P. 1
Baitul Maal Wattamwil-Agus&Nasrudin

Baitul Maal Wattamwil-Agus&Nasrudin

|Views: 28|Likes:
Published by Erik Mahfud Fathoni

More info:

Published by: Erik Mahfud Fathoni on May 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2013

pdf

text

original

BAIT AL-MAAL WA AT-TAMWIIL

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah LEMBAGA DAN ISTRUMEN KEUANGAN SYARIAH Dosen Pengampu: RAHMANI TIMORITA YULIANTI

Oleh: MOHAMMAD AGUS KHOIRUL WAFA (06423006) NASRODIN (06423008)

PROGRAM S1 EKONOMI ISLAM FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

1

akan tetapi menambah masalah perekonomian mereka yang sudah kompleks. diantaranya adalah bentuk permodalan yang dilakukan dari rentenir tersebut. sehingga akan terjadi ketimpangan pasar dalam ekonomi yang pasti akan menciptakan calon pengangguran-pengangguran baru di Indonesia. Sejarah berdirinya BMT Lembaga sektor keuangan sangat dibutuhkan dalam mendukung permodalan dalam sektor riil. Pada sisi lain di sektor keuangan mikro. Padahal apabila diperhatikan secara seksama justru prosentase UMK jauh lebih besar dari usaha-usaha menengah dan besar di pasar Indonesia. Ekonosia. sehingga kebutuhan permodalan pada UMK tidak terpenuhi yang akhirnya apabila hal ini terus menerus berlanjut maka tidak dapat dielakkan lagi hilangnya secara simultan UMK itu sendiri di pasaran Indonesia. dan tidak menjerat mereka dalam lingkaran hutang yang 1 Konklusi dari sejarah BMT yang ditulis oleh Heri Sudarsono dalam bukunya Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi (2007) cetakan ke-empat.BAIT AL-MAAL WA AT-TAMWIIL I. Akan tetapi perbankan itu sendiri belum menyentuh terhadap usaha mikro dan kecil (UMK) baik dari pedagang kaki lima sampai pedagang-pedagang yang berada di pasar tradisional yang biasanya disebut sebagai ekonomi rakyat kecil. Yoyakarta. Para rentinir biasanya meminjamkan uang mereka kepada para peminjam dengan beberapa ketentuan yang mengikat diantaranya penentuan bunga yang tinggi dan interest return dengan jangka waktu sangat pendek. hal ini sudah dirasakan fungsinya sejak beberapa puluh tahun yang lalu di Indonesia dengan konsep perbankan. karena justru ada beberapa permasalahan yang signifikan dalam bentuk kegiatan individu tersebut. baik yang berbentuk konvensional (berdasarkan kapitalis maupun sosialis) dan berprinsip syariah. Hal ini disebabkan karena keterbatasan jenis usaha dan aset yang dimiliki oleh usaha kelompok usaha tersebut. sebenarnya ada kegiatan individu dari masyarakat yang sudah memperhatikan hal tersebut sehingga kelompok individu tersebut memberikan permodalan yang dibutuhkan UMK tersebut. Oleh Karena itu dibutuhkan instansi keuangan mikro baru yang mempunyai kompetensi baik dalam profesionalitas dan material yang bisa mengcover kebutuhan masyarakat akan hal itu. 97. Sehingga praktek ini secara tidak langsung tidak memberikan solusi akan permasalahan ekonomi rakyat kecil. h. individu tersebut sering dikenal di masyarakat umum sebagai rentenir 1 . Akan tetapi keberadaan rentenir itu sendiri tidak membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak. 2 .

yaitu baitul maal yang memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam menyeimbangkan perekonomian umat Islam pada masa itu dengan memberikan dana subsidi kepada umat Islam yang membutuhkan yang dalam Islam disebut sebagai mustahik. dikarenakan tidak ada lembaga Negara yang memperhatikan fenomena perkembangan BMT dengan sentralisasi BMT menjadi lembaga keuangan atau paling tidak menjadi salah satu sektor keuangan Negara Indonesia. pajak dan beberapa kebijakan yang telah ditentukan oleh khalifah (pemimpin) umat Islam pada waktu itu. Namun demikian institusi tersebut telah hilang dengan keruntuhan bentuk khilafah (kepemimpinan) pada umat tersebut pada akhir-akhir abad 16 masehi. Sehingga pada akhirnya diharapkan BMT ini diharapkan dapat menjadi penyokong UMK dan menggantikan praktek rentenir yang dianggap mencekik UMK dalam jeratan hutang yang berkepanjangan itu dan pada akhirnya menyeimbangkan pasaran Indonesia secara umum. hal ini dapat dimaklumi karena multi agama yang ada di Indonesia menjadi kepentingan politik untuk itu. Pada perkembangannya di Indonesia sekarang. sehingga selain mempunyai dana untuk kegiatan konsumtif dari para mustahik ada juga instrument pendanaan untuk kebutuhan produktif bagi usaha mikro dan kecil (UMK) yang tentunya sesuai dengan prinsip yang ditentukan oleh Islam atau sering disebut dalam tulisan ini nantinya dengan prinsip syariah. terlepas dari fungsi baitul maal itu sendiri ada satu fungsi lagi dari lembaga itu yaitu baituttamwil atau lembaga pendanaan. Sehingga muncul konsep baitul maal wattamwil walaupun konsep itu hanya dapat berjalan pada sektor mikro. sehingga mampu mendorong ekonomi rakyat kecil sebagai hasil akhirnya. ada beberapa pihak yang menyambungkan permasalahan ekonomi saat ini (abad 20) dengan kontribusi baitul maal pada masa kekhilafahan Islam dahulu. Sehingga dana penyeimbang ekonomi umat secara otomatis tidak ada lagi selain dari hasil pajak oleh pemerintah masing-masing. 3 . sebenarnya ada salah satu instansi yang telah memperhatikan aspek kebajikan pada kehidupan masyarakat. Dalam sejarah perekonomian umat muslim. infak. Adapun sumber dana dari baitul maal tersebut adalah dari dana zakat. Pada perkembangan BMT ini lebih dikelola oleh beberapa individu dan menjangkau sektor mikro dari perekonomian rakyat.berkepanjangan.

Adapun tugas dari masing-masing struktur di atas adalah sebagai berikut: 1) Musyawarah anggota pemegang simpanan pokok memegang kekuasaan tertinggi di dalam memutuskan kebijakan-kebijakan makro BMT. sedangkan fungsi kedua yaitu fungsi profit department karena sebagai panjang tangan dari bank Syariah yang di atas sudah dijelaskan bahwa kemampuan perbankan sangat terbatas untuk menjangkau sektor usaha mikro dan kecil sehingga dibutuhkan lembaga keuangan yang komersial seperti bank sehingga dapat menjangkau sektor tersebut. Bait at-tamwil : lembaga yang mengarah pada usaha pengumpulan dan penyaluran dana komersial. dan pembukuan. III. sepertihalnya zakat. yaitu fungsi non profit department sebagai landasan historis bahwa baitul maal pada masa Islam klasik adalah berfungsi sebagai dana umat dan penyeimbang perekonomian. manajer. Definisi BMT Heri sudarsono dalam bukunya Bank dan Lembaga keuangan syariah mendefinisikan BMT ke dalam 2 fungsi utama : a. Dari definisi Sudarsono diatas dapat disimpulkan bahwa BMT mempunyai dua fungsi. infaq. 4) Manajer bertugas menjalankan amanat musyawarah anggota BMT dan memimpin BMT dalam merealisasikan programnya. dan sadaqoh. Pembina manajemen. pemasaran. bertugas untuk membina jalannya BMT dalam merealisasikan programnya. musyawarah Anggota pemegang simpanan pokok. Organisasi BMT Untuk memperlancar tugas BMT. dan alternatif pemikir ekonomi Islam untuk lembaga itu adalah BMT tersebut.II. 4 . 5) Pemasaran bertugas untuk mensosialisasikan dan mengelola produk-produk BMT. bertugas mengawasi dan menilai operasional BMT. struktur organisasi BMT meliputi. Bait al maal : lembaga yang mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang non profit. 3) Pembina manajemen. 6) Kasir bertugas melayani nasabah. dewan syariah. 2) Dewan Syariah. kasir. maka diperlukan struktur yang mendeskripsikan alur kerja yang harus dilakukan oleh personil yang ada di dalam BMT tersebut. b.

Bentuk struktur organisasi BMT standar PINBUK dapat diilustrasikan dalam gambar berikut: Musyawarah anggota pemegang simpanan pokok Dewan Syariah Pembinan manajemen manajer maal pemasaran tamwil kasir pembukuan Anggota dan nasabah Keterangan : . musyawarah anggota pemegang simpanan pokok melakukan koordinasi dengan dewan syariah dan Pembina manajemen dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan oleh manajer.. 5 . Manajer memimpin keberlangsungan maal dan tamwil.7) Pembukuan bertugas untuk melakukan pembukuan atas asset dan omzet BMT. Efektifitas dalam pengelolaan organisasi BMT. hal ini dipengaruhi oleh: a. b..garis koordinasi ________________ garis komando Tetapi dalam kenyataannya setiap BMT memiliki bentuk struktur organisasi yang berbeda-beda. Orientasi program kerja yang akan direalisasikan dalam jangka pendek dan jangka panjang.. c. pemasaran. d. Dalam struktur organisasi standar dari PINBUK. kasir. kasir dan pembukuan. Jumlah sumber daya manusia yang diperlukan dalam menjalankan operasi BMT..... Tamwil terdiri dari pemasaran.. Ruang lingkup atau wilayah operasi BMT.... dan pembukuan. Sedangkan anggota dan nasabah berhubungan koordinatif dengan maal...

menjual barang yang telah dibelinya dengan ditambah mark-up. Sistem non profit Sistem yang sering disebut sebagai pembiayaan kebajikan ini merupakan pembiayaan yang bersifat sosial dan non-komersial.Murobahah Ba’ as-salam Ba’ al istishna Ba’bitstaman ajil 3. Al-musyarakah Al-mudharabah 5.Qordhul Hasan 4. Ba’I al. Keuntungan BMT nantinya akan dibagi kepada penyedia dana. dengan. Al. Produk pembiayaan Penyediaan uang dan tagihan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam di antara BMT dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya beserta bagi hasil setelah jangka waktu tertentu. dan kemudian bertindaksebagai penjual. Prinsip bagi hasil Dengan prinsip ini ada pembagian hasil dari pembeli pinjaman dengan BMT. Al-Mudharabah AL_Musyarakah Al-Muzara’ah Al-Musaqah 2. Akad bersarikat Akad bersyarikat adalah kerjasama antara dua pihak atau lebih dan masingmasing pihak mengikutsertakan modal (dalam berbagai bentuk) dengan perjanjian pembagian keuntungan/ kerugian yang disepakati. Sistem jual beli Sistem ini merupakan suatu tata cara jual beli yang dalam pelaksanaannya BMT mengangkat nasabah sebagai agen yang diberi kuasa melakukan pembeli barang atas nama BMT. PRINSIP OPERASIONAL BMT Dalam menjalankan usahanya BMT tidak jauh dengan BPR syariah.IV. Nasabah cukup mengembalikan pokok pinjamannya saja. 6 . yakni menggunakan 3 prinsip: 1.

Pengangsuran yang rutin dan tetap. Memperhatikan momentum b. Mampu memberikan keuntungan c.- Pembiayaan al.Sistem pengangsuran atau pengembalian dana: a. Lewat kerja antara Lembaga atau institusi. Memberikan rasa aman d. Membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Dana masyarakat b. Kas tangan c. Tetapi produk tersebut harus memenuhi syarat: Sesuai dengan syariah dan disetujui oleh Dewan Syariah. Penyaluran melalui pembiayaan b. Pengangsuran yang tidak rutin dan tetap 7 . Simpanan berjangka atau deposito d. V. Penggunaan dana 1. Dalam penggalangan dana BMT biasanya terjadi transaksi yang berulangulang. maka BMT terbuka untuk menciptakan produk baru.Murabahah (MBA) Pembiayaan al-Bai’ Bitsaman Ajil (BBA) Pembiayaan al-Mudharabah (MDA) Pembiayaan al-Musyarakah (MSA) untuk meningkatkan peran BMT dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Simpanan biasa c. PENYIMPANAN DAN PENGGUNAAN DANA A.Penggalangan dana digunakan untuk: a. Profesionalisme B. Ditabungkan di BPRS atau Bank Syariah 2. Dapat ditangani oleh sistem operasi BMT bersangkutan. Pelayanan optimal e. baik penyetoran maupun penarikannya. Penyimpanan dana 1) Sumber dana BMT a. b. 2) Penyimpanan dan penggalangan dalam masyarakat dipengaruhi a.

000. Jasa-jasa/ lain 4. 20. Mingguan c. Perdagangan b. Penutupan terhadap pembiayaan yang macet karena faktor kesulitan pelunasan. Modal pendirian BMT BMT dapat didirikan dengan modal awal sebesar Rp. Kontruksi f. Pengangsuran yang jatuh tempo d. infaq dan shadaqoh (ZIS) ZIS masyarakat Lewat kerjasama antara BMT dengan Lembaga Badan Amil Zakat. Infaq.Klasifikasi pembiayaan: a. Namun demikian. CARA MENDIRIKAN BMT a. jika terdapat kesulitan dalam 8 . Pengangsuran yang tidak tentu (kredit macet) 3.000.c.. d. Industri rumah tangga c. Membantu masyarakat yang perlu pengobatan.(dua puluh juta rupiah) atau lebih. dan shadaqoh (BAZIS) b.Jenis angsuran: a. Dalam penyaluran dana ZIS Digunakan untuk pemberian pembiayaan yang sifatnya hanya membantu Pemberian bea siswa bagi perserta yang berprestasi atau kurang mampu dalam membayar SPP. Jatuh tempo C. Pelayanan Zakat dan Shadaqoh a. Konveksi e. Penggalangan dana zakat. Harian b. Bulanan e. 2 mingguan d. VI. Percetakan g. Pertanian/ peternakan/ perikanan.

pemda atau sumber-sumber lainnya. kas masjid atau BAZIS setempat. dapat dimulai dengan modal Rp.000. 20. Lembaga. 9 . 20.. Tahap pendirian BMT Adapun tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam pendirian BMT adalah sebagai berikut: 1) pemrakarsa membentuk panitia penyiapan pendirian BMT (P3B) di lokasi tertentu.. desa miskin. Jumlah batasan 20 sampai 44 anggota pendiri. 2) P3B mencari modal awal atau modal perangsang sebesar Rp. kecamatan atau lainnya. kelurahan. Modal awal ini dapat berasal dari satu atau beberapa tokoh masyarakat setempat. BAZIS.000.4) Jika calon pemodal telah ada maka dipilih pengurus yang ramping (3 sampai 5 orang) yang akan mewakili pendiri dalam mengerahkan kebijakan BMT. seperti masjid. 5. 5.000. KSM adalah kelompok swadaya masyarakat dengan mendapat surat keterangan operasional dan PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil). yayasan. Modal awal ini dapat berasal dari perorangan. 3) Atau langsung mencari pemodal-pemodal pendiri dari sekitar 20 sampai 44 orang di kawasan itu untuk mendapatkan dana urunan hingga mencapai jumlah Rp.atau minimal Rp. b.(lima juta rupiah).000...000.000.000.(sepuluh juta) bahkan Rp. Badan Hukum BMT BMT dapat didirikan dalam bentuk kelompok swadaya masyarakat atau koperasi.000.atau lebih besar mencapai Rp.000.000.000. Namun sejak awal anggota pendiri BMT harus terdiri antara 20 sampai 44 orang.sampai Rp.untuk segera memulai langkah operasional. 5. 10. Koperasi serba usaha atau koperasi syariah Koperasi simpan pinjam syariah (KSP-S) c.000.000.000. 5) Melatih 3 calon pengelola (minimal D3 dan lebih baik S1) dengan menghubungi Pusdiklat PINBUK Propinsi atau Kab/ Kota.mengumpulkan modal awal. yayasan. pesantren. 10. ini diperlukan agar BMT menjadi milik masyarakat setempat. 6) Melaksanakan persiapan-persiapan sarana perkantoran dan formulir yang diperlukan.

karena persepsi bahwa BMT lain adalah lawan bukan partner. Jakarta 10 . B. Kendala BMT Dalam perkembangan BMT tentunya tidak lepas dari berbagai kendala.2006. diantaranya: 1) Optimalisasi SDM yang ada di BMT 2) Strategi pemasaran yang lebih meluas 3) Inovasi produk sesuai dengan kebutuhan masyarakat 4) Pengembangan aspek paradigmatic 5) Fungsi partner BMT perlu digalakkan. REFERENSI Heri Sudarsono. Kendala dan strategi pengembangan BMT A. Kendala tersebut sebagai berikut: 1) Akumulasi kebutuhan dana masyarakat belum bisa dipenuhi oleh BMT. “Buku Tata Cara Pendirian Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) Dan Kisah Sukses BMT”. 5) Pengarahan pengelola pada orientasi bisnis terlalu dominant sehingga sedikit mengikis rasa idealis 6) Ketimpangan fungsi utama BMT antara baitul maal dan baituttamwil 7) Kualitas SDM yang kurang.2007 (cetakan ke-empat). ”Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi”. PKES. VII. 2) Adanya rentenir yang memberikan dana yang memadai dan pelayanan yang baik dibanding BMT. bukannya menjadi lawan 6) Evaluasi bersama BMT. Strategi pengembangan BMT Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam menghadapi problematika ekonomi yang ada di BMT saat ini. 3) Nasabah bermasalah 4) Adanya persaingan tidak Islami antar BMT. walaupun tidak berlaku sepenuh kendala ini di suatu BMT.7) Menjalankan bisnis operasi BMT sercara professional dan sehat. Yoyakarta Amin Aziz. Ekonosia. VIII.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->