P. 1
Fungsi Otak Kanan Dalam Pembelajaran Matematika

Fungsi Otak Kanan Dalam Pembelajaran Matematika

|Views: 482|Likes:
Published by yusi riza

More info:

Published by: yusi riza on May 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2013

pdf

text

original

FUNGSI OTAK KANAN DALAM BELAJAR MATEMATIKA

Dalam mengajar dan mendidik siswa, guru hendaknya tidak melawan prinsip alamiah kinerja otak siswa. Jika dilawan, proses berpikir anak akan terhambat. Karena itu guru harus mengetahui fungsi dan kinerja otak siswa dalam belajar.
Pembahasan : 1. Deskripsi Otak. 2. Fungsi Otak Kanan.

3. Pembelajaran Matematika Saat Ini.
4. Sejarah Pembelajaran Matematika Berbasis Fungsi Otak Kanan. 5. Aplikasi Pembelajaran Matematika Berbasis Fungsi Otak Kanan. 6. Hal-hal yang perlu Diperhatikan Dalam Pembelajaran Matematika Berbasis Fungsi Otak Kanan. 7. Kelemahan dan Kelebihan Pembelajaran Matematika Berbasis Fungsi Otak Kanan.

DESKRIPSI OTAK
Otak manusia terdiri dari otak besar (Cerebrum) dan otak kecil (Cerebelum) Otak Besar Left hemisphere (belahan kiri) Right hemisphere (belahan kanan).

Corpus Callosum

GELOMBANG OTAK

Manusia memancarkan empat keadaan kegiatan gelombang otak yang menggambarkan tingkat kesadaran, yaitu :

1.Gelombang Beta (kecepatan 13-100 Hz) 2.Gelombang Alpa (kecepatan 8-12 Hz) 3.Gelombang Theta (kecepatan 4-8 Hz) 4.Gelombang Delta (kecepatan 0,5 - 4 Hz)

Pada pertengahan 1970-an, Dr. Georgi Lozanof melakukan percobaaan mengenai keadaan terbaik untuk belajar. Dia menemukan bahwa siswa dalam keadaan alfa – kondisi konsentrasi yang santai – belajar dengan laju yang jauh lebih cepat.

FUNGSI OTAK KIRI DAN KANAN
Meskipun ada sedikit perbedaan anatomi antara belahan otak kanan dan kiri, perbedaan fisik ini tidak sebesar perbedaan fungsi keduanya.

DePorter (2004:36), mengungkapkan bahwa proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Otak kiri berdasarkan realitas mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikir sesuai untuk tugas-tugas teratur, ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi audiotorial, menempatkan detail dan fakta, serta simbolisme. Untuk belahan otak kanan cara berpikirnya bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi).

• • • • •

Logis Linear Rasional Sistematis Detail

• • • •

Acak Tidak Teratur Intuitif Menyeluruh

Logis
Logis merupakan suatu cara berpikir di mana bentuk dari berpikir itu sudah terpola dengan baku. Sebuah kesimpulan dalam cara berpikir logis didapat melalui suatu proses yang taat/terkait pada pola tersebut.

Linear
Linier merupakan suatu cara berpikir di mana apa yang dipikirkan selalu searah.

Rasional
Rasional merupakan berpikir dengan menggunakan rasio sebagai dasar berpikirnya. Ide atau gagasan yang diperoleh didapat melalui suatu proses pertama informasi di tangkap oleh indera, kemudian diolah di otak, dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya, kemudian menghasilkan sebuah ide atau gagasan.

Sistematis
Sistematis merupakan proses berpikir di mana berpikir merupakan tahapan, dari tahap yang paling awal, kemudian, dan akhir. Memahami sesuatu langkah demi langkah & bagian demi bagian. Dalam berpikir sistematis tidak diperkenan melewati satu tahapan dalam berpikir (loncat-loncat).

Detail
Berpikir detail merupakan berpikir di mana apa yang kita pikirkan kita bagi pada bagian yang rinci. Terpecah jadi detail-detail & bagian-bagian komponen.

Acak
Acak yang dimaksud di sini adalah bahwa belahan otak kanan bekerja menghasilkan suatu ide, atau suatu kesimpulan tidak melalui suatu proses berpikir yang kaku.

Tidak Teratur
Belahan otak kanan memiliki karakterisik untuk berpikir tidak teratur. Ia dapat langsung pada ide pokoknya baru pada bagian lain yang lebih kecil, atau memulai sesuatu tanpa ada tahapan yang jelas.

Intuitif

Berpikir intuitif adalah berpikir di mana ide atau gagasan didapat tanpa melalui proses berpikir yang rasional. Membuat lompatan wawasan & berpikir, sering berdasarkan pola tak lengkap, prasangka, perasan, atau citra visual.

Menyeluruh
Berpikir menyeluruh adalah berpikir dengan mempertimbangkan banyak hal. Melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, berbagai aspek. Mengaitkan seluruh situasi. Tidak memandang detail. Memadukan.

Hampir 90% pembelajaran di sekolah dominan pada belahan otak kiri.

Terbukti dari :

1. Matematika kebanyakan diajarkan secara audio, dengan guru menulis di papan tulis kemudian menjelaskan.
2. Dilanjutkan dengan pengerjaan soal matematika yang banyak menggunakan simbol-simbol abstrak. 3. Pengerjaan matematika yang terkesan kaku dengan segala aturannya.

Ciri – ciri Pembelajaran Matematika Saat Ini :
Perfeksionis serta disiplin yang keras dan kaku. Cenderung memaksa diri dan karena itu mudah terserang stres. Kurang mudah menyesuaikan diri (kurang adaptif). Pikirannya lebih banyak berisi angka dan kata-kata, kurang berisi gambar, bayangan, dan citra (image). Patuh kepada orang yang berkuasa atau yang memiliki otoritas.

Kenapa ketika belajar matematika banyak siswa yang ‘boring’ waktu guru menerangkan ?

Karena pengajaran matematika dengan teknik audio, lebih mengaktifkan belahan otak kirinya. Otak kiri siswa dipacu unjuk kerjanya, sementara otak kanannya nganggur tanpa aktivitas.

Sejarah Pembelajaran Matematika berdasarkan Fungsi Otak Kanan
Berbicara tentang otak kiri dan kanan, bermula dari penemuan hebat Roger W. Sperry di tahun 1960. Kemudian mulai banyak dilakukan riset, Jerre Levy seorang peneliti fungsi otak kiri dan kanan, percaya bahwa walaupun mungkin, dalam kondisi tertentu menunjukkan bahwa dua belahan itu berfungsi secara berbeda, tetapi mustahil memisahkan fungsi-fungsi itu dalam otak yang normal dan sehat. Pembelajaran berdasarkan fungsi otak adalah pembelajaran dimana belahan otak kanan “DIAKTIFKAN” sehingga kedua belahan otak seimbang baik kiri dan kanan.

Tidak ada pembelajaran yang efektif yang hanya di satu sisi belahan otak saja. Keduanya harus seimbang. Belahan otak kanan perlu dilibatkan juga dalam pembelajaran

1. Memvisualisasikan angka dan bahasa matematika Pembelajaran audio yang mengaktifkan otak kiri, telinga dan melihat angka dan huruf perlu ditambah kegiatan menggambar (aktivitas otak kanan, motorik halus dan melihat dengan benar) untuk memvisualisasikan angka dan bahasa matematika. Contoh soal 1: Fais mempunyai 9 keranjang mangga. Di setiap keranjang berisi 5 buah mangga. Berapa jumlah mangga yang dimiliki Fais? Jawaban : 9 x 5 = 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 = 45

Pada saat guru mencontohkan soal dan jawaban seperti ini, belahan otak kiri anak akan membaca soal cerita yang berupa kalimat dan angka saat anak menjawab soal tersebut.

Untuk mengaktifkan otak kanan siswa, sebaiknya anak-anak menggambar 9 keranjang dan kemudian menggambar 5 mangga pada masing-masing keranjang.

Menyimpan 3 x

Contoh soal 2:

1724 1399 + . . . .

1 1 11 1724 1399 + 3123

Dalam penjumlahan bilangan ribuan sebaiknya menggambar lebih dahulu atau merubah soal tersebut dalam bantuk gambar seperti gambar hati ♥ = ribuan, segitiga ▲= ratusan, persegi ■ = puluhan, bulatan ● = satuan. Belahan otak kanan aktif saat menggambar bentuk dan melihat bentuk, kemudian pindah ke belahan otak kiri saat menghitung jumlah

2. Memperbolehkan adanya variasi cara menjawab soal. Contoh Soal : Total jumlah kelereng yang dimiliki Anto, Jason dan Iko adalah 34 butir. Jumlah kelereng Anto 3 butir lebih sedikit daripada jumlah kelereng Jason. Jumlah kelereng Jason 8 butir lebih banyak daripada kelereng Iko. Berapakah jumlah kelereng Anto? Cara penyelesaian tanpa gambar : Total kelereng = 34 butir, Kelereng Iko = X Kelereng Jason = X + 8 butir ( 8 butir lebih banyak dari Iko) Kelereng Anto = X + 5 butir ( 3 butir lebih sedikit dari Jason) Jumlah kelereng yang ada = X + 5 + X + 8 + X = 34 3 X + 13 = 34 3 X = 34 – 13 X =7 Jadi kelereng Anto = 7 + 5 = 12 butir

Penyelesaian dengan gambar :

Jason 8 butir lebih banyak dari Iko (digambar lebih dulu)

Anto 3 kelereng lebih sedikit dari Jason

Dari gambar diketahui jumlah kelereng Anto adalah 12 buah

Soal ini bisa dijawab dengan cara lain asalkan jawabannya sama, sehingga pemikiran siswa tidak kaku hanya dengan satu cara. Selain itu siswa juga akan lebih kreatif.

Jason 3 butir lebih banyak dari Anto

Jason 8 butir lebih banyak dari Iko (tinggal menambah 5 butir)

3. Otak kanan mempunyai ciri berpikir yang menyeluruh, minta siswa melihat materi secara keseluruhan untuk memberi gambaran tentang apa yang akan dipelajari, biarkan pikiran siswa bertanya-tanya kira-kira materi ini tentang apa? Bagaimana mendapatkan rumusnya? Bagaimana penggunaannya? Selanjutnya mulai pelajaran dengan membahas tiap bagian secara mendetail. Siswa akan lebih mudah memahami dan semua pertanyaanpertanyaan yang muncul tadi akan terjawab.

Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan dengan cara : 1. Ketika memulai pembelajaran guru mengaitkan apa diajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, musik, seni, rekreasi atau akademis siswa. 2. Guru menjadi pendengar yang baik dan selalu gembira (tersenyum). 3. Membangun hubungan yaitu dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian untuk menarik keterlibatan siswa. 4. Lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan
 Pengaturan meja dan kursi diubah dengan berbagai bentuk seperti bentuk U, lingkaran,dll.  Beri tanaman, hiasan lain di luar maupun di dalam kelas.  Pengecatan warna ruangan, meja, dan kursi yang menjadi keinginan kelas.  Ruangan kelas dihiasi dengan poster yang isinya slogan, kata mutiara pemacu semangat.  Pemberian aroma (mint, jeruk, kayu manis, kemangi,dll) di ruang kelas.  Penggunakan spidol warna-warni dalam membantu menjelaskan di papan tulis terutama untuk bagian yang penting

Peran Emosi dalam belajar

ketika otak menerima ancaman atau tekanan, kapasitas saraf untuk berpikir rasional mengecil. Ketersediaan hubungan dan kegiatan saraf benar-benar berkurang atau sangat mengecil dalam situasi ini, dan otak tidak dapat mengakses Higher Order Thinking Skills (HOTS)-Keterampilan Berpikir Orde Tinggi).

Musik Dalam Pembelajaran Musik juga dapat menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri yang berarti menyeimbangkan perkembangan aspek intelektual dan emosional. Sampai saat ini ada anggapan musik bisa memberi pengaruh positif dan mencerdaskan otak adalah musik klasik.. Rithme, melodi, dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak.

Kelemahan : Pengerjaan soal mengahabiskan waktu dan tidak cocok dicoba saat pengerjaan ulangan dan ujian Tidak semua guru kreatif dalam mengelola pembelajaran berbasis fungsi otak kanan, terutama kreatif dalam menggambar. Tidak bisa selamanya guru berlaku manis, baik dan perhatian kepada siswa. Justru sikap ini bisa diremehkan siswa. Kelebihan : Model ini memberi kesempatan yang luas pada siswa untuk mengembangkan seluruh potensi otak yang dimiiliki Pembelajaran manjadi lebih berkesan dan menyenangkan sehingga lebih lama diingat oleh siswa.

Menjadikan siswa lebih kreatif

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->