P. 1
Manajemen Suku (Layout Jadi)

Manajemen Suku (Layout Jadi)

4.75

|Views: 2,872|Likes:
Published by ibnuyuris

More info:

Published by: ibnuyuris on Dec 22, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

Tim LKAAM Kabupaten Solok Tim Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta

Manajemen Suku

Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta & sekitarnya Pemerintah Kabupaten Solok Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kabupaten Solok

DITERBITKAN BERSAMA

Dicetak Oleh: Penerbit dan Percetakan Lubuk Agung, Bandung

i

Tim penulis Bustanul Arifin Dt Bandaro Kayo. Syahrial Chan BA Dt Bandaro Hitam, Nasfi, SH Dt Mudo Nan Hitam, Drs. Elfi Yandri, Bagindo Suarman, SH., MM, Maifil Eka Putra S.Ag., Khatib Batuah, Marwan S.Ag Kari Mangkuto, Drs Hamdullah Salim dan Muchlis Hamid, SE., MBA.

Tim pendukung Irjen Pol (P) Drs Marwan Paris, MBA Dt Maruhun Saripado (sebelumnya bergelar Dt Tan Langik), Firdaus Oemar Dt Marajo, Drs Hasan Basri Dt. Maharajo Indo, Upi Tuti Sundari, Dr. Mafri Amir, MA, Zulfison, SAg, Malin Bandaro Kayo, Prof Dr Buchari Alma Dt Rajolelo dan Chaidir Nin Latif, SH Dt Bandaro, M.Si.

ii

Untuk Anak Kemenakan

iii

SAMBUTAN GUBERNUR SUMATERA BARAT

Dalam berjalannya waktu banyak yang terjadi dalam adat Minangkabau, walaupun sudah digambarkan bahwa adat ini tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Banyak yang mempertahankan keelokan adat kita ini karena tahu dan banyak pula yang tak acuh lagi karena tidak tahu. Generasi sekarang saja pengetahuan adatnya perlu dipertanyakan, apalagi generasi muda yang akan menentukan masa depan ranah ini. Inti dari adat Minangkabau adalah mufakat. Prof DR Keebet von Benda menemukan bahwa tangga menuju mufakat sudah runtuh. Banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan sepanjang adat, menjadi silang sengketa berkepanjangan, lalu timbul cakak bahkan bentrok antar nagari. Atau dibawa berperkara ke pengadilan negara. Yang menang menjadi arang dan yang kalah menjadi abu. Kedua belah pihak menderita kerugian. Pada hal adat Minangkabau sudah menyediakan solusi setiap masalah yang timbul dalam masyarakat. Solok Saiyo Sakato (S3) suatu ikatan masyarakat Solok di Jakarta menyadari kesulitan-kesulitan yang terjadi di kampung halaman. Bagaimana tidak, ninik mamak tak tahu lagi jumlah anak-kemenakan baik yang tinggal di
iv

kampung, apatah lagi yang tinggal di rantau. Pengelolaan anak-kemenakan harus dimulai dari keluarga dan kemudian suku. Ketika pengurus Solok Saiyo Sakato datang menemui saya semasa saya masih menjadi Bupati Solok di Arosuka pada 2004, saya menyambut ide Musyawarah Besar (Mubes) Masyarakat Solok yang akan menghasilkan pikiran-pikiran untuk membenahi kembali adat kita ini. Mubes ini berlangsung selama dua hari, 18 dan 19 Januari 2005 di Koto Baru Solok, dihadiri oleh Ninik Mamak dan wakil-wakil masyarakat dari Kota Solok, Kabupaten Solok termasuk Solok Selatan yang waktu itu belum berpisah menjadi Kabupaten Solok Selatan. Pendekatannya patut saya acungi jempol. Tidak berdasarkan administrasi pemerintahan, tetapi memakai pendekatan adat dan budaya. Dampaknya tidak saja melingkupi budaya Solok tetapi juga budaya alam Minangkabau yang batasbatasnya melewati perbatasan Sumatera Barat. Pada akhir Mubes dikeluarkan pernyataan kebulatan tekad yang disebut Deklarasi Koto Baru 2005. Menilik akan isinya deklarasi ini dapat disebut sebagai Sumpah Marapalam II. Saya menyambut baik terbitnya buku yang berjudul Manajemen Suku ini. Implementasi perlu dilakukan sebaik mungkin. Konon LKAAM Kabupaten Solok sudah mulai menyosialisasikan isi buku ini, sebagai upaya merevitalisasi Adat Minangkabau ibarat pepatah adat dipakai baru, baju dipakai menjadi usang. Padang, 1 Desember 2008 Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi Dt Rajo Nan Sati
v

SEKAPUR SIRIH

Jauh sebelum masa penjajahan, di Minangkabau telah ada suatu sistem yang mengatur kehidupan masyarakat. Sistem ini berjalan baik yang dapat menjamin keserasian dan keamanan masyarakat. Sistem yang disebut adat ini dipertahankan sampai kini. Orang Minang dikenal sangat teguh dengan adatnya, bahkan orang Minang telah menegaskan bahwa adat itu indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh, adat dipakai baru, kain dipakai usang. Adat dan budaya Minangkabau telah mengatur dasardasar kehidupan masyarakat. Lahirnya adagium adat basandi syarak, syarak basandikan Kitabullah, telah memperkokoh keterkaitan antara adat dan agama, adat tidak lagi sekedar untuk dunia, tetapi sekaligus untuk kemaslahatan di akhirat kelak, sebab sejak itu telah disatukan pendapat kaum adat dengan kaum agama (Islam), bahwa kebiasakan (lazim) dalam adat yang secara
vi

turun-temurun dan diterima oleh masyarakat akan dikuatkan dan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh agama, lazim kato adat, qawi kato agamo. Adat Minangkabau telah benar-benar mengatur tata kehidunpan masyarakat Minangkabau, tidak saja sekedar untuk kepentingan duniawi semata, tetapi sekaligus untuk kepentingan umat di akhir masa kelak. Adat adalah sesuatu yang dinamis, sesuai dengan dinamika hidup itu sendiri. Namun tak dapat dipungkiri, ada semacam kegamangan diantara pencinta adat Minangkabau menghadapi milenium ketiga ini. Pertanyaan yang timbul mengingat perubahan yang terjadi secara global apakah adat Minangkabau itu akan mampu bertahan? Jika mampu, apakah adat itu akan tetap asli adanya atau adat itu menempatkan perubahan itu sebuah dinamisator dalam tata kehidupan, sedangkan perubahan itu adalah sesuatu yang alami. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Jika benar adanya, di manakah kita tempatkan adat dan perubahan itu? Kemampuan adat untuk beradaptasi dengan perubahan itulah tujuan dalam penulisan buku ini. Dalam masyarakat Minangkabau, Penghulu adalah pemangku adat yang amat penting kedudukannya. Bahkan sampai saat ini, hampir tak mungkin bagi pemerintah melakukan sesuatu tanpa mengikutsertakan Penghulu dan Niniak Namak lainnya. Penghulu dalam suku tidak lagi sendiri dalam menata anak kemenakan, tetapi telah didampingi oleh yang lain di sekelilingnya, yaitu Urang nan Ampek Jinih atau Urang Ampek Jinih. Apabila kita ingin menelusuri, terlihat adanya pergeseran nilai dalam Masyarakat Adat Minangkabau sekarang ini, sebagaian kalangan memandang adat sebagai konsumsi
vii

“basi” dan “kolot”, dia telah jauh ditinggal oleh kemajauan yang datang deras tanpa dapat dihambat dengan gaya tradisional, untuk itu pertemuan demi pertemuan berulang kali dilakukan, dalam rangka mencari format agar kepemimpinan Penghulu dapat berjalan efektif menata anak kemenakan, dalam sebuah manajemen suku. Permasalahan manajemen suku berawal dari tidak adanya data anak kemenakan, apalagi mereka telah bertebaran di perantauan, berapa populasi anak kemenakan sekarang, apa dan dimana aset suku, serta berapa jumlah dan nilainya, tidak ada yang tahu, bagaimana manajemen dapat berjalan? Demikian kegelisahan salah seorang pemuka adat, Firdaus Oemar Dt. Marajo dalam mengelola suku. Kegelisahan-kegelisahan tidak saja dalam pribadipribadi, tetapi juga secara organisasi Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang (Gebu Minang), pada tahun 2000 telah mengkaji hal ini secara umum dengan tema “Mambangkik Batang Tarandam, Manaruko Maso nan Katibo”, begitu juga dengan tema “Minangkabau di Tepi Jurang” yang diusung oleh yang lain. Kajian yang cukup mendalam dilaksanakan di Bandung dengan mengundang lebih dari 100 tokoh dengan tema Minangkabau yang Gelisah. Memahami kondisi yang demikian, maka Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta, berinisiatif menjembatani dinamika masyarakat adat tersebut, dengan duduk bersama mengeluarkan pendapat. Diskusi-diskusi kecil sering dilakukan di Jakarta, makin lama makin besar yang melibatkan bukan urang Solok saja tetapi urang Minang dari golongan Ninik Mamak, Cerdik Pandai, Bundo Kanduang dan Alim Ulama. Dilanjutkan dengan diskusi Kayu Aro yang dihadiri 50 orang yang terkait, diundang oleh Bupati Solok sekaligus menjadi tuan rumah dan Walikota Solok. Pertemuan ini masih dilanjutkan di
viii

Jakarta dan mencapai kilmaknya dengan Dialog Interaktif di Lepau Kopi Saribundo Menteng pada 19 Juni 2004. Perjalanan dialog manajemen suku menempuh jalan yang panjang mendaki mendaki, akhirnya sampai juga di puncak pendakian yaitu Musyawarah Besar Masyarakat Adat Solok dengan seluruh Pemangku Adat dari 74 nagari, Ninik Mamak, Bundo Kandung, Cadiak Pandai, Alim Ulama dan Generasi Muda. Pertemuan ini terjadi pada 18 dan 19 Januari 2005. Di sini lahir kesepakatan yang disebut dengan Deklarasi Koto Baru, Solok 2005 yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah dari Manajemen Suku. Deklarasi ini merupakan bentuk sumpah sati ketiga setelah Sumpah Sati Bukit Marapalam dan Kesepakatan Tandikek. Dalam rangka mewujudkan panduan dalam pengelolaan suku, maka kami (tim penulis) meramunya dengan berbagai referensi dari beberapa buku tentang adat Minangkabau, melalui sekapur sirih ini kami menyampaikan ucapan terima kasih, dan sekaligus memohon izin untuk menyatukannya karya-karya terdahulu dalam buku Manajemen Suku. Tim penulis terdiri dari Bustanul Arifin Dt Bandaro Kayo. Syahrial Chan BA Dt Bandaro Hitam, Nasfi, SH Dt Mudo Nan Hitam, Drs. Elfi Yandri, Bagindo Suarman, SH., MM, Maifil Eka Putra, S.Ag Khatib Batuah, Marwan, S.Ag Kari Mangkuto, Drs Hamdullah Salim dan Muchlis Hamid, SE., MBA. Tim pendukung terdiri dari Irjen Pol (P) Drs Marwan Paris, MBA Dt Maruhun Saripado (sebelumnya bergelar Dt Tan Langik, Firdaus Oemar Dt Marajo, Drs Hasan Basri Dt Maharajo Indo, Upi Tuti Sundari, Dr Mafri Amir, MA, Zulfison Malin Bandaro Kayo, SAg, Prof Dr Buchari Alma Dt Rajolelo dan Chaidir Nin Latif, SH Dt Bandaro, M.Si.
ix

Amir MS Dt Mangguang Sati, penulis buku-buku adat Minangkabau telah bersedia membaca dan memperbaiki naskah serta memperkaya isi. Kepada pihak-pihak yang membantu terselenggaranya Musyawarah Adat dan terbitnya buku ini, kami sampaikan terima kasih dan sudah sepantasnya memperoleh penghargaan yang setinggi-tingginya atas jerih payah serta niat yang tulus, demi masa depan anak nagari. Semoga jerih payah tersebut menjadi amal saleh dan memperoleh pahala dari Allah Swt. Amin. Drs Asril Das, pemilik PT Lubuk Agung Bandung yang mencetak buku ini untuk pertama kalinya (edisi pertama), dengan memberikan fasilitas yang seluas-luasnya, kami sampaikan terima kasih yang tidak terhingga. Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Diperlukan penelitian yang mendalam atas kasus-kasus adat, yang berhasil diselesaikan dan yang tidak berhasil diselesaikan. Tegur dan sapa dari sidang pembaca sangat kami harapkan, demi perbaikan di masa mendatang. Tim Penulis

x

xi

DAFTAR ISI

Sambutan Gubernur Sumatera Barat ........................... iv Sekapur Sirih ................................................................. vi Daftar Isi ...................................................................... xii BAB 1 Pendahuluan .................................................. 1
A. B. C. A. B. C. D. Latar Belakang ............................................................. 1 Penjelasan Judul.......................................................... 5 Metodologi dan Sistematika Pembahasan .................... 6 Nama Minangkabau ..................................................... 9 Lahirnya Alam Minangkabau ...................................... 12 Luhak Nan Tigo.......................................................... 18 Lareh Nan Duo........................................................... 24

BAB 2

Minangkabau dalam Lintasan Sejarah ......... 9

BAB 3

A. B.

Nagari Pemerintahan Terdepan di Sumatera Barat ............................................ 29

C. D.

Pengertian Nagari ...................................................... 29 Sejarah dan Perkembangan Nagari............................ 31 1. Periode Pra-Kolonial .......................................... 35 2. Periode Kolonial................................................. 36 3. Periode Kemerdekaan ....................................... 38 4. Periode Otonomi Daerah ................................... 40 Struktur dan Unsur-Unsur Kelembagaan Nagari ......... 45 Pemerintahan Nagari dalam Perspektif Otonomi Daerah ....................................................................... 52 Pengertian Suku ........................................................ 67 Komponen-komponen Suku ....................................... 70
xii

BAB 4

A. B.

Suku, Sejarah dan Perkembangannya ....... 67

C. D. E.

Perkembangan dan Pemekaran Suku ........................ 72 Skala Urutan Kepemimpinan Suku ............................. 77 Pola Kepemimpinan Masa Lalu .................................. 80 1. Hierarki Kepemimpinan ...................................... 80 2. Pencatatan ........................................................ 81 3. Pengawasan ...................................................... 84 4. Pendanaan ........................................................ 85

BAB 5

A. B.

Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen ................................................... 89

C.

Kelembagaan Suku Menurut Koto Piliang................... 90 1. Urang Ampek Jinih ............................................ 91 2. Unsur Penasehat Suku (Urang Bajinih) ............. 94 Kelembagaan Suku menurut Kelarasan Bodi Caniago ..................................................................... 96 Kepemimpinan Penghulu ........................................... 99 1. Proses dan Pengangkatan Lembaga Ampek Jinih102 2. Prosesi Pengangkatan Penghulu ..................... 104 3. Pakaian Pcnghulu ............................................ 107 4. Tugas Pokok Penghulu .................................... 113 5. Fungsi Penghulu .............................................. 115 6. Martabat Penghulu........................................... 117 7. Syarat-Syarat Jadi Penghulu............................ 119 8. Syarat Mengangkat Pengganti Penghulu.......... 122 9. Macam-Macam Penghulu ................................ 123 10. Tingkat Penghulu ............................................. 127 11. Gelar Penghulu ............................................... 127 12. Cara Pemakaian / Penamaan Gelar ................. 128

BAB 6

A. B. C. D.

Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen ............................... 129

Aspek Sistem dan Kelembagaan .............................. 130 Aspek Struktur dan Kepemimpinan .......................... 136 Aspek Fungsi dan Peranan Kelembagaan ................ 138 Aspek Kemampuan Kepemimpinan.......................... 140 1. Fisik/Performance ............................................ 141 2. Mental Spritual................................................. 141 3. Integritas Intelektual ......................................... 142
xiii

E.

4. Sosial Ekonomi ................................................ 143 Aspek Proses, Mekanisme dan Tatacara Pengelolaan Suku .................................................... 144 1. Perencanaan ................................................... 144 2. Pelaksanaan .................................................... 149 3. Evaluasi ........................................................... 171

BAB 7

Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif Kepemimpinan Suku ............... 175
A. B. C. D.

E.

F.

Aspek Sistem dan Kelembagaan .............................. 177 Aspek Struktur dan Kepemimpinan .......................... 181 Aspek Fungsi dan Peranan Kelembagaan ................ 185 Aspek Kemampuan Kepemimpinan.......................... 189 1. Fisik/Performance ............................................ 190 2. Mental Spiritual ................................................ 191 3. Integritas Intelektual ......................................... 195 4. Sosial Ekonomi ................................................ 197 Aspek Proses, Mekanisme dan Tatacara Pengelolaan Suku .................................................... 200 1. Perencanaan ................................................... 200 2. Pelaksanaan .................................................... 201 3. Evaluasi ........................................................... 202 4. Pengawasan ................................................... 203 Solusi dan Pemecahan Masalah .............................. 205 Pertemuan Kayu Aro ................................................ 213 Musyawarah Rantau dan Kampung.......................... 214 Koto Baru Tempat Lahirnya Deklarasi Abad 21 ........ 221 1. Musyawarah terdiri dari tujuh bagian penting.... 222 2. Tata-tertib Sidang ............................................ 225

BAB 8

A. B. C.

Deklarasi Koto Baru, Solok .......................213

xiv

xv

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Buku yang ada di hadapan pembaca sekarang ini, bertujuan agar adat dan budaya yang mempunyai nilanilai sosial yang tinggi itu, dapat disampaikan kepada angkatan sekarang dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Selain itu untuk mengisi era Otonomi Daerah, dengan sistem Pemerintahan Nagari yang menjadi pemerintahan terdepan di Sumatera Barat. Peluang untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan adat itu terbuka lebar, dengan keluarnya Undang-undang Nomor 22 Th. 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Th. 2000, tentang Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, dalam Konsiderannya huruf (b) “bahwa dalam penyelengaraan Otonomi Daerah, dipandang perlu untuk lebih
Bab 1: Pendahuluan
1

menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah” 1 Otonomi daerah yang dimaksud, seperti dalam pasal I huruf (h) adalah: “kewenangan Daerah Otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan menurut prakarsa sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. 2 Sedangkan Daerah Otonomi sebagaimana dalam pasal I huruf (i) “Kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu, berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Repulik Indonesia. 3 Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah berlaku selama + 5 tahun, sejak diundangkan tanggal 4 Mei 1999. Dan dinyatakan tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelengaraan otonomi daerah sehingga perlu diganti. Untuk itu telah ditetapkan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah di Jakarta pada tanggal 15 Oktober 2004, sebagai pengganti UU No: 22 tahun 1999. Perbedaan yang mendasar antara kedua UU itu adalah; Undang-undang Nomor 22/1999 tentang pemerintahan daerah, yang dimaksud dengan pemerintahan daerah adalah kepala daerah atau Gubernur sebagai Executive dan Dewan Perwakilan Rakyat sebagai Daerah adalah sebagai Legislatif. Sedangkan Undang-undang No 32/2004 tentang pemerintahan Daerah yang dimasud
1 2 3

Undang-undang No. 22 Tahun 1999, Tentang Pemerintahan Daerah, (Jakarta, Restu Agung, 2000) , hal 11 Ibid, hal 13 Ibid
Manajemen Suku

2

dengan Pemerintahan daerah adalah kepala Daerah Gubernur dan DPRD. Kedua Undang-Undang tersebut di atas tetap berada dalam kebijakan Otonomi Daerah. Dengan terang dan tegas bahwa Desa atau nama lain dalam negara kesatuan Republik Indonesia, merupakan kekayaan dan keragaman nilai-nilai adat dan budaya yang berlaku dan yang diakui oleh Undang-undang. Dalam penjelasan tentang pasal 202 UU No 32/2004 ayat (1); Desa yang dimaksud dalam ketentuan ini termasuk antara lain Nagari di Sumatera Barat, Gopang di Nangro Aceh Darussalam (NAD), Lembang di Sulawesi Selatan, Kampung di Kalimantan Selatan dan Papua, Negeri di Maluku 4 Dalam era Otonomi Daerah, pemerintah Sumatera Barat mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 9 tahun 2000 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari intinya adalah sistim pemerintahan terdepan dalam pemerintahan Sumatera Barat adalah Nagari, tidak desa lagi seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979, yang berlaku efektif di Sumatera Barat berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat Nomor 162/GSB/1983. Kedudukan Nagari hanyalah sebagai kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam Propinsi daerah Tingkat I Sumatera Barat, dalam rangka memelihara dan melestarikan hukum adat serta tradisi yang hidup dan berakar di tengah masyarakat Minangkabau, hal ini diatur dengan Peraturan Daerah No 13 tahun 1983. Penyesuaian/pergantian kembali Desa kepada Nagari, pada masa otonomi sekarang ini, tidak hanya diartikan

4

Ibid… hal 197
3

Bab 1: Pendahuluan

sekedar pergantian istilah semata, melainkan didalamnya terdapat perubahan filosofi dari pemerintahan Nagari. Pemerintahan Nagari adalah kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, yang dilaksanakan oleh organisasi pemerintahan yang terdepan, tetapi tidak lagi berada di bawah camat, karena Nagari merupakan kesatuan masyarakat hukum adat yang mempunyai susunan asli, berdasarkan hak asal-usul yang bersifat istimewa. Oleh sebab itu, Pemerintahan Nagari berhak menyelenggarakan urusan rumah tangga Nagari berdasarkan otonomi asli yang dimilikinya5. Untuk itu, sedang ditumbuhkan kembali Pemerintahan Nagarii dengan segala esensinya, mengingat semakin renggangnya hubungan kekerabatan, toleransi, dan kepedulian dalam kehidupan masyarakat.6 Usaha untuk kembali kepada sistem pemerintahan Nagari bukan juga hanya sekedar wilayah administrasi, tetapi sekaligus sebagai satu kesatuan hukum adat, diharapkan tumbuhnya kembali nilai-nilai yang positif. Dan sekarang adalah momentum yang tepat kearah yang demikian 7. Nagari di Sumatera Barat mencapai 543 dan di Kabupaten Solok berjumlah 74 Nagari. Setiap anak nagari, mempunyai kewajiban untuk mengetahui, mengenal akan adat dan budaya yang berlaku di nagarinya sendiri, karena adat itu dilengkapi dengan tata aturan adat. Adat itu adalah tingkah laku yang oleh dan dalam masyarakat sudah, sedang dan akan diadatkan. Adat itu ada yang tebal
5 6 7

Penjelasan Peraturan Daerah Nomor 9 tahun 2000, dikutip dari Efi Yandri, hal 190 Nagari dalam Perspektif sejarah, (Lantera 21, 2003) Fakhri Ahmad, Paradigma Baru Hubungan Kampung dengan Rantau, Makalah, hal 3 Gamawan Fauzi, Nagari di Persimpangan Jalan, dalam Efi Yandri (Nagari …) hal 96-97
Manajemen Suku

4

dan ada yang tipis dan senantiasa menebal dan menipis”8. Pengertian yang disampaikan oleh Anas, tersebut lebih mengadakan pendekatan kepada pengertian Adat nan Diadatkan, yaitu kebisaan setempat yang telah diambil dalam kesepakatan terlebih dahulu, boleh dikurangi, boleh ditambah dan boleh dihilangkan. Dari kesepakatan tersebut, perlu ditetapkan aturan pelaksanaannya. Hal inilah yang disebut dengan Adat istiadat yaitu kelaziman disatu-satu nagari, pada satu keadaan yang diperturun– naikkan dalam pergaulan sesama.

B. Penjelasan Judul
Menajemen suku dimaksud disini adalah sangat erat hubungannya dengan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan Adat nan Taradat dan Adat Istiadat, yaitu peraturan yang telah disepakati, disebut buek. Buek itu menjadi aturan yang mengikat bagi anak nagari, sesuai dengan kesepakatan dalam Nagari itu sendiri. Permasalahan paling utama dalam Manajemen suku adalah, sejauh mana pemangku adat dapat menjalankan tugas-tugas kepemimpinan terhadap anak kemenakannya dalam suku?, Permasalahan akan bertambah sulit dan kompleks, karena perubahan yang telah merambah tatanan masyarakat. Apakah benar pemangku adat tidak dihormati lagi oleh Anak Kemenakan dalam kepemimpinannya?, “kato mamak”, badanga, harus diikuti, dipatuhi. Ataukah Pemangku adat itu yang harus menyesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan yang ada, sehingga mereka tidak lagi menjadi –
8

Anas, Masalah Hukum Waris Menurut Adat Miangkabau, dalam Mukhtar Naim (Menggali Hukum Tanah dan Hukum Waris Minangkabau), hal 101
5

Bab 1: Pendahuluan

dikatakan- “Mamak Kolot”?. Permasalah lain yang mungkin sangat mentukan kepemimpinan dalam suku adalah penampilan seorang panghulu, baik dari segi ekonomi, sosial dan integritasnya mulai diperdebatkan?. Untuk semua itu buku ini memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Buku ini adalah hasil diskusi intensif yang digagas oleh Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta dengan pemangkupemangku Adat baik yang berada dikampung halaman, maupun yang di perantauan. Sebagai puncak dari diskusi tersebut adalah musyawarah masyarakat adat Solok pada tanggal 18-19 Januari 2004 di Koto Baru Solok.

C. Metodologi dan Sistematika Pembahasan
Penulisan ini mengunakan metode deskriptif yaitu mengelompokkan pokok-pokok kajian dalam beberapa bagian, yang di bahas secara rinci melalui Sub Bab, kemudian diarahkan kepada kajian yang lebih dalam. Dalam membahas tentang Manajemen Suku, tidak terlepas dari melihat Minangkabau secara umum. Alam Minangkabau secara geografis terdiri dari Luhak dan Rantau, yang tersebar sampai di luar daerah administratif Sumatera Barat sekarang. Dan secara Sosial-Politik Minangkabau itu terdiri Lareh nan Duo dikenal dengan sistem Bodi Chaniago dan Koto Piliang. Kedua tinjauan tersebut akan dibahas secara umum, sebagai pengantar untuk bisa sampai pada pembahasan bagaimana manajemen suku yang dipaparkan dalam buku ini. Nagari dan Suku akan menjadi fokus dalam pembahasan ini, karena nagari merupakan tempat bergabungnya beberapa suku, sedangkan suku tempat
6

Manajemen Suku

bernaungnya anak kamanakan, sehingga pembahasan itu meliputi: Pengertian Nagari, Struktur Kepemimpinan dan Kelembagaan Nagari. Pembahasan Suku mencakup pengertian, komponen-komponen, perkembangan dan pemekaran serta skala prioritas dalam kepemimpinan suku. Hal yang sangat mendasar dibahas adalah Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen, dilengkapi dengan analisa Kepemimpinan Suku, serta Revitalisasi adat Minangkabau dalam Perspektif Manajemen. Semoga gambaran ini dapat menjadi panduan bagi pembaca dalam memahami isi buku ini secara keseluruhan, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Bab 1: Pendahuluan

7

8

Manajemen Suku

BAB 2
MINANGKABAU DALAM LINTASAN SEJARAH

A. Nama Minangkabau
Asal mula dari nama daerah ini, yaitu Minangkabau berada dalam kegelapan 9 . Terdapat beberapa asal kata dari Minangkabau yang dikemukakan para ahli, baik yang berbentuk klasik, dalam bentuk tambo dan cerita rakyat, maupun kalangan intelektual, dalam bentuk telaah ilmiah secara akademisi. Minangkabau berasal dari “Binanga Kanvar”, artinya Muara Kampar. Chan Ju Kua yang dalam abad ke-13 pernah berkunjung ke Muara Kampar, menemui di sana

9

M. Nasrun, Dasar-dasar Falsafah Adat Minangkabau, (Jakarta, Bulan Bintang, 1971) hal 19
9

Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah

(Muara Kampar) bandar yang satu-satunya paling ramai di pusat Sumatera10. Keterangan lain adalah bahwa Minangkabau itu berasal dari Minanga Kabwa (Minanga Tamwan) artinya “pertemuan dua muara sungai” dalam keterangannya ditemui bahwa Minangkabau terletak mula-mula pada pertemuan dua sungai besar. 11 Dalam Hikayat Raja-Raja Pasai bagian akhir, tersebut Raja Majapahit menyuruh Patih Gajah Mada pergi menaklukkan Raja Perca dengan membawa seekor kerbau, hikmat yang akan diadu dengan kerbau Patih Sewatang, Perdana Menteri kerajaan Minangkabau. Armada Gajah mada masuk dari Jambi dan sampai keperbatasan Minangkabau. Patih Sewatang mendapat akal, yang dikemukannya bukan kerbau yang sebanding dengan kerbau Gajah Mada, melainkan seekor anak kerbau yang telah beberapa hari tiada dibiarkan menyusu pada induknya. Ketika anak kerbau itu dilepas akan segera mengejar kerbau Gajah Mada yang besar itu, yang telah di lepas terlebih dahulu dan segera menyeruduk kebawah kerampang kerbau itu dan tak dilepaskannya lagi. Karena kesakitan kerbau Majapahit lari kian kemari, dan akhirnya rebah dan lalu mati 12. Keterangan tentang asal kata Minangkabau dari Manang Kabau seperti di atas, hanyalah cerita orang banyak saja 13 dan berbau dongeng. Dongeng tersebut dibuat sedemikian rupa, tulisan inilah yang dipopulerkan
10

Sutan Muhammad Zain, dalam Rasjid Manggis Minangkabau dan Sejarah Ringkasnya, (Padang, Sri Darma, 1971), hal 40 11 Ibid 12 Ibid 13 Op cit, hal 19
10

Manajemen Suku

sewaktu penjajahan Belanda. Sehingga menghilangkan data-data sejarah, tentang adanya hubungan antara keluarga Majapahit dengan Minangkabau 14. Kesuksesan “Manang Kabau” dalam adu kerbau orang Minang dapat mengalahkan legiun asing. Kemenangan tidak terlepas dari mendahulukan penggunaan raso jo pereso dalam menghadapi masalah yang tidak mudah untuk dipecahkan. Dalam bentuk inilah “Manang-kabau” itu dapat diterjemahkan, terbukti dengan “kepiawaian” mengunakan raso jo pareso itulah tokoh-tokoh Minang telah berada dalam catatan-catatan sejarah nasional maupun dalam catatan global. 15 Dari keterangan di atas, yang paling banyak kemungkinan mengandung kebenaran, tentang asal nama Minangkabau adalah Pinang Khabu artinya “tanah asal” 16 dan keterangan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Muhammad Hussein Naimar, Guru besar pada Universitas Madras. Asal kata Minangkabau itu “menon khabu” yang bermakna “tanah pangkal, tanah mulia”. Walaupun asal nama Minangkabau masih dalam perdebatan, para pemuka adat dan kaum intelektual, di abad ke 20 dan 21 sekarang, telah banyak memahami Minangkabau, menurut disiplin ilmu masing-masing. Sepertinya, telah menanggalkan pembenaran akan legenda “Adu Kabau”. Pada hakekatnya Minangkabau itu sebagai salah satu etnik masyarakat yang berada dalam
14

15 16

MID Jamal, Menyigi Tambo Alam Minangkabau, (Bukittinggi, Tropic, 1985), hal 16, menggenai hubungan keluarga Majapahit dengan Minangkabau dapat di baca dalam MD. Mansur , Sejarah Minangkabau, hal, 56-57 Safri Sairin, Minangkabau yang Gelisah, (Bandung, Lubuk Agung, 2004), hal 51-52 M. Narsun, Daras-dasar… hal 19
11

Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah

“alam” budaya. Kecendrungan untuk melihat Minangkabau, sebagai suatu budaya cukup beralasan. Karena pengertian dari Minangkabau, juga mengandung arti kebudayaan disamping makna geografis. Kebiasaan turun-temurun sekelompok masyarakat, berdasarkan nilai-nilai budaya masyarakat bersangkutan, dalam bentuk tradisional lebih identik dengan adat, yang merupakan perwujudan ideal dari kebudayaan yang disebut sebagai tatakelakuan (tingkah laku) 17 . Untuk itu, ada suku Minangkabau, ada kebudayaan Minangkabau, ada adat Minangkabau, tetapi tidak ada Suku Sumatera Barat. Walaupun Minangkabau sebagiannya, secara gegorafis berada dalam lingkungan administratif Sumatera Barat. Tapi Sumatera Barat adalah Minangkabau diluar kepulauan Mentawai.

B. Lahirnya Alam Minangkabau
Alam Minangkabau seperti dipahami banyak orang adalah daerah yang mencakup keseluruhan luhak dan rantau 18. Penambahan Alam pada kata Minangkabau adalah sebagai konsep penyatuan antara Luhak dan rantau, antara satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan, artinya antara luhak dan rantau atau sebutan lainnya adalah satu kesatuan.

17

18

Md. Mansur, Sejarah…, (Jakarta, Brata, 1970), hal 2. baca juga Mursal Esten, Mingkabau Tradisi dan Perubahan (Padang, Angkasa Raya: 1993), hal 11. Keteragan lain baca Azmi, Pelastarian Adat dan Budaya Minangkabau (Bandung, Lubuk Agung, 2004), hal 81 MD. Mansur, sejarah… hal 2, baca juga Mursal Esten, Minnagkabau Tradisi dan Perubahan (Padang; Angkasa Raya; 1993), hal 11, Keterangan lain baca Azmi, Pelastarian Adaat daan Budaaya Minangkabau, (Bandung; Lubuk Agung; 2004), hal 81
Manajemen Suku

12

Untuk mengetahui Alam Minangkabau secara keseluruhan dari sudut sejarah, terdapat kesulitan, karena tidak adanya bukti-bukti sejarah. Hanya ada sedikit harapan bahwa Minangkabau meninggalkan Tambo 19 . Tambo yang disusun melalui pantun, pepatah-petitih, gurindam, yang setiap kata dan kalimatnya mengandung nilai-nilai filosofis. Edwar Jamaris, telah melakukan penelitian terhadap empat puluh tujuh buah tambo, baik yang berada di Museum Nasional Jakarta, Leiden Belanda, dan London. Dalam tambo Minangkabau terdapat tokoh-tokoh sentral seperti Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumangungan, serta tokoh penunjang seperti Srii Maharajo Dirajo, Cati Bilang Pandai, Indo Jati dan Datuk Suri Dirajo. Tokoh-tokoh mitologi (tokoh penunjang) seperti Sri Maharajo Dirajo ayah dari Datuk Katumanggungan, Cati Bilang Pandai ayah dari Datuk Parpatih Nan Sabatang, Indo Jati yang Ibu dari kedua tokoh sentral, dan Datuk Suri Dirajo mamak kedua Datuk. Semua tokoh penunjang yang terdapat dalam tambo adalah mengandung makna simbolik dan angan-angan penulis tambo terhadap keluarga ideal Minangkabau, selanjutnya dapat diperhatikan kutipan berikut:
Nama-nama keempat tokoh penunjang mengandung makna simbolik, melambangkan perwatakan tokoh itu. Bapak Dt Katumanggungan adalah raja, Sultan Sri Maharajo Dirajo, keturunan Raja Iskandar Zulkarnain, sekaligus berfungsi legitimasi adanya kerajaan Minangkabau; Bapak Datuk Parpatih Nan Sabatang ialah Cati Bilang Pandai, cendikiawan dan terampil; Ibu kedua datuk ini Indo Jati, putri sejati, lambang atas hak tanah

19

Terhadap isi tambo, kaba dan cerita hanya 2% fakta sejarah dan 98 % mytology, MD. Mansur , Sejarah…., hal 37
13

Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah

asal “earth goddess”; dan mamak mereka adalah Datuk Suri Dirajo, orang Bijaksana. Bapak, ibu dan mamak kedua tokoh sentral yaitu bangsawan, cendikiawan dan arif bijaksana. Hal ini sejalan dengan pandangan masyarakat Minangkabau sekarang yang tergambar dalam sebuah ungkapan “Bapak kayo, mande barameh, mamak disambah urang pulo” 20

Peranan dua tokoh sentral, Datuk Parpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan dalam cerita tambo adalah sebagai pencetus sistem pemerintahan yang disebut dengan kalarasan yaitu kalarasan Bodi Chaniago dan kalarasan Koto Piliang. Berikut ini adalah kutipan Tambo disaat kedua Datuk memberikan nasehat kepada segenap pembesar-pembesar Kalarasaan masing-masing, isi nasehat Datuk Katumanggungan:
Maka tatkala Datuk Katumanggungan kepada laras Koto Piliang “pegangkanlah kata Hamba sembilan patah, kepada raja dan Penghulu; pertama, dirikan kerajaan di Bukit Batu Patah; kedua , didirikan kerajaan di Saruaso; ketiga dirikan kerajaan di Padang Gantiang,; keempat , dirikan kerajaan di Sumaniak; kelima dirikan kerajaan di Bandar Padang supaya jinak Wulanda akan maisi ameh manah kepada kita; kaenam’ dirikan kerajaan ditanah Jambi akan maisi emas manah kepada kita; ketujuh’ dirikan kerajaan di tanah Palembang supaya lalu perahu ke Jambi, dari pada tanah Jambi lalu kepada kita. Dan lainya dirikan kerajaan pada negeri Siak supaya lalu perahu kepada negari kita. Dan lagi dirikan kerajaan pada negeri Rembah Tembesi dan Rokan Pandalaian supaya jinak segala hamba rakyat Daulat yang dipertuan barang kemana berjalan. Maka dirikanlah kearajaan di tanah Aceh seorang supaya

20

Edwar Jamaris, Tambo Minangkabau, (Jakarta, Balai Pustaka, 1991) ,hal 77
Manajemen Suku

14

(pergi) nak haji ke Mekkah dan Medinah segala hamba Allah rakyat Daulat yang dipertuan. Itulah amanat aku

Selanjutnya dapat dilihat nasehat Datuk Perpatih Nan Sabatang kepada kalarasan Bodi Chaniago sebagai berikut:
Maka tatkala (Datuk) Parpatih Nan Sabtang hampir mati, dipanggillah tiap-tiap negeri seorang sakoto nan se-laras Bodi Chaniago. Maka berkatalah beliau kepada segala Penghulu nan tiap-tiap se-nagari. “Hai segala panghulu, pegangkan petaruh hamba, hai segala yang berbicara akan salapan patah (kata); pertama, kasih engkau kepada negari; kedua, kasih engkau pada isi negari; ketiga, kasih engkau pada orang kaya; keempat;, kasih engkau kepada orang tuha; kelima kasih engkau pada orang berilmu; keenam, kasih engkau pada orang gadang,; ketujuh kasih engkau pada segala yang benar; dan kasalapan, kasih engkau pada orang mempuyai bicara. Itulah nan tinggi dialam dan nan tinggi di dalam nagari. Maka janganlah engkau ubahi sepeninggal aku supaya selamat pekarjaan engkau selama-lamanya.

Memahami nilai-nilai falsafah dalam tambo, kaba dan cerita ini menjadi penting, karena tambo berisikan waktu yang sekarang dan menghadapi masa mendatang. Akan sangat jauh berbeda dengan memahami sejarah yang hanya menangani masa telah berlalu dan tidak akan berulang 21. Ide yang terkandung dalam falsafah itu tetap akan hidup terus, walaupun realisasinya akan tumbuh dan berkembang dan akan disesuaikan dengan keadaan dan perkembangan zaman. Falsafah adat Minagkabau yang tersusun dalam pepatah-petitih, pantun, fatwa dan dalam tambo Alam Minangkabau diataranya berisikan wilayah Pulau Paco itu meliputi:
21

M. Nasrun, Dasar-dasar…, hal 21-22
15

Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah

Dari Sirangkak nan badangkang, siluluak punai mati, hinggo buayo putiah daguak, sampai ka pintu rajo ilia, taruih kadurian ditakuak rajo. Hinggo aia babaliak mudiak, sampai ka ombak nan badabua, sailiran Batang Sikilang, hinggo lauik nan sadidiah. Sampai ka timua ranah alam Aie Bangih, taruih ka Rao jo Guguak Malintang, Pasisie Banda Sapuluah, hinggo taratak Aia Hitam, sampai ka Tanjuang Simalidu, pucuak Jambi Sambilan Lurah.

Tidak ada informasi dan pembuktian secara empiris mengenai batas Alam Minangkabau yang sesungguhnya. Hanya ada beberapa nama nagari yang telah lazim disebut seperti Sikilang Aie Bangih, Rao, Banda X, Tanjuang Simalidu dan Jambi. Perkiraan lain seperti Riak nan Badabua itu adalah Lautan Indonesia, Sikilang Aie Bangih, wilayah utara seperti tiku, Pariaman dan taratak Aia Hitam berada di daerah Kampar 22 Betapapun adanya, perkiraan dan analisa yang ada tentang tambo Alam Minangabau seperti yang dikemukakan olah para ahli, cukup menjadi panduan untuk mengenal Minangkabau, karena memang sangat menyedihkan hati kalau Minangkabau itu dilihat dari segi bukti-bukti sejarahnya. Terdapat beberapa sebutan oleh para penulis terdahulu dalam menentukan dan membagi Alam Minangkabau, misalnya sebutan Darek untuk luhak nan tigo yaitu daerah yang terletak disekitar Gunung Merapi, Gunuang Singgalang, Gunuang Sago dan Gunuang Tandikek. Sedangkan daerah “kolonisasi” dari daerah Darek disebut dengan “rantau”. Penduduknya terutama berasal dari
22

Gusti Asnan, Kamus Sejarah…., hak 19, juga baca Mochtar Naim, Merantau…, hal 60
Manajemen Suku

16

daerah Darek 23 . Wilayah Rantau tersebut meliput: Air Bangis di utara sampai ke Sasak. Tiku, Pariaman, Painan Balai Salasa, Air Haji dan Indrapura. Daerah rantau sistemnya lebih dekat kepada kalarasaan Koto Piliang, karena daerah hukum dari rantau adalah Rantau Barajo dengan menjunjung tinggi “Daulat Tuanku” 24. Dataran rendah disebelah Barat Bukit Barisan dan berbatasan dengan Samudra Indonesia, biasa disebut dengan “Pesisir”. Daerah Pesisir ini terbagi pula atas kesatuan-kesatuan Politik-Ekonomi, daerah seperti TikuPariaman, disebelah Utara, Banda-X dan Indrapura disebelah Selatan 25. Kubuang XIII meliputi Solok, Salayo, Saok Laweh, Guguak. Gantuang Ciri, Panjakalan, Sirukam dan Supayang, terus sampai ke Sariak Alahan III. Sariak Alahan III kemudian menjadi Ranah Alahan Panjang yang terdiri dari Talaok, Koto Tuo, Sariak Alahan III, Taratak Talang, Sianggai-anggai (Sungai Anggai), Talang Babunggo, Salimpek, Aia Dingin dan Sungai Abu. Dari Kinari terus ke Muaro Paneh, Koto Anau, Batu Banyak dan Pancuang Taba. Banda X yang terdiri dari Batang Kapeh, Taluak, Surantiah, Ampiang Perak, Kambang, Lakitan, Pangai, Sungai Tunu, Punggasan dan Aia Haji yang Kemudian bergabung dengan Sungai Pagu, menjadi kerajaan dengan sebutan “Sungai Pagu Surambi Alam Minangkabau”. Dari perspektif manajemen, sistem pemerintahan yang berlaku di Alam Minangkabau itu terbagi kepada beberapa bentuk diantaranya , Lareh nan Duo sebagai bentuk pemerintahan. Dan Luhak Nan Tigo, Rantau dan Pasisie
23 24

MD Mansur, Sejarah….., hal 3 Darwis Thaib Dt. Sidi Bandaro, Seluk Beluk Adat Minangkabau, hal 87 25 MD. Mansur, Sejarah …hal 2
Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah
17

adalah bentuk dasar dari wilayah (teritorial). Pelaksanaan dari manajemen akan kelihatan secara keseluruhan di nagari-nagari, yaitu Nagari Baampek Suku, dan suku adalah ujung tombak dari pengelolaan anak kamanakan di Minangkabau.

C. Luhak Nan Tigo
Minangkabau dilihat dari segi geografis, digolongkan kepada Luhak dan Rantau. Kata “luhak” sebenarnya berasal dari kata ”luak”, menurut dialek Minangkabau berarti “sumur” yang bersaral dari bahasa Sansekerta atau melayu kuno “luak” artinya “sungai” dalam bahasa jawa kuno bebunyi “aloh” disingkat menjadi “leh”; aleh janawi dalam penyebutanya berbunyi “loh jinawi” artinya sungai yang mengalir. Setelah digabungkan dengan kata Jahnawi maksudnya Gangga (aloh jahnawi = sungai Gangga). Akhirnya loh jinawi itu maksudnya “kesuburan tanah di sekitar sungai atau lembah itu disebabkan mendapat air yang meresap dari sungai”. Kenyataanya bahwa Luhak Nan Tigo merupakan daerah subur. Pendapat lain mengatakan Luhak ialah tanah yang berlobang lantaran bekas runtuh 26 . Menurut Hamka, Luhak berarti sumur tempat mandi, sebab asal sumur itu ialah tepi tebing yang luhak karena tergenang air. Daerah yang terletak di daerah pedalaman Minangkabau digolongkan kepada Luhak, yang terdiri dari Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Limo Puluah, ketiga luhak ini dipercayai sebagai daerah inti dari alam Minangkabau, daerah ini juga dikenal dengan sebutan daerah darek.
26

Mid Jamal, Menyigi Tambo Alam Minangkabau, Bukittinggi, Tropic, 1985. hal 67. Baca juga Hamka, Islam dan Adat Minangkabau, (Jakarta, Panji Mas, 1984), hal 93.
Manajemen Suku

18

Pada zaman Belanda, istilah luhak mereka samakan dengan Regentschap, pada saat pemerintah Indonesia, luhak ini diidentikan dengan Kabupaten 27 Kapan lahirnya alam Minangkabau, dalam sejarah terdapat suatu masa yang sesungguhnya tidak dapat ditentukan dengan pasti, tidak ada informasi dan pembuktian secara empiris mengenai alam Minangkabau yang sesungguhnya. Dari segi topografi, Negeri Minangkabau dilintasi oleh Bukit Barisan yang merupakan tulang punggung bagi pulau ini memanjang dari ujuang Utara sampai ke ujung Selatan 28. Dapat diduga, bahwa alam Minangkabau pada abad ke 14 dan 15, dalam masa telah bernama kerajaan Minangkabau, meliputi seluruh wilayah-wilayah Sumatera Tengah, yaitu wilayah yang terletak antara kerajaan Palembang dan Sungai Siak sebelah timur dan antara kerajaan Manjuto dengan Sungai Singkel pada sebelah Barat. Teras dari kerajaan yang besar itu menjadi kerajaan Minangkabau yang asli (Alam Minangkabau), kira-kira meliputi daerah Padang Darat sekarang, dan raja-raja dari kerajaan inilah yang memperbesar pengaruhnya dari pantai Barat sampai ke pantai Timur, yaitu kerajaan Indrapura, Indragiri dan Jambi. Tetapi menurut dugaan pengaruh Minangkabau di daerah perbatasan tidaklah begitu besar, dan kesatuan kerajaan itu tidaklah lama bertahan 29. Dugaan yang dikemukakan di atas cukup beralasan, karena tidak didapatkan data yang pasti kapan wilayah ini terjadi. Walaupun dalam perkembangannya bahwa ranah
27 28 29

Gusti Asnan, Kamus Sejarah Minangkabau, (PPIM, 2003), hal 162 Mochtar Naim, Merantau Pola migrasi Suku Minangkabau (UGM Press,1979), hal 14 M. Nasrun, Dasar-dasar, hal 17
19

Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah

alam Minangkabau itu terdiri dari luhak dan rantau 30 , rantaupun terbagi kepada beberapa bentuk yaitu rantau Pesisir dan rantau Hilir demikian istilah yang pergunakan oleh Gusti Asnan. Masing-masing luhak menyebar ke wilayah rantau 31 . Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Limo Puluah, masing-masing Luhak mempunyai koloni (rantau). Untuk lebih jelas akan dikemukakan secara ringkas. Luhak Tanah Datar yang berpusat di Batusangar. Batusangkar menjadi pusat kerajaan Minangakabau sewaktu Raja Adityawarman berkuasa sebagai rajo alam. Kemudian setelah Belanda memasuki Batusangkar, maka mulailah dibangun pada tahun 1822. Setelah adanya perjanjian pada tanggal 10 Januari 1821, antara beberapa kerajaan di sekitar Batusangakar dan Saruaso dengan Belanda, karena mereka terdesak oleh kaum Paderi. Pembangunan Batusangkar juga dilanjutkan dengan pembangunan benteng Fort Van Der Capellen yang pembangunan dimulai pada tahun 1823, Batusangkar pernah menjadi tempat kedudukan Hoofdreggent van
30 31

MD. Mansur Dkk Sejarah…. hal 2 . Menggunakan istilah Pesisir, Darek dan Rantau, Mochtar Naim, Ibid, hal 2, mengutip pengertian rantau dari tiga kamus yang berbeda 1. Kamus Bahasa Melayu (Singapura), 2. Kamus Bahasa Dewan (Kuala Lumpur), dan 3 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Bhg II hal 125 yaitu Rantau ialah kata benda yang berarti dataran rendah atau daerah aliran sungai, jadi biasanya terletak dekat ke- atau bagian dari daerah pesisir. Sedangkan rantau dalam arti yang dikehendaki disini adalah daerah otonom penuh, mempunyai peraturan-peraturn pemerintahan sendiri, yang secara emosional terikat dengan “tanah pangkal”. Jadi perbedaan antara Luhak dengan rantau dari segi teritoriumnya, sedangkan untuk mengelola diserahkan kepada anak nagari masing-masing, yaitu Luhak bapanghulu, rantau barajo
Manajemen Suku

20

Minangkabau, Asisiten Residen Padang Darat (Padangsche Bovenlanden), Sekarang Batusangkar menjadi pusat ibukota kabupaten Tanah Datar. Wilayah rantau dari luhak Tanah Datar meliputi; Langgam nan Tujuah, terdiri dari; Singkarak-Saniang Baka, Camin Taruih Koto Piliang. Sulik Aia-Tanjuang Balik CuManti Koto Piliang. Saruaso-Limo Kaum CuManti Koto Piliang. Simawang-Bukik Kanduang Padamaian Koto Piliang. Batipuah, Harimau Campo Pasak Kungkuang Koto Piliang. Silungkang-Padang Sibusuak Gajah Tongga Koto Piliang 32 . Kubuang XIII meliputi; Solok, Salayo, Saok Laweh, Guguak, Gantuang Ciri, Cupak, Koto Anau, Kinari, Muaro Paneh, Gauang, Panjakalan, Sirukam dan Supayang. 33 Arah Selatan ke Sungai Pagu, bahkan menjadi kerajaan dengan sebutan “ Sungai Pagu Surambi Alam Minangkabau” dengan raja pertama adalah Syamsuddin Siduano gelar Yang di Pertuan Bagindo Sutan Basa 34. Pengaruh kerajaan Sungai Pagu sampai ke Banda X, yang dipimpin oleh Inyiak Alang Palabah. Luhak Agam, salah satu luhak di Minangkabau. Terletak di kaki gunung Merapi dan Singgalang dan dipercaya yang didominasi oleh ajaran Dt Parapatiah Nan Sabatang dengan sosial politiknya Bodi Chaniago. Luhak Agam yang sebagiannya disebut dengan Cancang Anam Baleh yaitu Sianok-Koto Gadang, Guguak-Tabek Sarojo, Sariak-Sungai Pua. Batagak-Batu Palano, LambahPanampuang, Biaro-Balai Gurah, Kamang-Salo, Magek32

33 34

Rasjid Manggis Tidak memasukkan Silingkang-Padang Sibusuak kedalam langgam nan 7 dan merupakan kebesaran dari lareh Koto Piliang,, Minangkabau… hal 114-115. Darwis Thaib Dt. Sidi Bandaro, hal 116 Ibid
21

Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah

Tilatang, 35 perjalanan terus bergerak ke arah Utara melalui Tabek Patah, Tanjuang Alam, Ampek Angkek, ke arah Barat, Padang Gaduik, Koto Rantang, kemudian terus ke rantau Pasaman, Kumpulan, Bonjol, Malampah sampai Sikilang Aia Bangih. Lama sebelum kedatangan Belanda, daerah Agam telah berhubungan dengan pantai barat, terutama daerah sekitar Pariaman untuk mengambil garam dan mendapatkan ikan kering. Semenjak Belanda memperkenalkan sistem pemerintahannya, luhak Agam senantiasa memperoleh kedudukan sebagai daerah administrasi setingkat Residentie, Afdeeling, Bun atau Kebupaten dengan ibu Kotanya Bukittinggi. Namun semenjak tahun 1985 ibukota Agam dipindahkan ke Lubuak Basuang. Luhak Agam juga pernah menjadi pusat pendidikan Islam, terutama pada saat Islam mulai masuk ke daerah pedalaman, yakni Koto Tuo, begitu juga saat terjadinya Gerakan dan Perang Paderi banyak Ulama yang terlibat.
35

Dt. Toeah, ed, Damanhoeri, Tambo Alam Minangkabau, hal 56. Dt. Toeah menuliskan sampai no 15 yang no 16 adalah terdapat beberapa pendapat diantaranya, Idrus Hakimi Dt. Rajo Panghulu,dalam bukunya Pokok-pokok Pangangan Panghulu dan Bundokanduang, memasukan Kamang Mudiak, Kamang Hilia secara terpisah ke dalam Cancang Anam Baleh, menurut penulis itu sangat tidak masuk akal, karena nama Kamang Mudiak-Kamang Hilia nama itu baru tahun 1949 yang sebelumnya bernama Surau Koto Samiak untuk Kamang Mudiak dan Aua Parumahan untuk Kamang Hilia, Dizaman Paderi masih bernama Kamang (saja), Pedapat lain mengemukakan bahwa Koto Rantang adalah salah satu dari Cancang Anam Baleh tersebut alasannya adalah karena Koto Rantang itu pintu gerbang ke arah Bonjol dan Malamah sampai ke Air Bagih daan Rao Mapattunggul , (wawancara bulan Pebruari tahun 1995, dengan Dt. Tumbijo Dirajo asal Koto Rantang), Namun penulis cendrung bahwa Tilatang adalah salah saatu dari Cancang Anam Baleh tersebut
Manajemen Suku

22

Daerah ini juga pernah memegang peranan penting dalam dunia pendidikan barat, dan itu ditandai dengan hadirnya Sekolah Raja di Bukit Tinggi dan banyaklah warga Koto Gadang yang berpendidikan barat serta menduduki jabatan penting pada birokrasi kolonial dan nasional. Luhak Limo Puluah yang mulanya terdiri dari 50 orang Niniak dari kaki Gunuang Sago, mereka memulai penyebaran daerah melalui Koto Tinggi, Baboi, Situjuah Batua, Ladang Laweh, Banda Dalam, Situjuah Gadang terus ke Mungka dan berdirilah nagari-nagari Koto Nan Gadang, Koto Nan Ampek, Tiakar, Mungka, Simalanggang sampai ke Pangkalan terus ke rantau Kampar KiriKampar Kanan, Siak Indragiri. Luhak Limo Puluah yang berpusat di Payokumbuah, sekarang menjadi Kotamadya, cikal bakal kota ini mulai dibangun dengan sungguh-sungguh sejak tahun 1832. Tahun itu sebuah pos militer dibangun dan sejumlah serdadu ditempatkan di sana. Status kota yang semula sebagai pusat perekonomian ditandai dengan dibangunnya keagenan Nederlandsch Handel Maatschappij (NHM) 1836. Keberadaan pos militer dan NHM inilah yang menjadikan Payokumbuah menjadi sangat penting, dan dengan latar belakang itulah Payokumbuah sebagai pusat pemerintahan di masa Belanda terutama setelah dibentuknya Afdeeling Limopuluah Kota. Kota Payokumbuah juga menjadi kota pendidikan, kota ini tercatat sebagai kota di mana Universitas Andalas pertama kali membuka kelas 36 Secara etnis, daerah-daerah yang berada di rantau itu tetap menganggap dirinya sebagai orang Minangkabau 37,
36 37

Gusti Asnan, Kamus… hal 227 Mochtar Naim, Merantau ….., hal 14. Gusti Asnan, Kamus… hal 20.
23

Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah

karena alam Minangkabau itu jauh lebih luas dari daerah administratif Sumatera Barat dewasa ini, dan sebagian besar penduduk yang mendiami daerah Muko-Muko (Bengkulu), Kuantan dan Kampar serta Rokan mengatakan berasal dari Minangkabau. Akhirnya luhak dan rantau berada dalam beberapa Kabupaten dan Kotamadya, bahkan tersebar di beberapa kabupaten di luar propinsi Sumatera Barat. Penyebaran etnis Minangkabau, dengan “meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau” 38 telah memberi ruang dan gerak mereka berkembang tidak hanya sebatas Luhak Nan Tigo dan Pulau Sumatera saja, bahkan sampai ke Negeri Sembilan. Di negeri Sembilan berkembang dan menyebar sehingga dikenal dengan Adat Parpatih yang telah menjadi “identitas’ bagi masyarakat Minang disana.

D. Lareh Nan Duo
Minangkabau dilihat dari segi Sosial-Politik disebut dengan Lareh. Perkataan kalarasan berasal dari laras dalam dialek Minangkabau disebut dengan Lareh artinya jatuh. Sebagai kiasaan menyatakan pola pikir dari Dt Parapatiah Nan Sabatang dan Dt Katumanggungan. Akan tetapi setelah dijadikan kata “laras” maka pengertiannya adalah loop senapan atau tempat keluar peluru. Agar tidak terjadi kerancuan dalam pemahaman disini akan memakai kata Lareh. Lareh bermakna hukum yaitu tata cara adat yang dipakai secara turun temurun (dipaturun-panaikkan), dalam
38

Mochtar Naim, merinci unsur pokok merantau:-Meningglakn kampung halaman –dengan kemauan sendiri, -untuk jangka waktu lama atau tidaak, -dengan tujuan mencari penghidupan, menunutut ilmu atau mencari penglaman, -biasanya dngan maksud kembali pulang daan merantau ialah lembaga yang membudaya. Ibid hal 3
Manajemen Suku

24

menjalankan fungsi panghulu, untuk menata anak kemanakan. Lareh juga diartikan seukuran atau seimbang, dalam pelaksanaan sering di jumpai undang yang berbunyi kok mangati samo merah, kok manambang samo barek. Jadi kata lareh dalam konteks ini, berarti seukuran atau seimbang yaitu diselaraskan 39. Untuk lebih menyempurnakan pemerintah di Minangkabau, kedua nenek moyang itu yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang bersepakat membentuk sistem kelarasan. Sistem itu dinyatakan laras, sama dengan lareh. Dapat dikatakan Dt. Katumanggungan peletak dasar kelarasan Koto Piliang dan Dt. Perpatih Nan Sabatang sebagai peletak dasar Bodi Caniago. Dalam mengemukakan pengertian Koto Piliang dan Bodi Caniago, ada sebagian pendapat. Menurut Tambo Koto Piliang itu berasal dari kata, “kato nan pilihan” artinya tunduk kepada undang–undang yang telah dituang dalam kata-kata 40. Dan Bodi Caniago artinya budi nan bahargo. Di samping makna yang tersebut di atas, ditinjau dari sudut Tipologi bahasa berasal dari bahasa Melayu Kuno atau sanskerta adalah: Koto Piliang berasal dari kata Kerta Philhyang yang artinya: Kerta = kemakmuran, phile bahasa Yunani artinya mencintai/dicintai Hyang (bahasa Sanskrit) artinya Dewa/raja. Kerta philhyang = kemakmuran yang dicintai raja. Kata-kata tersebut telah berasimilasi tatal
39 40

Hamka, Islam… hal 93 dan dalam MD. Mansur , Sejarah… hal 3 Kato (kata-kata) seperti yang terkandung dan terungkap dalam prinsip-prinsip dasar atau rumusan-rumusan kebenran, pepatah-petitih, patuah, mamangan…dalam memahami nilai-nilaiyang dominan dianut oleh mereka. Azmi, Pelestarian ….dalam Minangkabau yang Gelisah, hal 84.
25

Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah

dalam bahasa Melayu Minangkabau; karta menjadi koto, sebagai akibat adaptasi berdasarkan stuktur morfologis, yakni kerta menjadi kerto sampai menjadi “koto”. Filhyang, terus huruf F disebut P. Menjadi Piliang. Akhirnya sampai kepada Koto Piliang. Bodi Caniago berasal dari kata Bhudi Catriarga, Buddhi Catniarga artinya: Bhudi = pikiran (asal nama sejenis pohon yang rindang daunnya, di sini asal turunannya ilham sebagai hasil tapa, Shidarta Gautama, dalam bahasa melayu disebut pohon Bodi, yang maksudnya sama dengan musyawarah. Perkataan Catriarga ditinjau dari sudut morfologi mengalami adaptasi stuktur bentuk kata ke dalam bahasa Melayu Minangkabau Caniago. Dalam perkembangannya Caniago= Catni dan Arga; Catni mengalami matatesis menjadi canti. Canti mengalami sinkop yakni hilangnya satu fonem di tengah kata, sehingga menjadi “cani”. Begitu juga Arga atau aga berarti puncak (gunung) seperti tri arga =tiga gunung). Perkataan Buddhi Catniarga (dialek Minangkabau: Bodi Caniago), dimaksudkan “pikiran puncak yang baik” atau dengan kata lain: pikiran atau budi yang menjadi kebaikan. 41 Terlepas dari perbedaan nama dan pengertian tentang Koto Piliang dan Budi Chaniago, kita lihat kembali dari sistem pemerintahan, sistim pemerintahan yang disusun oleh Dt. Katumanggungan dengan semboyan “Titiak dari ateh”, sedangkan sistem yang disusun oleh Dt. Parpatiah Nan Sabatang bersemboyan “mambusek dari bumi”, berdasarkan kedaulatan rakyat. Kedua sistem tersebut sampai sekarang berkembang sepanjang gunung Marapi, sajajaran gunung Singalang,
41

Mid Jamal, Menyigi… hal 7i. Baca juga H. Bagindo Suarman Dkk, Adat Minangkabau: Nan Salingka Hhiduik, hal hal 35.
Manajemen Suku

26

saedaran gunung Pasaman, salilik gunung Sago, yang berawal di “sawah satampang baniah, makanan urang Tigo Luhak” di Pariangan Padang Panjang. Dibawah ini dapat dilihat perbedaan yang mendasar antara sistem Koto Piliang dan Budi Chaniago. PERBEDAAN ANTARA KEDUA SISTEM
KALARASAN KOTO PILIANG Nagari berdaulat pada yang dipertuan (Rajo tigo selo) “titiek dari ateh” Susunan panghulu bertingkat ada panghulu pucuak Balai-balai alang katabang Dalam putusan ada kata utus dari raja (pucuak) KALARASAN BUDI CHANIAGO - Nagari berdaulat pada rakyat Membusek dari bumi - Panghulu dudak samo randah tagak samo tinggi - Balai-balai gajah maharam - Keputusan tetinggi adalah “kato mufakat”

Pada sisi lain Dr. Alis Marajo Dt. Sori Marajo 42 mengemukakan terdapat empat sistem pemerintahan yang berlaku di nagari-nagari, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan oleh Pusat Kajian Adat Minangkabau Universitas Andalas; 1. Mengunakan Lareh nan Gadang (Koto Piliang) dengan kepemimpinan Pucuak Kaampek suku” 2. Sistem Lareh nan Bunta (Budi Chaniago) kepemimpinannya disebut dengan “Urang Tuo”.

42

Dr. Alis Marajo Dt. Sori Dirajo, Pemakalah pada Seminar tentang Budaya Minangkabau di Era Globalisasi dengan judul Peranan Niniak Mamak dan Pemerintahan Daerah dalam Upaya Kembali ke Nagari, disajikan pada tanggal 22 Oktober 2000 seperti yang penulis kutip pada halaman 3 dan 6 makalah tersebut.
27

Bab 2: Minangkabau dalam Lintasan Sejarah

3. 4.

Sistem Lareh nan Panjang (Pariangan) dengan kepemimpinan bernama “Lantak Nagari” Sistem Kerajaan Pagaruyang” dengan kepemimpinan Basa Ampek Balai

Pendataan itu dengan mengelompokkan nagari-nagari di Minangkabau kepada empat sistem yang berlaku yaitu: 1. Koto Piliang sebanyak 302 Nagari 2. Budi Caniago sebanyak 120 Nagari 3. Pariangan sebanyak 68 nagari 4. Pagaruyuang sebanyak 30 nagari Dalam tulisan ini, tidak akan membahas secara lebih jauh, karena tidak mencakup bahasan pokok dalam buku ini. Paling tidak apa yang dikemukan, menjadi wacana dan pengembangan pemikiran wawasan bagi kita semua, ternyata adat itu dinamis, untuk itu diperlukan penelitian yang lebih luas tentang hal tersebut.

28

Manajemen Suku

BAB 3
NAGARI PEMERINTAHAN TERDEPAN DI SUMATERA BARAT

A. Pengertian Nagari
Nagari dalam tradisi masyarakat Minangkabau adalah identitas (icon) kultural dari sebuah tatanan masyarakat yang demokratis. Di dalam Nagari, terkandung sistem yang memenuhi persyaratan embrional dari sebuah sistem negara. Nagari yang terdiri dari suku-suku dalam artian miniatur, dan merupakan republik kecil yang sifatnya self contined, otonom dan mampu membenahi diri sendiri. Sebagai suatu lembaga, nagari bukan saja dipahami sebagai kualitas teritorial, akan tetapi juga merupakan kualitas genelogis. Nagari merupakan lembaga pemerintahan dan sekaligus merupakan lembaga kesatuan sosial utama yang dominan. Sebagai kesatuan masyarakat otonom, nagari merupakan republik mini dengan teritorial yang jelas. Ia mempunyai pemerintahan sendiri, punya
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
29

adat sendiri yang mengatur tata kehidupan masyarakatnya. Nagari merupakan daerah dalam lingkungan konfederasi kultural Minangkabau dan berhak mengurus diri sendiri. Dari sisi ini, dapat dilihat bahwa Lembaga Nagari juga berfungsi sebagai lembaga adat dan pemerintah, keduanya kait-berkait, jalin-menjalin dan merupakan kesatuan yang integral. Nagari dalam sistem pemerintahannya mempunyai unsur legislatif, eksekutif dan yudikatif, namun ia juga merupakan kesatuan ``holistik`` bagi perangkat tatanan sosial budaya lainnya. Ikatan bernagari bukan saja Primodial Konsanguinal sifatnya, tapi juga Struktural Fungsional, dalam artian teritorial pemerintahan yang efektif. Secara Horizontal antara sesama Nagari terdapat ikatan emosional dan bukan struktural fungsional. Nagari merupakan kumpulan sekurang-kurangnya empat koto atau disebut empat suku (kapalo koto, ikua koto, korong tangah atau galanggang tangah dan lain sebagianya) Ditinjau dari proses kelahiran nagari Minangkabau, jelasnya: 1. Nagari itu himpunan beberapa buah koto dimana setiap koto himpunan dari orang sesuku dengan satu pucuk pimpinan yang disebut Penghulu 2. Koto itu sendiri merupakan himpunaan dari beberapa buah dusun. Dusun kumpulan dari beberapa jurai kaum yang merupakan beberapa buah taratak dan taratak merupakan himpunan orang yang saparuik (seibu=saudara), secara integral dapat disebut pimpinannya: Sa-rumah pimpinannya mamak rumah Sa-paruik sajurai pimpinannya tungganai Sa-koto pimpinannya Penghulu
30

Manajemen Suku

Dari prespektif lembaga adat, nagari adalah sebagai kesatuan masyarakat dan hukum adat yang lebih dikenal dalam filosofi `Nagari bapaga undang, adat salingka nagari`. Lembaga adat disusun berdasarkan prinsipprinsip sistem kekerabatan matrilineal dan teritorial yang sudah dilaksanakan jauh sebelum kemerdekaan. Walaupun nagari pernah “dilanda krisis” di zaman Rezim Orde Baru, yang berakibat porak-porandanya tatanan masyarakat, hilangnya rasa kebersamaan dan gotong royong, juga terjadinya degradasi, banyaknya generasi yang lahir waktu itu, tidak tahu dan tidak memahami adat-istidat yang berlaku disekitar mereka, namun keberadaan nagari tetap eksis sampai sekarang. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Solok No.4 Tahun 2001:
Nagari adalah kesatuan Hukum Adat yang terdiri dari himpunan beberapa suku yang mempunyai wilayah tentu batas-batasnya, mempunyai harta kekayaan sendiri, berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

B. Sejarah dan Perkembangan Nagari
Sebuah pandangan yang dikemukakan oleh Gusti Asnan dalam melihat nagari. Perlakuan orang Minang terhadap nagari kadang-kadang memang berlebihan. Nagari sering dianggap sebagi suatu “perfek” dan “asli” milik orang Minang. Maksudnya adalah bahwa nagari merupakan mahakarya orang Minang semata atau keberadaannya hanyalah karena orang Minang. Nagari adalah salah satu “trade mark”. Namun telah menjadi simbol dan

Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat

31

perwujudan sebagai tatanan sistem sosial, politik dan budaya orang Minang 43 Pandangan yang rada “pesimis” itu ada benarnya, apabila dilihat dari catatan sejarah tentang lahirnya dan berkembangnya nagari di Minangkabau. Secara historis Nagari merupakan unit teritorial tertua yang bersifat otonom yang dikenal dalam masyarakat Minangkabau, istilah yang paling umum untuk menggambarkan nagari itu adalah sebuah republik mini otonom 44 Nagari dengan sistem pemerintahan masing-masing, dan mempunyai wilayah serta adat sendiri dalam mengatur tata kehidupan anggota-anggotanya. Nagari sebagai institusi (pemerintahan) tidak menghiraukan pergantian kepemimpinan, karena anggota-anggota dari “republik” itu adalah saudara/dunsanak atas dasar kebersamaan secara geografis, sosial maupun kultural. Rasa kebersamaan, dalam hubungan sesama anggota masyarakat sangat menonjol dalam kehidupan sosial, manusia menurut sifatnya tidaklah dapat hidup sendiri, dia membutuhkan pertolongan. Sejak dari kecil si anak perlu orang tuanya, setelah uzurpun tidak dapat berbuat banyak tanpa bantuan orang lain. Adanya hubungan tolong menolong dalam kehidupan, dan inilah yang menjadi dasar pergaulan hidup sesama makhluk Tuhan. Dalam kehidupan bermasyarakat timbulnya istilah barek sapikua, ringan sajinjiang, merupakan cerminan dari pola kehidupan masyarakat, dalam pergaulan tidaklah mungkin terlepas dari rasa kebersamaan. Dengan demikian, rasa kebersamaan itu merupakan kepentingan
43 44

Gusti Asnan, Nagari pada masa Kolonial. Lentera 21 hal 33 Imran Manan, Nagari Pra Kolonial … lentera hati hal 22
Manajemen Suku

32

bersama dalam kehidupan yang dapat dilalui secara bersama-sama pula. Atas dasar kebersamaan, yang dimulai dari beberapa keluarga, antara keluarga dengan keluarga yang lain akhirnya bersatu, kemudian berkembangan dalam komunitas dalam kelompok tertentu. Komunitas itu akhirnya berinteraksi dan bekerja sama dalam komunitas lain, yang akhirnya terbentuklah taratak yang berawal dari :
Singok nan bagisia halaman nan salalu batunggua bapanabangan bapandam bapakuburan

Perluasan teratak, akan menimbulkan kampung demi kampung yang terdiri dari beberapa suku, yang dikembangkan dalam sistem dan telah menempati wilayah yang sama, maka terbentuklah koto yaitu:
Balabuah batapian Batungua bapanabangan Badusun bagalangang Bakorong bakampuang

Pada tahapan koto, adanya labuah yang menghubungkan satu kampung dengan kampung yang lain, tapian sbagai sumber air untuk kebutuhan irigasi dan tempat mandi, cuci dan kakus yang dilengkapi dengan galanggang tempat bermain. Taratak telah menjadi kampung dan sebuah kampung telah menjadi koto setelah melalui kesepakatan untuk menunjuk tuo koto yang menurut aturan harus dilantik oleh perpanjangantangan keselarasan Koto Piliang atau
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
33

Bodi Caniago dengan menyumpah (minum air keris siganjo aie untuk setiap koto). Ciri-ciri Koto adalah: 1. Pada mulanya merupakan anggota kaum saparuik (satu induk) 2. Koto dinyatakan sebagai satu suku, nama sukunya diprogramkan dari pucuk pimpinan keselarasan sesuai dengan nama pecahan dari suku-suku induk 3. Ada koto, ada suku, ada Penghulu dan ada pelantikan menurut kebesaran adat 4. Pada anak kemenakanan yang sekoto, berarti saparuik, sasuku, sapanghulu dinyatakan dunsanak, artinya tidak boleh ambiak-mambiak (menjalin hubungan pernikahan) 5. Mereka terdiri dari beberapa kaum, masing-masing kaum senenek membangun rumah gadangnya sendiri beserta dengan rangkiang yang terletak didepannya Koto merupakan cikal bakal berdirinya nagari. Tidak ada laporan resmi mengenai jumlah nagari asli (nagari adat) sebelum pemerintahan Belanda. Ketiadaan laporan itu berlanjut sampai tanaman paksa dipraktekkan, sehingga terjadi penambahan nagari-nagari. LC. Westenenk dalam bukunya ”De Minangkabausche Nagari” mengemukakan syarat-syarat sebuah nagari sebagai berikut:
Basawah baladang Bataratak bapanyabungan Badusun bagalangang Baitiak ba ayam Baanak bakamanakan Bakabau bakambiang Batabek batanam Bakorong bakampuang Bacupak bagantang Baradaaik balimbago

34

Manajemen Suku

Bataratak bakalo koto

Apabila dikatagorikan kepada periodisasi sejarah, paling tidak ada empat periode yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan serta pasang surut nagari di Minangkabau yaitu: Periode Pra-kolonial, Periode Kolonial, Periode Kemerdekaan dan Periode Otonomi Daerah.

1.

Periode Pra-Kolonial

Dimasa pra-kolonial, kehidupan nagari dikendalikan oleh adat 45. Teritorial nagari yang biasanya terdiri dari hutan tinggi dan hutan rendah. Hutan tinggi adalah wilayah nagari yang terdiri dari hutan rimba yang belum terbuka, termasuk rawa-rawa. Sedangkan hutan rendah adalah sawah, ladang, kebun dan tanah perumahan serta pekarangan, semua tanah yang telah diolah 46 dan berfungsi sebagai dana cadangan, baik bagi nagari ataupun bagi anak kamanakan dalam suku. Stuktur masyarakat nagari di Minangkabau disusun berdasarkan prinsip-prinsip matrilinial, dari tinjauan antropologi, maka kelompok kekerabatan yang mendiami nagari-nagari di Minangkabau itu akan terdiri dari suku (scan), kaum (lineage), paruik (sub-lineage) 47

45 46 47

Keebet Von Benda-Beckman, Goyahnya Tangga Menuju Mufakat (Jakarta, Grasindo, 2000), hal 67 Bandingkan dengan pendapat Soewardi Idris Dt. Bandaro Panjang, 2004) Hal 62 Imaran Manan, nagari pro kolonial…, hal 7 dan bandingkan dengan Mochtar Naim Merantau…18-19 juga baca A. Rivai Yogi, Sastra Minang (Jakarta Mutiara Sumber Widya), hal 23-24
35

Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat

Setiap orang dalam sebuah nagari adalah anggota dari salah satu kelompok matrilinial dalam nagari tersebut, artinya harus menjadi kemenakan dari seorang panghulu yang bersangkutan. Kondisi seperti ini memudahkan dalam memenej anak kemenakan, karena telah berada pada sebuah komunitas kecil dalam wilayah ketetanggaan. Wilayah ketetanggaan ini mempunyai aturan sendiri yaitu sebuah kesepakatan, yang dalam sistem musyawarah adat disebut dengan buek. Tentang perkembangan nagari akan dibahas lebih jauh pada Sub C dalam bab ini.

2.

Periode Kolonial

Sebelum pecahnya Perang Paderi 1821, Sumatera Barat berada dalam kesatuan Luhak dan Rantau, yang terdiri dari nagari-nagari. Dan nagari diberi kebebasan secara adat, namun setelah pemerintahan kolonial Belanda, secara berangsur-angsur dan sistimatik mengadakan pendekatan, dengan berpedoman kepada Regering Reglement (RR) tahun 1854 (Stbl nomor 129 tahun 1854), semacam undang-undang dasar untuk negeri jajahan Hindia Belanda yang pelaksanaannya diatur dalam ordonansi. Pada Plakat Panjang tahun 1833, Belanda mengakui keberadaan nagari dengan sikap tidak akan mencampuri urusan nagari (otonomi), secara politik kekuasaan pemerintahan Belanda membiarkan pemerintahan nagari diatur menurut adat yang berlaku, dan dipertegas lagi dalam ordonansi 27 September 1918 Pada tahun 1848, Belanda mengatur pemerintahan nagari yang disesuaikan dengan kepentingan pemerintahan penjajahan 48. Insitusi baru didirikan yaitu Tuanku Laras
48

Soewardi Idris, hal 86, 2004
Manajemen Suku

36

merupakan koordinator beberapa nagari menyangkut pengumpulan pajak, pelaksanaan tanaman paksa terutama kopi untuk diekspor ke Belanda. Pejabat pribumi yang melaksanakan kebijakan Belanda di Minangkabau ini cukup ditakuti, gajinya besar dan tumbuh menjadi feodalis baru. Pemerintahan keselarasan ini berakhir tahun 1917 diganti dengan peraturan pemerintah Belanda tanggal 27 Septembar 1918 yang dimuat dalam Lembaran Negara No. 667, yang isinya tentang pemerintahan baru paska pemerintahan Tuanku Laras, setelah dilakukan perubahan dan penambahan dikeluarkan Inlandsche Gemeente Ordonantie Buitengewesten (IGOB) tahun 1938 (Lembaran Negara 490). Menurut IGOB, nagari berkedudukan sebagai Badan Hukum Bumi Putra yang diberi hak mengatur urusan rumah tangga sendiri yang sama maksudnya dengan otonomi. Sebelum IGOB diberlakukan, Belanda mengangkat Penghulu-Penghulu baru diluar adat seperti Penghulu pasar, Penghulu nikah dan di Nagari diangkat Penghulu Kepala (Angku Kapalo=Kapalo Nagari) 49. Jadi otonomi yang diberikan pada hakekatnya membiarkan rakyat sendiri menolong nasibnya, tanpa bantuan anggaran belanja dari pemerintah jajahan. Sebagai tindak lanjut dari RR 1854 Nomor 129, maka pada tahun 1903 pemeintahan Hindia Belanda mengeluarkan Inlandsche Gemente Ordonantie Stbl Nomor 321, dan tahun 1918 mengeluarkan Stbl Nomor 667. dengan kedua ordonansi ini, maka tertatalah kembali susunan tingkat pemerintahan sebagai berikut:

49

Ibid, hal 87
37

Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat

1.

2.

3. 4. 5. 6. 7.

Provinsi, misalnya provinsi Sumatera dipimpin oleh Gubernur. Beberapa gewest (misalnya gewest Sumatera Barat Tapanuli) dihapus dan digabungkan menjadi provinsi Residentie atau keresidenan, misalnya Keresidenan Sumatera Barat dipimpin oleh Residen. Keresidenan Padang Darat (Padangsche Bovenlanden) dan Padang Benedenlanden (Padang Laut), yang ada selama ini dihapus dan digabungkan menjadi satu keresidenan, yakni Keresidenan Sumatera Barat Afdeling, dipimpin oleh Asisten Residen alias tuan Luhak ala Minang. Onder Afdeling, dipimpin oleh kontolir alias Tuan Kumandua ala Minang District, dipimpin oleh Demang alias Wedana yang mempin wilayah kewedanaan. Onder District, dipimpinan oleh Asisiten Demang alias Asisten Wedana atau Camat yang dipimpin wilayah kecamatan Nagari, dipimpin oleh Kepala Nagari atau Angku Palo.

Keadaan seperti ini masih berlangsung sampai pada zaman penjajahan Jepang, dan awal-awal kemerdekaan dan berlanjut sampai agresi Belanda ke II tahun 1948/1949

3.

Periode Kemerdekaan

Proklamasi Kemerdekaan telah dikumandangkan oleh Dwi Tunggal (Soekarno –Hatta), jelas membawa makna penting dalam nilai-nilai dasar budaya, politik bangsa Indonesia Pada awal kemerdekaan, namun tidak serta
38

Manajemen Suku

merta merubah Minangkabau.

susunan

pemerintahan

nagari

di

Perubahan sedikit terjadi, setelah dikeluarkannya Maklumat Residen Sumatera Barat Nomor 20 dan 21 tanggal 21 Mei 1946 yang menetapkan Perubahan dalam Susunan Kelambagaan Nagari, perobahan itu setelah mendengarkan Rapat Pleno Komite Nasional Keresidenan Sumatera barat pada tanggal 18 Maret 1946, dengan pertimbangan untuk menegakkan demokrasi serta memperlancar pemerintahan dan pembangunan nagarinagari. Unsur-unsur dari pemerintahan nagari adalah Wali Nagari, Dewan Perwakilan Nagari (DPN) dan Dewan Harian Nagari (DHN), dengan demikian posisi wali nagari menjadi sangat kuat, karena sekaligus merupakan ketua DPN dan DHN 50 yang berlaku umum di Sumatera Barat Tanggal 15 Januari 1954, Presiden Soekarno menerbitkan keputusan No. 1 yang isinya antara lain menghapuskan daerah otonomi, menghidupkan kembali wilayah pemerintahan sesuai dengan ordinasi tahun 1938 (IGOB). Dengan penjelasan sistem demokrasi yang berlaku di nagari adalah demokrasi modern tidak dengan demokrasi adat. Penjabaran keputusan No. 1 ini ditindaklanjuti oleh pemerintah Propinsi Sumatera Tengah dengan mengeluarkan ketetapan No. 2/6/55 yang memberi petunjuk tentang cara pembentukan DPR Nagari. Secara administrasi yang berlaku umum di Sumatera Barat, pemerintahan berada dibawah jorong, berpedoman kepada surat Keputusan Mendagri No 17/1977 tanggal 25 Januari, pemerintahan Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Barat mengeluarkan Surat Keputusan No
50

Efi Yandri, Nagari dalam Perspektif Sejarah, (Lentara 21,2003), Hal, 61
39

Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat

259/GSB/1977 tentang Penetapan Jorong disamakan denan Desa. Keadaan ini terus berlangsung sampai berakhirnya jorong ditetapkan menjadi desa pada 1 Agustus 1983. Dengan berlakunya UU No 5 tahun 1979, nagari dipecah menjadi 3500 desa, jo Perda No 8 tahun 1981, dan berlaku efektif di Sumatera Barat berdasarkan Keputusan Gubernur kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat Nomor 162/GSB/1983, nagari lenyap dalam bentuk pemerintahan jorong yang ada dikembangkan menjadi desa yang berhak mengatur urusannya sendiri.

4.

Periode Otonomi Daerah

Dalam membahas nagari di era Otonomi Daerah, terlebih dahulu akan dikemukakan keadaan nagari di era Peraturan Daerah (Perda) 13 tahun 1983. Tinjauan ini, berguna agar dapat dibandingklan dengan nagari diera Otonomi Daerah sekarang. Nagari dalam Perda No 13/1983, pasal 1 huruf (e) Nagari adaalah kesatuan masyarakat hukum adat dalam propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Barat yang terdiri dari himpunan dari beberapa suku yag mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri. Tidak mempunyai hak dan wewenang dalam sistem pemerintahan. Nagari semata-mata hanyalah mengatur kehidupan masyarakat nagari sepanjang adat yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh lembaga Karapatan Adat Nagari. Nagari tidak lagi merupakan suatu organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah Camat. Nagari diganti dengan desa berdasarkan Undaang-undang No 5 /1979 tentang pemerintahan desa.

40

Manajemen Suku

Walaupun nagari melalui Perda no 13/1983 secara akalakalan sempat dialihkan dengan menjadikan unit kesatuan adat dan ekonomi, pada saat itu kepala desa:wajib mempedomani keputusan KAN (Karapatan Adat Nagari), tetapi itu hanya macan kertas yang tidak punya gigi. Dalam kenyataanya, desa-lah yang lebih kuat, karena menjadi ujung tombak pemerintahan pusat. Dengan demikian reduplah demokrassi asli yang selama ini hidup dan berkembang di nagari 51 Reformasi telah bergulir pada tahun 1988, angin segarpun telah berhembus, walaupun tidak secara spontan respon timbul dari masyarakat untuk kembali kepada sistem pemerintahan nagari . Hal ini dapat dipahami, secara psikologis masyarakat masih “gamang” terhadap perubahan yang ada, dan belum terhapusnya jejak-jejak masa lalu (Orde Baru). Selama ini suara dari bawah kurang didengar, dan tidak dibiarkan adanya perbedaan pendapat, apalagi yang bertentangan dengan kehendak pemerintahan. Sehingga berakibat pada kecendrungan cuek, takut, masa bodoh terhadap datangnya perubahan Dengan lahirnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, telah membuka peluang bagi Pemerintahan Daerah Sumatera Barat untuk membangkitkan kembali Pemerintahan Nagari, dalam rangka menyesuaikan sebutan lain dari desa yaitu Nagari seperti yang dikehendaki oleh undang-undang nomor 22 tahun 1999 pasal 1 huruf (o). Undang-undang nomor 22/1999 oleh pemerintahan Sumatera Barat, telah dijabarkan dalam bentuk Peraturan Daerah nomor 9 tahun 2000, tentang Pokok Pemerintahan Nagari
51

Mochtar Naim, Perspektif Nagari ke Depan, hal xi
41

Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat

Nagari adalah satu kesatuan hukum adat dalam daerah Propinsi Sumatera Barat, yang terdiri dari himpunan beberapa suku yang mempunyai wilayah yang tertentu batas-batasnya, mempunyai harta kekayaan sendiri, berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya dan memilih pimpinan pemerintahannya. Dari penjelasan tentang maksud dari pemerintahan nagari seperti dalam konsideran dari Perda No. 9 tahun 2000, adalah: Pemerintahan Nagari yaitu kegiatan dalam rangka penyelengaraan pemerintahan yang dilaksanakan oleh organisasi pemerintahan terdepan tetapi tidak lagi berada di bawah Camat, karena Nagari merupakan kesatuan berasarkan hak asal-usul yang bersifat istimewa. Dan kedudukan Nagari merupakan sub sistem dari sistem penyelenggaraan pemerintahan Negara, sehingga nagari memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat. Wali Nagari bertangung jawab kepada Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN) dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas kepada Bupati 52 Nagari menjadi pemerintahan terdepan, dalam era Otonomi Daerah sekarang, yang dapat mengatur dan mengurus serta menjalankan pemerintahan sendiri. Berbeda dengan Nagari dalam masa Perda nomor 13/1983, Nagari hanyalah mengatur dan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat saja, sedangkan urusan administrasi pemerintahan dilaksanakan oleh Desa yang berada langsung dibawah Camat. Pemerintahan Kabupaten Solok telah mencanangkan berlakunya Otonomi Daerah sejak 1 Januari 2001, yaitu dengan lahirnya Peraturan Daerah nomor 4 tahun 2001.
52

Peraturan daerah Sumatera Barat Nomor 9 tahun 2000, pasal 1 huruf (g)
Manajemen Suku

42

Desa dihapus, pemerintahan terdepan adalah nagari, sedangkan Camat berfungsi sebagai fasilitator mewakili Bupati dalam pembinaan nagari. Pertama-tama yang dibentuk adalah wakil rakyat yang disebut Badan Musyawarah Nagari (BMN) terdiri dari unsur Ninik Mamak. Cerdik Pandai, Alim Ulama, Bundo Kanduang dan Pemuda serta perwakilan masyarakat di perantauan. Penunjukkan anggota BMN secara musyawarah dan perwakilan golongan. BMN dilantik oleh Bupati Tujuan membuat peraturan dan tata tertib membentuk panitia pemilihan Wali Nagari dan melaksanakan pemilihan Wali Nagari dan dilantik oleh Bupati. Sampai naskah ini ditulis terdapat 74 nagari yang telah selesai melaksanakan pemilihan dan pelantikan wali nagari. Dengan kerja sama yang baik antara wali nagari dan perangkatnya berjuang dengan keras untuk merebut 105 wewenang nagari, melaksanakan pemerintahan nagari dengan dana DAUN dan Pendapatan Asli Nagari untuk melaksanakan pembangunan demi kesejahteraan rakyat nagari Tujuan membuat peraturan daerah dan tata tertib BPAN (BMN) membentuk panitia pemilihan Wali Nagari dan melaksanakan pemilihan Wali Nagari dan dilantik oleh Bupati. Sampai naskah ini ditulis terdapat 74 nagari yang telah selesai melaksanakan pemilihan dan pelantikan wali nagari. Dengan kerjasama yang baik antara wali nagari dan perangkatnya berjuang dengan keras untuk merebut 105 wewenang tersebut dalam melaksanakan pemerintahan nagari dan dana DAUN daan Pendapatan Asli Nagari untuk melaksanakan pembangunan demi kesejahteraan rakyat nagari.
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
43

Perubahan-perubahan yang mendasar telah terjadi dalam sistem pemerintahan terdepan yaitu Nagari di Sumatera Barat. Pertanyaanya adalah mengapa kita kembali kepada Pemerintahan Nagari?. Peraturan Daerah nomor 13/1983 ternyata tidak mampu mengatasi berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat, karena terdapat kerancuan dalam struktural maupun institusional, jorong menjadi desa, dan nagari di atasnya. Pemberlakuan UU nomor 5 1979 yang mengutamakan prinsip uniformalitas dan sentralistik kekuasaan. Pertemuan-pertemuan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) hanya formalitas saja, Lembaga Musyawarah Desa (LMD) tidak dapat mengambil keputusan sendiri, karena telah ada keputusan di atasnya yang harus dipatuhi. Desa diutamakan mencapai target pajak 100% dengan harapan dapat Bantuan Desa (Bandes) dari pusat. Dengan telah kembalinya “Si anak Hilang” yaitu Pemerintahan Nagari, ini juga berarti kesempatan untuk berbenah diri bagi masyarakat terbuka lebar. Dan ternyata setelah babaliak banagari keinginan untuk membangun Nagari dengan partisipasi masyarakat telah kembali timbul, misalnya organisasi-organisasi perantauan yang telah banyak memperhatikan dan berbuat untuk kampung halaman, begitu juga dengan partisipasi masyarakat di kampung halaman telah memulai membangun nagarinya masing-masing secara bergotong royong. Walaupun hal tersebut di atas belum bisa digeneralisasi, untuk menyatakan tingginya pertisipasi secara keseluruhan. Paling tidak, hal itu menjadi indikasi awal, bahwa telah tumbuhnya partisipasi masyarakat. Bantuan Desa (Bandes) yang selama periode “Desa”, menjadi “andalan” pembangunan, ternyata di sisi Bandes lain telah menghilangkan partisipasi masyarakat.
44

Manajemen Suku

Dampak dari demokratisasi yang sedang berkembang, seolah-olah Nagari telah menjadi “Negara” dalam Negara kesatuan Republik ini, hal tersebut merupakan evoria dari perobahan tatanan sosial, politik yang digulirkan dalam gelombang reformasi, karena selama dalam era Perda 13/1983, nagari terkungkung dalam “Belenggu Desa”.

C. Struktur dan Unsur-Unsur Kelembagaan Nagari
Terbentuknya nagari di Minangkabau melalui suatu proses yang panjang, sesuai dengan pola yang mereka terima yaitu, langgam nan ampek yang bermula dari taratak menjadi dusun, dusun menjadi koto (kampuang) dan himpunan beberapa kampuang akhirnya menjadi Nagari. Hal ini dikemukakan dalam mamang sebagai berikut:
Rang gadih mangarek kuku Dikarek jo pisau sirauik Pangarek batuang tuonyo Nagari ba ampek suku Dalam suku babuah paruik Kampuang ba nan tuo Rumah ba tungganai

Artinya lahirnya sebuah nagari sekurang-kurangnya dibangun oleh empat suku. Setiap suku mengelompok dalam beberapa buah koto dan setiap koto didiami oleh keluarga-keluarga dalam suku yang sama. Pada tingkat pertama hanya hanya empat suku yaitu dua dari keselarasan Koto Piliang (Koto -1- dan Piliang -2-) dan keselarasan Bodi Caniago (Bodi -3- dan Caniago -4-) Nagari yang terdiri dari kesatuan teritorial, pemerintahan dan keturunan. Setiap nagari mempunyai pemerintah
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
45

sendiri dan menurut penulis-penulis barat, pemerintah nagari dulunya barjalan baik, demokratis dan tidak disalahgunakan. Kesempatan penyelewengan sangat sedikit karena kontrol langsung dari rakyat melalui penghulu-penghulunya. Setiap nagari mempunyai balai, rumah adat, mesjid dan menguasai kekayaan sendiri nagarinya:
Bacupak bagantang Baradat balimbago Bataratak bakapalo koto Babalai bamusajik Balabuah bagalanggang Batapian batampek mandi

Nagari tak ubahnya seperti republik mini; dengan perangkat pemerintahan, mempunyai teritorial dan berpemerintahan otonom yang berhak mengatur dirinya sendiri. Setiap nagari akan berbeda aturan yang berlaku dan aturan itu hanya menyangkut adat nan diadatkan dan adat istiadat dan tidak menganggu aturan umum yang berlaku di Minangkabau Setiap anak nagari berkewajiban mengetahui, mengenal adat dan budaya yang berlaku di nagarinya, sesuai dengan petuah adat: adat salingka nagari, dan keragaman akan adat itu sendiri; lain padang lain bilalang, lain lubuak lain ikannya, tetapi tetap berada dalam lingkungan adat nan ampek: 1. Adat nan sabana adat 2. Adat nan teradat 3. Adat nan diadatkan 4. Adat istiadat

46

Manajemen Suku

Adat nan sabana adat adalah tetap, kekal, tidak terpengaruh oleh tempat, waktu dan keadaan, indak lapuek dek ujan, indak lakang dek paneh, dianjak indak layua, di bubuik indak mati. Adat nan diadatkan adalah hukum-hukum adat yang diterima dari niniek mamak urang Minang Datuak Katumanggungan dan Datuak Perpatih Nan Sabatang, yang pada pokoknya cupak nan duo, kato nan ampek, undang-undang nan ampek dan nagari yang ampek Adat nan teradat merupakan kebiasaan masyarakat setempat yang telah diambil melalui kesepakatan terlebih dahulu, boleh dikurangi, ditambahi atau dihilangkan. Adat istiadat yaitu kelaziman disatu-satu nagari pada suatu keadaan yang dipaturunkan-dipanaikan dalam pergaulan sesama Manusia menurut sifatnya tidaklah dapat hidup sendiri, dia membutuhkan pertolongan dan bantuan, sejak kecil si anak membutuhkan bantuan dari orang tuanya setelah uzur pun juga membutuhkan bantuan baik dari anak sendiri maupun dari orang lain. Adanya hubungan tolong menolong antara sesama merupakan dasar pergaulan hidup sesama makhluk Tuhan Dalam kehidupan bermasyarakat, timbulnya istilah barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang merupakan cerminan dari pola kehidupan bermasyarakat, Dalam pergaulan tidak mungkin terlepas dari rasa kebersamaan, dengan demikian rasa kebersamaan itu merupakan kepentingan bersama dalam kehdupan yang dapat dilalui bersama Atas dasar kebersamaan itulah orang-orang Minang menyusun Taratak yang dimulai dari beberapa keluarga, keluarga lain dengan keluarga lainnya dan akhirnya
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
47

bersatu dan berkembang dalam komunitas lainnya dan berada dalam kelompok baru yaitu dusun. Dusun merupakan tempat menyusun kekuatan bersama untuk mancancang latieh jo manaruko. Mengerjakan tanah tempat mereka dalam kampuang sesuai dengan pepatah adat yang mengajarkan:
Singok nan bagisia Halaman nan salalu Batunggua bapanabangan Bapandam-bakuburan

Kampuang demi kampuang telah disusun dan dikembangkan dengan sistim yang sama dan telah ditempati oleh masyarakat dari dusun ke dusun dan berkembang menjadi koto
Balabuah batapian Batunggua bapanabangan Badusun bagalanggang Bakorong bakampuang

Pada tahapan koto adanya labuah yang menghubungkan satu dusun ke dusun yang lain. Adanya tapian sebagai sumber air untuk kebutuhan irigasi dan tampek pamandian. Koto merupakan gabungan dari beberapa dusun (kampuang) juga membutuhkan galanggang untuk bermain. Syarat-syarat untuk mendirikan nagari termasuk babalai, bamusajik, dengan demikian muncullah nagarinagari di Minangkabau. Balai adalah tempat untuk bermusyawarah anak nagari. Salasai adat di balai artinya apapun permasalahan adat harus dimusyawarahkan oleh pemangku adat di balai pertemuan. Sedangkan Salasai agamo di musajik artinya bahwa Musajik (mesjid) merupakan tempat penyebaran agama Islam.
48

Manajemen Suku

Secara fisikal dan teritorial nagari itu harus mempunyai beberapa hal, diantaranya adalah: Balabuah: Harus ada jalan yang menghubungakan antara satu kampuang dengan kampuang yang lain Batapian: Harus ada sungai ataupun sumber mata air untuk sumber kehidupan bagi masyarakat yang mendiami wilayah tersebut Bagalanggang: Merupakan tempat pertemuan yang umum bisa berbentuk pasar atau tanah lapang tempat bermain, bersilat atau berolah raga dsb Babalai: Dalam satu nagari diperlukan tempat pertemuan untuk musyawarah dan bisa dimanfaatkan oleh anak nagari untuk kepentingan nagari Bamusajik: Setelah agama Islam memasuki wilayah Minangkabau maka menjadi persyaratan bahwa adanya musajik untuk tempat beribadah dan pusat kajian Islam bagi masyarakat Nagari sebagai bentuk organisasi (institusi) yang pertama di Minangkabau yang dapat mewakili suara anak nagari, maka nagari dapat menjadi suatu bentuk wilayah dan pemerintahan yang dapat berdiri sendiri. Nagari di Minangkabau telah berperan dengan baik dan kuat dalam mengatur dan mengendalikan anggota masyarakatnya sendiri, oleh karenanya nagari sering mengalami intervensi. Di zaman perang Paderi, Belanda mencoba memisahkan antara Penghulu dengan Ulama. Para Penghulu diangkat menjadi pegawai, yang duduk dalam pemerintahan, Penghulu digunakan sebagai alat pemerintahan, seperti dalam mamang berikut:
Dulu rabab nan batangkai Kini langgundi nan baguno Dulu adat nan bapakai Kini rodi nan baguno

Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat

49

Intervensi terhadap pemerintah nagari pada dekade 1980an oleh pemerintahan Orde Baru, hanya menyisakan sedikit ruang kepada nagari dalam mengatur dirinya sendiri, lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang berfungsi sebagai pelaksana dan pengontrol pelaksanaan adat dan budaya saja, Karapatan Adat Nagari tidak ikut campur dalam pelaksanaan pemerintahan. Dengan munculnya derap reformasi secara nasional berlangsung di tahun 1998, maka di keluarkan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan disambut Perda No. 9 Tahun 2000 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari oleh Pemerintah Sumatera Barat. Perda ini mencoba lebih membuka pintu kepada nagari untuk dapat mengembangkan dirinya dengan menyerahkan lebih dari 105 wewenang pemerintahan pada nagari. Visi Pemerintah Sumatera Barat dengan `Otonomi Berbasis Nagari`, adalah usaha pemerintah menempatkan nagari pada posisi semula. Permasalahan yang mendasar dalam hal ini adalah bagaimana menyamakan misi dalam menjalankan roda pemerintahan nagari. Dalam pelaksanaan otonomi berbasis nagari tersebut tidak selalu misi yang spesifik harus berada dalam satu koridor, karena ada suatu yang unik dalam masing-masing nagari adalah:
Lain lubuak lain ikan Lain padang lain belalang Lain nagari lain sistim (adat)nya

Nagari diberikan kebebasan dalam bentuk perbedaan tradisi. Nagari dapat mengatur aktivitas masing-masing menurut tatanan dan aturan yang disetujui oleh
50

Manajemen Suku

masyarakat tersebut. Secara tegas dapat dinyatakan bahwa karakteristik budaya lokal yang spesifik dari setiap nagari, pengolahan dan pengorganisasian diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing nagari, dalam bidang adat berada dibawah Karapatan Adat Nagari (KAN) Keputusan yang diambil KAN yang terdiri dari Penghulu suku, Penghulu kaum, Penghulu tungganai berdasarkan kebersamaan melalui musyawarah dan mufakat. Sistem pengambilan keputusan dalam lembaga ini tidak dikenal adanya suara voting atau perhitungan suara setuju dan tidak sutuju. Semua keputusan mengedepankan azas musyawarah untuk mufakat. Apabila suatu keputusan belum mencapai kata sepakat, maka pengambilan keputusan ditunda dulu atau dengan istilah diperambunkan menjelang didapatnya kata sepakat Hal ini dimaksudkan, agar peserta rapat dalam pengambil keputusan dapat menimbang kembali atau menungkuik manilantangkan terhadap dampak dari keputusan yang akan ditetapkan itu nantinya. Jadi di sini berlaku sistem demokrasi, duduak samo randah tagak samo tinggi, semua peserta rapat mempunyai hak suara yang sama, dan keputusan diambil secara aklamasi Adat, Agama dan Cendikiawan dalam suku atau kaum yang dikenal dengan tali tigo sapilin dan tungku tigo sajarangan. Ketiga unsur tersebut bersinergi dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan, menjadi sesuatu kekuatan dalam memberdayakan masyarakat. Kehidupan bernagari di Ranah Minang terdapat prinsip-prinsip yang bernilai substantif seperti otonomi, demokrasi, egaliter, parsitipatif, dan kebersamaan Dengan memanfaatkan setiap potensi nagari, jengkal tanah dengan pengelolaan lumbung nagari, yang
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
51

bersumber dari rangkiang di setiap kaum dan suku. Sejengkal tanah tersebut akan menjadi kekuatan fundamental ekonomi berbasis rakyat yang siap untuk berkompetitif. Adanya pemerintahan yang kokoh dibawah kepemimpinan wali nagari, dan lembaga Karapatan Adat Nagari (KAN), diperkuat lagi dengan Alim Ulama dan Cadiak Pandai serta Bundokanduang. Adanya kekuatan ekonomi yang berbasis dana kaum dalam bentuk fisikal, berupa pusako tinggi sebagai milik kaum dan suku. Luas wilayah yang mencukupi berdirinya nagari. Hal tersebut adalah strutur dan unsur-unsur yang menjadi kekuatan dalam pemerintahan nagari di Sumatera Barat.

D. Pemerintahan Nagari dalam Perspektif Otonomi Daerah
Perspektif Nagari sebagai basis otonomi dalam pelaksanaan Otonomi Daerah di Sumatera Barat menunjukkan, keberpihakan pemerintahan Propinsi Sumatera Barat, dalam keinginannya agar segera terwujudnya program kembali ke nagari yaitu Otonomi Berbasis Nagari Perubahan paradigma, sebagai wujud reformasi pemerintahan secara Nasional dilaksanakan secara legalitas formal melalui UU No.22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, hal yang mendasar dalam penyelenggaraan Pemerintahan adalah dikuranginya sistem pengaturan penyelenggaraan pemerintah secara terpusat (sentralistik), dengan kebijakan yang didominasi oleh pemerintah pusat (top down) meskipun secara bottom up untuk mengkoordinir aspirasi masyarakat.
52

Manajemen Suku

Dengan diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999, maka pelaksanaan otonomi daerah yang dicirikan dengan asas desentralisasi, memposisikan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab utama atas kebijakan penyelenggaraan pemerintah sesuai dengan kewenangan yang diberikan, dan tetap berada dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia Pemberian kewenangan yang besar kepada daerah dimaksudkan agar penyelenggaraan pemerintahan berjalan lebih efektif dan efisien, sesuai dengan kondisi riil yang dibutuhkan oleh masyarakat daerah yang bersangkutan, sehingga pelayanan kepada masyarakat terselenggara lebih baik dan dengan memenuhi harapan masyarakat. Perubahan paradigma pemerintahan dari asas sentralistik ke asas desentralisasi, menuntut kemampuan Pemerintah Daerah untuk dapat merumuskan kebijakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan potensi daerah serta dapat dimanfaatkan secara optimal Pemerintah Propinsi Sumatera Barat telah menyikapinya secara arif UU No 22 tahun 1999 tersebut dengan mengeluarkan Perda No. 9 Tahun 2000, tentang Ketentuan Pokok Pemerintah Nagari. Dalam perda tersebut dinyatakan bahwa nagari adalah kesatuan masyarakat hukum adat yang terdiri dari beberapa suku, yang mempunyai wilayah dan batas-batas tertentu serta mempunyai harta kekayaan sendiri dan berwenang mengurus rumah tangganya sendiri serta memilih pimpinan pemerintahannya Berdasarkan otonomi yang dimiliki nagari, maka pemerintahan nagari dapat mengembangkan peran serta seluruh masyarakat yang terorganisir secara baik di dalam suku-suku secara demokratis dengan memanfaatkan nilaiBab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
53

nilai budaya Minangkabau serta peranan Kerapatan Adat Nagari atau lembaga lainnya di nagari sebagai mitra kerja dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan inilah Pemerintah Propinsi Sumatera Barat menetapkan nagari sebagai basis dalam penyelenggaraan otonomi daerah, artinya otonomi daerah dibangun berdasarkan kemandirian pada level penyelengagaraan Pemerintahan Nagari Otonomi yang dijembatani oleh nagari di Sumatera Barat tidak bernasib mujur, seperti pengalaman Kanada dalam menjalankan Otonomi. Nasib sebagai pemerintahan terdepan mengalami pasang surut seiring dengan sistem pemerintahan Republik Indonesia. Pada saat pemerintahan orde lama, nagari mendapat tempat dalam sistem pemerintahan yang ada, tetapi pada saat pemerintahan orde baru yang bersifat monolistik sentralistik, terjadi pendesa-isasian seluruh sistem terendah yang ada di republik ini, sehingga UU No.5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa telah menaklukan kekuatan tradisi masyarakat Minangkabau dibawah kekuasaan negara. Kondisi tersebut telah membelenggu semangat kegotongroyongan dan partsipasi masyarakat dalam membangun nagarinya Antara pemerintahan nagari dan pemerintahan daerah merupakan bentuk sistem pemerintahan otonomi, karena nagari adalah kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam wilayah Propinsi Sumatera Barat, yang terdiri dari himpunan suku-suku yang mempunyai wilayah tertentu, harta kekayaan sendiri, berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dan memilih pimpinan pemerintahannya sendiri Sedangkan daerah otonom yang disebut daerah, adalah suatu kesatuan hukum yang mempunyai batas daerah
54

Manajemen Suku

tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri bedasarkan aspirasimasyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia Dengan demikian, nagari mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundangundangan. Sehingga nagari merupakan suatu bentuk pemerintahan terdepan, yang otonom di Sumatera Barat, bahkan Otonomi Nagari bukan saja pada aspek pengeluaran tetapi juga pada aspek penerimaan, jadi keleluasaan Nagari dalam mengatur rumah tangganya sendiri jauh lebih luas dari pada Pemerintahan Daerah. Pemerintahan Nagari yang memiliki tanggung jawab dalam hal pemerintahan dan pembangunan yang mengacu kepada kepentingan Nagari, Daerah dan Nasional, sesuai dengan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Disamping itu nagari sebagai institusi lokal merupakan instrumen dalam membangun demokrasi yang sesungguhnya. Otonomi Daerah di Sumatera Barat sepenuhnya tidak hanya bertumpu pada sistem Pemerintahan Nagari yang ada, lebih jauh Otonomi Daerah juga mengandalkan adanya faktor relasi nagari sebagai institusi lokal, dengan kekuatan yang berada diluar dirinya sendiri. Betapapun dan apapun usaha mewujudkan Otonomi Daerah, bilamana institusi lokal masih menjadi subordinasi dari kekuatan diatasnya, maka perubahan kearah kehidupan yang elegan dan demokratis tidak akan pernah dapat direalisasikan Sebaliknya institusi lokal sebagai basis masyarakat mayoritas, jika tidak bisa ditransformasikan menjadi
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
55

kekuatan yang demokratis, maka sangat sulit untuk membangun otonomi daerah yang sesungguhnya. Dari sini terlihat kaitan yang erat antara otonomi daerah dalam nagari di Sumatera Barat dalam proses demokratisasi. Dalam melaksanakan pemerintahan nagari juga mengalami perubahan-perubahan penggunaan sebutan istilah untuk pemimpin nagari, yaitu: 1. Penghulu Kepala di Zaman Perang Paderi sampai berakhirnya Plakat Panjang tahun 1833 dan 19081914 2. Kepala Nagari (Nagari Hoofd) than 1914-1942 sampai masuknya Jepang 3. Di zaman Jepang disebut dengan kocu 4. Di zaman Kemerdekaan sampai sekarang disebut Wali Nagari Dalam tata aturan pemilihan dari dulu sampai sekarang telah banyak peraturan yang mengatur tentang pemilihan dan pengukuhan kepala nagari, diantaranya: 1. Kesepakatan Nagari pada awal abad ke-19 2. Inlandsche Gemeente Ordonantie Buitengewesten (IGOB) Stbl No. 490 dan Stbl 1938 antara lain mengatur nagari sebagai kesatuan masayarakathukum adat 3. Maklumat Residen Sumatera Barat No. 20 yakni mengatur Pemerintahan Nagari 4. Surat Keputusan Gubernur Kepala Derah Sumatera Barat: Surat Keputusan No. 02/ Desa/GSB/prt-1963 tentang Peraturan Nagari dalam daerah Sumatera barat Surat Keputusan No. 015/GSB/1968 tentang Pokok-pokok Pemerintahan nagari
56

Manajemen Suku

-

Surat Keputusan No. 155/ GSB/1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari di Sumatera barat

Semenjak diberlakukannya Perda No. 9/2000 tentang ketentuan pokok Pemerintahahn Nagari di Sumatera Barat, terasa ada geliat dan gairah anak nagari memikirkan kemajuan nagarinya yang diperhitungkan akan memicu partisipasi lebih nyata dan kongrit. Apalagi secara komunal anak nagari dimanapun berada memiliki hak yang sama untuk ikut mengambil keputusan, ikut membangun, ikut bertanggungjawab tentang keputusan yang diambil. Sinergi kampung halaman dan rantau adalah modal utama menggerakkan pembangunan nagari menuju kesejahteraan bersama Dari sisi ini, pemerintah telah memfasilitasi berbagai kelembagaan nagari untuk memiliki institusi dalam pelayanan publik sebagai unit pemerintahan terendah, diiringi fasilitas lebih lanjut dengan menetapkan Dana Alokasi Umum Nagari (DAUN) dan berbagai pelatihan bagi aparat pemerintahan nagari agar efektif melakukan aktifitas pelayanan Namun setelah lima tahun pelayanan publik berbasis nagari, belum memberikan gambaran yang memuaskan sebagaimana kita harapkan. Kedaulatan sudah ditangan pemerinatahan nagari, dan sebagian Pemerintahan Kabupaten telah menyerahkan beberapa kewenangan untuk selanjutnya menjadi tugas dan kewenangan pemerintahan nagari bersangkutan. Di tengah-tengah kegalauan dan kegamanggan akan paradigma baru otonomi daerah berbasis nagari. Kegamangan berangkat dari kelemahan dan partisipasi, untuk itu perlu suatu skenario pemberdayaan nagari yang
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
57

mensinergikan seluruh potensi yang ada, melibatkan para stakeholder yang terkait untuk mengisi otonomi daerah secara strategis dan berkelanjutan. Upaya pemberdayaan Nagari dilakukan secara sistimatik, dalam suatu skenario besar (grand scenario) dengan melibatkan semua stakeholder yang ada dalam nagari. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja, apalagi kalau masih menggunakan pendekatan sentralistik dan top down. Skenario dimaksudkan untuk memetakan seluruh potensi kompetitif yang dapat dikembangkan, berikut pilihan pengembangan, permasalahan yang perlu diatasi, tahapan fasilitas startegis yang harus dilakukan, gambaran faktor eksternal seperti globalisasi pasar dan liberalisasi ekonomi, serta langkah-langkah aksi yang harus dilaksanakan secara konsisten. Penuh komitmen, strategis dan bertahap oleh masing-masing pihak Dalam penyusunan skenario besar memanfaatkan nagarinagari sebagai pemegang ulayat adat, seluruh sumberdaya yang ada di tingkat nagari (yang tersebar dalam persukuan) menjadi stakeholder utama. Kepemilikan sumberdaya yang dimiliki suku atau kaum menyebabkan basis nagari menjadi titik perhatian utama pengembangan, maka pemberdayaan nagari inheren sifatnya dalam skenario keseluruhan. Mengingat banyaknya persoalan sosial, jawabannya diperoleh dengan gagasan ekonomi. Soal ekonomi justru dapat diantisipasi lebih efektif oleh aspek hukum, konflik hukum ditengahi oleh pendekatan ekonomi dan aspek pemerintahan dikelola dengan basis ekonomi. Artinya, pemberdayaan masyarakat harus didekati dengan pendekatan multisiplin, multi pandangan dan multi pihak. Bila infrastruktur pemerintah sudah selesai di institusikan,
58

Manajemen Suku

soal lanjut adalah bagaimana institusi sosial itu bisa lebih efektif mengelola pembangunan nagari Agenda besar selanjutnya, bagai mana membiayai sarana dan prasarana publik dan infrastruktur nagari, dan bagaimana nagari bisa memiliki sumber pembiayaan sendiri dan mandiri mengingat DAUN jelas tidak akan pernah cukup. Kemandirian nagari secara sosial dan ekonomi adalah wujud ‘otonomi berbasis nagari” Untuk mewujudkan visi Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat menjadikan nagari sebagai basis otonomi daerah, dibutuhkan beberapa prasyarat yang harus dipenuhi dalam tataran implementasinya, antara lain: Pertama: Tersedianya kualitas sumberdaya manusia (Human Resauces) dalam sektor politik di nagari, yaitu para profesianalia yang memiliki kemampuan teknis dan non teknis. Harapan ini dapat dicapai dengan keikutsertaan perangkat pemerintah nagari dalam mengikuti pelatihan, tingkat gaji yang memadai, kondisi kerja yang nyaman dan proses perekrutan yang baik. Hal ini dimaksudkan dalam kerangka penyelenggaraan pemerintah formal dan informal di nagari dapat tertata dengan baik karena konsep dalam nagari terhimpun semua kekuatan otoritas, tidak hanya kesatuan teritorial saja tapi juga kesatuan adat (ninik mamak pemangku adat sangat berperan sekali). Kedua: Dilakukan reformasi pada tingkat organisasi masyarakat adat. Ini menekankan pada struktur mikro yang memfokuskan diri pada sistem manajemen modern untuk memperbaiki kinerja dan pelaksanaan fungsi-fungsi dan tugas yang spesifik dalam menunjang penyelenggaraan Pemerintahan Nagari selaku Pemerintahan Formal yang sekaligus bercirikan dukungan lokal (anak nagari yang berada dalam kesatuan suku) atau
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
59

setidak-tidaknya dalam penerapan kebijakan manajemen modern ditingkat nagari, tidak mengabaikan kearifan, keunikan dan tradisi lokal yang spesifik. Dalam konteks ini, dipandang perlu penyamaan visi dan persepsi anak nagari baik yang ada di kampuang maupun di perantauan, bahwa dalam kerangka penerapan kebijakan manajemen modern, tidak dengan menghancurkan semua yang berbau lokal. Oleh sebab itu, harus dikembangkan perspektif baru dalam tatanan penyelenggaraan Pemerintahan Nagari, yakni menyandingkan majemen modern dengan nilainilai atau tradisi lokal yang dapat diterima oleh semua pihak. Dalam pengembangan Pemerintahan Nagari perlu di up to date persoalan berikut: Reformasi Institusional: penerapan rule of the game yang jelas bagi anak nagari, artinya perubahan kebijakan dan hukum yang dimainkan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan suku-suku dalam menyelesaikan sengketa sako dan pusako bercirikan dan berlandaskan ketentuan hukum sepanjang adat yang berlaku di nagari masing-masing. Adanya ruang publik (publik space) bagi masyarakat atau anak nagari (dikampung dan perantauan) untuk mengetahui persoalan dan pelayanan publik (publik services) yang diberikan oleh Pemerintahan Nagari. Kelompok-kelompok civil society yang aktif dan independen dalam memperjuangkan kepentingan publik, melakukan kontrol atas penyelenggaraan pemerintahan dan memperjuangkan domokrasi.
60

Manajemen Suku

-

-

-

Selanjutnya berbagai agenda aksi sebagai implikasi dari skenario percepatan pemberdayaan nagari ke depan dapat dirancang dan diselenggarakan, antara lain: Memetakan potensi dan kondisi masyarakat di nagari-nagari berkepentingan dalam suatu forum untuk merancang agenda aksi strategis nagari paska reformasi dengan menghadirkan seluruh stakeholder yang dibutuhkan Pemberdayaan disektor pelayanan publik, apabila dinilai sudah memadai, maka bisa diharapkan pelayanan publik oleh Pemerintahan Nagari bisa menjawab tantangan pembangunan nagari. Pelayanan publik harus didukung oleh perangkat nagari yang berorientasi kedepan sehingga handal mengelola berbagai kebutuhan. Pendelegasian pelayanan publik ke nagari-nagari oleh Pemerintahan Kabupaten berimplikasi pada pembagian retribusi antara Pemerintahan Nagari dan Pemerintahan Kabupaten Pemberdayaan di sektor hukum, sangat diperlukan untuk mendukung nagari agar mampu mandiri mengembangkan produk hukum sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya untuk menyusun peraturan nagari diperlukan pengetahuan dan kemampuan menyusun legal draft dan naskah akademis

Jika kelima prasyarat diatas telah dimiliki oleh Pemerintahan Nagari, maka diprediksikan otoda berbasis nagari akan dapat diwujudkan. Indikator Penyelenggaraan Pemerintahan Nagari yang Otonom dapat dikatakan baik, apabila:
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
61

-

Pelayanan publik (barang dan jasa) ditujukan untuk mewujudkan cita-cita kolektif (anak nagari) Proses pengambilan keputusan di nagari berjalan baik dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku Pemerintahan Nagari menjalankan fungsi-fungsi dan kekuasaannya dengan tepat Organisasi Pemerintahan Nagari dapat berjalan dengan baik apabila diisi oleh personil-personil yang mempunyai kemampuan, kemauan dan komitmen yang kuat terhadap pemberdayaan Pemerintahan Nagari

Penyelenggaraan Pemerintahan Nagari yang buruk, ditandai dengan peyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan oleh sekelompok anak nagari, sehingga menghancurkan tatanan yang sudah disusun dengan baik. Ketika penyelenggaran Pemerintahan Nagari berjalan dengan baik, maka upaya pengentasan kemiskinan, keterbelakangan dan tradisi yang menghambat perkembangan demokrasi dapat dilaksanakan dengan tepat. Dan akan terwujud pelaksanaan Otonomi Daerah Berbasis Nagari. Pentingnya komitmen dan concern dari anak nagari, untuk melaksanakan Otonomi Daerah Berbasis Nagari dalam mencapai cita-cita masyarakat yang aman dan makmur. Dukungan publik, di nagari dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) memiliki arti penting, dengan cara memberi masukan, saran dan kritik yang konstruktif demi kemajuan nagari serta turut berperan dalam pelaksanaan program kerja nagari. Semua hal tersebut tentu saja harus diangkat dalam langkah-langkah operasional. Agenda kebijakan apapun yang dioperasionalkan dalam rangka pelaksanaan
62

Manajemen Suku

Otonomi Daerah Berbasis Nagari, maka tataran implementasikanya akan sangat tergantung pada visi kita mengenai pentingnya kembali pemerintah nagari dalam konteks kekinian dan pengembangan nagari itu sendiri Kabupaten Solok tercatat sebagai daerah yang paling siap melaksanakan program kembali ke sistem Otonomi Daerah Berbasis Nagari, karena merupakan daerah yang pertama melahirkan perda tentang Pemerintahan Nagari yaitu Perda nomor 4 tahun 2001. Satu hal yang penting dalam sistem Pemerintahan Nagari, adalah bagaimana menumbuhkan kembali rasa sahino samalu, saciok bak ayam, sadanciang bak basi di tengahtengah masyarakat. Ketika kemiskinan dan keterbelakangan terjadi pada anak kemenakan, maka hal tersebut akan menjadi tanggung jawab dan perhatian bersama dari keluarga tersebut, dan Pemerintahan Nagari yang bersentuhan dengan masyarakat dan dapat melakukan kontrol sosial. Satu pertanyaan yang perlu dijawab saat sekarang adalah bagaimana perspektif nagari ke depan? Nagari yang bagaimana yang ingin diwujudkan? Perpektif nagari ke depan ini sangat ditentukan oleh kondisi objektif yang ada sekarang, dengan segala kelebihan dan kekuranganya, dengan segala kelemahan dan kekuatannya serta visi dan misi yang diemban oleh anak nagari yang dikampung dan di rantau. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan penilaian yang objektif, dan transaparan dengan menggunakan berbagai indikator terhadap perkembangan dari pemerintahan desa ke Pemerintahan Nagari saat ini, dan dengan meminimalisir masalah-masalah dalam penyelenggaraan pemerintahan nagari.
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
63

Pemerintahan Kabupaten Solok, telah menyerahkan 105 urusan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintahan Nagari, dan juga mengatur perimbangan keuangan antara Pemerintahan Kabupaten dengan Pemerintahan Nagari. Dengan pola parsitipatif, diharapkan dana tersebut dapat digandakan untuk kepentingan nagari. Selain itu DAUN yang dianggarkan setiap tahun, secara utuh diserahkan pengelolaanya kepada Pemerintahan Nagari. Pertanyaan selanjutnya bagaimana implementasi dari penyerahan kewenangan penanganan keuangan dari pemerintah kabupaten ke Pemerintahan Nagari? Apakah sudah terlaksana dengan tepat? Bagaimana kendala yang terjadi dilapangan? Pengelolaan DAUN sudah tepat sasaran bagi anak nagari? Dalam lima tahun penyelenggaraan Pemerintahan Nagari di Kabupaten Solok, banyak hal yang membanggakan yang telah dicapai, disamping terdapat benturan antara kelembagaan di beberapa nagari. Kasus seperti antara KAN dengan Pemerintahan Nagari dan antara BMN dengan Pemerintahan Nagari. Kemudian tuntutan pemekaran nagari yang dipaksakan, sampai dengan ditolaknya Laporan Pertanggung Jawaban tujuh orang wali nagari oleh BMN. Pada beberapa nagari juga terdapat keengganan untuk membentuk Lembaga Majelis Tungku Tigo Sajarangan (MTTS) dan disisi lain, fungsi Niniek Mamak juga dirasakan masih belum optimal dalam memacu kemajuan nagari Untuk menyikapi berbagai persoalan yang muncul, maka diusulkan rancangan revisi Perda Kabupaten Solok No. 4 Tahun 2001 tentang Pemerintahan Nagari ke DPRD. Dengan revisi ini persoalan dan hambatan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Nagari dapat diminimalkan. Bahkan lebih jauh seluruh persoalan nagari
64

Manajemen Suku

dapat diselesaikan oleh nagari itu melibatkan pemerintahan Kabupaten.

sendiri

tanpa

Beberapa hal yang menyangkut peningkatan eksistensi Ninik Mamak, telah tercantum secara signifikan dalam rancangan revisi Perda No. 4 tahun 2001 tersebut. Pasalpasal yang menyangkut Kerapatan Adat Nagari berubah menjadi 15 pasal dari 2 pasal. Pada keanggotaan Badan Permusyawaratan Nagari (dulu Badan PerwakilanNagari) berasal dari Ninik Mamak yang mencerminkan keterwakilan suku dan Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang, utusan jorong dan utusan pemuda yang ada dalam nagari. Di samping itu upaya menghimpun potensi sebagai wujud partisipasi anak nagari di perantauan dapat dibentuk lembaga-lembaga kemasyarakatan atau lembaga lain sesuai dengan kebutuhan nagari. Lembaga ini akan membantu pemerintahan nagari dalam bidang sosial, ekonomi dan kemasyarakatan yang diwujudkan dalam peran serta dalm menghubungkan anak nagari yang dikampung dan di rantau serta aktif mendorong transformasi potensi intelektual dan finansial perantau untuk percepatan pembangunan nagari. Perlu dikaji kemungkinan hadirnya Dewan Pertimbangan Majelis Nagari (suatu lembaga yang didirikan oleh masyarakat adat yang berada dikampung halaman dan di rantau), gunanya untuk membangun kebersamaan, memberikan nasehat, saran, kritik dalam upaya menghadirkan sinergi antara ranah dan rantau untuk mempercepat pembangunan nagari. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah status pimpinan pemerintahan nagari dan stafnya, karena camat dan bupati sebagai pimpinan pemerintahan daerah berstatus pegawai negeri, sedangkan wali nagari dipilih oleh masyarakat berdasarkan ketokohan. Kondisi ini akan
Bab 3: Nagari Pemerintahan Terdepan Di Sumatera Barat
65

berubah bila ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) selaku Pucuk Adat di nagari dan dikukuhkan sebagai Wali Nagari yang sekaligus mewakili Kepala Pemerintahan NKRI di nagari. Dengan demikian Kepala Pemerintahan Masyarakat Adat secara otomatis menyatu dengan Kepala Pemerintahan NKRI di daerah otonomi terdepan di Sumatera Barat sesuatu yang sangat ideal.

66

Manajemen Suku

BAB 4
SUKU, SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

A. Pengertian Suku
Kata suku artinya golongan orang-orang (keluarga) yang seketurunan atau lebih tepatnya golongan orang-orang sekaum yang seketurunan (matrilineal=menurut garis ibu). Pada awalnya setiap orang Minang hidup berdasarkan kelompok sukunya, yang merupakan seperempat bagian dari suku induk: Koto, Piliang, Bodi dan Caniago. Pada awalnya suku-suku ini terbentuk menurut keselarasan yang diletakkan oleh Datuak Katumanggungan dan Datuak Perpatih Nan Sabatang, seperti yang tertuang dalam mamang berikut:
Umpuak partamo koto piliang sikumbang, jambak, tanjung malayu Payobada, salo galumpang, banuhampu Ditambah paga cancang, damo jo tobo mandahiliang, bendang, kampai, patapang

Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya

67

Bijo, panai, sariti, sakijo Tamasuak juo suku-suku Umpuak kaduo bodi caniago Sinapa sarato singkuang Lubuak batang, panyalai, mandaliko Simagek sarato jo supanjang Dek lamo maso manjalang Umpuak nan duo tapacah pulo Jambak, malayu, caniago, piliang Sungguah babagi basatu juo 53

Pembagian suku itu berpengaruh terhadap susunan masyarakat Minangkabau. Orang sesuku mempunyai rasa persatuan dan kesetiakawanan yang kuat. Setiap anggota suku akan merasa ikut bertanggungjawab atas apa yang dilakukan oleh seorang anggota sukunya, disinilah letaknya ungkapan sahino samalu, sasakik sasanang, barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang Menurut Fagan dan Manan (1995) organisasi sosial masyarakat telah berkembang melalui tahap demi tahap: 1. Masyarakat suku (band): Terdiri dari persekutuan keluarga inti yang berasal dari nenek yang sama dan tidak memiliki struktur otoritas yang terpusat 2. Masyarakat rumpun (tribal): Usaha pertanian dan peternakan mulai berkembang. Pola hidup menetap pada suatu tempat menjadi salah satu bentuk kehidupan bersama. Suku-suku membentuk federasi yang didasari semangat egaliter. Pemerintah berbentuk dewan suku (tribal-council) yang bersifat demokratis dimana anggota-angotanya terdiri wakilwakil suku. Kepemimpinan dalam suku berdasarkan garis keturunan dan metode pengambilan keputusan
53

I. D. Dt. Tumangung, 1998
Manajemen Suku

68

3.

5.

didasarkan pada musyarawah dan mufakat dalam dewan suku Masyarakat dengan pimpinan tunggal (chiefdoms): Bentuk ini muncul ketika masyarakat tribal yang bersifat egaliterien itu salah satu suku yang membentuk komunitas memperoleh kedudukan lebih tinggi diantara suku-suku yang ada, yang disebabkan oleh keistimewaan yang dimiliki, antara lain kesaktian atau kemampuan istimewa dalam bidang keagamaan. Dengan demikian suku atau kepala suku tersebut menjadi kepala dari semua suku yang membentuk komunitas nagari yang otonom Masyarakat yang diorganisasi sebagai negara setiap nagari merupakan federasi suku. Karena itu, menurut ketentuan adat Minangkabau, setiap nagari mesti memiliki minimal empat suku, sesuai dengan ungkapan ‘nagari baampek suku’. Pemuka setiap suku di Minangkabau disebut Penghulu, ia diberi gelar datuak dan pengangkatannya berdasarkan atas mufakat kerabatnya. Penghulu ini bertugas menyelesaikan persoalan yang tumbuh dalam sukunya dan memperjuangkan kepentingan kerabatnya ditingkat nagari. Kekuasaan politik secara praktis di setiap nagari dijalankan secara kolegial oleh para pemuka suku yang tergabung dalam Kerapatan adat Nagari (KAN). Kalaupun KAN ada salah satu Penghulu yang dituakan, namun posisinya tidak bersifat ‘kepala’. Kehadirannya hanya untuk keperluan praktis semata-mata, sehingga mekanisme pemerintahan dapat berjalan efektif

Semua suku selain mempunyai Penghulu, juga memiliki pejabat-pejabat adat lainnya, yaitu Malin (alim ulama),
Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya
69

Manti (cadiak pandai) dan Dubalang. Posisi mereka tidaklah sebagai bawahan dari Penghulu dalam menjalankan fungsinya, melainkan bersifat horizontal

B. Komponen-komponen Suku
Masyarakat hukum adat secara perorangan merupakan anggota komponen suku dalam tatanan pergaulan bermasyarakat, dalam kelembagaan dan hierarki komponen-komponen suku itu adalah: 1. Pariuak/tungku merupakan keluarga batih (keluarga inti) dalam rumah tangga, yang bertindak sebagai kepala keluarga adalah bapak, sedangkan anggota dari pariuak itu adalah ibu dan anakanaknya, sebutan ini tidak populer di ditengahtengah masyarakat karena bercorak parental, sedangkan unsur ini teramat penting dalam lahirnya sebuah suku. Dalam keluarga batih bapak berkuasa penuh, seperti mamang adat berikut; ketek babaduang jo kain, gadang babaduang jo adat artinya bahwa bapak sepenuhnya bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup anggota keluarganya, sejak lahirnya (dalam bedung) hingga dewasa (gadang=mau dan akan berkeluarga=kawin) menurut adat, dan mamak tidak dapat terlalu jauh ikut campur urusan rumah tangga batih tersebut. Hal ini dipertegas lagi dengan empiris (fakta dilapangan), apabila mamak melibatkan diri terlalu jauh, maka bapak akan mengatakan pariuak bareh den jan digaduah artinya mamak hanyalah mancaliak-calaik dari jauh dan manjagokan jikok talalok, selama si bapak paja masih tetap menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga.
70

Manajemen Suku

2.

3.

4.

5.

Si mamak akan turun tangan membantu anggota sukunya (yang ada dalam pariuak tersebut) sesuai dengan kapasitasnya sebagai mamak kepala waris, jika kondisi telah menghendaki. Paruik merupakan susunan yang diambil dari satu nenek, Paruik-Paruik itulah yang membentuk masyarakat matrilineal. Anggota dari kesatuan paruik itu terdiri dari keluarga yang ditarik dari keturunan ibu, terdiri dari mamak (kaum laki-laki) sebagai kepala keluarga, sedangkan anggotanya adalah kesatuan dari paruik tersebut (anak perempauan dan anak laki-laki saudara perempuan, saudara perempuan dan saudara laki-laki sampai seterusnya ke bawah dari nenek dan seterusnya keatas) Jurai merupakan kumpulan dari beberapa paruik yang berasal dari satu nenek, kemudian nenek mempunyai keturunan yang diambil dari garis keturunan perempuan, ringkasnya jurai adalah kumpulan dari satu niniak (nenek) sehingga disebut orang yang satu jurai adalah dunsanak niniak Kaum merupakan kumpulan dari jurai-jurai, diambil menurut garis keturunan ibu. Kaum dipimpin oleh mamak kapalo kaum atau mamak kapalo waris dengan gelar datuak. Datuak atau mamak kapalo waris disebut juga dengan Penghulu Andiko. Dalam keselarasan Bodi Caniago, Penghulu Andiko merupakan pimpinan tertinggi dalam kaum Suku merupakan susunan masyarakat Minangkabau yang terpenting, seperti yang tertuang dalam ungkapan adat berikut nagari baampek suku artinya bahwa suku merupakan komponen penting dalam nagari yang tidak dapat dipisahkan dalam susunan masyarakat.
71

Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya

Masyarakat yang bercorak Koto Piliang dikenal adanya Penghulu Suku. Penghulu Suku ini menaungi anak kamanakan yang terdiri dari beberapa kaum, dan dalam kaum tersebut ada Penghulu Andiko yang berkuasa didalamnya. Suku adalah naungan dari seluruh anggota kaum, bagi nagari yang menganut kalarasan Koto Piliang, dikenal ada Panghulu pucuak di setiap suku, dan Penghulu pucuak merupakan pimpinan tertinggi dalam sukunya.

C. Perkembangan dan Pemekaran Suku
1. Suku mengalami perkembangan karena: a) Pemecahan sendiri (pemekaran suku): suku asal dipecah menjadi beberapa suku b) Warga suku itu telah punah, berarti suku tersebut sudah hilang c) Perpindahan sehingga muncul suku baru di tempat baru d) Tuntutan kesulitan sosial masalah perkawinan atau tidak boleh kawin sesuku sehingga suku tersebut membelah diri menjadi suku baru Dalam sistem kekerabatan materilineal, orang sesuku disebut badunsanak atau sakaum dan sasuku. Orang sesuku tidak boleh ambiak-maambiak atau saling kawin-mengawini, yang dalam adat disebut dengan kawin pantang, karena akan merusak atau mengacaukan sistem adat matrilineal. Orang sesuku adalah kerabat, bila dilanggar akan mengakibatkan:
72

Manajemen Suku

-

Mengaburkan pertalian darah yang pada akhirnya akan menimbulkan pertentangan dalam suatu nagari Suatu suku akan menjadi kuat dan tidak membutuhkan kehadiran suku lain Terjadi fanatisme antara suku

Kata suku merupakan golongan keluarga yang seketurunan atau lebih tepatnya golongan orang yang sekaum yang seketurunan (matrilineal) yaitu orang sasuku. Suku yang berada dalam kalarasan Koto Piliang dan Kalarasan Bodi Chaniago yang masing-masing dipimpin oleh Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sababatang, dan kemudian terjadi gesekan antara kedua Datuk tersebut yang terkenal dengan Peristiwa Batu Batikam. Kemudian atas inisiatif Dt Sri Maharajo Nan Banego-nego yang berkedudukan di Pariangan Padang Panjang, beliau menentukan sikap sendiri dalam arti tidak mau memilih salah satu, tapi memadu sendiri sistem pemerintahan itu dengan nama Lareh Nan Panjang. Sikapnya seperti itu dinyatakan dalam mamang sebagai berikut:
Pisang sikalek-kalek hutan Pisang timatu nan bagatah Bodi Caniago inyo bukan Koto Piliang inyo antah

Maksudnya adalah menggabungkan kedua sistem tersebut sesuai dengan situasi dan kondisinya. Sikap ini diikuti juga oleh Kubuang XIII dan daerah rantau lainnya. Pada tingkat ini Dt Sri Maharajo Nan Banego-nego membangun suku-suku baru sebagai berikut, Kutianyie (5), Petapang (6), Banuhampu (7), Salo (8) dan Jambak (9).
Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya
73

Keloyalan dari Minangkabau juga diperlihatkan oleh Datuak Nan Batigo dengan memberi suku kepada pendatang luar darek, yaitu Melayu (10) untuk pendatang dari Aceh, Jawa, Eropa, dan Arab; Singkuang (11) bagi pendatang dari Cina dan Mandahiling (12) bagi pendatang dari tanah Batak Pada awal abad XIII, sudah ada 12 suku di Minangkabau yang menetap di nagari dalam wilayah pemerintahan Koto Piliang, Bodi Caniago dan Lareh Nan Panjang, dari tahun ke tahun 12 suku tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan penduduknya. Darek yang terdiri dari luhak Tanah Datar, Agam, dan Limo Puluah Koto serta Lareh Nan Panjang di Pariangan dan Padang Panjang bertambah padat penduduknya sehingga terjadi pemekaran suku dari 12 menjadi 96 suku berdasarkan dengan nama tumbuhan, nama benda, nama desa, nama orang 54 2) Pemekaran suku tersebut terjadi karena: a) Dalam nagari ada suku yang telah padat penduduknya, maka suku tersebut membelah diri. Contoh: Melayu membelah diri menjadi Kampai, Tapi Aie, Subarang Tabek dan Tambang Panjang; Caniago menjadi Caniago Simagek, II Korong, IV Korong, Tigo Niniek, Limo Kaum dan Tigo Korong b) Perpindahan Penduduk (migrasi) ke pemukiman baru juga melalui ketentuanketentuan sebagai berikut: 1) Suku pendatang membaur dengan suku setempat i. Badunsanak tibonyo urang sasuku

54

A.A. Navis, Alam Takambang Jadi Guru (jakarta, garfiti pers, 1982) h. 130
Manajemen Suku

74

2)

ii. Tiok suku ado panghulu iii. Marantau dakek mancari induak iv. Marantau jauh mancari suku Faktor-faktor lainnya adalah: v. Berdasarkan Niniak yang sama. Contoh Caniago Tigo Niniak dan Piliang Ampek Niniak vi. Berdasarkan Korong yang sama. Contoh Tigo Korong, Ampek Korong dan Sambilan Korong vii. Membentuk suku baru. Seperti Padang Laweh, Padang Data, Gudam, Pinawan dan Sebagianya

Otonomi di Nagari Minangkabau demikian luasnya, sehingga aliran keselarasan tidak menjadi anutan suku lagi ‘Adat Salingka Nagari, Pusako Salingka Suku’. Kubuang Tigo Baleh misalnya, mulanya terdiri dari 13 Ninik kemudian membangun 13 Nagari dan perkembangan yang cukup lama menjadi Kecamatan dengan 54 Nagari dari 86 Nagari yang ada di Kabupaten Solok (sebelum Kabupaten Solok Selatan terbentuk). Disini aturannya adalah suku Caniago yang mendiami nagari yang menganut Koto Piliang akan mengikuti azas Koto Piliang dan begitu juga sebaliknya. Pada aliran Koto Piliang, kedudukan Penghulunya bertingkat, tetapi di Kubuang Tigo Baleh Penghulunya sama derajatnya Duduak sahamparan, Tagak Sapamatangan. Suku adalah suatu organisasi di dalam masyarakat Minangkabau yang disusun berdasarkan adat pada masing-masing nagari. Sesuai dengan bunyi mamang sebagai berikut:
Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya
75

Rang gadih bakarek kuku Dikarek jo pisau sirauik Kaparuik batang tuonyo Tuonyo elok kalantai Nagari baampek suku Suku ba buah paruik Kampuang ba-nan tuo Rumah ba-tungganai

Jumlah suku dalam setiap nagari tidak kurang dari empat suku, adat basuku-suku amat besar faedahnya bagi masyarakat dalam pergaulan hidup berkeluarga, bakorong-bakampaung, banagari-baluhak. Dengan adanya suku dapat diketahui dima latak sandi picah rumah gadangnyo. Adat basuku bakampaung inilah kumpulan orang yang kuat, kok barek samo dipikua, kok ringan samo dijinjiang, sahino samalu. Apabila malu menimpa seseorang dalam suku, sama-sama dirasakan oleh anggota yang lain dalam suku yang bersangkutan, tanah sabingkah alah bapunyo, rumpuik sahalai alah babagi, malu indak dapek di aliah, suku indak dapek diasak Penghulu yang mengayomi anak kamanakan di bawah payuang, terdapat perbedaan istilah antara kelarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago. Bagi Bodi Caniago, Penghulu yang mengayomi anak kamanakan di bawah payuang disebut Mamak Kapalo Kaum, karena yang ada dalam payuang tersebut adalah orang satu kaum. Misalnya Datuak Bandaro dalam suku Caniago yang mengayomi anak kemenakan nan sapayuang. Bagi Koto Piliang Penghulu mengayomi suku, Penghulu pimpinan suku. Walaupun banyak yang bergelar datuak tetapi yang dipanggil Penghulu hanyalah yang memimpin suku.
76

Manajemen Suku

Mengikuti perkembangan musim baganti, maso barubah alam bakalebaran, kamanakan bapakambangan, maka perkembangan suku sampai sekarang telah menjadi 96 suku yang mendiami luhak, rantau dan pasisia 55. Permasalahan yang sering muncul biasanya berkaitan dengan perkawinan sesuku dan pengaruh perkembangan suku terhadap pola kekerabatan Minangkabau (Mochtar Naim; 13). Apabila suku dipahami dengan artian harfiah bahwa antara satu suku dengan yang lainnya adalah bertalian darah yang ditarik dari satu garis keturunan ibu, sehingga orang yang satu suku disebut badunsanak. Berkaitan dengan permasalahan ini, sebagian daerah kawin sesuku bukan permasalahan dan dibolehkan dalam satu nagari. Pada nagari lain kawin sasuku ini tidak dibenarkan apalagi dilakukan dalam satu payuang, karena tempat perlindungannya suatu kaum di bawah pimpinan satu orang Penghulu, hal ini jelas diakui mereka adalah badunsanak meskipun tidak dunsanak sakanduang.

D. Skala Urutan Kepemimpinan Suku
Secara integral kepemimpinan suku dari bawah ke pucuk pimpinan suku adalah sebagai berikut: 1) Mamak: pemimpin langsung dari kemenakan dan saudara seibu 2) Tungganai: mamak tertua serumah gadang yang berfungsi sebagai mamak kepala waris, pemegang sako dan pusako bagi kaum tersebut 3) Mamak Kepala Kaum: mamak yang memimpin kaumnya (mamak Kepala waris)
55

Selanjutnya dapat di baca. AA Navis, Alam…. Hal, 129
77

Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya

4) 5) 6) 7) 8)

Mamak Payuang: kepala kelompok kaum yang disebut ayam gadang sikue salasuang, balam mau sikue saguguak. Pembantu Penghulu: Malin, Manti, Dubalang Penghulu Suku: kepala suku bersam-sama pembantunya yang disebut Urang Ampek Jinih. Urang Tuo Adat dalam suku adalah sebagai penasehat dalam setiap suku Kerapatan Suku Setiap nagari merupakan himpunan beberapa buah suku. Setiap suku terdiri dari beberapa buah paruik. Setiap kaum saparuik terdiri atas beberapa kaum sapayuang, saniniek, saibu

Pimpinan tertinggi dalam sebuah suku adalah Urang Ampek Jinieh ditambah dengan Urang Tuo suku sebagai penasehatnya. Untuk memecahkan masalah yang timbul dalam suku diselesaikan dalam Kerapatan Suku. Karena itu setiap suku mempunyai balai-balai atau surau untuk musyawarah interen suku yang dipimpin langsung oleh Penghulu Suku Perlu diketahui bahwa kristalisasi dari adat Koto Piliang dan Bodi Caniago (adat nan diadatkan), harus menjadi pegangan utama dalam adat nan teradat dan adat istiadat (adat salingka nagari). Adalah 8 kategori kristalisasi kedua ajaran yang disebut perjalanan adat, yaitu: a) Adat bajanjang naik batanggo turun b) Adat babarih babalabeh c) Adat bacupak bagantang d) Adat batiru batuladan
78

Manajemen Suku

e) f) g) h)

Adat bajikok bajikalau Adat bapikia Adat banazar Adat nan bakahandak sesuatu atas sifatnyo nan nyato

Penjelasan tentang perjalanan adat dimaksud adalah Adat Bajanjang Batanggo Turun. Sistem sosial yang membangun prilaku sesorang atau kaum dalam suku sebagai hasil berinteraksi seperti berhubungan, bergaul, berkaum kerabat, terlihat jelas dalam tata upacara adat yang masih tetap diperturun-naikkan (adat nan teradat dan adat istiadat). Perjalanan adat yang mencakup 8 ketegori diatas adalah aturan yang jelas dan terukur yang harus dipedomani dan menjadi alat kontrol Dalam mendudukkan setiap masalah anak kemenakan wadahnya adalah musyawarah dalam suku yang dilakukan di tempat tertentu yang ditentukan oleh suku tersebut disebut panggung atau surau. Disinilah Penghulu, Dubalang dan Malin mendudukkan seluruh masalah dalam suku, baik tentang adat istiadat maupun tentang sako-pusako dengan prinsip kusuik bulu paruah menyalasaikan Amat disayangkan peranan kerapatan suku hampir tidak pernah bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi kemenakan (kalaupun ada hanya sekian persen saja) sehingga kepercayaan masyarakat kepada kerapatan suku berkurang atau hilang sama sekali. Untuk menumbuhkan kembali kepercayaan itu perlu dikaji kembali usaha penegakan wibawa Penghulu dan Ampek Jinih beserta perangkat niniak mamak mulai dari atas sampai ke bawah dengan prinsip bajanjang naik, batanggo turun.
Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya
79

E. Pola Kepemimpinan Masa Lalu
1. Hierarki Kepemimpinan
Angiarih mangarek kuku Dikarek jo batuang tuo Batuang tuanyo elok ka lantai Nagari baampek suku Kampung banantuo Tiok rumah batungganai Kamanakan barajo ka mamak Mamak barajo ka panghulu Panghulu barajo ka bana Bana badiri sandirinyo

Kepemimpinan tertinggi secara hierarki adalah di nagari, yang dalam beberapa perkembangan nagari telah juga mengalami perubahan-perubahan. Sebagai pucuk pimpinan; ada pimpinan adat dan dalam era otonomi daerah seperti sekarang ini, nagari dipimpin oleh Wali Nagari sebagai pemimpin pemerintahan, Wali Nagari dipilih lansung oleh masyarakat. Dalam kepemimpinan wali nagari bukanlah berdiri sendiri, akan tetapi ada Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN) sebagai lembaga-lembaga legislatif di tingkat nagari. Sedangkan untuk bidang adat berada dibawah Karapatan Adat Nagari (KAN). Pada lapisan terakhir ada kemenakan, bahwa kemenakan seperintah mamak, artinya mamak adalah pemimpin bagi anak kemanakan dalam kaum, seperti telah diuraikan sebelumnya. Mamak bukanlah pemegang hak otonom dalam menjalankan fungsinya, karena mamak berada di bawah pengawasan panghulu. Panghulu adalah pimpinan suku, apabila mengikuti sistem Koto Piliang, sehingga
80

Manajemen Suku

dikenal dengan istilah panghulu pucuak. Bagi sistem Bodi Caniago kepemimpinan panghulu ada dalam kaum. Kekuasaan mutlak bukanlah berada ditangan pemegang kekuasan, tetapi pada lembaga musyawarah, yang disebut dengan karapatan suku, maka kerapatan suku sebagai lembaga banding dalam sebuah keputusan harus dihormati, sebab keputusan karapatan suku tersebut telah diambil melalui mufakat dalam mencari kebenaran. Kebenaran (bana) akan berdiri dengan sendirinya yaitu kebenaran itu yang akan menjadi ukuran untuk menjalankan keputusan.

2.

Pencatatan

Titik paling lemah manajemen suku pada masa lalu adalah dalam bidang pencatatan, kerena nenek moyang kita pada masa itu belum bisa menulis dan membaca. Mereka mengenal tulis baca yang agak luas setelah agama Islam mesuk ke Minangkabau. Penelitian terhadap 47 buah tambo oleh Edwar Jamaris, membuktikan bahwa sebagian besar tambo ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin 56 . Pengalaman terhadap baca tulis itupun pada kalangan terbatas pula. Pesan-pesan adat disampaikan dari mulut ke mulut. Dalam masyarakat tradisional, apa-apa hanya diucapkan dan diingat saja secara turun-temurun. Karenanya untuk ujud dari cerrita yang sama bisa terjadi distorsi dengan versi dan interprestasi yang berbeda-beda, tergantung kepada siapa yang menceritakan dan kapan atau dalam suasana apa diceritakan peristiwa itu 57.
56 57

Edwar jamaris, Tambo Minangkabau …hal 1 Mochtar Naim, Sambutan; dalam Marwan Kari Mangkuto (Adat Salingka Nagari Minagkabau) (Jakarta, Hayfa Press, 2005), hal vi
81

Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya

Fenomena oral ini berkembang sampai diperkenankannya sistem pendidikan medern kepada penduduk pribumi, pada awal abad ke 20, namun sampai berakhirnya penjajahan Belanda dan masuknya Jepang pada tahun 1942, diawal Perang dunia ke dua, jumlah rakyat Indonesia yang tahu baca tulis tidak lebih dari 6 % sementara selebihnya (94%) masih buta huruf 58. Untuk zaman sekarang komunikasi yang sedang sehebathebatnya dalam hal tulis baca, dengan segala macam sarana dan perangkatnya. Namun kelebihan itu yang ada ternyata belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk keperluan adat, dalam pembenahan perkauman/ persukuan. Maka seharusnya Penghulu harus segera mengambil langkah-langkah yang besar untuk menutupi kelamahan-kelemahan masa lalu, misalnya: Mempersiapkan buku sebagai bahan inventaris dalam suku/kaum, yang memuat antara lain; nama-nama seluruh kemenakannya, baik yang berdiam dikampung halaman, maupun yang berdomisil di perantauan, hingga diketahui secara tepat dan akurat, berapa sesungguhnya jumlah anggota persukuannya. Setiap Penghulu harus mengetahui berapa luas tanah ulayat, batas-batas supadan tanah, serta aset-aset lain yang dimiliki oleh suku. Dan peruntukan bagi masingmnasing anak kemenakan. Hal ini akan semakin terasa, mengingat para anak kemenakan sekarang tidak lagi menempati harta pusaka yang telah diwariskan secara turun temurun, mungkin banyak yang berada di perantauan atau telah menjadi Sumando di wilayah yang tidak mengunakan sistim pusako tinggi, sehingga tidak diketahui lagi kondisi pusako tinggi tersebut.
58

Ibid, hal, vii
Manajemen Suku

82

Penghulu dan unit-unit kesatuan kemenakannya dapat mengusahakan ranji, salah satu kebesaran dan kebanggaan keluarga, kaum dan suku. Setiap kesepakatan dan keputusan yang diambil dalam musyawarah kaum/suku, seharusnya menjadi sebuah catatan yang disepakati bersama dan dikukuhkan. Bagitu juga halnya yang berbentuk pemasukan/sumbangan yang diperoleh, baik bantuan yang diberikan untuk kegiatankegiatan kaum/suku ataupun dana-dana yang dikeluarkan oleh kaum/suku, menyangkut jumlah dan angka-angka, semuanya harus ditulis serta terarsip atau terdokumentasi dengan baik dan rapi. Apabila langkah-langkah tersebut dapat diambil oleh kesepakatan kaum/suku, berarti dikotomi antara masyarakat tradisional (oral) dengan masyarakat Moderen (administrasi), telah semakin dekat dan mungkin telah satu dalam bentuk manajemen. Hal yang sangat penting dalam pencatatan adalah, pemaparan (pelaporan), walaupun pengunaan bahasa pelaporan adalah sangat riskan dalam lembaga kepemimpinan kaum/suku. Siapakah yang harus membuat laporan. Untuk hal ini sangat perlu dipahami ajaran adat; nan pai tampak muko, kok pulang tampak punguang adalah kemanakan. Dalam adat disebutkan bahwa, mamak/panghulu adalah kapai tampek batanyo, kapulang tampek babarito. Supaya tidak terjadi kesan merendahkan posisi panghulu yang harus melapor kepada kemenakan di rantau, maka mekanisme harus tepat dan terukur menurut alua jo patuik. Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa kepemimpinan dalam kaum/suku bukanlah kepemimpinan tunggal (panghulu segala-galanya), tetapi ada struktur yang lain.
Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya
83

Pemberdayaan struktur kelembagaan tersebut adalah cerminan kesatuan dan persatuan dalam suku. Pemaparan atau pelaporaan itu akan terasa sangat bermanfaat, jika menyangkut perkembangan, baik yang berbentuk buruak bahambauan, maupun elok bahimbauan, artinya pemaparan itu tidak hanya berbentuk pertanggung jawaban keuangan semata. Apabila pemaparan itu hanya ditunjukan kepada pertangung jawaban keuangan, maka hal ini akan mengoyahkan sendi-sendi tatanan sosial, sebab akan menimbulkan saling mempertahankan diri dan saling menyalahkan, sebagai contoh kecil dapat dikemukanan disini. Kemenakan akan mempertanyakan pengunaan uang yang telah dikirim dari rantau, dan mamak akan membela dirinya dengan mengemukakan uang operasional dalam setiap pertemuan di balai adat atau pergi baralek, begitu juga dengan Bundokanduang, akan menyoal segelas kopi yang disajikan setiap mamak naik ke rumah gadang.

3.

Pengawasan

Seorang Penghulu menurut adat, jelas mempunyai fungsi pengawasan dan monitoring, sebagaimana diungkapkan dalam fatwa adat sebagai berikut:
Hanyuik bapinteh, hilang bacari, tapauang bakaik, tabanam basilami, tingga dijapuik, jauh diulangi, dakek dikunjungi. Kusuik manyalasai, jikok karuah dijaniahkan, kusuik bulu paruh manyalasaikan, kusuik banang cari ujuang jo pangkanyo.

Tugas pokok panghulu yang demikian itu sudah menjadi perpaduan antara pengawasan, pembinaan dan jika perlu
84

Manajemen Suku

pengenaan sanksi kamanakannya.

atau

hukuman

terhadap

anak

Dalam manajemen moderen, yang dikatakan pengawasan adalah melakukan pemeriksaan, apakah pelaksanaan kegiatan atau program sudah sesuai denan perencanaan yang digariskan (termasuk perencanaan dan rincian anggaran) bila tidak sesuai, baik pengurangan ataupun penambahan berarti terjadi penyimpangan, untuk itu perlu di analisa apa penyebabnya, bagaimana solusi dan tindakan apa yang perlu diambil, untuk penyusun perencanaan berikutnya.

4.

Pendanaan

Ranah Alam Minangkabau terkenal sebagai tanah yang subur, sebagai sumber pendanaan oleh kaum/suku sehingga menjadi primadona oleh rakyatnya sendiri, sebagai contoh dapat dilihat dalam mamang adat berikut:
Sawah ladang banda buatan sawah bapiring dinan data ladang babidang dinan lereng banda baliku turuik bukik. Rangkiang baririk dihalaman sebuah banamo sibajau-bayau panjago cemo jo malu Birauari rangkiang nan banyak pambari makan anak kamanakan sebuah banamo sitinjau lauik panyapo dagang nan lalu nan katigo si dagang lapa makanan anak patang pagi.

Mamang pertama melambangkan indahnya alam Minangkabau, sebagai tanah pertanian dan lahan yang cukup terbentang untuk memenuhi kebutuhan. Kabupaten Solok, sebagai penghasil palawija dan rempah-rempah lainnya seperti cabe, bawang daan buah-buahan yang
Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya
85

terkenal seperti Markisa daan lain sebagiannya, Seluruh kekayaan dan hasil alam tersebut menjadi sumber pendanaan oleh masyarakat. Mamang kedua, dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat sangat berpotensi sekali untuk dapat hidup layak, dari semua hasil alam dapat disimpan dan disisihkan oleh masing-masing kaum/suku dalam rangkiang, akan terasa sangat lucu, karena beberapa tahun yang lalu kita mendengar terdapat busung lapar di daerah yang kaya akan hasil pertanian, karena terdapat tiga buah rangkiang sepert digambarkan dalam mamang di atas yaitu: 1] Sibayau-bayau Rangkiang sibayau-bayau adalah tempat penyimpanan Dana Alokasi Umum (DAU) oleh kaum/suku. Fungsi dari dana ini adalah pendinding malu jo cemo, artinya bahwa kaum harus bermartabat, supaya malu jangan teserak ka nan banyak, misalnya ada kemanakan perempuan yang terlambat mendapat jodoh, dan jika ini terjadi, kaum/suku akan merasa malu walaupun itu bukan aib keluarga, maka dana yang tersimpan dapat dipergunakan sebagai; kain pandinding miang, ameh pandindiang malu. 2] Biruari Biruari adalah rangkiang nan banyak tempat menyimpan dan operasional kaum/suku. Seluruh keperluan makan anak-kamankan, uang sekolah dan lain sebagianya disimpan dalam rangkiang tersebut. Dan akan sangat ironis apabila di daerah lambuang padi seperti Sumatera Barat umumnya, dan
86

Manajemen Suku

kabupaten Solok, terdapat kasus rendahnya mutu pendidikan, seperti beberapa tahun yang lalu. Pada hal adat Minangkabau telah memberikan solusi tentang itu, dengan mendirikan rangkiang Biruari Rangkiang Biruari adalah rangkiang nan banyak, artinya bahwa dari hasil sawah-ladang porsi yang terbanyak dialokasikan untuk kepentingan anak kamanakan, jika diprosentase labih dari 2/3 hasil bumi adalah untuk kepentingan operasioanl kaum/suku, didalamnya adalah keperluan harian dari seluruh anggota kaum, apabila hal ini dapat dilaksanakan maka: hilang rono dek panyakik, hilang bangso karano tak barameh. 3] Sitinjau Lauik Sitinjau lauik adalah dana sosial yang disebut dengan panyapo dagang nan lalu. Pada prinsipnya bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang punya rasa kebersamaan, apabila ada salah seorang warga atau anggota masyarakat yang mengalami kesusahan, haruslah dibantu dan ditanggulangi secara bersamasama sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Bab 4: Suku, Sejarah dan Perkembangannya

87

88

Manajemen Suku

BAB 5
KEPEMIMPINAN SUKU DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN

Kepemimpinan Suku di Minangkabau dikenal dengan lembaga IV jinih yang dalam perspektif manajemen merupakan pejabat-pejabat yang melaksanakan tugas, menurut fungsi dan peranan masing-masing dalam menata anak kamanakan. secara organisasi. Dalam sistem pemerintahan yang berlaku di ranah Minangkabau baik yang bercorak Koto Piliang maupun yang bercorak Bodi Caniago, ditemukan lembaga-lembaga tersebut, namun terdapat beberapa perbedaan. Dalam kelarasan (sistem) Koto Piliang, Lembaga Ampek Jinih merupakan perangkat dalam satu suku, suku merupakan kumpulan dari beberapa kaum, dan kaum terdiri dari kesatuan paruik. Sedangkan dalam kalarasaan Bodi Caniago Urang Ampek Jinih adalah perangkat yang mangatur anak kamanakan yang berada dalam satu kaum, kaum adalah kumpulan beberapa paruik.
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
89

Dalam suku yang menganut kelarasan Koto Piliang, Penghulu berwenang dalam menyelesaikan permasalahan dalam kepemimpinannya, untuk itu kato Panghulu adalah kato manyalasai. Namun dalam menjalankan tugasnya Penghulu bertugas hanya sebagai koordinator sedangkan kepemimpinan dipegang oleh pejabat suku sesuai bidang masing-masing seperti Manti mengurus kesekretariatan atau administratif suku, Malin mengatur persoalan keagamaan dalam suku dan Dubalang mengurus persoalan pertahanan keamanan suku. Penghulu dengan Manti, Malin dan Dubalang pada hakikatnya setara ; duduak samo randah dan tagak samo tinggi.. 'Mereka disebut sebagai orang Ampek Jinih yang mana Penghulu mendapat kehormatan sebagai koordinator yang didahulukan salangkah dan ditinggikan sarantiang.

A. Kelembagaan Suku Menurut Koto Piliang
Dalam setiap nagari, sekurang-kurangnya ada 4 (empat) buah suku, karena nagari dibangun dari empat buah koto dan setiap koto, dulunya terdiri dari satu buah suku. Dari sudut kekerabatan, sebuah suku secara internal terdiri dari: keluarga seibu, separuik, seniniak, sekaum dan sesuku. (Bustanul,2002:12) Setiap tingkat kekerabatan ada pimpinan yang mempunyai tugas dan tanggung Jawab tertentu seperti: Seibu-pemimpinnya Mamak Rumah Separuik-mamak Kepala kaum Seniniek-mamak Kepala Waris atau Tungganai Sekaum-mamak Payuang (Penghulu Payuang, Suku) Sesuku- pemimpinnya Penghulu suku
90

Manajemen Suku

Jumlah suku dalam setiap nagari pada dasarnya empat buah, tapi antara nagari yang satu dengan yang lain jumlah sukunya tidak sama, ada 9,7,6,5, dan ada yang 4 suku. Menurut aturan, kalau Sukunya 9 buah maka Penghulunya juga ada 9 orang dan orang Ampek Jinihnya, menjadi 9X4 orang = 36 orang. Pimpinan Ampek Jinih dalam nagari tersebut, terdiri dari 9 orang Penghulu, 9 orang Manti, 9 orang Malin, 9 orang Dubalang, kecuali unsur perhbantu Penghulu ini menumpang pada suku lain. Namun ada disebagian nagari, baik di Luhak Tanah Datar, Agam maupun Lima Puluh Kota, pada Penghulu sebuah suku itu sampai 60 orang banyaknya. Sudan tentu kedudukannya masing-masing tidak sama sebagian ada Penghulu Pucuk, Penghulu Andiko, Penghulu Kaum, dsb. Jumlah Penghulu yang demikian mungkin juga disebabkan oleh. kebijakan pemerintahan jajahan Belanda tempo dulu , di mana ada Penghulu Nan Basurek. Lalu Penghulu yang ditunjuk oleh kaumnya menyebut bahwa mereka juga Penghulunya sehingga lahirlah Penghulu yang banyak dalam sebuah suku pada sebuah nagari.

1.

Urang Ampek Jinih

Kepemimpinan urang Ampek Jinih adalah kepemimpinan yang tertinggi dalam sebuah suku di Minangkabau. Karena itu dilambangkan dengan empat puncak rumah gadang. Pada rumah gadang balah bubuang (Kubung XIII). Ditambah dengan satu puncak diserambi sebagai kepemimpinan urang tuo dalam suku. Adapun unsur-unsur Ampek Jinih antara lain: a. Penghulu Adat Merupakan pimpinan yang tertinggi dalam sebuah suku. Kepemimpinannya komplek, di samping
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
91

pimpinan anak dan kemenakan juga pemimpin dalam kaumnya, kepemimpinan sukunya serta pemimpin dalam nagari yang berarti juga pemimpin masyarakat. Perhatikan mamang berikut:
Manuruik warih nan bajawek Sarato pusako nan batolong

Penghulu itu adalah seperti mamangan berikut:
Kayu gadang ditangah rimbo Nan bapucuak sabana bulek Nan baurek sabana tunggang Batang gadang dahannyo kuek Daunnyo rimbun buahnyo labek Batang gadang tampek basanda Ureknyo bakeh base/o Dahannyo tampek bagantuang Buahnyo labek buliah dimakan Daunnyo tampek balinduang kapanasan Bakeh bataduah kahujanan lyo dek anak kamanakan Nan sapayuang sapatagak Di bawah payuang salingkuang cupak

Maksudnya adalah: Penghulu itu ibarat kayu besar dalam nagari yang menjadi tumpuan harapan masyarakat karena fungsinya yang tinggi dan luas itu sehingga dikatakan daunnya tempat berlindung, batangnya tempat bersandar, uratnya tempat bergantung dan lain-lain. b. Manti Adat Asal katanya menteri, dalam adat kedudukannya sebagai pembantu Penghulu dalam bidang pemerintahan adat. Maksudnya melaksanakan dan mengawasi orang atau keluarga dalam suku yang memakai adat, baik adat nan teradat, adat nan diadatkan maupun adat istiadat. Sesuai dengan mamang berikut :
92

Manajemen Suku

Adat salingka nagari Pusako salingka kaum suku

Untuk dapat menjaga dan melaksanakan tugasnya di bidang adat ini, sebenarnya Manti itu orang yang bijaksana :
Tahu dirantiang kamancucuak Tahu dibatu kamanaruang Sungguhpun kaie nan babantuak Ikan dilawik nan dihadang

Pendek kata, seorang Manti dapat betindak cepat, dan tepat serta mampu mengatasi banyak masalah. Oleh sebab itu, haruslah teliti dan hati-hati dalam mengambil keputusan. c. Malin Adat Adalah pembantu Penghulu dalam bidang agama. Membimbing masyarakat dan menjadi ikutan masyarakat dalam beribadat. Tugasnya mulai dari pengajaran mengaji, menunaikan rukun Islam, juga menunjuk ajari masyarakat ke jalan yang diridhai oleh Tuhan. Oleh sebab itu sebagai teladan orang banyak, seorang Malin itu seperti kata mamangan berikut:
Suluah bendang dalam nagari Nan tahu di halal haram Nan tahu di syah batal Nan tahu di syareat dan hakekat

d.

Dubalang Adat Kata Dubalang Adat berasal dari kata Hulubalang Adat. Pembantu Penghulu dalam bidang keamanan, baik dalam urusan kaum, suku ataupun nagari. Adapun Dubalang itu menuait mamang berikut .

Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

93

Nan Bamato sabana nyalang Nan batalingo sabana nyariang Tahu disumbang dengan salah Parik paga dindiang nan kokoh Maampang lalu kasubarang Mandindieng sampai kalangik Manjago cabue koknyo tumbuah Sia baka maliang jo cilok Manjago barih kok talampau

Maksudnya adalah sebagai penegak keamanan nagari, suku dan anak kemenakan yang dapat menindak langsung segala yang terjadi di tengah tengah masyarakat. Keempat jabatan tersebut diatas diturunkan secara turun temurun terdiri dari mamak kepada kemenakan seperti bunyi mamangan:
Biriek-biriek turun kasamak Tibo disamak makan padi Dari niniek turun kamamak Dari mamak turun kabakeh kami

Adapun Manti, Malin dan Dubalang dalam suku dinyatakan sebagai berikut:
Penghulu Menghukum Sepanjang Adat Malin Menghukum Sepanjang Syarak Manti Menghukum Sepanjang Sengketo Dubalang Menghukum Setuhuak Padang

Maksudnya masing-masing urang IV jinih tersebut menunaikan tugasnya sesuai dengan sifat dan bentuk tugas tersebut.

2. Unsur Penasehat Suku (Urang Bajinih)
Selain kepemimpinan urang IV jinih tersebut di atasnya ada unsur lain yaitu urang bajinih yang berfungsi menurut
94

Manajemen Suku

adat sebagai penasehat suku. Dalam Perda 13 th. 1983 tempo dulu urang bajinih ini termasuk keanggotaan Kerapatan Adat Nagari (KAN). Setiap nagari mempunyai urang bajinihnya sendiri-sendiri. Mereka dianggap sebagai orang asa (asli) yang memenuhi 4 kriteria yaitu:
Bahutan tinggi Basasok bajarami Basandi rumah gadang bapandam bapakuburan

Setiap nagari telah ada orang bajinihnya sejak dulu, walau kini kriteria yang empat di atas itu tidak lagi dipenuhinya karena harta pusakanya telah tergadai, terjual atau rumah gadangnya telah runtuh tapi sandinya masih ada. Dibawah ini diterangkan skala urutan urang bajinih dalam suku (Soewardi: 1992: 27) yang berfungsi menurut adat: a. PAMUNCAK, fungsinya sebagai pendamping Penghulu dan Pamuncak tidak ada dalam setiap suku, hanya suku-suku tertentu saja yang memiliki pemuncak. Tugasnya adalah mengatur dan menjalankan fungsi adat pada adat istiadat nagari. b. URANG TUO ADAT, merupakan penasehat dalam sebuah suku. Tugasnya sebagai penasehat dan Urang Ampek Jinih dalam sukunya. Hanya dilmiliki oleh beberapa suku. c. CAMIN ADAT, bertugas menyelesaikan masalah antara dua kaum atau paruik dalam suku. Camin adatlah kaca perbandingan bagi mereka yang berselisih. d. TUNGKU NAN TIGO, istilah ini berasal dan Tuanku Nan Batigo yaitu orang kepercayaan Raja Pagaruyung pada satu-satu nagari yang dikunjunginya. Mereka berasal dari tiga suku yang
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
95

e.

f.

g.

berbeda dan terdiri dari tiga orang, oleh kebijaksanaan pemerintah tempo dulu, mereka diamanatkan sebagai penasehat dalam nagari dan penegak hukum di nagari tersebut. Juga tidak dimiliki semua nagari. KHATIB NAGARI yaitu mulanya orang yang menjadi khatib pada waktu sembahyang Juma’t pada mesjid nagari. Lalu dahulunya dikukuh secara adat sebagai khatib nagari. IMAM NAGARI juga orang yang pada mulanya menjadi imam di mesjid nagari kemudian dikukuhkan secara turun temurun sebagai imam nagari asal yang bersangkutan memiliki ilmu sebagai imam dimaksud. MAMAK KAPALO WARIS adalah mamak dalam sebuah rumah gadang yang umum disebut tungganai. Tapi sebagai mamak kapalo waris yang bersangkutan berfungsi sebagai pemelihara sako dan pusako kaumnya (direktur utama pada sebuah kaum perumah gadang).

B. Kelembagaan Suku menurut Kelarasan Bodi Caniago
Setiap suku mempunyai pimpinan kaum yang disebut seorang panghulu, sebagai pemimpin dan anak kemanakan Dalam stuktur kepemimpinan, tetap berlaku kamanakan barajo ka mamak. Sebagai jenjang kepemimpinan bahwa panghulu berada dalam urutan pertama, sedangkan angku atau pasumayan sebagai penasehat, dan Bundo Kanduang sebagi mitra kerja panghulu, pada tingkatan ke dua adalah tungkek (panungkek) dan urutan selanjutnya adalah gelar tuanku dan sejenisnya

96

Manajemen Suku

Dengan stuktur kepemimpinan dalam suku dan kaum itu adalah pembagian kerja yang jelas dan punya tugas serta tanggung jawab masing-masing, untuk itu adalah tugas seorang panghulu, menempatkan seseorang pembantu adat dan bertugas secara proporsional dalam bidangnya, seseorang diberi gelar Tuanku adalah sebagai orang yang faham tentang hukum-hukum agama, begitu juga gelar Sutan, sebagai orang yang tahu dima cakak tak salasai, dimakoh gajah manyubarang, mangko aia karuh sampai di hilia. Panghulu sebagai pemimpin gadangnyo digadangan yaitu tumbuah ditanam, tingginyo ba anjuang, gadangnya ba amba. Maka panghulu sebagai pemimpin adalah aia nan janiah sayak nan landai, bak kayu ditangah padang, ureknyo tampek baselo, batangnya tarnpak basanda, dahannya tampek bagantuang, buahnyo ka dimakan, aia ka diminum, daun tampek balinduang. Seorang pemimpin dalam adat Minang harus mengikuti alua jo patuik, nan barajo ka bana yaitu kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu barajo ka alua, alua barajo ka bana, bana bandiri sandirinyo, artinya adalah rajo (pemimpin) adil di sambah, rajo zalim di sangah, panghulu hanyo didahulukan salangkah di tinggikan sapucuak, bukan dahulu salengkok jalan, tinggi dibaliak-baliak awan, tapi hanyo jauh sapaimbauan, datang sakali panggia. Lebih lanjut M. Nasrun menjelaskan. Malin tagak di pintu agamo nan mabesohkan halal nan haram, kato malim bakato hakikat, Panghulu tagak di pintu adat, nan bakato manyalasai, Dubalang tagak dipintu mati, tumbuah batuhuak, jo baparang, Dubalang bakato
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
97

mandareh, Manti taguah di buek sebagai angin yang menyampaikan sesuatu, kato Manti kato barulang. Dalam skala prioritas, kepemimpinan dalam adat adalah Panghulu (datuak) yang sering disebut dengan Bungka, dan bungka dibantu oleh yang lainya yang disebut Panungkek (tungkek), sebagai pemimpin agamo adalah tuanku (sebagian kaum mamakai gala khatib/imam) yang dilengkapi dengan gelar-gelar lainnya seperti, Malin, Labai, Kari, dan kebanyakan mereka berfungsi sebagai Manti nan barulang, dan gelar Sutan lebih banyak berfungsi sebagai Dubalang atau yang lebih banyak disebut sebagai bujang salamat, nan tagak dipintu batuhuak jo baparang. Menurut DJ. Dt. Gampo dalam pelaksanaannya bertemu ketentuan Primus Interpares (yang utama dalam yang sama) maksudnya adalah pada dasarnya tugas dan kewajiban itu sama, pada saat-saat tertentu ada yang lebih diutamakan dalam bermasyarakat. Kongkritnya tugas masing-masing dan elemen-elemen dalam suku adalah Panghulu melaksanakan undang-undang adat, untuk mencapai kemakmuran dan keadilan. Keadilan Penghulu sebagai hakim dalam memegang hukum dengan undang-undang adat disebut "mengati samo merah manimbang samo barek", kebijakan panghulu akan menjadi ilmu dalam hukum, sabagai undang dalam nagari Mancampak tibo dihulu Kanailah anak ikan balang Apo nan manjadi cupak dek panghulu mamakai undang-undang. Tungkek (panungkek) yang disebut dalam adat Condong batupang Lamah babilai, Rabah munggu Tungkek tagak Untuk kelancaran pemerintahan dalam suku panghulu di bantu oleh tungkek, apabila panghulu uzur, tungkek dapat mengantikan posisi panghulu, kerena tungkek itu adalah mutlak adanya. Tungkek itu diangkat bersama-sama dengan mengangkat Penghulu dangan cara
98

Manajemen Suku

memberitahukan " baimbaukan ka nan rapek baserakkan ka nan banyak" Malin menyelengkarakan segala sesuatu dalam masyarakat yang berhubungan dengan agama, seperti nikah talak, rujuak kelahiran, kematian, zakat, dan lain sebagianya. Kato Malin, kato hakaikat, nan manjadi payuang paji di akhirat, unduang-unduang ka sarugo. Manti menyampaikan segala perintah ke bawah dan mangantarkan segala perasaan ke atas, memeriksa perkara dan menyiapkan putusan. Dari kedua sistem pemerintahan suku, baik menurut Koto Piliang maupun kelembagaan suku menurut sistem Bodi Caniago ada pemimpim yang menonjol yaitu: mamak dalam kaum dan Penghulu dalam suku, bagi kalarasan Koto Piliang. Meski di beberapa tempat di ranah Minang, ada yang satu suku hanya memiliki satu kaum dan ada pula yang dalam satu suku memiliki banyak kaum. Dan hal ini berkembang sesuai dengan perkembangan nagari yang telah dihuni oleh banyak kelompok migrasi yang membawa latar belakang system kepemimpinan suku yang dianutnya. Namun demikian dapat dipahami dan disesuaikan dengan keputusan rapat suku dan nagari masingmasing.

C. Kepemimpinan Penghulu
Sebenarnya sejak adat ini dipatok oleh nenek moyang orang Minangkabau yaitu Dt Katumanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang, pengangkatan pemimpin yang lebih tinggi dari tungganai itu dilakukan dengan pembentukan koto dan suku. Pada waktu peresmian pembentukan koto dan suku juga langsung diangkat Penghulunya. Pelantikan itu dilakukan oleh Penghulu Utama dengan sumpah jabatan.
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
99

Dalam tahap pembangunan Nagari, sekurang-kurangnya terdiri dari 3 atau 4 koto. Kalau setiap koto terdiri dari sebuah suku yang dipimpin oleh seorang Penghulu, tentu sebuah nagari ada 4 orang Penghulu. Inilah yang disebut Penghulu suku yaitu himpunan Penghulu suku yang berempat. Menurut sistem koto piliang, untuk mengetuai Penghulu yang berempat itu dilantik dan disumpah Penghulu kepala yang lebih dikenal dengan sebutan Penghulu pucuk. Begitu juga untuk mengepalai tungganai yang seperut ditunjuk pula Penghulu andiko, yang kedudukannya sama dengan pembantu Penghulu. Dalam masyarakat, pemimpin memegang peranan yang sangat menentukan dan pemimpin itu ada pada setiap daerah, kawasan seperti kata mamang:
Sabuang bajuaro Halek ba rajo janang Kapa ba nahkodah Rumah ba tungganai Darek ba panghulu Rantau barajo

Maksudnya di galanggang pamedanan ada Juaro, begitu juga diperhelatan pemimpinnya Rajo Janang, di kapal pemimpinnya Nahkoda, di darek pemimpinnya Penghulu dan di rantau pemimpinnya adalah Raja. Di Minangkabau pada umumnya, laki-laki disiapkan untuk menjadi seorang pemimpin seperti yang diutarakan mamang berikut:
Kaluakpaku kacang balimbiang Ambiak timpuruang lenggang-lenggangkan Dibawo nak urang Saruaso Anak dipangku kamanakan dibimbiang Urang kampuang di patenggangkan Ingek nagari jan binaso

100

Manajemen Suku

Keberadaan panghulu sebagai "kayu gadang ditangah koto, batangnyo tampek basanda, ureknyo tampek baselo, daunnya tampek bataduah dikalo kahujan, tampek balinduang dikalo kapanasaan", panghulu tidak hanya sebatas itu tapi dilanjutkan dengan "kapai tampek batanyo kapulang tampek babarito, kusuik manyalasaai, karuah mampajaniah". Bertitik tolak dari pola ideal diatas yang merupakan kerangka teoritis, berkaitan dengan perubahan yang terjadi, apakah keberadaaan dan fungsi panghulu itu telah mengalami perubahan? Dan sejauh manakah perubahan itu terjadi? Apakah perubahan itu ":bakisa dari lapiak nan sahalai" atau perubahan itu seperti yang disinyalir oleh Buya HAMKA karena perubahan yang secepat kilat ini, karena revolusi dan lebih lagi karena "anak kamanakan telah besar-besar dan pintar-pintar, dengan sendirinya niniak mamak tidak berdaulat lagi" dan bahkan kadangkadang dari lapangan pendidikan ilmu pengetahuan anak kamanakan sering melebihi ilmu panghulu. Penelitian yang dilakukan oleh Sjofan Thalib berkaitan peranan ninik mamak Minangkabau dalam perubahan sosial menyimpulkan diantaranya: 1. Dibandingkan dengan apa yang telah dicapai oleh anak kamanakan dewasa ini, memang terbukti bahwa dari segi pendidikan panghulu tertinggal dibandingkan anak kamankan. 2. Dalam konsep keluarga yang hidup dewasa ini mendekati konsep keluarga kecil atau keluarga batih (inti), yang menjadi kepala keluarga adalah ayah sebagai penanggung jawab terhadap kelangsungan anak-anaknya.
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
101

3.

Meskipun terdapat kenyataan bahwa kedudukan ayah dalam keluarga telah menjadi penting, seiring dengan itu mundurnya pengaruh mamak terhadap kamanakannya, namun kedudukan mamak dalam kaum dan suku tetap dipandang penting

1.

Proses dan Pengangkatan Lembaga Ampek Jinih

Proses pangangkatan panghulu adalah usaha yang dilakukan daalam memilih dan memilah panghulu yang akan menjadi pemimpin dalam kaum dan suku, dan tahapan-tahapan yang dilalui dalam proses tersebut adalah sebagai berikut: a. Baiyo Badunsanak (dunsanak nan sa paruik dalam nan sa kaum}, yaitu kabulatan kaum. Dalam baiyo badunsanak yang dibicarakan adalah mancari kata sepakat untuk batagak panghulu dan atau mancari siapa yang akan manyandang gala kabasaran tersebut, disini bertemu prinsip badiri panghulu sapakat kaum, badiri adaat sapakat nagari. Apa bila dalam satu kaum terdapat beberapa paruik maka akan bertemu ketentuan gadang balega, musim baganti. Dalam hal ini tidak meninggalkan prinsip utama dalam pengangkatan panghulu: Ramo-ramo sikumbang jati Katik endah pulang bakudo, Patah tumbuah hilang baganti Sako pusako baitu juo. b. Mangarumahan Dunsanak, dunsanak yang dimaksud adalah dunsanak nan sautang sabaia yaitu dalam lingkungan nan sapayuang sapatagak. Pada tahap ini yang dibicarakan adalah menyampaikan kata sepakat dari nan saparuik bahwa kaum tersebut telah "saniat" untuk batagak
102

Manajemen Suku

c.

d.

panghulu dalam bahasa adat kita kenal dengan lado di parak nan alah masak, padi disawah nan kukuah. Mangarumahan Urang Kampuang, urang kampuang yang dimaksud se kampuang atau jorong, pada tahap ini yang dibicarakan adalah "manapak-i janji" acara ini disebut manapak-i janji adalah karena pada saat "dahulu" ada janji nan babuek, padan nan baukua yaitu: Saat mati batungkek Bodi, artinya saat dipandam pakuburan "dahulu" ataupun di medan nan bapaneh telah ditetapkan pengganti dari panghulu nan maninggal, dan telah di buek janji untuk segara malewakan gala, apabila telah sampai pada saatnya acara itu disebut manapek-i janji yaitu dihari nan dahulu, janji ba buek padan ba ukua, tantu di hari nan kini janji batapek, ikara bamuliakan Bagi nan hiduik bakarilahan, kok lurah alah dalam, kok bukik alah tinggi untuk itu perlu dicarikan pengganti panghulu nan alah "uzur", pada saat mengarumahan urang kampuang itulah dicarikan siapa yang akan menggantikan gala kabasaran datuak tersebut. Kaderisasi, dibeberapa nagari kaderisasi berjalan mendahului dari proses pengangkatan panghulu yang disebut dengan kalau kamanjadi mancik alah runciang ikuanyo, artinya pada tahap itu Penghulu yang tua telah mempersiapkan bekal pengganti jika satu saat dia meninggal atau telah uzur. Kaderisasi ini berjalan secara alamiah dalam kaum, tetapi dalam pelaksanaan terdapat istilah Makan Banak, makan banak panghulu yang telah digadangkan itu diberi kesempatan untuk memimpin sambah dalam acara kaum, ini terjadi sesaat
103

Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

atau beberapa hari setelah pengangkanatan panghulu.

terjadi

prosesi

2.

Prosesi Pengangkatan Penghulu

Batagak Panghulu lazim disebut dengan malewakan gala, kata malewakan yaitu ma himbaukan ka nan banyak, manyerakkan ka nan rapek artinya adalah bahwa sesorang yang secara resmi menurut adat telah dikukuhkan kepemimpinannya. Perkataan malewakan juga diperkenalkan di Negeri Sembilan sehingga raja keturunan Minangkabau yang menjadi di Pertuan di Negeri Sembilan bernama Raja Malewar yang diambil dari akar kata "lewa", malewakan, dalam bahasa melayu disebut dengan "Malewar". Dalam malewakan gala kebesaran panghulu dikenal dengan Baralek Datuak, upacara baralek datuak tersebut dimeriahkan dengan : 1. Mambantai Kabau (kerbau), mambantai kerbau untuk setiap gelar kebesaran panghulu "ka di lakek-an", lazim disebut dengan tiok mandi, tiok ba kusuak, . Namun teknis ini tidak sama disetiap nagari, ditentukan oleh keputusan nagari masing-masing. bagi panghulu yang telah mambantai, kedudukannya di duduk samo randah, tagak samo tinggi, artinya panghulu tersebut di ikut sertakan dalam membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan nagari, dan "mandapek panggia" dalam setiap alek batagak panghulu. Bagi panghulu yang belum "mambantai", hak dan kekuasaanya terbatas dalam hal membicarakan kaumnya saja, dan panghulu tersebut tidak berhak "mamakai karih". 2. Dagiang kabau tersebut dimasak, dagiang pambari makan anak nagari dalam papatah adat disebutkan "dagiang samo dilapah, kuah samo dikacau", selain
104

Manajemen Suku

bertujuan untuk memeriahkan acara "alek gadang", di sisi lain adalah bahwa apapun yang terbaik dari seorang panghulu diharapkan dapat bermanfaat untuk anak nagari dan demi kemaslahatan umum. 3. Managakkan marawa dengan istilah "di ma bandera takipek, di sinan marawa tagak" dan akan lebih meriah lagi setelah panji-panji (bandera gadang) di tagakkan biasanya satu atau dua hari sebelum hari "H". Kemeriahan itu akan lebih kelihatan lagi dengan banyaknya bandera yang dipancangkan di pinggir jalan sebagai bukti adanya alek gadang, dan ini akan lebih semarak lagi dengan adanya marawa yang berdiri kokoh dihalaman rumah gadang Panghulu 4. 4. Panitia Alek. Panitia alek sering disebut dengan pitunggua, yang melibatkan kaum dan urang kampuang, panitia ini tergantung kebutuhan masingmasing dalam tiap-tiap nagari, sebagai contoh dapat dilihat panitia alek berikut: Dalam acara maipa-an urang, yang dibicarakan adalah persiapan dalam acara ini kita kenal dengan istilah juaro nan dua baleh yaitu panitia alek, juaro nan dua baleh itu adalah: i. Pitunggua dapua yaitu orang-orang yang akan duduak di dapua alek dalam konteks ke Indonsia-an dikenal dengan seksi konsumsi ii. Pitunggua Kas yaitu tempek mangadu labih jo kurang, bandahara alek. iii. Pitunggua Bandera yaitu orang (panghulu) yang berfungsi sebagai panitia penerima tamu-tamu tujuah toboh. iv. Pitunggua Amai-apak, yaitu panitia penerima tamu, dan lebih kusus panitia ini berfungsi menerima tamu dari "amai-apak" dari panghulu nan di alekkan
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
105

v.

Pitunggua Padusi, orang yang akan melayani alek padusi kususnya adalah alek di bidai nan mambao katidiang atau talam, pitunggua tetap laki-laki (panghulu) vi. Pitunggua Dunsanak yaitu semua aluran dunsanak dari nan baralek, umpanya yang nan baralek urang pisang, maka seluruh urang ampek ibu digolongkan kepada dunsanak, dan rumah untuak dunsanak iu tersendiri. vii. Pitungua Tuanku, rumah untuk alek tuangku itu tersendiri kusus bagi nan bagala tuanku, tuanku merupakan orang-orang yang biasanya adalah alaim Ulama, sebagai penghargaan terhadap alim ulam itu maka dalam acara alek rumah mereka terseniri. viii. Pitunggua Undangan, yang dimaksud adalah tetamu dari instansi atau handaitolan dari si pangka nan baralek, salain orang tujuan toboh. ix. Pitunggua Anak Mudo, anak muda dalam pengertian disini adalah orang-orang yang bertugas : Manduduakkan panghulu saat alek dilaksanakan kususnya dirumah gadang yang lazim di sebut alek di baliak tabia. Juaro alek, nan pandai malatak jo mahatun, jamba alek, nan hahanta jo mananti panghulu nan dilewakan, lengkap dengan pidato adat. x. Pitunggua Perlengkapan, orang yang mempersiapkan segala sarana dan parasarana, piriang jo paha, baik sebelum ataupun sasudah alek salasai. xi. Pitunggua Mamangia, dalam mamanggia alek tujuah toboh berbeda pelakanaanya dari pada alek biasa, perbedaan itu adalah:
106

Manajemen Suku

-

xii.

Nan mamanggia adalah anak mudo dalam adat-pakaian nan mamangia itu adalah pakaian adat tidak boleh pakaian biasa. Panghulu nan di pangia harus ketemu langsung, tidak boleh dengan menitip pesan. Pitunggua Toboh yaitu pitunggua yang sangat menentukan kelancaran alek, dalam konteks zaman sekarang panghulu ini berfungsi sebagai moderator, untuk itu pitunggua tujuah toboh orang-orang pilihan dan jumlahnya sekitar tiga orang Penghulu.

3.

Pakaian Penghulu

Seorang Penghulu/ninik mamak dibedakan secara lahir dari pakaian yang dipakainya dan dihubungkan dengan perilaku yang menjadi kepribadiannya. Kebanggaan di Minangkabau ialah pakaian kebesaran Penghulu ini mempunyai arti dan makna tersendiri yang mengandung sikap dan tingkah laku yang dituntut adat terhadap seorang Penghulu, seperti kata mamangan berikut:
Rupo manunjuakkan harago Kurenah manunjuakan laku Walau lahie nampak dek mato Nan bathin tasimpan dalam itu

Pakaian Penghulu yang resmi dipakai tidak sembarangan pakaian. Disebut pakaian tradisional. Khusus untuk Penghulu adat. Oleh sebab itu tidak boleh sembarang orang memakainya. Bentuk dan coraknya mungkin sama tapi susunannya antara Minangkabau mungkin berbeda. Pakaian Penghulu terdiri dari destar (saluak), baju gadang, celana lapang, ikat pinggang, kain sarung, salempang, keris dan tongkat. Warna pun menetukan jabatan. Baju, celana dan destar milik Penghulu wamanya serba hitam, Manti
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
107

serba ungu, Dubalang serba merah, dan khusus Malin pakaiannya putih (ingat tentara padri). Pakaian Penghulu itu adalah pakaian pemimpin. Sama artinya dengan pakaian raja-raja. Ada artinya dan makna bagi pakaian itu masing-masing (bacalah falsafah pakaian Penghulu). Adapun pakaian Penghulu sebagai berikut a. Deta atau Saluak Banyak kerut merutnya, melambangkan bahwa Penghulu itu tautan akal, berlipat-lipat melambangkan bahwa akal Penghulu itu tidak mudah ditafsirkan, dapat menyimpan rahasia, letaknya di kepala lurus berarti menegakkan keadilan dan kebenaran, pasangnya longgar melambangkan pikiran yang lapang, coba renungkan ungkapan berikut:
Deta panjang batakuak Bayangan isi dalam kulik Panjang tak dapek kito ukur Uba tak dapek di bidai Salilik lingkarang kaniang Ikek tatuang dikapalo Tiok katuak baundang-undang Dalam karuk Bodi marangkak Tabuak dipaham tiok lipek Lebanyo pandindiang kampuang Pandukuang anak kamanakan Hamparan dirumah gadang Paraok gonjang nan ampek Dihalaman manjadi payuang panji Panuduang korongjo kampuang Sarikek warih mandirikan Bakeh balinduang hart paneh Tampek bataduah hari hujan Dek nan sapayuang sapategak Sinan salingkuang cupak adat Sara to jo nan bawah kaum Manjala masuak nagari

108

Manajemen Suku

b.

Baju gadang tak basaku Baju gadang melambangkan kebesaran, warna hitam berlengan panjang melambangkan sifat suka membantu orang dalam kesukaran. Tidak bersaku artinya tidak menyimpan uang atau mengambil keuntungan dalam urusan anak kemenakan. Lebih jauh coba anda fahami yang tersirat pada mamang berikut bahwa baju Penghulu itu melambangkan Bodi luhur, kearifan dan kebijaksanaan serta sifat sabar yang dituntut:
Langan tasinsiang pangipeh angek naknyo dingin Pahampek gabuak nak nyo habih Siba mengkilek mangalimantang Mambu yang membungkuih tak mambuka Mauleh tak mangasan Lawik ditampuah tak barangin Bodi aluih bak lawik dalam Dalamnyo bapantang taajuak Langan bamiliek kin kanan Bamisie makan keamanan Gadang ba pangiriang Tagak baapuang jo aturan Unjuak baagak ba hinggokan Murahjo maha mambatasi Lihie lapeh tak bakatuak Babalah lihie hinggo dado Kiasan kapado alamnyo leba pandangannyo lapang buminyo laweh Gunuang tak runtuah karano kabuik Lawik tak karuah karano ikan Urang gadang martabatnyo saba Kok tagaknyo bajelo-bajelo Kandua badantiang-dantiang Paik manih pandai malatue Cando kaiyo kasamonyo.

Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

109

c.

Celana disebut Sirawa Lapang Tapak Itiek, hikmahnyo : Lapang maksudnya menyatakan langkah ringan tidak menyulitkan Kakinyo besar artinya langkahnya menuju yang lurus dan patut tidak mudah terhalang Adapun filsafat sarawa adalah sebagai berikut: Basarawa hitam gadang kaki Kapanuruik alua nan luruih Panampuah jalan na pasa Kadalam korongjo kampuang Masuk kotojo nagari Langkah salasai baukuran Martabat nan aman mambatasi Murah jo maha di tampeknyo Tanah kadarnyo nan hitam Paham hakikat tanah tapo Manahan hakikat tahan tapo Manahan sudijo siasat Kokoh gangsman nan sabinjek Kajadi incekjambu monyet Itu bana jadi pantangan

Maksud yang tersirat dari mamangan diatas adalah bahwa perighulu tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang telah ada dalam menyusun anak dan kemanakan keaslian pendirian yang kokoh sesuai dengan pantun:
Rang payo kumubuh batadang kunik Dibao nak urang ke kuantan Indak namuah kuning dek karuik Indak pula lamek dek santan

110

Manajemen Suku

d.

Kain saruang Yaitu kain yang disarung di pinggang hingga batas di atas lutut, artinya waspada menjaga diri dari kesalahan dan kekhilafan dan berhati-hati melangkah kaki.

e.

Ikat Pinggang Disebut cawek atau kabek pinggang, artinya: melambangkan anak dan kemenakan karib bait yang perlu mendapatkan perlidungan. Penghulu: selanjutnya perhatian mamang berikut: Cawek bajumbai alui Saeto pucuak rabauangyo Kapalilik anak kamanakan Kapanjarek pusako datuak Nan jinak nak ma kin tanang Nan lia nakjan tabangjauh Kabek sabalik buhue sintak Kokoh tak dapek kilo ungkai Lungga bak dukuah lapeh Kato mufakat paungkai

f.

Salempang ka Bahu Disandang ke bahu kanan artinya mampu memikul tanggung jawab terhadap anak kemenakannya.

g.

Keris Disisipkan di pinggang, hulunya arah kekiri artinya: Penghulu itu dipakai senjata yang melembangkan keuasaan. Hulunya kekiri itu artinya senjata yang dimiliki tidak digunakan untuk membunuh, tetapi untuk melindungi anak kemenakan. Lebih jauh tentang keris adalah sebagai berikut:

Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

111

h.

Ganjo iran ganjo manumpuh Sumarak minang pado zatnyo Pameran aka jo Bodi dek panghulu Lahie jo batin bapaliharo Adapun falsafah keris di Minangkabau Sanjato kerih kabasaran Sampiang cawek nan tampeknyo Sisiknyo condong ka kida Dikesong mako di cabuik Gemboknyo tumpue punting Tunangan ulla kayu kamat Kokoh tak rago baambauan Goyah bapantang tangga Bengkoknyo tangah duo heto Tapo luruih makanan banting Bantuak dimakan siku-siku Bamato baliak batimba Sanyawa pulo jo ganjonyo Tajam tak rago dek baasah Tapi bapantang malukoi Kapanarah nan bungkuak saruweh Ipuahnyo turun dari langik Biso bapantang batawakan Jajak ditikam mati juo Kapalawan dayo rang aluih Kupanulak musuah di badan

Tongkat

Tongkat yang disebut tungkek kayu yag kuat lagi lurus melambang bahwa Penghulu itu mampu menompang dirinya disamping kewajibannya menopang adat dan pusako, anak dan kemenakan. Falsafah tongkat adalah sebagai berikut: Pamenannya tungkat kayu kamat Ujuang tanduak kapalo perak
112

Manajemen Suku

-

Panungkek adat jo pusako Bati batagak nan jan condong Sako naknyo tatap di inggiran Ingek samantaro belum kanai Kulimek samantaro balun abih Nak taguah gantang jo anjuanyo Adat nak tagak jo limbago Sumpik nak tagak jo isinyo.

Kesimpulan yang dapat ditarik dan pakaian Penghulu adalah: a. Wujud fisiknya berupa wama, potong seperti yang terliKaf tetapi wujud nan fisik yang tersirat mempunyai makna tertentu yang agung nilainya. b. makna itulah yang diharapkan kepada pemakainya yaitu Penghulu itu sendiri yang akan memenuhi sehingga menjadi kepribadiannya dalam menunaikan tugasnya sebagai pemimpin masyarakat.

4. Tugas Pokok Penghulu
Dalam melaksanakan amanahnya sebagai pemimpin suku, Penghulu mempunyai tugas: 1. Mamaliharo Harato Pusako untuk diwariskan secara turun-temurun. Tindakan menjual harta pusaka tinggi atau mengalihkan hak atas nama orang lain selain kaum adalah menyalahi prinsip:
Dijua indak dimakan bali Digadai indak dimakan sando Kabau tagak kubangan tingga Luluak dibao sao nan lakek di badan Aienyo bulieh diminum Buahnyo bulieh dimakan Nan batang ta tap tingga di nan punyo

Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

113

2.

Manjago Anak Kamanakan. Maksudnya memelihara anak dengan harta pencaharian, menjaga kemenakan dengan harta pusaka tinggi, artinya tidak membawa harta pusaka tinggi ke rumah isteri dan sebaliknya tidak membawa harta pencaharian ke kaum kemenakan. Jadi pegangan yang tepat adalah:
Memelihara anak dengan akal Bodi Memelihara kemenakan dengan rasojo pareso

3.

4.

5.

6.

Singkek Ka Mauleh. Lamah Ka Manuwie. Kurang Manukuak. Senteang Mambilai. Maksudnya mengulas pikiran kemenakan bila singkat dalam memecahkan kesulitan, mampu memperkuat kemenakan bila lemah, mampu menambah dan menukuk bila kemenakan kekurangan. Jangan biarkan kemenakan rninta tolong kepada orang lain atau orang lain agama sehingga kemenakan dikrestinisasikan orang lain. Hilang Mencari. Hanyuik Maminteh. Luluih Manyalami. Maksudnya sebagai mamak harus mampu mencari kembali harta pusaka yang hilang, mampu memintas atau menyelami harta pusaka yang hanyut untuk mensejahterakan mereka. Rantau Jauah Diulangi. Dakek Dikanali. Demi kepentingan anak dan kemenakan serta tugasnya mengulanginya kemenakannya yang jauh di rantau dan mengkana—bagi anak kemenakannya yang ada di kampung dalam arti namuah baabih hari babadan litak untuk mengawasi langsung kemenakannya (dilapeh pagi, dikuruang patang) karena cintanya kepada adat nagarinya. Sewajamya kemenakan itu berkebenaran kepada mamaknya, mamak itu sendiri berkebenaran kepada mufakat, sebab mufakat itu berkebenaran kepada
Manajemen Suku

114

kebenaran dan keadilan itu sendiri. Haruslah Penghulu itu menegakkan mamang adat:
Kamanakan barajo ka mamak Mamak barajo ka pangulu Pangulu barajo ka mufakat Mufakat barajo ka nan bana Nan bana berdiri sendirinyo

5.

Fungsi Penghulu

Sesuai dengan jabatannya, seorang Penghulu itu mempunyai fungsi sebagai berikut: 1. Manuruik jalan nan luruih 2. Yaitu jalan siratalmustaqim, jalan menuju kebahagiaan dan kesejahteraan dunia akhirat, jalan menurut alur dan patut. Fenomena di lapangan ada ninik mamak main domino di warung waktu shalat, berjudi, mabuk-mabukan. Semua itu adalah jalan yang sesat, sudah keluar dan ketentuan adat dan agama dan sudah melanggar moral 3. Manuruik kato nan bana. Dalam menyelesaikan masalah sako jo pusako, Penghulu/ niniak mamak yang berwenang harus bermusyawarah dalam mengambil keputusan. Menegakkan kebenaran agar pihak yang tepat menerima keadilan adat.
Tahan lukah didalam banda Ditahan jan diinjak Dianjak ka tanah bato Kalau bana jan dituka Dituka jan dirombak Kok diubah jadi sangsaro

4.

Manimbang sama barek, manukuek sama paniang, mahukum sama adie. Dalam menimbang suatu perkara harus sama berat dan mengukur sengketa harus sama panjang,
115

Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

menghukum kesalahan harus sama adil. Dalam menegakkan hukuman ini, Penghulu/ niniak mamak harus konsekwen dan tidak takut akan dikucilkan oleh kemanakannya yang bersalah. Bila Penghulu/ niniak mamak menghukum atas dasar pijak bambu, maka pihak yang dirugikan akan pergi kepengadilan dan polisi untuk mencari keadilan. Dengan masuknya pihak ketiga, Penghulu/ niniak mamak akan kecolongan dan otomatis nilainya jatuh dari pandangan kemenakannya.
Tibo di paruik indak dikampihkan Tibo dimato indak dipiciangkan Tibo didado indak dibusuangkan

5.

6.

Maksudnya sesulit apapun keputusan dalam menegakkan kebenaran tetap ditempuh dan diterima dengan berlapang dada, seperti apapun mata menerima percikan angin resiko, mata jangan dipicingkan demi menyinarkan kebenaran dan sebesar apapun kemenangan dan keberhasilan menegakkan kebenaran jangan merasa sombong dan bangga Kusuik kamanyalasaikan karuah mampajaniah. Penghulu/niniak mamak harus mampu menyelesaikan bila kemenakan kusut dan mamapu menjernihkan bila kemenakan dalam keadaan keruh jangan sampai meminta penyelesaian masalah kepada pihak ketiga seperti LBH/Polisi dan pengadilan. Gantiang putuih, biang tabuak. Penghulu/ niniak mamak harus mampu memutuskan suatu perkara dalam arti memutuskan tidak melukai, menembus tidak menyakiti. Hal ini bisa terjadi dengan menegakkan kebenaran secara bijaksana.
Manajemen Suku

116

7.

8.

Bak maelo rambuik dalam tapuang, rambuik indak puttuih (hubungan keluarga), tapuang indak taserak (hubungan masyarakat). Bakato baiyo, bajalan bamolah, duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang. Maksudnya dalam memecahkan suatu masalah/perkara harus mengutamakan musyawarah, saling mendengarkan dan mencari kata sepakat. Dan jangan memutuskan suatu perkara mau menang sendiri dan tidak mau mendengarkan kebenaran orang lain. Indak lamak karano pantang. indak kuniang karano kunik. Maksudnya Penghulu dan ninik mamak tidak boleh berubah pikiran dari yang benar kepada yang salah karena ada iming-iming keuntungan. Kalau ini terjadi, berarti memperjualbelikan akidah dan agama demi kepentingan kekuasaan, kekayaan dan jabatan.

Kedelapan indikator di atas merupakan sikap dan prinsip yang harus ditegakkan Penghulu beserta pembantupembantunya dalam menjalankan fungsinya. Adapaun kesimpulan yang dapat kita petik adalah Tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) terdiri dari 6 tugas pokok dan 8 fungsi dari Penghulu / Niniak Mamak.

6.

Martabat Penghulu

Penghulu itu adalah seorang tokoh pimpinan tertinggi dalam suku di nagari-nagari di Minangkabau. Sebagai seorang pimpinan, Penghulu itu mempunyai martabat, yang diperolehnya sesuai menurut fatwa:
Tinggi dek dianjuang Gadang dek diamba
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

117

Tadinyo dek mufakat Tinggi karena dianjung Besar karena dibesarkan Terjadinya karena mufakat.

Maksudnya adalah martabat Penghulu itu datangnya dan masyarakat karena ternyata bahwa kedudukannya menjadi paling tinggi karena ditinggikan dan menjadi besar karena dibesarkan serta kepemimpinannya itu lahir karena mufakat jua. Oleh sebab itu seorang Penghulu itu harus tahu akan kewajibannya dalam memimpin anak dan kemenakan, serta harus dapat mengabdi sebaik-baiknya kepada kaumnya, anak kemenakannya, suku serta masyarakat umum. Harga diri atau harkat yang dituntut martabatnya itu dapat dicapai pula dengan memelihara kesabaran Penghulu itu. Kemudian dari pihak yang dipimpin yaitu mamak dan kemenakan harus pula menghargai Penghulu itu dengan jalan pimpinannya dipatuhi dan katanya diturut. Walaupun misalnya yang jadi Penghulu itu muda usianya tidak berarti seseorang seenaknya melanggar titahnya dan tidak mematuhinya sebab;
Penghulu itu didahulukan selangkah Ditinggikan seranting

Baginya yang melanggar peraturan-peraturan adat harus menerima segala sanksi yang telah ditetapkan dengan musyawarah. Bila tidak mau menerima saksi, maka panghulu tersebut bisa kehilangan wibawa Penghulu itu sendiridan ini bisa dituntut menurut adat. Begitu juga menghina Penghulu didenda sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh nagari itu masing-masing (dago).
118

Manajemen Suku

Jadi martabat Penghulu itu datangnya dari bawah dan dapat menjadi tinggi dengan sifat-sifat sebagai berikut: sabar, lurus, benar, adil, pengasih, berilmu, sempuma keputusannya, berhati lapang dan terjauh dari sifat rendah yang merupakan pantang Penghulu, memerahkan muka, menghardik, menghantam tanah, menyinsingkan lengan baju dan lain-lain.

7.

Syarat-Syarat Jadi Penghulu

Seperti telah dikemukakan diatas, untuk menjaga martabat Penghulu agar berwibawa terhadap anak kemenakan kaum nagarinya, seorang yang akan jadi Penghulu harus memiliki sifat-sifat berikut: 1) Sabar: menghadapi masalah dengan lapang dada serta luas pandangannya 2) Adil: dalam mengambil keputusan harus sempurna, artinya adil dalam menimbang salah dan benar dalam menjatuhkan hukuman, tidak pilih kasih terhadap kemenakan- kemenakannya. 3) Arif Bijaksana: dapat membaca situasi, perasaan halus dan jeli dalam memecahkan masalah. 4) Berilmu: harus banyak belajar, tahu tentang ketentuan-ketentuan dalam adat, menguasai hal-hal tentang Fiqih dan aturan-aturan agama Islam serta memiliki pengetahuan umum yang makin hari makin bertambah canggih. 5) Kaya: memiliki harta sehingga tidak mengganggu kesejahteraan kemenakannya dan juga kaya bicara, banyak memberi nasehat dan petunjuk. 6) Pemurah: suka menolong dan membantu orang lain dan orang banyak.
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
119

7) 8)

Tulus: tidak mengharapkan imbalan terhadap tugastugas dan jabatannya, malah ia ingin mengabdi untuk kepentingan orang banyak. Seorang Penghulu itu harus memiliki sifat yang benar artinya lurus, benar, jujur dan bertanggungjawab.
Manapuah jalan labuah nan luruih Mauruik jalan nan golong

Maksudnya tidak plin-plan, teguh memegang kebenaran dan janji, seperti mamangan berikut:
Lahie jo batin saukuran Isi kulik tanpamo labieh Sakato lahie jo bathin Sasuai muluik jo hati

Cerdas, berpendidikan, berilmu, artinya memiliki ilmu tentang adat, syarak, undang-undang dan lainlain. Penghulu itu: Cadiek, tahu jo pandai Nan badeta panjang bakaruik Panjang tak dapek kito ukua. Maksudnya, banyak berkerut pada dasarya melambangkan kecerdasan mendidik dan pengetahuan yang dimilikinya tidak dapat diselami. 10) Bersifar jujur dan dipercayai, sebab menurut adat sifat-sifat yang terlarang itu antara lain:
Pangguntiang dalam lipatan Panuhuak kawan sairiang Malalah kuciang di dapua Pilin kacang nak mamanjek Pilin jariang nak barisi Mangaik dalam balango Manahan jarek dipintu Mancari daun ka bawah rumah Manjua anak kamanakan Pangicuah korong jo kampuung Panipu urang nagari

9)

120

Manajemen Suku

Artinya: Mangguntiang dalam lipatan Penuhuk kawan seiring (suka merugikan kawan secara sembunyi) Malalah kucing didapur Pilin kacang nan mamanjek Pilin jengkol hendak berisi (segala perbuatanya ingin mendapatkan imbalan dan keuntungan) Mengail dalam belanga Mamasang jerat di pintu, Mencari daun ke bawah rumah (merugikan kaum keluarga sendiri) Menjual anak kemenakan Pengicuah korong jo kampuang Panipu urang nagari (suka merugikan dengan menipu anak kemenakan, korong dan kampuang) Penghulu yang jujur sesuai dengan mamang berikut: Elok nagari dek panghulu Sapakat mant jo Dubalang Kalau tak pandai jadi Penghulu Alamat sapuah kama ulang. Artinya Elok nagari oleh Penghulu Jalannya undang-undang oleh hulubalang Kalau tak pandai memegang hulu Punting tangga mao tabuang 11) Fasih bicara, maksudnya bukan bersilat lidah tapi seperti kata mamangan:
Murah kato takatokan Sulik kato jo timbangan Kato nan leok-leok lambai Rundingan nan elok lamak manih Sakali rundiangan tasabuikkan Takana juo salamonyo Rundingan nan tinggi tinggi rendah Nam bak maelo tali jalo Raso tagang di kanduri Agak kandua ditagangi Diam dikato nan sadang elok

Maksudnya mudah dengan kata-kata yang biasa, Teliti dengan kata-kata yang sulit. Dalam berunding kata-katanya enak didengar, dalam memecahkan masalah, kata yang tajam diimbangi dengan kata yang
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
121

enak. Sedang kata-kata yang lemah lembut diimbangi dengan kata-kata yang tajam. Dari semua syarat tersebut diatas kalau terpenuhi akan berakibat seperti kata mamang:
Sirawik padang barimbang Tak ujung pangka manganai Sudu-sudu batimbo jalan Dikaik kanai gatahnyo Kalangik tuah takaba Duduak di kampuang jan jumilan Pandang buek tujuan tanyo

8.

Syarat Mengangkat Pengganti Penghulu

Sebelum seseorang diangkat menjadi Penghulu, Penghulu yang lama harus berakhir kePenghuluan, karena meninggal dunia atau telah uzur dan diganti menurut sepakat kaum. Penggantinya diambil dari kemenakan yang bertali darah, karena jabatan Penghulu itu turun-temurun dari mamak kepada kemenakan (karambie tumbuah di mato). Ada 4 cara menggantikan kedudukan Penghulu : a. Sewaktu tanah tasirah Pada waktu Penghulu lama meninggal, ditanah pusara itu dilekatkan gelar Penghulu kepada kemenakannya yang dekat, seperti kata mamangan:
Ramo-ramo sikumbang janti Katik endang pulang bakudo Patah tumbuah hilang baganti Namun pusako baitu juo

122

Manajemen Suku

b.

Mati Bertongkat Budi Artinya kalau yang menggantikan Penghulu itu tidak yang bertali darah lagi, lalu berdasarkan musyawarah dalam kaum diangkat penggantinya yang bertali Budi yaitu kemenakan yang dibawa dan dibesarkan dan telah banyak berbuat baik pada masa hidupnya

c.

Hidup Berkerelaan Bila Penghulu lama itu sudah tua, artinya gunung sudah tinggi, lurah sudah dalam maka karena uzur itu menyerahkan gelar dan jabatannya kepada kemenakannya yang bertali darah dengan sepakat kaum.

d.

Mambangun sako Artinya membangkit batang tarandam, Penghulu yang sebenarnya masih kecil sementara kedudukannya digantikan oleh orang dewasa dalam sukunya menurut sepakat kaum. Setelah yang bersangkutan dewasa maka gelar dan jabatan Penghulu itu diserahkan dengan melalui pelantikan, yaitu kepada yang berhak memegangnya.

9.

Macam-Macam Penghulu

Menurut sifat dan perangainya Penghulu itu banyak pula jenis dan ragamnya. Berdasarkan istilah: Penghulu, pangaluah, panyalah, pengelak yang artinya' sebagai berikut: i. Penghulu, yang benar-benar seorang Penghulu, sempurna dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. ii. Pangaluah (pengeluh), yaitu Penghulu yang suka mengeluh adalah gambaran Penghulu yang tidak bisa
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
123

iii.

iv.

menyelesaikan masalah dirinya dan anak kemenakannya. Berartinya tidak mampu menjadi Penghulu yang baik. Panyalah (penyalah), Penghulu yang suka menyalahkan orang lain, berarti dia yang selalu benar. Ini Penghulu yang parasit yang maunya menang sendiri. Pengelah (pengelah), artinya Penghulu yang selalu menghindar dan mengelak dari kewajibannya dan tanggungjawabnya.

Sebagai seorang tokoh yang akan digugu dan ditiru oleh anak kemenakan, sudah tentu seorang Penghulu itu mempunyai sifat yang baik, tidak memiliki perangai yang buruk yang merugikan martabatnya sebagai orang yang ditinggikan disanjung gadangnya diamba oleh anak, kemenakan dan masyarakat. Penghulu menurut perangainya dapat dibedakan atas: a. Penghulu nan tanjuang
Sapantun sipongah dalam Ngalau Baik dirongkok-rongkok tabiang Kito babuni inyo babuni Dihimbau bunyinyo bana Dilihek indak tampak rupo Babuni dibuni urang Itu Penghulu sifat duto Dareh antah lalu tak ado Babana dibana urang Elok dicaliek-caliek sajo

Maksudnya Penghulu yang tidak punya pendirian, dapat diotak-atik, dipengaruhi orang dan yang diucapkan itu hanya pendapat orang lain. Yang belum tentu salah benarnya disebut Penghulu pendusta.
124

Manajemen Suku

b.

Penghulu Ayam Gadang
Bakotek hilie bakotek mudiak Bakukuak kian bakukuak kanan Manyatokan tuah awak sajo Tiok suatu kebaikan Awak sadonya nan pangkanyo Walaupun urang nan asanyo Dihimpok jo kecek lamak Itulah syarek ayam gadang Gadang bungkuh tak barasi Elok paluik pangabek kuruang

Maksudnya Penghulu ayam gadang adalah Penghulu besar mulut, harga dirinya c. Penghulu buluh bambu
Batareh tampak dilua Tapi di dalam kosong sajo Indak barisi apapun juo Tampan elok takuh balabieh Tajak rancak aka tak ado Ilmu jauh sakali Apapun indak nan ditaruah.

Maksudnya Penghulu itu bodoh tidak berpendirian dan kurang berilmu. d. Penghulu Katuk-Katuk
Iolah tontong rang diladang Kalau diguguah inyo babuni Kalau tak urang nan bakambang Ladanga suaronyo Kabarunduang awak tak pandai Mangecek itu nan japek Menjadi damuik barek biebie Itu nan disabuik katuak-katuak

Maksudnya, Penghulu yang tidak pandai bicara karena wawasannya rendah
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
125

e.

Penghulu Tupai Tuo
Elok nan mangalua Gadang nan mangatangah Diri di bao manyanik sajo? Bak karabang talue itiak Eloknyo dibuang sajo Tacampak kabaliek rumah Indak kumbali naik lai Bak itu sipek tupai tuo Indak tatampuah nan kalinduangan Aiek indak nan baturuik Jalan indak na batampuah Manaruah saganjo ragu Walaupun undanga Jah dikaji

Maksudnya, Penghulu yang tidak aktif malah masa bodoh dengan yang terjadi dan jarang sekali ke tempat ramai atau mengadakan kunjungan. Seorang Penghulu mempunyai nilai moral sebagai pemimpin yang bijaksana, adil, kaya tanpa kemewahan memberi tanpa kehilangan, menang tanpa mengalah. Penghululah yang diibaratkan, kayu gadang di tangah padang, ureknyo tampak baselo, batangnyo tampek basanda, daunnyo tampek bataduah. Sesungguhnya Penghulu itu :
Urang gadang basa batuah Di anjuang tinggi diamba gadang Alamat kebesaran dalam keluarga

Jika orang menghina Penghulu itu, harus dihukum sepanjang adat, menyembelih seekor kerbau memberi makan orang nagari sampai 1000 liter beras. Disamping itu harus minta maaf (tempo dulu). Penghulu itu bukan orang feodal, tapi dia harus bisa memimpin anak kemenakan dengan sepuluh syarat.
126

Manajemen Suku

Cerdik cendikiawan, arif bijaksana, Budiman, jujur, adil, benar, pandai, kaya, sabar, dan berani. Sebagai ahli akal, Penghulu itu:
Tahu di kieh dengan bandiang Tahu di dahan kamanimpo Tahu di rantiang ka malantiang Alun ba kilek alah bakalam Alun mambayang lah marupo

10. Tingkat Penghulu
a. b. c. d. Penghulu pucuk yaitu pimpinan dari Penghulu suku (Koto Piliang), sama dengan Penghulu tuo (Bodi Caniago). Penghulu suku yaitu pemimpin dari suku dan koordinator dari urang IV Jinih Penghulu Andiko yaitu Penghulu payung, yang memimpin suku yang telah membelah diri. Penghulu ini tidak berhak jadi Penghulu pucuk. Penghulu indu, yaitu pemimpin kaum yang sapayuang, disebut juga.
Ayam gadang sikue salasuang Balam mau sikue saguguak

e.

Panungkek, yaitu pembantu utama seorang Penghulu, yang punya kans untuk diangkat sebagai pengganti Penghulu.

11. Gelar Penghulu
Bagi setiap nagari gelar Penghulu itu sudah defenitif. Panggilannya Datuak. Dengan catatan tidak semua gelar datuk itu Penghulu. Gelar Datuk itu juga di pakai : a. Untuk panungkek b. Kaum yang bersako Penghulu atau yang mempunyai beberapa gelar pusaka
Bab 5: Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
127

c.

Orang yang berjabatan tinggi seperti Wali Nagari, tetapi gelar ini tidak dapat diwariskan

12. Cara Pemakaian / Penamaan Gelar
a. b. c. d. Gelar Penghulu pucuk itu tunggal seperti Dt. Sati. Dt. Sinaro, Dt. Batuah dan lain-lain Gelar Penghulu payung diberi tambahan dengan kata seperti Dt. Marajo Basa, Dt. Sinaro Sati. Gelar Penghulu indu diberi juga tambahan belakang Dt. Marajo basa nan kuning, Dt. Marajo basa nan batuah Gelar panungkek: menggunakan dua kata benda seperti: Dt. Payuang Ameh, Dt. Mangkuto Ameh. Penghulu yang sudah menurut adat ditentukan oleh dua kategori: Yang memakai sepanjang adat (patah tubuah) artinya Penghulu itu meninggal digantikan oleh kemenakannya yang bertali darah. Yang memahami adat istiadat hidup berganti artinya Penghulu lama itu meninggal dunia tidak ada penggantinya tidak ada yang kontan lalu digantikan oleh orang yang berotak adat dengan Penghulu yang meninggal itu.

128

Manajemen Suku

BAB 6
ANALISIS KEPEMIMPINAN SUKU DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN

Sebelum membahas manajemen suku sebelumnya perlu diketahui dan dapat dilihat bahwa secara umum arti manajemen itu adalah ketatalaksanaan, proses melakukan kegiatan-kegiatan dalam mencapai tujuan tertentu, bekerja sama dengan orang lain. Proses kerjasama itu dipimpin oleh seorang manajer, melalui fungsi-fungsi manajemen. Mengenai fungsi manajemen itu, banyak pendapat yang dikemukakan para pakar, baik menyangkut jumlah maupun pengertiannya. G.R. Terry menyebut ada 4 fungsi manajemen, terkenal dengan akronim POAC, yakni planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan) dan controlling (pengawasan). Herry Fayol memecah fungsi actuating menjadi commanding (pengendalian) dan coordinating (koordinator). William Sriegel menyebut fungsinya hanya
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
129

3, yakni perencanaan, pengawasan.

pengorganisasian

dan

Drs. S.D. Siagian MPA menyebut 4 fungsi manajemen yakni perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi dan pengawasan. Lindal F. Urwick menyebut ada 6 fungsi manajemen, yakni: perkiraan/visi, perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, koordinasi dan pengawasan.

A. Aspek Sistem dan Kelembagaan
Seperti yang telah diketahui bersama bahwa sistem pemerintahan yang sering disebut dengan kelarasan yang berlaku di Minangkabau merupakan buah pemikiran Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Paham itu membuahkan sistem Koto Piliang dan Bodi Caniago yang dianut oleh masyarakat suku di Minangkabau. Namun karena perubahan zaman dan orde yang berlangsung secara terus menerus termasuk dengan pola migrasi yang terjadi di berbagai wilayah di Minangkabau, seperti perkawinan antara anak kemanakan yang menganut dua sistem atau pindah domisili,- sistem kelarasan yang dianutpun bergeser sedikit demi sedikit dan dapat menyebabkan kehilangan subtansi kelarasan masing-masing. Bahkan dari awalpun sejak dilahirkannya, sistem Kelarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago terjadi pula pemahaman kelarasan yang berbeda sama sekali dengan sistem yang ada. Seperti sistem Pisang Sikalek-kalek Hutan, yang menurut mamangnya tidak memakai salah satu namun mengaku sama-sama diafpakai kedua sistem tersebut.
130

Manajemen Suku

Pisang sikalek-kalek hutan Pisang Tambatu nan bagatah Rang baok ka Saruaso Bodi Caniago Bukan Koto Piliang nyo antah Samo dipakai kaduonyo

Akan tetapi, apabila ditilik lebih jauh sistem yang memakai kedua-duanya ini tidak jelas pula bila mana dan kapan sistem koto Piliang dipakai dan disaat apa pula sistem Bodi Caniago digunakan. Begitu juga dengan sistem pengambilan keputusan dan proses adatnya, juga tidak ada kejelasan apakah menganut Koto Piliang maupun Bodi Caniago. Dan tidak jelas pula siapa yang melahirkan sistem pisang sikalek-kalek hutan ini. Dan bagaimana aturan yang jelas dalam menata lembaga suku juga tidak ditemukan, namun sistem ini sudah ditradisikan di masing-masing tempat dan disesuaikan dengan adat salingka nagari. Hal inilah yang dianut oleh kebanyakan wilayah nagari di Kubung XIII misalnya. Dengan tidak adanya aturan dan sistem yang jelas tentang pisang sikalek-kalek hutan, menyangkut sistem dan kelembagaan suku ini yang kini bertumpu pada lembaga Ampek Jinih yang diakui secara turun temurun sebagai lembaga tertinggi dalam suku. Lembaga Ampek Jinih sebagai lernbaga tertinggi dalam suku, lambat laun juga tidak berperan, karena tidak ada sistem kaderisasi yang jelas. Dan sistem pewarisan gelar adat seperti apakah memakai sistem Koto Piliangkah atau Sistem Bodi Caniago-kah? Atau menganut sistem Pisang Sikalek-kalek Hutan yang seperti apakah? Jadi jelaslah bahwa kemunduran dari sistem dan kelembagaan suku di Minangkabau sehingga pada setiap keputusan tidak didengar oleh kemanakan, dan juga
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
131

dikarenakan beragamnya tingkat intelektual pejabat adat. Sehingga perlulah kiranya untuk membuat sebuah sistem guna menunjang pemimpin adat apabila tingkat pendidikan pemimpin adat itu lebih rendah dibanding kemenakannya. Hal ini dibenarkan Datuk B. Nurdin yang melihat sisi pergeseran adat Minangkabau dari sisi budaya itu sendiri, dimana di tengah pergeseran itu, transformasi-perwarisan, sosialisasi adat Minangkabau kepada masyarakat Minangkabau mulai dari datuk, ninik mamak yang menyandang gelar adat serta generasi pelanjut terjadi stagnasi dan keterputusan. Akibatnya masyarakat Minangkabau menuai konsekuensi logis pahit, seperti teralenasinya masyarakat Minangkabau dari budayanya sendiri dan kalau mereka mau bertanya, tampek batanyo juga sudah tinggal dihitung dengan jari. Bahkan pada generasi muda sudah menggejala tidak mau tahu dengan budayanya sendiri (Dt. B. Nurdin 1995). Selain itu kita lihat pula sistem pemerintahan adat dalam suku saat ini tidak berjalan dengan baik juga karena tidak ada sistem pendataan yang baik pula di dalam sukuv Sehingga sulit untuk mengukur tingkat kesuksesan suku. Seperti dalam rapat tidak adanya notulen dan tidak adanya surat mandat kepada yang di beri tugas. Sehingga dari aspek legalitasnya menjadi berkurang. Begitu juga sistem pendataan kemanakan berupa ranji, untuk yang satu ini belum semua suku dan kaum memilikinya. Sehingga kebanyakan Penghulu tidak tahu berupa jumlah kemenakannya yang pasti, apalagi potensi sumber daya manusia yang dimiliki suku. Tidak adanya pendataan yang kongkret juga menyebabkan kemanakan suku tidak tahu bagaimana dan kemana harta pusaka suku, begitu juga sejarahnya.
132

Manajemen Suku

Hal ini dibenarkanpula oleh Chaidir Nin latief, menyangkut status warisan dan tanah ulayat yang sering disebut pusako tinggi mendukung pergeseran sistem dalam adat Minangkabau. Sertifikasi tanah pusaka tinggi telah menimbulkan sengketa tanah meningkat dalam masyarakat.Padahal harta pusaka tinggi adalah milik komunal yang menjadi social fund, dana abadi kaum yang menurut adat disebut ganggam bauntuak hiduik ba padok bak bapanyo miliak bamasiang, tak boleh dijual. Realitasnya sekarang harta pusaka tinggi telah dipaksakan menjadi seperti milik individual supaya dapat digunakan dan dijual. Dan dengan dalih kepentingan umum dan pembangunan tanah ulayat nagari telah dijadikan tanah negara. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan masyarakat sekarang pada prinsip-pinsip tentang harta pusaka, tanah ulayat dan sako (Ch. N Latief: 2002) Suku juga tidak membuat aturan tertulis yang bersifat mengikat atau menjadi konsekuensi bersama di dalam suku untuk dijalankan. Aturan ini bila dilanggar akan mendapatkan sanksi sesuai kesepakatan suku, termasuk Penghulu dan pejabat suku lainnya. Karena Penghulu juga manusia yang sering gawa dan khilaf. Hal ini diakui oleh para ninik mamak dalam Musyawarah Adat di Kayu Aro Solok, 10 Pebruari 2004. (Laporan Ketua S3 Jakarta, Irjen Pol (P) Marwan Paris, MBA, Dt. Tan Langik). Sementara itu, catatan itu juga melaporkan kondisi kelembagaan suku saat ini yang berada dalam setiap Nagari sangat memprihatinkan kita semua. Kerapatan Adat Nagari yang dikukuhkan dengan Perda Provinsi Sumatera Barat Nomor 13 Tahun 1983 sebagai satusatunya lembaga hukum adat di Nagari hampir tidak bisa menyelesaikan sangketa tanah adat dan ini terbukti dari
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
133

banyaknya perkara yang meluncur ke pengadilan Negeri, karena "gantiang putuih", biang tabuak hampir tidak bisa dicapai oleh seksi perdamaian adat KAN. Atau lembagalembaga adat lainnya di nagari masing-masing. Selama Pemerintahan Desa dilaksanakan di Sumatera Barat dari tahun 1983 s/d 1999, telah terjadi perubahan sosial terhadap masyarakat tradisional, seperti perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat yaitu suku, struktur kepemimpinan dalam suku yang berdampak langsung terhadap kesatuan masyarakat Nagari. Adat dan budaya sudah mulai luntur, ninik mamak/Penghulu dalam keluarga matrilineal berangsur-angsur hilang perannya. Sebaliknya peran Bapak atau urang sumando lebih menonjol. Dalam bidang ekonomi, akibat pola Desa yang berdasarkan materi, orang Minang mulai mengukur sesuatu dengan materi, sehingga rasa kebersamaan dan gotong-royong mulai berkurang. Wanita Minang yang ciri khasnya berbaju kurung, diganti dengan yurk dan you can see, model pakaian ketat dan bikini, yang menampakkan aurat wanita kepada umum, yang sangat terlarang oleh agama Islam. Dalam pergaulan sehari-hari, saling menghormati, saling menegur kalau ketemu di jalan, sayang menyayangi seperti yang diutarakan oleh kato nan ampek, jalan mandaki, manurun, mandata dan malereng kini hanya tinggal slogan semata. Mumpung semuanya belum berubah dan belum menjadi bencana, karena masyarakat yang tinggal di pedesaan masih melaksanakan adat lamo pusako usang, disamping taat menjalankan ibadah agama Islam. Dalam kondisi seperti saat sekarang ini, diperlukan usaha untuk membenahi diri sendiri, menggalang kembali adat lama pusaka usang dan menerapkan secara konsekuen’adat
134

Manajemen Suku

basandi syarak, syarak basandi kitabullah " (ABS-SBK) dengan jalan memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang pegangan filosofis orang Minangkabau dan kemudian dapat dihayati masyarakat untuk dijadikan sikap dan tingkah laku dalam menghadapi masa depan. Bila dikaji lebih mendalam, sesungguhnya Adat Nan Empat sudah merupakan penjabaran dari ABSSBK. Unsur dari Adat nan Empat itu sebagai berikut: 1. Adat Nan Sabana Adat (ANSA) adalah sunnatullah, diasak indak layue, dibubuik indak mati. Artinya kekal, abadi seperti yang diciptakan oleh Allah Subhanahuwata'aala segala dua (nan duo); siang malam, jantan betina, susah senang, sorga neraka, hujan panas, dan sebagianya. Semua terutama dalam kitab suci agama Islam yaitu Al Qur’an dengan ayat-ayat yang tersebar didalamnya disebut ayat Quranah 2. Adat Nan Diadatkan (ANDA) Merupakan sistem pemerintahan kelarasan yang diciptakan oleh Dt. Katumanggungan dengan Dt. Perpatih nan Sabatang. Dengan kebijakan nenek moyang yang secara filosofis diambil dari alam takambang jadi guru dari pengalaman belajar dari alam terciptalah gagasangagasan baku yang disebut ayat-ayat Qauniah yang kristalisasinya terdapat dalam ajaran Koto Piliang dan Bodi Caniago telah menjadi pedoman bagi insan adat dalam perjalanan Minangkabau yang terdiri dari 8 kategori sikap yang telah diperturun-naikan. Keagungan Adat Basandi Syarak (ABS) Syarak Basandi Kitabullah (SBK) terletak pada adat nan sabana adat (Qurainah) dan adat nan diadatkan (Qauniah). Kepada kedua adat itulah (adat nan
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
135

babuhue mati), adat nan teradat dan adat istiadat (adat nan babuhue sintak) bersendikan sehingga tepat disebutkan adat nan empat itu telah memenuhi Adat Basandi Syarak (ABS) Syarak Basandi Kitabullah (SBK). Ini juga sudah baku, tak dapat dirubah. Kedua adat tersebut adalah adat nan babuhue mati. Kalau ANSA adalah sunnatullah, maka ANDA sesuai dengan ajaran Islam yang menegakkan hablum minan nas, hablum minallah. Sehingga dapat dikatakan ANSA dan ANDA adalah syarak, yang menjadi landasan bagi setiap nagari dalam membangun Adat nan Teradat (ANTA) dan Adat Istiadat (AISTA). ANTA dan AISTA disebut adat nan babuhue sintak, usang usang dapat diperbaruhui, dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi.

B. Aspek Struktur dan Kepemimpinan
Begitu juga ketika kita melihat pada struktur dan kepemimpinan suku. Mulai dari proses pengangkatan dan penempatan pejabat suku. Ada pula yang menyebutkan Penghulu setara kedudukannya dengan pejabat lainya, Manti, Malin dan Dubalang. Dan sering disebutkan bahwa Penghulu hanya ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah. Persoalannya adalah apakah dalam struktur itu Penghulu bersifat sebagai komando (leader) atau sebatas moderator yang bertindak seperti polisi lalu lintas dalam hal mengatur suku? Lalu siapa yang akan memberikan keputusan tertinggi, apakah rapat atau ada lagi lembaga lain yang merupakan pemberi keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.
136

Manajemen Suku

Di dalam hal ini juga masing-masing pihak di lembaga Ampek Jinih, apakah pejabat tersebut difungsikan sebagai manejer di bidangnya masing-masing sesuai dengan peran dan fungsinya atau sebagai pemimpin. Karena antara pemimpin dan manajer mengadung arti yang sangat berbeda. Pemimpin tinggi kecenderungannya sebagai pemberi keputusan akhir dalam setiap program dan rencana yang ditetapkan bersama. Sedangkan Manager lebih pada sebagai pengatur dan pengawasan dalam menjalankan program yang telah ditetapkan tersebut. Mungkin dalam meletakan struktur orang Ampek Jinih dan orang bajinih belum diletakkan dan dipimpin sebagaimana mestinya. Seperti Penghulu dengan struktur di dalam adat di bawahnya ada ninik mamak, tungganai, Penghulu payung dan Penghulu kaum (Datuk Andiko). Begitu juga Malin penanggungjawab keagamaan dalam suku belum berkoordinasi dengan baik dengan struktur Jinih Nan Ampek (Khatib, Imam, Bilal dan Khadi) dalam suku. Persoalan berikutnya menyangkut kriteria orang-orang yang akan ditempatkan duduk di lembaga tersebut, apakah menyangkut sistem Koto Piliangkah, Bodi Caniago atau Pisang Sikalek-kalek Hutan? Kalau dipakai sistem Koto Piliang yang dengan aturan pemagang jabatannya adalah karambia tumbuah di mato. Di mana yang akan menerima jabatan itu orang yang bertali darah saja. Selain itu adalah dengan adanya pola migrasi orang Minang yang suka merantau, seperti yang disebut Azyumardi Azra bahwa merantau menampakan sebuah identitas yang melekat bagi orang Minang. Di sinilah timbul pertanyaan, bagaimana jika pemimpin adat yang berada dalam struktur kepemimpinan adat itu juga merantau?
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
137

Persoalannya adalah, setiap Penghulu yang tidak berdomisili dikampung baik karena alasan perkawinan maupun dengan alasan pindah domisili karena ikatan pekerjaan, diangkat seorang panungkek dikampung. Hanya saja panungkek tersebut selama ini belumlah diakui untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan Penghulu lain. (Wawancara, Firdaus Oemar Dt, Marajo, 1 Januari 2005).

C. Aspek Fungsi dan Peranan Kelembagaan
Dalam hal fungsi dan peranan kelembangaan dalam suku, jelas tidak semuanya berjalan dengan baik. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pergeseran nilai dari sistem dan tatanan masyarakat adat di Minangkabau. Kemandulan dari lembaga Ampek Jinih bisa saja menjadi pemicu terjadinya sengketa adat yang tidak kunjung terselesaikan. Seperti Fungsi Penghulu sebagai pemimpin suku, tidak berfungsinya dikarenakan faktor dari kemampuan Penghulu itu sendiri. Baik dari segi leadershipnya maupun dari segi ekonominya. Ketidakmampuan Penghulu dalam memimpin tidak lebih dari ketertinggalan Penghulu dalam segi ilmu pengetahuan dari anak kemanakannya yang kebanyak sudah mengenyam pendidikan tinggi bahkan sampai keluar negeri. Sementara Penghulu sendiri masih berkutat dengan kemampuan petatah-petitih yang terkadang anak kemenakan tidak memahaminya. Persoalan ini, diperparah bila tidak membawa anak kemanakan yang telah berpengetahuan tinggi tadi dalam pengambilan keputusan. Begitu juga dengan tidak pula mengikutkan kaum perempuan dalam suku untuk berurun rembuk. Halangan seperti ini membuat Penghulu tidak
138

Manajemen Suku

dapat menjalankan fungsinya. Apalagi kalau kemampuan ekonomi Penghulu berada di bawah kemanakannya. Hal ini membuat kharismatik Penghulu menjadi berkurang di tengah keberadaan masyarakat yang sudah cenderung materialistis dan kapitalistis. Dan yang paling penting, fungsi Penghulu sebagai ayah sosial menjadi berkurang, dikarenakan halangan-halangan dan pergeseran nilai tadi. Sehingga anak kemanakan hanya bernaung dalam naungan ayah biologisnya. Jadi peranan.suku dalam menentukan. masa depan anak kemanakan menjadi berkurang, semua peran suku dan mamak seakan diambil sepenuhnya oleh Keluarga. Prof. Dr. H. Agustiar Syah Nur MA, dalam penelitiannya juga menyimpulkan bahwa "krisis kepemimpinan" yang terjadi dalam masyarakat Minangkabau dalam sistem matrilinial, Penghulu merupakan figur sentral dan merupakan pimpinan formal berbagai kesukuan yang ada, karena dialah pemegang kato putuih biang tabuak. Menurutnya 45,7 % Penghulu, ninik mamak tidak tahu fungsinya dan banyak anak kamanakannya tidak mengetahui apa suku dan siapa pemimpin adat alias siapa Penghulunya. Begitu juga halnya dengan peran dan fungsi dari Manti sebagai adminjstratif adat, Malin sebagai orang yang menangani persoalan agama, dan Dubalang yang menjaga keamanan dan wibawa suku. Tidak jauh berbeda dari Penghulu kebanyakan tidak berperan dan berfungsi dikarenakan kemampuan fisik, ekonomi, pengetahuan dan leadership. Dan diperparah dengan kemampuan berkomunikasi dengan anak kemanakan. Orang Ampek Jinih yang dielukan sebagai orang yang ditinggikan seranting justru jaraknya sudah menjadi berantingranting.
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
139

Bahkan Upi Tuti Sundari juga banyak menulis bahwa peran dan fungsi Urang Ampek Jinih tidak berjalan dikarenakan kebanyakan dari pejabat tersebut berada di rantau, sementara panungkeknya yang berada di kampung-pun tidak dapat memberikan keputusan. Selain jarak komunikasi pun tidak berjalan antara Urang Ampek Jinih dengan panungkeknya termasuk dengan kaumnya. Hal ini jelas menambah jarak antara mamak dan anak kemanakan. Bahkan yang lebih parah seperti yang sering diungkapkan sesepuh Solok di berbagai kesempatan Drs. H. Hasan Basri Dt Maharajo Indo bahwa kebanyakan orang Ampek Jinih merasa menjadi kaum elitis atau juga seperti bangsawan keturunan darah biru di Jawa, padahal Urang Ampek Jinih bukan bangsawan akan tetapi fungsionaris boleh disebutkan 'pelayan' bagi suku sesuai di bidangnya, yang harus dijalankannya setiap hari dan sampai ia tidak memangku jabatan tersebut atau sudah dialihkan kepada kemanakannya yang tepat dan memenuhi kriteria untuk memangku jabatan tersebut.

D. Aspek Kemampuan Kepemimpinan
Perlu juga dilihat aspek kemampuan dan kepemimpinan di dalam suku. Karena jalannya manajemen suku di Minangkabau seperti yang sudah kita singgung sebelumnya erat kaitannya dan kemampuan leadership seorang pejabat suku atau Urang Ampek Jinih. Karena dengan kemampuan baik fisik, mental, integritas intelektual dan sosial ekonomi menjadikan ia sebagai seorang pejabat suku yang harus dihormati, disegani dan didengar oleh anak kemanakannya.

140

Manajemen Suku

1.

Fisik/Performance

Penampilan pejabat suku sangat besar mempengaruhi wibawanya, begitu pun pejabat suku harus menjaga kesehatannya, dikarenakan pejabat suku yang selalu sakitsakitan akan mempengaruhi tugasnya dalam memimpin anak kemenakannya. Dan dalam hal ini pejabat suku yang telah uzur, juga sebaiknya mempertimbangkan untuk mengangkat panungkek atau menurunkan jabatannya kepada anak kemanakannya yang pantas sesuai dengan sistem yang dianut dalam suku tersebut. Kenyataan sekarang, faktor permormance dan penampilan kurang diperhatikan pejabat suku di beberapa tempat

2.

Mental Spritual

Tidak jarang ditemukan pemimpin yang kurang memiliki kemampuan dalam bilang keagamaan. Bahkan meski pemimpin lembaga suku tersebut memegang jabatan Malin yang nota benenya bertanggungjawab tentang persoalan keagamaan anak kemenakan. Adakala pemimpin suku lupa dengan nan kuriak adolah kundi, nan merah adaloh sago, nan baik Bodi dan indah baso. Dengan artikata ada pula diantaranya pejabat adat dalam suku yang tidak memberikan teladan yang baik kepada kemanakannya. Seperti ikut berjudi dan bermaksiat. Seorang pemimpin di dalam suku juga kerap mengabaikan sumpah ketika awal diangkat menjadi pemimpin suku. Meski ia berjanji kalau mengabaikan amanah akan dimakan sumpah, indak baurek kabawah, indak bapucuak kaateh, di tangah digiriak kumbang.

Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

141

3.

Integritas Intelektual

Kebanyakan pemimpin suku di Minangkabau kemampuan intelektual terasah dengan pengalaman turun-temurun yang diterima dari orang tua. Jarang kemampuan intelektual yang terasah dari bangku pendidikan, karena pada masa-masa muda pemimpin suku yang sekarang menjabat lebih banyak bergelut dengan perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan. Dalam hal inilah terkadang pemimpin suku sangat tertinggal dengan anak kemanakannya yang telah banyak bersekolah tinggi, namun tidak menetap di kampung Ironinya meski banyak kemanakannya yang bersekolah tinggi, tidaklah diajak dalam bermusyawarah dalam memutuskan persoalan sukunya. Bahkan terkadang, para pemimpin lembaga suku tersebut menganggap kemanakan yang memiliki kemampuan lebih itu sebagai saingan. Hal ini juga menyebabkan keputusan rapat pemimpin suku ini tidak mengakar dan lebih parah, keputusan itu tidak dihiraukan oleh anak kemanakannya. Sekolah tinggi tidak menjamin pengetahuan tentang adat dan masyarakat Sementara itu, sudah tidak mendapat kesempatan mengenyanr sekolah. Pemimpin suku tersebut juga tidak mau membaca buku dan pengetahuan lainnya untuk meningkatkan kemampuannya dalam memimpin. Aspek rendahnya kemampuan intelektual ini tentu bukan tanggungjawab pemimpin suku itu sendiri. Tentu juga kewajiban suku secara keseluruhan, pernerintahan nagari khususnya dan pemerintah kabupaten (daerah otonomi) secara umum. Hal ini termasuk menyangkut kepada kelangsungan pembangunan. Kebijakan publik yang membutuhkan analisa tajam yang disampaikan pemerintah, tanpa kemampuan intelektual pemimpin
142

Manajemen Suku

suku akan membuahkan hasil yang tidak mengembirakan. Bahkan menyimpang dari tujuan, bisa jadi merugikan kepentingan kemanakan secara keseluruhan.

4.

Sosial Ekonomi

Pokok utama di tengah-tengah beranjaknya paham dunia ke arah kapitalistik ini adalah dari segi kemampuan sosial dan ekonomi. Bila kemampuan ekonomi pemimpin lembaga suku kurang di bandingkan oleh anak kemanakannya. Hal ini akan membuat pemimpin suku tersebut tidak tegak kepalanya di hadapan kemanakannya. Bahkan akan merepotkan lagi ketika ia harus melakukan perjalanan dinas mengunjungi anak kemanakannya, tanpa didukung dana yang memadai acap kali urusan akan terbengkalai. Apalagi kalau pemimpin suku itu tidak berada di kampung halamannya, seperti menikah dengan orang yang berlainan kampung dan jarak yang berjauhan. Disebabkan rendahnya ekonomi pemimpin suku, bisa dibeli dengan uang. Sehingga apapun yang diminta oleh orang yang notabenenya telah memberi uang, maka pemimpin suku tersebut akan menurut saja. Seperti contoh dalam hal menjual harta pusaka yang seharusnya tidak boleh dijual. Akan tetapi karena pemimpin suku sudah diberi uang komisi yang besar , tanah pusaka suku terjual kepada orang lain. Begitu juga dalam hal gadai menggadai, karena pengaruh ekonomi tergadai kepada orang lain dalam jangka waktu yang lama. Karena lamanya jangka waktu gadai tersebut, sepeninggal pemimpin suku itu pusaka itu sudah berpindah tangan kepada orang lain. Sementara itu, anak kemenakannya sangat membutuhkan untuk kelangsungan hidup dan pendidikannya.
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
143

E. Aspek Proses, Mekanisme dan Tatacara Pengelolaan Suku
Di samping aspek kepemimpinan, aspek pengelolaan suku juga belum ada yang baku. Meski di setiap nagari memiliki tatanan dan cara tersendiri dalam menata adatnya. Namun sangat diperlukan sebuah sistem yang terencana, terukur dan terevaluasi.

1.

Perencanaan

Di samping perencanaan atau program suku, aspek pendanaannya juga tidak diperhatikan, menyebabkan program tidak berjalan dengan baik. Selain itu dalam proses perencanaan program di suku selama ini, kebanyakan tidak teradministrasi dengan baik. Di mana tidak beberapa suku yang memiliki ranji atau data kemanakan yang lengkap dengan kondisi potensi yang ada di kemanakan itu. Begitu juga tidak ada data secara tertulis tentang jumlah pusako, apalagi sejarah suku. Serta inventarisir permasalahan suku dan notulen rapat-rapat suku. Kalau kita lihat pada zaman dahulu, pada waktu ketentuan adat masih dipatuhi benar oleh masyarakat kita dan pada waktu nenek moyang masih berdiam di rumah-rumah gadang, sebeium Belanda menjajah ranah Minang (sebelum Perang Padri 1821-1837), kekuasaan seorang Penghulu selaku Penghulu/kepala sukunya sungguh demikian luas dan luar biasa. Pemerintahan suku tidak membedakan pembagian kekuasaan "Trias Politica" sebagaimana diajarkan Montesqieu dan dianut pemerintahan modern sekarang.

144

Manajemen Suku

Walaupun Penghulu memiliki kekuasaan eksekutif, legislative dan yudikatif cara sekarang dalam pemerintahan suku, perlulah kita sadari bahwa wilayah kekuasaannya hanya sebatas rumah gadang dan tanah ulayatnya. Itulah sebabnya pemerintahan suku ala Minangkabau itu disebut "republik-republik kecil", yang diperkirakan ada sekitar "500 republik kecil" di seluruh ranah Minangkabau; masing-masing dibawah pimpinan seorang Penghulu. Karena para Penghulu tersebut berinteraksi dan bermusyawarah di negeri mereka masing-masing untuk mencari mufakat di Balairungsari, maka dapat pula dikatakan bentuk negara Minangkabau dikala itu bukan negara kesatuan tapi negara federasi antara republik-republik kecil tersebut. Kerajaan Pagaruyung hanya berfungsi sebagai simbol pemersatu, keamanan bersama, urusan keluar negeri dan tanah rantau. Dasar pemerintahan tiap nagari adalah demokrasi. Semua keputusan diambil secara bulat setelah bermusyawarah dan mufakat. Keputusan yang bulat itu dapat dicapai karena orang-orang Minang memiliki "rasopareso" dan toleransi yang tinggi, mau "bertolak angsur", dan punya prinsip "rancak di awak, katuju di urang". Maka "bulek aea dek pambuluah, bulek kato dek mupakek" diantara para Penghulu hampir selalu dapat dicapai. Itulah prinsip demokrasi di Minang. Mengingat wilayah kekuasaan Penghulu hanya diseputar rumah gadang dan tanah ulayat, dengan rakyatnya para anak kemenakannya sendiri dapat mengambil keputusan dengan cara mufakat bulat, seperti diuraikan di atas, maka dapatlah dimaklumi pada waktu itu pemerintahan suku belumlah memerlukan sistem administrasi dan manajemen yang ruwet, terrnasuk perencanaan, seperti cara sekarang ini.
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
145

Dan yang perlu sekali kita ketahui, zaman itu adalah zaman buta huruf, para Penghulu kita tidak bisa menulis dan membaca, kecuali membaca Al-qur'an. Sekolahsekolah baru ada sejak orang-orang Belanda datang di Minangkabau, dimulai pada tahun 1826 di Padang. Di Solok sendiri, baru dimulai tahun 1882 yang sampai tahun 1866, baru mempunyai 48 murid. Sekolah untuk rakyat nagari (disebut sekolah gouvernement) baru dibuka pada masa sesudahnya. Antara tahun 1871-1877 di buka di Sulit Air, Tanjung Balit, Supayang, Talang, Sungailasi, Matua, Balaiselasa dan Painan untuk seluruh Sumatera Barat. Maka dapatlah kita simpulkan, apa yang disebut administrasi dan manajemen di Minangkabau pada waktu itu tidaklah menggunakan tulis-menulis atau suratmenyurat cara sekarang, tetapi secara lisan. Apa yang menjadi unsur-unsur perencanaan di dalam manajemen suku, seperti: 1) Visi atau cita-cita yang ingin dicapai atau hendak diwujudkan suku; 2) Program kerja atau kegiatan-kegiatan yang direncanakan atau hendak dicapai untuk jangka panjang dan dalam waktu dekat atau segera; 3) Besarnya dana yang diperlukan, tenaga kerja yang dibutuhkan, urutan prioritas kegiatan yang hendak dijalankan, cara dan strategi yang hendak digunakan, begitu juga bentuk gambar bangunan yang hendak dikerjakan, dan sebagianya, tidaklah dituangkan dalam rencana kerja seperti cara sekarang ini. Semuanya itu hanya ada dalam pikiran dan anganangan para Penghulu, paling-paling dibicarakan dalam kerapatan suku dengan anak kemenakan atau dalam kerapatan nagari bersama Penghulu lainnya untuk dimufakati.
146

Manajemen Suku

Sungguhpun manajemen suku pada masa itu didasarkan semata-mata kepada budaya tutur, belum disertai budaya tulis-baca, tapi kita berkeyakinan mereka mempunyai daya ingat yang kuat dalam mentaati rencana yang telah dibuat, keputusan yang telah diambil, atau mengingatngingat sesuatu hal penting. Sama dengan orang-orang Arab pada zaman Rasulullah SAW, yang tak boleh menuliskan ucapan, perbuatan, kediaman kesaksian Nabi, tapi cukup diingat saja dan disampaikan dari orang ke orang, dan setelah lebih kurang dua ratus tahun baru dituliskan, itulah yang disebut hadist, agar tidak rancu dengan penulisan ayat-ayat Al-Qur'an. Indikasi ini kita yakini, berdasarkan kemampuan orangorang tua kita dalam bertambo, berpepatah-petitih, berpantun, yang didasarkan atas budaya tutur itu, hingga dengan bangga mengatakan dalam pepatah adat: sabarih bapantang hilang, sabarih bapantang lupo. Selain itu perlu pula kita sadari dan kagumi, perencanaan dalam budaya tutur yang berfilosofi kepada "alam takambang jadikan guru" tersebut rupanya cukup diperhatikan dan memperoleh pijakan yang kuat, dalam aktivitas dan lalu lintas kehidupan sehari-hari. Cobalah perhatikan dan renungkan kedalaman makna bunyi pantun-pantun adat berikut ini :
1. Nan babarih nan bapahek Nan baukua nan bakabung Dibarih makanan pahek Diukua mangko dikabuang Nak urang di Kampuang Pulai Singgah lalu dikapalo koto Dimano kusuik namuah salasai Ujuangjo pangka tak basuo.

2.

Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

147

Pada pantun pertama, "barih" dan "ukua" itu tak lain adalah kegiatan perencanaan, bahwa segala s.esuatu itu digariskan dan diukur benar lebih dulu sebelum dikerjakan, samalah dengan "blue print", "garis-garis besar", "fasibility study", "program kerja" atau apapun namanya menurut cara ilmu manajemen sekarang ini. Sebelum tukang hendak menggergaji kayu, digaris-garis lebih dulu sesuai dengan bentuk yang diinginkan, baru digergaji mengikuti'garis itu. Dikabung itu artinya dikerat, dipotong, dipenggal. Untuk membuat baju perlu diukur terlebih dulu sesuai dengan ukuran badan dan model baju yang diinginkan pemakainya. Bila sesuatu dikerjakan (ujuang) tidak sesuai dengan perencanaan yang digariskan (pangka), maka yang terjadi tentu tidak sesuai dengan yang diinginkan, seperti diingatkan pantun kedua. Bukankah perencanaan yang berguru kepada alam itu sama saja dengan perencanaan dalam manajemen modern sekarang? Pada masa masyarakat kita sudah mengenal tulis baca huruf latin, katakanlah sejak permulaan abad ke-20 sampai sekarang, apakah perencanaan didalam mengelola persukuan sudah berjalan dengan baik, memanfaatkan budaya tulis baca? Untuk memastikan jawabannya, perlulah kita bertanya, apakah Penghulu atau datuk andiko didalam persukuannya, selaku manajer bagi suku atau kaumnya, adakah melakukan kegiatan-kegiatan : 1) Merumuskan visi atau cita-cita yang ingin dicapai dalam persukuan atau kaumnya? 2) Merumuskan program kerja dan kegiatan melalui musyawarah kaum, musyawarah suku atau kerapatan adat nagari untuk kemajuan anak kemenakan, suku dan nagarinya?;
148

Manajemen Suku

3)

Membuat rencana anggaran pemasukan dan pengeluaran bagi pelaksanaan program kerja dan kegiatan tersebut?

Secara umum dapat kita jawab, perencanaan yang rinci dan detil seperti itu hampir tidak dilakukan para Penghulu kita, setidaknya jarang-jarang terlihat. Namun apa yang dinamakan musyawarah kaum dan musyawarah suku, sebagian ada yang melakukan, terutama untuk keperluan misalnya batagak Penghulu, pembangunan surau, rumah gadang dan sebagianya. Kerapatan adat di Balairungsari pada umumnya rutin dilakukan, karena masing-masing nagari mempunyai Kerapatan Adat Nagari (KAN). Namun dalam pelaksanaan banyak yang macet; keputusan yang dibuat banyak, tapi sulit diterjemahkan dalam kenyataan.

2.

Pelaksanaan

Setelah perencanaan, yang tak kalah penting adalah pelaksanaanya. Program yang direncanakan secara sporadis tentu pelaksanaan juga akan cenderung tidak terarah. Tentu dalam pelaksanaan program yang telah ditetapkan suku melalui rapat suku, pelaksanaananya jelas dilakukan secara bersama-sama dari komponen suku sampai pada indvidu di dalam suku. Persoalan sekarang, perencanaan itu tidak semua dapat dijalankan, disebabkan faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya. Seperti kharismatik pemimpin suku dan tatacara pengambilan keputusan atau menyusun program dengan tidak melibatkan komponen yang seharusnya dibawa berurung rembuk di dalam suku itu. Bahkan adakala dalam melaksanakan prosesi adat misalnya, perkawinan, dikarenakan tidak adanya aturan suku yang jelas dan wibawa pemangku adat di dalam suku
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
149

yang kurang bagus sehingga kecenderungan anak kemanakan melaksanakan sesuai caranya sendiri, tanpa harus melalui prosesi adat yang dinilai tidak efisien dan efektif. Begitu juga dalam pelaksanaan penurunan gelar, acap kali terjadi pelanggaran terhadap sistem kelarasan yang dianut yang tidak jelas dan sering juga terjadi sengketa, karena beberapa anak kemanakan merasa sama-sama berhak menyandang gelar adat itu. Apalagi ketika penyandang gelar sebelumnya tidak memberikan wasiat atau tidak melakukan pengkaderan sebagai penggantinya. Atau lebih parah tidak pemah disinggung di dalam rapat-rapat suku. Untuk itu pelaksanaan ini dimulai dari pengorganisasian, penempatan orang, pengaturan dan kebijakan serta pendanaannya. a. Pengorganisasian Sesuai dengan fatwa adat yang berbunyi :
Kamanakan barajo ka mamak Mamak barajo ka panghulu Penghulu barajo ka mufakat Mufakat barajo ka nan bana

Maka organisasi suku pada mulanya sangatlah sederhana. Rentang kendalinya hanyalah kemenakan-Penghulu-mufakat yakni musyawarah para Penghulu yang berhimpun di Balairungsari untuk membahas masalah-masalah yang timbul antar suku, masalah kenagarian dan hubungan dengan nagari lain. Tidak ada instansi lain yang lebih tinggi dari itu, wilayahnya hanya rumah gadang dan tanah ulayat, rakyatnya adalah para anak kemenakan, yang jumlahnya paling banyak ratusan orang, maka disebut republik kecil. Semua anak
150

Manajemen Suku

kemenakan, dikenal dengan baik dan sehari-hari sang Penghulu berada di tengah-tengah mereka. Apalagi para Penghulu kita pada waktu itu buta huruf, orang-orang belum bisa tulis baca, maka pengorganisasian dalam pengertian manajemen modern sekarang tidak diperlukan benar. Sungguhpun demikian, cara berorganisasi yang baik sudah dilakukan, bahkan merupakan cikal bakal bagi bentuk organisasi modern sekarang ini. Coba kembali kita resapkan kedalaman adagium adat ini :
1. Adat dipakai baru Kain disandang usang Adat bapacik nan balaku Limbago tajarang nan batuang

2. Rumah basandi batu Adat basandi aluajo patuik Mamakai anggo jo tanggo Sara to raso jo pareso

Bukankah adat yang mengambil filosofi "alam takambang jadikan guru" ini cocok dengan ilmu dan organisasi modern? Berpikir ilmiah pada hakekatnya adalah berpikir lurus, menurut alur yang benar dan menggunakan logika (masuk akal) dan patut (layak) dilaksanakan; bukankah ini sama saja dengan "alua jo patuik". Organisasi modern digerakkan dengan berpedoman kepada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Bukankah ini sama saja, malahan sebutannya pun berasal dari terminotogi adat kita anggo (anggaran, aturan) dan tanggo (tumpuan naikturun, prosedur, rincian), yakni anggo-tanggo. . Jadi nenek-moyang kita pada masa ratusan tahun yang lalu sudah menggunakan prinsip-prinsip organisasi modern cara sekarang, berpedoman
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
151

kepada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga juga, yakni anggo-tanggo. Anggo-tanggo ini malah merupakan tigo tungku sejarangan dalam lembaga adat Minangkabau, yakni alua patuik-anggo tango-raso pareso. Tungku adalah landasan tempat memasak sesuatu yang ada di periuk, sedangkan (limbago) adalah pola atau cetakan (cetak biru). Ibarat memasak nasi di dapur, kalau salah satu tungkunya tidak ada, tidak sama tinggi, atau tidak kukuh, tentu nasinya tidak akan kunjung masak atau masaknya mentah, tidak enak dimakan. Begitulah orang tua-tua kita berkias dan bermisal yang antara lain dapat kita simpulkan, bila organisasi suku itu tidak dijalankan dengan berpedoman kepada AD-ART (anggo tanggo), tidak menurut tatacara tetap (standing operation prosedur) yang telah digariskan dan dalam berorganisasi, berdiskusi dan mengambil keputusan tidak mengindahkan etika (raso-pareso), tentulah silang sengketa bahkan mungkin kegagalan yang akan bersua. Alangkah indah dan bernasnya cara pandang nenek moyang kita, yang berfikir mendahului zamannya. Atau bahkan mungkin dapat kita katakan bahwa manajemen organisasi suku berdasarkan adat Minangkabau yang berfilosofi "alam takambang jadikan guru" telah ikut memberikan dasardasar yang kuat bagi pembentukan organisasiorganisasi modern sekarang ini. Menyangkut asal-mula berdirinya suku dalam sistem peradatan Minangkabau, dapat dikemukakan 2 teori, katakanlah teori geneologis (garis keturunan) dan teori pertumbuhan penduduk.
152

Manajemen Suku

1.

2.

Teori geneologis, orang-orang yang satu suku itu disebut seibu. Saudara-saudara yang satu ibu ditambah anak-anaknya disebut seperut. Saudara-saudara senenek ditambah para anak dan cucunya disebut senenek. Begitu seterusnya sampai tingkat cicit (Jawa: buyut) disebut seninik, sampai tingkat cucong (Jawa: canggah) disebut sekaum, dan tingkat terakhir sepiuik, disebut sesuku. Jadi orang-orang sesuku itu adalah orang-orang yang mempunyai ninik-moyang yang sama dari garis keturunan ibu hanya sampai 6 generasi. Lebih dari 6 generasi sebenamya bukan lagi sesuku, dari generasi ke-7 sampai 6 generasi berikutnya seharusnya sudah harus membentuk suku baru. Yang hidup dalam suatu masa umumnya sekitar 4 generasi saja. (A.A. Navis ) Menurut ilmu keturunan (genetika), pengaruh aliran darah memang masih terasa sampai 7 keturunan. Bukankah kita sering mendengar ungkapan, misalnya "kekayaan yang dimilikinya, sampai 7 keturunan tidak akan habis" atau "kukutuk ia sampai 7 keturunan". Nah kira-kira orang sampai 6-7 keturunan itulah dalam sistem matrilineal yang dapat disebut sebagai orang-orang yang bersaudara dalam satu suku, yang antara lain tidak boleh kawin-mengawini. Teori pertambahan penduduk, sekelompok orang datang di suatu tempat tinggal sementara di dangau, disebut teratak. Penduduk semakin berkembang biak, didirikan rumah ditambah surau untuk beribadah, teratak semakin melebar berubah menjadi dusun. Penduduk bertambah jua terdiri dari
153

Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

berbagai pecahan perut, dusun melebar, didirikan rumah gadang sebagai tempat tinggal bersama, mesjid untuk shalat Juma’t, terbentuklah suku, maka dusun berubah menjadi koto atau jorong. Penduduk semakin bertambah-tambah jua, koto semakin meluas, kelompok geneologis setingkat suku sudah mencapai 4 (empat) suku, maka koto menjadi nagari yang berdiri sendiri. Maka dibangunlah perlengkapan dan perangkat nagari, yang terkenal dengan pepatah adatnya: Berkorong berkampung, Berumah bertangga, Bersawah berladang Berbalai bermesjid Bermedan bergelanggang, Berpandam pekuburan, Negeri berempat suku Dalam suku berbuah perut Jadi 4 suku itu adalah syarat minimal bagi diakuinya suatu kawasan menjadi nagari. Bila kita kombinasikan kedua teori tersebut, yang dapat saling melengkapi, jumlah orang 6 generasi menurut teori geneologis (yang hidup dalam satu masa hanya 4 generasi saja) sama dengan orang-orang satu suku didalam satu koto, kira-kira 150-200 jiwa. Bila kita analogikan dengan kesatuan militer, satu regu terdiri dari 12-14 tentara. Diatasnya disebut kompi = 150 s/d 200 tentara, diatasnya batalyon = 800-1000 orang. Diatasnya lagi resimen, terdiri dari beberapa batalyon dan paling tinggi divisi. Jadi yang dinamakan satu atau sesuku itu kirakira sama dengan satu kompi; dengan komandan sebagai manager, masih cukup mampu mengenal dan membimbing 150-200 anak buahnya dengan baik. Bsrdasarkan
154

Manajemen Suku

catatan lama, nagari-nagari di Kabupaten Solok memang banyak yang mempunyai lebih dari 4 suku, seperti Kinari 8 suku, Salayo 7 suku, Panyangkalan 6 suku, Koto Hilalang 5 suku, dan Gantung Ciri 5 suku. Organisasi suku dipimpin oleh seorang Penghulu dengan gelar datuk, dibantu oleh beberapa orang, dengan variasi yang berbedabeda diberbagai nagari, yakni: a) Malin (Malin, imam, jurai) guru atau orang alim dalam hal agama, yang mengatur masalah-masalah ibadah dan agama. Malin berkewajiban melakukan pembinaan dan pemeriksaan adat yang bersangkutan dengan mengaji Al-Qur'an, zakat fitrah, nikah, kawin, talak, rujuk. Bila ada perselisihan antara suami dengan isteri, ada tidaknya suami memberikan nafkah kepada isterinya, ada tidaknya ketaatan isteri kepada suaminya, Malinlah yang berkewajiban memeriksa terlebih dahulu. Bila terjadi perceraian, maka Malin berkewajiban menyidik sebabsebabnya, berusaha mendamaikannya. Kata Malin bernama kata hakekat, kata yang hak, tidak mempunyai helah. b) Manti (disetengah nagari bernama khatib) adalah pembantu Penghulu dalam bidang tatalaksana pemerintahan. Tugasnya adalah menyampaikan segala perintah Penghulu, dari Penghulu kepada anak-kemenakan dan menyampaikan perasaan (uneg-uneg) anak kemenakan kepada Penghulunya. la yang menerima dakwa, memeriksa perkara,
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
155

c)

menyidangkannya, menerima kata putus dari Penghulu. Katanya bernama kata berhubung. Dubalang (hulubalang), adalah pembantu Penghulu dalam bidang keamanan. la yang bertugas menguatkan dan mengamankan keputusan Penghulu; menakik mana yang keras, menyudu mana yang lunak. la yang berusaha menjaga larangan dan pantangan adat tidak dilanggar; harus tahu dimana parit tersumbat yang terganggu jalan airnya, dimana janda dapat malu, dimana Penghulu dapat penghinaan. la melebihkan jaga dari tidur, siang berselimut awan, malam berselimut embun, berbaju merah, berambut panjang, dipunggung tersisip keris panjang. Katanya bernama kata menderas.

Penghulu dengan ketiga pembantunya ini (Malin. Manti dan Dubalang) disebut sebagai urang nan ampek jinih. Pada masa Penghulu sudah rnulai ada yang mencari nafkah hidup, pergi merantau, meninggalkan kampung, diangkat wakilnya disebut panungkek (wakil datuk, datuak wakia). Panungkek adalah wakil mutlaknya yang menyangkut pemerintahan, tetapi tidak yang berkaitan dengan adat. Berkenaan dengan adat diwakili oleh Penghulu yang setungku. Selain itu Penghulu dibantu oleh beberapa pegawai (istilah sekarang staf yang cepat kaki ringan tangan, yang tak tahu ditulang litak. Kerjanya menjemput,
156

Manajemen Suku

mengantar dan mengumpulkan orang, misalnya untuk bergotong-ioyong. Kata pegawai bernama kata berlipat. Dikatakan demikian, karena untuk melancarkan tugasnya bila perlu ia berdusta sedikit. Orang rapat pukul 9, dikatakannya pukul 8; bila perlu 15 orang dikatakannya 20 orang, agar pada waktu dan tempatnya, segala perintah berhasil dilakukan. Pada masa sekarang ini, diberbagai nagari kita mengenal 2 versi urang nan ampek jinih. Pertama, Penghulu-Malin-Manti-Dubalang. semuanya bergelar datuk (kecuali Malin pada sebagian nagari) dan jabatan diwariskan turun-temurun. Kedua, yang disebut urang nan ampek jinih itu adalah ninik mamak, alim Ulama, cadiak pandai (cendekiawan) dan bundo kanduang, didalam persukuannya masing-masing. Setelah Minangkabau d(ijajah Belanda, jabatan Manti dan Dubalang dihapus, sesuai dengan organisasi desa yang diinginkan Belanda pada masa itu. Sedangkan peranan Malin diganti oleh Ulama. Komposisi urang nan ampek jinih berubah menjadi niniak mamak, alim-Ulama, cadiak pandai, dan tuo mundo (ketua orang muda, seperti guru silat). Semenjak wanita semakin berperanan dan dengan dukungan pemerintah Belanda, posisi tuo-mudo yang pamornya menurun (karena tidak terpelajar) beralih kepada bundo kanduang (A.A. Navis hal. 143144). Pranata-pranata adat sebagaimana yang disebutkan diatas pada umumnya sampai sekarang masih dikenal dan digunakan ditambah dengan nama dan jabatan baru bentukan pemerintahan Belanda. Kaum penjajah sebagai pemegang kekuasaan baru di
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
157

Minangkabau (bukan lagi Penghulu dengan republik kecilnya), sulit berhubungan dengan bentuk pemerintahan semacam itu, yang terdiri dari demikian banyak Penghulu. Pemerintah Belanda ingin berhubungan dengan orang yang dapat memegang kekuasaan hingga dapat menjalankan perintah sebagai alat bagi penjajah itu. Semangat demokrasi yang berakar dengan kuat dalam masyarakat Minangkabau, ingin dihancurkan oleh Belanda, digantikan dengan menciptakan semacam aristokrasi ala Jawa. Dengan imbalan yang demikian itu, cemoohan Penghulu dan penduduk yang tadinya demikian gencar terhadap "panghulu basurek" tersebut, sedikit demi sedikit semakin reda dan melemah, akhirnya malahan banyak yang berharap mendapat pangkat terhormat tersebut. Strategi Belanda yang licik itu menjadi awal bagi ambruknya pemerintahan suku di Minangkabau. Pemerintah Belanda telah mengingkari janjinya dalam "Plakat Panjang" (1833) sewaktu berkecamuk Perang Paderi, yang salah satu butirnya adalah tidak akan ikut campur dalam pemerintahan rakyat tradisional dan tidak ikut campur mengangkat para pemimpin mereka. Akhirnya berlakukah kehendak Belanda dengan mengangkat Penghulu kepala yang membawahi setiap nagari. Dua atau lebih nagari disatukan menjadi lareh dibawah pimpinan kepala lareh (tuanku lareh atau angku lareh). Diatas Penghulu suku (datuk suku), ditempatkan pula oleh Belanda seorang Penghulu suku yang lain, yang dalam sejarah tenar dengan sebutan Penghulu suku rodi.
158

Manajemen Suku

Pemilihan kepala lareh, Penghulu kepala, dan Penghulu suku rodi buatan Belanda itu dan mendapat gaji dari pemerintah Belanda, bukan melalui pemilihan anak kemenakan atau penduduk, tapi melalui pencalonan. Siapa saja yang cukup mempunyai pengaruh dan punya kekuatan di nagari dapat mengajukan diri sebagai calon, maka hilang pulalah salah satu pranata demokrasi adat di Minangkabau:-bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakat. Organisasi adat yang didasarkan prinsip "kemenakan beraja ke mamak, mamak beraja ke tungganai dan tungganai beraja ke Penghulu, Penghulu beraja ke mufakat, "harus diubah atau disambung menjadi beraja ke Penghulu kepala, kepada angku lareh, selanjutnya kepada pemerintah Belanda. Tugas kepala lareh adalah menjalankan perintah dari atas; bertanggungjawab atas keamanan, tanaman paksa kopi, mengerjakan sawah, menjamin keadaan jalanjalan maupun jembatan (yang mulai dibangun pada masa itu) di kelarasannya masing-masing. Karena lareh adalah jabatan tertinggi bagi pribumi, kecuali regent yang sedikit jumlahnya. Kepala lareh memperoleh penghasilan dari komisi kopi, pajak pasar, pajak pengangkutan kopi dari daerahnya, dan ada juga dari pajak panjang (semacam pajak rumah). Penghulu kepala mempunyai tugas sama dengan kepala lareh, namun terbatas untuk nagarinya masing-masing, merupakan penghubung antara kepala lareh ke bawah, tetapi tidak boleh ikut dalam rapat-rapat adat. Dia beroleh penghasilan dari komisi kopi. Sedangkan Penghulu suku rodi mempunyai tugas yang lebih berat dan sering dicemooh penduduk karena ia berkewajiban menjaga
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
159

kebun-kebun kopi berjalan dengan lancar, dan memata-matai rakyat. Ketiga pejabat itu memperoleh komisi kopi (koffie procenten) setiap pikul kopi kelas satu yang dihasilkan daerahnya sekitar 80 sen, dengan rincian: kepala lareh 20 sen, Penghulu kepala dan Penghulu suku rodi masing-masing sebesar 30 sen. Harga 1 pikul (=62,5 kg) kopi kelas satu yang dibeli Belanda kepada rakyat 7 gulden (1 gulden = 100 sen); meningkat menjadi 11 gulden, sedang harga jual (export) Belanda, dari 40 gulden per-pikul menjadi 60 sampai 70 gulden per-pikul. Kemudian kepala lareh digaji 80 gulden sebulan dan Penghulu kepala sebesar 20 gulden. Produksi kopi di Sumatera Barat tahun 1833 sebesar 81 ribu pikul, pernah mencapai 175 ribu pikul ditahun 1839, mencapai titik rendah 24 ribu pikul pada tahun 1894. Rakyat pada umumnya tetap mengakui kepalakepala adat mereka yang asli. Atas desakan partai liberal di Belanda dan cemoohan rakyat, tahun 1908 budaya kopi dihapuskan dan sejak Oktober 1902 jabatan Penghulu kepala dihapuskan, diganti dengan Penghulu kapalo (mungkin ini yang populer dengan sebutan datuak palo, angku palo atau kumpalo) angkatan Belanda, tetapi dengan menampilkannya sebagai kepala adat (surat edaran Gubemur Sumbar No. 9293 tanggal 1 Oktober 1912). Jabatan tuanku lareh baru dihapus pada awal perang dunia I (1918) digantikan dengan jabatan districtshoofd atau demang. Kedudukan demang, walau wilayahnya lebih luas, gaji dan gengsi lebih tinggi, namun setiap saat harus dipindahkan. Seorang kepala lareh sebelumnya masih terikat pada kelarasan tempat dia diangkat
160

Manajemen Suku

(mengenai semua ini dapat dibaca dalam buku "Sumatera Barat hingga Plakat Panjang" oleh Rusli Amran). Demikiahlah caranya Belanda menghapuskan organisasi sistem pemerintahan suku yang asli. Kaum adat berhasil mereka "pejabat"kan, yang harus tunduk kepada Pemerintahan Belanda yang lebih tinggi di daerah mereka masing-masing. "Kemenakan beraja ke mamak, mamak beraja ke Penghulu, Penghulu beraja ke mufakat" hanya tinggal sejarah untuk disebut-sebut sebagai palamak kato untuk mengenang- 'masa kebesaran Penghulu yang memimpin suku di masa silam. Sementara itu awal tahun 1906, Propinsi Sumatera Barat yang tadinya juga termasuk Tapanuli, kini dijadikan residensi saja, terlepas dari Tapanuli yang juga menjadi residensi. Bersamaan dengan penggantian kepala lareh menjadi demang, residensi Sumatera Barat dibagi atas 8 kabupaten (afdeeling). Afdeeling dibagi lagi atas onderafdeeling, dan onderafdeeling dibagi atas distrik-distrik (kecamatan) yang dipimpin oleh seorang demang dan onderdistricht dibagi menjadi nagari-nagari, dipimpin oleh wali nagari. Demikianlah gambaran organisasi suku sampai dengan awal abad ke-20 dan kini kita sudah berada pada awal ke-21, perubahan besar-besaran yang dilakukan Belanda atas pemerintahan suku, boleh dikatakan setelah 100 tahun kemudian hampir tidak ada yang berubah. Yang berubah barangkali hanya sebutan saja, residensi berubah menjadi propinsi, afdeeling menjadi kabupaten, dan distrik menjadi kecamatan dengan kepalanya disebut camat, menggantikan demang. Yang dihapus adalah
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
161

onderafdeeling, afdeeling Solok tadinya mempunyai 3 onderafdeeling, yakni: Solok, IX-Koto dan Guguk. Setelah kita memasuki masa kemerdekaan (1945) dan dikenalkan dengan macam-macam organisasi modern, apakah persukuan kita telah menggunakan cara-cara organisasi modem tersebut? Untuk menjawab hal tersebut, salah satu indikasinya adalah meneliti ciri-ciri organisasi modern sebagaimana banyak kita lihat. Apakah organisasi suku kita memiliki cap organisasi, stempel dan logo organisasi, kop surat, daftar seluruh anggota suku, pengurus organisasi yang dipimpin oleh Penghulu suku yang bersangkutan, anggaran rumah tangga suku (anggaran dasar mungkin berada di tingkat nagari), surat-menyurat, dan sebagianya. Pada umumnya dapat dikatakan, hal-hal tersebut belum ada atau belum banyak terlihat. b. Penempatan Orang Penempatan orang adalah terjemahan bebas dari "staffing", "manning", atau penempatan personalia yang banyak disebut sebagai salah satu fungsi manajemen. Bila pada organisasi modern penempatan orang tersebut adalah menyangkut staf atau anak buah sang manajer, maka pada organisasi suku namanya anak buah juga, yakni seluruh anak kemenakannya. Kembali kita melihat manajemen suku di masa lalu juga mempunyai filosofi yang cukup bagus, menggunakan prinsip efisien (tepat guna), efisiensi (berdaya guna) dan efektif (berhasil guna), baik terhadap sumber daya manusianya, maupun terhadap sumber daya alamnya. Tidak percaya, cobalah perhatikan dan resapkan makna dua gurindam adat berikut ini:
162

Manajemen Suku

Dalam sumber daya manusia, bunyinya begini:
Nan buto pahambuih lasuang Nan pakak palapeh badia Nan patah manjago jamua, panyajuik ayam Nan lumpuah paunyi rumah Nan binguang kadisuruah-suruah Nan rancak panarimo tamu Nan buruak ka pangubak pisang di dapua Nan cadiak bakeh baiyo, palawan dunie Nan tuo tampek batanyo Nan bagak palawan musuah Nan kayo tampek batenggang

Pokoknya tak ada seorang anak kemenakanpun yang tak dapat didayagunakan dalam manajemen suku di Minangkabau. c. Tukang nan indak mambuang bahan
Nan luruihka tangkai sapu Satampok ka papan tuai Nan ketek ka pasak suntiang Panarahan kakayu api Abunya kapupuak padi

Berarti tak secuil kayu pun yang tak terpakai; begitu juga tak ada bagian dari pohon kelapa yang tak dapat dimanfaatkan (sampai kepada rabuknya sekalipun, untuk menghidupkan api), tak ada bagian sapi yang tak dapat dimakan atau dimanfaatkan (telinga sapipun dapat ditaruh di pohon untuk tempat berhimpun serangga, kemudian dibakar). Dalam menempatkan orang pada jabatan Penghulu sebagai manajer, manajemen suku pada masa dahulu, ternyata juga tidak main-main. Siapa yang sanggup dan memenuhi syarat untuk menjadi Penghulu seperti disebutkan itu? Belum lagi
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
163

pantangan-pantangan yang harus diindahkan Penghulu: memerahkan muka, menghardik menghantam, menyingsingkan lengan baju, berlarilari, memanjat-manjat dan menjunjung dengan kepala. Mungkin tidak ada organisasi manapun di dunia ini yang mencantumkan syarat-syarat dan pribadi demikian hebat dan berat untuk menduduki sesuatu jabatan seperti Penghulu. Dan rasanya tak ada yang punya sifat dan kepribadian seperti tersebut. Itulah dia manajemen suku di Minangkabau menyangkut penempatan orang sebagai Penghulu, manajer didalam sukunya! Bukan hanya kepada Penghulu, tetapi juga kepada malim, Manti, Dubalang, mamak, bundo kanduang, urang sumando, dan sebagianya selalu ditentukan perlulah memiliki sifat-sifat yang mulia tersebut (akhlaqul karimah) ditambah dengan kondisi dan kelebihan yang diperlukan untuk dapat melakukan fungsi dan kedudukan itu dengan baik dan sukses. Inilah yang dalam manajemen modern disebut profesional. Walaupun sifat dan persyaratan manusia ideal (insan kamil) yang demikian tidak mungkin dipenuhi orang, tapi tidak pula ada yang protes agar diubah dengan yang lebih realistis. Tetap saja dicantumkan dalam buku-buku adat, dalam tutur kata orang tua-tua kita, penghias bibir, pelemak kata. Padahal bila dilihat dalam lalu lintas pergaulan sehari-hari jauh panggang dari api. Malah yang kita dengar adanya Penghulu yang tidak sembahyang, berjudi, suka marah dan berkata kotor, dan sebagianya.

164

Manajemen Suku

d.

Pengaturan dan Kebijakan Filosofi hidup orang Minang dalam mengatur kehidupan sehari-hari, sebelum datangnya Islam, adalah alam takambang jadikan guru. Intisari ajaran tersebut bukan tersusun dengan rapih dalam buku, tetapi dalam buah tutur dari orang ke orang (budaya lisan), dengan rangkaian kata-kata yang indah dan memikat hati, dalam bentuk pepatah, petitih, pituah, mamangan, pantun, gurindam, dan peribahasa pada umumnya. Inilah kekayaan besar masyarakat Minangkabau pada masa dahulu, pintar berperibahasa, pandai bertutur kata ! Menurut suatu penelitian, peribahasa Minang tersebut diperkirakan mencapai jumlah sampai ratusan ribu ! Maka pepatah-petitih dalam peribahasa sering disebut orang sebagai hadits Melayu, sebagai pedoman orang Minang dalam mengatur kehidupan sehari-hari, walau mereka buta huruf. Pada masa sekarang pun ada orang, walau sekolah rakyat atau sekolah dasar tidak tamat, namun mampu berpepatah-berpetitih dengan lancar dan menjelaskan maksudnya, mengalahkan orangorang berpendidikan tinggi sekalipun. Filosofi "alam takambang jadikan guru" itu sesuai dengan ajaran Al-Qur'an (lihat misalnya surat Ali Imran ayat 190 dan surat Shad ayat 22) agar kita memikirkan dan mengambil hikmah dari gejala yang terlihat pada alam sekitar. Dengan datangnya Islam di Minangkabau, maka ajaran adat yang mengatur hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) kini dengan dilengkapi dengan tauhid, kepercayaan kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan, beribadah dan berserah diri sepenuhnya hanya kepada-Nya (hablum minallah), maka menjadi

Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

165

sempurnalah adat itu dengan filosofinya "adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah". Demikian bangganya orang Minang dengan bergabungnya adat dan agama, hingga ada yang mengatakan "Kitab tuo di Minang" (alam takambang jadikan guru) dan "Kitab baru di Mekkah" (Qur'an dan Hadits). Namun ada pula orang yang fanatik adat sampai mengatakan "biarlah saya dikatakan tidak beragama daripada dikatakan tidak beradat". Alasannya, bila hanya beragama belum tentu beradat, tapi bila dikatakan beradat sudah tercakup keduanya: beradat dan beragama ! Maka pedoman yang mengatur orang Minang dalam kesehariannya, selain ajaran agama Islam, adalah pepatah-petitih yang banyak mereka hafal dan yakini kebenarannya sebagai suluh hidup, yang dikatakan sebagai "hadits Melayu" dan "kitab tuo". Mereka larut dalam rangkaian kata indah namun dalam maknanya itu, yang dapat kita katakan sebagai sumber dalam semua aspek hidup, termasuk dalam manajemen. Dalam hal pengaturan sebagai salah satu fungsi manajemen, coba kita lihat betapa rapihnya pengaturan perjamuan. 1) Sudah kebiasaan dalam masyarakat Minangkabau sampai sekarang, orang-orang yang diundang dalam suatu perjamuan, diatur tempat duduknya sedemikian rupa, tidak boleh bertentangan dengan ketentuan adat. Golongan pertama (Penghulu) dan pemangku adat didudukkan pada ujung ruangan. Golongan kedua (mamak-marnak) pada barisan dinding pihak muka ruangan rumah. Dan golongan ketiga (sumando) pada barisan dinding pihak dalam ruangan rumah dan seterusnya. Bila
166

Manajemen Suku

2)

3)

4)

5)

menyalahi, dalam rentetan pidato pembukaan biasanya disinggung, untuk membetulkan kembali. Demikian juga jika ada orang yang seharusnya diundang tapi tidak kelihatan, akan ditanya apa sebabnya dan harus dijawab dengan baik. Untuk mengetahui betapa rapihnya pengaturan perjamuan itu disertai permintaan maaf kalau ada kekurangannya, kita dengar sipangka umpamanya berucap dan berbasa-basi; Nak dapek rundingan saiyo, kato nan sapakek. Pandang jauah lah dilayangkan. Pandang dakek lah ditukiakkan. Kok nan jauah lah dilapeh saru, nan dakek alah makanan panggia. Kok disanak sudaro, jauah ala bajalang, hampia ala baturuik, kok himbau lah basahuti, panggia ala bahadiri. Sakarang kini nangko. Nan manggamang, nan mancameh dipihak kami, silang nan bapangka, karajo nan bapokok. Datang tu kok kurang tasapo, duduak kok kurang tapabasokan. Jamu kok kurang atok nan bak pagaran, kurang tasusun nan bak siriah. iyo dibari kami suko jo karelaan. Hajan bapuhun, karajo nan bapokok.... " Apabila makan-minum selesai, si jamu (tamu) akan pulang ke tempat masingmasing, tidaklah dapat dilakukan dengan ucapan selamat tinggal saja, sepatah dua-kata perlu pula diucapkan oleh si tamu, dan disebut sebagai pidato mangurak selo. Ini contoh kutipan ucapannya: "......Kok jauah lah dilapeh siriah, kok dakek lah dilapeh panggia. Bakumujuran, hujan nan bapuhum, karajo nan bapokok, kok janah alah kami jalang, kok
167

Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

hampia lah kami silau. Panggia ala bahadiri, himbau ala basahuti, moh alah datang kami basamo. Dek kamujuran kami nan basamo, kok datang lah babukakkan pintu, kok duduak alah bakambangkan lapiak. Kok hawihlah babari ayia, sabana sajuak, kok litak ala babari nasir sabana lamak. Maa nyo lai, dek karano mukasuik alah sampai, nan diamah a/ah pacah, kahandak bak raso alah ka buliah, kok pinto raso balaku pulo. Sakarang kini nangko, tantang kami si jamu angku, kok duduak iyo nak baurak selo, kok tagak nak malangkahkan kaki, nak kambali ka tampek masiang-masiang. Tarimo kasih, ma 'oh bakarilahan bakeh angku ". Cara perjamuan dengan pidato-pidato seperti ini masih terpakai sampai sekarang di kampungkampung di ranah Minang. Cobalah kita bandingkan "perjamuan beradat ala Minang" dengan perjamuanperjamuan ala Barat, dengan "fransmanan" atau "standing party" yang sudah umum diselenggarakan oleh warga kita di perantauan, mana yang lebih berkenan menurut hati nurani kita masing-masing. Perjamuan di kota, orang makan sambil berdiri. Sedangkan menurut adat Minang, diperjamuan adat harus duduk bersela, kaki tersusun rapih, tidak boleh banyak bergerak. Kalau banyak bergerak, diibaratkan orang-orang beradat sebagai "kabau nan lasak di kubangan". Adat Minangkabau adalah suatu susunan peraturan hidup yang diatur dengan kata-kata, karena nenek moyang kita belum belajar tulis-baca, kecuali baca Al-Qur'an setelah Islam masuk di ranah Minang. Rumusan-rumusan mengenai adat, demikian juga
168

Manajemen Suku

tambo dan cerita-cerita Minang, baru dituliskan setelah masa itu dengan menggunakan tulisan Arab Melayu. Susunan peraturan hidup yang diatur dengan kata-kata tersebut disebut "limbago katokato", yang konon katanya mula pertama dibuat nenek moyang kita di nagari Parahiyangan Padang Panjang, diatas balai saruang, yang sekarang disebut Balairung. Limbago kato-kato kemudian dikenal sebagai "Limbago Nan Sapuluah", yang dapat dianggap sebagai kumpulan Undang-Undang Adat Minangkabau. Diantara undang-undang itu, terkenal UU Nan 20 karena terdiri atas 20 dalil menyangkut hukum pidana (tikam-bunuh, upas-racun, samun sakar, siarbakar, Maling-curi, dago-dagi, umbuk-umbai dan sumbang-salah, dan seterusnya) mengatur tentang kesalahan, kejahatan, tuduhan dan cemo. Buya Hamka dalam bukunya "Islam dan Adat di Minangkabau" (hal.139), telah sepakat ahli adat menyatakan bahwa adat dan syarak ditambah dengan UU Nan 20 adalah Tali Berpilin Tigo di Minangkabau. Berbagai undang-undang itu sebagai pedoman hidup bagi masyarakat Minangkabau terdapat dalam pepatah-petitih yang sering disebut, karena isinya juga disusun dalam bentuk pepatah-petitih. Peraturan dan kebijakan-kebijakan dibidang adat pada masa sekarang ini banyak dihasilkan oleh peraturan-peraturan daerah di Sumatera Barat dan musyawarah Penghulu di dalam Kerapatankerapatan Adat Nagari (KAN) yang ada disetiap nagari.

Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen

169

e.

Pendanaan Orang Minangkabau lebih mengutamakan Bodi daripada keutamaan benda. Maka peribahasa dan pepatah adat yang dijadikan sandaran dalam pembiayaan atau pendanaan, digariskan dalam ungkapan-ungkapan yang halus dan indah juga dan semangat kerja yang besar. Beberapa bait kita kemukakan :
Hilang rona karena penyakit Hilang bangsa karena tak beremas Kain pendinding miang Emas pendinding malu Apa guna kerbau bertali Lepas ke rimba jadi binatang Apa guna kita mencari Untuk pemagar sawah dan ladang Kalau tak pandai bakain panjang Elok pakai kain nan lain Kalau tak ada uang dipinggang Dunsanak pun jadi urang lain Melebiahkan duduk dari pada tegak Lebihkan sabar daripada bebal Lebihkan rajin daripada malas Lebihkan duka daripada suka Lebihkan lapar daripada kenyang Lebihkan baik daripada buruk Hemat pangkal kaya, sia-sia utang tumbuh Banyak habis, sedikit sedang Ketika ada jangan dimakan telah tidak maka dimakan.

1.

2. 3.

4.

5.

6.

Dengan filosofi hidup yang demikian, orang Minang merasakan hidupnya selalu kaya (karena tidak
170

Manajemen Suku

banyak yang diangan), hidup tenteram (karena siap hidup sederhana) namun tetap bekerja keras untuk memperoleh kehidupan yang lebih enak dan bermartabat (salah satu fungsi harta adalah untuk menutup rasa malu).

3.

Evaluasi

Program yang dilaksanakan tentu tidak dibiarkan begitu saja, kekurangan dan kelebihan termasuk hambatan yang ditemui perlu dikaji secara serius. Disinilah peran evaluasi. Tentu saja pengeveluasi program ini juga harus melalui rapat suku. Tentu saja dalam mengevaluasi ini harus ditetapkan parameter-parameter untuk penilaiannya. Program yang berjalan dengan baik dan menghasilkan dampak positif jelas dapat dilakukan untuk masa berikutnya. Akan tetapi program yang tidak berjalan mulus, tentu dicari jalan keluar yang tepat. Pengevaluasian ini harus dilakukan agar program suku terukur dan terarah dan mempunyai dampak yang baik terhadap perkembangan suku. Kelemahan kita selama ini dalam menjalankan program suku dengan tidak adanya evaluasi, akan menjadi tidak terarah. Terkadang program itu menghabiskan waktu, tenaga dan dana, akan tetapi justru tidak memperoleh hasil maksimal. Termasuk dalam hal ini pengkaderan tanpa ada evaluasi terhadap kader pemimpin suku, maka ketika ia harus menjabat suku terjadi kegamangan dan kebingungan. Dari fungsi manajemen suku yang tengah kita bicarakan ini, fungsi pencatatan-inilah yang paling lemah pada masa dahulu, yang akibatnya masih kita rasakan sampai sekarang. Penyebabnya, karena kita tidak punya aksara (huruf) seperti orang Jawa dan Batak misalnya. Huruf Melayu Arab baru kita kenal setelah
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
171

agama Islam masuk dan baca tulis huruf Latin baru kita pelajari setelah Belanda datang pada dekade terakhir abad ke-19. Akibatnya kita tidak memiliki sejarah Minangkabau yang didasarkan bukti-bukti tertulis. Tambo hanya didasarkan atas penuturan dari orang ke orang tanpa tanggal dan angka tahun serta bukti-bukti lainnya yang dapat diyakini kebenarannya. Kita tidak punya nasab keturunan yang disebut "ranji", yang memuat garis keturunan sampai ke nenek moyang, seperti orang Jawa yang memiliki "trah" garis keturunan mereka sampai ke Kerajaan Mataram, bahkan sampai ke Kerajaan Majapahit dan Singasari di abad ke-13. Padahal menurut sejarah, Dara Petak adalah puteri Minang (disebut demikian karena matanya sipit atau pitok) yang diboyong ke Singosari waktu expedisi Pamalayu (1275) dan menjadi salah seorang isteri Raden Wijaya, yang mendirikan dan raja pertama di Kerajaan Majapahit (1294-1309) dan melahirkan satu-satunya putera bernama Jayanegara, raja kedua Kerajaan Majapahit (1309-1328). Karena ibunya orang Minang, dari segi kita, yang menarik garis turunan dari ibu (matrilineal), berarti ia orang awak juga. Namun karena kita tidak punya buktibukti tertulis, kita tidak bisa berbicara lebih jauh mengenai hal itu. Walaupun masyarakat Minangkabau kemudian telah memasuki zaman baca tulis huruf Latin pada akhir abad ke-19, tapi organisasi suku dibawah kepemimpinan Penghulu sebagai manajernya tidak pula banyak memanfaatkan budaya tulis baca itu. Buktinya, bersamaan dengan lemahnya perencanaan dan pengorganisasian sebagaimana telah disebutkan, catatan-catatan mengenai manajemen (pengelolaan) suku itu tidak pula ada. Kita masih hanyut dalam "budaya tutur" dan dengan bangga mengatakan "sabarih bapantang ilang, satitiak
172

Manajemen Suku

bapantang lupo". Padahal tutur itu kalau sudah berpindah dari satu orang ke orang lain, katakanlah sampai ke orang yang ke sepuluh, sudah berubah bunyi atau isi tutur orang pertama dengan orang yang ke sepuluh itu. Misalnya dalam kasus tanah pusako, terdapat ketentuan "sah harato dilantak nan ampek",zaman sekarang belum tentu orang lain mengakui bahwa tanah itu betul milik kita. Kasus-kasus sengketa inilah yang banyak terjadi di ranah Minang sekarang, sengketa yang tak habis-habisnya, yang melunturkan rasa persaudaraan kita, senagari, sesuku, sekaum, bahkan dengan keluarga dekat. Luas dan nilai tanah yang disengketakan kadang-kadang tidak seberapa, tapi akibat negatif yang ditimbulkannya demikian luas. Ini karena manajemen suku kita tidak dilengkapi dengan catatan-catatan yang jelas. Untuk itu seorang Penghulu menurut adat, jelas mempunyai fungsi pengawasan dan monitoring, sebagaimana diungkapkan oleh fatwa adat berikut ini :
Hanyuik bapinteh Hilang bacari Tarapuang bakaik Tabanam basalami Tingga dijapuik Jauah dijalangi Dakek dikundano Kalau kusuik disalasaikan Jiko karuoh dijanihi Kusuik bulu pauah manyalasaikan Kusuik banang can' ujuang jo pangka Disuruah babuek baiak Dilarang babuek mungka

Tugas pokok Penghulu yang demikian ini sudah merupakan perpaduan antara pengawasan, pembinaan dan jika perlu pengenaan sanksi atau hukuman terhadap anak kemenakannya.
Bab 6: Analisis Kepemimpinan Suku dalam Perspektif Manajemen
173

174

Manajemen Suku

BAB 7
REVITALISASI ADAT MINANGKABAU DALAM PERSPEKTIF KEPEMIMPINAN SUKU

Adat itu telah tua, begitu juga dengan adat Minangkabau, sebelurn masuknya agama Islam adat itu telah ada di tengah-tengah masyarakat. Pada umumnya petuaan adat Minangkabau itu dapat dilihat dari segi budayanya, mereka telah mengenal bersawah kapan dan di mana tempat yang cocok untuk bertanam padi, berladang juga begitu, tahu dimana tempat yang baik untuk dapat menghasilkan yang baik. Demikian juga dengan hal lainnya, masyarakat itu telah pandai membuat alat-alat yang diperlukan, seperti membuat keris senjata yang istimewa dengan nilai-nilai kepribadian. Orang Minang mengenal keris sebagai salah satu simbol yang berlainan dengan bentuk-bentuk di daerah lain di Indonesia, dengan pendekatan ini, adat itu lebih identik dengan kebiasaan yang tradisional.
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
175

Kebiasaan-kebiasaaan tradisional yang berlaku ditengahtengah masyarakat yang telah berjalan secara terus menurus serta dapat diterima oleh masyarakat setempat akhirmya menjadi adat. Kemudian dipaturun panaikkan dari generasi ke generasi, yang disebut dengan adat lamo pusako usang. Seiring dengan adat yang telah tua itu maka perlu "penyegaran" adat kembali, supaya adat tidak habis dimakan rayap, untuk itu usaha merevitalisasi adat adalah suatu keharusaan. Seperti telah dijelaskan bagian pada penjelasan sebelumnya, kita tidak bermaksud untuk menciptakan adat baru, ataupun merubah adat yang telah menjadi pegangan dalam kehidupan bermasyarakat. Ini perlu ditegaskan kembali untuk meghindari salah pamahaman terhadap revitalisasi. Dan disini kita berpendapat bahwa adat itu perlu untuk dipertahankan dan dilestarikan. Dalam kaidah usul Fiqih disebutkan "al 'Adatul Muhakkamah' artinya adat itu dapat menjadi hukum apabila telah berlaku secara terus menerus atau lebih banyak dipakai oleh masyarakat. Muhammad Daud Ali menjelaskan adanya beberapa ketentuan adat yang bisa dipakai sebagai dasar hukum. Adat itu dapat diterima oleh perasaan umum dan akal sehat, serta diakui oleh pendapat umum, sudah berulang kali dan telah berlaku umum dalam masyarakat yang bersangkutan. Revitalisasi yang dimasud adalah cara menghidupkan atau mengingatkan kembali akan adat Minang yang dalam mamang disebutkan dengan calak-calak ganti asah, usang-usang dipabaharui, lapuak-lapuak dikajangi, kain dipakai usang adat dipakai baru. Tentunya dengan harapan akan muncul kembali suku bangsa Minangkabau yang dapat dibedakan dengan kesatuan sosial yang lainnya.
176

Manajemen Suku

Tegasnya revitalisasi itu adalah mengembalikan (restore) fitaly59 Dengan memahami bentuk dari kata revitalisasi di atas, kita tidak bermaksud menciptakan, dan tidak menghilangkan juga atau tidak membuang serta tidak mengubah, pada tiga ciri utama dalam adat Minangkabau itu yang sulit untuk dicarikan bentuk dan perumusan baru yaitu sistem yang ada pada Suku, Sako (gelar Pusako) dan Pusako.

A. Aspek Sistem dan Kelembagaan
Setelah kita melihat begitu peliknya aspek sistem yang dianut banyak masyarakat adat sekarang, yang disebut dengan sistem pisang sikalek-kalek hutan, tetapi tidak jelas bagaimana ciri khasnya, mulai dari pengangkatan pemimpin suku, prosesi adat, ciri khas rumah gadang dan pakaian pemimpin suku serta sistem pengambilan keputusannya. Untuk itu perlu dibuat aturan yang jelas menyangkut istilah pisang si kalek-kalek hutan. Dimana perlu ditetapkan, bila mana diberlakukan sistem bodi Caniago dan bilamana dipakai sistem Koto Piliang. Dan juga untuk disesuaikan dengan kondisi sekarang perlu pula sebuah poin baru yang tidak ada sama sekali di sistem Koto Piliang dan Bodi Caniago yang telah dianut selama ini, serta bentuk penyesuaian terhadap sistem itu. Sistem ini perlu ditetapkan melalui konsesus adat resmi yang diharapkan dapat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat adat di Minangkabau.
59

Oxford Advanced Leamer’s Dictionary of Currebt English (Oxford University, 1984) hal 126
177

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

Perlu juga dipikirkan, untuk mengantisipasi kemunduran dari sistem dan kelembagaan suku di Minangkabau yang dianut sekarang. yang setiap keputusan tidak didengar oleh kemanakan karena beragamnya tingkat intelektual pejabat adat. Sehingga perlulah kiranya diciptakan sebuah sistem yang dapat membantu pejabat adat dalam keputusan. Di samping sistem yang diberlakukan di lingkungan masyarakat adat di Minangkabau, yang menyangkut sistem pemerintahan suku perlu juga didudukkan sistem yang menyangkut hukum adat dan sanksinya. Baik hukum adat untuk pemimpin adat maupun hukum untuk kemanakan atau masyarakat. Dengan demikian tidak semua persoalan di dalam adat harus diselesaikan melalui peradilan hukum positif atau hukum pemerintah. Akan tetapi cukup dengan sistem hukum adat yang jelas, dan dapat diselesaikan oleh lembaga peradilan adat itu sendiri. Dari aspek sistem ini juga perlu didudukkan sistem pendataan di dalam suku. Baik kekayaan materil (harta pusako atau sumber daya alam) yang merupakan aspek ekonomi untuk menunjang pemimpin suku dalam menjalanka'n tugasnya, dalam memimpin suku dan menyelamatkan kesejahteraan kemanakan dalam kaumnya seperti pendidikannya maupun kelangsungan hidup, perlu dipertimbangkan adanya Lumbung Pitih Suku/singguluang. Disamping itu, berdasarkan perda sekarang, dimungkinkan suku memiliki Badan Usaha Milik Suku (BUMS) dengan memanfaatkan aset atau sumber daya alam yang dimiliki suku/ulayat suku. Pendataan inmateril (seperti jumlah kaum, catatan ranji dan potensi sumber daya manusia yang dimiliki suku), tidak kalah pentingnya, dikarenakan sumberdaya manusia
178

Manajemen Suku

inilah yang akan membangun suku atau pewaris kepemimpinan suku yang akhirnya juga menjadi bibit pemimpin nagari. Dengan pendataan sumber daya manusia ini, akan terbangun kesinergian antara sumber daya manusia yang berpotensi dalam dimiliki suku itu, baik di ranah maupun di rantau. Dengan demikian akan timbullah perasaan saraso sapareso sahino samalu yang kental antara kemanakan, yang pada gilirannya akan menjadi semangat dalam membangun suku, pada akhimya juga menyukseskan pembangunan di nagari. Sistem pendataan ini, di dalam manajemen suku kita namakan 'buku gadang suku', di dalam buku ini memuat nama suku, sejarah suku, alamat nagari suku itu berada, jumlah kaum, jumlah datuk, profil masing-masing datuk termasuk alamat di mana datuk itu berdomisili, jumlah keluarga berikut potensinya / pendidikan, jumlah kemanakan berikut potensinya dan alamat lengkap di mana mereka berada. Mengingat begitu luasnya ruang lingkup suku, yang mana terdiri dari beberapa kaum, yang masing-masing kaum memiliki Penghulunya (ada yang menyebut Penghulu andiko ada pula yang memanggil datuk andiko dan juga yang mengambil datuk saja). Pendataan di dalam suku ini harus dimulai dari kaum yang merupakan kelompok terkecil dikoordinir di dalam suku, yang langsung dipimpin oleh Penghulu andiko tersebut. Dengan pendataan yang dilakukan oleh setiap pemimpin kaum itu, otomatis sudah menjadi data suku tersebut. Aspek lain yang harus didudukkan adalah sistem musyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan dalam suku. Karena komponen suku berasal dari keluarga, kaum selanjutnya baru suku, tentu sistem musyawarah dan mufakat berangkat dari keluarga dan kaum. Harus
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
179

jelas pula siapa yang akan yang diutus untuk mengikuti musyawarah dan mufakat dalam mengambil keputusan di dalam kerapatan suku. Tentu musyawarah dan mufakat ini yang bertingkat tersebut, hasilnya harus dibuktikan dengan notulen rapat dan daftar hadir rapat. Di dalam hal ini, juga harus ditentukan syarat-syarat syah keputusan ini. Seperti jumlah kuorum yang dianggap sah dan musyawarah, apakah 50+1 atau secara aklamasi. Siapa peserta rapatnya? Apakah hanya kaum laki-laki? Usia berapa yang boleh mengikuti rapat? Apakah kaum perempuan boleh diikutsertakan dalam sidang itu atau diwakili oleh seorang perempuan saja yang dituakan di dalam suku tersebut. Berdasarkan pengalaman dalam rapat suku selama ini, tidak pernah ada notulen, di mana keputusan rapat suku hanya disampaikan secara lisan, padahal dalam teori komunikasi bahwa informasi lisan dari orang perorang dan disampaikan lagi kepada orang lain, akan terjadi pembiasan atau tidak sama dengan pesan semula. Untuk itu ke depan sebaiknya, rapat-rapat suku sudah harus ada notulennya. Dan notulennya ini dianggap sah apabila ditandatangani oleh pemimpin rapat dan daftar hadir yang juga memuat di mana rapat itu diadakan. Kemudian dipertimbangkan juga dalam sistem pengambilan keputusan ini, membawa kemanakan atau komponen suku lainnya yang berada di perantauan. Jika kemanakan atau komponen suku ini dianggap orang yang harus hadir atau memenuhi kriteria untuk pengambilan keputusan di dalam rapat suku, tentulah harus ada informasi halangan dan aspirasinya secara tertulis atau mandat kepada wakil/panungkek jika seorang itu pejabat suku. Dengan demikian rapat bisa diteruskan dan hasilnya
180

Manajemen Suku

haruslah diinformasikan kepada kemanakan atau pejabat suku yang berada di rantau. Analisa yang dapat dikemukakan di sini bahwa pada dasarnya adat Minangkabau itu sangat menghargai institusi-institusi yang terikat dalam kelembagaan adat, artinya dengan adanya lembaga Urang Ampek Jinih yang ditopang oleh Jinih Nan Ampek dan diperkuat tokohtokoh profesional di bidangnya dengan tidak meninggalkan Bundo Kanduang, akan sangat memperlancar jalannya kepemimpinan dalam suku, karena adat Minang itu tidak mengkultuskan pribadi. Lembaga Panghulu (Datuak) tidak mengharuskan pribadi yang menyandang gelar panghulu harus hadir dalam setiap musyawarah, adat kita mengajarkan :
Kuie lantanan tangan Anak lantanan bapak Duduak surang basaampik-sampik Duduak basamo balapang-lapang

Dengan adanya yang mewakili, masing-masing lembaga tersebut dapat menjalankan tugas masing-masing.

B. Aspek Struktur dan Kepemimpinan
Lembaga merupakan insitusi-institusi yang bergerak dalam melaksanakan kepemimpian, setiap lembaga mempunyai tugas dan wewenang terhadap permasalahan dalam memimpin anak kamanakan. Alam nan bakalebaran, kamanakan nan bapakambangan, daerah telah semakin luas anak kamanakan telah merantau, menurut alam dimana mereka berada, untuk itu sudah saatnya lembaga-lembaga yang menaungi anak kamanakan itu juga dikembangkan sesuai dengan tugas daan fungsi masing-masing.
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
181

Lembaga Urang Ampek Jinih yang terdiri dari Panghulu. Malin, Manti dan Dubalang, sebagai kepemimpinan dalam suku agar dapat berjalan dengan efektif, maka masingmasing lembaga itu perlu dilengkapi dengan struktur masing-masing. Penghulu dengan sebutan panghulu pucuak yang beperan dalam suku sebagai tokoh sentral, harus dilengkapi dengan pembantu-pembantu dalam tugas dan wewenangnya, dalam stuktur kepemimpinan adalah : Mamak, adalah pimpinan langsung dari kemenakan dan saudara-saudar seibu. Tungganai, adalah mamak tertua serumah gadang yang berfungsi sebagai mamak kepala waris, pemegang sako dan pusako bagi kaum itu. Mamak kepala Kaum adalah mamak yang memimpin kaumnya (mamak kepala waris). Mamak Payung adalah kepala kelompok kaum yang disebut ayam gadang sikue langsuang, balam mau sikue saguguak Malin adalah lembaga yang berwenang di bidang keagamaan, yang mencakup beberapa bidang dengan sebutan:
Suluah bendang dalam nagari Nan tahu di halal jo haram Nan tahu di syah dan bathal Nan tahu di syariat jo hakikat

Selain tugas-tugas memakmurkan mesjid, maka dalam hal ini Malin dibantu oleh Urang Jinih Nan Ampek yaitu Imam, khatib, Bilal dan Qadhi. Lembaga-lembaga ini sangat dominan dalam adat Minangkabau, panghulu sebagai pimpinan adat, yang disebut dengan salasai adaat di balerong. Sedangkan
182

Manajemen Suku

Malin adalah pemimpin agama yang disebut dengan sudah agamo dimusajik, maka antara keduanya diikat oleh adagium adat adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Begitu juga dengan lembaga adat yang lainnya juga sudah saatnya dilengkapi dengan struktur masing-masing seperti Manti yang bercorak dalam bidang kesekretariatan, sudah saatnya dilengkapai oleh struktur tenaga administrasi. Begitu juga ketika kita melihat pada struktur dan kepemimpinan suku, perlu dibuat sebuah aturan yang jelas. Apakah struktur tersebut seperti garisan Koto Piliang yang memposisikan Penghulu di atas seluruh pejabat suku. Atau menurut sistem Bodi Chaniago yang meletakkan Penghulu setara dengan pejabat sukunya. Dan ia hanya sebagai koordinator dan yang menjadi pemegang keputusan tertinggi adalah Dewan Rapat Suku, begitu juga diperlukan kejelasan tentang posisi panungkeknya, apabila Penghulu itu tidak berdomisili di kampung halaman atau sudah uzur. Dalam hal ini, juga perlu diletakkan sebuah Majelis Pertimbangan Suku (MPS) yang beranggotakan orang ampek jinih, yang berperan dan berfungsi menyelesaikan persoalan-persoalan suku. Karena di dalam adat Minangkabau tidak mengenal aspek Trias Politika seperti adanya fungsi eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jadi tidak perlu lagi persoalan suku sampai keluar dari suku itu sendiri, apa lagi harus sampai ke Kerapatan Adat Nagari (KAN) atau Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM). Dan juga diperlukan ketegasan kriteria yang akan duduk di dalam struktur kepemimpinan suku, (Laki-laki sudah menikah atau sudah berumur 17 tahun atau minimal tingkat pendidikannya dan sampai di mana pengetahuan
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
183

agamanya). Tentu juga perlu dipertimbangkan aspek legalisasinya (mandat kaum) maupun aspek-aspek lainnya, seperti kemampuan kepemimpinannya. Di samping itu perlu dipertegas pula di dalam struktur kepemimpinan suku yang mewakili aspirasi kaum perempuan seperti bundo kanduang. Di mana di dalam era ini perempuan sangat diperlukan dalam bagian kepemimpinan, karena begitu kompleknya persoalan kemanakan perempuan dalam suku, termasuk sebagai seorang ibu yang akan melahirkan generasi penerus suku di dalam adat yang matrilineal ini. Apalagi dalam adat Minangkabau selama ini tidak mengenal pemimpin perempuan atau dengan artikata perempuan tidak dibenarkan menjadi Penghulu. Melalui perwakilan perempuan dalam struktur kepemimpinan suku itulah diharapkan dapat dilahirkan solusi-solusi menyangkut peran perempuan. Dapat dimaklumi tidak semua urusan dan persoalan perempuan dapat dirasakan atau dijiwai kaum laki-laki yang notabenenya menjadi pemimpin suku. Begitu juga dipertegas posisi orang tua yang ada dalam suku seperti mantan-mantan datuk atau pejabat Ampek Jinih. Apakah ia harus diposisikan di dalam lembaga tersendiri (penasehat suku), atau ia setara dengan orang Ampek Jinih, yang mana kedudukan yang kelima itu adalah orang tua. Kenapa ia tidak diletakkan saja secara definitif kepada kelompok 5 jinih, misalnya atau dimasukan kedalam urang bajinih. Selain itu dengan adanya pola migrasi orang Minang yang suka merantau, seperti yang disebut Azyumardi Azra bahwa merantau merupakan sebuah identitas yang melekat bagi orang Minang. Penghulu banyak yang tidak berdomisili dikampung, baik karena alasan perkawinan maupun dengan alasan pindah domisili disebabkan ikatan
184

Manajemen Suku

pekerjaan, diangkatlah seorang panungkek dikampung. Untuk itu diperlukan sebuah ketegasan terhadap posisi panungkek Penghulu, agar ia diakui untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan pejabat adat yang lain. Agar organisasi suku berjalan dengan baik, tentu selayaknya perlu pula dipikirkan untuk memberikan wewenang kepada pemimpin suku itu untuk mengangkat orang-orang yang dapat menjalankan amanahnya dalam memimpin suku. Di mana didalam struktur pembantu pemimpin suku tadi, ia juga berada di bawah panungkek atau langsung di bawah pemimpin suku itu jika ia berdomisili di kampung. Struktur pembantu pemimpin suku ini misalnya orang khusus yang bertanggungjawab dalam administratif dan data suku atau disebut sekretaris, yang bertanggungjawab dalam keagamaan orang siak, atau yang bertanggungjawab dalam keamanan dan pengawasan parik-paga misalnya. Di mana setiap tindakan yang dilakukan oleh pejabat, struktur pembantu ini semuanya dibawah kepemimpinan, pengetahuan atau restu pemimpin adat tersebut dan ia bertanggungjawab langsung kepada pemimpin adat itu. Secara administratif ia akan memberikan laporan tertulis sesuai dengan perkembangan yang dilakukan atau dijalankan secara berkala.

C. Aspek Fungsi dan Peranan Kelembagaan
Di dalam aspek fungsi dan peranan kelembagaan, tentu harus terlebih dahulu didudukkan hak dan kewajiban dari pemimpin suku. Di mana seorang pejabat-suku harus tahu dan memiliki referensi tertulis menyangkut hak dan kewajibannya. Hak bagi seorang pejabat pemimpin suku
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
185

merupakan kewajiban dari anak kemanakan.' Begitu juga sebaliknya, kewajiban pemimpin suku merupakan hak bagi kemanakan. Pejabat suku yang merupakan Urang Ampek Jinih yang selama ini hanya sebagai lambang dan menjadi kaum elitis di dalam sukunya, harus menyadari bahwa ia merupakan lembaga bukan orang di dalam sukunya. Di mana sebuah lembaga tersebut mempunya peran dan fungsi sesuai bidang yang telah ditetapkan dalam rapat suku ketika dilantik memimpin suku itu. Seperti Penghulu yang berperan sebagai pemimpin tertinggi dalam sukunya harus menjalankan sumpah yang telah diucapkannya. Di mana ia sebagai pemimpin suku harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. la harus menguasai persoalan sukunya dengan baik. Seperti memiliki data yang lengkap tentang suku (buku gadang) baik potensi materil (harta suku) maupun inmateril (potensi kemanakan yang ada dalam suku). Sebagai seorang pemimpin suku haruslah menyiapkan kaderisasi penggantinya. Penghulu dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai pemimpin atau menejer suku harus mampu membagi tugas dan tanggungjawab kepada perangkat suku yang ada. Jika terjadi masalah di dalam sukunya Penghulu harus segera mengambil keputusan untuk pemecahannya seperti memerintahkan kepada perangkatnya untuk mengadakan musyawarah darurat. Di dalam menjalankan fungsinya, seorang Penghulu harus banyak bersilaturahmi dengan kemenakannya yang ada di kampung dan berkomunikasi dengan kemanakan di rantau. Atau sebaliknya jika Penghulu itu ada di rantau ia harus selalu berkomunikasi dengan panungkeknya untuk
186

Manajemen Suku

yang dikampung dan menanyakan kondisi suku serta kemenakannya. Dengan wewenang yang dimungkinkan membentuk lembaga sendiri dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang Penghulu, seperti ia memiliki pejabat yang mengurusi aspek-aspek yang dibutuhkan kemenakannya. Tentunya Penghulu tersebut harus cepat dan tanggap dari setiap laporan yang disampaikan kepadanya. Begitu juga dengan Manti Adat, yang merupakan lembaga pusat data suku. Mantilah yang selalu mengupdate (memperbarui) seluruh data suku (buku gadang suku) dan ranji suku sesuai dengan perkembangan yang terjadi dalam sukunya. Manti juga berperan memfilekan seluruh keputusan rapat suku dan membuat laporan berkala suku di samping ia berfungsi sebagai administrator suku. Di samping itu Manti harus menginventarisir masalahmasalah yang terjadi di dalam suku untuk dibawa dalam musyawarah kerapatan suku guna dicarikan jalan keluarnya. Manti layaknya sebuah pustaka dan lembaga kesekretariatan suku. Malin adat dalam peran dan fungsinya merupakan penanggungjawab dalam urusan keagamaan di dalam suku. Di samping itu ia harus mengetahui tingkat pengetahuan kemenakannya dalam bidang agama. Tantangan menjadi Malin dalam suku sangatlah berat, di tengah kondisi budaya global yang menyebabkan pergeseran nilai dan mengubah gaya hidup kemenakan. Tentunya disamping Malin harus memiliki banyak referensi keagamaan dalam hal ini al quran, hadist, hukum Fiqh dengan memfungsikan lembaga Jinih Nan Ampek; khatib, imam, khadi dan bila.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

187

Di dalam menyelesaikan persoalan keagamaan, Malin dituntut harus banyak menyampaikan penyuluhan baik menyangkut hukum agama, hukum positif maupun hukum adat kepada kemenakannya. Apalagi kepada kemenakan yang terpengaruh lingkungan dan menyebabkan mereka mengalami kemerosotan moral dan akhlak. Dan jelas seorang Malin disamping melakukan pendataan keagamaan di dalam sukunya harus pula menyiapkan kaderisasi penggantinya. Tentunya diharapkan Malin juga diberi wewenang yang sangat luas menentukan struktur pembantunya sendiri yang diakui oleh masyarakat sukunya, kendatipun persoalan keagamaan suku merupakan tanggungjawab bersama di dalam suku karena adat dan agama seiring dan sejalan di Minangkabau. Dubalang di dalam suku merupakan lembaga security control, atau yang akan memagar suku dari pengaruh negatif yang akan merusak tatanan adat dalam suku. Dubalang tidak saja bertanggungjawab untuk menyelesaikan perselisihan yang ada dalam suku baik antara kemenakan sesuku maupun antara kemanakan dengan orang lain yang berbeda suku. Sesuai dengan kondisi sekarang, Dubalang diharapkan juga berfungsi untuk memagar suku bukan saja dari persoalan yang nyata akan tetapi perkembangan teknologi media dan komunikasi yang begitu pesat, Dubalang juga harus mampu membendungi sukunya dari dampak negatif budaya yang menyerap melalui teknologi tersebut. Seperti membendungi kemanakan dari kehancuran moral dan akhlak seperti munculnya tindakan kriminal dan perbuatan maksiat lainnya. Artinya jangkauan Dubalang bukan lagi berada di wilayah sekitar kampung di mana warga sukunya berada, akan
188

Manajemen Suku

tetapi Dubalang juga harus mencapai wilayah domisili di mana kemenakannya berada seperti di perantauan atau di kawasan di mana kemanakan sedang menuntut ilmu. Perhatian khusus ini sangat diperlukan, agar kemanakan dapat terjaga dan tidak lari dari norma adat dan Islam yang merupakan identitas asli masyarakat Minangkabau. Kehancuran moral masyarakat Minangkabau seperti yang diberitakan media tentang meningkatnya kejahatan seksual di ranah Minang (Kompas, 19 Juli 2004), terutama dikarenakan memang fungsi kontrol dari pemimpin adat khususnya Dubalang yang merupakan institusi parit paga suku tidak berjalan dengan baik. Memang banyak faktor yang menyebabkan fungsi itu tidak berjalan, akan tetapi tentu perlu dilakukan langkahlangkah kongkret untuk memperbaikinya. Tentu saja dimulai dari menaikan wibawa pemimpin suku khususnya Dubalang ini. Wibawa seorang Dubalang yang akan membuat kemanakannya patuh dan mendengarkan petuah-petuahnya, harus pula-didukung oleh sebuah sistem yang jelas. Karena Dubalang tanpa didukung oleh kemaun bersama dari masyarakat sukunya, juga tidak ada artinya.

D. Aspek Kemampuan Kepemimpinan
Jalannya manajemen suku di Minangkabau seperti yang sudah kita singgung sebelumnya, erat kaitannya dan kemampuan leadership seorang pejabat suku atau Urang Ampek Jinih. Karena dengan kemampuan baik fisik, mental, integritas intelektual dan sosial ekonomi menjadikan ia sebagai seorang pejabat suku yang dihormati, disegani dan didengar oleh anak kemanakannya.
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
189

Dr. Tarmizi Taher mengungkapkan, bahwa tidak setiap orang yang duduk dikursi pimpinan itu adalah pemimpin. Begitu juga tidak setiap manajer adalah pemimpin. Pemimpin itu adalah topik abadi yang harus ada, apalagi untuk organisasi suku yang telah memiliki populasi yang besar. (Tarmizi Taher: Agenda Kritis Pembangunan Indonesia, hal 1-21, Gramedia, 2003) Untuk itu boleh dikatakan seorang pemimpin suku adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk memimpin sukunya bukan orang yang dipimpin oleh sukunya.

1.

Fisik/Performance

Seorang pemimpin, dalam sebuah lembaga itu sehat jasmani dan rohani. Sehat jasmani berarti fisik kuat, panghulu nan kamanuruni lurah nan dalam, nan kamandaki bukik nan tinggi, artinya begitu banyak tugas yang dipikul oleh seorang pemimpian, apalagi anggota kaum yang akan dipimpin telah berkembang menjadi beberapa kaum dan setiap kaum bertambah jumlah paruik, untuk itu kemampuan fisik harus terpelihara. Apabila lurah alah dalam, bukik alah tinggi, artinya kemampuan fisik tidak memungkinkan lagi sudah seharusnya secara sukarela tugas-tugas kepemimpinan itu dipindahkan kepada yang lebih muda, supaya tidak membebani kepada pribadi yang bersangkutan. Perpindahan kepemimpinan seperti ini dalam adat disebut dengan "hiduik bakarilahan" Kesehatan rohani, seorang pemimpin "kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang, artinya keteladanan seorang pemimpin menjadi salah satu indikator penentu dalam menjalankan roda kepemimpinan. Hal-hal yang akan menyebabkan kehilangan keteladaan tersebut sangat dihindarkan. Hal ini menjadi pertimbangan dalam
190

Manajemen Suku

memilih pemimpin dalam suku, dalam hal ini "elok di indang ditampi tareh dipiliah atah ciek-ciek". Pemimpin merupakan institusi dalam suku kaum apabila seorang pemimpin berbuat sumbang salah maka semua anggota kaum/suku akan terkena imbas dari kesalahan tersebut "tanah sabingkah alah bapunyo, suku tak dapek di asak, malu tak dapek dibagi". Pejabat suku haruslah berpenampilan rapi. Dengan tampilan belepotan, kumuh dan urakan, ia tidak akan dianggap remeh oleh kemanakannya. Penampilan pejabat suku sangat besar mempengaruhi wibawa pejabat suku itu. Pejabat suku harus menjaga kesehatannya, dikarenakan pejabat suku yang selalu sakit-sakitan akan mempengaruhi tugasnya dalam memimpin kemenakannya. Bisa-bisa misalnya, perhelatan kemenakan terganggu dikarenakan Penghulunya sakit. Dan dalam hal ini pejabat suku yang telah uzur, juga sebaiknya mempertimbangkan untuk mengangkat panungkek atau menurunkan jabatannya kepada kemanakannya yang pantas sesuai dengan sistem yang dianut dalam suku tersebut.

2.

Mental Spiritual

Seorang pemimpin dalam lembaga suku, juga dituntut dengan kemampuan mental spritual. Di mana ia harus memiliki ilmu dan wawasan yang luas. Bukan saja masalah adat akan tetapi juga masalah keagamaan karena di Minangkabau adat basandi syarak dan adat basandi kitabullah. Artinya masalah adat dan agama harus seiring dan sejalan. Dan sangat wajar kalau seorang pemimpin suku selain tokoh adat juga tokoh agama'.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

191

Kemampuan mental spiritual seorang pemimpin suku jelas sangat berkaitan dengan akhlak dan cara pemimpin suku itu untuk mengambil keputusan dalam menyelesaikan persoalan di dalam suku. Seorang pemimpin suku yang bermoral bejat akan hilang martabatnya di dalam suku. Pemimpin dalam suku harus sesuai dengan uraian sebelumnya yaitu orang yang bermartabat dan berakhlak baik. Seorang pemimpin suku yang berakhlak dan mengamalkan ajaran agama secara baik atau taat ditambah dengan kemampuan wawasan dan ilmu pengetahuan yang luas, besar kemungkinan akan memiliki jiwa dan emosi yang stabil. Jelas dalam memimpin dan menyelesaikan sengketa anak kemenakannya, akan dapat dilakukan dengan tenang. Kelemahan pemimpin suku yang tidak memiliki jiwa yang stabil dan emosi yang tenang akan menghasilkan keputusan yang ceroboh dan cenderung menghasilkan dampak yang negatif bagi anak kemanakannya. Albert Enstein sebagai siraja otak berpesan bahwa manusia jangan mendewa-dewakan otak supaya jangan menjadikan otak sebagai Tuhan. Untuk itu, pemimpin suku disamping memiliki kemampuan otak juga harus memiliki hati nurani yang 'dikontrol oleh kemampuan emosionalnya (ketenangan bathin yang disebabkan ketaatan dan kesalehan kepada ajaran Islam). Banyak pakar mengungkapkan bahwa pengaruh ketajaman mengontrol emosi lebih baik dari pada hanya mengandalkan kemampuan intelektual saja. Dalam bahasa agama Islam kita mengenal zikir dan fikir, bahwa dengan segala sesuatu yang dikerjakan haruslah berdasarkan spirit yang dilandaskan kepada tauhid. Jika seorang pemimpin suku sudah bertindak dengan menyangkutkannya berdasarkan dengan ketauhidan,
192

Manajemen Suku

maka insya Allah kemanakannya akan di bawa ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam hal ini seorang pemimpin suku juga harus punya kemampuan mengelola hatinya, di mana unsur keikhlasan dan keridhaan sangat dipentingkan dalam mengurus kemenakan. Tarmizi Taher juga menyisyaratkan bahwa seorang pemimpin dalam mengurusi yang dipimpinnya harus menimbulkan kesenangan, seperti layaknya seorang ayah yang baik mengurusi anak kandungnya, (Tarmizi Taher: 2003). Di dalam hal ini juga, seorang pemimpin suku harus melawan musuh yang ada pada dirinya sendiri. Musuh itu adalah kelambanan, hambatan, ketidakpedulian, dan penguasaan ego yang lemah. Jika musuh di dalam diri itu tidak dapat dikalahkankan maka yang akan muncul pemimpin suku yang tidak memiliki kekuatan untuk bertindak (Ariwibowo, 12 langkah Manajemen Diri, 2004). Selain itu, sebagai pemimpin yang beriman seorang pemimpin suku harus hati-hati dengan sumpah dan janjinya. Sebagai seorang pemimpin adat yang sebelumnya sudah disumpah harus selalu ingat dengan sumpahnya dan menjalankan amanah sebaik-baiknya. Sumpah yang telah diucapkan haruslah menjadi spirit dalam menjalan tugasnya. Seperti hadist nabi berpesan, setiap diri adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya. Oleh sebab itu persoalan kemampuan memegang amanah merupakan aspek spiritual yang harus dimiliki seorang pemimpin suku, karena di sini letak profesionalisme seorang pemimpin suku ini. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seorang sahabat nabi yang taat
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
193

bernama Abu Dzar dilarang memimpin dan mengelola harta anak yatim oleh Nabi Muhammad SAW dikarenakan ia hanya seorang shaleh akan tetapi memiliki kelemahan dalam mengelola urusan publik termasuk, harta orang lain (H.R Muslim). Bahkan dalam hadist riwayat Bukhari disebutkan orang yang menyia-nyiakan amanah, tunggulah kehancuran. Dalam memahami hadist ini Dr. A. Qodri Azizy, M.A dalam buku Melawan Globalisasi menguraikan, secara pengorganisasian seperti memimpin manajemen tidak cukup bermodal kesalehan saja akan tetapi diperlukan kemampuan menjaga amanah. Di samping itu diperlukan untuk menempatkan pemimpin itu sesuai dengan kemampuannya. Kemampuan spiritual pemimin suku sama dengan kaya akal budi, karena pada adat Minangkabau itu berpangkal pada budi: Nan kurik kundi nan merah sago nan baik budi nan indah baso Budi mendapat tempat uatama dalam adat Minangkabau, sifat-sifat manusia yang lainnya merupakan pecahan dari kekayaan budi tersebut seperti saraso samalu, tenggang raso, lamak dek awak katuju dek urang. Budi itu berdasarkan kesangupan merasakan perasaan orang lain, artinya berbuat terhadap orang lain, sama halnya dengan berbuat untuk dirinya sendiri:
Tibo dimato indak dipiciangkan Tibo diparuik indak dikampihkan

Dengan demikian pertalian pemimpin dengan yang dipimpin akan terasa akrab. Sebagai pemimpin akan dimintakan pertangung jawaban atas kepemimpinannya. Dengan budi akan berlakulah saling berbuat baik, saling berbalas budi, hutang budi akan dibayar dengan budi.
194

Manajemen Suku

Misalnya: hutang budi pada nagari, nagari yang kita diami telah ditempati dengan baik maka haruslah dibayar dengan cara berbuat baik pada nagari yaitu dengan tidak merusak alam. Ternyata budilah yang menjadi ikatan yang kuat dalam pergaulan bermasyarakat, berbuat dan membalas budi bukanlah hanya terbatas memelihara anak kemanakan, seorang pemimpin hidup bersama. seseorang dengan masyarakat, dari yang sekecil-kecilnya sepertia anggota paruik, jurai kaum dan suku bahkan sampai kepada nagari dan negara.

3.

Integritas Intelektual

Dan yang paling menentukan juga adalah integritas intelektual pemimpin suku tersebut. Karena dengan kemampuan ini seorang pemimpin akan peka dan cepat tanggap dalam menangani persoalan-persoalan yang dihadapi kemenakanya. Dengan kemampuannya, pemimpin suku akan dapat memberikan keputusan dan solusi yang tepat. Kemampuan intelektual menjadi suatu keharusan, dalam dunia yang serba mengglobal sekarang ini tidaklah rnungkin dapat menjawab kemajuan itu dengan papatah petitih semata. Bagi masyarakat Minangkabau kemampuan intelektual itu disebut dengan Urang cadiak pandai. Kaum intelektual adalah "cadiak candokio", apabila dikaitkan dengan kepemimpinan adalah orang yang pandai memenej (menempatkan) seseorang sesuai dengan posisinya.
Alang tukang cilako kayu AJang cadiak cilako adat Alang alim hancua agamo
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
195

Kemampuan intelektual ini, bukan menyangkut persoalan adat saja. Melainkan juga menyangkut berbagai wawasan lainnya. Kemampuan ini harus selalu diasah baik melalui membaca, maupun melalui forum ilmiah seperti diskusi, debat dan musyawarah. Seperti Allah juga telah mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan teknologi yang berguna di saat itu kepada Nabi Daud dan Sulaiman (Al Quran, 27:15). Dengan demikian selayaknya pula seorang pemimpin suku harus menguasai ilmu dan teknologi itu, agar persoalan apapun yang muncul di dalam suku dengan referensi ilmu yang dimiliki seorang pemimpin suku dapat memberikan solusi yang tepat dan tidak terburu-buru mengklaim secara negatif. Kalau kita lihat sejarah Nabi Adam yang diutus menjadi pemimpin (khalifah) di bumi, terlebih dahulu ia adalah orang yang lulus dalam kompetisi dengan malaikat. Di mana Adam temyata makhluk Allah yang memiliki pengetahuan yang lebih dari pada malaikat, dan layak untuk menjadi khalifah filard( Al Quran, 2: 31-34). Untuk itu seorang pemimpin suku apapun jabatannya (Penghulu, Malin, Manti, Dubalang) pun seharusnya mampu menguasai berbagai pengetahuan karena mengingat begitu komplitnya persoalan yang melanda kemanakan di era ini. Pemimpin suku harus membawa sukunya ke arah yang lebih unggul dibandingkan dengan suku lain. Semangat fastabikhul khairat atau berkompetisi memajukan suku yang ditularkan pula kepada kemanakan menuju ke arah yang lebih baik, tentu membawa sukunya ke arah yang lebih baik pula.
196

Manajemen Suku

Dengan kemampuan ilmu dan wawasan yang menunjang intelektual seorang pemimpin suku, Insya Allah akan meninggikan derajatnya. Tentu saja apabila ilmu itu diiringi pengamalan yang berdasarkan pada keimanan kepada Allah Swt. (Al Quran, 58:11). Untuk itu perlu dipikirkan di dalam sebuah suku untuk membentuk forum atau lembaga pengkaderan dan pencerahan guna mengasah intelektual calon pemimpin suku atau pencerahan bagi pemimpin suku yang sedang menjabat di dalam suku akan tetapi tidak memungkinkan lagi untuk mengenyam pendidikan di bangku pendidikan.

4.

Sosial Ekonomi

Kemampuan ekonomi sangat penting dalam kepemimpinan. Dengan pondasi ekonomi yang kuat masyarakat akan makmur, kebudayaan akan berkembang "manjilih ditapi aie, mardeso diparuik kanyang", kewajiban dan rasa sosial baru bisa terpenuhi, apabila kepentingan pribadi telah terpenuhi, supaya hal tersebut dapat terlaksana, dalam adat dikenal adanya "padi abuan atau sawah kagadangan "(dana sosial untuk panghulu). Permasalahannya sekarang adalah padi abuan tersebut belum ada bagiannya untuk perangkat adat lainnya dan kalaupun ada peruntukan itupun tidak mencukupi, hal yang mengembirakan adalah bahwa adat itu memberikan perhatian kesejahteraan terhadap lembaga-lembaga yang ada:
Hilang rupo dek panyakik Hilang rono dek indak barado Ameh pendindiang malu Kain pandindiang miang

Berdasarkan pengamalan tentang pentingnya ekonomi, orang Minang pergi merantau. Pengertian dasar dari
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
197

merantau bahwa merantau bukanlah perpindahan Hal yang dapat difahami adalah kehidupan seseorang baik sebagai pemimpin maupun yang dipimpin tidak akan terlepas dari soal perekonomian, sebagi jaminan kehidupan sehari-hari. Pokok utama di permanen dan bukan pula meninggalkan susunan sosial budaya tertentu biasanaya kenceendrungan terasa apabila keadaan ekonomi di kampuang tidak lagi sanggup menahan mereka. Sedangkan diluar, pemusatan ekonomi diperkotaan memperkuat motivasi untuk merantau. Motivasi lain dengan tujuan untuk memelihara, menambah harta pusaka Apalagi di tengah paham kapitalistik yang mendunia saat ini. Apabila kemampuan ekonomi pemimpin lembaga suku lebih kurang di bandingkan oleh anak kemanakannya. Hal ini akan membuat pemimpin suku tersebut tidak tegak kepalanya di hadapan kemanakannya. Bahkan akan merepotkan lagi ketika ia harus melakukan perjalanan dinas mengurus anak kemanakannya, tanpa didukung dana yang memadai acap kali urusan akan terbengkalai. Apalagi kalau pemimpin suku itu tidak berada di kampung halamannya, seperti menikah dengan orang yang berlainan kampung dan jarak yang berjauhan. Disebabkan rendahnya ekonomi pemimpin suku bisa-bisa kepala suku 'dibeli' dengan uang. Sehingga apapun yang diminta oleh orang yang notabenenya telah memberi uang maka pemimpin suku tersebut akan menurut saja. Seperti contoh dalam hal menjual harta pusaka yang seharusnya tidak boleh dijual. Akan tetapi karena pemimpin suku sudah diberi uang komisi yang besar, tanah pusaka suku terjual atau tergadai kepada orang lain dalam jangka waktu yang lama. Sementara anak kemenakannya sangat
198

Manajemen Suku

membutuhkan pendidikannya.

untuk

kelangsungan

hidup

dan

Untuk itu dalam memimpin suku ia harus mampu mengelola dengan baik harta pusaka yang dimiliki suku. Begitu pemimpin suku dituntut untuk mampu menciptakan peluang ekonomi baru untuk kesejahteraan kemanakannya. Potensi suku harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, dengan semangat bergotong royong, pemimpin suku akan mampu mengumpulkan dana suku dengan membentuk Lumbung Pitih Suku (LPS) yang sumber dananya dari kemenakan dan digunakan untuk kemenakankan juga. Tentu dalam hal ini diperlukan pengetahuan pengelolaan keuangan yang baik dan lebih bagus lagi kalau menggunakan prinsip-prinsip pengelolaan uang secara syariah. Dari sini akan dimungkinkan sebuah Badan Usaha Milik Suku (BUMS). Dan tak kalah pentingnya adalah dengan membentuk lembaga amil zakat dan sedekah (LAZIS) suku. Di mana pemimpin suku harus berperan untuk mengajak kemenakan untuk mensyukuri nikmat Allah Swt. Dengan LAZIS ini dapat mengentaskan persoalan kemenakan yang lemah ekonominya. Bukankah Islam mengajarkan kepada kita untuk saling berlomba dalam kebaikan, semangat ini harus dijabarkan oleh seorang pemimpin suku (Al Quran 5:2). Jadi diharapkan tidak ada lagi hendaknya kemanakan suku tersebut menampungkan tangan karena kemiskinannya. Persoalan ini sudah terselesaikan oleh suku itu sendiri. Dengan demikian akan terbentuklah masyarakat suku yang saling mengisi dan membantu Dalam aspek sosial, pemimpin suku diharuskan pula untuk mampu berkomunikasi dengan baik dengan kemenakannya. Baik yang berada di ranah maupun yang
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
199

berada di rantau. Silaturrahmi sangat penting, dan ajaran Islam menyebutkan silaturrahmi itu dapat memperpanjang umur dan memurahkan rezeki (Al Hadist). Dengan kemampuan sosial ini pemimpin suku akan tetap menjadi perhatian dari kemenakannya, karena kemenakan pun sudah terperhatikan oleh pemimpin sukunya. Kecanggihan teknologi di saat ini telah memudahkan hubungan sosial (silaturrahmi) dimana dengan telpon, faks, sms, email seorang pemimpin suku tetap dapat berhubungan dan memperhatikan kemenakannya.

E. Aspek Proses, Mekanisme dan Tatacara Pengelolaan Suku
Agar pengelolaan suku berjalan dengan baik, jelaslah diperlukan sebuah tatanan dan sistem yang baik.

1.

Perencanaan

Di dalam suku diperlukan rencana dan program yang membuat kelarasan suku berjalan dengan baik dan terarah. Dalam aspek perencanaan tentu perlu disiapkan dalam bentuk musyawarah dan pengambilan keputusan. Begitu juga dalam proses kaderisasi pemimpin suku seperti Urang Ampek Jinih, agar tercipta pemimpin suku yang berkualitas di masa mendatang. Program atau rencana suku ini akhimya dijadikan sebagai aturan hukum suku yang harus ditaati oleh seluruh masyarakat suku. Hanya saja perencanaan yang di buat dalam kerapatan suku, diperlukan sebuah kristalisasi (kebulatan) pendapat dari tingkat keluarga, kaum dan suku termasuk mengadopsi seluruh aspirasi kepemudaan dan perempuan.
200

Manajemen Suku

Aspek perencanaan itu sangat penting mengingat dengan perencanaan yang matang akan menentukan suksesnya pemimpin suku dalam mengelola suku sesuai bidang yang di amanahkan kepadanya. Dalam hal ini yang perlu dipertimbangkan adalah efektif dan efisiennya program yang dibuat, terutama dalam merencanakan pelaksanaannya. Di samping perencanaan atau program suku, jelas juga dipikirkan aspek pendanaannya. Dengan perencanaan dana yang matang jelas program dapat dilaksanakan. Persoalan yang sangat penting dalam perencanaan ini adalah terdatanya secara tertulis persoalan-persoalan suku. Mulai dari potensi yang dimiliki sampai pada laporan perkembangan dan evaluasi dari suku itu secara berkala. Setiap rapat harus ada notulen rapatnya. Begitu juga dibiasakan pembagian tugas dengan memberikan mandat secara tertulis. Program suku harus didatabasekan, sehingga kapan diperlukan dapat dilihat kembali dan akan memudahkan mengevaluasinya untuk mengetahui sejauh mana perkembangan suku. Dan juga akan menggampangkan mengindentifikasi masalah untuk dicarikan solusinya. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan manajemen suku adalah pengorganisasian, pelaksanaan, pengevaluasian, pencatatan, pendanaan dan pengawasan.

2.

Pelaksanaan

Untuk menyelenggarakan perencanaan dibutuhkan pelaksana-pelaksana yang mampu memegang amanah. Di dalam manajemen suku mereka disebut Penghulu, Malin, Manti dan Dubalang. Sejauh ini sudah banyak ditemukan
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
201

mamang dan syarat-syarat yang diharuskan bagi seorang Penghulu. Sama halnya dengan pemilihan Penghulu, maka seharusnya Malin, Manti dan Dubalang juga harus ditetapkan kriteria tertentu sesuai dengan jabatan yang diamanahkan kepada mereka. Seperti Manti harus mengerti adat, administrasi dan akuntansi. Malin harus mengerti agama Islam dan adat. Dubalang harus mengerti hukum adat, hukum positif dan hukum agama. Apabila di dalam suku tidak ditemukan sumber daya yang ideal, sebaiknya diambil dari kemanakan yang terbaik yang dipunyai. Selanjutnya perlu diupayakan pelatihan penataran, pendidikan khusus serta pembinaan yang simultan untuk kader pemimpin suku. Perlu dipertimbangkan ada sekolah khusus untuk calon pemimpin suku. Dengan demikian, di dalam kepemimpinan suku akan terujud the right man in the right place. Di dalam hal ini perlu diingat untuk tidak melupakan peran perempuan dan pemuda di dalam suku. Karena dengan keterlibatan mereka perencanaan suku akan menjadi perencanaan suku secara keseluruhan.

3.

Evaluasi

Program yang dilaksanakan tentu tidak dibiarkan begitu saja, kekurangan dan kelebihan termasuk hambatan yang ditemui perlu dikaji secara serius. Di sinilah peran evaluasi. Tentu saja pengeveluasian program ini juga harus melalui rapat suku. Program yang berjalan dengan baik dan menghasilkan dampak positif jelas dapat dilakukan untuk masa berikutnya. Akan tetapi program yang tidak berjalan mulus, tentu harus dicarikan jalan keluar yang tepat. Pengevaluasian ini harus dilakukan agar program suku
202

Manajemen Suku

terukur dan terarah dan mempunyai dampak yang baik terhadap perkembangan suku. Evaluasi dapat dijalankan jika persoalan suku terdata dengan baik. Karena tanpa data yang lengkap, evaluasi tidak dapat dijalankan.

4.

Pengawasan

Selain evaluasi selama pelaksanaan program suku juga diperlukan pengawasan melekat agar sasaran dari program yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik. Karena kerapkali dalam pelaksanaan program seringkali terjadi bias, benturan dan hambatan. Ketika itulah diperlukan keputusan yang cepat. Pengawasan ini perlu dilakukan terhadap programprogram yang telah ditetapkan, akan tetapi secara alami pengawasan perlu dilakukan dalam sifat security atau penjagaan anak kemanakan agar tidak keluar dari normanorma adat yang berlaku. Seperti perjudian dan perbuatan maksiat lainnya. Jika didapati pelanggaran tentu rapat suku atau pemimpin suku memberikan reaksi baik untuk melakukan sidang suku maupun keputusan langsung para petinggi suku. Di samping itu dalam pengawasan ini tentu pelanggaranpelanggaran yang dilakukan terhadap aturan suku, maupun hukum adat dan hukum positif yang berlaku di negara kita harus cepat ditanggapi dan diberikan sangsi oleh kerapatan suku. Dengan demikian kemanakan yang bersalah dapat diberikan sangsi dengan tegas, begitu juga apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh pejabat suku itu sendiri.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

203

Pengawasan yang bersifat represif akan terlihat ketika anak kemenakan telah selesai melaksanakan pekerjaan yang telah dilaporkan sebelumnya, kalau berhasil bagaimana hasilnya, kalau terkendala atau gagal bagaimana langkah-langkah berikutnya?. Fungsi ini terlaksana pada setiap kegiatan anak kemenakan baik yang bersifat ke dalam (kaum, suku atau rumah tangga) maupun keluar yang melibatkan masyarakat Nagari. Pelaksanaan fungsi pengawasan ini dilakukan oleh masingmasing mereka yang memiliki kewenangan sesuai dengan tingkat pengawasan itu (rentang kendali). Untuk menentukan secara tegas, siapa yang mengawasi siapa, orang Minangkabau menggariskan ukuran-ukuran tertentu agar jelas batas kewenangannya : 1) Seorang kemenakan (terutama yang laki-laki) kalau sudah berumah tangga harus mampu melaksanakan tugasnya secara adil: Anak dipangku, kemanakan dibimbing. 2) Seorang Penghulu juga diawasi secara moral, bagaimana mereka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam: Mampaelok nagari. Kewajiban Penghulu membuat Nagari menjadi elok, merupakan beban berat yang harus dipikul bersama demi kesejahteraan anak kemanakan. Ketidakmampuan seorang Penghulu dalam membangun nagari menjadi elok, akan menjadi titik awal dari ketidak percayaan anak kemanakan terhadap mereka, karena menurut sepanjang adat, seorang Penghulu itu berada di pintu hutang, kemenakan di pintu bayar, artinya mereka sebagai perencana dan anak kemenakan sebagai pelaksana.

204

Manajemen Suku

3)

Pengawasan dalam menjamin eksistensi keturunan : a) Sako turun temurun. Pusako jawek bajawek b) Senteang bilai mambilai. c) Lamah sokong manyokong. d) Putuih uleh-mauleh. Pengawasan kelestarian harta pusaka: a. Jua indak dimakan bali b. Gadai indak dimakansando. Pengawasan terhadap kemenakan perempuan agar tidak terjadi prostitusi.- Laki laki samalu, padusi sa rasan. Bagi seorang lelaki di Minangkabau menjaga atau mengawasi saudaranya yang perempuan sama wajibnya dengan menjaga atau mengawasi saudara perempuan teman atau sahabatnya, karena ada rasa sa malu itu adalah ikatan yang membuat mereka tidak saling merusak hubungan terutama yang menyangkut masalah wanita.

4)

5)

Seandainya seorang kemenakan perempuan berbuat yang memalukan kaum, seluruh saudaranya yang laki-laki ikut memarahi dan ada pula yang memukul atau memotong rambutnya sampai gundul, selanjutnya dia diantar ke tempat keluarga yang jauh dari nagari atau kampung mereka.

F. Solusi dan Pemecahan Masalah
Setelah memahami maksud dan tujuan dalam manajemen suku, yakninya agar adat itu dapat diwariskan kapada generasi mendatang malam dijadikan pakalang, siang nan kamanjadi tungkek oleh kemenakan dalam
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
205

melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Maka disusunlah beberapa hal yang perlu dilakukan dalam menghadapi fenomena dan dinamika adat yang telah mulai kehilangan "rono" di kalangan masyarakat adat itu sendiri. Dikarenakan terjadi pula beberapa kemandulan dalam penerapan fungsi dan peran pemimpin adat seperti lembaga Ampek Jinih dalam suku. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya dari faktor pribadi pemangku adat itu sendiri seperti faktor pendidikan, sosial dan ekonomi serta lemahnya koordinasi di dalam lingkungan suku. Di kalangan kemanakan hal ini menjadi momok dan menilai pemangku adat tidak dapat diajak berkompromi. Sementara mereka sendiri sesuai perkembangan zaman cenderung terbius oleh alur budaya asing yang belum menjanjikan. Persoalan ini menyebabkan timbulnya miskomunikasi oleh dua generasi tersebut. Keadaan ini tidak hanya terjadi bagi anggota masyarakat di kampung halaman, bahkan juga dengan kemanakan yang ada di rantau. Dalam berbagai hal di lingkungan adat mereka kebanyakan tidak ikut dilibatkan secara langsung oleh pemangku adat di dalam suku untuk mengambil keputusan. Khusus bagi masyarakat yang hidup di perantauan karena di lingkungan mereka berada penuh dengan "kemajuan" dan arus informasi yang menglobal, mereka terkesan tidak lagi membutuhkan adat dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari himpunan persoalan tersebut, maka langkah-langkah nyata yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya adalah: 1. Membenahi terlebih dahulu data-data suku. Setiap suku harus memiliki data lengkap tentang sukunya (database suku). Pendataan ini dimulai dari kelompok terkecil dalam suku yakninya kaum yang
206

Manajemen Suku

dipimpin oleh kepala kaum"Datuk Kaum atau Datuk Andiko). Database yang harus dimiliki kaum adalah; a. Data seluruh kemanakan kaum itu (Buku Gadang Kaum) b. Data aset Pusako (Sumber Daya Alam yang dimiliki Kaum) c. Data Keluarga Besar kaum termasuk data anak pisang dan bako (Sedangkan dalam pelaksanaan adat bertemu prinsip "anak dipangku kamanakan dibimbiang") Selain itu, sebagai orang Minangkabau yang menganut matrilineal juga tidak meninggalkan pencatatan ranji. Hal ini agar dapat diketahui aliran kepemimpinan dan pusako yang ada dalam kaum tersebut. Pendataan yang dilakukan oleh seluruh kaum di dalam suku dengan sendirinya sudah merupakan database suku. Dengan pendataan ini juga akan tergambar potensi suku yang dapat dikembangkan dan dilestarikan untuk kemajuan suku. 2. Membenahi sosial ekonomi pribadi pejabat pemimpin suku dan keluarga. Kalau kehidupan keluarga pejabat suku dalam kesusahan, bagaimana mungkin program seorang suku akan berjalan efektif dan efisien. Untuk itu perlu dikembangkan fungsi dari " singguluang" ataupun sawah kagadangan. Walaupun di era modern ini bukan lagi dalam bentuk sawah, akan tetapi bisa saja dalam bentuk saham perusahaan dan lain-lainnya. Karena setiap suku dalam peraturan perundang-undangan dibenarkan untuk menghimpun dana melalui Lumbung Pitih Suku (IPS) dan membuat usaha seperti Badan Usaha Milik Suku (BUMS).
207

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

3.

Membenahi manajemen suku dengan cara teradministrasi dan meletakkan prinsippinsip manajemen seperti, perencanaan program suku, dan strategi bagaimana melaksanakan program suku tersebut dengan menekankan pengorganisasian, penempatan orang, pengaturan dan kebijakan.pendanaan. Serta yang takalah pentingnya terevaluasinya setiap pelaksanaan kegiatan. Kemudian didukung dengan dengan pelaporan setiap perkembangan. Setiap program yang telah berjalan diikuti dengan pertanggungjawaban pemimpin suku atau orang yang diberikan wewenang atau tugas menjalankan program itu. Setiap pelaksanaan diiringi dengan pengawasan secara gotong royong. Menanamkan dan menetapkan landasan bergerak dan berfikir, dengan tidak meninggalkan ketentuan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Landasan ini harus diperkuat dengan modal sipritual, performance, serta kekayaan intelektual pejabat suku dengan dukungan hubungan sosial yang baik dan ekonomi yang mapan. Membangkitkan kembali jiwa "keminangan" dalam aspek kepemimpinan, agar termotivasi untuk menjalankan kepemimpinan, maka menjadi sebuah keharusan untuk menempatkan orang-orang yang mengerti akan tugas dan fungsi-masing-masing dari lembaga yang ada; seperti lembaga Urang Ampek Jinih , Jinih Nan Ampek serta lembaga urang bajinih dalam tatatan kepemimpinan lainnya yang diperlukan di dalam suku.

4.

5.

208

Manajemen Suku

6.

Lembaga Urang Ampek Jinih merupakan pilar-pilar utama dalam memenej anak kemanakan, untuk itu semua lembaga dalam Ampek Jinih tersebut harus diberdayakan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing Dan aspek penting yang dapat menyatukan dari seluruh sistem yang dianut dalam pemerintahan suku (kelarasan) adalah tatanan dalam musyawarah mufakat. Di mana perlu mendudukan syarat dan kriteria yang dibolehkan untuk rapat di dalam suku seperti pria atau wanita yang telah kawin atau berumur 17 tahun ke atas. Kemudian perlu pula ditetapkan bahwa mufakat dapat diambil atau dinyatakan sah apabila dihadiri oleh lebih 50 persen anggota suku. Dan keputusan sah apabila 50 + 1 suara dari peserta rapat sepakat. Kemudian dalam proses kaderisasi pemimpin di dalam suku perlu disiapkan dari sejak dini. Di mana kemanakan yang akan memimpin kalau suku yang menganut Koto Piliang sejak kecilnya sudah dididik untuk menjadi pemimpin suku, kalau perlu diadakan sebuah lembaga pendidikan calon pemimpin suku. Kalau kemanakan yang berasal dari Bodi Chaniago harus dipilih dari kemanakan yang berpendidikan, berakhlak, mengerti administrasi dan memiliki jiwa kepemimpinan. Untuk membangun suku, harus mengikutkan anggota suku yang berada di rantau dalam setiap pengambilan keputusan. Dan juga membuat mekanisme atau aturan yang memungkin
209

7.

8.

9.

10.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

pemimpin suku yang ada di rantau untuk menunjuk pembantu-pembantunya sendiri dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin suku.yang berada langsung di bawah panungkeknya yang ada di kampung dengan tidak mengabaikan komunikasi yang intens antara pembantu tersebut dengan pemimpin suku yang dibantunya. 11. Dalam setiap kebijakan suku perlu mengikutsertakan generasi muda dan kaum perempuan mengingat problema masing-masing sangat spesifik. Generasi muda sebagai pewaris kepemimpinan dan kaum perempuan akan melahirkan generasi suku tersebut. Perlu kembali meletakkan hukum adat yang disesuaikan dalam kondisi kekinian, sebagai aturan baku yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota suku. Sehingga setiap persoalan di dalam suku diselesaikan terlebih dahulu di dalam suku. Jika ada yang bersalah diberikan sanksi adat. Pemerintah Kabupaten sebagai pelaksana pemerintahan otonomi daerah diharapkan lebih banyak membantu terlaksananya pembangunan suku melalui pembinaan dan bantuan dana untuk mensukseskan pelaksanaan program-program suku sampai suatu saat suku tersebut dapat mandiri dengan kekuatan yang ada di dalam suku. Begitu juga dengan pemerintahan Nagari, sesuai sejarahnya, nagari diatur
Manajemen Suku

12.

13.

14.

210

15.

Dengan tatanan adat yang ada di salingka nagari tersebut. Tentunya dalam setiap kebijakan di nagari harus mengikutsertakan pemimpin adat. Karena apapun bentuk program dalam nagari bersentuhan langsung dengan kemenakan, pemimpin adat di dalam nagari itu.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

211

212

Manajemen Suku

BAB 8
DEKLARASI KOTO BARU, SOLOK

A. Pertemuan Kayu Aro
Ide awal dari lahirnya gagasan Menagemen Suku pertama kali dimunculkan dari beberapa diskusi yang diadakan Solok Saiyo Sakato (S3) di Jakarta. Mulanya di kalangan urang Solok, krena peminatnya banyak ditingkatkan menjadi Sumatera Barat. Hadir dalam beberapa diskusi di Rumah Makan Sederhana Pasar Rumput, Manggarai DR Saafruddin Bahar, Amir MS Dt Mangguang Sati, Drs Hasan Basri (mantan Bupati Solok dan mantan Pembantu Gubernur Sumbar Wilayah I). Disadari bersama bahwa praktek-praktek pengelolaan suku khususnya di Solok dan umumnya di Minangkabau telah bergeser dari rel yang sebenarnya. Gagasan untuk mengatur anak kamanakan dalam suku oleh para pemimpin khususnya bagi masyarakat Solok ditindaklanjuti dari pertemuan Kayu Aro, 10 Februari 2004 yang dihadiri oleh Bupati dan Sekda Kabupaten
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
213

Solok dan Pengurus S3 Jakarta. Pertemuan tersebut dimotori oleh organisasi sosial yang mempunyai perhatian terhadap kelangsungan dan adat dan budaya yang berlaku di tengan-tengah masyarakat yang selma ini telah dipaturun-panaikan dalam kehidupan sosial. Organisasi Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta, yang berusaha membidani lahirnya pertemuan Kayu Aro tersebut dan sekaligus menjadi salah satu motor pengerak untuk menjembatani antara perantau dengan masyarakat diranah kampung halaman. Pertemuan Kayu Aro tersebut dihadiri oleh Organisasi Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta, S3 Padang dan pemuka sarta pituo-pituo masyarakat Solok, salanjutnya dapat dilihat laporan dari ketua Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta yang ditanda tangani oleh Irjend (Purn) Pol Marwan Paris Dt Maruhun Saripado.

B. Musyawarah Rantau dan Kampung
Musyawarah Adat Masyarakat Solok dilatar belakangi oleh aroma Babaliak Banagari yang telah ditetapkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatra Barat dan telah berujud suatu Peraturan Daerah, memuat kebijakan dasar dalam melaksanakan otonomi daerah yang mengembalikannya pada nilai-nilai Adat dan Budaya Minangkabau. Karena telah terjadi banyak perubahan dalam tata kehidupan masyarakat urang awak dan pelaksanaa adat dan budaya itu sendiri, maka isi dari Babaliak Banagari perlu dikaji ulang yang sampai sekarang masih belum sampai pada sebagaimana yang diharapkan. Karena babaliak banagari menyangkut adat dan budaya Minangkabau malahan juga menyangkut masa depan etnis masyarakat itu sendiri, maka masalah memberi isi babaliak banagari adalah juga kepentingan dan
214

Manajemen Suku

kepedulian etnis Minangkabau baik yang ada di Ranah Minang maupun yang ada di perantauan. Masyarakat Solok yang ada di perantauan manapun yang ada di Ranah Solok merasa terpanggil memberikan pemikiran dengan difasilitasi Bupati Solok dan S3, melalui beberapa kali diskusi menyadari bahwa masalah yang dihadapi begitu kompleks dan rumit, sehingga berkesimpulan perlu menemukan ujung benang kusut dengan memulai dari bawah dengan pembenahan suku. Dalam diskusi Kayu Aro ini diundang 50 orang pemuka masyarakat mulai dari Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai, Bundo Kanduang dari Kota Solok dan Kabupaten Solok. Yang mengundang adalah Kepala Daerah masingmasing yaitu Walikota Solok dan Bupati Solok. Waktu itu Solok Selatan belum menjadi kabupaten sendiri. Bupati Solok akan bertindak sebagai tuan rumah. Diskusi memberikan gambaran sebagai berikut: 1. Terdapat banyak kelemahan pada pemangku adat baik pengetahuan di satu segi dan ekonomi di lain segi. 2. Hasil seminar adat di Bandung 2003 belum menghasilkan petunjuk-petunjuk operasional yang dapat dijadikan pedoman bagi pemangku adat di lapangan. 3. Dari beberapa kali diskusi di kalangan pengurus Solok Saiyo Sakato (S3) di Jakarta perlu diadakan semacam diskusi (bukan seminar) untuk menemukan fakta-fakta lapangan dari tangan pertama. Fakta-fakta tersebut (das sein) akan dibandingkan dengan norma-norma yang seharusnya berlaku (das sollen). Gap yang terjadi antara keduanya merupakan masalah yang
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
215

dihadapi. Berdasarkan itu dicarikan jalan keluarnya. Keinginan ini kemudian disampaikan kepada Bupati Solok dan beliau menyambut baik gagasan ini. Diputuskan diskusi yang lebih luas akan diadakan di Kayu Aro dengan judul Manajemen Suku. Peta permasalahan yang terlihat: Pertama: SDM Ninik Mamak Umumnya peserta melaporkan bahwa SDM NM/urang ampek jinih lemah. Ada prinsip dalam adat kita bahwa batuang tumbuh di ruehnyo, karambie tumbuh di matonyo. Pemangku adat turun temurun menurut garisnya. Di luar itu seseorang tidak dapat memangku jabatan pemangku adat. Sayangnya SDM tetap lemah, karena tidak dipersiapkan oleh famili dan kaum. Yang dikejar gelarnya, bukan hakekat gelarnya sebagai ninik mamaknya. Apakah ini karena kekurangan visi, padahal sangsi spiritualnya cukup berat, ka ateh indak bapucuak, ka bawah indak baurek. Kalau suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancuran (hadis Nabi). Sesuai juga dengan pepatah kita alang tukang kayu binaso. Terjadilah the wrong man in the right place, apalagi zaman terus berubah. Untuk mengantipasinya tak terkejar karena sibuk dengan masalah rutin yang makin semrawut. Ekonomi Ninik Mamak (NM). Faktor ekonomi membuat NM sakamari pentang. Dukungan ekonomi tidak seperti dulu lagi. Zaman sudah berubah, populasi kemenakan sudah berlipat sesuai hukum Maltus. Sumber ekonomi seperti sawah dan ladang di kampung tidak mengalami
216

Manajemen Suku

perubahan atau bisa jadi sumber-sumber tersebut tidak dikuasai lagi, karena sesuatu hal sudah berpindah tangan kepada orang lain. Keadaan ini membuat sebagian pemangku adat indak tagak di nan data, tetapi tagak di nan lereng. Kondisi seperti ini membuat kekacauan pada anak kemenakan. Perubahan zaman. Sistem yang kita anut kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka nan bana, nan bana tagak dengan sendirinyo pernah menjadi senjata pamungkas untuk tidak dijajah orang, kini mulai goyah. Seperti pepatah pula daulu samak nam manyeso, kini tali nan tajelo. Daulu mamak nan bakuaso, kini papi nan bajaso. Sistem tergantung orangnya, SDM. Sistem tidak akan berfungsi bila bila "the man behind the gun" lemah, betapa pun sistem tersebut sangat ampuh. Fungsi mamak mulai terancam. Rangkaian sistem kita tidak tersambung kuat lagi. Penyebabnya lain tidak adalah kemampuan pribadi mamak sendiri. Kerancuan fungsi dalam praktek. Dalam suatu suku terdapat struktur kekuasaan yang disebut ampek jinih yaitu pangulu, manti, malin dan dubalang. Bila keempat pejabat ini berfungsi sesuai jabatan masing-masing maka suku akan tertib. Bila suku-suku dalam suatu nagari tertib, maka nagari juga akan tertib dan damai. Yang terjadi adalah kerancuan misalnya sering manti bertindak seperti penghulu, dubalang berlagak sebagai manti, atau malin berlaku sebagai penghulu. Jadi tidak tahu lagi akan
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
217

fungsi yang sebenarnya. Di sini lah dibutuhkan adanya perubahan dari budaya lisan menjadi budaya tertulis. Mungkin kita dapat meminjam motto yang berlaku dalam manajemen mutu ISO 9000 'tulis apa yang anda kerjakan dan kerjakan apa yang anda tulis'. Kalau ungkapan ini kita ulangulang dalam pekerjaan, maka proses pekerjaan kita akan mengalami perbaikan, sampai tercapai proses yang makin baik. Bila budaya tertulis, kita mulai sekarang maka dalam beberapa tahun lagi kita akan mempunyai buku adat yang bernuansa manajemen suku. Tiap nagari mempunyai buku sendiri, karena kaidah adat selingkar nagari masih berlaku di ranah Minang. Apa keuntungannya? Pemangku adat beroleh suatu pedoman yang sudah disepakati sebelumnya dan generasi muda dapat membacanya. Pada akhir diskusi, dibentuk Tim 25 yang diketuai oleh Marwan Paris yang bergelar Dt Tan Langik. 4 orang di antara tim 25 bertugas merumuskan temuan-temuan, menganalisa dan mencari solusi, dan menuliskannya menjadi suatu laporan. Laporan tentunya akan memuat solusi. Solusi adalah hasil pemecahan dari masalah- masalah yang ada. Tidak mudah memang. Perlu kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat. Pendeknya perlu orang sekampung untuk mewujudkan cita-cita ini. Seperti kata Hillary Clinton perlu orang sekampung (it takes a village) dalam mendidik dan membesarkan seorang anak untuk menjadi anak
218

Manajemen Suku

idaman orang tua. Untuk menyongsong masa depan dengan sistim masyarakat kita, perlu keterlibatan masyarakat itu sendiri. Dukungan Bupati Solok sangat besar, mengakomodasi kerja tim sampai selesai. yang

Hadir dalam diskusi tokoh-tokoh Solok antara lain Bapak Drs. H. Sjoerkani dan Drs. H. Hasan Basri, Dr. Rafki Ismail. Drs. Hasan Basri bertindak sebagai key note speaker Rentang waktu petemuan Kayu Aro, 10 Februari 2004 dengan Mubes Solok 18-19 Januari 2005 tetap diisi dengan diskusi-diskusi. Diskusi yang termasuk besar melibatkan orang Minang (bukan orang Solok saja) dilaksanakan di Lepau Kopi Sari Bundo, Menteng, 19 Juni 2004. Diskusi ini berupa dialog interaktif yang dihadiri oleh Kepala Pemerintahan Provinsi Sumatera Barat,Busra (mewakili Wakil Gubernur Prof DR Fachri Ahmad), Wakil Bupati Solok, DR Elfi Sahlan Ben, Buya Mas’oed Abidin, Soewardi Idris, Zubir Amin, Dr Saafroeddin Bahar, Amir MS DT Mangguang Sati dan banyak tokoh lainnya. Dialog interaktif ini terlaksana atas kerjasama Pengurus Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta dsk, Kantor penghubung Pemda Sumbar di Jakarta dan Radio Suara Minangkabau. Menyadari bahwa diskusi-diskusi yang intens itu perlu ditindak lanjuti, artinya telah didapat kesepakatan bahwa perlu dibawa pada forum pelaksanaan dilapangan yakni para wali nagari dengan dengan tokoh-tokoh adat, alim Ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda dan Pemda Kabupaten Solok. Untuk dipilih dan dipilah mana yang masih perlu didalami lagi namun apa yang waktu singkat dapat dilaksanakan
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

219

Kuatnya hubungan masyarakat Solok di Rantau dan Ranah terlihat dalam Susunan Panitia Mubes Adat (lihat Appendix 1). Dengan ditetapkannya panitia pelaksana musyawarah adat masyarakat Solok, baik yang panitia pusat yang berasal dari perantau Solok yang ada di Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok Tangerang-Bekasi) dan Bandung, maupun yang ada di Ranah yang berpusat di kantor Bupati Solok (Arosuka). Maka ditetapkanlah pelaksanaan semula direncaranakan tanggal 25-27 Desember 2004, dengan membutuhkan dana sebesar Rp 400.000.000,--. Dengan pertimbangan teknis dan kesiapan panitia, maka acara tersebut ditunda sampai tanggal 18-19 Januari 2005 Musyawarah yang dilaksanakan dalam dua hari dua malam tersebut dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat dapat berjalan dengan lancar, sehingga melahirkan sebuah kesepakatan yang menumental dalam perjalan sejarah masyawarah bagi masyarakat Solok dan umumnya bagi masyarakat adat Minangkabau. Musyawarah itu sangat penting artinya, karena. Pertama; musyawarah dilaksanakan dalam era globalisasi, yang sebagai orang telah termarginalkan dalam kehidupan beradat dan berbudya, mereka dianggap sebagai masyarakat pinggiran. Sebagian kalangan lagi telah memutar “kiblat” budayanya ke arah budaya barat, yang di abat dua puluh disebut dengan westernisasi, walaupun kebudayaan itu belum teruji dan belum tentu menjajanjikan keberadaanya ditengah-tengah masyarakat. Kedua; Deklarasi yang dilahirkan dalam musyawarah tersebut merupakan “Sumpah Sati abad 21” sekaligus pencerahan dari pertemuan bersejarah di abad XIX. Ketiga; Dokumen-dokumen musyawarah masyarakat adat yang terdata dalam file kepanitiaan secara apik.
220

Manajemen Suku

Terakomodasinya semua aspirasi masyarakat melalui sidang-sidang komisi, dan rapat pleno dalam sebuah rapat umum. Berbeda sekali dengan pertemuan bersejarah di abad ke 19, yang tidak ditemukan databes tentang kapan, dimana dan berapa orang yang hadir, serta utusan dari mana saja, tidak ditemukan bukti-bukti outentik, yang lebih parah lagi petikan putusannyapun tidak didapatkan, tetapi diputuskan tersebut telah menjalar bagaikan ular kobra mengejar mangsa sampai kepelosok nagari, dan penyebarannya dalam bentuk budaya lisan. Keempat; Masyarakat Adat Solok telah mempelopori budaya lisan yang menjadi kelemahan masyarkat adat selama ini, merangkak menuju budaya tulis, terbukti dengan lahirnya sebuah deklarasi secara tertulis secara modren, disamping lahirnya buku manajemn suku, berupa panduan bagi pemangku adat khususnya dan masyarakat umunya dalam menata anak kemanakan, musyawarah itu juga telah memicu masyarakat adat untuk menuliskan apa-apanya tentang kaum, minimal saat mengisi buku gadang kaum.

C. Koto Baru Tempat Lahirnya Deklarasi Abad 21
Musyawarah masyarakat adat yang melibatakan seluruh eksponen masyarakat dari 74 nagari serta dari Solok Selatan dan Kotamadya Solok, membutuhkan sarana dan prasarana yang lengkap dan jalur trasnportasi yang dapat dicapai dari segala penjuru. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, tambah lagi Koto Baru adalah tempat berpusatnya administrasi Kabupaten Solok sebelum pindah ke Arosuka, dilokasi tersebut lengkap dengan Kampus Muhammad Yamin merupakan kampus kebanggan masyarakat Solok.
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
221

Fasilitas yang lengkap, akomodasi dan tranpostrasi serta panitia berjalan dengan tugasnya masing-masing, bagaikan sebuah mesin turbin beban berat akhirnya dapat terselesaikan dengan baik. Deskripsi di bawah ini dapat disimak mekanisme musyawarah dan tata-tertib persidangan selama musyawarah berlangsung. Deklarasi Koto Baru mempunyai komisi-komisi yang terdiri dari empat komisi. Komisi I membidangi Adat yang di ketuai oleh Firdaus Oemar Dt Marajo dengan sekretaris komisi Maifil Eka Putra Khatib Batuah. Komisi II Membidangi Ekonomi Suku yang di ketuai Prof Dr Buchari Alma dan Muchlis Hamid dan Sekretaris komisi Zulfison Malin Bandaro Kayo. Komisi III membidangi Syarak yang di ketuai oleh Dr Mafri Amir dan Bagindo Suarman dan sekretaris Komisi Marwan Kari Mangkuto. Komisi IV yang membidangi rekomendasi yang diketuai oleh Chaidir Nin Latief, SH dan sekretaris Nasfi Dt Mudo Nan Hitam. Selengkapnya dapat disimak prosesi jalannya Musyawarah Adat segaimana tertera di bawah ini.

1.

Musyawarah terdiri dari tujuh bagian penting
1. Upacara pembukaan (Opening Ceremony, selasa 18 Januari 2005 jam 09.00-13.00), terdiri dari sambutan-sambutan dan peresmian pembukaan musyawarah oleh Bupati Solok, dipandu oleh protokol/MC Linda (dari S3) dan Endang (dari Pemda Kab Solok) Sidang Pleno 1 (Selasa 18 Januari 2005, jam 13.00-16.15), terdiri dari penyajian 4 (empat) makalah kunci dan penyampaian tanggapan atas makalah-makalah tersebut oleh 4 orang
Manajemen Suku

2.

222

penanggap (penangap tambahan Baharuddin, SE – Komnas HAM Sumbar). Mekanismen pelaksanaan sidang pleno I adalah sebagai berrikut: Protokol mengumumkan bahwa sidang akan dimulai dengan memanggil pimpinan sidang (Muchlis Hamid) Notulen Maifil Eka Putra Khatib Batuah dan Marwan Kari Mangkuto), penyaji makalah dan perserta sidang. Pimpinan sidang membuka sidang pleno I dan mempersilakan penyaji makalah untuk menyajikan makalahnya Pimpinan Sidang meminta penanggap untuk menaggapi masing-masing makalah 3. Diskusi umum berdasarkan bahan presentasi dan tanggapan pada sidang Pleno I Selasa 18 Januari 2005, jam 16.15-22.00 dan Rabu 19 Jan 2005, jam 08.00-12.00). dipandu oleh moderator (Muchlis Hamid dan LKAAM Solok) Moderator mengumpulkan semua pertanyaan dan tanggapan dari peserta Moderator memberikan waktu kepada pembicara dan penanggap untuk menjawab dan menjelaskan Sidang Komisi Rabu, 19 Januari 2005 jam 13.30-16.00 dimulai dengan penjelasan oleh ketua panitia (Marwan Paris) tentang 4 (empat) komisi yaitu: Komisi I : Suku dan Gelar: Narasumber Marwan Paris dan LKAAM
223

4.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

-

Komisi II : Dukungan Ekonomi bagi Penjabat Lembaga Suku: Narasumber Prof. Buchari Alma, Muchlis Hamid dan LKAAM Komisi III: ABS-SBK: Narasumber Prof. DR. Asmaniar Z. Idris, DR. Mafri Amir, dan LKAAM Komisi IV: Rekomendasi: Narasumber Firdaus Oemar, Chaidir Nien Latief dan LKAAM Ruang sidang komisi-komisi disiapkan oleh Muchlis Listo. Pengelompokan kelompokkelompok dipersipakan oleh panitia (Novia Sari dan Nursal Nurdin) berdasarkan isian formulir yang telah disiapkan oleh Muchlis Hamid dan Maifil Eka Putra Khatib Batuah. Sidang komisi meliputi: 1. Penjelasan tentang komisi oleh Narasumber 2. Pemilihan pimpinan sidang dipandu oleh Narasumber 3. Rangkuman hasil pembahasan setiap komisi Sidang Pleno 2 Rabu 19/01/05, jam 16.00-17.00 dipimpin oleh ketua panitia Marwan Paris yang terdiri dari: Laporan setiap komisi oleh narasumber Tanggapan singkat dari peserta terhadap hasil-hasil sidang komisi Perumusan Hasil Musyawarah Adat (tim perumus) Penyerahan/penyiapan Hasil Musywarah Adat dari Ketua Panitia (Marwan Paris) kepada Bupati Solok, dilanjutkan dengan Upacara
Manajemen Suku

5.

224

penutupan oleh Bupati Solok (upacara dipandu oleh Linda/Endang) 6. Press Release (Rabu, 19 Januari 2005, jam 17.00-17.30): Bupati, Katua Panitia, Narasumber, Pimpinan Sidang Tempat akan ditentukan oleh Muchlis Listo Media yang akan diundang akan ditentukan oleh Muchlis Listo Ceramah ABS-SBK Rabu, 10 Januari 2005, jam 19.30 22.00), akan diurus oleh LKAAM, dan terdiri dari : Pembukaan oleh LKAAM Sambutan oleh S3 Ceramah-ceramah

7.

2.

Tata-tertib Sidang
1. 2. Peserta Sidang terdiri dari para utusan nagarinagari dilingkungan Kab. Solok. Kab Solok Selatan dan Kotamadya Solok Disamping peserta di atas, utusan nagari dari perantauan serta tokoh-tokoh adat yang berdomisili dan perantauan juga dianggap sebagai peserta sidang Sebagai tanda dan bukti kehadiran dan partisipasinya, peserta sidang diharuskan mengisi daftar hadir Peserta sidang wajib mengikuti setiap acara persidangan dari awal sampai akhir, dan jika keluar ruangan sebelum waktunya dianggap menyetujui keputusan sidang
225

3. 4.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

5.

Upacara pembukaan (Opening Ceremony) dipandu oleh seorang MC yang ditetapkan dan dikendalikan oleh panitia musyawarah 6. Sidang-sidang Pleno dan Diskusi Umum dipimpin oleh seorang moderator dibantu 2 (dua) orang Notulen yang telah ditetapkan oleh panitia musyawarah 7. Sidang-sidang komisi dipimpin oleh seorang Moderator dibantu seorang Notulen yang dipilih oleh anggota yang bersangkutan 8. Sebelum terpilihnya sidang-sidang Komisi, Panitia menunjuk sejumlah nara sumber yang akan memandu jalannya sidang, untuk menjelaskan tentang komisi bersangkutan dan memilih Moderator /Notulen. 9. Anggota Komisi ditetapkan berdasarkan daftar hadir dan formulir isian, daan akan diumumkan sebelum berjalannya sidang-sidang komisi 10. Setiap Pimpinan Sidang berkewajiban mengendalikan setiap penyampaian makalah dan diskusi agar berjalan secara efesian dan efektif. 11. Pimpinan Sidang Komisi melaporkan hasil musyawarah komisinya masing-masing ke sidang Pleno 12. Semua peserta musyawarah berhak menyampaikan tanggapan dan saran secara ringkas dan jelas berkenaan dengan materi yang dibahas pada sidang-sidang Pleno dan sidang-sidang komisi 13. Ringkasan (resume) dan Kesimpulan dari Musyawarah Adat Minangkabau ini akan dirumuskan dan disusun oleh tim perumus yang ditetapkan oleh panitia
Manajemen Suku

226

14.

15.

Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas Panitia akan menyampaikan beberapa Rekomendasi kepada Bupati Solok sebagai masukan untuk menerbitkan atau menyempurnakan Peraturaan-peraturaan Daerah Kebupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan dan Kotamadya Solok Panitia bersama Bupati dan LKAAM akan menyelengarakan Konferensi Pers untuk mensosialisasikan hasil-hasil Musyawarah Adat Minangkabau Solok Koto Baru, Solok, 17 Januari 2004 Ketua Panitia Musyawarah Adat Minangkabau Solok

Irjen Pol (Purn) Drs Marwan Paris Dt Tan Langik Dengan Mekanisme musyawarah yang jelas, dan sidang yang terstuktur dengan baik, maka sidang dapat berjalan dengan baik dan lancar, walapun terdapat beberapa kendala-kendala teknis, namun hal tersebut dapat diatasi atas kerjasama yang kompak dari semua elemen panitia. Sejarah akan mencatat bahwa musyawarah Adat Minangkabau Solok, telah melahirkan sebuah Deklarasi dengan Titel “Deklarasi Koto Baru” yang merupakan Deklarasi Masyarakat Minangkabau di Abad Ke 21, khususnya bagi masyarakat Solok dan Masyarakat Adat dan Budaya Minangkabau umumnya. Semoga hasil kerja keras panitia dan segenap masyarakat Solok yang didukung oleh Badan pemerinatahan dan lembaga terkait, dapat disejajarkan dengan Sumpah Sati di Abad ke 19.
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
227

DEKLARASI KOTO BARU SOLOK 2005 Kami Wali Nagari, Ketua Badan Perwakilan Nagari atau Anak Nagari ( BMN atau BPAN), Ketua KerapatanAdat Nagari (KAN), Pemangku Adat, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang dan generasi muda se Kabupaten Solok,Kota Solok dan Perwakilan Kabupaten Solok Selatan, setelah berkumpul dan bermusyawarah (baiyo batido) di Gedung Solok Nan Indah Koto Baru Solok atas kerja sama pengurus Solok Saiyo Sakato (3) Jakarta dan sekitarnya dengan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kabupaten Solok dan Pemerintah Daerah Kabupaten Solok dari tanggal 18 sampai dengan 19 Januari 2005; musyawarah mana kami fokuskan kepada pembahasan praktik pengelolaan suku (Manajemen Suku) yang berlaku dewasa ini : Pertama, bahwa menyadari derasnya arus globalisasi yang melanda dunia, maka telah membawa dampak positif dan negatif ke dalam kehidupan adat dan budaya Minangkabau. Diantara dampak negatif tersebut telah terjadi pergeseran nilai-nilai berupa lunturnya kekerabatan, renggangnya hubungan sosial dan berkurangnya pemahaman dan pengamatan adat dan agama. Oleh karena itu dikhawatirkan pada suatu masa nanti, nilai-nilai adat Minangkabau hanya tinggal slogan dan petatah petitih dan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya dalam kehidupan masyarakat. Kedua, pengelolaan suku telah mengalami pergeseran yang tidak lagi berada pada nilai-nilai dan norma adat dan agama disebabkan melemahnya iman dantakwa kepada Allah SWT, merosotnya pengetahuan, pemahaman dan komitmen atas dasar serta melemahnya kemampuan ekonomi pemangku adat. Keadaan seperti ini
228

Manajemen Suku

mengakibatkan banyaknya terjadi masalah yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan musyawarah – mufakat berdasarkan bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakat, bajanjang naiek, batanggo turun. Hal ini sekaligus menggambarkan goyahnya jembatan menuju mufakat yang dapat menimbulkan ketidakpastian di masa datang. Ketiga, telah terjadi upaya-upaya pengdangkalan aqidah dan pemurtadan oleh pihak tertentu yang telah mengganggu dan menggoyahkan sendi-sendi kehidupan beragama orang Minang. Kaena itu perlu diatur cara-cara untuk mengatasinya. Keempat, dengan diundangkannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, kemudian di Sumatera Barat dijabarkan dengan Peraturan Daerah Nomor 9 tahun 2000 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Nagari serta Peraturan Daerah Kabupaten Solok Nomor 4 Tahun 2001 setelah di rubah dengan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Nagari, maka Ninik Mamak, Cadiek Pandai, Alim Ulama, Bundo Kanduang dan generasi muda memegang peranan penting dalam mewujudkan kembalinya otonomi nagari di Minangkabau yang berfalsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ( Al Qur’an). Maka berkat rahmat Allah SWT dan berpedoman pada prinsip “ bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakat”, kami bersepakat memutuskan apa yang kami namakan Deklarasi Koto Baru Solok 2005 yang isinya memuat hal-hal sebagai berikut :

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

229

BAB I FALSAFAH ADAT Pasal 1 Istilah “ Kitabullah” dalam falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah dipertegas dengan Al Qur’an, sehingga berbunyi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Al Qur’an). BAB II MESJID DAN SURAU Pasal 2 Tiap Nagari memakmurkan kembali Mesjid dan Surau. Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiek Pandai, Bundo Kanduang dn kaum muda serta Wali Nagari, KAN dan BMN berupaya bersama-sama mengembalikan dan meningkatkan fungsi Mesjid dan Surau sebagai tempat beribadah dan menuntut ilmu serta pengembangan kesenian dan ekonomi anak nagari. BAB III MURTAD DAN NIKAH Pasal 3 Pemangku adat dalam kaum dan atau suku melarang anak kemenakan untuk murtad (keluar dari Islam). Dilarang anak kemenakan perempuan menikah dengan laki-laki non muslim. Anak kemenakan yang melakukan kawin lari, kawin liar dan hamil sebelum nikah, maka wajib diberi sanksi oleh kaum dan atau suku sesuai dengan adat salingka Nagari. Siapa –siapa yang melanggar ayat 1, 2 dan 3 pasal ini, diberikan sanksi oleh pemangku adat dalam
Manajemen Suku

1. 2. 3.

4.

230

kaum atau suku sesuai dengan adat salingka Nagari. BAB VI PEMIMPIN SUKU / KAUM Pasal 4 Untuk menjadi pemangku adat (nan ka manjujuang saluak dan ka mamagang karih) dalam kaum dan atau suku disyaratkan mempunyai kemampuan memimpin, wawasan adat dan syarak serta mengutamakan kader yang ada di kampung. Bagi pemangku adat yang tinggal di rantau, harus memfungsikan panungkek atau pembantunya dengan pelimpahan kuasa yang jelas dan tertulis sesuai alua jo patuik serta diberitahukan kepada pengurus Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan Wali Nagari. BAB V KERAPATAN SUKU Pasal 5 Keputusan tertinggi dalam suku berada dalam Kerapatan Suku. Anggota kerapatan suku adalah urang IV Jinih (Penghulu, Manti, Malin, Dubalang) dan urang tuo dalam suku serta urang bajinih seperti mamak kapalo kaum, mamak kepala warih dan Urang Ampek Jinih (Khatib, Bilal, Imam, dan Qadhi), Bundo Kanduang, serta generasi muda sesuai dengan adat salingka Nagari. Pelaksanaan kerapatan suku disesuaikan dengan masalah sesuai prinsip adt: babiliek ketek jo babiliek gadang, bamunggu –munggu kaciak, dn bapandang-pandang bilah.
231

1.

2.

1. 2.

3.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

BAB VI BUNDO KANDUANG Pasal 6 Dalam setiap pengambilan keputusan adat, wajib melibatkan kaum perempuan dan atau Bundo Kanduang. BAB VII DATA KAUM DAN SUKU Pasal 7 Kaum atau suku diwajibkan membuat Buku Gadang yang berisi paling sedikit tentang: jumlah kaum, sejarah kaum dan atau suku, pemangku adat, data anggota kaum dan atau suku baik yang berada di kampung dan rantau, serta data sako dan pusako. Data setiap kaum atau suku harus ada pula dalam arsip Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan di Kantor Wali Nagari. BAB VIII RANJI KAUM Pasal 8 Setiap kaum dan suku diharuskan membuat ranji menurut garis keturunan ibu (matrilineal). Ranji kaum disyahkan oleh pemangku adat dalam kaum dan atau suku, kemudian salinannya dikirim ke pengurus Kerapatan Adat Nagari (KAN) sebagai pangapik pagaran tagak serta Wali Nagari sebagai pemegang administrasi pemerintah.

1.

2.

1. 2.

232

Manajemen Suku

1.

2. 3. 4.

BAB IX PEWARIS GALA Pasal 9 Pewaris gelar (sako) pemangku adat dalam kaum dan atau suku ditetapkan dalam musyawarah kaum dan atau suku sesuai prinsip adat maangkek panghulu sakato kaum, maangkek rajo sakato alam dan badiri mungkin jo patuik. Pemberian gelar dalam kaum dilewakan dalam suku dan nagari sesuai dengan adat salingka Nagari. Pemberian gelar kepada orang lain yang dibolehkan hanya gelar sangsako. Dalam pewarisan sako dan pusako tidak ada istilah punah. BAB X SOAL PUSAKO Pasal 10 Harta pusako tinggi tidak boleh diperjual belikan atau digadaikan kecuali didasarkan kepada mufakat kaum, terutama untuk keperluan: gadih gadang indak balaki, rumah gadang katirisan, mayik tabujua di tangah rumah, adaik tidak badiri. Harta pusaka tinggi dalam kaum perlu dipertahankan untuk mendukung ekonomi kaum. Kaum yang tidak mempunyai Pusako tinggi lagi, maka perlu diusahakan kembali dengan cara menebus atas biaya kaum. Sawah kagadangan/sawah abuan/singguluang harus difungsikan kembali sesuai dengan aturan adat.

1.

2. 3. 4.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

233

1.

2.

BAB XI PENYELESAIAN PERKARA Pasal 11 Perkara sako dan pusako harus diselesaikan terlebih dahulu dalam kerapatan kaum. Jika tidak selesai dalam kerapatan kaum, di bawa ke dalam kerapatan suku. Jika tidak selesai dalam kerapatan suku, baru dibawa dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN) sesuai prinsip adat bajanjang naiek, batanggo turun. Apabila para pihak masih tidak dapat menerima keputusan kerapatan kaum dan atau suku atau Kerapatan Adat Nagari (KAN) maka para pihak dapat meneruskan perkaranya ke Pengadilan Negeri. BAB XII KENDURI Pasal 12 Pelaksanaan kenduri adat atau agama wajib berpedoman kepada ketentuan syarak antara lain dengan memperhitungkan waktu pelaksanaan ibadah. Hidangan si pangka dan pambaoan si jamu, wajib mempertimbangkan kemampuan ekonomi anak kemenakan. BAB XIII PELAMINAN DAN PAKAIAN PENGANTIN Pasal 13 Pelaminan baik berupa bentuk, warna dan aksesoris harus sesuai dengan sifat dan hakekat serta ketentuan adat Minangkabau. Pakaian pengantin wajib mempedomani aspek-aspek adat dan syarak.
Manajemen Suku

1.

2.

1. 2.
234

1.

2. 3.

BAB XIV ATURAN BAGI PENDATANG Pasal 14 Bagi pendatang yang ingin menetap di suatu nagari, harus menempuh aturan adat inggok mancakam tabang basitumpu dan harus mendaftar menjadi anggota kaum/suku. Jika di suatu nagari tidak ada suku yang sesuai dengan suku asalnya, maka dia harus masuk ke dalam suku yang serumpun. Penetapan suku ini sahkan dalam kerapatan suku dengan mengkaji sejarah suku asalnya dan memberitahukan kepada Kerapatan Adat Nagari (KAN).

(Catatan: Penjelasan terhadap pasal-pasal ini terdapat pada lampiran setelah rekomendasi). PENJELASAN TENTANG PASAL-PASAL DALAM DEKLARASI Pasal 1: Bermakna bahwa dasar pertama dan utama syarak (Islam) hanya kitab suci Al Qur’an. Dasar ini perlu ditegaskan, karena dalam Sumpah Sati Marapalam, istilah kitabullah itu tidak ada arti lain kecuali Al Qur’an. Pengertian ini sangat penting karena ada pihak-pihak tertentu yang menerjemahkan istilah “Kitabullah” dengan selain Al Qur’an. Pasal 2: Dimaksud untuk memfungsikan kembali mesjid dan surau agar betul-betul ditingkatkan pemamfaatanna yang bukan saja untuk kegiatan mengaji atau mempelajari Al Qur’an tetapi lebih dari itu didayagunakan juga sebagai tempat menuntut ilmu dn pengembangan kesenian dan ekonomi anak nagari.
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
235

Pasal 3: Murtad (keluar dari Islam) dan menikah dengan laki-laki non muslim adalah dua perbuatan yang dilarang agama Islam secara tegas. Sedangkan kawin lari adalah melakukan kawin ke tempat lain tanpa persetujuan kedua orang tua kedua belah pihak. Pengertian kawin liar adalah melakukan pernikahan di bawah tangan atau tidak menurut peraturan yang berlaku. Pasal 4: Mengandung maksud untuk meningkatkan kualitas dan kredibilitas pemangku adat, yang akhir-akhir ini sebagiannya tidak mempertimbangkan wawasan dan pengetahuan adat, agama serta skill learship (kemampuan memimpin). Bagi pemangku adat yang menunjuk panungkek jangan asal menunjuk seseorang tanpa menggariskan kewenangan yang harus dilakukan. Pasal 5: Cukup jelas. Pasal 6: Penegasan tentang peningkatan peran serta kaum perempuan atau Bundo Kanduang yang selama ini sering terabaikan dalam proses dan mekanisme pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan adat dalam kaum dan atau suku. Pasal 7: Maksudnya untuk mengetahui dengan jelas hubungan keluarga dan jumlah anggota keluarga dalam kaum dan atau suku serta untuk menghindari terjadinya hubungan yang melanggar ketentuan adat. Disamping itu memudahkan pengelolaan oleh Ninik Mamak Kepala Kaum terhadap anggota-anggota berdasarkan prinsipprinsip rentang kendali (span of control) manajemen kaum dan atau suku. Selanjutnya memperjelas kedudukan sako dan pusako dalam kaum dan atau suku agar terhindar dari tuntutan-tuntutan sepihak dri orang tidak berhak sepanjang adat. Pasal 8: Cukup Jelas
236

Manajemen Suku

Pasal 9: Mengandung pengertian bahwa mengangkat seseorang menjadi pemangku adat harus sepakat kaum dan suku. Pemberian gelar tersebut harus diberitahukan kepada orang banyak. Orang selain Minang hanya dibenarkan menyandang gelar adat sangsoko, yang hanya boleh di pakai seumur orang bersangkutan atau tidak boleh dipakai secara turun temurun. Dalam soal waris tidak dipakai istilah punah agar jangan terjadi perebutan sako dan pusako oleh orang lain. Pasal 10: Berarti tidak boleh menjual atau menggadai tanpa alasan yang empat tersebut. Pusako tinggi yang cenderung habis perlu dipertahankan dan diupayakan untuk dihidupkan kembali dengan menebus secara bersama sesama anggota kaum. Sawah kagadangan/sawah Abuan/Singguluang perlu dibudayakan untuk menunjang ekonomi pemangku adat dalam melaksanakan kegiatan adat dalam nagari. Pasal 11: Penyelesaian perkara pusako akhir-akhir ini cenderung langsung ke Pengadilan Negeri. Hal ini sebagai indikasi lemahnya peran dan kualitas pemangku adat dalam kaum, suku dan KAN atau ada kesengajaan untuk meninggalkan peran pemangku adat oleh anggota kaumnya. Ada tanda-tanda goyahnya jembatan menuju mufakat. Maka pasal ini sekaligus akan dapat meningkatkan kualitas dan peran pemangku adat dalam kaum, suku dan KAN dalam menyelesaikan perkara pusako. Pasal 12: Pelaksanaan kenduri adat atau agama sering tidak memperhatikan waktu ibadah an menyamaratakan kebiasaan bawaan tamu (sumandan-sumandan) dan hidangan tuan-tuan rumah. Hal ini berakibat buruk terhadap anggota kaum yang mempunyai ekonomi lemah.
Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif
237

Pasal 13 ayat 1: Sebagai penegasan agar corak, warna dan penempatan aksesoris pelaminan agar benar-benar mempedomani ketentuan adat asli karena pada kenyataannya akhir-akhir ini terutama di daerah perkotaan atau rantau sering dimodifikasi dengan meninggalkan corak asli adat Minangkabau. Pasal 14: Dimaksudkan untuk memelihara keutuhan kaum dan suku di Minangkabau sehingga tak ada penduduk suatu Nagari yang tidak mempunyai suku. REKOMENDASI Berdasarkan pasal-pasal di atas, maka untuk mengoperasikannya kami peserta musyawarah adat merekomendasikan hal-hal sebagai berikut : 1. Diharapkan kepada Ninik Mamak pemangku adat dalam kaum agar melarang anggota kaumnya mengembangkan gagasan-gagasan dan gerakan yang tidak sesuai dengan adat dan agama seperti: berjudi, minuman keras, pornografi, pornoaksi dan lain-lain. Diminta kepada Ninik Mamak pemangku adat, Alim Ulama, Cadiek Pandai, Bundo Kanduang dan kaum muda supaya meningkatkan pengetahuan agama dan adat anak kemenakan dengan memakmurkan mesjid dan surau, menginventarisasi jumlah seluruh serta fungsi dan kegiatannya. Diminta kepada Wali Nagari, Kerapatan Adat Nagari dan Ninik Mamak agar menghidupkan kembali pencak silat dan kesenian anak nagari lainnya untuk memperkuat kembali budaya Minangkabau.

2.

3.

238

Manajemen Suku

4.

Diminta kepada Wali Nagari, Kerapatan Adat Nagari dan Ninik Mamak menginventarisasi tanah ulayat nagari dan tanah ulayat kaum. Diminta kepada semua pihak (Wali Nagari, KAN, BMN, Ampek Jinih, Kepala Jorong, Penghulu, Andiko) untuk melaksanakan pencatatan anak kemenakan dengan menyelenggarakan Buku Gadang Kaum dan Suku. Diminta kepada seluruh pihak seperti LKAAM, S3, Pemerintah Daerah dan lain-lain untuk memberikan perhatian kepada pelaksanaan dakwah Islam, mengkader juru dakwah jadi berkualitas, pertukaran juru dakwah antara kampung dan rantau atau sebaliknya. Diminta kepada seluruh pihak seperti LKAAM, BMN, Pemerintah Daerah, S3 dan perhimpunan perantau lainnya untuk memberikan perhatian kepada upaya meningkatkan kemampuan ekonomi Khatib, Imam, Bilal, Qadhi dan juru dakwah sehingga masingmasing dapat menjalankan tugas dengan baik dan sungguh-sungguh. Diminta kepada seluruh pihak seperti LKAAM, S3, Pemerintah Daerah dan lain-lain untuk melakukan penataran dan pengajaran adat di kampung dan di rantau. Diharapkan kepada kaum perempuan dan Bundo Kanduang untuk selalu meningkatkan peran dan fungsinya sebagai limpapeh rumah nan gadang, ambun puruak pagangan kunci di tengah masyarakat dalam bidang adat dan agama serta kegiatan kemasyarakatan lainnya.
239

5.

6.

7.

8.

9.

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

10. Diharapkan kepada Pemangku Adat dalam suku agar membuat aturan-aturan dalam suku dan atau nagari secara tertulis untuk dipedomani oleh anak kemenakan di kampung dan di rantau. 11. Diminta kepada Pemerintah Daerah agar meningkatkan perhatian dan bantuan untuk keperluan pembinaan adat dan agama. 12. Diminta kepada tokoh adat dan agama serta Bundo Kanduang untuk menjaga martabat dan muruah menurut adat dan agama. 13. Untuk meningkatkan tarif ekonomi kaum atau suku, maka perlu di usahakan bentuk-bentuk usaha ekonomi seperti mendirikan Baitul Ma Wal Tamwil (BMT), Badan Usaha Milik Nagari (BUMNi) atau lumbung pitih kaum/suku/Nagari. Dalam hal ini, Pemerintah dan para pakar diharapkan dapat membantu untuk membuatkan pedoman )TOR) sehingga unit usaha dalam kaum/suku/Nagari dapat berjalan dengan baik. Usaha-usaha dagang termasuk jasa perlu di galakkan, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada pada usaha dagang ( Al Hadist). Diharapkan kepada anggota kaum, suku, Jorong atau nagari yang akan meminta sumbangan di kampung dan atau di rantau, haruslah berdasarkan musyawarah mufakat dalam kaum, suku, jorong atau nagari. Dihimbau kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah di seluruh Sumatera Barat serta S3 dan Perhimpunan Perantau Minang di mana pun berada untuk meningkatkan pemahaman terhadap adat dan budaya Minangkabau.
Manajemen Suku

14.

15.

240

Koto Baru, Solok, 19 Januari 2005. MUSYAWARAH ADAT MINANGKABAU KOTO BARU, SOLOK Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kabupaten Solok Ketua, H. Gusmal, SE.,M.M. Dt. Rajo Lelo Sekretaris, Naspi, SH., MM. Dt. Mudo Nan Hitam

Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta dsk Ketua Umum, Sekretaris Umum,

Irjen Pol. Drs. Marwan Paris Dt.Tan Langik Muchlis Hamid, SE., MBA Rajo Dewan

Bupati Solok H. Gamawan Fauzi, SH., MM., Dt. Rajo Nan Sati

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

241

Appendix 1. SUSUNAN PANITIA MUSYAWARAH ADAT DI KOTO BARU, SOLOK, 18 -19 Januari 2005 Penasehat : Bupati Solok, Gamawan Fauzi Dt. Rajo Sati Wakil Bupati Solok, Dr Syahlan Ben Dt Rajo Nan Sati Ketua LKAAM Kab. Solok, Gusmal Dt. Rajo Lelo Pembina Solok Saiyo Sakato (S3), Firdaus Oemar Dt. Marajo Dr. Oesman Sapta Dt. Bandaro Sutan Nan Kayo Prof. Dr. Asmaniar Z. Idris Tien Nugroho

Panitia Pusat Ketua Umum

: Irjen Pol (Purn) Marwan Paris Dt. Maruhun Saripado Ketua : Muchlis Listo Ketua Rizal Mandah Ali Sekretaris : Muchlis Hamid Bendahara : Upi Tuti Sundari Bid. Transportasi : Rizal MA Zairul Malin Bandaro Bidang Acara : DR Ir Chairul Nas, MSc Bidang Seminar : Drs Mustafa Kadir Marwan Kari Mangkuto Maifil E. Putra Khatib Batuah Zulfison Malin Bandaro Kayo
242

Manajemen Suku

Panitia Setempat Pelindung : 1. 2.

Bupati Solok Wakil Bupati Solok

Penanggung Jawab: 1. Pengurus Solok Saiyo Sakato (S3) Jakarta dsk 2. Ketua LKAAM Kab. Solok 3. Ketua Bundo Kanduang Kab. Solok Panitia Pelaksana: Ketua : Wakil Katua I : Wakil Katua II : Wakil Katua III : Sekaretaris Wakil Sekretaris I Wakil Sekretaris II Bendahara Wakil Bendahara : : : : :

H. B. Dt. Kayo Bagindo Kayo Drs. Tamyus Dt. Garang Naspi, SH Dt. Mudo Nan Itam Edi Salim Dt. Basa E. S. Marah Baganti Dayusman H. Basa Nafri Drs. Suherman Ch Sutan Sudirman

Seksi-seksi: A. Seksi Acara dan Kesenian : Ketua : S. Chan Dt. Bandaro Itam Anggota : M. Natsir G. Kusuma Wardam Arizal Fatneza S. Pd Endang Wijaya Nioki Desmi Camat Kubung Nazaruddin Dt. Rajo Panjang B. Seksi Silaturrahmi & Seminar
243

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

Ketua Anggota

: H. Bagindo Suarman SH, MM : H. A.A. T. Gagah Bustanul Arifin Dt Bandaro Kayo Z.A. Dt. Tumanggung Nasmar Dt. Malintang Sati R. Dt. Bandaro Hitam N. Dt. Bandaro Nan Kuniang A. Dt. Rajo Intan Arizon Dt. Bandaro Syamsuir Ml. Sutan

C.

Seksi Perlengkapan & Transportasi Ketua : H. Nasrul D Anggota : Sofyan Hamid Z. St. Bagindo Sati Seksi Konsumsi & Dekorasi Ketua : Nurlis BA Anggota : Peng. Bundokanduang Kab. Solok Irdawati Taufia Isnur RosMalini Delis Yarni Eka Kristina S. Pd Dra. Yuliza Sutirta Sy Nurhasti Yeni S. Pd Seksi Humas & Tamu Ketua : Devi Kurnia SH. M.M Anggota : Syofyan Kudan Mukhlis SH Drs. Jhoni Afrizal Dt. Hitam
Manajemen Suku

D.

E.

244

Rusmel Dt. Sati Masnur Adam Nelly Warni H.Y. Dt. Mudo Nan Kusuik Safnil Kasti Dt. Gadang F. Seksi Keamanan Ketua : Edisar (Ka. Salpol PP) Anggota : Kapolsek Kubung Masri Kosasi Dt. Rajo Malano Sarmaini Dt. Sampono Alam Masrli Malingka Bulan Ajis Dt. Rajo Panghulu

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

245

Appendix 2: BIDANG-BIDANG KOMISI I. Komisi Suku dan Gelar: Ketua: Syahrial Chan Dt Bandaro Hitam Pendamping: 1. Chaidir Nin Latief, SH., M.Si Dt Bandaro 2. Irjen Pol (Purn) Marwan Paris Dt Tan Langik 3. Nazaruddin Samin Dt. Rajo Intan Notulen: 1. Maifil Eka Putra, S.Ag Katib Batuah 2. Drs Hamdullah Salim

II. Komisi Ekonomi: Ketua: Naspi: SH DT Mudo Nan Hitam Pendamping: 1. R. Dt bandaro Hitam 2. Prof Dr Buchari Alma Dt Rajolelo 3. Muchlis Hamid, SE., MBA Notulen: 1. Drs Mustafa Kadir 2. Zulfison Malin S.Ag Bandaro Kayo, III. Komisi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ketua: H. Bagindo Suarman, SH,. MM Pendamping: 1. Dr Mafri Amir, MA 2. Upi Tuti Sundari Usman Notulen: 1. Nofri 2. Marwan Kari Mangkuto, S.Ag IV. Rekomendasi: Ketua: Chaidir Nin Latieh, SH., Msi Dt Bandaro Pendamping: 1. H. Firdaus Oemar DT Marajo
246

Manajemen Suku

2. Irjen Pol (Purn) Marwan Paris Dt Tan Langik 3. 2 orang floor (dari Solok)/ Anggota: 1. H. Gusmal, SE., MM Dt Rajo Lelo. 2. H. Bagindo Suarman, SH 3. Muchlis Hamid 4. Dr Mafri Amir, MA 5. H. B. DT Kayo 6. B.S. Marah Baganti 7. Arizon L Dt Bandaro 8. Prof. Dr Buchari Alma Dt Rajolelo 9. Syahrial Chan Dt Bandaro Hitam 10. Nazaruddin Samin Dt Rajo Intan 11. Naspi Dt Mudo Nan Hitam, SH 12. R. Dt Bandaro Hitam 13. Drs H. Fachroeddin Jahja

Bab 7: Revitalisasi Adat Minangkabau dalam Perspektif

247

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->