P. 1
Paradigma Pembelajaran Sejarah Berbasis Konstruktivisme

Paradigma Pembelajaran Sejarah Berbasis Konstruktivisme

|Views: 207|Likes:
Published by mkareueng

More info:

Published by: mkareueng on May 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2015

pdf

text

original

PARADIGMA PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS KONSTRUKTIVISME BAB I A. Pendahuluan Pembelajaran sejarah saat ini menghadapi banyak persoalan.

Persoalan itu mencakup lemahnya penggunaan teori, miskinnya imajinasi, acuan buku teks dan kurikulum yang state oriented, serta kecenderungan untuk tidak memperhatikan fenomena globalisasi berikut latar belakang historisnya. Lemahnya penggunaan teori dalam kajian sejarah memang ada benarnya, karena sejarah memang tidak mempunyai teori. Sejarah meminta bantuan teoriteori dari disiplin sosial lainnya dalam setiap kajiannya. Misalnya teori-teori sosiologi, antropologi, psikologi, politik, dan sebagainya. Melalui teori-teori tersebut kajian sejarah akan lebih kaya makna. Hanya kemampuan guru-guru sejarah dalam meramu sajian sejarah dirasa kurang memadukan disiplindisiplin sosial lainnya dalam kajian sejarah. Guru dirasa kurang dalam menggunakan pendekatan interdisipliner dalam kajian sejarah. Miskin teori berakibat munculnya sejumlah contoh pernyataan dalam buku teks yang terlalu umum dan sulit diverifikasi kebenarannya. Pembelajaran sejarah juga juga tidak disertai percikan imajinasi yang membuat tinjauan akan peristiwa masa lalu menjadi lebih hidup dan menarik. Dalam proses pembelajaran sejarah, masih banyak guru menggunakan pardigma konvensional, yaiu paradigma „guru menjelaskan - murid mendengarkan‟. Metode pembelajaran sejarah semacam ini telah menjadikan pelajaran sejarah membosankan. Ia kemudian tidak memberikan sentuhan emosional karena siswa merasa tidak terlibat aktif di dalam proses pembelajarannya. Sementara paradigma „siswa aktif mengkonstruksi makna - guru membantu‟ merupakan dua paradigma dalam proses belajar-mengajar sejarah yang sangat berbeda satu sama lain. Paradigma ini dianggap sulit diterapkan dan membingungkan guru serta siswa. Di samping itu, metode pembelajaran yang kaku, akan berakibat buruk untuk jangka waktu yang panjang dan berpotensi memunculkan generasi yang mengalami “amnesia (lupa atau melupakan sejarah” bangsa sendiri. Agar pembelajaran sejarah berhasil baik, metode yang dipergunakan harus bisa mengkostruk “ingatan historis”. Alhasil, siswa menjadikan sejarah hanya sebagai fakta-fakta hapalan tanpa adanya ketertarikan dan minat untuk memaknainya, juga mampu menggali lebih jauh lagi. Ingatan historis semata tidak akan bertahan lama. Supaya ingatan historis semata tidak akan bertahan lama, perlu disertai “ingatan emosional”.

Ingatan jenis ini adalah ingatan yang terbentuk dengan melibatkan emosi hingga bisa menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa untuk menggali lebih jauh dan memaknai berbagai peristiwa sejarah. Proses pembelajaran kemudian tak hanya berhenti pada penghafalan saja, siswa bisa aktif dalam komunikasi dua arah dengan guru untuk mengutarakan pendapatnya mengenai obyek sejarah yang tengah dipelajari karena sedari awal ia telah merasa menjadi bagian dari proses pembelajaran yang penuh dengan makna. Agar “ingatan emosional” muncul dan bertahan lama, maka paradigma pembelajaran sejarah harus diubah. Mengubah paradigma yang dianut oleh seorang guru dari paradigma konvensional ke paradigma konstruktif, bukan sesuatu hal yang mudah. Hal ini disebabkan karena kebanyakan guru sudah terbiasa dengan paradigma konvensional, dan mereka sendiripun pada waktu masih menjadi siswa sudah terbiasa dengan paradigma tersebut. Sungguh-sungguh diperlukan kemauan dan tekad yang kuat untuk bisa mengubah paradigma tersebut secara nyata. Schiffer dan Fosnot (1993) menguraikan proses jatuh bangun dari beberapa guru yang berusaha sungguh-sungguh untuk menggunakan paradigmakonstruktivis, sekalipun mereka sendiri sebelumnya sudah sangat terbiasa dengan paradigma konvensional. Dengan usaha yang keras, usaha para guru tersebut akhirnya berhasil mengubah paradigma yang mereka gunakan, dan perubahan paradigma tersebut memberikan manfaat yang positif bagi para siswa mereka, karena dengan penggunaan paradigma yang kedua tersebut, para siswa menjadi terbiasa mengeksplorasi secara aktif dan konstruktif konsep-konsep, prinsipprinsip, prosedur-prosedur, dan soal-soal sejarah (termasuk soal-soal yang non rutin), sehingga mereka merasa bahwa sejarah adalah „milik‟ mereka, karena liku-likunya telah biasa mereka telusuri. Lebih jauh, hal tersebut menambah rasa percaya diri mereka dalam menghadapi materimateri sejarah yang baru dan soal-soal yang sebelumnya belum pernah mereka jumpai. Hal ini juga sangat membantu mereka pada waktu mereka menjumpai masalah-masalah dalam kehidupan mereka sehari-sehari; sehingga secara memecahkan masalah kesejarahan meningkat. umum, kemampuan mereka dalam

Kemampuan memecahkan masalah ini akan

sangat berguna pula dalam bidang-bidang di mana mereka nanti akan berkarya. Belajar sejarah berarti peserta didik mampu berpikir kritis dan mampu mengkaji setiap perubahan di lingkungannya, serta memiliki kesadaran akan perubahan dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa sejarah.

conjucture dan longue duree tidak merupakan pembedaan yang hirarkis. Masing-masing berperan dan mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Braudel menambahkan satu lagi. politik dan diplomasi. duapuluh. satu lebih penting dari yang lain. event history (short term/jangka pendek). 2001) memahami sejarah dari sudut waktu. Conjungture berlangsung sekitar 10 – 50 tahun sedangkan longue duree berlangsung lebih lama. musim sampai beberapa tahun. Mengutip pendapat Fernand Braudel (Lechte. bisa sampai beberapa abad. Selain itu dari sudut ruang. yaitu ekonomi dunia di mana ini merupakan unit analisis makro terkait dengan perkembangan pertukaran barang dan jasa. Apalagi sejarah tidak akan terlepas dari konsep waktu. . Seperti cahaya kunangkunang. bersinar singkat dan lemah. Event history atau jangka pendek digambarkan oleh Braudel seperti pada awal tulisan ini. Pada event history ini Braudel memberi tekanan pada perang. Kontekstualitas sejarah harus kuat mengemuka dan berbasis pada pengalaman pribadi para siswa. lima puluh tahun yang lalu. Sejarah pada satu tempat dan komunitas terkait dengan ketiga konsep waktu tersebut. evant history. misalnya yang terkait bidang ekonomi seperti perubahanperubahan harga. Jika dikaitkan dengan waktu kalender. conjucture (mid term/jangka menengah) dan longue duree (long term/jangka panjang). tetapi cukup melepaskan cahaya untuk menyinari dataran kecil di bawahnya. pertumbuhan populasi dan hasil-hasil produksi. Kemampuan melakukan konstruksi ini harus secara kuat agar pembelajaran tidak terjerumus dalam pembelajaran yang bersifat konservatif. ekonomi dunia. Perubahan jangka menengah.event history berlangsung antara beberapa minggu. dan ketika tiga konsep waktu itu ditambah dengan unit analisis makro. kontinyuitas dan perubahan. menurut Braudel keempatnya tersebut akan memberikan sudut pandang kita mengenai total history. Pembedaan ketiga konsep waktu ini. Perubahan yang mempengaruhi sejarah dalam jangka waktu yang lama. Menurutnya dalam memahami sejarah ada tiga kerangka waktu. dicontohkan oleh Braudel yaitu mengenai perubahan musim atau iklim.Pembelajaran sejarah yang baik adalah pembelajaran yang mampu menumbuhkan kemampuan siswa melakukan konstruksi kondisi masa sekarang dengan mengkaitkan atau melihat masa masa lalu yang menjadi basis topik pembelajaran sejarah. Perubahan-perubahan ini bisa dipengaruhi oleh keadaan-keadaan sepuluh.

akan tetapi bagian integral dalam sistem pembelajaran. Prinsip utama bagi teori ini ialah faktor rangsangan (stimulus). B. Hal demikian akan diperoleh dalam pengajaran guru dengan adanya latihan dan ganjaran terhadap sesuatu latihan. 1. Dia akan mengulangi respon tersebut setiap kali rangsangan yang serupa ditemui. Perubahan Paradigma Pembelajaran Tuntutan terhadap pelayanan pembelajaran yang ditunjang oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Respon (response) serta penguatan (reinforcement).(1973) menganggap behaviorisme atau tingkah laku dapat diperhatikan dan diukur. Asumsi pergeseran tersebut bertolak dari peserta didik yang diharapkan dapat meningkatkan upaya dirinya memperkaya pengetahuan.Apabila pemikiran Fernand Braudel tersebut diterapkan dalam pembelajaran sejarah. Model mengajar bergeser ke arah model belajar. bermuara pada tiga model utama. Kognitivisme. Paradigma ini adalah pendekatan pembelajaran sejarah yang kontekstual berbasis konstruktivisme dengan memperhatikan perkembangan kekinian yang semakin global. Sebagai contoh. Peserta didik yang berprestasi memperoleh pengetahuan yang . Teori ini menganggap faktor lingkungan sebagai rangsangan dan respon peserta didik terhadap rangsangan itu ialah responsnya. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Thorndike (2001) yang menyatakan bahwa hubungan di antara stimulus dan respon akan diperkuat apabila responnya positif diberikan reward yang positif dan tingkah laku nagatif tidak diberi apa-apa (hukuman). seseorang peserta didik diberikan ganjaran positif setelah dia menunjukkan respon positif. sikap dan ketrampilan. yaitu: Behaviorisme. Beberapa faktor di atas diangkat dalam makalah singkat ini. maka perlu adanya perubahan paradigma pembelajaran agar aktualitas akibat adanya perubahan dalam konsep waktu dapat dipahami dan disadari oleh para siswa. mendorong terjadinya pergeseran konsep pembelajaran. Pembelajaran Behaviorisme Good et. yaitu perubahan pembelajaran sejarah dari pola lama menjadi pembelajaran sejarah dengan paradigma baru. al. Guru di sekolah bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Berdasarkan teori belajar yang ada. dan Konstruktivisme. Penguatan (reinforcement) akan memberi rangsangan supaya belajar lebih bersemangat dan bermotivasi tinggi.

dimana siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan. Bruner. meliputi: a. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.mereka inginkan dalam sesuatu sesi pembelajaran. dan symbolic. dan pemindahan (transferring information). menggunakan step-step kognitif: pengkodean (cooding). yaitu enactif. Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel. penyimpanan (storing). dimana belajar terjadi melalui penggunaan model dan gambar c. iconic. Dari ketiga peneliti ini. Menurut Bruner (1963) perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. Enactive. Pembelajaran Kognitif Model kognitif berkembang sebagai protes terhadap teori perilaku yang berkembang sebelumnya. dimana ia mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak . perolehan kembali (retrieving). Iconic. Menurut Ausubel. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. 2. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir. masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Tahap kedua adalah tahap ikonik dimana ia melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. dapat dikatakan mendapat response positif. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. menyimpan. konsep tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk pengalaman belajar. dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Bruner mengembangkan teorinya tentang perkembangan intelektual. Symbolic yang mendeskripsikan kapasitas dalam berfikir abstrak Gagne melakukan penelitian pada belajar mengajar sebagai suatu rangkaian pase. dimana seorang peserta didik belajar tentang dunia melalui tindakannya pada objek b.Tahap ketiga adalah tahap simbolik. Tahap pertama adalah tahap enaktif. dan Gagne.

2. Dengan kata lain. meskipun belum jelas terlihat. maupun universitas. Berdasarkan faham konstruktivisme. Sesuatu yang baru harus sesuai dengan apa yang telah diketahui siswa sebelumnya. Penyusunan materi pelajaran harus dari yang sederhana ke yang rumit. kebutuhan akan sukses dan lain-lain. Menurut Hartley & Davies (1978). prinsip-prinsip kognitifisme banyak diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam melaksanakan kegiatan perancangan pembelajaran. menengah. Peserta didik akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu. Tugas guru disini adalah menunjukkan hubungan apa yang telah diketahui sebelumnya 4. Untuk dapat melakukan tugas dengan baik peserta didik harus lebih tahu tugas-tugas yang bersifat lebih sederhana 3. yang meliputi: 1. guru tidak serta merta memindahkan pengetahuan kepada peserta didik dalam bentuk yang serba sempurna. dalam proses belajar mengajar. Realita yang diketahui peserta didik adalah realita yang dia bina sendiri. Belajar dengan memahami lebih baik dari pada menghapal tanpa pengertian. kepribadian. (dalam Toeti Soekamto 1992:36) 3. Perbedaan ini meliputi kemampuan intelektual. Peserta didik sebenarnya telah mempunyai satu set idea dan pengalaman yang membentuk struktur kognitif . yaitu aktivitas mental yang digunakan oleh peserta didik sebagai bahan mentah bagi proses renungan dan pengabstrakan. Fikiran peserta didik tidak akan menghadapi kenyataan dalam bentuk yang terasing dalam lingkungan sekitar. pesera didik harus membangun suatu pengetahuan itu berdasarkan pengalamannya masing-masing. Pembelajaran Konstruktivisme Konstruktivisime merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri manusia. Pola pembinaan ilmu pengetahuan di sekolah merupakan suatu skema.dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan dengan pertolongan sistem simbol. Adanya perbedaan individu pada siswa harus diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Unsur-unsur konstruktivisme telah lama dipraktekkan dalam proses belajar dan pembelajaran baik di tingkat sekolah dasar. Pembelajaran adalah hasil dari usaha peserta didik itu sendiri.

telah terbiasa dengan paradigma yang lama. kiranya cara belajar sejarah yang aktif dan konstruktif perlu diterapkan oleh para siswa. yakni ceramah. perubahan tersebut harus dilakukan. tanya jawab dan pemberian tugas atau mendasarkan pada “behaviorist” atau “strukturalist”. ditambah lagi dengan adanya faktor-faktor sosial-budaya yang memberi warna tertentu pada proses pembelajaran. yaitu guru menjelaskan – siswa mendengarkan dan mengikuti petunjuk guru. maka fungsi guru akan berubah. perspektif ini akan mengubah kaidah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kemampuan peserta didik mencontoh dengan tepat apa saja yang disampaikan oleh guru. Proses penggunaan cara tersebut memang membutuhkan kemauan yang kuat. guru harus memperkirakan struktur kognitif yang ada pada mereka. barulah kerangka baru tentang sesuatu bentuk ilmu pengetahuan dapat dibina. jika memang betul-betul ingin mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada dalam pendidikan sejarah.Untuk membantu peserta didik dalam membina konsep atau pengetahuan baru. Pengajaran sejarah secara tradisional mengakibatkan siswa . Sebagai contoh.terhadap lingkungan mereka. seperti yang juga terjadi di banyak tempat lain di dunia. Perubahan akan berlaku dalam teknik pengajaran dan pembelajaran. Di atas telah disinggung bahwa pembelajaran sejarah masih bersifat pendekatan konvensional. C. Beliau juga menekankan kepentingan keikutsertakan peserta didik di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran. mengingat para siswa dan para guru di Indonesia. Akan tetapi. John Dewey menguatkan teori konstruktivisme ini dengan mengatakan bahwa pendidik yang cakap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara berkesinambungan. Apabila pengetahuan baru telah disesuaikan dan diserap untuk dijadikan sebagian daripada pegangan kuat mereka. Ia juga akan mengubah tumpuan penelitian dari pembinaan model berdasarkan kaca mata guru kepada pembelajaran sesuatu konsep ditinjau dari kaca mata peserta didik. kepada kaidah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kemampuan peserta didik dalam membina skema pengkonsepanberdasarkan pengalaman yang aktif. Ditinjau persepektif epistemologi yang disarankan dalamkonstruktivisme. penelitian dan cara melaksanakan kurikulum. Penerapan Cara Belajar Sejarah Secara Aktif dan Konstruktif Agar pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah dapat sungguh-sungguh meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. penilaian.

Fasilitator. dan kurang adanya upaya agar terjadi proses dalam diri siswa untuk mencerna materi secara aktif dan konstruktif. Evaluasi bervariasi Peran guru mendominasi Peran melayani Problem tidak “membumi” Problem kontekstual-realistik. Aplikasi Sejarah Murni Sejarah sekolah Motivasi eksternal Motivasi internal Sangat formal Sedikit Informal Sentralistik Otonomi Sangat Terstruktur Fleksibel Pengajar Pendidik. . Kebanyakan guru mengajar dengan menggunakan buku paket sebagai “resep”. Pemahaman. Ungkapan di atas tidak dimaksudkan sebagai “vonis” bahwa pembelajaran sejarah dengan paradigma lama tidak memberikan kontribusi apapun dalam pendidikan sejarah. kebutuhan Orientasi hasil Orientasi proses dan hasil cepat dan tergesa-gesa Sabar dan menunggu Layanan kelas Layanan kelas dan individu Penyeragaman Pengakuan adanya perbedaan Ekspositori. Bagian tertentu yang dapat dikatakan sangat penting dan perlu upaya yang seksama agar terjadi perubahan adalah cara sajian dan suasana pembelajaran. lebih menekankan hafalan dan drill merupakan penyiapan yang kurang baik untuk kerja profesional para siswa nantinya.hanya bekerja secara prosedural dan memahami sejarah tanpa penalaran. serta strategi pembelajaran lebih didominasi oleh upaya untuk menyelesaikan materi pembelajaran dalam waktu yang tersedia. Tetapi secara wajar dan proporsional dapatlah dicermati bahwa ada bagian-bagian tertentu dari paradigma lama tersebut yang perlu perubahan. mereka mengajarkan sejarah berdasarkan buku dari halaman per halaman. Diperlukan suatu usaha sungguh-sungguh untuk melakukan perubahan. Beberapa aspek berikut dapat dijadikan wacana diskusi bahwa inovasi pembelajaran sejarah dapat dilakukan dengan melakukan perubahan dari paradigma konvensional ke paradigma konstruktivistik. Paradima Konvensional Paradigma Konstruktivisme Terpusat Guru Terpusat Siswa Transmisi pengetahuan Pengembangan kognisi Otoriter Demokratis Inisiatif Guru Inisiatif Siswa Siswa Pasif Siswa Aktif Tabu melakukan kesalahan Kesalahan bernilai paedagogis Kewajiban Kesadaran. variasi metode Abstrak. Pendamping Kontak guru siswa berjarak Kontak lebih dekat Terikat kelas Tidak hanya terikat kelas Deduktif Induktif. berorientasi pada psikologi perilaku dan strukturalis.ceramah Diskusi. deduktif Guru pelaksana kurikulum Guru pengembang kurikulum Evaluasi kurang bervariasi Assesmen. atau bahkan justru menenggelamkan potensi-potensi yang dimiliki siswa. Ingatan Konkrit.

Pembelajaran Sejarah Berdasarkan Pendekatan Konstruktivisme 1.D. Konstruktivisme psikologis bertolak dari perkembangan psikologis anak dalam membangun pengetahuannya. kedua pandangan tersebut saling melengkapi. yaitu konstruktivisme psikologis dan konstruktivisme sosiologis. baik dalam sudut pandang personal maupun sosiokultural sebenarnya sama-sama menekankan pentingnya keaktifan siswa dalam belajar. dan subyektif seperti Piaget dan pengikut pengikutnya. Belajar sejarah memerlukan proses pembentukan individual yang aktif tapi juga proses inkulturasi dalam masyarakat. Cobb dalam Suparno (1997) menyarankan agar konstruktivisme personal dikombinasikan dengan sosiokultural. individual. Sementara lingkungan sosial tersebut akan mengalami perubahan secara gradual maupun kontinyu. Konstruktivisme psikologis berkembang dalam dua arah. dan yang lebih sosial seperti Vygotsky (socioculturalism). hanya yang satu lebih menekankan keaktifan individu. Melalui interaksi dengan unsur-unsur yang mengelilinginya. Dalam proses pembentukan pengetahuan. Dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Di sinilah letaknya bahwa sejarah harus berdasarkan perubahan dan kontinyitas. maka individu akan belajar untuk mengenal lingkungan sosialnya. Setiap pengetahuan atau kemampuan hanya bisa diperoleh atau dikuasai oleh seseorang apabila orang itu secara aktif mengkontruksi pengetahuan atau kemampuan itu di dalam pikirannya. Piaget menekankan aktivitas individual dalam pembentukan pengetahuan. Dalam sudut pandang/perspektif konstruktivis personal disoroti bagaimana seorang anak pelan-pelan membentuk skema berupa jalinan konsep yang ada dalam . Matthews dalam Suparno (1997) membagi konstruktivisme dalam dua bagian. sedangkan konstruktivisme sosiologis lebih bertolak dari pandangan bahwa masyarakat yang membangun pengetahuan. sedangkan Vygotsky menekankan pentingnya masyarakat (lingkungan secara kultural). Sehubungan dengan hal ini. sedangkan yang lainnya lebih menekankan pentingnya lingkungan sosial-kultural. yang lebih personal. Pandangan Tentang Belajar Menurut Teori Konstruktivisme Teori belajar kontruktivisme menyatakan bahwa siswa harus membangun pengetahuan di dalam benak mereka sendiri. Suparno (1997:47) menyatakan “bahwa seseorang dilahirkan dalam suatu ingkungan sosial kultural di mana obyek dan kejadian ditemukan dan diartikan secara khusus yang juga dikonstruksikan”.

dalam membentuk pengetahuan sejarahnya. pengalaman nyata dan memanipulasi langsung alat. mengembangkan skema. 1997: 50). Guru mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang luas. Ia lebih menekankan bagaimana individu sendiri mengkonstruksi pengetahuan hasil dari berinteraksi dengan pengalaman dan obyek yang dihadapi. bukan sekedar hasil yang diperoleh. siswa menggunakan konsep-konsep yang telah mereka miliki untuk berhadapan dengan fenomena baru. dan bagaimana seorang anak mengadakan abstraksi. Dalam pembelajaran. Dalam proses belajar harus ada perubahan. namun lebih merupakan pengkonstruksian suatu kerangka mental oleh siswa untuk . Memahami dan mengakui adanya perbedaan individual. perkembangan kognitif bukan merupakan akumulasi dari kepingan informasi yang terpisah. guru dituntut untuk mempersiapkan beraneka ragam kegiatan yang memungkinkan anak melakukan kegiatan secara langsung. terutama perubahan konsep yang disebut dengan asimilasi untuk perubahan tahap pertama dan perubahan tahap kedua disebut akomodasi. Dengan demikian diharapkan bahwa proses pembelajaran bukan hanya sekedar transfer knowledge. Menurut Piaget. tetapi sudah membangun konsep pemahaman dalam diri siswa. Dengan asimilasi. c.pikiran. baik secara sederhana maupun secara refleksi. dan mengubah skema. Piaget menekankan pembelajaran melalui penemuan (inkuiri). Oleh karena itu guru harus melakukan upaya khusus untuk mengatur kegiatan kelas dalam bentuk individual dan kelompok kecil siswa. b. bahan atau media belajar yang lain (eksperimen). Implementasi perspektif di atas dalam pembelajaran sebagaimana diungkapkan Slavin (1994) adalah sebagai berikut. Sementara dengan akomodasi siswa mengubah konsepnya yang sudah tidak cocok dengan fenomena baru yang muncul (Suparno. a. guru harus memahami proses yang dilakukan siswa secara mendalam sampai pada jawaban suatu masalah yang ditanyakan. Pemusatkan perhatian kepada berpikir atau proses mental anak. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran.

memahami lingkungan mereka. Proses Top Down Pendekatan konstruktivitis dalam pengajaran lebih menekankan proses pengajaran secara top-down dari pada bottom-up. Scafollding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan untuk memecahkan masalah. Dengan demikian. 1995). Siswa yang . b. sehingga apa yang sebelumnya belum dapat dimaknai sendiri oleh siswa sekarang dapat bermakna berkat topangan itu. dengan tingkat perkembangan potensial dalam bentuk kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan guru atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu)” (Slavin. proses pembentukan maknadalam diri siswa membutuhkan dukungan guru berupa topangan (scaffolding). dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri. c. Zone of Proximal Development (ZPD) Zone of proximal development (ZPD) dimaknai sebagai “jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya dalam bentuk kemampuan pemecahan masalah secara mandiri. 2. dan siswa mengalami perkembangan dalam proses pembentukan makna berkat topangan itu.. Scaffolding Dalam lingkungan pembelajaran. Topangan adalah bantuan yang diberikan dalam wilayahperkembangan terdekat (zone of proximal development) siswa (Wood et al. sehingga siswa bebas membangun pemahaman mereka sendiri. Topangan diberikan berdasarkan apa yang sudah bermakna bagi siswa. Konteks Topdown adalah siswa mulai dengan masalah kompleks untuk dipecahkan dan kemudian siswa memecahkan atau menemukan (dengan bimbingan guru) keterampilanketerampilan dasar yang diperlukan (Slavin. dorongan. dalam arti guru memberikan topangan berdasarkan interpretasi akan apa yang sudah bermakna bagi siswa. Beberapa Konsep Mendasar dalam Kontruktivisme a. topangan diberikan kepada siswa dalam situasi yang interaktif. 1994). dalam Confrey. 1994). Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk. menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan. memberikan contoh. peringatan.

pembelajaran berbasis proyek. namun pembelajaran kooperatif dapat juga digunakan untuk meningkatkan prestasi akademik. Pembelajaran Sejarah dalam Perspektif Konstruktivisme 1. kecuali hanya dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk menalar.bekerja dalam ZPD mereka. serta sesuai dengan konsep ilmiah . Pembelajaran Kooperatif Vygotsky dalam Slavin (1997) menyarankan agar dalam pembelajaran digunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. penerimaan akan penghargaan dan pengembangan keterampilan sosial. atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan masalah-masalah yang mereka hadapi dengan temannya. Meskipun pembelajaran kooperatif mencakup berbagai tujuan sosial. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dan guru ke siswa. yaitu prestasi akademik. dan dapat terselesaikan jika mendapat bantuan dari teman sebaya atau guru. dan penemuan. Salah satu implikasi penting teori Vygotsky dalam pendidikan adalah perlunya kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar siswa. sehingga siswa dapat berinteraksi dalam menyelesaikan tugas-tugas dan dapat saling memunculkan strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam masing-masing ZPD mereka. Pendekatan konstruktivitis dalam pengajaran kelas yang menerapkan pembelajaran kooperatif secara ekstensif. Siswa aktif mengkonstruksi terus menerus sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci. c. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran yang penting. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun social b. E. Prinsip-prinsip Pembelajaran Sejarah Berbasis Konstruktivisme Prinsip-prinsip dalam pembelajaran yang berpaham konstruktivitis diantaranya adalah sebagai berikut : a. lengkap. d. berarti siswa tersebut tidak dapat menyelesaikan tugas-tugasnya.

Pemahaman memberi makna tentang apa yang dipelajari. maka diharapkan siswa mampu belajar memahami. tetapi siswa diberi kesempatan untuk berkreativitas mengusulkan suatu topik. Belajar menurut pandangan konstruktivis tidak ditekankan untuk memperoleh pengetahuan yang banyak tanpa pemahaman. Agar siswa dapat memberi makna tentang materi sejarah yang sedang dibahas. menerapkan dan kemudian mampu bersikap terhadap hasil analisis permasalahan.d. Ciri pembelajaran sejarah secara konstruktivis adalah: a. evaluasi harus diintegrasikan ke dalam tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus. pemecahan ganda. c. Materi tidak bisa diberikan yang bersifat hapalan. bukan sebagai kegiatan yang terpisah. menggali munculnya berpikir divergen. Dengan demikian siswa tidak hanya menghapal. sehingga konsep/prinsip tersebut terbangun kembali. masalah. Siswa belajar materi sejarah secara bermakna dalam bekerja dan berfikir. b. Siswa belajar bagaimana belajar itu. transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep/prinsip baru. atau berargumentasi. Melalui pemberian masalah yang berbobot masalah. Evaluasi dalam pembelajaran. dalam pandangan konstruktivis. Tujuan pembelajaran dalam pandangan konstruktivis adalah membangun pemahaman. bukan hanya satu jawaban benar. . tetapi harus diangkat dari kehidupan seharihari dan kemudian dihubungkan dengan fakta sejarah yang pernah terjadi. evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan yang terintegrasi dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata. Siswa terlibat secara aktif dalam belajarnya. Pembelajaran sejarah menurut pandangan konstruktivis adalah membantu siswa untuk membangun konsep/prinsip sejarah dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi. tetapi sungguh dihadapkan tuntutan kemampuan analisis. Keterlibatan dapat dalam forum klasikal maupun kelompok. Keterlibatan ini tidak sekedar perintah atau petunjuk dari guru. maka perlu sebuah materi yang bersifat analisis yang berdasar pada hukum kausalitas.

Muaranya adalah siswa akan terbiasa untuk berpikir secara mendalam. f. misalnya untuk memahami suatu konsep sejarah melalui kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian siswa selalu dirangsang untu dapat menghubungkan berbagai informasi yang diterimanya dan kemudian mampu mengendapkan dalam pemikirannya. e. Permasalahan yang diajukan seharusnya mampu menimbulkanrangsangan pada siswa untuk melakukan penelitian. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.d. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. b. pengamatan atau menuntut suatu analisis. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan (inkuiri). tetapi harus terkait dengan informasi lain dan dengan disiplin lain. permasalahan yang dimunculkan untuk dikaji oleh siswa adalah permasalahan kekinian yang harus dicari logika kausalitasnya dengan masa lalu. . Informasi yang diberikan jangan hanya tunggal. Selain bahan ajar yang disiapkan harus bermakna bagi kognitif siswa agar siswa terlibat secara emosional maupun sosial. Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dengan skemata yang dimiliki siswa agar pemahaman terhadap informasi (materi) kompleks terjadi. kontinyitas dan perubahan. Sejarah bukan hanya deretan fakta. Berorientasi pada pemecahan masalah. Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman kongkret. dalam pembelajaran konstruktivis guru perlu menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif. namun berdasarkan waktu. Oleh sebab itu. Masalah yang muncul di dalam masyarakat pada masa global ini sebenarnya memiliki hubungan dengan fakta sejarah yang lalu. Lingkungan pembelajaran sejarah yang perlu diupayakan oleh guru dalam pembelajaran secara konstruktivis adalah sebagai berikut: a. c. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. Dengan demikian siswa akan mendapatkan informasi yang utuh dan komprehensif. Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar.

atau proyek sebagai fokus lingkungan pembelajaran. Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial. Model Jonassen untuk mendesain lingkungan pembelajaran 1. a. dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (Arends. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. menumbuhkembangkan ketrampilan yang lebih tinggi dan inkuiri. 1997). 2. Dalam makalah singkat ini hanya akan dipaparkan dua model. pertanyaan. Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga sejarah menjadi menarik dan siswa mau belajar. Sarana Kognitif . guru. yaitu terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau lingkungannya. memandirikan siswa. Kasus-kasus terkait dan sumber informasi mendukung pemahaman masalah dan memberikan gagasan akan solusi yang mungkin. siswa-siswa. dan dukungan sosial atau kontekstual. atau menyelesaikan proyek. sarana kognitif. Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. sumber informasi. Dukungan sosial dan kontekstual 2. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah 1) Pengertian Model pembelajaran berdasarkan masalah adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah aktual dan otentik. Model-model Pembelajaran Sejarah Berbasis Konstruktivisme Banyak model dalam pembelajaran sejarah yang mendasarkan diri pada pembelajaran konstruktivisme. Menurut Jonassen (1999) mengusulkan sebuah model untuk mendesain lingkungan pembelajaran konstruktivis (Gambar 1).d. Komunikasi dan kolaborasi memungkinkan komunitas siswa bernegosiasi dan mengkonstruksi bersama makna-makna yang terkait dengan masalah. menjawab pertanyaan. Kegiatan ini didukung dengan sistem pendukung yang meliputi kasus-kasus terkait. Komunikasi dan kolaborasi 3. f. e. Sarana kognitif membantu siswa menginterpretasi dan menangani aspek-aspek masalah. yaitu model pembelajaran sejarah berbasis masalah dan pembelajaran interaktif. Model ini menggunakan masalah. Siswadiharapkan dapat menyusun pengetahuannya sendiri. Dukungan sosial dan kontekstual membantu siswa dan guru dalam mengimplementasikan lingkungan pembelajaran. Sasarannya adalah siswa menginterpretasikan dan memecahkan masalah. komunikasi atau kolaborasi.

bila pembelajaran sejarah dimulai dari waktu yang lalu. guru menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan inkuiri dan intelektual siswa. pembelajaran sejarah sebenarnya harus berkaitan erat dengan kondisi senyatanya dalam kehidupan masyarakat dalam waktu kekinian. Disini guru mengajukan masalah. Oleh sebab itu. membantu menemukan masalah. Selain itu. Sumber Informasi 5. Guru dalam model pembelajaran berdasarkan masalah berperan sebagai penyaji masalah. Topangan C. maka akan dapat digali relevansinya dengan waktu lalu. sebaliknya bila dimulai dari waktu kekinian. Namun.4. maka dapat terjadi kehilangan hubungan dengan waktu kekinian. penanya. Bimbingan Dalam model di atas digambarkan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara permasalahan yang harus diselesaikan dengan berbagai faktor yang mengelelilinginya. Hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran berdasarkan masalah adalah memberikan siswa masalah yang berfungsi sebagai batu loncatan untuk proses inkuiri dan penemuan. Kasus-kasus terkait B. Permodelan 6. dan pemberi fasilitas dalam proses pembelajaran. Dalam menggunakan metode inquiry yang menjadi inti dalam . mengadakan dialog. Permasalahan A. Oleh sebab itu. membimbing dan memberikan petunjuk minimal kepada siswa dalam memecahkan masalah. Sebab segala sesuatu yang terjadi dalam waktu kekinian merupakan akibat dari waktu yang lalu.

Setelah membaca materi. Pembelajaran menggunakan metode ini perlu dikembangkan. Menurut Arends (1997). siswa-siswa dalam pembelajaran sejarah diarahkan ke kegiatan untuk membuat atau mengerjakan sendiri. secara otomatis siswa mengetahui juga peristiwa perebutan kekuasaan (perang saudara yang pernah terjadi dan muaranya adalah perpindahan pusat kekuasaan atau pusat kerajaan ke beberapa kota di Jawa Timur. Dari tugas itu. Masih banyak contoh materi yang dapat menggunakan metode inquiry ini.pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. sehingga bisa mengetahui raja yang mana keturunan Raden Wijaya (pendiri Kerajaan Majapahit) dan raja mana yang bukan keturunan pendiri Kerajaan Majapahit. baik dari keluarga ayah maupun dari keluarga ibu. 2) Ciri-ciri Model Pembelajaran Sejarah Berdasarkan Masalah a) Pengajuan Masalah atau Pertanyaan Pengaturan pembelajaran berdasarkan masalah berkisar pada masalah atau pertanyaan yang penting bagi siswa maupun masyarakat. yaitu siswa bekerja dengan menemukan sendiri akar permasalahan yang dipelajari. Siswa juga dapat diberi tugas menggali silsilah keluarganya sendiri dari penuturan orang tuanya. misalnya ketika membahas materi kerajaan Hindhu – Budha di Indonesia (kelas XII IPS semester 1 SMA). sehingga mereka mengetuhi cikal – bakal dari mana sebenarnya nenek moyangnya berasal. pertanyaan dan masalah . siswa dapat membuat sendiri bagan silsilah raja – raja Majapahit.

Jelas: masalah dirumuskan dengan jelas. baik bagi siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. ruang dan sumber yang tersedia. Selain itu.yang diajukan itu haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. artinya tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa. Selain itu. masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Luas dan Sesuai dengan Tujuan Pembelajaran: masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas. Mudah dipahami: masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah siswa. serta membangkitkan motivasi belajar siswa. 4. 3. 5. Dengan kata lain pemecahan masalah harus bersifat multi disiplin. Bermanfaat: masalah yang disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat. 2. b) Keterkaitannya dengan Berbagai Disiplin Ilmu . artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu. Otentik: masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa daripada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu. tidak ambigu.

3) Langkah-langkah Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari lima langkah (Arends. hasil penyelesaian masalah siswa ditampilkan atau disusun laporannya. Artinya. tugas-tugas belajar berupa masalah harus diselesaikan bersama-sama antar siswa dengan siswa. d) Menghasilkan dan memamerkan hasil/karya Pada pembelajaran berdasarkan masalah. mengembangkan dan meramalkan hipotesis. Siswa menganalisis dan merumuskan masalah. baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar.Masalah yang diajukan dalam pembelajaran berdasarkan masalah hendaknya mengaitkan atau melibatkan berbagai disiplin ilmu (multidisiplin). dan bersama-sama antar siswa dengan guru. Kelima langkah itu . 1997). membuat kesimpulan. melaksanakan eksperimen. mengumpulkan dan menganalisis informasi. Selain itu. e) Kolaborasi Pada pembelajaran berdasarkan masalah. pengkajian diperlukan untuk mencari penyelesaian masalah yang bersifat nyata. siswa bertugas menyusun hasil penelitiannya atau kajiannya dalam bentuk karya (karya tulis atau penyelesaian) dan memamerkan hasil karyanya. c) Pengkajian atau Analisis yang Otentik Pengkajian atau analisis yang diperlukan dalam pembelajaran berdasarkan masalah bersifat otentik.

Guru membantu siswa dalam mendefinisikan dan mengorganisir tugas-tugas belajar yang berhubungan dengan masalah. menjelaskan logistik yang dibutuhkan. 2. Mengorganisir siswa dalam belajar 2. Orientasi siswa pada masalah 1. 3. 3. dan memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah. Membimbing pengkajian atau analisis individual maupun kelompok.dimulai dengan orientasi guru dan siswa pada masalah serta diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa. Guru mendorong siswa untuk . LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN YANG DILAKUKAN GURU 1. sebagai berikut. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Langkah-langkah model pembelajaran berda-sarkan masalah. Guru membagi siswa kedalam kelompok.

4. 5. video dan model dan membantu mereka membagi tugas dengan temannya. a) Pendahuluan Pada kegiatan ini guru mengingatkan siswa tentang materi pelajaran yang lalu. melaksanakan eksperimen dan pengkajian untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah 5. memotivasi siswa. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya 4. 4) Pelaksanaan Model pembelajaran Berdasarkan Masalah Pelaksanaan model pembelajaran berdasarkan masalah meliputi beberapa kegiatan berikut ini. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang digunakan.mengumpulkan informasi yang sesuai. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. .

siswa melakukan penyelidikan/ pemecahan secara bebas. Membantu Siswa Memecahkan Masalah Pada kegiatan ini. baik kelompok besar maupun kelompok kecil. guru dapat membagi kelompok itu berdasarkan kesepakatan bersama antara siswa dengan guru. jika diperlukan.mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai secara rinci dan jelas. Jika terdapat perbedaan kelompok. Fase I: Mengorientasikan Siswa pada Masalah Pada kegiatan ini. rasial. b) Kegiatan Inti Guru bersama siswa membahas konsep/teori yang diperlukan dalam kegiatan pemecahan masalah dan membahas soal-soal yang belum tuntas. Fase 3. Fase 2. . Selanjutnya guru melaksanakan fase-fase pembelajaran berdasarkan masalah. dan menjelaskan model pembelajaran yang akan dijalani. hingga mereka benar-benar mengerti dimensi situasi permasalahannya. guru mengajukan masalah kepada siswa dan meminta siswa mengemukakan ide mereka untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam kegiatan ini tugas guru mendorong siswa mengumpulkan data dan melaksanakan analisis aktual. etnis dan jenis kelamin yang didasarkan pada tujuan yang ditetapkan. siswa dikelompokkan secara bervariasi dengan memperhatikan kemampuan. Mengorganisasi Siswa untuk Belajar Pada kegiatan ini. maka guru dapat memberikan tanda pada kelompok itu.

guru menyuruh salah seorang anggota kelompok untuk mempresentasikan hasil pemecahan masalah kelompok dan membantu siswa jika mereka mengalami kesulitan. Kegiatan ini berguna untuk mengetahui hasil sementara pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan.Tujuannya adalah agar siswa dalam mengumpulkan informasi cukup untuk mengembangkan dan menyusun ide-idenya sendiri. Demikian pula. Penutup Guru membimbing siswa menyimpulkan pembelajaran dan memberikan tugas untuk diselesaikan di rumah. guru harus banyak membaca masalah pada berbagai buku sumber yang berguna membantu siswa mengumpulkan informasi. Fase 4. Sedangkan siswa menyusun kembali hasil pemikiran dan kegiatan yang dilampaui pada setiap tahap-tahap pembelajaran. dan memberikan berbagai jenis informasi yang diperlukan siswa dalam menjelajah dan menemukan penyelesaian. Membantu Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Pemecahan Masalah Pada kegiatan ini. mengajukan permasalahan/pertanyaan yang dapat dipikirkan siswa. Fase 5. Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah Pada akhir kegiatan ini. guru membantu menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir siswa. 5) Ciri-ciri Model pembelajaran Interaktif .

Siswa mulai melaksanakan aktivitas yang telah ditentukan guru pada fase pertama. siswa-siswa lainnya diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan (pertanyaan atau komentar) terhadap hasil . Fase pertama. Fase kedua. Fase ketiga. Guru memulai pelajaran dengan mengorganisasi kelas. tanpa memberikan jawaban masalah secara langsung kepada siswa.Fase dalam model pembelajaran interaktif sebagai berikut. Beberapa siswa (dapat mewakili kelompok. jika pada fase kedua dilakukan secara berkelompok) diminta untuk menampilkan dan menjelaskan hasil pekerjaannya kepada teman-teman sekelasnya. Di fase ini guru dapat memberikan bimbingan atau bantuan terbatas kepada siswa dalam mengerjakan tugasnya. Guru juga dapat meminta siswa untuk mencatat hasil dari aktivitas yang mereka lakukan. Siswa dapat bekerja secara individual ataupun berkelompok tergantung pada pengorganisasian kelas yang dilakukan guru di fase pertama. melanjutkan mempelajari suatu topik. mengerjakan tugas (proyek) ataupun melakukan aktivitas-aktivitas lainnya yang dapat membantu siswa memahami suatu topik pelajaran. Siswa diminta untuk belajar secara individual ataukah belajar secara berkelompok. bisa berupa menyelesaikan masalah. Fase ini merupakan fase interaksi kelas. bisa berupa hasil kerja kelompok ataupun hasil kerja individual. Kemudian guru menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan siswa dalam proses pembelajaran. Presentasi hasil kerja.

menilai hasil pekerjaan siswa. Siswa juga dapat mengajukan permasalahan ataupun pertanyaan jika ada hal-hal yang kurang dipahaminya dari topik yang sedang dipelajari. Fase menarik kesimpulan. Dalam pembelajaran interaktif terdapat dua hal yang ditekankan dalam proses belajar. yang pertama adalah siswa . selama dan setelah pembelajaran dilaksanakan. dan juga dapat dilengkapi dengan portofolio dan jurnal siswa. guru dapat mengecek kembali pemahaman siswa dengan memberikan beberapa permasalahan ataupun soal latihan yang dapat dijawab secara lisan ataupun tulisan.pekerjaan temannya. Pada fase ini siswa diminta untuk memperhatikan kembali hasil pekerjaannya di fase kedua dan memperbaikinya jika ternyata setelah dilakukan diskusi kelas terdapat kesalahan pada pekerjaan mereka. tetapi penilaian dilakukan sebelum. Di akhir fase ini guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan tentang apa yang telah dipelajarinya. Guru dapat pula mengajukan pertanyaanpertanyaan untuk membantu siswa lebih memahami topik yang sedang mereka pelajari. Di awal pembelajaran penilaian dapat dilakukan dengan memberikan pretes. Penilaian selama pembelajaran dapat dilakukan melalui observasi selama siswa mengikuti proses pembelajaran. Fase kelima. tetapi bukan berarti penilaian hanya dilakukan pada akhir pembelajaran. Fase menilai belajar unit materi. wawancara dengan siswa. Di fase ini juga. Walaupun fase ini adalah fase terakhir. Dapat dikatakan bahwa penilaian yang dilakukan adalah penilaian proses. Fase keempat.

Selain itu melalui fase ini diharapkan pula siswa terbiasa untuk mencoba menyelesaikan masalah matematika sendiri tanpa bergantung penuh pada guru. guru memberikan tugas kepada siswa yang memancing siswa untuk berpikir dan mengkonstruksi konsep-konsep atau prinsipprinsip yang akan dipelajari. Melalui fase ini diharapkan siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang akan dipelajarinya. Pada fase melakukan aktivitas atau memecahkan masalah. menginvestigasi ataupun aktivitas lainnya dan yang kedua adalah siswa mengkomunikasikan dengan yang lainnya. atau dengan kata lain dalam pembelajaran ini siswa dilatih untuk belajar mandiri sehingga pengetahuan yang dipahaminya tidak hanya sebatas pada apa yang diberikan guru. bisa berupa pemecahan masalah. siswa dituntut untuk menjelaskan hasil dari aktivitas atau pemecahan masalah yang mereka lakukan sendiri atau berkelompok melalui diskusi kelas yang dipimpin oleh guru. melakukan eksperimen. tetapi mereka juga harus siap . mereka saling bertukar ide dalam memecahkan masalah. siswa yang lemah dapat bertanya kepada siswa yang lebih pandai. Selanjutnya pada fase saling membagi dan berdiskusi.mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan melakukan aktivitas yang disediakan oleh guru. Di fase ini terjadi interaksi antar siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Siswa tidak akan memahami suatu pelajaran dengan baik ketika mereka hanya menuliskan jawaban dari suatu permasalahan.

namun pelajaran yang mendasarkan diri pada ilmu-ilmu sosial juga dapat disampaikan kepada siswa dengan menggunakan paradigma ini. G. Namun. Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama. hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda. F. Kesimpulan Pembelajaran berbasis konstruktivisme bukan monopoli pelajaran yang bersifat eksak. karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan . dalam praktik di lapangan masih banyak mengalami kendala. Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. meski kendala ini sebenarnya disebabkan oleh dominasi paradigma pembelajaran model lain yang selama ini mendominasi pembelajaran di Indonesia. Berapa Kelemahan Praktik Lapangan. Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri. Mengapa? Karena prinsip dasar ilmu yang disampaikan harus mendasarkan diri pada logika berpikir dan mampu merangsang siswa untuk berkembang secara eksak dan sosial. Pembelajaran berbasis konstruktivisme menjadi sangat penting dalam upaya untuk mengubah pardigma pembelajaran karena: 1. 1.menjelaskan proses berpikir mereka. tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi. Pendekatan konstruktivisme sudah lama dikenalkan. 3. 2.

mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat. siswa diharapkan mampu untuk mengungkapkan ide. Demikian juga dalam pelajaran sejarah. 2. Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. ilmiah. 3. berbagi gagasan dengan temannya. sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa. imajinatif. dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya. mendorong refleksi tentang model dan teori. Pembelajaran konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan . baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif. argumentasi yang logis. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks. pemikiran.bahasa siswa sendiri. 5. 4. banyak fenomena yang menantang siswa untuk lebih mampu menganalisis dan menghubungkan dengan berbagai fakta sejarah. Terlebih pada era globalisasi sekarang ini.

tetapi memang merangsang siswa untuk nantinya mampu berpikir secara rasional dan bukan mendasarkan diri pada sisi hapalan belaka. Suparno. “Designing Constructivist Learning Environment”. 1997. Slavin. 2001. Jonassen. Robert. J. Fourth Edition. dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar. 3. 1997. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Schifter. 15. and Fosnot. Massachusetts: Allyn and Bacon Publisher. saling menyimak. Paul. Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. In C.M. Instructional-Design Theories and Models. New York: Mc Graw Hill Confrey. Reigeluth (Ed. “50 Filsuf Kontemporer. Dengan demikian pembelajaran ini bukan hanya sekedar transfer knowledge. CT. 1999. 1994. Reconstruction Mathematics Education. Vol. 6. No.: Lawrence Erlbaum. “A Theory of Intelectual Development”. NJ. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Lechte. Educational Psychology: Theories and Practice. Richard. Volume II: A New Paradigm of Instructional Theory. J. D. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Mahwah.mereka.). For the Learning of Mathematics. Daftar Pustaka Arend. D. Teacher‟s College. 1995. Pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan. Columbia University. 8-48. Classroom Instruction and Management. pp. . (1993).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->