P. 1
Hukum Kepailitan Di Indonesia Dan Sejarahnya

Hukum Kepailitan Di Indonesia Dan Sejarahnya

|Views: 37|Likes:
Published by Nopri Ridwan Saleh

More info:

Published by: Nopri Ridwan Saleh on May 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2012

pdf

text

original

HUKUM KEPAILITAN DI INDONESIA DAN SEJARAHNYA

HAK ISTIMEWA YANG HARUS DIDAHULUKAN:

1. Hak Istimewa yang dimaksudkan dalam Pasal 1137 ayat (1)KUH Perdata: Hak (tagihan, penulis) dari Kas Negara, Kantor Lelang, dan badan publil lainnya yang dibentuk oleh Pemerintah, harus didahulukan dalam melaksanakan hak tersebut, dan jangka wakktu berlakunya hak tersebut diatur dalam berbagai undang-undang khusus mengenai hal-hal itu. Hak-hak yang sama dari persatuan-persatuan (gemeenschappen) atau kumpulan-perkumpulan (zedelijke ligchamen) yang berhak atau baru kemudian akan mendapat hak untuk memungut bea, diatur dalam peraturan-peraturan yang sudah ada akan akan diadakan tentang hal itu. (Termasuk tagihan pajak, bea dan biaya Kantor Lelang merupakan Hak Istimewa yang hams didahulukan pelunasannya dari tagihan yang dijamin dengan hak jaminan dalam hal harta kekayaan Debitor pailit dilikuidasi.) 2. Hak Istimewa yang dimaksudkan dalam ayat (3) Pasal 21 Undang-undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umun dan Tata Cara Perpajakan yang telah diubah dengan Undang- undang No. 9 Tahun 1994. 3. Hak Istimewa yang dimaksudkan dalam Pasal 1139 ayat (1) KUH Perdata, yaitu biaya perkara yang semata-mata disebabkan karena suatu penghukuman untuk melelang suatu benda bergerak atau benda tidak bergerak. 4. Hak Istimewa yang dimaksudkan dalam Pasal 1149 angka (1) KUH Perdata, yaitu biaya-biaya perkara yang semata-mata disebabkan karena pelelangan dan penyelesaian suatu warisan. 5. Imbalan Kurator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 UUK dan Pasal 67D jo Pasal 69 UUK. Sumber Hukum Kepailitan Indonesia: 1. KUH Perdata khususnya Pasal 1131, Pasal 1132, Pasal 1133, dan Pasal 1134. 2. Faillissementsverordening S. 1905 No. 217 jo S. 1906 No.348 sepanjang belum diubah dengan Undang-undang No. 4 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang Kepailitan. 3. Undang-undang No. 4 Tahun 1998 tentang Perubahan atal Undang-undang Kepailitan. 4. Undang-undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas khususnya Pasal 90.

dan pelaksanaan kepailitan memakan waktu yang lama. Sehubungan dengan maksud tersebut. yang berjudul van de Voorzieningen in geval van onvermogen van kooplieden (Peraturan tentang Ketidakmampuan Pedagang). terlalu sedikit bagi Kreditor untuk dapat ikut campur terhadap jalannya proses kepailitan. Undang-undang Kepailitan Sebelum 1945 Mula-mula. yang kemudian telah dicabut oleh S. maka timbul keinginan untuk membuat peraturan kepailitan yang sederhana dengan biaya yang tidak banyak. Bab Ketujuh. dalam Pasal 899 sampai dengan Pasal 915. Faillissementsverordening (S. Perpu tersebut kemudian telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat untuk menjadi undang-undang dan menjadi Undang-undang No. buku Ketiga. 1849-63). .v. Tahun 1998 No. 1905-217) itu dinyatakan mulai berlaku pada tanggal I November 1906. di antaranya ialah: banyak formalitas yang hams ditempuh. Sedangkan kepailitan untuk bukan pedagang (pengusaha) diatur dalam Reglement op de Rechtsvordering atau disingkat Rv (S. tetapi kemudian telah dicabut berdasarkan Pasal 2 Verordening ter Invoering van de Faillissementsverordening (S. maka pada tahun 1905 telah diundangkad Faillissementsverordening (S. Berdasarkan Verordening ter invoering van de Faillissementsverordening (S. kepailitan untuk kasus pedagang (pengusaha) Indonesia diatur dalam Wetboek van Koophandel (W. agar memudahkan dalam pelaksanaannya. 4 Tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah No.I. 1 Tahun 1998 tanggal 22 April 1998 tentang Pembahan atas Undangundang tentang Kepailitan (Lembaran Negara R. biaya tinggi.v. 135).SEJARAH HUKUM KEPAILITAN INDONESIA Pendahuluan Pada tanggal 22 April 1998 pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. Peraturan ini lengkapnya bernama Verordening op het Faillissement en de Surseance van Betalin voor de Europeanen in Nederlands Indie (Peraturan Untuk Kepailitan Dan Penundaan Pembayaran Untuk Orang-Orang Eropa). yang berjudul: Van den Staat van Kennelijk Onvermogen (Tentang Keadaan Nyata-nyata Tidak Mampu). 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang tentang Kepailitan menjadi Undang-undang tanggal 9 September 1998 (Lembaran Negara RI I Tahun 1998 No. Adanya dua buah peraturan ini telah menimbulkan banyak kesulitan dalam pelaksanaannya. Karena adanya kesulitan-kesulitan tersebut.K). Peraturan ini termuat dalam Pasal 749 sampai dengan Pasal 910 W. 1906-348. 1906-348). Buku Ketiga. Peraturan ini berlaku untk pedagang saja.K. 87 (Undang-undang Kepailitan). 1906-348).1847-52 jo. 1905-217).

sesuai dengan ketentuan Pasal 163 Indische Staatsregeling. Tahun 1947-1998 Di dalam praktik.Golongan Eropa . tahun 1947-1998 dan tahun 1998-sekarang. Tahun 1945-1947 Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 menentukan sebagai berikut: "Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku. Kurun-kurun sejarah itu ialah tahun 1945-1947. Pada waktu itu. kecuali jika setelah diuji ternyata bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. pemerintah pendudukan Belanda di Jakarta menerbitkan Peraturan Darurat Kepailitan 1947 (Noodsregeling Faillissmenten 1947). selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini". Tugas ini sudah lama selesai. ada beberapa kurun sejarah yang perlu dicermati sehubungan dengan berlakunya Faillissementsverordening (Peraturan Kepailitan). Berdasarkan Aturan Peralihan tersebut. Reglement op de Rechtsvordering. Faillissementsverordening ini hanya berlaku bagi orang yang termasuk golongan Eropa saja.Golongan Timur Asing bukan Cina (India. Pasall 899 sampai dengan Pasal 915. maka dicabutlah: 1. penduduk Hindia Belanda dibagi atas beberapa golongan sebagai berikut: . Faillissementsverordening relatif sangat sedikit digunakan. Faktor penyebabnya antara lain karena keberadaan peraturan itu di tengah-tengah masyarakat.Dengan berlakunya Faillissementsverordening tersebut. Seluruh Buku HI dari WVK. sehingga dengan demikian Peraturan Darurat Kepailitan 1947 itu sudah tidak berlaku lagi. Tujuannya ialah untuk memberikan dasar hukum bagj penghapusan putusan kepailitan yang terjadi sebelum jatuhnya Jepang. Undang-undang Kepailitan Sejak 1945 Setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Bab Ketujuh. . Buku III.Golongan Timur Asing Cina dan . maka seluruh perangkat hukum yang berasal dari zaman Hindia Belanda diteruskan berlakunya setelah proklamasi kemerdekaan.Golongan Bumiputra Golongan Timur Asing yang dibagi lagi ke dalam: . Tahun 1947 Pada tahun 1947. 2. Hal ini sesuai dengan asas diskriminasi hukum yang diberlakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu terhadap penduduk Hindia Belanda. Arab dan Iain-Iain). Pakistan.

kredit macet di perbankan dalam negeri juga makin membubung tinggi secara luar biasa (sebelum krisis moneter perbankan Indonesia memang juga telah menghadapi masalah kredit bermasalah atau NonPerforming Loans yang memprihatinkan). Di samping itu. bukan pada kekayaan pribadinya. Faillissementsverordening itu hanya berlaku untuk pedagang di lingkungan masyarakat yang tunduk pada hukum perdata dan dagang Barat saja. Banyak Debitor yang hubungi oleh para Kreditornya karena berusaha mengelak untuk tanggung jawab atas penyelesaian utang-utangnya. . Sosialisasinya ke masyarakat sangat minim. khususnya agar Debitor yang nakal dapat melunasi kewajibannya. jika perlu dengan melakukan paksaan secara hukum melalui pengadilan. Awalnya. dan membebankan tanggung jawab atas utangnya pada kekayaan perusahaan. Tahun 1998-Sekarang Pada bulan Juli 1997 terjadilah krisis moneter di Indonesia yang kemudian diperparah lagi oleh krisis politik yang mengakibatkan lengsernya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998. Antara lain mereka belum: . melakukan pembayaran dengan menggunakan sistem perbankan. Dirasakan bahwa peraturan kepailitan yang ada. dan karena itu pula tidak pernah tumbuh di dalam kesadaran hukum masyarakat. . yaitu sebagai akibat terpuruknya sektor riil karena krisis moneter.melakukan kegiatan usaha dengan mendirikan badan usaha berbentuk Perseroan Terbatas. Krisis moneter membuat hutang menjadi membengkak luar biasa sehingga mengakibatkan banyak sekali Debitor tidak mampu membayar utang-utangnya. Akibatnya.melakukan pembukuan atas transaksi-transaksi bisnis dan keadaan keuangannya. Karena persepsi masyarakat yang negatif terhadap badan peradilan. Faillissementsverordening itu tidak dirasakan sebagai sesuatu peraturan yang menjadi milik masyarakat pribumi. sangat tidak dapat diandalkan. Sebagian besar masyarakat pengusaha Bumiputra belum mengenal sistem hukum bisnis Barat. Pada umumnya pula mereka masih melakukan transaksi dalam lingkungan yang terbatas.kurang dikenal dan dipahami. Faktor penyebab lain ialah karena sebagian besar masyarakat pedagang atau pengusaha pribumi Indonesia dan para pengusaha menengah dan kecil masih belum banyak melakukan transaksi bisnis yang besar-besar. maka masyarakat merasa tidak ada sarana yang efektif yang dapat digunakan Kreditor untuk dapat melindungi kepentingannya.menerbitkan dan atau melakukan perdagangan surat-surat berharga. . Sedangkan restrukturisasi utang hanyalah mungkin ditempuh apabila Debitor bertemu dan duduk berunding dengan para Kreditornya atau sebaliknya.

Di samping adanya kesediaan untuk berunding itu. 4 Tahun 1998. 4 Tahun 1998. Sebagai hasil desakan IMF tersebut. secepatnya dapat diganti atau diubah. 4 1998. menghendaki agar Peraturan Kepailitan Indonesia. karena selama ini Faillissementsverordening kita kenal dengan naffi* sebutan "Peraturan Kepailitan" dan bukan "Undang-undang KepaiW* an". sebagai sarana penyelesaian utangutang pengusaha Indonesia kepada para Kreditornya. Oleh penyusun Perpu. dan ternyata dugaan itu terbukti. Mengingat upaya restrukturisasi utang masih belum dapat diharapkan akan berhasil baik. yaitu UU No. maka kebutuhan untuk mempunyai undang-undang kepailitan yang lebih baik sudah sangat mendesak pada saat ini. ada yang kurang tepat pada judul Perpu tersebut.Perpu No. Diharapkan RUU tentang Kepailitan yang baru itu dapat diundangkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. sedangkan upaya melalui kepailitan dengan menggunakan Faillissementsverordening yang berlaku dapat sangat lambat prosesnya dan tidak dapat dipastikan hasilnya. maka masyarakat Kreditor. yaitu Faillissementsverordening. Mengingat dugaan sebelumnya bahwa pelaksanaan Perpu No. IMF sebagai pemberi utang kepada pemerintah Republik Indonesia berpendapat pula bahwa upaya mengatasi krisis moneter Indonesia tidak dapat terlepas dari keharusan penyelesaian utang-utang luar negeri dari para pengusaha Indonesia kepada para Kreditor luar negerinya dan upaya penyelesaian kredit-kredit macet perbankan Indonesia. Beberapa pertimbangan yang dikemukakan adalah: . 1 Tahun 1998 (yang telah menjadi UU No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang tentang Kepailitan (Perpu Kepailitan). Pada saat tulisan ini selesai dibuat. Perpu tersebut mengubah dan menambah Peraturan Kepailitan (Faillissementsverordening). Oleh karena itu. bisnis Debitor harus masih memiliki prospek yang baik untuk mendatangkan revenue. yaitu Faillissementsverordening. dan lahirlah Perpu No. maka IMF mendesak pemerintah Republik Indonesia agar segera mengganti atau mengubah Peraturan Kepailitan yang berlaku. suatu tim di bawah Dirjen Hukum dan Perundang-undangan Departemen Kehakiman dan HAM telah selesai menyusun draft RUU tentang Kepailitan yang baru itu dan telah diajukan oleh pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Untuk memahami terjadinya perubahan terhadap Faillissementverordening hingga menjadi Undang-undang Kepailitan. 1 Tahun 1998. Dari segi bahasa. sebagai sumber pelunasan utang yang direstrukturisasi itu. perlu diketahui latar belakang mengapa perubahan itu dilakukan. terutama masyarakat Kreditor luar negeri. akhirnya pemerintah turun tangan. Kemudian diterbitkannya Perpu Kepailitan pada tanggal 22 April 1998 maka 5 bulan kemudian Perpu Kepailitan dan perubahan atas Kepailitan itu ditetapkan menjadi Undang-undang No. 4 Tahun 1998) akan menimbulkan banyak kekecewaan. kata "verordening" dalam FaillissementS' verordening telah diterjemahkan dengan kata "Undang-undang". Latar Belakang Perubahan Faillissementsverordening Menjadi Undang-undang No.

Termasuk di dalamnya.Sehubungan dengan adanya kebutuhan yang sangat mendesak bagi penyelesaian masalah seperti tersebut di atas.Salah satu sarana hukum yang menjadi landasan bagi penyelesaian utang-piutang adalah peraturan tentang kepailitan. . Ketentuan .Untuk memberikan kesempatan kepada pihak Kreditor pada perusahaan sebagai Debitor untuk mengupayakan penyelesaian yang adil. terbuka dan efektif. terbuka dan efektif. juga sangat diperlukan dalam penyelengaraan kegiatan usaha dan kehidupan perekonomian pada umumnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka penyelesaian utang-piutang di atas. memerlukan penyempurnaan dan penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan bagi penyelesaian utang-piutang tadi. termasuk peraturan tentang penundaan kewajiban pembayaran utang & Peraturan tentang kepailitan yang masih berlaku. terwujudnya mekanisme penyelesaian sengketa secara adil.. . dipandang perlu untuk secepatnya melakukan penyempurnaan terhadap be-berapa ketentuan dalam Undang-undang tentang Kepailitan (Staatsblad Tahun 1905 Nomor 217 juncto Staatsblad Tahun 1906 nomor 348) dan menetapkannya dengan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. diperlukan sarana hukum yang dapat digunakan secara cepat.Penyempurnaan pengaturan yang bersifat penambahan ketentuan tentang tindakan sementara yang dapat diambil pihak-pihak yang bersangkutan. Untuk mengatasi gejolak moneter beserta akibatnya yang berat terhadap perekonomian saat ini.Peneguhan fungsi Kurator dan penyempurnaan yang memungkinkan berfungsinya pemberian jasa-jasa tersebut di samping institusi yang selama ini telah dikenal. . khususnya Kreditor. .Gejolak moneter yang terjadi di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 telah memberi pengaruh yang tidak menguntungkan terhadap kehidupan perekonomian nasional. memeriksa dan memutuskan berbagai sengketa tertentu di bidang perniagaan termasuk di bidang kepailitan dan penundaan pembayaran. dan dengan demikian adanya peraturan kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran yang dapat digunakan oleh Debitor dan para Kreditor secara cepat. yaitu Faillissementsverordening atau Undang-undang tentang Kepailitan sebagaimana termuat dalam Staatsblad Tahun 1905 Nomor 217 juncto Staatsblad Tahun 1906 Nomor 348. dan menimbulkan kesulitan yang besar di kalangan dunia usaha untuk meneruskan kegiatannya termasuk dalam memenuhi kewajiban kepan Kreditor.Penyelesaian masalah utang-piutang secara cepat. salah satu persoalan yang sangat mendesak dan memerlukan pemecahan adalah penyelesaian utang-piutang perusahaan. adil. atas kekayaan Debitor sebelum adanya putusan pernyataan kepailitan. yaitu Kurator. yaitu: penyempurnaan syarat-syarat dan prosedur permintaan pernyataan kepailitan. terbuka dan efektif melalui suatu pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Umum yang dibentuk dan bertugas menangani. cepat. terbuka dan efektif menjadi sangat perlu untuk segera diwujudkan. pemberian kerangka waktu yang pasti bagi pengambilan putusan pernyataan kepailitan. . .

Terdapat 93 pasal yang diubah dan menambah 10 pasal baru. 1 Tahun 1998 sebagaimana kemudian telah disahkan menjadi UU No.undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman.Penyempurnaan dilakukan pula terhadap ketentuan tentang penundaan kewajiban pembayaran sebagaimana telah diatur dalam bagian KEDUA Undang-undang Kepailitan. 219. Keberadaan lembaga ini akan diwujudkan secara bertahap. . Jadi. RUU Kepailitan. Dengan demikian jumlah pasal UU No. Pembentukan Pengadilan Niaga bukan merupakan langkah diferensiasi atas Peradilan Umum. 19.Penegasan upaya hukum yang dapat diambil terhadap putusan pernyataan kepailitan. dan yang penting lagi. bukan badan peradilan yang berdiri sendiri. . 1906 No. . 1905 No. dalam rangka penyempurnaan ini juga ditegaskan adanya mekanisme penangguhan pelaksanaan hak di antara Kreditor yang memegang Hak Tanggungan. 221 dan 272) dan 1 ayat (Pasal 149 ayat (3)). 41 Tahun 1998 mencabut 6 pasal (Pasal 14A. bahwa untuk itu dapat langsung diajukan Kasasi ke Mahkamah Agung. dapat dikemukakan bahwa Pengadilan Niaga bukan merupakan badan peradilan baru di luar badan-badan peradilan yang telah ditetapkan oleh Undang-undang No. . . . gadai atau agunan lainnya. 4 Tahun 1998 bukan merupakan Undang-undang Kepailitan yang baru melainkan hanya sekadar mengubah dan menambah Faillissementsverordening S. 218. sedangkan UU No.Penegasan dan pembentukan peradilan khusus yang mau menyelesaikan masalah kepailitan secara umum. Pada waktu Peraturan Pemerintan Pengganti Undang-undang No. Begitu pula dengan lingkup tugas dan kewenangannya di luar masalah kepailitan. Tata cara dan kerangka waktu bagi upaya hukum tadi juga ditegaskan dalam penyempurnaan ini. Faillissementsverordening terdiri dari 279 pasal.Semuanya akan dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan. Lembaga berupa Pengadilan Niaga dengan hakim-hakimnya yang & bertugas secara khusus. Diatur pula ketentuan mengenai status hukum atas perikatan-perikatan yang telah dibuat Debitor sebelum adanya putusan pernyataan kepailitan.Perpu No. tingkat kemampuan serta ketersediaan sumber daya yang akan mendukungnya. 217 Jo S. peradilan khusus yang disebut Pengadilan Niaga tersebut akan khusus bertugas menangani permintaan pernyataan kepailitan. 348. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang tentang Kepailitan untuk ditetapkan sebagai . Dalam rangka kelancaran proses kepailitan dan pengamanan berbagai kepentingan secara adil. 14 Tahun 1970 tersebut.yang ditambahkan antara lain mengatur syarat-syarat untuk dapat melakukan kegiatan sebagai Kurator berikut kewajiban mereka.Mengenai Pengadilan Niaga. akan ditambahkan atau diperluas dari waktu ke waktu. 4 Tahun 1998 adalah 282 pasal. yang dimungkinkan pembentukannya berdasarkan Undang. Dalam peraturan pemerintah pengganti undang-undang ini. tetapi hanya sekadar merupakan chamber khusus yang baru dalam Peradilan Umum.

Namun karena berbagai alasan dan hambatan ternyata RUU tersebut tertunda penyelesaiannya. 4 Tahun 1998. terjadi perbedaan pendapat di DPR dan pemerintah mengenai substansi Perpu tersebut.com/reviews/item/11?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem . Sesuai dengan kesepakatan tersebut seharusnya paling lambat tanggal 9 September 1999 Pemerintah sudah harus menyampaikan RUU tentang Kepailitan yang baru sebagai pengganti Perpu No. akan menyampaikan RUU tentang Kepailitan yang baru kepada DPR RI. Salah satu syarat IMF akan memberikan dana adalah apabila Indonesia mempunyai UU Kepailitan dan akhirnya disepakatilah bahwa pemerintah dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal UU No. 4 Tahun 1998 diundangkan.undang-undang.multiply. Sumber : http://hernathesis. yaitu sejak 9 September 1998. tetapi ada beberapa ketentuan2 lama yang dihapuskan. Pada hakikatnya perbedaanya tidak terlalu. 1 Tahun 1998 jo UU No.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->