P. 1
KEADILAN

KEADILAN

|Views: 224|Likes:
Published by POETRA.COM

More info:

Published by: POETRA.COM on May 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2015

pdf

text

original

KEADILAN DAN KESEWENANG-WENANGAN

A. ADIL DAN RASA KEADILAN 1. Konsep Adil dan Rasa Keadilan Adil adalah sifat perbuatan manusia. Menurut arti katanya, “adil artinya tidak sewenang-wenang kepada din sendiri maupun kepada pihak lain. Pihak lain itu meliputi anggota masyarakat, alam tingkungan, dan Tuhan Sang Pencipta. Jadi, konsep adil berlaku kepada din sendiri sebagai individu, dan kepada pihak lain sebagai anggota masyarakat, alam lingkungan, dan Tuhan Sang Pecipta. Tidak sewenang-wenang dapat berupa keadaan yang: a. b. c. d. e. Sama (seimbang), nilai bobot yang tidak berbeda Tidak berat sebelah, perlakuan yang sama, tidak pilih kasih Wajar, seperti apa adanya, tidak menyimpang, tidak ebih dan tidak kurang Patut layak, dapat diterima karena sesuai, harmonis, dan proporsional Perlakuan kepada diri sendiri, sama seperti perlakuan kepada pihak lain dan sebaliknya.

Dalam konsep adil berlaku tolok ukur yang sama kepada pihak yang berbuat dan kepada pihak lain terhadap mana perbuatan liii ditujukan. Implikasinya, perlakuan kepada diri sendiri seharusnya sama pula dengan perlakuan kepada pihak lain. Bagaimana berbuat adil kepada pihak jika kepada diri sendiri saja sudah tidak adil. Konsep adil (tidak sewenang - wenang) baru jelas bentuknya apabila sudah diwujudkan dalam perbuatan nyata dan nilai yang dihasilkannya atau akibat yang ditimbulkannya. Situasi dan kondisi nyata juga ikut menentukan perbuatan adil Manusia . Adil bersifat kodrati, artinya sudah dibekali oleh sang pencipta kepada manusia sebagai bagian dan kehidupan manusia. Adil bensumber pada “unsur rasa” dalam diri manusia yang didukung oleh akal sehat dan diwujudkan pada perbuatan sebagai makhluk. budaya, manusia menilai peristiwa atau kejadian yang ada di sekitarnya, atau yang dialaminya. Hasil penilaian tersebut adalah. perasaan yang tumbuh dalam dirinya bahwa keadaan perbuatan atau kejadian yang dialamiya itu tidak sewenagwenang, atau tidak berat sebelah, atau wajar, patut, dan layak, baik kepada diri pelaku sendiri maupun kepada pihak lain, yang dibenarkan oleh akal sehat. Keadaan seperti ini disebut „keadilan‟. Karena bersumber pada unsur rasa dalam diri manusia, maka disebut “rasa keadilan”. Rasa keadilan mendorong manusia untuk berbuat benar (akal, benbuat baik (rasa), berbuat jujur (karsa) dan bermanfaat.

2. Perlakuan Adil dan Tidak Adil a. Perlakuan Adil Setiap manusia dapat melihat perlakuan adil itu dan sudut pandang masingmasing, sehingga tanggapannya mungkin sama dan mungkin juga tidak sama antara yang satu dan yang lainnya. Kemungkinan ketidaksamaan itu terletak pada nilai bobot kualitas perlakuannya. Walaupun yang satu dan yang lainnya memandang perlakuan itu sebagai perlakuan adil, karena nilal bobot kualitas perilakuannya berbeda, maka timbullah gradasi perlakuan dan perlakuan adil ke perlakuan kurang ada, sampai ke perlakuan tidak adil Manusia yang hanya menekankan penilaianflya pada unsun akat (untung rugi), mungkifl menganggaP pernberiar‟ bantuan dana, misalnya kepada kelompOk pengungsi pengangguran itu adalah perlakuan tidak adil. Sebaliknya, apabila penilalan iu penekanaflflya pada unsur nasa yang dibenarkan oleh akal (sosial kemanuSiaafl), pemberian bantuan dana ke pada kelompok pengungsl pengañggurafl itu adalah perlakuan adil. Karéna manusia itu makhluk budaya, perlakuan képada sesama manusia juga berbudaya atau beradab. Perlakuan beradab adalàh perlakuan adil, artinya perlakuan kepada pihak lain juga seperti perlakuan kepada diri sendiri. Apabila manusia yang satu mempunyai kewajiban dan hak kepada pihak lainnya, pihak lain itu juga mempunyai kewajiban dan hak kepada yang satunya. Kewajiban dan hak selalu dalam keadaan seimbang, tidak berat sebelah, pemenuhanya pun tidak sewenang-wenang, memerlukan perlakuan wajar, patut layak. Perlakuan adil selalu didasari oleh nasa keadilan. Fasä keadilan termasuk masatah nilai, karena itu dapat berubah meflurut keadaafl, waktu, dan tempat. Akibat penlakuan adil timbuHah kedamaian, kesejahtenaafl, dan kebahagiaan dalam kehidupan masyarakat. PerlakUafl Sebalikflya apabila penlakuan manuSla tidak ctidasarl oleh rasa keadilan yang akah terjadi adalah pértàkuafltidak adil. Penlakuafl tidak adil adatah perlakuan 5wenangWeng. A1ibat perlakuan ewenaflgWeflaTg adaIah penderitaafl dan ketidakPaStial, kehid‟JPafl macusia menjadi tidak menentu, tidak tenteram dan gelisah, bahkafl mungkifl kematiafl. Banyak contoh perlakUafl tidak adil, baik yang terungkaP dam kehidupan nyata maupun dalam b. B. KEADILAN MANUSIA DAN KEADILAN TUHAN 1. Pengakuan kepada Perlakuan Adil

Sebagai makhluk budaya, dalam iiri manusia sel&u terdapat 3 (tiga) unsur budaya, yaitu cipta. rasa, dan karsa. Atas:dasar ni, setiap manusia merripunyai rasa keadulan yang bersifat kodrati di dalam crinya. Setiap orang akan berlaku adU dan akan memperoleh perlakuan adil. Akan tetapi, perwujudan rasa keadilan daam bentuk perlakuan adil dipengaruhi oleh keadaan, waktu, dan tempat, sehingga mungkin terjadi perlakuan adul yang berbeda bentuk dan cara antara manusia yang satu dan yang lainnya nienurut keadaan, waktu, dan tempat; Karena rasa keadilan bersifat kodrati dan asasi, maka perlakuan adil diakui walaupun ada yang secara terbatas ataupun secara universaL Contohnya, di Afrika Selatan yang dulu pernah menerapkan diskriminasi rasial (racial discrimination), perlakuan adil diakui secara terbatas hanya cii kalangan orang-orang sesama kutit putih, sedangkàn di negara-negara lain perlakuan adul diakui secara universal. Perbedaan itu muncul dalam budaya karena penekanan unsur budaya yang berbeda. Apabila penekanan budaya itu pada unsur “cipta (akal), karya budaya akan (ebih unggul dibandngkan dengan jika penekanan budaya tu pada unsur rasa‟. Karena keunggulan itu, kemudian timbul rasa sombong dan angkuh dalam din manusia, sehingga memengaruhi pula perlakuannya kepada pihak lain (sense of superiority). Akan tetapi, karena ada pengakuan secara umum (universal) pada perlakuan adil, maka kecenderungan untuk berbuat tidak adil dapat dikendalikan. Perlakuan adil sesama manusia mendapat pengakuan secara universa‟ dalam Declaration of Human Rights. Sebelumnya, pengakuan itu bermula dan Declaration of Independence Amerika 1776, yang kemudian menjalar ke PranciS yang diakui dalam La Declaration de Droit de L‟hornme Citoyefl sesudah Revolusi Prancis 1789. Di Indonesia, pengakuan itu dapat dibaca dalam Pernbukaan UndangUndaflg Dasar 1945, dan ndang-Undafl9 Nomor 31 Tahuri 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 2. Keàdilafl ManUSia Setiap manuSia mempuflyai beberapa kebutuhan, di antara kebutuhan tersebut ada yang hanya dapat dipenuhi dengan sernpUrfla apabila berhubungan dengan sesama manuSia. Dalam: hubungan itu timbul kewajiban dan hak masing-masing pihak yang siiatnYa seimbang, tidak berat sebelah. Pihak-pihak memenUhi kewajibaflflYa dan memperOleh haknya secara seimbang puta dan uga tidak berat sebelah atau tidak 5wenang.Wenang. Perbuatan kedua belah pihak tersebut didasari oleh rasa keadulan yang sudab ada dalam. din mereka masing-masing Keadilan manuSia terjadi dalam hubungan antara sesama manuSia, keadilan nianusia bersitat retatif.

Untuk mengukur apakah kewaliban dan hak pihak-Pihak dapat dipenUhi dan diperOleb secara seimbang, wajar. dan patutItaYak manuSia menggunakan akat, caSaan, dan kehend?kflYa. Apabila ketiga unsur tersebut difungSikafl seimbang, diharaPkan timbul kesamaan penilaian antara manuSia yang satu dan yang lain. Dengan demikian, rasa keaditan iu sarna, yang kernudian diwujudkan dalam perlakuan adil kedua belah pihak. Dengan perlakuan adil itu manuSia saling menghargai, saling menghOTmatt tidak inin memusuhi yang lain, kewajiban dan hak dipenUhi secara seimbang, tidak berat sebelah, dan tidak sewenangwenang. Keadilan manusia seperti ml menciptakan kedamaiafl, kesejahteraafl dan ebahagiaafl. Akan tetapi, apabila manUSla mfungSikan akal, perasaan. dan kehendak tidak seimbáng, penilaian pun dapat menjadi tidak sama, pemenuhan kewajiban dan hak didasari oteh penilaian yang juga tidak sama, sehingga akhifnYa terjadi ketidakadilan yang mengarah pada per- buatan 5wenangWenang, tidak sating menghar9ti. tidak sating meng L hormati, bahkan kewajiban tidak diimbang dengan hak. Ketidakadilan manusia seperti mi menciptakan kesewenang-wenangan, permusuhan, penderitaan, dan kemiskinan. Keadilan manusia bersifat relatif karena dipengaruhi oleh keadaan, waktu, dan tempat. Keadilan manusia yang terjadi dalam hubungan antara sesama manusia dapat clibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu keadan koordinatif, keadilan subordinatif, dan keadilan superor.dinatif. Ketiga macam keadHan manusia tersebut diuraikan satu demi satu berikutini. a. Keadilan koordinatif Keadilan koordinatif terjadi .dalarn hubungan antara sesàma anggota masyarakat (anggota kelompok). Dalam hubungan tersebut., kedudukan pihak-pihak setara, sejajar, dan tidak melebihi satu sama lain. Menurut Prof. Djojodigoeno (1958, hubungan koordinatif dibedakan menjadi 2 (dua) tipe, yaitu hubungan pamrih (geseilsohaft) dan hubungan paguyuban (gemeinschaft). Dalam hubungan pamrih, setiap pihak dibebani kewajiban dan diberi hak yang seimbang, dan harus saling memenuhi kewajiban untuk memperoleh haknya. Ukuran keadilan. biasanya sudah ditetapkan berupa nilal atau harga yang sama antara kewajiban dan hak, misa)nya keadilan dalam jual bell. Nilai barang yang akan diserahkan kepada pembeli sama dengan nilal uang yang akan dibayarkan kepada penjual dan barang yang diserahkan tu tanpa cacat. b. Keadilafl subordinatif V V Keadilan subordinatif terjadi dalam hubungaftjakYat dengafl. penguaSa ataü warga negara dengan pemerintah atau anggota kélompok dengan pemimpifl. Apabila rakyat

telah memilih dan mengangkât pemimpinflYa sebagai penguasa, pengUasa wajib menieflUht tuntiitan rakyat. secarà wajar, ml adil. Apabila pengUaSa menjadidiktator dan memeiintah menurut mauflya etdiri, ml tidak adil. Apabita rakyat telah rtiemenuhi kewajiban membayar pajak, penguaSa berusaha meny.eIahtetat rakyat, mencerdakan rkyät, V dan meñhaPUskan kemiSkiflafl .ini adit. Akan tetapi, apabila pajak dan rak9at dikoruFsikafl oleh penguasa,. iniakadiL__. BeberaPa contoh wujud keadilan subordinatit dalarn Vhubungan rakyatl warga négara dengan penguaSaJPemmmP antara lain adalah sebagai berikut V Pegawaj negeri yang telah mengabdi Repada negara selania berpuIuh-puguh tahun setelah purnabaktj diberi hak pensiun 2) Warga negara yang telah berjasa membela kepenpngan negara di- ben penghargaa berupa medalj/gencana oeh pemerintah 3) Warga negara yang berkarya dan berhasjl menyeiarnaf lingkung an hidup diberi penghargaa berupa “kalpataru 4) Dosen atau ilmuwan yang telah benjasa di bidang ilmu pengeta an dan teknologi untuk kepentingan bangsa dan keselamatan umat manusja dianugerahi gelar DJctor Honoris .Causa Keadjian Superordjnatjf KQadjlan SUperordinatjf.tenjadj dalam hubungan penguasa dengan rakyat atau pemerlntah dengan warga negara, atau pemimpin dengan anggota yang dipimpin. Dalam hubngan Superordiflatjf, inisjatjf pelaksanaàn memenuhi kebutuhan rakyat dimujal dan penguasa kepada rakyat. Pemenuhan kebutuhan rakyat o!eh penguasa merupakan realisas janji penguasa kepada rIcyat ketil<a akan diangkat sebagai penguasa atau pemimpin rakyat. Apabjla penguasa te!ah melalcsanakan program pembangunan yang diperjanjikan telah mernenuhi kebutuhan rakyat, sudah ada keadjian apabjiakemudjan rkyat setia ataü patuh kepada penguasa menghorrn8j dan menghargaj penguasa dan memenuhi kewajiban Repada penguasa atau negara, misalnya membayar pajak, memelihara ketertjban serta mempahankan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Dalam ungkapan sastra, keadilan superordjnatif dinyatakan Sebagai: Raja adil raja disembah, raja Ialim Keadilan Tuhan Keadilan Tuhan térjadi dalam hubungan manusia dengan Tuhan Keadilan Tuhan bénsifat mut)ak. Tuhan adalah pencipta segala apa yang ada di langit dan di bumi, tenmasuk manusia. Karéna manusia adalah makhluk cipfaan Tuhan, sudah adi! apabi)a dalam hubungan manusia dengan Tuhan itu manusia mengabd, kepada Tuhan. Prof. Dr.

Harun Nasution (1981) menyatakan bahwa kedjIan ada!ah ajanan yang sangat penting dalam agama. Keacilfan di sini adalah keadilan kehendak atau kekuasaan Tuhan. Manusia hidup sesual denan kekuasaan Tuhan. Man usia bebas menggun akalnya untuk mewujucikan kehendaknya Apabila onahg Hmu Sósial Budaya Dasar 185 berbuat baik atau jahat menurut keheñdaknya sendiri, sudah adil jika Tuhan memasukkanya ke dalam surga atau neraka. Tuhan bebas menggunakan kekuasaan-Nya itu. Beliau rnengemukakàn beberapa contoh. Da!am agama Islam dikena) keadilan poligami yaltu; memberlka apa yang menjadi hal< istri. Apabila hak itu tidak dipenuhi, itu namanya tidak adil. Pihak.yang ticiak adil itu manusianya, bukan. Tuhan yang membolehkan poligami. balam Islam juga dinyatakan bahwa pencuri dipotong tangannya. Apakah semua pen- curl harus dipotong tangannya? Pencunl yang dipotong tangannya adalah pencuni yang bersalah, pencuni yang tidak bersalah tidak•dipotong tangannya (tidak dihukum). Pencuri yang mengambil barang majijcannya karena majikan tidak membayar upahnya, di sini yang bersalah adalah majikan, bukan pencuri, friadtl. Usaha Menciptakan Keadilan Manusia hidup banyak kebutuhan yang memertukan usaha untuk meng( atasinya, balk dengan usaha rnengtsai atammaupun dengan hubungan seàma manusia. Hasitnya adalah puas dan tidak puas, dan ml sudah menjadi tabiat manusia. Tidak puas itu cenderung bersifat materialistis. Manusia materialistis yang berlebihan bersifat: a. tamak, serakah, tidak jujur; b. mencari keuntüngan sebesar-besarnya; c. febih mementingkan duniawi daripada akhirat; d. tidaktakwakepadaTuhan, e. lebih mementingkan din sendiri daripada orang lain (individualis); f. kalaupun ada, rasa keadannya tpis; dan g. perbuatannya tidak aJ11 atau cenderung tidak adil. Bagaimana caranya supaya manusia materiatistis tidak benlebihan? Bagaimana cara menyadarkan manusia bahwa manusia hidup itu adalah karunia Tuhan dan tidak dapat

hidup sempurna apabila tidak bersama manusia lain dalam masyarakat? Beberapa usaha dapat ditempuh untuk menàiptakan keadilan, sehingga dapat dihilangkan atau setidaktidaknya dapat dikurangi sifat-sifat manusia yang tidak adil: a. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan takwa manusia akan sadar, sehingga diharapkan berbuat sesual dengan perintah Tuhandán menjauhkan din dan farangan— Nya. Berbuat sesual dengan perintah dan larangan Tuhan adalah adil. b. Meningkatkãn penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknólogi dapat membina sikap mental dan mernberi pertimbangan balk atau buruk, benar atau salah, bermanfaat atau merUgikan, adil atau tidak adil. c. Mengenal seni dan karya seni. Hal ml dapat memperhalus budi nurarii karena seni itu adalah keindahan. Keindahan itu adalah kebalkan, dan kebaikan itu adalah keadiln. Keadilan dan . d. Mengaflut pota hidup sederhafla. Pota hidup .- sederhafla dapat menciptakanrasa kebersamaafl dan menghindarkan sit at ekstrem, dn ml adl. - e. Banyak memperoleb infôrmasi mengenai kehidUPafl manusia yang emperjuaflgkafl keadiiafl untuk menumbUhkan sikap dan uaha emperjuaflgkan keadilafl. f. Pemuhafl bagi yang terkena ketidakadilan, balk berupa pembalaS an maupun paS___

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->