karena peneliti ingin memahami wujud akulturasi model pendidikan salafi dengan model pendidikan modern ala pesatren yang diterapkan di Pondok Pesantren Mifathul Ulum. Yaitu mengenai model pendidikan. Penelitian ini menggunakan data atau informasi dari pihak-pihak yang bersangkutan. Oleh karena itu, teori yang digunakan adalah teori Bogdan dan Tailer 62. Adapun definisi penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Maka, menurut mereka pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara Holistik (utuh). Penelitian ini juga berusaha memberikan gambaran selengkapnya tentang penjelasan lain yang diambil dari buku-buku maupun jurnal ilmiah lainnya. Dengan demikian akan diperoleh gambaran yang utuh berikut keterkaitannya dengan kajian lainnya. Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pertimbangan-

pertimbangan sebagai berikut: 1. Cukup meneliti satu unit kecil tetapi menggunakan variabel-variabel dan kondisi-kondisi yang hasilnya merupakan gambaran lengkap untuk unit atau instansi yang sama atau serupa secara umum. 2. Penelitian studi kasus sangat berguna untuk informasi latar belakang guna perencanaan penelitian yang lebih besar dalam ilmu-ilmu sosial karena studi yang demikian itu intensif sifatnya, menerangi variabel-variabel yang penting, proses dan interaksi-interaksi yang memerlukan perhatian yang lebih
62

lexy moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:remaja rosdakarya, 2008),4.

luas. Penelitian kasus itu merintis dasar kasus baru dan seringkali menjadi sumber hipotesis-hipotesis skripsi untuk penelitian lebih jauh. 3. Dapat memberi informasi penting mengenai hubungan variabel serta prosesproses yang memerlukan penjelasan dan pemahaman yang lebih luas. 4. Bersifat luwes berkenaan dengan metode pengumpulan data yang digunakan, praktis, murah, bergantung pada jangkauan penyelidikan dan tipe teknik pengumpulan data yang digunakan. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka penelitian ini menggunakan penelitian studi kasus tunggal dengan model mikroetnografi, karena penelitian ini mempunyai latar subyek pada satu tempat kejadian B. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum berlokasi Jl. Tunjungan No. 4. Lokasi penelitian ini dipilih dengan pertimbangan:
1. Pondok Pesantren

Miftahul Ulum secara geografis diapit oleh oleh dua

pondok pesantren di Desa Pandanwangi yaitu pondok pesantren Darul Ulum dan pondok pesantren salafiyah syafi’iyah. Sungguhpun demikian Pondok Pesantren Miftahul Ulum tetap eksis dan tumbuh berkembang baik secara kualitas maupun kuantitasnta.
2. Semenjak tahun 2006 Pondok Pesantren Miftahul Ulum ditinggal wafat oleh

pendiri KH. Abdul Mujib Husnan. Mulai saat itu estafet kepemimpinan pondok pesantren dilanjutkan oleh ky. Idris Husnan. Dari pengamatan peneliti, ada perkembangan yang signifikan terutama terkait dengan dengan pendidikan pesantren.

a. Sejarah Pondok Pesantren Miftahul Ulum

Perintis Pondok Pesantren Miftahul Ulum adalah seorang yang terkenal dengan kearifannya, kespiritualannya dan kemahirannya tentang ilmu-ilmu ajaran Islam. Ia adalah KH. Abdul mujib Husnan, lahir di desa Pandanwangi Kec. Tempeh Kab. Lumajang pada tanggal 03 Mei 1950 dari pasangangan bapak Abdul Khofi dan Ny. Astina63. Pondok Pesantren Miftahul Ulum sebuah nama yang memang diambil dari sebuah pondok pesantren Wonorejo tempat Ia menimba ilmu. Pondok Pesantren Miftahul Ulum resmi didirikan secara resmi sekitar tahun 1993 yang berada di desa pandanwangi64. Kyai Abdul Mujib merupakan ulama’ kharismatik yang memiliki jangkuan luas dari berbagai bidang kehidupan. Kyai Abdul Mujib adalah sosok multidimensi yang memiliki beragam aktivitas mulai dari pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, guru Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Miftahul Ulum serta bekerja sebagai seorang petani. Semasa hidupnya almarhum kyai Abdul Mujib rajin mengisi diberbagai forum pangajian, seminar, bahtsul masail hingga menerima tamu dari berbagai masyarakat yang berkunjung kerumahnya65. Kyai Abdul Mujib sejak kecil terlihat tanda-tanda keistimewaanya. Sejak kecil, ia sudah mulai belajar membaca Al-Qur’an dengan orang tuanya. Kyai mujib merupakan seorang anak yang cerdas dan memiliki semangat yang tinggi dalam belajar. Sehingga beliau sekolah di sekolah
63 64

Bahrul Ulum,wawancara, Pondok Pesantren Miftahul Ulum, 19 maret 2012 Ulum,wawancara,19 maret 2012 65 Idris Husnan,wawancara,pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, 21 april 2012

madrasah ibtida’iyah Nahdlatul ‘Ulama’ Nurul Islam yang tak jauh dari rumahnya yang berada di Desa sumbergentong. Ia lulus madrasah ibtida’iyah tahun 1964. Kemudian Ia melanjutkan ke Madarasah tsanawiyah di Pondok Pesanntren Miftahul Ulum Wonorejo. Ia lulus Tsanawiyah tahun 1967 kemudian melanjutkan sekolah ke madrasah Aliyah Miftahul Ulum Wonorejo. Ia lulus sekolah tahun 197066. Faktor kegigihan membuatnya menjadi orang yang banyak dikagumi oleh masyarakat, baik karena wawasan ilmunya yang luas juga karena kearifan serta kebijaksanaanya dalam memecahkan berbagai macam permasalahan yang ada di masyarakat. Sehingga banyak orang tua yang menitipkan anaknya kepada kyai Abd. Mujib agar mereka diajari mengaji serta memperdalam beberapa ajaran agama Islam, dengan harapan ketika dewasa nanti mereka memiliki kepribadian serta wawasan yang luas. Sekitar tahun 1974 kyai H. Mujib melangsungkan pernikahan dengan Ny. Hj. Tirani Asal Pandanwangi Tempeh, dari pernikahan tersebut dikaruniai 2 orang anak. 1 putra dan 1 putri. Yaitu; Muhammad Idris67 dan siti Masruroh.68
b. Perkembangan Pondok Pesantren Miftahul Ulum

Pada awal berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Ulum berlokasi diatas sebidang tanah belantara yang sempit, terletak dibagian selatan desa Pandanwangi, tanah tersebut merupakan wakaf dari keluarga yang berasal

66 67

Husnan,wawancara,21 April 2012 Putra pertama ini sebagai penerus dan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum sepeninggal wafat KH. Abdul Mujib pada tahun 2006. 68 Husnan,wawancara, 21 april 2012

dekat dari lokasi pondok. Walaupun tempat ini jauh dari keramaian kota tetapi Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini menyediakan fasilitas.69 Antusiasme kyai Mujib Husnan mendirikan pesantren dengan

pertimbangan yang cukup matang serta melalui hasil musyawarah baik bersama tetangga sekitar dan terutama bersama keluarga besar kyai mujib. Disamping itu berdirinya pondok pesantren ini yaitu adanya dorongan dari masyarakat sekitar dan kebutuhan dari lingkungan yang pada saat itu masyarakat di desa pandanwangi termasuk masik dikatakan dengan masyarakat awam, sehingga kyai mujib husnan memiliki inisiatif untuk mendirikan pondok pesantren. Sebelum di dirikannya Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini masih berbentuk sebuah mushalla atau surau, sehingga santri yang ingin ingin mengaji bersama kyai mujib datang ke mushalla tersebut.70 Maka pada akhirnya, cita-cita kyai Mujib Husnan menjadi lebih kuat. Pada tahun 1993, kyai Mujib mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam dari sebidang tanah. Jumlah santri pada waktu itu sekitar 15 orang, sedangkan asrama yang di tempati oleh mereka berbentuk cangkruk yakni kamar-kamar yang sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu yang waktu itu berjumlah 9 kamar .71 Sekitar tahun 1995 ibu Mina mewakafkan tanahnya seluas 680,000 da. Dan dibangunlah pesantren putri. Dalam perkembangannya, untuk menunjang program dan

pengembangan pondok pesantren, kyai Mujib Husnan membentuk sebuah
69 70

Husnan,wawancara, 21 April 2012 Husnan,wawancara, 21 April 2012 71 Ulum,wawancara,21 April 2012

wadah yang strategis. Ia mengumpulkan warga desa Pandanwangi dan wali santri dan guru. Diadakannya musyawarah ini dengan maksud untuk meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan pesantren, madrasah, pengurus dan para guru.72 Secara sistematis sejarah perkembangan Pondok Pesantren Miftahul Ulum dapat dilihat dari uraian dibawah ini: 1.Tahun 1966 berdirinya Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Ulum 2.Tahun 1986 berdirinya Madrasah Tsanawiyah Mifatahul Ulum
3. 4.

Tahun 1993 berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Ulum Tahun 1993 berdirinya Madrasah Diniyah

5.Tahun 2007 berdirinya Madrasah Qur’an Demikianlah perkembangan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, yang mana dalam perkembangannya santri datang dengan sendirinya ke pesantren ini tanpa ada brosur ataupun spanduk yang dipasang dijalanjalan, tapi karena beberapa hal, diantaranya73:
a) Kewibawaan yang dimiliki oleh kyai pendiri karena ke-kharismanya

b) Tenaga pengajar di pondok ini rata-rata menjadi tokoh masyarakat. Dalam kesehariaannya, mereka sering memberikan pengajian di lingkungannya, sehingga ketika diketahui bahwa ia menjadi tenaga pengajar di pondok ini maka masyarakat sekitar berbondong-bondong untuk memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren Miftahul Ulu.

72 73

Harun Ar-rosyid,wawancara,alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum 18 April 2012 Fathullah Jamil,wawancara, pengurus yayasan bidang pendidikan 23 April 2012

c) Model pendidikan dan pengajaran di ppndok ini sama persis dengan model pendidikan dan pengajaran yang sudah maju. Dan bahkan samapai sekarang jumlah santri di pondok ini telah mencapai 378 santri. Dalam perkembanngannya pondok ini tidak pernah menyebarkan brosur ataupun memasangkan spanduk sebagaimana halnya yangd dilakukan oleh lembaga pendidikan pada umumnya. Hal ini juga karena prinsip idealisme mereka.
c. Model Pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Ulum

Pondok Pesantren Miftahul Ulum masih dikatakan dengan pondok pesantren salafiyah. Model pembelajaran yang digunakan untuk mentransfer ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Ulum dengan

menggunakan model bandhongan, sorogan dan wetonan. Dan sistem pembelajarannya nonklasikal. Problema dan tantangan pendidikan pesantren seiring dengan arus modernisasi yang semakin hari semakin kuat, secara perlahan tapi pasti model pendidikan ala pondok pesantren kurang diminati oleh masyarakat sekitar sehingga di Pondok Pesantren Miftahul Ulum tidak hanya

menggunakan sistem dan model tradisional dengan sistem pembelajaran nonklasikal tapi Pondok Pesantren Miftahul Ulum disini juga

menggunakan sistem dan model modern dengan sistem pembelajaran klasikal yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk menghadapi tantangan global dan modernisasi didalam dunia pendidikan, Kyai Idris selaku pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum

memiliki alternatif untuk memasukkan kegiatan madrasah diniyah ke dalam kegiatan sekolah formal. Jadi Pondok Pesantren Miftahul Ulum tidak hanya menggunakan model pendidikan salaf yang berupa bandhongan, sorogan dan wetonan dengan sistem pembelajaran

nonklasikal tetapi juga menggunakan model pendidikan modern yang berupa metode ceramah, penugasan,drill dan strategi pembelajaran yang dibutuhkan dengan sistem pembelajaran klasikal.
d. Visi Pondok Pesantren Miftahul Ulum

Visi pondok ini adalah:74 Menjadikan pondok pesantren sebagai pusat keilmuan yang mempersiapkan dan mengembangkan sumber daya insani berhias iman dan taqwa. Yang tentunya semua itu tetap mengarah kepada “ Miftahul Ulum yang unggul dan populis”.
e. Misi Pondok Pesantren Miftahul Ulum

Misi Pondok Pesantren Miftahul Ulum yaitu Menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi mutu baik secara keilmuan maupun secara moral sehingga tercipta sumber daya insan yang mufaqqih fiddin dan berlandaskan iman dan taqwa.
f. Jadwal kegiatan santri

Dalam proses pengembangan pondok pesantren, lingkungan memiliki peranan yang sangat penting, oleh karena itu lingkungan harus dirancang secara sistematis. Santri diwajibkan tinggal di asrama dengan
74

Serba serbi singkat pp. Mftahul ulum, Pandanwangi 2011.

menempati kamar kamar yang telah ditentukan, dan untuk menciptakan lingkungan yang conditioning, kegiatan santri selama 24 jam diatur dan diprogram dengan kegiatan-kegiatan yang produktif dan kondusif. Jadwal kegiatan santri di Pondok Pesantren Miftahul Ulum diatur dan dirancang berdasarkan ketetapan hasil musyawaroh asatid dan pengrus pesantren. Jadwal kegiatan santri ini dapat berubah apabila terdapat perubahan dalam waktu shalatataupun karena adanya suatu kegiatan yang mengakibatkan kondisi pesantren yang tidak sesuai dengan jadwal kegiatan santri yang ada. Adapun jadwal kegiatan santri tersebut berupa: TABEL 3 Jadwal Kegiatan Santri Pondok Pesantren Miftahul Ulum

Pandanwangi Tempeh Lumajang75 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Waktu 03.00-04.00 04.00-04.30 04.30-05.00 05.00-05.30 05.30-06.00 06.00-07.00 07.00-08.00 08.00-13.00 13.00-14.00 Kegiatan Shalat tahajjud Shalat subuh Ngaji al-quran Ngaji kitab fathul mu’in Ngaji kitab fathul qorib Persiapan masuk kelas Keterangan Mushalla Mushalla Mushalla dan depan kamar Mushalla dan aula Mushalla dan aula Kamar mandi dan dapur

(makan,mandi Madrasah diniyah Kelas Madrasah formal Kelas Shalat dhuhur, makan Mushalla dan dapur siang Istirahat Kamar Shalat ashar Mushalla Ngaji tafsir jalalaini dan Mushalla, aula dan kamar diskusi kitab Kegiatan ekstrakurikuler Pesantren

10. 14.00-14.30 11. 14.30-15.00 12. 15.00-16.00 13. 16.00-17.15
75

Sumber: Dokumentasi staf pengasuhan Pondok Pesantren Miftahul Ulum

14. 15. 16. 17. 18. 19.

17.15-17.45 17.45-18.00 18.00-19.00 19.00-19.30 19.30-21.00 21.00-21.30

Shalat Magrib Makan malam Ngaji Al-quran Shalat Isyak Diniyah Ngaji kitab mukhtarul ahadist Belajar malam

Mushalla Dapur Mushalla dan kamar Mushalla Mushalla dan kamar Mushalla dan aula Mushalla dan kamar

20. 21.30-22.00

Khusus pada hari jum’at dan hari minggu ngaji kitab Ta’limul muta’allim dan Tanbihul Ghofilin, sabtu ngaji kitab Irsyadul ‘ibad dan Ta’limul Muta’alim. Sedangkan khusus hari kamis setelah melaksanakan sholat magrib membaca tahlil dan manaqib dan sesudah sholat isyak kegiatan ekstrakurikuler yang berupa muhadarah (latihan pidato) dan diba’iyah. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan untuk melatih mental keterampilan organisasi dan juga merupakan ajang perkenalan, karena dalam setiap kelompok yang bertugas terdapat siswa dari sekolah menengah dan menengah keatas. Santri yang menghafal al-quran diberi keringanan untuk bisa datang terlambat ketika ngaji pagi sudah di mulai apa bila kegiatan setoran masih belum selesai. Adapun untuk meningkatkan kesehatan para santri, setiap hari jum’at dan sabtu pagi diadakan kegiatan senam bersama yang digilir antar kamar untuk menjadi pemandu senam. g. Keadaan Pengajar dan Santri 1. Keadaan pengajar Tenaga pengajar di Pondok Pesantren Miftahul Ulum terdiri dari 2 komponen, yaitu: pengajar yang menetap dipondok dan pengajar yang

tidak menetap di pondok76. Pengajar yang tidak menetap di pondok adalah mereka yang datang ke pondok apabila ada jam mengajar atau ada kegiatan- kegiatan formal yang harus mereka hadiri. Pengajar yanng tidak menetap rata-rata sudah berkeluarga dan juga mengajar di lembaga lain. Pengajar yang menetap di pondok adalah pengajar yang berada di pondok selama 24 jam, selain sebagai pengajar mereka juga menjadi pembimbing dalam semua kegiatan dan aktivitas pondok yang berjalan diluar kelas. Mereka rata-rata telah mengenyam pendidikan selama 6 tahun di Pondok Pesantren Miftahul Ulum77. Adapun jumlah pengajar yang tidak menetap (31 orang) daripada jumlah pengajar yang menetap (8 orang) 78. Dengan demikian, mengingat bahwa pembentukaan kepribadian santri dan juga perkembangan Pondok Pesantren miftahul lebih banyak dibentuk dari tenaga pengajar yang menetap, maka kualitas pengajar yang menetap juga perlu diperhatikan. Adapun usaha yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Miftahul Ulum dalam mengantisipasi ini adalah mereka mendapatkan pendidikan jenjang Tingkat Tinggi secara gratis, dengan bekerja sama dengan sekolah tinggi yang ada di sekitar Lumajang. Selain itu untuk meningkatkan keterampilan, mereka juga sering mengikuti beberapa training yang berada di luar pondok pesantren. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas merekadan juga sebagai

76 77

Misbahul Munir, wawancara, Pondok Pesantren Miftahul Ulum. 22 mei 2012. Ibid. 78 Data statistik Pondok Pesantren Miftahul Ulum 2011-2012.

balasan atas keikhlasan mereka dalam membantu proses pengembangan pondok pesantren. Adapun jumlah tenaga pengajar jika dilihat dari segi tingkatan mereka adalah sebagai berikut: Tabel 4 Jumlah tenaga pengajar di Pondok Pesantren Miftahul Ulum 2011-201279 No. Ijazah tertinggi 1. Program magister (S2) 2. Strata Satu (S1) 3. SLTA JUMLAH 2. Keadaan Santri Jumlah 1 18 20 39

Adapun komunitas masyarakat di desa ini rata-rata mengenyam pendidikan sampai tingkat tinggi. Kebanyakan dari mereka setelah tamat dari sekolah dasar atau tingkat tsanawiyah langsung melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi80. Komunitas santri dalam pondok ini rata-rata adalah penduduk Tempeh dan luar Tempeh dan dari desa. Maka jika dilihat dari komunitas masyarakat yang ada dapat dikatakan bahwa santri yang tinggal dalam pesantren tersebut rata-rata memiliki tingkat kemauan belajar yang sangat tinggi81. Adapun jumlah santri berdasarkan klasifikasi Zamarkhsyari Dhofier, yang membagi dalam 2 kelompok, yaitu santri mukim dan santri kalong.

79 80

Sumber: data statistik Pondok Pesantren Miftahul Ulum 2011-2012. Misbahul Munir,wawancara, Pondok Pesantren Miftahul Ulum, 22 mei 2012. 81 Ibid.

a)

Santri mukim yaitu, santri yang berasal dari daerah jauh dan

menetap dalam Pondok Pesantren. Santri mukim yang lama di Pesantren biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari, mereka juga memikul tanggung jawab mengajar sanntri muda tentang kitab dasar.
b)

Santri kalong, yaitu santri yang berasal dari desa di

sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren. Untuk mengikuti pelajarannya di pesantren mereka bolak balik dari rumahnya mereka sendiri82. Tabel 5 Rekapitulasi Santri Pondok Pesantren Miftahul Uum83 NO. JENIS SANTRI 1. Santri Mukim 2. Santri Kalong Jumlah h. Sarana dan prasarana 1. Pondok Putri a) Mushalla b) Dapur c) 9 Ruang kamar santriwati d) 1 Ruang kamar pengurus dan ustadzah e) Koperasi f) 1 kamar mandi santriwati
82 83

JUMLAH 142 236 378

KETERANGAN Semua Santri Putra-putri

Zamarkhasyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 51-52 Sumber: Data Statistik Pondok Pesantren Miftahul Ulum 2011-2012.

g) 1 kamar mandi ustadzah dan pengurus h) 3 wc i) 2 tempat jemuran j) 1 sumur k) 1 unit alat pompa air l) Kantor 2. Pondok Putra a. Musholla b. Dapur c. 10 ruang kamar santri d. 1 kamar ustadz dan pengurus e. Koperasi f. 2 kamar mandi santri g. 1 kamar mandi ustad dan pengurus h. 3 wc i. 1 jemuran j. 1 sumur k. 1 unit alat pompa air l. Kantor 3. Umum a. 12 ruang kelas b. Lapangan olah raga c. 1 tempat foto copy

d. Ruang tamu e. 3 ruang guru f. 3 ruang tata usaha g. 3 perpustakaan h. Aula pertemuan i. 3 kamar mandi j. 3 tempat parkir
i. Organisasi Pondok Pesantren Miftahul Ulum

Bagan 1 Struktur Organisasi Pondok Pesantren Miftahul Ulum84 PELINDUNG KEPALA DESA PANDANWANGI

KETUA YAYASAN Ky. Muhammad Idris, S.Ag., MA.

SEKRETARIS Sugianto

BENDAHARA Hj. Damhuji

SARPRAS HJ. Abdul Hannan Khofi

PENDIDIKAN Hj. Fathullah Jamil

PENGEMBANGAN SDM Pandi, S.Pd.I

HUMAS Sholehuddin, S.Pd.I

84

Sumber: data statistik Pondok Pesantren Miftahul Ulum tahun 2011-2012

LEMBAGA PENDIDIKAN

TK

MI

MTs

MA

MADIN

PONPES

MQ

TPQ

Keterangan : = Garis Komando -------------------------------- = Garis Kordinasi C. Subyek Penelitian Dalam penelitian ini, penentuan informan dilakukan secara purposif sampling.85 Adapun informannya meliputi:
1.

Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pengurus yayasan Pengurus pesantren Usatid/ dewan guru Santri Kementrian agama

2. 3. 4. 5. 6.

Informan dalam penelitian ini data atau orang memberikan informasi atau keterangan yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian. Informan ditentukan secara purposif oleh peneliti dilakukan atas dasar pertimbangan, yaitu subyek yang dipilih hendaknya mampu memberikan informasi seluas mungkin mengenai focus penelitian.

85

Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,139.

Pada orang yang diwawancarai secara purposif86, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Hasil penelitian tidak akan digeneralisasikan ke populasi karena pengambilan sample tidak diambil secara random. Hasil penelitian dengan metode kualitatif hanya berlaku pada kasus situasi sosial tersebut. Hasil penelitian itu dapat diterapkan ke situasi sosial lain apabila situasi sosial lain tersebut memliki kemiripan atau kesamaan dengan situasi sosial yang diteliti. Informan dalam penelitian ini adalah seseorang yang memberikan informasi atau keterangan yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian, dalam hal ini adalah ky. Idris Husnan (Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum), ustad Bahrul Ulum (selaku ketua pondok pesantren), ustad Ahmad Efendi (selaku guru tugasan), ustad Misbahul Munir (selaku kepala madrasah diniyah pondok pesantren). D. Teknik Pengumpulan Data Dalam setiap penelitian ilmiah diperlukan adanya data yang relevan dengan persoalan yang dihadapi, karena kualitas data juga ditentukan oleh kualitas alat pengambilan/pengukurannya. Oleh karena itu, adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Observasi Adapun jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipan. “Observasi partisipan adalah observasi di mana orang yang mengadakan pengamatan berperan serta ikut ambil bagian dalam kehidupan orang yang diobservasinya”.
86

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&B (Bandung, alfabeta:2009), 216.

Pertimbangan yang ada dalam penggunaan metode observasi ini adalah sebagai berikut: a. Dapat memudahkan terhadap pengumpulan data cukup banyak dengan pelaksanaannya yang cukup teratur. b. Dapat melaksanakan pengamatan secara bebas dan tidak terikat dengan waktu. c. Banyak keinginan penting yang tidak bisa diperoleh dengan metode lain kecuali dengan metode observasi. Data yang ingin diraih dari metode observasi ini sebagai berikut: 1. Letak lokasi penelitian 2. Situasi dan kondisi obyek penelitian
3. Mengetahui proses belajar mengajar Pondok Pesantren Miftahul

Ulum
4. Mengetahui sistem pembelajaran yang diterapkan di Pondok

Pesantren Miftahul Ulum. Sedangkan prosedur pelaksanaan dalam metode observasi ini adalah sebagai berikut: a) Mengadakan peninjauan lokasi yang akan digunakan sebagai

tempat observasi. b) Menyusun pedoman observasi yang sesuai dengan masalah

yang akan dijadikan scop penelitian. c) Mengadakan observasi secara langsung terhadap peristiwa

obyek penelitian serta mencatat hasil yang diperoleh.

d)

Mengklasifikasikan hasil observasi sesuai dengan jenisnya.

Hal ini untuk membuktikan apakah benar akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pesantren Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pandanwangi Lumajang. 2. Wawancara Metode interview adalah suatu metode yang di lakukan secara sistematis yang berlandaskan pada penyelidikan. Dalam interview ini, penginterview membawa kerangka-kerangka pertanyaan yang akan diajukan kepada interviwer, tetapi yang dilakuakan harus sesuai dengan situasi yang ada. Berdasarkan pendapat di atas, maka metode interview dalam penelitian ini adalah menggunakan interview bebas terpimpin. Adapun sumber pertimbangan dari penggunaan metode interview dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a.Metode ini bersifat fleksibel, sehingga bahan-bahan pertanyaan dapat dengan mudah diinformasikan dan lebih obyektif. b. Adapun kepemimpinan dan kekeluargaan, sehingga

pertanyaan yang diajukan dapat diarahkan kepada permasalahan yang lebih bersifat positif dan dinamis. c.Bisa berhadapan langsung antara interviewer dengan intervios, sehingga terjadi interaksi yang akrab dan secara keseluruhan nampak lebih komonikatif. Data yang ingin diraih dari metode interview ini sebagai berikut:

1.

Keadaan geografis Pondok Pesantren Miftahul Ulum

2. Sejarah berdiri dan berkembangnya Pondok Pesantren Miftahul

Ulum
3. Materi yang disampaikan dalam proses belajar mengajar Pondok

Pesantren Miftahul Ulum
4. Upaya yang dilakukan Pondok Pesantren Miftahul Ulum dalam

pembinaan pendidikan. 5. Untuk mengetahui bagaimana wujud akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pesantren tahun 2011/2012 3. Dokumentasi Dalam sebuah penelitian metode dokumentasi dapat diartikan sebagai metode penelitian untuk memperoleh keterangan-keterangan atau informasi-informasi yang berasal dari peristiwa masa lalu. Metode dokumentasi adalah: “tehnik mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya”87. Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode dokumentasi dalam sebuah penelitian khususnya dalam metode pengumpulan data-data, informasi-informasi dan keterangan-keterangan yang diperlukan dalam sebuh penelitian adalah sebagai berikut:
a.

Denah Pondok Pesantren Miftahul Ulum

87

Suharsimi arikunto.2002.206

b. Struktur organisasi dan kepengurusan Pondok Pesantren Miftahul

Ulum tahun 2011/2012
c. Ustadz dan ustadzah (guru) Pondok Pesantren Miftahul Ulum

pembelajaran tahun 2011/2012
d. Time schedule Pondok Pesantren Miftahul Ulum tahun 2011/2011

Di samping beberapa hal di atas tentang penggunaan metode dokumenter, ada pula pertimbangan yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan metode dokumenter tersebut, yaitu: 1. Dapat digunakan sebagai koreksi terhadap suatu kebenaran dari metode observasi dan metode interview. 2. Dapat dijadikan sebagai alat untuk memperoleh informasi masa lalu yang sudah didokumentasikan dan sulit untuk diperoleh dengan metode yang lain. 3. Dapat dijadikan sebagai pertimbangan antara yang ada dengan kegiatan yang sekarang terjadi dalam pelaksanaan akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pesantren tahun 2011/2012

5. ANALISIS DATA Dalam menentukan metode Analisa data yang akan digunakan adalah model miles dan huberman88 yaitu aktifitas dalam analisis data kualitatif

dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Aktifitas dalam analisis data,yaitu data reduction, data
88

Sugiyono, Metode Kuantitatif Kualitatif, 246.

display dan conclusion. Hal ini digunakan karena proses menganalisa data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data. Data reduction (reduksi data). Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Display data (penyajian data). Setelah data direduksi maka selanjutnya mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitaif penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flow chart dan sejenisnya. Dalam hal ini Miles dan Huberman menyatakan bahwa yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Conclusion/verivication (Kesimpulan). Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles atau Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kulitatif merupakan penemuan baru yang sebelumnya belum pernsh ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran sesuatu obyek yang sebelumnaya masih gelap. Sehingga setelah dilakukan penelitian menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori. 6. KEABSAHAN DATA

Cara pengujian kredibilitas data, dalam penelitian ini menggunakan metode triangulasi data. Triangulasi ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu89. Namun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini hanya pada trinagulasi sumber. Karena pengecekan data dilakukan denagn cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber dilapangan. Hal ini dilakukan dengan cara: a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara b. Membandingkan apa yang dikatakan pengelola dan pengguna c. Membandingkan hasil wawancara dengan dokumen. 7. TAHAP PENELITIAN Bagian ini menguraikan rencana pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebanarnya sampai pada tahap penulisan laporan90. Tahapan penelitian ini dilakukan melalui 3 tahap. Pertama, orientasi; kedua, tahap pengumpulan data (lapangan) atau tahap eksplorasi; dan ketiga, tahap analisis dan penafsiran data. Ketiga langkah yaitu ada tiga tahapan pokok dalam penelitian kualitatif, yakni: 1. Tahap pra lapangan, 2. Tahap kegiatan lapangan, dan 3. Tahap analisis intensif.

89 90

Sugiyono, Metode Penelitian, 273. Tim Penyusun, Pedoman penulisan karya (Jember:STAIN,2011).68

Ilmiyah makalah, proposal dan skripsi.

Bogdan dan Tailor yang dikutip Moleong91 mengemukakan bahwa prosedur pertama ialah mengetahui sesuatu tentang apa yang belum diketahui, tahap ini dikenal dengan tahap orientasi yang bertujuan untuk memperoleh gambaran yang tepat tentang latar penelitian. Tahap kedua adalah tahap eksplorasi fokus, pada tahap ini mulai memasuki proses pengumpulan data, yaitu cara-cara yang digunakan dalam pengumpulan data. Dan tahap ketiga adalah rencana tentang teknik yang digunakan untuk melakukan pengecekan dan pemeriksaan keabsahan data. Adapun tahap penelitian yang dilakukan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pandanwangi, pertama adalah orientasi yaitu mengunjungi lokasi penelitian di Pondok Pesantren Miftahul Ulum untuk mencari tahu gambaran umum yang tepat pada latar penelitian. Pada tahap ini (orientasi kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah ; mohon ijin pada pengasuh, menentukan lokasi/ latar penelitian, merancang usulan penelitian, menentukan subyek dan informan penelitian, menyiapkan kelengkapan penelitian, mendiskusikan rencana penelitian. Kedua adalah eksplorasi focus yaitu setelah mengadakan orientasi pada lokasi penelitian, kegiatan yang dilakukan peneliti adalah pengumpulan data dengan cara : wawancara dengan pengsuh pondok pesantren, pengurus yayasan pondok pesantren, pengurus pondok pesantren, pengajar/ asatidz dan santri. Mengkaji dokumen dan observasi pada kegiatan; rapat pesantren, kegiatan kurikuler dan kegiatan keagamaan, guru dan karyawan.

91

Ibid., 127

Ketiga adalah tahap pengecekan dan pemeriksaan keabsahan data. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan peneliti adalah mengadakan pengecekan data pada subyek informan atau dokumen untuk membuktikan validitas data yang diperoleh. Pada tahap ini dilakukan reduksi data yang diberikan oleh subyek maupun informan, agar dalam pelaporan hasil penelitian memperoleh derajat kepercayaan yang tinggi. Dalam hal ini peneliti melakukan kegiatan; Ketekunan pengamatan, Triangulasi, Diskusi dengan rekan sejawat, Menggunakan refrensi. Untuk lebih jelasnya tentang metode penelitian ini dapat dilihat pada matrik berikut: TABEL 6 MATRIK KEGIATAN PENELITIAN NO Prosedur Penelitian a. Mohon ijin kepada Pengasuh b. Menentukan lokasi/latar penelitian c. Merancang usulan penelitian d. Menentukan subyek dan informan penelitian 1 Orientasi e. Menyiapkan kelengkapan penelitian f. Mendiskusikan rencana penelitian Kegiatan Peneltian

a. Wawancara 1. Wawancara dengan Pengasuh Pondok 2. Wawancara dengan kepala Pondok
3. Wawancara dengan pengajar/Ustadz

Pengkajian dokumen 2 Pengumpulan 1. data 2. 3. 4. 5. AD/ART Pondok Pesantren Ketetapan/Keputusan Pengasuh Majalah Pondok Buku administrasi Pesantren Profil Pondok Pesantren

3

Pengecekan keabsahan data

Ketekunan pengamatan Trianggulasi Diskusi teman sejawat

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. PENYAJIAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Konsep Model Pendidikan Salaf Dengan Model Pendidikan Modern ala

Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pondok Pesantren Miftahul Ulum adalah pendidikan Islam yang masih menggunakan model pendidikan salaf atau dapat dikatakan dengan model pendidikan tradisional. Disamping itu Pondok Pesantren Miftahul Ulum juga menerapkan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Seperti yang dikatakan oleh kyai Idris Husnan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum: “Saat ini, banyak pembaharuan-pembaharuan yang terjadi dalam dunia pendidikan terutama dalam pendidikan pesantren. Sehingga persaingan dalam dunia pendidikan sangat ketat sekali. Jadi banyak masyarakat yang memilih pendidikan ke sekolah umum. Karena asumsi mereka sekolah umum memberikan peluanng lebih banyak dibandingkan dengan pendidikan ala pondok pesantren salaf ketika mereka sudah lulus nanti. Secara berlahan tapi pasti model pendidikan ala pondok pesantren salaf kurang diminati oleh generasi muda zaman sekarang”.92 Adanya pembaharuan yang terjadi dalam dunia pendidikan pesantren, mengakibatkan banyak perubahan-perubahan yang terjadi, terutama dalam sistem, metode dan model pendidikan pondok pesantren. Maka pesantren Miftahul Ulum disini tidak hanya menggunakan metode bandhongan, wetonan dan sorogan tapi juga dengan menggunakan metodemetode dan strategi-strategi modern yang disesuaikan dengan kebutuhan

92

Idris Husnan,wawancara, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, 21 April 2012

pendidikan dijaman sekarang seperti the power of two, ceramah, drill dan lain sebagainya. Seperti yang dikatakan oleh kyai Idris selaku pengasuh: “Metode yang saya gunakan di pondok pesantren ini adalah metode yang tradisional seperti bandhongan, wetonan dan sorogan. Tapi jika hanya menggunakan metode itu saja untuk sekarang amsih kurang cukup efektif dan efisien melihat persaingan dalam dunia pendidikan saat ini sangat ketat sekali. Sehingga saya punya inisiatif untuk memadukan metode tradisional dengan metode modern ala pondok pesantren dengan berpegang teguh pada sebuah prinsip dasar yaitu almuhafadhotu ‘ala alqadimi assholih wal akhdu ‘ala aljadidil ashlah dengan tujuan agar anak didik kami nantinya bisa menjadi ulama’ yang intelektual dan intelektual ulam”.93 Dengan berpegang teguh pada sebuah prinsip dasar tersebut Pondok Pesantren Miftahul Ulum tidak hanya menggunakan model pendidikan salaf saja tetapi Pondok Pesantren Miftahul Ulum tersebut memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren mifathul ulum untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien seperti yang diinginkan. Konsep dasar yang dilakukan dalam pengembangan pendidikan Miftahul Ulum menganut faham perpaduan antara model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren, dengan memasukkan mata pelajaran diniyah kedalam mata pelajaran umum dengan cara mengurangi jam-jam pelajaran agama yang direkomendasi depag kemudian dialokasikan pada mata pelajaran-pelajaran diniyah yang diajarkan di pesantren. Hal tersebut dipicu oleh kenyataan bahwa kebanyakan siswa yang tidak mukim di pesantren tidak memahami secara

93

Husnan,wawancara, 21 April 2012

mendalam tentang keilmuan yang berbasiskan agama sementara lembaga pendidikannya berbasis agama. Konsep yang dilakukan oleh pondok pesantren disini dalam melakukan pengklasifikasian kelas diniyah yang dipadukan dengan mata pelajaran umum yaitu tidak mengenal kelas yang ada di sekolah formal tetapi dilihat dari kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa atau siswi dalam memahami ilmu agama secara utuh baik siswa atau siswi yang bermukim di pondok pesantren atau tidak bermukim di pondok pesantren. Seperti yang dikatakan oleh Misbahul Munir kepala madrasah diniyah miftahul ulum: “Dalam kegiatan diniyah disini dulu sebelum dimasukkan dalam kegiatan formal hanya diwajibkan bagi santri yang mukim saja. Tetapi setelah dimasukkan dalam kegiatan formal maka kegiatan madrasah diniyah ini diwajibkan bagi seluruh santri yang bermukim maupun tidak bermukim dipondok pesantren. Sehingga untuk menentukan kelas bagi seluruh siswa maupun siswi yang mengikuti kegiatan diniyah ini dilihat dari kemampuan yang dimiliki dalam bidang agama secara utuh. Walaupun siswa tersbut dikelas formal sudah kelas atas tapi kemampuan dibidang agamanya dikatakan masih kurang maka siswa tersebut dimasukkan kekelas yang sesuai dengan kemampuan siswa tersebut”.94 Tabel 6 Mata Pelajaran Lanjutan Pondok Pesantren Miftahul Ulum95
No. 1. Mata pelajaran Fiqih Tauhid Nahwu Tarikh Kelas I Mubadi’ul fiqih juz 1 Aqidatul Awam Khulashoh juz 1 II Mubadi’ul fiqih juz 2 Aqidatul Islamiyah Awamil Khulasho juz 2 III Mubadi’ul fiqih juz 3 Jawahirul kalamiyah Jurmiyah Khulashoh juz 3

IV As-sullam Imriti -

94 95

Misbahul munir,wawancara, Kepala Madrasah Diniyah PP. Miftahul Ulum, 22 April 2012 Sumber: pusat informasi pondok pesantren Miftahul Ulum

Dengan adanya perpaduan model pendidikan disini memiliki tujuan agar semua siswa dan siswi baik yang bermukim maupun tidak bermukim di pondok pesantren bisa mendapat mata pelajaran agama yang seimbang dengan mata pelajaran umum sesuai dengan harapan bersama antara masyarakat, pengasuh lebih-lebih wali murid.
B. Pelaksanaan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala

Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pelaksanaan pendidikan salaf yang menggunakan metode

bandhongan, wetonan dan sorogan dilakukan didalam lingkup pesantren yang wajib diikuti oleh semua santri yang bermukim di pondok pesantren. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh pengasuh dan astidz yang ada di pondok pesantren Miftahul Ulum. Untuk santri yang tidak bermukim di pondok pesantren hanya mengikuti kegiatan diniyah yang dimasukkan dalam kurikulum madrasah yang berada dibawah naungan kementrian agama dan juga kegiatan formal berupa sekolah madrasah dengan materi pembelajaran umum. yang berada dibawah naungan pondok pesantren. Sedangkan santri yang bermukim di pondok pesantren disamping mengikuti kegiatan pembelajaran formal juga mengikuti kegiatan pembelajaran nonformal yang berupa kegiatan Majlis Taklim dan bahsul masail yang ada dalam pondok pesantren. Untuk mengetahui seberapa jauh santri dalam memahami materi yang telah diberikan pondok pesantren miftahul ulum mengadakan evaluasi yang dilakukan dalam 1 minggu sekali untuk pengajian yanag menggunakan

metode bandhongan, sorogan dan wetonan. Seperti pengajian fathul qorib (taqrib), evaluasi yang dilakukan oleh kyai atau ustad untuk mengetahui pemahaman santri dalam pengajian kitab tersebut dilakukan evaluasi dalam waktu seminggu sekali. Sedangkan kegiatan diniyah yang menggunakan model kalsikal yang saat ini oleh pondok pesantren miftahul ulum dimasukkan dalam kurikulum madrasah formal itu dilakukan evaluasi per semester. Dalam artian evaluasi untuk madrasah diniyah itu disamakan dengan evaluasi yang dilakukan oleh madrasah formal yang berada dibawah naungan kementrian agama. Di Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini disamping diberikan materi yang menggunakan refrensi kitab kuning disini juga dimasukkanya pembelajaran Al-Qur’an dengan pelaksanaan pembelajarannya dengan menggunakan menggunakan model pembelajaran yang berupa metode sorogan, bandhongan, dan hafalan. Bagi santri yang ingin menghafalkan al-Quran maka diwajibkan untuk menetap di pondok pesantren karena di pondok pesantren di adakan materi pembelajaran al-quran yang lebih intensif lagi apalagi siswa atau siswi yang ingin memeperdalam ilmu alquran atau dan menghafal alquran. Tetapi bagi santri yang tidak bermukim di pondok pesantren dijarkan materi tatcara membaca al-Quran atau dapat dikatakan dengan materi ilmu tajwid. Seperti yang dikatakan oleh ustad Baharul Ulum kepala Pondok Pesantren Miftahul Ulum: “disini ini, dalam pelaksanaan pembelajaran alquran kebanyakan dari para ustad menggunakan model lama atau model tradisional,

menurut para asatidz yang mengajar metode tradisional masih dikatakan efektif untuk mengajarkan ilmu alquran apalagi bagi santri yang mengahfal alquran. Santri yang ingin menghafal alquran diwajibkan untuk tinggal di pesantren untuk mempermudah pengawasan para asatid. Pembelajaran yang dimasukkan dalam kurikulum yaitu seperti materi tajwid, terkadang para asatidz menggunakan model pembelajaran tradisional tetapi pada waktu tertentu saja karena kalau hanya menggunakan model tradisional maka pembelajaran dirasa kurang efektif sehingga para asatidz menggabungkan model pendidikan tradisional dengan model pendidikan modern.96 Melihat realita yang ada didalam masyarakat sekitar Pondok Pesantren Miftahul Ulum yang banyak memilih pendidikan umum dibanding dengan pendidikan yang berada dibawah naungannya pondok maka pondok pesantren miftahul mencoba untuk membuka diri dengan memadukan mata pelajaran agama dengan mata pelajaran umum dengan pelaksanaan pendidikan madrasah diniyah tidak lagi berada dilingkup pesantren tetapi kegiatan diniyah disini letakkan dalam kegiatan formal seperti yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Dalam pelaksanaan ini tidak hanya santri yang bermukim saja tetapi santri yang tidak bermukim di pondok pesantren juga diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ini. Dalam kegiatan pembelajaran tidak semua santri mampu mengampu mata pelajaran agama yang diajarkan dalam kegiatan diniyah apalagi santri yang tidak bermukim di pondok pesantren sehingga dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren seperti memasukkan kegiatan madrasah diniyah kedalam kegiatan sekolah formal yaitu dengan adanya tes lisan maupun tes tulis dengan tujuan untuk
96

Ulum,wawancara, 19 maret 2012

mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa sehingga para asatidz lebih mudah dalam mengklasifikasi kelas sesuai masing-masing siswa. Seperti yang dikatakan oleh Misbahul Miunir kepala madrasah diniyah: “Setiap siswa yang masuk di lembaga ini memiliki latar belakang yang berbeda. Ada yang memang berasal dari pendidikan agama, ada juga yang sama sekali tidak mengenal agama. Sehingga kami untuk mengatasi masalah tersebut mengadakan sebuah tes untuk mengetahui kemampuan masing-masing siswa. Walaupun siswa tersebut di sekolah formal duduk dikelas paling tinggi tetapi mata pelajaran agama kurang menguasai jadi kami meletakkan siswa tersebut dikelas bawah sesuai dengan kemampuan anaknya”.97 Disamping adanya tes yang dilakukan dalam kegiatan diniyah yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah formal, pelaksanaan kegiatan yang memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren yaitu pelaksanaan kegiatan madrasah diniyah mengurangi jam mata pelajaran pendidikan agama Islam yang ada dalam kurikulum sekolah formal. Dalam perpaduan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren, tidak cukup dilakukan pada waktu pagi hari yang bersamaan dengan sekolah formal, tetapi pondok pesantren mengadakan kegiatan diniyah lanjutan (follow up) yang diklasifikasikan sesuai dengan bakat dan minat santri. Kegiatan ini wajib diikuti oleh santri yang bermukim di pondok pesantren tetapi bagi santri yang tidak bermukim di pondok pesantren yang ingin menambah wawasan dalam bidang agama juga bisa mengikuti kegiatan tersebut. Pelaksanaan kegiatan yang ada di pondok pesantren mifathul ulum diklasifikasikan menjadi empat kelas yaitu
97

Munir,wawancara,22 April 2012

kelas nahwu, fiqih, tauhid dan tarekh yang disesuaikan dengan minat dan bakat yang dimiliki oleh santri seperti yang dikatakan oleh kyai Idris Husnan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum: “Malam hari juga ada diniyah yang tempatnya ada di lingkungan pondok pesantren, tetapi mata pelajaran yang diberikan kepada santri itu hanya empat mata pelajaran saja. Dalam kegiatan ini santri diklasifikasikan sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki oleh santri. Jika santri suka mata pelajaran fiqih maka santri masuk dikelas fiqih dan begitu seterusnya. Tujuannya agar santri jika lulus dari pondok nanti bisa mengamalkan ilmu yang didapat ketika masih di pondok”.98 Pada kegiatan pembelajaran yang menggunakan sistem pengajian klasik para santri diklasifikasikan secara alami dalam arti tidak diformalisasikan dengan menggunakan tes penempatan berdasarkan kemampuannya. Kitab kuning yang menjadi rujukan utamanya dikelompokkan berdasarkan pertimbangan tingkat kemudahan dan kesulitan dalam mempelajarinya kedalam tiga tingkatan: “kitab kecil” atau kitab-kitab dasar, “kitab sedang” atau kitab tingkat menengah, dan “kitab besar” atau kitab untuk tingkat tinggi. Bagi santri yang baru termasuk pada tingkatan kecil yang di bimbing oleh ustad yang mengampu materi kitab tersebut. Kemudaian setelah bisa mempelajarinya santri naik pada materi kitab sedang. Pada santri yang termasuk pada tingkatan kitab sedang itu mendapat artian dari kiai kemudian membaca dari artian tersebut di depan asatid. Bagi santri yang temasuk pada kitab tingkat tinggi itu mengaji langsung dihadapan kiai.99 Metode yang digunakan dalam penngajian ini dengan menggunakan sistem

98 99

Husnan,wawancara,21 april 2012 Maksudnya, santri yang sudah mengaji kitab tinggi mendapat artian dari kiai dan membaca artian yang sudah didapat dihadapan kiai.sedangkan kitab yang digunakan meggunakan kitab kuning. Ulum,wawancara, 19 mei 2012.

sorogan, bandongan, weton dan hafalan. Pelaksanaannya berada di musholla dan di depan kamar santri bagi santri putra dan bagi santri putri berada di aula dan di depan kamar santri. Pengajian yang dilakukan secara klasikal disini kiai atau ustad sebagai pengampu mata pelajaran yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah itu menggunakan sistem yang sudah disesuaikan dengan kurikulum yang berjalan sesuai dengan ketentuan kemenag. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu tidak lagi bandongan tetapi menggunakan metode ceramah, diskusi dan metode serta strategi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan meteri yang akan disampaikan.100 Bagi kegiatan ini pelaksanaannya berada di sekolah masing-masing. Seperti di Madrasah Aliyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah Ibtida’iyah. Di Pondok Pesantren Miftahul Ulum walaupun sudah memasukkan model-model pendidikan modern dalam kegiatan pondok pesantren, tetapi Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini masih dikenal dengan model pendidikan salaf karena di pondok pesantren ini sistem pembelajaran salafnya masih di gunakan seperti bandhongan, sorogan dan wetonan. Dalam kegiatan pengajian kitab kuning dan diskusi kitab yang dipimpin langsung oleh kyai dan asatidz yang sudah senior. Pelaksanaannya dilakukan di lingkungan pondok pesantren. Dimana kyai atau asatidz mengartikan kitab dan menjelaskan kepada santri, setelah itu santri memabaca satu persatu dihadapan kyai atau asatidz. Kyai atau asatidz mendengarkan dan membenahi bacaan jika ada yang salah dan kurang
100

Efendi,wawancara, ustad tugasan dari pondok pesantren beladu 29 April 2012.

dalam pemaknaan dan pembacaan kitab. Di Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini pelaksanaan pendidikannya tidak hanya menggunakan model pendidikan tradisional tetapi pelaksanaan pendidikan yang ada di pondok pesantren ini juga menggunakan model penddikan modern ala pondok pesantren.
C. Wujud akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern

ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Tantangan dunia Islam dirasakan semakin komplek. Kemajuan teknologi dan komunikasi yang demikian pesat berdampak pada perilaku, etika dan moral manusia. Seperti halnya yang dikatakan oleh kyai Idris Husnan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum: “zaman semakin hari semakin modern. Persaingan dalam dunia pendidikan sangat ketat. Apalagi dalam pendidikan Islam. Saya merasakan saat banyak perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan terutama pendidikan pesantren, sehingga untuk menjawab tantangan global yang terjadi saat ini maka pesantren juga harus mengadakan perubahan dalam sistem dan model pendidikan. Mungkin dengan adanya perubahan tersebut pesantren dapat menjawab tantangan globalisasi dan modernisasi yang terjadi dalam dunia pendidikan”.101 Model pendidikan yang dikembangkan di pesantren menggunakan model pendidikan salaf untuk mencetak generasi yang ahli agama. Maka materi yang diberikan pun lebih banyak dan masih fokus pada kajian kitabkitab salaf secara mendalam. Sementara materi umum tak banyak

diberikan,”lulus tidaknya, juga masih sangat bergantung pada sosok kyai”.102
101 102

Husnan,wawancara, 21 April 2012 Abdul manaf,wawancara,salah satu ustad yang mengajar di Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, 23 April 2012

Seiring perkembangan zaman, sambung guru sejarah MA. Miftahul Ulum Pandanwangi ini. Sistem pendidikan di pesantren mulai di ubah. Baik pada metode pengajaran maupun sistem penilaiannya. “tingkat

pembelajaran di pesantren sudah harus bisa diukur”, katanya.103 “Maka untuk mengikuti materi tertentu, santri diharuskan mengikuti materi prasyarat dulu untuk mengikuti materi kejenjang selanjutnya”, tambahnya.104 Di Pondok Pesantren Miftahul Ulum mulai menghubungkan dan memadukan antara metode pembelajaran di pesantren dengan model pendidikan umum. Para santri tidak lagi hanya diajari materi agama tapi juga diajarkan materi umum. Seperti Bahasa Inggris, Aqidah, Fiqih, Matematika, Fisika, dan lain sebagainya. Di pondok pesantren ini tidak hanya menggunakan pendidikan tradisional atau klasik tetapi juga menggunakan pendidikan modern. Untuk melaksanakan kegiatan pesantren yang memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren. Pondok pesantren ini mencoba memasukkan materi diniyah kedalam kurikulum sekolah umum. Perpaduan model pendidikan salaf dengan model modern ala pondok pesantren yang melahirkan sebuah madrasah ini dengan tujuan agar santri yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Ulum yang ada dibawah naungan yayasan miftahul bisa mendapatkan ilmu agama dan ilmu umum. Jadi tidak hanya santri yang mukim saja yang mendapatkan ilmu agama
103 104

Manaf,wawancara, 23 April 2012 Manaf,wawancara, 23 April 2012

seperti materi diniyah tetapi santri yang tidak bermukim pun juga bisa mendaptkan ilmu agama seperti materi diniyah. Sehingga Pondok Pesantren Miftahul Ulum disini memiliki inisiatif untuk memasukkan materi diniyah kedalam kurikulum pendidikan umum. Perpaduan antara model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren melahirkan sebuah Madrasah. Bagi pesantren sendiri, dengan adanya madrasah yang didalamnya memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren dengan kurikulum pelajaran agama Islam dan pelajaran umum. Ini merupakan konsekuensi logis, karena masyarakat masih mementingkan ijazah yang bisa di buat untuk ke perguruan tinggi manapun. jadi pendidikan madrasah diniyah yang dulu hanya didapatkan oleh santri yang bermukim tapi sekarang untuk menjawab tantangan global yang yang ada dalam lini pendidikan maka Pondok Pesantren Miftahul Ulum memasukkan materi diniyah dalam kurikulum pendidikan umum sehingga santri yang tidak bermukim juga bisa mendapatkan materi diniyah yang didalamnya terdapat materi agama Islam secara penuh.

B. PEMBAHASAN DAN ANALISIS TEMUAN 1.

Konsep model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern

ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Di Pondok Pesantren Miftahul Ulum model pendidikan yang digunakan tidak hanya menggunakan model pendidikan tradisional (salaf)

tetapi juga menggunakan model pendidikan modern ala pondok pesantren, dengan memadukan kedua model tersebut. Materi yang disampaikan dalam pesantren yang menggunakan model pendidikan tardisional (salaf) seperti Alqur’an, nahwu, sharraf, ilmu mantiq, ilmu falaq, ushul fiqih dan materi yang dipelajari dengan menggunakan kitab kuning atau juga disebut dengan kitab-kitab klasik. Untuk mengajarkan kitab-kitab klasik tersebut seorang kiai menempuh metode: weton,sorogan, bandongan dan hafalan. Dikhususkan bagi santri yang bermukim di Pondok Pesantren Miftahul Ulum diwajibkan untuk mengikuti pengajian yang didalamnya menggunakan kitab kuning, sedangkan model pendidikan yang dipakai dalam mengkaji kitab kuning tersebut dengan menggunakan model pendidikan tradisional. Di pondok ini, dalam mendiskusikan masalah agama menggunakan kitab kuning sebagai bahan kajian diskusi. Sistem individual dalam sistem pendidikan pesantren ini disebut sistem sorogan yang diberikan dalam pengajian kepada murid yang menguasai pembacaan Quran. Metode utama sistem pengajaran di lingkungan pesantren ialah sistem bandongan atau sering disebut juga dengan sistem weton.105 Pelaksanaan sistem pengajaran wetonan ini adalah sebagai berikut:kiai membaca sesuatu kitab dalam waktu tertentu, dan santri membawa kitab yang sama, kemudian mendengarkan dan menyimak tentangbacaan kiai tersebut. Sistim pengajaran yang demikian seolah-olah

105

Dhofier,tradisi pesantren,54.

sistim bebas; sebab absensi santri tidak ada, santri boleh datang boleh tidak, tidak ada sistem kenaikan kelas.106 Pelaksanaan sistem pengajaran sorogan/ bandhongan merupakan: santri yang pandai men-sorog-kan sebuah kitab kepada kyai untuk dibaca dihadapan kyai. Dan kalau ada yang salah dibetulkan oleh kyai.107 Gambar 1 Pola pembelajaran sorogan108
Materi Santri Kiai/Ustad

Gambar 2 Pola pembelajaran wetonan/bandhongan109
Materi Kiai/Ustad Santri

Pengembangan pembelajaran terkait erat dengan dengan pola-pola pembelajaran yang dijalankan dan dikembangkan oleh ustad atau guru. Pengembangan pembelajaran dimaksudkan agar pola-pola itu bersifat rasional, memnuhi akuntabilitas sebagaimana yang dimasudkan dalam akuntabilitas sebagaimana yang dimaksud oleh konsep total quality management.110

106

Abd. Rachman Shaleh dkk,Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren (Jakarta: Depertemen Agama RI 1985),11. 107 Shaleh dkk, Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren,11 108 Abd. Mukti Bisri dkk,pengembangan metodologi pembelajaran,90. 109 Abd. Mukti Bisri dkk,pengembangan metodologi pembelajaran,90 110 Total quality management dalam proses pembelajaran artinya: seorang ustad atau guru dalam menjalankan fungsinya baik dalam kerangka manajemen kelas (dimana ustadz bekerja sebagai teacher manager) maupun dalam kerangka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (dimana ustadz /guru berperan sebagai teacher operator) dengan artian pembelajaran yang memenui kualitas standart, mulai dari desain pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai hasil-hasil pembelajaran. Abd. Mukti Bisri dkk,pengembangan metodologi pembelajaran (Jakarta: Departemen Agama RI,2002),88.

Masuknya peradaban Barat ke Indonesia melalui kaum penjajah Belanda banyak mempengaruhi corak dan pandangan Indonesia, termasuk dalam dunia pendidikan sehingga dengan demikian timbul upaya-upaya pembaruan dalam dunia pendidikan Islam. Sistem klasikal mulai diterapkan dan mata pelajaran umum mulai diajarkan.111 Dalam menjalankan fungsi dan peranannya yang luas baik di dalam pondok pesantren sendiri maupun didalam kegiatan pondok pesantren tercakup dalam “Tri dharma pondok pesantren” seperti; pertama, keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah subhanahu wataala; kedua, pengembangan keilmuan yang bermanfaat; ketiga, pengabdian terhadap agama masyarakat dan negara.112 Seperti halnya di Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini yang mencoba untuk menjawab tantangan global yang terjadi dalam lini pendidikan terutama pendidikan pesantren. Konsep yang sudah ada di Pondok Pesantren Miftahul Ulum mulai disesuaikan dengan konsep modern yang saat telah masuk dalam lingkungan pendidikan pesantren Miftahul Ulum. Pembelajaran yang lebih maju dan terencana, pembelajaran yang menggunakan bantuan mendia: Gambar 3 Pembelajaran dengan bantuan media113.
Materi Ustadz santri dengan dan 111 media metod Putra Daulay,Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, 72. 112 Shaleh dkk, Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren,14 e Tujuan
113

Abd. Mukti Bisri dkk,pengembangan metodologi pembelajaran,90.

Gambar 4 Pembelajaran dimana Ustadz dan Media pada peran Posisi yang Sama114.
Tujuan Materi dan Metode Ustadz dengan media santri Ustadz media

Di masa lalu Pondok Pesantren Miftahul Ulum hanya menggunakan konsep pendidikan salaf untuk mengajarkan ilmu kepada para santri, tetapi setelah adanya globalisasi yang ada dalam lini pendidikan maka pesantren miftahul ulum juga menggunakan konsep pendidikan barat yang tidak hanya menggunakan pedidikan tradisional tetapi juga meggunakan pendidikan modern. Konsep sistem pendidikan pesantren salafiah selalu menekankan pada pembelajaran kitab kuning, ilmu mantiq dan balaghah. Sedangkan konsep sistem pendidikan pesantren khalafiah atau modern merupakan sistem pendidikan agama yang juga menyediakan berbagai keterampilan kepada para santri dan santriwati. Gambar 5 Pola pembelajaran media dan sumber belajar115.
Ustadz Materi media dan 114 Abd. Mukti Bisri dkk,pengembangan metodologi pembelajaran,91. metode Tujuan
115

santri

Abd. Mukti Bisri dkk,pengembangan metodologi pembelajaran,91

Gambar 6 Pola pembelajaran dengan balikan dan evaluasi116.
Ustad saja

Tujuan

Materi dan metode

Ustad dengan media Ustad media saja

santri

Rangkaian gambar diatas pada hakikatnya merupakan proses evolusi konseptual dan paradigmatik pembelajaran, mulai dari dari pola pembelajaran yang konvensional hingga yang lebih maju dan modern.117 Pendidikan pesantren dalam menghadapi era globalisasi, meskipun pada awalnya dunia pesantren terlihat enggan dan rikuh dalam menerima perubahan, sehingga tercipta kesenjangan antara pesantren dengan dunia luar. Tetapi secara gradual pondok pesantren kemudian melakukan akomodasi dan konsesi tertentu untuk kemudian menemukan pola yang dipandangnya cukup tepat guna menghadapi perubahan yang kian cepat dan berdampak luas. Respon pondok pesantren terhadap perkembangan tersebut salah satunya dengan diterapkannya pendidikan berbasis kompetensi, yang diharapkan bisa membekali santri dengan berbagai kemampuan sesuai

116 117

Bisri,pengembangan metodologipembelajaran,91 Bisri,pengembangan metodologipembelajaran,91

dengan tuntutan zaman. Terutama berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Menyadari hal tersebut maka pengembangan model pendidikan yang harus dikembangkan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum adalah sebuah model pendidikan yang berbasis kompetensi. Pendidikan yang dikelola oleh pondok pesantren mifatahul ulum mempunyai tugas untuk mengembangkan skill, knowledge dan ability terhadap santri, dengan mengembangkan komponen-komponen pendidikan yang ada baik dari segi metode, media, materi, sumber belajar maupun tenaga edukatifnya.
2. Pelaksanaan model pendidikan salaf dengan model pendidikan mderen

ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum Tantangan terhadap pendidikan pesantren kembali terjadi pada masa kemerdekaan, yang justru terasa lebih berat. Pada masa itu tantangan muncul dengan terjadi ekspansi pendidikan modern dan madrasah modern, sehingga terdapat banyak pilihan pendidikan bagi anak-anak muslim, yaitu sekolah-sekolah umum, madrasah-madrasah modern, sekolah-sekolah Islam yang didirikan oleh organisasi-organisasi umum dan juga tentunya pesantren dengan madrasah didalamnya. Respon pesantren berhadapan dengan modernisasi pendidikan, lebih banyak berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan trnsformasi kelembagaan pesantren menjadi lembaga pendidikan modern, tetapi cenderung memperhatikan kebijaksanaan hati-hati yaitu pesantren dalam

menerima pembaharuan, tetapi hanya dalam skala yang terbatas, sebatas mampu menjamin pesantren dapat bertahan. Di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, menyikapi tantangan modernisasi dengan melaksanakan berbagai perubahan berkaitan dengan sistem pendidikan, kurikulum, materi, dan metode pembelajaran serta sistem evaluasi. Pondok Pesantren Miftahul Ulum inilah yang

menyelenggarakan sistem pendiidkan madrasah dan kurikulum sesuai dengan yang ditentukan oleh kementrian agama. Di Pondok Pesantren Miftahul Ulum inilah selain menyelenggarakan sistem pendidikan madrasah, juga melaksanakan sistem pendidikan umum. Dengan

memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren. Kegiatan yang dilakukan dalam lingkungan pondok pesantren kiai tau asatidz mengagunakan metode tradisional bandhongan, wetonan dan sorogan. Pengajian dengan sistem sorogan pelaksanaannya dapat seperti

digambarkan sebagai berikut:
a.

Santri berkumpul ditempat pengajian sesuai dengan waktu

yang ditentukan dengan masing-masing membawa kitab yang hendak diaji.
b.

Seorang santri yang mendapatkan giliran menghadap

langsung secara tatap muka kepada gurunya. Ia membuka bagian yang akan diaji dan meletakkannya di atas meja yang telah tersedia didepan kyai atau asatidz.

c.

Kyai atau ustadz membacakan teks dalam kitab itu, baik

sambil melihat maupun serta hafalan, dan kemudian memberikan artinya dengan menggunakan bahasa melayu atau bahasa daerahnya. Panjang atau pendeknya yang dibaca sangat bervariasi, tergantung perkiraan guru terhadap kemampuan santri.
d.

Santri dengan tekun mendengarkan apa yang dibacakan kyai

atau ustadz, dan mencocokkannya dengan kitab yang dibawanya dengan melakukan pemberian harakat (syakal) dan menuliskan arti setiap kata yang ada dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah langsung bawah setiap kata Arab dengan menggunakan huruf Arab pegon dengan berbagai pertambahannya, untuk disesuaikan dengan susunan kata dalam bahasa pengantar.
e.

Santri menirukan kembali apa yang dibacakan kyai atau

ustadnya secara sama.
f.

Kyai atau ustadz mendengarkan dengan tekun pula apa yang santrinya sambil melakukan koreksi-koreksi

dibacakan seperlunya.118

Untuk mengevaluasi kemapuan para santri dalam pembelajaran dengan menggunakan metode sorogan biasanya santri disuruh membaca dan menerjemah teks yang telah disampaikan oleh ustadz pada pertemuan yang lalu. Pembacaan yang dilakukakan oleh santri apakah sudah benar dalam arti sesuai dengan aturan tata bahasa Arab baik pada tingkat kata maupun pada tingkat kedudukan suatu kata dalam struktur kalimat (nahwu)
118

Maksun,Pola Pembelajaran di pondok pesantren (Jakarta: Departemen Agama RI,2001),75.

atau masih belum sesuai, santri mampu menunjukkan kedudukan suatu kata dengan menggunakan ucapan simbolik tertentu melalui pola terjemahan kata demi kata disertai pelafalan simbol atau tanda oleh santri. Dan pemahaman terhadap teks yang telah dibaca dalam bentuk uraian penjelasan atau kandungan teks setelah seorang santri menyelesaikan pembacaan sekian kalimat atau sekian paragraf.119 Untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode bandhongan yaitu seorang kyai atau ustadz dapat memulai pelajaran dengan membaca teks Arab gundul kata demi kata disertai dengan terjemahannya dan pembacaan tanda-tanda khusus.120 Pada topik atau pasal tertentu disertai pula dengan penjelasan dan keterangan-keterangan. Pada pembelajaran tingkat tinggi, seorang kyai atau ustadz terkadang tidak langsung membaca dan menerjemahkan. Ia terkadang menunjuk secara bergiliran kepada para santrinya untuk membaca dan menerjemahkan sekaligus menerangkan suatu teks tertentu. Setelah menyelesaikan pembacaan pada batasan tertentu, seorang kyai atau ustadz memberi kesempatan kepada para santri untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas.121 Untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran tersebut seorang kyai/ustadz biasa melakukan melalui dua macam tes. Pertama, pada setiap tatap muka atau pada tatap muka tertentu. Kedua, pada saat telah dikhatamkan pengkajian terhadap suatu kitab tertentu.122

119 120

Maksun,Pola Pembelajaran di pondok pesantren,85. Seperti=”utawi”, “iku”, “sopo” dan lain sebagainya. 121 Ibid,90. 122 Ibid,91.

Pelaksanaan model pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Ulum juga menggukan model pendidikan klasikal yang memasukkan materi agama kedalam kurikulum sekolah. Sehingga metode yang digunakan juga tidakhanya menggunakan metode bandhongan, wetonan mapun sorogan tetapi juga menggunakan metode-metode yang sering digunakan dalam sekolah-sekolah umum. Metode pendidikan yang dipakai dalam model pendidikan modern ala pondok pesantren Miftahul Ulum menggunakan metode-metode pengajaran yang berkembang saat ini seperti: Metode ceramah, diskusi, demonstrasi dan peragaan, metode tanya jawab dan metode yang berkembang saat ini. Untuk mengevalusi hasil belajar santri yaitu diadakanya ujian blok atau biasa dikatakan dengan ujian semester.

3. Wujud akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan

modern ala pondok pesantren Seiring dengan perkembangan zaman, dunia pendidikan semakin mengalami semakin mengalami kamajuan yang sangat pesat, hal ini ditandai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih yang kemudian memberikan dampak bagi pendidikan lainnya terutama lembaga pendidikan pesantren. Dalam merespon kemajuan pendidikan terutama dalam bidang teknologi, pesantren miftahul ulum mulai melakukan perubahan-perubahan dengan tidak menghilangkan ruh dan tujuan pendidikan pesantren tersebut. Diantaranya mengadopsi kurikulum pendidikan umum yang

dikombinasikan dengan pendidikan yang telah ada sebelumnya, yang memadukan pendidikan formal dan pendidikan non-formal. Melihat kondisi seperti ini sebagian pesantren mulai menerapkan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah didalam pendidikan formal, seperti adanya standar kelulusan, ijazah, memasukkan kurikulum umum dengan mendirikan sekolah dalam pesantren. Menurut Zamakhsyari Dhofier awal-awal perubahan memang masih sederhana dan langkah bertahap sangat penting dan sudah dimulai dari tahun 1910 dimana pesanntren-pesantren (antara lain pesantren Denanyar di Jombang) mulai membuka pondok untuk murid-murid wanita. Dalam tahun 1920-an beberapa pesantren (antara lain Pesantren Tebuireng di Jombang dan Pesantren Singosari di Malang) mulai mengajarkan pelajaran umum seperti bahasa Indonesia, bahasa Belanda, berhitung bumi dan sejarah.123 Pondok Pesantren Miftahul Ulum dalam mengahadapi kemajuan teknologi dan pembaharuan-pembaharuan dalam lini pendidikan dengan memadukan model pendidika salaf dengan model pendidikan modern ala pesantren yang melahirkan sebuah Madrasah, yang didalamnya mempelajari pelajaran-pelajaran agama dan pendidikan umum. Adanya pembaharuan yang masuk dalam lini pendidikan terutama pendidikan pesantren yang mana pesantren didlamnya menganut sistem pembelajaran secara tradisional dan pelajaran yang diberikan kepada santri berupa kitab kuning yang didalamnya tanpa menggunakan harokat atau biasa disebut dengan kitab

123

Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren (Jakarta:LP3ES,2011),edisi revisi,72.

gundul, Pesantren sangat menekan pentingnya mempelajari ilmu-ilmu keislaman (al-tafaqquh fi al-din) dari pada ilmu-ilmu lain. Setelah pembaharuan hadir dalam dunia pendidikan terutama pendidikan pesantren sehingga pesantren miftahul ulum dalam mengahadapi pembahruan tersebut dengan memasukkan model klasikal, dengan memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren mifathul ulum yang melahirkan sebuah madrasah. Didalamnya tidak hanya mempelajari ilmu agama yang berasal dari kitab kuning atau kitab gundul tetapi para santri juga diajarin pelajaran umum seperti matematika fisika kimia. Masyarakat yang beranggapan bahwa tidak cukup jika anak mereka hany mondok disebuah lembaga keagamaan seperti pesantren karena pesantren tidak dapat memberikan sebuah ijazah formal. Dengan adanya anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa ijazah formal itu sangat dibutuhkan sehingga pesantren menggunakan sistem klasikal dalam bentuk madrsah yang berada dibawah naungan Kementrian Agama. Sistem pendidikan madrasah atau pesantren yang memang secara tradisional merupakan kelembagaan pendidikan asli pesantren, juga dimodernisasi. Sistem pendidikan modern pertama kali, pada gilirannya mempengaruhi sistem pendidikan pesantren, diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda.124

124

Walid, Napak Tilas Kepemimpinan KH. ACH. Muzakky Syah (Yogyakarta:Absolute Media,2010),43.

Menurut Mujamil Qomar lembaga-lembaga pendidikan umum seperti SD, SMP, Dan SMA tersebut terus berkembang, bahkan semakin mendapat dukungan dari masyarakat santri yang memiliki keterikatan moral dengan pesantren. Mereka ingin agar putra-putrinya belajar ngaji di pesantren sekaligus dapat mengikuti pendidikan di SD, SLTP dan SMU didalamnya, lantaran cara demikian lebih memberikan jaminan kebutuhan pribadi santri.125 Munculnya sekolah yang didirikan pemerintah kolonial Belanda ini tentu merupakan tantangan terhadap eksistensi dan kelangsungan hidup pesantren.126 Sampai saat ini lembaga pendidikan pesantren ternyata tetap survive dengan segala kemajuan dan pembaharuannya.127 Dapat dilihat dibanyak pesantren terutama pondok pesantren Miftahul Ulum, selain tetap dengan ketradisionalannya, juga melakukan diversifikasi dengan

membentuk lembaga formal klasikalmulai tingkat paling dasar sampai perguruan tinggi yang berada dibawah Depertemen Agama. Untuk menjaga eksistensi pesantren miftahul ulum agar tetap survive dalam mengahadapi modernisasi dalam lini pendidikan pesantren perlu adanya perpaduan antara model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren. Dalam perspektif pesantren Miftahul Ulum, sistem yang digunakan adalah sistem terpadu (Integrated system) yaitu sistem pesantren (sistem

125

Mujamil Qomar,Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju demokratisasi Institusi (Jakarta:erlangga),98. 126 Ahmad Zahro,Tradisi Inteletual NU (Yogyakarta:LkiS,2004),28. 127 Ibid,29

pendidikan tradisional) dan sistem madrasah dan sekolah (sistem pendidikan modern). Dikatakan sistem pesantren karena memiliki kriteriakriteria khusus sebagai pesantren, ia memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan antara komponen yang satu dengan komponen yang lainnya. Menurut Zamakhsyari Dhofier komponen-komponen yang dimiliki oleh sistem pesantren seperti pondok, kyai, santri, masjid, pengajaran kitab kuning.128 Sedangkan Madrasah dan sekolah dikatakan sebuah sistem karena didalamnya terdapat komponen-komponen pendidikan pada pada umumnya, seperti subjek didik (pendidik dan peserta didik), objek didik (peserta didik), kurikulum metode, tujuan pendidikan dan pelaksanaan pembelajaran atau proses belajar mengajar dilakukan didalam kelas (gedung sekolah) sehingga orang menyebutnya sistem klasikal atau sistem pendidikann modern.129 Tabel 7 Kitab kuning yang dipelajari di pondok pesantren Miftahul Ulum130 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.
128 129

Nama Kitab Al-Quran Ta’lim Mutaallim Tanbihul Ghofilin Irsyadul I’bad Fathul Mu’in Fathul Qorib Tafsir jalalain Jawahirul kalamiyah Aqidah Islamiyah Aqidah Islamiyah Nadhomul Maqsud

Fannul kitab Al-Quran Akhlaq Fiqih Fiqih Tafsir Tauhid Tauhid Tauhid Shorrof

Muallif Syekh Zarnuji Syekh Zainuddin Syekh suja’ Syekh Jalaludin Syekh Thohir -

Dhofier,Tradisi Pesantren, 78-88 Abd. Ghofur,pendidikan anak pengungsi model pengembangan pendidikan di Pesantren bagi anak-anak pengungsi (Malang:UIN MALANG PRESS,2009),23. 130 Sumber: Pusat informasi pondok pesantren Miftahul Ulum tahun 2011-2012.

12. 13. 14. 15.

Mabadi’ul Fiqih Amsilatul Tashrifiah Risalatul Fiqh Assullam

Fiqih Shorrof Fiqih Fiqih

-

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Dari beberapa kajian sebelumnya, maka dapt disimpulkan bahwa:
1. Konsep Model pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Miftahul

Ulum

menggunakan

model

pendidikan

salaf

dengan

metode

Bandhongan, sorogan dan wetonan. Disamping itu pondok pesantren miftahul ulum juga menggunakan model pendidikan modern ala pondok pesantren dengan metode yang sudah berkembang dalam pendidikanpendidikan modern seperti metode diskusi, ceramah, tanya jawab, dan juga menggunakan startegi yang sudah berkembang. Materi yang diberikan dalam pembelajaran di pondok pesantren miftahul ulum yang menggunakan model pendidikan salaf dengan menggunakan kitab kuning seperti fathul mu’in, fathul qorib dan lain sebagainya.

Sedangkan

materi

yang

diberikan

dalam

pembelajaran

yang

menggunakan model pendidikan moderen ala pondok pesantren tidak hanya pelajaran agama saja tapi juga pelajaran umum yang disajikan kepada siswa dengan tujuan gara siswa tidak hanya mampu menguasai ilmu agama.
2. Dilihat dari data yang ada, Pelaksanaan model pendidikan di pondok

pesantren miftahul ulum dalam memahami ilmu agama yang menggunakan kitab kuning sebagai refrensi bagi santri yaitu dengan menggunakan metode-metode tradisional, dimana santri dikelompokkan sesuai dengan kemampuan masing-masing santri dalam pemahaman kitab. Disamping itu, pondok pesantren miftahul ulum mengajarkan santri materi pelajaran umum seperti matematika, fisika, ilmu sosiologi, geografi. Dalam pembelajaran yang menggunakan model pendidikan tradisional tersebut memulai pelajaran dengan membaca teks Arab

gundul kata demi kata disertai dengan terjemahannya dan pembacaan tanda-tanda khusus. Dalam pembelajaran yanng menggunakan model pendidikan modern ala pondok pesantren tersebut yanng sudah menggunakan model klasikal dengan prasana yang lengkap, dilakukan tes tulis untuk mengetahui seberapa jauh santri dalam materi pelajaran yang sudah diberikan oleh kyai atu ustads sehingga tes tersebut yang menentukan santri tersebut naik kejenjang selanjutnya atau menetap dikelas yang sudah ada.

3. Wujud akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan

modern ala pondok pesantren yang melahirkan sebuah madrasah yang sudah berkembang dalam lini pendidikan terutama pendidikan pesantren yang didalamnya memasukkan materi pendidikan agama yang berada dalam dibawah naungan Depag dan materi pendidikan umum yang berada dibawah naunngan Diknas. Pesantren miftahul ulum tidak hanya menggunakan model pendidikan salaf dalam menyamapikan materi kepada santri tetapi juga menggunakan model pendidikan modern ala pondok pesantren yang memadukan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern. Materi yang disampaikan tidak hanya menggunakan kitab kuning saja yang berisi tentang ilmu agama tetapi juga santri mempelajari materi pelajaran umum yang dipadukan dengan materi pelajaran agama. B. Saran-saran Setelah mengetahui bagaimana proses akulturasi model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum, maka ada beberapa saran peneliti yang diharapkan dapat membatu mewujudkan pelaksanaan model pendidikan salaf dengan model pendidikan modern ala pondok pesantren miftahul ulum dan juga sebagai khasanah intelektual dan kajian mendalam disiplin ilmu pendidikan, saran ini ditujukan kepada: 1. Pondok Pesantren Miftahul Ulum

Pelaksanaan model pendidikan yang ada di pondok pesantren Miftahul ulum ini lebih ditingkatkan kembali. Hal ini semata-mata diharapkan agar Pondok Pesantren Miftahul Ulum tetap memliki kesinambungan dan tetap eksis dalam mengahadapi pembaruanpembaruan dalam pendidikan pesantren. Apalagi melihat realitas yang ada bahwa pondok pesanntren mengalami pengembangan sangat pesat dalam bidang pendidikan. 2. Pengembangan Khasanah Keilmuan Penelitian tentang akulturasi model pendidikan pesantren an sich belum begitu banyak, oleh karena itu sudah saatnya para insan akademik untuk lebih mendalam mengkaji model pendidikan Islam dengan fokus akulturasi model pendidikan pesantren dengan membidik lebih salah satu model pendidikan tentunya dengan data faktual sehingga diperoleh sebuah gambaran yang utuh tentang pendidikan pesantren.
3. Bagi Pembaca

Agar lebih intensif kembali mengkaji dan meneliti tentang pendidikan pesantren yang kompleks, bahwa mendalami kajian pendidikan pesantren harus mengikut sertakan komponen-komponen dalam pesantren mulai dari santri, ustadz dan pengasuh, sehingga akan menghasilkan penelitian yang mendalam dan mendapatkan data yang faktual.
4. Bagi Peneliti

Lebih banyak lagi membaca hasil-hasil penelitian tentang pendidikan pada umumnya, dan pendidikan pesantren khususnya. Serta lebih optimalisasi untuk selalu aktif berperan serta dalam setiap melakukan penelitian yang berkaitan dengan pendidikan pesantren.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->