P. 1
Pembelajaran Anak Usia Dini

Pembelajaran Anak Usia Dini

|Views: 237|Likes:
Published by Ryewook Dan Siwon

More info:

Published by: Ryewook Dan Siwon on May 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam pembelajaran kanak-kanak atau usia dini ada tiga hal yang harus dikuasai anak-anak yang meliputi membaca, menulis dan berhitung atau biasanya disebut dengan calistung. Dari ketiga hal tersebut merupakan fenomena tersendiri yang dibicarakan oleh para orang tua yang memiliki anak usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar karena mereka khawatir anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran disekolahnya nanti jika dari awal belum dibekali keterampilan calistung. Berdasarkan diskusi dengan guru TK Darma Wanita Randugenengan, Mojokerto Tahun Pelajaran 2010-2011 dapat diketahui bahwa pelajaran membaca berbagai macam bacaan, berhitung hitungan dasar, dan menulis sangat rendah. Hal ini dapat dilihat melalui catatan penilaian sehari-hari dalam kelas dan penelitian tindakan langsung dalam kelas. Dalam proses pembelajaran sering dijumpai sebagai besar siswa mengalami kesulitan untuk membaca, menulis dan berhitung. Kekhawatiran orang tua pun semakin mencuat ketika anak-anaknya belum bisa membaca, menulis dan berhitung menjelang masuk sekolah dasar. Hal ini membuat para orang tua akhirnya sedikit memaksa anaknya untuk belajar calistung khususnya membaca. Terlebih lagi istilah ‘’ Tidak Lulus’’, ‘’Tidak Naik Kelas’’. Kini semakin menakutkan karena akan berpengaruh pada biaya sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas. Selama ini taman kanak-kanak didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai dijenjang sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan ditaman kanak-kanak pun hanyalah bermain dan mempergunakan alat-alat bermaian edukatif. Pelajaran membaca, menulis dan berhitung tidak diperkenankan ditingkat taman kanak-kanak, kecuali hanya menenakan huruf-huruf, angka-angka, itupun dilakukan setelah anak-anak memasuki TK B Akan tetapi, pada perkembangan terakhir hal itu menimbulkan sedikit masalah, karena ternyata pelajaran di kelas 1 sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak lulusan TK belum mendapat pelajaran calistung. Karena tuntutan itu lah, akhirnya banyak TK yang secara mandiri mengupayakan pelajaran membaca bagi murid-muridnya. Berbagai metode mengajar diperaktikkan, dengan harapan bisa membantu anak-anak untuk menguasai keterampilan tersebut. Namun banyak pula diantaranya yang masih mengalami kesulitan. Keterampilan membaca merupakan jenis berbahasa ragam tulis yang bersifat reseftif yang berkaitan erat dengan 3 jenis keterampilan berbahasa lainnya. Membaca merupakan kunci kesuksesan siswa di sekolah. Kemampuan membaca yang baik adalah modal dasar untuk keberhasilan dalam berbagai mata pelajaran. Di Sekolah Dasar membaca merupakan salah satu pelajaran pokok selain berhitung dan menulis (Sandjaja, 1993). Membaca merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh semua siswa karena melalui membaca siswa dapat belajar banyak tentang berbagai bidang studi (Abdurrahman, 1999). Ditambahkan oleh Santrock (1996) bahwa membaca menjadi suatu ketrampilan khusus selama tahun-tahun sekolah dasar. Apabila anak tidak

1..berkompeten membaca. pengetahuan abjad yang kurang. 1. (2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kemampuan membaca pada anak usia dini. studi-studi sosial dan matematik (Morris dkk. untuk anak yang beresiko tertinggi mengalami kesulitan membaca. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menghadapi kesulitan terbesar dalam membaca di kelas-kelas dasar adalah mereka yang mulai bersekolah dengan keterampilan verbal yang kurang. Kamhi 1989. pengayaan lingkungan prasekolah dan pengajaran yang baik di kelas-kelas dasar dapat merupakan faktor penentu bagi keberhasilan dalam bidang membaca dan menulis.2 Fenomena dan Fokus Penelitian Berdasarkan latar belakang diatas. termasuk literatur. Snowling 1987. maka anak merasa tidak beruntung terutama di dalam pergaulan dengan teman-temannya di sekolahnya. Hal itu disebabkan kemampuan membaca merupakan pendukung penting dalam pelaksanaan kurikulum sekolah. 2000). maka fenomena masalah dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca.3 Tujuan Berdaarkan fokus penelitian diatas maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan membaca yang meliputi: (1) Untuk mengetahui perkembangan membaca pada anak dikelas rendah. 2001). Tidak ada waktu sepenting tahun-tahun pertama masa kehidupan dan masa sekolah anak.4 Manfaat Manfaat dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi dua. (2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kemampuan membaca pada anak usia dini. dan kurang memahami tujuan dasar dan mekanisme membaca (Adams 1990. Oleh karenanya. ilmu pengetahuan. maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajar berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya. Manfaat Teoritis . Kamhi & Catts 1989. kami akan membahas lebih lanjut tentang perkembangan membaca dan pencegahan kesulitan membaca pada anak SD di kelas rendah. Oleh karena itu. pemahaman fonologi yang kurang. Manfaat Praktis Hasil dalam penelitian ini dapat digunakan oleh pembaca sebagai sarana pendidikan dan dapat menumbuhkan kritik moral bagi pembaca dalam kehidupan sehari-hari. yaitu manfaat secara praktis dan manfaat secara teoritis: 1. menulis dan berhitung pada anak usia dini yang dibagi dalam beberapa fokus yaitu: (1) Untuk mengetahui perkembangan membaca pada anak dikelas rendah. 1. 1. Lebih lanjut Morris mengatakan bahwa kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi.

khususnya pengetahuan pengembangan membaca bagi anak usia dini. Kesulitan dalam dimensi bentuk dapat mengakibatkan masalah dalam “memecahkan” kode bacaan.Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan konstribusi pada perkembangan anak usia dini. tetapi mereka mungkin berkesulitan dalam memahami apa yang dibacanya. Anak mungkin berkesulitan dalam mengembangkan pengetahuan yang sesuai usia dalam salah satu dari ketiga dimensi bahasa (isi. Ini biasanya dilakukan berdasarkan unit fonologi (bunyi atau struktur bunyi). 1978). Tujuan pengajaran membaca adalah membaca untuk belajar (atau membaca untuk kesenangan). Pembaca harus dapat masuk ke dalam semacam dialog dengan . maka kita akan terbatas pada penggambaran bentuk atau kontur fitur permukaan ujaran saja. tetapi bila kita hanya menggambarkan bentuknya saja. Bloom dan Lahey (1978) memandang bahasa sebagai suatu kombinasi antara tiga komponen utama: bentuk. Bahasa merupakan suatu sistem kombinasi sejumlah komponen kaidah yang kompleks. BAB II PEMBAHASAN 2. morfologi (unit-unit makna berupa kata atau infleksi). tetapi kesulitan dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahaman tentang fonologi bahasa dapat mempengaruhi perkembangan dalam bidang morfologi dan sintaks. anak yang berkesulitan memahami isi bahasa mungkin akan dapat “memecahkan kode” dengan mudah.1 Bahasa dan Membaca Bahasa adalah kode yang disepakati oleh masyarakat sosial yang mewakili ide-ide melalui penggunaan simbol-simbol arbitrer dan kaidah-kaidah yang mengatur kombinasi simbol-simbol tersebut (Bernstein dan Tigerman. Anak yang bermasalah dalam mengembangkan pengetahuan tentang bentuk bahasanya dapat bermasalah dalam memahami struktur bunyi dan dalam memahami hubungan huruf-bunyi yang diperlukan untuk “memecahkan kode” bahasa tulis. peristiwa dan kaitannya. Masalah dalam kemampuan mengembangkan kemampuan bahasa yang sesuai usia di dalam berbagai dimensi bahasa biasanya akan menimbulkan masalah dalam pengembangan kemampuan membaca dan menulis yang sesuai usia. 1993). Kesulitan dalam dimensi bentuk mungkin terbatas hanya pada fonologi. Representasi linguistik tentang isi bahasa tergantung pada kode – yaitu suatu sistem isyarat arbitrer yang konvensional – yang memberi bentuk kepada bahasa (Bloom dan Lahey. Masalah-masalah ini mungkin terkait dengan perkembangan membaca pada berbagai tingkatan. Siswa juga mungkin berkesulitan dalam membaca karena mereka berkesulitan dalam menggunakan bahasa. isi dan penggunaan. dan sintaks (kombinasi antara berbagai unit makna). Bentuk suatu ujaran dalam bahasa lisan dapat digambarkan berdasarkan bentuk fonetik dan akustiknya. Isi bahasa adalah maknanya atau semantik. bentuk atau penggunaan).yaitu representasi linguistik dari apa yang diketahui seseorang tentang dunia benda. Di pihak lain. dan kesulitan dalam satu dimensi dapat mengakibatkan kesulitan dalam dimensi lainnya.

anak harus menguasai persyaratan membaca.3 Kemampuan Membaca dan Perkembangan Kognitif Kemampuan baca yang benar – benar fasih tidak dilakukan dengan menyuarakan setiap huruf namun dengan secara langsung mendapatkan arti keseluruhan kata dari memori (keseluruhan kata yang berdasar visual) Kunci bagi kemampuan baca yang fasih adalah proses automatis yakni pemerolehan arti kata tanpa melakukan usaha (otomatia). banyak anak yang bisa ‘’membaca’’ beberapa kata. Tahap 4 dimulai dari saat sekolah tinggi. Diakhir kelas tiga. 2. yakni belajar membedakan huruf dan alfabet. . Anak menjadi semakin dapat memahami beragam materi bacaan dan menarik kesimpulan dan apa yang mereka baca. meskipun belum dapat mengerti kata itu sendiri. dimulai dari kelas empat sampai kelas delapan anak – anak tahap ini sudah bisa mendapatkan informasi dari materi tertulis.2 Perkembangan Keterampialan Membaca Belajar membaca mencakup perolehan kecakapan yang dibangun pada keteampilan sebelumnya. maka terlalu sedikit sumber daya yang tinggal untuk memenggal kata – kata dan memahami arti yang lebih besar dari suatu teks. memperluas sumber daya terbatas dari seseorang dari proses ini sangat penting bagi kemampuan baca yang sangat penting bagi kemampuan baca yang terampil. dimulai dari masa anak masuk kelas pertama. hal ini dikarenakan pengaruh acara televisi anak seperti ‘’sesame street’’. dimulai dari keterampilan pre-reading hingga ke kemampuan membaca yang sangat tinggi pada orang dewasa. seperti ‘’pepsi’’.direfleksikan dengan kemampuan baca yang sangat fasih. dimana anak sudah belajar membaca dengan fasih. Kemampuan ini diikuti dengan tahap ke dua pada kelas dua dan tiga. Anak belajar percakapan fonologi yaitu keterampilan yang digunakan untuk menerjemahkan simbol-simbol kedalam suara dan kata-kata. Kemampuan mengakses kemampuan arti kata. Ketika terlalu banyak sumber daya mental digumakan hanya untuk mendapatkan arti kata individual. mencakup tahun pertama dikelas satu. Tahap 1. Tahap 0. 2. Untuk belajar dan mengerti suatu teks diperlukan pengembangan strategi untuk memahami maksud penulis. Teks yang berbeda memerlukan strategi yang berbeda untuk memahaminya.dan ini direfleksikan dari kurikulum sekolah.penulis. Kemudian pada anak masuk sekolah. kebanyakan anak sekolah sudah menguasai hubungan dari huruf-ke-suara dan dapat membaca sebagian besar kata dan kalimat sederhana yang diberikan. Perubahan dari learning to read menuju reading to learn di mulai dari tahap tiga. Jeanne Chall (1979) mengemukakan ada lima tahapan dalam perkemnbangan kemampuan membaca. Kemampuan mereka untuk mengenali simbol-simbol populer ini karena seringnya melihat ditelevisi ataupun disisi jalan serta meja makan. Pengetahuan anak-anak tentang huruf dan kata saat ini secara umum lebih baik ketimbang beberapa generasi sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa mereka dapat membedakan antara pola huruf.

dan mengerjap – ngerjapkan matanya ketika membaca. angka – angka. Perbedaan pendengaran (auditory discrimination) adalah kemampuan mendengarkan kemiripan dan perbedaan bunyi bahasa sebagai faktor penting dalam menentukan kesiapan membaca anak. a) Faktor Fisiologis Faktor fisiologis mencangkup kesehatan fisik. seperti huruf – huruf. guru harus sensitif terhadap gangguan yang dialami oleh seorang anak. Gangguan pada alat bicara. dan alat penglihatan bisa memperlambat kemajuan belajar membaca anak. khususnya belajar membaca. dan kata – kata misalnya anak belum bisa membedakan b. b) Faktor Intelektual . beberapa anak mengalami kesukaran belajar membaca. seperti anak sering menggosok – gosok matanya. p. Proses bawa keatas. Proses terakhir ini merupakan suatu perspektif konstruktifis. tujuan.2. Jika menemukan siswa seperti di atas. anak – anak diperiksa matanya terlebih dahulu sebelum ia mulai membaca permulaan. Guru harus waspada terhadap beberapa kebiasaan anak. makin cepat pula masalaha anak dapat diselesaikan. intelektual lingkungan. misalnya mungkin sukar bagi anak yang mempunyai masalah pada alat bicara dan alat pendengaran. Sebaiknya.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Membaca pada Anak Usia Dini Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca. pertimbangan neurologis. Guru hendaknya cepat menemukan tanda – tanda yang disebutkan di atas. alat pendengaran. dan ekspektasi anak – anak menentukan informasi yang dipilih dari teks. dan jenis kelamin. Proses atas kebawah. Makin cepat guru mengetahuinya. Walaupun tidak mempunyai gangguan pada alat penglihatannya. Menurut Lamb dan Arnold (1976) faktor – faktor tersebut adalah faktor fisiologis. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi anak untuk belajar. Beberapa ahli mengemukakan bahwa keterbatasan neurologis (misalnya berbagai cacat otak) dan kekurangmatangan secara fisik merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan anak gagal dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mereka. 2. 2. Pada dasarnya dan secara sederhana instruksi membaca dapat dipikirkan sebagai 1.4 Pengajaran Membaca Ada dua pendekatan penting pada instruksi membaca dan komentar tentang bagaimana bukti penelitian dipertimbangkan dalam topik ini. dan psikologis. Analisis bunyi. Hal itu dapat terjadi karena belum berkembangnya kemampuan mereka dalam membedakan simbol – simbol cetakan. anak – anak mempelajari komponen – komponen individu suatu bacaan (mengidentifikasi huruf) dan meletakanya bersama untuk memperoleh makna. pengetahuan latar belakang. guru harus menyarankan kepada orang tuanya untuk membawa si anak ke dokter spesialis mata. Dengan kata lain. dan d.

Anak yang dibesarkan oleh kedua orang tuanya . Pendapat ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Rubin bahwa banyak hasil penelitian memperlihatkan tidak semua siswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi eenjadi pembaca yang baik. Kondisi itu pada gilirannya dapat membantu anak. suka menantang anak untuk berfikir . dan suka mendorong anak untuk mandiri merupakan orang tua yang memiliki sikap yang dibutuhkan anak sebagai persiapan yang baik untuk belajar di sekolah. Faktor lingkungan itu mencakup (1) latar belakang dan pengalaman siswa dirumah. Wechster mengemukakan bahwa intelegensi ialah kemampuan global individu untuk bertindak sesuai dengan tujuan. Kondisi di rumah memengaruhi pribadi dan penyesuaian diri anak dalam masyarakat. dan senang membacakan cerita kepada anak – anak mereka umumnya menghasilkan anak yang senang membaca. dan berbuat secara efektif terhadap lingkungan. dan kemampuan bahasa anak. dapat memacu sikap positif anak terhadap belajar. Perceraian juga merupakan pengalaman yang traumatis bagi anak – anak. Di samping itu. Kematian salah seorang anggota keluarga umumnya akan menyababkan tekanan pada anak – anak. orang tua tunggal.Orang tua yang mempunyai minat yang besar terhadap kegiatan sekolah di mana anak – anak mereka belajar. Anak yang tinggal di dalam rumah tangga yang harmonis. nilai. dan dapat juga menghalangi anak belajar membaca.Istilah inteligensi didefinisikan oleh Heinz sebagai suatu kegiatan berpikir yang terdiri dari pemahaman yang esensial tentang situasi yang diberikan dan meresponsnya secara tepat. atau orang tua angkat akan memengaruhi sikap dan tingkah laku anak. Rubin (1993) mengemukakan bahwa orang tua yang hangat. rumah yang penuh dengan cinta kasih. Penelitian Ehansky dan Muehl dan Forrell yang dikutip oleh Harris dan Sipay menunjukkan bahwa secara umum ada hubungan posirif (tetapi rendah) antara kecerdasan yang diindikasikan oleh IQ dengan rata – rata peningkatan remedial membaca. sikap. yang orang tuanya memahami anak – anaknya. Terkait dengan penjelasan Heinz di atas. • Latar belakang dan pengalaman anak di rumah Lingkungan dapat membentuk pribadi. khususnya belajar membaca. memiliki koleksi buku. . demokratis. dan mempersiapkan mereka dengan rasa harga diri yang tinggi. Guru hendaknya memahami tentang lingkungan keluarga anak dan peka pada perubahan yang tiba – tiba terjadi pada anak. tidak akan menemukan kendala yang berarti dalam membaca. menghargai membaca. dan (2) sosial ekonomi keluarga siswa. Anak yang dibesarkan oleh ibu saja berbeda dengan anak yang dibesarkan oleh seorang ayah saja. komposisi orang dewasa dalam lingkungan rumah juga berpengaruh pada kemampuan membaca anak. Rumah juga berpengaruh pada sikap anak terhadap buku dan membaca. seorang pembantu rumah tangga. Orang tua yang gemar membaca. bisa mengarahkan anak – anak mereka pada kegiatan yang berorientasi pendidikan. c) Faktor Lingkungan Faktor lingkungan juga mempengaruhi kemajuan kemampuan baca siswa. berpikir rasional.

d) Faktor Psikologis Faktor lain yang juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak adalah faktor psikologis. Kuncinya adalah guru harus mendemonstrasikan kepada siswa praktik pengajaran yang relevan dengan minat dan pengalaman anak sehingga anak memahami belajar itu sebagai suatu kebutuhan. Faktor ini mencakup (1) motivasi. Begitu pula dengan kemampuan membaca anak. Membaca seharusnya merupakan suatu kegiatan yang bermakna. usaha orang tua hendaknya tidak berhenti hanya sampai pada membaca permulaan saja. Di samping itu. Motivasi belajar memengaruhi minat dan hasil belajar siswa. dan (3) kematangan sosial. Suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan akan mengoptimalkan kerja otak siswa. tetapi tidak mudah untuk mencapainya. Semakin tinggi status sosioekonomi siswa semakin tinggi kemampuan verbal siswa. dan lingkungan tetangga merupakan faktor yang membentuk lingkungan rumah siswa.Kualitas dan luasnya pengalaman anak di rumah juga penting bagi kemajuan belajar membaca. Sebaliknya. emosi. Faktor sosioekonomi. Anak – anak yang berasal dari rumah yang memberikan banyak kesempatan membaca. orang tua. orang tua hendaknya menghabiskan waktu mereka untuk berbicara dengan anak mereka agar anak menyenangi membaca dan berbagi buku cerita dan pengaaman membaca dengan anak – anak. Namun. • Motivasi Motivasi adalah faktor kunci dalam belajar membaca. • Faktor sosial ekonomi Ada kecenderungan orang tua kelas menengah ke atas merasa bahwa anak – anak mereka siap lebih awal dalam membaca permulaan. Orang tua harus melanjutkan kagiatan membaca anak secara terus – menerus. suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan akan lebih memotivasi siswa agar belajar lebih intensif. sedangkan pada siswa kelas tinggi bermain . Seseorang tidak berminat membaca kalau dalam keadaan tertekan.dan penyesuaian diri. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa status sosioekonomi siswa mempengaruhi kemampuan verbal siswa. Eanes mengemukakan bahwa kunci motivasi itu sederhana. Anak – anak yang mendapat contoh bahasa yang baik dari orang dewasa serta orang tua yang berbicara dan mendorong anak – anak mereka berbicara akan mendukung perkembangan bahasa dan inteligensi anak. dalam lingkungan yang penuh dengan bahan bacaan yang beragam akan mempunyai kemampuan membaca yang tinggi. Oleh sebab itu. Untuk usia dini bisa diwujudkan dalam bentuk permainan. anak – anak yang berasal dari keluarga kelas rendah yang berusaha mengejar kegiatan – kegiatan tersebut akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjadi pembaca yang baik. Anak lebih membutuhkan perhatian daripada uang. Crawley dan Mountain mengemukakan bahwa motivasi ialah sesuatu yang mendorong seseorang belajar atau melakukan suatu kegiatan. (2) minat. Pengalaman masa lalu anak – anak memungkinkan anak – anak untuk lebih memahami apa yang mereka baca.

dan bereaksi secara berlebihan ketika mereka tidak mendapatkan sesuatu. menangis. Mereka sangat bergantung kepada orang lain sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan mandiri dan selalu meminta untuk diperhatikan guru. kemudian siswa mencoba memodifikasinya sehingga pesawatnya bisa terbang lebih jauh. Misalnya. Seorang guru harus berusaha memotivasi siswanya. • Minat Minat baca ialah keinginan yang kuat disertai usaha – usaha seseorang untuk membaca. sehingga dari hasil tersebut dapat diketahui perkembangan membaca. atau menarik diri. Sebaliknya. Anak – anak yang kurang percaya diri di dalam kelas. tidak akan bisa mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya walaupun tugas itu sesuai dengan kemampuannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu atau gejala yang terjadi atau yang nyata. menulis dan berhitung bagi siswa usia dini. akan mempunyai minat yang tinggi pula terhadap kegiatan membaca. Siswa yang mempunyai motivasi yang tinggi terhadap membaca. akan lebih mudah memusatkan perhatiannya pada teks yang dibacanya. Pemusatan perhatian pada bahan bacaan memungkinkan kemajuan kemampuan anak – anak dalam memahami bacaan akan meningkat. atau mendongkol akan mendapat kesulitan dalam pelajaran membaca.1 Metode dan Teknik Penelitian Sebuah penelitian akan mencapai hasil yang maksimal apabila metode yang digunakan sesuai dengan jenis penelitian. Percaya diri sangat dibutuhkan oleh anak – anak. Dengan demikian hasil yang diperoleh dalam penelitian ini bukan berupa angka-angka melainkan berupa kutipan-kutipan atau kata-kata yang di kutip dari kumpulan data yang ada. • Kematangan sosio dan emosi serta penyesuaian diri Seorang siswa harus mempunyai pengontrolan emosi pada tingkat tertentu. anak – anak yang lebih mudah mengontrol emosinya. BAB III METODE PENELITIAN 3. . Anak – anak yang mudah marah. setelah membaca materi bacaan yang menjelaskan tentang petunjuk membuat pesawat terbang dari kertas.dapat dikembangkan melalui eksperimen. Orang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkannya dalam kesediaannya untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya atas kesadarannya sendiri.

Tahap Pralapangan Sehubungan penelitian tentang peningkatan kemampuan Sehubungan dengan penelitian tentang peningkatan kemampuan membaca pada anak usia dini.1. 1. dan menyiapkan peralatan penelitian. (2) menyimpulkan hasilnya.3 Tahap-Tahap Penelitian Secara garis besar Meleong (2006: 127-148) memaparkan tiga tahapan dalam penelitian kualitatif.1 Prosedur Analisis Data . Kemudian dilakukan penyusunan laporan penelitian yang disusun secara sistematis dan sesuai dengan buku panduan pedoman penelitian. Mojokerto Tahun Pelajaran 2010-2011.5. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena data yang diperoleh adalah berupa data deskriptif dan memberikan gambaran atau lukisan secara sistematis. 3. 3. dan akurat mengenai kemampuan membaca pada anak usia dini.1 Metode Penelitian Bogdan dan Taylor (dalam Meleong.2 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah siswa-siswi TK Darma Wanita Randugenengan. 3.3.5 Prosedur Analisis Data. 3. Pada tahap ini fokus penelitian sudah diputuskan dan sudah mulai memasuki lapangan penelitian. dan Teknik Analisis Data 3. memilih lapangan penelitian.1.1. 1.1. Tahap Pekerjaan Lapangan Tahap ini adalah tahap dimulainya kegiatan penelitian. Dalam tahap ini dilakukan pengamatan dan pencatatan langsung untuk mencari data-data yang dibutuhkan pada penelitian. Jenis Data. factual. maka kegitan yang dilakukan pada tahap ini terdiri dari menyusun rancangan penelitian. 2006:4) menerangkan bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. pengamatan teks.1. yaitu: 1. Tahap Analisis Data Pada tahap ini mulai dilakukan analisis terhadap data-data yang diperoleh di lapangan.4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui teks. dan pencatatan yang ditempuh dalam beberapa tahapan yaitu: (1) menganalisis dalam kelas secara langsung.1.

perekaman.1. Analisis data merupakan proses menelaah seluruh data yang telah tersedia yang diperoleh melalui pengamatan. wawancara. peneliti mengklasifikasi data yang sudah dipilah berdasarkan fokus masalah 3. Display data (klasifikasi).3 Teknik Analisis Data Analisis dalam penelitian ini didasarkan pada konsep yang ada pada kerangka teori. 5. Setiap kriteria mempunyai teknik pemeriksaan keabsahan data. Pengambilan simpulan. kriteria kebergantungan. 2. peneliti mengambil simpulan dari hasil intepretasi data. 3. peneliti memberi kode data-data yang sudah di klsifikasi dengan tanda-tanda tertentu.5. 3. pencatatan. Reduksi data (pemilahan).Analisis data merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalam penelitian. peneliti melakukan intepretasi terhadap data-data yang sudah ada dengan berlandaskan pada kajian pustaka.6 Kriteria Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Tingkat keabsahan data dalam penelitian ini ditentukan melalui empat kriteria. dan kriteria kepastian. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis isi.5. kriteria keteralihan. peneliti memilah data yang ada sesuai dengan kebutuhan. Koding. Kriteria kepercayaan (kredibilitas) dapat ditempuh dengan teknik: .2 Jenis Data Jenis data dalam penelitian ini adalah berupa peningkatan kemampuan membaca pada anak usia dini. Intepretasi. 4. yaitu: kriteria kepercayaan (kredibilitas). 2010:72) Prosedur analisis data pada penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu: 1. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan makna data sehingga menimbulkan kejelasan dan dapat dipahami oleh pembaca. Sedangkan analisis isi digunakan untuk menemukan makna kata Bayle dalam Supratno (2010:76) 3.1. dan sebagainya (Moleong dalam Supratno. dokumen.1.

Mengadakan pengecekan ulang terhadap data yang telah diperoleh dari karya sastra dalam rangka memperoleh kebenaran data yang telah diperoleh dan dapat memperbaiki data yang salah atau menambah data yang kurang.1 SIMPULAN . hasil analisis data. Menganalisis kasus negative.7 Teknik Mengakhiri Penelitian Penelitian ini diakhiri setelah peneliti merasa semua data yang dibutuhkan sesuai dengan fokus penelitian sudah lengkap dan tidak lagi menemukan data baru atau sudah mengalami kejenuhan. Memperpanjang waktu penelitian (observasi) dalam rangka untuk menemukan data-data yang sesuai dengan fokus penelitian dan untuk memahami hakikat religiusitas sastra 2.1. 2010:77) BAB IV PENUTUP 4. (Moleong dalam Supartno. Triangulasi yaitu mengecek kebenaran data yang telah diperoleh dengan cara membandingkan dengan data yang diperoleh dari sumber lain pada berbagai fase penelitian dan pada waktu yang berbeda 4. Menggunakan bahan referensi untuk meningkatkan kepercayaan kebenaran data dengan menggunakan literature 7. Kriteria kebergantungan dan kepastian cara pemeriksaan keabsahan data ditempuh dengan teknik audit trail. hasil sintesis data. Mengamati secara terus menerus terhadap fokus oenelitian dalam rangka menemukan data secara cermat. 2010:77) 3. melalui pemeriksaan data mentah. artinya pemeriksaan penelitian oleh para ahli yaitu dosen pengampu mata kuliah metodologi penelitian untuk memeriksa ketelitian penelitian ini dan kemudian menkonformasi dan menjamin kebenarannya bila memang benar. rinci. Mendiskusikan atau membicarakan dengan orang lain dalam rangka mendapat tanggapan atau kritikan sebagai bahan menemukan kebenaran dan keabsahan data 5. Kriteria keteralian teknik pemeriksaan keabsahan datanya dilakukan dengan membuat deskripsi secara terinci hasil penelitian. serta telah tercapai suatu tingkat kepercayaan yang memadai mengenai kebenaran data atau hasil penelitian (Nasution dalam Supratno.1. dan mendalam 3. yaitu kasus yang tidak sesuai dengan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding 6. sehingga hasil penelitian ini dapat diaplikasikan atau digunakan oleh pembaca dalam konteks dan situasi yang lain. dan catatan mengenai proses penelitian yang ditempuh peneliti.

Lexy.id http://forgubindo. Haris. 2006. yaitu: a. Faktor lingkungan d. Faktor fisiologis b. Faktor Psikologis 4.ac..2 SARAN Pemusatan perhatian pada bahan bacaan memungkinkan kemajuan kemampuan anak – anak dalam memahami bacaan akan meningkat.eprints. dkk.com/category/pendidikan/ http://etd.com . Usia dari 6 – 12 tahun merupakan masa usia sekolah. penalaran. Sosiologi Seni: Wayang Sasak Lakon Dewi Rengganis Dalam Konteks Perubahan Masyarakat Di Lombok. Pada masa ini anak banyak mengalami perkembangan dalam segi kognitif. memori. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. 1978). Faktor intelektual c. 1979). persepsi. dan bahasa dengan berbagai macam cara (Elkind. Surabaya: Unesa University Press http://jazzyla. Remaja Rosdakarya Supratno.ums. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan membaca anak. anak harus memiliki kekuatan penalaran yang mencapai tahap operasional konkret (Piaget dalam Spiegel. J.wordpress.Pada tahap awal perkembangan membaca. DAFTAR RUJUKAN Moleong.blogspot. Anak cenderung mengembangkan kemampuan belajar. Bandung: PT. 2010.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->