P. 1
Kebijakan Pemerintah Dalam Pemberian Bantuan Langsung Tunai

Kebijakan Pemerintah Dalam Pemberian Bantuan Langsung Tunai

|Views: 1,568|Likes:
Published by Firyal

More info:

Published by: Firyal on May 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2013

pdf

text

original

Kebijakan Pemerintah Dalam Pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT

)
( Deskripsi Mengenai formulasi, Implementasi,dan Evaluasi kebijakan)

A. Pendahuluan Kebijakan merupakan hal yang identik dengan masalah organisasi, organisasi yang dimaksud meliputi organisasi pemerintah secara umum, maupun yang ada dalam pemerintah serta organisasi non pemeritah atau organisasi sektor swasta. Sebagai suatu dimensi yang ada dalam bidang administrasi publik kebijakan mempunyai peran yang penting dalam menentukan hal-hal apa yang harus diberikan kepada publik dalam hal penentuan suatu formulasi dalam rangka pemecahan sesuatu yang dianggap menjadi kesenjangan publik. Dimensi kebijakan berkenaan dengan dengan keputusan tentang apa yang harus dikerjakan. Dimensi kebijakan

dianalogikan dengan pekerjaan otak yang selalu memutuskan apa yang hendak dikerjakanoleh sistem organ tubuh atau dimensi struktur organisasi melalui suatu energi atau sistem penggerak dan kendali atau dimensi manajemen. Dalam kenyataan, untuk memproses sebuah keputusan yang benar dibutuhkan serangkaian prinsip yang secara umum dibedakan atas prinsip rasionalitas dan politis. Output dari proses tersebut dapat berupa keputusan tentang alternatif terbaik yang siap untuk diimplementasikan. Akan tetapi, sampai sejauh mana prinsip-prinsip pilihan terbaik ini digunakan dalam proses pembuatan keputusan, merupakan isu penting yang terkesan kurang diberi perhatian yang memadai selama ini. Dimensi kebijakan ini memang

sangat penting mengingat kedudukannya sebagai penentu tentang apa yang hendak dikerjakan. Sebelum membahas mengenai kebijakan lebih luas penulis akan memberikan mengenai apa sebenarnya definisi kebijakan itu sendiri. Istilah kebijakan berbeda kebijaksanaan, kebijakan lebih menunjukkan adanya serangkaian alternatif yang siap dipilih berdasarkan prinsip-prinsip tertentu, sedangkaian kebijaksanaan berkenaan dengan suatu keputusan yang memperbolehkan sesuatu yang sebenarnya dilarang, atau sebaliknya, berdasarkan alasan-alasan tertentu seperti pertimbangan kemanusiaan, keaadaan gawat, dan sebagainya. Kebijakan seperti yang didefinisikan oleh Graycar dapat dipandang dari perspektif filosofis, produk, proses, dan kerangka kerja. (Yeremias, 2008). Sebagai suatu konsep “filosofis”, kebijakan dipandang sebagai serangkaian prinsip, atau kondisi yang diinginkan. Sebagai suatu “produk”, kebijakan diartikan sebagai serangkaian kesimpulan atau rekomendasi, sebagai suatu “proses”, kebijakan menunjuk pada cara dimana melalui cara tersebut suatu organisasi dapat mengetahui apa yang diharapkan darinya yaitu program dan mekanisme dalam mencapai produknya, dan sebagain suatu “kerangka kerja”, kebijakan merupakan suatu proses tawar menawar dan negosiasi untuk merumuskan isu-isu dan metode dimplementasinya. Definisi lain tentang kebijakan dijelaskan oleh David Easton, Easton menjelaskan kebijakan dalam perspektif publik, bahwa kebijakan publik adalah pengalokasian nilai-nilai secara sah/paksa kepada seluruh masyarakat. Menurut buku kamus administrasi publik (Chandler and Plano) public policy adalah pemanfaatan yang strategis terhadap

sumberdaya-sumberdaya yang ada untuk memecahkan masalah-masalah publik atau pemerintah. Setelah mengetahui istilah kebijakan ataupun kebijakan publik bahwa pada dasarnya baik itu kebijakan maupun kebijakan publik adalah suatu hal yang menggambarkan bagaimana lahirnya suatu keputusan-keputusan yang memiliki nilai maupun prinsip yang diwujudkan dalam bentuk aturan yang dapat dikatakan mengikat dalam rangka pencapaian ekspektasi atau harapan-harapan masyarakat. Berbicara tentang kebijakan maupun kebijakan publik di Negara kita Indonesia sudah lahir berbagai macam kebijakan baik itu kebijakan yang sifatnya internal pemerintah maupun kebijakan external yang secara langsung berhubungan dengan publik atau masyarakat. Dari berbagai macam kebijakan pemerintah yang ada yang telah dikeluarkan oleh pemerintah khususnya pada sektor publik, kebijakan pemerintah dalam pemberian Bantuan Langsung Tunai atau yang lebih tren dengan kebijakan BLT adalah salah satunya. Kebijakan BLT adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui instruksi Presiden NO.3 Tahun 2008. Kebijakan BLT lahir sebagai manifestasi dari impact kenaikan bahan bakar minyak (BBM), yang merupakan pengurangan subsidi BBM itu sendiri. Dalam

perkembangannya sendiri bahwa BLT merupakan pemberian dalam bentuk uang tunai kepada masyarakat yang mana bagi mereka yang mendapatkan adalah khusus bagi rumah tangga sangat miskin, yang miskin dan hampir miskin. Besarannya ialah uang tunai Rp.100.000 per bulan, yang dibagikan setiap pertriwulannya atau per tigabulannya. Proses kebijakan BLT sendiri pada dasarnya sudah tidak berlanjut hingga saat ini, namun begitu kebijakan ini kemudian melahirkan pendapat-

pendapat yang beragam, ada yang berpendapat mendukung ada juga yang menganggap bahwa kebijakan ini dianggap sebagai suatu kebijakan yang tidak efektif dalam menuntaskan permasalahan-permasalahan kompleks masyarakat kita khususnya permasalahan klasik yakni kemiskinan. Sebagian mereka yang mendukung kebijakan ini beranggapan bahwa kebijakan ini sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya karena mereka menggunakan uang tersebut untuk membeli berbagai macam keperluan rumah tangga mereka. Secara konseptual, bantuan langsung tunai (BLT) bersifat sebagai bantuan darurat. Bantuan ini hampir sama seperti bantuan tanggap darurat yang diberikan kepada korban bencana alam atau korban bencana sosial, yaitu bantuan yang diberikan untuk penanggulangan pertama terhadap kondisi kehidupan masyarakat yang mengalami kehilangan atau musibah. Selanjutnya akan dirumuskan dan ditetapkan lagi program-program, kegiatan dan jenis bantuan yang bertujuan untuk memulihkan kondisi kehidupan masyarakat tersebut. 100.000,-/bulan menambahkan Bantuan dalam bentuk uang tunai sebesar Rp. Ribu biaya Rupiah yang per tidak bulan) mampu bertujuan disediakan untuk oleh

(Seratus sejumlah

masyarakat untuk membeli bahan bakar minyak.

Sebagai contoh :

kemampuan ekonomi masyarakat miskin untuk membeli bahan bakar minyak (minyak tanah) adalah sebesar Rp. 2.000,-/liter. BBM yang menyebabkan minyak tanah Dengan kenaikan harga Rp. 2.500,-/liter

menjadi

menyebabkan masyarakat mengalami defisit atau ketidakmampuan ekonomi sebesar Rp. 500/liter. Oleh karena itu uang tunai dalam tersebut

dimaksudkan untuk menutupi atau memberikan dukungan sebesar Rp. 500,/liter untuk pembelian minyak tanah bagi masyarakat miskin. Selain sifatnya yang merupakan bantuan darurat, BLT juga merupakan bantuan antara pada masa transisi, yaitu bantuan yang bertujuan untuk menjaga kestabilan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat pada saat kondisi perekonomian negara sedang mengalami perubahan atau pembenahan. BLT bukan merupakan satu-satunya jenis bantuan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah perekonomian masyarakat dan negara. rencana program dan pemberian bantuan untuk Penyusunan dan

memulihkan

meningkatkan kondisi tersebut membutuhkan proses, baik dalam persiapan maupun dalam pelaksanaannya. Disisi lain, sebagian yang kontra atau yang kurang mendukung kebijakan ini menganggap bahwa kebijakan ini tidak mendidik masyarakat khususnya masyarakat miskin kita untuk bagaimana berusaha sehingga kemudian mereka dapat survive. Mereka beralasan bahwa dana tersebut ialah barang yang habis dan juga sangat tidak seimbang dengan kebutuhan masyarakat miskin setiap bulannya. Beberapa unsur DPR menilai bahwa BLT Plus merupakan jenis bantuan konsumtif dan habis pakai. Bantuan ini dipandang tidak akan

memberikan daya ungkit terhadap kemampuan ekonomi masyarakat miskin dan bahkan cenderung akan membuat masyarakat menjadi ketergantungan. DPR juga menilai bahwa pemberian bantuan perlu diujicobakan terlebih dahulu sebelum ditetapkan kebijakannya untuk seluruh daerah di Indonesia. Dari beberapa pendapat ini maka penulis tertarik untuk mendapatkan lebih dalam mengenai kebijakan BLT ini, dimana penulis akan mencoba melihat

apakah kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ini efektif dalam pelaksanaannya. Olehnya itu penulis akan mencoba melihatnya dari segi komponen-komponen kebijakan yakni bagaiamana proses formulasinya, implementasi hingga tahap evaluasinya, sehingga pada akhirnya penulis akan mendapatkan suatu kesimpulan yang cukup jelas untuk kemudian

memberikan suatu rekomendasi apakah kebijakan ini efektif atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah.

B. Formulasi Kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk Rumah Tangga Sasaran (RTS) dalam rangka kompensasi pengurangan subsidi BBM, Program BLT-RTS pelaksanaannya harus langsung menyentuh dan memberi manfaat langsung kepada masyarakat miskin, mendorong tanggung jawab sosial bersama dan dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat kepada perhatian pemerintah yang secara konsisten benar-benar memperhatikan Rumah Tangga Sasaran yang pasti merasakan beban yang berat dari kenaikan harga BBM. Tujuan dari Program BLT-RTS dalam rangka kompensasi

pengurangan subsidi BBM adalah: 1) Membantu masyarakat miskin agar tetap dapat memenuhi kebutuhan dasarnya; 2) Mencegah penurunan taraf kesejahteraan masyarakat miskin akibat kesulitan ekonomi; 3) Meningkatkan tanggung jawab sosial bersama. Pada saat pemerintah menaikkan harga dasar BBM, kenaikan harga dapat mengakibatkan harga kebutuhan pokok meningkat dan bagi

masyarakat miskin dapat mengakibatkan daya beli mereka semakin menurun, karena akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan perkembangan harga di pasar. Warga masyarakat miskin akan terkena dampak sosial semakin menurun taraf kesejahteraannya atau menjadi semakin miskin. Untuk itu diperlukan program perlindungan sosial bagi masyarakat miskin dalam bentuk program kompensasi (compensatory program) yang sifatnya khusus (crash program) atau program jaring pengaman sosial (social safety net), seiring dengan besarnya beban subsidi BBM semakin berat dan resiko terjadinya defisit yang harus ditanggung oleh pemerintah. Selain itu, akibat selisih harga BBM dalam negeri dibanding dengan luar negeri berakibat memberi peluang peningkatan upaya penyelundupan BBM ke luar negeri. Kebijakan baru pengalihan subsidi BBM selain Bantuan Langsung Tunai untuk Rumah Tangga Sasaran (BLT-RTS), juga diperuntukan bagi pembebasan biaya pendidikan pada tingkat tertentu, biaya pengobatan pada masyarakat miskin, subsidi beras, subsidi minyak goreng, subsidi gula dan pembangunan prasarana pedesaan. Kebijakan pengalihan subsidi BBM ini juga disinergikan dengan kebijakan pemberdayaan masyarakat melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), sehingga skema perlindungan sosial bagi masyarakat miskin tetap mendorong keberdayaan masyarakat sesuai dengan potensi yang dimiliki. Dalam buku petunjuk teknis pelaksanaan bantuan langsung tunai dijelaskan bahwa Bantuan Langsung Tunai tanpa syarat diberikan kepada Rumah Tangga Sasaran (unconditional cash transfer) sebesar Rp.100.000,per bulan selama satu tahun, dan setiap tahap diberikan Rp.300.000.- / 3 bln. Sasarannya Rumah Tangga Sasaran sejumlah 19,1 juta sesuai hasil

pendataan yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik dan DIPA Departemen Sosial yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan. Pada Tahun 2008 Pemerintah melanjutkan skema program PKPS BBM dari bulan Juni s.d Desember 2008 dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai tanpa syarat kepada Rumah Tangga Sasaran (unconditional cash transfer) sebesar Rp.100.000,per bulan selama 7 bulan, dengan rincian diberikan

Rp.300.000.- / 3 bln (Juni-Agustus) dan Rp.400.000.- / 4 bln (SeptemberDesember). Sasarannya Rumah Tangga Sasaran sejumlah 19,1 juta sesuai hasil pendataan yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik dan DIPA Departemen Sosial yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan. Selanjutnya dalam juknis dijelaskan bahwa secara umum, tahapan yang dilaksanakan berkaitan dengan penyaluran dana BLT-RTS adalah: 1.Sosialisasi Program Bantuan Langsung Tunai,dilaksanakan oleh

Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Sosial, bersama dengan Kementerian/Lembaga di Pusat bersama-sama Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/ Kota, Aparat Kecamatan dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat (Karang Taruna, Kader Taruna Siaga Bencana (TAGANA), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat. 2. Penyiapan data Rumah Tangga Sasaran dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS Pusat). Daftar nama dan alamat yang telah tersedia disimpan dalam sistem database BPS, Departemen Sosial dan PT Pos Indonesia. 3. Pengiriman data berdasarkan nama dan alamat Rumah Tangga Sasaran dari BPS Pusat ke PT Pos Indonesia. 4. Pencetakan KKB Bantuan Langsung Tunai Untuk Rumah Tangga Sasaran (KKB) berdasarkan data yangditerima oleh PT Pos Indonesia.

5. Penandatanganan KKB oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia. 6. Pengiriman KKB ke Kantor Pos seluruh indonesia 7. Pengecekan kelayakan daftar Rumah Tangga Sasaran di tingkat Desa/ Kelurahan. 8. Penerima Program Keluarga Harapan juga akan menerima BLT-RTS, sehingga dimasukkan sebagai Rumah Tangga Sasaran yang masuk dalam daftar. 9. Pembagian KKB kepada Rumah Tangga Sasaran olehPetugas Kantor Pos dibantu aparat desa/ kelurahan, Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat, serta aparat keamanan setempat jika diperlukan. 10.Pencairan BLT-RTS oleh Rumah Tangga Sasaran berdasarkan KKB di Kantor Pos atau di lokasi-lokasi pembayaran yang telah ditetapkan. Terhadap KKB Penerima dilakukan pencocokan dengan Daftar Penerima (Dapem), yang kemudian dikenal sebagai KKB Duplikat. 11.Pembayaran terhadap penerima KKB dilakukan untuk periode Juni s.d Agustus sebesar Rp. 300.000,- dan periode September s.d Desember sebesar Rp. 400.000,.Penjadwalan pembayaran pada setiap periode menjadi kewenangan dari PT. Pos Indonesia. 12.Jika kondisi penerima KKB tidak memiliki identitas sebagai persyaratan kelengkapan verifikasi proses bayar, maka proses bayar dilakukan dengan verifikasi bukti diri yang sah (KTP, SIM, Kartu Keluarga, Surat Keterangan dari Kelurahan, dll). 13.Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyaluran BLTRTS oleh tim terpadu. 14.Pelaporan bulanan oleh PT. Pos Indonesia kepadaDepartemen Sosial.

Kurang lebih beberapa deskripsi yang telah dijelaskan di atas telah memperlihatkan bagaimana konsep formulasi mengenai kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT), lantas bagaimana dengan tahapan implemntasinya? Apakah penyaluran BLT sudah berjalan dengan baik? Untuk menjawab itu maka penulis akan memberikan gambaran secara umum mengenai tahapan implementasi penyaluran dana BLT.

C. Implementasi dan Evaluasi penyaluran dana Bantuan Langsung Tunai (BLT). Tahapan pelaksanaan bantuan langsung tunai (BLT) yang telah dilaksanakan oleh pemerintah pada dasarnya secara pelaksanaan dapat dikatakan baik. Indikatornya seperti yang terlihat dalam hasil evaluasi Bantuan Langsung Tunai (BLT) 2008 oleh Badan Perencanaan

Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut, sebanyak 35,1% penerima BLT dari sekitar 18,8 juta rumah tangga sasaran (RTS) naik kelas dari sebelumnya kategori miskin menjadi kategori tidak miskin. Itu berarti, tujuan Program BLT untuk mempertahankan daya beli masyarakat miskin sejak Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai akhir Mei 2008 lalu ada hasil. "Ada dampak positif dari pemberian BLT pada tingkat kesejahteraan rumah tangga miskin," kata Deputi Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Bappenas . Yang dimaksud dengan tingkat kesejahteraan di sini adalah tingkat berobat ke pelayanan medis, cakupan balita yang diimunisasi BCG dan Polio, serta penggunaan air bersih. Lalu, konsumsi RTS

penerima BLT meningkat 6% lebih tinggi ketimbang yang tidak menerima BLT. Pemberian BLT juga tidak menyebabkan orang menjadi malas bekerja.

Penerima BLT tahap pertama periode Juni-Agustus 2008 mencapai 18,83 juta rumah tangga atau 99,02% dari seluruh RTS. Total duit yang disalurkan sebesar Rp 5,69 triliun. Sedang tahap kedua (SeptemberDesember 2008) 18,78 juta rumah tangga atau 98,74% dari total RTS. Uang yang dibagikan Rp 7,51 triliun.

Namun begitu beberapa pakar dan pengamat kemudian berpendapat lain, tidak hanya itu sebagian masyarakat juga memberikan komentarnya mengenai kebijakan pemerintah ini secara umum mereka yang mengkritik kebijakan pemerintah ini beranggapan bahwa pemberian bantuan langsung tunai berupa pemberian uang tidak relevan dengan pemberantasan kemiskinan di negara ini. Pemberian bantuan langsung tunai sering mendapat kritikan tajam dari masyarakat hal itu dikarenakan tidak semua masyarakat mendapatkan bantuan langsung tunai. Kriteria masyarakat yang mendapat bantuan langsung tunai yaitu berdasarkan data dalam badan pusat statistik. pendataan tersebut memang dilakukan untuk mendapatkan data rumah tangga miskin, yang nantinya akan diberikan BLT, berbicara mengenai data, tidak akan pernah lepas dari sekian persen error, yang bagi orang awam adalah kesalahan yg tidak dapat ditolerir, BPS pun dijadikan kambing hitam, jajaran BPS berdasarkan metodologi dan kreteria yang dipegang tentu tidak dapat dipersalahkan begitu saja, banyak aspek. Tahun 2008 rencana pemerintah untuk menaikan harga BBM sudah pada tahap final, BLT pun

tetap menjadi pilihan pemerintah untuk memberikan subsidi BBM kepada rumah tangga miskin, Data BPS (yang ditahun 2005 dihujat habis) tetap menjadi satu-satunya pilihan, celakanya kartu BLT yang dicetak berdasarkan data 2005, hal ini terjadi karena pemerintah tidak mempunyai persiapan sebelumnya bahwa akan harus menaikan harga BBM di tahun 2008, sehingga belum sempat menurunkan dana untuk BPS melakukan pendataan. Sekali lagi BPS menjadi kambing hitam, data 2005 dicari kelemahannya kemudian di beritakan di media masa. Pada praktiknya, BLT tidak efektif menjangkau rakyat miskin dan menimbulkan berbagai masalah di lapangan. Apa saja ketidakefektifan penyaluran BLT? Pertama, BLT tidak memiliki efektifitas dari segi penyaluran di lapangan. Kita sering menjumpai kasus pemberian bantuan yang tidak tepat sasaran. Misalnya, rumah miskin justru tidak mendapatkan bantuan namun rumah tangga yang lebih mampu mendapatkan bantuan. Barangkali pemerintah dapat menanggap bahwa ini bersifat kasuistik. Namun pada praktiknya, kesalahan penyaluran bantuan berawal dari data yang tidak jelas dan menimbulkan gesekan di masyarakat. Hingga sekarang, tidak pernah dilakukan pendataan dan pencacahan ulang tentang data rumah tangga miskin tersebut. Kedua dalam masalah sosial, BLT menyebabkan moral hazard, dimana BLT dapat menurunkan mental masyarakat dan tidak mendidik secara jangka panjang. Terdapat sebagian masyarakat yang pada akhirnya mengaku miskin karena ingin mendapatkan bantuan. Mereka bangga dengan

’cap miskin’ demi memperoleh rupiah tertentu. Mental masyarakat akan menjadi buruk dengan program BLT. Ketiga, penyaluran BLT bermasalah karena tidak didukung dengan kelembagaan yang baik. Penerapan BLT secara terburu-buru dan tidak disertai dengan kesiapan aparat pemerintah tentu saja akan berakibat tidak efektifnya penyaluran BLT. Keempat, penyaluran BLT bukan merupakan suatu jalan keluar dalam menuntaskan masalah kemiskinan, dikarenakan proses pemberian uang bukan merupakan cara mendidik, pada saat dana itu telah habis digunakan maka masyarkat akan kembali mengalami kesusahan dikarenakan program ini tidak berlangsung secara kontinyu. Kelima, isu yang berkembang di masyarakat bahwa masalah klasik mengenai penyalahgunaan dan bantuan langsung tunai dan potonganpotongan yang dilakukan petugas-petugas atau oknum-oknum yang

memanfaatkan situasi, yang semakin menjadikan masalah dalam penyaluran BLT. Kalau melihat pada dampak yang akan ditimbulkan oleh kebijakan BLT ini, kebijakan BLT tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi masyarakat miskin di Indonesia. Ini disebabkan nominal BLT yang diberikan tidak seimbang dengan kenaikan biaya hidup yang ditanggung oleh masyarakat akibat kenaikan harga BBM. Coba kita bayangkan, kenaikan BBM tersebut akan mendorong kenaikan biaya untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat miskin, mendorong kenaikan biaya input produksi masyarakat miskin yang kebanyakan berada pada sektor pertanian (baik petani maupun nelayan) yang berada di pedesaan. Apabila kita

membandingkan total kenaikan biaya hidup (biaya pemenuhan kebutuhan dasar dan input produksi) masyarakat miskin dengan nominal dana BLT yang diberikan, kebijakan ini tidak akan berdampak siginifikan. Apalagi, pemerintah tidak bisa menjamin efesiensi dan efektifitas penggunaan dana BLT yang diberikan kepada masyarakat. Berdasarkan hasil analisis, terdapat perbedaan antara prioritas pengeluaran masyarakat miskin untuk kebutuhan dan keinginan. Dampak BLT terhadap kesejahteraan ini terlihat pada prioritas masyarakat miskin dimana prioritas penggunaan uang BLT paling utama adalah SEMBAKO. Hal ini menunjukkan bahwa BLT belum efisien dalam memenuhi kebutuhan masyarakat miskin karena prioritas utama dari BLT tersebut masih untuk kebutuhan dasar. Namun, BLT tersebut memiliki manfaat yang sangat besar bagi kelangsungan hidup masyarakat miskin terutama dalam pemenuhan kebutuhannya. Selain itu, BLT tidak berpengaruh terhadap kinerja masyarakat miskin karena masyarakat miskin tidak bisa hidup jika hanya

menggantungkan penerimaannya pada BLT, tetapi untuk beberapa kasus masyarakat miskin tergantung dengan BLT tersebut. Selain itu, dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan BLT tersebut tidak mampu memberikan dampak positif pada peningkatan produktifitas

masyarakat miskin, melainkan kecenderungannya memberikan dampak negatif pada penurunan produktifitas. Kebijakan BLT hanya merupakan kebijakan yang hanya meberikan hasil bukan bagaimana memproduksi hasil itu kepada masyarakat miskin. Bantuan langsung tunai yang diberikan pemerintah kepada masyarakat miskin untuk mensiasati kenaikan BBM malah menimbulkan beberapa

dampak. Antara lain yaitu menyebabkan pertikaian antar individu, hal itu terjadi karena tidak semua masyarakat mendapatkan bantuan langsung tunai,karena yang menentukan adalah data dari badan pusat statistik. Masalah yang ditimbulkan adalah data dari BPS banyak yang tidak valid, misalnya ada beberapa masyarakat yang tergolong mampu malah

mendapatkan bantuan langsung tunai dan sebaliknya banyak masyarakat yang tidak mampu malah mendapat bantuan langsung tunai. Masalah ini timbul karena BPS hanya mengambil data dari tahun 2005, tidak melakukan pendataan ulang yang dikarenakan menghemat biaya pengeluaran. Sehingga banyak terjadi kesalahan-kesalahan dalam pendataanya.misalnya pemberian BLT pada periode 2008 menggunakan data 2005 (yang diketahui memiliki beberapa kelemahan) untuk BLT 2008 adalah menoreh luka baru di atas luka lama, hal ini hendaknya menjadi sebuah pelajaran bagi Indonesia, BPS dan Pemerintah khususnya. Perlunya sebuah tatanan yang baik dalam upaya menyediakan data secara terus menerus dan update, penyediaan data yang update dan sistematis, tentu memerlukan sebuah sistem yang ditopang oleh teknologi dan SDM yang memadai, selain sumber daya manusia juga sarana dan prasarana yang memadai dalam mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan data, sudah saatnya pemerintah memerhatikan

pembangunan SDM dan IT BPS, jika tanpa ini semua data lama akan menjadi masalah baru terus-menerus.

Dampak lain yaitu bantuan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat dengan tujuan memberikan subsidi kepada masyarakat atas kenaikan BBM malah digunakan masyarakat untuk kebutuhan yang

mendasar,hal ini menjadi bukti bahwa pemberian subsidi BBM kepada masyarakat miskin lewat bantuan langsung tunai masih belum evektif. Berkaca pada kebijakan BLT di masa lalu (kebijakan BLT tahun 2008) banyak kelemahan-kelemahan dan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh

kebijakan BLT ini, antara lain : 1) Kebijakan BLT bukan kebijakan yang efektif dan efisien untuk menyelesaiakan kemiskinan di Indonesia, ini dikarenakan kebijakan ini tidak mampu meningkatkan derajat dan tingkat kesejahteraan mayarakat miskin. 2) Efektifitas dan efisiensi penggunaan dana BLT yang tidak dapat diukur dan diawasi karena lemahnya fungsi pengawasan pemerintahan terhadap kebijakan tersebut. 3) Validitas data masyarakat miskin yang diragukan sehingga akan berdampak pada ketepatan pemberian dana BLT kepada masyarakat yang berhak. 4) Kebijakan BLT memiliki kecenderungan menjadi pemicu konflik sosial di masyarakat. 5) Peran aktif masyarakat yang kurang/minim, sehingga optimalisasi kinerja program yang sulit direalisasikan. 6) Dari sisi keuangan negara, kebijakan BLT merupakan kebijakan yang bersifat menghambur-hamburkan uang negara karena kebijakan tersebut tidak mampu menyelesaiakan masalah kemiskinan secara berkelanjutan dan tidak mampu menstimulus produktifitas masyarakat miskin

D. Beberapa alternatif dalam reformasi kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Sebelum penulis mencoba untuk menjelaskan beberapa alternatif dalam pemecahan masalah terhadap kebijakan pemerintah dalam pemberian dana Bantuan Langsung Tunai maka penulis mencoba untuk mengidentifikasi beberapa hal yang kemudian berkaitan dengan masalah BLT ini. NO 1. 2. Tahapan Situasi Masalah Meta Masalah Masalah Ketidakefektifan Penyaluran Dana BLT Data penerima yang tidak valid Ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap pemerintah Kurang mendidik masyarakat dalam menuntasakan masalah kemiskinan Tingkat penyalahgunaan yang terjadi dalam penyaluran dana BLT 3. Masalah subtantif 4. Masalah Formal Lemahnya pengawasan Data penerima tidak valid Kurang mendidik masyarakat miskin Lemahnya pengawasan Kurang mendidik masyarakat dalam

menuntaskan masalah kemiskinan

Dari beberapa hal-hal yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai implementasi hingga evaluasi maka dapat disimpulkan bahwa waktu yang

terbatas pada saat tahap perencanaan menyebabkan program pelaksanaan BLT terkesan “dipaksakan”. Keterbatasan waktu tersebut turut memengaruhi keberhasilan pelaksanaan masing-masing tahapan dan keseluruhan program. Dalam penargetan ditemui adanya kesalahan sasaran meskipun dalam tingkat yang relatif rendah. Hal ini terindikasi dari adanya rumah tangga tidak miskin yang menjadi penerima BLT dan adanya rumah tangga miskin yang belum menjadi penerima. Adanya kesalahan sasaran yang diperparah dengan sosialisasi yang tidak memadai, khususnya tentang kriteria target dan tujuan program, telah memicu munculnya ketidakpuasan masyarakat. Ketidakpuasan masyarakat diungkapkan dalam berbagai bentuk, mulai dari keluhan, protes atau demonstrasi, melakukan ancaman, hingga pengrusakan. Pengaduan yang berbentuk aksi protes dan ancaman biasanya ditangani oleh kepala desa/lurah dibantu oleh aparat kepolisian. Di beberapa daerah aparat pemda kabupaten/kota dan kecamatan serta BPS juga turun tangan. Kemudian, BLT yang sudah pernah dilakukan bisa dianggap gagal, jadi seharusnya pemerintah bisa berkaca pada kegagalannya terdahulu, seharusnya mengapa harus dilakukan kembali dengan adanya BLT yang kemungkinan bisa juga gagal. Bisa kita simpulkan bahwa walaupun BLT merupakan sebuah program baik yang dibuat oleh pemerintah dengan tujuan ingin mensejahterakan masyarakatnya terkait menghadapi dampak naiknya minyak dunia, bisa dikatakan merupakan program gagal yang dilakukan oleh pemerintah, karena terbukti terdapat banyak sekali kelemahannya dalam penerapannya dan dilapangan sendiri kita mengetahui bahwa banyak sekali masyarakat yang tidak puas terhadap BLT tersebut.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah saat ini? Pemerintah semestinya memperhatikan hasil evaluasi BLT sebelum berencana

menerapkan BLT tahap selanjutnya. Jangan sampai penyaluran BLT periode berikutnya hanya untuk ’tambal sulam’ sebagai pembenaran kenaikan harga BBM. Jika memang pemerintah ingin meningkatkan daya beli masyarakat miskin, masih terdapat langkah yang dapat dilakukan, terutama dengan memperhatikan bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam jangka panjang, bidang pendidikan dan kesehatan akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Atau jika pemerintah ingin tetap memberikan bantuan langsung kepada rakyat miskin akibat kenaikan biaya BBM, pemerintah dapat memberikan Bantuan Langsung Tunai Bersyarat (BLTB). Skema ini dikenal dengan nama cash conditional transfer (CCT), dimana pemerintah memberikan bantuan kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) dengan sejumlah kewajiban tertentu (misalnya kewajiban untuk menyekolahkan anaknya, memeriksakan kesehatan dan lain-lain). Sedangkan skema Bantuan Tunai Langsung dikenal dengan nama

uncondtiional cash transfer (UCT), dimana pemerintah hanya memberikan bantuan tunai tanpa syarat apapun. CCT sudah dilakukan di beberapa daerah yang menjadi pilot project, antara lain beberapa kota/kabupaten di provinsi Gorontalo, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Skema CCT lebih masuk akal karena dapat membantu RTSM secara jangka pendek. Skema CCT yang dibuat dengan memberikan syarat tertentu kepada RTSM akan mampu mengkontrol RTSM untuk menggunakan dana tersebut secara bermanfaat. Bantuan CCT dapat berupa uang tunai dan

bantuan bahan makanan pokok. Syarat pertama untuk melaksanakan CCT adalah pendataan yang tepat dan kelembagaan yang bagus. Kesalahan pendataan adalah awal dari masalah. Kelembagaan pemerintah harus melibatkan masyarakat untuk mengurangi gesekan di tingkat grass root. Inilah sebuah solusi yang lebih optimal daripada sekedar mengulang pelaksanaan BLT yang telah lalu yang terbukti banyak menimbulkan permasalahan. Hal lain yang mungkin jadi alternatif ialah, dengan adanya dana bantuan langsung tunai semestinya lebih dimanfaatkan ke hal-hal yang lebih reel yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang tergolong masyarakat sangat miskin, miskin dan hampir miskin. Secara umum bahwa miskin dikategorikan bagi mereka yang tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan indikatornya ialah mereka tidak memiliki tingkat pendidikan yang mumpuni untuk kemudian berusaha memperoleh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan deskripsi seperti itu semestinya pemerintah lebih teliti untuk memilih alternatif pemecahan masalah yang mana pada dasarnya hal ini sudah menjadi agenda setting dalam melahirkan suatu kebijakan yang baik. Misalnya saja pemerintah seharusnya lebih melihat bahwa sebaiknya dana itu lebih baik dikonversikan untuk membangun atau membuka lapangan kerja bagi mereka masyarakat miskin. Dalam artian lapangan kerja yang sesuai dengan kemampuan mereka. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dari manifestasi jika kebijakan dana BLT dialihkan untuk membuka lapangan pekerjaan, karena selain untuk mengurangi tingkat pengangguran yang semakin kompleks di Negara kita juga akan membantu pemerintah dalam perolehan keuntungan, yang akan berdampak pada tingkat perokonomian

negara. Dibanding dengan pemberian bantuan berupa dana yang dapat dikatakan hanya membahagiakan masyarakat dalam waktu sesaat

dikarenakan dana itu akan habis begitu saja, selain itu hal penting yang mungkin publik harus mengetauhi bahwa dana BLT ini merupakan dana yang diperoleh dari pemerintah pusat dengan cara meminjam dan luar negeri dalam artian hutang Negara kita bertambah. Olehnya itu pemerintah dituntut untuk kemudian lebih resposiv dalam mengkaji ulang kebijakan BLT jika program ini akan dilanjutkan, dalam artian pemerintah harus lebih jauh melihat dampak ke depannya dan asas manfaat pemberian dana kepada masyrakat dalam hal pengurangan subsidi BBM sehingga program ini lebih efektif dikarenakan tuntutan unutuk kesejahtraan masyarakat sudah sangat lama menjadi tujuan yang hingga saat ini masih sangat sulit terwujud di Negara kita. Dari gambaran di atas maka penulis berkesimpulan bahwa kebijakan dana bantuan langsung tunai BLT, yang telah dilaksanakan oleh pemerintah pada dasarnya kurang efektif. Dengan melihat beberapa indikator yang menjadi kekurangan dalam penyaluran dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) maka seharusnya pemerintah disarankan untuk merevisi kebijakan ini dan menggantinya dengan kebijakan yang lebih efektif., yang manfaatnya akan lebih dirasakanoleh masyarakat kita.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->