P. 1
Kekuasaan Wewenang, Dan Kepemimpinan

Kekuasaan Wewenang, Dan Kepemimpinan

|Views: 1,434|Likes:
Published by twin fitersya S.Ei

More info:

Published by: twin fitersya S.Ei on May 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2013

pdf

text

original

MAKALAH SOSIOLOGI “ Kekuasaan, wewenang, dan kepemimpinan”

Di susun oleh : 1. Wayu septi Jesasta 2. 3. 4. 5. Memen Suharja Efri Ratna Fitasari Iksan Rozadi Rismanto

6. Abdul Rasul 7. Listian

Dosen pembimbing : Wery Gusmansyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Bengkulu (STAIN) Kota Bengkulu Tahun Ajaran 2011/2012

1

KEKUASAAN, WEWENANG, DAN KEPEMIMPINAN
A. PENGANTAR

Kekuasaan :
1. Sosiologi tidak memandang kekuasaan sebagai suatu yang baik atau buruk, namun sosiologi mengakui kekuasaan sebagai unsure yang penting dalam kehidupan suatu masyarakat. 2. Kekuasaan ada dalam setiap bentuk masyarakat, baik yang yang bersahaja maupun masyarakat yang kompleks. 3. Adanya kekuasaan tergantung dari hubungan antara yang berkuasa dan yang di kuasai, atau dengan perkataan lain, antara pihak yang memiliki kemampuan untuk melancarkan pengaruh dari pihak lain antara pihak yang memiliki kemampuan untuk melancarkan pengaruh dan pihak lain yang menerima pengaruh itu dengan rela atau karena terpaksa. 4. Apabila kekuasaan di jelmakan pada diri seseorang biasanya orang itu di namakan pemimpin dan mereka yang menerima pengaruhnya adalah pengikut-pengikutnya. Wewenang : adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang, yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat. Perbedaan antara kekuasaan dengan wewenang (authority atau legalized power) ialah bahwa setiap kemampuan untuk memengaruhi pihak lain dapat di namakan kekuasaan.

2

B. Hakikat Kekuasaan dan Sumbernya.
Dalam setiap hubungan antar manusia maupun antar kelompok social selalu tersimpul pengertian-pengertian kekuasaan dan wewenang.1 Kekuasaan mencakup kemampuan untuk memerintah dan juga untuk memberi keputusan-keputusan yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi tindakan-tindakan pihak-pihak lainnya. Max Weber mengatakan “kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauan sendiri dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu.2 Secara formal Negara mempunyai hak untuk melaksanakan kekuasaan tertinggi. Kalau perlu, dengan paksaan. Juga negaralah yang membagi-bagikan kekuasaan yang lebih rendah derajatnya. Itulah yang di namakan kedaulatan (Sovereignity). Kedaulatan biasanya di jalankan oleh segolongan kecil masyarakat yang menamakan diri the ruling class. Ini merupakan gejala yang umum dalam masyarakat.3 Dalam kenyataan, di antara orang-orang yang merupakan warga the ruling class, pasti ada yang menjadi pemimpinnya, meskipun menurut hokum dia tidak merupakan pemegang kekuasaan yang tertinggi. Dengan demikian dapatlah di katakana bahwa sifat hakikat kekuasaan dapat terwujud dalam hubungan yang si metris dan asimetris. Masing-masing hubungan terwujud dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat di peroleh gambaran sbb :

1

Ely Chinoy, Society, an Introduction to Sociology, (New York: Random House,1961), Hlm.

246.

From Max Weber, Essay in Sociology, penerjemah dan editor H.H Gerth dan C. Wright Mills, (New York:Oxford University Press,1946), Hlm. 180. 3 Gaetano Mosca, The ruling Class, di terjemahkan oleh Hanna D. Khan, (new York: Mc Garw Hill book Company,inc. 1939, Hlm. 50.

2

3

Sifat dan hakikat kekuasaan 1. Simetris a) hubungan persahabatan b) Hubungan sehari-hari c) Hubungan yang bersifat ambivalen d) Pertentangan antara mereka yang sejajar kedudukannya. 2. Asimetris a) Popularitas b) Peniruan c) Mengikuti perintah d) Tunduk pada pemimpin formal atau informl e) Tunduk pada seorang ahli f) Hubungan sehari-hari Kekuasaan dapat bersumber pada macam-macam factor. Apabila sumbersumber kekuasaan tersebut di kaitkan dengan kegunaanya, maka dapat di peroleh gambaran sbb: 1. SUMBER a) Militer, polisi, criminal b) Ekonomi c) Politik d) Hokum e) Tradisi f) Ideology g) “Diversionary Power” 2. KEGUNAAN a) Pengendalian kesadaran b) Mengendalikan tanah, buruh, kekayaan, material, produksi.

4

c) Pengambilan keputusan d) Mempertahankan, mengubah, melancarkan interaksi e) System kepercayaan nilai-nilai f) Pandangan hidup, integrasi g) Kepentingan rekreatif

C. Unsur-unsur Saluran Kekuasaan dan Dimensinya
Kekuasaan yang dapat di jumpai pada interaksi social antara manusia maupun antar kelompok mempunyai beberapa unsure pokok yaitu : 1. Rasa Takut Rasa takut merupakan perasaan negative karena seseorang tunduk kepada orang lain dalam keadaan terpaksa. Gejala ini yang di namakan matched dependent behavior4 yang tidak mempunyai tujuan kongkret bagi yang melakukannya. Rasa takut merupakan gejala universal yang terdapat di mana-mana biasanya di pergunakan sebaik-baiknya dalam masyarakat yang mempunyai pemerintahan otoriter. 2. Rasa Cinta Rasa cinta menghasilkan perbuatan-perbuatan yang pada umumnya positif. Orang lain bertindak sesuai dengan kehendak pihak yang berkuasa untuk menyenangkan semua pihak. Artinya ada titik-titik pertemuan antara pihak-pihak yang bersangkutan. Rasa cinta biasanya telah mendara daging dalam diri seseorang atau sekelompok orang.

William W. Lembert dan Wallace E. Lambert: Sociale Psychologie (psima: Boeken,UtrechtAntwerpen,1965), Hlm. 36.

4

5

3. Kepercayaan Kepercayaan dapat timbul sebagai hasil hubungan langsung antara dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif. 4. Pemujaan System kepercayaan mungkin masih dapat di sanggal oleh orang-orang lain. Akan tetapi, di dalam system pemujaan, seseorang atau sekelompok orang yang memegang kekuasaan mempunyai dasar pemujaan dari orang-orang lain. Akibatnya adalah segala tindakan penguasa di benarkan atau setidak-tidaknya di anggap benar. Keempat unsur tersebut merupakan sarana yang biasanya di gunakan oleh penguasa untuk dapat menjalankan kekuasaan yang ada di tangannya. Apabila seseorang hendak menjalankan kekuasaan, biasanya di lakukan secara langsung tanpa perantaraan. Keadaan semacam itu pada umumnya dapat di jumpai pada masyarakatmasyarakat kecil dan bersahaja, di mana para warganya saling mengenal dan belum di kenal adanya diferensiasi. Apabila di lihat dalam masyarakat, kekuasaan di dalam pelaksanaanya di jalankan melalui saluran-saluran tertentu. Saluran-saluran tersebut banyak sekali, tetapi kita hanya akan membatasi diri pada saluran-saluran sebagai berikut : a. Saluran Militer Apabila mempergunakan saluran paksaan ini di pergunakan kekuatan penguasa di akan dalam lebih banyak

serta

militer

melaksanakan

kekuasaannya. Tujuan utamanya adalah untuk menimbulkan rasa takut dalam diri masyarakat sehingga mereka tunduk kepada kemauan penguasa atau sekelompok orang-orang yang di anggap sebagai penguasa.

6

b. Saluran Ekonomi Dengan menggunakan saluran-saluran di bidang ekonomi, penguasa berusaha untuk menguasai ekonomi serta kehidupan rakyat tersebut, penguasa dapat melaksanakan peraturan-peraturannya serta akan menyalurkan perintah-perintahnya dengan di kenakan sanksi-sanksi yang tertentu. c. Saluran Politik Melalui saluran politik, penguasa dan pemerintah berusaha untuk membuat peratran-peraturan yang harus di di taati oleh masyarakat. d. Saluran Tradisional Biasanya merupakan saluran yang paling di sukai. Dengan cara menyesuaikan tradisi pemegang kekuasaan dengan tradisi yang di kenal di dalam sesuatu masyarakat, pelaksanaan kekuasaan dapat berjalan dengan lancar. D. Cara-Cara mempertahankan Kekuasaan Kekuasaan yang telah di laksanakan melalui saluran-saluran sebagai mana di terangkan di atas memerlukan serangkaian cara atau usaha-usaha untuk mempertahankannya. Setiap penguasa yang telah memegang kekuasaan di dalam masyarakat, demi stabilnya masyarakat tersebut akan berusaha untuk

mempertahankannya. Cara-cara yang dapat di lakukan antara lain : 1. Dengan jalan menghilangkan segenap peraturan-peraturan lama, terutama dalam bidang politik, yang merugikan kedudukan penguasa, di mana peraturan-peraturan tersebut akan di gantikan dengan peraturan-peraturan baru yang akan menguntungkan penguasa, keadaan tersebut biasanya terjadi pada waktu ada pergantian kekuasaan dari seseorang penguasa kepada penguasa lain.

7

2. Mengadakan system-sistem kepercayaan (belief system) yang akan dapat memperkokoh kedudukan penguasa atau golongannya yang meliputi agama, ideology. 3. Pelaksanaan admistrasi dan birokrasi yang baik.

Cara memperkuat kedudukan : 1. Menguasai bidang-bidang kehidupan tertentu 2. Penguasaan bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat yang di lakukan dengan paksa dan kekerasan.

E. Beberapa Bentuk Lapisan Kekuasaan
Bentuk-bentuk kekuasaan pada masyarakat-masyarakat tertentu di dunia ini beraneka ragam dengan masing-masing polanya. Biasanya ada satu pola yang berlaku umum pada setiap masyarakat, betapapun perubahan-perubahan yang di alami masyarakat itu. Namun, pola tersebut akan selalu muncul atas dasar pola lama yang berlaku sebelumnya.5 Menurut Maclver ada 3 pola umum system lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan yaitu : A. Tipe pertama adalah system lapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku. Tipe semacam ini biasanya di jumpai pada masyarakat nerkasta, di mana hamper-hampir tak terjadi gerak social vertical. Garis pemisah antara masing-masing lapisan hamper tak mungkin di tembus. B. Tipe kedua masih mempunyai garis pemisah yang tegas. Akan tetapi, dasar pembedaan kelas-kelas social di tentukan oleh kebudayaan

Rm. Maclver, The web of Government, cetakan ke 12 (New York: The Macmillan Company, 1954) Hlm. 98.

5

8

masyarakat, terutama pada kesempatan yang di berikan kepada para warga untuk memperoleh kekuasaan-kekuasaan tertentu. C. Tipe yang ketiga menunjukan kenyataan akan adanya garis pemisah antara lapisan yang sifatnya mobil sekali. Kelahiran tidak menentukan seseorang, yang terpenting adalah kemampuan dan kadang-kadang factor keberuntungan.6

F. Wewenang
Wewenang di maksudkan sebagai suatu hak yang telah di tetapkan dalam tata tertib social untuk menetapkan kebijaksanaan, menentukan keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah penting dan untuk menyelesaikan pertentanganpertentangan. Dengan kata lain, seseorang yang mempunyai wewenang bertindak sebagai orang yang memimpin atau membimbing orang banyak.7 Wewenang ada beberapa bentuk yaitu : 1. Wewenang Kharismatis, Tradisional, dan Rasional (Legal) Wewenang kharismatis adalah wewenang yang di sandarkan pada charisma yaitu kemampuan khusus (wahyu, pulung) yang ada pada diri seseorang. Wewenang kharismatis tidak di atur oleh kaidah-kaidah, baik yang tradisional maupun rasional. Sifatnya cenderung irasional. Adakalanya charisma dapat hilang karena masyarakat sendiri yang berubah dan mempunyai paham yang berbeda. Perubahan-perubahan tersebut sering kali tak dapat di ikuti oleh orang yang mempunyai wewenang kharismatis tadi sehingga dia tertinggal oleh kemajuan dan perkembangan masyarakat.

6 7

Rm. MacIver,Op. cit., Hlm. 100. Ibid., Hlm. 83.

9

Wewenang tradisional dapat di punyai oleh seseorang maupun sekelompok orang. Dengan kata lain, wewenang tersebut di miliki oleh orang-orang yang menjadi anggota kelompok yang sudah lama sekali mempunyai kekuasaan di dalam suatu masyarakat. Cirri-ciri utama wewenang tradisional adalah : 1. Adanya ketentuan-ketentuan tradisional yang mengikat penguasa yang mempunyai wewenang serta orang-orang lainnya dalam masyarakat. 2. Adanya wewenang yang lebih tinggi ketimbang kedudukan seseorang yang hadir secara pribadi. 3. Selama tak ada pertentangan dengan ketentuan-ketentuan tradisional orangorang dapat bertindak secara bebas.

Wewenang Rasional atau legal adalah wewenang yang di sandarkan pada system hokum yang berlaku dalam masyarakat. System hokum di sini di pahamkan sebagai kaidah-kaidah yang telah di akui serta di taati masyarakat da bahkan yang telah di perkuat oleh Negara. Pada wewenang yang di dasarkan pada system hokum harus di lihat juga apakah system hukumnya bersandarkan pada tradisi, agama, atau factor lain. Kemudian, harus di telaah pada hubungannya dengan system kekuasaan serta di uji pula apakah system hokum tadi cocok atau tidak dengan system kebudayaan masyarakat supaya kehidupan dapat berjalan dengan tenang dan tentram. 2. Wewenang Resmi dan Tak Resmi8 Di dalam setiap masyarakat akan dapat di jumpai aneka macam bentuk kelompok. Dalam kehidupan kelompok-kelompok tadi sering kali timbul masalah tentang derajat resmi suatu wewenang yang berlaku di dalamnya.
8

Robert A. Nisbet, The Social Bond, An Introduction to the study of society. (New York: Alfred A Knopf,1970) Hlm. 119.

10

Wewenang resmi sifatnya sitematis, di perhitungkan, dan rasional. Biasanya wewenang tersebut dapat di jumpai pada kelompok-kelompok besar yang memrlukan aturan-aturan tata tertib yang tegas dan bersifat tetap. Di dalam kelompok tadi karena banyaknya anggota biasanya hak serta kewajiban para anggotanya, kedudukan serta peranan, siapa-siapa, yang menetapkan kebijaksanaan dan siapa pelaksananya dan seterusnya di tentukan dengan tegas.

G. Kepemimpinan (leadership)
1. Umum Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana di kehendaki oleh pemimpin tersebut. Kadangkala di bedakan antara kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan sebagai suatu proses social.9 Kepemimpinan ada yang sifatnya resmi (Formal Leadership) yaitu kepemimpinan yang tersimpul di dalam suatu jabatan. Ada pula kepemimpinan karena pengakuan masyarakat akan kemampuan seseorang untuk menjalankan kepemimpinan. Suatu perbedaan yang mencolok antara kepemimpinan yang resmi dengan yang tidak resmi adalah kepemimpinan yang resmi di dalam pelaksanaanya selalu harus berada di atas landasan-landasan atau oeraturan-peraturan resmi. Dengan demikian daya cukupnya agak terbatas. Kepemimpinan tidak resmi mempunyai ruang lingkup tanpa batas-batas resmi, karena kepemimpinan demikian di dasarkan atas pengakuan dan kepercayaan masyarakat. 2. Perkembangan Kepemimpinan dan Sifat-sifat Seorang Pemimpin Kepemimpinan merupakan hasil organisasi social yang telah terbentuk atau hasil dinamika interaksi social. Sejak mula terbentuknya suatu kelompok social,
9

Koentjaraningrat, Beberapa Pokok antropologi social, (Jakarta: penerbit Dian Rakyat,1967),

Hlm. 181.

11

seseorang atau beberapa orang di antara warga-warganya melakukan peranan yang lebih aktif daripada rekan-rekannya sehingga orang tadi atau beberapa orang tampak lebih menonjol dari lain-lainnya. Itulah sebabnya timbulnya kepemimpinan.10 Yang kebanyakan timbul dan berkembang dalam struktur social yang kurang stabil. Menurut Asta Brata kepemimpinan yang akan berhasil harus memenuhi syarat-syarat berikut ini : a. Indra-Brata yang member kesenangan dalam jasmani b. Yama-brata yang menunjuk pada keahlian dan kepastian hokum c. Surya-Brata yang menggerakkan bawahan dengan mengajak mereka untuk bekerja persuasion. d. Agni-Brata yaitu sifat memberikan semangat kepada anak buah.

3. Kepemimpinan Menurut Ajaran Tradisional Ajaran tradisional seperti misalnya di Jawa mengganbarkan tugas seorang pemimpin melalui pepatah berikut ini Ing ngarsa sung tulada Ing madya mangun karsa Tut wuri handayani Pepatah tersebut sering di pergunakan oleh Alm. Ki hajar Dewantara apabila di terjemahkan dalam bahasa Indonesia : Di muka member tauladan Di tengah-tengah membangun semangat

Selo Soemardjan, pola-pola kepemimpinan dalam pemerintahan, ceramah pada Coaching Management Lembaga Pertahanan Nasional, tertanggal 7 maret 1967, tidak di terbitkan.

10

12

Dari belakang memberikan pengaruh. Seorang pemimpin di muka harus memiliki idealism kuat, serta kedudukan. Akan tetapi, menurut watak dan kecakapnnya, seorang pemimpin dapat di katakana sebagai pemimpin di muka, di tengah, dan di belakang. 4. Sandaran-sandaran kepemimpinan dan kepemimpinan yang di anggap Efektif. Kepemimpinan seseorang harus mempunyai sandaran-sandaran

kemasyarakatan atau sisial basis. Pertama-tama kepemimpinan erat hubungannya dengan susunan masyarakat. Masyarakat-masyarakat yang agraris di mana belum ada spesialisasi kepemimpinan meliputi seluruh bidang kehidupan masyarakat. Setiap kepemimpinan yang efektif harus memperhitungkan social basis apabila tidak menghendaki timbulnya ketegangan-ketegangan atau setidak-tidaknya terhindar dari pemerintahan boneka belaka. Dengan demikian keputusan para pemimpin tersebut sekaligus merupakan pula rasa keadilan masyarakat yang bersangkutan. Pada umumnya para pemimpin masyarakat tradisional adalah pemimpin-pemimpin di belakang atau di tengah. Jarang sekali yang menjadi pemimpin di muka, dan sebaliknya. 5. Tugas dan Metode Secara sosiologis, tugas-tugas pokok seorang pemimpin adalah sebagai berikut . a. Memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat di jadikan pegangan bagi para pengikut-pengikutnya. b. Mengawasi, mengendalikan, serta menyalurkan perilaku warga masyarakat yang di pimpinnya. c. Bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar kelompok yang di pimpin.
13

Suatu kepemimpinan dapat di laksanakan atau di terapkan degan berbagai cara (metode) a. Cara-Cara Otoriter 1. Pemimpin menentukan segala kegiatan kelompok secara sepihak. 2.Pengikut sama sekali tidak di ajak untuk ikut serta merumuskan tujuan kelompok dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. b. Cara-cara Demokratis 1. Pemimpin secara aktif memberikan saran dan petunjuk-petunjuk. 2. ada kritik baik dari pemimpin maupun pengikut-pengikut. c. Cara-cara Bebas 1. Pemimpin menjalankan perananya secara pasif 2. Pemimpin hanya menyediakan sarana yang di perlukan kelompok.

14

DAFTAR PUSTAKA

Soekanto,Soerjono.sosiologi suatu pengantar.jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2012.

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->