P. 1
Soal Jawab Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Seri 1

Soal Jawab Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Seri 1

|Views: 10,744|Likes:
Published by Fadhol Mubarak
Semoga Bermanfaat
Semoga Bermanfaat

More info:

Published by: Fadhol Mubarak on May 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/11/2015

pdf

text

original

PEMBAHASAN SOAL UJIAN PROGRAM PENDIDIKAN BREVET KONSULTAN PAJAK (PLUS) KELAS A & B TAX CENTER FISIP-UI (Kelas INTENSIF

Malam angkatan II) MataKuliah Hari/Tanggal Waktu Dosen : PPSP dan KUP :Sabtu/O1 September 2007 : 10.30-12.30 (120 menit) : Tim Dosen

Perhatian: 1. Pembahasan soal ini disusun dengan tujuan sebagai bahan pembelajaran, 2. Pembahas tidak memiliki afiliasi dengan Tax Center FISIP-UI, pembahas hanya orang biasa yang kebetulan belajar disana, 3. Pembahasan didasarkan pada pengetahuan pembahas terhadap ketentuan perpajakan yang berlaku pada saat pembahasan ini dibuat, 4. Kesalahpahaman penulis dapat saja terjadi dalam memahami ketentuan perpajakan sehingga kritik dan saran pembaca tetap diperlukan. I. Pilih dan jawab 5 (lima) pertanyaan.

1. a. Jelaskan tentang kewajiban mengisi SPT. b. Jelaskan tentang persyaratan untuk memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT. Pembahasan: a. Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) dengan benar, lengkap dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf latin, angka arab, satuan mata uang Rupiah dan menandatangani serta menyampaikannya ke Kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Ketentuan ini dicantumkan dalam pasal 3 ayat 1 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 (lebih popular dengan sebutan UU KUP). Ketentuan kewajiban pengisian SPT juga diatur dalam pasal 4 ayat 1 UU KUP. Pengisisan SPT harus dilakukan dengan benar, lengkap dan jelas berarti: i. benar adalah benar dalam perhitungan, benar dalam penerapan ketentuan peraturan perpajakan, benar dalam penulisan dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, ii. lengkap berarti memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur lain yang hasrus dilaporkan dalam SPT, iii. jelas berarti melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan. Penandatanganan SPT dapat dilakukan secara biasa (tanda tangan basah) dapat juga dilakukan dengan menggunakan tanda tangan stempel atau tanda tangan elektronik yang kesemuanya memiliki kekuatan hukum yang sama, yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan (Pasal 3 ayat 1b UU KUP). Setelah SPT diisi dan ditandatangani oleh wajib pajak maka langkah berikutnya
Page | 1 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

sesuai dengan pasal 3 ayat 1 UU KUP, Wajib Pajak wajib menyampaikannya ke Kantor Pelayanan Pajak tempat wajib pajak terdaftar atau tempat lain yang ditetapkan Direktorat Jenderal Pajak. Ketentuan lain terkait penyampaian SPT dapat kita temui dalam pasal 6 UU KUP. Redaksional Pasal 6 ayat 2 UU KUP, “Penyampaian Surat Pemberitahuan dapat dikirimkan melalui pos dengan tanda bukti pengiriman surat atau dengan cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan”. Dari redaksioanal pasal 3 ayat 1 dan pasal 6 ayat 2 UU KUP jelas tersurat bahwa wajib pajak diberi kebebasan (perhatikan kata dapat dan kata atau dalam kedua ayat tersebut) memlih bagaimana cara wajib pajak menyampaikan SPT. Terkait ketentuan ini, Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.03/2007 tentang Bentuk dan Isi Surat Pemberitahuan serta Tata Cara Pengisian, Penandatanganan dan Penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152/PMK.03/2009. Dalam pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan tersebut disebutkan bahwa Penyampaian SPT oleh wajib pajak ke Kantor Pelayanan Pajak atau tempat lain yang ditetapkan Direktorat Jenderal Pajak, dapat dilakukan: 1) secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak Terdaftar, 2) melalui pos dengan bukti pengiriman surat 3) dengan cara lain yang meliputi:  melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat atau  melalui e-filing Ketentuan “fasilitas” terkait penyampaian SPT ini sering kali tidak dimanfaatkan dengan maksimal oleh wajib pajak. Dibuktikan pada setiap batas waktu pelaporan SPT, wajib pajak masih lebih memilih bersabar menunggu antrian di loket TPT karena semua wajib pajak “tumpek blek” untuk melaporkan SPT-nya atau berjuang menembus kemacetan jakarta dengan jiwa “patriotik” karena pada batas akhir pelaporan kebetulan jakarta dilanda hujan deras hanya untuk melaporkan SPT di Kantor Pelayanan Pajak Terdaftar. Seandainya wajib pajak memanfaatkan ”fasilitas” ini, tentu saja jiwa “patriotik” tadi dilakukan dengan cerdas. Wajib pajak tinggal melaporkan SPT-nya melalui ke kantor pos atau jasa ekspedisi (seperti TI*I, Fed*x dan lain-lain) dengan bukti pengirimaan surat. Perlu dicatat bahwa bukti pengiriman SPT melalui Kantor Pos atau jasa ekspedisi/kurir serta bukti peneriman elektronik (melalui e-filing) menjadi bukti penerimaan SPT (pasal 8 PMK-181/PMK.03/2007 sebagaimana diubah terakhir dengan PMK-152/PMK.03/2009). b. Ketentuan terkait perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan dapat kita lihat dalam pasal 3 ayat 4 dan 3 ayat 5 UU KUP. Perlu diperhatikan bahwa perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT hanya dapat dilakukan untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan untuk paling lama 2 bulan (Pasal 3 ayat 4). Persyaratan yang harus dipenuhi oleh wajib pajak untuk memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT diuraikan pada pasal 3 ayat 4 UU KUP, Peraturan Menteri Keuangan nomor 181/PMK.03/2007 sebagaimana telah diubah dengan PMK-152/PMK.03/2009 yaitu dengan cara Menyampaikan pemberitahuan tertulis perpanjangan jangka waktu penyampaian
Page | 2 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

SPT kepada Kantor Pelayanan Pajak sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan berakhir dengan dilampiri dengan :  Perhitungan sementara pajak yang terhutang dalam 1 tahun pajak yang batas waktunya diperpanjang  Laporan keuangan sementara  SSP sebagai bukti pelunasan pembayaran pajak yang terhutang Ketentuan pelaksanaan yang lebih rinci terkait tata cara perpanjangan SPT Tahunan Pajak Penghasilan diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor Per-21/PJ/2009. Dalam Per-21/PJ/2009 disebutkan bahwa pemberitahuan perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT Tahunan bagi wajib pajak badan atau wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha\pekerjaan bebas disampaikan dalam bentuk formulir kertas (formulir 1771-Y untuk wajib pajak badan, formulir 1770-Y untuk wajib pajak orang pribadi) atau dalam bentuk data elektronik yang dihasilkan dari aplikasi e-SPTy. 2. Jelaskan tentang hak WP untuk membetulkan SPT. a. Sebelum dilakukan pemeriksaan. b. Setelah dilakukan pemeriksaan. Pembahasan: 1. Ketentuan terkait hak wajib pajak untuk melakukan pembetulan SPT diatur dalam pasal 8 UU KUP. Redaksional pasal 8 ayat 1 UU KUP berbunyi, “Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan”; sedangkan pada ayat selanjutnya yaitu ayat 1a berbunyi, “Dalam hal pembetulan Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 menyatakan rugi atau lebih bayar, pembetulan Surat Pemberitahuan harus disampaikan paling lama 2 (dua) tahun sebelum daluwarsa penetapan”. Dari kedua ayat diatas jelas terlihat bahwa sepanjang belum dilakukan tindakan pemeriksaan wajib pajak diberikan hak untuk melakukan pembetulan SPT tanpa terikat waktu, kecuali untuk pembetulan yang menyatakan rugi atau lebih bayar dibatasi paling lama 2 tahun sebelum daluwarsa penetapan. Pada penjelasan Pasal 8 ayat 1 dijelaskan bahwa yang dimaksud “mulai melakukan tindakan pemeriksaan” adalah pada saat surat pemberitahuan pemeriksaan pajak disampaikan kepada wajib pajak, wakil, kuasa, pegawai atau anggota keluarga yang telah dewasa dari wajib pajak, sedangkan pada ayat 1a dijelaskan bahwa daluwarsa penetapan adalah jangka waktu 5 tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak. Dengan bahasa sederhana dapat disimpulkan wajib pajak dapat membetulkan SPT kapan saja sepanjang wajib pajak belum menerima surat pemberitahuan pemeriksaan pajak, kecuali pembetulan yang menyatakan rugi atau lebih bayar dibatasi paling lama 3 tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagaian tahun pajak atau tahun pajak. Dalam hal pembetulan SPT wajib pajak mengakibatkan hutang pajak lebih besar, wajib pajak akan dikenai sanksi administrasi berupa bunga 2% per bulan yang dihitung sejak saat penyampaian Surat Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran, bagian dari bulan dihitung satu bulan. (Pasal 8 ayat 2). Sanksi
Page | 3 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

bunga ini akan ditagih kepada wajib pajak melalui penerbitan STP (Surat Tagihan Pajak) sesuai dgn pasal 14 ayat 1 huruf c. 2. Walaupun Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan, Wajib Pajak masih diberi hak untuk membetulkan SPT sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat 3 dan Pasal 8 ayat 4 UU KUP (catatan: Undang-undang KUP tidak menggunakan istilah pembetulan SPT dalam pasal 8 ayat 3 dan ayat 4, istilah yang digunakan adalah “mengungkapkan ketidakbenaran”. Istilah pembetulan SPT hanya digunakan pada Pasal 8 ayat 1. Walaupun demikian, banyak orang yang menggunakan istilah “pembetulan SPT” untuk kondisi pada pasal 8 ayat 4 UU KUP; Pembahas berpendapat penggunaan istilah ini kurang tepat, untuk selanjutnya istilah pengungkapan ketidakbenaran yang akan digunakan) Pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT merupakan salah satu hak wajib pajak yang dijamin oleh Undang-undang yaitu pada pasal 8 ayat 3 dan pasal 8 ayat 4 UU KUP. Pengungkapan Ketidakbenaran Pasal 8 ayat 3 Pasal 8 ayat 3 UU KUP berbunyi: “walaupun telah dilakukan tindakan pemeriksaan, tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakuan wajib pajak sebgaimana dimaksud dalanm pasal 38, terhadap ketidakbenaran perbuatan wajib pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan, apabila wajib pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% dari jumlah pajak yang kurang dibayar”. Selanjutnya jika kita lihat peratuaran pelaksanaan Pasal 8 ayat 3 UU KUP yaitu pasal 7 Peraturan Pemerintah nomor 74 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Perpajakan yaitu: (1) Wajib pajak dengan kemauan sendiri dapat mengungkapkan dengan pernyataan tertulis mengenai ketidakbenaran perbuatannya, yaitu: a. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau b. menyampaikan Surat Pemberitahuan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar; sepanjang mulai penyidikan belum diberitahukan kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia (2) Pernyataan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditandatangani oleh wajib pajak dan dilampiri dengan: a. perhitungan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terhutang dalam format Surat pemberitahuan, b. SSP sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak, c. SSP sebagai bukti sanksi administrasi berupa denda sebesar 150%. (3) Dalam hal pengungkapan ketidakbenaran perbuatan wajib pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, terhadap wajib pajak tidak dilakukan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, (4) Apabila setelah wajib pajak melakukan pengungkapan ketidakbenaran perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) masih ditemukan data yang menyatakan lain dari pengungkapan ketidakbenaran perbuatan tersebut, terhadap wajib pajak tetap dapat dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan, (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengungkapan ketidakbenaran oleh wajib pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Dari uraian diatas, ada beberapa poin penting yang dapat disimpulkan terkait
Page | 4 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

pengungkapan ketidakbenaran berdasarkan pasal 8 ayat 3 UU KUP dan peraturan pelaksanaannya, yaitu: 1) Pengungkapan ketidakbenaran berdasarkan pasal 8 ayat 3 merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh wajib pajak yang sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan (pemeriksaan bukti permulaan merupakan pemeriksaan untuk menyelidiki apakah benar telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan) agar tidak dilakukan penyidikan tindak pidana, 2) Pengungkapan ketidakbenaran dilakukan dengan menyampaikan pernyataan tertulis yang dilampiri dengan perhitungan pajak yang sebenarnya terhutang dalam format Surat Pemberitahuan, beserta SSP pembayaran kekurangan pajak yang sebenarnya terhutang dan SSP pembayaran sanksi denda 150% 3) Perlu dicatat bahwa terdapat dua SSP yang digunakan dalm rangka pengungkapan ketidakbenaran berdasarkan pasal 8 ayat 3. SSP pertama merupakan pembayaran atas kekurangan jumlah pajak yang sebenarnya terhutang dan yang kedua SSP pembayaran sanksi denda sebesar 150% yang sudah harus dilunasi oleh wajib pajak sebelum pengungkapan ketidakbenaran berdasarkan pasal 8 ayat 3 disampaikan.

Pengungkapan Ketidakbenaran Pasal 8 ayat 4 Walaupun Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan (aka: Surat Perintah Pemeriksaan Pajak telah disampaikan kepada wajib pajak), dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum menerbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP), wajib pajak diberi kesempatan untuk mengungkapkan sendiri ketidakbenaran pengisian SPT dalam laporan tersendiri yang dapat mengakibatkan: a) Pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil, b) Rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih besar c) Jumlah harta menjadi lebih besar atau lebih kecil, d) Jumlah modal menjadi lebih besar atau lebih kecil. Walaupun wajib pajak telah mengungkapkan ketidakbenaran pengisian SPT, proses
Page | 5 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

pemeriksaan tetap dilanjutkan. Pajak yang kurang dibayar sebagai akibat pengungkapan ketidakbenaran Pasal 8 ayat 4 beserta sanksi administrasi kenaikan sebesar 50% dari pajak yang kurang dibayar harus dilunasi terlebih dahulu sebelum laporan tersendiri disampaikan. Dalam Pasal 8 PP-74/2011 disebutkan bahwa: 1) Wajib pajak dapat mengungkapkan dalam laporan tersendiri secara tertulis mengenai ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 4 UU KUP, sepanjang pemeriksa pajak belum menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan (SPHP) 2) Laporan tersendiri secara tertulis tersebut harus ditandatangani oleh wajib pajak dan dilampiri dengan: a) Perhitungan pajak yang kurang dibayar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dalam format Surat Pemberitahuan, b) SSP atas pelunasan pajak yang kurang dibayar, c) SSP atas pembayaran sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% 3) Untuk membuktikan pengungkapan ketidakbenaran maka pemeriksaan tetap dilanjutkan dan atas hasil pemeriksaan tsb diterbitkan surat ketetapan pajak dengan mempertimbangkan laporan tersendiri tersebut serta memperhitungkan pokok pajak yang telah dibayar. Dari uraian ketentuan diatas, dapat disimpulkan bahwa: 1) Pasal 8 ayat 4 UU KUP memberikan pilihan bagi wajib pajak untuk mengungkapkan sendiri ketidakbenaran pengisian SPT sebelum proses pemeriksaan pajak selesai (sebelum SPHP disampaikan), 2) Pengungkapan ketidakbenaran sesuai Pasal 8 ayat 4 ini mengakibatkan adanya sanksi administrasi berupa kenaikan 50% dari pajak yang belum dibayar, 3) Laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian SPT dilampiri dengan perhitungan pajak yang kurang dibayar dalam bentuk SPT, SSP pelunasan pajak yang kurang dibayar dan SSP atas pembayaran sanksi administrasi. Kekurangan pembayaran pajak dan sanksi administrasi harus dilunasi sebelum laporan tersendiri disampaikan Pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT berdasarkan pasal 8 ayat 3 KUP berbeda dengan pengungkapan ketidakbenaran berdasarkan pasal 8 ayat 4 KUP. Pengungkapan ketidakbenaran Pasal 8 ayat 3 merupakan fasilitas yang dapat diambil oleh wajib pajak jika sedang diperiksa dalam rangka pemeriksaan bukti permulaan, sedangkan pengungkapan ketidakbenaran berdasarkan pasal 8 ayat 4 merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh wajib pajak yang sedang diperiksa (selain pemeriksaan bukti permulaan) dalam mengungkapkan ketidakbenaran pengisian SPT. Ketentuan pengungkapan ketidakbenaran pasal 8 ayat 4 seharusnya didisain untuk menumbuhkan kesadaran wajib pajak untuk mengungkapkan sendiri ketidakbenaran dalam pengisian SPT. Akan tetapi, jika kita bandingkan besaran sanksi pasal 8 ayat 4 dengan besaran sanksi berdasarkan pasal 13 UU KUP, pembahas berkesimpulan apa gunanya ketentuan Pasal 8 ayat 4 UU KUP? Seperti kita ketahui bahwa pengungkapan ketidakbenaran pasal 8 ayat 4 mengakibatkan adanaya sanksi kenaikan sebesar 50% ( hal ini berarti jika wajib pajak mengungkapkan sendiri
Page | 6 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

kesalahan dalam SPT nya ia akan dikenakan sanksi 50% dari pajak yang kurang dibayar). Bandingkan, jika kesalahan dalam SPT ini ditemukan oleh pemeriksa pajak (dengan kata lain wajib pajak tidak mengungkapkan sendiri kesalahan/kekeliruannya) dalam proses pemeriksaan. Pemeriksa pajak akan mengenakan sanksi bunga berdasarkan pasal 13 ayat 2 UU KUP yaitu sebesar 2% per bulan maksimal 24 bulan, berarti maksimal hanya 48%. Dengan demikian, wajib pajak yang cerdas akan bertanya buat apa mengungkapkan kesalahan sendiri jika dikenai sanksi 50% sedangkan jika ditemukan tim pemeriksa sanksi maksimal hanya 48%. Sungguh terlalu, ketentuan yang tidak masuk akal yang dibuat oleh para legislator. 3. Pasal 12 UU KUP memberikan jaminan kepada WP yang telah mengisi dan menyampaikan SPT dengan benar, lengkap dan jelas. Uraikan Materi ketentuannya. Pembahasan : Pasal 12 UU KUP terdiri dari tiga ayat, yaitu: (1) Setiap wajib pajak wajib membayar pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan dengan tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan pajak, (2) Jumlah pajak yang terutang menurut surat pemberitahuan yang disampaikan oleh wajib pajak adalah jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, (3) Apabila Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti jumlah pajak yang terutang menurut surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak benar, Direktur Jenderal Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang. Ketentuan pasal 12 ayat 1 mensiratkan sistem self assesment dalam sistem perpajakn Indonesia. Wajib pajak wajib membayar sendiri pajak yang terhutang tanpa menunggu ketetapan pajak dari otoritas perpajakan. Pihak DJP sebagai otoritas perpajakan juga tidak berkewajiban untuk menerbitkan surat ketetapan pajak atas semua surat pemberitahuan wajib pajak. Dengan adanya Pasal 12 ayat (1) undang-undang memberi kepercayaan kepada wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakan (menghitung, memperhitungkan, membayar pajak) secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Ketentuan pasal 12 ayat (2) memberikan jaminan hukum kepada wajib pajak yang telah melaksanakan kewajiban perpajakan dengan benar, bahwa apa yang dilaporkan didalam surat pemberitahuan telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pihak DJP tidak bisa dengan sewenang-wenang menetapkan surat ketetapan pajak atas surat pemberitahuan. Direktur Jenderal Pajak baru dapat menetapkan besarnya pajak terutang jika mendapatkan bukti bahwa pajak yang terutang dalam surat pemberitahuan tidak benar (Pasal 12 ayat (3)) 4. Jelaskan tentang kewenangan Administrasi Pajak menerbitkan: a. SKPKB b. SKPKBT c. SKPLB Pembahasan :
Page | 7 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

a. Kewenangan Administrasi Pajak dalam menerbitkan SKPKB diatur dalam Pasal 13 UU KUP. Berdasarkan pasal 13 ayat 1 UU KUP, Direktur Jenderal Pajak diberi kuasa untuk menetapkan besarnya pajak yang terutang terbatas hanya terhadap kasus-kasus tertentu, yaitu: 1) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar, 2) Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat 3 dan sudah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran, 3) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenai tarif 0%, 4) Apabila kewajiban sebagaimana dimaksud pada Pasal 28 (kewajiban pembukuan) atau pasal 29 (kewajiban terkait pemeriksaan pajak) tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang, atau 5) Apabila kepada wajib pajak diterbitkan NPWP dan/atau dikukuhkan sebagai PKP (pengusaha kena pajak) secara jabatan. Direktur Jenderal Pajak tidak dapat menerbitkan ketetapan pajak, diluar 5 kasus diatas. Selain itu, Kewenangan penetapan jumlah pajak yang terutang ini dibatasi dalam jangka waktu 5 tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak. b. Kewenangan Direktur Jenderal Pajak dalam menerbitkan SKPKBT (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan) diatur dalam Pasal 15 UU KUP. Dalam pasal 15 UU KUP, Direktur Jenderal Pajak diberi kuasa untuk menerbitkan SKPKB dalam 2 kondisi yaitu: 1) Kondisi pertama berdasarkan Pasal 15 ayat (1) yaitu apabila Direktur Jenderal Pajak mendapatkan data baru dalam jangka waktu 5 tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak, atau tahun pajak yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terhutang. Data baru yang dimkasud adalah data atau keterangan mengenai segala sesuatu yang diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang yang oleh wajib pajak belum diberitahuakan dalam penetapan semula, baik dalam Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya maupun dalam pembukuan dalam perusahaan yang diserahkan pada waktu pemeriksaan. SKPKBT tidak akan mungkin diterbitkan sebelum didahului penerbitan surat ketetapan pajak. Jumlah pajak yang terhutang dalam SKPKBT berdasarkan pasal 15 ayat (1) akan ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100%, 2) Kondisi kedua berdasarkan pasal 15 ayat (4) yaitu apabila wajib pajak dipidana berdasarkan keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dibidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Penerbitan SKPKBT berdasarkan pasal 15 ayat (4) tetap dapat diterbitkan walaupun jangka waktu 5 tahun telah lewat ditambah sanksi administrasi sebesar 48%. c. Direktur Jenderal Pajak akan menerbitkan SKPLB: (1) setelah melakukan pemeriksaan, apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang (Pasal 17 ayat 1 UU KUP), (2) Berdasarkan permohonan wajib pajak, setelah meneliti kebenaran pembayaran
Page | 8 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

pajak, apabila terdapat pembayaran pajak yang seharusnya tidak terhutang (Pasal 17 ayat 2 UU KUP), (3) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dan/atau data baru ternyata pajak yang lebih dibayar jumlahnya lebih besar daripada kelebihan pembayaran pajak yang telah ditetapkan (hal ini berarti SKPLB dapat diterbitkan lebih dari satu kali). 5. Tentang Kewenangan Administrasi Pajak menagih utang pajak scbagai berikut: a. Dalam hal apa dapat diterbitkan Surat Paksa (3 hal). b. Jelaskan tentang hak mendahulu dan daluwarsa. c. Daluwarsa penagihan pajak Pembahasan : a. Surat Paksa dapat diterbitkan apabila: 1) Penanggung pajak tidak melunasi hutang pajak dan kepadanya telah diterbitkan Surat Teguran atau Surat Peringatan atau Surat Lain yang sejenis, 2) Penanggung pajak telah dilaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, 3) Penanggung pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak. (dasar hukum Pasal 8 Undang-undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa ( UU No19 Tahun 1997 sebagaimana diubah terakhir dengan UU No 19 Tahun 2000)) b. Negara memiliki hak mendahulu untuk utang pajak atas barang-barang milik penanggung pajak. Hal ini berarti negara merupakan kreditur preferen yang dinyatakan mempunyai hak mendahulu atas barang-barang milik penanggung pajak yang akan dilelang. Hak mendahulu unutk hutang pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya, kecuali terhadap: 1) Biaya perkara yang hanya disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang suatu barang bergerak dan/ atau barang tidak bergerak 2) Biaya yang dikeluarkan untuk menyelamatkan barang diamksud, dan/atau 3) Biaya perkara yang hanya disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian suatu warisan (Dasar hukum : Pasal 21 ayat 1 dan ayat 3 UU KUP, Pasal 19 UU PPSP) Hak mendahulu ini hilang setelah lewat 5 tahun sejak tanggal diterbitkan STP, SKPKB, SKPKBT,Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding atau Putussan Peninjauan Kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. Dalam hal diterbitkan Surat Paksa, jangka waktu 5 tahun hak mendahulu dihitung sejak pemberitahaun surat paksa. Selain itu, dalam hal diberikan penundaan pembayaran atau persetujuan angsuran maka jangka waktu 5 tahun dihitung sejak batas akhir penundaan diberikan. (Dasar hukum : Pasal 21 ayat 5 UU KUP) c. Berdasarkan pasal 22 ayat 1 UU KUP, hak melakukan penagihan pajak daluwarsa setelah melampauai jangka waktu 5 tahun terhitung sejak penerbitan STP, SKPKB, SKPKBT, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding serta Putusan Peninjauan Kembali. Namun, daluwarsa tersebut tertangguh, jika: 1) Diterbitkan Surat Paksa, 2) Ada pengakuan hutang pajak baik secara langsung maupun tidak langsung, (wujud
Page | 9 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

pengakuan hutang pajak dapat dilakukan melalui permohonan angsuran atau penundaan pembayaran hutang pajak), 3) Diterbitkan SKPKB berdasarkan Pasal 13 ayat 5 UU KUP atau SKPKBT berdasarkan pasal 15 ayat 4 UU KUP (SKPKB/SKPKBT karena wajib pajak dipidana dengan tindak pidana di bidang perpajakan) 4) Dilakukan penyidikan tindak di bidang perpajakan. (Dasar hukum Pasal 22 ayat 2 UU KUP) 6. Jelaskan tentang hak WP yang diatur dalam: a. Pasal 16 KUP. b. Pasal 25 KUP. Pembahasan : a. Pasal 16 UU KUP memberikan hak kepada wajib pajak untuk mengajukan permohonan pembetulan atas: 1) Surat Ketetapan Pajak (SKP), 2) Surat Tagihan Pajak (STP), 3) Surat Keputusan Keberatan, 4) Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, 5) Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, 6) Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, 7) Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, 8) Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, 9) Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga, 10) Surat Keputusan Pembetulan, yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Kesalahan tulis, kesalahan hitung dan atau kekeliruan penerapan ketentuan perpajakn yang dimaksud disini adalah kesalahan/kekeliruan yang bersifat manusiawi dan tidak mengandung persengketaan antara wajib pajak dan fiskus. Atas permohonan pembetulan pasal 16 UU KUP yang diajukan oleh wajib pajak, Direktur Jenderal Pajak harus memberikan keputusan paling lama 6 bulan sejak surat permohonan pembetulan diterima. b. Pasal 25 UU KUP mengatur hak wajib pajak untuk mengajukan keberatan terhadap surat ketetapan pajak. Adapun syarat yang harus dipenuhi wajib pajak dalam pengajuan keberatan yaitu: 1) Permohonan keberatan hanya dapat diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu : SKPKB, SKPKBT, SKPN, SKPLB atau pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pengertian “suatu” disini adalah satu surat keberatan hanya untuk satu surat ketetapan pajak, 2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan mengemukakan jumlah pajak yang terhutang, jumlah pajak yang dipotong atau dipungut, atau jumlah rugi menurut perhitungan wajib pajak disertai alasan yang menjadi dasar perhitungan, 3) Keberatan diajukan dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga, kecuali jika wajib pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi oleh wajib pajak karena keadaan di luar kekuasaannya,
Page | 10 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

4) Dalam hal wajib pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak, wajib pajak wajib melunasi terlebih dahulu pajak yang masih harus dibayar minimal sebesar jumlah yang telah disetujui dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. 7. Dalam hal keberatan Wajib Pajak telah diberi keputusan "tidak dipertimbangkan" karena tidak memenuhi persyaratan formal, apakah ada hak Wajib Pajak mengajukan upaya administrasi lain kepada Direktur Jenderal Pajak. a. Kalau ada, sebutkan dasar hukum dan isi ketentuannya. b. Berlandaskan asas-asas apa ketentuan pasal tersebut dimuat dalam UU KUP. Pembahasan : a. Wajib pajak yang ditolak pengajuan keberatannya karena tidak memenuhi persyaratan formal masih memiliki upaya administrasi lain sebagaimana diatur dalam Pasal 36 ayat 1 huruf b UU KUP yaitu mengajukan permohonan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar. Permohonan ini juga hanya diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak. b. Ketentuan Pasal 36 ayat 1 huruf b berlandaskan asas good governance 8. Dalam rangka memenuhi unsur keadilan dalam pemungutan pajak, dalam UU KUP diatur mengenai pemberian imbalan bunga kepada Wajib Pajak. a. Dalam hal apa imbalan bunga diberikan? Sebutkan ketentuannya dan bagaimana imbalan bunga tersebut dihitung. b. Imbalan bunga tersebut dibayarkan dengan menerbitkan apa? c. Dari jawaban point b di atas, antara lain imbalan bunga dibayarkan karena fiskus terlambat merestitusikan kelebihan pembayaran pajak. Jelaskan mengenai prosedur dan jangka waktu pengembalian kelebihan pembayaran pajak. Pembahasan : a. Imbalan bunga diberikan kepada wajib pajak dalam hal terdapat: 1. keterlambatan pengembalian kelebihan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (3) UU KUP, 2. keterlambatan penerbitan SKPLB sebagaimana dimaksud dalam pasal 17B ayat (3) UU KUP, 3. kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 17B ayat (4) UU KUP, 4. kelebihan pembayaran pajak karena pengajuan keberatan, permohonan banding atau permohonan peninjauan kembali dikabulkan sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud Pasal 27A ayat 1 UU KUP, 5. kelebihan pembayaran pajak karena Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak atas Surat Ketetapan Pajak atau Surat Tagihan Pajak mengabulkan sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud pasal 27A ayat (1a) UU KUP, atau 6. kelebihan pembayaran sanksi administrasi berupa denda Pasal 14 ayat (4) dan/atau bunga Pasal 19 ayat 1 karena Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi atau Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi sebagai akibat diterbitkan Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali yang mengabulkan sebagaian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat (2) UU KUP.
Page | 11 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

Ketentuan terkait imbalan bunga diatur dalam Pasal 11 Ayat 2, 11 Ayat 3, Pasal 17B ayat 3, 17B ayat 4, Pasal 27A ayat 1, Pasal 27A ayat 1a dan Pasal 27A ayat 2 UU KUP. Adapun peraturan pelaksanaan terkait imbalan bunga diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 195/PMK.03/2007 sebagaimana telah dirubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan nomor 12/PMK.03/2011 Penghitungan Imbalan Bunga: 1. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat 3 UU KUP adalah 2% per bulan dari jumlah kelebihan pembayaran pajak dihitung sejak batas waktu penerbitan SPMKP (Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak) sampai dengan tanggal penerbitabn SPMKP atau sejak batas waktu penerbitan SPMIB (Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga) sampai dengan tanggal penerbitan SPMIB, dan bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh 2. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam pasal 17B ayat 3 UU KUP adalah 2% perbulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 1 bulan untuk penerbitan SKPLB sesuai ketentuan Pasal 17B ayat 2 UU KUP sampai dengan diterbitkannya SKPLB, 3. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam pasal 17B ayat 4 UU KUP adalah 2% perbulan, maksimal 24 bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 12 bulan setelah diterimanya surat permohonan secara lengkap sampai dengan diterbitkannya SKPLB, dan bagain bulan dihitung satu bulan. 4. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud Pasal 27A ayat 1 UU KUP adalah 2% per bulan maksimal 24 bulan dari jumlah kelebihan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya surat keputusan keberatan, putusan banding atau putusan peninjauan kembali. 5. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam pasal 27A ayat 1a UU KUP adalah 2 % per bulan dari jumlah kelebihan pembayaran pajak maksimal 24 bulan, dihitung sejak: a) Tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, atau Surat Pembatalan Ketetapan Pajak untuk SKPKB dan SKPKBT b) Tanggal penerbitan SKPN dan SKPLB sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak untuk Surat Tagihan Pajak 6. Imbalan bunga sebagaimana dimaksup Pasal 27A ayat 2 UU KUP adalah 2% per bulan maksimal 24 bulan dari jumlah kelebihan pembayaran pajak, dihitung sejak tanggal pembayaran pajak yang menyebabkan kelebihan pembayaran sanksi administrasi sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Penguranagn Sanksi Administrasi atau Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi sebagai akibat diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan, Putusan banding atau Putusan Peninjauan Kembali. b. Imbalan bunga diberikan kepada wajib pajak dengan menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga (SKPIB) yang akan ditindaklanjuti dengan penerbitan Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga (SPMIB) c. Keterlambatan fiskus dalam merestitusikan kelebihan pembayarn pajak yang dimaksud disini saya asumsikan bahwa wajib pajak sudah menerima SKPLB namun pihak fiskus terlambat dalam menerbitkan SPMKP. Contoh : Pada Tanggal 25 Mei 2012, PT A menerima SKPLB yang terbit pada tanggal 20 Mei 2012 yang menyatakan kelebihan pembayaran pajak
Page | 12 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

sebesar Rp100.000.000. Adapun prosedur yang harus ditempuh PT A adalah mengajukan permohonan tertulis kepada Kantor Pelayanan Pajak. Dalam surat Permohonan pengembalian tersebut juga harus menyebutkan nomor rekening bank wajib pajak. Diasumsikan PT A mennyampaikan surat permohonan pengembalian pajak tsb ke Kantor Pelayanan Pajak pada tanggal 27 Mei 2012. Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan SPMKP tanggal 20 juni 2012 Sesuai Pasal 11 ayat 2 UU KUP, Pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (pembahas: wajib pajak menerima SKPLB) ….. dilakukan paling lama 1 bulan sejak …. diterbitkannya SKPLB….. Berdasarkan resume bunyi pasal 11 ayat 2 diatas maka jatuh tempo penerbitan SPMKP adalah tanggal 19 Juni 2012 (catatan: penentuan jatuh tempo pembayaran harus kita kembalikan pada redaksional undang-undang. Pasal 11 ayat 2 UU KUP menggunakan kata “sejak” sehingga jika SKPLB terbit tanggal 20 Mei 2012 maka dalam menentukan jatuh tempo 1 bulan; tanggal 20 Mei 2012 sudah dihitung 1 hari. Oleh karena itu, jatuh tempo penerbitan SPMKP adalah tanggal 19 Juni 2012, bukan 20 Juni 2012) Karena Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan SPMKP tanggal 20 Juni 2012 (lewat jatuh tempo) maka PT A berhak menerima imbalan bunga sebesar 2% x 1 bulan x Rp 100.000.000 = Rp2.000.000.

II. Jawab 2 (dua) kasus di bawah ini. 9. Terhadap SPT Tahunan PPh Badan PT. A Tahun Pajak 2005 dilakukan pemeriksaan pajak lapangan dan pemeriksa pajak berhasil mendapatkan bukti-bukti yang kuat yang menunjukkan pengisian SPT tidak benar. a. Atas temuan/bukti yang bersifat apa yang dapat diterbitkan s.k.p, jelaskan. b. Dapatkah diterbitkan s.k.p apabila temuan/bukti yang diperoleh pemeriksa merupakan Bukti Permulaan Adanya Tindak Pidana Pajak. Kalau dapat, jelaskan alasannya, kalau tidak apa yang seharusnya dilakukan Administrasi Pajak. Pembahasan : a. Penerbitan SKP harus didasarkan bukti/temuan yang kuat bahwa jumlah pajak yang terhutang menurut SPT tidak benar yaitu temuan/bukti yang bukan merupakan analisa. b. Atas Pemeriksaan lapangan bukti/temuan yang diperoleh dapat diterbitkan SKP. Namun, untuk menyatakan bukti yang diperoleh dari pemeriksaan lapangan merupakan bukti permulaan adanya tindak pidana dibutuhkan pemeriksaan bukti permulaan terlebih dahulu. Ketentuan pemeriksaan bukti permulaan daitur dalam Pasal 43 A UU KUP. Terkait pemeriksaan pajak Pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 82/PMK.03/2011 menyatakan bahwa Pemeriksaan Lapangan dihentikan dengan cara: 1) Membuat laporan hasil pemeriksaan sumir 2) Membuat laporan pemeriksaan sebagai dasar penerbitan SKP 3) Mengusulkan pemeriksaan bukti permulaan. Kesimpulan: bukti yang diperoleh dari pemeriksaan lapangan tidak akan dijadikan bukti permulaan adanya tindak pidana dibidang perpajakan tanpa terlebih dahulu
Page | 13 Pembahas : Fadhol Mubarak Kamis, 10 Mei 2012

dilakukan pemeriksaan bukti permulaan. Oleh karena itu, Wajib Pajak dapat menggunakan hak mengungkapkan ketidakbenaran sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat 3 dan Pasal 8 ayat 4 UU KUP dengan tepat 10. Bapak Hidayat baru saja memulai usaha penjualan mini market pada bulan Januari 2007 kemarin. Bapak Hidayat memperkirakan sampai dengan akhir tahun 2007, omset usahanya bisa mencapai Rp. 500 juta. Untuk pemenuhan penghitungan kewajiban perpajakannya, karena satu dan lain hal, Bapak Hidayat memilih untuk tidak melakukan pembukuan. a. Apakah tindakan Bapak Hidayat tersebut diperbolehkan oleh ketentuan perpajakan dalam hal ini UU KUP. Jelaskan alasannya. b. Apa yang harus dilakukan Bapak Hidayat supaya diperbolehkan melakukan cara lain selain pembukuan oleh Kantor Pajak. Pembahasan : a. Kewajiban melaksanakan pembukuan diatur dalam Pasal 28 UU KUP. Berdasarkan Pasal 28 ayat 2 UU KUP wajib pajak orang pribadi dapat dikecualikan dari kewajiban pembukuan, tetapi wajib melakukan pencatatan. Pencatatan yang dimaksud disini adalah pengumpulan data secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebgai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final (Pasal 28 ayat 9 UU KUP). Penghitungan Pajak bagi wajib pajak orang pribadi yang melakukan pencatatan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Sesuai dengan Pasal 14 ayat 2 dan ayat 3 Undang-undang Pajak Penghasilan (UU No7 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir dengan UU No 36 Tahun 2008), wajib pajak orang pribadi yang diperbolehkan menggunakan norma penghitungan penghasilan netto dan wajib menyelenggarakan pencatatan adalah wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto dalam 1 tahun kurang dari 4,8 Milyar Rupiah. Dengan demikian, Bapak Hidayat diperbolehkan untuk tidak menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib menyelenggarakan pencatatan b. Agar dapat menyelenggarakan pencatatan maka sesuai Pasal 14 ayat 2 Undang-undang Pajak Penghasilan, maka Bapak Hidayat harus memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan (untuk kasus Bapak Hidayat, berarti paling lambat tgl 31 Maret 2007)

Page | 14

Pembahas : Fadhol Mubarak

Kamis, 10 Mei 2012

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->