74844740-Makalah-PERTUSIS

PERTUSIS

A. Definisi Pertusis adalah infeksi saluran pernapasan akut berupa batuk yang sangat berat atau batuk intensif. Nama lain tussis quinta, wooping cough, batuk rejan. Pertusis atau batuk rejan adalah infeksi bakteri yang sangat menular yang menyebabkan beberapa minggu tak terkendali, atau bahkan bulan.

B. Etiologi Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Hemopilus pertusis. Bordetella pertusis adalah suatu kuman yang kecil ukuran 0,5-1 um dengan diameter 0,2-0,3 um, ovoid kokobasil, tidak bergerak, gram negative, tidak berspora, berkapsul dapat dimatikan pada pemanasan 50ºC tetapi bertahan pada suhu tendah 0-10ºC dan bisa didapatkan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring penderita pertusis yang kemudian ditanam pada media agar Bordet-Gengou.

C. Patolofisiologi

staphylococos aureus. LPF (Lymphositosis Promoting Factor). pengerusakan local dan diakhiri dengan penyakit sistemik. blokir beta adrenergic. disertai infiltrate netrofil dan makrofag. perlawanan. . Perlengketan dipengaruhi oleh FHA (Filamentous Hemoglutinin). lesi berupa nekrosis bagian basal dan tengah epitel torak. Mekanisme patogenesis infeksi Bordetella pertusis yaitu perlengketan.Bordetella pertusis ditularkan melalui sekresi udara pernapasan yang kemudian melekat pada silia epitel saluran pernapasan. Dimana LFD menghambat migrasi limfosit dan magrofag didaerah infeksi. Sedang pengerusakan lokal terjadi karena toksin menyebabkan peradangan ringan disertai hyperplasia jaringan limfoid peribronkial sehingga meningkatkan jumlah mucus pada permukaan silia yang berakibat fungsi silia sebagai pembersih akan terganggu akibatnya akan mudah terjadi infeksi sekunder oleh sterptococos pneumonia. H influenzae. dan meningkatkan aktivitas isulin. Basil biasanya bersarang pada silia epitel thorak mukosa. menimbulkan eksudasi yang muko purulen. Perlawanan karena sel target da limfosist menjadi lemah dan mati oleh karena ADP (toxin mediated adenosine disphosphate) sehingga meningkatkan pengeluaran histamine dan serotonin. proten 69kd yang berperan dalam perlengketan Bordetella pertusis pada silia yang menyebabkan Bordetella pertusis dapat bermultipikasi dan menghasilkan toksin dan menimbulkan whooping cough.

D. Orang tua atau anak-anak diimunisasi sebagian umumnya memiliki gejala ringan. demam ringan dan batuk ringan. gejala mirip dengan pilek biasa. Tanda dan Gejala Klinis Pertusis dimulai sebagai infeksi saluran pernapasan atas ringan. kelaina paru itu dapat menimbulkan bronkiektasis. dan lebih sering pada malam hari. Dalam waktu dua minggu. Sedang perjalanan penyakit terjadi antara 6-8 minggu. Ada 3 stadium Bordetella pertusis yaitu : 1. termasuk bersin. batuk menjadi lebih berat dan ditandai oleh batuk cepat. pilek. sedang hipoksemia dan sianosis dapat terjadi oleh karena gangguan pertukaran oksigen saat ventilasi dan menimbulkan apneu saat batuk. Eksudasi dapat pula sampai ke alveolus dan menimbulkan infeksi sekunder.Penumpukan mucus akan menyebabkan plug yang kemudian menjadi obstruksi dan kolaps pada paru. Stadium kataral (1-2 minggu) . Lendir yang terbentuk dapat menyumbat bronkus kecil sehingga dapat menimbulkan emfisema dan atelektasis. Masa inkubasi Bordetella pertusis adalah 6-2 hari (rata-rata 7 hari). Pada awalnya. Keadaan ini bisa kambuh untuk satu sampai dua bulan.

Anak dapat terberak-berak dan terkencing-kencing. penurunan berat badan. lidah menjulur. mata menonjol. Kadang-kadang pada penyakit yang berat tampak pula perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis. muntah sesudah batuk paroksimal. 2. Muka merah. jernih. petekia diwajah. dan droplet sangat infeksius. panas tidak begitu tinggi. lakrimasi. batuk ringan iritatif kering dan intermiten.Menyerupai gejala ISPA : rinore dengan lender cair. Diagnosis . Stadium paroksimal atau spasmodic (2-4 minggu) Frekwensi derajat batuk bertambah 5-10 kali pengulangan batuk kuat. lakrimasi. apatis. selama expirsi diikuti usaha insprasi masif yang medadak sehingga menimbulkan bunyi melengking (whooop) oleh karena udara yang dihisap melalui glotis yang menyempit. batuk mudah dibangkitkan oleh stress emosional dan aktivitas fisik. sianosis. Episode ininakan berulang ulang untuk beberapa bulan dan sering dihubungkan dengan infeksi saluran napas bagian atas yang berulang. terdapat injeksi konjungtiva. 3. Stadium konvalesens (1-2 minggu) Whoop mulai berangsur angsur menurun dan hilang 2-3 minggu kemudian tetapi pada beberapa pasien akan timbul batuk paroksimal kembali. salivasi. E.

F. Pada pemeriksaan secret nasofaring didapatkan Bordetella pertusis. .000-50000/ul) pada akhir stadium kataralis dan permulaan stadium spasmodic. sedang pada stadium kataralis sukar dibuat diagnosis karena menyerupai common cold. Dan pemeriksaan lain adalah foto thorak apakah terdapat infiltrate perihiler. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis (20. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboraturium. batuk bersifat paroksimal dengan bunyi whoop yang jelas. Bordetella bronkiseptika dan adenovirus dapat menyerupai sindrom klinis Bordetella pertusis. sistis fibrosis. bagaimanakah riwayat imunisasinya. Diagnosis dapat dibuat dengan memperhatikan batuk yang khas bila penderita datang pada stadium spasmodic. Infeksi Bordetella parapertusis. atelektasis atau emfisema. pneumonia bacterial. tuberculosis dan penyakit lain yang menyebabkan limfadenopati dengan penekanan diluar trakea dan bronkus. Tetapi dapat dibedakan dengan isolasi kumam penyebab.Diagnosis ditegakan berdasarkan atas anamnesa. Pada anamnesis penting ditanyakan adakah serangan yang khas yaitu batuk mula mula timbul pada malam hari tidak mereda malahan meningkat menjadi siang dan malam dan terdapat kontak dengan penderita pertusis. Diagnosis banding Pada batuk spasmodic perlu dipikirkan bronkioitis. Pada pemeriksaan fisik tergantung dari stadium saat pasien diperiksa.

atelektasis yang disebabkan sumbatan mucus. ensefalitis. Komplikasi 1. 2. mungkin pula terjadi perdarahan otak. emfisema “dapat juga terjadi emfisema mediastinum. kulit pada kasus yang berat”. Lain lain . batuk yang keras dapat menyebabkan rupture alveoli. sedangkan tuberculosis yang sebelumnya telah ada dapat menjadi bertambah berat. stomatitis. pnemutorak. bronkopneumonia. Alat pernapasan Dapat terjadi otitis media. hiponatremi. bronkiektasis. ulcus pada ujung lidah karena lidah tergosok pada gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk. bronchitis. Susunan saraf pusat Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan elektrolit akibat muntah muntah. emfisema intestisial. Kadang kadang terdapat kongesti dan edema otak.G. prolapsus rectum atau hernia yang mungkin timbul karena tingginya tekanan intra abdominal. 3. Alat pencernaan Muntah muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi. leher. 4. koma.

Dapat pula terjadi perdarahan lain seperti epistaksis. mencegah dan menyembuhkan pneumonia. hemoptisis dan perdarahan subkonjungtiva. Eritromisin juga menyembuhkan pertusis bila diberikan dalam stadium kataralis. Ampisilin dengan dosis 100 mg/kgbb/hari. Eritromisin dengan dosis 50 mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis. 3. 2. kotromoksazol. Lain-lain : rovamisin. dibagi dalam 4 dosis. kloramfenikol dan tetrasiklin. b. H. oleh karena itu sangat penting untuk pengobatan pertusis untuk bayi muda. Ekspektoransia dan mukolitik . Obat ini dapat menghilangkan Bordetella pertusis dari nasofaring dalam 2-7 hari (rata-rata 3-4 hari) dengan demikian memperpendek kemungkinan penyebaran infeksi. c. Terapi 1. Antibiotika a. Imunoglobulin Belum ada penyesuaian faham mengenai pemberian immunoglobulin pada stadium kataralis.

Luminal sebagai sedative. b. 5. Pra-remaja dan remaja Pada tahun 2005. Remaja. mengurangi lama whoop. Bayi dan Anak Anak untuk vaksin pertusis biasanya diberikan dalam kombinasi dengan difteri dan tetanus. 7. mengurangi batuk paroksimal. Vaksin untuk pertusis a. Terapi suportif : atasi dehidrasi. difteri. Usia lebih disukai untuk vaksinasi rutin dengan Tdap adalah 11 atau 12 tahun. empat dan enam dan 15 sampai 18 bulan usia dan antara empat dan enam tahun. Imunisasi berwenang merekomendasikan bahwa DTaP (difteri. difteri. usia 11 hingga 18 harus menerima dosis tunggal Tdap bukan Td (tetanus. vaksin baru telah disetujui sebagai booster vaksinasi tunggal untuk remaja dan orang dewasa disebut Tdap (tetanus. dan pertusis jika mereka . pertusis acellular) vaksin diberikan pada dua. berikan nutrisi 8. Kodein diberikan bila terdapat batuk batuk yang hebat sekali. Betameatsol dan salbutamol untuk mencegah obstruksi bronkus.4. tetanus. 9. Oksigen bila terjadi distress pernapasan baik akut maupun kronik. 6. dan pertusis acellular). difteri) untuk imunisasi booster tetanus.

state. Dewasa Untuk orang dewasa yang 19 melalui 64 tahun dan sebelumnya belum menerima dosis Tdap. suatu interval sesingkat dua tahun sejak Td terbaru disarankan. c.com/ http://www.ny.wordpress.htm . dosis tunggal Tdap harus mengganti satu dosis booster Td untuk imunisasi jika vaksin yang mengandung toksoid tetanus yang terakhir menerima sedikitnya sepuluh tahun sebelumnya. Sumber : http://drakeiron.health.us/diseases/communicable/pertussis/fact_sheet. Orang dewasa yang mempunyai kontak dekat dengan bayi berusia di bawah 12 bulan yang sebelumnya tidak menerima Tdap harus menerima dosis Tdap.telah menyelesaikan masa kecil yang direkomendasikan DTP / DTaP seri vaksinasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful