HAKEKAT MEMBACA Pendahuluan Membaca menduduki posisi serta peran yang sangat penting dalam konteks kehidupan umat

manusia, terlebih pada era informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Membaca juaga merupakan sebuah jembatan bagi siapa saja dan dimana saja yang berkeinginan merih kemajuan dan kesuksesan, baik di lingkungan dunia persekolahan maupun di dunia pekerjaan. Oleh karena itu para pakar sepakat bahwa kemahiran membaca membaca (reading literacy) merupakan conditio sine quanon (prsayarat mutlak) bagi setiap insan yang ingin beroleh kemajuan. Meskipun demikian untuk memperoleh kemahiran membaca yang layak bukanlah perkara yang gampang. Mengapa demikian? Salah satu jawabannya karena faktorfaktor yang melingkupinya sangat kompleks. Atau dengan perkataan lain banyak hal yang mempengaruhi terwujudnya salah satu aspek keterampilan berbahasa tersebut. Apa sesungguhnya peranan membaca dalam kehidupan itu? Apa pengertian dan hakikat membaca itu? Unsur-unsur apa saja yang terlibat dalam setiap kegiatan atau proses membaca itu? Kemudian faktor-faktor apa yang mempengaruhi kemampuan membaca seseorang? Serta bagaimana supaya meningkatkan minat baca kepada para siswa kita. Lewat modul 1 ini kita akan mencoba membongkar seputar persoalan tersebut. Dengan demikian setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas seputar hal-ihwal membaca sebagaimana dikemukakan diatas. Secara lebih rinci yakni Anda diharapkan dapat: 1. menjelaskan peranan, pengertian dan proses membaca, 2. menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, 3. menjelaskan upaya meningkatkan minat baca. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam mepelajari modul ini Anda disarankan untuk memulai membaca setiap konsep, definisi, uraian dan contoh yang terdapat pada bagian awal setiap kegiatan belajar. Jika anda menemukan kata atau istilah-istilah yang sulit silahkan Anda buka bagian glosarium. Jika Anda telah memahami bagian tersebut, kerjakan bagian latihan dengan penuh kesungguhan. Usahakan anda jangan dulu melihat rambu-rambu jawaban sebelum Anda kerjakan selurun bagian latihan tersebut. Jika Anda belum berhasil menjawab dengan benar semua soal latihan perhatikan baik-baik sekali lagi petunjuk jawaban

latihan. Jika Anda menganggap perlu, silahkan baca kembali konsep, uraian dan contoh sehubungan jawaban latihan ini. Akan tetapi jika Anda telah berhasil menjawab sebagian besar soal latihan tersebut silahkan Anda lanjutkan mengerjakan tes formatif. Dalam mengerjakan tes formatif sebaiknya Anda jawab dahulu semua soal yang ada, baru kemudian Anda mencocokannya dengan kunci jawabannya. Sebelum Anda beralih pada kegiatan belajar selanjutnya Anda harus merasa yakin bahwa Anda telah berhasil memahami seluruh isi kegiatan belajar yang sudah Anda pelajari tersebut serta seluruh latihanlatihannya. Yang perlu Anda catat, bahwa model soal-soal tes formatif yang terdapat dalam setiap kegiatan belajar akan sama dengan model soal-soal yang terdapat pada ujian akhir semester (UAS) mata kuliah ini. Dengan demikian bila Anda sudah terbiasa mengerjakan tes formatif yang terdapat dalam setiap kegiatan belajar dengan sebaik-baiknya maka Anda akan mempunyai modal yang cukup besar saat menghadapi UAS nanti. PERANAN, PENGERTIAN DAN PROSES MEMBACA Peranan Membaca Bahwa membaca memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia tampaknya sudah kita pahami bersama. Meskipun demikian untuk memberikan wawasan serta perspektif yang lebih luas kepada Anda mari kita simak cerita berikut ini. Dalam sebuah kesempatan Prof. Leo fay (1980) mantan presiden IRA (International Reading Asociation) pernah meyakinkan para koleganya dengan sebuah kalimat yang berbunyi, To read is to possess a power for transcending whatever physical human can muster. Kemudian Hartoonian salah seorang politikus AS diwawancarai oleh seorang wartawan ihwal apa yang harus dilakukan bangsa Amerika untuk mempertahankan supremasinya sebagai negara adidaya yang disegani oleh bangsa-bangsa lain di kolong langit ini. Hartoonian menjawab, If me want to be a super power we must have individuals with much higher levels of literacy (jika kita menginginkan menjadi bangsa adidaya kita harus memiliki lebih banyak lagi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal litearsi (baca-tulis). Berlebihankah ucapan Leo Fay dan Hartoonian tersebut? Sebagian orang boleh jadi akan menganggapnya demikian. Mungkin mereka akan bertanya apa hubungan membaca dengan kedigjayaan suatu bangsa atau kualitas seorang manusia? Namun hika kita kaji masalah tersebut secara

mendalam sesungguhnya ucapan keduanya sangatlah realistis. Mengapa? Sebab bagi masyarakat yang hidup dalam babakan pasca industri, atau yang lazim disebut era sumber daya manusia, atau erasibernatika seperti sekarang ini, kemahiran membaca dan menulis atau yang lazim disebut literacy memang telah dirasakan sebagai conditio sine quanon alias prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebagai sebuah bukti, konon para ahli ekonomi telah membuat prakiraan bahwa kehidupan perekonomian mendatang akan menemukan sumber kekuatannya pada kegiatankegiatan yang bertalian dengan suatu sumber daya yang hanya ada pada manusia, yakni daya nalarnya. Sebab daya nalar tersebut merupakan sumber utama yang dimiliki oleh manusia untuk berkreasi dan beradaptasi agar mereka mampu memacu kehidupan dalam jaman teknologi yang semakin canggih dan berkembang ini. Nalar manusia hanya akan berkembang secara maksimal jika ia diasah melalui pendidikan. Dan jantung dari pendidikan adalah kegiatan berliterasi atau kegiatan baca tulis. Dengan demikian dalam konteks perekonomian era pasca industri mendatang, di mana sumber daya manusia (human resources) merupakan tiang penyangga utamanya, kemahiran baca tulis yanglayak merupakan prasyarat mutlak bagi siapa saja dan bangsa mana saja yang memimpin kemajuan dan kejayaan. Tanpa adanya kemahiran tersebut, betapa kaya rayanya sumber daya alam (nature resources) yang dimiliki oleh suatu bangsa misalnya hal itu akan sulit mengangkat derajat bangsa tersebut ke pentas percaturan dunia serta dapat diperhitungkan oleh bagnsa-bangsa lain. Kalau kita rajin membolak-balik buku-buku sejarah mengenai pasang surut perjalanan peradaban bangsa-bangsa di dunia ini sesungguhnya penjelasan Leo Fay serta Hartoonian diatas bukan hal yang luar biasa. Hampir semua fakta sejarah membuktikan bahwasannya tidak ada bangsa manapun di dunia ini yang berhasil mencapai puncak-puncak kebudayaannya yang tidak ditopang oleh budaya literasi masyarakatnya. Contoh yang paling actual mengenai fenomena tersebut yakni bangsa Jepang. Sebelum bangsa Jepang melakukan gerakan Restorasi Meiji, di mana mereka melakukan terjemahan besar-besaran terhadap buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi dan mengupayakan budaya baca-tulis kepada masyarakatnya pada sekitar paruh abad ke-18, bangsa Jepang hampir tidak pernah memperhitungkan keberadaannya oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini. Tetapi setelah mereka melakukan gerakan tersebut dan masyarakat telah memiliki tingkat literasi yang merata hanya dalam tempo kurang dari satu abad bangsa Jepang akhirnya muncul sebagai salah satu kekuatan baru yang sangat diperhitungkan

Atau sebagian orang menyebutnya Jepang merupakan negara Asia Timur yang menjadi catur (pembicaraan-red) dunia. Ihwal peran literasi sebagai penopang utama kemajuan umat manusia tersebut juga disitir oleh para pakar antropologi budaya. Ahmadsslamet Harjasujana (1988) juga menyinggung ihwal peran kemahiran membaca ini sebagai prasyarat bagi bangsa Indonesia untuk dapat mewujudkan cita-cita kemerdekaannya. Oleh karena itu untu mengukur sejauh mana ketinggian peradaban suatu bangsa kita dapat kita dapat melihatnya dari sejauh mana bangsa tersebut pernah mengalami persentuhan dengan aktivitas litersi atau kegiatan baca-tulisnya. Semakin tinggi aktivitas literasi suatu bangsa maka secara hipotesis akan semakin tinggi pula tingkat peradaban bangsa tersebut. salah seorang pakar pendidikan. sedang atau primitif kita dapat melihatnya dari aktivitas literasi (baca-tulis) yang dilakukan oleh bangsa tersebut. Soedarso. Dengan perkataan lain kedudukan kemahiran berliterasi pada abad informasi seperti sekarang ini sesungguhnya serta kesejahteraan penghidupannya. semakin rendah aktivitas literasinya maka akan semakin rendah pula tingkat peradaban mereka. maka rakyat Nusantara dituntut untuk menjadi masyarkat yang literal. yakni masyarakat yang menjadikan . gemah ripah repah rapih. Padahal waktu yang tersedia akan semakin terbatas. Begitu pula sebaliknya. baldatun toyyibatun wa robbun ghafur. mengaitkan peranan litersi dengan pengembangan karier seseorang. Menurutnya hanya melalui kegiatan berlitersi yang layaklah orang akan dapat mengembangkan diri dalam bidangnya masing-masing secara maksimal serta akan selalu dapat mengikuti perkembangan baru yang terjadi. Atau tegasnya untuk melihat apakah bangsa itu telah memiliki peradaban yang tinggi. bahkan akan tergilas oleh arus informasi tersebut. Oleh karena jika pada jaman ini orang tidak memiliki kemahiran membaca yang layak maka dirinya akan mudah terombang-ambingkan. Roijakers (1980). Secara lengkap beliau berujar.keberadaannya sekaligus disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini. Jika kita memimpikan Nusantara ini sebagai negara kerta raharja. Dalam tulisannya Membaca Cepat Menjawab Tantangan Abad Informasi (1987). menyatakan bahwasanya dengan gencarnya arus informasi seperti sekarang ini tuntutan untuk membaca akan semakin besar pula. Mereka mengatakan bahwa budaya literasi merupakan sesuatu yang memegang peranan penting dalam merentas kemajuan penghidupan dan ketinggian kebudayaan umat manusia.

Mengomentari betapa pentingnya kaitan antara literasi dengan dunia persekolahan tersebut. Baker bahwa 85% kegiatan belajar di perguruan tinggin meliputi membaca. Menurut William D. Mengapa? Karena keterampilan membaca merupakan katalisator atau penghantar yang sangat ampuh untuk mendayagunakan sumberdaya manusia Indoensia yang jumlahnya demikian dahsyat. yang kini belum dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. . Dan jika dunia sekolah tidak mampu merealisasikan misi tersebut. Ihwal peran mebaca dalam konteks dunia pendidikan ini marilah kita simak salah satu bagian lain dari pidato pengukuhan guru besar Prof. Mengapa demikian? Sebab selain semua proses belajar sesungguhnya didasarkan atas kegiatan membaca dan menulis juga hanya dengan melalui kegiatan literasi membaca dan menuliskan kita dapat menjelajahi luasnya dunia ilmu yang terhampar luas dari berbagai penjuru dunia dan dari berbagai babakan jaman. ujar Moris. kemudian membuat sintesis dan evaluasi tentang informasi yang tercetak sebelum dirinya mengambil keputusan menurut kemampuan nalar dan intuisinya. yang akan sanggup menyerap dan menganalisis. Dengan perkataan lain. maka proses bersekolah pada dasarnya boleh dianggap sebagai hal yang mubazir atau sia-sia. salah seorang sastrawan kondal asal Perancis mengatakan bahwa pada hakekatnya salah satu tugas atau misi penting kehadiran dunia persekolahan dari mulai SD hingga PT/universitas yakni mengantarkan para peserta didiknya agar kelak mereka mampu “membuka pintu perpustakaan” sendiri alias manusia yang mencetak manusia-manusia yang berkebudayaan literasi (baca-tulis). Sebab hanya masyarakat yang memiliki kebudayaan literatlah atau masyarkat yang melek wacana. Ahmadslamet Harjasujana: “Tujuan Pendidikan Nasional yang telah ditetapkan oleh MPR dan kemudian dituangkan dalam GBHN kita itu sesungguhnya hanya akan tercapai jika masyarakat Indoensia telah berliteral. Hanya masyarakat yang literatlah yang mampu menjadi masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. kemahiran baca-tulis merupakan batu loncatan bagi kebersilan seorang di sekolah dan dalam kehidupan selanjutnya di masyarakat. Dalam dunia pendidikan kemahiran berliterasi juga merupakan hal yang sangat fundamental.aktivitas baca-tulis sebagai bagian dari budaya hidupnya. secara tamsil Andre Morois.

berkepribadian. yakni bahwasannya unsur yang harus ada dalamsetiap kegiatan membaca yakni pemahaman (understanding). dari huruf menjadi kata. mandiri. Alasannya karena ketika dia melakukankegiatan membaca dia hanya terbtas mengemukakan atau membunyikan rangkaian lambang-lambang bahasa tulis yang dilihatnya.berbudi perkerti luhur. Perkara apakah dirinya mengerti atau tidak arti atau makna dari seluruh rangkaian lambang-lambang bahasa tulis tersebut tidak begitu menjadi persoalan benar. Seperti diakui oleh William (1984:2). Anderson (1972:209) secara singkat dan sederhana mencoba mendefinisikan embaca sebagai proses kegiatan mencocokan huruf atau melafalkan lambing-lambang bahasa tulis atau reading is a recording and decoding process. Kemudian dalam bagian lain dari pidatonya beliau juga menyatakan: “Sehubungan hal itu maka program-program pendidikan guru seyogyanya diperpanjang waktunya dan ditingkatkan kualitasnya. bekerja keras dan berkualitas. kalimat dan seterusnya. Meskipun demikian menurutnya ada satu yang disepakati oleh seluruh pakar ihwal membaca. bergantung dari sudut mana kita hendak meninjaunya. Bagi Budi yang masih duduk dikelas 1 SD misalnya. Pengertian dan Proses Membaca Apa yang dimaksud dengan membaca? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat luas dan beragam. Para pakar hingga saat ini umumnya masih memberikan batasan yang berbeda-beda. Kegiatan membaca semacam itu tentunya . cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohaninya”. hingga saat ini menurutnya para pakar masih bersilang pendapat dalam memberikan definisi membaca yang benar-benar akurat. Guru yang dapat memberikan bantuan yang tepat dan efektif kepada para siswa yang ditugasi membaca materi untuk bidang studi yang khusus ialahpara guru bidang studi itu sendiri. Tetapkah pengertian membaca seperti itu? Jawabannya bisa ya bisa juga tidak. Itu berarti mata kuliah keterampilan membaca perlu diajarkan kepada seluruh mahasiswa calon guru”. Sebab kegiatan membaca yang tidak disertai dengan pemahaman bukanlah kegiatan membaca. kemudian menjadi frasa. Oleh karena itu seyogyanya para guru bidang studi perlu membekali diri dengan berbagai kompetensi pengajaran membaca yang relevan jika mereka benar-benar menghendaki anakanak didik mencapai prestasi yang diharapkan. pengertian membaca semacam itu sudah bisa dikatakan tepat. tangguh dan bertanggungjawab.

Dengan kata lain Anderson dalam Tarigan (1979:7) mengatakan bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan mengubah tulisan/ cetakan menjadi bunyi-bunyi yang bermakna. tidak hanya sekadar melafalkan tulisan. Hubungan antara makna yang ingin disampaikan penulis dan interpretasi pembaca sangat menentukan ketepatan pembaca. dan metakognitif (Crawley dan Mountain dalam Rahim 2007:2). Makna akan berubah berdasarkan pengalaman yang dipakai untuk menginterpretasikan kata-kata atau kalimat yang dibaca (Anderson dalam Tarigan 1979:8). Secara linguistik.merupakan level yang paling rendah. Artinya dalam kegiatan membaca ada upaya untuk menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning). Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal. Selain itu pengertian tersebut mengisyaratkan seakanakan proses membaca merupakan proses yang pasif belaka. Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang termasuk di dalam retorika seperti keterampilan berbahasa yang lainnya (berbicara dan menulis) (Haryadi 2007:4). berpikir. membaca merupakan kegiatan mengeja atau melafalkan tulisan didahului oleh kegiatan melihat dan memahami tulisan. tetapi juga melibatkan aktivitas visual. Artinya memahami pikiran yang terkandung dalam kata-kata yang tertulis. sehingga membaca dapat juga dianggap sebagai suatu proses memahami sesuatu yang tersirat dalam yang tersurat (tulisan). Jadi. Kegiatan melihat dan memahami merupakan suatu proses yang simultan untuk mengetahui pesan atau informasi yang tertulis. Senada dengan pernyataan di atas. psikolinguistik. beberapa penulis beranggapan bahwa „membaca‟ adalah suatu kemampuan untuk melihat lambang-lambang tertulis tersebut melalui fonik menjadi membaca lisan (oral reading) (Tarigan 1979:8). Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis (Hodgson dalam Tarigan 1979:7). Membutuhkan suatu proses yang menuntut pemahaman terhadap makna kata-kata atau kalimat yang merupakan suatu kesatuan dalam pandangan sekilas . membaca merupakan proses pembacaan sandi (decoding process). Dalam kegiatan membaca ternyata tidak cukup hanya dengan memahami apa yang tertuang dalam tulisan saja.

emosi yang dihubungkan dengan pengetahuan si pembaca untuk memahami suatu pesan yang tertulis (http://www. gerak mata. Menurut Keraf (1996:42) membaca merupakan suatu proses yang bersifat kompleks meliputi kegiatan yang bersifat fisik dan mental.Di dalam buku Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa yang ditulis oleh Tarigan (1979). tidak hanya melafalkan tulisan. Hal ini disebabkan karena kegiatan membaca merupakan suatu kegiatan yang kompleks.depdiknas. kata. dan menuliskan poin yang bisa ditelaah dari teks itu sampai benar. intellect. . Sedangkan menurut Kustaryo bahwa pengertian membaca merupakan suatu kombinasi dari pengenalan huruf. bukan hanya melafalkan huruf. kalimat. berpikir.go. menginterpretasikannya. menafsirkan. Tarigan (1979:9) mengambil kesimpulan bahwa membaca adalah memahami polapola bahasa dari gambaran tertulisnya. Filusuf terdahulu menjelaskan bahwa membaca adalah semacam kreasi berpikir. paragraf. Pengertian membaca yang diungkapkan tersebut nampaknya memiliki keterbatasan. yaitu menterjemahkan teks. mengingat. sampai bab tetapi juga ruang di mana pikiran tertantang untuk kritis. dan metakognitif (Crawley dan Mountain dalam Rahim 2005:2). psikolinguistik. 2) membaca sebagai kegiatan mempersepsi tuturan tertulis. 3) membaca adalah seperangkat keterampilan kognitif untuk memperoleh pemahaman dari tuturan yang dibaca. terpapar beberapa pengertian membaca yang disampaikan oleh para ahli. Definisi dan pola pemikiran tentang hakikat membaca sangatlah beragam. serta menulis kembali berdasarkan analisis pikiran kita sendiri. Membaca melibatkan penglihatan.id). Sedangkan pengertian membaca yang diungkapkan oleh beberapa para ahli lain yang tidak tercantum di buku Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa salah satunya menyebutkan bahwa membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit dan melibatkan banyak hal. Membaca juga merupakan aktivitas memahami. Pengertian di atas sama dengan Wiryodijoyo (1989:55) bahwa membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang mempunyai pengertian: 1) membaca sebagai proses melisankan paparan tulis. Sementara itu Cole (dalam Wiryodijoyo 1989:1) berpendapat bahwa membaca adalah proses psikologis untuk menentukan arti kata-kata tertulis. tetapi juga melibatkan aktivitas visual. Membaca juga dapat diartikan sebagai proses pemberian makna kepada simbol-simbol visual.

membaca adalah suatu proses penyendian kembali dan pembacaan sendi (A recording and decoding process). memahami makna bacaan. Membaca adalah aktivitas yang komplek dengan mengarahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah (Soedarso. Membacapun dapat diartikan sebagai suatu metode yang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan kadangkadang dengan orang lain. Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa membaca adalah suatu cara untuk membina daya nalar. Selanjutnya Tarigan (1994 : 7) mengatakan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Sedangkan tarigan (1994 : 9) berpendapat bahwa tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi.1996 : 4). ingatan. Sehingga dari sisi linguistik. 1994 : 8). ada pula beberapa penulis yang beranggapan bahwa membaca adalah suatu kemampuan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui Ponik (Phonics = suatu metode pengajaran membaca. Tampubalon (1987 : 6) mengatakan karena bahasa tulisan mengandung ideide atau pikiran-pikiran. maka dalam memahami bahasa tulisan dengan membaca.pembicaraan batin. Selanjutnya Anderson dalam Tarigan (1994 : 7) mengatakan bahwa membaca sebagai suatu penafsiran atau intrerprestasi terhadap ujaran yang berbeda dalam bentuk tulisan adalah suatu proses pembacaan sendi (decoding process). mencakup isi. Membaca tidak hanya sekedar membunyikan lambang-lambang bunyi bahasa yang tertulis. Performasi dan kemampuan membaca dilatar belakangi pengalaman dan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh sebelumnya. proses-proses kognitif (penalaranlah). Membaca sendi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis dengan makna bahasa lisan yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna (Anderson dalam Tarogan 1994 : 7). melihat pikiran yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis (Anderson dalam Tarigan. pengetahuan mengenai kata yang dapat dipahami dari pengalaman membacanya. ucapan ejaan berdasarkan interprestasi ponetik terhadap ejaan biasa) menjadi/menuju lisan. yaitu mengkomunikasikan maknannya yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang tertulis. . terutama yang bekerja.

Selain itu. Kemampuan . Latar belakang faktor kemampuan internal dan faktor eksternal seseorang menyebabkan setiap orang mempunyai kemampuan membaca yang berbeda dengan orang lain. membaca akan semakin penting peranannya sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. membaca juga dapat dikatakan sebagai jenis kemampuan manusia sebagai produk belajar dari lingkungan. Buku akan menjadi sumber informasi dan bahkan menjadi guru yang dapat hadir kapan saja diperlukan. proses membaca yang dilakukan oleh orang dewasa (dapat membaca) merupakan usaha mengolah dan menghasilkan sesuatu melalui penggunaan modal tertentu. Oleh karena itu. ingatan. Nurhadi (1987 : 14 – 15) mengatakan bahwa hakekat membaca adalah kemampuan proses yang komplek dan rumit. Membaca juga dapat dilakukan di mana saja. Membaca merupakan aktivitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor yang datangnya dari dalam diri pembaca dan faktor luar. dan pemahaman yang mencakup pengubahan tulisan atau lambang-lambang yang menjadi bunyi bermakna yang melibatkan kemampuan fisik dan psikis untuk berfikir kritis dan kreatif menggunakan kemampuan membaca yang dimiliki dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang disampaikan oleh penulis. Sebagian penduduk beranggapan bahwa membaca berarti menikmati kisah-kisah dalam gambar. membentuk semacam koordinasi yang rumit untuk menunjang pemahaman terhadap bacaan (Nurhadi. Tampubolon (1987 : 7) mengatakan bahwa kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi keseluruhan. 1987 : 13 –14) Untuk dapat membaca.Dalam era tersebut. Membaca merupakan cara utama untuk memperkaya wawasan dan membentuk kepribadian serta menghargai buku. dapat diambil simpulan bahwa membaca merupakan aktivitas yang melibatkan penglihatan. Kemampuan membaca mutlak dikuasai. Berdasarkan beberapa definisi di atas. Sedangkan rumit dimaksudkan bahwa faktor diatas saling bertautan dan berhubungan. maka dibutuhkan kemampuan membaca dengan baik. dan bukan kemampuan yang bersifat instingtif.dalam rangka menghadapi era global. atau naluri yang dibawa sejak lahir. Kecepatan membaca adalah kemampuan siswa (orang) dalam membaca.Membaca adalah mengucapkan lambang bunyi yang sekaligus membaca adalah proses pengucapan tulisan untuk mendapatkan isi yang terkandung di dalamnya. yang mengkondisikan bahwa kemampuan membaca itu adalah kemampuan yang spesifik.

Membaca untuk menyimpulkan 5. Berikut ini penulis kemukakan beberapa tujuan membaca. Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan 4. Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan bahasa yang tidak kalah pentingnya dengan keterampilan yang lain. koran serta tulisan yang berbentuk lain sebagai penyampai informasi. mencakup isi. 1994:10).membaca menjadi modal dasar untuk mencapai suksesnya pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Untuk itu keterampilan membaca sangat diperlukan untuk memahami informasi atau isi pesan yang ada dalam teks bacaan. Membaca mempunyai beberapa tujuan. Bagi anak-anak SD kelas 2 keatas pengertian membaca sebagaimana disebutkan oleh Anderson di atas tentunya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. 1. Oleh karena itu Finnochiaro dan Bonomo (1973:119) mencoba mendefinisikan membaca sebagai proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tulis (reading is bringing meaning to and getting meaning from printed or witten material). majalah. Kita ketahui bahwa pada masa sekarang ini banyak buku. .Tujuan utama membaca adalah untuk mendapatkan informasi. memahami makna bacaan. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta. Membaca untuk membandingkan atau untuk mempertentangkan (Tarigan. Membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan 6. Membaca untuk menilai atau mengevaluasi 7. 2. Sebab tuntutan pada level mereka ketika mereka melakukan kegiatan proses membaca adalah pemahaman. Atau dengan perkataan lain saat mereka harus dapat memahami maksud atau tujuan arti lambang-lambang bunyi bahasa tulis yang dibacanya. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama 3.

Oleh karena itu membaca dapat kita definisikan sebagai kegiatan memetik makna atau pengertian bukan hanya dari deretan kata yang tersurat saja (reading the lines). Dengan demikian dalam tataran yang lebih tinggi membaca bukan hanya sekedar memahami lambing-lambang bahasa tulis belaka melainkan pula berusaha memahami. membandingkan dan meyakini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh si pengarang. Pengertian membaca yang sebagaimana diaktakan oleh Finnochiaro dan Banomo di atas untuk anak-anak SLTP ke atas tampaknya sudah tidak tepat lagi. pembaca hanya menangkap informasi yang tercetak secara literal (tampak jelas) dalam bacaan atau informasi yang ada dalam baris-baris bacaan (reading the lines). bahkan juga makna yang terdapat dibalik deretan baris tersebut (reading beyond the lines). Dengan perkataan lain membaca merupakan proses yang menuntut pembaca melakukan pertukaran ide dengan penulis melalui teks.Kedua jenis kegiatan membaca tersebut oleh para pakar membaca umumnya digolongkan sebagai kegiatan membaca literal. Artinya. Pembuka tidak lagi menangkap makna yang lebih dalam lagi yaitu makna di balik baris-baris tersebut. . Membaca semacam ini masih mencerminkan sebagai kegiatan yang pasif. melainkan juga makna yang terdapat di antara baris (reading between the lines). Selain itu dalam prosesnya kegiatan membaca ini juga tidak lagi pasif melainkan sebagai proses yang aktif. Mengapa demikian? Jawabannya karena bagi mereka ketika membaca bukan hanya dituntut untuk memahami informasi-informasi yang tersurat saja tapi juga yang tersirat. dan hasrat masing-masing. menolak. Oleh karena itu Thorndike mengatakan bahwa proses membaca itu tak ubahnya dengan proses ketika seseorang sedang berpikir atau bernalar (reading as thinking or reading as reasoning). Atau sebagaimana dikatakan oleh Goodman (1967:127) bahwa ketika seseorang membaca bukan hanya sekedar menuntut kemampuan mengambil dan memetik makna dari materi yang tercetak melainkan juga menuntut kemampuan menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna. Dalam kajian membaca jenis membaca semacam ini digolongkan kedalam membaca kritis serta membaca kreatif. menerima. Atas dasar pijakan tersebut Ahmadslamet Harjasujana (1987:36) mengatakan bahwa membaca dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan komunikasiu interaktif yang memberi kesempatan kepada pembaca dan penulis untuk membawa latar belakang.

pertumbuhan fisik. sikap. melainkan suatu sintesis berbagai proses yang tergabung ke dalam suatu sikap pembaca yang aktif. Membaca sebagai proses perkembangan mengandung arti bahwa membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. Kita tidak tahu kapan perkembangan mulai dan berakhir. jenis kelamin. merupakan perkembangan konsep. Membaca sebagai proses sensoris mengandung pengertian bahwa kegiatan membaca itu dimulai dengan melihat. bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca yaitu intelegensi umum. dan membaca sebagai proses perkembangan keterampilan. Di antara faktor-faktor tersebut menurut Harris (1970). bisa digeneralisasikan. membaca sebagai proses perseptual. Proses membaca yakni membaca sebagai proses psikologi. Setelah dilakukan pemaknaan atau pengucapan terhadapnya. usia mental. membaca sebagai proses perkembangan. bertahap. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau secara serempak. tingkat sosial ekonomi. Yang lebih penting bagi kita ialah memahami alasan-alasan yang melatarbelakangi dari definisi-definisi mereka itu. Membaca sebagai proses perseptual mengandung pengertian bahwa dalam membaca merupakan proses mengasosiasikan makna dan interpretasi berdasarkan pengalaman tentang stimulus atau lambang. Pernyataan “membaca sebagai proses sensoris” tidak berarti bahwa membaca merupakan proses sensoris semata-mata. .Sekali lagi pengertian atau definisi membaca itu banyak sekali ragamnya. kepribadian. membaca sebagai proses sensori. Stimulus masuk lewat indra penglihatan mata. Membaca Sebagai Proses Membaca bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Oleh karena yang penting bagi kita bukan menghafalkan aneka definisi-definisi tersebut. bahasa. pengenalan dan identifikasi. tingkat kemampuan membaca. seperti intelegensi. ras. serta merupakan interpretasi mengenai informasi. Sebagai proses psikologi membaca itu perkembangannya akan dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya psikologi pembaca. serta respons yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang tersebut. kemampuan persepsi. Sedangkan proses membaca sebagai perkembangan keterampilan mengandung arti membaca merupakan sebuah keterampilan berbahasa (language skills) yang sifatnya objektif.

baik jenis maupun ragam teksnya dan tujuannya sekadar untuk memahami isi yang penting. Yang aktif bekerja hanya mata dan otak atau kognisi saja. Membaca ekstensif program membaca secara luas. yakni membaca survei (survei reading). kita dapat membagi membaca menjadi dua jenis yakni membaca dalam hati (silent reading) dan membaca nyaring atau membaca bersuara (oral reading or aloud reading). Pada tataran yang paling rendah membaca nyaring merupakan aktivitas membaca sebatas melafalkan lambanglambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup keras. para siswa hanya membaca satu atau beberapa pilihan dari bahan bacaan yang ada dan bertujuan untuk menumbuhkan serta mengasah kemampuan membaca secara kritis. membaca sekilas skimming). Dalam membaca ini. Secara garis besar membaca intensif terbagi dua. membaca dangkal (superficial reading). Membaca Berdasarkan Cakupan Bahan Bacaan Dilihat dari sudut cakupan bahan bacaan yang dibaca.Membaca Berdasarkan Terdengar Tidaknya Suara Pembaca Ditinjau dari terdengar dan tidaknya suara si pembaca pada waktu membaca. Membaca dalam hati merupakan proses membaca tanpa mengeluarkan suara. Ada tiga jenis membaca. membaca pemahaman (reading for understanding). secara garis besar membaca dapat kita golongkan menjadi dua: membaca ekstensif (extensive reading) dan membaca intensif (intensif reading). yakni membaca telaah isi (content study reading) dan membaca telaah bahasa I (linguistik study reading). Membaca kritis (outical reading) dan membaca ide . Untuk menanamkan kemahiran kedua jenis membaca ini diperlukan adanya proses latihan secara terencana dan sungguh-sungguh di bawah asuhan guru-guru profesional. Membaca intensif merupakan program kegiatan membaca yang dilakukan secara seksama. sedangkan pada tataran yang lebih tinggi membaca nyaring merupakan proses pengkomunikasian isi bacaan (dengan nyaring) kepada orang lain (pendengar).penting saja dari bahan bacaan yang dibaca dengan menggunakan waktu secepat mungkin. Membaca telaah isi dibagi lagi menjadi membaca telaah teliti (close reading).

yaitu kegiatan pramembaca. yaitu kegiatan memahami teks yang dibaca. Kegiatan pramembaca merupakan jembatan untuk mengaitkan beragam pengetahuan yang memiliki keterkaitan dengan isi bacaan. kegiatan membaca. yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum melaksanakan kegiatan membaca sebagai jembatan untuk dapat memahami bacaan dan agar dapat melaksanakan kegiatan pascamembaca dengan cepat dan mudah. Ada beragam variasi kegiatan pramembaca. Beragam Variasi Kegiatan Pramembaca Disebut kegiatan pramembaca karena kegiatan ini dilaksanakan sebelum seorang siswa melaksanakan kegiatan membaca. Setelah mengetahui tujuan membaca. Sedangkan teknik membaca scanning sangat tepat digunakan untuk menemukan informasi tertentu secara cepat dalam teks yang dibaca. Kegiatan Pramembaca. Fungsi utama kegiatan pramembaca adalah memberikan pengetahuan awal terkait dengan aspek-aspek bacaan yang hendak dipahami. seorang pembaca akan memilih strategi membaca yang tepat dan sesuai untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan pascamembaca. . Kegiatan pramembaca ini tidak boleh terlepas dari kompetensi dasar dan indikator yang akan dicapai dalam pembelajaran membaca.(reading for ideas). Artinya. yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan setelah melaksanakan kegiatan membaca untuk mengecek atau menguji pemahaman terhadap bacaan yang telah dibaca. Membaca telaah bahasa dibagi menjadi membaca bahasa asing (foreign language reading) dan membaca sastra (literary reading). dan memberikan motivasi dan rasa percaya diri. semua kegiatan pramembaca dirancang untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator yang akan dibelajarkan kepada siswa. Teknik skimming sangat cocok digunakan untuk membaca cepat dan menemukan gagasan inti bacaan secara cepat. dan kegiatan pascamembaca. Beragam Variasi Kegiatan Tahap Membaca Kegiatan pada tahap membaca adalah salah satu tahap kegiatan penting dan utama dalam keseluruhan tahapan membaca. Seorang pembaca yang efektif dan efisien terlebih dahulu harus mengetahui tujuan dia membaca. melatih siswa mengetahui tujuan membaca. Tahap-tahap dalam Kegiatan Membaca Ada tiga langkah dalam kegiatan membaca. Kegiatan membaca.

Ada beberapa langkah yang dapat dipraktikkan untuk mengukur kecepatan membaca seseorang.Beragam Variasi Kegiatan Setelah Membaca Disebut kegiatan pascamembaca karena kegiatan ini dilaksanakan setelah seorang siswa melaksanakan kegiatan membaca. 2) membaca memperluas wawasan. Kegiatan pascamembaca ini tidak boleh terlepas dari kompetensi dasar dan indikator yang akan dicapai dalam pembelajaran membaca. dan minimnya pengetahuan tentang cara membaca cepat dan efektif. Artinya. Fungsi utama kegiatan pascamembaca adalah untuk mengecek apakah apa yang dibaca telah dipahami dengan baik oleh siswa. dan 5) membaca cepat meningkatkan pemahaman terhadap teks yang dibaca. di antaranya faktor karakteristik materi bacaan dan karakteristik pembaca itu sendiri. Teks bacaan sangat berpengaruh terhadap pemahaman pembaca. Dan ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat. Kegiatan setelah membaca ini dapat berupa tugas atau pertanyaan-pertanyaan terkait dengan teks yang dibaca. . semua kegiatan pramembaca dirancang untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator yang akan dibelajarkan kepada siswa. Ada beragam variasi kegiatan pascamembaca. Oleh karena itu. antara lain: 1) banyak informasi penting dapat diserap dalam waktu yang cepat. kemenarikan dan keotentikan teks juga merupakan syarat untuk memilih teks yang baik. Selain itu. dan tinggi. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Pemahaman terhadap teks yang dibaca dipengaruhi oleh banyak faktor. Karakteristik pembaca yang dapat mempengaruhi pemahaman teks adalah: IQ. Teknik Meningkatkan Kemampuan Membaca Cepat Membaca dengan kecepatan optimal dan memahami teks yang dibaca. kebiasaan membaca yang jelek. ada teks yang tingkat kesulitannya rendah. tingkat keterbacaan teks (readibility) adalah salah satu syarat yang harus diperhatikan dalam memilih teks. sedang. 4) membaca cepat membantu Anda menghadapi ujian/tes. minat baca. itulah konsep membaca cepat. Karakteristik pembaca juga dapat mempengaruhi pemahaman pembaca terhadap teks. 3) membaca cepat meningkatkan kemahiran berbahasa yang lain. Banyak manfaat membaca cepat.

membacakan beragam teks pengumuman. berlatih mengomentari hasil pembacaan. intonasi. konsep. Beragam kegiatan yang dapat dilatihkan untuk meningkatkan kemampuan dalam membaca nyaring adalah sebagai berikut: memahami isi teks dan memberikan tanda jeda pada teks. dan evaluatif. melafalkan kata-kata yang sulit. dan pernafasan. Kompetensi membaca nyaring dalam Kurikulum 2004 mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. dan kritis terhadap fakta. guru masa depan yang dapat melaksanakan pembelajaran tuntas (mastery learning) dan membelajarkan siswa agar dapat menguasai kompetensi secara tuntas pula (Depdiknas. pendapat. Dengan keterampilan membaca intensif pembaca dapat memahami baik pada tingkatan lateral. berlatih membacakan teks dengan intonasi. membacakan beragam teks laporan. membacakan beragam teks percakapan. Membaca intensif sering diidentikkan dengan teknik membaca untuk belajar. Kemampuan membaca intensif adalah kemampuan memahami detail secara akurat. dan perasaan yang ada pada wacana tulis. dan pemenggalan yang tepat. Memahami Hakikat dan Karakteristik Membaca Intensif Membaca intensif adalah membaca secara cermat untuk memahami suatu teks secara tepat dan akurat. pengalaman. misalnya: latihan vokal. Kompetensi membaca nyaring ini perlu dikuasai oleh semua mahasiswa calon guru (Bahasa dan Sastra Indonesia. Kompetensi membaca nyaring adalah salah satu kecakapan hidup yang diperlukan sebagai bekal siswa untuk dapat bersaing di dunia kerja dan juga berguna dalam kehidupan siswa. antara lain sebagai berikut: membacakan beragam teks berita. lengkap. menyerasikan gerak dan ucapan. Kompetensi yang andal dalam melaksanakan kegiatan membaca nyaring adalah salah satu prasyarat menjadi guru yang profesional. 2003). dan membacakan beragam teks perangkat upacara. kritis. Membaca kompres-hensif merupakan proses memahami paparan dalam bacaan dan menghubungkan gambaran makna dalam bacaan dengan skemata pembaca guna memahami informasi dalam bacaan secara menyeluruh. . interpretatif. lafal. gagasan.Teknik Meningkatkan Kemampuan Membaca Nyaring (Membaca Teks untuk Orang Lain) Membaca nyaring adalah kegiatan membacakan teks untuk orang lain. berlatih meningkatkan performansi pembacaan teks. pesan. Aspek kognitif yang dikembangkan dengan berbagai teknik membaca intensif tersebut adalah kemampuan membaca secara komprehensif.

grafik. penggunaan kosakata. 5) tujuan membaca intensif adalah pengembangan keterampilan membaca secara detail dengan menekankan pada pemahaman kata. 2) membaca secara detail untuk mendapatkan pemahaman dari seluruh bagian teks. 3) cara membaca sebagai dasar untuk belajar memahami secara baik dan mengingat lebih lama. Karakteristik membaca intensif mencakup 1) membaca untuk mencapai tingkat pemahaman yang tinggi dan dapat mengingat dalam waktu yang lama.Kemampuan membaca intensif mencakup 1) kemampuan pemahaman literal. dan penggunaan ejaan/tanda baca. skimming. dan 4) pemahaman kreatif. 4) membaca intensif bukan menggunakan cara membaca tunggal (menggunakan berbagai variasi teknik membaca seperti scanning. membaca komprehensif. dan sebagainya) . 6) kegiatan dalam membaca intensif melatih siswa membaca kalimat-kalimat dalam teks secara cermat dan penuh konsentrasi. pengembangan kosakata. kalimat. iklan baris. 3) pemahaman kritis. 8) kegiatan dalam membaca intensif melatih siswa mengubah/menerjemahkan wacanawacana tulis yang mengandung informasi padat menjadi uraian (misalnya: membaca intensif tabel. Kecermatan tersebut juga dalam upaya menemukan kesalahan struktur. dan juga pemahaman keseluruhan isi wacana. 2) pemahaman inferensial. dan teknik lain). 7) kegiatan dalam membaca intensif melatih siswa untuk berpikir kritis dan kreatif.

Teknik-teknik membaca intensif dapat berupa SQ3R. Dalam program membaca ekstensif kemampuan dan kemauan membaca seseorang diamati secara teratur baik dengan catatan formal maupun tidak formal oleh pembaca sendiri. dan KWLU. Teknik tersebut melatih dan membekali pembaca dengan suatu metode studi (belajar) yang sistematis. Teknik-teknik membaca intensif ini didasari oleh teori skemata. 7) bersifat individual dan bersifat membaca senyap. OPQRST. 4) tujuan membaca berkaitan dengan kesenangan. 2) topik dan bentuk wacana yang dibaca bervariasi. 5) dalam membaca ekstensif akan terjadi penguatan diri sendiri. . Catatan harian dan buku laporan digunakan bersama dengan catatan judul dan komentar terhadap apa yang dibaca. 6) pembaca membuat jurnal apa yang telah dibaca dan bagaimana komentar terhadap yang dibaca. 3) pembaca memilih apa yang ingin dibaca (memperhatikan minat). Membaca ekstensif memiliki beberapa karakteristik yang meliputi 1) membaca sebanyak mungkin wacana tulis (dilakukan di luar kelas). Dengan membaca ekstensif seseorang dapat meningkatkan kemampuan dan minat bacanya. Memahami Hakikat dan Karakteristik Membaca Ekstensif Membaca ekstensif adalah membaca untuk kesenangan dengan penekanan pada pemahaman umum. Teori skemata ini mencetuskan gagasan bahwa inti dari pemahaman dimainkan oleh suatu struktur kognitif yang disebut skemata. dan pemahaman umum terhadap isi teks/wacana. Membaca ekstensif dilakukan dalam rangka menumbuhkan kesenangan dan kemauan membaca beragam wacana tulis dalam bahasa target (bahasa yang sedang dipelajari). Dalam program membaca ekstensif seseorang dituntut untuk dapat mengakses sebanyak mungkin judul buku/artikel/berita dengan topik-topik yang sudah populer. memperkaya informasi.

3) mendapatkan bagian penting dari suatu bacaan tanpa membaca keseluruhan. dan sebagainya). Pada waktu melakukan skimming secara cepat mata kita bergerak ke seluruh teks untuk memperoleh gambaran umum mengenai teks. 9) kecepatan membaca cukup (tidak cepat dan tidak lambat). Pembacaan cara ini boleh melewati bagianbagian tertentu yang dianggap kurang penting. garis bawah. 4) melakukan penyegaran apa yang pernah dibaca. ringkasan. dan 12) membaca ekstensif membantu pembaca untuk mengenali beberapa fungsi teks dan cara pengorganisasian teks. cetak tebal. Ketika kita membaca sekilas kita akan menggerakkan mata kita dari atas ke bawah dengan cepat menyapu seluruh halaman yang dibaca sambil memberi fokus pada informasi yang dicari. Memahami Hakikat dan Karakteristik Membaca Skimming Teknik membaca skimming salah satu teknik membaca cepat. Seseorang melakukan skimming untuk 1) mengenali topik bacaan atau memilih bacaan. Membaca dengan teknik skimming berarti kita secara cepat membaca sekilas teks untuk menentukan ide-ide penting dari teks. Awal skimming dapat menggunakan tanda-tanda organisasional yang digunakan penulis seperti subjudul. 11) pembaca tidak diberi tes sesudah membaca (pembaca hanya memberikan respons personal/komentar terhadap apa yang dibaca). . dan 5) mensurvei buku yang akan dibaca.8) Aspek kebahasaan tidak menjadi penghalang pemahaman (bacaan dipilih. penggunaan tanda tertentu yang menunjukkan pentingnya suatu informasi (tanda italic. Dengan skimming seseorang mencoba untuk mendapatkan inti atau gambaran umum apa yang dibaca bukan mendapatkan gambaran detail seluruh isi teks. Skimming sering digunakan untuk melakukan tinjauan awal (previewing) untuk mengetahui isi umum suatu teks/buku. 2) mengetahui pendapat seseorang secara umum. Seseorang menggunakan skimming untuk memutuskan apakah suatu buku akan dipilih/tidak. 10) menggunakan teks yang tidak terlalu sulit (hanya satu dua kata yang sulit.

gerakan mata berhenti. Karakteristik membaca memindai (scanning) adalah (1) scanning mencakup pencarian secara cepat dengan gerakan mata dari atas ke bawah menyapu seluruh teks untuk mencari fakta khusus. ilustrasi. Membaca dengan teknik memindai artinya menyapu halaman buku untuk menemukan sesuatu yang diperlukan. Memindai artinya terbang di atas halaman-halaman buku. paragraf transisi). Mata bergerak cepat. . (2) manfaat scanning adalah dapat mencari informasi dalam buku secara cepat. meloncatloncat. atau kata-kata kunci tertentu. 5) membaca skimming dapat dilakukan dengan membaca paragraf awal. mencari kata pada kamus. (3) scanning merupakan teknik membaca cepat untuk menemukan informasi yang telah ditentukan pembaca. subjudul. 3) detail khusus yang penting (nama. dengan cara menyapu halaman demi halaman secara merata. mencari makna kata dalam kamus/ensiklopedi.Skimming dilakukan dengan cara 1) memahami dan menemukan bagian-bagian dari suatu bacaan yang memuat informasi penting (misalnya memahami dan menemukan letak ide pokok dalam paragraf. melihat acara siaran TV. memahami dan menemukan letak informasi penting dari suatu buku). Dalam kehidupan sehari-hari scanning digunakan. informasi khusus. atau bagian yang penting lainnya. antara lain untuk: mencari nomor telepon. dan tidak melihat kata demi kata. (5) pembaca telah menentukan kata yang dicari sebelum kegiatan scanning dilakukan. mencari entri pada indeks. kemudian ketika sampai pada bagian yang dibutuhkan. (6) pembaca tidak membaca bagian lain dari teks kecuali informasi yang dicari. isi tabel. dan menemukan informasi tertentu yang terdapat dalam daftar. Hakikat dan Karakteristik Scanning (Membaca Memindai) Scanning atau membaca memindai berarti mencari informasi spesifik secara cepat dan akurat. Selanjutnya. kita dapat memperluas skimming dengan membaca indeks. dan paragraf akhir seseorang mencoba memahami hal-hal penting dari teks. 4) paragraf pertama dan terakhir dari suatu wacana perlu dibaca dengan kecepatan rata-rata karena umumnya berisi ringkasan bahan yang dibicarakan. melihat daftar perjalanan. tanggal) perlu dilihat sepintas tanpa menatap lama-lama. 2) membaca sekilas dan melompati bagian-bagian yang tidak penting dari suatu bacaan (contoh. mencari angka-angka statistik. Teknik membaca memindai (scanning) adalah teknik menemukan informasi dari bacaan secara cepat.

(2) setelah ditemukan kecepatan diperlambat untuk menemukan keterangan lengkap dari informasi yang dicari. Artinya seorang pembaca harus dengan aktif berusaha menangkap isi bacaan yang dibacanya tidak boleh hanya menerimanya saja.Scanning dilakukan dengan cara (1) menggerakkan mata seperti anak panah langsung meluncur ke bawah menemukan informasi yang telah ditetapkan. dan bukannya proses menerimanya bingkisan lebaran misalnya. Selanjutnya proses membaca juga tidak selamanya identik dengan proses mengingat. kamus disusun secara alfabetis dan ada keyword di setiap halaman bagian kanan atas. Pembaca harus berusaha menangkap pesan yang terdapat dalam bacaannya secar aktif. dan (3) pembaca dituntut memiliki pemahaman yang baik berkaitan dengan karakteristik yang dibaca (misalnya. Bola akan akan tertangkap dengan baik kemudian menggiring dan memasukannya ke dalam keranjang basket. ensiklopedi disusun secara alfabetis dengan pembalikan untuk istilah yang terdiri dari dua kata. seperti intelegensi dan usia mental (mental age). Yang lebih penting ialah menangkap pesan atau ide pokok bacaan dengan baik. Terkadang dia harus lompat kanan lompat kiri untuk dapat menangkap. dan kalau perlu mengomentarinya. Membaca sebagai suatu proses psikologis Yang dimaksud dengan membaca sebagai proses psikologis yakni bahwasannya kesiapan dan kemampuan membaca seseorang itu dipengaruhi serta berkaitan erat dengan faktor-faktor yang bersifat psikis seperti motivasi. Oleh karena itu seorang pakar bahasa mengibaratkan proses membaca itu bagaikan proses menangkap bola dalam sebuah permainan bola basket. baik oleh kawan maupun lawan main. dan sebagainya). Begitu pula halnya dengan kegiatan membaca. Membaca bukan harus hafal kata demi kata atau kalimat demi kalimat yang terdapat dalam bacaan. serta oleh tingkat perkembangan dirinya. a. Dengan pemahaman tersebut diharapkan dapat menemukan informasi secara lebih cepat Kemudian membaca bukanlah merupakan proses yang pasif melainkan aktif. . Sebagaimana kita maklumi seorang pemain basket yang baik harus berusaha memperhatikan gerakan-gerakan bola yang lemparkan. Jadi tidak begitu saja menerima seluruh pesan yang disampaikan seperti halnya saat menerima bingkisan lebaran tadi. setelah itu memahami lebih lanjut isi yang terdapat di dalamnya. minat. latar belakang sosial ekonomi.

Penderita myopia tidak sebanyak hipermetropia pada permulaan pengajaran membaca dan akibat yang ditimbulkannya pun tidaklah begitu parah. Meskipun penyakit-penyakit tersebut tidak pernah dimasukan ke dalam faktor yang ikut serta menimbulkan ketidak mampuan membaca. Penderita cacat penglihatan ini mempunyai jarak pandang yang tidak sama untuk kedua bola matanya. Untuk mengetahui kelemahan tersebut sekolah harus menyediakan alat uji penglihatan. Guru yang baik tidak akan memberi tugas kepada anak-anak menderita penglihatan semacam ini untuk membaca benda-benda yang terlalu dekat atau menyuruhnya membaca dalam waktu yang terlalu lama secara terus-menerus. Pada usia tersebut anak dianggap telah memiliki kompetensi koordinasi binakular. atau pandangan jauh. Hal lain untuk mengatasi hal ini ialah dengan jalan membawa para siswa secara teratur ke poliklinik terdapat untuk diperiksa kesehatan matanya. yakni dimulai dari melihat (bagi mereka yang matanya normal) atau meraba (bagi mereka yang tuna netra). persepsi yang dalam pemfokusan pengaturan dan pengubahan perasaan secara bebas. Para saat permulaan itu anak mulai sadar bahwa tanda lambang-lambang tersebut itu dirangkai-rangkaikan maka akan tersusunlah suatu pembicaraan. Boleh jadi salah satu bola matanya menderita miopi sedangkan bola mata satu laginya menderita hipermetropik. Membaca sebagai proses sensoris Membaca itu pada awalnya merupakan proses sensoris. Stimulus masuk lewat indera penglihatan. Akan tetapi pada usia tersebut karena anak merupakan pribadi-pribadi dengan pola kepribadian yang berbeda dalam pertumbuhan dan perkemvanannya kita harus memiliki pengetahuan-pengetahuan yang layak tentang hal-hal yang pantas diperhatikan. Jenis sipi yang kedua ialah myopia atau pandangan dekat. yakni kondisi mata yang tidak dapat terpusat. Sedangkan eror refraktif ketiga ialah astigmatisme. Pada tingkat awal anak-anak menunjukkan kemampuan yang secara umum sekali disebut membaca. namun jelaslah peranannya sebagai faktor .b. Kapankah anak-anak telah memiliki kesiapan penglihatan untuk memulai membaca buku? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya anak mempunyai kesiapan penglihatan untuk membaca pada usia 5-6 tahun. Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak-anak ialah kekeliruan kesipian (refrective eror). Salah satu jenis keliru sipi itu adalah hipermetropia. mata.

Vernon (!962) memberikan penjelasan bahwa proses perceptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian: 1) kesadaran akan rangsangan visual. Sebaliknya seorang anak yang mempunyai cacat pendengaran yang tidak seberapa bisa saja akan menemui kegagalan dalam penguasaan bacaannya jika dia tidak memiliki motivasi yang tinggi. mengecap. mencium. yakni melihat dan mendengar. dia tidak akan memenuhi kesulitan dalam penguasaan bahan bacaannya itu. hal tersebut tidak akan menjadi rintangan baginya. tidak memiliki tingkat kepercayaan diri. Pada umumnya orang sepakat bahwa persepsi itu . mendeteksi irama dan sejenisnya. Hal yang perlu diperhatikan oleh para guru ialah bahwa bila seorang anak kehilangan daya dengarnya namun masih mempunyai untuk belajar membaca. Membaca sebagai proses perceptual Proses perceptual dalam membaca mempunyai kaitan yang erat dengan proses sensoris. 2) kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata. dan tidak mendapatkan pengajaran yang layak. Kalaupun ada kesulitan. keteganan dan rendahnya minat untuk melakukan kegiatan membaca. mendengar. mendeteksi kata-kata yang mulai berakhir dengan bunyi yang sama. Meskipun Vernon bermaksud memperuntukkan langkah-langkah tersebut dapat diterapkan pada persepsi auditoris.yang ikut serta menimbulkan gangguan dalam membaca serta ketidakbetahan. Anak-anak yang merupakan pembaca pemula harus mampu mendengarkan kesamaan di antara bunyi-bunyi huruf yang terdapat dalam setiap kata. kemampuan mencari kompensasi. Seperti halnya dalam proses sensoris. Oleh karena itu Anda harus waspada untuk tidak mempertukarkannya. secara umum persepsi dimulai dari melihat. 3) klasifikasi lambing-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum. dan bahan pengajaran yang diselaraskan. c. dan meraba. Namun demikian dalam proses membaca cukup hanya memperhatikan kedua hal yang pertama. 4) identifikasi kata-kata yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya.

Pada daerah itulah sebenarnya kita harus mengasah kemampuan anak-anak agar dapat menggeneralisasikan. Kita tidak memperoleh makna dari lambing atau bunyi itu. Untuk mengembangkan kemampuan membacanya anak harus pula dapat memodifikasi dan menghubungkan pengalamannya dengan stimulus-stimulus yang ada dalam konteks dan lingkungan yang sedang dialaminya. Akan tetapi jika titik hitam itu tampak di akhir deretan kata-kata yang membentuk kalimat maka ia baru mempunyai makna. menyintesis dan sebagainya. Sebagai contoh. Jika titik hitam itu diletakkan pada sebuah peta. tetapi kita membawa makna kepadanya. jika dalam konteks kode morsetitik hitam itu boleh jadi akan dimaknai sebagai huruf e atau mungkin merupakan tanda lambing vokal dalam bahasa orang Yahudi. Seperti yang pernah kita singgung. mulai dari daerah-daerah yang kongkret sangat nyata dan khusus hingga ke daerah-daerah yang abstrak atau tidak jelas batas-batasnya. Sebelum anak dapat merespons perbedaan antara huruf b dan d. langkah pertama ialah stimulus seringkali disalah artikan sebagai keseluruhan persepsi. Bagian terpenting dari stimulus ialah kemampuannya mengisolasikan dan membedakan berbagai stimuli.mengandung stimulus asosiasi makna dan interpretasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu serta respon yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambing. Meskipun yang demikian itu merupakan persepsi. bagi anak hanyalah merupakan masukan permulaan yang mempermudah proses pengenalan dan identifikasi. Jadi jika kita tidak pernah dapat mengasosiasikan sebuah titik hitam itu dengan makna apapun maka titik hitam itu tidak akan pernah bermakna. maka ia harus terlebih dahulu mengetahui beda keduanya itu. Fungsi utama stimulus. menganalisis. yakni tanda berhenti. kalau kita melihat sebuah titik hitampada selembar kertas makna titik hitam tersebut sesungguhnya tidak mempunyai makna apa-apa bagi kita. Dengan kata lain pada setiap anak haruslah terjadi semacam mediasi atau pengalihan pengalaman. sesuai dengan namanya ialah meminta. Kekeliruan semacam itu mudah dikenal dengan jalan mencamkan bahwa stimulus itu sendiri sesungguhnya tidak mempunyai makna. . Sebaliknya pengenalan terhadap b yang berbeda dengan d. boleh jadi kita akan menginterpretasikannya sebagai letak sebuah kota. atau bunyi /b/ yang berbeda dengan bunyi /d/ tidaklah memberikan makna apapun. Persepsi itu sesungguhnya merentang di antara batas-batas daerah yang sangat luas.

guru harus mempunyai kejelian dalam memperhatikan kemajuan setiap anak didiknya. Demikian juga untuk perkembangan kemampuan membaca. Kemampuan yang demikian teratur jaraknya itu tidak dapat kita harapkan terjadi pada setiap anak. namun keistimewaan-keistimewaan tertentu bisa terjadi pada setiap anak. Seorang anak bisa berdiri pada usia tujuh bulan. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang.Persepsi seorang anak dalam membaca berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang banyak jumlahnya. kata dan kalimat dalam wacana. Kita tidak tahu kapan perkembangannya itu mulai dan kapan akan berakhir. Dalam upaya mencamkan membaca sebagai proses perkembangan ada dua hal yang harus mendapat perhatian guru. gambar dan seterusnya. permainan bersama. guru harus selalu sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan dan bukan sesuatu yang terjadi secara insidental. Misalnya melalui kegiatan karyawisata. Dan setiap perkembangan baru itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. kematangan bahkan kepribadian anak yang bersakutan. Semakin luas dan bervariasi pengalaman seorang anak akan semakin luas dan semakin terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan konsepkonsep dan memperbaiki persepsinya. pengalaman. Pertama. Kesiapan anak didik itu harus dikembangkan pada setiap taraf perkembangan kemampuannya. berjalan pada usia delapan bulan dan lari pada usia sembilan bulan. Masalah yang dihadapi setiap anak ada yang bersifat problematik dan ada pula yang bersifat alami. Tidak ada seorang anak yang dapat membaca dengan jalan melihat orang lain membaca misalnya. Antara lain oleh kebudayaan. anak yang tidak dapat membaca karena belum cukup matang akan meminta kesabaran guru untuk menanti dia sampai pada tingkat kematangannya. emosi. Membaca . Kemajuan kemampuan membaca pada umumnya memang bergerak tarataur. cerita. Oleh karena itu untuk menjamin adanya kesiapan anak pada tingkat perkembangan yang berikutnya guru harus betul-betul menyiapkan kesiapan anak tersebut pada taraf sebelumnya. Meskipun membaca itu merupakan proses perkembangan gerakannya tidaklah berada dalam jarak-jarak yang beraturan dan tidak tentu waktunya. Dengan demikian seyogyanyalah anak-anak sudah terlebih dahulu memiliki banyak pengalaman sebelum dirinya pertama kali mengenal huruf.

Sebagai suatu keterampilan sebagaimana keterampilan-keterampilan lainnya. namun kaitannya tetap tampak. atau membaca fakta sebelum membaca untuk mencari ide tama. Membaca Sebagai Proses Perkembangan Keterampilan Berbahasa Membaca merupakan salah satu dari empat komponen keterampilan berbahasa.juga bukanlah merupakan proses instinktif. Anak akan mampu mencari materi sumber . membaca merupakan proses yang dipelajari yang pemerolehannya akan sangat bergantung dari upaya yang dilakukan dan prosedur yang dijalani. Keterampilan tersebut bersifat objektif Salah satu hal yang mula-mula kita sadari meneliti proses perkembangan keterampilan membaa itu ialah bahwa perkembangan keterampilan membaca itu bersifat objektif. Dengan demikian membaca harus dipandang sebagai suatu alat dan bukan sebagai suatu tugas. Keterampilan itu mempunyai sifat berlanjut Meskipun keterampilan itu terikat pada tingkatan kelas anak. Hal tersebut dipandang objektif karena dalam perkembangannya tidak tergantung pada materi. Oleh karena itu mata pelajarannya harus menarik dan layak. 1980). metode. Anak yang dapat menguasai berbagai tingkatan proses membaca akan merasakan membaca sebagai sumber pertolongan terpenting dalam menghadapi segala persoalan dalam kehidupan kesehariannya. Sifat proses perkembangan keterampilan dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. 2. Guru tidak boleh memiliki pandangan mata pelajaran yang dikelolanya itu sebagai sebuah tujuan akhir. tanda titik sebelum tanda tanya. Bentuk-bentuk latihan dapat dilakukan per aspek atau per komponen keterampilan tertentu atau dapat pula secara sekaligus langsung mempraktikannya. melainkan sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan. keterampilan membaca hanya akan dapat dicapai dengan baik jika disertai dengan upaya latihan yang sungguh-sungguh. berbicara dan menulis (Tarigan. ataupun tingkatan-tingkatan akademis. yakni menyimak. Ini tidak berarti bahwa Anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir. Hal kedua yang patut diperhitungkan oleh para guru ialah keyakinan bahwa membaca bukanlah suatu objek melainkan suatu proses.

keterampilan itu bersifat tergeneralisasikan. Sebagai sebuah bukti. periksalah latihan Anda dengan memperhatikan rambu-rambu berikut ini! 1. yakni daya nalar tersebut merupakan sumber utama yang dimiliki oleh manusia untuk berkreasi dan beradaptasi agar mereka mampu memacu kehidupan dalam jaman teknologi yang semakin canggih dan berkembang ini. Dengan demikian dalam perekonomian pada era pasca industri mendatang. Nalar manusia hanya dan hanya akan berkembang secar maksimal jika ia diasah melalui pendidikan. Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah dapat menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menerapkannya kapan saja dan di mana saja jika situasi dan kondisi menghendaki penggeneralisasian itu. dimana sumber daya manusia (human resource) merupakan tiang penyangga utamanya. Keterampilan itu dapat digeneralisasikan Disamping objektif dan bertahap. Jika anak telah dapat menguasai cara memahami kata secara mandiri. baik dalam konteks ilmu matematika. konon para ahli ekonomi telah membuat prakiraan bahwa kehidupan perekonomian mendatang akan menemukan sumber kekuatanya pada kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan suatu sumber daya yang ada pada manusia. kemahiran baca-tulis yang layak merupakan prasyarat mutlak bagi siapa saja dan bangsa mana saja. kimia biologi. fisika. Hal apakah yang harus ada dari definisi membaca itu seperti yang dinyatakan oleh William? Petunjuk Jawaban Latihan Jika Anda telah selesai. Latihan Untuk lebih memantapkan pemahaman Anda tentang materi yang terdapat dalam kegiatan belajar ini kerjakan secara berpasangan latihan berikut ini! 1.secara mandiri setelah mereka menguasai keterampilan-keterampilan prasyarat. dan seterusnya. 3. yang memimpikan . maka baginya tidak akan merupakan masalah dalam memahami kata tersebut di mana pun kata tersebut diposisikan dalam sebuah tataran kalimat. Buktikan bahwa membaca memegang peran yang sangat penting dalam konteks kehidupan umat manusia abad ini! 2.

Dalam dunia pendidikan kemahiran berliterasi juga merupakan hal yang sangat fundamental. 2. Sebab selain semua proses belajar sesungguhnya didasarkan atas kegaitan membaca dan menulis juga hanya dengan melalui kegaitan literasi membaca dan menulislah kita dapat menjelajahi luasnya dunia ilmu yang terhampar luas dari berbagai penjuru dunia dan dari berbagai babakan jaman. . atau yang lazim disebut era sumber daya manusia. Sebab daya nalar tersebut merupakan sumber utama yang dimiliki oleh manusia untuk berkreasi dan beradaptasi agar mereka mampu memacu kehidupan dalam jaman teknologi yang semakin canggih dan berkembang ini. Rangkuman Bagi masyarakat yang hidup dalam babakan pasca industri. konon para ahli ekonomi telah membuat prakiraan bahwa kehidupan perekonomian mendatang akan menemukan sumber kekuatannya pada kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan suatu sumber daya yang hanya ada pada manusia. Dengan demikian dunia pendidikan dan persekolahan memiliki tugas untuk mengupayakan kehadiran salah satu aspek keterampilan berbahasa ini kepada para siswanya.kemajuan dan keberjayaan. atau era sibermatika seperti sekerang ini. betapa kaya rayanya sumber daya alam (nature resources) yang dimiliki oleh suatu bangsa misalnya hal itu akan sulit mengangkat derajat bangsa tersebut bangsa tersebut ke pentas percanturan dunia serta dapat diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. kemahiran membaca dan menulis atau yang lazim disebut literacy memang telah dirasakan sebagai conditio sine quanon alias prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Meskipun demikian mengupayakan keterampilan membaca memang bukanlah persoalan yang sederhana. Sebagai sebuah bukti. Tanpa adanya kemahiran tersebut. Dengan demikian kedudukan kemahiran berliterasi pada abad informasi seperti sekarang ini sesungguhnya merupakan modal utama bagi siapa saja yang berkehendak meningkatkan kemampuan serta kesejahteraan penghidupannya. Yakni pemahaman (understanding). Dan jantung dari pendidikan adalah kegiatan berliterasi atau kegiatan bata-tulis. yakni daya nalarnya. Hal ini karena membaca merupakan proses yang sangat kompleks. Kegiatan membaca yang tidak disetai dengan pemahaman bukanlah kegiatan membaca. Nalar mausia hanya dan hanya akan berkembang secara maksimal jikaia diasah melalui pendidikan.

ekonomi C. Anderson B. motivasi B. B. proses perkembangan. Goodman C. proses keterampilan berbahasa. kecuali….. Meskipun demikian hal yang harus ada dalam kegiatan membaca yakni unsur pemahaman (understanding). Pendapat ini dikemukakan oleh…. manusia D. Finnochiaro D.. A... konsisi sosial ekonomi . 1-3 pilihlah satu jawaban yang paling tepat A. persepsi C. Bonnomo 3) Dibawah ini merupakan faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi kemampuan membaca. C. alam B. atau D)! 1) Salah satu faktor yang sangat penting yang akan mengantarkan keberhasilan umat manusia dalam bidang ekonomi pada abad informasi dan teknologi canggih seperti sekarang ini ialah kepemilikan sumber daya ….Selain itu merupakan proses sensoris membaca juga merupakan proses psikologis. A. Banyak definisi yang telah dikemukakan oleh para pakar tentang membaca. Sebab kegiatan membaca yang tidak disertai dengan pemahaman bukanlah kegiatan membaca. politik 2) Pada tataran yang lebih rendah membaca didefinisikan sebagai proses kegiatan mencocokkan lambing-lambang bunyi bahasa. Tes Formatif Petunjuk : Untuk soal-soal no. A.

Jika pernyataan benar. kondisi penglihatan Petunjuk: Untuk soal no. pilihlah: A. C. 4-6. alasan salah atau jika pernyataan salah alasan benar. Jika (1) dan (2) benar. Jika (2) dan (3) benar. Jika pernyataan dan alasan salah. Jika (1) dan (3) benar. keterampilan membaca itu bersifat tergeneralisasikan. Sebab Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah dapat menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menerapkannya kapan saja dan di mana saja jika situasi dan kondisi menghendaki penggeneralisasian itu. alasan benar. B. alasan benar. 6) Pada awalnya membaca itu merupakan proses sensoris Sebab Proses sensoris ialah proses memberi makna terhadap kata-kata yang dibaca. . Jika pernyataan benar. 5) Disamping objektif dan bertahap. 4) Dalam dunia pendidikan kemahiran membaca merupakan hal yang sangat penting Sebab Semua proses belajar hampir dapat dikatakan tidak mungkin dilepaskan dari kegiatan membaca. Petunjuk: Untuk soal no. dan keduanya menunjukkan hubungan sebab akibat. B. Jika pernyataan benar. D. tetapi antara keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat.D. C. 7-10 pilihlah: A.

(2). 7) Membaca merupakan proses interaksi …. (1) melihat bagi yang normal (2) mendengar bagi yang tuli (3) meraba bagi yang buta 9) Sebagai guru kita harus yakin bahwa …. Jika (1)... Antara lain …. (1) antara penulis dan pembaca (2) bersifat tidak langsung (3) aktif dan rekreatif 8) Kesiapan membaca itu dimulai dari …. kemudian gunakan rumus berikut ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi yang telah Anda pelajari! Rumus: . (1) keterampilan membaca itu harus diajarkan kepada para siswa (2) keterampilan membaca bukanlah bawaan alami (3) keterampilan membaca tidak terjadi dengan sendirinya 10) Persepsi seorang anak dalam membaca berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang banyak jumlahnya... dan (3) benar. (1) kebudayaan dan pengalaman (2) emosi dan kematangan (3) kepribadian atau watak Cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat pada bagian akhir modul ini! Hitung jumlah jawaban yang benar.D.

Oleh karena itu mereka beranggapan bahwa proses perkembangan bahasa . Anda dapat melanjutkan Kegiatan Belajar 2. Landasan teoritis mengenai belajar membaca sebenarnya tidak berbeda dengan landasan teoritis mengenai belajar bahasa. Dalam pandangan behavioristik anak dianggap sebagai penerima pasif dari lingkungannya. khususnya bahasa pertama. 2 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAMPUAN MEMBACA Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan membaca seseorang? Sebelum kita membahas lebih jauh persoalan tersebut sejenak mari kita tinjau terlebih dahulu ihwal landasan teoritis mengenai belajar membaca ini. dikendalikan dari luar si pembelajar dan diperoleh sebagai akibat adanya berbagai rangsangan yang disodorkan kepada sang pembelajar dan diperoleh sebagai akibat adanya berbagai rangsangan yang disodorkan kepada sang pembelajar melalui lingkungannya.100% = Amat baik 80% . terutama bagian yang belum Anda kuasai. Bagus! Tetapi jika tingkat penguasaan Anda kurang dari 80% Anda harus kembali mempelajari materi yang terdapat dalam kegiatan belajar ini.Tingkat penguasaan = Χ100 10 Jumlah jawaban Anda yang benar Arti tingkat penguasaan yang Anda capai 90% . Gagasan behavioristik tentang belajar bahasa terutama didasarkan pada teori belajar yang menitikberatkan peran lingkungan. baik verbal maupun non-verbal dalam pemerolehan hasil belajar.79% = cukup < 70% = kurang Jika Anda telah mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih. Artinya proses penguasaan dan kemampuan berbahasa itu.89% = baik 70% . Sebagaimana kita ketahui dalam belajar bahasa terdapat tiga acuan pendekatan yang biasa digunakan sebagai landasan-pijak bagi proses dan pendekatan prosedural.

sangat ditentukan oleh lamanya latihan yang dilakukan oleh lingkungannya, khususnya apa yang dikenal dengan stimulus-respons. Gagasan mentalistik atau nativisik menekankan pada aspek kapasitas bawaan (innate). Para pengusung aliran ini tidak memandang penting pengaruh dari lingkungan sekitar si pembelajar. Sebaliknya mereka beranggapan bahwa selama belajar bahasa pertama sedikitdemi sedikit seorang pembelajar akan membuka kemampuan lingualnya yang secara generic telah diprogramkan pada dirinya. Oleh karena itu para pengikuti aliran ini lebih condong pada anggapan bahwa bahasa merupakan pemberian secara biologis. Pemerolehan bahsa menurut mereka terlalu kompleks dan mustahil dipelajari dalam waktu yang singkat melalui peniruan. Jadi beberapa aspek penting yang menyangkut sistem bahasa pasti sudah ada pada manusia secara ilmiah. Sedangkan pendekatan prosedural mencoba menjembatani kedua kubu ekstrim tersebut dengan memadukan interaksi antara faktor-faktor internal dengan faktor-faktor eksternal dalam belajar bahasa. Artinya proses penguasaan dan kemampuan berbahasa seseorang itu selain ditentukan oleh faktor-faktor yang bawaan juga sangat ditentukan oleh sejauh mana mereka mendapat latihan-latihan, khususnya lewat kegiatan pembelajaran. Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar membaca ini, kubu-kubu ekstrim sebagaimana disebutkan di atas nampak juga dari hasil-hasil riset para pakar membaca. Yap (1978) misalnya melaporkan bahwa kemampuan membaca seseorang sangat ditentukan oleh faktor kuantitas membacanya. Tegasnya, kemampuan berbahasa seseorang itu sangat ditentukan oleh pengaruh sejauh mana (lamanya) seseorang melakukan aktivitas membaca. Ibarat seorang penerbang, semakin tinggi jam terbang yang dimilikinya maka akan semakin piawai kemampuan terbangnya, begitu pula sebaliknya. Untuk menguatkan pendapatnya itu Yap melaporkan hasil penelitiannya ihwal perbandingan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca tersebut sebagai berikut: 65% ditentukan oleh banyaknya waktu yang digunakan untuk membaca, 25% oleh faktor IQ, dan 10% oleh faktor-faktor lain berupa lingkungan sosial, emosional, lingkungann fisik dan sejenisnya. Dengan demikian, menurut Yap jika kita berniat untuk meningkatkan kualitas kemampuan membaca seseorang maka perbanyaklah melakukan aktivitas membaca. Dengan demikian Yap termasuk seorang pakar membaca yang beraliran behavioristik, yakni yang meyakini bahwa pemerolehan kemampuan membaca seseorang itu sebagian besar dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal fari lingkungan.

Berbeda dengan Yap, Burmenister mengatakan bahwa kemampuan membaca seseorang itu ditentukan oleh faktor intelegensinya (IQ). Hasil riset yang dilakukan oleh Anderson dan Freeboddy (1981) secara implicit dapat dikatakan menyokong pendapat Burmeister tersebut. Mereka mengatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara IQ yang dimiliki oleh seseorang dengan kemampuannya memahami membaca. Smith dan Mc Ginnis (1982) juga mengatakan bahwa orang yang memiliki intelegensi rata-rataa atau intelegensinya yang lebih baik cenderung dapat menjadi pembaca-pembaca yang baik. Meskipun demikian mereka tetap mengingatkan bahwa intelegensi bukanlah segalanya. Ia hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang dapat mempengaruhi belajar membaca. Harris (1970) juga berpendapat bahwa faktor yang terpenting dalam masalah kesiapan membaca ialah kepemilikan intelegensi umum. Karena faktor tersebut merupakan angka rata-rata lain sangat jelas. Witty dan Kopel pun mempunyai pendapat serupa. Mereka berkesimpulan bahwa seseorang yang memiliki skor IQ di bawah 25, biasanya tidak pernah mecapai kematangan mental yang layak untuk belajar membaca; yang skor IQ-nya di bawah 50 akan mengalami kesulitan dalam memahami materi bacaan yang abstrak dan materi-materi lainnya yang sukar; dan mereka yang skor IQ-nya merentang di antara 50 hingga 70 akhirnya akan mampu membaca juga, akan tetapi kemampuannya itu tidak akan melebihi kemampuan peringkat keempat. Jika ditinjau dari teori belajar di atas, para pakar tersebut termasuk mereka yang beraliran mentalistik karena mereka beranggapan bahwa kemampuan membaca itu sangat dipengaruhii oleh unsur-unsur yang bersifat bawaan, yakni unsur intelensi tersebut. Sedangkan Ebel (1972:35) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kemampuan pemahaman bacaan yang dapat dicapai oleh siswa dan perkembangan minat bacaannya tergantung pada faktor-faktor berikut: (1) siswa yang bersangkutan,(2) keluarganya,(3) kebudayaannya, dan (4) situasi sekolah. Begitu pula Omagio (1984) berpendapat bahwa pemahaman bacaan bergantung pada gabungan pengetahuan bahasa, gaya kognitif, dan pengalaman membaca. Ahli lain seperti Alexander (1983-146) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan pemahaman bacaan meliputi program pengajaran membaca, kepribadian siswa, motivasi, kebiasaan dan lingkungan sosial ekonomi mereka. Ihwal kaitan status sosial ekonomi dengan kemampuan serta minat membaca seorang anak ini Benson (1969) menyatakan bahwa kemampuan serta minat membaca anak-anak

yang berasal dari masyarakat kelas sosial ekonomi rendah dapat mencapai 80%. Hal yang sama juga dikatakan oleh Coleman (1940), serta Gough. Mereka berkesimpulan anak-anak yang berasal dari status sosial ekonomi rendah umumnya kemampuan membacanya juga rendah. Burron Claybaugh (1977:25-35) mengatakan bahwa pada tahap-tahap awal tingkat pencapaian kemampuan dan minat membaca seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka namakan “kesiapan membaca” (reading readness). Mereka mengajukan enam hal yang dipandang penting dalam mempertimbangkan reading readness ini, yakni: (a) Kepemilikan fasilitas bahasa lisan (oral language facility); (b) Latar belakang pengalaman (backround experience); (c) Diskriminasi auditori dan visual (auditory & visual discrimination); (d) Intelegensi (intelligence); (e) Sikap dan minta (attitude and interest); (f) Kematangan emosi dan sosial (emotional and sosial maturity). Wolfguy Michel dan Sterhagel (dalam Zielparache (1979) mencoba menggambarkan faktor-faktor yang turut mempengaruhi keberhasilan proses komunikasi membaca ini sebagai berikut: TEKS PEMBACA Konstruksi Kondisi - Struktur bahasa - Isi teks - Cirri-ciri teks - Cara penyusunan

Hubungan konteks .Kepribadian . saling membantu. khusus. 1978 dalam Hafni. yakni pertama.Sosial. Kemudian dari sekian banyak pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan serta minat membaca.Motivasi INTERAKSI HASIL Keduanya mengatakan bahwa hasil dari kegiatan membaca tersebut akan sangat tegantung pada sejauh mana teks dan kondisi pembaca saling mempengaruhi. yakni pertama.Lingkungan (umum. Katagori pertama berkenaan dengan keterbacaan (readability) dan organisasi teks atau wacana.Aktualitas . Faktor-faktor instrinsik antara lain meliputi kepemilikan faktor-faktor ekstrinsik dibagi menjadi dua katagori. . model pengajaran dan lain-lain (Pearson.Kelompok masyarakat .Tujuan . unsur-unsur yang berasal dari dalam teks bacaan. Dari penjelasan tersebut tampak jelas bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan serta membaca seseorang itu pada hakikatnya tidaklah tunggal. yakni faktor-faktor yang bersifat intrisik (yang berasal dari dalam pembaca) dan faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik (berasal dari luar pembaca). Sedangkan katagori kedua berkenaan dengan fasilitas. .. unsur-unsur yang berasal dari lingkungan baca. Menurutnya faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan serta minat membaca dapat diklasifikasikan ke dalam dua katori. 1981: 2-3). unsur-unsur yang berasal dari faktor-faktor ekstrinsik dibagi menjadi dua kategori. actual . dan kedua. guru. Mengapa demikian karena sebagaimana yang telah kita bahas pada kegiatan belajar 2 pada dasarnya proses membaca sendiri sesungguhnya tidaklah tunggal. agaknya pendapat Pearson-lah yang dapat dianggapsebagai cermin dari kesimpulan.

kata hubung. (2) Kurang memberi perhatian kepada detail. kata modal luput dari perhatian pembaca. (3) Terlalu imajinatif. dengan demikian pembaca akan menafsirkan makna teks dari sudut pengetahuan dan pengalamannya sendiri. (7) Penggunaan kata yang tidak akrab dengan pembacaanya juga merupakan kendala bagi pemahaman bacaan.Selanjutnya Hafni juga mencoba merumuskan beberapa penyebab kesulitan memahami bacaan ke dalam beberapa alasan. dengan demikian unsur-unsur kecil dalam bacaan. kata ingkar. Hampir berabad-abad lamanya perilaku komunikasi masyarakat kita lebih banyak berlangsung dalam tataran yang . Rumus-rumus yang digunakannya didasarkan pada pendapat Swan (1979) yang berpandangan bahwa beberapa penyebab kesukaran memahami isi bacaan berakar pada kebiasaan baca yang salah. secara histories-kultural masyarakat kita mengantongi warisan budaya lisan atau budaya tutur yang memfosil. (5) Gaya penulisan yang bertipe mengulang-mengulang gagasan dengan ungkapanungkapan dan kata-kata yang khusus juga dapat menimbulkan kesulitan pada pembacanya. (4) Kalimat-kalimat yang tersaji di dalam teks mempunyai kompleksitas yang tinggi. Seperti kita tahu. juga dapat menimbulkan kesulitan pada bacaannya. terutama bila pembaca menganggap telah mengetahui topik tertentu yang dibicarakan dalam bahan bacaan atau mempunyai pendapat yang kuat tentang topik tersebut. Selain hal-hal di atas dalam konteks Indonesia beberapa faktor lain yang juga merupakan faktor penyebab rendahnya kemampuan membaca bangsa kita antara lain. keruwetan sintaksis dapat menyebabkan kesulitan pada pembacanya. pertama. Kebiasaan-kebiasaan dimaksudkan meliputi: (1) Terlalu banyak memperhatikan butir demi butir informasi sehingga gagal memberi makna pada teks. seperti. (6) Gaya pengungkapan pokok pikiran penting secara tidak langsung yang mengharuskan pembaca mengambil inferensi atas informasi-informasi yang tidak tersurat dalam bacaan. sehingga meskipun maksud umum bacaan tertangkap secara utuh namun gagal dalam memahami butir-butir tertentu. tradisi kelisanan (orality) masih menjadi semacam penyumbat dalam kantong memori linguistik masyakat kita.

yakni dimulai dari perancangan Restorasi Meiji. masyarakat Eropa memerlukan waktu tidak kurang dua abad untuk menjadikan kegiatan literasi sebagai bagian tradisi hidup masyarakatnya. Para guru pada umumnya jarang mejadikan kegiatan membaca sebagai kerangka pijak (frame of reference) pembelajaran yang ia lakukan kepada para siswanya. Budha kemudian Islam. yakni manusia-manusia yang bias membaca tetapi . Padahal untuk mengubah tradisi lisan menuju budaya literasi membutuhkan waktu yang cukup lama. Cukuplah menjadi pendengar yang baik-baik saja. Sebagai bahan perbandingan. Oleh karena itu secara anekdot dikatakan bahwa untuk dapat sukses belajar di sekolah seorang siswa tidak dituntut harus terampil atau banyak membaca buku. Bahkan berbagai pendekatan yang dipahami serta diperlakukan dalam perspektif kelisanan. Tradisi literasi sendiri konon baru dikenal secara terbatas oleh bangsa kita sekitar paruh abad VIII. sebagai akibat persentuhan dengan agama serta kebudayaan Hindu. proses pembejalaran yang dibangun dalam dunia persekolahan kita pada umumnya lebih banyak berbasis dalam tataran lisan (guru terlalu banyak menjadi pembicara dan murid terlalu banyak menjadi pendengar) tinibang dalam tataran keberaksaraan (guru dan murid bersama menjadi seorang pembaca dan penulis). sebab bukanlah transer ilmu yang dilakukan oleh para guru tidak mengacu serta bersumber dari sejumlah buku melainkan dari omongan sang guru yang disampaikan secara lisan? Dengan kondisi semacam itu. Sebagaimana kita tahu. Ahmad Slamet Harjasuajana. tidak heran manusia-manusia yang dihasilkan oleh persekolahan kita masih merupakan masyarakat yang aliterat. sebagaimana dikemukakakn oleh Prof. apalagi memilikinya. Itu pun hanya hanya hadir pada sekelompokk kecil masyarakat elit priyayi sebagai akibat didirikannya lembaga persekolahan oleh kolonial Belanda sebagai pengejawantahan dari politic etic. yakni dimulai dari zaman renesans yang kemudian dilanjutkan dengan zaman industrialisasi. Kedua.serba melisan (omong-dengar) ketimbang tradisi litersi (baca-tulis). akibat sistem persekolahan kita yang kurang memberikan peluang yang cukup bagi hadirnya tradisi keberaksaraan (literacy) atau tradisi membaca pada para peserta didik. konon membutuhkan waktu satu abad lamanya. Dan baru setelah kita merdeka dan mendirikan sekolah-sekolah kegiatan membaca dan menulis tersebut mulai menyentuh secara lebih luas kepada masyarakat umum. Begitu pula dengan proses terbentuknya tradisi literasi pada bangsa Jepang. Jadi perkenaan masyarakat kita kegiatan membaca dan menulis memang masih relatif baru.

Betul bahwa anak memiliki kapasitas atau potensi bahwaan. Mengapa kita sebagai guru sebaiknya berpihak kepada kaum prosedural dalam melibatkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang itu? Petunjuk jawaban latihan Jika anda telah selesai. Begitu pula sebaliknya. Sebagai seorang guru sebaiknya kita berpihak pada pendapat yang ketiga di atas. termasuk dalam hal ini kemahiran membaca. periksalah latihan Anda dengan memperhatikan rambu-rambu berikut ini! 1. walaupun sang anak telah mendapatkan tempaan proses pembelajaran yang baik dan maksimal akan tetapi jika modal dasarnya kurang. maka dapat kita katakana bahwa pandangan-pandangan terakhir ini dapat kita masukkan sebagai para pakar yang beraliran prosedural. seperti IQ. Sebab dengan demikian kita dapat mendudukan posisi anak secara proposional. Faktor-faktor intrinsic . karena memang kegiatan membaca hanya sekedar kegiatan yang tidak terlalu mendapat penekanan utama dalam dunia pendidikan kita. yakni yang beranggapan bahwa kemampuan membaca seseorang itu selain dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat intrinsic atau yang berasal dari dalam diri si pembaca juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik atau luaran. Yakni faktor-fakro yang bersifat intrinsic (yang berasal dari dalam pembaca) dan faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik (berasall dari luar pembaca). Namun potensi bahwaan tersebut akan sulit berkembang dengan baik jika tidak mendapatkan penempatan lewat proses pembelajaran yang baik dan maksimal. misalnya IQ-nya rendah sekali maka akan susah juga mendapatkan hasil yang maksimal. yang sangat besar pengaruhnya terhadap sukses tidaknya mereka memiliki aneka kemahiran.mereka memilih untuk tidak membaca. Untuk lebih memantapkan pemahaman Anda tentang materi yang terdapat dalam kegiatan belajar ini kerjakan secaraperpasangan latihan berikut! 1. Jelaskan secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca seseorang! 2. Jika dihungkan dengan pembicaraan ihwal tiga aliran teori belajar bahasa sebagaimana kita bicarakan pada awal pembahasan di atas.

maka mereka akan sulit juga untuk ditingkatkan secara maksimal kemampuan membacanya itu. yakni unsur-unsur yang berasal dari dalam teks bacaan (keterbacaan dan organisasi teks) dan kedua. Faktor-faktor intrinsic antara lain meliputi kepemilikan kompentensi bahasa. dan kemampuan membacanya.antara lain meliputi kepemilikan kompetensi bahasa. yang sangat besar pengaruhnya terhadap sukses tidaknya mereka memiliki aneka kemahiran. minat. misalnya IQ-nya rendah sekali. motivasi. yakni unsur-unsur yang berasal dari dalam teks bacaan (keterbacaan dan organisasi teks). Sebagai seorang guru sebaiknya berpihak pada pendapat kaum prosedural yang berpandangan bahwa kemampuan membaca seseorang itu selain dipengaruhi oleh faktorfaktor yang bersifat instrinsik juga oleh faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik karena dengan demikian kita dapat mendudukkan posisi anak secara proporsional. dan kedua. Selanjutnya beberapa penyebab kesulitan memahami bacaan antara lain berakar pada kebiasaan baca yang salah. yakni faktor-faktor yang bersifat intrinsic (yang berasal dalam pembaca). unsur-unsur yang berasal dari lingkungan (fasilitas. Namun potensi bawaan tersebut akan sulit berkembang dengan baik jika tidak mendapatkan penempaan lewat proses pembelajaran yang baik dan maksimal. dan kemmapuan membacanya. Betul bahwa anak memiliki kapasitas atau potensi bawaan. Sedangkan faktor-faktor ekstrinsik di bagi menjadi dua katagori. model pengajaran dan lain-lain). Rangkuman Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan serta minat membaca seseorang. model pengajaran dan lain-lain). seperti IQ. guru. Sedangkan faktorfaktor ekstrinsik dibagi menjadi dua kategori. guru. Sebagai seorang guru sebaiknya berpihak pada pendapat kaum prosedural yang berpandangan bahwa kemampuan membaca seseorang itu selain dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat instrinsik juga oleh faktorfaktor yang bersifat ekstrinsik. Namun secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. motivasi. termasuk dalam hal ini kemahiran membaca. Kebiasan-kebiasaan dimaksud meliputi (1) terlalu banyak memperhatikan butir demi butir informasi sehingga gagal memberi makna pada teks (2) . unsur-unsur yang berasal dari lingkungan baca (fasilitas. 2. Begitu pula sebaliknya walaupun sang anak telah mendapat tempaan proses pembelajaran yang baik dan maksimal namun jika modal dasar mereka kurang begitu memadai.

Prosedural . C atau D) 1) Kaum behavioristik beranggapan bahwa kemampuan membaca seseorang itu sangat dipengaruhi oleh faktor………. (4) kalimat-kalimat yang tersaji di dalam teks mempunyai tingkat kompleksitas yang tinggi. Mentalistik C. A. pertama.kurang memberi perhatian kepada detail. Instrinsik B. akibat sistem persekolahan kita yang kurang memberikan peluang yang cukup bagi hadirnya tradisi keberaksaraan (literacy) atau tradisi membaca pada para pererta didik. (5) gaya penulisan yang bertipe mengulang-ulang gagasan dengan ungkapan-ungkapan dan kata-kata yang khusus (6) gaya pengungkapan pokok pikiran yang tidak langsung sehingga mengharuskan pembaca mengambil inferensi atas informasi-informasi yang tidak tersurat dalam bacaan. kedua. (3) terlalu imajinatif. A. Petunjuk: Untuk soal-soal no. sehingga meskipun maksud umum bacaan tertangkap secara utuh namun gagal dalam memahami butir-butir tertentu. (7) penggunaan kosakata yang tidak akrab dengan pembaca. terutama bila pembaca menganggap telah mengetahui topik tertentu yang dibicarakan dalam bahan bacaan atau mempunyai pendapat yang kuat tentang topik tersebut. Semuanya benar 2) Faktor ekstrinsik di yakini sebagai faktor dominan dalam mempengaruhi kemampuan membaca seseorang. tradisi kelisanan (orality) masih menjadi semacam penyumbatan dalam kantong memori linguistik masyarakat kita. Beberapa faktor yang lain juga merupakan faktor penyebab rendahnya kemampuan membaca bangsa kita antara lain. B. Behavioral B. 1-3 pilihlah satu jawaban yang paling tepat A. Anggapan semacam itu diyakini oleh kaum……. Ekstrinsik dan instrinsik D. Ekstrinsik C.

Ia hanyalah . Semuanya benar 3) Manakah di bawah ini yang tidak termasuk ke dalam komponen kesiapan membaca (reading readnness)? A. Petunjuk: untuk soal no. Jika pernyataan benar. Kondisi sosial ekonomi. tetapi antara keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat. Sikap dan mental C. namun IQ bukanlah segalanya. Jika pernyataan benar. Sebab Berdasarkan hasil penelitian bahwa kemampuan hampir 65% kemampuan membaca seseorang ditentukan oleh kuantitas membacanya 5) Burmeinster serta beberapa pakar lainnya mengatakan bahwa kemampuan membaca seseorang itu di tentukan oleh faktor intelegensinya (IQ) Sebab Menurut Harris IQ yang dimiliki seseorang memang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kemampuan membaca seseorang. pilihlah: A. 4-6. B. D. Jika pernyataan benar. dan keduanya menunjukkan hubungan sebab akibat B. Kepemilikan fasilitas bahasa lisan. alasan benar.D. C. alasan salah atau jika pernyataan salah alasan benar. Jika pernyataan dan alasan salah 4) Yap mengatakan bahwa kemampuan membaca seseorang itu diibaratkan seperti kemampuan seorang penerbang: semakin banyak terbang maka akan semakin piawailah kemampuan terbangnya. alasan benar. D. Intelegensi.

Jika (1) dan (2) benar. 6) Status sosial ekonomi seseorang ternyata berkorelasi dengan kemampuan serta minat membaca seseorang. (3) Guru tidak mentradisikan membaca kepada para peserta didik. D. Kebiasaan-kebiasaan dimaksud meliputi: . Jika (1). (2) Sistem persekolahan kita yang kurang memberikan peluang yang cukup bagi hadirnya tradisi keberaksaraan (lliteracy). dan (3) benar. 7) Dalam konteks masyarakat Indonesia beberapa faktor lain yang juga merupakan penyebab rendahnya kemampuan membaca bangsa kita antara lain yaitu: (1) Tradisi kelisanan (orality) masih menjadi semacam penyumbat dalam kantong memori linguistik masyakat kita. Petunjuk: untuku soal no. Jika (2) dan (3) benar. B. guru. 7-10 pilihlah: A. C. hobi (2) Keterbacaan dan organisasi teks (3) Fasilitas.(2).merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar membaca. model pengajaran 9) Beberapa penyebab kesulitan memahami bacaan antara lain berakar pada kebiasaan baca yang salah. 8) Beberapa faktor ekstrinsik yang mempengaruhi kemampuan membaca ialah (1) Motivasi. IQ. Jika (1) dan (3) benar. Sebab Benson (1969) menyatakan bahwa kemampuan serta minat membaca anak-anak yang berasal dari masyarakat kelas sosial ekonomi rendah dapat mencapai 80%.

(2) Melakkukan penilaian yang objektif kepada para siswa. (2) Kurang memberi perhatian kepada detai.100% = Amat baik 80% .89% = Baik . (3) Terlalu imajinatif. sehingga meskipun maksud umum bacaan tertangkap secara utuh namun gagal dalam memahami butir-butir tertentu. Cocokan jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat pada bagian akhir modul ini! Hitung jumlah jawaban yang benar.(1) Terlalu banyak memperhatikan butir demi butir informasi sehingga gagal memberi makna pada teks. (3) Mendudukan posisi anak secara proporsional. terutama bila pembaca menganggap telah mengetahui topik tertentu yang dibicarakan dalam bahan bacaan atau mempunyai pendapat yang kuat tentang topik tersebut. 10) Guru sebaiknya berpihak kepada kaum prosedural sebab dengan demikian mereka akan dapat: (1) Bersikap arif dan bijaksana dalam melihat keberbagian kemampuannya yang dimiliki oleh para siswa. kemudian gunakan rumus berikut ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi yang telah Anda pelajari! Rumus: Tingkat penguasaan = Χ100 10 Jumlah jawaban Anda yang benar Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90% .

materi. maka dirinya umumnya akan dengan senang dan sukarela mengerjakan hal yang di minatinya tersebut. Salah satu jawabannya ialah karena factor minat. terutama bagian yang belum Anda kuasai.79% = Cukup < 70% = Kurang Jika anda telah mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih. Contoh mengenai hal ini dengan mudah dapat kita saksikan dalam kehidupan seharihari. Bagus! Tetapi jika tingkat penguasaan Anda kurang dari 80% Anda harus kembali mempelajari materi yang terdapat dalam kegiatan belajar ini. 3 Upaya meningkatkan Minat Baca jika kita ditanya. Begitu pula halnya dalam konteks membaca ini. orang yang di dalam dirinya telah memiliki minat yang tinggi terhadap sesuatu hal. hal apakah yang dapat mendorong atau menggerakan hati seseorang melakukan suatu perbuatan dengan penuh senang hati seseorang melakukan suatu perbuatan dengan penuh senang hati dan sukarela?. baik secara materi ataupun non. . bukan hanya dengan senang dan sukarela melakukannya tetapi juga mereka dengan penuh kerelaan melakukan pengorbanan untuk dapat melakukannya. Orang yang telah memiliki minat yang baik.walaupun B untuk itu dirinya harus melakukan sebuah pengorbanan. Kendati misalnya mereka harus mengeluarkan biaya yang tisak sedikit untuk mereka dapat mengikuti olahraga tersebut serta harus rela berjemur di tengah terik matahari untuk memainkannya mereka akan menghadapinya dengan segala kesungguhan dan penuh kesenangan.70% . Misalnya orang yang berminat terhadap permainan golf. Ya. berarti Anda dapat melanjutkan dengan Kegiatan Belajar 3.

000 kata/minggu. khususnya terhadap aneka upaya untuk menumbuhkannya. Atau dengan perkataan lain peranan minat dalam membaca menduduki tempat yang sangat penting. yaitu: . begitu pula sebaliknya. . Bagaimana dengan kelompok mahasiswa seperti halnya Anda? Menurut penelitian kalau Anda ingin selalu luls ujian dengan hasil yang memuaskan. Persoalannya sekarang indicator-indikator apakah yang dapat kita jadikan parameter untuk mengetahui apakah seseoarang telah memiliki minat baca yang tinggi atau masih rendah? Salah seorang pakar mencoba menawarkan beberapa indikatornya. 5 April1990) umumnya waktu yang digunakan oleh sebagian besar mahasiswa kita untuk membaca rata-rata kurang dari dua jam pada setiap harinya. majalah wanita dan berbagai novel baru. Oleh karena itu para guru di sekolah serta para orang tua di rumah seyogyanya lebih memahami benar seputar persoalan minat baca ini. karena ia merupakan sumber pemicu utama seseorang dalam melakukan aktivitas membaca. Sebagai gambaran kaum ibu di Amerika sana pada setiap minggunya mereka sedikitnya dituntut melahap 400. Orang yang telah memiliki minat baca yang tinggi umumnya frekuensi membacanya pun sangat tinggi dan waktu yang di pergunakannya pun akan sangat tinggi pula.yang berasal dari sumber-sumber bacaan sepertisurat kabar.Jadi sekali lagi peranan minat dalam membaca menduduki posisi yang sangat sentral dan penting. seseorang yang mempunyai minat membaca akan banyak melakukan kegiatan membaca.Kondisi yang terjadi saat ini menurut penelitian Syahbadyni (Kompas. Frekuensi dan kuantitas Membaca Maksudnya bagaimana frekuensi (keseringan) dan waktu yang digunakan oleh seseorang untuk membaca.sementara KEM yang Anda miliki hanya berkisar hanya 250 kata/ 8jam/hari karena volumebacaan yang harus Anda lahap pada setiap minggunya harus mencapai 850. Berapa lamakah sebaiknya seseorang pembaca melakukan aktivitas membaca dalm setiap harinya? Jawabannya akan sangat bergantung pada tuntutan kebutuhan orang tersebut (profesi yang mereka sandang) serta kecepatan membaca yang dimilikinya. Dengan perkataan lain.000 kata. Kalau kecepatan efektif membaca mereka hanya sekitar 250 kata per menit maka setiap harinya rata-rata waktu yang harus mereka luangkan untuk membaca berkisar antara2-3 jam pada setiap harinya.karena ia merupakan salah satu fakror alasan pendorong yang sangat kuat pada diri seseorang untuk berbuat dan meningkatkan keberhasilan aktivitas membaca.

Jenis bacaan mereka terutama surat kabar. Artinya kelompok orang tersebut hanya akan melakukan aktivitas membaca kalau ada tuntutan harus membaca. Kedua. Pertama. kelompok orang yang melakukan aktivitas membaca hanya sekedar mencari hiburan atau kesenangan. kelompok masyarakat yang membaca karena didorong oleh kebutuhan ingin mendapatkan informasi. kelompok orang yang melakukan aktivitas karena hal itu telah menjadi bagian dari kebutuhan hidupnya. Kuantitas sumber bacaan Orang yang mempunyai minat baca yang baik umumnya akan berusaha melahap aneka bacaan atau bacaannya akan sama variatif. khususnya kepada anak-anak? Ajip Rosidi (1971:1819) menjelaskan bahwa kegemaran membaca bukanlah .jurnal berkala serta buku-buku ilmu pengetahuan (khususnya buku-buku teks atau buku pelajaran). novel-novel pop (picisan). Keempat. Jenis bacaan kelompokini sangat variatf. Ketiga. Jumlah kelompok ini menurut Kimman diperkirakan 15% dari komunitas bangsa kita. Karena frekuensinya tidak pasti maka menurut Kimman jenis bacaan yang mereka baca pun menjadi sulit diidentisifikasi. kelompok orang yang hanya sekali-kali saja melakukan aktivitas membaca. Jenis bacaan kelompok ini antara lain komik. Upaya apa yang perlu kita lakukan untuk menumbuhkan minat baca. tetapi juga akan membaca jeniss-jenis bacaan lain. Para siswa dan mahasiswa termasuk kedalam kategori ketiga ini. serta majalah-majalah hiburan dan koran-koran kuning seperti Pos Kota misalnya. Hanya sayangnya jumlah kelompok masyarakat kita yang termasuk kedalam kategori ini masih kurang dari 10% dari seluruh komunitas penduduk Indonesia yang jumlahnya saat ini lebih dari 200 juta orang ini. Merka bukan hanya akan membaca jenis-jenis bacaan yang memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan atau profesi dirinya saja. Menurut Kimman kelompok inilah yang sesungguhnya merupakan konsumen terbesar dari hasil-hasil penerbitan kita (media cetak dan buku-buku). Jumlah masyarakat kita yang termasuk kelompok ini diperkirakan meliputi sepertiga dari komunitas bangsa Indonesia. seperti kala menerima surat misalnya. Jumlah dari kelompok ini juga diperkirakan meliputi sepertiga dari komunitas bangsa kita. majalah berita.2. Sejauh mana aktivitas membaca yang dilakukan oleh bangsa kita dan jenis bacaan apasaja yang umumnya mereka konsumsi? Menurut penelitian Edward Kimman (1984) aktivitas membaca masyarakat Indonesia beserta jenis bacaan yang mereka lahap secara garis besar dapat dipilih dalam empat kategori.

pemerintah.Minat baca harus ditanam.sesuatu yang tumbuh secara otomatis dengan sendirinya. seperti Finlandia. serta yang tidak kalah pentingnya yakni dukungan dari pihak keluarga. Bahakn Thorndike menyatakan bahwa tidak terdapat indikasi bahwa anak-anak yang memiliki minat serta kemahiran membaca unggul sebagai akibat langsung (pengaruh) dari pengajaran membaca yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Pendapat senada dengan Thorndike juga direkomendasikan dalam laporan penelitian slah satu badan Unesco. Menurut mereka karakteristik anak-anak. baik di perpustakaan sekolah. pemahaman terhadap konsep maupun perkembangan bahasanya. AS atau negara-negara Eropa (pada penelitian ini anak-anak Indonesia menduduki peringkat ke 29 dari 30 negara yang menjadi sample penelitian mereka) pada umumnya memiliki akses kemudahan dalam mendapatkan berbagai bahan bacaan yang berkualitas. lingkungan masyarakat. ditumbuhkan serta dipupuk dan dibina sejak anak-anak masih dini. analisis lebih jauh di negara-negara yang anak-anaknya memiliki minat serta keterampilan membaca yang unggul. Ihwal pentingnya penciptaan minat sedari kecil dan harus dimulai dari lingkungan rumah atau keluarga ini disokong oleh para pakar psikologi perkembangan.Berdasarkan hasilpenelitian yang ia lakukan di lima belas Negara termasuk di dalamnya negara-negara berkembang. Sebaliknya berkat pengaruh serta dukungan keluargalah minat serta keterampilan mmbaca mereka terbentuk. dan terutama di rumah-rumahnya. Oleh karena itu untuk mengupayakannya diperlukan bantuan serta partisipasi aktif dari komponen masyarakat dari mulai lingkungan sekolah (guru).di antara berbagai factor eksternal membaca (dia menyebutnya faktor sosiologi) dia menyebutkan konon pengaruh keluargalah yang sangat tinggi konstribusinya dalam mempengaruhi terbentuknya minat serta kemahiran membaca pada anak-anak. Hal senada juga dinyatakan oleh Thorndike (1986). emosi. Menurut mereka. Wujud . Dengan demikian penanaman aneka kebiasaan pada periode ini akan sangat besar pengaruhnya pada masa-masa selanjutnya. Khususnya pada usia persekolahan (2-6 tahun) tengah mengalami yang pesat pada beberapa aspeknya. Sehubungan dengan kenyataan tersebut IAEA merekomendasikan bahwa faktor dukungan keluarga merupakan salah satu kunci utama dalam pembentukan minat serta ketermpilan membaca pada anak-anak. antara lain: perkembangan motorik. IAEA (International Achievment Education Asociation) (1988). perkembangan social.

dukungan keluarga tersebut antara lain penciptaan tradisi membaca di dalam lingkungan keluarga (ayah. seorang pakar membaca dari Universitas Texas mengatakan sesungguhnya mereka sebuah presepsi yang salah jika banyak orang tua yang mengatakan bahwa anak-anak itu tidak memiliki kesenangan membaca buku. Upaya-upaya apa yang harus dilakukan oleh orang tua untuk menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anak tersebut? Inilah beberapa upaya yang dapat kita lakukan. . Sebab bila hal itu kerap dilakukan maka boleh jadi mereka akan memiliki persepsi yang salah terhadp membaca : seolah-olah membaca itu merupakan kegiatan yang serius dan penuh dengan kerut kening dan bukan kegiatan yang bukan membahagiakan. Menurut hasilhasil penelitian yang ia lakukan. b. Janganlah anak-anak terlalu banyak dilarang apalagi dihardik saat mereka ikut mengganggu orang tua atau anggota keluarganya tengah melakukan aktivitas membaca. Dengan cara semacam itu lambat laun anak-anak akan tertarik untuk memperhatikan dan mulai membuka-buka buku bacaan tersebut. Sediakan bahan bacaan yang cocok untuk mereka Menurut Donna Norton (1989). Oleh karenanya libatkanlah mereka ketika orang tua atau anggota keluarga lainnya tengah melakukan kegiatan membaca. dia berkesimpulan bahwa pada dasarnya semua anak senang melakukannya. seperti dengan ayah-ibunya maupun saudara-saudara lainnya. Hanya saja syaratnya pihak orang tua harus mau menyediakan buku-buku . ibu dan saudara-saudara). serta penyediaan bahan-bahan bacaan yang sesuai dengan anak-anak. Untuk itu biasanya anak akan mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya itu. Kenalkan anak-anak dengan kegiatan membaca sejak dini Anak usia prasekolah umumnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para anggota keluarganya. Oleh karena itu seyogyanyalah orang tua mampu memberikan dan mengarahkan rasa ingin tau mereka dengan benar untuk membina minat anak alangkah yang dapat dilakukan oleh para orang tua adalah dengan sering membacakan cerita-cerita menarik atau lucu kepada mereka sesuai dengan usia dengan perkemabangan kejiwaan mereka. Bacakan aneka cerita-cerita yang menarik kepada mereka Anak-anak prasekolah umumnya mempunyairasa ingin tau yang sangat besar. c.

pasti anak-anak dengan penuh suka cita akan melakukannya. Mengapa mengupayakan penumbuhan minat baca pada anak-anak dinilai bukan Perkara yang mudah dan murah? Petunjuk jawaban latihan Jika Anda telah selesai. memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan murah. 2. Atau dengan perkataan lain peranan minat dalam membaca menduduki tempat yang sangat penting. juga karena kemampuan membaca bukanlah kemampuan bawaan (innate) tetapi kemampuan yang kehadirannya harus diupayakan. jika . Dan dalam mengupayakannya sebagaimana dikemukakan oleh Ajip Rosidi diperlukan adanya sokongan dan bantuan serta kerjasama antara berbagai pihak. memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan murah. periksalah latiha Anda dengan memperhatikan rambu-rambu berikut ini! 1. Peranan minat dalam membaca menduduki posisi yang sangat sentral dan penting. karena ia merupakan sumber pemicu utama seseorang dalam melakukan aktivitas membaca.bacaan yang memang cocok dengan kondisi mereka. karena ia merupakan salah satu faktor alasan pendorong yang sangat kuat pada dri seseorang untuk berbuat dan meningkatkan keberhasilan aktivitas membaca. Mengupayakan agar anak-anak gemar dan mahir membaca. Oleh karena itu menurutnya untuk menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anak salah satu caranya sediakan saja bacaan yang mereka sukai. Penyebabnya selain karena factor-faktor yang turut mempengaruhi minat serta kemahiran membaca pada diri seseorang itu tidaklah tunggal. baik dari segi isi maupun bahasanya. lingkungan masyarakat dan juga pemerintah. Mengupayakan agar anak-anak gemar dan mahir membaca.seperti pihak sekolah. keluarga. jika tidak mau dikatakan cukup kompleks. Mengapa minat menduduki tempat yang sangat penting dalam kegiatan membaca? 2. Untuk lebih memantapkan pemahaman Anda tentang materi yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran kegiatan ini kerjakan secara perpasangan latihan berikut ini! 1. Penyebabnya selain karena factor-faktor yang turut mempengaruhi minat serta kemahiran membaca pada diri seseorang itu tidaklah tunggal.

Beberapa indikator yang dapat kita jadikan parameter untuk mengetahui minat baca antara lain frekuensi dan kuantitas membaca yang digunakan seseorang untuk membaca dan kuantitas sumber bacaan yang dibaca. atau D! 1) Ukuran lamanya seseorang pembaca melakukan aktivitas membaca dalam setiap harinya antara lain akan sangat bergantung pada…… A. B. serta yang tidak kalah pentingnya yakni dukungan dari pihak keluarga. serta bahan-bahan bacaan yang cocok untuk mereka.1-3 pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat A. Petunjuk: Untuk soal-soal no. Selain itu untuk mengupayakannya diperlukan bantuan. membacakan kepada anak-anak aneka cerita-cerita yang menarik. Status social yang disandang oleh seseorang D. Jabatan yang disandang oleh seseorang 2) Menurut penelitian berapa banyak volume bacaan yang harus dilahap oleh seorang mahasiswa pada setiap minggunya ialah…. lingkungan masyarakat. Karena kegemaran membaca bukanlah merupakan sesuatu yang tumbuh secara otomatis dengan sendirinya. karena ia merupakan sumber pemicu utama seseorang dalam melakukan aktivitas membaca. Tuntutan kebutuhan yang disandang oleh seseorang B. pemerintah. juga karena kemampuan membaca bukanlah kemampuan bawaan (innate) tetapi kemampuan yang kehadirannya yang harus diupayakan. Kedudukan yang disandang oleh seseorang C. C.tidak mau dikatakan cukup kompleks. Upayaupaya yang harus dilakukan oleh orang tua untuk menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anak antara lain mengenalkan anak-anak dengan kegiatan membaca sejak dini. dukungan serta partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat dari mulai lingkungan sekolah (guru). Dan menurut hasil penelitian Edward Kimman jika dilihat dari kedua indicator tersebut minat baca masyarakat Indonesia masih sangat memprihatinkan. ditumbuhkan serta dipupuk dan dibina sejak masa anak-anak. Peranan minat membaca menduduki tempat yang sangat penting. . maka ia harus ditanam.

alasan benar.A. tetapi antara keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat. harus mencapai 850. dan keduanya menunjukkan hubungan sebab akibat. Jika pernyataan benar.000 kata B. 5) Donna. B. 4) Menurut para pakar psikologi perkembangan penciptaan minat baca harus diupayakan sejak kecil dan harus dimulai dari lingkungan rumah atau keluarga. Novel picisan C. D. Surat-surat yang mereka terima D. C. harus mencapai 950. alasan salah atau jika pernyataan salah alasan benar. .000 kata D. Jika pernyataan dan alasan salah. harus mencapai 750. Norton mengatakan bahwa adalah sebuah persepsi yang salh jika banyak orang tua yang menganggap seolah-olah anak-anak itu tidak memiliki kesenangan membaca buku. Sebab Para pakar psikologi perkembangan menyatakan bahwa penanaman aneka kebiasaan pada masa anak-anak akan sangat besar pengaruhnya pada masa-masa selanjutnya. Jika pernyataan benar. Koran-koran kuning B. A.000 kata C. semuanya betul 3) Menurut penelitian Edward Kimman kelompok orang yang hanya sekali-kali saja melakukan aktivitas membaca. pilihlah: A. Tidak ada yang benar Petunjuk: Untuk soal no. jenis bacaan mereka antara lain…. alasan benar. Jika pernyataan benar. 4-6.

Jika (1) dan (3) benar. dan (3) benar. 7) Salah satu bentuk pelibatan anak-anakdengan kegiatan membaca di lingkungan rumah antara lain: (1) menyuruh mereka membaca secara mandiri (2) mengajak mereka saat anggota keluarga lainnya tengah melakukan kegiatan membaca (3) janganlah mereka dihardik saat mereka ikut serta membaca bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya.7-10 pilihlah: A. (2). C. 8) Bentuk-bentuk dukungan pemerintah dalam mengupayakan penumbuhan minat baca masyarakat antara lain: (1) memberantas pembajakan buku (2) mendirikan perpustakaan di daerah-daerah terpencil (3) pencanangan program KMD (Koran masuk desa). 9) Mereka yang digolongkan sebagai kelompok masyarakat yang membaca karena didorong oleh kebutuhan ingin mendapatkan informasi antara lain: . D. Petunjuk: Untuk saol no. B. Sebab Dongeng merupakan cerita untuk mengembangkan daya imajinasi anak-anak.Sebab Membaca harus dapat menyenangkan dan menggembirakan anak-anak 6) Mendongeng sangat baik sebagai alat untuk menumbuhkan minat baca anak-anak. Jika (1) dan (2) benar. Jika (1). Jika (2) dan (3) benar.

terutama bagian-bagian yang belum Anda ketahui. Bagus! Akan tetapi jika tingkat penguasaan kurang dari 80% Anda harus kembali mempelajari materi yang terdapat dalam kegiatan belajar ini. Anda berhasil dapat melanjutkan dengan modul selanjutnya.89% = Baik 70% . kemudian gunakan rumus berikut ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi yang telah Anda pelajari! Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = × 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai 90% . KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .79% = cukup < 70% = kurang Jika Anda telah mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih.(1) guru (2) mahasiswa (3) pelajar SLTA 10) Faktor-faktor yang turut mempengaruhi minat baca seseorang antara lain: (1) kebutuhan terhadap informasi (2) kesenangan atau hobi (3) pengaruh budaya keluarga Cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif 3 yang terdapat pada bagian akhir modul ini! Hitung jumlah jawaban yang benar.100% = Amat baik 80% .

Proses sensoris bukan merupakan proses memberi makna terhadap kata-kata yang dibaca akan tetapi proses melihat. A Pada tataran yang lebih rendah membaca diidentidifikasi sebagai proses kegiatan mencocokan lambang-lambang bunyi bahasa. A Dalam dunia pendidikan kemahiran membaca merupakan hal yang sangat penting. 2. 9. 5. Kedua pernyataan menunjukkan hubungan sebab-akibat. keterampilan membaca itu bersifat tergeneralisasikan. C Salah satu factor yang sangat penting yang akan mengantarkan keberhasilan umat manusia pada abad informasi dan teknologi canggih seperti sekarang ini ialah kepemilikan sumber daya manusia. sebab proses belajar hampir dapat dikatakan tidak mungkin dilepaskan dari kegiatan membaca. persepsi. antara lain motivasi. melihat bagi yang normal dan meraba bagi yang buta. Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah dapat menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menarapkannya kapan saja dan dimana saja jika situasi dan kondisi menghendakinya penggeneralisaian itu. 3. D Faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi kemampuan membaca. 7. Pernyataan pertama benar sedangkan pernyataan kedua salah. Kondisi penglihatan termasuk factor sensoris 4. D Sebagai guru kita harus yakin bahwa keterampilan membaca itu harus diajarkan kepada para siswa dan bukanlah bawaan alami serta tidak terjadi dengan sendirinya. dan kondisi social ekonomi. Pendapat ini dikemukakan oleh Anderson. Kedua pernyataan tersebut benar akan tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat. . B Kesiapan membaca itu dimulai dari. B Di samping objektif dan bertahap. 6. B Pada awalnya membaca itu merupakan proses sensoris. A Membaca merupakan prosese interaksi antara penulis dan pembaca dan bersifat tidak langsung. 8.Tes Formatif 1 1.

B Burmeinster serta beberapa pakar lainnya mengatakan bahwa kemampuan membaca seseorang itu ditentukan oleh intelegensinya (IQ). A Status sosial ekonomi seseorang berkorelasi dengan kemampuan membaca seseorang 7. A Yap mengatakan bahwa kemampuan membaca seseorang itu diibaratkan seperti. namun IQ bukanlah segalanya. tradisi kelisanan (orality) masih menjadi semacam penyumbat dalam kantong memori linguistik masyarakat kita. Tes Formatif 2 1. Kedua pernyataan tersebut benar namun tidaksaling menunjukkan hubungan sebab-akibat. emosi dan kematangan. 8. A Beberapa faktor lain yang juga merupakan faktor penyebab rendahnya kemampuan membaca bangsa kita antara lain. A Penjelasan sam dengan nomor 3. akibat sistem persekolahan kita yang kurang memberikan peluang yang cukup bagi hadirnya tradisi keberaksaraan (literacy) atau tradisi membaca kepada para peserta didik. kemampuan seorang penerbang: semakin banyak terbangnya maka akan semakin piawailah kemampuan terbangnya. 5. pertama. yakni unsur-unsur yang berasal dari dalam teks bacaan (keterbacaan . serta kepribadian atau watak. 6. D Faktor sosial ekonomi termasuk kedalam komponen kesiapan membaca (reading readness).Untuk memperkuat pendapatnya itu Yap mengemukakan hasil penelitiannya bahwa hamper 65% kemampuan membaca seseorang itu ditentukan oleh kuantitas membacanya. C Faktor-faktor ekstrinsik yang mempengaruhi kemampuan membaca dibagi menjadi dua katagori. Harris juga mengatakan bahwa IQ yang dimiliki seseorang memang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kemampuan membaca seseorang.10. B Kaum behavioristik beranggapan bahwa factor yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca seaseorang adalah factor-faktor yang bersifat ekstrinsik. kedua.Ia hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak factor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar membaca. 4. D Persepsi seorang anak dalam membaca berpengaruh dan dipengaruhi oleh factorfaktor kebudayaan dan pengalaman. 2.

Artinya kelompok orang tersebut hanya akan melakukan aktivitas membaca kala ada tuntutan harus membaca. 2. (5) gaya penulisan yang bertipe mengulangulang gagasan dengan ungkapan-ungkapan dan kata. D Guru sebaiknya berpihak kepada kaum prosedural sebab dengan demikian mereka akan dapat bersikap arif dan bijaksana dalam melihat keberbagian kemampuan yang dimiliki oleh para siswa serta dapat melakukan penilaian yang objektif kepada para siswa.000 kata. seperti kala menerima surat misalnya. A Lamanya seorang pembaca melakukan aktivitas membaca dalam setiap harinya sangat bergantung pada tuntutan kebutuhan orang tersebut (profesi yang mereka sandang) serta kecepatan membaca yang dimilikinya. 3. 10.kata yang fundamen (6) gaya pengungkapan pokok pikiran penting yang tidak langsung sehingga mengharuskan pem baca mengambil inferensi atas informasi-informasi yang tidak tersurat dalam bacaan. (3) terlalu imajinatif. 9. (2) kurang memberi perhatian kepada detail.dan organisasi teks). terutama bila pembaca menganggap telah mengetahui topik tertentu yang dibicarakan dalam bahan bacaan atau mempunyai pendapat yang kuat tentang topik tersebut. kedua unsur-unsur yang berasal dari lingkungan baca (fasilitas. kelompok orang yang hanya sekali-kali saja melakukan aktivitas membaca. (4) kalimat-kalimat yang tersaji di dalam teks mempunyai tingkat kompleksitas yang tinggi. D Salah satu penyebab kesulitan memahami bacaan antara lain berakar pada kebiasaan baca yang salah. Dengan perkataan lain dapat mendudukan posisi anak secara proporsional. Pertama. guru. B Menurut penelitian banyaknya volume bacaan yang harus dilahap oleh seorang mahasiswa pada setiap minggunya harus mencapai 850. model pengajaran dan lain-lain). D Menurut penelitian Edward Kimman (1984) aktivitas membaca masyarakat Indonesia beserta jenis bacaan yang mereka lahap secara garis besar dapat dipilah ke dalam empat katagori. (7) penggunaan kosakata yang tidak akrab dengan pembaca. Kebiasaan-kebiasaan dimaksud meliputi (1) terlalu banyak memperhatikan butir demi butir informasi sehingga gagal memberi makna pada teks. Tes Forrnatif 3 1. Karena frekuensinya . sehingga meskipun maksud umum bacaan tertangkap secara utuh namun gagal dalam memahami butir-butir tertentu.

B Menurut para pakar psikologi perkembangan penciptaan minat baca harus diupayakan sejak kecil dan harus dimulai dari lingkungan rumah atau keluarga. Tapi kedua pernyataan tersebut tidak saling menunjukkan hubungan sebab akibat. A Menurut Donna Norton (1989).tidak saling menunjukkan sebab akibat. 7. Norton mengatakan bahwa adalah sebuah persepsi yang salah jika banyak orang tua yang menganggap seolah-olah anak-anak itu tidak memiliki kesenangan membaca buku. 8. Oleh karena itu menurutnya untuk menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anak salah satu caranya sediakan saja bacaan yang mereka sukai. Donna N. mendirikan perpustakaan di daerah-daerah terpencil serta pencanangan program KMD (koran masuk . dia berkesimpulan bahwa pada dasarnya semua anak senang melakukannya. seorang pakar membaca dari Universitas Texas mengatakan sesungguhnya merupakan sebuah persepsi yang salah jika banyak orang tua yang mengatakan bahwa anak-anak itu tidak memiliki kesenangan membaca buku. C Salah satu bentuk pelibatan anak-anak dengan kegiatan membaca di lingkungan rumah antara lain dengan mengajak mereka saat anggota keluarga Iainnya tengah melakukan membaca serta janganlah mereka dihardik saat mereka ikut serta membaca bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya. Kedua pernyataan tersebut benar akan tetapi keduanya. Mereka juga menyatakan bahwa penanaman aneka kebiasaan pada masa anak-anak akan sangat besar pengaruhnya pada masa-masa selanjutnya. Menurut hasilhasil penelitian yang ia lakukan.tidak pasti maka menurut Kimman jenis bacaan yang mereka baca pun menjadi sulit diidentifikasi. 6. Dengan perkataan lain membaca harus dapat menyenangkan dan rnenggembirakan anakanak. D Bentuk-bentuk pemberantasan kegiatan pembajakan buku. 4. Jumlah masyarakat kita yang termasuk kelompok ini diperkirakan meliputi sepertiga dan komunitas bangsa Indonesia. baik dari segi isi maupun bahasanya. 5. B Mendongeng sangat baik sebagai alat untuk menumbuhkan minat baca anak Dongeng juga merupakan cerita untuk rnengembangkan daya imajinasi anak-anak. pasti anak-anak dengan penuh suka cita akan melakukannya. Hanya saja syaratnya pihak orang tua harus mau menyediakan buku-buku bacaan yang memang cocok dengan kondisi mereka.

London: International Reading Asociation. L. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka Harjasujana. Rinehart and Wiston. (dkk. Carl B. Tarigan. Reading Strategies for Middler and Secondary School. kesenangan atau hobi membaca. NewYork: Holt.desa) merupakan bentuk-bentuk dukungan pemerintah dalam mengupayakan penumbuhan minat baca masyarakat. 9. London: Macmillam Publishing Ltd. (et all). serta pengaruh budaya keluarga termasuk faktor-faktor yang turut mempengaruhi minat baca seseorang.G. Eddie William. Jumlah kelompok ini menurut Kimman diperkirakan sekitar 15% dan komunitas bangsa kita. Jenis bacaan mereka terutama surat kabar. DAFTARPUSTAKA Bwialster L. Sinar Baru. A. London: Lawrence Erlbaum Asociates Publisher. (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada FPBS IKIP Bandung). (1978). Harris. Teaching Reading in Secondary School Content Subject: Bookthinking Process. Bandung: Angkasa. jurnal berkala serta buku-buku ilmu pengetahuan (khususnya buku-buku teks atau buku pelajaran). Dictionary of Reading and Related Term. (1984). 1988. 1988. Harjasujana. H. Materi Pokok Membaca. Nurhadi.).: 1986. Nusantara yang Literat: Secercah Sumbangsaran terhadap Upaya Pengingkatan Mutu Pendidikan di Indonesia. 1987 Understanding Reading: a Psikolinguistic Analysis of Reading and Learning to Read. Reading in the Language Classroom. 10.E. Smith. A. C Mahasiswa dan Pelajar SLTA oleh Edward Kimman digolongkan sebagai kelompok orang yang melakukan aktivitas membaca karena didorong oleh kebutuhan ingin mendapatkan informasi. Smith. Bandung: penerbit CV. D Kebutuhan terhadap informasi. 1987. . majalah berita. California: Addison-Wesley Publishing Company. Membaca Cepat dan Efektif (Teori dan Latihan).al) (ed): 1983. Theodore (et. Frank.

1985. Pemilihan dan Pengembangan Bahan Pengajaran Membaca. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru. Membaca Minat Baca Masyarakat Kita dalam jurnal Mimbar Bahasa dan Seni No. Ruhendi Saefullah (ed). Norton. Rosidi. London: Cambridge University.XXII 1995. Seni Membaca Untuk Studi. Model Pelatihan dalam Bimbingan Membaca Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Pemahaman Bacaan. Toronto: Charles E. and Learning. H. Harras K. Bandung: Angkasa. Hafni.G. 1989.Tampubolon D.). Colombus. 1981. Tarigan. Insight and Strategies for Teaching Reading. Mengembangkan Bahasa Anak-anak Melalui Bacaan Sastra dalam Sastra dan Perkembangan Insani Anak-anak (H. 1992. Richard T.A. 1988. Harras Pendahuluan . Membaca dalarn Kehidupan. David (et. Burnes Don and Glenda Page (ed. 1983. Sydney: Harcourt Brace Jovanovich Group. Content Area Reading. Merril Publishing Company. dan Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa. Language. Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Olson. Jakarta: Panitia Tahun Buku Internasional. 1994. R. Ajip.A. 1993. Vacca and Jo Annel Vacca.). Kholid dan A. Through the Eyes of a Child: An Introduction to Children Literature. 1987. Bandung: Penerbit Mimbar Pendidikan Bahasa dan Seni. ANEKA JENIS MEMBACA Drs.G. Tesis Pascasarjana IKIP Bandung.. Literacy. Kkolid A.. Foresman and Company. Apresiasi.P. 1989. Pembinaan Minat Baca. 1973. Yeti. 1995. Mulyati. Harras ed). Tarigan dan Kholid A. Widyamartaya A. Donna. Boston: Scott.al) (ed. Harras K.

yakni membaca dalam hati (silent reading). dan membaca kreatif (creati reading). membaca dapat digolongkan ke dalam tiga jenis. serta membaca nyaring atau membaca bersuara (oral reading or aloud reading). Jika Anda menganggap perlu. Jika Anda menemukan kesulitan berupa kata atau istilah-istilah silakan anda buka bagian glosarium. kita dapat membagi membaca menjadi dua jenis. kita akan mencoba mengulas aneka jenis teknik membaca sebagaimana disebutkan di atas. Akan tetapi. Dilihat dari tingkatan kedalamannya atau levelnya.Dalam kajian membaca dikenal banyak jenis membaca. menjelaskan pengertian membaca literal. kritis dan kreatif. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam mempelajari modul ini Anda disarankan untuk memulai membaca setiap konsep. menjelaskan pengertian dan jenis-jenis teknik membaca ekstensif dan intensif. Usahakan tidak melihat rambu-rambu jawaban terlebih dahulu sebelum anda mengerjakan seluruh bagian latihan tersebut. dan contoh sehubungan dengan jawaban latihan ini. Setalah Anda memahami bagian tersebut kerjakanlah bagian latihan dengan sungguhsungguh. dan contoh yang terdapat pada bagian awal setiap kegiatan belajar. Dilihat dari sudut cakupan bahan bacaan yang dibacanya. jika Anda telah berhasil menjawab sebagian besar soal latihan tersebut silakan Anda lanjutkan untuk mulai mengerjakan tes formatif . Anda diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan wawasan seputar jenis-jenis teknik membaca ini. Dasar pijakan dalam melakukan pembagian atau penggolongan jenis-jenis membaca tersebut tentunya bermacammacam. silakan baca kembali konsep. 3. Secara lebih rinci setelah mempelajari ini. baik menyangkut pengertian maupun aspek-aspek yang terlibat di dalamnya. Ditinjau dan terdengar tidaknya suara si pembaca pada waktu membaca. Dengan demikian setelah mempelajari modul ini. uraian. perhatikan baik-baik sekali lagi petunjuk jawaban latihan. membaca dapat kita golongkan ke dalam membaca ekstensif (extensive reading) dan membaca intensif (intensive). menjelaskan pengertian membaca nyaring dan membaca dalam hati. membaca kritis (critical reading). Jika Anda belum berhasil menjawab dengan benar semua soal latihan. Lewat modul 2 ini. Anda diharapkan dapat: 1. yakni membaca literal (literary reading). uraian. 2. denfisi.

yakni membaca dalan hati (silent reading). kita dapat membagi membaca menjadi dua jenis. Sebelum Auth beralih ada kegiatan belajar selanjutnya. skimming = kegiatan membaca secara cepat dan selektif serta bertujuan. bahwa model soal-soal tes formatif yang terdapat dalam setiap kegiatan belajar akan saina dengan model soal-soal yang terdapat pada ujian akhir semester (UAS) mata kuhah mu Dengan demikian. Selamatbelajar‟ GLOSARIUM oral reading = kegiatan membaca nyaring atau membaca bersuara silent reading = kegiatan membaca dalam hati atau membaca senyap ingatan visual = ingatan yang diperoleh melalui penglihatan yang kemudian diendapkan di dalam otak kita. Anda harus „akiu bahwa Anda telah berhasil memahami seluruh isi kegiatan belajar yang sudah dipelajari serta seluruh latihan-latihanuya. Anda mencocokkannya dengan kunci jawabannya. serta membaca nyaring atau membaca bersuara (oral reading or aloud reading). Yang perlu Anda catat.Dalam mengerjakan tes formatif sebaiknya Anda jawab dahulu semua soal yang ada. baru kemudian. iformasi non-visual = informasi yang telah dimiliki oleh seseorang sebelumnya. Untuk . bila Anda sudah terbiasa mengerjakan tes formatif yang terdapat dalam kegiatan belajar dengan sebauk-baaknya maka Auth. Informasi ini memegang peranan yang sangat penting dalam proses membaca karena dapat memprediksi suatu bahan bacaan sehingga mendapatkan suatu pemahaman. akan mempunyai modal yang cukup besar saat menghadapi UAS nanti. 1 Membaca Nyaring dan Membaca Dalam Hati Ditinjau dari terdengar tidaknya suara si pembaca pada waktu membaca.

Dalam hal ini yang aktif adalah mata (pandangan atau penglihatan dan ingatan). misalnya padá anak-anak SD kelas I yang baru belajar membaca tentu saja pengertian semacam itu tidaklah salah. Membaca nyaring merupakan proses mengkomunikasikan isi bacaan (dengan nyaring) kepada orang lain. mari ikuti penjelasan berikut. Membaca Nyaring Selama ini banyak orang memberikan pengertian ihwal membaca nyaring ini secara sederhana sekali. A.lambang bunyi bahasa saja. Hanya dalam tataran yang lebih tinggi. yakni kegiatan membaca dengan mengeluarkan suara atau kegiatan melafalkan lambang-lambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup keras. Pada tataran yang paling rendah. Gates (1974) dalam Dictionary of Reading (1983:221) dikatakan bahwasanya membaca nyaring lebih sulit dibandingkan dengan membaca dalam hati: oral reading is much more difficult procces than silent reading. jelaslah bahwa proses membaca nyaring sesungguhnya bukanlah hal yang mudah Menurut A. membaca nyaring dianggap sebagai kegiatan membaca yang sangat mudah dan siapa pun seolah-olah dapat melakukannya. Akibat pengertian seperti itu. Dengan demikian. misalnya pada anak-anak sudah mulai lancar membaca. Sebagaimana dijelaskan dalam Dictionary of Reading (193:221): oral reading is the process of reading aloud to communicate to another to anaudience. Dalam membaca dalam hati. pengertian membaca nyaring pada dasarnya bukanlah kegiatan membaca untuk kepentingan diri sendiri.memberikan pemahaman yang luas kepada Anda ihwal kedua jenis membaca ini. Karena tujuan utamanya pengkomunikasian isi bacaan maka si pembaca bukan hanya dituntut harus mampu melafalkan dengan suara nyaring lambang. melainkan juga dituntut harus mampu melakukan „proses pengolahan‟ agar pesan-pesan atau muatan makna yang terkandung dalam lambang-lambang bunyi bahasa tersebut dapat tersampaikan secara jelas dan tepat oleh orang yang mendengarnya. kita hanya menggunakan ingatan visual (visual memory). tetapi membaca untuk kepentingan orang lain (pendengar). Kesulitan proses membaca nyaring ini juga dapat dilihat dari tingkat keterlibatan organorgan tubuh yang turut bereaktivitas. sedangkan dalam membaca nyaring selain penglihatan dan ingatan turut juga aktif ingatan pendengaran (auditory memory) dan ingatan yang bersangkutan .

Karena tujuan akhir yang diharapkan dari membaca nyaring adalah kefasihan (fluency): mampu mempergunakan ucapan yang tepat. Masalah kepercayaan diri ini merupakan hal yang penting untuk dicermati dalam membaca nyaring karena seperti yang telah dijelaskan bahwa pada hakekatnya kegiatan membaca nyaring ini diperuntukkan bagi orang lain (pendengar). seperti tanda pungtuasi serta tanda-tanda baca lainnya. seperti dilanda rasa gugup. koma. membaca dengan tidak terus menerus melihat pada bahan bacaaan. c) harus memiliki kecepatan penglihatan mata yang tinggi serta pandangan mata yang jauh. seperti alat-alat ucap kita. maka hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pembaca nyaring secara umum antara lain: a) harus mengerti makna serta perasaan yang terkandung dalam bahan bacaan.dengan otot-otot kita (motor memory). Oleh karena itu. seru. b) harus mempelajari keterampilan menafsirkan lambang-lambang tertulis. d) harus dapat mengelompokkan kata-kata dengan baik dan tepat agar jelas maknanya bagi para pendengar. tanya. dan sejenisnya agar dirinya dapat menyusun kata-kata dengan intonasi yang sesuai dengan maksud si penulis serta ucapan-ucapan yang disampaikannya terasa hidup. .. Kalau tingkat kepercayaan dirinya rapuh maka boleh jadi saat dia melakukan kegiatan membaca nyaring. dirinya akan banyak mendapatkan kesulitan. membaca dengan jelas dan tidak terbata-bata. misalnya tanda titik. karena dia harus melihat pada bacaan untuk memelihara kontak dengan para pendengar. untuk mendapat kefasihan dalam membaca nyaring maka seorang pembaca dituntut untuk memiliki tingkat kepercayaan diri (self confidence) yang baik. baik langsung maupun tidak langsung saat dia melakukan kegiatan membaca harus berhadapan dengan orang lain (pendengarnya). untuk mendapatkan keterampilan membaca jenis ini sangat mutlak diperlukan àdanya proses latihan secara terencana dan sungguh-sungguh di bawah asuhan guruguru yang profesional. Selain keempat hal tersebut. Dengan demikian sang pembaca. membaca dengan menggunakan intonasi dan lagu yang tepat dan jelas.

c) merencanakan kesatuan ide pikiran di dalam satuan kalimat. Dengan mengutip pendapat Barbe & Abbot (1975). H. b. tanya. koma. membaca dengan terang dan jelas. d) menjaga suaranya agar senantiasa nyaring dan jelas. b. . menurutnya dalam pengajaran membaca nyaring para guru dapat menggunakan teks-teks drama sebagai bahannya. mempergunakan intonasi suara yang wajar agar makna mudah dipahami. memiliki sikap yang baik dalam merawat buku. c.G. Tarigan (1986:26) untuk membantu para pendengar menangkap serta memahami maksud sang pengarang.Menurut H. Taringan (1986:24-25) menyebutkan aneka keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring. Oleh karena itu. seperti tanda titik. maka pembaca nyaring haruslah menggunakan berbagai cara. d. Dalam pengajaran bahasa asing kegiatan membaca nyaring sangat cocok untuk melatih keterampilan ucapan (pronounciation) daripada pemahaman (comprehension). H . Kelas II a. b) menjelaskan perubahan dari satu ide ke ide berikutnya.G. angara lain : a) menyoroti ide-ide baru dengan menggunakan penekanan yang jelas. atau seru. Tarigan juga menjelaskan bahwasannya keterampilan keterampilan membaca nyaring akan berkembang secara wajar dan alamiah dalam membaca teks drama. e. membaca dengan penuh perasaan dan ekspresi. yaitu: Kelas I a. mempergunakan frasa yang tepat (bukan kata demi kata). menguasai tanda-tanda baca sederhana. e) menjelaskan klimaks-klimaks dengan gaya dan ekspresi yang baik dan tepat. mempergunakan ucapan yang tepat.G. selain teks jenis narasi lainnya. Selanjutnya.

Hal-hal semacam itu secara . c. membaca dengan penuh pemahaman. frasa dan susunan kata yang tepat. Kelas III a. Kelas IV a. dan ekspresi. kecepatan mata dan saat membaca yakni 3 kata dalam satu detik. mampu menggunakan. membaca dengan penuh perasaan dan ekspresi. memahami bahan bacaan pada tingkat dasar. b. b. Membaca dalam hati Dalam Dictionary of Reading (1983:296) disebut silint reading is reading without saying aloud what is read. pensil atau alat lainnya. Jadi dalam membaca dalam hati atau membaca diam memang tidak ada suara yang keluar. membaca dengan penuh pemahaman dan perasaan. tetapi pada saat yang sama alat ucap mereká turut aktif. sebab hingga saat ini masih banyak anak anak saat mereka membaca dalam hati. Misalnya. KelasV a. membaca dengan penuh kepercayaan diri. membaca tanpa tertegun-tegun atau terbata-bata. b. in silent reading one reads to oneself not other.c. membaca nyaring dengan penuh perasaan. atau membaca dengan menunjuk baris bacaan (kata demi kata) dengan jari. atau membaca dengan kepala bergerak mengikuti baris bacaan. membaca sambil bersuara seperti berbisik. b. Ihwal diamnya alat ucap ini saat melakukan kegiatan membaca dalarn hati perlu dicermati oleh kita sebagai guru. B. Sedangkan yang aktif bekerja hanya mata dan otak atau kognisi kita saja. atau dengan bibir bergerak-gerak. mulai dapat membaca nyaring tanpa harus terus-menerus melihat pada teks. Kelas VI a.

G. Taringan (1986:37-38) menyebutkan aneka keterampilan yang dituntut dalam membaca dalam hati. Menurut Frank Smith (1986:156) sedikitnya ada 6 hal yang dapat rnenyebabkan seseorang terjebak melakukan refresi sewaktu melakukan kegiatan membaca. yakni: .perlahan harus segera dihilangkan karena akan dapat menghambat kelancaran membaca dalam hati. Mengapa demikian? Jawabannya karena boleh jadi bagian yang belum kita mengerti tersebut akan mendapatkan penjelasannya pada bagian-bagian teks berikutnya. antara lain: a) akibat kurang memiliki kepercayaan diri. baru mengulanginya (review) dari awal lagi. e) terlalu cepat dalam melakukan penafsiran. specially. kebiasaan yang juga dapat menghambat dalam proses membaca dalam hati ialah kebiasaan melakukan regresi. Kita harus meyakini bahwasanya sebuah bacaan pada hakekatnya memiliki suatu gagasan yang utuh. harus terus melanjutkan membacanya hingga usai. Sebagaimana disebutkan dalam Dictionary of Reading (1983:275) regression is movement backwards. d) terlalu terpaku pada detil. c) menemui kata-kata yang sulit. Dengan mengutip pendapat Barbe & Abbot (1975) H. Selain peristiwa di atas. yakni kegiatan mengulang kembali bagian bacaan yang telah dilalui karena merasa diri gagal mendapatkan pemahaman. b) sering tergoda melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan cetak. f) tidak konsentrasi dalam membaca. Untuk mengatasi masalah regresi. a back word eye movement in reading continous text. saat sedang melakukan aktivitas membaca kemudian di tengah-tengah menemukan hal-hal yang tidak kita pahami benar. Jika setelah selesai keseluruhan bacaan tersebut kita masih juga belum memahaminya. yang paling panting ialah dengan kepercayaan diri dan sikap yang benar saat melakukan aktivitas membaca. Hanya saja dalam hal penyampaiannya gagasan-gagasan tersebut boleh jadi berceceran pada sepanjang teks dan penataan urutannya tidak sistematis. Oleh karena itu.

membaca tanpa gerakan kepala. b. Kelas V 1. 3. membaca tanpa gerakan bibir. b. 2. dapat membaca 180 kata dalam satu menit pada bacaan fiksi tingkat dasar. mengerti serta memahamit bahan bacaan pada tingkat dasar. membaca dengan pemahaman yang baik. Kelas IV a. tanpa komat-kamit. membaca tanpa gerakan bibir atau kepala atau menunjuk-nunjuk dengan Jari. membaca tanpa bersuara. menikmati bahan bacaan yang dibaca dalam hati itu dengan penuh senang hati.Kelas I a. Kelas II a. membaca lebih cepat dalam hati ketimbang dengan bersuara. b. tanpa menggerak-gerakan bibir. Kelas VI 1. dapat menyesuaikan kecepatan membaca dengan tingkat kesukaran yang terdapat bahan bacaan. membaca tanpa gerakan bibir atau kepala. 2. mernahami bahan bacaan yang dibaca secara diam atau di dalam hati saja. 3. Latihan . membaca dalam hati tanpa menunjuk-nunjuk dengan jari dan tanpa gerakan bibir. Kelas III a. tanpa berbisik b. kecepatan mata dalam membaca berkisar 3 kata perdetik. c lebih cepat membaca dalam hati daripada membaca nyaring.

melainkan juga dituntut harus mampu melakukan „proses pengolahan‟ agar pesanpesan atau muatan makna yang terkandung dalam lambang-lambang bunyi bahasa tersebut dapat tersampaikan secara jelas dan tepat oleh orang yang mendengarnya. Oleh karena itu. Ketiga tujuan akhir dari membaca nyaring adalah kefasihan (fluency). serta membaca nyaring atau membaca bersuara (oral reading or aloud reading). atau membaca dengan kepala bergerak mengikuti baris bacaan. periksalah latihan Anda dengan memperhatikan rambu-rambu berikut ini! 1. kita dapat membagi membaca menjadi dua jenis yakni membaca dalam hati (silent reading). dalam membaca dalam hati kita hanya menggunakan ingatan visual (visual memory) dan yang aktif hanya mata dan ingatan saja. tujuan utamanya pengkomunikasian isi bacaan. seperti alat-alat ucap kita. beberapa kebiasaan buruk yang dapat mengharnbat kelancaran membaca nyaring! Pelunjuk Jawaban Lalihan Jika Anda telah selesai. serta melakukan regresi. atau membaca dengan menunjuk baris bacaan (kata demi kata) dengan jari. Sebutkan. sedangkan dalam membaca nyaring selain penglihatan dan ingatan turut juga aktif ingatan pendengaran (auditory memory) dan ingatan yang bersangkutan dengan otototot kita (motor memory). atau dengan bibir bergerak-gerak. pensil atau alat lainnya. 2) Membaca sambil bersuara seperti berbisik. Mengapa pada tahap yang lebih tinggi membaca nyaring dianggap sebagai kegiatan membaca yang cukup sulit dibandingkan dengan kegiatan membaca dalam hati? 2. Pada tataran yang paling rendah membaca nyaring merupakan aktivitas membaca sebatas melafalkan lambang- . Kedua. dilihat dari tingkat keterlibatan organ-organ tubuh yang turut beraktivitas. si pembaca bukan hanya dituntut harus mampu melafalkan dengan suara nyaring lambang-lambang bunyi bahasa saja. Rangkuman Ditinjau dari terdengar dan tidaknya suara si pembaca pada waktu membaca. Pertama.Untuk lebih memantapkan pemahaman Anda tentang pengertian kedua jenis membaca ini jawablah pertanyaan latihan berikut ini! 1.

C.B. Membaca nyaring lebih banyak melibatkan visual memory sedangkan membaca dalam hati tidak melibatkan visual memory B. Untuk menanarnkan kemahiran kedua jenis membaca ini diperlukan adanya proses latihan secara terencana dan sungguh-sungguh di bawah asuhan guru-guru profesional. A.. mata dan memory visual D. Membaca dalam hati merupakan proses membaca tanpa mengeluarkan suara. mata dan kognisi B. Membaca nyaring dituntut mampu melakukan proses pengolahan makna agar dapat ditangkap maksudnya sedangkan membaca dalam hati tidak D. atau D). Alat utama yang paling berperan dalam proses membaca dalam hati yaitu….lambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup keras. sedangkan pada tataran yang lebih tinggi membaca nyaring merupakan proses pengkomunikasian isi bacaan (dengan nyaring) kepada orang lain (pendengar).. mata dan ingatan C. Tes Formatif 1 Petunjuk: Untuk soal-soal nomor 1-3 pilihlah satu jawaban yang paling tepat! (A. 1.. mata dan hati . Yang aktif bekerja hanya mata dan otak atau kognisi saja. Salah satu alasan membaca nyaring pada tingkat yang lebih tinggi dinilai lebih sulit dibandingkan membaca dalam hati ialah . Membaca nyaring merupakan kegiatan membaca untuk kepentingan orang lain sedangkan membaca dalam hati untuk kepentingan diri sendiri 2. A. Membaca nyaring lebih banyak mengeluarkan suara sedangkan membaca dalam hati tidak C.

pilihlah A. pikiran di dalam satuan kalimat. Salah satu tujuan membaca nyaring adalah kefasihan sebab Membaca nyaring pada hakekatnya merupakan kegiatan membaca untuk kepentingan orang lain. Pembaca dalarn hati yang baik saat melakukan kegiatan membaca dirinya tidak menggerak-gerakkan bibir atau menunjuk teks bacaan dengan menggunakan jari atau alat tunjuk lainnya sebab Hal itu akan dapat merusak pemahaman terhadap bacaan yang tengah dibacanya 5.3. menyoroti ide-ide baru dengan menggunakan penekanan yang jelas B. C. A. merencanakan kesatuan ide. D. alasan benar. Jika pernyataan benar. sernuanya benar Petunjuk: Untuk soal nomor 4-6. Untuk membantu para pendengar menangkap serta memahami maksud sang pengarang. alasan benar. alasan salah atau jika pernyataan salah alasan benar D. Jika pernyataan benar. antara lain…. B. tetapi antara keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat. menjelaskan perubahan dari satu ide ke ide berikutnya C. . Jika pernyataan benar. 4. Jika pernyataan dan alasan salah. 6. maka seorang pembaca nyaring haruslah menggunakan berbagai cara. Salah satu sebab terjadinya regresi atau pengulangan kembali terhadap bagian-bagian yang telah dibaca dalam membaca dalam hati yakni akibat pembaca kurang memiliki harga diri. dan keduanya menunjukkan hubungan sebab akibat.

Petunjuk: Untuk soal nomor 7-10 pilihlah: A. dan (3) benar 7.nunjuk dengan jari (2) membaca dengan pemahaman yang baik (3) dapat membaca dengan kecepatan 180 kata dalam satu menit pada bacaan fiksi tingkat dasar 8) Tuntutan kemampuan membaca nyaring untuk anak SD kelas VI menurut Barbe dan Abbot antara lain….sebab Harga diri merupakan hal yang harus dimiliki oleh seorang pembaca nyaring. Tuntutan kemampuan membaca dalam hati untuk anak SD Kelas V menurut Barbe dan Abbot antara lain: (1) membaca tanpa gerakan-gerakan bibir atau kepala atau menunjuk. Jika (1). (2). Contoh aplikasi membaca nyaring tingkat lanjut misalnya…. (1) membaca berita di TV (2) membaca puisi (3) membaca koran . Jika (2) dan (3) benar D. (1) membaca nyaring dengan penuh perasaan dan ekspresi (2) membaca nyaring dengan penuh kesungguhan (3) mampu menggunakan frasa dan susunan kata yang tepat 9. Jika (1) dan (2) benar B. Jika (1) dan (3)benar C.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pembaca nyaring secara umum antar lain…. bagus! Anda cukup memahami kegiatan belajar 1. seperti tanda pungtuasi serta tanda-tanda baca lainnya (3) harus dapat mengelompokkan kata-kata dengan baik dan tepat agar jelas rnaknanya bagi dirinya Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir Modul ini.x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90% . Tetapi bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%. terutama bagian yang belum Anda kuasai. . Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 1. Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2.89% = balk 70% .79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas. Hitunglah jawaban Anda yang benar. (1) harus mengerti makna serta perasaan yang terkandung dalam bahan bacaan (2) harus mempelajari keterampilan-keterampilan menafsirkan atas lambang lambang tertulis. Rumus: Jumlah jawaban yang Anda benar Tingkat penguasaan = ---------------------------------------.100% = baik sekali 80% .10. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful