P. 1
MAKALAH PLH

MAKALAH PLH

|Views: 457|Likes:
Published by zulwan meikasiwi

More info:

Published by: zulwan meikasiwi on May 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam 20 tahun terakhir jumlah orangutan lebih dari setengah berkurang. Orangutan adalah spesies yang sudah terancam punah. Ancaman utama terhadap orangutan adalah Perdagangan ilegal orangutan, Hilangnya habitat, Penebangan liar, Kebakaran hutan, Perkebunan kelapa sawit .
Untuk mepertahankan orangutan supaya tidak punah didirikanlah sebuah Yayasan Balikpapan Orangutan Survival (BOS). Yayasan BOS merupakan inisiatif dari Peter Hos dan istrinya

Martha. . BOS Foundation adalah sebuah yayasan independen. BOS Foundation sama sekali tidak berafiliasi dengan BOSF BOSF Internasional dan Indonesia. Karena itu tidak ada proyek yang lebih mendukung organisasi ini. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam makalah ini adalah: 1. Apakah yang menjadi penyebab orangutan terancam punah? 2. Apa itu Yayasan BOS? 3. Bagaimanakah program yaysan BOS? 1.3 Tujuan Penulisan 1. 2. 3. Menjelaskan penyebab terancam punahnya orangutan Menjelaskan tentan yayasan BOS Menjelaskan program dari yayasan BOS

1.4 Manfaat penulisan 1. Dapat menambah wawasan penulis dan khalayak tentang hal-hal yang berhubungan dengan pentingnya menjaga lingkungan untuk melestarikan orangutan.

1

2.

Dapat melatih siswa pada umumnya dan penulis khususnya dalam mengembangkan wawasan diri untuk menyusun buah pikiran secara sistematis dalam bentuk makalah.

3.

Sebagai bahan referensi untuk pembaca.

2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Penyebab Kepunahan Ancaman utama terhadap orangutan: 1. Perdagangan ilegal orangutan Ibu orangutan ditembak, sehingga bayi mereka dapat menurunkan dan dapat menjual sebagai hewan peliharaan. Jika ibu ditembak dari sebuah pohon, begitu juga bayi sering kematian. Untuk setiap bayi orangutan di pasar diperdagangkan, ada tiga orangutan lain untuk membunuh. 2. Hilangnya habitat Daerah di Sumatera dan Kalimantan, yang cocok untuk orangutan, dalam 20 tahun terakhir sekitar 80% hilang. a. Penebangan liar. Di Belanda 70% dari kayu yang diimpor dari Indonesia secara ilegal. b. Kebakaran hutan: Setiap tahun, kebakaran hutan yang disebabkan oleh petani membakar sepotong kecil hutan untuk lahan pertanian baru dan api tidak lagi dapat mengontrol. c. Perkebunan kelapa sawit: meningkatnya permintaan untuk minyak kelapa sawit (termasuk untuk sabun dan voediingsmiddelenindustrie dan bio-fuel) menghilang hutan hujan lebih dan lebih. 2.2 Pengertian Yaysan BOS BOS (The Borneo Orangutan Survival Foundation) adalah yayasan nirlaba Indonesia yang visinya adalah "terwujudnya kelestarian orangutan Borneo di habitatnya dengan peran serta masyarakat". Inisiasi pendiriannya sudah dimulai sejak tahun 1991. Saat ini BOS merawat lebih dari 830 orangutan (data April 2010) dan didukung oleh lebih dari 420 orang staf yang berdedikasi tinggi dan memiliki cinta yang mendalam terhadap satwa liar dan habitatnya, serta memiliki keahlian di bidang keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestry, pemberdayaan masyarakat dan pendidikan serta perawatan kesehatan orangutan. BOS bekerjasama dengan Departemen Kehutanan Republik Indonesia, didukung oleh jaringan 12 organisasi mitra BOS yang berada di seluruh dunia dan setiap tahunnya diaudit secara terbuka oleh lembaga auditor yang bereputasi internasional.

Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo atau BOS (Borneo Orangutan Survival Foundation) akan mengelola kawasan hutan untuk konservasi orangutan. Peresmian
3

tersebut akan dilakukan dalam "Launching Hutan Lestari untuk Orangutan (Forest Forever for Orangutan)" di Departemen Kehutanan, Kamis (19/1).

The Borneo Orangutan Survival Foundation (BOS) merupakan yayasan yang bekerjasama dengan Dephut sejak tahun 1999 dalam program Pelestarian Orangutan dan Habitatnya di Kalimantan, antara lain melalui proyek Reintroduksi Orangutan di Wanariset Samboja (Kaltim) dan Nyaru Menteng (Kalteng). Sejak tahun 2000, Yayasan BOS tidak dapat melakukan pelepasliaran orangutan karena terkendala sulitnya memperoleh areal yang memenuhi kriteria sebagai tempat pelepasliaran orangutan.

SK Menhut No. P.61/Menhut-II/2008 tentang ketentuan dan tata cara pemberian Persiapan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) memberikan peluang bagi Yayasan BOS untuk mengelola sebuah kawasan dengan tujuan restorasi ekosistem untuk pelepasliaran orangutan. Yayasan BOS kemudian membentuk PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (PT. RHOI) dan mengajukan permohonan ijin ke Departemen Kehutanan.

Departemen Kehutanan telah menyetujui permohonan tersebut dan memberikan areal seluas 86.450 ha di kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur. IUPHHK-RE merupakan ijin untuk mengelola sebuah kawasan dengan tujuan restorasi ekosistem. Ijin restorasi ekosistem ini dikeluarkan Departemen Kehutanan sebagai salah satu upaya untuk mengembalikan unsur hayati (flora dan fauna) serta non hayati (tanah dan air) pada suatu kawasan, sehingga tercapai keseimbangan hayati dan ekosistemnya.
4

Rehabilitasi dan reintroduksi orangutan merupakan salah satu upaya pelestarian orangutan (ex situ conservation) di samping upaya konservasi di habitat aslinya (in situ conservation). Pelepasliaran orangutan ke habitat alamnya merupakan muara dari seluruh kegiatan rehabilitasi orangutan yang selama ini dilaksanakan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), yang telah melakukan kegiatan rehabilitasi orangutan sejak tahun 1999.

Sesuai dengan Permenhut Mo. P.53/Menhut-IV/2007 tentang strategi dan rencana aksi konservasi orangutan Indonesia 2007-2017, semua orangutan yang ada pada proyek reintroduksi harus dilepasliarkan ke alam (habitatnya) paling lambat tahun 2015. Saat ini Yayasan BOS sedang berusaha untuk melepasliarkan orangutan yang ada pada proyek introduksi orangutan.

Adapun hasil kerja dari BOS, adalah sebagai berikut:
KEBERHASILAN YAYASAN BOS Yayasan BOS Akan Melepasliarkan 4 Orangutan Senin, 27 February 2012 - 17:45:52 WIB Category: Siaran Pers - Read: 398 times Yayasan BOS bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Murung Raya dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah akan melepasliarkan empat orangutan di Kawasan Hutan Lindung Bukit Batikap pada 28 Februari 2012. Empat orangutan tersebut merupakan bagian dari 40 orangutan yang direncanakan akan dilepasliarkan di sepanjang tahun 2012. Kalimantan Tengah, 27 Februari 2012. Setelah lebih dari satu dekade kegiatan pelepasliaran tidak dapat direalisasikan oleh Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah Nyaru Menteng (PROKT-NM) Yayasan Borneo Orangutan Survival karena ketiadaan hutan yang aman, pada hari ini Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang melepas keberangkatan 4 orangutan dan Tieam Release Yayasan Borneo Orangutan Survival, dari
5

Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya menuju ke Puruk Cahu. Dari Puruk Cahu, Tim Release akan menuju kawasan Hutan Lindung Bukit Batikap di mana 4 orangutan akan dilepasliarkan keesokan harinya, pada tanggal 28 Februari 2012. “Upaya penyediaan lahan merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi, bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten terkait yaitu Pemerintah Kabupaten Murung Raya. Upaya lain yang sedang dilakukan bersama-sama dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kabupaten Murung Raya adalah mendukung pengalokasian areal hutan restorasi ekosistem yang dapat digunakan sebagai tempat pelepasliaran orangutan, khususnya bagi orangutan yang berada di Proyek Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah - Nyaru Menteng (PROKT-NM),” kata Agustin Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah. Lebih dari itu, dalam usaha pelestarian orangutan diperlukan komitmen tinggi dan kerjasama dari berbagai pihak dalam hal penegakan undang-undang perlindungan orangutan sebagai satwa liar yang dilindungi. “Jika memang ada konflik yang tidak dapat dihindari, jangan bertindak sendiri, karena konsekuensinya adalah melanggar undangundang. Silakan bekerjasama dengan Yayasan BOS dan juga Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah untuk bersama-sama mencari solusinya,” tambah Agustin Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah. Kegiatan pelepasliaran ini tidak akan berhenti di sini. Akhir bulan Maret 2012, Yayasan BOS berencana melepasliarkan 12 orangutan yang lain dan akan dilanjutkan secara kontinyu. Masih ada lebih dari sekitar 600 individu orangutan yang berada di Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah - Nyaru Menteng (PROKT-NM) yang menunggu untuk dilepasliarkan. Jika lahan-lahan yang layak dan memenuhi kriteria semakin banyak tersedia maka upaya pelepasliaran orangutan akan terus dilaksanakan sehingga pada tahun 2015, maka dapat terpenuhilah Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007 - 2017, yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007 lalu, di mana dinyatakan bahwa semua orangutan yang ada di pusat-pusat rehabilitasi harus dikembalikan ke habitatnya, selambat-lambatnya pada tahun 2015. “Semua orangutan yang ada di pusat-pusat rehabilitasi harus segera dikembalikan ke habitatnya selambat-lambatnya pada tahun 2015. Setelah pelepasliaran 4 orangutan ini, pada akhir Maret 2012 Yayasan BOS akan melepasliarkan 12 orangutan lagi. Hal ini harus didukung dengan tersedianya hutan yang layak untuk melepasliarkan mereka. Peran dan dukungan pemerintah daerah khususnya Pemerintah Kabupaten Murung Raya menjadi sangat penting dalam hal ini,” kata Dr. Jamartin Sihite, Direktur Yayasan BOS. Dr. Jamartin menambahkan, “Pelepasliaran pertama ini telah direncanakan secara matang dengan koordinasi dari seluruh pemangku kepentingan dan selaras dengan IUCN serta pedoman nasional. Proses perencanaan yang rinci dan menyeluruh serta pelepasliaran orangutan kami yang pertama ini akan menjadi dasar yang kuat untuk program pelepasliaran yang masih akan berjalan hingga beberapa tahun ke depan.” Sehubungan dengan kebutuhan areal-areal restorasi ekosistem untuk melepasliarkan
6

orangutan, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan menyatakan, “Ke depannya, Kementerian Kehutanan tetap dengan komitmen semula, yaitu kami akan menyediakan dan mengalokasikan banyak lagi areal-areal restorasi ekosistem yang memenuhi syarat sebagai habitat orangutan, untuk tempat pelepasliaran orangutan. Untuk itu, dukungan dan komitmen yang sama dari Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi terkait tentunya sangat kami butuhkan.” Senada dengan pernyataan Menteri Kehutanan di atas, Dr. Willy M Yoseph, Bupati Murung Raya menyatakan, “Besar pula harapan saya agar kegiatan ini menjadi pemicu yang positif bagi kabupaten-kabupaten lainnya di Kalimantan Tengah, untuk juga mendukung kegiatan seperti ini dan mengalokasikan sebagian daerahnya untuk orangutan, sehingga di Kalimantan Tengah dapat dijumpai banyak tempat pelepasliaran orangutan.” “Selain itu, jika pelepasliaran orangutan dapat dilakukan di kawasan konservasi yang telah dialokasikan oleh sebuah perusahaan yang memiliki ijin HPH di Murung Raya, maka semestinyalah perusahaan itu membuka diri untuk bekerjasama dengan Pemerintah Kab upaten, BKSDA Kalimantan Tengah, Pemerintah Provinsi dan juga LSM,” tambahnya. Dalam dukungannya untuk pelaksanaan operasi pelepasliaran ini, IndoMet Coal merasa sangat senang dapat bekerjasama dengan Yayasan BOS melalui Proyek Konservasi dan Pembangunan yang Berkelanjutan di Kalimantan, untuk menyediakan dukungan logistik dan teknis demi kelancaran operasi pelepasliaran orangutan. Rock Funston, Project Director IndoMet Coal mengatakan, “Tujuan IndoMet Coal adalah untuk membangun bisnis yang sukses dan dijalankan dengan bertanggungjawab dan berkelanjutan. Program dukungan kami terhadap orangutan dengan jelas menunjukkan komitmen kami pada konservasi dan pembangunan yang berkelanjutan.” Dr. Sihite juga menambahkan bahwa selain keterlibatan IndoMet Coal, PT Adaro Energy Tbk juga ikut mendukung pelaksanaan operasi pelepasliaran ini. “Kami selalu berusaha untuk memenuhi komitmen kami terhadap lingkungan sekitar dalam setiap kegiatan operasional kami dan juga mendukung keanekaragaman hayati. Merupakan suatu kehormatan bagi PT Adaro Energy untuk menjadi bagian dalam kegiatan ini” kata Garibaldi Thohir, President Director PT Adaro Energy, Tbk. Selain dua oraganisasi yang telah disebutkan di atas, Fauna and Flora International juga ikut mendukung Yayasan BOS dalam pelaksanaan operasi pelepasliaran ini. “FFI senang melihat hasil kolaborasi antara Yayasan BOS, IndoMet Coal, PT Adaro Energi Tbk dan FFI yang telah memberikan berita gembira mengenai konservasi orangutan dan juga menunjukkan komitmen dari Pemerintah Kabupaten Murung Raya untuk selalu menjaga keseimbangan antara pembangunan daerah dan konservasi.” Godwin Limberg, Project Manager Fauna and Flora International menambahkan. Keempat orangutan tersebut akan diterbangkan dengan helikopter menuju Bukit Batikap dari helipad di dalam kawasan PT Indo Muro Kencana. Disitu pula, Yayasan BOS menempatkan beberapa kandang transit tempat keempat orangutan tersebut menginap
7

selama satu malam sebelum hari pelepasliaran. Yayasan BOS dan PT Indo Muro Kencana telah menjalin kerjasama baik sejak tahun 2007. Secara hukum, orangutan-orangutan yang telah dilepasliarkan ini sekarang menjadi tanggung jawab BKSDA Kalimantan Tengah. Dalam pelaksanaanya Kepala BKSDA Kalimantan Tengah mengharapkan dukungan dan kerjasama dari Pemerintah Kabupaten Murung Raya dan Yayasan BOS. Kegiatan ini tidak lepas dari peran kerjasama antara Yayasan BOS, para donor, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Murung Raya dan BKSDA Kalimantan Tengah dengan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Kehutanan. 2.3 Program Yayasan BOS

1. Reintroduksi Oranguan Dan Rehabilitasi Lahan Semboja
a. Reintroduksi Orangutan Proyek Reintroduksi Orangutan [PRO] dibangun Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOSF) untuk pertama kali di kawasan yang disebut dengan Wanariset Samboja. Kawasan ini terletak di Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, dengan luas sekitar 3-4 ha. Pada 1991, saat itu masih di bawah naungan proyek Tropenbos, dilakukan upaya penyelamatan orangutan dan habitatnya di area ini. Dalam pengelolaannya, Yayasan BOS bekerjasama dengan instansi terkait yaitu kepolisian dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA), Departemen Kehutanan melakukan upaya penyelamatan bagi orangutan. Termasuk menyita orangutan yang dipelihara masyarakat. Penyitaan ini menjadi kewenangan BKSDA. Orangutan yang diserahkan atau yang telah diselamatkan ini, harus menjalani proses karantina dan rehabilitasi. Sebelum kemudian dilepasliarkan ke habitat alaminya yang tidak ada populasi orangutan liarnya. Kenapa harus dengan proses tersebut? Karena kebanyakan orangutan yang diselamatkan Yayasan BOS masih bayi atau sudah tidak tahu lagi bagaimana menjalani hidup sebagaimana layaknya orangutan. Orangutan yang sempat jadi peliharaan, sudah terbiasa diajarkan hidup ala manusia. Proses rehabilitasi inilah yang akan membawa orangutan - terutama bayi - dan kebanyakan telah menjadi yatim-piatu itu, kemudian belajar hidup sebagai orangutan sejati, secara perlahan. Berkaitan dengan status keamanan areal untuk pelepasliaran orangutan, PRO Kalimantan Timur di Samboja Lestari di tahun 2005, juga aktif bersama pihak terkait lainnya, menyusun model Pengelolaan Hutan Lindung Gunung Beratus (HLGB) yang berkelanjutan. Namun tahun 2006 adalah masa transisi bagi Yayasan BOS di Kalimantan Timur, karena dilakukan pemindahan sarana-prasarana reintroduksi orangutan dari Wanariset ke Samboja Lestari . Hal ini dilakukan mengingat kondisi Wanariset sudah tidak memungkinkan lagi untuk menampung orangutan secara layak. Kendati demikian, sambil melakukan persiapan pemindahan, upaya untuk memperbaiki sanitasi dan penanganan orangutan di sana terus dimaksimalkan. Selain reintroduksi orangutan, Yayasan BOS juga memiliki Suaka Beruang Madu [Sunbear Sanctuary] yang hingga sekarang mencapai 52 ekor jumlahnya. Sejak tahun 1998, Yayasan BOS mendapat "titipan satwa" berupa beruang madu (Helarctos malayanus) dari Balai KSDA 8

Kalimantan Timur yang merupakan hasil sitaan ataupun penyerahan masyarakat secara sukarela, karena Pemerintah belum memiliki fasilitas untuk satwa tersebut.

b. Rehabilitasi Lahan Program Rehabilitasi Lahan Samboja Lestari merupakan salah satu program yang dikembangkan oleh Yayasan BOS di Kalimantan Timur. Program ini terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kecamatan Samboja, dan berada di 4 (empat) kelurahan yaitu Kelurahan Margomulyo, Kelurahan Sei Merdeka, Kelurahan Karya Merdeka, dan Kelurahan Amburawang Darat serta 1 desa yaitu desa Tani Bakti. Menjadikan kawasan perlindungan bagi satwa orangutan, beruang madu, serta burung dan satwa lainnya melalui kegiatan rehabilitasi, reboisasi, persemaian, dan aboretum merupakan salah satu peran serta Program Rehabilitasi Lahan Samboja Lestari. Luas areal Samboja Lestari sampai dengan akhir tahun 2009 adalah 1.852,63 ha dan 983,24 ha dari luasan areal tersebut sudah memiliki Sertifikat Hak Pakai dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). Tujuan umum Program Rehabilitasi Lahan Samboja Lestari adalah mengubah lahan-lahan liar tanpa kehidupan menjadi hutan subur dan tempat perlindungan satwa liar, terutama bagi orangutan yang tidak dapat dilepasliarkan di alam karena penyakit, umur yang sudah tua atau cacat. Secara umum, areal Samboja Lestari ini terbagi ke dalam 9 zona, yaitu: Arboretum (72 ha), Sekolah Hutan (75 ha), Pulau Orangutan (7 ha), Suaka beruang madu (58 ha), Tanaman tamu (25 ha), Pertanian organik/kompos (1 ha), Bangunan/infrastruktur (3 ha), hutan kota (50 ha), dan rehabilitasi lahan (1.561,63 ha). Program rehabilitasi lahan merupakan program utama di kawasan ini. Program Rehabilitasi Lahan Samboja Lestari memadukan kemajuan teknologi, pengetahuan akademis, penelitian dan kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk memastikan keharmonisan hidup antara manusia dan alam. Masyarakat sekitar merupakan pelaku utama kegiatan agroforestry, menyuplai buah-buahan untuk pakan orangutan. Masyarakat juga terlibat secara langsung dalam kegiatan operasional seperti penanaman, pemeliharaan tanaman. Program ini juga mengupayakan alternatif pendapatan masyarakat dari pemanfaatan limbah kayu untuk kerajinan.

2. Central Kalimantan Orangutan Reintroduction Program at Nyaru Menteng Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah (PRO Kalteng) di Nyaru Menteng didirikan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOSF) pada tahun 1999. PRO Kalteng di Nyaru Menteng terletak di Arboretum Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, sekitar 30 km dari pusat kota Palangkaraya. Pada program ini, Yayasan BOS bekerja sama dengan instansi berwenang yaitu Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Tengah, Unit Pelaksana Teknis dari Departemen Kehutanan. Inti kegiatan PRO Kalteng di Nyaru Menteng adalah kegiatan karantina, rehabilitasi dan pelepasliaran. Namun, pada kenyataannya PRO Kalteng di Nyaru Menteng juga melakukan beberapa kegiatan lain seperti memfasilitasi kegiatan rescue (penyelamatan) dan konfiskasi (penyitaan), yang kewenangannya ada di Balai KSDA. Sementara untuk mendukung program reintroduksi orangutan khususnya penyediaan pakan, pada tahun 2002 PRO Kalteng di Nyaru Menteng membeli lahan seluas sekitar 3 hektar di ujung Arboretum. Lahan tersebut merupakan lahan gambut
9

dengan kedalaman antara 1-1,5 meter, dan tergenang air pada waktu musim hujan. Pada tahun 2004 telah ditanam banyak pohon buah-buahan dan pohon lainnya. Sekeliling areal ditanami salak sebanyak 500 batang. Namun demikian supply pakan orangutan (buah-buahan) yang mencapai sekitar 1 ton per hari, sebagian besar diperoleh dari masyarakat sekitar Nyaru Menteng dan Palangkaraya. 3. Mawas Area Conservation Program Program Konservasi Kawasan Mawas merupakan program konservasi orangutan, habitat, dan lingkungannya. Kawasan Mawas, yang meliputi Blok E2 seluas 215.000 ha dan Blok A Utara seluas 94.000 ha merupakan kawasan hutan yang bergambut tebal, yang kedalaman gambutnya melebihi 3 meter. Menurut ketentuan peraturan perundang-undangan, areal yang mempunyai kondisi lahan yang seperti itu adalah merupakan kawasan lindung (konservasi). Wilayah kerja Program Konservasi Kawasan Mawas secara administratif mencakup dua Kabupaten (Kabupaten Barito Selatan dan Kabupaten Kapuas) dan lima Kecamatan, serta 53 desa (termasuk di dalamnya dusun dan RT), yang terdiri dari sekitar 29.000 Kepala Keluarga (KK). Kondisi Kawasan Mawas, selain bergambut tebal seperti tersebut di atas, juga terdapat keanekaragaman hayati, yang didalamnya terdapat populasi orangutan tidak kurang dari 3.000 individu orangutan (hasil penelitian van schaik et al, Population Habitat Viability Assesment - PHVA). Orangutan (Pongo pygmaeus) merupakan satwa langka dan dilindungi undang-undang, yang saat ini terancam punah. Upaya untuk mengkonservasi orangutan telah menjadi perhatian serius bagi masyarakat dunia, maka Program Konservasi Kawasan Mawas merupakan program yang amat penting bagi kelestarian orangutan serta habitatnya, termasuk didalamnya kelestarian keanekaragaman hayati dan lingkungan (hutan) maupun masyarakat lokal. Yayasan BOS membentuk Program Konservasi Kawasan Mawas dengan tujuan menunjukkan kepada semua pihak bahwa kita dapat melestarikan ekosistem yang beraneka ragam dan mengandung karbon tinggi untuk memperlambat perubahan iklim dunia melalui kerjasama di tingkat Internasional. Yayasan BOS berharap dapat melindungi 500.000 ha areal hutan gambut di Kalimantan Tengah melalui berbagai program bersama Pemerintah, terutama Pemerintah Daerah dan masyarakat lokal. Beberapa manfaat yang tidak dapat dihitung/intangible benefits dari Program Konservasi Mawas yaitu:
   

Membantu mengurangi emisi gas rumah kaca di dunia; Secara langsung meningkatkan kepedulian dunia internasional untuk menyelamatkan species penting (orangutan); Berpengaruh positif terhadap kehidupan ekonomi masyarakat sekitar Kawasan Mawas; Melaksanakan Konvensi Keanekaragaman Biologi/Convention on Biological Diversity (CBD), Agenda 21 (climate change, sustainable bussiness development etc.), Konvensi perdagangan internasional jenis-jenis yang dilindungi (CITES), dan Konvensi Ramsar untuk perlindungan lahan basah; Memberikan kesempatan bagi staf pemerintah daerah untuk mendapatkan beasiswa (dalam dan luar negeri) dengan melakukan penelitian di areal kerja Program Konservasi Mawas.
10

4. Program Restorasi Habitat Orangutan (RHO) Kementerian Kehutanan RI pada tanggal 18 Agustus 2010 mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 464 Tahun 2010 yang memberi ijin Yayasan BOS untuk melepaskan kembali orangutan rehabilitasi ke lahan konsesi restorasi ekosistem melalui PT. RHOI, di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pelepasan kembali orangutan rehabilitasi akan dimulai awal tahun depan. Untuk menyukseskan program pelepasan kembali orangutan, Yayasan BOS membutuhkan dukungan dari para pemangku kepentingan lokal, nasional dan global, dengan meluncurkan sebuah program bernama Program Restorasi Habitat Orangutan (PRHO). Tujuan utama Program ini adalah mempercepat persiapan habitat baru bagi orangutan di lokasi pelepasan kembali. Program ini akan mulai mengelola restorasi habitat di lokasi hutan alam yang ijin konsesinya baru saja diperoleh melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK/464/MENHUT-II/2010 tanggal 18 Agustus 2010 tentang “Pemberian Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem Dalam Hutan Alam Kepada PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia, Atas Areal Hutan Produksi Seluas 86.450 Hektar, Di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur”. Konsesi hutan lainnya juga kini tengah dipertimbangkan untuk dijadikan lokasi pelepasan kembali orangutan. Masih ada beberapa area lain yang akan dikelola oleh Program ini, namun masih dalam tahap pengurusan ijin dari pemerintah RI. Area tersebut, yaitu: eks HPH PT. Tunggal Pamenang seluas 68.089 hektar, dan eks HPH PT. Narkata Rimba seluas 23.500 hektar. Yayasan BOS juga sedang bekerjasama dengan pemegang ijin HPH PT. Akhates Plywood untuk membantu melepaskan kembali orangutan di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. 5. Adopsi da Donasi » Donation Kami sangat menghargai berapapun donasi yang anda berikan sebagai wujud kepedulian anda terhadap upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. » Adoption Ratusan orangutan menjadi Yatim Piatu karena Ibu mereka harus dibunuh terlebih dahulu untuk mendapatkan mereka. Yayasan BOS bersama dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam setempat berupaya menyelamatkan Orangutan yang kehilangan tempat tinggalnya. Orangutan yang berhasil diselamatkan, dibawa ke Pusat Reintroduksi Orangutan untuk belajar bagaimana bertahan hidup di hutan sebelum mereka dapat dilepaskan kembali ke habitat alaminya. Anda dapat mengulurkan tangan dan mengambil bagian dalam misi penyelamatan Orangutan – Yayasan BOS dengan mengadopsi orangutan. Dengan cara ini, Anda dan
11

orang yang Anda kasihi dapat memberikan kontribusi untuk biaya pakan dan perawatan Orangutan. Ada dua tipe adopsi yang kami tawarkan: Shared adoption: satu orangutan dapat diadopsi oleh lebih dari satu adopter baik secara perorangan maupun kelompok.Kami menawarkan pilihan paket adopsi:
  

Bronze: 3 bulan masa adopsi dengan biaya Rp 350.000,- (setara dengan USD 40.00); Silver: 6 bulan masa adopsi dengan biaya Rp 700.000,- (setara dengan USD 80.00); Gold: 12 bulan masa adopsi dengan biaya Rp 1.400.000,- (setara dengan USD 160.00).

Premium adoption: satu orangutan hanya dapat diadopsi oleh satu adopter, baik secara perorangan maupun kelompok.Biaya per orangutan per tahun Rp 35.000.000,- (setara dengan USD 3,500);Minimal masa adopsi 1 tahun;Maksimal sampai orangutan yang diadopsi dilepaskan kembali ke habitat alaminya (hutan) atau mati.  Adapun visi dan misi dari BOS, yaitu Visi: "Terwujudnya kelestarian orangutan Borneo dan habitatnya dengan peran serta masyarakat" Misi:
     

Mempercepat pelepasliaran orangutan ex-situ dan penyediaan habitatnya Mendorong perlindungan orangutan Borneo dan habitatnya Meningkatkan keberdayaan masyarakat sekitar Mendukung kegiatan penelitian dan pendidikan konservasi orangutan Borneo dan habitatnya Menggalangkan peran serta para pemangku kepentingan dan mendorong kemitraan dengan para pihak Meningkatkan kapasitas lembaga.

 Sejarah singkat yayasan BOS 1991 Yayasan Tropenbos di Balikpapan memulai proyek orangutan, bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan RI 1994 Terbentuk Perhimpunan Pecinta Orangutan Balikpapan (The Balikpapan Orangutan Society ) 1998 Berubah menjadi Yayasan Penyelamatan Orangutan Balikpapan (The Balikpapan Orangutan Survival Foundation ) 1999

12

BAB III PENUTUP KESIMPULAN
Demi melestarikan kelangsungan hidup pada orangutan, didirikan sebuah organisasi yang bernama Yayasan Balikpapan Orangutan Survival atau The Balikpapan Orangutan Survival

Foundation (BOS). BOS membantu reintroduksi orang utan sitaan di Stasiun Penelitian Wanariset di Kalimantan Timur. Yayasan ini dibentuk ketika Dr. Willie Smits, seorang ahli ekologi hutan tropis menemukan orang utan di pasar lokal. Yayasan ini mendukung program pendidikan pada masyarakat pada habitat orangutan liar masih dapat ditemukan.

13

DAFTAR PUSTAKA www.orangoetan.nl www.orangutan.or.id backup.orangutan.or.id/subcontent-4-7.html www.kutaikartanegarakab.go.id/.../bos_borneo_orang_utan_survival...

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->