P. 1
Seminar

Seminar

|Views: 102|Likes:
Published by Benjamin Beck

More info:

Published by: Benjamin Beck on May 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2012

pdf

text

original

Proposal Penelitian

PENGARUH NET PROFIT MARGIN, CASH RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, DAN RETURN ON ASSET TERHADAP PEMBAYARAN DIVIDEN KAS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG GO PUBLIC DI BEI

Oleh : KHUSNUL BAIHAQI NPM: 09.321.063

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK April 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat diartikan sebagai prospek atau masa depan, pertumbuhan potensi perkembangan yang baik bagi perusahaan. Informasi kinerja keuangan diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi, yang mungkin dikendalikan di masa depan dan untuk memprediksi kapasitas produksi dari sumber daya yang ada (Barlian, 2003). Dari penjelasan di atas, dapat diketahui para investor akan melakukan sebuah analisa terhadap kinerja keuangan sebuah perusahaan karena motif investor melakukan investasi saham adalah untuk mendapatkan keuntungan berupa dividen atau capital gain. Pemegang saham selalu berharap untuk mendapat dividen dalam jumlah besar atau minimal relatif stabil dari tahun ke tahun. Investor sebelum memasuki pasar modal saat memilih saham sebagai salah satu alternatif penanaman modal harus mempertimbangkan tingkat keuntungan yang akan diperoleh saat ini dan di masa yang akan datang. Untuk itu dibutuhkan informasi yang menunjukkan tingkat pengembalian atas modal yang ditanamkan. Sugiono (2009: 79-80) menjelaskan bahwa rasio ini menunjukkan berapa besar keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan. Jika profit margin suatu perusahaan lebih rendah dari rata-rata industrinya, hal itu dapat disebabkan oleh harga jual perusahaan yang lebih rendah daripada perusahaan pesaing, atau harga pokok penjualan lebih tinggi daripada harga pokok penjualan perusahaan pesaing, ataupun kedua-duanya. Prihadi (2010: 147) menyebutkan bahwa profit margin ratio atau net profit margin ratio (laba bersih) mengukur kemampuan perusahaan dalam rangka memberikan return kepada pemegang saham. Kemudian, pembayaran deviden kas juga akan sangat dipengaruhi besaran kas yang ada pada perusahaan. Dalam hal ini para investor akan menganalisa kemapuan perusahaan dalam membayar kewajiban lancarnya. Namun demikian

1

tidak hanya terbatas pada kewajiban lancar saja, kewajiban jangka panjang perusahaan juga menjadi pertimbangan karena di dalamnya terdapat resiko. Hal di atas mengakibatkan para pemegang saham selalu berharap untuk mendapat dividen dalam jumlah besar atau minimal relatif stabil dari tahun ke tahun. Keputusan yang tepat dalam kebijakan dan pembayaran dividen dapat memaksimumkan nilai perusahaan dan nilai para pemegang sahamnya. Nilai perusahaan ditentukan oleh nilai modal sendiri dan nilai hutang. Apabila dikaitkan dengan pergerakan harga saham ditunjukkan bahwa pembayaran dividen yang semakin besar dan cenderung akan meningkatkan harga saham. Sebagian lain dari laba bersih perusahaan merupakan laba ditahan (retained earning) yang akan digunakan oleh perusahaan untuk melakukan investasi kembali (reinvestment). Hal ini merupakan inti dari kebijakan dividen, khususnya dalam menentukan besarnya Dividend Payout Ratio. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembayaran dividen kas pada perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk mengambil judul ” Pengaruh Net Profit Margin, Cash Ratio, Debt to Equity Ratio, dan Return on Asset Terhadap Pembayaran Deviden Kas pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public di BEI ”.

1.2.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah Net Profit Margin mempengaruhi pembayaran dividen kas ? 2. Apakah Cash Ratio mempengaruhi pembayaran dividen kas ? 3. Apakah Debt to Equity Ratio mempengaruhi pembayaran dividen kas ? 4. Apakah Return on Asset mempengaruhi pembayaran dividen kas ? 1.3. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pengaruh NPM terhadap pembayaran dividen kas.

2

2.

Untuk mengetahui pengaruh Cash Ratio terhadap pembayaran dividen kas.

3. 4.

Untuk mengetahui pengaruh DER terhadap pembayaran dividen kas. Untuk mengetahui pengaruh ROA terhadap pembayaran dividen kas.

1.4.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi : 1. Peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan ilmu pengetahuan bagi peneliti khususnya dalam bidang manajemen keuangan dan memberikan kajian empiris tentang dampak informasi keuangan khususnya mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dividend payout ratio. Penelitian ini juga sebagai bahan referensi bagi peneliti / mahasiswa lain yang ingin mengembangkan penelelitian selanjutnya. 2. Investor, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu informasi dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan investasi sehubungan dengan harapannya untuk mendapatkan dividen. 3. Perusahaan (emiten), hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan pengambilan keputusan manajer dalam menetapkan kebijakan dividen sehubungan dengan penentuan sumber pendanaan (internal/eksternal) jika akan melakukan

reinvestment.

1.5.

Kontribusi penelitian

Penelitian Mahaputra (2009) yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pembayaran dividen kas mengambil sampel perusahaan

manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2006-2007 sedangkan penelitian ini mengambil sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 20082010. Penelitian-penelitian sebelumnya kebanyakan menggunakan variabel ROI sedangkan pada penelitian ini peneliti mencoba menggunakan variabel ROA.

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Penelitian Sebelumnya

Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi dividen telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya seperti Nasution (2004), Nasrul (2004) dan Hariani (2005). Penelitian terhadap dividen payout ratio yang dilakukan oleh Nasution (2004) berjudul “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio pada Perusahaan Manufaktur Go-Public di Bursa Efek Jakarta”. Variabel bebas (independent variable) pada penelitian ini adalah posisi kas (cash position), potensi pertumbuhan (growth), ukuran perusahaan (firm size), rasio hutang terhadap modal (debt to equity ratio) dan profitabilitas (profitability). Jumlah sampel 37 perusahaan yang ditentukan oleh metode purposive sampling dengan batasan waktu dari tahun 1999 hingga tahun 2001 (3 tahun). Metode analisis data dengan regresi linier berganda, cross section dan time series. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa variabel bebas secara simultan tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap dividend payout ratio. Variabel rasio Debt to Equity Ratio (DER) saja yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap Dividend Payout Ratio. Penelitian yang dilakukan oleh Nasrul (2004) mengkaji tentang faktorfaktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio (DPR) namun dengan variabel bebas yang berbeda, yaitu Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Net Profit Margin (NPM) dan Return on Investment (ROI) untuk periode 1999 hingga 2001. Teknik pengambilan sampel yang digunakan teknik sampling jenuh karena jumlah populasi yang relatif kecil yaitu sebesar 28 perusahaan manufaktur. Metode regresi linear berganda yang digunakan sebagai analisis data pada penelitian ini. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan secara serempak antara CR, DER, NPM dan ROI terhadap DPR. Current Ratio (CR) dan Return on Investment (ROI) yang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap dividend payout ratio secara parsial.

4

Variabel-variabel yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio pada perusahaan publik di Indonesia juga diteliti oleh Hariani (2005) dengan batas waktu penelitian dari tahun 2001 hingga tahun 2003 yaitu selama 3 tahun. Sampel yang digunakan 37 perusahaan dan ada 7 (tujuh) variabel bebas (independent variable) antara lain posisi kas (cash position), potensi pertumbuhan (growth), ukuran perusahaan (firm size), rasio hutang terhadap modal (debt to equity ratio), profitabilitas (profitability), tax rate dan time interest earned. Analisis data yang digunakan adalah metode regresi linear berganda dan pengujian asumsi klasik. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa posisi kas (cash position), potensi pertumbuhan (growth), ukuran perusahaan (firm size), rasio hutang terhadap modal (debt to equity ratio), profitabilitas (profitability), tax rate dan time interest earned tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Dividend Payout Ratio secara simultan. Hanya variabel rasio hutang terhadap modal (debt to equity ratio) dan profitabilitas (profitability) yang memiliki pengaruh signifikan terhadap Dividend Payout Ratio secara parsial.

2.2.

Landasan Teori dan Pengembangan Hipotesis

2.2.1. Net Profit Margin Menurut Riyanto (1997) tingkat efisiensi dan efektivitas pengelolaan perusahaan dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut, atau dengan kata lain menghitung rentabilitasnya. Ratio net profit margin mengukur rupiah laba yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah penjualan. Ratio ini memberi gambaran tentang laba untuk para pemegang saham sebagai persentase dari penjualan, ratio net profit margin ini juga mengukur seluruh efisiensi, baik produksi, administrasi, pemasaran, pendanaan, penentuan harga maupun manajemen pajak. (Prastowo dan Julianty, 2005: p. 97). Menurut Ang ( 1997: p. 18.31) dimana menyatakan bahwa NPM merupakan salah satu dari rasio profitabilitas yang menunjukkan keberhasilan

5

perusahaan didalam menghasilkan keuntungan, dimana mengukur tingkat kembalian keuntungan bersih terhadap penjualan bersihnya. Crutchley dan Hansen (1989) dalam Suhartono (2004) menemukan bukti bahwa earning volatility berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Volatilitas keuntungan berkaitan erat dengan rasio dividen. Apabila tingkat keuntungan perusahaan semakin stabil maka perusahaan dapat memprediksi keuntungan-keuntungan dimasa yang akan dating dengan ketepatan yang lebih tinggi. Dengan demikian perusahaan tersebut bisa mempertahankan pembayaran sebagian besar keuntungannya dalam bentuk dividen. Semakin tinggi nilai NPM mengindikasikan bahwa semakin baik perusahaan menghasilkan laba sehingga semakin tinggi pula dividen yang dapat dibayarkan oleh perusahaan. Ada hubungan positif rasio profitabilitas ini dengan pembayaran dividen. HA1 : Net Profit Margin berpengaruh signifikan terhadap pembayaran dividen kas

2.2.2. Cash Ratio Cash ratio merupakan salah satu ukuran dari rasio likuiditas (liquidity ratio) yang merupakan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya (current liability) melalui sejumlah kas (dan setara kas, seperti giro atau simpanan lain di bank yang dapat ditarik setiap saat) yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi cash ratio menunjukkan kemampuan kas perusahaan untuk memenuhi (membayar) kewajiban jangka pendeknya (Brigham, 1996). Mollah et al., (2000) menunjukkan bahwa posisi cash ratio merupakan variabel penting yang dipertimbangkan oleh manajemen dalam kebijakan dividen. Pembayaran dividen merupakan arus kas keluar, free cash flow yang tinggi akan memungkinkan perusahaan lebih berfokus pada pembayaran dividen atau menyelesaikan hutang untuk mengurangi biaya keagenan (Mollah et al. 2000). Sehingga semakin kuat cash ratio perusahaan, berarti semakin besar kemampuan untuk membayar dividen . Perusahaan yang menunjukkan kendala pembayaran (kekurangan likuiditas) mengarahkan manajemen untuk membatasi pertumbuhan dividen (Sharaks, 2005). 6

Dengan kata lain, meningkatnya posisi cash ratio juga akan meningkatkan pembayaran dividen. HA2 : Cash Ratio berpengaruh signifikan terhadap pembayaran dividen kas

2.2.3. Debt to Equity Ratio Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio hutang terhadap modal. Rasio ini mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang, dimana semakin tinggi nilai rasio ini menggambarkan gejala yang kurang baik bagi perusahaan. Peningkatan hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividen yang diterima karena kewajibannya untuk membayar hutang lebih diutamakan daripada pembagian dividen (Sartono, 2001). Ang (1997: p.18.43) DER digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan hutang terhadap total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan. Rasio ini juga menunjukkan pentingnya dari sumber modal pinjaman (relative importance of borrowed fund) dan tingkat keamanan yang dimiliki kreditor. Debt to Equity Ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya, yang ditunjukkan oleh berapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Perusahaan-perusahaan yang profitable memiliki lebih banyak earnings yang tersedia untuk retensi atau investasi dan karenanya, akan cenderung membangun equitas mereka relatif terhadap debt. Jika beban hutang semakin tinggi, maka kemampuan perusahaan untuk membagi dividen akan semakin rendah. Kebijakan debt dapat dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik

perusahaan yang akan mempengaruhi kurva permintaan dari debt yang ditawarkan kepada perusahaan atau permintaan perusahaan akan debt (Ang, 1997). Oleh karena itu semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya (Ang, 1997). Semakin besar proporsi hutang yang digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah kewajibannya (Ang, 1997). 7

HA3

: Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan terhadap pembayaran dividen kas

2.2.4. Return on Asset Profitabilitas adalah tingkat keuntungan bersih yang berhasil diperoleh perusahaan dalam menjalankan operasionalnya. Dividen adalah merupakan sebagian dari laba bersih yang diperoleh perusahaan, oleh karenanya dividen akan dibagikan jika perusahaan memperoleh keuntungan. Keuntungan yang layak dibagikan kepada para pemegang saham, adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi seluruh kewajiban tetapnya yaitu beban bunga dan pajak. Karena dividen diambil dari keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan, maka keuntungan tersebut akan mempengaruhi besarnya dividend payout ratio. Perusahaan yang memperoleh keuntungan cenderung akan membayar porsi keuntungan yang lebih besar sebagai dividen. Semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka akan semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Atribut profitabilitas ini diwakili oleh tingkat keuntungan setelah pajak dibagi dengan total assets (Chang dan Rhee, 1990). Return on asset diukur dari profitabilitas/ laba bersih setelah pajak (earning after tax) terhadap total investasinya yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam penggunaan investasi yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam rangka menghasilkan profitabilitas perusahaan. Brigham (1996) menyatakan bahwa profitabilitas merupakan faktor terpenting yang dipertimbangkan oleh manajemen dalam dividen payout ratio. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik, karena tingkat kembalian investasi (return) semakin besar. Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa return yang diterima oleh investor dapat berupa pendapatan dividen dan capital gain. Dengan demikian meningkatnya ROA juga akan meningkatkan pendapatan dividen. HA4 : Return on Asset berpengaruh signifikan terhadap pembayaran dividen kas

8

2.2.5. Dividend Payout Ratio Dividen dikatakan juga sebagai ”komponen pendapatan” dari return investasi pada saham. Sutrisno (2001:6) mendefinisikan dividend payout ratio sebagai besarnya rasio yang harus ditentukan perusahaan untuk membayar dividen kepada para pemegang saham setiap tahun yang dilakukan berdasarkan besar kecilnya laba bersih setelah pajak. Dividend Payout Ratio merupakan indikasi atas persentase jumlah pendapatan yang diperoleh yang didistribusikan kepada pemilik atau pemegang saham dalam bentuk kas (Gitman, 2003). Menurut Horne dan Machowicz (1998:483), dividend payout ratio adalah persentase dividen tunai yang dibayarkan dibagi laba tahun berjalan. Dividen merupakan arus kas keluar sehingga semakin kuat posisi kas perusahaan, akan mempengaruhi besarnya kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Persentase dividen yang dibagi atau dibayarkan dengan Net Income disebut Dividen Payout Ratio.

Kerangka Pemikiran :

Net Profit Margin HA1

Cash Ratio

HA2 Dividend HA3 Payout Ratio

Debt to Equity Ratio

HA4

Return on Asset

9

BAB III METODE PENELITIAN

3.1.

Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena untuk menganalisis data dalam penelitian ini dilakukan penghitungan matematis/ menggunakan statistik dalam analisa data penelitian ( menggunakan regresi linear berganda ).

3.2.

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2008-2010. Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan kriteria perusahaan manufaktur yang membagikan dividen kas dan selama periode pengamatan tidak melakukan merger dan akuisisi.

3.3.

Definisi Operasional Variabel

3.3.1. Variabel Independen 1. Net Profit Margin Yaitu perbandingan keuntungan/laba bersih perusahaan setelah pajak dengan penjualan (sales). Ang (1997: p.18) NPM berfungsi untuk mengukur tingkat kembalian keuntungan bersih terhadap penjualan bersihnya. Ada hubungan positif rasio profitabilitas ini dengan pembayaran dividen.

Net Income After Tax Net Profit Margin = ---------------------------Sales

10

2. Cash Ratio Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar hutang yang harus segera dipenuhi (hutang lancar) dari kas yang tersedia dan surat-surat berharga yang dapat diuangkan. Cash + Marketable Securuties Cash Ratio = ------------------------------------Current Liabilities

3. Debt to Equity Ratio Rasio ini menunjukkan bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan utang. Menurut Brigham (1996) rasio ini menunjukkan perbandingan antara pembiayaan dan pendanaan melalui hutang dengan pendanaan melalui ekuitas. Total Liabilities DER = -------------------Equity

4. Return on Asset Robbert Ang (1997) yang menyebutkan bahwa rasio ROA digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan cara memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini merupakan rasio yang terpenting di antara rasio rentabilitas yang ada. Earning After Tax ROA = ----------------------Total Asset

3.3.2. Variabel Dependen Dividend Payout Ratio Dividend payout ratio adalah persentase dividen tunai yang dibayarkan dibagi laba tahun berjalan. Dividen merupakan arus kas keluar sehingga semakin kuat 11

posisi kas perusahaan, akan mempengaruhi besarnya kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. (Brigham dan Gapenski, 1996: 450). Dividen yang dibayarkan DPR = -------------------------------Net Income

3.4.

Teknik Analisis Data

3.4.1. Uji Normalitas Data Ghozali (2005) mengatakan bahwa sebelum pengujian multivariate dilakukan, pengujian asumsi normalitas data perlu dilakukan. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Deteksi adanya normalitas melalui One-Sample Kolmogorov Smirnov Test. Data yang berdistribusi normal akan ditandai dengan Asymp. Sig (2-tailed) > 0,05. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal pada grafik Normal P-P of regression standardized residual dan mengikuti arah garis diagonal tersebut, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas, tetapi jika sebaliknya data menyebar jauh berarti tidak memenuhi asumsi normalitas tersebut. Hipotesis yang diajukan: H0 : Data variabel berdistribusi normal, atau H0 : 𝑋 = µ HA : Data variabel tidak berdistribusi normal, atau HA : 𝑋 ≠ µ Kriteria Pengambilan Keputusan: Tingkat signifikansi (α) yang digunakan = 5% (0,05). Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima, dan Jika probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak.

3.4.2. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik Uji penyimpangan asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui beberapa penyimpangan yang terjadi pada data yang digunakan untuk penelitian. Hal ini agar model regresi bersifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimated).

12

Asumsi

klasik

yang

digunakan

pada

penelitian

ini

yaitu:

uji multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi yang secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:

3.4.2.1. Uji Multikolinearitas Bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Ghozali (2005) mengatakan bahwa apabila pada model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen maka hal tersebut dinamakan terdapat masalah multikolinearitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Deteksi multikolinearitas menggunakan besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance (nilai toleransi). Catatan: Tolerance = 1 / VIF atau bisa juga VIF = 1 / Tolerance. Hipotesis yang diajukan: H0 : Data variabel independen bebas multikolinearitas. HA : Data variabel independen terdapat multikolinearitas. Kriteria Pengambilan Keputusan: Tingkat signifikansi (α) yang digunakan = 5% (0,05). Jika nilai VIF < 5 atau angka Tolerance > 0,05 maka H0 diterima, dan Jika nilai VIF > 5 atau angka Tolerance < 0,05 maka H0 ditolak.

3.4.2.2. Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas merupakan kondisi varian nir-konstan atau varian nirhomogin (sumodiningrat, 1994). Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pangamatan yang lain. Jika satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2001). Model regresi yang baik adalah yang homokedastis atau tidak heteroskedastis.

13

Pengujian heteroskedastisitas pada penelitian ini menggunakan metode scatter plot (grafik plot). Uji ini melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi ada tidaknya heterokedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di-studentized. Hipotesis yang diajukan: H0 : Model regresi tidak ada heteroskedastisitas. HA : Model regresi terdapat heteroskedastisitas. Kriteria Pengambilan Keputusan: Jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik atau titik-titik yang ada menyebar secara acak, maka H0 diterima, dan Jika terdapat pola tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit) pada grafik, maka H0 ditolak.

3.4.2.3. Uji Autokorelasi Bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya), dengan menggunakan Durbin-Watson Test (DW Test) yang dimaksudkan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara data pengamatan atau tidak. Ukuran yang digunakan untuk menyatakan ada tidaknya autokorelasi, yaitu apabila nilai statistik Durbin-Watson mendekati angka 2 (dua), maka dapat dinyatakan bahwa data tersebut tidak memiliki autokorelasi. Autokorelasi diuji dengan menggunakan Durbin-Watson (Ghozali, 2005). Langkah-langkah dari pengujian ini adalah sebagai berikut : 1. Perumusan hipotesis, H0: α = 0, 0, tidak ada autokorelasi, dan HA: µ ≠ 0, ada autokorelasi. 2. Menentukan nilai d hitung untuk tiap periode penelitian. 3. Menentukan nilai batas atas (dU) dan batas bawah (dL) tabel dari jumlah observasi (n) dan jumlah variabel independen (k). 14

4. Pengambilan keputusan dengan kriteria: a. Jika 0 < d < dL, maka terjadi autokorelasi positif, b. Jika dL < d < dU, maka tidak ada kepastian apakah terjadi autokorelasi atau tidak (ragu-ragu), c. Jika 4-dL < d < 4, maka terjadi autokorelasi negatif, d. Jika 4-dU < d < 4-dL, maka tidak ada kepastian apakah terjadi autokorelasi atau tidak (ragu-ragu), dan e. Jika dU < d < 4-dU, maka tidak terjadi autokorelasi baik positif atau negatif.

3.4.3. Analisis Regresi Berganda Model analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui arah dan besarnya pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS. Adapun persamaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + e Keterangan : Y β0 β1, β2, β3, β4 X1 X2 X3 X4 e = Dividend Payout Ratio = Konstanta = Koefisien Regresi = Net Profit Margin = Cash Ratio = Debt to Equity Ratio = Return on Asset = Error term

3.4.4. Uji Hipotesis 3.4.4.1.Uji regresi secara simultan atau uji F : 1. Merumuskan hipotesis untuk masing-masing kelompok.

15

H0 = berarti secara simultan atau bersama-sama tidak ada pengaruh yang signifikan antara X1, X2, X3, X4 dengan Y. H1 = berarti secara simultan atau bersama-sama ada pengaruh yang signifikan antara X1, X2, X3, X4 dengan Y. 2. 3. Menentukan tingkat signifikan yaitu sebesar 5% (α = 0,05) Membandingkan tingkat signifikan (α = 0,05) dengan tingkat signifikan F yang diketahu secara langsung dengan menggunakan program spss dengan kriteria : Nilai signifikan F > 0,05 berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Nilai signifikan F < 0,05 berarti H0 ditolak dan H1 dierima. 4. Mebandingkan F hitung dengan F tabel, dengan kriteria sebagai berikut: Jika F hitung > F tabel, maka H0 ditolak dan H1 dierima. Jika F hitung < F tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak.

3.4.4.2.Pengujian Parsial ( uji statistik t ) Uji signifikansi koefisien (bi) dilakukan dengan statistik t (student t). Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel bebasnya. Hipotesis yang digunakan adalah H0 : bi = 0; H1 : bi ≠ 0 Artinya tidak terdapat (alternatifnya terdapat) pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai t statistik dapat dicari dengan rumus t-hit = Koefisien regresi b ----------------------Standar deviasi b

Untuk menentukan nilai t-statistik tabel ditentukan tingkat signifikansi 5% dengan derajatkebebasan df = (n-k-1) di mana n adalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabeltermasuk intersep dengan kriteria uji adalah: Jika t hit > t tabel (a, n-k-1), maka Ho ditolak 16

Jika t hit < t tabel (a, n-k-1), maka Ho diterima Untuk melihat kontribusi kemampuan menjelaskan variabel bebas secara bersama-samaterhadap variansi variabel terikat dapat dilihat dari koefiesien determinasi (R2) berganda di mana nilai koefisiennya antara 0= 1. Hal ini berarti bahwa nilai R2 yang smakin besarmendekati 1 merupakan indikator yang menunjukkan semakin kuatnya kemampuan menjelaskan perubahan variabel independen terhadap variabel dependen .

17

Daftar Pustaka

Ang, Robbert (1997). Buku Pintar Pasar Modal Indonesia. Edisi 1. Mediasoft Indonesia. Brigham, E.F. and Houston, J.F. (1996). Manajemen Keuangan. Edisi Bahasa Indonesia. Erlangga : Jakarta. Chang R.P and SG. Rhee, Taxes and Devidend : The Impact Of Personal Taxes On Corporate Devidend Policy and Capital Structure Decisions, Financial Management. Summer 21-31, 1990. Dwi Prastowo dan Rifka Julianty. 2005. Analisis Laporan Keuangan, Edisi kedua. UUP AMP YKPN: Jakarta. Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi ketiga. Badan Penerbit UNDIP: Semarang. Gitman, Lawrence J. (2006). Principle of Managerial Finance, 11th ed. Addison Wesley Longman Inc. Hariani, Emi. 2005. ”Analisis Variabel-variabel yang Mempengaruhi Dividend Payout Ratio pada Perusahaan Publik di Indonesia.” Jurnal Riset Akuntansi : 1-20 Horne, James C. dan John M. Machowicz, Jr. 1998. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan, Edisi Kesembilan. Salemba Empat: Jakarta. Mahaputra. 2009. ”Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pembayaran Dividen Kas Pada Perusahaan Manufaktur Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia,” Jurnal Riset Akuntansi : 13-18. Mollah, A., Sobur and Keasen, K, The Influence of Agency Cost on Dividend Policy in an Emerging Market: Evidence from The Dhaka StockExchange, Journal of Financial and Quantitative Analysis, 2000. Nasrul, Indiansyah Harahap. 2004. ”Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dividend Payout Ratio pada Perusahaan Manufaktur Go-Public di Bursa Efek Jakarta,” Jurnal Riset Akuntansi : 17-30 Nasution, Hasanul Aswadi. 2004. ”Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dividend Payout Ratio pada Perusahaan Publik di Indonesia,” Jurnal Riset Akuntansi : 15-28 Prihadi, Toto. 2010. Cepat dan Praktis, Analisis Investasi. Penerbit PPM: Jakarta Pusat. 18

Riyanto, Bambang. 1997. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Keempat. UPP YPKN: Yogyakarta. Sartono, R. Agus. 2001. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Edisi 4. BPFE: Yogyakarta. Sharaks, Adel, (2005), Dividend Policy and Future Cash Flows, Finance India, Vol XIX, No.3, Spertember, pp.901-913 Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta: Bandung. Suhartono. (2004). ”Pengaruh Insider Ownership, Net Organizational Capital, dan Risiko Pasar terhadap Kebijakan Dividen”, Kajian Bisnis STIE Widya Wiwaha, Vol.12, No.1, Januari, hal: 41-55. Sundjaja, Ridwan dan Inge Barlian. 2003. Manajemen Keuangan 2. PT Prenhallindo. Jakarta. Sutrisno. 2001. Manajemen Keuangan :Teori, Konsep, dan Aplikasi. Edisi pertama. Ekonosia: Yogyakarta. http://www.idx.co.id

19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->